X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Pedang Tiga Dimensi Jilid 09

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas episode Pedang Tiga Dimensi Jilid 09 Karya Batara

PEDANG TIGA DIMENSI
JILID 09
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
SAM-THAIKAM kini maju menengahi. “Maaf.” Pembesar itu berkata lembut. “Kalian rupanya sudah mendengar semua pembicaraan kami, sam-wi locianpwe. Kalau begitu bagaimana pendapat kalian jika kaisar tahu kedatangan Bin-kwi? Bagaimana kami mempertanggungjawabkannya kepada sri baginda?”

“Hm, kami bukan orang-orang tolol yang gampang menunjukkan diri kepada umum, taijin. Kalau Bin-kwi tak menghendaki dirinya diketahui orang luar tentu kaisar pun tak akan tahu kedatangannya, begitu juga kami.”

“Jadi kalian tetap bertiga?”

“Ya!”

“Tak ada yang khawatir ketahuan?”

“Lihatlah!” Bong Kak tiba-tiba berseru. “Apakah kami bertiga dapat dilihat orang?” Dan ketika tokoh tinggi besar ini melejit ke atas dan memberi tanda pada dua temannya mendadak tiga orang ini lenyap berkelebat entah ke mana.

Sin-kee Lo-jin sendiri yang merupakan pembantu terpercaya Mao-taijin celingukan dan terkejut melihat ke sana-sini, tak menemukan bayangan mereka dan heran melihat kesaktian tiga tokoh itu. Dan ketika Bong Kak mengeluarkan suaranya kembali dan menyuruh melihat mereka maka seperti siluman saja tiga orang itu muncul dan berdiri di depan Mao-taijin tanpa diketahui dari mana pula datangnya.

“Nah, cukupkah ini, taijin? Atau kami harus melakukan sesuatu yang lebih hebat lagi?”

“Tidak... tidak, itu sudah cukup... cukup!” dan Mao-taijin yang buru-buru menggoyang lengan sambil tertawa akhirnya girang bukan main melihat kehebatan tiga orang ini. Baik Bong Kak mau pun Bin-kwi rupanya sama-sama hebat, mereka dapat menghilang begitu saja di hadapan dirinya. Ini tentu ilmu siluman. Bahkan Bin-kwi yang berkaki bambu itu tak terdengar sama sekali ketukan bambunya, tanda iblis ini lebih hebat. Dan ketika Sam-thaikam tersenyum dan Bin-kwi serta dua temannya tertawa maka Mao-taijin sudah mengundang mereka duduk, menjamu dan girang bukan main karena orang-orang lihai telah melindungi dirinya.

Bong Kak dan Ma Tung mendemonstrasikan pula kehebatan mereka yang membuat arak menjadi beku atau mendidih seperti lahar panas. Cecak yang sedang bercumbu ditiup mampus, atau hal-hal lain yang aneh-aneh di mana Sin-kee Lojin sendiri sampai terbelalak kagum. Dan ketika tiga orang itu dijamu makan minum dan mereka diberi kedudukan sebagai pengawal rahasia di mana Mao-taijin minta dilindungi sepenuhnya.

Maka Sam-thaikam mengerutkan kening karena diri sendiri terlupakan. Semuanya “diborong” oleh menteri she Mao itu dan thaikam ini merasa tak senang. Mao-taijin muncul egonya, tentu saja pembesar itu kecewa dan marah. Dan ketika perjamuan berakhir dan pembesar ini minta diri, maka diam-diam dia berbisik pada Siauw-bin-kwi agar nanti Siauw bin-kwi dan dua temannya itu datang ke gedungnya.

“Aku pun perlu tenaga kalian. Datanglah dan kita bercakap-cakap di gedungku.”

Siauw Bin-kwi terkekeh. Dia tanggap, cepat mengangguk dan memberi isyarat pada dua temannya. Tak lama kemudian mereka sudan datang di gedung Sam-thaikam ini, setelah meninggalkan Mao-taijin. Dan ketika Sam-thaikam berkata dengan mendongkol bahwa yang bisa memberi kedudukan begitu bukan hanya Mao-taijin saja maka pembesar ini sudah mengeluarkan tiga pundi pundi uang penuh dengan gemerincingnya emas.

“Kalian kuminta lebih melindungi diriku daripada Mao-taijin. Ini hadiah tiga kali lipat dibanding menteri she Mao itu Kalian sanggup?”

“Ha-ha, tentu sanggup, taijin. Kalau paduka memberi hadiah tiga kali lipat begini tentu saja perhatian kami akan lebih terpusatkan pada paduka. Apa yang paduka takuti?”

“Kim-mou-eng, aku takut kedatangannya!”

“Kim-mou-eng?” Siauw-bin-kwi terbelalak. “Ha ha, itu mudah, taijin. Kami bertiga baru saja menangkap sumoinya, bahkan Kim-mou-eng lari terbirit-birit ketika dia membebaskan sumoinya itu!”

“Kalian telah bertemu dengannya?”

“Ya, dan kami hampir pula berhasil merampas Sam-kong-kiam” Siauw-bin-kwi lalu membual, ceritanya dibuat-buat sebegitu tinggi hingga Sam-thaikam meng-angguk-angguk, merasa kagum pada tiga orang ini dan merasa sayang kenapa pedang itu tak terampas.

Dan ketika Bin-kwi selesai bercerita dan Sam-thaikam menarik napas maka pembesar ini berkata, mengepal tinju, “Bin-kwi, kalau kalian bertemu lagi dengan Pendekar Rambut Emas itu harap kalian rampas pedangnya. Aku akan memberi kalian masing-masing seratus ribu tail emas penuh. Serahkan pedang itu kepadaku!”

“Baik.” Siauw bin-Vwi agak terkejut. “Paduka berminat pada Sam-kong-kiam pula, taijin?”

“Hmm,” pembesar ini tertawa licik. “Aku hanya akan menyerahkan pedang itu pada sri baginda, Bin-kwi. Dan berkata bahwa kalianlah yang berjasa besar mengembalikan pedang pada istana!“

Siauw bin-kwi terkekeh. “Tapi pedang itu katanya memiliki tiga pengaruh gaib, apakah paduka tak menginginkannya untuk diri sendiri?”

Sam-thaikam terkejut. “Kau tahu itu?”

“Ha-ha, aku tahu apa yang tak diketahui orang, taijin. Dan sebaiknya pedang itu paduka simpan untuk diri sendiri!”

“Ah, tidak,” pembesar ini mengelak. “Aku hanya menginginkan pedang itu untuk dikembalikan pada sri baginda, Bin-kwi. Dan aku harap kalian membantuku sungguh-sungguh. Tapi bagaimana kau tahu tentang tiga pengaruh gaib itu segala. Apa yang kau ketahui?”

Bin-kwi tertawa lebar. “Taijin, agaknya semua orang kini sudah tahu akan kesaktian perdang keramat itu, akan pengaruhnya yang hebat. Bahwa Sam-kong-kiam dinyatakan dapat membawa tiga hal kepada pemiliknya. Kekuasaan, kekayaan dan kenikmatan. Bukankah hal ini sudah dibuktikan pada kaisar sendiri? Lihat sri baginda itu. Kekuasaannya besar, kekayaannya besar dan kenikmatannya pun besar. Wanita cantik macam apa yang tak pernah dinikmati kaisar ini? Ha ha, semuanya sudah dipunyai kaisar itu, taijin. Dan terus terang sebaiknya paduka miliki sendiri pedang ini, jangan dikembalikan pada istana!”

Sam-thaikam terkejut. Bin-kwi mulai membujuknya, dengan cerdik dan amat ramah iblis buntung itu merayunya akan pedang pusaka ini, akan keampuhannya dan akan pengaruhnya yang besar. Sam-thaikam semakin terkejut karena Bin-kwi benar-benar mengetahui kehebatan pedang itu, bahkan iblis ini menceritakan ketajaman pedang itu ketika bertemu Kim-mou-eng, padahal sebenarnya yang ditemui adalah Bu-hiong.

Dan ketika iblis itu habis bercerita dan thaikam ini mengangguk-angguk mendadak Ma Tung, yang jarang bicara dan tertawa lebar berseru serak, “Bin-kwi, mana sebenarnya yang lebih tahu akan pedang itu kecuali Sam-taijin yang merupakan pembantu kaisar? Bukankah tak guna kau menceritakan semuanya itu kepada orang yang lebih tahu? Tutup mulutmu dan tak perlu membujuk, Bin-kwi. Taijin lebih tahu dari apa yang kau ketahui!”

“Ah, benar,” Bin-kwi sadar, tertawa menyeringai. “Aku lupa, taijin. Maaf.”

Sam-thaikam hanya ganda ketawa. Dia sudah menutup pembicaraan tentang pedang itu, kembali pada Kim-mou-eng. Dan ketika Bw-kwi bertanya kenapa thaikam itu takut menghadapi Kim-mou-eng maka Sam-thaikam berkata, “Persoalannya pada seorang dayang tolol. Kim-mou-eng menculik dayang itu dan akan ke mari. Kami berdua, maksudku aku dan Mao-taijin, terlibat dalam persoalan ini dan takut pembalasan Kim-mou-eng!” Thaikam itu lalu menceritakan persoalannya, bahwa Kim-mou-eng menculik dayang kepercayaan mereka yang menghasut Cao Cun. Kim-mou-eng tentu marah karena dijelek-jelekkan namanya.

Dan ketika Bin-kwi mengangguk-anggguk dan tersenyum mendengar ini maka Iblis buntung itu menjawab, “Tak perlu dilebihkan, taijin. Sekarang ada kami di sini. Kalau dia datang dan mengganggu paduka tentu akan kami bunuh. Aku pribadi juga memiliki sakit hati pada Pendekar Rambut Emas itu.”

Sam-taijin tenang. Penampilan Bin-kwi dan kawan-kawannya ini memang meyakinkan, dan karena ia memberi imbalan lebih besar pada tiga orang itu daripada Mao-taijin maka thaikam ini tak diliputi ketakutan lagi dan justeru berharap Kim-mou-eng akan datang. Agar persoalan segera selesai dan Pendekar Rambut Emas itu dapat dibunuh, Sam kong-kiam dapat dirampas dan diam-diam pembesar kebiri ini merencanakan sesuatu untuk tiga tokoh itu

Dan ketika Bin-kwi kembali dan mulai hari itu mereka bekerja untuk Sam-thaikam dan juga Mao-taijin maka Bong Kak dan temannya hidup senang di istana ini, ke luar masuk dengan bebas karena memang mereka memiliki kepandaian tinggi. Lenyap dan munculnya tiga orang ini seperti siluman saja, tak ada yang tahu. Dan karena Sam-thaikam selain berusaha memberi imbalan lebih besar pada tiga orang itu ketimbang Mao-taijin maka otomatis Bin-kwi dan dua temannya ini lebih memperhatikan Sam-thaikam, waktu demi waktu lewat dan mereka cepat menjadi gemuk.

