Pedang Medali Naga Jilid 12 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

PEDANG MEDALI NAGA
JILID 12
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Karya Batara
CENG LIONG tertawa. Dia menyambut dengus kekasihnya itu, menyambut ciuman yang panas dari pelayan ini. Tapi ketika mereka sedang enak dibuai nafsu mendadak bentakan dingin seseorang mengejutkan mereka.

"A-cheng, apa yang kau lakukan ini?"

Dua orang itu terkejut. Mereka tentu saja kaget, dan melepaskan diri dengan muka pucat mereka melihat Mayat Hidup muncul di situ dengan mata mengerikan memandang mereka, melotot dan penuh nafsu membunuh!

"Ah...!" Ceng Liong langsung mencelat keluar. "Kau sudah datang, ji-suhu?"

Tapi Mayat Hidup mendengus. Dia berapi-api memandang muridnya itu, yang lupa dalam keadaan bugil. Dan Ceng Liong yang sadar olleh keadaannya ini tiba-tiba tertawa gugup dan menyambar pakaiannya di atas batu hitam. Lalu mengenakan pakaiani ya dengan buru-buru Ceng Liong melihat pula ibunya muncul.

"Liong-ji, apa yang kau lakukan dengan pelayan hina itu?"

Ceng Liong tersenyum kecut. Dia bingung mendengar itu semuanya. Tapi melihat A-cheng pucat di dalam air mendadak pikiran jahatnya timbul. Dia tak menjawab, melirik ke kiri kanan Lalu melihat A-cheng masih berendam di air dalam keadaan telanjang tiba-tiba dia tertawa. "Aku tak melakukan apa-apa, ibu. Bibi A-cheng hanya mengajariku bercinta di dalam air."

"Hm, dan sudah lama kalian melakukan ini?"

"Tidak, baru seminggu, ibu. Bibi A-cheng membujukku karena ji-suhu katanya membuat dia sepi!"

A-cheng kontan menjerit. Ia terbelalak memandang kekasihnya ini, kaget bahwa tiba-tiba Ceng Liong menjerumuskan dia dalam pemutar balikan fakta. Tapi mengira Ceng Liong hanya menggodanya dan main-main maka pelayan ini berseru gemetar kepada pemuda itu, "Kongcu, kenapa kau bicara begitu? Bukankah kita melakukannya bersama-sama?"

"Hm..." Mayat Hidup menyela, berkilat matanya. "Kau keluar dulu, pelayan hina. Bicara di depan kami yang benar!"

A-cheng gugup. Ia mengandalkan bantuan Ceng Liong, mengharap pemuda itu melempar pakaiannya yang terletak di batu hitam. Tapi melihat Ceng Liong diam saja dan tersenyum memandangnya maka pelayan inipun bangkit berdiri dan keluar dari dalam air. Dengan telanjang bulat dan tubuh gemetar dia beringsut mengambil pakaiannya, dipandang tiga pisang mata yang berbeda rasa. Tapi baru melangkah dua tindak ke batu hitam sekonyong-konyong Mayat Hidup membentaknya.

"Berhenti...!"

A-cheng ketakutan. Dia membelakangi mereka semua, malu berputar tubuh. Tapi Mayat Hidup yang rupanya marah sudah membentaknya kembali, "Putar tubuhmu, pelayan hina. Hadapi kami dan tengadahkan mukamu!"

A-cheng jadi semakin pucat. Dia memutar tubuh dengan perlahan, gemetar dan menggigil tidak karuan. Lalu menghadapi mereka dengan muka merah pelayan ini menundukkan kepalanya, menutup dua bagian penting yang dipunyainya dengan likat sekali. Tapi Mayat Hidup yang berang kepadanya melotot.

“Pelayan hina, tengadahkan mukamu. Berdiri tegak dan lempar kedua tangan ke samping!"

A-cheng ngeri sekali. Dia tiba-tiba menangis, dan terisak dengan muka ketakutan pelayan ini terpaksa turut perintah. Kini dengan kepala tegak dan dada membusung dia menghadapi tiga orang majikannya itu, tak menutupi keadaan tubuh depannya yang polos. Dan Mayat Hidup yang sudah melompat ke depan segera menghakiminya.

"Pelayan hina, siapa yang lebih dulu memulai perbuatan ini? Kaukah?"

A-cheng terang ngewel (gemetaran) tubuhnya. "Tidak, bukan hamba, locianpwe. Tapi Liong-kongculah yang memaksa hamba. Dia mengajak hamba bermain cinta. Dan karena hamba tak berani menolak maka hamba terpaksa menerimanya...!"

"Hm, benarkah, Liong-ji?"

Ceng Liong menyeringai. "Aku lupa siapa yang membujuk, ji-suhu. Tapi kalau kau marah kepadaku terang itu salah. Aku muridmu, ia pelayanmu. Kenapa memarahi murid sendiri tidak memarahi pelayannya?"

Mayat Hidup mengerotokkan buku-buku jarinya. "Jangan main-main kau, anak setan. Aku tak perlu kau kuliahi untuk memarahi siapa. Sekarang jawab yang benar, siapa di antara kalian yang menjadi biang keladi dari semuanya ini...?"

Ceng Liong langsung menuding, "Bibi A-cheng, suhu. Dialah yang membujuk dan mengajakku ke mari!"

Tapi A-cheng menjerit, "Tidak! Liong-kongcu lah yang memaksa hamba, locianpwe. Sungguh mati berani hamba bersumpah...!"

"Hm, kalau begitu kalian saling melempar kesalahan?"

A-cheng pucat sekali, la melihat datuk sesat itu mengetrikkan jarinya, siap melancarkan pukulan mautnya. Jari Penusuk Tulang! Dan melihat Ceng Liong tersenyum menyeringai tiba-tiba pelayan ini menangis gemetar. "Liong-kongcu, kenapa kau tak menepati janjimu? Bukankah kau bilang kau akan membantuku dalam masalah ini?"

Ceng Liong tenang-tenang bicara, "Aku lupa pada janjiku ssndiri, bibi A-ceng. Tapi kalau ji-suhu menyerangku jelas aku akan mempertahankan diri."

"Dan kau mendiamkan saja aku dihukum, kongcu?”

"Kau boleh mempertahankan dirimu sendiri, bibi. Itu hakmu kalau kau bisa."

"Ah...!" dan A-cheng yang menjerit dengan mata terbelalak tiba-tiba menubruk ke depan, menyerang Ceng Liong yang ada di sebelah kirinya. Tapi Ceng Liong yang mengerutkan kening tentu saja tertiwa mengejek.

"Bibi A-cheng, kau berani memukulku? Pergilah!" dan Ceng Liong yang sudah mengibaskan lengan tiba tiba menepuk pelayannya ini yang kontan roboh terjungkal. A-cheng menjerit, bangkit berdiri dan kembali menyerang majikan mudanya itu.
Namun Tok-sim Sian-li yang marah melihat anaknya diserang sekonyong-konyong berkelebat ke depan, menampar kepala pelayannya itu. "A-eheng, kau berani menyerang anakku? Robohlah...plak!"

Dan A cheng yang terpelanting roboh kembali menjerit dengan mulut berdarah, sejenak tak dapat bangkit akibat kerasnya tamparan Tok-sim Sian-li yang membuat kepalanya pening. Tapi ketika ia terhuyung dan bangun dengan muka pucat sekonyong-konyong Mayat Hidup mencengkeram pundaknya.

"Pelayan hina, apa yang mau kau katakan sekarang? Kau belum siap menerima hukuman?"

A-cheng menggigil. Sekarang ia sadar bahwa Ceng Liong jahat sekali, menipu dia dan membiarkan dia menghadapi maut dengan senyum menyeringai. Maka memandang pemuda itu dengan penuh kemarahan pelayan ini mengutuk, "Liong kongcu, sungguh tak kunyana hatimu demikian busuk. Kau sungguh keji, pantas menjadi murid setan seperti Mayat Hidup ini. Terkutuklah kau... semoga api neraka membakarmu kelak di kerajaan setan....!" lalu menendang selangkangan Mayat Hidup sekonyong-konyong pelayan ini meronta.

"Des-des!" A-cheng terlepas. Dengan penuh ketakutan dan kemarahan pelayan ini lari menubruk Ceng Liong, maksudnya ingin mengajak mati bersama pemuda itu untuk menemaninya menerima hukuman. Tapi Ceng Liong yang mendengus dan menggerakkan kakinya tiba-tiba menendang pelayannya itu.

"Plak!" A-cheng tersungkur roboh. Lalu sementara dia mengeluh tertahan tahu-tahu pedang Tok-sim Sian-li melekat di batang tenggorokannya.

"A-cheng, apa pesanmu sebelum kubunuh?"

A-cheng menggigit bibir. "Aku tak meninggalkan pesan apa-apa, hujin. Tapi terkutuklah kalian ibu dan anak!"

Tok-sim Sian-li menggerakkan pedang. Ia mendengus dingin dan langsung menusuk tenggorokan pelayannya itu, marah mendengar ucapan ini. Tapi Mayat Hidup yang ada di sebelahnya tiba-tiba mengibaskan lengan.

"Mo li, tunggu dulu. Biar Ceng Liong yang membunuh kekasihnya itu.. wut!" dan pedang di tangan Tok-sim Sian-li yang tahu tahu dirampas ujung baju iblis tua ini sudah berada di tangan Mayat Hidup dan langsung dilempar ke arah Ceng Liong.

"Anak setan, bunuh kekasihmu itu. Habisi nyawanya!"

Ceng Liong menangkap pedang. Dia tidak menunjukkan perobahan apa-apa, menimang sejenak dan melirik A-cheng yang dilepas ibunya. Lalu melihat A-cheng bangkit berdiri dan terbelalak kepadanya tiba-tiba pemuda ini tersenyum. "Bibi, sebaiknya kau lempar saja dirimu itu ke jurang. Aku tak tega membunuhmu dengan pedang di tangan!"

A-cheng menggigit bibir. Ia terisak, dan melihat Ceng Liong bicara sungguh-sungguh kepadanya maka iapun memutar tubuh dan menjerit penuh kecewa, lari ke jurang di belakang mereka yang dalamnya ratusan tombak. Tapi begitu ia memutar tubuh dan berlari beberapa langkah sekonyong-konyong Ceng Liong menggerakkan pedang, menimpuk punggung wanita itu sambil tertawa.

"Bibi, maaf..!" dan pedang yang melesat dengan kecepatan penuh ilu tiba-tiba sudah menghunjam di punggung A-cheng dan tembus ke dada.

"Crep...!" A-cheng mengeluh. Ia tak dapat menolak lagi, ambruk ke depan dengan pekik lirihnya. Dan persis dia tersungkur roboh maka wanita itupun melayang jiwanya tepat di bibir jurang yang menganga di depan mukanya!

Ceng Liong tertawa. Dia melompat maju, mencabut pedang di punggung pelayannya ini. Lalu menggerakkan kaki menendang diapun sudah melempar tubuh A-cheng ke dalam jurang. "Bibi, maafkan perbuatanku. Aku tak ada waktu untuk menguburmu....!"

Mayat Hidup dan Tok-sim Sian-li tertegun. Mayat Hidup sudah hampir meledak marahnya melihat Ceng Liong menyuruh pelayannya itu melempar tubuh kejurang, yang berarti menolak perintahnya. Tapi melihat Ceng Liong membunuh pe!ayan itu dengan menimpuk di belakang punggung maka iblis tua itupun tertegun din menjublak bengong. Tapi Mayat Hidup tiba-tiba tertawa. Dia melihat Ceng Liong benar-benar licik dan keji. Patut menjadi murid mereka sebagai iblis-ib!is yang ditakuti orang. Tapi geram oleh perbuatan Ceng Liong yang "merebut" pelayannya untuk dijadikan kekasih mendadak iblis tua ini melompat ke depan.

"Ceng Liong, apa sekarang jawabmu setelah permainan gila ini?"

"Hm, apa maksudmu, suhu? Kau hendak menghukumku?"

"Tentu saja! Bukankah kau telah bermain gila dengan pelayan terkutuk itu?"

Ceng Liong tersenyum. "Nanti dulu, suhu. Kalau kau hendak menghukumku dengan ringan tentu saja aku mau. Tapi hukuman apakah yang hendak kau berikan kepadaku? Apakah ibu kau suruh membunuh aku seperti tadi kau menyuruh aku membunuh bibi A-cheng?”

Mayat Hidup terbelalak. "Tentu saja hukuman berat yang harus kau terima, anak setan. Kau telah membujuk A-cheng yang menjadi penghibur gurumu!"

"Dan kau akan membunuhku, suhu? Hm, tentu saja kulawan...!" dan Ceng Liong yang tersenyum mengejek segera melangkah mundur dan melirik gurunya itu dengan berani!

Mayat Hidup sampai tertegun. "Kau mau melawan gurumu sendiri, anak setan?"

"Kalau kau menghendaki nyawaku, suhu. Kalau tidak tentu saja juga tidak!"

"Ah...” dan Mayat Hidup yang membentak marah tiba-tiba mengulurkan jari menampar kepala muridnya itu. "Liong-ji, kau anak durhaka!"

Tapi Ceng Liong mengelak ke samping. Dia mengerakkan pedang, dan begitu lengan suhunya menampar kepala seketika itu juga dia membacok.

"Trak!" Ceng Liong terhuyung. Dia melihat gurunya semakin marah, dan Mayat Hidup yang gusar oleh keberanian muridnva itu tiba-tiba melengking dan mengerotokkan buku-buku jarinya, menyerang murid yang berani melawannya itu. Dan Tok-mii Sian li yang melihat anaknya diserang tiba-tiba mencabut bendera dan membentak dari samping.

"Mayat Hidup, kau hadapi kami ibu dan anak!"

Mayat Hidup meledak kemarahannya. Dia benar-benar gusar bukan kepalang, tapi Ceng Liong yang menangkis serangan gurunya berkata, "Ibu, kau mundurlah dulu. Biarkan aku menghadapi ji-suhu!"

"Tapi kalau kau roboh. Liong-ji?”

"Hm, jangan biarkan aku roboh, ibu. Kau bantulah pada saat aku terdesak!" Ceng Liong tertawa, dan ibunya yang terpaksa mundur dengan bujukan ini akhirnya mengangguk dan memandang pertempuran itu dengan cemas.

"Baiklah, tapi jangan main-main, Liong-ji. Ji-suhu mu itu orang yang cukup telengas!"

Maka Ceng Liong yang sudah menggerakkan pedangnya menangkis semua serangan gurunya segera bertanding dengan sungguh-sungguh. Dia tidak tertawa lagi, memusatkan perhatian pada pedang di tangan dan serangan gurunya yang berbahaya. Dan Mayat Hidup yang gusar oleh perlawanan muridnya ini sudah melancarkan tusukkan jari penusuk tulangnya disertai kepretan jari-jari tangannya yang mengeluarkan pukulan sinkang, membentak dan memaki muridnya yang kurang ajar itu. Dan begitu Ceng Liong mulai melayani gurunya maka pertandingan benar-benar menjadi pertandingan sungguhan yang tidak main main lagi.

Mayat Hidup melancarkan pukulan-pukulan berbahaya, tak segan dan benar benar bermaksud membunuh muridnya yang durhaka. Dan Ceng Liong yarg maklum akan kelihaian gurunya ini juga tahu dan bertahan dengan sepenuh perhatiannya. Tapi Ceng Liong terdesak. Dia hanya dapat bertahan duapuiuh lima jurus saja. Karena bagaimanapun juga dia mengenal dan mengetahui ke mana akhirnya serangan-serangan gurunya itu. Tapi karena dalam hal sinkang dia kalah matang maka dengan tekanan inilah Ceng Liong mulai didesak. Dan ibunya mulai cemas.

Tok-sim Sian-li melihat anaknya keteter, mundur dan berkali kali terhuyung begitu menangkis lengan gurunya. Dan ketika Satu saat Ceng Liong terpelanting oleh kepretan sinkang gurunya mendadak ibu yang sayang kepada anak Ini tak tahan lagi. Apalagi ketika pedang Ceng Liong terlepas!

"Liong-ji, mundur...!" Tok-sim Sian-li mencelat maju. Dia sudah menangkis tusukan jari guru puteranya, memutar bendera dan menendang anaknya untuk menyambar pedang yang terlempar. Dan begitu wanita ini maju membantu maka Mayat Hidup menggeram.

"Kau tak tahu diri, Tok-sim Sian-li. Aku akan membunuhmu juga sekalian kalau begitu!"

Tapi Tok-sim Sian-li sudah berkelebatan menyerang. Dia melihat Ceng Liong sudah menyambar pedangnya, kembali dan berjungkir balik menuju pertempuran semula. Dan Ceng Liong yang tertawa menangkap pedangnya tiba-tiba berseru dan membantu ibunya.

"Suhu, kau tak dapat merobohkan kami berdua. Aku akan membalasmu!"

Mayat Hidup mendelik. Dia sudah dikerubut ibu dan anak itu, melihat bendera berkibar dan pedang menyambar menusuk dirinya. Dan marah oleh serangan ibu dan anak itu Mayat Hidup tiba-tiba mengeluarkan pekik panjang dan meraung. Dia segera melayani, dan begitu mengepretkan jari dan membanting kaki tahu-tahu sambaran pedang dan bendera sudah dia papak dengan tusukan jarinya.

"Plak-bret!"

Ceng Liong dan ibunya tergetar mundur. Mereka berdua terhuyung, tapi Mayat Hidup yang ikut terdorong oleh serangan dua orang itu disambut seruan Ceng Liong yang bernada mengejek. "Suhu, kedudukan kita seimbang. Kau tak dapat mendesakku lagi seperti tadi!"

Mayat Hidup marah bukan kepalang. Dia memang harus mengakui itu, kenyataan bahwa setelah Ceng Liong dibantu ibunya kedudukan mereka memang berimbang, karena dia„ harus memecah perhatian dan sinkangnya menjadi dua. Dan Ceng Liong yang melihat suhunya mencak-mencak segera mengejek lagi dengan kata-katanya yang memerahkan telinga,

"Dan kau tak dapat menghukumku kalau kalah, suhu. Kita masing-masing sama benar dan sama kuat!"

Mayat Hidup memekik. Dia bertubi-tubi mengepretkan jari, melancarkan pukulan-pukulan maut. Dan ketika satu saat kembali mereka sama terdorong mendadak iblis tua ini mengeluarkan paku tulangnya, senjata rahasia yang selama ini jarang digunakan. Dan begitu membentak sambil melempar tangannya tahu-tahu dua senjata rahasia itu meluncur ke arah Ceng Liong dan ibunya, masing-masing mengarah dada dan ulu hati.

"Liong-ji, awas... cet-cet...!"

Ceng Liong dan ibunya membanting tubuh. Mereka terkesiap oleh serangan ini, dan Mayat Hidup yang rupanya lebih geram kepada muridnya itu daripada ibunya tiba-tiba berkelebat maju menyusuli paku tulangnya, mengulur lengan menusuk leher muridnya dengan jari telunjuk dan jari tengah. Dan begitu Ceng Liong melompat bangun dengan muka kaget tahu-tahu dia sudah melihat dua jari gurunya itu menyambar leher.

"Bocah setan, mampuslah...!"

Ceng Liong terkejut. Dia tak ada waktu lagi untuk mengelak, baru saja melompat bangun. Tapi Ceng Liong yang sama sekali tidak menjerit oleh tusukan maut ini tiba-tiba tertawa dan menerima serangan gurunya dengan tenang, maklum bahwa dia tak dapat menyelamatkan diri lagi. Dan jari Mayat Hidup yang meluncur ke depan dengan tusukan maut itu sudah serambut saja menyentuh lehernya. Tapi sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat.

