PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 20
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Naraka
DUA orang perwira dari Wu, yakni perwira Song Kiat dan Chi Hun, menjadi marah melihat keragu-raguan yang membayang di wajah anak-anak buahnya. Oleh sebab itu, sambil memekik berang dua orang perwira ini yang duduk di atas kuda masing-masing menerjang ke depan dengan tombak mereka. Belasan perajurit Yueh yang berani menyambutnya, dibuat buyar dan pecah berantakan. Lima orang terpental senjatanya akibat tangkisan tombak yang amat kuat dari dua orang perwira itu, sedangkan tujuh orang yang lain tertikam tombak dan roboh sambil menjerit ngeri.

Hebat tandang dua orang perwira ini, dan pasukan Wu yang menyaksikan sepak terjang pimpinan mereka, menjadi besar hati dan bersorak gembira. Bangkit semangat tempur mereka dan contoh dari dua orang perwira ini menjadikan pasukan ini maju dengan sikap buas.

Maka, terjadilah pertempuran yang lebih seru lagi diantara mereka. Kenekatan pasukan Yueh dihadapi Perwira Song dan Perwira Chi, sementara anak-anak buahnya berteriak-teriak di belakang mereka sambil menyerbu lawan yang lain. Akibatnya, sebentar saja barisan paling depan dari pasukan Yap-goanswe ini semrawut.

Memang sebenarnya mereka itu bukan tandingan Perwira Song maupun Chi, karena mereka adalah perajurit-perajurit biasa. Seharusnya, lawan mereka bukanlah para perwira yang tentu saja kepandaiannya masih dua atau tiga tingkat lebih tinggi. Namun, karena musuh sudah menerjang maka mereka ini terpaksa menghadapinya dengan hati tabah.

Dan memang patut dipuji ketabahan anak-anak buah Yap-goanswe ini. Meskipun tahu bahwa dua orang perwira itu bukanlah tandingan mereka, akan tetapi, orang-orang ini tetap saja menyerbu dengan pekik kemarahan mencoba membalaskan kematian teman-temannya di tangan dua orang perwira itu. Sebentar saja, tiga puluh perajurit Yueh roboh bergelimpangan mandi darah. Dan setiap kali mereka itu roboh, tidak ada yang mengeluh minta ampun. Bahkan, mereka ini mencaci-maki dua orang perwira itu habis-habisan sebelum kepala mereka dibabat senjata perajurit Wu yang marah melihat dua orang pemimpinnya dimaki-maki.

Oleh sebab itu, perwira Song dan Chi yang gemas mendengar caci-maki perajurit Yueh yang memanaskan perut mereka, kini bertindak semakin kejam. Mereka tidak lagi memberi ampun dan setiap kali tombak menyambar, kontan tubuh lawan terjungkal tanpa sempat mengeluh lagi karena jantung mereka pecah tertikam senjata maut di tangan dua orang perwira ini!

Tentu saja hal ini amat menggegerkan pihak pasukan Yueh, dan Panglima Kok Hun yang melihat hal itu marah bukan main. Panglima ini sudah mengangkat penggada besi hitamnya dan siap melompat ke depan, namun tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat dan menyentuh lengannya. Perlahan saja sentuhan ini, akan tetapi cukup membuat panglima tinggi besar ini berseru kaget karena hampir saja senjatanya terlepas dari tangan yang mendadak terasa lumpuh! Cepat panglima ini menoleh dan... Yap-goanswe telah berdiri di situ dengan sinar mata mencorong.

“Goanswe.....!” Kok Hun berseru dan hendak membuka mulut, namun jenderal muda itu mengibaskan lengannya dengan sikap tidak sabar.

“Kok-ciangkun, harap kau pergi ke pintu gerbang sebelah barat. Bantu Panglima Tang dan Ong di sana, cegat Cheng-gan Sian-jin kalau dia keluar. Akan tetapi, awas, jangan hadapi sendirian iblis tua yang amat berbahaya itu. Kalau dia muncul, sebaiknya beri tanda secepatnya kepadaku dan kalian mengepung dari jauh. Nah, sekarang pergilah, biarkan aku yang membereskan dua orang perwira itu dan aku hendak terus masuk mendobrak kekuatan musuh untuk membuka pintu-pintu gerbang yang lain!”

Perintah ini singkat dan Kok Hun tidak berani banyak bicara, apalagi Yap-goanswe sendiri tampaknya tergesa-gesa. Maka, cepat panglima ini memberi hormat dan sekali dia memutar tubuh, Kok Hun telah berlari ke pintu gerbang barat untuk menjalankan tugasnya.

Sementara itu, Bu Kong lalu bersuit nyaring dan dari kemah pusat muncul sekelompok pasukan baju hitam. Inilah pasukan inti yang sejak tadi belum bergerak dan masih berdiri seperti patung di samping kemah, menunggu isyarat panggilan jenderal muda ini. Sekarang, setelah panggilan ini tiba, dua ratus pasukan baju hitam itu bergerak seperti bayangan iblis.

Sebentar saja mereka telah berada di hadapan Jenderal Yap dan empat orang pemimpin regu yang masing-masing bersenjatakan sabit panjang dan trisula, sudah berdiri tegak di depan pemuda itu. Bu Kong memandang mereka dan dengan muka keren jenderal muda ini berkata,

“Su-wi ciang-bu (empat kapten), harap kalian ikuti aku menerobos pasukan musuh dari pintu gerbang utara ini dengan kedudukan Cakar Naga. Kapten Ho di samping kanan, Kapten Liu di samping kiri, dan Kapten Ceng dan Sun di samping belakang kiri kanan. Nah, persiapkan anak-anak buah kalian dengan bentuk yang kumaksudkan dan mari bekerja. Cepat....!”

Begitu suara ini lenyap empat orang kapten yang diperintahkan sudah menyatakan "siap" dan beberapa detik kemudian pasukan baju hitam itu telah memecah diri menjadi empat kelompok. Gerakan mereka cepat, seperti iblis yang gentayangan dan sekejap kemudian terbentuklah kedudukan Cakar Naga seperti yang diminta jenderal muda itu.

Dan Bu Kong sendiri yang tidak mau menunggu lebih lama, sudah menepuk kedua tangannya dua kali berturut-turut memberi tanda dan pemuda ini telah melesat ke depan menghampiri dua orang perwira musuh. Sedangkan pasukan baju hitam lalu bergerak mengikuti jenderal muda itu, merupakan bayangan yang selalu menempel di belakang. Inilah hasil didikan pemuda itu dan gerakan yang amat cekatan dari pasukan ini benar-benar terlatih sekali.

Maka celakalah pihak Wu kali ini, terutama Perwira Song dan Chi yang tadi membabat perajurit Yueh sambil tertawa-tawa itu. Bu Kong yang marah melihat keganasan orang, sudah melompat mendekati dua orang perwira ini. Tangannya dlgerakkan menampar dan tubuhnya berkelebat ke atas kuda. Perwira Song dan Chi terkejut, tidak tahu siapa orang yang menyerang mereka ini. Mereka hanya melihat sebuah bayangan yang luar biasa cepatnya menyambar, maka cepat dua orang perwira itu menggerakkan tombak menangkis sambil berseru keras.

Namun, inilah kesalahan mereka. Kalau saja mereka membanting tubuh dan tidak menangkis, mungkin mereka selamat. Akan tetapi, begitu menangkis, segera tombak mereka patah-patah bertemu dengan tangan yang penuh getaran tenaga sin-kang itu! Hal ini membuat Perwira Song dan Chi mengeluarkan seruan kaget, dan sejenak mereka tertegun. Pada detik itulah mereka melihat wajah lawan yang tersenyum dingin dan bukan kepalang rasa kejut yang dialami dua orang perwira ini.

“Yap-goanswe...!” mereka berteriak tertahan namun semuanya sudah terlambat. Patahan tombak yang mencelat itu tiba-tiba telah menyambar dada mereka dan... "crep-crep!" dua orang perwira ini menjerit ngeri. Tubuh mereka terjungkal dan darah menyemprot dan tempat yang luka.

Perwira Song dan Chi tewas dalam segebrakan saja dan teriakan mereka yang menyerukan nama Yap-goanswe itu membuat anak-anak buahnya menjadi kaget. Cepat mereka menengok dan ketika melihat bahwa betul jenderal muda itu yang datang, pasukan ini berteriak ketakutan dan lari tunggang-langgang seperti ketemu setan!

Akan tetapi, Bu Kong tidak memperdulikan perajurit-perajurit rendahan itu. Bukan maksudnya pula untuk membunuh mereka yang jelas bukan tandingannya. Asal mereka tidak mendekat, tentu diapun juga tidak akan menyerang. Yang diperlukan jenderal muda ini adalah secepatnya memasuki pintu gerbang yang terbuka itu untuk mencari Cheng-gan Sian-jin dan Wu-sam-tai-ciangkun. Terutama datuk sesat itulah yang diincarnya, karena Cheng-gan Sian-jin mengancam keselamatan kekasihnya.

Oleh sebab itu, jenderal muda ini segera berkelebat mendekati pintu gerbang yang pecah dihantam lwee-kang Cheng-gan Sian-jin dan dari sini dia hendak mengobrak-abrik musuh dari dalam bersama pasukan baju hitam yang selalu mengikutinya. Akan tetapi, sungguh mengejutkan. Baru saja dia tiba di pintu utara ini, tiba-tiba terdengar suara "blang-blang-blang" tiga kali disusul dengan suara panik pasukan Wu yang berada di dalam kota. Bu Kong merasa heran dengan adanya kekalutan di dalam dan dari suara tadi dia dapat menduga bahwa agaknya tiga pintu gerbang di bagian Timur, Selatan, dan Barat pecah.

Tentu saja pemuda ini terkejut. Dia pikir mungkin para pembantunya yang menjaga di tiga pintu gerbang disebelah sana menggunakan kereta penumbuk untuk menghancurkan gerbang kota raja yang amat tebal itu. Akan tetapi, kenapa perajurit Wu berteriak-teriak seperti orang kebingungan atau orang marah? Apakah tiga pintu gerbang telah berhasil dijebol para pembantunya?

Jenderal muda ini tidak mengerti dan juga dia merasa aneh mengapa bayangan Wu-sam-tai-ciangkun sama sekali tidak nampak. Bukankah sebagai panglima komando tiga orang itu seharusnya berada di atas menara untuk memberikan perintah-perintah kepada anak buahnya? Apakah mereka sedang berada di tempat lain dan mengatur siasat? Entahlah, pemuda ini tak dapat menjawab. Yang jelas, mengatur siasat pada saat musuh sudah memasuki pintu gerbang begini sebenarnya adalah perbuatan terlambat!

Maka, pemuda itupun tidak mau banyak pikir lagi. Bersama pasukan baju hitam yang kini diikuti oleh semua perajurit yang bersorak gembira di belakangnya, Bu Kong terus maju sebagai pelopor membuka jalan darah. Dan kehadiran jenderal muda ini betul-betul membuat musuh kalut. Mereka tidak berani menghadapi Yap-goanswe yang sakti itu dan di mana pemuda ini melangkahkan kakinya, pasukan lawan lari cerai-berai sambil berteriak-teriak.

Hal ini membuat gerakan pemuda itu lebih lancar dan Bu Kong mengajak pasukannya menuju istana. Pekerjaan ini tidak mudah, karena ribuan perajurit musuh berada di depan. Akan tetapi, karena melihat Yap-goanswe sendiri yang datang bersama pasukannya, perajurit-perajurit Wu ini semrawut dan keadaan yang serba kacau ini tiba-tiba diikuti dengan kebakaran besar yang melanda seluruh kota!

Tentu saja semua orang terkejut dan Bu Kong mengerutkan alisnya. Dia tidak menyuruh para pembantunya untuk melakukan pembakaran dalam serangan ini, bahkan melarang keras perbuatan itu karena dapat menyusahkan penduduk yang tidak berdosa. Dan dia percaya bahwa para pembantunya akan menaati pesan ini. Jadi, kalau begitu, siapa yang melakukan pengacauan ini? Orang-orang kang-ouw kah?

Bu Kong tidak mampu menjawab dan sementara dia bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba lerdengar teriakan “koksu berkhianat.... koksu berkhianat!” dari pasukan musuh yang menjadi semakin gaduh. Tampak kini kepanikan hebat membuat perajurit-perajurit Wu seperti orang gila. Kabar tentang koksu berkhianat yang meluas cepat ini benar-benar membuat mereka terkejut sekali dan seperti diketahui, justeru koksulah yang nantinya diharapkan sebagai tokoh utama dalam menghadapi Yap-goanswe.

Kini, pada saat jenderal muda itu menyerang bersama pasukannya tiba-tiba saja Cheng-gan Sian-jin melakukan perbuatan di luar dugaan semua orang. Tentu saja pasukan Wu panik tidak karuan. Orang yang mereka harap-harapkan buat menanggulangi Yap-goanswe malah tiba-tiba berkhianat, bagaimana mereka tidak kaget dan gelisah?

Dan baru sekaranglah Bu Kong sendiri mulai dapat menduga akan apa yang sebenarnya terjadi di balik semua peristiwa ini. Dan mengapa pula tiga orang Panglima Wu ini tidak muncul, begitu pula dengan Cheng-gan Sian-jin yang tidak tampak batang hidungnya. Maklumlah pemuda ini bahwa datuk sesat itu yang merasa marah terhadap dua pihak, yakni pihak Wu karena ketidakcocokannya dengan Wu-sam-tai-ciangkun serta pihak Yueh karena penolakannya, membuat kakek itu lalu membantu Yueh melakukan kekacauan-kekacauan dengan jalan merusak pintu gerbang agar pasukan musuh menyerbu masuk dan dengan demikian kedua pihak bisa saling baku hantam!

Dan sementara dua pasukan besar itu bertemu, Cheng-gan Sian-jin sendiri menghilang untuk... untuk... Bu Kong menghentikan pikirannya dengan muka pucat. Meskipun dia percaya penuh terhadap ramalan Kakek Phoa, namun tidak hadirnya Cheng-gan Sian-jin yang membiarkan dua pihak saling berhantam ini membuatnya tegang dan cemas juga.

Dia dapat menduga kini ke mana kiranya kakek iblis itu pergi. Tentu ke tempat Siu Li ditangkap! Membayangkan sampai di sini Bu Kong menjadi merah mukanya dan sekali dia memekik, tubuhnya berkelebat menerjang ke depan. Kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak cepat dan sebentar saja semua orang yang ada di depan dibuat jungkir balik dengan pukulan sin-kangnya!

Gemparlah keadaan dan kota raja benar-benar menjadi kalut. Serbuan Yap-goanswe dari pintu utara ini saja sudah cukup membuat mereka terbirit-birit, apalagi masih ditambah dengan kebakaran yang terjadi di dalam. Dan sementara mereka sendiri kebingungan, tiba-tiba tiga pintu gerbang di sebelah Selatan, Timur, dan Barat terbuka disusul membanjirnya pasukan Yueh ke dalam kota!

Sungguh mengguncangkan, dan keadaan pasukan Wu itu benar-benar terancam sekali. Para perwira mencoba mengatur barisan menghalang musuh dengan teriakan-teriakannya, akan tetapi, tetap saja gagal. Dan para perwira itu sendiri menjadi gelisah karena pucuk pimpinan mereka, yakni Wu-sam-tai-ciangkun, tidak tampak hadir. Dengan demikian, perintah tunggal sudah tidak ada lagi dan masing-masing orang terpaksa bekerja menurut pikirannya sendiri. Hal ini membuat bentuk-bentuk barisan pasukan Wu tidak seragam dan akibatnya, tentu saja mereka dibuat kebobolan!

Sepuluh ribu pasukan Yap-goanswe memasuki kota hampir serempak dan kebencian dan pihak Yueh ini membuat mereka itu bertempur seperti iblis-iblis haus darah. Apalagi Yap-goanswe sendiri telah menjadikan pasukannya orang-orang nekat dengan adanya siasat "memukul buntut mendorong kepala" itu, maka pasukan Wu benar-benar terdesak hebat. Tidak kuat mereka ini menahan gelombang serbuan lawan yang demikian dahsyat itu dan sebentar saja merekapun roboh bergelimpangan mandi darah!

Sungguh mengerikan, dan bumi kota raja menjadii telaga darah yang amat memuakkan. Mayat-mayat bersebaran di sana-sini, dan potongan-potongan tubuh yang buntung kaki atau tangannya membuat perut seakan muntah-muntah! Akan tetapi, demikianlah memang segala akibat dari perang yang dibuat oleh manusia ini. Betapa mereka telah kehilangan rasa belas kasihan terhadap sesama, dan betapa mereka telah berobah menjadi setan-setan kelaparan yang haus darah.

Semuanya adalah pengulangan dari nafsu-nafsu hewani manusia yang mendapatkan wadahnya dalam perang, karena hanya di tempat inilah mereka itu dapat melampiaskan segala dendam kebencian sebebas-bebasnya. Perang! Betapa mengerikan dan dibenci oleh sebagian besar manusia, namun tetap saja ada di muka bumi. Siapa yang dapat mencegah? Agaknya kalau iblis-iblis dapat dilenyapkanlah maka perang juga dapat dihilangkan. Dan selama roh-roh hitam itu masih ada, perang akan merupakan sesuatu yang abadi di permukaan bumi!

Pasukan Wu yang terdesak hebat ini semakin kewalahan. Dan mereka diam-diam mengumpat caci Wu-sam-tai-ciangkun yang sejak tadi tidak menampakkan diri itu. Kalau mereka sengaja hendak dijadikan korban penyembelihan lawan, untuk apa membela kota raja? Orang yang dibela malah menghilang, maka merekapun tidak mau mati konyol di tempat ini.

Pikiran ini membuat pasukan yang terdesak hebat itu mulai merencanakan keselamatan diri sendiri. Oleh sebab itu, maklum bahwa lawan terlampau kuat dan keadaan mereka benar-benar amat berbahaya, mulailah orang orang ini mundur melarikan diri. Ada yang mencoba menyelinap di antara gedung-gedung yang terbakar, ada yang mencoba memanjat tembok kota yang tinggi, dan ada pula yang terpaksa menyerah karena terpojok. Semuanya berusaha dengan caranya masing-masing, akan tetapi, banyak di antara mereka ini yang sia-sia.

Bala tentara Yueh bisa dibilang mengepung kota dari delapan penjuru, maka di manapun mereka bersembunyi, selalu saja bertemu dengan musuh. Akibatnya, bagi yang berhasil lolos keadaannya sudah penuh luka-luka dan berjalan satu atau dua lie saja orang-orang itu sudah ambruk kehabisan darah, tewas dalam keadaan menyedihkan.

Akhirnya, setelah pertempuran yang tidak seimbang ini berlangsung empat jam lebih, kota rajapun berhasil direbut lawan dan pasukan Yueh mengalami kemenangan mutlak. Otomatis pertempuranpun berhenti dan kini mereka sibuk mengatasi kebakaran yang terjadi di dalam kota dan untuk ini, para tawananlah yang mendapat bagian. Mereka diperintahkan memadamkan api secepatnya karena perajurit-perajurit Yueh menganggap merekalah yang menjadi biang keladinya.

Dengan demikian, nasib para tawanan benar-benar buruk sekali. Tubuh yang berlumuran luka belum mendapatkan pengobatan, sekarang mereka diharuskan bekerja keras. Akan tetapi, apa yang dapat mereka katakan? Bukankah kalau mereka yang menang mereka itupun pasti berbuat hal yang sama? Maka, orang-orang inipun tidak berani membantah dan dengan ancaman pihak yang menang, mereka dipaksa memadamkan api.

Cukup berat pekerjaan ini, karena api yang amat panas itu telah terasa dalam jarak sepuluh meteran. Tubuh mereka seakan dipanggang, akan tetapi, sambil menggigit bibir orang-orang ini melawan keganasan si jago merah yang membuat kota raja menyala-nyala itu. Dan dalam hal inipun korban-korban yang berjatuhan juga tidak sedikit. Para tawanan yang sudah kepayahan itu banyak yang tidak kuat berdiri. Kaki mereka terasa gemetar.

Maka, kalau mereka harus maju memadamkan api dan kejatuhan belandar-belandar atau atap yang berkobar, orang-orang inipun tidak dapat menghindar. Kontan, mereka akan menjerit kesakitan dan api yang mengenai pakaian mereka cepat menjalar di seluruh tubuh. Akibatnya, dengan keluhan lemah orang-orang ini terpaksa menerima nasib dan menjadi arang hitam yang tidak dapat dikenali ujudnya lagi!

Mengerikan memang, akan tetapi, itulah suasana perang yang ada dari jaman dahulu sampai sekarang. Siapa menang dialah berkuasa dan siapa kalah haruslah menyerah. Hukum ini sudah dipunyai manusia semenjak jaman kuno dulu. Sudah tidak aneh dan merupakan semacam "kebudayaan" tersendiri bagi umat manusia.

Kalau ada yang bilang kejam, mungkin dia benar. Namun, kalau ada yang bilang tidak kejam mungkin itupun juga tidak salah. Tergantung dari pihak siapakah yang bicara. Bagi yang menang tentu saja “tidak kejam” karena semuanya ini adalah pembalasan belaka. Akan tetapi, bagi yang kalah tentu saja terasa "kejam".

Namun, untuk apa kita memperdebatkan persoalan ini? Lebih baik kita mencari saja di mana beradanya Wu-sam-tai-ciangkun yang sejak perang pecah tidak tampak batang hidungnya ini. Demikian pula dengan Bu Kong sendiri, di mana setelah peperangan berakhir, jenderal muda inipun juga tidak kelihatan. Apa yang sedang terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus masuk ke dalam istana, karena di tempat inilah terjadi hal-hal yang hebat sekali. Seperti diketahui, pemuda itu menyerbu bersama pasukannya dari pintu Utara untuk mencari jejak Cheng-gan Sian-jin dan Wu-sam-tai-ciangkun. Dan untuk ini dia harus membuka jalan darah. Akan tetapi, karena lawan sudah mundur ketakutan melihat siapa yang datang, maka pemuda itu tidak perlu menurunkan tangan maut terhadap orang-orang yang jelas bukan tandingannya ini.

Perajurit yang menyibak seperti laut dibelah itu memungkinkan Bu Kong untuk memasuki istana dengan mudah. Cepat pemuda ini menjelajah ke sana ke mari dan karena sebelumnya dia sudah mengenal keadaan istana itu, maka jenderal muda ini tahu di mana letaknya kamar-kamar penting, Begitu pula halnya dengan penjara bawah tanah.