Tiga iblis ini benar benar hidup dalam kesenangan. Mereka menjadi pengawal pribadi yang bersifat rahasia. Dan ketika tiga bulan kemudian mereka bekerja secara malas-malasan maka hari itu secara mendadak mereka menghadapi ujian pertama.

Sam-taijin memanggil mereka, menyuruh seorang di antara mereka pergi ke Propinsi Liao-ning. Di sini Sam-thaikam memiliki seorang kemenakan, namanya Sam Yin. Kemenakan ini bekerja di gubernuran Liao-ning. Sam-thaikam minta agar keponakan itu dibawa ke sini, ada persoalan penting. Dan karena yang diperintah hanya seorang saja karena dua yang lain harus tetap menjaga di situ maka Bin-kwi menunjuk Bong Kak untuk melaksanakan tugas ini.

“Kau saja yang pergi, aku dan Ma Tung di sini.”

Bong Kak mengangguk. Dia sudah pergi melaksanakan perintah, hari itu juga Sam taijin minta agar kemenakannya dibawa. Tapi ketika Bong Kak pergi dan meninggalkan dua temannya mendadak Mao-taijin memanggil Bin-kwi dan minta agar seorang di antara mereka pergi ke Liao-ning pula untuk menculik seseorang.

“Aku butuh bantuan kalian. Seseorang harus dibawa ke sini.”

“Siapa, taijin?” Bin-kwi bertanya.

“Seorang pemuda, bekerja di gubernuran Liao-ning. Kalian tak perlu tahu namanya karena Lo-jin akan mengantar kalian. Siapa yang akan pergi?”

Bin-kwi bingung.

“Kenapa tak menjawab? Ada apa, Bin-kwi?”

Terpaksa, Setan Ketawa ini tertawa. Dia berkata bahwa Ma Tung yang akan melaksanakan tugas itu, memanggil temannya dan Ma Tung terbelalak, melirik si Setan Ketawa tapi tak bisa menolak. Sio-kee Lojin akan mengantarnya menunjukkan pemuda itu, mengumpat dan menegur si Setan Ketawa ini kenapa dia yang harus pergi. Bin-kwi dapat ongkang-ongkang kaki sementara dia bekerja. Bin-kwi memberi alasan bahwa Mu Tung dapat bekerja lebih baik, iblis itu tak akan dikenal oleh orang-orang di Liao-ning. Itulah sebabnya Bin-kwi memilih dia. Dan karena si Ayam Sakti sudah menunggu dan Ma Tung tak dapat banyak bicara lagi maka kakek Bhutan ini berkelebat keluar dan pergi ke Liao-ning.

Di dalam perjalanan Sin-kee Lo-jin mengikuti. Susah payah si Ayam Sakti ini mengikuti si tokoh Bhutan, berkali-kali nyaris ketinggalan dan Ma Tung mengomel panjang pendek. Sebenarnya di depan ada temannya yang duluan, Bong Kak. Perjalanan menjadi agak tersendat karena kepandaian Lo-jin yang di bawah si tokoh Bhutan. Dan ketika mereka tiba di Liao-ning namun waktu sudah menjadi gelap maka Sin-kee Lo-jin langsung mengajak si tokoh Bhutan memasuki sebuah rumah baru.

“Di sini pemuda itu tinggal, locianpwe harus membawanya dan boleh mendahului aku kalau berhasil...!”

“Siapa namanya?”

“Seseorang bernama Sam, laki-laki berumur tigapuluhan tahun dan amat licik. Taijin membenci pemuda ini!”

Si Ayam Sakti sudah melompat masuk, menyelinap dan melihat rumah itu kosong, tertegun dan celingukan ke sana ke mari, mukanya berobah. Tapi ketika seorang pelayan muncul dari pintu belakang dan Sin-kee Lojin menangkap pelayan ini maka si Ayam Sakti terkejut mendengar bahwa pemuda yang dicari sudah dibawa seseorang, katanya baru saja. Mereka sedang menuju ke rumah gubernur Hiang dan setelah itu akan ke barat, seorang kakek tinggi besar membawa “Sam-siauwya” (tuan muda Sam) ini.

Sin-kee Lojin tak menduga sama sekali akan bayangan Bong Kak, cepat menyusul ke rumah gubernur Hiang tapi katanya Sam-siauwya telah pergi. Tentu saja kakek ini kelabakan dan Ma Tung yang berada di belakangnya mengerutkan kening. Tokoh Bhutan ini hampir saja mencaci-maki. Dia meraba-raba siapa kiranya pemuda yeng akan diculik ini Dan ketika Ayam Sakti pucat dan buru-buru menangkap seorang pengawal dengan menyembunyikan muka di balik kedok maka pengawal yang ditangkap itu menggigil.

“Sam-siauwya baru saja pergi, dibawa seseorang yang tak kukenal. Mereka menunggang kereta....”

“Ke mana?”

“Ke barat, ke kota raja....“

“Keparat!” Ayam Sakti membanting pengawal ini sampai kelenger. “Kita kejar, locianpwe. Mereka menggunakan kereta!”

Ma Tung menggeram panjang pendek. Dia merasa dipermainkan oleh semuanya ini, menghadapi teka teki gelap. Tapi karena buruan sudah jelas dan sebuah kereta katanya menuju ke barat maka mereka mengejar dan Sin kee Lo jin jatuh bangun menyusul bayangan si tokoh Bhutan, akhirnya mendengar derap kereta dan Sin-kee Lojin girang, melihat kereta indah bergerak di depan dan mereka menyusul Ma Tung sudah berkelebat dan tak sabar ingin menangkap buruan. Itulah orang yang harus dibawa.

Tapi ketika kereta tiba-tiba berhenti dan kuda meringkik panjang maka Ma Tung tertegun dan menghentikan langkah pula, melihat dua sosok bayangan melompat keluar dan lenyap di sisi kereta. Ma Tung terkejut melihat gerakan mereka yang cepat, bayangan pertama mendekap bayangan kedua Ginkang yang ditunjukkan bayangan itu luar biasa sekali. Ma Tung membelalakkan mata. Tapi karena Sin-kee Lo-jin sudah menyusul dan terengah di belakangnya maka Ayam Sakti ini memberi saran agar mereka berdua menyembunyikan muka di balik saputangan.

“Mereka rupanya mencium gerakan kita. Kita harus hati-hati, sebaiknya locianpwe menyembunyikan muka.”

Ma Tung menurut. Dengan berdebar tapi juga jengkel dia menutupi mukanya, kembali berkelebat dan mendekati kereta. Dari samping ia tak melibat apa-apa, kereta kosong. Tapi ketika dia menyelinap ke kiri dan bergerak menuju kerimbunan di mana dua bayangan tadi melompat masuk sekonyong-konyong angin pukulan dahsyat menghantamnya dari belakang disusul munculnya sesosok bayangan tinggi besar yang juga mengenakan kedok.

“Dess!” Ma Tung menangkis, membalik dan terkejut karena pukulan lawan demikian kuat, dia terpental sementara lawan juga tergetar empat langkah. Bayangan itu menggeram dan kelihatan terkejut juga, matanya yang mencorong terbelalak. Tapi ketika Ma Tung menggulingkan tubuh menjauh dan kaget oleh pukulan lawan maka lawan sudah berkelebat dan menyerangnya bertubi-tubi. Geraman dan bentakan pendek terdengar berkali-kali dari mulut bayangan ini, suaranya tak begitu jelas, tertutup kedok. Jadi masing-masing sama tak mengenal siapa lawan mereka.

Tapi karena Ma Tung diserang dan tokoh Bhutan ini marah tentu saja dia membalas dan mengeluarkan maki-makian pula, suaranya pun tak jelas karena tertutup saputangan, masing masing sama marah. Sebentar kemudian mereka bertempur hebat dan kuda penghela kereta ketakutan, kuda ini meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Suara pukulan dan benturan di antara dua orang yang bertempur itu memang mengerikan, masing-masing rupanya memiliki sinkang berimbang dan pohon-pohon lo─║oh disambar angin pukulan mereka.

Malam yang gelap tak membantu keduanya untuk mengenal lawan masing-masing. Dan ketika kuda meringkik dan lawan Ma Tung rupanya gelisah dan penasaran tak dapat segera merobohkan lawannya itu maka bayangan ini memberi perintah pada temannya yang masih bersembunyi agar kabur, bayangan kedua meloncat dan memasuki keretanya, membedal keretanya dan dua kuda di depan melesat seperti terbang. Mereka dicambuk dan bayangan ini membentak-bentak.

Si Ayam Sakti terkejut karena buruan lolos, dia mengejar dan menyuruh Ma Tung menahan lawannya. Dan karena di kereta itu hanya ada seorang saja dan Ma Tung menganggap temannya bisa membereskan tugasnya maka tokoh Bhutan ini tertawa bergelak dan menahan semua pukulan-pukulan lawannya, sebenarnya gembira tapi juga penasaran karena dia pun tak dapat merobohkan lawannya ini. Bayangan itu mau melompat menyambar Sin-kee Lojin namun Ma Tung selalu mencegah, berkali-kali hal itu dilakukan hingga lawan menjadi murka.

Dan ketika si Ayam Sakti sudah lenyap mengejar kereta dan bayangan ini menggerung hebat sekonyong-konyong dua lengannya bergerak menghantam dengan tulang tulang berkerotok, menyambar lawannya dan Ma Tung terkejut, dia mengenal pukulan itu. Hek-in-ciang (Pukulan Awan Hitam), pukulan temannya sendiri. Jadi kiranya ini adalah Bong Kak. Pantas demikian lihai! Tapi karena pukulan sudah menyambar tiba dan Ma Tung tak ada waktu untuk mengelak selama menangkis maka tokoh Bhutan ini pun berseru keras dan cepat memberi seruan dalam bahasa Bhutan,

“Kayik....!”

Dua benturan itu sudah sama-sama bertemu. Ma Tung mencelat tiga tombak sambil melepas saputangannya, mengeluh namun mampu menahan Hek in-ciang. Lawan terkejut dan mencelat pula, mendengar teriakan Ma Tung. Tentu saja mengenal seruan yang diserukan temannya itu. Dan ketika mereka sama melompat bangun dan Bong Kak, bayangan ini, melihat bahwa itu adalah temannya sendiri maka raksasa Bhutan ini berseru kaget.

“Ma Tung....!”

Ma Tung mengangguk. Dia sudah melompat mendekati temannya, dada diusap sambil menggerutu, betapapun napasnya terasa sesak. Dan ketika dia sudah mendekati kawannya itu dan Bong Kak terbelalak menggigil maka Ma Tung berkata, “Ya, aku, Bong Kak. Kita kiranya telah bertempur sendiri untuk urusan yang sama. Keparat, kita berada di persimpangan jalan yang repot.”

