Pendekar Kepala Batu Jilid 13 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

PENDEKAR KEPALA BATU
JILID 13
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Kepala Batu Karya Batara
"HEII… BRAKK!" kakek Cui tidak sempat berpikir panjang lagi dan perahu yang terbalik itupun tahu-tahu telah dihantamnya keras.

Ledakan yang dahsyat membuat kedua perahu itu terguncang, dan Ceng Han serta dua orang temannya hampir saja terjungkal roboh. Si Gelatik Emas terjelungup ke depan sedangkan Cui Ang terpental di atas kepala ayahnya yang untung menangkap puterinya itu yang hampir saja keluar dari perahu. Semua orang membelalakkan mata, dan perahu terbalik yang dihantam pecah itu tampak hancur berkeping-keping!

"Ha-ha-ha, lihai.... sungguh lihai! Kalau bukan si nelayan Cui Lok yang mampu menjadikan atraksi ini mana aku mau percaya? Eh, Belut Emas, kiranya kau semakin tua malah semakin hebat saja, ya? Waah, luar biasa sekali aku sungguh kagum, ha-ha-ha....!"

Ketawa bergelak yang menyeramkan ini tidak diketahui dari mana asalnya hanya saja air di tengah-tengah sungai itu tiba-tiba menggelegak aneh. Ceng Han dan dua orang termannya sama-sama memandang dan..... sesuatu yang mencengangkan terjadi disini. Kepala seorang kakek berjenggot panjang mendadak muncul di situ, seperti silumal air saja, dan begitu kepalanya muncul sekonyong konyong kakek ini meloncat lurus ke atas dengan amat ringannya kemudian... berjalan sambil terkekeh di atas permukaan air menuju ke perahu mereka, persis tidak jauh dari perahu yang hancur berkeping-keping!

“Heii….. brakk!” kakek Cui tidak sempat berpikir panjang lagi dan perahu yang terbalik itupun tahu-tahu telah dihantamnya keras.

"Aih...!" Cui Ang tak mampu menahan rasa kagetnya melihat kejadian ini dan gadis itu berteriak tertahan. Tapi kakek Cui tiba-tiba menepuk pundaknya sambil tertawa kecil.

"Ang-ji, jangan terkejut, dia bukan siluman air. Malah dia inilah yang ditunggu-tunggu ayahmu untuk membuat perhitungan. Kepandaian meluncur di atas air dengan bantuan sepasang papan begitu saja masa ayahmu juga tidak bisa?"

Kakek yang bicara dengan sikap merendahkan ini otomatis membuat tiga orang muda itu memandang ke bawah. Dan begitu mereka melihat, rasa ngeri yang tadinya mengira kedatangan seekor "siluman' itupun lenyaplah. Kiranya kakek berjenggot panjang yang berjalan di atas air itu mempergunakan sepasang papan dibawah telapak kakinya, diikat seperti terompah dan dengan benda aneh itulah dia meluncur diatas permukaan air. Tentu saja mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi tingkatannya!

Maka begitu mereka tahu, tiga orang muda berbalik menjadi kagum. Cui Ang mendelong dengan mata terbuka lebar sedangkan Ceng Han dan si Gelatik Emas menatap terkejut dengan perasaan tegang. Dan kini kakek yang melaju cepat di atas air itupun sudah berada di depan mereka. Dia masih tertawa bergelak suaranya yang menyeramkan, sementara tujuh perahu bercat hitam juga sudah memutar haluannya mengepung perahu kakek Cui. Maka kini terang benderanglah keadaan di sekitar tempat itu. Lampu-lampu besar yang dipasang di atas tujuh perahu menjadikan semuanya dapat pula melihat bentuk tubuh kakek yang baru datang ini.

Ternyata dia adalah seorang laki-laki setengah umur, tinggi kurus dengan matanya yang tajam mengerikan serta rambut digelung semacam tosu. Akan tetapi bukan inilah yang menarik perhatian para penumpang di atas perahu kakek Cui, melainkan senjata aneh yang dibawanya pada ikat pinggag. Lain dari pada yang lain, bukan golok bukan juga pedang akan tetapi sebuah martil raksasa yang terbuat dari baja putih dan yang besarnya seprerti kepala seekor kambing bandot!

Dan begitu terlihat orang ini, Ceng Han langsung tahu dengan siapa kiranya dia berhadapan. Bukan lain adalah si Palu Baja, iblis dari selatan yang dahulu mencari ayahnya. "Ah...!" Ceng Han mengeluarkan seruan perlahan dan kakek iblis itu tertawa kearahnya.

"Heh-heh, bukankah kau anak si gundul dari Beng-san-pai, anak muda?" kakek itu menarik bibirnya keji dan Ceng Han naik darah mendengar kata-kata yang amat menghina itu. memang ayahnya seorang gundul, akan tetapi sikap orang yang sangat kurang ajar tidak bisa diterimanya begitu saja. Maka dia lalu membentak membalas penghinaan itu.

"Palu Baja, apakah kau kira aku takut melihat kehadiranmu di sini? Meskipun baru pertama kali aku melihat tampangmu, maka jangan mengira aku akan lari menghindarimu, Huh, siapa takut iblis macam ini?"

"Ha-ha, pemuda sombong mulut, persis bapaknya!" kakek itu menarik muka. "Eh, nelayan she Cui, bagaimana kau begini secara kebetulan membawa putera Beng-san paicu itu? dan itu, bukankah Fan ciangkun dari Yueh?"

Tudingan tangan ke arah Fan Li ini membuat Ceng Han terkejut bukan main dan ketika dia menoleh tampak sahabat barunya itu juga memandangnya sambil tertawa kecil. Yang membuat Ceng Han kaget bukan lain adalah pernyataan iblis selatan ini yang mengatakan bahwa sahabatnya ini adalah seorang panglima! Maka tentu saja dia tertegun dan sebelum dia tertanya sesuatu tiba-tiba sahabat yang dikenal sebagai "Li twako" atau si Gelatik Emas itu sudah memandang si Palu Baja sambil tertawa mengejek.

"Palu Baja, matamu sungguh tajam sekali. Tidak kusangkal bahwa aku adalah Fan-ciangkun dari Yueh. Apakah kau hendak menyerahkan diri akibat persekutuanmu dengan sutemu yang menangkap Wen-taijin? Kalau itu maksudmu, bagus, sribaginda tentu tidak menjatuhkan hukuman berat atas dosa-dosamu yang kau perbuat ini!"

Si Palu Baja tiba-tiba tertawa bergelak. "Ha-ha-ha! Kau memutarbalikkan keadaan, panglima cilik. Bukan aku yang harus menyerahkan diri melainkan engkau itulah! Ha, siapa yang harus menjatuhkan hukuman di sini? Justeru kalau kau mau ikut baik-baik denganku pasti tidak akan hidup menderita. Heh, sudah jangan banyak bicara lagi. Kalian semua harus ikut dengan kami sebagai tawanan! Orang she Cui, hayo serahkan diri sebelum kami bertindak kasar!"

Kakek itu menoleh kepada Si Belut Emas tapi kakek she Cui ini malah terkekeh. "Heh-heh, Palu Baja, omonganmu ini sungguh seperti anak kecil saja. Mana mungkin lohu mau kau tawan begitu saja? Kalau aku yang mandah, tentu tiga anak-anak muda ini yang berontak! Wah, otakmu taruh dimana, Palu Baja? Dan apakah sekarang kau sudah beralih pekerjaan? Dahulu kau malang melintang di hutan, tapi sekarang tiba-tiba saja bersikap bajak sungai! Hai, apakah penghasilan di hutan sudah berkurang?"

Kakek Cui yang mengejek dengan sikap main-main itu membuat merah mukanya si iblis selatan. Palu Baja menggeram, kemudian tiba-tiba dia mencabut martil raksasanya. "Orang she Cui, apakah kau minta dilumatkan dahulu baru mau menyerah? Kalau itu yang kau kehendaki, baiklah. aku akan mengirim nyawamu ke neraka!"

Bentakan penuh kemarahan ini diganda tertawa oleh si Belut Emas dan tiba-tiba kakek itupun mengangkat dayungnya. "Palu Baja, kebetulan tanganku sudah gatal-gatal pula. Apakah kau mau main keroyok, atau bertarung secara jantan?"

Palu Baja mendelik, namun tiba-tiba dua orang dari perahu hitam melompat maju. "Suhu, biarkan aku saja yang menghadapi tua bangka ini. Tadi dia sudah kubuat jungkir balik di dalam sungai!" yang berseru ini ialah laki-laki yang menyambit kakek Cui, tapi yang seorang sudah membantahnya dengan kata-kata sombong.

"Tidak, supek. Biarkan aku saja yang menghadapinya. Memukul anjing masa majikan sendiri harus turun tangan?"

Dua orang itu saling menunjukkan diri dan Cui Ang yang merasa ayahnya direndahkan ini mangepal tinju dengan mata berapi-api. "Tikus-tikus busuk, daripada kalian berebut menghadapi ayah lebih baik kau hadapi dulu aku... Cringg!" dayung yang di pinggirnya dilapis baja hitam itu dipukulkan Cui Ang ke atas perahunya.

Dua orang itu terbelalak, tapi tiba-tiba Si Palu Baja yang malu melihat muridnya tidak tahu diri itu membentak mereka, "Ma Swi, Theng Lui, mundur... Belut Emas bukan tandingan kalian. tangkap saja yang betina itu dan seret yang laki-laki!"

Bentakan ini membuat dua orang itu terkejut dan mereka memandang Cui Ang yang sudah menyambar sebuah dayungnya lagi dan melotot ke arah mereka dengan mata berapi-api itu. Dua-duanya tampak tertegun, tapi Cui Ang sendiri melambaikan tangannya dengan senyum dingin.

"Tikus-tikus busuk, majulah ke mari. Bukankah kalian ingin merasakan patahnya tulang digebug dayung. Nah, kemarilah, boleh maju satu demi satu ataupun dua orang sekaligus!"

Tantangan ini membuat muka keduanya merah namun masing-masing nampaknya sama-sama meragu. Karena itu keduanya lalu saling pandang dan kakek Cui yang melihat ini tak dapat menahan geli hatinya.

"Palu Baja, muridmu itu sungguh orang-orang jempolan sekali. Menghadapi seorang gadis begini saja masa kelihatan jerih? Wah, kalau begitu suruh saja mereka itu pulang dan biar kau dibantu yang lain! He-he, bukankah ini lebih bagus?"

Iblis berjenggot panjang itu menggeram, "Nelayan bangsat, jangan membuka mulut lebar-lebar. Siapa jerih menghadapi puterimu? Ma Swi, tangkap belut betina itu dan yang lain boleh menangkap hidup-hidup yang laki-laki. Brakk...!"

Tanpa disangka iblis ini tiba-tiha menggerakkan martilnya dan ujung perahu kakek Cui tahu-tahu telah dipukulnya pecah! Tentu saja kakek Cui dan tiga orang temannya terkejut, namun Si Belut Emas Cui Lok ini tiba-tiba terkekeh. Dia melompat keluar perahu ketika Palu Baja hendak menghantam perahunya lagi, dan dengan dayung di tangan kiri kakek itu menangkis.

"Palu Baja, perlahan dulu, jangan mengumbar nafiu...plakk!" Dayung di tangan kakek itu bertemu dengan palu raksasa dan kakek Cui melejit aneh di tengah udara. Dayungnya terpental, akan tetapi Palu Baja sendiri juga terdorong mundur dengan tubuh bergoyang-goyang. Iblis itu berteriak memukul lagi sambil menggerakkan martilnya, tapi tiba-tiba lawannya yang masih di udara berjumpalitan ringan sambil terkekeh kembali ke dalam perahunya.

"Brakk…!" Kali ini perahu kakek Cui yang sempal ujungnya menjadi sasaran. Palu Baja menghantam geram, dan kontan saja potongan-potongan papan berhamburan ke atas sungai mengakibatkan perah itu bocor!

"Heii…?!" kakek Cui tampak terbelalak, dan Ceng Han yang tidak bisa berenang merasa paling kaget sekali diantara mereka. Tapi ketika iblis dari selatan itu hendak mengulangi perbuatannya ini, sekonyong-konyong kakek Cui berkelebat ke depan sambil menggerakkan dayungnya.

"Palu Baja, jangan mengumbar angkara, hayo kita bermain-main di tengah air sana. Plak…!" dayung dan martil kembali bertemu dan kakek Cui terpental lebih ke atas.

Akan tetapi si Palu Baja juga terdorong lebih keras dan kakek Cui yang terpental keluar perahu itu jatuh diatas sungai. Namun hebatnya si Belut Emas yang jatuh diatas ait itu sama sekali tidak terlempar masuk, melainkan hinggap di atas dua potong pecahan papan yang terombang-ambing diatas permukaan sungai. Dan begitu kakek ini hinggap diatas papan, kakek itu sudah terkekeh sambil menggerak-gerakkan kakinya maju mundur diatas air, persis menirukan gaya si Palu Baja yang juga menggunakan terompah papan sebagai alat bantunya.

"Heh-heh, Palu Baja, hayo kita main-main di sini. Lihatlah aku juga punya sepatu baru seperti punyamu!" kakek Cui mempermainkan lawannya sambil tertawa, sementara Palu Baja sendiri menjadi gelap roman mukanya.

"Nelayan keparat, kau rupanya benar-benar minta diantar ke neraka. Baiklah, menghadaplah ke Giam Lo Ong sekarang juga. Haiittt…!"

Iblis dari selatan itu membentak penuh kemarahan dan senjatanya yang mengerikan itu menyambar kepala kakek Cui seperti godam turun dari langit. Tetapi kakek Cui tenang-tenang saja, malah tertawa bergelak ketika mendapat terjangan ini. Dayung di tangan kanan menangkis palu baja ini, dayung di tangan kiri melejit tiba-tiba menyodok perut lawannya. Maka terjadilah serang menyerang dan tangkis menangkis diantara tokoh kawakan itu.

Palu Baja mengandalkan martil raksasanya sedangkan si Belut Emas Cui Lok mengandalkan permainan dayungnya. Dia memang sejak kecil hidup sebagai nelayan, maka tidak aneh kalau dayung itu juga dipakai senjata yang identik dengan nyawanya sendiri. Sedangkan Palu Baja yang keahliannya memang bermain martil tentu saja tidak kalah hebatnya oleh si kakek Cui Lok ini.

Hanya bedanya, Si Palu Baja rupanya memiliki kelebihan dalam sinkang, karena datuk itu memang terkenal memiliki kekuatan sinkang yang mengagumkan. Hal itu terbukti lagi ketika dalam dua kali berturut-turut selalu saja lawannya ini yang terpental sedangkan dia sendiri cuma terdorong mundur dua tiga langkah. Dilihat sepintas begini, agaknya Palu Baja lebih unggul. Tapi apakah benar iblis itu sendiri mengakuinya?

Palu Baja diam-diam malah merasa penasaran. Keunggulannya dalam sinkang, yang sebenarnya tidak terpaut banyak, ternyata kini dihadapi oleh lawan yang memiliki kelebihan tersendiri, yakni bukan lain ilmu meringankan tubuh yang lebih unggul darinya. Hal itu dibuktikan dari "terompah" masing masing pihak. Si Palu Baja masih dibantu ikatan tali, sedangkan si kakek Cui sama sekali tidak menggunakan tali. "Terompah" itu "melekat" begitu saja di bawah telapak kakinya, seperti di lem saja layaknya!

Maka tentu saja Si Palu Baja menjadi marah. Sikap lawannya yang seolah-olah bertempur sambil main-main itu dianggapnya meremehkan dia. Apalagi Si Belut Emas Cui Lok itu bertempur sambil tertawa-tawa. Hal ini membuat dia gusar, juga mendongkol bukan main. Akan tetapi karena maklum banwa lawan yang dihadapi bukanlah sembarang lawan maka si jenggot panjang itupun menggerakkan martilnya dengan hati-hati.

Pertempuran diantara mereka bertambah seru, namun kakek Cui yang sikapnya seperti kurang serius itu menimbulkan kesan pertempuran tidak begitu sengit. Padahal tentu saja tidaklah demikian halnya. Si Belut Emas Cui Lok ini sebenarnya juga bertempur sungguh-sungguh, dan amat berhati-hati seperti lawannya sendiri. Dia sadar bahwa Palu Baja bukanlah tokoh hitam kelas rendahan. Karena itu diapun tidak berani main-main seperti tampaknya di luar.

Masing-masing pikak mencoba saling desak, dan pertempuran yang dilakukan diatas air itu tentu saja membutuhkan satu keterampilan tersendiri. Kakek Cui sebenarnya menduduki posisi lebih menguntungkan, karena ginkangnya yang lebih mahir mampu membuatnya meloncat kesana-sini seperti elang, terbang. Akan tetapi karena setiap serangan dayungnya selalu bertemu dengan senjata lawan yang penuh getaran ginkang itu membuat kakek ini merasa penasaran juga. Maka jadilah mereka itu bertempur dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Sementara itu di lain pihak, Ma Swi yang diperintah gurunya untuk membekuk si belut betina itu juga sudah berhadapan dengan Cui Ang yang sudah bersiap dengan sepasang dayung di tangan itu menyambut terjangan lawan yang juga memegang sebatang martil seperti gurunya, hanya ukurannya sedikit lebih kecil yang juga sama-sama terbuat dari baja putih. Karena itu keduanya segera terlibat dalam satu pertempuran yang tidak kalah sengitnya pula dan Cui Aug yang marah terhadap laki-laki ini sudah menyambut setiap serangan dan tangkisan dengan tidak kalah kerasnya.

Ma Swi mencoba mengadu kekuatan sedangkan Cui Ang mengadu dengan kelincahan gerak tubuhnya. Maka keadaan mereka tidak ubahnya dengan pertempuran yang terjadi diantara guru-guru mereka dan tentu saja pertempuran ini menjadi ramai dan sengit sekali.

Sedangkan dilain pihak, Teng Lui dan lima orang temannya juga meluruk ke arah Ceng Han dan sahabat barunya si Gelatik Emas yang ternyata adalah Panglima Fan Li dari kerajaan Yueh itu. Pertempuran yang terjadi di sini bersifat keroyokan, karena dua orang harus melawan enam orang lawan. Akan tetapi karena Ceng Han adalah murid bahkan putera pertama Pendekar Kepala Batu, maka tentu saja mencoba merobohkan pemuda ini sama saja halnya dengan mencoba merobohkan sebuah Gunung Thian San.

Ceng Han menghadapi dengan sebatang dayung, sedangkan panglima muda itu menghadapi dengan sebatang pedang. Dua-duanya menghadapi tiga orang lawan, tetapi Ceng Han sebenarnya yang lebih berat, karena disitu terdapat Theng Lui yang merupakan murid keponakan si Palu Baja. Dan Theng Lui inilah yang sore itu di kota Bun-ki menyabit Ceng Han dengan empat batang pisaunya, maka pertemuan mereka kali ini merupakan klimaks dari semua rasa penasaran yang ada dan Theng Lui yang menagkap hidup-hidup lawannya itu harus memeras keringat sekuat tenaga.

Sedangkan Fan Li yang melawan tiga orang musuhnya juga tidak kalah berat tekanannya dibanding Ceng Han. Panglima ini menghadapi orang-orang dari dunia hitam, maka gerak-gerik serta sepak terjang mereka kasar dan buas itu cukup membuatnya kewalahan. Akan tetapi untungnya, karena jelek-jelek dia bekas pembantu dan tangan kanan Yap Goanswe, maka sedikit banyak dia pula mendapat kepandaian simpanan dari bekas jenderal muda itu dan dengan kelebihan inilah pemuda itu bertahan dan bahkan membalas semua serangan lawan yang ditujukan kepadanya.

Dan yang cemas disini adalah si Gelatik Emas itu. dia tidak mengerti kenapa si kakek Cui menghendaki pertempuran di Tikungan Segi Tiga ini, tikungan berbahaya yang amat deras arusnya itu. Apakah kakek itu mempunyai suatu perhitungan yang tidak diketahuinya? Padahal mereka harus menghadapi musuh yang lebih banyak jumlahnya!

