PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 16
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka
KARENA marah melibat korbannya terlepas, harimau itu melompat sambil menggereng. Dia mengejar lagi dan karena rusa itu sudah terluka, binatang ini tidak secepat tadi larinya. Auman si raja hutan yang membuat semangatnya seakan terbang itu terdengar dekat sekali di belakangnya. Dapat diiduga, bahwa tidak lama lagi rusa ini pasti tertangkap dan tubuhnya tentu akan dirobek-robek harimau yang marah dan kelaparan itu.

Akan tetapi, mendadak terjadi perubahan. Rusa yang diburu maut itu agaknya sudah benar-benar ketakutan sekali dan kalau tadi binatang ini masih keluar masuk hutan mencari persembunyian, adalah sekarang dia berlari ke depan menuju padang pasir!

Dan begitu sampai di tepi gurun, rusa ini mau melompat dan terbang di atas gurun berapi itu. Harimau loreng yang pada saat itu jaraknya tinggal satu meter lagi dan sudah hampir berhasil, rupanya juga terlalu dikuasai marahnya dan tanpa pikir panjang lagi si raja hutan itu ikut melompat dan mengejar.

Namun, inilah kesalahannya. Kalau saja dia tidak ikut-ikut, tentu dirinya selamat dan rusa itulah yang menjadi korban keganasan Gurun Neraka. Akan tetapi, dasar binatang berotak udang, dia terlalu mengumbar kemarahan diri sendiri, begitu dia ikut melompat dan mengejar di padang pasir, tiba-tiba harimau itu mengaum kaget.

Keempat kakinya yang menginjak lautan pasir itu sekonyong-konyong mengeluarkan suara ’nyess' dan si raja hutan berteriak keras. Walaupun telapak kakinya berdaging tebal, akan tetapi, disentuh pasir yang pada saat itu seperti bara api sendiri mana harimau itu tahan?

Maka begitu kakinya terbakar, binatang itu baru merasa kaget dan ketakutan. Barulah dia sekarang sadar bahwa dirinya memasuki daerah bahaya. Daging tebal di bawah telapak kakinya melepuh dan sebentar saja tercium bau sangit daging terbakar. Tentu saja harimau itu kesakitan dan sambil menggereng marah kakinya menggaruk. Maksudnya mungkin untuk memadamkan bara api yang membakar telapak kakinya itu, namun, perbuatannya itu malah berakibat lebih jelek lagi.

Karena dia bukan menggaruk di tanah biasa, melainkan menggaruk di atas pasir berapi, maka hal ini sama saja dengan menggali lubang api dan menjebloskan kakinya di atas lautan pasir yang panas itu. Gerakan ini malah membuat lubang dalam yang menanam keempat kakinya dan segera harimau itu meraung dahsyat.

Kakinya yang menggaruk-garuk itu malah seolah-olah seperti dimasukkan ke sebuah tungku dan harimau ini memang tidak tahu bahwa semakin dalam pasir yang digalinya, panasnya bahkan semakin menghebat. Hal ini disebabkan karena terik matahari di siang harinya telah diserap oleh jutaan pasir Gurun Neraka ini dan itulah sebabnya semakin dalam pasir yang digaruk, panasnya semakin luar biasa sekali.

Maka tidaklah mengherankan apabila si raja hutan yang terjebak dalam galian pasir itu meraung-raung kesakitan. Hendak keluar sudah tidak mungkin lagi. Karena lautan pasir ini lunak seperti lumpur, akan tetapi, hendak tinggal di situ juga tidak mungkin pula. Semuanya serba salah bagi binatang ini dan celakanya, akibat gerakan tubuhnya yang selalu meronta tak pernah diam, pasir-pasir itupun bergerak dan tubuh harimau ini perlahan-lahan amblas ke bawah mengikuti goyangan badannya!

Sungguh mengerikan! Semakin hebat binatang itu meronta, semakin hebat pula tubuhnya amblas ke bawah dan pada saat itu, bunga-bunga api yang berpercikan di atas gurun mulai menyentuh bagian atas tubuhnya. Mula-mula di atas punggung, lalu kepala, ekor, dan akhirnya seluruh tubuh harimau ini tidak ada yang ketinggalan. Dilihat dari jauh, percikan api yang berterbangan di atas tubuh harimau itu seakan kunang-kunang setan di tanah kuburan!

Amat mengerikan! Dan kalau keadaan sudah sedemikian rupa, Anda tentunya dapat membayangkan sendiri apa yang akan menimpa si raja hutan yang sial ini. Bulunya mulai terbakar, bau sangit mulai menghebat dan harimau itu sudah seperti binatang gila. Mulutnya terbuka lebar-lebar dan raungnya yang amat dahsyat menggetarkan permukaan gurun. Binatang ini melolong, mengaum, dan memekik dahsyat saking panik dan takutnya dengan maut yang hendak merenggut nyawanya perlahan-lahan itu. Namun, siapa yang akan menolongnya?

Selain Bu Kong yang berada jauh di tengah gurun sana, tidak ada orang lain lagi. Padahal, pemuda itu sendiri sedang khusyuk bersamadhi. Jangankan auman seekor harimau, biar ada halilintar meledak di samping tubuhnya juga belum tentu sanggup membangunkan murid Malaikat Gurun Neraka yang sudah mencapai titik puncak dalam samadhinya itu.

Maka, sekarang tampaklah pemandangan yang benar-benar dapat membuat bulu tengkuk meremang ini. Harimau itu mulai terbakar hidup-hidup! Asap mula-mula membubung tipis di udara dan beberapa detik kemudian... 'byaarrrr' api besar mulai berkobar! Dan seperti sedang bermimpi buruk saja, kita akan melihat betapa harimau itu sia-sia belaka dalam menyelamatkan dirinya. Gurun Neraka memang terkenal ganas!

Dan sekali dicoba-coba, hukumannya hanyalah mati! Ini sudah dikenal oleh para khalifah dan itulah sebabnya mengapa mereka sama sekali tidak mau mempergunakan gurun ini sebagai tempat penyeberangan. Mereka tahu, sekali onta mereka lewat di atas padang pasir ini, maka nasib binatang tunggangan satu-satunya ini pasti juga akan sama seperti nasib harimau yang sial itu.

Api sekarang berkobar besar, menjilat-jilat seperti ludah seekor naga merah. Harimau itu menjerit-jerit, namun sang dewa api sama sekali tidak menghiraukan raungan sengsara ini. Dia tetap berkobar, tak ambil perduli akan semua rintihan. Dan akhirnya, pada saat harimau itu berada pada puncak sakramatul mautnya, terdengar raung yang luar biasa dahsyatnya, lalu semuanya diam.

Keadaan sunyi kembali seperti sediakala. Hanya terdengar suara bergemerataknya api di tengah-tengah gurun, dua buah banyaknya karena satu di tempat harimau ini sedangkan yang lain adalah di tempat si rusa yang telah terlebih dahulu menjadi abu dan tewas dengan keadaan yang amat mengerikan. Demikianlah, Gurun Neraka telah meminta korban! Dari semua kejadian ini maka pantaslah kalau padang pasir itu disebut sebagai Gurun Neraka karena panasnya benar-benar seperti api neraka sendiri! Nama yang diberikan orang untuk padang pasir benar-benar tepat sekali, sesuai dengan kenyataan yang ada.

Dan satu jam kemudian, setelah api unggun di tengah gurun padam, tiba-tiba terjadi perubahan di angkasa. Langit bagian Selatan mendadak tampak menghitam. Awan mendung berarak dari tempat ini menuju ke atas gurun. Dan sebentar kemudian, tiba-tiba dari bagian Barat, Utara, dan Timur juga tampak gumpalan awan hitam melayang cepat menuju ke padang pasir ini.

Sungguh aneh melihat mendung-mendung yang datang dari empat penjuru itu. Mereka seakan-akan mengepung Gurun Neraka dan pada saat mendung-mendung raksasa ini hampir bertumpukan, tiba-tiba saja mereka berhenti seakan ada suatu tenaga tak tampak yang menahan empat kumpulan awan hitam itu.

Dan sungguh luar biasa. Pemandangan yang kali ini terlihat di atas gurun sungguh ajaib. Betapa tidak? Mendung-mendung raksasa yang berkumpul di atas gurun menghalangi sinar matahari sehingga seluruh permukaan padang pasir menjadi gelap, dan hanya satu tempat saja yang kejatuhan cahaya bola api langit itu, yakni bagian tengah yang kosong karena mendung-mendung itu berhenti mendadak.

Akibatnya, sorot matahari membentuk lorong cahaya perak yang menyilaukan mata dan cahaya itu tepat sekali menimpa diri Bu Kong yang sedang bersamadhi di tengah gurun. Sungguh ajaib! Kalau Anda kebetulan dapat menyaksikan pemandangan yang benar-benar ajaib ini dengan mata kepala sendiri, Anda pasti akan takjub bukan main. Seluruh pesona mukjizat akan menguasai diri Anda dan Anda akan terpukau tanpa suara.

Melihat seorang manusia mandi cahaya pagi bukanlah hal aneh. Akan tetapi, melihat seorang manusia mandi sinar matahari pagi yang membentuk lorong panjang dari langit yang putih keperakan inilah hal yang benar-benar luar biasa, kejadian yang amat langka dan hampir tidak pernah terdapat di muka bumi! Sungguh luar biasa! Kata-kata saja kurang sempurna untuk menggambarkan keadaan dan keajaiban alam itu. Hanya perasaanlah yang jauh lebih sempurna merasakan dan menerima getaran-getaran alam yang maha ajaib.

Akan tetapi, Bu Kong sendiri sama sekali tidak mengetahui akan keajaiban yang melanda dirinya itu. Pemuda itu sedang mencapai titik samadhinya yang tertinggi. Dia seakan-akan mati, rohnya seakan sedang melayang di tempat lain dan pernapasan halus yang terjadi hanyalah akibat gerak otomatis dari denyutnya jantung.

Malaikat Gurun Neraka yang selama ini menjaga muridnya dari tempat kejauhan, terbelalak takjub ketika melihat lorong cahaya matahari yang menimpa tubuh muridnya yang sedang bersamadhi itu. Pemandangan ini seolah-olah menunjukkan berkah langit yang maha ajab dan tentu saja pendekar sakti itu tertegun.

“Puja puji kepada Maha Surya...!” Malaikat Gurun Neraka berseru perlahan dan menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Dewa Matahari.

Seperti diketahui, orang-orang jaman dulu banyak mempunyai dewa-dewa sendiri dan di antara sekian banyaknya dewa, biasanya ada beberapa yang merupakan maha dewa bagi mereka. Demikian pula halnya bagi pendekar sakti itu. Karena ilmu silatnya sebagian besar mengandung tenaga Yang-kang (panas) padahal yang menjadi pusat dan tenaga Yang adalah Dewa Matahari, maka terhadap dewa ini dan menyebutnya Maha Surya.

Setelah memberi hormat dengan pantas, Malaikat Gurun Neraka berdiri kembali dan memandang muridnya yang masih bersamadhi itu dengan mata bersinar-sinar. Betapa beruntungnya muridnya itu mendapatkan berkah dari Sang Maha Surya!

“Kong-ji, nasibmu sungguh baik. Dengan berkah ini, berarti Maha Surya berkenan memasukkan inti tenaga saktinya ke dalam tubuhmu. Ahh, sungguh luar biasa sekali, selamat... selamat muridku....” pendekar itu bergumam perlahan dan dia menanti lenyapnya lorong cahaya ini.

Menurut yang diketahuinya lorong dewa matahari itu hanya akan berjalan selama setengah menit saja. Setelah itu, lorong ini akan lenyap karena berarti Maha Surya telah selesai memberkahi manusia yang menjadi pilihannya. Betul saja, tiga puluh detik kemudian tiba-tiba saja mendung dari empat penjuru itu bergerak. Masing-masing bercampur baur satu sama lain dan seketika lenyaplah lorong ajaib yang tadi menimpa Bu Kong.

Kini semuanya tampak gelap dan anginpun tiba-tiba mulai berkesiur dingin. Malaikat Gurun Neraka yang melihat tanda-tanda badai akan datang segera bergerak cepat. Tubuhnya melesat ke depan menghampiri muridnya dan dua jari tangan kanannya menotok tengah-tengah kening. Itulah jalan darah Pi-Peh-Hiat yang paling tepat dipergunakan untuk menyadarkan seseorang yang telah tenggelam selama berhari-hari dalam siu-lian (samadhi).

Tubuh Bu Kong tiba-tiba bergetar dan getaran ini berarti masuknya kembali kesadaran ke dalam semangat seseorang. Bu Kong mengeluarkan keluhan panjang, perlahan-lahan matanya dibuka dan dia terkejut melihat keadaan yang gelap di atas gurun.

“Kong-ji selamat! Maha Surya telah memberkahimu dan kini tenaga saktimu sepuluh kali lipat lebih kuat dari semula!” tiba-tiba terdengar suara Malaikat Gurun Neraka dan Bu Kong menoleh kaget.

“Suhu...!” pemuda itu menjatuhkan diri berlutut didepan orang tua itu. Lalu memandang gurunya dengan mata terbelalak heran. Dia tidak mengerti arti ucapan gurunya, maka tentu saja dia tidak tahu apa maksudnya pemberian selamat itu.

Pendekar itu tersenyum dengan wajah beerseri. “Kong-ji, bangunlah. Badai hampir tiba dan tidak banyak waktuku untuk menerangkan hal ini kepadamu. Akan tetapi, kalau kau tidak percaya, coba sekarang kau gerakkan hawa sin-kang dari tan-tian, putar di perut sebanyak tiga kali, lalu salurkan ke tangan dan kakimu. Nah, begitu... Ya... Betul... Betul... Apa yang kau rasakan?”

Bu Kong tercengang keheranan. Ketika dia mengerahkan hawa sin-kang dari tan-tian, tiba-tiba dia merasakan suatu tenaga raksasa bergolak hebat, seperti air mendidih atau seperti juga pusaran air di laut selatan! Tentu saja dia agak terkejut. Tenaga yang bergolak ini seperti raksasa yang bangun dari tidur, tiba-tiba bergerak dan membuat tubuhnya berguncang. Dan, ketika dia menggerakkan tenaga ini di dalam perutnya sebanyak tiga kali, Bu Kong berteriak kaget. Hawa panas bergerak-gerak di dalam perutnya dan dia seakan diangkat-angkat ringan seolah hendak terbang!

“Suhu... ahh, tubuh teecu... ringan... ringan sekali! Ehh, bagaimana ini? Dan kaki teecu.... kaki teecu seakan-akan hendak meloncat terbang! Dan... ahh, celaka suhu... tangan teecu pun juga sama, hendak melompat-lompat...! Suhu, bagaimana ini...?”

Bu Kong pucat mukanya dan tiba-tiba saja kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak sendiri tanpa diminta! Tentu saja pemuda itu menjadi gelisah dan ngeri karena dia merasa seolah-olah ada roh iblis di dalam tubuhnya yang minta keluar! Pemuda ini memang tidak tahu bahwa lorong gaib yang menyinari tubuhnya dalam setengah menit tadi telah membuat banyak perobahan di dalam tubuhnya. Jalan darah Sin-liong-hiat (Jalan Darah Naga Sakti) yang oleh Bangsa India disebut pula sebagai Kundhalini Shakti, berkat penyinaran Maha Surya berhasil dijebol dari sumbatannya.

Sebagimana diketahui, pada diri setiap orang manusia terdapat inti kekuatan gaib yang bersembunyi di dalam Kundhalini Shakti itu. Hanya karena banyak orang tidak tahu, maka kekuatan suci yang maha dahsyat ini "tidur" dalam tubuh manusia dan hanya apabila karena dorongan tiba-tiba karena pengaruh Alam sajalah maka kekuatan pokok itu "bangun". Tentu saja bukan suatu hal mudah untuk membangunkan kekuatan gaib ini. Tidak sembarang orang bisa dan belum tentu dari sejuta orang akan terdapat satu yang berhasil.

Maka tidaklah heran jika Bu Kong yang baru saja sadar dari samadhinya yung khusuk selama tujuh hari itu merasa kaget dan ngeri. Bergolaknya tenaga raksasa yang tadi dikerahkan dari daerah tan-tian tiba-tiba saja bergolak. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menghentikannya. Perasaan ini masih terlalu asing baginya dan pemuda itu mirip sebuah motor yang sudah distarter akan tetapi, tidak tahu cara mematikannya!

Tentu saja runyam. Getaran di dalam tubuhnya kian lama kian dahsyat dan Bu Kong akhirnya menggigil seperti orang kedinginan. Dia merasa tenaga yang amat dahsyat itu membanjir di dalam tubuhnya, seperti tanggul jebol yang minta jalan keluar.

“Suhu, teecu.... teecu tidak tahan.... tenaga ini bergolak terus-menerus! Bagaimana menghentikannya? Aduh, teecu merasa seperti ditiup, suhu.... seperti balon yang akan meledak...! Uhh... uhh celaka...!”

Bu Kong terhuyung-huyung dan kedua matanya merah, memandang gurunya dengan mata terbelalak lebar. Akan tetapi, karena dia merasa tenaga yang amat dahsyat melembung di dalam tubuhnya, maka kelopak matanya menyipit tertutup gelembung hawa sakti itu dan hampir terpejam.

Pada saat itu, Malaikat Gurun Neraka yang juga merasa terkejut sebab sama sekali tidak menyangka bahwa perobahan yang terjadi demikian cepatnya, sedikit merasa tegang juga melihat keadaan muridnya itu. Untunglah, pendekar sakti yang telah banyak makan asam garam dunia kehidupan itu tidak digoncangkan perasaan cemas.

Hanya sedetik dia merasa gugup dan di lain saat diapun sudah dapat mengambil keputusan. Dilihatnya awan hitam bergumpal-gumpal di atas padang pasir. Seluruh permukaan gurun gelap tak mendapatkan cahaya matahari karena terhalang mendung tebal di angkasa. Dan angin yang tadi berkesiur dingin kini tiba-tiba menderu bergemuruh.

Samudera pasir di Gurun Neraka mulai bergerak. Mula-mula mereka berombak lemah naik turun mengalun santai. Akan tetapi, ketika angin dari Utara mulai meniup kencang, segeralah ombak pasir ini membesar, bergelombang seperti ombak di Laut Lam-hai! Segeralah semuanya menjadi gemuruh. Deru angin topan yang datang itu membuat lautan pasir di Gurun Neraka bergelombang setinggi tiga sampai lima meter, merupakan dinding pasir yang bergerak hidup naik turun di atas gurun!

Mulailah badai mengamuk. Gerakan pasir yang didorong oleh tiupan angin topan ini segera disusul oleh kilatan sinar cemerlang di langit hitam. Petir berkelebat dan sedetik kemudian terdengarlah suatu ledakan halilintar di balik mendung-mendung raksasa itu seakan-akan pekik Dewa Hujan yang memberikan komando bagi pasukannya untuk menyerang!

Dan mulailah Gurun Neraka diamuk badai. Hujan turun seperti dicurahkan dari langit angin menderu kencang bergemuruh dan lautan pasir kini bangkit melawan membentuk dinding-dinding hidup yang berjalan di atas gurun seolah-olah hendak menentang datangnya serangan lawan! Sungguh mengerikan! Namun, hal inilah yang justru ditunggu-tunggu oleh pendekar sakti itu. Begitu badai yang dinanti-nantikan ini tiba, Malaikat Gurun Neraka mengeluarkan pekik dahsyat dan tiba-tiba menendang tubuh Bu Kong.

“Dess!” pemuda itu terlempar bergulingan ke tengah gurun yang sedang mengganas ini dan sejenak Bi Kong terkejut. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa jawaban yang diberikan suhunya itu berupa tendangan!

“Suhu....!” dia berteriak kaget namun suaranya lenyap ditelan gemuruhnya badai. Dan pada saat itulah tiba-tiba Bu Kong mendengar bisikan suara Coan-im-jip-bit dari gurunya yang menembus segala kegaduhan,

“Kong-ji, ujian bagi dirimu telah tiba. Tenaga dahsyat yang bergolak di dalam tubuhmu harus cepat kau salurkan keluar. Kalau tidak, tubuhmu benar-benar akan meledak. Badai telah datang dan kau harus berjuang menyelamatkan diri dari dinding-dinding pasir yang berjalan ini. Cepat, pergunakan Jouw-sang-hui-teng dan lompatlah ke puncak gelombang pasir itu agar kau tidak tertimbun binasa. Akan tetapi, kalau dinding-dinding pasir yang berjalan ini berada di depanmu, kau harus memukulnya buyar. Nah, kerjakan baik-baik petunjukku ini dan semoga kau berhasil....”

Itulah suara gurunya yang dikerahkan dengan tenaga khi-kang melalui Coan-im-jip-bit dan Bu Kong tidak dapat bertanya lagi. Dia dilempar ke tengah badai yang sedang mengganas, dan tiba-tiba sebuah dinding pasir setinggi empat meter menghampiri dirinya dengan cepat dan siap menguburnya hidup-hidup!

