PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 17
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka
MALAIKAT Gurun Neraka mengangguk. “Pergilah, muridku. Doaku bersamamu dalam perjalanan dan mudah-mudahan apa yang kau cita-citakan dapat berhasil. Hanya pesanku, berhati-hatilah dalam melaksanakan tugas ini dan.... Eh, bukankah surat Bu-beng Sian-su masih kau bawa?”

Bu Kong agak terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba ini, akan tetapi, dia menjawab juga dengan suara heran, “Masih teecu simpan, suhu. Ada apakah?”

“Tidak apa-apa,” pendekar itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Aku hanya ingin tahu saja dan kalau surat itu masih kau simpan, syukurlah. Aku merasa bahwa kelak surat itu akan amat berguna sekali bagimu, Kong-ji. Oleh sebab itu, jagalah jangan sampai hilang.”

“Baik suhu akan teecu perhatikan semua nasihat ini,” Bu Kong menjawab dan pertanyaan gurunya yang menyinggung-nyinggung surat Bu-beng Sian-su itu tiba-tiba mengingatkan dia akan pertanyaannya sendiri tentang rencana perjodohannya dengan Sian Li yang masih belum dijawab gurunya. Oleh sebab itu, dengan hati berdebar dan muka agak merah pemuda itu lalu bertanya, “Suhu, sebelum teecu berangkat, bolehkah teecu mengulangi pertanyaan teecu yang dulu!”

Pendekar itu mengerutkan keningnya dan memandang tajam. “Pertanyaan yang mana maksudmu?” tanyanya.

Bu Kong menundukkan mukanya dan tiba-tiba sikapnya menjadi agak kikuk. Namun, karena dia telah memutuskan untuk minta ketegasan gurunya dalam masalah ini, maka dengan muka yang semakin merah dia menjawab lirih, “Pertanyaan tentang perjodohan teecu, suhu. Dapatkah kiranya suhu menenuhi permintaan ini dan merestui perjodohan teecu dengan Li-moi?”

“Hemm, soal itukah?” tiba-tiba senyum di wajah pendekar sakti itu lenyap dan Bu Kong berdetak jantungnya. Kemudian, dengan suara keren pendekar ini menyambung, “Kong-ji, terus terang kukatakan di sini bahwa pertanyaanmu itu terlampau pagi diajukan. Tugas belum selesai dikerjakan dan kau sendiri belum mengetahui hasil tidaknya, kenapa tergesa-gesa bicara soal perjodohan?”

Pemuda itu mengangkat mukanya. “Suhu, mohon dimaafkan kalau teecu membantah. Yang teecu maksudkan di sini bukanlah sekarang, akan tetapi, kelak jika teecu sudah selesai melaksanakan tugas-tugas teecu membasmi musuh...”

“Dan sudah berhasilkah tugas-tugasmu itu?” Malaikat Gurun Neraka memotong. “Sudah yakinkah kau bahwa pekerjaan yang hendak kau lakukan ini berjalan lancar tanpa penghalang dan selicin jalan di kota raja?”

“Teecu yakin pasti berhasil, suhu.”

“Hemm, kau hendak bersombong?” pendekar itu membentak marah. “Kong-ji, tidak baik bagi kita untuk bermulut besar. Tidak ingatkah engkau akan nasihat ini? Atas dasar apa kau merasa yakin atas keberhasilanmu? Mengandalkan tiga jurus sakti Lui-kong Ciang-hoat?”

Melihat gurunya marah, Bu Kong menundukkan kepalanya. “Tidak, suhu, teecu sekali-kali tidak bermaksud untuk menyombongkan diri. Kalau suhu bertanya atas dasar apa teecu berani bicara seperti itu, bukan lain adalah atas dasar Tuhan nanti akan membantu pihak yang benar dan tidak mungkin membiarkan kejahatan Cheng-gan Sian-jin dan teman-temannya merajalela di muka bumi!”

Malaikat Gurun Neraka berkurang kemarahannya, akan tetapi, wajahnya masih tetap keras. “Kong-ji, musuh-musuh yang kau hadapi bukanlah lawan ringan, terutama Cheng-gan Sian-jin sendiri yang memiliki kepandaian paling tinggi. Di samping itu, aku sendiri masih merasa was-was terhadap kemunculan susiokmu yang keluar dari pulau Hek-kwi-to. Meskipun, dengan tiga jurus sakti yang kau miliki sekarang kau sudah dapat diandalkan untuk menghadapi musuh-musuhmu, akan tetapi, kemungkinan-kemungkinan di luar perhitungan bisa saja terjadi setiap saat. Kenapa kau tergesa-gesa membicarakan soal perjodohan?”

Melihat gurunya tdak senang hati, Bu Kong menjadi gelisah juga. Diam-diam dia merasa cemas kalau gurunya ini tidak menyetujui niat perjodohannya itu. Namun, karena dia telah bertekad untuk mengetahui jawaban gurunya sekarang juga karena masalah ini amat penting baginya dan tidak kalah pentingnya dengan urusan-urusan lain, maka dia mengumpulkan seluruh keberaniannya dan berlaku nekat.

“Maaf, suhu,” Bu Kong menjatuhkan diri berlutut. “Bukannya teecu mendesak, akan tetapi, kalau kelak Li-moi menanyakan hal ini kepada teecu padahal teecu sendiri masih belum mengetahui jawaban suhu, lalu apa yang hendak teecu katakan kepada gadis ilu? Suhu, memandang kasih sayang suhu terhadap teecu selama ini, sukalah suhu memberikan jawaban sekarang juga mumpung teecu belum berangkat, baik suhu menerima ataupun menolaknya!”

“Kong-ji, kau nekat?” pendekar itu mendongkol.

“Tidak, suhu.”

“Lantas kenapa kau mendesakku sedemikian rupa?” Malaikat Gurun Neraka mulai naik darah.

“Semata-mata hanya untuk menepati janji, suhu. Teecu sudah berjanji kepada gadis itu untuk memberi keterangan tentang jawaban suhu kepadanya. Sebaliknya, Li-moi sendiri akan memberitahukan kepada teecu jawaban orang tuanya. Bukankah suhu mengajarkan kepada teecu agar selalu menepati janji yang telah diucapkan dan menjadi manusia yang dapat dipegang omongannya?”

Pendekar sakti itu tertegun, memandang muridnya dengan mata terbelalak dan akhirnya kekerasan sinar matanya beangsur-angsur lenyap. Memang begitulah pelajaran yang selama ini diberikan kepada muridnya, yakni agar menjadi orang yang selalu berusaha menepati janji dan berdisiplin. Apalagi sebagai pemuda yang pernah menjadi jenderal di Kerajaan Yueh, maka "orang yang dapat dipegang omongannya" begini benar-benar mutlak diperlukan.

“Kong-ji,” akhirnya pendekar sakti itu menarik napas panjang. “Kau benar-benar terlalu sekali mendesak orang tua. Akan tetapi, karena alasanmu memang tak dapat kubantah, maka biarlah kujawab juga pertanyaanmu itu. Sebenamya, dalam masalah perjodohanmu ini, aku tidak menolak maupun menyetujuinya....”

Bu Kong terkejut dan mengangkat mukanya. “Ah, lalu bagaimana kalau begitu, suhu!”

“Dengarlah,” Malaikat Gurun Neraka mengangkat tangannya kemudian melanjutkan, “Adanya aku tidak berani menolak ataupun menyetujuinya adalah karena disebabkan keadaanmu yang tidak karuan itu. Pertama-tama, aku belum melihat titik terang dalam persoalanmu itu. Kau tahu sendiri, Kong-ji, bahwa ayah gadis itu adalah musuh besarmu yang telah menghancurkan Yueh dan memfitnah nama baikmu sedemikian kejamnya. Akan tetapi, anaknya malah menjadi kekasihmu. Bagaimana engkau dapat menikmati kebahagiaan dalam rumah tangga yang didirikan di atas pertentangan begini?”

“Akan tetapi, suhu,” Bu Kong membantah dengan muka pucat. “Pertentangan ini bukan timbul dari teecu berdua, melainkan timbul dari pihak luar. Ok-ciangkun kebetulan saja menjadi ayah gadis itu sehingga ada kaitannya, namun dalam masalah rumah tangga yang hendak teecu dirikan, sama sekali tidak ada pertentangan itu. Bukankah suhu pernah berkata bahwa dasar utama bagi orang yang hendak berumah tangga adalah cinta kasih kedua belah pihak? Nah, teecu berdua telah memiliki dasar utama ini dan masalah Ok-ciangkun bagi teecu adalah masalah luar!”

“Hemm, akan tetapi, dia adalah orang tua gadis itu dan berhak menentukan jodoh puterinya, Kong-ji,” kata pendekar ini.

“Memang betul, suhu,” jawab Bu Kong. “Sebagai orang tua dia memang berhak, akan tetapi, haknya sama sekali tidak mutlak!”

Bantahan pemuda itu membuat Malaikat Gurun Neraka tersenyum maklum dan tentu saja diapun mengerti tentang hal ini. Akan tetapi, karena dia ingin melihat sampai sejauh mana tekad muridnya itu, maka pendekar itu berkata, “Kong-ji, sanggahanmu memang tepat. Baiklah, kita akui bahwa Ok-ciangkun tidak mempunyai hak mutlak dalam masalah perjodohan puterinya karena yang akan menikah bukanlah dia, melainkan kalian berdua. Namun muridku, kalau ayah gadis itu menentang perjodohan kalian, bukankah belum apa-apa sudah terdapat percekcokan di sini? Bagaimana kau hendak membangun rumah tangga yang didasari percekcokan begini! Bukankah hal ini mirip membangun sebuah rumah yang fondasinya retak-retak? Dapatkah kelak rumah itu sendiri bertahan lama? Orang berumah tangga mempunyai mata rantai yang tiada putusnya antara yang satu dengan yang lain, antara anak dengan orang tuanya, antara anak dengan saudara-saudaranya. Kalau kau tetap berkukuh melanjutkan niatmu ini, dapatkah kebahagiaan kelak menaungi hidupmu, Kong-ji? Bukannya aku melarang, akan tetapi, apakah tidak sebaiknya kau pikirkan dahulu hal ini sematang-matangnya, muridku?”

Bu Kong menggelengkan kepalanya dan pendekar itu melihat betapa tiba-tiba sikap kepala batu muridnya itu timbul. “Suhu, orang hidup di mana-mana sama saja. Pertentangan dan permusuhan selalu ada. Kalau teecu tidak dapat mengatasi hal-hal semacam ini, lalu kapan teecu bisa maju. Hal ini sudah biasa, suhu, dan itulah sebabnya mengapa teecu berdua telah bertekad untuk mengatasi semua rintangan-rintangan yang menghalang di tengah jalan. Jika Ok-ciangkun tidak menyetujui perjodohan ini, teecu berdua tidak akan memperdulikannya sama sekali. Teecu tidak akan membiarkan kebahagiaan ini rusak hanya karena pertentangan orang luar belaka! Oleh sebab itu, siapapun yang menghalanginya akan teecu lawan!”

“Termasuk penolakan ayah gadis itu?” pendekar itu bertanya.

“Begitulah, suhu!” Bu Kong menganggukkan kepalanya dengan tegas.

“Dan bagaimana kalau akupun menentangnya?” tiba-tiba Malaikat Gurun Neraka memandang muridnya dengan tajam. “Apakah kau juga akan melawan gurumu sendiri?”

“Suhu...!” Bu Kong melompat kaget dan mukanya pucat sekali, memandang gurunya seperti orang mendengar petir di siang hari. Sejenak pemuda ini terbelalak, tak mampu bersuara seperti orang disengat ular berbisa. Namun akhirnya pemuda ini berdiri perlahan-lahan, kemudian maju berlutut di depan kaki gurunya. “Suhu....” katanya dengan suara menggigil, “....apakah ucapan yang suhu keluarkan itu sungguh-sungguh ataukah hanya main-main belaka?”

“Anggaplah saja bahwa apa yang kukatakan tadi sungguh-sungguh. Kalau sudah begitu, apakah yang hendak kau lakukan? Melawan guru sendiri?” pendekar ini bertanya keren.

Bu Kong menundukkan kepalanya. “Kalau suhu bersungguh-sungguh, atas dasar apakah suhu menentang perjodohan teecu? Kalau atas dasar pribadi, suhu tidak berhak sama sekali menentang perjodohan ini! Akan tetapi, kalau Suhu hendak memaksakan diri sebagai orang tua yang berkuasa dan telah melepas budi kepada teecu, tentu saja teecu tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, di sini teecu dengan terus terang mencela Suhu sebagai orang tua tanpa cinta kasih yang picik pikiran dan hendak menyenangkan diri sendiri dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain!”

Hebat dan berani sekali kata-kata ini dan kalau saja Malaikat Gurun Neraka bersungguh-sungguh tentu pendekar itu marah sekali. Akan tetapi, karena pendekar sakti ini memang hanya ingin menjajagi muridnya sampai berapa jauh niat yang terkandung dalam masalah perjodohan itu, maka pendekar ini sama sekali tidak merasa marah.

Keberanian muridnya dalam segala hal asal merasa diri sendiri benar memang sudah diketahuinya dengan baik. Itulah sebabnya diam-diam dia merasa kagum terhadap pemuda itu yang tidak segan-segan untuk mencela guru sendiri bila melakukan kekeliruan! Inilah hal yang jarang sekali terjadi dan Malaikat Gurun Neraka tersenyum di dalam hatinya.

Akan tetapi, karena jawaban pemuda itu masih dirasa kurang memuaskan dan agak "memutar", pendekar ini mengerutkan alisnya. “Kong-ji, kau belum memberi jawaban yang tegas dalam pertanyaanku tadi. Kau belum menjawab hendak melawan guru ataukah tidak apabila aku menentang perjodohan ini. Nah, sekarang jawablah, jika aku menentang maksudmu itu, apakah kaupun akan melawan suhumu sendiri?”

Bu Kong mengangkat mukanya. “Suhu, jawaban yang tegas belum bisa teecu berikan selama suhu sendiri belum mengatakan kepada teecu atas dasar apakah Suhu menentang perjodohan itu. Oleh sebab itu, kalau suhu ingin jawaban teecu, harap suhu katakan dulu atas dasar pribadi ataukah dasar kekuasaan sehingga suhu hendak menentang perjodohan ini!”

“Kalau atas dasar kekuasaan?” pendekar itu bertanya.

“Teecu akan mengorbankan kebahagiaan ini sebagai penebus hutang budi teecu kepada suhu yang telah memelihara teecu belasan tahun. Akan tetapi, di samping itu, sebagai manusia yang melihat kekeliruan sikap guru yang berjiwa pedagang dengan cara imbalan jasa dan memperhitungkan untung rugi, perlu teecu peringatkan bahwa sikap yang suhu ambil bukanlah sikap seorang pendekar sejati yang seharusnya menjauhi tindakan sewenang-wenang!”

Merah muka pendekar ini karena jawaban muridnya ini benar-benar tajam bukan main, merupakan kecaman pedas yang dapat membuat orang bersangkutan naik darah. Akan tetapi, karena dia memang sengaja mencoba maka pendekar itu bertanya lebih lanjut. “Dan bagaimana kalau atas dasar pribadi?”

Bu Kong memandang gurunya. “Suhu, untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu teecu ingin bertanya, termasuk golongan manakah suhu dalam dunia persilatan?”

“Maksudmu?” pendekar itu bertanya heran.

“Maksud tecu ialah, termasuk golongan hitam ataukah putih suhu ini. Kalau suhu termasuk golongan hek-to (hitam), maka teecu akan melawan karena yang teecu lawan bukanlah orangnya melainkan kejahatannya seperti yang biasa suhu wejangkan kepada teecu. Akan tetapi, kalau suhu termasuk golongan pek-to (putih), tidak mungkin suhu akan melaksanakan niat itu karena seorang pendekar tahu akan perbuatan-perbuatan yang melanggar hati nuraninya sendiri. Nah, sekarang tinggal suhu sendiri untuk menjawabnya secara jujur.”

Inilah tangkisan yang jitu sekali dan kalau tadi Malaikat Gurun Neraka mendesak muridnya untuk menjawab, adalah sekarang pemuda itu membalikkan keadaan sedemikan rupa sehingga dia yang harus menjawab! Tentu saja hal ini menyudutkan pendekar itu dan manapun yang dipilih, sebenarnya dia tetap saja tidak dapat menghalangi masalah perjodohan muridnya!

“Ha-ha. kau cerdik, muridku!” Malaikat Gurun Neraka tak dapat menahan hatinya lagi dan tertawa bergelak. “Jawaban yang kau berikan benar-benar memuaskan sekali. Baiklah, karena tidak ada seorangpun yang sanggup menghalangi niat seseorang, maka apa pula yang dapat kulakukan dalam hal ini? Kalau kau sudah bertekad sedemikian rupa, biarlah aku membantumu memperjuangkan perjodohan ini. Pergilah, kerjakan tugasmu itu dan selesaikan segera. Kelak apabila semuanya berhasil, aku akan merangkapkan kalian sebagai suami isteri dan mudah-mudahan kebahagiaan selalu bersamamu!”

Bu Kong girang bukan main mendengar kata-kata gurunya ini dan seketika mukanya berseri gembira. “Suhu, terima kasih...!” pemuda itu menjatuhkan diri berlutut dan berseru girang. “Teecu memang sudah menyangka bahwa tidak mungkin suhu akan menolak perjodohan ini.”

“Hemm, dari mana kau tahu?” gurunya bertanya sambil tersenyum.

“Dari watak suhu yang selalu bijaksana terhadap teecu.”

“Ha-ha, kau mau mengumpak gurumu, ya?” pendekar itu menepuk pundak muridnya dan Bu Kong tersenyum lebar.

“Tidak, suhu, akan tetapi bukankah memang demikian kenyataannya?”

“Hah, sudahlah!” orang tua itu mendengus. “Tidak perlu gurumu dipuji-puji setinggi langit. Paling baik sekarang juga kau berangkat dan ingat pesanku tadi, berhati-hatilah selalu dalam menjalankan tugas berbahaya ini.”

Bu Kong mengangguk girang. “Baik, suhu. Akan teecu perhatikan semua nasihat ini dan mudah-mudahan berkat doa restu suhu, teecu dapat berhasil mencapai cita-cita. Sekarang perkenankanlah teecu pergi, suhu, selamat tinggal...!” pemuda itu memberi hormat yang terakhir kalinya kepada gurunya lalu memutar tubuh meninggalkan tempat itu dengan wajah berseri dan senyum gembira.

Malaikat Gurun Neraka memandang tubuh belakang muridnya dan diam-diam bergumam perlahan, “Semoga dia tidak mengulangi nasib gurunya yang buruk dalam asmara...!” dan sampai bayangan muridnya lenyap di tikungan, pendekar sakti ini masih saja berdiri tegak di depan gua.

Cinta kasih! Demikian hebat kekuasaanmu kalau sudah mencengkeram diri seseorang. Namun, kebahagiaankah yang bakal kau berikan kepada mereka? Mudah-mudahanlah.

Semangat dan tekad Bu Kong yang pantang menyerah diam-diam membuat hati pendekar ini kagum sekali. Jarang ditemukan sekarang pemuda yang seperti itu. Akan tetapi, berbahagiakah kelak muridnya dalam melanjutkan kisah asmaranya dengan murid mendiang Mo-i Thai-houw yang dulu juga menjadi kekasihnya itu? Entahlah!

Bahkan tiba-tiba sepasang alis pendekar ini berkerut ketika dia teringat surat Bu-beng Sian-su yang diberikan kepada muridnya. Kalimat-kalimat ganjil yang ditulis manusia dewa itu mengandung suatu "kengerian" aneh yang dirasa. Kalau saja muridnya itu dapat menembus jauh, barangkali Bu Kong sedikit banyak dapat menyentuh apa yang dimaksudkan tokoh dewa itu. Akan tetapi, pemuda itu sedang dikuasai kegembiraan sendiri dan hal itu membuat daya tanggapnya berkurang. Dapatkah melihat "jauh" ke depan?

Rupanya tidak. Ah, biarlah dia lihat saja apa yang bakal terjadi dan bagaimanakah kelak jawaban dari kalimat-kalimat ganjil Bu-beng Sian-su itu. Mudah-mudahanlah muridnya mendapatkan suatu pengalaman berharga bagi dirinya sendiri sehingga kelak dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Angin meniup santai, keharuman bunga semakin semerbak. Daun-daun pohon bergoyang lembut dan Malaikat Gurun Neraka termenung beberapa saat di depan gua sampai akhirnya masuk ke dalam dan duduk bersamadhi di atas batu bundar yang hitam mengkilap.

* * * * * * * *

Matahari belum naik tinggi ketika Bu Kong keluar dari mulut hutan dengan mata bersinar-sinar. Kegembiraan memenuhi hatinya dan pagi yang cerah membuat segalanya tampak indah. Namun, baru saja pemuda ini hendak mengerahkan gin-kangnya untuk melanjutkan perjalanan sambl berlari cepat, mendadak dari kejauhan terdengar derap kaki kuda. Debu mengepul tinggi dan samar-samar seekor kuda hitam tinggi besar dengan bulu surinya yang panjang riap-riapan muncul dari arah selatan.

