PENDEKAR KEPALA BATU
JILID 04
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Kepala Batu
PEMUDA itu mendengus, dan tiba-tiba dia mencabut caping bambunya. Kini tampaklah seluruh wajah yang gagah dan ganteng itu, dan Ceng Bi menjadi bengong. Meskipun gadis ini tahu bahwa pemuda tinggi besar itu tampan, akan tetapi sekarang, begitu pemuda ini melepas caping bambunya yang aneh itu, tampaklah sebuah wajah yang bersinar agung dan penuh wibawa.

Ceng Bi tertegun, dan gadis ini bengong seperti orang kena hikmah. Ia terpaku di tempatnya dengara mata tidak berkedip. Padahal pada saat itu, semua anak buah Hiat goan-pang sudah melompat maju dengan gelang-gelang mereka yang berkerincingan. Sebagian besar menyerbu pemuda yang gagah perkasa itu namun sebagian lagi menyerang gadis ini.

Maka kagetlah Ceng Bi ketika tiba-tiba ia mendengar kesiur angin di belakang tubuhnya. Gadis jadi terkejut, dan secepat ia membalik sambil berseru keras. Pek-ong-kiam digerakkan setengah lingkaran dan sinar putih terkelebat menyambut datangnya empat orang yang menyergapnya berbareng itu.

"Trang-trang-trang-trang!"

Bunga api berpijar dan empat orang itu berteriak kaget. Gelang-gelang mereka tertebas kutung dan sebelum mereka melompat mundur, tahu-tahu sinar putih itu telah menyambar mereka dengan babatan miring! Empat orang ini terkesiap namun merekapun bukanlah orang-orang yang gampang dirobohkan begitu saja. Karena itu, meskipun melompat mundur sudah jelas tidak keburu lagi namun mereka ini masih cukup cekatan.

Dengan membanting tubuh bergulingan empat orang ini lobos dari sambaran pedang dan hanya seorang saja yang sedikit terlambat. Dia kurang cepat membanting tubuh dan pundak kirinya terkerat sedikit. Orang ini menjerit kecil, akan tetapi dia, sudah melompat bangun dengan muka pucat. Kini mereka telah berhadapan lagi secara berdepan dan kiranya mereka itu bukan lain adalah tiga orang muka hitam yang pertana kali mengganggu Ceng Bi di rumah makan Tiang-an. Hek-bin Sam-houw dan seorang temannya!

Ceng Bi mendengus marah namun tiga orang Harimau Hitam itu telah mendahuluinya. mereka telah menyerangnya dengan senjata rahasia gelang-gelang kecil yang beracun dan mengingat dia tidak boleh tersentuh benda-benda ini maka Ceng Bi memutar pedangnya menangkis cepat. Suara nyaring benturan logam terdengar berkali-kali dan belasan gelang-gelang kecil yang disambitkan Hek-bin Sam-houw mencelat jatuh. Akan tetapi simpanan seniata rahasia ini agaknya luar biasa banyak dan Ceng Bi menjadi marah sekali. Apalagi setelah orang ke empat juga ikut membantu.

Mereka ini menyerangnya seperti hujan dan sinar-sinar merah tiada hentinya menyambar tiba. Karena itu, Ceng Bi lalu memekik gemas dan gadis ini mulai berputaran dengan ginkangnya. Kadang-kadang ia melompat ke arah Hek-bin Sam houw, namun kadang-kadang mendekati orang ke empat yang selalu membokongnya dari belakang itu. Kini mulailah bayangan merah beterbangan dari satu tempat ke tempat lain sementara hujan senjata rahasia masih terus berlangsung.

Ceng Bi memekik-mekik, akan tetapi empat orang lawannya selalu main kucing-kucingan. Kalau ia menyerang yang satu, selalu yang lain membokong dari belakang. Dan kalau ia berputar ke belakang, maka yang lain akan menyerangnya dari arah berlawanan. Gelang-gelang kecil sudah berjatuhan di atas tanah, dan banyaknya tidak kurang dari lima puluh buah. Dan setiap kali itu pula mereka memercikkan bunga api disusul sedikit asap.

Dan justru asap inilah yang bahayanya tidak diketahui Ceng Bi. Gadis itu tidak sadar, betapa asap dari potongan-potongan logam ini juga mengeluarkau bau beracun dan baru Ceng Bi terkejut setelah kepalanya pusing-pusing ketika hidungnya mencium bau aneh yang amat ganjil.

Ceng Bi terkejut, dan ia tidak mengerti mengapa keadaannya menjadi seperti itu. Dia tidak tahu bahwa gelang-gelang berdarah yang ditangkisnya ini memang aneh karena selain direndam racun, gelang-gelang itu akan menguap secara perlahan-lahan karena logamnya dicampuri bubuk penyebar tulang! Inilah sebabnya mengapa gadis itu mulai terpengaruh.

Hiat-goan-pangcu adalah tokoh-tokoh hitam dari kelompok Mo-san Ngo-yu, karena itu, masalah racun dan pekerjaan hitam bagi mereka adalah permainannya. Maka tidak heran apabila dari dua orang kakek ini dapat muncul semacam senjata rahasia yang lain daripada yang lain. Logam dari gelang-gelang merah itu oleh mereka sebelumnya telah digodok terlebih dahulu, dan setelah logam ini lumer baralah oleh mereka dicampuri bubuk penyebar tulang yang mereka dapat dari tanah-tanah kuburan yang warnanya sudah kehijauan.

Oleh sebab itu, tidak aneh jika logam-logam yang dicetak sebagai gelang-gelang kecil ini mengandung racun luar dalam. Di bagian luar akibat racun merah yang membuat gelang-gelangan berwama seperti darah, sedangkan di bagian dalam mengandung racun-racun putih kehijauan dari bubuk penyebar tulang!

Dan Ceng Bi yang tidak tahu akan hal ini sudah mulai terhuyung-huyung. Memang ia masih terlalu hijau akan pengalaman dunia kang-ouw, maka tidak heran kalau ia dapat dicurangi lawan. Karena itu, beberapa menit lagi sudah bisa dipastikan bahwa gadis ini bakal roboh sendiri mencium asap beracun terus-menerus. Akan tetapi untunglah sesuatu perobaban terjadi secara tiba-tiba dan hal itu datangnya dari kerangkeng Ceng Han!

Aneh sekali kedengarannya, namun ini memang kenyataannya. Seperti kita ketetahui, Ceng Han itu tertotok lumpuh di dalam kerargkeng. Dia tidak dapat bergerak dan semua peristiwa yang terjadi di depannya hanya dapat dilihatnya dengan mata terbelalak dan hati gelisah. Diam-diam pemuda ini mengeluh. Ceng Bi dianggapnya ter!alu gegabah, akan tetapi karena adiknya itu datang untuk menolongnya maka diapun tidak dapat terlalu menyalahkan. Dia sendiri sebenarnya terjebak dengan cara yang lebih konyol lagi karena kalau adiknya itu sedikit banyak telah melakukan pertempuran, adalah dia belum satu juruspun bertanding!

Dan ini akibat ketololannya mengenal orang disamping rasa kepercayaannya terhadap musuh. Harimau yang datang disangkanya kucing. Karena itu dalam sekejap saja dia harus meringkuk di tangan musuh. Mengingat ini Ceng Han mendongkol sekali. Dia tidak tahu orang-orang yang menangkaprya itu siapa selain pengakuan mereka banwa ayahnya dikatakan punya "hutang" tiga jiwa. Karena itu kenyataan ini lalu memberi-tahukannya bahwa dia terjatuh di tangan musuh.

Namun Ceng Han sama sekali tidak takut dan pemuda ini memang tidak kenal artinya takut. Oleh sebab itu, biarpun dia ditotok lumpuh, pemuda ini masih dapat bersikap tenang-tenang saja. Dia mendengar bahwa orang orang ini hendak "mengundang" ayahnya dengan jalan menjadikan dirinya sebagai sandera! Dan pemuda ini bahkan merasa girang. Kalau ayahnya betul datang, dia yakin orang-orang itu bakal dihajar babak-belur.

Siapa tahu, bukan ayahnya yang datang melainkan Ceng Bi! Dan dari semua pembicaraan tadi mengertilah pemuda ini bahwa musuh-musuh ayahnya itu kiranya bukan lain adalah sisa-sisa dari Mo-san Ngo-yu yang dulu memang pernah dihajar ayahnya. Hanya dia tidak mengira kalau dua diantara lima sahabat ini ternyata masih hidup dan sekarang bahkan menjabat ketua Hiat-goan-pang.

Karena itu, Ceng Han mulai merasa gelisah. Bukan gelisah terhadap diri sendiri melainkan gelisah tentang keselamatan adiknya. Ayahnya pernah bercerita tentang orang-orang ini, dan dia makium betapa culas mereka itu. Maka sungguh amatlah mengkhawatirkan kalau adiknya ini yang datang. Bisa-bisa mereka berdua tertangkap semua dan kalau sudah begitu, bukankah ayah mereka bakal celaka? Semua pikiran ini benar-benar menggelisahkan Ceng Han, apalagi setelah adiknya terdesak hebat oleh orang kedua dari sepasang kakek kembar itu.

Maka ketika tiba-tiba muncul bintang penolong berupa pemuda tinggi besar yang gagah dan tampan itu Ceng Han menjadi girang sekali. Dan kegirangannya semakin besar melihat betapa sekali gebrak saja dua orang ketua Hiat-goan-pang itu dibikin terlempar tidak karuan. Ceng Han bersorak di dalam hatinya namun diam-diam dia juga terkejut. Tenaga yang diperlihatkan pemuda yang gagah dan tampan itu benar-benar membuatnya tertegun dan menurut dugaannya, agaknya tidak kalah hebat dengan Lek Hui yang menjadi twa-suhengnya! Karena itu, pemuda ini gembira sekali dan dia mengharap adiknya itu tidak sampai celaka.

Akan tetapi, apa yang dipikir rupanya tidak sejalan dengan yang dilihat. Memang betul adiknya ini mulai bertanding, dengan anak-anak buah Hiat-goan-pang, sementara pemuda tinggi besar itu sudah diterjang sang ketua berikut anak buah yang lain. Hanya bedanya, kalau pemuda yang gagah perkasa itu bersikap tenang-tenang saja dan dia tanpaknya menguasai keadaan, adalah Ceng Bi secara aneh mulai terhuyung-huyung. Padahal dua, orang itu sama-sama bersenjata, bahkan si pemuda tinggi besar jauh lebih berat keadaannya dibanding Ceng Bi yang melulu diserang senjata-senjata gelang berdarah.

Ada apa di baiik keganjiian ini? Ceng Han tidak mengerti dan pemuda itu menjadi cemas sekali. Kalau terus-terusan begini, pasti adiknya itu akan roboh tertangkap. Ceng Han menoleh ke pemuda tinggi besar dan dia melihat betapa pemuda gagah perkasa itu dikeroyok oleh hampir dua puluh orang! Ceng Han terbelalak dan diam-diam kagum bukan main. kalau dibandingkan, keadaan adiknya sungguh jauh lebih ringan daripada pemuda itu. Akan tetapi nyatanya Ceng Bi bahkan semakin lemah dan tubuhnya terhuyung-huyung semakin keras. Tentu saja pemuda ini gelisah. Apa yang harus diperbuat pada saat seperti itu? Ceng Han tidak tahu dan dia menggigit bibir penuh kegemasan dan kekhawatiran.

Beberapa saat lagi adiknya itu barang kali akan roboh sendiri tanpa diserang, dan hal ini membuat pemuda itu marah. Musuh menyerang adiknya di depan mata, namun dia serdiri tak mampu berbuat apa-apa!. Siapa tidak gemas? Dan sementara dia kebingungan inilah tiba-tiba Ceng Han mendengar luncuran suara yang dikirim dari jarak jauh.

"Saudara Ceng Han, cepat bantu adikmu itu. Dobrak pintu kurungan dan keluarlah! Aku akan membebaskan totokanmu sekarang. Nah bersiaplah....!"

Begitu suara itu lenyap, tiba-tiba sebutir batu kecil menyambar dengan kecepatan kilat ke dalam kerangkeng. Ceng Han terkejut, dan dia merasa betapa lehernya mendadak kejang sedikit. Rasa nyeri menusuk urat lehernya, namun begitu lenyap, tiba-tiba jalan darahnya pulih kembaIi. Tentu saja pemuda ini girang dan ketika betul-hew! dia mendapat kenyataan bahwa dirinya sudah dapat bergerak seperti sedia kala, Ceng Han berseru keras dan pintu kerangkeng dipukulnya berantakan.

"Brangg...!"

Jeruji besi itu ambrol dan Ceng Han melompat dengan muka merah. Sudah beberapa hari dia disekap dalam tempat yang sempit, maka begitu dapat bebas seperti biasa pemuda ini lalu menyerbu Hek-bin Sam-houw dan seorang temannya yang mengeroyok Ceng Bi. Dia sudah mematahkan sebatang jeruji, dan dengan senjata aneh pemuda itu menerjang!

"Keparat-keparat berani kalian mengganggu adikku!" Ceng Han berteriak marah dan jeruji besi itu dipukulkan ke punggung laki-laki berkumis pendek. Dia ini adalah Twa Houw, yakni orang tertua dari Hek-bin Sam-houw yang pada saat itu paling menyambit-nyambitkan senjata rahasia. Dan orang inilah yang sekarang menerima kemarahan Ceng Han.

Twa Houw terkejut, dan sejenak dia tercengang. Orang tertua dari Hek-bin Sam-houw ini memang tidak mengira bahwa Pemuda yang sudah menjadi tawanan mereka tiba-tiba lolos begitu saja. Karena itu, dia merasa kaget dan melihat pemuda ini menghantam punggungnya, Twa Houw memutar tangannya dan lima batang gelang menyambar tubuh Ceng Han sementara dia sendiri cepat melompat ke belakang sambil berseru keras.

"Tring-trirg-tringg!" lima kali berturut-turut suara mendencing nyaring ketika Ceng Han terpaksa menangkis senjata-senjata rahasia itu dan melihat lawan menghindarkan diri, dia terus mengejar dengan gemas. Besi yang seperti toya pendek itu meluncur dan bagaikan ular hidup saja tahu-tahu telah mengancam muka Twa Houw.

Tentu saja laki-laki ini terperanjat, dia belum sempat berdiri tegak ketika senjata di tangan Ceng Han menyambar. Padahal, senjata rahasia sudah tinggal yang terakhir kali dan yang ternyata tidak membawa hasil. Oleh sebab itu, orang tertua dari Tiga Harimau Muka Hitam tuba-tiba memekik dan sekali tangannya bergerak, tiba-tiba dia telah mencabut sebatang golok aneh yang punggungnya berlubang-lubang.

Senjata ini ganjil sekali tampaknya. Bagian bawah memang seperti golok-golok pada umumnya, akan tetapi punggung yang berlubang-lubang itu diberi gelang sebesar jari kelingking yang mengeluarkan suara nyaring apabila digerakkan. Karena itu, ketika pipa besi di tangan Ceng Han meryambar maka golok aneh yang dipegang, Twa Houw ini menangkis kuat.

"Trangg….. !"

Twa Houw berteriak kaget karena senjata di tangannya terpental keras. Laki-laki ini merasa betapa lengannya yang memegang golok tergetar hebat dan hampir saja senjatanya terlepas. Tentu saja harimau hitam itu terkejut. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa goloknya yang tajam tidak mampu membabat senjata lawannya yang sederhana itu. Dan sementara lengannya tergetar lumpuh tiba-tiba besi pendek itu menghantam pundaknya.

"Krakk...!" laki-laki ini tidak sempat menangkis dan karena Cong Han mengerahkan lweekangnya dalam pukulan itu, maka tulang pundak Twa Houw patah tiga bagian! Twa Houw menjerit kesakitan dan Ceng Han yang marah melihat kecurangan laki-laki ini telah menggerakkan kakinya menyambar perut lawan. Terdengar suara "bluk" yang keras dan tubuh Twa Houw terlempar sambil berteriak, ngeri. Orang tertua dan Hek-bin Sam-houw terbanting dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah laki-laki ini telah putus nyawanya di tengah jalan karena isi perutnya pecah dihantam kaki Ceng Han!

Gegerlah keadaan di tempat itu. Dua harimau hitam yang lain dan seorang temannya terbelalak melihat kematian Two Houw yang mengerikan ini. Karena itu, tiba-tiba mereka inipun juga mencabut golok berkerincing yang memang sebenamya merupakan senjata utama bagi anggota-anggota Hiat-goon-pang yang belum mahir memainkan sepasang gelang berdarah seperti ketua mereka Dan begitu mereka mencabut senjata, tiga orang ini menerjang Ceng Han karena Ceng Bi sendiri sudah roboh lemas tepat di sebelah kematian Twa Houw.

Mereka menyerang ganas, namun Ceng Han menyambut dengan tidak kalah ganasnya pula. Pemuda ini meluap kemarahannya melihat adiknya roboh tanpa sebab, karena itu ia segera mengamuk dengan besi kerangkeng yang dicabutnya itu. Putaran toya darurat di tangan putera Pendekar Kepala Batu ini mengeluarkan suara bercuitan dan begitu membentur golok-golok lawan, segera tiga orang itu memekik kaget dengan mata terbelalak.

Tiga golok bergerincing semuanya terpental, dan sementara mereka terkejut dengan lengan tergetar tiba-tiba sinar hitam berkelebat tiga kali berturut turut. Ji Houw dan Sam Houw membanting tubuh, akan tetapi gerakan mereka kalah cepat. Sinar hitam itu telah menyambar dan baru saja mereka merendahkan tubuh tahu-tahu tengkuk mereka telah dihantam senjata di tangan Ceng Han.

"Tak-takk!"

Dua orang ini menjerit ngeri dan tubuh mereka terjungkal roboh. Golok terlepas dan dua orang dari Hek-bin Sam-houw itu terkapar dengan mata mendelik. Mereka tewas hampir berbareng sementara beberapa detik kemudian orang terakhirpun juga mengalami nasib yang sama. Besi hitam di tangan Ceng Han tak kenal ampun. Biegitu merobohkan sisa-sisa dari Hek-bin Sam-houw tahu-tahu telah berkelebat ke orang ini.

