Pendekar Kepala Batu Jilid 32 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

PENDEKAR KEPALA BATU
JILID 32
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Pendekar Kepala Batu Karya Batara
"LOCIANPWE, aku maju dalam babak ke empat ini, bukan?"

Ciok-thouw Taihiap terkejut. Dia tidak mengerti kemauan si muka hitam itu, tapi Hek Kong yang memberi isyarat di depan panggung membuat ketua Beng-san-pai ini jadi mengerti. Kiranya sang ketua Gelang Berdarah memandang mereka semua, telinganya bergerak-gerak, tanda mendengarkan pesepakatan mereka! maka Ciok-thouw Taihiap yang tiba-tiba tertawa itu menyeringai.

"Wah, kau tidak takut menghadapi pemuda itu Hek Kong? Dia lihai, murid sang ketua gelang Berdarah!" lalu berkomat-kamit dengan ilmunya Coan-im jip-bit pendekar berkepala gunul ini bertanya, "Pendekar Gurun Neraka, apa maksudmu mengajukan diri dalam babak ke empat ini? Bukankah gurunya yang menjadi lawanmu?"

Hek Kong balas berkomat-kamit, "Jangan salah paham, locianpwe. Aku hanya ingin mengalihkan perhatiannya belaka. Setelah main-main sebentar dengan murid ketua Gelang Berdarah itu aku akan mundur menyerahkannya pada Hui-to Lojin!"

Ciok-thouw Taihiap tidak mengerti. Tapi Hek Kong yang menjura di depan Pek-mauw Sian-jin bertanya sambil tertawa, "Pek-mauw totiang, bolehkah aku menghadapi babak ke empat ini? Bagaimana kalau aku roboh?"

Pek-mauw Sian jin terbelalak. Dia masih terkejut mendengar bahwa si muka hitam ini adalah Pendekar Gurun Neraka, orang yang membuatnya kaget bercampur girang. Tapi mendengar pertanyaan itu diapun menjadi bingung. Apa yang harus dijawabnya?

Tapi Hek Kong tiba-tiba berbisik. "Totiang, jangan berubah sikap, kau tetaplah melihat aku sebagai Hek Kong. Ketua Gelang Berdarah di atas panggung memandang curiga!"

Pek mauw Sian jin tiba-tiba sadar. Dia tertawa pahit, dan acuh tak acuh pura-pura dia berkata, "Muka hitam, Ciok-thouw Taihiap telah memberimu kepercayaan besar. Meskipun aku sangsi kepandaianmu tapi biarlah itu kuturuti. Kau mau maju dalam babak ke empat ini?"

"He-he, kalau diijinkan, totiang. Kalau tidak tentu saja aku mundur!"

"Dan kau dapat mengalahkan murid ketua Gelang Berdarah itu?"

"Masih coba-coba, totiang. Kalau kalah kuat tentu saja aku mundur!"

Pek mauw Sian-jin terheran. Tapi ketua Gelang Berdarah yang berdiri di atas panggung tiba-tiba berseru, "Pek-mauw Sian-jin, siapa di pihakmu yang akan menghadapi pihak kami?"

Pek-mauw Sian jin mengangkat mukanya. "Kami memilih Hek Kong, Hiat-goan-pangcu. Kalau muridmu sudah siap boleh dia melangkah maju!"

"Hm…!" sang ketua Gelang Berdarah tampak girang. "Kalau begitu suruh wakilmu naik ke mari, Sian jin. Muridku ingin melihatnya lebih jelas!"

Pek-mauw Sian-jin memutar kepalanya. Dia mau menyuruh si muka hitam itu maju, tepi Hek Kong yang melayang naik sudah mendahuluinya berada di atas panggung. Hek Kong tertawa-tawa, dan menyeringgai kepada semua orang dia menghadap ketua Gelang Berdarah itu. "Hiat-goan-pangcu, aku mendapat ijin resmi dari pihakku untuk menghadapi pihakmu. Boleh muridmu itu main-main ke mari?"

Kui lun sudah bangkit berdiri. Dia melihat si muka hitam itu tertawa seperti orang sinting menggapaikan lengan dengan gaya menyebalkan. Dan murid ketua Gelang Berdarah yang mangerutkan alis ini mongencangkan ikat pinggang. Dia melompat maju, dan menghadapi si muka hitam ini tiba-tiba sepasang gelang tembaga telah dicabut dari saku bajunya.

"Hek Kong, kau berani melawan aku?" pemuda itu membentak, melempar gelang hingga hampir mengenai hidung lawannya tapi segera membalik karena adanya seutas benang baja yang mengikat gelang itu.
Dan Hek Kong yang terkejut oleh permainan gelang di tangan ini surut selangkah dengan muka kaget. Dia menghentikan tawanya, terbelalak lebar dengan mata berkedip-kedip. Lalu berseru perlahan dia bicara, "Wah, senjata model apa yang kau miliki itu, hu-pangcu? Kenapa bisa mulur mengkeret mirip ular gelang?"

Para tamu tertawa geli. Mereka melihat sikap yang konyol pada diri si muka hitam ini, Dan Kui Lun yang melihat lawannya gemetar tersenyum mengejek. "Hek Kong, kau tampaknya lihai. Jangan pura-pura takuti senjata orang lain. Kau dapat main-main dengan senjata, bukan?"

"Aku, wah... aku tidak biasa main-main senjata, hu-pangcu. Kalau kau main-main senjata berarti kedudukanku berat sebelah. Bagaimana kalau kita coba-coba dulu?"

"Apa maksudmu?"

"He-he, begini, hu-pangcu. Aku jadi ngeri melihat sepasang gelangmu itu. Tampaknya berbau amis. Bagaimana kalau gelang itu kau simpan dulu? Kita main-main dengan tangan kosong. Lima atau sepuluh jurus saja cukup. Dan kalau aku roboh, boleh kita main dengan senjata!"

"Hm, aku tak mau main-main, muka hitam. Kalau kau berani kau harus menghadapi gelangku ini. Kalau takut kembalilah, suruh temanmu yang lain maju!"

Hek Kong meringis "Tapi bagaimana kalau dengan tangan kosong aku mampu menghadapi sepasang gelangmu?"

Kui Lun marah. "Kau boleh bicara seperti itu terhadap orang lain, Hek Kong. Tapi jangan membual di sinil"

"Ha-ha, baik kalau begitu...!" pemuda ini tertawa. "Kalau begitu boleh kita uji, hu-pangcu. Bila sepuluh jurus aku mampu melayani gelangmu dengan baik berarti kau kalah. Tapi kita hanya main-main dulu. Bagaimana dengan usulku ini, hu-pangcu?"

Kui Lun mengelak. "Apa maksudmu, muka hitam?"

Hek Kong tertawa. "Begini, hu-pangcu. Sebelum menginjak permainan yang sungguh-sungguh kita adakan penjajagan dahulu. Sepuluh jurus pertama adalah tingkat saling mengukur, warming-up, Lalu jika sepuluh jurus pertama ini aku berhasil menghadapi gelangmu barulah kita boleh teruskan dengan permainan yang serius, Tapi penentuan terus tidaknya dalam pertandingan adalah aku yang menentukan, bukan kau. Bagaimana, hu-pangcu?"

Kui Lun menjadi tidak mangerti. Tapi gurunya yang tiba-tiba bangkit berdiri membentak keras, "Lun ji, kau jangan banyak cakap! Kau bertempurlah dan robohkan si muka hitam itu!"

Hek Kong buru-buru menoleh. "Wah, tidak boleh begitu Hiat-goan-pangcu, yang akan bertempur ini adalah kami berdua. Kenapa kau ikut campur?"

Kui Lun juga hampir menyetujui bentakan suhunya. Tapi Hek Kong yang sudah menoleh kepadanya menyeringai ha-ha-he-he. "Hu-pangcu kau tentu tidak takut memenuhi usulku, bukan? Kalau takut boleh bicara saja di depan, jangan malu-malu. Karena sebaiknya kita bersikap jujur saja satu sama lain!"

Kui Lun tersinggung. "Aku tidak takut memenuhi segala permintaanmu, muka hitam. Jangan bicara yang tidak ada artinya!"

"Wah, kalau begitu kau setuju kita warming-up dulu, hu-pangcu?"

"Ini..." Kui Lun gugup.

Dan Hek Kong yang melihat "serangannya" mulai mengena tiba-tiba tertawa. "Hu-pangcu, kau tak perlu gelisah oleh maksudku ini. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya kalau nanti aku dapat menghadapi sepasang gelangmu deugan tangan kosong berarti keputusan meneruskan pertandingan atau tidak ada di tanganku. Karena jika aku menang menghadapi gelangmu untuk apa aku menghadapi kau lagi? Aku yang menentukan pertandingan berikutnya, hu-pangcu. Aku yang ingin memilih lawan lain jika dalam warming-up ini kau masih jauh di bawah tingkatku!"

Kui Lun tiba tiba mendelik. Dia marah besar mendengar ucapan terakhir itu, yang meyatakan dia di bawah kepandaian lawan. Dan marah serta gusar oleh kalimat ini tiba-tiba saja sepasang gelang di tangan pemuda itu mengigil. "Muka hitam, jangan sombong kau. Gelangku belum tentu dapat kau tahan dengan tangan kosong tau!"

"Ah, bagaimana kalau sebaliknya, hu-pangcu?"

"Kau boleh meneruskan niatmu itu. Kau berhak menentukan jalannya pertandingan berikut...!"

Semua orang kaget. Ketua Gelang Berdara sampai-sampai bangkit dari kursinya, dan melotot marah laki-laki ini berseru, "Lun-ji, jangan dipancing lawan. Muka hitam itu agaknya merencanakan sebuah kecurangan!"

Hek Kong membalikkan badannya. "Hiat goan-pangcu, jangan berkaok-kaok. Ini urusan kami berdua. Kenapa demikian mencemaskan muridmu seperti seorang anak kecil saja?"

Kui Lun merah padam mukanya. Dia juga terkejut bahwa secara tidak disadari dia telah "terjebak" oleh akal si muka hitam ini. Akal yang belum diketahui ke mana arahnya. Tapi, merasa sudah mengeluarkan janji diapun menggigit bibir. "Suhu, jangan cemas. Benar kata muka hitam ini, teecu bukan anak kecil. Kalau dia melakukaa kecurangan tentu teecu aku membekuknya dan membuatnya binasa!"

Ketua Gelang Berdarah tak dapat berbuat apa-apa. Dia menghadapi orang banyak, yang telah menjadi saksi atas janjii yang dikeluarkan muridnya. Dan geram oleh jebakan si muka hitam itu tiba-tiba ketua Gelang Berdarah inipun mengerahkan ilmunya Coan-in-jip-bit, "Lun-ji, setan hitam itu rupanya orang berbahaya. Sebaiknya kau robohkan dia dalam sepuluh jurus ini. Kalau tidak, bokong dia dengan timpukan gelang-gelang beracunmu…!"

Kui Lun mengangguk tak kentara. Dia sendiri juga mempunyai maksud yang sama dengan yang dikehendaki gurunya itu. Maka bersikap tenang diapun mengguncang gelang dengan suara diam-diam mengerahkan tenaga sinkangnya di kedua lengan. Lalu membentak dingin dia memandang lawan, "Muka hitam, kau sudah siap?"

Hek Kong berseri girang. Dia berhasil "mengikat" lawannya ini dengan sebuah perjanjian. Yakni dalam pertandingan sepuluh jurus ini mereka berdua hanyalah main-main dulu, istiiahnya pemanasan, warming-up! Dan tertawa mendengar tantangan itu dia menggoyang-goyang pinggul seperti ulah seorang badut. "Hu-pangcu, jangan terburu-buru. Aku sudah siap. Tapi tunggu dulu sebentar. Celanaku putus kolornya!"

Hek Kong sibuk membetulkan celana. Dia rupanya benar-benar membetulkan kolor, dan para tamu yang melihat sikap si muka hitam ini hampir meledak tawanya oleh rasa geli. Tapi mata sang ketua Gelang Berdarah bengis memandang mereka, dan orang-orang yang hampir tertawa oleh ulah Hek Kong di depan mata terpaksa menutup mulut. Sinar mata yang keji serta menakutkan memancar dari mata tuan rumah itu, dan Hek Kong yang akhirnya selesai memberesi celana meringis lebar.

"Hu-paugcu, boleh kau maju. Aku siap sekarang!"

Tapi Kui Lun masih ragu-ragu. "Kau benar-benar menghadapi senjataku dengan tangan kosong, Hek Kong?"

"Wah, masa aku main-main, pangcu?"

"Hm, baiklah. Jaga seranganku kalau begitu!" dan Kui Lun yang tiba-tiba mengerakkan lengan mendadak mengayun gelang kiri menghantam kepala lawannya itu. Dia masih coba-coba, melihat reaksi si muka hitam bagaimana menanggapi serangannya yang pertama ini. Tapi Hek Kong yang tenang-tenang di tempatnya menyeringai lebar. Dia tidak mengelak, juga tidak menangkis. Dan Kui Lun yang terkejut dengan sikap lawannya ini tiba-tiba menahan gelang dengan mata terbelalak.

"Hek Kong, kenapa kau tidak menangkis?"

Hek Kong tertawa lebar. "Kau belum bersungguh-sungguh, ji-pangcu. Kau masih main-main dalam serangan pertama ini!"

"Ah...!" Kui Lun terkejut. Dia kaget melihat si muka hitam mengetahui maksudnya, dan marah serta malu melihat Hek Kong menyeringai kepadanya tiba-tiba Kui Lun membentak nyaring dan menggerakkan gelangnya sungguh-sungguh. Dia menyerang pelipis si muka hitam itu, dan Hek Kong yang tertawa bergelak tiba-tiba merendahkan kepala menangkis.

"Nah, ini baru serangan sungguh-sungguh, hu-pangcu...!" dan Hek Kong yang sudah mengangkat lengan kanannya itu sekonyong-konyong menampar dengan gerakan perlahan.

"Plak!" gelang di tangan Kui Lun terpental. Kui Lun terkejut, merasa getaran kuat membuat lengannya gringgingen (kesemutan). Tapi murid ketua Gelang Berdarah yang sudah berteriak tinggi itu tiba-tiba melompat ke depan. Dia menggerakkan gelang kanannya, menghantam leher muka hitam. Lalu begitu si muka hitam menggerakkan lengan menangkis, tahu-tahu gelang kirinya sudah ganti menyambar telinga. Dan gelang serentak menyambar bertubi-tubi, dan Hek Kong yang mendengar suara bersiutan dari gelang lawan yang menyambar-nyambar dirinya tiba-tiba berseru keras. Dia menangkis sana-sini, berlompatan sana-sini. Dan Kui Lun yang melengking bagaikan rajawali tiba-tiba mengerahkan ginkang berkelebat lenyap.
Sekarang tak tampaklah bayangan murid ketua Gelang Berdarah ini. Tubuhnya lenyap digulung sepasang gelang yang naik turun menyambar lawan. Dan Hek Kong yang diserang gencar di dalam gulungan gelang sekonyong-konyang tak kelihatan lagi bayangan tubuhnya. Si muka hitam ini tak tertawa-tawa, serius menghadapi lawan. Dan para tamu yang melihat dua orang itu sudah mulai bertempur tiba-tiba saja,menjadi terbelalak. Mereka melihat pertarungan itu demikian sengit. Keduanya tak main-main lagi. Dan Hek Kong serta lawan yang berkelebatan cepat di dalam gulungan sinar gelang tampak naik turun merupakan gundukan besar macam burung yang berlaga!

Indah, tapi juga menegangkan. Dan semua orang yang melihat pertempuran ini segera menjadi silau oleh sinar gelang yang berkeredep kuning tembaga. Mereka tak melihat lagi bayangan keduanya, karena masing-masing lenyap dibungkus sinar gelang. Tapi ketua Gelang Berdarah serta tokoh-tokoh lain yang berkepandaian tinggi memiliki mata yang awas. Mereka malihat jelas pertandirigan itu, yang tak dapat disaksikan mata orang-orang biasa yang kepandaiannya jauh di bawah mereka. Dan ketua Gelang Berdarah yang melihat pertempuran muridnya ini segera tertegun dengan muka berobah.

Apa yang terjadi? Kiranya kepincangan salah satu pihak. Gelang di tangan muridnya memaug betul menyambar-nyamoar ganas, membentuk sinar lebar mirip payung besar. Seperti yang disaksikan pula oleh orang-orang biasa yang kepandaiannya masih rendah. Tapi sinar gelang yang berkali-kali mental bertemu lengan si muka hitam tampak mengecilkan hati ketua Gelang Berdarah ini. Dan akhirnya betul Kui Lun mulai mengeluarkan seruan kaget, berteriak kecil dengan muka pucat.

Karena si muka hitam yang berkali-kali menangkis sepasang gelangnya mulai mengeluarkan hawa mujijat yang luar biasa. Hawa ini memang tak dapat dilihat orang lain, apalagi dirasakan mereka. Tapi Kui Lun yang langsung berhadapan dengan lawannya itu mulai terdorong oleh hawa mujijat yang keluar dari lengan si muka hitam ini. Getaran sinkang yang sudah tampak melindungi tubuh si muka hitam itu. Hingga gelang Kui Lun yang menyambar-nyambar ke depan tiba-tiba tak dapat menganai tubuh lawannya!

Jangankan mengenai, menyentuh sajapun tidak. Karena gelang yang menyambar-nyambar ke dapan itu membentur benteng hawa yang melindungi si muka hitam!

"Ah…!" Kui Lun terkejut. Dia benar-benar kaget, dan si muka hitam yang menangkis sana. sini tiba-tiba berseru,

"Hu-pangcu, tinggal dua jurus lagi…!"

Kui Lun pucat mukanya. Mareka memang telah bertempur delapan jurus dalam gebrakan cepat ini. Pertempuran yang membuat harapan tipis untuk kamenangannya. Dan Kui Lun yang marah serta kecewa oleh kenyataan yang dihadapinya tiba-tiba melengking. Lengkingannya tinggi, merupakan cetus keputusasaan dan rasa penasarannya. Lalu begitu dua jurus tinggal membayang di depan mata sekonyong-konyong pemuda ini melakukan gerak Menembus Langit Menusuk Mega. Inilah gerakan berbahaya dari permainan sepasang gelang. Karena dua gelang yang menyambar-nyambar ke depan itu mendadak mencuat ke atas. Yang kini menyobek dagu si muka hitam sedangkan yang kanan diteruskan menghantam ulu hati. Sekali kena tentu lawan bakal roboh dengan napas putus. Karena dagu bakal terobek dan isi lambung hancur berantakan!

Tapi si muka hitam kembali menunjukkan kelihaiannya. Dia mengegos, berkelit ke kiri. Lalu begitu sepasang gelang lewat di samping kanannya mendadak dia tertawa. Gelang yang menyambar ulu hatinya dia tampar, tepat mengenai pergelangan tangan lawan. Dan Kui Lun yang berteriak kaget tahu-tahu melihat gelangnya mencelat terlepas dari tangan. Inilah kejadian yang di luar dugaan. Kui Lun sama sekali tak menyangkanya. Tapi gelang satu yang luput mangenai sasarannya mendadak dia lontarkan menghantam kening si muka hitam. Disambitkan dan sengaja ditimpuk macam senjata rahasia!

"Ah…!" si muka hitam terkejut. Dia berseru keras, menyambar gelang pertama yang mencelat dari tangan pemiliknya. Lalu begitu gelang berhasil dia tangkap, tiba-tiba sambaran gelang kedua yang menghantam keningnya dia tangkis, mempergunakan gelang yang baru saja ditangkap.

"Trang...!" dua gelang beradu keras. Bunga api muncrat meletikkan lelatunya. Tapi Kui Lun yang membentak dari samping tiba-tiba mengebutkan lengannya. Tiga gelang merah yang lebih kecil menyambar tiga jalan darah si muka hitam, dan si muka hitam yang terkejut oleh serangan gelap ini terpekik. Dia cepat menangkap gelang ke dua yang terpental di udara lalu begitu dia memutar tubuh secepat kilat ditangkisnya tiga senjata gelang yang merupakan senjata-senjata rahasia itu.

Dan hebat akibatnya. Tiga gelang kecil itu runtuh, terpukul sepasang gelang di tangan si muka hitam. Dan bayangan ke duanya yang sudah tampak kembali di atas panggung tampak berhadapan dengan tubuh berkeringat. Si muka hitam menyeringai dengan gelang rampasan di kedua tangan sedangkan murid sang ketua Gelang Berdarah tertegun dengan mata terbelalak.

"Ji-pingcu, pertandingan tepat berjalan sepuluh jurus...!"

