Rajawali Merah Jilid 06 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 06
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
PASUKAN PUN gempar. Mereka tak menyangka bahwa itulah Togur, pemimpin atau bekas pemimpin yang pernah menggegerkan Tiongkok, yang menyebut dirinya sebagai Siauw-ong dan kini mereka meloncat turun dari atas kuda dan buru-buru berlutut. Raja mereka sendiri sudah berlutut dan mereka memperhatikan pemuda buntung itu, yang tadi tak diamati baik-baik karena pemuda itu sudah dikabarkan tewas, di Sam-liong-to.

Tapi ketika mereka memperhatikan dengan seksama dan memang benarlah pemuda itu Togur adanya, murid Enam Iblis Dunia yang memimpin dan menundukkan suku-suku bangsa di utara untuk melakukan serbuan ke Tiongkok maka banyak di antaranya yang merasa bengong dan kaget, juga terheran-heran. Pemuda ini sudah dikabarkan tewas ketika menghadapi keluarga Pendekar Rambut Emas.

Pemuda itu sudah dinyatakan binasa ketika menerima pukulan Kim-hujin atau nyonya Kim yang menjadi isteri Pendekar Rambut Emas itu, setelah melalui pertempuran seru dan sengit di kota raja. Maka ketika tiba-tiba hari ini muncul dan menggegerkan mereka, raja berteriak dan menyuruh mereka berlutut maka semua bengong dan bagai mimpi di siang bolong.

Tapi pemuda itu memang ada di situ. Semua orang melihat bahwa pemuda itu masih tinggi besar dan gagah. Kulitnya kehitaman dan matanya berkilat-kilat bagai mata seekor harimau. Sayang kakinya buntung, padahal dahulu lengkap. Dan ketika semua terbelalak dan heran serta kaget, ngeri karena berpikir bahwa jangan-jangan itu adalah roh si pemuda, yang mati dan penasaran di Pulau Tiga Naga (Sam-liong-to) maka si buntung yang menghadapi sekian banyak orang tiba-tiba tertawa bergelak.

“Ha-ha!” suaranya menggetarkan isi hutan. “Kau tajam dan awas sekali, Cucigawa. Sungguh aku kagum dan tak menyangka bahwa inilah pasukanmu. Ah, kau memiliki ingatan yang kuat, dan pandang mata yang tajam. Tapi terangkan padaku bagaimana kau mengenal bahwa aku adalah Togur, putera ayahku yang gagah perkasa mendiang Gurba!”

“Hm, maaf!” Cucigawa berseri-seri. “Aku mengenalmu karena bentuk kepalamu, Siauw-ong, yang mirip mendiang ayahmu yang gagah perkasa itu. Juga kesaktianmu, yang telah kau perlihatkan tadi. Bukankah itu adalah Khi-bal-sin-kang yang kau punyai selama ini? Bukankah itu adalah warisan Hu-taihiap yang kau curi dulu?”

“Ha-ha!” pemuda buntung itu tertawa lagi. “Tapi aku dikabarkan tewas, Cucigawa. Dan kau tentu tahu itu!”

”Benar, tapi berita itu tak menyebutkan mayatmu, Siauw-ong. Kau hanya dikabarkan jatuh ke laut dan tewas. Padahal orang sehebat dirimu ini sukar dipercaya untuk mati begitu saja. Pemuda sepertimu ini tak mungkin tewas hanya kalau jatuh ke laut!”

“Ha-ha, kau betul. Kau cerdas. Ah, kau pantas menjadi pembantuku yang berpikiran jauh.... dess!” dan tongkat yang menghantam hancur sebuah batu besar di sebelah raja itu tiba-tiba disusul tawa bergelak yang menyeramkan.

Cucigawa terkejut dan terkesiap ketika tadi tongkat itu bergerak. Dia tak mungkin dapat menangkis atau mengelak. Pemuda itu terlalu tinggi kepandaiannya kalau dibandingkan dengannya. Tapi ketika batu menggelegar dan hancur ditimpa tongkat, bukan kepalanya, maka raja itu berseri kembali dan membuka matanya, yang tadi dipejamkan.

“Siauw-ong, aku dan pasukanku adalah tetap hambamu yang setia. Nah, kebetulan kau datang. Kami ditimpa bencana, tolong dan hancurkan musuh kami!”

“Ha-ha, musuh apa lagi? Siapa? Asal bukan Pendekar Rambut Emas atau keluarganya tentu aku berani. Apa yang terjadi!”

“Kami kedatangan musuh tangguh, Ituchi. Dialah yang datang dan kini mengobrak-abrik pasukanku!”

“Ituchi? Ha-ha, bocah yang masih saudaramu itu? Putera mendiang Raja Hu?”

“Benar, dialah, Siauw-ong. Dan aku tentu rela menyerahkan kedudukanku kepadamu daripada kepada bocah itu. Aku dan pasukanku siap membantumu lagi untuk menjadi kaisar!”

“Ha-ha, bagus. Cocok sekali. Aku memang masih ingin menjadi kaisar.... blar!” dan tongkat yang kembali bergerak dan menghajar pohon di sebelah, yang tumbang dan roboh menjadi tiga potong segera mengejutkan anak buah Cucigawa yang meleletkan lidah melihat kehebatan itu. Si buntung bergerak lagi dua tiga kali ke kiri kanan dan hancurlah pohon-pohon yang lain. Suaranya hiruk-pikuk dan beberapa di antaranya hampir tertimpa. Tapi ketika si pemuda berkelebat kembali dan tongkatnya diluncurkan ke sebuah batu hitam maka batu itu tembus sementara tongkat telah menancap dan bergetar bagai sebuah pisau yang menancap di punuk seekor kerbau jantan!

“Hah, aku tak takut. Bocah itu terlalu ringan bagiku. Ha-ha, memalukan kalau kau sampai terbirit-birit, Cucigawa. Padahal kau membawa pasukanmu yang begini besar. Ah, kau tak pantas sebagai pemimpin!”

“Maaf,” raja tinggi besar itu meradang. “Ituchi sendiri bukan halangan, Siau-ong. Tapi anak buahku yang memberontak dan membantu pemuda itu membuat aku dan pasukanku kalut. Kami melarikan diri, dan kini kebetulan denganmu. Nah, biarlah kuceritakan sejenak persoalan ini dan setelah itu ceritakan kepada kami bagaimana kau masih bisa hidup. Apakah benar dugaanku bahwa kau tidak tewas di laut!”

“Hm!” mata itu tiba-tiba berkilat berbahaya. “Sebelumnya katakan dulu siapa dua orang gadis ini, Cucigawa. Dan kenapa pasukanmu mati-matian menculiknya.”

“Dia adik Ituchi!”

“Ooh, begitu? Bagus! Kemudian?”

“Kemudian kami akan menyanderanya, anak buahku tahu melakukan tugas begitu mendengar kekalahanku di batas kota!”

“Hm-hm, bagus. Kalau begitu ceritakanlah secara lengkap bagaimana pemuda itu datang dan mengalahkanmu. Baru setelah itu aku akan bercerita bagaimana aku masih hidup!”

Cucigawa berseri-seri. Kalau sudah begini maka harapan ada padanya dan tentu saja dia girang. Datangnya pemuda itu sungguh di luar dugaan dan hadirnya si buntung yang luar biasa lihai ini tentu saja membangkitkan semangatnya. Cucigawa segera bercerita apa yang terjadi, bagaimana mula-mula Ituchi menjadi tawanan bangsa Uighur dan dibawa ke situ. Dan ketika si buntung mendengarkan dan mengangguk-angguk, tertawa mengejek maka selanjutnya si buntung itu berkata bahwa Cucigawa tak perlu takut.

“Hm, begitu kiranya. Bagus, dan kita telah menawan dua adiknya pula. Ah, sekarang kita ke sana, Cucigawa. Hadapkan pemuda itu kepadaku dan biar kuhajar dia. Dia adalah sahabat Pendekar Rambut Emas!”

Cucigawa berseru girang. Dia tentu saja girang karena si buntung ini akan melaksanakan kata-katanya. Ituchi bukanlah tandingan pemuda itu dan apa yang dikata si buntung pasti terlaksana. Dan ketika dia balik bertanya bagaimana si buntung itu masih hidup, apakah benar tidak tewas di laut maka si buntung ini tertawa, matanya bersinar penuh dendam.

“Aku memang tidak mati, aku masih hidup. Kau benar kalau menganggap bahwa dengan kepandaianku yang seperti ini tak mungkin aku mati di dasar laut. Hm, aku selamat karena ilmu-ilmuku, Cucigawa. Tapi aku mengalami naas karena kakiku disambar hiu!”

“Tapi paduka memiliki kekebalan. Paduka memiliki sinkang yang amat hebat!”

“Hm, waktu itu pukulan Kim-hujin membuatku luka dalam, Cucigawa. Dan karena aku luka dalam maka aku tak dapat mengerahkan kekebalanku ketika kakiku disambar hiu!”

“Ah, maaf. Kalau begitu aku merasa prihatin. Tapi betapapun Siauw-ong masih hidup!”

“Ya, aku masih hidup karena aku ingin membalas dendamku. Siapapun di antara kalian kularang untuk tidak memberitahukan keadaanku ini kepada musuh-musuhku. Sanggup?”

“Sanggup, Siauw-ong. Tapi bagaimana nanti dengan Ituchi itu. Dia pasti akan rmenjadi berita utama kalau melapor kepada Pendekar Rambut Emas!”

“Ha-ha, kiramu dia akan kuampuni? Bodoh, aku akan membunuhnya, Cucigawa. Tak akan kubiarkan sahabat-sahabat Pendekar Rambut Emas atau anak isterinya hidup. Aku akan menghajar dan setelah itu membunuh lawanmu!”

“Hm, kalau boleh berikanlah dia kepadaku. Aku ingin membalas dendamku, Siauw-ong. Aku ingin memenggal kepalanya kalau kau sudah merobohkannya!”

“Baiklah, mari berangkat. Kita temui pemuda itu!” dan melempar Nangi serta Salini pada raja Cucigawa untuk dititipkan maka raja itu diminta kembali dan memasuki kotanya lagi. Si buntung sudah menyeringai dan membalikkan tubuhnya. Dan ketika orang terbelalak melihat dia berkelebat tiba-tiba si buntung ini lenyap seperti siluman.

“Hebat!” semua meleletkan lidah. “Pemuda itu masih luar biasa, sri baginda. Tapi sayang kakinya buntung!”

“Hush, jangan mengejek. Kita harus bersyukur dia datang, Ramba. Kalau tidak tentu kita tak mampu menghadapi lawan kita itu. Hayo siapkan pasukan dan kembali lagi ke kota!”

Ramba dan lain-lain mengangguk. Memang mereka harus mengakui bahwa tiba-tiba saja semangat mereka berkobar dan bangkit lagi setelah si buntung itu muncul. Meskipun buntung namun bekas murid Enam Iblis Dunia yang bergelar Siauw-ong itu bukanlah main-main. Lawannya hanyalah Pendekar Rambut Emas dan anak isterinya. Tokoh-tokoh dunia tak akan sanggup menandingi karena pemuda itu memiliki Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng yang amat luar biasa. Mampu bergerak dan terbang secepat siluman. Mampu hilang dan datang seperti iblis saja.

Dan ketika semua bersorak dan riuh rendah maka Cucigawa sudah membawa pasukannya keluar hutan. Tadi mereka bersembunyi dan pasukan yang menculik Nangi itu menyusul, bertemu dengan si buntung dan untung Cucigawa keluar. Kalau tidak, mungkin pasukannya bisa dihabisi, karena Togur atau si buntung itu terkenal kejam dan tidak berperasaan.

Dia adalah murid mendiang Enam Iblis Dunia yang tewas di tangan keluarga Pendekar Rambut Emas, juga putera mendiang Gurba yang gagah perkasa dan sakti, suheng Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas yang akhirnya tewas oleh pendekar itu. Dan ketika pasukan bergerak dan kembali ke kota, berderap dan bersorak riuh mendapat bantuan yang hebat maka Ituchi terancam bahaya maut yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Siapakah pemuda buntung yang disegani Cucigawa ini? Benarkah dia mampu menghadapi Ituchi dan membunuh pemuda itu? Bagi para pembaca yang telah membaca “Istana Hantu” tentu telah mengenal baik pemuda ini. Benar, dia adalah Togur yang gagah sakti itu gagah dan berwatak kejam dan tipu-tipu muslihatnya ditakuti orang. Pemuda inilah yang dulu menggegerkan Tiongkok dengan serbuan besar-besarannya yang tak tanggung-tanggung.

Pemuda inilah yang dulu menundukkan bangsa-bangsa liar untuk diajak berperang dan satu di antaranya adalah bangsa U-min itu, bangsa yang dulu menjadi sahabat kaisar semasa diperintah Raja Hu tapi kemudian dibawa memberontak dan berperang oleh pemuda ini. Dan karena Togur bersama guru-gurunya adalah orang-orang luar biasa di mana kepandaian dan kesaktiannya amat tinggi maka tak ada yang sanggup mengalahkan pemuda itu sampai akhirnya sri baginda kaisar meminta pertolongan Pendekar Rambut Emas. Dan di situlah pemuda ini akhirnya menemui kekalahan.

Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-engnya, ilmu pukulan Bola Sakti dan Ginkang Seribu Dewa yang dulu dicuri dari mendiang Hu-tai-hiap (pendekar besar Hu; mertua Pendekar Rambut Emas) tak dapat menandingi Pendekar Rambut Emas dan keluarganya yang masih memiliki dua ilmu simpanan lain yang tak dipunyai pemuda itu, yakni Cui-sian Gin-kang (Ginkang Pengejar Dewa) dan Lui-ciang-hoat (Pukulan Tangan Petir) yang merupakan kelebihan bagi pendekar itu.

Dan karena Pendekar Rambut Emas dapat menggabung ilmu-ilmunya sementara pemuda itu hanya dua ilmu saja maka Togur terdesak dan akhirnya jatuh di laut Tung-hai, ketika bertanding di atas sebuah karang yang terjal. Dan ketika pemuda itu terpelanting dan jatuh ke laut, disangka tewas, maka Pendekar Rambut Emas dan lain-lain menganggap bahwa pemuda itu binasa.

Memang, seandainya saja sebuah kejadian lain tak datang mengikuti peristiwa itu pasti pemuda ini bakal tenggelam dan tewas di dasar samudera. Tapi seekor hiu tiba-tiba menyambarnya di dalam air. Togur waktu itu sudah setengah pingsan oleh luka-luka dalam yang dideritanya. Pukulan bertubi-tubi dari Kim-hujin atau isteri Pendekar Rambut Emas amatlah hebatnya.

Berkat daya tahan dan sinkangnya saja dia dapat menerima semua itu, meskipun kian lama tentu saja kian sesak dan amat berbahaya. Dia dapat mati lemas kehabisan tenaga. Maka ketika dia terlempar atau lebih tepat membuang tubuh ke laut tak mau mati di tangan lawannya itu maka Togur disambar dan digigit seekor hiu yang kebetulan berenang di bawah air.

Pemuda itu terkejut dan sebisa-bisanya mengerahkan sinkang. Kaki kirinya digigit dan kalau bukan dia tentu seketika itu juga putus. Tapi karena pemuda ini adalah pemuda luar biasa dan selemah-lemahnya dia tetaplah dia pemuda yang kuat fisiknya maka dua jam digigit dan dibawa berenang ke sana ke mari oleh hiu yang ganas itu Togur masih dapat bertahan. Hiu ini akhirnya marah dan membawanya menyelam ke laut yang dalam. Mayat pemuda itu yang memang tak timbul lagi sudah memperkuat dugaan tewas di bawah laut.

Tapi ketika hiu itu membawa berputaran dan dua jam lebih tak mampu menggigit putus kakinya, yang penuh tenaga sinkang maka Togur terkejut ketika tiba-tiba dibawa menyelam ke tempat yang dalam. Sehebat-hebatnya dia tentu akan mati juga, kalau terus-menerus begitu. Maka ketika lawan membawanva ke laut yang dalam dan hiu itu mulai menarik perhatian teman-temannya yang lain untuk berdatangan, siap mengeroyok dan mencaplok tubuh pemuda ini maka begitu seekor hiu lain datang mendekat mendadak pemuda ini menggerakkan tangan dan menangkap siripnya. Gerakan ini cepat dan tak terduga. Hiu itu kaget dan melejit.

Namun karena kaki Togur digigit hiu pertama sementara pemuda itu mencengkeram dan menjepit kuat-kuat sirip hiu kedua maka begitu hiu itu melejit dan kaget menarik tubuhnya maka hiu pertama terseret dan tiba-tiba tertarik terbawa temannya ini. Selanjutnya dua ekor hiu itu berkutat melawan pemuda ini. Yang satu tetap menggigit dan tak mau melepaskan kaki korbannya sedang yang lain kaget dan marah dicengkeram siripnya. Cengkeraman itu membuat hiu itu kesakitan dan akibatnya berenanglah hiu itu dengan cepat ke atas. Dia melecut-lecutkan ekornya namun Togur berada di tengah, terus mencengkeram dan tak mau melepaskan lawannya.