Tentu saja Bu Kong terkesiap. Selama bertahun-tahun berada di gurun ini, belum pernah ada badai seperti itu. Menurut gurunya, badai yang melanda padang pasir ini terjadi setiap dua puluh tahun sekali dan sekarang dengan mata kepala sendiri dia melihat kedahsyatan badai itu, tentu saja dia terkejut.

“Ahhh....!” Bu Kong berteriak dan secepat kilat dia memukul ke depan. Inilah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri karena untuk melompat dia sudah tidak keburu lagi.

“Blaarrr....!” Sungguh mengejutkan dan Bu Kong sendiri terbelalak. Dinding pasir setinggi empat meter itu tiba-tiba roboh seperti kain basah dan ambruk di atas gurun, lenyap tidak berbekas.

Bu Kong tertegun dan dari jauh terdengar seruan gurunya, “Bagus...!”

Suara ini membuat pemuda itu meluap semangatnya dan ketika dinding pasir yang kedua datang menghampirinya, Bu Kong melengking nyaring dan menghantam ke depan. “Desss....!” dinding pasir itu terpental roboh dan muncrat berhamburan. Bu Kong girang sekali melihat kenyataan ini dan dia terutama merasa gembira ketika merasakan bahwa kepalanya yang tadi pening penuh hawa itu sekarang agak berkurang, enteng dan nyaman.

Mengertilah dia kini mengapa gurunya tadi memerintahkan agar dia menyalurkan kelebihan hawa sakti yang masih liar itu dengan memukul dinding pasir. Selain untuk menyelamatkan diri dari timbunan dinding-dinding pasir itu, juga sekaligus untuk mengurangi gelembung hawa sakti yang bergolak di dalam tubuhnya. Maka ketika dirinya diserbu dinding pasir yang berjalan kencang setinggi rumah susul-menyusul ini, Bu Kong tiba-tiba tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, hayo sahabatku Gurun Neraka, marilah kita bermain bersama-sama sampai kita kehabisan tenaga, lihat siapa yang lebih unggul, kau atau aku....!”

Pemuda itu berteriak dan segera disambutnya gelombang pasir ini dengan muka gembira. Dihantamnya dinding-dinding pasir itu, dirobohkannya mereka dan segera tubuhnya lenyap tergulung ombak-ombak pasir yang membukit itu.

Malaikat Gurun Neraka sendiri yang menonton dari kejauhan, kini tak dapat melihat muridnya lagi yang bergerak semakin ke tengah. Dinding pasir yang tinggi itu menghalangi pandangannya ke depan dan dengan hati berdebar pendekar sakti ini hanya mengandalkan ketajaman pendengarannya. Pekik dan teriakan muridnya itulah yang dijadikan pegangan. Hal ini berarti bahwa selama itu muridnya masih selamat. Akan tetapi, kalau suara muridnya hilang, tentu sedang terjadi sesuatu, yang mengancam keselamatan pemuda itu.

Dan kalau hal ini terjadi, tentu saja dia tidak akan berpeluk tangan. Secepat mungkin dia harus menolong muridnya itu, akan tetapi, hal ini berarti ujian yang ditempuh muridnya gagal. Dan kalau terjadi kegagalan ini, berarti Bu Kong belum siap untuk menerima tiga jurus sakti yang merupakan inti Lui-kong Ciang-hoat. Maka hal ini cukup menegangkan juga. Di satu pihak pendekar sakti itu ingin agar Bu Kong berhasil. Namun, di lain pihak, dia juga agak merasa gelisah apabila muridnya yang sedang 'bertanding' di tengah badai yang mengganas itu sampai tewas terkubur hidup-hidup.

Sementara itu, Bu Kong yang sedang berteriak-teriak di tengah badai dikepung puluhan dinding berjalan. Berkali-kali pemuda ini berhasil menyelamatkan diri dan memukul robah serangan lawan, namun, akhirnya terasa juga olehnya bahwa kian lama tenaganya kian lemah. Dan dalam keadaan seperti itu, di mana dia tidak sempat memukul ke depan, maka jalan satu-satunya ialah mengerahkan Jouw-sang-hui-teng dan dengan ilmunya meringankan tubuh tingkat tinggi itu, Bu Kong melompat di atas dinding pasir dan melampauinya.

Akan tetapi, karena di mana-mana selalu terdapat bukit-bukit pasir itu, maka di mana saja kakinya mendarat, maka di situ pula tubuhnya selalu terkurung. Akibatnya, pemuda ini terpaksa melompat-lompat dari satu puncak gelombang ke lain puncak berikutnya seperti burung besar yang beterbangan tiada henti. Mengandalkan ilmu gin-kangnya yang disebut Jouw-sang-hui-teng, memang dapat dia menyelamatkan diri dari timbunan ombak-ombak pasir setinggi bukit anakan itu. Akan tetapi, kalau hal itu terjadi ribuan kali mana Bu Kong sanggup bertahan tanpa merasa lelah?

Tenaga sakti yang bergolak dahsyat di dalam tubuhnya sudah disalurkan sehingga kekuatan yang seperti air banjir itu telah mendapatkan jalan keluarnya. Kaki tangan yang tadi bergerak-gerak sendiri kini sudah normal kembali dan pemuda ini merasa betapa tubuhnya ringan bukan main. Lompatan-lompatannya sekarang di luar dugaan. Kalau dulu dia mampu melompat setinggi empat lima tombak adalah sekarang dia mampu melompat sampai belasan tombak sehingga puncak bukit pasir yang paling atas pun sudah jauh di bawah kakinya!

Tentu saja hal ini amat menggembirakan, namun untuk pertama dan kedua kalinya hampir saja dia celaka. Lompatan yang terlampau tinggi dan sama sekali di luar dugaan itu membuat keseimbangan tubuhnya tidak terkendalikan. Dan ketika jatuh kembali, hampir saja dia teruruk dinding pasir yang selalu menghantamnya. Syukurlah, setelah beberapa kali melambung di udara, mulailah dia mampu mengendalikan diri sendiri sehingga kini lompatan-lompatannya berdasarkan Jouw-sang-hui-teng mampu diatur sedemikian rupa.

Saking asyik dan gembiranya beterbangan di antara gelombang badai, Bu Kong tidak tahu lagi berapa lama berada di situ. Badai pasir yang menerjang ganas itu kini tidak dianggapnya sebagai lawan, akan tetapi, malah sebagai teman bermain. Tentu saja permainan yang amat berbahaya karena sekali lengah, tidak mustahil dirinya bakal terkubur hidup-hidup ditelan bukit pasir yang didorong angin topan dahsyat itu.

Akhirnya, lima jam sudah berlalu dan satu-satunya tanda yang dirasakan pemuda itu adalah rasa lelah yang amat sangat. Sekarang, teringatlah dia apa yang sedang terjadi. Pakaiannya robek-robek, rambutnya basah awut-awutan, dan seluruh tubuhnya pun basah kuyup ditimpa hujan yang seakan dituangkan dari langit.

Napasnya mulai terengah-engah dan sekarang Bu Kong tidak melengking-lengking lagi seperti tadi. Ombak pasir yang membukit juga tidak seganas mula-mula dan anginpun mulai reda. Namun, hal ini tidak berarti Bu Kong sudah bebas dari bahaya. Tidak, gelombang besar masih sekali dua menyerang dirinya dan ketika Bu Kong benar-benar kehabisan tenaga, lompatannya kurang cepat dan tubuhnya tertimbun pasir.

Pemuda itu terkejut, mukanya pucat, dan dia tidak dapat tertawa-tawa lagi. Cepat dia mengerahkan tenaga untuk keluar dari urukan itu, akan tetapi, baru setengah berhasil tiba-tiba gelombang yang kedua menghantamnya tanpa ampun. Akibatnya, tubuh pemuda itu kembali terjengkang dan setiap kali dia mencoba keluar, setiap kali itu pula dia kurang cepat sehingga selalu didahului lawan.

Mulailah pemuda ini mengeluh. Sekarang dia sukar untuk membebaskan diri dan tubuhnya sebatas paha terkubur di dalam pasir. Gelombang masih tetap menyerang dan karena tidak dapat mengelak, maka satu-satunya jalan adalah memukulkan kedua lengannya membuyarkan gulungan ombak pasir itu.

Akan tetapi, seperti telah dikatakan tadi, berjuang melawan badai selama lima jam bukanlah suatu hal mudah. Tenaganya sudah terkuras banyak dan tubuhnya lemas bukan main. Oleh karena itu, meskipun pukulan-pukulannya berhasil membuyarkan bukit pasir itu, akan tetapi, karena dia tak dapat mengelak, maka ambruknya pasir-pasir ini menimpa dirinya dan kian lama kian dalam juga tubuhnya terkubur.

Akhirnya, Bu Kong benar-benar menjadi pucat ketika timbunan pasir ini sudah mencapai lehernya! Kedua tangannya benar-benar tak dapat digerakkan lagi dan kini yang tampak hanya kepalanya yang nongol di atas permukaan gurun! Dan ketika dua kali gelombang pasir menerjangnya datang, pemuda ini mengeluh dan pingsan tak sadarkan diri. Namun, bertepatan dengan robohnya pemuda ini, badai di atas gurunpun berhenti. Segalanya menjadi seperti sediakala dan sunyi melengang.

Malaikat Gurun Neraka yang sudah tidak mendengar suara muridnya ini cepat bergerak mencari-cari dan akhirnya dengan muka tegang, dia mendapatkan kepala muridnya itu terkulai di atas gurun sedangkan seluruh bagian bawah tubuhnya terkubur hidup-hidup! Tentu saja pendekar sakti ini cemas. Sekali berkelebat dia menghampiri tempat itu, akan tetapi setelah melihat bahwa Bu Kong hanya pingsan saja, hatinya lega kembali dan segera ditariknya tubuh muridnya itu dari timbunan pasir.

Demikianlah, dengan cepat pendekar ini lalu membawa Bu Kong ke tempat tinggalnya dan memberikan pertolongan terhadap muridnya yang kehabisan tenga itu. Diam-diam dia merasa gembira karena ujian berat yang dilalui pemuda ini telah berhasil dan ini berarti Bu Kong sudah pantas untuk menerima warisan tiga jurus inti ilmu silat Lui-kong Ciang-hoat.

Malam itu pemuda ini masih pingsan dan baru pada keesokan harinya dia sadar kembali dan membuka matanya. Melihat bahwa dia berada di gua tempat tinggal gurunya, pemuda ini segera melompat bangun dan dilihatnya gurunya itu duduk bersila di atas batu hitam yang biasa menjadi tempat samadhinya.

“Suhu....!” Bu Kong berseru dan berlutut di depan batu hitam.

Malaikat Gurun Neraka membuka matanya, tersenyum sambil mengelus jenggot pendeknya. “Hemm, kau sudah siuman? Bagus, Kong-ji, kau kunyatakan lulus dalam ujian ini!”

Tentu saja Bu Kong girang dan cepat membenturkan dahinya di atas lantai gua. “Terima kasih suhu, dan ini semua adalah berkat pertolongan suhu. Kalau tidak, mana teecu dapat berhasil melawan badai seganas itu? Sungguh Iuar biasa sekali. Belum pernah teecu melihat badai seganas itu di Gurun Neraka ini. Akan tetapi, bukankah teecu untuk terakhir kalinya terkubur di atas gurun? Bagaimana teecu dapat lolos, suhu?”

Malaikat Gurun Neraka tersenyum. “Tepat pada saat kau pingsan badaipun berhenti. Maka itulah sebabnya kau selamat. Syukurlah semuanya sudah berlalu dan kau berhak untuk mewarisi tiga jurus inti ilmu Silat Lui-kong Ciang-hoat.”

“Terima kasih, suhu...” Bu Kong kembali berseru perlahan.

Malaikat Gurun Neraka lalu melompat turun dari atas batu hitam dan berkata, “Sekarang kira pergi ke hutan di tepi gurun!” dan belum lenyap kalimatnya, pendekar itu sudah melesat keluar seperti iblis.

Bu Kong bangkit berdiri dan agak heran, namun melihat suhunya sudah berada jauh di depan, cepat dia mengejar dan mengerahkan gin-kangnya. Sungguh mengherankan dan Bu Kong sendiri terkejut. Begitu dia melompuat mengejar, tiba-tiba tubuhnya melesat seperti anak panah yang dilepaskan dari busur dan pintu gun yang jaraknya ada sepuluh meter itu terlewati dalam sekali lompat!

Tentu saja pemuda ini bengong sendiri dan sekarang tahulah dia mengapa suhunya itu mengajak dia ke hutan. Agaknya hendak mencoba kemajuan gin-kangnya. Semangat Bu Kong meluap dan sekali menarik napas panjang menyedot hawa segar melembungkan paru-parunya, dia lalu meluncur ke depan mengejar bayangan gurunya yang merupakan titik kecil di depan.

Sekarang tampaklah dua bayangan yang berlari cepat di atas permukaan padang pasir itu, Malaikat Gurun Neraka di depan dan muriddnya di belakang. Mula-mula jarak di antara mereka ada dua ratus meter lebih, akan tetapi, lama-lama Bu Kong dapat memperpendek jarak ini. Bu Kong mengira gurunya memperlambat larinya agar dia segera menyusul, tidak tahu betapa sesungguhnya pendekar sakti itu tidak pernah mengurangkan tenaganya dan selalu tancap gas!

Akhirnya, ketika mereka hampir sampai di tepi gurun, pemuda ini berhasil menyamai gurunya dan dia melihat betapa muka orang tua itu merah dan keringat membasahi dahinya. Tentu saja Bu Kong terheran. Dia sendiri merasa napasnya masih ringan dan enak, akan tetapi, gurunya itu sudah agak memburu dan keningnya berkerut. Namun, dia masih menyangka bahwa kelebihannya ini adalah karena faktor usia. Gurunya sudah cukup tua, dan bagi orang tua memang wajar jika napasnya kalah panjang dibandingkan orang muda.

Akan tetapi, dia terkejut ketika tiba-tiba gurunya membentak, “Hayo kita berlomba mencapai pohon siong tua di tepi hutan. Kalau kau kalah, aku hanya akan memberikan satu jurus inti Lui-kong Ciang-hoat!”

Tentu saja kata-kata gurunya ini mengejutkan. Bu Kong terbelalak dan mendadak tubuh orang tua itu terbang dengan kecepatan penuh! Sekejap saja, dia ketinggalan dua puluh lima meter! “Ahh....!” Bu Kong berseru kaget dan pada saat itu, tubuh gurunya telah melampaui tepi gurun dan terbang mendekati pohon siong tua yang tinggi besar dan tampak paling jelas dari tengah gurun.

Karena putusan gurunya tidak dapat ditawar-tawar dan orang tua itu sendiri sudah melesat di depan sana, maka Bu Kong lalu melengking dan kedua kakinya menotol bergantian di atas tanah. Seluruh kekuatannya dikumpulkan dan tiba-tiba saja tubuhnya melontar ke depan dengan kecepatan kilat.

Sungguh menakjubkan. Karena pemuda ini sekarang telah memiliki tenaga sakti yang biasa hebatnya, maka setiap lompatan yang jauhnya sepuluh meter lebih itu membuat tubuhnya meluncur seperti burung garuda dan ketika jarak gurunya tinggal dua puluh meter lagi dari pohon besar itu, tiba-tiba tubuh Bu Kong berkelebat di samping gurunya dan sedetik kemudian dia telah berjungkir balik dan berdiri di atas sebuah cabang tanpa bergoyang!

“Bagus...!” Malaikat Gurun Neraka berseru girang dan pendekar sakti ini juga berjungkir balik dan hinggap di atas dahan dengan gerakan ringan.

Bu Kong tersenyum. “Suhu, kau orang tua aneh sekali. Tadi di gua menjanjikan tiga jurus, akan tetapi, hendak dirobah menjadi satu jurus saja kalau teecu kalah! Bukankah ini terlalu sekali? Bagaimana kalau teecu benar-benar kalah?”

Pendekar itu tertawa. “Kong-ji, kau tidak akan kalah, dan ini kuyakini benar! Tadi dapat kubaca pikiranmu bahwa kau mengira karena aku orang tua, maka tentu saja kau mempunyai napas lebih panjang. Tidak, muridku. dugaanmu tidak betul. Tidak ingatkah engkau ketika terakhir meninggalkan gua beberapa bulan yang lalu, berapakah selisih kepandaian kita? Dalam hal gin-kang, kau setidak-tidaknya ketinggalan dua ratus sampai tiga ratus meter denganku. Dan dalam hal lwee-kang kau masih dua tingkat di bawah tingkatku. Tidakkah demikian?”

Bu Kong mengangguk. “Betul, suhu.”

“Nah, itu dulu. Akan tetapi, sekarang lain lagi, muridku. Kau kini telah memiliki tenaga yang agaknya melampaui tenagaku. Dalam adu gin-kang tadi jelas kau ketinggalan beberapa puluh meter namun, toh kau dapat mendahuluinya dengan cepat. Dan dalam adu tenaga mari kita buktikan lagi. Siapa terdorong dialah yang kalah.”

Malaikat Gurun Neraka melompat turun dari atas pohon dan muridnya juga mengikuti. Dua orang ini berdiri saling berhadapan dan pendekar itu mengangkat tangan kanannya, mendorong ke depan. “Sambut pukulanku!” orang tua ini membentak dan angin panas yang kuat sekali menyambar Bu Kong.

Pemuda itu cepat mengangkat lengan kirinya dan "plakkk" kedua lengan sudah saling tempel. Terjadilah adu tenaga sekarang ini. Bu Kong merasakan gelombang hawa sakti membanjir dari telapak tangan kanan suhunya dan diapun cepat mengimbanginya. Mula-mula dia mengerahkan tenaga tujuh bagian. Akan tetapi, ternyata dorongan hawa panas dari gurunya itu mendesak semakin hebat. Terpaksa dia menambahnya menjadi delapan bagian dan urat-urat lengannya menonjol.

Namun, Malaikat Gurun Neraka yang juga diam-diam ingin mengetahui sampai di mana kemajuan muridnya ini, tidak sabar lagi dan tiba-tiba pendekar itu mengeluarkan bentakan kemudian seluruh tenaganya dikerahkan sehingga mukanya menjadi merah dan urat lehernya tampak. Bu Kong terkejut. Karena suhunya menambah kekuatan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga, hampir saja dia terjengkang roboh.

“Ahh.....!” pemuda ini juga mengeluarkan bentakan dan menambah tenaga pada kaki sehingga bhesi (kuda-kuda) yang dipasangnya menjadi sekokoh baja. Dan berbareng pada saat itu pula dia menyalurkan tenaga saktinya kearah lengan kiri sehingga lengannya bergetar.

Dua orang ini saling mendorong dan sekarang tampaklah bahwa perlahan-lahan tubuh Malaikat Gurun Neraka bagian atas terdorong ke belakang sehingga merupakan busur yang melengkung seperti lingkaran. Akan tetapi, orang tua ini lalu menyedot napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kuat-kuat melalui teriakan keras sehingga tubuhnya kembali maju ke depan dan sekarang muridnyalah yang terdorong ke belakang membentuk busur.

Bu Kong bertahan, mengerahkan segenap kekuatannya dan diapun lalu menyedot napas dalam-dalam seperti gurunya lalu membentak nyaring sehingga tubuh bagian atasnya kembali maju ke depan. Hal ini ganti-berganti dan terjadi berulang-ulang sehingga dua orang itu maju mundur tubuhnya sebatas pinggang sampai ke atas. Sedangkan pasangan kuda-kuda mereka sendiri sama sekali belum mampu tergeser dan adu tenaga ini sungguh menegangkan.

Akhirnya, karena dengan satu tangan belum tampak siapa yang menang dan siapa yang kalah, pendekar sakti itu berseru keras, “Kong-ji, sambut tangan kiriku ini. Jaga.....!”

Secepat kilat orang tua ini menggerakkan tangan kirinya menampar ke depan. Namun Bu Kong segera menyambut dengan tangan kanannya dan kembali terdengar suara "plakkk" yang keras sekali dan sekarang dua pasang tangan jago tua dan muda ini bertemu. Telapak tangan mereka saling dorong dan Bu Kong merasakan betapa kini dari sepasang lengan suhunya itu tenaga yang amat dahsyat seperti air bah membanjir tiba.

Tentu saja dia terkejut dan cepat mengerahkan segenap kekuatannya untuk bertahan. Dan pada detik inilah dia tiba-tiba teringat akan kejadian kemarin, di mana ketika gurunya memerintahkan agar dia membangkitkan tenaga sakti dari tan-tian lalu memutarnya sebanyak tiga kali di dalam pusar, mendadak muncul suatu tenaga dahsyat yang luar biaa hebatnya. Oleh sebab itu, sekarang ketika merasakan gencatan tenaga sakti dari gurunya ini yang amat dahsyat seperti air bah, Bu Kong tiba-tiba mencoba untuk membangkitkan tenaga sakti itu.

Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Begitu pikirannya terpusat dan hawa sakti sudah dibangkitkan dari tan-tian kemudian digerakkan sebanyak tiga kali di dalam perut hinggs pusarnya terasa panas, tiba-tiba saja tenaga sakti ajaib itu timbul! Tenaga ini bergolak seperti seekor naga yang dibangunkan dari tidurnya, Ialu tiba-tiba meluncur ke lengannya tanpa kendali.

