X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Pendekar Rambut Emas Jilid 01

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Jilid 01 karya Batara
PENDEKAR RAMBUT EMAS
JILID 01
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Karya Batara
KIM-MOU-ENG (Pendekar Rambut Emas), sebenarnya tokoh yang tidak begitu menonjol di dunia persilatan. Tokoh ini hidup dalam pemerintahan kaisar Yuan Ti, yakni ketika Raja Han berkuasa dalam abad terakhir sebelum Masehi. Pendekar yang kurang begitu dikenal karena sepak terjangnya memang tidak menyolok, lebih suka menyembunyikan diri dan berkelana secara diam-diam dari satu tempat ke tempat lainnya, menikmati keindahan alam dan benar-benar merupakan pengembara tulen. Tapi ketika terjadi suatu peristiwa besar di ibu kota kerajaan, yakni yang saat itu berada di kota Chang-an (kini bernama Sian) tiba-tiba saja nama pendekar ini melejit dengan luar biasa mengejutkan.

Saat itu sri baginda mengadakan semacam sayembara. Semalam beliau bermimpi bertemu seorang wanita cantik yang luar biasa parasnya, ayu dan elok bukan main. Tapi ketika sri baginda hendak memeluknya dan mencium wanita ini mendadak si juwita lenyap. Sri baginda terbangun, kecewa dan lama tertegun di tempat peraduannya. Tapi ketika pagi menjelang tiba dan sri baginda buru-buru membersihkan diri dibantu dayang yang cantik-cantik tapi tidak menggerakkan gairah beliau, akhirnya para menteri dipanggil menghadap.

Mereka ditanya apa arti mimpi itu. Jelek atau baik bagi keselamatan negara. Tapi karena menteri-menteri ini juga kejangkitan penyakit ABS (Asal Bapak Senang) maka tentu saja mereka menyatakan bahwa arti mimpi itu adalah baik. Terang tak berani berkata “buruk” karena hanya mencemaskan junjungan mereka belaka. Dan lagi kalau buruk, buruk tentang apa? Para peramal istana pun tak ada yang mampu mengartikan mimpi itu dengan jelas, apalagi mereka. Maka, daripada bilang yang macam-macam lebih baik bilang yang baik-baik saja. Beres!

Dan kaisar memang gembira. Dia gandrung wuyung (tergila-gila) pada bayangan wanita dalam mimpi itu. Bertanya adakah wanita cantik seperti yang terlihat dalam mimpinya itu. Dan ketika para menterinya bingung karena kaisar tak dapat menjelaskan bagaimana wujud wanita dalam mimpinya itu akhirnya kaisar barkata, “Kalian cari saja seluruh wanita-wanita cantik dalam kerajaan kita. Kumpulkan dan bawa mereka ke mari!”

Wah, para menteri terkejut. Kerajaan mereka cukup luas, daerahnya meliputi batas tembok besar bersebelahan dengan bangsa Tar-tar di utara sana, meliputi gunung dan sungai-sungai yang mengalir deras membagi kota dan desa. Mana mungkin melakukan ini? Kalau toh melakukan itu dan memanggil wanita-wanita cantik yang dicari sampai ke pelosok-pelosok tentu pekerjaan ini memakan waktu lama dan mungkin lima tahun belum selesai. Padahal sri baginda biasanya minta cepat, belum kalau ada gangguan ini-itu. Maka penasihat kaisar yang bernama Kim-taijin lalu memberi usul.

“Sri baginda, ampunkan hamba. Hamba mempunyai cara lebih praktis untuk memenuhibpermintaan paduka. Bagaimana kalau gambar wanita-wanita cantik itu saja yang dibawa ke mari? Tak perlu orangnya, sri baginda. Karena belum tentu mereka cocok seperti mimpi yang paduka lihat!”

Kaisar tertegun. “Gambarnya?”

“Ya, kita perintahkan seorang pelukis ulung, sri baginda. Biar pelukis ini yang melukis wajah wanita-wanita cantik yang ditemui itu untuk diberikan pada paduka. Kalau cocok, barulah wanita yang berkenan di hati paduka itu dipanggil menghadap!”

“Ah,” kaisar tertawa, girang sekali. “Usulmu bagus, taijin. Aku setuju kalau begitu! Siapa sekarang yang menjadi pelukisnya?”

Kim-taijin langsung menunjuk menteri Mao. “Kiranya Mao-taijin dapat melakukan tugas ini, sri baginda. Dia pandai dan hidup lukisannya!”

Kaisar tertawa bergelak, teringat menterinya yang pandai melukis ini. “Benar!” katanya menepuk kursi. “Sanggupkah kau memenuhi permintaanku, taijin? Kau dapat membawa lukisan semua wanita-wanita cantik yang ada di seluruh kerajaan kita?”

Mao-taijin menjatuhkan diri berlutut. “Tentu, hamba akan mencobanya, sri baginda. Tapi hamba mohon waktu, harap paduka tak buru-buru.”

“Boleh, tapi berapa lama waktu yang kau minta, taijin? Seminggu? Sebulan?”

Mao-taijin terkejut. “Terlalu pendek, sri baginda. Mungkin setahun menurut taksiran hamba!”

“Apa? Setahun?” kaisar melotot. “Terlalu lama, taijin. Aku tak dapat menahan rinduku sekian lama. Aku bisa mati kaku!”

Mao-taijin pucat. Sebenarnya, waktu yang dia berikan itu sudah termasuk pendek dibanding dengan mendatangkan wanita-wanita itu ke istana. Tapi melihat kaisar terbelalak kepadanya dan rupanya ingin menentukan waktu seminggu atau sebulan karena tak sabar menanti akhirnya menteri ini membenturkan dahinya, sudah memutar otak dengan cepat dan berkata, “Baiklah, hamba akan menyelesaikannya dalam waktu satu bulan, sri baginda. Mohon doa restu paduka agar hamba dapat menyelesaikan tugas hamba dengan baik!”

Begitulah, kaisar telah mendapat janji. Mao-taijin langsung pulang dan membicarakan ini dengan pembantu-pembantunya, menyuruh mencari pelukis-pelukis lain karena tak mungkin baginya untuk bekerja sendirian. Hari itu juga langsung memukul canang memberi pengumuman bahwa di gedungnya ada lowongan pekerjaan, khusus untuk pelukis-pelukis yang tentu saja akan disaring kepandaiannya, siapa paling baik dialah yang membantu menteri ini. Dan karena pelukis-pelukis kota raja memang banyak dan rata-rata mereka juga pandai akhirnya dalam waktu singkat Mao-taijin mampu mengumpulkan seribu orang pelukis di gedungnya.

Tapi Mao-taijin cukup selektif. Dia tidak menerima semuanya itu, disaring dan benar-benar dicari yang paling jempol. Dan karena dia sendiri memang ahli dalam bidang lukis-melukis dan tahu mana jelek mana baik akhirnya dari seribu pelukis itu yang diterima hanya seratus orang saja. Yang lain disuruh pulang, diam-diam kecewa karena nasib baik pergi meninggalkan mereka. Iri pada seratus rekan mereka yang beruntung. Tapi Mao-taijin yang mata duitan kiranya menjadikan seratus pelukis yang sudah diterima ini sebagai sapi perahan.

“Kalian beruntung kuterima,” demikian katanya. “Tapi apa imbalan kalian kepadaku? Adakah yang dapat memberi uang terima kasih?”

Seratus pelukis itu tertegun. “Uang terima kasih apa, taijin? Apa yang harus kami lakukan?”

“Bodoh!” menteri Mao melotot pada mereka. “Ini proyek besar bagi kita semua, manusia-manusia dungu. Kenapa kalian tak mengerti budi kebaikanku? Kalian akan dapat banyak uang dari upah yang kalian terima. Ini rejeki yang harus dibagi rata. Kuminta kalian menyumbang dengan ikhlas masing-masing limaribu tail perak!”

Para pelukis itu terkejut. “Lima ribu perak, taijin?”

“Ya, limaribu saja. Kalian sanggup, bukan?”

“Ah, kami tak punya, taijin. Kami orang-orang miskin yang sebagian besar masih pengangguran. Sebaiknya kalau menyumbang tak perlu ditentukan jumlahnya!”

“Benar, dan itu baru ikhlas, taijin. Kalau ditentukan jadinya bukan sumbangan ikhlas tapi sumbangan paksaan!”

“Keparat, kalian mau memberontak?” Mao-taijin terkejut, marah melihat seratus calon pembantunya itu berteriak-teriak, memberi tanda dan sebentar saja belasan pengawalnya datang menghadap dengan golok dan pedang terhunus, tampak garang dan bengis memandang seratus pelukis itu. Dan ketika Mao-taijin menggebrak meja bangkit berdiri akhirnya menteri ini berseru, “Yang tidak bisa lebih baik pulang, aku akan mencari lainnya yang mampu!”

Seratus orang itu berbisik-bisik. Mereka sekarang melihat bahwa kiranya menteri ini tamak harta. Rupanya tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengeruk untung sebesar-besarnya. Mumpung ada proyek! Dan seratus pelukis yang tiba-tiba terbagi dua itu mendadak menyibak ke kiri dan ke kanan. Yang kiri adalah yang tidak setuju, sedangkan yang kanan adalah kelompok yang berpikiran lebih “cerdik”.

Mereka ini berpikir, kalau itu memang proyek besar dan wajar memberi uang semir bukankah mereka dapat mencari gantinya pada korban yang diburu? Menjadi orang yang dicari atau dicinta kaisar adalah suatu keberuntungan yang tak habis disyukuri selama tujuh turunan. Kalau sekarang mereka menyumbang limaribu tail perak padahal mereka bisa minta ganti pada keluarga wanita-wanita cantik yang akan mereka datangi itu selaksa atau dua laksa tail bukankah uang mereka akan kembali?

“Ah, ini jual beli jasa. Kalau mereka digenjot Mao-taijin mereka dapat ganti “menggenjot” keluarga wanita-wanita cantik itu. Ha-ha!”

Kelompok di sebelah kanan ini tertawa. Mereka memang kritis, dapat mengerti “hukum dagang” yang terjadi saat itu. Bahwa seni adalah seni sementara bisnis adalah bisnis. Masalah seni sudah dikotori bisnis tak jadi apa. Bukankah menteri Mao yang menyulut perhitungan untung rugi ini? Biarlah menteri itu pula yang memikul dosanya kalau kelak pintu keadilan menuntut mereka!