"Mayat Hidup, tahan..!" dan Mu Ba yang tahu-tahu berada di situ menangkis dua jari yang berbahaya ini mendadak sudah membentur lengan Mayat Hidup dari samping. "Plak!" dan Mayat Hidup terdorong mundur, mendelik pada raksasa tinggi besar itu yang ludah berdiri di tengah.

"Kau juga hendak memusuhiku. Mu Ba?"

Mu Ba, raksasa tinggi besar yang terbelalak itu menggeleng, melindungi Ceng Liong dan menegur temannya, "Tidak, tapi kau harus dapat berkepala dingin menghadapi masalah ini, Mayat Hidup. Karena betapapun juga Ceng Liong adalah murid tunggal kita satu-satunya yang harus kulindungi!"

"Dan kau tahu apa yang dilakukan bocah setan itu?"

"Ya, aku tahu, Mayat Hidup. Tapi itu bukan satu-satunya alasan bagi kita untuk membunuh murid kita yang gagah pekasa ini!"

Mayat Hidup batuk-batuk. Dia marah sekali, tapi sebelum dia menjawab maka raksasa tinggi besar itupun memperingatkan. "Mayat Hidup, jangan lupa janji kita dulu. Ceng Liong adalah pewaris tunggal yang hampir lengkap menguasai ilmu ilmu kita. Apakah untuk masalah pelayan hina itu kau akan mengorbankan murid sendiri? Ingat, mencari murid macam ini langka sekali, Mayat Hidup. Kau buktikan sendiri betapa dengan tenang dan mata tidak berkedip dia berani menerima serangan mautmu sambil tertawa!"

Mayat Hidup tertegun. Dia teringat ini. Teringat betapa Ceng Liong menghadapi ancaman kematian dengan demikian berani. Sama sekali tidak takut dan gentar sedikitpun juga. Padahal maut sudah di depan mata! Dan teringat oleh keberanian muridnya yang demikian luar biasa itu tiba tiba Mayat Hidup terpaku dan membelalakkan matanya, memandang Ceng Liong yang sudah menyimpan pedang, tersenyum kepadanya. Dan kagum oleh keistimewaan muridnya ini mendadak Mayat Hidup menghela napas dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ya, dia memang anak yang luar biasa, Mu Ba. Benar-benar pantas menjadi murid kita dan sukar mencari tandingannya!"

"Dan kau tak akan menghukumnya lagi, bukan?"

"Hm, ini..." Mayat Hidup mengerutkan kening. "Dia telah berani melawanku Mu Ba. Apakah untuk ini tak perlu kita menghajar murid kita itu?"

Ceng Liong melangkah maju, tersenyum lebar. "Suhu. kalau kau tak bernaksud mengancam jiwaku tentu saja aku tak berani melawanmu. Bukankah sudah kubilang tadi bahwa aku akun melawan kalau kau mau membunuh? Kaulah yang salah, tidak menuruti omonganku untuk memberi hukuman yang ringan!"

Mu Ba tertawa bergelak, 'Nah, apa yang dikatakan itu. Mayat Hidup? Bukankah murid kita inii benar-benar pintar sekali? Dia sudah memberimu peringatan. Dan kini kaulah yang sekarang disalahkan!"

Mayat Hidup mengumpat. Untuk kedua kalinya dia dibuat tertegun oleh omongan muridnya ini. Yang memang betul dan tak dapat dibantah! Maka mendengus melepas kemendongkolan tiba-tiba dia menendang muridnya itu. "Baiklah, kau terimalah hukuman ringanmu ini. anak setan. Sekarang pergilah dan merat dari sini...!" Dan Ceng Liong yang menerima tendangan gurunya yang sudah tidak marah lagi itu tiba-tiba tertawa dan mencelat bergulingan, disusul ibunya yang menjadi girang bahwa puteranya selamat. Dan begitu ibu dan anak ini melompat bangun maka keduanya sudah sama tertawa dan tersenyum lebar.

"Liong-ji, hayo pulang...!"

Ceng Liong mengangguk. Dia digandeng ibunya, dan ibu dan anak yang sudah meluncur turun meninggalkan bukit itu segera kembali sambil tertawa-tawa. Urusan sekarang beres, dan Mu Ba yang terbahak memandang bayangan muridnya itu sudah pula berkelebat lenyap, meninggalkan Mayat Hidup yang masih termangu-mangu di atas bukit.

"Mayat Hidup, murid kita itu orang jempolan. Kelak dia akan melebihi kita baik kepandaian maupun kecerdikan!"

Mayat Hidup mengangguk-angguk. Dia mengakui pula kata-kata temannya itu. Dan melihat Ceng Liong memang benar-benar sesuai menjadi murid mereka maka iblis inipun tersenyum dan turun bukit pula, berkelebat menyusul temannya. Dan begitu empat orang ini meninggalkan bukit maka suasana diatas tiba-tiba sepi, kembali seperti semula dengan mayat A-cheng di bawah jurang.

* * * * * * * *

Ceng Liong duduk di luar gua. Kini dia menggantikan tugas A cheng untuk membeli rempah-rempah di bawah bukit, pada penduduk dusun yang mengenal mereka. Dan Ceng Liong yang hari itu disuruh ibunya untuk turun membeli bumbu tiba-tiba "mogok", termenung di luar gua dengan alis berkerut. Apa yang dipikirkan?

Bukan lain adalah mendiang pelayannya itu. A-cheng! Karena semenjak seminggu setelah kejadian di atas maka tiba-tiba dia diganggu gejolak nafsu berahinya itu yang mulai minta "umpan" setelah pelayannya tewas. Tuntutan nafsu berahi yang membuat dia mulai tak tahan. Dan ketika pagi itu dia termenung di luar gua mendadak gurunya yang tinggi besar muncul.

"Liong-ji, apa yang kau renungkan? Kau ingin turun gunung?"

Ceng Liong bangkit berdiri. "Aku gelisah, suhu. Aku bingung oleh keadaanku sekarang ini."

"Hm, apa yang kau bingungi?"

Ceng Liong menyeringai. Kepada gurunya nomor satu ini dia memang merasa lebih dekat. Karena gurunya ini memang lebih sayang dan menaruh perhatian lebih besar kepadanya. Maka Ceng Liong yang tak ragu-ragu untuk membicarakan persoalannya ini pada gurunya yang tinggi besar itu langsung saja tertawa kecut dan para-pura likat,

"Aku membutuhkan teman, twa-suhu. Aku kesepian setelah bibi A-cheng meninggal."

"Begitukah? Lalu apa maksudmu?”

"Aku ingin mencari teman, suhu. Tapi sampai saat ini belum menemukan jalan keluarnya."

Temu Ba tertawa bergelak. "Liong-ji, dua hari lagi kita semua turun gunung. Bagaimana kalau mencari dan bersabar untuk dua hari itu?"

"Ah, terlalu lama, suhu. Aku tak tahan lagi."

"Apa maksudmu terlalu lama? Apanya yang tak tahan?"

Ceng Liong menyeringai. "Aku tak tahan untuk mencari pengganti bibi A cheng, suhu. Aku ingin bermain cinta tapi belum menemukan pasangannya!"

Gurunya terkejut. "Heh, itukah yang kau maksud?"

"Ya, dapatkah kau mencarikannya, suhu?"

"Hm..." gurunya mengangguk-angguk. "Kalau begitu cari saja perempuan di bawah dusun, Liong-ji. Kau dapat mencari siapa saja yang kau suka di sana."

Tapi Ceng Liong menggeleng. "Tidak, mereka tak ada yang cantik-cantik, suhu. Wanita-wanita dusun itu Kotor dan tak ada yang menggairahkan hatiku. Aku sudah mengelilinginya semua."

"Jadi bagaimana maksudmu?"

"Kau carikan yang cantik, suhu. Misalnya saja puteri seorang ketua perkumpulan dan kita minta anak gadisnya!"

"Hm..." Mu Ba bersinar matanya, mengerutkan alis tapi tiba-tiba tertawa, memandang muridnya itu. "Baik, aku ada mengenal seorang ketua perkumpulan, Liong-ji. Kita temui ketua Pek-houw-pang dan minta anak gadisnya!"

Ceng Liong girang. "Cantik anak perempuan itu, suhu?"

"Ha-ha, ia cantik. Liong ji. Boleh kaujadikan kekasih kalau kau merasa cocok dengannya!"

"Baik, di mana perkumpulan Pek-houw pang itu, suhu?"

"Di kota Kui-yang. Kau mau berangkat?"

"Tentu saja. Aku tertarik mendengar ceritamu, suhu!"

"Dan kapan kau berangkat?"

"Ah, sekarang saja, suhu. Aku sudah tak tahan mendengar ceritamu!" dan Ceng Liong yang sudah tertawa meninggalkan gurunya tiba-tiba berkelebat pergi dengan muka berseri-seri.

Tapi gurunya mengejar. "Liong ji, kau akan pergi seorang diri?"

"Ya, untuk apa kau temani, suhu? Aku dapat melakukannya ini tanpa bantuan. Kau kembalilah, tunggu kedatanganku!"

Dan Mu Ba yang terpaksa berhenti memandang muridnya tiba-tiba tersenyum dan tertawa bergelak. "Liong-ji, hati-hati...!"

Tapi seruannya itu tak didengar Ceng Liong lagi. Pemuda ini sudah lenyap di sebuah tikungan, mengerahkan ginkang menuju ke kota Kui-yang. Dan Ceng Liong yang berlari cepat dengan muka berseri-seri itu akhirnya tiba di kota Kui-yang dalam waktu satu jam saja. Dengan mata bersinar dan muka penuh kegembiraan segera dia mencari alamat Pek-houw-pang itu, tapi ketika tiba di pintu gerbang perkumpulan itu tiba-tiba Ceng Liong mengerutkan alis ketika mendapat sambutan dua orang anak murid perkumpulan ini yang menghadang jalannya, karena dia ngeluyur saja hendak masuk tanpa permisi!

"Hei, berhenti, sobat! Mau ke mana kau?"

Ceng Liong terpaksa berhenti. Dia dihadang dua laki-laki muda yang bertubuh tegap, matanya melotot memandang marah. Dan Ceng Liong yang mengerutkan kening mendapat sambutan ini tiba-tiba tersenyum mengejek dan berkata dingin, "Aku ingin menemui ketua Pek-houw pang, tikus-tikus cilik. Apakah kalian anak muridnya?"

Dua orang itu seketika membelalakkan mata. "Apa, kau hendak menemui pangcu? Siapakah kau? Kami betul murid Pek-houw-pang, tapi pangcu hari ini tak ada di rumah!"

"Hm. kalau begitu boleh dengan puterinya saja. Aku ada perlu penting."

"Apa yang kau perlukan? Siapa kau?"

Ceng Liong mendengus. "Aku Ceng Liong, tikus-tikus cilik. Tentang apa keperluanku menemui puteri Pek-houw-pang tak perlu kalian tahu. Minggirlah kalian, atau panggil puteri pangcu kalian itu ke mari!"

"Keparat...!" meieka menjadi marah, mencabut golok. "Kau mau mengacau, orang she Ceng? Kau hendak mencari onar di perkumpulan Pek-houw-pang?"

"Hm, aku bukan she Ceng, tikus-tikus cilik. Aku adalah she Yap putera Pendekar Gurun Neraka!"

Dua orang itu terkejut. Mereka tersentak mendengar nama Pendekar Gurun Neraka disebut-sebut. Nama yang sudah amat terkenal di dunia kang ouw. Tapi ragu-ragu memandang Ceng Liong akhirnya mereka bersikap lunak. "Kongcu, apakah sebetulnya maksudmu datang ke mari? Kau dari Pegunungan Ta-pie-san?"

"Bukan, aku tinggal di bukit Hijau. Tapi untuk menanyakan keperluanku tak usah kalian cerewet lagi dan cepat panggil puteri pangcu kalian itu!"

Dua orang ini tertegun. Mereka menjadi curiga lagi, maka mengerutkan alis tiba-tiba keduanya saling pandang dan melangkah mundur. "Kongcu, kami tak dapat membiarkan kau masuk jika tak memberitahukan maksud tujuanmu. Kau pergilah, atau kau beritahukan maksud kedatanganmu agar dapat kami sampaikan kepada puteri ketua kami!"

"Hm, begitukah? Baiklah, aku akan menerobos kalau begitu. Coba kulihat kalian bisa menahan atau tidak!" dan Ceng Liong yang sudah menggerakkan kakinya melompat masuk tiba-tiba menjengekkan hidung dan tidak memperdulikan dua orang murid Pek houw pang itu, yang tentu saja menjadi marah. Dan begitu dia mulai menggerakkan kaki tiba-tiba dua orang ini membentak dan menyerangnya.

"Manusia pengacau, pergilah..!"

Tapi Ceng Liong tertawa dingin. Dia tidak menoleh oleh serangan dari belakang itu, menundukkan kepala mendengar desing senjata menyambar tubuhnya. Lalu balas membentak dan memutar kaki dua kali tahu-tahu dua golok yang lewat diatas kepalanya itu ditendang hingga mencelat.

"Tikus-tikus ci!ik, kalianlah yang pergi...!" dan dua golok yang sudah terlempar dan jatuh berkerontnng di atas tanah itu segera disambut pekik kaget dua murid Pek houw-pang ini.

Mereka terbelalak, melongo melihat kelihain Ceng Liong. Tapi melihat pemuda itu sudah melompat masuk dan berlari ke dalam mendadak dua orang ini berteriak keras, membunyikan kelenengan di depan pintu gerbang untuk memberi tanda bahaya. Dan begitu suara kelenecgan berbunyi nyaring tiba-tiba saja dari delapan penjuru muncul puluhan orang yang berkelebat menghadang Ceng Liong.

"Saudara-saudara, dia itu pengacau hina. Mengaku diri sebagai putera Pendekar Gurun Neraka tapi bukan dan Ta-pie-san...!"

Serentak semua orang menjadi gempar. Mereka terkejut mendengar seruan dua murid penjaga itu, tertegun mendengar nama Pendekar Gurun Neraka disebut sebut. Tapi mendengar anak muda ini bukan dari Ta-pie-san yang mereka ketahui sebagai tempat tinggal Pendekar Gurun Neraka maka tahulah mereka bahwa penuda yang datang itu adalah seorang penipu. Penipu dan pengacau!

Maka Ceng Liong yang kembali terpaksa berhenti dikepung tigapuluh lebih anak murid Pek-houw-pjng ini seketika mengerutkan kening dan mulai gusar. Dia tak tahu akan disambut seperti itu. Tapi Ceng Liong yang tersenyum mengejek segera menghadapi seorang laki-laki berjenggot pendek yang sudah melompat di depannya.

"Anak muda, benarkah kau hendak mengacau di tempat kami? Apa yang kau maui?"

"Hm, aku hendak menemui ketua Pek-houw-pang, jenggot pendek. Kenapa justeru dipersulit dan dimusuhi? Siapa kau?"

Laki-laki ini mengerutkan alis. "Aku Lam Bong anak muda. Murid tertua dari pangcu kami Ciok Pang. Apa perlumu mencari beliau?"

Ceng Liong menjengek. "Keperluanku tak dapat diberitahukan pada orang lain, orang she Lam. Lebih baik kau panggil saja pangcumu itu dan dengarkan nanti!"

"Hm, pangcu tak ada di rumah, anak muda. Sebaiknya besok saja kau kembali kalau ada kepentingan dengan pangcu."

"Tapi puteri pangcu kalian ada, bukan? Nah, suruh dia kemari. Aku mau bertemu dengannya!"

"Kau ada perlu apa dengan Ciok-siocia, anak muda?" laki-laki ini semakin mengerutkan alis. "Kenapa kau demikian mendesak dan tak tahu diri?"

"Hm...!' Ceng Long mulai tak sabar. "Aku ada perlu yang orang lain tak perlu dengar, orang she Lam. Kau tak perlu tahu ini kalau kau tahu diri!"

Laki-laki berjenggot itu marah. "Kalau begitu kau kami tangkap, anak muda. Kau membuat kami curiga dan tak kuperkenankan keluar bila belum memberitahukan maksudmu!" dan belum Ceng Liong menjawab tahu-tahu laki laki berjenggot ini mencabut golok dan menyerang Ceng Liong.

'Singg...!"

Ceng Liong mengelak. Dia sudah dikepung, melihat golok di tangan murid tertua Pek-houw pang itu membalik begitu serangannya luput. Dan Ceng Liong yang terpaksa melompat mengandalkan ginkangnya ini tiba-tiba meliukkan tubuh dan menampar golok dari samping. "Orang she Lam, lepaskan golokmu...!" dan jari Ceng Liong yang menampar golok lawan tiba-tiba membuat golok itu mencelat dan terlempar di udara.

Tapi murid tertua Pek-houw-pang ini kiranya lihai. Dia tidak seperti dua murid penjaga tadi, yang goloknya dibuat jatuh berkerontang di atas tanah. Karena begitu golok terlepas dan mencelat dari tangannya sekonyong-konyong lak-laki ini berseru keras. Dia melompat tinggi, berjungkir balik menyambar goloknya itu. Dan begitu meluncur turun dengan bentakan pendek tahu tahu laki-laki ini telah memegang kembali goloknya yang terlempar!

"Bagus, kau kiranya cukup lihai, orang she Lam. Tapi jangan kira dapat menangkan aku!" Ceng Liong memuji, kagum pada lawannya itu tapi cepat menyambut terjangan orang. Dan melihat murid tertua Pek-houw-pang itu bertubi-tubi menggerakkan golok menyerang dirinya maka mau tidak mau Ceng Liong harus melayani.

Untuk sejenak dia melompat sana-sini, mengandalkan ginkangnya yang memang hebat dan ringan. Lalu melihat satu kesempatan baik ketika lawan tehuyung ke depan pada saat dia mengelak tiba-tiba Ceng Liong tertawa menggerakkan jarinya. "Orang she Lam, robohlah...!"

Murid tertua Pek-houw-peng itu terkejut. Dia sedang kehilangan keseimbangan, maklum tubuh sedang doyong ke depan. Tapi melihat Ceng Liorg menampar pergelangan tangannya tiba-tiba dengan cepat dia melempar kaki kanan menendang lambung Ceng Liong, mempergunakan kesempitan dengan doyongnya tubuh ke depan. Tapi Ceng Liong yang berkelit manis tahu-tahu justeru menangkap pergelangan kakinya dan menarik, tidak menghentikan serangannya ke pergelangan tangan murid Pek-houw-pang itu. Dan begitu Lam Bong berteriak kaget ketika kakinya ditarik tahu-tahu pergelangan tangannya sudah ditotok Ceng Liong hingga tak dapat mempertahankan goloknya lagi yang jatuh di atas tanah.

"Trang..!"

"Ha-ha, bagaimana, orang she Lam? Kau tak mengakui keunggulanku?"

Lam Bong kaget. Dia tersungkur roboh, pergelangannya kaku. Tapi melompat bangun tiba-tiba dia berteriak pada saudara-saudara seperguruannya. "Sute sekalian, serang dan tangkap dia. Maju...”

Maka tiga puluh lebih anak murid Pek-houw-pang yang sudih meluruk ke depan dengan senjata di tangan tiba-tiba menyerang Ceng Liong yang ada di tengah. Dengan suara ribut mereka menerjang maju, marah menyaksikan suheng mereka kalah. Tapi Ceng Liong yang tertawa mengejek tiba-tiba mengerahkan ginkangnya, berkelebatan dengan Cui-beng Ginkang (Ginkang Pengejar Roh) yang diwarisi dari ibunya, ilmu meringankan tubuh yang sebenarnya milik mendiang Cheng-gan Sian-jin.

