PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 19
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
KOK HUN seperti ditampar mukanya dan panglima tinggi besar itu memandang Bu Kong dengan mata melotot. Sama sekali dia tidak mengira bahwa jenderal muda ini akan mempergunakan janji yang tadi telah diucapkannya itu sebagai senjata bagi dirinya sendiri!

Oleh sebab itu, panglima muda ini tidak dapat berbuat apa-apa dan seperti orang-orang lainnya pula, dia hanya dapat berdiri mematung memandang kebakaran yang terjadi di atas laut itu dengan mata terbelalak. Demikian pula halnya bagi semua orang yang ada di tempat itu. Mereka inipun terpaksa "cep celakep" alias tidak mampu berkata apa-apa lagi ketika mendengar ucapan Yap-goanswe terhadap Kok-ciangkun tadi.

Akibatnya, karena sekarang tidak ada orang yang mencegah, maka kebakaran besar yang melanda kapal-kapal perang itupun menjadi semakin hebat. Api bergulung-gulung dan asap hitam membubung ke langit. Udara seketika menjadi gelap, seperti gelapnya hati orang-orang itu sendiri yang melihat betapa kapal yang telah mereka buat secara susah payah itu sekarang dibakar mentah-mentah oleh Yap-goanswe, pucuk pimpinan mereka sendiri!

Siapa tidak akan terkesima? Sepuluh ribu pasukan itu bahkan terpukau seperti orang mendapat mimpi buruk! Dan agaknya baru kali ini terjadi di atas bumi sebuah peristiwa yang demikian langkanya. Seorang jenderal besar membakar armada lautnya begitu saja!

Namun, siapa berani memprotes? Yap-goanswe telah dengan amat cerdiknya menjebak mereka ke dalam janji yang tak dapat ditarik kembali. Mereka tadi telah mengatakan siap berkorban, baik harta maupun nyawa. Dan kini janji itu dipergunakan oleh jenderal besar mereka untuk menguji!

Berat memang, akan tetapi apa mau dikata. Ludah yang tetah dikeluarkan tak mungkin lagi dijilat kembali. Apalagi sebagai anak buah Yap-goanswe yang amat teguh memegang janji, maka penjilatan kata-kata bagi mereka adalah tabu!

Biarlah, kalau Yap-goanswe menghendaki kapal-kapal perang itu dibakar, tentu ada tersembunyi suatu maksud di balik perbuatan jenderal muda itu. Maka satu-satunya jalan paling baik bagi mereka sekarang ini adalah menunggu. Menunggu sampai habisnya kapal-kapal itu terbakar api yang merajalela.

Dan akhirnya, setelah keadaan ini berjalan hampir tiga jam lebih, seluruh kapal perang itupun musnahlah. Yang tinggal sekarang hanyalah sisa-sisa papan yang terapung-apung lemah di atas air, tampak kelelahan. Dan semua mata kini ditujukan ke arah Yap-goanswe yang berdiri tegak di atas batu karang itu, pandangan mata yang penuh tuntutan untuk segera memperoleh jawaban.

Bu Kong memutar tubuhnya, balas menyapu semua orang yang berada di bawah dengan sinar matanya yang seperti lampu sorot itu dan akhirnya dua bola mata naga ini berhenti di depan Kok Hun, membuat panglima tinggi besar itu tercekat dan surut selangkah tanpa dirasa. Kehebatan sinar mata jenderal muda yang gagah perkasa ini benar-benar mengerikan, membuat seram dan berdirinya bulu tengkuk, seperti melihat mata seekor naga sakti sendiri.

Oleh sebab itu, Bu Kong melunakkan sinar matanya, namun dengan suara keren dia mulai berkata, “Kok-ciangkun, bukankah engkau sedang menunggu-nunggu jawaban dariku tentang semua kejadian ini? Kenapa diam saja? Kalau mau bicara, bicaralah... keluarkan semua isi hatimu!”

Kok Hun menjadi berani mendengar perintah ini, maka dia cepat memberi hormat sambil maju ke depan. “Goanswe, karena aku khawatir salah bicara, maka terpaksa menutup mulut. Sekarang karena engkau sendiri memberi ijin kepadaku untuk melepaskan semua penasaran ini, maka legalah hatiku. Hanya satu saja pertanyaan yang ingin kuajukan di sini, yakni atas dasar apakah engkau menyuruh bakar semua kapal-kapal perang kita!”

Ucapan ini diserukan dengan suara lantang sehingga semua orang dengar, dan Bu Kong melihat betapa semua orang menganggukkan kepala tanda setuju dengan pertanyaan panglima tinggi besar itu.

“Hemm, hanya inikah pertanyaanmu, Kok-ciangkun? Tidak ada yang lain?”

“Tidak, goanswe. Hanya inilah pertanyaanku yang agaknya juga merupakan pertanyaan bagi semua perajurit kita. Jawaban dari pertanyaan ini akan mencakup semua tanda tanya bagiku dan tentunya juga bagi semua orang!” Kok Hun menjawab dengan suaranya yang nyaring dan kembali orang-orang di bawah menganggukkan kepalanya.

“Hemm, baiklah....!” Bu Kong mengangkat tangan kirinya dan tiba-tiba sinar matanya mencorong berkilauan, membalik menghadapi sepuluh ribu pasukan yang berada di bawah, kemudian dengan suaranya yang menggetarkan dinding karang jenderal muda ini berseru, “Pasukanku yang gagah perkasa. bukankah kalianpun mempunyai pertanyaan yang sama dengan Kok-ciangkun tadi? Nah, karena aku harus segera menjawab pertanyaan ini, sekarang kalian dengarlah... dengarlah baik-baik!”

Pemuda itu berhenti sejenak mengumpulkan semangat dan semua orang melihat betapa tubuh pemuda itu tiba-tiba bergetar aneh. Lalu, dengan seruannya yang penuh tenaga sakti, jenderal muda ini melanjutkan.

“Pasukan Yueh yang gagah berani, sebenarnya jawaban bagi kalian sudah terpampang jelas di depan mata. Akan tetapi, karena kulihat kalian masih belum mengerti, maka biarlah kuterangkan di sini. Pertama-tama, pembakaran kapal-kapal itu sebenarnya bukan lain adalan demi semangat perjuangan. Kalian dengar? Hal pertama adalah demi semangat perjuangan! Mengapa kukatakan demi semangat perjuangan? Kalian dengarkan saja dan nantipun kalian semua akan mengerti. Ini adalah hal yang pertama. Sedangkan hal yang kedua adalah untuk membuktikan apakah janji-janji kalian bukan omong kosong belaka! Bagi seorang perajurit yang siap tempur di medan laga, tekad yang bulat amat diperlukan sekali karena dengan tekad inilah kita akan memperoleh kemenangan. Dapat kalian bayangkan, kalau seorang perajurit bilang putih di depan komandan padahal ternyata hitam ketika berada di belakang komandan, maka hal demikian membuktikan belum adanya keserasian yang dibicarakan dengan kenyataannya. Oleh sebab itu, karena aku tidak mau kalian bersikap demikian, maka sengaja kusudutkan kalian pada keadaan yang seperti sekarang ini. Kalian sendiri telah berjanji untuk siap mengorbankan harta dan nyawa, maka musnahnya kapal-kapal itu seharusnya tidak membuat kalian kecewa. Apalagi, kalianpun telah mengatakan siap bertempur sampai titik darah terakhir! Nah, bukankah semuanya ini yang mendorong aku untuk melenyapkan kapal-kapal perang itu? Bagi kita, kapal-kapal ini sudah tidak berguna lagi dan layak dimusnahkan!”

“Ahh...!” semua orang terkejut dan Kok Hun mengeluarkan seruan keras. “Goanswe, siapa bilang kapal-kapal itu sudah tidak berharga lagi buat kita? Kalau kita terdesak, kita dapat menggunakannya sebagai jalan mundur!”

Seruan panglima tinggi besar ini terdengar penuh penasaran dan orang-orang lainpun tampaknya sependapat dengan ucapannya. Oleh sebab itu, di antara mereka segera terdengar kata-kata membenarkan dan Bu Kong menjadi merah mukanya.

“Kok-ciangkun!” jenderal muda ini membentak. “Kalau setiap anak buahku berpikiran seperti engkau maka kemenangan tidak bakal kita peroleh. Hal ini hanya menunjukkan kelemahan hatimu yang tidak memiliki semangat dan tekad yang bulat. Kalau belum bertempur sudah merencanakan jalan mundur, patutkah perbuatan ini dilakukan oleh seorang perajurit? Tidak! Yang ada di pikiran kita hanyalah maju, maju dan menyerang! Kita tidak boleh mundur, dan bagiku sendiri lebih baik hancur daripada mundur...!”

Hebat seruan Yap-goanswe itu, apalagi mukanya yang merah serta sepasang matanya yang berapi-api itu. Semua orang terpengaruh oleh sikapnya dan Kok Hun sendiri terkejut melihat kebenaran kata-kata yang diucapkan oleh jenderal muda itu. Memang, kalau belum bertempur sudah terlebih dahulu merencanakan jalan mundur, hal ini seolah-olah membayangkan kegagalan mereka. Dan ini tentu saja sedikit banyak memperlemah semangat.

Padahal, bagi mereka sekarang ini yang sedang berjuang untuk merebut kembali kota raja dari tangan musuh, kelemahan semangat benar-benar harus disingkirkan jauh-jauh. Kalau dia tadi membantah dengan kata-katanya yang seperti itu, hal ini memang menandakan berkurangnya semangat yang tidak disadari. Oleh sebab itu, tentu saja panglima muda ini seperti disiram air dingin dan cepat dia menekuk sebelah kakinya.

“Goanswe, mohon dimaafkan kalau aku hampir saja merusak rencanamu. Sekarang tahulah aku mengapa engkau menyuruh bakar kapal-kapal perang ini. Kiranya memang hendak menyudutkan anak-anak buahmu ke satu jalan, yakni maju dan menyerang!”

Bu Kong mereda kemarahannya dan melihat pembantunya yang berwatak jujur ini mengakui kesalahannya, dia menjadi terharu. “Kok-ciangkun bangunlah. Aku menghargai sikapmu yang suka terus terang ini dan sedikit kesalahan tadi tidaklah terlalu kupikirkan,” pemuda itu mengangkat tangannya kanannya dan Kok Hun bangkit berdiri.

“Saudara-saudara sekalian,” demikian Bu Kong melanjutkan. “Seperti yang kalian telah dengar dari Kok-ciangkun baru saja, aku memang sengaja menyudutkan kalian semua dengan pembakaran kapal-kapal perang itu. Sekarang kalian lihat, jalan mundur bagi kita ke Pulau Cemara sudah tidak ada lagi. Yang ada sekarang ini hanyalah jalan ke depan, jalan yang menuju ke tempat musuh. Dan inilah maksudku, yakni menghapuskan jalan mundur agar kalian semua mempunyai satu tekad yang bulat untuk maju menyerang. Dengan demikian, yang ada di benak kita sekarang maju... maju dan menang! Pasukanku yang gagah perkasa bukankah kalian ingin menang? Kalau kalian ingin menang, maka kalian harus maju... maju dan menyerang. Jangan pikirkan jalan mundur karena kita lebih baik hancur daripada mundur!”

Kalimat terakhir diserukan dengan pekik menggeledek dan Bu Kong mengangkat tinjunya ke atas, membuat selaksa perajurit itu dihanguskan api semangat yang membakar dada. Dan yang pertama-tama menyambut pekik jenderal muda ini adalah Kok Hun. Panglima tinggi besar yang kini mengerti akan maksud pemuda itu tiba-tiba berteriak dengan suaranya yang nyaring.

“Goanswe, apa yang kau katakan memang benar. Jalan mundur bagi kita sudah tertutup dan satu-satunya hasrat hanyalah maju, maju dan menang! Hidup Yap-goanswe pengatur siasat ulung...!”

Pekik panglima muda ini segera menyadarkan Fan Li dan dua orang temannya, dan mereka melihat bahwa Yap-goanswe ternyata benar-benar merupakan pengatur siasat yang ulung. Sekarang mengertilah mereka apa yang dikandung oleh jenderal muda itu. Kiranya memang benar demi semangat perjuangan!

Memang, dengan jalan melenyapkan kapal-kapal perang itu berarti Jenderal Yap telah menghapuskan jalan mundur. Dengan demikian, jalan yang terpampang di hadapan mereka sekarang ini hanyalah jalan ke depan, jalan maju karena jalan mundur telah tidak ada lagi bagi mereka! Oleh sebab itu, dengan siasatnya yang amat cerdik ini, Bu Kong telah "memukul buntut mendorong kepala" terhadap anak-anak buahnya. Dengan sendirinya, karena para perajurit itu sudah tidak memiliki jalan mundur lagi, jadilah mereka orang-orang "nekat" yang dipaksa keadaan. Sungguh luar biasa!

Mengerti sampai di sini, tiga orang panglima muda itu menjadi kagum bukan main. Sekarang teringatlah oleh mereka akan sebuah siasat perang yang dinamakan "menutup gua menarik naga", yakni semacam siasat untuk menjebak pasukan menjadi seperti "orang-orang gila". Hal ini mirip membakar sarang ular di sebuah lubang yang mengakibatkan binatang itu harus keluar. Maka tentu saja siasat "menutup gua menarik naga" yang kini dilakukan oleh jenderal muda ini dengan jalan membakar kapal-kapal perang pasukannya benar-benar berhasil sekali. Ibarat naga, perajurit Yueh sekarang ini sudah tidak mempunyai rumah lagi, dan kalau mereka menginginkan rumah tersebut, satu-satunya jalan ialah harus menyerang habis-habisan bala tentara Wu yang telah merebut kota raja! Sungguh menakjubkan!

Sejenak tiga orang panglima ini bengong, akan tetapi, begitu Kok Hun berteriak dengan suaranya yang nyaring, mereka sadar kembali dan serentak tiga orang rekan Kok-ciangkun ini berseru memuji menirukan ucapan Kok Hun. Maka segera susul-menyusullah teriakan-teriakan dari seluruh pasukan itu dan bumi tergetar seakan dilanda gempa.

Pekik ”Hidup Yap-goanswe!” sebagai seruan kagum membata-rubuh di tepi Laut Tung-hai ini dan Bu Kong tersenyum dengan wajah berseri-seri. Gembira melihat usahanya berhasil dan dapat dimengerti oleh pasukannya. Sekarang ringanlah hatinya dan jenderal muda itu tampak puas, lalu melompat turun dari atas batu karang diikuti empat orang pembantu utamanya.

Mulailah jenderal muda ini mengatur barisan, menyisihkan barisan bertombak dari barisan bergolok, barisan berpedang dari barisan trisula dan barisan berkuda dengan barisan jalan kaki. Semuanya diatur sedemikian rupa untuk membentuk formasi masing-masing dan setelah semuanya beres, berangkatlah angkatan perang di bawah pimpinan jenderal muda yang gagah perkasa itu menuju Koan-yang!

Inilah benteng pertahanan Wu-sam-tai-ciangkun yang terlemah di sebelah timur, dan menurut penyelidikan yang diperoleh, kota itu dipimpin o!eh dua orang, Perwira Oei bawahan Panglima Ok Ciat bernama Wang Chi serta Lauw Ik. Dengan demikian, karena Koan-yang hanya dipimpin oleh perwira rendahan yang tidak ternama, kota ini benar-benar merupakan sasaran lunak bagi barisan jenderal muda itu.

Bu Kong sendiri menunggang kuda hitamnya yang tinggi besar dan tahan bacokan senjata tajam itu duduk tegak dengan sikap angker dan penuh wibawa di depan barisan, sedangkan di belakangnya berkibar panji-panji angkatan perang Yueh yang bergambar harimau menggigit belati. Pasukan yang mengikuti di belakangnya terdiri dan enam deret dan panjang pasukan ini hampir lima ribu meter. Sungguh seperti seekor naga raksasa!

Dan di bagian paling belakang sendiri, di mana pedati-pedati dan gerobak ransum berjalan sebuah bayangan putih seperti iblis bergerak cepat mengikuti barisan besar ini. Wajahnya tidak tampak, tertutup halimun seperti kabut dan berkali-kali bayangan ini menggeleng-gelengkan kepalanya. Siapakah dia? Para pembaca tentu sudah mengenalnya!

* * * * * * * *

Serangan besar-besaran yang dilakukan oleh murid Malaikat Gurun Neraka ini memang benar-benar menggegerkan sekali. Kota Koan-yang yang merjadi sasaran pertamanya dalam missi perjuangannya itu ternyata ditundukkan dalam waktu hanya satu malam saja. Sungguh mengejutkan!

Dan hal ini tidak aneh kalau diingat bahwa dalam barisan besar itu terdapat orang-orang kang-ouw yang membantu jenderal besar itu, seperti Kim-sin Sian-jin, San Kok Tojin, Lek Hui dan Yap-goanswe sendiri. Oleh sebab itu, ketika pada sore harinya pasukan Yueh ini tiba di perbatasan Koan-yang, Bu Kong menghentikan angkatan perangnya untuk beristirahat. Sedangkan pemuda itu sendiri secara kilat mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang amat mengagumi siasatnya untuk berunding.

Dan didapatlah suatu permufakatan untuk masuk kebenteng Koan-yang secara diam-diam pada malam harinya. Hal ini mudah mereka lakukan mengingat mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Oleh sebab itu, dengan gampang saja jenderal muda ini bersama tiga orang uravg temannya, yaitu Ketua Kong-thong-pai Kim-sin Sian-jin locianpwe, murid kepalanya San Kok Tojin serta Auw Lek Hui si raksasa muda berkelebat melompati tembok kota dm mencari sasarannya, yakni si pemimpin benteng, Perwira Oei dan rekannya Perwira Lauw.

Dan seperti yang mereka perhitungkan, di dalam kota ini benar-benar tidak ada orang yang berarti bagi mereka. Oei-ciangkun (Perwira Oei ditangkap Bu Kong sendiri di dalam kamarnya ketika perwira itu sedang berpelukan dengan selirnya! Sedangkan Perwira Lauw dibekuk Lek Hui yang mencengkeram leher pembantu Wu-sam-tai-ciangkun itu ketika perwira ini sedang bermain kartu dengan tiga orang bawahannya!

Melihat bahwa dua orang pemimpin benteng ini bisanya hanya melakukan perbuatan yang memalukan belaka, Lek Hui yang gemas hampir saja membenturkan kepala Perwira Lauw ke dinding rumahnya. Akan tetapi, untunglah, Yap-goanswe yang tahu akan watak raksasa muda itu sudah cepat muncul dan mencegah. Tawanan tidak boleh dibunuh, maka nyawa Perwira Lauw selamat dari keganasan watak murid Pendekar Kepala Batu itu.

Dengan ditangkapnya dua orang pemimpin benteng ini, pekerjaan selanjutnya bagi mereka benar-benar mudah sekali. Kim-sin Sian-jin dan San Kok Tojin yang mendapat tugas untuk melumpuhkan penjaga-penjaga pintu gerbang di bagian Timur kota juga telah menyelesaikan tugas mereka. Palang pintu yang terbuat dari besi telah mereka buka dan begitu Yap-goanswe muncul bersama tawanan-tawanannya, pasukan Yueh yang telah diberi isyarat meluruk masuk seperti air bah.

Perajurit Wu-sam-tai-ciangkun yang ada di dalam kota dan yang pada waktu itu sedang tertidur lelap kecuali para penjaga, terkejut bukan main oleh serangan mendadak ini. Apalagi ketika dalam kekacauan ini Perwira Lei dan Perwira Lauw tidak muncul-muncul, padahal keributan yang terjadi cukup untuk mengejutkan orang mati!

Tentu saja pasukan Koan-yang kalang kabut. Karena mereka sama sekali tidak mendengar berita bahwa angkatan perang Yueh telah berada di depan mereka. maka serangan tiba-tiba yang dilakukan serentak melalui pintu gerbang sebelah Timur yang terpentang lebar-lebar itu benar-benar membuat mereka kaget bukan main. Banyak di antara mereka yang baru saja melompat bangun dari tidurnya, tahu-tahu telah ditodong ujung tombak atau pedang!

Akibatnya, dalam waktu beberapa jam saja seluruh pasukan musuh berhasil dilumpuhkan. Sebagian besar anak buah Wu-sam-tai-ciangkun ini menyerah dan bagi mereka yang mencoba melakukan perlawanan, dibunuh seketika itu juga! Hal ini mengakibatkan menciutnya nyali lawan dan dua ribu orang dilucuti senjatanya. Hanya sedikit saja yang dapat meloloskan diri dan mereka ini, terutama adalah orang-orang yang berada di pintu gerbang sebelah Barat.

Mereka segera kabur ketika melihat ditangkapnya Perwira Oei dan Lauw oleh bala tentara Yueh, apalagi ketika mereka melihat sendiri adanya Yap-goanswe di tempat itu! Kenyataan ini benar-benar mengejutkan mereka dan seperti melihat setan di malam hari, beberapa penjaga di bagian barat kota itu lari terbirit-birit menyusup sana menyimak sini menghindari pertemuannya dengan jenderal besar itu maupun anak buahnya.

Karena Bu Kong maklum bahwa di antara musuh pasti ada satu dua yang melarikan diri, jenderal muda ini tidak mau bertindak lambat. Keesokan harinya dia sudah meninggalkan Koan-yang bersama pasukannya langsung menuju ke kota raja dari jurusan ini. Dia tidak ingin Wu-sam-tai-ciangkun sempat menarik bala bantuan dari benteng-benteng pertahanan di sebelah Utara, Selatan dan Barat.