Ketika Bu Kong mengerahkan kekuatan matanya, pemuda ini terkejut melihat betapa kuda itu berlari dengan punggung kosong alias tanpa penunggang. Tentu saja dia merasa heran dan karena kuda itu masih terlalu jauh, dia tidak dapat melihat jelas. Akan tetapi, melihat kuda hitam yang larinya secepat terbang ini otomatis mengingatkan dirinya akan Hek-ma (Si Hitam) yang sudah lama tidak ditemuinya. Diam-diam hatinya mulai berdebar dan baru saja dia hendak melompat, sekonyong-konyong dibelakang kuda hitam itu muncul empat ekor kuda lain yang mengejar di belakangnya.

Dilihat dari mulut hutan, empat orang yang duduk dibelakang punggung kuda itu seakan-akan sedang memburu kuda hitam yang berlari kencang di depan. Bu Kong mengerutkan alisnya dan dia ingin tahu siapakah empat orang yang agaknya hendak menangkap kuda hitam itu. Dan karena dia sendiri juga ingin tahu apakah kuda hitam itu Hek-ma atau bukan, tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan siul tinggi yang melengking nyaring.

Itulah isyarat panggilan bagi Hek-ma yang biasa diberikan kepada kudanya. Kalau kuda hitam Yang berlari seperti terbang itu memang Hek-ma adanya, tentu kuda itu akan meringkik panjang sebagai jawaban. Betul saja! Begitu siulan nyaring yang melengking tinggi itu dikeluarkan sehingga dapat didengar sampai belasan lie jauhnya, tiba-tiba kuda hitam yang dikejar dari belakang itu melonjak dan meringkik panjang. Larinya mendadak bertambah cepat dan luar biasa, keempat kakinya seolah-olah tidak menginjak bumi lagi dan kuda hitam itu meluncur di atas tanah seperti kuda terbang!

Tentu saja Bu Kong merasa girang. Tidak menunggu kuda hitam itu mendekati hutan, pemuda itu sudah bersiul kembali dan tubuhnya berkelebat ke depan menyongsong Hek-ma yang meringkik-ringkik panjang itu. Sebentar saja, karena dua pihak saling menghampiri dan kedua-duanya sama-sama bergerak cepat, kuda serta tuan mudanya ini sudah berhadapan muka dan pemuda itu berteriak memanggil Hek-ma dengan penuh kegembiraan. Hek-ma sendiri juga melompat maju dan mengibaskan ekornya sambil melonjak-lonjak dan kuda yng amat setia kepada majikannya ini sudah menekuk dua kaki depannya dan berlutut!

Demikianlah, dua sahabat yang lama tidak bertemu itu sekarang saling peluk dan Bu Kong merangkul leher kudanya dengan penuh keharuan. Ditepuk-tepuknya punggung Hek-ma dan diciumnya telinga kiri kuda ini dan Hek-ma mengeluarkan keluhan seperti orang menangis. Akan tetapi, mereka tidak mendapat banyak kesempatan untuk mencurahkan kegembiraan masing-masing karena pada saat itu, empat ekor kuda yang tadi mengejar Hek-ma telah muncul di depan mereka. Dan begitu empat penunggang kuda ini tiba, mereka berseru memanggil Bu Kong dan berlompatan turun.

Bu Kong terbelalak dan sejenak dia tertegun kaget melihat orang-orang itu. Tadinya dia mengira bahwa empat orang yang mengejar-ngejar kudanya itu adalah para pemburu yang hendak menangkap Hek-ma. Tidak tahunya mereka adalah orang-orang yang sudah amat dikenalnya, kecuali orang keempat yang bertubuh tinggi besar dan memakai gelang baja yang melilit lehernya.

Siapakah orang-orang ini? Bukan lain adalah Fan Li serta dua orang tokoh dari istana Yueh yang sudah lama tidak dijumpai Bu Kong. Dan seperti biasa, Fan Li yang selalu mengenakan baju biru dengan ikat kepala kuning itu sudah berteriak dari kejauhan dan menghampiri bekas jenderal muda ini sambil memberi hormat.

“Goanswe selamat bertemu kembali dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa engkau telah telah terbebas dari Jit-coa-tok! Akan tetapi, mana nona Hong?”

Bu Kong mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan itu karena tiba-tiba saja hatinya merasa tidak enak. Seperti diketahui, atas bantuan Pek Hong dan Fan Li itulah maka dia terbebas dari bahaya maut. Dan kini pertanyaan pemuda itu tentang Pek Hong mengingatkan dia akan segala peristiwa yang terjadi. Namun, karena dia tidak ingin memperpanjang urusan ini, Bu Kong lalu menjawab juga untuk membalas penghormatan sahabatnya itu,

“Fan-ciangkun, Hong-moi telah pergi setelah aku sembuh, mungkin kembali pada gurunya. Dan bersama ini pula terimalah ucapan terima kasihku yang tak terhingga atas semua pertolonganmu membebaskan diriku dari tangan Cheng-gan Sian-jin.”

Fan Li tersipu-sipu menerima ucapan ini. “Goanswe, mengapa terlalu sungkan? Kita adalah orang-orang sendiri dan sudah sepantasnya kalau kita saling tolong-menolong. Bukankah demikian, pangeran?” pemuda ini tiba-tiba menoleh ke kanan dan berkata sambil tersenyum ke arah laki-laki berpakaian indah bertopi bulu yang sedang menghampiri mereka.

Laki-laki yang dipanggil pangeran ini tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya. “Apa yang diucapkan ciang-kun memang benar. Kita adalah orang-orang sendiri dan bantu membantu di antara kita adalah hal yang sudah semestinya. Bagaimana, goanswe? Bukankah engkau baik-baik saja?”

Bu Kong terkejut. Seharusnya dialah yang terlebih dahulu menegur laki-laki ini yang bukan lain adalah Pangeran Kou Cien, akan tetapi, ternyata pangeran ini telah mendahuluinya. Maka tentu saja dengan tergesa-gesa dan memutar tubuh dan memberi hormat. “Pangeran, atas doa restu Anda, hamba baik-baik saja dan semoga Thian selalu memberikan berkah-Nya kepada Anda! Maaf, karena tidak menyangka kedatangan paduka hamba tidak dapat menyambut sepantasnya.”

“Ha-ha, tidak apa, goanswe... tidak apa,” pangeran itu tertawa. “Kami datang bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk membicarakan urusan penting denganmu. Dan atas nasihat Wen-taijin inilah maka aku memberanikan diri untuk minta bantuanmu. Bukankah demkian, Wen-taijin?”

Pangeran ini menoleh ke kiri di mana berdiri seorang laki-laki setengah tua berpakaian bangsawan yang halus gerak-geriknya. Laki-laki ini memiliki mata yang lembut, sikapnya sabar, dan wajahnya membayangkan kebijaksanaan seorang tua yang telah mengenyam pahit getirnya hidup. Inilah dia Wen-taijin atau yang dalam sejarah dikenal dengan nama Wen Chung, seorang pembesar istana yang menjadi penasihat Kou Cien.

Melihat pangeran itu menegurnya, laki-laki tua ini membungkukkan tubuhnya kemudian memberi hormat kepada Bu Kong. “Goanswe, maaf apabila bujukanku terhadap pangeran mengganggu ketenteraman hatimu. Bukan sekali-kali maksudnya hendak mengacaukan ketenanganmu, akan tetapi, terdorong oleh masalah yang jauh lebih penting dan menyangkut kehidupan orang banyak, maka aku memberanikan diri mengusulkan kepada pangeran agar datang ke sini.”

Bu Kong tertegun dan hatinya mulai berdebar. Mendengar ucapan dua orang tokoh istana ini mudah baginya untuk menebak bahwa kedatangan mereka pasti ada hubungannya dengan Kerajaan Yueh. Padahal dia sudah bersumpah untuk tidak membantu dan berhubungan lagi dengan kerajaan itu! Akan tetapi, melihat Wen-taijin sudah menjura di depannya, diapun segera membalas hormat dan berkata,

“Taijin dan pangeran terlalu merendah, mana berani aku menerimanya? Kalau ji-wi merasa bahwa aku bisa membantu ji-wi, sungguh merupakan anugerah besar bagiku. Akan tetapi, agar pembicaraan kita dapat lebih lancar, harap Taijin sekalian tidak memanggilku goanswe (jenderal) lagi karena jabatan itu sudah lama tidak ada di pundakku. Yang ada di hadapan cu-wi (Anda sekalian) adalah orang she Yap, bukan jenderal.”

Kata-kata ini diucapkan dengan suara tegas, karena Bu Kong memang hendak memperingatkan orang-orang yang berada di situ bahwa dia bukan lagi Yap-goanswe dari Kerajaan Yueh, melainkan Yap Bu Kong, pemuda biasa.

Tentu saja Pangeran Kou Cien dan yang lain-lainnya mengerti maksud pemuda itu, diam-diam hati pangeran ini gelisah. Sesungguhnya kedatangannya ke tempat ini bukan lain adalah untuk mengundang bekas jenderal muda itu guna memimpin sisa-sisa pasukan Yueh yang berhasil dikumpulkan. Namun, meskipun pasukan mereka sudah berjumlah cukup besar buat melakukan pembalasan kepada musuh, tanpa adanya seorang pimpinan yang pandai tentu saja kekuatan mereka tidak berarti, ibarat lembu tanpa tanduk atau harimau tanpa gigi!

Dan sekarang, melihat orang yang hendak dimintai tolong mulai menunjukkan kekerasan hatinya karena tentu saja pemuda itu teringat akan segala kejadian di istana sehingga dipecat dengan cara tidak hormat oleh mendiang sri baginda, diam-diam pangeran ini merasa cemas. Dia cukup mengenal watak pemuda itu, mengenal keberanian serta kekerasan hatinya. Dan untuk membujuk bekas jenderal muda inilah maka dia sengaja membawa Wen-taijin agar dapat melunakkan hati pemuda itu.

Seperti diketahui, Wen-taijin ini adalah orang yang paling dihormati oleh Bu Kong semasa dia masih berada di Yueh karena atas jasa-jasa orang tua inilah maka dia dapat menjadi jenderal di kerajaan itu. Bahkan bukan itu saja. Wen-taijin inipun banyak memberinya nasihat-nasihat serta petunjuk-petunjuk berharga dalam masalah pribadinya dan berkat nasihat-nasihat orarg tua itu Bu Kong dapat menjaga diri dari rayuan Lie Lan, keponakan Lie-thaikam ketika gadis itu dulu dulu datang ke gedungnya.

Dan Pangeran Kou Cien yang mengetahui hal ini hendak mempergunakan pengaruh Wen Chung agar mereka berhasil membujuk pemuda itu memimpin pasukan lagi seperti dulu. Apalagi, di samping mereka masih terdapat Fan-ciangkun yang pernah melepas budi terhadap Bu Kong, maka pangeran ini mengharap bahwa perjalanannya tidak sia-sia. Itulah sebabnya maka jauh-jauh dia merendahkan hati datang ke tempat pemuda ini dan bukannya menyuruh orang lain untuk memanggil bekas jenderal muda itu.

Sementara itu, Wen-taijin yang mendengar kata-kata pemuda ini tampak tenang-tenang saja dan tersenyum sabar. Pembesar inipun tahu watak pemuda itu dan sekali pemuda itu bilang agar mereka tidak lagi memanggilnya "goanswe", maka diapun tidak mau membantahnya. Hanya dia belum tahu panggilan apakah yang sekarang cocok dipakai untuk mengganti panggilan "goanswe" ini. Namun, tiba-tiba saja wajah pembesar ini berseri ketika dalam sedetik saja dia mendapatkan ilham yang bagus untuk memanggil pemuda itu.

“Hemm, kalau sekarang dia tidak mau dipanggil goanswe lagi, lalu sebutan apakah yang pantas kita berikan kepadanya, pangeran?” Wen Chung menoleh dan memandang Pangeran Kou Cien. “Paduka tahu sendiri bahwa sekali pemuda macam ini telah memutuskan sesuatu tidak mungkin kita mampu membantahnya. Apakah pangeran ada sebutan khusus untuknya?”

Pangeran Kou Cien terbelalak. “Taijin, kalau Yap-goanswe tidak mau dipanggil jenderal, kukira kita panggil saja dia Yap-taihiap. Bukankah ini cocok sekali?”

“Ah, kurang tepat, pangeran!” tiba-tiba pemuda tinggi besar yarg sedari tadi belum ikut bicara, kini mendadak melangkah ke depan dengan mata bersinar-sinar. “Hamba rasa sebutan yang paling cocok sekarang ini adalah....” pemuda itu berhenti sejenak dan bertukar pandang dengan Wen Chung, akan tetapi, dia tidak segera melanjutkan dan tersenyum-senyum membuat orang-orang lain ingin tahu sekali apakah yang hendak dikatakan itu.

Wen Chung mengangkat tangannya. “Lek Hui, jangan khawatir. Teruskan maksud hatimu ini, karena agaknya di antara kita ada persamaan. Katakanlah!”

“Baik, Wen-taijin,” pemuda itu mengangguk girang, lalu menghadap Bu Kong dan dengan suara yang menggeledek pemuda tinggi besar ini berseru, “Kalau Yap-goanswe tidak mau dipanggil jenderal lagi, maka kukira sebutan yarg paling tepat sekarang ini adalah PENDEKAR GURUN NERAKA!”

“Ha ha, bagus...!” Wen-taijin bertepuk tangan gembira. “Sungguh kebetulan bahwa apa yang hendak kuberikan kepada bekas jenderal muda kita adalah sama! Lek Hui, bagaimana kau dapat mencuri ilham yang kudapatkan ini?” pembesar itu bertanya sambil tertawa dan pemuda tinggi besar itu mmbusungkan dadanya.

“Taijin, agaknya bukan hamba yang mencuri ilham paduka, melainkan padukalah yang mencuri ilham hamba. Ha-ha-ha...!”

Semua orang tertawa dan Bu Kong tersenyum lebar. Segera perhatiannya tertarik kepada pemuda tinggi besar yang tampak gagah perkasa itu dan suaranya yang menggeledek seperti guntur ini benar-benar membayangkan tenaga raksasanya yang hebat sekali. Oleh sebab itu, dengan mulut tersenyum, dia menjura di depan pemuda itu dan bertanya, “Siapakah saudara ini dan berasal dari manakah? Kenapa selama ini kita tidak pernah bertemu?”

Fan Li tergesa-gesa melangkah maju. Karena dia merupakan petunjuk jalan bagi tiga orang temannya, maka seharusnya sejak tadi dia memperkenalkan pemuda itu kepada Bu Kong. Akan tetapi, karena sibuk dengan urusannya sendiri, dia sampai melupakan hal ini dan tentu saja sekarang dengan terkejut dia melangkah maju. “Goanswe, dia adalah...” baru sampai di sini Fan Li bicara, tiba-tiba pemuda tinggi besar itu tertawa bergelak dan mendorong tubuhnya.

“Fan-ciangkun, dia bukan Yap-goanswe, melainkan Pendekar Gurun Neraka! Masa belum satu menit kau sudah melupakan hal ini? Ha-ha, Pendekar Gurun Neraka, kenalkan, aku Lek Hui, she Auw berasal dari Gunung Beng-san. Pekerjaan tukang kayu dan membabat hutan. Kalau sewaktu-waktu kau perlu membersihkan hutan ini, jangan kerjakan sendiri dan panggil saja aku. Tanggung dalam sehari dua hari, semua isi hutan akan lari tunggang-langgang mencari tempat persembunyiannya. Ha-ha-ha...!”

Auw Lek Hui si raksasa muda itu tertawa bergelak dan Bu Kong terpaksa ikut tertawa pula melihat sikap yang terbuka dan blak-blakan dari orang itu. Diam-diam dia merasa suka menyaksikan kejujuran pemuda itu dan biarpum agak kasar namun sikap begini jauh lebih baik daripada sikap yang halus di luar, namun, 'berbulu' di dalamnya.

“Auw-twako benar-benar mengagumkan. Pantas saja bertubuh raksasa dan bertenaga gajah, kiranya tukang pembabat hutan yang ulung!” Bu Kong tertawa geli dan Wen Chung menepuk-nepuk bahu Lek Hui yang tebal dan kuat seperti bahu beruang itu sambil tersenyum lebar.

“Pendekar Gurun Neraka, dia memang bukan orang sembarangan. Selain memiliki tenaga gwa-kang (tenaga luar) sehebat gajah, Lek Hui juga seorang ahli lwee-kang (tenaga dalam) yang amat mahir. Semua ini berkat bimbingan gurunya, Ciok-thouw Taihiap, (Pendekar Kepala Batu) yang tinggal di Beng-san. Dan atas perintah gurunya inilah maka dia membantu kami dan oleh pangeran dia diangkat sebagai pengawal pribadi!”

Bu Kong tercengang dan memandang pemuda tinggi besar itu dengan mata terbelalak. “Apa? Jadi, Auw-twako ini adalah murid Pendekar Kepala Batu? Bukankah locianpwe ini dikabarkan orang sudah tidak berada di Tiong-goan lagi dan merantau di Thian-nok (India) belasan tahun yang lalu.”

Lek Hui melangkah maju. “Pendekar Gurun Neraka agaknya kau melupakan peribahasa yang berbunyi: Sejauh-jauh batu terlontar, akhirnya kembali juga ke bumi. Begitu pula halnya dengan suhu. Sejauh-jauh dia merantau, akhirnya rindu kampung halaman tak dapat dicegahnya lagi. Itulah sebabnya maka lima bulan yang lalu, suhu pulang kembali dan mendengar kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di dunia kang-ouw. Kemunculan Cheng-gan Sian-jin bersama murid perempuannya yang membuat onar di dunia persilatan membuat suhu cemas dan suhu lalu menyuruhku untuk mengenyahkan iblis tua itu!”

“Ahh...!” Bu Kong berseru kaget. “Begitukah kiranya?”

Lek Hui mengangguk. “Benar, Pendekar Gurun Neraka dan suhu telah menekankan agar aku tidak usah kembali kalau Cheng-gan Sian-jin belum mampus!”

Bu Kong memandang raksasa muda ini dan diam-diam dia agak tidak senang melihat orang bermulut besar. Cheng-gan Sian-jin bukanlah manusia sembarangan, bagaimana pemuda itu seolah-olah bersombong diri dan bersikap tekebur? Akan tetapi, karena dia pernah mendengar cerita gurunya bahwa Ciok-thouw Taihiap adalan seorang angkatan tua yang kesaktiannya setingkat dengan Malaikat Gurun Neraka sendiri, maka diapun tidak berani memandang ringan murid pendekar besar itu.

Gurunya pernah berkata bahwa Ciok-thouw Taihiap adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang berkepandaian tinggi. Banyak tokoh-tokoh sesat yang tewas di tangan pendekar itu karena konon kabarnya Ciok-thouw Taihiap adalah seorang pendekar bertangan ganas terhadap kaum sesat. Maka tidak heran apabila pendekar ini amat dibenci oleh golongan hek-to dan karena kewalahan menghadapi musuh-musuhnya itulah maka pendekar ini akhirnya meninggalkan Tiong-goan dan merantau ke India.

Menurut gurunya, Pendekar Kepala Batu sesungguhnya adalah orang berhati mulia terhadap kaum lemah. Hanya sedikit yang agak menjengkelkan para pendekar lain, yakni watak yang terlalu kaku dan keras kepala dari pendekar itu. Dan itulah sebabnya maka dia mendapatkan julukan Ciok-thouw Taihiap atau Pendekar Kepala Batu akibat sikapnya yang mau menang sendiri itu!

Sekarang tanpa disangka-sangka Bu Kong bertemu dengan murid pendekar sakti itu yang bersumber hendak membasmi Cheng-gan Sian-jin dan tidak diperkenankan gurunya kembali kalau datuk sesat itu masih hidup! Inilah salah satu contoh orang-orang yang berkepala batu, agak sombong namun sekali mempunyai tekad, tidak akan mundur sampai ajal tiba! Tentu saja agak mengerikan orang yang menjadi lawannya dan memang amat berbahaya bermusuhan dengan orang seperti Pendekar Kepala Batu ini.

Namun, Bu Kong yang kini disebut sebagai Pendekar Gurun Neraka itu tidak berkomentar. Dia menghadap Pangeran Kou Cien yang merupakan orang pertama dalam pertemuan ini dan merangkapkan kedua tangannya didepan dada. “Pangeran. sekarang bolehkah hamba mengetahui maksud kedatangan paduka ini? Pertolongan apakah kiranya yang paduka perlukan dari hamba?”

