Pedang Medali Naga Jilid 16 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

PEDANG MEDALI NAGA
JILID 16
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Karya Batara
KUN HOUW melompat bangun. Dia tentu saja terkejut oleh serudukan yang luar biasa hebat ini. Serudukan yang membuat isi perutnya seakan tercerai-berai dari tempatnya, mual dan ingin muntah! Tapi Kun Houw yang sudah menarik kekuatan sinkangnya dan mengempiskan dada tiba-tiba menggerakkan lengan membacok kepala Mu Ba yang kembali menerjang dengan serudukannya yang mengerikan itu.

"Mu Ba, jangan sombong. Kau tak akan dapat membunuhku. Plak!" dan telapak Kun Houw yang sudah "membelah" kepala lawannya tiba-tiba tertolak balik ketika menyentuh hawa mujijat yang mengepul di ubun-ubun lawannya.

Dan Mu Ba yang tertawa bergelak oleh kekagetan lawannya ini sudah menggereng dan menubruk kembali. "Bocah, mampuslah...!"

Kun Houw berobah mukanya. Dia sekarang meloncat ke kanan menghindar tubrukan maut itu. Dan Mu Ba yang terus meluncur dengan kepala saktinya yang dahsyat itu tiba-tiba menghantam tembok kuil di belakang Kun Houw. "Broll!" tembok itu jebol. Kun Kouw sudah melompat ke depan mendahului lawan. Dan ketika Mu Ba membalik dan menggereng marah tiba tiba tubuhnya berkelebat menghantam leher raksasa ini.

"Dess!" Mu Ba tidak apa-apa. Raksasa itu hanya terhuyung, dan ketika Kun Houw terkejut oleh kekuatan lawannya ini tahu-tahu Mu Bi tertawa bergelak dan menyambar lagi. "Bocah, kau tak dapat merobohkan aku!"

Kun Houw terkejut. Dia benar-benar terbelalak melihat tenaga sakti raksasa ini, yang demikian hebat dan membuat kulitnya tebal. Tahan pukulan sinkang! Tapi Kun Houw yang sudah berseru keras menyambut terjangan lawannya itu tiba-tiba membentak dan menggerakkan kedua lengan seperti gerakan gerakan pedang. Kini Kun Houw menghadapi raksasa itu dengan gerakan-gerakan yang sama seperti ketika tadi dia melayani Ceng Liong. Ilmu silat pedang tapi yang tidak mempergunakan pedang. Dan lengan Kun Houw yang mulai bersiutan dan mendesing bagai senjata tajam itu tiba-tiba berkeredep mengeluarkan cahaya putih disusul uap panas yang menyelubungi kedua lengannya.

"Ah, Sin-ciang Kiam-hoat (Ilmu Pedang Tangan Sakti) yang hebat. Bagus!" Mu Ba tiba-liba berteriak, gembira tapi terkejut melihat gerakan Kun Houw yang mampu mencicit dan mendesing bagai senjata sungguhan itu. Dan Kun Houw yang tertawa mengejek oleh pujian ini sudah mulai balas menyerang dan mengeluarkan suara dari hidung, bangga tapi juga berhati-hati.

"Tak perlu memuji, Mu Ba. Suhu telah berpesan padaku untuk tidak mempergunakan pedang kalau kedua lenganku mampu!"

"Ha-ha, tapi kau tak dapat mengatasiku dengan Sin-ciang Kiam-hoat ini saja. bocah. Biarpun hebat tapi kau tetap akan kudesak hingga mengeluarkan pedang!"

Kun Houw tak menjawab. Dia sudah diserbu tumbukan-tumbukan kepala lawan, juga ke dua lengan Mu Ba yang selalu menyambar-nyambar dari segala jurusan. Mirip lengan gurita yang bergerak mengepung dirinya. Dan Kun Houw yang mulai berkelebatan menghindari serta membalas serangan itu tiba-tiba mendengar Mu Ba membentak dan menggedrukkan kakinya. Lalu mengerutkan kening melihat lawan melakukan perbuatan aneh sekonyong-konyong Mu Ba berteriak dan sudah menangkap kedua pundaknya.

"Bocah, kau akan mampus!"

Kun Houw terkejut. Dia sudah dicengkeram kedua pundaknya, hebat dan sakit sekali. Maklum, jari-jari Mu Ba sebesar pisang ambon dan kuat bagai baja, penuh kekuatan sinkang yang dahsyat bukan main. Dan sementara Kun Houw terkejut oleh cengkeraman ini tahu-tahu Mu Ba sudah menumbukkan kepalanya ke ujung hidungnya!

"Ah...!" Kun Houw tak mau menerima bahaya. Dia sudah melihat kehebatan kepala lawan, yang batoknya demikian keras hingga mampu menjebolkan tembok. Maka membentak dan mengerahkan ginkangnya tiba-tiba Kun Houw mengguncang tubuh. Gerakan ini mirip sikap anjing membersihkan bulu, menggeber seraya mengangkat lengan kanan ke atas, menghadapkan telapaknya untuk menerima serudukan kepala lawan, menangkis. Dan begitu lengan kanan bertemu kepala Mu Ba hingga mengeluarkan suara keras maka lengan kiri Kun Houw mengibas untuk membabat kedua tangan Mu Ba yang mencengkeram kedua pundaknya.

"Plak-bruss!"

Mu Ba tertawa mengejek. Batok kepalanya diterima telapak Kun Houw, yang tentu saja mengerahkan sinkang dan menahan sarudukan raksasa tinggi besar ini yang dahsyat bukan main. Dan lengan kiri Kun Houw yang sudah menghantam kedua lengan lawan agar terlepas dan siap memutar pinggang untuk melompat ke belakang ternyata jadi kaget ketika mendapat kenyataan tak mampu menggeser lengan lawan. Mu Ba masih tetap dengan cengkeramannya yang kokoh itu, melekat bagai sebuah tanggem. Dan sementara Kun Houw terkesiap bahwa lengan lawan tak dapat disingkirkan dari pundaknya tiba-tiba kepala raksasa itu telah bergerak maju mendorong telapak tangannya sendiri yang menahan batok kepala raksasa itu!

"Ahh...!" Kun Houw terkesiap hatinya. Dia terdorong mundur, dan sementara dia berseru kaget oleh dorongan yang semakin dahsyat ini tiba-tiba Mu Ba tertawa bergelak menambah tenaganya.

"Ha-ha, kau akan mampus, bocah. Kau akan mampus kugencet kepala saktiku ini!"

Kun Houw terbelalak matanya. Dia merasa dorongan kepala Mu Ba semakin bebal, mendorong dan terus mendorong telapaknya hingga menggigil mendekati dada. Maka melengking dan melihat bahaya semakin besar tiba-tiba Kun Houw mengempos semangat dan membanting kaki. Kun Houw mengerahkan ilmu yang dia dapat dari Bu-beng Sian-su, tenaga sakti yang disebut Jing-liong Sinkang (Tenaga Sakti Seribu Naga), ilmu menghimpun tenaga yang didapatnya pertama kali di Gua Malaikat dari Bu-beng Sian-su, kakek dewa yang luar biasa saktinya itu. Dan begitu Kun Houw menggerakkan lengan kiri untuk membantu lengan kanannya menahan batok kepala lawan dengan sinkangnya yang didapat dnri Bu-beng Sian-su itu mendadak Mu Ba menjerit kaget ketika kepalanya tertumbuk.

"Plak!" Mu Ba menggereng. Kepalanya tergetar, kaki terhuyung dan mundur setindak, kalah oleh hantaman Jing-liong Sin-kang yang dilancarkan Kun Houw ini. Dan sementara dia terbelalak oleh kejadian yang membuat posisinya berobah itu tiba-tiba kepalanya serasa dingin dimasuki uap putih yang mengebul dari lengan Kun Houw!

"Setan, apa ini, bocah?"

Kun Houw tak menjawab. Dia sudah menambah kekuatannya, mendorong kepala Mu Ba yang tampaknya terkejut itu. Kaget bahwa kepalanya tiba-tiba menjadi beku! Dan Kun Houw yang girang bahwa Jing-liong Sin-kangnya berhasil mengatasi kekuatan lawan tiba-tiba mengalirkan tenaganya dengan dahsyat dan mendorong sepenuh bagian.
Akibatnya Mu Ba melotot gusar. Raksasa ini kaget bahwa tiba-tiba kekuatan yang luar biasa hebatnya mendorong kepalanya, menahan semua kekuatannya sendiri yarg tadi berhasil mendesak lawan. Kemenangan yang sudah siap membuat dia menyeringai dan mengejek dengan muka gembira. Tapi begitu keadaan berbalik dan kepalanya ditolak tenaga yang demikian dahsyat dan berhawa dingin tiba-tiba Mu Ba menjerit ketika telapak lawan mengetok tulang dahinya,

"Kress!” Mu Ba berkaok. Dia merasa tulang dahinya hancur, maka berteriak dan menarik kepala tiba-tiba raksasa tinggi besar itu menendang Kun Houw dengan lutut kanannya. Lalu begitu Kun Hoiw terdorong mundur dan terbelalak memandangnya tiba-tiba raksasa ini melempar tubuh bergulingan dan sudah mencabut senjatanya yang mengerikan, dua tengkorak kecil yang mengaung-ngaung mirip tangis bayi!

"Bocah, kau betul-betul hebat. Sinkangmu luar biasa, tapi aku masih belum kalah!" Mu Ba berteriak, melompat bangun dan mendelik dengan muka gelap, kaget tapi juga marah bahwa dalam gebrakan terakhir tadi dia terdesak hingga keselamatan dirinya terancam. Nyaris binasa! Dan Mu Ba yang sudah menggereng sambil memutar-mutar tengkorak bayinya itu iba-tiba berteriak dan menerjang ke depan ketiKa melihat Kun Houw tersenyum mengejek.

"Siluman cilik, mampuslah...!"

Kun Houw tertawa mengejek. Dia sudah merasa girang bahwa dengan Jing Iiong Sin-kang-nya tadi dia dapat mendesak iblis tinggi besar ini, yang tentu saja membesarkan hatinya. Maka melihat lawan mengeluarkan senjata dan kini menyambarkan dua tengkorak bayi itu ke leher dan lambung kirinya tiba-tiba Kun Houw menggerakkan lengan menangkis. Dan inilah kesalahannya. Kun Houw tak tahu bahwa tengkorak di tangan Mu Ba amat berbahaya, menyimpan jarum-jarum halus yang akan menghambur bila ditangkis. Maka begitu dia menangkis dan Mu Ba tertawa bergelak oleh ketidaktahuannya ini tiba-tiba saja tengkorak itu meledak dan menghamburkan puluhan jarum yang berbau amis ketika menyentuh tangannya.

"Plak-crit crit....!”

Kun Houw terkejut. Dia melihat puluhan sinar hitam menyambar dirinya, persis di saat tengkorak mengeluarkan ledakan nyaring. Dan Kun Houw yang tentu saja kaget bukan main oleh kecurangan senjata di tangan lawannya itu tiba-tiba. membentak keras dan membanting tubuh. "Mu Ba, kau manusia curang!"

Tapi Kun Houw terlambat. Dia masih diserang beberapa jarum yang mengenai dirinya, satu bahkan di tengah kening. Dan Kun Houw yang sudah melompat bangun dengan mata bersinar segera disambut ketawa bergelak oleh raksasa tinggi besar itu.

"Ha-ha, kau akan mampus, bocah. Jarum-jarumku itu mengandung racun."

Tapi Kun Houw tertawa mengejek. Dia meniup ke atas, ke tengah-tengah keningnya itu. Dan ketika lawan tertawa dengan muka gembira karena mengira dia terkena jarum beracun itu maka tiba-tiba saja jarum itu runtuh. Dan keyika Kun Houw mengebutkan bajunya tiga kali maka tiga jarum lain yang mengenai dirinya di bawah leher tiba-tiba juga runtuh ketika disapu, hal yang membuat Mu Ba heran.

Tapi, ketika raksasa ini mengamati dengan seksama tiba-tiba tahulah dia apa yang terjadi. Kiranya, jarum jarum yang mengenai tubuh Kun Houw tadi tidak menusuk, melainkan menempel saja, seolah melekat. Dan Mu Ba yang terhenyak oleh kejadian ini seketika mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Bukan lain adalah berkat sinkang pemuda itu yang sudah melindungi seluruh kulitnya hingga tak mampu ditusuk. Kebal. Dan Mu Ba yang sadar oleh kegagalannya itu tiba tiba menggereng dan mulai gentar.

"Bocah, kau memang benar-benar luar biasa sekali!'

Tapi Kun Houw tak dapat tersenyum. Dia melihat Mu Ba membarengi seruannya itu dengan bentakan tinggi. Dan begitu lawan menggerakkan kaki tiba-tiba raksasa ini kembali menerjang dengan tengkorak bayinya. Dan ketika Mu Ba mulai memekik dan mengayun-ayun senjatanya itu untuk melampiaskan penasarannya tiba-tiba dua tengkorak ini telah menyambar dan mematuk-matuk muka Kun Houw dengan dahsyat!

Kiranya, iblis tinggi besar ini telah melancarkan taktiknya dengan jitu. Dia tidak lagi menghujani bagian bawah tubuh Kun Houw melainkan semata mata bagian mukanya. Di mana kalau Kun Houw berani menangkis dan tengkorak akan meledak tentu bagian muka pemuda itu akan menjadi sasaran. Terutama kedua matanya yang tentu saja tidak dapat dilindungi kekebalan!

Dan Kun Houw yang tentu saja mengumpat oleh serangan ini terpaksa berlompatan ke sana ke mari tak berani menangkis. Cocok seperti yang diduga Mu Ba. Dan raksasa tinggi besar yang beringas dengan sepak terjangnya itu sudah memekik-mekik dengan suara girang. Kun How terdesak. Dia sekarang mundur-mundur, berlompatan menghindari senjata Mu Ba yang berbahaya. Maklum, dia tak berani menangkis, karena takut jarum berhamburan mengancam mukanya. Hal yang tentu saja terlalu riskan.

Dan Mu Ba yang gemas bahwa lawannya itu masih juga dapat berlompatan ke sana ke mari tiba-tiba membentak dan mainkan Sin-thouw-liong-kun nya pula, membantu gerakan dua tengkoraknya di tangan kiri dan kanan. Dan begitu raksasa merangsek lawan dengan tengkorak ditangan dan kepala yang menumbuk-numbuk bagai kerbau liar itu tiba-tiba saja Kun Houw terjepit.

Pemuda ini mulai kebingungan. Mau menangkis tidak berani tapi tidak menangkis justeru desakan Mu Ba semakin hebat. Maka, ketika posisi dirinya semakin terjepit dan Kun Houw tak dapat melompat lagi karena di belakangnya terhalang tembok ruangan tiba-tiba Kun Houw melengking dan mengayun tubuhnya. Saat itu dua tengkorak di tangan Mu Ba menyambar kepalanya, sementara Mu Ba sendiri sudah tertawa bergelak dengan kepala menumbuk, menyusul dua serangan tengkoraknya itu. Dan begitu Kun Houw mendapat serangan bertubi-tubi yang amat dahsyat ini dan tengkorak mengeluarkan angin pukulan yang menderu tiba-tiba Kun Houw sudah mencabut pedangnya, Pedang Medali Naga!

"Singg...!"

Mu Ba terbelalak. Dia melihat sinar merah berkelebat, sinar dari Pedang Medali Naga yang dicabut dari sarungnya. Dan begitu pedang keluar disusul suara mendesimg yang mendirikan bulu roma ini tahu-tahu dua tengkorak bayi di tangan Mu Ba meledak pecah dan jarum-jarum, hitamnya berhamburan keluar. Tapi aneh. Sesuatu yang luar biasa terjadi di sini. Jarum jarum hitam itu yang keluar dari batok tengkorak ternyata tidak menyerang Kun Houw seperti biasa.

Karena begitu tengkorak meledak dan Pedang Medali Naga membabat pecah dua tengkorak ini mendadak jarum-jarum yang berhamburan itu semuanya melayang naik dan hinggap di Pedang Medali Naga, terhisap oleh sinar merah yang mencorong di tubuh pedang! Kemudian, sementara Mu Ba ternganga melihat kejadian ini tahu-tahu Kun Houw mengibaskan pedangnya menusuk leher lawan!

"Suhu, awas...!"

Mu Ba membanting tubuh. Dia kaget bukan main oleh serangan itu, dan Ceng Liong yang berteriak memperingatkan gurunya tiba tiba berkelebat menimpukkan tiga senjata rahasianya, masing-masing menuju kening, hidung dan telinga. Tapi Pedang Medali Naga yang membuat kejutan itu ternyata mengulang kehebatannya. Tiga jarum Ceng Liong yang dilepas kearah Kun Houw mendadak melenceng arahnya, tersedot oleh sinar merah pedang yang ampuh ini. Dan begitu tiga jarum ini melekat di tubuh pedang dan Kun Houw mengibasnya runtuh, maka tiba-tiba saja tiga senjata rahasia itu membalik dan menyerang Ceng Liong sendiri!

"Liong-ji, awas!" Mu Ba ganti berteriak, memperingatkan muridnya itu.

Tapi Ceng Liong yang kalah cepat ternyata masih terkena lengannya sebelah kiri. Pemuda ini menjerit, membanting diri bergulingan. Dan ketika dia melompat bangun, maka dilihatnya Kun Houw telah menyerang gurunya dengan serangan pedang yang gencar, bergulung-gulung naik turun, membentuk kabut di tengah pegunungan yang dingin!

"Ilmu Pedang Bu-tiong Kiam-sut (Pedang Dalam Kabut)...!" Ceng Liong tertegun, terbelalak melihat gurunya berkaok-kaok di tengah gulungan pedang, terbungkus sinar merah yang kian dahsyat dan mengeluarkan suara bagai suling mengalun tapi yang kian lama kian menjadi. Dan ketika Kun Houw melakukan bentakan tinggi di antara gerakan pedangnya yang berobah menjadi asap bergulung-gulung itu tiba-tiba terdengar teriakan Mu Ba yang disusul terlemparnya raksasa tinggi besar ini ke lantai ruangan kuil.

"Bret! Bluk...!" Mu Ba terguling-guling. Lehernya berdarah, terluka oleh pedang di tangan Kun Houw. Dan Kun Houw yang tampaknya beringas memandang lawannya itu tiba-tiba berkelebat sambil berseru menyeramkan,

"Mu Ba, terimalah kematian mu....!"

Raksasa ini melotot. Dia ngeri sekali oleh sinar pedang yang merah, yang menusuk lehernya dengan kecepatan kilat. Tapi bukan tokoh sembarangan, Mu Ba berhasil mengelak, menggulingkan tubuh ke kanan dan melompat bangun. Tapi ketika pedang Kun Houw kembali menyambar dan menikam pundaknya tiba-tiba raksasa ini menjerit dan kembali terlempar roboh!

'Liong-ji, bantu aku...!"

Ceng Liong pucat mukanya. Dia melihat sang guru bergulingan menghindari serangan maut, hal yang sama sekali tidak disangka! Tapi belum Ceng Liong bergerak membantu gurunya tiba-tiba dua bayangan berkelebat masuk. Bayangan So-beng dan Kui Lin.

"Apa yang terjadi ini?"

Ceng Liong tertegun. Dia melihat So-beng dan Kui Lin muncul, hal yang kembali di luar dugaannya. Dan sementara Ceng Liong terbelalak dan bengong memandang dua orang itu tiba-tiba Kui Lin menjerit dan menubruk encinya yang pingsan di atas lantai. Ceng Long gugup. Dia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Tapi otak yang keji dan cerdik dari pemuda ini tiba-tiba menumbuhkan akal busuk. Dan melihat gurunya terus didesak dan kembali terluka ole goresan pedang di tangan Kun Houw mendadak Ceng Liong berteriak dan menuding Kun Houw,

"Dia menculik Kui Hoa, paman. Iblis keparat itu membawa Kui Hoa ke sini dan hendak memperkosanya ketika kami pergoki....!"

So-beng kaget. "Siapa dia?"

"Kun Houw, bocah yang dulu bersama Bu-tiong-kiam Kun Seng itu!"

"Ah...!” dan So - beng yang terbelalak memandang pertempuran tiba - tiba bersinar matanya. Sedetik ada kilatan api di cahaya mata orang ini. Tapi melihat Mu Ba terdesak hebat dan raksasa tinggi besar itu kembali berteriak ketika tergores pedang sekonyong-konyong Iblis Penagih Jiwa ini berkelebat menampar.

"Bocah, kau sungguh tak tahu malu!"

Kun Houw terkejut. Dia marah ketika Ceng Liong memutar balik kenyataan tadi, mengatakan dia hendak memperkosa gadis ini. Maka melihat lawan bertambah seorang sementara dia menghajar Mu Ba tiba-tiba tamparan Iblis Penagih Jiwa itu mengenai punggungnya.