Tadinya orang itu hendak memutar tubuh, akan tetapi kecepatan sinar hitam tak mampu dielakkannya. Senjata itu tahu-tahu telah mengenai pelipis kanannya dan ketika terdengar suara tengkorak pecah maka orang inipun menjerit dengan suara ngeri. Tubuhnya terbanting dan seperti tiga orang yang lain, orang inipun juga tewas dalam waktu sekejap saja di tangan Ceng Han yang marah!

Anak-anak buah Hiat-Goan-Pang yang lain terkejut bukan main. Demikian pula halnya dengan dua orang ketua mereka. Lepasnya pemuda itu dalam kurungan sungguh mengagetkan semua orang. Apalagi setelah dalam beberapa gebrak saja mengamuk dan merobohkan empat orang anggota Hiat-Goan Pang kejadian ini benar-benar menggegerkan.

Karena itu, sepasang ketua Hiat-goan-pang ini berteriak marah dan dengan seruan menggeledek mereka menyerang pemuda tinggi besar itu dengan sepasang gelang mereka. Terjangan mereka dahsyat, gelang baja yang tahan beradu dengan senjata-senjata pusaka itupun mengeluarkan suara mengaung hebat. Dan itu masih ditambah lagi dengan bantuan Ui-bin Siang-houw serta para anggota yang lain. Maka ganasnya sungguh bukan kepalang dan kalau orang biasa saja yang menerima serangan macam itu, pasti roboh tidak lama kemudian.

Namun yang mereka hadapi kali ini bukanlah orang biasa. Dia ini adalah seorang pendekar muda yang bernama besar, yang tingkatnya sekarang malah melebihi gurunya sendiri, si Malaikat Gurun Neraka dari padang pasir! Karena itu, meskipun dirinya dikeroyok, pemuda gagah perkasa yang bukan lain adalah Sang Pendekar Gurun Neraka tenang-tenang saja. Caping bambunya bergerak mengibas, tangan kirinya membantu dengan pukulan-pukulan sinkang, Dan akibatnya saja sudah sangat mentakjubkan. Semua senjata tertolak mundur, seperti ditiup angin taupan belasan anggauta Hiat-goan-pang jungkir balik tidak karuan!

Tentu saja dua orang ketua itu kaget bukan main. Mereka memang baru saja muncul kembali setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri. Perubahan dunia kang-ouw dengan tokoh-tokoh mudanya belum banyak mereka ketahui. Karena itu, melihat kepandaian lawan yang demikian hebat ini mereka terkejut sekali. Hal ini tidak mereka sangka, dan dua orang kakek kembar, itu menjadi kalap.

Betapa tidak? Mereka telah mati-matian menyerang, namun pemuda tinggi besar cukup mengibas perlahan saja dan terjangan merekapun tertahan. Angin pukulan yang amat kuat keluar dari caping bambu dan merekapun merasakan adanya hawa panas yang semakin lama semakin membakar. Tentu saja dua orang ini marah, dan serangan-serangan yang mereka lancarkanpun semakin hebat dan bertubi-tubi.

Akan tetapi anehnya, semakin hebat mereka menyerang maka tolakan tenaga sinkang berhawa panas itu juga semakin kuat. Hal ini terjadi berulang-ulang dan dua orang kakek itu menjadi pucat. Mereka berteriak parau dan dengan nekat ingin mengadu jiwa, namun pemuda itu agaknya belun ada niat untuk menurunkan pukulan maut. Dan hal ini sebetulnya memang ada makaud karena seperti yang tadi telah dikatakan, pemuda itu ingin menemui seseorang yang menjadi majikan sepasang kakek kembar itu.

Itulah sebabnya mengapa Pendekar Gurun Neraka ini belum membalas dengan pukulan-pukulan beratnya. Dia hanya menangkis sana-sini untuk serangan serangan yang terlalu berbahaya dari dua orang kakek itu, sementara tangan kirinya didorongkan buat menghadapi anak-anak buah sepasang ketua ini, Dan akibatnyapun sudah cukup hehat bagi mereka karena sambaran angin pukulan itu telah membuat duabelas orang pengeroyok terbanting dengan tulang-tulang patah!

Semua kenyataan ini menjadikan dua orang kakek itu akhirnya gelisah. Perasaan gentar mulai mengusik mereka namun karena mereka harus malu apabila roboh di tangan pemuda yang belum mereka kenal, maka dua orang kakek ini meriggigit bibir sambil terus melancarkan serangan-serangan berat.

Caping bambunya bergerak mengibas, tangan kirinya membantu dengan pukulan-pukulan sinkang, Dan akibatnya saja sudah sangat mentakjubkan. Semua senjata tertolak mundur seperti ditiup angin taupan, belasan anggauta Hiat-goan-pang jungkir balik tidak karuan! Akan tetapi tentu saja semua perlawanan itu bakal sia-sia. Sifat yang terlampau tinggi hati dari dua orang kakek ini tidak akan menguntungkan mereka. Karena biarpun mereka belajar lagi sampai duapuluh tahun juga masih belum dapat menandingi tenaga sakti lawannya.

Pendekar Gurun Neraka adalah tokoh muda yang memiliki kepandaian luar biasa dan bagi para pembaca yang telah mengikuti cerita "Pendekar Gurun Neraka" yang lalu pasti mengetahui bahwa pemuda ini mendapatkan tenaga sakti inti matahari ketika dia bersemadhi tujuh hari di atas gurun. Karena itu, tidak heran apabila kekuatan sinkangnya sudah sukar diukur tingginya setelah dia berhasil menyerap kekuatan mujijat dari hawa Matahari itu.

Apalagi setelah gurunya mewariskan tiga jurus penutup dari ilmu silanya yang paling dahsyat, yakni yang disebut Lui-kong Ciang-hoat atau limu Siat Petir, maka kehebatan pemuda ini sudah bukan main dahsyatnya! Malaikat Gurun Neraka sendiri mengakui keunggulan muridnya itu, dan dia berpesan wanti-wanti agar pemuda ini tidak-sembarangan mengeluarkan ilmunya yang luar biasa hebatnya. Dan Bu Kong juga memang tidak berani main-main. Dia tahu akan keampuhan tenaga saktinya maka dia tidak berani sembarangan karena dengan meningkatnya tenaga sakti yang dimilikinya, otomatis semua kepandaian lainpun ikut meningkat.

Seperti sekarang ini misalnya. Dalam ia menghadapi kakek kembar itu dia hanya mainkan Khong-ji ciang dengan pengerahan tenaga empat bagian. Dan hasilnyapun sudah cukup baik. Semua serangan lawan berhasil balik dengan caping bambunya sementara tangan kirinya menolak senjata-senjata pembantu kakek kembar ini yang menyambarnya seperti hujan. Dan seperti kebiasaan perkumpulan ini, senjata rahasia gelangpun beterbangan ke arahnya susul-menyusul secara bertubi-tubi.

Namun itupun tidak menyulitkannya. Bahkan dia lalu menambah tenaga dalam tangan kirinya dan ketika tangan ini bergerak, gelang-gelang kecil itupun terpental berhamburan menghantam tuannya masing-masing. Segera terdengar jerit kesakitan di sana-sini dan empat orang roboh bergelimpangan. Mereka berteriak-teriak, dan mata mereka terbelalak ke arah sang ketua dengan muka pucat. Akan tetapi sang ketua sendiri tidak memperdulikan dan akibatnya orang-orang itu melolong seperti binatang sekarat.

Mereka mulai bergulingan, dan seorang diantaranya malah menjerit-jerit minta obat penawar kepada sang ketua. Namun, di saat kakek kembar itu sendiri sedang geram menyerang lawan mana mereka mau menggubris orang-orang ini? Mereka sendiri mati-matian bertanding, dan lolong anak buah malah membuat mereka semakin marah dan mencaci anak-anak buah yang dikatakanya tidak becus dan bodoh melebihi kerbau ini!

Sekarang keadaan menjadi semakin buruk bagi dua orang kakek kembar ini. Mereka mulai terdesak hebat dan hawa pukulan lawan mengurung mereka seperti pusaran angin lesus. Senjata sudah sukar digerakkan karena dimana-mana setalu tertahan angin pukulan sinkang lawan. Dan Pendekar Gurun Neraka memang bermaksud demikian.

Dengan ilmunya Khong-ji-ciang (Silat Hawa Kosong), pemuda itu sengaja hendak "menghimpit" lawan dari segala penjuru! Oleh sebab itu, tidak aneh apabila ketua-ketua Hiat Goan Pang ini kelabakan. Hawa pukulan panas ini membuat mereka pengap juga sesak nafas dan disamping itu tekanan-tekanan lawan membuat mereka kehabisan tenaga. Karena itu, dua kakek kembar ini menggereng marah dan tiba-tiiba mereka menyambitan sepasang gelang dengan raungan nekat.

Pemuda itu terkejut, dan cepat caping bambunya bergerak dua kali berturut-turut. Gelang ditangkis dan kontan senjata ini mencelat ke samping kiri dan kanan, dibuat sedemikian rupa sehingga menyambar Ui-bin Siang-houw yang berada di kiri kanannya! Tentu saja dua harimau kuning ini kaget. Mereka berteriak keras dan mencoba menangkis, namun tenaga lontaran itu sedemikian kuatnya sehingga gelang mereka sendiri patah-patah sementara senjata dua orang ketua ini menghantam kepala mereka.

"Prak-prakk.....!" Siang-houw memekik ngeri dan kepala mereka pecah disambar gelang baja sang ketua yang dipukul miring oleh pemuda itu. Tubuh mereka terjengkang dan darah serta otak muncrat berhamburan!

Dua kakek The tertegun, dan pada saat itulah pendekar muda ini menotok mereka dengan kecepatan kilat. Sepasang kakek kembar itu tidak sempat mengelak, dan ketika jari tangan pemuda itu menyentuh tubah mereka, dua orang kakek ini tertotok telak. Akan tetapi pada saat itulah tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan. Totokan pemuda ini diterima dengan pekik ngeri oleh sang kakek itu dan ketika Bu Kong membelalak, mendadak tubuh sepasang ketua Hiat-goan-pang ini tersungkur roboh dengan punggung berlubang!

Tentu saja pemuda itu terkejut dan ketika memandang, ternyata di punggung dua orang kakek ini menancap sebatang paku yang ujungnya melingkar-lingkar seperti bor. Toat-beng-cui (Bor Pencabut Nyawa) maka pemuda ini berseru kaget dan sekali berkelebat, tubuhnya lenyap ke jurusan dimana tadi penyerang gelap itu menyambit dua orang kakek ini.

Kecepatan gerak yang dilakukan pemuda ini luar biasa sekali, tubuhnya tahu-tahu lenyap seperti iblis saja dan Ceng Han yang melihat perbuatan itu melongo. Tadi dia menonton jalannya pertandingan dari mulai sampai akhir setelah dia membawa adiknya yang pingsan ke tempat aman. Karena itu, pemuda ini terbelalak takjub dan hatinya penuh rasa kagum yang besar sekali melihat betapa dengan enak saja pemuda itu menghadapi lawan-lawannya yang tangguh. Padahal, nama Mo-san Ngo-yu bukanlah nama sembarangan. Meskipun mereka kini tinggal dua orang saja, akan tetapi kepandaian mereka tetap hebat. Dan itu dibuktikan sendiri oleh adiknya yang tadi kewalahan mengbadapi salah seorang diantara dua orang kakek itu.

Apakah ini karena tingkatan adiknya yang masih rendah? Ataukah karena sepasang kakek itu yang terlalu kuat? Kalau benar begini jawabannya, maka Ceng Han dapat membayangkan betapa luar biasa kepandaian yang dimiliki pemuda tinggi besan yang tadi dipanggil Yap-twako itu. Ceng Han termangu-mangu, dan seruan; Toat-Beng-cu yang dikeluarkan bintang penolongnya itu membuat pemuda ini lalu menghampiri tubuh sepasang ketua Hiat-goan-pang.

Di sini tampak olehnya bahwa paku bor itu menembus sampai dalam, tinggal kepalanya saja yang berada di luar. Dan melihat warna senjata ini kebiruan, Ceng Han bergidik ngeri. Tidak aneh kalau dua orang ketua itu tewas seketika, apalagi tepat pada saat itupun mereka tak dapat bergerak karena tertotok. Akan tetapi, siapakah yang menyerangnya secara gelap itu? Dia tidak melihat adanya sebuah bayangan berkelebat, maka pemuda jai menjadi heran dan berhati-hati sekali.

Pada saat itu, sementara Ceng Han termangu-mangu tiba-tiba angin dingin berkesiur. Pemuda ini memutar tubuh karena dia mengira bahwa pemuda tinggi besar itulah yang datang. Akan tetapi, ketika dia memandang temyata orang ini bukanlah si Yap-twako tadi, melainkan seorang pemuda lain yang juga tinggi besar dan kokoh bentuknya. Ceng Han terkejut dan bayangan baru itu sudah tertawa bergelak. "Ha-ha, sute, kau ada di sini?" dan seperti burung besar saja pendatang itu hinggap di depan Ceng Han.

"Suheng....!" Ceng Han berseru kaget dan pemuda ini menjadi girang bukan main melihat siapa yang datang. Kiranya dia bukan lain adalah Lek Hui, si raksasa muda yang merupakan murid tertua ayahnya! karena itu, segera pemuda ini melompat maju dan dua orang kakak beradik sepergeruan itu saling rangkul sambil tertawa-tawa.

"Ha-ha, sute, aku mendengar kabar bahwa kau ditangkap orang-orang Hiat-goan-pang. Sebab itulah aku lalu cepat mencarimu dan temyata kau tidak apa-apa. Apakah berita itu bohong?" Lek Hui bertanya dengan suaranya yang lantang dan Ceng Han tersenyum.

"Suheng, berita yang kau dengar memang betul. Aku dijebak secara konyol sekali dan Ceng Bi juga bahkan hampir-hampir saja tertangkap musuh."

"Hehh? Sumoi juga ikut?" Lek Hui terkejut dan memandang ke sekeliling. "Mana... tetapi di mana dia?"

Ceng Han menarik nafas panjang. "Dia pingsan, suheng," jawabnya perlahan. "Dan aku tidak mengerti mengapa dia pingsan karena Bi-moi sama sekali tidak terluka ataupun tersentuh senjata musuh."

Lek Hui tampak melengak dan pemuda ini sudah berseru cepat dengan mata terbelalak, "Eh, kenapa bisa begitu? Ai, jangan-jangn racun dari senjata-senjata rahasia Hiat-goan-pang yang mengenainya! Sute, coba kulihat keadaan sumoi dan kalau perlu kita akan mencari obat penawarnya di seluruh saku-saku mayat ini, terutama ketuanya. Yang manakah ketuanya? Dan bukankah mereka ini roboh di tanganmu, sute? Wahh, hebat sekali kepandaianmu sekarang, sute, sungguh aku berbangga mempunyai adik seperguruan seperti dirimu ini! Ha-ha-ha!"

Pemuda raksasa itu tertawa bergelak dan Ceng Han menjadi merah mukanya. "Suheng, dugaaamu keliru," katanya sambil menggelengkan kepala. "Orang-orang ini sebagian besar bukan roboh olehku melainkan roboh di tangan seseoranag. Dialah yang menolong kami berdua dan lagi, masa aku harus membunuh orang dengan senjata beracun segala?"

Lek Hui tertegun dan pemuda itu tampak terkejut. "Apa? Bukan kalian yang menghajar tikus-tikus ini, sute? Lalu siapakah dia dan kemana orang itu sekarang?"

Ceng Han memandang ke arah timur. "Kesanalah dia pergi, suheng," katanya menunjuk. "Dan dia mengejar penyerang gelap yang membunuh dua orang kakek ini yang menjadi ketua-ketua Hiat-goan-pang."

Lek Hui memandang penuh perhatian ke mayat di atas tanah itu dan tiba-tiba pemuda ini berseru kaget, "Toat-beng-cui...!" katanya mendadak dan Ceng Han menganggukkan kepalanya.

"Begituiah, suheng. Bintang penolong kamipun juga menyebutnya demikian."

Raksasa muda itu terbelalak dan alisnya yang tebal berkerut. "Ah, bagaimana ada, peristiwa begini kebetulan desisnya perlahan dan Ceng Han menjadi heran. Akan tetapi, sebelum pemuda ini bertanya tiba-tiba Lek Hui sudah berkata kepadanya, "Sute, kau tunggu sebentar di sini. Aku hendak menyusul bintang penolongmu itu untuk mengetahui siapakah dia!"

Dan baru saja ucapannya habis, tubuh Lek Hui sudah berkelebat ke arah timur, Ceng Han tadinya hendak berseru, namun dia membatalkan maksudnya dan pemuda ini berdiri bengong. Kedatangan suhengnya yang amat tiba-tiba itu sebenamya menggembirakan hatinya, karena lama mereka sudah tidak berjumpa. Semenjak ayah mereka menyuruh pemuda tinggi besar itu turun gunting untuk mencari Cheng-gan Sian jin, memang suhengnya ini tidak diperkenankan pulang sebelum berhasil melaksanakan tugas. Karena itu pertemuan yang amat mendadak dan kenyataan suhengnya masih selamat menggirangkan hati Ceng Han.

Pemuda ini memang khawatir terhadap kakak seperguruannya. Tidak dia sangkal bahwa kepandaian suhengnya itu masih lebih tinggi daripada dirinya. Akan tetapi karena dia mendengar bahwa Cheng-gan Siang-jin juga bukanlah datuk sembarang datuk, diam-diam dia merasa cemas pula. Kini secara aneh kakak seperguruannya tu datang, dan katanya hendak menolong mereka dari musuh setelah mendengar kabar tertangkapnya mereka berdua. Namun melihat Toat-beng-cui dipunggung dua orang ketua Hiat Goan Pang, tiba-tiba tampak terkejut dan gerak-geriknya menyembunyikan sikap aneh.

Ceng Han ingin mengerti, akan tetapi dia terpaksa menahan diri karena suhengnya telah pergi dan segera dia teringat akan adiknya yang pingsan di sana, maka pemuda inipun lalu melompat ke tempat itu untuk melihat keadaannya. Diam-diam Ceng Han gelisah. Tadi adiknya itu hanya pingsan saja, tak ada tanda-tanda aneh yang mencurigakan. Dan dia telah menotok dua jalan darah penting untuk menjaga keselamatan adiknya dari segala bahaya yang tak diketahui. Karena itu, ketika pemuda ini sampai di sana dan melihat betapa wajah adiknya tiba-tiba menjadi pucat kebiruan Ceng Han berseru kaget. Cepat pemuda ini berlutut dan ketika dia meraba denyut nadi di pergelangan tangan, Ceng Han terkesiap karena mendapat kenyataan bahwa adiknya keracunan!