Pangeran Kou Cien melangkah maju. “Goanswe, eh, maaf...!” pangeran ini terkejut karena kebiasaannya memanggil sebagai jenderal kepada pemuda ini ternyata masih saja latah. Maka dengan terburu-buru dia melanjutkan, “Yap-taihiap, karena dengan resmi sekarang engkau adalah seorarg pendekar kang-ouw dan bukan lagi seorang jenderal, maka lebih mantap hatiku kami untuk meminta bantuanmu. Ketahuilah, seperti yang kau lihat sendiri, Kerajaan Yueh telah hancur diserbu pasukan Wu-sam-tai-ciangkun yang dibantu banyak orang pandai. Pasukan kami kocar-kacir dan sri baginda sendiri tewas dalam pertempuran itu. Akan tetapi, setelah berbulan-bulan bersusah payah, bersama Fan-ciangkun ini kami berhasil mengumpulkan kembali sisa-sisa pasukan kami dan kini mereka semua telah berada di satu tempat untuk sewaktu-waktu melakukan serangan terhadap musuh. Namun, meskipun pasukan yang kami kumpulkan cukup besar, tanpa adanya seorang pimpinan yang pandai mengatur tentu saja kami ibarat harimau tanpa gigi atau lembu tanpa tanduk! Oleh sebab itu, teringat kepada dirimu yang ahli dalam soal-soal peperangan ini kami lalu memberanikan hati untuk mohon bantuanmu dan bekerja sama dengan kami. Bukankah engkau sendiri juga mempunyai perhitungan dengan Wu-sam-tai-ciangkun dan teman-temannya? Fan-ciangkun telah memberitahu kepada kami tentang fitnah keji yang kau alami itu dan kami semua benar-benar amat menyesalkan sikap mendiang sri baginda yang amat keras kepala. Kini kami semua telah mengetahui duduk persoalan sesungguhnya dan tentu saja hal ini membuat kebencian kami terhadap musuh semakin meningkat. Kami berharap, mengingat bahwa ada rasa persahabatan di antara kita, engkau mau membantu kami dan menyerbu kota raja untuk membalas dendam ini!”

Bu Kong tertegun. Apa yang tadi sudah diduganya itu ternyata benar. Tidak meleset dugaannya bahwa kedatangan pangeran ini memang mempunyai sangkut-paut dengan Kerajaan Yueh. Padahal, dia sudah bersumpah untuk tidak lagi berhubungan dengan kerajaan itu. Maka tentu saja alasnya segera berkerut.

“Pangeran,” dia berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Meskipun benar bahwa di antara kita terdapat musuh yang sama namun hamba sudah pernah bersumpah dihadapan mendiang sri baginda untuk tidak berhubungan lagi dengan Kerajaan Yueh. Paduka tahu bahwa sekali hamba mengeluarkan sumpah, tidak mungkin lagi hamba menariknya kembali!”

Pangeran Kou Cien pucat. “Akan tetapi, Yap-taihiap, itukan sumpahmu di depan sri baginda, padahal sri baginda sendiri sekarang sudah wafat. Masa kau berkukuh memegang teguh sumpahmu ini?”

Bu Kong mengangguk. “Begitulah, pangeran!” jawabnya tegas. “Tentunya paduka ingat akan pameo yang berbunyi: It-gan-ki-jut-su-ma-lam-twi, bukan? Nah, meskipun sri baginda telah wafat, akan tetapi, karena sumpah hamba masih menyangkut rakyat Yueh yang memiliki raja seperti itu, maka sumpah itu tetap berlaku. Tentu saja kalau tidak ada rakyat Yueh di sini, sumpah hamba otomatis habis dengan sendirinya karena orang-orang yang bersangkutan sudah tidak ada lagi.”

“Ahh, jadi kau menginginkan rakyat Yueh binasa semuanya?” pangeran itu terkejut dan memandang marah. “Pendekar Gurun Neraka, kau memang kejam!”

“Hemm, siapakah yang kejam, pangeran? Hamba ataukah kerabat paduka? Gara-gara kakak tiri padukalah maka hamba mengalami derita sengsara yang luar biasa hebatnya. Nama hamba dan tubuh berlepotan lumpur-lumpur kotor! Atas kerja siapakah ini? Bukan lain adalah perbuatan Sri Baginda Yun Chang! Kalau saja dia mau mendengar kata-kata hamba, agaknya tidak sampai demikian parah kejadian ini. Akan tetapi, sri baginda telah menentukan jalan hidupnya sendiri dan menyeret rakyatnya untuk menerima semua akibat dari sikapnya itu. Siapakah yang bersalah? Siapakah yang kejam?”

Pangeran Kou Cien mengepal tinjunya, mukanya merah. Watak bekas jenderal muda yang tidak dapat ditekuk ini benar-benar membuatnya kehabisan akal dan marah. Memang harus diakui bahwa gara-gara sikap kakak tirinya (Raja Muda Yun Chang) itulah maka semua orang kini menerima getahnya. Dia dapat memaklumi sakit hati bekas jenderal muda ini yang mendapat perlakuan kasar dari mendiang sri baginda. Maka tentu saja sukar bagi pemuda itu untuk menghilangkan kesan jelek itu begini saja. Akan tetapi, dia merasa ketidakadilan sikap pemuda itu yang mengikutsertakan rakyat yang tak bersalah apa-apa. Oleh sebab itu, dengan mata terbelalak pangeran ini lalu berkata,

“Yap-taihiap, apa yang kau katakan memang benar. Mendiang sri baginda telah memperlakukan dirimu dengan cara yang amat kasar sekali. Hal ini dapat kumaklumi jika engkau marah kepada sri baginda. Namun, apakah kesalahan rakyat yang tidak berdosa kepadamu? Apakah kesalahan mereka sehingga kau bersumpah untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka? Kalau kau bersumpah tidak membantu sri baginda hal itu memang tepat. Akan tetapi, rakyat? Ah, Pendekar Gurun Neraka, di manakah keadilanmu ini? Di manakah watak kesatriamu ini? Sri baginda yang bersalah, akan tetapi, rakyatnya kau kenakan getahnya! Beginikah watak seorang pendekar?”

Kata-kata pangeran itu diucapkan dengan mata berapi-api dan wajah pendekar muda ini merah sekali. Apa yang dikatakan pangeran itu benar-benar tajam menusuk, menggugah sanubarinya tentang kesalahan rakyat Yueh yang sebetulnya sama sekali tidak berdosa itu. Ya, apa sebabnya dia mengikutsertakan rakyat? Bukankan yang bertentangan adalah sri baginda? Mengapa dia harus menyeret rakyat yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini? Karena rakyat Yueh mempunyai raja muda yang seperti itu! Maka, karena pemuda ini tidak mau disalahkan begitu saja, Bu Kong lalu mengedikkan kepalanya dan menjawab,

“Pangeran, segala sebab pasti menimbulkan akibat. Sudah biasa kita lihat bahwa perbuatan yang keliru dilakukan atasan pasti akan menyeret anak buah dan bawahan. Kalau paduka bertanya mengapa rakyat Yueh harus diikutsertakan padahal mereka tidak berdosa, hal ini dapat hamba jawab karena mereka mempunyai raja seperti Sri Baginda Yun Chang itu!”

Pangeran Kou Cien mengangkat tangannya dan tersenyum sinis. “Hemm, itukah alasanmu, Yap-taihiap? Tidakkah engkau akan menarik kata-katamu ini kalau aku menyerangmu dengan satu tangkisan jitu?”

Melihat pangeran ini tiba-tiba saja berobah sikapnya dan tersenyum sinis, Bu Kong merasa heran. Akan tetapi, karena dia memang merasa alasannya tepat, dia menganggukkan kepalanya tidak mau kalah. “Begituah, pangeran, dan tidak biasa bagi hamba untuk menarik kata-kata sendiri.”

“Bagus!” pangeran ini tiba-tiba bertepuk tangan dan memandang teman-temannya. “Wen-taijin, kau dengar sendiri kata-katanya itu bahwa dia tidak akan menarik kembali alasannya. Bukankah begitu, Fan-ciangkun dan Saudara Lek Hui?”

Tiga orang ini mengangguk dan Bu Kong mengerutkan alisnya. Dia cukup mengenal kecerdikan pangeran ini, maka sekarang mendengar semua kata-katanya itu dia merasa tidak enak juga dan memandang pangeran itu dengan jantung berdebar.

“Pendekar Gurun Neraka!” tiba-tiba pangeran itu memutar tubuh dan memandang pemuda itu dengan wajah berseri. “Perumpamaanmu dengan It-gan-ki-jut-su-ma-lam-twi (sekali keluarkan omongan empat ekor kudapun tak mampu menariknya kembali) tadi akan kupergunakan menyerang dirimu sendiri, sekarang jawablah pertanyaanku ini: Apakah rakyat Yueh masih dipimpin oleh Raja Muda Yun Chang pada saat ini?”

Bu Kong menggeleng. “Tidak. Mengapa paduka menanyakan hal itu padahal paduka sendiri sudah tahu?”

Pangeran Kou Cien tertawa penuh kemenangan dan tidak menghiraukan pertanyaan itu. “Bagus. Yap-taihiap, kau sendiri sudah mengakui hal ini! Ha-ha, kalau begitu, bukankah sumpahmu tidak berlaku lagi.”

Bu Kong terkejut. “Akan tetapi, pangeran, rakyat Yueh masih ada! Mana mungkin tidak berlaku lagi?” pemuda itu membantah dengan mata berkilat.

Pangeran Kou Cien menggoyang tangannya. “Tidak, tidak betul! Kau sendiri tadi memberi alasan bahwa karena rakyat Yueh mempunyai raja seperti Sri Baginda Yun Chang itulah maka engkau menyeret mereka. Akan tetapi, Pendekar Gurun Neraka, meskipun rakyat Yueh sekarang masih ada, namun mereka sudah tidak dipimpin lagi oleh Sri Baginda Yun Chang melainkan dipimpin oleh Pangeran Kou Cien! Nah, bukankah keadaan mereka sudah lain daripada dulu? Boleh mereka masih ada, namun, kondisinya sudah berbeda. Sama seperti engkau sendiri, Yap-taihiap, dulu engkau adalah Yap-goanswe, akan tetapi, sekarang adalah Pendekar Gurun Neraka! Orangnya masih sama, akan tetapi, keadaannya yang sudah berbeda. Ha-ha, Yap-taihiap, bagaimana bantahanmu sekarang?”

Pangeran ini tertawa keras saking senangnya dan Bu Kong menjadi bengong. Semua orang diam-diam memuji kecerdikan pangeran ini yang mempergunakan tipu "melolos sarung menodongkan ujung pedang“ terhadap diri bekas jenderal muda itu!

Tentu saja Bu Kong tak dapat membantah dan pemuda ini meryeringai. Betul juga serangan pangeran itu. Tadi dia sendiri sudah rmengatakan bahwa sumpahnya terhadap rakyat Yueh yang ikut-ikutan kena getah akibat perbuatan raja muda itu adalah karena mereka mempunyai Sri Baginda Yun Chang. Kini, Yun Chang sudah wafat dan “rakyat Yun Chang” sudah tidak ada lagi. Yang ada sekarang adalah "rakyat Kou Cien”. Meskipun mereka masih tetap merupakan rakyat Yueh, namun keadaan mereka sudah berbeda dan bisa dibilang ”rakyat Yun Chang” sudah lenyap bersama lenyapnya raja muda itu sendiri. Mau bilang apa lagi kalau sudah begini?

“Pangeran, kata-kata paduka tak dapat hamba bantah. Sungguh Anda merupakan orang cerdik!” akhirnya Bu Kong menjura di depan pangeran itu dengan muka merah. Sebagai pemuda yang memegang kejujuran, maka kebenaran seperti yang baru saja diterangkan oleh pangeran ini harus diakuinya mengandung alasan yang ceng li (beraturan) juga. Oleh sebab itu, dengan jujur dia mengakui kesalahan sendiri dan minta maaf.

Pangeran Kou Cien tertawa gembira menyaksikan hasil kemenangannya menundukkan pemuda yang terkenal keras kepala ini. Memang sebenarnya ada persamaan antara pemuda ini dengan Pendekar Kepala Batu, yakni sama-sama keras kepala. Akan tetapi, bedanya ialah kalau murid Malaikat Gurun Neraka ini berwatak jujur dan tidak segan-segan mengakui kesalahan diri sendiri, adalah Ciok-thouw Taihiap itu agak angkuh dan tidak mudah dituding tengkuknya oleh orang lain alias tidak gampang disalahkan.

Demikianlah, karena girang melihat pemuda itu dapat dibujuk, pangeran ini lalu berkata, “Yap-taihiap, kalau sekarang engkau sudah melihat kekeliruanmu itu, maukah engkau bekerja sama dergan kami? Ingat, yang ada sekarang ini bukanlah pasukan Yun Chang, melainkan pasukan Kou Cien! Bersediakah engkau memimpin pasukan kami menyerbu kota raja?”

Bu Kong mengangguk. “Untuk menebus kesalahan hamba, biarlah hamba ikut paduka dan memenuhi permintaan ini, akan tetapi, tentu saja kalau rakyat Yueh tidak memandang hina kepada hamba karena hamba pernah dltuduh oleh mending Raja Muda Yun Chang melakuan perjinaan dengan selirnya!”

“Ah, lagi-lagi kau salah sangka Yap-taihiap. Ketahuilah, berkat Fan-ciangkun inilah maka semua rakyat telah mendengar ceritanya betapa sebenarnya engkau terkena fitnah keji dan betapa dalang semua peristiwa itu bukan lain adalah Wu-sam-tai-ciangkun bersama teman-temannya. Bahkan dari Phoa-lojin kami mendengar lebih jelas tentang semua nasib buruk yang kau alami.”

“Phoa-lojin?” Bu Kong terkejut. “Jadi, pangeran telah bertemu dengan kakek itu?”

Pangeran ini tersenyum dan tiba-tiba Fan Li yang menjawab, “Yap-goanswe, eh.... maaf Yap-taihiap bukan saja pangeran telah bertemu dengan Kakek Phoa, malah kakek itulah yang mengajak pangeran untuk mempergunakan Pulau Cemara sebagai basis pertahanan pasukan kita!”

Kembali Bu Kong terkejut dan memandang Fan Li. “Ah, begitukah?” tanyanya.

Fan Li mengangguk dan Bu Kong lalu berkata, “Fan-ciangkun, engkau adalah sahabatku yang paling dekat. Oleh sebab itu, jangan memanggilku Yap Taihiap segala. Kita adalah teman seperjuangan dan kuharap panggil saja aku Yap-twako. Begitu pula Saudara Lek Hui, harap jangan terlampau sungkan dan panggil saja aku twako. Bukankah lebh enak dan lebih akrab?”

Fan Li memang agak bingung dan kikuk dengan perobahan yang mendadak dari bekas atasannya ini. Akan tetapi, untunglah tiba-tiba Wen-taijin yang semenjak tadi berdiam diri, kini tiba-tiba berkata,

“Karena Yap-taihiap telah sudi membantu pangeran, maka perlu kiranya kita mengetahui dulu jabatan apakah yang hendak pangeran berikan kepadanya. Dengan memandang jabatannya inilah maka segala sebutan yang mungkin agak membingungkan bisa diseragamkan. Bukankah begitu, pangeran? Dan jabatan apakah yang hendak paduka berikan kepada Pendekar Gurun Neraka ini?”

Pangeran Kou Cien tertawa. “Hemm, dia adalah bekas jenderal muda yang gagah perkasa, jabatan apalagi yang pantas diberikan selain sebagai jenderal pula! Hanya kalau dulu dia adalah jenderal mendiang Yun Chang, sekarang dia adalah jenderal Kou Cien. Yap-taihiap, maukah kiranya engkau menerima jabatan ini? Seluruh pucuk pimpinan kuserahkan kepadamu dan semua tanggung jawab pasukan kuletakkan di pundakmu! Bagaimana?”

Karena sekarang dia diangkat sebagai jenderal "pasukan Kou Cien", tentu saja Bu Kong tidak dapat menolak. Apalagi, dengan bantuan pasukan besar maka harapan tercapainya cita-cita juga jauh lebih besar lagi dan dengan demikian usahanya membasmi musuh jauh lebih mudah dilaksanakan, maka pemuda ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan pangeran itu.

“Beribu terima kasih kalau paduka memberikan kepercayaan demikian besar kepada hamba. Mana berani hamba menolaknya? Pangeran, apabila paduka telah mantap untuk menganugerahkan jabatan ini, biarlah hamba berjanji untuk merobohkan musuh dan tidak akan kembali dengan nyawa masih di badan kalau Kerajaan Wu tidak dapat hamba hancurkan!”

Inilah semacam sumpah jabatan yang diucapkan pemuda itu dan Pangeran Kou Cien gembira bukan main. Sekali pemuda itu mengucapkan kata-katanya, dia yakin akan keberhasilannya dan tentu saja pangeran ini gembira. Kepandaian pemuda itu sudah banyak dikenal orang, baik kepandaian silatnya maupun kepandaian ilmu perangnya. Maka, dipimpin oleh seorang pemuda semacam ini benar-benar membuat keadaannya kuat dan dapat diandalkan!

“Bagus, Yap-goanswe. Sekarang biarlah kami memanggilmu sebagai jenderal lagi karena jabatan ini resmi kuberikan kepadamu. Tidak ada kebingungan lagi di sini dan kukira Fan-ciangkun tetap memanggilnya sebagai Yap-goanswe, jenderal dari angkatan perang Kou Cien, ha-ha....!”

Wen Chung melangkah maju dan memberi hormat sambil tersenyum. “Selamat, Yap-goanswe bahwa paduka pangeran telah mengangkat dirimu sebagai jenderal. Semoga pasukan di bawah pimpinanmu jaya sepanjang masa!”

Bu Kong tersipu-sipu membalas hormat dan sementara itu berturut-turut Fan Li dan Auw Lek Hui juga melangkah maju memberi ucapan selamatnya.

“Goanswe, kembali kita bersahabat seperti sediakala. Semoga di bawah petunjuk-petunjukmu, kita dapat mengatasi musuh bersama!” kata Fan Li dengan wajah berseri.

“Terima kasih, Fan-ciangkun. Dan mudah-mudahan kita semua dapat berhati-hati terhadap fitnah musuh yang amat berbahaya,” jawab Pendekar Gurun Neraka yang kini kembali diangkat dengan resmi sebagai jenderal besar itu dan melirik ke arah Pangeran Kou Cien yang tersenyum maklum akan kata-kata ini.

“Jangan khawatir, Yap-goanswe. Kou Cien bukanlah orang yang sempit pikiran!” pangeran itu tertawa.

Dan ketika tiba giliran Auw Lek Hui si raksasa muda, pemuda tinggi besar ini melangkah ke depan dan membungkukkan tubuh sampai terlipat dua dan sambil tertawa bergelak Lek Hui berkata, “Yap-goanswe, selamat atas pengangkatanmu ini dan mudah-mudahan dengan selalu di sampingmu, aku sedikit banyak dapat belajar ilmu perang. Siapa tahu, kelak aku juga bisa merobah nasib dan menjadi jenderal seperti engkau tidak melulu diam di hutan menebang kayu! Ha-ha-ha....!”

Bu Kong tersenyum dan cepat menjura, akan tetapi, tiba-tiba dia merasa terkejut. Dari kedua tangan raksasa muda itu mendadak meluncur angin pukulan berhawa dingin yang menyambar dadanya. Cepat dia memandang dan dia melihat pemuda itu sedang berkedip sambil mendorongkan kedua lengannya. Tahulah Bu Kong bahwa murid Pendekar Kepala Batu ini rupanya hendak menjajagi kepandaiannya. Oleh sebab itu, dengan mulut tersenyum diapun lalu meneruskan gerakan tangannya membalas hormat, kemudian menggoyangnya perlahan seperti orang mengebut lalat dan menjawab,

“Auw-twako sungguh pemuda mengagumkan, suka bicara blak-blakan dan terus terang. Baiklah, kalau twako mau belajar ilmu perang, boleh saja mengganti kapak dengan tombak!”

Mulut bicara, akan tetapi, tenaga sin-kang bekerja. Dari kebutan perlahan murid Malaikat Gurun Neraka itu tiba-tiba keluar serangkum pukulan mujijat yang menahan serangan Lek Hui dan murid Pendekar Kepala Batu itu berobah air mukanya. Raksasa muda ini merasakan betapa angn pukulan yang tadi dilancarkan ke depan, sekonyong-konyong berhenti di tengah udara seakan membentur dinding baja yang tidak kelihatan. Tentu saja pemuda tinggi besar itu terkejut. Dia memang sudah lama mendengar nama besar jenderal muda ini dan sekarang dalam saat yang tepat untuk memberikan ucapan selamatnya diam-diam dia ingin mengadu tenaga.

Itulah sebabnya dia lalu mengedipkan mata sebagai tanda isyarat agar jenderal itu waspada akan serangannya, kemudian dia menambah tenaga sin-kangnya untuk mendorong pemuda ini. Karena dia mendengar kesaktian pemuda itu, maka Lek Hui mengerahkan tenaga sin-kangnya sebanyak tujuh bagian. Biasanya, dengan tenaga tujuh bagian ini saja dia sanggup mendorong mundur seekor gajah! Tidak tahunya, dengan sedikit kebutan perlahan seperti orang mengebut lalat jenderal muda itu sanggp menahan angin pukulannya? Bahkan tiba-tiba Lek Hui merasa betapa tenaga saktinya kian lama kian tertolak dan siap membalik!

Tentu saja raksasa muda ini terkejut dan memandang terbelalak. Melihat betapa jenderal itu balas memandangnya sambil tersenyum, Lek Hui penasaran sekali dan menambah dua bagian lagi tenaganya. Kalau sudah begini, biasanya pemuda itu sanggup menyapu roboh sepuluh ekor harimau sekaligus dan Bu Kong benar benar terkesiap sekarang. Kalau tadi jenderal muda ini masih tersenyum, adalah tiba-tiba sekarang senyumnya lenyap karena dari depan pukulan sin-kang murid Pendekar Kepala Batu yang agaknya juga memiliki sikap kepala batu gurunya itu menyambar seperti angin taufan!