Oleh sebab itu, setelah menggeledah semua kamar besar, termasuk kamar tidur raja yang sudah kosong tanpa penghuni, pemuda ini menuju ke lorong bawah tanah. Diam-diam dia merasa heran kenapa orang-orang yang dicarinya sama sekali tidak ada. Semua tempat sudah dimasukinya, dan kini tinggal lorong bawah tanah ini. Maka, cepat pemuda ini turun dan baru saja kakinya membelok di sebuah tikungan, tiba-tiba sesosok bayangan tinggi besar menyerang dari tempat gelap dengan sebatang golok besar.

Bu Kong mendengus, karena dari angin sambaran senjata itu, dia tahu bahwa lawannya bukanlah seorang ahli. Oleh sebab itu, tanpa menoleh pemuda ini menggerakkan lengan kirinya menangkis dan sekaligus dilanjutkan dengan tamparan ke dada.

"Plak-bukk...!” dua kali suara ini terdengar hampir berbareng dan si tinggi besar itu menjerit tertahan. Goloknya terlepas dan tubuhnya roboh tersungkur.

Cepat Bu Kong membalikkan tubuh dan dilihatnya bahwa penyerang itu bukan lain adalah seorang perajurit biasa yang memandangnya dengan mata melotot penuh kemarahan. Tentu saja pemuda ini tidak perduli dan sekali menjengekkan suara di hidung, Bu Kong berkelebat meneruskan pencariannya. Dia yakin bahwa pukulannya yang telah mengenai dada lawan akan membuat orang itu tewas, maka tanpa diuruspun perajurit tadi pasti mati.

Dengan sikap pandang ringan inilah satu kesalahan besar telah dibuat oleh pemuda itu. Dia tidak tahu betapa setelah kepergiannya, seorang perajurit bertubuh sedang berindap-indap menghampiri si tinggi besar itu dan dengan susah payah menolong temannya. Bisikan-bisikan pelan terdengar di antara mereka dan dua orang ini akhirnya berangkulan melarikan diri melalui lorong samping.

Bayangan mereka akhirnya lenyap dl dalam kegelapan dan kalau saja jenderal muda ini tahu siapa mereka, pasti wajahnya akan berobah seketika. Kalau begitu, siapakah dua orang itu? Mereka bukan lain adalah orang-orang yang amat penting dari Kerajaan Wu. Yang bertubuh sedang dan masih muda adalah Fu Chai, sedangkan si tinggi besar yang dihantam Bu Kong tadi bukan lain adalah Raja Muda Kung Cu Kwang sendiri!

Tentu saja hal ini amat mengejutkan, akan tetapi, itulah kenyataannya. Dengan penyamaran sebagai perajurit biasa inilah dua orang tokoh itu lolos dari malapetaka dan melarikan diri lewat lorong rahasia. Dan sikap pandang ringan dari jenderal muda itu kelak berbuntut panjang karena Fu Chai, yang bukan lain adalah putera mahkota dari Sri Baginda Kung Cu Kwang, kelak membalaskan sakit hatinya terhadap Yueh.

Dan tepat seperti dugaan jenderal muda ini, Kung Cu Kwang akhirnya wafat di dalam perjalanannya karena pukulan sin-kang dari pemuda itu memecahkan jantungnya. Hanya berkat kekerasan hati serta kemauannya yang kuat untuk segera meninggalkan tempat berbahaya itulah yang membuat raja muda ini dapat bertahan.

Namun, maut akhirnya menjemput juga dan di dalam sebuah hutan, di atas pangkuan puteranya yang menangis sesenggukan, raja muda itu wafat setelah meninggalkan pesan untuk membalaskan kematiannya. Peristiwa ini masuk dalam sejarah dan dicatat sebagai peristiwa penting yang menyangkut permusuhan dua kerajaan, yakni Yueh dan Wu.

Sementara itu, Bu Kong telah tiba di ujung lorong terakhir dan begitu sampai di tempat ini, pemuda itu tertegun dengan mata terbelalak. Orang yang dicari-carinya, yakni Wu-sam-tai-ciangkun, tampak bergelimpangan mandi darah di tempat itu! Dan dua orang di antara mereka, yakni Panglima Kiang dan Panglima Han, tewas dengan kepala pecah serta otak berhamburan.

Tentu saja pemandangan ini amat mengejutkan, dan Bu Kong maklum siapa kiranya yang melakukan perbuatan itu. Pasti Cheng-gan Sian-jin! Siapa lagi? Sejenak pemuda ini terpaku dan dia melihat betapa selain kepala pecah juga dada Panglima Kiang dan Panglima Han mandi darah. Tampak di situ rantai baja milik Panglima Kiang menimpa dada Panglima Han dan membuat panglima itu hancur tulang-tulangnya, sementara pedang Panglima Han sendiri menancap di dada Panglima Kiang.

Dilihat sepintas lalu, dua orang panglima itu tampaknya seperti habis saling bunuh dan hanya Panglima Ok yang kelihatannya masih hidup. Akan tetapi, keadaan panglima inipun sudah amat payah karena kepalanya yang berlumuran darah itu membuat otaknya retak-retak. Dan ketika Bu Kong memasuki tempat itu, panglima ini mengeluarkan suara seperti ayam disembelih sambil menudingkan telunjuknya dengan mata melotot.

Bu Kong benar-benar terkesima. Dia tidak tahu, bagaimanakah perasaannya sendiri pada saat itu. Menurut patut, seharusnya dia bergirang karena pemfitnah-pemfitnah ini telah menerima hukumannya. Namun, melihat keadaan mereka yang demikian mengenaskan akibat pengkhianatan Cheng-gan Sian-jin, mau tak mau hatinya tergetar juga. Dan sementara dia berdiri mematung di tempat itu dengan mata terbelalak, tiba-tiba dari luar terdengar teriakan,

“Ayah...!” disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan putih. Kembali Bu Kong terkejut dan cepat pemuda ini memutar tubuh. Dilihatnya seorang gadis cantik dengan rambut riap-riapan melayang masuk seperti walet menyambar dan tahu-tahu seperti burung terbang saja, gadis itupun telah hinggap di tengah ruangan dengan mata terbelalak memandang tubuh Wu-sam-tai-ciangkun yang bergelimpangan mandi darah.

Jenderal muda ini tertegun. Rambut yang riap-riapan itu menyembunyikan sebagian besar wajah si wanita, akan tetapi, lengan baju kiri yang kosong serta bentuk tubuh dan teriakan “Ayah” tadi membuat ia mengenal gadis ini sebagai Siu Li! Maka otomatis dia mengeluarkan seruan girang sambil melompat maju, namun gadis ini sendiri sudah menjerit keras dan menubruk Panglima Ok, lalu menangis tersedu-sedu.

Pemuda ini melenggong. Peristiwa yang terjadi di lorong bawah tanah ini memang hebat sekali, juga di luar dugaan, maka dia maklum betapa kekasihnya mengalami guncangan batin yang amat berat. Oleh sebab itu, dia hanya dapat memandang gadis yang mengguguk di atas dada ayahnya ini dengan hati terharu, sementara Panglima Ok sendiri tiba-tiba membuka matanya yang tadi tertutup.

Sejenak panglima ini merasa heran karena matanya yang sudah mulai mengabur itu tidak dapat mengenali puterinya sendiri. Akan tetapi, setelah dia mendengar sedu-sedan itu dan panggilan “Ayah“ berulang-ulang barulah orang tua itu tahu bahwa yang menangis ini adalah Siu Li. Maka cepat panglima itu menggeliat untuk bangkit duduk, namun terpaksa da roboh lagi sambil menyeringai. Dadanya nyeri sekali, begitu pula kepalanya. Terasa berdenyut-denyut menusuk jantung.

Dan Siu Li yang melihat keadaan ayahnya ini malah menangis semakin keras dengan pundak berguncang-guncang. Bu Kong cepat maju menghampiri dan dengan hati-hati dia lalu mengangkat orang tua itu di atas pangkuan puterinya, akan tetapi, Panglima Ok tiba-tiba mendelik sambil meludahi mukanya!

“Yap-goanswe, jangan sentuh tubuhku, aku tidak butuh pertolonganmu... uhh....!” panglima ini terbatuk dan darah bercampur ludah mengenai muka jenderal muda itu yang terpaksa mundur dengan hati panas.

Kalau saja tidak ingat orang ini sudah berada di ambang maut dan juga sekaligus ayah dari kekasihnya, tentu dia tidak sudi menolong. Namun, melihat gadis itu dilanda duka yang demikian menyedihkan, maka dia hendak sedikit menghibur kekasihnya. Siapa tahu panglima tua yang tak tahu diri itu malah memaki dan meludahinya!

Bu Kong mendongkol sekali, akan tetapi, dia tidak ingin membuat ribut yang berarti menambah penderitaan batin kekasihnya. Oleh sebab itu, dia lalu mengusap semprotan ludah bercampur darah itu dengan tenang dan kemudian berdiri agak menjauh.

Sementara itu, Panglima Ok yang sudah bersandar di atas pangkuan puterinya ini mulai bicara dengan suara gemetar. “Li-ji (anak Li) di mana kakakmu? Kenapa dia tidak datang...? Aku sudah tidak kuat lagi, nak.... aku sudah tidak kuat... Giam-lo-ong jahanam itu rupanya sudah tidak sabar untuk merenggut nyawaku... uhh, keparat...!”

Panglima ini batuk-batuk sambil menekan dadanya, sementara mukanya yang penuh darah dan tampak mengerikan itu mulai pucat kehijauan. Siu Li menangis tersedu-sedu melihat keadaan ayahnya ini, dan cepat dia menotok beberapa aliran darah di dada ayahnya untuk memberikan kekuatan. Pertanyaan ini tidak dapat dijawabnya karena tenggorokannya seperti tercekik, maka ia hanya dapat mengguguk sambil menggelengkan kepala tanda tidak tahu.

Panglima ini menarik napas panjang. “Hemm, kalau begitu bagaimana kalian dapat keluar dan penjara bawah tanah?”

Siu Li mengangkat mukanya, “Seseorang menolong kami, ayah. Dialah yang mengeluarkan kami dari sana...”

“Siapa...?”

“Gadis baju kuning, ayah. Namanya A-Cheng dan dia adalah pembantu Tok-sim Sian-li.”

“Hahh...?!” Panglima Ok terbelalak. “Gadis yang pendiam itu?”

Siu Li mengangguk. “Benar, ayah...”

Dan Panglima Ok tiba-tiba tertawa serak mendengar jawaban itu. “Ha-ha, Cheng-gan Sian-jin mengkhianati kita dan sekarang pembantunya mengkhianati dia. Sungguh lucu... sungguh menggelikan... aughh...!”

Orang tua itu menyeringai dengan napas terengah. Banyak bicara tadi membuat dadanya sesak dan ketika dia tidak tahan untuk tertawa mendengar A Cheng mengkhianati Cheng-gan Sian-jin ini menyebabkan jantungnya terasa nyeri. Dia tidak tahu, betapa sebuah urat di serambi kiri jantung pecah akibat tertawa tadi, dan panglima ini banya merasa bahwa dada kirinya semakin sakit. Demikian sakit perasaan itu sehingga mukanya sampai berkerut-kerut. Totokan Siu Li tadi memang sedikit banyak telah menolongnya. Akan tetapi, kejutan mendengar berita tentang A Cheng ini membuat penderitaannya semakin hebat. Oleh sebab itu, panglima ini lalu mengerang panjang dan mengeluh.

“Li-ji, dadaku nyeri sekali.... kepalaku berdenyut-denyut... dan tubuhku sebelah kiri terasa sakit. Aduhh, Dewa Kematian rupanya hendak mencabut nyawaku... ohh, Li-ji... Li-ji...”

Panglima Ok tiba-tiba berkelojotan dan Siu Li menjadi pucat mendengar ayahnya menjerit-jerit dalam sakratul maut itu. Sejenak gadis ini terpaku dan tiba-tiba lengannya dicengkeram kuat-kuat. Ia terkejut, dan sementara terbelalak dalam kebingungan itu mendadak ayahnya meraung kesakitan seperti anjing disembelih. Tentu saja gadis ini menjadi takut dan sedih. Air matanya membanjir seperti bendungan jebol dan Bu Kong yang tidak tahan melihat itu semua lalu melompat ke depan. Dengan gerakan cepat pemuda ini menotok satu jalan darah di punggung yang dinamakan "Tenangkan Sumsum Kembalikan Roh", yakni semacam hiat-to penting untuk memulihkan seseorang dalam beberapa detik buat menyampaikan pesan terakhirnya sebelum tewas.

Dan perbuatan ini ternyata berhasil baik karena Panglima Ok yang tadi menjerit-jerit itu kini menghentikan teriakannya dan terlentang diam. Hanya napasnya tampak tersendat-sendat dan Bu Kong yang tahu bahwa keadaan sudah amat mendesak ini lalu berkata perlahan kepada kekasihnya, “Li-moi, cepat minta ayahmu memberikan pesan terakhirnya...!”

Siu Li mengangguk dan dengan muka pucat serta air mata bercucuran gadis itu lalu berbisik di telinga ayahnya dengan suara menggigil, “Ayah, kau ada pesan apakah?”

Perlahan pertanyaan ini, akan tetapi rupanya Panglima Ok dapat menangkap baik karena tiba-tiba orang tua itu membuka matanya. Dan Bu Kong terkejut melihat sinar kebencian memancar dari sepasang mata tua ini dan ketika panglima itu menggerakkan mulutnya, terdengarlah kata-kata yang berbunyi: “Kalau kau ingin ayahmu mati meram, maka bunuhlah Yap-goanswe untuk membalaskan sakit hatiku!”

Singkat kalimat ini, akan tetapi cukup membuat Siu Li menjerit tertahan dan begitu selesai meninggalkan pesannya, orang tertua dari Wu-sam-tai-ciangkun ini tewas dengan mata terbelalak lebar. Rupanya, api kebencian akibat kekalahannya ini disusul hubungan asmara puterinya dengan pemuda itu membuat orang tua ini marah sekali.

Seperti diketahui, Ok-ciangkun menolak hubungan itu karena Yap-goanswe adalah pemuda yang amat berbahaya baginya. Watak dirinya dengan jenderal muda itu seperti langit dengan bumi. Maka, kalau dia menerima perjodohan puterinya ini, pasti di lain hari bakal terjadi percekcokan-percekcokan besar di antara mereka. Oleh sebab itu, dengan mati-matian dia menentang maksud puterinya ini karena kalau hal itu dituruti, kedudukannya kelak bakal goyah.

Yap-goanswe adalah seorang pemuda yang anti kejahatan, seorang jenderal berwatak pendekar. Sedangkan dia sendiri merasa sebagai orang yang kurang bersih dan tidak segan-segan melakukan kecurangan apapun. Maka kalau dia menerima hubungan puterinya dengan pemuda itu, kelak dirinya akan selalu bermusuhan dengan menantunya sendiri. Dan mengingat jenderal muda itu orang yang amat lihai serta memegang teguh kebenaran sejati, panglima ini merasa pemuda itu seperti duri dalam daging.

Oleh sebab itu, dengan keras dia menolak kehendak puterinya. Bahkan marah-marah terhadap Siu Li yang mulai berani menentangnya. Semua kejadian ini membuat panglima itu naik darah karena gara-gara bersahabat dengan jenderal muda itulah puterinya sendiri menjadi berani! Karena itu, ketika gadis ini datang sebulan yang lalu untuk minta pertimbangannya yang terakhir dalam masalah perjodohannya dengan Yap-goanswe, panglima ini lalu menangkap puterinya itu yang dijebloskan dalam penjara bawah tanah.

Dan kemarahan panglima ini semakin berkobar ketika beberapa hari kemudian, Kui Lun datang dan minta supaya adiknya dibebaskan! Tentu saja orang tua ini naik pitam dan saking marahnya diapun lalu menangkap puteranya sendiri untuk dijebloskan dalam penjara bawah tanah bersama puterinya! Kini dua orang anaknya yang tidak penurut itu telah ditangkap, dan Panglima Ok siap menantikan kedatangan Yap-goanswe yang dikabarkan akan datang ke tempat ini seorang diri.

Siapa sangka, Yap-goanswe yang dikira akan datang seorang diri itu ternyata membawa pasukan besar dan tahu-tahu telah mengepung kota raja dengan gerakan kilat. Dan sementara mereka mengatur siasat dengan mengirimkan koksu sebagai duta ke kemah jenderal muda itu, mendadak Cheng-gan Sian-jin melakukan pengkhianatan yang di luar dugaan, padahal baru saja kakek itu datang dari tempat Yap-goanswe!

Tentu saja semua kejadian ini lalu menimbulkan dugaan bahwa jenderal muda itu telah mempengaruhi Cheng-gan Sian-jin, mempergunakan siasat yang disebut "Menarik Anjing Memasukkan Serigala" ke kota raja. Dan mengingat murid datuk sesat itu memang tergila-gila kepada Yap-goanswe, maka tidaklah aneh kalau Cheng-gan Sian-jin berhasil dibujuk dan berkhianat!

Inilah kesimpulan Ok-ciangkun dan orang yang biasa melakukan kecurangan memang cenderung untuk mengukur orang lain dengan baju sendiri. Oleh sebab itu, kebencian panglima ini terhadap Bu Kong semakin berkobar dan mencapai puncaknya dalam pertemuan dengan Cheng-gan Sian-jin di lorong bawah tanah. Tentu saja panglima itu marah-marah, apalagi ketika sambil tertawa bergelak kakek iblis ini mengakui kesimpulannya dan memaki-maki mereka yang dikatakan sebagai "keledai tolol".

Hal ini membuat Panglima Ok naik pitam dan bersama dua orang rekannya dia menerjang kakek itu untuk mengadu jiwa. Perbuatan ini dilakukan karena Ok-ciangkun yang merasa kedudukannya terjepit dengan masuknya bala tentara Yueh dari empat pintu gerbang itu membuat tiga orang panglima ini ingin membunuh Cheng-gan Sian-jin yang menjadi biang keladi segala kekacauan.

Di samping itu, sebagai orang-orang tinggi hati, Wu-sam-tai-ciangkun memilih berhadapan dengan kakek ini daripada perajurit musuh. Mati di tangan Cheng-gan Sian-jin bagi mereka jauh lebih "terhormat" daripada mati di tangan orang lain. Oleh sebab itu, meskipun maklum kakek ini bukan tandingan mereka, Panglima Ok dan teman-temannya tetap nekat mengadu jiwa. Mereka berusaha sekuat mungkin untuk membunuh kakek itu, akan tetapi gagal.

Cheng-gan Sian-jin adalah tokoh besar dunia hitam, mana bisa dirobohkan Wu-sam-tai-ciangkun? Adalah mereka itu yang dirobohkan kakek ini seperti tekad mereka sendiri, tiga orang panglima itu akhirnya benar-benar mati "terhormat" di tangan Cheng-gan Sian-jin. Demikianlah, setelah menewaskan musuh-musuhnya, kakek ini lalu mengajak semua pembantunya keluar dari lorong bawah tanah, sementara yang terlambat masuk ditinggal begitu saja.

Inilah sekelumit ceritera mengapa tiga orang panglima itu tidak muncul. Dan kini, setelah Ok-ciangkun sebagai orang terakhir juga tewas, sepasang orang muda itu berdiri saling berhadapan. Yang satu dengan pandangan kosong tak terarah, sedangkan yang lain tersenyum getir. Bu Kong dan Siu Li sama-sama tertegun, dan masing-masing menjadi tegang sendiri.

Di pihak Bu Kong ingin mengetahui apakah kekasihnya benar-benar akan menjalankan perintah ayahnya sebelum ajal, sedangkan dari pihak Siu Li sendiri diliputi kebimbangan antara patuh terhadap orang tua dan cinta kasih terhadap jenderal muda ini.

Perlu diketahui di sini bahwa "Hauw" (Bakti) di jaman itu telah meresap ke tulang sumsum di kalangan Bangsa Tiongkok. Oleh sebab itu, bila seorang anak yang berani melanggar "Hauw" akan menerima kutukan seumur hidup. Di samping cercaan masyarakat juga reaksi dari roh-roh luhur akan menghantui si pelanggar sampai menjadi gila. Karena itu, jarang sekali di antara mereka ada yang berani melawan "Hauw" ini, apalagi kalau berupa pesan terakhir dari orang tua sendiri. Bagi mereka, pesan itu amat berpetuah dan Siu Li yang terpengaruh oleh kebudayaan ini mulai goyah perasaannya.

Memang betul Yap-goanswe adalah pemuda yang amat dicintainya, namun pertemuannya dengan pemuda itu terjadi setelah dewasa. Padahal untuk menjadi dewasa ini dia harus melalui orang tua dan kalau tidak ada ayah ibunya, mustahil ia dapat berjumpa dengan jenderal muda ini. Oleh sebab itu, dengan adanya pikiran ini mulailah Siu Li menjadi gelisah. Perang batin yang amat hebat berkecamuk di dalam hatinya. Di satu pihak rasa "Hauw" menuntut baktinya, sedangkan di lain pihak perasaan cinta kasihnya terhadap pemuda itu menolak keras.

Siu Li menggigil, dan gadis ini gemetar dengan muka pucat sekali. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada saat itu. Digencet dua macam perasaan yang sama-sama kuat begini ingin rasanya ia menjerit-jerit minta mati. Mati! Kata-kata ini berkelebat di benaknya seperti kilat menyambar dan begitu ingat, tiba-tiba Siu Li mencabut pedangnya.

“Sratt...!” Bu Kong terkesiap melihat sinar kehijauan ini dan perasaan pemuda itu benar-benar terguncang ketika dia melihat gadis itu maju menghampiri. Tentu saja pemuda ini terkejut dan rasa nyeri menusuk hatinya. Bu Kong mengeluh dan pemuda itu berdiri tertegun dengan mata terbelalak. Dilihatnya air mata membanjir di kedua pipi yang halus itu dan Bu Kong merasa seperti disayat. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan kekasihnya ini. Akan tetapi, dengan pedang di tangan kini maju menghampiri baginya sudah cukup jelas untuk mengetahui apa yang hendak dilakukan gadis itu.

Oleh sebab itu, dengan muka pucat pemuda ini menanti tegang. Kalau Siu Li telah mengambil keputusan, maka diapun juga sudah mengambil keputusannya sendiri. Telah bulat tekad di hatinya, bahwa kalau gadis itu benar-benar hendak membunuhnya, dia akan menyerahkan nyawa dengan penuh kerelaan. Akan tetapi, bukan sebagai pemasrahan diri dari pengorbanannya terhadap Panglima Ok, melainkan sebagai pemasrahan diri dari cinta kasihnya terhadap gadis itu yang hendak dibebaskannya dari himpitan batin!