Karena Bu Kong memang masih belum mengetahui cara untuk mengendalikan tenaga ajaib itu, maka dia hanya mengikutinya secara membuta. Yang diketahuinya adalah bahwa kalau tenaga sakti ini bangkit, setiap kali itu pula dia mendadak merasakan kepalanya pening. Baru setelah dia menyalurkannya melalui pukulan atau tendangan maka tenaga sakti yang masih liar itu dapat dikeluarkan dan dia sendiri merasa 'plong‘ karena enak dan ringan.

Akan tetapi, hal ini hebat sekali akibatnya bagi Malaikat Gurun Neraka. Pendekar sakti itu tiba-tiba merasakan tolakan arus tenaga yang maha dahsyat dari kedua lengan muridnya dan dia berteriak tertahan. Muka pendekar ini pucat dan ketika dia mencoba bertahan, kekuatannya patah dan kedua kakinya terdorong mundur satu langkah ke belakang dan tanah tergurat lima sentimeter oleh seretan kakinya!

“Ahhh....” pendekar itu berseru keras dan karena dia maklum betapa hebat dorongan tenaga ini, dia tidak berani berlaku ayal. Secepat kilat dia melepaskan diri dan membanting tubuh bergulingan ke samping lalu mencelat dan berjungkir balik melakukan salto enam kali di udara.

lndah dan hebat gerakan pendekar itu, akan tetapi, masih Iebih hebat akibat dari dorongan kedua lengan Bu Kong yang tidak mendapatkan sasarannya lagi. Pukulan tenaga sakti pemuda itu terus meluncur ke depan dan.... "brakk" pohon siong tua yang tadi dibuat patokan adu gin-kang oleh mereka hancur batangnya dan roboh dengan suara hiruk pikuk!

Bu Kong tertegun, matanya terbelalak dan dia hampir tidak mempercayai apa yang dilihatnya itu. Perlu diketahui di sini bahwa dalam adu sin-kang tadi, guru dan murid ini sama sekali tidak mempergunakan tenaga sakti Lui-kong Ciang-hoat. Karena pertandingan yang dilakukuan adalah untuk membuktikan kepada pemuda itu tentang kemajuannya, bukan adu saling bunuh, maka tenaga yang mereka kerahkan adalah tenaga sin-kang biasa. Namun inipun bukan berarti tidak berbahaya. Sedikit saja pendekar itu terlambat mengelak, maka nasibnya akan sama dengan pohon besar yang roboh terpukul itu!

Maka tentu saja Bu Kong terkesiap. Begitu sadar, cepat dia berlari menghampiri suhunya dan menjatuhkan diri berlutut dengan muka pucat. “Suhu, mohon diampunkan kesalahan teecu. DaIam saat terakhir tadi teecu tidak dapat mengendalikan diri dan kalau suhu menyatakan teecu bersalah, teecu siap menerima hukuman!”

Malaikat Gurun Neraka menghapus peluhnya lalu melangkah maju mendekati muridnya. Dia tertawa dan menepuk pundak pemuda itu sambil berkata, “Muridku, bangunlah. Aku lebih mengetahui hal ini daripada dirimu. Ternyata bahwa tenaga sakti yang kau peroleh dari samadhi di gurun pasir selama tujuh hari itu benar-benar luar biasa sekali. Akan tetapi, kulihat engkau belum mampu mengendalikannya. Nah, coba sekarang kau ikuti petunjukku ini. Berjungkir baliklah di atas tanah, pejamkan kedua mata dan tarik napas dari hidung lalu hembuskan kuat-kuat melalui mulut. Ya, begitu... sekarang kerahkan tenaga, salurkan ke jalan darah teng-ku-hiat, lalu dorong ke pun-kauw-hiat... nah, sekarang awas, aku akan menotok yan-goat-hiat!”

Demikianlah, pendekar sakti ini lalu memberi petunjuk-petunjuk kepada pemuda itu dan Bu Kong merasa betapa tiba-tiba tenaga mujijat yang setiap kali dibangkitkan selalu bergolak liar itu sekarang mulai berjalan teratur. Tentu saja dia gembira dan dengan penuh semangat mengikuti perintah-perintah gurunya itu. Satu jam mereka bekerja dan Malaikat Gurun Neraka akhirnya berhenti memberikan petunjuk. “Kong-ji, coba kau berdiri seperti semula,” pendekar ini berkata dengan wajah berseri.

Bu Kong melompat bangun dan berdiri dengan kedua kaki di atas tanah. Mukanya kemerahan dan dia tidak tahu betapa tiba-tiba sekarang sepasang matanya lebih mencorong dan bersinar-sinar daripada tadi.

“Nah, kini pusatkan konsentrasi ke arah lengan kanan. Pegang batu itu. Kita lihat, apa yang terjadi?” pendekar itu memberikan sebuah batu sebesar kepalan tangan kepada muridnya.

Bu Kong menurut. Diterimanya batu itu dan segera dipusatkannya seluruh perhatian ke arah lengan kanannya. Pemuda ini merasa betapa tiba-tiba arus tenaga sakti di dalam tubuhnya bergerak ke arah lengan itu dan...."kress" batu yang dipegangnya hancur menjadi tepung!

“Ahh.....” Bu Kong berseru kaget dan terbelalak. Dia tadi hanya memusatkan kekuatan pada Iengan, sama sekali belum berniat untuk meremas, akan tetapi batu yang dipegangnya sudah terlebih dahulu remuk menjadi debu! Tentu saja penuda itu terkejut, namun, gurunya malah tertawa girang.

“Bagus, hasil yang kau capai benar-benar hebat sekali, Kong-ji! Dengan demikian, akupun belum tentu akan dapat mengalahkan muridku sendiri sekarang ini. Ha-ha. Cheng-gan Sian-jin sekarang juga sudah bukan tandinganmu Iagi! Akan tetapi, ilmu hitamnya amat berbahaya, dan untuk ini kau harus menguasai tiga jurus inti ilmu silat Lui-kong Ciang-hoat.”

Bu Kong menjatuhkan diri berlutut den batinnya diliputi keharuan besar. Diam-diam dia tertegun mendengar ucapan gurunya ini yang menyatakan bahwa dia sekarang belum tentu dapat dirobohkan gurunya itu! Tentu saja pernyataan ini hebat sekali baginya. Kalau orang tua itu telah berkata seperti itu, maka hasil yang dicapainya benar-benar luar biasa.

“Suhu....” Bu Kong berkata dengan suara menggetar. “Teecu menghaturkan beribu-ribu terima kasih atas semua jerih payah suhu terhadap teecu sehingga dapat mencapai kemajuan yang demikian pesat. Kalau suhu berani memastikan bahwa Cheng-gan Sian-jin sudah dapat teecu atasi, sungguh hal ini amat menggembirakan hati teecu dan mudah-mudahan kelak teecu akan berhasil membunuh iblis tua yang telah membuat hidup teecu terhina!”

Pemuda ini mengepal tinjunya dan nama Cheng-gan Sian-jin yang disebut-sebut gurunya itu mengingatkan dia akan semua peristiwa memalukan yang dialaminya di kota raja Wu. Betapa hebat kemarahannya kepada datuk sesat itu serta murid perempuannya, hal ini sukar diukur lagi. Maka keterangan suhunya tadi tentu saja amat menggembirakan hatinya.

Malaikat Gurun Neraka tersenyum pahit dan tiba-tiba sikapnya kembali keren. “Kong-ji, dendam yang kau rasakan terhadap Cheng-gan Sian-jin dapat kumaklumi. Akan tetapi, ingat pesanku ini, kalau kelak engkau berhasil membunuh lawanmu, jangan disebabkan dorongan dendam pribadi, melainkan didorong oleh rasa keadilan yang melihat dunia terancam oleh sepak terjang iblis tua itu. Mengertikah engkau?”

Bu Kong menganggukkan kepalanya. “Teecu mengerti, suhu, dan mudah-mudahan teecu akan selalu ingat pesan ini.”

“Nah, itu baru baik. Sekarang mari kita curahkan seluruh perhatian kita kepada tiga jurus ilmu silat yang amat dahsyat yang hendak kuwariskan kepadamu ini. Akan tetapi, sebelumnya harap kau bersumpah di depan hiolouw untuk mempergunakan ilmu silat terakhir ini hanya untuk membela kebenaran!”

Pendekar ini mengeluarkan hiolouw (tempat hio) dan menancapkan dupa lalu duduk bersila dengan punggung tegak dan sinar mata tajam. Inilah syarat pertama yang harus dilakukan oleh muridnya yang hendak mendapatkan warisan ilmu silat simpanan.

Bu Kong kembali menjatuhkan diri berlutut, menerima beberapa batang hio yang sudah dibakar dan mulailah pemuda ini bersumpah dengan suara sungguh-sungguh, “Teecu Yap Bu Kong bersumpah disaksikan langit dan bumi, bahwa teecu kelak akan mempergunakan warisan ilmu silat tiga jurus inti Lui-kong Ciang-hoat hanya untuk membela kebenaran dan keadilan. Kelak apabila teecu melanggar sumpah, biarlah Dewa Kematian mencabut nyawa teecu secara mengerikan!”

Malaikat Gurun Neraka mendengarkan sumpah muridnya dan pendekar itu tampak puas. Dengan wajah berseri dia mendorong pundak muridnya dan melompat berdiri, menyimpan kembali hiolouw itu dan memadamkan apinya. “Bagus, sekarang lihat baik-baik jurus pertama ini....” pendekar sakti mulai berkata berkata dan Bu Kong memandang dengan penuh perhatian. “Jurus ini kunamakan Sin-jiu Tong-tee (Tinju Sakti Getarkan Bumi) dan sesuai dengan namanya, maka seluruh kekuatan sin-kang terpusat di kedua lengan.”

Malaikat Gurun Neraka lalu membentuk kuda-kuda sejajar, kedua lutut ditekuk sedikit. Iengan kanan dikepal dan terangkat sebatas pundak, tangan kiri juga membentuk kepalan dan kedua mata lurus ke depan. “Lihat pohon itu. Bagian tengahnya kuumpamakan perut lawan, tangan kiri kita tarik ke sisi pinggang dan berbareng dengan gerakan ini kita menarik napas sedalam-dalamnya. Nah, perhatikan, sasaran dari jurus pertama ini dua macam. Pertama perut lawan dan kedua adalah batok kepalanya!”

Bu Kong mendengarkan dan dia mengingat sikap jurus itu penuh perhatian. Dia melihat betapa lengan gurunya menggetar tanda kekuatan sin-kang sudah terpusatkan di situ dan tiba-tiba pendekar itu membentak. “Awas, lihat baik-baik. Haiitt....!”

Bersamaan dengan seruan menggeledek ini tiba-tiba tubuh Malaikat Gurun Neraka berkelebat ke depan. Tangan kiri dan tangan kanannya bergerak secepat kilat dan tampaklah dua sinar putih berkilauan menyambar pohon itu.

“Plak-plakk!”

Perlahan saja suara ini dan dua buah pukulan beruntun itu dengan tepat mengenai sasarannya. Bu Kong melihat pohon itu sama sekali tidak bergoyang dan hanya di dua tempat tampak warna kehitaman seperti kulit gosong. Dia tidak mengerti mengapa pukulan yang seampuh itu ternyata sama sekali tidak dapat merobohkan pohon itu. Padahal biasanya, dengan sin-kang yang dimilikinya dan dengan jurus biasa saja dia sanggup merobohkan pohon ini.

Akan tetapi, pukulan gurunya hanya menimbulkan bekas kehitaman di kulit pohon dan pohon itu sendiri bergoyang sedikitpun tidak! Tentu saja dia merasa heran dan memandang gurunya dengan mata terbelalak. Akan tetapi, Malaikat Gurun Neraka tampak puas dan wajahnya berseri.

“Kong-ji, bagaimana akibat pukulan jurus pertama ini?”

“Suhu, jurus ini teecu lihat memang hebat. Namun, kenapa agaknya kalah lihai dengan jurus-jurus biasa dari Lui-kong Ciang-hoat yang teecu miliki?” jawab pemuda itu terus terang. “Kalau teecu yang memukul, pohon itu pasti roboh, akan tetapi, ketika suhu yang melancarkan jurus Sin-jiu Tong-tee tadi, bergoyang sedikit saja tidak! Di mana kehebatannya, suhu?”

“Ha ha ha...! Justeru inilah kehebatannya, muridku. Tidak tampak namun sebenarnya berisi. Hal ini jauh lebih baik daripada berisi namun, kosong. Lihatlah....!”

Pendekar itu menepuk perlahan di tempat bekas pukulannya yang membuat kulit pohon tersebut kehitaman dan... Tiba-tiba pohon besar itu roboh dengan suara keras!

Bu Kong mengeluarkan seruan tertahan dan dia melihat bahwa pukulan suhunya tadi ternyata telah menghancurkan bagian dalam pohon siong itu sehingga menjadi busuk! Hanya luarnya saja yang tidak rusak, dan dilihat dari jauh pohon ini seakan-akan masih kokoh. Padahal, kalau angin bertiup sedikit kencang saja pohon itu pasti segera ambruk seperti yang dibuktikan gurunya tadi dengan tepukan perlahan!

“Ahh, hebat suhu... hebat...!” Bu Kong berseru memuji dan pendekar itu tersenyum lebar.

“Nah, sekarang kau mengerti betapa hebatnya jurus pertama ini. Dan sebelum kita meneruskan kepada jurus kedua, coba kau melatihnya. Kalau sudah sempurna, maka kita akan menginjak jurus kedua yang kunamakan Lui-kong-tong-tee (Dewa Geledek Getarkan Bumi). Jurus pertama meluncur tanpa suara, akan tetapi, jurus kedua ini akan mengeluarkan ledakan seperti geledek sendiri. Tentu saja kehebatannya melebihi jurus pertama. Akan tetapi, sekarang cobalah dulu jurus pertama dan nanti kita teruskan pada jurus-jurus berikutnya.”

“Baik, suhu,” Bu Kong berkata girang dan dia lalu memasang bhesi yang disebut kuda-kuda sejajar dan tangan kanan terkepal diangkat sebatas pundak sedangkan tangan kiri menempel pinggang. Demikianlah, setelah gurunya membenarkan sana-sini karena sikap-sikap yang kurang sempurna seperti tarikan napas yang harus tepat, pandangan yang penuh konsentrasi dan sebagainya, orang tua itu lalu memberikan aba-aba dan Bu Kong mencelat ke depan sambil berteriak keras. Yang menjadi sasarannya juga sebatang pohon besar yang banyak terdapat di hutan itu, dan pemuda ini melakukan pukulannya dengan penuh semangat sekali.

“Plak plak! Braakkk....!”

Pohon itu terpukul telak, namun, tidak seperti gurunya yang sama sekali membuat pohon itu tak bergeming, malah pukulan pemuda ini langsung menumbangkan sasarannya dan roboh dengan suara hiruk-pikuk! Bu Kong berseru kecewa dan memandang gurunya yang tertawa bergelak melihat hasil yang tidak sempurna ini.

“Ha ha, Kong-ji, pukulanmu sebenarnya sudah tepat, akan tetapi, tenagamu yang terlalu hebat! Kau kelewat semangat sehingga seluruh tenaga sin-kang kau hantamkan semua. Salah. Bukan begitu mestinya karena seharusnya tenaga tidak boleh dikerahkan semua. Ingat, kita harus menyimpan sebagian tenaga untuk melancarkan serangan pada jurus kedua dan ketiga. Kalau dalam jurus pertama ini belum apa-apa sudah dibuang semua, kau tidak akan berhasil melakukan serangan dari jurus-jurus berikutnya. Hayo, ulangi dan ingat, tenaga tidak boleh berlebih-lebihan.”

Pendekar itu memberikan petunjuk-petunjuk dan Bu Kong lalu mengulangi latihannya. Memang mula-mula dia belum sempurna betul, akan tetapi setelah empat lima kali berlatih, akhirnya dia dapat juga membuat pukulannya mendarat di sasaran tanpa membuat pohon itu bergoyang!

“Bagus!” Malaikat Gurun Neraka berseru girang melihat hasil yang diperoleh muridnya ini dan pendekar itu lalu mengajarkan jurus-jurus berikutnya.

Jurus kedua dinamakan Lui-kong-tong-tee dan jurus ini memang lebih mengerikan lagi. Ketika Malaikat Gurun Neraka sendiri yang mempraktikkannya, sasaran yang terkena pukulan dahsyat ini langsung tersambar roboh tanpa disentuh! Pukulan inilah yang dulu pernah dilihat Bu Kong ketika dia hendak kembali ke Yuen setelah menghabiskan masa cutinya. Dan pohon yang terkena pukulan ini mengeluarkan asap seperti disambar petir!

Jurus demi jurus pendekar sakti itu mengajar muridnya dan hampir sehari penuh mereka berlatih. Akhirnya, ketika matahari sudah condong ke barat dan senja mendatang, jurus ketiga, yang merupakan jurus terakhir diberikan kepada pemuda ini. Jurus ini merupakan jurus yang paling dahsyat dan mengerikan, namanya Cio-po-tee-keng (Batu Meledak Bumi Gempar), dan jurus ini merupakan jurus paling sukar dipelajari sehingga Bu Kong harus mengingat semua teori yang diberikan gurunya.

“Kong-ji,” demikian pendekar itu berkata dengan suara sungguh-sungguh dan sikap serius. “Jurus ketiga ini merupakan jurus pamungkas. Jika tidak perlu betul, kularang engkau menggunakan jurus ini. Biasanya apabila kita terdesak, cukup dengan satu dua jurus saja kita dapat mengalahkan lawan, tidak usah sampai jurus ketiga. Bahkan ketika melawan Cheng-gan Seng-jin, akupun hanya mengeluarkan sampai jurus kedua saja dan hasilnya sudah cukup memuaskan. Ketahuilah, ada rahasia besar di sini yang hendak kuceritakan sedikit kepadamu sehingga mengapa aku menciptakan jurus ketiga yang bernama Cio-po-tee-keng itu.”

Pendekar sakti ini lalu duduk bersila dan Bu Kong mendengarkan penuh perhatian. “Pertama-tama satu hal yang harus kau camkan di sini, yakni setiap orang selalu mengalami pasang surut dalam hidupnya. Oleh sebab itu, perlu bagi kita untuk berjaga-jaga menghadapi masa-masa surut itu. Demikian pula dengan ilmu silat. Setinggi-tingginya yang kita pelajari, kelak pada suatu hari mungkin akan bertemu lawan yang setanding. Lui-kong Chiang-hoat sebenarnya termasuk ilmu silat hebat, akan tetapi, ada seseorang yang mungkin dapat memecahkan ilmu silat kita. Dan dia adalah orang yang amat berbahaya sekali.”

Bu Kong terkejut. “Ahh, siapakah dia, suhu? Mengapa suhu agaknya menaruh perhatian penting dalam hal ini?”

Malaikat Gurun Neraka batuk-batuk kecil, kemudian setelah menarik napas panjang, dia menjawab, “Orang yang kumaksudkan itu bukan lain adalah susiokmu (paman guru) sendiri. Dia itu berjuluk Sin-hwi-ciang (Si Tangan Api Sakti), sin-kangnya juga sepaham dengan yang kita pelajari, yakni tenaga Yang-kang. Oleh sebab itu, kalau dia muncul maka kau harus berhati-hati.”

Keterangan ini membuat Bu Kong terkejut sekali dan hampir saja dia melompat bangun. “Apa, suhu? Jadi, suhu masih mempunyai adik seperguruan? Kenapa teecu selama ini tidak mendengarnya? Dan di manakah dia sekarang, suhu?”

Pertanyaan bertubi-tubi ini dijawab tenang oleh oleh pendekar sakti ini yang mengangkat tangannya ke atas. “Sabarlah, semuanya akan kuceritakan. Dan itulah sebabnya mengapa aku mengambil keputusan untuk mewariskan tiga jurus inti Lui-kong Ciang-hoat ini kepadamu. Susiokmu itu orang yang amat cerdik, kelicinannya melebihi ular dan wataknya jahat sekali. Empat puluh tahun yang lalu, dia mencuri kitab pusaka sukongmu. (kakek guru) namun ketahuan. Sukongmu menghukum kurungan selama lima tahun, akan tetapi, setelah bebas, dia meracuni gurunya sendiri sehingga tewas. Inilah kejadian empat puluh tahun yang lalu, namun sukongmupun bukan orang sembarangan. Sebelum ajalnya tiba, dia berhasil memancing murid durhaka itu dan menjebaknya di sebuah pulau sehingga malah terkurung seumur hidup!”

“Ahh....!” pemuda itu berseru tertahan. “Lalu bagaimana, suhu?”

“Tentu saja dia tidak mampu keluar,” jawab Malaikat Gurun Neraka. “Akan tetapi, seperti yang kukatakan tadi, susiokmu itu orang cerdik. Segala akal dipunyanya dan segala cara bisa saja dijalankannya. Pulau tempat mengurung dirinya itu bernama Hek-kwi-to (Pulau Iblis Hitam) dan sebelum guruku wafat, beliau memerintahkan agar setiap lima tahun sekali aku mengunjungi pulau itu untuk mengawasi keadaannya. Dan baru ini, setelah aku ke sana untuk yang kedelapan kalinya, aku melihat dia sudah tidak berada lagi di pulau itu! Entah dia minggat atau mati aku kurang jelas. Akan tetapi, karena jenazahnya tidak kutemukan, maka aku condong kepada dugaan bahwa dia telah lolos dari kurungannya!”