Sudah menjadi tekad pemuda ini bahwa dia harus melepaskan diri dari gigitan hiu pertama itu. Dan ketika hiu-hiu lain berenang mengikuti dan Togur pucat melihat dirinya akan menjadi korban maka mendadak saking marah dan paniknya pemuda ini tiba-tiba mengerahkan semua kekuatan untuk membuat hiu kedua kesakitan. Dia mencengkeram sedemikian rupa sirip hiu itu hingga berkeratak, patah di dalam. Tapi begitu Togur mengerahkan segenap kekuatan di tangan, membuat hiu itu berontak dan melejit ke atas, luar biasa kuatnya, maka saat itulah tenaga di kaki hilang.

Sinkang yang sepenuhnya ditarik ke atas untuk membuat hiu kedua kesakitan dan berenang kuat, kaget oleh tenaga pemuda ini tiba-tiba telah membuat kaki yang dilindungi sinkang menjadi kaki yang biasa lagi, lemah dan kosong dan tiba-tiba saat itu juga Togur merasakan kakinya lepas. Pemuda ini mengira terbebas dari gigitan lawan dan hiu pertama itu melepaskan dirinya. Dia tak tahu bahwa saat itulah kakinya putus ditelan hiu yang ganas, hiu yang tak kenal menyerah dan terus menggigit kakinya ke manapun dia ditarik hiu kedua.

Maka begitu kaki itu putus karena Togur menarik semua sinkangnya ke atas, ke tangan yang mencengkeram sirip hiu kedua maka saat itulah dia menjadi buntung dan laut di bawah segera menjadi merah oleh darah yang membanjir keluar. Togur sendiri masih tidak sadar dan secepat kilat dia bergerak memiting hiu kedua itu, menusukkan kedua jarinya ke tubuh ikan dan menggeliatlah hiu ini oleh tusukan jari baja yang membuat perutnya bolong. Dan ketika hiu itu meronta dan semakin kesakitan maka Togur telah menghunjam-hunjamkan kelima jarinya ke punggung dan perut ikan ini.

Pemuda itu dibawa berenang luar biasa cepatnya hingga hiu-hiu yang lain tertinggal. Togur tak tahu bahwa hiu-hiu yang lain mengejar dirinya, atau lebih tepat, mengejar kakinya yang buntung karena dari kaki itulah darah mengucur membuat hiu-hiu itu beringas. Bau darah memang akan membuat binatang-binatang buas itu semakin menggila dan buas saja. Dan ketika Togur terus dibawa dan terbang bersama hiu kedua ini maka muncullah hiu itu di atas permukaan air dan nyosor ke pantai daratan berbatu.

Dalam panik dan sakitnya akhirnya hiu itu juga tak sadar membawa diri, tak perduli lagi ke mana dia berenang pokoknya dirinya bisa dibebaskan dari pitingan lawannya itu, yang terus menyakiti dan menusuk-nusuk tubuhnya dengan jari-jari yang sekuat baja. Maka ketika dia muncul dan berenang seperti kesetanan, penuh luka-luka di tubuh maka binatang itu nyeruduk dan nyosor ke pantai, tak dapat menahan diri lagi dan terhempaslah mereka kedua ke daratan yang berbatu. Togur megap-megap dan nyaris pingsan. Kalau bukan dia tentu sudah tewas dan kehabisan tenaga sejak tadi. Hebat pemuda ini.

Tapi begitu dia dibawa keluar dan menghirup udara segar, lolos dari maut maka hiu yang dipitingnya itu roboh dan tewas tak lama kemudian. Togur berkunang-kunang dan geram memandang lawannya ini, menggerakkan tangan untuk menghancurkan kepala lawannya itu tapi tiba-tiba iapun roboh, ambruk dan pingsan. Dan ketika dua mahluk berlainan dunia itu jatuh dan sama-sama tak sadarkan diri lagi maka barulah keesokannya pemuda ini siuman dan tahu bahwa kakinya lenyap sebuah.

Togur terbelalak dan melotot. Pemuda ini seakan tak percaya pada apa yang dilihat. Tapi ketika dia mengeluh dan sejenak terkejut mendadak, aneh sekali, pemuda ini tertawa bergelak. Murid Enam Iblis Dunia itu terguncang hebat namun dalam kekagetannya itu dia coba melampiaskannya dengan tawa yang menggetarkan seluruh pantai.

Togur terbahak-bahak sampai akhirnya dia roboh lagi, bangun dan tertawa lagi sampai akhirnya seluruh mukanya menjadi merah kehitaman. Air mata membanjir namun mata itu sendiri menjadi buas dan menyala-nyala. Dan ketika dia menghantam dan meremukkan kepala ikan, yang sebenarnya sudah binasa maka pemuda ini merobek perut ikan dan menyambar segala isinya, jantung dan paru-paru dan bahkan usus!

“Ha-ha, bedebah jahanam kau, hiu keparat. Terkutuk dan binatang kau. Ah, kurobek-robek perutmu, kuganyang jantungmu... krius-kriuss!” dan Togur yang merobek serta mengodal-adul perut ikan lalu mengganyang mentah-mentah semua isi perut binatang itu. Tak perduli mulut berlepotan darah dan amis. Tak perduli bahwa lawan sudah mati dan bukan hiu itulah yang menggigit putus kakinya.

Dan ketika dia terpincang dan roboh terduduk, masih mengganyang perut ikan maka saat itulah nyeri di kaki terasa hebat. Togur tiba-tiba mengeluh dan menghentikan makannya. Pemuda ini bukan mirip manusia berada lagi melainkan seperti hewan buas sendiri, merintih dan mengejang dan barulah dia ingat bahwa kakinya harus diobati. Darah yang mengucur kiranya sudah berhenti sendiri oleh asinnya air laut, selamat tapi tentu saja rasanya pedih dan senut-senut. Luka yang seakan disiram garam ini bukan main pedihnya. Lagi-lagi kalau bukan pemuda ini tentu akan pingsan dan roboh.

Tapi karena Togur adalah pemuda yang keras hati dan sebagai murid Enam Iblis Dunia pemuda ini memang mengagumkan maka sambil merintih dan menahan sakit akhirnya pemuda itu membalut luka di pangkal kaki dengan bajunya sendiri yang sudah diperas dan dilepas. Selanjutnya pemuda itu terhuyung mencari obat-obatan di hutan, menahan sakit dan menggigit bibir dan seminggu lebih pemuda ini merawat diri. Akar-akar tanaman dan daun obat-obatan ternyata banyak terdapat di situ. Pemuda ini mengurus dan merawat dirinya sendiri. Dan ketika sebulan kemudian dia sembuh namun pangkal pahanya buntung, tak dapat dipakai berjalan maka dia mempergunakan tongkat untuk penyangga kakinya itu.

Diam-diam pemuda ini menyesal. Sekarang dia menjadi cacad namun tiba-tiba dadanya bergemuruh. Itulah akibat Kim-hujin. Dia harus bersyukur bahwa masih hidup dan untuk itu dia akan menuntut balas. Akan dibuntunginya kedua kaki lawannya itu dan akan disiksanya lawannya itu sekejam-kejamnya. Sudah terbayang di benaknya bahwa dia akan mempermainkan wanita itu dengan keji.

Mula-mula, hmm.... dia akan memperkosa lawannya itu, menelanjanginya dan mengikatnya di batang pohon. Lalu menusuk-nusuk seluruh tubuhnya untuk kemudian ditaburi garam. Kemudian, hmm.... ketika lawan menjerit-jerit maka dia akan mengutungi satu per satu jari-jari kaki wanita itu, sebelum menabas dan membuntungi kakinya seperti dia. Dan ketika puncak siksaan sudah sampai maka dia akan membeset muka lawannya untuk kemudian dibakar!

“Pendekar Rambut Emas, aku tak mau sudah sebelum membeset dan mempermainkan isterimu. Sumpah demi segala iblis aku akan membalas kejadian ini seribu kali lebih kejam!”

Namun, pemuda itu tiba-tiba tertunduk. Kim-hujin, isteri Pendekar Rambut Emas itu bukanlah wanita lemah. Wanita itu amat sakti dan kosen. Ilmu-ilmunya tinggi dan masih lebih tinggi darinya. Kelebihan lawan adalah Cui-sian Gin-kang dan Lui-ciang-hoatnya itu. Selebihnya adalah sama. Tapi ketika dia bersinar dan teringat bahwa wanita itu memiliki seorang anak laki-laki, Beng An namanya, tiba-tiba dia tersenyum dan menyeringai. Hm, dia akan melakukan sesuatu yang tak diduga lawan-lawannya itu. Dia akan mencari dan menculik anak ini dulu, mempermainkan perasaan orang tuanya sebelum diaduk-aduk lebih jauh.

Dan ketika ingatan itu membuat Togur menyeringai dan bangkit berdiri maka tak lama kemudian pemuda itu meninggalkan pulau setelah luka-luka di kakinya sembuh. Dia tak berani langsung ke daratan melainkan berputar mencari tempat-tempat sepi. Seringkali pemuda ini harus menghindari manusia lain kalau bertemu di tengah jalan. Bukan apa-apa, semata hanya menjaga agar dia jangan dikenal dulu. Maka ketika dia menyusur dan akhirnya bergerak ke utara, masuk dan membelok ke barat akhirnya pemuda ini berada di wilayah bangsa-bangsa liar, yang tak begitu mengenalnya seperti halnya orang-orang kang-ouw di pedalaman.

Dan ketika hari itu dia tiba di wilayah bangsa U-min dan melihat sepasukan berkuda melarikan dua anak gadis cantik, hal yang membuatnya bersinar maka. selanjutnya dia menghadang dan ingin main-main dengan orang-orang itu, yang tak disangkanya malah mempertemukannya dengan Cucigawa, raja bangsa U-min yang dulu ditundukkannya dan tentu saja segera mengenalnya karena mereka dahulu memang pernah dekat. Dan ketika Cucigawa mengenalnya dan pasukanpun segera terkejut maka pemuda ini terlibat urusan pribadi dan kini ingin menghadapi Ituchi.

Demikianlah, itulah sekelumit kisah tentang pemuda ini. Dan karena Ituchi akan menghadapi seorang lawan tangguh, lawan yang berbahaya maka marilah kita ikuti lanjutannya dan lihat apa yang terjadi.

* * * * * * * *

Waktu itu, seperti diterangkan di depan, Ituchi akhirnya berkelebat meninggalkan ibunya. Dia marah dan geram mendengar adiknya diculik. Cucigawa dan perajuritnya memang curang, tak tahu malu. Dan ketika dia berkelebat dan Sudi, panglima gagah itu mengikuti dengan pasukannya yang mengejar di belakang maka Ituchi sudah menuju hutan di mana Cucigawa atau pasukannya itu diperkirakan melarikan diri.

Ituchi mulai bergerak dan bekerja sendirian. Dia cukup mengenal daerah itu karena dia cukup lama tinggal di sini, ketika dulu mengunjungi ibunya. Tapi ketika pasukannya menyusul dan bersorak-sorai, membuat ribut maka dia mengerutkan kening dan terpaksa berhenti.

“Kalian tak usah membuat gaduh. Aku ingin semuanya terjadi secara diam-diam agar kedua adikku tidak celaka. Berpencarlah, dan jangan bersorak-sorai!”

Panglima Sudi mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dialah yang meneruskan perintah pemuda itu kepada pasukannya. Derap pasukan berkuda yang seribu lebih ini memang cukup membuat gaduh isi hutan, belum ditambah dengan teriakan-teriakan mereka, yang menantang-nantang atau memanggil-manggil Cucigawa. Maka begitu Ituchi melarang berteriak-teriak dan semua diam maka Ituchi minta agar pasukan dipecah menjadi tiga.

“Barisan tengah menerobos isi hutan, yang lain bergerak di kiri dan kanan. Kalau musuh bertemu kita sebaiknya beri tanda kepada yang lain agar cepat-cepat membantu!”

“Baik, dan paduka sendiri, pangeran. Apakah akan memasuki tengah hutan?”

“Ya, aku akan bergerak di sini. Paman pimpin yang lain dan biar yang ini mengikutiku dari belakang.”

Tapi belum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba terdengar suara tawa aneh yang bergema menggetarkan isi hutan. Suaranya tak kalah dahsyat dengan gemuruh derap seribu kuda dan Ituchi serta yang lain-lain terkejut. Suara itu terdengar dari depan namun pemilik suaranya tak tampak. Dan ketika suara itu bertambah dahsyat dan pasukan di depan mengeluh tiba-tiba mereka terguling dan roboh dari atas kudanya, mendekap dada.

“Sumpal telinga kalian. Awas, seseorang menyerang dengan tenaga sakti!”

Namun terlambat. Seratus orang di depan tiba-tiba roboh dan terguling dari atas kudanya lagi. Bahkan yang ini lebih hebat, muntah darah dan batuk-batuk! Dan ketika Sudi panglima yang gagah itu juga terhuyung dan batuk-batuk, menekan dada kirinya maka secepat kilat Ituchi menotok dan menyumpal telinga panglima ini.

“Mundur.... semua mundur!”

Bentakan atau seruan menggeledek Ituchi menggetarkan hutan. Pemuda ini mengerahkan khikangnya juga dan dengan tenaga suara itu dia coba menindih tawa yang bergulung-gulung. Tawa itu kian hebat hingga ratusan orang tiba-tiba tak tahan lagi, jatuh dan merintih-rintih di tanah. Mulut dan hidung mereka mulai mengeluarkan darah, juga telinga! Dan ketika Ituchi kaget karena bentakan suaranya masih tertindih oleh tawa yang menggetarkan itu maka diapun tiba-tiba terhuyung dan jatuh terduduk!

“Keparat!” Ituchi kaget sekali. “Siapa gerangan yang bersikap pengecut ini? Kenapa menyerang tanpa berani memperlihatkan diri? Heh, keluarlah, manusia kunyuk. Perlihatkan dirimu dan jangan main sembunyi!”

Tawa itu tiba-tiba berhenti. Seperempat pasukan sudah roboh terguling pingsan. Waktu yang hanya sekejap itu sudah membuat ratusan orang jatuh di tanah, rata-rata terguncang dadanya oleh tawa yang amat dahsyat itu, tawa yang mengandung khikang dan sanggup menggetarkan gunung seberapapun kokohnya dia. Dan ketika tawa itu berhenti disusul berkelebatnya sesosok bayangan maka samar-samar di mulut hutan berdiri seorang laki-laki buntung yang mengetruk-ngetrukkan tongkat.

“Heh-heh, sebegitu saja daya tahanmu, Ituchi. Sayang sekali, kau akan mati!”

Ituchi terbelalak. Pemuda tinggi besar ini melihat seseorang yang tinggi besar pula, berdiri setengah membungkuk karena satu kaki yang lain ditopang tongkat, tak tegak namun cukup memberitahukan bahwa seorang lawan yang amat berbahaya berdiri di situ. Lawan yang jelas kejam dan berwatak buruk, karena tak segan-segan menyerang perajurit yang merupakan orang-orang biasa, bukan ahli-ahli silat. Dan ketika Ituchi tertegun karena tak mengenal bayangan itu, yang berdiri di tempat setengah gelap maka dia menjadi heran di samping terkejut, bangun berdiri.

“Kau siapa?”

Bayangan itu tertawa. Sekarang lawan tak mengeluarkan tenaga saktinya lagi dan tawa itu terdengar biasa. Namun karena keluar dari orang yang aneh dan juga di tempat yang menyeramkan, hutan yang gelap maka Ituchi merinding dan seakan-akan mengenal tawa itu, tawa yang lupa-lupa ingat.

“Ha-ha, kau sudah pikun, Ituchi. Kau rupanya sudah pelupa. Mendekatlah, dan lihat siapa aku!”

Ituchi berdetak. Memang tanpa disuruh lagi dia pasti akan mendekat dan melihat orang itu. Bukan apa-apa melainkan sekedar ingin tahu dan memaki. Maka begitu orang menantang dan dia disuruh mendekat, hal yang tentu saja tak takut dilakukannya maka Ituchi berkelebat dan membentak.

“Iblis busuk, aku memang akan melihat dan mendekati tampangmu!” berkata begini Ituchi menyiapkan kedua lengannya yang bergetar penuh tenaga sinkang. Dia harus waspada karena siapa tahu lawan akan menyerang, dengan tongkatnya itu umpamanya. Tapi ketika lawan tenang-tenang saja dan tertawa, menunggu dia dekat maka Ituchi sudah berhadapan dan berhenti di depan lawannya ini.

“Lihatlah, lihat baik-baik. Kau tentu tak lupa kepadaku!”

Ituchi melebarkan mata. Dia sekarang sudah dekat dan tempat remang-remang itu bukan menjadi halangan. Seorang pemuda sebayanya yang tinggi besar dan berkulit hitam dilihatnya. Ituchi tertegun, bagai disambar geledek. Dan ketika dia mengamati lagi dan tentu saja mengenal wajah itu, wajah yang tampan namun kejam tiba-tiba pemuda ini tersentak kaget dan mundur selangkah. “Togur!”