Dengan adanya keputusan ini, Bu Kong menjadi tenang dan ketegangan hatinyapun berangsur-angsur lenyap. Sudah cukup banyak gadis itu menderita untuknya, maka kalau sekarang dia membalas gadis itu dengan pengorbanan jiwa, agaknya sudah cukup memadai. Oleh sebab itu, Bu Kong menanti dengan sikap tenang dan pemuda inipun lalu memejamkan matanya dengan hati perih.

Bagi pemuda ini, mati pada saat itu untuk membebaskan kekasihnya dari tekanan batin dianggapnya sebagai sesuatu yang layak. Dan dia tidak ingin menambah penderitaan gadis itu lagi. Dengan demikian, dia memasrahkan semua yang terjadi dengan penuh kerelaan. Terlalu banyak dia membuat susah kepada kekasihnya itu, maka dia sudah tidak ingin menambah dosa. Bahkan buntungnya lengan Siu Li pun sebenarnya adalah gara-gara dia juga.

Oleh sebab itu, dengan mulut tersenyum getir jenderal muda ini menantikan datangnya tusukan maut, namun yang ditunggu ternyata tidak datang-datang. Lama sekali dia menunggu, dan akhirnya dia mendengar isak tangis di depannya. Tentu saja pemuda ini merasa heran dan ketika dia membuka mata, dilihatnya gadis itu sesenggukan dan menyodorkan gagang pedang di atas dadanya sementara ujung pedang diarahkan ke dada sendiri!

“Li-moi....!” Bu Kong berseru kaget dangan mata terbelalak, akan tetapi, Siu Li tidak merobah posisi pedangnya. Dan sementara pemuda ini bengong, gadis itu sudah berkata dengan air mata bercucuran.

“Yap-koko, bunuhlah aku.... bunuhlah aku dan bebaskan segera dari himpitan batin ini. Aku tidak kuat menahan, koko.... aku tidak kuat menahan... dan kalau kau tidak membunuhku, aku tentu akan menjadi gila. Koko, kasihanilah aku... terimalah pedang ini dan cepat bunuhlah aku, jangan biarkan aku menjadi gila... koko....!”

Siu Li terhuyung-huyung dan wajah yang pucat itu tampak mengharukan sekali. Bu Kong menyeringai dan pemuda itu mengeluh tertahan. Sama sekali dia tidak mengira bahwa dialah yang bakal disuruh membunuh, bukannya dia yang dibunuh! Maka tentu saja kejadian ini membuat pemuda itu terkesima dan sejenak dia tertegun.

Akan tetapi, kejutan ini hanya sebentar saja menguasai diri jenderal muda itu karena akhirnya, dengan suara menggelegar, pemuda ini berkata, “Li-moi, pedang telah kau pegang, kenapa berhenti di tengah jalan? Aku rela mati di tanganmu Li-moi, demi pelaksanaan tugasmu terhadap orang tua. Akan tetapi, ingatlah, pengorbananku bukan untuk mendiang ayahmu itu, melainkan untuk dirimu sendiri! Oleh sebab itu, untuk menebus semua dosa-dosaku yang telah membuat hidupmu menderita, baliklah pedang itu dan tusukkan ke dadaku...!”

Bu Kong menyambut pedang itu dan menyodorkan gagangnya ke tangan Siu Li, dan gadis ini mengeluh. “Yap-koko, demikian kejikah hatimu? Demikian butakah perasanmu sehingga tidak tahu gejolak batinku? Tidak. Yap-koko... tidak...! Akulah yang bersalah, akulah yang berdosa, dan aku rela menyusul ayah. Yap-koko, aku tidak dapat membunuhmu, akan tetapi, akupun juga takut kutukan roh leluhur. Maka bunuhlah aku, koko... bunuhlah...!”

Siu Li menjerit dan kembali menyodorkan gagang pedang ke tangan pemuda itu, namun, kali ini Bu Kong tidak mau menerima dan wajah gadis itu mendadak jadi beringas. Dengan muka mengerikan dan rambut riap-riapan, Siu Li memandang jenderal muda itu dan dari kerongkongannya tiba-tiba keluar lengking lirih seperti kucing marah. Agaknya, guncangan batin yang amat hebat membuat gadis ini tergetar syaraf otaknya dan sekonyong-konyong dia terkekeh.

“Hi-hi-hikk, Yap-goanswe, kau hendak membuat aku gila tanpa kesudahan? Begitukah? Ah, jenderal keji, kalau kau memang minta mati di tanganku, baiklah, terimalah ini....!”

Gadis itu membentak nyaring dan sekali tangannya bergerak, pedang bersinar kehijauan itu menyambar ganas. Bu Kong terkejut, bukan kaget oleh menyambarnya pedang, melainkan terkejut oleh watak gadis itu yang tiba-tiba seperti orang gila. Hal ini di luar perhitungannya, maka, tentu saja dia merasa menyesal. Akan tetapi, karena pedang sudah berkelebat dan diapun berduka melihat keadaan yang semakin memburuk, pemuda ini pasrah dan tepat ujung pedang menyentuh kulit dadanya, Bu Kong berseru nyaring.

“Li-moi, kutunggu kau di akhirat...”

Teriakan ini dibarengi dengan pandangan mata yang amat mesra dan Siu Li tampaknya tersentak. Getaran sinar mata itu rupanya sempat mengusir kegilaannya dalam sedetik karena tiba-tiba gadis ini memekik tertahan seperti orang kaget. Namun, karena pedang sudah digerakkan cepat, maka gadis ini tidak mampu mencegahnya. Apalagi getaran syaraf tadi membuatnya menyerang sungguh-sungguh, maka Siu Li tidak dapat mengendalikan diri.

“Cepp....!” pedang itu menusuk dada dan darah menyemprot dari luka disusul keluhan Bu Kong yang roboh terjengkang. Siu Li terbelalak, dan gadis ini tiba-tiba menjerit histeris. Darah di ujung pedangnya itu tiba-tiba membuat gadis ini sadar dan begitu tahu bahwa dia telah menikam kekasihnya, Siu Li memekik seperti disambar petir.

“Yap-goanswe... Yap-koko....! Kau... mati...? Aduh, Thian Yang Maha Agung, apa yang telah kulakukan ini? Ah, tidak.... tidak.... ayah, kau kejam! Kau keji! Kau memerintahkan aku membunuh orang yang tidak berdosa....! Ah, Yap-koko ampunilah aku... maafkanlah aku dan jangan tinggalkan aku pergi. Yap-koko, aku ikut... aku ikut...!” Siu Li tiba-tiba memekik kalap dan berbareng dengan teriakannya itu, gadis ini menggerakkan pedang menusuk perut sendiri.

“Bless....!” Siu Li mengeluh dan senjata itu amblas didalam perutnya, membuat luka yang dalam, sementara tubuhnya terhuyung-huyung roboh. Sejenak gadis ini terbelalak dan menyeringai menahan sakit, kemudian dengan suara serak ia memanggil-manggil nama kekasihnya, lalu mendekati pemuda itu dan ambruk di atas dadanya.

Siu Li mengerang, dan dengan napas terengah-engah gadis ini memeluk wajah kekasihnya dengan muka pucat. Kemudian, pada saat tubuhnya mulai berkelojotan, ia mencium bibir Bu Kong dan bersamaan dengan rintihannya yang terakhir, puteri Panglima Ok yang bernasib malang itu menghembuskan napasnya dengan mulut menyeringai. Dunia menjadi gelap dan peristiwa di lorong bawah tanah inipun berakhirlah. Keadaan kembali sunyi seperti sedia kala dan lima sosok tubuh itu bergelimpangan penuh darah. Tragis memang, akan tetapi, itulah kejadiannya.

Dan tidak lama setelah sepasang kekasih itu mengalami lakonnya, dari luar berkelebat sebuah bayangan putih yang gerakannya seperti iblis. Seorang laki-laki telah berdiri di situ, dan orang ini tampak tertegun. Seruan lirih meluncur dari mulutnya dan sejenak orang ini berdiri mematung. Akan tetapi, sukar untuk mengetahui apa yang sedang dirasakannya pada saat itu karena wajah yang terbungkus kabut ini tampak membisu. Dan para pembaca yang melihat ciri-ciri pendatang itu pasti mengenal siapa dia. Benar, kakek ini bukan lain adalah Bu-beng Sian-su sendiri yang selalu mengikuti jejak Bu Kong.

Kini, setelah manusia dewa itu melihat lima sosok tubuh yang membujur di lantai dalam keadaan mengerikan itu, kakek ini cepat membungkukkan tubuhnya memeriksa. Dan setiap kali lengannya menyentuh mayat yang sudah dingin, kakek ini selalu mengeluarkan puja-puji memanjatkan doa. Satu-persatu lima orang itu telah diperiksanya dan ketika tiba giliran Yap-goanswe yang diraba urat nadinya, kakek ini tampak melenggong. Mengapa? Karena dari lima orang itu ternyata yang masih hidup justeru adalah pemuda ini!

Sungguh di luar dugaan, dan para pembaca mungkin juga merasa heran. Bagaimana bisa terjadi keajaiban itu? Barangkali demikian Anda bertanya, akan tetapi itulah kenyataannya, para pembaca. Yap Bu Kong masih hidup! Hal ini mungkin perlu mendapat penjelasan karena justeru kejadian inilah yang merupakan kunci dari sebait syair Bu-beng Sian-su.

Seperti kita ketahui, Siu Li telah menusukkan pedangnya ke jantung pemuda ini akibat guncangan hatinya yang terlampau hebat. Namun, ketika jenderal muda ini mengeluarkan getaran sinar kasihnya melalui pandang mata, sedetik guncangan Siu Li menjadi tenang, dan ketenangan inilah yang membuat gadis itu terkejut sehingga pedangnya bergetar dan menyeleweng satu senti di sebelah kanan jantung kekasihnya. Kejadian ini memang sekejap, namun toh telah merobah ancaman maut yang nyaris merenggut jiwa pemuda itu.

Akan tetapi, karena Bu Kong sendiri juga sedang dilanda duka yang berat maka tusukan itu tetap saja membuatnya roboh. Hanya bukannya roboh tewas, melainkan roboh pingsan. Dan Siu Li yang tidak mengetahui hal ini, mengira pemuda itu telah terbunuh dan untuk menebus penyesalannya, gadis itupun lalu bunuh diri. Sungguh sayang!

Inilah para pembaca, hal yang sesungguhnya terjadi. Dan memang terdapat sesuatu yang di luar dugaan pada peristiwa itu. Kalau saja Siu Li tahu bahwa Bu Kong tidak tewas, mungkin gadis ini tidak sampai mengorbankan diri menyerahkan nyawanya. Namun, nasi telah menjadi bubur dan tahukah Anda apa sebab UTAMANYA?

Pertanyaan ini perlu diajukan dan jawabannya terletak pada baris keempat dari syair ini. Dan untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita bahas lebih dahulu. Pertama-tama, Anda telah melihat dari awal ceritera hingga akhir kejadian ini betapa Yap-goanswe telah menjalin cinta kasihnya bersama Siu Li. Terdapat lika-liku yang rumit sekali membayangi sepasang muda-mudi itu, karena dari pihak Ok-ciangkun mati-matian menolak maksud anak gadisnya ini.

Akan tetapi, karena Siu Li sendiri melihat betapa ayahnya memang amat keterlaluan dan jahat, gadis ini tetap nekat untuk melanjutkan hubungannya dengan jenderal muda itu yang semakin lama bahkan semakin dikagumi dan dicinta. Dan untuk ini, dia berani menentang panglima itu yang dianggapnya berada pada pihak yang salah. Perbuatan-perbuatan ayahnya yang keji terhadap Yap-goanswe diam-diam membuat Siu Li mengeluh. Apalagi ketika ayahnya memfitnah pemuda ini dan bergabung dengan manusia iblis manusia iblis macam Cheng-gan Sian-jin!

Semua kejadian ini membuat gadis itu berputus asa untuk menyadarkan ayahnya yang sesat, dan di dalam hatinya mulailah terjadi konflik batin yang kian menjadi. Dan akhir dari kekecewaan itu kemudian meledak ketika gadis ini melarikan diri dari gedung ayahnya dan bersembunyi di Lembah Bambu Kuning.

Itulah peristiwa beberapa bulan sebelumnya, di mana Bu Kong justeru sedang mengalami penderitaan yang sehebat-hebatnya karena dipermainkan Lie Lan dan gurunya. Kekejian guru dan murid ini akhirnya didengar juga oleh Siu Li, dan tentu saja gadis itu marah sekali. Terpaksa dia kembali ke kota raja untuk menolong, namun ternyata pemuda itu telah dibebaskan oleh Malaikat Gurun Neraka.

Hal ini membuat Siu Li prihatin, apalagi ketika mendengar kekasihnya luka keracunan! Dan secara kebetulan sekali di tengah jalan, ia melihat Pek Hong membawa pemuda itu ke Ang-bhok-san, maka diapun mengikuti secara diam-diam sampai akhirnya ia turun tangan untuk menundukkan Dewa Monyet yang berlaku ugal-ugalan. Cinta kasih Pek Hong terhadap jenderal muda itu membuat Siu Li merintih di dalam hati dan gadis ini bertekad untuk membiarkan pasangan yang dianggapnya lebih setimpal itu menjalin hubungan. Dia adalah anak seorang panglima jahat, maka sudah sepantasnya dia tahu diri.

Siapa sangka, pemuda ini justeru mengejarnya sampai di dalam hutan ketika ia membenturkan diri ke pohon raksasa. Karena memang dirinya merindukan pemuda itu dan Bu Kong sendiri tampaknya tidak suka terhadap murid Ta Bhok Hwe-sio tersebut, hati Siu Li menjadi luluh kembali dan harapannyapun timbul. Kebijaksanaan pemuda itu di saat terakhir dalam hutan dahulu benar-benar mengesankan hatinya. Masih terngiang di telinganya ucapan pemuda ini betapa semua kesalahan-kesalahan ayahnya akan dihapus kalau mereka telah menjadi suami-istri. Ayahnya memang jahat akan tetapi, pemuda itu ternyata mau mengalah dan betapa berbudi watak seperti itu.

Tentu saja semua kenang-kenangan ini membuat Siu Li terharu dan karena kekasihnya bersungguh-sungguh, akhirnya timbul ketekadan hati yang sama-sama bulat di antara mereka berdua. Sudah terdapat keputusan yang tak dapat diganggu gugat oleh siapapun untuk melangsungkan niat perjodohan itu, dan masing-masing pihak yang sudah sama-sama punya "mau" inilah yang oleh Bu-beng Sian-su dikatakan dalam syairnya pada baris pertama dan kedua, yakni: “Aku punya mau... dan, Diapun punya mau...” itu.

Sampai di sini, para pembaca, Anda lihat bahwa keteguhan serta tekad yang demikian keras dari sepasang kekasih ini memang tampaknya tak dapat dicegah lagi. Boleh dikatakan bahwa maksud perjodohan itu sudah 99 % berhasil karena baik orang tua menerima ataupun menolaknya, Bu Kong dan Siu Li tetap akan menjadi suami istri. Dan inilah perhitungan mereka, perhitungan manusia pada umumnya.

Dan memang tidak dapat kita sangkal, bahwa siapapun yang menghalangi, agaknya tetap akan sia-sia belaka. Dua orang muda-mudi ini telah merupakan orang-orang “nekat”, maka biar iblis sekalipun tidak mungkin dapat menggagalkannya. Oleh sebab itu, usaha yang sungguh-sungguh ini memang tampaknya pasti berhasil. Bu Kong dan Siu Li telah mengambil keputusan terakhir, yakni apabila pihak orang tua menolak, baik itu Panglima Ok maupun Takla Sen-jin sendiri, mereka akan minta tolong kepada para nikouw atau hwe-sio untuk meresmikan perjodohan ini. Dan apabila hal itu sampai terjadi, baik Malaikat Gurun Neraka maupun Ok-ciangkun sendiri mau tidak mau harus "menyerah".

Nah, inilah puncak dari dua hati yang sudah saling bersatu padu itu dan siapapun mencegah mereka pasti gagal. Hal inipun sudah diperhitungkan Bu Kong dan pemuda ini merasa yakin akan keberhasilannya. Kalau ada yang dapat memisahkan mereka dalam perjodohan di dunia ini, dialah Dewa Kematian yang memiliki kekuasaan tunggal. Akan tetapi, seperti yang pernah mereka ucapkan sebagai sumpah dahulu di dalam hutan, Dewa Kematianpun tidak akan dapat memisahkan mereka. Gagal menikah di dunia "sini" biarlah menikah di dunia "sana". Itulah tekad mereka!

Akan tetapi, satu hal penting yang amat pokok sekali telah dilupakan oleh jenderal muda ini, yakni adanya faktor lain yang "dilupakan" oleh hampir sebagian besar manusia. Dia menganggap, kalau dia bersama kekasihnya telah sama-sama punya "mau", biar iblispun tidak dapat menahan mereka. Dan ini barangkali benar. Akan tetapi, para pembaca, gara-gara "melupakan" faktor ketiga itulah jenderal muda ini tergelincir!

Bu Kong menganggap, bahwa kalau dia dan Siu Li sudah suka sama suka dan masing-masing telah sama-sama "mau" untuk menjadi suami isteri, maka hal itupun bakal terjadilah! Dan seperti yang mereka ikrarkan sendiri, tidak jadi suami isteri di dunia "sini" biarlah jadi suami isteri di dunia "sana". Mereka lupa, para pembaca, bahwa meskipun masing-masing sudah sama punya "mau", namun kalau TUHAN JUGA PUNYA MAU lain dengan "mau"-nya mereka, dua orang itu harus tunduk! Harus menyerah!

Nah, inilah faktor ketiga yang dimaksudkan Bu-beng Sian-su itu. Anda lihat, para pembaca, betapa usaha yang demikian mati-matianpun dari sepasang kekasih itu terpaksa harus gagal! Padahal kalau kita lihat, Bu Kong dan Siu Li telah nekat untuk hidup bersama di tempat terasing jika orang-orang tua menolak. Dan betapa Siu Li yang ingin memenuhi ikrarnya sebagai isteri di dunia "sana", juga harus kandas di tengah jalan karena pemuda yang disangkanya tewas ttu ternyata tidak terbunuh.

Kalau sudah begini, para pembaca, apakah sebab utamanya? Bukan lain adalah faktor ketiga itulah, yakni karena TUHAN JUGA PUNYA MAU! Dan di sini, dengan menyesal sekali terpaksa dua orang muda-mudi itu harus melihat kenyataan. Mereka boleh mati-matian memperjuangkan hak mereka untuk menjadi suami isteri, akan tetapi, kalau Tuhan menentukan lain maka merekapun harus menyerah. Inilah para pembaca, satu kenyataan hidup yang harus kita sadari sungguh-sungguh. Hanya kalau "Aku punya mau...diapun punya mau.... dan Tuhan juga punya mau" yang sejalan, barulah keberhasilan yang Anda peroleh. Sebaliknya, kalau Anda dan dia punya "mau" yang sama, akan tetapi, berlawanan dengan Tuhan punya "mau", maka seperti keadaan Yap-goanswe itulah yang kita terima!

Dan hal ini bukan hanya terjadi dalam perjodohan saja. Tidak, bahkan hampir melanda seluruh persoalan hidup. Baik itu perjodohan, perdagangan, politik, kejadian-kejadian di dalam rumah maupun di luar rumah, peristiwa antar keluarga, antar kampung, bahkan juga antar negara! Semuanya ini bisa saja terjadi, baik itu yang menyangkut kegagalan ataupun keberhasilan. Baik itu menyangkut perorangan maupun kelompok. Dan hal ini boleh Anda buktikan sendiri dalam kehidupan pribadi Anda. Oleh sebab itu, apabila Anda mengalami keberhasilan, bersyukurlah! Sebaliknya, kalau mengalami kegagalan, bertabahlah!

Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain iri. Beruntung, kita bersyukur, mengalami nasib "sial", kita bersabar. Sudah, hanya itu saja. Dan bagi siapa saja yang sedang "gagal", ingatlah bahwa ini semua adalah karena "Tuhan juga punya mau" akan merupakan semacam obat penawar. Dan hal ini penting sekali, para pembaca, karena ingatan tentang itu dapat menahan diri kita dari perbuatan-perbuatan tercela yang seharusnya tidak perlu kita lakukan.

Mengertilah Anda, para pembaca? TUHAN JUGA PUNYA MAU! Harap Anda camkan kata-kata ini setiap kali Anda menerima kegagalan maupun keberhasilan. Sebab, hanya karena kemauan-Nya itulah semua terjadi menimpa kita.

Dan ini sungguh-sungguh penting untuk disadari. Dapat melenyapkan kesombongan bagi yang berhasil, dan juga dapat menormalisir kekecewaan atau kedukaan bagi yang gagal. Kenyataan ini perlu kita renungkan bersama dan kita ingat pada saat peristiwa-peristiwa penting menimpa kita. Saya sengaja menonjolkan kegagalan pemuda itu daripada keberhasilannya, karena pada umumnya sudah menjadi watak kita untuk lebih kuat mengingat-ingat penderitaan daripada kesenangan.

Dan penderitaan yang amat berat acap kali bahkan tercetak di alam bawah sadar pikiran kita. Dan pukulan begini dapat membuat kita mengalami semacam "shock", membuat kekecewaan yang amat sangat sehingga tidak jarang lalu terjadi kejahatan-kejahatan akibat tidak adanya "obat" mujarab buat menyembuhkan penyakit jiwa itu.

Dan kini para pembaca, mudah-mudahan dengan adanya kenyataan bahwa di samping Anda dan teman Anda punya mau... baik itu isteri, suami, kekasih, partner, anak atau apapun adanya sekutu Anda... harap Anda ingat bahwa selama Anda berdua punya mau, Tuhan juga punya mau. Kebenaran ini lebih saya tekankan kepada siapa saja yang sedang "sial", karena pengertian tentang "Tuhan juga punya mau" itu akan merupakan obat penawar satu-satunya untuk mengembalikan ketenangan jiwa akibat pukulan batin yang diderita.