Dan begitu Ceng Liong berkelebatan dengan ilmu meringankan tubuhnya ini maka pemuda itupun lenyap merupakan bayangan yang tak jelas lagi, menangkis dan mengelak hujan senjata yang menyambar dirinya. Lalu begitu membentak dan balas menyerang tiba-tiba Ceng Liong telah mengerahkan pukulan Tok-hiat-jiunya yang ganas itu.

"Plak-plak-plakk!"

Anak murid Pek-houw-pang mulai menjerit ngeri. Mereka terlempar roboh, tak dapat bangun kembali. Dan pukulan Ceng Liong yang memberi bekas tapak kemerahan pada bagian tubuh yang dipukul seketika membuat keadaan menjadi gaduh dan penuh ketakutan. Tigapuluh lebih anak murid Pek-houw-pang itu terbelalak, ngeri melihat keganasan Ceng Liong yang tertawa-tawa merobohkan mereka. Dan ketika Ceng Liong telah merobohkan dua puluh orang yang terkapar dengan rintihan mereka di atas tanah dalam keadaan rubuh malang melintang pada saat itulah muncul seorang gadis cantik yang membentak dengan seruannya yang nyaring,

"Berhenti...!"

Dan Ceng Liong tertegun. Dia melihat seorang gadis cantik muncul di situ, berapi-api dengan mukanya yang merah padam. Gadis berkuncir yang alisnya panjang, menjelit indah tapi yang saat itu memanjangnya penuh kemarahan. Dan Ceng Liong yang tertegun melihat munculnya gadis ini tiba tiba melihat gadis itu melayang keluar dengan kaki ringan, hinggap seperti seekor burung walet di depannya dengan sebatang pedang telanjang di tangan!

"Manusia hina. kau siapa dan mengapa mengacau di tempat orang?"

Ceng Liong tertegun. Untuk kedua kalinya dia terkesima memandang gadis cantik ini, yang matanya indah bersinar bagai bintang pagi yang terbelalak kepadanya. Tapi Ceng Liong yang menjadi girang melihat munculnya gadis itu tiba-tiba melangkah maju dan tertawa lebar, merangkapkan tangannya. "Nona, kaukah puteri Pek-houw-pangcu?”

Gadis ini membentak. "Benar, aku puteri Pek-houw-pangcu. Siapa kau yang tidak menjawab pertanyaan orang justeru melancarkan pertanyaan?"

Ceng Liong tersenyum. "Aku Ceng Liong, nona. Maaf kalau anak buahmu kuhajar begitu. Mereka tak tahu adat, menyerang orang yang baik-baik datang ingin menemuimu."

"Hm, ada apa perlumu menemuiku?"

Ceng Liong menyeringai. Untuk pertanyaan ini tak dapat dengan segera dia menjawabnya. Tapi melihat gadis itu semakin marah dan menaikkan keningnya terpaksa dia menjawab juga, lirih tapi tegas, "Aku ingin menjadi kekasihmu, nona. Aku datang untuk menyatakan cintaku!"

Gadis itu terkejut ia melangkah mundur, tersentak memandang Ceng Liong dan mukanya seketika merah. Tapi melihat Ceng Liong bicara sungguh-sungguh dan tidak main-main kepadanya mendadak gadis ini tergetar dan tak mampu menjawab. Untuk sejenak ia memandang Ceng Liong yang gagah dan tampan itu, terbelalak bagai kelinci melihat seekor harimau Tapi melihat Ceng Liong menurunkan tangan kejam pada murid-murid Pek-houw-pang dan merasa aneh bahwa belum pernah bertemu sudah menyatakan cinta maka tiba-tiba puteri Pek-houw-pangcu ini menganggap Ceng Liong gila dan menjadi marah!

"Orang she Ceng, kau manusia sinting yang tidak waras? kau tak tahu malu menyatakan maksudmu dengan cara begini?"

Ceng Liong mengerutkan kening. "Cara begini bagaimana, nona? Aku datang sungguh-sungguh menyatakan maksud hatiku. Aku waras tidak sinting. Kenapa kau mengataiku begitu?"

"Tapi kau merobohkan murid-murid Pek-houw-pang, orang she Ceng. Dan kau melukai mereka dengan pukulan keji!"

"Hm, aku bukan orang she Ceng, nona. Aku orang she Yap. Percaya atau tidak aku adalah putera Pendekar Gurun Neraka. Tapi mengenai anak buahmu yang kurobohkan itu adalah kesalahan mereka sendiri yang maju mengeroyokku!"

"Dan kau tak akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu?"

"Perbuatan bagaimana, nona? Aku datang ke sini untuk menyatakan cinta, bukan membuat onar kalau tidak dipaksa!"

"Keparat, tapi kita tak pernah bertemu, manusia hina. kau belum pernah melihatku selama ini. Bagaimana bisa menyatakan cinta?'

"Ah, nanti dulu, nona. Jangan kau berkata seperti itu. Kita sudah bertemu, dan juga saling berkenalan. Kenapa bilang belum pernah bertemu?"

Gadis itu terbelalak. "Di mana kita pernah bertemu? Kapan saling berkenalan?"

"Sekarang ini, nona. Saat ini juga setelah kita sama-sama berhadapan!"

"Ah, keparat..!" dan gadis yang tiba-tiba menggerakkan pedang itu sudah menerjang ke depan dengan penuh kemarahan. "Pemuda tak tahu malu, kau manusia mata keranjang yang hina-dina!"

Dan Ceng Liong yang sudah diserang bertubi-tubi dengan sambaran pedangnya itu tiba-tiba dibuat terkejut dengan gebrakan ini. Ceng Liong melihat sambaran pedang gadis itu cepat sekali, bertubi-tubi menyerang dan menusuk. Dan melihat serangan gadis itu cukup berbahaya dengan angin bersiutan dingin terpaksa Ceng Liong melompat mundur dan menjadi marah. "Nona, kau tidak menyambutku baik-baik? kau justeru menyerangku dengan cara begini?"

Gadis itu melengking. "Aku Ciok Kim tak akan menyambutmu baik-baik, orang she Ceng. kau penipu dan manusia keji...!"

Maka Ceng Liong yang terpaksa berlompatan menghindari serangan pedang itu tiba-tiba tertawa mengejek dan mendengus dingin. "Baik, aku akan melayanimu, adik Ciok Kim. Tapi setelah itu kau harus turut kepadaku dan pergi dari tempat ini... tring!" dan Ceng Liong yang menyentil pedang dengan kuku jarinya saat Ciok Kim menyerangnya gencar tahu-tahu sudah berputar dan mengerahkan ginkangnya, mengikuti sambaran pedang lawan yang menjadi terkejut ketika terpental oleh sentilan jari Ceng Liong.

Tapi puteri Pek-houw-pang yang sudah memekik dengan tusukan bertubi-tubi itu segera mainkan senjata dengan hebat dan ganas. Maka terjadilah pertandingan seru ini, satu lawan satu. Tapi Ceng Liong yang mengerahkan Cui-beng Ginkangnya ternyata lolos dari semua tikaman pedang, menyelinap dan bergerak cepat di antara sambaran senjata yang bertubi-tubi menghujani dirinya. Dan ketika lawan mulai terkejut oleh kelihaian pemuda ini mendadak Ciok Kim merobah gerakan.

Sekarang puteri Pek-houw-pang itu mulai melancarkan tendangan-tendangan dari bawah, bahkan tangan kirinya ikut pula maju membantu dengan pukulan-pukulan miring, menyodok atau menampar dengan tenaga sinkang. Dan Ceng Liong yang menghadapi hujan serangan diri puteri Ciok Pang yang gencar ini akhirnya terdesak. Ceng Liong terkejut. Dia melihat puteri Pek-houw-pang itu benar-benar hebat, tangkas dan cepat sekali semua serangannya itu. Dan ketika Ciok Kim mulai mainkan tikaman pedangnya dengan tangan kiri yang dirobah bentuknya menjadi cakar harimau yang tidak lagi menyodok atau menampar melainkan mencengkeram seperti kuku seekor harimau betina maka Ceng Liong benar-benar kaget.

"Ah, ilmu silatmu benar-benar hebat, nona Ciok. Sungguh mengagumkan dan menarik hatiku!" demikian Ceng Liong bicara, memuji lawan.

Sementara dirinya terus mundur didesak lawan yang sebenarnya penasaran mengapa belum sedikit pun juga tubuh lawannya itu disentuh pedang yang menyambar-nyambar bagai angin kesetanan. Dan Ciok Kim yang diam-diam terkejut menyaksikan kehebatan lawannya ini yang dapat bicara padahal pedang terus menusuk dan menikam bertubi-tubi membuat gadis puteri Pek-houw pang itu gusar.

Sebenarnya, Ciok Kim sudah mengeluarkan semua ilmu silatnya, termasuk cengkeraman dengan tangan kiri itu yang disebut Houw-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Harimau). Yakni ilmu silat yang menjadi andalan perkumpulan Pek-houw-pang (Perkumpulan Harimau Putih) itu, ilmu silat yang diciptakan oleh sang ketua Pek-houw-pang sendiri yang bernama Ciok Pang, ayah gadis cantik itu. Tapi melihat bahwa semua serangannya luput dan Ceng Liong meskipun terdesak tapi belum sekalipun juga disambar pedangnya membuat Ciok Kim diam-diam marah dan gusar bukan main.

Hingga akhirnya, ketika satu saat Ceng Liong merunduk menghindari babatan pedang yang menyambar kepalanya mendadak puteri Pek-houw-pang itu melengking. Tangan kirinya bergerak, meluncur cepat mencengkeram muka Ceng Liong yang saat itu menunduk. Lalu tak puas oleh serangan tangan kiri ini puteri Pek-houw-pang itu masih menyusuli pula dengan tendangan lututnya yang diangkat ke atas menghantam dagu Ceng Liong!

"Ah, berbahaya sekali, nona Ciok. Sungguh tak kuduga...!" Ceng Liong berseru, terkejut oleh dua serangan beruntun dari depan dan bawah ini. Tapi Ceng Liong yang sudah tak mau didesak lagi dan ingin mulai membalas tiba-tiba mengerahkan pukulan Tokhiat-jiunya untuk menangkis secara berbareng. Dan, begitu dia melempar kedua tangan ke atas dan ke bawah tiba-tiba saja Ciok Kim menjerit ketika tangan kiri dan lutut kakinya diterima tamparan Ceng Liong.

"Plak-plak.... aduh...!" Ciok Kim terpelanting. Untuk pertama kalinya ia roboh disambut pukulan Ceng Liong, yang kini membalasnya dengan muka berseri karena sejak tadi sesungguhnya Ceng Liong memang sengaja mengalah dan ingin menguji kepandaian puteri Pek-houw-pang itu, yang membuat dia mulai kagum dan tertarik.

Dan begitu melihat lawan terpelanting dengan tubuh terguling-guling segera Ceng Liong mengejar maju sambil tertawa. "Adik Ciok, kau tak dapat mengalahkan aku!"

Ciok Kim pucat mukanya. Ia melihat Ceng Liong sudah melompat di dekatnya, mengulur jari untuk mencengkeram pundaknya. Maka Ciok Kim yang berteriak sambil melompat bangun ini tiba-tiba meaggerakkan pedang membacok tangan Ceng Liong.

"Trikk...!" Ciok Kim terkejut. Ia melihat pedangnya terpental, sama sekali tak mampu membacok jari Ceng Liong yang dibabat pedangnya, jari yang tiba-tiba keras bagai baja karena Ceng Liong telah mempergunakan Coan-kut-ci-nya (Jari Penusuk Tulang) yang didapat dari gurunya nomor dua, Mayat Hidup. Dan Ciok Kim yang kaget melihat pedangnya terpental sementara Ceng Liong terus mengulurkan lengan menangkap pundaknya sambil tertawa tiba-tiba membanting tubuh dan menendang paha Ceng Liong yang sudah dekat dengan dirinya, "Des...!"

Dan Ceng Liong terdorong mundur, menyeringai oleh tendangan yang cepat itu tapi sudah memburu lagi sambil tertawa. "Nona Ciok, kau tak dapat mengalahkan aku!"

Cok Kim melompat bangun. Ia pucat melihat Ceng Liong mengejarnya, tapi menggigit bibir dan tidak gentar sedikitpun juga ia segera menyambut, melengking dan menangkis kiri kanan kedua tangan Ceng Liong yang menyambar-nyambar dirinya bagai cengkeraman rajawali yang mempermainkan mangsa. Dan karena Ceng Liong saat itu menggabung dua pukulannya sekaligus antara Coan kut-ci dan Tok-hiat-jiu maka sebentar saja lawannya itu berhasil didesak.

Ciok Kim mundur-mundur, mengeluh dan hampir menangis oleh tangkisan pedangnya yang sia-sia. Karena pedang itu selalu terpental oleh jari Ceng Liong yang sekeras baja. Dan ketika satu saat Ceng Liong menambah tenaga dalam sebuah benturan tiba-tiba saja pedang di tangan gadis itu terlepas.

"Tring!" Ciok Kim mengeluh. Ia sekarang tak bersenjata, dan Ceng Liong yang tertawa menggerakkan jarinya tiba-tiba melompat ke depan menotok pundaknya.

"Adik Kim, menyerahlah...!" dan ketika Ciok Kim terhuyung dalam eposannya yang lambat tahu-tahu gadis ini telah roboh di pelukan Ceng Liong! "Ha-ha, bagaimana, Kim-moi-moi? kau tak dapat mengalahkan aku, bukan?"

Ciok Kim menangis. Dia sekarang benar-benar tak berdaya menghadapi lawannya itu, roboh tertotok tak dapat bergerak. Dan marah serta malu oleh semuanya itu tiba-tiba Ciok Kim menjerit dan lunglai di pelukan lawannya ini. Pingsan!

Ceng Liong tertegun. Dia terkejut oleh jerit kekecewaan lawannya itu. Tapi melihat gadis Pek-houw-pang ini hanya pingsan saja oleh himpitan penasarannya tiba-tiba Ceng Liong tersenyum. Dia tak melihat lagi sisa anak murid Pek-houw-pang yang tinggal sepuluh orang itu. Rupanya mereka melarikan diri setelah melihat dia merobohkan gadis ini. Maka berlenggang dan tertawa menyeringai ketika Ceng Liong keluar dari pintu gerbang perkumpulan Harimau Putih itu, melompat dan akhirnya berkelebat meninggalkan Kui-yang setelah melihat semuanya sunyi tak ada yang mengganggu.

* * * * * * * *

"Ha-ha, sudah kau dapat puteri Pek houw-pang itu, Liong-ji?"

Demikian mula-mula Ceng Liong mendapat sambutan gurunya itu, Mu Ba yang berdiri tegak di luar gua. Dan Ceng Liong yang sudah menurunkan tubuh tawanannya ini di atas tanah langsung tersenyum dan tertawa. "Ya, tapi dia tak mau baik-baik ikut denganku, suhu. Gadis ini keras kepala dan bandel sekali. Apa yang harus kau lakukan?"

"Hm, apa yang harus kulakukan, Liong-ji? Tentu saja tanya dirimu sendiri, apa yang kau inginkan dari gadis ini!"

Ceng Liong tersenyum. "Aku ingin menjadi kekasihnya, suhu. Tapi secara baik-baik dan suka rela!"

"Dan kau belum menundukkan hatinya?"

"Belum."

"Kalau begitu minta tolong ibumu, Liong-ji. Dialah satu-satunya wanita yang dapat menolongmu untuk saat ini!" dan Mu Ba yang tertawa bergelak meninggalkan muridnya itu tiba-tiba berkelebat pergi setelah memberikan pesannya ini.

Ceng Liong tak mengerti. Dia mengira gurunya itu main-main saja, tapi melihat ibunya keluar mendengar suara anaknya segera Ceng Liong melompat maju menyeringai lebar "Ibu, aku mendapat teman. Ia puteri Pek-houw-pang bernama Ciok Kim!"

Tok-sim Sian-li mengerutkan alis. "Kenapa ia pingsan, Liong ji? Apa maksudmu?"

Ceng Liong tertawa. "Aku jatuh cinta padanya, ibu. Kubawa ke mari untuk menggantikan bibi A-cheng."

"Maksudmu?"

"Aku ingin mempunyai kekasih, ibu. Aku kesepian setelah bibi A-cheng tewas!"

"Hmm...!" Tok-sim Sian-li membelalakkan mata. "Kau membawanya dengan jalan kekerasan, Liong-ji? Dan kau membunuh ayahnya?"

"Tidak, aku tak bertemu ayahnya, ibu. Saat itu Ciok-pangcu tak ada di rumah dan aku bertemu anak gadisnya ini."

"Lalu apa yang kau maui? Bukankah ia sudah ditanganmu?"

Ceng Liong meringis. "Ia keras kepala, ibu. Tak mau tunduk hingga terpaksa kurobohkan."

Tok-sim Sian-li mengerti. "Kalau begitu sadarkan dia, Liong-ji. Coba kulihat bagaimana sikapnya," dan Ceng Liong yang sudah tersenyum membebaskan totokannya segera membuat Ciok Kim sadar, melompat bangun dan terbelalak marah memandang Ceng Liong.

"Manusia keji, bunuhlah aku!" Ciok Kim langsung membentak, maklum tak ada gunanya melawan.

Tapi Ceng Liong yang tertawa menuding ibunya berbisik lirih, "Sst, tak ada yang bermaksud membunuhmu, adik Kim. kau tenanglah, ini ibuku yaag ingin melihatmu."

Ciok Kim tertegun. Ia melihat seorang wanita cantik berdiri di sebelah Ceng Liong, sikapnya gagah tapi dingin, memandang kepadanya dengan mata aneh mirip elang yang buas. Dan Ciok Kim yang kaget mendengar Ceng Liong menyebut wanita cantik itu sebagai ibunya tiba-tiba menjublak dan membelalakkan mata.

Dan Tok-sim Sian-li bertanya kepadanya, "Benarkah kau puteri ketua Pek-houw-pang?"

Ciok Kim mengangguk, masih angkuh dengan kepala tegak. "Ya, aku puteri ayahku Ciok Pang. Siapakah kau yang menjadi ibu dari pemuda setan ini?"

"Hm, aku adalah Tok sim Sian-li, bocah she Ciok. Kukira ayahmu tak akan bersikap kasar kalau dia mengenal aku, kau belum pernah mendengar namaku?"

Ciok Kim kaget. "Kau murid mendiang datuk sesat Cheng-gan Sian jin itu? Kau betul betul ibu dari pemuda ini?"

Tok-sim Sian-li tersenyum, dingin sakapnya, "Ya, akulah orang yang kau maksudkan itu, bocah. Kukira kau tak berani kurang ajar lagi setelah mengenal siapa aku!"

Dan Ciok Kim yang mengeluarkan seruan tertahan dan melangkah mundur mendengar jawaban ini tiba-tiba tertegun memandang lawannya dengan muka pucat.

Tapi Ceng Liong melangkah maju, menyentuh lengannya. "Adik Kim, tak perlu kau takut. Ibu dan aku tak akan memusuhimu kalau kau penurut."

Ciok Kim menghentakkah lengannya, menampar muka Ceng Liong. "Manusia iblis, jangan sentuh diriku., plak!" dan Ceng Liong yang terhuyung ke belakang menerima tamparan itu seketika berkilat matanya dan menggigit bibir.

"Adik Kim, kau masih tak dapat bersikap halus?"

Ciok Kim menggigil. Dia sekarang tahu siapa gerangan orang yang menjadi lawannya ini. Tapi tak kenal takut dan membentak marah dia menjawab pertanyaan Ceng Liong, "Aku tak akan bersikap halus kepadamu, pemuda setan. Kau manusia keji yang berhati iblis mirip ibumu. Aku tak sudi kau bujuk!"