"Celaka!" pemuda ini berseru. "Bagaimana Bi-moi terserang racun yang demikian aneh? padahal dia sama sekali tidak terkena senjata apapun!"

Dan sementara pemuda ini kebingungan tiba-tiba dari belakang berkelebat bayangan seseorang. Ceng Han menoleh dan dilihatnya bahwa yang datang itu adalah si bintang peroiong yang tadi mengejar penyerang gelap. "Inkong (tuan penolong)" Ceng Ban berseru girang akan tetapi orang itu memberi isyarat dengan meluruskan jari telunjuknya depan mulut.

"Sstt, saudara Ceng Han, jangan gugup!" katanya perlahan. "Adikmu memang keracunan, dan itu disebabkan dengan adanya racun di gelang-gelang merah yang tadi, ditangkisnya."

"Akan tetapi, dia... dia sama sekali tidak terkena senjata rahasia, inkong!" Ceng Han membantah.

"Memang betul," pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Akan tetapi uap dari racun gelang telah disedotnya secara tidak sadar. Karena itulah ia pingsan tanpa terluka dan kalau kau tidak cepat keluar, saudara Ceng Han, barangkali adikmu ini sudah tertangkap orang-orang jahat itu."

"Ah, akan tetapi yang membebaskan diriku adalah engkau, inkong. Dan bagaimana dengan adikku ini.?"

"Saudara Ceng Han harap tidak perlu khawatir, dan juga jangan terlampau sungkan. Aku membawa obat penawamya dan agar aku tidak kikuk dengan sebutanmu, itu, panggil saja aku Yap-twako seperti adikmu ini memanggilku pula," pemuda itu menjawab sambil tersenyum dan muka Ceng Han sedikit merah.

"Ah… baik… terimakasih in… eh, Yapp-twako!" Ceng Han menunduk gugup, akan tetapi pemuda tinggi besar itu pura-pura tidak melihat kecanggungannya. Dia sudah merogoh saku bajunya, dan ketika tangannya dikeluarkan, Ceng Han melihat benda yang diambilnya ini bukan lain adalah cermin berbingkai emas yang sempat mengagetkan dua orang ketua Hiat-goan-pang.

Pemuda ini menjadi heran dan diam-diam dia menduga ada rahasia apakah dibalik benda itu yang membuat sepasang kakek kembar ketakutan seperti melihat setan disiang bolong. Namun sebagai pemuda yang sopan, Ceng Han tidak bertanya tentang hal ini dan pemuda yang gagah perkasa itu sudah berkata sendiri, seakan-akan tahu keheranan hati temannya.

"Berkat inilah aku berani melawan mereka dengan tangan kosong, saudara Ceng Han. Karena dulu belasan tahun yang lampau, guruku pernah menghajar orang-orang tersebut sampai tunggang-langgang. Cermin ini bukan terbuat dari kaca, melainkan dari baja putih yang mengkilap istimewa. Mengandung hawa dingin yang sifatnya seperti magnit, mampu menyedot segala bisa yang bersifat panas. Karena itu, racun yang telah dihisap adikmu inipun dapat dilumpuhkannya. Lihatlah...!"

Pendekar muda itu lalu menempelkan benda ini di tengkuk Ceng Bi, dan suatu keanehan benar-benar terjadi. Ceng Han melihat betapa wana hijau yang tampak di muka Ceng Bi tiba-tiba turun ke bawah, menuju cermin penyedot racun. Dan ketika beberapa saat kemudian cermin itu diangkat, sinar kehijauan di wajah adiknya lenyap secara mendadak.

"Ah, luar biasa. Benar-benar cermin ajaib....!" Ceng Han berseru kagum dan pada saat itu Pula Ceng Bi mengeluh perlahan.

Gadis ini membuka matanya dan ketika melihat dua orang berdiri di dekatnya, gadis itu berteriak kaget dan tiba-tiba melompat bangun sambil memutar pedang dengan sikap menyerang! Tentu saja Ceng Han terkejut dan pemuda ini cepat berseru keras,

"Tahan! Aku kakakmu sendiri dan semua musuh telah disapu bersih oleh Yap-twako!"

Mendengar nama "Yap-twako" ini tampaknya Ceng Bi terkejut dan gadis itu segera menghentikan putaran pedangnya. Dengan mata terbelalak ia memandang, dan ketika benar bahwa ia hendak menyerang kakaknya sendiri serta Yap-twako yang berdiri tersenyum menatapnya itu, Ceng Bi berseru tertahan dengan muka merah. "Ah…..!" gadis itu terkejut dan Ceng Han melangkah maju dengan wajah berseri-seri.

Pemuda ini yang amat gembira bahwa adiknya telah sembuh kembali ini lalu merangkul Ceng Bi, berkata sambil tersenyum, "Bi-moi, Yap-twako telah menolongmu dari bahaya racun. Masa hendak kau serang? Hayo cepat minta maaf kepadanya, adik nakal!"

Ceng Han tertawa dan Ceng Bi tertegun. Memang dia tadi mengira bahwa dia masih dikeroyok musuh, karena kesadaran terakhir sebelum ia roboh pingsan adalah bayangan-bayangan lawan. Oleh karena itu gadis ini terbelalak bengong dalam beberapa detik. Namun setelah seluruh kesadarannya pulih kembali dan ia melihat bahwa memang benar semua musuh telah roboh malang melintang, Ceng Bi tersipu-sipu gugup dan dengan muka merah melangkah maju.

"Yap-twako, maafkan sikapku yang kurang ajar. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan apa pula yang telah menimpa diriku. Hanya samar samar saat kuingat bahwa tadinya kepalaku pening dan berputar-putar tanpa sebab. Akan tetapi sekarang, semuanya telah pulih kembali dan melihat Han-ko juga selamat berkat pertolonganmu, aku mengucapkan banyaka-banyak terima kasih dan mudah-mudahan budimu yang besar ini kelak dapat kami balas!" Ceng Bi memberi hormat sampai tubuh setengah membunakuk sementara Ceng Han tiba-tiba berseru nyaring dengan mata melotot.

"He, bagaimana ini, Bi-moi? Aku hanya menyuruhmu minta maaf, bukan menyatakan terima kasih karena itu adalah tugas kakakmu. Kenapa diserobot? Wah, sialan, punya adik demikian kurang ajar! Yap-twako, maafkan kelancangan adikku ini. Gara-gara dia aku jadi terlambat menghaturkan terima kasih, harap twako tidak kecil hati….!" berkata demikian Ceng Han buru-buru menjura menyusul adiknya dan tampak pemuda ini memandang Ceng Bi dengan sinar mata marah sementara yang dipandang malah balas mencibir!

Tentu saja hal ini membuat pemuda tinggi besar itu terseyum lebar, maka sambil tertawa diapun cepat membalas hormat dua orang kakak beradik itu dan menjawab, "Saudara Ceng Han dan nona Ceng Bi, kenapa kalian begini banyak adat? Kita adalah orang-orang sendiri, bukan orang lain. Karena itu harap kalian bersikap wajar saja. Sedikit bantuan yang tidak berarti begitu masa harus selalu diingat? Wah, bikin malu aku saja!"

Pemuda itu tertawa can Ceng Han serta adiknya terseryum. Kerendahan hati yang tidak dibuat-buat ini membuat putera Pendekar Kepala Batu ini merasa kagum. Dan kalau dia memandang sahabat barunya itu dengan wajah berseri, adalah Ceng Bi yang diam-diam melirik halus dengan sudut matanya. Akan tetapi begitu yang dipandang benterok sinar matanya, segera gadis ini menundukkan kepalanya dengan muka merah!

"Ha ha ha, Yap-twako benar-benar seorang enghiong (pendekar) sejati. Budi yang demikian besar masa dibilang tidak berarti? Kalau itu dibilang tidak berarti, aku tidak tahu lagi mana sebenarnya yang berarti!‖ Ceng Han tertawa dan Ceng Bi yang merasa jengah akibat adu mata tadi tidak berani memandang ke depan seperti kakaknya.

Gadis ini meruntuhkan pandang ke bawah, pura-pura mengamati mayat orang-orang Hiat-goan-pang untuk menenangkan guncangan hatinya. Karena itu, dia dapat melihat pula mayat sepasang kakek kembar yang menjadi ketua Perkumpulan Gelang Berdarah itu. Dan melihat tewasnya dua orang kakek ini diam-dian Ceng Bi merasa kagum dan juga lega. la merasa lega karena hal ini berarti lenyapnya salah satu dari sekian banyak musuh-musuh ayahnya yang amat lihai, dari merasa kagum atas kepandaian yang dimiliki Yap-twako. Ia tidak tahu dengan cara bagaimanakah pemuda tinggi besar yang gagah dan tampan itu membunuh tua orang ketua 'Hiat-goan-pang‘ yang tinggi kepandaiannya ini?

Akan tetapi melihat tewasnya mereka di situ, jelas dua orang kakek kembar memang bukan tandingan pemuda yang gagah perkasa itu. Dan kekaguman Ceng Bi semakin meningkat. Diam-diam hatinya merasa berdebar dan kalau beberapa waktu yang lalu ia berani saling adu Pandang, kini ia merasa likat dan malu-malu.

Ceng Bi merasa aneh. Ia tidak tahu mengapa perasaannya bisa begitu dan kalau ia hendak mengangkat muka, selalu ada kegugupan di dalam hatinya. Karena itu, ia selalu menunduk saja dan ketika secara tidak sengaja matanya membentur punggung mayat bekas ketua ketua Hiat-goan-pang roboh menelungkup, tiba-tiba Ceng Bi terkesiap kaget.

"Ihh, Yap twako kiranya juga mahir mempergunakan senjata beracun?" seruanya terloncat begitu saja dari mulut Ceng Bi dan tiba-tiba gadis itu sekarang mengangkat mukanya dengan mata terbelalak. la nampak terkejut. Namun Ceng Han lebih terkejut lagi mendengar perkataan adiknya ini. Seketika itu juga pemuda ini menoleh dan ketika dia melihat wajah adiknya berobah pucat, Ceng Han segera teringat akan musuh gelap yang tadi dikejar penolongnya inu. Oleh sebab itu, Ceng Han lalu memutar tubuh dan sebelum sahabat barunya itu menjawab pemuda ini sudah cepat menjawab sambil menggoyang tangannya menegur,

"Hush, Bi-moi, perkataan apa yang kau keluarkan ini? Yap-twako adalat seorang pendekar sejati, mana sudi dia meuggunakan senjata beracun segala? Tidak, adikku, bukan dia yang melakukan kecurangan ini melainkan orang lain. Tadi Yap-twako hanya menotok lumpuh dua orang kakek itu dan pada saat mereka hendak roboh, tiba-tiba saja seseorang menyambitkan senjata gelap itu dari belakang. Kejadian amat tidak terduga, maka Yap-twako sendiri tidak sempat menolong. Karena itu Yap-twako lalu mengejar si penyerang gelap yang menyebabkan Hiat-goan-siang pangcu ini tewas dan karena aku sendiri sejenak terlupa oleh kegembiraan melihat kau sembuh, aku belum sempat menanyakan kepada yang bersangkutan. Nah harap kau tidak salah mengerti, dan kalau kau ingin tahu kelanjutannya, silakan bertanya kepada Yap-twako sendiri!"

Penjelasan ini membuat Ceng Bi tertegun, dan muka yang tadi pucat itu berubah cerah. Sejenak gadis ini terbengong, namun akhirnya dia mengeluarkan seruan lirih seperti orang bergumam dam Ceug Bi tersipu-sipu malu. "Oh..,.!" hanya itulah suara yang terdengar dari mulut gadis ini dan selanjutnya Ceng Bi berdiam diri.

Ceng Han yang melihat adiknya tersipu-sipu, kini sudah mengbadap ke sahabat barunya. Alis yang berkerut dari bintang penolongnya itu membuat pemuda ini merasa tidal enak. Karena itu, Ceng Han lalu merangkapkan kedua tanganya sambil berkata, "Yap-twako, mohon sekali lagi maafku atas kata- kata adikku tadi... Bi-moi memang lancang, namun hal itu dilakukannya karena dia tidak tahu. Oleh sebab itu harap twako tidak memasukkannya di dalam hati, dan kalau twako merasa tidak puas, aku sia menerima makianmu!"

Dengan sungguh-sungguh pemuda ini bicara, dan pendekar muda itu terkejut. Dia seperti digugah dari tidurnya dan melihat Ceng Han menjura di depannya tanpa disuruh, Pemuda tinggi besar ini menjadi sibuk sendiri. "Eh, eh, saudara Ceng Han, apa-apaan ini? Aku mengerutkan alis karena teringat kepada penjahat itu, bukan karena marah atau tidak senang kepada adikmu, mengapa minta maaf lagi? Harap jangan membuat kikuk diriku, kalian tidak bersalah dan nona Ceng Bi-pun memang sudah selayaknya jika menanyakan hal itu!" dengan terburu-buru pemuda ini menahan pundak Ceng Han dan Ceng Han segera berdiri tersenyum.

"Ah, begitukah, Yap-twako?" Ceng tertawa girang. "Kalau begitu bolehkah sekarang bertanya tentang penjahat itu?"

Pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, saudara Ceng Han, bahkan aku-pun memang hendak menceritakannya pada kalian."

Jawaban ini menggembirakan hati Ceng Han dan Ceng Bi yang sejak tadi banyak berdiri sebagai pendengar, kini juga ikut tertarik. Dua orang kakak beradik itu memandang, namun Ceng Han yang rupanya tidak menunggu sudah membuka suara kembali, "Yap-twako, berhasil kau kejarkah orang itu?"

Akan tetapi yang ditanya malah menggelengkan kepalanya dengan sikap gemas. "Sayarg, saudara Ceng Han, peristiwa yang amat tiba-tiba, itu mengurangi kewaspadaanku. Dia lari ke hutan sebelah timur dan ketika aku menyusul ke sana, jejaknya lenyap. Hanya sempat kutangkap bayangannya yang berwarna hijau dan setelah itu dia menghilang di kerimbunan semak belukar."

"Ahh....!" Ceng Han tercergang kaget dan diam-diam pemuda ini terkejut, dilihatnya kehebatan ginkang yang dimiliki sahabat barunya namun toh lawan terryata dapat melarikan diri. Kalau begitu hal ini menunjukkan bahwa penyerang gelap yang amat misterius itu benar benar adalah orang yang amat lihai! Dan memikirkan sampai di sini diam-diam Ceng Han bergidik ngeri. Kalau saja Toat-beng-cui bukan ditujukan ke arah Hiat-goan-siang pangcu melainkan ke arah dirinya, tidak berani membayangkan apakah kiranya dia bakal selamat oleh serangan gelap itu.

Karena itu, sejenak pemuda ini berdiri tertegun dan Ceng Bi yang belum tahu awal ekornya cerita itu menjadi heran melihat kakaknya, bengong dengan mata terbelalak. Gadis ini memang tidak tahu apa gerangan yang sedang dipikirkan kakaknya, karena itu iapun tidak mengerti. Dan sementara mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba tiga orang ini dikejutkan oleh suara berkerosaknya daun di sekitar mereka disusul berkelebatnya sebuah bayangan tinggi besar. Serentak mereka menengok, dan tampaklah seorang raksasa muda yang muncul dari hutan sambil tertawa bergelak. Suaranya menggetarkan dinding ruangan, dan Geng Bi yang melihat pemuda raksasa itu meluarkan seruan tertahan.

"Twa suheng!" gadis itu berteriak kaget dan pemuda tinggi besar yang masih cukup jauh jaraknya dengan mereka bertiga ini kembali tertawa bergelak, sambil menepuk tangannya yang mengeluarkan bunyi nyaring seperti guntur menggelegar.

"Ha-ha, sumoi, kau sudah sadar kembali? Dan kalian mendapat teman baru disini, sute? Ha-ha, bagus… bagus sekali, sungguh menyenangkan....!" raksasa muda itu berteriak gembira dan dalam beberapa lompatan saja tubuhnya yang tinggi besar itu melayang tiba seperti burung besar. Angin segera bertiup kencang ketika raksasa muda yang bukan lain adalah Lek Hui ini meluncur di depan mereka dan mereka sating berhadapan, tiba-tiba Lek Hui berseru kaget,

"He, kau kiranya Pendekar Gurun Neraka? Dan kau pula kiranya yang menolong adik-adik seperguruanku? sungguh tidak kuduga! Ha-ha-ha, bagaimana kita bisa kebetulan bertemu di sini, sahabatku? Wahh, luar biasa sekali, sungguh menggembirakan... sungguh menyenangkan, ha-ha...!!"

Lek Hui tertawa tergelak-gelak dan tanpa menghiraukan kedua orang adik seperguruannya yang melongo keheranan melihat sikapnya yang seperti orang edan ini dia langsung ia melompat satu tindak dan sekali tangannya terulur, Lek Hui telah mencengkeram bahu orang dan ditepuk-tepuk nyaring dengan kekuatan penuh!

Tentu saja Ceng Han dan Ceng Bi terkejut bukan main. Mereka cukup kenal kekuatan kakak seperguruan yang seperti gajah siam ini, dan melihat betapa Yap-twako dipukul-pukul seperti itu pundaknya oleh twa-suheng mereka, dua orang putera-puteri Pendekar Kepala Batu ini terbelalak. Mereka tekejut menyaksikan ulah kakak seperguruan mereka namun mereka lebib terkejut ketika merdengar disebutnya nama Pendekar Gurun Neraka.

Gurun Neraka! Siapa belum pernah mendengar nama ini? Hampir semua orang tahu belaka nama itu, baik dari yang masih bayi sampai yang sudah jompo. Apalagi bagi orang-orarg dunia kang ouw serdiri! Karena itu tidak heran kelau dua orarg kakak beradik ini merasa kaget sekali. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa bintarg penolong yang hanya mereka kenal bernama "Yap-twako" itu ternyata adalah Pendekar Gurun Neraka. Pantas kepandaiannya demikian lihai!