Demikianlah seratus pelukis yang “hidup” pikirannya ini memisahkan diri dengan rekan-rekan mereka yang lain yang tak mau memenuhi permintaan menteri Mao. Mereka tak peduli disebut kotor atau curang. Persetan semuanya itu. Dan ketika kelompok yang kiri pergi meninggalkan gedung Mao-taijin dan mengumpat pembesar itu yang mencari keuntungan dari kekuasaannya.

Maka kelompok sebelah kanan yang kira-kira berjumlah limapuluh orang itu menyanggupi permintaan menteri Mao. Mereka membayar masing-masing limaribu tail perak, dan karena jumlah mereka ada limapuluhan orang maka “uang terima kasih” yang diterima pembesar ini berjumlah duaratus limapuluh ribu tail perak. Bukan main, hanya sekejap saja. Betapa gampangnya cari duit!

Tapi itu urusan Mao-taijin. Pelukis yang diterima ini tak menggerutu. Mereka sendiri sudah punya akal bagaimana uang yang mereka sumbangkan itu akan kembali. Juga dengan sekejap mata, meniru “teknik” yang telah ditunjukkan menteri Mao. Dan begitu mereka digerakkan ke seluruh pelosok kerajaan untuk mencari wanita-wanita cantik dan melukis wajah mereka untuk diberikan pada Mao-taijin karena menteri ini masih akan menyeleksinya lagi maka rakyat menjadi gempar dan ribut oleh kejadian ini.

Banyak diantara mereka, yang tentu saja mempunyai anak-anak gadis cantik, segera mendaftar dan mencari pelukis-pelukis ini, mengharap anak mereka cocok seperti yang dicari kaisar. Jadi malah terbalik, bukannya pelukis itu yang mencari mereka tapi justeru mereka yang mencari pelukis-pelukis ini. Siap membayar berapa saja. Merubung bagai laron, menyodorkan anak-anak perempuan mereka yang cantik audzubillah.

Dan karena permintaan lebih banyak dari penawaran tiba-tiba saja “hukum dagang” kembali usil. Para pelukis itu pasang harga. Mula-mula dinaikkan sedikit, tidak kentara. Tapi ketika anak-anak perempuan yang disodorkan semakin banyak dan mereka rata-rata ingin diambil kaisar dan hidup mewah di istana karena kabar burung itu telah hinggap dari satu mulut ke mulut lainnya tiba-tiba saja “tarif” yang dipasang pelukis-pelukis ini membubung dengan cepat.

Mula-mula satu biji, eh sorry... satu kepala diambil seratus tail. Lalu naik duaratus tail. Kemudian tiga ratus, empat ratus, tujuh ratus dan akhirnya per kepala seribu tail. Bukan main! Tapi para pendaftar tetap juga membludak (melimpah), membuat pelukis-pelukis yang ketiban rejeki ini terbelalak. Dan ketika mereka coba-coba menaikkan dan hasrat masih juga menggebu maka sebagai klimaksnya dipasang tarif lima ribu tail perak untuk satu kepala. Luar biasa, kembali sudah uang para pelukis-pelukis itu!

Tapi keadaan mulai berubah. Keluarga wanita-wanita cantik yang tak begitu mampu mulai mundur. Tak kuat membayar. Tinggal sekarang golongan hartawan atau bangsawan yang sanggup membayar. Tak begitu banyak dibanding rakyat biasa tapi sudah membuat pelukis-pelukis ini kekenyangan, menepuk-nepuk perut mereka yang gendut dan sering menyeringai. Maklum, penghasilan mereka hampir tak kalah dengan yang diterima Mao-taijin, yang tentu saja melotot dan mencak-mencak tapi tak bisa berbuat apa-apa melihat ulah pelukis-pelukis itu, yang cerdik bagai siluman!

Dan ketika ribuan wajah cantik selesai dilukis dan mereka siap menghadap Mao-taijin maka saat itulah di kota Chi-cou terjadi hal mencengangkan. Bupati Chi-cou, yang bernama Wang Yang, suatu hari “turba” melihat rakyatnya. Bupati ini terkenal jujur dan baik, memiliki seorang anak perempuan yang luar biasa cantiknya bernama Cao Cun, seorang gadis jelita berambut panjang, pandai sastra dan main musik, termasuk menari dan menyanyi. Halus budi pekertinya dan jujur seperti sang ayah. Tidak begitu cerdik tapi juga tidak begitu bodoh. Ai kyunya (IQ) sedang-sedang saja, tidak “jongkok”. Dan ketika bupati Wang melihat rakyatnya di kecamatan Gong yang dipimpin bawahannya bernama Gong Si Tek maka puterinya yang cantik ini ikut.

“Ayah, aku juga ingin melihat-lihat rakyatmu. Biarlah kulihat kemajuan mereka.”

Sang bupati heran. “Untuk apa? Bukankah kau biasa tinggal di rumah, Cun-ji (anak Cun)? Ini bukan tamasya, ini pekerjaan dinas!”

Cao Cun tertawa. “Aku tahu, tapi aku ingin penyegaran, ayah. Aku jemu tinggal di rumah melulu. Boleh, kan?”

Sang ayah tersenyum. Kalau anaknya sudah bersikap manja begini biasanya dia tak mungkin menolak lagi. Betapapun puterinya itu amat disayang dan dicinta. Dan Cao Cun yang ikut ayahnya ke kecamatan Gong lalu disambut dan untuk pertama kali melihat penghormatan bawahan kepada atasan. Melihat camat Gong bersikap hormat dan menyambut mereka dengan baik, manis dan ramah bahkan setengah takut. Maklum atasan datang secara mendadak, memeriksa dan menanya ini itu sebagaimana layaknya seorang bupati yang ingin melihat kemajuan daerahnya. Dan ketika sang bupati ingin melihat padi-padi rakyatnya yang menguning di sawah dan sebentar lagi akan panen tiba-tiba seorang lelaki datang menghadap mereka.

“Wang-taijin, hamba So Lui Tai. Maaf hamba datang tanpa diundang, bolehkah hamba mengganggu sebentar?”

Sang bupati terkejut, tapi tertawa lebar. “Ah, kau siapa? Petani di kecamatan inikah?”

Camat Gong buru-buru maju, juga terkejut melihat laki-laki yang menghadap secara tiba-tiba ini. “Ampun, dia bukan petani, taijin. Tapi pelukis, datang dari kota raja atas suruhan Mao-taijin...!”

Bupati Wang terbelalak. “Pelukis? Dari kota raja...?”

Dan Lui Tai, si pelukis itu, tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya. “Ya, hamba pelukis, taijin. Utusan Mao-taijin untuk mencari...” dia tertawa, menghentikan kata-katanya dan melirik Cao Cun, kagum melihat kecantikan gadis itu karena sesungguhnya belum pernah dia menjumpai wanita begini elok, tidak banyak pulasan tapi benar-benar cantik!

Dan Gong-taijin yang tiba-tiba tersenyum melangkah maju buru-buru menyambung, tergerak hatinya, “Lui Tai datang ke kecamatan ini untuk meIukis gadis-gadis cantik, taijin. Kaisar menyuruh menteri Mao untuk menemukan gambar wanita jelita yang pernah diimpikannya itu!”

“Ooh...!” bupati Wang tertawa, mendengar juga berita itu dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi tak mengerti maksud kedatangan pelukis itu karena bupati Wang memang polos dia bertanya, “Dan maksudmu, mau apa kau menemui aku, Lui Tai?”

Lui Tai tertegun. Dia melihat ketidakmengertian bupati ini, ketidakmengertian yang sungguh-sungguh. Tak tahu bahwa memang bupati itu tak tertarik pada berita yang akhir-akhir ini gencar dari mulut ke mulut tentang wanita-wanita cantik yang diambil lukisannya itu. Siapa tahu mereka beruntung diambil kaisar! Tapi melihat bupati ini rupanya benar-benar tak mengerti padahal dia sudah mengincar bupati ini untuk “diperas” tiba-tiba Lui Tai tersenyum lebar, menjura dengan penuh harap. “Hamba ingin melukis puterimu, taijin. Siapa tahu dialah yang dicari sri baginda!”

“Ooh...!” sang bupati tiba-tiba kembali tertawa. “Kau mau mengambil gambar puteriku, Lui Tai? Ah, silahkan tanya pada yang bersangkutan. Mungkin puteriku tak keberatan!”

Lui Tai tersenyum semakin lebar, menghadapi Cao Cun, merasa ada harapan. “Bolehkah hamba melukis wajah paduka, siocia?”

Cao Cun, seperti ayahnya yang jujur dan polos mengangguk, tertawa kecil. “ Aku sebenarnya tak tertarik untuk dilukis, Lui-twako (kakak Lui). Tapi kalau iseng-iseng untuk menyenangkan hatimu baiklah, aku tak keberatan.”

“Ah, tentu!” Lui Tai girang, merasa akan mendapat lagi lima ribu tail perak. “Paduka tentu yang dimaksud kaisar, siocia. Paduka cantik dan elok melebihi bidadari!” dan memuji-muji seperti biasa orang jual kecap, pelukis ini tak habis-habisnya mengumpak orang, meninabobok caIon korbannya dengan sajian kata-kata membubung yang manis melebihi madu, menarik perhatian orang akan harapan dipilih kaisar. Hidup mewah dan serba gemerlapan di istana. Pendeknya, memikat dan membujuk Cao Cun dan ayahnya akan tinggal di samping kaisar, sama sekali tidak atau belum mengeluarkan alat-alat gambarnya, pit dan tinta.

Dan Cao Cun yang tentu saja heran serta geli akhirnya menegur, “Lui-twako, kenapa tak segera melukis? Mana itu hasil kerjamu kalau ngobrol melulu?”

“Ah, he-he...” pelukis ini mulai pasang aksi, siap untuk “menembak” tarif. “Hamba belum mendapat persetujuan ayah paduka untuk melukis dirimu, siocia. Maksudku, eh... ongkos untuk biaya melukis itu!”

Cao Cun tertegun. “Ongkos? Bukankah kau sendiri yang minta untuk melukis wajahku?”