"Hm, kenapa ibu kau bawa-bawa dalam masalah ini, adik Kim? Dia tak bersalah, tak perlu kau memakinya!"

"Siapa takut?” Ciok Kim tak perduli. "Aku telah mendengar sepak terjang ibumu itu, pemuda setan. Wanita tak tahu malu yang setali tiga uang denganmu!"

"Keparat!' Ceng Liong mendesis. "Jangan kau menghina kami, adik Kim. Aku bisa kehilangan rasa sayang jika kau tak tahu diri begini!"

"Memangnya kenapa? kau kira aku takut?"

Maka Ceng Liong yang tak dapat menahan marahnya lagi tiba-tiba membentak. Dia sudah berkelebat maju, menampar pipi puteri ketua Pek-houw-pang itu. Dan Ciok Kim yang tak dapat mengelak serangan ini tahu-tahu ditampar pipinya hingga roboh terpelanting.

"Plak!" Ciok Kim melompat bangun. Dia melihat Ceng Liong sedikit iba, memandangnya dengan alis berkerut tapi masih jengkel.

Sementara Tok-sim Sian-li yang marah oleh sikap gadis ini tiba-tiba mencabut bendera iblisnya. "Liong-ji, bocah ini tak dapat disayang. Sebaiknya dibunuh saja!"

Ceng Liong terkejut. Dia melompat maju, menghadang di tengah. Dan memandang sungguh-sungguh dia melindungi puteri Pek-houw-pang itu. "Tidak, jangan, ibu. Aku suka dan sayang kepadanya. Dia gagah dan menarik hatiku!"

"Tapi kalau dia kurang ajar begini apakah kau juga masih tetap tertarik? kau bodoh, Liong-ji. Mencari gadis yang jauh lebih hebat dari puteri Ciok-pangcu ini masih banyak. Tak perlu sayang melenyapkan jiwanya!"

Tapi Ceng Liong menggeleng. "Tidak. Aka tak akan membunuhnya, ibu. Betapapun aku telah membawanya kemari. kau tak boleh membunuh sebelum dia tunduk kepadaku!" lalu menghadapi Ciok Kim kembali Ceng Liong bertanya, "Adik Kim, kau benar-benar tak dapat menerima cintaku dan bersenang-senang di sini?"

Ciok Kim menjengekkan hidung. "Aku tak sudi menjadi kekasihmu, orang she Ceng, kau keji dan tak tahu malu!"

"Hm, aku bukan she Ceng, adik Kim. Aku adalah she Yap!"

"Cih, siapa mempercayaimu sebagai keturunan Pendekar Gurun Neraka? Yap-goanswe adalah laki-laki gagah, manusia hina. Tak mungkin kau keturunannya biarpun kau mengaku she Yap!"

Ceng Liong menjadi geram. "Ibu, dapatkah kau menolongku menundukkan perempuan liar ini? Aku menghendakinya hidup, tak boleh dibunuh!"

"Hm, tapi bagiku sebaiknya dilenyapkan saja. Liong-ji. Dia gadis berbahaya yang tiada guna bagimu."

"Tidak, aku terlanjur membawanya ke mari, ibu. Aku harus berhasil dengan rencanaku ini!”

"Jadi kau tetap menghendaki kuda betina liar itu?"

"Ya."

"Baiklah?" dan Tok-sim Sian-Ii yang tiba-tiba mengebutkan benderanya mendadak menotok roboh Ciok Kim yang tak dapat mengelak serangan itu. Kalah cepat. Dan begitu dia menggerakkan kakinya tahu-tahu tubuh gadis itu telah ditendang Ke dalam gua. “Liong-ji, berikan ini kepadanya. Cekoki mulutnya dengan satu sloki saja.!" dan Tok-sim Sian-li yang melempar sebotol arak kepada puteranya tiba-tiba mendengus dan berkelebat lenyap keluar gua meninggalkan puteranya.

Dan Ceng Liong yang sudah menerima arak dari ibunya ini tiba-tiba tertawa dan menjadi gembira. "Ibu, terima kasih...!”

Tapi Tok-sim Sian-li tak nampak bayangannya lagi. Dia lenyap entah ke mana, dan Ceng Liong yang sudah melompat masuk segera menghampiri Ciok Kim yang terbelalak kepadanya.

"Manusia hina, apa yang akan kau lakukan?"

Ceng Liong tersenyum. "Menundukkan hatimu, Kim-moi (adik Kim). Kau maafkanlah aku yarg sudah tak tahan rindu ini!" dan Ceng Liong yang langsung membuka mulut Ciok Kim sudah menuangkan arak pemberian ibunya, yang tentu saja disambut rontaan Ciok Kim yang memaki kalang-kabut. Tapi Ceng Liong yang menotok lehernya segera membuat Ciok Kim mengeluh dan lemas kepalanya, tak dapat menolak lagi dan menerima arak itu yang segera memasuki mulutnya dan lenyap di dalam perut.

Ciok Kim melotot. Untuk sejenak dia mendelik pada Ceng Liong. Tapi ketika kepalanya tiba-tiba terasa pening mendadak gadis ini mengeluh. Dia tak berdaya, kepalanya berputar. Dan ketika Ceng Liong membebaskan totokannya tiba-tiba Ciok Kim melompat baugun dengan tubuh terhuyung.

"Jahanam Ceng Liong, apa yang kau lakukan kepadaku?''

Ceng Liong tersenyum. "Mengajakmu berkasih sayang, moi-moi. Aku rindu dan cinta padamu."

"Keparat! kau... apa yang kau minumkan ini? Mengapa kepalaku pening...?"

"Ah, itu arak pembangkit semangat, Kim-moi. Ibu memberikan itu agar kita berdua dapat bersenang-senang...!"

Halaman 52 dan 53 hilang...!!

...didorong nafsu syeifan yang tidak ingat lagi akan norma-norma kesusilaan. Ciok Kim tak sadar karena perbuatan lawannya sementara Ceng Liong memang sengaja melakukan itu karena dorongan nafsu berahinya yang sesat. Nafsu iblis yang tak menghiraukan sama sekali kehormatan seorang gadis yang mati-matian mempertahankan kesuciannya.

Dan begitu keduanya mengumbar nafsu berahi di dalam gua itu maka rusak binasalah harga diri puteri Pek-houw-pang ini. Masuk dalam kekejian Ceng Liong yang tiada ubahnya iblis muda sendiri dalam ujud seorang manusia dan ketika dua jam mereka melampiaskan gejolak nafsu yang membakar tubuh keduanya maka akhirnya dua pemuda dan pemudi itu tergeletak kelelahan. Ciok Kim langsung tertidur, menggeletak di samping Ceng Liong yang tersenyum puas.

Tapi ketika malam mulai tiba dan pengaruh arak pembangkit nafsu berahi telah lenyap dari tubuh Ciok Kim mendadak gadis ini membuka matanya. Ia mendengar suara orang bicara, seperti meributkan sesuatu. Tapi karena saat itu Ciok Kim seakan mimpi dan belum sadar benar maka gadis ini mendengarkan saja, terlena dengan mata terbelalak. Tapi ketika suara ribut-ribut itu mulai diiringi bentakan-bentakan maka Ciok Kim terkejut dan kaget bukan main. Apalagi ketika tubuhnya ditendang mencelat dan dia mendengar suara ayahnya di situ.

“Ciok Kim, apa yang kau pandang? kau tidak dengar pertanyaanku?"

Ciok Kim kaget bukan main. Ia melompat bangun, menjerit lirih ketika melihat tubuhnya telanjang bulat. Maka sadar dan melihat pakaiannya menumpuk di sudut gua mendadak gadis ini mengeluh dan menyambar pakaiannya itu. Dengan buru-buru dan muka pucat ia mengenakan pakaiannya. Lalu membalikkan tubuh dan melihat apa yang terjadi sekonyong-konyong gadis ini tertegun dan serasa "nyos" melihat ayahnya ada di situ dengan mata berapi-api berdiri tegak di muka gua!

"Ayah...!"

Laki-laki gagah itu menggeram. Dia mendengar suara Ciok Kim yang kering, serak seolah tiada tenaga lagi. Tapi Ciok Kim yang sudah menubruk dan menjerit di dada ayahnya tiba-tiba mengguguk dan tersedu-sedu. Ciok Kim sekarang sadar akan apa yang terjadi, bebas dari mimpi buruk itu yang disangka khayal. Dan Ciok Kim yang melihat Ceng Liong ada di situ tiba-tiba memekik dan menyerang penuh kemarahan.

"Ceng Liong, kau laki-laki jahanam...!"

Tapi Ceng Liong berkelit mudah. Dia mengegos kesana-sini, mengelak semua serangan gadis itu. Lalu menggerakkan tangan menyambar ke depan tahutahu dia telah menangkap lengan puteri Pek-houw-pang ini. "Kim-moi tahan. Jangan gila kau!"

Tapi Ciok Kim memberontak. Ia melepaskan dirinya, menendang dan memaki Ceng Liong sambil menangis tersedu-sedu. Dan laki-laki gagah di luar yang bukan lain Ciok-pangcu adanya tiba-tiba berkelebat ke dalam menarik puterinya.

"Kim-ji, mundur. Biar aku yang bicara!"

Ciok Kim menjerit dengan air mata bercucuran. Ia mau melawan pula seruan ayahnya itu, benci sekali kepada Ceng Liong yang telah merenggut kehormatannya. Tapi Ciok Pang yang membentak dan menotok puterinya tiba-tiba membuat Ciok Kim terguling dan roboh di pelukan ayahnya.

"Kim-ji, dengar. Kita lihat apa yang dikatakan pemuda itu!" lalu menghadapi Ceng Liong dengan mata berapi-api ketua Pek-houw-pang ini bertanya.

"Pemuda she Ceng, apa sekarang jawabmu tentang pertanyaanku tadi? Masihkah kau tak mempertanggungjawabkan kejadian ini setelah kau merusak puteriku?"

Ceng Liong tersenyum. Dia tadi sedang enak-enak mengelus rambut Ciok Kim ketika ketua Pek-houw pang ini datang, muncul tiba-tiba di depan gua pada saat dia belum berpakaian sama sekali. Sama seperti gadis itu yang juga telanjang di sisinya. Tapi Ceng Liong yang tenang dan melompat bangun menyambar pakaiannya segera menghadapi laki-laki gagah itu. Yang ternyata bukan lain adalah ketua Pek-houw-pang atau ayah dari Ciok Kim yang telah dia tundukkan dengan paksa itu. Dan Ceng Liong yang mendengar psrtanyaan bengis yang diulang dari ketua Pek-houw-pang itu tibatiba tertawa dan tersenyum menyeringai.

"Pangcu, aku belum sedia untuk diikat dalam perkawinan. Mengapa kau mengulang-ulang pertanyaan itu yang akan kujawab sama? Adik Ciok Kim telah menjadi kekasihku. Tapi bukan berarti kami akan segera kawin dan berumah tangga!"

"Keparat, jadi apa maumu datang ke Pek-houw-pang, orang she Ceng? Apakah hanya untuk mempermainkan puteriku?"

"Hm, aku tidak mempermainkan puterimu, pangcu. Aku ke sana justeru untuk mengajak puterimu bersenang-senang. Kenapa kau marah?"

Ciok Pang mendelik. Terang dia marah mendengar jawaban Ceng Liong yang seenak perutnya ini. Tapi ketua Pek houw-pang yang mendengar kelihaian pemuda itu dari anak muridnya mencoba bersabar meskipun jari-jarinya sudah berkerotok untuk menerjang pemuda itu. Dan Ciok Pang yang mengepal tinju dengan muka merah ini lalu menggeram. "Baik, kalau begitu aku akan menuntut tanggung jawabmu, orang she Ceng. Tapi katakan dulu siapa guru atau orang tuamu!"

Ceng Liong berkata "Aku segan memamerkan guru atau nama orang tuaku, pangcu. Kau berurusanlah saja denganku. Aku Yap Ceng Liong siap menerima tuntutan tanggung jawabmu kalau kau tidak puas dengan kata-kataku.”

Ciok Pang benar-benar tak tahan. Tapi belum dia mencabut senjatanya tahu-tahu Ciok Kim melengking, "Dia putera Tok-sim Sian-li, ayah. Cucu murid mendiang datuk sesat Cheng-gan Sian-jin...!"

Ciok Pang terkejut. "Kau anak wanita iblis itu, orang she Ceng?"

Ceng Liong terpaksa mengangguk. "Benar."

"Ah...!" dan Ciok Pang yang melangkah mundur mencabut goloknya tiba-tiba menggigil. "Pantas, kalau begitu kau anak haram itu, bocah. Keturunan jadah wanita cabul yang tak tahu malu!" dan Ciok Pang yang sudah berseru keras membabatkan goloknya tahu-tahu menerjang ke depan dengan penuh kemarahan.

Sekarang dia tahu siapa pemuda ini. Murid atau keturunan orang-orang sesat macam Cheng-gan Sian-jin dan Tok-sim Sian-li itu. Wanita iblis yang sudah didengar segala keburukannya dalam bertingkah laku, terutama sepak terjangnya yang berganti-genti kekasih itu. Pergumbar nafsu berahi nomor wahid! Maka kaget serta marah melihat puterinya jatuh di tangan pemuda macam ini seketika Ciok-pangcu tak dapat mengendalikan diri lagi.

Dia tadinya mengharap Ceng Liong adalah pemuda baik-baik, dalam arti kata masih keturunan pendekar yang sesat jalan saja. Tapi setelah mengetahui bahwa pemuda itu keturunan orang jahat yang sudah tak mungkin "direparasi" lagi maka Ciok Pang langsung menerjang dengan maksud membunuh! Dia akan melenyapkan pemuda itu, menghapus malu nama baik keluarganya.

Tapi Ceng Liong yang tertawa mengejek melihat serangan ketua Pek houw-pang ini tiba-tiba membuat laki-laki gagah itu terkejut. Serangan goloknya dikelit, lalu sementara golok lewat di samping tubuhnya sekonyong-konyong pemuda itu menyentil. "Ciok-pangcu, mari kita main-main di luar saja... tring!"

Dan golok yang menyeleweng menghantam dinding gua seketika tergetar dan hampir terlepas dari cekalan tangan ketua Pek-houw pang ini, yang tentu saja menjadi kaget bukan main. Dan sementara dia berseru tertahan dengan mata terbelalak tahu-tahu Ceng Liong telah melejit dan menyelinap di bawah ketiaknya, lolos keluar!

"Pangcu, mari...!"

Ciok Pang tertegun. Dia melihat lawannya itu tertawa, berdiri di luar gua dengan mata mengejeknya. Dan Ciok Pang yang marah serta kaget oleh gebrakan pertama ini sudah membentak dan berkelebat keluar. "Bocah hina, aku akan membunuhmu!"

Ceng Liong ganda ketawa. Dia tak mencabut senjatanya, menyambut terjangan ketua Pek-houw-pang itu yang sudah membacokkan goloknya bertubi-tubi, menyerang dengan mata melotot dan muka merah. Tapi Ceng Liong yang berhati-hati menghadapi ketua Pek-houw-pang ini segera mengerahkan ilmunya, mengikuti sambaran golok dan mainkan kedua tangan dan kaki untuk mengelak atau menangkis, mengerotokkan buku-buku jari untuk siap membalas dengan pukulan Tok-biat-jiu atau Coan-kut-ci-nya. Dan begitu Ceng Liong menotolkan kaki dengan ringan mengerahkan Cui-beng Ginkangnya maka ketua Pek-houw-pang itu jadi semakin kaget ketika lawan lenyap dalam bentuk sebuah bayangan.

"Ciok-pangcu, kerahkan kepandaianmu. Bunuh aku kalau bisa..!"

Ciok Pang melotot. Dia harus mempercepat serangan goloknya untuk mengejar lawannya itu. Dan ketua Pek-houw-pang yang juga bukan orang lemah ini tiba-tiba membentak. Dia mengayun tubuh, dan begitu mengerahkan kepandaian dengan seruan tinggi mendadak golok di tangan ketua Pek-houw-pang ini mengaung dan berseliweran bagai lebah mengerubung sarang. Golok di tangan kanannya itu bekerja naik turun, membentuk gelombang lingkaran yang berkeredep menyilaukan mata.

Dan begitu dia menerjang semakin ganas dan bertubi-tubi maka tiba-tiba saja tubuh Ceng Liong telah dikelilingi bayangan golok yang naik turun bagai naga haus darah itu. Apalagi ketika tangan kirinya juga mulai ikut bergerak-gerak, menyambar dan mencengkeram dengan ilmu Houw-jiauw-kang itu, membantu serangan goloknya, ilmu cengkeraman harimau yang membuat sepak terjang ketua Pekhouw-pang ini benar-benar hebat dan ganas bukan kepalang, yang membuat Ceng Liong mau tidak mau menjadi kagum dan tiba-tiba terdesak!

"Ah, hebat kau, pangcu!"

Tapi Ceng Liong masih selalu dapat menghindar. Dia mengeluarkan pujiannya itu dengan tulus, kerena ketua Pek houw pang ini memang benar-benar hebat. Tapi Ciok-pangcu sendiri yang merah mukanya mendengar pujian itu justeru menggigit bibir. Dia dikata hebat, tapi apa kenyataannya saat ini? Dia belum mampu merobohkan lawannya itu. padahal lawan sudah terkurung rapat oleh gulungan sinar goloknya, yang tak dapat keluar lagi karena putaran goloknya. Dan Ceng Liong yang masih dapat berbicara padahal harus mengelak dan berkelebatan cepat menghindari semua serangan goloknya benar-benar membuat ketua Pek-houwpang ini malu dan penasaran!

Sebenarnya, menurut perhitungan di atas kertas lawannya itu sudah harus roboh, apalagi terang-terangan lawannya itu sudah tak dapat keluar dari gulungan golok yang berseliweran mengaung-ngaung. Yang demikian hebat membacok dan menikam. Tapi suatu kejadian aneh yang terjadi di dalam pertandingan ini membuat Ciok-pangcu terbelalak dan kaget hatinya.

Karena lawan yang sudah terang-terangan "dibungkus" gulungan sinar goloknya itu dan siap dibacok atau ditikam ternyata selalu menghindar dari semua serangan goloknya. Karena Ceng Liong yang dibacok atau ditusuk itu selalu terlempar lebih dulu bagai kapas yang ringan. Benda kering yang seolah-olah tidak berbobot dan tentu saja selalu terdorong begitu angin goloknya menyambar!

Maka Cok-pangcu yang kaget oleh kejadian ini segera berobah mukanya. Dia tahu apa yang terjadi itu. Demonstrasi mengagumkan dari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda ini. Yang membuat tubuhnya seringan kapas dan karena itu selalu terdorong begitu angin goloknya menyambar. Ilmu meringankan tubuh warisan Cheng-gan Sian jin yang dia dengar bernama Cui-beng Ginkang (Ginkang Pengejar Roh)! Maka Ciok-pangcu yang bingung serta marah oleh semuanya ini tiba-tiba melengking.

"Bocah she Ceng. Jangan kau menghindar saja kalau berani. Hayo tangkis dan sambut golokku kalau jantan...!"

Ceng Liong tertawa. "Kau ingin aku menangkis golokmu, pangcu? Baiklah, jaga kalau begitu...!”

Dan Ceng Liong yang tiba-tiba menghentikan gerakannya dan tidak mengelak lagi sekonyong-konyong menyambut sambaran golok Ciok-pangcu yang menyambar lehernya. Dengan berani dan tenang pemuda ini meluruskan empat jarinya, menerima mata golok yang tajam. Dan begitu lawan berteriak girang dengan mata melotot tahu-tahu golok di tangan ketua Pek-houw pang itu sudah bertemu jari tangan Ceng Liong yang memapak maju.

"Trikk...!”



