Rajawali Merah Jilid 03 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 03
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“BAIK!” panglima itu tiba-tiba berkata. “Kau benar, Buma. Dan agaknya peristiwa ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Hm, tak apalah. Aku tak akan membawa persoalan ini ke kota raja, tapi kuminta diselesaikan secara gagah. Bagaimana kalau kita yang sama-sama menjadi pemimpin melakukan tanding-banteng seperti kebiasaan di suku bangsamu dalam menyelesaikan persoalan secara laki-laki? Kita tak usah membawa orang-orang kita, Buma, tapi kau dan aku saja. Kita melakukan tanding-banteng dan aku siap melayanimu meskipun tak pernah berlatih!”

Buma terkejut. Hok-ciangkun tiba-tiba mengajak bertanding secara adu banteng, yakni saling tumbuk kepala seperti kebiasaan laki-laki di bangsa Uighur untuk memutuskan benar salah, atau juga kalah menang di mana biasanya yang kalah harus tidak banyak cakap lagi dan menarik semua persoalan. Hal ini diselesaikan laki-laki suku bangsanya kalau mereka tak mendapatkan jalan keluar, bertanding secara ksatria dan tentu saja ditonton banyak orang, sebagai saksi.

Dan karena tanding-banteng adalah adu kekuatan yang menarik dan biasanya pemuda-pemuda sudah melatih batok kepalanya untuk bersiap-siap menghadapi lawan maka Buma juga sudah melakukan itu dan pemuda ini memiliki dahi atau batok kepala yang keras, seperti terbukti ketika tadi kemplangan senjata-senjata lawan ada yang mental bertemu kepalanya. Tapi karena Hok-ciangkun adalah panglima yang berkepandaian tinggi dan panglima itu bukan orang sembarangan maka pemuda ini menjadi ragu juga tapi kawan-kawannya segera bersorak.

“Betul, terima saja, Buma. Ajak Hok-ciangkun itu tanding-banteng!”

“Dan kami akan puas melihat hasilnya. Kita dapat mencegah pertumpahan darah!”

Buma merah mukanya. Tiba-tiba dia ingat bahwa dengan melakukan tanding-banteng itu maka pertumpahan darah memang dapat dihindari, dan diapun sebenarnya tak ingin mengorbankan jiwa teman-temannya. Maka mengangguk dan menetapkan hati maka pemuda itu menyeruak teman-temannya untuk menerima tantangan, apalagi dari orang yang tak pernah berlatih adu kepala seperti Hok-ciangkun itu.

“Baiklah,” pemuda ini bersinar-sinar. “Aku menerima tantanganmu, tai-ciangkun. Tapi kali ini ada syarat!”

“Syarat apa?”

“Kalau kau atau aku kalah maka yang lain tak boleh dibawa-bawa. Tegasnya, jangan membawa-bawa pasukan untuk tunjuk atau turut perintah pada yang menang!”

“Ha-ha, kau penakut! Urusan ini sebenarnya menyangkut kita semua, Buma, bukan kau atau aku seorang. Kenapa begitu? Kau melanggar kebiasaan, tak adil!”

“Hm, aku ingin menyelamatkan pasukanku, urusan ini anggap saja urusan pribadi. Kalau kau tak mau terpaksa aku menolak. Kita selesaikan secara massal!”

Hok-ciangkun berkilat matanya. Tiba-tiba dia menjadi marah karena kata-kata itu mengajak perang besar. Seribu orang di situ akan berhadapan dengan seribu lebih pasukan Uighur, itupun mungkin masih akan bertambah lagi karena siapa tahu orang-orang Uighur yang lain bersembunyi di padang rumput. Tapi ketika seseorang kembali berbisik dan berkata-kata di telinga panglima ini maka Hok-ciangkun mengangguk dan menerima.

“Baiklah,” panglima itu melayang turun dari atas kudanya. “Kuterima syaratmu, Buma. Dan mari kita bertanding!”

Buma berseri mukanya. Diapun meloncat turun dan kawan-kawannya segera bergerak mengelilingi, disusul oleh pasukan Hok-ciangkun yang juga siap mengelilingi dan melindungi sang pemimpin. Dua pasukan yang semula mau berperang tiba-tiba saling beradu pandang, melotot. Tapi karena mereka sama-sama akan menonton dan Hok-ciangkun maupun Buma sudah mencegah mereka untuk tidak angkat senjata maka dua musuh itupun hanya saling pandang saja dan beberapa geraman pendek dikeluarkan untuk pelampias marah.

“Nah,” panglima itu siap. “Aku di sini, Buma. Kau boleh memilih tempat dan katakan apakah siap memulai!”

“Hm, akupun siap,” pemuda itu melepas baju, mengencangkan ikat kepala. “Di sini atau di mana saja sama, tai-ciangkun. Mari kita mulai tapi sebaiknya kau lepas topi kepalamu itu!”

“Benda ini tak akan mengganggu,” Hok-ciangkun tertawa mengejek. “Bukankah kepala dan dahi kita yang akan saling adu kekuatan? Kalau kau ingin punya boleh pakai topi perwiraku yang lain, Buma. Atau kita mulai saja dan tak perlu banyak bicara!”

Buma melotot marah. Dia sebenarnya bukan takut tapi semata menjaga agar lawan tidak curang. Siapa tahu topi besi itu banyak membantu kepala Hok-ciangkun dan dia kalah, bukan semata oleh kekuatan lawan tapi oleh topi besi itu. Tapi karena lawan sudah mempersilahkan dia memakai topi yang sama kalau dia suka maka pemuda ini menolak dan lebih baik tidak mengenakan sama sekali, tak tahu bahwa Hok-ciangkun enggan melepas topi besinya itu karena botak!

“Siap?” panglima itu menantang. “Mari mulai, bocah. Dan lihat siapa yang menang!”

Buma menunduk. Hok-ciangkun sudah merenggangkan kaki dan berdiri setengah membungkuk, kepala disorongkan ke depan dan inilah tanda bahwa lawan siap ditantang. Buma menyambut dan segera menempelkan kepala di kepala panglima itu. Dan ketika kedua kaki menancap kokoh dan aba-aba mulai tiba-tiba Buma membentak dan mendorong panglima itu, kepala dengan kepala!

“Haiittt...!”

Lucu melihat itu. Dua kepala tiba-tiba berkeratak, Buma menghentak dan lalu menumbuk kepala Hok-ciangkun. Suaranya keras beradu. Tapi ketika Hok-ciangkun tertawa bertahan dan mengerahkan tenaganya maka serangan anak muda itu tak mampu menggeser kedudukannya dan Buma membentak marah, menumbuk dan mengadu kepalanya lagi tapi lawan ternyata tangguh. Hok-ciangkun mengerahkan sinkangnya dan dengan sinkang inilah panglima itu bertahan.

Buma menggeram dan menumbuk lagi, berulang-ulang, kaget karena kepala lawan demikian keras dan kokoh, mungkin karena topi besinya itu! Dan ketika Buma melotot dan lawan terbahak tiba-tiba tangan Hok-ciangkun nyelonong dan mencengkeram pinggangnya. Lalu sekali panglima itu memuntir tiba-tiba Buma terpeleset dan roboh terbanting.

“Ha-ha!” panglima itu tertawa bergelak. “Kau kalah, Buma. Aku menang!”

“Tidak!” teriakan itu disusul bentakan dan seruan di sana-sini. “Kau curang mempergunakan tangan, ciangkun. Tanding-banteng ini hanya mempergunakan kepala!”

“Ah, begitukah? Mari... mari mulai lagi. Aku tak takut!” dan sang panglima yang siap dan menunduk lagi lalu merenggangkan kaki menantang lawan.

Buma sudah meloncat bangun dan pemuda itu merah padam. Tak dapat disangkal bahwa Buma mulai kecut, perasaannya was-was dan dia takut kalah. Kepala panglima itu demikian keras dan tak tergoyahkan. Rasanya itu berkat topi yang dikenakan di atas kepalanya. Maka membentak bahwa lawan curang, mempergunakan alat bantu tiba-tiba pemuda ini berseru agar panglima itu melepas topinya.

“Aku tak mau bertanding kalau kau melindungi kepalamu dengan topi besi itu. Ini tidak jantan. Aku minta kau melepasnya!”

“Hm, sudah kubilang agar kau mempergunakan pula topi besi seorang perwiraku. Kenapa cari alasan kalau sudah kalah? Memakai atau tidak tetap saja kau tak dapat merobohkan aku, Buma. Pakailah topi perwiraku dan tumbuk lagi!”

“Aku tak biasa mempergunakan topi. Lagi pula adat pertandingan ini adalah kepala tanpa dilindungi apapun. Kau licik, Hok-ciangkun. Tak kusangka bahwa sebagai panglima tinggi kau pengecut dan tidak berani bertanding secara ksatria!”

“Bedebah!” panglima itu membentak. “Siapa licik dan tidak berani memenuhi permintaanmu? Baik, lihat topi ini kulepas, Buma. Dan awas kuhajar kau nanti sampai mampus!” sang panglima melepas topinya, melempar pada seorang pembantunya dan hampir semua orang tertawa ketika tiba-tiba melihat botak di atas kepala panglima itu.

Kiranya Hok-ciangkun gundul kelimis di tengah-tengah kepalanya, mengkilap dan licin dan tentu saja itu membuat orang-orang geli. Sekarang tahulah mereka kenapa panglima itu enggan melepas tutup kepalanya, kiranya karena botaknya itu. Tapi ketika si panglima menggeram dan melotot memandang mereka, penuh kilatan marah tiba-tiba semuanya terdiam dan tak jadi tertawa, melihat panglima itu sudah merenggangkan tangan dan membungkuk di depan Buma.

Buma sendiri tertegun dan geli melihat botak yang begitu mengkilap, sungguh kontras dengan sewaktu panglima itu memakai topinya, gagah dan garang tapi tiba-tiba berobah lucu ketika sekarang tak menggunakan topinya lagi itu. Dan karena lawan sudah siap di depan dengan muka merah, mata berapi siap mengancam maka Buma tak jadi tertawa dan bergerak menyambut panglima itu, menempelkan kepalanya di atas kepala lawan yang botak dan licin.

“Mulailah, kau akan kubanting roboh!”

Seruan atau geraman ini tak terdengar oleh yang lain-lain. Panglima itu mendelik dan mengancam dengan kata-kata mendesis, Buma mengerutkan kening karena panglima itu seperti ingin menelannya bulat-bulat, tergetar hati pemuda ini. Tapi karena mereka sudah bersiap dan keduanya sudah saling tempel maka Buma membentak dan mengulangi lagi serangannya tadi.

“Haiittt...!” Pemuda itu mengerahkan segenap tenaga. Buma segera mengetahui bahwa lawan yang dihadapi adalah adalah seorang tangguh, dia tak boleh ragu-ragu atau main-main lagi. Tapi ketika dia membentak dan mendorong panglima itu tiba-tiba hawa panas keluar dari kepala panglima itu dan Buma kaget, berteriak tapi kepalanya lekat dan tak dapat ditarik lagi.

Buma meronta namun lawan tertawa bergelak. Dan ketika pemuda itu terkejut dan tak dapat menarik kepalanya lagi maka tiba-tiba saja lawan telah mempermainkannya dan kepala Hok-ciangkun digerak-gerakkan sementara kepala lawannya ikut bergoyang ke sana ke mari mengikuti gerakan kepala panglima itu, sementara hawa panas kian membakar di kepala Buma!

“Ha-ha!” semua orang terbelalak. “Lihat siapa yang kalah dan menang, Buma. Lihat meskipun aku tak mempergunakan topi besiku tapi kau tak dapat mengalahkan aku, justeru akulah yang akan merobohkanmu!”

Bangsa Uighur terkesiap kaget. Mereka tak tahu apa yang terjadi kecuali teriakan atau jerit kesakitan Buma. Jago mereka itu pucat hebat dan seluruh tubuh Buma berkeringat. Pemuda itu mandi peluh dan kepalanya merah menyala. Mereka tak tahu bahwa Hok-ciangkun mempergunakan sinkangnya untuk membakar pemuda ini, mengerahkan hawa panas dan Buma yang tak pandai silat dipermainkan sesuka hati, karena pemuda itu hanya mengandalkan gwa-kang atau tenaga otot saja, tenaga kasar. Dan ketika pemuda itu berteriak-teriak dan Buma tak sanggup menahan panas yang membakar tiba-tiba pemuda ini menggerakkan tangannya menghantam pinggang lawan.

“Bukk!”

Bangsa Uighur terkejut. Jago mereka tiba-tiba bersikap curang karena itu adalah pelanggaran. Adu kepala sudah menjadi adu gebuk karena Buma selanjutnya bak-bik-buk menghantami lawan. Pemuda ini berteriak-teriak karena kepalanya ditempel Hok-ciangkun, bahkan “disedot” hingga Buma kesakitan. Pemuda itu mata gelap.

Tapi ketika Hok-ciangkun malah terbahak dan membiarkan saja pukulan-pukulan pemuda itu, membuat tangan Buma bengkak-bengkak karena panglima itu melindungi dirinya dengan sinkang akhirnya satu suara berkeratak disusul robohnya tubuh pemuda ini membuat pertandingan berakhir.

“Bluk!” Buma tewas dengan kepala retak. Bangsa Uighur tiba-tiba geger karena Hok-ciangkun telah membunuh jago mereka. Pertandingan selesai dan satu nyawa melayang. Dan ketika mereka terkejut dan terbelalak marah, kaget karena panglima itu menewaskan lawannya maka Hok-ciangkun berseru mengguntur agar mereka mundur.

“Aku telah mengalahkan lawanku, dan pertandingan berlaku secara jantan. Nah, siapa mau coba-coba dan mencari permusuhan!”

Semua orang tertegun. Hok-ciangkun akhirnya berkata bahwa itulah yang terpaksa dilakukannya. Buma telah melakukan kecurangan dengan memukul dirinya, padahal tadi dia memuntir dan membanting roboh pemuda itu saja sudah diprotes. Dan ketika bangsa Uighur dapat menerima ini dan mereka menyesali kematian Buma maka panglima itu berseru bahwa mereka harus tunduk kepada yang menang.

“Ini adalah adat kalian sendiri. Siapa melanggar berarti dia pengkhianat. Nah, kembalilah ke tempat masing-masing dan bawa mayat pemuda itu!”

“Tapi...” seseorang tiba-tiba melompat maju. “Apakah ini juga berarti berakhirnya penghinaan terhadap wanita-wanita kami, ciangkun? Apakah pihakmu juga akan meminta wanita-wanita cantik lagi?”

“Hm, kau Karum?” Hok-ciangkun memandang bersinar-sinar. “Apa maksudmu dengan pertanyaan ini?”

“Maaf,” Karum, laki-laki itu, mengedikkan kepala tak takut memandang panglima ini. “Kalau selesainya persoalan ini tak dibarengi dengan berhentinya permintaan perwira-perwiramu akan wanita cantik maka percuma semuanya ini. Karena dari pihak kami pasti akan muncul Buma-Buma yang lain untuk menghalang perbuatan tak terpuji itu. Rekan kami Buma telah tewas, kami tak akan menuntut balas. Tapi kalau pihakmu masih juga mengganggu dan mempermainkan wanita-wanita kami kukira perlawanan itu akan tetap ada karena tak mungkin bangsa Uighur dihina serendah itu!”

“Benar!” yang lain tiba-tiba berteriak. “Kami bangsa Uighur boleh dibunuh atau disakiti, Hok-ciangkun. Tapi jangan dihina atau direndahkan seperti itu. Kami pasti akan menuntut balas kalau wanita-wanita kami dipermainkan!”

“Hm!” Hok-ciangkun berkilat matanya. “Sebenarnya urusan itu adalah urusan pribadi anak-anak buahku, Karum. Sebenarnya pembantu-pembantuku tak bermaksud mempermainkan wanita-wanita kalian tetapi justeru sedang memilih yang cocok untuk diperisteri. Kenapa kalian menafsir yang bukan-bukan? Kalau wanita-wanita kalian ada yang cocok di hati anak buahku tentu mereka akan dijadikan keluarga, bukan seperti yang kalian sangka...”

“Bohong!” Karum berseru. “Kalau begitu maksud anak-anak buahmu maka tak mungkin seorang wanita dijadikan permainan sepuluh sampai duapuluh orang pria, tai-ciangkun. Mereka tak akan mengawini wanita-wanita suku bangsa kami karena suku bangsa kami dianggap suku bangsa liar. Kau tahu itu!”

“Hm, sudahlah,” Hok-ciangkun merah mukanya. “Kalau kalian marah oleh itu maka kalian juga dapat minta gantinya, Karum. Kami juga akan menyediakan wanita-wanita kami kalau kalian ingin!”

“Benarkah?”

“Tentu saja, aku menepati janjiku. Boleh kalian buktikan!” dan ketika terdengar bisik-bisik dan ribut sejenak di pihak laki-laki Uighur itu lalu Hok-ciangkun minta agar mereka bubar.

Urusan sudah selesai dan bangsa Uighur secara jantan menerima kekalahan Buma. Mereka tak boleh sakit hati karena pertandingan berjalan secara jujur. Hok-ciangkun telah menjanjikan mereka wanita-wanita bangsa Han kalau mereka mau, hal yang agak mengherankan tapi tentu saja segera disambut kegembiraan dipendam. 

Mereka akan ganti mempermainkan wanita-wanita Han itu. Mereka akan membalas hinaan kaum wanita mereka ketika dulu dipermainkan para perwira Hok-ciangkun itu. Tapi ketika janji itu dibuktikan dan mereka mendapat pelacur-pelacur rendahan, wanita-wanita pengemis yang “disulap” Hok-ciangkun ini untuk berdandan menor-menor maka Karum dan beberapa tokoh Uighur gusar.

Hok-ciangkun mengirim lima ratus wanita berparas boneka kepada mereka. Laki-laki Uighur mula-mula menerima dengan riang dan suka cita. Kaum pemudanya sudah menubruk dan menyambar wanita-wanita berdandan gemerlapan ini, tak perduli pupur yang terlampau tebal atau gincu yang nyaris berlepotan di sekitar pipi, mempermainkan dan memperlakukan wanita-wanita itu sebagaimana dulu wanita-wanita mereka dipermainkan atau dipermalukan para perwira Hok-ciangkun.

Tapi ketika mereka menyadari bahwa itu adalah pelacur-pelacur murahan, bahkan yang membawa penyakit di mana puluhan laki-laki bangsa mereka kena penyakit kotor maka marahlah bangsa Uighur dan Hulai, kakek gagah yang dapat menerima kematian anaknya dengan hati dingin tiba-tiba dibuat terbakar dan marah besar.

Kakek itu mendatangi panglima she Hok, memaki-maki dan melepaskan semua gusarnya. Puluhan laki-laki yang kena penyakit kelamin dibawa, ditunjukkan tapi Hok-ciangkun malah tertawa bergelak, geli dan terkekeh-kekeh melihat kemarahan kakek itu. Tapi ketika sepuluh pemuda menerkamnya dan mereka itulah pemuda-pemuda yang kena penyakit kotor maka Hok-ciangkun mencak-mencak dan ganti marah besar.

Panglima ini mengibas dan sepuluh pemuda itu terlempar, empat di antaranya terbanting tewas, kepala mereka pecah. Dan ketika keadaan menjadi ribut kembali dan bangsa Uighur naik darah maka sumpit dan tombak atau lembing berhamburan ke arah panglima itu dan anak buahnya.

Bangsa Uighur menyerang besar-besaran, Tiga ribu orang yang berdiri di belakang kakek Hulai menerjang, masing-masing berteriak dan terkejutlah panglima she Hok oleh keberanian mereka. Dan ketika seribu pasukannya diserbu dan terpaksa angkat senjata, melawan dan menandingi orang-orang Uighur ini maka Hok-ciangkun dikeroyok dan diserbu oleh seratus lebih orang-orang Uighur yang tidak menghormatinya lagi sebagai wakil kaisar yang ditaruh di perbatasan.

Perang dahsyat terjadi di sini, perajurit lawan perajurit dan Hok-ciangkun yang berkepandaian tinggi itu terdesak, mula-mula dapat merobohkan puluhan lawannya namun lawan-lawan baru yang ada di belakang terus maju mendesak. Hok-ciangkun mandi keringat dan di situlah panglima ini menyadari kekuatan sendiri. Juga sadar bahwa dia terlampau menindas lawan. Dan ketika ratusan anak buahnya luka-luka dan ratusan lagi lainnya tewas maka Hok-ciangkun terpaksa menarik mundur pasukannya dan menutup pintu gerbang.

Peperangan hari itu terjadi dengan cara yang brutal. Laki-laki Uighur yang dapat merobohkan lawannya lalu langsung memenggal atau memotong-motong tubuh perajurit panglima she Hok itu, bahkan mereka tak segan-segan menghirup darah lawan seperti orang mereguk arak lezat. Sungguh mengerikan. Dan ketika hari itu Hok-ciangkun mundur menutup pintu gerbang sementara lawan berteiak-teriak di luar maka Hok-ciangkun pucat mukanya dan merasa bahwa dia telah melanggar sebuah larangan kaisar.

Kaisar telah memesan padanya agar sungguh-sungguh menjaga keamanan tapal batas. Kaisar telah memerintahkan panglima ini agar tidak memulai dulu membuat keributan. Tapi begitu bangsa Uighur menyerang dan semua itu karena ulahnya yang terlalu menghina lawan maka Hok-ciangkun gelisah dan pucat mukanya. Tapi seseorang lagi-lagi mendekatinya. Orang itu berbisik-bisik di telinganya agar peristiwa itu dapat diputar balik.

Hok-ciangkun diminta mengarang cerita bahwa orang-orang Uighur itulah yang mula-mula membuat keributan, bukan pihaknya. Dan ketika panglima ini mengirim orangnva ke kota raja untuk memberi laporan maka di saat itulah Ituchi dan Mei Hoa datang, persoalan yang bakal melibatkan dua muda-mudi ini pada kejadian-kejadian tidak enak yang membuat mereka tertunda lagi perjalanannya!

* * * * * * * *

Siang itu, setelah tiga hari meninggalkan dusun He pemuda ini mendekati tembok perbatasan. Ituchi berkuda dengan isterinya ketika tiba-tiba Mei Hoa berhenti dan melirik ke kiri, disusul oleh suaminya yang juga melihat gerakan mencurigakan di sebelah kiri. Dan ketika dua muda-mudi itu menoleh dan menghentikan kudanya maka belasan perajurit tiba-tiba muncul dari semak-semak belukar membentak mereka.

“Berhenti, mau ke mana!”

Ituchi mengerutkan kening. Empat belas orang bersenjata tiba-tiba mengepungnya dengan sikap tidak bersahabat. Mereka memandangnya penuh kebencian, juga heran karena Ituchi tak tahu bahwa dia disangka pemuda bangsa Uighur. Pemuda ini memang berkulit hitam dan persamaan kulitnya dengan suku-suku bangsa liar di luar perbatasan mudah membangkitkan kecurigaan bahwa dia adalah orang Uighur, karena belasan perajurit itu bukan lain adalah bawahan-bawahan Hok-ciangkun yang semalam dilabrak bangsa Uighur habis-habisan.

Mereka curiga dan kaget serta tercengang bahwa tiba-tiba saja seorang pemuda kulit hitam muncul di situ, bersama seorang wanita cantik yang jelas bangsa Han, bangsa mereka sendiri. Maka ketika mereka membentak dan dua muda-mudi itu berhenti tiba-tiba mereka sudah mengepung dan Ituchi disuruh turun.

“Kalian akan kami periksa, terutama kau! Turunlah dan sebutkan siapa dirimu!”

Ituchi mengerutkan kening. Sebenarnya dia tak senang dengan sikap perajurit-perajurit ini. Dia amat dihormati di istana dan kaisar sendiri tak pernah kasar kepadanya. Tapi ketika dia mau turun dan mengalah, maklum bahwa perajurit-perajurit itu tak mengenalnya mendadak Mei Hoa melengking gusar dan menahan dirinya.

“Jangan turun, biarkan aku menghadapi mereka!” dan menggerakkan kudanya mendekati perajurit di depan tiba-tiba Mei Hoa bertanya, “Siapa namamu hingga tak tahu hormat kepada kami. Apakah kalian anak buah Hok-ciangkun!”

Perajurit itu terkejut. Mei Hoa tiba-tiba bersikap galak dan mengenal Hok-ciangkun, agaknya bukan gadis sembarangan dan tentu saja perajurit itu terkesiap. Dia adalah pimpinan di situ dan gertakan atau wibawa gadis ini membuat ciut nyalinya. Tapi teringat bahwa orang-orang biasa juga dapat berlagak seperti itu dan menakut-nakuti, hal yang kadang dialami laki-laki ini tiba-tiba laki-laki itu mundur dan menurunkan tombaknya, merobah sikap namun tetap sombong dan angker.

“Aku adalah benar anak buah Hok-ciangkun. Siapakah nona dan teman nona ini? Panglima kami memang dikenal banyak orang, tak usah menyebut-nyebut namanya kalau nona orang biasa!”

“Hm, perajurit tengik! Pernahkah kalian mendengar nama Ituchi dan Mei Hoa? Pernahkah kalian mendengar kabar bahwa kaisar telah menikahkan dua orang itu di istana? Inilah kami, Mei Hoa dan Ituchi. Panggil Hok-ciangkun kalau ingin bukti!”

Belasan perajurit itu tiba-tiba pucat. Mereka tentu saja mendengar nama-nama yang disebutkan ini, bahkan Ituchi! Ah, siapa tidak tahu putera Raja Hu itu? Siapa tidak tahu atau dengar namanya? Maka begitu Mei Hoa membentak dan menyebut-nyebut dua nama ini mendadak laki-laki itu pucat dan gemetar, menatap sejenak tapi tiba-tiba sudah menjatuhkan diri berlutut.

Tahu dan sadarlah dia sekarang bahwa inilah orang-orang yang disebutkan itu. Inilah suami isteri muda yang dengan gagah telah membela dan bertanding untuk istana. Dan karena Mei Hoa telah menggertak nyalinya dan pimpinan perajurit itu tentu saja gentar dan pucat maka tombak segera dilemparkan dan laki-laki itu bersama belasan temannya sudah menggigil menjatuhkan diri berlutut, kalah wibawa!

“Ah, maaf.... ampun, siocia (nona). Kami.... kami tidak tahu!”

“Hm, aku adalah isteri Hu-ongya (pangeran Hu). Ituchi adalah suamiku. Aku bukan siocia lagi!”

“Ma.... maaf. Kami.... kami lupa, siauw-hujin (nyonya muda). Kami keliru. Maaf, marilah kami antar ke tempat Hok-ciangkun dan kebetulan ji-wi (anda berdua) ke sini!” pimpinan perajurit itu tak dapat menyembunyikan gugupnya, cepat-cepat memerintahkan temannya untuk mengiring dan membawa Mei Hoa.

Tapi wanita atau nyonya muda itu menarik tali kekang kudanya, membuat sang kuda meringkik dan laki-laki itu terkejut kenapa dia bilang kebetulan, hal yang membuat nyonya muda ini curiga dan mengerutkan keningnya. Dan ketika laki-laki itu tertegun dan Ituchi tersenyum di sana, geli melihat tingkah isterinya maka pimpinan perajurit itu berkata bahwa Hok-ciangkun baru saja mendapat kesulitan besar.

“Kami diserang bangsa Uighur. Mereka memberontak dan membunuh Liang-ciangkun!”

“Apa?” Mei Hoa terkejut. “Bangsa Uighur? Menyerang dan memberontak?”

“Benar, bukan hanya memberontak, hujin, melainkan juga hendak membunuh kami semua dan Hok-ciangkun. Mereka tiba-tiba seperti setan-setan haus darah dan meluruk seperti orang-orang gila!”

“Hm, apa yang terjadi?” Mei Hoa tertegun. “Dan kenapa mereka menyerang!”

“Kami... kami tidak tahu. Sebaiknya kalian bertemu Hok-ciangkun dan bertanya sendiri!”

Mei Hoa mengangguk. Akhirnya dia bertemu pandang dengan suaminya dan Ituchi yang tadi tersenyum-senyum mendadak mengerutkan alisnya. Alis tebal pemuda itu terangkat naik dan Ituchi terkejut. Memang pemuda ini tak dapat menyembunyikan kagetnya lagi ketika tiba-tiba mendengar kabar itu, serangan atau pemberontakan bangsa Uighur, padahal mereka baru saja diampuni dan dibebaskan kaisar. Tapi ketika dia menganggap bahwa bertemu Hok-ciangkun adalah cara terbaik maka dia setuju dengan pendapat isterinya untuk berjumpa dengan panglima itu.

“Baiklah, kita ke sana. Bukankah sekalian bertemu juga tak salah? Kita hendak keluar tembok perbatasan, Hoa-moi. Bertemu dengan Hok-ciangkun pun tak apa.”

Belasan perajurit itu bergerak. Mereka akhirnya mengantar dua muda-mudi ini tapi di tengah jalan belasan orang itu berbisik-bisik. Sang komandan diberi tahu apakah benar dua muda-mudi ini adalah Ituchi dan Mei Hoa. Jangan-jangan mereka itu mengaku-aku dan Hok-ciangkun bisa marah besar kalau sang komandan salah membawa orang. Dan ketika komandannya tertegun dan merasa benar maka dia balas berbisik bagaimana selanjutnya.

“Kita mendengar kabar bahwa orang-orang muda yang disebutkan itu adalah orang-orang lihai, terutama putera Raja Hu itu. Dan kita sama sekali belum mencoba dua orang ini. Masa Gu-twako kalah gertak? Perempuan itu tampaknya galak, twako. Tapi siapa tahu hanya di luar saja untuk menutupi kelemahannya. Kau sembrono dengan membawa mereka ini tanpa mengetahui kepandaiannya!”

“Hm, jadi apakah harus diserang? Bagaimana kalau kita dihajar?”

“Lebih baik begitu daripada dipecat Hok-ciangkun, twako. Bayangkan kalau mereka ini orang-orang Uighur yang diselundupkan!”

“Ah, tak mungkin begitu. Mereka datang dari pedalaman!”

“Baiklah, tapi siapa tahu mereka ini adalah simpatisan-simpatisan Uighur? Pemuda itu jelas bukan orang Han, twako. Dan mereka juga hanya berdua. Siapa tahu mereka ini adalah musuh-musuh tersembunyi yang mencelakakan kita di depan Hok-ciangkun. Lebih baik dicoba dulu dan kalau mereka bohong maka yang wanita itu dapat kita kerjai!”

“Hm-hm...!” bisik-bisik itu berhenti. “Bolehlah, kawan-kawan. Tapi tak enak rasanya bagiku untuk tiba-tiba menyerang. Sebaiknya beberapa di antara kalian membokong si pemuda dan aku di depan pura-pura tak tahu. Kalau pemuda itu mampus biarlah kita hadapi yang wanita ini dan selanjutnya tak usah dibawa menghadap tai-ciangkun!”

Semua mengangguk. Belasan orang itu tiba-tiba saling memberi isyarat dan yang tadi lurus ke depan mendadak berbelok ke kiri. Di sana ada hutan dan sang komandan, laki-laki berkumis tipis itu melangkah ke depan. Mereka tadi mengiring di belakang dan komandan ini menuding ke kiri bahwa ke situlah mereka berjalan, tak diketahui Mei Hoa bahwa isyarat itu sudah merupakan aba-aba bagi yang lain untuk menyerang Ituchi. Karena begitu telunjuk itu menuding tiba-tiba empat batang tombak menyambar Ituchi!

“Wut-wutt!”

Ituchi seolah tak tahu. Empat tombak itu menyambar cepat namun ketika ujungnya sudah mendekati punggung mendadak Ituchi menggerakkan lengan ke belakang. Gerakan pemuda itu seperti orang melemaskan punggung atau mengulet, yakni gerakan untuk membuat tulang-tulang berkeratak. Tapi persis lengan pemuda itu bergerak ke belakang tiba-tiba bersamaan dengan itu juga angin yang kuat balik menyambar tombak yang seketika terpukul dan patah-patah, menghajar empat orang pelempar yang tiba-tiba menjerit.

“Aduh...!”

Perjalanan seketika terhenti. Gu-twako menoleh dan pimpinan perajurit itu terkejut melihat anak buahnya roboh terjengkang. Di pundak mereka menancap patahan tombak yang cukup dalam, tentu saja membuat empat perajuritnya itu kesakitan. Dan ketika yang lain tersentak dan kaget serta terbelalak maka Ituchi tersenyum menegur komandan pengawal itu.

“Maaf, barangkali ini cukup untuk kalian. Siapa masih ragu tentu saja boleh maju dan kita main-main.”

“Keparat!” laki-laki itu tiba-tiba marah, merasa mendapat kesempatan. “Kalau kau bukan musuh tentunya tak perlu melukai anak-anak buahku, orang muda. Sekarang aku jadi ragu bahwa kau adalah pemuda seperti yang dikatakan sebagai putera Raja Hu itu!” dan membentak serta memberi aba-aba anak buahnya untuk menyerang tiba-tiba pimpinan perajurit itu menusuk dan tombaknya bergerak menyambar, langsung ke ulu hati Ituchi.

Tapi Mei Hoa yang ada di samping mendadak berteriak gusar. Nyonya muda ini sebenarnya sudah mendengar semua bisik-ibisik di belakang dan hanya karena Ituchi menahannya sajalah maka dia tidak mengumpat perajurit-perajurit itu. Kini mereka main bokong dan serangan curang yang dipentalkan balik oleh Ituchi tentu saja tak membuat nyonya ini bersabar lebih lama, berseru dan menangkis tombak yang ditusukkan pimpinan itu. Dan ketika tombak patah namun Mei Hoa tak berhenti sampai di situ karena nyonya muda ini sudah meloncat turun dan berkelebatan mengeliling perajurit-perajurit itu maka belasan orang ini roboh hanya dalam waktu sekejap saja.

“Plak-plak-plak!”

Semua orang berteriak pucat. Mereka tak tahu apa yang terjadi namun tiba-ti-ba mereka sudah roboh malang-melintang. Gerakan si nyonya yang cepat luar biasa bak burung srikatan tiba-tiba saja membuat kepala mereka pening, tak tahu adanya tamparan atau pukulan di mana mereka tak dapat menangkis lagi. Jangankan menangkis, mengelak saja juga tak bisa. Maka begitu mereka tumpang tindih dan Mei Hoa sudah berdiri tegak tak bergerak-gerak lagi, berdiri di tengah-tengah mereka maka wanita atau nyonya muda itu menghardik, bengis.

“Nah, siapa mau coba-coba menghina kami berdua. Siapa yang mau minta kubunuh dan tak kapok mendapat hajaran ini!”

“Am.... ampun!” si pimpinan tiba-tiba merintih. “Kami... kami tahu kesalahan kami, siauw-hujin. Sekarang kami yakin bahwa kau adalah isteri Hu-ongya yang tulen. Kami mengaku salah...!”

“Hm, dan siapa yang mau mengerjai aku? Siapa yang coba-coba ingin kurang ajar seperti kata-kata kalian tadi?”

Sang pimpinan pucat. Mei Hoa akhirnya berkata bahwa bisik-bisik mereka tadi didengar, bahwa wanita itu tahu kasak-kusuk mereka ini yang ingin mengerjai dirinya kalau Ituchi roboh, kata-kata yang membuat sang pimpinan gemetar dan yang lain tentu saja pucat pasi. Mereka sekarang menyadari bahwa nyonya muda ini kiranya telah mendengar percakapan mereka, betapa tajam telinganya! Dan ketika semua menggigil namun Ituchi mengebutkan lengan dari atas kudanya maka pemuda itu minta agar isterinya tidak marah-marah lagi.

“Mereka ini memang orang-orang rendahan. Biasa bagi tikus-tikus seperti ini untuk bersikap sombong kalau menghadapi yang lemah. Sudahlah, jangan dilayani lagi, Hoa-moi. Kita pergi menghadap Hok-ciangkun saja dan laporkan kekurangajaran anak buahnya ini!”

Mei Hoa mendengus. Dia menggaplok semua orang dengan satu tamparan miring di mana masing-masing tiba-tiba menjerit dan roboh terpelanting. Pipi mereka bengap dan Mei Hoa sudah meloncat di atas punggung kudanya. Dan ketika wanita itu membentak dan menendang perut kudanya maka Mei Hoa sudah mendahului suaminya untuk keluar hutan, jalan yang lurus tadi. Sang pimpinan terbelalak gentar namun tak berani berbuat apa-apa lagi. Ituchi telah menunjukkan kepandaiannya dan sang isteri yang galak pun juga menghajar mereka.

Maka ketika dua orang itu membalik dan melarikan kudanya maka belasan orang ini tertatih berdiri dan satu per satu memandang pucat teman-temannya, tak berani bercuit atau bersombong sementara Mei Hoa dan Ituchi sudah memasuki jalan yang lurus tadi. Dan ketika dua muda-mudi itu mengeprak kudanya dan berlari kencang akhirnya markas Hok-ciangkun ditemukan.

Memang mula-mula Ituchi maupun Mei Hoa harus bertemu dulu dengan pengawal-pengawal panglima she Hok itu. Dua kali mereka dihentikan namun kegalakan dan sikap ketus Mei Hoa membuat perajurit-perajurit itu mundur. Mereka mula-mula berseri-seri memandang wanita cantik ini, mata mereka lahap memandang dan hadirnya Mei Hoa seolah ikan segar yang demikian gemuk. Tapi ketika mereka diberi tahu bahwa itu adalah Mei Hoa dan suaminya, Ituchi atau yang juga dikenal sebagai Hu-ongya maka para perajurit menyibak dan mempertemukan dua orang itu dengan Hok-ciangkun, yang masih tampak letih dan kuyu.

Maklumlah, panglima ini habis tenaganya dikeroyok ratusan orang, meskipun dia berkepandaian tinggi dan mampu membunuh puluhan lawannya yang rata-rata tak berkepandaian silat. Dan begitu Mei Hoa bertemu panglima ini maka Hok-ciangkun tentu saja mengenal tapi datang-datang Mei Hoa langsung menyemprot panglima itu akan anak-anak buahnya yang kurang ajar.

“Maaf, apa... apa katamu, Mei Hoa? Anak-anak buahku kurang ajar? Kurang ajar bagaimana? Apa yang mereka lakukan?"

“Mereka itu tak tahu malu, paman. Aku diganggunya karena dikiranya aku wanita murahan. Melihat gelagatnya barangkali anak-anak buahmu itu sudah biasa mengganggu wanita!”

“Ah, ha-ha...!” panglima she Hok tertawa bergelak. “Kiranya itu, Mei Hoa. Kiranya masalah kecil ini. Ah, bukankah kau sebagai puteri seorang panglima tentu tahu bahwa perajurit-perajurit yang di perbatasan begini selalu haus dan akan menggoda wanita yang lewat? Mereka sudah lama tak bertemu anak isteri mereka, Mei Hoa. Kau tentu tahu itu. Sudahlah, aku akan menegur mereka dan kenapa kau tiba-tiba datang begini. Dan bersama suamimu! Eh, bukankah ini adalah Hu-ongya putera mendiang Raja Hu itu? Bukankah kalian sudah dinikahkan di kota raja oleh sri baginda? Huwaduh, maaf. Dulu aku tak sempat menghadiri pernikahan kalian, Mei Hoa. Aku ditugaskan di sini. Ah, mari duduk dan ceritakan bagaimana tiba-tiba kalian menjengukku!”

Mei Hoa uring-uringan. Hok-ciangkun adalah teman ayahnya dan dulu sebelum ayahnya tiada mereka berdua adalah sahabat. Itulah sebabnya dia memanggil paman karena Hok-ciangkun ini dan mendiang ayahnya dulu akrab. Tapi ketika tuan rumah mempersilahkan duduk dan kemarahannya tadi tak ditanggapi, hal yang sebenarnya membuat Mei Hoa agak jengkel maka adalah Ituchi yang diam-diam mengerutkan kening melihat panglima she Hok itu jelalatan memandang isterinya!

Ituchi merasa tak enak. Sebagai sesama lelaki tentu saja pemuda itu dapat merasakan sinar mata aneh dari panglima she Hok itu. Dia merasa tuan rumah agak berlebihan menyambut isterinya sementara dia hanya dinomor duakan. Mei Hoa tak menyadari ini namun Ituchi dapat merasa. Maka ketika tuan rumah nyuruh duduk dan beberapa pengawal hilir-mudik diperintah panglima itu untuk mengambil ini-itu, hidangan atau minuman penyegar tiba-tiba Ituchi berbisik agar isterinya waspada.

“Ada sesuatu yang tidak beres pada mata panglima itu. Benarkah dia sahabat mendiang ayahmu yang tergolong baik-baik, Hoa-moi? Atau kau keliru menilai orang?”

“Maksudmu?” Mei Hoa tertegun. “Apa yang kau lihat?”

“Ah, aku hanya merasa sesuatu yang tidak sehat pada pandang mata panglima ini. Dia terlalu, hm... terlalu jelalatan memandangmu!”

Mei Hoa tiba-tiba semburat. “Jelalatan?”

“Sst, sudahlah. Dia datang ke sini dan nanti kita, bicara lagi!” Ituchi menyenggol kaki isterinya, melihat sang panglima datang dengan sebotol arak harum dan beberapa perwira tiba-tiba muncul.

Mereka itu adalah pembantu panglima ini dan Hok-ciangkun lalu memperkenalkan, beberapa di antaranya sudah pernah dikenal Mei Hoa. Dan ketika berturut-turut mereka membungkuk dan memberi hormat di depan suami isteri muda ini maka Ituchi lagi-lagi dapat melihat sinar-sinar mata yang lahap dari para perwira pembantu-pembantu Hok-ciangkun itu.

“Mari minum. Ha-ha, kita rayakan dulu pertemuan ini!” Hok-ciangkun membawa botol minumannya, menuangi cawan-cawan yang sudah siap di atas meja dan beberapa pembantunya itu tersenyum-senyum gembira. Mereka mengangguk dan mendapat arak di tangan panglima itu. Dan ketika semua minum dan Ituchi maupun Mei Hoa juga terpaksa menenggak arak maka tuan rumah bertanya ini-itu sejak Mei Hoa meninggalkan kota raja.

Pertanyaan-pertanyaan ringan yang sifatnya basa-basi dan Ituchi tiba-tiba batuk memperingatkan bagaimana dengan serangan suku bangsa Uighur itu, hal yang membuat Mei Hoa tertegun dan mengerti dan segera bertanya kepada panglima itu. Dan ketika tuan rumah tampak tersedak dan sedikit terganggu maka Hok-ciangkun menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.

“Kalian mungkin tahu dari beberapa anak buahku. Hm, tak salah. Kami sedang menghadapi peristiwa besar, Mei Hoa, yakni dengan memberontaknya orang-orang Uighur itu. Mereka menyerang dan menghantam kami!”

“Apa sebabnya?” Mei Hoa mengerutkan alis. “Bukankah mereka adalah bangsa taklukan? Bukankah bangsa Uighur sudah tunduk dan berjanji tak akan menyerang lagi?”

“Hm, agaknya sifat sombong mereka muncul kembali, Mei Hoa. Mereka tak mau di bawah orang lain dan ingin berdiri sendiri. Mereka itu, ah....!” panglima ini tiba-tiba mengepal tinju, gigi berkeratak. “Mereka itu mulai mengganggu dan mempermainkan wanita-wanita di sekitar perbatasan, Mei Hoa, kutegur tapi agaknya ini yang membuat mereka marah dan bangkit menyerang kami!”

“Begitukah?” Mei Hoa terkejut. “Terkutuk sekali orang-orang Uighur itu, paman. Kalau begitu mereka patut dihajar!”

“Hm, maaf. Adakah bukti-bukti tentang ini, ciangkun?” Ituchi tiba-tiba bertanya, menyela. “Adakah kau mendengar ini dari laporan saja atau sungguh-sungguh melihatnya dengan mata kepala sendiri?”

“Ah, kongcu tak percaya? Kongcu meragukan keteranganku? Baik, kupanggil mereka-mereka itu, kongcu. Lihat dan buktikan sendiri apa yang dilakukan bangsa Uighur itu kepada wanita-wanita ini!” sang panglima tiba-tiba bangkit berdiri, penuh semangat dan bertepuk tangan memanggil beberapa pengawalnya.

Mereka itu disuruh membawa wanita-wanita bekas korban “kebiadaban” bangsa Uighur, yakni pelacur-pelacur yang diberikan Hok-ciangkun itu dan dipermainkan orang-orang Uighur, dalam usaha membalas sakit hati mereka karena wanita-wanita Uighur dipermainkan perwira-perwira panglima ini. Dan ketika Ituchi tertegun karena sang panglima tiba-tiba tampak geram namun bersemangat maka berturut-turut muncullah di situ belasan wanita-wanita muda yang memar dan pakaiannya koyak-koyak.

“Lihatlah,” Hok-ciangkun menuding. “Dan kau tanyalah mereka ini apa yang diperlakukan orang-orang Uighur, kongcu. Tanya dan suruh mereka menceritakan bagaimana biadabnya laki-laki Uighur itu!”

Belasan wanita itu tiba-tiba menangis. Ituchi tertegun karena wanita-wanita ini jelas adalah wanita-wanita yang baru saja mengalami penderitaan besar. Wajah mereka tampak begitu kuyu dan menyedihkan, rata-rata lumayan meskipun Ituchi mengerutkan kening melihat beberapa di antaranya memiliki mata yang nakal, seperti biasanya wanita-wanita penghibur alias pelacur-pelacur jalanan. Dan ketika Mei Hoa juga tertegun dan tentu saja penderitaan kaumnya ini lebih terasa daripada Ituchi maka Mei Hoa bangkit berdiri dan menyambar seorang di antara wanita-wanita itu yang mukanya bengap-bengap.

“Kau, apa yang dilakukan orang-orang itu kepadamu? Apa yang terjadi?”

Wanita ini menangis. “Hamba.... hamba diperkosanya, hujin. Sepuluh laki-laki ganti berganti mempermainkan hamba!”

“Terkutuk! Dan yang lain-lain ini?”

“Hm, sama saja,” Hok-ciangkun tiba-tiba bicara, maju memotong. “Yang lain-lain ini juga mengalami nasib tak berbeda, Mei Hoa. Mereka digarap dan dipermainkan bangsa Uighur itu. Dan banyak contoh di sini. Kau boleh tanya satu persatu kalau ingin jelas!”

Mei Hoa merah padam. Tiba-tiba saja dia terbakar ketika wanita-wanita yang lain itu menangis dan mengguguk. Mereka segera menceritakan betapa masing-masing diganggu dan digauli laki-laki Uighur secara paksa. Betapa mereka diminta melayani tiga sampai sepuluh orang Uighur yang rata-rata bersikap kejam itu. Dan ketika semua menangis dan Mei Hoa tak tahan maka nyonya muda ini setengah berteriak bahwa dia akan menghukum orang-orang biadab itu.

“Sudahlah, sudah. Kalian kembali dan nanti akan kuhajar orang-orang itu!”

“Tenang...” Hok-ciangkun tiba-tiba berseri, menyembunyikan kegembiraannya. “Janjimu ini sudah cukup melegakan mereka, Mei Hoa. Tapi duduk dan marilah bicara lagi tentang ini.” dan menyuruh wanita-wanita itu keluar panglima she Hok ini sudah menghadapi tamunya lagi, sekarang memandang Ituchi. “Kau lihat,” panglima itu berkata penuh kemenangan, orang sudah mulai percaya kepadanya. “Bangsa Uighur itu adalah bangsa yang tak tahu diri, Hu-kongcu. Sudah mendapat ampunan tapi masih juga kurang ajar. Bagaimana sikapmu kalau mereka bertindak seperti itu? Dapatkah kau memaafkannya? Kalau aku, tidak! Tak mungkin memaafkan mereka-mereka itu!”

Ituchi merah padam. Sama seperti isterinya maka pemuda inipun juga terbakar dan marah. Ituchi tiba-tiba merasa gusar karena bangsa Uighur itu tiba-tiba demikian biadab dan rendah, padahal dulu seingatnya mereka itu adalah orang-orang yang jantan dan pemberani, rata-rata berwatak ksatria dan boleh dipercaya. Tapi begitu hari ini bukti-bukti itu ditunjukkan Hok-ciangkun tiba-tiba saja Ituchi geram dan lupa pada pengamatannya tadi akan pandang mata kotor sang panglima she Hok.

Selanjutnya Hok-ciangkun menceritakan lagi bahwa tidak itu saja perbuatan orang-orang Uighur ini. Ada berita yang didengar bahwa orang-orang Uighur akan membujuk suku-suku lain untuk bersatu dan memberontak lagi, menyerang seperti dulu. Dan ketika bangsa U-min disebut-sebut dan Ituchi kaget maka pemuda itu bangkit berdiri ketika Hok-ciangkun menutup.

“Kami mendengar kabar angin yang entah benar atau tidak bahwa Cucigawa akan bersekutu atas bujukan suku-suku bangsa yang lain, satu di antaranya itu ialah bangsa Uighur ini. Tapi karena kami belum dapat membuktikan dan masih samar-samar maka kami tak dapat bertindak seperti halnya bangsa Uighur ini. Begitulah, harap kau tahu saja, Hu-kongcu. Dan amat kebetulan sekali bahwa hari ini kalian berdua datang. Kami tak perlu meminta bala bantuan dari kota raja!”

“Hm!” Ituchi berkerot-kerot giginya. “Cucigawa hendak membawa suku bangsaku pada pemberontakan lagi, ciangkun? Dia akan mengulang dosa yang lama? Keparat, sungguh harus kuhajar. Aku datang ke sini karena juga akan ke sana!”

“Ah, kongcu akan ke Cucigawa?”

“Benar.”

“Kalau begitu kebetulan, kongcu. Selidiki gerak-gerik Cucigawa itu dan apakah benar dia akan memberontak atau tidak!”

“Tapi ke sana berarti melewati bangsa Uighur ini,” Mei Hoa tiba-tiba berseru. “Dan persoalan ini tentu saja tak akan kami biarkan, paman. Kalau bangsa Uighur sudah membuat gara-gara maka sebaiknya mereka ini dihukum dulu!”

“Ah, benar,” sang panglima berseri-seri. “Tapi sekarang jumlah mereka ribuan, Mei Hoa. Tak kurang dari tiga ribu orang ada di sana. Aku dan pasukanku terpukul gara-gara kalah banyak. Dan mereka itu berperang seperti kesetanan. Aku ingin bantuan kalian bagaimana agar tidak banyak jatuh korban!”

“Aku akan mendatangi orang-orang itu!” Mei Hoa berkata gagah, bangkit berdiri. “Dan akan kutemui pemimpinnya, paman. Kubekuk dan kutangkap dia agar yang lain menyerah!”

“Hm, tak begitu gampang,” panglima ini menggeleng. “Menangkap pemimpinnya bukan berarti lalu dapat menundukkan orang-orang itu. Mei Hoa. Harus dicari akal agar dapat berdiplomasi dulu. Aku pikir tak cocok kalau kau yang datang ke sana!”

“Jadi maksud paman?”

“Hm, duduklah,” Hok-ciangkun tersenyum, bersinar-sinar memandang wanita muda ini, Mei Hoa yang cantik dan gagah. “Kalau kau yang ke sana maka tak ada harapan untuk menundukkan bangsa itu, Mei Hoa. Kecuali suamimu ini, Hu-kongcu yang serumpun dengan bangsa Uighur!”

Mei Hoa tertegun. Hok-ciangkun segera berkata bahwa dirinya adalah wanita Han, sedang Ituchi tidak. Dan karena bangsa Han sedang dibenci bangsa Uighur maka tak baik rasanya kalau wanita itu yang pergi. Ituchilah yang cocok dan pemuda itulah yang diharap untuk dapat menundukkan orang-orang ini, karena Ituchi serumpun dengan bangsa Uighur itu, sama-sama berkulit hitam, bukan orang Han yang kuning langsap. Dan ketika Hok-ciangkun berkata lagi bahwa kepandaian pemuda itu tentunya lebih tinggi darinya maka panglima ini menutup.

“Bukan aku meremehkan, tapi orang-orang Uighur suka mengeroyok dan berbuat curang, apalagi kalau yang datang adalah wanita. Bagaimana suamimu tak akan gelisah kalau kau dipisahkan dari suamimu ini, Mei Hoa? Kalian berdua dapat saja berangkat berbareng, tapi di sana tentu akan dikeroyok dan tak mungkin suamimu dapat melindungimu. Karena itu biarkan suamimu yang pergi, kau menunggu di sini dan kita lihat bagaimana hasilnya. Dan suamimu tentu tak akan keberatan karena dulu dia juga membantu kerajaan! Bukankah begitu, Hu-kongcu?”

Ituchi tertegun. Sejak tadi dia bersinar-sinar mendengarkan pembicaraan panglima ini. Giginya gemeretuk kalau teringat akan Cucigawa, saudara sekaligus musuhnya itu. Tapi ketika Hok-ciangkun bertanya dan dia mengangguk maka Ituchi tak menolak ketika diminta untuk menemui bangsa Uighur itu. “Baiklah, aku dapat menerima. Tapi siapa pemimpin bangsa Uighur itu hingga tak becus dia memimpin rakyatnya!”

“Ah, dia Hulai, kongcu. Kakek yang tak tahu diri itu. Sebenarnya kakek ini tak berkepandaian apa-apa kecuali sumpitnya yang berbahaya itu, juga perlindungan anak buahnya yang terlampau setia!”

“Hulai?” Ituchi terkejut. “Kakek gagah itu?”

“Ah, nyatanya dia pengecut, kongcu. Liang-ciangkun dibunuhnya dengan sumpit beracun. Kakek itu tidak gagah!”

“Hm, baiklah. Aku sudah mengenal kakek ini, ciangkun. Dan aku akan menemuinya. Aku akan menegurnya kenapa dia membawa rakyatnya kepada pemberontakan ini!” Ituchi sudah bangkit berdiri, merah dan gelap mukanya karena tiba-tiba dia menjadi tak senang kepada kakek ini.

Hok-ciangkun menggosok bahwa kakek itu bisa jadi membujuk Cucigawa untuk mengajak bangsa U-min mengadakan pemberontakan, tahu bahwa Ituchi diam-diam tak senang kepada saudaranya itu, orang yang telah mempermainkan ibunya. Dan ketika Ituchi mengangguk dan mencengkeram pinggir meja, yang seketika hancur dan remuk maka pemuda itu meminta agar isterinya di situ dulu.

“Hok-ciangkun benar, akulah yang lebih tepat menghadapi bangsa Uighur itu. Aku sudah mengenal adat-istiadatnya, karena aku sewarna. Kau tinggallah di sini dulu, Hoa-moi. Aku akan kembali petang nanti juga!”

“Tapi maaf!” Hok-ciangkun tiba-tiba berseru sambil bangkit menyusul. “Di luar pintu gerbang banyak bahaya, Hu-kongcu. Meskipun kau berkepandaian tinggi tapi kupikir tak ada jeleknya untuk memperingatkan dirimu dari serangan-serangan gelap lawan. Kudengar bahwa banyak di antaranya bersembunyi di semak-semak belukar, menjaga di luar sana. Karena itu kalau bisa sebaiknya malam saja kau ke sana dan malam itu juga kembali!”

“Tidak, aku tak perlu menunda waktu lagi, ciangkun. Dan orang-orang Uighur tentu tak akan menyerang orang-orang yang bukan orang Han. Mereka tentu mengenal aku dan tak perlu aku takut!”

“Hm, baiklah. Kalau begitu tak perlu aku mengecilkan hatimu, kongcu. Maaf kalau tadi aku menyinggung perasaanmu.”

“Tidak, kau tak salah, ciangkun. Betapapun maksudmu baik. Sudahlah, aku pergi dan titip isteriku di sini!” Ituchi menggerakkan kakinya, berkelebat dan lenyap di luar sana sementara isterinya bangkit berdiri untuk menyusul, ragu-ragu karena tadi sudah dipesan untuk tidak ikut.

Memang kehadirannya bisa mengganggu suaminya itu kalau bangsa Uighur melihatnya. Dan karena alasan itu dinilai masuk akal dan Hok-ciangkun juga bukanlah orang lain karena panglima itu adalah sahabat mendiang ayahnya sendiri maka Mei Hoa membuang cemas di kamar yang akhirnya disediakan oleh Hok-ciangkun itu.

* * * * * * * *

Tak sukar bagi Ituchi untuk keluar dari pintu gerbang. Semua perajurit akhirnya mengenalnya dan tentu saja mereka itu membungkuk hormat ketika si pemuda berkelebat keluar, menyambar kudanya dan mencongklang dan ketika pintu gerbang dibuka tiba-tiba Ituchi sudah kabur bagai terbang. Pemuda itu tak menoleh kiri kanan lagi karena secepatnya dia ingin menemui orang-orang Uighur itu. Tapi begitu dia menginjak daerah padang ilalang tiba-tiba saja puluhan lembing dan anak panah menyambarnya.

“Sing-sing-singgg..!”

Ituchi mengelak sigap. Anak-anak panah dan lembing dikebutnya runtuh. Tapi ketika kudanya meringkik dan terjungkal roboh, terkena panah yang menyambar ke bawah maka pemuda itu kaget berjungkir balik, melayang turun.

“Berhenti, aku bukan musuh!”

Bayangan-bayangan berkelebatan dari semak-semak ilalang itu. Ituchi tiba-tiba sudah dikepung oleh ratusan orang yang menghentikan perjalanannya. Itulah orang-orang Uighur yang masih menjaga di situ, melihat pintu gerbang dibuka tapi segera ditutup lagi dan seorang pemuda berpacu cepat. Dan ketika pemuda itu menuju padang ilalang dan mereka tentu saja terkejut, karena itu tanda bahwa si pemuda hendak memasuki pusat kekuatan mereka maka orang-orang Uighur itu muncul dan kudanya dirobohkan agar tidak dapat melanjutkan perjalanan lagi, diam-diam tersentak karena kaget melihat Ituchi mementalkan atau mematahkan panah dan lembing-lembing mereka.

“Kau siapa!” Ituchi sudah berhadapan dengan seorang laki-laki tinggi kekar. “Kami tak mengijinkan orang-orang asing berkeliaran di sini, anak muda. Dan beritahukan namamu dan apa maksudmu keluar dari pintu gerbang itu!”

“Hm, aku ingin memperkenalkan diri kalau sudah bertemu dengan pemimpin kalian. Antarkan aku ke kakek Hulai dan di sana saja kalian boleh tahu siapa aku!”

“Sombong, kau tak mau memperkenalkan diri? Kalau begitu kau pasti antek Hok-ciangkun. Serang...!” dan laki-laki itu yang marah dan membentak maju tiba-tiba sudah menyerang menyuruh teman-temannya bergerak. Ituchi mengelak tapi orang-orang Uighur yang lain sudah menyerangnya pula dari muka dan belakang. Mereka semua sudah melihat kelihaian Ituchi tadi ketika mengelak dan menangkis lembing atau panah. Maka begitu mereka bergerak dan orang-orang ini sudah mulai biasa untuk berhadapan dengan musuh-musuh yang pandai silat maka Ituchi kewalahan juga ketika dari segala penjuru menyambar hujan senjata itu.

“Plak-plak-cringg!”

Lawan terkejut. Ituchi tiba-tiba mengeluarkan kepandaiannya dan secepat kilat pemuda itu memberosot dari hujan senjata lawan, lenyap tapi kaki dan tangannya tidak tinggal diam untuk mengibas atau menyampok. Dan ketika orang-orang itu berteriak karena mereka saling pukul, sementara lawan menghilang maka yang ada di belakang tiba-tiba berseru kaget melihat pemuda itu sudah ada di situ, seperti siluman.

“Hei, dia ada di sini. Di belakang!”

Orang-orang itu membalik. Ituchi sudah mendengus dan mengejek mereka karena dia menjadi gemas dan marah juga karena orang-orang ini tiba-tiba saja menyerangnya. Mereka berkesan ganas dan tidak ramah, kasar. Maka ketika mereka bergerak dan menyerangnya lagi, dari segala penjuru tiba-tiba Ituchi tidak mengelak dan kali ini ingin menghajar lawan-lawannya agar kapok.

“Des-des-dess!”

Orang-orang itupun terpelanting bergulingan. Mereka menjerit dan berteriak ketika tiba-tiba senjata di tangan patah-patah bertemu tubuh pemuda itu. Ituchi memang mengerahkan sinkangnya dan begitu sinkang itu melindungi dirinya tiba-tiba saja dia kebal, tentu saja membuat lawan terkejut karena tak ada senjata yang mampu melukai pemuda itu. Dan ketika mereka berteriak dan kaget serta pucat maka saat itulah tangan Ituchi bergerak dan semuanya berdebum dengan tangan atau kaki patah-patah, paling sial retak!

“Aduh....!”

“Tobat...!”

Ituchi sudah berhenti. Yang lain yang ada di belakang tiba-tiba mundur dan gentar melihat kelihaian pemuda ini. Orang-orang itu tiba-tiba ribut sendiri. Namun ketika mereka memaki atau merintih maka saat itu berderap seekor kuda dan Karum, pembantu kakek Hulai muncul.

“Berhenti, siapa pemuda ini!”

Ituchi bersinar. Dia samar-samar mengenal laki-laki di atas kuda itu tapi tentu saja tak menjawab. Orang-orang Uigur itulah yang hiruk-pikuk menerangkan pemuda ini, bahwa Ituchi adalah pemuda tak dikenal tapi pemuda itu baru saja keluar dari pintu gerbang Hok-ciangkun, berarti musuh. Dan ketika Karum meloncat turun dan kaget serta terbelalak melihat teman-temannya yang terluka maka laki-laki ini menggeram mendekati Ituchi, sinar matanya menunjukkan kemarahan besar.

“Kau!” bentaknya. “Siapakah, anak muda? Benarkah kau antek Hok-ciangkun? Kau datang untuk menunjukkan kesombonganmu?”

“Hm,” Ituchi bersikap tenang, tersenyum pahit. “Aku datang bukan untuk menunjukkan kesombongan, saudara. Melainkan teman-temanmu itulah yang memaksa aku hingga begini. Aku datang secara baik-baik ingin menemui yang gagah kakek Hulai, tapi mereka mencegat dan merobohkan kudaku. Siapakah yang salah kalau begini?”

“Kau siapa, sebutkan namamu. Kakek Hulai tak dapat ditemui oleh sembarang orang saja. Aku wakilnya!”

“Hm, siapakah kau? Aku serasa mengenalmu, tetapi lupa. Aku adalah Ituchi, dari bangsa U-min...”

“Ituchi?” Karum tersentak. “Maksudmu kau adalah putera mendiang Raja Hu? Kau adalah keturunan Wang Cao Cun?”

“Hm, itulah ibuku. Kau siapa, sobat? Aku serasa mengenalmu...”

“Tentu saja, aku adalah Karum! Kalau begitu kita bukan orang lain!” dan Karum yang meloncat dan mencengkeram pundak Ituchi tiba-tiba tertawa bergelak tapi mendadak berhenti ketika melihat teman-temannya yang kesakitan dan merintih di sekitar mereka, berkerut kening dan mundur seolah disengat lebah dan tiba-tiba laki-laki yang tadi gembira ini mendadak muram.

Karum teringat bahwa Ituchi katanya dari tempat Hok-ciangkun, dan karena Ituchi juga pembantu kaisar yang gigih tiba-tiba saja muka lelaki itu menjadi gelap. “Hm, maaf.... maaf. Kiranya kau, Ituchi. Dan datang sebagai utusan Hok-ciangkun! Ada apakah? Kau ingin kami menyerah?”

“Hm...!” Ituchi menarik napas dalam. “Aku datang bukan sekedar itu, Karum, melainkan ingin bertanya yang lebih jauh lagi. Aku ingin menghadap kakek Hulai!”

“Pemimpin kami sedang tak enak badan, kau dapat bicara saja dengan aku!”

Ituchi mengerutkan kening. Dia tadi merasa girang bahwa ini kiranya Karum, laki-laki yang segera diingatnya sebagai pembantu kakek Hulai. Tapi begitu Karum bersikap dingin dan tidak lagi bersahabat, hal yang mengecewakan hati pemuda ini tiba-tiba saja Ituchi jadi semakin tak senang ketika orang bersikap begitu kasar, tak menyebutnya pangeran karena sesungguhnya orang seperti Karum ini masih jauh di bawah derajatnya. Tapi karena dia tak begitu menghiraukan adat-istiadat karena Ituchi sudah terbiasa berkecimpung di dunia kang-ouw maka sikap dan kata-kata lawannya itu diredamnya sebisa mungkin.

“Kakek Hulai sakit?” Ituchi bertanya. “Kalau begitu kebetulan, aku ingin menjenguknya sebagai sesama sahabat!”

“Hm, kau bukan lagi sahabat, Ituchi. Kedatanganmu sebagai utusan Hok-ciangkun jelas menunjukkan ini. Tak usah basa-basi, katakan saja apa perintah majikanmu itu dan segeralah pergi kalau tak ingin membuat ribut-ribut!”

Ituchi merah padam. Tiba-tiba saja dia menjadi marah setelah Karum bersikap demikian kasar. Dia dipersamakan sebagai bawahan Hok-ciangkun dan panglima she Hok itu dikatakan Karum sebagai majikannya. Bukan main menghinanya! Dan karena Ituchi juga seorang pemuda yang gampang terbakar atau mendidih maka tiba-tiba saja diapun tak mau bersikap halus atau sopan lagi.

“Karum!” pemuda ini sudah mulai mengeluarkan bentakan. “ jaga dan tutup mulutmu kalau tak ingin mencari permusuhan. Aku bukan utusan Hok-ciangkun, melainkan sebagai penengah atas keributan antara kalian dengan kerajaan. Aku datang untuk bertanya kenapa kalian tiba-tiba menjadi begitu hina dan tak tahu malu menyerang Hok-ciangkun. Kenapa kalian tiba-tiba menjadi begitu biadab dan jalang dengan memperkosa wanita-wanita Han. Apa maksud kalian dengan semuanya ini dan tidak takutkah kalian akan hukuman dari kaisar!”

“Ha-ha!” Karum tiba-tiba tertawa bergelak. “Pandai tapi busuk mulutmu memutar lidah, Ituchi. Pandai tapi bodoh sekali caramu menelan segala kata-kata Hok-ciangkun itu. Ah, rupanya sudah demikian mendarah daging sikapmu menjilat kaisar, dan rupanya sudah merasuk pula segenap omongan Hok-ciangkun itu kepadamu hingga kau menghina kami semena-mena. Hm, dulu kau memusuhi kami dengan jalan membantu kaisar, Ituchi. Dan sekarang kau memusuhi kami pula dengan membantu panglima she Hok itu. Keparat, kau selamanya antek bangsa Han. Tak mau aku bicara lagi dan pergilah sebelum aku lupa bahwa jelek-jelek kau adalah serumpun!”

Ituchi terbelalak. Karum, lawannya ini tiba-tiba menyambar tombak dan menodongkannya ke dadanya. Dia diusir dan disuruh pergi begitu rendah. Dan ketika yang lain juga bergerak dan siap-siap menyerangnya, hal yang membuat Ituchi terbakar tiba-tiba pemuda ini menyambar tombak itu dan menekuknya dengan dua jari ke bawah.

“Pletak!”

Karum terkejut. Tombak di tangannya tiba-tiba patah dan Ituchi tahu-tahu sudah menyambar lehernya. Dan ketika pemuda itu membentak dan mengangkat lawannya maka Karum sudah berteriak keras karena tahu-tahu lehernya sudah dijepit dan meronta-ronta seperti kelinci di tangan seorang raksasa.

“Karum!” bentakan itu menggelegar. “Sungguh tak tahu hormat dan pedas kali mulutmu. Beginikah sekarang sikap bangsa Uighur kepada orang yang baik-baik ingin bicara? Beginikah caramu menyambut tamu yang datang secara bersahabat? Aku tak dapat membiarkanmu seperti ini, Karum. Dan maaf kalau aku memberimu sedikit pelajaran.... plak!” dan Ituchi yang menggerakkan tangan menampar tiba-tiba sudah melepas dan menendang laki-laki itu yang menjerit dan terbanting roboh.

Karum mengaduh-aduh karena empat giginya rontok berdarah, tentu saja gusar dan marah dan bergeraklah teman-temannya melihat itu. Dan ketika laki-laki ini menyambar tombak yang lain dan memberi aba-aba tiba-tiba dia sudah menerjang dan puluhan laki-laki Uighur ikut di belakangnya untuk menyerang....

Rajawali Merah Jilid 03

RAJAWALI MERAH
JILID 03
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
“BAIK!” panglima itu tiba-tiba berkata. “Kau benar, Buma. Dan agaknya peristiwa ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Hm, tak apalah. Aku tak akan membawa persoalan ini ke kota raja, tapi kuminta diselesaikan secara gagah. Bagaimana kalau kita yang sama-sama menjadi pemimpin melakukan tanding-banteng seperti kebiasaan di suku bangsamu dalam menyelesaikan persoalan secara laki-laki? Kita tak usah membawa orang-orang kita, Buma, tapi kau dan aku saja. Kita melakukan tanding-banteng dan aku siap melayanimu meskipun tak pernah berlatih!”

Buma terkejut. Hok-ciangkun tiba-tiba mengajak bertanding secara adu banteng, yakni saling tumbuk kepala seperti kebiasaan laki-laki di bangsa Uighur untuk memutuskan benar salah, atau juga kalah menang di mana biasanya yang kalah harus tidak banyak cakap lagi dan menarik semua persoalan. Hal ini diselesaikan laki-laki suku bangsanya kalau mereka tak mendapatkan jalan keluar, bertanding secara ksatria dan tentu saja ditonton banyak orang, sebagai saksi.

Dan karena tanding-banteng adalah adu kekuatan yang menarik dan biasanya pemuda-pemuda sudah melatih batok kepalanya untuk bersiap-siap menghadapi lawan maka Buma juga sudah melakukan itu dan pemuda ini memiliki dahi atau batok kepala yang keras, seperti terbukti ketika tadi kemplangan senjata-senjata lawan ada yang mental bertemu kepalanya. Tapi karena Hok-ciangkun adalah panglima yang berkepandaian tinggi dan panglima itu bukan orang sembarangan maka pemuda ini menjadi ragu juga tapi kawan-kawannya segera bersorak.

“Betul, terima saja, Buma. Ajak Hok-ciangkun itu tanding-banteng!”

“Dan kami akan puas melihat hasilnya. Kita dapat mencegah pertumpahan darah!”

Buma merah mukanya. Tiba-tiba dia ingat bahwa dengan melakukan tanding-banteng itu maka pertumpahan darah memang dapat dihindari, dan diapun sebenarnya tak ingin mengorbankan jiwa teman-temannya. Maka mengangguk dan menetapkan hati maka pemuda itu menyeruak teman-temannya untuk menerima tantangan, apalagi dari orang yang tak pernah berlatih adu kepala seperti Hok-ciangkun itu.

“Baiklah,” pemuda ini bersinar-sinar. “Aku menerima tantanganmu, tai-ciangkun. Tapi kali ini ada syarat!”

“Syarat apa?”

“Kalau kau atau aku kalah maka yang lain tak boleh dibawa-bawa. Tegasnya, jangan membawa-bawa pasukan untuk tunjuk atau turut perintah pada yang menang!”

“Ha-ha, kau penakut! Urusan ini sebenarnya menyangkut kita semua, Buma, bukan kau atau aku seorang. Kenapa begitu? Kau melanggar kebiasaan, tak adil!”

“Hm, aku ingin menyelamatkan pasukanku, urusan ini anggap saja urusan pribadi. Kalau kau tak mau terpaksa aku menolak. Kita selesaikan secara massal!”

Hok-ciangkun berkilat matanya. Tiba-tiba dia menjadi marah karena kata-kata itu mengajak perang besar. Seribu orang di situ akan berhadapan dengan seribu lebih pasukan Uighur, itupun mungkin masih akan bertambah lagi karena siapa tahu orang-orang Uighur yang lain bersembunyi di padang rumput. Tapi ketika seseorang kembali berbisik dan berkata-kata di telinga panglima ini maka Hok-ciangkun mengangguk dan menerima.

“Baiklah,” panglima itu melayang turun dari atas kudanya. “Kuterima syaratmu, Buma. Dan mari kita bertanding!”

Buma berseri mukanya. Diapun meloncat turun dan kawan-kawannya segera bergerak mengelilingi, disusul oleh pasukan Hok-ciangkun yang juga siap mengelilingi dan melindungi sang pemimpin. Dua pasukan yang semula mau berperang tiba-tiba saling beradu pandang, melotot. Tapi karena mereka sama-sama akan menonton dan Hok-ciangkun maupun Buma sudah mencegah mereka untuk tidak angkat senjata maka dua musuh itupun hanya saling pandang saja dan beberapa geraman pendek dikeluarkan untuk pelampias marah.

“Nah,” panglima itu siap. “Aku di sini, Buma. Kau boleh memilih tempat dan katakan apakah siap memulai!”

“Hm, akupun siap,” pemuda itu melepas baju, mengencangkan ikat kepala. “Di sini atau di mana saja sama, tai-ciangkun. Mari kita mulai tapi sebaiknya kau lepas topi kepalamu itu!”

“Benda ini tak akan mengganggu,” Hok-ciangkun tertawa mengejek. “Bukankah kepala dan dahi kita yang akan saling adu kekuatan? Kalau kau ingin punya boleh pakai topi perwiraku yang lain, Buma. Atau kita mulai saja dan tak perlu banyak bicara!”

Buma melotot marah. Dia sebenarnya bukan takut tapi semata menjaga agar lawan tidak curang. Siapa tahu topi besi itu banyak membantu kepala Hok-ciangkun dan dia kalah, bukan semata oleh kekuatan lawan tapi oleh topi besi itu. Tapi karena lawan sudah mempersilahkan dia memakai topi yang sama kalau dia suka maka pemuda ini menolak dan lebih baik tidak mengenakan sama sekali, tak tahu bahwa Hok-ciangkun enggan melepas topi besinya itu karena botak!

“Siap?” panglima itu menantang. “Mari mulai, bocah. Dan lihat siapa yang menang!”

Buma menunduk. Hok-ciangkun sudah merenggangkan kaki dan berdiri setengah membungkuk, kepala disorongkan ke depan dan inilah tanda bahwa lawan siap ditantang. Buma menyambut dan segera menempelkan kepala di kepala panglima itu. Dan ketika kedua kaki menancap kokoh dan aba-aba mulai tiba-tiba Buma membentak dan mendorong panglima itu, kepala dengan kepala!

“Haiittt...!”

Lucu melihat itu. Dua kepala tiba-tiba berkeratak, Buma menghentak dan lalu menumbuk kepala Hok-ciangkun. Suaranya keras beradu. Tapi ketika Hok-ciangkun tertawa bertahan dan mengerahkan tenaganya maka serangan anak muda itu tak mampu menggeser kedudukannya dan Buma membentak marah, menumbuk dan mengadu kepalanya lagi tapi lawan ternyata tangguh. Hok-ciangkun mengerahkan sinkangnya dan dengan sinkang inilah panglima itu bertahan.

Buma menggeram dan menumbuk lagi, berulang-ulang, kaget karena kepala lawan demikian keras dan kokoh, mungkin karena topi besinya itu! Dan ketika Buma melotot dan lawan terbahak tiba-tiba tangan Hok-ciangkun nyelonong dan mencengkeram pinggangnya. Lalu sekali panglima itu memuntir tiba-tiba Buma terpeleset dan roboh terbanting.

“Ha-ha!” panglima itu tertawa bergelak. “Kau kalah, Buma. Aku menang!”

“Tidak!” teriakan itu disusul bentakan dan seruan di sana-sini. “Kau curang mempergunakan tangan, ciangkun. Tanding-banteng ini hanya mempergunakan kepala!”

“Ah, begitukah? Mari... mari mulai lagi. Aku tak takut!” dan sang panglima yang siap dan menunduk lagi lalu merenggangkan kaki menantang lawan.

Buma sudah meloncat bangun dan pemuda itu merah padam. Tak dapat disangkal bahwa Buma mulai kecut, perasaannya was-was dan dia takut kalah. Kepala panglima itu demikian keras dan tak tergoyahkan. Rasanya itu berkat topi yang dikenakan di atas kepalanya. Maka membentak bahwa lawan curang, mempergunakan alat bantu tiba-tiba pemuda ini berseru agar panglima itu melepas topinya.

“Aku tak mau bertanding kalau kau melindungi kepalamu dengan topi besi itu. Ini tidak jantan. Aku minta kau melepasnya!”

“Hm, sudah kubilang agar kau mempergunakan pula topi besi seorang perwiraku. Kenapa cari alasan kalau sudah kalah? Memakai atau tidak tetap saja kau tak dapat merobohkan aku, Buma. Pakailah topi perwiraku dan tumbuk lagi!”

“Aku tak biasa mempergunakan topi. Lagi pula adat pertandingan ini adalah kepala tanpa dilindungi apapun. Kau licik, Hok-ciangkun. Tak kusangka bahwa sebagai panglima tinggi kau pengecut dan tidak berani bertanding secara ksatria!”

“Bedebah!” panglima itu membentak. “Siapa licik dan tidak berani memenuhi permintaanmu? Baik, lihat topi ini kulepas, Buma. Dan awas kuhajar kau nanti sampai mampus!” sang panglima melepas topinya, melempar pada seorang pembantunya dan hampir semua orang tertawa ketika tiba-tiba melihat botak di atas kepala panglima itu.

Kiranya Hok-ciangkun gundul kelimis di tengah-tengah kepalanya, mengkilap dan licin dan tentu saja itu membuat orang-orang geli. Sekarang tahulah mereka kenapa panglima itu enggan melepas tutup kepalanya, kiranya karena botaknya itu. Tapi ketika si panglima menggeram dan melotot memandang mereka, penuh kilatan marah tiba-tiba semuanya terdiam dan tak jadi tertawa, melihat panglima itu sudah merenggangkan tangan dan membungkuk di depan Buma.

Buma sendiri tertegun dan geli melihat botak yang begitu mengkilap, sungguh kontras dengan sewaktu panglima itu memakai topinya, gagah dan garang tapi tiba-tiba berobah lucu ketika sekarang tak menggunakan topinya lagi itu. Dan karena lawan sudah siap di depan dengan muka merah, mata berapi siap mengancam maka Buma tak jadi tertawa dan bergerak menyambut panglima itu, menempelkan kepalanya di atas kepala lawan yang botak dan licin.

“Mulailah, kau akan kubanting roboh!”

Seruan atau geraman ini tak terdengar oleh yang lain-lain. Panglima itu mendelik dan mengancam dengan kata-kata mendesis, Buma mengerutkan kening karena panglima itu seperti ingin menelannya bulat-bulat, tergetar hati pemuda ini. Tapi karena mereka sudah bersiap dan keduanya sudah saling tempel maka Buma membentak dan mengulangi lagi serangannya tadi.

“Haiittt...!” Pemuda itu mengerahkan segenap tenaga. Buma segera mengetahui bahwa lawan yang dihadapi adalah adalah seorang tangguh, dia tak boleh ragu-ragu atau main-main lagi. Tapi ketika dia membentak dan mendorong panglima itu tiba-tiba hawa panas keluar dari kepala panglima itu dan Buma kaget, berteriak tapi kepalanya lekat dan tak dapat ditarik lagi.

Buma meronta namun lawan tertawa bergelak. Dan ketika pemuda itu terkejut dan tak dapat menarik kepalanya lagi maka tiba-tiba saja lawan telah mempermainkannya dan kepala Hok-ciangkun digerak-gerakkan sementara kepala lawannya ikut bergoyang ke sana ke mari mengikuti gerakan kepala panglima itu, sementara hawa panas kian membakar di kepala Buma!

“Ha-ha!” semua orang terbelalak. “Lihat siapa yang kalah dan menang, Buma. Lihat meskipun aku tak mempergunakan topi besiku tapi kau tak dapat mengalahkan aku, justeru akulah yang akan merobohkanmu!”

Bangsa Uighur terkesiap kaget. Mereka tak tahu apa yang terjadi kecuali teriakan atau jerit kesakitan Buma. Jago mereka itu pucat hebat dan seluruh tubuh Buma berkeringat. Pemuda itu mandi peluh dan kepalanya merah menyala. Mereka tak tahu bahwa Hok-ciangkun mempergunakan sinkangnya untuk membakar pemuda ini, mengerahkan hawa panas dan Buma yang tak pandai silat dipermainkan sesuka hati, karena pemuda itu hanya mengandalkan gwa-kang atau tenaga otot saja, tenaga kasar. Dan ketika pemuda itu berteriak-teriak dan Buma tak sanggup menahan panas yang membakar tiba-tiba pemuda ini menggerakkan tangannya menghantam pinggang lawan.

“Bukk!”

Bangsa Uighur terkejut. Jago mereka tiba-tiba bersikap curang karena itu adalah pelanggaran. Adu kepala sudah menjadi adu gebuk karena Buma selanjutnya bak-bik-buk menghantami lawan. Pemuda ini berteriak-teriak karena kepalanya ditempel Hok-ciangkun, bahkan “disedot” hingga Buma kesakitan. Pemuda itu mata gelap.

Tapi ketika Hok-ciangkun malah terbahak dan membiarkan saja pukulan-pukulan pemuda itu, membuat tangan Buma bengkak-bengkak karena panglima itu melindungi dirinya dengan sinkang akhirnya satu suara berkeratak disusul robohnya tubuh pemuda ini membuat pertandingan berakhir.

“Bluk!” Buma tewas dengan kepala retak. Bangsa Uighur tiba-tiba geger karena Hok-ciangkun telah membunuh jago mereka. Pertandingan selesai dan satu nyawa melayang. Dan ketika mereka terkejut dan terbelalak marah, kaget karena panglima itu menewaskan lawannya maka Hok-ciangkun berseru mengguntur agar mereka mundur.

“Aku telah mengalahkan lawanku, dan pertandingan berlaku secara jantan. Nah, siapa mau coba-coba dan mencari permusuhan!”

Semua orang tertegun. Hok-ciangkun akhirnya berkata bahwa itulah yang terpaksa dilakukannya. Buma telah melakukan kecurangan dengan memukul dirinya, padahal tadi dia memuntir dan membanting roboh pemuda itu saja sudah diprotes. Dan ketika bangsa Uighur dapat menerima ini dan mereka menyesali kematian Buma maka panglima itu berseru bahwa mereka harus tunduk kepada yang menang.

“Ini adalah adat kalian sendiri. Siapa melanggar berarti dia pengkhianat. Nah, kembalilah ke tempat masing-masing dan bawa mayat pemuda itu!”

“Tapi...” seseorang tiba-tiba melompat maju. “Apakah ini juga berarti berakhirnya penghinaan terhadap wanita-wanita kami, ciangkun? Apakah pihakmu juga akan meminta wanita-wanita cantik lagi?”

“Hm, kau Karum?” Hok-ciangkun memandang bersinar-sinar. “Apa maksudmu dengan pertanyaan ini?”

“Maaf,” Karum, laki-laki itu, mengedikkan kepala tak takut memandang panglima ini. “Kalau selesainya persoalan ini tak dibarengi dengan berhentinya permintaan perwira-perwiramu akan wanita cantik maka percuma semuanya ini. Karena dari pihak kami pasti akan muncul Buma-Buma yang lain untuk menghalang perbuatan tak terpuji itu. Rekan kami Buma telah tewas, kami tak akan menuntut balas. Tapi kalau pihakmu masih juga mengganggu dan mempermainkan wanita-wanita kami kukira perlawanan itu akan tetap ada karena tak mungkin bangsa Uighur dihina serendah itu!”

“Benar!” yang lain tiba-tiba berteriak. “Kami bangsa Uighur boleh dibunuh atau disakiti, Hok-ciangkun. Tapi jangan dihina atau direndahkan seperti itu. Kami pasti akan menuntut balas kalau wanita-wanita kami dipermainkan!”

“Hm!” Hok-ciangkun berkilat matanya. “Sebenarnya urusan itu adalah urusan pribadi anak-anak buahku, Karum. Sebenarnya pembantu-pembantuku tak bermaksud mempermainkan wanita-wanita kalian tetapi justeru sedang memilih yang cocok untuk diperisteri. Kenapa kalian menafsir yang bukan-bukan? Kalau wanita-wanita kalian ada yang cocok di hati anak buahku tentu mereka akan dijadikan keluarga, bukan seperti yang kalian sangka...”

“Bohong!” Karum berseru. “Kalau begitu maksud anak-anak buahmu maka tak mungkin seorang wanita dijadikan permainan sepuluh sampai duapuluh orang pria, tai-ciangkun. Mereka tak akan mengawini wanita-wanita suku bangsa kami karena suku bangsa kami dianggap suku bangsa liar. Kau tahu itu!”

“Hm, sudahlah,” Hok-ciangkun merah mukanya. “Kalau kalian marah oleh itu maka kalian juga dapat minta gantinya, Karum. Kami juga akan menyediakan wanita-wanita kami kalau kalian ingin!”

“Benarkah?”

“Tentu saja, aku menepati janjiku. Boleh kalian buktikan!” dan ketika terdengar bisik-bisik dan ribut sejenak di pihak laki-laki Uighur itu lalu Hok-ciangkun minta agar mereka bubar.

Urusan sudah selesai dan bangsa Uighur secara jantan menerima kekalahan Buma. Mereka tak boleh sakit hati karena pertandingan berjalan secara jujur. Hok-ciangkun telah menjanjikan mereka wanita-wanita bangsa Han kalau mereka mau, hal yang agak mengherankan tapi tentu saja segera disambut kegembiraan dipendam. 

Mereka akan ganti mempermainkan wanita-wanita Han itu. Mereka akan membalas hinaan kaum wanita mereka ketika dulu dipermainkan para perwira Hok-ciangkun itu. Tapi ketika janji itu dibuktikan dan mereka mendapat pelacur-pelacur rendahan, wanita-wanita pengemis yang “disulap” Hok-ciangkun ini untuk berdandan menor-menor maka Karum dan beberapa tokoh Uighur gusar.

Hok-ciangkun mengirim lima ratus wanita berparas boneka kepada mereka. Laki-laki Uighur mula-mula menerima dengan riang dan suka cita. Kaum pemudanya sudah menubruk dan menyambar wanita-wanita berdandan gemerlapan ini, tak perduli pupur yang terlampau tebal atau gincu yang nyaris berlepotan di sekitar pipi, mempermainkan dan memperlakukan wanita-wanita itu sebagaimana dulu wanita-wanita mereka dipermainkan atau dipermalukan para perwira Hok-ciangkun.

Tapi ketika mereka menyadari bahwa itu adalah pelacur-pelacur murahan, bahkan yang membawa penyakit di mana puluhan laki-laki bangsa mereka kena penyakit kotor maka marahlah bangsa Uighur dan Hulai, kakek gagah yang dapat menerima kematian anaknya dengan hati dingin tiba-tiba dibuat terbakar dan marah besar.

Kakek itu mendatangi panglima she Hok, memaki-maki dan melepaskan semua gusarnya. Puluhan laki-laki yang kena penyakit kelamin dibawa, ditunjukkan tapi Hok-ciangkun malah tertawa bergelak, geli dan terkekeh-kekeh melihat kemarahan kakek itu. Tapi ketika sepuluh pemuda menerkamnya dan mereka itulah pemuda-pemuda yang kena penyakit kotor maka Hok-ciangkun mencak-mencak dan ganti marah besar.

Panglima ini mengibas dan sepuluh pemuda itu terlempar, empat di antaranya terbanting tewas, kepala mereka pecah. Dan ketika keadaan menjadi ribut kembali dan bangsa Uighur naik darah maka sumpit dan tombak atau lembing berhamburan ke arah panglima itu dan anak buahnya.

Bangsa Uighur menyerang besar-besaran, Tiga ribu orang yang berdiri di belakang kakek Hulai menerjang, masing-masing berteriak dan terkejutlah panglima she Hok oleh keberanian mereka. Dan ketika seribu pasukannya diserbu dan terpaksa angkat senjata, melawan dan menandingi orang-orang Uighur ini maka Hok-ciangkun dikeroyok dan diserbu oleh seratus lebih orang-orang Uighur yang tidak menghormatinya lagi sebagai wakil kaisar yang ditaruh di perbatasan.

Perang dahsyat terjadi di sini, perajurit lawan perajurit dan Hok-ciangkun yang berkepandaian tinggi itu terdesak, mula-mula dapat merobohkan puluhan lawannya namun lawan-lawan baru yang ada di belakang terus maju mendesak. Hok-ciangkun mandi keringat dan di situlah panglima ini menyadari kekuatan sendiri. Juga sadar bahwa dia terlampau menindas lawan. Dan ketika ratusan anak buahnya luka-luka dan ratusan lagi lainnya tewas maka Hok-ciangkun terpaksa menarik mundur pasukannya dan menutup pintu gerbang.

Peperangan hari itu terjadi dengan cara yang brutal. Laki-laki Uighur yang dapat merobohkan lawannya lalu langsung memenggal atau memotong-motong tubuh perajurit panglima she Hok itu, bahkan mereka tak segan-segan menghirup darah lawan seperti orang mereguk arak lezat. Sungguh mengerikan. Dan ketika hari itu Hok-ciangkun mundur menutup pintu gerbang sementara lawan berteiak-teriak di luar maka Hok-ciangkun pucat mukanya dan merasa bahwa dia telah melanggar sebuah larangan kaisar.

Kaisar telah memesan padanya agar sungguh-sungguh menjaga keamanan tapal batas. Kaisar telah memerintahkan panglima ini agar tidak memulai dulu membuat keributan. Tapi begitu bangsa Uighur menyerang dan semua itu karena ulahnya yang terlalu menghina lawan maka Hok-ciangkun gelisah dan pucat mukanya. Tapi seseorang lagi-lagi mendekatinya. Orang itu berbisik-bisik di telinganya agar peristiwa itu dapat diputar balik.

Hok-ciangkun diminta mengarang cerita bahwa orang-orang Uighur itulah yang mula-mula membuat keributan, bukan pihaknya. Dan ketika panglima ini mengirim orangnva ke kota raja untuk memberi laporan maka di saat itulah Ituchi dan Mei Hoa datang, persoalan yang bakal melibatkan dua muda-mudi ini pada kejadian-kejadian tidak enak yang membuat mereka tertunda lagi perjalanannya!

* * * * * * * *

Siang itu, setelah tiga hari meninggalkan dusun He pemuda ini mendekati tembok perbatasan. Ituchi berkuda dengan isterinya ketika tiba-tiba Mei Hoa berhenti dan melirik ke kiri, disusul oleh suaminya yang juga melihat gerakan mencurigakan di sebelah kiri. Dan ketika dua muda-mudi itu menoleh dan menghentikan kudanya maka belasan perajurit tiba-tiba muncul dari semak-semak belukar membentak mereka.

“Berhenti, mau ke mana!”

Ituchi mengerutkan kening. Empat belas orang bersenjata tiba-tiba mengepungnya dengan sikap tidak bersahabat. Mereka memandangnya penuh kebencian, juga heran karena Ituchi tak tahu bahwa dia disangka pemuda bangsa Uighur. Pemuda ini memang berkulit hitam dan persamaan kulitnya dengan suku-suku bangsa liar di luar perbatasan mudah membangkitkan kecurigaan bahwa dia adalah orang Uighur, karena belasan perajurit itu bukan lain adalah bawahan-bawahan Hok-ciangkun yang semalam dilabrak bangsa Uighur habis-habisan.

Mereka curiga dan kaget serta tercengang bahwa tiba-tiba saja seorang pemuda kulit hitam muncul di situ, bersama seorang wanita cantik yang jelas bangsa Han, bangsa mereka sendiri. Maka ketika mereka membentak dan dua muda-mudi itu berhenti tiba-tiba mereka sudah mengepung dan Ituchi disuruh turun.

“Kalian akan kami periksa, terutama kau! Turunlah dan sebutkan siapa dirimu!”

Ituchi mengerutkan kening. Sebenarnya dia tak senang dengan sikap perajurit-perajurit ini. Dia amat dihormati di istana dan kaisar sendiri tak pernah kasar kepadanya. Tapi ketika dia mau turun dan mengalah, maklum bahwa perajurit-perajurit itu tak mengenalnya mendadak Mei Hoa melengking gusar dan menahan dirinya.

“Jangan turun, biarkan aku menghadapi mereka!” dan menggerakkan kudanya mendekati perajurit di depan tiba-tiba Mei Hoa bertanya, “Siapa namamu hingga tak tahu hormat kepada kami. Apakah kalian anak buah Hok-ciangkun!”

Perajurit itu terkejut. Mei Hoa tiba-tiba bersikap galak dan mengenal Hok-ciangkun, agaknya bukan gadis sembarangan dan tentu saja perajurit itu terkesiap. Dia adalah pimpinan di situ dan gertakan atau wibawa gadis ini membuat ciut nyalinya. Tapi teringat bahwa orang-orang biasa juga dapat berlagak seperti itu dan menakut-nakuti, hal yang kadang dialami laki-laki ini tiba-tiba laki-laki itu mundur dan menurunkan tombaknya, merobah sikap namun tetap sombong dan angker.

“Aku adalah benar anak buah Hok-ciangkun. Siapakah nona dan teman nona ini? Panglima kami memang dikenal banyak orang, tak usah menyebut-nyebut namanya kalau nona orang biasa!”

“Hm, perajurit tengik! Pernahkah kalian mendengar nama Ituchi dan Mei Hoa? Pernahkah kalian mendengar kabar bahwa kaisar telah menikahkan dua orang itu di istana? Inilah kami, Mei Hoa dan Ituchi. Panggil Hok-ciangkun kalau ingin bukti!”

Belasan perajurit itu tiba-tiba pucat. Mereka tentu saja mendengar nama-nama yang disebutkan ini, bahkan Ituchi! Ah, siapa tidak tahu putera Raja Hu itu? Siapa tidak tahu atau dengar namanya? Maka begitu Mei Hoa membentak dan menyebut-nyebut dua nama ini mendadak laki-laki itu pucat dan gemetar, menatap sejenak tapi tiba-tiba sudah menjatuhkan diri berlutut.

Tahu dan sadarlah dia sekarang bahwa inilah orang-orang yang disebutkan itu. Inilah suami isteri muda yang dengan gagah telah membela dan bertanding untuk istana. Dan karena Mei Hoa telah menggertak nyalinya dan pimpinan perajurit itu tentu saja gentar dan pucat maka tombak segera dilemparkan dan laki-laki itu bersama belasan temannya sudah menggigil menjatuhkan diri berlutut, kalah wibawa!

“Ah, maaf.... ampun, siocia (nona). Kami.... kami tidak tahu!”

“Hm, aku adalah isteri Hu-ongya (pangeran Hu). Ituchi adalah suamiku. Aku bukan siocia lagi!”

“Ma.... maaf. Kami.... kami lupa, siauw-hujin (nyonya muda). Kami keliru. Maaf, marilah kami antar ke tempat Hok-ciangkun dan kebetulan ji-wi (anda berdua) ke sini!” pimpinan perajurit itu tak dapat menyembunyikan gugupnya, cepat-cepat memerintahkan temannya untuk mengiring dan membawa Mei Hoa.

Tapi wanita atau nyonya muda itu menarik tali kekang kudanya, membuat sang kuda meringkik dan laki-laki itu terkejut kenapa dia bilang kebetulan, hal yang membuat nyonya muda ini curiga dan mengerutkan keningnya. Dan ketika laki-laki itu tertegun dan Ituchi tersenyum di sana, geli melihat tingkah isterinya maka pimpinan perajurit itu berkata bahwa Hok-ciangkun baru saja mendapat kesulitan besar.

“Kami diserang bangsa Uighur. Mereka memberontak dan membunuh Liang-ciangkun!”

“Apa?” Mei Hoa terkejut. “Bangsa Uighur? Menyerang dan memberontak?”

“Benar, bukan hanya memberontak, hujin, melainkan juga hendak membunuh kami semua dan Hok-ciangkun. Mereka tiba-tiba seperti setan-setan haus darah dan meluruk seperti orang-orang gila!”

“Hm, apa yang terjadi?” Mei Hoa tertegun. “Dan kenapa mereka menyerang!”

“Kami... kami tidak tahu. Sebaiknya kalian bertemu Hok-ciangkun dan bertanya sendiri!”

Mei Hoa mengangguk. Akhirnya dia bertemu pandang dengan suaminya dan Ituchi yang tadi tersenyum-senyum mendadak mengerutkan alisnya. Alis tebal pemuda itu terangkat naik dan Ituchi terkejut. Memang pemuda ini tak dapat menyembunyikan kagetnya lagi ketika tiba-tiba mendengar kabar itu, serangan atau pemberontakan bangsa Uighur, padahal mereka baru saja diampuni dan dibebaskan kaisar. Tapi ketika dia menganggap bahwa bertemu Hok-ciangkun adalah cara terbaik maka dia setuju dengan pendapat isterinya untuk berjumpa dengan panglima itu.

“Baiklah, kita ke sana. Bukankah sekalian bertemu juga tak salah? Kita hendak keluar tembok perbatasan, Hoa-moi. Bertemu dengan Hok-ciangkun pun tak apa.”

Belasan perajurit itu bergerak. Mereka akhirnya mengantar dua muda-mudi ini tapi di tengah jalan belasan orang itu berbisik-bisik. Sang komandan diberi tahu apakah benar dua muda-mudi ini adalah Ituchi dan Mei Hoa. Jangan-jangan mereka itu mengaku-aku dan Hok-ciangkun bisa marah besar kalau sang komandan salah membawa orang. Dan ketika komandannya tertegun dan merasa benar maka dia balas berbisik bagaimana selanjutnya.

“Kita mendengar kabar bahwa orang-orang muda yang disebutkan itu adalah orang-orang lihai, terutama putera Raja Hu itu. Dan kita sama sekali belum mencoba dua orang ini. Masa Gu-twako kalah gertak? Perempuan itu tampaknya galak, twako. Tapi siapa tahu hanya di luar saja untuk menutupi kelemahannya. Kau sembrono dengan membawa mereka ini tanpa mengetahui kepandaiannya!”

“Hm, jadi apakah harus diserang? Bagaimana kalau kita dihajar?”

“Lebih baik begitu daripada dipecat Hok-ciangkun, twako. Bayangkan kalau mereka ini orang-orang Uighur yang diselundupkan!”

“Ah, tak mungkin begitu. Mereka datang dari pedalaman!”

“Baiklah, tapi siapa tahu mereka ini adalah simpatisan-simpatisan Uighur? Pemuda itu jelas bukan orang Han, twako. Dan mereka juga hanya berdua. Siapa tahu mereka ini adalah musuh-musuh tersembunyi yang mencelakakan kita di depan Hok-ciangkun. Lebih baik dicoba dulu dan kalau mereka bohong maka yang wanita itu dapat kita kerjai!”

“Hm-hm...!” bisik-bisik itu berhenti. “Bolehlah, kawan-kawan. Tapi tak enak rasanya bagiku untuk tiba-tiba menyerang. Sebaiknya beberapa di antara kalian membokong si pemuda dan aku di depan pura-pura tak tahu. Kalau pemuda itu mampus biarlah kita hadapi yang wanita ini dan selanjutnya tak usah dibawa menghadap tai-ciangkun!”

Semua mengangguk. Belasan orang itu tiba-tiba saling memberi isyarat dan yang tadi lurus ke depan mendadak berbelok ke kiri. Di sana ada hutan dan sang komandan, laki-laki berkumis tipis itu melangkah ke depan. Mereka tadi mengiring di belakang dan komandan ini menuding ke kiri bahwa ke situlah mereka berjalan, tak diketahui Mei Hoa bahwa isyarat itu sudah merupakan aba-aba bagi yang lain untuk menyerang Ituchi. Karena begitu telunjuk itu menuding tiba-tiba empat batang tombak menyambar Ituchi!

“Wut-wutt!”

Ituchi seolah tak tahu. Empat tombak itu menyambar cepat namun ketika ujungnya sudah mendekati punggung mendadak Ituchi menggerakkan lengan ke belakang. Gerakan pemuda itu seperti orang melemaskan punggung atau mengulet, yakni gerakan untuk membuat tulang-tulang berkeratak. Tapi persis lengan pemuda itu bergerak ke belakang tiba-tiba bersamaan dengan itu juga angin yang kuat balik menyambar tombak yang seketika terpukul dan patah-patah, menghajar empat orang pelempar yang tiba-tiba menjerit.

“Aduh...!”

Perjalanan seketika terhenti. Gu-twako menoleh dan pimpinan perajurit itu terkejut melihat anak buahnya roboh terjengkang. Di pundak mereka menancap patahan tombak yang cukup dalam, tentu saja membuat empat perajuritnya itu kesakitan. Dan ketika yang lain tersentak dan kaget serta terbelalak maka Ituchi tersenyum menegur komandan pengawal itu.

“Maaf, barangkali ini cukup untuk kalian. Siapa masih ragu tentu saja boleh maju dan kita main-main.”

“Keparat!” laki-laki itu tiba-tiba marah, merasa mendapat kesempatan. “Kalau kau bukan musuh tentunya tak perlu melukai anak-anak buahku, orang muda. Sekarang aku jadi ragu bahwa kau adalah pemuda seperti yang dikatakan sebagai putera Raja Hu itu!” dan membentak serta memberi aba-aba anak buahnya untuk menyerang tiba-tiba pimpinan perajurit itu menusuk dan tombaknya bergerak menyambar, langsung ke ulu hati Ituchi.

Tapi Mei Hoa yang ada di samping mendadak berteriak gusar. Nyonya muda ini sebenarnya sudah mendengar semua bisik-ibisik di belakang dan hanya karena Ituchi menahannya sajalah maka dia tidak mengumpat perajurit-perajurit itu. Kini mereka main bokong dan serangan curang yang dipentalkan balik oleh Ituchi tentu saja tak membuat nyonya ini bersabar lebih lama, berseru dan menangkis tombak yang ditusukkan pimpinan itu. Dan ketika tombak patah namun Mei Hoa tak berhenti sampai di situ karena nyonya muda ini sudah meloncat turun dan berkelebatan mengeliling perajurit-perajurit itu maka belasan orang ini roboh hanya dalam waktu sekejap saja.

“Plak-plak-plak!”

Semua orang berteriak pucat. Mereka tak tahu apa yang terjadi namun tiba-ti-ba mereka sudah roboh malang-melintang. Gerakan si nyonya yang cepat luar biasa bak burung srikatan tiba-tiba saja membuat kepala mereka pening, tak tahu adanya tamparan atau pukulan di mana mereka tak dapat menangkis lagi. Jangankan menangkis, mengelak saja juga tak bisa. Maka begitu mereka tumpang tindih dan Mei Hoa sudah berdiri tegak tak bergerak-gerak lagi, berdiri di tengah-tengah mereka maka wanita atau nyonya muda itu menghardik, bengis.

“Nah, siapa mau coba-coba menghina kami berdua. Siapa yang mau minta kubunuh dan tak kapok mendapat hajaran ini!”

“Am.... ampun!” si pimpinan tiba-tiba merintih. “Kami... kami tahu kesalahan kami, siauw-hujin. Sekarang kami yakin bahwa kau adalah isteri Hu-ongya yang tulen. Kami mengaku salah...!”

“Hm, dan siapa yang mau mengerjai aku? Siapa yang coba-coba ingin kurang ajar seperti kata-kata kalian tadi?”

Sang pimpinan pucat. Mei Hoa akhirnya berkata bahwa bisik-bisik mereka tadi didengar, bahwa wanita itu tahu kasak-kusuk mereka ini yang ingin mengerjai dirinya kalau Ituchi roboh, kata-kata yang membuat sang pimpinan gemetar dan yang lain tentu saja pucat pasi. Mereka sekarang menyadari bahwa nyonya muda ini kiranya telah mendengar percakapan mereka, betapa tajam telinganya! Dan ketika semua menggigil namun Ituchi mengebutkan lengan dari atas kudanya maka pemuda itu minta agar isterinya tidak marah-marah lagi.

“Mereka ini memang orang-orang rendahan. Biasa bagi tikus-tikus seperti ini untuk bersikap sombong kalau menghadapi yang lemah. Sudahlah, jangan dilayani lagi, Hoa-moi. Kita pergi menghadap Hok-ciangkun saja dan laporkan kekurangajaran anak buahnya ini!”

Mei Hoa mendengus. Dia menggaplok semua orang dengan satu tamparan miring di mana masing-masing tiba-tiba menjerit dan roboh terpelanting. Pipi mereka bengap dan Mei Hoa sudah meloncat di atas punggung kudanya. Dan ketika wanita itu membentak dan menendang perut kudanya maka Mei Hoa sudah mendahului suaminya untuk keluar hutan, jalan yang lurus tadi. Sang pimpinan terbelalak gentar namun tak berani berbuat apa-apa lagi. Ituchi telah menunjukkan kepandaiannya dan sang isteri yang galak pun juga menghajar mereka.

Maka ketika dua orang itu membalik dan melarikan kudanya maka belasan orang ini tertatih berdiri dan satu per satu memandang pucat teman-temannya, tak berani bercuit atau bersombong sementara Mei Hoa dan Ituchi sudah memasuki jalan yang lurus tadi. Dan ketika dua muda-mudi itu mengeprak kudanya dan berlari kencang akhirnya markas Hok-ciangkun ditemukan.

Memang mula-mula Ituchi maupun Mei Hoa harus bertemu dulu dengan pengawal-pengawal panglima she Hok itu. Dua kali mereka dihentikan namun kegalakan dan sikap ketus Mei Hoa membuat perajurit-perajurit itu mundur. Mereka mula-mula berseri-seri memandang wanita cantik ini, mata mereka lahap memandang dan hadirnya Mei Hoa seolah ikan segar yang demikian gemuk. Tapi ketika mereka diberi tahu bahwa itu adalah Mei Hoa dan suaminya, Ituchi atau yang juga dikenal sebagai Hu-ongya maka para perajurit menyibak dan mempertemukan dua orang itu dengan Hok-ciangkun, yang masih tampak letih dan kuyu.

Maklumlah, panglima ini habis tenaganya dikeroyok ratusan orang, meskipun dia berkepandaian tinggi dan mampu membunuh puluhan lawannya yang rata-rata tak berkepandaian silat. Dan begitu Mei Hoa bertemu panglima ini maka Hok-ciangkun tentu saja mengenal tapi datang-datang Mei Hoa langsung menyemprot panglima itu akan anak-anak buahnya yang kurang ajar.

“Maaf, apa... apa katamu, Mei Hoa? Anak-anak buahku kurang ajar? Kurang ajar bagaimana? Apa yang mereka lakukan?"

“Mereka itu tak tahu malu, paman. Aku diganggunya karena dikiranya aku wanita murahan. Melihat gelagatnya barangkali anak-anak buahmu itu sudah biasa mengganggu wanita!”

“Ah, ha-ha...!” panglima she Hok tertawa bergelak. “Kiranya itu, Mei Hoa. Kiranya masalah kecil ini. Ah, bukankah kau sebagai puteri seorang panglima tentu tahu bahwa perajurit-perajurit yang di perbatasan begini selalu haus dan akan menggoda wanita yang lewat? Mereka sudah lama tak bertemu anak isteri mereka, Mei Hoa. Kau tentu tahu itu. Sudahlah, aku akan menegur mereka dan kenapa kau tiba-tiba datang begini. Dan bersama suamimu! Eh, bukankah ini adalah Hu-ongya putera mendiang Raja Hu itu? Bukankah kalian sudah dinikahkan di kota raja oleh sri baginda? Huwaduh, maaf. Dulu aku tak sempat menghadiri pernikahan kalian, Mei Hoa. Aku ditugaskan di sini. Ah, mari duduk dan ceritakan bagaimana tiba-tiba kalian menjengukku!”

Mei Hoa uring-uringan. Hok-ciangkun adalah teman ayahnya dan dulu sebelum ayahnya tiada mereka berdua adalah sahabat. Itulah sebabnya dia memanggil paman karena Hok-ciangkun ini dan mendiang ayahnya dulu akrab. Tapi ketika tuan rumah mempersilahkan duduk dan kemarahannya tadi tak ditanggapi, hal yang sebenarnya membuat Mei Hoa agak jengkel maka adalah Ituchi yang diam-diam mengerutkan kening melihat panglima she Hok itu jelalatan memandang isterinya!

Ituchi merasa tak enak. Sebagai sesama lelaki tentu saja pemuda itu dapat merasakan sinar mata aneh dari panglima she Hok itu. Dia merasa tuan rumah agak berlebihan menyambut isterinya sementara dia hanya dinomor duakan. Mei Hoa tak menyadari ini namun Ituchi dapat merasa. Maka ketika tuan rumah nyuruh duduk dan beberapa pengawal hilir-mudik diperintah panglima itu untuk mengambil ini-itu, hidangan atau minuman penyegar tiba-tiba Ituchi berbisik agar isterinya waspada.

“Ada sesuatu yang tidak beres pada mata panglima itu. Benarkah dia sahabat mendiang ayahmu yang tergolong baik-baik, Hoa-moi? Atau kau keliru menilai orang?”

“Maksudmu?” Mei Hoa tertegun. “Apa yang kau lihat?”

“Ah, aku hanya merasa sesuatu yang tidak sehat pada pandang mata panglima ini. Dia terlalu, hm... terlalu jelalatan memandangmu!”

Mei Hoa tiba-tiba semburat. “Jelalatan?”

“Sst, sudahlah. Dia datang ke sini dan nanti kita, bicara lagi!” Ituchi menyenggol kaki isterinya, melihat sang panglima datang dengan sebotol arak harum dan beberapa perwira tiba-tiba muncul.

Mereka itu adalah pembantu panglima ini dan Hok-ciangkun lalu memperkenalkan, beberapa di antaranya sudah pernah dikenal Mei Hoa. Dan ketika berturut-turut mereka membungkuk dan memberi hormat di depan suami isteri muda ini maka Ituchi lagi-lagi dapat melihat sinar-sinar mata yang lahap dari para perwira pembantu-pembantu Hok-ciangkun itu.

“Mari minum. Ha-ha, kita rayakan dulu pertemuan ini!” Hok-ciangkun membawa botol minumannya, menuangi cawan-cawan yang sudah siap di atas meja dan beberapa pembantunya itu tersenyum-senyum gembira. Mereka mengangguk dan mendapat arak di tangan panglima itu. Dan ketika semua minum dan Ituchi maupun Mei Hoa juga terpaksa menenggak arak maka tuan rumah bertanya ini-itu sejak Mei Hoa meninggalkan kota raja.

Pertanyaan-pertanyaan ringan yang sifatnya basa-basi dan Ituchi tiba-tiba batuk memperingatkan bagaimana dengan serangan suku bangsa Uighur itu, hal yang membuat Mei Hoa tertegun dan mengerti dan segera bertanya kepada panglima itu. Dan ketika tuan rumah tampak tersedak dan sedikit terganggu maka Hok-ciangkun menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.

“Kalian mungkin tahu dari beberapa anak buahku. Hm, tak salah. Kami sedang menghadapi peristiwa besar, Mei Hoa, yakni dengan memberontaknya orang-orang Uighur itu. Mereka menyerang dan menghantam kami!”

“Apa sebabnya?” Mei Hoa mengerutkan alis. “Bukankah mereka adalah bangsa taklukan? Bukankah bangsa Uighur sudah tunduk dan berjanji tak akan menyerang lagi?”

“Hm, agaknya sifat sombong mereka muncul kembali, Mei Hoa. Mereka tak mau di bawah orang lain dan ingin berdiri sendiri. Mereka itu, ah....!” panglima ini tiba-tiba mengepal tinju, gigi berkeratak. “Mereka itu mulai mengganggu dan mempermainkan wanita-wanita di sekitar perbatasan, Mei Hoa, kutegur tapi agaknya ini yang membuat mereka marah dan bangkit menyerang kami!”

“Begitukah?” Mei Hoa terkejut. “Terkutuk sekali orang-orang Uighur itu, paman. Kalau begitu mereka patut dihajar!”

“Hm, maaf. Adakah bukti-bukti tentang ini, ciangkun?” Ituchi tiba-tiba bertanya, menyela. “Adakah kau mendengar ini dari laporan saja atau sungguh-sungguh melihatnya dengan mata kepala sendiri?”

“Ah, kongcu tak percaya? Kongcu meragukan keteranganku? Baik, kupanggil mereka-mereka itu, kongcu. Lihat dan buktikan sendiri apa yang dilakukan bangsa Uighur itu kepada wanita-wanita ini!” sang panglima tiba-tiba bangkit berdiri, penuh semangat dan bertepuk tangan memanggil beberapa pengawalnya.

Mereka itu disuruh membawa wanita-wanita bekas korban “kebiadaban” bangsa Uighur, yakni pelacur-pelacur yang diberikan Hok-ciangkun itu dan dipermainkan orang-orang Uighur, dalam usaha membalas sakit hati mereka karena wanita-wanita Uighur dipermainkan perwira-perwira panglima ini. Dan ketika Ituchi tertegun karena sang panglima tiba-tiba tampak geram namun bersemangat maka berturut-turut muncullah di situ belasan wanita-wanita muda yang memar dan pakaiannya koyak-koyak.

“Lihatlah,” Hok-ciangkun menuding. “Dan kau tanyalah mereka ini apa yang diperlakukan orang-orang Uighur, kongcu. Tanya dan suruh mereka menceritakan bagaimana biadabnya laki-laki Uighur itu!”

Belasan wanita itu tiba-tiba menangis. Ituchi tertegun karena wanita-wanita ini jelas adalah wanita-wanita yang baru saja mengalami penderitaan besar. Wajah mereka tampak begitu kuyu dan menyedihkan, rata-rata lumayan meskipun Ituchi mengerutkan kening melihat beberapa di antaranya memiliki mata yang nakal, seperti biasanya wanita-wanita penghibur alias pelacur-pelacur jalanan. Dan ketika Mei Hoa juga tertegun dan tentu saja penderitaan kaumnya ini lebih terasa daripada Ituchi maka Mei Hoa bangkit berdiri dan menyambar seorang di antara wanita-wanita itu yang mukanya bengap-bengap.

“Kau, apa yang dilakukan orang-orang itu kepadamu? Apa yang terjadi?”

Wanita ini menangis. “Hamba.... hamba diperkosanya, hujin. Sepuluh laki-laki ganti berganti mempermainkan hamba!”

“Terkutuk! Dan yang lain-lain ini?”

“Hm, sama saja,” Hok-ciangkun tiba-tiba bicara, maju memotong. “Yang lain-lain ini juga mengalami nasib tak berbeda, Mei Hoa. Mereka digarap dan dipermainkan bangsa Uighur itu. Dan banyak contoh di sini. Kau boleh tanya satu persatu kalau ingin jelas!”

Mei Hoa merah padam. Tiba-tiba saja dia terbakar ketika wanita-wanita yang lain itu menangis dan mengguguk. Mereka segera menceritakan betapa masing-masing diganggu dan digauli laki-laki Uighur secara paksa. Betapa mereka diminta melayani tiga sampai sepuluh orang Uighur yang rata-rata bersikap kejam itu. Dan ketika semua menangis dan Mei Hoa tak tahan maka nyonya muda ini setengah berteriak bahwa dia akan menghukum orang-orang biadab itu.

“Sudahlah, sudah. Kalian kembali dan nanti akan kuhajar orang-orang itu!”

“Tenang...” Hok-ciangkun tiba-tiba berseri, menyembunyikan kegembiraannya. “Janjimu ini sudah cukup melegakan mereka, Mei Hoa. Tapi duduk dan marilah bicara lagi tentang ini.” dan menyuruh wanita-wanita itu keluar panglima she Hok ini sudah menghadapi tamunya lagi, sekarang memandang Ituchi. “Kau lihat,” panglima itu berkata penuh kemenangan, orang sudah mulai percaya kepadanya. “Bangsa Uighur itu adalah bangsa yang tak tahu diri, Hu-kongcu. Sudah mendapat ampunan tapi masih juga kurang ajar. Bagaimana sikapmu kalau mereka bertindak seperti itu? Dapatkah kau memaafkannya? Kalau aku, tidak! Tak mungkin memaafkan mereka-mereka itu!”

Ituchi merah padam. Sama seperti isterinya maka pemuda inipun juga terbakar dan marah. Ituchi tiba-tiba merasa gusar karena bangsa Uighur itu tiba-tiba demikian biadab dan rendah, padahal dulu seingatnya mereka itu adalah orang-orang yang jantan dan pemberani, rata-rata berwatak ksatria dan boleh dipercaya. Tapi begitu hari ini bukti-bukti itu ditunjukkan Hok-ciangkun tiba-tiba saja Ituchi geram dan lupa pada pengamatannya tadi akan pandang mata kotor sang panglima she Hok.

Selanjutnya Hok-ciangkun menceritakan lagi bahwa tidak itu saja perbuatan orang-orang Uighur ini. Ada berita yang didengar bahwa orang-orang Uighur akan membujuk suku-suku lain untuk bersatu dan memberontak lagi, menyerang seperti dulu. Dan ketika bangsa U-min disebut-sebut dan Ituchi kaget maka pemuda itu bangkit berdiri ketika Hok-ciangkun menutup.

“Kami mendengar kabar angin yang entah benar atau tidak bahwa Cucigawa akan bersekutu atas bujukan suku-suku bangsa yang lain, satu di antaranya itu ialah bangsa Uighur ini. Tapi karena kami belum dapat membuktikan dan masih samar-samar maka kami tak dapat bertindak seperti halnya bangsa Uighur ini. Begitulah, harap kau tahu saja, Hu-kongcu. Dan amat kebetulan sekali bahwa hari ini kalian berdua datang. Kami tak perlu meminta bala bantuan dari kota raja!”

“Hm!” Ituchi berkerot-kerot giginya. “Cucigawa hendak membawa suku bangsaku pada pemberontakan lagi, ciangkun? Dia akan mengulang dosa yang lama? Keparat, sungguh harus kuhajar. Aku datang ke sini karena juga akan ke sana!”

“Ah, kongcu akan ke Cucigawa?”

“Benar.”

“Kalau begitu kebetulan, kongcu. Selidiki gerak-gerik Cucigawa itu dan apakah benar dia akan memberontak atau tidak!”

“Tapi ke sana berarti melewati bangsa Uighur ini,” Mei Hoa tiba-tiba berseru. “Dan persoalan ini tentu saja tak akan kami biarkan, paman. Kalau bangsa Uighur sudah membuat gara-gara maka sebaiknya mereka ini dihukum dulu!”

“Ah, benar,” sang panglima berseri-seri. “Tapi sekarang jumlah mereka ribuan, Mei Hoa. Tak kurang dari tiga ribu orang ada di sana. Aku dan pasukanku terpukul gara-gara kalah banyak. Dan mereka itu berperang seperti kesetanan. Aku ingin bantuan kalian bagaimana agar tidak banyak jatuh korban!”

“Aku akan mendatangi orang-orang itu!” Mei Hoa berkata gagah, bangkit berdiri. “Dan akan kutemui pemimpinnya, paman. Kubekuk dan kutangkap dia agar yang lain menyerah!”

“Hm, tak begitu gampang,” panglima ini menggeleng. “Menangkap pemimpinnya bukan berarti lalu dapat menundukkan orang-orang itu. Mei Hoa. Harus dicari akal agar dapat berdiplomasi dulu. Aku pikir tak cocok kalau kau yang datang ke sana!”

“Jadi maksud paman?”

“Hm, duduklah,” Hok-ciangkun tersenyum, bersinar-sinar memandang wanita muda ini, Mei Hoa yang cantik dan gagah. “Kalau kau yang ke sana maka tak ada harapan untuk menundukkan bangsa itu, Mei Hoa. Kecuali suamimu ini, Hu-kongcu yang serumpun dengan bangsa Uighur!”

Mei Hoa tertegun. Hok-ciangkun segera berkata bahwa dirinya adalah wanita Han, sedang Ituchi tidak. Dan karena bangsa Han sedang dibenci bangsa Uighur maka tak baik rasanya kalau wanita itu yang pergi. Ituchilah yang cocok dan pemuda itulah yang diharap untuk dapat menundukkan orang-orang ini, karena Ituchi serumpun dengan bangsa Uighur itu, sama-sama berkulit hitam, bukan orang Han yang kuning langsap. Dan ketika Hok-ciangkun berkata lagi bahwa kepandaian pemuda itu tentunya lebih tinggi darinya maka panglima ini menutup.

“Bukan aku meremehkan, tapi orang-orang Uighur suka mengeroyok dan berbuat curang, apalagi kalau yang datang adalah wanita. Bagaimana suamimu tak akan gelisah kalau kau dipisahkan dari suamimu ini, Mei Hoa? Kalian berdua dapat saja berangkat berbareng, tapi di sana tentu akan dikeroyok dan tak mungkin suamimu dapat melindungimu. Karena itu biarkan suamimu yang pergi, kau menunggu di sini dan kita lihat bagaimana hasilnya. Dan suamimu tentu tak akan keberatan karena dulu dia juga membantu kerajaan! Bukankah begitu, Hu-kongcu?”

Ituchi tertegun. Sejak tadi dia bersinar-sinar mendengarkan pembicaraan panglima ini. Giginya gemeretuk kalau teringat akan Cucigawa, saudara sekaligus musuhnya itu. Tapi ketika Hok-ciangkun bertanya dan dia mengangguk maka Ituchi tak menolak ketika diminta untuk menemui bangsa Uighur itu. “Baiklah, aku dapat menerima. Tapi siapa pemimpin bangsa Uighur itu hingga tak becus dia memimpin rakyatnya!”

“Ah, dia Hulai, kongcu. Kakek yang tak tahu diri itu. Sebenarnya kakek ini tak berkepandaian apa-apa kecuali sumpitnya yang berbahaya itu, juga perlindungan anak buahnya yang terlampau setia!”

“Hulai?” Ituchi terkejut. “Kakek gagah itu?”

“Ah, nyatanya dia pengecut, kongcu. Liang-ciangkun dibunuhnya dengan sumpit beracun. Kakek itu tidak gagah!”

“Hm, baiklah. Aku sudah mengenal kakek ini, ciangkun. Dan aku akan menemuinya. Aku akan menegurnya kenapa dia membawa rakyatnya kepada pemberontakan ini!” Ituchi sudah bangkit berdiri, merah dan gelap mukanya karena tiba-tiba dia menjadi tak senang kepada kakek ini.

Hok-ciangkun menggosok bahwa kakek itu bisa jadi membujuk Cucigawa untuk mengajak bangsa U-min mengadakan pemberontakan, tahu bahwa Ituchi diam-diam tak senang kepada saudaranya itu, orang yang telah mempermainkan ibunya. Dan ketika Ituchi mengangguk dan mencengkeram pinggir meja, yang seketika hancur dan remuk maka pemuda itu meminta agar isterinya di situ dulu.

“Hok-ciangkun benar, akulah yang lebih tepat menghadapi bangsa Uighur itu. Aku sudah mengenal adat-istiadatnya, karena aku sewarna. Kau tinggallah di sini dulu, Hoa-moi. Aku akan kembali petang nanti juga!”

“Tapi maaf!” Hok-ciangkun tiba-tiba berseru sambil bangkit menyusul. “Di luar pintu gerbang banyak bahaya, Hu-kongcu. Meskipun kau berkepandaian tinggi tapi kupikir tak ada jeleknya untuk memperingatkan dirimu dari serangan-serangan gelap lawan. Kudengar bahwa banyak di antaranya bersembunyi di semak-semak belukar, menjaga di luar sana. Karena itu kalau bisa sebaiknya malam saja kau ke sana dan malam itu juga kembali!”

“Tidak, aku tak perlu menunda waktu lagi, ciangkun. Dan orang-orang Uighur tentu tak akan menyerang orang-orang yang bukan orang Han. Mereka tentu mengenal aku dan tak perlu aku takut!”

“Hm, baiklah. Kalau begitu tak perlu aku mengecilkan hatimu, kongcu. Maaf kalau tadi aku menyinggung perasaanmu.”

“Tidak, kau tak salah, ciangkun. Betapapun maksudmu baik. Sudahlah, aku pergi dan titip isteriku di sini!” Ituchi menggerakkan kakinya, berkelebat dan lenyap di luar sana sementara isterinya bangkit berdiri untuk menyusul, ragu-ragu karena tadi sudah dipesan untuk tidak ikut.

Memang kehadirannya bisa mengganggu suaminya itu kalau bangsa Uighur melihatnya. Dan karena alasan itu dinilai masuk akal dan Hok-ciangkun juga bukanlah orang lain karena panglima itu adalah sahabat mendiang ayahnya sendiri maka Mei Hoa membuang cemas di kamar yang akhirnya disediakan oleh Hok-ciangkun itu.

* * * * * * * *

Tak sukar bagi Ituchi untuk keluar dari pintu gerbang. Semua perajurit akhirnya mengenalnya dan tentu saja mereka itu membungkuk hormat ketika si pemuda berkelebat keluar, menyambar kudanya dan mencongklang dan ketika pintu gerbang dibuka tiba-tiba Ituchi sudah kabur bagai terbang. Pemuda itu tak menoleh kiri kanan lagi karena secepatnya dia ingin menemui orang-orang Uighur itu. Tapi begitu dia menginjak daerah padang ilalang tiba-tiba saja puluhan lembing dan anak panah menyambarnya.

“Sing-sing-singgg..!”

Ituchi mengelak sigap. Anak-anak panah dan lembing dikebutnya runtuh. Tapi ketika kudanya meringkik dan terjungkal roboh, terkena panah yang menyambar ke bawah maka pemuda itu kaget berjungkir balik, melayang turun.

“Berhenti, aku bukan musuh!”

Bayangan-bayangan berkelebatan dari semak-semak ilalang itu. Ituchi tiba-tiba sudah dikepung oleh ratusan orang yang menghentikan perjalanannya. Itulah orang-orang Uighur yang masih menjaga di situ, melihat pintu gerbang dibuka tapi segera ditutup lagi dan seorang pemuda berpacu cepat. Dan ketika pemuda itu menuju padang ilalang dan mereka tentu saja terkejut, karena itu tanda bahwa si pemuda hendak memasuki pusat kekuatan mereka maka orang-orang Uighur itu muncul dan kudanya dirobohkan agar tidak dapat melanjutkan perjalanan lagi, diam-diam tersentak karena kaget melihat Ituchi mementalkan atau mematahkan panah dan lembing-lembing mereka.

“Kau siapa!” Ituchi sudah berhadapan dengan seorang laki-laki tinggi kekar. “Kami tak mengijinkan orang-orang asing berkeliaran di sini, anak muda. Dan beritahukan namamu dan apa maksudmu keluar dari pintu gerbang itu!”

“Hm, aku ingin memperkenalkan diri kalau sudah bertemu dengan pemimpin kalian. Antarkan aku ke kakek Hulai dan di sana saja kalian boleh tahu siapa aku!”

“Sombong, kau tak mau memperkenalkan diri? Kalau begitu kau pasti antek Hok-ciangkun. Serang...!” dan laki-laki itu yang marah dan membentak maju tiba-tiba sudah menyerang menyuruh teman-temannya bergerak. Ituchi mengelak tapi orang-orang Uighur yang lain sudah menyerangnya pula dari muka dan belakang. Mereka semua sudah melihat kelihaian Ituchi tadi ketika mengelak dan menangkis lembing atau panah. Maka begitu mereka bergerak dan orang-orang ini sudah mulai biasa untuk berhadapan dengan musuh-musuh yang pandai silat maka Ituchi kewalahan juga ketika dari segala penjuru menyambar hujan senjata itu.

“Plak-plak-cringg!”

Lawan terkejut. Ituchi tiba-tiba mengeluarkan kepandaiannya dan secepat kilat pemuda itu memberosot dari hujan senjata lawan, lenyap tapi kaki dan tangannya tidak tinggal diam untuk mengibas atau menyampok. Dan ketika orang-orang itu berteriak karena mereka saling pukul, sementara lawan menghilang maka yang ada di belakang tiba-tiba berseru kaget melihat pemuda itu sudah ada di situ, seperti siluman.

“Hei, dia ada di sini. Di belakang!”

Orang-orang itu membalik. Ituchi sudah mendengus dan mengejek mereka karena dia menjadi gemas dan marah juga karena orang-orang ini tiba-tiba saja menyerangnya. Mereka berkesan ganas dan tidak ramah, kasar. Maka ketika mereka bergerak dan menyerangnya lagi, dari segala penjuru tiba-tiba Ituchi tidak mengelak dan kali ini ingin menghajar lawan-lawannya agar kapok.

“Des-des-dess!”

Orang-orang itupun terpelanting bergulingan. Mereka menjerit dan berteriak ketika tiba-tiba senjata di tangan patah-patah bertemu tubuh pemuda itu. Ituchi memang mengerahkan sinkangnya dan begitu sinkang itu melindungi dirinya tiba-tiba saja dia kebal, tentu saja membuat lawan terkejut karena tak ada senjata yang mampu melukai pemuda itu. Dan ketika mereka berteriak dan kaget serta pucat maka saat itulah tangan Ituchi bergerak dan semuanya berdebum dengan tangan atau kaki patah-patah, paling sial retak!

“Aduh....!”

“Tobat...!”

Ituchi sudah berhenti. Yang lain yang ada di belakang tiba-tiba mundur dan gentar melihat kelihaian pemuda ini. Orang-orang itu tiba-tiba ribut sendiri. Namun ketika mereka memaki atau merintih maka saat itu berderap seekor kuda dan Karum, pembantu kakek Hulai muncul.

“Berhenti, siapa pemuda ini!”

Ituchi bersinar. Dia samar-samar mengenal laki-laki di atas kuda itu tapi tentu saja tak menjawab. Orang-orang Uigur itulah yang hiruk-pikuk menerangkan pemuda ini, bahwa Ituchi adalah pemuda tak dikenal tapi pemuda itu baru saja keluar dari pintu gerbang Hok-ciangkun, berarti musuh. Dan ketika Karum meloncat turun dan kaget serta terbelalak melihat teman-temannya yang terluka maka laki-laki ini menggeram mendekati Ituchi, sinar matanya menunjukkan kemarahan besar.

“Kau!” bentaknya. “Siapakah, anak muda? Benarkah kau antek Hok-ciangkun? Kau datang untuk menunjukkan kesombonganmu?”

“Hm,” Ituchi bersikap tenang, tersenyum pahit. “Aku datang bukan untuk menunjukkan kesombongan, saudara. Melainkan teman-temanmu itulah yang memaksa aku hingga begini. Aku datang secara baik-baik ingin menemui yang gagah kakek Hulai, tapi mereka mencegat dan merobohkan kudaku. Siapakah yang salah kalau begini?”

“Kau siapa, sebutkan namamu. Kakek Hulai tak dapat ditemui oleh sembarang orang saja. Aku wakilnya!”

“Hm, siapakah kau? Aku serasa mengenalmu, tetapi lupa. Aku adalah Ituchi, dari bangsa U-min...”

“Ituchi?” Karum tersentak. “Maksudmu kau adalah putera mendiang Raja Hu? Kau adalah keturunan Wang Cao Cun?”

“Hm, itulah ibuku. Kau siapa, sobat? Aku serasa mengenalmu...”

“Tentu saja, aku adalah Karum! Kalau begitu kita bukan orang lain!” dan Karum yang meloncat dan mencengkeram pundak Ituchi tiba-tiba tertawa bergelak tapi mendadak berhenti ketika melihat teman-temannya yang kesakitan dan merintih di sekitar mereka, berkerut kening dan mundur seolah disengat lebah dan tiba-tiba laki-laki yang tadi gembira ini mendadak muram.

Karum teringat bahwa Ituchi katanya dari tempat Hok-ciangkun, dan karena Ituchi juga pembantu kaisar yang gigih tiba-tiba saja muka lelaki itu menjadi gelap. “Hm, maaf.... maaf. Kiranya kau, Ituchi. Dan datang sebagai utusan Hok-ciangkun! Ada apakah? Kau ingin kami menyerah?”

“Hm...!” Ituchi menarik napas dalam. “Aku datang bukan sekedar itu, Karum, melainkan ingin bertanya yang lebih jauh lagi. Aku ingin menghadap kakek Hulai!”

“Pemimpin kami sedang tak enak badan, kau dapat bicara saja dengan aku!”

Ituchi mengerutkan kening. Dia tadi merasa girang bahwa ini kiranya Karum, laki-laki yang segera diingatnya sebagai pembantu kakek Hulai. Tapi begitu Karum bersikap dingin dan tidak lagi bersahabat, hal yang mengecewakan hati pemuda ini tiba-tiba saja Ituchi jadi semakin tak senang ketika orang bersikap begitu kasar, tak menyebutnya pangeran karena sesungguhnya orang seperti Karum ini masih jauh di bawah derajatnya. Tapi karena dia tak begitu menghiraukan adat-istiadat karena Ituchi sudah terbiasa berkecimpung di dunia kang-ouw maka sikap dan kata-kata lawannya itu diredamnya sebisa mungkin.

“Kakek Hulai sakit?” Ituchi bertanya. “Kalau begitu kebetulan, aku ingin menjenguknya sebagai sesama sahabat!”

“Hm, kau bukan lagi sahabat, Ituchi. Kedatanganmu sebagai utusan Hok-ciangkun jelas menunjukkan ini. Tak usah basa-basi, katakan saja apa perintah majikanmu itu dan segeralah pergi kalau tak ingin membuat ribut-ribut!”

Ituchi merah padam. Tiba-tiba saja dia menjadi marah setelah Karum bersikap demikian kasar. Dia dipersamakan sebagai bawahan Hok-ciangkun dan panglima she Hok itu dikatakan Karum sebagai majikannya. Bukan main menghinanya! Dan karena Ituchi juga seorang pemuda yang gampang terbakar atau mendidih maka tiba-tiba saja diapun tak mau bersikap halus atau sopan lagi.

“Karum!” pemuda ini sudah mulai mengeluarkan bentakan. “ jaga dan tutup mulutmu kalau tak ingin mencari permusuhan. Aku bukan utusan Hok-ciangkun, melainkan sebagai penengah atas keributan antara kalian dengan kerajaan. Aku datang untuk bertanya kenapa kalian tiba-tiba menjadi begitu hina dan tak tahu malu menyerang Hok-ciangkun. Kenapa kalian tiba-tiba menjadi begitu biadab dan jalang dengan memperkosa wanita-wanita Han. Apa maksud kalian dengan semuanya ini dan tidak takutkah kalian akan hukuman dari kaisar!”

“Ha-ha!” Karum tiba-tiba tertawa bergelak. “Pandai tapi busuk mulutmu memutar lidah, Ituchi. Pandai tapi bodoh sekali caramu menelan segala kata-kata Hok-ciangkun itu. Ah, rupanya sudah demikian mendarah daging sikapmu menjilat kaisar, dan rupanya sudah merasuk pula segenap omongan Hok-ciangkun itu kepadamu hingga kau menghina kami semena-mena. Hm, dulu kau memusuhi kami dengan jalan membantu kaisar, Ituchi. Dan sekarang kau memusuhi kami pula dengan membantu panglima she Hok itu. Keparat, kau selamanya antek bangsa Han. Tak mau aku bicara lagi dan pergilah sebelum aku lupa bahwa jelek-jelek kau adalah serumpun!”

Ituchi terbelalak. Karum, lawannya ini tiba-tiba menyambar tombak dan menodongkannya ke dadanya. Dia diusir dan disuruh pergi begitu rendah. Dan ketika yang lain juga bergerak dan siap-siap menyerangnya, hal yang membuat Ituchi terbakar tiba-tiba pemuda ini menyambar tombak itu dan menekuknya dengan dua jari ke bawah.

“Pletak!”

Karum terkejut. Tombak di tangannya tiba-tiba patah dan Ituchi tahu-tahu sudah menyambar lehernya. Dan ketika pemuda itu membentak dan mengangkat lawannya maka Karum sudah berteriak keras karena tahu-tahu lehernya sudah dijepit dan meronta-ronta seperti kelinci di tangan seorang raksasa.

“Karum!” bentakan itu menggelegar. “Sungguh tak tahu hormat dan pedas kali mulutmu. Beginikah sekarang sikap bangsa Uighur kepada orang yang baik-baik ingin bicara? Beginikah caramu menyambut tamu yang datang secara bersahabat? Aku tak dapat membiarkanmu seperti ini, Karum. Dan maaf kalau aku memberimu sedikit pelajaran.... plak!” dan Ituchi yang menggerakkan tangan menampar tiba-tiba sudah melepas dan menendang laki-laki itu yang menjerit dan terbanting roboh.

Karum mengaduh-aduh karena empat giginya rontok berdarah, tentu saja gusar dan marah dan bergeraklah teman-temannya melihat itu. Dan ketika laki-laki ini menyambar tombak yang lain dan memberi aba-aba tiba-tiba dia sudah menerjang dan puluhan laki-laki Uighur ikut di belakangnya untuk menyerang....