Lui Tai tertawa, menyeringai lebar. “Maksud hamba, eh... biaya tinta dan tenaga melukis mohon imbalannya, siocia. Hamba mohon agar paduka mengasihani hamba agar tidak bekerja secara sia-sia.”

“Hm...” Cao Cun tersenyum, akhirnya memandang ayahnya. “Bagaimana, kau dapat memberi sekedar ganti rugi, ayah? Lui-twako ini aneh. Dia yang minta gambarku justeru aku yang dimintai uang! Bukankah terbalik? Seharusnya aku yang minta ganti rugi kepadanya karena dia telah menahan waktuku!”

Wang-taijin tertawa lebar. “Sudahlah, aku dapat mengerti kalau Lui Tai ini minta ganti rugi ongkos mengerjakannya, Cun-ji. Rupanya di samping seniman dia juga pedagang, ha-ha...!” dan Wang-taijin yang mengeluarkan sekeping perak seharga limapuluh tail lalu menyerahkannya pada Lui Tai yang tak buru-buru diterima, bahkan mundur mengejutkan bupati ini.

“Ada apa, kurangkah ini, Lui Tai?”

Lui Tai tak segan-segan mengangguk.

“Ah, kalau begitu biar kutambah. Seratus tail jadinya!” dan Wang-taijin yang kembali tertawa mengeluarkan limapuluh tail hingga seratus tail dengan yang pertama lalu menyodorkannya pada sang pelukis.

Tapi Lui Tai justeru menunjukkan muka tidak senang! “Taijin, apa yang kau peroleh bakal jauh melebihi nilai uang itu. Kenapa kau tak dapat menghargai jasa orang?”

Wang-taijin terkejut. “Apa maksudmu?”

Lui Tai melirik tajam, berusaha memperingatkan bupati ini, “Anak gadismu akan dipilih kaisar, taijin. Itu berarti keberuntungan tiada tara seumur hidup. Masa untuk jasaku ini hanya kau beri seratus tail saja?”

“Ah jadi maumu bagaimana? Bukankah kau minta sekedar ganti ongkos dan tinta?”

“Tidak,” pelukis ini berani mengejek. “Aku mempunyai tarif sendiri, taijin. Kalau kau suka boleh berikan padaku lima ribu tail perak. Harga itu sudah pasti. Anakmu pasti akan diboyong ke istana!”

Wang- taijin membelalakkan matanya. Sekarang dia tahu bahwa pelukis ini mau menjual jasa tapi sekaligus memukul bayarannya. Perbuatan yang tentu saja membuat dia marah! Dan karena dia dan anak perempuannya sesungguhnya tak tertarik sama sekali oleh gembar gembor di luar tentang berita dari istana itu tiba-tiba bupati ini menghardik, “Lui Tai, kau pemeras busuk! Aku tak butuh lukisanmu itu. Biar kau tinggalkan puteriku dan tak perlu dibawa ke istana. Kami bukan pemabuk harta!”

Lui Tai terkejut, tak menyangka jawaban bupati ini. Dan ketika dia terbelalak dan heran bahwa pembesar ini benar-benar tak “kepincut” oleh harapan nikmat tinggal di istana tiba-tiba bupati itu telah menyuruh orang-orangnya mengusir pelukis ini! Lui Tai langsung didorong, disuruh pergi dengan paksa. Dan karena Wang-taijin benar-benar marah dan pembesar itu menyambar puterinya diajak pergi akhirnya Lui Tai menjadi korban para pengawal bupati ini. Mereka juga gemas, sudah mendengar praktek-praktek kotor yang sebenarnya adalah pemerasan ini. Atau setengah pemerasan karena pelukis-pelukis Mao-taijin itu mengerjakan “aji mumpung”. Mumpung ada kesempatan. Mumpung ada rejeki. Ada proyek. Dan Lui Tai yang seketika itu juga diusir akhirnya pergi menaruh dendam pada bupati ini!

“Wang-taijin, awas kau. Aku akan membalas semua hinaanmu!”

“Eh.” Wang-taijin terkejut, kepala pengawalnya juga terkejut. “Kau mengancam, orang she So?” dan belum bupati ini memberi perintah tahu-tahu kepala pengawalnya yang bernama Hok Gwan sudah menyambar dan langsung membanting pelukis ini.

“Tikus busuk, kau pergilah... brukk!”

Lui Tai mengaduh. Dia bangkit berdiri tapi lagi-lagi didekati kepala pengawal yang marah ini, mendapat tendangan dan tamparan hingga tubuhnya kembali mencelat, kini jauh di luar pagar. Tapi ketika Hok Gwan hendak menghajarnya lebih keras tahu-tahu sang bupati berseru,

“Hok Gwan, lepaskan dia. Biarkan dia pergi...!”

Lui Tai terhuyung. Pipi dan mukanya bengap dipukul kepala pengawal itu, tapi sang pelukis yang rupanya berani ini berkata, “Orang she Hok, hati-hati kau. Kalian lupa bahwa aku adalah orangnya Mao-taijin. Awas kalian!”

Wang -taijin tertegun. Sekarang dia ingat bahwa orang she So yang pemeras ini adalah pembantu menteri Mao. Meskipun bukan atasannya langsung tapi jelas menteri itu jauh lebih tinggi tingkatannya dibanding dia. Maka melihat pelukis itu terhuyung-huyung meninggalkan mereka dan meninggalkan ancaman demikian tiba-tiba bupati ini pucat. Tapi dia merasa benar. Pelukis itu memeras.

Maka gemetar mengepal tinju akhirnya bupati ini melanjutkan pekerjaannya dengan pikiran tak enak, diketahui Cao Cun yang sejak tadi mengerutkan kening melihat kekurangajaran pelukis tadi. Dan ketika mereka pulang dengan muka murung dan hati kesal akhirnya ayah dan anak ini sama menarik napas dan entah kenapa tiba-tiba merasa berdebar akan datangnya sesuatu yang tidak baik.

* * * * * * * *

Malam itu, sehabis menyulam dan menyelesaikan pekerjaan tangannya Cao Cun pergi tidur. Ayah dan ibunya masih bercakap-cakap di beranda tengah, membicarakan sedikit keributan siang tadi di kecamatan Gong. Dan ketika malam semakin larut dan bupati Wang serta isterinya pergi tidur dengan perasaan penat tiba-tiba anjing yang ada di depan rumah menggonggong.

Wang-taijin terkejut. Dia mendengar anjing mereka itu menyalak seolah bertemu orang jahat, bahkan membaung membuat bulu tengkuk berdiri. Maka turun untuk melihat keadaan tiba-tiba bupati ini membuka pintu kamarnya.

“Kau mau ke mana?” sang isteri terkejut, pucat mendengar suara-suara yang menyeramkan ini, ikut turun dan memegangi piyama suaminya.

Tapi Wang-taijin yang berusaha menenangkan dengan senyum lebar tiba-tiba mendorong isterinya masuk. “Aku mau keluar sebentar, nio-nio. Kau tinggallah di dalam tak usah cemas!”

“Tapi...”

“Sudahlah, ada Hok Gwan, bukan? Aku mau menemui kepala pengawalku itu. Kau tidurlah kembali!” dan Wang-taijin yang sudah menutup pintu kamarnya menyuruh sang isteri masuk akhirnya bergegas menuju ke luar. Dan kebetulan salak anjing tiba-tiba berhenti, bertemu dengan Hok Gwan di regol dalam.

“Ada apa? Mana si kuning, Hok Gwan?”

Hok Gwan mengerutkan keningnya. “Entahlah, tak ada apa-apa, taijin. Si kuning menyalak tanda ada sesuatu yang mencurigakan.”

“Tak mungkin,” bupati ini membantah. “Mana si kuning?”

Hok Gwan bersiul. Dia memanggil anjing itu dengan isyarat panjang, panggilan yang sudah biasa dilakukan oleh keluarga sang bupati yang memiliki anjing satu-satunya ini. Dan ketika bayangan si kuning muncul dan anjing itu melompat dengan napas terengah-engah langsung Wang-taijin menangkap lehernya.

“Ada apa, kuning? Kau melihat orang jahat?”

Anjing ini menggaruk-garukkan kakinya, mengibas ekor dan mendengus mengeluarkan suara aneh. Dan Wang-taijin yang tertegun melihat gerak gerik anjingnya tiba-tiba berkata, “Benar, dia melihat sesuatu yang mencurigakan. Kau periksa rumah ini, Hok Gwan. Kerahkan anak buahmu meronda sekeliling!” tapi baru bupati ini selesai bicara sekonyong-konyong dari dalam rumah terdengar dua jeritan panjang.

“Ayah, tolong...!”

“Suamiku, tolong...!” Wang-taijin dan pengawalnya terkejut.

Mereka langsung memburu ke asal suara itu, Hok Gwan sudah berteriak memanggil sembilan anak buahnya yang menjaga di depan, bersepuluh dengan kepala pengawal itu sendiri. Dan ketika mereka tiba di dalam dan jeritan serta teriakan Cao Cun dan ibunya ini melengking memecahkan keheningan malam mendadak dua bayangan berkelebat memanggul dua wanita itu.

“Ha-ha, kami pinjam sebentar anak isterimu, taijin. Tak perlu khawatir, dua hari lagi mereka akan kami kembalikan!”

Wang-taijin terbelalak. Dia melihat dua laki-laki berkedok menculik isteri dan anak perempuannya itu, Cao Cun menjerit-jerit dan meronta di belakang punggung sang penculik, menangis dan mencakar ke sana sini, memanggil-manggil ayahnya. Dan bupati Wang yang tentu saja tak tahan melihat semuanya itu dan marah bukan main tiba-tiba berteriak menubruk lawan di sebelah kiri yang membawa puterinya. “Penculik hina, lepaskan anakku...!”

Tapi laki-laki berkedok ini tertawa mengejek. Dia mengelit menghindar tubrukan bupati itu, lalu sementara Wang-taijin hampir terjelungup tahu-tahu kakinya bergerak menendang perut bupati itu. “Ha-ha, kami melepaskannya kalau sudah ada tebusan, taijin. Sekarang pergi dan beristirahatlah di kamarmu... dess!”