“Ahh, hebat kalau begitu!” Bu Kong kembali berseru.

Malaikat Gurun Neraka mengangguk. “Demikianlah, memang akan hebat sekali akibatnya kalau susiokmu itu muncul di dunia ramai. Terus terang saja, kepandaiannya tidak banyak berselisih denganku. Dulu aku hanya menang seusap, baik gin-kang maupun sin-kang. Akan tetapi, sekarang entahlah. Di dalam kurungan seumur hidup itu tentu dia tidak akan berdiam diri. Terakhir kali kulihat wajahnya sudah bersemu hijau dan hal ini menandakan bahwa diam-diam dia telah melatih tenaga Im (dingin). Rupanya akan dipakai untuk menandingi tenaga Yang kita, maka itulah sebabnya aku lalu menciptakan tiga jurus inti Lui-kong Ciang-hoat ini untuk berjaga-jaga.”

Bu Kong berdetak jantungnya. Keterangan suhunya ini membuat dia agak gelisah dan diam-diam perasaannya menjadi tidak enak sekali. “Kalau begitu, suhu, kenapa suhu tidak membunuh saja orang yang berbahaya seperti itu? Bukankah lebih baik mencabut tunas yang belum tumbuh daripada menumbangkan tunas yang sudah menjadi pohon!”

Gurunya menggelengkan kepala dengan muka muram. “Tidak mungkin, Kong-ji. Inilah pesan guruku dahulu sebelum ajalnya tiba. Dan kau tahu sendiri, pesan seorang yang hendak meninggal tidak mungkin berani kita abaikan.”

Bu Kong terdiam tidak menjawab. Kata-kata gurunya ini memang betul dan tentu saja dia mengerti dengan baik.

“Nah. Kong-ji, sekarang kau tahu mengapa aku menciptakan tiga jurus rahasia ini. Maksudnya bukan lain adalah untuk menjaga kemungkinan terhadap susiokmu yang kuduga lolos dari Pulau Hek-kwi-to itu. Sekarang aku menaruh harapan terakhir padamu seorang jika dia muncul setelah aku dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dengan begini, kaulah yang kuwakili tugas berat ini dan apabila betul susiokmu ini masih hidup dan membuat onar, bunuhlah dia untuk menjaga ketenangan dunia!”

Bu Kong mengangguk. “Baik, suhu. Semua pesan suhu ini akan teecu ingat di luar kepala.”

“Sekarang sebelum cuaca menjadi gelap, perhatikan jurus terakhir yang kunamakan Cio-po-tee-keng. Lihatlah....” pendekar sakti itu lalu bangkit berdiri, mengebutkan pakaiannya dan melangkah ke sebuah batu besar. Sekali menotol kaki, dengan gerakan ringan seperti burung, tubuhnya melayang ke atas batu itu dan berdiri tegak dengan mata mencorong.

“Kong-ji, lihat baik-baik semua sikapku ini,” pendekar itu berkata dan tiba-tiba timbul getaran aneh menyelimuti dirinya.

Bu Kong terkesiap ketika melihat betapa di belakang tubuh gurunya muncul cahaya kemerahan yang samar-samar seperti uap api! Pemuda ini terbelalak, akan tetapi, dia tidak bertanya. Pendekar itu telah tahu sendiri dan tanpa ditanya muridnya dia sudah memberikan jawaban.

“Kong-ji, kau agaknya heran oleh sinar merah seperti kabut ini, bukan? Ketahuilah, apabila kau memusatkan pikiran ke tengah kening dan mengerahkan tenaga sakti Yang-kang ke jalan darah jin-teh-hiat di belakang punggung, maka akan muncul cahaya kemerahan itu. Ini berarti bahwa tenaga sin-kang kita telah siap dipergunakan sepenuhnya karena kita menghadapi lawan berat. Kalau lawan masih di bawah tingkat kita, tidak perlu hal ini kita lakukan. Akan tetapi, kalau jurus Cio-po tee-keng terpaksa kita keluarkan maka itu menandakan lawan yang kita hadapi benar-benar merupakan lawan kuat. Itulah sebabnya maka kita harus mempersiapkan tenaga sin-kang sepenuhnya dan untuk sikap permulaan inilah yang mesti kita lakukan, yakni memusatkan pikiran di tengah kening dan menyalurkan sin-kang di jalan darah jin-teh-hiat. Kau tahu, jalan darah di punggung ini merupakan jalan darah pusat untuk bagian tubuh belakang. Jadi, kalau kita hendak mempergunakan jalan darah ini sebagai penampung tenaga sakti, maka jalan-jalan darah lainnya akan terpengaruh dan keluarlah sinar merah yang samar-samar seperti api itu.”

Bu Kong tampak bengong oleh uraian gurunya ini. Tentu saja dia merasa kagum sekali karena dengan begitu, perbawa gurunya tampak lebih angker dan memggetarkan hati lawan. Belum apa-apa lawan pasti sudah dibuat gentar dan kalau lawan terpengaruh, tentu saja hal ini sudah merupakan satu langkah kemenangan bagi mereka.

Seperti Anda ketahui, dalam jilid ketujuh pendekar ini telah menunjukkan kepada Cheng-gan Sian-jin cahaya kemerahan yang menyelubungi belakang tubuhnya, dan hal ini bukan lain adalah karena persiapan sepenuhnya untuk mempergunakan inti ilmu silat Lui-kong Ciang-hoat yang terdiri dari tiga jurus itu.

Namun, ternyata bahwa dalam pertandingan mereka, Malaikat Gurun Neraka cukup menggunakan jurus kedua yang disebut Lui-kong-tong-tee (Dewa Geledek Gemparkan Bumi) sehingga Cheng-gan Sian-jin kelabakan dibuatnya. Dari sini dapat kita bayangkan bahwa tiga jurus simpanan yang dikuasai oleh pendekar sakti itu memang benar-benar hebat bukan main. Kalau saja tidak muncul Bu-beng Sian-su, tidak mustahil jika datuk sesat itu tewas di tangan Malaikat Gurun Neraka yang sudah mengambil keputusan bulat untuk melenyapkan kakek iblis itu dari muka bumi.

“Muridku,” demikian pendekar ini meneruskan, “Setelah kita memusatkan seluruh konsentrasi, maka siaplah kini gerakan-gerakan berikutnya. Bhesi yang kita pasang bernama Manusia Sakti Mengangkat Gunung, seperti ini....”

Malaikat Gurun Neraka merenggangkan kedua kakinya di atas batu hitam dan kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi di atas kepala, yang kanan membentuk kepalan sedangkan yang kiri lurus ke depan. Sikap ini memang persis seperti orang mengangkat sesuatu, hanya bedanya jari-jari tangan yang tidak terbuka.

“Setelah itu, sin-kang kita tarik ke perut, keluarkan melalui bentakan menggeledek dan sekaligus kaki kita menggedruk bumi. Sedetik setelah gerakan ini, kita melakukan lompatan jungkir balik di udara dua kali dan tangan kanan menghantam sedangkan tangan kiri membacok. Nah, semua teori telah kau dengarkan dan sekarang lihatlah jurus yang akan kupraktikkan ini....”

Pendekar itu menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya sampai penuh, memusatkan konsentrasi dan tiba-tiba tubuhnya menggigil. Bu Kong memperhatikan semuanya itu dengan mata hampir tak berkedip dari sikap permulaan sampai akhir. Dia melihat betapa gurunya mengangkat kedua lengan tinggi-tinggi ke atas dan kaki agak renggang, tanda pasangan kuda-kuda yang disebut Manusia Sakti Mengangkat Gunung, lalu tiba-tiba orang tua itu memekik dahsyat menggetarkan hutan dan kakinya menggedruk batu.

Hebat sekali akibatnya. Begitu batu hitam yang dijadikan landasan bhesi ini digedruk, tiba-tiba saja terdengar suara keras dan batu hitam sebesar kerbau ini pecah! Dan sedetik kemudian, tubuh gurunya itu mencelat di udara dan berjungkir balik dua kali, lalu tangan kanan dengan sikap kepalan dan tangan kiri dengan telapak miring menghantam ke depan. Terdengar dua suara angin pukulan, yang kanan menderu sedangkan yang kiri bercuitan seperti bacokan senjata tajam.

“Klap-cuit-blar...!”

Pohon yang paling besar dengan batangnya yang lima kali pelukan orang dewasa itu menjadi sasaran pukulan Cio-po-tee-keng. Dua sinar merah berkelebat dan tiba-tiba pohon ini meledak dan hancur berantakan seperti diseruduk seratus ekor gajah!

Bu Kong berteriak kaget dan melompat ke belakang dengan muka pucat, sama sekali tidak menyangka akan sedemikian hebat akibat dari pukulan Cio-po-tee-keng itu. Dia sendiri kalau melancarkan jurus, Lui-kong Ciang-hoat, hanya akan membuat pohon tumbang dan tidak sampai hancur seperti itu, di mana batangnya sama sekali remuk dan semua batang serta ranting-ranting kecil patah-patah tidak karuan ujudnya. Tentu saja pemuda ini merasa ngeri. Batu yang digedruk pecah saja sudah akan membuat orang meleletkan lidah, belum lagi akibat nyata dari pukulan jurus ketiga ini.

“Ah, sungguh hebat dan mengerikan, suhu....!” Bu Kong berseru dengan mata terbelalak.

Malaikat Gurun Neraka sudah berdiri lagi di atas tanah, menghapus peluhnya karena jurus ketiga itu benar-benar memakan tenaga sakti yang amat besar. Itulah sebabnya, maka hasil yang diperolehpun juga cukup mengerikan. Pendekar sakti itu mengangguk. “Memang muridku, dan itulah sebabnya kupesan sungguh-sungguh kepadamu agar kau tidak sembarangan mempergunakan jurus ini jika tidak betul-betul terpaksa. Aku sendiri belum pernah mempergunakan Cio-po-tee-keng ini terhadap musuh, karena kau tahu sendiri apa akibatnya kalau kita menggunakan jurus itu.”

Bu Kong mengiyakan dan dia sendiri memang tidak akan sembarangan untuk mengeluarkan tiga jurus rahasia yang amat dahsyat itu. Malaikat Gurun Neraka lalu memberikan petunjuk-petunjuk yang cermat dan kemudian menyuruh pemuda itu mulai melatih jurus ketiga ini. Karena Cio-po-tee-keng merupakan jurus yang paling sulit dipelajari dan dipraktikkan, maka sampai malam tiba Bu Kong baru menjalankan teorinya. Keadaan yang gelap tidak memungkinkan bagi mereka untuk berlatih lagi.

Akhirnya Malaikat Gurun Neraka berkata, “Kong-ji, malam ini kita istirahat dulu. Besok kau boleh berlatih sendiri dan sebagai bukti apakah kau telah betul-betul menguasai jurus ketiga ini, maka pintu batu di Gua Bunga harus dapat kau hancurkan!”

Bu Kong terkejut, akan tetapi dia tidak menjawab. Malam itu, mereka kembali ke gua dan beristirahat, namun Bu Kong sama sekali tidak dapat tidur. Otaknya penuh dengan jurus Cio-po-tee-keng yang akan dilatih dan juga teringat perintah suhunya agar dia menghancurkan pintu batu di Gua Bunga!

Diam-diam dia merasa sangsi. Berapa lamakah dia akan berhasil? Dan dapatkah papan batu yang tebal di Gua Bunga itu dipukul roboh seperti gurunya sendiri yang telah memukul roboh pohon di dalam hutan dengan jurus Cio-po-tee-keng? Kalau gurunya yang melakukan pukulan itu terhadap pintu batu di Gua Bunga, agaknya dia tidak usah ragu. Akan tetapi dia yang baru belajar, dapatkah dengan cepat membuktikan kesanggupannya ini?

Padahal masih banyak tugas-tugas yang harus dikerjakannya. Perhitungannya dengan Cheng-gan Sian-jin, Wu-sam-tai ciangkum, murid Ang-i Lo-mo itu dan kawan-kawannya, serta urusannya sendiri dengan Siu Li! Teringat kepada gadis itu jantungnya lalu berdebar. Berhasilkah usaha Siu Li membujuk ayahnya? Bagaimana kalau tidak berhasil dan Ok-ciangkun malah marah-marah terhadap puterinya? Dan bagaimana pula kalau gadis itu ditangkap ayahnya? Ditangkap?

Pikiran ini membuat Bu Kong hampir saja melompat kaget. Ya, kenapa dia melupakan kemungkinan ini? Ok-ciangkun adalah orang yang tidak segan-segan melakukan perbuatan apapun, seperti fitnah yang telah dilontarkan kepada dirinya itu. Dan tidak terlalu jauh dugaannya kalau usaha Siu Li gagal lalu panglima yang marah itu menangkap puterinya sendiri! Ah, mengapa dia dulu tidak mengikuti kekasihnya secara diam-diam? Pikiran ini membuat Bu Kong gelisah dan malam itu dia hanya bolak-balik di tempat tidur dengan perasaan cemas membayangkan yang tidak-tidak.

“Aku harus dapat menguasai Cio-po-tee-keng secepatnya... ya, secepatnya!” akhirnya pemuda itu mengepal tinju dan semangatnya berkobar-kobar. Dia tahu, kalau belum sempurna ilmunya, tidak mungkin dia boleh keluar oleh gurunya. Dan untuk ini, agar dia berhasil, dia harus bekerja keras, harus berjuang mati-matian!

Keesokan harinya, baru saja terang tanah dan matahari sendiri masih belum tampak, pemuda itu sudah berlari ke dalam hutan dan mulai berlatih. Jurus demi jurus dikerjakan baik-baik, penuh semangat dan tekad berkobar-kobar agar segera menguasai secara sempurna. Sehari, dua hari, tiga hari... begitu seterusnya sehingga pada hari ketujuh, Cio-po-tee-keng telah berhasil dilakukannya dengan sempurna!

Tentu saja pemuda ini menjadi girang sekali dan pohon yang dijadikan sasaran hancur berkeping-keping seperti gurunya dulu! Namun, ini baru keberhasilan yang masih "setengah" karena sasaran yang harus dipukulnya bukanlah pohon itu, melainkan pintu batu yang menutup di Gua Bunga! Inilah perintah gurunya dan dia tidak dapat menawar-nawar lagi.

Dia harus dapat menghancurkan pintu itu dengan pukulan Cio-po-tee-keng, kalau tidak, berarti dia masih belum berhasil dan tentu saja harus berlatih dengan tekun lagi. Dan ini berarti, dia memperpanjang waktu di tempat ilu padahal hatinya sebenarnya sudah tidak sabar lagi untuk keluar dan mengetahui hasil-hasil yang diperolch kekasihnya.

Gua Bunga terletak di dalam hutan. Disebut Gua Bunga karena di sekitar gua itu penuh oleh tanaman-tanaman bunga beraneka warna yang ditanam gurunya. Gua ini biasanya dipergunakan gurunya sebagai tempat peristirahatan, dan pintuu yang ada di situ selalu dalam keadaan tertutup. Hal ini dilakukan agar gua itu tidak dikotori oleh masuknya binatang-binatang hutan dan pintu itu sendiri dipasangi alat-alat rahasia untuk membuka dan menutupnya.

Karena terbuat dari papan batu yang amat berat dan tebal, maka pintu gua ini benar-benar kokoh sekali. Dulu pernah ada seekor gajah yang mendorong pintu itu dengan kepalanya, namun, sama sekali tak berhasil! Maka, dari sini saja dapat diketahui betapa kokoh kuatnya pintu yang tertanam di depan gua itu.

Dan pintu macam inilah yang harus dihancurkan Bu Kong dengan jurus Cio-po-tee-keng! Pemuda itu sekarang sudah berada di muka pintu batu, berdiri sambil meraba-raba dan mencoba untuk menggeser minggir, namun pintu batu itu sama sekali tak bergeming! Diam-diam dia merasa tegang. Pintu yang sedemikian kuatnya harus dia pukul hancur. Berhasilkah?

“Aku harus berhasil!” Bu Kong mengertak giginya dan melompat di atas batu lain yang berhadapan dengan pintu batu itu sebagai landasan pasangan bhesi Manusia Sakti Mengangkat Gunung. Perlahan-lahan dia menarik napas panjang, memusatkan konsentrasi ke tengah kening dan mengerahkan sin-kang di jalan darah jin-teh-hiat seperti apa yang dulu diajarkan gurunya. Kedua kaki agak merenggang, kedua tangan perlahan-lahan terangkat ke atas. Tangan kanan terkepal sedangkan tangan kiri lurus dengan jari-jari tegak membentuk sikap membacok.

Inilah permulaan jurus Cio-po-tee-keng. Dan sckarang tampaklah perobahan pada dlri pemuda itu. Begitu dia memusatkan seluruh perhatiannya untuk melakukan jurus Cio-po-tee-keng ini, tiba-tiba tampaklah uap kemerahan di belakang tubuhnya, persis seperti Malaikat Gurun Neraka ketika berhadapan dengan Cheng-gan Sian-jin di gedung datuk sesat itu dulu!

Akan tetapi, Bu Kong sendiri tidak melihat perobahan ini. Tubuhnya sudah menggigil dan hawa sakti bergolak di pusar seperti naga bangun tidur. Tidak seperli dulu di mana setiap kali timbul tenaga dahsyat ini dia selalu kelabakan, adalah sekarang pemuda itu tetap tenang. Ke mana pikirannya menuju ke situlah tenaga sin-kang mujijatnya mengalir. Tenaga ini telah berhasil dikendalikan sesuka hati berkat petunjuk-petunjuk gurunya beberapa hari yang lalu. Dan sekarang Bu Kong tidak perlu gelisah lagi.

Akhirnya, setelah merasa bahwa dia benar-benar sudah siap untuk melancarkan pukulan jurus terakhir itu dan getaran tenaga sakti di dalam tubuh sudah memenuhi urat-urat darahnya sehingga Bu Kong menggigil seperti orang kedinginan, pemuda ini mengeluarkan pekik dahsyat dan kakinya menggedruk. Terdengar suara ledakan ketika batu yang dihantam kakinya itu pecah! Akan tetapi, Bu Kong sendiri sudah mencelat ke depan dan berjungkir balik di udara, kedua tangannya memukul ke depan dan dua sinar merah berkelebat mengenai pintu batu yang menutup Gua Bunga.

“Blaarrr....!” Dahsyat sekali suara ini dan tiba-tiba pintu batu itu hancur lebur dan pecah berantakan seperti disambar geledek! Gua terbuka lebar dan dari tempat gelap tiba-tiba terdengar seruan,

“Bagus, hebat sekali...!” disusul berkelebatnya tubuh seseorang keluar gua.

Ternyata orang ini bukan lain adalah Malaikat Gurun Neraka yang memandang muridnya dengan mata gembira dan wajah berseri-seri! “Ha-ha, bagus. Kong-ji, Cio-po-tee-keng yang kau lakukan benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaannya. Hebat! Padahal aku sendiri belum tentu mampu menghancurkannya dengan sekali pukul, ha-ha... hebat.... bagus sekali!”

Bu Kong terkejut, tidak menyangka bahwa gurunya ternyata berada di dalam gua. Akan tetapi, mendengar suhunya memuji sambil tertawa gembira, saja diapun menjadi girang dan cepat menjatuhkan diri berlutut. “Suhu, inipun juga atas jerih payah suhu menggembleng teecu. Kalau tidak, mana mungkin teecu dapat memillki kemajuan sepesat ini?”

Pendekar ini tersenyum, senang mendengar kerendahan hati muridnya dan dia lalu melangkah maju sambil mengelus jenggotnya dan dengan mata bersinar-sinar orang tua itu berkata,

“Kong-ji, bangunlah. Sikap yang selalu merendah hati memang harus menjadi watak seorang pendekar. Akan tetapi, sikap yang terlampau berlebihan akan merugikan diri sendiri. Nah, harap kau ingat hal ini. Kepandaianmu sekarang sudah melonjak pesat dan aku sendiri agaknya sudah tidak sanggup menandingimu. Namun, jangan tekebur dan bersombong diri. Setiap manusia pasti mengalami pasang surut dalam kehidupannya, maka kesombongan bahkan akan menjerumuskannya ke dalam kesengsaraan. Sekarang semua kepandaian yang kumiliki telah kau pelajari semua, tidak ada sisanya sedikitpun. Oleh sebab itu, kalau engkau hendak pergi menyelesaikan tugas-tugasmu, berangkatlah. Aku akan menunggu beritamu di sini.”

Bu Kong girang sekali dan mencium kaki gurunya. “Suhu, semua petuah-petuah suhu akan teecu ingat baik-baik dan kalau suhu telah mengijinkan teecu berangkat, sungguh hal ini amat menggembirakan hati teecu. Baiklah, suhu, teecu akan berangkat hari ini juga dan teecu mohon doa restu suhu dalam perjalanan...!”