Lawan terbahak menyeramkan. Isi hutan tiba-tiba kembali diguncang tawa yang dahsyat ini. Togur mengeluarkan khikangnya dan berderaklah sebatang pohon di sebelah Ituchi, miring dan roboh! Dan ketika pemuda itu terkejut dan kaget bukan main, tak menyangka bahwa lawan adalah murid Enam Iblis Dunia itu maka Ituchi yang tertegun dan terbelalak melihat kaki orang yang buntung tiba-tiba disambar tongkat.

“Benar, aku, Ituchi. Dan kau tentu kenal ini... wherr!” dan Ituchi yang menangkis tapi terpelanting, roboh dan terguling-guling segera berteriak kaget karena itulah Khi-bal-sin-kang.

“Keparat, benar kau kiranya!” Ituchi bergulingan melompat bangun, sekarang yakin bahwa ini benar-benar lawannya dan keheranannya akan kaki lawannya yang buntung sudah tidak dipikirnya panjang lagi. Dia berhadapan dengan lawan yang amat berbahaya dan begitu meloncat bangun tiba-tiba pemuda ini melengking, bergerak dan sudah membalas lawannya dengan satu pukulan jarak jauh. Tapi ketika lawan menangkis dan menggerakkan tongkatnya maka pemuda itu kembali terbanting dan gegerlah pasukan di belakangnya.

“Dess!” Ituchi jatuh bangun. Togur tertawa lagi dan pasukan berkuda yang mau maju tiba-tiba terpelanting lagi. Mereka menjerit dan mengeluh oleh tawa yang menggetarkan isi dada itu. Ituchi sendiri harus mengerahkan sinkangnya untuk melindungi dada. Dan ketika dia meloncat bangun dan menyuruh pasukannya mundur, hal yang segera dilaksanakan maka pemuda itu menyambar tombak seorang perajurit dan dengan senjata ini Ituchi lalu menerjang.

“Mundur.... semua mundur. Jangan dekat-dekat!”

Lawan terbahak lagi. Togur mengelak dan tombak menderu di samping tubuhnya, menghajar dan menusuk roboh sebuah pohon di belakang. Dan ketika Ituchi membentak dan menyerang lagi, berkelebatan dengan marah maka di saat itulah terdengar derap pasukan Cucigawa dan muncullah raja tinggi besar itu tertawa menyeramkan.

“Ha-ha, mampus kau, Ituchi. Dan sekarang aku akan mengobrak-abrik pengikutmu. Hayo, maju. Serbu dan bunuh panglima Sudi!”

Panglima itu dan anak buahnya terkejut. Mereka tak menyangka bahwa tiba-tiba muncul si buntung yang amat lihai itu. Mula-mula panglima Sudi lupa-lupa ingat. Dia mendengar Ituchi menyebut-nyebut nama lawan namun karena Togur sudah dianggap tewas maka dia bingung mengenal siapa lawan tuannya itu. Tapi begitu Khi-bal-sin-kang menyambar dan pukulan Bola Sakti itu selalu mementalkan pukulan Ituchi maka kagetlah dia mengenal pemuda ini. Dan kekagetannya bertambah lagi dengan munculnya pasukan Cucigawa. Pasukannya sendiri sudah roboh ratusan orang oleh tawa dahsyat yang dikeluarkan Togur.

Dia baru ingat dan kaget akan pemuda ini, juga heran bagaimana tiba-tiba muncul di situ dengan kaki yang buntung pula. Tapi karena Cucigawa sudah menyerang dan raja itu menjepretkan panah membidik anak buahnya maka panglima ini melengking dan memberi aba-aba maju. Tadi pasukannya mundur karena tak berani menghadapi Togur, lain kalau sekarang disuruh menghadapi pasukan Cucigawa, yang sebenarnya adalah rekan sendiri tapi berbeda pendapat. Maka begitu Cucigawa membidik panah dan tiga orang teman mereka roboh oleh panah yang besar ini segera mereka mengeprak kuda dan menyambut pasukan Cucigawa itu, sebelum mereka digilas.

“Serbu, bunuh Cucigawa!”

Cucigawa tertawa bergelak. Akhirnya pertandingan antara dirinya dengan panglima Sudi tak terelakkan lagi. Panah-panahnya sudah ditangkis panah panglima itu dan runtuh ke tanah. Sudi memang panglima yang hebat. Tapi karena Ituchi tak akan melindungi panglima itu sementara dia sudah siap membunuh lawan maka raja ini melarikan kudanya membabatkan gendewa.

“Ha-ha, mari maju, Sudi. Lihat kepalamu akan kuhancurkan.... wherr!”

Gendewa raja dielak cepat. Sang panglima tak berani menyambut dan tombaknya dicabut, bergerak dan sudah menghadapi gendewa lawan yang menderu-deru di atas kepala. Tapi ketika muncul panglima Horok dan panglima itu minta agar rajanya mundur ternyata Cucigawa menolak.

“Tidak, aku ingin membunuh pengkhianat ini dengan tanganku sendiri, Horok. Maju dan pimpinlah pasukan merobohkan pemberontak. Bunuh mereka kalau tidak mau menyerah!”

Horok akhirnya mengangguk. Panglima itu bergerak menerjang pasukan lawan dan berkali-kali membentak agar pengikut Sudi menyerah. Ramba juga mau mewakili rajanya namun Cucigawa menolak, menyuruh pembantunya itu mengobrak-abrik pasukan lawan dan membunuh mereka kalau tidak mau menyerah. Ituchi dan pemimpin-pemimpin yang lain akan mati terbunuh, siapa membangkang akan mati terbunuh pula.

Dan ketika Ramba juga mengangguk dan menggerakkan trisulanya membabat pasukan lawan maka anak buah panglima itu panik dan gentar, apalagi setelah mengenal bahwa si buntung itu adalah Siauw-ong, pemuda lihai yang dulu menguasai bangsa-bangsa liar dan menyerbu Tiongkok, melihat Ituchi kehilangan lawannya yang mulai berkelebatan cepat bagai siluman menari-nari.

“Dia.... dia Siauw-ong. Murid Enam Iblis Dunia!”

“Benar, ha-ha!” Cucigawa tertawa bergelak, mematahkan nyali lawan. “Karena itu menyerahlah, tikus-tikus busuk. Kalian masih akan kuampuni kalau segera membuang senjata. Tapi kalau tidak maka kalian semua kubunuh!” Panglima Sudi mengeluarkan bentakan marah. Pasukannya yang menjadi ciut tiba-tiba diperintahkan untuk bertempur dengan gagah berani. Mereka melawan iblis-iblis kejam yang manis di mulut tapi keji di hati. Panglima itu menusukkan tombaknya memaki lawan, maksudnya mau membangkitkan semangat anak buahnya agar tidak kena gertak. Tapi ketika tombaknya terpental dan dia sendiri terhuyung, kalah tenaga, maka maksud panglima itu malah berakibat sebaliknya. Pasukan pengikutnya menjadi panik karena di sana Ituchi juga terbanting oleh gebukan tongkat.

Si buntung tertawa menggetarkan hutan dan lenyap merupakan bayang-bayang hitam, mendesak dan bahkan menekan Ituchi yang tadinya menjadi andalan pasukannya. Dan ketika pemuda itu kembali bergulingan sementara sang panglima juga berteriak dan terjatuh dari atas kudanya, menangkis hantaman gendewa maka pasukan Cucigawa yang dua kali lipat dibanding pasukan itu membuat anak buah panglima ini kalang-kabut. Horok dan Ramba membabat siapa saja yang tak mau segera membuang senjatanya.

Sepak terjang atau tandang dua pembantu Cucigawa itu benar-benar ganas sekali. Mereka benar-benar merasa sombong setelah hadirnya si buntung itu, e. yang mampu menghadapi Ituchi, pemuda yang semula paling ditakuti. Dan ketika Sudi dan pasukannya bingung dan tawa yang bergetar-getar dari mulut si buntung terus ditujukan kepada pasukan ini maka Sudi dan anak buahnya terdesak hebat dan beberapa di antaranya mulai melarikan diri.

“Hei, jangan melarikan diri. Buang senjata kalau ingin menyerah!”

Horok melempar empat lembing ke arah lawan yang melarikan diri. Mereka itu menjerit dan roboh tersungkur, membuat yang lain pucat dan akhirnya paniklah pasukan itu. Kalau saja panglima Sudi mampu menghadapi Cucigawa atau kalau saja si buntung itu bukan Siauw-ong yang sudah mereka kenal kehebatannya barangkali pasukan ini akan bertempur dengan gagah berani. Namun celaka, lawan dibantu Siauw-ong, pemuda yang dulu memimpin dan menundukkan bangsa-bangsa liar. Tak akan ada yang kuat menandingi pemuda itu dan Ituchipun tidak.

Dulu mereka sudah melihat bahwa putera Raja Hu itu memang bukan tandingan lawan. Yang dapat menghadapi pemuda itu hanyalah Pendekar Rambut Emas atau keluarganya, yang lain-lain tak akan mampu dan sejarah pasti berulang. Dan ketika benar saja di sana Ituchi mulai mengeluh dan terhuyung-huyung, terdesak hebat, tombak di tangannya selalu terpental oleh tongkat di tangan lawan maka perlahan tetapi pasti pemuda itu mundur-mundur dan semakin terjepit. Dan tombaknya akhirnya patah! Ituchi pucat ketika tombak di tangannya itu ditangkis tongkat, patah dan menjadi dua potong. Dan ketika lawan tertawa bergelak dan melanjutkan gerakan tongkat maka bahu pemuda itu terhantam dan Ituchi terjengkang.

“Dess!” Pasukannya pucat. Kalau sudah begitu maka tak ada harapan lagi. Sudi yang jatuh dari atas kudanya juga dikejar dan terus dikejar lawannya. Cucigawa terbahak-bahak melihat panglima itu basah kuyup, pucat kehilangan senjata dan menyambar lagi tombak yang lain namun gendewa di tangan raja terlalu hebat. Panglima itu kalah tenaga karena Cucigawa memang tinggi besar dan gagah. Dan ketika panglima itu dihantam gendewa dan meloncat ke kiri, terpeleset, maka Cucigawa tiba-tiba mencabut sebatang anak panah dengan tangan kirinya dan secepat kilat menimpukkannya ke dada lawannya itu.

“Ha-ha, mampus kau, pemberontak. Pergilah ke neraka!”

Panglima Sudi terbelalak. Tak ada kesempatan lagi untuk mengelak dan apa boleh buat dia menggerakkan tangannya menangkis. Tapi karena kurang cepat dan masih saja panah meluncur maka tangan panglima itu terluka sementara dada kirinya tertancap, roboh dan saat itu lawan melepas lagi panah kedua. Sang panglima tak mampu menangkis lagi dan tembuslah panah itu di perutnya. Dan ketika panglima itu roboh dan mengeluh, benar-benar tak berdaya lagi maka lawan membungkuk dan gendewapun diayun ke atas kepalanya.

“Prakk!”

Cucigawa tertawa bergelak. Sudi terjengkang dengan kepala pecah, isi dan otaknya berhamburan. Dan ketika panglima itu ambruk dan binasa, tewas seketika, maka pasukannya bersorak sementara pasukan lawan terkejut bukan main. Mereka sudah didesak dan diserang habis-habisan. Robohnya panglima Sudi membuat mereka ngeri dan pucat, tak lama lagi tentu mereka juga roboh dan binasa. Dan ketika mereka ada yang membuang senjata dan berteriak menyerah, patah oleh kejadian ini maka di sana Ituchi juga terpelanting dan berteriak tertahan.

Putera Raja Hu ini sudah patah tombaknya dan terdesak hebat. Pukulan-pukulan sinkangnya selalu membalik oleh Khi-bal-sin-kang yang dipunyai lawannya itu. Ituchi marah dan gusar sekali karena Togur mempergunakan ilmu curian. Khi-bal-sin-kang adalah milik Pendekar Rambut Emas dan keluarganya tapi dengan kelicikannya yang tak tahu malu kini pemuda itu mempergunakannya. Dulu ilmu itu adalah milik Hu-taihiap dan gara-gara pemuda ini Hu-taihiap sampai tewas dan dicuri ilmunya (baca: Istana Hantu).

Maka didesak dan harus mengakui bahwa Khi-bal-sin-kang memang luar biasa, karena pukulan Bola Sakti itu akan selalu menolak dan mementalkan pukulan-pukulannya akhirnya Ituchi berteriak menghantam lawan dengan kedua tangan, membuang sisa tombak tapi pada saat itu lawan berkelebat menghilang. Dengan Jing-sian-engnya yang luar biasa, Ginkang Seribu Dewa, memang Togur dapat lenyap seperti siluman. Ituchi kalah cepat dan tak mampu mengimbangi lawan. Maka ketika dia kehilangan sasaran dan saat itu pukulannya mengenai angin kosong, menghantam dan meledakkan pohon di depan maka saat itulah lawan muncul di belakangnya berseru tertawa.

“Ituchi, cukup. Kau harus menyerah dan menyatakan takluk atau aku terpaksa membunuhmu!”

Ituchi terbanting. Tepukan lawan perlahan saja namun karena dipenuhi Khi-bal-sin-kang maka hebatnya bukan alang kepalang. Dia seakan digebuk lempengan besi seribu ton ketika telapak pemuda itu mendarat. Dan ketika Ituchi mengaduh dan bergulingan menahan sakit maka lawan memintanya untuk menyerah.

“Aku tak sudi menyerah, lebih baik mampus!”

Hm, kalau begitu baiklah,” si buntung tertawa dingin. “Sudah kuduga bahwa kau keras kepala, Ituchi, sombong dan tak tahu diri. Baiklah, kita akhiri main-main ini dan menghadaplah mendiang ayahmu!”

Ituchi membentak. Saat itu dia sudah melompat bangun dan menubruk lagi, nekat. Dia memang marah dan sadar bukan tandingan lawan. Namun karena lari atau menyerah adalah pantangan baginya maka begitu lawan mengejek tiba-tiba dia menerkam sebuas harimau luka. Namun sesosok bayangan panjang tiba-tiba menyambut. Ituchi terkejut ketika sesuatu menyambar dadanya, tongkat lawan. Kiranya, dalam jengkel dan gemasnya tiba-tiba lawannya itu melepaskan tongkat. Senjata di tangan itu memapak ketika justeru dia sedang melompat ke depan.

Dan karena Ituchi tak mungkin mengelak dan satu-satunya jalan ialah menangkis maka pemuda itu sudah melakukannya namun alangkah kagetnya ketika tongkat itu licin dan terus meluncur, lewat di sisi tangannya dan tentu saja pemuda itu kaget bukan main. Tongkat itu seperti ular, atau belut yang terus menyambar tanpa dapat dicegah lagi. Dan ketika Ituchi berteriak dan pucat serta pasi maka saat itulah tongkat itu menancap dan tembus sampai punggungnya.

“Cep!” Ituchi bergetar tertahan. Pemuda ini terpantek di tengah jalan dan mendelik, darah memuncrat dari luka-lukanya. Tapi ketika dia mengeluh dan roboh terjerembab, tak mampu bertahan lagi maka putera Raja Hu ini tewas dan seketika itu juga melayang jiwanya!

“Ha-ha!” si buntung terbahak-bahak. “Terkabul keinginanmu, Ituchi. Menghadaplah ayahmu dan jangan salahkan aku!”

Pasukan gempar. Pengikut panglima Sudi menjadi kaget dan pucat. Mereka yang tidak membuang senjata tiba-tiba membalik dan melarikan diri, berteriak-teriak. Dan ketika lawan mengejar dan Cucigawa tertawa bergelak maka raja itu mementang gendewanya dan satu per satu dipanah seperti pemburu yang kegirangan mendapat buruan. Akibatnya terjungkallah orang-orang itu namun yang lain masih mampu menyelamatkan diri. Mereka inilah yarig terus memacu kudanya memasuki kota, pasukan Cucigawa berderap di belakang tapi mereka yang lebih cepat tak sempat dikejar. Dan ketika mereka berteriak-teriak bahwa pangeran tewas, langsung ke perkemahan Cao Cun maka ibu yang sedang menunggu puteranya itu terpekik.

“Apa? Anakku tewas? Ituchi... Ituchi...”

“Benar, seorang pemuda lihai membantu Cucigawa, ibu suri. Dan dia itu bukan lain adalah Siauw-ong, pemuda iblis yang dulu menjadi murid Enam Iblis Dunia itu. Kini dia muncul, dan membunuh pangeran. Mari melarikan diri dan ikut bersama kami!”

“Tidak!” Cao Cun tiba-tiba berteriak. “Kau bohong, perajurit. Kau penipu. Pemuda iblis itu sudah tak ada lagi. Dia terbunuh di Sam-liong-to!”

“Ah, kami tak dapat menerangkan, ibu suri. Pemuda itu hidup lagi dan sekarang kakinya hanya sebelah. Kami juga tadinya tak percaya tapi sekarang harus percaya. Panglima Sudi juga binasa. Mari cepat bersama kami karena musuh mengejar di belakang!”