Semua orang melenggong. Mereka hampir tak percaya pada apa yang dilihat. Maklum, si muka hitam bukanlah orang terkenal yang sudah membuat nama besar. Tapi murid ketua Gelang Berdarah yang pucat mukanya tampak menggigil.

"Muka hitam, siapakah kau sebenarnya?"

Si muka hitam ini tertawa. "Aku Hek Kong, ji-pangcu. Kau sendiri telah mengenalnya sejak pertama!"

"Ah, tapi kau…"

"Ah, tapi aku harus bekerja keras melawanmu, ji-pangcu. Kalau tidak tentu gelang-gelangmu sudah menghujam di tubuhku!" Hek Kong tertawa, memotong percakapan orang yang belum selesai. Dan begitu dia habis bicara tiba-tiba dia membungkuk, tepat bersamaan dengan menyambarnya sebuah sinar putih yang menyambar punggungnya dari beiakang.

"Ji-pangcu, maaf kukembalikan sepasang gelangmu ini. Harap kau terima dengan rasa yang tidak terlampau kecewa!" Hek Kong mem-bungkuk, menyerahkan kedua gelang yang ada di tangannya. Dan sinar putih yang lewat di punggungya karena kebetulan dia naembungkuk itu tiba-tiba menyambar dada murid sang ketua Gelang Berdarah!

"Crep!" Kui Lun mengibaskan lengan, Dia tahu serangan itu, karena dia ada di depan si muka hitam. Dan sinar putih yang sudah digubat ujung bajunya ini tiba-tiba telah dia tangkap tanpa diketahui banyak orang. Tapi Hek Kong yang menyerahkan gelang mendadak menotok pergelangannya, melakukan perbuatan ini bersamaan dengan menyerahkan gelang. Dan begitu jari si muka hitam mengenai jalan darahnya tiba-tiba sinar putih yang digubat ujung baju telah berpindah tangan ke si muka hitam!

"Toat-beng-cu...!" si muka hitam berseru perlahan, berobah mukanya dan terbelalak memandang murid sang ketua Gelang Berdarah ini. Tapi Hek Kong yang sudah melangkah mundur tiba-tiba tersenyum pahit. "Ji-pangcu, kau lihai. Aku nyaris roboh kalau tidak kau tolong….!"

Kui Lun tertegun. Dia kembali tak berdaya menghadapi si muka hitam ini. Tapi Hek Kong yang sudah melompat mundur jelas tak dapat diajak bertanding lagi. Dan Hek Kong yang menjura di depannya itu berseru nyaring,

"Ji-pangcu, seperti perjanjian kita bersama yang disaksikan orang banyak maka kini keputusan meneruskan pertandingan ada di tanganku. Kau telah pecundang, aku tak ingin bertempur lagi denganmu. Dan karena pertandingan tinggal dua babak lagi maka biarlah aku menantang seorang dari dua sisa yang terakhir. Kau boleh bertanding melawan Hui to Lo-jin, sedangkan Cheng-gan Sian-jin karena telah mendapat lawan Ciok-thouw Tai-hiap Souw-locianpwe maka biarlah dalam pertandingan terakhir aku menantang yang terhormat ketua Gelang Berdarah!"

Semua orang tiba-tiba menjadi geger. Mereka melihat pernyataan si muka hitam itu terlalu berani, kelewat terang terangan. Tapi Ciok-thonw Taihiap yang tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya tertawa bergelak.

"Hek Kong, kau benar-benar gagah. Aku mendukung penuh tantanganmu terhadap yang terhormat ketua Gelang Berdarah!"

Pek-mauw Sian-jin juga tersenyum. "Ya, kini kami telah menyaksikan kelihaianmu, muka hitam. Pinto setuju rekan Hui-to Lojin melawan Ji-pangcu, sedangkan kau menandingi yang terhormat ketua Gelang Berdarah!"

Kini tak ada lagi yang dapat dielakkan. Hek Kong sendiri sudah tersenyum-senyum kepada semua orang. Dan ketua Gelang Berdarah yang bangkit dari tempat dudukaya tiba-tiba tertawa sumbang.

"Ciok-thouw Taihiap, sungguh tak disangka bahwa sahabatmu yang satu ini dapat mengalahkan muridku. Baiklah, karena dia metantangku dengan cara jantan kuterima maksud hatinya ini. Kita boleh tentukan, berapa jurus ia tahan menerima pukulanku!"

Hek Kong menyeringai. "Tapi jangan kuat-kuat, pangcu. Bagaimanapun aku minta sedikit belas kasihanmu kepadaku."

Ketua Gelang Berdarah tersenyum mengejek. Dia nyalang memandang si muka hitam yang mengejutkan hatinya ini. Tapi si muka hitam yang sudah membalikkan tubuh menghadapi Hui-Lo-jin.

"Totiang, sekarang kau boleh maju. Biar aku beristirahat mengumpulkan tenaga!" Hrk Kong tertawa, melompat turun dan memberi isyarat pada ketua Hoa-san-pai itu.

Dan Hui-to-lojin yang mencabut golok tiba-tiba melayang naik. "Ji-pangcu, maafkan pinto. Hek Kong telah memberi kesempatan kepada pinto untuk melayanimu. Apakah kau perlu beristirahat sebentar memulihkan tenaga?"

Kui Lun mencekal gelang. "Tak perlu. Hui to Lo-jin. Aku masih mampu menghadapimu sampai penentuan terakhir!" suara pemuda ini terdengar marah, kasar dan sengit akibat kekalahannya terhadap si muka hitam. Dan Hui-Lo-jin yang maklum kekecewaan orang tak mau berpanjang lebar.

"Kalau begitu boleh kita mulai, hu-pangcu ? Pinto siap mendapat pelajaran ilmu gelang mu!"

Baru tantangan ini selesai diucapkan mendadak Kui Lun sudah membentak keras, Dia menggerakkan gelangnya menyambar muka tosu itu. Dan Hui-to Lojin yang menggerakkan golok segera menangkis.

"Trang!" pertemuan pertama ini mengejut, kau Hui-to Lo-jin. Tosu itu tetgetar, lengannya kesemutan. Dan Kui Lun yang sudah bertubi-tubi menggerakkan gelangnya segera menyerang tosu ini dengan-permainan tidak tanggung-tanggung. Hui-to Lo-jin diserangnya bertubi-tubi Dan ketua Hoa-san yang menggerakkan golok menangkis sana-sini segera dibuat repot serangan lawannya. Terjadi pertempuran seru. Masing-masing menyerang dan bertahan. Tapi Hui-to Lo-jin yang maklum bakal celaka kalau melulu mempertahankan diri tiba-tiba melengking. Ia balas menyerang, dan lengan kiri tosu ini yang sudah berkelebat ke depan mulai bergerak melakukan pukulan-pukulan berat.

Sekarang mulailah keduanya bertarung untuk memperoleh kemenangan. Masing-masing tak mau mengalah, dan Hui-to Lojin serta lawan mudanya yang bergerak sama cepat sebentar saja lenyap dibungkus dua bayangan golok dan gelang. Mereka sudah mengerahkan kepandaian untuk merobohkan lawan, mengandalkan kecepatan dan ginkang untuk lebih dulu mencelakai lawan. Tapi golok serta gelang yang berkali-kali saling bentur untuk sejenak membuat keduanya berimbang. Hui-to Lo-jin dan Kui Lun sama-sama cepat. Keduanya juga sama-sama tangguh.

Dan ketua Hoa-san yang bertahan sambil menyerang dengan pukulan tangan kirinya mulai kaget. Kakek ini terbelalak heran dan terkejut melihat pukulan tangan kirinya yang mainkan pukulan tangan kosong Pek-lek jiu (Tangan Geledek) berani ditangkis tangan lawan yang mengeluarkan sinkang kuat. Hal ini terbukti ketika berkali-kali kedua lengan mereka bertemu. Betapa dari lengan pemuda itu menyalur hawa dorong yang memukul balik tenaga Pek-lek-jiu-nya. Tanda bahwa dalam tenaga sinkang lawannya yang masih muda ini juga tak kalah kuat.

Maka Hui-to Lo jin yang tentu saja terkejut dan penasaran ini segera memekik. Dia menyambut gelang yang menyambar pundaknya, lalu begitu golok menangkis gelang menerbitkan suara nyaring tiba-tiba tosu tua ini mengeluarkan bentakan dan menyerang dada lawan dengan pukulan Tangan Geledeknya.

"Bress...!" Kui Lun memapak serangannya. Pemuda ini menjengek, dan keduanya yang sama terdorong mundur tiba-tiba serentak melompat maju lagi. Hui-to Lo-jin menggerakkan golok menghantam leher lawan sedangkan Kui Lun menggerakkan gelang menghantam lambung ketua Hoa-san itu. Tapi kali ini ada perobahan. Kui Lun tidak mengelak, menerima serangan golok yang menyambar lehernya. Dan Hui-to Lo-jin yang terkejut melihat lawan berani menerima babatan goloknya dengan kulit terbuka hampir menjerit memperingatkan lawan.

Tapi murid ketua Gelang Berdarah ini ternyata tidak main-main. Dia membuat Hui-to Lo-jin tak mampu menarik atau mengurangi tenaganya, dan begitu golok dan gelang menyerang hampir berbareng terdengarlah suara "tak" ketika golok mental bertemu leher pemuda itu sementara gelang di tangan Kui Lun pendarat di lambung Hui-to Lo-jin.

"Plak-des!"

Hui-to Lo-jin mengeluh. Dia kaget melihat lawan mengerahkan ilmu kebalnya, membuat golok membalik dan hampir menyambar mukanya sendiri. Tapi Hui-to Lo-jin yang sudah berteriak tinggi ini tiba-tiba bergulingan menjauh ketika kaki lawan menendang anggauta rahasianya! Ketua Hoa-san ini terpaksa berjumpalitan, dan ketika dia melompat bangun dengan muka pucat maka tampaklah baju di lambungnya yang robek lebar terkena gelang!

"Ji pangcu, kau benar-benar lihai....!"

Kui Lun tak menanggapi seruannya. Pemuda ini sudah mengejar, dan baru Hui-to Lo-jin melompat bangun tahu-tahu kedua gelangnya menyambar berbareng, dilepas dari kedua tangan seakan gelang terbang!

"Ah….!" Hui-to Lo-jin terkejut. Dia mengngkat goloknya, menangkis gelang kiri yang menyambar pundak, lalu begitu gelang kanan mendengung menyambar dadanya tosu inipun cepat-cepat menggerakkan lengan kiri mengerahkan Pek lek jiu-nya.

"Bress...!" Hui-to Lo-jin mengeluh kaget. Dia melihat gelang membalik, mengaung di udara dan tiba-tiba mengurung goloknya. Lalu sementara dia terpekik tahu-tahu golok sudah digubat dan disontek lawan terlepas dari cekalannya, bersamaan dengan totokan gelang ke dua yang mengenai pergelangan tangannya!

"Plak!" Hui-to Lo-jin terguling-guling. Dia kaget bukan main, tak menyangka lawan demikian lihai, melumpuhkan tangannya dengan totokan demikian cepat. Dan Hoi-to Lo-jin yang sudah kehilangan goloknya ini tahu-tahu melihat lawan melontarkan gelang menyambit dadanya.

"Hui-to Lo-jin, robohlah…!"

Ketua Hoa-san ini pucat bukan main. Dia jelas di ambang kekalahan, tapi yang Hui-to Lojin yang tak mau menyerah ini tiba-tiba berteriak. Dia menggerakkan tangan kirinya, yang tidak lumpuh tertotok, menimpukkan sebuah golok terbang yang membuat dia dijuluki Hui-to (Si-Golok Terbang ). Dan begitu dia menggulingkan diri sambil menimpukkan golok terbangnya maka datang pulalah sambaran gelang yang menyambar dadanya itu.

"Brett...!" Hui-to Lo-jin merasa terbang semangatnya. Dia merasa gelang menggores kulit, luput menghantam dadanya, tapi masih melukai pundak. Si tosu yang sudah bangkit berdiri dengan muka pucat itu melihat golok terbangnya mengenai tubuh lawan yang tidak menangkis.

"Tak...!" Hui-to Lojin terbelalak. Golok terbangnya runtuh, lawan tak terluka. Dan hu-pangcu Gelang Berdarah yang melompat maju ini tahu-tahu telah menyentuhkan jari di ubun-ubun kepalanya!

"Hui-to Lo-jin, kau masih tak menyerah kalah!"

Ketua Hoa-san ini tertegun. Dia melihat lawan mencengkeram jalan darah kematian di atas kepalanya, sekali tepuk tentu dia binasa. Dan Hui-to Lojin yang pucat mukanya ini tiba-tiba menghela napas. "Hu-pangcu, kau benar-benar hebat. Pinto menyerah dalam pertandingan ini!"

Kui Lun melepaskan tangannya. Dia tak tega membunuh ketua Hoa-san-pai itu, meskipun mendapat isyarat suhunya agar dia menurunkan tangan kejam. Dan Hui-to Lo-jin yang sudah malangkah mundur sambil memungut goloknya itu kembali menjura dalam-dalam.

"Hu-pangcu, pinto mengakui keunggulanmu. Terima kasih atas kemurahanmu terhadap si tua bangka ini!"

Hui-to Lo-jin memutar tubuh, memberi hormat sekali lagi lalu melayang turun dengan golok terselip dipunggungnya. Dan semua orang yang sudah melihat pertandingan babak ini selesai dengan kemenangan di pihak perkumpulan Gelang Berdarah jadi tertegun dengan mata bersinar. Jelas oleh mereka bahwa hu-pangcu Gelang Berdarah itu sungguh hebat. Mampu menandingi bahkan mengalahkan ketua Hoa-san pai! Tapi Hek Kong yang lagi-lagi muncul dengan tepuk tangannya membuat orang terkejut dengan mata terbelalak.

"Saudara Kui Lun, kau benar hebat. Pihak kami kembali kalah seorang dalam babak ke empat ini!"

Kui Lun mengusap keringatnya. "Dan apa maumu sekarang, muka hitam?"

"Ha-ha, tentu saja melanjutkan dua babak terakhir, pangcu. Menantang Cheng-gan Sian-jin atau ketua Gelang Berdarah sendiri yang terhormat!"

Samua orang tersentak. Tanpa disadari mereka tiba-tiba sudah dibawa ke puncak penyelesaian adu ilmu ini, pertandingan pibu di antara torah-tokoh besar! Dan Hek Kong yang tertawa dengan suaranya yang lantang ini tiba-tiba disambut bangkitnya sang tuan rumah.

"Hek Kong, kau ingin bertanding sekarang denganku?"

Hek Kong ha-ha-he-he. "Terserah, pangcu. Tapi sebaiknya kudengar dulu pendapat yang terhormat ketua Beng-san-pai!" lalu menoleh pada pendekar berkepala gundul itu. Hek Kong bertanya, "Souw-locianpwe, siapa yang harus maju dulu dalam pertandingan ke lima ini?"

Ciok-thouw Taihiap melayang ke atas panggung. "Aku dulu, Hek Kong. Beri kesempatan padaku untuk membunuh iblis bermata hijau itu...!"

Hek Kong menyeringai. "Kau tak dapat mengalah pada yang muda, locianpwe? Kau ingin maju dulu melepaskan tanganmu yang gatal-gatal?"

Ciek-thouw Taihiap mendengus. "Aku tak sabar lagi, Hek Kong. Mundurlah dan biarkan aku mengisi pertandingan babak ke lima ini…!"

Undangan menjadi geger. Mereka melihat Ciok-thouw Taihiap tampak beringas, dan Cheng-gan Sian-jin sendiri yang juga sudah bangkit dari tempat duduknya tiba-tiba tertawa bergelak Sambil menendang kursi hingga hancur berantakan!

"Ciok-thouw Taihiap, jangan sombong. Aku siap melayanimu seribu jurus...!" dan Cheng-gan Sian-jin yang melompat maju itu tiba-tiba saja telah berhadapan dengan pendekar berkepala gundul ini!

"Hm, kau ingin menyerahkan jiwa, Cheng-gan Sian-jin? Kau siap menyusul arwah muridku untuk meminta ampun?"

Cheng-gan Sian-jin menepuk-nepuk dadanya. "Jangan sombong. Ciok-thouw Taihiap. Aku justeru ingin mengantar nyawamu untuk menyusul muridmu itu!"

Keduanya berhadapan. Mereka saling pandang, mencorong dan mengerahkan kekuatan battin untuk saling mempengaruhi lawan. Dan ketua Gelang Berdarah yang melihat kedua orang ini telah maju berhadapan, tiba-tiba bersinar matanya.

"Ciok-thouw Taihiap, kau ingin mengisi babak kelima ini?"

Ciok-thouw Taihiap menggereng. "Tak perlu diulang lagi, Hiat-goan-pangcu. Aku ingin membunuh dan melenyapkan iblis bermata hijau ini!"

Ketua Gelang Berdarah menyeringai aneh. Dia memandang Hek Kong yang masih berdiri di atas panggung. Dan tuan rumah yang tersenyum penuh rahasia itu tiba-tiba bertanya, "Muka hitam, kau bisa menunda keinginanmu bukan? Kita bertanding saja pada babak terakhir. Menyaksikan dulu dua naga ini bertempur!"

Hek Kong mengangguk. "Boleh saja, pangcu. Tapi kukhawatirkan nasib temanmu ini. Cheng-gan Sian-jin tentu roboh, tak mampu menahan pukulan yang terhormat ketua Beng-san-pai!"

"Ha-ha, kau berani meramalnya, muka hitam?"

"Ya, kenapa tidak, pangcu? Bukankah dua kali Cheng-gan Sian-jin mundur bila mendapat tantangan?"

Cheng-gan Sian-jia menggeram. "Jangan kurang ajar, Hek Kong. Aku tak akan mengampunimu bila bicaramu semakin busuk!"

Hek Kong tertawa. "Kau berani bertaruh, Cheng-gan Sian-jin?"

Cheng-gan Sian-jin melotot. "Apa yang hendak kau pertaruhkan?"

"Diriku! Kalau kau menang biarlah aku menyatakan kalah pada yang terhormat ketua Gelang Berdarah. Tapi kalau aku yang menang berarti ketua Gelang Berdarah harus tunduk padaku dan menyerah kalah!"

"Keparat, kau tak cukup berharga untuk nenjadi benda taruhan, muka hitam. Aku tak sudi melayani jembel macammu ini!" Cheng-gan Sian-jin mau menghantam lawannya ini, tapi ketua Gelang Berdarah yang bersikap tenang tertawa tak terpengaruh.

"Cheng-gan Sian-jin, tak guna dipengaruhi bocah ini. Kau hadapilah lawanmu itu dan tinggalkan dia untukku. Awas, lawan membakar minyak pada tungku yang mendidih!"

Cheng-gan Sian-jin sadar. Dia terkejut mendengar peringatan ketua Gelang Berdarah itu, yang mengartikan menghadapi lawan tangguh jangan sampai terbakar nafsu amarahnya. Dan Cheng-gan Sian-jin yang mendengus pendek tiba-tiba menahan api kemarahannya dan menyeringai kaku.

"Ciok-thouw Taihiap, kau tidak menyuruh si hitam itu melompat turun?"

Ciok-thoaw Taihiap tersenyum. Dia geli juga melihat tingkah Pendekar Gurun Neraka ini. Tapi bersikap garang dia mengulapkan tangan, "Hek Kong, turunlah. Jangan ganggu pertempuran kami dengan ulahmu itu!"

Hek Kong tertawa. "Tentu saja, Ciok-thouw Taihiap. Tapi bagaimana dengan tuan rumah sendiri, bukankah dia juga masih di sini membela temannya? Jangan-jangan dia membokongmu, Ciok-thotiw Taihiap. Aku khawatir kau dicurangi lawan!"

Ketua Gelang Berdarah tersinggung. "Jangan sembarangan omong, muka hitam. Aku bukan orang yang suka berbuat curang!"

"Aha, bagus kalau begitu, pangcu. Mari kita sama-sama turun...?" dan Hek Kong yang melayang mendahului melihat ketua Gelang Berdarah sudah mundur ke kursinya dengan muka merah. Dia melihat laki-laki itu mendelik padanya. Tapi Hek Kong yang pura-pura tidak tahu tertawa ha-ha-he-he dengan sikap seenaknya.

Kini mereka memandang ke atas. Semua orang juga tertuju perhatiannya di sini, karena Ciok-thouw Taihiap yang sudah berhadapan dengan lawannya itu tampak memasang kuda-kuda dengan wajah membesi. Sementara Cheng-gan Sian-jin sendiri, yang kelihatannya tenang dan mengeraskan pandangan tampak mencorong dengan mata bersinar-sinar.

"Kau sudah siap memulai pertempuran, Ciok-thouw Taihiap?"