Oleh sebab itu, peristiwa-peristiwa pahit yang kita terima dalam hidup, tidak sampai membuat kita berlarut-larut tenggelam dalam arus kedukaan. Pengertian ini akan membuat kita merasa "enteng" pada saat penderitaan menimpa kita. Dan hal ini tidak sama dengan orang yang "menerima nasib". Oh, berbeda sekali, para pembaca, sungguh berbeda! Bagi orang yang menerima nasib, batinnya masih tertekan, masih terhimpit dan sewaktu-waktu ada kesempatan, mungkin akan meledak dalam pelampiasan dendam.

Akan tetapi, orang yang sadar akan pengertian "Tuhan juga punya mau" itu, akan menerimanya dengan perasaan lain, yang berbeda dengan orang yang "menerima nasib". Mengapa? Karena orang yang mengerti tentang hal ini hatinya jauh lebih lapang pada saat menerima "kesialan" itu daripada yang menerima nasib. Tidak ada penasaran lagi di dalam batinnya karena semua arang-arang hitam yang menggores papan batin, dihapuskan oleh pengertian akan adanya kenyataan itu. Dan pengertian berarti membuka kesadaran, dan justeru hal inilah yang saya maksudkan, yakni membuat kita bersama lebih sadar lagi tentang kehidupan.

Sesungguhnyalah, duka lebih banyak melanda manusia daripada suka (akan tetapi sebenarnya tidak! Dan untuk ini dalam kesempatan berikutnya Bu-beng Sian-su akan membuktikannya kepada Anda), dan manusia yang lemah, seringkali tidak dapat menguasai keseimbangan jiwanya sehingga ia meledak dalam kegelapan, merusak diri semakin parah dan hancur berantakan menyeret manusia-manusia lainnya. Hal ini perlu kita bendung dan mudah-mudahan dengan kupasan syair-syair berikutnya dari manusia dewa itu, kita bersama dapat menikmati hidup dengan lebih baik lagi.

Para pembaca yang budiman, sampai di sini sebenarnya kunci tentang sebait syair Bu-beng Sian-su telah selesai. Namun saya telah meloncat ke baris nomor empat, dan tentunya Anda bertanya-tanya tentang baris ketiga, bukan? Baris ketiga isinya tiada lain menunjukkan "kelupaan" manusia pada umumnya dan kalau Anda ingin tahu. baiklah saya pasang selengkapnya ayat itu. Inilah dia:

"Aku punya mau....!
Diapun punya mau....!
Akan tetapi kita sering lupa bahwa...!?!?
TUHAN JUGA PUNYA MAU!!"


Nah, inilah para pembaca, isi selengkapnya dari kalimat-kalimat ganjil itu. Bagaimana menurut pendapat Anda? Tidak benarkah? Kalau Anda orang yang betul-betul beragama, saya yakin bahwa Anda dan saya sependapat, yakni jawaban itu memang BENAR!

Bukankah demikian? Saya harap begitulah. Dan kalau Anda sekarang ingin mengetahui cerita selanjutnya tentang Yap-goanswe, maka marilah kita kembali sebentar. Sama seperti apa yang telah saya uraikan di atas. Bu-beng Sian-su juga memberikan wejangan-wejangannya kepada jenderal muda ini. Kakek ini telah mengobati luka Bu Kong dan berkat kesaktiannya yang tinggi, akhirnya pemuda itupun sadarlah.

Dan dapat dibayangkan betapa kagetnya Bu Kong melihat dia ternyata masih hidup dan kekasihnyalah yang tewas! Tentu saja hal ini membuat pemuda itu terpukul bukan main dan kalau saja dia tidak berkali-kali menerima pukulan batin, agaknya jenderal muda ini bakal roboh pingsan untuk yang kedua kalinya. Untunglah, Bu-beng Sian-su cepat membantu dan dengan sentuhan lembut di atas kepala pemuda itu, kakek ini mampu menyalurkan kesaktiannya memperkuat batin murid Malaikat Gurun Neraka itu. Apalagi Bu Kong sendiri juga memiliki sin-kang kuat, maka cepat pemuda inipun dapat menekan guncangan batin yang dialaminya.

Sejenak dua orang itu berdiri berhadapan, dan Bu Kong merasakan suatu kehangatan aneh menjalar dari tubuh kakek dewa ini. Perlahan-lahan Bu-beng Sian-su menarik napas panjang, lalu ucapan pertamanya yang ditanyakan adalah: “Suratku masih kau simpan?”

Bu Kong tertegun, lalu mengangguk dengan pikiran penuh tanda tanya. Dan ketika kakek itu memintanya, cepat diapun memberikan. Tampak kakek ini tersenyum lembut dan beberapa kali kuku jarinya bergerak di atas "surat" itu diapun lalu mengembalikannya kepada pemuda ini. Bu Kong menerima dan begitu dia membaca baris ketiga dan keempat yang kini sudah terisi, tanpa terasa pemuda itupun mengeluarkan seruan tertahan.

Sejenak matanya terbelalak dan jenderal muda ini kembali dibuat guncang. Akan tetapi, kalau kematian Siu Li boleh diibaratkan dia guncang ke kiri, maka surat Bu-beng Sian-su itu membuatnya guncang ke kanan. Akibatnya, dalam beberapa waktu saja Bu Kong menjadi "pulih". Memang singkat empat baris itu, namun baginya sungguh merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah. Semua peristiwa dirinya tercakup di situ, bahkan lama-lama pemuda inipun merasa bahwa segala kejadian besar di dunia, juga bersumber kepada empat baris kalimat itu!

Tentu saja dia terkejut dan sementara pemuda ini bengong, Bu-beng Sian-su tertawa lirih. Kakek itu tampak gembira melhat betapa dalam waktu sekejap saja Bu Kong dapat mengerti akan inti sari dari sebait syair tersebut. Dan hal ini tidak aneh karena pemuda itulah yang langsung menjadi titik sasaran utama.

Oleh sebab itu, dengan wajah berseri kakek inipun lalu berkata, “Anak muda, dapatkah kau menangkap kebenaran dalam kalimat-kalimat ini?”

Bu Kong mengangguk dan cepat pemuda ini menjatuhkan diri berlutut. “Sian-su, apa yang kau berikan kepadaku sungguh amat mengejutkan. Akan tetapi, dapatkah kedukaan serta kekecewaan ini terhapus begitu saja? Sian-su, hatiku masih tersayat dan biarpun kebenaran telah Sian-su tunjukkan kepadaku, namun hal ini tidak mungkin dapat menyembuhkannya dalam waktu sekejap.”

Kakek itu tersenyum. “Yap-goanswe, siapa bilang empat baris kalimat itu akan menyembuhkan luka hatimu dalam sekejap? Aihh, anak muda, tidak ada obat yang sekarang ditelan lalu sedetik kemudian sembuh. Tidak, bukan begitu maksudku, malah seharusnya juga tidak demikian. Obat apapun yang dimakan, harus dicerna dahulu dan baru kemudian membaur dalam sel-sel darah. Begitu pula dengan empat baris kalimat itu. Dia telah merupakan "obat" pelepas duka, akan tetapi, karena diapun juga harus membaur di dalam hatimu perlahan-lahan, maka kesembuhanpun akan kau peroleh lama atau tidak, inilah tergantung pada tinggi rendahnya pengertian yang kau serap tentang kenyataan itu. Semakin tinggi pengertianmu, tentu semakin lekas pula kau sembuh, dan begitulah yang kuharapkan. Mengertikah kau, anak muda?”

Bu Kong tak dapat membantah. “Sian-su, apa yang kau katakan memang tepat. Dan untuk ini teecu hanya dapat mengucapkan banyak terima kasih yang terhingga. Akan tetapi, dapatkah Sian-su memberikan saran-saran lebih lanjut tentang apa yang harus teecu lakukan?”

“Hemm, apa yang kau maksudkan dengan saran-saran itu, Yap-goanswe? Bagiku, tidak ada saran lain yang kiranya perlu kuberikan lagi kepadamu. Pengertian telah membuka kesadaran, dan kesadaran akan mengantar pada kebijaksanaan. Hanya ini. Untuk apa saran-saran lagi? Tidak, anak muda, asal kau selalu membuka mata dan telinga batin dalam menghadapi setiap peristiwa, maka saranpun sebenarnya tidak berguna untukmu. Orang yang sudah mengerti tidak perlu diberitahu, bukan? Nah, inilah sebabnya. Akan tetapi, kalau kau maksudkan sebagai petunjuk di masa depanmu, maka lebih baik lepaskan kedudukanmu yang sekarang ini agar kau dapat hidup lebih tenang. Hal ini bukan berarti lalu kau sama sekali tidak memperoleh kesulitan, bukan itu. Akan tetapi, kulihat bahwa kalau kau masih memimpin pasukan memerangi lawan, kehidupan pribadimu akan semakin berat. Dan tentang kekasihmu itu, harap lupakan dia. Anggaplah ini sebagai gemblengan hidup yang amat berguna untuk mematangkan jiwa. Sesungguhnyalah, emas telah berada di dalam genggaman tanganmu sendiri, namun kau masih mencari tembaga di luar. Aih, anak muda, bukankah ini sayang sekali? Dan mengertikah kau apa yang kumaksudkan?”

Bu Kong menggelengkan kepalanya lemah. “Sian-su, dalam keadaan hati kusut begini bagaimana teecu dapat meraba ucapan Sian-su yang penuh teka-teki? Tidak Sian-su, teecu sama sekali tidak paham dan kalau Sian-su suka, bolehlah katakan kepada teecu sekarang juga.”

Kakek ini menarik napas panjang. “Anak muda, bukannya aku pelit memberikan jawaban. Akan tetapi, sesuatu yang berharga memang harus dicari perlahan-lahan sehingga barulah harganya itu tampak. Kalau kau belum mengerti, biarlah kelak kau temukan sendiri dan hal inipun kurasa tidak lama. Nah, masih adakah yang hendak kau ajukan?”

Pemuda itu termenung. Dalam keadaan masih terpukul begini sesungguhnya dia seolah-olah kehilangan semangat, maka diapun tak tahu apa yang hendak dibicarakan. Empat baris kalimat dalam syair Bu-beng Sian-su itu telah mencakup semua jawaban baginya, maka apalagi yang hendak ditanyakan?

Bu-beng Sian-su tersenyum maklum. “Yap-goanswe, kalau tidak ada nasihat lagi yang perlu kuberikan, baiklah aku pergi dulu. Tugas masih banyak menantimu dan tentang saranku tadi, biarlah kau pikirkan masak-masak, semuanya terserah dirimu sendiri. Oleh sebab itu, ijinkan aku pergi dulu dan selamat tinggal....!”

Bu-beng Sian-su berseru lirih dan sekali lengan bajunya dikebutkan kakek itupun berkelebat lenyap dalam sekejap saja. Bu Kong termangu-mangu, dan semua mutiara kata dari manusia dewa itu terngiang di telinganya. Diam-diam perasaannya menjadi getir dan pandang matanya yang suram itu tampak tidak bergairah.

Peristiwa yang amat penting dalam hidupnya ini benar-benar menggores batinnya, dan pemuda ini tersenyum pahit. Betapa beratnya hidup. Betapa beratnya percobaan yang harus dilalui manusia. Namun, bukankah itu semua merupakan "bumbu" untuk mematangkan watak seseorang? Bu Kong menarik panjang dan akhirnya dengan mata basah pemuda ini mengangkat jenazah kekasihnya dan keluar dari lorong bawah tanah.

* * * * * * * *

Kemenangan Yueh kali ini memang patut disambut dengan penuh kegembiraan karena Wu-sam-tai-ciangkun, orang yang amat mereka benci itu sekarang telah tewas. Tiga panglima setan itu telah tiada lagi dan mereka merasa lega. Dengan demikian, harapan untuk hidup tenang agaknya akan dapat dicapai. Bekas-bekas pertempuran sengit telah mereka bersihkan, dan pada malam harinya, pasukan besar itu lalu mengadakan pesta kemenangan. Semuanya bergembira, semuanya tampak bahagia. Akan tetapi, hanya Yap-goanswe yang tidak seperti mereka.

Wajah jenderal muda ini masih pucat, dan sebuah goresan kecil mengeriput di dahinya. Dia tidak dapat bergembira seperti anak-anak buahnya, karena kedukaan masih menekan batinnya. Oleh sebab itu, sebelum pesta berakhir diapun sudah masuk ke kamar tidurnya beristirahat. Nasihat Bu-beng Sian-su terulang di benaknya, dan diam-diam perasaannya menjadi kecut.

Manusia dewa itu sungguh luar biasa, dan semua kata-katanya mengandung arti yang tidak dapat diremehkan begitu saja. Sarannya agar dia melepaskan jabatan memang disetujuinya. Bu Kong melihat betapa perang telah mengakibatkan dirinya mengalami pukulan batin hebat, dan ini masih belum terhitung dengan korban-korban jiwa dari pasukan yang baku hantam.

Pemuda ini menghela napas panjang. Sebenarnya dia juga sama sekail tidak mengira kalau bakal memimpin pasukan lagi. Dan karena Pangeran Kou Cien telah menyudutkannya sedemikian rupa, terpaksa dia akhirnya menyerah. Akan tetapi, sekarang perjuangan pangeran itu berhasil, dan dia boleh pergi ke mana dia suka.

Oleh sebab itu, satu minggu kemudian pemuda ini menghadap pangeran itu menyatakan maksudnya. Tentu saja Pangeran Kou Cien terkejut, dan membujuk pemuda itu agar tetap bersama mereka. Namun, Bu Kong menolak. Hatinya sudah bulat dan dia tidak mau dihalangi.

Pangeran Kou Cien akhirnya hanya dapat menarik napas penyesalan dan semua orang yang mendengar berita itupun terkejut sekali. Akan tetapi, karena mereka sama tahu bahwa jenderal muda ini amat keras dalam memegang kata-katanya, maka merekapun tidak dapat mencegah.

Pada malam itu juga Pangeran Kou Cien lalu mengadakan jamuan perpisahan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, dan di dalam pesta yang mengharukan ini, pangeran itu memberikan sebatang pedang mustika sebagai hadiah terhadap Bu Kong. Sebenarnya, pangeran memberikan banyak hadiah lain, seperti emas permata dan barang berharga, namun pemuda itu menolak dan hanya menerima pedang mustika yang bernama Siu-liong-kiam (Pedang Naga Air) itu.

Demikianlah, ketika keesokan harinya matahari telah terbit, jenderal muda yang teiah meletakkan jabatannya ini keluar dari kota raja. Dan di pintu gerbang Utara, empat orang pembantunya bersama Lek Hui berdiri dengan mata basah. Mereka sengaja menanti pemuda itu untuk memberikan hormatnya yang terakhir, maka begitu pemuda ini muncul, lima orang itupun datang menghampiri.

“Goanswe, semoga Thian Yang Maha Welas Asih memberikan kebahagiaan untuk menghapus kedukaanmu,” Fan Li yang telah maju lebih dulu itu memberi hormat dan berkata dengan suara menggetar.

Bu Kong terharu. “Fan-ciangkun, aku sekarang bukan seorang jenderal lagi, harap kau jaga semua anak buah kita baik-baik. Terima kasih atas ucapanmu ini dan mudah-mudahan Thian-pun memberikan berkah-Nya kepadamu.”

Panglima Kok lalu menyusul. “Goanswe, kami tidak dapat memberikan apa-apa kepadamu, selain ucapan selamat berpisah dan semoga Thian selalu melindungimu. Dan untuk kesalahan-kesalahan yang pernah kubuat, harap kau suka memaafkannya. Aku memang orang dogol, dan sesungguhnya dengan engkau di samping kami, kedogolanku dapat dilenyapkan. Siapa duga, tahu-tahu engkau memutuskan untuk meninggalkan kami. Aih, goanswe, memang rupanya ini semua nasib kami yang kurang beruntung....”

Bu Kong tersenyum. “Kok-ciangkun, siapa bilang kau dogol? Justeru kau adalah orang yang jujur dan suka bicara blak-blakan. Kalau kau dogol, tentu pangeran tidak akan sudi mengangkatmu menjadi panglima muda!”

Kok Hun menyeringai masam dan dua orang teman lain lalu juga berturut-turut memberikan hormatnya. Dan karena setiap kali dipanggil "goanswe" selalu pemuda itu memperingatkan bahwa dia sekarang bukan lagi seorang jenderal, maka Lek Hui sebagai orang terakhir maju ke depan sambil menjura.

“Pendekar Gurun Neraka, karena kau sekarang tidak mau disebut jenderal dan hendak menceburkan diri sebagai orang kang-ouw, maka perkenankanlah aku mengucapkan selamat jalan. Semoga Thian selalu melindungimu dalam perjalanan dan pada kesempatan ini pula aku mempersilahkan engkau untuk mampir di tempat suhu apabila kau lewat di Pegunungan Beng-san!”

Bu Kong membalas panghormatan orang. “Auw-twako sungguh ramah. Terima kasih atas undangan ini dan kelak apabila aku lewat di sana, pasti aku akan singgah di tempat gurumu.”

Lek Hui tersenyum gembira. “Pendekar Gurun Neraka, harap kau tidak mengingkari janji. Suhu pasti senang bertemu denganmu dan akupun kelak akan memberitahukan kesanggupanmu ini kepada beliau.”

Bu Kong tersenyum dan setelah mengucapkan beberapa kata lagi, pemuda itupun berpamit dan memutar tubuh meninggalkan mereka. Lima orang temannya memandang sampai pemuda itu keluar dari pintu gerbang dan Fan Li bersama tiga orang temannya berkaca-kaca. Hanya Lek Hui yang wajahnya "berseri" karena raksasa muda yang tinggi besar ini benar-benar merasa girang dapat mencarikan seorang "jago" bagi gurunya untuk melakukan pi-bu!

Demikianlah, setelah keluar dari pintu gerbang Utara itu, Bu Kong lalu melanjutkan perjalanannya ke barat untuk memberikan laporan kepada suhunya sebelum dia mencari Cheng-gan Sian-jin. Akan tetapi, ketika tiba di sebuah tikungan, mendadak Bu Kong tertegun. Seorang gadis baju hijau berdiri menunggunya dengan muka pucat. Tubuh yang kurus serta rambut yang kusut itu benar-benar membuat hati pemuda ini tergetar dan sebelum dia sempat membuka mulut, gadis itu yang bukan lain adalah Pek Hong adanya sudah lari terhuyung-huyung dengan mata basah.

“Yap-koko. kau... hendak kemanakah...?” pertanyaan yang menggetar ini membuat Bu Kong merintih di dalam hati karena dia merasa betapa suara itu terdengar amat memilukan sekali.

Sejenak pemuda ini memejamkan matanya dan ketika dia membukanya kembali, Bu Kong menjawab sambil menggigit bibir. “Hong-moi, aku berjalan menurutkan kakiku melangkah. Mengapa kau tiba-tiba berada di sini?”

Pek Hong terisak. “Yap-koko, aku hendak menyatakan penyesalanku atas semua kejadian yang kau alami gara-gara aku. Dan sekarang, kudengar kabar bahwa kau telah melepaskan diri dari istana. Betulkah?”

Bu Kong mengangguk. “Benar, Hong-moi. Peperangan telah membuat hatiku ikut berdarah, dan kini aku hendak menemui suhu...”

“Kalau begitu, bolehkah aku ikut...?”

Pertanyaan tiba-tiba ini membuat Bu Kong terkejut dengan jantung berdetak kencang. Sedetik mukanya berobah, akan tetapi, cepat dia dapat menekan guncangan ini. Dia tidak tahu, bagaimanakah perasaannya pada saat itu, bergirang ataukah gelisah. Akan tetapi, karena dia tidak ingin menyinggung perasaan gadis itu, maka pemuda ini hanya mengangkat bahu.

“Hong-moi, aku orang sial. Maka aku takut kalau kaupun nanti ikut menerima sial jika bersamaku. Namun, kalau itu sudah menjadi kehendakmu, akupun tidak berani melarangnya...”

Setelah berkata demikian, pemuda itupun lalu membalikkan tubuh dan dengan langkah tenang dia melanjutkan perjalanan. Pek Hong terbelalak, dan sejenak gadis ini terisak. Akan tetapi, setelah ia sadar kembali, gadis itupun lalu mengejar dengan kaki tersaruk-saruk.

“Yap-koko, tunggu aku...! Aku ikut...! Kalau benar aku mengalami nasib sial seperti katamu tadi, biarlah hal itu kuterima...!” Pek Hong berseru dengan air mata berlinang sementara Bu Kong sendiri tersenyum pahit.

Pemuda ini tidak berhenti, juga tidak menoleh. Mereka terus berjalan dan berjalan, mengikuti langkah kaki yang membelok tanpa kendali, dan bersamaan dengan lenyapnya bayangan dua orang itu, ceritera inipun berakhir.

Yap-goanswe telah menarik dirinya dengan resmi dari istana, dan sebagai gantinya muncullah nama Pendekar Gurun Neraka di dunia persilatan. Nama ini disegani kawan dan lawan, apalagi bagi mereka yang sudah mengetahui bahwa pendekar itu bukan lain adalah bekas Jenderal Muda Yap yang gagah perkasa.

Namun, seperti juga putaran bumi sepanjang masa, ceritera inipun sesungguhnya belumlah selesai. Peristiwa demi peristiwa akan dihadapi Bu Kong dan di dalam ceritera berikutnya yang berjudul PENDEKAR KEPALA BATU itulah Anda semua akan kami ajak untuk berjumpa kembali dengan pendekar muda ini.

PENDEKAR KEPALA BATU, inilah judul yang kami ambil untuk memperkenalkannya kepada Anda semua, di mana syair nomor tiga dari kitab pusaka Bu-beng Sian-su akan kami tampilkan. Namun, karena buku ini sendiri sudah terlalu tebal, lebih dari seratus halaman dan yang terpaksa dipecah menjadi dua, maka syair berikutnya tidak saya pasang di sini. Untuk itu, baiklah Anda lihat saja ceritera berikutnya yang pasti lebih menegangkan lagi karena di dalam ceritera Pendekar Kepala Batu mulai muncul jago-jago tua seperti Sin-hwi-ciang yang lolos dari Pulau Iblis Hitam serta Ciok-thouw Taihiap sendiri.

Para pembaca yang budiman, dengan berakhirnya kisah Pendekar Gurun Neraka ini, penulis mengharap mudah-mudahan di samping sebagai hiburan di kala senggang, buku inipun membawa manfaat bagi Anda semua. Mudah-mudahan kita bersama dapat mengenal arti kehidupan dengan lebih baik lagi dan petunjuk-petunjuk dalam kitab pusaka manusia dewa itu yang amat menarik untuk diketahui. Semoga!