Cao Cun roboh. Wanita ini tiba-tiba menjerit dan pingsan begitu disambar si perajurit. Dia tak kuat lagi menahan berita itu karena si perajurit bicara begitu sungguh-sungguh, juga teringat mimpinya semalam bahwa puteranya itu dijemput sang ayah, padahal mendiang Raja Hu sudah lama tiada dan itu berarti tanda tak baik, terbukti sekarang dan panglima Sudipun dikabarkan binasa. Maka begitu si perajurit menyambarnya dan tepat bersamaan itu wanita ini roboh maka Cao Cun sudah dibawa ke atas kuda dan dilarikan sekencang-kencangnya.

Dari belakang memang terdengar gemuruh dan sorak-sorai pasukan Cucigawa. Mereka itu datang dengan membawa kemenangan dan pasukan yang ada di depan membawa sebuah kepala yang berlumuran darah, ditancapkan di sebatang tombak dan diacung-acungkan kepada rakyat. Itulah kepala Ituchi yang dipenggal oleh Cucigawa, setelah pemuda itu dirobohkan oleh Togur. Dan ketika semua berteriak-teriak gembira sementara rakyat dibuat menggigil dan pucat, ngeri oleh kepala yang dibuat permainan oleh pasukan Cucigawa itu maka raja dan semua pembantunya masuk bagai hewan-hewan buas yang mencapai kemenangan dengan brutal.

Cucigawa segera menduduki kemahnya lagi dan mengumumkan bahwa para pemberontak telah dihancurkan. Siapa yang coba-coba melawan lagi akan dibunuh dan tentu saja tak ada seorangpun yang berani. Togur, si buntung yang lihai itu telah membantu kemenangan Cucigawa tapi tak mau memperlihatkan diri kepada rakyat. Pemuda ini berkata biarlah Cucigawa menduduki singgasananya lagi, dia akan berdiri dibelakang layar dan raja itu hanya sebagai boneka yang melaksanakan perintah-perintahnya.

Dan ketika hari itu bangsa U-min diguncang oleh kejadian-kejadian yang menggemparkan maka selanjutnya Cucigawa memerintah dengan tangan besi dan rakyat dibuat takut oleh kebengisan raja yang tiba-tiba melebihi sikap-sikapnya yang lalu. Rakyat tak diberi tahu akan munculnya si buntung ini karena Togur tak mau banyak orang tahu akan dirinya. Dia ingin menyembunyikan dirinya dan biarlah tetap dianggap tewas, seperti apa yang disangka orang dengan kematiannya di Sam-liong-to itu. Dan karena pasukan yang tahu kehadiran pemuda ini diancam untuk tutup mulut, tak boleh memberi tahu siapapun.

Maka Togur menjadi bayangan di balik berdirinya Cucigawa. Pemuda ini tetap mendudukkan raja itu sebagai pemimpin bangsa U-min, meskipun tentu saja dialah yang berkuasa dan menguasai rakyat seperti dulu. Tapi ketika peperangan selesai dan Ituchi dibunuh ternyata dua adik perempuannya yang ditangkap pasukan Cucigawa lenyap melarikan diri. Dua perajurit yang menjaga mereka tewas, ditikam dari belakang. Dan ketika Togur diberi tahu tentang ini tiba-tiba pemuda itu berkerut kening.

“Tak ada? Hilang? Hm, bodoh sekali perajuritmu itu, Cucigawa. Tapi kalau mereka sudah melarikan diri biarlah mati diterkam binatang buas. Sudahlah, aku tak butuh mereka tapi di mana ibu suri Cao Cun!”

“Wanita inipun tak ada, juga melarikan diri. Tentu dibawa oleh sisa-sisa perajurit Sudi!”

“Apa, tak ada? Celaka, bodoh sekali, Cucigawa. Kejar dan tangkap wanita itu. Dia bisa berbahaya!”

“Berbahaya?” sang raja terkejut, tertegun. “Wanita itu lemah, Siauw-ong. Kalau Ituchi saja dapat kau bunuh apalagi wanita itu! Bagaimana bisa dikatakan berbahaya?”

“Bodoh dan tolol!” tongkat tiba-tiba bergerak, mengibas raja itu hingga mencelat terguling-guling. “Wanita itu erat hubungannya dengan Pendekar Rambut Emas, Cucigawa. Kalau dia sampai lolos dan memberitahukan ini tentu aku celaka. Cari dan dapatkan wanita itu, bunuh di tempat!”

Cucigawa kaget. Sekarang dia mengerti dan tiba-tiba melompat bangun. Pinggangnya digebuk dan raja itu tertatih-tatih, kesakitan. Tapi ketika dia meringis dan mengangguk maka dia cepat memanggil pembantunya untuk mengejar dan mencari Cao Cun. Dan begitu puluhan orang bergerak maka nasib wanita itu dibayang-bayangi maut sementara dua puterinya pun entah pergi ke mana.

* * * * * * * *

“Lepaskan aku... aku bisa menunggang kuda sendiri!” begitu Cao Cun berontak ketika sadar. Wanita ini memang dilarikan cepat dan tubuh yang berguncang-guncang akhirnya sadar setelah kuda pengawal menaiki bukit berbatu yang terjal.

Seratus lebih mengiring di belakang dan semua orang rata-rata mandi keringat, juga bermuka murung karena orang-orang yang menjadi pimpinan binasa semua. Ituchi, pangeran yang diharap dan berkepandaian tinggi itu ternyata tewas di tangan si buntung, Siauw-ong yang dulu bekas penakluk suku-suku bangsa liar. Dan ketika semua bersedih dan bercucuran air mata maka perajurit yang membawa ibu suri tiba-tiba terkejut ketika ibu suri bergerak dan meronta ingin menunggang kuda sendiri.

“Berikan kudamu, kau ikut di belakang!” seorang pemuda tiba-tiba tampil ke depan, menghentikan kuda si perajurit dan pemuda ini mengangkat tangannya menghentikan rombongannya pula. Dia sendiri sudah cepat meloncat turun dan menolong Cao Cun menaiki kuda si pengawal, ketika si pengawal atau perajurit itu meloncat turun dari atas kudanya untuk memberikan kuda tunggangannya kepada Cao Cun. Dan ketika Cao Cun tertegun dan melihat pemuda itu maka si pemuda membungkuk dan memberi hormat.

“Silahkan, paduka tetap kami kawal, ibu suri. Dan berjalanlah di tengah tapi bukit bebatuan ini terjal.”

“Kau Lisan? Putera panglima Sudi?”

“Benar,” pemuda itu menggigit bibir. “Kita sama-sama kehilangan orang yang kita cintai, ibu suri. Silahkan paduka berjalan dan kami mengawal.”

Cao Cun tersedu. Tiba-tiba wanita itu meloncat turun dan menubruk pemuda ini, memeluk. Dan ketika dia menangis dan mengguguk mendekap pemuda itu, teringat puteranya maka Lisan, pemuda gagah putera panglima Sudi ini bercucuran air mata dan tak dapat menahan kesedihannya pula.

“Ooh, kau.... ah, kita sama-sama kehilangan orang yang kita cintai, Lisan. Tapi kau laki-laki sedang aku wanita! Apa yang dapat kulakukan setelah puteraku terbunuh? Siapa yang melindungi dan membela aku kalau aku ditimpa bahaya? Keparat, sungguh keji musuh yang mencelakakan kita itu, Lisan. Dan rupanya sudah nasib bagiku untuk selalu tertimpa nasib buruk!”

“Sudahlah,” pemuda ini menghibur. “Meskipun aku laki-laki tapi aku juga sama tak berdayanya seperti paduka, ibu suri. Aku juga tak mungkin membalas pembunuh ayahku. Mereka terlalu lihai, dan aku bukan lawannya!”

“Dan kalian bilang bahwa Togur masih hidup! Setan jahanam mana yang menghidupkan pemuda itu, Lisan? Bukankah dia sudah mampus di Sam-liong-to?”

“Kami tak dapat menjawab ini...” si pemuda menunduk sedih, gentar dan sedih. “Kami juga tak tahu bagaimana dia hidup, ibu suri. Tapi yang jelas kita menghadapi musuh yang tak terkalahkan. Aku putus asa dan tak tahu apa yang harus kulakukan!”

“Tidak!” Cao Cun tiba-tiba bangkit semangatnya. “Aku tahu apa yang harus kalian lakukan, Lisan. Pergi dan antarkan aku ke Pendekar Rambut Emas. Di sana kita dapat melakukan banyak dan kalian akan dapat membalas dendam!”

Lisan, pemuda gagah ini tertegun. Dia seakan disentak ke alam pemikiran baru dan tiba-tiba seratus orang di belakangnya bersorak. Mereka tadi membawa lari ibu suri tanpa ingat akan nama yang besar itu, lari dan hanya lari tanpa tujuan. Maka begitu ibu suri menyebut nama ini dan Pendekar Rambut Emas adalah nama yang dapat diandalkan tiba-tiba saja mereka bersorak dan kegirangan oleh permintaan Cao Cun. Kalau begitu mereka telah salah jalan.

Tadi Lisan tak mengarahkan mereka karena hanya mengikuti si perajurit yang membawa Cao Cun. Tapi begitu Cao Cun menyuruh mereka mencari Pendekar Rambut Emas, pendekar yang tinggal di sebelah barat di utara tembok besar maka mereka bergegas dan Lisan pemuda gagah itu memerintahkan untuk kembali turun.

Tapi orang-orang ini terkejut. Baru saja mereka kembali dan turun tiba-tiba dari jauh tampak barisan berkuda Cucigawa. Itulah orang-orang yang diperintahkan raja untuk mengejar dan menangkap Cao Cun. Cucigawa memerintahkan agar semua jalan ke barat ditutup. Togur telah memberi tahu pemimpin bangsa U-min itu bahwa Cao Cun pasti akan minta perlindungan di barat. Dan karena Pendekar Rambut Emas memang tinggal di sebelah barat sementara bangsa U-min di sebelah timur maka begitu Cao Cun dan pengiringnya kembali ke sana maka tempat itu sudah ditutup atau dicegat pengikut-pengikut Cucigawa, yang memang mencari dan mengejarnya.

“Itu dia, tangkap...!”

Lisan dan anak buahnya terkejut. Mereka sudah dilihat pasukan lawan dan tinggal dua pililian bagi mereka, menyambut atau memutar tubuh melarikan diri. Tapi melihat bahwa lawan seimbang jumlahnya maka pemuda gagah itu sudah menyuruh pasukannya menyambut. “Terjang, dan bunuh mereka!”

Pemuda itu sendiri sudah melarikan kudanya dan menggerakkan pedang. Lawan yang ada di depan segera dibabat dan robohlah seorang perajurit disambar pedang pemuda ini. Dan ketika yang lain berteriak dan ikut menerjang maka pasukan musuh sudah dihadapi dan terjadilah perang tanding yang amat hebat. Lisan yang memimpin rombongannya berkali-kali menggerakkan pedang dan merobohkan musuh-musuhnya. Mereka kalang-kabut dan sebentar saja terjatuh dari atas kudanya. Tapi ketika lawan meniup terompet kerang dan dari kanan muncul barisan yang lain maka Lisan terkejut dan membelalakkan matanya.

Ternyata musuh tidak hanya itu. Cucigawa telah membagi-bagi pasukannya untuk mencari dan mengejar rornbongan ini, memecahnya menjadi seratus orang tiap-tiap kelompok dan masing-masing berpatroli menemukan musuh. Siapa yang dapat dia akan lebih dulu menangkap, kalau gagal dapat meniup terompet untuk meminta bantuan. Maka begitu mereka terdesak karena Lisan pemuda yang gagah itu mengamuk dan menggerakkan pedangnya ke sana ke mari maka pasukan itu kocar-kacir dan muncullah pasukan lain untuk datang membantu.

Lisan membelalakkan mata. Dia telah merobohkan tak kurang dari tigapuluh orang dan bergirang bahwa sebentar lagi hutan di depan itu diterobos. Kalau dia sudah menerobos maka tentu dia dan rombongannya akan selamat. Setelah itu mereka akan melarikan kuda sekencang-kencangnya dan di luar sana mereka dapat bersembunyi di balik bukit-bukit hijau. Tak tahunya musuh yang lain datang menyergap dan tentu saja pemuda itu marah. Dan ketika dia berseru pada pasukannya untuk bertanding mati-matian maka pasukannya diminta untuk menghujani dengan anak-anak panah.

“Robohkan mereka, bunuh semua!”

Cao Cun ngeri. Wanita ini duduk di atas kudanya dan terbelalak memandang semuanya itu. Darah yang muncrat dan tubuh yang terguling roboh dari atas kudanya membuat wanita ini seram. Bantai-membantai yang ada di situ sungguh membuat hatinya diaduk-aduk. Ingin dia muntah setiap melihat darah segar menyemprot dari lukanya. Tapi ketika dia terbelalak dan terpaku di atas kudanya tiba-tiba sebatang tombak terbang menyambar.

“Awas!”

Cao Cun terpekik. Dia baru tahu itu setelah Lisan berteriak memperingatkan. Seorang perajurit melempar tombaknya itu tapi untung Lisan menjepret panah, yang tepat dan meruntuhkan tombak si perajurit. Dan ketika Lisan menggeram marah dan melepas lagi sebatang anak panah, menyimpan pedangnya, maka perajurit itu roboh dan Lisan bergerak mendekati wanita ini.

“Paduka menerobos ke depan. Hamba akan membuka jalan!”

Cao Cun menggigil. Tali kekang kudanya sudah ditarik dan disambar pemuda ini, Lisan membedal dan pedangpun dicabut lagi untuk menikam musuh yang berani menghalang. Dan ketika pasukannya juga bergerak dan melindungi di kiri kanan, gagah membela Cao Cun maka musuh dibuat miris oleh sepak terjang pemuda ini. Lisan tak memberi ampun setiap musuh yang mendekat. Pasukannya di kiri kanan disuruh melepas anak panah setiap mereka datang. Dan ketika dua kelompok pasukan itu cerai-berai dan kacau berteriak-teriak maka kepungan dapat dibobol dan pemuda itupun sudah melarikan kudanya mendekati hutan.

“Cepat, kita semua lari. Lindungi ibu suri!”

Cao Cun kagum. Akhirnya dengan gerak luar biasa putera panglima Sudi itu menghalau musuh. Pedang di tangannya yang bergerak-gerak selalu menjatuhkan korban kalau ada musuh berani mendekat. Pasukannya melindungi dengan melepas anak-anak panah pula. Mereka menghalau dan kini berpacu mendekati hutan. Itulah .jalan keluar satu-satunya yang akan membawa mereka ke tempat Pendekar Rambut Emas.

Tapi ketika terdengar bentakan dan derap kuda tiba-tiba di mulut hutan muncul seratus pasukan lain yang dipimpin Ramba. Dan ketika Lisan terkejut dan menghentikan kudanya, karena Ramba dikenalnya baik maka dari tempat yang lain muncul pula seratus pasukan lain dan Horok, pembantu utama Cucigawa muncul, berseru dengan bentakannya yang nyaring.

“Lisan, menyerahlah. Serahkan ibu suri dan buang senjatamu!”

Pemuda itu tertegun. Dari depan juga terdengar geraman Ramba dan pembantu nomor dua Cucigawa itu mengejek agar dia menyerahkan diri. Ayahnya saja tak sanggup menghadapi apalagi dia. Dan ketika pemuda ini menjublak dan bingung, pucat serta gelisah maka dua rombongan itu sudah maju mendekat dan mengepung. Jalan benar-benar buntu!

“Menyerahlah baik-baik, dan buang senjatamu. Atau kau mati seperti ayahmu dan kalian semua kubunuh!”

Pemuda ini tak dapat menjawab. Ibu suri yang ada di sampingnya dicekal erat-erat. Pemuda itu bingung karena musuh tak mungkin dilawan lagi. Dia tak akan menang menghadapi pembantu-pembantu utama Cucigawa di situ, apalagi mereka dua orang sekaligus. Tapi ketika pemuda ini tak dapat menjawab dan tekadnya biarlah dia mati asal ibu suri selamat tiba-tiba dari dalam hutan, di belakang pasukan Ramba terdengar tawa seseorang dan muncullah di situ seorang laki-laki bertopeng kertas.

“Horok, kau panglima yang tak tahu malu. Masa menghadapi pemuda macam itu kau main ancam dan keroyok? Dan temanmu si Ramba itu juga. Ah, kalian orang-orang pengecut yang beraninya mengandalkan jumlah banyak. Lihat aku, seorang diri berani menghadapimu... wut!” dan orang ini yang bergerak dengan luar biasa cepat tiba-tiba melampaui semua pasukan Ramba dan sudah berdiri di depan pembantu nomor dua Cucigawa itu, seperti siluman, terbang dan hinggap dengan cara yang amat mengejutkan!

“Siapa kau?” Ramba berseru, membentak tertahan. “Siluman atau manusia pengecut? Kalau bukan pengecut maka buka tutup wajahmu itu, jangan memaki kami pengecut!”

“Ha-ha, anjing menggonggong tanda takut. Aku siluman utusan Pendekar Rambut Emas, Ramba. Minggirlah baik-baik dan biarkan pemuda itu dan rombongannya bebas. Atau kau kubuat jungkir balik dan semua teman-temanmu kulempar....!”