Pendekar Gurun Neraka Jilid 16

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 16
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka
KARENA marah melibat korbannya terlepas, harimau itu melompat sambil menggereng. Dia mengejar lagi dan karena rusa itu sudah terluka, binatang ini tidak secepat tadi larinya. Auman si raja hutan yang membuat semangatnya seakan terbang itu terdengar dekat sekali di belakangnya. Dapat diiduga, bahwa tidak lama lagi rusa ini pasti tertangkap dan tubuhnya tentu akan dirobek-robek harimau yang marah dan kelaparan itu.

Akan tetapi, mendadak terjadi perubahan. Rusa yang diburu maut itu agaknya sudah benar-benar ketakutan sekali dan kalau tadi binatang ini masih keluar masuk hutan mencari persembunyian, adalah sekarang dia berlari ke depan menuju padang pasir!

Dan begitu sampai di tepi gurun, rusa ini mau melompat dan terbang di atas gurun berapi itu. Harimau loreng yang pada saat itu jaraknya tinggal satu meter lagi dan sudah hampir berhasil, rupanya juga terlalu dikuasai marahnya dan tanpa pikir panjang lagi si raja hutan itu ikut melompat dan mengejar.

Namun, inilah kesalahannya. Kalau saja dia tidak ikut-ikut, tentu dirinya selamat dan rusa itulah yang menjadi korban keganasan Gurun Neraka. Akan tetapi, dasar binatang berotak udang, dia terlalu mengumbar kemarahan diri sendiri, begitu dia ikut melompat dan mengejar di padang pasir, tiba-tiba harimau itu mengaum kaget.

Keempat kakinya yang menginjak lautan pasir itu sekonyong-konyong mengeluarkan suara ’nyess' dan si raja hutan berteriak keras. Walaupun telapak kakinya berdaging tebal, akan tetapi, disentuh pasir yang pada saat itu seperti bara api sendiri mana harimau itu tahan?

Maka begitu kakinya terbakar, binatang itu baru merasa kaget dan ketakutan. Barulah dia sekarang sadar bahwa dirinya memasuki daerah bahaya. Daging tebal di bawah telapak kakinya melepuh dan sebentar saja tercium bau sangit daging terbakar. Tentu saja harimau itu kesakitan dan sambil menggereng marah kakinya menggaruk. Maksudnya mungkin untuk memadamkan bara api yang membakar telapak kakinya itu, namun, perbuatannya itu malah berakibat lebih jelek lagi.

Karena dia bukan menggaruk di tanah biasa, melainkan menggaruk di atas pasir berapi, maka hal ini sama saja dengan menggali lubang api dan menjebloskan kakinya di atas lautan pasir yang panas itu. Gerakan ini malah membuat lubang dalam yang menanam keempat kakinya dan segera harimau itu meraung dahsyat.

Kakinya yang menggaruk-garuk itu malah seolah-olah seperti dimasukkan ke sebuah tungku dan harimau ini memang tidak tahu bahwa semakin dalam pasir yang digalinya, panasnya bahkan semakin menghebat. Hal ini disebabkan karena terik matahari di siang harinya telah diserap oleh jutaan pasir Gurun Neraka ini dan itulah sebabnya semakin dalam pasir yang digaruk, panasnya semakin luar biasa sekali.

Maka tidaklah mengherankan apabila si raja hutan yang terjebak dalam galian pasir itu meraung-raung kesakitan. Hendak keluar sudah tidak mungkin lagi. Karena lautan pasir ini lunak seperti lumpur, akan tetapi, hendak tinggal di situ juga tidak mungkin pula. Semuanya serba salah bagi binatang ini dan celakanya, akibat gerakan tubuhnya yang selalu meronta tak pernah diam, pasir-pasir itupun bergerak dan tubuh harimau ini perlahan-lahan amblas ke bawah mengikuti goyangan badannya!

Sungguh mengerikan! Semakin hebat binatang itu meronta, semakin hebat pula tubuhnya amblas ke bawah dan pada saat itu, bunga-bunga api yang berpercikan di atas gurun mulai menyentuh bagian atas tubuhnya. Mula-mula di atas punggung, lalu kepala, ekor, dan akhirnya seluruh tubuh harimau ini tidak ada yang ketinggalan. Dilihat dari jauh, percikan api yang berterbangan di atas tubuh harimau itu seakan kunang-kunang setan di tanah kuburan!

Amat mengerikan! Dan kalau keadaan sudah sedemikian rupa, Anda tentunya dapat membayangkan sendiri apa yang akan menimpa si raja hutan yang sial ini. Bulunya mulai terbakar, bau sangit mulai menghebat dan harimau itu sudah seperti binatang gila. Mulutnya terbuka lebar-lebar dan raungnya yang amat dahsyat menggetarkan permukaan gurun. Binatang ini melolong, mengaum, dan memekik dahsyat saking panik dan takutnya dengan maut yang hendak merenggut nyawanya perlahan-lahan itu. Namun, siapa yang akan menolongnya?

Selain Bu Kong yang berada jauh di tengah gurun sana, tidak ada orang lain lagi. Padahal, pemuda itu sendiri sedang khusyuk bersamadhi. Jangankan auman seekor harimau, biar ada halilintar meledak di samping tubuhnya juga belum tentu sanggup membangunkan murid Malaikat Gurun Neraka yang sudah mencapai titik puncak dalam samadhinya itu.

Maka, sekarang tampaklah pemandangan yang benar-benar dapat membuat bulu tengkuk meremang ini. Harimau itu mulai terbakar hidup-hidup! Asap mula-mula membubung tipis di udara dan beberapa detik kemudian... 'byaarrrr' api besar mulai berkobar! Dan seperti sedang bermimpi buruk saja, kita akan melihat betapa harimau itu sia-sia belaka dalam menyelamatkan dirinya. Gurun Neraka memang terkenal ganas!

Dan sekali dicoba-coba, hukumannya hanyalah mati! Ini sudah dikenal oleh para khalifah dan itulah sebabnya mengapa mereka sama sekali tidak mau mempergunakan gurun ini sebagai tempat penyeberangan. Mereka tahu, sekali onta mereka lewat di atas padang pasir ini, maka nasib binatang tunggangan satu-satunya ini pasti juga akan sama seperti nasib harimau yang sial itu.

Api sekarang berkobar besar, menjilat-jilat seperti ludah seekor naga merah. Harimau itu menjerit-jerit, namun sang dewa api sama sekali tidak menghiraukan raungan sengsara ini. Dia tetap berkobar, tak ambil perduli akan semua rintihan. Dan akhirnya, pada saat harimau itu berada pada puncak sakramatul mautnya, terdengar raung yang luar biasa dahsyatnya, lalu semuanya diam.

Keadaan sunyi kembali seperti sediakala. Hanya terdengar suara bergemerataknya api di tengah-tengah gurun, dua buah banyaknya karena satu di tempat harimau ini sedangkan yang lain adalah di tempat si rusa yang telah terlebih dahulu menjadi abu dan tewas dengan keadaan yang amat mengerikan. Demikianlah, Gurun Neraka telah meminta korban! Dari semua kejadian ini maka pantaslah kalau padang pasir itu disebut sebagai Gurun Neraka karena panasnya benar-benar seperti api neraka sendiri! Nama yang diberikan orang untuk padang pasir benar-benar tepat sekali, sesuai dengan kenyataan yang ada.

Dan satu jam kemudian, setelah api unggun di tengah gurun padam, tiba-tiba terjadi perubahan di angkasa. Langit bagian Selatan mendadak tampak menghitam. Awan mendung berarak dari tempat ini menuju ke atas gurun. Dan sebentar kemudian, tiba-tiba dari bagian Barat, Utara, dan Timur juga tampak gumpalan awan hitam melayang cepat menuju ke padang pasir ini.

Sungguh aneh melihat mendung-mendung yang datang dari empat penjuru itu. Mereka seakan-akan mengepung Gurun Neraka dan pada saat mendung-mendung raksasa ini hampir bertumpukan, tiba-tiba saja mereka berhenti seakan ada suatu tenaga tak tampak yang menahan empat kumpulan awan hitam itu.

Dan sungguh luar biasa. Pemandangan yang kali ini terlihat di atas gurun sungguh ajaib. Betapa tidak? Mendung-mendung raksasa yang berkumpul di atas gurun menghalangi sinar matahari sehingga seluruh permukaan padang pasir menjadi gelap, dan hanya satu tempat saja yang kejatuhan cahaya bola api langit itu, yakni bagian tengah yang kosong karena mendung-mendung itu berhenti mendadak.

Akibatnya, sorot matahari membentuk lorong cahaya perak yang menyilaukan mata dan cahaya itu tepat sekali menimpa diri Bu Kong yang sedang bersamadhi di tengah gurun. Sungguh ajaib! Kalau Anda kebetulan dapat menyaksikan pemandangan yang benar-benar ajaib ini dengan mata kepala sendiri, Anda pasti akan takjub bukan main. Seluruh pesona mukjizat akan menguasai diri Anda dan Anda akan terpukau tanpa suara.

Melihat seorang manusia mandi cahaya pagi bukanlah hal aneh. Akan tetapi, melihat seorang manusia mandi sinar matahari pagi yang membentuk lorong panjang dari langit yang putih keperakan inilah hal yang benar-benar luar biasa, kejadian yang amat langka dan hampir tidak pernah terdapat di muka bumi! Sungguh luar biasa! Kata-kata saja kurang sempurna untuk menggambarkan keadaan dan keajaiban alam itu. Hanya perasaanlah yang jauh lebih sempurna merasakan dan menerima getaran-getaran alam yang maha ajaib.

Akan tetapi, Bu Kong sendiri sama sekali tidak mengetahui akan keajaiban yang melanda dirinya itu. Pemuda itu sedang mencapai titik samadhinya yang tertinggi. Dia seakan-akan mati, rohnya seakan sedang melayang di tempat lain dan pernapasan halus yang terjadi hanyalah akibat gerak otomatis dari denyutnya jantung.

Malaikat Gurun Neraka yang selama ini menjaga muridnya dari tempat kejauhan, terbelalak takjub ketika melihat lorong cahaya matahari yang menimpa tubuh muridnya yang sedang bersamadhi itu. Pemandangan ini seolah-olah menunjukkan berkah langit yang maha ajab dan tentu saja pendekar sakti itu tertegun.

“Puja puji kepada Maha Surya...!” Malaikat Gurun Neraka berseru perlahan dan menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Dewa Matahari.

Seperti diketahui, orang-orang jaman dulu banyak mempunyai dewa-dewa sendiri dan di antara sekian banyaknya dewa, biasanya ada beberapa yang merupakan maha dewa bagi mereka. Demikian pula halnya bagi pendekar sakti itu. Karena ilmu silatnya sebagian besar mengandung tenaga Yang-kang (panas) padahal yang menjadi pusat dan tenaga Yang adalah Dewa Matahari, maka terhadap dewa ini dan menyebutnya Maha Surya.

Setelah memberi hormat dengan pantas, Malaikat Gurun Neraka berdiri kembali dan memandang muridnya yang masih bersamadhi itu dengan mata bersinar-sinar. Betapa beruntungnya muridnya itu mendapatkan berkah dari Sang Maha Surya!

“Kong-ji, nasibmu sungguh baik. Dengan berkah ini, berarti Maha Surya berkenan memasukkan inti tenaga saktinya ke dalam tubuhmu. Ahh, sungguh luar biasa sekali, selamat... selamat muridku....” pendekar itu bergumam perlahan dan dia menanti lenyapnya lorong cahaya ini.

Menurut yang diketahuinya lorong dewa matahari itu hanya akan berjalan selama setengah menit saja. Setelah itu, lorong ini akan lenyap karena berarti Maha Surya telah selesai memberkahi manusia yang menjadi pilihannya. Betul saja, tiga puluh detik kemudian tiba-tiba saja mendung dari empat penjuru itu bergerak. Masing-masing bercampur baur satu sama lain dan seketika lenyaplah lorong ajaib yang tadi menimpa Bu Kong.

Kini semuanya tampak gelap dan anginpun tiba-tiba mulai berkesiur dingin. Malaikat Gurun Neraka yang melihat tanda-tanda badai akan datang segera bergerak cepat. Tubuhnya melesat ke depan menghampiri muridnya dan dua jari tangan kanannya menotok tengah-tengah kening. Itulah jalan darah Pi-Peh-Hiat yang paling tepat dipergunakan untuk menyadarkan seseorang yang telah tenggelam selama berhari-hari dalam siu-lian (samadhi).

Tubuh Bu Kong tiba-tiba bergetar dan getaran ini berarti masuknya kembali kesadaran ke dalam semangat seseorang. Bu Kong mengeluarkan keluhan panjang, perlahan-lahan matanya dibuka dan dia terkejut melihat keadaan yang gelap di atas gurun.

“Kong-ji selamat! Maha Surya telah memberkahimu dan kini tenaga saktimu sepuluh kali lipat lebih kuat dari semula!” tiba-tiba terdengar suara Malaikat Gurun Neraka dan Bu Kong menoleh kaget.

“Suhu...!” pemuda itu menjatuhkan diri berlutut didepan orang tua itu. Lalu memandang gurunya dengan mata terbelalak heran. Dia tidak mengerti arti ucapan gurunya, maka tentu saja dia tidak tahu apa maksudnya pemberian selamat itu.

Pendekar itu tersenyum dengan wajah beerseri. “Kong-ji, bangunlah. Badai hampir tiba dan tidak banyak waktuku untuk menerangkan hal ini kepadamu. Akan tetapi, kalau kau tidak percaya, coba sekarang kau gerakkan hawa sin-kang dari tan-tian, putar di perut sebanyak tiga kali, lalu salurkan ke tangan dan kakimu. Nah, begitu... Ya... Betul... Betul... Apa yang kau rasakan?”

Bu Kong tercengang keheranan. Ketika dia mengerahkan hawa sin-kang dari tan-tian, tiba-tiba dia merasakan suatu tenaga raksasa bergolak hebat, seperti air mendidih atau seperti juga pusaran air di laut selatan! Tentu saja dia agak terkejut. Tenaga yang bergolak ini seperti raksasa yang bangun dari tidur, tiba-tiba bergerak dan membuat tubuhnya berguncang. Dan, ketika dia menggerakkan tenaga ini di dalam perutnya sebanyak tiga kali, Bu Kong berteriak kaget. Hawa panas bergerak-gerak di dalam perutnya dan dia seakan diangkat-angkat ringan seolah hendak terbang!

“Suhu... ahh, tubuh teecu... ringan... ringan sekali! Ehh, bagaimana ini? Dan kaki teecu.... kaki teecu seakan-akan hendak meloncat terbang! Dan... ahh, celaka suhu... tangan teecu pun juga sama, hendak melompat-lompat...! Suhu, bagaimana ini...?”

Bu Kong pucat mukanya dan tiba-tiba saja kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak sendiri tanpa diminta! Tentu saja pemuda itu menjadi gelisah dan ngeri karena dia merasa seolah-olah ada roh iblis di dalam tubuhnya yang minta keluar! Pemuda ini memang tidak tahu bahwa lorong gaib yang menyinari tubuhnya dalam setengah menit tadi telah membuat banyak perobahan di dalam tubuhnya. Jalan darah Sin-liong-hiat (Jalan Darah Naga Sakti) yang oleh Bangsa India disebut pula sebagai Kundhalini Shakti, berkat penyinaran Maha Surya berhasil dijebol dari sumbatannya.

Sebagimana diketahui, pada diri setiap orang manusia terdapat inti kekuatan gaib yang bersembunyi di dalam Kundhalini Shakti itu. Hanya karena banyak orang tidak tahu, maka kekuatan suci yang maha dahsyat ini "tidur" dalam tubuh manusia dan hanya apabila karena dorongan tiba-tiba karena pengaruh Alam sajalah maka kekuatan pokok itu "bangun". Tentu saja bukan suatu hal mudah untuk membangunkan kekuatan gaib ini. Tidak sembarang orang bisa dan belum tentu dari sejuta orang akan terdapat satu yang berhasil.

Maka tidaklah heran jika Bu Kong yang baru saja sadar dari samadhinya yung khusuk selama tujuh hari itu merasa kaget dan ngeri. Bergolaknya tenaga raksasa yang tadi dikerahkan dari daerah tan-tian tiba-tiba saja bergolak. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menghentikannya. Perasaan ini masih terlalu asing baginya dan pemuda itu mirip sebuah motor yang sudah distarter akan tetapi, tidak tahu cara mematikannya!

Tentu saja runyam. Getaran di dalam tubuhnya kian lama kian dahsyat dan Bu Kong akhirnya menggigil seperti orang kedinginan. Dia merasa tenaga yang amat dahsyat itu membanjir di dalam tubuhnya, seperti tanggul jebol yang minta jalan keluar.

“Suhu, teecu.... teecu tidak tahan.... tenaga ini bergolak terus-menerus! Bagaimana menghentikannya? Aduh, teecu merasa seperti ditiup, suhu.... seperti balon yang akan meledak...! Uhh... uhh celaka...!”

Bu Kong terhuyung-huyung dan kedua matanya merah, memandang gurunya dengan mata terbelalak lebar. Akan tetapi, karena dia merasa tenaga yang amat dahsyat melembung di dalam tubuhnya, maka kelopak matanya menyipit tertutup gelembung hawa sakti itu dan hampir terpejam.

Pada saat itu, Malaikat Gurun Neraka yang juga merasa terkejut sebab sama sekali tidak menyangka bahwa perobahan yang terjadi demikian cepatnya, sedikit merasa tegang juga melihat keadaan muridnya itu. Untunglah, pendekar sakti yang telah banyak makan asam garam dunia kehidupan itu tidak digoncangkan perasaan cemas.

Hanya sedetik dia merasa gugup dan di lain saat diapun sudah dapat mengambil keputusan. Dilihatnya awan hitam bergumpal-gumpal di atas padang pasir. Seluruh permukaan gurun gelap tak mendapatkan cahaya matahari karena terhalang mendung tebal di angkasa. Dan angin yang tadi berkesiur dingin kini tiba-tiba menderu bergemuruh.

Samudera pasir di Gurun Neraka mulai bergerak. Mula-mula mereka berombak lemah naik turun mengalun santai. Akan tetapi, ketika angin dari Utara mulai meniup kencang, segeralah ombak pasir ini membesar, bergelombang seperti ombak di Laut Lam-hai! Segeralah semuanya menjadi gemuruh. Deru angin topan yang datang itu membuat lautan pasir di Gurun Neraka bergelombang setinggi tiga sampai lima meter, merupakan dinding pasir yang bergerak hidup naik turun di atas gurun!

Mulailah badai mengamuk. Gerakan pasir yang didorong oleh tiupan angin topan ini segera disusul oleh kilatan sinar cemerlang di langit hitam. Petir berkelebat dan sedetik kemudian terdengarlah suatu ledakan halilintar di balik mendung-mendung raksasa itu seakan-akan pekik Dewa Hujan yang memberikan komando bagi pasukannya untuk menyerang!

Dan mulailah Gurun Neraka diamuk badai. Hujan turun seperti dicurahkan dari langit angin menderu kencang bergemuruh dan lautan pasir kini bangkit melawan membentuk dinding-dinding hidup yang berjalan di atas gurun seolah-olah hendak menentang datangnya serangan lawan! Sungguh mengerikan! Namun, hal inilah yang justru ditunggu-tunggu oleh pendekar sakti itu. Begitu badai yang dinanti-nantikan ini tiba, Malaikat Gurun Neraka mengeluarkan pekik dahsyat dan tiba-tiba menendang tubuh Bu Kong.

“Dess!” pemuda itu terlempar bergulingan ke tengah gurun yang sedang mengganas ini dan sejenak Bi Kong terkejut. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa jawaban yang diberikan suhunya itu berupa tendangan!

“Suhu....!” dia berteriak kaget namun suaranya lenyap ditelan gemuruhnya badai. Dan pada saat itulah tiba-tiba Bu Kong mendengar bisikan suara Coan-im-jip-bit dari gurunya yang menembus segala kegaduhan,

“Kong-ji, ujian bagi dirimu telah tiba. Tenaga dahsyat yang bergolak di dalam tubuhmu harus cepat kau salurkan keluar. Kalau tidak, tubuhmu benar-benar akan meledak. Badai telah datang dan kau harus berjuang menyelamatkan diri dari dinding-dinding pasir yang berjalan ini. Cepat, pergunakan Jouw-sang-hui-teng dan lompatlah ke puncak gelombang pasir itu agar kau tidak tertimbun binasa. Akan tetapi, kalau dinding-dinding pasir yang berjalan ini berada di depanmu, kau harus memukulnya buyar. Nah, kerjakan baik-baik petunjukku ini dan semoga kau berhasil....”

Itulah suara gurunya yang dikerahkan dengan tenaga khi-kang melalui Coan-im-jip-bit dan Bu Kong tidak dapat bertanya lagi. Dia dilempar ke tengah badai yang sedang mengganas, dan tiba-tiba sebuah dinding pasir setinggi empat meter menghampiri dirinya dengan cepat dan siap menguburnya hidup-hidup!