"Plak!" Kun Houw terpelanting. Dia tentu saja kaget dan gusar, bergulingan menjauh ketika melibat lawan kembali menamparkan lengannya, menghantam leher dengan pukulan sinkang. Maka melompat bangun dan berteriak memaki Ceng Liong pemuda ini sudah menyambut tamparan So-beng yang menghantam lehernya.

"Ceng Liong, kau manusia hina. Kau... ah!" Kun Houw tak dapat melanjutkan seruannya. Pukulan So-beng tiba, maka menyambut dan mengerahkan sinkang Kun Houw langsung menerima telapak lawannya itu, yang mengeluarkan ledakan keras dan membuat iblis berpakaian merah itu berseru tertahan ketika terhuyung setindak.

Dan Mu Ba yang sementara itu sudah menyelamatkan diri dan berada di belakang Kun Houw tiba-tiba mendorongkan kedua lengannya sambil membumbui teriakan Ceng Liong, "Benar, dia hampir memperkosa keponakanmu, So-beng. Karena itu kita bunuh saja jahanam cilik ini... dess!" dan Kun Houw yang terjengkang oleh kecurangan Mu Ba tiba-tiba mencelat membentur tembok.

"Mu Ba, kau pemfitnah keji!"

Tapi raksasa tinggi besar ini tertawa bergelak. Dia sudah buas memandang Kun Houw. yang saat itu terguling-guling oleh pukulan curangnya. Tapi ketika Mu Ba menubruk dan pedang lawannya menyambut tubrukannya tiba-tiba Mu Ba menjerit ketika lambungnya terkena goresan pedang. Kiranya Kun Houw masih terlalu berbahaya meskipun bergulingan, mampu menyerang di balik gulingan tubuhnya. Dan Mu Ba yang tentu saja marah oleh serangan ini berteriak pada rekannya,

"So-beng, tangkap pemuda setan ini. Bunuh dan serang dia!"

So-beng mengangguk. Dia terkejut bahwa Mu Ba yang sedemikian lihainya itu kalah oleh lawannya ini, lawan yang masih muda. Lawan yang menjadi murid Bu tiong-kiam Kun Seng. Tapi maklum bahwa mendiang jago pedang itu memang hebat dan pernah mereka keroyok secara berempat dan jago pedang itu masih dapat bertahan tiba-tiba iblis ini melengking dan menggerakkan kedua lengannya berturut-turut. Dia menghantam pinggang Kun Houw, memukul dengan pukulan sinkang, langsung dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk mengeroyok, menggencet Kun Houw dari depan sementara Mu Ba duri belakang.

Dan Kun Houw yang tentu saja kaget oleh perbuatan dua orang iblis ini berseru keras dan menangkis dari depan dan belakang. "Des-dess!" Kun Houw mengeluh. Dia terlalu berat ditekan. Maka ketika lawan kembali menyerangnya dan Mu Ba terbahak melihat Kun Houw terdorong tiba-tiba pemuda ini membentak dan memutar pedangnya.

"So-beng, Mu Ba, kalian iblis-iblis busuk!"

So-beng mendengus. Dia kagum dan heran Kun Houw mampu menyelamatkan dirinya. Tapi melibat pemuda itu lenyap dalam gulungan bayangan pedang vang mendesing naik turun Iblis Penagih Jiwa ini terkejut juga. Dia tak melihat lagi Kun Houw di situ, lenyap dalam gulungan pedangnya. Pedang bersinar merah. Dan terbelalak menyadari pedang di tangan lawannva adalah pedang yang luar biasa mendadak iblis ini teringat.

"Pedang Medali Naga!" serunya, kaget dan baru tahu bahwa pedang di tangan Kun Houw adalah pedang yang dulu direbutnya bersama Mu Ba dan kawan-kawannya yang lain.

Dan Mu Ba yang terbahak oleh seruannya itu menendangkan kakinya membenarkan. "Benar, itu pedang yang dulu kita cari-cari, So-beng. Maka bunuh dan rampas pedang pemuda ini untuk kita!"

Tapi Kun Houw melengking nyaring. Dia sudah mainkan Bu-tong Kiam-sut yang hebat itu, warisan gurunya untuk menghadapi dua orang ini. Dan ketika Kun Houw mengerahkan pula tenaga saktinya Jing-liong Sin-kang untuk memperkuat tenaga maka pemuda ini lenyap di balik cahaya pedang yang mendesir-desir. Dia tak dapat begitu saja diserang. Maklum, tubuhnya tak nampak dari luar. Dan Iblis Penagih Jiwa yang mengerutkan kening melihat sinar pedang di tangan pemuda itu melebar untuk "menggulung" mereka tiba-tiba sudah mengerotokkan buku-buku jarinya. Lalu begitu membentak dan mendorongkan kedua lengan ke depan tiba-tiba dua sinar putih berkeredep menerobos cahaya merah dari pedang di tangan Kun Houw.

"Gin-kong-jiu (Pukulan Sinar Perak)...!" Kun Houw terbelalak. Dia tercekat oleh dua sinar putih yang meluncur menerobos gulungan pedangnya itu. Tapi ketika lawan terpental oleh Jing-liong Sin-kangnya yang semakin hebat memperkuat gerakan pedangnya tiba-tiba Kun Houw besar hati. Dia terus memutar pedang, mainkan jurus demi jurus untuk mengbadapi musuh-musuhnya yang tangguh ini. Musuh yang dulu pernah mengeroyok gurunya di Bukit Pedang.

Dan So-beng yang kaget membentur hawa pedang Kun Houw yang mementalkan Gin-kong-jiunya tiba-tiba memekik dan menjejakkan kakinya. "Mu Ba, mainkan Sin-thouw-liong-kun mu. Biar aku mencecarnya dengan Gin-kong-jiu...!"

Mu Ba mengangguk. Dia sudah mainkan Sin-thouw liong-kun nya itu tanpa diperintah, menggereng dan mencengkeram sana-sini. Dan So-beng yang tiba-tiba memekik dan mainkan kedua lengan maju mundur mendadak sudah mengulang kembali gerakan-gerakan atau pukulan Gin-kong-jiunya itu, naik turun menyambar-nyambar dengan sinar putihnya yang berkeredep menyilaukan mata. Sinar atau hawa pukulan yang berhawa dingin. Tapi Kun Houw yang diserang dari dua jurusan ternyata mampu bertahan dan belum terdesak.

"Hebat, bocah ini mirip gurunya, So-beng. Sebaiknya cabut saja senjatamu itu. Tengkorakku pecah!" Mu Ba mulai gemas, menyerang dengan cengkeraman-cengkeraman dan tumbukan kepalanya itu sambil berteriak pada rekannya, memberi saran agar lawan dapat dirobohkan.

Dan So-beng yang akhirnya terbelalak juga oleh pertahanan Kun Houw yang selalu mementalkan pukulan-pukulan sinar peraknya tiba-tiba mengangguk dan mencabut senjatanya. Cakar baja yang mengerikan itu. "Baik, bocah ini berbahaya, Mu Ba. Sungguh malu kalau kita tak dapat mengalahkannya!"

Mu Ba girang. "Memang begitu, So-beng. Dan sekali dia roboh maka pedang di tangannya itu harus segera kita rampas!"

Tapi Kun Houw yang tetap memutar pedang dengan gencar tertawa mengejek. Dia tak takut dikeroyok dua, karena dia mulai mendapat kepercayaan diri bahwa dia sanggup melawan dua orang musuhnya itu. Tapi ketika So-beng membentak dan mainkan cakar baja dengan suara mendengung dan sinar hitam tiba-tiba berkelebat menyambar pedangnya mendadak Kuo Houw terkejut ketika dengan gerakan luar biasa pedangnya sudah digaet.

"Crang!"

Kun Houw membetot. Dia terbelalak melihat pedangnya terjepit di sela-sela cakar baja lawan, tertahan di udara. Dan sementara dia berkutat untuk menarik atau melepas pedang mendadak tangan kiri Iblis Penagih Jiwa itu menyambar dengan aneh dan tahu-tahu mengenai dada kanannya.

"Plak!" Kun Houw tak merasa apa-apa. Dia tergetar sedikit, heran kenapa lawan melakukan pukulan yang tampaknya tidak bertenaga. Tapi ketika pedang berhasil dilepas dan Kun Houw melompat mundur tiba-tiba pemuda ini menjadi kaget ketika merasa matanya menjadi "kepyur" (melihat bayangan-bayangan keruh). Dan sementara dia tak mengerti kenapa dirinya bisa begitu mendadak dada kanannya panas dan tubuh gemetar bagai dibakar.

"Ah, pukulan keji....!" Kun Houw tertegun, sadar bahwa dia terkena pukulan berbahaya yang tidak diketahuinya apa. Dan ketika dia melotot memandang Iblis Penagih Jiwa itu maka laki-laki ini tertawa dingin dan mengejek kepadanya.

"Ya, kau terkena Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun), bocah. Ilmu pukulanku itu akan membuatmu mendidih dalam waktu 24 jam!"

Kun Houw berteriak. Dia marah sekali mendengar kata-kata ini, tapi ketika melompat dan menerjang lawannya itu sekonyong konyong dadanya menyentak. Ada rasa nyeri dan sakit yang hebat menyerang dirinya saat itu. Dan sementara dia tertegun dan berhenti di tengah jalan tiba-tiba Mu Ba menyerangnya dari bolakaig, tertawa bergelak.

"Bocah, mampuslah menyusul gurumu!"

Kun Houw berusaha mengelak. Dia terhuyung dan gemetar kakinya. Tapi ketika kalah cepat karena dadanya kembali menyerangnya dengan hebat maka pukulan itupun tak dapat dihindarkannya dan telak menghantam punggung.

"Dess!" Kun Houw mencelat. Dia terguling-guling membentur tembok, dan ketika Mu Ba kembali menyerangnya dengan tawa menyeramkan. Kun Houw tak dapat menghindar lagi dan menjadi bulan-bulanan raksasa ini. Dan ketika So-beng ikut pula melancarkan serangannya dan pukulan Tok-hwe ji menyentuh lehernya Kun Houw mengeluh dan tidak dapat membalas!

Tapi Kun Houw mampu melompat bangun. Dia sekarang diserang dua orang lawannya itu, yang melancarkan pukulan-pukulan berat. Dan ketika Kun Houw mulai limbung dan beberapa pukulan mendarat di tubuhnya hingga pemuda ini melontakkan darah segar maka Kun Houw mengigit bibir dan marah memandang lawannya, terutama Iblis Penagih Jiwa itu yang melukainya dengan pukulan Tok-hwe-ji, pukulan yang baru kali itu didengar namanya tapi hebat bukan main.

Membuat tubuh semakin dibakar dan benar-benar siap "menindih". Tapi Kun Houw yang tak kenal menyerah ini betul-betul hebat. Dia tetap mencekal Pedang Medali Naga erat-erat, meskipun jatuh bangun dan terlempar bergulingan oleh pukulan-pukulan lawan. Dan Mu Ba yang tentu saja geram sekali oleh kekerasan hati pemuda ini tiba-tiba melancarkan pukulannya ke pergelangan tangan pemuda itu.

"Bocah, lepaskan pedangnu!"

Kun Houw menggigit bibir. Dia terang tak mau melepaskan pedangnya. Pedang yang saat itu masih mampu melindungi dirinya. Tapi ketika pukulan Mu Ba menghantam tangannya dan Kun Houw mendesis dan terpelanting roboh tiba-tiba pedang tak dapat dikuasai lagi dan mencelat dari pegangannya.

"Trang!" Kun Houw terbelalak. Dia melihat pedangnya jatuh di lantai, pedang yang sudah di sambut ketawa bergelak oleh Mu Ba dan yang sudah pula ditubruk raksasa itu untuk merampasnya.

Tapi sebuah bayangan yang luar biasa cepat dari luar kuil mendadak berkelebat mendahului raksasa ini menyambar pedang itu. "Mu Ba, pedang ini bukan milikmu!”

Mu Ba terkejut. Dia melihat seorang pemuda tinggi besar muncul di situ, berkelebat dan lari keluar menyambar pedang. Pemuda yang tampan dan gagah. Pemuda yang tak dikenal! Dan Mu Ba yang tentu saja kaget bukan main langsung saja membentak, "Bocah, kau siapa?"

Tapi pemuda tinggi besar itu lenyap. Dia lari menghilang, ginkangnya hebat sekali. Namun Mu Ba yang mengejar pemuda ini melihat lawannya itu melompati tembok rumah dan melayang turun di sebelah sana. Tapi ketika Mu Ba mengejar sampai di sini mendadak Iawannya itu membalik dan kembali ke dalam kuil, memutar lewat belakang!

"Setan, kau siapa, bocah?"

Pemuda di depan tertawa mengejek. Dia mengejutkan Kun Houw dan orang-orang lain yang ada di dalam kuil, kaget dan heran kenapa pemuda itu kembali. Tapi Kun Houw yang terbelalak memandang pemuda ini tiba-tiba terkejut bukan main ketika pemuda itu melempar pedang kepadanya.

"Saudara Kun Houw, terimalah Pedang Medali Naga memang warisan gurumu!" dan, sementara Kun Houw menjublak bengong tiba-tiba pemuda tinggi besar yang gagah itu berbisik padanya, mengerahkan ilmunya mengirim suara dari jauh, "Saudara Kun Houw, kau larilah ke selatan. Masuk di sebuah gua di dalam hutan. Kau selamatkan dirimu, kau terluka. Aku hendak mengacau perhatian mereka...!"

Dan sementara Kun Houw tertegun menerima pedangnya maka pemuda tak dikenal itu menyerang Ceng Liong dan menyambar Kui Hoa yang masih pingsan. "Ceng Liong, kau manusia busuk. Perbuatanmu sungguh tak tahu malu!"

Ceng Liong terkejut. Dia sendiri sedang tercengang oleh kejadian cepat di ruangan ini, kaget melihat pemuda gagah itu datang-datang merampas pedang mendahului gurunya, sementara So-beng juga tertegun melihat pemuda tak dikenal itu. Tapi Ceng Liong yang terbelalak melihat lawan menyerang dirinya tiba-tiba membentak dan menangkis.

"Siluman hina, kau siapa?" Ceng Liong menggerakkan lengan. Dia sudah menangkis pukulan itu, tapi ketika dua lengan bertemu dan Ceng Liong terdorong tenaga yang luar biasa dahsyatnya mendadak pemuda ini menjerit dan terpelanting roboh.

"Hei... blukk!" Ceng Liong terguling-guling. Dia kaget dan memaki kalang-kabut. Tapi ketika melompat bangun dan melotot pada lawannya itu ternyata pemuda tinggi besar yang gagah ini telah menyambar Kui Hoa dan melayang keluar.

"Saudara Kun Houw, kau larilah. Cepat..!"

Semua orang menjadi kaget. Kui Lin sudah membentak dan mengejar bayangan pemuda itu. Sementara So-beng yang bingung memandang Pedang Medali Naga di tangan Kun Houw dan tampaknya siap menyerang pemuda ini tiba-tiba berteriak pada Mu Ba yang baru masuk ke ruangan itu,

"Mu Ba, kau bereskan murid Bu-tiong-kiam ini. Aku akan menyelamatkan keponakanku!" dan So-beng yang lebih mendahulukan nasib Kui Hoa dari pada pedang ditangan Kun Houw mendadak melesat dan mengejar pemuda tinggi besar itu, menyusul Kui Lin yang berteriak-tenak di depan. Dan Mu Ba yang tentu saja terbelalak ke depan sekonyong-konyong tertawa bergelak.

"Baik, aku akan membereskan lawanku ini, So-beng. Dia sudah terluka dan mungkin sebentar lagi akan mampus!" dan Mu Ba yang sudah menyerang Kun Houw yang masih tertegun di tempatnya tiba-tiba menghantamkan pukulannya dengan dahsyat.

"Dess!" Kun Houw menangkis. Dia bermaksud tak mau mundur. Tapi ketika tubuhnya mencelat dan tenaganya lemah tak mampu menandingi kekuatan raksasa tinggi besar itu tiba-tiba Kun Houw sadar bahwa dia harus menyelamatkan dirinya dulu. Apalagi ketika Ceng Liong juga ikut menyerang, sejenak bingung mau mengejar pemuda tinggi besar yang gagah itu atau membantu gurunya.

Tapi Ceng Liong yang tahu Kun Houw lebih berbahaya dari pada pemuda ke dua karena murid Bu tong-kiam ini mengetahui rahasianya bahwa dia akan memperkosa Kui Hoa dan kelak tentu menjadi ancaman baginya kalau membuka rahasia maka Ceng Liong sudah memusatkan perhatiannya ke sini, menyerang dan membantu gurunya untuk membunuh Kun Houw. Yang berarti juga menghilangkan jejak!

Tapi Kun Houw yang rupanya maklum akan keadaan dirinya yang berbahaya itu ternyata melompat kabur! "Mu Ba, lain kali saja kita bertemu...!"

Kun Houw mengerahkan ginkangnya. Dia menjejakkan kaki keluar, hampir mengaduh karena dadanya tiba-tiba kembali sakit. Enggan tapi terpaksa melarikan diri dengan hati berat. Karena perbuatan itu sendiri sebenarnya bertentangan dengan kegagahan wataknya dan dianggap pengecut! Tapi Kun Houw yang tertarik hatinya untuk mengenal siapa pemuda tinggi besar yang menolongnya itu dan tak mau mati sebelum berkenalan tiba-tiba menguatkan dirinya dan menuruti nasehat itu, berlari cepat menuju ke selatan sementara Mu Ba dan Ceng Liong mengejarnya di belakang, berteriak-teriak, bahkan memaki.

Dan Ceng Liong yang rupanya pandai memanaskan orang tiba-tiba mulai menghina, "Kun Houw, mana kegagahan yang selama ini kau punyai? Tidakkah kau dapat menjunjung tinggi nama besar gurumu? Atau kau sudah demikian ketakutan bertemu musuh tangguh?"

Kun Houw diam. Dia tak menggubris, meneruskan larinya memasuki hutan di depan, yang kini sudah dekat dan siap menyelamatkan dirinya dari ancaman dua orang itu. Tapi Ceng Liong yang tentu saja tak membiarkan Kun Houw melarikan diri dan hilang di hutan itu sudah kembali menghina dengan suara keras, kini mulai menyebut-nyebut nama Bu-tiong-kiam Kun Seng.

"Kun Houw, mana warisan kegagahan dari mendiang gurumu itu? Ataukah Bu-tiong-kiam Kun Seng juga seorang pengecut yang kini mengajarkan muridnya bersikap pengecut pula kalau menghadapi bahaya? Ah, kalau begitu tak perlu kau memakai nama jago pedang itu, Kun Houw. Sebaiknya buang saja nama itu dan biar kau tetap sebagai Siauw-cut!"

Kun Houw mulai tak tahan. Dia coba menulikan telinga, sekarang benar-benar sudah sampai di mulut hutan yang gelap. Tapi makian Ceng Liong yang kian lama kian kurang ajar dan menyebut-nyebut gurunya sebagai pengecut dan tak pantas pula untuk hidup di alam baka segala mendadak membuat Kun Houw menghentikan larinya dan memutar tubuh, menggigil penuh kemarahan, membentak,

"Ceng Liong, kau manusia keji. Tutup mulutmu...!" dan Kun Houw yang langsung menggerakkan pedang membabat pemuda ini disambut teriakan Ceng Liong yang terkejut tapi girang. Terkejut karena serangan Kun Houw berkelebat menyambar lehernya tapi girang bahwa pancingannya memanaskan pemuda itu berhasil. Kun Houw berhenti!

"Sing-brett!"

Ceng Liong cepat membanting tubuhnya. Dia melihat Kun Houw masih hebat, berbahaya dengan pedangnya yang ganas itu. Tapi Ceng Liong yang sudah tertawa dan melompat mundur diganti gurunya yang saat itu sudah tiba pula di situ dan tertawa bergelak.

"Kun Houw, kau harus menyerahkan Pedang Medali Naga. Menyerahlah!"

Kun Houw melengking. Dia dihantam raksasa tinggi besar ini, yang menyuruh muridnya mundur karena Ceng Liong dikhawatirkan tak mampu menghadapi Kun Houw, meskipun Kun Houw terluka. Dan Mu Ba yang sudah menyerang Kun Houw dengan dorongan Sin-thauw-liong-kangnya terbahak gembira ketika melihat Kun Houw terdorong oleh hawa pukulannya.

"Plak!" Kun Houw terguling-guling. Dia kalah kuat oleh pukulan lawan, terlempar dan mengeluh karena dadanya semakin sakit, juga sesak. Tapi Kun Houw yang mencoba menahan diri dengan putaran pedangnya sudah menerjang iblis tinggi besar ini. Untuk beberapa saat Mu Ba didesak, berlompatan mundur karena takut disentuh pedang. Namun setelah Kun Houw menggigit bibir dan berkali-kali pemuda ini mendekap dadanya yang sakit dan nyeri mendadak Mu Ba ber teriak.