Rajawali Merah Jilid 06

RAJAWALI MERAH
JILID 06
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
PASUKAN PUN gempar. Mereka tak menyangka bahwa itulah Togur, pemimpin atau bekas pemimpin yang pernah menggegerkan Tiongkok, yang menyebut dirinya sebagai Siauw-ong dan kini mereka meloncat turun dari atas kuda dan buru-buru berlutut. Raja mereka sendiri sudah berlutut dan mereka memperhatikan pemuda buntung itu, yang tadi tak diamati baik-baik karena pemuda itu sudah dikabarkan tewas, di Sam-liong-to.

Tapi ketika mereka memperhatikan dengan seksama dan memang benarlah pemuda itu Togur adanya, murid Enam Iblis Dunia yang memimpin dan menundukkan suku-suku bangsa di utara untuk melakukan serbuan ke Tiongkok maka banyak di antaranya yang merasa bengong dan kaget, juga terheran-heran. Pemuda ini sudah dikabarkan tewas ketika menghadapi keluarga Pendekar Rambut Emas.

Pemuda itu sudah dinyatakan binasa ketika menerima pukulan Kim-hujin atau nyonya Kim yang menjadi isteri Pendekar Rambut Emas itu, setelah melalui pertempuran seru dan sengit di kota raja. Maka ketika tiba-tiba hari ini muncul dan menggegerkan mereka, raja berteriak dan menyuruh mereka berlutut maka semua bengong dan bagai mimpi di siang bolong.

Tapi pemuda itu memang ada di situ. Semua orang melihat bahwa pemuda itu masih tinggi besar dan gagah. Kulitnya kehitaman dan matanya berkilat-kilat bagai mata seekor harimau. Sayang kakinya buntung, padahal dahulu lengkap. Dan ketika semua terbelalak dan heran serta kaget, ngeri karena berpikir bahwa jangan-jangan itu adalah roh si pemuda, yang mati dan penasaran di Pulau Tiga Naga (Sam-liong-to) maka si buntung yang menghadapi sekian banyak orang tiba-tiba tertawa bergelak.

“Ha-ha!” suaranya menggetarkan isi hutan. “Kau tajam dan awas sekali, Cucigawa. Sungguh aku kagum dan tak menyangka bahwa inilah pasukanmu. Ah, kau memiliki ingatan yang kuat, dan pandang mata yang tajam. Tapi terangkan padaku bagaimana kau mengenal bahwa aku adalah Togur, putera ayahku yang gagah perkasa mendiang Gurba!”

“Hm, maaf!” Cucigawa berseri-seri. “Aku mengenalmu karena bentuk kepalamu, Siauw-ong, yang mirip mendiang ayahmu yang gagah perkasa itu. Juga kesaktianmu, yang telah kau perlihatkan tadi. Bukankah itu adalah Khi-bal-sin-kang yang kau punyai selama ini? Bukankah itu adalah warisan Hu-taihiap yang kau curi dulu?”

“Ha-ha!” pemuda buntung itu tertawa lagi. “Tapi aku dikabarkan tewas, Cucigawa. Dan kau tentu tahu itu!”

”Benar, tapi berita itu tak menyebutkan mayatmu, Siauw-ong. Kau hanya dikabarkan jatuh ke laut dan tewas. Padahal orang sehebat dirimu ini sukar dipercaya untuk mati begitu saja. Pemuda sepertimu ini tak mungkin tewas hanya kalau jatuh ke laut!”

“Ha-ha, kau betul. Kau cerdas. Ah, kau pantas menjadi pembantuku yang berpikiran jauh.... dess!” dan tongkat yang menghantam hancur sebuah batu besar di sebelah raja itu tiba-tiba disusul tawa bergelak yang menyeramkan.

Cucigawa terkejut dan terkesiap ketika tadi tongkat itu bergerak. Dia tak mungkin dapat menangkis atau mengelak. Pemuda itu terlalu tinggi kepandaiannya kalau dibandingkan dengannya. Tapi ketika batu menggelegar dan hancur ditimpa tongkat, bukan kepalanya, maka raja itu berseri kembali dan membuka matanya, yang tadi dipejamkan.

“Siauw-ong, aku dan pasukanku adalah tetap hambamu yang setia. Nah, kebetulan kau datang. Kami ditimpa bencana, tolong dan hancurkan musuh kami!”

“Ha-ha, musuh apa lagi? Siapa? Asal bukan Pendekar Rambut Emas atau keluarganya tentu aku berani. Apa yang terjadi!”

“Kami kedatangan musuh tangguh, Ituchi. Dialah yang datang dan kini mengobrak-abrik pasukanku!”

“Ituchi? Ha-ha, bocah yang masih saudaramu itu? Putera mendiang Raja Hu?”

“Benar, dialah, Siauw-ong. Dan aku tentu rela menyerahkan kedudukanku kepadamu daripada kepada bocah itu. Aku dan pasukanku siap membantumu lagi untuk menjadi kaisar!”

“Ha-ha, bagus. Cocok sekali. Aku memang masih ingin menjadi kaisar.... blar!” dan tongkat yang kembali bergerak dan menghajar pohon di sebelah, yang tumbang dan roboh menjadi tiga potong segera mengejutkan anak buah Cucigawa yang meleletkan lidah melihat kehebatan itu. Si buntung bergerak lagi dua tiga kali ke kiri kanan dan hancurlah pohon-pohon yang lain. Suaranya hiruk-pikuk dan beberapa di antaranya hampir tertimpa. Tapi ketika si pemuda berkelebat kembali dan tongkatnya diluncurkan ke sebuah batu hitam maka batu itu tembus sementara tongkat telah menancap dan bergetar bagai sebuah pisau yang menancap di punuk seekor kerbau jantan!

“Hah, aku tak takut. Bocah itu terlalu ringan bagiku. Ha-ha, memalukan kalau kau sampai terbirit-birit, Cucigawa. Padahal kau membawa pasukanmu yang begini besar. Ah, kau tak pantas sebagai pemimpin!”

“Maaf,” raja tinggi besar itu meradang. “Ituchi sendiri bukan halangan, Siau-ong. Tapi anak buahku yang memberontak dan membantu pemuda itu membuat aku dan pasukanku kalut. Kami melarikan diri, dan kini kebetulan denganmu. Nah, biarlah kuceritakan sejenak persoalan ini dan setelah itu ceritakan kepada kami bagaimana kau masih bisa hidup. Apakah benar dugaanku bahwa kau tidak tewas di laut!”

“Hm!” mata itu tiba-tiba berkilat berbahaya. “Sebelumnya katakan dulu siapa dua orang gadis ini, Cucigawa. Dan kenapa pasukanmu mati-matian menculiknya.”

“Dia adik Ituchi!”

“Ooh, begitu? Bagus! Kemudian?”

“Kemudian kami akan menyanderanya, anak buahku tahu melakukan tugas begitu mendengar kekalahanku di batas kota!”

“Hm-hm, bagus. Kalau begitu ceritakanlah secara lengkap bagaimana pemuda itu datang dan mengalahkanmu. Baru setelah itu aku akan bercerita bagaimana aku masih hidup!”

Cucigawa berseri-seri. Kalau sudah begini maka harapan ada padanya dan tentu saja dia girang. Datangnya pemuda itu sungguh di luar dugaan dan hadirnya si buntung yang luar biasa lihai ini tentu saja membangkitkan semangatnya. Cucigawa segera bercerita apa yang terjadi, bagaimana mula-mula Ituchi menjadi tawanan bangsa Uighur dan dibawa ke situ. Dan ketika si buntung mendengarkan dan mengangguk-angguk, tertawa mengejek maka selanjutnya si buntung itu berkata bahwa Cucigawa tak perlu takut.

“Hm, begitu kiranya. Bagus, dan kita telah menawan dua adiknya pula. Ah, sekarang kita ke sana, Cucigawa. Hadapkan pemuda itu kepadaku dan biar kuhajar dia. Dia adalah sahabat Pendekar Rambut Emas!”

Cucigawa berseru girang. Dia tentu saja girang karena si buntung ini akan melaksanakan kata-katanya. Ituchi bukanlah tandingan pemuda itu dan apa yang dikata si buntung pasti terlaksana. Dan ketika dia balik bertanya bagaimana si buntung itu masih hidup, apakah benar tidak tewas di laut maka si buntung ini tertawa, matanya bersinar penuh dendam.

“Aku memang tidak mati, aku masih hidup. Kau benar kalau menganggap bahwa dengan kepandaianku yang seperti ini tak mungkin aku mati di dasar laut. Hm, aku selamat karena ilmu-ilmuku, Cucigawa. Tapi aku mengalami naas karena kakiku disambar hiu!”

“Tapi paduka memiliki kekebalan. Paduka memiliki sinkang yang amat hebat!”

“Hm, waktu itu pukulan Kim-hujin membuatku luka dalam, Cucigawa. Dan karena aku luka dalam maka aku tak dapat mengerahkan kekebalanku ketika kakiku disambar hiu!”

“Ah, maaf. Kalau begitu aku merasa prihatin. Tapi betapapun Siauw-ong masih hidup!”

“Ya, aku masih hidup karena aku ingin membalas dendamku. Siapapun di antara kalian kularang untuk tidak memberitahukan keadaanku ini kepada musuh-musuhku. Sanggup?”

“Sanggup, Siauw-ong. Tapi bagaimana nanti dengan Ituchi itu. Dia pasti akan rmenjadi berita utama kalau melapor kepada Pendekar Rambut Emas!”

“Ha-ha, kiramu dia akan kuampuni? Bodoh, aku akan membunuhnya, Cucigawa. Tak akan kubiarkan sahabat-sahabat Pendekar Rambut Emas atau anak isterinya hidup. Aku akan menghajar dan setelah itu membunuh lawanmu!”

“Hm, kalau boleh berikanlah dia kepadaku. Aku ingin membalas dendamku, Siauw-ong. Aku ingin memenggal kepalanya kalau kau sudah merobohkannya!”

“Baiklah, mari berangkat. Kita temui pemuda itu!” dan melempar Nangi serta Salini pada raja Cucigawa untuk dititipkan maka raja itu diminta kembali dan memasuki kotanya lagi. Si buntung sudah menyeringai dan membalikkan tubuhnya. Dan ketika orang terbelalak melihat dia berkelebat tiba-tiba si buntung ini lenyap seperti siluman.

“Hebat!” semua meleletkan lidah. “Pemuda itu masih luar biasa, sri baginda. Tapi sayang kakinya buntung!”

“Hush, jangan mengejek. Kita harus bersyukur dia datang, Ramba. Kalau tidak tentu kita tak mampu menghadapi lawan kita itu. Hayo siapkan pasukan dan kembali lagi ke kota!”

Ramba dan lain-lain mengangguk. Memang mereka harus mengakui bahwa tiba-tiba saja semangat mereka berkobar dan bangkit lagi setelah si buntung itu muncul. Meskipun buntung namun bekas murid Enam Iblis Dunia yang bergelar Siauw-ong itu bukanlah main-main. Lawannya hanyalah Pendekar Rambut Emas dan anak isterinya. Tokoh-tokoh dunia tak akan sanggup menandingi karena pemuda itu memiliki Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng yang amat luar biasa. Mampu bergerak dan terbang secepat siluman. Mampu hilang dan datang seperti iblis saja.

Dan ketika semua bersorak dan riuh rendah maka Cucigawa sudah membawa pasukannya keluar hutan. Tadi mereka bersembunyi dan pasukan yang menculik Nangi itu menyusul, bertemu dengan si buntung dan untung Cucigawa keluar. Kalau tidak, mungkin pasukannya bisa dihabisi, karena Togur atau si buntung itu terkenal kejam dan tidak berperasaan.

Dia adalah murid mendiang Enam Iblis Dunia yang tewas di tangan keluarga Pendekar Rambut Emas, juga putera mendiang Gurba yang gagah perkasa dan sakti, suheng Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas yang akhirnya tewas oleh pendekar itu. Dan ketika pasukan bergerak dan kembali ke kota, berderap dan bersorak riuh mendapat bantuan yang hebat maka Ituchi terancam bahaya maut yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Siapakah pemuda buntung yang disegani Cucigawa ini? Benarkah dia mampu menghadapi Ituchi dan membunuh pemuda itu? Bagi para pembaca yang telah membaca “Istana Hantu” tentu telah mengenal baik pemuda ini. Benar, dia adalah Togur yang gagah sakti itu gagah dan berwatak kejam dan tipu-tipu muslihatnya ditakuti orang. Pemuda inilah yang dulu menggegerkan Tiongkok dengan serbuan besar-besarannya yang tak tanggung-tanggung.

Pemuda inilah yang dulu menundukkan bangsa-bangsa liar untuk diajak berperang dan satu di antaranya adalah bangsa U-min itu, bangsa yang dulu menjadi sahabat kaisar semasa diperintah Raja Hu tapi kemudian dibawa memberontak dan berperang oleh pemuda ini. Dan karena Togur bersama guru-gurunya adalah orang-orang luar biasa di mana kepandaian dan kesaktiannya amat tinggi maka tak ada yang sanggup mengalahkan pemuda itu sampai akhirnya sri baginda kaisar meminta pertolongan Pendekar Rambut Emas. Dan di situlah pemuda ini akhirnya menemui kekalahan.

Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-engnya, ilmu pukulan Bola Sakti dan Ginkang Seribu Dewa yang dulu dicuri dari mendiang Hu-tai-hiap (pendekar besar Hu; mertua Pendekar Rambut Emas) tak dapat menandingi Pendekar Rambut Emas dan keluarganya yang masih memiliki dua ilmu simpanan lain yang tak dipunyai pemuda itu, yakni Cui-sian Gin-kang (Ginkang Pengejar Dewa) dan Lui-ciang-hoat (Pukulan Tangan Petir) yang merupakan kelebihan bagi pendekar itu.

Dan karena Pendekar Rambut Emas dapat menggabung ilmu-ilmunya sementara pemuda itu hanya dua ilmu saja maka Togur terdesak dan akhirnya jatuh di laut Tung-hai, ketika bertanding di atas sebuah karang yang terjal. Dan ketika pemuda itu terpelanting dan jatuh ke laut, disangka tewas, maka Pendekar Rambut Emas dan lain-lain menganggap bahwa pemuda itu binasa.

Memang, seandainya saja sebuah kejadian lain tak datang mengikuti peristiwa itu pasti pemuda ini bakal tenggelam dan tewas di dasar samudera. Tapi seekor hiu tiba-tiba menyambarnya di dalam air. Togur waktu itu sudah setengah pingsan oleh luka-luka dalam yang dideritanya. Pukulan bertubi-tubi dari Kim-hujin atau isteri Pendekar Rambut Emas amatlah hebatnya.

Berkat daya tahan dan sinkangnya saja dia dapat menerima semua itu, meskipun kian lama tentu saja kian sesak dan amat berbahaya. Dia dapat mati lemas kehabisan tenaga. Maka ketika dia terlempar atau lebih tepat membuang tubuh ke laut tak mau mati di tangan lawannya itu maka Togur disambar dan digigit seekor hiu yang kebetulan berenang di bawah air.

Pemuda itu terkejut dan sebisa-bisanya mengerahkan sinkang. Kaki kirinya digigit dan kalau bukan dia tentu seketika itu juga putus. Tapi karena pemuda ini adalah pemuda luar biasa dan selemah-lemahnya dia tetaplah dia pemuda yang kuat fisiknya maka dua jam digigit dan dibawa berenang ke sana ke mari oleh hiu yang ganas itu Togur masih dapat bertahan. Hiu ini akhirnya marah dan membawanya menyelam ke laut yang dalam. Mayat pemuda itu yang memang tak timbul lagi sudah memperkuat dugaan tewas di bawah laut.

Tapi ketika hiu itu membawa berputaran dan dua jam lebih tak mampu menggigit putus kakinya, yang penuh tenaga sinkang maka Togur terkejut ketika tiba-tiba dibawa menyelam ke tempat yang dalam. Sehebat-hebatnya dia tentu akan mati juga, kalau terus-menerus begitu. Maka ketika lawan membawanva ke laut yang dalam dan hiu itu mulai menarik perhatian teman-temannya yang lain untuk berdatangan, siap mengeroyok dan mencaplok tubuh pemuda ini maka begitu seekor hiu lain datang mendekat mendadak pemuda ini menggerakkan tangan dan menangkap siripnya. Gerakan ini cepat dan tak terduga. Hiu itu kaget dan melejit.

Namun karena kaki Togur digigit hiu pertama sementara pemuda itu mencengkeram dan menjepit kuat-kuat sirip hiu kedua maka begitu hiu itu melejit dan kaget menarik tubuhnya maka hiu pertama terseret dan tiba-tiba tertarik terbawa temannya ini. Selanjutnya dua ekor hiu itu berkutat melawan pemuda ini. Yang satu tetap menggigit dan tak mau melepaskan kaki korbannya sedang yang lain kaget dan marah dicengkeram siripnya. Cengkeraman itu membuat hiu itu kesakitan dan akibatnya berenanglah hiu itu dengan cepat ke atas. Dia melecut-lecutkan ekornya namun Togur berada di tengah, terus mencengkeram dan tak mau melepaskan lawannya.