Namun, di samping kekagetannya mendengar disebutnya nama itu mereka juga merasa heran tentang kenyataan ini. menurut pengetahuan mereka, Gurun Neraka dihuni oleh seorang tokoh besar yang berjuluk Malaikat Gurun Neraka atau ada pula yang menyebutnya dengan nama Takla Sin-jin. Dan kabarnya tokoh ini bukanlah seorang pemuda melainkan seorang tokoh yang sudah setengah umur. Karena itu, ada hubungan apakah "Yap-twako" ini dengan tokoh besar itu? Muridnyakah?

Ceng Han tidak dapat menjawab dan tiba-tiba ia menjadi bingung. Sependengarannya, murid Malaikat Gurun Neraka adalah seorarg jendral muda yang konon kabarnya menjadi panglima besar di Kerajaan Yueh. Dan kalau hal itu benar, berarti sahabat baru mereka ini jelas bukan murid Malaikat Gurun Neraka, karena tokoh besar itu hanya mempunyai seorang murid tunggal. Kalau begitu, siapakah?

Ceng Han hampir tidak mampu menjawab ketika tiba-tiba dia teringat tentang she (marga) dari bintang penolongnya itu. She Yap! Eh, kalau begitu ada hubungan apakah dengan Yap-Goanswe (Jenderal Yap) yang gagah perkasa dari Yueh itu? Teringat sampai disini Ceng Han lalu mengamati penuh perhatian dan tiba-tiba dia seperti dikejutkan dari tidurnya.

"Ahh…!" pemuda ini mengeluarkan seruan tertahan dan mata yang sudah terbelalak itu kini terbuka lebar-lebar. Dalam detik itu juga Ceng Han telah menemukan jawabannya dan putera Pendekar Kepala Batu itu tiba-tiba menjadi girang luar biasa. "Yap-gcanswe...!" Ceng Han tak mampu mengendalikan dirinya lagi dan pemuda itu berteriak kaget dengan wajah berseri. Seketika itu juga dia melompat ke depan dan Lek Hui yang mendengar seruan sutenya ini tertawa bergelak.

"Ha ha ha, sute, siapa yang kau panggil itu? tidak ada Yap-goanswe di sini, yang ada ialah Pendekar Gurun Neraka!"

Perkataan Lek Hui ini menyentakkan Ceng Han dan pemuda yang sudah melompat itu tertegun. Namun sebelum rasa kagetnya hilang Lek Hui telah menyambung kembali sambil tertawa-tawa, "Sute, mengapa terkejut? Kau kira aku bicara main-main? kalau begitu tanyakan saja kepada yang bersangkutan. Hei, Pendekar Gurun Neraka, apakah aku membohongi suteku sendiri?"

Raksasa muda itu menoleh dan Pendekar Gurun Neraka memutar tubuh. Ceng Han betapa melihat sahabat barunya itu tersenyum pahit, namun dia menganggukkan kepalanya. "Benar, saudara Ceng Han. Apa yang dikatakan twa suhengmu memang tidak salah! Di tempat ini tidak ada Yap-goanswe, melairikan aku orang she Yap, bernama Bu Kong." Jawaban ini membuat Ceng Han melengak tidak mergerti, dan Lek Hui yang tahu kebingungan sutenya itu tertawa geli, "Ha-ha, sute, dari pada kau pusing pusing memikirkan hal ini lebih baik kau cerikan saja kepadaku mengapa kau dan sumoi turun gunung. Apakah kalian merat dari sana dan tidak betah di atas gunung?"

Kata-kata ini hanya sebagai godaan saja, akan tetapi muka Ceng Han segera menjadi merah. Hampir dia melabrak sang suheng yang suka bicara blak-blakan namun segera dia teringat bahwa ucapannya tadi tentulah hanya sebagai kebetulan saja. Kareta itu, dia dapat menahan diri lagi dan dengan muka masam Ceng Han menjawab, "Auw-suheng, kau sungguh terlalu mempermainkan aku. Keadaan orang lain saja kau masih hendak berputar balik, bagaimana harus bicara tentang diri kami berdua? Kalau kau tidak mau menerangkan ya sudahlah! Memangnya kami harus merengek-rengek padamu?"

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara mendokol dan Lek Hui yang melihat sutenya marah itu tertawa menyeringai. "Ha-ha, sute, sejak kapan kau menjadi mudah tersinggung begitu? Seingatku, kau biasanya amat sabar dan sumoi yang sering mengganggumu itupun tidak pernah membuat kau marah. Masa sedikit godaan begini saja sudah membuat kau naik darah? Wah, celaka kalau begitu. Aka harus cepat-cepat minta maaf nih...!"

Lek Hui tertawa-tawa dan dengan sungguh-sungguh diapun lalu menjura di depan sutenya, seperti sikap seorang hamba terhadap majikannya yang takut kena gebuk. Tertu saja hal ini membuat Ceng Han tersenyum, dan Lek Hui yang melihat sutenya tidak merengut lagi itu lalu menyambung dengan ketawa gembira,

"Sute, bukannya aku mau mempermainkan dirimu, tapi sesungauhayalah apa yang kukatakan tadi memang merupakan kenyataan. Yap-goanswe tidak ada lagi didalam peperangan, karena dia telah meletakkan jabatannya beberapa bulan yang lalu, dan sebagai gantinya, kini muncul nama Pandekar Gurun Neraka. Orangnya memang sama, akan tetapi statusnya berobah dan karena itu dunia kang-ouw sudah tidak mengenal lagi nama Yap-goaaswe. Nah, jelaskah sekarang?"

Raksasa muda itu tersenyum dan Ceng Han yang mendengar cerita ini tercengang. Dia memang tidak tahu akan adanya perobaban itu, maka tentu saja dia merasa terkejut dan heran. Akan tetapi karena suhengnya telah bicara sungguh-sungguh, tentu saja tidak ada alasan baginya untuk meragukan keterangan itu. Dia hanya dapat memandang terbelalak ke arah yang bersangkutan, dan Pendakar Gurun Neraka tersenyum getir.

"Saudara Ceng Han," pendekar muda itu berkata. "Apa yang diterangkan suhengmu memang tidak keliru. Sebenamya aku sendiri hendak menyembunyikan keadaan ini, namun saudara Lek Hui ternyata telah membongkarnnya habis-habisan. Bagaimana aku harus mengelak lagi? Peperangan memang telah menggoreskan sesuatu yang amat pahit dalam diriku, oleh karena itu aku lalu mengundurkan diri. Dan tentang nama julukan itu, aihh... siapa berani disebut pendekar? Aku orang biasa saja, tidak ada keistimewaan apa-apa. Dan kalau mereka menyebutku demikian, itu bukan lain adalah karena mengingat nama suhu saja."

Pendetar muda ini menarik napas panjang dan Ceng Han menjadi bengong. Sungguh dia tidak mengira bahwa jabatan yang sudah sedemikian tingginya itu ternyata diletakkan begitu saja oleh bintang penolongnya ini. Padahal, seseorang yang ingin menduduki pangkat seperti itu haruslah berjuang bertahun-tahun. Sungguh luar biasa!

Dan sementara dia tertegun, tiba-tiba Lek Hui berseru ke arah belakangnya, "He, sumoi, kenapa kau melengong saja di situ? awas mulutmu itu, jagan dibuka lebar-lebar. Nanti kemasukan lalat, baru tahu rasa kau, ha-ha….!"

Ceng Han terkejut mendengar seruan ini dan cepat dia menoleh. Tampak olehnya betapa Ceng Bi yang berada dibelakangnya itu memang sedang terbelalak memandang ke arah "Yap-twako" dan agaknya saking terpakunya mendengar bahwa Yap-twako tersebut bukan lain adalah juga Yap-goanswe yang sering mereka dengar nama besarnya sebagai seorang jenderal muda yang gagah perkasa dan amat lihai, telah membuat gadis ini bengong dengan mulut setengah terbuka.

Sekarang mendengar Lek Hui tertawa dalam tegurannya itu membuat Ceng Bi terperanjat. Gadis ini kaget sekali dan seperti orang dibetot dari pesona penuh mujijat, Ceng Bi mengeluarkan seruan tertahan. "Ah…..!" gadis itu terkejut dan wajahnya yang cantik seketika menjadi merah seperti kepiting direbus. Perasaan malu yang luar biasa melanda dirinya, namun untunglah tubuh kakaknya yang mengaling di depannya itu dapat digunakan sebagai tempat persembunyian. Dan Ceng Bi yang amat jengah ini sudah cepat menundukkan kepalanya, sementara Lek Hui tertawa-tawa menggoda.

"Ha-ha, Pendekar Gurun neraka, kau rupanya terlalu terhadap adik-adik perguruanku ini. Mengapa kau tidak berterus terang saja sejak semula kepada mereka? Lihat kekagetan sute dan sumoiku itu, mereka sampai tak mampu membuka suara! salah siapa ini? Ha-ha...!"

Raksasa muda itu tertawa bergelak dan yang diajak bicara tersenyum masam. "Saudara Lek Hui," pendekar muda muda itu menjawab, "Jangan main-main begitu. Siapa hendak menyembunyikan siapa! Adalah kau yang membongkar rahasia orang tanpa permisi dulu. Kalau tidak, masa sutemu bakal terkejut? Ah, sudahlah, jangan mempermainkan diriku selalu. kalian kakak beradik seperguruan kini telah saling bertemu kembali dan aku ikut merasa gembira. Namun karena aku masih ada urusan pribadi, biarlah kelak kita bicara lagi."

Kata-kata ini menghentikan ketawa Lek Hui dan Ceng Han tampaknya juga terkejut. Dua orang itu memadang terbelalak dan Lek Hui berteriak, "He, Perdekar Gurun Neraka, mengapa hendak cepat-cepat pergi? Kita baru saja bertemu, masa kau tidak mau menemani kami sehari dua hari?"

Akan tetapi perdekar muda itu menggeleng. "Saudara Lek Hui, urusan pribadi yang sedang kujalankan ini amat serius sifatnya. Oleh sebab itu aku tidak boleh terlalu lama meninggalkannya. Apalagi dengan tewasnya dua orang ketua Hiat–goan-pang ini oleh senjata beracun, aku harus segera bekerja!"

"Toat-beng-cui....?"

"Begitulah. Bagaimana kau bisa tahu?' Bu Kong mematadang raksasa muda ini dan yang ditanya tiba-tiba mengerutkan alisnya.

"Pendekar Gurun Neraka," demikian Lek Hui berkata sungguh-sungguh. "Ada hal misterius yang akhir-akhir ini kujumpai. Tahukah kau kira-kira?"

Pendekar muda itu tidak segera menjawab dan dia memandang tajam. "Apa maksudmu, saudara Lek Hui?"

"Tentang kematian Hoa-san Siang-lihiap (Sepasang Pendekar Wanita Dari Hoa-san)."

"Hoa-san Siang-lihiap....?" Bu Kong tampak heran dan raksasa muda itu mengangguk.

"Begitulah, Pendekar Gurun Neraka, yang tewas adalah Hoa-san Siang-lihiap!"

"Tewas? Jadi mereka dibunuh orang maksudmu, saudara Lek Hui?"

Kembali raksasa muda itu mengangguk. "Benar, Pendekar Gurun Neraka, dua orang gadis itu menang dibunuh orang. Seperti kau ketahui, mereka adalah murid-murid tersayang dari Hoa-san Lojin yang dulu membantu Kita dalam penyerbuan besar-besaran terhadap Wu-sam-tai-ciangkun, dan yang akhirnya kembali ke gunung setelah penyerbuan kita berhasi!. Akan tetapi kalau Hoa-san Lojin sendiri langsung ke gunung, adalah dua orang murid perempuannya itu pergi merantau untuk membasmi kejahatan yang masih tersisa dari bekas-bekas peperangan yang dibuat oleh para pelarian Wu-sam-tai-ciangkun. Dan di dalam tugas inilah mereka menemui ajalnya. Seseorang telah membunuh Hoa-san Siang-lihiap dengan keji." Lek Hui berhenti sampai di sini dan raksasa muda menarik napas panjang. Ceritarya yang singkat mulai menarik perhatian orang, namun tampaknya pemuda itu ragu-ragu untuk melanjutkan.

Karena itu, Bu Kong lalu hertanya, "Kemudian bagaimana, saudara Lek Hui? tahukah kau, siapa pembunuhnya?"

Raksasa muda itu mengangguk. "Justeru Pendekar Gurun Neraka, yang membuat peristiwanya menjadi serius dan aneh, Aku khawatir kau bakal kaget sekali setelah apa yang kudengar ini sungguh tak masuk akal!"

Lek Hui berhenti lagi dan Pendekar Gurun Neraka mulai mengerutkan alisnya. "Hem, apakah itu, saudara Lek Hui?"

Pertanyaan ini mengandung ketegangan akan tetapi Lek Hui malah semakin ragu-ragu. Raksasa muda itu kelihatan bingung, sebentar memandang bekas jenderal muda, itu dan sebentar kemudian memandang adik-adik seperguruannya. Tentu saja hal ini mengherankan semua orang dan Bu Kong sendiri mulai tidak enak hatinya. Akan tetapi sebelum dia mendesak, murid Ciok-thouw Taihiap itu sudah bicara kepada sute dari sumoinya.

"Sute dan sumoi, maaf apabila aku sedikit menyinggung perasaan kalian. Karena berita yang kubawa ini menyangkut pribadi dan nama baik sahabat kita, aku tidak berani bicara sembarangan di sini. Oleh sebab itu, aku hendak pergi sebentar mengajaknya bicara empat mata."

Lek Hui lalu menoleh ke arah Bu Kong, "Pendekar Gurun Neraka, mari ikuti aku...." dan begitu habis kata-katanya dia sudah melompat meninggalkan tempat itu tanpa menengok lagi.

Hal itu membuat kerut yang semakin dalam di kedua alis Pendekar Gurun Neraka. Melihat betapa orang tampaknya seperti hendak membuka sesuatu yang tidak menyenangkan baginya, pemuda yang biasa bicara tanpa sembunyi-sembunyi itu menjadi kurang senang. Sikap Lek Hui seolah-olah menyatakan bahwa ada suatu kesalahan yang pernah dibuatnya, karena itu dia menjadi tidak puas. Sebagai pendekar yang menjunjung tinggi kegagahan, Bu Kong tidak suka dengan segala macam pengelakan tanggung jawab akibat suatu perbuatan. Oleh sebab itu, diapun tidak memenuhi permintaan Lek Hui dan kalau pemuda raksasa itu sudah melompat jauh sambil mengajaknya pergi, adalah dia yang sekarang berseru.

"Saudara Lek Hui, tidak perlu kau mengajakku jauh-jauh. Kalau ada sesuatu yang hendak dibicarakan denganku, bicaralah di sini...!"

Seruan ini keras dan tegas, dan Lek Hui yang sudah melompat itu terkejut. Raksasa muda ini tampak tidak menduga, dan dia jelas merasa terkejut sekali. "Ehh...?!" pemuda itu berseru heran. "Apa maksudmu, Pendekar Gurun Neraka? Hal ini amat bersifat pribadi bagi dirimu, bagaimana aku harus bicara di depan orang lain meskipun mereka itu adalah sute dan sumoiku sendiri?"

Akan tetapi Pendekar Gurun Neraka menggelengkan kepalanya dengan sikap tegas. "Saudara Lek Hui hanya orang yang pernah berbuat salah sajalah yang suka bicara sembunyi-sembunyi, terutama apabila hal itu menyangkut diri pribadinya. Karena itu, aku tidak suka dengan segala kemunafikan sikap ini dan kalau aku memang mempunyai sesuatu yang tidak beres, katakanlah sekarang juga. Buruk atau tidak buruk itu adalah tergantung dari penilaian masing-masing, karena itu aku tidak perduli!"

Jawaban ini mencengangkan Lek Hui dan Cen Han yang mendengar ucapan itu dim-diam kagum bukan main. Betapa gagahnya Pendekar Gurun Neraka, betapa jantan sikapnya! Berani didengar orang lain segala rahasia pribadinya! Oleh sebab itu, rasa simpatik dan hormat tumbuh di dalam hatinya. Dan karena Pendekar Gurun Neraka menyuruh twa-suhengnya untuk bicara terus terang saja di depan mereka, Ceng Han menjadi tidak enak sendiri. Maka. Begitu kakak seperguruannya tiba, dia lalu meraih lengan adiknya.

"Yap-twako eh, Yap-taihiap, kalau twa-suheng hendak bicara sesuatu yang penting denganmu, biarlah kami menyingkir dulu. Tidak enak bagi kami untuk mendengarkan rahasia orang lain. Karena itu perkenankan kami pergi."

Cerg Han sudah menjura dan siap memutar tubuh, akan tetapi Pendekar Gurun Neraka mengangkat tangannya. "Saudara Ceng Han, jangan bersikap begitu. Kita sudah menjadi sahabat sahabat lama, maka panggilanmupun hendaknya jangan dirobah. Terhadap teman-teman lama mana ada rahasia segala? Tidak saudara Ceng Han, berita penting yang bagaimanapun juga yang hendak dikatakan twa-suhengmu disini bagiku bukanlah rahasia besar. Kalau toh memangnya rahasia, tentunya juga orang lain sudah ada yang tahu. Karena itu untuk apa disembunyikan? Nah, saudara Lek Hui, ceritakanlah apa yang hendak kau katakan kepadaku!"

Pendekar itu menoleh kepada Lek Hui dan raksasa muda ini terbelalak. Ceng Han juga ikut tertegun dan dua orang muda itu tampaknya sama-sama tidak enak. Akan tetapi, karena bekas jenderal muda itu sendiri sudah bicara demikian tegas, Lek Hui pun menindas keraguannya. Apalagi kalau dipikir bahwa yang ikut mendengarkan di situ adalah sute dan sumoinya sendiri. Maka raksasa muda inipun tidak sungkan-sungkan lagi. Dan dasar dia sendiri juga merupakan orang yang suka bicara blak-blakan dan jujur, maka begitu orang menyuruh dia bicara segera pemuda ini membuka mulut.

"Pendekar Gurun Neraka, aku hendak bicara tentang murid perempuan Cheng-gan Siang-jin yang pernah tergila-gila denganmu itu dan yang sekarang telah melahirkan bayimu laki-laki...!"


Pendekar Kepala Batu Jilid 04

PENDEKAR KEPALA BATU
JILID 04
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Kepala Batu
PEMUDA itu mendengus, dan tiba-tiba dia mencabut caping bambunya. Kini tampaklah seluruh wajah yang gagah dan ganteng itu, dan Ceng Bi menjadi bengong. Meskipun gadis ini tahu bahwa pemuda tinggi besar itu tampan, akan tetapi sekarang, begitu pemuda ini melepas caping bambunya yang aneh itu, tampaklah sebuah wajah yang bersinar agung dan penuh wibawa.

Ceng Bi tertegun, dan gadis ini bengong seperti orang kena hikmah. Ia terpaku di tempatnya dengara mata tidak berkedip. Padahal pada saat itu, semua anak buah Hiat goan-pang sudah melompat maju dengan gelang-gelang mereka yang berkerincingan. Sebagian besar menyerbu pemuda yang gagah perkasa itu namun sebagian lagi menyerang gadis ini.

Maka kagetlah Ceng Bi ketika tiba-tiba ia mendengar kesiur angin di belakang tubuhnya. Gadis jadi terkejut, dan secepat ia membalik sambil berseru keras. Pek-ong-kiam digerakkan setengah lingkaran dan sinar putih terkelebat menyambut datangnya empat orang yang menyergapnya berbareng itu.

"Trang-trang-trang-trang!"

Bunga api berpijar dan empat orang itu berteriak kaget. Gelang-gelang mereka tertebas kutung dan sebelum mereka melompat mundur, tahu-tahu sinar putih itu telah menyambar mereka dengan babatan miring! Empat orang ini terkesiap namun merekapun bukanlah orang-orang yang gampang dirobohkan begitu saja. Karena itu, meskipun melompat mundur sudah jelas tidak keburu lagi namun mereka ini masih cukup cekatan.

Dengan membanting tubuh bergulingan empat orang ini lobos dari sambaran pedang dan hanya seorang saja yang sedikit terlambat. Dia kurang cepat membanting tubuh dan pundak kirinya terkerat sedikit. Orang ini menjerit kecil, akan tetapi dia, sudah melompat bangun dengan muka pucat. Kini mereka telah berhadapan lagi secara berdepan dan kiranya mereka itu bukan lain adalah tiga orang muka hitam yang pertana kali mengganggu Ceng Bi di rumah makan Tiang-an. Hek-bin Sam-houw dan seorang temannya!

Ceng Bi mendengus marah namun tiga orang Harimau Hitam itu telah mendahuluinya. mereka telah menyerangnya dengan senjata rahasia gelang-gelang kecil yang beracun dan mengingat dia tidak boleh tersentuh benda-benda ini maka Ceng Bi memutar pedangnya menangkis cepat. Suara nyaring benturan logam terdengar berkali-kali dan belasan gelang-gelang kecil yang disambitkan Hek-bin Sam-houw mencelat jatuh. Akan tetapi simpanan seniata rahasia ini agaknya luar biasa banyak dan Ceng Bi menjadi marah sekali. Apalagi setelah orang ke empat juga ikut membantu.

Mereka ini menyerangnya seperti hujan dan sinar-sinar merah tiada hentinya menyambar tiba. Karena itu, Ceng Bi lalu memekik gemas dan gadis ini mulai berputaran dengan ginkangnya. Kadang-kadang ia melompat ke arah Hek-bin Sam houw, namun kadang-kadang mendekati orang ke empat yang selalu membokongnya dari belakang itu. Kini mulailah bayangan merah beterbangan dari satu tempat ke tempat lain sementara hujan senjata rahasia masih terus berlangsung.

Ceng Bi memekik-mekik, akan tetapi empat orang lawannya selalu main kucing-kucingan. Kalau ia menyerang yang satu, selalu yang lain membokong dari belakang. Dan kalau ia berputar ke belakang, maka yang lain akan menyerangnya dari arah berlawanan. Gelang-gelang kecil sudah berjatuhan di atas tanah, dan banyaknya tidak kurang dari lima puluh buah. Dan setiap kali itu pula mereka memercikkan bunga api disusul sedikit asap.

Dan justru asap inilah yang bahayanya tidak diketahui Ceng Bi. Gadis itu tidak sadar, betapa asap dari potongan-potongan logam ini juga mengeluarkau bau beracun dan baru Ceng Bi terkejut setelah kepalanya pusing-pusing ketika hidungnya mencium bau aneh yang amat ganjil.

Ceng Bi terkejut, dan ia tidak mengerti mengapa keadaannya menjadi seperti itu. Dia tidak tahu bahwa gelang-gelang berdarah yang ditangkisnya ini memang aneh karena selain direndam racun, gelang-gelang itu akan menguap secara perlahan-lahan karena logamnya dicampuri bubuk penyebar tulang! Inilah sebabnya mengapa gadis itu mulai terpengaruh.

Hiat-goan-pangcu adalah tokoh-tokoh hitam dari kelompok Mo-san Ngo-yu, karena itu, masalah racun dan pekerjaan hitam bagi mereka adalah permainannya. Maka tidak heran apabila dari dua orang kakek ini dapat muncul semacam senjata rahasia yang lain daripada yang lain. Logam dari gelang-gelang merah itu oleh mereka sebelumnya telah digodok terlebih dahulu, dan setelah logam ini lumer baralah oleh mereka dicampuri bubuk penyebar tulang yang mereka dapat dari tanah-tanah kuburan yang warnanya sudah kehijauan.

Oleh sebab itu, tidak aneh jika logam-logam yang dicetak sebagai gelang-gelang kecil ini mengandung racun luar dalam. Di bagian luar akibat racun merah yang membuat gelang-gelangan berwama seperti darah, sedangkan di bagian dalam mengandung racun-racun putih kehijauan dari bubuk penyebar tulang!

Dan Ceng Bi yang tidak tahu akan hal ini sudah mulai terhuyung-huyung. Memang ia masih terlalu hijau akan pengalaman dunia kang-ouw, maka tidak heran kalau ia dapat dicurangi lawan. Karena itu, beberapa menit lagi sudah bisa dipastikan bahwa gadis ini bakal roboh sendiri mencium asap beracun terus-menerus. Akan tetapi untunglah sesuatu perobaban terjadi secara tiba-tiba dan hal itu datangnya dari kerangkeng Ceng Han!

Aneh sekali kedengarannya, namun ini memang kenyataannya. Seperti kita ketetahui, Ceng Han itu tertotok lumpuh di dalam kerargkeng. Dia tidak dapat bergerak dan semua peristiwa yang terjadi di depannya hanya dapat dilihatnya dengan mata terbelalak dan hati gelisah. Diam-diam pemuda ini mengeluh. Ceng Bi dianggapnya ter!alu gegabah, akan tetapi karena adiknya itu datang untuk menolongnya maka diapun tidak dapat terlalu menyalahkan. Dia sendiri sebenarnya terjebak dengan cara yang lebih konyol lagi karena kalau adiknya itu sedikit banyak telah melakukan pertempuran, adalah dia belum satu juruspun bertanding!

Dan ini akibat ketololannya mengenal orang disamping rasa kepercayaannya terhadap musuh. Harimau yang datang disangkanya kucing. Karena itu dalam sekejap saja dia harus meringkuk di tangan musuh. Mengingat ini Ceng Han mendongkol sekali. Dia tidak tahu orang-orang yang menangkaprya itu siapa selain pengakuan mereka banwa ayahnya dikatakan punya "hutang" tiga jiwa. Karena itu kenyataan ini lalu memberi-tahukannya bahwa dia terjatuh di tangan musuh.

Namun Ceng Han sama sekali tidak takut dan pemuda ini memang tidak kenal artinya takut. Oleh sebab itu, biarpun dia ditotok lumpuh, pemuda ini masih dapat bersikap tenang-tenang saja. Dia mendengar bahwa orang orang ini hendak "mengundang" ayahnya dengan jalan menjadikan dirinya sebagai sandera! Dan pemuda ini bahkan merasa girang. Kalau ayahnya betul datang, dia yakin orang-orang itu bakal dihajar babak-belur.

Siapa tahu, bukan ayahnya yang datang melainkan Ceng Bi! Dan dari semua pembicaraan tadi mengertilah pemuda ini bahwa musuh-musuh ayahnya itu kiranya bukan lain adalah sisa-sisa dari Mo-san Ngo-yu yang dulu memang pernah dihajar ayahnya. Hanya dia tidak mengira kalau dua diantara lima sahabat ini ternyata masih hidup dan sekarang bahkan menjabat ketua Hiat-goan-pang.

Karena itu, Ceng Han mulai merasa gelisah. Bukan gelisah terhadap diri sendiri melainkan gelisah tentang keselamatan adiknya. Ayahnya pernah bercerita tentang orang-orang ini, dan dia makium betapa culas mereka itu. Maka sungguh amatlah mengkhawatirkan kalau adiknya ini yang datang. Bisa-bisa mereka berdua tertangkap semua dan kalau sudah begitu, bukankah ayah mereka bakal celaka? Semua pikiran ini benar-benar menggelisahkan Ceng Han, apalagi setelah adiknya terdesak hebat oleh orang kedua dari sepasang kakek kembar itu.

Maka ketika tiba-tiba muncul bintang penolong berupa pemuda tinggi besar yang gagah dan tampan itu Ceng Han menjadi girang sekali. Dan kegirangannya semakin besar melihat betapa sekali gebrak saja dua orang ketua Hiat-goan-pang itu dibikin terlempar tidak karuan. Ceng Han bersorak di dalam hatinya namun diam-diam dia juga terkejut. Tenaga yang diperlihatkan pemuda yang gagah dan tampan itu benar-benar membuatnya tertegun dan menurut dugaannya, agaknya tidak kalah hebat dengan Lek Hui yang menjadi twa-suhengnya! Karena itu, pemuda ini gembira sekali dan dia mengharap adiknya itu tidak sampai celaka.

Akan tetapi, apa yang dipikir rupanya tidak sejalan dengan yang dilihat. Memang betul adiknya ini mulai bertanding, dengan anak-anak buah Hiat-goan-pang, sementara pemuda tinggi besar itu sudah diterjang sang ketua berikut anak buah yang lain. Hanya bedanya, kalau pemuda yang gagah perkasa itu bersikap tenang-tenang saja dan dia tanpaknya menguasai keadaan, adalah Ceng Bi secara aneh mulai terhuyung-huyung. Padahal dua, orang itu sama-sama bersenjata, bahkan si pemuda tinggi besar jauh lebih berat keadaannya dibanding Ceng Bi yang melulu diserang senjata-senjata gelang berdarah.

Ada apa di baiik keganjiian ini? Ceng Han tidak mengerti dan pemuda itu menjadi cemas sekali. Kalau terus-terusan begini, pasti adiknya itu akan roboh tertangkap. Ceng Han menoleh ke pemuda tinggi besar dan dia melihat betapa pemuda gagah perkasa itu dikeroyok oleh hampir dua puluh orang! Ceng Han terbelalak dan diam-diam kagum bukan main. kalau dibandingkan, keadaan adiknya sungguh jauh lebih ringan daripada pemuda itu. Akan tetapi nyatanya Ceng Bi bahkan semakin lemah dan tubuhnya terhuyung-huyung semakin keras. Tentu saja pemuda ini gelisah. Apa yang harus diperbuat pada saat seperti itu? Ceng Han tidak tahu dan dia menggigit bibir penuh kegemasan dan kekhawatiran.

Beberapa saat lagi adiknya itu barang kali akan roboh sendiri tanpa diserang, dan hal ini membuat pemuda itu marah. Musuh menyerang adiknya di depan mata, namun dia serdiri tak mampu berbuat apa-apa!. Siapa tidak gemas? Dan sementara dia kebingungan inilah tiba-tiba Ceng Han mendengar luncuran suara yang dikirim dari jarak jauh.

"Saudara Ceng Han, cepat bantu adikmu itu. Dobrak pintu kurungan dan keluarlah! Aku akan membebaskan totokanmu sekarang. Nah bersiaplah....!"

Begitu suara itu lenyap, tiba-tiba sebutir batu kecil menyambar dengan kecepatan kilat ke dalam kerangkeng. Ceng Han terkejut, dan dia merasa betapa lehernya mendadak kejang sedikit. Rasa nyeri menusuk urat lehernya, namun begitu lenyap, tiba-tiba jalan darahnya pulih kembaIi. Tentu saja pemuda ini girang dan ketika betul-hew! dia mendapat kenyataan bahwa dirinya sudah dapat bergerak seperti sedia kala, Ceng Han berseru keras dan pintu kerangkeng dipukulnya berantakan.

"Brangg...!"

Jeruji besi itu ambrol dan Ceng Han melompat dengan muka merah. Sudah beberapa hari dia disekap dalam tempat yang sempit, maka begitu dapat bebas seperti biasa pemuda ini lalu menyerbu Hek-bin Sam-houw dan seorang temannya yang mengeroyok Ceng Bi. Dia sudah mematahkan sebatang jeruji, dan dengan senjata aneh pemuda itu menerjang!

"Keparat-keparat berani kalian mengganggu adikku!" Ceng Han berteriak marah dan jeruji besi itu dipukulkan ke punggung laki-laki berkumis pendek. Dia ini adalah Twa Houw, yakni orang tertua dari Hek-bin Sam-houw yang pada saat itu paling menyambit-nyambitkan senjata rahasia. Dan orang inilah yang sekarang menerima kemarahan Ceng Han.

Twa Houw terkejut, dan sejenak dia tercengang. Orang tertua dari Hek-bin Sam-houw ini memang tidak mengira bahwa Pemuda yang sudah menjadi tawanan mereka tiba-tiba lolos begitu saja. Karena itu, dia merasa kaget dan melihat pemuda ini menghantam punggungnya, Twa Houw memutar tangannya dan lima batang gelang menyambar tubuh Ceng Han sementara dia sendiri cepat melompat ke belakang sambil berseru keras.

"Tring-trirg-tringg!" lima kali berturut-turut suara mendencing nyaring ketika Ceng Han terpaksa menangkis senjata-senjata rahasia itu dan melihat lawan menghindarkan diri, dia terus mengejar dengan gemas. Besi yang seperti toya pendek itu meluncur dan bagaikan ular hidup saja tahu-tahu telah mengancam muka Twa Houw.

Tentu saja laki-laki ini terperanjat, dia belum sempat berdiri tegak ketika senjata di tangan Ceng Han menyambar. Padahal, senjata rahasia sudah tinggal yang terakhir kali dan yang ternyata tidak membawa hasil. Oleh sebab itu, orang tertua dari Tiga Harimau Muka Hitam tuba-tiba memekik dan sekali tangannya bergerak, tiba-tiba dia telah mencabut sebatang golok aneh yang punggungnya berlubang-lubang.

Senjata ini ganjil sekali tampaknya. Bagian bawah memang seperti golok-golok pada umumnya, akan tetapi punggung yang berlubang-lubang itu diberi gelang sebesar jari kelingking yang mengeluarkan suara nyaring apabila digerakkan. Karena itu, ketika pipa besi di tangan Ceng Han meryambar maka golok aneh yang dipegang, Twa Houw ini menangkis kuat.

"Trangg….. !"

Twa Houw berteriak kaget karena senjata di tangannya terpental keras. Laki-laki ini merasa betapa lengannya yang memegang golok tergetar hebat dan hampir saja senjatanya terlepas. Tentu saja harimau hitam itu terkejut. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa goloknya yang tajam tidak mampu membabat senjata lawannya yang sederhana itu. Dan sementara lengannya tergetar lumpuh tiba-tiba besi pendek itu menghantam pundaknya.

"Krakk...!" laki-laki ini tidak sempat menangkis dan karena Cong Han mengerahkan lweekangnya dalam pukulan itu, maka tulang pundak Twa Houw patah tiga bagian! Twa Houw menjerit kesakitan dan Ceng Han yang marah melihat kecurangan laki-laki ini telah menggerakkan kakinya menyambar perut lawan. Terdengar suara "bluk" yang keras dan tubuh Twa Houw terlempar sambil berteriak, ngeri. Orang tertua dan Hek-bin Sam-houw terbanting dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah laki-laki ini telah putus nyawanya di tengah jalan karena isi perutnya pecah dihantam kaki Ceng Han!

Gegerlah keadaan di tempat itu. Dua harimau hitam yang lain dan seorang temannya terbelalak melihat kematian Two Houw yang mengerikan ini. Karena itu, tiba-tiba mereka inipun juga mencabut golok berkerincing yang memang sebenamya merupakan senjata utama bagi anggota-anggota Hiat-goon-pang yang belum mahir memainkan sepasang gelang berdarah seperti ketua mereka Dan begitu mereka mencabut senjata, tiga orang ini menerjang Ceng Han karena Ceng Bi sendiri sudah roboh lemas tepat di sebelah kematian Twa Houw.

Mereka menyerang ganas, namun Ceng Han menyambut dengan tidak kalah ganasnya pula. Pemuda ini meluap kemarahannya melihat adiknya roboh tanpa sebab, karena itu ia segera mengamuk dengan besi kerangkeng yang dicabutnya itu. Putaran toya darurat di tangan putera Pendekar Kepala Batu ini mengeluarkan suara bercuitan dan begitu membentur golok-golok lawan, segera tiga orang itu memekik kaget dengan mata terbelalak.

Tiga golok bergerincing semuanya terpental, dan sementara mereka terkejut dengan lengan tergetar tiba-tiba sinar hitam berkelebat tiga kali berturut turut. Ji Houw dan Sam Houw membanting tubuh, akan tetapi gerakan mereka kalah cepat. Sinar hitam itu telah menyambar dan baru saja mereka merendahkan tubuh tahu-tahu tengkuk mereka telah dihantam senjata di tangan Ceng Han.

"Tak-takk!"

Dua orang ini menjerit ngeri dan tubuh mereka terjungkal roboh. Golok terlepas dan dua orang dari Hek-bin Sam-houw itu terkapar dengan mata mendelik. Mereka tewas hampir berbareng sementara beberapa detik kemudian orang terakhirpun juga mengalami nasib yang sama. Besi hitam di tangan Ceng Han tak kenal ampun. Biegitu merobohkan sisa-sisa dari Hek-bin Sam-houw tahu-tahu telah berkelebat ke orang ini.

Tadinya orang itu hendak memutar tubuh, akan tetapi kecepatan sinar hitam tak mampu dielakkannya. Senjata itu tahu-tahu telah mengenai pelipis kanannya dan ketika terdengar suara tengkorak pecah maka orang inipun menjerit dengan suara ngeri. Tubuhnya terbanting dan seperti tiga orang yang lain, orang inipun juga tewas dalam waktu sekejap saja di tangan Ceng Han yang marah!

Anak-anak buah Hiat-Goan-Pang yang lain terkejut bukan main. Demikian pula halnya dengan dua orang ketua mereka. Lepasnya pemuda itu dalam kurungan sungguh mengagetkan semua orang. Apalagi setelah dalam beberapa gebrak saja mengamuk dan merobohkan empat orang anggota Hiat-Goan Pang kejadian ini benar-benar menggegerkan.

Karena itu, sepasang ketua Hiat-goan-pang ini berteriak marah dan dengan seruan menggeledek mereka menyerang pemuda tinggi besar itu dengan sepasang gelang mereka. Terjangan mereka dahsyat, gelang baja yang tahan beradu dengan senjata-senjata pusaka itupun mengeluarkan suara mengaung hebat. Dan itu masih ditambah lagi dengan bantuan Ui-bin Siang-houw serta para anggota yang lain. Maka ganasnya sungguh bukan kepalang dan kalau orang biasa saja yang menerima serangan macam itu, pasti roboh tidak lama kemudian.

Namun yang mereka hadapi kali ini bukanlah orang biasa. Dia ini adalah seorang pendekar muda yang bernama besar, yang tingkatnya sekarang malah melebihi gurunya sendiri, si Malaikat Gurun Neraka dari padang pasir! Karena itu, meskipun dirinya dikeroyok, pemuda gagah perkasa yang bukan lain adalah Sang Pendekar Gurun Neraka tenang-tenang saja. Caping bambunya bergerak mengibas, tangan kirinya membantu dengan pukulan-pukulan sinkang, Dan akibatnya saja sudah sangat mentakjubkan. Semua senjata tertolak mundur, seperti ditiup angin taupan belasan anggauta Hiat-goan-pang jungkir balik tidak karuan!

Tentu saja dua orang ketua itu kaget bukan main. Mereka memang baru saja muncul kembali setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri. Perubahan dunia kang-ouw dengan tokoh-tokoh mudanya belum banyak mereka ketahui. Karena itu, melihat kepandaian lawan yang demikian hebat ini mereka terkejut sekali. Hal ini tidak mereka sangka, dan dua orang kakek kembar, itu menjadi kalap.

Betapa tidak? Mereka telah mati-matian menyerang, namun pemuda tinggi besar cukup mengibas perlahan saja dan terjangan merekapun tertahan. Angin pukulan yang amat kuat keluar dari caping bambu dan merekapun merasakan adanya hawa panas yang semakin lama semakin membakar. Tentu saja dua orang ini marah, dan serangan-serangan yang mereka lancarkanpun semakin hebat dan bertubi-tubi.

Akan tetapi anehnya, semakin hebat mereka menyerang maka tolakan tenaga sinkang berhawa panas itu juga semakin kuat. Hal ini terjadi berulang-ulang dan dua orang kakek itu menjadi pucat. Mereka berteriak parau dan dengan nekat ingin mengadu jiwa, namun pemuda itu agaknya belun ada niat untuk menurunkan pukulan maut. Dan hal ini sebetulnya memang ada makaud karena seperti yang tadi telah dikatakan, pemuda itu ingin menemui seseorang yang menjadi majikan sepasang kakek kembar itu.

Itulah sebabnya mengapa Pendekar Gurun Neraka ini belum membalas dengan pukulan-pukulan beratnya. Dia hanya menangkis sana-sini untuk serangan serangan yang terlalu berbahaya dari dua orang kakek itu, sementara tangan kirinya didorongkan buat menghadapi anak-anak buah sepasang ketua ini, Dan akibatnyapun sudah cukup hehat bagi mereka karena sambaran angin pukulan itu telah membuat duabelas orang pengeroyok terbanting dengan tulang-tulang patah!

Semua kenyataan ini menjadikan dua orang kakek itu akhirnya gelisah. Perasaan gentar mulai mengusik mereka namun karena mereka harus malu apabila roboh di tangan pemuda yang belum mereka kenal, maka dua orang kakek ini meriggigit bibir sambil terus melancarkan serangan-serangan berat.

Caping bambunya bergerak mengibas, tangan kirinya membantu dengan pukulan-pukulan sinkang, Dan akibatnya saja sudah sangat mentakjubkan. Semua senjata tertolak mundur seperti ditiup angin taupan, belasan anggauta Hiat-goan-pang jungkir balik tidak karuan! Akan tetapi tentu saja semua perlawanan itu bakal sia-sia. Sifat yang terlampau tinggi hati dari dua orang kakek ini tidak akan menguntungkan mereka. Karena biarpun mereka belajar lagi sampai duapuluh tahun juga masih belum dapat menandingi tenaga sakti lawannya.

Pendekar Gurun Neraka adalah tokoh muda yang memiliki kepandaian luar biasa dan bagi para pembaca yang telah mengikuti cerita "Pendekar Gurun Neraka" yang lalu pasti mengetahui bahwa pemuda ini mendapatkan tenaga sakti inti matahari ketika dia bersemadhi tujuh hari di atas gurun. Karena itu, tidak heran apabila kekuatan sinkangnya sudah sukar diukur tingginya setelah dia berhasil menyerap kekuatan mujijat dari hawa Matahari itu.

Apalagi setelah gurunya mewariskan tiga jurus penutup dari ilmu silanya yang paling dahsyat, yakni yang disebut Lui-kong Ciang-hoat atau limu Siat Petir, maka kehebatan pemuda ini sudah bukan main dahsyatnya! Malaikat Gurun Neraka sendiri mengakui keunggulan muridnya itu, dan dia berpesan wanti-wanti agar pemuda ini tidak-sembarangan mengeluarkan ilmunya yang luar biasa hebatnya. Dan Bu Kong juga memang tidak berani main-main. Dia tahu akan keampuhan tenaga saktinya maka dia tidak berani sembarangan karena dengan meningkatnya tenaga sakti yang dimilikinya, otomatis semua kepandaian lainpun ikut meningkat.

Seperti sekarang ini misalnya. Dalam ia menghadapi kakek kembar itu dia hanya mainkan Khong-ji ciang dengan pengerahan tenaga empat bagian. Dan hasilnyapun sudah cukup baik. Semua serangan lawan berhasil balik dengan caping bambunya sementara tangan kirinya menolak senjata-senjata pembantu kakek kembar ini yang menyambarnya seperti hujan. Dan seperti kebiasaan perkumpulan ini, senjata rahasia gelangpun beterbangan ke arahnya susul-menyusul secara bertubi-tubi.

Namun itupun tidak menyulitkannya. Bahkan dia lalu menambah tenaga dalam tangan kirinya dan ketika tangan ini bergerak, gelang-gelang kecil itupun terpental berhamburan menghantam tuannya masing-masing. Segera terdengar jerit kesakitan di sana-sini dan empat orang roboh bergelimpangan. Mereka berteriak-teriak, dan mata mereka terbelalak ke arah sang ketua dengan muka pucat. Akan tetapi sang ketua sendiri tidak memperdulikan dan akibatnya orang-orang itu melolong seperti binatang sekarat.

Mereka mulai bergulingan, dan seorang diantaranya malah menjerit-jerit minta obat penawar kepada sang ketua. Namun, di saat kakek kembar itu sendiri sedang geram menyerang lawan mana mereka mau menggubris orang-orang ini? Mereka sendiri mati-matian bertanding, dan lolong anak buah malah membuat mereka semakin marah dan mencaci anak-anak buah yang dikatakanya tidak becus dan bodoh melebihi kerbau ini!

Sekarang keadaan menjadi semakin buruk bagi dua orang kakek kembar ini. Mereka mulai terdesak hebat dan hawa pukulan lawan mengurung mereka seperti pusaran angin lesus. Senjata sudah sukar digerakkan karena dimana-mana setalu tertahan angin pukulan sinkang lawan. Dan Pendekar Gurun Neraka memang bermaksud demikian.

Dengan ilmunya Khong-ji-ciang (Silat Hawa Kosong), pemuda itu sengaja hendak "menghimpit" lawan dari segala penjuru! Oleh sebab itu, tidak aneh apabila ketua-ketua Hiat Goan Pang ini kelabakan. Hawa pukulan panas ini membuat mereka pengap juga sesak nafas dan disamping itu tekanan-tekanan lawan membuat mereka kehabisan tenaga. Karena itu, dua kakek kembar ini menggereng marah dan tiba-tiiba mereka menyambitan sepasang gelang dengan raungan nekat.

Pemuda itu terkejut, dan cepat caping bambunya bergerak dua kali berturut-turut. Gelang ditangkis dan kontan senjata ini mencelat ke samping kiri dan kanan, dibuat sedemikian rupa sehingga menyambar Ui-bin Siang-houw yang berada di kiri kanannya! Tentu saja dua harimau kuning ini kaget. Mereka berteriak keras dan mencoba menangkis, namun tenaga lontaran itu sedemikian kuatnya sehingga gelang mereka sendiri patah-patah sementara senjata dua orang ketua ini menghantam kepala mereka.

"Prak-prakk.....!" Siang-houw memekik ngeri dan kepala mereka pecah disambar gelang baja sang ketua yang dipukul miring oleh pemuda itu. Tubuh mereka terjengkang dan darah serta otak muncrat berhamburan!

Dua kakek The tertegun, dan pada saat itulah pendekar muda ini menotok mereka dengan kecepatan kilat. Sepasang kakek kembar itu tidak sempat mengelak, dan ketika jari tangan pemuda itu menyentuh tubah mereka, dua orang kakek ini tertotok telak. Akan tetapi pada saat itulah tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan. Totokan pemuda ini diterima dengan pekik ngeri oleh sang kakek itu dan ketika Bu Kong membelalak, mendadak tubuh sepasang ketua Hiat-goan-pang ini tersungkur roboh dengan punggung berlubang!

Tentu saja pemuda itu terkejut dan ketika memandang, ternyata di punggung dua orang kakek ini menancap sebatang paku yang ujungnya melingkar-lingkar seperti bor. Toat-beng-cui (Bor Pencabut Nyawa) maka pemuda ini berseru kaget dan sekali berkelebat, tubuhnya lenyap ke jurusan dimana tadi penyerang gelap itu menyambit dua orang kakek ini.

Kecepatan gerak yang dilakukan pemuda ini luar biasa sekali, tubuhnya tahu-tahu lenyap seperti iblis saja dan Ceng Han yang melihat perbuatan itu melongo. Tadi dia menonton jalannya pertandingan dari mulai sampai akhir setelah dia membawa adiknya yang pingsan ke tempat aman. Karena itu, pemuda ini terbelalak takjub dan hatinya penuh rasa kagum yang besar sekali melihat betapa dengan enak saja pemuda itu menghadapi lawan-lawannya yang tangguh. Padahal, nama Mo-san Ngo-yu bukanlah nama sembarangan. Meskipun mereka kini tinggal dua orang saja, akan tetapi kepandaian mereka tetap hebat. Dan itu dibuktikan sendiri oleh adiknya yang tadi kewalahan mengbadapi salah seorang diantara dua orang kakek itu.

Apakah ini karena tingkatan adiknya yang masih rendah? Ataukah karena sepasang kakek itu yang terlalu kuat? Kalau benar begini jawabannya, maka Ceng Han dapat membayangkan betapa luar biasa kepandaian yang dimiliki pemuda tinggi besan yang tadi dipanggil Yap-twako itu. Ceng Han termangu-mangu, dan seruan; Toat-Beng-cu yang dikeluarkan bintang penolongnya itu membuat pemuda ini lalu menghampiri tubuh sepasang ketua Hiat-goan-pang.

Di sini tampak olehnya bahwa paku bor itu menembus sampai dalam, tinggal kepalanya saja yang berada di luar. Dan melihat warna senjata ini kebiruan, Ceng Han bergidik ngeri. Tidak aneh kalau dua orang ketua itu tewas seketika, apalagi tepat pada saat itupun mereka tak dapat bergerak karena tertotok. Akan tetapi, siapakah yang menyerangnya secara gelap itu? Dia tidak melihat adanya sebuah bayangan berkelebat, maka pemuda jai menjadi heran dan berhati-hati sekali.

Pada saat itu, sementara Ceng Han termangu-mangu tiba-tiba angin dingin berkesiur. Pemuda ini memutar tubuh karena dia mengira bahwa pemuda tinggi besar itulah yang datang. Akan tetapi, ketika dia memandang temyata orang ini bukanlah si Yap-twako tadi, melainkan seorang pemuda lain yang juga tinggi besar dan kokoh bentuknya. Ceng Han terkejut dan bayangan baru itu sudah tertawa bergelak. "Ha-ha, sute, kau ada di sini?" dan seperti burung besar saja pendatang itu hinggap di depan Ceng Han.

"Suheng....!" Ceng Han berseru kaget dan pemuda ini menjadi girang bukan main melihat siapa yang datang. Kiranya dia bukan lain adalah Lek Hui, si raksasa muda yang merupakan murid tertua ayahnya! karena itu, segera pemuda ini melompat maju dan dua orang kakak beradik sepergeruan itu saling rangkul sambil tertawa-tawa.

"Ha-ha, sute, aku mendengar kabar bahwa kau ditangkap orang-orang Hiat-goan-pang. Sebab itulah aku lalu cepat mencarimu dan temyata kau tidak apa-apa. Apakah berita itu bohong?" Lek Hui bertanya dengan suaranya yang lantang dan Ceng Han tersenyum.

"Suheng, berita yang kau dengar memang betul. Aku dijebak secara konyol sekali dan Ceng Bi juga bahkan hampir-hampir saja tertangkap musuh."

"Hehh? Sumoi juga ikut?" Lek Hui terkejut dan memandang ke sekeliling. "Mana... tetapi di mana dia?"

Ceng Han menarik nafas panjang. "Dia pingsan, suheng," jawabnya perlahan. "Dan aku tidak mengerti mengapa dia pingsan karena Bi-moi sama sekali tidak terluka ataupun tersentuh senjata musuh."

Lek Hui tampak melengak dan pemuda ini sudah berseru cepat dengan mata terbelalak, "Eh, kenapa bisa begitu? Ai, jangan-jangn racun dari senjata-senjata rahasia Hiat-goan-pang yang mengenainya! Sute, coba kulihat keadaan sumoi dan kalau perlu kita akan mencari obat penawarnya di seluruh saku-saku mayat ini, terutama ketuanya. Yang manakah ketuanya? Dan bukankah mereka ini roboh di tanganmu, sute? Wahh, hebat sekali kepandaianmu sekarang, sute, sungguh aku berbangga mempunyai adik seperguruan seperti dirimu ini! Ha-ha-ha!"

Pemuda raksasa itu tertawa bergelak dan Ceng Han menjadi merah mukanya. "Suheng, dugaaamu keliru," katanya sambil menggelengkan kepala. "Orang-orang ini sebagian besar bukan roboh olehku melainkan roboh di tangan seseoranag. Dialah yang menolong kami berdua dan lagi, masa aku harus membunuh orang dengan senjata beracun segala?"

Lek Hui tertegun dan pemuda itu tampak terkejut. "Apa? Bukan kalian yang menghajar tikus-tikus ini, sute? Lalu siapakah dia dan kemana orang itu sekarang?"

Ceng Han memandang ke arah timur. "Kesanalah dia pergi, suheng," katanya menunjuk. "Dan dia mengejar penyerang gelap yang membunuh dua orang kakek ini yang menjadi ketua-ketua Hiat-goan-pang."

Lek Hui memandang penuh perhatian ke mayat di atas tanah itu dan tiba-tiba pemuda ini berseru kaget, "Toat-beng-cui...!" katanya mendadak dan Ceng Han menganggukkan kepalanya.

"Begituiah, suheng. Bintang penolong kamipun juga menyebutnya demikian."

Raksasa muda itu terbelalak dan alisnya yang tebal berkerut. "Ah, bagaimana ada, peristiwa begini kebetulan desisnya perlahan dan Ceng Han menjadi heran. Akan tetapi, sebelum pemuda ini bertanya tiba-tiba Lek Hui sudah berkata kepadanya, "Sute, kau tunggu sebentar di sini. Aku hendak menyusul bintang penolongmu itu untuk mengetahui siapakah dia!"

Dan baru saja ucapannya habis, tubuh Lek Hui sudah berkelebat ke arah timur, Ceng Han tadinya hendak berseru, namun dia membatalkan maksudnya dan pemuda ini berdiri bengong. Kedatangan suhengnya yang amat tiba-tiba itu sebenamya menggembirakan hatinya, karena lama mereka sudah tidak berjumpa. Semenjak ayah mereka menyuruh pemuda tinggi besar itu turun gunting untuk mencari Cheng-gan Sian jin, memang suhengnya ini tidak diperkenankan pulang sebelum berhasil melaksanakan tugas. Karena itu pertemuan yang amat mendadak dan kenyataan suhengnya masih selamat menggirangkan hati Ceng Han.

Pemuda ini memang khawatir terhadap kakak seperguruannya. Tidak dia sangkal bahwa kepandaian suhengnya itu masih lebih tinggi daripada dirinya. Akan tetapi karena dia mendengar bahwa Cheng-gan Siang-jin juga bukanlah datuk sembarang datuk, diam-diam dia merasa cemas pula. Kini secara aneh kakak seperguruannya tu datang, dan katanya hendak menolong mereka dari musuh setelah mendengar kabar tertangkapnya mereka berdua. Namun melihat Toat-beng-cui dipunggung dua orang ketua Hiat Goan Pang, tiba-tiba tampak terkejut dan gerak-geriknya menyembunyikan sikap aneh.

Ceng Han ingin mengerti, akan tetapi dia terpaksa menahan diri karena suhengnya telah pergi dan segera dia teringat akan adiknya yang pingsan di sana, maka pemuda inipun lalu melompat ke tempat itu untuk melihat keadaannya. Diam-diam Ceng Han gelisah. Tadi adiknya itu hanya pingsan saja, tak ada tanda-tanda aneh yang mencurigakan. Dan dia telah menotok dua jalan darah penting untuk menjaga keselamatan adiknya dari segala bahaya yang tak diketahui. Karena itu, ketika pemuda ini sampai di sana dan melihat betapa wajah adiknya tiba-tiba menjadi pucat kebiruan Ceng Han berseru kaget. Cepat pemuda ini berlutut dan ketika dia meraba denyut nadi di pergelangan tangan, Ceng Han terkesiap karena mendapat kenyataan bahwa adiknya keracunan!

"Celaka!" pemuda ini berseru. "Bagaimana Bi-moi terserang racun yang demikian aneh? padahal dia sama sekali tidak terkena senjata apapun!"

Dan sementara pemuda ini kebingungan tiba-tiba dari belakang berkelebat bayangan seseorang. Ceng Han menoleh dan dilihatnya bahwa yang datang itu adalah si bintang peroiong yang tadi mengejar penyerang gelap. "Inkong (tuan penolong)" Ceng Ban berseru girang akan tetapi orang itu memberi isyarat dengan meluruskan jari telunjuknya depan mulut.

"Sstt, saudara Ceng Han, jangan gugup!" katanya perlahan. "Adikmu memang keracunan, dan itu disebabkan dengan adanya racun di gelang-gelang merah yang tadi, ditangkisnya."

"Akan tetapi, dia... dia sama sekali tidak terkena senjata rahasia, inkong!" Ceng Han membantah.

"Memang betul," pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Akan tetapi uap dari racun gelang telah disedotnya secara tidak sadar. Karena itulah ia pingsan tanpa terluka dan kalau kau tidak cepat keluar, saudara Ceng Han, barangkali adikmu ini sudah tertangkap orang-orang jahat itu."

"Ah, akan tetapi yang membebaskan diriku adalah engkau, inkong. Dan bagaimana dengan adikku ini.?"

"Saudara Ceng Han harap tidak perlu khawatir, dan juga jangan terlampau sungkan. Aku membawa obat penawamya dan agar aku tidak kikuk dengan sebutanmu, itu, panggil saja aku Yap-twako seperti adikmu ini memanggilku pula," pemuda itu menjawab sambil tersenyum dan muka Ceng Han sedikit merah.

"Ah… baik… terimakasih in… eh, Yapp-twako!" Ceng Han menunduk gugup, akan tetapi pemuda tinggi besar itu pura-pura tidak melihat kecanggungannya. Dia sudah merogoh saku bajunya, dan ketika tangannya dikeluarkan, Ceng Han melihat benda yang diambilnya ini bukan lain adalah cermin berbingkai emas yang sempat mengagetkan dua orang ketua Hiat-goan-pang.

Pemuda ini menjadi heran dan diam-diam dia menduga ada rahasia apakah dibalik benda itu yang membuat sepasang kakek kembar ketakutan seperti melihat setan disiang bolong. Namun sebagai pemuda yang sopan, Ceng Han tidak bertanya tentang hal ini dan pemuda yang gagah perkasa itu sudah berkata sendiri, seakan-akan tahu keheranan hati temannya.

"Berkat inilah aku berani melawan mereka dengan tangan kosong, saudara Ceng Han. Karena dulu belasan tahun yang lampau, guruku pernah menghajar orang-orang tersebut sampai tunggang-langgang. Cermin ini bukan terbuat dari kaca, melainkan dari baja putih yang mengkilap istimewa. Mengandung hawa dingin yang sifatnya seperti magnit, mampu menyedot segala bisa yang bersifat panas. Karena itu, racun yang telah dihisap adikmu inipun dapat dilumpuhkannya. Lihatlah...!"

Pendekar muda itu lalu menempelkan benda ini di tengkuk Ceng Bi, dan suatu keanehan benar-benar terjadi. Ceng Han melihat betapa wana hijau yang tampak di muka Ceng Bi tiba-tiba turun ke bawah, menuju cermin penyedot racun. Dan ketika beberapa saat kemudian cermin itu diangkat, sinar kehijauan di wajah adiknya lenyap secara mendadak.

"Ah, luar biasa. Benar-benar cermin ajaib....!" Ceng Han berseru kagum dan pada saat itu Pula Ceng Bi mengeluh perlahan.

Gadis ini membuka matanya dan ketika melihat dua orang berdiri di dekatnya, gadis itu berteriak kaget dan tiba-tiba melompat bangun sambil memutar pedang dengan sikap menyerang! Tentu saja Ceng Han terkejut dan pemuda ini cepat berseru keras,

"Tahan! Aku kakakmu sendiri dan semua musuh telah disapu bersih oleh Yap-twako!"

Mendengar nama "Yap-twako" ini tampaknya Ceng Bi terkejut dan gadis itu segera menghentikan putaran pedangnya. Dengan mata terbelalak ia memandang, dan ketika benar bahwa ia hendak menyerang kakaknya sendiri serta Yap-twako yang berdiri tersenyum menatapnya itu, Ceng Bi berseru tertahan dengan muka merah. "Ah…..!" gadis itu terkejut dan Ceng Han melangkah maju dengan wajah berseri-seri.

Pemuda ini yang amat gembira bahwa adiknya telah sembuh kembali ini lalu merangkul Ceng Bi, berkata sambil tersenyum, "Bi-moi, Yap-twako telah menolongmu dari bahaya racun. Masa hendak kau serang? Hayo cepat minta maaf kepadanya, adik nakal!"

Ceng Han tertawa dan Ceng Bi tertegun. Memang dia tadi mengira bahwa dia masih dikeroyok musuh, karena kesadaran terakhir sebelum ia roboh pingsan adalah bayangan-bayangan lawan. Oleh karena itu gadis ini terbelalak bengong dalam beberapa detik. Namun setelah seluruh kesadarannya pulih kembali dan ia melihat bahwa memang benar semua musuh telah roboh malang melintang, Ceng Bi tersipu-sipu gugup dan dengan muka merah melangkah maju.

"Yap-twako, maafkan sikapku yang kurang ajar. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan apa pula yang telah menimpa diriku. Hanya samar samar saat kuingat bahwa tadinya kepalaku pening dan berputar-putar tanpa sebab. Akan tetapi sekarang, semuanya telah pulih kembali dan melihat Han-ko juga selamat berkat pertolonganmu, aku mengucapkan banyaka-banyak terima kasih dan mudah-mudahan budimu yang besar ini kelak dapat kami balas!" Ceng Bi memberi hormat sampai tubuh setengah membunakuk sementara Ceng Han tiba-tiba berseru nyaring dengan mata melotot.

"He, bagaimana ini, Bi-moi? Aku hanya menyuruhmu minta maaf, bukan menyatakan terima kasih karena itu adalah tugas kakakmu. Kenapa diserobot? Wah, sialan, punya adik demikian kurang ajar! Yap-twako, maafkan kelancangan adikku ini. Gara-gara dia aku jadi terlambat menghaturkan terima kasih, harap twako tidak kecil hati….!" berkata demikian Ceng Han buru-buru menjura menyusul adiknya dan tampak pemuda ini memandang Ceng Bi dengan sinar mata marah sementara yang dipandang malah balas mencibir!

Tentu saja hal ini membuat pemuda tinggi besar itu terseyum lebar, maka sambil tertawa diapun cepat membalas hormat dua orang kakak beradik itu dan menjawab, "Saudara Ceng Han dan nona Ceng Bi, kenapa kalian begini banyak adat? Kita adalah orang-orang sendiri, bukan orang lain. Karena itu harap kalian bersikap wajar saja. Sedikit bantuan yang tidak berarti begitu masa harus selalu diingat? Wah, bikin malu aku saja!"

Pemuda itu tertawa can Ceng Han serta adiknya terseryum. Kerendahan hati yang tidak dibuat-buat ini membuat putera Pendekar Kepala Batu ini merasa kagum. Dan kalau dia memandang sahabat barunya itu dengan wajah berseri, adalah Ceng Bi yang diam-diam melirik halus dengan sudut matanya. Akan tetapi begitu yang dipandang benterok sinar matanya, segera gadis ini menundukkan kepalanya dengan muka merah!

"Ha ha ha, Yap-twako benar-benar seorang enghiong (pendekar) sejati. Budi yang demikian besar masa dibilang tidak berarti? Kalau itu dibilang tidak berarti, aku tidak tahu lagi mana sebenarnya yang berarti!‖ Ceng Han tertawa dan Ceng Bi yang merasa jengah akibat adu mata tadi tidak berani memandang ke depan seperti kakaknya.

Gadis ini meruntuhkan pandang ke bawah, pura-pura mengamati mayat orang-orang Hiat-goan-pang untuk menenangkan guncangan hatinya. Karena itu, dia dapat melihat pula mayat sepasang kakek kembar yang menjadi ketua Perkumpulan Gelang Berdarah itu. Dan melihat tewasnya dua orang kakek ini diam-dian Ceng Bi merasa kagum dan juga lega. la merasa lega karena hal ini berarti lenyapnya salah satu dari sekian banyak musuh-musuh ayahnya yang amat lihai, dari merasa kagum atas kepandaian yang dimiliki Yap-twako. Ia tidak tahu dengan cara bagaimanakah pemuda tinggi besar yang gagah dan tampan itu membunuh tua orang ketua 'Hiat-goan-pang‘ yang tinggi kepandaiannya ini?

Akan tetapi melihat tewasnya mereka di situ, jelas dua orang kakek kembar memang bukan tandingan pemuda yang gagah perkasa itu. Dan kekaguman Ceng Bi semakin meningkat. Diam-diam hatinya merasa berdebar dan kalau beberapa waktu yang lalu ia berani saling adu Pandang, kini ia merasa likat dan malu-malu.

Ceng Bi merasa aneh. Ia tidak tahu mengapa perasaannya bisa begitu dan kalau ia hendak mengangkat muka, selalu ada kegugupan di dalam hatinya. Karena itu, ia selalu menunduk saja dan ketika secara tidak sengaja matanya membentur punggung mayat bekas ketua ketua Hiat-goan-pang roboh menelungkup, tiba-tiba Ceng Bi terkesiap kaget.

"Ihh, Yap twako kiranya juga mahir mempergunakan senjata beracun?" seruanya terloncat begitu saja dari mulut Ceng Bi dan tiba-tiba gadis itu sekarang mengangkat mukanya dengan mata terbelalak. la nampak terkejut. Namun Ceng Han lebih terkejut lagi mendengar perkataan adiknya ini. Seketika itu juga pemuda ini menoleh dan ketika dia melihat wajah adiknya berobah pucat, Ceng Han segera teringat akan musuh gelap yang tadi dikejar penolongnya inu. Oleh sebab itu, Ceng Han lalu memutar tubuh dan sebelum sahabat barunya itu menjawab pemuda ini sudah cepat menjawab sambil menggoyang tangannya menegur,

"Hush, Bi-moi, perkataan apa yang kau keluarkan ini? Yap-twako adalat seorang pendekar sejati, mana sudi dia meuggunakan senjata beracun segala? Tidak, adikku, bukan dia yang melakukan kecurangan ini melainkan orang lain. Tadi Yap-twako hanya menotok lumpuh dua orang kakek itu dan pada saat mereka hendak roboh, tiba-tiba saja seseorang menyambitkan senjata gelap itu dari belakang. Kejadian amat tidak terduga, maka Yap-twako sendiri tidak sempat menolong. Karena itu Yap-twako lalu mengejar si penyerang gelap yang menyebabkan Hiat-goan-siang pangcu ini tewas dan karena aku sendiri sejenak terlupa oleh kegembiraan melihat kau sembuh, aku belum sempat menanyakan kepada yang bersangkutan. Nah harap kau tidak salah mengerti, dan kalau kau ingin tahu kelanjutannya, silakan bertanya kepada Yap-twako sendiri!"

Penjelasan ini membuat Ceng Bi tertegun, dan muka yang tadi pucat itu berubah cerah. Sejenak gadis ini terbengong, namun akhirnya dia mengeluarkan seruan lirih seperti orang bergumam dam Ceug Bi tersipu-sipu malu. "Oh..,.!" hanya itulah suara yang terdengar dari mulut gadis ini dan selanjutnya Ceng Bi berdiam diri.

Ceng Han yang melihat adiknya tersipu-sipu, kini sudah mengbadap ke sahabat barunya. Alis yang berkerut dari bintang penolongnya itu membuat pemuda ini merasa tidal enak. Karena itu, Ceng Han lalu merangkapkan kedua tanganya sambil berkata, "Yap-twako, mohon sekali lagi maafku atas kata- kata adikku tadi... Bi-moi memang lancang, namun hal itu dilakukannya karena dia tidak tahu. Oleh sebab itu harap twako tidak memasukkannya di dalam hati, dan kalau twako merasa tidak puas, aku sia menerima makianmu!"

Dengan sungguh-sungguh pemuda ini bicara, dan pendekar muda itu terkejut. Dia seperti digugah dari tidurnya dan melihat Ceng Han menjura di depannya tanpa disuruh, Pemuda tinggi besar ini menjadi sibuk sendiri. "Eh, eh, saudara Ceng Han, apa-apaan ini? Aku mengerutkan alis karena teringat kepada penjahat itu, bukan karena marah atau tidak senang kepada adikmu, mengapa minta maaf lagi? Harap jangan membuat kikuk diriku, kalian tidak bersalah dan nona Ceng Bi-pun memang sudah selayaknya jika menanyakan hal itu!" dengan terburu-buru pemuda ini menahan pundak Ceng Han dan Ceng Han segera berdiri tersenyum.

"Ah, begitukah, Yap-twako?" Ceng tertawa girang. "Kalau begitu bolehkah sekarang bertanya tentang penjahat itu?"

Pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, saudara Ceng Han, bahkan aku-pun memang hendak menceritakannya pada kalian."

Jawaban ini menggembirakan hati Ceng Han dan Ceng Bi yang sejak tadi banyak berdiri sebagai pendengar, kini juga ikut tertarik. Dua orang kakak beradik itu memandang, namun Ceng Han yang rupanya tidak menunggu sudah membuka suara kembali, "Yap-twako, berhasil kau kejarkah orang itu?"

Akan tetapi yang ditanya malah menggelengkan kepalanya dengan sikap gemas. "Sayarg, saudara Ceng Han, peristiwa yang amat tiba-tiba, itu mengurangi kewaspadaanku. Dia lari ke hutan sebelah timur dan ketika aku menyusul ke sana, jejaknya lenyap. Hanya sempat kutangkap bayangannya yang berwarna hijau dan setelah itu dia menghilang di kerimbunan semak belukar."

"Ahh....!" Ceng Han tercergang kaget dan diam-diam pemuda ini terkejut, dilihatnya kehebatan ginkang yang dimiliki sahabat barunya namun toh lawan terryata dapat melarikan diri. Kalau begitu hal ini menunjukkan bahwa penyerang gelap yang amat misterius itu benar benar adalah orang yang amat lihai! Dan memikirkan sampai di sini diam-diam Ceng Han bergidik ngeri. Kalau saja Toat-beng-cui bukan ditujukan ke arah Hiat-goan-siang pangcu melainkan ke arah dirinya, tidak berani membayangkan apakah kiranya dia bakal selamat oleh serangan gelap itu.

Karena itu, sejenak pemuda ini berdiri tertegun dan Ceng Bi yang belum tahu awal ekornya cerita itu menjadi heran melihat kakaknya, bengong dengan mata terbelalak. Gadis ini memang tidak tahu apa gerangan yang sedang dipikirkan kakaknya, karena itu iapun tidak mengerti. Dan sementara mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba tiga orang ini dikejutkan oleh suara berkerosaknya daun di sekitar mereka disusul berkelebatnya sebuah bayangan tinggi besar. Serentak mereka menengok, dan tampaklah seorang raksasa muda yang muncul dari hutan sambil tertawa bergelak. Suaranya menggetarkan dinding ruangan, dan Geng Bi yang melihat pemuda raksasa itu meluarkan seruan tertahan.

"Twa suheng!" gadis itu berteriak kaget dan pemuda tinggi besar yang masih cukup jauh jaraknya dengan mereka bertiga ini kembali tertawa bergelak, sambil menepuk tangannya yang mengeluarkan bunyi nyaring seperti guntur menggelegar.

"Ha-ha, sumoi, kau sudah sadar kembali? Dan kalian mendapat teman baru disini, sute? Ha-ha, bagus… bagus sekali, sungguh menyenangkan....!" raksasa muda itu berteriak gembira dan dalam beberapa lompatan saja tubuhnya yang tinggi besar itu melayang tiba seperti burung besar. Angin segera bertiup kencang ketika raksasa muda yang bukan lain adalah Lek Hui ini meluncur di depan mereka dan mereka sating berhadapan, tiba-tiba Lek Hui berseru kaget,

"He, kau kiranya Pendekar Gurun Neraka? Dan kau pula kiranya yang menolong adik-adik seperguruanku? sungguh tidak kuduga! Ha-ha-ha, bagaimana kita bisa kebetulan bertemu di sini, sahabatku? Wahh, luar biasa sekali, sungguh menggembirakan... sungguh menyenangkan, ha-ha...!!"

Lek Hui tertawa tergelak-gelak dan tanpa menghiraukan kedua orang adik seperguruannya yang melongo keheranan melihat sikapnya yang seperti orang edan ini dia langsung ia melompat satu tindak dan sekali tangannya terulur, Lek Hui telah mencengkeram bahu orang dan ditepuk-tepuk nyaring dengan kekuatan penuh!

Tentu saja Ceng Han dan Ceng Bi terkejut bukan main. Mereka cukup kenal kekuatan kakak seperguruan yang seperti gajah siam ini, dan melihat betapa Yap-twako dipukul-pukul seperti itu pundaknya oleh twa-suheng mereka, dua orang putera-puteri Pendekar Kepala Batu ini terbelalak. Mereka tekejut menyaksikan ulah kakak seperguruan mereka namun mereka lebib terkejut ketika merdengar disebutnya nama Pendekar Gurun Neraka.

Gurun Neraka! Siapa belum pernah mendengar nama ini? Hampir semua orang tahu belaka nama itu, baik dari yang masih bayi sampai yang sudah jompo. Apalagi bagi orang-orarg dunia kang ouw serdiri! Karena itu tidak heran kelau dua orarg kakak beradik ini merasa kaget sekali. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa bintarg penolong yang hanya mereka kenal bernama "Yap-twako" itu ternyata adalah Pendekar Gurun Neraka. Pantas kepandaiannya demikian lihai!

Namun, di samping kekagetannya mendengar disebutnya nama itu mereka juga merasa heran tentang kenyataan ini. menurut pengetahuan mereka, Gurun Neraka dihuni oleh seorang tokoh besar yang berjuluk Malaikat Gurun Neraka atau ada pula yang menyebutnya dengan nama Takla Sin-jin. Dan kabarnya tokoh ini bukanlah seorang pemuda melainkan seorang tokoh yang sudah setengah umur. Karena itu, ada hubungan apakah "Yap-twako" ini dengan tokoh besar itu? Muridnyakah?

Ceng Han tidak dapat menjawab dan tiba-tiba ia menjadi bingung. Sependengarannya, murid Malaikat Gurun Neraka adalah seorarg jendral muda yang konon kabarnya menjadi panglima besar di Kerajaan Yueh. Dan kalau hal itu benar, berarti sahabat baru mereka ini jelas bukan murid Malaikat Gurun Neraka, karena tokoh besar itu hanya mempunyai seorang murid tunggal. Kalau begitu, siapakah?

Ceng Han hampir tidak mampu menjawab ketika tiba-tiba dia teringat tentang she (marga) dari bintang penolongnya itu. She Yap! Eh, kalau begitu ada hubungan apakah dengan Yap-Goanswe (Jenderal Yap) yang gagah perkasa dari Yueh itu? Teringat sampai disini Ceng Han lalu mengamati penuh perhatian dan tiba-tiba dia seperti dikejutkan dari tidurnya.

"Ahh…!" pemuda ini mengeluarkan seruan tertahan dan mata yang sudah terbelalak itu kini terbuka lebar-lebar. Dalam detik itu juga Ceng Han telah menemukan jawabannya dan putera Pendekar Kepala Batu itu tiba-tiba menjadi girang luar biasa. "Yap-gcanswe...!" Ceng Han tak mampu mengendalikan dirinya lagi dan pemuda itu berteriak kaget dengan wajah berseri. Seketika itu juga dia melompat ke depan dan Lek Hui yang mendengar seruan sutenya ini tertawa bergelak.

"Ha ha ha, sute, siapa yang kau panggil itu? tidak ada Yap-goanswe di sini, yang ada ialah Pendekar Gurun Neraka!"

Perkataan Lek Hui ini menyentakkan Ceng Han dan pemuda yang sudah melompat itu tertegun. Namun sebelum rasa kagetnya hilang Lek Hui telah menyambung kembali sambil tertawa-tawa, "Sute, mengapa terkejut? Kau kira aku bicara main-main? kalau begitu tanyakan saja kepada yang bersangkutan. Hei, Pendekar Gurun Neraka, apakah aku membohongi suteku sendiri?"

Raksasa muda itu menoleh dan Pendekar Gurun Neraka memutar tubuh. Ceng Han betapa melihat sahabat barunya itu tersenyum pahit, namun dia menganggukkan kepalanya. "Benar, saudara Ceng Han. Apa yang dikatakan twa suhengmu memang tidak salah! Di tempat ini tidak ada Yap-goanswe, melairikan aku orang she Yap, bernama Bu Kong." Jawaban ini membuat Ceng Han melengak tidak mergerti, dan Lek Hui yang tahu kebingungan sutenya itu tertawa geli, "Ha-ha, sute, dari pada kau pusing pusing memikirkan hal ini lebih baik kau cerikan saja kepadaku mengapa kau dan sumoi turun gunung. Apakah kalian merat dari sana dan tidak betah di atas gunung?"

Kata-kata ini hanya sebagai godaan saja, akan tetapi muka Ceng Han segera menjadi merah. Hampir dia melabrak sang suheng yang suka bicara blak-blakan namun segera dia teringat bahwa ucapannya tadi tentulah hanya sebagai kebetulan saja. Kareta itu, dia dapat menahan diri lagi dan dengan muka masam Ceng Han menjawab, "Auw-suheng, kau sungguh terlalu mempermainkan aku. Keadaan orang lain saja kau masih hendak berputar balik, bagaimana harus bicara tentang diri kami berdua? Kalau kau tidak mau menerangkan ya sudahlah! Memangnya kami harus merengek-rengek padamu?"

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara mendokol dan Lek Hui yang melihat sutenya marah itu tertawa menyeringai. "Ha-ha, sute, sejak kapan kau menjadi mudah tersinggung begitu? Seingatku, kau biasanya amat sabar dan sumoi yang sering mengganggumu itupun tidak pernah membuat kau marah. Masa sedikit godaan begini saja sudah membuat kau naik darah? Wah, celaka kalau begitu. Aka harus cepat-cepat minta maaf nih...!"

Lek Hui tertawa-tawa dan dengan sungguh-sungguh diapun lalu menjura di depan sutenya, seperti sikap seorang hamba terhadap majikannya yang takut kena gebuk. Tertu saja hal ini membuat Ceng Han tersenyum, dan Lek Hui yang melihat sutenya tidak merengut lagi itu lalu menyambung dengan ketawa gembira,

"Sute, bukannya aku mau mempermainkan dirimu, tapi sesungauhayalah apa yang kukatakan tadi memang merupakan kenyataan. Yap-goanswe tidak ada lagi didalam peperangan, karena dia telah meletakkan jabatannya beberapa bulan yang lalu, dan sebagai gantinya, kini muncul nama Pandekar Gurun Neraka. Orangnya memang sama, akan tetapi statusnya berobah dan karena itu dunia kang-ouw sudah tidak mengenal lagi nama Yap-goaaswe. Nah, jelaskah sekarang?"

Raksasa muda itu tersenyum dan Ceng Han yang mendengar cerita ini tercengang. Dia memang tidak tahu akan adanya perobaban itu, maka tentu saja dia merasa terkejut dan heran. Akan tetapi karena suhengnya telah bicara sungguh-sungguh, tentu saja tidak ada alasan baginya untuk meragukan keterangan itu. Dia hanya dapat memandang terbelalak ke arah yang bersangkutan, dan Pendakar Gurun Neraka tersenyum getir.

"Saudara Ceng Han," pendekar muda itu berkata. "Apa yang diterangkan suhengmu memang tidak keliru. Sebenamya aku sendiri hendak menyembunyikan keadaan ini, namun saudara Lek Hui ternyata telah membongkarnnya habis-habisan. Bagaimana aku harus mengelak lagi? Peperangan memang telah menggoreskan sesuatu yang amat pahit dalam diriku, oleh karena itu aku lalu mengundurkan diri. Dan tentang nama julukan itu, aihh... siapa berani disebut pendekar? Aku orang biasa saja, tidak ada keistimewaan apa-apa. Dan kalau mereka menyebutku demikian, itu bukan lain adalah karena mengingat nama suhu saja."

Pendetar muda ini menarik napas panjang dan Ceng Han menjadi bengong. Sungguh dia tidak mengira bahwa jabatan yang sudah sedemikian tingginya itu ternyata diletakkan begitu saja oleh bintang penolongnya ini. Padahal, seseorang yang ingin menduduki pangkat seperti itu haruslah berjuang bertahun-tahun. Sungguh luar biasa!

Dan sementara dia tertegun, tiba-tiba Lek Hui berseru ke arah belakangnya, "He, sumoi, kenapa kau melengong saja di situ? awas mulutmu itu, jagan dibuka lebar-lebar. Nanti kemasukan lalat, baru tahu rasa kau, ha-ha….!"

Ceng Han terkejut mendengar seruan ini dan cepat dia menoleh. Tampak olehnya betapa Ceng Bi yang berada dibelakangnya itu memang sedang terbelalak memandang ke arah "Yap-twako" dan agaknya saking terpakunya mendengar bahwa Yap-twako tersebut bukan lain adalah juga Yap-goanswe yang sering mereka dengar nama besarnya sebagai seorang jenderal muda yang gagah perkasa dan amat lihai, telah membuat gadis ini bengong dengan mulut setengah terbuka.

Sekarang mendengar Lek Hui tertawa dalam tegurannya itu membuat Ceng Bi terperanjat. Gadis ini kaget sekali dan seperti orang dibetot dari pesona penuh mujijat, Ceng Bi mengeluarkan seruan tertahan. "Ah…..!" gadis itu terkejut dan wajahnya yang cantik seketika menjadi merah seperti kepiting direbus. Perasaan malu yang luar biasa melanda dirinya, namun untunglah tubuh kakaknya yang mengaling di depannya itu dapat digunakan sebagai tempat persembunyian. Dan Ceng Bi yang amat jengah ini sudah cepat menundukkan kepalanya, sementara Lek Hui tertawa-tawa menggoda.

"Ha-ha, Pendekar Gurun neraka, kau rupanya terlalu terhadap adik-adik perguruanku ini. Mengapa kau tidak berterus terang saja sejak semula kepada mereka? Lihat kekagetan sute dan sumoiku itu, mereka sampai tak mampu membuka suara! salah siapa ini? Ha-ha...!"

Raksasa muda itu tertawa bergelak dan yang diajak bicara tersenyum masam. "Saudara Lek Hui," pendekar muda muda itu menjawab, "Jangan main-main begitu. Siapa hendak menyembunyikan siapa! Adalah kau yang membongkar rahasia orang tanpa permisi dulu. Kalau tidak, masa sutemu bakal terkejut? Ah, sudahlah, jangan mempermainkan diriku selalu. kalian kakak beradik seperguruan kini telah saling bertemu kembali dan aku ikut merasa gembira. Namun karena aku masih ada urusan pribadi, biarlah kelak kita bicara lagi."

Kata-kata ini menghentikan ketawa Lek Hui dan Ceng Han tampaknya juga terkejut. Dua orang itu memadang terbelalak dan Lek Hui berteriak, "He, Perdekar Gurun Neraka, mengapa hendak cepat-cepat pergi? Kita baru saja bertemu, masa kau tidak mau menemani kami sehari dua hari?"

Akan tetapi perdekar muda itu menggeleng. "Saudara Lek Hui, urusan pribadi yang sedang kujalankan ini amat serius sifatnya. Oleh sebab itu aku tidak boleh terlalu lama meninggalkannya. Apalagi dengan tewasnya dua orang ketua Hiat–goan-pang ini oleh senjata beracun, aku harus segera bekerja!"

"Toat-beng-cui....?"

"Begitulah. Bagaimana kau bisa tahu?' Bu Kong mematadang raksasa muda ini dan yang ditanya tiba-tiba mengerutkan alisnya.

"Pendekar Gurun Neraka," demikian Lek Hui berkata sungguh-sungguh. "Ada hal misterius yang akhir-akhir ini kujumpai. Tahukah kau kira-kira?"

Pendekar muda itu tidak segera menjawab dan dia memandang tajam. "Apa maksudmu, saudara Lek Hui?"

"Tentang kematian Hoa-san Siang-lihiap (Sepasang Pendekar Wanita Dari Hoa-san)."

"Hoa-san Siang-lihiap....?" Bu Kong tampak heran dan raksasa muda itu mengangguk.

"Begitulah, Pendekar Gurun Neraka, yang tewas adalah Hoa-san Siang-lihiap!"

"Tewas? Jadi mereka dibunuh orang maksudmu, saudara Lek Hui?"

Kembali raksasa muda itu mengangguk. "Benar, Pendekar Gurun Neraka, dua orang gadis itu menang dibunuh orang. Seperti kau ketahui, mereka adalah murid-murid tersayang dari Hoa-san Lojin yang dulu membantu Kita dalam penyerbuan besar-besaran terhadap Wu-sam-tai-ciangkun, dan yang akhirnya kembali ke gunung setelah penyerbuan kita berhasi!. Akan tetapi kalau Hoa-san Lojin sendiri langsung ke gunung, adalah dua orang murid perempuannya itu pergi merantau untuk membasmi kejahatan yang masih tersisa dari bekas-bekas peperangan yang dibuat oleh para pelarian Wu-sam-tai-ciangkun. Dan di dalam tugas inilah mereka menemui ajalnya. Seseorang telah membunuh Hoa-san Siang-lihiap dengan keji." Lek Hui berhenti sampai di sini dan raksasa muda menarik napas panjang. Ceritarya yang singkat mulai menarik perhatian orang, namun tampaknya pemuda itu ragu-ragu untuk melanjutkan.

Karena itu, Bu Kong lalu hertanya, "Kemudian bagaimana, saudara Lek Hui? tahukah kau, siapa pembunuhnya?"

Raksasa muda itu mengangguk. "Justeru Pendekar Gurun Neraka, yang membuat peristiwanya menjadi serius dan aneh, Aku khawatir kau bakal kaget sekali setelah apa yang kudengar ini sungguh tak masuk akal!"

Lek Hui berhenti lagi dan Pendekar Gurun Neraka mulai mengerutkan alisnya. "Hem, apakah itu, saudara Lek Hui?"

Pertanyaan ini mengandung ketegangan akan tetapi Lek Hui malah semakin ragu-ragu. Raksasa muda itu kelihatan bingung, sebentar memandang bekas jenderal muda, itu dan sebentar kemudian memandang adik-adik seperguruannya. Tentu saja hal ini mengherankan semua orang dan Bu Kong sendiri mulai tidak enak hatinya. Akan tetapi sebelum dia mendesak, murid Ciok-thouw Taihiap itu sudah bicara kepada sute dari sumoinya.

"Sute dan sumoi, maaf apabila aku sedikit menyinggung perasaan kalian. Karena berita yang kubawa ini menyangkut pribadi dan nama baik sahabat kita, aku tidak berani bicara sembarangan di sini. Oleh sebab itu, aku hendak pergi sebentar mengajaknya bicara empat mata."

Lek Hui lalu menoleh ke arah Bu Kong, "Pendekar Gurun Neraka, mari ikuti aku...." dan begitu habis kata-katanya dia sudah melompat meninggalkan tempat itu tanpa menengok lagi.

Hal itu membuat kerut yang semakin dalam di kedua alis Pendekar Gurun Neraka. Melihat betapa orang tampaknya seperti hendak membuka sesuatu yang tidak menyenangkan baginya, pemuda yang biasa bicara tanpa sembunyi-sembunyi itu menjadi kurang senang. Sikap Lek Hui seolah-olah menyatakan bahwa ada suatu kesalahan yang pernah dibuatnya, karena itu dia menjadi tidak puas. Sebagai pendekar yang menjunjung tinggi kegagahan, Bu Kong tidak suka dengan segala macam pengelakan tanggung jawab akibat suatu perbuatan. Oleh sebab itu, diapun tidak memenuhi permintaan Lek Hui dan kalau pemuda raksasa itu sudah melompat jauh sambil mengajaknya pergi, adalah dia yang sekarang berseru.

"Saudara Lek Hui, tidak perlu kau mengajakku jauh-jauh. Kalau ada sesuatu yang hendak dibicarakan denganku, bicaralah di sini...!"

Seruan ini keras dan tegas, dan Lek Hui yang sudah melompat itu terkejut. Raksasa muda ini tampak tidak menduga, dan dia jelas merasa terkejut sekali. "Ehh...?!" pemuda itu berseru heran. "Apa maksudmu, Pendekar Gurun Neraka? Hal ini amat bersifat pribadi bagi dirimu, bagaimana aku harus bicara di depan orang lain meskipun mereka itu adalah sute dan sumoiku sendiri?"

Akan tetapi Pendekar Gurun Neraka menggelengkan kepalanya dengan sikap tegas. "Saudara Lek Hui hanya orang yang pernah berbuat salah sajalah yang suka bicara sembunyi-sembunyi, terutama apabila hal itu menyangkut diri pribadinya. Karena itu, aku tidak suka dengan segala kemunafikan sikap ini dan kalau aku memang mempunyai sesuatu yang tidak beres, katakanlah sekarang juga. Buruk atau tidak buruk itu adalah tergantung dari penilaian masing-masing, karena itu aku tidak perduli!"

Jawaban ini mencengangkan Lek Hui dan Cen Han yang mendengar ucapan itu dim-diam kagum bukan main. Betapa gagahnya Pendekar Gurun Neraka, betapa jantan sikapnya! Berani didengar orang lain segala rahasia pribadinya! Oleh sebab itu, rasa simpatik dan hormat tumbuh di dalam hatinya. Dan karena Pendekar Gurun Neraka menyuruh twa-suhengnya untuk bicara terus terang saja di depan mereka, Ceng Han menjadi tidak enak sendiri. Maka. Begitu kakak seperguruannya tiba, dia lalu meraih lengan adiknya.

"Yap-twako eh, Yap-taihiap, kalau twa-suheng hendak bicara sesuatu yang penting denganmu, biarlah kami menyingkir dulu. Tidak enak bagi kami untuk mendengarkan rahasia orang lain. Karena itu perkenankan kami pergi."

Cerg Han sudah menjura dan siap memutar tubuh, akan tetapi Pendekar Gurun Neraka mengangkat tangannya. "Saudara Ceng Han, jangan bersikap begitu. Kita sudah menjadi sahabat sahabat lama, maka panggilanmupun hendaknya jangan dirobah. Terhadap teman-teman lama mana ada rahasia segala? Tidak saudara Ceng Han, berita penting yang bagaimanapun juga yang hendak dikatakan twa-suhengmu disini bagiku bukanlah rahasia besar. Kalau toh memangnya rahasia, tentunya juga orang lain sudah ada yang tahu. Karena itu untuk apa disembunyikan? Nah, saudara Lek Hui, ceritakanlah apa yang hendak kau katakan kepadaku!"

Pendekar itu menoleh kepada Lek Hui dan raksasa muda ini terbelalak. Ceng Han juga ikut tertegun dan dua orang muda itu tampaknya sama-sama tidak enak. Akan tetapi, karena bekas jenderal muda itu sendiri sudah bicara demikian tegas, Lek Hui pun menindas keraguannya. Apalagi kalau dipikir bahwa yang ikut mendengarkan di situ adalah sute dan sumoinya sendiri. Maka raksasa muda inipun tidak sungkan-sungkan lagi. Dan dasar dia sendiri juga merupakan orang yang suka bicara blak-blakan dan jujur, maka begitu orang menyuruh dia bicara segera pemuda ini membuka mulut.

"Pendekar Gurun Neraka, aku hendak bicara tentang murid perempuan Cheng-gan Siang-jin yang pernah tergila-gila denganmu itu dan yang sekarang telah melahirkan bayimu laki-laki...!"