T A M A T


Pendekar Gurun Neraka Jilid 20

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 20
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Naraka
DUA orang perwira dari Wu, yakni perwira Song Kiat dan Chi Hun, menjadi marah melihat keragu-raguan yang membayang di wajah anak-anak buahnya. Oleh sebab itu, sambil memekik berang dua orang perwira ini yang duduk di atas kuda masing-masing menerjang ke depan dengan tombak mereka. Belasan perajurit Yueh yang berani menyambutnya, dibuat buyar dan pecah berantakan. Lima orang terpental senjatanya akibat tangkisan tombak yang amat kuat dari dua orang perwira itu, sedangkan tujuh orang yang lain tertikam tombak dan roboh sambil menjerit ngeri.

Hebat tandang dua orang perwira ini, dan pasukan Wu yang menyaksikan sepak terjang pimpinan mereka, menjadi besar hati dan bersorak gembira. Bangkit semangat tempur mereka dan contoh dari dua orang perwira ini menjadikan pasukan ini maju dengan sikap buas.

Maka, terjadilah pertempuran yang lebih seru lagi diantara mereka. Kenekatan pasukan Yueh dihadapi Perwira Song dan Perwira Chi, sementara anak-anak buahnya berteriak-teriak di belakang mereka sambil menyerbu lawan yang lain. Akibatnya, sebentar saja barisan paling depan dari pasukan Yap-goanswe ini semrawut.

Memang sebenarnya mereka itu bukan tandingan Perwira Song maupun Chi, karena mereka adalah perajurit-perajurit biasa. Seharusnya, lawan mereka bukanlah para perwira yang tentu saja kepandaiannya masih dua atau tiga tingkat lebih tinggi. Namun, karena musuh sudah menerjang maka mereka ini terpaksa menghadapinya dengan hati tabah.

Dan memang patut dipuji ketabahan anak-anak buah Yap-goanswe ini. Meskipun tahu bahwa dua orang perwira itu bukanlah tandingan mereka, akan tetapi, orang-orang ini tetap saja menyerbu dengan pekik kemarahan mencoba membalaskan kematian teman-temannya di tangan dua orang perwira itu. Sebentar saja, tiga puluh perajurit Yueh roboh bergelimpangan mandi darah. Dan setiap kali mereka itu roboh, tidak ada yang mengeluh minta ampun. Bahkan, mereka ini mencaci-maki dua orang perwira itu habis-habisan sebelum kepala mereka dibabat senjata perajurit Wu yang marah melihat dua orang pemimpinnya dimaki-maki.

Oleh sebab itu, perwira Song dan Chi yang gemas mendengar caci-maki perajurit Yueh yang memanaskan perut mereka, kini bertindak semakin kejam. Mereka tidak lagi memberi ampun dan setiap kali tombak menyambar, kontan tubuh lawan terjungkal tanpa sempat mengeluh lagi karena jantung mereka pecah tertikam senjata maut di tangan dua orang perwira ini!

Tentu saja hal ini amat menggegerkan pihak pasukan Yueh, dan Panglima Kok Hun yang melihat hal itu marah bukan main. Panglima ini sudah mengangkat penggada besi hitamnya dan siap melompat ke depan, namun tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat dan menyentuh lengannya. Perlahan saja sentuhan ini, akan tetapi cukup membuat panglima tinggi besar ini berseru kaget karena hampir saja senjatanya terlepas dari tangan yang mendadak terasa lumpuh! Cepat panglima ini menoleh dan... Yap-goanswe telah berdiri di situ dengan sinar mata mencorong.

“Goanswe.....!” Kok Hun berseru dan hendak membuka mulut, namun jenderal muda itu mengibaskan lengannya dengan sikap tidak sabar.

“Kok-ciangkun, harap kau pergi ke pintu gerbang sebelah barat. Bantu Panglima Tang dan Ong di sana, cegat Cheng-gan Sian-jin kalau dia keluar. Akan tetapi, awas, jangan hadapi sendirian iblis tua yang amat berbahaya itu. Kalau dia muncul, sebaiknya beri tanda secepatnya kepadaku dan kalian mengepung dari jauh. Nah, sekarang pergilah, biarkan aku yang membereskan dua orang perwira itu dan aku hendak terus masuk mendobrak kekuatan musuh untuk membuka pintu-pintu gerbang yang lain!”

Perintah ini singkat dan Kok Hun tidak berani banyak bicara, apalagi Yap-goanswe sendiri tampaknya tergesa-gesa. Maka, cepat panglima ini memberi hormat dan sekali dia memutar tubuh, Kok Hun telah berlari ke pintu gerbang barat untuk menjalankan tugasnya.

Sementara itu, Bu Kong lalu bersuit nyaring dan dari kemah pusat muncul sekelompok pasukan baju hitam. Inilah pasukan inti yang sejak tadi belum bergerak dan masih berdiri seperti patung di samping kemah, menunggu isyarat panggilan jenderal muda ini. Sekarang, setelah panggilan ini tiba, dua ratus pasukan baju hitam itu bergerak seperti bayangan iblis.

Sebentar saja mereka telah berada di hadapan Jenderal Yap dan empat orang pemimpin regu yang masing-masing bersenjatakan sabit panjang dan trisula, sudah berdiri tegak di depan pemuda itu. Bu Kong memandang mereka dan dengan muka keren jenderal muda ini berkata,

“Su-wi ciang-bu (empat kapten), harap kalian ikuti aku menerobos pasukan musuh dari pintu gerbang utara ini dengan kedudukan Cakar Naga. Kapten Ho di samping kanan, Kapten Liu di samping kiri, dan Kapten Ceng dan Sun di samping belakang kiri kanan. Nah, persiapkan anak-anak buah kalian dengan bentuk yang kumaksudkan dan mari bekerja. Cepat....!”

Begitu suara ini lenyap empat orang kapten yang diperintahkan sudah menyatakan "siap" dan beberapa detik kemudian pasukan baju hitam itu telah memecah diri menjadi empat kelompok. Gerakan mereka cepat, seperti iblis yang gentayangan dan sekejap kemudian terbentuklah kedudukan Cakar Naga seperti yang diminta jenderal muda itu.

Dan Bu Kong sendiri yang tidak mau menunggu lebih lama, sudah menepuk kedua tangannya dua kali berturut-turut memberi tanda dan pemuda ini telah melesat ke depan menghampiri dua orang perwira musuh. Sedangkan pasukan baju hitam lalu bergerak mengikuti jenderal muda itu, merupakan bayangan yang selalu menempel di belakang. Inilah hasil didikan pemuda itu dan gerakan yang amat cekatan dari pasukan ini benar-benar terlatih sekali.

Maka celakalah pihak Wu kali ini, terutama Perwira Song dan Chi yang tadi membabat perajurit Yueh sambil tertawa-tawa itu. Bu Kong yang marah melihat keganasan orang, sudah melompat mendekati dua orang perwira ini. Tangannya dlgerakkan menampar dan tubuhnya berkelebat ke atas kuda. Perwira Song dan Chi terkejut, tidak tahu siapa orang yang menyerang mereka ini. Mereka hanya melihat sebuah bayangan yang luar biasa cepatnya menyambar, maka cepat dua orang perwira itu menggerakkan tombak menangkis sambil berseru keras.

Namun, inilah kesalahan mereka. Kalau saja mereka membanting tubuh dan tidak menangkis, mungkin mereka selamat. Akan tetapi, begitu menangkis, segera tombak mereka patah-patah bertemu dengan tangan yang penuh getaran tenaga sin-kang itu! Hal ini membuat Perwira Song dan Chi mengeluarkan seruan kaget, dan sejenak mereka tertegun. Pada detik itulah mereka melihat wajah lawan yang tersenyum dingin dan bukan kepalang rasa kejut yang dialami dua orang perwira ini.

“Yap-goanswe...!” mereka berteriak tertahan namun semuanya sudah terlambat. Patahan tombak yang mencelat itu tiba-tiba telah menyambar dada mereka dan... "crep-crep!" dua orang perwira ini menjerit ngeri. Tubuh mereka terjungkal dan darah menyemprot dan tempat yang luka.

Perwira Song dan Chi tewas dalam segebrakan saja dan teriakan mereka yang menyerukan nama Yap-goanswe itu membuat anak-anak buahnya menjadi kaget. Cepat mereka menengok dan ketika melihat bahwa betul jenderal muda itu yang datang, pasukan ini berteriak ketakutan dan lari tunggang-langgang seperti ketemu setan!

Akan tetapi, Bu Kong tidak memperdulikan perajurit-perajurit rendahan itu. Bukan maksudnya pula untuk membunuh mereka yang jelas bukan tandingannya. Asal mereka tidak mendekat, tentu diapun juga tidak akan menyerang. Yang diperlukan jenderal muda ini adalah secepatnya memasuki pintu gerbang yang terbuka itu untuk mencari Cheng-gan Sian-jin dan Wu-sam-tai-ciangkun. Terutama datuk sesat itulah yang diincarnya, karena Cheng-gan Sian-jin mengancam keselamatan kekasihnya.

Oleh sebab itu, jenderal muda ini segera berkelebat mendekati pintu gerbang yang pecah dihantam lwee-kang Cheng-gan Sian-jin dan dari sini dia hendak mengobrak-abrik musuh dari dalam bersama pasukan baju hitam yang selalu mengikutinya. Akan tetapi, sungguh mengejutkan. Baru saja dia tiba di pintu utara ini, tiba-tiba terdengar suara "blang-blang-blang" tiga kali disusul dengan suara panik pasukan Wu yang berada di dalam kota. Bu Kong merasa heran dengan adanya kekalutan di dalam dan dari suara tadi dia dapat menduga bahwa agaknya tiga pintu gerbang di bagian Timur, Selatan, dan Barat pecah.

Tentu saja pemuda ini terkejut. Dia pikir mungkin para pembantunya yang menjaga di tiga pintu gerbang disebelah sana menggunakan kereta penumbuk untuk menghancurkan gerbang kota raja yang amat tebal itu. Akan tetapi, kenapa perajurit Wu berteriak-teriak seperti orang kebingungan atau orang marah? Apakah tiga pintu gerbang telah berhasil dijebol para pembantunya?

Jenderal muda ini tidak mengerti dan juga dia merasa aneh mengapa bayangan Wu-sam-tai-ciangkun sama sekali tidak nampak. Bukankah sebagai panglima komando tiga orang itu seharusnya berada di atas menara untuk memberikan perintah-perintah kepada anak buahnya? Apakah mereka sedang berada di tempat lain dan mengatur siasat? Entahlah, pemuda ini tak dapat menjawab. Yang jelas, mengatur siasat pada saat musuh sudah memasuki pintu gerbang begini sebenarnya adalah perbuatan terlambat!

Maka, pemuda itupun tidak mau banyak pikir lagi. Bersama pasukan baju hitam yang kini diikuti oleh semua perajurit yang bersorak gembira di belakangnya, Bu Kong terus maju sebagai pelopor membuka jalan darah. Dan kehadiran jenderal muda ini betul-betul membuat musuh kalut. Mereka tidak berani menghadapi Yap-goanswe yang sakti itu dan di mana pemuda ini melangkahkan kakinya, pasukan lawan lari cerai-berai sambil berteriak-teriak.

Hal ini membuat gerakan pemuda itu lebih lancar dan Bu Kong mengajak pasukannya menuju istana. Pekerjaan ini tidak mudah, karena ribuan perajurit musuh berada di depan. Akan tetapi, karena melihat Yap-goanswe sendiri yang datang bersama pasukannya, perajurit-perajurit Wu ini semrawut dan keadaan yang serba kacau ini tiba-tiba diikuti dengan kebakaran besar yang melanda seluruh kota!

Tentu saja semua orang terkejut dan Bu Kong mengerutkan alisnya. Dia tidak menyuruh para pembantunya untuk melakukan pembakaran dalam serangan ini, bahkan melarang keras perbuatan itu karena dapat menyusahkan penduduk yang tidak berdosa. Dan dia percaya bahwa para pembantunya akan menaati pesan ini. Jadi, kalau begitu, siapa yang melakukan pengacauan ini? Orang-orang kang-ouw kah?

Bu Kong tidak mampu menjawab dan sementara dia bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba lerdengar teriakan “koksu berkhianat.... koksu berkhianat!” dari pasukan musuh yang menjadi semakin gaduh. Tampak kini kepanikan hebat membuat perajurit-perajurit Wu seperti orang gila. Kabar tentang koksu berkhianat yang meluas cepat ini benar-benar membuat mereka terkejut sekali dan seperti diketahui, justeru koksulah yang nantinya diharapkan sebagai tokoh utama dalam menghadapi Yap-goanswe.

Kini, pada saat jenderal muda itu menyerang bersama pasukannya tiba-tiba saja Cheng-gan Sian-jin melakukan perbuatan di luar dugaan semua orang. Tentu saja pasukan Wu panik tidak karuan. Orang yang mereka harap-harapkan buat menanggulangi Yap-goanswe malah tiba-tiba berkhianat, bagaimana mereka tidak kaget dan gelisah?

Dan baru sekaranglah Bu Kong sendiri mulai dapat menduga akan apa yang sebenarnya terjadi di balik semua peristiwa ini. Dan mengapa pula tiga orang Panglima Wu ini tidak muncul, begitu pula dengan Cheng-gan Sian-jin yang tidak tampak batang hidungnya. Maklumlah pemuda ini bahwa datuk sesat itu yang merasa marah terhadap dua pihak, yakni pihak Wu karena ketidakcocokannya dengan Wu-sam-tai-ciangkun serta pihak Yueh karena penolakannya, membuat kakek itu lalu membantu Yueh melakukan kekacauan-kekacauan dengan jalan merusak pintu gerbang agar pasukan musuh menyerbu masuk dan dengan demikian kedua pihak bisa saling baku hantam!

Dan sementara dua pasukan besar itu bertemu, Cheng-gan Sian-jin sendiri menghilang untuk... untuk... Bu Kong menghentikan pikirannya dengan muka pucat. Meskipun dia percaya penuh terhadap ramalan Kakek Phoa, namun tidak hadirnya Cheng-gan Sian-jin yang membiarkan dua pihak saling berhantam ini membuatnya tegang dan cemas juga.

Dia dapat menduga kini ke mana kiranya kakek iblis itu pergi. Tentu ke tempat Siu Li ditangkap! Membayangkan sampai di sini Bu Kong menjadi merah mukanya dan sekali dia memekik, tubuhnya berkelebat menerjang ke depan. Kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak cepat dan sebentar saja semua orang yang ada di depan dibuat jungkir balik dengan pukulan sin-kangnya!

Gemparlah keadaan dan kota raja benar-benar menjadi kalut. Serbuan Yap-goanswe dari pintu utara ini saja sudah cukup membuat mereka terbirit-birit, apalagi masih ditambah dengan kebakaran yang terjadi di dalam. Dan sementara mereka sendiri kebingungan, tiba-tiba tiga pintu gerbang di sebelah Selatan, Timur, dan Barat terbuka disusul membanjirnya pasukan Yueh ke dalam kota!

Sungguh mengguncangkan, dan keadaan pasukan Wu itu benar-benar terancam sekali. Para perwira mencoba mengatur barisan menghalang musuh dengan teriakan-teriakannya, akan tetapi, tetap saja gagal. Dan para perwira itu sendiri menjadi gelisah karena pucuk pimpinan mereka, yakni Wu-sam-tai-ciangkun, tidak tampak hadir. Dengan demikian, perintah tunggal sudah tidak ada lagi dan masing-masing orang terpaksa bekerja menurut pikirannya sendiri. Hal ini membuat bentuk-bentuk barisan pasukan Wu tidak seragam dan akibatnya, tentu saja mereka dibuat kebobolan!

Sepuluh ribu pasukan Yap-goanswe memasuki kota hampir serempak dan kebencian dan pihak Yueh ini membuat mereka itu bertempur seperti iblis-iblis haus darah. Apalagi Yap-goanswe sendiri telah menjadikan pasukannya orang-orang nekat dengan adanya siasat "memukul buntut mendorong kepala" itu, maka pasukan Wu benar-benar terdesak hebat. Tidak kuat mereka ini menahan gelombang serbuan lawan yang demikian dahsyat itu dan sebentar saja merekapun roboh bergelimpangan mandi darah!

Sungguh mengerikan, dan bumi kota raja menjadii telaga darah yang amat memuakkan. Mayat-mayat bersebaran di sana-sini, dan potongan-potongan tubuh yang buntung kaki atau tangannya membuat perut seakan muntah-muntah! Akan tetapi, demikianlah memang segala akibat dari perang yang dibuat oleh manusia ini. Betapa mereka telah kehilangan rasa belas kasihan terhadap sesama, dan betapa mereka telah berobah menjadi setan-setan kelaparan yang haus darah.

Semuanya adalah pengulangan dari nafsu-nafsu hewani manusia yang mendapatkan wadahnya dalam perang, karena hanya di tempat inilah mereka itu dapat melampiaskan segala dendam kebencian sebebas-bebasnya. Perang! Betapa mengerikan dan dibenci oleh sebagian besar manusia, namun tetap saja ada di muka bumi. Siapa yang dapat mencegah? Agaknya kalau iblis-iblis dapat dilenyapkanlah maka perang juga dapat dihilangkan. Dan selama roh-roh hitam itu masih ada, perang akan merupakan sesuatu yang abadi di permukaan bumi!

Pasukan Wu yang terdesak hebat ini semakin kewalahan. Dan mereka diam-diam mengumpat caci Wu-sam-tai-ciangkun yang sejak tadi tidak menampakkan diri itu. Kalau mereka sengaja hendak dijadikan korban penyembelihan lawan, untuk apa membela kota raja? Orang yang dibela malah menghilang, maka merekapun tidak mau mati konyol di tempat ini.

Pikiran ini membuat pasukan yang terdesak hebat itu mulai merencanakan keselamatan diri sendiri. Oleh sebab itu, maklum bahwa lawan terlampau kuat dan keadaan mereka benar-benar amat berbahaya, mulailah orang orang ini mundur melarikan diri. Ada yang mencoba menyelinap di antara gedung-gedung yang terbakar, ada yang mencoba memanjat tembok kota yang tinggi, dan ada pula yang terpaksa menyerah karena terpojok. Semuanya berusaha dengan caranya masing-masing, akan tetapi, banyak di antara mereka ini yang sia-sia.

Bala tentara Yueh bisa dibilang mengepung kota dari delapan penjuru, maka di manapun mereka bersembunyi, selalu saja bertemu dengan musuh. Akibatnya, bagi yang berhasil lolos keadaannya sudah penuh luka-luka dan berjalan satu atau dua lie saja orang-orang itu sudah ambruk kehabisan darah, tewas dalam keadaan menyedihkan.

Akhirnya, setelah pertempuran yang tidak seimbang ini berlangsung empat jam lebih, kota rajapun berhasil direbut lawan dan pasukan Yueh mengalami kemenangan mutlak. Otomatis pertempuranpun berhenti dan kini mereka sibuk mengatasi kebakaran yang terjadi di dalam kota dan untuk ini, para tawananlah yang mendapat bagian. Mereka diperintahkan memadamkan api secepatnya karena perajurit-perajurit Yueh menganggap merekalah yang menjadi biang keladinya.

Dengan demikian, nasib para tawanan benar-benar buruk sekali. Tubuh yang berlumuran luka belum mendapatkan pengobatan, sekarang mereka diharuskan bekerja keras. Akan tetapi, apa yang dapat mereka katakan? Bukankah kalau mereka yang menang mereka itupun pasti berbuat hal yang sama? Maka, orang-orang inipun tidak berani membantah dan dengan ancaman pihak yang menang, mereka dipaksa memadamkan api.

Cukup berat pekerjaan ini, karena api yang amat panas itu telah terasa dalam jarak sepuluh meteran. Tubuh mereka seakan dipanggang, akan tetapi, sambil menggigit bibir orang-orang ini melawan keganasan si jago merah yang membuat kota raja menyala-nyala itu. Dan dalam hal inipun korban-korban yang berjatuhan juga tidak sedikit. Para tawanan yang sudah kepayahan itu banyak yang tidak kuat berdiri. Kaki mereka terasa gemetar.

Maka, kalau mereka harus maju memadamkan api dan kejatuhan belandar-belandar atau atap yang berkobar, orang-orang inipun tidak dapat menghindar. Kontan, mereka akan menjerit kesakitan dan api yang mengenai pakaian mereka cepat menjalar di seluruh tubuh. Akibatnya, dengan keluhan lemah orang-orang ini terpaksa menerima nasib dan menjadi arang hitam yang tidak dapat dikenali ujudnya lagi!

Mengerikan memang, akan tetapi, itulah suasana perang yang ada dari jaman dahulu sampai sekarang. Siapa menang dialah berkuasa dan siapa kalah haruslah menyerah. Hukum ini sudah dipunyai manusia semenjak jaman kuno dulu. Sudah tidak aneh dan merupakan semacam "kebudayaan" tersendiri bagi umat manusia.

Kalau ada yang bilang kejam, mungkin dia benar. Namun, kalau ada yang bilang tidak kejam mungkin itupun juga tidak salah. Tergantung dari pihak siapakah yang bicara. Bagi yang menang tentu saja “tidak kejam” karena semuanya ini adalah pembalasan belaka. Akan tetapi, bagi yang kalah tentu saja terasa "kejam".

Namun, untuk apa kita memperdebatkan persoalan ini? Lebih baik kita mencari saja di mana beradanya Wu-sam-tai-ciangkun yang sejak perang pecah tidak tampak batang hidungnya ini. Demikian pula dengan Bu Kong sendiri, di mana setelah peperangan berakhir, jenderal muda inipun juga tidak kelihatan. Apa yang sedang terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus masuk ke dalam istana, karena di tempat inilah terjadi hal-hal yang hebat sekali. Seperti diketahui, pemuda itu menyerbu bersama pasukannya dari pintu Utara untuk mencari jejak Cheng-gan Sian-jin dan Wu-sam-tai-ciangkun. Dan untuk ini dia harus membuka jalan darah. Akan tetapi, karena lawan sudah mundur ketakutan melihat siapa yang datang, maka pemuda itu tidak perlu menurunkan tangan maut terhadap orang-orang yang jelas bukan tandingannya ini.

Perajurit yang menyibak seperti laut dibelah itu memungkinkan Bu Kong untuk memasuki istana dengan mudah. Cepat pemuda ini menjelajah ke sana ke mari dan karena sebelumnya dia sudah mengenal keadaan istana itu, maka jenderal muda ini tahu di mana letaknya kamar-kamar penting, Begitu pula halnya dengan penjara bawah tanah.