Sudah menjadi tekad pemuda ini bahwa dia harus melepaskan diri dari gigitan hiu pertama itu. Dan ketika hiu-hiu lain berenang mengikuti dan Togur pucat melihat dirinya akan menjadi korban maka mendadak saking marah dan paniknya pemuda ini tiba-tiba mengerahkan semua kekuatan untuk membuat hiu kedua kesakitan. Dia mencengkeram sedemikian rupa sirip hiu itu hingga berkeratak, patah di dalam. Tapi begitu Togur mengerahkan segenap kekuatan di tangan, membuat hiu itu berontak dan melejit ke atas, luar biasa kuatnya, maka saat itulah tenaga di kaki hilang.

Sinkang yang sepenuhnya ditarik ke atas untuk membuat hiu kedua kesakitan dan berenang kuat, kaget oleh tenaga pemuda ini tiba-tiba telah membuat kaki yang dilindungi sinkang menjadi kaki yang biasa lagi, lemah dan kosong dan tiba-tiba saat itu juga Togur merasakan kakinya lepas. Pemuda ini mengira terbebas dari gigitan lawan dan hiu pertama itu melepaskan dirinya. Dia tak tahu bahwa saat itulah kakinya putus ditelan hiu yang ganas, hiu yang tak kenal menyerah dan terus menggigit kakinya ke manapun dia ditarik hiu kedua.

Maka begitu kaki itu putus karena Togur menarik semua sinkangnya ke atas, ke tangan yang mencengkeram sirip hiu kedua maka saat itulah dia menjadi buntung dan laut di bawah segera menjadi merah oleh darah yang membanjir keluar. Togur sendiri masih tidak sadar dan secepat kilat dia bergerak memiting hiu kedua itu, menusukkan kedua jarinya ke tubuh ikan dan menggeliatlah hiu ini oleh tusukan jari baja yang membuat perutnya bolong. Dan ketika hiu itu meronta dan semakin kesakitan maka Togur telah menghunjam-hunjamkan kelima jarinya ke punggung dan perut ikan ini.

Pemuda itu dibawa berenang luar biasa cepatnya hingga hiu-hiu yang lain tertinggal. Togur tak tahu bahwa hiu-hiu yang lain mengejar dirinya, atau lebih tepat, mengejar kakinya yang buntung karena dari kaki itulah darah mengucur membuat hiu-hiu itu beringas. Bau darah memang akan membuat binatang-binatang buas itu semakin menggila dan buas saja. Dan ketika Togur terus dibawa dan terbang bersama hiu kedua ini maka muncullah hiu itu di atas permukaan air dan nyosor ke pantai daratan berbatu.

Dalam panik dan sakitnya akhirnya hiu itu juga tak sadar membawa diri, tak perduli lagi ke mana dia berenang pokoknya dirinya bisa dibebaskan dari pitingan lawannya itu, yang terus menyakiti dan menusuk-nusuk tubuhnya dengan jari-jari yang sekuat baja. Maka ketika dia muncul dan berenang seperti kesetanan, penuh luka-luka di tubuh maka binatang itu nyeruduk dan nyosor ke pantai, tak dapat menahan diri lagi dan terhempaslah mereka kedua ke daratan yang berbatu. Togur megap-megap dan nyaris pingsan. Kalau bukan dia tentu sudah tewas dan kehabisan tenaga sejak tadi. Hebat pemuda ini.

Tapi begitu dia dibawa keluar dan menghirup udara segar, lolos dari maut maka hiu yang dipitingnya itu roboh dan tewas tak lama kemudian. Togur berkunang-kunang dan geram memandang lawannya ini, menggerakkan tangan untuk menghancurkan kepala lawannya itu tapi tiba-tiba iapun roboh, ambruk dan pingsan. Dan ketika dua mahluk berlainan dunia itu jatuh dan sama-sama tak sadarkan diri lagi maka barulah keesokannya pemuda ini siuman dan tahu bahwa kakinya lenyap sebuah.

Togur terbelalak dan melotot. Pemuda ini seakan tak percaya pada apa yang dilihat. Tapi ketika dia mengeluh dan sejenak terkejut mendadak, aneh sekali, pemuda ini tertawa bergelak. Murid Enam Iblis Dunia itu terguncang hebat namun dalam kekagetannya itu dia coba melampiaskannya dengan tawa yang menggetarkan seluruh pantai.

Togur terbahak-bahak sampai akhirnya dia roboh lagi, bangun dan tertawa lagi sampai akhirnya seluruh mukanya menjadi merah kehitaman. Air mata membanjir namun mata itu sendiri menjadi buas dan menyala-nyala. Dan ketika dia menghantam dan meremukkan kepala ikan, yang sebenarnya sudah binasa maka pemuda ini merobek perut ikan dan menyambar segala isinya, jantung dan paru-paru dan bahkan usus!

“Ha-ha, bedebah jahanam kau, hiu keparat. Terkutuk dan binatang kau. Ah, kurobek-robek perutmu, kuganyang jantungmu... krius-kriuss!” dan Togur yang merobek serta mengodal-adul perut ikan lalu mengganyang mentah-mentah semua isi perut binatang itu. Tak perduli mulut berlepotan darah dan amis. Tak perduli bahwa lawan sudah mati dan bukan hiu itulah yang menggigit putus kakinya.

Dan ketika dia terpincang dan roboh terduduk, masih mengganyang perut ikan maka saat itulah nyeri di kaki terasa hebat. Togur tiba-tiba mengeluh dan menghentikan makannya. Pemuda ini bukan mirip manusia berada lagi melainkan seperti hewan buas sendiri, merintih dan mengejang dan barulah dia ingat bahwa kakinya harus diobati. Darah yang mengucur kiranya sudah berhenti sendiri oleh asinnya air laut, selamat tapi tentu saja rasanya pedih dan senut-senut. Luka yang seakan disiram garam ini bukan main pedihnya. Lagi-lagi kalau bukan pemuda ini tentu akan pingsan dan roboh.

Tapi karena Togur adalah pemuda yang keras hati dan sebagai murid Enam Iblis Dunia pemuda ini memang mengagumkan maka sambil merintih dan menahan sakit akhirnya pemuda itu membalut luka di pangkal kaki dengan bajunya sendiri yang sudah diperas dan dilepas. Selanjutnya pemuda itu terhuyung mencari obat-obatan di hutan, menahan sakit dan menggigit bibir dan seminggu lebih pemuda ini merawat diri. Akar-akar tanaman dan daun obat-obatan ternyata banyak terdapat di situ. Pemuda ini mengurus dan merawat dirinya sendiri. Dan ketika sebulan kemudian dia sembuh namun pangkal pahanya buntung, tak dapat dipakai berjalan maka dia mempergunakan tongkat untuk penyangga kakinya itu.

Diam-diam pemuda ini menyesal. Sekarang dia menjadi cacad namun tiba-tiba dadanya bergemuruh. Itulah akibat Kim-hujin. Dia harus bersyukur bahwa masih hidup dan untuk itu dia akan menuntut balas. Akan dibuntunginya kedua kaki lawannya itu dan akan disiksanya lawannya itu sekejam-kejamnya. Sudah terbayang di benaknya bahwa dia akan mempermainkan wanita itu dengan keji.

Mula-mula, hmm.... dia akan memperkosa lawannya itu, menelanjanginya dan mengikatnya di batang pohon. Lalu menusuk-nusuk seluruh tubuhnya untuk kemudian ditaburi garam. Kemudian, hmm.... ketika lawan menjerit-jerit maka dia akan mengutungi satu per satu jari-jari kaki wanita itu, sebelum menabas dan membuntungi kakinya seperti dia. Dan ketika puncak siksaan sudah sampai maka dia akan membeset muka lawannya untuk kemudian dibakar!

“Pendekar Rambut Emas, aku tak mau sudah sebelum membeset dan mempermainkan isterimu. Sumpah demi segala iblis aku akan membalas kejadian ini seribu kali lebih kejam!”

Namun, pemuda itu tiba-tiba tertunduk. Kim-hujin, isteri Pendekar Rambut Emas itu bukanlah wanita lemah. Wanita itu amat sakti dan kosen. Ilmu-ilmunya tinggi dan masih lebih tinggi darinya. Kelebihan lawan adalah Cui-sian Gin-kang dan Lui-ciang-hoatnya itu. Selebihnya adalah sama. Tapi ketika dia bersinar dan teringat bahwa wanita itu memiliki seorang anak laki-laki, Beng An namanya, tiba-tiba dia tersenyum dan menyeringai. Hm, dia akan melakukan sesuatu yang tak diduga lawan-lawannya itu. Dia akan mencari dan menculik anak ini dulu, mempermainkan perasaan orang tuanya sebelum diaduk-aduk lebih jauh.

Dan ketika ingatan itu membuat Togur menyeringai dan bangkit berdiri maka tak lama kemudian pemuda itu meninggalkan pulau setelah luka-luka di kakinya sembuh. Dia tak berani langsung ke daratan melainkan berputar mencari tempat-tempat sepi. Seringkali pemuda ini harus menghindari manusia lain kalau bertemu di tengah jalan. Bukan apa-apa, semata hanya menjaga agar dia jangan dikenal dulu. Maka ketika dia menyusur dan akhirnya bergerak ke utara, masuk dan membelok ke barat akhirnya pemuda ini berada di wilayah bangsa-bangsa liar, yang tak begitu mengenalnya seperti halnya orang-orang kang-ouw di pedalaman.

Dan ketika hari itu dia tiba di wilayah bangsa U-min dan melihat sepasukan berkuda melarikan dua anak gadis cantik, hal yang membuatnya bersinar maka. selanjutnya dia menghadang dan ingin main-main dengan orang-orang itu, yang tak disangkanya malah mempertemukannya dengan Cucigawa, raja bangsa U-min yang dulu ditundukkannya dan tentu saja segera mengenalnya karena mereka dahulu memang pernah dekat. Dan ketika Cucigawa mengenalnya dan pasukanpun segera terkejut maka pemuda ini terlibat urusan pribadi dan kini ingin menghadapi Ituchi.

Demikianlah, itulah sekelumit kisah tentang pemuda ini. Dan karena Ituchi akan menghadapi seorang lawan tangguh, lawan yang berbahaya maka marilah kita ikuti lanjutannya dan lihat apa yang terjadi.

* * * * * * * *

Waktu itu, seperti diterangkan di depan, Ituchi akhirnya berkelebat meninggalkan ibunya. Dia marah dan geram mendengar adiknya diculik. Cucigawa dan perajuritnya memang curang, tak tahu malu. Dan ketika dia berkelebat dan Sudi, panglima gagah itu mengikuti dengan pasukannya yang mengejar di belakang maka Ituchi sudah menuju hutan di mana Cucigawa atau pasukannya itu diperkirakan melarikan diri.

Ituchi mulai bergerak dan bekerja sendirian. Dia cukup mengenal daerah itu karena dia cukup lama tinggal di sini, ketika dulu mengunjungi ibunya. Tapi ketika pasukannya menyusul dan bersorak-sorai, membuat ribut maka dia mengerutkan kening dan terpaksa berhenti.

“Kalian tak usah membuat gaduh. Aku ingin semuanya terjadi secara diam-diam agar kedua adikku tidak celaka. Berpencarlah, dan jangan bersorak-sorai!”

Panglima Sudi mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dialah yang meneruskan perintah pemuda itu kepada pasukannya. Derap pasukan berkuda yang seribu lebih ini memang cukup membuat gaduh isi hutan, belum ditambah dengan teriakan-teriakan mereka, yang menantang-nantang atau memanggil-manggil Cucigawa. Maka begitu Ituchi melarang berteriak-teriak dan semua diam maka Ituchi minta agar pasukan dipecah menjadi tiga.

“Barisan tengah menerobos isi hutan, yang lain bergerak di kiri dan kanan. Kalau musuh bertemu kita sebaiknya beri tanda kepada yang lain agar cepat-cepat membantu!”

“Baik, dan paduka sendiri, pangeran. Apakah akan memasuki tengah hutan?”

“Ya, aku akan bergerak di sini. Paman pimpin yang lain dan biar yang ini mengikutiku dari belakang.”

Tapi belum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba terdengar suara tawa aneh yang bergema menggetarkan isi hutan. Suaranya tak kalah dahsyat dengan gemuruh derap seribu kuda dan Ituchi serta yang lain-lain terkejut. Suara itu terdengar dari depan namun pemilik suaranya tak tampak. Dan ketika suara itu bertambah dahsyat dan pasukan di depan mengeluh tiba-tiba mereka terguling dan roboh dari atas kudanya, mendekap dada.

“Sumpal telinga kalian. Awas, seseorang menyerang dengan tenaga sakti!”

Namun terlambat. Seratus orang di depan tiba-tiba roboh dan terguling dari atas kudanya lagi. Bahkan yang ini lebih hebat, muntah darah dan batuk-batuk! Dan ketika Sudi panglima yang gagah itu juga terhuyung dan batuk-batuk, menekan dada kirinya maka secepat kilat Ituchi menotok dan menyumpal telinga panglima ini.

“Mundur.... semua mundur!”

Bentakan atau seruan menggeledek Ituchi menggetarkan hutan. Pemuda ini mengerahkan khikangnya juga dan dengan tenaga suara itu dia coba menindih tawa yang bergulung-gulung. Tawa itu kian hebat hingga ratusan orang tiba-tiba tak tahan lagi, jatuh dan merintih-rintih di tanah. Mulut dan hidung mereka mulai mengeluarkan darah, juga telinga! Dan ketika Ituchi kaget karena bentakan suaranya masih tertindih oleh tawa yang menggetarkan itu maka diapun tiba-tiba terhuyung dan jatuh terduduk!

“Keparat!” Ituchi kaget sekali. “Siapa gerangan yang bersikap pengecut ini? Kenapa menyerang tanpa berani memperlihatkan diri? Heh, keluarlah, manusia kunyuk. Perlihatkan dirimu dan jangan main sembunyi!”

Tawa itu tiba-tiba berhenti. Seperempat pasukan sudah roboh terguling pingsan. Waktu yang hanya sekejap itu sudah membuat ratusan orang jatuh di tanah, rata-rata terguncang dadanya oleh tawa yang amat dahsyat itu, tawa yang mengandung khikang dan sanggup menggetarkan gunung seberapapun kokohnya dia. Dan ketika tawa itu berhenti disusul berkelebatnya sesosok bayangan maka samar-samar di mulut hutan berdiri seorang laki-laki buntung yang mengetruk-ngetrukkan tongkat.

“Heh-heh, sebegitu saja daya tahanmu, Ituchi. Sayang sekali, kau akan mati!”

Ituchi terbelalak. Pemuda tinggi besar ini melihat seseorang yang tinggi besar pula, berdiri setengah membungkuk karena satu kaki yang lain ditopang tongkat, tak tegak namun cukup memberitahukan bahwa seorang lawan yang amat berbahaya berdiri di situ. Lawan yang jelas kejam dan berwatak buruk, karena tak segan-segan menyerang perajurit yang merupakan orang-orang biasa, bukan ahli-ahli silat. Dan ketika Ituchi tertegun karena tak mengenal bayangan itu, yang berdiri di tempat setengah gelap maka dia menjadi heran di samping terkejut, bangun berdiri.

“Kau siapa?”

Bayangan itu tertawa. Sekarang lawan tak mengeluarkan tenaga saktinya lagi dan tawa itu terdengar biasa. Namun karena keluar dari orang yang aneh dan juga di tempat yang menyeramkan, hutan yang gelap maka Ituchi merinding dan seakan-akan mengenal tawa itu, tawa yang lupa-lupa ingat.

“Ha-ha, kau sudah pikun, Ituchi. Kau rupanya sudah pelupa. Mendekatlah, dan lihat siapa aku!”

Ituchi berdetak. Memang tanpa disuruh lagi dia pasti akan mendekat dan melihat orang itu. Bukan apa-apa melainkan sekedar ingin tahu dan memaki. Maka begitu orang menantang dan dia disuruh mendekat, hal yang tentu saja tak takut dilakukannya maka Ituchi berkelebat dan membentak.

“Iblis busuk, aku memang akan melihat dan mendekati tampangmu!” berkata begini Ituchi menyiapkan kedua lengannya yang bergetar penuh tenaga sinkang. Dia harus waspada karena siapa tahu lawan akan menyerang, dengan tongkatnya itu umpamanya. Tapi ketika lawan tenang-tenang saja dan tertawa, menunggu dia dekat maka Ituchi sudah berhadapan dan berhenti di depan lawannya ini.

“Lihatlah, lihat baik-baik. Kau tentu tak lupa kepadaku!”

Ituchi melebarkan mata. Dia sekarang sudah dekat dan tempat remang-remang itu bukan menjadi halangan. Seorang pemuda sebayanya yang tinggi besar dan berkulit hitam dilihatnya. Ituchi tertegun, bagai disambar geledek. Dan ketika dia mengamati lagi dan tentu saja mengenal wajah itu, wajah yang tampan namun kejam tiba-tiba pemuda ini tersentak kaget dan mundur selangkah. “Togur!”