Tentu saja Bu Kong terkesiap. Selama bertahun-tahun berada di gurun ini, belum pernah ada badai seperti itu. Menurut gurunya, badai yang melanda padang pasir ini terjadi setiap dua puluh tahun sekali dan sekarang dengan mata kepala sendiri dia melihat kedahsyatan badai itu, tentu saja dia terkejut.

“Ahhh....!” Bu Kong berteriak dan secepat kilat dia memukul ke depan. Inilah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri karena untuk melompat dia sudah tidak keburu lagi.

“Blaarrr....!” Sungguh mengejutkan dan Bu Kong sendiri terbelalak. Dinding pasir setinggi empat meter itu tiba-tiba roboh seperti kain basah dan ambruk di atas gurun, lenyap tidak berbekas.

Bu Kong tertegun dan dari jauh terdengar seruan gurunya, “Bagus...!”

Suara ini membuat pemuda itu meluap semangatnya dan ketika dinding pasir yang kedua datang menghampirinya, Bu Kong melengking nyaring dan menghantam ke depan. “Desss....!” dinding pasir itu terpental roboh dan muncrat berhamburan. Bu Kong girang sekali melihat kenyataan ini dan dia terutama merasa gembira ketika merasakan bahwa kepalanya yang tadi pening penuh hawa itu sekarang agak berkurang, enteng dan nyaman.

Mengertilah dia kini mengapa gurunya tadi memerintahkan agar dia menyalurkan kelebihan hawa sakti yang masih liar itu dengan memukul dinding pasir. Selain untuk menyelamatkan diri dari timbunan dinding-dinding pasir itu, juga sekaligus untuk mengurangi gelembung hawa sakti yang bergolak di dalam tubuhnya. Maka ketika dirinya diserbu dinding pasir yang berjalan kencang setinggi rumah susul-menyusul ini, Bu Kong tiba-tiba tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, hayo sahabatku Gurun Neraka, marilah kita bermain bersama-sama sampai kita kehabisan tenaga, lihat siapa yang lebih unggul, kau atau aku....!”

Pemuda itu berteriak dan segera disambutnya gelombang pasir ini dengan muka gembira. Dihantamnya dinding-dinding pasir itu, dirobohkannya mereka dan segera tubuhnya lenyap tergulung ombak-ombak pasir yang membukit itu.

Malaikat Gurun Neraka sendiri yang menonton dari kejauhan, kini tak dapat melihat muridnya lagi yang bergerak semakin ke tengah. Dinding pasir yang tinggi itu menghalangi pandangannya ke depan dan dengan hati berdebar pendekar sakti ini hanya mengandalkan ketajaman pendengarannya. Pekik dan teriakan muridnya itulah yang dijadikan pegangan. Hal ini berarti bahwa selama itu muridnya masih selamat. Akan tetapi, kalau suara muridnya hilang, tentu sedang terjadi sesuatu, yang mengancam keselamatan pemuda itu.

Dan kalau hal ini terjadi, tentu saja dia tidak akan berpeluk tangan. Secepat mungkin dia harus menolong muridnya itu, akan tetapi, hal ini berarti ujian yang ditempuh muridnya gagal. Dan kalau terjadi kegagalan ini, berarti Bu Kong belum siap untuk menerima tiga jurus sakti yang merupakan inti Lui-kong Ciang-hoat. Maka hal ini cukup menegangkan juga. Di satu pihak pendekar sakti itu ingin agar Bu Kong berhasil. Namun, di lain pihak, dia juga agak merasa gelisah apabila muridnya yang sedang 'bertanding' di tengah badai yang mengganas itu sampai tewas terkubur hidup-hidup.

Sementara itu, Bu Kong yang sedang berteriak-teriak di tengah badai dikepung puluhan dinding berjalan. Berkali-kali pemuda ini berhasil menyelamatkan diri dan memukul robah serangan lawan, namun, akhirnya terasa juga olehnya bahwa kian lama tenaganya kian lemah. Dan dalam keadaan seperti itu, di mana dia tidak sempat memukul ke depan, maka jalan satu-satunya ialah mengerahkan Jouw-sang-hui-teng dan dengan ilmunya meringankan tubuh tingkat tinggi itu, Bu Kong melompat di atas dinding pasir dan melampauinya.

Akan tetapi, karena di mana-mana selalu terdapat bukit-bukit pasir itu, maka di mana saja kakinya mendarat, maka di situ pula tubuhnya selalu terkurung. Akibatnya, pemuda ini terpaksa melompat-lompat dari satu puncak gelombang ke lain puncak berikutnya seperti burung besar yang beterbangan tiada henti. Mengandalkan ilmu gin-kangnya yang disebut Jouw-sang-hui-teng, memang dapat dia menyelamatkan diri dari timbunan ombak-ombak pasir setinggi bukit anakan itu. Akan tetapi, kalau hal itu terjadi ribuan kali mana Bu Kong sanggup bertahan tanpa merasa lelah?

Tenaga sakti yang bergolak dahsyat di dalam tubuhnya sudah disalurkan sehingga kekuatan yang seperti air banjir itu telah mendapatkan jalan keluarnya. Kaki tangan yang tadi bergerak-gerak sendiri kini sudah normal kembali dan pemuda ini merasa betapa tubuhnya ringan bukan main. Lompatan-lompatannya sekarang di luar dugaan. Kalau dulu dia mampu melompat setinggi empat lima tombak adalah sekarang dia mampu melompat sampai belasan tombak sehingga puncak bukit pasir yang paling atas pun sudah jauh di bawah kakinya!

Tentu saja hal ini amat menggembirakan, namun untuk pertama dan kedua kalinya hampir saja dia celaka. Lompatan yang terlampau tinggi dan sama sekali di luar dugaan itu membuat keseimbangan tubuhnya tidak terkendalikan. Dan ketika jatuh kembali, hampir saja dia teruruk dinding pasir yang selalu menghantamnya. Syukurlah, setelah beberapa kali melambung di udara, mulailah dia mampu mengendalikan diri sendiri sehingga kini lompatan-lompatannya berdasarkan Jouw-sang-hui-teng mampu diatur sedemikian rupa.

Saking asyik dan gembiranya beterbangan di antara gelombang badai, Bu Kong tidak tahu lagi berapa lama berada di situ. Badai pasir yang menerjang ganas itu kini tidak dianggapnya sebagai lawan, akan tetapi, malah sebagai teman bermain. Tentu saja permainan yang amat berbahaya karena sekali lengah, tidak mustahil dirinya bakal terkubur hidup-hidup ditelan bukit pasir yang didorong angin topan dahsyat itu.

Akhirnya, lima jam sudah berlalu dan satu-satunya tanda yang dirasakan pemuda itu adalah rasa lelah yang amat sangat. Sekarang, teringatlah dia apa yang sedang terjadi. Pakaiannya robek-robek, rambutnya basah awut-awutan, dan seluruh tubuhnya pun basah kuyup ditimpa hujan yang seakan dituangkan dari langit.

Napasnya mulai terengah-engah dan sekarang Bu Kong tidak melengking-lengking lagi seperti tadi. Ombak pasir yang membukit juga tidak seganas mula-mula dan anginpun mulai reda. Namun, hal ini tidak berarti Bu Kong sudah bebas dari bahaya. Tidak, gelombang besar masih sekali dua menyerang dirinya dan ketika Bu Kong benar-benar kehabisan tenaga, lompatannya kurang cepat dan tubuhnya tertimbun pasir.

Pemuda itu terkejut, mukanya pucat, dan dia tidak dapat tertawa-tawa lagi. Cepat dia mengerahkan tenaga untuk keluar dari urukan itu, akan tetapi, baru setengah berhasil tiba-tiba gelombang yang kedua menghantamnya tanpa ampun. Akibatnya, tubuh pemuda itu kembali terjengkang dan setiap kali dia mencoba keluar, setiap kali itu pula dia kurang cepat sehingga selalu didahului lawan.

Mulailah pemuda ini mengeluh. Sekarang dia sukar untuk membebaskan diri dan tubuhnya sebatas paha terkubur di dalam pasir. Gelombang masih tetap menyerang dan karena tidak dapat mengelak, maka satu-satunya jalan adalah memukulkan kedua lengannya membuyarkan gulungan ombak pasir itu.

Akan tetapi, seperti telah dikatakan tadi, berjuang melawan badai selama lima jam bukanlah suatu hal mudah. Tenaganya sudah terkuras banyak dan tubuhnya lemas bukan main. Oleh karena itu, meskipun pukulan-pukulannya berhasil membuyarkan bukit pasir itu, akan tetapi, karena dia tak dapat mengelak, maka ambruknya pasir-pasir ini menimpa dirinya dan kian lama kian dalam juga tubuhnya terkubur.

Akhirnya, Bu Kong benar-benar menjadi pucat ketika timbunan pasir ini sudah mencapai lehernya! Kedua tangannya benar-benar tak dapat digerakkan lagi dan kini yang tampak hanya kepalanya yang nongol di atas permukaan gurun! Dan ketika dua kali gelombang pasir menerjangnya datang, pemuda ini mengeluh dan pingsan tak sadarkan diri. Namun, bertepatan dengan robohnya pemuda ini, badai di atas gurunpun berhenti. Segalanya menjadi seperti sediakala dan sunyi melengang.

Malaikat Gurun Neraka yang sudah tidak mendengar suara muridnya ini cepat bergerak mencari-cari dan akhirnya dengan muka tegang, dia mendapatkan kepala muridnya itu terkulai di atas gurun sedangkan seluruh bagian bawah tubuhnya terkubur hidup-hidup! Tentu saja pendekar sakti ini cemas. Sekali berkelebat dia menghampiri tempat itu, akan tetapi setelah melihat bahwa Bu Kong hanya pingsan saja, hatinya lega kembali dan segera ditariknya tubuh muridnya itu dari timbunan pasir.

Demikianlah, dengan cepat pendekar ini lalu membawa Bu Kong ke tempat tinggalnya dan memberikan pertolongan terhadap muridnya yang kehabisan tenga itu. Diam-diam dia merasa gembira karena ujian berat yang dilalui pemuda ini telah berhasil dan ini berarti Bu Kong sudah pantas untuk menerima warisan tiga jurus inti ilmu silat Lui-kong Ciang-hoat.

Malam itu pemuda ini masih pingsan dan baru pada keesokan harinya dia sadar kembali dan membuka matanya. Melihat bahwa dia berada di gua tempat tinggal gurunya, pemuda ini segera melompat bangun dan dilihatnya gurunya itu duduk bersila di atas batu hitam yang biasa menjadi tempat samadhinya.

“Suhu....!” Bu Kong berseru dan berlutut di depan batu hitam.

Malaikat Gurun Neraka membuka matanya, tersenyum sambil mengelus jenggot pendeknya. “Hemm, kau sudah siuman? Bagus, Kong-ji, kau kunyatakan lulus dalam ujian ini!”

Tentu saja Bu Kong girang dan cepat membenturkan dahinya di atas lantai gua. “Terima kasih suhu, dan ini semua adalah berkat pertolongan suhu. Kalau tidak, mana teecu dapat berhasil melawan badai seganas itu? Sungguh Iuar biasa sekali. Belum pernah teecu melihat badai seganas itu di Gurun Neraka ini. Akan tetapi, bukankah teecu untuk terakhir kalinya terkubur di atas gurun? Bagaimana teecu dapat lolos, suhu?”

Malaikat Gurun Neraka tersenyum. “Tepat pada saat kau pingsan badaipun berhenti. Maka itulah sebabnya kau selamat. Syukurlah semuanya sudah berlalu dan kau berhak untuk mewarisi tiga jurus inti ilmu Silat Lui-kong Ciang-hoat.”

“Terima kasih, suhu...” Bu Kong kembali berseru perlahan.

Malaikat Gurun Neraka lalu melompat turun dari atas batu hitam dan berkata, “Sekarang kira pergi ke hutan di tepi gurun!” dan belum lenyap kalimatnya, pendekar itu sudah melesat keluar seperti iblis.

Bu Kong bangkit berdiri dan agak heran, namun melihat suhunya sudah berada jauh di depan, cepat dia mengejar dan mengerahkan gin-kangnya. Sungguh mengherankan dan Bu Kong sendiri terkejut. Begitu dia melompuat mengejar, tiba-tiba tubuhnya melesat seperti anak panah yang dilepaskan dari busur dan pintu gun yang jaraknya ada sepuluh meter itu terlewati dalam sekali lompat!

Tentu saja pemuda ini bengong sendiri dan sekarang tahulah dia mengapa suhunya itu mengajak dia ke hutan. Agaknya hendak mencoba kemajuan gin-kangnya. Semangat Bu Kong meluap dan sekali menarik napas panjang menyedot hawa segar melembungkan paru-parunya, dia lalu meluncur ke depan mengejar bayangan gurunya yang merupakan titik kecil di depan.

Sekarang tampaklah dua bayangan yang berlari cepat di atas permukaan padang pasir itu, Malaikat Gurun Neraka di depan dan muriddnya di belakang. Mula-mula jarak di antara mereka ada dua ratus meter lebih, akan tetapi, lama-lama Bu Kong dapat memperpendek jarak ini. Bu Kong mengira gurunya memperlambat larinya agar dia segera menyusul, tidak tahu betapa sesungguhnya pendekar sakti itu tidak pernah mengurangkan tenaganya dan selalu tancap gas!

Akhirnya, ketika mereka hampir sampai di tepi gurun, pemuda ini berhasil menyamai gurunya dan dia melihat betapa muka orang tua itu merah dan keringat membasahi dahinya. Tentu saja Bu Kong terheran. Dia sendiri merasa napasnya masih ringan dan enak, akan tetapi, gurunya itu sudah agak memburu dan keningnya berkerut. Namun, dia masih menyangka bahwa kelebihannya ini adalah karena faktor usia. Gurunya sudah cukup tua, dan bagi orang tua memang wajar jika napasnya kalah panjang dibandingkan orang muda.

Akan tetapi, dia terkejut ketika tiba-tiba gurunya membentak, “Hayo kita berlomba mencapai pohon siong tua di tepi hutan. Kalau kau kalah, aku hanya akan memberikan satu jurus inti Lui-kong Ciang-hoat!”

Tentu saja kata-kata gurunya ini mengejutkan. Bu Kong terbelalak dan mendadak tubuh orang tua itu terbang dengan kecepatan penuh! Sekejap saja, dia ketinggalan dua puluh lima meter! “Ahh....!” Bu Kong berseru kaget dan pada saat itu, tubuh gurunya telah melampaui tepi gurun dan terbang mendekati pohon siong tua yang tinggi besar dan tampak paling jelas dari tengah gurun.

Karena putusan gurunya tidak dapat ditawar-tawar dan orang tua itu sendiri sudah melesat di depan sana, maka Bu Kong lalu melengking dan kedua kakinya menotol bergantian di atas tanah. Seluruh kekuatannya dikumpulkan dan tiba-tiba saja tubuhnya melontar ke depan dengan kecepatan kilat.

Sungguh menakjubkan. Karena pemuda ini sekarang telah memiliki tenaga sakti yang biasa hebatnya, maka setiap lompatan yang jauhnya sepuluh meter lebih itu membuat tubuhnya meluncur seperti burung garuda dan ketika jarak gurunya tinggal dua puluh meter lagi dari pohon besar itu, tiba-tiba tubuh Bu Kong berkelebat di samping gurunya dan sedetik kemudian dia telah berjungkir balik dan berdiri di atas sebuah cabang tanpa bergoyang!

“Bagus...!” Malaikat Gurun Neraka berseru girang dan pendekar sakti ini juga berjungkir balik dan hinggap di atas dahan dengan gerakan ringan.

Bu Kong tersenyum. “Suhu, kau orang tua aneh sekali. Tadi di gua menjanjikan tiga jurus, akan tetapi, hendak dirobah menjadi satu jurus saja kalau teecu kalah! Bukankah ini terlalu sekali? Bagaimana kalau teecu benar-benar kalah?”

Pendekar itu tertawa. “Kong-ji, kau tidak akan kalah, dan ini kuyakini benar! Tadi dapat kubaca pikiranmu bahwa kau mengira karena aku orang tua, maka tentu saja kau mempunyai napas lebih panjang. Tidak, muridku. dugaanmu tidak betul. Tidak ingatkah engkau ketika terakhir meninggalkan gua beberapa bulan yang lalu, berapakah selisih kepandaian kita? Dalam hal gin-kang, kau setidak-tidaknya ketinggalan dua ratus sampai tiga ratus meter denganku. Dan dalam hal lwee-kang kau masih dua tingkat di bawah tingkatku. Tidakkah demikian?”

Bu Kong mengangguk. “Betul, suhu.”

“Nah, itu dulu. Akan tetapi, sekarang lain lagi, muridku. Kau kini telah memiliki tenaga yang agaknya melampaui tenagaku. Dalam adu gin-kang tadi jelas kau ketinggalan beberapa puluh meter namun, toh kau dapat mendahuluinya dengan cepat. Dan dalam adu tenaga mari kita buktikan lagi. Siapa terdorong dialah yang kalah.”

Malaikat Gurun Neraka melompat turun dari atas pohon dan muridnya juga mengikuti. Dua orang ini berdiri saling berhadapan dan pendekar itu mengangkat tangan kanannya, mendorong ke depan. “Sambut pukulanku!” orang tua ini membentak dan angin panas yang kuat sekali menyambar Bu Kong.

Pemuda itu cepat mengangkat lengan kirinya dan "plakkk" kedua lengan sudah saling tempel. Terjadilah adu tenaga sekarang ini. Bu Kong merasakan gelombang hawa sakti membanjir dari telapak tangan kanan suhunya dan diapun cepat mengimbanginya. Mula-mula dia mengerahkan tenaga tujuh bagian. Akan tetapi, ternyata dorongan hawa panas dari gurunya itu mendesak semakin hebat. Terpaksa dia menambahnya menjadi delapan bagian dan urat-urat lengannya menonjol.

Namun, Malaikat Gurun Neraka yang juga diam-diam ingin mengetahui sampai di mana kemajuan muridnya ini, tidak sabar lagi dan tiba-tiba pendekar itu mengeluarkan bentakan kemudian seluruh tenaganya dikerahkan sehingga mukanya menjadi merah dan urat lehernya tampak. Bu Kong terkejut. Karena suhunya menambah kekuatan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga, hampir saja dia terjengkang roboh.

“Ahh.....!” pemuda ini juga mengeluarkan bentakan dan menambah tenaga pada kaki sehingga bhesi (kuda-kuda) yang dipasangnya menjadi sekokoh baja. Dan berbareng pada saat itu pula dia menyalurkan tenaga saktinya kearah lengan kiri sehingga lengannya bergetar.

Dua orang ini saling mendorong dan sekarang tampaklah bahwa perlahan-lahan tubuh Malaikat Gurun Neraka bagian atas terdorong ke belakang sehingga merupakan busur yang melengkung seperti lingkaran. Akan tetapi, orang tua ini lalu menyedot napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kuat-kuat melalui teriakan keras sehingga tubuhnya kembali maju ke depan dan sekarang muridnyalah yang terdorong ke belakang membentuk busur.

Bu Kong bertahan, mengerahkan segenap kekuatannya dan diapun lalu menyedot napas dalam-dalam seperti gurunya lalu membentak nyaring sehingga tubuh bagian atasnya kembali maju ke depan. Hal ini ganti-berganti dan terjadi berulang-ulang sehingga dua orang itu maju mundur tubuhnya sebatas pinggang sampai ke atas. Sedangkan pasangan kuda-kuda mereka sendiri sama sekali belum mampu tergeser dan adu tenaga ini sungguh menegangkan.

Akhirnya, karena dengan satu tangan belum tampak siapa yang menang dan siapa yang kalah, pendekar sakti itu berseru keras, “Kong-ji, sambut tangan kiriku ini. Jaga.....!”

Secepat kilat orang tua ini menggerakkan tangan kirinya menampar ke depan. Namun Bu Kong segera menyambut dengan tangan kanannya dan kembali terdengar suara "plakkk" yang keras sekali dan sekarang dua pasang tangan jago tua dan muda ini bertemu. Telapak tangan mereka saling dorong dan Bu Kong merasakan betapa kini dari sepasang lengan suhunya itu tenaga yang amat dahsyat seperti air bah membanjir tiba.

Tentu saja dia terkejut dan cepat mengerahkan segenap kekuatannya untuk bertahan. Dan pada detik inilah dia tiba-tiba teringat akan kejadian kemarin, di mana ketika gurunya memerintahkan agar dia membangkitkan tenaga sakti dari tan-tian lalu memutarnya sebanyak tiga kali di dalam pusar, mendadak muncul suatu tenaga dahsyat yang luar biaa hebatnya. Oleh sebab itu, sekarang ketika merasakan gencatan tenaga sakti dari gurunya ini yang amat dahsyat seperti air bah, Bu Kong tiba-tiba mencoba untuk membangkitkan tenaga sakti itu.

Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Begitu pikirannya terpusat dan hawa sakti sudah dibangkitkan dari tan-tian kemudian digerakkan sebanyak tiga kali di dalam perut hinggs pusarnya terasa panas, tiba-tiba saja tenaga sakti ajaib itu timbul! Tenaga ini bergolak seperti seekor naga yang dibangunkan dari tidurnya, Ialu tiba-tiba meluncur ke lengannya tanpa kendali.