"Bocah, menyerahlah. Serahkan Pedang Medali Naga... wuut!"

Pukulan Mu Ba menyambar. Kun Houw mencoba mengelak, tapi karena tubuhnya sudah kian memburuk dan kakinya menggigil tak karuan akhirnya Kun Houw terkena pukulan dahsyat ini dan roboh terpelanting.

"Huah!" Kun Houw muntah darah. Dia terguling-guling, keadaan dirinya semakin membahayakan. Tapi Pedang Medali Naga yang dicekal erat di tangan pemuda ini ternyata sama sekali tak pernah dilepaskan, meskipun jari-jarinya sudah gemetar! Dan Kun Huow yang mencoba bangkit untuk melawan kembali tiba-tiba mengeluh ketika ambruk tak dapat berdiri!

"Ha-ha, kau sudah tak berdaya, bocah? Kau siap menerima kematian?"

Kun Houw membelalakkan mata. Dia melihat raksasa tinggi besar itu berkelebat maju, lima jarinya mencengkeram kepala. Siap mencengkeram remuk. Dan Kun Houw yang maklum kematian sudah membayang di depan matanya tiba-tiba kecewa sekali akan kegagalan usahanya, mendelik pada raksasa tinggi besar itu untuk menerima kematian secara gagah. Sama sekali tak takut. Tapi persis pukulan menyambar ke depan mendadak seorang kakek bongkok muncul menangkis serangan ini. Kedatangannya mengejutkan.

"Mu Ba, nanti dulu. Nyawa bocah itu masih panjang... dukk!"

Dan Mu Ba yang tergetar oleh tangkisan ini tiba-tiba berseru kaget dan melotot marah, melihat munculnya seorang kakek yang terkekeh kepadanya, melindungi Kun Houw yang saat itu mengeluh dan terguling pingsan karena hawa pukulan Mu Ba masih menyerempet lehernya, membuat pemuda ini tak tahu lagi akan apa yang terjadi. Dan Mu Ba yang melotot melihat pendatang baru itu tiba-tiba terkejut bukan main.

"Naga Bongkok...!"

Kakek itu terkekeh. "Kau masih mengenalku, Mu Ba?"

Raksasa ini menggereng. Dia tertegun sejenak, tapi berteriak keras tiba-tiba Mu Ba membalikkan tubuhnya dan melompat pergi. "Naga Bongkok, kau manusia jahanam. Biarlah kuserahkan pemuda itu kepadamu!" dan Mu Ba yang kabur meninggalkan tempat itu berteriak pada muridnya, "Liong-ji, mari pergi. Musuh terlalu kuat...!"

Ceng Liong terkejut. Dia heran dan kaget melibat gurunya kabur, tapi penasaran dan ingin coba-coba Ceng Liong tiba-tiba melancarkan pukulan Tok-hiat jiunya kepunggung kakek ini. Tentu saja secara diam-diam. Tapi ketika kakek itu tertawa dan mengibas ke belakang mendadak tubuh Ceng Liong terangkat dan terlempar sepuluh tombak.

"Bocah, ikuti gurumu. Aku tak ada waktu untuk main-main denganmu... bress!"

Dan Ceng Liong yang menjerit oleh kenyataan ini tiba-tiba kaget dan terbanting keras. Dia sekarang percaya kenapa gurunya nomor satu itu pergi, kiranya kakek yang bernama Naga Bongkok ini memang hebat! Maka Ceng Liong yang melompat bangun dan pucat mukanya segera menjejakkan kaki melarikan diri, berkaok kaok memaki kakek itu.

"Tua bangka, aku mengalah hari ini. Tapi awas kalau kita bertemu kembali!"

Naga Bongkok tersenyum. Dia geli mendengar ancaman itu. Tapi melihat Kun Houw menggeletak pingsan kakek ini mengerutkan alisnya. "Bocah yang hebat. Sungguh patut menjadi murid Bu-tiong-kiam Kun Seng!" dan Naga Bongkok yang sudah menyambar Kun Houw lalu berkelebat pergi setelah mendecah melihat keadaan Kun Houw yang gawat, menggerakkan kaki dan lenyap meninggalkan tempat itu memasuki hutan.

* * * * * * * *

"Bagaimana, suhu? Kau dapat menolong pemuda itu?"

Naga Bongkok menghela napas. Pertanyaan yang diajukan oleh sebuah bayangan tinggi besar yang baru datang ini disambut muka murung oleh kakek ini, yang memandang bayangan itu yang bukan lain adalah pemuda tinggi besar yang menolong Kun Houw di kuil rusak. Dan kakek bongkok yang bangkit berdiri ini menggelengkan kepalanya.

"Keadaannya berat, Hong-ji. Pemuda ini mengalami pukulan beracun yang tak kupunyai obat penawarnya. Kau berhasil membawa keponakan Iblis Penagih Jiwa itu?"

"Ya. kuletakkan di luar, suhu. Tapi Iblis Penagih Jiwa itu hampir saja mengetahui jejakku. Aku menyembunyikannya di sudut gua!"

"Hm, ambil ke mari, Hong-ji. Kita paksa gadis itu untuk menolong murid Bu-tiong-kiam ini."

Pemuda tinggi besar itu mengangguk. Dia berkelebat keluar, kembali lagi dengan Kui Hoa di atas pundaknya, gadis yang sudah sadar tapi ditotok urat gagunya. Dan pemuda tinggi besar ang melempar Kui Hoa di atas lantai dengan gemas berkata pada gurunya, "Ini keponakan blis bertangan keji itu, suhu. Apa yang hendak kita lakukan kepadanya?"

Naga Bongkok memandang. "Bebaskan dia, Hong-ji. Tak perlu menotoknya lagi setelah kita ada di sini."

"Baik." dan pemuda tinggi besar yang su ah membebaskan totokan Kui Hoa langsung lembuat gadis ini melompat bangun dan berterak memaki pemuda itu.

"Setan busuk, apa yang kau lakukan kepada diriku?" Kui Hoa menyerang, menggerakkan lengannya menampar pemuda ini.

Dan pemuda itu yang tentu saja terbelalak marah langsung menangkis. "Siluman betina, kenapa kau menyerangku?"

Dan begitu dua lengan bertemu maka Kui Hoa berteriak kaget ketika lengannya terpental dan tubuhnya terbanting roboh! Tapi, ketika Kui Hoa hendak menyerang kembali maka kakek bongkok yang ada di sebelahnya mengebutkan lengan.

"Nona, tunggu dulu. Kami bukan musuh!"

Kui Hoa mendelikkan matanya. "Kalau bukan musuh kenapa kalian membawaku ke sini, bongkok jahanam? Siapa kalian?"

Kakek itu tertawa. "Aku Naga Bongkok, nona. Sedang dia ini adalah muridku, Sin Hong."

"Dan kenapa muridmu membawaku ke mari? Kenapa dia menculikku dengan cara hina?"

"Hm, cara hina bagaimana, nona? Aku membawamu ke mari terang-terangan diketahui adik dan pamanmu. Dengan cara jantan! Siapa bilang hina?" pemuda tinggi besar yang bukan lain adalah Sin Hong itu membentak, marah dan melotot pada Kui Hoa yang dianggap kelewatan.

Tapi Kui Hoa yang juga marah karena mengira pemuda ini yang menculiknya dari kamar sudah pula membentak dengan mencibirkan mulut. "Cih, cara jantan bagaimana? Bukankah kau melepas penyirepan di dalam kamarku? Apakah cara licik begini bisa disebut jantan?"

Sin Hong terbelalak. "Penyirepan? Siapa yang menyirepmu?"

"Tentu kau! Siapa lagi? Atau kau mau mungkir? Ah, dasar penjahat...!" dan Kui Hoa yang berteriak marah mendadak kembali menerjang lawannya dengan mata berapi.

Tentu saja Sin Hong tersinggung, dan mengira gadis ini melepas omongan kurang ajar diapun mengelak ke kiri dan menangkis. "Plak!" Kui Hoa kembali terhuyung, kaget bahwa untuk kedua kalinya lagi-lagi dia terdorong. Tapi belum dia menyerang kembali tiba-tiba Naga Bongkok berseru melerai.

"Nona, tahan. Sin Hong, tahan! Ini kesalahpahaman belaka!" dan kakek bongkok yang kembali mengebutkan dua lengan bajunya itu mendadak membuat dua orang muda-mudi itu terdorong mundur. Lalu tak memberi kesempatan Kui Hoa menyerang Sin Hong Naga Bongkok sudah bertanya, "Sekarang ceritakan kepada kami mengapa kau ada di kuil rusak itu, nona. Dan kalau kau mau menceritakan dengan jujur tentu kau akan melihat bahwa kami bukan musuhi"

Kui Hoa terbelalak."Di kuil rusak?”

"Ya, kau di kuil rusak, nona. Muridku membawamu dari sana. Di sana banyak orang, di antaranya adalah Mu Ba dan Iblis Penagih Jiwa yang katanya masih pamanmu itu!"

"Ooh, jadi...."

"Kau pingsan di sana, nona. Jadi kau tak tahu apa-apa ketika kau di sana. Sebaiknya ceritakan saja bagaimana asal mulanya."

Kui Hoa mulai tertegun. "Aku berada di kamar ketika kejadian ini mulai, Naga Bongkok. Dan aku terkejut ketika melihat muridmu ini masuk!"

"Hm, bagaimana kau bisa menuduh aku?” Sin Hong mendongkol. "Kenapa tak kau buka matamu baik-baik?"

"Karena kau laki-laki itu, pemuda setan. Kaulah laki-laki tinggi besar yang menyerangku di kamar itu!"

"Keparat, kau masih menuduhku juga?"

Naga Bongkok buru-buru mengulapkan lengan. "Nona, jangan menuduh sembarangan. Muridku tak ada dikamarmu seperti yang kau tuduhkan. Kau keliru melihat orang!" lalu menegur muridnya kakek ini berkata, "Sin Hong, tahan dulu kemarahanmu. Kita harus melihat persoalan dengan jelas." kemudian memandang Kui Hoa lagi kakek ini memberikan tanda, "Nah, teruskan ceritamu, nona. Tapi ketahuilah, bukan muridku yang masuk ke kamarmu meskipun sama-sama tinggi besar. Tentu orang lain!"

Kui Hoa ragu. "Kalau begitu siapa? Bukankah...."

"Hm, mungkin Sin-thouw-liong Mu Ba, nona. Bukankah raksasa itu juga tinggi besar? Tapi sebaiknya kau ceritakan saja lanjutan ceritamu." maka Kui Hoa yang mulai terbelalak melanjutkan ceritanya.

"Aku dan adikku saat itu diserang orang. Kami berada di dalam kamar. Dan karena sebelumnya kami sudah diserang sirep maka kami hanya mengetahui bahwa orang itu adalah laki-laki tinggi besar. Persis seperti muridmu ini!"

"Hm, tapi bukan muridku yang masuk, nona. Sin Hong tak kenal-mengenal denganmu. Untuk apa mengganggumu?"

"Jadi siapa kalau begitu?"

"Mungkin Mu Ba."

"Tapi Mu Ba adalah tamu kehormatan ayahku, Naga Bongkok. Untuk apa menggangguku pula di tengah malam?" Kui Hoa menangkis, masih kurang percaya dan memandang Sin Hong penuh selidik.

Dan Sin Hong yang tentu saja marah oleh pandangan ini tiba-tiba membentak dengan gusar. "Siluman betina, kami bukan orang-orang pengecut yang akan mengingkari perbuatan sendiri kalau benar kami lakukan. Untuk apa menolak tuduhan kalau itu benar kami lakukan? Aku Sin Hong bukan manusia hina. Aku cukup gagah untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku sendiri."

"Huh, siapa percaya omonganmu? Siapa bisa menjamin?"

"Aku yang menjamin, nona. Kau boleh tanya ayahmu kalau kau belum pernah mendengar nama Naga Bongkok!" Naga Bongkok tiba-tiba berseru, menekan pundak Sin Hong yang rupanya siap menampar gadis ini.

Tapi Kui Hoa yang belum mengenal kakek itu mendengus. "Aku tak pernah mendengar namamu, kakek bongkok. Karena itu tak perlu pula bertanya pada ayah. Dan lagi, sebagai guru tentu saja kau membela muridmu!"

“Hm, kalau begitu nama Pendekar Gurun Neraka boleh menjadi jaminan pemuda ini, nona. Karena muridku itu adalah putera Pendekar Gurun Neraka!"

Kui Hoa terkejut. Sin Hong juga terkejut. Dan memprotes gurunya pemuda itu berseru, "Tak perlu nama ayah kau sebut-sebut untuk membuat gadis ini percaya, suhu. Dia percaya Itu baik tapi tidak percaya juga tidak apa. Aku tak perlu menebeng nama orang lain untuk setiap perbuatanku!"

Kui Hoa terbelalak, merasa kegagahan dari pemuda tinggi besar ini. Tapi mengerutkan kening dia masih mencoba memperoleh keyakinan, "Jadi kau benar putera Pendekar Gurun Neraka?"

"Hm, aku tak perlu mengaku-aku, siluman betina. Aku memang Yap Sin Hong, putera ayahku itu!"

Dan Kui Hoa yang tentu saja tertegun seketika bersinar matanya dan tampak kaget. Tapi Naga Bongkok berseru, "Bigaimana nona? Kau percaya kegagahan muridku?"

Kui Hoa membalikkan tubuh. “Percaya atau tidak percaya tak perlu itu kusebutkan. Naga Bongkok. Karena betapapun juga Pendekar Gurun Neraka adalah musuh ayahku Jadi. puteranya inipun juga adalah musuhku!" dan Kui Hoa yang melompat mundur dengan mata berapi tiba-tiba memasang kuda-kuda. "Sin Hong, majulah. Aku ingin bertanding denganmu!"

Sin Hong terkejut. Tapi Naga Bongkok yang terkekeh tenang mengangkat lengannva. "Nona, kami membawamu ke sini bukan untuk bertempur. Tapi semata-mata untuk menolong pemuda ini. Tidak kau lihatkah dia terkena pukulan keji?' Naga Bongkok menuding Kun Houw, yang saat itu baru dilihat Kui Hoa yang menjadi heran.

Dan Kui Hoa yang tentu saja mengerutkan kening bertanya dingin, "Apa yang kau maksudkan, Naga Bongkok? Siapa pemuda itu? Dan apa hubungannya denganku?"

Sin Hong kali ini tampil bicara, "Dia yang mula-mula menolongmu, nona. Kau saat itu akan diperkosa Ceng Liong!"

"Apa?” Kui Hoa kaget. "Ceng.... Ceng Liong?"

"Ya, begitu kudengar sepintas lalu, nona. Tapi bagaimana duduk perkara sebenarnya aku kurang mengerti!"

Kui Hoa tiba-tiba pucat. Kakinya menggigil, karena mendengar disebutnya nama Ceng Liong tiba-tiba darahnya tersirap. Mulai mengerti apa yang kiranya terjadi. Mulai dapat menyimpul-nyimpulkan apa yang sebenarnya dia alami. Dan mulai percaya pula bahwa Mu Ba ada hubungannya dengan semuanya ini! Dan kaget serta tertegun bahwa Ceng Liong ingin memperkosanya dan dia ditolong oleh pemuda yang menggeletak pingsan itu tiba-tiba Kui Hoa berbisik lirih, "Siapa dia?"

"Kun Houw."

"Murid siapa?"

"Hm, perlukah itu kau ketahui, nona? Apakah hendak memantapkan pula dia musuh atau bukan dan menentukan sikap seperti terhadap muridku ini?" Naga Bongkok tiba-tiba menukas, membuat Kui Hoa merah karena jengah, malu. Dan Naga Bongkok yang tertawa pendek tiba-tiba menuding Kun Houw, bicara sungguh-sungguh, "Kau lihat, dia terluka gara-gara ingin menyelamatkanmu, nona. Dan karena aku tak mempunyai obat penawarnya maka kaulah yang kuharapkan untuk menyembuhkan pemuda ini. Aku telah menahan aliran racun dengan sinkangku, tapi karena obat penawar masih diperlukan maka kuserahkan dia padamu. Sekarang terserah, kau mau menolongnya atau tidak!"

Kui Hoa tertegun. "Dia terluka karena apa?"

"Pukulan pamanmu, Tok-hwe ji!”

"Apa? Tok-hwe ji?" Kui Hoa terkejut.

"Ya, kau lihat, nona."

Dan ketika Kui Hoa meloncat menghampiri liba tiba gadis ini tersentak dan kaget di tempat. "Benar. Tok-hwe-ji...!"

"Sekarang bagaimana, nona?" Naga Bongkok tersenyum aneh. "Kau dapat menolongnya. bukan?"

"Ini... ini... Kui Hoa tampak gugup. "Aku tak mempunyai obat penawarnva. Naga Bongkok Yang menyimpan obat penawarnya hanya ayah atau pamanku itu!"

"Nah, itulah sebabnya kami minta tolong padamu, nona. Karena tahu bahwa obat penawar ada di tangan pemilik Tok-hwe ji maka kuminta kau menyelamatkan pemuda ini."

Kui Hoa pucat mukanya. Ia bingung, tapi membelalakkan mata tiba-tiba ia bertanya. "Nanti dulu, bagaimana pamanku itu bisa menyerang pemuda ini?"

Sin Hong kali ini menjawab, "Karena dia dikira yang akan memperkosamu, nona. Mu Ba dan muridnya memfitnah Kun Houw hingga membuat pamanmu itu turun tangan!"

Dan Kui Hoa yang terhenyak di tempatnva seketika tertegun. Dia percaya omongan ini. Percaya bahwa Sin Hong bukanlah pembohong. Tapi Naga Bongkok yang sudah menyambar lengan muridnya mendadak melompat pergi.

"Nona, semuanya sudah kami ceritakan padamu. Sekarang kami serahkan pemuda itu untuk kau selamatkan. Ingat, kehormatanmu telah ditebus mahal oleh pemuda itu. Selamat tinggal..!" dan Naga Bongkok yang telah berkelebat lenyap tahu-tahu tak tampak bayangannya lagi, pergi bersama Sin Hong.

Dan Kui Hoa yang sejenak terkejut sekonyong-konyong mengejar. "Naga Bongkok, tunggu dulu..."

Kakek itu berKelebat datang. "Apa yang ingin kau tanyakan, nona?"

Kui Hoa tertegun. Dia terkesiap melihat kehebatan ginkang kakek ini, yang dapat pergi dan datang bagai iblis. Tapi Kui Hoa yang menggigit bibirnya sudah bertanya tegas. "Kau tidak menipuku, bukan? Artinya apa yang kau omongkan ini dapat kau pertanggungjawabkan.”

"Ha-ha aku tak pernah menipu orang lain, nona. Tapi kalau kau tidak percaya biarlah si tua bangKa ini bersumpah! Perlukah sekarang aku bersumpah?"

Kui Hoa mengerutkan kening. Dia mantap sekarang, maka menggelengkan kepala ia menjawab, "Baiklah, aku percaya padamu, Naga Bongkok. Tapi sekali kau tak bicara benar maka aku akan mencarimu untuk menuntut pertanggungjawabanmu!"

"Boleh, kau boleh cari aku di mana saja, nona. Dan sekali aku menipumu biarlah kepalaku ini kuserahkan kepadamu. Ha-ha..." dan Naga Bongkok yang memutar tubuhnya tiba-tiba berkelebat lenyap dan tak kembali lagi.

Kui Hoa termangu, terbelalak ke depan tapi akhirnya melompat masuk. Dan persis ia berjongkok di dekat Kun Houw sekonyong-konyong adiknya muncul!

"Enci, kau tidak apa-apa?"

Kui Hoa kaget. Dia tersentak dan melompat bangun, tapi melihat Kui Lin muncul seorang diri dan sudah menubruk dirinya tiba-tiba Kui Hoa girang dan berteriak tertahan. "Lin-moi, kau tahu aku ada di sini?"

Kui Lin sudah terisak-isak. Ia gembira dan terharu bukan main bahwa encinya ada di situ, selamat, saling berpelukan. Tapi melihat seorang pemuda menggeletak di bawah encinya tiba-tiba Kui Lin beringas, melepaskan diri. "Keparat, dia yang menculikmu itu. enci? Ah, biar kubunuh dia....!" tapi ketika Kui Lin melihat bahwa itu bukanlah Sin Hong melainkan Kun Houw tiba-tiba gadis ini tertegun. "Eh, dia...?"

Kui Hoa heran, memandang adiknya. "Kau kenal dia, Lin-moi?"

"Ya, dia yang bertanding melawan Mu Ba, enci. Tapi pemuda ini jahat, dia hendak memperkosamu!" dan Kui Lin yang kembali melepaskan diri dari pelukkan encinya tiba-tiba berkilat matanya dan berapi-api memandang Kun Houw.

Tapi Kui Hoa melompat maju. "Lin-moi, tahan. Dia yang justeru menolongku!"

Kui Lin terkejut. "Menolongmu bagaimana, enci? Pemuda ini yang merobohkan kita di dalam kamar. Dia manusia Keparat itu!"