“Apa yang terjadi? Kenapa kau mengejar-ngejar aku?”

“Aku tak mengejar-ngejarmu, Bong Kak, melainkan mengejar temanmu yang di dalam kereta itu. Bukankah dia seseorang bernama Sam?”

“Ya, Sam Yin, keponakan Sam-taijin. Lalu kenapa kau mengejar-ngejarnya? Bukankah Sam-taijin telah memerintahkan aku untuk membawa keponakannya ini?”

“Aku tak tahu kalau dia ini Sam Yin, Bong Kak. Aku mendapat perintah dari Mao-taijin menangkap bocah itu!”

“Kenapa? Ada apa?” Bong Kak heran.

“Aku mulanya tak tahu, tapi kini aku mulai mengerti,” dan Ma Tung yang lalu menceritakan persoalannya pada temannya lain disambut seruan dan gelengan berkali-kali, Bong Kak merasa terkejut mendengar ini, juga heran. Tapi ketika temannya berkata bahwa ini tentu gara-gara permusuhan dua pembesar itu Ma Tung mengakhiri ceritanya,

“Aku kira Mao-taijin menangkap sesuatu yang tidak beres antara Sam-thaikam dengan keponakannya, mengirim aku untuk mendahului menangkap bocah itu tapi Sam-taijin keburu menyuruhmu membawa bocah itu. Aku tak tahu apa yang direncanakan Sam-taijin, tapi melihat Mao-taijin begitu serius menyuruhku menangkap bocah ini tentu ada sesuatu yang penting yang sudah direncanakan thaikam itu.”

“Kemudian bagaimana sekarang?” Bong Kak bingung. “Siapa yang harus kita turuti?”

Ma Tung juga bingung. “Mestinya Sam-thaikam, Bong Kak. Dia lebih banyak memberi imbalan pada kita.”

“Tapi Mao-taijin tentu marah-marah kepadamu kalau tidak membawa bocah itu. Kau dianggap tidak berhasil!”

“Inilah yang repot. Sebaiknya kita tanya Bin-kwi dan dia saja yang menentukan.”

“Baik, tapi sekarang Ayam Buduk itu menyambar korban kita. Lalu apa yang kita lakukan?”

“Sebaiknya cegah dia dulu, Bong Kak. Kau pura-pura lolos dariku dan serang si Ayam menyebalkan itu. Aku pura-pura menyusul dan kita sama-sama kembali.”

“Baik!” dan Bong Kak yang tidak sabar lagi menunggu temannya tiba-tiba berkelebat, diteriaki agar mengenakan kedoknya lagi. mereka pun harus berpura-pura untuk menjalankan sandiwara ini. Sin-kee Lo-jin sudah jauh dan keponakan Sam-thaikam dalam ancaman. Tapi karena tokoh ini adalah tokoh sakti dan kepandaiannya meringankan tubuh juga luar biasa sekali maka begitu berkelebat dan lenyap dibiarkan Ma Tung kakek raksasa ini menyusul dan sudah berada di belakang kereta yang berderap kencang. Sin kee Lo-jin hampir menyandak kereta itu. Sang kusir yang bukan lain Sam Yin sendiri pucat mukanya, membedal keretanya dan berteriak-teriak agar kudanya berlari lebih cepat lagi.

Tapi karena Sin-kee Lo-jin sudah tiba di belakang dan membentak agar lawannya berhenti tiba tiba kakek ini melayang di atas kereta dan berseru keras, “Sam-siauwya, robohlah....!”

Pemuda itu terkejut. Dia melihat Sin-kee Lo-jin berkelebat di atas keretanya, memburu dan mencengkeram dadanya. Lak-laki ini ketakutan, cambuk diayun dan kuda pun meringkik. Tali kekang tiba-tiba ditarik dan kereta berhenti, begitu mendadak hingga kedua rodanya terseret oleh injakan rem yang dilakukan pemuda itu, menggores tajam di atas tanah. Dan ketika Sin-kee Lo-jin melayang dan cambuk menyambut dirinya maka dengan tertawa si Ayam Sakti ini menangkis dan kedua lengan tetap terjulur mencengkeram dada lawannya.

“Aih....!” Sam-siauwya nekat. Dia membuang tubuh keluar kereta, cambuk terampas dan cengkeraman lawan luput, memberebet mengenai bajunya saja. Sin-kee Lo-jin mendongkol dan melihat lawan bergulingan di tanah, tentu saja tertawa mengejek dan mengejar lawannya itu. Kali ini Sam-siauwya tak mungkin lolos, dia telah menghadang jalan ke luar pemuda itu. Tapi ketika Lojin menjengek dan menyambar turun menotok lawannya itu tahu-tahu sebuah bentakan terdengar dan Bong Kak menghantam si Ayam Sakti ini, berkelebat tiba.

“Enyahlah....!”

Lo-jin terkejut. Dia tak menyangka kalau lawan temannya lolos, dari kejauhan terdengar teriakan Ma Tung yang mengejar bayangan ini. Bong Kak kembali menutupi mukanya dan pura-pura menggeram, Lojin menangkis dan tentu saja kalah kuat. Dan karena Bong Kak memang ingin merobohkan pembantu Mao-taijin itu agar sepak terjangnya tidak diketahui maka sekali pukul dia membuat lawan mencelat.

“Aaaah!” Sin-kee Lo-jin mengeluh, terbanting dan roboh bergulingan di sana.

Ma Tung berkelebat tiba dan pura-pura menanya si Ayam Sakti ini, kakek ini menuding-nuding Bong Kak, sebentar saja karena kemudian dia pingsan. Kakek Bhutan itu tentu saja tertawa dan mengejek melihat temannya terguling. Itu adalah siasat mereka. Dan ketika Bong Kak menolong Sam-siauwya dan pemuda itu ketakutan melihat Ma Tung kakek tinggi besar ini sudah berkata,

“Kita berlari cepat, tak perlu mempergunakan kereta lagi...!” dan begitu Bong Kak menyambar pemuda ini di atas pundaknya tiba-tiba kakek ini sudah terbang dan menuju kota raja, di sambut seruan ah-ah dan Sam-siauwya heran, dia melihat Ma Tung mengikuti, tak menyerang, bahkan kini berendeng bersama pemondongnya ini. Pemuda ini tertegun.

Dan ketika dia bertanya siapa Ma Tung ini dan kenapa sudah tak bermusuhan lagi maka Bong Kak menjawab tertawa lebar, “Dia temanku sendiri. Tadinya diutus menangkapmu oleh Mao-taijin. Kami sekarang sudah saling tahu, kau tak perlu tanya lagi dan tutup mulut!”

Pemuda ini mendelong. Sekarang dia tak bertanya-tanya lagi, beberapa jam kemudian tiba di kota raja, langsung menuju istana dan Bong Kak serta temannya mencari Bin-kwi. Mereka berdua tak ada yang ke Mao-taijin atau Sam-thaikam, tentu saja pemuda ini keheranan dan terbelalak. Tapi ketika Bin-kwi muncul dan pemuda ini mengerutkan kening melihat seorang kakek buntung di situ maka Bong Kak menurunkan pondongannya dan berseru,

“Sekarang kita dibuat bingung. Yang disuruh tangkap oleh Mao-taijin adalah pemuda ini juga. Apa pendapatmu, Bin-kwi ?”

Bin-kwi terkejut. “Kalian maksudkan keponakan Sam-thaikam?”

“Ya.”

“Wah, repot!” dan Bin-kwi yang menggaruk-garuk kepala ikut kebingungan tiba-tiba tertawa lebar. “Heh heh, ada akal, Bong Kak kita serahkan pemuda ini pada Mao-taijin tapi setelah itu kau harus menculiknya kembali...”

“Apa?”

“Ya, Ma Tung menyerahkan pemuda ini sesuai tugasnya, Bong Kak. Tapi setelah itu kau menculiknya dan membawanya pada Sam-thaikam. Dengan begini kalian berdua sama-sama telah menjalankan tugas dengan berhasil!”

“Tidak, jangan....!” Sam-siauwya pucat. “Jangan serahkan aku pada Mao-taijin, locianpwe. Menteri itu amat membenciku dan tak mungkin dia mau melepaskan aku!”

Pemuda ini tak tahu kedudukan Bin-kwi dan kawan-kawannya, tadi hanya mendapat titipan surat dari sang paman, bahwa dia harus ikut kakek Bhutan itu karena ada satu urusan penting. Sam Yin memang diam-diam menjalin hubungan gelap dengan sang paman, Bong Kak bertiga belum tahu itu. Maka ketika Bin-kwi berkata bahwa dia hendak diserahkan pada Mao-taijin dan setelah itu Bong Kak akan menculiknya kembali padahal dia belum mengenal betul siapa orang-orang ini maka pemuda itu ketakutan dan cemas, mau berteriak namun Bin-kwi keburu menotoknya roboh. Pemuda itu pingsan dan Bong Kak mengernyitkan kening. Dan ketika Bin-kwi berkata bahwa mereka tetap harus menjalankan siasat itu maka Ma Tung melangkah ke depan dengan sikap ragu-ragu.

“Kita tak khawatir kalau Mao-taijin membunuh pemuda ini, Bin-kwi?”

“Tidak, tak mungkin dia berani. Pemuda ini keponakan Sam-thaikam, dia tahu itu. Mana mungkin Mao-taijin mau membunuh pemuda ini...“

“Tapi dia katanya membenci pemuda ini. Mao-taijin akan bersikap keras terhadap pemuda ini!”

“Ah, bisa diatur, Ma Tung. Kita sekalian mendampingi dan mengamati gerak-gerik Mao-taijin itu. Kalau dia hendak membunuh umpamanya kita bisa membujuk. Sudahlah, kalian ikut perintahku dan tak akan ada apa apa!”

Ma Tung menurut. Dia sudah menyambari pemuda yang pingsan itu, membawanya ke gedung Mao-taijin. Dua temannya mengikut dan Bin-kwi Serta Bong Kak pura-pura tak tahu saja, mereka bertiga sudah melayang turun mencari Mao-taijin. Dan ketika menteri she Mao itu ketemu dan Mao-taijin girang melihat keberhasilan Ma Tung pembesar ini berseru,

“Bagus, kau benar-benar lihai, Ma Tung. Tapi di mana Sin-ke Lo-jin?”

Ma Tung memutar akal, mendapat lirikan temanrya. “Pembantu paduka itu ketinggalan di belakang. Ilmu lari cepatnya rendah sekali, aku tak sabar dan mendahului ke mari setelah berhasil merampas pemuda ini dari tangan seseorang yang lihai!”

“Dirampas seseorang? Apa maksudmu, Ma Tung” Mao-taijin terkejut.

