X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Sepasang Cermin Naga Jilid 11

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Episode Sepasang Cermin Naga Jilid 11 Karya Batara

SEPASANG CERMIN NAGA
JILID 11
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
"AH," Hek-eng Taihiap girang, tiba-tiba mengangguk. "Kalau sahabatmu mau tentu saja aku setuju, moi-moi. Benar sekali gagasanmu ini. Cobalah...!"

Namun, ketika Wan Hoa kembali ternyata wanita itu terisak, bahkan menubruk dan menangis di dada pendekar ini. "Gagal..." katanya. "Cao Cun tak mau. Beng-ko. Aku lupa bahwa dia di sini karena mengemban tugas negara!"

Hek-eng Taihiap tertegun. Memang dia tak tahu "misi” yang dijalankan istana. Bahwa Cao Cun dipasang untuk mengawasi sekaligus mengendalikan bangsa liar itu, sejak raja Hu masih hidup Dan Hek-eng Taihiap yang bengong melihat cinta-kenegaraan yang besar dari Cao Cun tiba-tiba mendecah dan kagum.

"Dia tak mau, bahkan marah-marah. Bukankah dia di situ untuk menjaga dan mengawasi bangsa liar ini? Aku lupa, Beng-ko. Aku lupa bahwa Cao Cun sedang mengemban tugas negara!"

Wan Hoa segera menceritakan perihal itu, bahwa Cao Cun telah berjanji kepada mendiang kaisar lama untuk mengawasi dan mengendalikan bangsa liar ini, agar mereka tidak berontak dan melawan istana. Cao Cun adalah "Srikandi" bangsa Han yang sedang bertugas, siap mengorbankan segala-galanya demi negara. Dan ketika Wan Hoa selesai dan Hek-eng Taihiap tertegun maka pendekar ini mendusin dan terkejut serta kagum.

"Ah, aku tak tahu, Wan Hoa. Dan puteranya telah menjadi muridku! Aduh, keturunan wanita patriot begini apakah pantas kudidik? Wan Hoa, aku merasa kecil berhadapan dengan sahabatmu itu. Ituchi rasanya terlalu tinggi menjadi muridku. Biarlah dia kujaga dan kulindungi dengan seluruh jiwa ragaku!" pendekar ini menggigil, memang tidak semua orang tahu akan tugas yang diemban Cao Cun.

Wanita itu telah berjasa besar mengendalikan bangsa liar ini, menundukkan rajanya tapi sayang pihak istana justeru tak memberi timbal balik yang sepadan. Cao Cun memang bernasib malang, meskipun sejarah telah mencatat namanya dengan tinta emas, batu ironi yang mengenaskan. Dan ketika pendekar itu terbelalak, dan kagum terhadap Cao Cun maka Wan Hoa menghapus air matanya melepaskan diri.

"Nah, semuanya sudah kuceritakan, koko. Dan kau tentu maklum akan perasaanku kepada Cao Cun. Dia wanita mulia yang besar jasanya terhadap negara, aku bukan apa-apa!"

"Ah, tidak," Hek-eng Taihiap terharu. "Kau juga mulia dan agung. Hoa-moi. Cintamu terhadap Cao Cun tak kalah besar dengan cinta wanita itu terhadap negara!"

"Hm, sudahlah. Sekarang kau kembali, koko. Kita... kita harus berpisah!"

Hek-eng Taihiap tertegun. Tiba-tiba dia memeluk dan mendekap kekasihnya kembali, bisikan dan kata-kata mesra berluncuran dari mulut pendekar ini. Dan ketika pendekar itu menggigil dan wan Hoa juga mengeluh maka pendekar itu bertanya, serak dan penuh iba,

"Hoa-moi, tak adakah kenang kenangan di antara kita? Haruskah kita berpisah begini-begini saja?"

"Maksudmu?"

Sang pendekar merah mukanya. "Aku... Aku..."

"Hm.." Wan Hoa dapat menebak. "Kau... kau mau minta yang itu, koko? Kau menghendakinya sekarang?"

Hek-eng Taihiap terkejut. "Aku... ah, maaf. Aku takut kita tak jumpa lagi, Wan Hoa. Entah kenapa perasaanku berdebar tak enak!"

Wan Hoa tertegun.

"Hoa-moi," pendekar ini sekarang menggigil. "Sebagai laki-laki yang mencinta dirimu alangkah inginnya aku agar secepat mungkin kita menjadi suami isteri. Aku takut, aku khawatir kalau kau jauh dariku. Bagaimana dirimu nanti di tempat itu? Aku bingung, moi-moi. Aku gelisah?"

Wan Hoa menangis. Sebagai wanita yang baru pertama ini jatuh cinta tentu saja berat baginya harus berpisah. Hek-eng taihiap ini adalah kekasih yang dapat dipercaya. Selama perjalanan tak pernah pendekar itu mengganggunya. Hek-eng Taihiap adalah laki-laki yang dapat menjaga diri dan kesuciannya. Tapi mendengar dan melihat sikap pendekar itu tiba-tiba Wan Hoa mengeluh dan berdebar, entah kenapa mendadak dia merasakan firasat yang sama. Agaknya, setelah ini mereka sulit berjumpa lagi. Kebimbangan besar tiba-tiba melanda wanita itu. Ada takut dan harap, ada cemas dan tegang. Dan ketika keduanya kembali berpelukan dan Hek-eng Taihiap menggigil dengan air mata basah tiba-tiba Wan Hoa mengguguk.

"Koko, lakukanlah. Aku pun juga ingin menyerahkan itu padamu!"

Hek-eng Taihiap tersentak. Sebagai laki-laki normal sebenarnya sebulan ini dia panas dingin bersama Wan Hoa. Bukan tidak diketahuinya kalau sang kekasih juga menahan-nahan keinginan, Wan Hoa berkali-kali memeluknya dan mendesah. Mereka berdua sebenarnya diamuk pula keinginan yang satu itu namun tetap bertahan, keduanya saling menjaga dan ingin melindungi yang lain.

Tapi ketika perasaan tak enak itu mengganggu mereka dan Wan Hoa menangis serta maklum apa yang diingini kekasihnya tiba-tiba wanita ini mengangguk dan siap menyerahkan itu, maklum, mereka sudah lebih dari dewasa dan Wan Hoa juga terhitung "perawan tua". Kebutuhan biologi itu cukup mendesaknya dan betapa inginnya wanita ini membangun rumah tangga segera dengan pendekar itu. Pria yang dipercaya dan amat dicintanya. Dan ketika Hek-eng Taihiap tertegun dan tersentak oleh pernyataan ini tiba-tiba pendekar itu meramkan mata dan gemetar.

"Hoa-moi, kau benar-benar mengerti firasatku?"

"Ya, aku tahu, Beng-ko. Dan aku juga tak enak!"

"Dan kau mau menyerahkan itu kepadaku?"

Wan Hoa tersedu sedu. "Beng-ko, bagaimanakah maumu?"

"Hm," pendekar ini mendadak mencengkram pundak kekasihnya, mengejutkan Wan Hoa. “Kau tahu ada kuil di sini?"

Wan Hoa tertegun, terbelalak.

"Aku menginginkan itu tapi secara baik-baik, moi-moi. Aku ingin menghargai dan menghormatimu sebagai kekasih yang agung. Aku ingin menikah, sekarang juga. Meresmikan hubungan kita dan biar kita buat semacam upacara sederhana di kuil! Kau tahu ada kuil di dekat dekat sini?"

"Ada..." Wan Hoa pucat dan merah berganti-ganti. "Tapi kuil kosong, koko, tak ada pendeta...."

"Tak apa. Kita nyalakan lilin, Hoa-moi. Kita adakan upacara darurat dan kita menikah. Aku ingin meninggalkan dirimu sebagai isteri Hek-eng Taihiap, mengikat resmi hubungan kita! Di mana kuil itu?"

"Di sana..."

Dan begitu Hek-eng Taihiap menyambar dan membawa terbang kekasihnya segera Wan Hoa di bawa ke tempat itu, mendapatkan sebuah kuil kosong dan di situ dua orang ini berlutut di depan altar. Mereka menyalakan lilin dan sembahyang, bersumpah dan berjanji bahwa sejak itu mereka resmi menjadi suami isteri. Keadaanlah yang menyebabkan mereka mengambil jalan pintas, tak mungkin ramai-ramai atau membuat acara di tengah-tengah suku bangsa liar itu. Bisa berbahaya!

Dan ketika keduanya selesai dan masing-masing sudah menyatakan setia sebagai suami isteri maka hari itu Wan Hoa menyerahkan dırinya kepada Hek-eng Taihiap, resmi sebagai suami isteri dengan Langit dan Bumi sebagai saksinya. Mengharukan Keduanya sudah seakan hidup sebatangkara saja, Wan Hoa sudah tak memiliki siapa-siapa lagi sejak masuk ke istana itu, kecuali Cao Cun.

Dan karena Pendekar Garuda Hitam ini juga seorang diri di dunia dan tak memiliki sanak atau kadang maka keduanya menikah dengan cara begitu sederhana. Situasi dan kondisi tak memungkinkan mereka banyak adat, bahkan ramai ramai atau melangsüngkan pernikahan di tengah suku bangsa liar itu bisa membahayakan keduanya, terutama Wan Hoa. Maka begitu keduanya resmi mengikat diri dan Wan Hoa telah selesai menjalankan kewajibannya maka Hek eng Taihiap melukai ibu jari menggoreskan darah di kening isterinya.

"Kini kau istriku, moi-moi. Segala apa yang terjadi kini kita pikul berdua!"

Wan Boa terisak. "Dan kau berhati-hatilah Beng-ko. Jaga dan lindungi baik-baik Ituchi."

"Tentu, dan aku juga akan menjagamu, moi-moi. Kalau ada apa-apa beri tahu padaku dan setiap bulan aku akan menengok!"

Keduanya berpisah. Wan Hoa telah mendapat tanda dari suaminya, kembali dan menemani Cao Cun. Tapi ketika Hek-eng Taihiap kembali dan hendak menemui Ituchi, ternyata anak laki-laki itu menghilang!

"Tuchi... Tuchi...!" Hek-eng Taihiap memanggil-manggil. "Di mana kau? Ke mana kau...?"

Tak ada jawaban. Hek-eng Taihiap gelisah dan tiba-tiba berteriak di seluruh hutan. Dia sekarang menyesal kenapa terlalu lama dia meninggalkan anak itu. Dan ketika suaranya menjadi serak dan pendekar ini menggigil serta pucat mendadak di atas kepalanya, tepat di pohon pek terdengar suara ah-uh-ah-uh dan Ituchi ternyata ada di sana.

"Heii...!" Hek-eng Taihiap girang, langsung meloncat. "Kenapa kau, Ituchi? Ada apa?" namun sang anak yang tiba-tiba tertarik dan hilang di balik kerimbunan pohon tiba-tiba membuat pendekar ini kaget dan berseru tertahan, berjungkir balik dan hinggap di dahan itu. Dia terbelalak memandang ke atas, terkesiap. Dan ketika suara ah-oh terdengar lagi namun di pohon sebelah tiba-tiba pendekar ini terkejut berteriak marah.

"Ituchi...!"

Namun sang anak pun lenyap. Hek-eng Taihiap telah melayang dan berjungkir balik ke pohon yang ini, Ituchi hilang dan muncul lagi di pohon yang lain, dikejar namun lenyap lagi untuk kemudian muncul pada pohon yang berikut. Dan ketika enam tujuh kali kejadian itu berlangsung tetap dan Hek-eng Taihiap kaget dan tertegun tiba-tiba dia sadar bahwa seseorang yang lihai sedang mempermainkan dirinya. Tak ayal, pendekar ini memaki marah. Dan ketika dia meloncat turun dan menyuruh siluman yang membawa ituchi memperlihatkan diri maka seperti iblis, entah kapan datangnya tiba-tiba sesosok tubuh tinggi kurus dan pucat terkekeh di belakang pendekar ini.

"Heh heh, aku di sini, Hek-eng Taihiap. Kenapa berteriak-teriak? Lihatlah!"

Hek-eng Taihiap membalik. Dia merasa tiupan napas di belakang kuduknya, dekat sekali. Dan begitu dia membalik serta membentak menghantam maka sepotong lengan kurus menyambut pukulannya. "Dess...!" Pendekar Garuda Hitam ini mencelat terguling-guling. Dia kaget bukan main berseru keras, menggigit bibir dan melompat bangun. Dan ketika dia melihat siapa di situ mendadak pendekar ini tersirap dan seolah hilang seluruh darahnya.

"Cam-kong (Pembunuh Petir)...!" Pendekar ini tertegun. Cam-kong, Pembunuh Petir yang kurus menyeramkan itu ada di situ, menenteng Ituchi sambil tertawa aneh, pucat muka pendekar ini. Namun membentak berseru nyaring tiba-tiba dia menerjang, nekat dan menghantam dan kali ini Cam-kong mendengus. Entah sial apa pendekar ini bertemu dengan iblis yang sakti itu. Dan begitu si iblis mengelak dan membalik tahu-tahu pendekar ini terbanting dan muntah darah.

“Buk!" Hek-eng Taihiap pucat pasi. Dia melompat dan terhuyung bangun, Ituchi disana terbelalak dan mengeluh panjang pendek. Anak itu pun pucat. Namun marah menggereng maju pendekar ini kembali menerjang, dikelit dan cepat serta bertubi-tubi ia menyerang lagi. Hek-eng Taihiap tak memperdulikan diri sendiri dan akhirnya ia mencabut pedangnya. Dengan bertubi-tubi dan nekat ia menyerang lawan yang jauh di atasnya ini. Dan ketika Cam-kong mendengus dan tertawa aneh tiba-tiba Pembunuh Petir itu menangkis dan membentak,

"Hek-eng Taihiap, robohlah... krak!" dan pedang yang patah menjadi dua akhirnya membuat pendekar itu terbanting dan mengeluh, sadar bahwa ia bukan tandingan iblis amat sakti ini. Dia menggeliat dan mau bangun kembali, roboh dan terjerembab. Dan ketika dua kali pendekar itu gagal bangun berdiri maka Cam-kong berkelebat di depannya dan tahu-tahu menyentuh jalan darah di atas ubun-ubunnya.

"Hek-eng Taihiap, suruh anak ini menjadi muridku kalau kau ingin hidup. Ia tak dapat kubujuk!"

Hek eng Taihiap tertegun Ia kini terbelalak memandang iblis itu, lalu Ituchi. Dan ketika ituhci dibebaskan totokannya dan dapat bicara tiba-tiba anak itu berteriak mendahului,

"Tidak, jangan, paman. Aku tak mau menjadi muridnya! Dia telah berkali kali memaksa diriku!"

"Hm, diam kau," Cam-kong tertawa aneh. "Orang ini tak pantas menjadi gurumu, anak baik. Bukankah ia roboh dalam beberapa gebrakan saja? Kau pantas menjadi muridku, diam dan biar gurumu bicara."

"Tidak... tidak...!" namun Cam-kong yang terpaksa menotok dan menutup kembali mulut anak itu akhirnya bengis memandang Hek-eng taihiap.

"Anak ini tergantung suaramu. Kalau kau setuju tentu dia dapat bicara lagi. Nah, katakan kau mau dan nyawamu selamat!"

Hek-eng Taihiap menggigil. Kini dia tahu bahwa Ituchi kiranya ditangkap iblis yang amat sakti ini, dibujuk tapi si bocah rasanya menolak. Hek-eng Taihiap tahu watak Ituchi, memang anak itu tak mudah dibujuk. Sekali dia menetapkan pilihan maka biar setan pun tak akan dia gubris. Maka mendengar permintaan itu tiba-tiba pendekar ini ketawa.

"Cam-kong, kau memang lihai dan hebat. Tapi kau ganas, mana mungkin anak itu mau menjadi muridmu? Ha ha, kau tak akan berhasil, Cam-kong. Lebih baik kau lepaskan dia dan pergi!"

"Plak!" Cam-kong menampar, membuat lawannya terpelanting. "Kau jangan macam-macam, orang she Siok. Kalau kau tak mau membantuku tentu kekasihmu itu kubunuh pula! Kau ingin Wan Hoa menjadi mayat?"

"Tidak!" Hek-eng Taihiap terkejut. "Kau... ah, kau rupanya sudah tahu semua? Cam-kong. Kau busuk dan keji!"

"Heh-heh, tak perlu berkaok-kaok, bocah she Siok. Sekarang pergunakan kesempatanmu baik-baik dan bujuk anak ini agar mau menjadi muridku!"

Hek-eng Taihiap terguncang. Mukanya tiba-tiba menjadi merah dan beringas, mata meliar dan ia pun memandang penuh kebencian kepada lawannya itu. Cam-kong kiranya sudah mengetahui semua hubungannya dengan Wan Hoa, terkejut dan jengah dia kalau membayangkan iblis itu tahu pula waktu dia menggauli sang isteri. Tapi mengedikkan kepala berseru gagah Hek-eng Taihiap coba mengembalikan masalah kepada Ituchi.

"Cam-kong, kau tak perlu tanya aku. Seharusnya yang bersangkutan kau tanya sendiri dan langsung!"

"Bocah ini menyerahkan padamu, orang she Siok. Kalau kau setuju dia pun setuju. Kau di anggapnya sebagai pengganti Kim,mou-eng yang dapat dipercaya!" lalu membebaskan totokan Ituchi lagi Pembunuh Petir ini berseru, "Nah, bukankah begitu, anak baik? Kau bilang apa tadi kepadaku?"

Ituchi tertegun. Tadi ketika dia ditangkap dan dibujuk memang dia menolak, menyatakan bahwa itu tergantung pamannya, Hek-eng Taihiap, sebuah kata-kata yang dimaksud untuk mengulur waktu belaka. Tapi kini diadu dengan pamannya dan dia ditanya apakah betul atau tidak tiba-tiba anak ini terpaku.

"Bagaimana, kau mau belajar bohong?"

"Tidak!" Ituchi tiba-tiba marah, tersinggung telak. "Aku memang bicara begitu, Cam-kong. Dan aku tak usah menyangkal!"

"Ha-ha, bagus, anak baik. Bagus! Nah, bagaimana sekarang jawabanmu, Hek-eng Taihiap? Kau mau atau tidak?"

Hek-eng Taihiap bingung. Dia mengumpat kelicikan iblis ini, Ituchi disuntik tepat pada harga dirinya. Anak itu memang jujur dan tak mau bohong. Wan Hoa dan Cao Cun telah mendidik anak ini untuk bersikap berani dan gagah, jantan. Dan karena tak ada lain jalan untuk mengiyakan atau menolak akhirnya Hek-eng Taihiap berseru melepaskan kemarahannya, "Cam-kong, meskipun anak ini menunggu jawabanku tapi semuanya kupulangkan kembali padanya. Aku sudah kau robohkan, mau bunuh boleh bunuh mau siksa boleh siksa!"

"Eh, kau nekat?"

Hek-eng Taihiap mendelik.

"Kalau begitu, heh heh... kekasihmu kubawa ke sini, orang she Siok. Boleh kau lihat apa yang akan kulakukan."

"Tidak!" dan Hek-eng Taihiap yang menjerit serta memekik ngeri tiba-tiba menggigit jari lawan yang ada di atas kepalanya, membuat Cam-kong terkejut dan kakek iblis itu membentak. Apa yg dilakukan memang tidak disangka. Dan karena Hek-eng Taihiap menggigit begitu kuat dan jari itu tak dapat dilepaskan akhirnya Cam-kong menggerakkan tangannya yang lain menampar kepala pendekar itu.

“Prakk!" Hek-eng Taihiap roboh. Seketika pendekar ini binasa, Ituchi memekik dan meronta di pelukan kakek itu. Cam-kong menendang mayat pendekar ini, menotok anak itu pula. Dan ketika Ituchi mengeluh dan pingsan dipelukan kakek ini tiba-tiba Cam-kong tertawa aneh menyambar mayat Hek-eng Taihiap. Lalu begitu dia terbang dan menggerakkan kakinya menuju ke tempat Wan Hoa maka wanita itu histeris menerima lemparan tubuh suaminya.

"Brukk!"

Cam-kong menghilang lagi. Wan Hoa menjerit melihat mayat suaminya, Hek-eng Taihiap telah kaku dengan kepala pecah. Dan ketika wanita itu pingsan dan roboh di kemahnya maka Cao Cun ganti terkejut melihat kejadian itu, tak mengenal Hek-eng Taihiap tapi lalu menyadarkan Wan Hoa. Sahabatnya ini menangis tersedu-sedu dan menubruk mayat itu, pingsan lagi dan disadarkan lagi. Dan ketika kejadian itu menggegerkan tempat itu namun bangsa liar ini tentu saja acuh terhadap mayat Hek-eng Taibiap yang dianggap orang asing.

Maka Wan Hoa menceritakan secara terputus-putus siapa Hek-eng Taihiap ini, jatuh bangun dan menangis tak henti hentinya oleh kejadian ini. Cao Cun menghibur dan memeluk sahabataya, ikut menangis. Dia terkejut karena baru itu Wan Hoa menceritakan dirinya. Dan ketika seminggu kemudian Wan Hoa berkabung untuk kematian suaminya maka wanita itu pun akhirnya jatuh sakit.

Wan Hoa terpukul hebat. Tentu saja dia tak tahu siapa yang membunuh suaminya ini. Cam-kong terlalu lihai gerakannya untuk diikuti. Ah, nasib malang kini menyertai wanita itu. Dan ketika hari demi hari sakit Wan Hoa bertambah keras dan wanita itu sering mengigau maka Cao Cun yang menungguinya dan setia di tepi pembaringan ikut kurus dan menangis tak henti-hentinya pula.

"Sudahlah... sudahlah, Wan Hoa. Kenapa kau demikian sedih dan berduka? Kenapa teringat selalu kepada mendiang suamimu itu? Ituchi akan membalasnya, Wan Hoa. Tenang dan cepatlah sembuh...!"

Wan Hoa malah mengguguk. Dia sebenarnya berduka akan dua hal, satu tentang suaminya itu dan yang lain tentang Ituchi. Dia sama sekali tak menceritakan bahwa Ituchi dibawa Hek-eng Taihiap ini, karena dia mengatakan anak itu dibawa Kim-mou-eng. Jadi Cao Cun menganggap Ituchi sudah di tangan Kim-mou-eng. Dan karena Hek-eng Taihiap tewas di mana hal itu merupakan indikasi baginya bahwa anak itu tentu tak selamat pula maka Wan Hoa menganggap suaminya gagal dan Ituchi ikut terbunuh. Hal ini tak dapat dia ceritakan pada Cao Cun, ngeri Wan Hoa menceritakan itu. Dan ketika Cao Cun malah berkata dan menghibur bahwa kelak Ituchi akan membalas dan mencari pembunuh suaminya itu tiba-tiba wanita ini malah tersedu.

"Ah, Cao Cun... Cao Cun..." Wan Hoa menjerit dalam hati. "Mana kau tahu anakmu sudah terbunuh? Mana kau tahu bahwa kegagalan suamiku berarti kegagalanku pula? Tidak, aku berdosa padamu, Cao Cun. Aku berdosa!" dan Wan Hoa yang mengguguk serta membuat bingung Cao Cun malah membuat wanita itu salah sangka, mengira kesedihan Wan Hoa karena terlampau besarnya cinta terhadap mendiang suami.

Cao Cun menghela napas dan teringat dirinya sendiri, betapa dulu pun ia amat tergila-gila dan jatuh cinta terhadap Kim-mou-eng begitu besar dan mendalamnya hingga beberapa kali ia mau bunuh diri. Cinta memang tak dapat disalahkan. Dan ketika Cao Cun menghibur dan kembali membujuk sahabatnya dengan menyebut-nyebut Ituchi lagi mendadak Wan Hoa malah bertambah sakitnya dan tak dapat sembuh-sembuh.

"Sudahlah... sudahlah, Cao Cun. Jangan hibur aku lagi dan biarkan aku sendiri. Aku... aku kini ingin sendiri..."

Cao Cun terbelalak. "Tapi obat ini harus kau minum, Wan Hoa. Kau harus sembuh!"

Wan Hoa menggeleng. Da tersedu menolak obat itu, menyuruh Cao Cun meletakkannya dimeja. Dan ketika Cao Cun menangis dan memeluk sahabatnya itu maka Wan Hoa, yang kini kurus tinggal tulang menyuruh dia keluar.

"Wan Hoa, kau mau apa...?"

Tidak... tidak apa-apa. Hanya... hanya aku mau sendiri sejenak, Cao Cun. Kau keluarlah dan biar kulihat bayangan suamiku. Semalam dia datang, memeluk dan mau menjemputku..."

Cao Cun menangis tak keruan. Ini tanda tak baik, bukan main menyesal dan berdukanya dia. Dan ketika Wan Hoa memaksa dan menyuruh dia keluar akhirnya Cao Cun mengguguk menutup pintu kamar, hampir tak dapat menghibur lagi karena semua hiburannya sia-sia. Cao Cun masih menganggap kesedihan Wan Hoa adalah karena kematian suaminya itu, tak tahu bahwa "kematian" Ituchi membuat Wan Hoa terpukul berat pula. Bahkan, agaknya ini yang lebih memukul. Wan Hoa menganggap tugasnya gagal dan dia merasa berdosa, sebulan ini wanita itu tak habis-habisnya menangis. Dan ketika tepat sebulan bayangan suaminya muncul di dalam mimpi dan pagi itu Wan Hoa minta agar Cao Cua keluar maka Cao Cun akhirnya menjerit ketika sejam kemudian dia sudah mendapati Wan Hoa dalam ke adaan kaku dan dingin,

"Wan Hoa...!” Raung menyayat itu meremangkan bulu kuduk. Seluruh bangsa liar dikejutkan oleh tangis dan jerit Cao Cun, wanita ini sudah menubruk dan terguling-guling memeluk mayat Wan Hoa. Cao Cun seakan tak percaya, bahwa sahabatnya itu akhirnya akan meninggalkannya juga. Wan Hoa telah meninggal. Dan ketika Cao Cun mengguguk dan menciumi mayat itu tiba-tiba wanita ini menyambar dan menggendong mayat Wan Hoa berlari-lari, menangis dan tertawa.

"Wan Hoa, hi-hik.. kau meninggalkan aku juga? Kau membiarkan aku sendiri? Oh, kau nakal, Wan Hoa, kau kejam... kau... brukk...!" Cao Cun terguling, jatuh bersama Wan Hoa dan bangsa liar geger. Cao Cun menangis dan tertawa-tawa. Dan ketika semuanya menolong dan mengambil mayat itu maka Cao Cun membentak dan bangkit melompat bangun.

"Kalian mau bawa ke mana sahabatku itu? Tidak, berikan dia kepadaku, pengawal. Berikan....!“

Cao Cun kalap, menubruk dan menyambar lagi mayat sahabatnya itu dan pengawal dipukul. Cao Cun memeluk dan menciumi lagi mayat ini, dayang pun menangis dan pengawal bercucuran air mata. Apa yang disaksikan itu sungguh menyayat hati. Persahabatan dan kecintaan Cao Cun terhadap sahabatnya memang semua orang tahu. Dan ketika Cao Cun menangis dan tertawa-tawa memeluk mayat sababatnya itu maka wanita ini seperti orang gila yang tidak waras lagi, menciumi dan menina bobok dan tak ada seorang pun yang tak meruntuhkan air mata melihat kejadian itu, termasuk Khan sendiri. Namun setelah Cao Cun letih dan terhuyung-huyung membawa mayat temannya yang tentu saja tak dapat menjawab semua pertanyaannya maka wanita ini pun terguling dan roboh pingsan.

Hari itu bangsa liar berkabung, Cao Cun mengigau dan memanggil-manggil sababatnya, menyedihkan sekali. Dan ketika Wan Hoa dimakamkan dan Cao Cun menangis di pusaranya maka keluhan dan ratap tangis wanita ini menyayat sekali didengar.

"Wan Hoa, kau kejam. Kau tak adil. Dulu aku mau mati tapi kau cegah, kau tak mau sendiri. Kenapa sekarang kau meninggalkan aku dan hidup sendiri? Ah, kalau tak ingat anak-anakku tentu kususul kau, Wan Hoa. Aku juga tak mau hidup sendiri dan ingin menyusulmu!" kemudian, ketika pengawal terharu wanita ini meraup tanah kuburan itu. "Wan Hoa, biarlah kucuci muka dengan tanah kuburanmu. Kalau kelak aku menyusul kau jemputlah aku..!"

Cao Cun benar-benar cuci muka dengan tanah itu, meraupkannya ke seluruh wajah dan untuk tujuh hari wanita ini tidak menghilangkannya. Itulah cara aneh untuk mengenang sahabat. Dan ketika wanita itu masih termenung di pusara sahabatnya maka seorang bocah perempuan terisak di sebelahnya.

"Ibu, Halingi menangis...."

Cao Cun sadar. Seorang bocah perempuan lain menangis, dayang sibuk mendiamkannya tapi anak itu tak mau diam. Itulah anak perempuannya nomor dua, putera ketiga, Halingi. Dan ketika Cao Cun bangkit dan menerima anak ini maka wanita itu menepuk-nepuk dengan air mata, bercucuran. "Halingi, diam. Ataukah kau ingin ibumu menangis dan sedih lagi? Diam nak... diam. Mari kita pulang dan diamlah...."

Anak itu diam. Cao Cun membawa pergi anak perempuannya ini, juga anaknya yang lain itu, Maringa (Si Mawar Cantik), yang tadi menyenggol dan berbisik di sebelahnya. Dan ketika hari itu Cao Cun meninggalkan makam sahabatnya dan untuk pertama kali merasakan kekosongan hidup yang luar biasa maka wanita ini tinggal di rumah dengan banyak merenung. Kepergian Wan Hoa benar-benar dinilai sebagai suatu kehilangan yang berat. Cao Cun kurus dan semakin kurus saja, tak ayal ia pun jatuh sakit. Tapi ketika seorang dayang memperingatkan sikapnya agar dia menjaga kesehatan tubuh maka dayang ini, yang selalu setia dan bukan lain Mayang adanya berhasil menyadarkan Cao Cun.

"Ingat, paduka masih dibutuhkan anak-anak paduka ini, Ratu. Kalau ada apa-apa dan anak ini sampai terlantar tentu kasihan Halingi dan Maringa."

Cao Cun mengangguk. Dia memang "ratu" di bangsa liar itu, dihormati dan disegani karena dialah isteri mendiang raja Hu, raja pertama di tempat itu. Dan ketika dia sadar dan memeluk anak-anaknya maka Cao Cun teringat pula pada Ituchi, puteranya. Bangkit dan timbul harapannya bahwa kelak anaknya laki-laki itulah yang akan membahagiakannya. Cao Cun tak tahu bahwa kelak nasib burukpun akan menimpa puteranya ini. Dan ketika hari itu dia agak terhibur dan bangkit demi anak-anaknya maka hari demi hari mulai dilewatkan wanita ini dengan sedikit tenang.

* * * * * * * *

"Cu-wangwe jahanam keparat! Cu wangwe manusia terkutuk..!"

Caci dan teriakan itu menggegerkan Ming-ciang. Pagi itu, sejumlah nelayan berteriak-teriak, di depan gedung hartawan Cu ini. Sebelas nelayan melancarkan protes, mereka menentang kebijaksanaan, yang tidak bijaksana dari hartawan itu. Dan ketika tukang-tukang pukul mulai berdatangan dan membentak mereka maka kaum nelayan ini bukannya reda melainkan justeru semakin beringas.

"A-lok, kau penjilat pantat Cu-wangwe. Mana itu setia kawanmu kepada orang kecil? Bukankah kau bekas nelayan dan kini diangkat sebagai tukang pukul? Seharusnya yang kau pukul adalah hartawan itu, A-lok. Bukankah kami yang sudah menderita dan dipermainkan!"

Seorang pelayan balas membentak, tadi dipukul dan cepat dia meraih sebatang dayung. Dayung ini hendak dihantamkannya kepada si A-lok itu namun teman-temannya yang lain mencegah, mereka bukan bermusuhan dengan tukang pukul itu, yang notabene masih bekas teman sendiri, karena A-lok itu lalu diambil dan diangkat sebagai tukang pukul Cu-wangwe.

Dan ketika ribut-ribut itu memuncak dan dari mana-mana muncul nelayan lain bergerombol dan bersatu dengan sebelas nelayan ini maka di lain tempat juga terjadi hal serupa namun di tempat Bhong-wangwe (hartawan Bhong).

“Benar, Bhong-wangwe pun manusia penindas. Kita harus turun tangan dan menentang ketidakadilan!"

Teriakan dan pekik ini tiba-tiba merata di seluruh Ming-ciang. Cu-wangwe, yang mula-mula menjadi penyulut dan sebab dari semuanya itu mendadak menjalarkan penyakitnya ke mana-mana. Hartawan itu mulai gila-gilaan lagi menentukan bagi hasil, hartawan itu berani pulang setelah Kwee Han di kota raja. Maklum, dia punya backing di istana. Dan ketika secara perlahan namun licik bagi hasil itu dipertinggi dan kian lama kian tajam maka nelayan pun berontak dan untuk kesekian kalinya lagi para pelayan itu berdemonstrasi.

"Cu-wangwe harus kita bunuh. Tangkap dan rampas perahunya!"

"Dan Bhong wangwe serta Kim-wangwe juga, kita tuntut. Mereka sama sama juragan yang tak tahu diri...!"

"Benar, dan juragan yang lain juga kita sikat, kawan-kawan. Mereka menaikkan bagi-hasil seenak perutnya sendiri dan menjadi kaum penindas!"

Ming-ciang menjadi ribut. Di mana-mana mendadak kaum nelayan bersuara lantang, mereka menuntut Cu-wangwe dan lain-lain untuk berbuat adil. Kini hampir semua juragan perahu membuat bagi hasil satu banding dua puluh, keadaan yang tentu saja mencekik dan menjerat leher kaum pelayan ini. Dan ketika ribut-ribut semakin menjadi dan para tukang pukul mencoba menghalau namun dilawan tiba-tiba seseorang memekikkan keberanian Kwee Han yang dulu memelopori mereka.

"Kawan-kawan, serbu! Ingat keberanian Kwee Han yang dulu menyelamatkan kita!"

Tak ayal kaum nelayan ini bergerak. Mereka menyerang dan menghadapi para tukang pukul itu, bukan hanya di tempat Cu-wangwe saja melainkan juga di tempat hartawan hartawan lain. Kiranya ketimpangan hidup yang menyolok ini telah membuat semacam kesepakatan di antara kaum nelayan itu untuk mengadakan pemberontakan. Mereka berontak terhadap ketidakadilan yang menggencet mereka. Dan ketika di mana-mana timbul kerusuhan dan huru-hara maka pasukan keamanan menjadi sibuk dan bingung oleh sepak terjang orang-orang rendahan ini, rakyat kecil.

"Tahan, jangan mengacau. Tahan...!"

Namun bentakan maupun himbauan pasukan keamanan itu sia-sia. Kaum nelayan terlanjur menyerbu dan menyerang, jumlah mereka ratusan. Dan karena pasukan keamanan tak sebanding jumlahnya dengan mereka meskipun ditambah para tukang pukul yang dipunyai kaum hartawan maka kerusuhan beberapa tahun yang lalu yang pernah terjadi di kota ini terulang lagi. Para juragan terbirit-birit, mereka memaki namun cepat melarikan diri.

Dan ketika tindakan sudah mulai dengan pengrusakan dan pembakaran rumah maka bantuan diminta dari kota raja dan datanglah limaratus pengawal istana yang merupakan golongan bu-su (pasukan yang pandai silat), menyergap dan menangkapi orang-orang itu dan akhirnya kaum nelayan bubar. Mereka berantakan dan tentu saja bukan lawan pasukan istana yang tangkas itu. Namun karena sumber ketidak puasan berasal dari pembagian hasil dan itu masalah perut maka ketegangan maupun dendam para nelayan tak dapat dihapus.

"Kita siap mati kalau ditangkap. Betapapun ini memang persoalan mati hidup anak isteri kita!"

Keadaan menjadi seperti api dalam sekam. Kaum nelayan yang ditangkap lalu diperiksa, tentu saja menceritakan ketidak adilan yang terjadi, bahwa mereka diperas dan ditindas. Kini bagi hasil menjadi begitu gila,gilaan karena satu banding dua puluh, berarti sembilan puluh lima persen untuk juragan sementara mereka yang bekerja keras dan mandi keringat hanya menerima lima persennya saja, satu ketidak adilan yang menyolok. Dan ketika komandan pasukan itu, Pu-ciangkun, mendengar dan mengerutkan kening maka segera dia memanggil dan menegur Liem-taijin yang menjadi kepala daerah.

"Bagaimana ini? Kenapa Cu-wangwe dan lain-lain menindas dan mencekik rakyat? Kau sebagai kepala daerah mestinya tahu semua permainan ini, taijin. Ikut bertanggung jawab dan menentukan kesejahteraan rakyat!”

"Maaf, wewenangku terbatas, ciangkun. Kalau ciangkun mau bersabar sebentar sebaiknya ciangkun tunggu seseorang yang lebih tahu."

Pu-ciangkun terbelalak. Dia merasa ganjil dan aneh mendengar jawaban ini, Liem-taijin tersenyum dan tenang-tenang saja. Dan ketika komandan itu bertanya apa maksud Llem-taijin maka A-siong, nelayan muda yang ditangkap menuding.

"Ciangkun, percuma menanyai dia itu. Liem-taijin ini antek Cu-wangwe!”

"Plak!" seorang pengawal menampar. "Diam kau, nelayan busuk. Atau kami akan membunuhmu sebelum bicara!" pengawal itu mau mendaratkan pukulannya lagi, dicegah dan Pu-ciangkun membentak. Komandan pasukan istana ini tak senang, dia merasa dilangkahi. Dan karena Pu-ciangkup adalah perwira jujur yang juga bertangan keras maka panglima ini membentak menyuruh pengawal Liem-taijin itu mundur.

"Jangan lancang. Mundur dan pergilah!"

Liem-taljin memberi isyarat. Pengawalnya mundur dan tersenyum mengejek, namun ketika Pu-ciangkun melotot tiba-tiba dia mengkeret, ke luar dan membiarkan majikannya berbicara dengan komandan pasukan istana itu. Pu-ciangkun dan pasukannya adalah penumpas huru-hara. Dan ketika dua orang itu berbicara dan Pu-ciangkun tampak menarik leher maka panglima ini menegur tajam.

"Taijin, seharusnya sebagai kepala daerah kau mengayomi rakyat, melindungi si kecil. Kenapa kau berkomplot dan melindungi hartawan-hartawan itu? Bukankah mereka melakukan tindakan tak adil di sini? Lihat, nelayan mendapat lima persen saja, taijin. Padahal merekalah yang bersusah payah dan mandi keringat!”

"Ah, itu kebijaksanaan juragan perahu, ciangkun. Kalau mereka tak puas seharusnya pergi dan berhenti saja, tak usah protes."

"Pergi bagaimana?" A-siong, nelayan muda itu berteriak. "Kami tercekik hutang yang harus dilunasi, ciangkun. Tak boleh pergi atau berhenti bila belum melunasi hutang itu!"

"Benarkah?” Pu-ciangkun memandang Liem-taijin.

"Benar," Liem-taijin mengangguk, tenang-tenang saja. "Hal itu wajar, ciangun. Kalau kau sendiri, bagaimana sikapmu kalau anak buahmu merat sebelum melunasi hutang? Mungkinkah mereka kau biarkan pergi?"

"Hm..." panglima ini mengurut jenggotnya, kalah suara. "Kalau begitu betul, taijin. Hanya...."

"Hanya bagaimana kami melunasi hutang itu?" A-siong menyambung. "Untuk makan sekeluarga sudah kelabakan, ciangkun, boro-boro untuk melunasi hutang. Kalau bagi hasil berjalan pantas tentu dapat kami melunasi hutang!"

Panglima ini tertegun. "Hm, katanya berapi-api. "Apa yang dikata nelayan ini betul, taijin. Pokok persoalan memang pada ketimpangan bagi hasil itu. Kau membiarkan Cu-wangwe dan teman temannya menindas!"

"Dia juga!" A-siong kembali menuding, berteriak. "Liem-taijin ini juga memiliki seratus perahu, cangkun. Hanya diatas namakan orang lain!"

"Bohong!" Liem-taijin kini membentak. "Orang ini ngaco, ciangkun. Jangan kau dengarkan mulutnya karena itu fitnah! Hm, sebaiknya mulutnya dibungkam dan biar pengawalku masuk lagi!" namun, Pu-ciangkun yang mengibas dan menghalang menyuruh Liem-taijin diam,

"Tidak, ini urusanku, taijin. Keamanan di sini sekarang menjadi tanggung jawabku. Aku akan memeriksa kasus ini!" dan ketika Pu-ciangkun membalik dan memanggil beberapa orangnya maka segera panglima itu mengumpulkan data-data. Berapa orang kaya di situ, apakah benar Liem-taijin memiliki seratus perahu yang di atas namakan orang lain. Dan ketika berkas-berkas dikumpulkan dan satu demi satu perkara itu diusut maka benar Liem-taijin ternyata terlibat. Pantas melindungi para juragan perahu!

"Taijin, sekarang terbukti. Kau pun mempunyai andil disini. Kau ikut memeras dan mencekik rakyat! Nah, ini saudaramu Liem Hu, sudah kutanya dan kuperiksa hingga mengaku. Apa katamu sekarang setelah bukti-bukti ini? Kau masih menyangkal dan menolak tuduhan?”

Liem-taijin, kepala daerah Ming-ciang itu terkejut. Pu-ciangkun, panglima yang keras ini benar-benar bertangan besi. Saudaranya, Liem Hu, dikompres dan terpaksa mengaku, beberapa tubuhnya matang biru dan wajah saudaranya itu tembam. Rupanya komandan pasukan ini bertindak tegas, tidak pandang bulu. Dan ketika pembesar itu tertegun dan tak dapat bicara maka panglima itu berkata lagi,

"Nah, sekarang kau harus ikut aku, taijin, kita menghadap gubernur Ping!"

Liem-taijin pucat. Gubernur Ping adalah pemimpinnya, gubernur itulah yang membawahi kepala daerah dan sebangsanya. Tapi tersenyum dan tertawa lebar tiba-tiba pembesar ini berseru. "Ciangkun, nanti dulu. Ping-tajjin (gubernur Ping) saat ini justeru sedang mengutus utusan. Lihatlah đia....!”

Seseorang masuk. Pu-ciangkun terkejut melihat seorang laki-laki gemuk melangkah lebar, berhenti dan tersenyum kepadanya. Dan ketika laki-laki itu menjura dan menyerahkan sepucuk surat maka Pu-ciangkun tertegun.

"Ciangkun, aku Swee-hok wakil gubernur Ping. Katanya ada sedikit ribut-ribut di sini. Terimalah, ini surat dari Hao-taijin!"

Pu-ciangkun menyambut. Dia cepat menerima dan membuka surat itu, dan begitu membaca tiba-tiba dia terperanjat. Isinya, menyuruh dia pulang ke kota raja. Urusan itu akan ditangani Gwa-ciangkun, seorang perwira lain yang tiba-tiba muncul dan sudah berdiri di samping laki-laki gemuk itu, Swee-hok. Dan ketika Pu-ciangkun pucat dan mengerti apa artinya itu maka panglima ini tersentak tak dapat berbuat apa-apa.

"Baiklah, maaf. Swee-taijin. Kiranya atasanku memanggilku. Urusan ini kulimpahkan pada Gwa-ciangkun!" dan berdiri serta menyerahkan berkas-berkas itu Pu-ciangkun angkat kaki dan hari itu juga kembali ke kota raja, tak jadi menangkap Liem-taijin dan A-siong bengong. Nelayan muda ini tak tahu apa yang terjadi, kenapa kemenangannya yang hampir dibela Pu,ciangkun mendadak padam. Lampu yang siap menyala itu sekonyong-konyong mati. Dan ketika berkas diterima dan di lipat Gwa-ciangkun, perwira baru itu, tiba-tiba berkas ini dibuang dan ludes dimakan api.

"Ha ha, bagus, Gwa-ciangkun. Terima kasih. Dan juga Swee hok-taijin!" Liem taijin bertepuk tangan, gembira dan berseru nyaring dan segera tiga orang itu tertawa bersama sama. A-siong melihat Liem-taijin menjamu dua tamu baru ini, kasak-kusuk dan sejumlah bungkusan diberikan pada dua orang itu. A-siong tiba-tiba sadar bahwa itulah suap, sebuah permainan kotor. Dan ketika dia tertegun dan terbelalak melihat dua orang itu diberi uang begitu banyak maka Liem-taijin mendengus padanya berkata mengejek,

"Lihat, tikus kecil. Kau tak dapat menjatuhkan kami orang-orang besar!"

"Képaratl" A-siong berteriak. "Terkutuk kau, Liem-taijin. Kiranya kau srigala berbulu domba!"

"Ha ha, kau memaki? Eh, seret dia, pengawal. Bungkam mulutnya dan lempar jauh-jauh!"

A-siong meronta dan kaget. Pengawal yang tadi memukulnya maju dengan gembira, meringkus dan menutup mulutnya. Dan ketika dia melawan dan memberobot tiba-tiba pengawal itu menghantamnya dengan gagang tombak, membentak dan segera nelayan muda itu disiksa. Dia sendirian di tempat itu, pelindungnya, Pu-ciangkun, telah tak ada lagi, pergi.

Dan ketika nelayan itu mengaduh dan memaki-maki maka pemuda ini akhirnya diseret dan ditendangi, menjadi permainan beberapa pengawal lain yang datang ke situ. Tak ayal lagi pemuda ini pun babak-belur. Apa yang dilakukan pengawal itu adalah atas suruhan Liem-taijin. Dan ketika para pengawal terbahak-bahak menghajar pemuda itu akhirnya A-siong tewas dan hancur dengan tubuh tidak utuh lagi.

Para nelayan yang menemukan mayatnya geger. Mereka mau berontak tapi limaratus busu menjaga ketat, mereka kasak kusuk dan akhirnya mengambil keputusan, malam nanti menyerbu gedung Liem-taijin. Tapi sebelum semuanya itu dilaksanakan mendadak seseorang berseru agar mereka meminta bantuan Kwee Han.

"Tunggu, banjir darah nanti. Bagaimana kalau kita minta bantuan Kwee Han? Dia sekarang menjabat menteri muda, kawan-kawan. Sebaiknya tunda maksud itu dan biar beberapa di antara kita ke sana!"

"Ah," seseorang menyahut. "Kwee Han telah berkali-kali menolong kita, Lu San. Kalau kita mengganggu dan datang lagi kepadanya aku khawatir dia tak senang."

"Benar," seorang kakek tua muncul. "Kalau terlalu sering meminta bantuannya tentu kita dianggapnya pengganggu, Lu San. Dan Kwee Han sekarang sudah mulai lain dengan Kwee Han yang dulu. Sebaiknya cari orang lain saja dan tidak mengganggu dial"

“Hm. Pwe-lopek kiranya...." Lu San, nelayan kekar itu tertegun. "Ada apa kau bilang begini, lopek? Bukankah Kwee Han berjanji akan selalu menolong kita?"

“Benar, tapi perobahan telah terjadi, Lu San. Aku orang tua telah melihatnya."

"Ahh, dia dua kali telah menolong kita. Lihat puluhan ribu yang telah dia berikan kepada kita untuk pembayar hutang, bukankah ini menunjukkan Kwee Han tak berubah? Kau agaknya justeru tak bersyukur, lopek. Kau jadi keliru memandang Kwee Han!"

"Hm, bagaimana aku menjelaskannya? Aka tidak keliru memandang, Lu San, tapi itulah yang kulihat. Boleh tanya pada A-kong atau A-sam."

Dua orang yang disebut kebetulan tak ada tertangkap. Dan ketika kakek itu mendesah melihat yang lain tak senang tiba-tiba kakek ini berkata,

"Lu San, sebaiknya lihat apa yang terjadi. Pernahkah Kwee Han datang ke mari? Pernahkah dia menepati janji menemui kita? Ini pertanda dia tak mau mengurus kita, Lu San, barangkali Kwee Han takut kedudukannya terancam!"

"Ah, Pwee-lopek malah bercuriga!" Lu San berseru. "Kwee Han telah menolong kita dengan budinya yang begitu besar, lopek. Tak boleh sebenarnya kita berprasangka buruk kepadanya. Betapapun, aku ingin minta bantuannya dan mencegah rencana serbuan ini!"

"Benar, tapi tak mungkin berhasil, Lu San. Kalau mau minta tolong sebenarnya ada seseorang, tapi aku tak tahu di mana dia berada."

"Siapa?"

"Pendekar Rambut Emas!"

Orang-orang tertegun. Nama itu memang dapat dijadikan jaminan, namun karena Pendekar Rambut Emas adalah seorang yang tak tentu tinggalnya maka mereka dingin dan acuh saja.

"Pwee-lopek," Lu San menjawab. "Barangkali kau benar. Tapi untuk saat sekarang ini kita sudah diburu waktu, Kim-mou-eng tak mungkin kita cari. Aku masih tetap ingin menghubungi Kwee Han dan biarlah aku ke sana karena kau tampaknya enggan!"

"Terserah," kakek ini akhirnya dingin. "Boleh-boleh saja kau ke sana, Lu San. Tapi sebaiknya jangan sendiri. Kau akan berhadapan dengan pengawal dan barangkali bakal menemui kesulitan!"

Lu San tertawa mengejek. Dia tak takut segala pengawal, apalagi pengawal Kwee Han. Dan ketika malam itu rencana serbuan digagalkan dan untuk sementara Lu San dapat menunda keinginan teman-temannya ini maka pemuda itu berangkat ke kota raja, berjanji tiga hari sudah kembali dan teman-temannya pun menunggu. Betapapun Kwee Han adalah setitik air yang mereka harapkan. Pemuda itulah yang telah dua kali menolong mereka, memberikan puluhan ribu tail sebagai pelunas hutang terhadap para juragan perahu, bukan main besarnya budi itu.

Dan ketika mereka menunggu dan hari ketiga lewat dengan cepat ternyata Lu San tak kembali, begitu juga hingga hari keempat dan kelima, bahkan hari ketujuh. Dan ketika mereka cemas dan kaum nelayan ini tentu saja bingung maka diutus kembali dua orang teman mereka, menunggu tiga hari lagi namun dua teman terakhir ini pun tak kembali. Keadaan itu berturut-turut hingga pada utusan ke lima, tentu saja kaum nelayan gelisah dan tak sabar. Dan ketika sebulan lewat dengan cepat sementara mereka kebingungan oleh pekerjaan yang hilang maka tiba-tiba mereka melihat kepala Lu San terapung apung di atas sungai!

Gegerlah para nelayan ini. Berturut-turut kemudian teman-teman mereka yang diutus juga mengalami nasib yang sama, sembilan kepala terapung apung di sungai, tanpa tubuh. Dan ketika hari itu mereka ribut dan menjerit tanpa suara maka Gwa-ciangkun, panglima yang sudah berjaga di situ menyuruh mereka bekerja.

"Siapa yang mogok akan dibunuh. Kalian harus bekerja dan kebijaksanaan baru dapat diatur!"

Terpaksa, karena sebulan ini anak isteri sudah merintih dan mereka terpukul oleh kematian teman-teman mereka maka para nelayan bekerja kembali di bawah tekanan Gwa-ciangkun, diancam dengan tuduhan mengacau dan lima ratus busu mengawasi mereka, tentu saja kaum nelayan tak berdaya. Beberapa di antaranya menyadari bahwa menghadapi lawan kuat memang mereka kalah, hukum rimba masih berlaku di situ.

Dan ketika tekanan dan paksaan membuat orang-orang ini terpaksa bekerja dan yang tidak kuat akhirnya diam-diam menyingkir maka kejadian seperti dulu terulang, si lemah menjadi makanan si kuat. Cu-wangwe dan teman-temannya kian merajalela. kaum nelayan ditindas dan tidak diberi bagi hasil lagi. Mereka hanya diberi makan seadanya asal kuat untuk bekerja sehari, tentu saja ada yang protes. Tapi ketika Cu-wangwe muncul dan berkata itu sudah sewajarnya maka dengan pongah hartawan ini berseru,

"Sungai dan segala isinya adalah milikku. Barang siapa coba-coba melawan dia akan dibunuh!"

Geramlah kaum nelayan itu. Kalau saja Lu San atau teman-teman mereka yang pemberani masih hidup mungkin akan lain halnya, setidak-tidaknya ada yang membakar semangat dan mereka dapat melawan. Tapi karena Lu San dan delapan yang lain binasa tanpa diketahui siapa pembunuhnya maka nyali kaum nelayan ini menciut dan anak isteri mereka meratap, menyuruh mereka diam saja karena biarlah begitu asal mereka sekeluarga selamat. Urusan bagi hasil tak usah diributkan, asal dapat makan. Dan karena orang kecil selalu di tempat tak menguntungkan dan hal itu terjadi tanpa dapat dilawan maka tunduklah mereka seperti sapi perahan yang diambil susunya.

Sebenarnya apakah yang terjadi pada Lu San dan teman-temannya itu? Memang nasib buruk. Lu San, nelayan kekar ini datang seorang diri di kota raja. Dia menganggap Kwee Han sama seperti dulu, mencari dan akhirnya menemukan gedung pemuda itu. Dan ketika dia bengong dan mendelong memandang gedung Kwee Han yang indah maka seorang penjaga menyodok perutnya dengan gagang tombak, sebuah perlakuan kasar yang tidak disangkanya semula.

"Kau mencari apa? Kenapa longak-longok seperti orang gila?"

Lu San terkejut. "Eh, apakah ini rumah Kwee Han?" dia bertanya lugu, menyebut nama Kwee Han begitu saja dan tentu saja pengawal atau penjaga itu marah. Kwee Han sekarang adalah pejabat tinggi, dia seorang menteri muda. Maka mendengar pertanyaan itu tiba-tiba pengawal ini membentak dan mendorongkan gagang tombaknya lebih jauh.

"Kau petani busuk. Pergi dan enyahlah...ngekk!"

Lu San terpelanting, ditusuk gagang tombak dan tentu saja ia merasa kesakitan. Nelayan ini adalah nelayan bertemperamen tinggi, dia mirip A-kong yang berangasan. Maka mendapat jawaban tidak simpatik justeru ditusuk dan didorong gagang tombak tiba-tiba Lu San bangun membentak menyergap pengawal itu.

"Kau pengawal busuk. Pergi dan enyahlah kau.... wutt!" Lu San memiting, menangkap dan berhasil mengunci leher pengawal ini. Lalu membanting dan merebut tombak, nelayan kekar yang marah itu melempar lawannya.

"Brukk!" Pengawal ini terkejut. Dia tak menduga disergap begitu cepat, jelek-jelek Lu San memang jago berkelahi. Dan ketika dia menjerit dan terguling-guling maka pengawal ini meloncat bangun dan berseru memanggil temannya, menerjang namun Lu San menggerakkan tombak. Sekarang nelayan muda ini bersenjata, dia bermaksud menakut-nakuti lawannya itu. Tapi pengawal lain yang menubruk dan datang ke tempat itu tiba-tiba membentak dan menyerangnya, memukul tombak nelayan ini dan terjadilah perkelahian sengit.

Pengawal pertama yang dibanting dan dilempar Lu San mengeroyok, berteriak mengatakan Lu San gila. Dan karena dua pengawal maju berbareng dan nelayan ini kalah tangkas akhirnya nelayan muda itu terkena tusukan tombak dan terhuyung, melawan namun sebuah tusukan lagi mengenai pundaknya. Darah mengalir dan Lu San melotot, dia gelisah dia bingung juga. Dari pintu gerbang terlihat seseorang berjalan, Lu San melihat itulah Kwee Han, orang yang dicari. Kebetulan. Dan ketika tombaknya terpental dan dua pengawal membuat dia terpelanting tiba-tiba nelayan ini meloncat bangun dan terbirit-birit meninggalkan dua lawannya, menuju Kwee Han.

"Kwee Han, tolong...!"

Bayangan itu, yang tiba-tiba lenyap di balik dinding membuat Lu San tertegun. Dia jelas melihat itulah Kwee Han, orang yang dicari. Tentu saja dia penasaran dan meneruskan larinya, semakin cepat. Tapi ketika dari mana-mana muncul pengawal dan nelayan ini dihadang akhirnya ia dibentak disuruh menyerah.

"Ah, aku bukan mau merampok. Aku mencari Kwee Han!"

Pengawal memaki. Kwee Han yang mereka panggil Kwee-taijin tiba-tiba disebut begitu saja oleh nelayan kasar ini, tentu saja mereka marah. Dan ketika Lu San menerjang dan coba menerobos lawan-lawannya ternyata pelayan ini gagal dan bahkan mendapat tusukan atau pukulan tombak.

"Cus-des-bluk!"

Lu San akhirnya roboh. Pengawal beramai ramai menangkapnya, nelayan ini berteriak-teriak memanggil Kwee Han, Kwee Han itulah yang di mintainya tolong. Tapi ketika sebatang tombak menghantam tengkuknya dan pelayan ini tersungkur akhirnya Lu San pingsan dan tak tahu lagi apa yang terjadi. Dia merasa diguyur air ketika sadar, mula-mula pening dan mengeluh. Dan Ketika dia membuka mata dan ingat apa yang terjadi maka dilihatnya Kwee Han, bayangan itu ada di depannya, duduk di sebuah kursi.

"Ada apa kau datang?"

Pertanyaan itu tak ramah. Lu San, pelayan ini perlahan-lahan bangkit terhuyung. Beberapa luka di tubuhnya tak dihiraukan. Tapi ketika seorang pengawal membentak dan mengancam punggungnya dengan tombak maka nelayan ini mengeluh dan berseru, masih tak tahu bahaya,

"Kwee Han, aku datang untuk menemuimu. Kenapa pengawalmu begitu bengis dan kasar? Aku datang mewakili teman-teman di Ming-ciang, Kwee Han. Kau dinantikan kedatangannya namun tak pernah menengok!"

"Plak!" sebuah tamparan membuat pelayan ini roboh. "Panggil Kwee-taijin padanya, orang kasar. Kau dungu dan bodoh sungguh melebihi kerbau!"

"Kwee Han..." suara ini terhenti kembali, kepala Lu San diinjak. Pengawal marah dan mau membentaknya lagi.

Tapi Kwee Han yang mengulapkan lengan menyuruh pengawal itu melepaskan korbannya berkata, "Ci Hu, lepaskan dia. Biar dia bicara!" dan memberi kesempatan nelayan itu bangun Kwee Han kini bersinar-sinar memandang bekas sahabatnya itu.

"Kwee Han...." kini Lu San mulai berapi-api, bangun terhuyung. "Beginikah watak pengawalmu menghadapi tamu? Aku bukan perampok, Kwee Han. Aku datang atas nama seluruh kawan-kawan di Ming-ciang!"

"Benar, tapi kau kurang ajar, Lu San. Kau tak tahu adat dan menjangkar terhadap seorang pejabat. Aku adalah Kwee-taijin, menteri muda. Tak tahukah kau dan tak dapatkah kau menghormat diriku? Kau tamu tak diundang, Lu San, meskipun bukan perampok. Tapi tindak-tanduk dan gerak-gerikmu melebihi perampok. Kau kasar dan murahan, tentu kau datang agar aku memberimu uang untuk teman-temanmu di Ming-ciang itu!"

Lu San terbelalak.

"Benar, bukan?"

"Tidak," akhirnya nelayan ini menggeleng, mulai sadar. Sadar bahwa dia harus baik-baik terhadap Kwee Han yang kini menjadi Kwee-taijin itu, seorang menteri. Dan ketika Kwee Han melengak dan terheran oleh jawaban itu maka nelayan ini berdiri tegak, mulai sopan. "Kwee-taijin," katanya canggung. "Aku memang datang untuk urusan teman temanku itu, tapi bukan masalah uang. Karena aku datang untuk mohon kesediaan mu menegakkan keadilan di Ming-ciang. Dengan uang masalah hutang memang lunas, taijin. Tapi kalau Cu-wangwe dan teman-temannya itu mencekik lagi dengan bagi hasil yang tidak seimbang tentu kami akan terlibat hutang lagi dan tak berdaya, begitu seterusnya. Kini aku datang menagih janjimu, bukankah kau mau datang untuk menengok dan menolong kami? Kami ditindas lagi kaum juragan perahu itu, taijin. Dan hanya kaulah yang kami harap untuk mengatasi kekejaman Cu-wangwe dan teman temannya!"

"Hm," Kwee Han terbelalak juga. "Bukankah ada Liem-taijin? Kau dapat melaporkan itu padanya, Lu San. Dan tak perlu jauh-jauh datang ke mari"

"Liem taijin tak akan menolong kami. Dia antek Cu-wangwe!"

“Hm, kalau begitu ada atasannya. Bukankah kau dapat menghadap gubernur Ping?"

“Gubernur Ping?" Lu San membelalakkan mata. "Kami orang kecil tak punya kenalan bangsa gubernur atau orang orang besar, Kwee-taijin. Kami hanya mengenalmu dan kini datang untuk meminta tolong!"

"Urusan ini tak dapat aku menolong," Kwee Han akhirnya berkata terus terang, "aku tak mau diganggu dan terganggu."

"Eh!" Lu San melebarkan mata. Bukankah kan berjanji untuk menolong kami, taijin? Bukankah kedatanganmu di kota raja dulu juga atas niat menolong ini?"

"Hm," Kwee Han bangkit berdiri, bersikap sombong. "Sekarang dan dulu lain, Lu San. Dulu aku nelayan miskin tapi kini pejabat tinggi. Dulu teman temanku orang-orang kecil tapi sekarang kaum bangsawan dan pejabat. Aku tak mau merendahkan diri ikut-ikutan mengurus persoalan mu."

"Kwee Han!" Lu San tiba-tiba membentak kembali njangkar. "Tahukah kau kutukan teman-teman kalau mendengar bicaramu ini? Tahukah kau bahwa selama ini kau dianggap dewa penolong dan kami amat berterima kasih? Tidak, jangan begitu, Kwee Han. Cabut pernyataanmu itu dan ingat waktu kedatangamu semula di kota raja!"

"Plak!" Lu San kembali mendapat sebuah tamparan keras, dari pengawal. "Jangan kau lancang, nelayan busuk. Atau Kwee-taijin akan membunuhmu dan kau tak dapat melawan!"

"Tidak... tidak...!" dan Lu San yang marah memandang Kwee Han tiba-tiba berteriak. "Kwee Han, apakah kau benar-benar tak mau menolong kami? Kau membiarkan saja teman-temanmu di Ming-ciang kelaparan ditindas Cu-wangwe?"

“Hm," Kwee Han kini bangkit berdiri, mendengus. "Aku sesungguhnya tak mengenal lagi kawan-kawanmu di Ming-ciang itu, Lu San. Cukup kiranya bantuanku selama ini. Apakah kau juga tak punya budi untuk mengingat dua kali kebaikanku kepada kalian semua? Tidakkah kau ingat berapa puluh ribu tail yang telah ku sumbangkan cuma-cuma kepada kalian?"

Lu San tertegun.

"Nah, ingat itu, Lu San. Sebaiknya kau pergi dan jangan kembali lagi!" Kwee Han membalik, memberi tanda pada pengawal dan Lu San didorong, nelayan ini tertegun dan teringat bantuan Kwee Han selama ini, yang memang harus diakui cukup besar dan amat besar. Puluhan ribu tail yang disumbangkan kepada mereka di Ming-ciang untuk menghapus hutang pada Cu-wangwe memang bukan jasa kecil. Dan ketika nelayan itu tercenung dan terbelalak melihat Kwee Han pergi maka nelayan ini didorong disuruh keluar,

"Cukup, taijin telah memerintahkanmu keluar. Sekarang pergi dan keluarlah!"

Lu San terhuyung. Melihat para pengawal yang tersenyum padanya dan rata-rata mengejek di luar tiba-tiba nelayan ini mendidih. Begitukah kehidupan di kota besar? Gampang sekali orang melupakan asalnya. Seperti Kwee Han itu, tiba-tiba congkak dan angkuh. Mentang-mentang sudah jadi pejabat tinggi! Namun karena kata-kata Kwee Han terakhir tadi amat menusuk perasaannya maka nelayan kasar ini tahu diri juga, menimbang dan merenungkan bahwa apa yang dikata itu adalah betul. Kwee Han telah menolong teman temannya di Ming-ciang dengan cukup besar. Uang yang dikeluarkan pemuda itu tak tanggung tanggung. Tapi ketika dia terhuyung di luar dan didorong hampir jatuh mendadak sebuah kereta berhenti di situ dan seseorang meloncat turun.

"A-fuk....!"

Lu San tertegun. Dia mengenal betul laki-laki yang turun dari atas kereta ini, A-fuk, temannya. Bekas sesama nelayan yang kini tampak berpakaian perlente dan necis. Ah, Lu San hampir tak percaya itu, mengucek-ucek matanya namun dirasanya penglihatannya itu betul. Dia tidak salah. Itu adalah A-fuk. Tapi ketika dia hendak memanggil namun tenggorokannya terasa kering dan letih tiba-tiba A-fuk telah meloncat dan lenyap di gedung Kwee Han, membawa semacam peti dan Lu San terbengong. Dia sungguh tidak tahu permainan apa lagi itu. Apa yang dibawa A-fuk pula.

Namun karena persaan ingin tahunya tiba-tiba begitu besar dan laki-laki ini melonjak akhirnya dia menyelinap dan memutar ke belakang gedung itu, menghindari pengawal yang berjaga dan akhirnya dengan nekat dan berani nelayan ini kembali lagi. Dia menaiki tembok dan anjlog ke bawah. Dan ketika dia berendap dan maju dengan hati-hati maka bayangan A-fuk dicarinya dan tiba-tiba ia tertegun, melibat A-fuk bicara sambil tertawa tawa dengan Kwee Han!

"Ha ha, kau betul. A-fuk. Sampaikan pada Cu-wangwe dan teman-temannya rasa terima kasihku. Pemberian ini kuterima, dan bilang pada mereka bahwa mereka tak usah khawatir."

"Dan Cu-wangwe ingin menekankan sekali lagi agar kau tak menolong nelayan-nelayan itu, taijin. Biarkan mereka di bawah kekuasaan Cu-wangwe dan bekerja seperti biasa."

"Tentu, siapa mau mencampuri? Dulu aku terpaksa melakukan itu karena kedatangan Kim-mou-eng, A-fuk. Kalau Pendekar Rambut Emas, itu tak datang tentu tak sudi aku menolong mereka. Sekarang beres, Pendekar Rambut Emas itu tak pernah datang lagi dan aku tentu membiarkan mereka kelaparan, ha-ha!"

"Dan taijin sekarang sudah hidup enak...."

"Ya-ya, enak dan nikmat. Aku tak mau kehilangan semuanya ini untuk orang orang tolol itu, A-fuk. Katakan pada Cu-wangwe bahwa aku sudah senang dan tak akan mengganggu!"

Lu San terbelalak. Akhirnya dia tahu bahwa peti yang dibawa A-fuk itu adalah uang, penuh dan padat. Kalau dihitung, ada ratusan ribu tail. Terkejut dan sadarlah nelayan ini. Kiranya Kwee Han sudah disogok dan menerima semacam upeti dari hartawan-hartawan di Ming-ciang, agar dia tutup mulut. Itulah perbuatan hina. Dan ketika A-fuk bicara lagi sambil tertawa-tawa dan sejam kemudian pamit pulang maka Lu San melihat Kwee Han menyisipkan segenggam uang ke tangan laki-laki itu.

"Pulanglah, dan hiduplah baik-baik. Urus diri sendiri dan bersenang senanglah dengan uang ini, A-fuk. Jangan hiraukan kaum gelandangan itu agar kau selamat!"

"Terima kasih, dan permisi, taijin...!" dan A-fuk yang berseri seri menerima segenggam uang akhirnya membuat Lu San tak tahan lagi dan berteriak marah. Kini tahu apa yang terjadi dan sadar bahwa tidak semua temannya di Ming-ciang sengsara oleh perbuatan Cu-wangwe dan kawan kawannya. Ada beberapa di antara mereka yang enak. A-fuk dan juga A-lok itu, yang kini menjadi tukang pukul Cu-wangwe. Maka begitu dia berteriak dan muncul menyerang dua orang itu tiba-tiba Kwee Han dan A'fuk terkejut bukan main.

"Heii... dess!" A-fuk diterkam, jatuh terguling dan Lu San menyamber sebuah kursi. Dengan marah dia menghantam kepala temannya itu sampai kelengar, kejadian begitu cepat. Dan ketika Kwee Han tertegun dan terbelalak pucat tiba-tiba Lu San sudah menyerangnya dan menghantamkan kaki kursi itu.

"Kau pun jahanam keparat, Kwee Han. Kiranya setelah disogok dan hidup senang di sini kau pun melupakan kami. Terimalah... bress!"

Kwee Han terpelanting, ditubruk dan mendapat lagi serangan membabi buta. Kwee Han kaget karena tak menyangka pembicaraannya didengar, Lu San kini menjadi berbahaya dan marah-marah kepadanya. Dan ketika dia mengeluh dan bergulingan menjauhkan diri maka Lu San yang kalap mengejar dan mengamuk, menghujani pukulan bertubi-tubi dan Kwee Han cepat menyambar sebuah kursi yang lain, menangkis.

Dan ketika dia berteriak-teriak dan keributan itu mengundang pengawal, maka pengawal pun kaget memaki nelayan muda ini, tentu saja menyelamatkan Kwee Han yang terlanjur matang biru, menyerang dan membentak Lu San. Dan karena nelayan itu hanya bersenjatakan kursi sementara pengawal memegang tombak atau golok akhirnya kursi yang dibawa nelayan ini hancur bertemu senjata para pengawal, dilanjutkan dengan bacokan atau tikaman yang mengenai tubuh nelayan itu. Lu San mulai terhuyung-huyung dan mandi darah. Keadaannya berbahaya. Dan ketika dia menerima sebuah tusukan tombak maka lambungnya terkuak dan pemuda itu pun roboh.

“Cep!" Lu Sin masih berusaha bangun. Sambil memaki-maki namun juga mengeluh pemuda itu berdiri lagi, menerima bacokan golok dan roboh, bangkit lagi namun kali ini menggelepar. Pinggangnya tersabet dan mandi darahlah nelayan itu. Dan ketika dia mengerang dan melotot memaki Kwee Han maka Kwee Han menyuruh pengawal membunuh nelayan itu.

"Penggal kepalanya!"

Lu San tak dapat mengelak. Sebatang golok menyambar lehernya, tak dapat dikelit dan muncratlah darah segar dari leher nelayan pemberani itu. Kwee Han terpaksa menbunuh karena Lu San telah mengetahui permainannya, bisa berbahaya membiarkan nelayan itu hidup. Dan ketika nelayan itu binasa dengan kepala terpisah dari tubuhnya maka Kwee Han menyuruh lempar mayat temannya itu ke sungai.

"Buang mayatnya, bersihkan tempat ini!"

Pengawal sudah bekerja. Lu San yang malang dibuang begitu saja mayatnya, akhirnya ditemukan teman-temannya di Ming -iang dan kaum pelayan itu pun geger. Tapi karena mereka tak mengetahui siapa yang membunuh nelayan itu dan mereka menyuruh lagi yang lain maka berturut-turut mayat baru pun mengapung di sungai itu, menjadi korban keganasan Kwee Han karena sekarang pemuda ini merasa terancam kedudukannya.

Siapa yang datang bakal disikat. Pemuda yang dulu lembut ini mendadak berobah begitu keji, harta dan kedudukan benar-benar telah merobah watak pemuda ini. Dan ketika delapan nelayan yang lain datang disapu Kwee Han maka seperti yang kita ketahui akhirnya kaum nelayan di Ming-ciang itu pun ketakutan dan tak berkutik lagi. Tak ada yang berani lagi pergi ke kota raja karena setiap ada yang kesana tentu pulang tanpa nyawa, mereka itu tak tahu siapa yang membunuh. Hanya dugaan tertuju pada Cu-wangwe, hartawan itulah yang menjadi sasaran. Dan ketika mereka kian membenci namun tak berdaya di tangan hartawan itu maka kehidupan yang menyedihkan kembali berulang seperti dulu.

Ketidakadilan selalu memancing persoalan. Ketidakadilan selalu memancing permusuhan. Tapi karena ketidakadilan itu tampaknya sedang berkuasa dan rakyat kecil ini kehabisan suara untuk berteriak-teriak lagi maka ketidakadilan itu berada kembali dan menggilas mereka. Sebenarnya, apa yang menyebabkan Kwee Han berubah seratus delapan puluh derajat?

Bagaimana pemuda itu bisa demikian kejam dan tega terhadap bekas teman-temannya sendiri? Bukankah dia harus ingat bahwa kedatangannya dulu ke kota raja adalah dalam misi memperjuangkan nasib teman-temannya? Ah, kehidupan memang merobah segala-galanya. Lingkungan dan faktor-faktor lain ikut menunjang. Dan karena kebetulan Kwee Han merupakan manusia lemah dalam menghadapi semuanya ini maka masuk dan berobahlah sifat pemuda itu.

Dulu, ketika Pwee-lopek datang dan memintanya bantuan memang Kwee Han pernah menolong, apalagi setelah Pendekar Rambut Emas turun tangan, pendekar yang ditakuti dan membuat pemuda ini gentar. Namun setelah berkali-kali Pwee-lopek datang mengganggu dan Pendekar Rambut Emas juga tidak muncul lagi maka keberanian dan ketidaksenangan Kwee Han muncul, apalagi setelah disudutkan Khek-taijin, kerabat Cu-wangwe itu.

"Beginikah sikapmu meminta tolong aku? Ingat, saudaraku di Ming-ciang itu juga perlu hidup senang, Kwee Han. Kalau kau terus-menerus menyuruh aku memperingati saudaraku maka tak ada gunanya kau di kota raja. Keberadaanmu di sini adalah memang untuk menjauhkan diri dengan teman-temanmu itu, para nelayan bodoh. Kalau kau tak dapat mengambil sikap dan ingin menjadi pahlawan bagi teman temanmu di Ming-cang maka kedudukanmu bakal dicopot dan kau harus menyerahkan kembali semua kesenangan yang telah kau peroleh di sini!”

Kwee Han tertegun.

"Ingat," menteri itu menyambung lagi. "Apa yang dapat diberikan kawan-kawanmu di Ming-ciang itu kepadamu? Apa yang dapat mereka berikan kalau kau menolong mereka? Mereka kere (pengemis) miskin yang hina, Kwee Han. Mereka tak dapat mengantarmu dalam taraf hidup seperti yang sudah kau peroleh sekarang. Ingat dan sayangi segala kedudukan dan harta yang kau nikmati itu, atau semuanya akan hilang dan Kiu Kin atau Sam-hwa akan meninggalkanmu!"

Kwee Han pucat. Disebut sebutnya dua nama terakhir ini membuat dia menggigil, itulah dua selirnya terkasih yang paling disayang, semenjak dia kehilangan Siong-hi, hadiah dari pangeran Yu Fu dan pucat Kwee Han membayangkan itu. Tanpa Harta tak mungkin dia dapat bergelimang dan bersenang-senang dengan wanita cantik. Ah, itu terlalu berbahaya. Bisa mati kurus dia! Dan ketika Khek-taijin pergi dan meninggalkannya untuk merenung sendirian, maka Kwee Han mengangguk-angguk dan sependapat.

Memang betul, kawan-kawannya itu, para nelayan di Ming-ciang, apa yang dapat mereka berikan kalau dia berhasil menolong mereka? Apa yang akan dia peroleh? Dapatkah mereka memberi jabatan tinggi dan wanita cantik? Dapatkah mereka memberi harta dan kesenangan? Bah... mereka itu orang-orang miskin, "kere" kata Khek-taijin. Paling paling hanya ucapan terima kasih dan sebutan pahlawan yang kosong belaka. Sebutan itu sendiri tak akan membuat dia memperoleh kedudukan, harta dan wanita cantik.

Sebutan itu tak berguna baginya karena hanya abstrak belaka. Hidup seperti sekarang inilah yang penting, bergelimang dalam kesenangan dan kenikmatan. Bukankah tujuan orang hidup adalah memperoleh kesenangan dan kenikmatan? Dan karena kawan-kawannya di Ming-ciang itu tak mungkin memberinya kesenangan dan kenikmatan seperti yang dia peroleh sekarang maka Kwee Han mulai berbalik haluan dan acuh terhadap teman-temannya itu. Dan diam.

Cu-wangwe dan bartawan lain memang memberinya semacam "upeti" kepada pemuda ini. Bukan karena takut terhadap Kwee Han melainkan terhadap pelindung di balik pemuda itu. Kwee Han tak menyadari bahwa cincin berharga ditangannya itulah yang memberikan semua itu. Tak menyadari bahwa berkat cincin ini Khek-tajin gentar kepadanya, karena cincin itu adalah tanda sebagai orang dekat kaisar, sahabat atau orang yang pernah menanam budi kepada kaisar.

Dan karena cincin itu melekat di jari pemuda itu dan Khek-taijin melihat ini maka terkejutlah pembesar itu dan segera terbelalak, tentu saja menyelidiki dan menteri ini tertegun Kiranya Pendekar Rambut Emas berada di balik semuanya itu, memberikan cincin ini kepada Kwee Han karena kebetulan pendekar itu bertemu dan tertarik kepada pemuda ini, melihat kejujuran dan keberaniannya sewaktu di Ming-ciang.

Tentu saja Pendekar Rambut Emas tak menyangka perubahan yang sekarang terjadi pada diri pemuda itu, yang sekarang telah dipanggil Kwee-taijin. Dan karena menteri Khek akhirnya tahu bahwa ada semacam persahabatan di antara pemuda itu dengan Pendekar Rambut Emas, yang dulu telah menolong dan menyelamatkan kaisar dari peristiwa pemberontakan maka sebenarnya terhadap pendekar inilah menteri itu menaruh segan dan takut, bukan kepada Kwee Han pribadi karena betapapun pemuda itu adalah bekas seorang nelayan biasa, yang tentu saja secara diam-diam dicibir dan diejek Khek-taijin.

Dan karena Kwee Han tak menyadari keberuntungannya ini dan menganggap semuanya biasa maka pemuda itu pun akhirnya congkak dan sombong, melihat sikap hormat dan takut orang lain kepadanya, bahkan Khek-taijin sendiri. Hal yang tentu saja membuat menteri itu mendongkol dan gemas, diam-diam lalu merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan pemuda itu, membuat balasan. Dan ketika hal itu dapat dilakukannya dan secara perlahan tetapi pasti Kwee Han telah masuk perangkapnya maka menteri ini pun akhirnya berbalik sikap dan berani kepada Kwee Han, tak segan-segan lagi, terbukti dari suatu percakapan di mana suatu ketika mereka tampak bercekcok, masalah Cu-wangwe.

"Hm, aku tak mau lagi didatangi kawan-kawanku itu, taijin. Beritahukan pada saudaramu agar tidak melampaui batas. Saudaramu itu keterlaluan juga!"

"Eh, apa maksudmu?' menteri Khek menanya, memandang tajam. "Bukankah kau tak usah menghiraukan mereka dan diam saja?"

"Hm," Kwee Han gemas. "Aku berkali-kali dirongrong masalah ini, taijin. Bahwa saudaramu bertindak tak adil dan memeras nelayannya. Tadi Pwee-lopek datang kepadaku dan minta bantuan uang, katanya untuk pelunas hutang!"

"Dan kau beri?"

"Tentu saja! Aku datang di kota raja karena memang ingin memperjuangkan ini, taijin. Aku minta agar saudaramu tidak keterlaluan atau aku melapor pada kaisar!"

"Ha-ha!" Khek-taijin tiba-tiba tertawa bergelak. "Kau sekarang sombong dan congkak, Kwee Han. Mentang-mentang sudah menjadi menteri muda lalu mau coba-coba menguasai aku. Eh, coba kutanya kau. Dari mana semua jabatan dan harta yang kau dapatkan ini? Dari mana semua kesenangan dan nikmat hidup yang kau peroleh itu?"

Kwee Han tertegun.

"Dari pangeran Yu Fu? Ha-ha, jangan menghayal, anak muda. Akulah sebenarnya yang berdiri di balik semuanya ini. Kau berhutang banyak sekali kepadaku, tak terhitung. Kalau aku tak membujuk dan mempengaruhi pangeran Yu Fu tentu kau tak akan menjadi menteri muda. Kalau aku tak ada di sini belum tentu kau dapat memperoleh nikmat dan kesenangan yang besar. Ha ha... ingat itu, Kwee Han. lngat kedudukan dan toko tokomu yang besar. Ingat berapa uang yang sudah kuberikan padamu. Apakah kau Kira cuma-cuma saja dan aku gudang uang, yang tidak habis diambili? Bodoh! Cu-wangwe adalah tambang emas bagiku, Kwee Han. Tak usah kau ungkit-ungkit itu dan diam sajalah!"

Kwee Han terbelalak. "Tambang emas?"

"Ya, kiramu apa? Kau mau tahu? Ha-ha, baiklah, Kwee Han, dengar dan lihatlah ini baik-baik. Cu-wangwe dan kawan-kawannya itu adalah tambang emas bagiku. Mereka itulah yang setiap kali mengisi peti uangku kalau habis kuberikan padamu. Dengan lain kata, hasil di Ming-ciang, itu salah satu sumber hidupku, karena aku masih mempunyai sumber-sumber hidup yang lain. Dan karena kekayaanku banyak berkurang kalau aku memberimu ini itu maka kekayaan itu harus ditambah dan Cu-wangwe serta kawan-kawannya itulah yang mengisi. Kau jelas? Jadi, peti uangku harus penuh kembali setiap berkurang karena kuberikan padamu, sebab aku tak mau beramal cuma-cuma kepada dirimu atau siapa pun!"

Kwee Han terkejut. "Jadi kalau begitu...."

"Benar, harta dan uang yang kuberikan padamu adalah hasil dari Ming-ciang itu, anak muda. Karena itu jangan kau bercuap-cuap lagi kalau tak ingin menderita, ha-ha....!"

Kwee Han tertegun. Tiba-tiba dia sadar bahwa kiranya sumber dari semuanya itu justeru Khek-taijin ini, menteri itu memang mengurusi sungai dan hutan. Tapi karena belum yakin dan masih penasaran dia bertanya lagi, “Taijin, jadi selama ini kau mendapat uang suap dari hartawan-hartawan di Ming-ciang itu?"

"Ha-ha, bukan suap, Kwee Han, melainkan uang kebijaksanaan yang mereka berikan kepada ku sebagai imbalan. Bukankah kalau aku melarang atau mempersempit ruang gerak mereka maka Cu-wangwe dan lain-lainnya itu tak dapat bekerja? Nah, ini namanya uang kerja sama, Kwee Han. Bukan suap karena itu adalah hasilku melindungi mereka!”

"Tapi sama saja! Dengan begitu kau melindungi orang-orang macam saudaramu itu yang arti memeras nelayan!"

"Hm, jangan terlalu keras, Kwee Han. Orang hidup memang diperas atau memeras, dimakan atau memakan. Bukankah kau bukan anak kecil lagi? Di manakah orang hidup menikmati hasil dengan begitu saja? Mereka nelayan-nelayan itu adalah orang-orang bodoh, Kwee Han. Dan sudah menjadi hukum di manapun di dunia ini bahwa orang bodoh makanannya orang pintar...!"