Hampir saja Bu Kong mengeluarkan suara tertahan karena mendadak kedua kakinya bergoyang dan kalau tidak cepat dia menyalurkan lwee-kang memasang kuda-kuda Siang-kak-jip-te (Sepasang Kaki Berakar di Bumi), tentu tubuhnya sudah terlempar roboh! Hal ini membuat Bu Kong terkejut dan diam-diam merasa kagum sekali terhadap tenaga lawan yang dahsyat, juga gembira melihat tingkat lawan yang setanding. Oleh sebab itu, Bu Kong lalu mengerahkan tenaga saktinya yang diperoleh dari hasil samadhi di tengah gurun dan tiba-tiba pemuda ini mengempos semangat kemudian membentak perlahan.

Hebat sekali akibatnya. Karena tenaga sin-kang yang diperoleh pemuda ini berkat lorong ajaib Sang Maha Surya, maka seketika hawa panas meluncur menembus pukulan dingin dan Lek Hui yang tadi sudah berseri girang tiba-tiba berteriak kaget. Raksasa muda ini merasa betapa tiba-tiba dari kedua lengan Yap-goanswe meniup pukulan panas yang suam-suam kuku merayap perlahan menembus pukulan sin-kangnya seperti seekor ular, kemudian setelah pukulan ini menyentuh kulit lengannya, tiba-tiba saja hawa pukulan yang tadi terasa hangat itu sekonyong-konyong berobah panas menyengat, seperti bara api yang disentuhkan ke kulit tubuh!

“Aihh...!” saking kaget dan ngerinya disengat pukulan panas ini, Lek Hui berteriak parau. Akan tetapi, dasar pemuda kepala batu, pemuda ini masih mencoba bertahan dan dia mengerahkan seluruh tenaganya sambil mengeluarkan bentakan menggeledek raksasa ini terang-terangan mengangkat kedua lengannya ke depan dan menggempur maju.

“Dess...!” dua jago muda yang saling mengukur kepandaian itu sama-sama tidak mau mengalah dan melihat Lek Hui mengerahkan segenap tenaganya, Bu Kong juga menambah sin-kangnya sampai tiga perempat bagian dan karena memang tenaga saktinya jauh lebih unggul, raksasa muda itu tak dapat menahan dan tanpa ampun lagi tubuh Lek Hui terangkat dan terlempar tiga tombak jauhnya seperti layang-layang putus talinya.

“Haihh...?!!” Lek Hui melengking nyaring dan di udara tiba-tiba tubuhnya menggeliat seperti kepompong dan sambil berseru keras pemuda tinggi besar itu berjungkir balik tiga kali dan akhirnya hinggap di atas tanah dengan kaki terlebih dahulu.

Inilah demonstrasi gin-kang yang hebat sekali dan Bu Kong mengeluarkan pujian melihat keindahan gerak lawannya. Dengan demikian, tubuh pemuda tinggi besar itu tidak sampai terbanting dan meskipun dalam adu tenaga tadi jelas dia kalah, namun kekalahannya tidaklah terlampau memalukan ditutup dengan ilmunya meringankan tubuh yang lihai.

“Bagus. Saudara Auw benar-benar hebat sekali!” Bu Kong berseru kagum dan dia memandang bekas lawannya ini dengan mata bersinar-sinar.

Auw Lek Hui menggoyang tubuhnya, seperti anjing yang membersihkan bulunya, mukanya tampak merah, akan tetapi, mulutnya tersenyum masam. “Hebat apanya, goanswe? Sudah jelas, aku terlempar seperli kain basah begitu masa kau puji, engkaulah yang luar biasa, goanswe, dapat menahan pukulanku dan bahkan membuat aku jungkir balik tidak keruan! Kalau aku tidak cepat mematahkan pukulanmu. bukankah kini aku sudah jatuh berdebuk seperti anjing buduk? Ha-ha, tidak goanswe, bukan aku yang hebat melainkan kaulah yang benar-benar mengagumkan!”

Sambil tertawa-tawa pemuda ini melangkah maju dan menjura sedalamnya tanda kagum kemudian memeluk bahu jenderal muda itu. “Yap-goanswe, tenagamu hebat sekali. Masa dengan satu bentakan perlahan saja aku sudah tungang-langgang? Wah, melihat sin-kangmu yang luar biasa itu agaknya kau sebanding dengan suhu! Ha-ha, kalau suhu bertemu denganmu beliau pasti tidak akan melewatkan kesempatan bagus ini. Tahukah kau bahwa suhu adalah orang yang gila ber-pibu (adu kepandaian) jika bertemu lawan tangguh?”

Bu Kong tersenyum. Sikap orang yang jujur dan penuh persahabatan membuat dia merasa terharu dan suka sekali. Maka mendengar pujian ini dia cepat merendahkan diri. “Auw-twako. mana bisa aku dibandingkan dengan gurumu? Sedangkan menghadapi tenagamu yang sehebat gajah tadi hampir saja aku terpental. Kalau tidak bersungguh-sungguh dan melihat kau bersemangat sekali untuk merobohkan diriku, mana mungkin aku mampu menjatuhkan dirimu? Karena melihat sedikit kelemahanmu itulah maka aku berhasil menerobosnya dan kebetulan saja perhitunganku tepat. Kalau tidak, mana mungkin merobohkan raksasa muda bertenaga gajah sepertimu ini?”

Lek Hui tampak bangga. “Ah, benarkah tenagaku besar sekali, goanswe? Akan tetapi, mengapa aku masih saja pecundang di tanganmu?”

Bu Kong mengangguk. “Auw-twako. Kau tentu mengerti bahwa menghadapi lawan tangguh kita tidak boleh terlalu bernafsu karena hal ini membuat kontrol kita kurang cermat. Nah, karena kau tadi terlalu bernafsu itulah maka aku melihat titik kelemahan ini dan berhasil menggempur dirimu. Kalau tidak, agaknya biar diseruduk seekor gajah sekalipun belum tentu kau akan terdorong!”

Melihat jenderal muda ini bicara sungguh-sungguh, Lek Hui girang. “Ah, betul goanswe, tebakanmu tepat sekali! Memang pernah dulu suhu menyuruh seekor gajah menyerudukku, namun sedikitpun usahanya sia-sia belaka karena tubuhku sama sekali tak bergeming! Ha ha, kalau begitu bukannya tenagaku yang berkurang, melainkan engkaulah yang cerdik, Yap-goanswe. Pantas kalau begitu pangeran tidak segan-segan memberikan jabatan tinggi ini kepadamu. Kiranya kau memang pandai mencari lowongan-lowongan musuh!”

“Sudahlah, Auw-twako. Simpan segala pujianmu itu untuk orang yang patut menerimanya. Kalau terlalu sering kepalaku kau tiup, aku khawatir melembung, ha-ha....”

Lek Hui memandang dengan sinar mata kagum ke arah jenderal muda ini yang tidak suka menonjol-nonjolkan diri dan bersikap rendah hati, lalu memandang Fan Li dan bertanya, “Eh, Fan-ciang-kun, bukankah kau membawa kabar sesuatu untuk Yap-goanswe? Kenapa kau diam saja dan tidak lekas memberitahunya?”

Fan Li terkejut dan Bu Kong sudah menatapnya dengan sinar mata tajam. Cepat pemuda ini menghamplri dan memberi hormat, lalu berkata, “Goanswe, maafkan apabila aku terlambat memberitahukan berita penting ini kepadamu. Akan tetapi, harap goanswe tenangkan hati dan jika goanswe sudah siap menerimanya, barulah akan kuceritakan sekarang.”

Bu Kong berdebar jantungnya dan perasaannya tiba-tiba terguncang. Entah mengapa, melihat sikap pembantu setianya ini yang sekonyong-konyong tampak serius, dia menjadi tegang juga. Namun, karena sudah biasa dia mendapatkan berita-berita mengejutkan secara mendadak sekali semenjak peristiwa pertamanya dengan Siu Li dulu, pemuda ini tampak tetap tenang-tenang saja, walaupun di dalam hati sebenarnya dia gelisah.

“Fan-ciangkun, kau tahu bahwa aku tidak suka bicara memutar. Kalau ada berita penting untukku, katakanlah, aku siap mendengarnya!”

Fan Li terpengaruh melihat ketenangan jenderal muda itu, akan tetapi karena dia teringat peristiwa dahulu, di mana tiba-tiba jenderal muda ini meluap kemarahannya dan mengamuk setelah mendengar berita mengejutkan tentang hancurnya Yueh dan pengkhianatan Lie Fung, pemuda ini tampak ragu-ragu. “Goanswe, benarkah kau sudah siap? Aku khawatir kalau engkau dilanda emosi lagi seperti dulu. Kalau sampai terjadi demikian, siapa kiranya yang mampu mencegahmu?”

Bu Kong tersenyum getir karena kata-kata panglima muda ini mengingatkan dia akan kelemahan hatinya yang mudah dikuasai nafsu. "Fan-ciang-kun.” katanya tenang. “Seseorang selalu mengalami perubahan setiap saat yang akan membuat kematangan jiwanya. Sudah berkali-kali aku menerima hal-hal yang mengejutkan, oleh sebab itu, kalau hendak kau tambah barang sekali dua lagi kukira masih dapat kuterima dengan baik. Jangan khawatir, aku tidak akan membuang-buang kemarahanku dengan begitu saja seperti dulu.”

Pemuda itu tersenyum. Kata-kata dan sikap jenderal ini sekarang benar-benar jauh lebih masak daripada dahulu. Karena itu, dengan perlahan diapun lalu berkata, “Goanswe, memang ada sebuah berita mengejutkan yang hendak kusampaikan kepadamu. Ketahuilah, kekasihmu telah ditangkap Wu-sam-tai-ciangkun!”

Bu Kong berobah air mukanya dan seketika dia kaget sekali. Akan tetapi, karena dia belum tahu "kekasih" mana yang dimaksudkan sahabatnya ini mengingat Fan Li belum tahu isi hatinya kepada siapa dia jatuh cinta, maka dengan menekan guncangan hatinya dia bertanya dengan suara rendah, “Fan-ciangkun, siapakah yang kau maksudkan? Hong-moi kah?”

Bu Kong menyebut mana Pek Hong karena setahunya, Fan Li sering melihat dia bersama gadis itu. Akan tetapi, ternyata pemuda itu menggelengkan kepala sambil menjawab, “Bukan, goanswe, melainkan gadis yang benar-benar kau cintai. Bukankah tadi kau bilang bahwa Nona Hong pergi meninggalkan engkau setelah Dewa Monyet berhasil menyembuhkan dirimu?”

“Hemm. kalau begitu siapakah?” suara jenderal muda ini makin merendah karena dia mengerahkan lwee-kangnya untuk menekan jantungnya yang berdetak kencang.

“Gadis berlengan buntung, goanswe!”

Jawaban ini benar-benar merupakan geledek di siang hari bagi Bu Kong dan sedetik mukaaya pucat sekali. Dengan mata terbelalak dia memandang Fan Li dan suaranya terdengar menggetar ketika pemuda itu bertanya, “Fan-ciangkun, kau maksudkan Siu Li....?”

Fan Li mengangguk. “Benar, goanswe, murid mendiang Mo-i Thai-houw itulah.”

Bu Kong menggereng dan tiba-tiba sepasang matanya mencorong berkilauan membuat Lek Hui yang berada di depan jenderal muda ini tergetar hatinya. “Fan-ciangkun, kapan terjadinya hal ini? Dan siapa pula yang menangkapnya?” Bu Kong bertanya dengan mata berapi-api.

“Seminggu yang lalu, goanswe. Dan yang menangkap adalah Ok-ciangkun sendiri. Konon menurut berita terakhir yang kuterima, gadis itu hendak dikawinkan sebulan lagi dengan murid mending Ang-i Lo-mo!”

“Hahhh...!?!” Bu Kong benar-benar mengeluarkan hentakan keras sekarang dan pemuda ini melompat kaget saking terkejutnya mendengar berita ini. “Apa? Ok-ciangkun hendak mengawinkan gadis itu dengan Pouw Kwi? Keparat jahanam, Wu-sam-tai-ciangkun benar-benar tak dapat diberi ampun!” pemuda ini berkata dan mukanya merah padam. Kemarahan benar-benar membakar hatinya dan dia menyapu semua orang dengan mata berkilat-kilat.

“Pangeran, selain urusan negara yang harus kujalankan, ternyata sekarang mengait pula urusan pribadiku. Hamba mengharap agar secepatnya kita berangkat sekarang juga dan segera menggempur kota raja! Bagaimana pendapat paduka pangeran?” Bu Kong bertanya kepada Pangeran Kou Cien dengan dada berombak.

Pangeran ini melangkah maju, keningnya berkerut dan dengan amat hati-hati sekali dia berkata, “Goanswe, apa yang kau kehendaki aku setuju saja. Akan tetapi, bolehkah aku sedikit bertanya tentang persoalan pribadimu ini? Kenapa kau harus marah-marah terhadap Ok-ciangkun dalam masalah perjodohan puterinya? Meskipun kalian saling mencinta, namun gadis itu adalah puteri Ok-ciangkun, goanswe! Tidakkah urusan ini bakal mengacaukan urusan negara yang jauh lebih penting?”

Bu Kong mengangkat kepalanya, kemudian dengan mata berkilat dan menjawab, “Pangeran, harap paduka camkan bahwa yang hamba cinta bukanlah puteri Ok-ciangkun, melainkan murid mendiang Mo-i Thai-houw! Ok-ciangkun hanya kebetulan saja menjadi ayah gadis itu dan dia bagi hamba adalah orang luar. Urusan kerajaan tetap hamba jalankan sebagai urusan kerajaan, akan tetapi urusan pribadi dalam hal ini hamba pisahkan dari urusan negara. Oleh sebab itu, paduka tidak usah khawatir karena gadis itu sendiri menentang perbuatan-perbuatan ayahnya yang tidak terpuji dan dalam hal ini kami tidak menganggapnya sebagai Panglima Ok, melainkan orang pribadi sebagai ayah gadis itu dalam sebuah keluarga dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan jabatan yang dipegangnya!”

Pangeran Kou Cien menarik napas panjang. Dia memang sudah mendengar persoalan pelik yang menyangkut jenderal muda ini dan meskipun dia merasa tidak puas, namun karena pemuda itu sendiri sudah menyatakan bahwa urusan pribadi tidak akan disangkutpautkan dengan urusan negara, diapun tidak banyak bicara.

“Hemm, kalau begitu putusanmu goanswe, baiklah. Syukur kalau kau dapat memisah-misahkan hal ini karena kalau tidak, tentu saja urusan kerajaan yang jauh lebih penting dapat kacau. Baiklah, dan perintah pertama yang kuberikan kepadamu adalah Bunuh Wu-sam-tai-ciangkun dan teman-temannya dan tangkap Raja Muda Kung Cu Kwang!”

Inilah perintah yang tidak dapat dibantah lagi dan sebagai jenderal perang yang sudah diangkat mengepalai pasukan, tentu saja Bu Kong cepat mengiyakan dengan perasaan tidak karuan. Memang, meskipun Ok-ciangkun adalah ayah kekasihnya, namun tahu panglima itu main di medan perang berarti dia adalah musuh kerajaan yang harus dihadapi secara ”urusan kerajaan” pula. Akan tetapi, kalau dia dapat bertemu dengan Ok-ciangkun dalam pakaian biasa dan bukan di medan perang, maka perintah ”bunuh Wu-sam-tai-ciangkun” tadi tidak sampai menyangkut Panglima Ok yang kedudukannya sebagai ”ayah" biasa dari urusan pribadinya.

Memang agak membingungkan, akan tetapi, kalau sudah merupakan garis nasibnya, apalagi yang dapat dilakukan? Oleh sebab itu, ketika Pangeran Kou Cien mengajak semua orang berangkat dan sudah melompat di atas kudanya, pemuda ini juga melompat di atas punggung Hek-ma dan segera lima ekor kuda itu membalap keselatan menuju ke Pulau Cemara untuk menyiapkan pasukan menyerbu kota raja.

Perang memang selalu tidak menyenangkan, namun selalu ada saja di muka bumi. Manusia membenci perang, akan tetapi, manusia sendiri masih selalu berperang! Lucu dan janggal sekali tampaknya, namun begitulah kenyataannya. Kapankah dunia dapat tenteram dari kejahatan perang? Mungkin kalau dunia sudah kiamat!

Lima ekor kuda itu berderap cepat dan seperti biasa, Hek-ma yang ditunggangi murid Malaikat Gurun Neraka ini selalu unggul dalam larinya. Kalau saja Bu Kong membiarkan kuda itu berlari semaunya, mungkin empat orang temannya sudah tidak kelihatan lagi, jauh tertinggal di belakang.

Menurutkan kata hatinya, pemuda ini seakan-akan hendak terbang ke kota raja untuk menolong kekasihnya dari cengkeraman ayahnya sendiri. Teringat betapa gadis itu ditangkap sudah cukup membuat kemarahannya berkobar. Apalagi setelah mendengar Ok-ciangkun hendak mengawinkan puterinya dengan Pouw Kwi, api kemarahannya benar-benar menggelegak sampai kepala.

Sungguh jahat sekali orang tua ini! Masa hendak memaksa anak sendiri menikah dengan orang yang tidak disukainya? Apalagi justeru Pouw Kwi inilah yang merusak namanya dengan menyamar di istana Yun Chang dan bermain gila dengan Bwee Li sehingga dia yang menerima getahnya!

“Keparat, mereka memang manusia-manusia iblis yang patut dibunuh!” Bu Kong mendesis dan mengepal tinjunya dengan muka gelap. Membayangkan betapa satu bulan Siu Li akan dikawinkan dengan pemuda setan yang amat dibencinya itu membuat Bu Kong memekik marah dan menjejak sanggurdi kuat-kuat.

“Hek-ma, terbanglah! Hayo kita menuju pantai dan menunggu teman-teman di sana!” pemuda ini membentak lalu menengok ke belakang, mengerahkan khi-kangnya dan berseru, “Pangeran... hamba duluan. Kami tunggu di Pantai Tung-hai...!”

Suaranya terdengar jelas di antara derap kuda yang mencengklang dan tanpa menunggu jawaban dari pangeran itu, jenderal muda itu sudah mengaburkan kudanya dan terbang dengan kecepatan penuh. Hek-ma meringkik nyaring dan segera keempat kakinya bergerak cepat meninggalkan empat orang temannya di belakang. Sekejap saja bayangan kuda hitam ini sudah lenyap tertutup kepulan debu dan Pangeran Kou Cien serta para pengiringnya menggeleng-gelengkan kepalanya dan merekapun terpaksa mempercepat larinya kuda agar dapat menyusul jenderal muda itu.

Perjalanan cepat yang dilakukan oleh lima orang ini memang benar-benar luar biasa. Mereka hampir tidak pernah mengaso dan jarak dua ribu lie yang mereka tempuh itu hanya memakan waktu tiga hari saja! Oleh sebab itu, ketika pada hari keempat pantai Laut Tung-hai telah tampak dari kejauhan, Pangeran Kou Cien dan teman-temannya sudah berseru girang.

Kelelahan selama dalam perjalanan tiba-tiba saja seakan sudah terobati dengan melihat segarnya laut biru membentang luas di depan mata dan jauh di sana, samar-samar tampak di antara ombak laut, kelihatanlah sebuah pulau yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, Pulau Cemara!

Inilah pulau yang akan mereka tuju dan di situlah kekuatan pasukan Yueh berada. Tentu saja mereka menjadi girang dan mereka melihat betapa Yap-goanswe sudah berdiri di atas sebuah batu karang tinggi sementara kuda hitamnya berlari-lari kecil di bawahnya sambil menyepak-nyepakkan kaki belakang ketika melihat kedatangan mereka.

Diam-diam mereka merasa kagum kepada kuda hitam yang tampak masih penuh semangat itu, jauh berbeda dengan kuda mereka sendiri yang sudah penuh keringat dan napasnya ngos-ngosan. Lek Hui yang melihat kesegaran kuda ini tak dapat menahan seruan kagumnya dan berkata,

“Sungguh kuda Yap-goanswe hebat sekali. Mati-matian kita mengejar, tetap saja ketinggalan. Aihh, dari mana dia memperoleh kuda luar biasa itu? Yap-goanswe sungguh beruntung....”

Di dalam kata-katanya ini tersembunyi perasaan iri dan Pangeran Kou Cien tertawa. “Lek Hui, kalau kau suka kuda itu minta saja langsung kepada yang punya! Ha-ha, mengapa harus iri terhadap keberuntungan orang lain?”

Raksasa muda itu merah mukanya. “Pangeran, hamba tidak iri melainkan bicara sejujurnya. Dan lagi, untuk apa seekor kuda bagi hamba? Kalau Yap-goanswe memang perlu karena dia seorang jenderal yang selalu bergerak dalam peperangan. Akan tetapi, hamba? Ah, seorang kang-ouw macam hamba ini jauh lebih senang mendapat senjata pasukan daripada seekor kuda!”

Wen-taijin yang jarang bicara itu kini tersenyum. “Lek Hui, pangeran telah tahu isi hatimu ini dan jangan khawatir, asal kita berhasil mengalahkan musuh, di gudang senjata Raja Muda Kung Cu Kwang terdapat sebuah kapak istimewa yang tentu akan menggirangkan hatimu. Tahukah kau kapak apa itu...?”