Oleh sebab itu, gerakan kilat pemuda yang gagah perkasa ini benar-benar tepat sekali. Tawanan di kota Koan-yang dikurung. Mereka hanya dijaga oleh belasan perajurit yang siap dengan anak panah berapi di tembok benteng. Sekeliling kota penuh dengan minyak dan begitu tawanan berani memberontak, anak-anak panah di ujung busur belasan anak buah jenderal besar ini segera akan melesat ke tahang-tahang minyak itu untuk membakar kota!

Tentu saja para tawanan tidak mampu berkutik. Meskipun kini Yap-goanswe sudah tidak berada di tempat itu, namun jenderal yang cerdik ini telah memasang siasatnya yang lihai dengan menaruh beberapa orang anak buahnya di atas tembok benteng. Segala gerak-gerik mereka akan ketahuan dan sedikit kecurigaan tampak di antara mereka, pasti belasan orang penjaga tawanan ini akan membakar Koan-yang!

Diam-dam dua ribu orang ini mendongkol sekali dan didalam hati mereka mengumpat Yap-goanswe habis-habisan. Namun, di samping itu, mau tak mau mereka harus memuji kecerdikan jenderal ini dan mengakui ilmu perangnya yang terkenal. Bayangkan saja, dua ribu tawanan ditinggal pergi begitu saja untuk melanjutkan serangannya ke kota raja, sementara orang-orang itu sendiri cukup diawasi oleh belasan orang penjaga!

Kalau bukan seorang yang cerdas, agaknya bagi panglima-panglima biasa sulit buat memikirkan sikap yang harus diambil terhadap sekian banyaknya tawanan. Akan tetapi, Yap-goanswe memang benar-benar orang istimewa. Hanya dengan sedikit orang telah mampu membuat tidak berkutiknya ribuan tawanan. Sungguh cerdik!

Sementara itu, gerak kilat yang dilakukan oleh jenderal muda ini menemui puncaknya. Karena jalan dari timur sudah "kosong" sebab Koan-yang telah dilumpuhkan, barisan besar ini akhirnya tiba di kota raja! Namun, tidak seperti Koan-yang yang gampang dibekuk pemimpin-pemimpinnya, adalah di kota raja ini Bu Kong tidak berani sembarangan. Di situ terdapat orang-orang lihai, terutama Cheng-gan Sian-jin dan kawan-kawannya.

Bahkan Wu-sam-tai-ciangkun sendiri juga bukan orang-orang lemah. Masih teringat olehnya ketika Kok Hun dan rekan-rekannya bertanding melawan tiga orang Panglima Wu itu, betapa pembantu-pembantu utamanya ini terdesak dan kalau saja dia tidak segera datang menolong, tentu para pembantunya ini roboh di tangan Wu-sam-tai-ciangkun.

Oleh sebab itu, pemuda ini tidak mau bersikap ceroboh dan untuk sementara dia mengurung kota raja dari segenap penjuru. Semua pasukan menjadi tegang karena di tempat inilah mereka akan menentukan keberhasilan atau kegagalannya. Akan tetapi, teringat betapa jalan mundur sudah "dibuntu" oleh jenderal mereka, pasukan ini menindas ketegangan mereka dan mengetrukkan gigi sambil mengepal tinju. Teringat mereka akan ucapan Yap-goanswe di pantai Tung-hai beberapa hari yang lalu, di mana pemuda itu menyerukan bahwa mereka harus maju... maju dan menang!

Ucapan ini benar-benar membakar semangat dan mereka lihat bahwa kata-kata jenderal muda itu memang benar. Mereka harus maju... maju dan maju terus! Sudah tidak perlu lagi bagi mereka untuk menengok ke belakang. Jalan di belakang sudah putus dan satu-satunya jalan yang terbentang hanyalah jalan di depan ini. Oleh sebab itu, kenapa pikir jalan mundur? Mundur berarti kalah, dan tentu saja mereka tidak menghendaki hal ini!

Yap-goanswe berada di samping mereka mengapa harus kecil hati? Meskipun di tempat musuh terdapat manusia-manusia iblis macam Cheng-gan Sian-jin, namun mereka percaya bahwa Yap-goanswe yang tidak pernah kalah itupun kali ini juga pasti menang!

Menang! Inilah harapan besar mereka. Dan seperti ucapan Yap-goanswe sendiri, kalau mereka tidak dapat menang biarlah hancur lebur bersama musuh. Hal ini jauh lebih baik daripada mereka lari terbirit-birit seperti anjing takut pentungan. Betapa berat penderitaan yang mereka rasa ketika dahulu dikejar-kejar oleh pasukan Wu-sam-tai-ciangkun itu. Ini semuanya telah mereka ketahui. Oleh sebab itu, sakit hati ini hanya dapat dibayar impas dengan darah musuh yang telah menceraiberaikan mereka, bahkan yang telah memutuskan secara keji hubungan mereka dengan Yap-goanswe.

Dendam dan kemarahan yang amat sangat ini membangkitkan api semangat semua orang. Dengan adanya dendam ini mereka segera melupakan ketegangan diri sendiri dan dengan kepala dikedikkan serta mata bersinar-sinar mereka siap untuk membalas semua kejahatan musuh, terutama Wu-sam-tai-ciangkun dan Lie-thaikam, awal celaka yang merupakan mendung gelap bagi Kerajaan Yueh ini.

Dan lain dengan yang dipikirkan oleh anak-anak buah Yap-goanswe ini, adalah Wu-sam-tai-ciangkun seperti disambar petir ketika mendengar berita mengejutkan tentang datangnya bala tentara Yueh yang kini sudah mengurung kota raja itu! Peristiwa ini benar-benar membuat wajah mereka pucat dan Panglima Kiang yang wataknya berangasan itu menggebrak meja.

“Iblis! Bagaimana murid Malaikat Gurun Neraka itu dapat kembali memimpin pasukan Yueh? Bukankah dia sudah bersumpah untuk tidak berhubungan lagi dengan bekas anak-anak buahnya? Ataukah pemuda itu sekarang berobah menjadi manusia tidak tahu malu yang menjilat ludah sendiri?”

Mata panglima tinggi besar ini melotot dan dua orang rekannya yang lain saling pandang. Merekapun juga merasa kaget mendengar berita bahwa Yap-goanswe kini telah memimpin bekas pasukannya lagi, padahal pemuda itu sudah mengeluarkan sumpah untuk tidak membantu Yueh. Apakah sebenarnya yang terjadi di balik semua kejadian ini? Mereka cukup mengenal watak jenderal muda yang gagah perkasa itu, dan mereka tidak percaya bahwa pemuda itu akan menjilat ludah sendiri seperti yang dikatakan Panglima Kiang.

Oleh sebab itu, Panglima Han yang biasanya agak pendiam ini menarik napas panjang. “Ji-wi tai-ciangkun, aku merasa bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di sini, maka kita harus menenangkan pikiran dulu. Yap-goanswe adalan jenderal yang cerdik, terbukti bahwa dia dapat mendatangi kota raja dari arah timur yang merupakan tempat terlemah bagi kita. Kuyakin bahwa Koan-yang yang menjadi benteng pertahanan kita di sana pasti telah dilumpuhkan pemuda ini. Kalau tidak, masa dia dapat datang ke mari secara tiba-tiba? Namun yang kuherankan, gerakannya yang demikian cepat sehingga mendahului anak-anak buah kita di Koan-yang, ini benar-benar luar biasa sekali. Apakah dua orang perwira kita di sana beserta seluruh pasukannya telah binasa atau tertangkap hidup-hidup oleh Yap-goanswe? Kenapa tidak seorangpun penjaga dari benteng itu datang melapor? Sungguh luar biasa, kalau tidak kita saksikan sendiri hal ini agaknya sukar untuk dipercaya! Ok-ciangkun, bagaimana kesimpulanmu?”

Panglima Ok mengerutkan alisnya sambil mengepal tinju. Dengan mata bersinar marah orang tertua dari Wu-sam-tai-ciangkun ini mendesis. “Apa yang dikatakan Han-ciangkun, aku sependapat. Agaknya Perwira Oei dan Lauw, dua orang manusia-manusia tolol itu mungkin sudah dibekuk Yap-goanswe! Dan mengingat mereka hanya gentong-gentong nasi tiada guna, maka tidak aneh kalau anak-anak buahnyapun juga merupakan kerbau-kerbau dungu yang pantas disembelih. Hmm, keadaan sudah begini macam. Musuh telah mengepung kita dari segala penjuru dan memutuskan hubungan kita dengan tiga buah benteng di Utara, Selatan dan Barat. Apalagi yarg akan kita lakukan? Gempur saja monyet-monyet liar itu dan adakan perang terbuka. Habis perkara...!”

Mendengar ucapan ini, Panglima Han tampak kurang setuju, akan tetapi, Panglima Kiang sebaliknya malah tertawa bergelak. “Ha-ha, bagus. Apa yarg diusulkan rekan Ok sesuai dengan isi hatiku! Kita gempur saja cecunguk-cecunguk itu dan basmi mereka sampai tuntas! Selama Yap-goanswe, masih hidup, kita tentu akan dirongrong terus olehnya dan kalau pemuda itu dapat kita binasakan, tentu halangan di masa depan akan berkurang. Bukankah demikian, Han-ciangkun?”

Panglima tinggi besar itu menoleh ke sebelah kanannya, namun, Panglima Han menggelengkan kepala. “Saudara Kiang, kita tidak boleh ceroboh. Yap-goanswe sudah kita kenal kelihaiannya dan kalau sekarang dia kembali maju setelah adu domba kita dahulu gagal, pasti di balik kejadian ini ada sesuatu yang luar biasa. Menurut pendapatku, kita harus....”

Baru sampai di sini kalimatnya, Panglima Kiang sudah menggoyang tangan dengan sikap tidak sabar dan memotong, “Han-ciangkun, kalau kita tidak serang mereka yang kini terang-terangan telah mengurung kita, hal ini akan membanting nama Wu-sam-tai-ciangkun! Tidak. Kita tidak perlu ragu-ragu lagi dalan hal ini. Kalau dulu sih kita memang harus mawas diri karena kedudukan kita lemah. Akan tetapi, sekarang Cheng-gan Sian-jin dan kawan-kawannya telah membantu kita. Bahkan datuk itu telah diangkat sebagai koksu oleh sri baginda. Takut apanya? Serang saja mereka dan sikat sampai bersih!”

Ucapan yang penuh semangat ini tidak membuat hati Panglima Han tersinggung. Dia memang tahu akan watak berangasan dari rekannya itu, maka dia tidak marah. Namun, karena dia merupakan orang yang selalu berhati-hati, maka biar bagaimanapun juga panglima ini membantah.

“Kiang-ciangkun, masalah serang sih memang tetap serang. Akan tetapi, harus kita ingat bahwa sekali pintu gerbang kota raja dibuka, kesempatan masuk bagi musuh-musuh kita berarti tersedia. Dan hal inilah yang harus menjadi perhatian kita. Bukannya aku takut, namun perobahan yang mendadak ini tidak boleh membuat kita ceroboh. Kudengar dari pengawas-pengawas di atas menara bahwa Yap-goanswe didampingi oleh tokoh-tokoh kang-ouw, bahkan di antaranya tampak Kim-sin Sian-jin dan seorang kakek nelayan yang dulu pernah menyatroni istana. Kau tahu sendiri, kakek yang tidak kita kenal itu juga bukan orang sembarangan dan menurut berita dia adalah seorang sakti yang tinggal di Kepulauan Laut Tung-hai. Meskipun di tempat kita banyak orang-orang pandai, namun kita sesungguhnya belum mengenal kekuatan yang ada di pihak jenderal muda itu!”

“Hemm, kalau begitu apa yang hendak kau lakukan?” Panglima Kiang mengerutkan alisnya yang tebal dan wajahnya tampak tidak puas. “Han-ciangkun, harap engkau tidak mengecilkan hati kita. Sepandai-pandainya Yap-goanswe, kukira masih tidak nempil melawan koksu! Meskipun bocah ingusan itu dibantu Kim-sin Sian-jin dan lain-lainnya, aku yakin bahwa mereka akan dapat kita robohkan! Bukankah demikian, rekan Ok?”

Orang tertua Wu-sam-tai-ciangkun menganggukkan kepalanya. “Apa yang dikatakan Kiang-ciangkun memang benar, akan tetapi, ucapan Han-ciangkun juga kulihat tidak salah. Sebaiknya kita menggabungkan saja dua pikiran ini menjadi satu dan hasilnya tentu bagus...!”

Dua orang panglima itu saling pandang mendengar kata-kata ini yang tidak mereka mengerti maksudnya, dan Panglima Kiang berseru heran, “Apa? Digabungkan? Digabungkan bagamana, Ok-ciangkun?”

Panglima tinggi kurus bermata sipit ini tersenyum cerdik. Dia memang banyak akal dan biasanya dua orang rekannya itu selalu tunduk dengan buah pikirannya. Maka kali inipun dengan suara perlahan panglima itu berkata. “Saudara-saudaraku, pendapat yang berbeda asal diketahui intinya pasti menghasilkan kerja sama yang baik. Begitu pula dengan pendapat-pendapat kalian tadi. kalau Kiang-ciangkun secara aggresif hendak maju menggempur, adalah Han-ciangkun yang menolak mundur. Kalau kalian sama-sama keras kepala, bukankah yang akan rugi adalah kita sendiri? Tidak, sebaiknya diambil jalan tengah yang memuaskan kedua belah pihak dan kuyakin jalan itu kalian setuju. Dengarlah....”

Ok-ciangkun berhenti sejenak dan setelah menarik napas panjang satu kali, panglima yang licin itu melanjutkan dengan hati-hati, “Han-ciangkun uraianmu tadi memang betul. Bukannya aku takut, akan tetapi, kita memang harus selalu berhati-hati. Serangan liar begitu saja dengan menyambut pasukan pemuda itu dan membuka pintu gerbang seperti yang diusulkan saudara Kiang memang tampaknya ceroboh sekali. Kita belum tahu kekuatan-kekuatan tersembunyi apakah yang ada di tempat Yap-goanswe. Siapa tahu kalau Malaikat Gurun Neraka berdiri di sana? Dengan demikian, pendekar sakti itu pasti akan berhadapan dengan koksu kita dan hal ini berarti membiarkan diri kita tak terlindungi. Kalau Cheng-gan Sian-jin berhadapan dengan Malaikat Gurun Neraka, bukankah kita bakal berhadapan dengan muridnya?”

Sampai di sini kembali Panglima Ok berhenti dan Panglima Kiang terkejut. Sedetik mukanya menjadi pucat dan diam-diam perasaannya terguncang hebat. Masih teringat di benaknya pertandingan tiga lawan satu melawan jenderal muda itu dan betapa pihak mereka hampir saja roboh binasa di tangan pemuda yang memiliki kepandaian tinggi itu. Tadi karena mengandalkan Cheng-gan Sian-jin sebagai lawan Yap-goanswe, maka dia melupakan kemungkinan beradanya Malaikat Gurun Neraka, tokoh menakutkan dari utara ini.

Kini, dengan suara serak dia lalu bertanya. “Hemm, kalau begitu bagaimana menurut pendapat Ok-ciangkun? Kita diam saja dan akhirnya menyerah?”

Panglima tinggi kurus itu tersenyum lebar. Hampir dia tertawa melihat muka masam Panglima Kiang ini, namun, karena dia khawatir orang tersinggung, dia hanya berdehem saja. “Kiang-ciangkun, jangan putus asa. Bukannya aku membenarkan Han-ciangkun dan menyalahkan engkau, akan tetapi, sebaliknya. Usulmu bagus, dan ini memang perlu untuk mengobarkan semangat kita. Namun, semua itu harus kita terapkan dalam suasana yang tepat. Kalau tadi aku seolah-olah mendukung Han-ciangkun, kini tiba saatnya aku mendukung pendapatmu. Akan tetapi, ingat, kita tidak boleh ceroboh dan jalan tengah bagi kita sekarang ini adalah dengan melancarkan siasat "mengutus umpan memancing ikan besar"...”

Panglima itu berhenti bicara dan kini dua orang temannya melengak. “Apa, Saudara Ok? Mengutus umpan memancing ikan besar?” Panglima Han tak dapat menahan keheranannya dan berseru sambil mengangkat alisnya.

Panglima Ok menganggukkan kepalanya. “Begitulah!” jawabnya sambil tersenyum. “Kita memang harus menggunakan siasat "mengutus umpan memancing ikan besar" ini.”

Karena panglima tinggi kurus itu dua kali sudah bicara tentang "mengutus umpan memancing ikan besar" tanpa memberitahukan maksudnya, Panglima Kiang menjadi penasaran sekan. “Ok-ciangkun!” serunya. “Harap engkau tidak main teka-teki lagi! Aku menjadi tidak sabar mendengar kata-katamu ini dan coba jelaskan pada kami, apakah itu "mengutus umpan memancing ikan besar"?”

Ok-ciangkun tersenyum geli namun, segera dia menarik muka sungguh-sungguh sambil memandang dua orang rekannya ini. “Ji-wi tai-ciangkun, harap kalian dengar baik-baik apa yang kumaksudkan dengan siasat itu. Arti yang terkandung dalam kalimat ini sebenarnya bukan lain adalah mengutus seorang duta ke perkemahan Yap-goanswe! Nah, mengertikah kalian? Duta yang akan kita utus ini menbawa dua tugas. Pertama, menyelidiki orang-orang kuat siapakah yang membantu jenderal muda itu, sedangkan yang kedua mengambil tindakan tepat sesuai dengan kondisi yang ada. Kalau misalnya di sana terdapat Malaikat Gurun Neraka, umpamanya, maka kita memikirkan langkah berikutnya dengan seksama. Akan tetapi, kalau tidak ada pendekar sakti itu, duta kita boleh membunuh Yap-goanswe secara diam-diam! Nah, bukankah ini akal bagus yang berarti sekali tepuk dua lalat tercakup? Dan kalian tentu lahu siapa orangnya yang paling cocok untuk melakukan pekerjaan sebagai duta ini. Benar, dia bukan lain adalah koksu sendiri! Seorang duta berarti utusan yang terlindung, maka meskipun di sana ada Malaikat Gurun Neraka sekalipun tentu mereka tidak akan mengganggu koksu. Akan tetapi, kalau tidak ada pendekar sakti itu dan koksu rasa mampu untuk membunuh Yap-goanswe, maka boleh saja hal ini dilakukan. Ha-ha-ha...! Hendak kita lihat kalau jenderal muda itu mampus, apakah yang akan dapat dilakukan anak buahnya?”

Panglima Ok tertawa keras dan dua orang rekannya memandang dengan wajah berseri. Memang apa yang diusulkan oleh "kakak" mereka ini baik sekali. Di samping dapat menyelidiki kekuatan musuh, juga ada kemungkinan untuk membunuh Yap-goanswe apabila jenderal muda itu tidak dikelilingi tokoh-tokoh sakti.

Maka Panglima Kiang tak dapat menahan kegembiraan hatinya lagi dan diapun tertawa bergelak. Jalan tengah yang diambil Ok-ciangkun ini memang benar-benar memuaskan pihak panglima tinggi besar itu dan Panglima Han. Kalau Panglima Han puas karena sikap kehati-hatiannya tidak disepelekan, adalah Panglima Kiang juga puas karena wataknya yang suka menyerang itupun diperhatikan oleh Ok-ciangkun.

Masalah curang atau tidak perbuatan mereka inilah hal yang tidak begitu penting. Yang mereka perlukan adalah secepatnya menghancurkan musuh. Sopan santun perang bagi mereka adalah kedok belaka! Pokoknya yang penting ialah membunuh Yap-goanswe. Jenderal muda itu terlalu menakutkan bagi mereka. Maka, mumpung ada Cheng-gan Sian-jin di situ, mereka dapat meminjam tangan koksu ini untuk membereskan pemuda itu.

Demikianlah, karena telah mendapat kata sepakat, tiga orang ini lalu makan minum di meja perjamuan sambil tertawa-tawa, tidak menghiraukan para pengawal yang terheran-heran melihat ulah mereka. Musuh berat sedang siap di luar kota raja, bagaimana tiga orang panglima besar itu bersikap enak-enakan begini?

Karena semuanya mereka anggap cocok, Wu-sam-tai-ciangkun segera melaporkan rencananya ke hadapan Raja Muda Kung Cu Kwang setelah mereka menyelesaikan perjamuan. Mereka tidak berani begitu saja memerintahkan Cheng-gan Sian-jin untuk menjadi duta, karena kedudukan koksu itu tidak berada di sebelah bawah mereka.

Oleh sebab itu, hanya sri baginda sajalah yang memiliki kekuasaan untuk memerintah koksu. Dan begitulah, Cheng-gan Sian-jin kemudian dipanggil oleh raja untuk menjalani tugas ini pada keesokan harinya, sama sekali tidak mengira bahwa sebelum rencana ini dllaporkan oleh Wu-sam-tai-ciangkun, Cheng-gan Sian-jin diam-diam telah mendengar pembicaraan tiga orang panglima itu!

Tentu saja hal ini di luar dugaan semua orang. Mereka tidak tahu betapa iblis itu diam-diam tertawa bergelak dan timbullah akalnya yang keji. Seperti pernah disinggung sedikit dalam jilid yang lalu, sebenarnya datuk ini mempunyai rencana untuk menjadi raja-diraja bagi seluruh Bangsa Tiongkok. Untuk itu, dia telah menyiapkan bangsnya sendiri, yakni Bangsa Arya secara diam-diam di luar tembok besar.