Lawan terbahak menyeramkan. Isi hutan tiba-tiba kembali diguncang tawa yang dahsyat ini. Togur mengeluarkan khikangnya dan berderaklah sebatang pohon di sebelah Ituchi, miring dan roboh! Dan ketika pemuda itu terkejut dan kaget bukan main, tak menyangka bahwa lawan adalah murid Enam Iblis Dunia itu maka Ituchi yang tertegun dan terbelalak melihat kaki orang yang buntung tiba-tiba disambar tongkat.

“Benar, aku, Ituchi. Dan kau tentu kenal ini... wherr!” dan Ituchi yang menangkis tapi terpelanting, roboh dan terguling-guling segera berteriak kaget karena itulah Khi-bal-sin-kang.

“Keparat, benar kau kiranya!” Ituchi bergulingan melompat bangun, sekarang yakin bahwa ini benar-benar lawannya dan keheranannya akan kaki lawannya yang buntung sudah tidak dipikirnya panjang lagi. Dia berhadapan dengan lawan yang amat berbahaya dan begitu meloncat bangun tiba-tiba pemuda ini melengking, bergerak dan sudah membalas lawannya dengan satu pukulan jarak jauh. Tapi ketika lawan menangkis dan menggerakkan tongkatnya maka pemuda itu kembali terbanting dan gegerlah pasukan di belakangnya.

“Dess!” Ituchi jatuh bangun. Togur tertawa lagi dan pasukan berkuda yang mau maju tiba-tiba terpelanting lagi. Mereka menjerit dan mengeluh oleh tawa yang menggetarkan isi dada itu. Ituchi sendiri harus mengerahkan sinkangnya untuk melindungi dada. Dan ketika dia meloncat bangun dan menyuruh pasukannya mundur, hal yang segera dilaksanakan maka pemuda itu menyambar tombak seorang perajurit dan dengan senjata ini Ituchi lalu menerjang.

“Mundur.... semua mundur. Jangan dekat-dekat!”

Lawan terbahak lagi. Togur mengelak dan tombak menderu di samping tubuhnya, menghajar dan menusuk roboh sebuah pohon di belakang. Dan ketika Ituchi membentak dan menyerang lagi, berkelebatan dengan marah maka di saat itulah terdengar derap pasukan Cucigawa dan muncullah raja tinggi besar itu tertawa menyeramkan.

“Ha-ha, mampus kau, Ituchi. Dan sekarang aku akan mengobrak-abrik pengikutmu. Hayo, maju. Serbu dan bunuh panglima Sudi!”

Panglima itu dan anak buahnya terkejut. Mereka tak menyangka bahwa tiba-tiba muncul si buntung yang amat lihai itu. Mula-mula panglima Sudi lupa-lupa ingat. Dia mendengar Ituchi menyebut-nyebut nama lawan namun karena Togur sudah dianggap tewas maka dia bingung mengenal siapa lawan tuannya itu. Tapi begitu Khi-bal-sin-kang menyambar dan pukulan Bola Sakti itu selalu mementalkan pukulan Ituchi maka kagetlah dia mengenal pemuda ini. Dan kekagetannya bertambah lagi dengan munculnya pasukan Cucigawa. Pasukannya sendiri sudah roboh ratusan orang oleh tawa dahsyat yang dikeluarkan Togur.

Dia baru ingat dan kaget akan pemuda ini, juga heran bagaimana tiba-tiba muncul di situ dengan kaki yang buntung pula. Tapi karena Cucigawa sudah menyerang dan raja itu menjepretkan panah membidik anak buahnya maka panglima ini melengking dan memberi aba-aba maju. Tadi pasukannya mundur karena tak berani menghadapi Togur, lain kalau sekarang disuruh menghadapi pasukan Cucigawa, yang sebenarnya adalah rekan sendiri tapi berbeda pendapat. Maka begitu Cucigawa membidik panah dan tiga orang teman mereka roboh oleh panah yang besar ini segera mereka mengeprak kuda dan menyambut pasukan Cucigawa itu, sebelum mereka digilas.

“Serbu, bunuh Cucigawa!”

Cucigawa tertawa bergelak. Akhirnya pertandingan antara dirinya dengan panglima Sudi tak terelakkan lagi. Panah-panahnya sudah ditangkis panah panglima itu dan runtuh ke tanah. Sudi memang panglima yang hebat. Tapi karena Ituchi tak akan melindungi panglima itu sementara dia sudah siap membunuh lawan maka raja ini melarikan kudanya membabatkan gendewa.

“Ha-ha, mari maju, Sudi. Lihat kepalamu akan kuhancurkan.... wherr!”

Gendewa raja dielak cepat. Sang panglima tak berani menyambut dan tombaknya dicabut, bergerak dan sudah menghadapi gendewa lawan yang menderu-deru di atas kepala. Tapi ketika muncul panglima Horok dan panglima itu minta agar rajanya mundur ternyata Cucigawa menolak.

“Tidak, aku ingin membunuh pengkhianat ini dengan tanganku sendiri, Horok. Maju dan pimpinlah pasukan merobohkan pemberontak. Bunuh mereka kalau tidak mau menyerah!”

Horok akhirnya mengangguk. Panglima itu bergerak menerjang pasukan lawan dan berkali-kali membentak agar pengikut Sudi menyerah. Ramba juga mau mewakili rajanya namun Cucigawa menolak, menyuruh pembantunya itu mengobrak-abrik pasukan lawan dan membunuh mereka kalau tidak mau menyerah. Ituchi dan pemimpin-pemimpin yang lain akan mati terbunuh, siapa membangkang akan mati terbunuh pula.

Dan ketika Ramba juga mengangguk dan menggerakkan trisulanya membabat pasukan lawan maka anak buah panglima itu panik dan gentar, apalagi setelah mengenal bahwa si buntung itu adalah Siauw-ong, pemuda lihai yang dulu menguasai bangsa-bangsa liar dan menyerbu Tiongkok, melihat Ituchi kehilangan lawannya yang mulai berkelebatan cepat bagai siluman menari-nari.

“Dia.... dia Siauw-ong. Murid Enam Iblis Dunia!”

“Benar, ha-ha!” Cucigawa tertawa bergelak, mematahkan nyali lawan. “Karena itu menyerahlah, tikus-tikus busuk. Kalian masih akan kuampuni kalau segera membuang senjata. Tapi kalau tidak maka kalian semua kubunuh!” Panglima Sudi mengeluarkan bentakan marah. Pasukannya yang menjadi ciut tiba-tiba diperintahkan untuk bertempur dengan gagah berani. Mereka melawan iblis-iblis kejam yang manis di mulut tapi keji di hati. Panglima itu menusukkan tombaknya memaki lawan, maksudnya mau membangkitkan semangat anak buahnya agar tidak kena gertak. Tapi ketika tombaknya terpental dan dia sendiri terhuyung, kalah tenaga, maka maksud panglima itu malah berakibat sebaliknya. Pasukan pengikutnya menjadi panik karena di sana Ituchi juga terbanting oleh gebukan tongkat.

Si buntung tertawa menggetarkan hutan dan lenyap merupakan bayang-bayang hitam, mendesak dan bahkan menekan Ituchi yang tadinya menjadi andalan pasukannya. Dan ketika pemuda itu kembali bergulingan sementara sang panglima juga berteriak dan terjatuh dari atas kudanya, menangkis hantaman gendewa maka pasukan Cucigawa yang dua kali lipat dibanding pasukan itu membuat anak buah panglima ini kalang-kabut. Horok dan Ramba membabat siapa saja yang tak mau segera membuang senjatanya.

Sepak terjang atau tandang dua pembantu Cucigawa itu benar-benar ganas sekali. Mereka benar-benar merasa sombong setelah hadirnya si buntung itu, e. yang mampu menghadapi Ituchi, pemuda yang semula paling ditakuti. Dan ketika Sudi dan pasukannya bingung dan tawa yang bergetar-getar dari mulut si buntung terus ditujukan kepada pasukan ini maka Sudi dan anak buahnya terdesak hebat dan beberapa di antaranya mulai melarikan diri.

“Hei, jangan melarikan diri. Buang senjata kalau ingin menyerah!”

Horok melempar empat lembing ke arah lawan yang melarikan diri. Mereka itu menjerit dan roboh tersungkur, membuat yang lain pucat dan akhirnya paniklah pasukan itu. Kalau saja panglima Sudi mampu menghadapi Cucigawa atau kalau saja si buntung itu bukan Siauw-ong yang sudah mereka kenal kehebatannya barangkali pasukan ini akan bertempur dengan gagah berani. Namun celaka, lawan dibantu Siauw-ong, pemuda yang dulu memimpin dan menundukkan bangsa-bangsa liar. Tak akan ada yang kuat menandingi pemuda itu dan Ituchipun tidak.

Dulu mereka sudah melihat bahwa putera Raja Hu itu memang bukan tandingan lawan. Yang dapat menghadapi pemuda itu hanyalah Pendekar Rambut Emas atau keluarganya, yang lain-lain tak akan mampu dan sejarah pasti berulang. Dan ketika benar saja di sana Ituchi mulai mengeluh dan terhuyung-huyung, terdesak hebat, tombak di tangannya selalu terpental oleh tongkat di tangan lawan maka perlahan tetapi pasti pemuda itu mundur-mundur dan semakin terjepit. Dan tombaknya akhirnya patah! Ituchi pucat ketika tombak di tangannya itu ditangkis tongkat, patah dan menjadi dua potong. Dan ketika lawan tertawa bergelak dan melanjutkan gerakan tongkat maka bahu pemuda itu terhantam dan Ituchi terjengkang.

“Dess!” Pasukannya pucat. Kalau sudah begitu maka tak ada harapan lagi. Sudi yang jatuh dari atas kudanya juga dikejar dan terus dikejar lawannya. Cucigawa terbahak-bahak melihat panglima itu basah kuyup, pucat kehilangan senjata dan menyambar lagi tombak yang lain namun gendewa di tangan raja terlalu hebat. Panglima itu kalah tenaga karena Cucigawa memang tinggi besar dan gagah. Dan ketika panglima itu dihantam gendewa dan meloncat ke kiri, terpeleset, maka Cucigawa tiba-tiba mencabut sebatang anak panah dengan tangan kirinya dan secepat kilat menimpukkannya ke dada lawannya itu.

“Ha-ha, mampus kau, pemberontak. Pergilah ke neraka!”

Panglima Sudi terbelalak. Tak ada kesempatan lagi untuk mengelak dan apa boleh buat dia menggerakkan tangannya menangkis. Tapi karena kurang cepat dan masih saja panah meluncur maka tangan panglima itu terluka sementara dada kirinya tertancap, roboh dan saat itu lawan melepas lagi panah kedua. Sang panglima tak mampu menangkis lagi dan tembuslah panah itu di perutnya. Dan ketika panglima itu roboh dan mengeluh, benar-benar tak berdaya lagi maka lawan membungkuk dan gendewapun diayun ke atas kepalanya.

“Prakk!”

Cucigawa tertawa bergelak. Sudi terjengkang dengan kepala pecah, isi dan otaknya berhamburan. Dan ketika panglima itu ambruk dan binasa, tewas seketika, maka pasukannya bersorak sementara pasukan lawan terkejut bukan main. Mereka sudah didesak dan diserang habis-habisan. Robohnya panglima Sudi membuat mereka ngeri dan pucat, tak lama lagi tentu mereka juga roboh dan binasa. Dan ketika mereka ada yang membuang senjata dan berteriak menyerah, patah oleh kejadian ini maka di sana Ituchi juga terpelanting dan berteriak tertahan.

Putera Raja Hu ini sudah patah tombaknya dan terdesak hebat. Pukulan-pukulan sinkangnya selalu membalik oleh Khi-bal-sin-kang yang dipunyai lawannya itu. Ituchi marah dan gusar sekali karena Togur mempergunakan ilmu curian. Khi-bal-sin-kang adalah milik Pendekar Rambut Emas dan keluarganya tapi dengan kelicikannya yang tak tahu malu kini pemuda itu mempergunakannya. Dulu ilmu itu adalah milik Hu-taihiap dan gara-gara pemuda ini Hu-taihiap sampai tewas dan dicuri ilmunya (baca: Istana Hantu).

Maka didesak dan harus mengakui bahwa Khi-bal-sin-kang memang luar biasa, karena pukulan Bola Sakti itu akan selalu menolak dan mementalkan pukulan-pukulannya akhirnya Ituchi berteriak menghantam lawan dengan kedua tangan, membuang sisa tombak tapi pada saat itu lawan berkelebat menghilang. Dengan Jing-sian-engnya yang luar biasa, Ginkang Seribu Dewa, memang Togur dapat lenyap seperti siluman. Ituchi kalah cepat dan tak mampu mengimbangi lawan. Maka ketika dia kehilangan sasaran dan saat itu pukulannya mengenai angin kosong, menghantam dan meledakkan pohon di depan maka saat itulah lawan muncul di belakangnya berseru tertawa.

“Ituchi, cukup. Kau harus menyerah dan menyatakan takluk atau aku terpaksa membunuhmu!”

Ituchi terbanting. Tepukan lawan perlahan saja namun karena dipenuhi Khi-bal-sin-kang maka hebatnya bukan alang kepalang. Dia seakan digebuk lempengan besi seribu ton ketika telapak pemuda itu mendarat. Dan ketika Ituchi mengaduh dan bergulingan menahan sakit maka lawan memintanya untuk menyerah.

“Aku tak sudi menyerah, lebih baik mampus!”

Hm, kalau begitu baiklah,” si buntung tertawa dingin. “Sudah kuduga bahwa kau keras kepala, Ituchi, sombong dan tak tahu diri. Baiklah, kita akhiri main-main ini dan menghadaplah mendiang ayahmu!”

Ituchi membentak. Saat itu dia sudah melompat bangun dan menubruk lagi, nekat. Dia memang marah dan sadar bukan tandingan lawan. Namun karena lari atau menyerah adalah pantangan baginya maka begitu lawan mengejek tiba-tiba dia menerkam sebuas harimau luka. Namun sesosok bayangan panjang tiba-tiba menyambut. Ituchi terkejut ketika sesuatu menyambar dadanya, tongkat lawan. Kiranya, dalam jengkel dan gemasnya tiba-tiba lawannya itu melepaskan tongkat. Senjata di tangan itu memapak ketika justeru dia sedang melompat ke depan.

Dan karena Ituchi tak mungkin mengelak dan satu-satunya jalan ialah menangkis maka pemuda itu sudah melakukannya namun alangkah kagetnya ketika tongkat itu licin dan terus meluncur, lewat di sisi tangannya dan tentu saja pemuda itu kaget bukan main. Tongkat itu seperti ular, atau belut yang terus menyambar tanpa dapat dicegah lagi. Dan ketika Ituchi berteriak dan pucat serta pasi maka saat itulah tongkat itu menancap dan tembus sampai punggungnya.

“Cep!” Ituchi bergetar tertahan. Pemuda ini terpantek di tengah jalan dan mendelik, darah memuncrat dari luka-lukanya. Tapi ketika dia mengeluh dan roboh terjerembab, tak mampu bertahan lagi maka putera Raja Hu ini tewas dan seketika itu juga melayang jiwanya!

“Ha-ha!” si buntung terbahak-bahak. “Terkabul keinginanmu, Ituchi. Menghadaplah ayahmu dan jangan salahkan aku!”

Pasukan gempar. Pengikut panglima Sudi menjadi kaget dan pucat. Mereka yang tidak membuang senjata tiba-tiba membalik dan melarikan diri, berteriak-teriak. Dan ketika lawan mengejar dan Cucigawa tertawa bergelak maka raja itu mementang gendewanya dan satu per satu dipanah seperti pemburu yang kegirangan mendapat buruan. Akibatnya terjungkallah orang-orang itu namun yang lain masih mampu menyelamatkan diri. Mereka inilah yarig terus memacu kudanya memasuki kota, pasukan Cucigawa berderap di belakang tapi mereka yang lebih cepat tak sempat dikejar. Dan ketika mereka berteriak-teriak bahwa pangeran tewas, langsung ke perkemahan Cao Cun maka ibu yang sedang menunggu puteranya itu terpekik.

“Apa? Anakku tewas? Ituchi... Ituchi...”

“Benar, seorang pemuda lihai membantu Cucigawa, ibu suri. Dan dia itu bukan lain adalah Siauw-ong, pemuda iblis yang dulu menjadi murid Enam Iblis Dunia itu. Kini dia muncul, dan membunuh pangeran. Mari melarikan diri dan ikut bersama kami!”

“Tidak!” Cao Cun tiba-tiba berteriak. “Kau bohong, perajurit. Kau penipu. Pemuda iblis itu sudah tak ada lagi. Dia terbunuh di Sam-liong-to!”

“Ah, kami tak dapat menerangkan, ibu suri. Pemuda itu hidup lagi dan sekarang kakinya hanya sebelah. Kami juga tadinya tak percaya tapi sekarang harus percaya. Panglima Sudi juga binasa. Mari cepat bersama kami karena musuh mengejar di belakang!”