Karena Bu Kong memang masih belum mengetahui cara untuk mengendalikan tenaga ajaib itu, maka dia hanya mengikutinya secara membuta. Yang diketahuinya adalah bahwa kalau tenaga sakti ini bangkit, setiap kali itu pula dia mendadak merasakan kepalanya pening. Baru setelah dia menyalurkannya melalui pukulan atau tendangan maka tenaga sakti yang masih liar itu dapat dikeluarkan dan dia sendiri merasa 'plong‘ karena enak dan ringan.

Akan tetapi, hal ini hebat sekali akibatnya bagi Malaikat Gurun Neraka. Pendekar sakti itu tiba-tiba merasakan tolakan arus tenaga yang maha dahsyat dari kedua lengan muridnya dan dia berteriak tertahan. Muka pendekar ini pucat dan ketika dia mencoba bertahan, kekuatannya patah dan kedua kakinya terdorong mundur satu langkah ke belakang dan tanah tergurat lima sentimeter oleh seretan kakinya!

“Ahhh....” pendekar itu berseru keras dan karena dia maklum betapa hebat dorongan tenaga ini, dia tidak berani berlaku ayal. Secepat kilat dia melepaskan diri dan membanting tubuh bergulingan ke samping lalu mencelat dan berjungkir balik melakukan salto enam kali di udara.

lndah dan hebat gerakan pendekar itu, akan tetapi, masih Iebih hebat akibat dari dorongan kedua lengan Bu Kong yang tidak mendapatkan sasarannya lagi. Pukulan tenaga sakti pemuda itu terus meluncur ke depan dan.... "brakk" pohon siong tua yang tadi dibuat patokan adu gin-kang oleh mereka hancur batangnya dan roboh dengan suara hiruk pikuk!

Bu Kong tertegun, matanya terbelalak dan dia hampir tidak mempercayai apa yang dilihatnya itu. Perlu diketahui di sini bahwa dalam adu sin-kang tadi, guru dan murid ini sama sekali tidak mempergunakan tenaga sakti Lui-kong Ciang-hoat. Karena pertandingan yang dilakukuan adalah untuk membuktikan kepada pemuda itu tentang kemajuannya, bukan adu saling bunuh, maka tenaga yang mereka kerahkan adalah tenaga sin-kang biasa. Namun inipun bukan berarti tidak berbahaya. Sedikit saja pendekar itu terlambat mengelak, maka nasibnya akan sama dengan pohon besar yang roboh terpukul itu!

Maka tentu saja Bu Kong terkesiap. Begitu sadar, cepat dia berlari menghampiri suhunya dan menjatuhkan diri berlutut dengan muka pucat. “Suhu, mohon diampunkan kesalahan teecu. DaIam saat terakhir tadi teecu tidak dapat mengendalikan diri dan kalau suhu menyatakan teecu bersalah, teecu siap menerima hukuman!”

Malaikat Gurun Neraka menghapus peluhnya lalu melangkah maju mendekati muridnya. Dia tertawa dan menepuk pundak pemuda itu sambil berkata, “Muridku, bangunlah. Aku lebih mengetahui hal ini daripada dirimu. Ternyata bahwa tenaga sakti yang kau peroleh dari samadhi di gurun pasir selama tujuh hari itu benar-benar luar biasa sekali. Akan tetapi, kulihat engkau belum mampu mengendalikannya. Nah, coba sekarang kau ikuti petunjukku ini. Berjungkir baliklah di atas tanah, pejamkan kedua mata dan tarik napas dari hidung lalu hembuskan kuat-kuat melalui mulut. Ya, begitu... sekarang kerahkan tenaga, salurkan ke jalan darah teng-ku-hiat, lalu dorong ke pun-kauw-hiat... nah, sekarang awas, aku akan menotok yan-goat-hiat!”

Demikianlah, pendekar sakti ini lalu memberi petunjuk-petunjuk kepada pemuda itu dan Bu Kong merasa betapa tiba-tiba tenaga mujijat yang setiap kali dibangkitkan selalu bergolak liar itu sekarang mulai berjalan teratur. Tentu saja dia gembira dan dengan penuh semangat mengikuti perintah-perintah gurunya itu. Satu jam mereka bekerja dan Malaikat Gurun Neraka akhirnya berhenti memberikan petunjuk. “Kong-ji, coba kau berdiri seperti semula,” pendekar ini berkata dengan wajah berseri.

Bu Kong melompat bangun dan berdiri dengan kedua kaki di atas tanah. Mukanya kemerahan dan dia tidak tahu betapa tiba-tiba sekarang sepasang matanya lebih mencorong dan bersinar-sinar daripada tadi.

“Nah, kini pusatkan konsentrasi ke arah lengan kanan. Pegang batu itu. Kita lihat, apa yang terjadi?” pendekar itu memberikan sebuah batu sebesar kepalan tangan kepada muridnya.

Bu Kong menurut. Diterimanya batu itu dan segera dipusatkannya seluruh perhatian ke arah lengan kanannya. Pemuda ini merasa betapa tiba-tiba arus tenaga sakti di dalam tubuhnya bergerak ke arah lengan itu dan...."kress" batu yang dipegangnya hancur menjadi tepung!

“Ahh.....” Bu Kong berseru kaget dan terbelalak. Dia tadi hanya memusatkan kekuatan pada Iengan, sama sekali belum berniat untuk meremas, akan tetapi batu yang dipegangnya sudah terlebih dahulu remuk menjadi debu! Tentu saja penuda itu terkejut, namun, gurunya malah tertawa girang.

“Bagus, hasil yang kau capai benar-benar hebat sekali, Kong-ji! Dengan demikian, akupun belum tentu akan dapat mengalahkan muridku sendiri sekarang ini. Ha-ha. Cheng-gan Sian-jin sekarang juga sudah bukan tandinganmu Iagi! Akan tetapi, ilmu hitamnya amat berbahaya, dan untuk ini kau harus menguasai tiga jurus inti ilmu silat Lui-kong Ciang-hoat.”

Bu Kong menjatuhkan diri berlutut den batinnya diliputi keharuan besar. Diam-diam dia tertegun mendengar ucapan gurunya ini yang menyatakan bahwa dia sekarang belum tentu dapat dirobohkan gurunya itu! Tentu saja pernyataan ini hebat sekali baginya. Kalau orang tua itu telah berkata seperti itu, maka hasil yang dicapainya benar-benar luar biasa.

“Suhu....” Bu Kong berkata dengan suara menggetar. “Teecu menghaturkan beribu-ribu terima kasih atas semua jerih payah suhu terhadap teecu sehingga dapat mencapai kemajuan yang demikian pesat. Kalau suhu berani memastikan bahwa Cheng-gan Sian-jin sudah dapat teecu atasi, sungguh hal ini amat menggembirakan hati teecu dan mudah-mudahan kelak teecu akan berhasil membunuh iblis tua yang telah membuat hidup teecu terhina!”

Pemuda ini mengepal tinjunya dan nama Cheng-gan Sian-jin yang disebut-sebut gurunya itu mengingatkan dia akan semua peristiwa memalukan yang dialaminya di kota raja Wu. Betapa hebat kemarahannya kepada datuk sesat itu serta murid perempuannya, hal ini sukar diukur lagi. Maka keterangan suhunya tadi tentu saja amat menggembirakan hatinya.

Malaikat Gurun Neraka tersenyum pahit dan tiba-tiba sikapnya kembali keren. “Kong-ji, dendam yang kau rasakan terhadap Cheng-gan Sian-jin dapat kumaklumi. Akan tetapi, ingat pesanku ini, kalau kelak engkau berhasil membunuh lawanmu, jangan disebabkan dorongan dendam pribadi, melainkan didorong oleh rasa keadilan yang melihat dunia terancam oleh sepak terjang iblis tua itu. Mengertikah engkau?”

Bu Kong menganggukkan kepalanya. “Teecu mengerti, suhu, dan mudah-mudahan teecu akan selalu ingat pesan ini.”

“Nah, itu baru baik. Sekarang mari kita curahkan seluruh perhatian kita kepada tiga jurus ilmu silat yang amat dahsyat yang hendak kuwariskan kepadamu ini. Akan tetapi, sebelumnya harap kau bersumpah di depan hiolouw untuk mempergunakan ilmu silat terakhir ini hanya untuk membela kebenaran!”

Pendekar ini mengeluarkan hiolouw (tempat hio) dan menancapkan dupa lalu duduk bersila dengan punggung tegak dan sinar mata tajam. Inilah syarat pertama yang harus dilakukan oleh muridnya yang hendak mendapatkan warisan ilmu silat simpanan.

Bu Kong kembali menjatuhkan diri berlutut, menerima beberapa batang hio yang sudah dibakar dan mulailah pemuda ini bersumpah dengan suara sungguh-sungguh, “Teecu Yap Bu Kong bersumpah disaksikan langit dan bumi, bahwa teecu kelak akan mempergunakan warisan ilmu silat tiga jurus inti Lui-kong Ciang-hoat hanya untuk membela kebenaran dan keadilan. Kelak apabila teecu melanggar sumpah, biarlah Dewa Kematian mencabut nyawa teecu secara mengerikan!”

Malaikat Gurun Neraka mendengarkan sumpah muridnya dan pendekar itu tampak puas. Dengan wajah berseri dia mendorong pundak muridnya dan melompat berdiri, menyimpan kembali hiolouw itu dan memadamkan apinya. “Bagus, sekarang lihat baik-baik jurus pertama ini....” pendekar sakti mulai berkata berkata dan Bu Kong memandang dengan penuh perhatian. “Jurus ini kunamakan Sin-jiu Tong-tee (Tinju Sakti Getarkan Bumi) dan sesuai dengan namanya, maka seluruh kekuatan sin-kang terpusat di kedua lengan.”

Malaikat Gurun Neraka lalu membentuk kuda-kuda sejajar, kedua lutut ditekuk sedikit. Iengan kanan dikepal dan terangkat sebatas pundak, tangan kiri juga membentuk kepalan dan kedua mata lurus ke depan. “Lihat pohon itu. Bagian tengahnya kuumpamakan perut lawan, tangan kiri kita tarik ke sisi pinggang dan berbareng dengan gerakan ini kita menarik napas sedalam-dalamnya. Nah, perhatikan, sasaran dari jurus pertama ini dua macam. Pertama perut lawan dan kedua adalah batok kepalanya!”

Bu Kong mendengarkan dan dia mengingat sikap jurus itu penuh perhatian. Dia melihat betapa lengan gurunya menggetar tanda kekuatan sin-kang sudah terpusatkan di situ dan tiba-tiba pendekar itu membentak. “Awas, lihat baik-baik. Haiitt....!”

Bersamaan dengan seruan menggeledek ini tiba-tiba tubuh Malaikat Gurun Neraka berkelebat ke depan. Tangan kiri dan tangan kanannya bergerak secepat kilat dan tampaklah dua sinar putih berkilauan menyambar pohon itu.

“Plak-plakk!”

Perlahan saja suara ini dan dua buah pukulan beruntun itu dengan tepat mengenai sasarannya. Bu Kong melihat pohon itu sama sekali tidak bergoyang dan hanya di dua tempat tampak warna kehitaman seperti kulit gosong. Dia tidak mengerti mengapa pukulan yang seampuh itu ternyata sama sekali tidak dapat merobohkan pohon itu. Padahal biasanya, dengan sin-kang yang dimilikinya dan dengan jurus biasa saja dia sanggup merobohkan pohon ini.

Akan tetapi, pukulan gurunya hanya menimbulkan bekas kehitaman di kulit pohon dan pohon itu sendiri bergoyang sedikitpun tidak! Tentu saja dia merasa heran dan memandang gurunya dengan mata terbelalak. Akan tetapi, Malaikat Gurun Neraka tampak puas dan wajahnya berseri.

“Kong-ji, bagaimana akibat pukulan jurus pertama ini?”

“Suhu, jurus ini teecu lihat memang hebat. Namun, kenapa agaknya kalah lihai dengan jurus-jurus biasa dari Lui-kong Ciang-hoat yang teecu miliki?” jawab pemuda itu terus terang. “Kalau teecu yang memukul, pohon itu pasti roboh, akan tetapi, ketika suhu yang melancarkan jurus Sin-jiu Tong-tee tadi, bergoyang sedikit saja tidak! Di mana kehebatannya, suhu?”

“Ha ha ha...! Justeru inilah kehebatannya, muridku. Tidak tampak namun sebenarnya berisi. Hal ini jauh lebih baik daripada berisi namun, kosong. Lihatlah....!”

Pendekar itu menepuk perlahan di tempat bekas pukulannya yang membuat kulit pohon tersebut kehitaman dan... Tiba-tiba pohon besar itu roboh dengan suara keras!

Bu Kong mengeluarkan seruan tertahan dan dia melihat bahwa pukulan suhunya tadi ternyata telah menghancurkan bagian dalam pohon siong itu sehingga menjadi busuk! Hanya luarnya saja yang tidak rusak, dan dilihat dari jauh pohon ini seakan-akan masih kokoh. Padahal, kalau angin bertiup sedikit kencang saja pohon itu pasti segera ambruk seperti yang dibuktikan gurunya tadi dengan tepukan perlahan!

“Ahh, hebat suhu... hebat...!” Bu Kong berseru memuji dan pendekar itu tersenyum lebar.

“Nah, sekarang kau mengerti betapa hebatnya jurus pertama ini. Dan sebelum kita meneruskan kepada jurus kedua, coba kau melatihnya. Kalau sudah sempurna, maka kita akan menginjak jurus kedua yang kunamakan Lui-kong-tong-tee (Dewa Geledek Getarkan Bumi). Jurus pertama meluncur tanpa suara, akan tetapi, jurus kedua ini akan mengeluarkan ledakan seperti geledek sendiri. Tentu saja kehebatannya melebihi jurus pertama. Akan tetapi, sekarang cobalah dulu jurus pertama dan nanti kita teruskan pada jurus-jurus berikutnya.”

“Baik, suhu,” Bu Kong berkata girang dan dia lalu memasang bhesi yang disebut kuda-kuda sejajar dan tangan kanan terkepal diangkat sebatas pundak sedangkan tangan kiri menempel pinggang. Demikianlah, setelah gurunya membenarkan sana-sini karena sikap-sikap yang kurang sempurna seperti tarikan napas yang harus tepat, pandangan yang penuh konsentrasi dan sebagainya, orang tua itu lalu memberikan aba-aba dan Bu Kong mencelat ke depan sambil berteriak keras. Yang menjadi sasarannya juga sebatang pohon besar yang banyak terdapat di hutan itu, dan pemuda ini melakukan pukulannya dengan penuh semangat sekali.

“Plak plak! Braakkk....!”

Pohon itu terpukul telak, namun, tidak seperti gurunya yang sama sekali membuat pohon itu tak bergeming, malah pukulan pemuda ini langsung menumbangkan sasarannya dan roboh dengan suara hiruk-pikuk! Bu Kong berseru kecewa dan memandang gurunya yang tertawa bergelak melihat hasil yang tidak sempurna ini.

“Ha ha, Kong-ji, pukulanmu sebenarnya sudah tepat, akan tetapi, tenagamu yang terlalu hebat! Kau kelewat semangat sehingga seluruh tenaga sin-kang kau hantamkan semua. Salah. Bukan begitu mestinya karena seharusnya tenaga tidak boleh dikerahkan semua. Ingat, kita harus menyimpan sebagian tenaga untuk melancarkan serangan pada jurus kedua dan ketiga. Kalau dalam jurus pertama ini belum apa-apa sudah dibuang semua, kau tidak akan berhasil melakukan serangan dari jurus-jurus berikutnya. Hayo, ulangi dan ingat, tenaga tidak boleh berlebih-lebihan.”

Pendekar itu memberikan petunjuk-petunjuk dan Bu Kong lalu mengulangi latihannya. Memang mula-mula dia belum sempurna betul, akan tetapi setelah empat lima kali berlatih, akhirnya dia dapat juga membuat pukulannya mendarat di sasaran tanpa membuat pohon itu bergoyang!

“Bagus!” Malaikat Gurun Neraka berseru girang melihat hasil yang diperoleh muridnya ini dan pendekar itu lalu mengajarkan jurus-jurus berikutnya.

Jurus kedua dinamakan Lui-kong-tong-tee dan jurus ini memang lebih mengerikan lagi. Ketika Malaikat Gurun Neraka sendiri yang mempraktikkannya, sasaran yang terkena pukulan dahsyat ini langsung tersambar roboh tanpa disentuh! Pukulan inilah yang dulu pernah dilihat Bu Kong ketika dia hendak kembali ke Yuen setelah menghabiskan masa cutinya. Dan pohon yang terkena pukulan ini mengeluarkan asap seperti disambar petir!

Jurus demi jurus pendekar sakti itu mengajar muridnya dan hampir sehari penuh mereka berlatih. Akhirnya, ketika matahari sudah condong ke barat dan senja mendatang, jurus ketiga, yang merupakan jurus terakhir diberikan kepada pemuda ini. Jurus ini merupakan jurus yang paling dahsyat dan mengerikan, namanya Cio-po-tee-keng (Batu Meledak Bumi Gempar), dan jurus ini merupakan jurus paling sukar dipelajari sehingga Bu Kong harus mengingat semua teori yang diberikan gurunya.

“Kong-ji,” demikian pendekar itu berkata dengan suara sungguh-sungguh dan sikap serius. “Jurus ketiga ini merupakan jurus pamungkas. Jika tidak perlu betul, kularang engkau menggunakan jurus ini. Biasanya apabila kita terdesak, cukup dengan satu dua jurus saja kita dapat mengalahkan lawan, tidak usah sampai jurus ketiga. Bahkan ketika melawan Cheng-gan Seng-jin, akupun hanya mengeluarkan sampai jurus kedua saja dan hasilnya sudah cukup memuaskan. Ketahuilah, ada rahasia besar di sini yang hendak kuceritakan sedikit kepadamu sehingga mengapa aku menciptakan jurus ketiga yang bernama Cio-po-tee-keng itu.”

Pendekar sakti ini lalu duduk bersila dan Bu Kong mendengarkan penuh perhatian. “Pertama-tama satu hal yang harus kau camkan di sini, yakni setiap orang selalu mengalami pasang surut dalam hidupnya. Oleh sebab itu, perlu bagi kita untuk berjaga-jaga menghadapi masa-masa surut itu. Demikian pula dengan ilmu silat. Setinggi-tingginya yang kita pelajari, kelak pada suatu hari mungkin akan bertemu lawan yang setanding. Lui-kong Chiang-hoat sebenarnya termasuk ilmu silat hebat, akan tetapi, ada seseorang yang mungkin dapat memecahkan ilmu silat kita. Dan dia adalah orang yang amat berbahaya sekali.”

Bu Kong terkejut. “Ahh, siapakah dia, suhu? Mengapa suhu agaknya menaruh perhatian penting dalam hal ini?”

Malaikat Gurun Neraka batuk-batuk kecil, kemudian setelah menarik napas panjang, dia menjawab, “Orang yang kumaksudkan itu bukan lain adalah susiokmu (paman guru) sendiri. Dia itu berjuluk Sin-hwi-ciang (Si Tangan Api Sakti), sin-kangnya juga sepaham dengan yang kita pelajari, yakni tenaga Yang-kang. Oleh sebab itu, kalau dia muncul maka kau harus berhati-hati.”

Keterangan ini membuat Bu Kong terkejut sekali dan hampir saja dia melompat bangun. “Apa, suhu? Jadi, suhu masih mempunyai adik seperguruan? Kenapa teecu selama ini tidak mendengarnya? Dan di manakah dia sekarang, suhu?”

Pertanyaan bertubi-tubi ini dijawab tenang oleh oleh pendekar sakti ini yang mengangkat tangannya ke atas. “Sabarlah, semuanya akan kuceritakan. Dan itulah sebabnya mengapa aku mengambil keputusan untuk mewariskan tiga jurus inti Lui-kong Ciang-hoat ini kepadamu. Susiokmu itu orang yang amat cerdik, kelicinannya melebihi ular dan wataknya jahat sekali. Empat puluh tahun yang lalu, dia mencuri kitab pusaka sukongmu. (kakek guru) namun ketahuan. Sukongmu menghukum kurungan selama lima tahun, akan tetapi, setelah bebas, dia meracuni gurunya sendiri sehingga tewas. Inilah kejadian empat puluh tahun yang lalu, namun sukongmupun bukan orang sembarangan. Sebelum ajalnya tiba, dia berhasil memancing murid durhaka itu dan menjebaknya di sebuah pulau sehingga malah terkurung seumur hidup!”

“Ahh....!” pemuda itu berseru tertahan. “Lalu bagaimana, suhu?”

“Tentu saja dia tidak mampu keluar,” jawab Malaikat Gurun Neraka. “Akan tetapi, seperti yang kukatakan tadi, susiokmu itu orang cerdik. Segala akal dipunyanya dan segala cara bisa saja dijalankannya. Pulau tempat mengurung dirinya itu bernama Hek-kwi-to (Pulau Iblis Hitam) dan sebelum guruku wafat, beliau memerintahkan agar setiap lima tahun sekali aku mengunjungi pulau itu untuk mengawasi keadaannya. Dan baru ini, setelah aku ke sana untuk yang kedelapan kalinya, aku melihat dia sudah tidak berada lagi di pulau itu! Entah dia minggat atau mati aku kurang jelas. Akan tetapi, karena jenazahnya tidak kutemukan, maka aku condong kepada dugaan bahwa dia telah lolos dari kurungannya!”

