PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 14
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka
“TAHAN...!” Bu Kong membentak kaget dan lengan kanannya menampar ke depan.

"Plakk!" dengan tepat tangan Dewa Monyet terpukul dan sebelum pisau itu sempat menggores telinganya, senjata tajam ini mencelat dari pegangan kakek itu yang mengeluarkan seruan kaget.

"Ahh, kenapa dicegah, Yap-koko?" Pek Hong bertanya dengan mata terbelalak. Gadis ini tadipun merasa was-was kalau kembali kakek itu berbuat curang. Maka, ketika dilihatnya bahwa Dewa Monyet benar-benar menepati janjinya, di dalam hati gadis ini sudah merasa girang.

Sedikit banyak Pek Hong memang masih marah kepada kakek yang telah mempermainkannya itu. Maka hukuman potong telinga ini cukup memuaskan hatinya. Siapa tahu, tiba-tiba saja Bu Kong mencegah perbuatan kakek itu. Berarti, hukuman terhadap Dewa Monyet dibatalkan! Tentu saja gadis ini merasa tidak puas sekali. Maka dengan terang-terangan ia memandang pemuda itu dengan sikap kecewa.

Bu Kong menarik napas panjang. "Hong-moi, Dewa Monyet telah membuktikan kesungguhan ucapannya, dan kukira hal ini sudah lebih dari cukup bagi kita. Perlukah kita membuatnya cacad seumur hidup?"

"Akan tetapi, dia telah menghina kita sedemikian rupa, terutama terhadap diriku! Masa boleh bebas begitu saja? Yap-koko, aku tidak puas akan sikapmu ini dan hukuman harus tetap dijalankan!" Pek Hong membantah dengan suara sengit.

"Hemm, hukuman apalagi?" pemuda itu bertanya. "Pelajaran hari ini sudah cukup diterimanya, Hong-moi, dan kukira tidak perlu kita memperpanjang persoalan ini. Ingat, bagaimanapun juga dia adalah bintang penolongku, tidak mungkin bagiku untuk mencelakainya."

Pek Hong melotot marah. "Hemm, dia bintang penolongmu, ya? Maka kau begitu memperhatikannya? Yap-koko, kau tidak adil. Biarpun kakek itu merupakan bintang penolongmu, namun kalau aku tidak membawamu dengan susah payah agaknya Dewa Monyetpun tidak mungkin akan menjadi bintang penolongmu! Kau kelewat memperhatikannya dan sekarang sama sekali tidak mau memperhatikan diriku. Adilkah ini?"

Bu Kong terkejut dan seketika mukanya menjadi merah, perasaannya agak tertusuk. Kata-kata gadis ini seakan-akan hendak memperingatkan dirinya bahwa bukan hanya Dewa Monyet saja yang melepas budi, namun gadis itupun juga tidak ketinggalan! Maka dengan suara berat dia lalu berkata,

"Hong-moi, kata-katamu memang benar. Aku telah berhutang budi kepadamu. Sekarang, apakah keinginanmu agar aku dapat membalas budimu ini? Apakah kaupun menghendaki aku melunasinya sehingga diantara kita tidak terdapat lagi hutang-piutang? Kalau itu yang kau inginkan, aku siap melaksanakannya. Tapi, satu yang pasti kutolak, yakni kalau engkau menghendaki aku mencelakai kakek itu!"

Ucapan ini tandas dan ketika dua pasang mata beradu, Pek Hong melihat betapa pemuda itu memandangnya dengan sinar mata kecewa. Gadis ini terkejut dan sadarlah dia bahwa secara tidak disengajanya tadi dia telah menyinggung perasaan pemuda itu! Tentu saja gadis ini merasa tidak enak sekali. Bukan maksudnya untuk meminta imbalan jasa dari pemuda itu, namun bukan keinginannya pula kalau membebaskan Dewa Monyet begitu saja.

"Yap-koko, maafkan aku..." akhirnya Pek Hong berkata sambil menundukkan mukanya. "Kalau aku bersalah, harap kau memakluminya. Hatiku terlalu marah kepada kakek ini, maka masih sukar bagiku untuk melepasnya begitu saja. Namun, kalau engkau menghendakinya demikian, biarlah aku menurut saja."

Ucapan ini membuat Bu Kong terharu dan perasaan kecewanya seketika lenyap. Dia memang tahu bahwa murid Ta Bhok Hwesio ini adalah seorang gadis yang baik, tidak berwatak kejam. Hanya terdorong oleh kemarahannya teringat hinaan-hinaan Dewa Monyet sajalah maka gadis itu tidak mau sudah.

"Hong-moi," pemuda ini melangkah maju dan memegang lengan gadis itu dengan lembut, "harap maafkan kalau sikapku agak kasar. Sekarang biarlah yang sudah kita lalui, dan kita songsong hari esok dengan perasaan baru. Dewa Monyet telah berjanji untuk membantu kita dan kelak kalau kita memerlukan tenaganya dapat kita hubungi dia."

Lalu pemuda ini membalikkan tubuh, menghadapi Dewa Monyet yang masih berdiri di situ dengan mata terbelalak. "Kauw-sian, karena kami masih mempunyai banyak urusan yang harus diselesaikan, maka ijinkanlah kami pergi. Sebelumnya, kembali kuucapkan banyak terima kasih atas semua pertolonganmu kepadaku..." pemuda ini lalu menjura di depan Dewa Monyet yang terkejut menerima penghormatan itu dan dengan tersipu-sipu kakek ini lalu menjatuhkan diri berlutut, tidak berani menerima penghormatan anak muda itu.

"Siauw-ya, jangan begitu... lohu sekarang adalah hambamu, engkau adalah majikanku. Ini sudah menjadi sumpah lohu, harap jangan diputuskan!" kakek itu berkata dengan suara nyaring dan Bu Kong mengangkat pundaknya.

"Terserah kalau kau orang tua mengambil keputusan begitu," jawab anak muda ini dengan sikap tidak enak. Dewa Monyet memang orang aneh, maka dia tidak mau banyak berdebat dengan kakek itu.

Demikianlah, sambil menggandeng lengan Pek Hong pemuda itu lalu mengajak gadis ini meninggalkan tempat itu, dipandang oleh Dewa Monyet dari belakang. Tetapi, baru sampa i diambang pintu tiba-tiba kake k itu berteriak.

"Hujin, kau lupa membawa masakanmu! Jangan pergi dulu...!" dengan terbata-bata kakek ini berlari mengambil mangkok d i atas meja yang terisi tiga ekor daging kadal, tokek dan kelabang itu.

Pek Hong terkejut, dan dua orang ini menoleh. "Masakan?" Bu Kong terheran. "Mas akan apa?"

Namun Pek Hong hanya tersenyum saja, tidak menjawab. Tentu saja pemuda itu semakin heran. Dalam keadaan sibuk dan tegang bagaimana gadis ini sempat memasak segala?

Akhirnya Dewa Monyet tiba dan kakek ini mengangsurkan mangkok itu kepada Pek Hong sambil berkata, "Ini adalah obat terakhir bagi siauw‐ya agar kesembuhannya benar-benar pulih kembali. Oleh sebab itu, begitu ji-wi (anda berdua) turun gunung, harap ang-sio-bak ini dihabiskan. Kalau hujin mau boleh juga makan sebagian, tapi kalau tidak mau harap siauw-ya habiskan saja karena ini adalah obat penguat tubuh dan sayang kalau dibuang."

Bu Kong tercengang namun cepat dia mengucapkan terima kasihnya.

"Ah, yang membuat masakan ini adalah hujin, maka harap siauw-ya berterima kasih saja kepada hujin. Mana lohu berani menerima ucapan ini?" kakek itu menolak. "Dan sungguh beruntung siauw-ya memiliki isteri yang sedemikian telaten dan penuh kasih sayang. Semoga ji-wi bahagia seumur hidup!"

Ucapan ini membuat muka keduanya merah dan tanpa banyak bicara lagi Pek Hong menerima masakan itu dan segera keduanya melangkah pergi. Tadi Dewa Monyet telah memberikan tanda kepada anak buahnya. Maka ketika dua orang ini keluar dari pondok kayu itu, tidak tampak monyet-monyet liar di sekeliling rumah. Demikianlah, dengan cepat dua orang ini lalu meninggalkan puncak Ang-bhok-san yang segera menjadi sunyi seperti sedia kala.

* * * * * * * *

Matahari telah merambat di kaki langit sebelah barat, cuaca mulai remang-remang dan keadaan di sekitar Bukit Kayu Merah sepi seperti kuburan mati. Dua bayangan meluncur turun dari atas bukit dengan cepat, dan mereka itu bukan lain adalah Yap Bu Kong serta Pek Hong yang baru saja meninggalkan "markas pusat" pasukan monyet di Ang bhok san.

Setelah berada berdua saja dengan pemuda yang gagah perkasa ini, entah mengapa tiba-tiba jantung gadis cantik itu berdebar tidak karuan. Ketegangan hatinya yang mengkhawatirkan nasib bekas jenderal muda ini dari ancaman racun berbahaya sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah lolos dari lubang jarum, dan jiwa pemuda ini berhasil diselamatkan.

Seharusnya, dengan keberhasilan usahanya yang telah diperjuangkan dengan susah payah itu sepatutnya gadis ini bergembira. Dan memang ada kegembiraan itu di dalam hatinya. Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba saja Pek Hong merasakan firasat yang tidak enak. Peristiwa Siu Li yang membuntungi lengan kirinya itu mendadak muncul kembali di kelopak matanya. Dia belum tahu secara pasti bagaimanakah perasaan Bu Kong terhadap puteri Panglima Ok itu dan bagaimana pula kira-kira reaksi pemuda ini jika kelak mengetahui keadaan gadis jelita itu.

Pek Hong melirik dengan sudut matanya ke arah pemuda yang berlari di sampingnya ini, dan ia melihat betapa wajah yang tampan itu berseri-seri dan sepasang matanya mencorong hidup seperti mata seekor naga. Betapa tampannya jenderal muda ini, apalagi kalau tersenyum gembira seperti itu! Demikian gadis ini berbisik di dalam hati. Pantas saja kalau banyak wanita cantik tergila-gila kepada murid Malaikat Gurun Neraka ini.

Dan memang bekas jenderal muda itu bukan orang sembarangan. Tubuhnya yang tinggi tegap berkat gemblengan silat bertahun-tahun itu tampak kuat dan kokoh bukan main, mirip harimau muda yang sedang penuh-penuhnya semangat. Siapa tidak akan tertarik dan jatuh hati terhadap pemuda seperti ini? Dan gurunya secara diam-diam telah menjodohkan dirinya dengan jenderal muda itu! Siapa tidak akan merasa beruntung?

Teringatlah gadis ini akan kata-kata gurunya beberapa bulan yang lalu di pagi hari, "Hong-ji, pinceng membawa kabar gembira untukmu, kabar perjodohan!"

Demikian ucapan pertama yang membuat gadis itu terkejut dan berobah air mukanya. Dengan mata terbelalak dia memandang gurunya itu dan setelah dapat menenangkan guncangan hatinya, Pek Hong bertanya, "Apa? Suhu membawa berita perjodohan teecu? Ah, suhu, teecu belum mempunyai niat untuk berumah tangga. Kenapa tergesa-gesa? Tidak, teecu masih ingin merawat suhu di sini, teecu tidak mau berpisah dari suhu..."

"Ah, anak bodoh! Pinceng masih kuat berlari seperti kuda, dapat mencari makan di mana saja. Kenapa hendak mengikuti pinceng selama hidup? Rumput segar berada di mana-mana, tinggal pinceng lari mencari maka semuanya telah tersedia. Untuk apa dirawat seperti anak kecil?" kakek itu tertawa dan Pek Hong tersenyum mendengar kata-kata suhunya ini.

Seperti telah menjadi kebiasaan umum di dunia kang-ouw, seorang hwesio gundul biasanya disebut pula sebagai "keledai". Makian ini telah umum didengar orang dan kini kakek itu memakai olok-olok itu untuk dirinya sendiri. Maka tentu saja muridnya menjadi geli.

"Ah, suhu, kau ini ada-ada saja," katanya tertawa. "Biarpun rumput segar ada dimana-mana, namun bukankah seekor kuda perlu kawan? Kalau Suhu menjadi kuda maka biarlah teecu menjadi ana k kudanya, hi hi hikk!"

"Husshh, tida k boleh itu! Pinceng sudah tua, maka kehidupan begini sudah biasa bagi pinceng. Akan tetapi engkau, muridku, engkau masih muda dan engkau berhak mengenyam manisnya hidup. Masa mau meniru pinceng minta sedekah ke sana-sini sambil membawa mangkok? Malu, kan?"

Pek Hong mengerutkan alisnya. Memang dia tahu bahwa kebanyakan hwesio selalu berjalan keluar masuk kampung sambil membawa mangkok untuk meminta makanan. Akan tetapi suhunya ini biarpun juga merupakan seorang hwesio, namun belum pernah meminta-minta sedekah seperti itu. Di sekeliling rumah banyak sayur-mayur yang mereka tanam, dan dari hasil kebun inilah mereka makan sehari-hari.

"Akan tetapi, suhu, kau tidak pernah minta-minta makanan seperti kebanya kan hwesio-hwesio lain. Kenapa bilang begitu? Bukankah kebun kita cukup luas dan sayur mayur kita berlebihan setiap hari?"

"Itu kan sekarang, Hong ji, padahal keadaan seseorang bisa saja berobah-robah setiap waktu. Seperti sekarang ini, misalnya. Kalau tiba-tiba pinceng meniru rekan-rekan pinceng yang lain, tidak malukah engkau?"

Pek Hong terkejut dan memandang suhunya dengan mata terbelalak. "Apa? Suhu hendak merobah kebiasaan sehari-hari di sini? Kenapa suhu hendak melakukan hal itu? Ah, teecu tidak percaya!” serunya.

"Hmm, kenapa tidak percaya? Pernahkah gurumu ini membohong kepadamu? Hong-ji, dengarkan baik-baik. Kalau engkau tidak mau menurut kata-kataku ini, agaknya pinceng benar-benar hendak mengemis makanan setiap hari sebagai protes pinceng mempunyai murid yang tidak patuh!"

Suara ini dikeluarkan dengan penuh kesungguhan dan Pek Hong tidak berani main-main lagi. Dengan penuh selidik ia memandang kakek itu yang sudah melanjutkan kata-katanya, "Muridku, pinceng tidak akan melakukan paksaan di sini. Akan tetapi, sebagai orang tua yang memikirkan masa depanmu, maka pinceng telah melancangimu dalam mengambil suatu keputusan, yakni tentang perjodohanmu"

"Ahh...!" gadis itu berseru kaget dan tak terasa lagi dia melangkah mundur dengan muka berobah. "Suhu, apa-apaan ini? Siapa calon jodoh teecu itu? Apakah suhu sudah menerimanya? Bagaimana kalau teecu tidak senang dengan calon suami teecu itu, suhu?"

Diberondong dengan bermacam-macam pertanyaan ini kakek itu tersenyum. Dia mengelus perutnya yang agak gendut itu dan tiba-tiba terkekeh. "Ha, masa kau bakal membenci calon suamimu itu, Hong-ji? Ahh, pinceng tidak percaya, bahkan pinceng berani bertaruh bahwa begitu kau berjumpa dengan pemuda itu kau pasti jatuh cinta! Ha ha ha…”

"Cihh, belum tentu, suhu! Teecu sudah banyak melihat pemuda-pemuda tampan, akan tetapi merasa jatuh cinta saja tidak pernah. Bagaimana suhu berani taruhan?" gadis itu mencibir.

"Sudahlah, jangan bertaruh dengan pinceng. Kutanggung kau pasti kalah dah! Lebih baik begini saja, kita turun gunung dan kita menemui pemuda itu."

"Hah? Masa pihak wanita malah disuruh menemui pihak laki-laki? Suhu, kau terlalu!" Pek Hong semakin terkejut dan gadis ini memandang suhunya dengan marah.