Wang-taijin mencelat. Dia memang bupati yang lemah, tak pandai silat. Maka begitu luput dan ganti mendapat tendangan tak ayal bupati ini terpekik dan terpelanting roboh. Tapi Wang-taijin bangkit berdiri, nekat dan kembali menubruk penculik ini. Dan Hok Gwan yang juga sudah mencabut senjatanya melawan penculik yang lain akhirnya melihat kedatangan sembilan anak buahnya yang mendengar teriakan kepala pengawal ini, menerjang dan maju mengeroyok dengan tombak dan golok, mengeluarkan bentakan-bentakan marah karena melihat majikan meraka dirusuhi. Dan begitu para pengawal ini menyerbu dan Wang-taijin disuruh minggir akhirnya dua penculik itu dikerubut seorang lawan lima!

“Ha-ha, kalian mau coba-coba menangkap kami, pengawal-pengawal busuk? Tak mungkin bisa, kalian bukan tandingan kami. Lihat... plak-bluk-dess!” dan dua penculik itu yang tertawa mengejek menangkis tombak dan pedang tiba-tiba dengan tangan kosong mematahkan senjata para pengawal itu, membuat para pengawal terkejut dan kaget membelalakkan mata. Dan ketika dua penculik itu berkelebat menggerakkan kakinya tahu-tahu Hok Gwan dan sembilan anak buahnya ini mencelat terlempar bagai disapu angin puyuh!

“Ha-ha, bagaimana kecoa-kecoa busuk? Kalian masih tidak percaya?”

Hok Gwan dan anak buahnya melompat bangun. Mereka terbanting tapi tidak terluka, gentar tapi juga marah kepada dua penjahat ini. Dan melihat Wang-taijin berteriak-teriak agar mereka menangkap penjahat itu terpaksa Hok Gwan dan anak buahnya kembali menyerang, nekat dan coba-coba mengulang. Tapi ketika lagi-lagi mereka terpelanting bergulingan dan tiga diantara mereka bahkan patah tulang tiba-tiba dua penculik itu tertawa bergelak berkelebat keluar.

“Wang-taijin, kami minta tebusan selaksa tail. Siapkan uang itu dan dua hari lagi kami kembali. Awas, kalau tidak terpaksa anak isterimu kubunuh. Ha-ha...!”

Wang-taijin pucat. Dia melihat Hok Gwan dan kawan-kawannya itu tak mampu menandingi penjahat yang lihai-lihai ini, tertegun. Tapi si kuning yang tiba-tiba menyalak dan mengejar penculik yang membawa Cao Cun mendadak melompat menggigit kaki penjahat ini, mengaduh karena tak menyangka anjing itu bakal menyerang.

Dan ketika penjahat itu berteriak menendang anjing ini tiba-tiba si kuning sudah melompat dan menyerang lagi, menahan langkah si penjahat, kali ini menggigit pinggang dan “nggandul” di situ, menggeram tak mau melepaskan lawan hingga si penculik kelabakan, mengipat-ngipatkannya tapi tetap saja anjing itu menancapkan taringnya. Tapi begitu penculik ini membentak marah dan mencabut sesuatu tiba-tiba si kuning roboh menguik dengan kepala ditembus belati kecil.

“Crep!” anjing itu tewas seketika. Dia sudah tak dapat bergerak lagi, ditendang dan mencelat bangkainya mengenai Wang-taijin. Dan dua penjahat yang kembali meneruskan larinya memanggul tawanannya itu tiba-tiba memaki bupati Wang, “Wang-taijin, tuntutan kami naik menjadi duapuluh ribu tail. Anjingmu telah menyerang kami. Jahanam...!”

Wang-taijin menangis. Dia sekarang sadar dan berteriak-teriak mengejar dua penjahat itu disusul Hok Gwan dan para pengawal lain dengan hati kebat-kebit, membuat malam yang sepi itu pecah oleh teriakan bupati ini. Tapi ketika lawan mengejek dan hampir lenyap di luar rumah mendadak sebuah bayangan muncul bagai iblis, menghadang dan langsung membentak,

“Tikus-tikus, busuk apa yang kalian lakukan?”

Dua penculik berkedok itu terkejut. Mereka tahu-tahu telah berhadapan dengan seorang laki-laki asing, gagah dengan rambut keemasan, berdiri tegak di depan mereka seolah benteng yang tak bergeming. Tapi dua penjahat yang tertawa bergelak dan memandang rendah laki-laki di depan itu tiba-tiba mendorong dan ganti membentak, “Minggir...!”

Tapi dua penculik ini terperanjat. Mereka telah menepuk pundak penghadang itu, mengira sekali cengkeram akan melempar laki-laki itu. Tapi ketika jari mereka lekat dan justeru pundak itu mengeluarkan tenaga yang luar biasa kuat menolak balik pukulan mereka mendadak dua orang ini berteriak kaget ketika mereka terbanting roboh.

“Hei, bress...!”

Dua penculik itu jatuh bangun. Mereka tak mengerti bagaimana mereka roboh sendiri, tak melihat lawan menggerakkan kaki atau tangan tapi mereka sudah terguling-guling di atas tanah. Dan belum mereka sadar akan apa yang terjadi tahu-tahu dua tawanan mereka yang ditaruh di atas pundak sekonyong-konyong melejit dan lepas dari pelukan mereka, terbang ke arah laki-laki berambut emas itu.

“Heii...!”

Tapi mereka tinggal melongo. Cao Cun dan ibunya sudah ditangkap laki-laki ini, yang ternyata seorang pemuda tampan dengan mata seperti bintang, asing tapi penuh wibawa dengan rambutnya yang aneh itu. Dan ketika Wang-taijin dan Hok Gwan serta yang lain-lain datang mendekat dan langsung menubruk anak dan isterinya itu maka bintang penolong yang tak dikenal ini sudah menghadapi dua penculik berkedok itu.

“Kalian siapa? Kenapa membuat onar?”

Dua penjahat itu tertegun. Mereka kaget sekejap melihat lolosnya tawanan mereka, melihat Cao Cun dan ibunya sudah berpelukan dengan ayah mereka, menangis. Tapi membentak menerjang maju tiba-tiba dua penjahat ini menghantam pemuda berambut emas itu.

“Keparat, kau tak perlu tanya siapa kami, bocah. Yang jelas sekarang enyah dan mampuslah... plak-dess!”

Pemuda itu tak mengelak. Dia tenang menerima dua pukulan ini, tersenyum mengejek dan sekilas bibirnya yang tipis menyungging tawa yang aneh. Tapi begitu pukulan tiba dan tepat mengenai tubuhnya tiba-tiba dua penjahat itu menjerit dan terpelanting roboh dengan tangan bengkak-bengkak!

“Aduh... !” keduanya kaget bukan main, melompat bangun dan terbelalak memandang lawan. Tapi penasaran dan menyerang kembali tiba-tiba mereka mempergunakan kaki untuk menendang, tak dapat menggunakan tangan lagi karena sudah melepuh seperti disengat tawon. Tapi begitu kaki mengenai tubuh pemuda ini dan lawan diam tak membalas tiba-tiba mereka menjerit dan... kembali roboh terlempar, kaki salah urat dan melembung seperti balon!

“Aduh...!”

“Augh...!”

Dua penculik itu bergulingan. Mereka berteriak dan mendesis-desis kesakitan, tak mampu bangun berdiri. Dan ketika mereka berkaok bagai ayam disembelih tahu-tahu pemuda berambut keemasan ini telah mencengkeram baju mereka.

“Kalian masih bersikap sombong? Kalian minta dihajar lebih keras?”

Dua penculik itu menggigil, mengeluarkan air mata saking sakit dan pedihnya rasa bengkak itu. Dan ketika mereka mendesis dan gentar menghadapi lawan yang demikian lihai karena belum membalas sudah membuat mereka keok akhirnya keduanya menjatuhkan diri berlutut dengan muka gemetar. “Ampun... ampunkan kami, siauw-hiap. Kami hanya orang suruhan saja yang tidak bersalah...!”

“Hm, siapa kalian?”

“Kami... kami...”

“Bret!” pemuda itu tiba-tiba sudah merenggut kedok yang dikenakan dua penjahat ini, melihat mereka adalah dua orang laki-laki bermuka codet.

Dan Wang-taijin yang melihat siapa mereka tiba-tiba berseru, “Dua Musang Sakti...!”

Dan dua penculik yang menggigil tak mampu bersuara tiba-tiba mengangguk dan mohon ampun pada bupati Wang itu. “Ya, ampunkan kami, taijin... kami hanya orang suruhan belaka...”

“Siapa yang menyuruh kalian?”

“Lui Tai...”

“Pembantu Mao-taijin itu?”

“Ya.”

“Ah!” dan bupati Wang yang tampak marah dan tiba-tiba merah mukanya mendadak melangkah maju. “Musang Sakti, kalian adalah orang-orang jahat yang diusir dari kota raja. Kenapa sekarang berkeliaran di daerahku membuat onar? Berani kalian menculik anak isteriku?”

Dua musang itu pucat, memandang pemuda berambut emas yang ada di situ, gentar tak berani berkurang ajar pada bupati ini karena ada lawan yang jauh lebih kuat dibanding mereka. Dan ketika bupati Wang marah-marah dan siap menangkap mereka tiba-tiba Cao Cun berseru memperingatkan ayahnya,

“Ayah, yang menangkap mereka itu bukan dirimu. Sebaiknya serahkan hal itu pada in-kong (tuan penolong) ini!”

Wang-taijin terkejut. Dia terbawa pada sikapnya sebagai pembesar, lupa bahwa pemuda berambut emas inilah yang menangkap dua musang jahat itu. Bahkan yang menolong keluarganya dari musibah besar. Maka terkejut dan sadar akan budi pertolongan pemuda ini tiba-tiba Wang-taijin menjatuhkan diri berlutut! “Siauw-hiap (pendekar muda), maafkan kelancanganku. Aku hampir melupakan rasa terima kasihku yang besar!” dan ketika bupati itu menjatuhkan diri berlutut dengan air muka penuh haru dan gembira akhirnya berturut-turut Cao Cun dan ibunya juga mengikuti jejak sang ayah.

“Benar, kau telah menolong kami berdua, siauw-hiap. Sungguh tak terkira rasa syukur dan terima kasih kami!”