Cao Cun roboh. Wanita ini tiba-tiba menjerit dan pingsan begitu disambar si perajurit. Dia tak kuat lagi menahan berita itu karena si perajurit bicara begitu sungguh-sungguh, juga teringat mimpinya semalam bahwa puteranya itu dijemput sang ayah, padahal mendiang Raja Hu sudah lama tiada dan itu berarti tanda tak baik, terbukti sekarang dan panglima Sudipun dikabarkan binasa. Maka begitu si perajurit menyambarnya dan tepat bersamaan itu wanita ini roboh maka Cao Cun sudah dibawa ke atas kuda dan dilarikan sekencang-kencangnya.

Dari belakang memang terdengar gemuruh dan sorak-sorai pasukan Cucigawa. Mereka itu datang dengan membawa kemenangan dan pasukan yang ada di depan membawa sebuah kepala yang berlumuran darah, ditancapkan di sebatang tombak dan diacung-acungkan kepada rakyat. Itulah kepala Ituchi yang dipenggal oleh Cucigawa, setelah pemuda itu dirobohkan oleh Togur. Dan ketika semua berteriak-teriak gembira sementara rakyat dibuat menggigil dan pucat, ngeri oleh kepala yang dibuat permainan oleh pasukan Cucigawa itu maka raja dan semua pembantunya masuk bagai hewan-hewan buas yang mencapai kemenangan dengan brutal.

Cucigawa segera menduduki kemahnya lagi dan mengumumkan bahwa para pemberontak telah dihancurkan. Siapa yang coba-coba melawan lagi akan dibunuh dan tentu saja tak ada seorangpun yang berani. Togur, si buntung yang lihai itu telah membantu kemenangan Cucigawa tapi tak mau memperlihatkan diri kepada rakyat. Pemuda ini berkata biarlah Cucigawa menduduki singgasananya lagi, dia akan berdiri dibelakang layar dan raja itu hanya sebagai boneka yang melaksanakan perintah-perintahnya.

Dan ketika hari itu bangsa U-min diguncang oleh kejadian-kejadian yang menggemparkan maka selanjutnya Cucigawa memerintah dengan tangan besi dan rakyat dibuat takut oleh kebengisan raja yang tiba-tiba melebihi sikap-sikapnya yang lalu. Rakyat tak diberi tahu akan munculnya si buntung ini karena Togur tak mau banyak orang tahu akan dirinya. Dia ingin menyembunyikan dirinya dan biarlah tetap dianggap tewas, seperti apa yang disangka orang dengan kematiannya di Sam-liong-to itu. Dan karena pasukan yang tahu kehadiran pemuda ini diancam untuk tutup mulut, tak boleh memberi tahu siapapun.

Maka Togur menjadi bayangan di balik berdirinya Cucigawa. Pemuda ini tetap mendudukkan raja itu sebagai pemimpin bangsa U-min, meskipun tentu saja dialah yang berkuasa dan menguasai rakyat seperti dulu. Tapi ketika peperangan selesai dan Ituchi dibunuh ternyata dua adik perempuannya yang ditangkap pasukan Cucigawa lenyap melarikan diri. Dua perajurit yang menjaga mereka tewas, ditikam dari belakang. Dan ketika Togur diberi tahu tentang ini tiba-tiba pemuda itu berkerut kening.

“Tak ada? Hilang? Hm, bodoh sekali perajuritmu itu, Cucigawa. Tapi kalau mereka sudah melarikan diri biarlah mati diterkam binatang buas. Sudahlah, aku tak butuh mereka tapi di mana ibu suri Cao Cun!”

“Wanita inipun tak ada, juga melarikan diri. Tentu dibawa oleh sisa-sisa perajurit Sudi!”

“Apa, tak ada? Celaka, bodoh sekali, Cucigawa. Kejar dan tangkap wanita itu. Dia bisa berbahaya!”

“Berbahaya?” sang raja terkejut, tertegun. “Wanita itu lemah, Siauw-ong. Kalau Ituchi saja dapat kau bunuh apalagi wanita itu! Bagaimana bisa dikatakan berbahaya?”

“Bodoh dan tolol!” tongkat tiba-tiba bergerak, mengibas raja itu hingga mencelat terguling-guling. “Wanita itu erat hubungannya dengan Pendekar Rambut Emas, Cucigawa. Kalau dia sampai lolos dan memberitahukan ini tentu aku celaka. Cari dan dapatkan wanita itu, bunuh di tempat!”

Cucigawa kaget. Sekarang dia mengerti dan tiba-tiba melompat bangun. Pinggangnya digebuk dan raja itu tertatih-tatih, kesakitan. Tapi ketika dia meringis dan mengangguk maka dia cepat memanggil pembantunya untuk mengejar dan mencari Cao Cun. Dan begitu puluhan orang bergerak maka nasib wanita itu dibayang-bayangi maut sementara dua puterinya pun entah pergi ke mana.

* * * * * * * *

“Lepaskan aku... aku bisa menunggang kuda sendiri!” begitu Cao Cun berontak ketika sadar. Wanita ini memang dilarikan cepat dan tubuh yang berguncang-guncang akhirnya sadar setelah kuda pengawal menaiki bukit berbatu yang terjal.

Seratus lebih mengiring di belakang dan semua orang rata-rata mandi keringat, juga bermuka murung karena orang-orang yang menjadi pimpinan binasa semua. Ituchi, pangeran yang diharap dan berkepandaian tinggi itu ternyata tewas di tangan si buntung, Siauw-ong yang dulu bekas penakluk suku-suku bangsa liar. Dan ketika semua bersedih dan bercucuran air mata maka perajurit yang membawa ibu suri tiba-tiba terkejut ketika ibu suri bergerak dan meronta ingin menunggang kuda sendiri.

“Berikan kudamu, kau ikut di belakang!” seorang pemuda tiba-tiba tampil ke depan, menghentikan kuda si perajurit dan pemuda ini mengangkat tangannya menghentikan rombongannya pula. Dia sendiri sudah cepat meloncat turun dan menolong Cao Cun menaiki kuda si pengawal, ketika si pengawal atau perajurit itu meloncat turun dari atas kudanya untuk memberikan kuda tunggangannya kepada Cao Cun. Dan ketika Cao Cun tertegun dan melihat pemuda itu maka si pemuda membungkuk dan memberi hormat.

“Silahkan, paduka tetap kami kawal, ibu suri. Dan berjalanlah di tengah tapi bukit bebatuan ini terjal.”

“Kau Lisan? Putera panglima Sudi?”

“Benar,” pemuda itu menggigit bibir. “Kita sama-sama kehilangan orang yang kita cintai, ibu suri. Silahkan paduka berjalan dan kami mengawal.”

Cao Cun tersedu. Tiba-tiba wanita itu meloncat turun dan menubruk pemuda ini, memeluk. Dan ketika dia menangis dan mengguguk mendekap pemuda itu, teringat puteranya maka Lisan, pemuda gagah putera panglima Sudi ini bercucuran air mata dan tak dapat menahan kesedihannya pula.

“Ooh, kau.... ah, kita sama-sama kehilangan orang yang kita cintai, Lisan. Tapi kau laki-laki sedang aku wanita! Apa yang dapat kulakukan setelah puteraku terbunuh? Siapa yang melindungi dan membela aku kalau aku ditimpa bahaya? Keparat, sungguh keji musuh yang mencelakakan kita itu, Lisan. Dan rupanya sudah nasib bagiku untuk selalu tertimpa nasib buruk!”

“Sudahlah,” pemuda ini menghibur. “Meskipun aku laki-laki tapi aku juga sama tak berdayanya seperti paduka, ibu suri. Aku juga tak mungkin membalas pembunuh ayahku. Mereka terlalu lihai, dan aku bukan lawannya!”

“Dan kalian bilang bahwa Togur masih hidup! Setan jahanam mana yang menghidupkan pemuda itu, Lisan? Bukankah dia sudah mampus di Sam-liong-to?”

“Kami tak dapat menjawab ini...” si pemuda menunduk sedih, gentar dan sedih. “Kami juga tak tahu bagaimana dia hidup, ibu suri. Tapi yang jelas kita menghadapi musuh yang tak terkalahkan. Aku putus asa dan tak tahu apa yang harus kulakukan!”

“Tidak!” Cao Cun tiba-tiba bangkit semangatnya. “Aku tahu apa yang harus kalian lakukan, Lisan. Pergi dan antarkan aku ke Pendekar Rambut Emas. Di sana kita dapat melakukan banyak dan kalian akan dapat membalas dendam!”

Lisan, pemuda gagah ini tertegun. Dia seakan disentak ke alam pemikiran baru dan tiba-tiba seratus orang di belakangnya bersorak. Mereka tadi membawa lari ibu suri tanpa ingat akan nama yang besar itu, lari dan hanya lari tanpa tujuan. Maka begitu ibu suri menyebut nama ini dan Pendekar Rambut Emas adalah nama yang dapat diandalkan tiba-tiba saja mereka bersorak dan kegirangan oleh permintaan Cao Cun. Kalau begitu mereka telah salah jalan.

Tadi Lisan tak mengarahkan mereka karena hanya mengikuti si perajurit yang membawa Cao Cun. Tapi begitu Cao Cun menyuruh mereka mencari Pendekar Rambut Emas, pendekar yang tinggal di sebelah barat di utara tembok besar maka mereka bergegas dan Lisan pemuda gagah itu memerintahkan untuk kembali turun.

Tapi orang-orang ini terkejut. Baru saja mereka kembali dan turun tiba-tiba dari jauh tampak barisan berkuda Cucigawa. Itulah orang-orang yang diperintahkan raja untuk mengejar dan menangkap Cao Cun. Cucigawa memerintahkan agar semua jalan ke barat ditutup. Togur telah memberi tahu pemimpin bangsa U-min itu bahwa Cao Cun pasti akan minta perlindungan di barat. Dan karena Pendekar Rambut Emas memang tinggal di sebelah barat sementara bangsa U-min di sebelah timur maka begitu Cao Cun dan pengiringnya kembali ke sana maka tempat itu sudah ditutup atau dicegat pengikut-pengikut Cucigawa, yang memang mencari dan mengejarnya.

“Itu dia, tangkap...!”

Lisan dan anak buahnya terkejut. Mereka sudah dilihat pasukan lawan dan tinggal dua pililian bagi mereka, menyambut atau memutar tubuh melarikan diri. Tapi melihat bahwa lawan seimbang jumlahnya maka pemuda gagah itu sudah menyuruh pasukannya menyambut. “Terjang, dan bunuh mereka!”

Pemuda itu sendiri sudah melarikan kudanya dan menggerakkan pedang. Lawan yang ada di depan segera dibabat dan robohlah seorang perajurit disambar pedang pemuda ini. Dan ketika yang lain berteriak dan ikut menerjang maka pasukan musuh sudah dihadapi dan terjadilah perang tanding yang amat hebat. Lisan yang memimpin rombongannya berkali-kali menggerakkan pedang dan merobohkan musuh-musuhnya. Mereka kalang-kabut dan sebentar saja terjatuh dari atas kudanya. Tapi ketika lawan meniup terompet kerang dan dari kanan muncul barisan yang lain maka Lisan terkejut dan membelalakkan matanya.

Ternyata musuh tidak hanya itu. Cucigawa telah membagi-bagi pasukannya untuk mencari dan mengejar rornbongan ini, memecahnya menjadi seratus orang tiap-tiap kelompok dan masing-masing berpatroli menemukan musuh. Siapa yang dapat dia akan lebih dulu menangkap, kalau gagal dapat meniup terompet untuk meminta bantuan. Maka begitu mereka terdesak karena Lisan pemuda yang gagah itu mengamuk dan menggerakkan pedangnya ke sana ke mari maka pasukan itu kocar-kacir dan muncullah pasukan lain untuk datang membantu.

Lisan membelalakkan mata. Dia telah merobohkan tak kurang dari tigapuluh orang dan bergirang bahwa sebentar lagi hutan di depan itu diterobos. Kalau dia sudah menerobos maka tentu dia dan rombongannya akan selamat. Setelah itu mereka akan melarikan kuda sekencang-kencangnya dan di luar sana mereka dapat bersembunyi di balik bukit-bukit hijau. Tak tahunya musuh yang lain datang menyergap dan tentu saja pemuda itu marah. Dan ketika dia berseru pada pasukannya untuk bertanding mati-matian maka pasukannya diminta untuk menghujani dengan anak-anak panah.

“Robohkan mereka, bunuh semua!”

Cao Cun ngeri. Wanita ini duduk di atas kudanya dan terbelalak memandang semuanya itu. Darah yang muncrat dan tubuh yang terguling roboh dari atas kudanya membuat wanita ini seram. Bantai-membantai yang ada di situ sungguh membuat hatinya diaduk-aduk. Ingin dia muntah setiap melihat darah segar menyemprot dari lukanya. Tapi ketika dia terbelalak dan terpaku di atas kudanya tiba-tiba sebatang tombak terbang menyambar.

“Awas!”

Cao Cun terpekik. Dia baru tahu itu setelah Lisan berteriak memperingatkan. Seorang perajurit melempar tombaknya itu tapi untung Lisan menjepret panah, yang tepat dan meruntuhkan tombak si perajurit. Dan ketika Lisan menggeram marah dan melepas lagi sebatang anak panah, menyimpan pedangnya, maka perajurit itu roboh dan Lisan bergerak mendekati wanita ini.

“Paduka menerobos ke depan. Hamba akan membuka jalan!”

Cao Cun menggigil. Tali kekang kudanya sudah ditarik dan disambar pemuda ini, Lisan membedal dan pedangpun dicabut lagi untuk menikam musuh yang berani menghalang. Dan ketika pasukannya juga bergerak dan melindungi di kiri kanan, gagah membela Cao Cun maka musuh dibuat miris oleh sepak terjang pemuda ini. Lisan tak memberi ampun setiap musuh yang mendekat. Pasukannya di kiri kanan disuruh melepas anak panah setiap mereka datang. Dan ketika dua kelompok pasukan itu cerai-berai dan kacau berteriak-teriak maka kepungan dapat dibobol dan pemuda itupun sudah melarikan kudanya mendekati hutan.

“Cepat, kita semua lari. Lindungi ibu suri!”

Cao Cun kagum. Akhirnya dengan gerak luar biasa putera panglima Sudi itu menghalau musuh. Pedang di tangannya yang bergerak-gerak selalu menjatuhkan korban kalau ada musuh berani mendekat. Pasukannya melindungi dengan melepas anak-anak panah pula. Mereka menghalau dan kini berpacu mendekati hutan. Itulah .jalan keluar satu-satunya yang akan membawa mereka ke tempat Pendekar Rambut Emas.

Tapi ketika terdengar bentakan dan derap kuda tiba-tiba di mulut hutan muncul seratus pasukan lain yang dipimpin Ramba. Dan ketika Lisan terkejut dan menghentikan kudanya, karena Ramba dikenalnya baik maka dari tempat yang lain muncul pula seratus pasukan lain dan Horok, pembantu utama Cucigawa muncul, berseru dengan bentakannya yang nyaring.

“Lisan, menyerahlah. Serahkan ibu suri dan buang senjatamu!”

Pemuda itu tertegun. Dari depan juga terdengar geraman Ramba dan pembantu nomor dua Cucigawa itu mengejek agar dia menyerahkan diri. Ayahnya saja tak sanggup menghadapi apalagi dia. Dan ketika pemuda ini menjublak dan bingung, pucat serta gelisah maka dua rombongan itu sudah maju mendekat dan mengepung. Jalan benar-benar buntu!

“Menyerahlah baik-baik, dan buang senjatamu. Atau kau mati seperti ayahmu dan kalian semua kubunuh!”

Pemuda ini tak dapat menjawab. Ibu suri yang ada di sampingnya dicekal erat-erat. Pemuda itu bingung karena musuh tak mungkin dilawan lagi. Dia tak akan menang menghadapi pembantu-pembantu utama Cucigawa di situ, apalagi mereka dua orang sekaligus. Tapi ketika pemuda ini tak dapat menjawab dan tekadnya biarlah dia mati asal ibu suri selamat tiba-tiba dari dalam hutan, di belakang pasukan Ramba terdengar tawa seseorang dan muncullah di situ seorang laki-laki bertopeng kertas.

“Horok, kau panglima yang tak tahu malu. Masa menghadapi pemuda macam itu kau main ancam dan keroyok? Dan temanmu si Ramba itu juga. Ah, kalian orang-orang pengecut yang beraninya mengandalkan jumlah banyak. Lihat aku, seorang diri berani menghadapimu... wut!” dan orang ini yang bergerak dengan luar biasa cepat tiba-tiba melampaui semua pasukan Ramba dan sudah berdiri di depan pembantu nomor dua Cucigawa itu, seperti siluman, terbang dan hinggap dengan cara yang amat mengejutkan!

“Siapa kau?” Ramba berseru, membentak tertahan. “Siluman atau manusia pengecut? Kalau bukan pengecut maka buka tutup wajahmu itu, jangan memaki kami pengecut!”

“Ha-ha, anjing menggonggong tanda takut. Aku siluman utusan Pendekar Rambut Emas, Ramba. Minggirlah baik-baik dan biarkan pemuda itu dan rombongannya bebas. Atau kau kubuat jungkir balik dan semua teman-temanmu kulempar....!”