Pendekar Gurun Neraka Jilid 17

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 17
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka
MALAIKAT Gurun Neraka mengangguk. “Pergilah, muridku. Doaku bersamamu dalam perjalanan dan mudah-mudahan apa yang kau cita-citakan dapat berhasil. Hanya pesanku, berhati-hatilah dalam melaksanakan tugas ini dan.... Eh, bukankah surat Bu-beng Sian-su masih kau bawa?”

Bu Kong agak terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba ini, akan tetapi, dia menjawab juga dengan suara heran, “Masih teecu simpan, suhu. Ada apakah?”

“Tidak apa-apa,” pendekar itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Aku hanya ingin tahu saja dan kalau surat itu masih kau simpan, syukurlah. Aku merasa bahwa kelak surat itu akan amat berguna sekali bagimu, Kong-ji. Oleh sebab itu, jagalah jangan sampai hilang.”

“Baik suhu akan teecu perhatikan semua nasihat ini,” Bu Kong menjawab dan pertanyaan gurunya yang menyinggung-nyinggung surat Bu-beng Sian-su itu tiba-tiba mengingatkan dia akan pertanyaannya sendiri tentang rencana perjodohannya dengan Sian Li yang masih belum dijawab gurunya. Oleh sebab itu, dengan hati berdebar dan muka agak merah pemuda itu lalu bertanya, “Suhu, sebelum teecu berangkat, bolehkah teecu mengulangi pertanyaan teecu yang dulu!”

Pendekar itu mengerutkan keningnya dan memandang tajam. “Pertanyaan yang mana maksudmu?” tanyanya.

Bu Kong menundukkan mukanya dan tiba-tiba sikapnya menjadi agak kikuk. Namun, karena dia telah memutuskan untuk minta ketegasan gurunya dalam masalah ini, maka dengan muka yang semakin merah dia menjawab lirih, “Pertanyaan tentang perjodohan teecu, suhu. Dapatkah kiranya suhu menenuhi permintaan ini dan merestui perjodohan teecu dengan Li-moi?”

“Hemm, soal itukah?” tiba-tiba senyum di wajah pendekar sakti itu lenyap dan Bu Kong berdetak jantungnya. Kemudian, dengan suara keren pendekar ini menyambung, “Kong-ji, terus terang kukatakan di sini bahwa pertanyaanmu itu terlampau pagi diajukan. Tugas belum selesai dikerjakan dan kau sendiri belum mengetahui hasil tidaknya, kenapa tergesa-gesa bicara soal perjodohan?”

Pemuda itu mengangkat mukanya. “Suhu, mohon dimaafkan kalau teecu membantah. Yang teecu maksudkan di sini bukanlah sekarang, akan tetapi, kelak jika teecu sudah selesai melaksanakan tugas-tugas teecu membasmi musuh...”

“Dan sudah berhasilkah tugas-tugasmu itu?” Malaikat Gurun Neraka memotong. “Sudah yakinkah kau bahwa pekerjaan yang hendak kau lakukan ini berjalan lancar tanpa penghalang dan selicin jalan di kota raja?”

“Teecu yakin pasti berhasil, suhu.”

“Hemm, kau hendak bersombong?” pendekar itu membentak marah. “Kong-ji, tidak baik bagi kita untuk bermulut besar. Tidak ingatkah engkau akan nasihat ini? Atas dasar apa kau merasa yakin atas keberhasilanmu? Mengandalkan tiga jurus sakti Lui-kong Ciang-hoat?”

Melihat gurunya marah, Bu Kong menundukkan kepalanya. “Tidak, suhu, teecu sekali-kali tidak bermaksud untuk menyombongkan diri. Kalau suhu bertanya atas dasar apa teecu berani bicara seperti itu, bukan lain adalah atas dasar Tuhan nanti akan membantu pihak yang benar dan tidak mungkin membiarkan kejahatan Cheng-gan Sian-jin dan teman-temannya merajalela di muka bumi!”

Malaikat Gurun Neraka berkurang kemarahannya, akan tetapi, wajahnya masih tetap keras. “Kong-ji, musuh-musuh yang kau hadapi bukanlah lawan ringan, terutama Cheng-gan Sian-jin sendiri yang memiliki kepandaian paling tinggi. Di samping itu, aku sendiri masih merasa was-was terhadap kemunculan susiokmu yang keluar dari pulau Hek-kwi-to. Meskipun, dengan tiga jurus sakti yang kau miliki sekarang kau sudah dapat diandalkan untuk menghadapi musuh-musuhmu, akan tetapi, kemungkinan-kemungkinan di luar perhitungan bisa saja terjadi setiap saat. Kenapa kau tergesa-gesa membicarakan soal perjodohan?”

Melihat gurunya tdak senang hati, Bu Kong menjadi gelisah juga. Diam-diam dia merasa cemas kalau gurunya ini tidak menyetujui niat perjodohannya itu. Namun, karena dia telah bertekad untuk mengetahui jawaban gurunya sekarang juga karena masalah ini amat penting baginya dan tidak kalah pentingnya dengan urusan-urusan lain, maka dia mengumpulkan seluruh keberaniannya dan berlaku nekat.

“Maaf, suhu,” Bu Kong menjatuhkan diri berlutut. “Bukannya teecu mendesak, akan tetapi, kalau kelak Li-moi menanyakan hal ini kepada teecu padahal teecu sendiri masih belum mengetahui jawaban suhu, lalu apa yang hendak teecu katakan kepada gadis ilu? Suhu, memandang kasih sayang suhu terhadap teecu selama ini, sukalah suhu memberikan jawaban sekarang juga mumpung teecu belum berangkat, baik suhu menerima ataupun menolaknya!”

“Kong-ji, kau nekat?” pendekar itu mendongkol.

“Tidak, suhu.”

“Lantas kenapa kau mendesakku sedemikian rupa?” Malaikat Gurun Neraka mulai naik darah.

“Semata-mata hanya untuk menepati janji, suhu. Teecu sudah berjanji kepada gadis itu untuk memberi keterangan tentang jawaban suhu kepadanya. Sebaliknya, Li-moi sendiri akan memberitahukan kepada teecu jawaban orang tuanya. Bukankah suhu mengajarkan kepada teecu agar selalu menepati janji yang telah diucapkan dan menjadi manusia yang dapat dipegang omongannya?”

Pendekar sakti itu tertegun, memandang muridnya dengan mata terbelalak dan akhirnya kekerasan sinar matanya beangsur-angsur lenyap. Memang begitulah pelajaran yang selama ini diberikan kepada muridnya, yakni agar menjadi orang yang selalu berusaha menepati janji dan berdisiplin. Apalagi sebagai pemuda yang pernah menjadi jenderal di Kerajaan Yueh, maka "orang yang dapat dipegang omongannya" begini benar-benar mutlak diperlukan.

“Kong-ji,” akhirnya pendekar sakti itu menarik napas panjang. “Kau benar-benar terlalu sekali mendesak orang tua. Akan tetapi, karena alasanmu memang tak dapat kubantah, maka biarlah kujawab juga pertanyaanmu itu. Sebenamya, dalam masalah perjodohanmu ini, aku tidak menolak maupun menyetujuinya....”

Bu Kong terkejut dan mengangkat mukanya. “Ah, lalu bagaimana kalau begitu, suhu!”

“Dengarlah,” Malaikat Gurun Neraka mengangkat tangannya kemudian melanjutkan, “Adanya aku tidak berani menolak ataupun menyetujuinya adalah karena disebabkan keadaanmu yang tidak karuan itu. Pertama-tama, aku belum melihat titik terang dalam persoalanmu itu. Kau tahu sendiri, Kong-ji, bahwa ayah gadis itu adalah musuh besarmu yang telah menghancurkan Yueh dan memfitnah nama baikmu sedemikian kejamnya. Akan tetapi, anaknya malah menjadi kekasihmu. Bagaimana engkau dapat menikmati kebahagiaan dalam rumah tangga yang didirikan di atas pertentangan begini?”

“Akan tetapi, suhu,” Bu Kong membantah dengan muka pucat. “Pertentangan ini bukan timbul dari teecu berdua, melainkan timbul dari pihak luar. Ok-ciangkun kebetulan saja menjadi ayah gadis itu sehingga ada kaitannya, namun dalam masalah rumah tangga yang hendak teecu dirikan, sama sekali tidak ada pertentangan itu. Bukankah suhu pernah berkata bahwa dasar utama bagi orang yang hendak berumah tangga adalah cinta kasih kedua belah pihak? Nah, teecu berdua telah memiliki dasar utama ini dan masalah Ok-ciangkun bagi teecu adalah masalah luar!”

“Hemm, akan tetapi, dia adalah orang tua gadis itu dan berhak menentukan jodoh puterinya, Kong-ji,” kata pendekar ini.

“Memang betul, suhu,” jawab Bu Kong. “Sebagai orang tua dia memang berhak, akan tetapi, haknya sama sekali tidak mutlak!”

Bantahan pemuda itu membuat Malaikat Gurun Neraka tersenyum maklum dan tentu saja diapun mengerti tentang hal ini. Akan tetapi, karena dia ingin melihat sampai sejauh mana tekad muridnya itu, maka pendekar itu berkata, “Kong-ji, sanggahanmu memang tepat. Baiklah, kita akui bahwa Ok-ciangkun tidak mempunyai hak mutlak dalam masalah perjodohan puterinya karena yang akan menikah bukanlah dia, melainkan kalian berdua. Namun muridku, kalau ayah gadis itu menentang perjodohan kalian, bukankah belum apa-apa sudah terdapat percekcokan di sini? Bagaimana kau hendak membangun rumah tangga yang didasari percekcokan begini! Bukankah hal ini mirip membangun sebuah rumah yang fondasinya retak-retak? Dapatkah kelak rumah itu sendiri bertahan lama? Orang berumah tangga mempunyai mata rantai yang tiada putusnya antara yang satu dengan yang lain, antara anak dengan orang tuanya, antara anak dengan saudara-saudaranya. Kalau kau tetap berkukuh melanjutkan niatmu ini, dapatkah kebahagiaan kelak menaungi hidupmu, Kong-ji? Bukannya aku melarang, akan tetapi, apakah tidak sebaiknya kau pikirkan dahulu hal ini sematang-matangnya, muridku?”

Bu Kong menggelengkan kepalanya dan pendekar itu melihat betapa tiba-tiba sikap kepala batu muridnya itu timbul. “Suhu, orang hidup di mana-mana sama saja. Pertentangan dan permusuhan selalu ada. Kalau teecu tidak dapat mengatasi hal-hal semacam ini, lalu kapan teecu bisa maju. Hal ini sudah biasa, suhu, dan itulah sebabnya mengapa teecu berdua telah bertekad untuk mengatasi semua rintangan-rintangan yang menghalang di tengah jalan. Jika Ok-ciangkun tidak menyetujui perjodohan ini, teecu berdua tidak akan memperdulikannya sama sekali. Teecu tidak akan membiarkan kebahagiaan ini rusak hanya karena pertentangan orang luar belaka! Oleh sebab itu, siapapun yang menghalanginya akan teecu lawan!”

“Termasuk penolakan ayah gadis itu?” pendekar itu bertanya.

“Begitulah, suhu!” Bu Kong menganggukkan kepalanya dengan tegas.

“Dan bagaimana kalau akupun menentangnya?” tiba-tiba Malaikat Gurun Neraka memandang muridnya dengan tajam. “Apakah kau juga akan melawan gurumu sendiri?”

“Suhu...!” Bu Kong melompat kaget dan mukanya pucat sekali, memandang gurunya seperti orang mendengar petir di siang hari. Sejenak pemuda ini terbelalak, tak mampu bersuara seperti orang disengat ular berbisa. Namun akhirnya pemuda ini berdiri perlahan-lahan, kemudian maju berlutut di depan kaki gurunya. “Suhu....” katanya dengan suara menggigil, “....apakah ucapan yang suhu keluarkan itu sungguh-sungguh ataukah hanya main-main belaka?”

“Anggaplah saja bahwa apa yang kukatakan tadi sungguh-sungguh. Kalau sudah begitu, apakah yang hendak kau lakukan? Melawan guru sendiri?” pendekar ini bertanya keren.

Bu Kong menundukkan kepalanya. “Kalau suhu bersungguh-sungguh, atas dasar apakah suhu menentang perjodohan teecu? Kalau atas dasar pribadi, suhu tidak berhak sama sekali menentang perjodohan ini! Akan tetapi, kalau Suhu hendak memaksakan diri sebagai orang tua yang berkuasa dan telah melepas budi kepada teecu, tentu saja teecu tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, di sini teecu dengan terus terang mencela Suhu sebagai orang tua tanpa cinta kasih yang picik pikiran dan hendak menyenangkan diri sendiri dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain!”

Hebat dan berani sekali kata-kata ini dan kalau saja Malaikat Gurun Neraka bersungguh-sungguh tentu pendekar itu marah sekali. Akan tetapi, karena pendekar sakti ini memang hanya ingin menjajagi muridnya sampai berapa jauh niat yang terkandung dalam masalah perjodohan itu, maka pendekar ini sama sekali tidak merasa marah.

Keberanian muridnya dalam segala hal asal merasa diri sendiri benar memang sudah diketahuinya dengan baik. Itulah sebabnya diam-diam dia merasa kagum terhadap pemuda itu yang tidak segan-segan untuk mencela guru sendiri bila melakukan kekeliruan! Inilah hal yang jarang sekali terjadi dan Malaikat Gurun Neraka tersenyum di dalam hatinya.

Akan tetapi, karena jawaban pemuda itu masih dirasa kurang memuaskan dan agak "memutar", pendekar ini mengerutkan alisnya. “Kong-ji, kau belum memberi jawaban yang tegas dalam pertanyaanku tadi. Kau belum menjawab hendak melawan guru ataukah tidak apabila aku menentang perjodohan ini. Nah, sekarang jawablah, jika aku menentang maksudmu itu, apakah kaupun akan melawan suhumu sendiri?”

Bu Kong mengangkat mukanya. “Suhu, jawaban yang tegas belum bisa teecu berikan selama suhu sendiri belum mengatakan kepada teecu atas dasar apakah Suhu menentang perjodohan itu. Oleh sebab itu, kalau suhu ingin jawaban teecu, harap suhu katakan dulu atas dasar pribadi ataukah dasar kekuasaan sehingga suhu hendak menentang perjodohan ini!”

“Kalau atas dasar kekuasaan?” pendekar itu bertanya.

“Teecu akan mengorbankan kebahagiaan ini sebagai penebus hutang budi teecu kepada suhu yang telah memelihara teecu belasan tahun. Akan tetapi, di samping itu, sebagai manusia yang melihat kekeliruan sikap guru yang berjiwa pedagang dengan cara imbalan jasa dan memperhitungkan untung rugi, perlu teecu peringatkan bahwa sikap yang suhu ambil bukanlah sikap seorang pendekar sejati yang seharusnya menjauhi tindakan sewenang-wenang!”

Merah muka pendekar ini karena jawaban muridnya ini benar-benar tajam bukan main, merupakan kecaman pedas yang dapat membuat orang bersangkutan naik darah. Akan tetapi, karena dia memang sengaja mencoba maka pendekar itu bertanya lebih lanjut. “Dan bagaimana kalau atas dasar pribadi?”

Bu Kong memandang gurunya. “Suhu, untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu teecu ingin bertanya, termasuk golongan manakah suhu dalam dunia persilatan?”

“Maksudmu?” pendekar itu bertanya heran.

“Maksud tecu ialah, termasuk golongan hitam ataukah putih suhu ini. Kalau suhu termasuk golongan hek-to (hitam), maka teecu akan melawan karena yang teecu lawan bukanlah orangnya melainkan kejahatannya seperti yang biasa suhu wejangkan kepada teecu. Akan tetapi, kalau suhu termasuk golongan pek-to (putih), tidak mungkin suhu akan melaksanakan niat itu karena seorang pendekar tahu akan perbuatan-perbuatan yang melanggar hati nuraninya sendiri. Nah, sekarang tinggal suhu sendiri untuk menjawabnya secara jujur.”

Inilah tangkisan yang jitu sekali dan kalau tadi Malaikat Gurun Neraka mendesak muridnya untuk menjawab, adalah sekarang pemuda itu membalikkan keadaan sedemikan rupa sehingga dia yang harus menjawab! Tentu saja hal ini menyudutkan pendekar itu dan manapun yang dipilih, sebenarnya dia tetap saja tidak dapat menghalangi masalah perjodohan muridnya!

“Ha-ha. kau cerdik, muridku!” Malaikat Gurun Neraka tak dapat menahan hatinya lagi dan tertawa bergelak. “Jawaban yang kau berikan benar-benar memuaskan sekali. Baiklah, karena tidak ada seorangpun yang sanggup menghalangi niat seseorang, maka apa pula yang dapat kulakukan dalam hal ini? Kalau kau sudah bertekad sedemikian rupa, biarlah aku membantumu memperjuangkan perjodohan ini. Pergilah, kerjakan tugasmu itu dan selesaikan segera. Kelak apabila semuanya berhasil, aku akan merangkapkan kalian sebagai suami isteri dan mudah-mudahan kebahagiaan selalu bersamamu!”

Bu Kong girang bukan main mendengar kata-kata gurunya ini dan seketika mukanya berseri gembira. “Suhu, terima kasih...!” pemuda itu menjatuhkan diri berlutut dan berseru girang. “Teecu memang sudah menyangka bahwa tidak mungkin suhu akan menolak perjodohan ini.”

“Hemm, dari mana kau tahu?” gurunya bertanya sambil tersenyum.

“Dari watak suhu yang selalu bijaksana terhadap teecu.”

“Ha-ha, kau mau mengumpak gurumu, ya?” pendekar itu menepuk pundak muridnya dan Bu Kong tersenyum lebar.

“Tidak, suhu, akan tetapi bukankah memang demikian kenyataannya?”

“Hah, sudahlah!” orang tua itu mendengus. “Tidak perlu gurumu dipuji-puji setinggi langit. Paling baik sekarang juga kau berangkat dan ingat pesanku tadi, berhati-hatilah selalu dalam menjalankan tugas berbahaya ini.”

Bu Kong mengangguk girang. “Baik, suhu. Akan teecu perhatikan semua nasihat ini dan mudah-mudahan berkat doa restu suhu, teecu dapat berhasil mencapai cita-cita. Sekarang perkenankanlah teecu pergi, suhu, selamat tinggal...!” pemuda itu memberi hormat yang terakhir kalinya kepada gurunya lalu memutar tubuh meninggalkan tempat itu dengan wajah berseri dan senyum gembira.

Malaikat Gurun Neraka memandang tubuh belakang muridnya dan diam-diam bergumam perlahan, “Semoga dia tidak mengulangi nasib gurunya yang buruk dalam asmara...!” dan sampai bayangan muridnya lenyap di tikungan, pendekar sakti ini masih saja berdiri tegak di depan gua.

Cinta kasih! Demikian hebat kekuasaanmu kalau sudah mencengkeram diri seseorang. Namun, kebahagiaankah yang bakal kau berikan kepada mereka? Mudah-mudahanlah.

Semangat dan tekad Bu Kong yang pantang menyerah diam-diam membuat hati pendekar ini kagum sekali. Jarang ditemukan sekarang pemuda yang seperti itu. Akan tetapi, berbahagiakah kelak muridnya dalam melanjutkan kisah asmaranya dengan murid mendiang Mo-i Thai-houw yang dulu juga menjadi kekasihnya itu? Entahlah!

Bahkan tiba-tiba sepasang alis pendekar ini berkerut ketika dia teringat surat Bu-beng Sian-su yang diberikan kepada muridnya. Kalimat-kalimat ganjil yang ditulis manusia dewa itu mengandung suatu "kengerian" aneh yang dirasa. Kalau saja muridnya itu dapat menembus jauh, barangkali Bu Kong sedikit banyak dapat menyentuh apa yang dimaksudkan tokoh dewa itu. Akan tetapi, pemuda itu sedang dikuasai kegembiraan sendiri dan hal itu membuat daya tanggapnya berkurang. Dapatkah melihat "jauh" ke depan?

Rupanya tidak. Ah, biarlah dia lihat saja apa yang bakal terjadi dan bagaimanakah kelak jawaban dari kalimat-kalimat ganjil Bu-beng Sian-su itu. Mudah-mudahanlah muridnya mendapatkan suatu pengalaman berharga bagi dirinya sendiri sehingga kelak dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Angin meniup santai, keharuman bunga semakin semerbak. Daun-daun pohon bergoyang lembut dan Malaikat Gurun Neraka termenung beberapa saat di depan gua sampai akhirnya masuk ke dalam dan duduk bersamadhi di atas batu bundar yang hitam mengkilap.

* * * * * * * *

Matahari belum naik tinggi ketika Bu Kong keluar dari mulut hutan dengan mata bersinar-sinar. Kegembiraan memenuhi hatinya dan pagi yang cerah membuat segalanya tampak indah. Namun, baru saja pemuda ini hendak mengerahkan gin-kangnya untuk melanjutkan perjalanan sambl berlari cepat, mendadak dari kejauhan terdengar derap kaki kuda. Debu mengepul tinggi dan samar-samar seekor kuda hitam tinggi besar dengan bulu surinya yang panjang riap-riapan muncul dari arah selatan.