Pedang Medali Naga Jilid 12

PEDANG MEDALI NAGA
JILID 12
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Karya Batara
CENG LIONG tertawa. Dia menyambut dengus kekasihnya itu, menyambut ciuman yang panas dari pelayan ini. Tapi ketika mereka sedang enak dibuai nafsu mendadak bentakan dingin seseorang mengejutkan mereka.

"A-cheng, apa yang kau lakukan ini?"

Dua orang itu terkejut. Mereka tentu saja kaget, dan melepaskan diri dengan muka pucat mereka melihat Mayat Hidup muncul di situ dengan mata mengerikan memandang mereka, melotot dan penuh nafsu membunuh!

"Ah...!" Ceng Liong langsung mencelat keluar. "Kau sudah datang, ji-suhu?"

Tapi Mayat Hidup mendengus. Dia berapi-api memandang muridnya itu, yang lupa dalam keadaan bugil. Dan Ceng Liong yang sadar olleh keadaannya ini tiba-tiba tertawa gugup dan menyambar pakaiannya di atas batu hitam. Lalu mengenakan pakaiani ya dengan buru-buru Ceng Liong melihat pula ibunya muncul.

"Liong-ji, apa yang kau lakukan dengan pelayan hina itu?"

Ceng Liong tersenyum kecut. Dia bingung mendengar itu semuanya. Tapi melihat A-cheng pucat di dalam air mendadak pikiran jahatnya timbul. Dia tak menjawab, melirik ke kiri kanan Lalu melihat A-cheng masih berendam di air dalam keadaan telanjang tiba-tiba dia tertawa. "Aku tak melakukan apa-apa, ibu. Bibi A-cheng hanya mengajariku bercinta di dalam air."

"Hm, dan sudah lama kalian melakukan ini?"

"Tidak, baru seminggu, ibu. Bibi A-cheng membujukku karena ji-suhu katanya membuat dia sepi!"

A-cheng kontan menjerit. Ia terbelalak memandang kekasihnya ini, kaget bahwa tiba-tiba Ceng Liong menjerumuskan dia dalam pemutar balikan fakta. Tapi mengira Ceng Liong hanya menggodanya dan main-main maka pelayan ini berseru gemetar kepada pemuda itu, "Kongcu, kenapa kau bicara begitu? Bukankah kita melakukannya bersama-sama?"

"Hm..." Mayat Hidup menyela, berkilat matanya. "Kau keluar dulu, pelayan hina. Bicara di depan kami yang benar!"

A-cheng gugup. Ia mengandalkan bantuan Ceng Liong, mengharap pemuda itu melempar pakaiannya yang terletak di batu hitam. Tapi melihat Ceng Liong diam saja dan tersenyum memandangnya maka pelayan inipun bangkit berdiri dan keluar dari dalam air. Dengan telanjang bulat dan tubuh gemetar dia beringsut mengambil pakaiannya, dipandang tiga pisang mata yang berbeda rasa. Tapi baru melangkah dua tindak ke batu hitam sekonyong-konyong Mayat Hidup membentaknya.

"Berhenti...!"

A-cheng ketakutan. Dia membelakangi mereka semua, malu berputar tubuh. Tapi Mayat Hidup yang rupanya marah sudah membentaknya kembali, "Putar tubuhmu, pelayan hina. Hadapi kami dan tengadahkan mukamu!"

A-cheng jadi semakin pucat. Dia memutar tubuh dengan perlahan, gemetar dan menggigil tidak karuan. Lalu menghadapi mereka dengan muka merah pelayan ini menundukkan kepalanya, menutup dua bagian penting yang dipunyainya dengan likat sekali. Tapi Mayat Hidup yang berang kepadanya melotot.

“Pelayan hina, tengadahkan mukamu. Berdiri tegak dan lempar kedua tangan ke samping!"

A-cheng ngeri sekali. Dia tiba-tiba menangis, dan terisak dengan muka ketakutan pelayan ini terpaksa turut perintah. Kini dengan kepala tegak dan dada membusung dia menghadapi tiga orang majikannya itu, tak menutupi keadaan tubuh depannya yang polos. Dan Mayat Hidup yang sudah melompat ke depan segera menghakiminya.

"Pelayan hina, siapa yang lebih dulu memulai perbuatan ini? Kaukah?"

A-cheng terang ngewel (gemetaran) tubuhnya. "Tidak, bukan hamba, locianpwe. Tapi Liong-kongculah yang memaksa hamba. Dia mengajak hamba bermain cinta. Dan karena hamba tak berani menolak maka hamba terpaksa menerimanya...!"

"Hm, benarkah, Liong-ji?"

Ceng Liong menyeringai. "Aku lupa siapa yang membujuk, ji-suhu. Tapi kalau kau marah kepadaku terang itu salah. Aku muridmu, ia pelayanmu. Kenapa memarahi murid sendiri tidak memarahi pelayannya?"

Mayat Hidup mengerotokkan buku-buku jarinya. "Jangan main-main kau, anak setan. Aku tak perlu kau kuliahi untuk memarahi siapa. Sekarang jawab yang benar, siapa di antara kalian yang menjadi biang keladi dari semuanya ini...?"

Ceng Liong langsung menuding, "Bibi A-cheng, suhu. Dialah yang membujuk dan mengajakku ke mari!"

Tapi A-cheng menjerit, "Tidak! Liong-kongcu lah yang memaksa hamba, locianpwe. Sungguh mati berani hamba bersumpah...!"

"Hm, kalau begitu kalian saling melempar kesalahan?"

A-cheng pucat sekali, la melihat datuk sesat itu mengetrikkan jarinya, siap melancarkan pukulan mautnya. Jari Penusuk Tulang! Dan melihat Ceng Liong tersenyum menyeringai tiba-tiba pelayan ini menangis gemetar. "Liong-kongcu, kenapa kau tak menepati janjimu? Bukankah kau bilang kau akan membantuku dalam masalah ini?"

Ceng Liong tenang-tenang bicara, "Aku lupa pada janjiku ssndiri, bibi A-ceng. Tapi kalau ji-suhu menyerangku jelas aku akan mempertahankan diri."

"Dan kau mendiamkan saja aku dihukum, kongcu?”

"Kau boleh mempertahankan dirimu sendiri, bibi. Itu hakmu kalau kau bisa."

"Ah...!" dan A-cheng yang menjerit dengan mata terbelalak tiba-tiba menubruk ke depan, menyerang Ceng Liong yang ada di sebelah kirinya. Tapi Ceng Liong yang mengerutkan kening tentu saja tertiwa mengejek.

"Bibi A-cheng, kau berani memukulku? Pergilah!" dan Ceng Liong yang sudah mengibaskan lengan tiba tiba menepuk pelayannya ini yang kontan roboh terjungkal. A-cheng menjerit, bangkit berdiri dan kembali menyerang majikan mudanya itu.
Namun Tok-sim Sian-li yang marah melihat anaknya diserang sekonyong-konyong berkelebat ke depan, menampar kepala pelayannya itu. "A-eheng, kau berani menyerang anakku? Robohlah...plak!"

Dan A cheng yang terpelanting roboh kembali menjerit dengan mulut berdarah, sejenak tak dapat bangkit akibat kerasnya tamparan Tok-sim Sian-li yang membuat kepalanya pening. Tapi ketika ia terhuyung dan bangun dengan muka pucat sekonyong-konyong Mayat Hidup mencengkeram pundaknya.

"Pelayan hina, apa yang mau kau katakan sekarang? Kau belum siap menerima hukuman?"

A-cheng menggigil. Sekarang ia sadar bahwa Ceng Liong jahat sekali, menipu dia dan membiarkan dia menghadapi maut dengan senyum menyeringai. Maka memandang pemuda itu dengan penuh kemarahan pelayan ini mengutuk, "Liong kongcu, sungguh tak kunyana hatimu demikian busuk. Kau sungguh keji, pantas menjadi murid setan seperti Mayat Hidup ini. Terkutuklah kau... semoga api neraka membakarmu kelak di kerajaan setan....!" lalu menendang selangkangan Mayat Hidup sekonyong-konyong pelayan ini meronta.

"Des-des!" A-cheng terlepas. Dengan penuh ketakutan dan kemarahan pelayan ini lari menubruk Ceng Liong, maksudnya ingin mengajak mati bersama pemuda itu untuk menemaninya menerima hukuman. Tapi Ceng Liong yang mendengus dan menggerakkan kakinya tiba-tiba menendang pelayannya itu.

"Plak!" A-cheng tersungkur roboh. Lalu sementara dia mengeluh tertahan tahu-tahu pedang Tok-sim Sian-li melekat di batang tenggorokannya.

"A-cheng, apa pesanmu sebelum kubunuh?"

A-cheng menggigit bibir. "Aku tak meninggalkan pesan apa-apa, hujin. Tapi terkutuklah kalian ibu dan anak!"

Tok-sim Sian-li menggerakkan pedang. Ia mendengus dingin dan langsung menusuk tenggorokan pelayannya itu, marah mendengar ucapan ini. Tapi Mayat Hidup yang ada di sebelahnya tiba-tiba mengibaskan lengan.

"Mo li, tunggu dulu. Biar Ceng Liong yang membunuh kekasihnya itu.. wut!" dan pedang di tangan Tok-sim Sian-li yang tahu tahu dirampas ujung baju iblis tua ini sudah berada di tangan Mayat Hidup dan langsung dilempar ke arah Ceng Liong.

"Anak setan, bunuh kekasihmu itu. Habisi nyawanya!"

Ceng Liong menangkap pedang. Dia tidak menunjukkan perobahan apa-apa, menimang sejenak dan melirik A-cheng yang dilepas ibunya. Lalu melihat A-cheng bangkit berdiri dan terbelalak kepadanya tiba-tiba pemuda ini tersenyum. "Bibi, sebaiknya kau lempar saja dirimu itu ke jurang. Aku tak tega membunuhmu dengan pedang di tangan!"

A-cheng menggigit bibir. Ia terisak, dan melihat Ceng Liong bicara sungguh-sungguh kepadanya maka iapun memutar tubuh dan menjerit penuh kecewa, lari ke jurang di belakang mereka yang dalamnya ratusan tombak. Tapi begitu ia memutar tubuh dan berlari beberapa langkah sekonyong-konyong Ceng Liong menggerakkan pedang, menimpuk punggung wanita itu sambil tertawa.

"Bibi, maaf..!" dan pedang yang melesat dengan kecepatan penuh ilu tiba-tiba sudah menghunjam di punggung A-cheng dan tembus ke dada.

"Crep...!" A-cheng mengeluh. Ia tak dapat menolak lagi, ambruk ke depan dengan pekik lirihnya. Dan persis dia tersungkur roboh maka wanita itupun melayang jiwanya tepat di bibir jurang yang menganga di depan mukanya!

Ceng Liong tertawa. Dia melompat maju, mencabut pedang di punggung pelayannya ini. Lalu menggerakkan kaki menendang diapun sudah melempar tubuh A-cheng ke dalam jurang. "Bibi, maafkan perbuatanku. Aku tak ada waktu untuk menguburmu....!"

Mayat Hidup dan Tok-sim Sian-li tertegun. Mayat Hidup sudah hampir meledak marahnya melihat Ceng Liong menyuruh pelayannya itu melempar tubuh kejurang, yang berarti menolak perintahnya. Tapi melihat Ceng Liong membunuh pe!ayan itu dengan menimpuk di belakang punggung maka iblis tua itupun tertegun din menjublak bengong. Tapi Mayat Hidup tiba-tiba tertawa. Dia melihat Ceng Liong benar-benar licik dan keji. Patut menjadi murid mereka sebagai iblis-ib!is yang ditakuti orang. Tapi geram oleh perbuatan Ceng Liong yang "merebut" pelayannya untuk dijadikan kekasih mendadak iblis tua ini melompat ke depan.

"Ceng Liong, apa sekarang jawabmu setelah permainan gila ini?"

"Hm, apa maksudmu, suhu? Kau hendak menghukumku?"

"Tentu saja! Bukankah kau telah bermain gila dengan pelayan terkutuk itu?"

Ceng Liong tersenyum. "Nanti dulu, suhu. Kalau kau hendak menghukumku dengan ringan tentu saja aku mau. Tapi hukuman apakah yang hendak kau berikan kepadaku? Apakah ibu kau suruh membunuh aku seperti tadi kau menyuruh aku membunuh bibi A-cheng?”

Mayat Hidup terbelalak. "Tentu saja hukuman berat yang harus kau terima, anak setan. Kau telah membujuk A-cheng yang menjadi penghibur gurumu!"

"Dan kau akan membunuhku, suhu? Hm, tentu saja kulawan...!" dan Ceng Liong yang tersenyum mengejek segera melangkah mundur dan melirik gurunya itu dengan berani!

Mayat Hidup sampai tertegun. "Kau mau melawan gurumu sendiri, anak setan?"

"Kalau kau menghendaki nyawaku, suhu. Kalau tidak tentu saja juga tidak!"

"Ah...” dan Mayat Hidup yang membentak marah tiba-tiba mengulurkan jari menampar kepala muridnya itu. "Liong-ji, kau anak durhaka!"

Tapi Ceng Liong mengelak ke samping. Dia mengerakkan pedang, dan begitu lengan suhunya menampar kepala seketika itu juga dia membacok.

"Trak!" Ceng Liong terhuyung. Dia melihat gurunya semakin marah, dan Mayat Hidup yang gusar oleh keberanian muridnva itu tiba-tiba melengking dan mengerotokkan buku-buku jarinya, menyerang murid yang berani melawannya itu. Dan Tok-mii Sian li yang melihat anaknya diserang tiba-tiba mencabut bendera dan membentak dari samping.

"Mayat Hidup, kau hadapi kami ibu dan anak!"

Mayat Hidup meledak kemarahannya. Dia benar-benar gusar bukan kepalang, tapi Ceng Liong yang menangkis serangan gurunya berkata, "Ibu, kau mundurlah dulu. Biarkan aku menghadapi ji-suhu!"

"Tapi kalau kau roboh. Liong-ji?”

"Hm, jangan biarkan aku roboh, ibu. Kau bantulah pada saat aku terdesak!" Ceng Liong tertawa, dan ibunya yang terpaksa mundur dengan bujukan ini akhirnya mengangguk dan memandang pertempuran itu dengan cemas.

"Baiklah, tapi jangan main-main, Liong-ji. Ji-suhu mu itu orang yang cukup telengas!"

Maka Ceng Liong yang sudah menggerakkan pedangnya menangkis semua serangan gurunya segera bertanding dengan sungguh-sungguh. Dia tidak tertawa lagi, memusatkan perhatian pada pedang di tangan dan serangan gurunya yang berbahaya. Dan Mayat Hidup yang gusar oleh perlawanan muridnya ini sudah melancarkan tusukkan jari penusuk tulangnya disertai kepretan jari-jari tangannya yang mengeluarkan pukulan sinkang, membentak dan memaki muridnya yang kurang ajar itu. Dan begitu Ceng Liong mulai melayani gurunya maka pertandingan benar-benar menjadi pertandingan sungguhan yang tidak main main lagi.

Mayat Hidup melancarkan pukulan-pukulan berbahaya, tak segan dan benar benar bermaksud membunuh muridnya yang durhaka. Dan Ceng Liong yarg maklum akan kelihaian gurunya ini juga tahu dan bertahan dengan sepenuh perhatiannya. Tapi Ceng Liong terdesak. Dia hanya dapat bertahan duapuiuh lima jurus saja. Karena bagaimanapun juga dia mengenal dan mengetahui ke mana akhirnya serangan-serangan gurunya itu. Tapi karena dalam hal sinkang dia kalah matang maka dengan tekanan inilah Ceng Liong mulai didesak. Dan ibunya mulai cemas.

Tok-sim Sian-li melihat anaknya keteter, mundur dan berkali kali terhuyung begitu menangkis lengan gurunya. Dan ketika Satu saat Ceng Liong terpelanting oleh kepretan sinkang gurunya mendadak ibu yang sayang kepada anak Ini tak tahan lagi. Apalagi ketika pedang Ceng Liong terlepas!

"Liong-ji, mundur...!" Tok-sim Sian-li mencelat maju. Dia sudah menangkis tusukan jari guru puteranya, memutar bendera dan menendang anaknya untuk menyambar pedang yang terlempar. Dan begitu wanita ini maju membantu maka Mayat Hidup menggeram.

"Kau tak tahu diri, Tok-sim Sian-li. Aku akan membunuhmu juga sekalian kalau begitu!"

Tapi Tok-sim Sian-li sudah berkelebatan menyerang. Dia melihat Ceng Liong sudah menyambar pedangnya, kembali dan berjungkir balik menuju pertempuran semula. Dan Ceng Liong yang tertawa menangkap pedangnya tiba-tiba berseru dan membantu ibunya.

"Suhu, kau tak dapat merobohkan kami berdua. Aku akan membalasmu!"

Mayat Hidup mendelik. Dia sudah dikerubut ibu dan anak itu, melihat bendera berkibar dan pedang menyambar menusuk dirinya. Dan marah oleh serangan ibu dan anak itu Mayat Hidup tiba-tiba mengeluarkan pekik panjang dan meraung. Dia segera melayani, dan begitu mengepretkan jari dan membanting kaki tahu-tahu sambaran pedang dan bendera sudah dia papak dengan tusukan jarinya.

"Plak-bret!"

Ceng Liong dan ibunya tergetar mundur. Mereka berdua terhuyung, tapi Mayat Hidup yang ikut terdorong oleh serangan dua orang itu disambut seruan Ceng Liong yang bernada mengejek. "Suhu, kedudukan kita seimbang. Kau tak dapat mendesakku lagi seperti tadi!"

Mayat Hidup marah bukan kepalang. Dia memang harus mengakui itu, kenyataan bahwa setelah Ceng Liong dibantu ibunya kedudukan mereka memang berimbang, karena dia„ harus memecah perhatian dan sinkangnya menjadi dua. Dan Ceng Liong yang melihat suhunya mencak-mencak segera mengejek lagi dengan kata-katanya yang memerahkan telinga,

"Dan kau tak dapat menghukumku kalau kalah, suhu. Kita masing-masing sama benar dan sama kuat!"

Mayat Hidup memekik. Dia bertubi-tubi mengepretkan jari, melancarkan pukulan-pukulan maut. Dan ketika satu saat kembali mereka sama terdorong mendadak iblis tua ini mengeluarkan paku tulangnya, senjata rahasia yang selama ini jarang digunakan. Dan begitu membentak sambil melempar tangannya tahu-tahu dua senjata rahasia itu meluncur ke arah Ceng Liong dan ibunya, masing-masing mengarah dada dan ulu hati.

"Liong-ji, awas... cet-cet...!"

Ceng Liong dan ibunya membanting tubuh. Mereka terkesiap oleh serangan ini, dan Mayat Hidup yang rupanya lebih geram kepada muridnya itu daripada ibunya tiba-tiba berkelebat maju menyusuli paku tulangnya, mengulur lengan menusuk leher muridnya dengan jari telunjuk dan jari tengah. Dan begitu Ceng Liong melompat bangun dengan muka kaget tahu-tahu dia sudah melihat dua jari gurunya itu menyambar leher.

"Bocah setan, mampuslah...!"

Ceng Liong terkejut. Dia tak ada waktu lagi untuk mengelak, baru saja melompat bangun. Tapi Ceng Liong yang sama sekali tidak menjerit oleh tusukan maut ini tiba-tiba tertawa dan menerima serangan gurunya dengan tenang, maklum bahwa dia tak dapat menyelamatkan diri lagi. Dan jari Mayat Hidup yang meluncur ke depan dengan tusukan maut itu sudah serambut saja menyentuh lehernya. Tapi sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat.