Akau tetapi hwesio Tibet itu menaruh jari telunjuknya di depan mulut dan mendesis, "Sstt, jangan ribut-ribut dulu. Ketahuilah, Hong-ji, pemuda itu sendiri belum mengetahui tentang rencana perjodohan ini. Maka, bertemu dengan diapun juga tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Pinceng hanya ingin memperkenalkannya kepadamu dan kalau toh engkau tidak suka, belum terlambat bagi pinceng buat menolaknya.”

Agak lunak hati gadis ini mendengar semua keterangan suhunya itu, dan Pek Hong ingin sekali tahu siapakah pemuda yang dipilih gurunya ini. Melihat sikapnya, suhunya ini rupanya amat mengistimewakan calon jodohnya itu. Hemm, kalau benar begitu agaknya pemuda itu memang bukan orang sembarangan.

“Suhu, kau agaknya tertarik sekali kepada pemuda itu. Siapakah dia?" tanyanya.

Ta Bhok Hwesio tertawa, tampak bangga. "Hong-ji, tentu saja pilihan pinceng bukan orang sembarangan. Dia cocok sekali untukmu, gagah perkasa dan kepandaiannya amat tinggi, lebih tinggi dari kepandaianmu sendiri! Nah, masa engkau tidak tertarik?"

Betul juga, mendengar bahwa pemuda yang dicalonkan sebagai suaminya oleh gurunya ini memiliki kepandaian lebih tinggi darinya, Pek Hong menaruh perhatian serius. Gurunya ini adalah seorang sakti yang jarang tandingan. Kalau sekarang memuji-muji orang lain tentu orang itu memang hebat sekali.

"Dan ketahuilah, muridku, kelak kalau ilmu-ilmunya sudah matang, agaknya pinceng sendiri sudah bukan tandingannya!" kakek itu menyambung.

Tentu saja Pek Hong terkejut. Dengan mata terbelalak dia memandang gurunya ini seakan-akan kurang percaya. "Ahh, siap akah dia, suhu?"

"Dia bukan lain adalah murid tunggal Malaikat Gurun Neraka, Yap-goanswe yang gagah perkasa dan yang namanya menggetarkan seluruh kerajaan di empat penjuru!"

Pek Hong tercengang. "Apa? Seorang jenderal?" serunya. "Jadi Takla-locianpwe itu mempunyai murid, suhu? Kukira dia tidak mengambil murid untuk mewariskan ilmu-ilmu kesaktiannya. Kalau begitu, kenapa teecu tidak pernah melihat muridnya? Kenapa setiap kali berkunjung kemari hanya sendirian saja?"

"Itulah karena muridnya selalu sibuk menjalankan tugas, dan hanya apabila sedang mendapat cuti sajalah maka pemuda itu pulang ke tempat tinggal pendekar sakti itu di padang pasir sana," demikian jawab gurunya. "Dan dia gagah sekali, muridku. Wataknya jujur, pemberani dan ganteng. Pendeknya pilihan pinceng pasti tidak mengecewakan, tinggal terserah dirimu sendiri. Kalau suka boleh diteruskan dan kalau tidak suka... yah, pinceng tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa."

Itulah kata-kata gurunya yang kini terngiang kembali di telinganya. Dan beberapa hari kemudian, mereka benar-benar meninggalkan rumah untuk mencari pemuda itu. Karena murid pendekar besar itu bertugas sebagai seorang jenderal muda di Kerajaan Yueh, maka mereka langsung ke kota raja. Akan tetapi di sana mereka mendapat berita mengejutkan tentang kehancuran Yueh yang diserbu oleh bala tentara Wu-sam tai-ciangkun.

Mereka lalu mencari-cari dan akhirnya orang yang dicaripun ketemulah. Jenderal muda itu sedang menyusun siasat bersama sisa-sisa pasukannya disebuah tempat, dan begitu bertemu muka bercakap-cakap, Pek Hong berdebar hatinya sampai akhirnya Dewi Asmara benar benar mengusik hatinya. Dan untuk pertama kali itulah gadis ini merasakan orang dimabok cinta!

"Hong-moi, kau merenungkan apa?"

Pertanyaan tiba-tiba ini mengejutkan gadis itu dan seketika Pek Hong sadar dari lamunannya. Dengan muka merah ia menjawab gugup, "Eh, apa...? Aku merenung? Ah, tidak... tidak, Yap koko. Aku tidak memikirkan apa-apa!"

Bu Kong tertawa. "Kalau begitu, kenapa tidak menjawab pertanyaan yang sudah kuulang tiga kali itu?"

Gadis ini semakin terkejut. "Pertanyaan?" serunya kaget. "Pertanyaan apa?"

Pemuda itu tak dapat menahan geli hatinya lagi dan sambil tersenyum lebar dia menjawab. "Nah, inilah bukti bahwa kau berdusta. Hong-moi, kau jelas melamun sampai jauh sehingga pertanyaanku tidak kaudengar. Aku bertanya, tidakkah kita berhenti dulu di sini? Masa pertanyaan pendek begini tidak kau tangkap? Hanya orang yang terbuai lamunan sajalah yang tidak mendengar pertanyaan orang lain, ha ha!"

Gadis itu tersipu-sipu malu dan ia tidak membantah lagi. "Yap-koko, maafkan aku..." bisiknya lirih dan Pek Hong menundukkan kepalanya. Diam-diam mukanya menjadi semakin merah sampai ke telinga dan diam-diam ia memaki diri sendiri yang melamun kelewat jauh sehingga tidak mendengar pertanyaan orang. Tadi ia sedang melamunkan perasaan hatinya sendiri terhadap pemuda ini. Membayangkan betapa akan bahagianya apabila dapat hidup bersama pemuda itu. Kemanapun pergi selalu bersama, tak pernah berpisah sampai ajal menjemput mereka. Dan gara-gara bayangan indah yang memabokkan inilah ia lalu terbuai ke alam romantis, tidak tahu betapa sudah tiga kali pemuda itu mengulang pertanyaannya yang sama!

Karena tidak ingin membuat gadis itu malu lebih lanjut, Bu Kong cepat berkata lagi untuk mengalihkan suasana, "Hong,moi, kukira di sini saja kita istirahat sebentar. Dan bukankah di tempat ini pula kita bertemu dengan Dewa Monyet? Aku ingin bercakap-cakap denganmu dan banyak pertanyaan siap kuajukan."

Pemuda ini lalu berhenti dan Pek Hong juga ikut berhenti. Cuaca sudah mulai gelap dan Bu Kong mengumpulkan ranting-ranting kering untuk persiapan api unggun sebagai pengusir nyamuk. Kemudian keduanya duduk berhadapan dan tiba-tiba Pek Hong merasa kikuk dan jantungnya berdebar tidak karuan.

"Hong-moi," demikian pemuda itu mulai membuka suara dengan lembut, "sebelum aku melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih kusimpan dalam hati, kuucapkan banyak terima kasih atas semua jerih payahmu menolongku dari bahaya. Sungguh budimu ini besar sekali, karena tanpa engkau di sampingku, agaknya aku sudah tewas keracunan."

"Ahh, Yap-koko, kukira tidak perlu itu. Bukankah diantara kita sudah seharusnya untuk saling tolong-menolong?" gadis ini menundukkan kepalanya dengan muka merah. "Dan lagi, bukan hanya aku saja yang menolongmu. Aku tidak seberapa dan tidak ada artinya..."

"Ahh, kau terlalu meremehkan bantuanmu, Hong-moi. Tidak, aku bersungguh-sungguh dalam menerima budimu ini. Biarlah di kelak kemudian hari aku diberi kesempatan untuk membalas budimu ini dan kalau aku tidak dapat, biarlah Thian yang akan membalasnya."

Bu Kong menggenggam kedua tangan Pek Hong dan gadis ini tiba-tiba menggigil tubuhnya. Entah mengapa, sentuhan yang demikian lembut serta penuh perasaan dari pemuda itu membuat gadis ini tidak karuan rasa dan jantungnya berdegup kencang.

"Hong-moi, sekarang coba ceritakan kepadaku. Bagaimanakah tiba-tiba engkau dapat membawaku ke tempat ini? Dan dimanakah... suhu?" pertanyaan terakhir ini diucapkan dengan suara lirih dan agak gemetar karena Bu Kong teringat akan pertemuannya dengan orang tua itu di gedung Cheng-gan Sian-jin, dimana dia terlihat sedang tidur sepembaringan bersama Lie Lan, gadis iblis berwatak siluman itu.

Kejadian ini sungguh membuat dia terpukul. Kalau saja perjumpaannya dengan orang tua itu tidak sedemikian rupa, dia tidak akan sebegitu risau. Namun ce akanya, justeru pertemuan mereka itu bahkan memburukkan keadaannya. Dia tahu, pandangan macam apakah yang sekarang ditimpakan gurunya itu kepadanya. Pemuda hidung belang! Pemuda tidak tahu malu yang merusak nama guru! Apalagi?

Pandangan suhunya di tengah ruangan besar itu masih diingatnya baik-baik, tajam mencorong berapi-api dan mukanya merah membesi, wajah yang penuh kemarahan! Ngeri dia membayangkan wajah itu dan setiap kali muka orang tua ini muncul di kelopak matanya, jantungnya pasti tergetar hebat. Terkutuk keponakan Lie-thaikam itu! Pemuda ini mengepal tinju dengan mata merah. Sama sekali tidak disangkanya bahwa dia masih harus menerima percobaan yang amat berat ini.

Hinaan Lie Lan masih melekat di ingatannya, begitu pula ketika dia dipermainkan gadis tersebut. Betapa dia dalam keadaan tidak sadar disuruh menjilat telapak kaki keponakan Lie-thaikam itu, betapa dia dihina dengan cara-cara yang amat keji dan memalukan. Semuanya ini membuat dada Bu Kong berombak dan kemarahannya menggelegak, giginya berkerot-kerot.

Fitnah jahanam telah dilontarkan orang, dan sekarang masih ditambah lagi dengan peristiwa terkutuk itu. Sungguh, kalau dia tidak dapat membalas sakit hati ini, lebih baik dia mati di tangan musuh!

Perobahan wajah dan sikap pemuda itu dilihat jelas oleh Pek Hong, dan gadis ini menarik napas dalam-dalam. Dia maklum apa yang sedang bergolak di hati bekas jenderal muda itu, dan diam-diam hatinya ikut tertusuk. Keharuan besar menyelubungi hatinya, maka perlahan-lahan gadis ini menarik tangannya.

"Yap-koko," bisiknya lirih, "harap tenangkan hatimu. Jangan terlampau berduka, semua rahasia yang menimpa dirimu kini sudah sebagian besar tersingkap. Percayalah, dengan sekuat tenaga aku akan membantumu dan membalas sakit hati yang kau alami ini. Kuyakin, sedikit rahasia yang belum terpecahkan ini akan terbuka dalam waktu tidak lama lagi, percayalah!”

Suara yang lembut ini menyadarkan Bu Kong dari luapan emosinya dan sepasang mata yang tadi mencorong penuh api kemarahan itu sekarang tenang kembali. Pemuda ini menoleh, lalu bertanya, “Hong-moi, jadi kaupun sudah mendengar semua peristiwa-peristiwa yang menimpa diriku? Betapa aku telah... telah... melakukan perjinaan dengan Bwee Li dan wanita-wanita lain seperti dikabarkan orang? Dan bagaimanakah tanggapanmu? Mengapa kau masih sudi menolong diriku yang tidak tahu malu ini?"

Gadis itu tersenyum. "Yap-koko, siapa bilang kau tidak tahu malu? Orang lain boleh bilang begitu, akan tetapi aku tidak menganggapmu demikian!”

“Ahh...!” Bu Kong tertegun dan tiba-tiba teringat olehnya ketika dia mencium gadis ini di depan Dewa monyet. “Apakah perbuatanku di depan Dewa monyet dulu juga tidak kau anggap tidak tahu malu?”

Pek Hong terbelalak dan sepasang matanya yang indah itu melebar. Sejenak gadis ini terkejut dan akhirnya menundukkan mukanya yang semerah kepiting direbus. “Koko... hal itu... hal itu... ah, itu bukan kesalahanmu, kenapa aku harus marah? Akulah yang pantas disebut gadis tak tahu malu karena hendak melakukan perbuatan kurang patut. Engkau malah telah menolong mukaku dari hinaan orang, maka sudah sepantasnya apabila kuucapkan terima kasih atas pertolonganmu itu. Mengapa hendak menyalahkan diri berlebih-lebihan?” gadis ini lalu mengangkat mukanya.

Pemuda itu tersenyum getir. "Sudahlah, Hong-moi, sesungguhnya kita masing-masing telah saling memaklumi keadaan yang tidak enak itu. Akan tetapi, bagaimana engkau bisa bilang aku terlalu menyalahkan diri berlebih-lebihan? Boleh jadi terhadap dirimu aku tidak berbuat yang kurang ajar. Tetapi terhadap wanita-wanita lain, masa engkau tidak mendengarnya? Orang telah mengatakan aku ini pemuda hidung belang, pemuda tidak tahu malu, melakukan zinah bersama isteri orang lain! Nah, tidak terlalukah ini? Tidak burukkah watakku itu? Dan engkau masih mau menolong diriku yang hina ini. Sungguh mengherankan...!”

Tiba-tiba Pek Hong bangkit berdiri. "Itu fitnah, Yap-koko, fitnah keji!" gadis ini berseru dan tinjunya dikepal dengan mata bersinar. "Dan aku tahu siapa biang keladi semuanya ini.!"

“Hahh?!" Bu Kong melompat bangun dengan muka berobah. "Hong-moi, apa katamu? Bagaimana kau tahu bahwa ini adalah fitnah belaka? Dari mana kau tahu? Dan siapa pelempar segala kotoran busuk ini?"

Memang apa yang dikatakan gadis itu benar-benar membuat hati pemuda ini kaget sekali. Dia tidak mengira bahwa Pek Hong agaknya telah mengetahui semua peristiwa yang menimpa dirinya itu sedemikian jauh, bahkan rupanya jauh lebih lengkap dari yang diketahuinya. Buktinya dia memang tahu bahwa di balik semua kejadian ini pasti terdapat pihak ketiga yang memfitnahnya. Dan dia sudah berusaha untuk mencari tahu tentang hal ini namun gagal.

Sekarang tanpa disangka-sangkanya gadis ini mengatakan tahu siapa biang keladi si pelempar fitnah! Tentu saja dia terkejut sekali dan menjadi girang, ingin tahu siapakah iblis yang telah membuat namanya rusak itu. Dengan mata terbelalak dan kedua tangan dikepal Bu Kong menanti jawaban dari mulut gadis ini, akan tetapi dia merasa heran melihat Pek Hong hanya berdiri dan memandangnya ragu-ragu.

"Ehh, Hong-moi, ada apakah?" tanyanya sambil melangkah maju.

Pek Hong menarik napas panjang. "Yap-goanswe, apa yang hendak kukatakan di sini adalah berita yang amat penting sekali bagimu. Oleh sebab itu, persiapkanlah perasaanmu untuk mendengarnya," gadis itu berkata dan matanya memandang tajam.

Bu Kong menghentikan langkahnya, wajahnya pucat dan jantungnya berdegup kencang. Kata-kata yang diucapkan gadis ini masuk ke telinganya satu persatu dan dari nada suara itu dia maklum bahwa terdapat suatu kejutan besar di dalamnya. Kalau tidak, tidak mungkin sikap murid Ta Bhok Hwesio ini akan sedemikian rupa. Maka cepat dia menenangkan hatinya yang berguncang dan setelah merasa siap, dengan suara tenang pemuda ini menjawab, "Hong-moi, katakanlah segera. Aku telah mempersiapkan diri mendengar hal-hal yang paling mengejutkan dari mulutmu. Terangkanlah..."

"Baik," Pek Hong menganggukkan kepalanya dan setelah menatap tajam wajah itu, gadis ini melanjutkan, "Ketahuilah, Yap-koko, bahwa biang keladi semua peristiwa ini bukan lain adalah...."