Ciok thouw Taihiap mendengus. "Aku siap sejak tadi, Cheng-gan Sian-jin. Majulah dan mulailah pertandingan ini!"

"Hm, kau menginginkan kita bersenjata atau bertangan kosong?"

"Bagiku tangan dan kaki adalah senjata, Cheng-gan Sian-jin. Kalau kau takut boleh cabut Bendera Iblismu yang kesohor itu?"

Cheng-gan Sian-jin semburat merah. Dua kali dia mendapat bentakan ketua Beng-san-pai yang dinilainya terlalu sombong dan memandang rendah orang lain. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang tertawa dingin ganti mengejek "Baiklah, boleh kita bertangan kosong. Ciok-thouw Taihiap. Tapi jangan memaki aku jika kesalahan tangan melukaimu!"

"Hm, tak perlu cerewet, Cheng-gan Sian-jin. Kalau terdesak boleh cabut benderamu itu. Aku memberimu keringanan tiga jurus."

Cheng-gan Sian-jin terkejut. Ketua Gelang Berdarah sendiri juga tersentak kaget mendengar janji ketua Beng-san-pai yang dianggap terlalu berani itu! Tapi Cheng-gan Sian-jin yang tertawa bergelak tiba-tiba berseru, "Ciok-thouw Taihiap, kesombonganmu rupanya benar-benar tak mengenal batas. Baiklah, kalau kau memberiku keringanan tiga jurus maka akupun memberimu keringanan tiga jurus. Nah, tinggal siapa yang lebil dulu mengisi kesempatan itu. Kau atau aku!"

Ciok-thouw Taihiap berkilat pandang matanya. "Kau boleh memulainya dulu, Cheng-gan Sian-jin. Serang dan coba robohkan aku!"

Tapi Cheng-gan Sian-jin mengeleng. "Tidak, sebaiknya kau dulu, Ciok thouw Taihiap. Aku ingin merasa seberapa dahsyatkah pukulan tanganmu. Lakukanlah...!"

Ciok-thouw Taihiap menggereng. "Aku tak biasa menjilat ludah sendiri, Cheng-gan Sian-jin. Lakukanlah pukulan itu atau kuanggap kau menyerah kalah!"

Cheng-gan Sian-jin marah. Dia mengeluarkan bentakan keras mendengar kata-kata itu, dan gusar Ciok-thouw Taihiap menghinanya sedemikian rupa tiba-tiba kakek iblis ini menggetarkan lengan kanannya. "Ciok-thouw Taihiap, jangan terlalu sombong. Kalau kau ingin aku maju lebih dulu, baiklah. Awas dan jaga seranganku ini….!" dan Cheng-gan Sian-jin yang tiba-tiba melompat maju sekonyong-konyong menggerakkan tangan kanannya menghantam pundak pendekar berkepa gundul itu. Tentu saja dengan sinkang yang nengeluarkan deru angin dahsyat!

Tapi Ciok-thouw Taihiap tersenyum mengejek. Dia tidak bicara besar, karena dia telah mempersiapkan diri sedemikian rupa. Maka ketika lawan menyerangnya dengan pukulan sinkang cepat menggetarkan seluruh tenaga saktinya untuk menerima serangan ini, tanpa membalas.

Dess...! "Jurus pertama, Cheng-gan Sian-jin!" Ciok-thouw Taihiap menyilangkan tangan, berseru dan menolak balik pukulan sinkang Cheng-gan Sian-jin.

Dan Cheng Sian-jin yang terkejut melihat uap mengepul di pundak kanan ketua Beng-san-pai ini melengking tinggi. Dia merasa pundak lawannya itu bagai lapisan baja yang demikian kuat, tak mempan dipukul telapak tangannya. Maka Cheng-gan Sian-jin yang marah serta membelalakkan matanya ini tiba-tiba melengking dan melancarkan pukulan nomor dua.

"Ciok thouw Taihiap, jangan kepalang congkak. Jaga dan awas seranganku yang nomor dua...!"

Tapi Ciok-thouw Taihiap masih tersenyum mengejek. Dia melihat serangan Cheng-gan Sian-jin menyambar dadanya, dilakukan dengan tangan kiri. Namun pendekar sakti yang siap sedia itu memandang tak gentar. Dia mengerahkan sinkang melindungi dadanya. Dan begitu tangan kiri Cheng-gan Sian-jin menghantam dirinya terdengarlah suara keras menimpa dada pendekar sakti itu.

"Dess!" Ciok-thouw Taihiap terdorong ke belakang. Dia mengeluh kagum, doyong punggungnya tapi kuda-kuda masih menancap kokoh. Tak bergeser sedikitpun! Dan Cheng-gan Sian-jin yang terkejut oleh daya tahan ketua Beng-san-pai ini jadi terbelalak dengan muka berobah.

"Ah, kau hebat, Ciok-thouw Taihiap!"

Ciok-tbouw Taihiap menyeringai. "Tak perlu memujiku, Cheng-gan Sian-jin. Hayo habiskan jurus ke tiga dan kerahkan semua kekuatanmu!"

Cheng-gan Sian-jin menggereng. Dia tersinggung, marah oleh ejekan lawannya itu. Dan iblis ini menggeram oleh kecongkakan Ciok-thouw Taihiap ini tiba-tiba mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi ke udara. Sekejap saja lengan kakek tinggi besar itu berobah semerah darah, dan Cheng-gan Sian jin yang memekik nyaring tiba-tiba membentak, "Ciok-thouw Tai-hiap, awas serangan terakhir…!" dan lengan Cheng-gan Sian-jin yang menyambar ke depan tahu-tahu berbareng menghantam perut dan leher Ciok-thouw Taibiap, diiringi bau amis yang memuakkan hidung.

"Tok-hiat jiu (Tangan Darah Beracun)....!" Ciok-thouw Taihiap sedikit tegang. Dia mengerutkan kening, mengempos semangat dan tiba-tiba mengguncang tubuh. Lalu dengan Cheng-gan Sian jin melompat ke arahnya tahu-tahu tubuh pendekar ini menggelembung seperti balon! Itulah tiupan sinkang yang hanya dapat dilakukan orang-orang paling lihai. Dan Ciok-thouw Taihiap yang menerima pukulan lawan tiba-tiba berbareng mengeluarkan bentakan dari mulut, melepas kekuatan sinkangnya monolak pukulan Tok-hiat-jiu!

"Piak-dess!" Ciok-thouw Taihiap dan Cheng-gan Sian-jin sama-sama berseru tertahan. Mereka berdua merasa benturan yang amat dahsyat itu, benturan sakti yang dikerahkan hampir sepenuh bagian. Tapi Chang gan Sian-jin yang membentur tubuh yang kenyal seperti karet tiba-tiba berteriak tinggi dan menjejakkan kakinya. Dia merasa "balon" yang ada di depannya itu menghihap pukulannya, mengikuti arus sinkang dan tiba-tiba metontar balik, melenting bagai busur yang dijepret sebatang tangan raksasa. Dan Cheng-gan Sian-jin yang kaget bukan main segera mencelat berjungkir balik tinggi di adara.

"Brakk...!" Semua orang tertegun. Mereka melihat Cheng-gan Sian-jin melakukan salto tiga kali di udara, sementara Ciok-thouw Taihiap yang terdorong setindak mengkilap mukanya penuh keringat, memandang lantai panggung yang hancur berantakan terkena pukulan membalik mereka berdua! Dan Cheng-gan Sian jin yang melayang turun dengan muka pucat tampak memandang Ciok thouw Taihiap yang berseri-seri mukanya.

"Ha, kau hebat, Cheng-gan Sian jin!"

Cheng-gan Sian-jin berdiri terbelalak. Dia melihat baju bagian depan ketua Beng-san-pai itu hancur tak karuan ujudnya, hangus kemerahan terkena pukulan darah beracunnya. Tapi dada sang pendekar yang mengkilap berseri jelas menunjukkan ketua Beng-san-pai itu tak mengalami luka sedikitpun!

Ceng-gan Sian-jin tertegun. "Kau juga mengagumkan, Ciok-thouw Tai hiap...!" akhirnya Cheng gan Sian-jin mendesis.

Dan Ciok-thouw Taihiap yang mendengar pujian, lawannya tiba-tiba tertawa bergelak. "Aku telah menerima pukulanmu tiga kali. Cheng-gan Sian-jin. Apakah sekarang masih berlaku janjimu padaku?"

Cheng-gan Sian-jin tergetar. Dia teringat Bu tiong-kiam Kun Seng yang roboh menerima pukulan ketua Beng-san-pai ini, yang membuatnya terluka parah! Dan Cheng-gan Sian-jin yang pucat mukanya memandang pendekar ini tiba-tiba mengeraskan hati. Bagaimanapun, dia ditonton banyak orang. Mau ditaruh ke mana mukanya kalau tidak menepati janji sendiri? Maka Cheng-gan Sian-jin yang mengerotkan giginya itu membentak, "Ciok-thouw Taihiap, tak perlu kau sombong. Bukan kau sendiri laki-laki yang dapat menepati janji!"

Ciok-thouw Taihiap tertawa bergelak. Dia membetot bajunya, menarik lepas baju yang sudah robek-robek itu dan membuangnya ke lantai bertelanjang dada. Lalu berkata pada kakek iblis si ketua Beng-san-pai itupun berseru, "Bagus, kalau begitu mari, kita tentukan, Cheng-gan Sian-jin. Siapa yang akan roboh dalam pertandingan ini!" dan Ciok-tbouw Taihiap yang sudah memasang kuda-kuda itu tampak gelap dan bengis mukanya!

Cheng-gan Sian jin melangkah mundur, dia tergetar melihat sikap ketua Beng-san-pai itu, yang demikian garang dan penuh perbawa. Tapi Cheng-gan Sian jin yang menenangkan hati segera berdiri tegak dengan mata, mencorong. Dia lalu mengerahkan ilmunya Sin-gan-i-hun-to, ilmu sihir yang mengandalkan kekuatan mata itu. dan Cheng-gan Sian-jin yang menekan guncangan hatinya cepat manarik napas panjang. Inilah satu-satunya cara untuk memulihkan mental. Dan Cheng-gan Sian-jin yang sudah melakukan itu mendengar pertanyaan Ciok-thouw Taihiap,

"Kan sudah siap, iblis tua?"

Cheng-gan Sian-jin menekan rasa gentarnya. "Tak perlu buang tempo, Ciok-thouw Taihiap. Kau mulailah pukulanmu yang pertama itu sampai yang ke tiga!"

"Bagus!" Ciok-thouw Tathiap berseru. "Kalau begitu, hati-hatilah Cheng-gan Sian-jin. Aku akan segera memulainya!" dan Ciok-thouw Taihiap yang menarik napas dalam-dalam ini mendadak memutar lengan dua kali ke kanan dan ke kiri. Orang yang mendengar suara berkerotok pada buku-buku jari pendekar berkepala gundul itu, dan begitu wajahnya semakin bengis Ciok-thouw Taihiap membentak, "Cheng-gan Sian-jin, jaga pukulan pertama....!"

Dan baru ucapan ini selesai dikeluarkan tahu-tahu tubuh ketua Beng-san pai itu telah meluncur maju bagai roda berputar. Orang tidak tahu bagaimana cara ketua Beng-san-pai ini menggerakkan kedua kakinya. Tapi begitu tiba di depan Cheng-gan Sian-jin sekonyong-konyong telapak kanannya menyambar cepat.

"Plak!" Cheng-gan Sian-jin mengeluarkan seruan kaget. Orang melihat kakek iblis itu tergetar. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang menekuk lutut tiba-tiba berhasil menegakkan kembali tubuh yang hampir roboh! Hal ini mengejutkan Cheng-Sian-jin, juga orang-orang lain. Tapi Ciuk-thouw Taihiap yang sudah meluncur ke belakang tertawa ditahan.

"Kau terkejut, iblis tua?"

Cheng-gan Sian-jin semburat merah. Dia memang terkejut sekali oleh pukulan pertama itu, yang membuatnya ampeg dan seakan-akan rontok isi danya. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang mangerahkan Sin-gan-i-hun-tonya tiba-tiba membentak, penuh pengaruh, "Ciok-thouw Taihiap, jangan terlalu bangga dengan pukulanmu itu. Aku tak merasa apapun dari akibatnya…..!"

Ciok-thouw Taihiap mengerutkan alis. Dan melihat sendiri iblis itu mendesis menahan pukulannya, kenapa bicara seperti itu? Tapi Clok-thouw Taihiap yang tiba-tiba merasa getaran mujijat segera mengerti apa yang dikerjakan lawannya ini. Tentu mulai main-main ilmu hitam, menjaga gengsi agar tidak terlalu asor (rendah)! Maka Ciok-thouw Taihiap yang tertawa dingin tiba-tiba berseru, "Baiklah, boleh kau bicara begitu, Cheng-gan Sian-jin. Tapi bersiaplah menerima pukuian kedua…!" dan Ciok-thouw Taihiap yang kembali memutar-mutar lengannya mendadak menggeram dengan mata berkilat mengerikan. Orang melihat sinar putih berkeredep di lengan kanan pendekar ini.

Dan Cheng-gan Sian-jin yang malihat sinar itu tiba-tiba terkejut. "Pek-hong-ciang (Pukulan Angin Putih)….!"

Ciok thouw Taihiap sedikit tertegun, "Kau mengenal pukulanku, Cheng-gan Sian jin?"

Cheng gan Sian-jin berobah mukanya. Dia terkesiap, maklum betapa hebatnya pukulan Pek-hong-ciang ini bila dilakukan oleh orang macam Ciok thouw Taihiap. Tapi belum merasa sendiri kehebatan ilmu itu Cheng gan Sian-jinpun menenangkan diri. "Aku sudah lama tak melihat ilmu pukulan itu dilakukan orang lain, Ciok thouw Taihiap. Tapi siapa takut menghadapi pukulanmu?"

Ketua Beng-san-pai ini tersenyum dingin. "Hm, baiklah kalau begitu. Coba rasakan dulu pukulan ke dua ini, Cheng-gan Sian-jin. Dan ingin kulihat apakah betul kau tak terpengaruh oleh Pek-hong-ciang!"

Cheng-gan Sian-jin mendesis. Sebenarnya dia tak tahu sampai di mana kelihaian Ciok-thouw Taihiap mainkan Pek-Kong-ciangnya. Tapi melihat ilmu ini tiba-tiba dimiliki oleh Beng-san paicu itu mau tak mau dia terkejut juga. Pukulan ini adalah pukulan lembut, artinya tidak menunjukkan kegarangan seperti ilmu-ilmu lain. Tapi kehebatan Pek-hong-ciang yang melebihi ilmu-ilmu lain justeru dapat menghancurkan bagian dalam tubuh lawan tanpa sedikitpun merusak bagian luarnya. Inilah kehebatan Pek-hong-ciang!

Dan Cheng-gan Sian-jin yang was-was melihat ilmu itu dimiliki ketua Beng-san-pai ini menjadi gelisah juga. Bagaimanapun, dia harus berhati-hati. Dan ilmu yang konon didengarnya dilakukan dalam jarak jauh itu kabarnya memang hebat. Semakin jauh jaraknya berarti semakin hebat kekuatan ilmu Pek-hong-ciang itu. Dan Cheng-gan Sian-jin yang tegang perasaannya ini ingin melihat seberapa jauh Ciok-thouw Taihiap mengambil ancang-ancang.

Dan pertanyaan ini akhirnya terjawab. Ciok thouw Taihiap melangkah mundur setindak, jadi jarak di antara mereka setombak lebih. Dan Ciok thouw Taihiap yang sudah memutar lengannya ke depan tiba-tiba berseru, "Cheng-gan Sian-jin, awas jurus ke dua...!"

Cheng-gan Sian-jin tak sempat berpikir panjang. Dia melihat ketua Beng-san-pai itu merendahkan tubuh, menopang berat pada kedua lutut yang dibengkokkan. Dan begitu pendekar ini mengeluarkan bentakan sakonyong konyong sinar putih bercuit menyambar dadanya. Cheng-gan Sian-jin terbelalak. Dia tak merasa apa-apa pada dorongan jarak jauh itu. Tapi begitu angin mencicit perlahan dari depan sekonyong-konyong hawa dingin menusuk dan berputar bagai angin pusing. Angin ini bergerak cepat, muncul dari ketiadaannya tadi yang disangka "kosong". Dan Cheng-gan Sian-jin yang tiba-tiba mendengar deru angin yang dahsyat mendadak terkejut dan pucat mukanya, terpaksa merendahkan tubuh dan mengeluarkan bentakan keras menerima pukulan itu.

"Blang...!" Cheng-gan Sian-jin bagai dipukul palu godam. Pek-hong-ciang mengenai tepat dadanya, melingkar dan berpusing bagai angin taufan di atas samudera. Dan Cheng-gan Sian-jin yang merasa betapa hebatnya pukulan itu menghantam dadanya mendadak terangkat kakinya dan mencelat setombak lebih!

"Hargh...!" Cheng-gan Sian-jin mengeluarkan pekik dahsyat. Dia kaget bukan main, juga mencelos melihat kehebatan pukulan Pek-hong-ciang ini. Dan malah kakinya tak dapat menahan pasangan kuda-kuda hingga gempur dihantam angin pukulan itu tiba-tiba kakek ini melejit dan berjungkir balik di udara. Dia kembali ke tempatnya semula, dan begitu angin berpusing Pek-hong-ciang lewat di bawah kakinya tiba-tiba kakek ini telah turun kembali dengan tubuh setengah jongkok.

"Tap!" Cheng-gan Sian-jin melekat lagi di lantai panggung, terbelalak memandang ketua Beng-san-pai itu, mengeluh betapa diam-diam dadanya sakit dan ngilu! Tapi Cheng-gan Sian-jin yang tertawa bergelak menyembunyikan keadaannya yang sedikit buruk ini dengan bicara lantang, "Ciok-thouw Tathiap, Pek-hong-ciang mu begitu ampuh...!"

Ciok thouw Taihiap tertegun. Dia kagum juga melihat daya tahan kakek iblis ini, yang sanggup menerima pukulannya yang dilakukan dengan tenaga setengah bagian. Tapi malihat Cheng-gan Sian-jin menyeringai tersembunyi tiba-tiba ketua Beng-san-pai ini tertawa mengejek. Dia tahu apa yang terjadi. Lagi-lagi menjaga gengsi! "Cheng-gan Sian-jin, jangan gembira dulu. Aku belum mengerahkan seluruh tenaga pada pukulan ke dua itu....!"

Cheng-gan Sian-jin terbelalak. Dia percaya kata-kata itu dan gelisah tak sanggup menahan pukulan terakhir, tiba-tiba iblis tinggi besar ini berkomat kamit. Dia mengerahkan ilmu hitamnya, menyalurkan kekuatan Sin-gan-i-hun-to pada kedua matanya. Dan begitu merasa diri siap sepenuh tenaga Cheng-gan Sian jin tiba-tiba tertawa mengejek, "Ciok-thouw Taihiap, boleh kau bicara besar. Aku tak takut menghadapi semua pukulanmu. Majulah, kita siap menentukan babak terakhir ini!"

Ciok-thouw Taihiap memasang kuda-kuda. Dia kembali membengkokkan lutut, menopang berat badan pada kedua kaki yang merendah. Dan Beng-san-paicu yang bersinar matanya itu mendengus. Dia tak menanggapi ucapan lawan, tapi Ciok-thouw Talinap yang tiba-tiba melompat kebelakang menambah jarak dua tombak membuat Chang-gan Sian-jin jadi kaget dengan mata melotot. Ketua Bang san-pai itu sekarang memasang jarak tiga tombak. Padahal tadi dengan setombak saja kehebatan Pek-hong yang sudah dia rasakan!

Maka Cheng-gan Sian-jin yang pucat mukanya ini otomatis mendesah. Tapi kakek iblis itu tak menunjukkan rasa gentarnya di hadapan orang banyak. Dia diam-diam mempersiapkan diri, semakin memperkuat getaran Sin-gan-i-hun-to-nya di kedua mata. Dan kalau orang melihat kedua mata iblis ini maka akan tampaklah sinar kehijauan yang mengerikan sekali di bola mata kakek iblis itu.

Ada semacam api di kedua mata Cheng-gan Sian-jin, api yang berkeredep bagai mata hantu. Tapi Chang-gan Sian-jin yang sengaja merendahkan sedikit pandang matanya menghindari bentrokan langsung dengan semua orang, tenutama Ciok-thouw Taihiap. Karena dia akan mempergunakan kekuatan pandang matanya itu kalau Ciok-thouw Taihiap sudah menyerangnya dengan pukulan terakhir.