"Heii…..?!" teriakan tiba-tiba ini mengejutkan pemuda ini. Dia tersentak ketika mendadak perahu yang diinjaknya terangkat ke atas dan sekonyong-konyong berguling ke kiri. Apa yang terjadi? Kiranya perahu tenggelam akibat kebocoran tadi!

Seperti diceritakan terdahulu, si Palu Baja telah meremukkan bagian depan perahu ini dengan pukulan martilnya. Dan mereka yang merasa tegang dengan munculnya anak-anak buah datuk iblis itu sejenak melupakan masuknya air yang menerobos lewat tempat bocor ini karena pemusatan konsentrasi terhadap lawan. Hal itu sama dengan mengalirnya air ke dalam perahu dan akibatnya tentu saja perahu menjadi semakin miring dan tenggelam.

Sepuluh orang yang bertempur di atas perahu kakek Cui ini tidak kuat lagi diterima oleh kendaraan air itu. Bocornya bagian depan yang tidak ditutup membuat air membanjir masuk semakin deras dan tiga kelompok yang sedang ramai bertempur dikejutkan oleh miringnya perahu yang sekejap kemudian terbalik dengan tiba-tiba ke kiri itu, maka kontan semuanya berseru kaget.

Ma Sui yang bertempur dengan Cui Ang sudah keburu melompat ke perahunya sendiri, sementara Theng Lui dan yang lain-lain melompat ke atas dua buah perahu lain yang teombang ambing di sekitar mereka. Kini tinggal si Gelatik Emas serta dua orang temannya. Melompat ke perahu musuh, jelas akan disambut dengan serangan senjata tajam, tapi kalau tidak melompat, perahu bakal tenggelam, ya bagaimana pula.

Karena itu si Gelatik Emas ini mengeraskan hati. Tiga orang lawannya yang melompat keatas perahu hitam dikejar cepat. Dia mengikuti mereka dan menjejakkan kaki melayang ke perahu lawan dan ketika tiga orang di atas perahu itu menyambutnya, panglima muda inipun menggerakkan pedangnya, membabat lawan dalam satu gerakan. Tiga senjata dipukul mundur dan dengan selamat dia berhasil menginjakkan kakinya di perahu itu untuk selanjutnya bertempur lagi dengan sengit.

Kini tinggal Cui Ang dan Ceng Han. Gadis itu sedianya hendak mengejar lawannya di perahu yang satu. Tapi dia melihat Teng Hui dan dua orang temannya yang tadi bertanding melawan Ceng Han sekonyong-konyong menjauhkan perahunya agar tidak dapat dilompati pemuda itu. Tentu saja hal ini menyulitkan mereka, namun Ceng Han sudah memandang ke perahu Ma Swi.

"Nona Cui, coba lemparkan papan di dekat kakimu itu kesana. Cepat, aku ingin menghajar jahanam-jahanam itu, sebelum mereka semakin jauh…!" Ceng Han berteriak kepada gadis ini dan sejenak Cui Ang tidak mengerti. Akan tetapi ketika Ceng Han tampaknya sudah tidak sabar lagi iapun melempar sepotong papan seperti yang dimaksudkan barulah gadis itu mengerti.

Kiranya, Ceng Han telah mempergunakan kepandaiannya yang mengagumkan. Papan yang dilemparkan oleh puteri kakek Cui ini tiba-tiba diikuti lompatan tubuhnya dan begitu dia hinggap di alas papan itu tahu-tahu Ceng Han telah menjejakkan kakinya dan berjumpalitan menuju ke perahu Theng Lui! Dengan demikian, pemuda itu telah berhasil mendarat di atas perahu lawan dan ginkang yang demikian ringan serta hebat itu akhirnya mendapat tepuk tangan dari Cui Ang.

"Aih, hebat Souw-kongcu..., hebat sekali! Hajar saja tikus-tikus busuk itu dan tenggelamkan mereka ke sungai….!" Cui Aug berteriak gembira dan gadis itupun tiba-tiba sudah mencontoh Ceng Han, melempar sepotong papan di alas air lalu meloncat dan berjumpalitan menuju perahu Ma Swi yang sudah menjauhkan diri darinya itu.

Tapi murid si Palu Baja ini terpaksa menggeram geram. Maksud mereka yang hendak membiarkan musuh terlempar ke dalam sungai akibat perahu tenggelam itu tidak berhasil. Cui Ang tahu-tahu telah melayang di atas perahunya dan dengan sepasang dayung di kedua tangan gadis itu sudah menerjangnya.

Kini pertempuran pecah lagi. Ceng Han melawan Theng Lui dan dua orang temannya sedangkan Cui Ang menghadapi Ma Swi dalam perahu yang berbeda. Masing-masing tampak bertarung semakin sengit dan Ceng Han yang ingin merobohkan murid Si Pisau Kilat ini tiba-tiba berseru keras dan mainkan Cui-mo Kiam-sutnya, dalam permainan sebatang dayung!

Hebat dan mengejutkan sekali, perobahan yang dilakukan oleh putera Pendekar Kepala Batu ini. Dayung yang tadi banyak bersikap mempertahankan diri itu sekonyong-konyong melakukan serangan gencar. Pisau belati di tangan Theng Lui nyaris terpental bertemu dengan senjata aneh di tangan Ceng Han ini. Maka terkejutlah murid Si Pisau Kitat itu dan melihat bahwa lawannya bertarung sungguh-sungguh diapun lalu berteriak marah dan membentak dua orang temannya agar segera merobohkan lawan yang mengejutkan ini.

Maka terjadilah pertandingan seru yang menegangkan sekali pada kelompok ini. Theng Lui yang tadinya berniat menangkap dan memandang rendah lawannya sekarang terpaksa menggigit jari. Ceng Han bertempur seperti harimau muda yang sedang kelaparan. Dayung panjang di tangannya itu berkelebat membingungkan. Kadang-kadang memang mengemplang atau menyodok seperti layaknya permainan dayung tapi tidak jarang pula gagang dayung yang panjang terus mendadak menikam atau mambabat seperti layaknya sebatang pedang!

Guguplah Theng Lui mendapat serangan bertubi-tubi itu. Bentrok langsung diantara kedua senjata mereka menunjukkan bahwa Iweekangnya masih kalah kuat. Hanya berkat buntuan dua orang teman yang selalu mengerubut Ceng Han itulah dia berhasil menyeelamatkan diri dari serangan bertubi-tubi lawannya. Theng Liu mulai menyiapkan senjata andalannya, belati kecil-kecil yang terselip di pinggangnya dengan sinar mata keji.

Kalau dia tidak sempat menangkap hidup-hidup pemuda itu, biarlah dia membunuhnya. Karena dalam pertempuran seperti ini tinggal dua pilihan yang harus diambil. Terbunuh atau membunuh! Maka ancaman tersembunyi mulai mengintai nyawa Ceng Han karena sama dua orang temannya bertempur saling mendekati maka Theng Lui kemudian mencari akal licik. Pisau-pisaunya tidak boleh meleset, karena kalau meleset berarti bakal mengenal teman sendiri.

Oleh sebab ini laki-laki ini mulai meliarkan matanya dan tiba-tiba kekejian sinar matanya berkilat gembira. Perahu di samping kirinya yang dua orang itu sungguh bagus untuk memecahkan konsentrasi putera Pendekar Kepala Batu ini. Perahu yang dipakai ajang pertempuran oleh puteri Si Belut Emas dan suhengnya, Ma Swi!

Maka begitu dia memperoleh jalan keluarnya tiba-tiba laki-laki ini tertawa aneh. Dayung yang menyambar dikelit ke belakang dan begitu dia melompat sekonyong-konyong tangan kirinya bergerak. Tiga pisau belati menyambar tubuh Ceng Han, dua menuju leher dan dada kiri sedangkan yang nomor tiga meluncur di atas pundak menuju ke sasaran lain, Cui Ang yang kebetulan pada saat itu membelakangi Ceng Han!

Maka tentu saja Ceng Han terkejut mendapat serangan gelap ini. Dua pisau yang menyambar disambut bentakan perlahan dan dayung yang sedianya hendak dilanjutkan menyodok dua orang lawan yang lain terpaksa dialihkan. Dayung ini bergerak menyampok, bukan sembarang menyampok melainkan di buat sedemikian rupa sehingga terpental dan ganti menyambar dua orang teman Theng Lui itu.

Tentu saja hal ini mengejutkan yang bersangkutan, dan karena mereka tidak mengira bakal "dikirimi" senjata gelap itu keduanya tidak sempat mengelak lagi. Dua pisau yang menyambar leher dan dada ini ganti memakan tuannya, dan dua orang pembantu Theng itu menjerit kesakitan, Yang satu persis mengenai urat leher sedangkan yang satu menancap di atas dada di bawah pundak.

"Aduh... oughh!" dua orang itu berteriak dan seketika tubuh mereka terjungkal keluar perahu.

Ceng Han merasa puas, tapi tiba-tiba sebuah jerit kecil mengejutkannya dari kegembiraan. Jerit Cui Ang! Tentu saja Ceng Han terkesiap dan ketika dia menoleh, kiranya pisau ke tiga yang tadi disangka kurang jitu tertimpuk ke arahnya itu telah menancap di pundak kanan Cui Ang!

"Ah...!" Ceng Han terbelalak marah dan sadarlah dia sekarang bahwa pisau itu memang sengaja digunakan untuk Cui Ang. Tadi dia tidak menangkis pisau yang ini dikarenakan pisau itu lewat di atas pundaknya. Dengan begitu dia mem biarkannya saja meluncur di atas tubuhnya dan memperhatikan dua pisau yang lain untuk diputar arahnya menuju ke para pembantu Theng. Siapa sangka, serangan gelap itu agaknya memang ditujukan pada puteri kakek Cui yang sama sekali tidak menyangka bakal mendapat kecurangan seperti itu.

Maka Ceng Han marahnya meledak memenuhi dada. Namun baru saja dia memutar tubuh dan melompat maju tiba-tiba tiga batang pisau kembali menyambar ke arahnya. Itulah timpukan murka Si Pisan Kilat ini. Kontan Ceng Han berteriak melengking dan sekali dia menggerakkan dayung dan kaki kirinya maka tiga pisau terbang itu terpental di udara.

"Tring-trang-plak...!"

Tiga senjata gelap itu runtuh ke bawah dan Meng Lui yang melihat dua kali serangannya berturut-turut ini gagal menjadi pucat mukanya. Laki-laki itu menggeram, kemudian tanpa disangka-sangka dia terjun ke dalam air dan menyelam dengan pisau panjang di tangan kanannya. Ceng Han tertegun, dan jeritan Cui Ang yang kedua kalinya mmbuat dia sadar. Pemuda itu terkejut dan dilihatnya gadis cantik ini terjungkal roboh oleh pukulan tangan miring murid Si Palu Baja. Dan baru dia mau melompat membantu Cui Ang yang roboh, tiba-tiba perahu yang ditumpanginya berguncang keras!

"Heii…?!" Ceng Han kaget bukan main dan sebuah kepala nongol di buritan perahu. Kiranya murid Si Pisau Kilat, Meng Lui yang terjun ke dalam air.

"Ha-ha, putera Kepala Batu, hayo loncatlah ke mari. Kita lanjutkan pertandingan di dalam air!" laki-laki itu tertawa berteriak.

Dan ucapannya yang mengejek ini membuat Ceng Han tergetar. Dia tidak bisa berenang, bagaimana barus menghadapi lawan di dalam air? Maka begitu dia melihat kepala itu di atas air secepat kilat Ceng Han memukulkan dayungnya.

"Pratt…..!' Dayung teranyata mengenai air saja dan Theng Lui keburu menyelam sambil terkekeh meninggalkan gemanya yang mengerikan. Ceng Han tertegun dan keluhan Cui Ang di perahu Ma Swi itu membuat pemuda ini pucat mukanya. Akan tetapi, belum dia berbuat sesuatu tiba tiba saja perahu yang ditumpangi berguncang keras. Celaka! Kiranya Theng Lui hendak membalik perahu agar dia tercebur! Dan bersamaan dengan guncangan perahu yang tersentak kasar ke kanan kiri itu, terdengarlah suara "dak-duk" di lantai perahu.

Kini Ceng Han menjadi gelap mukanya. Ia tahu suara apa itu. Tentu usaha untuk melubangi perahu agar menjadi bocor! Maka begitu dia tahu akan keadaan yang amat berbahaya ini Ceng-Han tiba-tiba berteriak keras. Dayung di tangan di lempar ke atas, dan beegitu jatuh di atas air tiba-tiba dia susuli lompatan tubuhnya yang ringan seperti garuda terbang.

"Plekk!" kaki Ceng Han hinggap di atas papan tanpa bergoyang dan begitu melekat pemuda ini sudah berjungkir balik "melayang" ke perahu Ma Swi.

"Hei ?!" murid Si Palu Baja itu berseru kaget ketika ujung perahunya menerima tubuh Ceng Han dan tepat dia menoleh tahu-tahu tangan kiri Ceng menghantam tengkuknya dengan sisi telapak tangan miring.

Laki-Laki ini terbelalak kaget, namun dengan cepat dia masih sempat menggerakkan martilnya dan melempar tubuh Cui Ang yang baru saja di angkat.

"Plakk!" benturan keras ini membuat keduanya terkejut tapi Ma Swi yang paling kaget sendiri diantara mereka. Martilnya terpental, dan lengan Ceng Han masih menyelonong ke arah pundaknya melakukan totokan kilat.

"Aihh...!" Ma Swi membanting tubuhnya dengan gerakan tiba-tiba dan begitu totokan lewat kakinya menendang lutut Ceng Han dari bawah.

"Dukk..." tendangan itu tepat mengenai sasarannya namun tubuh Ceng Han tidak bergeming. Kiranya, putera Ciok-thouw Taihiap ini telah memasang bhesi yang disebut "Menindih Bumi Seribu Kati" dan begitu lawannya terkejut oleh serangannya tadi diapun sudah melompat maju menerjang Ma Swi yang masih bergulingan! Tentu saja hal ini mengejutkan murid Si Palu Baja itu, dan Ma Swi yang tidak diberi kesempatan untuk melompat bangun ini berteriak marah menangkis sebisanya.

"Plak duk-dukk..!" tiga kali Ma Swi masih sempat menangkis tapi untuk yang terakhir murid Si Palu Baja itu tidak sanggup lagi. Pukulan Ceng Han terlampau gencar baginya, juga tenaga sinkang yang dimiliki oleh putera Pendekar Kepala Batu ini terlalu berat bagi Ma Swi. Oleh karena itu, ketika tangan Ceng Han menyambar kepalanya laki-laki ini tak sempat mengelak lagi. Gerakan itu terlampau cepat bagi Ma Swi, maka begitu kena kontan murid Si Palu Baja menjerit kesakitan dan martilnya terlempar.

"Plak-dess...!" Ceng Han tidak memberi ampun, dan begitu lawan roboh segera kakinya menendang punggung Ma Swi yang segera terlempar ke dalam air.

"Byurr...!" itu mengeluh pendek dan seperti sebatang pisang saja murid Si Palu Baja ini terjungkal ke dalam sungai di telan air yang deras arusnya. Akan tetapi, Ceng Han yang baru saja memenangkan pertandingan dalam gerak cepat ini ternyata mengalami sesuatu yang tidak terduga. Kaki yang telah berhasil melemparkan tubuh lawan ke dalam sungai itu mendadak diserang tiga sinar putih yang berkeredep. Ternyata pisau Theng Lui! Dan Ceng Han yang diserang mendadak ini terkejut. Kontan pemuda itu menarik kakinya dan tiga pisau belati berkelebat di bawahnya. Dia berhasii menghindarkan dengan cepat namun yang terakhir menyerempet kulitnya.

"Brett...!" kain celana Ceng Han robek dan sedikit kulit di bawah lutut tergores luka. "Ahh..!" Ceng Han mengepal tinju dan tiba-tiba dia merasakan kakinya gatal. Karena itu, pemuda ini merah mukanya dan rasa gatal di tempat luka itu mendadak saja menjalar hebat ke lain daerah. Tentu saja Ceng Han terkejut karena kenyataan ini membuktikan adanya gejala racun! Oleh sebab itu Ceng Han lalu membalikkan tubuhnya dan dengan marah dia melihat Theng Lui tahu-tahu sudah melompat naik di atas perahu Ma Swi. Dan bersamaan dengan laki-laki ini berdirilah di ujung satunya dua orang pembantu Theng Lui yang tadi tercebur sungai!

"Ha-ha, singa muda dari Beng-san, lebih baik kau menyerah saja kepada kami daripada mampus menjadi korban pisauku. Ketahuilah, tiga jam setelah terkena luka itu kau tidak bakalan meiihat sinar mitahari lagi kalau tidak cepat mendapatkan obat penawamya. Nah, bagaimana? Kau mandah menjadi tawananku?"

"Iblis keparat jahanam licik, siapa sudi memenuhi permintaanmu? Kalau aku mampus biarlah mampus, akan tetapi kau harus menjadi pengantar dasar neraka dahulu!" Ceng Han membentak geram dan sekali kakinya bergerak tiba-tiba dia sudah menerjang maju tanpa menghiraukan ancaman lawan.

Theng Lui tertawa mengejek, dan terkaman Ceng Han itu disambutnya dengan kilatan pisau panjang di tangan kanan. Ceng Han mengelak, tapi tangan kirinya melakukan gerak (Jari Terbang Mengebut Kipas), salah satu jurus dari ilmu silatnya Cui-mo Kiam-sut yang dilakukan tanpa senjata. Karena itu, Theng Lui yang mendapat serangan ini cukup kaget dibuatnya. Pisau di tangan berhasil dielak sedangkan lawan tahu-tahu telah mengibaskan jari di depan mukanya, persis di dekat hidung. Dan yang lebih berbahaya lagi, dua jari Ceng Han mencuat ke atas hidung mencolok mata!

"Haii....?" Theng Lui berseru kaget dan laki-laki ini cepat melempar kepalanya ke belakang, sementara pisau di tangan kanan menyabet lengan Ceng Han untuk menolong dari ancaman bahaya. Tapi Ceng Han tidak kalah gertak. Begitu serangannya berhasil dihindar tahu-tahu kakinya melangkah maju setindak. Tangan kiri ganti menangkis serangan pisau sedangkan tangan kanannya menampar dada lawan.

"Plak-dukk!" tangan kiri Ceng Han bertemu dengan lengan kanan Theng Lui sementara tangan kanannya tak sempat dielakkan musuh. Tepat sekali dada Theng Lui terpukul dan laki-laki itu mengeluh kesakitan dan terjungkal roboh, Ceng Han melompat maju menyusuli serangannya tapi tiba-tiba lawan mengebutkan lengan malepas pisau sebanyak tujuh buah berurut-turut.

"Cet-cet-cet..!" sinar-sinar yang berkeredepan menyambar tubuh Ceng Han dan Ceng Han berseru keras sambil mengibaskan kedua lengannya. Lima pisau disampok runtuh sedangkan dua pisau yang menuju kedua kakinya ditendang gemas.

Akan tetapi celaka, dalam kemarahannya ini Ceng Han lupa akan kaki kanannya. Kaki itu sudah terluka oleh goresan pisau Then Lui, maka ketika diangkat untuk menendang runtuh pisau yang menyambar ke aranya itu tiba-tiba saja kaku tak dapat digerakkan. Rasa gatal dan panas yang menghebat di kaki kanan ini membuat kaki itu lumpuh, maka ketika pisau yang terakhir ini meluncur Ceng Han tak mampu berbuat apa-apa. Pemuda itu hanya berteriak kaget dan ketika pisau tahu-tahu menancap di atas pahanya Ceng Han mangeluh.

"Cepp...!" pisau kecil itu menancap tak bergerak dan Ceng Han menyeringai pedih. Rasa sakit disertai gatal yang kedua kalinya kembali membuat pemuda itu gelisah, akan tetapi dia sudah cepat mengerahkan sinkangnya membendung menjalannya racun yang tiba-tiba menyengat tajam.

"Ha-ha, setan cilik dari Beng-san, dua kali sudah kau terluka oleh pisauku. Masih tidak mau menyerah?" Theng Lui yang melompat bangun itu tertawa mengejek.