Pek Hong berhenti sampai di sini dan Bu Kong menekan debar jantungnya. "Teruskanlah, Hong-moi, aku siap mendengarnya," pemuda itu meminta.

"Manusia iblis itu bukan lain adalah.... ayah Siu Li, koko, Ok-ciangkun yang menjadi orang pertama dari Tiga Panglima Besar Kerajaan Wu!”

Hening sejenak setelah rahasia besar itu terungkap. Meskipun Bu Kong telah mempersiapkan diri, namun tidak urung jantungnya bergetar hebat dan wajah pemuda ini berobah pucat. Ayah Siu Li! Siu Li! Nama inilah yang terutama sekali mengguncangkan hatinya. Kalau saja Pek Hong tidak menekankan nama ini, agaknya tidak sebegitu hebat getaran jantung pemuda itu. Akan tetapi Pek Hong telah mengatakan nama ini. Siu Li!

Perlahan-lahan muka yang pucat itu berobah merah dan Pek Hong melihat betapa sepasang mata Yap-goanswe berapi-api. Gadis ini memang sengaja menyebutkan nama Siu Li untuk melihat reaksi pemuda itu. Dia tahu bahwa nama ini mempunyai kesan mendalam di hati bekas jenderal muda itu, maka dia ingin mencobanya. Kalau pemuda ini marah, berarti kebencian telah tertanam di hati pemuda itu dan hal ini tentu saja amat bagus baginya. Saingan berat berarti lenyap dan ia boleh merasa lega.

Maka untuk menambah "minyak" Pek Hong lalu menyambung, "Dan panglima tua berhati keji itu untuk memperkuat kedudukannya telah bersekongkol dengan Cheng-gan Sian-jin. Tentu saja maksudnya adalah untuk berjaga-jaga dari pembalasanmu. Kalau manusia iblis macam datuk sesat seperti itu berkawan dengan seekor serigala seperti Panglima Ok, telur busuk apa saja yang tidak akan berhasil mereka adakan? Yap-koko, orang telah membuat hidupmu hancur di mata orang lain, maka tidak boleh tidak semua kejahatan ini harus di balas!"

Bu Kong menggereng. Disebutnya nama Cheng-gan Sian-jin ini membuat kemarahannya semakin berkobar. Iblis tua ini telah menjerumuskannya ke dalam pecomberan yang amat busuk, dan dia benar-benar telah melakukan perbuatan terkutuk bersama keponakan Lie-thaikam! Kalau tadinya kabar perjinaannya dengan Bwee Li hanya fitnah belaka dan dia berani sumpah menyatakan diri sendiri masih "bersih", adalah sekarang dia benar-benar telah kotor dan zinah itu telah dilakukannya

Dan ini semua adalah "telur busuk" hasil Cheng-gan Sian-jin! Tentu saja Bu Kong tidak dapat menahan diri lagi. Kemarahan yang meluap membuat dadanya seakan meledak dan tiba-tiba pemuda ini berteriak keras. Tubuhnya mencelat ke kiri dan tangan kanannya menghajar sebatang pohon liu yang berada di sebelah kirinya.

"Cheng-gan Sian-jin, kubunuh kau.... kubunuh kau, jahanam keparat!” pemuda itu memekik dan sekali tangannya menyambar, pohon liu sepelukan orang dewasa itu roboh sambil mengeluarkan suara hiruk-pikuk. Tidak puas sampai di sini saja, Bu Kong lalu berkelebatan kesana kemari dan mulutnya melengking nyaring melampiaskan kemarahannya. Sebentar saja, belasan pohon roboh tumpang tindih diamuk murid Malaikat Gurun Neraka ini.

Pek Hong memandang dengan mata terbelalak dan gadis ini berdiri di tempatnya tanpa suara menyaksikan kemarahan pemuda itu. Dia tahu bahwa perasaan pemuda itu terguncang, maka dia memberi kesempatan untuk menyalurkan gejolak amarah di hati pemuda itu.

Akhirnya, setelah tidak ada sasaran lagi, Bu Kong berdiri dengan napas terengah-engah dan mata mendelik. Kemarahannya memang masih ada, namun dadanya sudah agak longgar. Kebenciaannya terhadap Cheng-gan Sian-jin dan Tok-Sim Sian-li memuncak hebatnya dan kalau saja dua orang itu berada di mukanya, agaknya dia sudah menerjangnya tanpa memperdulikan nyawa sendiri.

Giginya berkerot-kerot dan teringat betapa Ok-ciangkun (Panglima she Ok) bersekutu dengan manusia iblis macam Cheng-gan Sian-jin benar-benar membuat batinnya terpukul. Kalau saja panglima itu bukan ayah Siu Li, dia tidak akan sedemikian perduli. Akan tetapi justeru panglima tua itu ayah dari gadis yang amat dicintainya. Dan sekarang ayah dari gadis itu pula yang memfitnah dirinya sedemikian kejam dan jahatnya!

Bu Kong mengeluh dan tubuhnya terhuyung-huyung, "Thian Yang Maha Agung, adilkah nasib yang kau jatuhkan kepada hamba-Mu ini? Apakah kesalahanku terhadap mereka? Siapakah yang memulai dulu permusuhan ini? Tuhan, engkau tidak adil…. Engkau tidak adil... oohh!" Bu Kong terguling dan pemuda ini roboh di atas rumput, pingsan tak sadarkan diri dengan hati penuh kecewa.

"Yap-koko...!" Pek Hong terkejut dan gadis ini melompat ke depan. Cepat ia meraba denyut nadi di pergelangan tangan dan ketika mengetahui bahwa pemuda itu hanya pingsan saja, hatinya lega. Tadinya dia khawatir luka pemuda ini kambuh. Dan kalau hal ini terjadi, tentu saja berbahaya sekali. Maka cepat dia mengurut belakang leher dan menotok beberapa jalan darah untuk menyadarkan pemuda itu, dan tak lama kemudian siumanlah bekas jenderal muda ini.

"Ahh...!" melihat betapa dirinya dirangkul gadis itu, Bu Kong melompat bangun. Dengan muka merah dia berkata, "Hong-moi, terima kasih aku tidak apa-apa...."

"Akan tetapi, kau tadi..."

"Tidak, aku sudah kuat lagi," Bu Kong menggelengkan kepala dan memotong cepat.

Pek Hong menggeser duduknya dan memandang pemuda itu dengan penuh keharuan. "Yap-koko, kau sendiri telah menyata kan bahwa kau sudah siap untuk menerima berita ini, harap jangan menyalahkan aku," katanya perlahan.

Bu Kong menarik napas dalam-dalam dan wajah yang gagah tampan itu diliputi awan kedukaan yang kelam. Sorot matanya tiba-tiba menjadi dingin dan memandang ke depan dengan sikap acuh tak acuh. Namun ketika mendengar ucapan gadis itu dia menjawab dengan tersenyum getir, "Mengapa aku harus menyalahkan engkau?! Tidak, Hong-moi, bahkan aku merasa amat berterima kasih bahwa engkau telah memberitahukan biang keladi kejahatan ini. Sudah lama aku mencari-cari, sungguh tidak kuduga bahwa Wu-sam-tai-ciangkunlah yang berdiri di balik layar ini, mereka memang panglima berhati keji!" Bu Kong mengepal tinjunya.

"Tapi puterinya malah menyelamatkan jiwamu dari keganasan racun Cheng-gan Sian-jin!" Pek Hong berkata seperti sambil lalu namun dengan sudut matanya dia melirik pemuda ini.

Muka Bu Kong sedetik berobah pucat, dan gadis ini melihat betapa mulut pemuda itu menyeringai seakan-akan menahan nyeri di dalam hati. Dia dapat menduga bahwa tentu pemuda ini merasa terpukul dan diombang-ambingkan dua perasaan bertentangan. Yang satu membenci sang ayah akan tetapi yang lain mencinta sang puteri.

Membayangkan ini saja diam-diam hati Pek Hong juga ikut nyeri. Ada suatu perasaan tidak enak di hatinya, perasaan marah dan cemburu. Namun teringat bahwa Siu Li kini telah menjadi seorang gadis cacad, diam-diam dia agak lega. Panglima Ok telah membuat kesengsaraan dan penderitaan yang tidak sedikit terhadap pemuda ini. Misalnya mereka berdua saling mencintapun belum tentu akan dapat hidup bersama. Dan kejahatan Ok-ciangkun itu sedikit banyak akan mempengaruhi perasaan pemuda ini terhadap Siu Li.

"Hong-moi, dari mana kau bisa menyingkap rahasia ini?" tiba-tiba Bu Kong bertanya dan memandang gadis itu dengan mata tajam.

Pek Hong balas memandang dan dengan tenang gadis ini menjawab, "Dari Phoa-lojin."

Bu Kong terkejut dan sepasang mata pemuda ini terbelalak lebar. "Hah? Phoa-lojin?" serunya kaget. "Kapan kau bertemu dengan kakek itu dan dimana dia sekarang?"

Gadis itu menggelengkan kepala. "Entahlah, Yap-koko, aku tidak tahu. Yang jelas, keterangan dari kakek itulah yang telah menyelamatkanmu dari ancaman bahaya maut. Mula-mula gurumu datang dan hendak membunuhmu, akan tetapi tiba-tiba muncul kakek itu. Dia memang ahli ramal jempolan yang agaknya dapat dipercaya penuh. Buktinya, suhu (guruku) sendiri tidak banyak membantah dan mempercayai apa yang dikatakan Phoa-lojin bulat-bulat."

Bu Kong mengangguk, "Memang, kakek itu memang hebat. Dia seakan-akan tahu apa yang terjadi di dunia ini, yang dulu maupun yang akan datang! Dan justeru karena ilmunya yang luar biasa itulah aku hendak berkunjung ke Pulau Cemara yang menjadi tempat tinggalnya. Sayang, badai di Laut Tung-hai membuat perjalanan kami terhalang dan di tepi laut itu pulalah aku bertemu dengan Cheng-gan Sian-jin."

"Kami?" Pek Hong bertanya dan gadis ini pura-pura heran. Padahal, tentu saja dia dapat menduga bahwa pada saat pemuda itu hendak ke Pulau Cemara tentu bersama Bwee Li seperti yang pernah diceritakan kakek Phoa di kuil tua.

"Ya, kami, maksudku, aku bersama Bwee Li yang kuseret sepanjang jalan untuk menjumpai kakek itu."

"Oh? Dan di mana sekarang wanita itu?"

"Entahlah. Pada saat aku bertanding melawan Cheng-gan Sian-jin yang mempergunakan sihir, Hek-mo-ko melakukan kecurangan dan membokongku hingga pingsan."

"Hemm, iblis hitam itu memang tangan kanan Cheng-gan Sian-jin. Namun, dia sudah dihajar suhu habis-habisan ketika kami menyerbu gedung datuk sesat itu untuk menolong dirimu,” kata Pek Hong.

"Begitukah? Bagus sekali, dan kalau di lain kesempatan aku bertemu dengan dia pasti akan kubunuh kakek hitam itu. Hong-moi, sekarang dapatkah engkau menceritakan ramalan selengkapnya dari Phoa lojin? Dan bagaimana dia muncul menemui suhu? Di manakah sekarang guruku itu?"

"Semua kejadian yang menimpamu ini memang sudah menjadi garis nasib hidupmu, Yap-koko, demikian kata kakek itu. Dan untuk inilah maka dia keluar dari Pulau Cemara buat menolongmu juga menolong dunia."

"Menolong dunia?"

"Ya, demikian katanya. Aku sendiri kurang mengerti apa maksud kata-katanya itu, dan aku tidak bertanya lebih lanjut. Yang penting, engkau dapat diselamatkan dan fitnah keji ini dapat terbongkar. Sayang rahasia ini belum bisa dikupas seluruhnya karena menemui jalan buntu."

Pek Hong lalu menceritakan tentang semua yang dikatakan oleh si tukang ramal itu dan Bu Kong mendengarkan dengan penuh perhatian. Mendengar betapa kakek itu menebak peristiwa-peristiwa melalui telapak tangannya, diam-diam dia merasa kagum. Apa yang dikatakan tukang gwa-mia itu memang sebagian besar dia rasa cocok dan masuk akal, bukan sekedar tebakan tukang ramal kampung di pinggir jalan.

"Akan tetapi sayang," demikian akhirnya Pek Hong menutup. "Dalang pokok yang langsung mencemarkan namamu itu tidak terlihat jelas oleh kakek Phoa. Orang ini pandai sihir dan mukanya samar-samar, tapi katanya dia masih muda, licik lagi curang. Dan justeru pemuda inilah yang telah menyamar sebagai dirimu untuk bermain gila dengan Bwee Li!"

"Dan satu-satunya tanda yang dapat dijadikan bukti adalah luka di bawah dagu,” Bu Kong berkata sambil mengepalkan tinjunya.

"Benar," jawab Pek Hong, “Phoa lojin mengatakan demikian seperti kata Bwee Li yang ditemui Phoa-lojin di tepi pantai waktu itu.”

"Dan di mana sekarang Bwee Li? Apakah dia ikut kakek itu?"

Pek Hong menggeleng. "Tidak. Wanita itu pergi seorang diri. Katanya hendak mencari musuh besarnya hingga dapat."

"Ahh, mana mungkin?" Bu Kong berseru kaget. "Dia tidak tahu siapa jahanam keparat itu dan dia tidak tahu pula di mana iblis itu berada.”

"Akan tetapi, Yap-koko, dalam hal ini kau keliru. Meskipun kita semua sampai sekarang masih belum tahu siapa pemuda yang pandai sihir ini, namun Phoa-lojin tahu dimana beradanya pemuda itu!"

"Ah, begitukah?" Bu Kong terkejut. "Kalau begitu kita pergi ke sana sekarang juga!"

Pemuda ini melompat bangun akan tetapi Pek Hong menggoyang tangannya. "Jangan terburu-buru. Yap-koko, petunjuk yang diberikan kakek Phoa berlaku dalam beberapa hari yang lalu, mungkin sekarang iblis itu sudah tidak ada lagi di sana..."

“Ahh...." Bu Kong berseru kecewa dan dia bertanya lagi, “Menurut Phoa-lojin, dimana waktu itu dia berada, Hong-moi?”

“Kakek Phoa tidak memberikan petunjuk yang jelas, hanya dia memberitahukan bahwa orang yang dicari berada disebelah utara,” jawab gadis ini.

Bu Kong lalu termenung. Keterangan Pek Hong ini membantunya menyingkap tabir rahasia yang menimpa dirinya. Kini tahulah dia bahwa dalang yang berdiri di belakang peristiwa ini berjumlah empat orang, dan orang keempat adalah yang justeru merupakan tokoh langsung yang mencemarkan namanya. Wu-sam-tai-ciangkun agaknya telah menggunakan seorang yang pandai sihir untuk mempengaruhi Bwee Li dan perbuatan pemuda itu berhasil.

Diam-diam otaknya bekerja cepat. Dicobanya untuk mengingat-ingat siapa kiranya yang patut dicurigai sebagai pemuda itu. Kui Lun-kah? Ahh, tidak mungkin. Dia tahu bahwa pemuda putera Ok ciangkun itu tidak bisa sihir, jadi pasti bukan kakak Siu Li ini. Lalu siapa kalau begitu? Tiba-tiba Bu Kong melompat bangun, "Ahh, agaknya dia, Hong-moi!" serunya dengan wajah gembira.

Pek Hong terkejut dan gadis ini juga melompat kaget. Seruan tiba-tiba dari pemuda itu membuat hatinya berdebar tegang dan girang, maka cepat dia bertanya, "Siapakah, Yap-koko? Kau tahu orang itu?"

"Ya... ya, agaknya dia!"

"Dia siapa?"

"Murid Cheng-gan Sian jin! Bukankah iblis tua itu pandai ilmu sihir? Maka tentu muridnyalah yang melakukan penyamaran itu!"

"Ahh, tidak benar," Pek Hong menjawab lemas dan gadis ini duduk kembali. "Kakek Phoa bilang bahwa pemuda ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Cheng-gan Sian-jin. Juga, selain Tok-sim Sian-li yang menjadi murid perempuannya, iblis tua itu tidak mempunyai murid lain. Tebakanmu meleset, koko."