Oleh sebab itu, perintah Raja Muda Kung Cu Kwang untuk mengutusnya sebagai duta ini sungguh merupakan kesempatan emas bagi dirinya. Yap-goanswe adalah jenderal muda yang amat lihai dan cerdik. Bukti bala tentaranya yang tiba-tiba saja meluruk ke kota raja ini diam-diam mengagumkan hatinya. Dan pemuda-pemuda seperti itulah yang dicari untuk memimpin gerakannya kelak. Maka, kalau nanti dia dapat membujuk pemuda itu untuk bekerja sama dengan dia sebagai musuh dalam selimut bagi Wu, tentu kehancuran pasukan Wu-sam-tai-ciangkun tidak akan lama lagi!

Akal bagusnya ini segera dibicarakan dengan muridnya yang disayang dan beberapa orang lainnya lagi yang merupakan orang-orang kepercayaannya dan semua orang menjadi girang bukan main. Terutama Lie Lan si gadis jelita yang wajahnya agak kusut itu. Dengan muka gembira dan mata bersinar, gadis ini berkata,

“Suhu, kalau usaha kita ini berhasil, sungguh kau merupakan orang bijaksana bagiku! Kelak, sebagai pembalas budi ini, aku akan menghadiahkan sesuatu yang istimewa kepadamu, percayalah....!”

Cheng-gan Sian-jin memandang muridnya itu dan mendengus. “Huh, hadiah istimewa apa? Dengan perutmu yang mulai membesar begini, apa yang dapat kau berikan kepadaku? Tidak, aku sudah tidak ingin apa-apa lagi darimu, kecuali anakmu ini kelak untuk menjadi cucu muridku!”

Lie Lan menjadi merah mukanya dan semua orang terbelalak. Ucapan blak-blakan yang dikatakan Cheng-gan Sian-jin ini otomatis membuat semua yang hadir memandang perut gadis itu dan mata mereka yang tajam ini memang melihat sesuatu perobahan di dalam diri gadis itu. Dan baru sekaranglah mereka tahu bahwa gadis ini hamil!

Tentu saja mereka terkejut, akan tetapi, hanya sekejap saja. Bagi orang-orang sesat begini, berita tentang hamilnya murid datuk mereka adalah hal biasa, seperti juga kalau mereka melihat orang makan nasi. Maka merekapun bersikap acuh dan hanya di dalam hati mereka ini tertawa geli. Gadis ini bermain cinta dengan setiap laki-laki, bahkan sudah tidak menjadi rahasia lagi bagi mereka kalau gadis itu ini juga menjadi kekasih gurunya. Oleh sebab itu, mereka menjadi geli memikirkan anak siapakah sebenarnya yang dikandung murid Cheng-gan Sian-jin ini.

Dan hanya gadis ini sendirilah yang tahu bahwa calon bayi di dalam perut sebenarnya adalah keturunan Yap-goanswe! Kalau tidak, tentu gadis itu sudah menggugurkan kandungannya. Dan hal ini diketahui baik oleh guru dan murid itu karena semenjak Lie Lan meminumkan Arak Sorga kepada Bu Kong, gadis ini tidak pernah lagi memuaskan nafsu berahinya dengan orang lain. Bahkan gurunyapun ditolak setelah dia merasa adanya perobahan di dalam perutnya itu!

“Suhu, maaf. Bukannya aku tidak cinta kepadamu, akan tetapi jabang bayi ini harus kita pelihara. Ingat, dia adalah keturunan Yap-goanewe, pemuda gagah perkasa yang amat mengagumkan itu! Maka harap suhu bersabar sampai kelak dia menjadi besar. Tidak dapat memiliki ayahnya biarlah memiliki keturunannya. Bukankah hal ini sama saja?” demikian gadis itu berkata.

Cheng-gan Sian-jin melotot kecewa. “Huh, sama apanya? Bagaimana kalau dia perempuan?” kakek itu bersungut-sungut. “Kalau dia perempuan berarti dia tidak sama seperti ayahnya, melainkan sama seperti dirimu. Dan untuk ini kelak kau harus menyerahkan anakmu itu kepadaku sebagai pengganti dirimu!”

Lie Lan terkejut dan mukanya berobah pucat. Akan tetapi, gurunya ini telah keluar tanpa banyak bicara lagi dengan wajah uring-uringan. Diam-diam hatinya tergetar dan timbul perasaan cemasnya. Kalau sampai anaknya perempuan... ahh! Gadis itu merasa ngeri dan tiba-tiba timbul pikiran kejinya. Kalau sampai ia melahirkan anak perempuan, tekadnya sudah bulat untuk membunuh bayi itu daripada kelak menjadi permainan gurunya!

Oleh sebab itu, gadis ini menjadi tenang dan diam-diam dia berharap mudah-mudahan bayi di dalam perutnya itu laki-laki, seperti ayahnya... seperti Yap-goanswe! Membayangkan pemuda itu membuat Lie Lan tiba-tiba mengeluh. Betapa perih hatinya, betapa luka perasaannya teringat kepada jenderal muda itu.

Diam-diam gadis ini harus mengakui bahwa kekejaman-kekejaman yang dilakukannya selama ini sebenarnya terdorong oleh kekecewaan serta sakit hatinya terhadap pemuda itu. Kalau saja Yap-goanswe mau melunakkan sikapnya... kalau saja pemuda tampan itu mau membalas cinta kasihnya... ahh, betapa bahagia rasanya hidup! Akan tetapi, ini hanya angan-angan kosong belaka dan Lie Lan membanting dirinya di atas tempat tidur sambil menangis penuh kekecewaan dengan hati seperti disayat-sayat.

Sementara itu, pada keesokan harinya, sesuai yang telah direncanakan pihak istana, Cheng-gan Sian-jin bersama beberapa pengikut kepercayaannya keluar dari pintu gerbang utara menuju ke kemah Yap-goanswe sebagai duta! Datuk sesat ini, seperti biasa, mengenakan jubah kuningnya yang longgar, sementara tangan kanannya yang setia, yakni Hek-mo-ko, berjalan mengikutinya di belakang dengan matanya yang selalu melotot itu.

Rombongan ini terdiri dari tiga orang, karena selain Cheng-gan Sian-jin, dan Hek-mo-ko, orang ketiga adalah seorang pemuda tampan yang memiliki sinar mata tajam. Dia bukanlah Kui Lun, karena meskipun Kui Lun juga mempunyai sinar mata tajam, akan tetapi, Kui Lun tidaklah memiliki kilatan aneh yang tersembunyi seperti pemuda di belakang Cheng-gan Sian-jin ini.

Kalau begitu, siapakah pemuda yang agaknya belum banyak dikenal orang ini? Dia bukan lain adalah Pouw Kwi! Ya, inilah pemuda setan yang memfitnah jenderal muda itu, murid mendiang Ang-i Lo-mo yang pandai ilmu sihir! Dengan amat beraninya pemuda ini ikut koksu sebagai duta, bahkan dialah yang bertugas membawa bendera putih lambang perdamaian. Sungguh pemuda bernyali naga!

Akan tetapi, kalau kita lihat keadaannya, memang tidaklah terlalu berlebih-lebihan jika pemuda itu berani datang karena diapun termasuk rombongan duta. Seperti diketahui, utusan sama sekali tidak boleh diganggu dan semua orangpun mengetahui peraturan 'internasional' ini. Itulah sebabnya Pouw Kwi berani datang karena dia yakin bahwa Yap-goanswe dan teman-temannya belum mengenal siapa dirinya. Dan kini sebagai pengiring yang tidak begitu menonjol keadaannya, pemuda itu dapat berjalan dengan mulut tersenyum-senyum.

Bu Kong sendiri terkejut ketika melihat pintu gerbang kota raja terbuka disusul munculnya tiga orang ini. Dari jauh dia sudah mengenal Cheng-gan Sian-jin yang rambutnya kemerahan dan tinggi besar itu serta Hek-mo-ko yang hitam legam. Hanya orang ketiga dia tidak kenal dan karena orang terakhir ini tampaknya tidak begitu penting, maka diapun tidak memperhatikan lebih lanjut.

Segera pemuda ini menyambut di kemah pusat, di mana tokoh-tokoh kang-ouw juga hadir. Tampak di situ Kakek Phoa dari Pulau Cemara yang diam-diam berdebar hatinya, lalu Kim-sin Sian -jin yang merah mukanya serta memandang Cheng-gan Sian-jin dengan mata berapi-api, kemudian Lek Hui dan tokoh-tokoh lain yang semuanya memandang datuk sesat itu dengan muka keras.

Akan tetapi, kalau orang-orang ini bersikap tegang adalah Cheng-gan Sian-jin sendiri terkekeh-kekeh. Dengan kaki kirinya yang terpincang-pincang karena remuk dipukul Malaikat Gurun Neraka dahulu, datuk sesat ini memasuki kemah musuh dengan wajah berseri dan mata berkilat-kilat.

Semua orang menyibak mundur melihat kedatangan duta yang merupakan datuk iblis ini, dan Cheng-gan Sian-jin segera berhenti di tengah ruangan dengan pandangan kagum ke arah jenderal muda yang duduk dengan sikap angker di atas kursi gading berlapis beludru. Tidak tampak adanya Malaikat Gurun Neraka di tempat itu, dan diam-diam kakek ini menjadi girang.

Bu Kong sendiri sudah menyapu rombongan duta yang dipimpin oleh datuk sesat itu dengan sinar mata tajam, dan akhirnya pemuda ini beradu pandang dengan Cheng-gan Sian-jin. Kakek tinggi besar ini terkejut ketika tiba-tiba dari sepasang mata Yap-goanswe muncul sinar berkilauan yang melebihi pedang mustika tajamnya, dan alis yang tadi tenang itu kini terangkat naik. Tampak betapa jenderal muda yang gagah perkasa ini sedang menahan perasaan gusarnya melihat musuh besar yang amat dibencinya ini, namun, karena Cheng-gan Sian-jin datang sebagai duta sebuah kerajaan, maka terpaksa pemuda ini menahan diri.

Sejenak dua pasang mata ini saling beradu, yang satu bersorot kehijauan sedangkan yang lain mencorong seperti mata seekor naga yang diganggu tidurnya. Cheng-gan Sian-jin berdebar jantungnya ketika terasa hawa dingin yang menyeramkan timbul dari sepasang mata pemuda ini, menembus dan langsung menusuk tajam sinar matanya sendiri.

Akan tetapi, karena kedatangannya ini membawa maksud ”baik”, yakni ingin mengajak pemuda itu bekerja sama sebagai sekutu, maka kakek ini tiba-tiba tertawa bergelak dan mengelakkan segala macam bentuk kekerasan yang hendak timbul. Sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada memberi hormat, Cheng-gan Sian-jin menjura,

“Yap-goanswe, selamat bertemu dan puji terhadap segala dewa bahwa engkau sampai sekarang masih segar-bugar. Sungguh hal teramat mengagumkan hatiku dan membuktikan bahwa nama Yap-goanswe murid Malaikat Gurun Neraka bukanlah nama kosong belaka! Hebat... aku tua bangka ini benar-benar kagum sekali. Ha-ha-ha...!”

Kakek itu membungkukkan tubuhnya sambil mengeluarkan pujian, namun, Bu Kong sendiri mendengus. “Cheng-gan Sian-jin, perhitungan pribadi di antara kita belumlah lunas. Apakah engkau hendak mengulang meracuni diriku? Mengingat engkau datang sebagai utusan, baiklah urusan ini kita tunda. Sekarang apakah maksudmu datang ke mari? Hendak menyerahkan kepala Wu-sam-tai-ciangkun?”

Pertanyaan ini sebenarnya bernada ejekan, yang maksudnya hendak merendahkan Wu-sam-tai-ciangkun dan Cheng-gan Sian-jin. Tidak tahunya, kakek iblis itu malah tertawa terbahak-bahak dan matanya berseri gembira.

“Ha ha, kalau goanswe benar-benar membutuhkan kepala tiga keledai tolol itu, apa sukarnya? Kalau goanswe menghendaki, agaknya aku tua bangka ini akan dapat mempersembahkannya kepadamu dalam hari ini juga. Akan tetapi, apakah goanswe bersungguh-sungguh? Kalau benar, rupanya kedatanganku ke mari tidaklah sia-sia. Ha-ha-ha...!”

Cheng-gan Sian-jin kembali tertawa bergelak dan semua orang terkejut. Seperti diketahui, datuk ini datang sebagai wakil atau utusan Wu-sam-tai-ciangkun melalui Sri Baginda Kung Cu Kwang. Bagaimana sekarang dapat mengeluarkan ucapan seperti itu? Kalau tiga orang Panglima Wu mendengar kata-kata ini, biar bagaimanapun juga mereka pasti naik darah.

Namun, karena orang orang di situ cukup maklum bahwa kakek ini memang rajanya iblis yang banyak akal, maka merekapun sama menganggap bahwa ucapan Cheng-gan Sian-jin tadi hanyalah siasat iblis belaka. Dengan datangnya kakek ini sebagai duta, tentu ada tersembunyi sesuatu maksud yang belum mereka ketahui. Oleh sebab itu, orang-orang inipun memasukkan ucapan tadi dalam telinga kiri dan mengeluarkannya melalui telinga kanan.

Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi Bu Kong. Sebagai jenderal muda yang banyak pengalaman, pemuda ini dapat menangkap kesungguhan kata-kata datuk sesat itu, maka tentu saja jenderal ini terkejut. Hanya bedanya, kalau orang lain terkejut mendengar caci-maki terhadap Wu-sam-tai-ciangkun yang bisa dibilang sekutu kakek itu, adalah Bu Kong terkejut karena dapat merasakan adanya gejala yang tidak beres dalam sikap datuk sesat ini.

Oleh sebab itu, karena menganggap Cheng-gan Sian-jin hendak main gila. Bu Kong segera mengedikkan kepalanya dan dengan suara dingin dia membentak, “Cheng-gan Sian-jin, tidak perlu kau main pat-pat-gulipat! Sebagai utusan yang kuhargai kedudukannya, sekarang bicarakan keperluan junjunganmu. Kalau dapat kuterima, mungkin kalian semua akan selamat. Tetapi kalau tidak, hemm... agaknya nasib kalian memang buruk!”

Bentakan ini menggetarkan dinding ruangan dan Cheng-gan Sian-jin sendiri tiba-tiba melotot, “Yap-goanswe...!” kakek itu berseru. “Apakah kau kira aku main-main? Aha, jenderal muda yang bodoh, kali ini perhitunganmu meleset. Siapa diperintah siapa? Aku datang atas nama diriku sendiri, atas nama seluruh suku bangsaku yang gagah perkasa di luar Tembok Besar!”

Ucapan ini mengejutkan semua orang yang ada di tempat itu dan mereka melihat betapa Cheng-gan Sian-jin tiba-tiba berdiri dengan sikap angker, memandang Yap-goanswe dengan muka marah, tampak penuh penasaran. Tentu saja hati semua orang terguncang dan sekarang mereka dapat merasakan bahwa kakek iblis ini memang tidak main-main. Dan teringatlah mereka akan darah campuran yang mengalir di dalam tubuh kakek itu, yakni darah Suku Arya dan Suku Han. Maka kalau kini Cheng-gan Sian-jin berkata tentang suku bangsanya di luar Tembok Besar, tahulah mereka suku bangsa apa yang dimaksudkan oleh kakek itu. Tentu suku bangsa Arya yang masih setengah buas dan biadab itu!

Maka, segera terdengar seruan tertahan di sana-sini dan mata para pembantu Yap-goanswe terbelalak memandang Cheng-gan Sian-jin yang matanya mendadak berkilat aneh penuh sihir. Bu Kong sendiri juga sempat dibuat terkejut sekali oleh kata-kata itu, dan sejenak pemuda ini tertegun. Namun, ketika tiba-tiba dia diserang pengaruh aneh yang keluar dari mata datuk sesat itu, pemuda ini cepat menjadi sadar. Dengan muka merah dan tinju terkepal murid Takla Sin-jin ini menghardik.

“Cheng-gan Sian-jin, hentikan semua kecuranganmu ini! Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau akan menganggapmu sebagai seorang pengacau...!”

Sambil bicara pemuda itu mengebutkan lengan bajunya dan segera hawa panas menyambar muka datuk sesat ini. Cheng-gan Sian-jin terkejut melihat pemuda yang dipengaruhi dengan ilmu sihirnya itu ternyata sama sekali tidak apa-apa, bahkan mengetahui akan kecurangannya ini. Tentu saja dia merasa kaget, dan lebih kaget lagi kakek itu ketika dari kebutan yang tampaknya sembarangan ini meluncur pukulan tajam berhawa panas yang menyambar sepasang matanya!

“Ahh...!” kakek ini mengeluarkan seruan tertahan dan karena dia masih merasa heran dan penasaran, maka kakek itu cepat menggoyangkan kedua tangannya sambil berseru seperti orang membela diri, “Goanswe, kau salah paham. Aku datang memang benar-benar sebagai pemimpin suku bangsaku yang hendak mengulurkan tangan bekerja sama denganmu. Kenapa disebut pengacau? Tidak, aku bahkan ingin menjadi sekutumu dan dari dalam aku dapat menghancurkan Wu-sam-tai-ciangkun bersama anak buahnya. Bukankah ini bagus sekali?”

Mulut bicara begitu akan tetapi kedua tangan yang digoyang-goyang ini sebenarnya sedang mengerahkan tenaga sakti untuk menangkis kebutan Yap-goanswe. Dan di dalam hati, kakek ini sudah siap untuk kembali melancarkan Sin-gan-i-hun-to-nya kepada jenderal muda ini apabila tangkisannya berhasil mendorong balik pukulan lawan.

Akan tetapi, sungguh tak diduga, Cheng-gan Sian-jin yang menganggap Bu Kong masih seperti dua bulan yang lalu dan agak merendahkan pemuda ini mengingat tenaga saktinya sendiri dua tingkat lebih unggul, sekarang tiba-tiba saja terbelalak dengan hati terkesiap. Tangkisan diam-diam yang dimaksudkan kakek itu untuk membalik pukulan tak terlihat yang dilancarkan jenderal muda itu, kini tiba-tiba bertemu batunya. Cheng-gan Sian-jin melihat betapa Yap-goanswe tersenyum dingin dan begitu pemuda ini mendengus sambil mengebutkan kedua lengannya berbareng, dua tenaga raksasa bertemu di udara.

“Dukk...!” perlahan saja benturan ini, dan hampir tidak ada suara terdengar. Namun, bagi Cheng-gan Sian-jin, pertemuan dua tenaga sakti itu sama sekali tidaklah "perlahan"! Kakek ini merasa betapa hawa pukulannya sendiri membalik dan buyar berantakan, sementara serangan yang dilancarkan murid Malaikat Gurun Neraka itu terus menghantam dadanya.

“Plukk!” Cheng gan Sian-jin mengeluarkan seruan tertahan dan tubuhnya terpelanting tiga tombak! Iblis tua ini terkejut bukan main dan sambil berteriak pendek kakek itu berjungkir balik tiga kali di udara dan akhirnya berdiri dengan mata melotot seperti orang melihat setan di siang bolong.

Keadaan segera menjadi geger. Kim-sin Sian-jin yang memang amat membenci datuk sesat ini sampai ke tulang sumsum, sudah mencabut pedangnya melihat kakek iblis itu menyerang Yap-goanswe. Begitu pula halnya dengan yang lain. Setelah sekarang mereka mengerti bahwa tadi secara diam-diam Cheng-gan Sian-jin melancarkan serangan kepada pemuda itu, orang-orang inipun menjadi marah dan serentak mengeluarkan senjata masing-masing. Bahkan Kim-sin Sian-jin sendiri sudah melompat maju sambil membentak nyaring.

“Iblis tua bangka, berani kau melanggar peraturan sebagai duta? Keparat, kalau begitu kau memang pantas dibunuh...!”

Dan bekas Ketua Kong-thong-pai ini sudah menggerakkan pedangnya membacok kepala Cheng-gan Sian-jin yang masih terbelalak ke arah Bu Kong. Serangan ini cepat. lagi dahsyat bukan main karena didorong oleh api kebencian yang meluap-luap. Apalagi dilakukan oleh Kong-thong-pancu (Ketua Partai Kong-thong) sendiri, maka hebatnya sukar dibayangkan semua orang.

Sementara itu, Cheng-gan Sian-jin sendiri masih bengong dan hampir tidak percaya akan apa yang baru saja dialaminya ini, dan kakek itu seolah-olah tidak sadar akan datangnya pedang bekas Ketua Kong-thong yang mengancam tengkuknya. Bahkan angin dingin yang mendesing tajam dari suara pedang itupun seakan-akan tidak didengarnya. Maka, ketika senjata di tangan Kim-sin Sian-jin tiba, datuk sesat ini sudah tidak sempat lagi mengelak dan diapun tampaknya juga memang tidak ada niat mengelak.

“Takkk...!” pedang itu tepat mengenai sasarannya dan orang-orang yang hadir sudah siap untuk melihat kepala Cheng-gan Sian-jin mental. Namun, alangkah kagetnya hati semua orarg ketika melihat kenyataan yang justeru malah sebaliknya, karena bukan kepala tokoh iblis itu yang mental, melainkan pedang di tangan Kim-sin Sian-jin sendiri!

“Ahh...!” orang-orang ini mengeluarkan teriakan kaget dan datuk sesat itu menggereng. Rupanya, setelah dirinya dibacok pedang ini Cheng-gan Sian-jin baru sadar akan apa yang terjadi. Tentu saja dia marah dan kakek itu cepat membalikkan tubuh dengan mata menyeramkan.