Dan, saat yang menegangkan inipun dimulailah. Ciok-thouw Taihiap sudah memutar kedua lengannya, berkerotok mengeluarkan sinar putih yang lebih menyilaukan daripada tadi. Dan Chang-kan Sian-jin yang bersiap-siap menerima serangan ini segera menarik napas dalam-dalam tiga kali dengan cepat. Dia tak berani ayal, karena sedikit terlambat tentu nyawa taruhannya. Maka Cheng-gan Sian-jin yang bersiap dengan tubuh bergetar itu tiba-tiba membentak, "Ciok thouw Taihiap, mulailah!"

Ciok-thouw Taihiap menggeram. Dia sudah tiba pada pengerahan tenaga paling tinggi, karena tubuhnya juga bergetar dan menggigil diselubungi asap Pek-hong-ciang. Maka begitu mendengar Cheng-gan Sian-jin membentaknya pendek tiba-tiba pendekar sakti ini melengking dan membentak dahsyat. Dia mendorongkan kedua lengannya, tidak hanya sebelah seperti tadi. Dan angin yang bercuit tajam mengiringi dorongan kedua lengan ini tiba-tiba disusul pusaran sinkang yang berkeredep bagai kilat berpijar!

Inilah Pek-hong-ciang yang dikerahkan sepenuh bagian. Dan tamu undangan yang melihat kehebatan ilmu ini terbelalak ngeri dengan mata tak berkedip. Mereka melihat Cheng gan Sian-jin tertawa bergelak, melempar sesuatu yang tak diketahui apa gerangan. Dan begitu pukulan Pek-hong-ciang menghantam kakek tinggi ini maka terdengarlah ledakan keras bagai dentuman dinamit.

"Blang...!" Semua orang terpekik. Benturan keras yang mengenai tubuh iblis tua itu mengguncangkan seluruh ruangan, begitu dahsyatnya hingga kursi para tamu berderak patah! Dan semua mata yang melihat Cheng-gan Sian jin terpental tubuhnya tampak mencetat dengan tubuh terpotong kepala, perut dari kedua kaki yang terpisah di sana-sini!

"Aah...!" para tamu kaget bukan main. Mereka ngeri menyaksikan hasil terakhir ini, tapi Ciok-thouw Tathiap yang berteriak murka tiba-tiba membanting kakinya. Sekali gedruk lantai panggung tiba-tiba jebol, dan ketua Bemg-san-pai yang merah padam mukanya itu membentak. "Cheng-gan Sian-jin, kau curang. Bangsat...!"

Para tamu tertegun. Mereka tak mengerti kenapa ketua Beng-san-psi itu marah-marah tapi ketika suara bergelak memecahkan tiba-tiba muncullah Cheng-gan Sian-jin dari sebuah kursi yang dipakai menyembunyikan diri. Para tamu terkejut, kaget dan tersentak melihat kejadian yang luar biasa ini. Tapi ketika mereka memandang ke bawah tiba-tiba sadarlah mereka bahwa yang dikira tubuh Cheng-gaa Sian jin itu ternyata hanya sepotong ikat pinggang yang hancur menjadi tiga bagian. Masing-masing dikira kepala, perut dan kaki Caeng-gan San-jin akibat pengaruh sihir!

"Ah, Sin-gan-i hun-to....!" para tamu sekarang mendusin. Mereta mendesah, kagum dan juga mendongkol bahwa mereka dikelabuhi kakek Iblis ini. Sadar bahwa bentakan Cheng-gan Sian-jin tadi telah merobah suasana.

Sementara Cheng-gan Sian-jin sendiri yang tertawa bargelak menyambut kemarahan Ciok-thouw Taihiap tiba tiba mencabut bendera iblisnya yang dikebutkan tiga kali. "Ciok-thouw Taihiap, aku telah menerima seranganmu tiga kali....!"

Ciok-thoaw Taihiap menggereng. "Tapi yang ke tiga kau hindari, Cheng-gan Sian-jin. Kau tak berani menerima Pek-hong-ciang secara jantan. Kau pengecut!"

Cheng-gan Sian jin tertawa bergelak. Dia tak menghiraukan bentakan ini, tapi matanya yang bekilat menyeramkan tiba-tiba bercahaya buas. "Ciok-thouw Taihiap, tak perlu banyak bicara. Yang jelas aku telah menerima tiga kali pukulanmu tanpa membalas. Ini berarti kedudukan kita sama. Bersiaplah sekarang kita bertanding untuk merebut kemenangan!"

Ciok-thouw Taihiap marah sekali. Dia tadi terkecoh, karena ketika mengerahkan pukulan Pek-hong-ciang tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin melemparkan ikat pinggangnya, melompat mundur di panggung. Dan karena dia tak dapat menarik kembali angin pukulannya tentu saja Cheng-gan Sian-jin lolos. Karena dia juga tak mengira bahwa Cheng-gan Sian-jin berkelit, yang berarti tak berani menerima pukulannya! Maka Ciok-thouw Taihiap yang jadi geram oleh kelicikan lawan tiba-tiba menggereng. Dia melihat Cheng-gan Sian-jin memutar-mutar bendera iblisnya. Jari gusar Cheng-gan Sian-jin tak menepati janji tiba-tiba Ciok thouw Taihiap melengking tinggi dan menghantam musuhnya ini.

"Cheng-gan Sian jin, kau licik. Jaga pukulaanku...!"

Cheng-gan Sian-jin tertawa. Dia tak mau main-main lagi, dan begitu Ciok-thouw Taihiap menghantam dadanya tiba-tiba kakek iblis ini menggereng dan menjulurkan lengannya, menangkis dengan kuat.

"Dukk!" Cheng-gan Sian jin tergetar. Dia terbelalak melihat betapa Ciok-thouw Taihiap menggelincirkan lengan dan tiba-tiba meneruskan pukulan ke dada itu dengan cengkeraman ke muka. Dan Cheng-gan Sian-jin yang tersentak oleh adu pukulan tadi mendadak merendahkan muka menangkis lagi dengan penasaran.

"Dukk!" kali ini Cheng-gan Sian-jin benar-benar terkejut. Dia terdorong, merasa betapa kuatnya sinkang ketua Beng-san-pai itu. Dan marah serta kaget oleh serangan cepat sang Pendekar Kepala Batu tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin memekik dan memutar bendera iblisnya. Dia balas menyerang, dan begitu Cheng-gan Sian-jin mengerahkan kepandaiannya tiba-tiba tubuhnya berputaran dan sudah menyerang Ciok-thouw Taihiap bertubi-tubi, bendera iblisnya berkelebatan, menderu bagai kipas besar. Dan Cheng-gan Sian-jin yang mulai menyerang sambil mengerahkan Tok-hiat-jiun-ya di tangan kiri segera menyambar-nyambar tubuh lawan dengan bantuan bendera iblisnya.

Sebentar saja Ciok-thouw Taihiap dikurung. Tapi Pendekar Kepala Batu yang menjengekkan hidung dengan suara dingin itu tak mau tinggal diam. Dia mengerahkan sinkang, melindungi diri dengan kekebalannya yang aneh. Lalu begitu dia menggerakkan kaki tangan menerima serangan ini tiba-tiba saja suara "dak-duk-dak-duk" menggetarkan lantai panggung membuat para penonton berdebar tegang.

Dua jago tua ini bertempur. Yang satu menyerang sedang yang lain bertahan. Tapi Ciok-thouw Taihiap yang memiliki kekebalan aneh ternyata mampu menahan semua serangan lawan. Baik bendera iblis maupun Tok-hiat-jiu yang dilancarkan Cheng-gan Sian-jin sama sekali tak melukainya. Bahkan Cheng-gan Sian-jin yang berkali-kali mengeluarkan seruan kaget mendapat kenyataan semua serangannya membalik dan menghantam dirinya sendiri!

Tentu saja Cheng-gan Sian-jin terkejut. Dan marah serta penasaran oleh semuanya itu dia memperhebat pukulan dan sodokan-sadokan bendera iblisnya. Cheng-gan Sian-jin mulai mencari bagian-bagian lemah, dan ketika bendera iblisnya menyambar-nyambar dengan deru angin yang hebat tiba-tiba kakek ini membentak nyaring dan berkelebat lenyap. Cheng-gan Sian jin mengerahkan ginkangnya, lalu begitu dia berkelebatan di sekeliling tubuh lawan tahu-tahu Cheng-gan Sian-jin telah melancarkan serangan ganas ke tiga tempat di tubuh Ciok-thouw Taihiap. Yakni mata, ulu hati dan anggauta rahasia Ciok-tlicouw Taihiap yang dianggap paling rawan!

Kini Ciok-thouw Taihiap terhalang pandangannya oleh kibaran bendera iblis. Dia melihat Cheng-gan Sian-jin mempergunakan keuntungan ini untuk manyerangnya di tiga tempat. Tapi Ciok-thouw Taihiap yang benar-benar lihai ternyata tak mengelak sedikitpun. Dia menerima semua serangan itu, kecuali mata yang harus ditangkisnya dengan kibasan sinkang. Dan Ciok-thouw Taihiap yang tiba-tiba membentak marah mengayun lengannya ketika untuk kesekian kalinya Cheng-gan Sian-jin menyodok matanya dengan gagang bendera itu.

"Plak!" Cheng-gan Sian-jin tertawa mangejek. Dia tahu pendekar itu bakal menangkisnya tapi begitu bendera mental tahu-tahu tangan kirinya yang penuh Tok-hiat-jiu menyambar ke bawah menghantam ulu hati sang ketua Beng-san-pai.

"Duk!" Ciok-thouw Taihiap ternyata awas. Dia menangkis cepat serangan ke dua itu. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang meneruskan serangan sekonyong-konyong menendangkan kakinya menghantam selangkangan pendekar itu. Tak ayal, Ciok-thouw Taihiap terkejut. Tapi ketua Beng-san-pai yang merah mukanya itu tiba tiba mengempos semangat "Menarik" kemaluannya ke dalam perut.

Hal ini tak dapat dilakukan sembarang orang, kecuali mereka yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi. Maka begitu serangan tiba menghantam bawah perutnya tiba-tiba saja Cheng-gan Sian-jin berteriak kaget ketika sasarannya yang ditendangnya "kosong". Kakek iblis ini terkesiap, tapi baru dia terbelalak tahu-tahu jari Ciek-thouw Taihiap telah mencengkeram kakinya.

"Cheng-gan Sian-jin, pergilah!"

Cheng-gan Sian-jin terkejut. Dia merasa remasan jari Ciok-thouw Taihiap dahsyat bukan main, bagai tangan raksasa yang menjepit kuat. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang sudah mengerahkan sinkang melindungi kakinya tiba-tiba menyendal dan memutar tubuh. Sekali membalik tahu-tahu melempar kaki satunya menghantam dagu lawan, memaksa pendekar itu mengelak dan melepaskan kakinya. Tapi Ciok-tbouw Taihiap yang memperkeras jepitan tiba-tiba merendahkan kepala. Dia memang mengelak, tak mau dagunya dicium kaki Cheng-gan Sian-jin. Tapi Ciok-thouw Taihiap yang tidak melepaskan kaki datuk ibibs ini sekonyong-konyong menyentak dan melempar tubuh Cheng-gan Sian-sin tinggi-tinggi ke udara!

"Brak....!" Chang-gate Sian-jin terpekik. Dia memaki kalang kabut, karena kepalanya menghantam hancur langit-langit rumah akibat lemparan. Dan Cheng-gan Sian-jin yang segera berjuagkir balik di udara berteriak keras ketika turun kembail ke lantai panggung. "Ciok-thouw Taihiap, keparat kau….!"

Tapi Ciok-liouw Taihiap tersenyum mengejek. Dia melihat turunnya kakek iblis ini, dan baru semeter di atas panggung tiba-tiba Ciok-thouw Taihiap sudah menggerakkan lengannya menghantam lambung kakek iblis itu dengan pukulan Pek-hong-ciang. "Cheng-gan Sian-jin, sekarang terimalah. Telah cukup kau memukulku berkali-kali…!"

Cheng-gan Sian-jig terkejut bukan main. Dia baru melayang turun, mana mungkin menerima serangan lawan. Tapi Chang-gan Sian-jin yang lihai ternyata mampu mengatasi kesulitannya. Din membentak pendek, dan begitu pukulan tiba di depannya mendadak gagang bendera iblis dia palangkan di depan dadanya, melindungi diri.

"Krak!" Chang-gan Sian-jin terpaksa mengeluh. Dia selamat dari pukulan Pek-hong-ciang itu. Tapi gagang benderanya yang patah menjadi dua membuat dia terdoroag mundur dan Jatuh di luar panggung.

"Ciok-thouw Taihiap kau hebat!" Cheng-gan Sian-jin menggereng sambil memuji. Dia melompat naik, memberasur kain benderanya dengan membuang gagangnya yang tidak dapat dipakai lagi. Dan Cheng-gan Sian-jin yang beringas dengan kain bendera di tangan kirinya tiba-tiba menggulung (melinting) kain bendera itu hingga menjadi sebatang tongkat. Tongkat aneh dan kain yang tiba-tiba kaku akibat penyaluran sinkang!

Ciok-thouw Taihiap tertawa. "Kau masih belum mengaku kalah, Cheng-gan Sian-jin?"

Cheng-gan Sian-jin membanting kaki. "Kau, belum merobohkan aku, Ciok-thouw Taihiap! Kau belum bisa dikatakan memperoleh kemenangan, dengan mendorongku ke luar pangung!"

"Aha, jadi kalau begitu kau ingin roboh, Cheng-gan Sian-jin? Baiklah, jaga seranganku ini! dan sekarang berrtahanlah. Kita rubah kedudukan kita...!" lalu begitu ucapannya selesai dikeluarkan mendadak Ciok-thouw Taihiap sudah menampar bertubi tubi bagian depan tubuh lawannya dengan pukulan sinkang.

Cheng-gan Sian jin menerima serangan. Dan marah serta geram oleh selisih kepandaian mereka yang tidak begitu jauh tiba-tiba kakek iblis menggerakkan tongkat kainnya menangkis tamparan Ciok thouw Taihiap. Dia tak berani menerima serangan itu dengan tubuhnya karena meskipun kekebalannya membantu tapi tamparan Ciuk-thouw Taihiap masih dirasa terlalu keras baginya, menyesakkan dada dan membuatnya ampeg! Maka Cheng-gan Sian-jin yang menggerakaan tongkat kain menangkis semua tamparan itu tiba-tiba mencari akal bagaimana dia dapat menyerang ketua Beng-san pai itu dalam tangkisannya yang tersembunyi.

Tapi ternyata ini sukar dicari. Ciok-thouw Taihiap terlalu lihai. Ketua Beng san-pai itu terlalu hebat. Karena kalau dia tak berani menerima pukulan secara berdepan sejak diterimanya Pek-hong-ciang tadi adalah Beng-san paicu itu berani menerima semua pukulannya dengan kekebalannya yang aneh. Dan menyadari kedudukannya mulai lemah tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin mengerotkan gigi dan membentak keras. Dia mengerahkan Sin-gan-i hun-to, ilmu hoat-sat (sihir) yang berbau ilmu hitam itu. Dan begitu' Ciok-thouw Taihiap menamparnya bertubi-tubi tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin mengeluarkan pekik aneh,

"Ciok-thouw Taihiap, kau tak dapat mengalahkan aku....!" lalu begitu dia melempar tongkat benderanya mendadak tongkat ini berputar dan berobah bentuk menjadi Cheng-gan Siaa-jin, menangkis semua tamparan Ciok-thouw Taihiap.

"Piak-plak-plak!"

Clok-thouw Taihiap dan semua orang terkejut. Mereka melihat di atas panggung tiba-tiba muncul dua orang Cheng-gan Sian-jin dan Ciok thouw Taihiap yang terlanjur terpengaruh oleh bentakan Cheng-gan Sian-jin jadi kaget hatinya melihat kejadian itu. Dia maklum "kebobolan", terpengaruh ketika Cheag-gan Sian-jin tadi memecah perhatiannya ketika melempar tongkat bendera kearahnya. Dan kaget bahwa tongkat telah berubah bentuk menjadi Cheng-gan Sian-jin tiruan, tiba tiba Ciok-thouw Taihiap melengking tinggi dan berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh Sin-gan-i-hun-to. Tapi Cheng-gan Sian-jn memperkeras pengaruhnya, karena iblis tua yang membentak-bentak itu mengacau konsentrasinya dengan seruan saruan pendek,

"Ciok-thouw Taihiap, aku di sini...! Ciok-thouw Taihiap, aku di situ...!"

Dan Clok-thouw Taihiap yang buyar konsentrasinya oleh pengacauan bentakan ini akhirnya jadi bulan-bulanan pukulan Cheng-gan Sian jin yang tulen! Cheng-gan Sian-jin yang asli ini melancarkan pukutan bertubi-tubi ke arah tubuh Ciok-thouw Taihiap. Dan Ciok-thouw Taihiap yang "dikeroyok" dua oleh lawan yang sama ini akhirnya terhuyung dan roboh jatuh bangun. Cheng-gan Sian jin yang asli ini mencencar terus, dan ketika akhirnya Ciok-thouw Taihiap tak bardaya lagi dikerubut dua lawan yang sama tiba-tiba pukulan yang dilancarkan Cheng-gan Sian-menghantam tengkuk pendekar sakti ini hingga Ciok-thouw Taihiap mencelat terlempar keluar panggung!

"Bress...!" Ciok-thouw Taihiap mengeluh. Dia terbanting roboh, jatuh di dekat Hek Kong. Dan Hek Kong yang cemas oleh keadaan ketua Beng-san-pai ini tiba-tiba berbisik, "Ciok-thouw Taihiap, jangan hiraukan dua bayangan Cheng-gan Sian-jin itu. Kau tangkaplah seorang di antaranya dan hancurkan tubuhnya....!"

Ciek-thouw Taihiap melompat bagun. Dia sadar oleh nasehat ini, dan melayang naik tiba-tiba dia menggereng, "Cheng-gan Sian-jin, kau tak dapat menipu aku!" begitu dua bayangan Cheng-gan Sian-jin menyerangnya mendadak pendekar sakti ini memutar pinggang dan menangkap seorang di antaranya yang ada di depan. Dia langsung mencengkeram, tak menghiraukan pukulan Cheng-gan Sian-jin ke dua yang ada di belakangnya. Dan begitu kedua tangannya bergerak tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin yang ditangkap ini telah ditekuk tulang punggungnya hingga patah.

"Krekk...!" Semua orang terbelalak. Mereka tak mendengar jerit kematian, tapi begitu Chang-gan Sian-jin yang dirobohkan ini ambruk ke lantai tiba-tiba saja semua mata tertegun ketika melihat bahwa yang "ditekuk" tulang punggungnya ternyata hanya bendera hitam yang tadi dipegang Cheng-gan Sian-jin! Dan, bersamaan dengan peristiwa yang luar biasa ini tahu-tahu Cheng gan Sian-jin asli yang berdiri di belakang Ciok thouw Taihiap tertawa bergelak menghantam punggung pendekar itu dengan pukulan sinkang sepenuh bagian!

"Dess!" Ciok-thouw Taihiap terbanting roboh. Ketua Beng san-pai itu mengeluh, tapi pendekar besar yang sudah melompat bangun ini berkilat gundulnya dengan mata berapi-api memandang penuh kemarahan ke arah Cheng-gan Sian-jin, tanpa luka sedikitpun!

Dan Cheng-gan Sian-jin yang terkejut oleh kehebatan ketua Beng-san-pai ini otomatis menjadi gentar! "Ciok-thouw Taihiap, kau manusia siluman...?"

Ciok thoaw Taihiap menggeram. "Kau yang manusia siluman, Cheng-gan Sian-jin. Kau yang bersikap pengecut dan curang!"

Cheng-gan Sian-jin berubah mukanya. Dia takut sekarang, dan gentar melihat ketua Beng-san-pai ini menerima pukulannya bertubi-tubi tanpa luka sedikitpun juga tiba-tiba dia melompat mundur lalu melarikan diri.

Tapi, Clok-thouw Taihiap membentaknya nyaring begitu tubuh ketua Beng-san-pai ini berkelebat ke depan tahu-tahu tangan kirinya menampar pundak Cheng-gan Sian-jin. "Kakek iblis, jangan lari kau....plak!" pundak kiri Cheng-gan Sian-jin yang ditampar Ciok-thouw Taihiap tiba-tiba terputar mengeluarkan ledakan keras.

Cheng-gan Sian-jin berteriak, dan kaget oleh serangan ini dan mendadak dia menjerit panjang dan mendupakkan kaki menghantam lambung ciok-thouw Taihiap. Tapi ketua Beng-san-pai ini mendengus, dan begitu tangan kanannya bergerak ke bawah tahu-tahu telunjuknya telah menyentil jalan darah di tapak kaki iblis itu...



Pendekar Kepala Batu Jilid 32

PENDEKAR KEPALA BATU
JILID 32
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Pendekar Kepala Batu Karya Batara
"LOCIANPWE, aku maju dalam babak ke empat ini, bukan?"

Ciok-thouw Taihiap terkejut. Dia tidak mengerti kemauan si muka hitam itu, tapi Hek Kong yang memberi isyarat di depan panggung membuat ketua Beng-san-pai ini jadi mengerti. Kiranya sang ketua Gelang Berdarah memandang mereka semua, telinganya bergerak-gerak, tanda mendengarkan pesepakatan mereka! maka Ciok-thouw Taihiap yang tiba-tiba tertawa itu menyeringai.

"Wah, kau tidak takut menghadapi pemuda itu Hek Kong? Dia lihai, murid sang ketua gelang Berdarah!" lalu berkomat-kamit dengan ilmunya Coan-im jip-bit pendekar berkepala gunul ini bertanya, "Pendekar Gurun Neraka, apa maksudmu mengajukan diri dalam babak ke empat ini? Bukankah gurunya yang menjadi lawanmu?"

Hek Kong balas berkomat-kamit, "Jangan salah paham, locianpwe. Aku hanya ingin mengalihkan perhatiannya belaka. Setelah main-main sebentar dengan murid ketua Gelang Berdarah itu aku akan mundur menyerahkannya pada Hui-to Lojin!"

Ciok-thouw Taihiap tidak mengerti. Tapi Hek Kong yang menjura di depan Pek-mauw Sian-jin bertanya sambil tertawa, "Pek-mauw totiang, bolehkah aku menghadapi babak ke empat ini? Bagaimana kalau aku roboh?"

Pek-mauw Sian jin terbelalak. Dia masih terkejut mendengar bahwa si muka hitam ini adalah Pendekar Gurun Neraka, orang yang membuatnya kaget bercampur girang. Tapi mendengar pertanyaan itu diapun menjadi bingung. Apa yang harus dijawabnya?

Tapi Hek Kong tiba-tiba berbisik. "Totiang, jangan berubah sikap, kau tetaplah melihat aku sebagai Hek Kong. Ketua Gelang Berdarah di atas panggung memandang curiga!"

Pek mauw Sian jin tiba-tiba sadar. Dia tertawa pahit, dan acuh tak acuh pura-pura dia berkata, "Muka hitam, Ciok-thouw Taihiap telah memberimu kepercayaan besar. Meskipun aku sangsi kepandaianmu tapi biarlah itu kuturuti. Kau mau maju dalam babak ke empat ini?"

"He-he, kalau diijinkan, totiang. Kalau tidak tentu saja aku mundur!"

"Dan kau dapat mengalahkan murid ketua Gelang Berdarah itu?"

"Masih coba-coba, totiang. Kalau kalah kuat tentu saja aku mundur!"

Pek mauw Sian-jin terheran. Tapi ketua Gelang Berdarah yang berdiri di atas panggung tiba-tiba berseru, "Pek-mauw Sian-jin, siapa di pihakmu yang akan menghadapi pihak kami?"

Pek-mauw Sian jin mengangkat mukanya. "Kami memilih Hek Kong, Hiat-goan-pangcu. Kalau muridmu sudah siap boleh dia melangkah maju!"

"Hm…!" sang ketua Gelang Berdarah tampak girang. "Kalau begitu suruh wakilmu naik ke mari, Sian jin. Muridku ingin melihatnya lebih jelas!"

Pek-mauw Sian-jin memutar kepalanya. Dia mau menyuruh si muka hitam itu maju, tepi Hek Kong yang melayang naik sudah mendahuluinya berada di atas panggung. Hek Kong tertawa-tawa, dan menyeringgai kepada semua orang dia menghadap ketua Gelang Berdarah itu. "Hiat-goan-pangcu, aku mendapat ijin resmi dari pihakku untuk menghadapi pihakmu. Boleh muridmu itu main-main ke mari?"

Kui lun sudah bangkit berdiri. Dia melihat si muka hitam itu tertawa seperti orang sinting menggapaikan lengan dengan gaya menyebalkan. Dan murid ketua Gelang Berdarah yang mangerutkan alis ini mongencangkan ikat pinggang. Dia melompat maju, dan menghadapi si muka hitam ini tiba-tiba sepasang gelang tembaga telah dicabut dari saku bajunya.

"Hek Kong, kau berani melawan aku?" pemuda itu membentak, melempar gelang hingga hampir mengenai hidung lawannya tapi segera membalik karena adanya seutas benang baja yang mengikat gelang itu.
Dan Hek Kong yang terkejut oleh permainan gelang di tangan ini surut selangkah dengan muka kaget. Dia menghentikan tawanya, terbelalak lebar dengan mata berkedip-kedip. Lalu berseru perlahan dia bicara, "Wah, senjata model apa yang kau miliki itu, hu-pangcu? Kenapa bisa mulur mengkeret mirip ular gelang?"

Para tamu tertawa geli. Mereka melihat sikap yang konyol pada diri si muka hitam ini, Dan Kui Lun yang melihat lawannya gemetar tersenyum mengejek. "Hek Kong, kau tampaknya lihai. Jangan pura-pura takuti senjata orang lain. Kau dapat main-main dengan senjata, bukan?"

"Aku, wah... aku tidak biasa main-main senjata, hu-pangcu. Kalau kau main-main senjata berarti kedudukanku berat sebelah. Bagaimana kalau kita coba-coba dulu?"

"Apa maksudmu?"

"He-he, begini, hu-pangcu. Aku jadi ngeri melihat sepasang gelangmu itu. Tampaknya berbau amis. Bagaimana kalau gelang itu kau simpan dulu? Kita main-main dengan tangan kosong. Lima atau sepuluh jurus saja cukup. Dan kalau aku roboh, boleh kita main dengan senjata!"

"Hm, aku tak mau main-main, muka hitam. Kalau kau berani kau harus menghadapi gelangku ini. Kalau takut kembalilah, suruh temanmu yang lain maju!"

Hek Kong meringis "Tapi bagaimana kalau dengan tangan kosong aku mampu menghadapi sepasang gelangmu?"

Kui Lun marah. "Kau boleh bicara seperti itu terhadap orang lain, Hek Kong. Tapi jangan membual di sinil"

"Ha-ha, baik kalau begitu...!" pemuda ini tertawa. "Kalau begitu boleh kita uji, hu-pangcu. Bila sepuluh jurus aku mampu melayani gelangmu dengan baik berarti kau kalah. Tapi kita hanya main-main dulu. Bagaimana dengan usulku ini, hu-pangcu?"

Kui Lun mengelak. "Apa maksudmu, muka hitam?"

Hek Kong tertawa. "Begini, hu-pangcu. Sebelum menginjak permainan yang sungguh-sungguh kita adakan penjajagan dahulu. Sepuluh jurus pertama adalah tingkat saling mengukur, warming-up, Lalu jika sepuluh jurus pertama ini aku berhasil menghadapi gelangmu barulah kita boleh teruskan dengan permainan yang serius, Tapi penentuan terus tidaknya dalam pertandingan adalah aku yang menentukan, bukan kau. Bagaimana, hu-pangcu?"

Kui Lun menjadi tidak mangerti. Tapi gurunya yang tiba-tiba bangkit berdiri membentak keras, "Lun ji, kau jangan banyak cakap! Kau bertempurlah dan robohkan si muka hitam itu!"

Hek Kong buru-buru menoleh. "Wah, tidak boleh begitu Hiat-goan-pangcu, yang akan bertempur ini adalah kami berdua. Kenapa kau ikut campur?"

Kui Lun juga hampir menyetujui bentakan suhunya. Tapi Hek Kong yang sudah menoleh kepadanya menyeringai ha-ha-he-he. "Hu-pangcu kau tentu tidak takut memenuhi usulku, bukan? Kalau takut boleh bicara saja di depan, jangan malu-malu. Karena sebaiknya kita bersikap jujur saja satu sama lain!"

Kui Lun tersinggung. "Aku tidak takut memenuhi segala permintaanmu, muka hitam. Jangan bicara yang tidak ada artinya!"

"Wah, kalau begitu kau setuju kita warming-up dulu, hu-pangcu?"

"Ini..." Kui Lun gugup.

Dan Hek Kong yang melihat "serangannya" mulai mengena tiba-tiba tertawa. "Hu-pangcu, kau tak perlu gelisah oleh maksudku ini. Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya kalau nanti aku dapat menghadapi sepasang gelangmu deugan tangan kosong berarti keputusan meneruskan pertandingan atau tidak ada di tanganku. Karena jika aku menang menghadapi gelangmu untuk apa aku menghadapi kau lagi? Aku yang menentukan pertandingan berikutnya, hu-pangcu. Aku yang ingin memilih lawan lain jika dalam warming-up ini kau masih jauh di bawah tingkatku!"

Kui Lun tiba tiba mendelik. Dia marah besar mendengar ucapan terakhir itu, yang meyatakan dia di bawah kepandaian lawan. Dan marah serta gusar oleh kalimat ini tiba-tiba saja sepasang gelang di tangan pemuda itu mengigil. "Muka hitam, jangan sombong kau. Gelangku belum tentu dapat kau tahan dengan tangan kosong tau!"

"Ah, bagaimana kalau sebaliknya, hu-pangcu?"

"Kau boleh meneruskan niatmu itu. Kau berhak menentukan jalannya pertandingan berikut...!"

Semua orang kaget. Ketua Gelang Berdara sampai-sampai bangkit dari kursinya, dan melotot marah laki-laki ini berseru, "Lun-ji, jangan dipancing lawan. Muka hitam itu agaknya merencanakan sebuah kecurangan!"

Hek Kong membalikkan badannya. "Hiat goan-pangcu, jangan berkaok-kaok. Ini urusan kami berdua. Kenapa demikian mencemaskan muridmu seperti seorang anak kecil saja?"

Kui Lun merah padam mukanya. Dia juga terkejut bahwa secara tidak disadari dia telah "terjebak" oleh akal si muka hitam ini. Akal yang belum diketahui ke mana arahnya. Tapi, merasa sudah mengeluarkan janji diapun menggigit bibir. "Suhu, jangan cemas. Benar kata muka hitam ini, teecu bukan anak kecil. Kalau dia melakukaa kecurangan tentu teecu aku membekuknya dan membuatnya binasa!"

Ketua Gelang Berdarah tak dapat berbuat apa-apa. Dia menghadapi orang banyak, yang telah menjadi saksi atas janjii yang dikeluarkan muridnya. Dan geram oleh jebakan si muka hitam itu tiba-tiba ketua Gelang Berdarah inipun mengerahkan ilmunya Coan-in-jip-bit, "Lun-ji, setan hitam itu rupanya orang berbahaya. Sebaiknya kau robohkan dia dalam sepuluh jurus ini. Kalau tidak, bokong dia dengan timpukan gelang-gelang beracunmu…!"

Kui Lun mengangguk tak kentara. Dia sendiri juga mempunyai maksud yang sama dengan yang dikehendaki gurunya itu. Maka bersikap tenang diapun mengguncang gelang dengan suara diam-diam mengerahkan tenaga sinkangnya di kedua lengan. Lalu membentak dingin dia memandang lawan, "Muka hitam, kau sudah siap?"

Hek Kong berseri girang. Dia berhasil "mengikat" lawannya ini dengan sebuah perjanjian. Yakni dalam pertandingan sepuluh jurus ini mereka berdua hanyalah main-main dulu, istiiahnya pemanasan, warming-up! Dan tertawa mendengar tantangan itu dia menggoyang-goyang pinggul seperti ulah seorang badut. "Hu-pangcu, jangan terburu-buru. Aku sudah siap. Tapi tunggu dulu sebentar. Celanaku putus kolornya!"

Hek Kong sibuk membetulkan celana. Dia rupanya benar-benar membetulkan kolor, dan para tamu yang melihat sikap si muka hitam ini hampir meledak tawanya oleh rasa geli. Tapi mata sang ketua Gelang Berdarah bengis memandang mereka, dan orang-orang yang hampir tertawa oleh ulah Hek Kong di depan mata terpaksa menutup mulut. Sinar mata yang keji serta menakutkan memancar dari mata tuan rumah itu, dan Hek Kong yang akhirnya selesai memberesi celana meringis lebar.

"Hu-paugcu, boleh kau maju. Aku siap sekarang!"

Tapi Kui Lun masih ragu-ragu. "Kau benar-benar menghadapi senjataku dengan tangan kosong, Hek Kong?"

"Wah, masa aku main-main, pangcu?"

"Hm, baiklah. Jaga seranganku kalau begitu!" dan Kui Lun yang tiba-tiba mengerakkan lengan mendadak mengayun gelang kiri menghantam kepala lawannya itu. Dia masih coba-coba, melihat reaksi si muka hitam bagaimana menanggapi serangannya yang pertama ini. Tapi Hek Kong yang tenang-tenang di tempatnya menyeringai lebar. Dia tidak mengelak, juga tidak menangkis. Dan Kui Lun yang terkejut dengan sikap lawannya ini tiba-tiba menahan gelang dengan mata terbelalak.

"Hek Kong, kenapa kau tidak menangkis?"

Hek Kong tertawa lebar. "Kau belum bersungguh-sungguh, ji-pangcu. Kau masih main-main dalam serangan pertama ini!"

"Ah...!" Kui Lun terkejut. Dia kaget melihat si muka hitam mengetahui maksudnya, dan marah serta malu melihat Hek Kong menyeringai kepadanya tiba-tiba Kui Lun membentak nyaring dan menggerakkan gelangnya sungguh-sungguh. Dia menyerang pelipis si muka hitam itu, dan Hek Kong yang tertawa bergelak tiba-tiba merendahkan kepala menangkis.

"Nah, ini baru serangan sungguh-sungguh, hu-pangcu...!" dan Hek Kong yang sudah mengangkat lengan kanannya itu sekonyong-konyong menampar dengan gerakan perlahan.

"Plak!" gelang di tangan Kui Lun terpental. Kui Lun terkejut, merasa getaran kuat membuat lengannya gringgingen (kesemutan). Tapi murid ketua Gelang Berdarah yang sudah berteriak tinggi itu tiba-tiba melompat ke depan. Dia menggerakkan gelang kanannya, menghantam leher muka hitam. Lalu begitu si muka hitam menggerakkan lengan menangkis, tahu-tahu gelang kirinya sudah ganti menyambar telinga. Dan gelang serentak menyambar bertubi-tubi, dan Hek Kong yang mendengar suara bersiutan dari gelang lawan yang menyambar-nyambar dirinya tiba-tiba berseru keras. Dia menangkis sana-sini, berlompatan sana-sini. Dan Kui Lun yang melengking bagaikan rajawali tiba-tiba mengerahkan ginkang berkelebat lenyap.
Sekarang tak tampaklah bayangan murid ketua Gelang Berdarah ini. Tubuhnya lenyap digulung sepasang gelang yang naik turun menyambar lawan. Dan Hek Kong yang diserang gencar di dalam gulungan gelang sekonyong-konyang tak kelihatan lagi bayangan tubuhnya. Si muka hitam ini tak tertawa-tawa, serius menghadapi lawan. Dan para tamu yang melihat dua orang itu sudah mulai bertempur tiba-tiba saja,menjadi terbelalak. Mereka melihat pertarungan itu demikian sengit. Keduanya tak main-main lagi. Dan Hek Kong serta lawan yang berkelebatan cepat di dalam gulungan sinar gelang tampak naik turun merupakan gundukan besar macam burung yang berlaga!

Indah, tapi juga menegangkan. Dan semua orang yang melihat pertempuran ini segera menjadi silau oleh sinar gelang yang berkeredep kuning tembaga. Mereka tak melihat lagi bayangan keduanya, karena masing-masing lenyap dibungkus sinar gelang. Tapi ketua Gelang Berdarah serta tokoh-tokoh lain yang berkepandaian tinggi memiliki mata yang awas. Mereka malihat jelas pertandirigan itu, yang tak dapat disaksikan mata orang-orang biasa yang kepandaiannya jauh di bawah mereka. Dan ketua Gelang Berdarah yang melihat pertempuran muridnya ini segera tertegun dengan muka berobah.

Apa yang terjadi? Kiranya kepincangan salah satu pihak. Gelang di tangan muridnya memaug betul menyambar-nyamoar ganas, membentuk sinar lebar mirip payung besar. Seperti yang disaksikan pula oleh orang-orang biasa yang kepandaiannya masih rendah. Tapi sinar gelang yang berkali-kali mental bertemu lengan si muka hitam tampak mengecilkan hati ketua Gelang Berdarah ini. Dan akhirnya betul Kui Lun mulai mengeluarkan seruan kaget, berteriak kecil dengan muka pucat.

Karena si muka hitam yang berkali-kali menangkis sepasang gelangnya mulai mengeluarkan hawa mujijat yang luar biasa. Hawa ini memang tak dapat dilihat orang lain, apalagi dirasakan mereka. Tapi Kui Lun yang langsung berhadapan dengan lawannya itu mulai terdorong oleh hawa mujijat yang keluar dari lengan si muka hitam ini. Getaran sinkang yang sudah tampak melindungi tubuh si muka hitam itu. Hingga gelang Kui Lun yang menyambar-nyambar ke depan tiba-tiba tak dapat menganai tubuh lawannya!

Jangankan mengenai, menyentuh sajapun tidak. Karena gelang yang menyambar-nyambar ke dapan itu membentur benteng hawa yang melindungi si muka hitam!

"Ah…!" Kui Lun terkejut. Dia benar-benar kaget, dan si muka hitam yang menangkis sana. sini tiba-tiba berseru,

"Hu-pangcu, tinggal dua jurus lagi…!"

Kui Lun pucat mukanya. Mareka memang telah bertempur delapan jurus dalam gebrakan cepat ini. Pertempuran yang membuat harapan tipis untuk kamenangannya. Dan Kui Lun yang marah serta kecewa oleh kenyataan yang dihadapinya tiba-tiba melengking. Lengkingannya tinggi, merupakan cetus keputusasaan dan rasa penasarannya. Lalu begitu dua jurus tinggal membayang di depan mata sekonyong-konyong pemuda ini melakukan gerak Menembus Langit Menusuk Mega. Inilah gerakan berbahaya dari permainan sepasang gelang. Karena dua gelang yang menyambar-nyambar ke depan itu mendadak mencuat ke atas. Yang kini menyobek dagu si muka hitam sedangkan yang kanan diteruskan menghantam ulu hati. Sekali kena tentu lawan bakal roboh dengan napas putus. Karena dagu bakal terobek dan isi lambung hancur berantakan!

Tapi si muka hitam kembali menunjukkan kelihaiannya. Dia mengegos, berkelit ke kiri. Lalu begitu sepasang gelang lewat di samping kanannya mendadak dia tertawa. Gelang yang menyambar ulu hatinya dia tampar, tepat mengenai pergelangan tangan lawan. Dan Kui Lun yang berteriak kaget tahu-tahu melihat gelangnya mencelat terlepas dari tangan. Inilah kejadian yang di luar dugaan. Kui Lun sama sekali tak menyangkanya. Tapi gelang satu yang luput mangenai sasarannya mendadak dia lontarkan menghantam kening si muka hitam. Disambitkan dan sengaja ditimpuk macam senjata rahasia!

"Ah…!" si muka hitam terkejut. Dia berseru keras, menyambar gelang pertama yang mencelat dari tangan pemiliknya. Lalu begitu gelang berhasil dia tangkap, tiba-tiba sambaran gelang kedua yang menghantam keningnya dia tangkis, mempergunakan gelang yang baru saja ditangkap.

"Trang...!" dua gelang beradu keras. Bunga api muncrat meletikkan lelatunya. Tapi Kui Lun yang membentak dari samping tiba-tiba mengebutkan lengannya. Tiga gelang merah yang lebih kecil menyambar tiga jalan darah si muka hitam, dan si muka hitam yang terkejut oleh serangan gelap ini terpekik. Dia cepat menangkap gelang ke dua yang terpental di udara lalu begitu dia memutar tubuh secepat kilat ditangkisnya tiga senjata gelang yang merupakan senjata-senjata rahasia itu.

Dan hebat akibatnya. Tiga gelang kecil itu runtuh, terpukul sepasang gelang di tangan si muka hitam. Dan bayangan ke duanya yang sudah tampak kembali di atas panggung tampak berhadapan dengan tubuh berkeringat. Si muka hitam menyeringai dengan gelang rampasan di kedua tangan sedangkan murid sang ketua Gelang Berdarah tertegun dengan mata terbelalak.

"Ji-pingcu, pertandingan tepat berjalan sepuluh jurus...!"

Semua orang melenggong. Mereka hampir tak percaya pada apa yang dilihat. Maklum, si muka hitam bukanlah orang terkenal yang sudah membuat nama besar. Tapi murid ketua Gelang Berdarah yang pucat mukanya tampak menggigil.

"Muka hitam, siapakah kau sebenarnya?"

Si muka hitam ini tertawa. "Aku Hek Kong, ji-pangcu. Kau sendiri telah mengenalnya sejak pertama!"

"Ah, tapi kau…"

"Ah, tapi aku harus bekerja keras melawanmu, ji-pangcu. Kalau tidak tentu gelang-gelangmu sudah menghujam di tubuhku!" Hek Kong tertawa, memotong percakapan orang yang belum selesai. Dan begitu dia habis bicara tiba-tiba dia membungkuk, tepat bersamaan dengan menyambarnya sebuah sinar putih yang menyambar punggungnya dari beiakang.

"Ji-pangcu, maaf kukembalikan sepasang gelangmu ini. Harap kau terima dengan rasa yang tidak terlampau kecewa!" Hek Kong mem-bungkuk, menyerahkan kedua gelang yang ada di tangannya. Dan sinar putih yang lewat di punggungya karena kebetulan dia naembungkuk itu tiba-tiba menyambar dada murid sang ketua Gelang Berdarah!

"Crep!" Kui Lun mengibaskan lengan, Dia tahu serangan itu, karena dia ada di depan si muka hitam. Dan sinar putih yang sudah digubat ujung bajunya ini tiba-tiba telah dia tangkap tanpa diketahui banyak orang. Tapi Hek Kong yang menyerahkan gelang mendadak menotok pergelangannya, melakukan perbuatan ini bersamaan dengan menyerahkan gelang. Dan begitu jari si muka hitam mengenai jalan darahnya tiba-tiba sinar putih yang digubat ujung baju telah berpindah tangan ke si muka hitam!

"Toat-beng-cu...!" si muka hitam berseru perlahan, berobah mukanya dan terbelalak memandang murid sang ketua Gelang Berdarah ini. Tapi Hek Kong yang sudah melangkah mundur tiba-tiba tersenyum pahit. "Ji-pangcu, kau lihai. Aku nyaris roboh kalau tidak kau tolong….!"

Kui Lun tertegun. Dia kembali tak berdaya menghadapi si muka hitam ini. Tapi Hek Kong yang sudah melompat mundur jelas tak dapat diajak bertanding lagi. Dan Hek Kong yang menjura di depannya itu berseru nyaring,

"Ji-pangcu, seperti perjanjian kita bersama yang disaksikan orang banyak maka kini keputusan meneruskan pertandingan ada di tanganku. Kau telah pecundang, aku tak ingin bertempur lagi denganmu. Dan karena pertandingan tinggal dua babak lagi maka biarlah aku menantang seorang dari dua sisa yang terakhir. Kau boleh bertanding melawan Hui to Lo-jin, sedangkan Cheng-gan Sian-jin karena telah mendapat lawan Ciok-thouw Tai-hiap Souw-locianpwe maka biarlah dalam pertandingan terakhir aku menantang yang terhormat ketua Gelang Berdarah!"

Semua orang tiba-tiba menjadi geger. Mereka melihat pernyataan si muka hitam itu terlalu berani, kelewat terang terangan. Tapi Ciok-thonw Taihiap yang tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya tertawa bergelak.

"Hek Kong, kau benar-benar gagah. Aku mendukung penuh tantanganmu terhadap yang terhormat ketua Gelang Berdarah!"

Pek-mauw Sian-jin juga tersenyum. "Ya, kini kami telah menyaksikan kelihaianmu, muka hitam. Pinto setuju rekan Hui-to Lojin melawan Ji-pangcu, sedangkan kau menandingi yang terhormat ketua Gelang Berdarah!"

Kini tak ada lagi yang dapat dielakkan. Hek Kong sendiri sudah tersenyum-senyum kepada semua orang. Dan ketua Gelang Berdarah yang bangkit dari tempat dudukaya tiba-tiba tertawa sumbang.

"Ciok-thouw Taihiap, sungguh tak disangka bahwa sahabatmu yang satu ini dapat mengalahkan muridku. Baiklah, karena dia metantangku dengan cara jantan kuterima maksud hatinya ini. Kita boleh tentukan, berapa jurus ia tahan menerima pukulanku!"

Hek Kong menyeringai. "Tapi jangan kuat-kuat, pangcu. Bagaimanapun aku minta sedikit belas kasihanmu kepadaku."

Ketua Gelang Berdarah tersenyum mengejek. Dia nyalang memandang si muka hitam yang mengejutkan hatinya ini. Tapi si muka hitam yang sudah membalikkan tubuh menghadapi Hui-Lo-jin.

"Totiang, sekarang kau boleh maju. Biar aku beristirahat mengumpulkan tenaga!" Hrk Kong tertawa, melompat turun dan memberi isyarat pada ketua Hoa-san-pai itu.

Dan Hui-to-lojin yang mencabut golok tiba-tiba melayang naik. "Ji-pangcu, maafkan pinto. Hek Kong telah memberi kesempatan kepada pinto untuk melayanimu. Apakah kau perlu beristirahat sebentar memulihkan tenaga?"

Kui Lun mencekal gelang. "Tak perlu. Hui to Lo-jin. Aku masih mampu menghadapimu sampai penentuan terakhir!" suara pemuda ini terdengar marah, kasar dan sengit akibat kekalahannya terhadap si muka hitam. Dan Hui-Lo-jin yang maklum kekecewaan orang tak mau berpanjang lebar.

"Kalau begitu boleh kita mulai, hu-pangcu ? Pinto siap mendapat pelajaran ilmu gelang mu!"

Baru tantangan ini selesai diucapkan mendadak Kui Lun sudah membentak keras, Dia menggerakkan gelangnya menyambar muka tosu itu. Dan Hui-to Lojin yang menggerakkan golok segera menangkis.

"Trang!" pertemuan pertama ini mengejut, kau Hui-to Lo-jin. Tosu itu tetgetar, lengannya kesemutan. Dan Kui Lun yang sudah bertubi-tubi menggerakkan gelangnya segera menyerang tosu ini dengan-permainan tidak tanggung-tanggung. Hui-to Lo-jin diserangnya bertubi-tubi Dan ketua Hoa-san yang menggerakkan golok menangkis sana-sini segera dibuat repot serangan lawannya. Terjadi pertempuran seru. Masing-masing menyerang dan bertahan. Tapi Hui-to Lo-jin yang maklum bakal celaka kalau melulu mempertahankan diri tiba-tiba melengking. Ia balas menyerang, dan lengan kiri tosu ini yang sudah berkelebat ke depan mulai bergerak melakukan pukulan-pukulan berat.

Sekarang mulailah keduanya bertarung untuk memperoleh kemenangan. Masing-masing tak mau mengalah, dan Hui-to Lojin serta lawan mudanya yang bergerak sama cepat sebentar saja lenyap dibungkus dua bayangan golok dan gelang. Mereka sudah mengerahkan kepandaian untuk merobohkan lawan, mengandalkan kecepatan dan ginkang untuk lebih dulu mencelakai lawan. Tapi golok serta gelang yang berkali-kali saling bentur untuk sejenak membuat keduanya berimbang. Hui-to Lo-jin dan Kui Lun sama-sama cepat. Keduanya juga sama-sama tangguh.

Dan ketua Hoa-san yang bertahan sambil menyerang dengan pukulan tangan kirinya mulai kaget. Kakek ini terbelalak heran dan terkejut melihat pukulan tangan kirinya yang mainkan pukulan tangan kosong Pek-lek jiu (Tangan Geledek) berani ditangkis tangan lawan yang mengeluarkan sinkang kuat. Hal ini terbukti ketika berkali-kali kedua lengan mereka bertemu. Betapa dari lengan pemuda itu menyalur hawa dorong yang memukul balik tenaga Pek-lek-jiu-nya. Tanda bahwa dalam tenaga sinkang lawannya yang masih muda ini juga tak kalah kuat.

Maka Hui-to Lo jin yang tentu saja terkejut dan penasaran ini segera memekik. Dia menyambut gelang yang menyambar pundaknya, lalu begitu golok menangkis gelang menerbitkan suara nyaring tiba-tiba tosu tua ini mengeluarkan bentakan dan menyerang dada lawan dengan pukulan Tangan Geledeknya.

"Bress...!" Kui Lun memapak serangannya. Pemuda ini menjengek, dan keduanya yang sama terdorong mundur tiba-tiba serentak melompat maju lagi. Hui-to Lo-jin menggerakkan golok menghantam leher lawan sedangkan Kui Lun menggerakkan gelang menghantam lambung ketua Hoa-san itu. Tapi kali ini ada perobahan. Kui Lun tidak mengelak, menerima serangan golok yang menyambar lehernya. Dan Hui-to Lo-jin yang terkejut melihat lawan berani menerima babatan goloknya dengan kulit terbuka hampir menjerit memperingatkan lawan.

Tapi murid ketua Gelang Berdarah ini ternyata tidak main-main. Dia membuat Hui-to Lo-jin tak mampu menarik atau mengurangi tenaganya, dan begitu golok dan gelang menyerang hampir berbareng terdengarlah suara "tak" ketika golok mental bertemu leher pemuda itu sementara gelang di tangan Kui Lun pendarat di lambung Hui-to Lo-jin.

"Plak-des!"

Hui-to Lo-jin mengeluh. Dia kaget melihat lawan mengerahkan ilmu kebalnya, membuat golok membalik dan hampir menyambar mukanya sendiri. Tapi Hui-to Lo-jin yang sudah berteriak tinggi ini tiba-tiba bergulingan menjauh ketika kaki lawan menendang anggauta rahasianya! Ketua Hoa-san ini terpaksa berjumpalitan, dan ketika dia melompat bangun dengan muka pucat maka tampaklah baju di lambungnya yang robek lebar terkena gelang!

"Ji pangcu, kau benar-benar lihai....!"

Kui Lun tak menanggapi seruannya. Pemuda ini sudah mengejar, dan baru Hui-to Lo-jin melompat bangun tahu-tahu kedua gelangnya menyambar berbareng, dilepas dari kedua tangan seakan gelang terbang!

"Ah….!" Hui-to Lo-jin terkejut. Dia mengngkat goloknya, menangkis gelang kiri yang menyambar pundak, lalu begitu gelang kanan mendengung menyambar dadanya tosu inipun cepat-cepat menggerakkan lengan kiri mengerahkan Pek lek jiu-nya.

"Bress...!" Hui-to Lo-jin mengeluh kaget. Dia melihat gelang membalik, mengaung di udara dan tiba-tiba mengurung goloknya. Lalu sementara dia terpekik tahu-tahu golok sudah digubat dan disontek lawan terlepas dari cekalannya, bersamaan dengan totokan gelang ke dua yang mengenai pergelangan tangannya!

"Plak!" Hui-to Lo-jin terguling-guling. Dia kaget bukan main, tak menyangka lawan demikian lihai, melumpuhkan tangannya dengan totokan demikian cepat. Dan Hoi-to Lo-jin yang sudah kehilangan goloknya ini tahu-tahu melihat lawan melontarkan gelang menyambit dadanya.

"Hui-to Lo-jin, robohlah…!"

Ketua Hoa-san ini pucat bukan main. Dia jelas di ambang kekalahan, tapi yang Hui-to Lojin yang tak mau menyerah ini tiba-tiba berteriak. Dia menggerakkan tangan kirinya, yang tidak lumpuh tertotok, menimpukkan sebuah golok terbang yang membuat dia dijuluki Hui-to (Si-Golok Terbang ). Dan begitu dia menggulingkan diri sambil menimpukkan golok terbangnya maka datang pulalah sambaran gelang yang menyambar dadanya itu.

"Brett...!" Hui-to Lo-jin merasa terbang semangatnya. Dia merasa gelang menggores kulit, luput menghantam dadanya, tapi masih melukai pundak. Si tosu yang sudah bangkit berdiri dengan muka pucat itu melihat golok terbangnya mengenai tubuh lawan yang tidak menangkis.

"Tak...!" Hui-to Lojin terbelalak. Golok terbangnya runtuh, lawan tak terluka. Dan hu-pangcu Gelang Berdarah yang melompat maju ini tahu-tahu telah menyentuhkan jari di ubun-ubun kepalanya!

"Hui-to Lo-jin, kau masih tak menyerah kalah!"

Ketua Hoa-san ini tertegun. Dia melihat lawan mencengkeram jalan darah kematian di atas kepalanya, sekali tepuk tentu dia binasa. Dan Hui-to Lojin yang pucat mukanya ini tiba-tiba menghela napas. "Hu-pangcu, kau benar-benar hebat. Pinto menyerah dalam pertandingan ini!"

Kui Lun melepaskan tangannya. Dia tak tega membunuh ketua Hoa-san-pai itu, meskipun mendapat isyarat suhunya agar dia menurunkan tangan kejam. Dan Hui-to Lo-jin yang sudah malangkah mundur sambil memungut goloknya itu kembali menjura dalam-dalam.

"Hu-pangcu, pinto mengakui keunggulanmu. Terima kasih atas kemurahanmu terhadap si tua bangka ini!"

Hui-to Lo-jin memutar tubuh, memberi hormat sekali lagi lalu melayang turun dengan golok terselip dipunggungnya. Dan semua orang yang sudah melihat pertandingan babak ini selesai dengan kemenangan di pihak perkumpulan Gelang Berdarah jadi tertegun dengan mata bersinar. Jelas oleh mereka bahwa hu-pangcu Gelang Berdarah itu sungguh hebat. Mampu menandingi bahkan mengalahkan ketua Hoa-san pai! Tapi Hek Kong yang lagi-lagi muncul dengan tepuk tangannya membuat orang terkejut dengan mata terbelalak.

"Saudara Kui Lun, kau benar hebat. Pihak kami kembali kalah seorang dalam babak ke empat ini!"

Kui Lun mengusap keringatnya. "Dan apa maumu sekarang, muka hitam?"

"Ha-ha, tentu saja melanjutkan dua babak terakhir, pangcu. Menantang Cheng-gan Sian-jin atau ketua Gelang Berdarah sendiri yang terhormat!"

Samua orang tersentak. Tanpa disadari mereka tiba-tiba sudah dibawa ke puncak penyelesaian adu ilmu ini, pertandingan pibu di antara torah-tokoh besar! Dan Hek Kong yang tertawa dengan suaranya yang lantang ini tiba-tiba disambut bangkitnya sang tuan rumah.

"Hek Kong, kau ingin bertanding sekarang denganku?"

Hek Kong ha-ha-he-he. "Terserah, pangcu. Tapi sebaiknya kudengar dulu pendapat yang terhormat ketua Beng-san-pai!" lalu menoleh pada pendekar berkepala gundul itu. Hek Kong bertanya, "Souw-locianpwe, siapa yang harus maju dulu dalam pertandingan ke lima ini?"

Ciok-thouw Taihiap melayang ke atas panggung. "Aku dulu, Hek Kong. Beri kesempatan padaku untuk membunuh iblis bermata hijau itu...!"

Hek Kong menyeringai. "Kau tak dapat mengalah pada yang muda, locianpwe? Kau ingin maju dulu melepaskan tanganmu yang gatal-gatal?"

Ciek-thouw Taihiap mendengus. "Aku tak sabar lagi, Hek Kong. Mundurlah dan biarkan aku mengisi pertandingan babak ke lima ini…!"

Undangan menjadi geger. Mereka melihat Ciok-thouw Taihiap tampak beringas, dan Cheng-gan Sian-jin sendiri yang juga sudah bangkit dari tempat duduknya tiba-tiba tertawa bergelak Sambil menendang kursi hingga hancur berantakan!

"Ciok-thouw Taihiap, jangan sombong. Aku siap melayanimu seribu jurus...!" dan Cheng-gan Sian-jin yang melompat maju itu tiba-tiba saja telah berhadapan dengan pendekar berkepala gundul ini!

"Hm, kau ingin menyerahkan jiwa, Cheng-gan Sian-jin? Kau siap menyusul arwah muridku untuk meminta ampun?"

Cheng-gan Sian-jin menepuk-nepuk dadanya. "Jangan sombong. Ciok-thouw Taihiap. Aku justeru ingin mengantar nyawamu untuk menyusul muridmu itu!"

Keduanya berhadapan. Mereka saling pandang, mencorong dan mengerahkan kekuatan battin untuk saling mempengaruhi lawan. Dan ketua Gelang Berdarah yang melihat kedua orang ini telah maju berhadapan, tiba-tiba bersinar matanya.

"Ciok-thouw Taihiap, kau ingin mengisi babak kelima ini?"

Ciok-thouw Taihiap menggereng. "Tak perlu diulang lagi, Hiat-goan-pangcu. Aku ingin membunuh dan melenyapkan iblis bermata hijau ini!"

Ketua Gelang Berdarah menyeringai aneh. Dia memandang Hek Kong yang masih berdiri di atas panggung. Dan tuan rumah yang tersenyum penuh rahasia itu tiba-tiba bertanya, "Muka hitam, kau bisa menunda keinginanmu bukan? Kita bertanding saja pada babak terakhir. Menyaksikan dulu dua naga ini bertempur!"

Hek Kong mengangguk. "Boleh saja, pangcu. Tapi kukhawatirkan nasib temanmu ini. Cheng-gan Sian-jin tentu roboh, tak mampu menahan pukulan yang terhormat ketua Beng-san-pai!"

"Ha-ha, kau berani meramalnya, muka hitam?"

"Ya, kenapa tidak, pangcu? Bukankah dua kali Cheng-gan Sian-jin mundur bila mendapat tantangan?"

Cheng-gan Sian-jia menggeram. "Jangan kurang ajar, Hek Kong. Aku tak akan mengampunimu bila bicaramu semakin busuk!"

Hek Kong tertawa. "Kau berani bertaruh, Cheng-gan Sian-jin?"

Cheng-gan Sian-jin melotot. "Apa yang hendak kau pertaruhkan?"

"Diriku! Kalau kau menang biarlah aku menyatakan kalah pada yang terhormat ketua Gelang Berdarah. Tapi kalau aku yang menang berarti ketua Gelang Berdarah harus tunduk padaku dan menyerah kalah!"

"Keparat, kau tak cukup berharga untuk nenjadi benda taruhan, muka hitam. Aku tak sudi melayani jembel macammu ini!" Cheng-gan Sian-jin mau menghantam lawannya ini, tapi ketua Gelang Berdarah yang bersikap tenang tertawa tak terpengaruh.

"Cheng-gan Sian-jin, tak guna dipengaruhi bocah ini. Kau hadapilah lawanmu itu dan tinggalkan dia untukku. Awas, lawan membakar minyak pada tungku yang mendidih!"

Cheng-gan Sian-jin sadar. Dia terkejut mendengar peringatan ketua Gelang Berdarah itu, yang mengartikan menghadapi lawan tangguh jangan sampai terbakar nafsu amarahnya. Dan Cheng-gan Sian-jin yang mendengus pendek tiba-tiba menahan api kemarahannya dan menyeringai kaku.

"Ciok-thouw Taihiap, kau tidak menyuruh si hitam itu melompat turun?"

Ciok-thoaw Taihiap tersenyum. Dia geli juga melihat tingkah Pendekar Gurun Neraka ini. Tapi bersikap garang dia mengulapkan tangan, "Hek Kong, turunlah. Jangan ganggu pertempuran kami dengan ulahmu itu!"

Hek Kong tertawa. "Tentu saja, Ciok-thouw Taihiap. Tapi bagaimana dengan tuan rumah sendiri, bukankah dia juga masih di sini membela temannya? Jangan-jangan dia membokongmu, Ciok-thotiw Taihiap. Aku khawatir kau dicurangi lawan!"

Ketua Gelang Berdarah tersinggung. "Jangan sembarangan omong, muka hitam. Aku bukan orang yang suka berbuat curang!"

"Aha, bagus kalau begitu, pangcu. Mari kita sama-sama turun...?" dan Hek Kong yang melayang mendahului melihat ketua Gelang Berdarah sudah mundur ke kursinya dengan muka merah. Dia melihat laki-laki itu mendelik padanya. Tapi Hek Kong yang pura-pura tidak tahu tertawa ha-ha-he-he dengan sikap seenaknya.

Kini mereka memandang ke atas. Semua orang juga tertuju perhatiannya di sini, karena Ciok-thouw Taihiap yang sudah berhadapan dengan lawannya itu tampak memasang kuda-kuda dengan wajah membesi. Sementara Cheng-gan Sian-jin sendiri, yang kelihatannya tenang dan mengeraskan pandangan tampak mencorong dengan mata bersinar-sinar.

"Kau sudah siap memulai pertempuran, Ciok-thouw Taihiap?"

Ciok thouw Taihiap mendengus. "Aku siap sejak tadi, Cheng-gan Sian-jin. Majulah dan mulailah pertandingan ini!"

"Hm, kau menginginkan kita bersenjata atau bertangan kosong?"

"Bagiku tangan dan kaki adalah senjata, Cheng-gan Sian-jin. Kalau kau takut boleh cabut Bendera Iblismu yang kesohor itu?"

Cheng-gan Sian-jin semburat merah. Dua kali dia mendapat bentakan ketua Beng-san-pai yang dinilainya terlalu sombong dan memandang rendah orang lain. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang tertawa dingin ganti mengejek "Baiklah, boleh kita bertangan kosong. Ciok-thouw Taihiap. Tapi jangan memaki aku jika kesalahan tangan melukaimu!"

"Hm, tak perlu cerewet, Cheng-gan Sian-jin. Kalau terdesak boleh cabut benderamu itu. Aku memberimu keringanan tiga jurus."

Cheng-gan Sian-jin terkejut. Ketua Gelang Berdarah sendiri juga tersentak kaget mendengar janji ketua Beng-san-pai yang dianggap terlalu berani itu! Tapi Cheng-gan Sian-jin yang tertawa bergelak tiba-tiba berseru, "Ciok-thouw Taihiap, kesombonganmu rupanya benar-benar tak mengenal batas. Baiklah, kalau kau memberiku keringanan tiga jurus maka akupun memberimu keringanan tiga jurus. Nah, tinggal siapa yang lebil dulu mengisi kesempatan itu. Kau atau aku!"

Ciok-thouw Taihiap berkilat pandang matanya. "Kau boleh memulainya dulu, Cheng-gan Sian-jin. Serang dan coba robohkan aku!"

Tapi Cheng-gan Sian-jin mengeleng. "Tidak, sebaiknya kau dulu, Ciok thouw Taihiap. Aku ingin merasa seberapa dahsyatkah pukulan tanganmu. Lakukanlah...!"

Ciok-thouw Taihiap menggereng. "Aku tak biasa menjilat ludah sendiri, Cheng-gan Sian-jin. Lakukanlah pukulan itu atau kuanggap kau menyerah kalah!"

Cheng-gan Sian-jin marah. Dia mengeluarkan bentakan keras mendengar kata-kata itu, dan gusar Ciok-thouw Taihiap menghinanya sedemikian rupa tiba-tiba kakek iblis ini menggetarkan lengan kanannya. "Ciok-thouw Taihiap, jangan terlalu sombong. Kalau kau ingin aku maju lebih dulu, baiklah. Awas dan jaga seranganku ini….!" dan Cheng-gan Sian-jin yang tiba-tiba melompat maju sekonyong-konyong menggerakkan tangan kanannya menghantam pundak pendekar berkepa gundul itu. Tentu saja dengan sinkang yang nengeluarkan deru angin dahsyat!

Tapi Ciok-thouw Taihiap tersenyum mengejek. Dia tidak bicara besar, karena dia telah mempersiapkan diri sedemikian rupa. Maka ketika lawan menyerangnya dengan pukulan sinkang cepat menggetarkan seluruh tenaga saktinya untuk menerima serangan ini, tanpa membalas.

Dess...! "Jurus pertama, Cheng-gan Sian-jin!" Ciok-thouw Taihiap menyilangkan tangan, berseru dan menolak balik pukulan sinkang Cheng-gan Sian-jin.

Dan Cheng Sian-jin yang terkejut melihat uap mengepul di pundak kanan ketua Beng-san-pai ini melengking tinggi. Dia merasa pundak lawannya itu bagai lapisan baja yang demikian kuat, tak mempan dipukul telapak tangannya. Maka Cheng-gan Sian-jin yang marah serta membelalakkan matanya ini tiba-tiba melengking dan melancarkan pukulan nomor dua.

"Ciok thouw Taihiap, jangan kepalang congkak. Jaga dan awas seranganku yang nomor dua...!"

Tapi Ciok-thouw Taihiap masih tersenyum mengejek. Dia melihat serangan Cheng-gan Sian-jin menyambar dadanya, dilakukan dengan tangan kiri. Namun pendekar sakti yang siap sedia itu memandang tak gentar. Dia mengerahkan sinkang melindungi dadanya. Dan begitu tangan kiri Cheng-gan Sian-jin menghantam dirinya terdengarlah suara keras menimpa dada pendekar sakti itu.

"Dess!" Ciok-thouw Taihiap terdorong ke belakang. Dia mengeluh kagum, doyong punggungnya tapi kuda-kuda masih menancap kokoh. Tak bergeser sedikitpun! Dan Cheng-gan Sian-jin yang terkejut oleh daya tahan ketua Beng-san-pai ini jadi terbelalak dengan muka berobah.

"Ah, kau hebat, Ciok-thouw Taihiap!"

Ciok-tbouw Taihiap menyeringai. "Tak perlu memujiku, Cheng-gan Sian-jin. Hayo habiskan jurus ke tiga dan kerahkan semua kekuatanmu!"

Cheng-gan Sian-jin menggereng. Dia tersinggung, marah oleh ejekan lawannya itu. Dan iblis ini menggeram oleh kecongkakan Ciok-thouw Taihiap ini tiba-tiba mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi ke udara. Sekejap saja lengan kakek tinggi besar itu berobah semerah darah, dan Cheng-gan Sian jin yang memekik nyaring tiba-tiba membentak, "Ciok-thouw Tai-hiap, awas serangan terakhir…!" dan lengan Cheng-gan Sian-jin yang menyambar ke depan tahu-tahu berbareng menghantam perut dan leher Ciok-thouw Taibiap, diiringi bau amis yang memuakkan hidung.

"Tok-hiat jiu (Tangan Darah Beracun)....!" Ciok-thouw Taihiap sedikit tegang. Dia mengerutkan kening, mengempos semangat dan tiba-tiba mengguncang tubuh. Lalu dengan Cheng-gan Sian jin melompat ke arahnya tahu-tahu tubuh pendekar ini menggelembung seperti balon! Itulah tiupan sinkang yang hanya dapat dilakukan orang-orang paling lihai. Dan Ciok-thouw Taihiap yang menerima pukulan lawan tiba-tiba berbareng mengeluarkan bentakan dari mulut, melepas kekuatan sinkangnya monolak pukulan Tok-hiat-jiu!

"Piak-dess!" Ciok-thouw Taihiap dan Cheng-gan Sian-jin sama-sama berseru tertahan. Mereka berdua merasa benturan yang amat dahsyat itu, benturan sakti yang dikerahkan hampir sepenuh bagian. Tapi Chang gan Sian-jin yang membentur tubuh yang kenyal seperti karet tiba-tiba berteriak tinggi dan menjejakkan kakinya. Dia merasa "balon" yang ada di depannya itu menghihap pukulannya, mengikuti arus sinkang dan tiba-tiba metontar balik, melenting bagai busur yang dijepret sebatang tangan raksasa. Dan Cheng-gan Sian-jin yang kaget bukan main segera mencelat berjungkir balik tinggi di adara.

"Brakk...!" Semua orang tertegun. Mereka melihat Cheng-gan Sian-jin melakukan salto tiga kali di udara, sementara Ciok-thouw Taihiap yang terdorong setindak mengkilap mukanya penuh keringat, memandang lantai panggung yang hancur berantakan terkena pukulan membalik mereka berdua! Dan Cheng-gan Sian jin yang melayang turun dengan muka pucat tampak memandang Ciok thouw Taihiap yang berseri-seri mukanya.

"Ha, kau hebat, Cheng-gan Sian jin!"

Cheng-gan Sian-jin berdiri terbelalak. Dia melihat baju bagian depan ketua Beng-san-pai itu hancur tak karuan ujudnya, hangus kemerahan terkena pukulan darah beracunnya. Tapi dada sang pendekar yang mengkilap berseri jelas menunjukkan ketua Beng-san-pai itu tak mengalami luka sedikitpun!

Ceng-gan Sian-jin tertegun. "Kau juga mengagumkan, Ciok-thouw Tai hiap...!" akhirnya Cheng gan Sian-jin mendesis.

Dan Ciok-thouw Taihiap yang mendengar pujian, lawannya tiba-tiba tertawa bergelak. "Aku telah menerima pukulanmu tiga kali. Cheng-gan Sian-jin. Apakah sekarang masih berlaku janjimu padaku?"

Cheng-gan Sian-jin tergetar. Dia teringat Bu tiong-kiam Kun Seng yang roboh menerima pukulan ketua Beng-san-pai ini, yang membuatnya terluka parah! Dan Cheng-gan Sian-jin yang pucat mukanya memandang pendekar ini tiba-tiba mengeraskan hati. Bagaimanapun, dia ditonton banyak orang. Mau ditaruh ke mana mukanya kalau tidak menepati janji sendiri? Maka Cheng-gan Sian-jin yang mengerotkan giginya itu membentak, "Ciok-thouw Taihiap, tak perlu kau sombong. Bukan kau sendiri laki-laki yang dapat menepati janji!"

Ciok-thouw Taihiap tertawa bergelak. Dia membetot bajunya, menarik lepas baju yang sudah robek-robek itu dan membuangnya ke lantai bertelanjang dada. Lalu berkata pada kakek iblis si ketua Beng-san-pai itupun berseru, "Bagus, kalau begitu mari, kita tentukan, Cheng-gan Sian-jin. Siapa yang akan roboh dalam pertandingan ini!" dan Ciok-tbouw Taihiap yang sudah memasang kuda-kuda itu tampak gelap dan bengis mukanya!

Cheng-gan Sian jin melangkah mundur, dia tergetar melihat sikap ketua Beng-san-pai itu, yang demikian garang dan penuh perbawa. Tapi Cheng-gan Sian jin yang menenangkan hati segera berdiri tegak dengan mata, mencorong. Dia lalu mengerahkan ilmunya Sin-gan-i-hun-to, ilmu sihir yang mengandalkan kekuatan mata itu. dan Cheng-gan Sian-jin yang menekan guncangan hatinya cepat manarik napas panjang. Inilah satu-satunya cara untuk memulihkan mental. Dan Cheng-gan Sian-jin yang sudah melakukan itu mendengar pertanyaan Ciok-thouw Taihiap,

"Kan sudah siap, iblis tua?"

Cheng-gan Sian-jin menekan rasa gentarnya. "Tak perlu buang tempo, Ciok-thouw Taihiap. Kau mulailah pukulanmu yang pertama itu sampai yang ke tiga!"

"Bagus!" Ciok-thouw Tathiap berseru. "Kalau begitu, hati-hatilah Cheng-gan Sian-jin. Aku akan segera memulainya!" dan Ciok-thouw Taihiap yang menarik napas dalam-dalam ini mendadak memutar lengan dua kali ke kanan dan ke kiri. Orang yang mendengar suara berkerotok pada buku-buku jari pendekar berkepala gundul itu, dan begitu wajahnya semakin bengis Ciok-thouw Taihiap membentak, "Cheng-gan Sian-jin, jaga pukulan pertama....!"

Dan baru ucapan ini selesai dikeluarkan tahu-tahu tubuh ketua Beng-san pai itu telah meluncur maju bagai roda berputar. Orang tidak tahu bagaimana cara ketua Beng-san-pai ini menggerakkan kedua kakinya. Tapi begitu tiba di depan Cheng-gan Sian-jin sekonyong-konyong telapak kanannya menyambar cepat.

"Plak!" Cheng-gan Sian-jin mengeluarkan seruan kaget. Orang melihat kakek iblis itu tergetar. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang menekuk lutut tiba-tiba berhasil menegakkan kembali tubuh yang hampir roboh! Hal ini mengejutkan Cheng-Sian-jin, juga orang-orang lain. Tapi Ciuk-thouw Taihiap yang sudah meluncur ke belakang tertawa ditahan.

"Kau terkejut, iblis tua?"

Cheng-gan Sian-jin semburat merah. Dia memang terkejut sekali oleh pukulan pertama itu, yang membuatnya ampeg dan seakan-akan rontok isi danya. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang mangerahkan Sin-gan-i-hun-tonya tiba-tiba membentak, penuh pengaruh, "Ciok-thouw Taihiap, jangan terlalu bangga dengan pukulanmu itu. Aku tak merasa apapun dari akibatnya…..!"

Ciok-thouw Taihiap mengerutkan alis. Dan melihat sendiri iblis itu mendesis menahan pukulannya, kenapa bicara seperti itu? Tapi Clok-thouw Taihiap yang tiba-tiba merasa getaran mujijat segera mengerti apa yang dikerjakan lawannya ini. Tentu mulai main-main ilmu hitam, menjaga gengsi agar tidak terlalu asor (rendah)! Maka Ciok-thouw Taihiap yang tertawa dingin tiba-tiba berseru, "Baiklah, boleh kau bicara begitu, Cheng-gan Sian-jin. Tapi bersiaplah menerima pukuian kedua…!" dan Ciok-thouw Taihiap yang kembali memutar-mutar lengannya mendadak menggeram dengan mata berkilat mengerikan. Orang melihat sinar putih berkeredep di lengan kanan pendekar ini.

Dan Cheng-gan Sian-jin yang malihat sinar itu tiba-tiba terkejut. "Pek-hong-ciang (Pukulan Angin Putih)….!"

Ciok thouw Taihiap sedikit tertegun, "Kau mengenal pukulanku, Cheng-gan Sian jin?"

Cheng gan Sian-jin berobah mukanya. Dia terkesiap, maklum betapa hebatnya pukulan Pek-hong-ciang ini bila dilakukan oleh orang macam Ciok thouw Taihiap. Tapi belum merasa sendiri kehebatan ilmu itu Cheng gan Sian-jinpun menenangkan diri. "Aku sudah lama tak melihat ilmu pukulan itu dilakukan orang lain, Ciok thouw Taihiap. Tapi siapa takut menghadapi pukulanmu?"

Ketua Beng-san-pai ini tersenyum dingin. "Hm, baiklah kalau begitu. Coba rasakan dulu pukulan ke dua ini, Cheng-gan Sian-jin. Dan ingin kulihat apakah betul kau tak terpengaruh oleh Pek-hong-ciang!"

Cheng-gan Sian-jin mendesis. Sebenarnya dia tak tahu sampai di mana kelihaian Ciok-thouw Taihiap mainkan Pek-Kong-ciangnya. Tapi melihat ilmu ini tiba-tiba dimiliki oleh Beng-san paicu itu mau tak mau dia terkejut juga. Pukulan ini adalah pukulan lembut, artinya tidak menunjukkan kegarangan seperti ilmu-ilmu lain. Tapi kehebatan Pek-hong-ciang yang melebihi ilmu-ilmu lain justeru dapat menghancurkan bagian dalam tubuh lawan tanpa sedikitpun merusak bagian luarnya. Inilah kehebatan Pek-hong-ciang!

Dan Cheng-gan Sian-jin yang was-was melihat ilmu itu dimiliki ketua Beng-san-pai ini menjadi gelisah juga. Bagaimanapun, dia harus berhati-hati. Dan ilmu yang konon didengarnya dilakukan dalam jarak jauh itu kabarnya memang hebat. Semakin jauh jaraknya berarti semakin hebat kekuatan ilmu Pek-hong-ciang itu. Dan Cheng-gan Sian-jin yang tegang perasaannya ini ingin melihat seberapa jauh Ciok-thouw Taihiap mengambil ancang-ancang.

Dan pertanyaan ini akhirnya terjawab. Ciok thouw Taihiap melangkah mundur setindak, jadi jarak di antara mereka setombak lebih. Dan Ciok thouw Taihiap yang sudah memutar lengannya ke depan tiba-tiba berseru, "Cheng-gan Sian-jin, awas jurus ke dua...!"

Cheng-gan Sian-jin tak sempat berpikir panjang. Dia melihat ketua Beng-san-pai itu merendahkan tubuh, menopang berat pada kedua lutut yang dibengkokkan. Dan begitu pendekar ini mengeluarkan bentakan sakonyong konyong sinar putih bercuit menyambar dadanya. Cheng-gan Sian-jin terbelalak. Dia tak merasa apa-apa pada dorongan jarak jauh itu. Tapi begitu angin mencicit perlahan dari depan sekonyong-konyong hawa dingin menusuk dan berputar bagai angin pusing. Angin ini bergerak cepat, muncul dari ketiadaannya tadi yang disangka "kosong". Dan Cheng-gan Sian-jin yang tiba-tiba mendengar deru angin yang dahsyat mendadak terkejut dan pucat mukanya, terpaksa merendahkan tubuh dan mengeluarkan bentakan keras menerima pukulan itu.

"Blang...!" Cheng-gan Sian-jin bagai dipukul palu godam. Pek-hong-ciang mengenai tepat dadanya, melingkar dan berpusing bagai angin taufan di atas samudera. Dan Cheng-gan Sian-jin yang merasa betapa hebatnya pukulan itu menghantam dadanya mendadak terangkat kakinya dan mencelat setombak lebih!

"Hargh...!" Cheng-gan Sian-jin mengeluarkan pekik dahsyat. Dia kaget bukan main, juga mencelos melihat kehebatan pukulan Pek-hong-ciang ini. Dan malah kakinya tak dapat menahan pasangan kuda-kuda hingga gempur dihantam angin pukulan itu tiba-tiba kakek ini melejit dan berjungkir balik di udara. Dia kembali ke tempatnya semula, dan begitu angin berpusing Pek-hong-ciang lewat di bawah kakinya tiba-tiba kakek ini telah turun kembali dengan tubuh setengah jongkok.

"Tap!" Cheng-gan Sian-jin melekat lagi di lantai panggung, terbelalak memandang ketua Beng-san-pai itu, mengeluh betapa diam-diam dadanya sakit dan ngilu! Tapi Cheng-gan Sian-jin yang tertawa bergelak menyembunyikan keadaannya yang sedikit buruk ini dengan bicara lantang, "Ciok-thouw Tathiap, Pek-hong-ciang mu begitu ampuh...!"

Ciok thouw Taihiap tertegun. Dia kagum juga melihat daya tahan kakek iblis ini, yang sanggup menerima pukulannya yang dilakukan dengan tenaga setengah bagian. Tapi malihat Cheng-gan Sian-jin menyeringai tersembunyi tiba-tiba ketua Beng-san-pai ini tertawa mengejek. Dia tahu apa yang terjadi. Lagi-lagi menjaga gengsi! "Cheng-gan Sian-jin, jangan gembira dulu. Aku belum mengerahkan seluruh tenaga pada pukulan ke dua itu....!"

Cheng-gan Sian-jin terbelalak. Dia percaya kata-kata itu dan gelisah tak sanggup menahan pukulan terakhir, tiba-tiba iblis tinggi besar ini berkomat kamit. Dia mengerahkan ilmu hitamnya, menyalurkan kekuatan Sin-gan-i-hun-to pada kedua matanya. Dan begitu merasa diri siap sepenuh tenaga Cheng-gan Sian jin tiba-tiba tertawa mengejek, "Ciok-thouw Taihiap, boleh kau bicara besar. Aku tak takut menghadapi semua pukulanmu. Majulah, kita siap menentukan babak terakhir ini!"

Ciok-thouw Taihiap memasang kuda-kuda. Dia kembali membengkokkan lutut, menopang berat badan pada kedua kaki yang merendah. Dan Beng-san-paicu yang bersinar matanya itu mendengus. Dia tak menanggapi ucapan lawan, tapi Ciok-thouw Talinap yang tiba-tiba melompat kebelakang menambah jarak dua tombak membuat Chang-gan Sian-jin jadi kaget dengan mata melotot. Ketua Bang san-pai itu sekarang memasang jarak tiga tombak. Padahal tadi dengan setombak saja kehebatan Pek-hong yang sudah dia rasakan!

Maka Cheng-gan Sian-jin yang pucat mukanya ini otomatis mendesah. Tapi kakek iblis itu tak menunjukkan rasa gentarnya di hadapan orang banyak. Dia diam-diam mempersiapkan diri, semakin memperkuat getaran Sin-gan-i-hun-to-nya di kedua mata. Dan kalau orang melihat kedua mata iblis ini maka akan tampaklah sinar kehijauan yang mengerikan sekali di bola mata kakek iblis itu.

Ada semacam api di kedua mata Cheng-gan Sian-jin, api yang berkeredep bagai mata hantu. Tapi Chang-gan Sian-jin yang sengaja merendahkan sedikit pandang matanya menghindari bentrokan langsung dengan semua orang, tenutama Ciok-thouw Taihiap. Karena dia akan mempergunakan kekuatan pandang matanya itu kalau Ciok-thouw Taihiap sudah menyerangnya dengan pukulan terakhir.