"Jahanam manusia licik, siapa mau menyerah? Biar manpus sekalipun Souw Ceng Han tidak bakalan menyerah. Mampuslah...!" Ceng Han menjadi mata gelap oleh kecurangan ini dan tanpa menghiraukan rasa sakitnya yang kian menghebat pemuda itu tiba-tiba, menerjang maju sambil melancarkan pukulan.

Akan tetapi Theng Lui tersenyum ewah, dan serangan lawannya yang dibakar kemarahan ini dielakkan kesamping. Serangan itu luput, dan Ceng Han tiba-tiba menggigil kakinya. Tubuhnya bergoyang, mirip orang mabok sementara dua orang pembantu Theng Lui yang ada di belakang mendadak melemparkan sepasang jala bertali baja ke arah kaki Ceng Han.

"Crett...!" jala itu tak dapat dihindarkan Ceng Han dan pemuda ini tiba-tiba keserimpat kakinya. Dia terjatuh, dan Theng Lul tertawa gembira.

"Ha-ha, Hu Kie, ringkus dia dengan jalamu. Singa yang lumpuh ini sudah tidak berbahaya lagi. Tarik…!" Tapi baru ucapan itu selesai diserukan sekonyoag-konyong sebuah bayangan hijau berkelebat diiringi bentakan nyaringnya,

"Iblis-iblis busuk, lepaskan dan Cui Ang tiba-tiba menerjang dua orang pembantu Teng Lui itu.

Tentu saja hal ini mengejutkan semua orang, karena mereka tidak menyangka bahwa puteri Si Belut Emas yang tadi roboh di lantai perahu itu mendadak saja bangkit berdiri dan menyerang mereka. Maka dua orang pembantu Theng Lui ini mencelos kaget, dan belum mereka sadar apa yang terjadi tahu-tahu sebatang dayung menyambar lengan mereka.

"Prak-prakk…!" dayung itu menghantam telak dan kontan dua orang ini menjerit kesakitan karena tulang lengan mereka patah! Dan belum jala yang dilepas itu kendur talinya Cui Ang tahu-tahu telah menendang mereka jungkir balik masuk sungai!

"Byur-byurr...!"

Theng Lui terbelalak marah menyaksikan dua orang anak buahnya ini roboh di tangan Cui Ang dan begitu dia sadar ini lalu mengeluarkan bentakan geram dan menyerang Cui Ang. "Siluman betina, berani kau menghajar para pembantuku? Keparat, robohlah kalau begitu!"

Teriakan geram ini disambut Cui Ang dengan satu tangkisan kuat, dan ketika lawan terdorong mundur tiba-tiba gadis ini melompat ke arah Ceng Han yang lumpuh kakinya. Dia tidak banyak bicara, hanya mukanya yang pucat dan tubuh yang sedikit menggigil itu menunjukkan bahwa gadis inipun sebetulnya juga bukan dalam kondisi yang baik. Maka begitu dia berada di dekat Ceng Han gadis ini tiba-tiba membungkukkan tubuhnya dan menyambar Ceng Han sambil berbisik serak,

"Souw-kongcu , kita mencebur dahulu. Tahan napasmu, awas....!" Dan belum lenyap suara ini diucapkan mendadak saja Ceng Han terasa tubuhnya diangkat dan.... "byuurr" air yang muncrat tinggi membasahi mukanya membuat dia gelagapan.

"Nona Cui...!"

Namun seruan pendek ini tidak dapat dilanjutkan. Ceng Han sudah dibawa menyelam oleh gadis itu dan keadaan sekitar gelaplah kini. Pemuda itu tidak tahu apa-apa lagi dan perbuatan satu-satunya yang dilakukan pada saat itu ialah memeluk Cui Ang seerat-eratnya, disusul rasa kejang dan gatal di kaki kanan tidak sadarkan diri bawah rangkulan Cui Ang.

Sementara itu, Theng Lui yang melihat lawannya melarikan diri ini mencak-mencak di atas perahu. Dia memaki kalang-kabut dan siap menyusul ke dalam sungai ketika mendadak sesosok bayangan berkelebat di depannya. Theng Lui mendelik, dan seorang hwesio tinggi besar tahu-tahu telah berdiri di hadapannya dengan sikap tenang. "Kau... siapa kepala gundul?" Theng Lui terkejut tapi dia berusaha membentak dengan muka kaget.

Hwesio itu tersenyum, dan dia mengulapkan tangan dengan sabar. "Orang muda, pinceng pengelana biasa. Lebih baik kau kembalilah, jangan membuat malam yang sudah pekat ini menjadi semakin gelap."

"Hm, kau mengusir?"

"Tidak, tapi untuk kebaikanmu belaka. Kalau kau mau, sampaikan salam pinceng kepada gurumu itu, Si Pisau Kilat."

Theng Lui terbelalak namun karena menganggap hwesio yang tidak dikenalnya ini lancang bicara maka diapun menjadi marah. "Keledai gundul, kau sudah mengenal guruku tapi masih berani omong seperti itu? Keparat, mampuslah kalau begitu...!"

Theng Lui tiba-tiba menyambitkan pisau-pisaunya belasan sinar kecil menyambari tubuh hwesio tinggi besar itu tanpa ampun. Laki-laki ini sudah membayangkan bahwa lawannya pasti akan roboh binasa atau terluka oleh pisaunya tapi alangkah herannya dia ketika melihat orang yang diserang itu sama sekali tidak mengelak. Hwesio ini tenang saja di hadapannya, dan belasan pisau yang menyambar tubuhnya itu dibiarkan saja.

"Cet-cet.... pletak-pletak-pletakk!" Sebelas pisau terbang itu tepat mengenai sasarannya akan tetapi bukan hwesio itu yang berteriak kesakitan melainkan Theng Lui sendiri yang berseru kaget. Apa yang terjadi ini sungguh hampir tak dapat dipercayainya karena semua pisau itu runtuh dan patah-patah mengenai tubuh lawannya ini.

"Kau... siluman....!" Theng Lui memekik ngeri dan sebelum hwesio itu melangkah maju tiba-tiba murid Si Pisau Kilat ini melempar tubuhnya keluar perahu dan mencebur sekenanya.

"Byurr...!" air kembali muncrat ketika ditimpa tubuh Theng Lui dan hwesio itu menarik napas dengan mata dikerutkan. Dia hanya menegeleng kepala sekali kemudian tiba-tiba menotolkan kakinya dan berjalan di atas air menuju perahu yang ditumpangi Si Gelatik Emas!

Tentu saja hal ini akan membuat orang yang melihat bakal mengira bertemu iblis, tapi hwesio yang bersangkutan itu sendiri tampaknya tenang-tenang saja. Dia hanya memandang muram ke perahu yang didatangi ini dan ketika Si Gelatik Emas masih bertempur sengit dengan tiga orang pengeroyoknya pendeta Buddha ini menggeleng-gelengkan kepala.

"Fan-ciangkun, lebih baik sudahi saja keramaian yang tidak menyegarkan ini. Sobat-sobat, kalian pulanglah, jangan bermain senjata tajam..." hwesio itu berseru perlahan ke arah pertempuran dan jubah kirinya "dikibas-kibaskan seperti melerai.

Ajaib! Tiga orang bersenjata yang melawan Si Getatik Emas itu mendadak saja saling mengeluarkah teriakan kaget karena senjata mereka tiba-tiba seakan terenggut oleh sebuah tangan tak tampak yang membuat tiga batang golok itu jatuh berkerontangan dari tangan mereka! Dan bersamaan dengan ini pedang di tangan panglima muda itu tiba-tiba menyambar tanpa ampun ke arah mereka.

"Hai…!"

"Ehh…!"

"Ohh....?!

Tiga orang itu sama-sama berseru tertahan melihat pedang meluncur namun sekonyong-konyong tangan kanan hwesio itu diulapkan ke depan. "Fan-ciangkun, jangan memercikkan darah. Pinceng tidak tahan!"

Seruan itu dibarengi kesiur angin dingin dan Si Gelatik Emas berseru kaget. Pedang yang sudah menyambar mendadak tertahan di tengah jalan, tidak dapat diteruskan lagi dan ketika pemuda baju biru itu menengok tiba-tiba saja dia berteriak gembira. "Lo-suhu...!"

Hwesio itu tersenyum ramah dan dia menganggukkan kepalanya. "Betul, ciangkun, pincenglah orangnya. Nah, simpan pedangmu itu dan biarkan mereka pergi....." belum lenyap gema suara ini diucapkan tiba-tiba tiga orang berpakaian hitam itu "terbang" dikebut jubah menuju ke daratan!

"Haii....?!"

Anak buah Si Palu Baja ini kembali berteriak ngeri akan tetapi tahu-tahu kaki mereka telah tiba di tepi sungai. Dua persis di daratan sana, sedangkan yang ke tiga terlempar ke atas pohon dan nyangkut di atas dahan. Tentu saja hal ini menerbangkan semangat mereka dan tanpa banyak bicara lagi orang-orang itu lari tunggang-langgang setelah menolong temannya yang kesangsang.

Tinggallah kini perahu yang terombang-ambing di atas sungai, sementara pertandingan seru yang berjalan sengit di antara kakek Cui melawan Si Palu Baja masih terus berlangsung. Si Gelatik Emas sudah cepat menjatuhkan diri berlutut di depan hwshsio tinggi besar yang luar biasa itu, lalu keduanya menghampiri pertempuran yang tinggal satu-satunya itu.

Si Palu Baja tidak memperhatikan keadaan sekitar lagi, begitu pula halnya dengan kakek Cui. Masing-masing terlibat dalam pertandingan yang kian memuncak ini dan Fan Li mengerutkan alis melihat percikan darah di pangkal lengan kakek Cui. Nyata kakek itu rupanya terluka oleh pukulan lawan. Karena itu dia lalu memandang iblis dari selatan dan dilihatnya kakek berjenggot panjang ini tampak beringas dengan uap putih mengepul di kepala.

"Lo-suhu, Cui locianpwe terluka…?" Pemuda itu memandang hwesio disampingnya dengan cemas.

Hwesio ini mengangguk. "Tampaknya begitu, ciangkun, akan tetapi tidak berbahaya. Apakah mereka sudah bertanding lama?"

"Betul, lo-suhu."

"Hm, kalau begitu pinceng harus melerainya," hwesio ini tiba-tiba mengangkat kedua lengannya, mendorong perlahan ke tengah-tengah pertempuran dan berseru lirih, "Sahabat Palu Baja, rekan Belut Emas, hentikan permainan yang berbahaya ini. Pinceng datang memisah...!"

Dan bersamaan dengan itu meluncurlah kekuatan tenaga yang amat dahsyat menderu ke tengah pertandingan. Fan Li terbelalak ketika tiba-tiba air sungai muncrat tinggi seperti dipukui tangan raksasa dan dua orang tokoh besar yang sedang bertanding itu sekonyong-konyong terdorong minggir.

"Ihh…!" Fan Li tertegun dan pemuda ini memandang takjub.

Palu Baja dan kakek Cui sama-sama berseru keras dan dua orang tokoh tua itu serentak menoleh kerarah mereka. Dan begitu melihat hwesio tinggi besar itu dua orang ini mengeluarkan teriakan berbareng. Hanya bedanya, kalau kakek Cui beteriak girang, adalah Si Palu Baja itu berteriak kaget.

"Leng Kong Hosiang…..!"

Seruan itu cukup menggetarkan suasana dan wajah si iblis selatan itu tampak berobah. Dia sama sekali tidak mengira akan berjumpa dengan hwesio ini, maka tentu saja kehadiran dari hwesio besar itu mengejutkannya. Akan tetapi hwesio yang dipanpgil Leng Kong Hosiang ini sendiri tampak tenang-tenang saja dan dia malah memandang sambil tersenyum ke arah si Palu Baja.

"Sahabat Palu Baja, kau sudah mengenal pinceng. Omitohud, semoga pinceng tidak mengobarkan kemarahanmu yang berlarut-larut. Malam demikian dingin, mengapa harus bertempur segala?"

Pala Baja mendelik. "Keledai gundul, apakah kau hendak mengeroyokku? Kalau begitu majulah, jangan berpura-pura mengeluarkan omongan manis!"

Hwesio yang dimaki tersenyum sabar. "Sahabat Palu Baja, pinceng tidak bermaksud seperti itu. Hanya kuminta kendalikanlah kemarahanmu itu dan pergilah. Sekali permusuhan tertanam sukar untuk dicabut. Bukankah kau perlu menolong murid-muridmu?"

Palu Baja teringat. Ucapan ini membuat dia cepat memandang sekeliling dan ketika disadarinya bahwa pertempuran di lain tempat sudah berhenti dan murid serta anak-anak buahnya tidak ada lagi di situ membuat iblis tua melotot gusar. "Keledai gundul, kau apakan murid-muridku?"

Hwesio ini menarik rapas panjang. "Mereka pergi dengan caranya sendiri-sendiri, sobat. Siapa yang menyakiti mereka?"

"Hm, kalau begitu kau hendak menyuruhku pergi dengan caraku sendiri pula?"

"Kalau itu sudah menjadi kehendakmu," hwesio ini tersenyum sabar.

"Baiklah!" Palu Baja menggeram. "Lain kali bertemu dalam suasana yang lebln tepat lagi, keledai gundul!"

Palu Baja membalikkan tubuh namun tiba-tiba tangannya bergerak. Fan Li tidak melihat apa yang disambitkan oleh iblis berjengpot panjang itu akan tetapi di sampingnya ini tampak mengebutkan lengan jubahnya.

"Critt..!" suara kecil seperti Benda terjepit itu hanya terdengar suaranya saja oleh Fan Li, akan tetapi kakek Cui tampak memaki gusar,

"Palu Baja, kau benar-benar manusia curang yang tidak tahu malu sama sekali. Apakah nama besarmu cukup dinilai seperii perbuatanmu yang hina ini?"

Palu Baja tertawa mengejek. "Orang she Cui, jangan mentang-mentang kau memperoleh teman. Kau kira nyawamu tidak di ujung rambut? Huh, hwesio bangkotan itupun juga akan mampus tidak lama lagi. Kenapa harus pentang bacot?'

Kakek Cui hendak melompat maju namun Leng Kong Hosiang mencegahnya, "Cui-sicu, jangan ladeni dia. Awas senjata gelapnya...!" dan kakek itu tiba-tiba kembali mengebutkan jubah.

"Critt...!" Kakek Cui memekik kaget ketika sekonyong-konyong sinar hitam menyambar mukanya. Tapi baru dia menunduk sambil menggerakkan tangan tahu, tahu-tahu benda itu sudah menancap di jubah Leng Kong Hosiang.

"Ibis curang!" kakek Cui memaki marah, namun hwesio tinggi besar itu tersenyum sabar. Dia tidak seperti kakek nelayan ini yang marah-marah terhadap lawannya, akan tetapi membuka gulungan lengan bajunya dan memperhatikan sesuatu. Sekaranglah Si Gelatik Emas itu tahu. Kiranya sebuah bintang berduri yang tengahnya berbentuk pelor!

"Ihh…..!" pemuda itu mengerutkan keningnya.

Dan Leng Kong Hosiang tampak menarik napas panjang, "Berbahaya... sungguh berbahaya...! iblis selatan itu tak boleh dibuat main-main. Fan-ciangkun, tahukah kau berbahayanya senjata gelap macam ini"

Fan Li terbelalak. "Tentu saja, lo-suhu! bukankah senjata itu mengandung racun? Lihat, ujung berdurinya yang mengkilat kehijauan itu jelas membuktikan bisanya yang ganas!"

Akan tetapi hwesio ini tertawa lemah. "Bukan itu saja, ciangkun, namun masih ada yang lebih hebat lagi. Lihatlah…" kakek ini tiba-tiba melemparkan benda itu ke sebuah pohon dan begitu mengenai dahannya tiba-tiba terdengarlah ledakan kuat disusul asap hitam yang pekat tebal. "Darr...!" dahan pohon itu patah hancur diiringi suara hiruk-pikuk yang ramai disusul tumbangnya pohon sepelukan orang dewasa itu.

"Ahh...!" Fan Li berteriak kaget dan sekaranglah dia tahu benar senjata gelap macam apa yang telah diterima oleh hwesio sakti itu. Kiranya am-gi yang benar-benar amat berbahaya. "Keji…!" akhirnya pemuda itu mengeluarkan suara dan Leng Kong Hosiang menganggukkan kepalanya.

"Tidak salah, ciangkun, memang senjata keji dan ganas. Dan kalau tadi pinceng tidak waspada barangkali kita sudah menjadi seperti pohon itu. Aih, sahabat she Cui, apakah kau merasa yakin bahwa jejak kita bermula dari sini?"

Hwesio itu menoleh ke kiri dan kakek Cui memandang tegas, "Tidak salah, loheng. Apa yang kita cari memang berawal dari sini. Gelatik Emas, coba kau perlihatkan peta rahasia itu kepadanya!"

Fan Li merasa heran akan tetapi dia sudah cepat memenuhi permintaan ini. Rahasia peta Kuil Hitam diserahkan kepada hwesio besar itu, dan ketika hwesio ini menerimanya temyata dia tidak metihat peta itu melainkan membalik permukaan sebelahnya jang kosong. Hal ini membuat pemuda tercengang keheranan dan kakek Cui rupanya juga mengalami hal yang sarga. "Eh, loheng, kenapa mengamati halaman yang kosong?" kakek iti berseru heran. Tapi hwesio ini tidak segera menjawab. Dia mengamati dengan teliti seluruh permukaan halaman itu dan baru setelah dia mendapatkan suatu yang dicarinya tiba-tiba hwesio ini tersenyum girang,

"Ah, tidak salah, sahabat she Cui. Ini memang peta aslinya. Dari mana kau bisa memperolehnya?"

Kakek Cui memandang gembira. "Dari Liek-kauwsu, loheng. Apakah kau kira peta itu tadinya palsu?"

Hwesio ini tiba-tiba terbelalak. "Liok-kauwsu...?" serunya terkejut. "Jadi guru silat itu yang memberikan peta ini kepadamu, sicu?"

Ganti kakek Cui yang menjadi kaget. "Ya! Kenapakah, loheng?"

Mendadak hwesio itu menyebut nama Buddha, "Omitobud, sungguh tidak kita duga! Aih, Cui sicu, apakah kau tidak tahu nasib guru silat she Liok itu? Dia sekarang sudah tewas, pinceng ketemukan dia di luar hutan pantai timur."

"Haa..?" kakek Cui berseru kaget dan tiba-tiba saja wajah kakek ini berubah. "Dia tewas, loheng...?"

Hwesio itu mengangguk muram. "Begitulah sobat. Liok-kauwsu tewas oleh senjata ini...." kakek itu merogoh bajunya dan sebuah benda seperti paku berulir dikeluarkannya.

Dan begitu kakek Cui melihat apa yang dipegang oleh hwesio itu sekonyong-konyong dia berteriak tertahan. "Toat-beng-cui....!"

Leng Kong Hosiang tertawa getir. "Tidak salah, sahabat she Cui. Am-gi inilah yang telah merenggut nyawa Liok-kauwsu. Setelah sekarang pinceng tahu duduk persoalannya jelaslah sudah. Kiranya Liok-kauwsu telah mendapatkan peta rahasia itu dan untuk ini dia terpaksa mempertaruhkan nyawanya yang mahal. Hem, sungguh menyedihkan...."

Kakek itu mengebutkan jubah dan Si Belut Emas serta Fan Li tertegun. Memang, apa yang mereka dengar ini sungguh mengejutkan sekali, karena mereka tidak mengira bahwa guru silat she Liok itu bakal terbunuh di tangan seseorang. Dan yang lebih hebat lagi, pembunuh yang telah melakukan pekerjaan ini adalah seorang iblis yang jauh lebih mengerikan dibanding Si Palu Baja. Seorang tokoh misterius yang diam-diam membuat hati mereka kecut!

Tapi tiba-tiba si nelayan Cui Lok ini tersentak kaget. "Eh, loheng, di mana puteriku?"

Dan Fan Li juga terkejut, "Eh…, dan di mana Pula Souw Han-te?"

Dua orang itu tampak kaget bersamaan dan hwesio tinggi besar ini ikut terkejut. "Ah, seorang pemuda dan gadis cantik berbaju hijau, Cui-sicu?"