“Dan aku juga menyatakan terima kasihku, in-kong. Entah apa jadinya kalau dua manusia jahat ini membawa diriku!” Cao Cun bicara, lembut dan halus dengan suaranya yang merdu, enak didengar.

Dan ketika Hok Gwan dan teman-temannya juga berlutut di belakang pemuda itu sambil mengangguk-angguk maka terkejutlah pemuda ini membangunkan bupati itu.

“Taijin, bangunlah. Aku kebetulan lewat di sini, tak perlu berterima kasih!” dan berturut-turut menyuruh Cao Cun dan ibunya bangun berdiri akhirnya pemuda ini menghadapi Dua Musang Sakti itu. “Musang busuk, hukuman apa yang kalian inginkan sekarang?”

Dua musang itu terkejut. “Kami... kami minta hukuman seringan-ringannya, siauw-hiap... kami minta agar kau tidak membunuh kami!”

“Hm, padahal kalian telah menculik dan memeras?”

Dua orang itu gemetar. “Kami... kami hanya orang suruhan, siauw-hiap... kami...” dua musang itu tiba-tiba menghentikan kata-katanya, melihat leher mereka sudah dicekik hingga sulit bernapas. Dan ketika mereka terbelalak dan pucat memandang lawan yang lihai ini pemuda berambut emas itu sudah memutuskan,

“Kalian harus mengganti rugi duapuluh ribu tail perak pada Wang-taijin, seperti yang kalian minta tadi! Sanggup?”

Dua orang ini terbelalak. Duapuluh ribu tail? Darimana mereka dapatkan itu? Tapi mereka yang tiba-tiba tersenyum mendadak menganggukkan kepalanya menyatakan setuju. Menyanggupi karena mereka dapat mencari nanti di tengah jalan, mencuri atau merampok orang-orang kaya!

Tapi Wang-taijin yang terkejut mengenal watak dua musang ini sudah buru-buru berseru, “Siauw-hiap, jangan... tidak usah! Aku tak perlu dibayar seperti itu. Mereka nanti akan mencari uang dengan jalan merampok atau mencuri. Tidak usah saja!” dan Wang -taijin yang buru-buru mengulapkan lengannya mencegah pemuda itu memaksa dua musang ini memberi ganti rugi tiba-tiba berkata lagi dengan muka pucat, “Mereka tak punya uang sebanyak itu, siauw-hiap. Kalau kau memaksa mereka seperti itu maka mereka akan mencelakakan orang lain untuk mencari uang ini. Tidak, aku tak mau uang haram. Mereka bukan manusia baik-baik!”

Sang pemuda tertegun. “Begitukah? Kalau begitu mereka sudah terlampau jahat? Hm, kalau begitu dihukum yang lainnya saja. Jari mereka harus dipotong!” dan pemuda berambut emas yang kini menghadapi dua musang itu membentak, “Musang-musang busuk, kalian potong jari-jari kalian untuk pengingat dosa-dosa kalian. Berani membantah?”

Dua musang itu pucat. Mereka merasa hukuman pertama tadi ringan, jauh lebih ringan daripada memotong jari-jari sendiri. Maka mendengar Wang-taijin mencegah dan kini pemuda yang amat lihai itu mengganti hukuman mereka dengan memotong jari tiba-tiba dua laki-laki bercodet itu mendelik. Mereka marah sekali pada bupati Wang ini, yang menjadi gara-gara.

Tapi Cao Cun yang maju dan khawatir oleh pandangan dua musang itu tiba-tiba berkata lirih, “Siauw-hiap, lebih baik lepaskan saja mereka ini. Kau minta saja padanya agar bertobat dan tidak melakukan kejahatan lagi.”

Pemuda berambut emas itu heran. “Kenapa?”

Cao Cun terisak. “Aku tak mau mereka mendendam pada ayah, siauw-hiap. Kalau kau tak ada di sini dan mereka kembali membuat kerusuhan maka kami sekeluarga tentu celaka.”

“Hm...” pemuda itu kini membalikkan tubuhnya menghadapi dua musang ini. “Kalian berani mendendam pada keluarga Wang-taijin? KaIian minta kubunuh agar tidak merupakan ancaman lagi?”

“Tidak... tidak...!” dua musang itu terang kaget, pucat dan terkejut melihat mata yang seperti bintang itu tiba-tiba hidup, berkilat dan bersinar-sinar memandang mereka. Dan sebelum pemuda menakutkan ini menjatuhkan keputusan maut mendadak mereka sudah menjatuhkan diri berlutut. “Kami akan memenuhi permintaan Wang-siocia (nona Wang), siauw-hiap. Kami berjanji akan bertobat bila kami dilepaskan baik-baik. Kami tak akan mendendam pada Wang-taijin!” dan merintih serta mengiba-iba dua musang itu membentur-benturkan dahi mereka, berjanji tak akan melakukan kejahatan dan segala perbuatan buruk lagi.

Dan ketika Cao Cun juga memohon agar pemuda itu tak membunuh atau menyakiti dua musang ini dan melepaskan saja mereka dengan baik-baik karena dua musang itu rupanya benar-benar sudah bertobat maka pemuda berambut emas ini tiba-tiba menendang dua laki-laki itu.

“Baiklah, Wang-siocia mengampuni kalian, musang busuk. Kali ini kalian boleh pergi tapi awas kalau kalian melanggar janji, aku tak akan mengampuni kalian lagi. Enyahlah... dess!”

Dan dua musang itu yang mencelat sambil mengaduh akhirnya terbanting dan terguling-guling di luar rumah Wang-taijin, mengeluh tapi girang diampuni begitu mudah. Maka begitu menyatakan terima kasih dan memutar tubuh buru-buru mereka ngeloyor dan tidak lagi menoleh ke tempat yang membuat mereka sial itu!

Wang-taijin dan semua orang tertegun. Mereka melihat kehebatan pemuda ini, kelihaiannya yang luar biasa hingga tidak perlu membalas Dua Musang Sakti itu sudah keok. Melihat dua laki-laki bercodet itu terbirit-birit melarikan diri. Tapi begitu mereka memutar tubuh memandang pemuda yang tadi berdiri tak jauh dari mereka mendadak Wang- taijin dan anak isterinya terkejut karena pemuda itu sudah tak ada lagi di dekat mereka!

“Hei, kemana dia?” Wang-taijin berseru kaget, disusul yang lain-lain karena Hok Gwan dan anak buahnya juga tak melihat kemana bintang penolong mereka itu pergi. Lenyap begitu saja seperti iblis.

Dan Wang-taijin dan anak isterinya yang tentu saja ribut dan mencari ke sana kemari sambil memanggil-manggil akhirnya kecewa karena tetap saja orang yang mereka cari itu tak kelihatan bayangannya. Mereka tak tahu kemana pemuda aneh itu pergi, tak sempat mengajak masuk dan bercakap untuk menyatakan terima kasih.

Tapi Wang-taijin yang penasaran dan ingin kembali menemui pemuda gagah itu akhirnya memberi perintah pada Hok Gwan untuk mencari pemuda lihai ini keesokan harinya. “Hok Gwan, kerahkan semua pengawal untuk mencari bintang penolong kita ini. Ajak dia ke mari memenuhi undanganku. Aku ada perlu penting dengannya. Sampaikan itu!”

Hok Gwan mengangguk. Dia tak tahu bahwa semalam Wang-taijin dan isterinya telah saling berbisik-bisik untuk mengambil pemuda itu sebagai mantu. Ingin menyerahkan Cao Cun agar menjadi isteri pemuda itu. Pemuda yang dan tentu dapat melindungi mereka dari ancaman bahaya. Pemuda yang menarik dan gagah! Dan Hok Gwan yang tentu saja tak tahu pembicaraan yang bersifat pribadi ini sudah menyambut girang perintah majikannya itu. Dia menyebar anak buahnya, bahkan dia sendiri juga ikut terjun, mencari ke segenap kabupaten Chi-cou untuk menemukan pemuda gagah itu.

Pemuda yang membuat dia kagum dan terbelalak akan kelihaiannya. Merobohkan Dua Musang Sakti yang telah membuat dia dan sembilan anak buahnya keok. Padahal sama sekali tidak membalas. Dan ketika Hok Gwan berputar-putar ke seluruh wilayah kabupaten mencari-cari pemuda ini akhirnya secara kebetulan dia menjumpai pemuda aneh itu duduk minum arak di sebuah kedai jauh di ujung perbatasan Chi-cou dengan kabupaten Pin!

“Ah...!” Hok Gwan girang bukan main, langsung turun dari kudanya dan menghampiri pemuda itu. Dan ketika sang pemuda mengerutkan kening melihatnya heran buru-buru Hok Gwan memberi hormat di kaki meja, menjatuhkan diri berlutut. “Siauw-hiap, hamba mendapat perintah Wang-taijin agar siauw-hiap sudi memenuhi undangannya ke kabupaten Chi-cou. Taijin ada urusan penting yang hendak dibicarakan berdua. Mohon siauw-hiap tak mengecewakan permintaan ini setelah susah payah aku mencari-carimu!”

Pemuda itu tersenyum, sedikit saja tapi sudah membuat kepala pengawal ini bungah (gembira bukan main). “Hm, ada apa Wang-taijin memintaku ke sana? Apakah musang-musang busuk itu mengganggu kalian lagi?”

“Tidak, tidak...!” Hok Gwan menggelengkan kepalanya. “Wang-taijin hendak membicarakan sesuatu yang bersifat pribadi, siauw-hiap. Mungkin...”

“Mungkin apa?”

“Mungkin minta siauw-hiap menjadi pengawal pribadi di sana!”

Pemuda itu tiba-tiba tak senang. “Kalian hendak menyogokku dengan pangkat?”

Hok Gwan terkejut. “Tidak, eh... maaf, itu baru dugaanku belaka, siauw-hiap. Itu baru kemungkinan yang kureka-reka sendiri saja!”

“Hm, kalau begitu katakan pada majikanmu bahwa aku tak tertarik dengan pangkatdan kedudukan. Aku pengelana sejati yang tak ingin diikat dengan apapun!”