"Mayat Hidup, tahan..!" dan Mu Ba yang tahu-tahu berada di situ menangkis dua jari yang berbahaya ini mendadak sudah membentur lengan Mayat Hidup dari samping. "Plak!" dan Mayat Hidup terdorong mundur, mendelik pada raksasa tinggi besar itu yang ludah berdiri di tengah.

"Kau juga hendak memusuhiku. Mu Ba?"

Mu Ba, raksasa tinggi besar yang terbelalak itu menggeleng, melindungi Ceng Liong dan menegur temannya, "Tidak, tapi kau harus dapat berkepala dingin menghadapi masalah ini, Mayat Hidup. Karena betapapun juga Ceng Liong adalah murid tunggal kita satu-satunya yang harus kulindungi!"

"Dan kau tahu apa yang dilakukan bocah setan itu?"

"Ya, aku tahu, Mayat Hidup. Tapi itu bukan satu-satunya alasan bagi kita untuk membunuh murid kita yang gagah pekasa ini!"

Mayat Hidup batuk-batuk. Dia marah sekali, tapi sebelum dia menjawab maka raksasa tinggi besar itupun memperingatkan. "Mayat Hidup, jangan lupa janji kita dulu. Ceng Liong adalah pewaris tunggal yang hampir lengkap menguasai ilmu ilmu kita. Apakah untuk masalah pelayan hina itu kau akan mengorbankan murid sendiri? Ingat, mencari murid macam ini langka sekali, Mayat Hidup. Kau buktikan sendiri betapa dengan tenang dan mata tidak berkedip dia berani menerima serangan mautmu sambil tertawa!"

Mayat Hidup tertegun. Dia teringat ini. Teringat betapa Ceng Liong menghadapi ancaman kematian dengan demikian berani. Sama sekali tidak takut dan gentar sedikitpun juga. Padahal maut sudah di depan mata! Dan teringat oleh keberanian muridnya yang demikian luar biasa itu tiba tiba Mayat Hidup terpaku dan membelalakkan matanya, memandang Ceng Liong yang sudah menyimpan pedang, tersenyum kepadanya. Dan kagum oleh keistimewaan muridnya ini mendadak Mayat Hidup menghela napas dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ya, dia memang anak yang luar biasa, Mu Ba. Benar-benar pantas menjadi murid kita dan sukar mencari tandingannya!"

"Dan kau tak akan menghukumnya lagi, bukan?"

"Hm, ini..." Mayat Hidup mengerutkan kening. "Dia telah berani melawanku Mu Ba. Apakah untuk ini tak perlu kita menghajar murid kita itu?"

Ceng Liong melangkah maju, tersenyum lebar. "Suhu. kalau kau tak bernaksud mengancam jiwaku tentu saja aku tak berani melawanmu. Bukankah sudah kubilang tadi bahwa aku akun melawan kalau kau mau membunuh? Kaulah yang salah, tidak menuruti omonganku untuk memberi hukuman yang ringan!"

Mu Ba tertawa bergelak, 'Nah, apa yang dikatakan itu. Mayat Hidup? Bukankah murid kita inii benar-benar pintar sekali? Dia sudah memberimu peringatan. Dan kini kaulah yang sekarang disalahkan!"

Mayat Hidup mengumpat. Untuk kedua kalinya dia dibuat tertegun oleh omongan muridnya ini. Yang memang betul dan tak dapat dibantah! Maka mendengus melepas kemendongkolan tiba-tiba dia menendang muridnya itu. "Baiklah, kau terimalah hukuman ringanmu ini. anak setan. Sekarang pergilah dan merat dari sini...!" Dan Ceng Liong yang menerima tendangan gurunya yang sudah tidak marah lagi itu tiba-tiba tertawa dan mencelat bergulingan, disusul ibunya yang menjadi girang bahwa puteranya selamat. Dan begitu ibu dan anak ini melompat bangun maka keduanya sudah sama tertawa dan tersenyum lebar.

"Liong-ji, hayo pulang...!"

Ceng Liong mengangguk. Dia digandeng ibunya, dan ibu dan anak yang sudah meluncur turun meninggalkan bukit itu segera kembali sambil tertawa-tawa. Urusan sekarang beres, dan Mu Ba yang terbahak memandang bayangan muridnya itu sudah pula berkelebat lenyap, meninggalkan Mayat Hidup yang masih termangu-mangu di atas bukit.

"Mayat Hidup, murid kita itu orang jempolan. Kelak dia akan melebihi kita baik kepandaian maupun kecerdikan!"

Mayat Hidup mengangguk-angguk. Dia mengakui pula kata-kata temannya itu. Dan melihat Ceng Liong memang benar-benar sesuai menjadi murid mereka maka iblis inipun tersenyum dan turun bukit pula, berkelebat menyusul temannya. Dan begitu empat orang ini meninggalkan bukit maka suasana diatas tiba-tiba sepi, kembali seperti semula dengan mayat A-cheng di bawah jurang.

* * * * * * * *

Ceng Liong duduk di luar gua. Kini dia menggantikan tugas A cheng untuk membeli rempah-rempah di bawah bukit, pada penduduk dusun yang mengenal mereka. Dan Ceng Liong yang hari itu disuruh ibunya untuk turun membeli bumbu tiba-tiba "mogok", termenung di luar gua dengan alis berkerut. Apa yang dipikirkan?

Bukan lain adalah mendiang pelayannya itu. A-cheng! Karena semenjak seminggu setelah kejadian di atas maka tiba-tiba dia diganggu gejolak nafsu berahinya itu yang mulai minta "umpan" setelah pelayannya tewas. Tuntutan nafsu berahi yang membuat dia mulai tak tahan. Dan ketika pagi itu dia termenung di luar gua mendadak gurunya yang tinggi besar muncul.

"Liong-ji, apa yang kau renungkan? Kau ingin turun gunung?"

Ceng Liong bangkit berdiri. "Aku gelisah, suhu. Aku bingung oleh keadaanku sekarang ini."

"Hm, apa yang kau bingungi?"

Ceng Liong menyeringai. Kepada gurunya nomor satu ini dia memang merasa lebih dekat. Karena gurunya ini memang lebih sayang dan menaruh perhatian lebih besar kepadanya. Maka Ceng Liong yang tak ragu-ragu untuk membicarakan persoalannya ini pada gurunya yang tinggi besar itu langsung saja tertawa kecut dan para-pura likat,

"Aku membutuhkan teman, twa-suhu. Aku kesepian setelah bibi A-cheng meninggal."

"Begitukah? Lalu apa maksudmu?”

"Aku ingin mencari teman, suhu. Tapi sampai saat ini belum menemukan jalan keluarnya."

Temu Ba tertawa bergelak. "Liong-ji, dua hari lagi kita semua turun gunung. Bagaimana kalau mencari dan bersabar untuk dua hari itu?"

"Ah, terlalu lama, suhu. Aku tak tahan lagi."

"Apa maksudmu terlalu lama? Apanya yang tak tahan?"

Ceng Liong menyeringai. "Aku tak tahan untuk mencari pengganti bibi A cheng, suhu. Aku ingin bermain cinta tapi belum menemukan pasangannya!"

Gurunya terkejut. "Heh, itukah yang kau maksud?"

"Ya, dapatkah kau mencarikannya, suhu?"

"Hm..." gurunya mengangguk-angguk. "Kalau begitu cari saja perempuan di bawah dusun, Liong-ji. Kau dapat mencari siapa saja yang kau suka di sana."

Tapi Ceng Liong menggeleng. "Tidak, mereka tak ada yang cantik-cantik, suhu. Wanita-wanita dusun itu Kotor dan tak ada yang menggairahkan hatiku. Aku sudah mengelilinginya semua."

"Jadi bagaimana maksudmu?"

"Kau carikan yang cantik, suhu. Misalnya saja puteri seorang ketua perkumpulan dan kita minta anak gadisnya!"

"Hm..." Mu Ba bersinar matanya, mengerutkan alis tapi tiba-tiba tertawa, memandang muridnya itu. "Baik, aku ada mengenal seorang ketua perkumpulan, Liong-ji. Kita temui ketua Pek-houw-pang dan minta anak gadisnya!"

Ceng Liong girang. "Cantik anak perempuan itu, suhu?"

"Ha-ha, ia cantik. Liong ji. Boleh kaujadikan kekasih kalau kau merasa cocok dengannya!"

"Baik, di mana perkumpulan Pek-houw pang itu, suhu?"

"Di kota Kui-yang. Kau mau berangkat?"

"Tentu saja. Aku tertarik mendengar ceritamu, suhu!"

"Dan kapan kau berangkat?"

"Ah, sekarang saja, suhu. Aku sudah tak tahan mendengar ceritamu!" dan Ceng Liong yang sudah tertawa meninggalkan gurunya tiba-tiba berkelebat pergi dengan muka berseri-seri.

Tapi gurunya mengejar. "Liong ji, kau akan pergi seorang diri?"

"Ya, untuk apa kau temani, suhu? Aku dapat melakukannya ini tanpa bantuan. Kau kembalilah, tunggu kedatanganku!"

Dan Mu Ba yang terpaksa berhenti memandang muridnya tiba-tiba tersenyum dan tertawa bergelak. "Liong-ji, hati-hati...!"

Tapi seruannya itu tak didengar Ceng Liong lagi. Pemuda ini sudah lenyap di sebuah tikungan, mengerahkan ginkang menuju ke kota Kui-yang. Dan Ceng Liong yang berlari cepat dengan muka berseri-seri itu akhirnya tiba di kota Kui-yang dalam waktu satu jam saja. Dengan mata bersinar dan muka penuh kegembiraan segera dia mencari alamat Pek-houw-pang itu, tapi ketika tiba di pintu gerbang perkumpulan itu tiba-tiba Ceng Liong mengerutkan alis ketika mendapat sambutan dua orang anak murid perkumpulan ini yang menghadang jalannya, karena dia ngeluyur saja hendak masuk tanpa permisi!

"Hei, berhenti, sobat! Mau ke mana kau?"

Ceng Liong terpaksa berhenti. Dia dihadang dua laki-laki muda yang bertubuh tegap, matanya melotot memandang marah. Dan Ceng Liong yang mengerutkan kening mendapat sambutan ini tiba-tiba tersenyum mengejek dan berkata dingin, "Aku ingin menemui ketua Pek-houw pang, tikus-tikus cilik. Apakah kalian anak muridnya?"

Dua orang itu seketika membelalakkan mata. "Apa, kau hendak menemui pangcu? Siapakah kau? Kami betul murid Pek-houw-pang, tapi pangcu hari ini tak ada di rumah!"

"Hm. kalau begitu boleh dengan puterinya saja. Aku ada perlu penting."

"Apa yang kau perlukan? Siapa kau?"

Ceng Liong mendengus. "Aku Ceng Liong, tikus-tikus cilik. Tentang apa keperluanku menemui puteri Pek-houw-pang tak perlu kalian tahu. Minggirlah kalian, atau panggil puteri pangcu kalian itu ke mari!"

"Keparat...!" meieka menjadi marah, mencabut golok. "Kau mau mengacau, orang she Ceng? Kau hendak mencari onar di perkumpulan Pek-houw-pang?"

"Hm, aku bukan she Ceng, tikus-tikus cilik. Aku adalah she Yap putera Pendekar Gurun Neraka!"

Dua orang itu terkejut. Mereka tersentak mendengar nama Pendekar Gurun Neraka disebut-sebut. Nama yang sudah amat terkenal di dunia kang ouw. Tapi ragu-ragu memandang Ceng Liong akhirnya mereka bersikap lunak. "Kongcu, apakah sebetulnya maksudmu datang ke mari? Kau dari Pegunungan Ta-pie-san?"

"Bukan, aku tinggal di bukit Hijau. Tapi untuk menanyakan keperluanku tak usah kalian cerewet lagi dan cepat panggil puteri pangcu kalian itu!"

Dua orang ini tertegun. Mereka menjadi curiga lagi, maka mengerutkan alis tiba-tiba keduanya saling pandang dan melangkah mundur. "Kongcu, kami tak dapat membiarkan kau masuk jika tak memberitahukan maksud tujuanmu. Kau pergilah, atau kau beritahukan maksud kedatanganmu agar dapat kami sampaikan kepada puteri ketua kami!"

"Hm, begitukah? Baiklah, aku akan menerobos kalau begitu. Coba kulihat kalian bisa menahan atau tidak!" dan Ceng Liong yang sudah menggerakkan kakinya melompat masuk tiba-tiba menjengekkan hidung dan tidak memperdulikan dua orang murid Pek houw pang itu, yang tentu saja menjadi marah. Dan begitu dia mulai menggerakkan kaki tiba-tiba dua orang ini membentak dan menyerangnya.

"Manusia pengacau, pergilah..!"

Tapi Ceng Liong tertawa dingin. Dia tidak menoleh oleh serangan dari belakang itu, menundukkan kepala mendengar desing senjata menyambar tubuhnya. Lalu balas membentak dan memutar kaki dua kali tahu-tahu dua golok yang lewat diatas kepalanya itu ditendang hingga mencelat.

"Tikus-tikus ci!ik, kalianlah yang pergi...!" dan dua golok yang sudah terlempar dan jatuh berkerontnng di atas tanah itu segera disambut pekik kaget dua murid Pek houw-pang ini.

Mereka terbelalak, melongo melihat kelihain Ceng Liong. Tapi melihat pemuda itu sudah melompat masuk dan berlari ke dalam mendadak dua orang ini berteriak keras, membunyikan kelenengan di depan pintu gerbang untuk memberi tanda bahaya. Dan begitu suara kelenecgan berbunyi nyaring tiba-tiba saja dari delapan penjuru muncul puluhan orang yang berkelebat menghadang Ceng Liong.

"Saudara-saudara, dia itu pengacau hina. Mengaku diri sebagai putera Pendekar Gurun Neraka tapi bukan dan Ta-pie-san...!"

Serentak semua orang menjadi gempar. Mereka terkejut mendengar seruan dua murid penjaga itu, tertegun mendengar nama Pendekar Gurun Neraka disebut sebut. Tapi mendengar anak muda ini bukan dari Ta-pie-san yang mereka ketahui sebagai tempat tinggal Pendekar Gurun Neraka maka tahulah mereka bahwa penuda yang datang itu adalah seorang penipu. Penipu dan pengacau!

Maka Ceng Liong yang kembali terpaksa berhenti dikepung tigapuluh lebih anak murid Pek-houw-pjng ini seketika mengerutkan kening dan mulai gusar. Dia tak tahu akan disambut seperti itu. Tapi Ceng Liong yang tersenyum mengejek segera menghadapi seorang laki-laki berjenggot pendek yang sudah melompat di depannya.

"Anak muda, benarkah kau hendak mengacau di tempat kami? Apa yang kau maui?"

"Hm, aku hendak menemui ketua Pek-houw-pang, jenggot pendek. Kenapa justeru dipersulit dan dimusuhi? Siapa kau?"

Laki-laki ini mengerutkan alis. "Aku Lam Bong anak muda. Murid tertua dari pangcu kami Ciok Pang. Apa perlumu mencari beliau?"

Ceng Liong menjengek. "Keperluanku tak dapat diberitahukan pada orang lain, orang she Lam. Lebih baik kau panggil saja pangcumu itu dan dengarkan nanti!"

"Hm, pangcu tak ada di rumah, anak muda. Sebaiknya besok saja kau kembali kalau ada kepentingan dengan pangcu."

"Tapi puteri pangcu kalian ada, bukan? Nah, suruh dia kemari. Aku mau bertemu dengannya!"

"Kau ada perlu apa dengan Ciok-siocia, anak muda?" laki-laki ini semakin mengerutkan alis. "Kenapa kau demikian mendesak dan tak tahu diri?"

"Hm...!' Ceng Long mulai tak sabar. "Aku ada perlu yang orang lain tak perlu dengar, orang she Lam. Kau tak perlu tahu ini kalau kau tahu diri!"

Laki-laki berjenggot itu marah. "Kalau begitu kau kami tangkap, anak muda. Kau membuat kami curiga dan tak kuperkenankan keluar bila belum memberitahukan maksudmu!" dan belum Ceng Liong menjawab tahu-tahu laki laki berjenggot ini mencabut golok dan menyerang Ceng Liong.

'Singg...!"

Ceng Liong mengelak. Dia sudah dikepung, melihat golok di tangan murid tertua Pek-houw pang itu membalik begitu serangannya luput. Dan Ceng Liong yang terpaksa melompat mengandalkan ginkangnya ini tiba-tiba meliukkan tubuh dan menampar golok dari samping. "Orang she Lam, lepaskan golokmu...!" dan jari Ceng Liong yang menampar golok lawan tiba-tiba membuat golok itu mencelat dan terlempar di udara.

Tapi murid tertua Pek-houw-pang ini kiranya lihai. Dia tidak seperti dua murid penjaga tadi, yang goloknya dibuat jatuh berkerontang di atas tanah. Karena begitu golok terlepas dan mencelat dari tangannya sekonyong-konyong lak-laki ini berseru keras. Dia melompat tinggi, berjungkir balik menyambar goloknya itu. Dan begitu meluncur turun dengan bentakan pendek tahu tahu laki-laki ini telah memegang kembali goloknya yang terlempar!

"Bagus, kau kiranya cukup lihai, orang she Lam. Tapi jangan kira dapat menangkan aku!" Ceng Liong memuji, kagum pada lawannya itu tapi cepat menyambut terjangan orang. Dan melihat murid tertua Pek-houw-pang itu bertubi-tubi menggerakkan golok menyerang dirinya maka mau tidak mau Ceng Liong harus melayani.

Untuk sejenak dia melompat sana-sini, mengandalkan ginkangnya yang memang hebat dan ringan. Lalu melihat satu kesempatan baik ketika lawan tehuyung ke depan pada saat dia mengelak tiba-tiba Ceng Liong tertawa menggerakkan jarinya. "Orang she Lam, robohlah...!"

Murid tertua Pek-houw-peng itu terkejut. Dia sedang kehilangan keseimbangan, maklum tubuh sedang doyong ke depan. Tapi melihat Ceng Liorg menampar pergelangan tangannya tiba-tiba dengan cepat dia melempar kaki kanan menendang lambung Ceng Liong, mempergunakan kesempitan dengan doyongnya tubuh ke depan. Tapi Ceng Liong yang berkelit manis tahu-tahu justeru menangkap pergelangan kakinya dan menarik, tidak menghentikan serangannya ke pergelangan tangan murid Pek-houw-pang itu. Dan begitu Lam Bong berteriak kaget ketika kakinya ditarik tahu-tahu pergelangan tangannya sudah ditotok Ceng Liong hingga tak dapat mempertahankan goloknya lagi yang jatuh di atas tanah.

"Trang..!"

"Ha-ha, bagaimana, orang she Lam? Kau tak mengakui keunggulanku?"

Lam Bong kaget. Dia tersungkur roboh, pergelangannya kaku. Tapi melompat bangun tiba-tiba dia berteriak pada saudara-saudara seperguruannya. "Sute sekalian, serang dan tangkap dia. Maju...”

Maka tiga puluh lebih anak murid Pek-houw-pang yang sudih meluruk ke depan dengan senjata di tangan tiba-tiba menyerang Ceng Liong yang ada di tengah. Dengan suara ribut mereka menerjang maju, marah menyaksikan suheng mereka kalah. Tapi Ceng Liong yang tertawa mengejek tiba-tiba mengerahkan ginkangnya, berkelebatan dengan Cui-beng Ginkang (Ginkang Pengejar Roh) yang diwarisi dari ibunya, ilmu meringankan tubuh yang sebenarnya milik mendiang Cheng-gan Sian-jin.