Ketika Bu Kong mengerahkan kekuatan matanya, pemuda ini terkejut melihat betapa kuda itu berlari dengan punggung kosong alias tanpa penunggang. Tentu saja dia merasa heran dan karena kuda itu masih terlalu jauh, dia tidak dapat melihat jelas. Akan tetapi, melihat kuda hitam yang larinya secepat terbang ini otomatis mengingatkan dirinya akan Hek-ma (Si Hitam) yang sudah lama tidak ditemuinya. Diam-diam hatinya mulai berdebar dan baru saja dia hendak melompat, sekonyong-konyong dibelakang kuda hitam itu muncul empat ekor kuda lain yang mengejar di belakangnya.

Dilihat dari mulut hutan, empat orang yang duduk dibelakang punggung kuda itu seakan-akan sedang memburu kuda hitam yang berlari kencang di depan. Bu Kong mengerutkan alisnya dan dia ingin tahu siapakah empat orang yang agaknya hendak menangkap kuda hitam itu. Dan karena dia sendiri juga ingin tahu apakah kuda hitam itu Hek-ma atau bukan, tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan siul tinggi yang melengking nyaring.

Itulah isyarat panggilan bagi Hek-ma yang biasa diberikan kepada kudanya. Kalau kuda hitam Yang berlari seperti terbang itu memang Hek-ma adanya, tentu kuda itu akan meringkik panjang sebagai jawaban. Betul saja! Begitu siulan nyaring yang melengking tinggi itu dikeluarkan sehingga dapat didengar sampai belasan lie jauhnya, tiba-tiba kuda hitam yang dikejar dari belakang itu melonjak dan meringkik panjang. Larinya mendadak bertambah cepat dan luar biasa, keempat kakinya seolah-olah tidak menginjak bumi lagi dan kuda hitam itu meluncur di atas tanah seperti kuda terbang!

Tentu saja Bu Kong merasa girang. Tidak menunggu kuda hitam itu mendekati hutan, pemuda itu sudah bersiul kembali dan tubuhnya berkelebat ke depan menyongsong Hek-ma yang meringkik-ringkik panjang itu. Sebentar saja, karena dua pihak saling menghampiri dan kedua-duanya sama-sama bergerak cepat, kuda serta tuan mudanya ini sudah berhadapan muka dan pemuda itu berteriak memanggil Hek-ma dengan penuh kegembiraan. Hek-ma sendiri juga melompat maju dan mengibaskan ekornya sambil melonjak-lonjak dan kuda yng amat setia kepada majikannya ini sudah menekuk dua kaki depannya dan berlutut!

Demikianlah, dua sahabat yang lama tidak bertemu itu sekarang saling peluk dan Bu Kong merangkul leher kudanya dengan penuh keharuan. Ditepuk-tepuknya punggung Hek-ma dan diciumnya telinga kiri kuda ini dan Hek-ma mengeluarkan keluhan seperti orang menangis. Akan tetapi, mereka tidak mendapat banyak kesempatan untuk mencurahkan kegembiraan masing-masing karena pada saat itu, empat ekor kuda yang tadi mengejar Hek-ma telah muncul di depan mereka. Dan begitu empat penunggang kuda ini tiba, mereka berseru memanggil Bu Kong dan berlompatan turun.

Bu Kong terbelalak dan sejenak dia tertegun kaget melihat orang-orang itu. Tadinya dia mengira bahwa empat orang yang mengejar-ngejar kudanya itu adalah para pemburu yang hendak menangkap Hek-ma. Tidak tahunya mereka adalah orang-orang yang sudah amat dikenalnya, kecuali orang keempat yang bertubuh tinggi besar dan memakai gelang baja yang melilit lehernya.

Siapakah orang-orang ini? Bukan lain adalah Fan Li serta dua orang tokoh dari istana Yueh yang sudah lama tidak dijumpai Bu Kong. Dan seperti biasa, Fan Li yang selalu mengenakan baju biru dengan ikat kepala kuning itu sudah berteriak dari kejauhan dan menghampiri bekas jenderal muda ini sambil memberi hormat.

“Goanswe selamat bertemu kembali dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa engkau telah telah terbebas dari Jit-coa-tok! Akan tetapi, mana nona Hong?”

Bu Kong mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan itu karena tiba-tiba saja hatinya merasa tidak enak. Seperti diketahui, atas bantuan Pek Hong dan Fan Li itulah maka dia terbebas dari bahaya maut. Dan kini pertanyaan pemuda itu tentang Pek Hong mengingatkan dia akan segala peristiwa yang terjadi. Namun, karena dia tidak ingin memperpanjang urusan ini, Bu Kong lalu menjawab juga untuk membalas penghormatan sahabatnya itu,

“Fan-ciangkun, Hong-moi telah pergi setelah aku sembuh, mungkin kembali pada gurunya. Dan bersama ini pula terimalah ucapan terima kasihku yang tak terhingga atas semua pertolonganmu membebaskan diriku dari tangan Cheng-gan Sian-jin.”

Fan Li tersipu-sipu menerima ucapan ini. “Goanswe, mengapa terlalu sungkan? Kita adalah orang-orang sendiri dan sudah sepantasnya kalau kita saling tolong-menolong. Bukankah demikian, pangeran?” pemuda ini tiba-tiba menoleh ke kanan dan berkata sambil tersenyum ke arah laki-laki berpakaian indah bertopi bulu yang sedang menghampiri mereka.

Laki-laki yang dipanggil pangeran ini tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya. “Apa yang diucapkan ciang-kun memang benar. Kita adalah orang-orang sendiri dan bantu membantu di antara kita adalah hal yang sudah semestinya. Bagaimana, goanswe? Bukankah engkau baik-baik saja?”

Bu Kong terkejut. Seharusnya dialah yang terlebih dahulu menegur laki-laki ini yang bukan lain adalah Pangeran Kou Cien, akan tetapi, ternyata pangeran ini telah mendahuluinya. Maka tentu saja dengan tergesa-gesa dan memutar tubuh dan memberi hormat. “Pangeran, atas doa restu Anda, hamba baik-baik saja dan semoga Thian selalu memberikan berkah-Nya kepada Anda! Maaf, karena tidak menyangka kedatangan paduka hamba tidak dapat menyambut sepantasnya.”

“Ha-ha, tidak apa, goanswe... tidak apa,” pangeran itu tertawa. “Kami datang bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk membicarakan urusan penting denganmu. Dan atas nasihat Wen-taijin inilah maka aku memberanikan diri untuk minta bantuanmu. Bukankah demkian, Wen-taijin?”

Pangeran ini menoleh ke kiri di mana berdiri seorang laki-laki setengah tua berpakaian bangsawan yang halus gerak-geriknya. Laki-laki ini memiliki mata yang lembut, sikapnya sabar, dan wajahnya membayangkan kebijaksanaan seorang tua yang telah mengenyam pahit getirnya hidup. Inilah dia Wen-taijin atau yang dalam sejarah dikenal dengan nama Wen Chung, seorang pembesar istana yang menjadi penasihat Kou Cien.

Melihat pangeran itu menegurnya, laki-laki tua ini membungkukkan tubuhnya kemudian memberi hormat kepada Bu Kong. “Goanswe, maaf apabila bujukanku terhadap pangeran mengganggu ketenteraman hatimu. Bukan sekali-kali maksudnya hendak mengacaukan ketenanganmu, akan tetapi, terdorong oleh masalah yang jauh lebih penting dan menyangkut kehidupan orang banyak, maka aku memberanikan diri mengusulkan kepada pangeran agar datang ke sini.”

Bu Kong tertegun dan hatinya mulai berdebar. Mendengar ucapan dua orang tokoh istana ini mudah baginya untuk menebak bahwa kedatangan mereka pasti ada hubungannya dengan Kerajaan Yueh. Padahal dia sudah bersumpah untuk tidak membantu dan berhubungan lagi dengan kerajaan itu! Akan tetapi, melihat Wen-taijin sudah menjura di depannya, diapun segera membalas hormat dan berkata,

“Taijin dan pangeran terlalu merendah, mana berani aku menerimanya? Kalau ji-wi merasa bahwa aku bisa membantu ji-wi, sungguh merupakan anugerah besar bagiku. Akan tetapi, agar pembicaraan kita dapat lebih lancar, harap Taijin sekalian tidak memanggilku goanswe (jenderal) lagi karena jabatan itu sudah lama tidak ada di pundakku. Yang ada di hadapan cu-wi (Anda sekalian) adalah orang she Yap, bukan jenderal.”

Kata-kata ini diucapkan dengan suara tegas, karena Bu Kong memang hendak memperingatkan orang-orang yang berada di situ bahwa dia bukan lagi Yap-goanswe dari Kerajaan Yueh, melainkan Yap Bu Kong, pemuda biasa.

Tentu saja Pangeran Kou Cien dan yang lain-lainnya mengerti maksud pemuda itu, diam-diam hati pangeran ini gelisah. Sesungguhnya kedatangannya ke tempat ini bukan lain adalah untuk mengundang bekas jenderal muda itu guna memimpin sisa-sisa pasukan Yueh yang berhasil dikumpulkan. Namun, meskipun pasukan mereka sudah berjumlah cukup besar buat melakukan pembalasan kepada musuh, tanpa adanya seorang pimpinan yang pandai tentu saja kekuatan mereka tidak berarti, ibarat lembu tanpa tanduk atau harimau tanpa gigi!

Dan sekarang, melihat orang yang hendak dimintai tolong mulai menunjukkan kekerasan hatinya karena tentu saja pemuda itu teringat akan segala kejadian di istana sehingga dipecat dengan cara tidak hormat oleh mendiang sri baginda, diam-diam pangeran ini merasa cemas. Dia cukup mengenal watak pemuda itu, mengenal keberanian serta kekerasan hatinya. Dan untuk membujuk bekas jenderal muda inilah maka dia sengaja membawa Wen-taijin agar dapat melunakkan hati pemuda itu.

Seperti diketahui, Wen-taijin ini adalah orang yang paling dihormati oleh Bu Kong semasa dia masih berada di Yueh karena atas jasa-jasa orang tua inilah maka dia dapat menjadi jenderal di kerajaan itu. Bahkan bukan itu saja. Wen-taijin inipun banyak memberinya nasihat-nasihat serta petunjuk-petunjuk berharga dalam masalah pribadinya dan berkat nasihat-nasihat orarg tua itu Bu Kong dapat menjaga diri dari rayuan Lie Lan, keponakan Lie-thaikam ketika gadis itu dulu dulu datang ke gedungnya.

Dan Pangeran Kou Cien yang mengetahui hal ini hendak mempergunakan pengaruh Wen Chung agar mereka berhasil membujuk pemuda itu memimpin pasukan lagi seperti dulu. Apalagi, di samping mereka masih terdapat Fan-ciangkun yang pernah melepas budi terhadap Bu Kong, maka pangeran ini mengharap bahwa perjalanannya tidak sia-sia. Itulah sebabnya maka jauh-jauh dia merendahkan hati datang ke tempat pemuda ini dan bukannya menyuruh orang lain untuk memanggil bekas jenderal muda itu.

Sementara itu, Wen-taijin yang mendengar kata-kata pemuda ini tampak tenang-tenang saja dan tersenyum sabar. Pembesar inipun tahu watak pemuda itu dan sekali pemuda itu bilang agar mereka tidak lagi memanggilnya "goanswe", maka diapun tidak mau membantahnya. Hanya dia belum tahu panggilan apakah yang sekarang cocok dipakai untuk mengganti panggilan "goanswe" ini. Namun, tiba-tiba saja wajah pembesar ini berseri ketika dalam sedetik saja dia mendapatkan ilham yang bagus untuk memanggil pemuda itu.

“Hemm, kalau sekarang dia tidak mau dipanggil goanswe lagi, lalu sebutan apakah yang pantas kita berikan kepadanya, pangeran?” Wen Chung menoleh dan memandang Pangeran Kou Cien. “Paduka tahu sendiri bahwa sekali pemuda macam ini telah memutuskan sesuatu tidak mungkin kita mampu membantahnya. Apakah pangeran ada sebutan khusus untuknya?”

Pangeran Kou Cien terbelalak. “Taijin, kalau Yap-goanswe tidak mau dipanggil jenderal, kukira kita panggil saja dia Yap-taihiap. Bukankah ini cocok sekali?”

“Ah, kurang tepat, pangeran!” tiba-tiba pemuda tinggi besar yarg sedari tadi belum ikut bicara, kini mendadak melangkah ke depan dengan mata bersinar-sinar. “Hamba rasa sebutan yang paling cocok sekarang ini adalah....” pemuda itu berhenti sejenak dan bertukar pandang dengan Wen Chung, akan tetapi, dia tidak segera melanjutkan dan tersenyum-senyum membuat orang-orang lain ingin tahu sekali apakah yang hendak dikatakan itu.

Wen Chung mengangkat tangannya. “Lek Hui, jangan khawatir. Teruskan maksud hatimu ini, karena agaknya di antara kita ada persamaan. Katakanlah!”

“Baik, Wen-taijin,” pemuda itu mengangguk girang, lalu menghadap Bu Kong dan dengan suara yang menggeledek pemuda tinggi besar ini berseru, “Kalau Yap-goanswe tidak mau dipanggil jenderal lagi, maka kukira sebutan yarg paling tepat sekarang ini adalah PENDEKAR GURUN NERAKA!”

“Ha ha, bagus...!” Wen-taijin bertepuk tangan gembira. “Sungguh kebetulan bahwa apa yang hendak kuberikan kepada bekas jenderal muda kita adalah sama! Lek Hui, bagaimana kau dapat mencuri ilham yang kudapatkan ini?” pembesar itu bertanya sambil tertawa dan pemuda tinggi besar itu mmbusungkan dadanya.

“Taijin, agaknya bukan hamba yang mencuri ilham paduka, melainkan padukalah yang mencuri ilham hamba. Ha-ha-ha...!”

Semua orang tertawa dan Bu Kong tersenyum lebar. Segera perhatiannya tertarik kepada pemuda tinggi besar yang tampak gagah perkasa itu dan suaranya yang menggeledek seperti guntur ini benar-benar membayangkan tenaga raksasanya yang hebat sekali. Oleh sebab itu, dengan mulut tersenyum, dia menjura di depan pemuda itu dan bertanya, “Siapakah saudara ini dan berasal dari manakah? Kenapa selama ini kita tidak pernah bertemu?”

Fan Li tergesa-gesa melangkah maju. Karena dia merupakan petunjuk jalan bagi tiga orang temannya, maka seharusnya sejak tadi dia memperkenalkan pemuda itu kepada Bu Kong. Akan tetapi, karena sibuk dengan urusannya sendiri, dia sampai melupakan hal ini dan tentu saja sekarang dengan terkejut dia melangkah maju. “Goanswe, dia adalah...” baru sampai di sini Fan Li bicara, tiba-tiba pemuda tinggi besar itu tertawa bergelak dan mendorong tubuhnya.

“Fan-ciangkun, dia bukan Yap-goanswe, melainkan Pendekar Gurun Neraka! Masa belum satu menit kau sudah melupakan hal ini? Ha-ha, Pendekar Gurun Neraka, kenalkan, aku Lek Hui, she Auw berasal dari Gunung Beng-san. Pekerjaan tukang kayu dan membabat hutan. Kalau sewaktu-waktu kau perlu membersihkan hutan ini, jangan kerjakan sendiri dan panggil saja aku. Tanggung dalam sehari dua hari, semua isi hutan akan lari tunggang-langgang mencari tempat persembunyiannya. Ha-ha-ha...!”

Auw Lek Hui si raksasa muda itu tertawa bergelak dan Bu Kong terpaksa ikut tertawa pula melihat sikap yang terbuka dan blak-blakan dari orang itu. Diam-diam dia merasa suka menyaksikan kejujuran pemuda itu dan biarpum agak kasar namun sikap begini jauh lebih baik daripada sikap yang halus di luar, namun, 'berbulu' di dalamnya.

“Auw-twako benar-benar mengagumkan. Pantas saja bertubuh raksasa dan bertenaga gajah, kiranya tukang pembabat hutan yang ulung!” Bu Kong tertawa geli dan Wen Chung menepuk-nepuk bahu Lek Hui yang tebal dan kuat seperti bahu beruang itu sambil tersenyum lebar.

“Pendekar Gurun Neraka, dia memang bukan orang sembarangan. Selain memiliki tenaga gwa-kang (tenaga luar) sehebat gajah, Lek Hui juga seorang ahli lwee-kang (tenaga dalam) yang amat mahir. Semua ini berkat bimbingan gurunya, Ciok-thouw Taihiap, (Pendekar Kepala Batu) yang tinggal di Beng-san. Dan atas perintah gurunya inilah maka dia membantu kami dan oleh pangeran dia diangkat sebagai pengawal pribadi!”

Bu Kong tercengang dan memandang pemuda tinggi besar itu dengan mata terbelalak. “Apa? Jadi, Auw-twako ini adalah murid Pendekar Kepala Batu? Bukankah locianpwe ini dikabarkan orang sudah tidak berada di Tiong-goan lagi dan merantau di Thian-nok (India) belasan tahun yang lalu.”

Lek Hui melangkah maju. “Pendekar Gurun Neraka agaknya kau melupakan peribahasa yang berbunyi: Sejauh-jauh batu terlontar, akhirnya kembali juga ke bumi. Begitu pula halnya dengan suhu. Sejauh-jauh dia merantau, akhirnya rindu kampung halaman tak dapat dicegahnya lagi. Itulah sebabnya maka lima bulan yang lalu, suhu pulang kembali dan mendengar kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di dunia kang-ouw. Kemunculan Cheng-gan Sian-jin bersama murid perempuannya yang membuat onar di dunia persilatan membuat suhu cemas dan suhu lalu menyuruhku untuk mengenyahkan iblis tua itu!”

“Ahh...!” Bu Kong berseru kaget. “Begitukah kiranya?”

Lek Hui mengangguk. “Benar, Pendekar Gurun Neraka dan suhu telah menekankan agar aku tidak usah kembali kalau Cheng-gan Sian-jin belum mampus!”

Bu Kong memandang raksasa muda ini dan diam-diam dia agak tidak senang melihat orang bermulut besar. Cheng-gan Sian-jin bukanlah manusia sembarangan, bagaimana pemuda itu seolah-olah bersombong diri dan bersikap tekebur? Akan tetapi, karena dia pernah mendengar cerita gurunya bahwa Ciok-thouw Taihiap adalan seorang angkatan tua yang kesaktiannya setingkat dengan Malaikat Gurun Neraka sendiri, maka diapun tidak berani memandang ringan murid pendekar besar itu.

Gurunya pernah berkata bahwa Ciok-thouw Taihiap adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang berkepandaian tinggi. Banyak tokoh-tokoh sesat yang tewas di tangan pendekar itu karena konon kabarnya Ciok-thouw Taihiap adalah seorang pendekar bertangan ganas terhadap kaum sesat. Maka tidak heran apabila pendekar ini amat dibenci oleh golongan hek-to dan karena kewalahan menghadapi musuh-musuhnya itulah maka pendekar ini akhirnya meninggalkan Tiong-goan dan merantau ke India.

Menurut gurunya, Pendekar Kepala Batu sesungguhnya adalah orang berhati mulia terhadap kaum lemah. Hanya sedikit yang agak menjengkelkan para pendekar lain, yakni watak yang terlalu kaku dan keras kepala dari pendekar itu. Dan itulah sebabnya maka dia mendapatkan julukan Ciok-thouw Taihiap atau Pendekar Kepala Batu akibat sikapnya yang mau menang sendiri itu!

Sekarang tanpa disangka-sangka Bu Kong bertemu dengan murid pendekar sakti itu yang bersumber hendak membasmi Cheng-gan Sian-jin dan tidak diperkenankan gurunya kembali kalau datuk sesat itu masih hidup! Inilah salah satu contoh orang-orang yang berkepala batu, agak sombong namun sekali mempunyai tekad, tidak akan mundur sampai ajal tiba! Tentu saja agak mengerikan orang yang menjadi lawannya dan memang amat berbahaya bermusuhan dengan orang seperti Pendekar Kepala Batu ini.

Namun, Bu Kong yang kini disebut sebagai Pendekar Gurun Neraka itu tidak berkomentar. Dia menghadap Pangeran Kou Cien yang merupakan orang pertama dalam pertemuan ini dan merangkapkan kedua tangannya didepan dada. “Pangeran. sekarang bolehkah hamba mengetahui maksud kedatangan paduka ini? Pertolongan apakah kiranya yang paduka perlukan dari hamba?”