Hok Gwan semakin terkejut melihat pemuda itu menghabiskan araknya dan tiba-tiba bangkit berdiri siap keluar dari kedai itu. Dan ngeri bahwa pemuda ini pandai “menghilang” dan sekali lenyap tentu dia tak akan dapat menemuinya lagi tiba-tiba Hok Gwan menangis memeluk erat-erat kaki pemuda ini. “Siauw-hiap, ampunkan aku. Kau penuhilah permintaan Wang-taijin. Itu hanya dugaanku belaka yang tidak kupikir panjang lebar. Aku akan berlutut di sini sampai mati kalau kau menolak keinginan ini!”

Pemuda itu terkejut. “Kau mau memaksa?”

Hok Gwan menggigil. “Tidak, tapi... tapi penuhilah permintaan ini, siauw-hiap. Aku boleh memotong jariku sendiri kalau kata-kataku tadi kau anggap dosa!”

Pemuda itu tiba-tiba tersenyum. “Bangunlah, aku akan memenuhi permintaanmu!”

Dan ketika Hok Gwan bangun dan berseru girang melepaskan pelukannya tiba-tiba pengawal ini telah menyambar kudanya untuk diberikan pada pemuda ini. “Pakailah, aku akan berjalan kaki untuk menebus kelancanganku, siauw-hiap. Taijin tak sabar lagi menunggu dirimu di gedung kabupaten!”

Pemuda itu tertawa. “Untuk apa? Kau mau berjalan kaki?”

“Ya, penebus kelancanganku tadi, siauw-hiap. Biarlah kau pakai kudaku dan aku akan berjalan pulang!”

Pemuda itu tiba-tiba tertawa lepas, melihat kepolosan pengawal Wang-taijin ini. Dan ketika Hok Gwan terheran dan terbelalak memandang kepadanya tiba-tiba pemuda itu berkelebat lenyap meninggalkan kedai. “Pengawal she Hok, kau pakai saja kudamu. Aku lebih cepat dengan kedua kakiku. Pulanglah, aku akan lebih dulu tiba disana...!”

Dan ketika suara itu lenyap dan Hok Gwan sadar akan apa yang terjadi tiba-tiba pengawal ini berseru keras melompati kudanya, ingin membuktikan dan buru-buru mencongklang tunggangannya menuju ke kabupaten Chi-cou, mencambuk dan menendang-nendang kudanya agar secepat mungkin sampai di tempat tujuan. Dan ketika sejam kemudian dia tiba di sana dengan keringat bercucuran dan napas terengah-engah saking gugup dan tegangnya mendadak pengawal ini melongo ketika melihat pemuda yang aneh itu benar telah bercakap-cakap dengan Wang-taijin!

“Ah...!” pengawal ini tak habis pikir, disambut senyum dan ketawa majikannya yang melihat pengawalnya itu ngos-ngosan. Heran dan tak habis mengerti bagaimana dia yang telah berlari cepat bersama kudanya itu masih kalah oleh pemuda asing ini, yang duduk enak dan sama sekali tidak berkeringat seperti dia yang “gembrobyos”.

Dan ketika Wang-taijin terbahak dan menyuruh pengawalnya itu keluar karena pemuda lihai yang mereka undang sudah datang sejam yang lalu akhirnya kepala pengawal ini mengangguk dan ngeloyor keluar dengan muka terheran-heran.

Memang, pemuda itu telah datang jauh sebelum pengawal itu tiba. Sejam yang lalu ketika mereka bercakap-cakap di kedai arak, mempergunakan ginkangnya (ilmu meringankan tubuh) yang hebat dan sebentar saja telah bertemu dengan bupati Wang yang tentu saja girang dan gembira bukan main, mendengar cerita singkat tamunya itu akan pertemuannya dengan Hok Gwan. Dan ketika mereka bercakap-cakap dan sejam kemudian kepala pengawal itu datang dan percakapan basa-basi telah selesai maka dengan muka berseri tapi juga agak tegang Wang-taijin lalu menuju pada pokok persoalan yang sebenarnya sudah disiapkan, persis ketika saat itu puterinya membawa minuman dan makanan kecil untuk tamu mereka yang dikagumi.

“Siauw-hiap, bolehkah kutanya sedikit persoalan pribadimu?”

Sang pemuda teregun. “Kau mau bertanya apa, taijin?”

Dan ketika sang bupati tersenyum dan melihat pemuda itu melirik puterinya yang kembali ke belakang akhirnya pembesar ini menekan debaran jatungnya. “Maaf, aku ingin bertanya apakah kau sudah beristeri atau belum, siauw-hiap. Bolehkah kutanya ini kalau tidak menyinggung hatimu?”

Pemuda itu tiba-tiba tersenyum, mata bintangnya bergerak hidup. “Belum, aku masih bujang. Kenapakah?”

“Hm,” Wang-taijin mendapat harapan. “Dan siauw-hiap juga belum punya, eh... kekasih?”

Sang pemuda tiba-tiba murung. “Taijin, ada maksud apa kau menanyai ini? Aku memiIiki masa kecil yang gelap. Pertanyaanmu membuat aku teringat pada luka yang lama!”

“Ah, maaf!” Wang-taijin buru -buru menjura. “Aku tak tahu, siauw-hiap. Aku... aku...” dan Wang-taijin yang gugup melihat kemurungan tamunya tiba-tiba macet tak dapat melanjutkan!

Tapi pemuda berambut emas itu tersenyum pahit, menghela napas. “Apa yang kau inginkan, taijin?”

Wang-taijin seret mengeluarkan kata-katanya. Tapi setelah melihat tamunya tersenyum dan dapat kembali bersikap biasa akhirnya bupati ini bicara juga, “Kami, eh aku ingin menyerahkan puteriku padamu, siauw-hiap. Kalau kau suka dan memang belum beristeri biarlah Cao Cun menjadi isterimu!”

Pemuda ini terbelalak, rupanya kaget. “Apa?”

Dan Wang-taijin memberanikan hatinya dengan muka penuh harapan, “Aku ingin menyerahkan Cao Cun sebagai isterimu, siauw-hiap. Kalau kau cocok dan suka padanya sungguh akan gembira dan besar sekali kebahagiaan kami sekeluarga!”

Pemuda itu tertegun. Dia teringat puteri bupati Wang yang ayu dan elok itu, lembut dan memiliki wajah gemilang serta cantik dan jelita. Gadis yang agaknya mampu merobohkan setiap lelaki yang pertama kali memandangnya. Tapi mengerutkan alis menggeleng kepala tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri. “Maaf,” Wang-taijin terkejut. “Aku sedang pepat pikiran, taijin. Tak mungkin bagiku memikirkan jodoh dalam saat seperti ini!” dan ketika bupati itu terbelalak memandangnya pemuda inipun menjura. “Taijin, kukira cukup kita bercakap-cakap. Terima kasih untuk semua perhatian dan maksud baikmu.”

“Ah, kau mau ke mana, siauw-hiap?”

Pemuda ini tersenyum getir. “Aku pengelana sejati, taijin. Aku ingin melanjutkan perjalananku ke mana aku suka.”

“Ah, dan... dan puteriku?”

“Kenapa dengan puterimu?”

“Tak cantikkah dia? Tak sukakah kau kepadanya?”

Pemuda ini tiba-tiba menggigit bibir. “Taijin, puterimu halus dan cantik bagai bidadari. Siapa tak suka padanya? Aku bukan tidak suka, taijin. Tapi saat ini aku belum berhasrat untuk memperisteri seorang gadis!”

Wang-taijin pucat, merasa gagal! “Siauw-hiap, adakah seorang gadis yang telah menjatuhkan hatimu?”

Pemuda itu memejamkan mata. “Perlukah kau ketahui?”

Wang-taijin tertegun. Dia tiba-tiba merasa telah melancarkan pertanyaan di luar batas, urusan pribadi yang memang tak seharusnya dia ikut campur. Dan Wang-taijin yang tak menjawab karena merasa terpukul tiba-tiba melihat pemuda aneh itu membuka matanya.

“Taijin, aku tidak menolak maksud baikmu. Tapi masalah itu biarlah kita bicarakan saja lain hari.”

“Ah!” Wang-taijin tiba-tiba merasa mendapat harapan. “Kalau begitu kau mengabulkannya, siauw-hiap? Kau...”

“Nanti dulu, jangan terburu-buru!” pemuda itu memotong. “Aku tak memberi janji mau atau tidak mau, taijin. Tapi masalah jodoh adalah masalah yang tidak gampang diselesaikan dengan cara begitu singkat. Hidup suami-isteri adalah hidup keterikatan. Aku tak mau gampang memberi janji kepada siapapun!” dan sekali lagi menjura kepada bupati itu tiba-tiba pemuda ini berkelebat keluar. “Taijin, pembicaraan kita sudah cukup. Terima kasih atas semua kebaikanmu...!” dan ketika Wang-taijin terbelalak memandang ke depan tahu-tahu pemuda berambut emas itu telah lenyap di luar halamannya.

“Kim-mou-eng (Pendekar Rambut Emas)...!” Wang-taijin tiba-tiba berseru, memanggil begitu saja pemuda lihai itu dengan sebutan sekenanya. Tapi tak menyangka sebutannya mengena pada sasaran mendadak pemuda yang tadi lenyap itu sekonyong-konyong muncul kembali di depannya seperti iblis. Begitu saja membuat Wang-taijin mundur menubruk kursinya.

“Bagaimana kau mengenal julukanku?”

Wang-taijin geragapan. Dia bangun berdiri dengan muka kaget, membersihkan bajunya dan menarik kembali kursi yang roboh. Tapi melihat orang tak marah padanya dan bersikap wajar tiba-tiba pembesar ini kagum bukan main. Kagum serta tertarik melihat pemuda ini demikian hebat. Dapat datang dan pergi seperti siluman! Maka tersenyum dan girang memutar akal tiba-tiba bupati ini tertawa. “Aku mengenal dan menyebutmu sembarang saja, siauw-hiap. Tapi kalau betul itu adalah julukanmu maka akan kupanggil dirimu Kim-mou-eng!” dan belum pemuda ini membalas dengan kata-kata Wang -taijin sudah menjura penuh hormat. “Kim-mou-eng, bagaimana kalau begitu jika Cao Cun menjadi adikmu? Aku cukup puas kalau kau dapat menjadi kakaknya, Kim-mou-eng. Aku tak mengharap lebih di saat ini!”

Kim-mou-eng tertegun. “Kau mau mengikatku di sini?”