Ma Tung lalu bercerita. Dia berkata bahwa bersama Lojin, mereka ketinggalan oleh seseorang yang lihai, yang menculik pemuda ini dan membawanya lari dalam kereta. Mereka mengejar dan bertempur. Lawan Ma Tung hebat, pemuda itu di suruh melarikan diri dan dikejar Sin-kee Lo-jin, tak tahunya lawan lolos dan lawan yang hebat itu mengejar Lo-jin, di situ Lo-jin diserang dan dipukul pingsan.

Ma Tung ganti mengejar dan kembali menyerang lawannya itu. Dan karena dia lebih lihai dan lawan akhirnya melarikan diri maka Ma Tung berhasil membawa pemuda itu dan berkata, “Pemuda ini ternyata keponakan Sam-thaikam, taijin. Bagaimana paduka menyuruh kami menculik dan membawanya ke mari? Bukankah Sam-thaikam akan marah kalau mengetahui perbuatan ini?”

“Kalian tahu dia keponakan Sam-thaikam?”

“Ya, pemuda itu sendiri mengaku, dan lawan hamba juga berkata begitu.”

“Hmm” Mao-taijin rupanya terkejut. “Memang benar, Ma Tung. Dia ini memang keponakan Sam-thaikam. Tapi dia dan pamannya mau melakukan sesuatu yang berbahaya. Aku hendak memperingatkannya dengan menculik pemuda ini.”

“Dan mau diapakan sekarang?”

“Aku mau... hmm, aku mau mengurungnya. Tadinya aku hendak....”

“Membunuhnya kalau kami tak tahu?” Bin-kwi memotong, berkata tertawa. “Kalau begitu berbahaya, taijin. Kami peringatkan paduka pula untuk tidak mencari permusuhan!”

Mao-taijin terbelalak. “Tidak!” dia menolak. “Aku tidak bermaksud membunuh pemuda ini, Bin-kwi, melainkan benar-benar hendak mengurungnya. Sekarang terima kasih atas bantuan kalian dan biar dia bersamaku!”

Menteri ini memanggil pengawal, menyerahkan pemuda itu pada pengawal dan Bin-kwi serta dua temannya cepat berkelebat lenyap, kehadiran mereka tak boleh di ketahui seorang pun. Bin-kwi tentu saja mengamati gerak-gerik menteri itu dan siap mencegah kalau keponakan Sam-thaikam hendak dibunuh. Mereka bisa mendapat marah dari Sam-thaikam. Tapi keitka pemuda itu dimasukkan sel bawah tanah dan Bin-kwi menyeringai girang maka Setan Ketawa ini berkata pada Bong Kak,

“Sekarang giliranmu bekerja. Bawa dan ambil kembali pemuda ini dari tempatnya!”

Bong Kak mengangguk. Dengan mudah dia merobohkan pengawal, membawa dan menyambar Sam-siauwya yang masih pingsan. Mao-taijin tentu saja tak tahu akan sepak terjang tiga pengawal rahasianya ini. Bin-kwi dan teman-temannya memang ular bermuka dua. Dan ketika mereka mencari Sam-thaikam dan pembesar itu gembira melihat “keberhasilan” Bong Kak pembesar ini ganti berseru dengan muka berseri-seri,

“Bagus, terima kasih, Bong Kak. Kalian benar-benar pandai. Tapi, eh... kenapa dia pingsan?”

Bong Kak menyeringai berkata, “Hamba mengalami sedikit kesukaran, taijin. Tapi kesukaran itu sekarang tak ada lagi. Dia pingsan hamba totok setengah jam lagi dia akan siuman sendiri”

“Baiklah, kalian boleh pergi. Nih, sekedar untuk bersenang-senang!” pembesar itu melempar pundi-pundi uang, diterima dan Bong Kak serta temannya pergi. Mereka kelupaan akan isi percakapan yang didengar pemuda itu. Sam-thaikam membawa keponakannya ke kamar pribadi. Di sini ia menunggu, betul juga, setengah jam kemudian keponakaannya siuman. Dan ketika keponakannya siuman dan Sam-thaikam memanggil keponakannya itu maka pemuda ini menggigil celingukan ke sana ke mari.

“Paman ada di sini? Mana mereka itu?”

“Siapa?”

“Dua kakek tinggi besar, paman, ditambah seorang yang buntung kakinya!”

“Ha ha, mereka itu pembantuku, pengawal rahasiaku, tak perlu takut. Kau sudah ada di tempat yang aman!”

“Di gedung paman sendiri?”

“Ya.”

“Tapi aku dibawa ke tempat Mao-taijin!”

“Heh?” Sam-thaikam terkejut. “Mao-taijin? Benarkah kata-katamu itu?”

“Benar, aku dikejar-kejar dua orang paman. Dan yang seorang ini hebat sekali. Dia sama tinggi besar dengan orang yang paman utus itu, mau menangkapku tapi entah kenapa tiba-tiba tak jadi. Orang yang paman utus itu ternyata sahabatnya, aku bingung dan khawatir. Bagaimana ini?”

Sam-thaikam terkejut. Disebut-sebutnya nama Mao-taijin membuat dia mengerutkan alis, perasaan menjadi tak enak dan pembesar ini mengunci pintunya. Dia tak tahu bahwa tiga pasang telinga mendengar percakapannya itu, telinga para pengawal rahasianya sendiri. Bong Kak dan dua temannya. Kiranya Bin-kwi teringat ini dan tiba-tiba memberi tahu dua temannya, mereka kembali dan mendengarkan percakapan itu. Mereka memang orang-orang lihai.

Dan ketika Sam-thaikam menoleh sana-sini tapi tenang tak melihat apa-apa segera pembesar ini mendekati keponakannya dan berbisik, “Mereka itu pengawal-pengawalku pribadi, Sam Yin. Yang tinggi besar adalah Ma Tung dan Bong Kak sedang si kakek buntung itu adalah Siauw-Bin-kwi.”

“Siauw-bin-kwi?” pemuda ini terkejut. “Si Setan Ketawa yang dulu gagal membantu Pangeran Muda dan ibunda selir itu?”

“Ya. mereka. Sam Yin. Tapi tak perlu kau khawatir, mereka orang-orang lihai dan tak ada seorang pun di istana ini yang mengetahui kehadiran mereka!“

“Tapi Bin-kwi dianggap membantu bekas pemberontak. kehadirannya membahayakan paman. Dan lagi mereka rupanya mempunyai hubungan erat dengan Mao-taijin!”

“Sudahlah.” sang paman tertawa. “Aku mengetahui itu, Sam Yin. Kembali kuberi tahu padamu tak usah khawatir. Mereka memang juga pembantu Mao-taijin, mereka terpaksa digunakan untuk menghadapi Kim-mou-eng!”

“Dan paman memanggilku untuk apa?”

“Urusan Sam-kong-kiam.”

“Hah! Pedang keramat itu?”

“Huus, jangan keras-keras, Sam Yin. Bin-kwi dan teman-temannya itu rupanya juga mengetahui kehebatan pedang ini secara lengkap. Mereka tahu daya gaib pedang yang hilang itu. Aku hendak mempergunakan mereka sebagai alat!”

“Alat bagaimana?”

“Kau dengarlah”, sang paman duduk berseri-seri, mengusap meja. “Kukira dalam waktu dekat ini Kim-mou-eng akan ke mari, Sam Yin. Kalau benar Pendekar Rambut Emas itu datang maka sebuah sejarah baru akan mengukir nama keluarga kita!”

“Mengukir bagaimana? Apa maksud paman?”

“Kau jangan memotong, dengarkan aku dulu,” Sam-thaikam tertawa. “Aku telah merencanakan sesuatu yang hebat, Sam Yin, Dan rencana ini khusus kutujukan untukmu. Stop, jangan bertanya....!” pembesar itu mengulapkan tangannya, melihat sang keponakan hendak membuka mulut “Dengarkan saja baik-baik dan ketahuilah...!”

Lalu melihat keponakannya mengerutkan kening menutup mulut pembesar ini segera melanjutkan “Sam Yin, kau adalah satu-satunya keponakanku lelaki. Kau merupakan penerus keturunan keluarga Sam. Dan karena kau adalah satu-satunya keponakanku lelaki maka aku hendak membuat dirimu hidup mulia dan mengukir sejarah baru keluarga kita.”

“Aku tak jelas, paman masih berbelit belit!” sang pemuja akhirnya bicara juga.

“Tentu, kau terlalu bernafsu bertanya, Sam Yin. Sekarang dengarkan penjelasanku ini. Bahwa aku ingin mengangkatmu sebagai kaisar. Bahwa dengan Pedang Tiga Dimensi yang akan dirampas tiga pengawalku pribadi itu aku hendak menjadikanmu sebagi orang yang paling tinggi derajatnya di muka bumi. Aku hendak memberikan pedang Sam-kong-kiam itu kepadamu!“

Pemuda ini terkejut. “Tapi pedang itu ada di tangan Kim-mou-eng!”

“Sabarlah,” sang paman kembali tertawa. “Aku tahu itu, Sam Yin. Tapi bukankah Bin-kwi dan teman temannya akan merampasnya untukku. Aku hanya menunggu kedatangan Kim-mou-eng itu dan mereka akan menghadapinya. Bin-kwi telah berjanji untuk menyerahkan pedang itu bila Kim-mou-eng berhasil dibunuh. Dan karena aku ingin pedang itu terjatuh ke tanganmu maka aku tak akan menyerahkan Sam-kong-kiam ini kepada sri baginda. Kau harus menjadi kaisar!”

“Paman....!” Sam Yin melompat bangun. “Mungkinkah itu? Mungkinkah aku dapat....”

“Tunda pertanyaanmu,” sang paman kembali memotong “Aku telah merencanakan sesuatu dengan matang, Sam Yin. Karena itu aku memanggilmu ke mari untuk membicarakan ini. Kita tak akan berhasil kalau Mao-taijin mengganggu, karena itu aku juga telah merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan menteri ini!”

“Maksud paman?“ pemuda ini terbelalak. “Kau ingat Mo Kang, bukan?”

“Putera Mao tajin itu?”

“Ya, menteri she Mao itu pun mengidamkan putranya mengganti kaisar, Sam Yin. Dan karena aku tak ingin didahului menteri ini maka kuberi imbalan-imbalan besar pada tiga pengawaiku yang hebat itu. Mereka juga membantu Mao-taijin, aku tahu. Tapi karena aku memberi hadiah lebih banyak dan lebih memuaskan pada tiga kakek itu maka Bin-kwi dan dua temannya ku yakin membantu kita lebih sungguh-sungguh dibanding Mao-taijin!”

Sang kemenakan ternganga.

“Dan kau tahu gerak-gerik Mao-taijin?”

“Tidak.”

“Ha ha, dia pun mau mengangkangi Pedang Tiga Sinar itu melalui Bin-kwi!”

“Paman tahu?”

“Tentu saja. Aku telah mengamati gerak-gerik menteri itu, Sam Ym. Aku memasang beberapa orangku di sana!”

“Aih...!” pemuda ini terbelalak. “Kalau begitu Mao-taijin merupakan saingan berbahaya, paman. Kita harus mendahuluinya dan membunuhnya kalau perlu!”

“Tidak, sementara ini jangan. Kalau kita mau membunuhnya maka yang kita bunuh adalah puteranya, Mao Kang. Kita dapat mempergunakan tiga iblis itu melaksanakan perintah dan bocah itu dapat dibereskan. Tapi itu nanti. Yang penting sekarang ini adalah bagaimana Kim-mou-eng segera datang dan Bin-kwi serta dua temannya merampas pedang itu!”

“Hm!” pemuda ini mengangguk-angguk, berseri mukanya. “Kalau begitu hebat, paman. Tapi kenapa kau memilih aku? Bukankah kau sendiri dapat menggapai cita-citamu itu dan menjadi kaisar?”

“Seorang thaikam mana bisa menjadi kaisar, Sam Yin?” pembesar ini marah, teringat keadaannya sebagai pembesar kebiri. “Bukankah aku tak bisa mendapatkan keturunan? Percuma aku mengangan-angan itu karena aku telah menjadi laki-laki tak sempurna!”

“Maaf.” pemuda ini teringat. “Aku lupa paman. Kalau begitu budimu sungguh tak akan hilang seumur hidup.”

“Sudahlah, akupun ingin naik tingkat. Aku jemu menjadi kepala harem melulu. Kalau kau dapat menjadi kaisar aku ingin menjadi penasehat, penasehat agung!”

“Tentu, tentu paman. Aku akan mengangkatmu sebagai apa saja yang kau suka!” Sam Yin girang. “Tapi bagaimana sekarang dengan langkah-langkah paman berikutnya?”

“Hm, ceritakan dulu keteranganmu tadi. Kau menyatakan dikejar-kejar kakek tinggi besar itu, tentu Ma Tung maksudmu. Bagaimana dia bisa tahu kau pergi? Kenapa Ma Tung tak mengenal temannya sendiri? Aku agak merasa aneh mendengar ini, tentunya mereka tak perlu bertempur dan bertanding sendiri.”

“Kami mengenakan kedok, paman. Maksudku orang utusanmu itu....”

“Ya, dia Bong Kak”

“Benar, kakek lihai bernama Bong Kak itu menyembunyikan muka di balik kedok. Kami meninggalkan Lia-oning malam hari, naik kereta dau kakek Bhutan itu mendengar orang mengejar di belakangnya. Kereta kami hentikan dan benar saja kami disusul, dua orang....”

“Dua orang?”

“Ya, dua orang, paman. Kakek Ma Tung itu dan temannya menyembunyikan muka pula di balik saputangan. Ma Tung dan Bong Kak akhirnya bertempur, aku melarikan diri dan dikejar orang kedua itu....”

“Siapa?”

“Aku tak tahu.”

“Pasti Sin-kee Lo-jin!” Sam-thaikam mengetok meja. “Apakah kau tidak mengenal suaranya?”

“Suara di balik saputangan itu menjadi sengau, paman. Aku tak jelas dan saat itupun aku dilanda takut.”

“Lalu?”

“Aku terkejar, orang kedua ini mau menangkapku tapi kakek Bhutan bernama Bong Kak itu muncul. Dia melempar lawanku itu dan aku selamat. Lalu muncul temannya bernama Ma Tung itu, aku dibawa dan akhirnya bertemu Siauw-bin-kwi...”

“Hm, jelas kalau begitu,” Sam-thaikam manggut-manggut. “Kiranya Mao-taijin pun sudah mencium gerak-gerikku, Sam Yin. Sementara aku mengirim Bong Kak untuk membawamu ke sini ternyata ia pun menyuruh Ma Tung menculikmu. Mengerti aku sekarang, menteri ini berbahaya dan dia pun rupanya juga menanam orang-orangnya di gedungku!”

“Mata-mata?”

“Tentu, kita harus hati hati.”

“Dan aku mendengar Siauw bin-kwi berkata pada dua temannya agar aku dibawa ke Mao-taijin, paman. Ketika aku berteriak dan minta mereka membatalkan niat itu sekonyong-konyong aku ditotok!”

Sam-thaikam terbelalak. “Kau sudah dibawa ke Mao-taijin?”

“Aku tak tahu, aku pingsan....”

“Celaka, kalau begitu Mao-taijin akan mencari-carimu besok. Ini berarti Bong Kak baru saja mengeluarkan dirimu dari cengkeraman menteri itu!”

Sam Yin terkejut. Melihat pamannya berobah mukanya dia pun dag-dig-dug. Sayang dia tak tahu apakah dia sudah ditemukan dengan menteri she Mao itu atau tidak, saat itu dia pingsan. Tapi pamannya yang gelisah dan bingung mendengar ini tiba-tiba melompat keluar.

“Mau ke mana, paman?” pemuda itu kaget.

“Memanggil Bin-kwi atau Bong Kak...!” dan Sam-taijin yang bergegas membuka pintu tiba-tiba bertepuk tangan dan memanggil pembantu-pembantunya itu. Biasanya Bin-kwi dan kawan-kawannya akan muncul, mereka tak pernah jauh darinya. Tapi ketika tiga kali tepukan tak juga sebuah pun bayangan muncul di depannya tiba-tiba pembesar ini marah.

“Bin-kwi, di mana kalian?”

Ma Tung tiba-tiba muncul, mengejutkan pembesar ini, begitu saja. “Paduka ada perintah, taijin?”

Sam-thaikam tertegun. “Mana Bin-kwi?”

“Ke tempat Mao-taijin, baru saja dipanggil.”

“Ada urusan apa?”

“Mana hamba tahu? Hamba menjaga di sini, baru saja meronda di timur gedung.”

Sam-thaikam mengerutkan kening, bersikap apa boleh buat. “Baiklah, kau saja yang bertugas, Ma Tung. Aku ingin kau mengantar keponakanku keluar kota raja, sekarang juga.”

“Eh, bukankah baru tiba?”

“Benar, tapi bukankah dia juga baru dari Mao-taijin?” dan ketika Ma Tung mengangguk dan menyeringai lebar maka Sam-thaikam tahu apa yang telah terjadi, semakin kuat dugaannya, menyuruh Ma Tung malam itu juga mengantar keponakannya ke Su-chung, dusun kecil di mana tinggal seorang saudara perempuannya dan menyuruh Sam Yin bersembunyi di sana. Keadaan dinilai darurat karena besok Mao-taijin akan mencak-mencak kehilangan tangkapannya.

Ma Tung bicara apa adanya karena Bn-kwi berkata, ”tak usah mereka menyembunyikan hal itu pada Sam-thaikam, justeru apa yang mereka perlihatkan ini merupakan kesetiaan mereka pada Sam-thaikam. Betapapun keponakan pembesar itu akhirnya mereka berikan pada Sam-thaikam. Dan ketika Sam-thaikam mengangguk dan semakin percaya pada pembantu pembantunya ini maka malam itu juga Sam Yin diminta untuk pergi ke dusun di sebelah barat kota raja, diantar kakek Bhutan ini yang siap menjaga.

Sam-thaikam bertanya di mana Bong Kak, dijawab bahwa Bong Kak masih mengelilingi gedung, menjaga keselamatan pembesar itu. Memang mereka bertiga sering berganti-ganti mengawasi, itulah sebabnya Ma Tung muncul ketika yang lain tak ada. Dan karena pembesar ini memiliki kepercayaan pada pembantunya dan malam itu juga menyuruh keponakannya berangkat, maka Ma Tung sudah menyambar pemuda ini dan berkelebat ke dusun Su-chung.

Tapi benarkah Ma Tung menjalankan tugasnya dengan baik? Sam Yin tak tahu itu. Dia tiba-tiba dibuat tak sadar ketika dirinya disambar, katanya Ma Tung melakukan itu agar dirinya tak ketakutan dibawa “terbang”. Sam Yin tak tahu apa yang terjadi. Kepandaian kakek ini memang tinggi. Dan ketika pemuda itu mengira dirinya di bawa ke dusun Su-chung maka sebenarnya kakek ini membawanya ke tempat Bin-kwi bersembunyi.

“Nah, sekarang kita semua telah mendengar pembicaraan pembesar itu. Aku disuruh menyembunyikan keponakannya ini di Su-chung. Apa yang akan kita lakukan, Bin-kwi? Haruskah aku mengantar si manja ini ke bibinya?”

Bin-kwi tersenyum-senyum. Tadi dia sengaja tak muncul sewaktu dipanggil Sam-thaikam, begitu juga Bong Kak, menyuruh Ma Tung yang muncul dan menerima perintah Sam-thaikam. Kini Bin-kwi tahu bahwa Sam-thaikam ingin mendapatkan Pedang Tiga Dimensi, pantas menyuruh datang keponakannya untuk diberi tahu tentang itu. Kiranya pembesar kebiri ini pun ambisius, diam-diam ingin mengangkat keponakannya menjadi kaisar. Rupanya dengan memegang pedang itu saja orang lain dapat menikmati kekuatan gaibnya. Betapa mudahnya. Dan ketika dia tertawa dan Ma Tung datang membawa keponakan Sam-thaikam yang pingsan maka iblis ini menjawab.

“Sekarang kita juga tahu bahwa Mao-taijin pun kiranya diam-diam ingin mendapatkan Sam kong-kiam. Pedang ini ternyata betul betul dapat membuat orang mengilar. Kedudukan seperti dua orang pembesar itu bukankah sebenarnya sudah tinggi? Mau tinggi macam apalagi mereka itu? Heh-heh, kita dikira bodoh, Ma Tung Mereka rupanya mau memperalat kita untuk merampas pedang ini dari Kim-mou-eng, padahal taruhan kita adalah nyawa. Sekarang Sam-thaikam menyuruh kau mengantar keponakannya ke Su chung, lakukan saja pekerjaan itu dan kau cepat kembali ke sini setelah melempar bocah ini. Mau apa lagi?”

“Jadi si menyebalkan ini kubawa juga?”

“Ya, sekalian mencari tahu tempat tinggal saudara perempuan Sam-thaikam itu. Bocah ini dininabobokkan pamannya, biar dia tenggelam dalam nina-boboknya itu dan berenang dalam laut khayal!”

“Tapi aku ingin melempar si tiada guna ini, aku ingin membenamkannya ke dalam lumpur!”

“Ah, jangan, Ma Tung. Itu berbahaya. Kepercayaan Sam-thaikam sudah semakin bertambah, jangan menurutkan emosi dan nafsu belaka. Bocah ini tak berbahaya bagi kita, kita tak perlu khawatir padanya.”

“Tapi dia calon kaisar, Sam-thaikam telah memilih bocah ini untuk menduduki tempat tertinggi!“

“Ha-ha, jangan melantur, Ma Tung. Itu baru khayal Sam-thaikam! Kalau kita tak memberikan Sam-kong-kiam padanya apakah dia pun dapat mendudukkan keponakannya sebagai kaisar? Kalau kita miliki sendiri pedang keramat itu apakah angan-angin Sam-thaikam dapat terkabul? Ha-ha, jangan bodoh, Ma Tung. Itu. semuanya tergantung kita!”

Ma Tung terbelalak, tertegun juga.

“Benar, bukan?” Bin-kwi menyambung, berkata tertawa. “Atau kata-kataku salah?”

“Tidak,” Ma Tung akhirnya sadar. “Kau benar. Bin-kwi. Aku lupa bahwa semuanya ini sebenarnya tergantung kita.”

“Itulah, karena itu jangan bodoh. Biarkan Sam-thaikam menganggap kita jinak kepadanya dan terus mengalirkan uangnya kepada kita. Tapi begitu Sam-kong-kiam terampas dan jatuh di tangan kita maka pedang itu tak akan kita serahkan pada si dungu bodoh!”

Ma Tung mengangguk angguk.

“Dan sekarang kau cepat pergi, Ma Tung. Cepat kembali dan bersiap-siap di sini. Besok kita akan menghadapi kemarahan Mao-taijin yang kehilangan bocah ini.”

“Dan kita dituduh.”

“Tuduh apa? Bukankah kita sudah menyerahkan bocah itu dan Mao-taijin menyuruh pengawalnya? Ha-ha, jangan goblok, Ma Tung. Mao-taijin telah melihat kesungguhan kita dan tak mungkin curiga. Yang kena damprat tentu pengawalnya itu, kita paling paling disuruh mencari dan bisa saja berpura-pura mencari!”

Ma Tung terbelalak. “Setan kau,” desisnya. “Kau cerdik, Bin-kwi. Kau benar-benar siluman!” dan Ma Tung yang kagum akan kepintaran temannya ini tiba'tiba disambut tawa bergelak dan Bin-kwi menyuruh kakek itu pergi, mengantar kemenakan Sam-thaikam dulu dan Bong Kak yang ada di samping si Setan Ketawa ini juga mengangguk angguk. Bong Kak pun kagum.

Dan ketika Ma Tung mendesis dan berkelebat pergi maka Bong Kak memuji temannya ini. “Bin-kwi, kau hebat. Otakmu benar benar jalan!”

“Sudahlah,” Bin-kwi tertawa lebar. “Kau tak perlu memujiku. Bong Kak. Ini sebenarnya bukan persoalan rumit. Yang rumit masih ada di depan, kita harus menghadapi Kim-mou-eng dan kepandaiannya itu tak boleh kita pandang ringan!“

“Hm aku jadi gatal tangan. Kalau dulu dia tak melarikan diri dan mau menghadapi kita bertiga tentu Sam-kong-kiam terampas!”

“Ya, dan kuharap pendekar itu tak tahu kita di sini. Itulah sebabnya kalian kubawa ke sini. Dan sekali dia muncul dan kita kepung tak boleh dia lolos lagi dan Sam-kong-kiam harus menjadi milik kita!”

Bong Kak mengangguk-angguk. Dia mengepal tinju dan gemas teringat kejadian dulu, meskipun diam-diam diapun bergidik melihat kehebatan pedang itu, ketajamannya yang luar biasa dan kepandaian Kim-mou-eng pula. Sayang mereka tak bisa puas, Kim-mou-eng keburu kabur menyelamatkan sumoinya. Dan ketika beberapa jam kemudian Ma Tung kembali ke tempat mereka dan berkata bahwa kemenakan Sam-thaikam itu telah diantar ke tempat bibinya maka benar saja di lain pihak keesokan harinya Mao-taijin marah-marah kehilangan tangkapannya.

“Goblok! Kalian kerbau kerbau tolol. Masa kalian tak tahu siapa yang menculik bocah itu. Mana Bin-kwi? Mana tiga pengawalku yang lihai?”

Pembesar ini kelepasan bicara, dalam gusarnya menyebut nyebut nama Bin-kwi dan para pengawal melenggong. Memang mereka tak tahu kehadiran tiga iblis itu. Tentu saja pembesar ini sadar dan cepat menutup mulut. Hampir dia membuka rahasianya sendiri. Dan ketika pengawal melongo dan dibentak diusir pergi akhirnya menteri ini menepuk tangan memanggil Bin-kwi dan kawan kawannya.

“Celaka, kita kebobolan. Bocah itu lenyap!”

Bin-kwi pura,pura bodoh. “Siapa yang lenyap, taijin? Kebobolan apa?”

“Anak yang semalam kalian kirim itu, dia sudah tak ada lagil”

“Lho?” Bin-kwi semakin pura-pura terkejut. “Bagaimana terjadinya itu, taijin? Kapan hilangnya?”

“Semalam!. Semalam pengawalku kedatangan penculik, mereka dirobohkan dan bocah itu dibawa. Aku menyesal tak menyuruh kalian saja yang menjaga!” dan Mao-taijin yang mencak-mencak kehilangan tangkapannya lalu bercerita bahwa kemenakan Sam-thaikam dibawa lari seseorang, mungkin orang yang dihadapi Ma Tung itu. Bin-kwi dan teman temannya ah oh, mereka berlagak bloon dan ikut marah.

Dan ketika Mao-taijin selesai bercerita dan Bin-kwi mengetukkan kaki bambunya maka iblis ini berkata, “Kalau begitu kami cari dia. taijin. Biar kami bertiga menangkap dan membekuk penculik hina ini!”

“Betul, kalian boleh cari penculik itu. Tangkap dan bawa lagi bocah she Sam itu. Tapi jangan bertiga. Cukup seorang saja dan biar Bong Kak yang melakukan pekerjaan ini!”

Bong Kak mengangguk. “Baik, taijin.”

Dan begitu dia berkelebat dengan tawa di dalam hati maka tokoh Bhutan ini pura,pura pergi dan mencari “penculik”, tentu saja tak akan dicari karena penculiknya adalah dia sendiri. Bin-kwi dan Ma Tung ikut tertawa melihat semuanya ini. Mereka lagi-lagi bertemu di tempat persembunyian. Itu sepak terjang mereka belaka. Dan sementara mereka geli oleh hasil perbuatan mereka ini maka seseorang yang mereka lupakan datang menemui Mao-taijin, berbisik-bisik dan Mao-taijin mengerutkan alis. Orang lain ini bukan lain Sin-kee Lojin adanya, hari itu tertatih-tatih menghadap majikannya. Melapor apa yang terjadi dan mengatakan bahwa dia pingsan dipukul lawan yang amat lihai, bertanya apakah Ma Tung berhasil memberikan keponakan Sam-thaikam itu dan apakah semuanya baik-baik.

Kebetulan Mao Kang, putra Mao-taijin itu ada di situ, dia melihat ayahnya marah-marah, menemani sang ayah dan ikut marah melihat lenyapnya Sam Yin. Dan ketika Mao-taijin mengatakan bahwa tangkapan mereka sudah dibawa tapi hilang kembali dilarikan penculik maka Ayam Sakti yang setia pada majikannya ini tertegun.

“Hilang, taijin? Lenyap dari tempat tinggal paduka?”

“Ya, semalam pengawal yang bodoh itu diserang, Lojin. Dan mereka mengatakan tak tahu pula siapa penculik ini!”

Si Ayam Sakti mengerutkan, alirnya. “Tapi ada tiga pengawal paduka yang sakti, apakah mereka tak tahu?”

“Mereka telah menyerahkan bocah itu kepadaku, dan aku lalu menyerahkannya pada pengawal bawah tanah.”

“Itu tak soal, seharusnya mereka tahu dan menangkap penculik ini!”

Mao-taijin terkejut. “Kau menuduh?”

“Maaf.” Sin-kee Lo-jin memandang ke sana ke mari, berhati-hati. “Tangkapan itu disembunyikan di wilayah paduka, taijin. Bukankah seharusnya Bin-kwi dan teman-temannya itu tahu kalau musuh mendatangi tempat ini? Bukankah tak masuk akal kalau mereka tak tahu dan tawanan lenyap. Ampun, hamba bukan menuduh mereka ini, taijin. Tapi janggal rasanya kalau Bin-kwi dan dua temannya yang lihai itu tak tahu, kecuali mereka berada di luar dan tidak menjaga tempat paduka!”

Mao-taijin terbelalak, mengangguk-angguk. “Benar, aku juga merasa heran, Lojin. Apakah mereka tak ada di tempat ketika penculik itu datang?”

“Atau mereka sendiri yang menculik?” Mao Kang, pemuda di samping ayahnya tiba-tiba berseru, membuat ayahnya terkejut. Dan ketika Lo-jin tampak berseri-seri dan rupanya setuju pada kata-kata pemuda ini maka Mao Kang menyambung, “Apa yang dikata Lojin beralasan, ayah. Aku jadi curiga terhadap tiga kakek iblis itu. Kita mungkin tertipu, dan ayah harus menyelidiki ini!”

“Hm. bagaimana menyelidiki mereka?”

“Dengan mengawasi gerak-geriknya!”

“Tapi tak ada seorang pun di antara kita yang sanggup mengikuti gerak-gerik tiga kakek iblis itu. Apakah kau sanggup?”

Sang anak terdiam, terkejut. Dia lupa dan bingung juga setelah sang ayah bicara begini. Bin-kwi dan kawan-kawannya memang lihai, lagi pula mereka dirahasiakan ayahnya ini, tak ada pengawal tahu. Tapi Mao Kang yang rupanya tak mau kalah dan cerdik memutar akal tiba-tiba berkata, “Ayah, mereka memang tak dapat diikuti gerak-geriknya. Tapi kita tentu dapat membuat mereka salah arah dan tertangkap basah!”

“Salah arah bagaimana? Tertangkap basah bagaimana?”

“Begini, ayah. Aku mempunyai akal....” Mao Kang berbisik-bisik, sang ayah manggut-manggut dan Mao-taijin rupanya girang. Pembesar ini setuju. Dan ketika sang anak selesai bicara dan Sin-kee Lo jin menunggu saja maka malam itu Bin-kwi menghadapi cobaan kedua.

“Bin-kwi,” demikian Mao-taijin mulai bicara. “Aku ada persoalan serius yang ingin kukatakan kepadamu. Bagaimana dengan Bong Kak yang kusuruh cari pemuda itu? Ada hasilkah?”

Bin-kwi tersenyum. “Belum taijin. Bong Kak belum datang!“

“Lalu kapan kira-kira?”

Bin-kwi mengerutkan alis. “Hamba tidak tahu, tapi tentunya tidak lama.”

“Kau bisa menentukan batas waktunya?”

Repot! Bin-kwi tiba-tiba mendesah. Mendadak dia menjadi bingung oleh desakan ini. Mao-taijin menyuruh dia menemukan waktu, padahal Bong Kak ada di belakang lagi menikmati kesukaannya, bermain-main dengan dayang muda. Dan ketika Mao-taijin bertanya apakah kira-kira dia dapat menemukan itu dan kapan si penculik dapat dibawa maka pembesar ini berkata,

“Kalau kalian tak dapat menangkap penculik itu percuma saja kalian mengaku pandai. Bin-kwi. Percuma saja aku mempercayai kalian dan memberi kedudukan pada kalian. Padahal Kim-mou-eng pasti lebih lihai dibanding penculik itu, jadi kalian harusnya mampu. Kenapa sekarang tak dapat menjawab dan kelihatan bingung? Manakah jasa kalian?”

“Hmm.” Bin-kwi menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. “Hamba tak dapat menentukan karena bukan hamba yang diberi tugas, taijin. Bong Kak tak ada di sini dan hamba harus mencari dia dulu.”

“Kalau begitu carilah, tentukan beberapa lama kau pergi dan katakan hasil tidaknya.”

“Baik,” dan Bin-kwi yang lenyap meninggalkan menteri itu lain menemui dua temannya yang lagi bersenang-senang di belakang, menceritakan permintaan menteri itu dan Ma Tung serta Bong Kak bingung.

Mereka lupa bahwa mereka pasti dituntut kabarnya tentang penculik ini, berhasil tidaknya. Tapi ketika Bin-kwi menggaruk-garuk kepala dan mengumpat dengan muka merah tiba-tiba Bong Kak berseru, “Aku datang saja pada Mao-taijin. Katakan terus terang bahwa aku tak berhasil menangkap penculik ini...!”

“Bagus, dan mendapat kata-kata manis bahwa kita tak mampu melaksanakan perintah menteri itu? Bahwa kita ternyata tolol dan Mao-taijin jadi sangsi akan tugas kita menghadapi Kim-mou-eng? Tidak, itu tak boleh terjadi, Bong Kak. Itu sama halnya menghilangkan kepercayaan Mao-taijin kepada kita!” Bin-kwi mendamprat.

Temannya tertegun dan Bong Kak melihat ada benarnya juga kata-kata itu. Memang Mao-taijin tak akan percaya lagi pada mereka, padahal mereka baru mendapat tugas penting ini sekali, belum dua kali atau tiga kali. Bong Kak menjadi bingung dan marah. Dan ketika Bin-kwi menggeleng berkali-kali dan Ma Tung juga kelihatan terdesak maka mereka bertiga jadi mati kutu dan termangu-mangu.

“Bagaimana?”

Tak ada yang menjawab.

“Sebaiknya bocah itu kita ambil kembali. Ma Tung melaksanakan tugas ini dan Bong Kak yang menyerahkannya pada Mao-taijin.”

Ma Tung dan Bong Kak terbelalak. “Kau tak takut dampratan Sam-thaikam?”

“Hm, semuanya bisa diatur, Ma Tung. Kau ambil bocah itu tapi jangan tunjukkan dirimu. Gunakan kedok, bawa kembali bocah itu dan kita serahkan Mao-taijin. Semuanya aku yang bertanggung jawab!”

Ma Tung mengangguk. Kalau Bin-kwi sudah bicara tentang tanggung jawab tentu saja dia merasa ringan. Urusan nanti selanjutnya di pundak temannya itu. Malam itu juga dia pergi dan mengambil Sam Yin, pemuda ini ditotok dan dirobohkan tanpa mengetahui siapa penyerangnya. Bong Kak menerima pemuda itu dan datang pada Mao-taijin, berkata bahwa dia berhasil mengejar si penculik dan Mao-taijin girang, tiba-tiba keraguannya lenyap dan akal anaknya berhenti setengah jalan. Sam Yin kini dijaga ketat dan Bin-kwi serta dua temannya Itu yang diminta menjaga. Tiga iblis ini tersenyum sejenak. Tapi ketika ganti Sam-thaikam marah-marah dan mendengar hilangnya keponakannya itu maka Bin-kwi dipanggil dan disemprot.

“Bagaimana ini? Kenapa keponakanku lenyap?”

Bin-kwi pura-pura bodoh, menyeringai. “Hamba tak tahu, taijin. Bukanlah paduka sudah menyembunyikannya di dusun Su-chung?”

“Ya, tapi saudara perempuanku ini datang. Dia memberi tahu sambil menangis bahwa keponakanku lenyap. Ini tak boleh jadi!”

“Lalu maksud paduka?”

“Aku menuntut tanggung jawab kalian, terutama Ma Tung. Dialah yang tahu rumah persembunyian kemenakanku!”

Celaka Bin-kwi tiba-tiba berobah mukanya. Sam-thaikam menyuruh dia memanggil temannya itu, Ma Tung menghadap dan bingung. Dan ketika thaikam itu marah-marah dan berkata bahwa tak ada orang lain tahu kecuali Ma Tung maka pembesar ini berkata,

“Ini tanggung jawabmu, Ma Tung. Aku tak mau tahu pokoknya Sam Yin harus kembali. Kalau tidak kalian tak dapat kupercaya lagi dan aku tak akan mempergunakan kalian!”

Ma Tung dan Bin-kwi bingung. Sam-thaikam adalah orang yang paling royal memberikan hadiah, tiba-tiba mereka berada di persimpangan jalan dan gugup. Ma Tung mengeluarkan keringat. Dan ketika Sam-thaikam kembali berkata bahwa mereka bertiga terutama Ma Tung harus bertanggung jawab atas hilangnya anak muda itu karena hanya kakek Bhutan inilah satu-satunya orang yang tahu di mana Sam Yin bersembunyi maka Ma Tung mencaci temannya ketika mereka mundur ke belakang.

“Bangsat, baru kali ini aku dibenci pembesar kebiri, Bin-kwi. Kalau bukan gara-gara kau tentu tak akan terjadi semuanya ini. Hayo mana tanggung jawabmu, apa yang harus kita lakukan dan siapa yang akan kita pilih di antara dua pembesar itu?”

Bin-kwi kecut. Sekarang dia menjebak teman temannya sendiri dalam keadaan yang tidak enak, Ma Tung marah dan memaki dirinya. Dia harus mencari jalan keluar. Dan karena jalan ke luar itu hanyalah membebaskan Sam Yin dan mengembalikan pemuda itu ke asalnya maka Bin-kwi nekat dan membebaskan keponakan Sam-taijin itu. Esoknya kemenakan Sam-thaikam itu lagi-lagi “hilang”.

Mao-taijin mencak-mencak dan menuduh mereka. Merekalah yang menjaga. Tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba tawanan lenyap. Bin-kwi dan dua temannya “disidang”. Dan ketika mereka terpojok dan bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan Mao-taijin mendadak terdengar suatu tawa bergelak dan empat bayangan muncul berkelebat satu per satu.

“Ha-ha, permainanmu ini konyol, Bin-kwi. Kalau niat menipu Mao-taijin bilang saja terus terang. Kami berempat tahu semua sepak terjang kalian...!”

“Mo-ong....!” Bin-kwi terkejut, melompat berdiri dan melihat Mo-ong serta Hek-bong Siang lo-mo di situ, bersama Bu kongcu. Guru dan murid ini bersinar-sinar memandang mereka. Mo-ong lah yang tadi tertawa bergelak dan mengejek si Setan Ketawa ini. Dan ketika Bin-kwi terkejut dan kaget melihat kedatangan bekas rekannya tiba-tiba Bong Kak yang marah dan menggereng keras mencelat dari tempat duduknya menghantam kakek bermuka singa ini, baru kali itu bertemu Mo-ong.

“Manusia busuk, kau enyahlah!”

Mo-ong terbelalak. Dia telah mendengar munculnya dua tokoh Bhutan ini, baru kali itu pula mengenal Bong Kak dan Ma Tung, mendengar hidupnya Bin-kwi yang dikira tewas. Kini melihat serangan Bong Kak dan kaget oleh angin pukulannya yang dahsyat. Mo-ong membelalakkan mata tapi tiba-tiba tertawa dan berseru keras. Dan ketika angin pukulan tiba dan Bong Kak menggeram mengerotokkan buku-buku jarinya mendadak iblis ini menangkis dan cepat merendahkan tubuh setengah membungkuk.

“Dess!” Dua orang itu sama terpental. Baik Mo-ong maupun lawannya mencelat setombak, masing masing melotot. Adu pukulan itu membuat dinding tergetar dan Mao-taijin khawatir gedungnya ambruk.

Bong Kak berseru marah dan menerjang lagi, kali ini dia mengerahkan Hek-in-ciangnya hingga kedua lengan mengeluarkan uap hitam, juga bau amis. Tapi Mo-ong terbahak gembira dan justeru penasaran melihat kekuatan lawan tiba-tiba merendahkan tubuh semakin membungkuk lagi dan berteriak,

“Bin-kwi, temanmu hebat!” dan begitu dua lengan iblis ini digetarkan ke muka dan menyambut Hek-in-ciang tiba-tiba genteng di atas berkerotok dan langit-langit ruangan runtuh. Membuat Mao-taijin berteriak-teriak dan lain-lain melompat keluar.

Adu pukulan itu mengguncang jantung, Mao-taijin terjerembab di sana, batuk-batuk. Sin-kee Lo-jin cepat menolong dan membawa majikannya itu keluar. Mo-ong dan Bong Kak sendiri terjengkang bergulingan dan sama-sama mengeluh. Tapi ketika mereka melompat bangun dan para pengawal berdatangan kaget oleh ribut-ribut itu maka Bin-kwi berseru menahan teman-temannya, sadar.

“Mo-ong, Bong Kak, tahan. Jangan kalian bertempur!” dan mengibas para pengawal yang berdatangan dengan kedua lengan bajunya, iblis ini membentak agar para pengawal itu mundur. Ia terpaksa melakukan itu. Mao-taijin marah-marah. Dan ketika semuanya terbelalak dan ngeri namun gembira oleh pertandingan dua orang itu, Bin-kwi buru-buru mengangkat tangan tinggi-tinggi, mengenal watak Mo-ong yang rupanya memiliki keperluan dengannya. “Mo-ong, kau datang dengan tiba-tiba. Apa maksudmu kesini mencari aku? Ada keperluan apa?”

“Heh-heh,” Mo-ong mengusap dada kirinya yang sesak, melotot tapi kagum memandang Bong Kak. “Temanmu itu hebat, Bin-kwi. Siapa dia? Mau kau memperkenalkan sebelum aku menjawab pertanyaanmu?”

“Dia Bong Kak, yang ini Ma Tung.”

“Dari Bhutan?”

“Ya.”

“Bagus, kalau begitu kita semakin kuat!” dan ketika lawan mengerutkan kening memandangnya Sai-mo-ong berkata, “Bin-kwi, aku datang untuk mengucap syukur bahwa kau masih selamat. Ini tak kusangka. Dan kedua, aku hendak memberi tahu kematian Kim-mou-eng.”

“Apa, Kim-mou-eng mampus?” Bin-kwi kaget. “Kau main-main, Mo-ong?”

“Ha-ha, yang membunuh adalah aku dan Sepasang Iblis Kuburan ini, Bin-kwi. Kau boleh tanya mereka kalau tidak percaya!”

“Tapi beberapa bulan yang lalu aku bertemu Kim-mou-eng, aku melihat dan menghadapinya bersama dua temanku ini...” Bin-kwi tak percaya.

“Betul, tapi Kim-mou-eng kini telah mampus, Bin-kwi. Dulu aku membunuhnya tapi rupanya Pendekar Rambut Emas itu hidup lagi. Sekarang seseorang benar-benar membuatnya tak ada lagi di dunia. Kim-mou-eng telah tewas tapi seorang musuh luar biasa menantang kita!”

Bin-kwi bingung. “Mo-ong, sebaiknya tak perlu main-main. Beberapa waktu yang lalu Kim-mou-eng ke istana, menculik dayang dan sampai kini ditunggu kedatangannya oleh Mao-taijin. Kami pun menunggu kedatangannya, sekarang kau bilang dia mampus dan tak ada lagi. Siapa mau percaya omonganmu yang suka membual ini?”

“Hm!” Mo-ong mengejek. “Kau tanya dua iblis ini, Bin-kwi. Dan biar kau menunggu Kim-mon-eng seumur hidup pun tak bakalan dia datang!”

“Apa yang terjadi? Kalian dapat menceritakannya, Lo-mo?” Bin-kwi kini memandang Sepasang Iblis Kuburan itu.

Hek-bong Siang lo-mo mendengus dan mengangguk. Dan ketika Lo-mo bercerita bahwa Kim-mou-eng telah tewas dan Pedang Tiga Dimensi yang ada di tangan pendekar itu dirampas Giam-lo-kiam (Si Pedang Maut) Hu Beng Kui, maka si Setan Ketawa ini terbelalak dan tertegun.

“Giam-lo-kiam Hu Beng Kui? Siapa dia ini? Kenapa aku belum pernah mendengar namanya?”

“Dia seorang tokoh selatan, Bin-kwi. Kepandaiannya hebat dan ilmu pedangnya luar biasa. Kita belum pernah mendengar namanya karena memang dia tak pernah keluar rumah. Kini dia muncul karena Sam-kong-kiam itu, dan Kim-mou-eng tewas di tangannya dan pedang dirampas!”

“Hebat, kalau begitu dia tokoh luar biasa!”

“Ya, dan orang ini memang tak boleh dibuat main-main, Bin-kwi. Dia sekeluarga merupakan tokoh yang lengkap. Bersama dua putera-puterinya dan lima muridnya yang lihai terus terang aku dan Mo-ong menghadapi lawan berat. Karena itu kami minta kau bergabung. Si Pedang Maut itu telah menantang siapa saja yang ingin merampas Sam-kong-kiam boleh datang ke rumahnya. Dia menunggu dan siap menghadapi siapa saja yang bertandang ke sana!”

“Sombong!” Bin-kwi kian tertegun, menjadi marah. “Apakah dia mau menantang orang sedunia, Lo-mo? Apakah Pedang Maut ini tak khawatir diserbu orang banyak?”

“Dia memang sombong, dan dia tak khawatir. Justeru orang she Hu ini mengundang siapa saja yang ingin berurusan dengannya di rumahnya!”

Siauw-bin-kwi terbelalak. Kalau orang sudah begitu berani tentu Giam-lo-kiam Hu Beng Kui ini orang hebat, bukan main-main. Lo-mo memberi tahu bahwa si Pedang Maut ini tinggal di Ce-bu. Tempat ini terletak di propinsi Kwong-tung, jauh juga, nyaris di ekor wilayah Tiongkok. Lo-mo bercerita bahwa nama ini mencuat beberapa hari yang lalu, begitu hebatnya hingga dunia kang-ouw geger.

Bin-kwi dan temannya tak tahu karena kerja mereka sehari hari hanya bersenang-senang saja di istana. Mereka terkejut dan tertegun mendengar semuanya ini. Kim-mou-eng tewas Pedang Tiga Sinar atau Pedang Tiga Dimensi itu kini berada di tangan orang lihai bernama Giam lo kiam Hu Beng Kui. Tentu saja mereka penasaran dan marah. Mereka menunggu sia-sia kedatangan Kim-mou-eng di situ. Dan ketika Lo-mo habis bercerita dan Bin-kwi serta dua temannya terbelalak dengan muka merah maka Mo-ong kembali bicara, maju ke depan.

“Nah, kalian sekarang tahu berita ini, Bin-kwi. Kalian angkrem saja seperti ayam mau bertelur. Hu Beng Kui telah menantang kita, menantang siapa saja yang ingin merampas kembali Sam-kong-kiam itu. Apakah kalian tidak tertarik dan ingin menipu saja dua pembesar di sini? Bukankah tiada guna dan memalukan nama besar kalian? Ayo ikut kami, bergabung dan kita menuju Ce-bu!”

“Ha-ha” Bin-kwi akhirnya tertawa. “Kau benar, Mo-ong. Aku dan dua temanku di sini karena memang menunggu-nunggu Sam-kong-kiam itu. Setelah Kim-mou-eng mampus dan pedang berpindah ke tangan Hu Beng Kui itu ingin kutahu seberapa hebat kepandaian orang yang sombong itu. Kalau dia telah membunuh Kim-mou-eng berarti dia betul-betul hebat!”

“Tentu, dan bertiga menghadapi Kim-mou-eng saja kita masih kalah, Bin-kwi. Apalagi menghadapi si Pedang Maut ini yang masih dibantu dua anaknya dan lima muridnya!”

Bin-kwi tertawa bergelak. Sekarang dia melihat kegembiraan itu, melihat Mao-taijin melotot dan merasa tertipu. Menteri itu batuk-batuk dan bangkit berdiri, memakinya sebagai orang yang tak dapat dipercaya dan Bin-kwi merasa geli. Dan ketika menteri itu memanggil pengawalnya dan menyuruh mereka menyerang maka Bin-kwi berkelebat memberi aba-aba pada dua temannya. “Bong Kak, Ma Tung, kita pergi...!”

Iblis itu melesat di atas kepala para pengawal. Bin-kwi tak mau bersenang-senang lagi di situ. Sudah mengerahkan kepandaiannya dan lenyap dalam waktu begitu cepat, disusul Bong Kak dan Ma Tung yang tertarik mendengar ini. Tokoh baru muncul. Si Pedang Maut Hu Beng Kui menantang mereka. Dan ketika Bin-kwi terbahak pada Mo-ong dan Mo-ong tertawa menggerakkan kakinya tiba-tiba iblis ini pun juga berseru meninggalkan tempat itu, disusul Hek-bong Siang lo-mo dan Bu-kongcu. Mereka mengibaskan lengan membuat pengawal roboh berpelantingan, untung iblis-iblis ini tak menurunkan tangan kejam. Dan ketika mereka melesat keluar dan lenyap entah ke mana maka Mao-taijin berteriak-teriak seperti kambing kebakaran jenggot.

“Tangkap mereka, kejar....!”

Namun siapa berani menghadapi Bin-kwi dan kawan-kawannya itu? Para pengawal hanya mengangguk dan pura-pura mengejar, ikut berteriak-teriak seolah pasukan gagah berani. Tapi begitu berada di luar dan berpencar ke sana-sini maka mereka membalik dan kembali ke posnya masing-masing. Para pengawal tak ada yang berani melaksanakan perintah itu. Mereka lebih baik dimaki.

Dan karena Bin-kwi dan kawan-kawannya sudah lenyap meninggalkan tempat itu dan sia-sia Mao-taijin berteriak-teriak seperti kambing kebakaran jenggot maka pengawal melapor bahwa mereka tak berhasil, memang mendapat dampratan dan cacian. Tapi begitu Mao-taijin terhuyung dan memasuki kamarnya maka pengawal pun tersenyum menyeringai dan ganti mengumpat menteri itu, tentu saja secara diam-diam.

Ce-bu, kota di propinsi Kwang-tung ini tak begitu besar. Kota ini berada di jantung propinsi, terletak di selatan pegunungan Nan-ling-san. Namun karena kota ini merupakan kota dagang dan lalu lintas perdagangan cukup ramai di situ maka meskipun kecil kota ini merupakan kota yang hidup.

Di sini tinggal seorang pedagang besar. Orang mengenalnya sebagai keluarga Hu. Cukup kaya keluarga ini dan rumahnya yang bagus yang terletak di jantung kota juga cukup menarik perhatian, bagus dan megah. Berlantai dua dan merupakan rumah paling besar di seluruh kota. Dan karena keluarga ini selama ini dikenal baik-baik dan cukup dermawan pada fakir miskin maka orang mengenal keluarga Hu sebagai keluarga yang sosial, ramah dan tidah congkak.

Hu-wangwe (hartawan Hu) orangnya sederhana saja, tapi selalu rapi. Dia memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, semuanya sudah dewasa, gagah dan cantik. Mereka berusia dua puluh dan sembilan belas tahun. Dan karena keluarga ini mempunyai rumah yang besar dan tentu saja harus memiliki pembantu maka cukup banyak pelayan di sini, tak kurang dari sepuluh orang.

Namun, dari semuanya itu mereka sendiri masih dipisah oleh dua golongan penting. Yang pelayan dalam arti kata sebenarnya hanya tujuh, ini yang mengurusi rumah dan tetek-bengeknya. Sedang yang lain, ada lima orang jumlahnya adalah “pelayan-pelayan” istimewa. Mereka ini tidak bekerja di rumah, melainkan di luar. Artinya membantu urusan dagang Hu-wangwe.

Dan karena keluarga ini cukup tersembunyi dalam masalah pribadi maka tak ada seorang pun kecuali walikota dan beberapa pembesar di situ yang mengetahui bahwa Hu-wangwe ini di samping seorang pedagang juga seorang ahli silat yang amat pandai, seorang jago pedang yang amat lihai. Dijuluki Si Pedang Maut dan nyaris membuat penjahat roboh sebelum bertanding. Itulah yang tak diketahui orang, kebanyakan orang.

Dan karena Pedang Maut Hu Beng Kui ini tak menonjol sepak terjangnya kecuali dikenal sebagai pedagang besar dan hartawan yang ramah maka penduduk kota juga bersikap biasa-biasa kepadanya, hal yang kurang disenangi puterinya yang pernah memprotes.

“Ayah adalah seorang jago pedang, kenapa tak ingin diketahui dan takut terhadap warga Ce-bu? Bukankah ini akan menaikkan derajat kita dan meningkatkan wibawa ayah? Aku tak mau orang bersikap sembarangan kepada kita, ayah lihat tingkah si juragan cita yang melamar aku itu, enak saja meminang diriku untuk anaknya yang berhidung pesek...!”