Pangeran Kou Cien melangkah maju. “Goanswe, eh, maaf...!” pangeran ini terkejut karena kebiasaannya memanggil sebagai jenderal kepada pemuda ini ternyata masih saja latah. Maka dengan terburu-buru dia melanjutkan, “Yap-taihiap, karena dengan resmi sekarang engkau adalah seorarg pendekar kang-ouw dan bukan lagi seorang jenderal, maka lebih mantap hatiku kami untuk meminta bantuanmu. Ketahuilah, seperti yang kau lihat sendiri, Kerajaan Yueh telah hancur diserbu pasukan Wu-sam-tai-ciangkun yang dibantu banyak orang pandai. Pasukan kami kocar-kacir dan sri baginda sendiri tewas dalam pertempuran itu. Akan tetapi, setelah berbulan-bulan bersusah payah, bersama Fan-ciangkun ini kami berhasil mengumpulkan kembali sisa-sisa pasukan kami dan kini mereka semua telah berada di satu tempat untuk sewaktu-waktu melakukan serangan terhadap musuh. Namun, meskipun pasukan yang kami kumpulkan cukup besar, tanpa adanya seorang pimpinan yang pandai mengatur tentu saja kami ibarat harimau tanpa gigi atau lembu tanpa tanduk! Oleh sebab itu, teringat kepada dirimu yang ahli dalam soal-soal peperangan ini kami lalu memberanikan hati untuk mohon bantuanmu dan bekerja sama dengan kami. Bukankah engkau sendiri juga mempunyai perhitungan dengan Wu-sam-tai-ciangkun dan teman-temannya? Fan-ciangkun telah memberitahu kepada kami tentang fitnah keji yang kau alami itu dan kami semua benar-benar amat menyesalkan sikap mendiang sri baginda yang amat keras kepala. Kini kami semua telah mengetahui duduk persoalan sesungguhnya dan tentu saja hal ini membuat kebencian kami terhadap musuh semakin meningkat. Kami berharap, mengingat bahwa ada rasa persahabatan di antara kita, engkau mau membantu kami dan menyerbu kota raja untuk membalas dendam ini!”

Bu Kong tertegun. Apa yang tadi sudah diduganya itu ternyata benar. Tidak meleset dugaannya bahwa kedatangan pangeran ini memang mempunyai sangkut-paut dengan Kerajaan Yueh. Padahal, dia sudah bersumpah untuk tidak lagi berhubungan dengan kerajaan itu. Maka tentu saja alasnya segera berkerut.

“Pangeran,” dia berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Meskipun benar bahwa di antara kita terdapat musuh yang sama namun hamba sudah pernah bersumpah dihadapan mendiang sri baginda untuk tidak berhubungan lagi dengan Kerajaan Yueh. Paduka tahu bahwa sekali hamba mengeluarkan sumpah, tidak mungkin lagi hamba menariknya kembali!”

Pangeran Kou Cien pucat. “Akan tetapi, Yap-taihiap, itukan sumpahmu di depan sri baginda, padahal sri baginda sendiri sekarang sudah wafat. Masa kau berkukuh memegang teguh sumpahmu ini?”

Bu Kong mengangguk. “Begitulah, pangeran!” jawabnya tegas. “Tentunya paduka ingat akan pameo yang berbunyi: It-gan-ki-jut-su-ma-lam-twi, bukan? Nah, meskipun sri baginda telah wafat, akan tetapi, karena sumpah hamba masih menyangkut rakyat Yueh yang memiliki raja seperti itu, maka sumpah itu tetap berlaku. Tentu saja kalau tidak ada rakyat Yueh di sini, sumpah hamba otomatis habis dengan sendirinya karena orang-orang yang bersangkutan sudah tidak ada lagi.”

“Ahh, jadi kau menginginkan rakyat Yueh binasa semuanya?” pangeran itu terkejut dan memandang marah. “Pendekar Gurun Neraka, kau memang kejam!”

“Hemm, siapakah yang kejam, pangeran? Hamba ataukah kerabat paduka? Gara-gara kakak tiri padukalah maka hamba mengalami derita sengsara yang luar biasa hebatnya. Nama hamba dan tubuh berlepotan lumpur-lumpur kotor! Atas kerja siapakah ini? Bukan lain adalah perbuatan Sri Baginda Yun Chang! Kalau saja dia mau mendengar kata-kata hamba, agaknya tidak sampai demikian parah kejadian ini. Akan tetapi, sri baginda telah menentukan jalan hidupnya sendiri dan menyeret rakyatnya untuk menerima semua akibat dari sikapnya itu. Siapakah yang bersalah? Siapakah yang kejam?”

Pangeran Kou Cien mengepal tinjunya, mukanya merah. Watak bekas jenderal muda yang tidak dapat ditekuk ini benar-benar membuatnya kehabisan akal dan marah. Memang harus diakui bahwa gara-gara sikap kakak tirinya (Raja Muda Yun Chang) itulah maka semua orang kini menerima getahnya. Dia dapat memaklumi sakit hati bekas jenderal muda ini yang mendapat perlakuan kasar dari mendiang sri baginda. Maka tentu saja sukar bagi pemuda itu untuk menghilangkan kesan jelek itu begini saja. Akan tetapi, dia merasa ketidakadilan sikap pemuda itu yang mengikutsertakan rakyat yang tak bersalah apa-apa. Oleh sebab itu, dengan mata terbelalak pangeran ini lalu berkata,

“Yap-taihiap, apa yang kau katakan memang benar. Mendiang sri baginda telah memperlakukan dirimu dengan cara yang amat kasar sekali. Hal ini dapat kumaklumi jika engkau marah kepada sri baginda. Namun, apakah kesalahan rakyat yang tidak berdosa kepadamu? Apakah kesalahan mereka sehingga kau bersumpah untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka? Kalau kau bersumpah tidak membantu sri baginda hal itu memang tepat. Akan tetapi, rakyat? Ah, Pendekar Gurun Neraka, di manakah keadilanmu ini? Di manakah watak kesatriamu ini? Sri baginda yang bersalah, akan tetapi, rakyatnya kau kenakan getahnya! Beginikah watak seorang pendekar?”

Kata-kata pangeran itu diucapkan dengan mata berapi-api dan wajah pendekar muda ini merah sekali. Apa yang dikatakan pangeran itu benar-benar tajam menusuk, menggugah sanubarinya tentang kesalahan rakyat Yueh yang sebetulnya sama sekali tidak berdosa itu. Ya, apa sebabnya dia mengikutsertakan rakyat? Bukankan yang bertentangan adalah sri baginda? Mengapa dia harus menyeret rakyat yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini? Karena rakyat Yueh mempunyai raja muda yang seperti itu! Maka, karena pemuda ini tidak mau disalahkan begitu saja, Bu Kong lalu mengedikkan kepalanya dan menjawab,

“Pangeran, segala sebab pasti menimbulkan akibat. Sudah biasa kita lihat bahwa perbuatan yang keliru dilakukan atasan pasti akan menyeret anak buah dan bawahan. Kalau paduka bertanya mengapa rakyat Yueh harus diikutsertakan padahal mereka tidak berdosa, hal ini dapat hamba jawab karena mereka mempunyai raja seperti Sri Baginda Yun Chang itu!”

Pangeran Kou Cien mengangkat tangannya dan tersenyum sinis. “Hemm, itukah alasanmu, Yap-taihiap? Tidakkah engkau akan menarik kata-katamu ini kalau aku menyerangmu dengan satu tangkisan jitu?”

Melihat pangeran ini tiba-tiba saja berobah sikapnya dan tersenyum sinis, Bu Kong merasa heran. Akan tetapi, karena dia memang merasa alasannya tepat, dia menganggukkan kepalanya tidak mau kalah. “Begituah, pangeran, dan tidak biasa bagi hamba untuk menarik kata-kata sendiri.”

“Bagus!” pangeran ini tiba-tiba bertepuk tangan dan memandang teman-temannya. “Wen-taijin, kau dengar sendiri kata-katanya itu bahwa dia tidak akan menarik kembali alasannya. Bukankah begitu, Fan-ciangkun dan Saudara Lek Hui?”

Tiga orang ini mengangguk dan Bu Kong mengerutkan alisnya. Dia cukup mengenal kecerdikan pangeran ini, maka sekarang mendengar semua kata-katanya itu dia merasa tidak enak juga dan memandang pangeran itu dengan jantung berdebar.

“Pendekar Gurun Neraka!” tiba-tiba pangeran itu memutar tubuh dan memandang pemuda itu dengan wajah berseri. “Perumpamaanmu dengan It-gan-ki-jut-su-ma-lam-twi (sekali keluarkan omongan empat ekor kudapun tak mampu menariknya kembali) tadi akan kupergunakan menyerang dirimu sendiri, sekarang jawablah pertanyaanku ini: Apakah rakyat Yueh masih dipimpin oleh Raja Muda Yun Chang pada saat ini?”

Bu Kong menggeleng. “Tidak. Mengapa paduka menanyakan hal itu padahal paduka sendiri sudah tahu?”

Pangeran Kou Cien tertawa penuh kemenangan dan tidak menghiraukan pertanyaan itu. “Bagus. Yap-taihiap, kau sendiri sudah mengakui hal ini! Ha-ha, kalau begitu, bukankah sumpahmu tidak berlaku lagi.”

Bu Kong terkejut. “Akan tetapi, pangeran, rakyat Yueh masih ada! Mana mungkin tidak berlaku lagi?” pemuda itu membantah dengan mata berkilat.

Pangeran Kou Cien menggoyang tangannya. “Tidak, tidak betul! Kau sendiri tadi memberi alasan bahwa karena rakyat Yueh mempunyai raja seperti Sri Baginda Yun Chang itulah maka engkau menyeret mereka. Akan tetapi, Pendekar Gurun Neraka, meskipun rakyat Yueh sekarang masih ada, namun mereka sudah tidak dipimpin lagi oleh Sri Baginda Yun Chang melainkan dipimpin oleh Pangeran Kou Cien! Nah, bukankah keadaan mereka sudah lain daripada dulu? Boleh mereka masih ada, namun, kondisinya sudah berbeda. Sama seperti engkau sendiri, Yap-taihiap, dulu engkau adalah Yap-goanswe, akan tetapi, sekarang adalah Pendekar Gurun Neraka! Orangnya masih sama, akan tetapi, keadaannya yang sudah berbeda. Ha-ha, Yap-taihiap, bagaimana bantahanmu sekarang?”

Pangeran ini tertawa keras saking senangnya dan Bu Kong menjadi bengong. Semua orang diam-diam memuji kecerdikan pangeran ini yang mempergunakan tipu "melolos sarung menodongkan ujung pedang“ terhadap diri bekas jenderal muda itu!

Tentu saja Bu Kong tak dapat membantah dan pemuda ini meryeringai. Betul juga serangan pangeran itu. Tadi dia sendiri sudah rmengatakan bahwa sumpahnya terhadap rakyat Yueh yang ikut-ikutan kena getah akibat perbuatan raja muda itu adalah karena mereka mempunyai Sri Baginda Yun Chang. Kini, Yun Chang sudah wafat dan “rakyat Yun Chang” sudah tidak ada lagi. Yang ada sekarang adalah "rakyat Kou Cien”. Meskipun mereka masih tetap merupakan rakyat Yueh, namun keadaan mereka sudah berbeda dan bisa dibilang ”rakyat Yun Chang” sudah lenyap bersama lenyapnya raja muda itu sendiri. Mau bilang apa lagi kalau sudah begini?

“Pangeran, kata-kata paduka tak dapat hamba bantah. Sungguh Anda merupakan orang cerdik!” akhirnya Bu Kong menjura di depan pangeran itu dengan muka merah. Sebagai pemuda yang memegang kejujuran, maka kebenaran seperti yang baru saja diterangkan oleh pangeran ini harus diakuinya mengandung alasan yang ceng li (beraturan) juga. Oleh sebab itu, dengan jujur dia mengakui kesalahan sendiri dan minta maaf.

Pangeran Kou Cien tertawa gembira menyaksikan hasil kemenangannya menundukkan pemuda yang terkenal keras kepala ini. Memang sebenarnya ada persamaan antara pemuda ini dengan Pendekar Kepala Batu, yakni sama-sama keras kepala. Akan tetapi, bedanya ialah kalau murid Malaikat Gurun Neraka ini berwatak jujur dan tidak segan-segan mengakui kesalahan diri sendiri, adalah Ciok-thouw Taihiap itu agak angkuh dan tidak mudah dituding tengkuknya oleh orang lain alias tidak gampang disalahkan.

Demikianlah, karena girang melihat pemuda itu dapat dibujuk, pangeran ini lalu berkata, “Yap-taihiap, kalau sekarang engkau sudah melihat kekeliruanmu itu, maukah engkau bekerja sama dergan kami? Ingat, yang ada sekarang ini bukanlah pasukan Yun Chang, melainkan pasukan Kou Cien! Bersediakah engkau memimpin pasukan kami menyerbu kota raja?”

Bu Kong mengangguk. “Untuk menebus kesalahan hamba, biarlah hamba ikut paduka dan memenuhi permintaan ini, akan tetapi, tentu saja kalau rakyat Yueh tidak memandang hina kepada hamba karena hamba pernah dltuduh oleh mending Raja Muda Yun Chang melakuan perjinaan dengan selirnya!”

“Ah, lagi-lagi kau salah sangka Yap-taihiap. Ketahuilah, berkat Fan-ciangkun inilah maka semua rakyat telah mendengar ceritanya betapa sebenarnya engkau terkena fitnah keji dan betapa dalang semua peristiwa itu bukan lain adalah Wu-sam-tai-ciangkun bersama teman-temannya. Bahkan dari Phoa-lojin kami mendengar lebih jelas tentang semua nasib buruk yang kau alami.”

“Phoa-lojin?” Bu Kong terkejut. “Jadi, pangeran telah bertemu dengan kakek itu?”

Pangeran ini tersenyum dan tiba-tiba Fan Li yang menjawab, “Yap-goanswe, eh.... maaf Yap-taihiap bukan saja pangeran telah bertemu dengan Kakek Phoa, malah kakek itulah yang mengajak pangeran untuk mempergunakan Pulau Cemara sebagai basis pertahanan pasukan kita!”

Kembali Bu Kong terkejut dan memandang Fan Li. “Ah, begitukah?” tanyanya.

Fan Li mengangguk dan Bu Kong lalu berkata, “Fan-ciangkun, engkau adalah sahabatku yang paling dekat. Oleh sebab itu, jangan memanggilku Yap Taihiap segala. Kita adalah teman seperjuangan dan kuharap panggil saja aku Yap-twako. Begitu pula Saudara Lek Hui, harap jangan terlampau sungkan dan panggil saja aku twako. Bukankah lebh enak dan lebih akrab?”

Fan Li memang agak bingung dan kikuk dengan perobahan yang mendadak dari bekas atasannya ini. Akan tetapi, untunglah tiba-tiba Wen-taijin yang semenjak tadi berdiam diri, kini tiba-tiba berkata,

“Karena Yap-taihiap telah sudi membantu pangeran, maka perlu kiranya kita mengetahui dulu jabatan apakah yang hendak pangeran berikan kepadanya. Dengan memandang jabatannya inilah maka segala sebutan yang mungkin agak membingungkan bisa diseragamkan. Bukankah begitu, pangeran? Dan jabatan apakah yang hendak paduka berikan kepada Pendekar Gurun Neraka ini?”

Pangeran Kou Cien tertawa. “Hemm, dia adalah bekas jenderal muda yang gagah perkasa, jabatan apalagi yang pantas diberikan selain sebagai jenderal pula! Hanya kalau dulu dia adalah jenderal mendiang Yun Chang, sekarang dia adalah jenderal Kou Cien. Yap-taihiap, maukah kiranya engkau menerima jabatan ini? Seluruh pucuk pimpinan kuserahkan kepadamu dan semua tanggung jawab pasukan kuletakkan di pundakmu! Bagaimana?”

Karena sekarang dia diangkat sebagai jenderal "pasukan Kou Cien", tentu saja Bu Kong tidak dapat menolak. Apalagi, dengan bantuan pasukan besar maka harapan tercapainya cita-cita juga jauh lebih besar lagi dan dengan demikian usahanya membasmi musuh jauh lebih mudah dilaksanakan, maka pemuda ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan pangeran itu.

“Beribu terima kasih kalau paduka memberikan kepercayaan demikian besar kepada hamba. Mana berani hamba menolaknya? Pangeran, apabila paduka telah mantap untuk menganugerahkan jabatan ini, biarlah hamba berjanji untuk merobohkan musuh dan tidak akan kembali dengan nyawa masih di badan kalau Kerajaan Wu tidak dapat hamba hancurkan!”

Inilah semacam sumpah jabatan yang diucapkan pemuda itu dan Pangeran Kou Cien gembira bukan main. Sekali pemuda itu mengucapkan kata-katanya, dia yakin akan keberhasilannya dan tentu saja pangeran ini gembira. Kepandaian pemuda itu sudah banyak dikenal orang, baik kepandaian silatnya maupun kepandaian ilmu perangnya. Maka, dipimpin oleh seorang pemuda semacam ini benar-benar membuat keadaannya kuat dan dapat diandalkan!

“Bagus, Yap-goanswe. Sekarang biarlah kami memanggilmu sebagai jenderal lagi karena jabatan ini resmi kuberikan kepadamu. Tidak ada kebingungan lagi di sini dan kukira Fan-ciangkun tetap memanggilnya sebagai Yap-goanswe, jenderal dari angkatan perang Kou Cien, ha-ha....!”

Wen Chung melangkah maju dan memberi hormat sambil tersenyum. “Selamat, Yap-goanswe bahwa paduka pangeran telah mengangkat dirimu sebagai jenderal. Semoga pasukan di bawah pimpinanmu jaya sepanjang masa!”

Bu Kong tersipu-sipu membalas hormat dan sementara itu berturut-turut Fan Li dan Auw Lek Hui juga melangkah maju memberi ucapan selamatnya.

“Goanswe, kembali kita bersahabat seperti sediakala. Semoga di bawah petunjuk-petunjukmu, kita dapat mengatasi musuh bersama!” kata Fan Li dengan wajah berseri.

“Terima kasih, Fan-ciangkun. Dan mudah-mudahan kita semua dapat berhati-hati terhadap fitnah musuh yang amat berbahaya,” jawab Pendekar Gurun Neraka yang kini kembali diangkat dengan resmi sebagai jenderal besar itu dan melirik ke arah Pangeran Kou Cien yang tersenyum maklum akan kata-kata ini.

“Jangan khawatir, Yap-goanswe. Kou Cien bukanlah orang yang sempit pikiran!” pangeran itu tertawa.

Dan ketika tiba giliran Auw Lek Hui si raksasa muda, pemuda tinggi besar ini melangkah ke depan dan membungkukkan tubuh sampai terlipat dua dan sambil tertawa bergelak Lek Hui berkata, “Yap-goanswe, selamat atas pengangkatanmu ini dan mudah-mudahan dengan selalu di sampingmu, aku sedikit banyak dapat belajar ilmu perang. Siapa tahu, kelak aku juga bisa merobah nasib dan menjadi jenderal seperti engkau tidak melulu diam di hutan menebang kayu! Ha-ha-ha....!”

Bu Kong tersenyum dan cepat menjura, akan tetapi, tiba-tiba dia merasa terkejut. Dari kedua tangan raksasa muda itu mendadak meluncur angin pukulan berhawa dingin yang menyambar dadanya. Cepat dia memandang dan dia melihat pemuda itu sedang berkedip sambil mendorongkan kedua lengannya. Tahulah Bu Kong bahwa murid Pendekar Kepala Batu ini rupanya hendak menjajagi kepandaiannya. Oleh sebab itu, dengan mulut tersenyum diapun lalu meneruskan gerakan tangannya membalas hormat, kemudian menggoyangnya perlahan seperti orang mengebut lalat dan menjawab,

“Auw-twako sungguh pemuda mengagumkan, suka bicara blak-blakan dan terus terang. Baiklah, kalau twako mau belajar ilmu perang, boleh saja mengganti kapak dengan tombak!”

Mulut bicara, akan tetapi, tenaga sin-kang bekerja. Dari kebutan perlahan murid Malaikat Gurun Neraka itu tiba-tiba keluar serangkum pukulan mujijat yang menahan serangan Lek Hui dan murid Pendekar Kepala Batu itu berobah air mukanya. Raksasa muda ini merasakan betapa angn pukulan yang tadi dilancarkan ke depan, sekonyong-konyong berhenti di tengah udara seakan membentur dinding baja yang tidak kelihatan. Tentu saja pemuda tinggi besar itu terkejut. Dia memang sudah lama mendengar nama besar jenderal muda ini dan sekarang dalam saat yang tepat untuk memberikan ucapan selamatnya diam-diam dia ingin mengadu tenaga.

Itulah sebabnya dia lalu mengedipkan mata sebagai tanda isyarat agar jenderal itu waspada akan serangannya, kemudian dia menambah tenaga sin-kangnya untuk mendorong pemuda ini. Karena dia mendengar kesaktian pemuda itu, maka Lek Hui mengerahkan tenaga sin-kangnya sebanyak tujuh bagian. Biasanya, dengan tenaga tujuh bagian ini saja dia sanggup mendorong mundur seekor gajah! Tidak tahunya, dengan sedikit kebutan perlahan seperti orang mengebut lalat jenderal muda itu sanggp menahan angin pukulannya? Bahkan tiba-tiba Lek Hui merasa betapa tenaga saktinya kian lama kian tertolak dan siap membalik!

Tentu saja raksasa muda ini terkejut dan memandang terbelalak. Melihat betapa jenderal itu balas memandangnya sambil tersenyum, Lek Hui penasaran sekali dan menambah dua bagian lagi tenaganya. Kalau sudah begini, biasanya pemuda itu sanggup menyapu roboh sepuluh ekor harimau sekaligus dan Bu Kong benar benar terkesiap sekarang. Kalau tadi jenderal muda ini masih tersenyum, adalah tiba-tiba sekarang senyumnya lenyap karena dari depan pukulan sin-kang murid Pendekar Kepala Batu yang agaknya juga memiliki sikap kepala batu gurunya itu menyambar seperti angin taufan!