Oleh sebab itu, setelah menggeledah semua kamar besar, termasuk kamar tidur raja yang sudah kosong tanpa penghuni, pemuda ini menuju ke lorong bawah tanah. Diam-diam dia merasa heran kenapa orang-orang yang dicarinya sama sekali tidak ada. Semua tempat sudah dimasukinya, dan kini tinggal lorong bawah tanah ini. Maka, cepat pemuda ini turun dan baru saja kakinya membelok di sebuah tikungan, tiba-tiba sesosok bayangan tinggi besar menyerang dari tempat gelap dengan sebatang golok besar.

Bu Kong mendengus, karena dari angin sambaran senjata itu, dia tahu bahwa lawannya bukanlah seorang ahli. Oleh sebab itu, tanpa menoleh pemuda ini menggerakkan lengan kirinya menangkis dan sekaligus dilanjutkan dengan tamparan ke dada.

"Plak-bukk...!” dua kali suara ini terdengar hampir berbareng dan si tinggi besar itu menjerit tertahan. Goloknya terlepas dan tubuhnya roboh tersungkur.

Cepat Bu Kong membalikkan tubuh dan dilihatnya bahwa penyerang itu bukan lain adalah seorang perajurit biasa yang memandangnya dengan mata melotot penuh kemarahan. Tentu saja pemuda ini tidak perduli dan sekali menjengekkan suara di hidung, Bu Kong berkelebat meneruskan pencariannya. Dia yakin bahwa pukulannya yang telah mengenai dada lawan akan membuat orang itu tewas, maka tanpa diuruspun perajurit tadi pasti mati.

Dengan sikap pandang ringan inilah satu kesalahan besar telah dibuat oleh pemuda itu. Dia tidak tahu betapa setelah kepergiannya, seorang perajurit bertubuh sedang berindap-indap menghampiri si tinggi besar itu dan dengan susah payah menolong temannya. Bisikan-bisikan pelan terdengar di antara mereka dan dua orang ini akhirnya berangkulan melarikan diri melalui lorong samping.

Bayangan mereka akhirnya lenyap dl dalam kegelapan dan kalau saja jenderal muda ini tahu siapa mereka, pasti wajahnya akan berobah seketika. Kalau begitu, siapakah dua orang itu? Mereka bukan lain adalah orang-orang yang amat penting dari Kerajaan Wu. Yang bertubuh sedang dan masih muda adalah Fu Chai, sedangkan si tinggi besar yang dihantam Bu Kong tadi bukan lain adalah Raja Muda Kung Cu Kwang sendiri!

Tentu saja hal ini amat mengejutkan, akan tetapi, itulah kenyataannya. Dengan penyamaran sebagai perajurit biasa inilah dua orang tokoh itu lolos dari malapetaka dan melarikan diri lewat lorong rahasia. Dan sikap pandang ringan dari jenderal muda itu kelak berbuntut panjang karena Fu Chai, yang bukan lain adalah putera mahkota dari Sri Baginda Kung Cu Kwang, kelak membalaskan sakit hatinya terhadap Yueh.

Dan tepat seperti dugaan jenderal muda ini, Kung Cu Kwang akhirnya wafat di dalam perjalanannya karena pukulan sin-kang dari pemuda itu memecahkan jantungnya. Hanya berkat kekerasan hati serta kemauannya yang kuat untuk segera meninggalkan tempat berbahaya itulah yang membuat raja muda ini dapat bertahan.

Namun, maut akhirnya menjemput juga dan di dalam sebuah hutan, di atas pangkuan puteranya yang menangis sesenggukan, raja muda itu wafat setelah meninggalkan pesan untuk membalaskan kematiannya. Peristiwa ini masuk dalam sejarah dan dicatat sebagai peristiwa penting yang menyangkut permusuhan dua kerajaan, yakni Yueh dan Wu.

Sementara itu, Bu Kong telah tiba di ujung lorong terakhir dan begitu sampai di tempat ini, pemuda itu tertegun dengan mata terbelalak. Orang yang dicari-carinya, yakni Wu-sam-tai-ciangkun, tampak bergelimpangan mandi darah di tempat itu! Dan dua orang di antara mereka, yakni Panglima Kiang dan Panglima Han, tewas dengan kepala pecah serta otak berhamburan.

Tentu saja pemandangan ini amat mengejutkan, dan Bu Kong maklum siapa kiranya yang melakukan perbuatan itu. Pasti Cheng-gan Sian-jin! Siapa lagi? Sejenak pemuda ini terpaku dan dia melihat betapa selain kepala pecah juga dada Panglima Kiang dan Panglima Han mandi darah. Tampak di situ rantai baja milik Panglima Kiang menimpa dada Panglima Han dan membuat panglima itu hancur tulang-tulangnya, sementara pedang Panglima Han sendiri menancap di dada Panglima Kiang.

Dilihat sepintas lalu, dua orang panglima itu tampaknya seperti habis saling bunuh dan hanya Panglima Ok yang kelihatannya masih hidup. Akan tetapi, keadaan panglima inipun sudah amat payah karena kepalanya yang berlumuran darah itu membuat otaknya retak-retak. Dan ketika Bu Kong memasuki tempat itu, panglima ini mengeluarkan suara seperti ayam disembelih sambil menudingkan telunjuknya dengan mata melotot.

Bu Kong benar-benar terkesima. Dia tidak tahu, bagaimanakah perasaannya sendiri pada saat itu. Menurut patut, seharusnya dia bergirang karena pemfitnah-pemfitnah ini telah menerima hukumannya. Namun, melihat keadaan mereka yang demikian mengenaskan akibat pengkhianatan Cheng-gan Sian-jin, mau tak mau hatinya tergetar juga. Dan sementara dia berdiri mematung di tempat itu dengan mata terbelalak, tiba-tiba dari luar terdengar teriakan,

“Ayah...!” disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan putih. Kembali Bu Kong terkejut dan cepat pemuda ini memutar tubuh. Dilihatnya seorang gadis cantik dengan rambut riap-riapan melayang masuk seperti walet menyambar dan tahu-tahu seperti burung terbang saja, gadis itupun telah hinggap di tengah ruangan dengan mata terbelalak memandang tubuh Wu-sam-tai-ciangkun yang bergelimpangan mandi darah.

Jenderal muda ini tertegun. Rambut yang riap-riapan itu menyembunyikan sebagian besar wajah si wanita, akan tetapi, lengan baju kiri yang kosong serta bentuk tubuh dan teriakan “Ayah” tadi membuat ia mengenal gadis ini sebagai Siu Li! Maka otomatis dia mengeluarkan seruan girang sambil melompat maju, namun gadis ini sendiri sudah menjerit keras dan menubruk Panglima Ok, lalu menangis tersedu-sedu.

Pemuda ini melenggong. Peristiwa yang terjadi di lorong bawah tanah ini memang hebat sekali, juga di luar dugaan, maka dia maklum betapa kekasihnya mengalami guncangan batin yang amat berat. Oleh sebab itu, dia hanya dapat memandang gadis yang mengguguk di atas dada ayahnya ini dengan hati terharu, sementara Panglima Ok sendiri tiba-tiba membuka matanya yang tadi tertutup.

Sejenak panglima ini merasa heran karena matanya yang sudah mulai mengabur itu tidak dapat mengenali puterinya sendiri. Akan tetapi, setelah dia mendengar sedu-sedan itu dan panggilan “Ayah“ berulang-ulang barulah orang tua itu tahu bahwa yang menangis ini adalah Siu Li. Maka cepat panglima itu menggeliat untuk bangkit duduk, namun terpaksa da roboh lagi sambil menyeringai. Dadanya nyeri sekali, begitu pula kepalanya. Terasa berdenyut-denyut menusuk jantung.

Dan Siu Li yang melihat keadaan ayahnya ini malah menangis semakin keras dengan pundak berguncang-guncang. Bu Kong cepat maju menghampiri dan dengan hati-hati dia lalu mengangkat orang tua itu di atas pangkuan puterinya, akan tetapi, Panglima Ok tiba-tiba mendelik sambil meludahi mukanya!

“Yap-goanswe, jangan sentuh tubuhku, aku tidak butuh pertolonganmu... uhh....!” panglima ini terbatuk dan darah bercampur ludah mengenai muka jenderal muda itu yang terpaksa mundur dengan hati panas.

Kalau saja tidak ingat orang ini sudah berada di ambang maut dan juga sekaligus ayah dari kekasihnya, tentu dia tidak sudi menolong. Namun, melihat gadis itu dilanda duka yang demikian menyedihkan, maka dia hendak sedikit menghibur kekasihnya. Siapa tahu panglima tua yang tak tahu diri itu malah memaki dan meludahinya!

Bu Kong mendongkol sekali, akan tetapi, dia tidak ingin membuat ribut yang berarti menambah penderitaan batin kekasihnya. Oleh sebab itu, dia lalu mengusap semprotan ludah bercampur darah itu dengan tenang dan kemudian berdiri agak menjauh.

Sementara itu, Panglima Ok yang sudah bersandar di atas pangkuan puterinya ini mulai bicara dengan suara gemetar. “Li-ji (anak Li) di mana kakakmu? Kenapa dia tidak datang...? Aku sudah tidak kuat lagi, nak.... aku sudah tidak kuat... Giam-lo-ong jahanam itu rupanya sudah tidak sabar untuk merenggut nyawaku... uhh, keparat...!”

Panglima ini batuk-batuk sambil menekan dadanya, sementara mukanya yang penuh darah dan tampak mengerikan itu mulai pucat kehijauan. Siu Li menangis tersedu-sedu melihat keadaan ayahnya ini, dan cepat dia menotok beberapa aliran darah di dada ayahnya untuk memberikan kekuatan. Pertanyaan ini tidak dapat dijawabnya karena tenggorokannya seperti tercekik, maka ia hanya dapat mengguguk sambil menggelengkan kepala tanda tidak tahu.

Panglima ini menarik napas panjang. “Hemm, kalau begitu bagaimana kalian dapat keluar dan penjara bawah tanah?”

Siu Li mengangkat mukanya, “Seseorang menolong kami, ayah. Dialah yang mengeluarkan kami dari sana...”

“Siapa...?”

“Gadis baju kuning, ayah. Namanya A-Cheng dan dia adalah pembantu Tok-sim Sian-li.”

“Hahh...?!” Panglima Ok terbelalak. “Gadis yang pendiam itu?”

Siu Li mengangguk. “Benar, ayah...”

Dan Panglima Ok tiba-tiba tertawa serak mendengar jawaban itu. “Ha-ha, Cheng-gan Sian-jin mengkhianati kita dan sekarang pembantunya mengkhianati dia. Sungguh lucu... sungguh menggelikan... aughh...!”

Orang tua itu menyeringai dengan napas terengah. Banyak bicara tadi membuat dadanya sesak dan ketika dia tidak tahan untuk tertawa mendengar A Cheng mengkhianati Cheng-gan Sian-jin ini menyebabkan jantungnya terasa nyeri. Dia tidak tahu, betapa sebuah urat di serambi kiri jantung pecah akibat tertawa tadi, dan panglima ini banya merasa bahwa dada kirinya semakin sakit. Demikian sakit perasaan itu sehingga mukanya sampai berkerut-kerut. Totokan Siu Li tadi memang sedikit banyak telah menolongnya. Akan tetapi, kejutan mendengar berita tentang A Cheng ini membuat penderitaannya semakin hebat. Oleh sebab itu, panglima ini lalu mengerang panjang dan mengeluh.

“Li-ji, dadaku nyeri sekali.... kepalaku berdenyut-denyut... dan tubuhku sebelah kiri terasa sakit. Aduhh, Dewa Kematian rupanya hendak mencabut nyawaku... ohh, Li-ji... Li-ji...”

Panglima Ok tiba-tiba berkelojotan dan Siu Li menjadi pucat mendengar ayahnya menjerit-jerit dalam sakratul maut itu. Sejenak gadis ini terpaku dan tiba-tiba lengannya dicengkeram kuat-kuat. Ia terkejut, dan sementara terbelalak dalam kebingungan itu mendadak ayahnya meraung kesakitan seperti anjing disembelih. Tentu saja gadis ini menjadi takut dan sedih. Air matanya membanjir seperti bendungan jebol dan Bu Kong yang tidak tahan melihat itu semua lalu melompat ke depan. Dengan gerakan cepat pemuda ini menotok satu jalan darah di punggung yang dinamakan "Tenangkan Sumsum Kembalikan Roh", yakni semacam hiat-to penting untuk memulihkan seseorang dalam beberapa detik buat menyampaikan pesan terakhirnya sebelum tewas.

Dan perbuatan ini ternyata berhasil baik karena Panglima Ok yang tadi menjerit-jerit itu kini menghentikan teriakannya dan terlentang diam. Hanya napasnya tampak tersendat-sendat dan Bu Kong yang tahu bahwa keadaan sudah amat mendesak ini lalu berkata perlahan kepada kekasihnya, “Li-moi, cepat minta ayahmu memberikan pesan terakhirnya...!”

Siu Li mengangguk dan dengan muka pucat serta air mata bercucuran gadis itu lalu berbisik di telinga ayahnya dengan suara menggigil, “Ayah, kau ada pesan apakah?”

Perlahan pertanyaan ini, akan tetapi rupanya Panglima Ok dapat menangkap baik karena tiba-tiba orang tua itu membuka matanya. Dan Bu Kong terkejut melihat sinar kebencian memancar dari sepasang mata tua ini dan ketika panglima itu menggerakkan mulutnya, terdengarlah kata-kata yang berbunyi: “Kalau kau ingin ayahmu mati meram, maka bunuhlah Yap-goanswe untuk membalaskan sakit hatiku!”

Singkat kalimat ini, akan tetapi cukup membuat Siu Li menjerit tertahan dan begitu selesai meninggalkan pesannya, orang tertua dari Wu-sam-tai-ciangkun ini tewas dengan mata terbelalak lebar. Rupanya, api kebencian akibat kekalahannya ini disusul hubungan asmara puterinya dengan pemuda itu membuat orang tua ini marah sekali.

Seperti diketahui, Ok-ciangkun menolak hubungan itu karena Yap-goanswe adalah pemuda yang amat berbahaya baginya. Watak dirinya dengan jenderal muda itu seperti langit dengan bumi. Maka, kalau dia menerima perjodohan puterinya ini, pasti di lain hari bakal terjadi percekcokan-percekcokan besar di antara mereka. Oleh sebab itu, dengan mati-matian dia menentang maksud puterinya ini karena kalau hal itu dituruti, kedudukannya kelak bakal goyah.

Yap-goanswe adalah seorang pemuda yang anti kejahatan, seorang jenderal berwatak pendekar. Sedangkan dia sendiri merasa sebagai orang yang kurang bersih dan tidak segan-segan melakukan kecurangan apapun. Maka kalau dia menerima hubungan puterinya dengan pemuda itu, kelak dirinya akan selalu bermusuhan dengan menantunya sendiri. Dan mengingat jenderal muda itu orang yang amat lihai serta memegang teguh kebenaran sejati, panglima ini merasa pemuda itu seperti duri dalam daging.

Oleh sebab itu, dengan keras dia menolak kehendak puterinya. Bahkan marah-marah terhadap Siu Li yang mulai berani menentangnya. Semua kejadian ini membuat panglima itu naik darah karena gara-gara bersahabat dengan jenderal muda itulah puterinya sendiri menjadi berani! Karena itu, ketika gadis ini datang sebulan yang lalu untuk minta pertimbangannya yang terakhir dalam masalah perjodohannya dengan Yap-goanswe, panglima ini lalu menangkap puterinya itu yang dijebloskan dalam penjara bawah tanah.

Dan kemarahan panglima ini semakin berkobar ketika beberapa hari kemudian, Kui Lun datang dan minta supaya adiknya dibebaskan! Tentu saja orang tua ini naik pitam dan saking marahnya diapun lalu menangkap puteranya sendiri untuk dijebloskan dalam penjara bawah tanah bersama puterinya! Kini dua orang anaknya yang tidak penurut itu telah ditangkap, dan Panglima Ok siap menantikan kedatangan Yap-goanswe yang dikabarkan akan datang ke tempat ini seorang diri.

Siapa sangka, Yap-goanswe yang dikira akan datang seorang diri itu ternyata membawa pasukan besar dan tahu-tahu telah mengepung kota raja dengan gerakan kilat. Dan sementara mereka mengatur siasat dengan mengirimkan koksu sebagai duta ke kemah jenderal muda itu, mendadak Cheng-gan Sian-jin melakukan pengkhianatan yang di luar dugaan, padahal baru saja kakek itu datang dari tempat Yap-goanswe!

Tentu saja semua kejadian ini lalu menimbulkan dugaan bahwa jenderal muda itu telah mempengaruhi Cheng-gan Sian-jin, mempergunakan siasat yang disebut "Menarik Anjing Memasukkan Serigala" ke kota raja. Dan mengingat murid datuk sesat itu memang tergila-gila kepada Yap-goanswe, maka tidaklah aneh kalau Cheng-gan Sian-jin berhasil dibujuk dan berkhianat!

Inilah kesimpulan Ok-ciangkun dan orang yang biasa melakukan kecurangan memang cenderung untuk mengukur orang lain dengan baju sendiri. Oleh sebab itu, kebencian panglima ini terhadap Bu Kong semakin berkobar dan mencapai puncaknya dalam pertemuan dengan Cheng-gan Sian-jin di lorong bawah tanah. Tentu saja panglima itu marah-marah, apalagi ketika sambil tertawa bergelak kakek iblis ini mengakui kesimpulannya dan memaki-maki mereka yang dikatakan sebagai "keledai tolol".

Hal ini membuat Panglima Ok naik pitam dan bersama dua orang rekannya dia menerjang kakek itu untuk mengadu jiwa. Perbuatan ini dilakukan karena Ok-ciangkun yang merasa kedudukannya terjepit dengan masuknya bala tentara Yueh dari empat pintu gerbang itu membuat tiga orang panglima ini ingin membunuh Cheng-gan Sian-jin yang menjadi biang keladi segala kekacauan.

Di samping itu, sebagai orang-orang tinggi hati, Wu-sam-tai-ciangkun memilih berhadapan dengan kakek ini daripada perajurit musuh. Mati di tangan Cheng-gan Sian-jin bagi mereka jauh lebih "terhormat" daripada mati di tangan orang lain. Oleh sebab itu, meskipun maklum kakek ini bukan tandingan mereka, Panglima Ok dan teman-temannya tetap nekat mengadu jiwa. Mereka berusaha sekuat mungkin untuk membunuh kakek itu, akan tetapi gagal.

Cheng-gan Sian-jin adalah tokoh besar dunia hitam, mana bisa dirobohkan Wu-sam-tai-ciangkun? Adalah mereka itu yang dirobohkan kakek ini seperti tekad mereka sendiri, tiga orang panglima itu akhirnya benar-benar mati "terhormat" di tangan Cheng-gan Sian-jin. Demikianlah, setelah menewaskan musuh-musuhnya, kakek ini lalu mengajak semua pembantunya keluar dari lorong bawah tanah, sementara yang terlambat masuk ditinggal begitu saja.

Inilah sekelumit ceritera mengapa tiga orang panglima itu tidak muncul. Dan kini, setelah Ok-ciangkun sebagai orang terakhir juga tewas, sepasang orang muda itu berdiri saling berhadapan. Yang satu dengan pandangan kosong tak terarah, sedangkan yang lain tersenyum getir. Bu Kong dan Siu Li sama-sama tertegun, dan masing-masing menjadi tegang sendiri.

Di pihak Bu Kong ingin mengetahui apakah kekasihnya benar-benar akan menjalankan perintah ayahnya sebelum ajal, sedangkan dari pihak Siu Li sendiri diliputi kebimbangan antara patuh terhadap orang tua dan cinta kasih terhadap jenderal muda ini.

Perlu diketahui di sini bahwa "Hauw" (Bakti) di jaman itu telah meresap ke tulang sumsum di kalangan Bangsa Tiongkok. Oleh sebab itu, bila seorang anak yang berani melanggar "Hauw" akan menerima kutukan seumur hidup. Di samping cercaan masyarakat juga reaksi dari roh-roh luhur akan menghantui si pelanggar sampai menjadi gila. Karena itu, jarang sekali di antara mereka ada yang berani melawan "Hauw" ini, apalagi kalau berupa pesan terakhir dari orang tua sendiri. Bagi mereka, pesan itu amat berpetuah dan Siu Li yang terpengaruh oleh kebudayaan ini mulai goyah perasaannya.

Memang betul Yap-goanswe adalah pemuda yang amat dicintainya, namun pertemuannya dengan pemuda itu terjadi setelah dewasa. Padahal untuk menjadi dewasa ini dia harus melalui orang tua dan kalau tidak ada ayah ibunya, mustahil ia dapat berjumpa dengan jenderal muda ini. Oleh sebab itu, dengan adanya pikiran ini mulailah Siu Li menjadi gelisah. Perang batin yang amat hebat berkecamuk di dalam hatinya. Di satu pihak rasa "Hauw" menuntut baktinya, sedangkan di lain pihak perasaan cinta kasihnya terhadap pemuda itu menolak keras.

Siu Li menggigil, dan gadis ini gemetar dengan muka pucat sekali. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada saat itu. Digencet dua macam perasaan yang sama-sama kuat begini ingin rasanya ia menjerit-jerit minta mati. Mati! Kata-kata ini berkelebat di benaknya seperti kilat menyambar dan begitu ingat, tiba-tiba Siu Li mencabut pedangnya.

“Sratt...!” Bu Kong terkesiap melihat sinar kehijauan ini dan perasaan pemuda itu benar-benar terguncang ketika dia melihat gadis itu maju menghampiri. Tentu saja pemuda ini terkejut dan rasa nyeri menusuk hatinya. Bu Kong mengeluh dan pemuda itu berdiri tertegun dengan mata terbelalak. Dilihatnya air mata membanjir di kedua pipi yang halus itu dan Bu Kong merasa seperti disayat. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan kekasihnya ini. Akan tetapi, dengan pedang di tangan kini maju menghampiri baginya sudah cukup jelas untuk mengetahui apa yang hendak dilakukan gadis itu.

Oleh sebab itu, dengan muka pucat pemuda ini menanti tegang. Kalau Siu Li telah mengambil keputusan, maka diapun juga sudah mengambil keputusannya sendiri. Telah bulat tekad di hatinya, bahwa kalau gadis itu benar-benar hendak membunuhnya, dia akan menyerahkan nyawa dengan penuh kerelaan. Akan tetapi, bukan sebagai pemasrahan diri dari pengorbanannya terhadap Panglima Ok, melainkan sebagai pemasrahan diri dari cinta kasihnya terhadap gadis itu yang hendak dibebaskannya dari himpitan batin!