Bu Kong terbelalak dan akhirnya pemuda ini membanting tubuhnya dengan kesal. Bantahan gadis itu melumpuhkan kegembiraannya yang merasa telah berhasil menemukan musuh besar dan kini dia memandang ke depan dengan mata mendelong.

"Hemm, selain Cheng gan Sian-jin yang pandai ilmu sihir, lalu siapa lagi yang patut kita curigai?" Bu Kong mengeluh kecewa. "Kalau dulu sebelum datuk ini muncul, memang kutahu ada seorang tokoh sesat lain yang pandai ilmu sihir. Akan tetapi dia sudah tewas dan tidak mungkin dia yang melakukan perbuatan ini."

Pek Hong tertarik, "Siapakah, Yap-koko? Apakah.... ehh , wahh! Benar...! Benar.... Pasti dia! Yap-koko, ketemulah sekarang siapa orang ini!"

Gadis itu mendadak melompat bangun dan melonjak-lonjak girang sambil tertawa gembira seperti anak kecil mendapat kembang gula. Dan saking gembiranya berhasil menemukan orang yang dicari-cari itu, gadis ini lalu berteriak-teriak, "Yap goanswe, musuhmu ketemu! Aku berani sumpah potong leher bahwa pasti jahanam inilah yang telah merusak namamu itu!"

Bu Kong terkesiap dan pemuda ini melompat dengan mata bersinar. Sikap gadis ini mengejutkan hatinya maka tidak tahan lagi dia untuk berdiam diri. Dengan suara gemetar dia lalu bertanya, "Hong-moi, siapakah yang kau maksudkan itu? Dan apakah kau yakin betul bahwa memang orang ini yang kita cari-cari?"

Pek Hong berhenti bersorak dan dengan senyum penuh kemenangan dia memandang Bu Kong sambil tersenyum manis. Dengan dada agak berombak dia lalu berkata, "Yap-koko, mana mungkin aku keliru? Tidak, tidak mungkin salah. Coba jawab pertanyaanku ini, bukankah orang yang kau maksudkan pandai sihir dan telah tewas itu adalah Ang-i Lo-mo?"

Bu Kong mengangguk. "Benar. Dari mana kau tahu?" tanyanya heran.

"Ahh, masa menduga begitu saja harus mencari keterangan dari orang lain? Siapa lagi tokoh sesat yang pandai sihir sebelum Cheng-gan Sian-jin? Kukira hanya Ang-i Lo-mo itulah! Nah, dari sinilah kita menemukan jawabannya."

"Siapa, Hong-moi?" pemuda itu tertarik dan melangkah maju dengan hati berdebar. Jawaban agaknya sudah di ambang pintu, maka tentu saja Bu Kong merasa tegang.

Pek Hong tersenyum melihat ketegangan pemuda ini dan dia sengaja menahan-nahan keterangan. Dengan muka berseri dia bahkan bertanya, "Yap koko, masa kau tidak tahu? Tidak dapatkah engkau menebaknya sendiri?”

"Hong-moi, aku terlalu tegang menanti jawabanmu. Otakku keruh dan tidak dapat berpikir panjang. Kalau sekarang kau yang tahu, harap beritahukan segera."

"Baiklah," gadis ini menjawab. "Dia bukan lain adalah..." Pek Hong tiba-tiba menghentikan kata-katanya karena mendadak Bu Kong mengangkat tangan kiri memberi isyarat."Ada apakah, Yap-koko?" gadis itu bertanya heran.

"Aku mendengar suara pakaian berkibar. Agaknya ada seseorang yang mengintai, akan tetapi suara itu sekarang telah hilang. Hemm, baik, nanti saja kucari dia dan sekarang lanjutkan kata-katamu tadi."

Bu Kong berkata tenang dan Pek Hong sekarang yang menjadi tegang. Dia memandang pemuda itu dengan mata terbelalak, lalu menoleh ke kanan kiri, akan tetapi Bu Kong kembali mengangkat tangannya, "Teruskanlah, Hong-moi, tidak ada apa-apa."

Ucapan ini menenangkan hatinya dan mengusir kegelisahannya. Yap-goanswe berada di sini, untuk apa takut? Maka dengan suara mantap penuh keyakinan Pek Hong berkata tandas, "Dia bukan lain adalah murid Ang-i Lo-mo sendiri, Yap-koko!"

"Hahh??" Bu Kong melompat kaget dan memandang gadis ini dengan mata terbelalak. "Murid Ang-i Lo-mo? Mengapa aku tidak pernah mendengarnya?"

Memang di dalam cerita "Hancurnya Sebuah Kerajaan" yang lalu, murid Ang-i Lo-mo yang bernama Pouw Kwi itu tidak pernah menampakkan diri. Inilah sebabnya mengapa tidak banyak orang tahu bahwa Ang-i Lo-mo mempunyai murid. Maka tentu saja bekas jenderal muda itu terkejut sekali menerima keterangan ini.

Pek Hong mengangguk. "Benar, Yap koko, aku berani bertaruh bahwa murid mendiang iblis tua itulah yang menyamar sebagai dirimu untuk membuat kekacauan. Dan hal ini memang tidak aneh. Kematian gurunya tentu membuat pemuda itu merasa dendam kepadamu. Maka bersama Wu-sam-tai-ciangkun pemuda itu lalu menemukan akal keji ini."

"Tapi, mengapa aku tidak pernah mendengar bahwa Ang- i Lo-mo mempunyai murid? Dan kenapa pula ketika Ang-i Lo-mo bertanding sampai tewas di tanganku, muridnya tidak pernah muncul? Hong-moi, dari manakah kau tahu tentang semuanya ini?"

Gadis itu tersenyum . "Aku tahu dari mulut seorang perwira Wu yang kutangkap di dekat gedung Ok-ciangkun, untuk mengorek keterangan ketika mencari dirimu yang tertawan Cheng-gan Sian-jin. Perwira itu mengatakan bahwa ada seorang pemuda yang membantu Wu-sam-tai ciangkun di samping Cheng-gan Sian- jin yang kini diangkat menjadi koksu. Tadinya kukira pemuda yang dimaksudkan ini adalah Kui Lun, tapi ternyata bukan. Dia mengatakan bahwa pemuda itu adalah murid mendiang Ang-i Lo-mo, dan tadinya aku sendiri tidak tertarik oleh keterangan ini. Akan tetapi, ketika engkau tadi mengingatkan bahwa sebelum Cheng-gan Sian-jin masih terdapat seorang datuk sesat yang pandai sihir dan sudah tewas, siapa lagi kalau bukan mendiang Ang-i Lo-mo? Dan kakek itu mempunyai seorang murid yang membantu Wu-sam-tai-ciangkun secara diam-diam! Nah, siapa lagi kalau bukan dia?"

Keterangan panjang lebar ini membuat Bu Kong tertegun dan akhirnya pemuda itu mengepal tinju dengan mata berapi-api. "Keparat! Kalau begitu aku harus mencari manusia terkutuk itu dan membunuhnya!" desisnya penuh kemarahan.

"Benar, Yap-koko, manusia berwatak iblis begitu memang harus kita cari. Apalagi kau sendiri yang menjadi orang yang berkepentingan langsung.. Dan tentang kemunculannya yang tidak pernah nampak pada saat gurunya tewas di tanganmu, tentunya pada saat itu dia sedang pergi ke istana Raja Muda Yun Chang untuk menjalankan akal kejinya. Bukankah semua kesimpulan ini amat sederhana dan masuk akal?"

Gigi Bu Kong berkerot. Semakin lama dia menjadi semakin jelas akan uraian gadis ini dan tentu saja dia marah sekali. Pantas kalau begini. Pada saat Ang-i Lo-mo terbunuh, muridnya yang berhati keji itu tentu lalu berunding dengan Wu-sam-tai-ciangkun dan dari hasil perundingan empat orang inilah dihasilkan sebuah "telur busuk".

Dia pada waktu itu masih sibuk menghantam pasukan musuh, maka tidaklah sukar bagi murid Ang-i Lo-mo itu buat memasuki istana Yun Chang dan dengan bantuan sihirnya, Bwee Li terjatuh di tangannya yang menganggap pemuda ini sebagai Yap-goanswe. Sungguh hasil kerja yang rapi dan bagus tetapi keji!

Dengan demikian, karena murid Ang-i Lo-mo itu sendiri memang telah membuatnya sedemikian rupa sehingga Yun Chang akan mengetahui perjinaannya bersama selirnya yang cantik dan amat disayang itu, terjadilah perpecahan di antara Raja Muda Yun Chang dengan Yap-goanswe. Ini berarti memukul kekuatan Kerajaan Yueh dari dalam karena Yun Chang tentu akan menghukum jenderal mudanya yang berjina itu. Dan di samping ini, nama Yap-goanswe yang terkenal gagah perkasa itu otomatis hancur berantakan di mata orang karena tertangkap basah ketika sedang melakukan permainan cintanya di kamar selir Yun Chang!

"Sungguh siasat yang amat keji!" Bu Kong berseru penuh kemarahan dan mukanya merah padam. "Hong-moi, kalau begitu aku akan menemui Wu-sam-tai-ciangkun dan membunuh mereka, juga sekalian mencari murid Ang-i Lo-mo itu!"

Pek Hong terkejut. "Apa? Kau hendak mendatangi Wu-sam-tai ciangkun yang berada di kota raja? Ah, Yap-koko, hal ini amat berbahaya sekali! Semenjak lolosnya para penyerbu, kota raja dijaga semakin kuat, juga Cheng-gan Sian-jin berada di sana. Bagaimana seorang diri kau hendak kesana?”

"Aku tidak takut, aku akan berhati-hati!" jawab pemuda ini dengan suara keras.

"Akan tetapi..." Pek Hong ragu-ragu dan pada saat itulah tiba-tiba Bu Kong membentak sambil melompat ke kiri.

"Siapa di situ? Hayo keluar!"

Tangan kanan bekas jenderal muda ini menampar dan semak belukar itu roboh terpukul angin pukulannya yang kuat. Sesosok bayangan putih berkelebat dari tempat gelap dan terdengar seruan nyaring yang agak gemetar,

"Yap-goanswe. tahan seranganmu...!!" Dan di tempat itu, di bawah sinar bulan yang baru muncul di langit yang bersih tanpa awan, seorang gadis cantik jelita berpakaian putih berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil.

Dua orang ini terkejut bukan main dan mereka mengeluarkan seruan kaget sampai melompat mundur ketika mengenal siapa gadis itu yang bukan lain adalah Siu Li adanya!

"Kau.... kau...?!" Bu Kong tergagap dan pemuda ini tertegun tak mampu melanjutkan kata-katanya. Sepasang matanya terbelalak dan ketika tiba-tiba matanya membentur lengan kiri yang kosong, pemuda ini merasa seperti disambar petir. "Li-moi, lenganmu... lenganmu itu.... buntung...?" Bu Kong terkejut setengah mati dan tenggorokannya seperti dicekik.

Siu Li menenangkan perasaannya yang seperti diremas dan gadis ini melang kah maju. Sejenak dua pasang mata beradu pandang dan jantung gadis ini tergetar. Dia melihat betapa sinar cinta kasih tiba-tiba memancar terang dari mata pemuda penuh kerinduan, penuh kemesraan dan penuh keharuan.

Tentu saja Pek Hong juga melihat semuanya ini dan gadis itu merasa tertusuk. Kehadiran Siu Li yang amat mendadak di tempat ini sungguh mengejutkannya. Sebenarnya, semenjak puteri Ok-ciangkun ini membuntungi lengan sendiri atas permintaannya, hati Pek Hong sudah merasa tidak enak sekali. Tadinya hal itu dilakukan karena ia menduga bahwa Siu Li pasti akan menolak. Siapa sangka, murid mendiang Mo-i Thai-houw itu benar-benar melaksanakan permintaannya dan membuntungi lengan kiri untuk penebus "dosanya" terhadap Yap-goanswe.

Dan kini, tiba-tiba saja gadis ini muncul di tempat itu. Kalau Bu Kong tahu bahwa Siu Li membuntungi lengan atas permintaannya, ia tidak tahu bagaimanakah reaksi pemuda itu! Maka hal ini membuat Pek Hong tegang sekali dan diam-diam jantungnya berdebar kencang.

"Yap goanswe..." Siu Li menundukkan mukanya dan berkata dengan suara gemetar, "anak seorang jahat sudah sepatutnya menerima hukuman seperti ini. Untuk apa diherankan? Aku sudah mendengar semua percakapan kalian dan apa yang dikatakan oleh adik Hong memang benar. Ayah bersama rekan-rekannya telah melempar fitnah keji kepadamu, dan itu semua mereka lakukan karena menurut mereka, ini hanyalah sekedar siasat untuk mengalahkan Kerajaan Yueh yang terlalu kuat kalau kau masih berada di sana. Itulah sebabnya maka dicari suatu akal bagaimanakah caranya agar engkau tidak lagi membantu Yueh. Engkau terlalu kuat untuk dikalahkan begitu saja, maka ayah lalu menemukan siasat ini dan terjadilah semuanya seperti apa yang telah kau alami."

Pucat wajah pemuda ini dan dia memandang gadis itu dengan mata terbelalak. Bu Kong tak mampu mengeluarkan suara karena perasaannya semakin terpukul hebat. Kalau tadi yang di katakan Pek Hong adalah sekedar dugaan, kini apa yang dikatakan Siu Li adalah pengakuan sebenarnya!

Tentu saja Bu Kong terpaku. Dia tak tahu bagaimanakah perasaannya sendiri pada saat itu, perasaan yang bergolak dan bercampur aduk tidak karuan. Ada rasa marah, benci, dendam akan tetapi juga ada rasa kasih, iba dan terharu melihat nasib kekasihnya yang mempunyai ayah semacam itu. Gadis ini telah berkhianat terhadap ayah sendiri karena pengakuannya itu akan membuat kedudukan ayahnya terancam pembalasan dendamnya!

Akan tetapi gadis itu sendiri juga pernah mengkhianatinya ketika pura-pura membantu Yueh padahal sebenarnya merupakan mata-mata Wu yang diselundupkan ke pasukannya. Gadis ini mengalami posisi yang luar biasa sulitnya, sebentar condong ke ayah namun sebentar kemudian condong ke pada dirinya. Dan hal ini membuktikan bahwa hingga saat inipun juga cinta kasih di dalam hati gadis itu tidak dapat dilenyapkan!

"Li-moi..." suara Bu Kong juga gemetar dan pemuda ini melangkah maju terhuyung-huyung, matanya nanar memandang ke depan, "betapa buruk nasibmu.... betapa buruk nasib kita… Ohh, Dewi Welas Asih, dosa-dosa apakah yang dulu telah kami perbuat? Li-moi, ayahmu memang kejam, dan dia telah merusak namaku sedemikian rupa. Tidak patutkah kalau aku membalas semua kejahatannya ini? Tidak bolehkah aku membalas dendam dan membersihkan namaku dari kecemaran? Tuhan... mengapa Engkau membuat keadaan kami menjadi begini...?"

Bu Kong mengeluh dan akhirnya pemuda ini tak dapat menahan diri lagi, menubruk gadis itu dan mendekapnya kuat-kuat dengan hati remuk penuh kedukaan dan kebingungan. Sudah lama dua orang kekasih yang saling mencinta ini tidak berjumpa. Semenjak Bu Kong terfitnah, Siu Li sendiri lalu meninggalkan Wu dan bersunyi diri merenungkan nasibnya yang buruk di Lembah Bambu Kuning. Meskipun di dalam hati gadis ini tidak dapat menyetujui cara-cara kotor yang dilakukan ayahnya, akan tetapi orang tua tetap orang tua!

Dan inilah yang menyulitkannya. Keadaan ini menjepit kedudukannya dari dua arah. Semenjak fitnah keji yang didalangi oleh ayahnya bertiga, Siu Li sadar bahwa ayahnya memang bukan orang baik-baik. Dan kenyataan ini malah menonjolkan pribadi Yap-goanswe yang gagah perkasa dan yang tidak suka melakukan segala tipu curang.

Kenyataan ini ma mlah membuat pandangannya terhadap pemuda itu semakin tinggi dan kekaguman serta cinta kasihnya terhadap jenderal muda itu meningkat. Betapa gagahnya pemuda itu, betapa mengagumkan. Dan sekarang pemuda yang demikian gagah perkasa dan mengagumkan dirusak namanya oleh ayahnya sendiri!

Siapa tidak akan berduka? Maka tanpa dapat ditahan lagi gadis inipun menjadi basah matanya dan sejenak tubuhnya menggigil di pelukan pemuda itu. Betapa rindunya ia akan suasana seperti ini, merasakan dekapan kekasih dan belaian sayangnya. Namun tiba-tiba dalam kesuraman air mata ini Siu Li melihat sorot mata lain sedang memandangnya berapi-api. Seketika gadis itu terkejut dan sadarlah dia bahwa di tempat ini masih terdapat orang lain dan orang ini bukan lain adalah Pek Hong!

"Ahh...!" Siu Li berseru dan cepat ia merenggutkan dirinya, terlepas dari pelukan pemuda itu. Dengan muka pucat gadis ini melompat mundur dan dengan suara gagap dia berkata, "Yap-goanswe, apa... apa yang kau lakukan ini? Aku adalah puteri musuh besarmu! Tidak ingatkah engkau? Dan kau... kau... ahh....!" Siu Li mundur-mundur dan karena lengah, ia tidak tahu betapa di belakangnya terdapat tanah legok dan ketika kakinya menginjak bagian kosong ini, tanpa ampun lagi tubuhnya terjengkang.

"Li-moi...!" Bu Kong berseru dan pemuda ini melompat menyambar lengan gadis itu. Tapi karena dia lupa bahwa tangan kiri gadis itu buntung, maka yang tertangkap adalah lengan baju yang kosong melompong.

"Brett...!" lengan baju itu robek didalam cengkeraman Bu Kong sementara Siu Li sendiri tetap terjerumus di lubang itu. Bu Kong terkejut dan pemuda ini berdiri terbelalak, melihat betapa dengan muka pucat kekasihnya itu melompat dan terhuyung-huyung memandang dirinya dengan air mata bercucuran.

"Yap-goanswe, jangan sentuh aku lagi! Aku adalah musuhmu! Dengarkah ini? Aku adalah musuhmu! Sekali kau bersikap kurang ajar, aku akan membunuhmu...!"

"Li-moi..."

"Diam!" gadis itu membentak. "Aku bukan adikmu, akupun bukan pula... kekasihmu! Tahukah engkau? Maka, sekali lagi kau bicara yang tidak-tidak, aku tidak akan segan-segan menyerangmu biarpun kau berkepandaian jauh lebih tinggi dariku."

"Ahh...!" Bu Kong tertegun dan tiba-tiba angin halus berdesir di sampingnya. Ketika dia menoleh, barulah pemuda ini terkejut melihat Pek Hong telah berdiri di sampingnya dengan pandangan dingin!

"Yap goanswe," Pek Hong berkata dan merobah sebutannya dari Yap-koko menjadi Yap-goanswe, "kalau ia sendiri sudah mengakui diri sebagai musuh, kenapa kau bersikap lemah begini? Di mana kegagahanmu? Di mana kejantananmu? Orang telah bersikap kasar kepadamu, maka tidak selayaknya kalau engkau terus mengalah!"

"Akan tetapi... akan tetapi ia bukan musuh kita, Hong-moi... ia tidak ikut apa-apa. Ayahnyalah yang menjadi musuhku, bukan dia!"

"Hemm, tidak ingatkah engkau ketika gadis ini berkhianat kepadamu? Ketika ia menyelundup sebagai mata-mata di pasukanmu?"

"Namun itupun ia lakukan karena perintah ayahnya!"

"Perintah atau bukan, dia yang melakukan pekerjaan ini! Apakah tidak bisa dianggap musuh?" Pek Hong berkata marah dan gadis yang diam-diam sudah marah menyaksikan adegan tadi kini menjadi semakin naik darah mendengar bantahan-bantahan Bu Kong yang merupakan pembelaan terhadap puteri Panglima Ok ini. Dan ia tahu apa yang menyebabkan pemuda itu berbuat demikian. Tentu cinta kasihnya yang tumbuh kembali!

Bu Kong memandang murid Ta Bhok Hwesio ini dengan mata dibuka lebar-lebar. Dari semua ucapan gadis ini dia merasakan tekanan-tekanan tajam dan baru setelah dia melihat muka yang merah serta sepasang mata yang berapi-api itu pemuda ini terkejut dan sadar. Tentu saja dia merasa seakan-akan diguyur air dingin! "Ahh!" pemuda itu berseru tertahan dan melangkah mundur setindak. Sekarang dia melihat kenyataan ini, kenyataan yang membuatnya bingung. Tadinya, karena kurang memperhatikan, dia bicara dengan murid Ta Bhok Hwesio itu sebagai seorang sahabat. Tapi, setelah kini sadar bahwa gadis itu sendiri tidak menganggapnya sekedar "sahabat" belaka, tentu saja hatinya terkesiap dan terguncang.

"Yap-goanswe," tiba-tiba Siu Li berkata sambil melangkah maju, "Apa yang dikatakan oleh calon isterimu itu benar. Kenapa kau menjadi lemah begini? Seorang laki-laki sejati dapat mengambil keputusan berdasarkan kenyataan, bukan hanya menuruti perasaan hati nurani sendiri. Kalau kau tetap bersikap begini, mana mungkin kau kelak dapat menjadi seorang pemimpin yang disegani orang? Ayahku adalah musuh besarmu, ini kenyataan. Dan aku adalah puterinya. Inipun kenyataan. Kalau engkau tidak menganggapku musuh, maka akulah yang akan menganggap dirimu sebagai musuh karena engkau adalah musuh besar orang tuaku!"

Kata-kata ini seperti pisau berkarat yang menusuk perasaan Bu Kong dan pemuda ini mengeluh perlahan. Tubuhnya menggigil dan kakinya gemetar seperti orang sakit demam. Dan Siu Li lalu melanjutkan, kini menoleh kepada Pek Hong yang memandangnya dengan mata berapi-api itu,

"Dan engkau, adik Hong, semoga engkau tidak salah arah dalam melempar kebencianmu terhadap seseorang. Apabila orang itu memang patut kau benci, bencilah berdasarkan kebenaran, bukan hanya karena luapan hati nurani yang berlebih-lebihan. Hal ini perlu kau ingat agar kelak kau tidak mengalami kesengsaraan dalam menempuh hidup yang penuh kedukaan ini. Nah, kukira cukup sekian perjumpaan kita dan moga-moga kalian berdua dapat hidup bahagia!" Gadis itu membalikkan tubuh, lalu melompat pergi menyembunyikan hatinya yang berdarah dan air mata yang semakin deras mengucur membasahi pipinya.

Pek Hong tertegun dan kata-kata puteri Panglima Ok itu seakan menampar mukanya. "Bencilah berdasarkan kebenaran, bukan hanya karena luapan perasaan diri pribadi yang berlebih-lebihan."

Kata-kata ini tepat menghunjam di sanubarinya dan merupakan sindiran tajam bagi dirinya. Dia tahu apa yang dimaksud kan Siu Li dalam kata-katanya itu. Dan tentu saja dia merasa tidak enak sekali. Kalau Yap-goanswe dan Siu Li saling mencinta, sudah benarkah kalau dia marah-marah terhadap saingannya itu dan membencinya sedemikian rupa sehingga gadis itu mengalami kesengsaraan? benarkah sikapnya ini? Memang sudah sepatutnyakah gadis itu dibenci hanya karena luapan emosinya belaka?

Jika dia mau bicara secara jujur, jawabannya adalah tidak! Namun kenyataan ini terlalu pahit baginya, terlalu berat dan sukar. Maka sejenak gadis ini termangu-mangu, memandang kepergian puteri Panglima Ok itu dengan mata tak berkedip.

Akan tetapi lain halnya bagi Bu Kong sendiri. Begitu Siu Li memutar tubuh dan meninggalkan mereka, pemuda ini tiba-tiba berteriak sambil mengejar, "Li-moi, tunggu dulu...!"

Gerakan gadis itu tertahan dan kakinya menegang kejang, tampak terkejut dan menggigil. Dia memang berhenti, namun sama sekali tidak mau menoleh ke belakang. "Yap-goanswe, kau memanggilku ada keperluan apakah?" tanyanya dengan suara gemetar.

Bu Kong berkelebat dan pemuda ini berdiri di sebelah kiri gadis itu yang tetap tidak mau menengok dan memandang lurus ke depan seperti patung hidup. "Li-moi," Bu Kong berkata dengan napas terengah dan menyentuh lengan baju kiri yang kosong itu dengan jari tangan menggigil. "Aku hendak bertanya, siapakah yang membuntungi lenganmu ini? Siapa...?"

Perlahan-lahan wajah yang sayu itu menoleh, pucat dan air mata deras membanjir di kedua pipinya. "Yap-goanswe, perlukah pertanyaanmu itu kujawab?"

Bu Kong seperti diremas perasaannya dan dengan suara serak dia menjawab, "Perlu, Li-moi, perlu sekali!"

"Untuk apakah?" gadis itu bertanya.

"Untuk membunuh orang yang telah berlaku keji terhadapmu ini!"

"Ahh...!" Siu Li menyurut mundur dan tubuhnya gemetar. "Yap-goanswe, aku adalah musuhmu. Kenapa kau ikut memperdulikan nasibku?"

"Karena aku hendak membalas budimu yang telah kau berikan lewat Dewa Monyet."

"Ahh...!" kembali gadis itu berseru dan tiba-tiba Siu Li terkekeh menyeramkan. "Yap-goanswe, kalau kau ingin tahu siapakah yang membuntungi lenganku ini, nah dengarlah. Orang yang berlaku keji seperti yang kau katakan tadi bukan lain adalah diriku sendiri! Nah, dengarkah engkau? Akulah yang telah membuntungi lenganku sendiri ini, hi-hi-hikk-heh-heh-heh...!" Gadis itu terkekeh-kekeh.

Dan Bu Kong meremang bulu tengkuknya. Kagetnya bukan kepalang mendengar jawaban itu dan dia terhenyak tak mampu bersuara. Sejenak dia seperti mendengar petir di siang bolong, akan tetapi dengan cepat dia telah dapat menguasai diri lagi. "Apa? Kau sendiri, Li-moi?" tanyanya kaget. "Mengapa? Siapa yang menyuruhmu...?"

Siu Li tiba-tiba membalikkan tubuh, ketawanya yang mirip kuntilanak menangis itu sekonyong-konyong berhenti. Dangan mata bersinar-sinar gadis ini menjawab. "Yap-goanswe, pertanyaanmu sudah kelewat jauh. Ini adalah urusan pribadiku sendiri, pantaskah kau bertanya urusan pribadi orang lain? Tidak ada yang menyuruhku, ini semua adalah keinginan hatiku sendiri. Nah, cukup, jangan menggangguku lagi!" Gadis itu mengebutkan lengannya dan menghilang di kegelapan malam.

Bu Kong termangu-mangu, wajahnya pucat dan dia mengepal tinju tak tahu apa yang harus dilakukannya. "Mengapa dia membuntungi lengan sendiri? Siapa yang menyuruhnya? Masa tanpa sebab dia memotong lengan sendiri seperti orang gila?"

Pertanyaan ini ber tubi-tubi memenuhi pikirannya, namun meskipun dia memeras otak sampai tua agaknya juga tidak akan berhasil memecahkan rahasia yang luar biasa ganjilnya ini.

"Yap-goanswe, apa yang dikatakan oleh gadis itu memang benar. Bukan orang lain yang membuntungi lengannya, melainkan dia sendirilah," tiba-tiba Pek Hong maju menghampiri dan berkata perlahan di samping pemuda itu.

Suara yang demikian dekat ini bagi Bu Kong seakan-akan sayup sampai datangnya. Dia masih kaget mendengar jawaban Siu Li yang demikian mengejutkan, maka seperti orang tidak sadar diapun lalu bertanya, "Mengapa dia melakukan hal itu? Masa gadis itu menyuruh dirinya sendiri untuk membuntungi lengannya?"

"Tidak! Dalam hal ini pengakuannya bohong!"

Seruan lantang yang dikeluarkan Pek Hong mengagetkan Bu Kong dan kalau tadi dia seperti orang linglung, adalah sekarang dia seperti disengat ular berbisa dan seketika pemuda ini membalikkan tubuh. "Apa katamu, Hong-moi?" serunya terbelalak. "Pengakuannya bohong? Jadi betul bahwa ada orang lain yang menyuruhnya untuk membuntungi lengan kirinya itu?"

Bu Kong sudah mengepal tinju dan dia mulai menduga-duga bahwa agaknya kalau bukan Ok-ciangkun sendiri, tentulah Kui Lun yang bertindak sebagai pengganti guru. Kalau hanya masalah gadis itu jatuh cinta kepadanya kemudian dihukum buntung lengan, inilah hukum kelewat batas sekali dan dia akan menghajar orang yang bertindak kejam itu!

Pek Hong mengangguk dan gadis ini memandang penuh selidik dan mata bersinar aneh. "Betul, Yap-goanswe, orang lainlah yang menyuruhnya, bukan atas keinginannya sendiri."

"Dan kau tahu siapa jahanam keparat itu?" Bu Kong bertanya setengah berteriak.

Pek Hong kembali mengangguk. "Benar, aku tahu," jawabnya tenang.

“Siapa?” Bu Kong terbelalak dengan mata merah.

Akan tetapi gadis ini tidak segera menjawab. “Yap-goanswe, kalau aku memberitahukan orang itu, hendak kau apakan kah dia?"

Bu Kong menggeram. "Aku hendak menghancurkan kepalanya!" desisnya penuh kemarahan.

"Oh, begitukah?" Pek Hong tersenyum getir. “Yap goanswe, jika kau mempunyai niat demikian, agaknya keinginanmu terkabul. Ketahuilah, orang yang menyuruh Siu Li membuntungi lengannya itu bukan lain adalah..."

"Ok-ciangkun sendiri?" Bu Kong memotong tak sabar..

"Bukan,” gadis itu menggeleng. "Jahanam keparat yang kau maki tadi bukan lain adalah diriku sendiri! Akulah yang menyuruh Siu Li membuntungi lengannya sebagai penebus dosa!"

“Hahhh...??!!??" Kalau ada geledek menggelegar tiba-tiba di pinggir telinganya agaknya pemuda itu tidak akan sekaget ini. Jawaban yang diluar dugaan itu benar-benar membuatnya terkejut bukan main dan Bu Kong sampai mencelat jauh dan punggungnya menabrak sebatang pohon hingga roboh. "Kau... kau...??"

Bu Kong menuding dan telunjuknya menggigil, tubuhnya terhuyung-huyung melangkah ke depan dengan mata beringas. Dia memandang gadis ini seperti orang memandang setan di dalam gelap, penuh kemarahan dan penuh kebencian. Membayangkan betapa gadis itu menyuruh Siu Li membuntungi lengannya sebagai penebus dosa, kemarahan pemuda ini memuncak. Penderitaan Siu Li sudah cukup berat, dan masih harus ditambah lagi dengan perbuatan Pek Hong ini!

"Kwan Pek Hong, kau wanita keji! Ada hak apa kau menjadi hakim atas diri gadis yang bernasib malang itu? Tidak cukupkah kesengsaraan yang dideritanya? Apa yang mendorongmu sampai hati melakukan kekejaman ini? Terkutuk! Kau manusia iblis berhati culas. Karena cemburu kau melakukan perbuatan itu. Kau menghancurkan hidupnya, kau membelah jantungnya yang sudah berdarah!"

Semakin lama Bu Kong semakin meluap kemarahannya dan tiba-tiba pemuda ini memekik sambil melompat maju. Tangan kanannya bergerak menampar dan angin pukulan yang kuat menyambar gadis itu.

Pek Hong berdiri terbelalak, wajahnya sepucat kertas menerima cercaan yang kasar itu dan gadis ini mengeluh tertahan. Dia memang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi reaksi pemuda itu, namun toh dia tak kuat juga. Lontaran kata-kata pedas yang dikeluarkan pemuda ini menusuk hatinya dan membuat tubuhnya gemetar. Maka ketika tamparan itu tiba, gadis ini sama sekali tidak menolak, juga tidak berkedip, memandang seperti orang kehilangan ingatan.

"Plakk!" Tamparan ini keras sekali dan kontan tubuh gadis itu terpelanting roboh. Pipinya seketika bengap dan bibirnya pecah berdarah.

Bu Kong yang mata gelap itu agaknya menjadi semakin beringas ketika melihat darah segar dan pemuda ini menggereng sambil menggerakkan tangannya kembali. Sikapnya ini mengingatkan orang akan seekor harimau yang kelaparan dan kini melihat daging segar.

Namun, sebelum pukulan kedua kalinya ini menyambar, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan putih yang luar biasa cepatnya. Gerakan bayangan ini seperti iblis saja, begitu tiba lalu mendorongkan lengannya perlahan menahan tamparan pemuda itu, kemudian melesat ke depan dan menghadang dalam waktu sekejap saja.

Aneh, Bu Kong tiba-tiba merasakan suatu tolakan tenaga halus yang luar biasa kuatnya menahan pukulannya dan sekonyong-konyong telapak tangannya disentuh benda dingin. Sentuhan ini amat mengejutkan karena tiba-tiba saja seluruh tenaga yang siap bergetar di tangannya mendadak lenyap tak bertenaga lagi!

Tentu saja murid Malaikat Gurun Neraka ini mencelos. Totokan lihai berupa usapan jari yang mengandung hawa dingin itu telah melumpuhkan dirinya dan hebatnya, dia sendiri tidak sempat melihat wajah bayangan putih yang berkelebat seperti iblis itu.

"Ahh..." Bu Kong berseru kaget dan pemuda ini tertegun. Sentuhan benda dingin tadi bukan hanya melumpuhkan tenaganya belaka, tetapi juga sekaligus mendinginkan kemarahannya yang bergolak. Usapan lembut berhawa dingin itu ternyata memiliki kemujijatan luar biasa, menyadarkannya dari hawa nafsu iblis yang hampir saja membuatnya sebuas binatang liar. Dan pada saat pemuda ini bengong di tempatnya, terdengarlah suara halus di balik sebatang pohon,

"Yap-goanswe, kemarahan tanpa perhitungan adalah kesesatan. Melupakan budi mengingat kesalahan adalah kemurtadan. Bagaimana kau hendak membunuh orang yang telah menolongmu dari tangan maut? Anak muda, sadarlah. Usir segala benci dan dendam di hatimu. Jauhkan segala kedengkian dan tanamlah segala kebaikan. Apa yang terjadi adalah kehendak Yang Maha Kuasa, bagaimana kau akan menolaknya?"

Tiba-tiba di samping pohon tadi muncul seorang berpakaian putih yang wajahnya tertutup halimun. Bu Kong terkejut dan dia memandang manusia luar biasa itu dengan mata terbuka lebar dan penuh tanda tanya, akan tetapi Pek Hong yang melihat kehadiran orang ini sudah cepat menjatuhkan diri berlutut sambil menangis tersedu-sedu...

Pendekar Gurun Neraka Jilid 14

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 14
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka
“TAHAN...!” Bu Kong membentak kaget dan lengan kanannya menampar ke depan.

"Plakk!" dengan tepat tangan Dewa Monyet terpukul dan sebelum pisau itu sempat menggores telinganya, senjata tajam ini mencelat dari pegangan kakek itu yang mengeluarkan seruan kaget.

"Ahh, kenapa dicegah, Yap-koko?" Pek Hong bertanya dengan mata terbelalak. Gadis ini tadipun merasa was-was kalau kembali kakek itu berbuat curang. Maka, ketika dilihatnya bahwa Dewa Monyet benar-benar menepati janjinya, di dalam hati gadis ini sudah merasa girang.

Sedikit banyak Pek Hong memang masih marah kepada kakek yang telah mempermainkannya itu. Maka hukuman potong telinga ini cukup memuaskan hatinya. Siapa tahu, tiba-tiba saja Bu Kong mencegah perbuatan kakek itu. Berarti, hukuman terhadap Dewa Monyet dibatalkan! Tentu saja gadis ini merasa tidak puas sekali. Maka dengan terang-terangan ia memandang pemuda itu dengan sikap kecewa.

Bu Kong menarik napas panjang. "Hong-moi, Dewa Monyet telah membuktikan kesungguhan ucapannya, dan kukira hal ini sudah lebih dari cukup bagi kita. Perlukah kita membuatnya cacad seumur hidup?"

"Akan tetapi, dia telah menghina kita sedemikian rupa, terutama terhadap diriku! Masa boleh bebas begitu saja? Yap-koko, aku tidak puas akan sikapmu ini dan hukuman harus tetap dijalankan!" Pek Hong membantah dengan suara sengit.

"Hemm, hukuman apalagi?" pemuda itu bertanya. "Pelajaran hari ini sudah cukup diterimanya, Hong-moi, dan kukira tidak perlu kita memperpanjang persoalan ini. Ingat, bagaimanapun juga dia adalah bintang penolongku, tidak mungkin bagiku untuk mencelakainya."

Pek Hong melotot marah. "Hemm, dia bintang penolongmu, ya? Maka kau begitu memperhatikannya? Yap-koko, kau tidak adil. Biarpun kakek itu merupakan bintang penolongmu, namun kalau aku tidak membawamu dengan susah payah agaknya Dewa Monyetpun tidak mungkin akan menjadi bintang penolongmu! Kau kelewat memperhatikannya dan sekarang sama sekali tidak mau memperhatikan diriku. Adilkah ini?"

Bu Kong terkejut dan seketika mukanya menjadi merah, perasaannya agak tertusuk. Kata-kata gadis ini seakan-akan hendak memperingatkan dirinya bahwa bukan hanya Dewa Monyet saja yang melepas budi, namun gadis itupun juga tidak ketinggalan! Maka dengan suara berat dia lalu berkata,

"Hong-moi, kata-katamu memang benar. Aku telah berhutang budi kepadamu. Sekarang, apakah keinginanmu agar aku dapat membalas budimu ini? Apakah kaupun menghendaki aku melunasinya sehingga diantara kita tidak terdapat lagi hutang-piutang? Kalau itu yang kau inginkan, aku siap melaksanakannya. Tapi, satu yang pasti kutolak, yakni kalau engkau menghendaki aku mencelakai kakek itu!"

Ucapan ini tandas dan ketika dua pasang mata beradu, Pek Hong melihat betapa pemuda itu memandangnya dengan sinar mata kecewa. Gadis ini terkejut dan sadarlah dia bahwa secara tidak disengajanya tadi dia telah menyinggung perasaan pemuda itu! Tentu saja gadis ini merasa tidak enak sekali. Bukan maksudnya untuk meminta imbalan jasa dari pemuda itu, namun bukan keinginannya pula kalau membebaskan Dewa Monyet begitu saja.

"Yap-koko, maafkan aku..." akhirnya Pek Hong berkata sambil menundukkan mukanya. "Kalau aku bersalah, harap kau memakluminya. Hatiku terlalu marah kepada kakek ini, maka masih sukar bagiku untuk melepasnya begitu saja. Namun, kalau engkau menghendakinya demikian, biarlah aku menurut saja."

Ucapan ini membuat Bu Kong terharu dan perasaan kecewanya seketika lenyap. Dia memang tahu bahwa murid Ta Bhok Hwesio ini adalah seorang gadis yang baik, tidak berwatak kejam. Hanya terdorong oleh kemarahannya teringat hinaan-hinaan Dewa Monyet sajalah maka gadis itu tidak mau sudah.

"Hong-moi," pemuda ini melangkah maju dan memegang lengan gadis itu dengan lembut, "harap maafkan kalau sikapku agak kasar. Sekarang biarlah yang sudah kita lalui, dan kita songsong hari esok dengan perasaan baru. Dewa Monyet telah berjanji untuk membantu kita dan kelak kalau kita memerlukan tenaganya dapat kita hubungi dia."

Lalu pemuda ini membalikkan tubuh, menghadapi Dewa Monyet yang masih berdiri di situ dengan mata terbelalak. "Kauw-sian, karena kami masih mempunyai banyak urusan yang harus diselesaikan, maka ijinkanlah kami pergi. Sebelumnya, kembali kuucapkan banyak terima kasih atas semua pertolonganmu kepadaku..." pemuda ini lalu menjura di depan Dewa Monyet yang terkejut menerima penghormatan itu dan dengan tersipu-sipu kakek ini lalu menjatuhkan diri berlutut, tidak berani menerima penghormatan anak muda itu.

"Siauw-ya, jangan begitu... lohu sekarang adalah hambamu, engkau adalah majikanku. Ini sudah menjadi sumpah lohu, harap jangan diputuskan!" kakek itu berkata dengan suara nyaring dan Bu Kong mengangkat pundaknya.

"Terserah kalau kau orang tua mengambil keputusan begitu," jawab anak muda ini dengan sikap tidak enak. Dewa Monyet memang orang aneh, maka dia tidak mau banyak berdebat dengan kakek itu.

Demikianlah, sambil menggandeng lengan Pek Hong pemuda itu lalu mengajak gadis ini meninggalkan tempat itu, dipandang oleh Dewa Monyet dari belakang. Tetapi, baru sampa i diambang pintu tiba-tiba kake k itu berteriak.

"Hujin, kau lupa membawa masakanmu! Jangan pergi dulu...!" dengan terbata-bata kakek ini berlari mengambil mangkok d i atas meja yang terisi tiga ekor daging kadal, tokek dan kelabang itu.

Pek Hong terkejut, dan dua orang ini menoleh. "Masakan?" Bu Kong terheran. "Mas akan apa?"

Namun Pek Hong hanya tersenyum saja, tidak menjawab. Tentu saja pemuda itu semakin heran. Dalam keadaan sibuk dan tegang bagaimana gadis ini sempat memasak segala?

Akhirnya Dewa Monyet tiba dan kakek ini mengangsurkan mangkok itu kepada Pek Hong sambil berkata, "Ini adalah obat terakhir bagi siauw‐ya agar kesembuhannya benar-benar pulih kembali. Oleh sebab itu, begitu ji-wi (anda berdua) turun gunung, harap ang-sio-bak ini dihabiskan. Kalau hujin mau boleh juga makan sebagian, tapi kalau tidak mau harap siauw-ya habiskan saja karena ini adalah obat penguat tubuh dan sayang kalau dibuang."

Bu Kong tercengang namun cepat dia mengucapkan terima kasihnya.

"Ah, yang membuat masakan ini adalah hujin, maka harap siauw-ya berterima kasih saja kepada hujin. Mana lohu berani menerima ucapan ini?" kakek itu menolak. "Dan sungguh beruntung siauw-ya memiliki isteri yang sedemikian telaten dan penuh kasih sayang. Semoga ji-wi bahagia seumur hidup!"

Ucapan ini membuat muka keduanya merah dan tanpa banyak bicara lagi Pek Hong menerima masakan itu dan segera keduanya melangkah pergi. Tadi Dewa Monyet telah memberikan tanda kepada anak buahnya. Maka ketika dua orang ini keluar dari pondok kayu itu, tidak tampak monyet-monyet liar di sekeliling rumah. Demikianlah, dengan cepat dua orang ini lalu meninggalkan puncak Ang-bhok-san yang segera menjadi sunyi seperti sedia kala.

* * * * * * * *

Matahari telah merambat di kaki langit sebelah barat, cuaca mulai remang-remang dan keadaan di sekitar Bukit Kayu Merah sepi seperti kuburan mati. Dua bayangan meluncur turun dari atas bukit dengan cepat, dan mereka itu bukan lain adalah Yap Bu Kong serta Pek Hong yang baru saja meninggalkan "markas pusat" pasukan monyet di Ang bhok san.

Setelah berada berdua saja dengan pemuda yang gagah perkasa ini, entah mengapa tiba-tiba jantung gadis cantik itu berdebar tidak karuan. Ketegangan hatinya yang mengkhawatirkan nasib bekas jenderal muda ini dari ancaman racun berbahaya sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah lolos dari lubang jarum, dan jiwa pemuda ini berhasil diselamatkan.

Seharusnya, dengan keberhasilan usahanya yang telah diperjuangkan dengan susah payah itu sepatutnya gadis ini bergembira. Dan memang ada kegembiraan itu di dalam hatinya. Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba saja Pek Hong merasakan firasat yang tidak enak. Peristiwa Siu Li yang membuntungi lengan kirinya itu mendadak muncul kembali di kelopak matanya. Dia belum tahu secara pasti bagaimanakah perasaan Bu Kong terhadap puteri Panglima Ok itu dan bagaimana pula kira-kira reaksi pemuda ini jika kelak mengetahui keadaan gadis jelita itu.

Pek Hong melirik dengan sudut matanya ke arah pemuda yang berlari di sampingnya ini, dan ia melihat betapa wajah yang tampan itu berseri-seri dan sepasang matanya mencorong hidup seperti mata seekor naga. Betapa tampannya jenderal muda ini, apalagi kalau tersenyum gembira seperti itu! Demikian gadis ini berbisik di dalam hati. Pantas saja kalau banyak wanita cantik tergila-gila kepada murid Malaikat Gurun Neraka ini.

Dan memang bekas jenderal muda itu bukan orang sembarangan. Tubuhnya yang tinggi tegap berkat gemblengan silat bertahun-tahun itu tampak kuat dan kokoh bukan main, mirip harimau muda yang sedang penuh-penuhnya semangat. Siapa tidak akan tertarik dan jatuh hati terhadap pemuda seperti ini? Dan gurunya secara diam-diam telah menjodohkan dirinya dengan jenderal muda itu! Siapa tidak akan merasa beruntung?

Teringatlah gadis ini akan kata-kata gurunya beberapa bulan yang lalu di pagi hari, "Hong-ji, pinceng membawa kabar gembira untukmu, kabar perjodohan!"

Demikian ucapan pertama yang membuat gadis itu terkejut dan berobah air mukanya. Dengan mata terbelalak dia memandang gurunya itu dan setelah dapat menenangkan guncangan hatinya, Pek Hong bertanya, "Apa? Suhu membawa berita perjodohan teecu? Ah, suhu, teecu belum mempunyai niat untuk berumah tangga. Kenapa tergesa-gesa? Tidak, teecu masih ingin merawat suhu di sini, teecu tidak mau berpisah dari suhu..."

"Ah, anak bodoh! Pinceng masih kuat berlari seperti kuda, dapat mencari makan di mana saja. Kenapa hendak mengikuti pinceng selama hidup? Rumput segar berada di mana-mana, tinggal pinceng lari mencari maka semuanya telah tersedia. Untuk apa dirawat seperti anak kecil?" kakek itu tertawa dan Pek Hong tersenyum mendengar kata-kata suhunya ini.

Seperti telah menjadi kebiasaan umum di dunia kang-ouw, seorang hwesio gundul biasanya disebut pula sebagai "keledai". Makian ini telah umum didengar orang dan kini kakek itu memakai olok-olok itu untuk dirinya sendiri. Maka tentu saja muridnya menjadi geli.

"Ah, suhu, kau ini ada-ada saja," katanya tertawa. "Biarpun rumput segar ada dimana-mana, namun bukankah seekor kuda perlu kawan? Kalau Suhu menjadi kuda maka biarlah teecu menjadi ana k kudanya, hi hi hikk!"

"Husshh, tida k boleh itu! Pinceng sudah tua, maka kehidupan begini sudah biasa bagi pinceng. Akan tetapi engkau, muridku, engkau masih muda dan engkau berhak mengenyam manisnya hidup. Masa mau meniru pinceng minta sedekah ke sana-sini sambil membawa mangkok? Malu, kan?"

Pek Hong mengerutkan alisnya. Memang dia tahu bahwa kebanyakan hwesio selalu berjalan keluar masuk kampung sambil membawa mangkok untuk meminta makanan. Akan tetapi suhunya ini biarpun juga merupakan seorang hwesio, namun belum pernah meminta-minta sedekah seperti itu. Di sekeliling rumah banyak sayur-mayur yang mereka tanam, dan dari hasil kebun inilah mereka makan sehari-hari.

"Akan tetapi, suhu, kau tidak pernah minta-minta makanan seperti kebanya kan hwesio-hwesio lain. Kenapa bilang begitu? Bukankah kebun kita cukup luas dan sayur mayur kita berlebihan setiap hari?"

"Itu kan sekarang, Hong ji, padahal keadaan seseorang bisa saja berobah-robah setiap waktu. Seperti sekarang ini, misalnya. Kalau tiba-tiba pinceng meniru rekan-rekan pinceng yang lain, tidak malukah engkau?"

Pek Hong terkejut dan memandang suhunya dengan mata terbelalak. "Apa? Suhu hendak merobah kebiasaan sehari-hari di sini? Kenapa suhu hendak melakukan hal itu? Ah, teecu tidak percaya!” serunya.

"Hmm, kenapa tidak percaya? Pernahkah gurumu ini membohong kepadamu? Hong-ji, dengarkan baik-baik. Kalau engkau tidak mau menurut kata-kataku ini, agaknya pinceng benar-benar hendak mengemis makanan setiap hari sebagai protes pinceng mempunyai murid yang tidak patuh!"

Suara ini dikeluarkan dengan penuh kesungguhan dan Pek Hong tidak berani main-main lagi. Dengan penuh selidik ia memandang kakek itu yang sudah melanjutkan kata-katanya, "Muridku, pinceng tidak akan melakukan paksaan di sini. Akan tetapi, sebagai orang tua yang memikirkan masa depanmu, maka pinceng telah melancangimu dalam mengambil suatu keputusan, yakni tentang perjodohanmu"

"Ahh...!" gadis itu berseru kaget dan tak terasa lagi dia melangkah mundur dengan muka berobah. "Suhu, apa-apaan ini? Siapa calon jodoh teecu itu? Apakah suhu sudah menerimanya? Bagaimana kalau teecu tidak senang dengan calon suami teecu itu, suhu?"

Diberondong dengan bermacam-macam pertanyaan ini kakek itu tersenyum. Dia mengelus perutnya yang agak gendut itu dan tiba-tiba terkekeh. "Ha, masa kau bakal membenci calon suamimu itu, Hong-ji? Ahh, pinceng tidak percaya, bahkan pinceng berani bertaruh bahwa begitu kau berjumpa dengan pemuda itu kau pasti jatuh cinta! Ha ha ha…”

"Cihh, belum tentu, suhu! Teecu sudah banyak melihat pemuda-pemuda tampan, akan tetapi merasa jatuh cinta saja tidak pernah. Bagaimana suhu berani taruhan?" gadis itu mencibir.

"Sudahlah, jangan bertaruh dengan pinceng. Kutanggung kau pasti kalah dah! Lebih baik begini saja, kita turun gunung dan kita menemui pemuda itu."

"Hah? Masa pihak wanita malah disuruh menemui pihak laki-laki? Suhu, kau terlalu!" Pek Hong semakin terkejut dan gadis ini memandang suhunya dengan marah.

Akau tetapi hwesio Tibet itu menaruh jari telunjuknya di depan mulut dan mendesis, "Sstt, jangan ribut-ribut dulu. Ketahuilah, Hong-ji, pemuda itu sendiri belum mengetahui tentang rencana perjodohan ini. Maka, bertemu dengan diapun juga tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Pinceng hanya ingin memperkenalkannya kepadamu dan kalau toh engkau tidak suka, belum terlambat bagi pinceng buat menolaknya.”

Agak lunak hati gadis ini mendengar semua keterangan suhunya itu, dan Pek Hong ingin sekali tahu siapakah pemuda yang dipilih gurunya ini. Melihat sikapnya, suhunya ini rupanya amat mengistimewakan calon jodohnya itu. Hemm, kalau benar begitu agaknya pemuda itu memang bukan orang sembarangan.

“Suhu, kau agaknya tertarik sekali kepada pemuda itu. Siapakah dia?" tanyanya.

Ta Bhok Hwesio tertawa, tampak bangga. "Hong-ji, tentu saja pilihan pinceng bukan orang sembarangan. Dia cocok sekali untukmu, gagah perkasa dan kepandaiannya amat tinggi, lebih tinggi dari kepandaianmu sendiri! Nah, masa engkau tidak tertarik?"

Betul juga, mendengar bahwa pemuda yang dicalonkan sebagai suaminya oleh gurunya ini memiliki kepandaian lebih tinggi darinya, Pek Hong menaruh perhatian serius. Gurunya ini adalah seorang sakti yang jarang tandingan. Kalau sekarang memuji-muji orang lain tentu orang itu memang hebat sekali.

"Dan ketahuilah, muridku, kelak kalau ilmu-ilmunya sudah matang, agaknya pinceng sendiri sudah bukan tandingannya!" kakek itu menyambung.

Tentu saja Pek Hong terkejut. Dengan mata terbelalak dia memandang gurunya ini seakan-akan kurang percaya. "Ahh, siap akah dia, suhu?"

"Dia bukan lain adalah murid tunggal Malaikat Gurun Neraka, Yap-goanswe yang gagah perkasa dan yang namanya menggetarkan seluruh kerajaan di empat penjuru!"

Pek Hong tercengang. "Apa? Seorang jenderal?" serunya. "Jadi Takla-locianpwe itu mempunyai murid, suhu? Kukira dia tidak mengambil murid untuk mewariskan ilmu-ilmu kesaktiannya. Kalau begitu, kenapa teecu tidak pernah melihat muridnya? Kenapa setiap kali berkunjung kemari hanya sendirian saja?"

"Itulah karena muridnya selalu sibuk menjalankan tugas, dan hanya apabila sedang mendapat cuti sajalah maka pemuda itu pulang ke tempat tinggal pendekar sakti itu di padang pasir sana," demikian jawab gurunya. "Dan dia gagah sekali, muridku. Wataknya jujur, pemberani dan ganteng. Pendeknya pilihan pinceng pasti tidak mengecewakan, tinggal terserah dirimu sendiri. Kalau suka boleh diteruskan dan kalau tidak suka... yah, pinceng tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa."

Itulah kata-kata gurunya yang kini terngiang kembali di telinganya. Dan beberapa hari kemudian, mereka benar-benar meninggalkan rumah untuk mencari pemuda itu. Karena murid pendekar besar itu bertugas sebagai seorang jenderal muda di Kerajaan Yueh, maka mereka langsung ke kota raja. Akan tetapi di sana mereka mendapat berita mengejutkan tentang kehancuran Yueh yang diserbu oleh bala tentara Wu-sam tai-ciangkun.

Mereka lalu mencari-cari dan akhirnya orang yang dicaripun ketemulah. Jenderal muda itu sedang menyusun siasat bersama sisa-sisa pasukannya disebuah tempat, dan begitu bertemu muka bercakap-cakap, Pek Hong berdebar hatinya sampai akhirnya Dewi Asmara benar benar mengusik hatinya. Dan untuk pertama kali itulah gadis ini merasakan orang dimabok cinta!

"Hong-moi, kau merenungkan apa?"

Pertanyaan tiba-tiba ini mengejutkan gadis itu dan seketika Pek Hong sadar dari lamunannya. Dengan muka merah ia menjawab gugup, "Eh, apa...? Aku merenung? Ah, tidak... tidak, Yap koko. Aku tidak memikirkan apa-apa!"

Bu Kong tertawa. "Kalau begitu, kenapa tidak menjawab pertanyaan yang sudah kuulang tiga kali itu?"

Gadis ini semakin terkejut. "Pertanyaan?" serunya kaget. "Pertanyaan apa?"

Pemuda itu tak dapat menahan geli hatinya lagi dan sambil tersenyum lebar dia menjawab. "Nah, inilah bukti bahwa kau berdusta. Hong-moi, kau jelas melamun sampai jauh sehingga pertanyaanku tidak kaudengar. Aku bertanya, tidakkah kita berhenti dulu di sini? Masa pertanyaan pendek begini tidak kau tangkap? Hanya orang yang terbuai lamunan sajalah yang tidak mendengar pertanyaan orang lain, ha ha!"

Gadis itu tersipu-sipu malu dan ia tidak membantah lagi. "Yap-koko, maafkan aku..." bisiknya lirih dan Pek Hong menundukkan kepalanya. Diam-diam mukanya menjadi semakin merah sampai ke telinga dan diam-diam ia memaki diri sendiri yang melamun kelewat jauh sehingga tidak mendengar pertanyaan orang. Tadi ia sedang melamunkan perasaan hatinya sendiri terhadap pemuda ini. Membayangkan betapa akan bahagianya apabila dapat hidup bersama pemuda itu. Kemanapun pergi selalu bersama, tak pernah berpisah sampai ajal menjemput mereka. Dan gara-gara bayangan indah yang memabokkan inilah ia lalu terbuai ke alam romantis, tidak tahu betapa sudah tiga kali pemuda itu mengulang pertanyaannya yang sama!

Karena tidak ingin membuat gadis itu malu lebih lanjut, Bu Kong cepat berkata lagi untuk mengalihkan suasana, "Hong,moi, kukira di sini saja kita istirahat sebentar. Dan bukankah di tempat ini pula kita bertemu dengan Dewa Monyet? Aku ingin bercakap-cakap denganmu dan banyak pertanyaan siap kuajukan."

Pemuda ini lalu berhenti dan Pek Hong juga ikut berhenti. Cuaca sudah mulai gelap dan Bu Kong mengumpulkan ranting-ranting kering untuk persiapan api unggun sebagai pengusir nyamuk. Kemudian keduanya duduk berhadapan dan tiba-tiba Pek Hong merasa kikuk dan jantungnya berdebar tidak karuan.

"Hong-moi," demikian pemuda itu mulai membuka suara dengan lembut, "sebelum aku melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih kusimpan dalam hati, kuucapkan banyak terima kasih atas semua jerih payahmu menolongku dari bahaya. Sungguh budimu ini besar sekali, karena tanpa engkau di sampingku, agaknya aku sudah tewas keracunan."

"Ahh, Yap-koko, kukira tidak perlu itu. Bukankah diantara kita sudah seharusnya untuk saling tolong-menolong?" gadis ini menundukkan kepalanya dengan muka merah. "Dan lagi, bukan hanya aku saja yang menolongmu. Aku tidak seberapa dan tidak ada artinya..."

"Ahh, kau terlalu meremehkan bantuanmu, Hong-moi. Tidak, aku bersungguh-sungguh dalam menerima budimu ini. Biarlah di kelak kemudian hari aku diberi kesempatan untuk membalas budimu ini dan kalau aku tidak dapat, biarlah Thian yang akan membalasnya."

Bu Kong menggenggam kedua tangan Pek Hong dan gadis ini tiba-tiba menggigil tubuhnya. Entah mengapa, sentuhan yang demikian lembut serta penuh perasaan dari pemuda itu membuat gadis ini tidak karuan rasa dan jantungnya berdegup kencang.

"Hong-moi, sekarang coba ceritakan kepadaku. Bagaimanakah tiba-tiba engkau dapat membawaku ke tempat ini? Dan dimanakah... suhu?" pertanyaan terakhir ini diucapkan dengan suara lirih dan agak gemetar karena Bu Kong teringat akan pertemuannya dengan orang tua itu di gedung Cheng-gan Sian-jin, dimana dia terlihat sedang tidur sepembaringan bersama Lie Lan, gadis iblis berwatak siluman itu.

Kejadian ini sungguh membuat dia terpukul. Kalau saja perjumpaannya dengan orang tua itu tidak sedemikian rupa, dia tidak akan sebegitu risau. Namun ce akanya, justeru pertemuan mereka itu bahkan memburukkan keadaannya. Dia tahu, pandangan macam apakah yang sekarang ditimpakan gurunya itu kepadanya. Pemuda hidung belang! Pemuda tidak tahu malu yang merusak nama guru! Apalagi?

Pandangan suhunya di tengah ruangan besar itu masih diingatnya baik-baik, tajam mencorong berapi-api dan mukanya merah membesi, wajah yang penuh kemarahan! Ngeri dia membayangkan wajah itu dan setiap kali muka orang tua ini muncul di kelopak matanya, jantungnya pasti tergetar hebat. Terkutuk keponakan Lie-thaikam itu! Pemuda ini mengepal tinju dengan mata merah. Sama sekali tidak disangkanya bahwa dia masih harus menerima percobaan yang amat berat ini.

Hinaan Lie Lan masih melekat di ingatannya, begitu pula ketika dia dipermainkan gadis tersebut. Betapa dia dalam keadaan tidak sadar disuruh menjilat telapak kaki keponakan Lie-thaikam itu, betapa dia dihina dengan cara-cara yang amat keji dan memalukan. Semuanya ini membuat dada Bu Kong berombak dan kemarahannya menggelegak, giginya berkerot-kerot.

Fitnah jahanam telah dilontarkan orang, dan sekarang masih ditambah lagi dengan peristiwa terkutuk itu. Sungguh, kalau dia tidak dapat membalas sakit hati ini, lebih baik dia mati di tangan musuh!

Perobahan wajah dan sikap pemuda itu dilihat jelas oleh Pek Hong, dan gadis ini menarik napas dalam-dalam. Dia maklum apa yang sedang bergolak di hati bekas jenderal muda itu, dan diam-diam hatinya ikut tertusuk. Keharuan besar menyelubungi hatinya, maka perlahan-lahan gadis ini menarik tangannya.

"Yap-koko," bisiknya lirih, "harap tenangkan hatimu. Jangan terlampau berduka, semua rahasia yang menimpa dirimu kini sudah sebagian besar tersingkap. Percayalah, dengan sekuat tenaga aku akan membantumu dan membalas sakit hati yang kau alami ini. Kuyakin, sedikit rahasia yang belum terpecahkan ini akan terbuka dalam waktu tidak lama lagi, percayalah!”

Suara yang lembut ini menyadarkan Bu Kong dari luapan emosinya dan sepasang mata yang tadi mencorong penuh api kemarahan itu sekarang tenang kembali. Pemuda ini menoleh, lalu bertanya, “Hong-moi, jadi kaupun sudah mendengar semua peristiwa-peristiwa yang menimpa diriku? Betapa aku telah... telah... melakukan perjinaan dengan Bwee Li dan wanita-wanita lain seperti dikabarkan orang? Dan bagaimanakah tanggapanmu? Mengapa kau masih sudi menolong diriku yang tidak tahu malu ini?"

Gadis itu tersenyum. "Yap-koko, siapa bilang kau tidak tahu malu? Orang lain boleh bilang begitu, akan tetapi aku tidak menganggapmu demikian!”

“Ahh...!” Bu Kong tertegun dan tiba-tiba teringat olehnya ketika dia mencium gadis ini di depan Dewa monyet. “Apakah perbuatanku di depan Dewa monyet dulu juga tidak kau anggap tidak tahu malu?”

Pek Hong terbelalak dan sepasang matanya yang indah itu melebar. Sejenak gadis ini terkejut dan akhirnya menundukkan mukanya yang semerah kepiting direbus. “Koko... hal itu... hal itu... ah, itu bukan kesalahanmu, kenapa aku harus marah? Akulah yang pantas disebut gadis tak tahu malu karena hendak melakukan perbuatan kurang patut. Engkau malah telah menolong mukaku dari hinaan orang, maka sudah sepantasnya apabila kuucapkan terima kasih atas pertolonganmu itu. Mengapa hendak menyalahkan diri berlebih-lebihan?” gadis ini lalu mengangkat mukanya.

Pemuda itu tersenyum getir. "Sudahlah, Hong-moi, sesungguhnya kita masing-masing telah saling memaklumi keadaan yang tidak enak itu. Akan tetapi, bagaimana engkau bisa bilang aku terlalu menyalahkan diri berlebih-lebihan? Boleh jadi terhadap dirimu aku tidak berbuat yang kurang ajar. Tetapi terhadap wanita-wanita lain, masa engkau tidak mendengarnya? Orang telah mengatakan aku ini pemuda hidung belang, pemuda tidak tahu malu, melakukan zinah bersama isteri orang lain! Nah, tidak terlalukah ini? Tidak burukkah watakku itu? Dan engkau masih mau menolong diriku yang hina ini. Sungguh mengherankan...!”

Tiba-tiba Pek Hong bangkit berdiri. "Itu fitnah, Yap-koko, fitnah keji!" gadis ini berseru dan tinjunya dikepal dengan mata bersinar. "Dan aku tahu siapa biang keladi semuanya ini.!"

“Hahh?!" Bu Kong melompat bangun dengan muka berobah. "Hong-moi, apa katamu? Bagaimana kau tahu bahwa ini adalah fitnah belaka? Dari mana kau tahu? Dan siapa pelempar segala kotoran busuk ini?"

Memang apa yang dikatakan gadis itu benar-benar membuat hati pemuda ini kaget sekali. Dia tidak mengira bahwa Pek Hong agaknya telah mengetahui semua peristiwa yang menimpa dirinya itu sedemikian jauh, bahkan rupanya jauh lebih lengkap dari yang diketahuinya. Buktinya dia memang tahu bahwa di balik semua kejadian ini pasti terdapat pihak ketiga yang memfitnahnya. Dan dia sudah berusaha untuk mencari tahu tentang hal ini namun gagal.

Sekarang tanpa disangka-sangkanya gadis ini mengatakan tahu siapa biang keladi si pelempar fitnah! Tentu saja dia terkejut sekali dan menjadi girang, ingin tahu siapakah iblis yang telah membuat namanya rusak itu. Dengan mata terbelalak dan kedua tangan dikepal Bu Kong menanti jawaban dari mulut gadis ini, akan tetapi dia merasa heran melihat Pek Hong hanya berdiri dan memandangnya ragu-ragu.

"Ehh, Hong-moi, ada apakah?" tanyanya sambil melangkah maju.

Pek Hong menarik napas panjang. "Yap-goanswe, apa yang hendak kukatakan di sini adalah berita yang amat penting sekali bagimu. Oleh sebab itu, persiapkanlah perasaanmu untuk mendengarnya," gadis itu berkata dan matanya memandang tajam.

Bu Kong menghentikan langkahnya, wajahnya pucat dan jantungnya berdegup kencang. Kata-kata yang diucapkan gadis ini masuk ke telinganya satu persatu dan dari nada suara itu dia maklum bahwa terdapat suatu kejutan besar di dalamnya. Kalau tidak, tidak mungkin sikap murid Ta Bhok Hwesio ini akan sedemikian rupa. Maka cepat dia menenangkan hatinya yang berguncang dan setelah merasa siap, dengan suara tenang pemuda ini menjawab, "Hong-moi, katakanlah segera. Aku telah mempersiapkan diri mendengar hal-hal yang paling mengejutkan dari mulutmu. Terangkanlah..."

"Baik," Pek Hong menganggukkan kepalanya dan setelah menatap tajam wajah itu, gadis ini melanjutkan, "Ketahuilah, Yap-koko, bahwa biang keladi semua peristiwa ini bukan lain adalah...."

Pek Hong berhenti sampai di sini dan Bu Kong menekan debar jantungnya. "Teruskanlah, Hong-moi, aku siap mendengarnya," pemuda itu meminta.

"Manusia iblis itu bukan lain adalah.... ayah Siu Li, koko, Ok-ciangkun yang menjadi orang pertama dari Tiga Panglima Besar Kerajaan Wu!”

Hening sejenak setelah rahasia besar itu terungkap. Meskipun Bu Kong telah mempersiapkan diri, namun tidak urung jantungnya bergetar hebat dan wajah pemuda ini berobah pucat. Ayah Siu Li! Siu Li! Nama inilah yang terutama sekali mengguncangkan hatinya. Kalau saja Pek Hong tidak menekankan nama ini, agaknya tidak sebegitu hebat getaran jantung pemuda itu. Akan tetapi Pek Hong telah mengatakan nama ini. Siu Li!

Perlahan-lahan muka yang pucat itu berobah merah dan Pek Hong melihat betapa sepasang mata Yap-goanswe berapi-api. Gadis ini memang sengaja menyebutkan nama Siu Li untuk melihat reaksi pemuda itu. Dia tahu bahwa nama ini mempunyai kesan mendalam di hati bekas jenderal muda itu, maka dia ingin mencobanya. Kalau pemuda ini marah, berarti kebencian telah tertanam di hati pemuda itu dan hal ini tentu saja amat bagus baginya. Saingan berat berarti lenyap dan ia boleh merasa lega.

Maka untuk menambah "minyak" Pek Hong lalu menyambung, "Dan panglima tua berhati keji itu untuk memperkuat kedudukannya telah bersekongkol dengan Cheng-gan Sian-jin. Tentu saja maksudnya adalah untuk berjaga-jaga dari pembalasanmu. Kalau manusia iblis macam datuk sesat seperti itu berkawan dengan seekor serigala seperti Panglima Ok, telur busuk apa saja yang tidak akan berhasil mereka adakan? Yap-koko, orang telah membuat hidupmu hancur di mata orang lain, maka tidak boleh tidak semua kejahatan ini harus di balas!"

Bu Kong menggereng. Disebutnya nama Cheng-gan Sian-jin ini membuat kemarahannya semakin berkobar. Iblis tua ini telah menjerumuskannya ke dalam pecomberan yang amat busuk, dan dia benar-benar telah melakukan perbuatan terkutuk bersama keponakan Lie-thaikam! Kalau tadinya kabar perjinaannya dengan Bwee Li hanya fitnah belaka dan dia berani sumpah menyatakan diri sendiri masih "bersih", adalah sekarang dia benar-benar telah kotor dan zinah itu telah dilakukannya

Dan ini semua adalah "telur busuk" hasil Cheng-gan Sian-jin! Tentu saja Bu Kong tidak dapat menahan diri lagi. Kemarahan yang meluap membuat dadanya seakan meledak dan tiba-tiba pemuda ini berteriak keras. Tubuhnya mencelat ke kiri dan tangan kanannya menghajar sebatang pohon liu yang berada di sebelah kirinya.

"Cheng-gan Sian-jin, kubunuh kau.... kubunuh kau, jahanam keparat!” pemuda itu memekik dan sekali tangannya menyambar, pohon liu sepelukan orang dewasa itu roboh sambil mengeluarkan suara hiruk-pikuk. Tidak puas sampai di sini saja, Bu Kong lalu berkelebatan kesana kemari dan mulutnya melengking nyaring melampiaskan kemarahannya. Sebentar saja, belasan pohon roboh tumpang tindih diamuk murid Malaikat Gurun Neraka ini.

Pek Hong memandang dengan mata terbelalak dan gadis ini berdiri di tempatnya tanpa suara menyaksikan kemarahan pemuda itu. Dia tahu bahwa perasaan pemuda itu terguncang, maka dia memberi kesempatan untuk menyalurkan gejolak amarah di hati pemuda itu.

Akhirnya, setelah tidak ada sasaran lagi, Bu Kong berdiri dengan napas terengah-engah dan mata mendelik. Kemarahannya memang masih ada, namun dadanya sudah agak longgar. Kebenciaannya terhadap Cheng-gan Sian-jin dan Tok-Sim Sian-li memuncak hebatnya dan kalau saja dua orang itu berada di mukanya, agaknya dia sudah menerjangnya tanpa memperdulikan nyawa sendiri.

Giginya berkerot-kerot dan teringat betapa Ok-ciangkun (Panglima she Ok) bersekutu dengan manusia iblis macam Cheng-gan Sian-jin benar-benar membuat batinnya terpukul. Kalau saja panglima itu bukan ayah Siu Li, dia tidak akan sedemikian perduli. Akan tetapi justeru panglima tua itu ayah dari gadis yang amat dicintainya. Dan sekarang ayah dari gadis itu pula yang memfitnah dirinya sedemikian kejam dan jahatnya!

Bu Kong mengeluh dan tubuhnya terhuyung-huyung, "Thian Yang Maha Agung, adilkah nasib yang kau jatuhkan kepada hamba-Mu ini? Apakah kesalahanku terhadap mereka? Siapakah yang memulai dulu permusuhan ini? Tuhan, engkau tidak adil…. Engkau tidak adil... oohh!" Bu Kong terguling dan pemuda ini roboh di atas rumput, pingsan tak sadarkan diri dengan hati penuh kecewa.

"Yap-koko...!" Pek Hong terkejut dan gadis ini melompat ke depan. Cepat ia meraba denyut nadi di pergelangan tangan dan ketika mengetahui bahwa pemuda itu hanya pingsan saja, hatinya lega. Tadinya dia khawatir luka pemuda ini kambuh. Dan kalau hal ini terjadi, tentu saja berbahaya sekali. Maka cepat dia mengurut belakang leher dan menotok beberapa jalan darah untuk menyadarkan pemuda itu, dan tak lama kemudian siumanlah bekas jenderal muda ini.

"Ahh...!" melihat betapa dirinya dirangkul gadis itu, Bu Kong melompat bangun. Dengan muka merah dia berkata, "Hong-moi, terima kasih aku tidak apa-apa...."

"Akan tetapi, kau tadi..."

"Tidak, aku sudah kuat lagi," Bu Kong menggelengkan kepala dan memotong cepat.

Pek Hong menggeser duduknya dan memandang pemuda itu dengan penuh keharuan. "Yap-koko, kau sendiri telah menyata kan bahwa kau sudah siap untuk menerima berita ini, harap jangan menyalahkan aku," katanya perlahan.

Bu Kong menarik napas dalam-dalam dan wajah yang gagah tampan itu diliputi awan kedukaan yang kelam. Sorot matanya tiba-tiba menjadi dingin dan memandang ke depan dengan sikap acuh tak acuh. Namun ketika mendengar ucapan gadis itu dia menjawab dengan tersenyum getir, "Mengapa aku harus menyalahkan engkau?! Tidak, Hong-moi, bahkan aku merasa amat berterima kasih bahwa engkau telah memberitahukan biang keladi kejahatan ini. Sudah lama aku mencari-cari, sungguh tidak kuduga bahwa Wu-sam-tai-ciangkunlah yang berdiri di balik layar ini, mereka memang panglima berhati keji!" Bu Kong mengepal tinjunya.

"Tapi puterinya malah menyelamatkan jiwamu dari keganasan racun Cheng-gan Sian-jin!" Pek Hong berkata seperti sambil lalu namun dengan sudut matanya dia melirik pemuda ini.

Muka Bu Kong sedetik berobah pucat, dan gadis ini melihat betapa mulut pemuda itu menyeringai seakan-akan menahan nyeri di dalam hati. Dia dapat menduga bahwa tentu pemuda ini merasa terpukul dan diombang-ambingkan dua perasaan bertentangan. Yang satu membenci sang ayah akan tetapi yang lain mencinta sang puteri.

Membayangkan ini saja diam-diam hati Pek Hong juga ikut nyeri. Ada suatu perasaan tidak enak di hatinya, perasaan marah dan cemburu. Namun teringat bahwa Siu Li kini telah menjadi seorang gadis cacad, diam-diam dia agak lega. Panglima Ok telah membuat kesengsaraan dan penderitaan yang tidak sedikit terhadap pemuda ini. Misalnya mereka berdua saling mencintapun belum tentu akan dapat hidup bersama. Dan kejahatan Ok-ciangkun itu sedikit banyak akan mempengaruhi perasaan pemuda ini terhadap Siu Li.

"Hong-moi, dari mana kau bisa menyingkap rahasia ini?" tiba-tiba Bu Kong bertanya dan memandang gadis itu dengan mata tajam.

Pek Hong balas memandang dan dengan tenang gadis ini menjawab, "Dari Phoa-lojin."

Bu Kong terkejut dan sepasang mata pemuda ini terbelalak lebar. "Hah? Phoa-lojin?" serunya kaget. "Kapan kau bertemu dengan kakek itu dan dimana dia sekarang?"

Gadis itu menggelengkan kepala. "Entahlah, Yap-koko, aku tidak tahu. Yang jelas, keterangan dari kakek itulah yang telah menyelamatkanmu dari ancaman bahaya maut. Mula-mula gurumu datang dan hendak membunuhmu, akan tetapi tiba-tiba muncul kakek itu. Dia memang ahli ramal jempolan yang agaknya dapat dipercaya penuh. Buktinya, suhu (guruku) sendiri tidak banyak membantah dan mempercayai apa yang dikatakan Phoa-lojin bulat-bulat."

Bu Kong mengangguk, "Memang, kakek itu memang hebat. Dia seakan-akan tahu apa yang terjadi di dunia ini, yang dulu maupun yang akan datang! Dan justeru karena ilmunya yang luar biasa itulah aku hendak berkunjung ke Pulau Cemara yang menjadi tempat tinggalnya. Sayang, badai di Laut Tung-hai membuat perjalanan kami terhalang dan di tepi laut itu pulalah aku bertemu dengan Cheng-gan Sian-jin."

"Kami?" Pek Hong bertanya dan gadis ini pura-pura heran. Padahal, tentu saja dia dapat menduga bahwa pada saat pemuda itu hendak ke Pulau Cemara tentu bersama Bwee Li seperti yang pernah diceritakan kakek Phoa di kuil tua.

"Ya, kami, maksudku, aku bersama Bwee Li yang kuseret sepanjang jalan untuk menjumpai kakek itu."

"Oh? Dan di mana sekarang wanita itu?"

"Entahlah. Pada saat aku bertanding melawan Cheng-gan Sian-jin yang mempergunakan sihir, Hek-mo-ko melakukan kecurangan dan membokongku hingga pingsan."

"Hemm, iblis hitam itu memang tangan kanan Cheng-gan Sian-jin. Namun, dia sudah dihajar suhu habis-habisan ketika kami menyerbu gedung datuk sesat itu untuk menolong dirimu,” kata Pek Hong.

"Begitukah? Bagus sekali, dan kalau di lain kesempatan aku bertemu dengan dia pasti akan kubunuh kakek hitam itu. Hong-moi, sekarang dapatkah engkau menceritakan ramalan selengkapnya dari Phoa lojin? Dan bagaimana dia muncul menemui suhu? Di manakah sekarang guruku itu?"

"Semua kejadian yang menimpamu ini memang sudah menjadi garis nasib hidupmu, Yap-koko, demikian kata kakek itu. Dan untuk inilah maka dia keluar dari Pulau Cemara buat menolongmu juga menolong dunia."

"Menolong dunia?"

"Ya, demikian katanya. Aku sendiri kurang mengerti apa maksud kata-katanya itu, dan aku tidak bertanya lebih lanjut. Yang penting, engkau dapat diselamatkan dan fitnah keji ini dapat terbongkar. Sayang rahasia ini belum bisa dikupas seluruhnya karena menemui jalan buntu."

Pek Hong lalu menceritakan tentang semua yang dikatakan oleh si tukang ramal itu dan Bu Kong mendengarkan dengan penuh perhatian. Mendengar betapa kakek itu menebak peristiwa-peristiwa melalui telapak tangannya, diam-diam dia merasa kagum. Apa yang dikatakan tukang gwa-mia itu memang sebagian besar dia rasa cocok dan masuk akal, bukan sekedar tebakan tukang ramal kampung di pinggir jalan.

"Akan tetapi sayang," demikian akhirnya Pek Hong menutup. "Dalang pokok yang langsung mencemarkan namamu itu tidak terlihat jelas oleh kakek Phoa. Orang ini pandai sihir dan mukanya samar-samar, tapi katanya dia masih muda, licik lagi curang. Dan justeru pemuda inilah yang telah menyamar sebagai dirimu untuk bermain gila dengan Bwee Li!"

"Dan satu-satunya tanda yang dapat dijadikan bukti adalah luka di bawah dagu,” