X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Sepasang Cermin Naga Jilid 13

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Episode Sepasang Cermin Naga Jilid 13 Karya Batara

SEPASANG CERMIN NAGA
JILID 13
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
SWAT LIAN tak menjawab. Tiba-tiba dia sadar bahwa kebohongannya terbuka, tak mungkin ada nyamuk di siang bolong begitu dan di tempat terbuka pula. Angin laut menghembus tajam dan tak mungkin ada nyamuk. Dia ketahuan Kim-mou-eng berdehem kecil. Mungkin geli! Dan ketika gadis itu gugup sendiri dan gelisah tak keruan tiba -tiba ia melompat bangun dan berkelebat menghilang.

"Twako, aku mau mandi. Gerah!"

Kim-mou-eng tersenyum. Sekarang dia tahu bahwa temannya ini kikuk, menjadi tak keruan dan serba salah di tempat itu. Tentu pertanyaannya tadi menyadarkan gadis itu, bahwa dia menjawab asal jadi. Dan ketika Kim-mou-eng tertawa dan mau tak mau tersenyum lebar maka ia bangkit pula melipat mantel, maklum bahwa Swat Lian tak dapat tidur lagi dan menyesallah dia akan perbuatannya tadi. Ah, dia terlalu lancang, membiarkan diri terhanyut dalam pikiran sendiri dan kini gadis itu benar-benar terganggu. Ditunggunya Swat Lian dan dinantinya gadis itu sampai selesai mandi.

Tapi ketika setengah jam kemudian gadis itu belum muncul juga dan Kim-mou-eng khawatir tiba-tiba didengarnya bentakan dan suara beradunya senjata, terkejut dan cepat ia ke sana. Kim-mou-eng berkelebat dan mendengar bentakan-bentakan Swat Lian, juga kekeh dan tawa nyaring seorang nenek. Dan ketika ia tiba di tempat itu dan tertegun memperhatikan ternyata gadis itu sudah bertanding melawan Ji-moi, nenek kedua dari Sepasang Dewi Naga!

"Ah!" Kim-mou-eng mengeluarkan seruan tertahan. "Kau bertemu nenek siluman ini, Lian-moi? Mana satunya?"

“Awas!" Swat Lian melengking. "Di belakangmu nenek itu menyerang, twako. Lihat ke belakang dan lempar tubuhmu....!"

Kim-mou-eng sudah membanting diri bergulingan. Pada saat itu dia mendengar kesiur angin dingin, dahsyat menyambarnya dan seorang nenek lain muncul. Itulah Toa-ci, sang kakak, orang tertua dari Sepasang Dewi Naga ini. Dan ketika nenek itu menggeram dan gagal menyambar Kim-mou-eng maka pukulannya meledak di tanah sementara Kim-mou-eng sendiri sudah berjungkir balik meloncat bangun.

"Bress!" debu mengepul tebal. Toa-ci berkelebat dan sudah berdiri di situ, mulutnya mengeluarkan lengkingan lirih dan dua anak laki-laki berada di bahu kirinya, yang satu lebih besar dari yang lain, lebih tua, menghimpit atau menekan yang lebih kecil, yang menangis tak keruan. Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan terkejut maka anak laki-laki yang lebih besar itu, yang segera dikenalnya sebagai Togura anak mendiang suhengnya berseru dengan suaranya yang tajam melengking,

"Subo, bunuh pamanku itu. Serang dia sekali lagi!"

"Hm....!" Toa-ci, sang nenek mengangguk. "Memang aku akan membunuhnya, Togura. Tapi seranganku tadi luput karena kalian. Duduklah di sana, jaga bocah ini..... wut!" sang nenek melempar dua anak itu.

Togura tertawa dan berjungkir balik mengagumkan, sekecil itu rupanya sudah di latih silat. Kepandaiannya cukup tinggi untuk anak seusia dia, menangkap dan menerima anak, yang lebih kecil itu. Dan ketika bocah itu sudah berjungkir balik dan berdiri menonton maka Toa ci memandang Kim-mou-eng dengan mata sedingin kutub.

"Kau siap mampus?"

Kim-mou-eng tersenyum, bersinar-sinar. "Dia anakku?"

"Benar, itulah bocah yang kuambil dari isterimu, Kim-mou-eng. Dan sekarang bersiaplah mampus menyusul isterimu!"

"Hm, kau kejam. Menculik dan membunuh adalah perbuatan tak terpuji, Dewi Naga. Dan kau melakukan itu tanpa alasan yang jelas. Sekarang aku menuntut tanggung jawabmu, kembalikan anakku dan bocah laki-laki itu!"

"Togura?"

"Ya."

"Terimalah.....!" dan si nenek yang tiba-tiba berkelebat dan menotok Pendekar Rambut Emas tiba-tiba membentak dan menyerang tanpa banyak cakap, lenyap tubuhnya dan dua jarinya sudah berada di dekat hidung Kim-mou-eng. Nenek ini hendak menotok jalan darah di antara kedua kening, jarinya bercuit dan sudah sekaku baja. Itulah jari sakti yang tembok pun akan berlubang bila ditusuk! Tapi Pendekar Rambut Emas yang mengelak dan mudah berkelit tiba-tiba mendoyongkan tubuh ke kiri dan tusukan atau totokan itu luput.

"Cress!" tanah terbakar. Toa-ci kiranya mempergunakan tenaga Api, melihat serangannya luput. nenek itu terkejut dan melengking. Melihat gerakan yang ditunjukkan Kim-mou-eng tadi tampak begitu sederhana dan lambat. Tapi bahwa tusukannya luput dan mengenai angin kosong tiba - tiba nenek ini sudah membentak dan memutar tubuhnya, kaki menendang dan rambut pun menjeletar nyaring. Bagian yang tampak lemas ini tiba - tiba juga berubah menjadi kaku, seperti kawat baja. Namun Kim-mou-eng yang lagi-lagi mengelak dan melihat anak di cengkeraman Togura tiba-tiba sudah membuat serangan si nenek mengenai angin kosong dan meledak di udara.

“Tar-tar!"

Toa-ci terpekik. Untuk kedua kalinya nenek ini terkejut, gerakan atau kelitan Pendekar Rambut Emas bukanlah biasa-biasa saja. Dia terbelalak melihat dua gerakan sederhana itu. Tapi membentak dan maju menerjang lagi tiba-tiba nenek ini sudah berkelebatan dan melepas pukulan bertubi-tubi, kaki dan tangan bergerak dan rambut pun menjeletar-jeletar nyaring. Terpaksa Kim-mou-eng melayani dan mulailah pendekar itu berkelit dan mengelak, mula-mula membiarkan pukulan-pukulan lewat namun lawan mempercepat serangannya. Tak ada waktu bagi dia untuk berkelit atau mengelak lagi. Dan karena lawan tampak penasaran dan terus memburu maka satu ketika akhirnya Pendekar Rambut Emas menangkis dan menerima ledakan rambut.

"Tarr!"

Toa-ci terbeliak. Rambutnya terpental, pedas dan sakit. Dan ketika dia menyerang lagi dengan kaki tangannya maka Pendekar Rambut Emas menggerakkan lengan dan menangkis serangan-serangannya itu.

"Des-plakk!?"

Nenek ini tergetar. Toa-ci kaget bukan main karena dia dibuat terhuyung! Kim-mou-eng, yang dulu dihajar dan didesaknya itu ternyata kini tiba-tiba dapat menangkis dan menolak pukulannya, nenek Dewi Naga itu terhuyung dan terbelalak. Dan ketika dia melengking dan kaget serta marah tiba-tiba nenek itu mengeluarkan ginkangnya dan lenyap berkelebatan cepat, mengelilingi lawan dan kaki serta tangan melancarkan pukulan pukulan maut.

Angin bercuitan dan jari nenek itu kembali bekerja, menusuk dan menotok. Belum lagi rambutnya yang meledak-ledak seperti kawat baja. Tapi ketika Kim-mou-eng mengeluarkan seruan panjang dan tubuh pendekar itu pun berkelebat mengimbangi gerakannya tiba-tiba Kim-mou-eng telah ikut berputaran dan ke mana pun nenek itu menyerang selalu dia tertangkis.

"Plak-plak!"

Toa-ci hampir tak percaya. Dia melihat Pendekar Rambut Emas ini mengeluarkan kepandaiannya yang luar biasa, ilmu meringankan tubuh yang mampu mengimbangi ilmu meringankan tubuhnya sendiri, bukan main. Dan ketika nenek itu melengking dan membentak mempercepat serangannya tiba-tiba Kim-mou-eng juga mengeluarkan bentakan dan kedua lengannya mendorong ke sana ke mari, menolak dan mengibas dan tiba-tiba cahaya menyilaukan keluar dari lengan Pendekar Rambut Emas itu, mula-mula samar tapi kian lama kian terang. Dan ketika sinar itu demikian terangnya hingga nenek ini terpekik kaget maka sebuah dorongan tak mampu dilihatnya menghantam pundaknya.

"Dess!” Nenek Toa-ci terpelanting. Untuk pertama kali Kim-mou-eng membuat kejutan, memukul dan membuat nenek itu terbanting. Dan ketika Toa-ci terpekik dan bergulingan meloncat bangun maka nenek ini pucat bertanya ngeri,

"Ilmu pukulan apa itu? Dari mana kau mendapatkannya?"

"Ha-ha, aku mendapatkannya dari guruku, Toa-ci. Kenapakah? Kau takut?"

"Keparat. siapa takut? Gurumu pun tak ku takuti. Kim-mou-eng. Jangan besar mulut dan sombong...wut!" sang nenek menyerang lagi, membentak dan sudah melepas pukulan bertubi-tubi. Nenek ini kaget dan marah oleh pukulan Kim-mou-eng tadi, coba membalas dan menekan lawannya. Tapi ketika Kim-mou-eng menerima dan kembali mengeluarkan ilmu pukulannya yang menyilaukan itu maka nenek ini berteriak dan terbanting lagi.

"Dess!" Toa-ci mengumpat dan mencaci-maki. Nenek ini kaget dan terbelalak, tak tahu bahwa itulah ilmu baru yang didapat kim-mou-eng dari gurunya, Lu-ciang-hoat. Dan ketika dia melompat bangun dan menerjang lagi maka Kim-mou-eng menangkis dan kembali membuatnya terpental, begitu enam tujuh kali hingga nenek ini akhirnya terpekik. Toa-ci akhirnya gentar, melotot dan ngeri. Dan ketika dia menjadi ragu dan bingung menghadapi lawan yang tiba-tiba begitu luar biasa maka di sana adiknya juga mengumpat dan mengutuk, dilirik dan ternyata nenek Ji-moi terdesak.

Nenek Toa-ci hampir tak percaya pada apa yang dilihat. Swat Lian, bocah perempuan yang dulu dilempar dan dipermainkan mereka mendadak kini juga menjadi begitu luar biasa, mampu menghindari serangan serangan adiknya dan gadis itu mengeluarkan ginkangnya yang dimiliki sang ayah, Jing-sian-eng. Dan ketika nenek Toa-ci terkejut melihat gadis itu melakukan tamparan-tamparan Khi-bal-sin-kang akhirnya nenek ini tertegun melihat adiknya terlempar dan terbanting mengaduh-aduh.

"Keparat, Hu Beng Kui mengajari gadis ini Khi-bal-sin-kang. Dan dia pun mewarisi Jing-sian-eng!"

Nenek Toa-ci terbelalak. Memang benar, dia segera mengenal ilmu meringankan tubuh yang dikeluarkan gadis itu, Jing-sian-eng, ilmu meringankan tubuh yang dipunyai Hu Beng Kui dan kini agaknya diwariskan pada puterinya itu. Secepat apa pun nenek Ji-moi berkelebatan menyerang lawannya maka secepat itu pula gadis itu mengelak atau menangkis. Dan ketika si gadis membalas dan pukulan yang mengandung tenaga Khi-bal-sin-kang dikeluarkan dan meledak menghajar adiknya akhirnya nenek Ji - moi mengaduh dan mencaci tak habis-habisnya.

"Ha-ha, bagaimana, Toa-ci? Kau masih ingin membunuhku?"

Toa-ci melotot. Kim-mou-eng, yang mendesak dan merangseknya tiba-tiba melancarkan sebuah pukulan lurus. Nenek ini membentak dan coba menangkis sekali lagi. Dia masih belum mengenal Lu-ciang-hoat, ilmu yang memang masih baru. Tapi begitu benturan di antara mereka terjadi dan nenek itu terbanting maka Toa-ci mengeluh dan muntah darah, untuk pertama kalinya terluka!

"Augh...!" nenek itu terhuyung. "Ilmu pukulan apa yang kau punyai itu, Kim-mou-eng? IImu apalagi yang kau dapat dari gurumu si jahanam Bu-beng Sian-su itu?"

"Hm, ini Lu-ciang-hoat, Toa-ci. Dan ilmu meringankan tubuhku tadi adalah Cui-sian Ginkang."

"Keparat, dan kau sekarang begini lihai. Aih, aku jadi malas bertanding denganmu, Kim-mou-eng. Biar lain kali saja kita bertemu dan main main lagi!" nenek itu bersuit, melengking tinggi dan memberi tanda dan tiba-tiba dia menyambitkan garpu garpu kecil. senjata rahasianya yang menyambar dengan kecepatan luar biasa ke tenggorokan Kim-mou-eng sedang yang empat sisanya menuju perut dan kemaluan. Kurang ajar!

Nenek tua ini kiranya masih suka main-main mengancam barang rahasia. Tapi Kim-mou-eng yang menyamplok dan meruntuhkan semua garpu-garpu kecil itu tidak mengejar melainkan waspada melihat nenek Toa-ci berjungkir balik kearah Dailiong, anaknya, menyambar bocah itu sekalian Togura, sang murid. Tentu saja hal ini tak dibiarkan dan cepat bagai rajawali menyambar tiba-tiba Pendekar Rambut Emas melancarkan tepukan miring, membentak nenek itu agar melepaskan Dailiong. Dan karena pukulan Kim-mou-eng berkali-kali membuatnya terbanting dan nenek Toa-ci jerih maka nenek ini tak jadi menyambar Dailiong melainkan tiba-tiba mengebut muka anak itu dan berkelebat membawa Togura.

"Plak!" Kim-mou-eng tak membiarkan kebutan itu, menampar dari jauh dan nenek ini tunggang-langgang, menjerit dan cepat melarikan diri. Dan ketika Kim-mou-eng mendapat anaknya kembali dan Dailiong menangis tak keruan maka di sana nenek Ji-moi juga memutar tubuhnya lari terbirit-birit.

"Jahanam, kalian dua anak muda keparat, Terkutuk!"

Nenek itu pun melepas senjata-senjata rahasianya, tiga sendok yang aneh namun Swat Lian dengan mudah menangkis. Gadis itu membentak, mau mengejar, tapi ketika Kim-mou-eng gugup memanggilnya karena tak dapat mendiamkan Dailiong maka gadis ini berjungkir balik dan melayang turun di dekat Pendekar Rambut Emas itu.

"Ada apa? Kenapa?"

"Entahlah, Dailiong menangis tak keruan, Lian-moi. Aku bingung. Tolong kau diamkan dia dan coba dinina bobokan!"

Swat Lian kasihan. Tanpa cemburu atau apa dia menerima anak kecil ini, menimangnya, membujuk dan segera tangannya memijit-mijit punggung anak itu. Sebagai perempuan atau wanita yang daya keibuannya menonjol segera dia tahu ada yang mengganggu anak itu, mencium anak ini dan tangannya segera mendapatkan seekor semut api menggigit di punggung Dailiong, menungging dan menggigit kulit si anak sampai sedemikian tajam. Tentu saja Dailiong kesakitan. Dan ketika semut itu dipijatnya mampus dan punggung Dailiong diusap-usap tiba-tiba anak ini pun diam dan menyusupkan kepalanya di dada Swat Lian.

"Wah, dia minta emik!"

Swat Lian merah mukanya. "Di mana kita mendapatkan susu?" Kim mou-eng kebingungan. mengira anaknya minta emik tapi gadis itu menggeleng. Firasat keibuan gadis ini menangkap lain, Dailiong ingin tidur dan rupanya bocah itu letih. Dan ketika dia menepuk nepuk pantat anak itu dan dengan lembut meniup dan mengusap kepalanya tiba-tiba tidur dan tersenyum di gendongan gadis ini. Dailiong tertidur.

"Waduh, kau benar-benar seperti ibu!" Kim-mou-eng kagum. "Bagaimana kau tahu anak ini ingin tidur dan tidak menangis lagi, Lian-moi? Dan, ah... Dailiong rupanya cocok denganmu!"

"Hm," Swat Lian tersipu merah. "Kodrat wanita rasa keibuannya jelas berbeda dengan pria, twako. Anakmu bukan haus atau apa melainkan letih."

"Dan tadi dia menangis, tak habis - habisnya!" "Tentu saja, bagaimana tidak? Punggungnya digigit semut api, twako. Kau sebagai ayahnya tak tahu sama sekali!"

"Apa?”

"Benar," Swat Lian tertawa, "Dailiong digigit semut, twako. Dan kau seperti kambing kebakaran jenggot. Lihat, ini semutnya!" dan Swat Lian yang memperlihatkan dan membuang semut api itu lalu menciumi dan mengusap pipi anak laki-laki ini. Entah kenapa tiba-tiba di balik keinginan nya yang paling dalam mendadak dia ingin menjadi ibu, mengasuh anak dari benih laki-laki yang dicintainya dan tiba-tiba dia mengerling ke kiri, tanpa sengaja bentrok dengan mata Kim-mou-eng dan tiba-tiba gadis itu merah mukanya. Kim-mou-eng sedang bengong dan kagum memandangnya. Gadis itu cocok sekali mengasuh anak! Namun ketika Kim-mou-eng tersentak dan kaget oleh kerlingan si gadis tiba-tiba pendekar ini sadar dan meminta anaknya.

"Maaf, berikan padaku, Lian-moi. Biar Dailiong ku gendong!"

Swat Lian tersipu, memberikan anak itu namun Dailiong tiba-tiba bangun. Dan, begitu melihat wajah yang lain tiba-tiba anak ini menangis dan menjerit lagi.

"Ah," Swat Lian tertawa. "Kau tak bakat menjadi bapak, twako. Kau canggung dan kaku sekali! Kesinikan, biar kuhentikan tangisnya...!" dan Dailiong yang tiba-tiba diam dan tak menangis lagi di gendongan Swat Lian akhirnya membuat Kim-mou-eng jengah dan merah mukanya. Memang tadi dia amat canggung dan kaku menerima Dailiong. Begitulah lelaki, kurang luwes momong anak. Dan ketika Swat Lian tersenyum dan Kim mou-eng menyeringai maka anak ini sudah tidur lagi di gendongan Swat Lian, begitu cepat.

"Hm," Kim-mou-eng menarik napas, lega. "Untung ada kau, Lian-moi. Kalau tidak, repot aku!"

"Sudahlah," gadis itu tertawa. "Sekarang anakmu sudah kau dapatkan, twako. Kita harus bersyukur bahwa Dailiong selamat."

"Ya, dan aku gembira, Lian-moi. Hanya...."

"Kenapa?"

"Dailiong kurus!"

"Ya, nenek iblis itu tak merawatnya, twako. Tapi kita akan merawatnya kini. Kau dapat memberinya makan atau minum."

"Hm, menyuapinya?”

"Bukankah kau bisa?"

"Akan kucoba..."

"Hi-hik!" dan Swat Lian yang tertawa berkelebat pergi tiba-tiba lenyap dan meninggalkan temannya, mau dikejar tapi gadis itu memberi isyarat. Swat Lian menyuruh temannya menunggu. Dan ketika tak lama kemudian gadis itu telah kembali dan membawa pisang atau susu maka Kim-mou-eng tertegun.

"Dari mana kau dapatkan semuanya ini?"

"Dari penduduk."

"Kau membelinya?"

"Tidak, mereka tak ada yang jual, twako. Tapi aku meninggalkan sekeping emas untuk mereka."

"Hm, dan susu itu?"

Keperas langsung dari kambing si penduduk itu. Kebetulan dia beranak dan susunya penuh. Lihat, anakmu sebentar lagi menangis karena lapar!" dan ketika Dailiong bangun dan benar saja menangis maka Swat Lian sudah memberikan pisang dan susu itu, sesuap demi sesuap.

Dan Kim-mou-eng lagi-lagi tertegun. Untuk kedua kalinya dia melihat betapa luwesnya wanita merawat anak, Swat Lian seakan sudah mengerti apa yang harus dilakukannya. Gadis itu rupanya tahu dari perasaannya yang tajam bahwa si bocah minta ini atau itu, berbeda sekali dengan lelaki. Dan ketika Kim mou-eng bengong dan kagum memandang temannya maka Dailiong tertawa dan tersenyum gembira.

"Nah, ini tanda kenyang, twako. Dailiong sudah tak lapar lagi dan boleh kau terima...!”

Swat Lian melempar anak itu, tak menangis dan segera Kim-mou-eng memasang muka manis. Si bocah yang rupanya takut-takut dan hendak mewek lagi cepat-cepat disambutnya dengan senyum lebar, nyata pendekar ini berusaha untuk bisa momong anaknya. Dan ketika anak itu tersenyum dan ketawa menirukan bapaknya maka Kim-mou-eng tertawa bergelak tak dapat menahan geli.

"Eh, kenapa keras-keras? Jangan membuat anakmu takut, twako. Perlahan sedikit dan jangan bikin kaget!"

"Ha-ha, sekali tempo dia harus dibikin kaget. Lian-moi. Betapapun dia harus mengenal bapaknya!" dan Swat Lian yang terkekeh dan melihat Dailiong tertawa akhirnya gembira dan lega karena anak itu tak takut lagi kepadanya, mungkin tadi heran melihat rambut Kim-mou-eng ayahnya, yang panjang riap-riapan, kuning keemasan dan anak itu barangkali merasa didekati mahluk aneh. Barangkali begitu. Dan ketika semuanya lega dan tenang kembali maka Kim-mou eng berterima kasih karena gara-gara gadis itulah Dailiong dirampasnya dari tangan si nenek iblis.

"Ah, apa-apaan ini?" Swat Lian malah tersipu. "Kau dan aku sudah berjanji untuk mendapatkan yang lebih dulu bisa didapatkan, twako. Dan kebetulan anakmu yang bisa didapatkan lebih dulu."

"Benar, tapi tanpa kau aku bisa kerepotan, Lian-moi. Dua nenek iblis itu lihai dan mereka bisa membuat pusing."

"Tapi kepandaianmu tinggi!" gadis itu tetap mengelak. "Kau dapat mengalahkan mereka, twako. Tanpa aku pun kau dapat mengatasinya!"

"Hm, bagaimana kalau yang satu lari ke timur sedang yang lain ke barat? Dan Togura bisa mencekik Dailiong, Lian-moi, kalau dua nenek itu menyuruh. Sudahlah, aku berterima kasih dan jangan ditolak!"

Kim-mou-eng memegang lengan gadis itu, memandang lembut dan mesra dan Swat Lian tiba-tiba melengos. Jantung berdegup kencang tapi untunglah Dailiong tiba-tiba meronta, anak itu minta turun mau pipis. Kencing tiba-tiba ngocor dan baju Kim-mou-eng basah, sebelum anak itu turun. dan ketika Kim-mou-eng terkejut dan lagi-lagi kelabakan maka Swat Lian tak dapat menahan geli dan menyambar anak itu.

"Kesinikan!" katanya. "Kau membawa popok?"

“Popok?"

"Ya."

"Wah, dari mana, Lian-moi? Aku baru sekarang teringat akan baju atau celana anakku!"

"Kalau begitu untunglah, lihat ini!" dan Swat Lian yang tertawa menyambar bungkusan kecil lalu memperlihatkan beberapa stel pakaian bocah, membuat Kim-mou-eng bengong dan lagi-lagi Pendekar Rambut Emas itu tertegun. Untuk ke sekian kali dia melihat ketrampilan seorang wanita. Dan ketika dia bertanya dari mana gadis itu mendapatkan pakaian-pakaian itu maka Swat Lian tertawa menjawab,

"Dari penduduk dusun. Tadi sekalian aku memintanya!" dan ketika Kim-mou,eng bengong dan mengangguk-angguk maka Dailiong sudah diberi pakaian kering dan gadis itu tiba-tiba berkelebat. "Ayo, sekarang kita pergi, twako. Cari Hauw Kam-suheng atau Gwan Beng suheng!"

Dan begitu gadis itu terbang meninggalkan Kim-mou-eng maka Kim-mou-eng pun berkelebat mengerahkan ginkangnya, mengejar dan tertawa dan segera Pendekar Rambut Emas itu teringat akan tugasnya yang lain, ganti membantu gadis itu mencari dua suhengnya. Dan karena Swat Lian telah menolong dan membantu menemukan anaknya maka Pendekar Rambut Emas itu pun melakukan perjalanan lagi mencari dua murid Hu Beng Kui ini.

Namun sukar dan sulit. Nenek Naga Bumi dan Hek-bong Siauwjin yang menghilang entah kemana tak dapat mereka temukan. Di sini Kim-mou-eng menyesal kenapa dulu itu Toa-ci dan Ji moi tak mereka tangkap. Barangkali dari Sepasang Dewi Naga itu mereka bisa mendapatkan petunjuk. Tapi Swat Lian yang menghela napas dan menggeleng tersenyum berkata padanya,

"Sudahlah, untuk apa menyesalkan itu? Dailiong lebih kita utamakan waktu itu, twako. Dan sesungguhnya dua nenek itu juga masih berhutang nyawa isterimu. Mereka dapat kita cari dan lain kali pasti ketemu. Kalau Naga Bumi dan Hek-bong Siauw-jin ngumpet di tempat persembunyiannya biarlah kita cari terus dan tak perlu menyesali yang lain."

"Hm, kau baik, Lian-moi. Dan... ah, aku berhutang budi padamu!"

"Eh, itu lagi!" gadis ini terbelalak. "Tak ada budi di antara kita, twako. Apa yang kita lakukan adalah suka sama suka berdasarkan kerja sama!"

"Ya, dan...." Kim-mou-eng tiba-tiba terharu. "Aku berhutang budi yang lain, Lian-moi. Masalah Dailiong. Anak ini seakan mendapat ibunya kembali dalam dirimu. Aku... aku..." pendekar itu tiba-tiba mencekal lengan temannya. "Aku tak tahu harus berkata apa, Lian-moi. Kecuali terima kasih!"

Swat Lian terkejut. Suara Kim-mou-eng tiba-tiba serak, Pendekar Rambut Emas itu menggigil dan tiba-tiba menangis, memejamkan mata. Dan ketika Swat Lian terkejut dan masih membiarkan tangannya dipegang tiba-tiba Kim-mou-eng membuka mata. "Lian-moi...." pendekar itu gemetar. "Maukah semuanya ini bukan bayangan saja? Maukah kau menjadi ibu Dailiong sesungguhnya? Maaf, aku.... aku ingin kau mendampinginya selamanya, Lian-moi. Maksudku, mendampingiku pula dan menjadi isteriku!"

Entah bagaimana saat itu perasaan Swat Lian. Sesungguhnya, tak dapat disangkal dia mengharap kata-kata itu. Dia mau melakukan perjalanan bersama saja sudah menunjukkan keinginannya, keinginan terpendam. Tapi mendengar Kim-mou-eng menyatakannya juga dan pendekar itu pun masih memegang lengannya tak urung gadis ini gemetar dan menggigil, tak dapat segera menjawab.

"Bagaimana, Lian-moi? Maukah kau?”

"Ooh...!" gadis ini akhirnya memejamkan mata. "Apa yang harus kukatakan, twako? Bukankah... bukankah kau tahu jawabannya?"

"Kalau begitu...."

"Benar, terserah kau....!"

Dan Kim-mou-eng yang girang serta bahagia tiba-tiba memeluk dan menyambar pinggang yang langsing itu, mendaratkan ciuman dan Swat Lian pun mengeluh. Dua kali ciuman di pipi rupanya tak memuaskan Pendekar Rambut Emas, karena begitu Swat Lian membuka mata dan memandangnya redup tiba-tiba pendekar ini telah mencium bibir si gadis dan melumatnya. "Moi-moi, terima kasih!"

Swat Lian menggelinjang. Gadis ini mabok dalam bahagia, menyambut dan akhirnya mereka pun berciuman. Seumur hidup, baru kali itulah Swat Lian dicium laki-laki. Mula-mula canggung dan Kim-mou-eng tertawa. Tapi ketika Kim-mou-eng mengajari dan sebentar kemudian gadis ini pun sudah mengerti maka keduanya begitu gembira dan bahagia.

"Moi-moi, kau cantik!"

"Ih, kapan menyebutku moi-moi (dinda)?"

“Sekarang....!" dan mereka yang kembali tertawa dan berpelukan akhirnya berciuman dan tak habis-habisnya. Pendekar Rambut Emas melepas kebahagiaannya. Memang dia merasa mendapat calon pendamping yang cocok sekali setelah isterinya tewas, puteri Hu Beng Kui yang tak kalah cantik dan lihai. Bahkan, menurut Kim-mou-eng gadis ini lebih tepat untuknya. Mendiang isterinya Salima amat galak dan ganas, jauh berbeda dengan Swat Lian yang lembut dan keibuan.

Dan karena gadis itu sudah menerima dan Kim-mou-eng gembira maka Pendekar Rambut Emas itu dapat melakukan perjalanan yang lebih bebas lagi bersama puteri Hu Beng Kui ini, tentu saja tak tahu bagaimana pendapat Hu Beng Kui sendiri. Swat Lian juga tak mengira bahwa penolakan keras bakal dihadapinya dari sang ayah itu. Dan ketika mereka melanjutkan perjalanan dan Kim-mou eng dibuat kagum dan terharu oleh perhatian Swat Lian kepada Dailiong maka dua orang muda ini melakukan perjalanannya dengan gembira dan bahagia, seolah pengantin baru yang siap berbulan madu!

* * * * * * * *

"Apa? Kalian melihat sendiri?"

"Benar, kami melihat sendiri, taihiap. Dan Hu-siocia tampak menggendong seorang anak!"

Hu Beng Kui marah-marah. Hari itu datang laporan kepadanya bahwa Swat Lian, puterinya, jalan bersama dengan Kim-mou-eng. Mereka tampak mesra dan akrab, Swat Lian menggendong seorang anak dan Hu Beng Kui gusar. Setahun lebih puterinya tak pulang dan tahu-tahu dikabarkan menggendong anak, bersama Kim-mou-eng. Dan karena puterinya tak mengabarkan dua suhengnya yang diculik dan Hu Beng Kui merah padam maka dia melihat pandangan si pelapor yang berkedip-kedip, berputar ke kiri kanan.

"Apa yang kau pikir?"

Si pelapor terkejut. "Tidak... eh, maaf!"

Tapi Hu Beng Kui yang menyambar dan tadi mendengar bisik-bisik segera membanting dua orang laki-laki ini, mengaduh dan dua orang itu berteriak. Mereka tadi bisik-bisik bahwa anak yang digendong Swat Lian barangkali adalah hubungan gelapnya dengan Kim-mou-eng, tentu saja jago tua itu mendelik dan gusar. Dan ketika dia menginjak keduanya dan menyuruh mereka mengaku maka jago pedang ini membentak,

"Hayo, katakan omongan kalian tadi, tikus-tikus busuk. Atau aku menginjak patah punggung, kalian!"

"Aduh, ampun, taihiap.... ampun. Kami tak bicara apa-apa....!"

"Ngek!"

Hu Beng Kui menekan injakannya lebih kuat. "Katakan yang jujur, tikus busuk. Atau aku akan membunuh kalian berdua!"

"Aduh, tobat...!" dua lelaki itu menjerit. "Kami sudah memberi laporan, Hu-taihiap. Seharusnya kami tak dilakukan seperti ini. Kami... augh....!" dua laki-laki itu kembali berteriak, akhirnya meminta-minta ampun dan segera mereka berkata apa yang mereka bisikkan tadi. Aneh, Hu Beng Kui lalu menendang dan melepas keduanya. Dan ketika dua laki-laki itu terbirit-birit dan lari meninggalkan si jago pedang maka Hu Beng Kui duduk terengah dengan mata seganas harimau buas.

"Keparat!" desisnya mengepal tinju. "Anakku galang-gulung dengan Pendekar Rambut Emas? Belum menikah sudah punya anak? Hm, bedebah kau, Kim-mou-eng. Aku akan mencari dan membunuhmu!" dan Hu Beng Kui yang bangkit dan segera berkelebat keluar akhirnya mencari beberapa pembantunya dan menyuruh mereka mencari jejak Kim-mou-eng. Dua pelapor tadi mengatakan bahwa dia melihat Swat Lian seminggu yang lalu di kota Ci-kiang, lewat kota itu namun tidak mampir ke Ce-bu, jago tua ini melotot dan kemarahannya pada Kim-mou-eng menumpuk. Dan ketika seminggu kemudian dia mendapat laporan bahwa Kim-mou-eng terlihat di suku bangsanya maka jago tua ini menyusul dan mengamuk.

"Mana Kim-mou-eng, hayo suruh dia keluar!" begitu jago pedang ini membentak ketika memasuki perkampungan bangsa Tar-tar. Dua hari melakukan perjalanan membuat jago tua ini merah padam, kemarahannya tak dapat dibendung lagi dan dia hendak menghajar serta memberi hukuman pada Pendekar Rambut Emas itu. Hu Beng Kui geram dan teringat perjumpaannya yang terakhir dengan lawannya, ketika Kim-mou-eng dipermainkan dan dihajar sewaktu orang kangouw ribut tentang Enam Iblis Dunia, diculik dan ditangkapinya ketua-ketua partai persilatan besar. Dan ketika hari itu dia datang dan langsung membentak orang-orang itu maka bangsa Tar-tar tertegun dan malah bengong.

"Hei, kenapa kau melotot?" Hu Beng Kui membanting seseorang di dekatnya, langsung disambar dan dilempar. Dan ketika orang itu meng aduh dan berteriak maka bangsa Tar-tar geger dan panik. juga marah.

"Kepung si buntung ini, jaga!"

Hu Beng Kui mendengus. Memang dia buntung, tinggal sebelah lengannya saja. Tapi dapat berbuat apa orang-orang itu kepadanya? Maka ketika dia membentak dan berkelebat ke depan tiba tiba duapuluh orang disambarnya roboh dan dia memaki-maki Kim-mou-eng. "Suruh bocah itu keluar, atau kalian semua kuhajar... bres-bress!"

Lagi dua puluhan orang dibanting, disambar dan dilempar jago tua ini dan tentu saja bangsa Tar-tar gempar. Mereka marah tapi juga kaget melihat sepak terjang jago tua ini, belum ada yang mengenal karena Hu Beng Kui adalah tokoh selatan, jauh di selatan sana hingga suku bangsa yang tinggal di utara ini tak mengenal. Dan ketika seratus orang kemudian mencabut senjata dan tombak atau panah berhamburan menyambut pendekar tua itu maka Hu Beng Kui menjadi gusar dan meniup runtuh semua senjata itu, dengan mulutnya!

“Wushh....!"

Orang-orang bengong. Mereka seakan melihat pertunjukan sihir. Dan belum mereka sadar atau menyerang lagi tiba-tiba Hu Beng Kui menggerakkan tubuhnya dan lenyap dari tengah-tengah kepungan, entah ke mana tapi tiba-tiba kemah besar ribut. Tenda tempat pemimpin tiba-tiba jebol, teriakan dan jerit perempuan terdengar di sini. Dan ketika semua orang memandang dan memburu ke tempat itu ternyata jago tua ini sudah mengobrak-abrik marah dan menjebol serta melempar tenda.

"Kim-mou-eng, keluarlah kau. Jangan bersembunyi seperti pengecut!"

Bangsa Tar'tar geger. Mereka membentak dan menyerang lagi, betapapun mereka adalah orang-orang pemberani. Yang muda-muda segera menusukkan tombak atau lembing panjang. Tapi ketika senjata dikibas dan patah-patah bertemu lengan si jago tua itu maka mereka pun tiba-tiba mencelat dan terbanting tak keruan ketika mendapat angin sambaran Hu-taihiap, berteriak dan roboh tumpang tindih dan jago tua itu pun mengamuk. Akhirnya Hu Beng Kui mendatangi kemah-kemah yang dicurigai, membabat dan melempar-lempar kemah itu.

Dan ketika sebentar kemudian jago pedang ini sudah berkelebatan dan bangsa Tar-tar diobrak-abrik maka jerit dan tangis wanita serta anak-anak bercampur-baur menjadi satu, disusul teriakan atau pekik kaget orang-orang yang kesakitan, yang dilempar atau didorong jago pedang itu. Dan ketika bangsa Tar-tar mendelong dan tak dapat mengikuti sepak terjang pendekar itu akhirnya Hu Beng Kui kehabisan tenda dan Kim-mou-eng tak ditemukan.

"Keparat, mana Pendekar Rambut Emas itu? Bersembunyi di mana dia?" jago tua ini akhirnya menangkap seorang laki-laki, mencekik dan orang itu pucat pasi. Apa yang dilakukan pendekar ini memang tak seorang pun sanggup mencegah. Hu Beng Kui laksana petir di siang bolong, meledak dan menggelegar tanpa ampun. Namun ketika orang itu ah-ah-uh-uh dan Hu Beng Kui sadar maka jago tua ini mengendorkan cekikannya dan orang itu pun menjatuhkan diri berlutut.

"Ampun, Kim-taihiap sudah pergi lagi... dia tak ada di sini!"

"Hm, kalian melindungi si keparat itu?"

"Tidak... tidak...! Kami bicara jujur, lo-enghiong (orang tua gagah). Kim-mou-eng telah pergi dan meninggalkan kami dua hari yang lalu!"

"Dengan siapa?"

"Dengan.... dengan isterinya!"

"Hm, siapa isterinya itu?"

"Katanya... katanya puteri Hu-taihiap...."

"Plak!" laki-laki itu terjungkal.

"Aku Hu-taihiap, tikus bodoh. Kalau begitu pemimpinmu harus dihajar dan biar kucari dia. Ke mana dia melarikan diri!"

Laki-laki ini bengap, pucat bukan main.

"He, kau tuli?"

Tiba-tiba laki-laki itu terguling, pingsan. Kiranya saking takutnya laki-laki ini sudah terguling dibentak Hu Beng Kui, yang lain kaget dan baru kali itu mereka tahu si jago tua ini. Kiranya lah Hu Beng Kui, jago pedang yang tersohor itu. Dan belum mereka ba-bi-bu atau apa tiba-tiba jago tua itu telah menyambar dua orang pemuda.

“Kau juga tak tahu ke mana Kim-mou-eng pergi?"

"Ampun... ampun....!" dua pemuda ini menggigil. "Kim-taihiap ke barat, locianpwe. Katanya hendak ke Himalaya...!"

"Bersama puteriku?"

"Ya, dan... dan anaknya!"

"Bress!" dua pemuda itu dilempar roboh. Mereka menjerit dan pingsan dibanting Hu Beng, Kui, sebenarnya dengan kata-jata itu hendak memaksudkan bahwa anak itu adalah Dailiong, anak Pendekar Rambut Emas dengan mendiang Salima. Tapi karena Hu Beng Kui menangkap lain dan kata-kata "anak" dimaksud sebagai buah hubungan gelap putrinya dengan Pendekar Rambut Emas maka jago tua ini berkelebat dan memutar tubuhnya terbang ke barat, lenyap dan orang pun bengong. Mereka itu seakan melihat seekor naga sakti yang tua namun perkasa, gagah dan menyeramkan.

Dan ketika jago pedang itu lenyap dan meninggalkan mereka yang bengong maka rintih dan tangis kembali terdengar di situ, disusul sadarnya orang-orang ini akan peristiwa yang baru terjadi. Tak dapat disangkal bahwa dua hari yang lalu Kim-mou-eng meninggalkan mereka, kedatangannya hendak memperkenalkan bakal isterinya sekaligus menengok mereka yang sudah ditinggal lama. Beberapa di antaranya segera mengenal Swat Lian karena gadis itu dulu pernah ke situ, mencari Kim-mou-eng dan tiba-tiba sudah bersama pemimpin mereka. Dan karena berita itu adalah berita menggembirakan karena Kim-mou-eng mendapatkan calon isterinya yang gagah dan cantik maka mereka pun menyambut dan mengadakan syukuran.

Sayang, Kim-mou-eng tak tinggal lama karena pendekar itu masih hendak meneruskan perjalanannya mencari Hauw Kam dan Gwan Beng, dua kakak seperguruan Swat Lian. Dan begitu pendekar itu pergi mendadak bagai guntur mengamuk di angkasa Hu Beng Kui datang dan menghajar mereka. Tentu saja orang-orang ini tak berdaya dan mereka hanya mengutuk dan mengumpat di dalam hati. Perbuatan jago tua itu bahkan tak mendapat simpati. Dan sementara mereka mengurus yang luka-luka atau memperbaiki tenda maka Hu Beng Kui sendiri sudah terbang ke barat, ke Himalaya.

“Keparat... jahanam!" jago pedang itu mengumpat caci. "Kau berani mempermalukan aku, Kim-mou-eng? Kau menggaet dan merusak anakku? Hm, kubunuh kau. Tak akan kuberi ampun!" dan Hu Beng Kui yang terbang ke Himalaya dan tiba di sana akhirnya mencari dan berputaran di tempat ini, naik turun puncak-puncak bersalju dan jago pedang itu menggeram-geram. Seakan ingin ditelannya Kim-mou-eng saat itu juga, dia merasa malu dan berang oleh perbuatan Kim-mou-eng ini. Dan ketika tiga hari tiga malam pendekar itu mencari-cari Kim-mou-eng tiba-tiba saja orang yang dicari ketemu.

“He!" Kim-mou-eng terkejut.

"Apa yang kau lakukan di sini, Kim-mou-eng? Mana puteriku?"

Pendekar Rambut Emas tertegun. Hari itu, mencari jejak Hauw Kam dan Gwan Beng Pendekar Rambut Emas ini tiba di Puncak Mutiara, satu di antara puncak-puncak pegunungan Himalaya yang tinggi. Swat Lian kebetulan di bawah gunung mencari mantel tebal, untuk Dailiong. Maka begitu melihat Hu Beng kui dan heran serta kaget oleh bentakannya tiba-tiba Pendekar Rambut Emas tersenyum, tak menduga Hu Beng Kui marah-marah, membungkuk dan berkata,

"Eh, kau di sini, Hu-taihiap? Kebetulan sekali, jejak dua muridmu katanya di sekitar sini. Aku hampir menemukan dan....”

"Wut!" Hu-taihiap tiba-tiba menghantam “Katakan dan sebutkan di mana puteriku, Kim-mou-eng. Atau kau mampus.... dess!"

Kim-mou-eng yang mengelak dan berjungkir balik meloncat tinggi tiba-tiba melihat pukulan Hu Beng kui mengenai salju, amblong dan tiba-tiba mereka berdua tergelincir ke bawah. Kim-mou-eng yang melayang turun terpeleset kakinya dan lawan pun tergelincir, tempat itu memang berbahaya dan licin. Dan ketika Kim-mou-eng harus berjungkir balik lagi dan Hu Beng Kui melotot memekik gusar tiba-tiba dengan hentakan kakinya pendekar ini berdiri kembali dengan dua kaki menancap di bumi.

"Kim-mou-eng, sebutkan di mana puteriku!"

Kim-mou-eng sekarang terkejut. Baru dia sadar bahwa jago Ce-bu ini marah besar, sorot matanya yang ganas dan buas membuat Pendekar Rambut Emas tercekat. Dan ketika suara jago pedang itu juga menggeram dan menggetarkan Puncak Mutiara maka terkejut dan sadarlah pendekar ini akan apa yang terjadi. "Hu-taihiap, ada apa dengan semuanya ini? Kenapa kau marah-marah?"

"Keparat, kau tak mau mengatakan di mana puteriku, Kim-mou-eng? Kau masih banyak omong? Mampuslah...wut!" dan Hu Beng Kui yang menyambar dan berkelebat lagi dengan kecepatan luar biasa tiba-tiba menyerang dan menggerakkan kelima jarinya, dari jauh sudah terdengar suara mencicit dan Kim-mou-eng terbelalak.

Jago pedang ini menyerangnya dengan totokan lima jari, jari-jari pendekar pedang itu bergetar dan ke mana pun dia mengelak pasti disambar juga. Terpaksa Kim-mou-eng berseru keras meloncat tinggi, berjungkir balik dan bertengger di atas pohon yang penuh salju. Dan ketika jari Hu-taihiap bercuit menghantam batu karang di bawah maka jago tua ini tertegun melihat lawannya.

"Blarr!" Batu karang itu hancur. Hu Beng Kui terbelalak melihat lawan dua kali berhasil lolos dari serangannya, tentu saja tak menduga kemajuan Kim-mou-eng sekarang, dua ilmu barunya dan ginkangnya yang luar biasa, Cui-sian Ginkang (Ginkang Pengejar Dewa). Dan ketika jago pedang itu menggeram dan mau menyerang lagi tiba-tiba Kim mou-eng meloncat turun dan buru-buru menggoyang lengan.

"Tahan, nanti dulu, Hu-taihiap. Sebentar! Bolehkah aku bicara sedikit denganmu?"

“Hm, apa yang mau kau bicarakan? Omong apa lagi?"

Kim-mou-eng menahan perasaannya yang berguncang. "Aku minta penjelasan kenapa kau marah-marah begini. Apa salahku dan kenapa kau menyerang!"

“Kau berani bertanya seperti itu? Kau tak mengakui dosa?"

“Ohh, aku tak merasa berdosa, Hu-taihiap. Aku bertanya karena ingin tahu. Aku penasaran melihat sikapmu!"

“Ha-ha!" jago pedang itu tiba-tiba tertawa bergelak, suaranya menyeramkan menggetarkan bukit. "Justeru aku yang penasaran melihat sikapmu, Kim,mou-eng. Kenapa kau berani membawa-bawa anak orang! Heh, mana puteriku dan di mana kau sembunyikan? Berapa lama kau menggaet dan merayunya? Jawab cepat, Kim-mou-eng. Sebelum aku membunuhmu!" dan si jago pedang yang mengguncang dan mengerotokkan buku-buku jarinya tiba-tiba membuat Kim-mou-eng tertegun dan pucat, merah dan pucat lagi dan akhirnya Pendekar Rambut Emas ini menyadari persoalannya.

Jago tua itu marah-marah karena Swat Lian bersamanya, ini kiranya persoalannya. Tapi karena dia tak melakukan apa-apa dan selama itu hubungannya dengan Swat Lian baik-baik saja maka Pendekar Rambut Emas tenang meskipun hatinya tersinggung oleh kekasaran Hu-taihiap, tak tahu akan gosokan atau laporan orang kepada jago pedang itu.

"Hu-taihiap," Pendekar Rambut Emas menekan kemarahan. "Memang benar puterimu bersamaku. Tapi aku tak merasa menggaet atau merayunya. Tuduhanmu terlampau kasar, bagaimana kau menyatakan ini?"

“Tapi berbulan-bulan kau melakukan perjalanan bersama, bukan? Kau dan anakku, ah...! Hu Beng Kui mau menerjang lagi, maju dan membentak namun Kim-mou-eng cepat mengulapkan lengan. Dengan cepat Pendekar Rambut Emas ini menggoyang-goyang tangannya, dan ketika jago pedang itu tampak mendelik maka Kim-mou-eng berseru,

"Nanti dulu, Swat Lian memang bersamaku akhir-akhir ini, Hu-taihiap. Tapi kami berdua melakukan perjalanan untuk mencari dua muridmu itu, Hauw Kam dan Gwan Beng. Kami....”

"Kau hendak menggaetnya sebagai isteri, bukan? Kau menjatuhkan hati anak perempuanku dan ada maksud maksud tertentu?" jago pedang itu membentak, memotong. "Kau memang siluman dan pemuda keparat. Kim-mou-eng. Aku tak mau bicara lagi dan kau kubunuh... wut!" tamparan maut dilancarkan jago pedang itu, menghantam dan Kim-mou-eng berjungkir balik menghindari serangan ini. Lawan tampak beringas dan marah sekali, Kim-mou eng mau bicara tapi jago pedang itu sudah menggeram dan berkelebat maju. Dan ketika pukulan atau tamparan bertubi- tubi mengejar Pendekar Rambut Emas dan semuanya, bercuitan atau menderu meledak menghantam pendekar ini maka Kim-mou-eng sibuk dan berteriak teriak.

"He, tahan. Nanti dulu, Hu-taihiap. Nanti dulu...!"

"Tak ada nanti dulu. Kau mampus, Kim-mou-eng. Dan kuhajar kau... .des-dess!" dan salju yang kembali berhamburan dihantam jago pedang itu akhirnya membuat Pendekar Rambut Emas berlompatan dan bingung. Bingung dan marah tapi juga gelisah. Jago pedang ini adalah ayah Swat Lian, bakal mertuanya! Dan ketika dia meleng dan lengah sedikit maka sebuah tamparan mengenai pundaknya dan secepat kilat pemuda ini mengerahkan sinkangnya, melindungi diri.

"Plak!" Kim-mou-eng terguling-guling. Betapapun tamparan itu adalah tamparan maut, Hu Beng Kui adalah seorang jago di mana kekuatannya tak perlu diragukan lagi. Bahkan jago tua itu adalah bengcu, pemimpin dunia persilatan. Dan ketika Kim-mou-eng mengeluh dan terguling-guling namun dapat bangun lagi maka Hu-taihiap terbelalak dan melotot.

"Kau belum mampus? Kurang kuat pukulan ku? Baik, terima ini, Kim-mou-eng, dan rasakan...dess!"

Kim-mou-eng menerima sebuah pukulan lagi. Hu Beng Kui berkelebat dan Pendekar Rambut Emas itu terbanting. Tadi dalam kebingungan dan gugupnya dia lagi-lagi lambat berkelit. Untunglah, daya tahan tubuhnya sudah sedemikian luar biasa dan sinkangnya bergerak melindungi daerah yang dipukul, tamparan Hu Beng Kui terpental dan jago pedang itu kaget melihat tubuh Kim-mou-eng seperti karet, pukulannya mental dan Kim-mou-eng tampak terhuyung-huyung bangun lagi. Dan ketika jago pedang itu menggeram dan berkelebatan menghujani pukulan tiba-tiba.

Kim-mou-eng mengelak dan berloncatan menghindari pukulannya itu, kian lama kian cepat dan akhirnya jago pedang ini mendelik. Apa boleh buat, dia mengeluarkan Jing-sian-engnya dan lenyaplah tubuh jago tua ini dalam Bayangan Seribu Dewanya. Dulu dengan ilmu meringankan tubuhnya itu Kim-mou-eng dibuat bulan-bulanan pukulannya. Tapi ketika Kim-mou-eng mengeluarkan seruan keras dan Pendekar Rambut Emas itu menjejakkan kedua kakinya tiba-tiba, seperti siluman saja tubuh lawannya ini beterbangan mengikuti gerakannya.

"Keparat!" Hu Beng. Kui terkejut. "Kau mau pamer kepandaianmu, Kim-mou-eng? Kau berani melawan aku? Bagus, coba ini... dar-darr!" dan Hu Beng kui yang mengeluarkan pukulan Khi-bal Sin-kangnya dan meledak menyambar pendekar itu akhirnya membuat Kim-mou-eng mengeluh dan mempercepat gerakannya, menghindari pukulan-pukulan berikut dan Puncak Mutiara tiba-tiba gaduh.

Pukulan atau tamparan Hu Beng Kui yang luput selalu menghajar apa saja, mulai dari pohon-pohon sampai batu dan tanah. Tak lama kemudian disusul angin ribut dan bunyi bercuitan atau menggelegar, jago pedang ini marah sekali karena Kim-mou-eng selalu lolos, berhasil menyelamatkan dirinya. Dan ketika pendekar itu membentak dan Kim-mou-eng dibuat kewalahan akhirnya sebuah pukulan Khi-bal Sin-kang mengenai tengkuknya dan Pendekar Rambut Emas ini terbanting.

"Dess!" Kim-mou-eng bangun lagi. Hu Beng Kui terbelalak dan tertegun, mata berkilat dan tiba-tiba ia pun kaget bukan main. Pukulannya tadi. Khi-bal Sin-kangnya itu, bukan sembarang pukulan melainkan pukulan yang nenek Naga Bumi pun tak kuat menahan. Mereka itu selalu menjerit dan biasanya melarikan diri, Enam Iblis Dunia tak ada yang tahan dan ditambah Jing-sian-eng mereka pasti dihajar jatuh bangun.

Tapi bahwa Pendekar Rambut Emas itu dapat bangkit lagi dan tak tampak tanda-tanda kesakitan kecuali meringis menahan pedih maka Hu Beng Kui terbeliak dan membentak lagi, kaget dan marah karena dulu Kim-mou-eng itu roboh hanya dalam beberapa jurus saja. Kini dibuktikannya lagi dan dilampiaskannya rasa penasarannya dengan berkelebatan dan melepas khi-bal Sin-kang. Enam tujuh kali pukulannya itu mengenai telak tapi Kim-mou-eng selalu bangkit terhuyung, Khi-bal-sin-kang bertemu semacam tenaga karet yang menolak pukulan-pukulannya itu, padahal biasanya itulah sifat dari Khi bal-sin-kang yang dia punyai.

Jadi, Kim-mou-eng seolah memiliki "saudara kembarnya" atau mungkin Pendekar Rambut Emas itu telah meminta kepada Swat Lian untuk mempelajari Khi-bal-sinkang. Jadi, Kim-mou-eng dituduh mencuri ilmunya lewat puteri nya. Dan begitu jago pedang ini mempunyai dugaan begitu dan tentu saja kemarahannya naik sampai ke ubun-ubun tiba-tiba pendekar ini mencabut pedangnya dan melengking menusuk lawannya, berkelebatan dengan Jing-sian-eng sementara pedang bergerak-gerak dengan ilmu pedang Giam-lo Kiam-sut (Ilmu Pedang Maut). Dan karena tenaga yang dipergunakan dalam menggerakkan pedang adalah Khi-bal sin-kang maka kecepatan dan daya serang itu sungguh dahsyat.

“Sing-crat!" Baju Kim-mou-eng tahu-tahu sobek. Dalam kemarahan dan sengitnya tiba-tiba Hu Beng Kui ingin membunuh lawan secepat mungkin, tubuhnya menyambar-nyambar dan sudah tak dapat diikuti mata lagi. Gerakan pedangnya mendesing, dan mengaung, dari jauh saja sudah mampu membabat benda-benda sedekat sepuluh tombak. Dan karena Kim-mou-eng mendapatkan bahaya dan calon mertuanya ini seakan iblis pembunuh maka apa boleh buat tiba-tiba Kim-mou-eng mencabut pit-nya ( alat tulis ) di tangan kanan dan dengan tangan kiri ia mengeluarkan Lu-ciang-hoat, ilmu barunya itu.

"Klap-darr!"

Hu Beng Kui tertegun. Kim-mou-eng, yang dulu dihajarnya dan jatuh bangun itu mendadak kini mampu melayaninya. Mula-mula mampu mengimbangi Jing-sian-engnya dan entah dari mana pemuda itu mendapatkan ginkang seluar biasa itu. Hu Bengku tak tahu bahwa itulah Cui-sian Ginkang (Ginkang Pengejar Dewa). Dan ketika dalam gebrak-gebrak berikut Pendekar Rambut Emas itu mampu menerima Khi-bal-sin-kang nya dan kini dengan pit di tangan kanan dan pukulan aneh di tangan kiri anak muda itu mampu menghadapi dan menolak pedangnya.

Maka Hu Beng kui dibuat mendelik namun juga terkejut, akhirnya menambah kecepatan dan serangan dan jago pedang ini pun, terbelalaklah. Dari tangan kiri kim-mou-eng itu muncul cahaya terang yang berkeredepan menangkis pedangnya, kian lama kian terang dan jago pedang ini akhirnya silau. Terkejut dan sadarlah jago pedang itu bahwa lawan sudah bukan seperti dulu lagi. Kim-mou-eng agaknya mendapat tambahan ilmunya dari Bu-beng Sian-su!

Dan ketika jago tua itu memekik dan membentak panjang akhirnya pedang bergulung-gulung dan sambar-menyambar dalam kilatan cahaya yang tak dapat diikuti mata lagi, berkelebatan dan bertemu dengan pit di tangan lawan dan mulailah terdengar suara "crang-cring" yang merdu. Mula-mula enak didengar tapi kian lama kian menyakitkan telinga, asap dan bunga api berpijar dan Hu Beng kui marah bukan main.

Dan ketika jago pedang itu mengeluarkan semua kepandaiannya sementara Kim-mou-eng terpaksa mengimbangi dan gagal membujuk menghentikan lawan maka Lu-Ciang-hoat, pukulan-pukulan bercahaya terang itu berobah menjadi sinar menyilaukan yang menerangi bukit, kian lama kian terang dan Puncak Mutiara pun berpendar-pendar, terang-benderang dan orang akan takjub memandang pertandingan itu.

Kini dua orang yang bertempur sudah tak nampak bayangannya lagi dan baik Hu-taihiap maupun Kim-mou eng sama-sama lenyap dalam ilmu meringankan tubuh mereka yang luar biasa. Yang satu mempergunakan Jing-sian-eng (Bayangan Seribu Dewa) sedang yang lain mempergunakan Cui-sian Ginkang (Ginkang Pengejar Dewa), entah mana yang lebih hebat. Dan ketika keduanya bentak-membentak dan suara mereka merontokan dinding-dinding salju maka Puncak Mutiara mulai bergetar dan salju yang menempel di atasnya akhirnya berguguran!

"Hu-taihiap, berhenti. Hentikan ini, jangan menyerang!"

"Keparat, siapa mau berhenti kalau kau memamerkan kepandaianmu? Kau rupanya mendapat ilmu baru, Kim-mon-eng. Dan pantas kalau kau berani terhadapku!"

"Ah, kenapa begini? Tahan, hentikan pukulanmu, Hu-taihiap. Dan simpan pedangmu itu kalau tak ingin celaka!"

"Ha-ha, kau dapat mencelakai aku? Cobalah, tak kusimpan pedangku sebelum menghirup darahmu, Kim-mou-eng. Hayo kita teruskan pertandingan dulu dan lihat siapa yang roboh...sing..crat!" pedang di tangan si jago pedang menukik turun, membabat namun hanya berhasil memapas rambut. Ini saja sudah mengejutkan Kim-mou-eng dan Pendekar Rambut Emas itu marah.

Sebetulnya, dalam gebrak-gebrak cepat ini dia belum sepenuh hati melayani lawan, artinya membalas atau melancarkan serangan serangan berbahaya. Tapi karena jago pedang itu tampak bersungguh sungguh dan setiap tusukannya atau bacokannya selalu mengarah jiwa dan tak kenal ampun maka Pendekar Rambut Emas menjadi marah dan tak senang juga, dua kali terbabat ujung lengan baju nya dan dia membentak. Hu Beng Kui kalau diberi hati selamanya malah merajalela, jago pedang itu tak mau mengalah.

Maka ketika pedang kembali menyambar dan Lu-ciang-hoat menahan serangan pedang tiba-tiba dengan gerakan luar biasa pit di tangan Pendekar Rambut Emas menotok pergelangan tangan lawan, dielak tapi Kim-mou-eng mengejar. Pergelangan Hu-taihiap adalah satu satunya tempat di mana dia dapat menghentikan serangan pedang. si jago buntung itu terlalu hebat dengan permainan pedangnya yang luar biasa. Tapi ketika lawan kembali mengelak dan apa boleh buat tangan kiri terpaksa bergerak maka Kim-mou-eng sudah menjepit dan mengunci gerakan pedang.

"Trik-bret!"

Hu Beng Kui terkuak ujung bajunya. Tadi dalam gerakan cepat Kim-mou-eng melakukan tipuan. Pit mendongak ke atas tapi tiba-tiba meluncur turun, yang diincar adalah pergelangan lawannya dan Hu Beng Kui melotot. Tiga kali terus-menerus Kim-mou-eng memburu pergelangannya. Maka ketika dia menggerakkan pedang ke bawah dan pit bertemu pedangnya tiba-tiba secara menggelincir pit di tangan Kim-mou-eng itu menyelinap dan sudah menotok jalan darah di pergelangannya, untung secepat kilat pergelangan ditekuk dan ujung baju menjadi korban. Hu Beng Kui memaki-maki dan menerjang lawannya itu. Dan ketika mereka kembali bertanding dan jago pedang ini melihat betapa hebat dan lihainya Kim-mou-eng maka Hu Beng Kui mengerutkan kening dan tiba-tiba timbul pikiran buruk.

Saat itu, Hu Beng Kui sudah merasa dapat malang-melintang di dunia kang-ouw. Cam-kong (Pembunuh Petir) dan kawan-kawannya tak usah dia takuti dan lagi justeru Enam Iblis Dunia itu gentar kepadanya. Ini bukan lain karena Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng nya. Maka begitu Kim-mou-eng menghadapinya dan Pendekar Rambut Emas yang dulu dihajarnya jatuh bangun ini sanggup dan mampu menahan Khi-bal-sin-kang dan bahkan mengimbangi Jing-sian-engnya tak ayal jago pedang ini merasa cemas dan khawatir, diam-diam kecut dan memaki Bu-beng Sian-su. Kakek dewa itulah yang menjadi sumbernya, dia bisa jatuh dan kehilangan pamornya kalau tak dapat merobohkan Kim-mou-eng.

Tapi karena Kim-mou-eng demikian hebat dan kini pedangnya berhadapan dengan pukulan-pukulan Lu-ciang-hoat dan di samping itu lawan yang utuh kedua lengannya masih mempergunakan pit-nya pula maka Hu Beng Kui gelisah dan mulai melihat bahwa dia kalah napas. Kim-mou-eng, yang masih muda dan segar ternyata memiliki kelebihan daya tahan. Stamina pemuda itu nyata lebih bagus darinya, yang sudah mulai uzur dan dimakan usia.

Dan ketika benar saja napasnya mulai memburu sementara Kim-mou-eng enak-enak saja maka jago pedang ini mulai pucat dan mendelik, melihat bahwa dalam soal napas dia payah. Kim-mou-eng masih segar dan justeru semakin kuat, kepandaian sebetulnya berimbang tapi perbedaan usia membuat perbedaan tenaga, daya tahan. Dan ketika Pendekar Rambut Emas itu tenang-tenang saja sementara dia terengah dan memburu hebat maka Hu Beng Kui memaki dan membentak gusar,

"Kim-mou-eng, kau jahanam keparat. Awas kau. kubunuh nanti!"

"Hm, tak usah meradang, Hu-taihiap. Kau tak dapat membunuhku tapi aku juga belum dapat merobohkan dirimu."

"Cet-cet!" tiga sinar hitam tiba-tiba menyambar. "Kau atau aku yang binasa, Kim-mou-eng Coba terima jarum-jarum rahasiaku ini dan mampuslah!"

Kim-mou-eng terkejut. Biasanya, jago pedang ini tak pernah dilihatnya mempergunakan am-gi (senjata gelap). Baru kali itulah dilihatnya dan betapa serangan ini menunjukkan kemarahan Hu Beng Kui yang sangat, yang membuat Kim-mou-eng mengelak dan pit-nya bergerak mementalkan jarum-jarum hitam itu. Tapi ketika dia menggerakkan pit di tangan kanannya dan meruntuhkan jarum sekonyong-konyong dari mulut Hu-taihiap juga menyambar puluhan jarum lain disusul "bacokan pedangnya yang bergerak bagai elang menyambar.

"Hu-taihiap....!"

Seruan itu percuma. Hu Beng Kui tertawa bergelak melepas puluhan jarum-jarum hitamnya, tidak beracun tapi tentu saja ini mengagetkan Kim-mou-eng. Pendekar itu tak menyangka karena perbuatan ini bisa dianggap curang. Hu Beng Kui, seorang jago kenamaan sampai mengeluarkan am-gi, senjata gelap! Dan ketika dia berjungkir balik dan cepat seperti baling-baling dia memutar pit menangkis jarum dan pedang mendadak kaki Hu Beng Kui melesat dan melakukan tendangan Khi-bal-sin-kang.

"Dess!" Kim--mou-eng mencelat sepuluh tombak. Pendekar Rambut Emas itu terkejut berseru keras, Hu Beng kui berkelebat dengan satu tikaman miring mengejar. Tawanya semakin menggetarkan bukit dan tiba-tiba jago pedang itu melakukan serangan maut, pedang dilepas dan meluncur lurus ke dada Kim-mou-eng. Dan ketika Kim-mou-eng terkesiap dan berseru kaget maka Hu Beng kui menghantam dan lengan kanannya mendorong di belakang pedang menuju leher Kim-mou-eng, sekuat tenaga.

"Krak dess! Kim-mou-eng melakukan tindakan balasan. Dalam saat yang begitu cepat dan berbahaya tiba-tiba pendekar ini melepaskan pitnya, menimpuk menyambut sambaran pedang yang sudah tak mungkin dielaknya lagi. Dan ketika Hu Beng Kui menyusul dan berkelebat dengan dorongan tangannya maka Lu-ciang-hoat bertemu Khi-bal-sin-kang dan Puncak Mutiara di mana mereka bertempur tiba-tiba meledak dan pecah, runtuh ke bawah.

“Blang!"

Hebat sekali yang terjadi itu. Hu Beng Kui dan Kim-mou-eng tiba-tiba mendapat serangan batu dan bola-bola salju yang berguguran, mereka tadi mengeluh dan terlempar ke kiri kanan, pedang dan pit patah dan hancur. Dan ketika mereka terbanting dan bergulingan mendapat serangan bola-bola salju atau batu yang berguguran maka dari belakang dan depan tiba-tiba terdengar tawa dan kekeh serta berkelebatnya enam bayangan.

"Hi-hik, Hu Beng Kui mendapat lawan setanding, Cam-kong. Dan napasnya memburu hebat!"

“Benar, dan Kim-mou-eng ini luar biasa sekali, Naga Bumi. Rupanya Sian-su menurunkan ilmu baru!"

Hu Beng Kui dan Kim-mou-eng terkejut. Dalam bergulingan itu mereka tiba-tiba melihat munculnya Enam Iblis Dunia, Cam-kong (Pembunuh Petir) dan kawan-kawannya. Dan ketika mereka tersentak dan kaget mendorong atau mengibas batu-batu yang berjatuhan mendadak enam orang itu menggerakkan tangan dan senjata-senjata kecil baik pisau atau garpu bersuitan menyerang mereka.

"Ahhh...!" Kim-mou-eng dan jago pedang itu melengking panjang. Dengan gerakan mereka yang luar biasa dan mengagumkan tiba-tiba dua orang itu menekan tanah, mumbul dan melenting menghindari senjata-senjata gelap itu. Jumlahnya tidak puluhan melainkan ratusan, jarum-jarum halus juga menyambar seperti halnya tadi pendekar pedang itu menyerang Kim-mou-eng. Tapi karena senjata demikian banyak dan tak mungkin mereka lolos begitu saja maka Hu Beng Kun membuka mulutnya sementara Kim-mou-eng juga melakukan hal yang sama, meniup.

"Wushh....!"

Semua senjata rahasia itu runtuh. Ada beberapa di antaranya yang mengenai mereka, tapi karena Hu Beng Kui maupun Kim-mou-eng mengerahkan sinkang mereka melindungi tubuh maka senjata-senjata rahasia itu melekat dan tidak sampai menembus baju, diusap dan jarum atau garpu-garpu kecil itu pun rontok. Dua orang itu melayang turun dan sudah berdiri tegak di tengah. Dan ketika Hu Beng Kui terbelalak dan terengah menahan napasnya yang memburu maka Naga Bumi, nenek yang terkekeh di depan itu mengajak teman-temannya mengepung Pendekar Rambut Emas.

"Hi-hik, mari kawan-kawan, kita bantu Hu-taihiap!"

Hu Beng Kui tertegun. Kim-mou-eng yang tadi telah bertanding mati-matian dengannya tahu-tahu telah dikurung Enam Iblis Dunia. Cam-kong dan teman-temannya maju merapat. Hu Beng Kui sendiri otomatis di luar kepungan, enam iblis itu mengepung Kim-mou-eng dan Hu Beng Kui lega. Betapapun, dia harus mengatur napasnya! Dan ketika Kim-mou-eng terkejut dan memandang terbelalak maka lawan telah berganti dan Hu-taihiap tersenyum mengejek di luar sana.

“Kim-mou-eng, kau ternyata hebat. Sepasang Dewi Naga berkata kepada kami bahwa kau memiliki Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang, Benarkah?"

Naga Bumi. nenek yang terkekeh itu bertanya. Nenek ini bersinar-sinar dan lima yang lain juga memandang Kim-mou-eng, pandangannya tajam dan dingin, semuanya rata-rata mengeluarkan ancaman yang tak disembunyikan lagi. Dan ketika Kim-mou-eng tak menjawab karena enggan dia menjawab mendadak Tok-ong, yang tinggi besar dan menyeramkan itu menggeram,

"Heh, untuk apa bertanya lagi, nenek siluman? Serang dan bunuh dia.....wut!" dan jari Tok-ong yang menyambar dan sudah mencengkeram dada Kim-mou-eng tiba-tiba dielak dan ditangkis pendekar ini, yang waspada terhadap serangan lain.

“Dukk!"

Tok-ong mencelat. Kakek iblis itu, yang berteriak dan terpental ke belakang mengejutkan kawan-kawannya. Mereka melihat sinar putih berkelebat dan berkilauan dari tangan Kim-mou-eng dan tahu-tahu teman mereka itu terpental. Dan ketika Tok-ong memaki-maki dan bangun mau menyerang lagi maka Toa-ci, yang ada di situ berseru,

"Awas, itu Lu-ciang-hoat!”

Semua terbelalak. Cam-kong mengeluarkan suara aneh dari hidung, dan Hek-bong Siauwjin yang meringkik dan tiba-tiba menggaruk kaki kanannya mendadak mendesis, "Itu Lu-ciang-hoat? Bu-beng Sian-su si keparat itu mewariskan ilmu barunya pada bocah ini?"

"Ya, hati-hati, Siauwjin. Kami berdua terus terang kalah!"

"Ha-ha!" setan cebol ini tiba-tiba tertawa. "Kalau begitu tak perlu tunggu waktu lagi, Toa-ci. Hayo serang dan bunuh dia.....wut!" dan Hek-bong Siauw-jin yang melejit dan langsung menggerakkan tangan ke kemaluan Kim-mou-eng tiba-tiba membetot dan mau menarik barang rahasia yang dipunyai Kim-mou-eng ini, ditendang dan Siauw-jin terbahak tapi sudah berputar lagi, ke kiri dan tahu-tahu sabitnya menyambar. Entah dari mana dia sudah mencabut senjatanya yang mengerikan itu, padahal sebelumnya tak terlihat iblis itu membawa senjata.

Dan ketika sabit bercuit di atas kepala dan luput tak mengenai sasaran maka nenek Naga Bumi sudah menjeletarkan rambut dan berkelebat menyerang Pendekar Rambut Emas ini, disusul empat temannya yang lain dan berturut turut Cam-kong Ho Hong Siu dan Tok-ong serta Dewi Naga menyerang. Cepat dan bertubi-tubi mereka itu sudah menghujani Kim-mou-eng, rambut dan sabit bercuitan sambar-menyambar dan Toa-ci serta Ji-moi merasa mendapat kesempatan untuk membalas dendam.

Dulu mereka kalah dengan Pendekar Rambut Emas ini, kini saatnya membuat perhitungan dan nenek itu melengking Dan ketika semua senjata melecut dan tamparan atau pukulan juga menderu dari enam penjuru maka Kim-mou-eng membentak mengeluarkan Luciang-hoatnya, juga Cui-sian Ginkang untuk mengelak atau menghindar.

"Des-des-plak!" Enam orang itu terpekik. Cam-kong dan kawan-kawannya terpental, maju lagi dan membentak dan segera mereka menyerang berganti-ganti. Pukulan Lu-ciang-hoat tadi membuat mereka terbelalak dan marah, lengan masing-masing tergetar dan Toa-ci serta Ji-moi penasaran.

Dikeroyok enam tetap saja Pendekar Rambut Emas itu hebat! Dan ketika mereka melengking dan marah mencabut sendok garpunya maka Mo-seng-ciang (Pukulan Bintang Iblis), menyambar dari lengan Sepasang Dewi Naga ini menghantam Kim-mou-eng, dielak dan Kim-mou-eng segera dikejar pukulan pukulan lain, kebutan atau desingan sabit yang bercuitan mendirikan bulu roma. Segera susul-menyusul dan hujan serangan berhamburan ke tubuh Pendekar Rambut Emas itu. Tak ada jalan kecuali menangkis atau mengelak. Dan ketika Enam Iblis Dunia mengerahkan ginkang dan lenyap berkelebatan menyerang pendekar itu maka Kim-mou-eng mengerahkan Cui-sian Ginkang dan lenyap pula mengikuti gerakan lawannya.

"Keparat, bocah ini lihai. Awas, jaga kepungan!”

Cam-kong dan lain-lain terbelalak. Mereka tadi mendengar suara pertempuran antara Hu Beng Kui dengan Pendekar Rambut Emas, kebetulan berkumpul karena Toa-ci dan Ji-moi melaporkan lihainya Kim-mou-eng. Betapa pendekar muda itu sekarang dapat mengalahkan dua Dewi Naga itu dan mereka pun terkejut. Cam-kong tinggal di Himalaya dan Kim-mou-eng menemukan jejak dua nenek itu, dikejar dan akhirnya bertemu Hu Beng Kui.

Dan karena Hu-taihiap menyerangnya dan jago pedang itu telah bertanding menguras tenaga maka Kim-mou-eng mengerutkan kening melihat datangnya Enam Iblis Dunia ini, tak tahu kalau di samping Toa-ci dan Ji-moi ternyata juga muncul yang lain-lain, Enam Iblis Dunia lengkap mengeroyoknya. Dan ketika mereka berkelebatan dan Kim-mou-eng mempergunakan kaki tangannya menangkis atau berlompatan maka seperti burung srikatan atau rajawali menyambar-nyambar Pendekar Rambut Emas ini mengelak atau menghindari serangan serangan lawan.

"Plak-dukk!"

Suara itu kian sering terdengar. Tak ada waktu bagi Kim-mou-eng untuk mengelak saja, lawan, semakin beringas dan sabit di tangan Hek-bong Siauwjin sudah dua kali membacok tubuhnya, mental dan iblis cebol itu berteriak tertahan. Sabitnya bertemu tubuh yang seperti karet, lawan, melindungi dirinya dengan sinkang dan Hek-bong, Siauwjin penasaran. Tentu saja dia marah dan memaki-maki. Dan ketika Tok-ong juga menggeram melepas pukulannya sementara di samping kiri Cam-kong Juga melepas tamparan panasnya maka Kim-mou eng menangkis dan menggerakkan lengan ke kiri kanan.

"Plak-dukk!

Suara ini menggetarkan. Hu Beng Kui terbelalak melihat betapa Kim-mou-eng mementalkan tiga orang lawannya sekaligus, Cam-kong dan Tok-ong terpelanting, sabit di tangan Hek-bong Siauw-jin bahkan membalik mengenai kepalanya. sendiri. Untunglah, kakek cebol itu tidak terluka. Dan ketika pertandingan kembali berlanjut dan nenek Naga Bumi mulai menyerang dari belakang maka nenek itu berseru agar Toa-ci atau Ji-moi membantunya pula dari belakang.

"Yang laki-laki biar di depan, kita perempuan disini!"

"Hm!" Kim-mou-eng mendengus. "Kalian curang, nenek iblis. Tapi aku akan melayani dan merobohkan kalian!"

"Tar-tar!" sang nenek meledakkan rambut. Kau besar mulut, Kim-mou-eng. Tapi coba buktikan kata-katamu!" dan mereka yang kembali berkelebatan dan menusuk atau menghantam kini meniup pula mantera-mantera hitam, membentak dan melengking dan Kim-mou-eng terkejut. Cam-kong perlahan-lahan terbungkus uap hitam, lalu Tok-ong dan lain-lain juga begitu. Dan ketika mereka akhirnya merupakan bayang-bayang gelap yang terkekeh, dan menyerang dari balik asap hitam akhirnya Kim-mou-eng terdesak dan kebingungan.

“Heh heh, ayo, Kim-mou-eng. Coba serang, dan robohkan kami!"

"Benar, coba temukan kami, Kim-mou-eng. Atau kau mampus mendapat pukulan-pukulan kami!"

Pendekar Rambut Emas berubah mukanya, Tadi bertempur melawan Hu taihiap tak ada mantra hitam atau guna-guna begini. Hu-taihiap sebagai seorang pendekar memang tak mempunyai ilmu-ilmu s├ęsat. Maka begitu enam iblis itu mempergunakan ilmu hitamnya dan mereka dapat menyerang berlindung di balik ilmu hitamnya maka Pendekar Rambut Emas bingung dan gelisah, mulai mendapat pukulan-pukulan dan Cam-kong serta lima kawannya tertawa-tawa. Mereka merasa lucu melihat keadaan Pendekar Rambut Emas itu, berkali kali pendekar ini terbuyung atau terpelanting. Tapi ketika pendekar itu bangun lagi dan pukulan atau serangan mereka seolah tak dirasakan lawannya maka Cam kong terheran dan nenek Naga Bumi mengumpat.

"Keparat, bocah ini luar biasa. Dia kebal!"

"Hm, mungkin pukulan kita kurang keras, nenek siluman. Coba saja dan tambah pukulannya!"

Kim-mou-eng kewalahan. Suara bak-bik-buk mulai mendarat di tubuhnya, dia tak dapat menyerang lawan karena lawan bersembunyi di balik ilmu hitamnya. Hu Beng Kui tiba-tiba tersenyum dan mengangguk-angguk. Biarlah begitu, biar Kim-mou-eng mampus! Dan ketika Pendekar Rambut Emas kewalahan dan berkali kali mendapat pukulan maka Kim-mou-eng tiba-tiba membentak dan melepas bajunya, secepat kilat menangkis pukulan Naga Bumi yang ada di sebelah kirinya, meledak dan asap itu pun tiba-tiba buyar. Dan, ketika nenek itu kaget karena sambaran angin pukulan Kim-mou-eng membuyarkan asap hitamnya hingga dia terlihat maka pendekar itu berkelebat dan Lui-ciang-hoat menyambar dari lengan kiri Pendekar Rambut Emas ini.

“Blang!" Nenek Naga Bumi menjerit. Dia mau menangkis tapi silau, lu-ciang-hoat mengenai pundaknya dan kontan nenek itu terpelanting. Dan ketika Kim-mou-eng mengetahui caranya dan menjadi girang maka berturut turut pendekar itu mengebut dan membuyarkan asap hitam dari lima lawannya yang lain, tangan kiri bergerak dan Lu ciang-hoat menghajar mereka. Baik Cam-kong maupun yang lain kaget, mereka tak dapat bersembunyi lagi di balik asap hitam itu. Kim-mou-eng membuyarkannya dengan kebutan bajunya, yang dikibas mirip bendera Dan ketika enam iblis itu jungkir balik dan menjerit dihantam Lu-ciang-hoat maka Kim-mou-eng di atas angin dan sekarang dialah yang mendesak.

"Ha-ha, kalian tak dapat bersembunyi lagi, nenek siluman. Hayo coba lakukan itu dan biar aku membuyarkannya dengan kebutan bajuku ini!"

Hu Beng Kui tertegun. Jago pedang ini terbelalak, diam-diam mengumpat dan mencaci Kim-mou-eng karena cara itu memang tepat. Dulu dia sendiri juga harus melepas bajunya dan mengusir asap hitam yang melindungi Enam Iblis Dunia itu, buyar dan mereka akhirnya kalah. Khi bal-sin kang membuat mereka jatuh bangun dan kini Lui-ciang-hoat memperlihatkan kehebatannya. Ilmu pukulan itu tak kalah dengan Khi-bal-sinkang dan Hu Beng Kui menggeram. Kalau begini naga-naganya Kim mou-eng tak dapat dikalahkan Enam Iblis Dunia itu. Dan ketika benar saja Kim-mou-eng mulai berkelebatan dan membagi-bagi pukulan Luciang hoatnya akhirnya enam orang itu berteriak-teriak karena mereka tak tahan oleh silaunya pukulan itu yang luar biasa.

"Aduh, keparat kau, Kim-mou-eng. Jahanam!”

"Benar, bocah ini jahanam terkutuk. Satukan kekuatan ilmu hitam kita dan semua menghilang!" Tok-ong tiba-tiba berseru, meledakkan ke dua tangannya dan asap atau awan hitam tiba-tiba bergulung di puncak Himalaya, menyambar dan turun melindungi enam orang itu. Dan ketika Tok-ong dan lima temannya lenyap di balik awan raksasa ini tiba-tiba Tok-ong tertawa bergelak dan Cam-kong serta lain-lainnya disuruh melakukan pukulan sihir.

"Lepaskan api, juga hujan!"

Kim-mou-eng terkejut. Tadi dia sudah bergirang hati karena dapat mendesak lawan, nenek Naga Bumi dapat didesak dan lain lain juga terdesak, merasa kemenangan sudah akan diraihnya dan tak lama kemudian dia akan merobohkan Enam Iblis Dunia itu. Tapi ketika Tok-ong berseru pada teman temannya agar mereka menyatukan ilmu hitam dan puncak Himalaya tiba-tiba bergemuruh dan api serta hujan meledak di angkasa.

Maka Kim-mou-eng tersentak dan pucat melihat datangnya api dan air berbareng, hal yang tak masuk akal karena biasanya dua elemen itu tak pernah bersatu. Api tak mungkin menang menghadapi air, bakal padam. Tapi karena semuanya itu adalah ciptaan sihir dan api dan air disatu kan untuk menyerang Kim-mou-eng maka Pendekar Rambut Emas itu kelabakan ketika dari langit muncul pula sinar petir menghantam tubuhnya.

"Dar-darr!"

Pendekar Rambut Emas terpelanting. Musuh terbahak-bahak di dalam sana, lagi untuk kedua, kalinya kim mou eng kebingungan. Sekarang menyatukan ilmu hitam Enam Iblis Dunia itu sungguh dahsyat, tidak seperti tadi ketika mereka sendiri sendiri, masing-masing mengerahkan ilmu hitamnya. Dan ketika api dan air serta angin ribut juga bergulung-gulung menghantam dan menerjang pemuda itu maka Kim-mou-eng kewalahan dan jatuh bangun.

"Ha-ha, mampus kau, Kim-mou-eng. Mampus!"

Kim-mou-eng kelabakan. Dalam waktu yang begitu singkat tak dapat ditemukannya akal bagaimana menghadapi semuanya ini. Awan terlalu lebar dan mereka itu membentuk gulungan raksasa, tebal dan gelap. Pendekar Rambut Emas jatuh bangun tak keruan. Tapi ketika dia melengking marah dan berjungkir balik mengelak semua serangan itu tiba-tiba dari bawah bukit berkelebat bayangan Swat Lian, berteriak dan membalas lengkingannya.

"Kim-twako, siapa menyerangmu? Aih, nenek siluman itu dan teman-temannya kiranya? Jangan takut, aku datang, twako. Kita basmi dan hadapi mereka... blar-blar!"

Dan Swat Lian yang melepas Khi-bal-sin-kang menolak semua guntur dan api yang menyambar-nyambar tiba-tiba sudah berada di atas dan membantu Kim-mou-eng, membuat Cam-kong dan kawan-kawannya terkejut karena khi-bal-sin-kang Adalah pelumpuh ilmu hitam mereka. Sebagaimana diketahui Pukulan Bola Sakti ini adalah penolak setiap pukulan atau tenaga, semakin kuat lawan menyerang semakin kuat pula mereka tertolak. Itulah yang tak dapat mereka hadapi. Dan ketika Swat Lian melengking-lengking dan mempergunakan pula Jing-sian-engnya untuk berkelebatan mencari lawan akhirnya Cam-kong dan teman-temannya itu ditemukan dan dihajar.

"Des-des-deas!"

Sekarang Cam-kong dan teman-temannya menjerit. Mereka terlempar dan terbanting oleh pukulan Swat Lian, awan yang tergulung-gulung atau sihir yang mereka ciptakan musnah oleh Khi-bal sin-kang. Memang itulah satu-satunya pamungkas untuk menundukkan Enam Iblis Dunia, dengan inilah dulu Hu Beng Kui mengalahkan lawan. Dan karena Swat Lian telah mewarisi ilmu Itu dan Khi-bal-sin-kang merupakan penolak ampuh bagi semua pukulan Enam Iblis Dunia maka Cam-kong dan nenek Naga Bumi menjerit pada Hu Beng Kui.

"Hu-taihiap, kau tak mencegah anakmu? Kau tak berterima kasih bahwa sedikit banyak kami telah membantumu menghadapi Kim-mou-eng?"

Hu Beng Kui terkejut. Saat itu ia tertegun melihat bayangan puterinya, bentakannya dan akhirnya bantuannya kepada Kim-mou-eng. Enam Iblis Dunia dibuat jungkir balik oleh sepak terjang puterinya itu, tentu saja dia girang dan bangga. Tapi ketika Cam-kong dan nenek Naga Bumi berteriak padanya dan minta dia menghentikan puterinya tiba-tiba jago tua ini tertegun.

Sebenarnya, dia tadi siap menyerang Kim-mou-eng. Kini dilihatnya betapa Kim-mou-eng merupakan calon lawan yang berat sekali. Hajaran-hajaran dari Enam Iblis Dunia tak membuat Kim-mou-eng roboh. Pendekar Rambut Emas itu selalu bangkit lagi dan mengelak atau menangkis. Kekurangan Kiin-mou-eng adalah dia tak dapat membalas lawan yang bersembunyi dalam awan raksasa. Dan ketika Hu Beng Kui berpikir untuk menyerang Kim-mou-eng dan membantu enam iblis itu tiba-tiba puterinya muncul dan tentu saja dia mengurungkan niatnya. Untung hal itu belum dilakukan!

Dan ketika dia tertegun dan puterinya mengamuk dan menghajar Enam Iblis Dunia itu maka Kim-mou-eng, yang kini dapat bernapas lega dan melihat kembali lawannya tiba-tiba membentak dan melepas Lu-ciang-hoat menghajar lawan-lawannya itu bersama kekasihnya. "Bagus, kita basmi mereka, Lian-moi. Bunuh...!"