Dengan adanya keputusan ini, Bu Kong menjadi tenang dan ketegangan hatinyapun berangsur-angsur lenyap. Sudah cukup banyak gadis itu menderita untuknya, maka kalau sekarang dia membalas gadis itu dengan pengorbanan jiwa, agaknya sudah cukup memadai. Oleh sebab itu, Bu Kong menanti dengan sikap tenang dan pemuda inipun lalu memejamkan matanya dengan hati perih.

Bagi pemuda ini, mati pada saat itu untuk membebaskan kekasihnya dari tekanan batin dianggapnya sebagai sesuatu yang layak. Dan dia tidak ingin menambah penderitaan gadis itu lagi. Dengan demikian, dia memasrahkan semua yang terjadi dengan penuh kerelaan. Terlalu banyak dia membuat susah kepada kekasihnya itu, maka dia sudah tidak ingin menambah dosa. Bahkan buntungnya lengan Siu Li pun sebenarnya adalah gara-gara dia juga.

Oleh sebab itu, dengan mulut tersenyum getir jenderal muda ini menantikan datangnya tusukan maut, namun yang ditunggu ternyata tidak datang-datang. Lama sekali dia menunggu, dan akhirnya dia mendengar isak tangis di depannya. Tentu saja pemuda ini merasa heran dan ketika dia membuka mata, dilihatnya gadis itu sesenggukan dan menyodorkan gagang pedang di atas dadanya sementara ujung pedang diarahkan ke dada sendiri!

“Li-moi....!” Bu Kong berseru kaget dangan mata terbelalak, akan tetapi, Siu Li tidak merobah posisi pedangnya. Dan sementara pemuda ini bengong, gadis itu sudah berkata dengan air mata bercucuran.

“Yap-koko, bunuhlah aku.... bunuhlah aku dan bebaskan segera dari himpitan batin ini. Aku tidak kuat menahan, koko.... aku tidak kuat menahan... dan kalau kau tidak membunuhku, aku tentu akan menjadi gila. Koko, kasihanilah aku... terimalah pedang ini dan cepat bunuhlah aku, jangan biarkan aku menjadi gila... koko....!”

Siu Li terhuyung-huyung dan wajah yang pucat itu tampak mengharukan sekali. Bu Kong menyeringai dan pemuda itu mengeluh tertahan. Sama sekali dia tidak mengira bahwa dialah yang bakal disuruh membunuh, bukannya dia yang dibunuh! Maka tentu saja kejadian ini membuat pemuda itu terkesima dan sejenak dia tertegun.

Akan tetapi, kejutan ini hanya sebentar saja menguasai diri jenderal muda itu karena akhirnya, dengan suara menggelegar, pemuda ini berkata, “Li-moi, pedang telah kau pegang, kenapa berhenti di tengah jalan? Aku rela mati di tanganmu Li-moi, demi pelaksanaan tugasmu terhadap orang tua. Akan tetapi, ingatlah, pengorbananku bukan untuk mendiang ayahmu itu, melainkan untuk dirimu sendiri! Oleh sebab itu, untuk menebus semua dosa-dosaku yang telah membuat hidupmu menderita, baliklah pedang itu dan tusukkan ke dadaku...!”

Bu Kong menyambut pedang itu dan menyodorkan gagangnya ke tangan Siu Li, dan gadis ini mengeluh. “Yap-koko, demikian kejikah hatimu? Demikian butakah perasanmu sehingga tidak tahu gejolak batinku? Tidak. Yap-koko... tidak...! Akulah yang bersalah, akulah yang berdosa, dan aku rela menyusul ayah. Yap-koko, aku tidak dapat membunuhmu, akan tetapi, akupun juga takut kutukan roh leluhur. Maka bunuhlah aku, koko... bunuhlah...!”

Siu Li menjerit dan kembali menyodorkan gagang pedang ke tangan pemuda itu, namun, kali ini Bu Kong tidak mau menerima dan wajah gadis itu mendadak jadi beringas. Dengan muka mengerikan dan rambut riap-riapan, Siu Li memandang jenderal muda itu dan dari kerongkongannya tiba-tiba keluar lengking lirih seperti kucing marah. Agaknya, guncangan batin yang amat hebat membuat gadis ini tergetar syaraf otaknya dan sekonyong-konyong dia terkekeh.

“Hi-hi-hikk, Yap-goanswe, kau hendak membuat aku gila tanpa kesudahan? Begitukah? Ah, jenderal keji, kalau kau memang minta mati di tanganku, baiklah, terimalah ini....!”

Gadis itu membentak nyaring dan sekali tangannya bergerak, pedang bersinar kehijauan itu menyambar ganas. Bu Kong terkejut, bukan kaget oleh menyambarnya pedang, melainkan terkejut oleh watak gadis itu yang tiba-tiba seperti orang gila. Hal ini di luar perhitungannya, maka, tentu saja dia merasa menyesal. Akan tetapi, karena pedang sudah berkelebat dan diapun berduka melihat keadaan yang semakin memburuk, pemuda ini pasrah dan tepat ujung pedang menyentuh kulit dadanya, Bu Kong berseru nyaring.

“Li-moi, kutunggu kau di akhirat...”

Teriakan ini dibarengi dengan pandangan mata yang amat mesra dan Siu Li tampaknya tersentak. Getaran sinar mata itu rupanya sempat mengusir kegilaannya dalam sedetik karena tiba-tiba gadis ini memekik tertahan seperti orang kaget. Namun, karena pedang sudah digerakkan cepat, maka gadis ini tidak mampu mencegahnya. Apalagi getaran syaraf tadi membuatnya menyerang sungguh-sungguh, maka Siu Li tidak dapat mengendalikan diri.

“Cepp....!” pedang itu menusuk dada dan darah menyemprot dari luka disusul keluhan Bu Kong yang roboh terjengkang. Siu Li terbelalak, dan gadis ini tiba-tiba menjerit histeris. Darah di ujung pedangnya itu tiba-tiba membuat gadis ini sadar dan begitu tahu bahwa dia telah menikam kekasihnya, Siu Li memekik seperti disambar petir.

“Yap-goanswe... Yap-koko....! Kau... mati...? Aduh, Thian Yang Maha Agung, apa yang telah kulakukan ini? Ah, tidak.... tidak.... ayah, kau kejam! Kau keji! Kau memerintahkan aku membunuh orang yang tidak berdosa....! Ah, Yap-koko ampunilah aku... maafkanlah aku dan jangan tinggalkan aku pergi. Yap-koko, aku ikut... aku ikut...!” Siu Li tiba-tiba memekik kalap dan berbareng dengan teriakannya itu, gadis ini menggerakkan pedang menusuk perut sendiri.

“Bless....!” Siu Li mengeluh dan senjata itu amblas didalam perutnya, membuat luka yang dalam, sementara tubuhnya terhuyung-huyung roboh. Sejenak gadis ini terbelalak dan menyeringai menahan sakit, kemudian dengan suara serak ia memanggil-manggil nama kekasihnya, lalu mendekati pemuda itu dan ambruk di atas dadanya.

Siu Li mengerang, dan dengan napas terengah-engah gadis ini memeluk wajah kekasihnya dengan muka pucat. Kemudian, pada saat tubuhnya mulai berkelojotan, ia mencium bibir Bu Kong dan bersamaan dengan rintihannya yang terakhir, puteri Panglima Ok yang bernasib malang itu menghembuskan napasnya dengan mulut menyeringai. Dunia menjadi gelap dan peristiwa di lorong bawah tanah inipun berakhirlah. Keadaan kembali sunyi seperti sedia kala dan lima sosok tubuh itu bergelimpangan penuh darah. Tragis memang, akan tetapi, itulah kejadiannya.

Dan tidak lama setelah sepasang kekasih itu mengalami lakonnya, dari luar berkelebat sebuah bayangan putih yang gerakannya seperti iblis. Seorang laki-laki telah berdiri di situ, dan orang ini tampak tertegun. Seruan lirih meluncur dari mulutnya dan sejenak orang ini berdiri mematung. Akan tetapi, sukar untuk mengetahui apa yang sedang dirasakannya pada saat itu karena wajah yang terbungkus kabut ini tampak membisu. Dan para pembaca yang melihat ciri-ciri pendatang itu pasti mengenal siapa dia. Benar, kakek ini bukan lain adalah Bu-beng Sian-su sendiri yang selalu mengikuti jejak Bu Kong.

Kini, setelah manusia dewa itu melihat lima sosok tubuh yang membujur di lantai dalam keadaan mengerikan itu, kakek ini cepat membungkukkan tubuhnya memeriksa. Dan setiap kali lengannya menyentuh mayat yang sudah dingin, kakek ini selalu mengeluarkan puja-puji memanjatkan doa. Satu-persatu lima orang itu telah diperiksanya dan ketika tiba giliran Yap-goanswe yang diraba urat nadinya, kakek ini tampak melenggong. Mengapa? Karena dari lima orang itu ternyata yang masih hidup justeru adalah pemuda ini!

Sungguh di luar dugaan, dan para pembaca mungkin juga merasa heran. Bagaimana bisa terjadi keajaiban itu? Barangkali demikian Anda bertanya, akan tetapi itulah kenyataannya, para pembaca. Yap Bu Kong masih hidup! Hal ini mungkin perlu mendapat penjelasan karena justeru kejadian inilah yang merupakan kunci dari sebait syair Bu-beng Sian-su.

Seperti kita ketahui, Siu Li telah menusukkan pedangnya ke jantung pemuda ini akibat guncangan hatinya yang terlampau hebat. Namun, ketika jenderal muda ini mengeluarkan getaran sinar kasihnya melalui pandang mata, sedetik guncangan Siu Li menjadi tenang, dan ketenangan inilah yang membuat gadis itu terkejut sehingga pedangnya bergetar dan menyeleweng satu senti di sebelah kanan jantung kekasihnya. Kejadian ini memang sekejap, namun toh telah merobah ancaman maut yang nyaris merenggut jiwa pemuda itu.

Akan tetapi, karena Bu Kong sendiri juga sedang dilanda duka yang berat maka tusukan itu tetap saja membuatnya roboh. Hanya bukannya roboh tewas, melainkan roboh pingsan. Dan Siu Li yang tidak mengetahui hal ini, mengira pemuda itu telah terbunuh dan untuk menebus penyesalannya, gadis itupun lalu bunuh diri. Sungguh sayang!

Inilah para pembaca, hal yang sesungguhnya terjadi. Dan memang terdapat sesuatu yang di luar dugaan pada peristiwa itu. Kalau saja Siu Li tahu bahwa Bu Kong tidak tewas, mungkin gadis ini tidak sampai mengorbankan diri menyerahkan nyawanya. Namun, nasi telah menjadi bubur dan tahukah Anda apa sebab UTAMANYA?

Pertanyaan ini perlu diajukan dan jawabannya terletak pada baris keempat dari syair ini. Dan untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita bahas lebih dahulu. Pertama-tama, Anda telah melihat dari awal ceritera hingga akhir kejadian ini betapa Yap-goanswe telah menjalin cinta kasihnya bersama Siu Li. Terdapat lika-liku yang rumit sekali membayangi sepasang muda-mudi itu, karena dari pihak Ok-ciangkun mati-matian menolak maksud anak gadisnya ini.

Akan tetapi, karena Siu Li sendiri melihat betapa ayahnya memang amat keterlaluan dan jahat, gadis ini tetap nekat untuk melanjutkan hubungannya dengan jenderal muda itu yang semakin lama bahkan semakin dikagumi dan dicinta. Dan untuk ini, dia berani menentang panglima itu yang dianggapnya berada pada pihak yang salah. Perbuatan-perbuatan ayahnya yang keji terhadap Yap-goanswe diam-diam membuat Siu Li mengeluh. Apalagi ketika ayahnya memfitnah pemuda ini dan bergabung dengan manusia iblis manusia iblis macam Cheng-gan Sian-jin!

Semua kejadian ini membuat gadis itu berputus asa untuk menyadarkan ayahnya yang sesat, dan di dalam hatinya mulailah terjadi konflik batin yang kian menjadi. Dan akhir dari kekecewaan itu kemudian meledak ketika gadis ini melarikan diri dari gedung ayahnya dan bersembunyi di Lembah Bambu Kuning.

Itulah peristiwa beberapa bulan sebelumnya, di mana Bu Kong justeru sedang mengalami penderitaan yang sehebat-hebatnya karena dipermainkan Lie Lan dan gurunya. Kekejian guru dan murid ini akhirnya didengar juga oleh Siu Li, dan tentu saja gadis itu marah sekali. Terpaksa dia kembali ke kota raja untuk menolong, namun ternyata pemuda itu telah dibebaskan oleh Malaikat Gurun Neraka.

Hal ini membuat Siu Li prihatin, apalagi ketika mendengar kekasihnya luka keracunan! Dan secara kebetulan sekali di tengah jalan, ia melihat Pek Hong membawa pemuda itu ke Ang-bhok-san, maka diapun mengikuti secara diam-diam sampai akhirnya ia turun tangan untuk menundukkan Dewa Monyet yang berlaku ugal-ugalan. Cinta kasih Pek Hong terhadap jenderal muda itu membuat Siu Li merintih di dalam hati dan gadis ini bertekad untuk membiarkan pasangan yang dianggapnya lebih setimpal itu menjalin hubungan. Dia adalah anak seorang panglima jahat, maka sudah sepantasnya dia tahu diri.

Siapa sangka, pemuda ini justeru mengejarnya sampai di dalam hutan ketika ia membenturkan diri ke pohon raksasa. Karena memang dirinya merindukan pemuda itu dan Bu Kong sendiri tampaknya tidak suka terhadap murid Ta Bhok Hwe-sio tersebut, hati Siu Li menjadi luluh kembali dan harapannyapun timbul. Kebijaksanaan pemuda itu di saat terakhir dalam hutan dahulu benar-benar mengesankan hatinya. Masih terngiang di telinganya ucapan pemuda ini betapa semua kesalahan-kesalahan ayahnya akan dihapus kalau mereka telah menjadi suami-istri. Ayahnya memang jahat akan tetapi, pemuda itu ternyata mau mengalah dan betapa berbudi watak seperti itu.

Tentu saja semua kenang-kenangan ini membuat Siu Li terharu dan karena kekasihnya bersungguh-sungguh, akhirnya timbul ketekadan hati yang sama-sama bulat di antara mereka berdua. Sudah terdapat keputusan yang tak dapat diganggu gugat oleh siapapun untuk melangsungkan niat perjodohan itu, dan masing-masing pihak yang sudah sama-sama punya "mau" inilah yang oleh Bu-beng Sian-su dikatakan dalam syairnya pada baris pertama dan kedua, yakni: “Aku punya mau... dan, Diapun punya mau...” itu.

Sampai di sini, para pembaca, Anda lihat bahwa keteguhan serta tekad yang demikian keras dari sepasang kekasih ini memang tampaknya tak dapat dicegah lagi. Boleh dikatakan bahwa maksud perjodohan itu sudah 99 % berhasil karena baik orang tua menerima ataupun menolaknya, Bu Kong dan Siu Li tetap akan menjadi suami istri. Dan inilah perhitungan mereka, perhitungan manusia pada umumnya.

Dan memang tidak dapat kita sangkal, bahwa siapapun yang menghalangi, agaknya tetap akan sia-sia belaka. Dua orang muda-mudi ini telah merupakan orang-orang “nekat”, maka biar iblis sekalipun tidak mungkin dapat menggagalkannya. Oleh sebab itu, usaha yang sungguh-sungguh ini memang tampaknya pasti berhasil. Bu Kong dan Siu Li telah mengambil keputusan terakhir, yakni apabila pihak orang tua menolak, baik itu Panglima Ok maupun Takla Sen-jin sendiri, mereka akan minta tolong kepada para nikouw atau hwe-sio untuk meresmikan perjodohan ini. Dan apabila hal itu sampai terjadi, baik Malaikat Gurun Neraka maupun Ok-ciangkun sendiri mau tidak mau harus "menyerah".

Nah, inilah puncak dari dua hati yang sudah saling bersatu padu itu dan siapapun mencegah mereka pasti gagal. Hal inipun sudah diperhitungkan Bu Kong dan pemuda ini merasa yakin akan keberhasilannya. Kalau ada yang dapat memisahkan mereka dalam perjodohan di dunia ini, dialah Dewa Kematian yang memiliki kekuasaan tunggal. Akan tetapi, seperti yang pernah mereka ucapkan sebagai sumpah dahulu di dalam hutan, Dewa Kematianpun tidak akan dapat memisahkan mereka. Gagal menikah di dunia "sini" biarlah menikah di dunia "sana". Itulah tekad mereka!

Akan tetapi, satu hal penting yang amat pokok sekali telah dilupakan oleh jenderal muda ini, yakni adanya faktor lain yang "dilupakan" oleh hampir sebagian besar manusia. Dia menganggap, kalau dia bersama kekasihnya telah sama-sama punya "mau", biar iblispun tidak dapat menahan mereka. Dan ini barangkali benar. Akan tetapi, para pembaca, gara-gara "melupakan" faktor ketiga itulah jenderal muda ini tergelincir!

Bu Kong menganggap, bahwa kalau dia dan Siu Li sudah suka sama suka dan masing-masing telah sama-sama "mau" untuk menjadi suami isteri, maka hal itupun bakal terjadilah! Dan seperti yang mereka ikrarkan sendiri, tidak jadi suami isteri di dunia "sini" biarlah jadi suami isteri di dunia "sana". Mereka lupa, para pembaca, bahwa meskipun masing-masing sudah sama punya "mau", namun kalau TUHAN JUGA PUNYA MAU lain dengan "mau"-nya mereka, dua orang itu harus tunduk! Harus menyerah!

Nah, inilah faktor ketiga yang dimaksudkan Bu-beng Sian-su itu. Anda lihat, para pembaca, betapa usaha yang demikian mati-matianpun dari sepasang kekasih itu terpaksa harus gagal! Padahal kalau kita lihat, Bu Kong dan Siu Li telah nekat untuk hidup bersama di tempat terasing jika orang-orang tua menolak. Dan betapa Siu Li yang ingin memenuhi ikrarnya sebagai isteri di dunia "sana", juga harus kandas di tengah jalan karena pemuda yang disangkanya tewas ttu ternyata tidak terbunuh.

Kalau sudah begini, para pembaca, apakah sebab utamanya? Bukan lain adalah faktor ketiga itulah, yakni karena TUHAN JUGA PUNYA MAU! Dan di sini, dengan menyesal sekali terpaksa dua orang muda-mudi itu harus melihat kenyataan. Mereka boleh mati-matian memperjuangkan hak mereka untuk menjadi suami isteri, akan tetapi, kalau Tuhan menentukan lain maka merekapun harus menyerah. Inilah para pembaca, satu kenyataan hidup yang harus kita sadari sungguh-sungguh. Hanya kalau "Aku punya mau...diapun punya mau.... dan Tuhan juga punya mau" yang sejalan, barulah keberhasilan yang Anda peroleh. Sebaliknya, kalau Anda dan dia punya "mau" yang sama, akan tetapi, berlawanan dengan Tuhan punya "mau", maka seperti keadaan Yap-goanswe itulah yang kita terima!

Dan hal ini bukan hanya terjadi dalam perjodohan saja. Tidak, bahkan hampir melanda seluruh persoalan hidup. Baik itu perjodohan, perdagangan, politik, kejadian-kejadian di dalam rumah maupun di luar rumah, peristiwa antar keluarga, antar kampung, bahkan juga antar negara! Semuanya ini bisa saja terjadi, baik itu yang menyangkut kegagalan ataupun keberhasilan. Baik itu menyangkut perorangan maupun kelompok. Dan hal ini boleh Anda buktikan sendiri dalam kehidupan pribadi Anda. Oleh sebab itu, apabila Anda mengalami keberhasilan, bersyukurlah! Sebaliknya, kalau mengalami kegagalan, bertabahlah!

Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain iri. Beruntung, kita bersyukur, mengalami nasib "sial", kita bersabar. Sudah, hanya itu saja. Dan bagi siapa saja yang sedang "gagal", ingatlah bahwa ini semua adalah karena "Tuhan juga punya mau" akan merupakan semacam obat penawar. Dan hal ini penting sekali, para pembaca, karena ingatan tentang itu dapat menahan diri kita dari perbuatan-perbuatan tercela yang seharusnya tidak perlu kita lakukan.

Mengertilah Anda, para pembaca? TUHAN JUGA PUNYA MAU! Harap Anda camkan kata-kata ini setiap kali Anda menerima kegagalan maupun keberhasilan. Sebab, hanya karena kemauan-Nya itulah semua terjadi menimpa kita.

Dan ini sungguh-sungguh penting untuk disadari. Dapat melenyapkan kesombongan bagi yang berhasil, dan juga dapat menormalisir kekecewaan atau kedukaan bagi yang gagal. Kenyataan ini perlu kita renungkan bersama dan kita ingat pada saat peristiwa-peristiwa penting menimpa kita. Saya sengaja menonjolkan kegagalan pemuda itu daripada keberhasilannya, karena pada umumnya sudah menjadi watak kita untuk lebih kuat mengingat-ingat penderitaan daripada kesenangan.

Dan penderitaan yang amat berat acap kali bahkan tercetak di alam bawah sadar pikiran kita. Dan pukulan begini dapat membuat kita mengalami semacam "shock", membuat kekecewaan yang amat sangat sehingga tidak jarang lalu terjadi kejahatan-kejahatan akibat tidak adanya "obat" mujarab buat menyembuhkan penyakit jiwa itu.

Dan kini para pembaca, mudah-mudahan dengan adanya kenyataan bahwa di samping Anda dan teman Anda punya mau... baik itu isteri, suami, kekasih, partner, anak atau apapun adanya sekutu Anda... harap Anda ingat bahwa selama Anda berdua punya mau, Tuhan juga punya mau. Kebenaran ini lebih saya tekankan kepada siapa saja yang sedang "sial", karena pengertian tentang "Tuhan juga punya mau" itu akan merupakan obat penawar satu-satunya untuk mengembalikan ketenangan jiwa akibat pukulan batin yang diderita.