Dan begitu Ceng Liong berkelebatan dengan ilmu meringankan tubuhnya ini maka pemuda itupun lenyap merupakan bayangan yang tak jelas lagi, menangkis dan mengelak hujan senjata yang menyambar dirinya. Lalu begitu membentak dan balas menyerang tiba-tiba Ceng Liong telah mengerahkan pukulan Tok-hiat-jiunya yang ganas itu.

"Plak-plak-plakk!"

Anak murid Pek-houw-pang mulai menjerit ngeri. Mereka terlempar roboh, tak dapat bangun kembali. Dan pukulan Ceng Liong yang memberi bekas tapak kemerahan pada bagian tubuh yang dipukul seketika membuat keadaan menjadi gaduh dan penuh ketakutan. Tigapuluh lebih anak murid Pek-houw-pang itu terbelalak, ngeri melihat keganasan Ceng Liong yang tertawa-tawa merobohkan mereka. Dan ketika Ceng Liong telah merobohkan dua puluh orang yang terkapar dengan rintihan mereka di atas tanah dalam keadaan rubuh malang melintang pada saat itulah muncul seorang gadis cantik yang membentak dengan seruannya yang nyaring,

"Berhenti...!"

Dan Ceng Liong tertegun. Dia melihat seorang gadis cantik muncul di situ, berapi-api dengan mukanya yang merah padam. Gadis berkuncir yang alisnya panjang, menjelit indah tapi yang saat itu memanjangnya penuh kemarahan. Dan Ceng Liong yang tertegun melihat munculnya gadis ini tiba tiba melihat gadis itu melayang keluar dengan kaki ringan, hinggap seperti seekor burung walet di depannya dengan sebatang pedang telanjang di tangan!

"Manusia hina. kau siapa dan mengapa mengacau di tempat orang?"

Ceng Liong tertegun. Untuk kedua kalinya dia terkesima memandang gadis cantik ini, yang matanya indah bersinar bagai bintang pagi yang terbelalak kepadanya. Tapi Ceng Liong yang menjadi girang melihat munculnya gadis itu tiba-tiba melangkah maju dan tertawa lebar, merangkapkan tangannya. "Nona, kaukah puteri Pek-houw-pangcu?”

Gadis ini membentak. "Benar, aku puteri Pek-houw-pangcu. Siapa kau yang tidak menjawab pertanyaan orang justeru melancarkan pertanyaan?"

Ceng Liong tersenyum. "Aku Ceng Liong, nona. Maaf kalau anak buahmu kuhajar begitu. Mereka tak tahu adat, menyerang orang yang baik-baik datang ingin menemuimu."

"Hm, ada apa perlumu menemuiku?"

Ceng Liong menyeringai. Untuk pertanyaan ini tak dapat dengan segera dia menjawabnya. Tapi melihat gadis itu semakin marah dan menaikkan keningnya terpaksa dia menjawab juga, lirih tapi tegas, "Aku ingin menjadi kekasihmu, nona. Aku datang untuk menyatakan cintaku!"

Gadis itu terkejut ia melangkah mundur, tersentak memandang Ceng Liong dan mukanya seketika merah. Tapi melihat Ceng Liong bicara sungguh-sungguh dan tidak main-main kepadanya mendadak gadis ini tergetar dan tak mampu menjawab. Untuk sejenak ia memandang Ceng Liong yang gagah dan tampan itu, terbelalak bagai kelinci melihat seekor harimau Tapi melihat Ceng Liong menurunkan tangan kejam pada murid-murid Pek-houw-pang dan merasa aneh bahwa belum pernah bertemu sudah menyatakan cinta maka tiba-tiba puteri Pek-houw-pangcu ini menganggap Ceng Liong gila dan menjadi marah!

"Orang she Ceng, kau manusia sinting yang tidak waras? kau tak tahu malu menyatakan maksudmu dengan cara begini?"

Ceng Liong mengerutkan kening. "Cara begini bagaimana, nona? Aku datang sungguh-sungguh menyatakan maksud hatiku. Aku waras tidak sinting. Kenapa kau mengataiku begitu?"

"Tapi kau merobohkan murid-murid Pek-houw-pang, orang she Ceng. Dan kau melukai mereka dengan pukulan keji!"

"Hm, aku bukan orang she Ceng, nona. Aku orang she Yap. Percaya atau tidak aku adalah putera Pendekar Gurun Neraka. Tapi mengenai anak buahmu yang kurobohkan itu adalah kesalahan mereka sendiri yang maju mengeroyokku!"

"Dan kau tak akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu?"

"Perbuatan bagaimana, nona? Aku datang ke sini untuk menyatakan cinta, bukan membuat onar kalau tidak dipaksa!"

"Keparat, tapi kita tak pernah bertemu, manusia hina. kau belum pernah melihatku selama ini. Bagaimana bisa menyatakan cinta?'

"Ah, nanti dulu, nona. Jangan kau berkata seperti itu. Kita sudah bertemu, dan juga saling berkenalan. Kenapa bilang belum pernah bertemu?"

Gadis itu terbelalak. "Di mana kita pernah bertemu? Kapan saling berkenalan?"

"Sekarang ini, nona. Saat ini juga setelah kita sama-sama berhadapan!"

"Ah, keparat..!" dan gadis yang tiba-tiba menggerakkan pedang itu sudah menerjang ke depan dengan penuh kemarahan. "Pemuda tak tahu malu, kau manusia mata keranjang yang hina-dina!"

Dan Ceng Liong yang sudah diserang bertubi-tubi dengan sambaran pedangnya itu tiba-tiba dibuat terkejut dengan gebrakan ini. Ceng Liong melihat sambaran pedang gadis itu cepat sekali, bertubi-tubi menyerang dan menusuk. Dan melihat serangan gadis itu cukup berbahaya dengan angin bersiutan dingin terpaksa Ceng Liong melompat mundur dan menjadi marah. "Nona, kau tidak menyambutku baik-baik? kau justeru menyerangku dengan cara begini?"

Gadis itu melengking. "Aku Ciok Kim tak akan menyambutmu baik-baik, orang she Ceng. kau penipu dan manusia keji...!"

Maka Ceng Liong yang terpaksa berlompatan menghindari serangan pedang itu tiba-tiba tertawa mengejek dan mendengus dingin. "Baik, aku akan melayanimu, adik Ciok Kim. Tapi setelah itu kau harus turut kepadaku dan pergi dari tempat ini... tring!" dan Ceng Liong yang menyentil pedang dengan kuku jarinya saat Ciok Kim menyerangnya gencar tahu-tahu sudah berputar dan mengerahkan ginkangnya, mengikuti sambaran pedang lawan yang menjadi terkejut ketika terpental oleh sentilan jari Ceng Liong.

Tapi puteri Pek-houw-pang yang sudah memekik dengan tusukan bertubi-tubi itu segera mainkan senjata dengan hebat dan ganas. Maka terjadilah pertandingan seru ini, satu lawan satu. Tapi Ceng Liong yang mengerahkan Cui-beng Ginkangnya ternyata lolos dari semua tikaman pedang, menyelinap dan bergerak cepat di antara sambaran senjata yang bertubi-tubi menghujani dirinya. Dan ketika lawan mulai terkejut oleh kelihaian pemuda ini mendadak Ciok Kim merobah gerakan.

Sekarang puteri Pek-houw-pang itu mulai melancarkan tendangan-tendangan dari bawah, bahkan tangan kirinya ikut pula maju membantu dengan pukulan-pukulan miring, menyodok atau menampar dengan tenaga sinkang. Dan Ceng Liong yang menghadapi hujan serangan diri puteri Ciok Pang yang gencar ini akhirnya terdesak. Ceng Liong terkejut. Dia melihat puteri Pek-houw-pang itu benar-benar hebat, tangkas dan cepat sekali semua serangannya itu. Dan ketika Ciok Kim mulai mainkan tikaman pedangnya dengan tangan kiri yang dirobah bentuknya menjadi cakar harimau yang tidak lagi menyodok atau menampar melainkan mencengkeram seperti kuku seekor harimau betina maka Ceng Liong benar-benar kaget.

"Ah, ilmu silatmu benar-benar hebat, nona Ciok. Sungguh mengagumkan dan menarik hatiku!" demikian Ceng Liong bicara, memuji lawan.

Sementara dirinya terus mundur didesak lawan yang sebenarnya penasaran mengapa belum sedikit pun juga tubuh lawannya itu disentuh pedang yang menyambar-nyambar bagai angin kesetanan. Dan Ciok Kim yang diam-diam terkejut menyaksikan kehebatan lawannya ini yang dapat bicara padahal pedang terus menusuk dan menikam bertubi-tubi membuat gadis puteri Pek-houw pang itu gusar.

Sebenarnya, Ciok Kim sudah mengeluarkan semua ilmu silatnya, termasuk cengkeraman dengan tangan kiri itu yang disebut Houw-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Harimau). Yakni ilmu silat yang menjadi andalan perkumpulan Pek-houw-pang (Perkumpulan Harimau Putih) itu, ilmu silat yang diciptakan oleh sang ketua Pek-houw-pang sendiri yang bernama Ciok Pang, ayah gadis cantik itu. Tapi melihat bahwa semua serangannya luput dan Ceng Liong meskipun terdesak tapi belum sekalipun juga disambar pedangnya membuat Ciok Kim diam-diam marah dan gusar bukan main.

Hingga akhirnya, ketika satu saat Ceng Liong merunduk menghindari babatan pedang yang menyambar kepalanya mendadak puteri Pek-houw-pang itu melengking. Tangan kirinya bergerak, meluncur cepat mencengkeram muka Ceng Liong yang saat itu menunduk. Lalu tak puas oleh serangan tangan kiri ini puteri Pek-houw-pang itu masih menyusuli pula dengan tendangan lututnya yang diangkat ke atas menghantam dagu Ceng Liong!

"Ah, berbahaya sekali, nona Ciok. Sungguh tak kuduga...!" Ceng Liong berseru, terkejut oleh dua serangan beruntun dari depan dan bawah ini. Tapi Ceng Liong yang sudah tak mau didesak lagi dan ingin mulai membalas tiba-tiba mengerahkan pukulan Tokhiat-jiunya untuk menangkis secara berbareng. Dan, begitu dia melempar kedua tangan ke atas dan ke bawah tiba-tiba saja Ciok Kim menjerit ketika tangan kiri dan lutut kakinya diterima tamparan Ceng Liong.

"Plak-plak.... aduh...!" Ciok Kim terpelanting. Untuk pertama kalinya ia roboh disambut pukulan Ceng Liong, yang kini membalasnya dengan muka berseri karena sejak tadi sesungguhnya Ceng Liong memang sengaja mengalah dan ingin menguji kepandaian puteri Pek-houw-pang itu, yang membuat dia mulai kagum dan tertarik.

Dan begitu melihat lawan terpelanting dengan tubuh terguling-guling segera Ceng Liong mengejar maju sambil tertawa. "Adik Ciok, kau tak dapat mengalahkan aku!"

Ciok Kim pucat mukanya. Ia melihat Ceng Liong sudah melompat di dekatnya, mengulur jari untuk mencengkeram pundaknya. Maka Ciok Kim yang berteriak sambil melompat bangun ini tiba-tiba meaggerakkan pedang membacok tangan Ceng Liong.

"Trikk...!" Ciok Kim terkejut. Ia melihat pedangnya terpental, sama sekali tak mampu membacok jari Ceng Liong yang dibabat pedangnya, jari yang tiba-tiba keras bagai baja karena Ceng Liong telah mempergunakan Coan-kut-ci-nya (Jari Penusuk Tulang) yang didapat dari gurunya nomor dua, Mayat Hidup. Dan Ciok Kim yang kaget melihat pedangnya terpental sementara Ceng Liong terus mengulurkan lengan menangkap pundaknya sambil tertawa tiba-tiba membanting tubuh dan menendang paha Ceng Liong yang sudah dekat dengan dirinya, "Des...!"

Dan Ceng Liong terdorong mundur, menyeringai oleh tendangan yang cepat itu tapi sudah memburu lagi sambil tertawa. "Nona Ciok, kau tak dapat mengalahkan aku!"

Cok Kim melompat bangun. Ia pucat melihat Ceng Liong mengejarnya, tapi menggigit bibir dan tidak gentar sedikitpun juga ia segera menyambut, melengking dan menangkis kiri kanan kedua tangan Ceng Liong yang menyambar-nyambar dirinya bagai cengkeraman rajawali yang mempermainkan mangsa. Dan karena Ceng Liong saat itu menggabung dua pukulannya sekaligus antara Coan kut-ci dan Tok-hiat-jiu maka sebentar saja lawannya itu berhasil didesak.

Ciok Kim mundur-mundur, mengeluh dan hampir menangis oleh tangkisan pedangnya yang sia-sia. Karena pedang itu selalu terpental oleh jari Ceng Liong yang sekeras baja. Dan ketika satu saat Ceng Liong menambah tenaga dalam sebuah benturan tiba-tiba saja pedang di tangan gadis itu terlepas.

"Tring!" Ciok Kim mengeluh. Ia sekarang tak bersenjata, dan Ceng Liong yang tertawa menggerakkan jarinya tiba-tiba melompat ke depan menotok pundaknya.

"Adik Kim, menyerahlah...!" dan ketika Ciok Kim terhuyung dalam eposannya yang lambat tahu-tahu gadis ini telah roboh di pelukan Ceng Liong! "Ha-ha, bagaimana, Kim-moi-moi? kau tak dapat mengalahkan aku, bukan?"

Ciok Kim menangis. Dia sekarang benar-benar tak berdaya menghadapi lawannya itu, roboh tertotok tak dapat bergerak. Dan marah serta malu oleh semuanya itu tiba-tiba Ciok Kim menjerit dan lunglai di pelukan lawannya ini. Pingsan!

Ceng Liong tertegun. Dia terkejut oleh jerit kekecewaan lawannya itu. Tapi melihat gadis Pek-houw-pang ini hanya pingsan saja oleh himpitan penasarannya tiba-tiba Ceng Liong tersenyum. Dia tak melihat lagi sisa anak murid Pek-houw-pang yang tinggal sepuluh orang itu. Rupanya mereka melarikan diri setelah melihat dia merobohkan gadis ini. Maka berlenggang dan tertawa menyeringai ketika Ceng Liong keluar dari pintu gerbang perkumpulan Harimau Putih itu, melompat dan akhirnya berkelebat meninggalkan Kui-yang setelah melihat semuanya sunyi tak ada yang mengganggu.

* * * * * * * *

"Ha-ha, sudah kau dapat puteri Pek houw-pang itu, Liong-ji?"

Demikian mula-mula Ceng Liong mendapat sambutan gurunya itu, Mu Ba yang berdiri tegak di luar gua. Dan Ceng Liong yang sudah menurunkan tubuh tawanannya ini di atas tanah langsung tersenyum dan tertawa. "Ya, tapi dia tak mau baik-baik ikut denganku, suhu. Gadis ini keras kepala dan bandel sekali. Apa yang harus kau lakukan?"

"Hm, apa yang harus kulakukan, Liong-ji? Tentu saja tanya dirimu sendiri, apa yang kau inginkan dari gadis ini!"

Ceng Liong tersenyum. "Aku ingin menjadi kekasihnya, suhu. Tapi secara baik-baik dan suka rela!"

"Dan kau belum menundukkan hatinya?"

"Belum."

"Kalau begitu minta tolong ibumu, Liong-ji. Dialah satu-satunya wanita yang dapat menolongmu untuk saat ini!" dan Mu Ba yang tertawa bergelak meninggalkan muridnya itu tiba-tiba berkelebat pergi setelah memberikan pesannya ini.

Ceng Liong tak mengerti. Dia mengira gurunya itu main-main saja, tapi melihat ibunya keluar mendengar suara anaknya segera Ceng Liong melompat maju menyeringai lebar "Ibu, aku mendapat teman. Ia puteri Pek-houw-pang bernama Ciok Kim!"

Tok-sim Sian-li mengerutkan alis. "Kenapa ia pingsan, Liong ji? Apa maksudmu?"

Ceng Liong tertawa. "Aku jatuh cinta padanya, ibu. Kubawa ke mari untuk menggantikan bibi A-cheng."

"Maksudmu?"

"Aku ingin mempunyai kekasih, ibu. Aku kesepian setelah bibi A-cheng tewas!"

"Hmm...!" Tok-sim Sian-li membelalakkan mata. "Kau membawanya dengan jalan kekerasan, Liong-ji? Dan kau membunuh ayahnya?"

"Tidak, aku tak bertemu ayahnya, ibu. Saat itu Ciok-pangcu tak ada di rumah dan aku bertemu anak gadisnya ini."

"Lalu apa yang kau maui? Bukankah ia sudah ditanganmu?"

Ceng Liong meringis. "Ia keras kepala, ibu. Tak mau tunduk hingga terpaksa kurobohkan."

Tok-sim Sian-li mengerti. "Kalau begitu sadarkan dia, Liong-ji. Coba kulihat bagaimana sikapnya," dan Ceng Liong yang sudah tersenyum membebaskan totokannya segera membuat Ciok Kim sadar, melompat bangun dan terbelalak marah memandang Ceng Liong.

"Manusia keji, bunuhlah aku!" Ciok Kim langsung membentak, maklum tak ada gunanya melawan.

Tapi Ceng Liong yang tertawa menuding ibunya berbisik lirih, "Sst, tak ada yang bermaksud membunuhmu, adik Kim. kau tenanglah, ini ibuku yaag ingin melihatmu."

Ciok Kim tertegun. Ia melihat seorang wanita cantik berdiri di sebelah Ceng Liong, sikapnya gagah tapi dingin, memandang kepadanya dengan mata aneh mirip elang yang buas. Dan Ciok Kim yang kaget mendengar Ceng Liong menyebut wanita cantik itu sebagai ibunya tiba-tiba menjublak dan membelalakkan mata.

Dan Tok-sim Sian-li bertanya kepadanya, "Benarkah kau puteri ketua Pek-houw-pang?"

Ciok Kim mengangguk, masih angkuh dengan kepala tegak. "Ya, aku puteri ayahku Ciok Pang. Siapakah kau yang menjadi ibu dari pemuda setan ini?"

"Hm, aku adalah Tok sim Sian-li, bocah she Ciok. Kukira ayahmu tak akan bersikap kasar kalau dia mengenal aku, kau belum pernah mendengar namaku?"

Ciok Kim kaget. "Kau murid mendiang datuk sesat Cheng-gan Sian jin itu? Kau betul betul ibu dari pemuda ini?"

Tok-sim Sian-li tersenyum, dingin sakapnya, "Ya, akulah orang yang kau maksudkan itu, bocah. Kukira kau tak berani kurang ajar lagi setelah mengenal siapa aku!"

Dan Ciok Kim yang mengeluarkan seruan tertahan dan melangkah mundur mendengar jawaban ini tiba-tiba tertegun memandang lawannya dengan muka pucat.

Tapi Ceng Liong melangkah maju, menyentuh lengannya. "Adik Kim, tak perlu kau takut. Ibu dan aku tak akan memusuhimu kalau kau penurut."

Ciok Kim menghentakkah lengannya, menampar muka Ceng Liong. "Manusia iblis, jangan sentuh diriku., plak!" dan Ceng Liong yang terhuyung ke belakang menerima tamparan itu seketika berkilat matanya dan menggigit bibir.

"Adik Kim, kau masih tak dapat bersikap halus?"

Ciok Kim menggigil. Dia sekarang tahu siapa gerangan orang yang menjadi lawannya ini. Tapi tak kenal takut dan membentak marah dia menjawab pertanyaan Ceng Liong, "Aku tak akan bersikap halus kepadamu, pemuda setan. Kau manusia keji yang berhati iblis mirip ibumu. Aku tak sudi kau bujuk!"