“Tidak,” Wang-taijin buru-buru menyela, cerdik melihat keadaan. “Aku tak mengikatmu kemana kau pergi, Kim-mou-eng. Tapi kalau kau mau tinggal beberapa hari di sini dan menganggap puteriku sebagai adikmu maka rasa terima kasih kami akan terbayar sedikit dengan kemurahanmu. Aku tak memaksa.”

Kim-mou-eng lagi-lagi tertegun. Dan sementara dia mengerutkan kening memandang bupati ini tiba-tiba Cao Cun muncul. “Ayah, kenapa tamu kita kau biarkan berdiri begitu? Apakah kau mengusirnya pergi?”

Bupati Wang terkejut, tapi cepat girang memberi isyarat. “Tidak, justeru Kim-mou-eng mau tinggal beberapa hari di sini, Cun-ji. Kau rupanya beruntung akan dianggap sebagai adiknya. Hayo cepat beri hormat...!” dan Wang-taijin yang buru-buru mengedip memberi isyarat tiba-tiba membuat Cao Cun terkejut tapi girang bukan main, merah tersipu. Tapi begitu sang ayah sudah memegang pundaknya dan menyuruh Cao Cun berlutut di depan kaki Pendekar Rambut Emas ini maka puteri bupati Wang itu sudah berkata, gemetar penuh gembira,

“In-kong, kalau betul kau mau menganggap aku sebagai adikmu sungguh kegembiraan kami sekeluarga tak terkira besarnya. Aku Cao Cun mohon bimbinganmu!” dan Cao Cun yang menyentuh lutut Pendekar Rambut Emas akhirnya membuat pemuda lihai ini sadar dan gugup, tak dapat mengelak lagi karena Cao Cun sudah memberi hormat padanya.

Dan karena perbuatan ini telah “mengikatnya” dalam hubungan persaudaraan yang lebih akrab akhirnya Kim-mou-eng tersipu dan buru-buru membangunkan puteri Wang-taijin itu. “Nona, bangunlah. Aku tak pantas sebenarnya menjadi kakakmu!”

Cao Cun terkejut. “Kau memanggilku nona?”

Wang-taijin tampil bicara, tertawa lebar. “Ha-ha, Kim-mou-eng masih canggung, Cun-ji. Kau sendiri tak memulainya menyebut twako (kakak)!”

Cao Cun sadar. “Ah, benar, maaf twako... maaf, Kim-twako!”

Dan ketika Kim-mou-eng bingung dan tersipu melihat gadis itu berdiri di depannya karena sang ayah selalu membantu akhirnya Pendekar Rambut Emas tak berdaya mengelak lagi. “Sudahlah, ayahmu pintar, Cun-moi (adik Cun). Aku benar-benar gugup menghadapi kalian.”

“Dan kau masih jadi mau pergi juga, Kim-mou-eng?”

Pemuda ini tertegun.

“Tidak, bukan? Nah, kalau begitu biar kusiapkan pesta kecil untuk kalian!” Wang-taijin tertawa, melanjutkan kata-katanya dan berhasil “menjebak” pemuda ini untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan rumah mereka. Dan ketika Wang-taijin gembira dan Kim-mou-eng telah menganggap Cao Cun sebagai adiknya dan tentu saja tak enak meninggalkan bupati itu yang tidak bermaksud jahat akhirnya pemuda aneh ini tinggal beberapa hari di gedung bupati itu. Mau tidak mau menyambut juga penghargaan bupati itu. Terang tak enak pergi begitu saja seperti orang tak punya aturan. Dan begitu Kim- mou-eng tinggal bersama di gedung bupati Wang ini untuk beberapa hari maka hubungan Cao Cun dan pemuda itu menjadi akrab!

* * * * * * * *

Ternyata Kim-mou-eng adalah keturunan bangsa Tar-tar. Hal itu baru diketahui Cao Cun dan ayah ibunya beberapa hari kemudian, yakni ketika mereka bercakap-cakap. Ketika hubungan Cao Cun dan pemuda yang aneh itu terjalin baik tanpa penuh prasangka. Bahwa pemuda ini memiliki darah campuran antara suku Tar-tar dan bangsa Han karena ayah pemuda itu adalah salah seorang kepala suku bangsa perantau itu sementara ibunya adalah wanita Han (Tiongkok) yang dua-duanya telah meninggal dunia, jauh lima belas tahun yang lalu ketika Kim-mou-eng masih kecil. Dan Cao Cun yang terharu mendengar kisah pemuda ini mendengar penuh perhatian ketika suatu hari mereka bercakap-cakap di taman.

“Aku seorang jaka-lola, Cun-moi. Luntang-lantung belasan tahun di tengah-tengah suku bangsa ayahku yang suka merantau. Ayah dan ibu telah lama meninggal, aku hidup sendiri di tengah-tengah suku bangsa yang keras itu,” demikian mula-mula Kim-mou-eng bercerita, menarik napas dan tampak muram menceritakan masa kecilnya yang penuh kepahitan, jauh berbeda dengan puteri bupati Wang itu yang hidup cukup, senang dan memiliki orang-orang tua yang masih hidup.

Dan Cao Cun yang melelehkan air mata memandang penuh harapan tiba-tiba terisak. “Jadi kau hidup sendiri, twako? Kau tak bersanak-kadang lagi?”

“Hm, begitulah yang kualami selama bertahun-tahun, Cun-moi. Tapi kalau dibilang hidup sendiri sesungguhnya juga kurang tepat.”

“Maksudmu?”

“Aku hidup di tengah-tengah keluarga besar suku bangsaku. Meskipun mereka bukan keluarga dalam pertalian darah tapi bagaimanapun juga aku termasuk seorang di antara mereka. Aku telah dianggap seorang warga di tengah-tengah suku bangsa Tar-tar yang besar!”

“Tapi kau hanya memiliki setengah ikatan darah, twako. Ibumu adalah orang Han seperti yang kau katakan sendiri!”

“Ya, tapi selama ini aku dibesarkan di tengah-tengah mereka, Cun-moi. Jadi meskipun aku berdarah campuran tapi aku sendiri telah terbiasa oleh adat dan kebudayaan mereka. Aku merasa bahwa aku berdarah Tar-tar!”

“Hm, tapi bagaimanapun juga darah Han mengalir ditubuhmu, twako. Kau tak dapat menganggap dirimu penuh sebagai suku bangsa Tar-tar!” Cao Cun mengingatkan.

“Benar, dan akhir-akhir ini aku merasa rindu akan tanah kelahiran ibuku, Cun-moi. Karena itulah aku meninggalkan suku bangsaku di utara itu untuk merantau di Tionggoan. Tak kuduga...” pemuda ini menghentikan kata-katanya, tiba-tiba sedih dan menutupi mukanya dengan bibir digigit kuat-kuat.

Dan Cao Cun yang terkejut melihat pemuda itu basah kedua matanya tiba-tiba bertanya, cemas, “Ada apa, twako? Kau mendapat musuh?”

“Benar,” pemuda ini menghela napas berat. “Dan musuhku itu adalah suheng (kakak seperguruan laki-laki) dan sumoiku (adik seperguruan perempuan) sendiri!”

Cao Cun terkejut. “Kau memiliki saudara-saudara seperguruan, twako? Siapa mereka?”

Kim-mou-eng memejamkan mata. “ Mereka asli orang-orang Tar-tar, Cun-moi. Menyatakan tidak setuju dan marah sekali ketika aku menyatakan niatku untuk meninggalkan suku bangsaku merantau di tanah kelahiran ibuku!”

Cao Cun tertegun. “Siapa suheng dan sumoimu itu? Dan, hm... cantikkah sumoimu itu?”

Pemuda ini membuka matanya. “Mereka orang-orang lihai, Cun-moi. Kami bertiga saudara seperguruan baru kali itu bertengkar!”

“Dan sumoimu itu, cantikkah dia?” Cao Cun mengulang pertanyaannya, ingin tahu sekali. "Siapakah namanya?”

Pendekar muda ini sejenak tersenyum. “Sumoiku itu cantik, Cun-moi. Namanya Salima. Tapi suhengku yang bernama Gurba itu amat keras hati dan jauh lebih berbahaya dibanding sumoiku. Ayah ibunya juga meninggal dibunuh orang-orang Han!”

Cao Cun terkejut. “Suhengmu juga lola?”

“Ya, sumoiku juga lola, Cun-moi. Kami tiga bersaudara seperguruan sama-sama tak beribu-bapak lagi. Sama-sama sebatangkara!”

“Tapi suhumu?”

Kim-mou-eng mendadak tersenyum, hidup mata bintangnya itu. “Kami tak mengenal suhu (guru) kami, Cun-moi. Kami belajar dari sebuah kitab yang ditinggalkan seseorang lewat suaranya!”

Cao Cun membelalakkan mata. “Apa, kau memiliki guru secara bayangan?”

“Ya, guru kami itu memang merupakan guru bayangan, Cun-moi. Dia tak pernah menampakkan diri selain suaranya itu. Kami tak berhasil mengenal siapa dia tapi ilmu silat yang dia berikan benar-benar hebat dan luar biasa sekali!”

Cao Cun tertegun. Dia hampir tak berkedip memandang Pendekar Rambut Emas ini, dan ketika dia masih juga terbelalak memandang temannya akhirnya Kim-mou-eng tertawa.

“Benar, aku tak berdusta padamu, Cun-moi. Guru kami itu memang orang yang aneh. Kami tak tahu siapa dia tapi kami mengenal betul suaranya.”

“Hm...!” Cao Cun merasa takjub. “Dan kau juga tak tahu siapa nama gurumu itu, twako?”

“Sedikit. Dia tak pernah menyebut namanya kecuali 'Sian-su' di atas kitabnya. Kami tak tahu siapa dia sebenarnya, tapi yang jelas guru bayangan kami ini orang yang hebat dan sakti sekali, juga bijaksana, mirip dewa!”

Cao Cun kagum, bangkit rasa herannya yang besar. “Dan dengan kepandaianmu yang sudah seperti ini kau masih juga tak berhasil mengetahui siapa gurumu itu, twako?”

“Ya, aku tak berhasil. Dia pandai menghilang seperti asap, Cun-moi. Betapapun aku mengejar atau mencarinya tetap saja aku tak berhasil. Bahkan dulu pernah kami bertiga mengepungnya tapi tetap gagal seolah guru bayangan kami itu amblas memasuki dasar bumi!”

Cao Cun mendesah penuh takjub. Kalau bukan pemuda ini sendiri yang menceritakan mungkin dia tak akan percaya. Maklum, Kim-mou-eng sendiri pandai menghilang seperti siluman. Jadi kalau dia menceritakan betapa gurunya itu dapat menghilang melebihi Pendekar Rambut Emas ini sendiri maka dapat dibayangkan betapa hebat dan luar biasanya guru bayangan pemuda itu. Agaknya dewa atau maha dewa yang sudah bukan berujud manusia lagi!

Dan Cao Cun yang kagum dengan mata bersinar-sinar akhirnya mendengarkan Kim-mou-eng melanjutkan ceritanya. Betapa pemuda itu bersama suheng dan sumoinya hidup di alam yang keras dan menempa mereka dengan keras pula, menjadikan mereka orang-orang muda yang cepat dewasa dan matang, memiliki kepandaian tinggi dan menolong suku bangsa mereka dari gangguan suku-suku bangsa lain yang liar. Dan karena mereka selalu mengalahkan musuh dan musuh yang kalah akhirnya bergabung dengan mereka maka suku bangsa Tar-tar berkembang pesat menjadi suku bangsa yang besar dan tangguh.

Mereka akhirnya menyapu suku-suku bangsa lain yang liar di sekeliling mereka, yang sering mengganggu dan mengancam ternak mereka karena mereka juga hidup dari memelihara ternak yang besar jumlahnya, puluhan ribu ekor. Dan karena mereka juga merupakan bangsa yang keras karena alam yang keras menempa mereka maka akhirnya suku bangsa Tar-tar ini menjadi suku bangsa yang gagah berani dan ditakuti banyak lawan.

Terutama dengan adanya Kim-mou-eng dan dua saudara seperguruannya itu, Gurba dan Salima, yang masing-masing mendapat julukan sebagai Singa Daratan Tandus dan Dewi Bertangan Besi, nama yang amat ditakuti suku-suku bangsa lain karena keperkasaan mereka, kehebatan mereka. Dan ketika beberapa tahun kemudian Kim-mou-eng dan dua saudara seperguruannya ini menundukkan banyak musuh dan Tar-tar menjadi suku bangsa yang besar akhirnya Gurba diangkat menjadi pemimpin di kalangan suku bangsa itu.

“Suhengku memang hebat, Cun-moi. Dia gagah dan tinggi besar serta pandai memanah atau melempar lembing seperti kebiasaan suku bangsa Tar-tar. Kulitnya hitam tapi bengis terhadap musuh!”

Cao Cun ngeri. “Dan sumoimu?”

“Sumoi berkulit hitam manis, Cun-moi. Dia juga gagah perkasa dan banyak pemuda tergila-gila padanya. Tapi dia tak menghiraukan mereka semua itu!”

“Dan kecantikannya, samakah dengan orang-orang pedalaman, twako?”

“Ah, tentu tidak. Dia wanita Tar-tar yang hidup di alam terbuka, tidak cantik tapi manis luar biasa. Penuh daya tarik dan cukup menggairahkan bagi gadis seusianya!”

“Hm...!” Cao Cun tiba-tiba cemburu. “Dan kau tertarik padanya, twako?”

Kim-mou-eng mendadak tersenyum lebar. “Aku tertarik padanya karena dia memiliki kepribadian yang teguh, Cun-moi. Tapi kalau tertarik dalam arti cinta aku masih belum tahu!”

“Kenapa begitu?” Cao Cun mengerutkan kening, sedikit merah mukanya karena pertanyaannya dapat “ditangkap” pemuda itu.

Dan Kim-mou-eng yang tertawa menepuk permukaan meja tiba-tiba memandang puteri bupati Wang ini. “Cun-moi, kau sendiri tahukah bagaimana yang disebut cinta itu? Cukupkah sekedar gerak-gerik dari perasaan ingin saling mendekati?”

Cao Cun terkejut. “Maksudmu?”

“Ya, jelas sekali. Apakah cinta itu? Adakah jawabannya yang tepat bagaimanakah definisi cinta itu? Aku tak mau sembrono, Cun-moi. Aku ingin tahu lebih dulu bagaimana sebenarnya yang bernama cinta ini. Apakah sekedar dorongan nafsu atau perasaan!”

Cao Cun tertegun. “Aku tak mengerti.”

“Aku juga tak mengerti!” Kim-mou-eng tertawa. “Karena itu aku ingin menyelidikinya dulu. Kalau aku menemukan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam kata 'cinta' itu barulah aku berani mengatakan apakah aku jatuh cinta pada seseorang atau tidak!”

Cao Cun tersipu, “Hm...” gadis ini semburat merah. “Jadi kalau begitu kau tak tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu terhadap sumoimu itu. Kau tak tahu kau mencintainya atau tidak?”

“Sebagai seorang adik seperguruan tentu saja aku mencintainya. Tapi kalau dimaksudkan sebagai cinta seorang kekasih memang dengan jujur kujawab belum tahu!”

“Dan kau dapat memberikan bayangan wajahnya kepadaku, twako?”

“Tentu, untuk apa?”

“Untuk... untuk sekedar mengenalnya belaka. Siapa tahu dikemudian hari aku berjumpa dengan sumoimu itu!” Cao Cun gugup, melihat mata temannya memandang berseri dengan senyum yang aneh, seakan tahu dia menyembunyikan sesuatu.

Dan ketika Kim-mou-eng mengeluarkan pit dan tinta serta sehelai kertas untuk melukis tiba-tiba puteri Wang-taijin ini tertegun.

“Kau mau menggambar, twako?”

“Ya, melukis wajahnya. Bukankah kau ingin tahu wajah Salima?”

Cao Cun terbelalak. “Kau cukup membayangkannya saja kepadaku!”

“Tidak, kau tak akan puas hanya dengan bayangan ceritanya, Cun-moi. Aku akan melukis wajahnya agar kau dapat membuktikan benarkah kata-kataku tadi. Lihat...!” dan Kim-mou-eng yang sudah tertawa mencoret-coret kertas itu dengan wajah seorang gadis tiba-tiba membuat Cao Cun terhenyak ketika sebentar saja pemuda itu menyelesaikan lukisannya.

Menggambarkan seorang gadis dengan topi burung rajawali, cantik dan gagah. Atau lebih tepat, manis dan gagah, karena gadis itu memang lebih tepat disebut manis daripada cantik, anggun dan tampak memiliki mata yang tajam bagai mata seekor harimau betina. Seluruh kegagahan dan kepribadiannya yang kuat tampak menonjol di situ. Begitu pula lekuk dagunya yang keras, membayangkan kemauan dan kekerasan hati yang teguh. Manis dan memikat, namun gagah! Dan ketika lukisan itu selesai dan Cao Cun bengong melihat Kim-mou-eng pandai melukis hingga lukisan itu tampak hidup dan indah tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri menyimpan pit dan tintanya, tersenyum lebar.

“Inilah Salima, Cun-moi. Manis dan gagah, bukan?”

“Ya,” Cao Cun mengangguk, sedikit gemetar. “Dan kau... kau rupanya hafal benar akan segala garis-garis wajah sumoi-mu, twako. Kau dapat menggambarkan begitu hidup wajah sumoimu itu. Kalau begitu kau mencintai sumoimu itu!”

Kim-Mou-eng terkejut. “Darimana kau tahu?”

“Lihat,” Cao Cun menggigil, menuding garis-garis dan lekuk yang gagah di dagu itu. “Kau dapat melukisnya begitu hidup, twako. Kau hapal benar wajah sumoimu itu. Kalau tak membayangkannya setiap saat atau memperhatikannya demikian seksama tentu tak mungkin kau dapat melukisnya seperti ini. Kau mencintainya!”

Pemuda itu tertegun. “Salima memang sumoiku, Cun-moi. Sejak kecil kami memang berkumpul bersama. Tak ada alasan untuk mengatakan itu!”

Dan, belum Cao Cun membantah tiba-tiba Kim-mou-eng memandang gadis itu, tertawa. “Lihat aku juga dapat melukis wajahmu dengan garis dan lekuk yang sama, Cun-moi. Sekarang buktikan dan lihat baik-baik!”

Dan ketika kembali pemuda itu mengambil pit dan tinta dari saku bajunya dan melukis wajah Cao Cun di kertas yang lain akhirnya sebentar saja Cao Cun dibuat bengong ketika wajahnya benar-benar dilukis pemuda aneh ini, persis dengan segala garis-garis mukanya, tajam dan jelas dengan lekuk di sana-sini, seperti wajah yang dia miliki, cantik dan lembut dengan matanya yang bulat jernih itu, dengan rambut panjangnya yang tergerai penuh daya tarik di belakang punggung. Dan ketika lukisan itu selesai dan Cao Cun melihat bayangan wajahnya sendiri yang cantik gemilang di kertas putih itu tiba-tiba saja Cao Cun kagum dan berseru memuji.

“Hebat, kau benar-benar pelukis jempolan, twako. Lukisanmu hidup dan mengagumkan sekali!”

Pemuda itu tertawa, “Persis dengan aslinya?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku juga mencintaimu seperti kau mengatakan aku mencintai sumoiku tadi?”

Cao Cun tertegun.

“Ha-ha...!” Kim-mou-eng akhirnya tertawa bergelak. “Sekarang kau tak dapat menjawab pertanyaanku, Cun-moi. Bahwa cinta tak dapat dilihat berdasarkan ingatan wajah seseorang belaka! Bukankah kau melihat bahwa garis-garis wajahmupun dapat ku lukis dengan hidup di sini? Bagaimana jawabannya sekarang?”

Dan ketika gadis itu tertegun tak dapat menjawab tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat keluar, menyambar pit dan tinta bak-nya di atas meja. “Cun-moi, cinta adalah sesuatu yang luar biasa dan aneh. Kau dan aku sesungguhnya belum tahu benar tentang apakah cinta itu. Kita masih terlalu muda...!” dan ketika bayangan pemuda itu lenyap di belakang taman akhirnya Cao Cun mendelong dengan pipi kemerah-merahan...