Oleh sebab itu, peristiwa-peristiwa pahit yang kita terima dalam hidup, tidak sampai membuat kita berlarut-larut tenggelam dalam arus kedukaan. Pengertian ini akan membuat kita merasa "enteng" pada saat penderitaan menimpa kita. Dan hal ini tidak sama dengan orang yang "menerima nasib". Oh, berbeda sekali, para pembaca, sungguh berbeda! Bagi orang yang menerima nasib, batinnya masih tertekan, masih terhimpit dan sewaktu-waktu ada kesempatan, mungkin akan meledak dalam pelampiasan dendam.

Akan tetapi, orang yang sadar akan pengertian "Tuhan juga punya mau" itu, akan menerimanya dengan perasaan lain, yang berbeda dengan orang yang "menerima nasib". Mengapa? Karena orang yang mengerti tentang hal ini hatinya jauh lebih lapang pada saat menerima "kesialan" itu daripada yang menerima nasib. Tidak ada penasaran lagi di dalam batinnya karena semua arang-arang hitam yang menggores papan batin, dihapuskan oleh pengertian akan adanya kenyataan itu. Dan pengertian berarti membuka kesadaran, dan justeru hal inilah yang saya maksudkan, yakni membuat kita bersama lebih sadar lagi tentang kehidupan.

Sesungguhnyalah, duka lebih banyak melanda manusia daripada suka (akan tetapi sebenarnya tidak! Dan untuk ini dalam kesempatan berikutnya Bu-beng Sian-su akan membuktikannya kepada Anda), dan manusia yang lemah, seringkali tidak dapat menguasai keseimbangan jiwanya sehingga ia meledak dalam kegelapan, merusak diri semakin parah dan hancur berantakan menyeret manusia-manusia lainnya. Hal ini perlu kita bendung dan mudah-mudahan dengan kupasan syair-syair berikutnya dari manusia dewa itu, kita bersama dapat menikmati hidup dengan lebih baik lagi.

Para pembaca yang budiman, sampai di sini sebenarnya kunci tentang sebait syair Bu-beng Sian-su telah selesai. Namun saya telah meloncat ke baris nomor empat, dan tentunya Anda bertanya-tanya tentang baris ketiga, bukan? Baris ketiga isinya tiada lain menunjukkan "kelupaan" manusia pada umumnya dan kalau Anda ingin tahu. baiklah saya pasang selengkapnya ayat itu. Inilah dia:

"Aku punya mau....!
Diapun punya mau....!
Akan tetapi kita sering lupa bahwa...!?!?
TUHAN JUGA PUNYA MAU!!"


Nah, inilah para pembaca, isi selengkapnya dari kalimat-kalimat ganjil itu. Bagaimana menurut pendapat Anda? Tidak benarkah? Kalau Anda orang yang betul-betul beragama, saya yakin bahwa Anda dan saya sependapat, yakni jawaban itu memang BENAR!

Bukankah demikian? Saya harap begitulah. Dan kalau Anda sekarang ingin mengetahui cerita selanjutnya tentang Yap-goanswe, maka marilah kita kembali sebentar. Sama seperti apa yang telah saya uraikan di atas. Bu-beng Sian-su juga memberikan wejangan-wejangannya kepada jenderal muda ini. Kakek ini telah mengobati luka Bu Kong dan berkat kesaktiannya yang tinggi, akhirnya pemuda itupun sadarlah.

Dan dapat dibayangkan betapa kagetnya Bu Kong melihat dia ternyata masih hidup dan kekasihnyalah yang tewas! Tentu saja hal ini membuat pemuda itu terpukul bukan main dan kalau saja dia tidak berkali-kali menerima pukulan batin, agaknya jenderal muda ini bakal roboh pingsan untuk yang kedua kalinya. Untunglah, Bu-beng Sian-su cepat membantu dan dengan sentuhan lembut di atas kepala pemuda itu, kakek ini mampu menyalurkan kesaktiannya memperkuat batin murid Malaikat Gurun Neraka itu. Apalagi Bu Kong sendiri juga memiliki sin-kang kuat, maka cepat pemuda inipun dapat menekan guncangan batin yang dialaminya.

Sejenak dua orang itu berdiri berhadapan, dan Bu Kong merasakan suatu kehangatan aneh menjalar dari tubuh kakek dewa ini. Perlahan-lahan Bu-beng Sian-su menarik napas panjang, lalu ucapan pertamanya yang ditanyakan adalah: “Suratku masih kau simpan?”

Bu Kong tertegun, lalu mengangguk dengan pikiran penuh tanda tanya. Dan ketika kakek itu memintanya, cepat diapun memberikan. Tampak kakek ini tersenyum lembut dan beberapa kali kuku jarinya bergerak di atas "surat" itu diapun lalu mengembalikannya kepada pemuda ini. Bu Kong menerima dan begitu dia membaca baris ketiga dan keempat yang kini sudah terisi, tanpa terasa pemuda itupun mengeluarkan seruan tertahan.

Sejenak matanya terbelalak dan jenderal muda ini kembali dibuat guncang. Akan tetapi, kalau kematian Siu Li boleh diibaratkan dia guncang ke kiri, maka surat Bu-beng Sian-su itu membuatnya guncang ke kanan. Akibatnya, dalam beberapa waktu saja Bu Kong menjadi "pulih". Memang singkat empat baris itu, namun baginya sungguh merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah. Semua peristiwa dirinya tercakup di situ, bahkan lama-lama pemuda inipun merasa bahwa segala kejadian besar di dunia, juga bersumber kepada empat baris kalimat itu!

Tentu saja dia terkejut dan sementara pemuda ini bengong, Bu-beng Sian-su tertawa lirih. Kakek itu tampak gembira melhat betapa dalam waktu sekejap saja Bu Kong dapat mengerti akan inti sari dari sebait syair tersebut. Dan hal ini tidak aneh karena pemuda itulah yang langsung menjadi titik sasaran utama.

Oleh sebab itu, dengan wajah berseri kakek inipun lalu berkata, “Anak muda, dapatkah kau menangkap kebenaran dalam kalimat-kalimat ini?”

Bu Kong mengangguk dan cepat pemuda ini menjatuhkan diri berlutut. “Sian-su, apa yang kau berikan kepadaku sungguh amat mengejutkan. Akan tetapi, dapatkah kedukaan serta kekecewaan ini terhapus begitu saja? Sian-su, hatiku masih tersayat dan biarpun kebenaran telah Sian-su tunjukkan kepadaku, namun hal ini tidak mungkin dapat menyembuhkannya dalam waktu sekejap.”

Kakek itu tersenyum. “Yap-goanswe, siapa bilang empat baris kalimat itu akan menyembuhkan luka hatimu dalam sekejap? Aihh, anak muda, tidak ada obat yang sekarang ditelan lalu sedetik kemudian sembuh. Tidak, bukan begitu maksudku, malah seharusnya juga tidak demikian. Obat apapun yang dimakan, harus dicerna dahulu dan baru kemudian membaur dalam sel-sel darah. Begitu pula dengan empat baris kalimat itu. Dia telah merupakan "obat" pelepas duka, akan tetapi, karena diapun juga harus membaur di dalam hatimu perlahan-lahan, maka kesembuhanpun akan kau peroleh lama atau tidak, inilah tergantung pada tinggi rendahnya pengertian yang kau serap tentang kenyataan itu. Semakin tinggi pengertianmu, tentu semakin lekas pula kau sembuh, dan begitulah yang kuharapkan. Mengertikah kau, anak muda?”

Bu Kong tak dapat membantah. “Sian-su, apa yang kau katakan memang tepat. Dan untuk ini teecu hanya dapat mengucapkan banyak terima kasih yang terhingga. Akan tetapi, dapatkah Sian-su memberikan saran-saran lebih lanjut tentang apa yang harus teecu lakukan?”

“Hemm, apa yang kau maksudkan dengan saran-saran itu, Yap-goanswe? Bagiku, tidak ada saran lain yang kiranya perlu kuberikan lagi kepadamu. Pengertian telah membuka kesadaran, dan kesadaran akan mengantar pada kebijaksanaan. Hanya ini. Untuk apa saran-saran lagi? Tidak, anak muda, asal kau selalu membuka mata dan telinga batin dalam menghadapi setiap peristiwa, maka saranpun sebenarnya tidak berguna untukmu. Orang yang sudah mengerti tidak perlu diberitahu, bukan? Nah, inilah sebabnya. Akan tetapi, kalau kau maksudkan sebagai petunjuk di masa depanmu, maka lebih baik lepaskan kedudukanmu yang sekarang ini agar kau dapat hidup lebih tenang. Hal ini bukan berarti lalu kau sama sekali tidak memperoleh kesulitan, bukan itu. Akan tetapi, kulihat bahwa kalau kau masih memimpin pasukan memerangi lawan, kehidupan pribadimu akan semakin berat. Dan tentang kekasihmu itu, harap lupakan dia. Anggaplah ini sebagai gemblengan hidup yang amat berguna untuk mematangkan jiwa. Sesungguhnyalah, emas telah berada di dalam genggaman tanganmu sendiri, namun kau masih mencari tembaga di luar. Aih, anak muda, bukankah ini sayang sekali? Dan mengertikah kau apa yang kumaksudkan?”

Bu Kong menggelengkan kepalanya lemah. “Sian-su, dalam keadaan hati kusut begini bagaimana teecu dapat meraba ucapan Sian-su yang penuh teka-teki? Tidak Sian-su, teecu sama sekali tidak paham dan kalau Sian-su suka, bolehlah katakan kepada teecu sekarang juga.”

Kakek ini menarik napas panjang. “Anak muda, bukannya aku pelit memberikan jawaban. Akan tetapi, sesuatu yang berharga memang harus dicari perlahan-lahan sehingga barulah harganya itu tampak. Kalau kau belum mengerti, biarlah kelak kau temukan sendiri dan hal inipun kurasa tidak lama. Nah, masih adakah yang hendak kau ajukan?”

Pemuda itu termenung. Dalam keadaan masih terpukul begini sesungguhnya dia seolah-olah kehilangan semangat, maka diapun tak tahu apa yang hendak dibicarakan. Empat baris kalimat dalam syair Bu-beng Sian-su itu telah mencakup semua jawaban baginya, maka apalagi yang hendak ditanyakan?

Bu-beng Sian-su tersenyum maklum. “Yap-goanswe, kalau tidak ada nasihat lagi yang perlu kuberikan, baiklah aku pergi dulu. Tugas masih banyak menantimu dan tentang saranku tadi, biarlah kau pikirkan masak-masak, semuanya terserah dirimu sendiri. Oleh sebab itu, ijinkan aku pergi dulu dan selamat tinggal....!”

Bu-beng Sian-su berseru lirih dan sekali lengan bajunya dikebutkan kakek itupun berkelebat lenyap dalam sekejap saja. Bu Kong termangu-mangu, dan semua mutiara kata dari manusia dewa itu terngiang di telinganya. Diam-diam perasaannya menjadi getir dan pandang matanya yang suram itu tampak tidak bergairah.

Peristiwa yang amat penting dalam hidupnya ini benar-benar menggores batinnya, dan pemuda ini tersenyum pahit. Betapa beratnya hidup. Betapa beratnya percobaan yang harus dilalui manusia. Namun, bukankah itu semua merupakan "bumbu" untuk mematangkan watak seseorang? Bu Kong menarik panjang dan akhirnya dengan mata basah pemuda ini mengangkat jenazah kekasihnya dan keluar dari lorong bawah tanah.

* * * * * * * *

Kemenangan Yueh kali ini memang patut disambut dengan penuh kegembiraan karena Wu-sam-tai-ciangkun, orang yang amat mereka benci itu sekarang telah tewas. Tiga panglima setan itu telah tiada lagi dan mereka merasa lega. Dengan demikian, harapan untuk hidup tenang agaknya akan dapat dicapai. Bekas-bekas pertempuran sengit telah mereka bersihkan, dan pada malam harinya, pasukan besar itu lalu mengadakan pesta kemenangan. Semuanya bergembira, semuanya tampak bahagia. Akan tetapi, hanya Yap-goanswe yang tidak seperti mereka.

Wajah jenderal muda ini masih pucat, dan sebuah goresan kecil mengeriput di dahinya. Dia tidak dapat bergembira seperti anak-anak buahnya, karena kedukaan masih menekan batinnya. Oleh sebab itu, sebelum pesta berakhir diapun sudah masuk ke kamar tidurnya beristirahat. Nasihat Bu-beng Sian-su terulang di benaknya, dan diam-diam perasaannya menjadi kecut.

Manusia dewa itu sungguh luar biasa, dan semua kata-katanya mengandung arti yang tidak dapat diremehkan begitu saja. Sarannya agar dia melepaskan jabatan memang disetujuinya. Bu Kong melihat betapa perang telah mengakibatkan dirinya mengalami pukulan batin hebat, dan ini masih belum terhitung dengan korban-korban jiwa dari pasukan yang baku hantam.

Pemuda ini menghela napas panjang. Sebenarnya dia juga sama sekail tidak mengira kalau bakal memimpin pasukan lagi. Dan karena Pangeran Kou Cien telah menyudutkannya sedemikian rupa, terpaksa dia akhirnya menyerah. Akan tetapi, sekarang perjuangan pangeran itu berhasil, dan dia boleh pergi ke mana dia suka.

Oleh sebab itu, satu minggu kemudian pemuda ini menghadap pangeran itu menyatakan maksudnya. Tentu saja Pangeran Kou Cien terkejut, dan membujuk pemuda itu agar tetap bersama mereka. Namun, Bu Kong menolak. Hatinya sudah bulat dan dia tidak mau dihalangi.

Pangeran Kou Cien akhirnya hanya dapat menarik napas penyesalan dan semua orang yang mendengar berita itupun terkejut sekali. Akan tetapi, karena mereka sama tahu bahwa jenderal muda ini amat keras dalam memegang kata-katanya, maka merekapun tidak dapat mencegah.

Pada malam itu juga Pangeran Kou Cien lalu mengadakan jamuan perpisahan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, dan di dalam pesta yang mengharukan ini, pangeran itu memberikan sebatang pedang mustika sebagai hadiah terhadap Bu Kong. Sebenarnya, pangeran memberikan banyak hadiah lain, seperti emas permata dan barang berharga, namun pemuda itu menolak dan hanya menerima pedang mustika yang bernama Siu-liong-kiam (Pedang Naga Air) itu.

Demikianlah, ketika keesokan harinya matahari telah terbit, jenderal muda yang teiah meletakkan jabatannya ini keluar dari kota raja. Dan di pintu gerbang Utara, empat orang pembantunya bersama Lek Hui berdiri dengan mata basah. Mereka sengaja menanti pemuda itu untuk memberikan hormatnya yang terakhir, maka begitu pemuda ini muncul, lima orang itupun datang menghampiri.

“Goanswe, semoga Thian Yang Maha Welas Asih memberikan kebahagiaan untuk menghapus kedukaanmu,” Fan Li yang telah maju lebih dulu itu memberi hormat dan berkata dengan suara menggetar.

Bu Kong terharu. “Fan-ciangkun, aku sekarang bukan seorang jenderal lagi, harap kau jaga semua anak buah kita baik-baik. Terima kasih atas ucapanmu ini dan mudah-mudahan Thian-pun memberikan berkah-Nya kepadamu.”

Panglima Kok lalu menyusul. “Goanswe, kami tidak dapat memberikan apa-apa kepadamu, selain ucapan selamat berpisah dan semoga Thian selalu melindungimu. Dan untuk kesalahan-kesalahan yang pernah kubuat, harap kau suka memaafkannya. Aku memang orang dogol, dan sesungguhnya dengan engkau di samping kami, kedogolanku dapat dilenyapkan. Siapa duga, tahu-tahu engkau memutuskan untuk meninggalkan kami. Aih, goanswe, memang rupanya ini semua nasib kami yang kurang beruntung....”

Bu Kong tersenyum. “Kok-ciangkun, siapa bilang kau dogol? Justeru kau adalah orang yang jujur dan suka bicara blak-blakan. Kalau kau dogol, tentu pangeran tidak akan sudi mengangkatmu menjadi panglima muda!”

Kok Hun menyeringai masam dan dua orang teman lain lalu juga berturut-turut memberikan hormatnya. Dan karena setiap kali dipanggil "goanswe" selalu pemuda itu memperingatkan bahwa dia sekarang bukan lagi seorang jenderal, maka Lek Hui sebagai orang terakhir maju ke depan sambil menjura.

“Pendekar Gurun Neraka, karena kau sekarang tidak mau disebut jenderal dan hendak menceburkan diri sebagai orang kang-ouw, maka perkenankanlah aku mengucapkan selamat jalan. Semoga Thian selalu melindungimu dalam perjalanan dan pada kesempatan ini pula aku mempersilahkan engkau untuk mampir di tempat suhu apabila kau lewat di Pegunungan Beng-san!”

Bu Kong membalas panghormatan orang. “Auw-twako sungguh ramah. Terima kasih atas undangan ini dan kelak apabila aku lewat di sana, pasti aku akan singgah di tempat gurumu.”

Lek Hui tersenyum gembira. “Pendekar Gurun Neraka, harap kau tidak mengingkari janji. Suhu pasti senang bertemu denganmu dan akupun kelak akan memberitahukan kesanggupanmu ini kepada beliau.”

Bu Kong tersenyum dan setelah mengucapkan beberapa kata lagi, pemuda itupun berpamit dan memutar tubuh meninggalkan mereka. Lima orang temannya memandang sampai pemuda itu keluar dari pintu gerbang dan Fan Li bersama tiga orang temannya berkaca-kaca. Hanya Lek Hui yang wajahnya "berseri" karena raksasa muda yang tinggi besar ini benar-benar merasa girang dapat mencarikan seorang "jago" bagi gurunya untuk melakukan pi-bu!

Demikianlah, setelah keluar dari pintu gerbang Utara itu, Bu Kong lalu melanjutkan perjalanannya ke barat untuk memberikan laporan kepada suhunya sebelum dia mencari Cheng-gan Sian-jin. Akan tetapi, ketika tiba di sebuah tikungan, mendadak Bu Kong tertegun. Seorang gadis baju hijau berdiri menunggunya dengan muka pucat. Tubuh yang kurus serta rambut yang kusut itu benar-benar membuat hati pemuda ini tergetar dan sebelum dia sempat membuka mulut, gadis itu yang bukan lain adalah Pek Hong adanya sudah lari terhuyung-huyung dengan mata basah.

“Yap-koko. kau... hendak kemanakah...?” pertanyaan yang menggetar ini membuat Bu Kong merintih di dalam hati karena dia merasa betapa suara itu terdengar amat memilukan sekali.

Sejenak pemuda ini memejamkan matanya dan ketika dia membukanya kembali, Bu Kong menjawab sambil menggigit bibir. “Hong-moi, aku berjalan menurutkan kakiku melangkah. Mengapa kau tiba-tiba berada di sini?”

Pek Hong terisak. “Yap-koko, aku hendak menyatakan penyesalanku atas semua kejadian yang kau alami gara-gara aku. Dan sekarang, kudengar kabar bahwa kau telah melepaskan diri dari istana. Betulkah?”

Bu Kong mengangguk. “Benar, Hong-moi. Peperangan telah membuat hatiku ikut berdarah, dan kini aku hendak menemui suhu...”

“Kalau begitu, bolehkah aku ikut...?”

Pertanyaan tiba-tiba ini membuat Bu Kong terkejut dengan jantung berdetak kencang. Sedetik mukanya berobah, akan tetapi, cepat dia dapat menekan guncangan ini. Dia tidak tahu, bagaimanakah perasaannya pada saat itu, bergirang ataukah gelisah. Akan tetapi, karena dia tidak ingin menyinggung perasaan gadis itu, maka pemuda ini hanya mengangkat bahu.

“Hong-moi, aku orang sial. Maka aku takut kalau kaupun nanti ikut menerima sial jika bersamaku. Namun, kalau itu sudah menjadi kehendakmu, akupun tidak berani melarangnya...”

Setelah berkata demikian, pemuda itupun lalu membalikkan tubuh dan dengan langkah tenang dia melanjutkan perjalanan. Pek Hong terbelalak, dan sejenak gadis ini terisak. Akan tetapi, setelah ia sadar kembali, gadis itupun lalu mengejar dengan kaki tersaruk-saruk.

“Yap-koko, tunggu aku...! Aku ikut...! Kalau benar aku mengalami nasib sial seperti katamu tadi, biarlah hal itu kuterima...!” Pek Hong berseru dengan air mata berlinang sementara Bu Kong sendiri tersenyum pahit.

Pemuda ini tidak berhenti, juga tidak menoleh. Mereka terus berjalan dan berjalan, mengikuti langkah kaki yang membelok tanpa kendali, dan bersamaan dengan lenyapnya bayangan dua orang itu, ceritera inipun berakhir.

Yap-goanswe telah menarik dirinya dengan resmi dari istana, dan sebagai gantinya muncullah nama Pendekar Gurun Neraka di dunia persilatan. Nama ini disegani kawan dan lawan, apalagi bagi mereka yang sudah mengetahui bahwa pendekar itu bukan lain adalah bekas Jenderal Muda Yap yang gagah perkasa.

Namun, seperti juga putaran bumi sepanjang masa, ceritera inipun sesungguhnya belumlah selesai. Peristiwa demi peristiwa akan dihadapi Bu Kong dan di dalam ceritera berikutnya yang berjudul PENDEKAR KEPALA BATU itulah Anda semua akan kami ajak untuk berjumpa kembali dengan pendekar muda ini.

PENDEKAR KEPALA BATU, inilah judul yang kami ambil untuk memperkenalkannya kepada Anda semua, di mana syair nomor tiga dari kitab pusaka Bu-beng Sian-su akan kami tampilkan. Namun, karena buku ini sendiri sudah terlalu tebal, lebih dari seratus halaman dan yang terpaksa dipecah menjadi dua, maka syair berikutnya tidak saya pasang di sini. Untuk itu, baiklah Anda lihat saja ceritera berikutnya yang pasti lebih menegangkan lagi karena di dalam ceritera Pendekar Kepala Batu mulai muncul jago-jago tua seperti Sin-hwi-ciang yang lolos dari Pulau Iblis Hitam serta Ciok-thouw Taihiap sendiri.

Para pembaca yang budiman, dengan berakhirnya kisah Pendekar Gurun Neraka ini, penulis mengharap mudah-mudahan di samping sebagai hiburan di kala senggang, buku inipun membawa manfaat bagi Anda semua. Mudah-mudahan kita bersama dapat mengenal arti kehidupan dengan lebih baik lagi dan petunjuk-petunjuk dalam kitab pusaka manusia dewa itu yang amat menarik untuk diketahui. Semoga!

T A M A T