"Hm, kenapa ibu kau bawa-bawa dalam masalah ini, adik Kim? Dia tak bersalah, tak perlu kau memakinya!"

"Siapa takut?” Ciok Kim tak perduli. "Aku telah mendengar sepak terjang ibumu itu, pemuda setan. Wanita tak tahu malu yang setali tiga uang denganmu!"

"Keparat!' Ceng Liong mendesis. "Jangan kau menghina kami, adik Kim. Aku bisa kehilangan rasa sayang jika kau tak tahu diri begini!"

"Memangnya kenapa? kau kira aku takut?"

Maka Ceng Liong yang tak dapat menahan marahnya lagi tiba-tiba membentak. Dia sudah berkelebat maju, menampar pipi puteri ketua Pek-houw-pang itu. Dan Ciok Kim yang tak dapat mengelak serangan ini tahu-tahu ditampar pipinya hingga roboh terpelanting.

"Plak!" Ciok Kim melompat bangun. Dia melihat Ceng Liong sedikit iba, memandangnya dengan alis berkerut tapi masih jengkel.

Sementara Tok-sim Sian-li yang marah oleh sikap gadis ini tiba-tiba mencabut bendera iblisnya. "Liong-ji, bocah ini tak dapat disayang. Sebaiknya dibunuh saja!"

Ceng Liong terkejut. Dia melompat maju, menghadang di tengah. Dan memandang sungguh-sungguh dia melindungi puteri Pek-houw-pang itu. "Tidak, jangan, ibu. Aku suka dan sayang kepadanya. Dia gagah dan menarik hatiku!"

"Tapi kalau dia kurang ajar begini apakah kau juga masih tetap tertarik? kau bodoh, Liong-ji. Mencari gadis yang jauh lebih hebat dari puteri Ciok-pangcu ini masih banyak. Tak perlu sayang melenyapkan jiwanya!"

Tapi Ceng Liong menggeleng. "Tidak. Aka tak akan membunuhnya, ibu. Betapapun aku telah membawanya kemari. kau tak boleh membunuh sebelum dia tunduk kepadaku!" lalu menghadapi Ciok Kim kembali Ceng Liong bertanya, "Adik Kim, kau benar-benar tak dapat menerima cintaku dan bersenang-senang di sini?"

Ciok Kim menjengekkan hidung. "Aku tak sudi menjadi kekasihmu, orang she Ceng, kau keji dan tak tahu malu!"

"Hm, aku bukan she Ceng, adik Kim. Aku adalah she Yap!"

"Cih, siapa mempercayaimu sebagai keturunan Pendekar Gurun Neraka? Yap-goanswe adalah laki-laki gagah, manusia hina. Tak mungkin kau keturunannya biarpun kau mengaku she Yap!"

Ceng Liong menjadi geram. "Ibu, dapatkah kau menolongku menundukkan perempuan liar ini? Aku menghendakinya hidup, tak boleh dibunuh!"

"Hm, tapi bagiku sebaiknya dilenyapkan saja. Liong-ji. Dia gadis berbahaya yang tiada guna bagimu."

"Tidak, aku terlanjur membawanya ke mari, ibu. Aku harus berhasil dengan rencanaku ini!”

"Jadi kau tetap menghendaki kuda betina liar itu?"

"Ya."

"Baiklah?" dan Tok-sim Sian-Ii yang tiba-tiba mengebutkan benderanya mendadak menotok roboh Ciok Kim yang tak dapat mengelak serangan itu. Kalah cepat. Dan begitu dia menggerakkan kakinya tahu-tahu tubuh gadis itu telah ditendang Ke dalam gua. “Liong-ji, berikan ini kepadanya. Cekoki mulutnya dengan satu sloki saja.!" dan Tok-sim Sian-li yang melempar sebotol arak kepada puteranya tiba-tiba mendengus dan berkelebat lenyap keluar gua meninggalkan puteranya.

Dan Ceng Liong yang sudah menerima arak dari ibunya ini tiba-tiba tertawa dan menjadi gembira. "Ibu, terima kasih...!”

Tapi Tok-sim Sian-li tak nampak bayangannya lagi. Dia lenyap entah ke mana, dan Ceng Liong yang sudah melompat masuk segera menghampiri Ciok Kim yang terbelalak kepadanya.

"Manusia hina, apa yang akan kau lakukan?"

Ceng Liong tersenyum. "Menundukkan hatimu, Kim-moi (adik Kim). Kau maafkanlah aku yarg sudah tak tahan rindu ini!" dan Ceng Liong yang langsung membuka mulut Ciok Kim sudah menuangkan arak pemberian ibunya, yang tentu saja disambut rontaan Ciok Kim yang memaki kalang-kabut. Tapi Ceng Liong yang menotok lehernya segera membuat Ciok Kim mengeluh dan lemas kepalanya, tak dapat menolak lagi dan menerima arak itu yang segera memasuki mulutnya dan lenyap di dalam perut.

Ciok Kim melotot. Untuk sejenak dia mendelik pada Ceng Liong. Tapi ketika kepalanya tiba-tiba terasa pening mendadak gadis ini mengeluh. Dia tak berdaya, kepalanya berputar. Dan ketika Ceng Liong membebaskan totokannya tiba-tiba Ciok Kim melompat baugun dengan tubuh terhuyung.

"Jahanam Ceng Liong, apa yang kau lakukan kepadaku?''

Ceng Liong tersenyum. "Mengajakmu berkasih sayang, moi-moi. Aku rindu dan cinta padamu."

"Keparat! kau... apa yang kau minumkan ini? Mengapa kepalaku pening...?"

"Ah, itu arak pembangkit semangat, Kim-moi. Ibu memberikan itu agar kita berdua dapat bersenang-senang...!"

Halaman 52 dan 53 hilang...!!

...didorong nafsu syeifan yang tidak ingat lagi akan norma-norma kesusilaan. Ciok Kim tak sadar karena perbuatan lawannya sementara Ceng Liong memang sengaja melakukan itu karena dorongan nafsu berahinya yang sesat. Nafsu iblis yang tak menghiraukan sama sekali kehormatan seorang gadis yang mati-matian mempertahankan kesuciannya.

Dan begitu keduanya mengumbar nafsu berahi di dalam gua itu maka rusak binasalah harga diri puteri Pek-houw-pang ini. Masuk dalam kekejian Ceng Liong yang tiada ubahnya iblis muda sendiri dalam ujud seorang manusia dan ketika dua jam mereka melampiaskan gejolak nafsu yang membakar tubuh keduanya maka akhirnya dua pemuda dan pemudi itu tergeletak kelelahan. Ciok Kim langsung tertidur, menggeletak di samping Ceng Liong yang tersenyum puas.

Tapi ketika malam mulai tiba dan pengaruh arak pembangkit nafsu berahi telah lenyap dari tubuh Ciok Kim mendadak gadis ini membuka matanya. Ia mendengar suara orang bicara, seperti meributkan sesuatu. Tapi karena saat itu Ciok Kim seakan mimpi dan belum sadar benar maka gadis ini mendengarkan saja, terlena dengan mata terbelalak. Tapi ketika suara ribut-ribut itu mulai diiringi bentakan-bentakan maka Ciok Kim terkejut dan kaget bukan main. Apalagi ketika tubuhnya ditendang mencelat dan dia mendengar suara ayahnya di situ.

“Ciok Kim, apa yang kau pandang? kau tidak dengar pertanyaanku?"

Ciok Kim kaget bukan main. Ia melompat bangun, menjerit lirih ketika melihat tubuhnya telanjang bulat. Maka sadar dan melihat pakaiannya menumpuk di sudut gua mendadak gadis ini mengeluh dan menyambar pakaiannya itu. Dengan buru-buru dan muka pucat ia mengenakan pakaiannya. Lalu membalikkan tubuh dan melihat apa yang terjadi sekonyong-konyong gadis ini tertegun dan serasa "nyos" melihat ayahnya ada di situ dengan mata berapi-api berdiri tegak di muka gua!

"Ayah...!"

Laki-laki gagah itu menggeram. Dia mendengar suara Ciok Kim yang kering, serak seolah tiada tenaga lagi. Tapi Ciok Kim yang sudah menubruk dan menjerit di dada ayahnya tiba-tiba mengguguk dan tersedu-sedu. Ciok Kim sekarang sadar akan apa yang terjadi, bebas dari mimpi buruk itu yang disangka khayal. Dan Ciok Kim yang melihat Ceng Liong ada di situ tiba-tiba memekik dan menyerang penuh kemarahan.

"Ceng Liong, kau laki-laki jahanam...!"

Tapi Ceng Liong berkelit mudah. Dia mengegos kesana-sini, mengelak semua serangan gadis itu. Lalu menggerakkan tangan menyambar ke depan tahutahu dia telah menangkap lengan puteri Pek-houw-pang ini. "Kim-moi tahan. Jangan gila kau!"

Tapi Ciok Kim memberontak. Ia melepaskan dirinya, menendang dan memaki Ceng Liong sambil menangis tersedu-sedu. Dan laki-laki gagah di luar yang bukan lain Ciok-pangcu adanya tiba-tiba berkelebat ke dalam menarik puterinya.

"Kim-ji, mundur. Biar aku yang bicara!"

Ciok Kim menjerit dengan air mata bercucuran. Ia mau melawan pula seruan ayahnya itu, benci sekali kepada Ceng Liong yang telah merenggut kehormatannya. Tapi Ciok Pang yang membentak dan menotok puterinya tiba-tiba membuat Ciok Kim terguling dan roboh di pelukan ayahnya.

"Kim-ji, dengar. Kita lihat apa yang dikatakan pemuda itu!" lalu menghadapi Ceng Liong dengan mata berapi-api ketua Pek-houw-pang ini bertanya.

"Pemuda she Ceng, apa sekarang jawabmu tentang pertanyaanku tadi? Masihkah kau tak mempertanggungjawabkan kejadian ini setelah kau merusak puteriku?"

Ceng Liong tersenyum. Dia tadi sedang enak-enak mengelus rambut Ciok Kim ketika ketua Pek-houw pang ini datang, muncul tiba-tiba di depan gua pada saat dia belum berpakaian sama sekali. Sama seperti gadis itu yang juga telanjang di sisinya. Tapi Ceng Liong yang tenang dan melompat bangun menyambar pakaiannya segera menghadapi laki-laki gagah itu. Yang ternyata bukan lain adalah ketua Pek-houw-pang atau ayah dari Ciok Kim yang telah dia tundukkan dengan paksa itu. Dan Ceng Liong yang mendengar psrtanyaan bengis yang diulang dari ketua Pek-houw-pang itu tibatiba tertawa dan tersenyum menyeringai.

"Pangcu, aku belum sedia untuk diikat dalam perkawinan. Mengapa kau mengulang-ulang pertanyaan itu yang akan kujawab sama? Adik Ciok Kim telah menjadi kekasihku. Tapi bukan berarti kami akan segera kawin dan berumah tangga!"

"Keparat, jadi apa maumu datang ke Pek-houw-pang, orang she Ceng? Apakah hanya untuk mempermainkan puteriku?"

"Hm, aku tidak mempermainkan puterimu, pangcu. Aku ke sana justeru untuk mengajak puterimu bersenang-senang. Kenapa kau marah?"

Ciok Pang mendelik. Terang dia marah mendengar jawaban Ceng Liong yang seenak perutnya ini. Tapi ketua Pek houw-pang yang mendengar kelihaian pemuda itu dari anak muridnya mencoba bersabar meskipun jari-jarinya sudah berkerotok untuk menerjang pemuda itu. Dan Ciok Pang yang mengepal tinju dengan muka merah ini lalu menggeram. "Baik, kalau begitu aku akan menuntut tanggung jawabmu, orang she Ceng. Tapi katakan dulu siapa guru atau orang tuamu!"

Ceng Liong berkata "Aku segan memamerkan guru atau nama orang tuaku, pangcu. Kau berurusanlah saja denganku. Aku Yap Ceng Liong siap menerima tuntutan tanggung jawabmu kalau kau tidak puas dengan kata-kataku.”

Ciok Pang benar-benar tak tahan. Tapi belum dia mencabut senjatanya tahu-tahu Ciok Kim melengking, "Dia putera Tok-sim Sian-li, ayah. Cucu murid mendiang datuk sesat Cheng-gan Sian-jin...!"

Ciok Pang terkejut. "Kau anak wanita iblis itu, orang she Ceng?"

Ceng Liong terpaksa mengangguk. "Benar."

"Ah...!" dan Ciok Pang yang melangkah mundur mencabut goloknya tiba-tiba menggigil. "Pantas, kalau begitu kau anak haram itu, bocah. Keturunan jadah wanita cabul yang tak tahu malu!" dan Ciok Pang yang sudah berseru keras membabatkan goloknya tahu-tahu menerjang ke depan dengan penuh kemarahan.

Sekarang dia tahu siapa pemuda ini. Murid atau keturunan orang-orang sesat macam Cheng-gan Sian-jin dan Tok-sim Sian-li itu. Wanita iblis yang sudah didengar segala keburukannya dalam bertingkah laku, terutama sepak terjangnya yang berganti-genti kekasih itu. Pergumbar nafsu berahi nomor wahid! Maka kaget serta marah melihat puterinya jatuh di tangan pemuda macam ini seketika Ciok-pangcu tak dapat mengendalikan diri lagi.

Dia tadinya mengharap Ceng Liong adalah pemuda baik-baik, dalam arti kata masih keturunan pendekar yang sesat jalan saja. Tapi setelah mengetahui bahwa pemuda itu keturunan orang jahat yang sudah tak mungkin "direparasi" lagi maka Ciok Pang langsung menerjang dengan maksud membunuh! Dia akan melenyapkan pemuda itu, menghapus malu nama baik keluarganya.

Tapi Ceng Liong yang tertawa mengejek melihat serangan ketua Pek houw-pang ini tiba-tiba membuat laki-laki gagah itu terkejut. Serangan goloknya dikelit, lalu sementara golok lewat di samping tubuhnya sekonyong-konyong pemuda itu menyentil. "Ciok-pangcu, mari kita main-main di luar saja... tring!"

Dan golok yang menyeleweng menghantam dinding gua seketika tergetar dan hampir terlepas dari cekalan tangan ketua Pek-houw pang ini, yang tentu saja menjadi kaget bukan main. Dan sementara dia berseru tertahan dengan mata terbelalak tahu-tahu Ceng Liong telah melejit dan menyelinap di bawah ketiaknya, lolos keluar!

"Pangcu, mari...!"

Ciok Pang tertegun. Dia melihat lawannya itu tertawa, berdiri di luar gua dengan mata mengejeknya. Dan Ciok Pang yang marah serta kaget oleh gebrakan pertama ini sudah membentak dan berkelebat keluar. "Bocah hina, aku akan membunuhmu!"

Ceng Liong ganda ketawa. Dia tak mencabut senjatanya, menyambut terjangan ketua Pek-houw-pang itu yang sudah membacokkan goloknya bertubi-tubi, menyerang dengan mata melotot dan muka merah. Tapi Ceng Liong yang berhati-hati menghadapi ketua Pek-houw-pang ini segera mengerahkan ilmunya, mengikuti sambaran golok dan mainkan kedua tangan dan kaki untuk mengelak atau menangkis, mengerotokkan buku-buku jari untuk siap membalas dengan pukulan Tok-biat-jiu atau Coan-kut-ci-nya. Dan begitu Ceng Liong menotolkan kaki dengan ringan mengerahkan Cui-beng Ginkangnya maka ketua Pek-houw-pang itu jadi semakin kaget ketika lawan lenyap dalam bentuk sebuah bayangan.

"Ciok-pangcu, kerahkan kepandaianmu. Bunuh aku kalau bisa..!"

Ciok Pang melotot. Dia harus mempercepat serangan goloknya untuk mengejar lawannya itu. Dan ketua Pek-houw-pang yang juga bukan orang lemah ini tiba-tiba membentak. Dia mengayun tubuh, dan begitu mengerahkan kepandaian dengan seruan tinggi mendadak golok di tangan ketua Pek-houw-pang ini mengaung dan berseliweran bagai lebah mengerubung sarang. Golok di tangan kanannya itu bekerja naik turun, membentuk gelombang lingkaran yang berkeredep menyilaukan mata.

Dan begitu dia menerjang semakin ganas dan bertubi-tubi maka tiba-tiba saja tubuh Ceng Liong telah dikelilingi bayangan golok yang naik turun bagai naga haus darah itu. Apalagi ketika tangan kirinya juga mulai ikut bergerak-gerak, menyambar dan mencengkeram dengan ilmu Houw-jiauw-kang itu, membantu serangan goloknya, ilmu cengkeraman harimau yang membuat sepak terjang ketua Pekhouw-pang ini benar-benar hebat dan ganas bukan kepalang, yang membuat Ceng Liong mau tidak mau menjadi kagum dan tiba-tiba terdesak!

"Ah, hebat kau, pangcu!"

Tapi Ceng Liong masih selalu dapat menghindar. Dia mengeluarkan pujiannya itu dengan tulus, kerena ketua Pek houw pang ini memang benar-benar hebat. Tapi Ciok-pangcu sendiri yang merah mukanya mendengar pujian itu justeru menggigit bibir. Dia dikata hebat, tapi apa kenyataannya saat ini? Dia belum mampu merobohkan lawannya itu. padahal lawan sudah terkurung rapat oleh gulungan sinar goloknya, yang tak dapat keluar lagi karena putaran goloknya. Dan Ceng Liong yang masih dapat berbicara padahal harus mengelak dan berkelebatan cepat menghindari semua serangan goloknya benar-benar membuat ketua Pek-houwpang ini malu dan penasaran!

Sebenarnya, menurut perhitungan di atas kertas lawannya itu sudah harus roboh, apalagi terang-terangan lawannya itu sudah tak dapat keluar dari gulungan golok yang berseliweran mengaung-ngaung. Yang demikian hebat membacok dan menikam. Tapi suatu kejadian aneh yang terjadi di dalam pertandingan ini membuat Ciok-pangcu terbelalak dan kaget hatinya.

Karena lawan yang sudah terang-terangan "dibungkus" gulungan sinar goloknya itu dan siap dibacok atau ditikam ternyata selalu menghindar dari semua serangan goloknya. Karena Ceng Liong yang dibacok atau ditusuk itu selalu terlempar lebih dulu bagai kapas yang ringan. Benda kering yang seolah-olah tidak berbobot dan tentu saja selalu terdorong begitu angin goloknya menyambar!

Maka Cok-pangcu yang kaget oleh kejadian ini segera berobah mukanya. Dia tahu apa yang terjadi itu. Demonstrasi mengagumkan dari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda ini. Yang membuat tubuhnya seringan kapas dan karena itu selalu terdorong begitu angin goloknya menyambar. Ilmu meringankan tubuh warisan Cheng-gan Sian jin yang dia dengar bernama Cui-beng Ginkang (Ginkang Pengejar Roh)! Maka Ciok-pangcu yang bingung serta marah oleh semuanya ini tiba-tiba melengking.

"Bocah she Ceng. Jangan kau menghindar saja kalau berani. Hayo tangkis dan sambut golokku kalau jantan...!"

Ceng Liong tertawa. "Kau ingin aku menangkis golokmu, pangcu? Baiklah, jaga kalau begitu...!”

Dan Ceng Liong yang tiba-tiba menghentikan gerakannya dan tidak mengelak lagi sekonyong-konyong menyambut sambaran golok Ciok-pangcu yang menyambar lehernya. Dengan berani dan tenang pemuda ini meluruskan empat jarinya, menerima mata golok yang tajam. Dan begitu lawan berteriak girang dengan mata melotot tahu-tahu golok di tangan ketua Pek-houw pang itu sudah bertemu jari tangan Ceng Liong yang memapak maju.

"Trikk...!”