“Ahh, hebat kalau begitu!” Bu Kong kembali berseru.

Malaikat Gurun Neraka mengangguk. “Demikianlah, memang akan hebat sekali akibatnya kalau susiokmu itu muncul di dunia ramai. Terus terang saja, kepandaiannya tidak banyak berselisih denganku. Dulu aku hanya menang seusap, baik gin-kang maupun sin-kang. Akan tetapi, sekarang entahlah. Di dalam kurungan seumur hidup itu tentu dia tidak akan berdiam diri. Terakhir kali kulihat wajahnya sudah bersemu hijau dan hal ini menandakan bahwa diam-diam dia telah melatih tenaga Im (dingin). Rupanya akan dipakai untuk menandingi tenaga Yang kita, maka itulah sebabnya aku lalu menciptakan tiga jurus inti Lui-kong Ciang-hoat ini untuk berjaga-jaga.”

Bu Kong berdetak jantungnya. Keterangan suhunya ini membuat dia agak gelisah dan diam-diam perasaannya menjadi tidak enak sekali. “Kalau begitu, suhu, kenapa suhu tidak membunuh saja orang yang berbahaya seperti itu? Bukankah lebih baik mencabut tunas yang belum tumbuh daripada menumbangkan tunas yang sudah menjadi pohon!”

Gurunya menggelengkan kepala dengan muka muram. “Tidak mungkin, Kong-ji. Inilah pesan guruku dahulu sebelum ajalnya tiba. Dan kau tahu sendiri, pesan seorang yang hendak meninggal tidak mungkin berani kita abaikan.”

Bu Kong terdiam tidak menjawab. Kata-kata gurunya ini memang betul dan tentu saja dia mengerti dengan baik.

“Nah. Kong-ji, sekarang kau tahu mengapa aku menciptakan tiga jurus rahasia ini. Maksudnya bukan lain adalah untuk menjaga kemungkinan terhadap susiokmu yang kuduga lolos dari Pulau Hek-kwi-to itu. Sekarang aku menaruh harapan terakhir padamu seorang jika dia muncul setelah aku dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dengan begini, kaulah yang kuwakili tugas berat ini dan apabila betul susiokmu ini masih hidup dan membuat onar, bunuhlah dia untuk menjaga ketenangan dunia!”

Bu Kong mengangguk. “Baik, suhu. Semua pesan suhu ini akan teecu ingat di luar kepala.”

“Sekarang sebelum cuaca menjadi gelap, perhatikan jurus terakhir yang kunamakan Cio-po-tee-keng. Lihatlah....” pendekar sakti itu lalu bangkit berdiri, mengebutkan pakaiannya dan melangkah ke sebuah batu besar. Sekali menotol kaki, dengan gerakan ringan seperti burung, tubuhnya melayang ke atas batu itu dan berdiri tegak dengan mata mencorong.

“Kong-ji, lihat baik-baik semua sikapku ini,” pendekar itu berkata dan tiba-tiba timbul getaran aneh menyelimuti dirinya.

Bu Kong terkesiap ketika melihat betapa di belakang tubuh gurunya muncul cahaya kemerahan yang samar-samar seperti uap api! Pemuda ini terbelalak, akan tetapi, dia tidak bertanya. Pendekar itu telah tahu sendiri dan tanpa ditanya muridnya dia sudah memberikan jawaban.

“Kong-ji, kau agaknya heran oleh sinar merah seperti kabut ini, bukan? Ketahuilah, apabila kau memusatkan pikiran ke tengah kening dan mengerahkan tenaga sakti Yang-kang ke jalan darah jin-teh-hiat di belakang punggung, maka akan muncul cahaya kemerahan itu. Ini berarti bahwa tenaga sin-kang kita telah siap dipergunakan sepenuhnya karena kita menghadapi lawan berat. Kalau lawan masih di bawah tingkat kita, tidak perlu hal ini kita lakukan. Akan tetapi, kalau jurus Cio-po tee-keng terpaksa kita keluarkan maka itu menandakan lawan yang kita hadapi benar-benar merupakan lawan kuat. Itulah sebabnya maka kita harus mempersiapkan tenaga sin-kang sepenuhnya dan untuk sikap permulaan inilah yang mesti kita lakukan, yakni memusatkan pikiran di tengah kening dan menyalurkan sin-kang di jalan darah jin-teh-hiat. Kau tahu, jalan darah di punggung ini merupakan jalan darah pusat untuk bagian tubuh belakang. Jadi, kalau kita hendak mempergunakan jalan darah ini sebagai penampung tenaga sakti, maka jalan-jalan darah lainnya akan terpengaruh dan keluarlah sinar merah yang samar-samar seperti api itu.”

Bu Kong tampak bengong oleh uraian gurunya ini. Tentu saja dia merasa kagum sekali karena dengan begitu, perbawa gurunya tampak lebih angker dan memggetarkan hati lawan. Belum apa-apa lawan pasti sudah dibuat gentar dan kalau lawan terpengaruh, tentu saja hal ini sudah merupakan satu langkah kemenangan bagi mereka.

Seperti Anda ketahui, dalam jilid ketujuh pendekar ini telah menunjukkan kepada Cheng-gan Sian-jin cahaya kemerahan yang menyelubungi belakang tubuhnya, dan hal ini bukan lain adalah karena persiapan sepenuhnya untuk mempergunakan inti ilmu silat Lui-kong Ciang-hoat yang terdiri dari tiga jurus itu.

Namun, ternyata bahwa dalam pertandingan mereka, Malaikat Gurun Neraka cukup menggunakan jurus kedua yang disebut Lui-kong-tong-tee (Dewa Geledek Gemparkan Bumi) sehingga Cheng-gan Sian-jin kelabakan dibuatnya. Dari sini dapat kita bayangkan bahwa tiga jurus simpanan yang dikuasai oleh pendekar sakti itu memang benar-benar hebat bukan main. Kalau saja tidak muncul Bu-beng Sian-su, tidak mustahil jika datuk sesat itu tewas di tangan Malaikat Gurun Neraka yang sudah mengambil keputusan bulat untuk melenyapkan kakek iblis itu dari muka bumi.

“Muridku,” demikian pendekar ini meneruskan, “Setelah kita memusatkan seluruh konsentrasi, maka siaplah kini gerakan-gerakan berikutnya. Bhesi yang kita pasang bernama Manusia Sakti Mengangkat Gunung, seperti ini....”

Malaikat Gurun Neraka merenggangkan kedua kakinya di atas batu hitam dan kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi di atas kepala, yang kanan membentuk kepalan sedangkan yang kiri lurus ke depan. Sikap ini memang persis seperti orang mengangkat sesuatu, hanya bedanya jari-jari tangan yang tidak terbuka.

“Setelah itu, sin-kang kita tarik ke perut, keluarkan melalui bentakan menggeledek dan sekaligus kaki kita menggedruk bumi. Sedetik setelah gerakan ini, kita melakukan lompatan jungkir balik di udara dua kali dan tangan kanan menghantam sedangkan tangan kiri membacok. Nah, semua teori telah kau dengarkan dan sekarang lihatlah jurus yang akan kupraktikkan ini....”

Pendekar itu menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya sampai penuh, memusatkan konsentrasi dan tiba-tiba tubuhnya menggigil. Bu Kong memperhatikan semuanya itu dengan mata hampir tak berkedip dari sikap permulaan sampai akhir. Dia melihat betapa gurunya mengangkat kedua lengan tinggi-tinggi ke atas dan kaki agak renggang, tanda pasangan kuda-kuda yang disebut Manusia Sakti Mengangkat Gunung, lalu tiba-tiba orang tua itu memekik dahsyat menggetarkan hutan dan kakinya menggedruk batu.

Hebat sekali akibatnya. Begitu batu hitam yang dijadikan landasan bhesi ini digedruk, tiba-tiba saja terdengar suara keras dan batu hitam sebesar kerbau ini pecah! Dan sedetik kemudian, tubuh gurunya itu mencelat di udara dan berjungkir balik dua kali, lalu tangan kanan dengan sikap kepalan dan tangan kiri dengan telapak miring menghantam ke depan. Terdengar dua suara angin pukulan, yang kanan menderu sedangkan yang kiri bercuitan seperti bacokan senjata tajam.

“Klap-cuit-blar...!”

Pohon yang paling besar dengan batangnya yang lima kali pelukan orang dewasa itu menjadi sasaran pukulan Cio-po-tee-keng. Dua sinar merah berkelebat dan tiba-tiba pohon ini meledak dan hancur berantakan seperti diseruduk seratus ekor gajah!

Bu Kong berteriak kaget dan melompat ke belakang dengan muka pucat, sama sekali tidak menyangka akan sedemikian hebat akibat dari pukulan Cio-po-tee-keng itu. Dia sendiri kalau melancarkan jurus, Lui-kong Ciang-hoat, hanya akan membuat pohon tumbang dan tidak sampai hancur seperti itu, di mana batangnya sama sekali remuk dan semua batang serta ranting-ranting kecil patah-patah tidak karuan ujudnya. Tentu saja pemuda ini merasa ngeri. Batu yang digedruk pecah saja sudah akan membuat orang meleletkan lidah, belum lagi akibat nyata dari pukulan jurus ketiga ini.

“Ah, sungguh hebat dan mengerikan, suhu....!” Bu Kong berseru dengan mata terbelalak.

Malaikat Gurun Neraka sudah berdiri lagi di atas tanah, menghapus peluhnya karena jurus ketiga itu benar-benar memakan tenaga sakti yang amat besar. Itulah sebabnya, maka hasil yang diperolehpun juga cukup mengerikan. Pendekar sakti itu mengangguk. “Memang muridku, dan itulah sebabnya kupesan sungguh-sungguh kepadamu agar kau tidak sembarangan mempergunakan jurus ini jika tidak betul-betul terpaksa. Aku sendiri belum pernah mempergunakan Cio-po-tee-keng ini terhadap musuh, karena kau tahu sendiri apa akibatnya kalau kita menggunakan jurus itu.”

Bu Kong mengiyakan dan dia sendiri memang tidak akan sembarangan untuk mengeluarkan tiga jurus rahasia yang amat dahsyat itu. Malaikat Gurun Neraka lalu memberikan petunjuk-petunjuk yang cermat dan kemudian menyuruh pemuda itu mulai melatih jurus ketiga ini. Karena Cio-po-tee-keng merupakan jurus yang paling sulit dipelajari dan dipraktikkan, maka sampai malam tiba Bu Kong baru menjalankan teorinya. Keadaan yang gelap tidak memungkinkan bagi mereka untuk berlatih lagi.

Akhirnya Malaikat Gurun Neraka berkata, “Kong-ji, malam ini kita istirahat dulu. Besok kau boleh berlatih sendiri dan sebagai bukti apakah kau telah betul-betul menguasai jurus ketiga ini, maka pintu batu di Gua Bunga harus dapat kau hancurkan!”

Bu Kong terkejut, akan tetapi dia tidak menjawab. Malam itu, mereka kembali ke gua dan beristirahat, namun Bu Kong sama sekali tidak dapat tidur. Otaknya penuh dengan jurus Cio-po-tee-keng yang akan dilatih dan juga teringat perintah suhunya agar dia menghancurkan pintu batu di Gua Bunga!

Diam-diam dia merasa sangsi. Berapa lamakah dia akan berhasil? Dan dapatkah papan batu yang tebal di Gua Bunga itu dipukul roboh seperti gurunya sendiri yang telah memukul roboh pohon di dalam hutan dengan jurus Cio-po-tee-keng? Kalau gurunya yang melakukan pukulan itu terhadap pintu batu di Gua Bunga, agaknya dia tidak usah ragu. Akan tetapi dia yang baru belajar, dapatkah dengan cepat membuktikan kesanggupannya ini?

Padahal masih banyak tugas-tugas yang harus dikerjakannya. Perhitungannya dengan Cheng-gan Sian-jin, Wu-sam-tai ciangkum, murid Ang-i Lo-mo itu dan kawan-kawannya, serta urusannya sendiri dengan Siu Li! Teringat kepada gadis itu jantungnya lalu berdebar. Berhasilkah usaha Siu Li membujuk ayahnya? Bagaimana kalau tidak berhasil dan Ok-ciangkun malah marah-marah terhadap puterinya? Dan bagaimana pula kalau gadis itu ditangkap ayahnya? Ditangkap?

Pikiran ini membuat Bu Kong hampir saja melompat kaget. Ya, kenapa dia melupakan kemungkinan ini? Ok-ciangkun adalah orang yang tidak segan-segan melakukan perbuatan apapun, seperti fitnah yang telah dilontarkan kepada dirinya itu. Dan tidak terlalu jauh dugaannya kalau usaha Siu Li gagal lalu panglima yang marah itu menangkap puterinya sendiri! Ah, mengapa dia dulu tidak mengikuti kekasihnya secara diam-diam? Pikiran ini membuat Bu Kong gelisah dan malam itu dia hanya bolak-balik di tempat tidur dengan perasaan cemas membayangkan yang tidak-tidak.

“Aku harus dapat menguasai Cio-po-tee-keng secepatnya... ya, secepatnya!” akhirnya pemuda itu mengepal tinju dan semangatnya berkobar-kobar. Dia tahu, kalau belum sempurna ilmunya, tidak mungkin dia boleh keluar oleh gurunya. Dan untuk ini, agar dia berhasil, dia harus bekerja keras, harus berjuang mati-matian!

Keesokan harinya, baru saja terang tanah dan matahari sendiri masih belum tampak, pemuda itu sudah berlari ke dalam hutan dan mulai berlatih. Jurus demi jurus dikerjakan baik-baik, penuh semangat dan tekad berkobar-kobar agar segera menguasai secara sempurna. Sehari, dua hari, tiga hari... begitu seterusnya sehingga pada hari ketujuh, Cio-po-tee-keng telah berhasil dilakukannya dengan sempurna!

Tentu saja pemuda ini menjadi girang sekali dan pohon yang dijadikan sasaran hancur berkeping-keping seperti gurunya dulu! Namun, ini baru keberhasilan yang masih "setengah" karena sasaran yang harus dipukulnya bukanlah pohon itu, melainkan pintu batu yang menutup di Gua Bunga! Inilah perintah gurunya dan dia tidak dapat menawar-nawar lagi.

Dia harus dapat menghancurkan pintu itu dengan pukulan Cio-po-tee-keng, kalau tidak, berarti dia masih belum berhasil dan tentu saja harus berlatih dengan tekun lagi. Dan ini berarti, dia memperpanjang waktu di tempat ilu padahal hatinya sebenarnya sudah tidak sabar lagi untuk keluar dan mengetahui hasil-hasil yang diperolch kekasihnya.

Gua Bunga terletak di dalam hutan. Disebut Gua Bunga karena di sekitar gua itu penuh oleh tanaman-tanaman bunga beraneka warna yang ditanam gurunya. Gua ini biasanya dipergunakan gurunya sebagai tempat peristirahatan, dan pintuu yang ada di situ selalu dalam keadaan tertutup. Hal ini dilakukan agar gua itu tidak dikotori oleh masuknya binatang-binatang hutan dan pintu itu sendiri dipasangi alat-alat rahasia untuk membuka dan menutupnya.

Karena terbuat dari papan batu yang amat berat dan tebal, maka pintu gua ini benar-benar kokoh sekali. Dulu pernah ada seekor gajah yang mendorong pintu itu dengan kepalanya, namun, sama sekali tak berhasil! Maka, dari sini saja dapat diketahui betapa kokoh kuatnya pintu yang tertanam di depan gua itu.

Dan pintu macam inilah yang harus dihancurkan Bu Kong dengan jurus Cio-po-tee-keng! Pemuda itu sekarang sudah berada di muka pintu batu, berdiri sambil meraba-raba dan mencoba untuk menggeser minggir, namun pintu batu itu sama sekali tak bergeming! Diam-diam dia merasa tegang. Pintu yang sedemikian kuatnya harus dia pukul hancur. Berhasilkah?

“Aku harus berhasil!” Bu Kong mengertak giginya dan melompat di atas batu lain yang berhadapan dengan pintu batu itu sebagai landasan pasangan bhesi Manusia Sakti Mengangkat Gunung. Perlahan-lahan dia menarik napas panjang, memusatkan konsentrasi ke tengah kening dan mengerahkan sin-kang di jalan darah jin-teh-hiat seperti apa yang dulu diajarkan gurunya. Kedua kaki agak merenggang, kedua tangan perlahan-lahan terangkat ke atas. Tangan kanan terkepal sedangkan tangan kiri lurus dengan jari-jari tegak membentuk sikap membacok.

Inilah permulaan jurus Cio-po-tee-keng. Dan sckarang tampaklah perobahan pada dlri pemuda itu. Begitu dia memusatkan seluruh perhatiannya untuk melakukan jurus Cio-po-tee-keng ini, tiba-tiba tampaklah uap kemerahan di belakang tubuhnya, persis seperti Malaikat Gurun Neraka ketika berhadapan dengan Cheng-gan Sian-jin di gedung datuk sesat itu dulu!

Akan tetapi, Bu Kong sendiri tidak melihat perobahan ini. Tubuhnya sudah menggigil dan hawa sakti bergolak di pusar seperti naga bangun tidur. Tidak seperli dulu di mana setiap kali timbul tenaga dahsyat ini dia selalu kelabakan, adalah sekarang pemuda itu tetap tenang. Ke mana pikirannya menuju ke situlah tenaga sin-kang mujijatnya mengalir. Tenaga ini telah berhasil dikendalikan sesuka hati berkat petunjuk-petunjuk gurunya beberapa hari yang lalu. Dan sekarang Bu Kong tidak perlu gelisah lagi.

Akhirnya, setelah merasa bahwa dia benar-benar sudah siap untuk melancarkan pukulan jurus terakhir itu dan getaran tenaga sakti di dalam tubuh sudah memenuhi urat-urat darahnya sehingga Bu Kong menggigil seperti orang kedinginan, pemuda ini mengeluarkan pekik dahsyat dan kakinya menggedruk. Terdengar suara ledakan ketika batu yang dihantam kakinya itu pecah! Akan tetapi, Bu Kong sendiri sudah mencelat ke depan dan berjungkir balik di udara, kedua tangannya memukul ke depan dan dua sinar merah berkelebat mengenai pintu batu yang menutup Gua Bunga.

“Blaarrr....!” Dahsyat sekali suara ini dan tiba-tiba pintu batu itu hancur lebur dan pecah berantakan seperti disambar geledek! Gua terbuka lebar dan dari tempat gelap tiba-tiba terdengar seruan,

“Bagus, hebat sekali...!” disusul berkelebatnya tubuh seseorang keluar gua.

Ternyata orang ini bukan lain adalah Malaikat Gurun Neraka yang memandang muridnya dengan mata gembira dan wajah berseri-seri! “Ha-ha, bagus. Kong-ji, Cio-po-tee-keng yang kau lakukan benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaannya. Hebat! Padahal aku sendiri belum tentu mampu menghancurkannya dengan sekali pukul, ha-ha... hebat.... bagus sekali!”

Bu Kong terkejut, tidak menyangka bahwa gurunya ternyata berada di dalam gua. Akan tetapi, mendengar suhunya memuji sambil tertawa gembira, saja diapun menjadi girang dan cepat menjatuhkan diri berlutut. “Suhu, inipun juga atas jerih payah suhu menggembleng teecu. Kalau tidak, mana mungkin teecu dapat memillki kemajuan sepesat ini?”

Pendekar ini tersenyum, senang mendengar kerendahan hati muridnya dan dia lalu melangkah maju sambil mengelus jenggotnya dan dengan mata bersinar-sinar orang tua itu berkata,

“Kong-ji, bangunlah. Sikap yang selalu merendah hati memang harus menjadi watak seorang pendekar. Akan tetapi, sikap yang terlampau berlebihan akan merugikan diri sendiri. Nah, harap kau ingat hal ini. Kepandaianmu sekarang sudah melonjak pesat dan aku sendiri agaknya sudah tidak sanggup menandingimu. Namun, jangan tekebur dan bersombong diri. Setiap manusia pasti mengalami pasang surut dalam kehidupannya, maka kesombongan bahkan akan menjerumuskannya ke dalam kesengsaraan. Sekarang semua kepandaian yang kumiliki telah kau pelajari semua, tidak ada sisanya sedikitpun. Oleh sebab itu, kalau engkau hendak pergi menyelesaikan tugas-tugasmu, berangkatlah. Aku akan menunggu beritamu di sini.”

Bu Kong girang sekali dan mencium kaki gurunya. “Suhu, semua petuah-petuah suhu akan teecu ingat baik-baik dan kalau suhu telah mengijinkan teecu berangkat, sungguh hal ini amat menggembirakan hati teecu. Baiklah, suhu, teecu akan berangkat hari ini juga dan teecu mohon doa restu suhu dalam perjalanan...!”