"Tidak, aku telah tahu persoalannya, Lin-moi. Yang menyerang kita bukan pemuda ini melainkan Mu Ba. Raksasa itu yang menyirep kita dan menotok secara curang!" dan sementara adiknya membelalakkan mata maka Kui Hoa buru-buru memberi tahu, "Lin moi, kau tahu bahwa laki-laki yang menyerang kita adalah bayangan tinggi besar, bukan? Dan pemuda ini tidak tinggi besar, Lin-moi. Lihat saja bentuk tubuhnya yang tidak sama dengan bentuk tubuh bayangan yang menyerang kita itu. Aku sekarang tahu bahwa yang menculik kita adalah Sin-thouw-liong Mu Ba!"

Kui Lin tentu saja kaget. "Bagaimana kau tahu, enci?"

"Dari si Naga Bongkok."

"Naga Bongkok? Siapa itu?"

"Dia kakek yang juga baru kukenal, Lin-moi. Tapi dua orang ini meyakinkan hatiku bahwa mereka orang-orang baik!"

"Dua orang? Bagaimana maksudmu, enci?" Kui Lin bingung.

"Ya, maksudku Naga Bongkok itu datang bersama muridnya, Lin-moi. Pemuda tinggi besar bernama Sin Hong itu!"

"Ooh...!" Kui Lin semakin terbelalak. "Jadi kau tahu tentang pemuda tinggi besar itu, enci? Di mana dia? Dialah yang kukejar. Dia yang melarikanmu dari kuil rusak itu!"

Kui Lin jelalatan, memandang kiri kanan dengan marah. Tapi Kui Hoa yang sekarang percaya sama Sin Hong rupanya betul-betul yang membawanya dari kuil rusak dan bukannya dan dalam kamar seperti apa yang baru didengarnya dan adiknya ini tiba-tiba membuat Kui Hoa semakin percaya bahwa Mu Ba yang memang menjadi biang keladinya. Maka melihat adiknya memutar-mutar mata mencari pemuda tinggi besar itu Kui Hoa sudah menarik napas panjang dan mencekal lengan adiknya.

"Dia tak ada lagi di sini, Lin-moi. Sin Hong sudah pergi meninggalkan kita."

"Tapi bagaimana kau bisa tahu bahwa Mu Ba yang menyerang kita, enci? Dan apa makasudnya? Apakah Naga Bongkok justeru tidak menipumu?'"

"Hm, aku percaya kepada mereka, Lin-moi. Dan aku lebih percaya lagi setelah mengetahui siapa sebenarnya pemuda bernama Sin Hong itu."

"Siapa, enci?"

"Putera Pendekar Gurun Neraka!"

"Hah?" Kui Lin membelalakkan matanya lebar-lebar. "Putera Pendekar Gurun Neraka, enci? Jadi dia yang menolong temannya ini? Ah, pantas demikian lihai! Tapi kenapa menjadi murid Naga Bongkok? Siapa Naga Bongkok itu?"

"Entahlah, aku tak tahu, Lin-moi. Tapi melhat sikap dan gerak-gerik mereka aku percaya bahwa mereka bukan orang jahat!" dan Kui Hoa yang lalu menceritakan semua yang didengarnya dari Naga Bongkok tentang semua dugaannya bahwa Mu Ba yang berdiri di balik semua kejadian ini sudah membuat adiknya berseru ah-ah-oh oh dengan kaget. Terkejut di samping heran, tidak mengerti. Maka ketika encinya selesai bercerita dan Kui Lin mengepalkan tinju segera bertanyalah gadis ini dengan kening dikerutkan,

"Tapi kenapa Mu Ba menyerang kita, enci? Apa yang dikehendakinya?'

"Hm, tentu ada hubungannya dengan Ceng Liong itu Lin-moi. Bukankah menurut Sin Hong aku hendak digagahinya ketika Kun Houw datang? Tentu pemuda ini memergoki Ceng Liong ketika hendak mengganggu diriku. Dan karena Ceng Liong marah maka pemuda itu lalu diserang dan memutarbalikkan kenyataan, dibantu gurunya!"

"Tapi apa yang dikehendaki Ceng Liong, enci?”

"Tentu ada hubungannya denganmu, Lin-moi. Bukankah kau tahu pemuda itu tergila-gila padamu?"

"Maksudmu..."

"Benar, Ceng Liong hendak mendapatkan dirimu secara paksa, Lin-moi. Tapi karena kita dapat mengalahkannya maka pemuda itu minta bantuan gurunya. Lalu, karena kita saudara kembar dan kebetulan kita mengenakan pakaian yang sama karena saat itu kau mengganti bajumu dengan bajuku maka Mu Ba salah ambil. Demikianlah kesimpulanku!"

"Ah, keparat!" Kui Lin tiba-tiba berseru, marah sekali. "Kalau begitu kita cari pemuda itu, enci. Kita bunuh Ceng Liong dan melapor pada ayah!" Kui Lin menarik encinya, siap meloncat keluar.

Tapi Kui Hoa yang menggelengkan kepalanya justeru menekan pundak adiknya ini. "Tidak, jangan dulu, Lin-moi. Meskipun kuat dugaanku bahwa kejadian ini dibuat o'eh guru dan murid itu namun betapapun kita tak mempunvai bukti-bukti. Naga Bongkok dan muridnya telah pergi. Yang ada tinggal pemuda yang pingsan ini. Dan karena dia telah menolongku maka kita harus menolongnya, juga sekalian menanyainya betulkah dia memergoki Ceng Liong ketika hendak memperkosa diriku!"

Kui Lin tertegun, teringat pada Kun Houw yang menggeletak pingsan. Dan kagum bahwa pemuda ini mampu mengalahkan Mu Ba Kui Lin tiba-tiba mendecah, "Hm, benar. Pemuda ini hebat sekali, enci. Dia mampu menghadapi paman dan iblis tinggi besar itu."

"Kau melihat perkelahiannya?"

"Ya, saat itu aku datang bersama paman, enci. Dan dia hampir merobohkan Mu Ba dengan ilmu pedangnya yang luar biasa."

"Dan kau tahu siapa pemuda ini?"

"Katanya murid Bu-tiong-kiam, enci. Jago pedang yang tersohor kepandaiannya itu!"

"Ah...!" Kui Hoa tertegun. "Dia murid Bu-tong-kiam Kun Seng?"

"Begitu yang kudengar, enci. Dan paman serta Mu Ba tampaknya benci sekali pada pemuda ini!"

"Hm...!" Kui Hoa bersinar matanya. "Tapi dia telah menyelamatkan kehormatanku. Lin-moi. Dan sebagai wanita kau tahu apa artinya itu. Kehormatan yang jauh lebih berharga daripada nyawa!"

"Benar, lalu sekarang bagaimana baiknya, enci?"

"Kita harus menolongnva, Lin-moi. Aku hendak menyembuhkan pukulan Tok hwe-ji yang melukai dadanya. Setelah itu, kalau dia sadar maka kita menanyai dia untuk memantapkan bahwa apa yang kita duga adalah betul!"

"Tapi yang dapat menyembuhkan bekas pukulan ini hanya ayah atau paman, enci. Karena merekalah yang mempunyai obat penawarnya! Apakah mungkin mereka mau menolong?"

"Kau dapat membantuku, Lin-moi. Kita minta baik-baik atau kita curi saja obat penawar itu dari tangan mereka."

"Ah. tak mungkin, enci. Ayah dan paman tentu tahu. Bagaimana kalau mencelakakan diri kita sendiri? Kita tentu mendapat marah besar!"

"Kalau begitu aku akan mencari jalan lain, Lin-moi. Kita jalankan cara ke dua untuk menyembuhkan pemuda ini."

"Astaga, kau akan menyedot hawa beracun itu, enci? Kau..."

"Ya, kalau obat penawar tak dapat kita peroleh mau tidak mau aku harus menyedot hawa beracunnya. Lin-moi. Dan karena tak ada jalan lain dan pemuda ini sudah semakin gawat maka lukanya harus segera disembuhkan!" Kui Hoa tiba tiba menggigi bibir, suaranya serak dan tampak pucat, tiba-tiba basah kedua matanya dan berdiri menggigil.

Dan Kui Lin yang tertegun memandang sang kakak mendadak mengeluh dan menubiuk encinya. "Enci, kau akan menyedot dari mulut ke mulut? Kau akan melakukan pengobatan dengan cara itu?"

"Karena tak ada jalan lain, Lin-moi. Dan aku akan melakukan ini hitung-hitung sebagai pembalas budinya!" Kui Hoa memejamkan mata, semakin menggigil dan tiba tiba terisak, di peluk adiknya yang terbelalak memandang sang kakak.

Tapi Kui Lin yang mengeraskan dan tiba - tiba melepaskan encinya. "Tidak. Kalau begitu biar aku yang melakukannya, enci! Kau tak boleh mendapat malu kalau orang lain tahu!"

Kui Hoa terkejut. "Tapi ini urusanku sendiri, Lin-moi. Dan tak ada orang lain tahu selain kau!"

"Benar, tapi kalau pemuda ini tahu kau yang akan mendapat malu, enci. Karena itu biarkanlah aku saja yang melakukan ini!"

"Tidak, yang diselamatkan kehormatannya bukan kau, Lin-moi, tapi aku! Aku yang harus membalas budi pemuda ini dan bukannya kau!"

"Tapi kalau dia tahu kau akan mendapat malu, enci. Dan aku tak suka kalau pemuda itu akan menghinamu kelak!"

"Biarlah, hitung-hitung sebagai pembalas budinya, Lin-moi. Aku tak perduli dia akan menghinaku atau tidak. Sekarang keluarlah, kau jaga di luar sementara aku akan menolong pemuda ini!" Kui Hoa mendorong adiknya, menyuruh Kui Lin keluar dan bersiap-siap menyelamatkan Kun Houw.

Tapi Kui Lin yang rupanya keras kepalai menolak. Akibatnya kakak beradik ini bersitegang, tapi ketika Kui Hoa memaksa dan mulai marahi akhirnya Kui Lin terisak dan melompat keluar. "Baiklah, enci Kau selamatkanlah pemuda itu. Tapi, kalau kelak dia berani menghinamu, maka aku bersumpah untuk membunuhnya!"

Kui Hoa menggigil. Sebenarnya dia berat melakukan pengobatan cara ke dua, menyedot dari mulut ke mulut. Tapi maklum keadaan Kun Houw semakin gawat dan mereka tak ada waktu lagi untuk berpikir panjang maka gadis ini mengeraskan hatinya. Pukulan Tok-hwe ji memang ganas. Racun yang berupa hawa dari pukulan ini akan mengeram 24 jam penuh. Di mana bila korban yang bersangkutan tidak segera ditolong maka perlahan-lahan tubuhnya akan menggelembung dan akhirnya meledak setelah tubuh itu mendidih. Persis dibakar.

Dan Kui Hoa yang teringat bahwa kehormatannya telah ditolong pemuda ini mau tak mau harus menyelamatkan Kun Houw. Maka begitu adiknya, menjaga di luar gua dan Kui Hoa berlutut di samping Kun Houw gadis ini sudah menenangkan guncangan hatinya dan bersiap-siap.

Tapi betapapun Kui Hoa gemetar. Dia selamanya belum-pernah bersentuhan dengan lelaki. Maka melihat Kun Houw menggeletak pingsan dan dia harus menyedot lewat mulut ke mulut Kui Hoa tiba-tiba memejamkan mata. Dia merasa "ngeri". Tapi ingat bahwa pemuda ini telah menyelamatkan kehormatannya dari tangan-tangan kotor Ceng Liong mendadak Kui Hoa mengeraskan hatinya dan menunduk.

Lalu, begitu dia memusatkan perhatian dan menarik napas dalam-dalam tiba-tiba gadis im telah menyedot mulut Kun Houw dengan jalan menempelkan mulutnya sendiri, menyedot dan mengerahkan khikangnya untuk "menarik" semua hawa beracun. Dan begitu Kui Hoa memusatkan segala perhatiannya pada cara pengobatan yang aneh ini tiba-tiba gadis itu sudah berjuang keras dan tidak tahu lagi akan apa-apa yang ada di sekelilingnya!

Kui Hoa sudah terus menyedot dan menyedot. Berkali-kali menghisap dan membuang keluar hawa beracun yang mengeram di dada Kun Houw. Dan karena Kui Hoa sendiri telah memiliki ilmu kebal Hoat-lek-im-ciong-ko yang hebat itu maka gsdis ini sama sekali tak takut akan racun dan Tok-hwe-ji. Dan itulah sebabnya mengapa Kui Hoa atau Kui Lin berani menyembuhkan korban Toh hwe-ji dengan jalan menyedot. Karena mereka yang sudah memiliki kekebalan segala macam racun akibat perlindungan Hoat lek-kim-ciong-ko memang membuat puteri-puteri Ok-cangkun itu kebal terhadap segala macam racun!

Maka, ketika hampir satu jam penuh Kui Hoa mengeluarkan racun dari dalam tubuh Kun Houw tiba-tiba muka Kun Houw yang tadinya kehjauan sudah berobah merah. Dan, ketika warna merah ini berobah putih untuk akhirnya kembali pada warna yang merah sehat tiba-tiba Kun Houw mulai mengeluh!

Tubuh pemuda ini tidak lagi terbakar. Dan ketika Kui Hoa berjuang keras selama hampir satu jam lagi maka Kun Houw sudah sadar dan mulai bergerak. Namun kesadaran Kun Houw belum sepenuhnya terisi. Kun Houw masih agak pening, kesadarannya setengah melayang-layang. Tapi ketika kian lama kesadarannya kian membaik dan Kun Houw mulai ingat akan apa yang terjadi maka Kun Houw membuka mata. Dan Kun Houw tertegun. Dia mengira dia berada di alam mimpi. Maklum, Kun Houw baru saja sadar.

Maka melihat seraut wajah jelita sedang menyedot mulutnya dan tampak demikian dekat di atas mukanya sendiri dengan kedua mata terpejam tiba-tiba Kun Houw terbelalak. Apa ini? Di mana dia? Di kahyangankah? Kalau tidak, lalu siapa gadis cantik yang sedang menyedot mulutnya ini? Apa yang dilakukan?

Kun Houw tiba-tiba tergetar. Dia terbelalak dan tak dapat menjawab semua pertanyaannya itu. Tapi ketika dia ingat bahwa dia terkena pukulan Tok-hwe ji yang membuat seluruh tubuhnya bagai terbakar dan kini dia merasa sehat dan dada tidak sesak serta sakit lagi tiba-tiba Kun Houw sadar. Dia sedang ditolong orang. Disedot racunnya oleh gadis ini! Dan Kun Houw yang berguncang jantungnya mendadak terbengong dan memandang wajah yang ada di dekatnya itu tanpa berkedip. Kun Houw terkesima.

Dia melihat wajah yang demikian halus berada amat dekat sekali dengan mukanya. Wajah yang halus dengan pipi kemerah-merahan. Wajah yang cantik dan mempesona, wajah yang luar biasa baginya bagai seorang dewi. Dan Kun Houw yang mencium pula keharuman lembut dari wajah yang ada di dekatnya ini tiba-tiba mabok. Kun Houw merasa di awang-awang yang meninabobokkan dirinya.

Dan ketika dia merasa betapa mulut yang melekat di mulutnya itu menyedot-nyedot dan ia merasa bibir yang lunak hangat menempel di bibirnya sendiri dengan gerakan menghisap dan meniuh-niupkan hawa yang harum dan wangi tiba-tiba Kun Houw tersedak dan batuk-batuk!

"Ah...!" Kui Hoa seketika membuka matanya. Gadis ini kaget bahwa Kun Houw membuat gerakan, yang berarti pemuda itu telah sadar. Dan Kui Hoa yang seketika melepaskan sedotannya dan terbelalak memandang Kun Houw tiba-tiba melompat mundur dengan muka merah padam. "Kau... kau sudah sadar?"

Kun Houw melongo. Sekarang dia bangkit duduk dan memandang Kui Hoa, bukan ke mata yang terbelalak kepadanya itu melainkan ke bibir Kui Hoa yang merah basah. Dan Kun Houw yang mengejap-ngejapkan mata bagai orang kehilangan kesadarannya ini tiba-tiba memejamkan matanya dan tidak menjawab pertanyaan orang, membayangkan kembali betapa nikmat bibir yang lunak hangat itu menghisap dan menempel di bibirnya sendiri! Tapi ketika Kui Hoa menampar pipinya dan Kun Houw terpelanting roboh barulah Kun Houw melonpat bangun dan berseru kaget. Apalagi ketika gadis itu marah-marah kepadanya.

"Orang tak tahu diri, apa yang kau pikirkan? Kenapa memandang bibirku melulu?"

Kun Houw sadar sepenuhnya. Sekarang dia tak mabok lagi seperti tadi. Maka tersipu merah dengan muka jengah buru-buru Kun Houw menjura, membungkuk dalam-dalam. ''Maaf, aku... eh, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, nona. Tapi melihat lukaku sembuh dan kau ada di sini, tahulah aku bahwa kau yang menyelamatkan diriku. Terima kasih, nona. Aku Kun Houw benar-benar menghaturkan terima kasih pada dewi penolongku!" dan Kun Houw yang langsung menjatuhkan diri berlutut di depan gadis ini membuat Kui Hoa terkejut dan lenyap semua kemarahannya.

"Eh, jangan berlutut.... berdirilah, saudara Kun Houw. Kau tak perlu mengucap terima kasih kepadaku seperti itu. Kedudukan kita satu sama!”

Kun Houw mengangkat mukanya, heran. "Satu sama bagaimana, nona? Apa yang kau maksudkan?"

"Hm, bukankah kau yang menolongku pula di kuil rusak?" Kui Hoa melengos, merah mukanya karena lagi-lagi tanpa sadar Kun Houw memandang bibirnya. "Bukankah kau yang menolongku dari jahanam Ceng Liong?"

Dan Kun Houw yang seketika teringat gadis ini tiba-tiba menganggukkan kepalanya dan bangkit berdiri. "Benar, dan di mana setan jahanam itu sekarang, nona? Di mana dia?" Kun Houw terbelalak ke kanan kiri. kaget dan marah ketika ingat bahwa Ceng Liong hendak melakukan perbuatan terkutuk.

Tapi Kui Hoa yang mengepalkan tinju sudah berkata gemas, "Dia tak ada di sini, saudara Kun Houw. Karena itu aku ingin bertanya padamu apa yang sebenarnya terjadi dan kau lihat di kuil rusak itu!"

"Ah, dia hendak mengganggumu, nona. Dia hendak memberikan arak perangsang kepadamu agar kau mabok dan dapat digagahinya!"

"Dari mana kau tahu?"

"Kebetulan saja, nona. Aku beristirahat di kuil itu sebelum Ceng Liong dan gurunya tiba. Maka, melihat guru dan murid itu membawamu ke situ dan aku mendengar apa yang direncanakannya maka jahanam itu kuserang ketika kau siap dicekokinya!"

Kui Hoa tergetar. Dia pucat mendengar ini, ngeri dan diam-diam mengutuk akal keji Ceng Liong yang diketahuinya berbahaya dan culas. Karena, meskipun secara sepintas dengan cara seperti itu Ceng Liong tak dapat dibilang memperkosa karena dia akan menyerahkan diri dengan suka rela tapi penyerahan dirinya itu tak dapat dibilang sah karena dia sedang mabok dan dalam penguasaan nafsu berahi. Nafsu yang ditimbulkan dari arak perangsang, yang berarti menunjukkan betapa keji dan liciknya Ceng Liong. Juga culas! Dan Kui Hoa yang tergetar dengan muka ngeri tiba-tiba memandang Kun Houw dengan penuh rasa terima kasih dan haru, tiba-tiba ganti menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu!

"Saudara Kun Houw, aku tak dapat menyampaikan apa-apa kepadamu selain rasa syukur dan terima kasihku. Terimalah hormat dan terima kasihku ini...!"

Kun Houw terkejut. "Eh-eh, jangan begitu, nona. Kau bangunlah, jangan berlutut!" dan Kun Houw yang buru-buru mengangkat bangun gadis ini dengan menarik pundaknya seketika beradu pandang dengan mata Kui Hoa yang bergetar jernih, membuat Kun Houw dag dig-dug tidak karuan dan merasa jungkir balik. Dan Kun Houw yang jadi gemetar suaranya tiba-tiba bertanya, lirih seolah berbisik, "Maaf. bolehkah kutanya siapa namamu, nona? Maksudku, aku... aku..."

Kui Hoa tersenyum, menunduk malu-malu. "Aku Kui Hoa, saudara Kun Houw. Dan karena kau telah menyelamatkan kehormatanku biarlah kau buang sebutan nona-nona itu. Kau panggil saja aku Kui Hoa."

Kun Houw girang. "Dan kau boleh sebut aku Houw-twako, nona. Biarlah kau buang pula sebutan saudara itu...!"



Pedang Medali Naga Jilid 16

PEDANG MEDALI NAGA
JILID 16
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Karya Batara
KUN HOUW melompat bangun. Dia tentu saja terkejut oleh serudukan yang luar biasa hebat ini. Serudukan yang membuat isi perutnya seakan tercerai-berai dari tempatnya, mual dan ingin muntah! Tapi Kun Houw yang sudah menarik kekuatan sinkangnya dan mengempiskan dada tiba-tiba menggerakkan lengan membacok kepala Mu Ba yang kembali menerjang dengan serudukannya yang mengerikan itu.

"Mu Ba, jangan sombong. Kau tak akan dapat membunuhku. Plak!" dan telapak Kun Houw yang sudah "membelah" kepala lawannya tiba-tiba tertolak balik ketika menyentuh hawa mujijat yang mengepul di ubun-ubun lawannya.

Dan Mu Ba yang tertawa bergelak oleh kekagetan lawannya ini sudah menggereng dan menubruk kembali. "Bocah, mampuslah...!"

Kun Houw berobah mukanya. Dia sekarang meloncat ke kanan menghindar tubrukan maut itu. Dan Mu Ba yang terus meluncur dengan kepala saktinya yang dahsyat itu tiba-tiba menghantam tembok kuil di belakang Kun Houw. "Broll!" tembok itu jebol. Kun Kouw sudah melompat ke depan mendahului lawan. Dan ketika Mu Ba membalik dan menggereng marah tiba tiba tubuhnya berkelebat menghantam leher raksasa ini.

"Dess!" Mu Ba tidak apa-apa. Raksasa itu hanya terhuyung, dan ketika Kun Houw terkejut oleh kekuatan lawannya ini tahu-tahu Mu Bi tertawa bergelak dan menyambar lagi. "Bocah, kau tak dapat merobohkan aku!"

Kun Houw terkejut. Dia benar-benar terbelalak melihat tenaga sakti raksasa ini, yang demikian hebat dan membuat kulitnya tebal. Tahan pukulan sinkang! Tapi Kun Houw yang sudah berseru keras menyambut terjangan lawannya itu tiba-tiba membentak dan menggerakkan kedua lengan seperti gerakan gerakan pedang. Kini Kun Houw menghadapi raksasa itu dengan gerakan-gerakan yang sama seperti ketika tadi dia melayani Ceng Liong. Ilmu silat pedang tapi yang tidak mempergunakan pedang. Dan lengan Kun Houw yang mulai bersiutan dan mendesing bagai senjata tajam itu tiba-tiba berkeredep mengeluarkan cahaya putih disusul uap panas yang menyelubungi kedua lengannya.

"Ah, Sin-ciang Kiam-hoat (Ilmu Pedang Tangan Sakti) yang hebat. Bagus!" Mu Ba tiba-liba berteriak, gembira tapi terkejut melihat gerakan Kun Houw yang mampu mencicit dan mendesing bagai senjata sungguhan itu. Dan Kun Houw yang tertawa mengejek oleh pujian ini sudah mulai balas menyerang dan mengeluarkan suara dari hidung, bangga tapi juga berhati-hati.

"Tak perlu memuji, Mu Ba. Suhu telah berpesan padaku untuk tidak mempergunakan pedang kalau kedua lenganku mampu!"

"Ha-ha, tapi kau tak dapat mengatasiku dengan Sin-ciang Kiam-hoat ini saja. bocah. Biarpun hebat tapi kau tetap akan kudesak hingga mengeluarkan pedang!"

Kun Houw tak menjawab. Dia sudah diserbu tumbukan-tumbukan kepala lawan, juga ke dua lengan Mu Ba yang selalu menyambar-nyambar dari segala jurusan. Mirip lengan gurita yang bergerak mengepung dirinya. Dan Kun Houw yang mulai berkelebatan menghindari serta membalas serangan itu tiba-tiba mendengar Mu Ba membentak dan menggedrukkan kakinya. Lalu mengerutkan kening melihat lawan melakukan perbuatan aneh sekonyong-konyong Mu Ba berteriak dan sudah menangkap kedua pundaknya.

"Bocah, kau akan mampus!"

Kun Houw terkejut. Dia sudah dicengkeram kedua pundaknya, hebat dan sakit sekali. Maklum, jari-jari Mu Ba sebesar pisang ambon dan kuat bagai baja, penuh kekuatan sinkang yang dahsyat bukan main. Dan sementara Kun Houw terkejut oleh cengkeraman ini tahu-tahu Mu Ba sudah menumbukkan kepalanya ke ujung hidungnya!

"Ah...!" Kun Houw tak mau menerima bahaya. Dia sudah melihat kehebatan kepala lawan, yang batoknya demikian keras hingga mampu menjebolkan tembok. Maka membentak dan mengerahkan ginkangnya tiba-tiba Kun Houw mengguncang tubuh. Gerakan ini mirip sikap anjing membersihkan bulu, menggeber seraya mengangkat lengan kanan ke atas, menghadapkan telapaknya untuk menerima serudukan kepala lawan, menangkis. Dan begitu lengan kanan bertemu kepala Mu Ba hingga mengeluarkan suara keras maka lengan kiri Kun Houw mengibas untuk membabat kedua tangan Mu Ba yang mencengkeram kedua pundaknya.

"Plak-bruss!"

Mu Ba tertawa mengejek. Batok kepalanya diterima telapak Kun Houw, yang tentu saja mengerahkan sinkang dan menahan sarudukan raksasa tinggi besar ini yang dahsyat bukan main. Dan lengan kiri Kun Houw yang sudah menghantam kedua lengan lawan agar terlepas dan siap memutar pinggang untuk melompat ke belakang ternyata jadi kaget ketika mendapat kenyataan tak mampu menggeser lengan lawan. Mu Ba masih tetap dengan cengkeramannya yang kokoh itu, melekat bagai sebuah tanggem. Dan sementara Kun Houw terkesiap bahwa lengan lawan tak dapat disingkirkan dari pundaknya tiba-tiba kepala raksasa itu telah bergerak maju mendorong telapak tangannya sendiri yang menahan batok kepala raksasa itu!

"Ahh...!" Kun Houw terkesiap hatinya. Dia terdorong mundur, dan sementara dia berseru kaget oleh dorongan yang semakin dahsyat ini tiba-tiba Mu Ba tertawa bergelak menambah tenaganya.

"Ha-ha, kau akan mampus, bocah. Kau akan mampus kugencet kepala saktiku ini!"

Kun Houw terbelalak matanya. Dia merasa dorongan kepala Mu Ba semakin bebal, mendorong dan terus mendorong telapaknya hingga menggigil mendekati dada. Maka melengking dan melihat bahaya semakin besar tiba-tiba Kun Houw mengempos semangat dan membanting kaki. Kun Houw mengerahkan ilmu yang dia dapat dari Bu-beng Sian-su, tenaga sakti yang disebut Jing-liong Sinkang (Tenaga Sakti Seribu Naga), ilmu menghimpun tenaga yang didapatnya pertama kali di Gua Malaikat dari Bu-beng Sian-su, kakek dewa yang luar biasa saktinya itu. Dan begitu Kun Houw menggerakkan lengan kiri untuk membantu lengan kanannya menahan batok kepala lawan dengan sinkangnya yang didapat dnri Bu-beng Sian-su itu mendadak Mu Ba menjerit kaget ketika kepalanya tertumbuk.

"Plak!" Mu Ba menggereng. Kepalanya tergetar, kaki terhuyung dan mundur setindak, kalah oleh hantaman Jing-liong Sin-kang yang dilancarkan Kun Houw ini. Dan sementara dia terbelalak oleh kejadian yang membuat posisinya berobah itu tiba-tiba kepalanya serasa dingin dimasuki uap putih yang mengebul dari lengan Kun Houw!

"Setan, apa ini, bocah?"

Kun Houw tak menjawab. Dia sudah menambah kekuatannya, mendorong kepala Mu Ba yang tampaknya terkejut itu. Kaget bahwa kepalanya tiba-tiba menjadi beku! Dan Kun Houw yang girang bahwa Jing-liong Sin-kangnya berhasil mengatasi kekuatan lawan tiba-tiba mengalirkan tenaganya dengan dahsyat dan mendorong sepenuh bagian.
Akibatnya Mu Ba melotot gusar. Raksasa ini kaget bahwa tiba-tiba kekuatan yang luar biasa hebatnya mendorong kepalanya, menahan semua kekuatannya sendiri yarg tadi berhasil mendesak lawan. Kemenangan yang sudah siap membuat dia menyeringai dan mengejek dengan muka gembira. Tapi begitu keadaan berbalik dan kepalanya ditolak tenaga yang demikian dahsyat dan berhawa dingin tiba-tiba Mu Ba menjerit ketika telapak lawan mengetok tulang dahinya,

"Kress!” Mu Ba berkaok. Dia merasa tulang dahinya hancur, maka berteriak dan menarik kepala tiba-tiba raksasa tinggi besar itu menendang Kun Houw dengan lutut kanannya. Lalu begitu Kun Hoiw terdorong mundur dan terbelalak memandangnya tiba-tiba raksasa ini melempar tubuh bergulingan dan sudah mencabut senjatanya yang mengerikan, dua tengkorak kecil yang mengaung-ngaung mirip tangis bayi!

"Bocah, kau betul-betul hebat. Sinkangmu luar biasa, tapi aku masih belum kalah!" Mu Ba berteriak, melompat bangun dan mendelik dengan muka gelap, kaget tapi juga marah bahwa dalam gebrakan terakhir tadi dia terdesak hingga keselamatan dirinya terancam. Nyaris binasa! Dan Mu Ba yang sudah menggereng sambil memutar-mutar tengkorak bayinya itu iba-tiba berteriak dan menerjang ke depan ketiKa melihat Kun Houw tersenyum mengejek.

"Siluman cilik, mampuslah...!"

Kun Houw tertawa mengejek. Dia sudah merasa girang bahwa dengan Jing Iiong Sin-kang-nya tadi dia dapat mendesak iblis tinggi besar ini, yang tentu saja membesarkan hatinya. Maka melihat lawan mengeluarkan senjata dan kini menyambarkan dua tengkorak bayi itu ke leher dan lambung kirinya tiba-tiba Kun Houw menggerakkan lengan menangkis. Dan inilah kesalahannya. Kun Houw tak tahu bahwa tengkorak di tangan Mu Ba amat berbahaya, menyimpan jarum-jarum halus yang akan menghambur bila ditangkis. Maka begitu dia menangkis dan Mu Ba tertawa bergelak oleh ketidaktahuannya ini tiba-tiba saja tengkorak itu meledak dan menghamburkan puluhan jarum yang berbau amis ketika menyentuh tangannya.

"Plak-crit crit....!”

Kun Houw terkejut. Dia melihat puluhan sinar hitam menyambar dirinya, persis di saat tengkorak mengeluarkan ledakan nyaring. Dan Kun Houw yang tentu saja kaget bukan main oleh kecurangan senjata di tangan lawannya itu tiba-tiba. membentak keras dan membanting tubuh. "Mu Ba, kau manusia curang!"

Tapi Kun Houw terlambat. Dia masih diserang beberapa jarum yang mengenai dirinya, satu bahkan di tengah kening. Dan Kun Houw yang sudah melompat bangun dengan mata bersinar segera disambut ketawa bergelak oleh raksasa tinggi besar itu.

"Ha-ha, kau akan mampus, bocah. Jarum-jarumku itu mengandung racun."

Tapi Kun Houw tertawa mengejek. Dia meniup ke atas, ke tengah-tengah keningnya itu. Dan ketika lawan tertawa dengan muka gembira karena mengira dia terkena jarum beracun itu maka tiba-tiba saja jarum itu runtuh. Dan keyika Kun Houw mengebutkan bajunya tiga kali maka tiga jarum lain yang mengenai dirinya di bawah leher tiba-tiba juga runtuh ketika disapu, hal yang membuat Mu Ba heran.

Tapi, ketika raksasa ini mengamati dengan seksama tiba-tiba tahulah dia apa yang terjadi. Kiranya, jarum jarum yang mengenai tubuh Kun Houw tadi tidak menusuk, melainkan menempel saja, seolah melekat. Dan Mu Ba yang terhenyak oleh kejadian ini seketika mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Bukan lain adalah berkat sinkang pemuda itu yang sudah melindungi seluruh kulitnya hingga tak mampu ditusuk. Kebal. Dan Mu Ba yang sadar oleh kegagalannya itu tiba tiba menggereng dan mulai gentar.

"Bocah, kau memang benar-benar luar biasa sekali!'

Tapi Kun Houw tak dapat tersenyum. Dia melihat Mu Ba membarengi seruannya itu dengan bentakan tinggi. Dan begitu lawan menggerakkan kaki tiba-tiba raksasa ini kembali menerjang dengan tengkorak bayinya. Dan ketika Mu Ba mulai memekik dan mengayun-ayun senjatanya itu untuk melampiaskan penasarannya tiba-tiba dua tengkorak ini telah menyambar dan mematuk-matuk muka Kun Houw dengan dahsyat!

Kiranya, iblis tinggi besar ini telah melancarkan taktiknya dengan jitu. Dia tidak lagi menghujani bagian bawah tubuh Kun Houw melainkan semata mata bagian mukanya. Di mana kalau Kun Houw berani menangkis dan tengkorak akan meledak tentu bagian muka pemuda itu akan menjadi sasaran. Terutama kedua matanya yang tentu saja tidak dapat dilindungi kekebalan!

Dan Kun Houw yang tentu saja mengumpat oleh serangan ini terpaksa berlompatan ke sana ke mari tak berani menangkis. Cocok seperti yang diduga Mu Ba. Dan raksasa tinggi besar yang beringas dengan sepak terjangnya itu sudah memekik-mekik dengan suara girang. Kun How terdesak. Dia sekarang mundur-mundur, berlompatan menghindari senjata Mu Ba yang berbahaya. Maklum, dia tak berani menangkis, karena takut jarum berhamburan mengancam mukanya. Hal yang tentu saja terlalu riskan.

Dan Mu Ba yang gemas bahwa lawannya itu masih juga dapat berlompatan ke sana ke mari tiba-tiba membentak dan mainkan Sin-thouw-liong-kun nya pula, membantu gerakan dua tengkoraknya di tangan kiri dan kanan. Dan begitu raksasa merangsek lawan dengan tengkorak ditangan dan kepala yang menumbuk-numbuk bagai kerbau liar itu tiba-tiba saja Kun Houw terjepit.

Pemuda ini mulai kebingungan. Mau menangkis tidak berani tapi tidak menangkis justeru desakan Mu Ba semakin hebat. Maka, ketika posisi dirinya semakin terjepit dan Kun Houw tak dapat melompat lagi karena di belakangnya terhalang tembok ruangan tiba-tiba Kun Houw melengking dan mengayun tubuhnya. Saat itu dua tengkorak di tangan Mu Ba menyambar kepalanya, sementara Mu Ba sendiri sudah tertawa bergelak dengan kepala menumbuk, menyusul dua serangan tengkoraknya itu. Dan begitu Kun Houw mendapat serangan bertubi-tubi yang amat dahsyat ini dan tengkorak mengeluarkan angin pukulan yang menderu tiba-tiba Kun Houw sudah mencabut pedangnya, Pedang Medali Naga!

"Singg...!"

Mu Ba terbelalak. Dia melihat sinar merah berkelebat, sinar dari Pedang Medali Naga yang dicabut dari sarungnya. Dan begitu pedang keluar disusul suara mendesimg yang mendirikan bulu roma ini tahu-tahu dua tengkorak bayi di tangan Mu Ba meledak pecah dan jarum-jarum, hitamnya berhamburan keluar. Tapi aneh. Sesuatu yang luar biasa terjadi di sini. Jarum jarum hitam itu yang keluar dari batok tengkorak ternyata tidak menyerang Kun Houw seperti biasa.

Karena begitu tengkorak meledak dan Pedang Medali Naga membabat pecah dua tengkorak ini mendadak jarum-jarum yang berhamburan itu semuanya melayang naik dan hinggap di Pedang Medali Naga, terhisap oleh sinar merah yang mencorong di tubuh pedang! Kemudian, sementara Mu Ba ternganga melihat kejadian ini tahu-tahu Kun Houw mengibaskan pedangnya menusuk leher lawan!

"Suhu, awas...!"

Mu Ba membanting tubuh. Dia kaget bukan main oleh serangan itu, dan Ceng Liong yang berteriak memperingatkan gurunya tiba tiba berkelebat menimpukkan tiga senjata rahasianya, masing-masing menuju kening, hidung dan telinga. Tapi Pedang Medali Naga yang membuat kejutan itu ternyata mengulang kehebatannya. Tiga jarum Ceng Liong yang dilepas kearah Kun Houw mendadak melenceng arahnya, tersedot oleh sinar merah pedang yang ampuh ini. Dan begitu tiga jarum ini melekat di tubuh pedang dan Kun Houw mengibasnya runtuh, maka tiba-tiba saja tiga senjata rahasia itu membalik dan menyerang Ceng Liong sendiri!

"Liong-ji, awas!" Mu Ba ganti berteriak, memperingatkan muridnya itu.

Tapi Ceng Liong yang kalah cepat ternyata masih terkena lengannya sebelah kiri. Pemuda ini menjerit, membanting diri bergulingan. Dan ketika dia melompat bangun, maka dilihatnya Kun Houw telah menyerang gurunya dengan serangan pedang yang gencar, bergulung-gulung naik turun, membentuk kabut di tengah pegunungan yang dingin!

"Ilmu Pedang Bu-tiong Kiam-sut (Pedang Dalam Kabut)...!" Ceng Liong tertegun, terbelalak melihat gurunya berkaok-kaok di tengah gulungan pedang, terbungkus sinar merah yang kian dahsyat dan mengeluarkan suara bagai suling mengalun tapi yang kian lama kian menjadi. Dan ketika Kun Houw melakukan bentakan tinggi di antara gerakan pedangnya yang berobah menjadi asap bergulung-gulung itu tiba-tiba terdengar teriakan Mu Ba yang disusul terlemparnya raksasa tinggi besar ini ke lantai ruangan kuil.

"Bret! Bluk...!" Mu Ba terguling-guling. Lehernya berdarah, terluka oleh pedang di tangan Kun Houw. Dan Kun Houw yang tampaknya beringas memandang lawannya itu tiba-tiba berkelebat sambil berseru menyeramkan,

"Mu Ba, terimalah kematian mu....!"

Raksasa ini melotot. Dia ngeri sekali oleh sinar pedang yang merah, yang menusuk lehernya dengan kecepatan kilat. Tapi bukan tokoh sembarangan, Mu Ba berhasil mengelak, menggulingkan tubuh ke kanan dan melompat bangun. Tapi ketika pedang Kun Houw kembali menyambar dan menikam pundaknya tiba-tiba raksasa ini menjerit dan kembali terlempar roboh!

'Liong-ji, bantu aku...!"

Ceng Liong pucat mukanya. Dia melihat sang guru bergulingan menghindari serangan maut, hal yang sama sekali tidak disangka! Tapi belum Ceng Liong bergerak membantu gurunya tiba-tiba dua bayangan berkelebat masuk. Bayangan So-beng dan Kui Lin.

"Apa yang terjadi ini?"

Ceng Liong tertegun. Dia melihat So-beng dan Kui Lin muncul, hal yang kembali di luar dugaannya. Dan sementara Ceng Liong terbelalak dan bengong memandang dua orang itu tiba-tiba Kui Lin menjerit dan menubruk encinya yang pingsan di atas lantai. Ceng Long gugup. Dia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Tapi otak yang keji dan cerdik dari pemuda ini tiba-tiba menumbuhkan akal busuk. Dan melihat gurunya terus didesak dan kembali terluka ole goresan pedang di tangan Kun Houw mendadak Ceng Liong berteriak dan menuding Kun Houw,

"Dia menculik Kui Hoa, paman. Iblis keparat itu membawa Kui Hoa ke sini dan hendak memperkosanya ketika kami pergoki....!"

So-beng kaget. "Siapa dia?"

"Kun Houw, bocah yang dulu bersama Bu-tiong-kiam Kun Seng itu!"

"Ah...!” dan So - beng yang terbelalak memandang pertempuran tiba - tiba bersinar matanya. Sedetik ada kilatan api di cahaya mata orang ini. Tapi melihat Mu Ba terdesak hebat dan raksasa tinggi besar itu kembali berteriak ketika tergores pedang sekonyong-konyong Iblis Penagih Jiwa ini berkelebat menampar.

"Bocah, kau sungguh tak tahu malu!"

Kun Houw terkejut. Dia marah ketika Ceng Liong memutar balik kenyataan tadi, mengatakan dia hendak memperkosa gadis ini. Maka melihat lawan bertambah seorang sementara dia menghajar Mu Ba tiba-tiba tamparan Iblis Penagih Jiwa itu mengenai punggungnya.

"Plak!" Kun Houw terpelanting. Dia tentu saja kaget dan gusar, bergulingan menjauh ketika melibat lawan kembali menamparkan lengannya, menghantam leher dengan pukulan sinkang. Maka melompat bangun dan berteriak memaki Ceng Liong pemuda ini sudah menyambut tamparan So-beng yang menghantam lehernya.

"Ceng Liong, kau manusia hina. Kau... ah!" Kun Houw tak dapat melanjutkan seruannya. Pukulan So-beng tiba, maka menyambut dan mengerahkan sinkang Kun Houw langsung menerima telapak lawannya itu, yang mengeluarkan ledakan keras dan membuat iblis berpakaian merah itu berseru tertahan ketika terhuyung setindak.

Dan Mu Ba yang sementara itu sudah menyelamatkan diri dan berada di belakang Kun Houw tiba-tiba mendorongkan kedua lengannya sambil membumbui teriakan Ceng Liong, "Benar, dia hampir memperkosa keponakanmu, So-beng. Karena itu kita bunuh saja jahanam cilik ini... dess!" dan Kun Houw yang terjengkang oleh kecurangan Mu Ba tiba-tiba mencelat membentur tembok.

"Mu Ba, kau pemfitnah keji!"

Tapi raksasa tinggi besar ini tertawa bergelak. Dia sudah buas memandang Kun Houw. yang saat itu terguling-guling oleh pukulan curangnya. Tapi ketika Mu Ba menubruk dan pedang lawannya menyambut tubrukannya tiba-tiba Mu Ba menjerit ketika lambungnya terkena goresan pedang. Kiranya Kun Houw masih terlalu berbahaya meskipun bergulingan, mampu menyerang di balik gulingan tubuhnya. Dan Mu Ba yang tentu saja marah oleh serangan ini berteriak pada rekannya,

"So-beng, tangkap pemuda setan ini. Bunuh dan serang dia!"

So-beng mengangguk. Dia terkejut bahwa Mu Ba yang sedemikian lihainya itu kalah oleh lawannya ini, lawan yang masih muda. Lawan yang menjadi murid Bu tiong-kiam Kun Seng. Tapi maklum bahwa mendiang jago pedang itu memang hebat dan pernah mereka keroyok secara berempat dan jago pedang itu masih dapat bertahan tiba-tiba iblis ini melengking dan menggerakkan kedua lengannya berturut-turut. Dia menghantam pinggang Kun Houw, memukul dengan pukulan sinkang, langsung dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk mengeroyok, menggencet Kun Houw dari depan sementara Mu Ba duri belakang.

Dan Kun Houw yang tentu saja kaget oleh perbuatan dua orang iblis ini berseru keras dan menangkis dari depan dan belakang. "Des-dess!" Kun Houw mengeluh. Dia terlalu berat ditekan. Maka ketika lawan kembali menyerangnya dan Mu Ba terbahak melihat Kun Houw terdorong tiba-tiba pemuda ini membentak dan memutar pedangnya.

"So-beng, Mu Ba, kalian iblis-iblis busuk!"

So-beng mendengus. Dia kagum dan heran Kun Houw mampu menyelamatkan dirinya. Tapi melibat pemuda itu lenyap dalam gulungan bayangan pedang vang mendesing naik turun Iblis Penagih Jiwa ini terkejut juga. Dia tak melihat lagi Kun Houw di situ, lenyap dalam gulungan pedangnya. Pedang bersinar merah. Dan terbelalak menyadari pedang di tangan lawannva adalah pedang yang luar biasa mendadak iblis ini teringat.

"Pedang Medali Naga!" serunya, kaget dan baru tahu bahwa pedang di tangan Kun Houw adalah pedang yang dulu direbutnya bersama Mu Ba dan kawan-kawannya yang lain.

Dan Mu Ba yang terbahak oleh seruannya itu menendangkan kakinya membenarkan. "Benar, itu pedang yang dulu kita cari-cari, So-beng. Maka bunuh dan rampas pedang pemuda ini untuk kita!"

Tapi Kun Houw melengking nyaring. Dia sudah mainkan Bu-tong Kiam-sut yang hebat itu, warisan gurunya untuk menghadapi dua orang ini. Dan ketika Kun Houw mengerahkan pula tenaga saktinya Jing-liong Sin-kang untuk memperkuat tenaga maka pemuda ini lenyap di balik cahaya pedang yang mendesir-desir. Dia tak dapat begitu saja diserang. Maklum, tubuhnya tak nampak dari luar. Dan Iblis Penagih Jiwa yang mengerutkan kening melihat sinar pedang di tangan pemuda itu melebar untuk "menggulung" mereka tiba-tiba sudah mengerotokkan buku-buku jarinya. Lalu begitu membentak dan mendorongkan kedua lengan ke depan tiba-tiba dua sinar putih berkeredep menerobos cahaya merah dari pedang di tangan Kun Houw.

"Gin-kong-jiu (Pukulan Sinar Perak)...!" Kun Houw terbelalak. Dia tercekat oleh dua sinar putih yang meluncur menerobos gulungan pedangnya itu. Tapi ketika lawan terpental oleh Jing-liong Sin-kangnya yang semakin hebat memperkuat gerakan pedangnya tiba-tiba Kun Houw besar hati. Dia terus memutar pedang, mainkan jurus demi jurus untuk mengbadapi musuh-musuhnya yang tangguh ini. Musuh yang dulu pernah mengeroyok gurunya di Bukit Pedang.

Dan So-beng yang kaget membentur hawa pedang Kun Houw yang mementalkan Gin-kong-jiunya tiba-tiba memekik dan menjejakkan kakinya. "Mu Ba, mainkan Sin-thouw-liong-kun mu. Biar aku mencecarnya dengan Gin-kong-jiu...!"

Mu Ba mengangguk. Dia sudah mainkan Sin-thouw liong-kun nya itu tanpa diperintah, menggereng dan mencengkeram sana-sini. Dan So-beng yang tiba-tiba memekik dan mainkan kedua lengan maju mundur mendadak sudah mengulang kembali gerakan-gerakan atau pukulan Gin-kong-jiunya itu, naik turun menyambar-nyambar dengan sinar putihnya yang berkeredep menyilaukan mata. Sinar atau hawa pukulan yang berhawa dingin. Tapi Kun Houw yang diserang dari dua jurusan ternyata mampu bertahan dan belum terdesak.

"Hebat, bocah ini mirip gurunya, So-beng. Sebaiknya cabut saja senjatamu itu. Tengkorakku pecah!" Mu Ba mulai gemas, menyerang dengan cengkeraman-cengkeraman dan tumbukan kepalanya itu sambil berteriak pada rekannya, memberi saran agar lawan dapat dirobohkan.

Dan So-beng yang akhirnya terbelalak juga oleh pertahanan Kun Houw yang selalu mementalkan pukulan-pukulan sinar peraknya tiba-tiba mengangguk dan mencabut senjatanya. Cakar baja yang mengerikan itu. "Baik, bocah ini berbahaya, Mu Ba. Sungguh malu kalau kita tak dapat mengalahkannya!"

Mu Ba girang. "Memang begitu, So-beng. Dan sekali dia roboh maka pedang di tangannya itu harus segera kita rampas!"

Tapi Kun Houw yang tetap memutar pedang dengan gencar tertawa mengejek. Dia tak takut dikeroyok dua, karena dia mulai mendapat kepercayaan diri bahwa dia sanggup melawan dua orang musuhnya itu. Tapi ketika So-beng membentak dan mainkan cakar baja dengan suara mendengung dan sinar hitam tiba-tiba berkelebat menyambar pedangnya mendadak Kuo Houw terkejut ketika dengan gerakan luar biasa pedangnya sudah digaet.

"Crang!"

Kun Houw membetot. Dia terbelalak melihat pedangnya terjepit di sela-sela cakar baja lawan, tertahan di udara. Dan sementara dia berkutat untuk menarik atau melepas pedang mendadak tangan kiri Iblis Penagih Jiwa itu menyambar dengan aneh dan tahu-tahu mengenai dada kanannya.

"Plak!" Kun Houw tak merasa apa-apa. Dia tergetar sedikit, heran kenapa lawan melakukan pukulan yang tampaknya tidak bertenaga. Tapi ketika pedang berhasil dilepas dan Kun Houw melompat mundur tiba-tiba pemuda ini menjadi kaget ketika merasa matanya menjadi "kepyur" (melihat bayangan-bayangan keruh). Dan sementara dia tak mengerti kenapa dirinya bisa begitu mendadak dada kanannya panas dan tubuh gemetar bagai dibakar.

"Ah, pukulan keji....!" Kun Houw tertegun, sadar bahwa dia terkena pukulan berbahaya yang tidak diketahuinya apa. Dan ketika dia melotot memandang Iblis Penagih Jiwa itu maka laki-laki ini tertawa dingin dan mengejek kepadanya.

"Ya, kau terkena Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun), bocah. Ilmu pukulanku itu akan membuatmu mendidih dalam waktu 24 jam!"

Kun Houw berteriak. Dia marah sekali mendengar kata-kata ini, tapi ketika melompat dan menerjang lawannya itu sekonyong konyong dadanya menyentak. Ada rasa nyeri dan sakit yang hebat menyerang dirinya saat itu. Dan sementara dia tertegun dan berhenti di tengah jalan tiba-tiba Mu Ba menyerangnya dari bolakaig, tertawa bergelak.

"Bocah, mampuslah menyusul gurumu!"

Kun Houw berusaha mengelak. Dia terhuyung dan gemetar kakinya. Tapi ketika kalah cepat karena dadanya kembali menyerangnya dengan hebat maka pukulan itupun tak dapat dihindarkannya dan telak menghantam punggung.

"Dess!" Kun Houw mencelat. Dia terguling-guling membentur tembok, dan ketika Mu Ba kembali menyerangnya dengan tawa menyeramkan. Kun Houw tak dapat menghindar lagi dan menjadi bulan-bulanan raksasa ini. Dan ketika So-beng ikut pula melancarkan serangannya dan pukulan Tok-hwe ji menyentuh lehernya Kun Houw mengeluh dan tidak dapat membalas!

Tapi Kun Houw mampu melompat bangun. Dia sekarang diserang dua orang lawannya itu, yang melancarkan pukulan-pukulan berat. Dan ketika Kun Houw mulai limbung dan beberapa pukulan mendarat di tubuhnya hingga pemuda ini melontakkan darah segar maka Kun Houw mengigit bibir dan marah memandang lawannya, terutama Iblis Penagih Jiwa itu yang melukainya dengan pukulan Tok-hwe-ji, pukulan yang baru kali itu didengar namanya tapi hebat bukan main.

Membuat tubuh semakin dibakar dan benar-benar siap "menindih". Tapi Kun Houw yang tak kenal menyerah ini betul-betul hebat. Dia tetap mencekal Pedang Medali Naga erat-erat, meskipun jatuh bangun dan terlempar bergulingan oleh pukulan-pukulan lawan. Dan Mu Ba yang tentu saja geram sekali oleh kekerasan hati pemuda ini tiba-tiba melancarkan pukulannya ke pergelangan tangan pemuda itu.

"Bocah, lepaskan pedangnu!"

Kun Houw menggigit bibir. Dia terang tak mau melepaskan pedangnya. Pedang yang saat itu masih mampu melindungi dirinya. Tapi ketika pukulan Mu Ba menghantam tangannya dan Kun Houw mendesis dan terpelanting roboh tiba-tiba pedang tak dapat dikuasai lagi dan mencelat dari pegangannya.

"Trang!" Kun Houw terbelalak. Dia melihat pedangnya jatuh di lantai, pedang yang sudah di sambut ketawa bergelak oleh Mu Ba dan yang sudah pula ditubruk raksasa itu untuk merampasnya.

Tapi sebuah bayangan yang luar biasa cepat dari luar kuil mendadak berkelebat mendahului raksasa ini menyambar pedang itu. "Mu Ba, pedang ini bukan milikmu!”

Mu Ba terkejut. Dia melihat seorang pemuda tinggi besar muncul di situ, berkelebat dan lari keluar menyambar pedang. Pemuda yang tampan dan gagah. Pemuda yang tak dikenal! Dan Mu Ba yang tentu saja kaget bukan main langsung saja membentak, "Bocah, kau siapa?"

Tapi pemuda tinggi besar itu lenyap. Dia lari menghilang, ginkangnya hebat sekali. Namun Mu Ba yang mengejar pemuda ini melihat lawannya itu melompati tembok rumah dan melayang turun di sebelah sana. Tapi ketika Mu Ba mengejar sampai di sini mendadak Iawannya itu membalik dan kembali ke dalam kuil, memutar lewat belakang!

"Setan, kau siapa, bocah?"

Pemuda di depan tertawa mengejek. Dia mengejutkan Kun Houw dan orang-orang lain yang ada di dalam kuil, kaget dan heran kenapa pemuda itu kembali. Tapi Kun Houw yang terbelalak memandang pemuda ini tiba-tiba terkejut bukan main ketika pemuda itu melempar pedang kepadanya.

"Saudara Kun Houw, terimalah Pedang Medali Naga memang warisan gurumu!" dan, sementara Kun Houw menjublak bengong tiba-tiba pemuda tinggi besar yang gagah itu berbisik padanya, mengerahkan ilmunya mengirim suara dari jauh, "Saudara Kun Houw, kau larilah ke selatan. Masuk di sebuah gua di dalam hutan. Kau selamatkan dirimu, kau terluka. Aku hendak mengacau perhatian mereka...!"

Dan sementara Kun Houw tertegun menerima pedangnya maka pemuda tak dikenal itu menyerang Ceng Liong dan menyambar Kui Hoa yang masih pingsan. "Ceng Liong, kau manusia busuk. Perbuatanmu sungguh tak tahu malu!"

Ceng Liong terkejut. Dia sendiri sedang tercengang oleh kejadian cepat di ruangan ini, kaget melihat pemuda gagah itu datang-datang merampas pedang mendahului gurunya, sementara So-beng juga tertegun melihat pemuda tak dikenal itu. Tapi Ceng Liong yang terbelalak melihat lawan menyerang dirinya tiba-tiba membentak dan menangkis.

"Siluman hina, kau siapa?" Ceng Liong menggerakkan lengan. Dia sudah menangkis pukulan itu, tapi ketika dua lengan bertemu dan Ceng Liong terdorong tenaga yang luar biasa dahsyatnya mendadak pemuda ini menjerit dan terpelanting roboh.

"Hei... blukk!" Ceng Liong terguling-guling. Dia kaget dan memaki kalang-kabut. Tapi ketika melompat bangun dan melotot pada lawannya itu ternyata pemuda tinggi besar yang gagah ini telah menyambar Kui Hoa dan melayang keluar.

"Saudara Kun Houw, kau larilah. Cepat..!"

Semua orang menjadi kaget. Kui Lin sudah membentak dan mengejar bayangan pemuda itu. Sementara So-beng yang bingung memandang Pedang Medali Naga di tangan Kun Houw dan tampaknya siap menyerang pemuda ini tiba-tiba berteriak pada Mu Ba yang baru masuk ke ruangan itu,

"Mu Ba, kau bereskan murid Bu-tiong-kiam ini. Aku akan menyelamatkan keponakanku!" dan So-beng yang lebih mendahulukan nasib Kui Hoa dari pada pedang ditangan Kun Houw mendadak melesat dan mengejar pemuda tinggi besar itu, menyusul Kui Lin yang berteriak-tenak di depan. Dan Mu Ba yang tentu saja terbelalak ke depan sekonyong-konyong tertawa bergelak.

"Baik, aku akan membereskan lawanku ini, So-beng. Dia sudah terluka dan mungkin sebentar lagi akan mampus!" dan Mu Ba yang sudah menyerang Kun Houw yang masih tertegun di tempatnya tiba-tiba menghantamkan pukulannya dengan dahsyat.

"Dess!" Kun Houw menangkis. Dia bermaksud tak mau mundur. Tapi ketika tubuhnya mencelat dan tenaganya lemah tak mampu menandingi kekuatan raksasa tinggi besar itu tiba-tiba Kun Houw sadar bahwa dia harus menyelamatkan dirinya dulu. Apalagi ketika Ceng Liong juga ikut menyerang, sejenak bingung mau mengejar pemuda tinggi besar yang gagah itu atau membantu gurunya.

Tapi Ceng Liong yang tahu Kun Houw lebih berbahaya dari pada pemuda ke dua karena murid Bu tong-kiam ini mengetahui rahasianya bahwa dia akan memperkosa Kui Hoa dan kelak tentu menjadi ancaman baginya kalau membuka rahasia maka Ceng Liong sudah memusatkan perhatiannya ke sini, menyerang dan membantu gurunya untuk membunuh Kun Houw. Yang berarti juga menghilangkan jejak!

Tapi Kun Houw yang rupanya maklum akan keadaan dirinya yang berbahaya itu ternyata melompat kabur! "Mu Ba, lain kali saja kita bertemu...!"

Kun Houw mengerahkan ginkangnya. Dia menjejakkan kaki keluar, hampir mengaduh karena dadanya tiba-tiba kembali sakit. Enggan tapi terpaksa melarikan diri dengan hati berat. Karena perbuatan itu sendiri sebenarnya bertentangan dengan kegagahan wataknya dan dianggap pengecut! Tapi Kun Houw yang tertarik hatinya untuk mengenal siapa pemuda tinggi besar yang menolongnya itu dan tak mau mati sebelum berkenalan tiba-tiba menguatkan dirinya dan menuruti nasehat itu, berlari cepat menuju ke selatan sementara Mu Ba dan Ceng Liong mengejarnya di belakang, berteriak-teriak, bahkan memaki.

Dan Ceng Liong yang rupanya pandai memanaskan orang tiba-tiba mulai menghina, "Kun Houw, mana kegagahan yang selama ini kau punyai? Tidakkah kau dapat menjunjung tinggi nama besar gurumu? Atau kau sudah demikian ketakutan bertemu musuh tangguh?"

Kun Houw diam. Dia tak menggubris, meneruskan larinya memasuki hutan di depan, yang kini sudah dekat dan siap menyelamatkan dirinya dari ancaman dua orang itu. Tapi Ceng Liong yang tentu saja tak membiarkan Kun Houw melarikan diri dan hilang di hutan itu sudah kembali menghina dengan suara keras, kini mulai menyebut-nyebut nama Bu-tiong-kiam Kun Seng.

"Kun Houw, mana warisan kegagahan dari mendiang gurumu itu? Ataukah Bu-tiong-kiam Kun Seng juga seorang pengecut yang kini mengajarkan muridnya bersikap pengecut pula kalau menghadapi bahaya? Ah, kalau begitu tak perlu kau memakai nama jago pedang itu, Kun Houw. Sebaiknya buang saja nama itu dan biar kau tetap sebagai Siauw-cut!"

Kun Houw mulai tak tahan. Dia coba menulikan telinga, sekarang benar-benar sudah sampai di mulut hutan yang gelap. Tapi makian Ceng Liong yang kian lama kian kurang ajar dan menyebut-nyebut gurunya sebagai pengecut dan tak pantas pula untuk hidup di alam baka segala mendadak membuat Kun Houw menghentikan larinya dan memutar tubuh, menggigil penuh kemarahan, membentak,

"Ceng Liong, kau manusia keji. Tutup mulutmu...!" dan Kun Houw yang langsung menggerakkan pedang membabat pemuda ini disambut teriakan Ceng Liong yang terkejut tapi girang. Terkejut karena serangan Kun Houw berkelebat menyambar lehernya tapi girang bahwa pancingannya memanaskan pemuda itu berhasil. Kun Houw berhenti!

"Sing-brett!"

Ceng Liong cepat membanting tubuhnya. Dia melihat Kun Houw masih hebat, berbahaya dengan pedangnya yang ganas itu. Tapi Ceng Liong yang sudah tertawa dan melompat mundur diganti gurunya yang saat itu sudah tiba pula di situ dan tertawa bergelak.

"Kun Houw, kau harus menyerahkan Pedang Medali Naga. Menyerahlah!"

Kun Houw melengking. Dia dihantam raksasa tinggi besar ini, yang menyuruh muridnya mundur karena Ceng Liong dikhawatirkan tak mampu menghadapi Kun Houw, meskipun Kun Houw terluka. Dan Mu Ba yang sudah menyerang Kun Houw dengan dorongan Sin-thauw-liong-kangnya terbahak gembira ketika melihat Kun Houw terdorong oleh hawa pukulannya.

"Plak!" Kun Houw terguling-guling. Dia kalah kuat oleh pukulan lawan, terlempar dan mengeluh karena dadanya semakin sakit, juga sesak. Tapi Kun Houw yang mencoba menahan diri dengan putaran pedangnya sudah menerjang iblis tinggi besar ini. Untuk beberapa saat Mu Ba didesak, berlompatan mundur karena takut disentuh pedang. Namun setelah Kun Houw menggigit bibir dan berkali-kali pemuda ini mendekap dadanya yang sakit dan nyeri mendadak Mu Ba ber teriak.

"Bocah, menyerahlah. Serahkan Pedang Medali Naga... wuut!"

Pukulan Mu Ba menyambar. Kun Houw mencoba mengelak, tapi karena tubuhnya sudah kian memburuk dan kakinya menggigil tak karuan akhirnya Kun Houw terkena pukulan dahsyat ini dan roboh terpelanting.

"Huah!" Kun Houw muntah darah. Dia terguling-guling, keadaan dirinya semakin membahayakan. Tapi Pedang Medali Naga yang dicekal erat di tangan pemuda ini ternyata sama sekali tak pernah dilepaskan, meskipun jari-jarinya sudah gemetar! Dan Kun Huow yang mencoba bangkit untuk melawan kembali tiba-tiba mengeluh ketika ambruk tak dapat berdiri!

"Ha-ha, kau sudah tak berdaya, bocah? Kau siap menerima kematian?"

Kun Houw membelalakkan mata. Dia melihat raksasa tinggi besar itu berkelebat maju, lima jarinya mencengkeram kepala. Siap mencengkeram remuk. Dan Kun Houw yang maklum kematian sudah membayang di depan matanya tiba-tiba kecewa sekali akan kegagalan usahanya, mendelik pada raksasa tinggi besar itu untuk menerima kematian secara gagah. Sama sekali tak takut. Tapi persis pukulan menyambar ke depan mendadak seorang kakek bongkok muncul menangkis serangan ini. Kedatangannya mengejutkan.

"Mu Ba, nanti dulu. Nyawa bocah itu masih panjang... dukk!"

Dan Mu Ba yang tergetar oleh tangkisan ini tiba-tiba berseru kaget dan melotot marah, melihat munculnya seorang kakek yang terkekeh kepadanya, melindungi Kun Houw yang saat itu mengeluh dan terguling pingsan karena hawa pukulan Mu Ba masih menyerempet lehernya, membuat pemuda ini tak tahu lagi akan apa yang terjadi. Dan Mu Ba yang melotot melihat pendatang baru itu tiba-tiba terkejut bukan main.

"Naga Bongkok...!"

Kakek itu terkekeh. "Kau masih mengenalku, Mu Ba?"

Raksasa ini menggereng. Dia tertegun sejenak, tapi berteriak keras tiba-tiba Mu Ba membalikkan tubuhnya dan melompat pergi. "Naga Bongkok, kau manusia jahanam. Biarlah kuserahkan pemuda itu kepadamu!" dan Mu Ba yang kabur meninggalkan tempat itu berteriak pada muridnya, "Liong-ji, mari pergi. Musuh terlalu kuat...!"

Ceng Liong terkejut. Dia heran dan kaget melibat gurunya kabur, tapi penasaran dan ingin coba-coba Ceng Liong tiba-tiba melancarkan pukulan Tok-hiat jiunya kepunggung kakek ini. Tentu saja secara diam-diam. Tapi ketika kakek itu tertawa dan mengibas ke belakang mendadak tubuh Ceng Liong terangkat dan terlempar sepuluh tombak.

"Bocah, ikuti gurumu. Aku tak ada waktu untuk main-main denganmu... bress!"

Dan Ceng Liong yang menjerit oleh kenyataan ini tiba-tiba kaget dan terbanting keras. Dia sekarang percaya kenapa gurunya nomor satu itu pergi, kiranya kakek yang bernama Naga Bongkok ini memang hebat! Maka Ceng Liong yang melompat bangun dan pucat mukanya segera menjejakkan kaki melarikan diri, berkaok kaok memaki kakek itu.

"Tua bangka, aku mengalah hari ini. Tapi awas kalau kita bertemu kembali!"

Naga Bongkok tersenyum. Dia geli mendengar ancaman itu. Tapi melihat Kun Houw menggeletak pingsan kakek ini mengerutkan alisnya. "Bocah yang hebat. Sungguh patut menjadi murid Bu-tiong-kiam Kun Seng!" dan Naga Bongkok yang sudah menyambar Kun Houw lalu berkelebat pergi setelah mendecah melihat keadaan Kun Houw yang gawat, menggerakkan kaki dan lenyap meninggalkan tempat itu memasuki hutan.

* * * * * * * *

"Bagaimana, suhu? Kau dapat menolong pemuda itu?"

Naga Bongkok menghela napas. Pertanyaan yang diajukan oleh sebuah bayangan tinggi besar yang baru datang ini disambut muka murung oleh kakek ini, yang memandang bayangan itu yang bukan lain adalah pemuda tinggi besar yang menolong Kun Houw di kuil rusak. Dan kakek bongkok yang bangkit berdiri ini menggelengkan kepalanya.

"Keadaannya berat, Hong-ji. Pemuda ini mengalami pukulan beracun yang tak kupunyai obat penawarnya. Kau berhasil membawa keponakan Iblis Penagih Jiwa itu?"

"Ya. kuletakkan di luar, suhu. Tapi Iblis Penagih Jiwa itu hampir saja mengetahui jejakku. Aku menyembunyikannya di sudut gua!"

"Hm, ambil ke mari, Hong-ji. Kita paksa gadis itu untuk menolong murid Bu-tiong-kiam ini."

Pemuda tinggi besar itu mengangguk. Dia berkelebat keluar, kembali lagi dengan Kui Hoa di atas pundaknya, gadis yang sudah sadar tapi ditotok urat gagunya. Dan pemuda tinggi besar ang melempar Kui Hoa di atas lantai dengan gemas berkata pada gurunya, "Ini keponakan blis bertangan keji itu, suhu. Apa yang hendak kita lakukan kepadanya?"

Naga Bongkok memandang. "Bebaskan dia, Hong-ji. Tak perlu menotoknya lagi setelah kita ada di sini."

"Baik." dan pemuda tinggi besar yang su ah membebaskan totokan Kui Hoa langsung lembuat gadis ini melompat bangun dan berterak memaki pemuda itu.

"Setan busuk, apa yang kau lakukan kepada diriku?" Kui Hoa menyerang, menggerakkan lengannya menampar pemuda ini.

Dan pemuda itu yang tentu saja terbelalak marah langsung menangkis. "Siluman betina, kenapa kau menyerangku?"

Dan begitu dua lengan bertemu maka Kui Hoa berteriak kaget ketika lengannya terpental dan tubuhnya terbanting roboh! Tapi, ketika Kui Hoa hendak menyerang kembali maka kakek bongkok yang ada di sebelahnya mengebutkan lengan.

"Nona, tunggu dulu. Kami bukan musuh!"

Kui Hoa mendelikkan matanya. "Kalau bukan musuh kenapa kalian membawaku ke sini, bongkok jahanam? Siapa kalian?"

Kakek itu tertawa. "Aku Naga Bongkok, nona. Sedang dia ini adalah muridku, Sin Hong."

"Dan kenapa muridmu membawaku ke mari? Kenapa dia menculikku dengan cara hina?"

"Hm, cara hina bagaimana, nona? Aku membawamu ke mari terang-terangan diketahui adik dan pamanmu. Dengan cara jantan! Siapa bilang hina?" pemuda tinggi besar yang bukan lain adalah Sin Hong itu membentak, marah dan melotot pada Kui Hoa yang dianggap kelewatan.

Tapi Kui Hoa yang juga marah karena mengira pemuda ini yang menculiknya dari kamar sudah pula membentak dengan mencibirkan mulut. "Cih, cara jantan bagaimana? Bukankah kau melepas penyirepan di dalam kamarku? Apakah cara licik begini bisa disebut jantan?"

Sin Hong terbelalak. "Penyirepan? Siapa yang menyirepmu?"

"Tentu kau! Siapa lagi? Atau kau mau mungkir? Ah, dasar penjahat...!" dan Kui Hoa yang berteriak marah mendadak kembali menerjang lawannya dengan mata berapi.

Tentu saja Sin Hong tersinggung, dan mengira gadis ini melepas omongan kurang ajar diapun mengelak ke kiri dan menangkis. "Plak!" Kui Hoa kembali terhuyung, kaget bahwa untuk kedua kalinya lagi-lagi dia terdorong. Tapi belum dia menyerang kembali tiba-tiba Naga Bongkok berseru melerai.

"Nona, tahan. Sin Hong, tahan! Ini kesalahpahaman belaka!" dan kakek bongkok yang kembali mengebutkan dua lengan bajunya itu mendadak membuat dua orang muda-mudi itu terdorong mundur. Lalu tak memberi kesempatan Kui Hoa menyerang Sin Hong Naga Bongkok sudah bertanya, "Sekarang ceritakan kepada kami mengapa kau ada di kuil rusak itu, nona. Dan kalau kau mau menceritakan dengan jujur tentu kau akan melihat bahwa kami bukan musuhi"

Kui Hoa terbelalak."Di kuil rusak?”

"Ya, kau di kuil rusak, nona. Muridku membawamu dari sana. Di sana banyak orang, di antaranya adalah Mu Ba dan Iblis Penagih Jiwa yang katanya masih pamanmu itu!"

"Ooh, jadi...."

"Kau pingsan di sana, nona. Jadi kau tak tahu apa-apa ketika kau di sana. Sebaiknya ceritakan saja bagaimana asal mulanya."

Kui Hoa mulai tertegun. "Aku berada di kamar ketika kejadian ini mulai, Naga Bongkok. Dan aku terkejut ketika melihat muridmu ini masuk!"

"Hm, bagaimana kau bisa menuduh aku?” Sin Hong mendongkol. "Kenapa tak kau buka matamu baik-baik?"

"Karena kau laki-laki itu, pemuda setan. Kaulah laki-laki tinggi besar yang menyerangku di kamar itu!"

"Keparat, kau masih menuduhku juga?"

Naga Bongkok buru-buru mengulapkan lengan. "Nona, jangan menuduh sembarangan. Muridku tak ada dikamarmu seperti yang kau tuduhkan. Kau keliru melihat orang!" lalu menegur muridnya kakek ini berkata, "Sin Hong, tahan dulu kemarahanmu. Kita harus melihat persoalan dengan jelas." kemudian memandang Kui Hoa lagi kakek ini memberikan tanda, "Nah, teruskan ceritamu, nona. Tapi ketahuilah, bukan muridku yang masuk ke kamarmu meskipun sama-sama tinggi besar. Tentu orang lain!"

Kui Hoa ragu. "Kalau begitu siapa? Bukankah...."

"Hm, mungkin Sin-thouw-liong Mu Ba, nona. Bukankah raksasa itu juga tinggi besar? Tapi sebaiknya kau ceritakan saja lanjutan ceritamu." maka Kui Hoa yang mulai terbelalak melanjutkan ceritanya.

"Aku dan adikku saat itu diserang orang. Kami berada di dalam kamar. Dan karena sebelumnya kami sudah diserang sirep maka kami hanya mengetahui bahwa orang itu adalah laki-laki tinggi besar. Persis seperti muridmu ini!"

"Hm, tapi bukan muridku yang masuk, nona. Sin Hong tak kenal-mengenal denganmu. Untuk apa mengganggumu?"

"Jadi siapa kalau begitu?"

"Mungkin Mu Ba."

"Tapi Mu Ba adalah tamu kehormatan ayahku, Naga Bongkok. Untuk apa menggangguku pula di tengah malam?" Kui Hoa menangkis, masih kurang percaya dan memandang Sin Hong penuh selidik.

Dan Sin Hong yang tentu saja marah oleh pandangan ini tiba-tiba membentak dengan gusar. "Siluman betina, kami bukan orang-orang pengecut yang akan mengingkari perbuatan sendiri kalau benar kami lakukan. Untuk apa menolak tuduhan kalau itu benar kami lakukan? Aku Sin Hong bukan manusia hina. Aku cukup gagah untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku sendiri."

"Huh, siapa percaya omonganmu? Siapa bisa menjamin?"

"Aku yang menjamin, nona. Kau boleh tanya ayahmu kalau kau belum pernah mendengar nama Naga Bongkok!" Naga Bongkok tiba-tiba berseru, menekan pundak Sin Hong yang rupanya siap menampar gadis ini.

Tapi Kui Hoa yang belum mengenal kakek itu mendengus. "Aku tak pernah mendengar namamu, kakek bongkok. Karena itu tak perlu pula bertanya pada ayah. Dan lagi, sebagai guru tentu saja kau membela muridmu!"

“Hm, kalau begitu nama Pendekar Gurun Neraka boleh menjadi jaminan pemuda ini, nona. Karena muridku itu adalah putera Pendekar Gurun Neraka!"

Kui Hoa terkejut. Sin Hong juga terkejut. Dan memprotes gurunya pemuda itu berseru, "Tak perlu nama ayah kau sebut-sebut untuk membuat gadis ini percaya, suhu. Dia percaya Itu baik tapi tidak percaya juga tidak apa. Aku tak perlu menebeng nama orang lain untuk setiap perbuatanku!"

Kui Hoa terbelalak, merasa kegagahan dari pemuda tinggi besar ini. Tapi mengerutkan kening dia masih mencoba memperoleh keyakinan, "Jadi kau benar putera Pendekar Gurun Neraka?"

"Hm, aku tak perlu mengaku-aku, siluman betina. Aku memang Yap Sin Hong, putera ayahku itu!"

Dan Kui Hoa yang tentu saja tertegun seketika bersinar matanya dan tampak kaget. Tapi Naga Bongkok berseru, "Bigaimana nona? Kau percaya kegagahan muridku?"

Kui Hoa membalikkan tubuh. “Percaya atau tidak percaya tak perlu itu kusebutkan. Naga Bongkok. Karena betapapun juga Pendekar Gurun Neraka adalah musuh ayahku Jadi. puteranya inipun juga adalah musuhku!" dan Kui Hoa yang melompat mundur dengan mata berapi tiba-tiba memasang kuda-kuda. "Sin Hong, majulah. Aku ingin bertanding denganmu!"

Sin Hong terkejut. Tapi Naga Bongkok yang terkekeh tenang mengangkat lengannva. "Nona, kami membawamu ke sini bukan untuk bertempur. Tapi semata-mata untuk menolong pemuda ini. Tidak kau lihatkah dia terkena pukulan keji?' Naga Bongkok menuding Kun Houw, yang saat itu baru dilihat Kui Hoa yang menjadi heran.

Dan Kui Hoa yang tentu saja mengerutkan kening bertanya dingin, "Apa yang kau maksudkan, Naga Bongkok? Siapa pemuda itu? Dan apa hubungannya denganku?"

Sin Hong kali ini tampil bicara, "Dia yang mula-mula menolongmu, nona. Kau saat itu akan diperkosa Ceng Liong!"

"Apa?” Kui Hoa kaget. "Ceng.... Ceng Liong?"

"Ya, begitu kudengar sepintas lalu, nona. Tapi bagaimana duduk perkara sebenarnya aku kurang mengerti!"

Kui Hoa tiba-tiba pucat. Kakinya menggigil, karena mendengar disebutnya nama Ceng Liong tiba-tiba darahnya tersirap. Mulai mengerti apa yang kiranya terjadi. Mulai dapat menyimpul-nyimpulkan apa yang sebenarnya dia alami. Dan mulai percaya pula bahwa Mu Ba ada hubungannya dengan semuanya ini! Dan kaget serta tertegun bahwa Ceng Liong ingin memperkosanya dan dia ditolong oleh pemuda yang menggeletak pingsan itu tiba-tiba Kui Hoa berbisik lirih, "Siapa dia?"

"Kun Houw."

"Murid siapa?"

"Hm, perlukah itu kau ketahui, nona? Apakah hendak memantapkan pula dia musuh atau bukan dan menentukan sikap seperti terhadap muridku ini?" Naga Bongkok tiba-tiba menukas, membuat Kui Hoa merah karena jengah, malu. Dan Naga Bongkok yang tertawa pendek tiba-tiba menuding Kun Houw, bicara sungguh-sungguh, "Kau lihat, dia terluka gara-gara ingin menyelamatkanmu, nona. Dan karena aku tak mempunyai obat penawarnya maka kaulah yang kuharapkan untuk menyembuhkan pemuda ini. Aku telah menahan aliran racun dengan sinkangku, tapi karena obat penawar masih diperlukan maka kuserahkan dia padamu. Sekarang terserah, kau mau menolongnya atau tidak!"

Kui Hoa tertegun. "Dia terluka karena apa?"

"Pukulan pamanmu, Tok-hwe ji!”

"Apa? Tok-hwe ji?" Kui Hoa terkejut.

"Ya, kau lihat, nona."

Dan ketika Kui Hoa meloncat menghampiri liba tiba gadis ini tersentak dan kaget di tempat. "Benar. Tok-hwe-ji...!"

"Sekarang bagaimana, nona?" Naga Bongkok tersenyum aneh. "Kau dapat menolongnya. bukan?"

"Ini... ini... Kui Hoa tampak gugup. "Aku tak mempunyai obat penawarnva. Naga Bongkok Yang menyimpan obat penawarnya hanya ayah atau pamanku itu!"

"Nah, itulah sebabnya kami minta tolong padamu, nona. Karena tahu bahwa obat penawar ada di tangan pemilik Tok-hwe ji maka kuminta kau menyelamatkan pemuda ini."

Kui Hoa pucat mukanya. Ia bingung, tapi membelalakkan mata tiba-tiba ia bertanya. "Nanti dulu, bagaimana pamanku itu bisa menyerang pemuda ini?"

Sin Hong kali ini menjawab, "Karena dia dikira yang akan memperkosamu, nona. Mu Ba dan muridnya memfitnah Kun Houw hingga membuat pamanmu itu turun tangan!"

Dan Kui Hoa yang terhenyak di tempatnva seketika tertegun. Dia percaya omongan ini. Percaya bahwa Sin Hong bukanlah pembohong. Tapi Naga Bongkok yang sudah menyambar lengan muridnya mendadak melompat pergi.

"Nona, semuanya sudah kami ceritakan padamu. Sekarang kami serahkan pemuda itu untuk kau selamatkan. Ingat, kehormatanmu telah ditebus mahal oleh pemuda itu. Selamat tinggal..!" dan Naga Bongkok yang telah berkelebat lenyap tahu-tahu tak tampak bayangannya lagi, pergi bersama Sin Hong.

Dan Kui Hoa yang sejenak terkejut sekonyong-konyong mengejar. "Naga Bongkok, tunggu dulu..."

Kakek itu berKelebat datang. "Apa yang ingin kau tanyakan, nona?"

Kui Hoa tertegun. Dia terkesiap melihat kehebatan ginkang kakek ini, yang dapat pergi dan datang bagai iblis. Tapi Kui Hoa yang menggigit bibirnya sudah bertanya tegas. "Kau tidak menipuku, bukan? Artinya apa yang kau omongkan ini dapat kau pertanggungjawabkan.”

"Ha-ha aku tak pernah menipu orang lain, nona. Tapi kalau kau tidak percaya biarlah si tua bangKa ini bersumpah! Perlukah sekarang aku bersumpah?"

Kui Hoa mengerutkan kening. Dia mantap sekarang, maka menggelengkan kepala ia menjawab, "Baiklah, aku percaya padamu, Naga Bongkok. Tapi sekali kau tak bicara benar maka aku akan mencarimu untuk menuntut pertanggungjawabanmu!"

"Boleh, kau boleh cari aku di mana saja, nona. Dan sekali aku menipumu biarlah kepalaku ini kuserahkan kepadamu. Ha-ha..." dan Naga Bongkok yang memutar tubuhnya tiba-tiba berkelebat lenyap dan tak kembali lagi.

Kui Hoa termangu, terbelalak ke depan tapi akhirnya melompat masuk. Dan persis ia berjongkok di dekat Kun Houw sekonyong-konyong adiknya muncul!

"Enci, kau tidak apa-apa?"

Kui Hoa kaget. Dia tersentak dan melompat bangun, tapi melihat Kui Lin muncul seorang diri dan sudah menubruk dirinya tiba-tiba Kui Hoa girang dan berteriak tertahan. "Lin-moi, kau tahu aku ada di sini?"

Kui Lin sudah terisak-isak. Ia gembira dan terharu bukan main bahwa encinya ada di situ, selamat, saling berpelukan. Tapi melihat seorang pemuda menggeletak di bawah encinya tiba-tiba Kui Lin beringas, melepaskan diri. "Keparat, dia yang menculikmu itu. enci? Ah, biar kubunuh dia....!" tapi ketika Kui Lin melihat bahwa itu bukanlah Sin Hong melainkan Kun Houw tiba-tiba gadis ini tertegun. "Eh, dia...?"

Kui Hoa heran, memandang adiknya. "Kau kenal dia, Lin-moi?"

"Ya, dia yang bertanding melawan Mu Ba, enci. Tapi pemuda ini jahat, dia hendak memperkosamu!" dan Kui Lin yang kembali melepaskan diri dari pelukkan encinya tiba-tiba berkilat matanya dan berapi-api memandang Kun Houw.

Tapi Kui Hoa melompat maju. "Lin-moi, tahan. Dia yang justeru menolongku!"

Kui Lin terkejut. "Menolongmu bagaimana, enci? Pemuda ini yang merobohkan kita di dalam kamar. Dia manusia Keparat itu!"

"Tidak, aku telah tahu persoalannya, Lin-moi. Yang menyerang kita bukan pemuda ini melainkan Mu Ba. Raksasa itu yang menyirep kita dan menotok secara curang!" dan sementara adiknya membelalakkan mata maka Kui Hoa buru-buru memberi tahu, "Lin moi, kau tahu bahwa laki-laki yang menyerang kita adalah bayangan tinggi besar, bukan? Dan pemuda ini tidak tinggi besar, Lin-moi. Lihat saja bentuk tubuhnya yang tidak sama dengan bentuk tubuh bayangan yang menyerang kita itu. Aku sekarang tahu bahwa yang menculik kita adalah Sin-thouw-liong Mu Ba!"

Kui Lin tentu saja kaget. "Bagaimana kau tahu, enci?"

"Dari si Naga Bongkok."

"Naga Bongkok? Siapa itu?"

"Dia kakek yang juga baru kukenal, Lin-moi. Tapi dua orang ini meyakinkan hatiku bahwa mereka orang-orang baik!"

"Dua orang? Bagaimana maksudmu, enci?" Kui Lin bingung.

"Ya, maksudku Naga Bongkok itu datang bersama muridnya, Lin-moi. Pemuda tinggi besar bernama Sin Hong itu!"

"Ooh...!" Kui Lin semakin terbelalak. "Jadi kau tahu tentang pemuda tinggi besar itu, enci? Di mana dia? Dialah yang kukejar. Dia yang melarikanmu dari kuil rusak itu!"

Kui Lin jelalatan, memandang kiri kanan dengan marah. Tapi Kui Hoa yang sekarang percaya sama Sin Hong rupanya betul-betul yang membawanya dari kuil rusak dan bukannya dan dalam kamar seperti apa yang baru didengarnya dan adiknya ini tiba-tiba membuat Kui Hoa semakin percaya bahwa Mu Ba yang memang menjadi biang keladinya. Maka melihat adiknya memutar-mutar mata mencari pemuda tinggi besar itu Kui Hoa sudah menarik napas panjang dan mencekal lengan adiknya.

"Dia tak ada lagi di sini, Lin-moi. Sin Hong sudah pergi meninggalkan kita."

"Tapi bagaimana kau bisa tahu bahwa Mu Ba yang menyerang kita, enci? Dan apa makasudnya? Apakah Naga Bongkok justeru tidak menipumu?'"

"Hm, aku percaya kepada mereka, Lin-moi. Dan aku lebih percaya lagi setelah mengetahui siapa sebenarnya pemuda bernama Sin Hong itu."

"Siapa, enci?"

"Putera Pendekar Gurun Neraka!"

"Hah?" Kui Lin membelalakkan matanya lebar-lebar. "Putera Pendekar Gurun Neraka, enci? Jadi dia yang menolong temannya ini? Ah, pantas demikian lihai! Tapi kenapa menjadi murid Naga Bongkok? Siapa Naga Bongkok itu?"

"Entahlah, aku tak tahu, Lin-moi. Tapi melhat sikap dan gerak-gerik mereka aku percaya bahwa mereka bukan orang jahat!" dan Kui Hoa yang lalu menceritakan semua yang didengarnya dari Naga Bongkok tentang semua dugaannya bahwa Mu Ba yang berdiri di balik semua kejadian ini sudah membuat adiknya berseru ah-ah-oh oh dengan kaget. Terkejut di samping heran, tidak mengerti. Maka ketika encinya selesai bercerita dan Kui Lin mengepalkan tinju segera bertanyalah gadis ini dengan kening dikerutkan,

"Tapi kenapa Mu Ba menyerang kita, enci? Apa yang dikehendakinya?'

"Hm, tentu ada hubungannya dengan Ceng Liong itu Lin-moi. Bukankah menurut Sin Hong aku hendak digagahinya ketika Kun Houw datang? Tentu pemuda ini memergoki Ceng Liong ketika hendak mengganggu diriku. Dan karena Ceng Liong marah maka pemuda itu lalu diserang dan memutarbalikkan kenyataan, dibantu gurunya!"

"Tapi apa yang dikehendaki Ceng Liong, enci?”

"Tentu ada hubungannya denganmu, Lin-moi. Bukankah kau tahu pemuda itu tergila-gila padamu?"

"Maksudmu..."

"Benar, Ceng Liong hendak mendapatkan dirimu secara paksa, Lin-moi. Tapi karena kita dapat mengalahkannya maka pemuda itu minta bantuan gurunya. Lalu, karena kita saudara kembar dan kebetulan kita mengenakan pakaian yang sama karena saat itu kau mengganti bajumu dengan bajuku maka Mu Ba salah ambil. Demikianlah kesimpulanku!"

"Ah, keparat!" Kui Lin tiba-tiba berseru, marah sekali. "Kalau begitu kita cari pemuda itu, enci. Kita bunuh Ceng Liong dan melapor pada ayah!" Kui Lin menarik encinya, siap meloncat keluar.

Tapi Kui Hoa yang menggelengkan kepalanya justeru menekan pundak adiknya ini. "Tidak, jangan dulu, Lin-moi. Meskipun kuat dugaanku bahwa kejadian ini dibuat o'eh guru dan murid itu namun betapapun kita tak mempunvai bukti-bukti. Naga Bongkok dan muridnya telah pergi. Yang ada tinggal pemuda yang pingsan ini. Dan karena dia telah menolongku maka kita harus menolongnya, juga sekalian menanyainya betulkah dia memergoki Ceng Liong ketika hendak memperkosa diriku!"

Kui Lin tertegun, teringat pada Kun Houw yang menggeletak pingsan. Dan kagum bahwa pemuda ini mampu mengalahkan Mu Ba Kui Lin tiba-tiba mendecah, "Hm, benar. Pemuda ini hebat sekali, enci. Dia mampu menghadapi paman dan iblis tinggi besar itu."

"Kau melihat perkelahiannya?"

"Ya, saat itu aku datang bersama paman, enci. Dan dia hampir merobohkan Mu Ba dengan ilmu pedangnya yang luar biasa."

"Dan kau tahu siapa pemuda ini?"

"Katanya murid Bu-tiong-kiam, enci. Jago pedang yang tersohor kepandaiannya itu!"

"Ah...!" Kui Hoa tertegun. "Dia murid Bu-tong-kiam Kun Seng?"

"Begitu yang kudengar, enci. Dan paman serta Mu Ba tampaknya benci sekali pada pemuda ini!"

"Hm...!" Kui Hoa bersinar matanya. "Tapi dia telah menyelamatkan kehormatanku. Lin-moi. Dan sebagai wanita kau tahu apa artinya itu. Kehormatan yang jauh lebih berharga daripada nyawa!"

"Benar, lalu sekarang bagaimana baiknya, enci?"

"Kita harus menolongnva, Lin-moi. Aku hendak menyembuhkan pukulan Tok hwe-ji yang melukai dadanya. Setelah itu, kalau dia sadar maka kita menanyai dia untuk memantapkan bahwa apa yang kita duga adalah betul!"

"Tapi yang dapat menyembuhkan bekas pukulan ini hanya ayah atau paman, enci. Karena merekalah yang mempunyai obat penawarnya! Apakah mungkin mereka mau menolong?"

"Kau dapat membantuku, Lin-moi. Kita minta baik-baik atau kita curi saja obat penawar itu dari tangan mereka."

"Ah. tak mungkin, enci. Ayah dan paman tentu tahu. Bagaimana kalau mencelakakan diri kita sendiri? Kita tentu mendapat marah besar!"

"Kalau begitu aku akan mencari jalan lain, Lin-moi. Kita jalankan cara ke dua untuk menyembuhkan pemuda ini."

"Astaga, kau akan menyedot hawa beracun itu, enci? Kau..."

"Ya, kalau obat penawar tak dapat kita peroleh mau tidak mau aku harus menyedot hawa beracunnya. Lin-moi. Dan karena tak ada jalan lain dan pemuda ini sudah semakin gawat maka lukanya harus segera disembuhkan!" Kui Hoa tiba tiba menggigi bibir, suaranya serak dan tampak pucat, tiba-tiba basah kedua matanya dan berdiri menggigil.

Dan Kui Lin yang tertegun memandang sang kakak mendadak mengeluh dan menubiuk encinya. "Enci, kau akan menyedot dari mulut ke mulut? Kau akan melakukan pengobatan dengan cara itu?"

"Karena tak ada jalan lain, Lin-moi. Dan aku akan melakukan ini hitung-hitung sebagai pembalas budinya!" Kui Hoa memejamkan mata, semakin menggigil dan tiba tiba terisak, di peluk adiknya yang terbelalak memandang sang kakak.

Tapi Kui Lin yang mengeraskan dan tiba - tiba melepaskan encinya. "Tidak. Kalau begitu biar aku yang melakukannya, enci! Kau tak boleh mendapat malu kalau orang lain tahu!"

Kui Hoa terkejut. "Tapi ini urusanku sendiri, Lin-moi. Dan tak ada orang lain tahu selain kau!"

"Benar, tapi kalau pemuda ini tahu kau yang akan mendapat malu, enci. Karena itu biarkanlah aku saja yang melakukan ini!"

"Tidak, yang diselamatkan kehormatannya bukan kau, Lin-moi, tapi aku! Aku yang harus membalas budi pemuda ini dan bukannya kau!"

"Tapi kalau dia tahu kau akan mendapat malu, enci. Dan aku tak suka kalau pemuda itu akan menghinamu kelak!"

"Biarlah, hitung-hitung sebagai pembalas budinya, Lin-moi. Aku tak perduli dia akan menghinaku atau tidak. Sekarang keluarlah, kau jaga di luar sementara aku akan menolong pemuda ini!" Kui Hoa mendorong adiknya, menyuruh Kui Lin keluar dan bersiap-siap menyelamatkan Kun Houw.

Tapi Kui Lin yang rupanya keras kepalai menolak. Akibatnya kakak beradik ini bersitegang, tapi ketika Kui Hoa memaksa dan mulai marahi akhirnya Kui Lin terisak dan melompat keluar. "Baiklah, enci Kau selamatkanlah pemuda itu. Tapi, kalau kelak dia berani menghinamu, maka aku bersumpah untuk membunuhnya!"

Kui Hoa menggigil. Sebenarnya dia berat melakukan pengobatan cara ke dua, menyedot dari mulut ke mulut. Tapi maklum keadaan Kun Houw semakin gawat dan mereka tak ada waktu lagi untuk berpikir panjang maka gadis ini mengeraskan hatinya. Pukulan Tok-hwe ji memang ganas. Racun yang berupa hawa dari pukulan ini akan mengeram 24 jam penuh. Di mana bila korban yang bersangkutan tidak segera ditolong maka perlahan-lahan tubuhnya akan menggelembung dan akhirnya meledak setelah tubuh itu mendidih. Persis dibakar.

Dan Kui Hoa yang teringat bahwa kehormatannya telah ditolong pemuda ini mau tak mau harus menyelamatkan Kun Houw. Maka begitu adiknya, menjaga di luar gua dan Kui Hoa berlutut di samping Kun Houw gadis ini sudah menenangkan guncangan hatinya dan bersiap-siap.

Tapi betapapun Kui Hoa gemetar. Dia selamanya belum-pernah bersentuhan dengan lelaki. Maka melihat Kun Houw menggeletak pingsan dan dia harus menyedot lewat mulut ke mulut Kui Hoa tiba-tiba memejamkan mata. Dia merasa "ngeri". Tapi ingat bahwa pemuda ini telah menyelamatkan kehormatannya dari tangan-tangan kotor Ceng Liong mendadak Kui Hoa mengeraskan hatinya dan menunduk.

Lalu, begitu dia memusatkan perhatian dan menarik napas dalam-dalam tiba-tiba gadis im telah menyedot mulut Kun Houw dengan jalan menempelkan mulutnya sendiri, menyedot dan mengerahkan khikangnya untuk "menarik" semua hawa beracun. Dan begitu Kui Hoa memusatkan segala perhatiannya pada cara pengobatan yang aneh ini tiba-tiba gadis itu sudah berjuang keras dan tidak tahu lagi akan apa-apa yang ada di sekelilingnya!

Kui Hoa sudah terus menyedot dan menyedot. Berkali-kali menghisap dan membuang keluar hawa beracun yang mengeram di dada Kun Houw. Dan karena Kui Hoa sendiri telah memiliki ilmu kebal Hoat-lek-im-ciong-ko yang hebat itu maka gsdis ini sama sekali tak takut akan racun dan Tok-hwe-ji. Dan itulah sebabnya mengapa Kui Hoa atau Kui Lin berani menyembuhkan korban Toh hwe-ji dengan jalan menyedot. Karena mereka yang sudah memiliki kekebalan segala macam racun akibat perlindungan Hoat lek-kim-ciong-ko memang membuat puteri-puteri Ok-cangkun itu kebal terhadap segala macam racun!

Maka, ketika hampir satu jam penuh Kui Hoa mengeluarkan racun dari dalam tubuh Kun Houw tiba-tiba muka Kun Houw yang tadinya kehjauan sudah berobah merah. Dan, ketika warna merah ini berobah putih untuk akhirnya kembali pada warna yang merah sehat tiba-tiba Kun Houw mulai mengeluh!

Tubuh pemuda ini tidak lagi terbakar. Dan ketika Kui Hoa berjuang keras selama hampir satu jam lagi maka Kun Houw sudah sadar dan mulai bergerak. Namun kesadaran Kun Houw belum sepenuhnya terisi. Kun Houw masih agak pening, kesadarannya setengah melayang-layang. Tapi ketika kian lama kesadarannya kian membaik dan Kun Houw mulai ingat akan apa yang terjadi maka Kun Houw membuka mata. Dan Kun Houw tertegun. Dia mengira dia berada di alam mimpi. Maklum, Kun Houw baru saja sadar.

Maka melihat seraut wajah jelita sedang menyedot mulutnya dan tampak demikian dekat di atas mukanya sendiri dengan kedua mata terpejam tiba-tiba Kun Houw terbelalak. Apa ini? Di mana dia? Di kahyangankah? Kalau tidak, lalu siapa gadis cantik yang sedang menyedot mulutnya ini? Apa yang dilakukan?

Kun Houw tiba-tiba tergetar. Dia terbelalak dan tak dapat menjawab semua pertanyaannya itu. Tapi ketika dia ingat bahwa dia terkena pukulan Tok-hwe ji yang membuat seluruh tubuhnya bagai terbakar dan kini dia merasa sehat dan dada tidak sesak serta sakit lagi tiba-tiba Kun Houw sadar. Dia sedang ditolong orang. Disedot racunnya oleh gadis ini! Dan Kun Houw yang berguncang jantungnya mendadak terbengong dan memandang wajah yang ada di dekatnya itu tanpa berkedip. Kun Houw terkesima.

Dia melihat wajah yang demikian halus berada amat dekat sekali dengan mukanya. Wajah yang halus dengan pipi kemerah-merahan. Wajah yang cantik dan mempesona, wajah yang luar biasa baginya bagai seorang dewi. Dan Kun Houw yang mencium pula keharuman lembut dari wajah yang ada di dekatnya ini tiba-tiba mabok. Kun Houw merasa di awang-awang yang meninabobokkan dirinya.

Dan ketika dia merasa betapa mulut yang melekat di mulutnya itu menyedot-nyedot dan ia merasa bibir yang lunak hangat menempel di bibirnya sendiri dengan gerakan menghisap dan meniuh-niupkan hawa yang harum dan wangi tiba-tiba Kun Houw tersedak dan batuk-batuk!

"Ah...!" Kui Hoa seketika membuka matanya. Gadis ini kaget bahwa Kun Houw membuat gerakan, yang berarti pemuda itu telah sadar. Dan Kui Hoa yang seketika melepaskan sedotannya dan terbelalak memandang Kun Houw tiba-tiba melompat mundur dengan muka merah padam. "Kau... kau sudah sadar?"

Kun Houw melongo. Sekarang dia bangkit duduk dan memandang Kui Hoa, bukan ke mata yang terbelalak kepadanya itu melainkan ke bibir Kui Hoa yang merah basah. Dan Kun Houw yang mengejap-ngejapkan mata bagai orang kehilangan kesadarannya ini tiba-tiba memejamkan matanya dan tidak menjawab pertanyaan orang, membayangkan kembali betapa nikmat bibir yang lunak hangat itu menghisap dan menempel di bibirnya sendiri! Tapi ketika Kui Hoa menampar pipinya dan Kun Houw terpelanting roboh barulah Kun Houw melonpat bangun dan berseru kaget. Apalagi ketika gadis itu marah-marah kepadanya.

"Orang tak tahu diri, apa yang kau pikirkan? Kenapa memandang bibirku melulu?"

Kun Houw sadar sepenuhnya. Sekarang dia tak mabok lagi seperti tadi. Maka tersipu merah dengan muka jengah buru-buru Kun Houw menjura, membungkuk dalam-dalam. ''Maaf, aku... eh, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, nona. Tapi melihat lukaku sembuh dan kau ada di sini, tahulah aku bahwa kau yang menyelamatkan diriku. Terima kasih, nona. Aku Kun Houw benar-benar menghaturkan terima kasih pada dewi penolongku!" dan Kun Houw yang langsung menjatuhkan diri berlutut di depan gadis ini membuat Kui Hoa terkejut dan lenyap semua kemarahannya.

"Eh, jangan berlutut.... berdirilah, saudara Kun Houw. Kau tak perlu mengucap terima kasih kepadaku seperti itu. Kedudukan kita satu sama!”

Kun Houw mengangkat mukanya, heran. "Satu sama bagaimana, nona? Apa yang kau maksudkan?"

"Hm, bukankah kau yang menolongku pula di kuil rusak?" Kui Hoa melengos, merah mukanya karena lagi-lagi tanpa sadar Kun Houw memandang bibirnya. "Bukankah kau yang menolongku dari jahanam Ceng Liong?"

Dan Kun Houw yang seketika teringat gadis ini tiba-tiba menganggukkan kepalanya dan bangkit berdiri. "Benar, dan di mana setan jahanam itu sekarang, nona? Di mana dia?" Kun Houw terbelalak ke kanan kiri. kaget dan marah ketika ingat bahwa Ceng Liong hendak melakukan perbuatan terkutuk.

Tapi Kui Hoa yang mengepalkan tinju sudah berkata gemas, "Dia tak ada di sini, saudara Kun Houw. Karena itu aku ingin bertanya padamu apa yang sebenarnya terjadi dan kau lihat di kuil rusak itu!"

"Ah, dia hendak mengganggumu, nona. Dia hendak memberikan arak perangsang kepadamu agar kau mabok dan dapat digagahinya!"

"Dari mana kau tahu?"

"Kebetulan saja, nona. Aku beristirahat di kuil itu sebelum Ceng Liong dan gurunya tiba. Maka, melihat guru dan murid itu membawamu ke situ dan aku mendengar apa yang direncanakannya maka jahanam itu kuserang ketika kau siap dicekokinya!"

Kui Hoa tergetar. Dia pucat mendengar ini, ngeri dan diam-diam mengutuk akal keji Ceng Liong yang diketahuinya berbahaya dan culas. Karena, meskipun secara sepintas dengan cara seperti itu Ceng Liong tak dapat dibilang memperkosa karena dia akan menyerahkan diri dengan suka rela tapi penyerahan dirinya itu tak dapat dibilang sah karena dia sedang mabok dan dalam penguasaan nafsu berahi. Nafsu yang ditimbulkan dari arak perangsang, yang berarti menunjukkan betapa keji dan liciknya Ceng Liong. Juga culas! Dan Kui Hoa yang tergetar dengan muka ngeri tiba-tiba memandang Kun Houw dengan penuh rasa terima kasih dan haru, tiba-tiba ganti menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu!

"Saudara Kun Houw, aku tak dapat menyampaikan apa-apa kepadamu selain rasa syukur dan terima kasihku. Terimalah hormat dan terima kasihku ini...!"

Kun Houw terkejut. "Eh-eh, jangan begitu, nona. Kau bangunlah, jangan berlutut!" dan Kun Houw yang buru-buru mengangkat bangun gadis ini dengan menarik pundaknya seketika beradu pandang dengan mata Kui Hoa yang bergetar jernih, membuat Kun Houw dag dig-dug tidak karuan dan merasa jungkir balik. Dan Kun Houw yang jadi gemetar suaranya tiba-tiba bertanya, lirih seolah berbisik, "Maaf. bolehkah kutanya siapa namamu, nona? Maksudku, aku... aku..."

Kui Hoa tersenyum, menunduk malu-malu. "Aku Kui Hoa, saudara Kun Houw. Dan karena kau telah menyelamatkan kehormatanku biarlah kau buang sebutan nona-nona itu. Kau panggil saja aku Kui Hoa."

Kun Houw girang. "Dan kau boleh sebut aku Houw-twako, nona. Biarlah kau buang pula sebutan saudara itu...!"