“Kim-sin Sian-jin, beginikah laku seorang ketua partai yang dinyatakan gagah perkasa dan disebut sebagai golongan pek-to (putih)?” datuk sesat itu membentak dengan mata berkilat-kilat. “Kalau kau termasuk golongan hitam aku tidak merasa heran. Akan tetapi, kau sendiri menyebut diri sebagai musuh golongan hitam, kenapa dapat melakukan perbuatan hina ini? Cuhh, kalau kau tidak membeset kulit mukamu itu lebih baik membunuh diri saja!”

Ucapan ini membuat wajah bekas Ketua Kong-thong-pai ini merah padam. Memang, tadinya dia tidak mengira kalau lawannya mandah diserang begitu saja karena agaknya Cheng-gan Sian-jin masih dikuasai rasa bengongnya. Oleh sebab itu, dilihat sepintas lalu dia memang dapat dikatakan curang. Namun, bukankah dia tadi sudah memberikan aba-aba berupa bentakan? Oleh sebab itu, kakek inipun tidak mau kalah dan dengan sinar mata berapi-api diapun menjawab nyaring.

“Cheng-gan Sian-jin, adalah kau sendiri yang tuli tidak mendengar peringatanku. Kenapa hendak menyalahkan orang lain? Kalau kau memang jantan sejati, hayo majulah, terima pembalasan dendamku yang bertumpuk-tumpuk setinggi langit!”

Cheng-gan Sian-jin tertawa aneh, sinar matanya mencorong berpengaruh ketika memandang Kim-sin Sian-jin yang diam-diam membuat hatinya marah. Meskipun di tempat itu banyak orang, namun, kakek ini sama sekali tidak merasa gentar. Maka, dia sudah siap untuk menghajar bekas Ketua Kong-thong itu dengan ilmu sihirnya, akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan dingin yang dikeluarkan Yap-goanswe,

“Cheng-gan Sian-jin, sebelum kau bertindak lebih lanjut di tempat ini, katakanlah apa sebenarnya kedudukanmu di sini. Kalau kau bertindak sebagai duta, harap kau mengikuti peraturan yang berlaku tentang kewajiban seorang duta. Akan tetapi, kalau kau memang hendak membuat onar, buang dahulu bendera putih itu sebagai tanda!”

Bentakan ini besar sekali pengaruhnya bagi semua orang, baik bagi datuk iblis itu sendiri maupun bagi Kim-sin Sian-jin dan teman-temannya. Bekas Ketua Kong-thong-pai ini seperti disiram air dingin dan segera dan menjadi sadar. Cepat kemarahannya dikendalikan dan diam-diam dia merasa bersyukur terhadap Bu Kong yang mencegah terjadinya kekeliruan lebih lanjut dari sikapnya terhadap Cheng-gan Sian-jin bersama rombongannya yang membawa bendera duta itu.

Memang, seperti diketahui bersama, kedatangan kakek iblis itu dari luar tampak sebagai utusan Wu-sam-tai-ciangkun, berarti duta resmi yang sedang menjalankan tugas. Walaupun tenyata Cheng-gan Sian-jin berkhianat, akan tetapi, itu adalah urusan pribadinya sendiri dan biar bagaimanapun juga orang luar menganggapnya sebagai duta Kerajaan Wu.

Oleh sebab itu, kalau sampai dia menyerang duta ini, maka namanya bakal cemar di mata semua orang. Itulah sebabnya Bu Kong mengeluarkan kata-katanya tadi yang berarti menunda terjadinya segala akibat dari permusuhan antara datuk iblis itu dengan bekas Ketua Kong-thong. Dengan demikian, Kim-sin Sian-jin tidak sampai melakukan kesalahan lebih lanjut dan tidak mengganggu Cheng-gan Sian-jin yang datang sebagai duta.

Hal ini berarti menyelamatkan nama kakek itu dari cemar, juga sekaligus menjaga nama sendiri yang tidak ingin dicap orang luar sebagai jenderal yang tidak tahu aturan. Maka, dengan demikian, Bu Kong telah dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Juga dengan pertanyaannya itu, pemuda ini menjepit kedudukan Cheng-gan Sian-jin yang mau tak mau harus mengaku kebenaran ini.

Maka, segera Cheng-gan Sian-jin menindas kemarahannya terhadap bekas Ketua Kong-thong-pai itu dan kakek ini memutar tubuhnya menghadapi Yap-goanswe yang memandangnya dengan pandangan dingin menusuk.

“Yap-goanswe,” kakek itu mulai bicara dengan sungguh-sungguh. “Seperti telah kukatakan tadi, aku datang ke mari tidak membawa maksud jelek. Untuk mengelabui tiga keledai tolol di kota raja, aku mempergunakan kesempatan menjadi duta ini untuk bertemu muka secara pribadi denganmu. Kau tahu, Wu-sam-tai-ciangkun bukanlah orang-orang jujur dan diam-diam mereka ada maksud untuk melenyapkan diriku kalau kelak usaha mereka berhasil. Oleh sebab itu, untuk membalas maksud busuk ini aku datang ke mari. Tujuanku ialah hendak mengajak engkau bersekutu dengan anak-anak buahku yang sudah siap di luar Tembok Besar, dan begitu kau setuju, dari dalam aku akan menghancurkan Wu-sam-tai-ciangkun dan menyerahkan Sri Baginda Kung Cu Kwang kepadamu. Dan bukan hanya ini saja, akupun siap... heh-heh... untuk membebaskan kekasihmu dari cengkeraman Panglima Ok Ciat!”

Kalimat terakhir ini diucapkan Cheng-gan Sian-jin sambil terkekeh dan kakek iblis itu melirik jenderal yang gagah perkasa itu dengan penuh arti. Ada tersirat tekanan dan ancaman di balik kata-kata ini, dan Bu Kong sendiri terkesiap. Tahulah dia sekarang mengapa kakek itu berani bicara tentang rencana persekutuannya ini, tidak tahunya karena diam-diam membawa nama Siu Li di bawah ancamannya!

Tentu saja Bu Kong terkejut dan sedetik mukanya menjadi pucat. Hal ini tidak lepas dari pengamatan Cheng-gan Sian-jin yang tajam dan kakek itu merasa girang, percaya bahwa kemenangan sudah berada dl pihaknya. Dan Bu Kong sendiri memang tahu bahwa keadaan kekasihnya sekarang benar-benar amat berbahaya sekali. Cheng-gan Sian-jin ternyata musuh dalam selimut bagi Wu-sam-tai-ciangkun tanpa tiga orang panglima itu sadar. Dan kini sebagai musuh yang amat licik dan siap mengadu domba, kakek iblis inipun menyangkutkan nama Siu Li agar dia menyerah.

Sejenak Bu Kong menjadi bingung dan diam-diam pemuda ini marah sekali melihat kelicikan Cheng-gan Sian-jin. Di satu pihak tentu saja tidak mungkin baginya untuk menerima usul itu, namun di lain pihak dia sekarang harus memperhitungkan keselamatan kekasihnya setelah secara halus datuk iblis ini mempergunakan Siu Li sebagai sandera. Sungguh kurang ajar!

Dia, jenderal muda yang biasanya menekan lawan kini malah ditekan lawan! Siapa tidak naik darah? Dan Bu Kong memandang kakek itu dengan perasaan gusar bukan main. Kalau saja Cheng-gan Sian-jin bukan datang sebagai utusan, baik utusan Wu-sam-tai-ciangkun maupun dari suku bangsanya sendiri, tentu pemuda ini tidak akan membiarkan kakek itu berbuat sekehendak hatinya.

Akan tetapi, kini Cheng-gan Sian-jin telah mengatakan maksud kedatangannya dan dia hanya tinggal menerima atau menolak. Kalau menerima berarti kemenangan bakal diperolehnya dengan mudah dan Siu Li sendiri selamat, akan tetapi, kalau menolak berarti mempertaruhkan nyawa kekasihnya di tangan kakek ini. Dan kekeh Cheng-gan Sian-jin yang penuh arti tadi cukup menjelaskan semua maksud kejinya yang tidak perlu diutarakan lagi. Terkutuk!

Bu Kong mengepal tinjunya erat-erat dan hampir saja dia tidak dapat menguasai diri. Detik-detik terasa menegangkan dan pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang batuk-batuk. Ketika Bu Kong memandang, ternyata yang batuk-batuk ini adalah Phoa-lojin yang pada saat itu juga sedang menatap jenderal muda ini dengan sinar mata lembut. Seketika Bu Kong menjadi sadar dan tiba-tiba pemuda itu seakan melihat adanya titik terang dalam diri kakek itu.

Namun, baru saja dia membuka mulut untuk bicara, tiba-tiba Phoa-lojin sudah mendahuluinya dengan menjentikkan sesuatu ke arahnya. Cepat pemuda ini menggerakkan tangannya menangkap benda itu yang bukan lain adalah segumpal kertas kecil, dan ketika dia membukanya, ternyata isinya adalah sebuah surat singkat yang berbunyi:

Harap goanswe tenangkan hati. Cheng-gan Sian-jin tidak akan dapat melaksanakan maksudnya itu karena terjadinya perubahan mendadak. Semuanya di luar dugaan, dan goanswe sendiri harap mempersiapkan mental. Jalan paling baik sekarang ini ialah cepat mengusir iblis tua itu dan tolak semua niatnya!

Phoa-lojin

Demikianlah isi surat ini dan jenderal muda itu menjadi girang. Pernyataan ahli ramal dari Pulau Cemara yang menyebutkan gagalnya maksud Cheng-gan Sian-jin ini benar-benar membuat kegelisahannya lenyap seketika, dan Bu Kong percaya penuh.

Seperti diketahui Phoa-lojin adalah tukang ramal jempolan, maka semua kata-katanya dapat dipertanggungjawabkan. Demikian pula dengan apa yang disimpulkan pemuda ini. Melihat bahwa Phoa-lojin berdiri di pihaknya dan mengatakan dia tidak perlu cemas tentang nasib Siu Li sudah membuat jenderal muda ini girang bukan main. Hal ini berarti keselamatan gadis itu tidak perlu dirisaukan lagi dan dia tidak usah menghiraukan ancaman Cheng-gan Sian-jin.

Oleh sebab itu, dengan muka keren dan suara bengis, jenderal muda ini lalu menjawab pertanyaan Cheng-gan Sian-jin yang sedang memandangnya dengan alis berkerut karena merasa tidak enak melihat pemuda itu menerima surat dari seseorang.

“Cheng-gan Sian-jin, seperti telah kau ketahui, burung gagak tidaklah mungkin akan dapat berteman dengan burung hong. Begitu pula keadaan kita sekarang ini. Bersekutu dengan seorang pengkhianat macam dirimu ini sungguh terlalu berbahaya, siapa mau mengambil resiko? Tidak, Cheng-gan Sian-jin, aku tidak sudi bekerja sama denganmu! Yap-goanswe bukanlah orang yang mudah digertak dengan urusan pribadi, maka sebagai pemimpin tunggal yang mengepalai seluruh angkatan perangku, dengan tegas kunyatakan menolak semua usulmu yang hina dan tidak tahu malu itu! Nah, inilah jawabanku, dan sekarang pergilah. Tempatku tidak boleh terlalu lama diinjak kaki-kaki kotor macam dirimu ini...!”

Bu Kong mengangkat tangan kirinya dan menudingkan telunjuk ke pintu keluar, mengusir datuk sesat itu terang-terangan!

Itulah hal yang amat di luar dugaan bagi Cheng-gan Sian-jin. Tadinya, mengandalkan nama Siu Li di bawah ancaman, kakek ini merasa yakin akan kemenangan diri sendiri. Maka, sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa hal yang terjadi justeru sebaliknya!

Sejenak kakek ini terbelalak, dan mukanya seakan ditampar. Kemarahan membakar dirnya dan kalau saja tidak ingat bahwa dia datang sebagai "utusan", tentu kakek ini sudah menerjang jenderal muda yang berani menghinanya saperti ini. Se!ama hidup, baru sekali ini datuk sesat itu diusir mentah-mentah oleh seorang "bocah ingusan". Padahal, beberapa bulan yang lalu, pemuda ini telah jatuh di tangannya dan dipermainkan sesuka hatinya. Maka, tentu saja kemarahan yang melanda kakek ini bukan main hebatnya.

Akan tetapi, Cheng-gan Sian-jin adalah manusia cerdik, juga sudah banyak makan garam dunia. Melihat bahwa jenderal muda itu berani menolak dalam sekejap saja setelah menerima surat seseorang yang tidak diketahuinya, namun, yang jelas berada di tempat itu, kakek ini tidak berani ceroboh. Maklumlah dia bahwa di tempat ini masih terdapat orang sakti, di samping Kim-sin Sian-jin. Karena itu, tahu bahwa kembali usahanya gagal total, kakek itu tiba-tiba tertawa bergelak dan mukanya yang tadi merah itu kini telah pulih seperti biasa,

“Ha-ha, Yap-goanswe benar-benar ksatria sejati yang tidak dapat didekati gagak-gagak hitam macam golongan kami. Sungguh mengagumkan! Dan baru sekarang ini aku tua bangka sialan bertemu dengan orang yang demikian teguh pendiriannya. Ahh, dasar aku yang tidak tahu diri. Hemm, baiklah, goanswe... baiklah... kalau aku tidak dapat berendeng dengan burung hong di sini, biarlah aku akan berendeng saja dengan burung hong yang ada di sana, ha ha...!”

Kakek ini menyeringai iblis dan Bu Kong tergetar hatinya, akan tetapi, segera pemuda ini dapat menenangkan diri teringat akan pernyataan Phoa-lojin tadi. Dan Cheng-gan Sian-jin sendiri tiba-tiba mengirimkan ilmu suaranya, yang tidak didengar orang lain, kepada pemuda itu yang membuat muka jenderal muda ini merah.

“Yap goanswe, kesombanganmu hari ini akan kau tebus mahal. Karena kau berani menolak maksud baikku, maka lihat saja pembalasanku nanti. Kekasihmu telah berada di tanganku dan kami orang-orang yang kau sebut sebagai gagak-gagak hitam ini akan menelanjanginya sampai bugil! Kami tidak akan cepat-cepat memperkosanya, karena kami ingin agar kau menyaksikan peristiwa yang menyenangkan itu bersama-sama. Nah, anak muda besar kepala, mari kita sama-sama lihat, siapa yang harus bertekuk lutut dalam hal ini!"

Cheng-gan Sian-jin lalu memutar tubuh dan dengan langkah lebar kakek itu mengajak dua orang temannya kembali ke kota raja, sedangkan Hek-mo-ko dan Pouw Kwi sendiri cepat mengikuti pimpinan mereka itu.

Sejenak keadaan menjadi sunyi dan semua orang memandang kepergian datuk sesat yang amat berbahaya ini dengan berbagai macam perasaan. Ada yang kecewa karena tak dapat membunuh kakek itu, namun, ada pula yang merasa lega bahwa Cheng-gan Sian-jin tidak membuat onar. Golongan pertama dirasakan oleh Kim-sin Sian-jin dan orang-orang dari partai lain, sedangkan golongan kedua diratakan oleh para pembantu Bu Kong.

Dan jenderal muda itu sendiri memandang kepergian Cheng-gan Sian-jin dengan muka merah. Ucapan datuk iblis tadi yang hendak menelanjangi Siu Li benar-benar membuat matanya berapi-api. Kalau saja dia tidak ingat kakek itu datang sebagai utusan resmi dan dia sendiri sudah mengusir Cheng-gan Sian-jin keluar kemah, mungkin pemuda ini sudah melompat dari tempat duduknya untuk menghajar kakek itu.

Namun hal ini tidak mungkin dilakukannya. Cheng-gan Sian-jin masih berkedudukan sebagai duta, juga dia sendiri telah mengusir kakek itu. Maka, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan hanyalah bersabar dengan menunggu pecahnya perang terbuka yang sudah di ambang pintu ini. Dia berharap, dalam pertempuran itulah dia akan dapat berhadapan muka dengan Cheng-gan Sian-jin yang amat dibencinya.

Dan Bu Kong merasa yakin, bahwa dengan kepandaiannya yang sekarang ini dia pasti mampu menundukkan lawannya yang lihai itu seperti kata-kata gurunya sendiri. Dan di samping itu, diam-diam pemuda inipun bersumpah bahwa sedikit saja kakek itu mengganggu kekasihnya, dia tidak akan memberi umur panjang kepada Cheng-gan Sian-jin!

Akan tetapi tiba-tiba, baru saja Bu Kong berpikir sampai di situ dan rombongan Cheng-gan Sian-jin lenyap di luar kemah, mendadak terdengar ribut-ribut di luar disusul suara "blang...!" yang keras sekali. Suara ini hebat, dan lantai ruangan bergetar membuat semua orang terkejut.

Tanpa ayal lagi, karena mengira Cheng-gan Sian-jin membuat kerusuhan di luar, semua orang yang ada di dalam inipun meloncat keluar sambil mencabut senjata masing-masing. Kalau betul dugaan mereka, maka kali ini terdapat kebebasan bergerak untuk membunuh datuk sesat itu. Dan Bu Kong sendiri sudah meloncat dari tempat duduknya melayang keluar kemah, mendahului semua orang. Gerakannya ini cepat bukan main, dan orang-orang di situ hanya melihat sebuah bayangan berkelebat untuk kemudian lenyap tanpa mereka ketahui siapakah orang yang "terbang" ini!

Tentu saja mereka terkejut, akan tetapi, setelah melihat kursi yang tadi diduduki jenderal muda itu kosong, tahulah orang-orang ini bahwa bayangan yang gerakannya seperti iblis tadi bukan lain adalah Yap-goanswe sendiri! Hal ini membuat mereka kagum bukan main dan ketika mereka sudah tiba di luar, benar saja, Yap-goanswe tampak sudah berada di barisan paling depan sendiri, di ujung dekat pintu gerbang kota raja dan sedang berdiri dengan mata terbelalak! Kembali mereka terkejut, akan tetapi, lebih terkejut lagi hati orang-orang ini ketika melihat keadaan pintu gerbang yang pecah berantakan!

Apa yang terjadi? Semua orang belum dapat menjawab pertanyaan itu, kecuali dugaan bahwa itu tentu perbuatan Cheng-gan Sian-jin. Akan tetapi, untuk apa datuk sesat itu menghancurkan pintu gerbang? Bukankah hal ini membuat kedudukan pasukan Wu terbuka dan mereka tidak dapat bertahan di dalam benteng?

Sungguh mereka tidak mengerti, akan tetapi, Bu Kong yang otaknya cerdas ini segera paham. Tahulah dia bahwa Cheng-gan Sian-jin yang marah melihat usulnya ditolak, kini sedang menjalankan siasat adu domba. Perbuatan kakek itu yang menghancurkan pintu gerbang tentu dimaksudkan agar dia bersama pasukannya meluruk maju dan pihak pasukan Wu sendiri yang benteng pertahanannya sudah dijebol Cheng-gan Sian-jin, tentu saja tidak dapat mencegah dan hal ini berarti menyudutkan posisi mereka. Dengan begitu, daripada menunggu diserang musuh mereka ini, tentu lebih baik menyerang musuh dan mendahului!

Benar saja, begitu dugaannya habis dipikirkan tiba-tiba dari atas menara terdengar suara maki-makian disusul bunyi terompet tanduk yang menyatakan perang terbuka. Bu Kong melihat betapa seorang panglima tinggi besar yang wajahnya brewok serta dua orang panglima lain memberikan aba-aba nyaring kepada seluruh perwira, sementara tiga orang ini sendiri menghilang ke bawah. Itulah Wu-sam-tai-ciangkun dan panglima tinggi besar tadi bukan lain adalah Panglima Kiang!

Sedetik wajah pemuda ini merah. Kemarahan melihat bayangan tiga orang panglima licik itu membuatnya lupa akan Cheng-gan Sian-jin dan begitu dari pintu gerbang kota raja muncul pasukan musuh dengan panji-panji mereka, jenderal muda ini mengelebatkan bendera merahnya sebagai tanda sambutan terhadap pihak lawan yang sudah mulai menyerang!

Segera terompet dan tambur perang dibunyikan, dan pasukan Yueh bersorak-sorai dengan pekik yang gegap-gempita. Majulah mereka ini, dan sesuai dengan formasi barisan segi delapan seperti yang diajarkan oleh Yap-goanswe, selaksa pasukan itu menyambut musuh dengan wajah bersemangat.

Sekejap kemudian terjadilah pertempuran seru diantara dua pasukan besar ini dan para perwira yang memimpin barisan di depan, sudah menggerakkan senjata di tangan membabat setiap lawan yang berani mendekat. Mulailah bacok-membacok terjadi, disusul dentang tameng serta pekik kemarahan masing-masing pihak yang menyerang seperti orang kalap.

Pasukan Yap-goanswe tampak agresif sekali, dan hal ini tidak aneh mengingat mereka telah lama menyimpan dendam sedalam lautan terhadap pasukan Wu-sam-tai-ciangkun itu. Sementara di lain pihak, pasukan lawan bertempur dengan hati yang kurang mantap dan juga agak gentar melihat kenekatan lawan yang luar biasa. Dua orang perwira dari Wu, yakni perwira Song Kiat dan Chi Hun, menjadi marah melihat keragu-raguan yang membayang di wajah anak-anak buahnya. Oleh sebab itu, sambil memekik...

Pendekar Gurun Neraka Jilid 19

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 19
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
KOK HUN seperti ditampar mukanya dan panglima tinggi besar itu memandang Bu Kong dengan mata melotot. Sama sekali dia tidak mengira bahwa jenderal muda ini akan mempergunakan janji yang tadi telah diucapkannya itu sebagai senjata bagi dirinya sendiri!

Oleh sebab itu, panglima muda ini tidak dapat berbuat apa-apa dan seperti orang-orang lainnya pula, dia hanya dapat berdiri mematung memandang kebakaran yang terjadi di atas laut itu dengan mata terbelalak. Demikian pula halnya bagi semua orang yang ada di tempat itu. Mereka inipun terpaksa "cep celakep" alias tidak mampu berkata apa-apa lagi ketika mendengar ucapan Yap-goanswe terhadap Kok-ciangkun tadi.

Akibatnya, karena sekarang tidak ada orang yang mencegah, maka kebakaran besar yang melanda kapal-kapal perang itupun menjadi semakin hebat. Api bergulung-gulung dan asap hitam membubung ke langit. Udara seketika menjadi gelap, seperti gelapnya hati orang-orang itu sendiri yang melihat betapa kapal yang telah mereka buat secara susah payah itu sekarang dibakar mentah-mentah oleh Yap-goanswe, pucuk pimpinan mereka sendiri!

Siapa tidak akan terkesima? Sepuluh ribu pasukan itu bahkan terpukau seperti orang mendapat mimpi buruk! Dan agaknya baru kali ini terjadi di atas bumi sebuah peristiwa yang demikian langkanya. Seorang jenderal besar membakar armada lautnya begitu saja!

Namun, siapa berani memprotes? Yap-goanswe telah dengan amat cerdiknya menjebak mereka ke dalam janji yang tak dapat ditarik kembali. Mereka tadi telah mengatakan siap berkorban, baik harta maupun nyawa. Dan kini janji itu dipergunakan oleh jenderal besar mereka untuk menguji!

Berat memang, akan tetapi apa mau dikata. Ludah yang tetah dikeluarkan tak mungkin lagi dijilat kembali. Apalagi sebagai anak buah Yap-goanswe yang amat teguh memegang janji, maka penjilatan kata-kata bagi mereka adalah tabu!

Biarlah, kalau Yap-goanswe menghendaki kapal-kapal perang itu dibakar, tentu ada tersembunyi suatu maksud di balik perbuatan jenderal muda itu. Maka satu-satunya jalan paling baik bagi mereka sekarang ini adalah menunggu. Menunggu sampai habisnya kapal-kapal itu terbakar api yang merajalela.

Dan akhirnya, setelah keadaan ini berjalan hampir tiga jam lebih, seluruh kapal perang itupun musnahlah. Yang tinggal sekarang hanyalah sisa-sisa papan yang terapung-apung lemah di atas air, tampak kelelahan. Dan semua mata kini ditujukan ke arah Yap-goanswe yang berdiri tegak di atas batu karang itu, pandangan mata yang penuh tuntutan untuk segera memperoleh jawaban.

Bu Kong memutar tubuhnya, balas menyapu semua orang yang berada di bawah dengan sinar matanya yang seperti lampu sorot itu dan akhirnya dua bola mata naga ini berhenti di depan Kok Hun, membuat panglima tinggi besar itu tercekat dan surut selangkah tanpa dirasa. Kehebatan sinar mata jenderal muda yang gagah perkasa ini benar-benar mengerikan, membuat seram dan berdirinya bulu tengkuk, seperti melihat mata seekor naga sakti sendiri.

Oleh sebab itu, Bu Kong melunakkan sinar matanya, namun dengan suara keren dia mulai berkata, “Kok-ciangkun, bukankah engkau sedang menunggu-nunggu jawaban dariku tentang semua kejadian ini? Kenapa diam saja? Kalau mau bicara, bicaralah... keluarkan semua isi hatimu!”

Kok Hun menjadi berani mendengar perintah ini, maka dia cepat memberi hormat sambil maju ke depan. “Goanswe, karena aku khawatir salah bicara, maka terpaksa menutup mulut. Sekarang karena engkau sendiri memberi ijin kepadaku untuk melepaskan semua penasaran ini, maka legalah hatiku. Hanya satu saja pertanyaan yang ingin kuajukan di sini, yakni atas dasar apakah engkau menyuruh bakar semua kapal-kapal perang kita!”

Ucapan ini diserukan dengan suara lantang sehingga semua orang dengar, dan Bu Kong melihat betapa semua orang menganggukkan kepala tanda setuju dengan pertanyaan panglima tinggi besar itu.

“Hemm, hanya inikah pertanyaanmu, Kok-ciangkun? Tidak ada yang lain?”

“Tidak, goanswe. Hanya inilah pertanyaanku yang agaknya juga merupakan pertanyaan bagi semua perajurit kita. Jawaban dari pertanyaan ini akan mencakup semua tanda tanya bagiku dan tentunya juga bagi semua orang!” Kok Hun menjawab dengan suaranya yang nyaring dan kembali orang-orang di bawah menganggukkan kepalanya.

“Hemm, baiklah....!” Bu Kong mengangkat tangan kirinya dan tiba-tiba sinar matanya mencorong berkilauan, membalik menghadapi sepuluh ribu pasukan yang berada di bawah, kemudian dengan suaranya yang menggetarkan dinding karang jenderal muda ini berseru, “Pasukanku yang gagah perkasa. bukankah kalianpun mempunyai pertanyaan yang sama dengan Kok-ciangkun tadi? Nah, karena aku harus segera menjawab pertanyaan ini, sekarang kalian dengarlah... dengarlah baik-baik!”

Pemuda itu berhenti sejenak mengumpulkan semangat dan semua orang melihat betapa tubuh pemuda itu tiba-tiba bergetar aneh. Lalu, dengan seruannya yang penuh tenaga sakti, jenderal muda ini melanjutkan.

“Pasukan Yueh yang gagah berani, sebenarnya jawaban bagi kalian sudah terpampang jelas di depan mata. Akan tetapi, karena kulihat kalian masih belum mengerti, maka biarlah kuterangkan di sini. Pertama-tama, pembakaran kapal-kapal itu sebenarnya bukan lain adalan demi semangat perjuangan. Kalian dengar? Hal pertama adalah demi semangat perjuangan! Mengapa kukatakan demi semangat perjuangan? Kalian dengarkan saja dan nantipun kalian semua akan mengerti. Ini adalah hal yang pertama. Sedangkan hal yang kedua adalah untuk membuktikan apakah janji-janji kalian bukan omong kosong belaka! Bagi seorang perajurit yang siap tempur di medan laga, tekad yang bulat amat diperlukan sekali karena dengan tekad inilah kita akan memperoleh kemenangan. Dapat kalian bayangkan, kalau seorang perajurit bilang putih di depan komandan padahal ternyata hitam ketika berada di belakang komandan, maka hal demikian membuktikan belum adanya keserasian yang dibicarakan dengan kenyataannya. Oleh sebab itu, karena aku tidak mau kalian bersikap demikian, maka sengaja kusudutkan kalian pada keadaan yang seperti sekarang ini. Kalian sendiri telah berjanji untuk siap mengorbankan harta dan nyawa, maka musnahnya kapal-kapal itu seharusnya tidak membuat kalian kecewa. Apalagi, kalianpun telah mengatakan siap bertempur sampai titik darah terakhir! Nah, bukankah semuanya ini yang mendorong aku untuk melenyapkan kapal-kapal perang itu? Bagi kita, kapal-kapal ini sudah tidak berguna lagi dan layak dimusnahkan!”

“Ahh...!” semua orang terkejut dan Kok Hun mengeluarkan seruan keras. “Goanswe, siapa bilang kapal-kapal itu sudah tidak berharga lagi buat kita? Kalau kita terdesak, kita dapat menggunakannya sebagai jalan mundur!”

Seruan panglima tinggi besar ini terdengar penuh penasaran dan orang-orang lainpun tampaknya sependapat dengan ucapannya. Oleh sebab itu, di antara mereka segera terdengar kata-kata membenarkan dan Bu Kong menjadi merah mukanya.

“Kok-ciangkun!” jenderal muda ini membentak. “Kalau setiap anak buahku berpikiran seperti engkau maka kemenangan tidak bakal kita peroleh. Hal ini hanya menunjukkan kelemahan hatimu yang tidak memiliki semangat dan tekad yang bulat. Kalau belum bertempur sudah merencanakan jalan mundur, patutkah perbuatan ini dilakukan oleh seorang perajurit? Tidak! Yang ada di pikiran kita hanyalah maju, maju dan menyerang! Kita tidak boleh mundur, dan bagiku sendiri lebih baik hancur daripada mundur...!”

Hebat seruan Yap-goanswe itu, apalagi mukanya yang merah serta sepasang matanya yang berapi-api itu. Semua orang terpengaruh oleh sikapnya dan Kok Hun sendiri terkejut melihat kebenaran kata-kata yang diucapkan oleh jenderal muda itu. Memang, kalau belum bertempur sudah terlebih dahulu merencanakan jalan mundur, hal ini seolah-olah membayangkan kegagalan mereka. Dan ini tentu saja sedikit banyak memperlemah semangat.

Padahal, bagi mereka sekarang ini yang sedang berjuang untuk merebut kembali kota raja dari tangan musuh, kelemahan semangat benar-benar harus disingkirkan jauh-jauh. Kalau dia tadi membantah dengan kata-katanya yang seperti itu, hal ini memang menandakan berkurangnya semangat yang tidak disadari. Oleh sebab itu, tentu saja panglima muda ini seperti disiram air dingin dan cepat dia menekuk sebelah kakinya.

“Goanswe, mohon dimaafkan kalau aku hampir saja merusak rencanamu. Sekarang tahulah aku mengapa engkau menyuruh bakar kapal-kapal perang ini. Kiranya memang hendak menyudutkan anak-anak buahmu ke satu jalan, yakni maju dan menyerang!”

Bu Kong mereda kemarahannya dan melihat pembantunya yang berwatak jujur ini mengakui kesalahannya, dia menjadi terharu. “Kok-ciangkun bangunlah. Aku menghargai sikapmu yang suka terus terang ini dan sedikit kesalahan tadi tidaklah terlalu kupikirkan,” pemuda itu mengangkat tangannya kanannya dan Kok Hun bangkit berdiri.

“Saudara-saudara sekalian,” demikian Bu Kong melanjutkan. “Seperti yang kalian telah dengar dari Kok-ciangkun baru saja, aku memang sengaja menyudutkan kalian semua dengan pembakaran kapal-kapal perang itu. Sekarang kalian lihat, jalan mundur bagi kita ke Pulau Cemara sudah tidak ada lagi. Yang ada sekarang ini hanyalah jalan ke depan, jalan yang menuju ke tempat musuh. Dan inilah maksudku, yakni menghapuskan jalan mundur agar kalian semua mempunyai satu tekad yang bulat untuk maju menyerang. Dengan demikian, yang ada di benak kita sekarang maju... maju dan menang! Pasukanku yang gagah perkasa bukankah kalian ingin menang? Kalau kalian ingin menang, maka kalian harus maju... maju dan menyerang. Jangan pikirkan jalan mundur karena kita lebih baik hancur daripada mundur!”

Kalimat terakhir diserukan dengan pekik menggeledek dan Bu Kong mengangkat tinjunya ke atas, membuat selaksa perajurit itu dihanguskan api semangat yang membakar dada. Dan yang pertama-tama menyambut pekik jenderal muda ini adalah Kok Hun. Panglima tinggi besar yang kini mengerti akan maksud pemuda itu tiba-tiba berteriak dengan suaranya yang nyaring.

“Goanswe, apa yang kau katakan memang benar. Jalan mundur bagi kita sudah tertutup dan satu-satunya hasrat hanyalah maju, maju dan menang! Hidup Yap-goanswe pengatur siasat ulung...!”

Pekik panglima muda ini segera menyadarkan Fan Li dan dua orang temannya, dan mereka melihat bahwa Yap-goanswe ternyata benar-benar merupakan pengatur siasat yang ulung. Sekarang mengertilah mereka apa yang dikandung oleh jenderal muda itu. Kiranya memang benar demi semangat perjuangan!

Memang, dengan jalan melenyapkan kapal-kapal perang itu berarti Jenderal Yap telah menghapuskan jalan mundur. Dengan demikian, jalan yang terpampang di hadapan mereka sekarang ini hanyalah jalan ke depan, jalan maju karena jalan mundur telah tidak ada lagi bagi mereka! Oleh sebab itu, dengan siasatnya yang amat cerdik ini, Bu Kong telah "memukul buntut mendorong kepala" terhadap anak-anak buahnya. Dengan sendirinya, karena para perajurit itu sudah tidak memiliki jalan mundur lagi, jadilah mereka orang-orang "nekat" yang dipaksa keadaan. Sungguh luar biasa!

Mengerti sampai di sini, tiga orang panglima muda itu menjadi kagum bukan main. Sekarang teringatlah oleh mereka akan sebuah siasat perang yang dinamakan "menutup gua menarik naga", yakni semacam siasat untuk menjebak pasukan menjadi seperti "orang-orang gila". Hal ini mirip membakar sarang ular di sebuah lubang yang mengakibatkan binatang itu harus keluar. Maka tentu saja siasat "menutup gua menarik naga" yang kini dilakukan oleh jenderal muda ini dengan jalan membakar kapal-kapal perang pasukannya benar-benar berhasil sekali. Ibarat naga, perajurit Yueh sekarang ini sudah tidak mempunyai rumah lagi, dan kalau mereka menginginkan rumah tersebut, satu-satunya jalan ialah harus menyerang habis-habisan bala tentara Wu yang telah merebut kota raja! Sungguh menakjubkan!

Sejenak tiga orang panglima ini bengong, akan tetapi, begitu Kok Hun berteriak dengan suaranya yang nyaring, mereka sadar kembali dan serentak tiga orang rekan Kok-ciangkun ini berseru memuji menirukan ucapan Kok Hun. Maka segera susul-menyusullah teriakan-teriakan dari seluruh pasukan itu dan bumi tergetar seakan dilanda gempa.

Pekik ”Hidup Yap-goanswe!” sebagai seruan kagum membata-rubuh di tepi Laut Tung-hai ini dan Bu Kong tersenyum dengan wajah berseri-seri. Gembira melihat usahanya berhasil dan dapat dimengerti oleh pasukannya. Sekarang ringanlah hatinya dan jenderal muda itu tampak puas, lalu melompat turun dari atas batu karang diikuti empat orang pembantu utamanya.

Mulailah jenderal muda ini mengatur barisan, menyisihkan barisan bertombak dari barisan bergolok, barisan berpedang dari barisan trisula dan barisan berkuda dengan barisan jalan kaki. Semuanya diatur sedemikian rupa untuk membentuk formasi masing-masing dan setelah semuanya beres, berangkatlah angkatan perang di bawah pimpinan jenderal muda yang gagah perkasa itu menuju Koan-yang!

Inilah benteng pertahanan Wu-sam-tai-ciangkun yang terlemah di sebelah timur, dan menurut penyelidikan yang diperoleh, kota itu dipimpin o!eh dua orang, Perwira Oei bawahan Panglima Ok Ciat bernama Wang Chi serta Lauw Ik. Dengan demikian, karena Koan-yang hanya dipimpin oleh perwira rendahan yang tidak ternama, kota ini benar-benar merupakan sasaran lunak bagi barisan jenderal muda itu.

Bu Kong sendiri menunggang kuda hitamnya yang tinggi besar dan tahan bacokan senjata tajam itu duduk tegak dengan sikap angker dan penuh wibawa di depan barisan, sedangkan di belakangnya berkibar panji-panji angkatan perang Yueh yang bergambar harimau menggigit belati. Pasukan yang mengikuti di belakangnya terdiri dan enam deret dan panjang pasukan ini hampir lima ribu meter. Sungguh seperti seekor naga raksasa!

Dan di bagian paling belakang sendiri, di mana pedati-pedati dan gerobak ransum berjalan sebuah bayangan putih seperti iblis bergerak cepat mengikuti barisan besar ini. Wajahnya tidak tampak, tertutup halimun seperti kabut dan berkali-kali bayangan ini menggeleng-gelengkan kepalanya. Siapakah dia? Para pembaca tentu sudah mengenalnya!

* * * * * * * *

Serangan besar-besaran yang dilakukan oleh murid Malaikat Gurun Neraka ini memang benar-benar menggegerkan sekali. Kota Koan-yang yang merjadi sasaran pertamanya dalam missi perjuangannya itu ternyata ditundukkan dalam waktu hanya satu malam saja. Sungguh mengejutkan!

Dan hal ini tidak aneh kalau diingat bahwa dalam barisan besar itu terdapat orang-orang kang-ouw yang membantu jenderal besar itu, seperti Kim-sin Sian-jin, San Kok Tojin, Lek Hui dan Yap-goanswe sendiri. Oleh sebab itu, ketika pada sore harinya pasukan Yueh ini tiba di perbatasan Koan-yang, Bu Kong menghentikan angkatan perangnya untuk beristirahat. Sedangkan pemuda itu sendiri secara kilat mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang amat mengagumi siasatnya untuk berunding.

Dan didapatlah suatu permufakatan untuk masuk kebenteng Koan-yang secara diam-diam pada malam harinya. Hal ini mudah mereka lakukan mengingat mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Oleh sebab itu, dengan gampang saja jenderal muda ini bersama tiga orang uravg temannya, yaitu Ketua Kong-thong-pai Kim-sin Sian-jin locianpwe, murid kepalanya San Kok Tojin serta Auw Lek Hui si raksasa muda berkelebat melompati tembok kota dm mencari sasarannya, yakni si pemimpin benteng, Perwira Oei dan rekannya Perwira Lauw.

Dan seperti yang mereka perhitungkan, di dalam kota ini benar-benar tidak ada orang yang berarti bagi mereka. Oei-ciangkun (Perwira Oei ditangkap Bu Kong sendiri di dalam kamarnya ketika perwira itu sedang berpelukan dengan selirnya! Sedangkan Perwira Lauw dibekuk Lek Hui yang mencengkeram leher pembantu Wu-sam-tai-ciangkun itu ketika perwira ini sedang bermain kartu dengan tiga orang bawahannya!

Melihat bahwa dua orang pemimpin benteng ini bisanya hanya melakukan perbuatan yang memalukan belaka, Lek Hui yang gemas hampir saja membenturkan kepala Perwira Lauw ke dinding rumahnya. Akan tetapi, untunglah, Yap-goanswe yang tahu akan watak raksasa muda itu sudah cepat muncul dan mencegah. Tawanan tidak boleh dibunuh, maka nyawa Perwira Lauw selamat dari keganasan watak murid Pendekar Kepala Batu itu.

Dengan ditangkapnya dua orang pemimpin benteng ini, pekerjaan selanjutnya bagi mereka benar-benar mudah sekali. Kim-sin Sian-jin dan San Kok Tojin yang mendapat tugas untuk melumpuhkan penjaga-penjaga pintu gerbang di bagian Timur kota juga telah menyelesaikan tugas mereka. Palang pintu yang terbuat dari besi telah mereka buka dan begitu Yap-goanswe muncul bersama tawanan-tawanannya, pasukan Yueh yang telah diberi isyarat meluruk masuk seperti air bah.

Perajurit Wu-sam-tai-ciangkun yang ada di dalam kota dan yang pada waktu itu sedang tertidur lelap kecuali para penjaga, terkejut bukan main oleh serangan mendadak ini. Apalagi ketika dalam kekacauan ini Perwira Lei dan Perwira Lauw tidak muncul-muncul, padahal keributan yang terjadi cukup untuk mengejutkan orang mati!

Tentu saja pasukan Koan-yang kalang kabut. Karena mereka sama sekali tidak mendengar berita bahwa angkatan perang Yueh telah berada di depan mereka. maka serangan tiba-tiba yang dilakukan serentak melalui pintu gerbang sebelah Timur yang terpentang lebar-lebar itu benar-benar membuat mereka kaget bukan main. Banyak di antara mereka yang baru saja melompat bangun dari tidurnya, tahu-tahu telah ditodong ujung tombak atau pedang!

Akibatnya, dalam waktu beberapa jam saja seluruh pasukan musuh berhasil dilumpuhkan. Sebagian besar anak buah Wu-sam-tai-ciangkun ini menyerah dan bagi mereka yang mencoba melakukan perlawanan, dibunuh seketika itu juga! Hal ini mengakibatkan menciutnya nyali lawan dan dua ribu orang dilucuti senjatanya. Hanya sedikit saja yang dapat meloloskan diri dan mereka ini, terutama adalah orang-orang yang berada di pintu gerbang sebelah Barat.

Mereka segera kabur ketika melihat ditangkapnya Perwira Oei dan Lauw oleh bala tentara Yueh, apalagi ketika mereka melihat sendiri adanya Yap-goanswe di tempat itu! Kenyataan ini benar-benar mengejutkan mereka dan seperti melihat setan di malam hari, beberapa penjaga di bagian barat kota itu lari terbirit-birit menyusup sana menyimak sini menghindari pertemuannya dengan jenderal besar itu maupun anak buahnya.

Karena Bu Kong maklum bahwa di antara musuh pasti ada satu dua yang melarikan diri, jenderal muda ini tidak mau bertindak lambat. Keesokan harinya dia sudah meninggalkan Koan-yang bersama pasukannya langsung menuju ke kota raja dari jurusan ini. Dia tidak ingin Wu-sam-tai-ciangkun sempat menarik bala bantuan dari benteng-benteng pertahanan di sebelah Utara, Selatan dan Barat.

Oleh sebab itu, gerakan kilat pemuda yang gagah perkasa ini benar-benar tepat sekali. Tawanan di kota Koan-yang dikurung. Mereka hanya dijaga oleh belasan perajurit yang siap dengan anak panah berapi di tembok benteng. Sekeliling kota penuh dengan minyak dan begitu tawanan berani memberontak, anak-anak panah di ujung busur belasan anak buah jenderal besar ini segera akan melesat ke tahang-tahang minyak itu untuk membakar kota!

Tentu saja para tawanan tidak mampu berkutik. Meskipun kini Yap-goanswe sudah tidak berada di tempat itu, namun jenderal yang cerdik ini telah memasang siasatnya yang lihai dengan menaruh beberapa orang anak buahnya di atas tembok benteng. Segala gerak-gerik mereka akan ketahuan dan sedikit kecurigaan tampak di antara mereka, pasti belasan orang penjaga tawanan ini akan membakar Koan-yang!

Diam-dam dua ribu orang ini mendongkol sekali dan didalam hati mereka mengumpat Yap-goanswe habis-habisan. Namun, di samping itu, mau tak mau mereka harus memuji kecerdikan jenderal ini dan mengakui ilmu perangnya yang terkenal. Bayangkan saja, dua ribu tawanan ditinggal pergi begitu saja untuk melanjutkan serangannya ke kota raja, sementara orang-orang itu sendiri cukup diawasi oleh belasan orang penjaga!

Kalau bukan seorang yang cerdas, agaknya bagi panglima-panglima biasa sulit buat memikirkan sikap yang harus diambil terhadap sekian banyaknya tawanan. Akan tetapi, Yap-goanswe memang benar-benar orang istimewa. Hanya dengan sedikit orang telah mampu membuat tidak berkutiknya ribuan tawanan. Sungguh cerdik!

Sementara itu, gerak kilat yang dilakukan oleh jenderal muda ini menemui puncaknya. Karena jalan dari timur sudah "kosong" sebab Koan-yang telah dilumpuhkan, barisan besar ini akhirnya tiba di kota raja! Namun, tidak seperti Koan-yang yang gampang dibekuk pemimpin-pemimpinnya, adalah di kota raja ini Bu Kong tidak berani sembarangan. Di situ terdapat orang-orang lihai, terutama Cheng-gan Sian-jin dan kawan-kawannya.

Bahkan Wu-sam-tai-ciangkun sendiri juga bukan orang-orang lemah. Masih teringat olehnya ketika Kok Hun dan rekan-rekannya bertanding melawan tiga orang Panglima Wu itu, betapa pembantu-pembantu utamanya ini terdesak dan kalau saja dia tidak segera datang menolong, tentu para pembantunya ini roboh di tangan Wu-sam-tai-ciangkun.

Oleh sebab itu, pemuda ini tidak mau bersikap ceroboh dan untuk sementara dia mengurung kota raja dari segenap penjuru. Semua pasukan menjadi tegang karena di tempat inilah mereka akan menentukan keberhasilan atau kegagalannya. Akan tetapi, teringat betapa jalan mundur sudah "dibuntu" oleh jenderal mereka, pasukan ini menindas ketegangan mereka dan mengetrukkan gigi sambil mengepal tinju. Teringat mereka akan ucapan Yap-goanswe di pantai Tung-hai beberapa hari yang lalu, di mana pemuda itu menyerukan bahwa mereka harus maju... maju dan menang!

Ucapan ini benar-benar membakar semangat dan mereka lihat bahwa kata-kata jenderal muda itu memang benar. Mereka harus maju... maju dan maju terus! Sudah tidak perlu lagi bagi mereka untuk menengok ke belakang. Jalan di belakang sudah putus dan satu-satunya jalan yang terbentang hanyalah jalan di depan ini. Oleh sebab itu, kenapa pikir jalan mundur? Mundur berarti kalah, dan tentu saja mereka tidak menghendaki hal ini!

Yap-goanswe berada di samping mereka mengapa harus kecil hati? Meskipun di tempat musuh terdapat manusia-manusia iblis macam Cheng-gan Sian-jin, namun mereka percaya bahwa Yap-goanswe yang tidak pernah kalah itupun kali ini juga pasti menang!

Menang! Inilah harapan besar mereka. Dan seperti ucapan Yap-goanswe sendiri, kalau mereka tidak dapat menang biarlah hancur lebur bersama musuh. Hal ini jauh lebih baik daripada mereka lari terbirit-birit seperti anjing takut pentungan. Betapa berat penderitaan yang mereka rasa ketika dahulu dikejar-kejar oleh pasukan Wu-sam-tai-ciangkun itu. Ini semuanya telah mereka ketahui. Oleh sebab itu, sakit hati ini hanya dapat dibayar impas dengan darah musuh yang telah menceraiberaikan mereka, bahkan yang telah memutuskan secara keji hubungan mereka dengan Yap-goanswe.

Dendam dan kemarahan yang amat sangat ini membangkitkan api semangat semua orang. Dengan adanya dendam ini mereka segera melupakan ketegangan diri sendiri dan dengan kepala dikedikkan serta mata bersinar-sinar mereka siap untuk membalas semua kejahatan musuh, terutama Wu-sam-tai-ciangkun dan Lie-thaikam, awal celaka yang merupakan mendung gelap bagi Kerajaan Yueh ini.

Dan lain dengan yang dipikirkan oleh anak-anak buah Yap-goanswe ini, adalah Wu-sam-tai-ciangkun seperti disambar petir ketika mendengar berita mengejutkan tentang datangnya bala tentara Yueh yang kini sudah mengurung kota raja itu! Peristiwa ini benar-benar membuat wajah mereka pucat dan Panglima Kiang yang wataknya berangasan itu menggebrak meja.

“Iblis! Bagaimana murid Malaikat Gurun Neraka itu dapat kembali memimpin pasukan Yueh? Bukankah dia sudah bersumpah untuk tidak berhubungan lagi dengan bekas anak-anak buahnya? Ataukah pemuda itu sekarang berobah menjadi manusia tidak tahu malu yang menjilat ludah sendiri?”

Mata panglima tinggi besar ini melotot dan dua orang rekannya yang lain saling pandang. Merekapun juga merasa kaget mendengar berita bahwa Yap-goanswe kini telah memimpin bekas pasukannya lagi, padahal pemuda itu sudah mengeluarkan sumpah untuk tidak membantu Yueh. Apakah sebenarnya yang terjadi di balik semua kejadian ini? Mereka cukup mengenal watak jenderal muda yang gagah perkasa itu, dan mereka tidak percaya bahwa pemuda itu akan menjilat ludah sendiri seperti yang dikatakan Panglima Kiang.

Oleh sebab itu, Panglima Han yang biasanya agak pendiam ini menarik napas panjang. “Ji-wi tai-ciangkun, aku merasa bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di sini, maka kita harus menenangkan pikiran dulu. Yap-goanswe adalan jenderal yang cerdik, terbukti bahwa dia dapat mendatangi kota raja dari arah timur yang merupakan tempat terlemah bagi kita. Kuyakin bahwa Koan-yang yang menjadi benteng pertahanan kita di sana pasti telah dilumpuhkan pemuda ini. Kalau tidak, masa dia dapat datang ke mari secara tiba-tiba? Namun yang kuherankan, gerakannya yang demikian cepat sehingga mendahului anak-anak buah kita di Koan-yang, ini benar-benar luar biasa sekali. Apakah dua orang perwira kita di sana beserta seluruh pasukannya telah binasa atau tertangkap hidup-hidup oleh Yap-goanswe? Kenapa tidak seorangpun penjaga dari benteng itu datang melapor? Sungguh luar biasa, kalau tidak kita saksikan sendiri hal ini agaknya sukar untuk dipercaya! Ok-ciangkun, bagaimana kesimpulanmu?”

Panglima Ok mengerutkan alisnya sambil mengepal tinju. Dengan mata bersinar marah orang tertua dari Wu-sam-tai-ciangkun ini mendesis. “Apa yang dikatakan Han-ciangkun, aku sependapat. Agaknya Perwira Oei dan Lauw, dua orang manusia-manusia tolol itu mungkin sudah dibekuk Yap-goanswe! Dan mengingat mereka hanya gentong-gentong nasi tiada guna, maka tidak aneh kalau anak-anak buahnyapun juga merupakan kerbau-kerbau dungu yang pantas disembelih. Hmm, keadaan sudah begini macam. Musuh telah mengepung kita dari segala penjuru dan memutuskan hubungan kita dengan tiga buah benteng di Utara, Selatan dan Barat. Apalagi yarg akan kita lakukan? Gempur saja monyet-monyet liar itu dan adakan perang terbuka. Habis perkara...!”

Mendengar ucapan ini, Panglima Han tampak kurang setuju, akan tetapi, Panglima Kiang sebaliknya malah tertawa bergelak. “Ha-ha, bagus. Apa yarg diusulkan rekan Ok sesuai dengan isi hatiku! Kita gempur saja cecunguk-cecunguk itu dan basmi mereka sampai tuntas! Selama Yap-goanswe, masih hidup, kita tentu akan dirongrong terus olehnya dan kalau pemuda itu dapat kita binasakan, tentu halangan di masa depan akan berkurang. Bukankah demikian, Han-ciangkun?”

Panglima tinggi besar itu menoleh ke sebelah kanannya, namun, Panglima Han menggelengkan kepala. “Saudara Kiang, kita tidak boleh ceroboh. Yap-goanswe sudah kita kenal kelihaiannya dan kalau sekarang dia kembali maju setelah adu domba kita dahulu gagal, pasti di balik kejadian ini ada sesuatu yang luar biasa. Menurut pendapatku, kita harus....”

Baru sampai di sini kalimatnya, Panglima Kiang sudah menggoyang tangan dengan sikap tidak sabar dan memotong, “Han-ciangkun, kalau kita tidak serang mereka yang kini terang-terangan telah mengurung kita, hal ini akan membanting nama Wu-sam-tai-ciangkun! Tidak. Kita tidak perlu ragu-ragu lagi dalan hal ini. Kalau dulu sih kita memang harus mawas diri karena kedudukan kita lemah. Akan tetapi, sekarang Cheng-gan Sian-jin dan kawan-kawannya telah membantu kita. Bahkan datuk itu telah diangkat sebagai koksu oleh sri baginda. Takut apanya? Serang saja mereka dan sikat sampai bersih!”

Ucapan yang penuh semangat ini tidak membuat hati Panglima Han tersinggung. Dia memang tahu akan watak berangasan dari rekannya itu, maka dia tidak marah. Namun, karena dia merupakan orang yang selalu berhati-hati, maka biar bagaimanapun juga panglima ini membantah.

“Kiang-ciangkun, masalah serang sih memang tetap serang. Akan tetapi, harus kita ingat bahwa sekali pintu gerbang kota raja dibuka, kesempatan masuk bagi musuh-musuh kita berarti tersedia. Dan hal inilah yang harus menjadi perhatian kita. Bukannya aku takut, namun perobahan yang mendadak ini tidak boleh membuat kita ceroboh. Kudengar dari pengawas-pengawas di atas menara bahwa Yap-goanswe didampingi oleh tokoh-tokoh kang-ouw, bahkan di antaranya tampak Kim-sin Sian-jin dan seorang kakek nelayan yang dulu pernah menyatroni istana. Kau tahu sendiri, kakek yang tidak kita kenal itu juga bukan orang sembarangan dan menurut berita dia adalah seorang sakti yang tinggal di Kepulauan Laut Tung-hai. Meskipun di tempat kita banyak orang-orang pandai, namun kita sesungguhnya belum mengenal kekuatan yang ada di pihak jenderal muda itu!”

“Hemm, kalau begitu apa yang hendak kau lakukan?” Panglima Kiang mengerutkan alisnya yang tebal dan wajahnya tampak tidak puas. “Han-ciangkun, harap engkau tidak mengecilkan hati kita. Sepandai-pandainya Yap-goanswe, kukira masih tidak nempil melawan koksu! Meskipun bocah ingusan itu dibantu Kim-sin Sian-jin dan lain-lainnya, aku yakin bahwa mereka akan dapat kita robohkan! Bukankah demikian, rekan Ok?”

Orang tertua Wu-sam-tai-ciangkun menganggukkan kepalanya. “Apa yang dikatakan Kiang-ciangkun memang benar, akan tetapi, ucapan Han-ciangkun juga kulihat tidak salah. Sebaiknya kita menggabungkan saja dua pikiran ini menjadi satu dan hasilnya tentu bagus...!”

Dua orang panglima itu saling pandang mendengar kata-kata ini yang tidak mereka mengerti maksudnya, dan Panglima Kiang berseru heran, “Apa? Digabungkan? Digabungkan bagamana, Ok-ciangkun?”

Panglima tinggi kurus bermata sipit ini tersenyum cerdik. Dia memang banyak akal dan biasanya dua orang rekannya itu selalu tunduk dengan buah pikirannya. Maka kali inipun dengan suara perlahan panglima itu berkata. “Saudara-saudaraku, pendapat yang berbeda asal diketahui intinya pasti menghasilkan kerja sama yang baik. Begitu pula dengan pendapat-pendapat kalian tadi. kalau Kiang-ciangkun secara aggresif hendak maju menggempur, adalah Han-ciangkun yang menolak mundur. Kalau kalian sama-sama keras kepala, bukankah yang akan rugi adalah kita sendiri? Tidak, sebaiknya diambil jalan tengah yang memuaskan kedua belah pihak dan kuyakin jalan itu kalian setuju. Dengarlah....”

Ok-ciangkun berhenti sejenak dan setelah menarik napas panjang satu kali, panglima yang licin itu melanjutkan dengan hati-hati, “Han-ciangkun uraianmu tadi memang betul. Bukannya aku takut, akan tetapi, kita memang harus selalu berhati-hati. Serangan liar begitu saja dengan menyambut pasukan pemuda itu dan membuka pintu gerbang seperti yang diusulkan saudara Kiang memang tampaknya ceroboh sekali. Kita belum tahu kekuatan-kekuatan tersembunyi apakah yang ada di tempat Yap-goanswe. Siapa tahu kalau Malaikat Gurun Neraka berdiri di sana? Dengan demikian, pendekar sakti itu pasti akan berhadapan dengan koksu kita dan hal ini berarti membiarkan diri kita tak terlindungi. Kalau Cheng-gan Sian-jin berhadapan dengan Malaikat Gurun Neraka, bukankah kita bakal berhadapan dengan muridnya?”

Sampai di sini kembali Panglima Ok berhenti dan Panglima Kiang terkejut. Sedetik mukanya menjadi pucat dan diam-diam perasaannya terguncang hebat. Masih teringat di benaknya pertandingan tiga lawan satu melawan jenderal muda itu dan betapa pihak mereka hampir saja roboh binasa di tangan pemuda yang memiliki kepandaian tinggi itu. Tadi karena mengandalkan Cheng-gan Sian-jin sebagai lawan Yap-goanswe, maka dia melupakan kemungkinan beradanya Malaikat Gurun Neraka, tokoh menakutkan dari utara ini.

Kini, dengan suara serak dia lalu bertanya. “Hemm, kalau begitu bagaimana menurut pendapat Ok-ciangkun? Kita diam saja dan akhirnya menyerah?”

Panglima tinggi kurus itu tersenyum lebar. Hampir dia tertawa melihat muka masam Panglima Kiang ini, namun, karena dia khawatir orang tersinggung, dia hanya berdehem saja. “Kiang-ciangkun, jangan putus asa. Bukannya aku membenarkan Han-ciangkun dan menyalahkan engkau, akan tetapi, sebaliknya. Usulmu bagus, dan ini memang perlu untuk mengobarkan semangat kita. Namun, semua itu harus kita terapkan dalam suasana yang tepat. Kalau tadi aku seolah-olah mendukung Han-ciangkun, kini tiba saatnya aku mendukung pendapatmu. Akan tetapi, ingat, kita tidak boleh ceroboh dan jalan tengah bagi kita sekarang ini adalah dengan melancarkan siasat "mengutus umpan memancing ikan besar"...”

Panglima itu berhenti bicara dan kini dua orang temannya melengak. “Apa, Saudara Ok? Mengutus umpan memancing ikan besar?” Panglima Han tak dapat menahan keheranannya dan berseru sambil mengangkat alisnya.

Panglima Ok menganggukkan kepalanya. “Begitulah!” jawabnya sambil tersenyum. “Kita memang harus menggunakan siasat "mengutus umpan memancing ikan besar" ini.”

Karena panglima tinggi kurus itu dua kali sudah bicara tentang "mengutus umpan memancing ikan besar" tanpa memberitahukan maksudnya, Panglima Kiang menjadi penasaran sekan. “Ok-ciangkun!” serunya. “Harap engkau tidak main teka-teki lagi! Aku menjadi tidak sabar mendengar kata-katamu ini dan coba jelaskan pada kami, apakah itu "mengutus umpan memancing ikan besar"?”

Ok-ciangkun tersenyum geli namun, segera dia menarik muka sungguh-sungguh sambil memandang dua orang rekannya ini. “Ji-wi tai-ciangkun, harap kalian dengar baik-baik apa yang kumaksudkan dengan siasat itu. Arti yang terkandung dalam kalimat ini sebenarnya bukan lain adalah mengutus seorang duta ke perkemahan Yap-goanswe! Nah, mengertikah kalian? Duta yang akan kita utus ini menbawa dua tugas. Pertama, menyelidiki orang-orang kuat siapakah yang membantu jenderal muda itu, sedangkan yang kedua mengambil tindakan tepat sesuai dengan kondisi yang ada. Kalau misalnya di sana terdapat Malaikat Gurun Neraka, umpamanya, maka kita memikirkan langkah berikutnya dengan seksama. Akan tetapi, kalau tidak ada pendekar sakti itu, duta kita boleh membunuh Yap-goanswe secara diam-diam! Nah, bukankah ini akal bagus yang berarti sekali tepuk dua lalat tercakup? Dan kalian tentu lahu siapa orangnya yang paling cocok untuk melakukan pekerjaan sebagai duta ini. Benar, dia bukan lain adalah koksu sendiri! Seorang duta berarti utusan yang terlindung, maka meskipun di sana ada Malaikat Gurun Neraka sekalipun tentu mereka tidak akan mengganggu koksu. Akan tetapi, kalau tidak ada pendekar sakti itu dan koksu rasa mampu untuk membunuh Yap-goanswe, maka boleh saja hal ini dilakukan. Ha-ha-ha...! Hendak kita lihat kalau jenderal muda itu mampus, apakah yang akan dapat dilakukan anak buahnya?”

Panglima Ok tertawa keras dan dua orang rekannya memandang dengan wajah berseri. Memang apa yang diusulkan oleh "kakak" mereka ini baik sekali. Di samping dapat menyelidiki kekuatan musuh, juga ada kemungkinan untuk membunuh Yap-goanswe apabila jenderal muda itu tidak dikelilingi tokoh-tokoh sakti.

Maka Panglima Kiang tak dapat menahan kegembiraan hatinya lagi dan diapun tertawa bergelak. Jalan tengah yang diambil Ok-ciangkun ini memang benar-benar memuaskan pihak panglima tinggi besar itu dan Panglima Han. Kalau Panglima Han puas karena sikap kehati-hatiannya tidak disepelekan, adalah Panglima Kiang juga puas karena wataknya yang suka menyerang itupun diperhatikan oleh Ok-ciangkun.

Masalah curang atau tidak perbuatan mereka inilah hal yang tidak begitu penting. Yang mereka perlukan adalah secepatnya menghancurkan musuh. Sopan santun perang bagi mereka adalah kedok belaka! Pokoknya yang penting ialah membunuh Yap-goanswe. Jenderal muda itu terlalu menakutkan bagi mereka. Maka, mumpung ada Cheng-gan Sian-jin di situ, mereka dapat meminjam tangan koksu ini untuk membereskan pemuda itu.

Demikianlah, karena telah mendapat kata sepakat, tiga orang ini lalu makan minum di meja perjamuan sambil tertawa-tawa, tidak menghiraukan para pengawal yang terheran-heran melihat ulah mereka. Musuh berat sedang siap di luar kota raja, bagaimana tiga orang panglima besar itu bersikap enak-enakan begini?

Karena semuanya mereka anggap cocok, Wu-sam-tai-ciangkun segera melaporkan rencananya ke hadapan Raja Muda Kung Cu Kwang setelah mereka menyelesaikan perjamuan. Mereka tidak berani begitu saja memerintahkan Cheng-gan Sian-jin untuk menjadi duta, karena kedudukan koksu itu tidak berada di sebelah bawah mereka.

Oleh sebab itu, hanya sri baginda sajalah yang memiliki kekuasaan untuk memerintah koksu. Dan begitulah, Cheng-gan Sian-jin kemudian dipanggil oleh raja untuk menjalani tugas ini pada keesokan harinya, sama sekali tidak mengira bahwa sebelum rencana ini dllaporkan oleh Wu-sam-tai-ciangkun, Cheng-gan Sian-jin diam-diam telah mendengar pembicaraan tiga orang panglima itu!

Tentu saja hal ini di luar dugaan semua orang. Mereka tidak tahu betapa iblis itu diam-diam tertawa bergelak dan timbullah akalnya yang keji. Seperti pernah disinggung sedikit dalam jilid yang lalu, sebenarnya datuk ini mempunyai rencana untuk menjadi raja-diraja bagi seluruh Bangsa Tiongkok. Untuk itu, dia telah menyiapkan bangsnya sendiri, yakni Bangsa Arya secara diam-diam di luar tembok besar.

Oleh sebab itu, perintah Raja Muda Kung Cu Kwang untuk mengutusnya sebagai duta ini sungguh merupakan kesempatan emas bagi dirinya. Yap-goanswe adalah jenderal muda yang amat lihai dan cerdik. Bukti bala tentaranya yang tiba-tiba saja meluruk ke kota raja ini diam-diam mengagumkan hatinya. Dan pemuda-pemuda seperti itulah yang dicari untuk memimpin gerakannya kelak. Maka, kalau nanti dia dapat membujuk pemuda itu untuk bekerja sama dengan dia sebagai musuh dalam selimut bagi Wu, tentu kehancuran pasukan Wu-sam-tai-ciangkun tidak akan lama lagi!

Akal bagusnya ini segera dibicarakan dengan muridnya yang disayang dan beberapa orang lainnya lagi yang merupakan orang-orang kepercayaannya dan semua orang menjadi girang bukan main. Terutama Lie Lan si gadis jelita yang wajahnya agak kusut itu. Dengan muka gembira dan mata bersinar, gadis ini berkata,

“Suhu, kalau usaha kita ini berhasil, sungguh kau merupakan orang bijaksana bagiku! Kelak, sebagai pembalas budi ini, aku akan menghadiahkan sesuatu yang istimewa kepadamu, percayalah....!”

Cheng-gan Sian-jin memandang muridnya itu dan mendengus. “Huh, hadiah istimewa apa? Dengan perutmu yang mulai membesar begini, apa yang dapat kau berikan kepadaku? Tidak, aku sudah tidak ingin apa-apa lagi darimu, kecuali anakmu ini kelak untuk menjadi cucu muridku!”

Lie Lan menjadi merah mukanya dan semua orang terbelalak. Ucapan blak-blakan yang dikatakan Cheng-gan Sian-jin ini otomatis membuat semua yang hadir memandang perut gadis itu dan mata mereka yang tajam ini memang melihat sesuatu perobahan di dalam diri gadis itu. Dan baru sekaranglah mereka tahu bahwa gadis ini hamil!

Tentu saja mereka terkejut, akan tetapi, hanya sekejap saja. Bagi orang-orang sesat begini, berita tentang hamilnya murid datuk mereka adalah hal biasa, seperti juga kalau mereka melihat orang makan nasi. Maka merekapun bersikap acuh dan hanya di dalam hati mereka ini tertawa geli. Gadis ini bermain cinta dengan setiap laki-laki, bahkan sudah tidak menjadi rahasia lagi bagi mereka kalau gadis itu ini juga menjadi kekasih gurunya. Oleh sebab itu, mereka menjadi geli memikirkan anak siapakah sebenarnya yang dikandung murid Cheng-gan Sian-jin ini.

Dan hanya gadis ini sendirilah yang tahu bahwa calon bayi di dalam perut sebenarnya adalah keturunan Yap-goanswe! Kalau tidak, tentu gadis itu sudah menggugurkan kandungannya. Dan hal ini diketahui baik oleh guru dan murid itu karena semenjak Lie Lan meminumkan Arak Sorga kepada Bu Kong, gadis ini tidak pernah lagi memuaskan nafsu berahinya dengan orang lain. Bahkan gurunyapun ditolak setelah dia merasa adanya perobahan di dalam perutnya itu!

“Suhu, maaf. Bukannya aku tidak cinta kepadamu, akan tetapi jabang bayi ini harus kita pelihara. Ingat, dia adalah keturunan Yap-goanewe, pemuda gagah perkasa yang amat mengagumkan itu! Maka harap suhu bersabar sampai kelak dia menjadi besar. Tidak dapat memiliki ayahnya biarlah memiliki keturunannya. Bukankah hal ini sama saja?” demikian gadis itu berkata.

Cheng-gan Sian-jin melotot kecewa. “Huh, sama apanya? Bagaimana kalau dia perempuan?” kakek itu bersungut-sungut. “Kalau dia perempuan berarti dia tidak sama seperti ayahnya, melainkan sama seperti dirimu. Dan untuk ini kelak kau harus menyerahkan anakmu itu kepadaku sebagai pengganti dirimu!”

Lie Lan terkejut dan mukanya berobah pucat. Akan tetapi, gurunya ini telah keluar tanpa banyak bicara lagi dengan wajah uring-uringan. Diam-diam hatinya tergetar dan timbul perasaan cemasnya. Kalau sampai anaknya perempuan... ahh! Gadis itu merasa ngeri dan tiba-tiba timbul pikiran kejinya. Kalau sampai ia melahirkan anak perempuan, tekadnya sudah bulat untuk membunuh bayi itu daripada kelak menjadi permainan gurunya!

Oleh sebab itu, gadis ini menjadi tenang dan diam-diam dia berharap mudah-mudahan bayi di dalam perutnya itu laki-laki, seperti ayahnya... seperti Yap-goanswe! Membayangkan pemuda itu membuat Lie Lan tiba-tiba mengeluh. Betapa perih hatinya, betapa luka perasaannya teringat kepada jenderal muda itu.

Diam-diam gadis ini harus mengakui bahwa kekejaman-kekejaman yang dilakukannya selama ini sebenarnya terdorong oleh kekecewaan serta sakit hatinya terhadap pemuda itu. Kalau saja Yap-goanswe mau melunakkan sikapnya... kalau saja pemuda tampan itu mau membalas cinta kasihnya... ahh, betapa bahagia rasanya hidup! Akan tetapi, ini hanya angan-angan kosong belaka dan Lie Lan membanting dirinya di atas tempat tidur sambil menangis penuh kekecewaan dengan hati seperti disayat-sayat.

Sementara itu, pada keesokan harinya, sesuai yang telah direncanakan pihak istana, Cheng-gan Sian-jin bersama beberapa pengikut kepercayaannya keluar dari pintu gerbang utara menuju ke kemah Yap-goanswe sebagai duta! Datuk sesat ini, seperti biasa, mengenakan jubah kuningnya yang longgar, sementara tangan kanannya yang setia, yakni Hek-mo-ko, berjalan mengikutinya di belakang dengan matanya yang selalu melotot itu.

Rombongan ini terdiri dari tiga orang, karena selain Cheng-gan Sian-jin, dan Hek-mo-ko, orang ketiga adalah seorang pemuda tampan yang memiliki sinar mata tajam. Dia bukanlah Kui Lun, karena meskipun Kui Lun juga mempunyai sinar mata tajam, akan tetapi, Kui Lun tidaklah memiliki kilatan aneh yang tersembunyi seperti pemuda di belakang Cheng-gan Sian-jin ini.

Kalau begitu, siapakah pemuda yang agaknya belum banyak dikenal orang ini? Dia bukan lain adalah Pouw Kwi! Ya, inilah pemuda setan yang memfitnah jenderal muda itu, murid mendiang Ang-i Lo-mo yang pandai ilmu sihir! Dengan amat beraninya pemuda ini ikut koksu sebagai duta, bahkan dialah yang bertugas membawa bendera putih lambang perdamaian. Sungguh pemuda bernyali naga!

Akan tetapi, kalau kita lihat keadaannya, memang tidaklah terlalu berlebih-lebihan jika pemuda itu berani datang karena diapun termasuk rombongan duta. Seperti diketahui, utusan sama sekali tidak boleh diganggu dan semua orangpun mengetahui peraturan 'internasional' ini. Itulah sebabnya Pouw Kwi berani datang karena dia yakin bahwa Yap-goanswe dan teman-temannya belum mengenal siapa dirinya. Dan kini sebagai pengiring yang tidak begitu menonjol keadaannya, pemuda itu dapat berjalan dengan mulut tersenyum-senyum.

Bu Kong sendiri terkejut ketika melihat pintu gerbang kota raja terbuka disusul munculnya tiga orang ini. Dari jauh dia sudah mengenal Cheng-gan Sian-jin yang rambutnya kemerahan dan tinggi besar itu serta Hek-mo-ko yang hitam legam. Hanya orang ketiga dia tidak kenal dan karena orang terakhir ini tampaknya tidak begitu penting, maka diapun tidak memperhatikan lebih lanjut.

Segera pemuda ini menyambut di kemah pusat, di mana tokoh-tokoh kang-ouw juga hadir. Tampak di situ Kakek Phoa dari Pulau Cemara yang diam-diam berdebar hatinya, lalu Kim-sin Sian -jin yang merah mukanya serta memandang Cheng-gan Sian-jin dengan mata berapi-api, kemudian Lek Hui dan tokoh-tokoh lain yang semuanya memandang datuk sesat itu dengan muka keras.

Akan tetapi, kalau orang-orang ini bersikap tegang adalah Cheng-gan Sian-jin sendiri terkekeh-kekeh. Dengan kaki kirinya yang terpincang-pincang karena remuk dipukul Malaikat Gurun Neraka dahulu, datuk sesat ini memasuki kemah musuh dengan wajah berseri dan mata berkilat-kilat.

Semua orang menyibak mundur melihat kedatangan duta yang merupakan datuk iblis ini, dan Cheng-gan Sian-jin segera berhenti di tengah ruangan dengan pandangan kagum ke arah jenderal muda yang duduk dengan sikap angker di atas kursi gading berlapis beludru. Tidak tampak adanya Malaikat Gurun Neraka di tempat itu, dan diam-diam kakek ini menjadi girang.

Bu Kong sendiri sudah menyapu rombongan duta yang dipimpin oleh datuk sesat itu dengan sinar mata tajam, dan akhirnya pemuda ini beradu pandang dengan Cheng-gan Sian-jin. Kakek tinggi besar ini terkejut ketika tiba-tiba dari sepasang mata Yap-goanswe muncul sinar berkilauan yang melebihi pedang mustika tajamnya, dan alis yang tadi tenang itu kini terangkat naik. Tampak betapa jenderal muda yang gagah perkasa ini sedang menahan perasaan gusarnya melihat musuh besar yang amat dibencinya ini, namun, karena Cheng-gan Sian-jin datang sebagai duta sebuah kerajaan, maka terpaksa pemuda ini menahan diri.

Sejenak dua pasang mata ini saling beradu, yang satu bersorot kehijauan sedangkan yang lain mencorong seperti mata seekor naga yang diganggu tidurnya. Cheng-gan Sian-jin berdebar jantungnya ketika terasa hawa dingin yang menyeramkan timbul dari sepasang mata pemuda ini, menembus dan langsung menusuk tajam sinar matanya sendiri.

Akan tetapi, karena kedatangannya ini membawa maksud ”baik”, yakni ingin mengajak pemuda itu bekerja sama sebagai sekutu, maka kakek ini tiba-tiba tertawa bergelak dan mengelakkan segala macam bentuk kekerasan yang hendak timbul. Sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada memberi hormat, Cheng-gan Sian-jin menjura,

“Yap-goanswe, selamat bertemu dan puji terhadap segala dewa bahwa engkau sampai sekarang masih segar-bugar. Sungguh hal teramat mengagumkan hatiku dan membuktikan bahwa nama Yap-goanswe murid Malaikat Gurun Neraka bukanlah nama kosong belaka! Hebat... aku tua bangka ini benar-benar kagum sekali. Ha-ha-ha...!”

Kakek itu membungkukkan tubuhnya sambil mengeluarkan pujian, namun, Bu Kong sendiri mendengus. “Cheng-gan Sian-jin, perhitungan pribadi di antara kita belumlah lunas. Apakah engkau hendak mengulang meracuni diriku? Mengingat engkau datang sebagai utusan, baiklah urusan ini kita tunda. Sekarang apakah maksudmu datang ke mari? Hendak menyerahkan kepala Wu-sam-tai-ciangkun?”

Pertanyaan ini sebenarnya bernada ejekan, yang maksudnya hendak merendahkan Wu-sam-tai-ciangkun dan Cheng-gan Sian-jin. Tidak tahunya, kakek iblis itu malah tertawa terbahak-bahak dan matanya berseri gembira.

“Ha ha, kalau goanswe benar-benar membutuhkan kepala tiga keledai tolol itu, apa sukarnya? Kalau goanswe menghendaki, agaknya aku tua bangka ini akan dapat mempersembahkannya kepadamu dalam hari ini juga. Akan tetapi, apakah goanswe bersungguh-sungguh? Kalau benar, rupanya kedatanganku ke mari tidaklah sia-sia. Ha-ha-ha...!”

Cheng-gan Sian-jin kembali tertawa bergelak dan semua orang terkejut. Seperti diketahui, datuk ini datang sebagai wakil atau utusan Wu-sam-tai-ciangkun melalui Sri Baginda Kung Cu Kwang. Bagaimana sekarang dapat mengeluarkan ucapan seperti itu? Kalau tiga orang Panglima Wu mendengar kata-kata ini, biar bagaimanapun juga mereka pasti naik darah.

Namun, karena orang orang di situ cukup maklum bahwa kakek ini memang rajanya iblis yang banyak akal, maka merekapun sama menganggap bahwa ucapan Cheng-gan Sian-jin tadi hanyalah siasat iblis belaka. Dengan datangnya kakek ini sebagai duta, tentu ada tersembunyi sesuatu maksud yang belum mereka ketahui. Oleh sebab itu, orang-orang inipun memasukkan ucapan tadi dalam telinga kiri dan mengeluarkannya melalui telinga kanan.

Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi Bu Kong. Sebagai jenderal muda yang banyak pengalaman, pemuda ini dapat menangkap kesungguhan kata-kata datuk sesat itu, maka tentu saja jenderal ini terkejut. Hanya bedanya, kalau orang lain terkejut mendengar caci-maki terhadap Wu-sam-tai-ciangkun yang bisa dibilang sekutu kakek itu, adalah Bu Kong terkejut karena dapat merasakan adanya gejala yang tidak beres dalam sikap datuk sesat ini.

Oleh sebab itu, karena menganggap Cheng-gan Sian-jin hendak main gila. Bu Kong segera mengedikkan kepalanya dan dengan suara dingin dia membentak, “Cheng-gan Sian-jin, tidak perlu kau main pat-pat-gulipat! Sebagai utusan yang kuhargai kedudukannya, sekarang bicarakan keperluan junjunganmu. Kalau dapat kuterima, mungkin kalian semua akan selamat. Tetapi kalau tidak, hemm... agaknya nasib kalian memang buruk!”

Bentakan ini menggetarkan dinding ruangan dan Cheng-gan Sian-jin sendiri tiba-tiba melotot, “Yap-goanswe...!” kakek itu berseru. “Apakah kau kira aku main-main? Aha, jenderal muda yang bodoh, kali ini perhitunganmu meleset. Siapa diperintah siapa? Aku datang atas nama diriku sendiri, atas nama seluruh suku bangsaku yang gagah perkasa di luar Tembok Besar!”

Ucapan ini mengejutkan semua orang yang ada di tempat itu dan mereka melihat betapa Cheng-gan Sian-jin tiba-tiba berdiri dengan sikap angker, memandang Yap-goanswe dengan muka marah, tampak penuh penasaran. Tentu saja hati semua orang terguncang dan sekarang mereka dapat merasakan bahwa kakek iblis ini memang tidak main-main. Dan teringatlah mereka akan darah campuran yang mengalir di dalam tubuh kakek itu, yakni darah Suku Arya dan Suku Han. Maka kalau kini Cheng-gan Sian-jin berkata tentang suku bangsanya di luar Tembok Besar, tahulah mereka suku bangsa apa yang dimaksudkan oleh kakek itu. Tentu suku bangsa Arya yang masih setengah buas dan biadab itu!

Maka, segera terdengar seruan tertahan di sana-sini dan mata para pembantu Yap-goanswe terbelalak memandang Cheng-gan Sian-jin yang matanya mendadak berkilat aneh penuh sihir. Bu Kong sendiri juga sempat dibuat terkejut sekali oleh kata-kata itu, dan sejenak pemuda ini tertegun. Namun, ketika tiba-tiba dia diserang pengaruh aneh yang keluar dari mata datuk sesat itu, pemuda ini cepat menjadi sadar. Dengan muka merah dan tinju terkepal murid Takla Sin-jin ini menghardik.

“Cheng-gan Sian-jin, hentikan semua kecuranganmu ini! Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau akan menganggapmu sebagai seorang pengacau...!”

Sambil bicara pemuda itu mengebutkan lengan bajunya dan segera hawa panas menyambar muka datuk sesat ini. Cheng-gan Sian-jin terkejut melihat pemuda yang dipengaruhi dengan ilmu sihirnya itu ternyata sama sekali tidak apa-apa, bahkan mengetahui akan kecurangannya ini. Tentu saja dia merasa kaget, dan lebih kaget lagi kakek itu ketika dari kebutan yang tampaknya sembarangan ini meluncur pukulan tajam berhawa panas yang menyambar sepasang matanya!

“Ahh...!” kakek ini mengeluarkan seruan tertahan dan karena dia masih merasa heran dan penasaran, maka kakek itu cepat menggoyangkan kedua tangannya sambil berseru seperti orang membela diri, “Goanswe, kau salah paham. Aku datang memang benar-benar sebagai pemimpin suku bangsaku yang hendak mengulurkan tangan bekerja sama denganmu. Kenapa disebut pengacau? Tidak, aku bahkan ingin menjadi sekutumu dan dari dalam aku dapat menghancurkan Wu-sam-tai-ciangkun bersama anak buahnya. Bukankah ini bagus sekali?”

Mulut bicara begitu akan tetapi kedua tangan yang digoyang-goyang ini sebenarnya sedang mengerahkan tenaga sakti untuk menangkis kebutan Yap-goanswe. Dan di dalam hati, kakek ini sudah siap untuk kembali melancarkan Sin-gan-i-hun-to-nya kepada jenderal muda ini apabila tangkisannya berhasil mendorong balik pukulan lawan.

Akan tetapi, sungguh tak diduga, Cheng-gan Sian-jin yang menganggap Bu Kong masih seperti dua bulan yang lalu dan agak merendahkan pemuda ini mengingat tenaga saktinya sendiri dua tingkat lebih unggul, sekarang tiba-tiba saja terbelalak dengan hati terkesiap. Tangkisan diam-diam yang dimaksudkan kakek itu untuk membalik pukulan tak terlihat yang dilancarkan jenderal muda itu, kini tiba-tiba bertemu batunya. Cheng-gan Sian-jin melihat betapa Yap-goanswe tersenyum dingin dan begitu pemuda ini mendengus sambil mengebutkan kedua lengannya berbareng, dua tenaga raksasa bertemu di udara.

“Dukk...!” perlahan saja benturan ini, dan hampir tidak ada suara terdengar. Namun, bagi Cheng-gan Sian-jin, pertemuan dua tenaga sakti itu sama sekali tidaklah "perlahan"! Kakek ini merasa betapa hawa pukulannya sendiri membalik dan buyar berantakan, sementara serangan yang dilancarkan murid Malaikat Gurun Neraka itu terus menghantam dadanya.

“Plukk!” Cheng gan Sian-jin mengeluarkan seruan tertahan dan tubuhnya terpelanting tiga tombak! Iblis tua ini terkejut bukan main dan sambil berteriak pendek kakek itu berjungkir balik tiga kali di udara dan akhirnya berdiri dengan mata melotot seperti orang melihat setan di siang bolong.

Keadaan segera menjadi geger. Kim-sin Sian-jin yang memang amat membenci datuk sesat ini sampai ke tulang sumsum, sudah mencabut pedangnya melihat kakek iblis itu menyerang Yap-goanswe. Begitu pula halnya dengan yang lain. Setelah sekarang mereka mengerti bahwa tadi secara diam-diam Cheng-gan Sian-jin melancarkan serangan kepada pemuda itu, orang-orang inipun menjadi marah dan serentak mengeluarkan senjata masing-masing. Bahkan Kim-sin Sian-jin sendiri sudah melompat maju sambil membentak nyaring.

“Iblis tua bangka, berani kau melanggar peraturan sebagai duta? Keparat, kalau begitu kau memang pantas dibunuh...!”

Dan bekas Ketua Kong-thong-pai ini sudah menggerakkan pedangnya membacok kepala Cheng-gan Sian-jin yang masih terbelalak ke arah Bu Kong. Serangan ini cepat. lagi dahsyat bukan main karena didorong oleh api kebencian yang meluap-luap. Apalagi dilakukan oleh Kong-thong-pancu (Ketua Partai Kong-thong) sendiri, maka hebatnya sukar dibayangkan semua orang.

Sementara itu, Cheng-gan Sian-jin sendiri masih bengong dan hampir tidak percaya akan apa yang baru saja dialaminya ini, dan kakek itu seolah-olah tidak sadar akan datangnya pedang bekas Ketua Kong-thong yang mengancam tengkuknya. Bahkan angin dingin yang mendesing tajam dari suara pedang itupun seakan-akan tidak didengarnya. Maka, ketika senjata di tangan Kim-sin Sian-jin tiba, datuk sesat ini sudah tidak sempat lagi mengelak dan diapun tampaknya juga memang tidak ada niat mengelak.

“Takkk...!” pedang itu tepat mengenai sasarannya dan orang-orang yang hadir sudah siap untuk melihat kepala Cheng-gan Sian-jin mental. Namun, alangkah kagetnya hati semua orarg ketika melihat kenyataan yang justeru malah sebaliknya, karena bukan kepala tokoh iblis itu yang mental, melainkan pedang di tangan Kim-sin Sian-jin sendiri!

“Ahh...!” orang-orang ini mengeluarkan teriakan kaget dan datuk sesat itu menggereng. Rupanya, setelah dirinya dibacok pedang ini Cheng-gan Sian-jin baru sadar akan apa yang terjadi. Tentu saja dia marah dan kakek itu cepat membalikkan tubuh dengan mata menyeramkan.

“Kim-sin Sian-jin, beginikah laku seorang ketua partai yang dinyatakan gagah perkasa dan disebut sebagai golongan pek-to (putih)?” datuk sesat itu membentak dengan mata berkilat-kilat. “Kalau kau termasuk golongan hitam aku tidak merasa heran. Akan tetapi, kau sendiri menyebut diri sebagai musuh golongan hitam, kenapa dapat melakukan perbuatan hina ini? Cuhh, kalau kau tidak membeset kulit mukamu itu lebih baik membunuh diri saja!”

Ucapan ini membuat wajah bekas Ketua Kong-thong-pai ini merah padam. Memang, tadinya dia tidak mengira kalau lawannya mandah diserang begitu saja karena agaknya Cheng-gan Sian-jin masih dikuasai rasa bengongnya. Oleh sebab itu, dilihat sepintas lalu dia memang dapat dikatakan curang. Namun, bukankah dia tadi sudah memberikan aba-aba berupa bentakan? Oleh sebab itu, kakek inipun tidak mau kalah dan dengan sinar mata berapi-api diapun menjawab nyaring.

“Cheng-gan Sian-jin, adalah kau sendiri yang tuli tidak mendengar peringatanku. Kenapa hendak menyalahkan orang lain? Kalau kau memang jantan sejati, hayo majulah, terima pembalasan dendamku yang bertumpuk-tumpuk setinggi langit!”

Cheng-gan Sian-jin tertawa aneh, sinar matanya mencorong berpengaruh ketika memandang Kim-sin Sian-jin yang diam-diam membuat hatinya marah. Meskipun di tempat itu banyak orang, namun, kakek ini sama sekali tidak merasa gentar. Maka, dia sudah siap untuk menghajar bekas Ketua Kong-thong itu dengan ilmu sihirnya, akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan dingin yang dikeluarkan Yap-goanswe,

“Cheng-gan Sian-jin, sebelum kau bertindak lebih lanjut di tempat ini, katakanlah apa sebenarnya kedudukanmu di sini. Kalau kau bertindak sebagai duta, harap kau mengikuti peraturan yang berlaku tentang kewajiban seorang duta. Akan tetapi, kalau kau memang hendak membuat onar, buang dahulu bendera putih itu sebagai tanda!”

Bentakan ini besar sekali pengaruhnya bagi semua orang, baik bagi datuk iblis itu sendiri maupun bagi Kim-sin Sian-jin dan teman-temannya. Bekas Ketua Kong-thong-pai ini seperti disiram air dingin dan segera dan menjadi sadar. Cepat kemarahannya dikendalikan dan diam-diam dia merasa bersyukur terhadap Bu Kong yang mencegah terjadinya kekeliruan lebih lanjut dari sikapnya terhadap Cheng-gan Sian-jin bersama rombongannya yang membawa bendera duta itu.

Memang, seperti diketahui bersama, kedatangan kakek iblis itu dari luar tampak sebagai utusan Wu-sam-tai-ciangkun, berarti duta resmi yang sedang menjalankan tugas. Walaupun tenyata Cheng-gan Sian-jin berkhianat, akan tetapi, itu adalah urusan pribadinya sendiri dan biar bagaimanapun juga orang luar menganggapnya sebagai duta Kerajaan Wu.

Oleh sebab itu, kalau sampai dia menyerang duta ini, maka namanya bakal cemar di mata semua orang. Itulah sebabnya Bu Kong mengeluarkan kata-katanya tadi yang berarti menunda terjadinya segala akibat dari permusuhan antara datuk iblis itu dengan bekas Ketua Kong-thong. Dengan demikian, Kim-sin Sian-jin tidak sampai melakukan kesalahan lebih lanjut dan tidak mengganggu Cheng-gan Sian-jin yang datang sebagai duta.

Hal ini berarti menyelamatkan nama kakek itu dari cemar, juga sekaligus menjaga nama sendiri yang tidak ingin dicap orang luar sebagai jenderal yang tidak tahu aturan. Maka, dengan demikian, Bu Kong telah dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Juga dengan pertanyaannya itu, pemuda ini menjepit kedudukan Cheng-gan Sian-jin yang mau tak mau harus mengaku kebenaran ini.

Maka, segera Cheng-gan Sian-jin menindas kemarahannya terhadap bekas Ketua Kong-thong-pai itu dan kakek ini memutar tubuhnya menghadapi Yap-goanswe yang memandangnya dengan pandangan dingin menusuk.

“Yap-goanswe,” kakek itu mulai bicara dengan sungguh-sungguh. “Seperti telah kukatakan tadi, aku datang ke mari tidak membawa maksud jelek. Untuk mengelabui tiga keledai tolol di kota raja, aku mempergunakan kesempatan menjadi duta ini untuk bertemu muka secara pribadi denganmu. Kau tahu, Wu-sam-tai-ciangkun bukanlah orang-orang jujur dan diam-diam mereka ada maksud untuk melenyapkan diriku kalau kelak usaha mereka berhasil. Oleh sebab itu, untuk membalas maksud busuk ini aku datang ke mari. Tujuanku ialah hendak mengajak engkau bersekutu dengan anak-anak buahku yang sudah siap di luar Tembok Besar, dan begitu kau setuju, dari dalam aku akan menghancurkan Wu-sam-tai-ciangkun dan menyerahkan Sri Baginda Kung Cu Kwang kepadamu. Dan bukan hanya ini saja, akupun siap... heh-heh... untuk membebaskan kekasihmu dari cengkeraman Panglima Ok Ciat!”

Kalimat terakhir ini diucapkan Cheng-gan Sian-jin sambil terkekeh dan kakek iblis itu melirik jenderal yang gagah perkasa itu dengan penuh arti. Ada tersirat tekanan dan ancaman di balik kata-kata ini, dan Bu Kong sendiri terkesiap. Tahulah dia sekarang mengapa kakek itu berani bicara tentang rencana persekutuannya ini, tidak tahunya karena diam-diam membawa nama Siu Li di bawah ancamannya!

Tentu saja Bu Kong terkejut dan sedetik mukanya menjadi pucat. Hal ini tidak lepas dari pengamatan Cheng-gan Sian-jin yang tajam dan kakek itu merasa girang, percaya bahwa kemenangan sudah berada dl pihaknya. Dan Bu Kong sendiri memang tahu bahwa keadaan kekasihnya sekarang benar-benar amat berbahaya sekali. Cheng-gan Sian-jin ternyata musuh dalam selimut bagi Wu-sam-tai-ciangkun tanpa tiga orang panglima itu sadar. Dan kini sebagai musuh yang amat licik dan siap mengadu domba, kakek iblis inipun menyangkutkan nama Siu Li agar dia menyerah.

Sejenak Bu Kong menjadi bingung dan diam-diam pemuda ini marah sekali melihat kelicikan Cheng-gan Sian-jin. Di satu pihak tentu saja tidak mungkin baginya untuk menerima usul itu, namun di lain pihak dia sekarang harus memperhitungkan keselamatan kekasihnya setelah secara halus datuk iblis ini mempergunakan Siu Li sebagai sandera. Sungguh kurang ajar!

Dia, jenderal muda yang biasanya menekan lawan kini malah ditekan lawan! Siapa tidak naik darah? Dan Bu Kong memandang kakek itu dengan perasaan gusar bukan main. Kalau saja Cheng-gan Sian-jin bukan datang sebagai utusan, baik utusan Wu-sam-tai-ciangkun maupun dari suku bangsanya sendiri, tentu pemuda ini tidak akan membiarkan kakek itu berbuat sekehendak hatinya.

Akan tetapi, kini Cheng-gan Sian-jin telah mengatakan maksud kedatangannya dan dia hanya tinggal menerima atau menolak. Kalau menerima berarti kemenangan bakal diperolehnya dengan mudah dan Siu Li sendiri selamat, akan tetapi, kalau menolak berarti mempertaruhkan nyawa kekasihnya di tangan kakek ini. Dan kekeh Cheng-gan Sian-jin yang penuh arti tadi cukup menjelaskan semua maksud kejinya yang tidak perlu diutarakan lagi. Terkutuk!

Bu Kong mengepal tinjunya erat-erat dan hampir saja dia tidak dapat menguasai diri. Detik-detik terasa menegangkan dan pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang batuk-batuk. Ketika Bu Kong memandang, ternyata yang batuk-batuk ini adalah Phoa-lojin yang pada saat itu juga sedang menatap jenderal muda ini dengan sinar mata lembut. Seketika Bu Kong menjadi sadar dan tiba-tiba pemuda itu seakan melihat adanya titik terang dalam diri kakek itu.

Namun, baru saja dia membuka mulut untuk bicara, tiba-tiba Phoa-lojin sudah mendahuluinya dengan menjentikkan sesuatu ke arahnya. Cepat pemuda ini menggerakkan tangannya menangkap benda itu yang bukan lain adalah segumpal kertas kecil, dan ketika dia membukanya, ternyata isinya adalah sebuah surat singkat yang berbunyi:

Harap goanswe tenangkan hati. Cheng-gan Sian-jin tidak akan dapat melaksanakan maksudnya itu karena terjadinya perubahan mendadak. Semuanya di luar dugaan, dan goanswe sendiri harap mempersiapkan mental. Jalan paling baik sekarang ini ialah cepat mengusir iblis tua itu dan tolak semua niatnya!

Phoa-lojin

Demikianlah isi surat ini dan jenderal muda itu menjadi girang. Pernyataan ahli ramal dari Pulau Cemara yang menyebutkan gagalnya maksud Cheng-gan Sian-jin ini benar-benar membuat kegelisahannya lenyap seketika, dan Bu Kong percaya penuh.

Seperti diketahui Phoa-lojin adalah tukang ramal jempolan, maka semua kata-katanya dapat dipertanggungjawabkan. Demikian pula dengan apa yang disimpulkan pemuda ini. Melihat bahwa Phoa-lojin berdiri di pihaknya dan mengatakan dia tidak perlu cemas tentang nasib Siu Li sudah membuat jenderal muda ini girang bukan main. Hal ini berarti keselamatan gadis itu tidak perlu dirisaukan lagi dan dia tidak usah menghiraukan ancaman Cheng-gan Sian-jin.

Oleh sebab itu, dengan muka keren dan suara bengis, jenderal muda ini lalu menjawab pertanyaan Cheng-gan Sian-jin yang sedang memandangnya dengan alis berkerut karena merasa tidak enak melihat pemuda itu menerima surat dari seseorang.

“Cheng-gan Sian-jin, seperti telah kau ketahui, burung gagak tidaklah mungkin akan dapat berteman dengan burung hong. Begitu pula keadaan kita sekarang ini. Bersekutu dengan seorang pengkhianat macam dirimu ini sungguh terlalu berbahaya, siapa mau mengambil resiko? Tidak, Cheng-gan Sian-jin, aku tidak sudi bekerja sama denganmu! Yap-goanswe bukanlah orang yang mudah digertak dengan urusan pribadi, maka sebagai pemimpin tunggal yang mengepalai seluruh angkatan perangku, dengan tegas kunyatakan menolak semua usulmu yang hina dan tidak tahu malu itu! Nah, inilah jawabanku, dan sekarang pergilah. Tempatku tidak boleh terlalu lama diinjak kaki-kaki kotor macam dirimu ini...!”

Bu Kong mengangkat tangan kirinya dan menudingkan telunjuk ke pintu keluar, mengusir datuk sesat itu terang-terangan!

Itulah hal yang amat di luar dugaan bagi Cheng-gan Sian-jin. Tadinya, mengandalkan nama Siu Li di bawah ancaman, kakek ini merasa yakin akan kemenangan diri sendiri. Maka, sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa hal yang terjadi justeru sebaliknya!

Sejenak kakek ini terbelalak, dan mukanya seakan ditampar. Kemarahan membakar dirnya dan kalau saja tidak ingat bahwa dia datang sebagai "utusan", tentu kakek ini sudah menerjang jenderal muda yang berani menghinanya saperti ini. Se!ama hidup, baru sekali ini datuk sesat itu diusir mentah-mentah oleh seorang "bocah ingusan". Padahal, beberapa bulan yang lalu, pemuda ini telah jatuh di tangannya dan dipermainkan sesuka hatinya. Maka, tentu saja kemarahan yang melanda kakek ini bukan main hebatnya.

Akan tetapi, Cheng-gan Sian-jin adalah manusia cerdik, juga sudah banyak makan garam dunia. Melihat bahwa jenderal muda itu berani menolak dalam sekejap saja setelah menerima surat seseorang yang tidak diketahuinya, namun, yang jelas berada di tempat itu, kakek ini tidak berani ceroboh. Maklumlah dia bahwa di tempat ini masih terdapat orang sakti, di samping Kim-sin Sian-jin. Karena itu, tahu bahwa kembali usahanya gagal total, kakek itu tiba-tiba tertawa bergelak dan mukanya yang tadi merah itu kini telah pulih seperti biasa,

“Ha-ha, Yap-goanswe benar-benar ksatria sejati yang tidak dapat didekati gagak-gagak hitam macam golongan kami. Sungguh mengagumkan! Dan baru sekarang ini aku tua bangka sialan bertemu dengan orang yang demikian teguh pendiriannya. Ahh, dasar aku yang tidak tahu diri. Hemm, baiklah, goanswe... baiklah... kalau aku tidak dapat berendeng dengan burung hong di sini, biarlah aku akan berendeng saja dengan burung hong yang ada di sana, ha ha...!”

Kakek ini menyeringai iblis dan Bu Kong tergetar hatinya, akan tetapi, segera pemuda ini dapat menenangkan diri teringat akan pernyataan Phoa-lojin tadi. Dan Cheng-gan Sian-jin sendiri tiba-tiba mengirimkan ilmu suaranya, yang tidak didengar orang lain, kepada pemuda itu yang membuat muka jenderal muda ini merah.

“Yap goanswe, kesombanganmu hari ini akan kau tebus mahal. Karena kau berani menolak maksud baikku, maka lihat saja pembalasanku nanti. Kekasihmu telah berada di tanganku dan kami orang-orang yang kau sebut sebagai gagak-gagak hitam ini akan menelanjanginya sampai bugil! Kami tidak akan cepat-cepat memperkosanya, karena kami ingin agar kau menyaksikan peristiwa yang menyenangkan itu bersama-sama. Nah, anak muda besar kepala, mari kita sama-sama lihat, siapa yang harus bertekuk lutut dalam hal ini!"

Cheng-gan Sian-jin lalu memutar tubuh dan dengan langkah lebar kakek itu mengajak dua orang temannya kembali ke kota raja, sedangkan Hek-mo-ko dan Pouw Kwi sendiri cepat mengikuti pimpinan mereka itu.

Sejenak keadaan menjadi sunyi dan semua orang memandang kepergian datuk sesat yang amat berbahaya ini dengan berbagai macam perasaan. Ada yang kecewa karena tak dapat membunuh kakek itu, namun, ada pula yang merasa lega bahwa Cheng-gan Sian-jin tidak membuat onar. Golongan pertama dirasakan oleh Kim-sin Sian-jin dan orang-orang dari partai lain, sedangkan golongan kedua diratakan oleh para pembantu Bu Kong.

Dan jenderal muda itu sendiri memandang kepergian Cheng-gan Sian-jin dengan muka merah. Ucapan datuk iblis tadi yang hendak menelanjangi Siu Li benar-benar membuat matanya berapi-api. Kalau saja dia tidak ingat kakek itu datang sebagai utusan resmi dan dia sendiri sudah mengusir Cheng-gan Sian-jin keluar kemah, mungkin pemuda ini sudah melompat dari tempat duduknya untuk menghajar kakek itu.

Namun hal ini tidak mungkin dilakukannya. Cheng-gan Sian-jin masih berkedudukan sebagai duta, juga dia sendiri telah mengusir kakek itu. Maka, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan hanyalah bersabar dengan menunggu pecahnya perang terbuka yang sudah di ambang pintu ini. Dia berharap, dalam pertempuran itulah dia akan dapat berhadapan muka dengan Cheng-gan Sian-jin yang amat dibencinya.

Dan Bu Kong merasa yakin, bahwa dengan kepandaiannya yang sekarang ini dia pasti mampu menundukkan lawannya yang lihai itu seperti kata-kata gurunya sendiri. Dan di samping itu, diam-diam pemuda inipun bersumpah bahwa sedikit saja kakek itu mengganggu kekasihnya, dia tidak akan memberi umur panjang kepada Cheng-gan Sian-jin!

Akan tetapi tiba-tiba, baru saja Bu Kong berpikir sampai di situ dan rombongan Cheng-gan Sian-jin lenyap di luar kemah, mendadak terdengar ribut-ribut di luar disusul suara "blang...!" yang keras sekali. Suara ini hebat, dan lantai ruangan bergetar membuat semua orang terkejut.

Tanpa ayal lagi, karena mengira Cheng-gan Sian-jin membuat kerusuhan di luar, semua orang yang ada di dalam inipun meloncat keluar sambil mencabut senjata masing-masing. Kalau betul dugaan mereka, maka kali ini terdapat kebebasan bergerak untuk membunuh datuk sesat itu. Dan Bu Kong sendiri sudah meloncat dari tempat duduknya melayang keluar kemah, mendahului semua orang. Gerakannya ini cepat bukan main, dan orang-orang di situ hanya melihat sebuah bayangan berkelebat untuk kemudian lenyap tanpa mereka ketahui siapakah orang yang "terbang" ini!

Tentu saja mereka terkejut, akan tetapi, setelah melihat kursi yang tadi diduduki jenderal muda itu kosong, tahulah orang-orang ini bahwa bayangan yang gerakannya seperti iblis tadi bukan lain adalah Yap-goanswe sendiri! Hal ini membuat mereka kagum bukan main dan ketika mereka sudah tiba di luar, benar saja, Yap-goanswe tampak sudah berada di barisan paling depan sendiri, di ujung dekat pintu gerbang kota raja dan sedang berdiri dengan mata terbelalak! Kembali mereka terkejut, akan tetapi, lebih terkejut lagi hati orang-orang ini ketika melihat keadaan pintu gerbang yang pecah berantakan!

Apa yang terjadi? Semua orang belum dapat menjawab pertanyaan itu, kecuali dugaan bahwa itu tentu perbuatan Cheng-gan Sian-jin. Akan tetapi, untuk apa datuk sesat itu menghancurkan pintu gerbang? Bukankah hal ini membuat kedudukan pasukan Wu terbuka dan mereka tidak dapat bertahan di dalam benteng?

Sungguh mereka tidak mengerti, akan tetapi, Bu Kong yang otaknya cerdas ini segera paham. Tahulah dia bahwa Cheng-gan Sian-jin yang marah melihat usulnya ditolak, kini sedang menjalankan siasat adu domba. Perbuatan kakek itu yang menghancurkan pintu gerbang tentu dimaksudkan agar dia bersama pasukannya meluruk maju dan pihak pasukan Wu sendiri yang benteng pertahanannya sudah dijebol Cheng-gan Sian-jin, tentu saja tidak dapat mencegah dan hal ini berarti menyudutkan posisi mereka. Dengan begitu, daripada menunggu diserang musuh mereka ini, tentu lebih baik menyerang musuh dan mendahului!

Benar saja, begitu dugaannya habis dipikirkan tiba-tiba dari atas menara terdengar suara maki-makian disusul bunyi terompet tanduk yang menyatakan perang terbuka. Bu Kong melihat betapa seorang panglima tinggi besar yang wajahnya brewok serta dua orang panglima lain memberikan aba-aba nyaring kepada seluruh perwira, sementara tiga orang ini sendiri menghilang ke bawah. Itulah Wu-sam-tai-ciangkun dan panglima tinggi besar tadi bukan lain adalah Panglima Kiang!

Sedetik wajah pemuda ini merah. Kemarahan melihat bayangan tiga orang panglima licik itu membuatnya lupa akan Cheng-gan Sian-jin dan begitu dari pintu gerbang kota raja muncul pasukan musuh dengan panji-panji mereka, jenderal muda ini mengelebatkan bendera merahnya sebagai tanda sambutan terhadap pihak lawan yang sudah mulai menyerang!

Segera terompet dan tambur perang dibunyikan, dan pasukan Yueh bersorak-sorai dengan pekik yang gegap-gempita. Majulah mereka ini, dan sesuai dengan formasi barisan segi delapan seperti yang diajarkan oleh Yap-goanswe, selaksa pasukan itu menyambut musuh dengan wajah bersemangat.

Sekejap kemudian terjadilah pertempuran seru diantara dua pasukan besar ini dan para perwira yang memimpin barisan di depan, sudah menggerakkan senjata di tangan membabat setiap lawan yang berani mendekat. Mulailah bacok-membacok terjadi, disusul dentang tameng serta pekik kemarahan masing-masing pihak yang menyerang seperti orang kalap.

Pasukan Yap-goanswe tampak agresif sekali, dan hal ini tidak aneh mengingat mereka telah lama menyimpan dendam sedalam lautan terhadap pasukan Wu-sam-tai-ciangkun itu. Sementara di lain pihak, pasukan lawan bertempur dengan hati yang kurang mantap dan juga agak gentar melihat kenekatan lawan yang luar biasa. Dua orang perwira dari Wu, yakni perwira Song Kiat dan Chi Hun, menjadi marah melihat keragu-raguan yang membayang di wajah anak-anak buahnya. Oleh sebab itu, sambil memekik...