Kakek Cui mengangguk. "Ya, mereka itu! Di mana sekarang?" kakek ini menoleh cemas dan Leng Kong Hosiang menarik napas menyesal.

"Aih, kenapa pinceng membantu setengah hati? Maaf, sahabat Cui, tadi pinceng mengira mereka itu orang lain, karena itu ketika melihat mereka terutama puterimu diserang murid Si Pisau Kilat pinceng hanya mencegah kecurangan yang terjadi didepan mata. Puterimu itu tampak memondong sang pemuda, agaknya terluka, dan karena murid Si Pisau Kilat hendak menyerang mereka berdua maka pinceng turun tangan. Siapa tahu, mereka adalah orang-orang sendiri, maklum, pinceng hanya mengenal Fan-ciangkun dan engkau pribadi, Cui-sicu?"

Kakek Cui memandang pelisah. "Lalu kemana mereka sekarang, loheng? Dan apakah puteriku juga terluka?"

Hwesio itu tampak semakin menyesal. "Agaknya begitulah, sobat Cui. Kulihat mukanya pucat dan sedikit menggigil ketika menunggui temannya. Siapakah pemuda itu?"

"Dia adalah putera Beng-san-paicu (ketua Beng-san-pai)?"

"He? Putera Ciok-thuw Thaihiap?"

"Benar. Dan dia hendak membebaskan adiknya bersama kita menuju ke Kuil Hitam...!"

"Ah...!" Leng Kong Hosiang tertegun dan tiba-tiba hwesio ini mengebutkan jubahnya. "Kita secepatnya mengikuti arus sungai ini. Puterimu itu menceburkan diri ketika diserang. Baiklah.., pinceng mendahului kalian kalau begitu...!"

Dan belum suaranya lenyap hwesio tinggi besar itu mendadak melangkah lebar ke depan dan.... meluncur di atas air seperti siluman terbang. Fan Li, terbelalak melihat kesaktian kakek itu akan tetapi ketika dia memandang ke bawah mengira hwesio itu dibantu semacam trompah atau papan pengayuh tiba-tiba berseru keheranan. Ternyata, hwesio kosen itu sama sekali tidak mempergunakan apa-apa selain sepatu rumputnya yang beralaskan jerami kering!

"Ihh....!" pemuda itu terbengong takjub saking kagumnya dan kakek Chi menegur perlahan,

"Fan-ciangkun, jangan membelalak saja. Mari kita susul dia mencari jejak. Ayolah...!" lengan pemuda itu disambar Si Belut Emas dan Fan Li terkejut.

Dia tidak melihat bayangan hwesio tinggi besar itu lagi karenanya diapun menurut saja dibawa kakek nelayan she Cui ini mengejar Leng Kong Hosiang, perahu satu-satunya yang ada di situ mereka pergunakan, dan kakek Cui Lok yang tidak mau membuang tempo itu sudah menyambar dayung dan menggerakkan perahu meninggalkan Tikungan Segi Tiga yang habis mereka pergunakan sebagai ajang pertempuran itu.

Diam-diam Fan Li berdebar gelisah. Lenyapnya Cui Ang bersama Souw Ceng Han itu cukup mencemaskan hatinya, apalagi kalau diingat bahwa mereka berdua itu terluka seperti keterangan Leng Kong Hosiang. Dan teringat akan munculnya hwesio sakti ini dia merasa heran. Apakah kebetulan saja atau karena memang sudah ada janji dengan kakek Cui sehingga hwesio kosen itu datang tepat pada waktunya?

Pemuda itu tidak mampu menjawab pertanyaan ini dan karena kakek Cui sendiri kelihatannya gelisah diapun juga tidak banyak tanya. Perahu terus melaju ke arah selatan sementara kedua orang itu sama-sama sibuk oleh pikirannya sendiri-sendiri yang diamuk bermacam persoalan.

* * * * * * * *

Matahari sudah naik di angkasa ketika sesosok tubuh muncul di atas permukaan air. Sebuah kepala mula-mula nongol, lebat dengan rambutnya yang panjang kehitaman, lalu disusul oleh kepala lain yang terkulai lemas di atas pundaknya.

Itulah Cui Ang, puteri Si Belut Emas Cui Lok bersama Ceng Han! Gadis ini tampak letih, capai kepayahan dengan muka yang semakin pucat. Lengan yang memeluk Ceng Han tampak gemetar kedinginan, namun gadis ini masih tetap mencekal erat pemuda di pondongannya itu. Semalam suntuk dia berjuang keras, melawan arus Sungai Huang-ho di Tikungan Segi Tiga. Dan kini setelah bumi menjadi tenang muncullah dia di permukaan sungai.

Cui Ang memburu napasnya. Tubuhnya menggigil, tapi tekadnya yang kuat membuat gadis itu seperti dihuni semangat yang berapi-api. Pergulatan maut di dalam air semalam suntuk itu sungguh mengerikan hatinya. Bukan ngeri untuk dia sendiri melainkan ngeri untuk diri pemuda di sampingnya itu. Tiga kali Ceng Han lepas dari tangannya, dan tiga kali itu pula dia hampir menyerah kalah.

Arus Sungai Huang-ho yang ganas membuat gadis itu hampir menyerah kalah. Akan tetapi untunglah, sambil menggigit bibir, dewa sungai rupanya masih menaruh rasa iba kepadanya. Dan Ceng Han yang lepas terguling-guling di dalam air itu masih sempat pula disambarnya, Kini mereka sudah berada jauh dari Tikungan Segi Tiga, dan Cui Ang yang semalam berjuang menyelamatkan nyawa pemuda dari Beng-san ini merasa penat tubuhnya. Dia tidak haus, karena berkali-kali air sungai terpaksa mencegluk ke dalam kerongkongannya. Akan tetapi tenaga yang dikuras habis-habisan semalam suntuk itu benar-benar melelahkannya.

Kini Cui Ang mengeluh kepayahan. Batu-batu sungai yang berserakan di tempat itu mengakibatkan kakinya terantuk berkali-kali. Tidak sampai membuatnya jera, namun cukup sakit dan ngilu setiap kali berbenturan. Apalagi dengan menggendong seorang laki-laki muda seperti Ceng Han yang cukup berat itu benar-benar membuatnya kehabisan tenaga.

Cui Ang melangkah naik, menuju tepian sungai sementara pemuda di pondongannya itu masih tergolek diam di atas pundaknya. Dia hendak maksud mencari sebuah goa, akan tetapi dataran berpasir batu melulu itu rupanya menghampar luas tanpa pelidung. Hal ini mempuat Cui Ang bingung, namun untunglah sebuah gunug di tengah tegalan gersang tiba-tiba tampak di kejauhan sana.

Cui Ang melangkah naik, menuju tepian sungai sementara pemuda dipondongnya itu masih tergolek lemah di atas pundaknya. Gadis itu menjadi girang, dan tanpa banyak bicara lagi iapun lalu melompat mengerahkan ginkangnya menuju tempat itu. Suasana yang lengang dan gersang itu memberikan harapan baginya bahwa di dalam gubuk itu pasti tidak ada orang. Maka dengan semangat berapi dia menghampiri tempat satu-satunya ini dengan cepat.

Dan akhirnya tidak sampai sepeminuman teh lamanya tibalah Cui Ang di gubuk itu. Memang benar, tidak ada orang di dalam! Cui Ang menjadi lega dan tiba-tiba pemuda di pondongannya mengerang. Cepat gadis itu meletakkan Ceng Han di lantai gubuk dan terkejutlah dia ketika mengetahui betapa tubuh pemuda ini panas seperti di bakar api.

"Ihh…!" Cui Ang mengerutkan kening dan setelah sekarang mereka bebas dari pertempuran di atas sungai barulah gadis itu melihat adanya sebuah pisau yang menancap di pangkal paha Ceng Han! Cui Ang mengepal tinju dan dengan muka merah melihat belati kecii itu. TIdak seberapa dalam lukanya, namun mata pisau yang hijau kehitaman cukup membuatnya gelisah. Dia sendiri sudah mencabut pisau yang menancap di pundaknya, dan dia merasa lega bahwa pisau yang disambitkan oleh murid Si Pisau Kilat itu tidak beracun. Hanya luka biasa yang dialaminya. Karena itu iapun sudah memberikan obat luka di atas pundaknya itu.

Akan tetapi pemuda. Ah, wajah yang pucat dan darah kering yang mengental hitam di atas paha itu benar-benar berbahaya sekali. Da tidak tahu racun macam apa yang mengendap di tubuh pemuda itu, akan tetapi Cui Ang tidak berani membuang tempo lagi. Dan sekarang tampaklah olehnya sebuah luka lain. Hanya goresan kecil saja di bawah lutut, akan tetapi sudah membengkak seperti telur angsa!

"Jahanam…..!" Cui Ang memaki geram dan cepat dicabutnya sebuah tusuk rambut di atas kepalanya. Lalu dia mencabut sehelai saputangan dan tanpa banyak cakap lagi bagian yang bengkak di bawah lutut ditusuknya.

"Cuss....!" darah hitam tiba-tiba mengalir deras dan kaki Ceng Han meronta kesakitan. Pemuda itu mengeluh dan agaknya rasa sakit yang amat sangat ini membuat pemuda itu mengaduh sadar. Seketika Ceng Han membuka mata dan begitu dilihatnya puteri kakek Cui berada di sampingnya dan menyingkap pipa celananya mengeluarkan darh beracun, Ceng Han menjadi terkejut dan kikuk.

"Nona Cui…!"

Akan tetapi Cui Ang tidak menghiraukan seruan lirih ini, menengok sekejap lalu menjawab, "Souw-kongcu, harap tahan rasa sakitnya. Aku hendak membersihkan sisa-sisa racun di kakimu ini!" gadis ini memercet luka sekerasnya dan Ceng Han hampir saja menjerit kesakitan.

"Aught…..!" pemuda itu menjadi pucat dan bibir bawah digigit kuat-kuat. "Nona Cui, perlahan sedikit, uhh... tubuhku panas sekali.... ohh, haus.... aku haus….!"

Ceng Han menahan rintihannya dan dia melihat betapa luka di bawah lututnya itu mengucurkan darah hitam berbau busuk. Dia menjadi ngeri, tapi sekaiigus juga likat dan kikuk. Karena itu dia mencoba untuk bangkit duduk membantu gadis itu namun dia mengeluh. Pangkal paha sakit bukan kepalang, nenusuk pedih sampai ke tulang sumsum dan baru sekaranglah dia sadar bahwa di samping luka yang kini sedang diobati Cui Ang itu ada sebuah luka lain yang gawat. Tancapan piau di atas paha!

"Ouhh....!" Ceng Han terbelalak dan Cui Ang tiba-tiba menyentuh pundaknya.

"Souw kongcu, jangan bangkit dulu. Tubuhmu masih belum bebas dari racun. Bersabarlah, aku hendak mengurasnya sampai bersih." Ucapan itu mengingatkan Ceng Han akan sesuatu dan tiba-tiba pemuda memandang pundak gadis itu.

"Nona Cui,..." bukaukah kau juga terluka oleh sambitan pisau Theng Lui?" "Tidak perlu dirisaukan, kongcu, aku lain dengan lukamu. Jahanam itu rupanya menyambitkan pisau yang berlainan jenisnya."

"Maksudmu?"

"Pisau yang dilemparkan ke arahku tidak beracunl"

"Ohh...!?" Ceng Han merasa heran dan Cui Ang mengambil bungkusan obat seraya memandangnya.

"Kenapa, kongcu?"

"Tidak apa-apa…" Ceng Han tiba-tiba menjadi gugup dan secara tidak sengaja dia mengamati lengan orang. Jari-jari yang agak gemetar itu mengejutkanya dan ttba-tiba Ceng Han mengangkat kepdanya. "Nona Cui, tanganmu itu..., mengapa menggigil?"

Cui Ang tersentak kaget. Sebenarnya dia juga merasakan sesuatu yang tidak enak di tubuhnya, akan tetapi agar pemuda itu tidak melihatnya maka ia berpura-pura tidak apa-apa. Siapa sangka, putera Beng-san-paicu ini agaknya memiliki mata yang awas. Maka tentu saja ia terkejut oleh pertanyaan itu, namun gadis yang tidak ingin membuat pemuda itu gelisah oleh keadaaanya sendiri cepat-cepat menekan guncangan jantungnya dan mengerahkan singkang. "Aku, eh.... aku tidak apa-apa, kongcu, hanya sedikit lelah."

"Akan tetapi, mukamu itu, nona Cui.... kenapa berubah?" Ceng Han menjadi heran dan pemuda ini sekonyong-konyong terkejut. "Nona Cui, kenapa mukamu kehijauan?"

Seruan tiba-tiba ini meledakkan guncangan di perasaan Cui Ang dan gadis itu hampir saja terpekik kaget. Dia memang merasa mukanya seperti dibakar, panas dan tidak enak sekali dan teriakan Ceng Han itu membuat dia pucat sekali. Akan tetapi Cui Ang tiba-tiba mengeraskan hatinya. Dia sadar sekarang bahwa pisau yang dikira biasa itu ternyata juga mengandung racun. Hanya jenisnya yang barangkali berbeda dengan racun yang mengenai Ceng Han, kalau tidak boleh dikatakan halnya mengingat dia masih sempat bertahan mempergunakan sinkang sedangkan pemuda itu tidak, karena sudah roboh pingsan.

Maka Cui Ang lalu menggigit bibirnya, dan karena dia sudah berketetapan menolong jiwa dari putera Beng San paicu ini, sebelum dia sendiri roboh pingsan, gadis itu tiba-tiba membentak, "Souw kongcu, jangan bicara yang tidak-tidak. Kau sedang diserang racun, penglihatanmu kabur, maka mana bisa melihat orang dengan jelas? Sudahlah, tutup mulut dan jangan banyak bicara lagi!"

Bentakan ini membuat Ceng Han tertegun dan tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing. Entah mengapa sikap kasar dari puteri kakek Cui ini meninggalkan luka perasaan nyeri di hatinya. Ia mengeluh dan Cui Ang tidak peduli lagi. Kepalanya yang pusing itu mendadak berputar. Dan Ceng Han tiba-tiba merasakan denyutan aneh diatas kepala yang tidak karuan rasanya itu.

"Nona Cui..." Ceng Han menahan seruannya. Sedianya dia hendak mengucapkan sesuatu, tetapi mendadak diurungkan karena teringat bentakan tadi. Dia tidak jadi bicara dan Cui Ang juga tidak menghiraukan panggilannya itu. karena itu Ceng Han lalu diam tak berkata apa-apa dan kepalanya semakin berputar rasanya ini sekonyong-konyong menghebat. Ceng Han mengeluh dan tiba-tiba kakinya menghentak kaget ketika Cui Ang menaburkan bubuk obat kedalam luka dibawah lututnya.

"Aduh…..!" pemuda itu tak tahan berteriak dan perasaan pedih serta nyeri yang amat sangat menusuk tulangnya. Rasa panas yang luar biasa membuat Ceng Han seperti dibakar dan sebelum dia berteriak untuk yang kedua kalinya tiba-tiba tubuh pemuda itu mengejang dan roboh pingsan!

"Ihh…!" Cui Ang terkejut melihat pemuda itu tak sadarkan diri dan gadis ini menjadi gelisah. Dia menaburkan bubuk Sari Bunga Pek pada luka yang membengkak itu. kenapa Ceng Han pingsan? Apakah bubuk obatnya tidak cocok? Gadis ini menjadi pucat sendiri dan ketika dia menyentuh dahi yang panasnya luar biasa itu, Cui Ang benar-benar gelisah. Menurut ayahnya, bubuk Sari Bunga Pek merupakan obat penawar bisa yang sangat manjur, terutama bagi segala macam bisa yang berasal dari racun ular. Lalu kenapa pemuda itu pingsan begitu menerima obatnya? Apakah racun yang mengeram di tubuh putera Beng San paicu ini bukan dari racun ular?

Cui Ang terbelalak ngeri dan dia memandang wajah pemuda itu. pucat, akan tetapi juga bersemu kehijauan. "Ihh…! Cui Ang terkejut melihat warna kehijauan itu karena sekaligus teringat ucapan Ceng Han ketika tadi menyaksikan mukanya sendiri! Karena itu gadis ini menjadi beringas, dan kemarahannya terhadap Teng Lui benar-benar menyesakkan dadanya. Dia menjadi marah akan tetapi juga bingung dan sejenak Cui Ang tertegun di tempatnya. Dan tiba-tiba suasana yang menggelisahkan hati ini dikejutkan oleh berkelebatnya sebuah bayangan yang bercowetan seperti kera.

"Kerr… jiehh… kau siapa nona cilik?"

Cui Ang tersentak oleh teriakan itu, dan tahu-tahu seorang laki-laki berambut riap-riapan telah berdiri di depannya. Cui Ang melompat kaget, namun tiba-tiba tubuhnya terhuyung. "Kau... kau... siapa....?" Cui Ang bertanya gemetar dan gadis ini benar-benar terkejut melihat kehadiran seekor mahluk yang belum pernah dilihatnya seumur hidup itu. Dikatakan manusia, agaknya kurang tepat, tapi disebut binatang juga kurang mengena. Maka Cui Ang menganggapnya sebagai 'mahluk‘ begitu saja dan pendatang aneh ini terkekeh.

"Hiehh… Kerr….! Kau keracunan nona? Kenapa mundur-mundur? Hai aku bukan siluman jahat, aku orang biasa seperti kau ini! ha-ha, kau meriang ya? Wah, cukup gawat! Tubuhmu menggigil, kakimu seakan lumpuh dan... heii! Pemuda itu juga menderita keracunan yang sama! Uwah, ulah siapa ini? keparat, kenapa kau harus bertemu denganku, anak-anak? Sialan, ini berarti Dewa Monyet dapat kerjaan! Hah, berapa kau berani bayar nona cilik?"

Kakek itu mencak-mencak dan Cui Ang tertegun. Disebutnya nama Dewa Monyet itu membuat gadis ini tersentak, namun sepercik kegirangan tiba-tiba mendebarkan jantungnya. Ia memang belum pernah bertemu dengan orang yang berjuluk Dewa Monyet (Kauw Sian) ini, akan tetapi nama besarnya pernah ia dengar sepintas lalu.

Karena itu meskipun ia cukup terkejut melihat kehadiran tokoh kera ini, akan tetapi secercah harapan tiba-tiba timbul dihatinya. Ia pernah mendengar tentang beberapa keanehan atau kelebihan dari tokoh ini, antara lain tentang kemahirannya mengobati luka-luka beracun. Dan tadi tebakan tentang keadaan dirinya itu, ah… betapa cocok sekali! Ia memang merasa meriang, tubuhnya menggigil dan kakinya seakan lumpuh! Maka siapa tidak bakal terkejut dan girang?

Cui Ang sendiri sudah terbelalak gembira mendapatkan pertemuan itu, dan tanpa terasa kakinya tiba-tiba terjatuh berlutut. Gadis ini merasa gemetar, namun ia masih ingin menegaskan keyakinannya yang meluap. "Locianpwe, kau… benar Dewa Monyet yang terkenal itu?"

Kakek itu terkekeh aneh. "Hiehh, tidak percaya omonganku, gadis cilik? Apa di dunia ini ada dua orang Kauw-sian? Kerr, jangan sembarangan kau bicara, nona. Sekali aku marah, tentu anak buahku bakal mengerubutimu sampai telanjang! Hehh, apa kau suka ditelanjangi?"

Wajah seperti monyet itu menyeringai galak dan Cui Ang terkejut. Belum ia pulih rasa kagetnya, sekonyong-konyong kakek itu bersuit nyaring dan berkeplok tiga kali. Aneh, dari jauh tiba-tiba terdengar keplokan balasan dan cecowetan nyaring seperti monyet marah membuat Cui ang tertegun. Empat bayangan muncul dari tempat berbeda-beda, maka gadis itu terbelalak melihat munculnya empat kera besar yang berlompatan ke arah mereka.

"Aihh....!" Cui Ang berseru tertahan dan empat monyet besar itu sekejap saja tahu-tahu telah berada di hadapannya. Mereka terdiri dari empat kera sebesar anak belasan tahun, dan kera paling besar berbulu coklat yang berada paling depan itu bercecowetan nyaring sambil membawa bermacam-macam buah...!


Pendekar Kepala Batu Jilid 13

PENDEKAR KEPALA BATU
JILID 13
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Kepala Batu Karya Batara
"HEII… BRAKK!" kakek Cui tidak sempat berpikir panjang lagi dan perahu yang terbalik itupun tahu-tahu telah dihantamnya keras.

Ledakan yang dahsyat membuat kedua perahu itu terguncang, dan Ceng Han serta dua orang temannya hampir saja terjungkal roboh. Si Gelatik Emas terjelungup ke depan sedangkan Cui Ang terpental di atas kepala ayahnya yang untung menangkap puterinya itu yang hampir saja keluar dari perahu. Semua orang membelalakkan mata, dan perahu terbalik yang dihantam pecah itu tampak hancur berkeping-keping!

"Ha-ha-ha, lihai.... sungguh lihai! Kalau bukan si nelayan Cui Lok yang mampu menjadikan atraksi ini mana aku mau percaya? Eh, Belut Emas, kiranya kau semakin tua malah semakin hebat saja, ya? Waah, luar biasa sekali aku sungguh kagum, ha-ha-ha....!"

Ketawa bergelak yang menyeramkan ini tidak diketahui dari mana asalnya hanya saja air di tengah-tengah sungai itu tiba-tiba menggelegak aneh. Ceng Han dan dua orang termannya sama-sama memandang dan..... sesuatu yang mencengangkan terjadi disini. Kepala seorang kakek berjenggot panjang mendadak muncul di situ, seperti silumal air saja, dan begitu kepalanya muncul sekonyong konyong kakek ini meloncat lurus ke atas dengan amat ringannya kemudian... berjalan sambil terkekeh di atas permukaan air menuju ke perahu mereka, persis tidak jauh dari perahu yang hancur berkeping-keping!

“Heii….. brakk!” kakek Cui tidak sempat berpikir panjang lagi dan perahu yang terbalik itupun tahu-tahu telah dihantamnya keras.

"Aih...!" Cui Ang tak mampu menahan rasa kagetnya melihat kejadian ini dan gadis itu berteriak tertahan. Tapi kakek Cui tiba-tiba menepuk pundaknya sambil tertawa kecil.

"Ang-ji, jangan terkejut, dia bukan siluman air. Malah dia inilah yang ditunggu-tunggu ayahmu untuk membuat perhitungan. Kepandaian meluncur di atas air dengan bantuan sepasang papan begitu saja masa ayahmu juga tidak bisa?"

Kakek yang bicara dengan sikap merendahkan ini otomatis membuat tiga orang muda itu memandang ke bawah. Dan begitu mereka melihat, rasa ngeri yang tadinya mengira kedatangan seekor "siluman' itupun lenyaplah. Kiranya kakek berjenggot panjang yang berjalan di atas air itu mempergunakan sepasang papan dibawah telapak kakinya, diikat seperti terompah dan dengan benda aneh itulah dia meluncur diatas permukaan air. Tentu saja mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi tingkatannya!

Maka begitu mereka tahu, tiga orang muda berbalik menjadi kagum. Cui Ang mendelong dengan mata terbuka lebar sedangkan Ceng Han dan si Gelatik Emas menatap terkejut dengan perasaan tegang. Dan kini kakek yang melaju cepat di atas air itupun sudah berada di depan mereka. Dia masih tertawa bergelak suaranya yang menyeramkan, sementara tujuh perahu bercat hitam juga sudah memutar haluannya mengepung perahu kakek Cui. Maka kini terang benderanglah keadaan di sekitar tempat itu. Lampu-lampu besar yang dipasang di atas tujuh perahu menjadikan semuanya dapat pula melihat bentuk tubuh kakek yang baru datang ini.

Ternyata dia adalah seorang laki-laki setengah umur, tinggi kurus dengan matanya yang tajam mengerikan serta rambut digelung semacam tosu. Akan tetapi bukan inilah yang menarik perhatian para penumpang di atas perahu kakek Cui, melainkan senjata aneh yang dibawanya pada ikat pinggag. Lain dari pada yang lain, bukan golok bukan juga pedang akan tetapi sebuah martil raksasa yang terbuat dari baja putih dan yang besarnya seprerti kepala seekor kambing bandot!

Dan begitu terlihat orang ini, Ceng Han langsung tahu dengan siapa kiranya dia berhadapan. Bukan lain adalah si Palu Baja, iblis dari selatan yang dahulu mencari ayahnya. "Ah...!" Ceng Han mengeluarkan seruan perlahan dan kakek iblis itu tertawa kearahnya.

"Heh-heh, bukankah kau anak si gundul dari Beng-san-pai, anak muda?" kakek itu menarik bibirnya keji dan Ceng Han naik darah mendengar kata-kata yang amat menghina itu. memang ayahnya seorang gundul, akan tetapi sikap orang yang sangat kurang ajar tidak bisa diterimanya begitu saja. Maka dia lalu membentak membalas penghinaan itu.

"Palu Baja, apakah kau kira aku takut melihat kehadiranmu di sini? Meskipun baru pertama kali aku melihat tampangmu, maka jangan mengira aku akan lari menghindarimu, Huh, siapa takut iblis macam ini?"

"Ha-ha, pemuda sombong mulut, persis bapaknya!" kakek itu menarik muka. "Eh, nelayan she Cui, bagaimana kau begini secara kebetulan membawa putera Beng-san paicu itu? dan itu, bukankah Fan ciangkun dari Yueh?"

Tudingan tangan ke arah Fan Li ini membuat Ceng Han terkejut bukan main dan ketika dia menoleh tampak sahabat barunya itu juga memandangnya sambil tertawa kecil. Yang membuat Ceng Han kaget bukan lain adalah pernyataan iblis selatan ini yang mengatakan bahwa sahabatnya ini adalah seorang panglima! Maka tentu saja dia tertegun dan sebelum dia tertanya sesuatu tiba-tiba sahabat yang dikenal sebagai "Li twako" atau si Gelatik Emas itu sudah memandang si Palu Baja sambil tertawa mengejek.

"Palu Baja, matamu sungguh tajam sekali. Tidak kusangkal bahwa aku adalah Fan-ciangkun dari Yueh. Apakah kau hendak menyerahkan diri akibat persekutuanmu dengan sutemu yang menangkap Wen-taijin? Kalau itu maksudmu, bagus, sribaginda tentu tidak menjatuhkan hukuman berat atas dosa-dosamu yang kau perbuat ini!"

Si Palu Baja tiba-tiba tertawa bergelak. "Ha-ha-ha! Kau memutarbalikkan keadaan, panglima cilik. Bukan aku yang harus menyerahkan diri melainkan engkau itulah! Ha, siapa yang harus menjatuhkan hukuman di sini? Justeru kalau kau mau ikut baik-baik denganku pasti tidak akan hidup menderita. Heh, sudah jangan banyak bicara lagi. Kalian semua harus ikut dengan kami sebagai tawanan! Orang she Cui, hayo serahkan diri sebelum kami bertindak kasar!"

Kakek itu menoleh kepada Si Belut Emas tapi kakek she Cui ini malah terkekeh. "Heh-heh, Palu Baja, omonganmu ini sungguh seperti anak kecil saja. Mana mungkin lohu mau kau tawan begitu saja? Kalau aku yang mandah, tentu tiga anak-anak muda ini yang berontak! Wah, otakmu taruh dimana, Palu Baja? Dan apakah sekarang kau sudah beralih pekerjaan? Dahulu kau malang melintang di hutan, tapi sekarang tiba-tiba saja bersikap bajak sungai! Hai, apakah penghasilan di hutan sudah berkurang?"

Kakek Cui yang mengejek dengan sikap main-main itu membuat merah mukanya si iblis selatan. Palu Baja menggeram, kemudian tiba-tiba dia mencabut martil raksasanya. "Orang she Cui, apakah kau minta dilumatkan dahulu baru mau menyerah? Kalau itu yang kau kehendaki, baiklah. aku akan mengirim nyawamu ke neraka!"

Bentakan penuh kemarahan ini diganda tertawa oleh si Belut Emas dan tiba-tiba kakek itupun mengangkat dayungnya. "Palu Baja, kebetulan tanganku sudah gatal-gatal pula. Apakah kau mau main keroyok, atau bertarung secara jantan?"

Palu Baja mendelik, namun tiba-tiba dua orang dari perahu hitam melompat maju. "Suhu, biarkan aku saja yang menghadapi tua bangka ini. Tadi dia sudah kubuat jungkir balik di dalam sungai!" yang berseru ini ialah laki-laki yang menyambit kakek Cui, tapi yang seorang sudah membantahnya dengan kata-kata sombong.

"Tidak, supek. Biarkan aku saja yang menghadapinya. Memukul anjing masa majikan sendiri harus turun tangan?"

Dua orang itu saling menunjukkan diri dan Cui Ang yang merasa ayahnya direndahkan ini mangepal tinju dengan mata berapi-api. "Tikus-tikus busuk, daripada kalian berebut menghadapi ayah lebih baik kau hadapi dulu aku... Cringg!" dayung yang di pinggirnya dilapis baja hitam itu dipukulkan Cui Ang ke atas perahunya.

Dua orang itu terbelalak, tapi tiba-tiba Si Palu Baja yang malu melihat muridnya tidak tahu diri itu membentak mereka, "Ma Swi, Theng Lui, mundur... Belut Emas bukan tandingan kalian. tangkap saja yang betina itu dan seret yang laki-laki!"

Bentakan ini membuat dua orang itu terkejut dan mereka memandang Cui Ang yang sudah menyambar sebuah dayungnya lagi dan melotot ke arah mereka dengan mata berapi-api itu. Dua-duanya tampak tertegun, tapi Cui Ang sendiri melambaikan tangannya dengan senyum dingin.

"Tikus-tikus busuk, majulah ke mari. Bukankah kalian ingin merasakan patahnya tulang digebug dayung. Nah, kemarilah, boleh maju satu demi satu ataupun dua orang sekaligus!"

Tantangan ini membuat muka keduanya merah namun masing-masing nampaknya sama-sama meragu. Karena itu keduanya lalu saling pandang dan kakek Cui yang melihat ini tak dapat menahan geli hatinya.

"Palu Baja, muridmu itu sungguh orang-orang jempolan sekali. Menghadapi seorang gadis begini saja masa kelihatan jerih? Wah, kalau begitu suruh saja mereka itu pulang dan biar kau dibantu yang lain! He-he, bukankah ini lebih bagus?"

Iblis berjenggot panjang itu menggeram, "Nelayan bangsat, jangan membuka mulut lebar-lebar. Siapa jerih menghadapi puterimu? Ma Swi, tangkap belut betina itu dan yang lain boleh menangkap hidup-hidup yang laki-laki. Brakk...!"

Tanpa disangka iblis ini tiba-tiha menggerakkan martilnya dan ujung perahu kakek Cui tahu-tahu telah dipukulnya pecah! Tentu saja kakek Cui dan tiga orang temannya terkejut, namun Si Belut Emas Cui Lok ini tiba-tiba terkekeh. Dia melompat keluar perahu ketika Palu Baja hendak menghantam perahunya lagi, dan dengan dayung di tangan kiri kakek itu menangkis.

"Palu Baja, perlahan dulu, jangan mengumbar nafiu...plakk!" Dayung di tangan kakek itu bertemu dengan palu raksasa dan kakek Cui melejit aneh di tengah udara. Dayungnya terpental, akan tetapi Palu Baja sendiri juga terdorong mundur dengan tubuh bergoyang-goyang. Iblis itu berteriak memukul lagi sambil menggerakkan martilnya, tapi tiba-tiba lawannya yang masih di udara berjumpalitan ringan sambil terkekeh kembali ke dalam perahunya.

"Brakk…!" Kali ini perahu kakek Cui yang sempal ujungnya menjadi sasaran. Palu Baja menghantam geram, dan kontan saja potongan-potongan papan berhamburan ke atas sungai mengakibatkan perah itu bocor!

"Heii…?!" kakek Cui tampak terbelalak, dan Ceng Han yang tidak bisa berenang merasa paling kaget sekali diantara mereka. Tapi ketika iblis dari selatan itu hendak mengulangi perbuatannya ini, sekonyong-konyong kakek Cui berkelebat ke depan sambil menggerakkan dayungnya.

"Palu Baja, jangan mengumbar angkara, hayo kita bermain-main di tengah air sana. Plak…!" dayung dan martil kembali bertemu dan kakek Cui terpental lebih ke atas.

Akan tetapi si Palu Baja juga terdorong lebih keras dan kakek Cui yang terpental keluar perahu itu jatuh diatas sungai. Namun hebatnya si Belut Emas yang jatuh diatas ait itu sama sekali tidak terlempar masuk, melainkan hinggap di atas dua potong pecahan papan yang terombang-ambing diatas permukaan sungai. Dan begitu kakek ini hinggap diatas papan, kakek itu sudah terkekeh sambil menggerak-gerakkan kakinya maju mundur diatas air, persis menirukan gaya si Palu Baja yang juga menggunakan terompah papan sebagai alat bantunya.

"Heh-heh, Palu Baja, hayo kita main-main di sini. Lihatlah aku juga punya sepatu baru seperti punyamu!" kakek Cui mempermainkan lawannya sambil tertawa, sementara Palu Baja sendiri menjadi gelap roman mukanya.

"Nelayan keparat, kau rupanya benar-benar minta diantar ke neraka. Baiklah, menghadaplah ke Giam Lo Ong sekarang juga. Haiittt…!"

Iblis dari selatan itu membentak penuh kemarahan dan senjatanya yang mengerikan itu menyambar kepala kakek Cui seperti godam turun dari langit. Tetapi kakek Cui tenang-tenang saja, malah tertawa bergelak ketika mendapat terjangan ini. Dayung di tangan kanan menangkis palu baja ini, dayung di tangan kiri melejit tiba-tiba menyodok perut lawannya. Maka terjadilah serang menyerang dan tangkis menangkis diantara tokoh kawakan itu.

Palu Baja mengandalkan martil raksasanya sedangkan si Belut Emas Cui Lok mengandalkan permainan dayungnya. Dia memang sejak kecil hidup sebagai nelayan, maka tidak aneh kalau dayung itu juga dipakai senjata yang identik dengan nyawanya sendiri. Sedangkan Palu Baja yang keahliannya memang bermain martil tentu saja tidak kalah hebatnya oleh si kakek Cui Lok ini.

Hanya bedanya, Si Palu Baja rupanya memiliki kelebihan dalam sinkang, karena datuk itu memang terkenal memiliki kekuatan sinkang yang mengagumkan. Hal itu terbukti lagi ketika dalam dua kali berturut-turut selalu saja lawannya ini yang terpental sedangkan dia sendiri cuma terdorong mundur dua tiga langkah. Dilihat sepintas begini, agaknya Palu Baja lebih unggul. Tapi apakah benar iblis itu sendiri mengakuinya?

Palu Baja diam-diam malah merasa penasaran. Keunggulannya dalam sinkang, yang sebenarnya tidak terpaut banyak, ternyata kini dihadapi oleh lawan yang memiliki kelebihan tersendiri, yakni bukan lain ilmu meringankan tubuh yang lebih unggul darinya. Hal itu dibuktikan dari "terompah" masing masing pihak. Si Palu Baja masih dibantu ikatan tali, sedangkan si kakek Cui sama sekali tidak menggunakan tali. "Terompah" itu "melekat" begitu saja di bawah telapak kakinya, seperti di lem saja layaknya!

Maka tentu saja Si Palu Baja menjadi marah. Sikap lawannya yang seolah-olah bertempur sambil main-main itu dianggapnya meremehkan dia. Apalagi Si Belut Emas Cui Lok itu bertempur sambil tertawa-tawa. Hal ini membuat dia gusar, juga mendongkol bukan main. Akan tetapi karena maklum banwa lawan yang dihadapi bukanlah sembarang lawan maka si jenggot panjang itupun menggerakkan martilnya dengan hati-hati.

Pertempuran diantara mereka bertambah seru, namun kakek Cui yang sikapnya seperti kurang serius itu menimbulkan kesan pertempuran tidak begitu sengit. Padahal tentu saja tidaklah demikian halnya. Si Belut Emas Cui Lok ini sebenarnya juga bertempur sungguh-sungguh, dan amat berhati-hati seperti lawannya sendiri. Dia sadar bahwa Palu Baja bukanlah tokoh hitam kelas rendahan. Karena itu diapun tidak berani main-main seperti tampaknya di luar.

Masing-masing pikak mencoba saling desak, dan pertempuran yang dilakukan diatas air itu tentu saja membutuhkan satu keterampilan tersendiri. Kakek Cui sebenarnya menduduki posisi lebih menguntungkan, karena ginkangnya yang lebih mahir mampu membuatnya meloncat kesana-sini seperti elang, terbang. Akan tetapi karena setiap serangan dayungnya selalu bertemu dengan senjata lawan yang penuh getaran ginkang itu membuat kakek ini merasa penasaran juga. Maka jadilah mereka itu bertempur dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Sementara itu di lain pihak, Ma Swi yang diperintah gurunya untuk membekuk si belut betina itu juga sudah berhadapan dengan Cui Ang yang sudah bersiap dengan sepasang dayung di tangan itu menyambut terjangan lawan yang juga memegang sebatang martil seperti gurunya, hanya ukurannya sedikit lebih kecil yang juga sama-sama terbuat dari baja putih. Karena itu keduanya segera terlibat dalam satu pertempuran yang tidak kalah sengitnya pula dan Cui Aug yang marah terhadap laki-laki ini sudah menyambut setiap serangan dan tangkisan dengan tidak kalah kerasnya.

Ma Swi mencoba mengadu kekuatan sedangkan Cui Ang mengadu dengan kelincahan gerak tubuhnya. Maka keadaan mereka tidak ubahnya dengan pertempuran yang terjadi diantara guru-guru mereka dan tentu saja pertempuran ini menjadi ramai dan sengit sekali.

Sedangkan dilain pihak, Teng Lui dan lima orang temannya juga meluruk ke arah Ceng Han dan sahabat barunya si Gelatik Emas yang ternyata adalah Panglima Fan Li dari kerajaan Yueh itu. Pertempuran yang terjadi di sini bersifat keroyokan, karena dua orang harus melawan enam orang lawan. Akan tetapi karena Ceng Han adalah murid bahkan putera pertama Pendekar Kepala Batu, maka tentu saja mencoba merobohkan pemuda ini sama saja halnya dengan mencoba merobohkan sebuah Gunung Thian San.

Ceng Han menghadapi dengan sebatang dayung, sedangkan panglima muda itu menghadapi dengan sebatang pedang. Dua-duanya menghadapi tiga orang lawan, tetapi Ceng Han sebenarnya yang lebih berat, karena disitu terdapat Theng Lui yang merupakan murid keponakan si Palu Baja. Dan Theng Lui inilah yang sore itu di kota Bun-ki menyabit Ceng Han dengan empat batang pisaunya, maka pertemuan mereka kali ini merupakan klimaks dari semua rasa penasaran yang ada dan Theng Lui yang menagkap hidup-hidup lawannya itu harus memeras keringat sekuat tenaga.

Sedangkan Fan Li yang melawan tiga orang musuhnya juga tidak kalah berat tekanannya dibanding Ceng Han. Panglima ini menghadapi orang-orang dari dunia hitam, maka gerak-gerik serta sepak terjang mereka kasar dan buas itu cukup membuatnya kewalahan. Akan tetapi untungnya, karena jelek-jelek dia bekas pembantu dan tangan kanan Yap Goanswe, maka sedikit banyak dia pula mendapat kepandaian simpanan dari bekas jenderal muda itu dan dengan kelebihan inilah pemuda itu bertahan dan bahkan membalas semua serangan lawan yang ditujukan kepadanya.

Dan yang cemas disini adalah si Gelatik Emas itu. dia tidak mengerti kenapa si kakek Cui menghendaki pertempuran di Tikungan Segi Tiga ini, tikungan berbahaya yang amat deras arusnya itu. Apakah kakek itu mempunyai suatu perhitungan yang tidak diketahuinya? Padahal mereka harus menghadapi musuh yang lebih banyak jumlahnya!

"Heii…..?!" teriakan tiba-tiba ini mengejutkan pemuda ini. Dia tersentak ketika mendadak perahu yang diinjaknya terangkat ke atas dan sekonyong-konyong berguling ke kiri. Apa yang terjadi? Kiranya perahu tenggelam akibat kebocoran tadi!

Seperti diceritakan terdahulu, si Palu Baja telah meremukkan bagian depan perahu ini dengan pukulan martilnya. Dan mereka yang merasa tegang dengan munculnya anak-anak buah datuk iblis itu sejenak melupakan masuknya air yang menerobos lewat tempat bocor ini karena pemusatan konsentrasi terhadap lawan. Hal itu sama dengan mengalirnya air ke dalam perahu dan akibatnya tentu saja perahu menjadi semakin miring dan tenggelam.

Sepuluh orang yang bertempur di atas perahu kakek Cui ini tidak kuat lagi diterima oleh kendaraan air itu. Bocornya bagian depan yang tidak ditutup membuat air membanjir masuk semakin deras dan tiga kelompok yang sedang ramai bertempur dikejutkan oleh miringnya perahu yang sekejap kemudian terbalik dengan tiba-tiba ke kiri itu, maka kontan semuanya berseru kaget.

Ma Sui yang bertempur dengan Cui Ang sudah keburu melompat ke perahunya sendiri, sementara Theng Lui dan yang lain-lain melompat ke atas dua buah perahu lain yang teombang ambing di sekitar mereka. Kini tinggal si Gelatik Emas serta dua orang temannya. Melompat ke perahu musuh, jelas akan disambut dengan serangan senjata tajam, tapi kalau tidak melompat, perahu bakal tenggelam, ya bagaimana pula.

Karena itu si Gelatik Emas ini mengeraskan hati. Tiga orang lawannya yang melompat keatas perahu hitam dikejar cepat. Dia mengikuti mereka dan menjejakkan kaki melayang ke perahu lawan dan ketika tiga orang di atas perahu itu menyambutnya, panglima muda inipun menggerakkan pedangnya, membabat lawan dalam satu gerakan. Tiga senjata dipukul mundur dan dengan selamat dia berhasil menginjakkan kakinya di perahu itu untuk selanjutnya bertempur lagi dengan sengit.

Kini tinggal Cui Ang dan Ceng Han. Gadis itu sedianya hendak mengejar lawannya di perahu yang satu. Tapi dia melihat Teng Hui dan dua orang temannya yang tadi bertanding melawan Ceng Han sekonyong-konyong menjauhkan perahunya agar tidak dapat dilompati pemuda itu. Tentu saja hal ini menyulitkan mereka, namun Ceng Han sudah memandang ke perahu Ma Swi.

"Nona Cui, coba lemparkan papan di dekat kakimu itu kesana. Cepat, aku ingin menghajar jahanam-jahanam itu, sebelum mereka semakin jauh…!" Ceng Han berteriak kepada gadis ini dan sejenak Cui Ang tidak mengerti. Akan tetapi ketika Ceng Han tampaknya sudah tidak sabar lagi iapun melempar sepotong papan seperti yang dimaksudkan barulah gadis itu mengerti.

Kiranya, Ceng Han telah mempergunakan kepandaiannya yang mengagumkan. Papan yang dilemparkan oleh puteri kakek Cui ini tiba-tiba diikuti lompatan tubuhnya dan begitu dia hinggap di alas papan itu tahu-tahu Ceng Han telah menjejakkan kakinya dan berjumpalitan menuju ke perahu Theng Lui! Dengan demikian, pemuda itu telah berhasil mendarat di atas perahu lawan dan ginkang yang demikian ringan serta hebat itu akhirnya mendapat tepuk tangan dari Cui Ang.

"Aih, hebat Souw-kongcu..., hebat sekali! Hajar saja tikus-tikus busuk itu dan tenggelamkan mereka ke sungai….!" Cui Aug berteriak gembira dan gadis itupun tiba-tiba sudah mencontoh Ceng Han, melempar sepotong papan di alas air lalu meloncat dan berjumpalitan menuju perahu Ma Swi yang sudah menjauhkan diri darinya itu.

Tapi murid si Palu Baja ini terpaksa menggeram geram. Maksud mereka yang hendak membiarkan musuh terlempar ke dalam sungai akibat perahu tenggelam itu tidak berhasil. Cui Ang tahu-tahu telah melayang di atas perahunya dan dengan sepasang dayung di kedua tangan gadis itu sudah menerjangnya.

Kini pertempuran pecah lagi. Ceng Han melawan Theng Lui dan dua orang temannya sedangkan Cui Ang menghadapi Ma Swi dalam perahu yang berbeda. Masing-masing tampak bertarung semakin sengit dan Ceng Han yang ingin merobohkan murid Si Pisau Kilat ini tiba-tiba berseru keras dan mainkan Cui-mo Kiam-sutnya, dalam permainan sebatang dayung!

Hebat dan mengejutkan sekali, perobahan yang dilakukan oleh putera Pendekar Kepala Batu ini. Dayung yang tadi banyak bersikap mempertahankan diri itu sekonyong-konyong melakukan serangan gencar. Pisau belati di tangan Theng Lui nyaris terpental bertemu dengan senjata aneh di tangan Ceng Han ini. Maka terkejutlah murid Si Pisau Kitat itu dan melihat bahwa lawannya bertarung sungguh-sungguh diapun lalu berteriak marah dan membentak dua orang temannya agar segera merobohkan lawan yang mengejutkan ini.

Maka terjadilah pertandingan seru yang menegangkan sekali pada kelompok ini. Theng Lui yang tadinya berniat menangkap dan memandang rendah lawannya sekarang terpaksa menggigit jari. Ceng Han bertempur seperti harimau muda yang sedang kelaparan. Dayung panjang di tangannya itu berkelebat membingungkan. Kadang-kadang memang mengemplang atau menyodok seperti layaknya permainan dayung tapi tidak jarang pula gagang dayung yang panjang terus mendadak menikam atau mambabat seperti layaknya sebatang pedang!

Guguplah Theng Lui mendapat serangan bertubi-tubi itu. Bentrok langsung diantara kedua senjata mereka menunjukkan bahwa Iweekangnya masih kalah kuat. Hanya berkat buntuan dua orang teman yang selalu mengerubut Ceng Han itulah dia berhasil menyeelamatkan diri dari serangan bertubi-tubi lawannya. Theng Liu mulai menyiapkan senjata andalannya, belati kecil-kecil yang terselip di pinggangnya dengan sinar mata keji.

Kalau dia tidak sempat menangkap hidup-hidup pemuda itu, biarlah dia membunuhnya. Karena dalam pertempuran seperti ini tinggal dua pilihan yang harus diambil. Terbunuh atau membunuh! Maka ancaman tersembunyi mulai mengintai nyawa Ceng Han karena sama dua orang temannya bertempur saling mendekati maka Theng Lui kemudian mencari akal licik. Pisau-pisaunya tidak boleh meleset, karena kalau meleset berarti bakal mengenal teman sendiri.

Oleh sebab ini laki-laki ini mulai meliarkan matanya dan tiba-tiba kekejian sinar matanya berkilat gembira. Perahu di samping kirinya yang dua orang itu sungguh bagus untuk memecahkan konsentrasi putera Pendekar Kepala Batu ini. Perahu yang dipakai ajang pertempuran oleh puteri Si Belut Emas dan suhengnya, Ma Swi!

Maka begitu dia memperoleh jalan keluarnya tiba-tiba laki-laki ini tertawa aneh. Dayung yang menyambar dikelit ke belakang dan begitu dia melompat sekonyong-konyong tangan kirinya bergerak. Tiga pisau belati menyambar tubuh Ceng Han, dua menuju leher dan dada kiri sedangkan yang nomor tiga meluncur di atas pundak menuju ke sasaran lain, Cui Ang yang kebetulan pada saat itu membelakangi Ceng Han!

Maka tentu saja Ceng Han terkejut mendapat serangan gelap ini. Dua pisau yang menyambar disambut bentakan perlahan dan dayung yang sedianya hendak dilanjutkan menyodok dua orang lawan yang lain terpaksa dialihkan. Dayung ini bergerak menyampok, bukan sembarang menyampok melainkan di buat sedemikian rupa sehingga terpental dan ganti menyambar dua orang teman Theng Lui itu.

Tentu saja hal ini mengejutkan yang bersangkutan, dan karena mereka tidak mengira bakal "dikirimi" senjata gelap itu keduanya tidak sempat mengelak lagi. Dua pisau yang menyambar leher dan dada ini ganti memakan tuannya, dan dua orang pembantu Theng itu menjerit kesakitan, Yang satu persis mengenai urat leher sedangkan yang satu menancap di atas dada di bawah pundak.

"Aduh... oughh!" dua orang itu berteriak dan seketika tubuh mereka terjungkal keluar perahu.

Ceng Han merasa puas, tapi tiba-tiba sebuah jerit kecil mengejutkannya dari kegembiraan. Jerit Cui Ang! Tentu saja Ceng Han terkesiap dan ketika dia menoleh, kiranya pisau ke tiga yang tadi disangka kurang jitu tertimpuk ke arahnya itu telah menancap di pundak kanan Cui Ang!

"Ah...!" Ceng Han terbelalak marah dan sadarlah dia sekarang bahwa pisau itu memang sengaja digunakan untuk Cui Ang. Tadi dia tidak menangkis pisau yang ini dikarenakan pisau itu lewat di atas pundaknya. Dengan begitu dia mem biarkannya saja meluncur di atas tubuhnya dan memperhatikan dua pisau yang lain untuk diputar arahnya menuju ke para pembantu Theng. Siapa sangka, serangan gelap itu agaknya memang ditujukan pada puteri kakek Cui yang sama sekali tidak menyangka bakal mendapat kecurangan seperti itu.

Maka Ceng Han marahnya meledak memenuhi dada. Namun baru saja dia memutar tubuh dan melompat maju tiba-tiba tiga batang pisau kembali menyambar ke arahnya. Itulah timpukan murka Si Pisan Kilat ini. Kontan Ceng Han berteriak melengking dan sekali dia menggerakkan dayung dan kaki kirinya maka tiga pisau terbang itu terpental di udara.

"Tring-trang-plak...!"

Tiga senjata gelap itu runtuh ke bawah dan Meng Lui yang melihat dua kali serangannya berturut-turut ini gagal menjadi pucat mukanya. Laki-laki itu menggeram, kemudian tanpa disangka-sangka dia terjun ke dalam air dan menyelam dengan pisau panjang di tangan kanannya. Ceng Han tertegun, dan jeritan Cui Ang yang kedua kalinya mmbuat dia sadar. Pemuda itu terkejut dan dilihatnya gadis cantik ini terjungkal roboh oleh pukulan tangan miring murid Si Palu Baja. Dan baru dia mau melompat membantu Cui Ang yang roboh, tiba-tiba perahu yang ditumpanginya berguncang keras!

"Heii…?!" Ceng Han kaget bukan main dan sebuah kepala nongol di buritan perahu. Kiranya murid Si Pisau Kilat, Meng Lui yang terjun ke dalam air.

"Ha-ha, putera Kepala Batu, hayo loncatlah ke mari. Kita lanjutkan pertandingan di dalam air!" laki-laki itu tertawa berteriak.

Dan ucapannya yang mengejek ini membuat Ceng Han tergetar. Dia tidak bisa berenang, bagaimana barus menghadapi lawan di dalam air? Maka begitu dia melihat kepala itu di atas air secepat kilat Ceng Han memukulkan dayungnya.

"Pratt…..!' Dayung teranyata mengenai air saja dan Theng Lui keburu menyelam sambil terkekeh meninggalkan gemanya yang mengerikan. Ceng Han tertegun dan keluhan Cui Ang di perahu Ma Swi itu membuat pemuda ini pucat mukanya. Akan tetapi, belum dia berbuat sesuatu tiba tiba saja perahu yang ditumpangi berguncang keras. Celaka! Kiranya Theng Lui hendak membalik perahu agar dia tercebur! Dan bersamaan dengan guncangan perahu yang tersentak kasar ke kanan kiri itu, terdengarlah suara "dak-duk" di lantai perahu.

Kini Ceng Han menjadi gelap mukanya. Ia tahu suara apa itu. Tentu usaha untuk melubangi perahu agar menjadi bocor! Maka begitu dia tahu akan keadaan yang amat berbahaya ini Ceng-Han tiba-tiba berteriak keras. Dayung di tangan di lempar ke atas, dan beegitu jatuh di atas air tiba-tiba dia susuli lompatan tubuhnya yang ringan seperti garuda terbang.

"Plekk!" kaki Ceng Han hinggap di atas papan tanpa bergoyang dan begitu melekat pemuda ini sudah berjungkir balik "melayang" ke perahu Ma Swi.

"Hei ?!" murid Si Palu Baja itu berseru kaget ketika ujung perahunya menerima tubuh Ceng Han dan tepat dia menoleh tahu-tahu tangan kiri Ceng menghantam tengkuknya dengan sisi telapak tangan miring.

Laki-Laki ini terbelalak kaget, namun dengan cepat dia masih sempat menggerakkan martilnya dan melempar tubuh Cui Ang yang baru saja di angkat.

"Plakk!" benturan keras ini membuat keduanya terkejut tapi Ma Swi yang paling kaget sendiri diantara mereka. Martilnya terpental, dan lengan Ceng Han masih menyelonong ke arah pundaknya melakukan totokan kilat.

"Aihh...!" Ma Swi membanting tubuhnya dengan gerakan tiba-tiba dan begitu totokan lewat kakinya menendang lutut Ceng Han dari bawah.

"Dukk..." tendangan itu tepat mengenai sasarannya namun tubuh Ceng Han tidak bergeming. Kiranya, putera Ciok-thouw Taihiap ini telah memasang bhesi yang disebut "Menindih Bumi Seribu Kati" dan begitu lawannya terkejut oleh serangannya tadi diapun sudah melompat maju menerjang Ma Swi yang masih bergulingan! Tentu saja hal ini mengejutkan murid Si Palu Baja itu, dan Ma Swi yang tidak diberi kesempatan untuk melompat bangun ini berteriak marah menangkis sebisanya.

"Plak duk-dukk..!" tiga kali Ma Swi masih sempat menangkis tapi untuk yang terakhir murid Si Palu Baja itu tidak sanggup lagi. Pukulan Ceng Han terlampau gencar baginya, juga tenaga sinkang yang dimiliki oleh putera Pendekar Kepala Batu ini terlalu berat bagi Ma Swi. Oleh karena itu, ketika tangan Ceng Han menyambar kepalanya laki-laki ini tak sempat mengelak lagi. Gerakan itu terlampau cepat bagi Ma Swi, maka begitu kena kontan murid Si Palu Baja menjerit kesakitan dan martilnya terlempar.

"Plak-dess...!" Ceng Han tidak memberi ampun, dan begitu lawan roboh segera kakinya menendang punggung Ma Swi yang segera terlempar ke dalam air.

"Byurr...!" itu mengeluh pendek dan seperti sebatang pisang saja murid Si Palu Baja ini terjungkal ke dalam sungai di telan air yang deras arusnya. Akan tetapi, Ceng Han yang baru saja memenangkan pertandingan dalam gerak cepat ini ternyata mengalami sesuatu yang tidak terduga. Kaki yang telah berhasil melemparkan tubuh lawan ke dalam sungai itu mendadak diserang tiga sinar putih yang berkeredep. Ternyata pisau Theng Lui! Dan Ceng Han yang diserang mendadak ini terkejut. Kontan pemuda itu menarik kakinya dan tiga pisau belati berkelebat di bawahnya. Dia berhasii menghindarkan dengan cepat namun yang terakhir menyerempet kulitnya.

"Brett...!" kain celana Ceng Han robek dan sedikit kulit di bawah lutut tergores luka. "Ahh..!" Ceng Han mengepal tinju dan tiba-tiba dia merasakan kakinya gatal. Karena itu, pemuda ini merah mukanya dan rasa gatal di tempat luka itu mendadak saja menjalar hebat ke lain daerah. Tentu saja Ceng Han terkejut karena kenyataan ini membuktikan adanya gejala racun! Oleh sebab itu Ceng Han lalu membalikkan tubuhnya dan dengan marah dia melihat Theng Lui tahu-tahu sudah melompat naik di atas perahu Ma Swi. Dan bersamaan dengan laki-laki ini berdirilah di ujung satunya dua orang pembantu Theng Lui yang tadi tercebur sungai!

"Ha-ha, singa muda dari Beng-san, lebih baik kau menyerah saja kepada kami daripada mampus menjadi korban pisauku. Ketahuilah, tiga jam setelah terkena luka itu kau tidak bakalan meiihat sinar mitahari lagi kalau tidak cepat mendapatkan obat penawamya. Nah, bagaimana? Kau mandah menjadi tawananku?"

"Iblis keparat jahanam licik, siapa sudi memenuhi permintaanmu? Kalau aku mampus biarlah mampus, akan tetapi kau harus menjadi pengantar dasar neraka dahulu!" Ceng Han membentak geram dan sekali kakinya bergerak tiba-tiba dia sudah menerjang maju tanpa menghiraukan ancaman lawan.

Theng Lui tertawa mengejek, dan terkaman Ceng Han itu disambutnya dengan kilatan pisau panjang di tangan kanan. Ceng Han mengelak, tapi tangan kirinya melakukan gerak (Jari Terbang Mengebut Kipas), salah satu jurus dari ilmu silatnya Cui-mo Kiam-sut yang dilakukan tanpa senjata. Karena itu, Theng Lui yang mendapat serangan ini cukup kaget dibuatnya. Pisau di tangan berhasil dielak sedangkan lawan tahu-tahu telah mengibaskan jari di depan mukanya, persis di dekat hidung. Dan yang lebih berbahaya lagi, dua jari Ceng Han mencuat ke atas hidung mencolok mata!

"Haii....?" Theng Lui berseru kaget dan laki-laki ini cepat melempar kepalanya ke belakang, sementara pisau di tangan kanan menyabet lengan Ceng Han untuk menolong dari ancaman bahaya. Tapi Ceng Han tidak kalah gertak. Begitu serangannya berhasil dihindar tahu-tahu kakinya melangkah maju setindak. Tangan kiri ganti menangkis serangan pisau sedangkan tangan kanannya menampar dada lawan.

"Plak-dukk!" tangan kiri Ceng Han bertemu dengan lengan kanan Theng Lui sementara tangan kanannya tak sempat dielakkan musuh. Tepat sekali dada Theng Lui terpukul dan laki-laki itu mengeluh kesakitan dan terjungkal roboh, Ceng Han melompat maju menyusuli serangannya tapi tiba-tiba lawan mengebutkan lengan malepas pisau sebanyak tujuh buah berurut-turut.

"Cet-cet-cet..!" sinar-sinar yang berkeredepan menyambar tubuh Ceng Han dan Ceng Han berseru keras sambil mengibaskan kedua lengannya. Lima pisau disampok runtuh sedangkan dua pisau yang menuju kedua kakinya ditendang gemas.

Akan tetapi celaka, dalam kemarahannya ini Ceng Han lupa akan kaki kanannya. Kaki itu sudah terluka oleh goresan pisau Then Lui, maka ketika diangkat untuk menendang runtuh pisau yang menyambar ke aranya itu tiba-tiba saja kaku tak dapat digerakkan. Rasa gatal dan panas yang menghebat di kaki kanan ini membuat kaki itu lumpuh, maka ketika pisau yang terakhir ini meluncur Ceng Han tak mampu berbuat apa-apa. Pemuda itu hanya berteriak kaget dan ketika pisau tahu-tahu menancap di atas pahanya Ceng Han mangeluh.

"Cepp...!" pisau kecil itu menancap tak bergerak dan Ceng Han menyeringai pedih. Rasa sakit disertai gatal yang kedua kalinya kembali membuat pemuda itu gelisah, akan tetapi dia sudah cepat mengerahkan sinkangnya membendung menjalannya racun yang tiba-tiba menyengat tajam.

"Ha-ha, setan cilik dari Beng-san, dua kali sudah kau terluka oleh pisauku. Masih tidak mau menyerah?" Theng Lui yang melompat bangun itu tertawa mengejek.

"Jahanam manusia licik, siapa mau menyerah? Biar manpus sekalipun Souw Ceng Han tidak bakalan menyerah. Mampuslah...!" Ceng Han menjadi mata gelap oleh kecurangan ini dan tanpa menghiraukan rasa sakitnya yang kian menghebat pemuda itu tiba-tiba, menerjang maju sambil melancarkan pukulan.

Akan tetapi Theng Lui tersenyum ewah, dan serangan lawannya yang dibakar kemarahan ini dielakkan kesamping. Serangan itu luput, dan Ceng Han tiba-tiba menggigil kakinya. Tubuhnya bergoyang, mirip orang mabok sementara dua orang pembantu Theng Lui yang ada di belakang mendadak melemparkan sepasang jala bertali baja ke arah kaki Ceng Han.

"Crett...!" jala itu tak dapat dihindarkan Ceng Han dan pemuda ini tiba-tiba keserimpat kakinya. Dia terjatuh, dan Theng Lul tertawa gembira.

"Ha-ha, Hu Kie, ringkus dia dengan jalamu. Singa yang lumpuh ini sudah tidak berbahaya lagi. Tarik…!" Tapi baru ucapan itu selesai diserukan sekonyoag-konyong sebuah bayangan hijau berkelebat diiringi bentakan nyaringnya,

"Iblis-iblis busuk, lepaskan dan Cui Ang tiba-tiba menerjang dua orang pembantu Teng Lui itu.

Tentu saja hal ini mengejutkan semua orang, karena mereka tidak menyangka bahwa puteri Si Belut Emas yang tadi roboh di lantai perahu itu mendadak saja bangkit berdiri dan menyerang mereka. Maka dua orang pembantu Theng Lui ini mencelos kaget, dan belum mereka sadar apa yang terjadi tahu-tahu sebatang dayung menyambar lengan mereka.

"Prak-prakk…!" dayung itu menghantam telak dan kontan dua orang ini menjerit kesakitan karena tulang lengan mereka patah! Dan belum jala yang dilepas itu kendur talinya Cui Ang tahu-tahu telah menendang mereka jungkir balik masuk sungai!

"Byur-byurr...!"

Theng Lui terbelalak marah menyaksikan dua orang anak buahnya ini roboh di tangan Cui Ang dan begitu dia sadar ini lalu mengeluarkan bentakan geram dan menyerang Cui Ang. "Siluman betina, berani kau menghajar para pembantuku? Keparat, robohlah kalau begitu!"

Teriakan geram ini disambut Cui Ang dengan satu tangkisan kuat, dan ketika lawan terdorong mundur tiba-tiba gadis ini melompat ke arah Ceng Han yang lumpuh kakinya. Dia tidak banyak bicara, hanya mukanya yang pucat dan tubuh yang sedikit menggigil itu menunjukkan bahwa gadis inipun sebetulnya juga bukan dalam kondisi yang baik. Maka begitu dia berada di dekat Ceng Han gadis ini tiba-tiba membungkukkan tubuhnya dan menyambar Ceng Han sambil berbisik serak,

"Souw-kongcu , kita mencebur dahulu. Tahan napasmu, awas....!" Dan belum lenyap suara ini diucapkan mendadak saja Ceng Han terasa tubuhnya diangkat dan.... "byuurr" air yang muncrat tinggi membasahi mukanya membuat dia gelagapan.

"Nona Cui...!"

Namun seruan pendek ini tidak dapat dilanjutkan. Ceng Han sudah dibawa menyelam oleh gadis itu dan keadaan sekitar gelaplah kini. Pemuda itu tidak tahu apa-apa lagi dan perbuatan satu-satunya yang dilakukan pada saat itu ialah memeluk Cui Ang seerat-eratnya, disusul rasa kejang dan gatal di kaki kanan tidak sadarkan diri bawah rangkulan Cui Ang.

Sementara itu, Theng Lui yang melihat lawannya melarikan diri ini mencak-mencak di atas perahu. Dia memaki kalang-kabut dan siap menyusul ke dalam sungai ketika mendadak sesosok bayangan berkelebat di depannya. Theng Lui mendelik, dan seorang hwesio tinggi besar tahu-tahu telah berdiri di hadapannya dengan sikap tenang. "Kau... siapa kepala gundul?" Theng Lui terkejut tapi dia berusaha membentak dengan muka kaget.

Hwesio itu tersenyum, dan dia mengulapkan tangan dengan sabar. "Orang muda, pinceng pengelana biasa. Lebih baik kau kembalilah, jangan membuat malam yang sudah pekat ini menjadi semakin gelap."

"Hm, kau mengusir?"

"Tidak, tapi untuk kebaikanmu belaka. Kalau kau mau, sampaikan salam pinceng kepada gurumu itu, Si Pisau Kilat."

Theng Lui terbelalak namun karena menganggap hwesio yang tidak dikenalnya ini lancang bicara maka diapun menjadi marah. "Keledai gundul, kau sudah mengenal guruku tapi masih berani omong seperti itu? Keparat, mampuslah kalau begitu...!"

Theng Lui tiba-tiba menyambitkan pisau-pisaunya belasan sinar kecil menyambari tubuh hwesio tinggi besar itu tanpa ampun. Laki-laki ini sudah membayangkan bahwa lawannya pasti akan roboh binasa atau terluka oleh pisaunya tapi alangkah herannya dia ketika melihat orang yang diserang itu sama sekali tidak mengelak. Hwesio ini tenang saja di hadapannya, dan belasan pisau yang menyambar tubuhnya itu dibiarkan saja.

"Cet-cet.... pletak-pletak-pletakk!" Sebelas pisau terbang itu tepat mengenai sasarannya akan tetapi bukan hwesio itu yang berteriak kesakitan melainkan Theng Lui sendiri yang berseru kaget. Apa yang terjadi ini sungguh hampir tak dapat dipercayainya karena semua pisau itu runtuh dan patah-patah mengenai tubuh lawannya ini.

"Kau... siluman....!" Theng Lui memekik ngeri dan sebelum hwesio itu melangkah maju tiba-tiba murid Si Pisau Kilat ini melempar tubuhnya keluar perahu dan mencebur sekenanya.

"Byurr...!" air kembali muncrat ketika ditimpa tubuh Theng Lui dan hwesio itu menarik napas dengan mata dikerutkan. Dia hanya menegeleng kepala sekali kemudian tiba-tiba menotolkan kakinya dan berjalan di atas air menuju perahu yang ditumpangi Si Gelatik Emas!

Tentu saja hal ini akan membuat orang yang melihat bakal mengira bertemu iblis, tapi hwesio yang bersangkutan itu sendiri tampaknya tenang-tenang saja. Dia hanya memandang muram ke perahu yang didatangi ini dan ketika Si Gelatik Emas masih bertempur sengit dengan tiga orang pengeroyoknya pendeta Buddha ini menggeleng-gelengkan kepala.

"Fan-ciangkun, lebih baik sudahi saja keramaian yang tidak menyegarkan ini. Sobat-sobat, kalian pulanglah, jangan bermain senjata tajam..." hwesio itu berseru perlahan ke arah pertempuran dan jubah kirinya "dikibas-kibaskan seperti melerai.

Ajaib! Tiga orang bersenjata yang melawan Si Getatik Emas itu mendadak saja saling mengeluarkah teriakan kaget karena senjata mereka tiba-tiba seakan terenggut oleh sebuah tangan tak tampak yang membuat tiga batang golok itu jatuh berkerontangan dari tangan mereka! Dan bersamaan dengan ini pedang di tangan panglima muda itu tiba-tiba menyambar tanpa ampun ke arah mereka.

"Hai…!"

"Ehh…!"

"Ohh....?!

Tiga orang itu sama-sama berseru tertahan melihat pedang meluncur namun sekonyong-konyong tangan kanan hwesio itu diulapkan ke depan. "Fan-ciangkun, jangan memercikkan darah. Pinceng tidak tahan!"

Seruan itu dibarengi kesiur angin dingin dan Si Gelatik Emas berseru kaget. Pedang yang sudah menyambar mendadak tertahan di tengah jalan, tidak dapat diteruskan lagi dan ketika pemuda baju biru itu menengok tiba-tiba saja dia berteriak gembira. "Lo-suhu...!"

Hwesio itu tersenyum ramah dan dia menganggukkan kepalanya. "Betul, ciangkun, pincenglah orangnya. Nah, simpan pedangmu itu dan biarkan mereka pergi....." belum lenyap gema suara ini diucapkan tiba-tiba tiga orang berpakaian hitam itu "terbang" dikebut jubah menuju ke daratan!

"Haii....?!"

Anak buah Si Palu Baja ini kembali berteriak ngeri akan tetapi tahu-tahu kaki mereka telah tiba di tepi sungai. Dua persis di daratan sana, sedangkan yang ke tiga terlempar ke atas pohon dan nyangkut di atas dahan. Tentu saja hal ini menerbangkan semangat mereka dan tanpa banyak bicara lagi orang-orang itu lari tunggang-langgang setelah menolong temannya yang kesangsang.

Tinggallah kini perahu yang terombang-ambing di atas sungai, sementara pertandingan seru yang berjalan sengit di antara kakek Cui melawan Si Palu Baja masih terus berlangsung. Si Gelatik Emas sudah cepat menjatuhkan diri berlutut di depan hwshsio tinggi besar yang luar biasa itu, lalu keduanya menghampiri pertempuran yang tinggal satu-satunya itu.

Si Palu Baja tidak memperhatikan keadaan sekitar lagi, begitu pula halnya dengan kakek Cui. Masing-masing terlibat dalam pertandingan yang kian memuncak ini dan Fan Li mengerutkan alis melihat percikan darah di pangkal lengan kakek Cui. Nyata kakek itu rupanya terluka oleh pukulan lawan. Karena itu dia lalu memandang iblis dari selatan dan dilihatnya kakek berjenggot panjang ini tampak beringas dengan uap putih mengepul di kepala.

"Lo-suhu, Cui locianpwe terluka…?" Pemuda itu memandang hwesio disampingnya dengan cemas.

Hwesio ini mengangguk. "Tampaknya begitu, ciangkun, akan tetapi tidak berbahaya. Apakah mereka sudah bertanding lama?"

"Betul, lo-suhu."

"Hm, kalau begitu pinceng harus melerainya," hwesio ini tiba-tiba mengangkat kedua lengannya, mendorong perlahan ke tengah-tengah pertempuran dan berseru lirih, "Sahabat Palu Baja, rekan Belut Emas, hentikan permainan yang berbahaya ini. Pinceng datang memisah...!"

Dan bersamaan dengan itu meluncurlah kekuatan tenaga yang amat dahsyat menderu ke tengah pertandingan. Fan Li terbelalak ketika tiba-tiba air sungai muncrat tinggi seperti dipukui tangan raksasa dan dua orang tokoh besar yang sedang bertanding itu sekonyong-konyong terdorong minggir.

"Ihh…!" Fan Li tertegun dan pemuda ini memandang takjub.

Palu Baja dan kakek Cui sama-sama berseru keras dan dua orang tokoh tua itu serentak menoleh kerarah mereka. Dan begitu melihat hwesio tinggi besar itu dua orang ini mengeluarkan teriakan berbareng. Hanya bedanya, kalau kakek Cui beteriak girang, adalah Si Palu Baja itu berteriak kaget.

"Leng Kong Hosiang…..!"

Seruan itu cukup menggetarkan suasana dan wajah si iblis selatan itu tampak berobah. Dia sama sekali tidak mengira akan berjumpa dengan hwesio ini, maka tentu saja kehadiran dari hwesio besar itu mengejutkannya. Akan tetapi hwesio yang dipanpgil Leng Kong Hosiang ini sendiri tampak tenang-tenang saja dan dia malah memandang sambil tersenyum ke arah si Palu Baja.

"Sahabat Palu Baja, kau sudah mengenal pinceng. Omitohud, semoga pinceng tidak mengobarkan kemarahanmu yang berlarut-larut. Malam demikian dingin, mengapa harus bertempur segala?"

Pala Baja mendelik. "Keledai gundul, apakah kau hendak mengeroyokku? Kalau begitu majulah, jangan berpura-pura mengeluarkan omongan manis!"

Hwesio yang dimaki tersenyum sabar. "Sahabat Palu Baja, pinceng tidak bermaksud seperti itu. Hanya kuminta kendalikanlah kemarahanmu itu dan pergilah. Sekali permusuhan tertanam sukar untuk dicabut. Bukankah kau perlu menolong murid-muridmu?"

Palu Baja teringat. Ucapan ini membuat dia cepat memandang sekeliling dan ketika disadarinya bahwa pertempuran di lain tempat sudah berhenti dan murid serta anak-anak buahnya tidak ada lagi di situ membuat iblis tua melotot gusar. "Keledai gundul, kau apakan murid-muridku?"

Hwesio ini menarik rapas panjang. "Mereka pergi dengan caranya sendiri-sendiri, sobat. Siapa yang menyakiti mereka?"

"Hm, kalau begitu kau hendak menyuruhku pergi dengan caraku sendiri pula?"

"Kalau itu sudah menjadi kehendakmu," hwesio ini tersenyum sabar.

"Baiklah!" Palu Baja menggeram. "Lain kali bertemu dalam suasana yang lebln tepat lagi, keledai gundul!"

Palu Baja membalikkan tubuh namun tiba-tiba tangannya bergerak. Fan Li tidak melihat apa yang disambitkan oleh iblis berjengpot panjang itu akan tetapi di sampingnya ini tampak mengebutkan lengan jubahnya.

"Critt..!" suara kecil seperti Benda terjepit itu hanya terdengar suaranya saja oleh Fan Li, akan tetapi kakek Cui tampak memaki gusar,

"Palu Baja, kau benar-benar manusia curang yang tidak tahu malu sama sekali. Apakah nama besarmu cukup dinilai seperii perbuatanmu yang hina ini?"

Palu Baja tertawa mengejek. "Orang she Cui, jangan mentang-mentang kau memperoleh teman. Kau kira nyawamu tidak di ujung rambut? Huh, hwesio bangkotan itupun juga akan mampus tidak lama lagi. Kenapa harus pentang bacot?'

Kakek Cui hendak melompat maju namun Leng Kong Hosiang mencegahnya, "Cui-sicu, jangan ladeni dia. Awas senjata gelapnya...!" dan kakek itu tiba-tiba kembali mengebutkan jubah.

"Critt...!" Kakek Cui memekik kaget ketika sekonyong-konyong sinar hitam menyambar mukanya. Tapi baru dia menunduk sambil menggerakkan tangan tahu, tahu-tahu benda itu sudah menancap di jubah Leng Kong Hosiang.

"Ibis curang!" kakek Cui memaki marah, namun hwesio tinggi besar itu tersenyum sabar. Dia tidak seperti kakek nelayan ini yang marah-marah terhadap lawannya, akan tetapi membuka gulungan lengan bajunya dan memperhatikan sesuatu. Sekaranglah Si Gelatik Emas itu tahu. Kiranya sebuah bintang berduri yang tengahnya berbentuk pelor!

"Ihh…..!" pemuda itu mengerutkan keningnya.

Dan Leng Kong Hosiang tampak menarik napas panjang, "Berbahaya... sungguh berbahaya...! iblis selatan itu tak boleh dibuat main-main. Fan-ciangkun, tahukah kau berbahayanya senjata gelap macam ini"

Fan Li terbelalak. "Tentu saja, lo-suhu! bukankah senjata itu mengandung racun? Lihat, ujung berdurinya yang mengkilat kehijauan itu jelas membuktikan bisanya yang ganas!"

Akan tetapi hwesio ini tertawa lemah. "Bukan itu saja, ciangkun, namun masih ada yang lebih hebat lagi. Lihatlah…" kakek ini tiba-tiba melemparkan benda itu ke sebuah pohon dan begitu mengenai dahannya tiba-tiba terdengarlah ledakan kuat disusul asap hitam yang pekat tebal. "Darr...!" dahan pohon itu patah hancur diiringi suara hiruk-pikuk yang ramai disusul tumbangnya pohon sepelukan orang dewasa itu.

"Ahh...!" Fan Li berteriak kaget dan sekaranglah dia tahu benar senjata gelap macam apa yang telah diterima oleh hwesio sakti itu. Kiranya am-gi yang benar-benar amat berbahaya. "Keji…!" akhirnya pemuda itu mengeluarkan suara dan Leng Kong Hosiang menganggukkan kepalanya.

"Tidak salah, ciangkun, memang senjata keji dan ganas. Dan kalau tadi pinceng tidak waspada barangkali kita sudah menjadi seperti pohon itu. Aih, sahabat she Cui, apakah kau merasa yakin bahwa jejak kita bermula dari sini?"

Hwesio itu menoleh ke kiri dan kakek Cui memandang tegas, "Tidak salah, loheng. Apa yang kita cari memang berawal dari sini. Gelatik Emas, coba kau perlihatkan peta rahasia itu kepadanya!"

Fan Li merasa heran akan tetapi dia sudah cepat memenuhi permintaan ini. Rahasia peta Kuil Hitam diserahkan kepada hwesio besar itu, dan ketika hwesio ini menerimanya temyata dia tidak metihat peta itu melainkan membalik permukaan sebelahnya jang kosong. Hal ini membuat pemuda tercengang keheranan dan kakek Cui rupanya juga mengalami hal yang sarga. "Eh, loheng, kenapa mengamati halaman yang kosong?" kakek iti berseru heran. Tapi hwesio ini tidak segera menjawab. Dia mengamati dengan teliti seluruh permukaan halaman itu dan baru setelah dia mendapatkan suatu yang dicarinya tiba-tiba hwesio ini tersenyum girang,

"Ah, tidak salah, sahabat she Cui. Ini memang peta aslinya. Dari mana kau bisa memperolehnya?"

Kakek Cui memandang gembira. "Dari Liek-kauwsu, loheng. Apakah kau kira peta itu tadinya palsu?"

Hwesio ini tiba-tiba terbelalak. "Liok-kauwsu...?" serunya terkejut. "Jadi guru silat itu yang memberikan peta ini kepadamu, sicu?"

Ganti kakek Cui yang menjadi kaget. "Ya! Kenapakah, loheng?"

Mendadak hwesio itu menyebut nama Buddha, "Omitobud, sungguh tidak kita duga! Aih, Cui sicu, apakah kau tidak tahu nasib guru silat she Liok itu? Dia sekarang sudah tewas, pinceng ketemukan dia di luar hutan pantai timur."

"Haa..?" kakek Cui berseru kaget dan tiba-tiba saja wajah kakek ini berubah. "Dia tewas, loheng...?"

Hwesio itu mengangguk muram. "Begitulah sobat. Liok-kauwsu tewas oleh senjata ini...." kakek itu merogoh bajunya dan sebuah benda seperti paku berulir dikeluarkannya.

Dan begitu kakek Cui melihat apa yang dipegang oleh hwesio itu sekonyong-konyong dia berteriak tertahan. "Toat-beng-cui....!"

Leng Kong Hosiang tertawa getir. "Tidak salah, sahabat she Cui. Am-gi inilah yang telah merenggut nyawa Liok-kauwsu. Setelah sekarang pinceng tahu duduk persoalannya jelaslah sudah. Kiranya Liok-kauwsu telah mendapatkan peta rahasia itu dan untuk ini dia terpaksa mempertaruhkan nyawanya yang mahal. Hem, sungguh menyedihkan...."

Kakek itu mengebutkan jubah dan Si Belut Emas serta Fan Li tertegun. Memang, apa yang mereka dengar ini sungguh mengejutkan sekali, karena mereka tidak mengira bahwa guru silat she Liok itu bakal terbunuh di tangan seseorang. Dan yang lebih hebat lagi, pembunuh yang telah melakukan pekerjaan ini adalah seorang iblis yang jauh lebih mengerikan dibanding Si Palu Baja. Seorang tokoh misterius yang diam-diam membuat hati mereka kecut!

Tapi tiba-tiba si nelayan Cui Lok ini tersentak kaget. "Eh, loheng, di mana puteriku?"

Dan Fan Li juga terkejut, "Eh…, dan di mana Pula Souw Han-te?"

Dua orang itu tampak kaget bersamaan dan hwesio tinggi besar ini ikut terkejut. "Ah, seorang pemuda dan gadis cantik berbaju hijau, Cui-sicu?"

Kakek Cui mengangguk. "Ya, mereka itu! Di mana sekarang?" kakek ini menoleh cemas dan Leng Kong Hosiang menarik napas menyesal.

"Aih, kenapa pinceng membantu setengah hati? Maaf, sahabat Cui, tadi pinceng mengira mereka itu orang lain, karena itu ketika melihat mereka terutama puterimu diserang murid Si Pisau Kilat pinceng hanya mencegah kecurangan yang terjadi didepan mata. Puterimu itu tampak memondong sang pemuda, agaknya terluka, dan karena murid Si Pisau Kilat hendak menyerang mereka berdua maka pinceng turun tangan. Siapa tahu, mereka adalah orang-orang sendiri, maklum, pinceng hanya mengenal Fan-ciangkun dan engkau pribadi, Cui-sicu?"

Kakek Cui memandang pelisah. "Lalu kemana mereka sekarang, loheng? Dan apakah puteriku juga terluka?"

Hwesio itu tampak semakin menyesal. "Agaknya begitulah, sobat Cui. Kulihat mukanya pucat dan sedikit menggigil ketika menunggui temannya. Siapakah pemuda itu?"

"Dia adalah putera Beng-san-paicu (ketua Beng-san-pai)?"

"He? Putera Ciok-thuw Thaihiap?"

"Benar. Dan dia hendak membebaskan adiknya bersama kita menuju ke Kuil Hitam...!"

"Ah...!" Leng Kong Hosiang tertegun dan tiba-tiba hwesio ini mengebutkan jubahnya. "Kita secepatnya mengikuti arus sungai ini. Puterimu itu menceburkan diri ketika diserang. Baiklah.., pinceng mendahului kalian kalau begitu...!"

Dan belum suaranya lenyap hwesio tinggi besar itu mendadak melangkah lebar ke depan dan.... meluncur di atas air seperti siluman terbang. Fan Li, terbelalak melihat kesaktian kakek itu akan tetapi ketika dia memandang ke bawah mengira hwesio itu dibantu semacam trompah atau papan pengayuh tiba-tiba berseru keheranan. Ternyata, hwesio kosen itu sama sekali tidak mempergunakan apa-apa selain sepatu rumputnya yang beralaskan jerami kering!

"Ihh....!" pemuda itu terbengong takjub saking kagumnya dan kakek Chi menegur perlahan,

"Fan-ciangkun, jangan membelalak saja. Mari kita susul dia mencari jejak. Ayolah...!" lengan pemuda itu disambar Si Belut Emas dan Fan Li terkejut.

Dia tidak melihat bayangan hwesio tinggi besar itu lagi karenanya diapun menurut saja dibawa kakek nelayan she Cui ini mengejar Leng Kong Hosiang, perahu satu-satunya yang ada di situ mereka pergunakan, dan kakek Cui Lok yang tidak mau membuang tempo itu sudah menyambar dayung dan menggerakkan perahu meninggalkan Tikungan Segi Tiga yang habis mereka pergunakan sebagai ajang pertempuran itu.

Diam-diam Fan Li berdebar gelisah. Lenyapnya Cui Ang bersama Souw Ceng Han itu cukup mencemaskan hatinya, apalagi kalau diingat bahwa mereka berdua itu terluka seperti keterangan Leng Kong Hosiang. Dan teringat akan munculnya hwesio sakti ini dia merasa heran. Apakah kebetulan saja atau karena memang sudah ada janji dengan kakek Cui sehingga hwesio kosen itu datang tepat pada waktunya?

Pemuda itu tidak mampu menjawab pertanyaan ini dan karena kakek Cui sendiri kelihatannya gelisah diapun juga tidak banyak tanya. Perahu terus melaju ke arah selatan sementara kedua orang itu sama-sama sibuk oleh pikirannya sendiri-sendiri yang diamuk bermacam persoalan.

* * * * * * * *

Matahari sudah naik di angkasa ketika sesosok tubuh muncul di atas permukaan air. Sebuah kepala mula-mula nongol, lebat dengan rambutnya yang panjang kehitaman, lalu disusul oleh kepala lain yang terkulai lemas di atas pundaknya.

Itulah Cui Ang, puteri Si Belut Emas Cui Lok bersama Ceng Han! Gadis ini tampak letih, capai kepayahan dengan muka yang semakin pucat. Lengan yang memeluk Ceng Han tampak gemetar kedinginan, namun gadis ini masih tetap mencekal erat pemuda di pondongannya itu. Semalam suntuk dia berjuang keras, melawan arus Sungai Huang-ho di Tikungan Segi Tiga. Dan kini setelah bumi menjadi tenang muncullah dia di permukaan sungai.

Cui Ang memburu napasnya. Tubuhnya menggigil, tapi tekadnya yang kuat membuat gadis itu seperti dihuni semangat yang berapi-api. Pergulatan maut di dalam air semalam suntuk itu sungguh mengerikan hatinya. Bukan ngeri untuk dia sendiri melainkan ngeri untuk diri pemuda di sampingnya itu. Tiga kali Ceng Han lepas dari tangannya, dan tiga kali itu pula dia hampir menyerah kalah.

Arus Sungai Huang-ho yang ganas membuat gadis itu hampir menyerah kalah. Akan tetapi untunglah, sambil menggigit bibir, dewa sungai rupanya masih menaruh rasa iba kepadanya. Dan Ceng Han yang lepas terguling-guling di dalam air itu masih sempat pula disambarnya, Kini mereka sudah berada jauh dari Tikungan Segi Tiga, dan Cui Ang yang semalam berjuang menyelamatkan nyawa pemuda dari Beng-san ini merasa penat tubuhnya. Dia tidak haus, karena berkali-kali air sungai terpaksa mencegluk ke dalam kerongkongannya. Akan tetapi tenaga yang dikuras habis-habisan semalam suntuk itu benar-benar melelahkannya.

Kini Cui Ang mengeluh kepayahan. Batu-batu sungai yang berserakan di tempat itu mengakibatkan kakinya terantuk berkali-kali. Tidak sampai membuatnya jera, namun cukup sakit dan ngilu setiap kali berbenturan. Apalagi dengan menggendong seorang laki-laki muda seperti Ceng Han yang cukup berat itu benar-benar membuatnya kehabisan tenaga.

Cui Ang melangkah naik, menuju tepian sungai sementara pemuda di pondongannya itu masih tergolek diam di atas pundaknya. Dia hendak maksud mencari sebuah goa, akan tetapi dataran berpasir batu melulu itu rupanya menghampar luas tanpa pelidung. Hal ini mempuat Cui Ang bingung, namun untunglah sebuah gunug di tengah tegalan gersang tiba-tiba tampak di kejauhan sana.

Cui Ang melangkah naik, menuju tepian sungai sementara pemuda dipondongnya itu masih tergolek lemah di atas pundaknya. Gadis itu menjadi girang, dan tanpa banyak bicara lagi iapun lalu melompat mengerahkan ginkangnya menuju tempat itu. Suasana yang lengang dan gersang itu memberikan harapan baginya bahwa di dalam gubuk itu pasti tidak ada orang. Maka dengan semangat berapi dia menghampiri tempat satu-satunya ini dengan cepat.

Dan akhirnya tidak sampai sepeminuman teh lamanya tibalah Cui Ang di gubuk itu. Memang benar, tidak ada orang di dalam! Cui Ang menjadi lega dan tiba-tiba pemuda di pondongannya mengerang. Cepat gadis itu meletakkan Ceng Han di lantai gubuk dan terkejutlah dia ketika mengetahui betapa tubuh pemuda ini panas seperti di bakar api.

"Ihh…!" Cui Ang mengerutkan kening dan setelah sekarang mereka bebas dari pertempuran di atas sungai barulah gadis itu melihat adanya sebuah pisau yang menancap di pangkal paha Ceng Han! Cui Ang mengepal tinju dan dengan muka merah melihat belati kecii itu. TIdak seberapa dalam lukanya, namun mata pisau yang hijau kehitaman cukup membuatnya gelisah. Dia sendiri sudah mencabut pisau yang menancap di pundaknya, dan dia merasa lega bahwa pisau yang disambitkan oleh murid Si Pisau Kilat itu tidak beracun. Hanya luka biasa yang dialaminya. Karena itu iapun sudah memberikan obat luka di atas pundaknya itu.

Akan tetapi pemuda. Ah, wajah yang pucat dan darah kering yang mengental hitam di atas paha itu benar-benar berbahaya sekali. Da tidak tahu racun macam apa yang mengendap di tubuh pemuda itu, akan tetapi Cui Ang tidak berani membuang tempo lagi. Dan sekarang tampaklah olehnya sebuah luka lain. Hanya goresan kecil saja di bawah lutut, akan tetapi sudah membengkak seperti telur angsa!

"Jahanam…..!" Cui Ang memaki geram dan cepat dicabutnya sebuah tusuk rambut di atas kepalanya. Lalu dia mencabut sehelai saputangan dan tanpa banyak cakap lagi bagian yang bengkak di bawah lutut ditusuknya.

"Cuss....!" darah hitam tiba-tiba mengalir deras dan kaki Ceng Han meronta kesakitan. Pemuda itu mengeluh dan agaknya rasa sakit yang amat sangat ini membuat pemuda itu mengaduh sadar. Seketika Ceng Han membuka mata dan begitu dilihatnya puteri kakek Cui berada di sampingnya dan menyingkap pipa celananya mengeluarkan darh beracun, Ceng Han menjadi terkejut dan kikuk.

"Nona Cui…!"

Akan tetapi Cui Ang tidak menghiraukan seruan lirih ini, menengok sekejap lalu menjawab, "Souw-kongcu, harap tahan rasa sakitnya. Aku hendak membersihkan sisa-sisa racun di kakimu ini!" gadis ini memercet luka sekerasnya dan Ceng Han hampir saja menjerit kesakitan.

"Aught…..!" pemuda itu menjadi pucat dan bibir bawah digigit kuat-kuat. "Nona Cui, perlahan sedikit, uhh... tubuhku panas sekali.... ohh, haus.... aku haus….!"

Ceng Han menahan rintihannya dan dia melihat betapa luka di bawah lututnya itu mengucurkan darah hitam berbau busuk. Dia menjadi ngeri, tapi sekaiigus juga likat dan kikuk. Karena itu dia mencoba untuk bangkit duduk membantu gadis itu namun dia mengeluh. Pangkal paha sakit bukan kepalang, nenusuk pedih sampai ke tulang sumsum dan baru sekaranglah dia sadar bahwa di samping luka yang kini sedang diobati Cui Ang itu ada sebuah luka lain yang gawat. Tancapan piau di atas paha!

"Ouhh....!" Ceng Han terbelalak dan Cui Ang tiba-tiba menyentuh pundaknya.

"Souw kongcu, jangan bangkit dulu. Tubuhmu masih belum bebas dari racun. Bersabarlah, aku hendak mengurasnya sampai bersih." Ucapan itu mengingatkan Ceng Han akan sesuatu dan tiba-tiba pemuda memandang pundak gadis itu.

"Nona Cui,..." bukaukah kau juga terluka oleh sambitan pisau Theng Lui?" "Tidak perlu dirisaukan, kongcu, aku lain dengan lukamu. Jahanam itu rupanya menyambitkan pisau yang berlainan jenisnya."

"Maksudmu?"

"Pisau yang dilemparkan ke arahku tidak beracunl"

"Ohh...!?" Ceng Han merasa heran dan Cui Ang mengambil bungkusan obat seraya memandangnya.

"Kenapa, kongcu?"

"Tidak apa-apa…" Ceng Han tiba-tiba menjadi gugup dan secara tidak sengaja dia mengamati lengan orang. Jari-jari yang agak gemetar itu mengejutkanya dan ttba-tiba Ceng Han mengangkat kepdanya. "Nona Cui, tanganmu itu..., mengapa menggigil?"

Cui Ang tersentak kaget. Sebenarnya dia juga merasakan sesuatu yang tidak enak di tubuhnya, akan tetapi agar pemuda itu tidak melihatnya maka ia berpura-pura tidak apa-apa. Siapa sangka, putera Beng-san-paicu ini agaknya memiliki mata yang awas. Maka tentu saja ia terkejut oleh pertanyaan itu, namun gadis yang tidak ingin membuat pemuda itu gelisah oleh keadaaanya sendiri cepat-cepat menekan guncangan jantungnya dan mengerahkan singkang. "Aku, eh.... aku tidak apa-apa, kongcu, hanya sedikit lelah."

"Akan tetapi, mukamu itu, nona Cui.... kenapa berubah?" Ceng Han menjadi heran dan pemuda ini sekonyong-konyong terkejut. "Nona Cui, kenapa mukamu kehijauan?"

Seruan tiba-tiba ini meledakkan guncangan di perasaan Cui Ang dan gadis itu hampir saja terpekik kaget. Dia memang merasa mukanya seperti dibakar, panas dan tidak enak sekali dan teriakan Ceng Han itu membuat dia pucat sekali. Akan tetapi Cui Ang tiba-tiba mengeraskan hatinya. Dia sadar sekarang bahwa pisau yang dikira biasa itu ternyata juga mengandung racun. Hanya jenisnya yang barangkali berbeda dengan racun yang mengenai Ceng Han, kalau tidak boleh dikatakan halnya mengingat dia masih sempat bertahan mempergunakan sinkang sedangkan pemuda itu tidak, karena sudah roboh pingsan.

Maka Cui Ang lalu menggigit bibirnya, dan karena dia sudah berketetapan menolong jiwa dari putera Beng San paicu ini, sebelum dia sendiri roboh pingsan, gadis itu tiba-tiba membentak, "Souw kongcu, jangan bicara yang tidak-tidak. Kau sedang diserang racun, penglihatanmu kabur, maka mana bisa melihat orang dengan jelas? Sudahlah, tutup mulut dan jangan banyak bicara lagi!"

Bentakan ini membuat Ceng Han tertegun dan tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing. Entah mengapa sikap kasar dari puteri kakek Cui ini meninggalkan luka perasaan nyeri di hatinya. Ia mengeluh dan Cui Ang tidak peduli lagi. Kepalanya yang pusing itu mendadak berputar. Dan Ceng Han tiba-tiba merasakan denyutan aneh diatas kepala yang tidak karuan rasanya itu.

"Nona Cui..." Ceng Han menahan seruannya. Sedianya dia hendak mengucapkan sesuatu, tetapi mendadak diurungkan karena teringat bentakan tadi. Dia tidak jadi bicara dan Cui Ang juga tidak menghiraukan panggilannya itu. karena itu Ceng Han lalu diam tak berkata apa-apa dan kepalanya semakin berputar rasanya ini sekonyong-konyong menghebat. Ceng Han mengeluh dan tiba-tiba kakinya menghentak kaget ketika Cui Ang menaburkan bubuk obat kedalam luka dibawah lututnya.

"Aduh…..!" pemuda itu tak tahan berteriak dan perasaan pedih serta nyeri yang amat sangat menusuk tulangnya. Rasa panas yang luar biasa membuat Ceng Han seperti dibakar dan sebelum dia berteriak untuk yang kedua kalinya tiba-tiba tubuh pemuda itu mengejang dan roboh pingsan!

"Ihh…!" Cui Ang terkejut melihat pemuda itu tak sadarkan diri dan gadis ini menjadi gelisah. Dia menaburkan bubuk Sari Bunga Pek pada luka yang membengkak itu. kenapa Ceng Han pingsan? Apakah bubuk obatnya tidak cocok? Gadis ini menjadi pucat sendiri dan ketika dia menyentuh dahi yang panasnya luar biasa itu, Cui Ang benar-benar gelisah. Menurut ayahnya, bubuk Sari Bunga Pek merupakan obat penawar bisa yang sangat manjur, terutama bagi segala macam bisa yang berasal dari racun ular. Lalu kenapa pemuda itu pingsan begitu menerima obatnya? Apakah racun yang mengeram di tubuh putera Beng San paicu ini bukan dari racun ular?

Cui Ang terbelalak ngeri dan dia memandang wajah pemuda itu. pucat, akan tetapi juga bersemu kehijauan. "Ihh…! Cui Ang terkejut melihat warna kehijauan itu karena sekaligus teringat ucapan Ceng Han ketika tadi menyaksikan mukanya sendiri! Karena itu gadis ini menjadi beringas, dan kemarahannya terhadap Teng Lui benar-benar menyesakkan dadanya. Dia menjadi marah akan tetapi juga bingung dan sejenak Cui Ang tertegun di tempatnya. Dan tiba-tiba suasana yang menggelisahkan hati ini dikejutkan oleh berkelebatnya sebuah bayangan yang bercowetan seperti kera.

"Kerr… jiehh… kau siapa nona cilik?"

Cui Ang tersentak oleh teriakan itu, dan tahu-tahu seorang laki-laki berambut riap-riapan telah berdiri di depannya. Cui Ang melompat kaget, namun tiba-tiba tubuhnya terhuyung. "Kau... kau... siapa....?" Cui Ang bertanya gemetar dan gadis ini benar-benar terkejut melihat kehadiran seekor mahluk yang belum pernah dilihatnya seumur hidup itu. Dikatakan manusia, agaknya kurang tepat, tapi disebut binatang juga kurang mengena. Maka Cui Ang menganggapnya sebagai 'mahluk‘ begitu saja dan pendatang aneh ini terkekeh.

"Hiehh… Kerr….! Kau keracunan nona? Kenapa mundur-mundur? Hai aku bukan siluman jahat, aku orang biasa seperti kau ini! ha-ha, kau meriang ya? Wah, cukup gawat! Tubuhmu menggigil, kakimu seakan lumpuh dan... heii! Pemuda itu juga menderita keracunan yang sama! Uwah, ulah siapa ini? keparat, kenapa kau harus bertemu denganku, anak-anak? Sialan, ini berarti Dewa Monyet dapat kerjaan! Hah, berapa kau berani bayar nona cilik?"

Kakek itu mencak-mencak dan Cui Ang tertegun. Disebutnya nama Dewa Monyet itu membuat gadis ini tersentak, namun sepercik kegirangan tiba-tiba mendebarkan jantungnya. Ia memang belum pernah bertemu dengan orang yang berjuluk Dewa Monyet (Kauw Sian) ini, akan tetapi nama besarnya pernah ia dengar sepintas lalu.

Karena itu meskipun ia cukup terkejut melihat kehadiran tokoh kera ini, akan tetapi secercah harapan tiba-tiba timbul dihatinya. Ia pernah mendengar tentang beberapa keanehan atau kelebihan dari tokoh ini, antara lain tentang kemahirannya mengobati luka-luka beracun. Dan tadi tebakan tentang keadaan dirinya itu, ah… betapa cocok sekali! Ia memang merasa meriang, tubuhnya menggigil dan kakinya seakan lumpuh! Maka siapa tidak bakal terkejut dan girang?

Cui Ang sendiri sudah terbelalak gembira mendapatkan pertemuan itu, dan tanpa terasa kakinya tiba-tiba terjatuh berlutut. Gadis ini merasa gemetar, namun ia masih ingin menegaskan keyakinannya yang meluap. "Locianpwe, kau… benar Dewa Monyet yang terkenal itu?"

Kakek itu terkekeh aneh. "Hiehh, tidak percaya omonganku, gadis cilik? Apa di dunia ini ada dua orang Kauw-sian? Kerr, jangan sembarangan kau bicara, nona. Sekali aku marah, tentu anak buahku bakal mengerubutimu sampai telanjang! Hehh, apa kau suka ditelanjangi?"

Wajah seperti monyet itu menyeringai galak dan Cui Ang terkejut. Belum ia pulih rasa kagetnya, sekonyong-konyong kakek itu bersuit nyaring dan berkeplok tiga kali. Aneh, dari jauh tiba-tiba terdengar keplokan balasan dan cecowetan nyaring seperti monyet marah membuat Cui ang tertegun. Empat bayangan muncul dari tempat berbeda-beda, maka gadis itu terbelalak melihat munculnya empat kera besar yang berlompatan ke arah mereka.

"Aihh....!" Cui Ang berseru tertahan dan empat monyet besar itu sekejap saja tahu-tahu telah berada di hadapannya. Mereka terdiri dari empat kera sebesar anak belasan tahun, dan kera paling besar berbulu coklat yang berada paling depan itu bercecowetan nyaring sambil membawa bermacam-macam buah...!