Dan, saat yang menegangkan inipun dimulailah. Ciok-thouw Taihiap sudah memutar kedua lengannya, berkerotok mengeluarkan sinar putih yang lebih menyilaukan daripada tadi. Dan Chang-kan Sian-jin yang bersiap-siap menerima serangan ini segera menarik napas dalam-dalam tiga kali dengan cepat. Dia tak berani ayal, karena sedikit terlambat tentu nyawa taruhannya. Maka Cheng-gan Sian-jin yang bersiap dengan tubuh bergetar itu tiba-tiba membentak, "Ciok thouw Taihiap, mulailah!"

Ciok-thouw Taihiap menggeram. Dia sudah tiba pada pengerahan tenaga paling tinggi, karena tubuhnya juga bergetar dan menggigil diselubungi asap Pek-hong-ciang. Maka begitu mendengar Cheng-gan Sian-jin membentaknya pendek tiba-tiba pendekar sakti ini melengking dan membentak dahsyat. Dia mendorongkan kedua lengannya, tidak hanya sebelah seperti tadi. Dan angin yang bercuit tajam mengiringi dorongan kedua lengan ini tiba-tiba disusul pusaran sinkang yang berkeredep bagai kilat berpijar!

Inilah Pek-hong-ciang yang dikerahkan sepenuh bagian. Dan tamu undangan yang melihat kehebatan ilmu ini terbelalak ngeri dengan mata tak berkedip. Mereka melihat Cheng gan Sian-jin tertawa bergelak, melempar sesuatu yang tak diketahui apa gerangan. Dan begitu pukulan Pek-hong-ciang menghantam kakek tinggi ini maka terdengarlah ledakan keras bagai dentuman dinamit.

"Blang...!" Semua orang terpekik. Benturan keras yang mengenai tubuh iblis tua itu mengguncangkan seluruh ruangan, begitu dahsyatnya hingga kursi para tamu berderak patah! Dan semua mata yang melihat Cheng-gan Sian jin terpental tubuhnya tampak mencetat dengan tubuh terpotong kepala, perut dari kedua kaki yang terpisah di sana-sini!

"Aah...!" para tamu kaget bukan main. Mereka ngeri menyaksikan hasil terakhir ini, tapi Ciok-thouw Tathiap yang berteriak murka tiba-tiba membanting kakinya. Sekali gedruk lantai panggung tiba-tiba jebol, dan ketua Bemg-san-pai yang merah padam mukanya itu membentak. "Cheng-gan Sian-jin, kau curang. Bangsat...!"

Para tamu tertegun. Mereka tak mengerti kenapa ketua Beng-san-psi itu marah-marah tapi ketika suara bergelak memecahkan tiba-tiba muncullah Cheng-gan Sian-jin dari sebuah kursi yang dipakai menyembunyikan diri. Para tamu terkejut, kaget dan tersentak melihat kejadian yang luar biasa ini. Tapi ketika mereka memandang ke bawah tiba-tiba sadarlah mereka bahwa yang dikira tubuh Cheng-gaa Sian jin itu ternyata hanya sepotong ikat pinggang yang hancur menjadi tiga bagian. Masing-masing dikira kepala, perut dan kaki Caeng-gan San-jin akibat pengaruh sihir!

"Ah, Sin-gan-i hun-to....!" para tamu sekarang mendusin. Mereta mendesah, kagum dan juga mendongkol bahwa mereka dikelabuhi kakek Iblis ini. Sadar bahwa bentakan Cheng-gan Sian-jin tadi telah merobah suasana.

Sementara Cheng-gan Sian-jin sendiri yang tertawa bargelak menyambut kemarahan Ciok-thouw Taihiap tiba tiba mencabut bendera iblisnya yang dikebutkan tiga kali. "Ciok-thouw Taihiap, aku telah menerima seranganmu tiga kali....!"

Ciok-thoaw Taihiap menggereng. "Tapi yang ke tiga kau hindari, Cheng-gan Sian-jin. Kau tak berani menerima Pek-hong-ciang secara jantan. Kau pengecut!"

Cheng-gan Sian jin tertawa bergelak. Dia tak menghiraukan bentakan ini, tapi matanya yang bekilat menyeramkan tiba-tiba bercahaya buas. "Ciok-thouw Taihiap, tak perlu banyak bicara. Yang jelas aku telah menerima tiga kali pukulanmu tanpa membalas. Ini berarti kedudukan kita sama. Bersiaplah sekarang kita bertanding untuk merebut kemenangan!"

Ciok-thouw Taihiap marah sekali. Dia tadi terkecoh, karena ketika mengerahkan pukulan Pek-hong-ciang tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin melemparkan ikat pinggangnya, melompat mundur di panggung. Dan karena dia tak dapat menarik kembali angin pukulannya tentu saja Cheng-gan Sian-jin lolos. Karena dia juga tak mengira bahwa Cheng-gan Sian-jin berkelit, yang berarti tak berani menerima pukulannya! Maka Ciok-thouw Taihiap yang jadi geram oleh kelicikan lawan tiba-tiba menggereng. Dia melihat Cheng-gan Sian-jin memutar-mutar bendera iblisnya. Jari gusar Cheng-gan Sian-jin tak menepati janji tiba-tiba Ciok thouw Taihiap melengking tinggi dan menghantam musuhnya ini.

"Cheng-gan Sian jin, kau licik. Jaga pukulaanku...!"

Cheng-gan Sian-jin tertawa. Dia tak mau main-main lagi, dan begitu Ciok-thouw Taihiap menghantam dadanya tiba-tiba kakek iblis ini menggereng dan menjulurkan lengannya, menangkis dengan kuat.

"Dukk!" Cheng-gan Sian jin tergetar. Dia terbelalak melihat betapa Ciok-thouw Taihiap menggelincirkan lengan dan tiba-tiba meneruskan pukulan ke dada itu dengan cengkeraman ke muka. Dan Cheng-gan Sian-jin yang tersentak oleh adu pukulan tadi mendadak merendahkan muka menangkis lagi dengan penasaran.

"Dukk!" kali ini Cheng-gan Sian-jin benar-benar terkejut. Dia terdorong, merasa betapa kuatnya sinkang ketua Beng-san-pai itu. Dan marah serta kaget oleh serangan cepat sang Pendekar Kepala Batu tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin memekik dan memutar bendera iblisnya. Dia balas menyerang, dan begitu Cheng-gan Sian-jin mengerahkan kepandaiannya tiba-tiba tubuhnya berputaran dan sudah menyerang Ciok-thouw Taihiap bertubi-tubi, bendera iblisnya berkelebatan, menderu bagai kipas besar. Dan Cheng-gan Sian-jin yang mulai menyerang sambil mengerahkan Tok-hiat-jiun-ya di tangan kiri segera menyambar-nyambar tubuh lawan dengan bantuan bendera iblisnya.

Sebentar saja Ciok-thouw Taihiap dikurung. Tapi Pendekar Kepala Batu yang menjengekkan hidung dengan suara dingin itu tak mau tinggal diam. Dia mengerahkan sinkang, melindungi diri dengan kekebalannya yang aneh. Lalu begitu dia menggerakkan kaki tangan menerima serangan ini tiba-tiba saja suara "dak-duk-dak-duk" menggetarkan lantai panggung membuat para penonton berdebar tegang.

Dua jago tua ini bertempur. Yang satu menyerang sedang yang lain bertahan. Tapi Ciok-thouw Taihiap yang memiliki kekebalan aneh ternyata mampu menahan semua serangan lawan. Baik bendera iblis maupun Tok-hiat-jiu yang dilancarkan Cheng-gan Sian-jin sama sekali tak melukainya. Bahkan Cheng-gan Sian-jin yang berkali-kali mengeluarkan seruan kaget mendapat kenyataan semua serangannya membalik dan menghantam dirinya sendiri!

Tentu saja Cheng-gan Sian-jin terkejut. Dan marah serta penasaran oleh semuanya itu dia memperhebat pukulan dan sodokan-sadokan bendera iblisnya. Cheng-gan Sian-jin mulai mencari bagian-bagian lemah, dan ketika bendera iblisnya menyambar-nyambar dengan deru angin yang hebat tiba-tiba kakek ini membentak nyaring dan berkelebat lenyap. Cheng-gan Sian jin mengerahkan ginkangnya, lalu begitu dia berkelebatan di sekeliling tubuh lawan tahu-tahu Cheng-gan Sian-jin telah melancarkan serangan ganas ke tiga tempat di tubuh Ciok-thouw Taihiap. Yakni mata, ulu hati dan anggauta rahasia Ciok-tlicouw Taihiap yang dianggap paling rawan!

Kini Ciok-thouw Taihiap terhalang pandangannya oleh kibaran bendera iblis. Dia melihat Cheng-gan Sian-jin mempergunakan keuntungan ini untuk manyerangnya di tiga tempat. Tapi Ciok-thouw Taihiap yang benar-benar lihai ternyata tak mengelak sedikitpun. Dia menerima semua serangan itu, kecuali mata yang harus ditangkisnya dengan kibasan sinkang. Dan Ciok-thouw Taihiap yang tiba-tiba membentak marah mengayun lengannya ketika untuk kesekian kalinya Cheng-gan Sian-jin menyodok matanya dengan gagang bendera itu.

"Plak!" Cheng-gan Sian-jin tertawa mangejek. Dia tahu pendekar itu bakal menangkisnya tapi begitu bendera mental tahu-tahu tangan kirinya yang penuh Tok-hiat-jiu menyambar ke bawah menghantam ulu hati sang ketua Beng-san-pai.

"Duk!" Ciok-thouw Taihiap ternyata awas. Dia menangkis cepat serangan ke dua itu. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang meneruskan serangan sekonyong-konyong menendangkan kakinya menghantam selangkangan pendekar itu. Tak ayal, Ciok-thouw Taihiap terkejut. Tapi ketua Beng-san-pai yang merah mukanya itu tiba tiba mengempos semangat "Menarik" kemaluannya ke dalam perut.

Hal ini tak dapat dilakukan sembarang orang, kecuali mereka yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi. Maka begitu serangan tiba menghantam bawah perutnya tiba-tiba saja Cheng-gan Sian-jin berteriak kaget ketika sasarannya yang ditendangnya "kosong". Kakek iblis ini terkesiap, tapi baru dia terbelalak tahu-tahu jari Ciek-thouw Taihiap telah mencengkeram kakinya.

"Cheng-gan Sian-jin, pergilah!"

Cheng-gan Sian-jin terkejut. Dia merasa remasan jari Ciok-thouw Taihiap dahsyat bukan main, bagai tangan raksasa yang menjepit kuat. Tapi Cheng-gan Sian-jin yang sudah mengerahkan sinkang melindungi kakinya tiba-tiba menyendal dan memutar tubuh. Sekali membalik tahu-tahu melempar kaki satunya menghantam dagu lawan, memaksa pendekar itu mengelak dan melepaskan kakinya. Tapi Ciok-tbouw Taihiap yang memperkeras jepitan tiba-tiba merendahkan kepala. Dia memang mengelak, tak mau dagunya dicium kaki Cheng-gan Sian-jin. Tapi Ciok-thouw Taihiap yang tidak melepaskan kaki datuk ibibs ini sekonyong-konyong menyentak dan melempar tubuh Cheng-gan Sian-sin tinggi-tinggi ke udara!

"Brak....!" Chang-gate Sian-jin terpekik. Dia memaki kalang kabut, karena kepalanya menghantam hancur langit-langit rumah akibat lemparan. Dan Cheng-gan Sian-jin yang segera berjuagkir balik di udara berteriak keras ketika turun kembail ke lantai panggung. "Ciok-thouw Taihiap, keparat kau….!"

Tapi Ciok-liouw Taihiap tersenyum mengejek. Dia melihat turunnya kakek iblis ini, dan baru semeter di atas panggung tiba-tiba Ciok-thouw Taihiap sudah menggerakkan lengannya menghantam lambung kakek iblis itu dengan pukulan Pek-hong-ciang. "Cheng-gan Sian-jin, sekarang terimalah. Telah cukup kau memukulku berkali-kali…!"

Cheng-gan Sian-jig terkejut bukan main. Dia baru melayang turun, mana mungkin menerima serangan lawan. Tapi Chang-gan Sian-jin yang lihai ternyata mampu mengatasi kesulitannya. Din membentak pendek, dan begitu pukulan tiba di depannya mendadak gagang bendera iblis dia palangkan di depan dadanya, melindungi diri.

"Krak!" Chang-gan Sian-jin terpaksa mengeluh. Dia selamat dari pukulan Pek-hong-ciang itu. Tapi gagang benderanya yang patah menjadi dua membuat dia terdoroag mundur dan Jatuh di luar panggung.

"Ciok-thouw Taihiap kau hebat!" Cheng-gan Sian-jin menggereng sambil memuji. Dia melompat naik, memberasur kain benderanya dengan membuang gagangnya yang tidak dapat dipakai lagi. Dan Cheng-gan Sian-jin yang beringas dengan kain bendera di tangan kirinya tiba-tiba menggulung (melinting) kain bendera itu hingga menjadi sebatang tongkat. Tongkat aneh dan kain yang tiba-tiba kaku akibat penyaluran sinkang!

Ciok-thouw Taihiap tertawa. "Kau masih belum mengaku kalah, Cheng-gan Sian-jin?"

Cheng-gan Sian-jin membanting kaki. "Kau, belum merobohkan aku, Ciok-thouw Taihiap! Kau belum bisa dikatakan memperoleh kemenangan, dengan mendorongku ke luar pangung!"

"Aha, jadi kalau begitu kau ingin roboh, Cheng-gan Sian-jin? Baiklah, jaga seranganku ini! dan sekarang berrtahanlah. Kita rubah kedudukan kita...!" lalu begitu ucapannya selesai dikeluarkan mendadak Ciok-thouw Taihiap sudah menampar bertubi tubi bagian depan tubuh lawannya dengan pukulan sinkang.

Cheng-gan Sian jin menerima serangan. Dan marah serta geram oleh selisih kepandaian mereka yang tidak begitu jauh tiba-tiba kakek iblis menggerakkan tongkat kainnya menangkis tamparan Ciok thouw Taihiap. Dia tak berani menerima serangan itu dengan tubuhnya karena meskipun kekebalannya membantu tapi tamparan Ciuk-thouw Taihiap masih dirasa terlalu keras baginya, menyesakkan dada dan membuatnya ampeg! Maka Cheng-gan Sian-jin yang menggerakaan tongkat kain menangkis semua tamparan itu tiba-tiba mencari akal bagaimana dia dapat menyerang ketua Beng-san pai itu dalam tangkisannya yang tersembunyi.

Tapi ternyata ini sukar dicari. Ciok-thouw Taihiap terlalu lihai. Ketua Beng san-pai itu terlalu hebat. Karena kalau dia tak berani menerima pukulan secara berdepan sejak diterimanya Pek-hong-ciang tadi adalah Beng-san paicu itu berani menerima semua pukulannya dengan kekebalannya yang aneh. Dan menyadari kedudukannya mulai lemah tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin mengerotkan gigi dan membentak keras. Dia mengerahkan Sin-gan-i hun-to, ilmu hoat-sat (sihir) yang berbau ilmu hitam itu. Dan begitu' Ciok-thouw Taihiap menamparnya bertubi-tubi tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin mengeluarkan pekik aneh,

"Ciok-thouw Taihiap, kau tak dapat mengalahkan aku....!" lalu begitu dia melempar tongkat benderanya mendadak tongkat ini berputar dan berobah bentuk menjadi Cheng-gan Siaa-jin, menangkis semua tamparan Ciok-thouw Taihiap.

"Piak-plak-plak!"

Clok-thouw Taihiap dan semua orang terkejut. Mereka melihat di atas panggung tiba-tiba muncul dua orang Cheng-gan Sian-jin dan Ciok thouw Taihiap yang terlanjur terpengaruh oleh bentakan Cheng-gan Sian-jin jadi kaget hatinya melihat kejadian itu. Dia maklum "kebobolan", terpengaruh ketika Cheag-gan Sian-jin tadi memecah perhatiannya ketika melempar tongkat bendera kearahnya. Dan kaget bahwa tongkat telah berubah bentuk menjadi Cheng-gan Sian-jin tiruan, tiba tiba Ciok-thouw Taihiap melengking tinggi dan berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh Sin-gan-i-hun-to. Tapi Cheng-gan Sian-jn memperkeras pengaruhnya, karena iblis tua yang membentak-bentak itu mengacau konsentrasinya dengan seruan saruan pendek,

"Ciok-thouw Taihiap, aku di sini...! Ciok-thouw Taihiap, aku di situ...!"

Dan Clok-thouw Taihiap yang buyar konsentrasinya oleh pengacauan bentakan ini akhirnya jadi bulan-bulanan pukulan Cheng-gan Sian jin yang tulen! Cheng-gan Sian-jin yang asli ini melancarkan pukutan bertubi-tubi ke arah tubuh Ciok-thouw Taihiap. Dan Ciok-thouw Taihiap yang "dikeroyok" dua oleh lawan yang sama ini akhirnya terhuyung dan roboh jatuh bangun. Cheng-gan Sian jin yang asli ini mencencar terus, dan ketika akhirnya Ciok-thouw Taihiap tak bardaya lagi dikerubut dua lawan yang sama tiba-tiba pukulan yang dilancarkan Cheng-gan Sian-menghantam tengkuk pendekar sakti ini hingga Ciok-thouw Taihiap mencelat terlempar keluar panggung!

"Bress...!" Ciok-thouw Taihiap mengeluh. Dia terbanting roboh, jatuh di dekat Hek Kong. Dan Hek Kong yang cemas oleh keadaan ketua Beng-san-pai ini tiba-tiba berbisik, "Ciok-thouw Taihiap, jangan hiraukan dua bayangan Cheng-gan Sian-jin itu. Kau tangkaplah seorang di antaranya dan hancurkan tubuhnya....!"

Ciek-thouw Taihiap melompat bagun. Dia sadar oleh nasehat ini, dan melayang naik tiba-tiba dia menggereng, "Cheng-gan Sian-jin, kau tak dapat menipu aku!" begitu dua bayangan Cheng-gan Sian-jin menyerangnya mendadak pendekar sakti ini memutar pinggang dan menangkap seorang di antaranya yang ada di depan. Dia langsung mencengkeram, tak menghiraukan pukulan Cheng-gan Sian-jin ke dua yang ada di belakangnya. Dan begitu kedua tangannya bergerak tiba-tiba Cheng-gan Sian-jin yang ditangkap ini telah ditekuk tulang punggungnya hingga patah.

"Krekk...!" Semua orang terbelalak. Mereka tak mendengar jerit kematian, tapi begitu Chang-gan Sian-jin yang dirobohkan ini ambruk ke lantai tiba-tiba saja semua mata tertegun ketika melihat bahwa yang "ditekuk" tulang punggungnya ternyata hanya bendera hitam yang tadi dipegang Cheng-gan Sian-jin! Dan, bersamaan dengan peristiwa yang luar biasa ini tahu-tahu Cheng gan Sian-jin asli yang berdiri di belakang Ciok thouw Taihiap tertawa bergelak menghantam punggung pendekar itu dengan pukulan sinkang sepenuh bagian!

"Dess!" Ciok-thouw Taihiap terbanting roboh. Ketua Beng san-pai itu mengeluh, tapi pendekar besar yang sudah melompat bangun ini berkilat gundulnya dengan mata berapi-api memandang penuh kemarahan ke arah Cheng-gan Sian-jin, tanpa luka sedikitpun!

Dan Cheng-gan Sian-jin yang terkejut oleh kehebatan ketua Beng-san-pai ini otomatis menjadi gentar! "Ciok-thouw Taihiap, kau manusia siluman...?"

Ciok thoaw Taihiap menggeram. "Kau yang manusia siluman, Cheng-gan Sian-jin. Kau yang bersikap pengecut dan curang!"

Cheng-gan Sian-jin berubah mukanya. Dia takut sekarang, dan gentar melihat ketua Beng-san-pai ini menerima pukulannya bertubi-tubi tanpa luka sedikitpun juga tiba-tiba dia melompat mundur lalu melarikan diri.

Tapi, Clok-thouw Taihiap membentaknya nyaring begitu tubuh ketua Beng-san-pai ini berkelebat ke depan tahu-tahu tangan kirinya menampar pundak Cheng-gan Sian-jin. "Kakek iblis, jangan lari kau....plak!" pundak kiri Cheng-gan Sian-jin yang ditampar Ciok-thouw Taihiap tiba-tiba terputar mengeluarkan ledakan keras.

Cheng-gan Sian-jin berteriak, dan kaget oleh serangan ini dan mendadak dia menjerit panjang dan mendupakkan kaki menghantam lambung ciok-thouw Taihiap. Tapi ketua Beng-san-pai ini mendengus, dan begitu tangan kanannya bergerak ke bawah tahu-tahu telunjuknya telah menyentil jalan darah di tapak kaki iblis itu...