Hampir saja Bu Kong mengeluarkan suara tertahan karena mendadak kedua kakinya bergoyang dan kalau tidak cepat dia menyalurkan lwee-kang memasang kuda-kuda Siang-kak-jip-te (Sepasang Kaki Berakar di Bumi), tentu tubuhnya sudah terlempar roboh! Hal ini membuat Bu Kong terkejut dan diam-diam merasa kagum sekali terhadap tenaga lawan yang dahsyat, juga gembira melihat tingkat lawan yang setanding. Oleh sebab itu, Bu Kong lalu mengerahkan tenaga saktinya yang diperoleh dari hasil samadhi di tengah gurun dan tiba-tiba pemuda ini mengempos semangat kemudian membentak perlahan.

Hebat sekali akibatnya. Karena tenaga sin-kang yang diperoleh pemuda ini berkat lorong ajaib Sang Maha Surya, maka seketika hawa panas meluncur menembus pukulan dingin dan Lek Hui yang tadi sudah berseri girang tiba-tiba berteriak kaget. Raksasa muda ini merasa betapa tiba-tiba dari kedua lengan Yap-goanswe meniup pukulan panas yang suam-suam kuku merayap perlahan menembus pukulan sin-kangnya seperti seekor ular, kemudian setelah pukulan ini menyentuh kulit lengannya, tiba-tiba saja hawa pukulan yang tadi terasa hangat itu sekonyong-konyong berobah panas menyengat, seperti bara api yang disentuhkan ke kulit tubuh!

“Aihh...!” saking kaget dan ngerinya disengat pukulan panas ini, Lek Hui berteriak parau. Akan tetapi, dasar pemuda kepala batu, pemuda ini masih mencoba bertahan dan dia mengerahkan seluruh tenaganya sambil mengeluarkan bentakan menggeledek raksasa ini terang-terangan mengangkat kedua lengannya ke depan dan menggempur maju.

“Dess...!” dua jago muda yang saling mengukur kepandaian itu sama-sama tidak mau mengalah dan melihat Lek Hui mengerahkan segenap tenaganya, Bu Kong juga menambah sin-kangnya sampai tiga perempat bagian dan karena memang tenaga saktinya jauh lebih unggul, raksasa muda itu tak dapat menahan dan tanpa ampun lagi tubuh Lek Hui terangkat dan terlempar tiga tombak jauhnya seperti layang-layang putus talinya.

“Haihh...?!!” Lek Hui melengking nyaring dan di udara tiba-tiba tubuhnya menggeliat seperti kepompong dan sambil berseru keras pemuda tinggi besar itu berjungkir balik tiga kali dan akhirnya hinggap di atas tanah dengan kaki terlebih dahulu.

Inilah demonstrasi gin-kang yang hebat sekali dan Bu Kong mengeluarkan pujian melihat keindahan gerak lawannya. Dengan demikian, tubuh pemuda tinggi besar itu tidak sampai terbanting dan meskipun dalam adu tenaga tadi jelas dia kalah, namun kekalahannya tidaklah terlampau memalukan ditutup dengan ilmunya meringankan tubuh yang lihai.

“Bagus. Saudara Auw benar-benar hebat sekali!” Bu Kong berseru kagum dan dia memandang bekas lawannya ini dengan mata bersinar-sinar.

Auw Lek Hui menggoyang tubuhnya, seperti anjing yang membersihkan bulunya, mukanya tampak merah, akan tetapi, mulutnya tersenyum masam. “Hebat apanya, goanswe? Sudah jelas, aku terlempar seperli kain basah begitu masa kau puji, engkaulah yang luar biasa, goanswe, dapat menahan pukulanku dan bahkan membuat aku jungkir balik tidak keruan! Kalau aku tidak cepat mematahkan pukulanmu. bukankah kini aku sudah jatuh berdebuk seperti anjing buduk? Ha-ha, tidak goanswe, bukan aku yang hebat melainkan kaulah yang benar-benar mengagumkan!”

Sambil tertawa-tawa pemuda ini melangkah maju dan menjura sedalamnya tanda kagum kemudian memeluk bahu jenderal muda itu. “Yap-goanswe, tenagamu hebat sekali. Masa dengan satu bentakan perlahan saja aku sudah tungang-langgang? Wah, melihat sin-kangmu yang luar biasa itu agaknya kau sebanding dengan suhu! Ha-ha, kalau suhu bertemu denganmu beliau pasti tidak akan melewatkan kesempatan bagus ini. Tahukah kau bahwa suhu adalah orang yang gila ber-pibu (adu kepandaian) jika bertemu lawan tangguh?”

Bu Kong tersenyum. Sikap orang yang jujur dan penuh persahabatan membuat dia merasa terharu dan suka sekali. Maka mendengar pujian ini dia cepat merendahkan diri. “Auw-twako. mana bisa aku dibandingkan dengan gurumu? Sedangkan menghadapi tenagamu yang sehebat gajah tadi hampir saja aku terpental. Kalau tidak bersungguh-sungguh dan melihat kau bersemangat sekali untuk merobohkan diriku, mana mungkin aku mampu menjatuhkan dirimu? Karena melihat sedikit kelemahanmu itulah maka aku berhasil menerobosnya dan kebetulan saja perhitunganku tepat. Kalau tidak, mana mungkin merobohkan raksasa muda bertenaga gajah sepertimu ini?”

Lek Hui tampak bangga. “Ah, benarkah tenagaku besar sekali, goanswe? Akan tetapi, mengapa aku masih saja pecundang di tanganmu?”

Bu Kong mengangguk. “Auw-twako. Kau tentu mengerti bahwa menghadapi lawan tangguh kita tidak boleh terlalu bernafsu karena hal ini membuat kontrol kita kurang cermat. Nah, karena kau tadi terlalu bernafsu itulah maka aku melihat titik kelemahan ini dan berhasil menggempur dirimu. Kalau tidak, agaknya biar diseruduk seekor gajah sekalipun belum tentu kau akan terdorong!”

Melihat jenderal muda ini bicara sungguh-sungguh, Lek Hui girang. “Ah, betul goanswe, tebakanmu tepat sekali! Memang pernah dulu suhu menyuruh seekor gajah menyerudukku, namun sedikitpun usahanya sia-sia belaka karena tubuhku sama sekali tak bergeming! Ha ha, kalau begitu bukannya tenagaku yang berkurang, melainkan engkaulah yang cerdik, Yap-goanswe. Pantas kalau begitu pangeran tidak segan-segan memberikan jabatan tinggi ini kepadamu. Kiranya kau memang pandai mencari lowongan-lowongan musuh!”

“Sudahlah, Auw-twako. Simpan segala pujianmu itu untuk orang yang patut menerimanya. Kalau terlalu sering kepalaku kau tiup, aku khawatir melembung, ha-ha....”

Lek Hui memandang dengan sinar mata kagum ke arah jenderal muda ini yang tidak suka menonjol-nonjolkan diri dan bersikap rendah hati, lalu memandang Fan Li dan bertanya, “Eh, Fan-ciang-kun, bukankah kau membawa kabar sesuatu untuk Yap-goanswe? Kenapa kau diam saja dan tidak lekas memberitahunya?”

Fan Li terkejut dan Bu Kong sudah menatapnya dengan sinar mata tajam. Cepat pemuda ini menghamplri dan memberi hormat, lalu berkata, “Goanswe, maafkan apabila aku terlambat memberitahukan berita penting ini kepadamu. Akan tetapi, harap goanswe tenangkan hati dan jika goanswe sudah siap menerimanya, barulah akan kuceritakan sekarang.”

Bu Kong berdebar jantungnya dan perasaannya tiba-tiba terguncang. Entah mengapa, melihat sikap pembantu setianya ini yang sekonyong-konyong tampak serius, dia menjadi tegang juga. Namun, karena sudah biasa dia mendapatkan berita-berita mengejutkan secara mendadak sekali semenjak peristiwa pertamanya dengan Siu Li dulu, pemuda ini tampak tetap tenang-tenang saja, walaupun di dalam hati sebenarnya dia gelisah.

“Fan-ciangkun, kau tahu bahwa aku tidak suka bicara memutar. Kalau ada berita penting untukku, katakanlah, aku siap mendengarnya!”

Fan Li terpengaruh melihat ketenangan jenderal muda itu, akan tetapi karena dia teringat peristiwa dahulu, di mana tiba-tiba jenderal muda ini meluap kemarahannya dan mengamuk setelah mendengar berita mengejutkan tentang hancurnya Yueh dan pengkhianatan Lie Fung, pemuda ini tampak ragu-ragu. “Goanswe, benarkah kau sudah siap? Aku khawatir kalau engkau dilanda emosi lagi seperti dulu. Kalau sampai terjadi demikian, siapa kiranya yang mampu mencegahmu?”

Bu Kong tersenyum getir karena kata-kata panglima muda ini mengingatkan dia akan kelemahan hatinya yang mudah dikuasai nafsu. "Fan-ciang-kun.” katanya tenang. “Seseorang selalu mengalami perubahan setiap saat yang akan membuat kematangan jiwanya. Sudah berkali-kali aku menerima hal-hal yang mengejutkan, oleh sebab itu, kalau hendak kau tambah barang sekali dua lagi kukira masih dapat kuterima dengan baik. Jangan khawatir, aku tidak akan membuang-buang kemarahanku dengan begitu saja seperti dulu.”

Pemuda itu tersenyum. Kata-kata dan sikap jenderal ini sekarang benar-benar jauh lebih masak daripada dahulu. Karena itu, dengan perlahan diapun lalu berkata, “Goanswe, memang ada sebuah berita mengejutkan yang hendak kusampaikan kepadamu. Ketahuilah, kekasihmu telah ditangkap Wu-sam-tai-ciangkun!”

Bu Kong berobah air mukanya dan seketika dia kaget sekali. Akan tetapi, karena dia belum tahu "kekasih" mana yang dimaksudkan sahabatnya ini mengingat Fan Li belum tahu isi hatinya kepada siapa dia jatuh cinta, maka dengan menekan guncangan hatinya dia bertanya dengan suara rendah, “Fan-ciangkun, siapakah yang kau maksudkan? Hong-moi kah?”

Bu Kong menyebut mana Pek Hong karena setahunya, Fan Li sering melihat dia bersama gadis itu. Akan tetapi, ternyata pemuda itu menggelengkan kepala sambil menjawab, “Bukan, goanswe, melainkan gadis yang benar-benar kau cintai. Bukankah tadi kau bilang bahwa Nona Hong pergi meninggalkan engkau setelah Dewa Monyet berhasil menyembuhkan dirimu?”

“Hemm. kalau begitu siapakah?” suara jenderal muda ini makin merendah karena dia mengerahkan lwee-kangnya untuk menekan jantungnya yang berdetak kencang.

“Gadis berlengan buntung, goanswe!”

Jawaban ini benar-benar merupakan geledek di siang hari bagi Bu Kong dan sedetik mukaaya pucat sekali. Dengan mata terbelalak dia memandang Fan Li dan suaranya terdengar menggetar ketika pemuda itu bertanya, “Fan-ciangkun, kau maksudkan Siu Li....?”

Fan Li mengangguk. “Benar, goanswe, murid mendiang Mo-i Thai-houw itulah.”

Bu Kong menggereng dan tiba-tiba sepasang matanya mencorong berkilauan membuat Lek Hui yang berada di depan jenderal muda ini tergetar hatinya. “Fan-ciangkun, kapan terjadinya hal ini? Dan siapa pula yang menangkapnya?” Bu Kong bertanya dengan mata berapi-api.

“Seminggu yang lalu, goanswe. Dan yang menangkap adalah Ok-ciangkun sendiri. Konon menurut berita terakhir yang kuterima, gadis itu hendak dikawinkan sebulan lagi dengan murid mending Ang-i Lo-mo!”

“Hahhh...!?!” Bu Kong benar-benar mengeluarkan hentakan keras sekarang dan pemuda ini melompat kaget saking terkejutnya mendengar berita ini. “Apa? Ok-ciangkun hendak mengawinkan gadis itu dengan Pouw Kwi? Keparat jahanam, Wu-sam-tai-ciangkun benar-benar tak dapat diberi ampun!” pemuda ini berkata dan mukanya merah padam. Kemarahan benar-benar membakar hatinya dan dia menyapu semua orang dengan mata berkilat-kilat.

“Pangeran, selain urusan negara yang harus kujalankan, ternyata sekarang mengait pula urusan pribadiku. Hamba mengharap agar secepatnya kita berangkat sekarang juga dan segera menggempur kota raja! Bagaimana pendapat paduka pangeran?” Bu Kong bertanya kepada Pangeran Kou Cien dengan dada berombak.

Pangeran ini melangkah maju, keningnya berkerut dan dengan amat hati-hati sekali dia berkata, “Goanswe, apa yang kau kehendaki aku setuju saja. Akan tetapi, bolehkah aku sedikit bertanya tentang persoalan pribadimu ini? Kenapa kau harus marah-marah terhadap Ok-ciangkun dalam masalah perjodohan puterinya? Meskipun kalian saling mencinta, namun gadis itu adalah puteri Ok-ciangkun, goanswe! Tidakkah urusan ini bakal mengacaukan urusan negara yang jauh lebih penting?”

Bu Kong mengangkat kepalanya, kemudian dengan mata berkilat dan menjawab, “Pangeran, harap paduka camkan bahwa yang hamba cinta bukanlah puteri Ok-ciangkun, melainkan murid mendiang Mo-i Thai-houw! Ok-ciangkun hanya kebetulan saja menjadi ayah gadis itu dan dia bagi hamba adalah orang luar. Urusan kerajaan tetap hamba jalankan sebagai urusan kerajaan, akan tetapi urusan pribadi dalam hal ini hamba pisahkan dari urusan negara. Oleh sebab itu, paduka tidak usah khawatir karena gadis itu sendiri menentang perbuatan-perbuatan ayahnya yang tidak terpuji dan dalam hal ini kami tidak menganggapnya sebagai Panglima Ok, melainkan orang pribadi sebagai ayah gadis itu dalam sebuah keluarga dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan jabatan yang dipegangnya!”

Pangeran Kou Cien menarik napas panjang. Dia memang sudah mendengar persoalan pelik yang menyangkut jenderal muda ini dan meskipun dia merasa tidak puas, namun karena pemuda itu sendiri sudah menyatakan bahwa urusan pribadi tidak akan disangkutpautkan dengan urusan negara, diapun tidak banyak bicara.

“Hemm, kalau begitu putusanmu goanswe, baiklah. Syukur kalau kau dapat memisah-misahkan hal ini karena kalau tidak, tentu saja urusan kerajaan yang jauh lebih penting dapat kacau. Baiklah, dan perintah pertama yang kuberikan kepadamu adalah Bunuh Wu-sam-tai-ciangkun dan teman-temannya dan tangkap Raja Muda Kung Cu Kwang!”

Inilah perintah yang tidak dapat dibantah lagi dan sebagai jenderal perang yang sudah diangkat mengepalai pasukan, tentu saja Bu Kong cepat mengiyakan dengan perasaan tidak karuan. Memang, meskipun Ok-ciangkun adalah ayah kekasihnya, namun tahu panglima itu main di medan perang berarti dia adalah musuh kerajaan yang harus dihadapi secara ”urusan kerajaan” pula. Akan tetapi, kalau dia dapat bertemu dengan Ok-ciangkun dalam pakaian biasa dan bukan di medan perang, maka perintah ”bunuh Wu-sam-tai-ciangkun” tadi tidak sampai menyangkut Panglima Ok yang kedudukannya sebagai ”ayah" biasa dari urusan pribadinya.

Memang agak membingungkan, akan tetapi, kalau sudah merupakan garis nasibnya, apalagi yang dapat dilakukan? Oleh sebab itu, ketika Pangeran Kou Cien mengajak semua orang berangkat dan sudah melompat di atas kudanya, pemuda ini juga melompat di atas punggung Hek-ma dan segera lima ekor kuda itu membalap keselatan menuju ke Pulau Cemara untuk menyiapkan pasukan menyerbu kota raja.

Perang memang selalu tidak menyenangkan, namun selalu ada saja di muka bumi. Manusia membenci perang, akan tetapi, manusia sendiri masih selalu berperang! Lucu dan janggal sekali tampaknya, namun begitulah kenyataannya. Kapankah dunia dapat tenteram dari kejahatan perang? Mungkin kalau dunia sudah kiamat!

Lima ekor kuda itu berderap cepat dan seperti biasa, Hek-ma yang ditunggangi murid Malaikat Gurun Neraka ini selalu unggul dalam larinya. Kalau saja Bu Kong membiarkan kuda itu berlari semaunya, mungkin empat orang temannya sudah tidak kelihatan lagi, jauh tertinggal di belakang.

Menurutkan kata hatinya, pemuda ini seakan-akan hendak terbang ke kota raja untuk menolong kekasihnya dari cengkeraman ayahnya sendiri. Teringat betapa gadis itu ditangkap sudah cukup membuat kemarahannya berkobar. Apalagi setelah mendengar Ok-ciangkun hendak mengawinkan puterinya dengan Pouw Kwi, api kemarahannya benar-benar menggelegak sampai kepala.

Sungguh jahat sekali orang tua ini! Masa hendak memaksa anak sendiri menikah dengan orang yang tidak disukainya? Apalagi justeru Pouw Kwi inilah yang merusak namanya dengan menyamar di istana Yun Chang dan bermain gila dengan Bwee Li sehingga dia yang menerima getahnya!

“Keparat, mereka memang manusia-manusia iblis yang patut dibunuh!” Bu Kong mendesis dan mengepal tinjunya dengan muka gelap. Membayangkan betapa satu bulan Siu Li akan dikawinkan dengan pemuda setan yang amat dibencinya itu membuat Bu Kong memekik marah dan menjejak sanggurdi kuat-kuat.

“Hek-ma, terbanglah! Hayo kita menuju pantai dan menunggu teman-teman di sana!” pemuda ini membentak lalu menengok ke belakang, mengerahkan khi-kangnya dan berseru, “Pangeran... hamba duluan. Kami tunggu di Pantai Tung-hai...!”

Suaranya terdengar jelas di antara derap kuda yang mencengklang dan tanpa menunggu jawaban dari pangeran itu, jenderal muda itu sudah mengaburkan kudanya dan terbang dengan kecepatan penuh. Hek-ma meringkik nyaring dan segera keempat kakinya bergerak cepat meninggalkan empat orang temannya di belakang. Sekejap saja bayangan kuda hitam ini sudah lenyap tertutup kepulan debu dan Pangeran Kou Cien serta para pengiringnya menggeleng-gelengkan kepalanya dan merekapun terpaksa mempercepat larinya kuda agar dapat menyusul jenderal muda itu.

Perjalanan cepat yang dilakukan oleh lima orang ini memang benar-benar luar biasa. Mereka hampir tidak pernah mengaso dan jarak dua ribu lie yang mereka tempuh itu hanya memakan waktu tiga hari saja! Oleh sebab itu, ketika pada hari keempat pantai Laut Tung-hai telah tampak dari kejauhan, Pangeran Kou Cien dan teman-temannya sudah berseru girang.

Kelelahan selama dalam perjalanan tiba-tiba saja seakan sudah terobati dengan melihat segarnya laut biru membentang luas di depan mata dan jauh di sana, samar-samar tampak di antara ombak laut, kelihatanlah sebuah pulau yang penuh dengan pohon-pohon tinggi, Pulau Cemara!

Inilah pulau yang akan mereka tuju dan di situlah kekuatan pasukan Yueh berada. Tentu saja mereka menjadi girang dan mereka melihat betapa Yap-goanswe sudah berdiri di atas sebuah batu karang tinggi sementara kuda hitamnya berlari-lari kecil di bawahnya sambil menyepak-nyepakkan kaki belakang ketika melihat kedatangan mereka.

Diam-diam mereka merasa kagum kepada kuda hitam yang tampak masih penuh semangat itu, jauh berbeda dengan kuda mereka sendiri yang sudah penuh keringat dan napasnya ngos-ngosan. Lek Hui yang melihat kesegaran kuda ini tak dapat menahan seruan kagumnya dan berkata,

“Sungguh kuda Yap-goanswe hebat sekali. Mati-matian kita mengejar, tetap saja ketinggalan. Aihh, dari mana dia memperoleh kuda luar biasa itu? Yap-goanswe sungguh beruntung....”

Di dalam kata-katanya ini tersembunyi perasaan iri dan Pangeran Kou Cien tertawa. “Lek Hui, kalau kau suka kuda itu minta saja langsung kepada yang punya! Ha-ha, mengapa harus iri terhadap keberuntungan orang lain?”

Raksasa muda itu merah mukanya. “Pangeran, hamba tidak iri melainkan bicara sejujurnya. Dan lagi, untuk apa seekor kuda bagi hamba? Kalau Yap-goanswe memang perlu karena dia seorang jenderal yang selalu bergerak dalam peperangan. Akan tetapi, hamba? Ah, seorang kang-ouw macam hamba ini jauh lebih senang mendapat senjata pasukan daripada seekor kuda!”

Wen-taijin yang jarang bicara itu kini tersenyum. “Lek Hui, pangeran telah tahu isi hatimu ini dan jangan khawatir, asal kita berhasil mengalahkan musuh, di gudang senjata Raja Muda Kung Cu Kwang terdapat sebuah kapak istimewa yang tentu akan menggirangkan hatimu. Tahukah kau kapak apa itu...?”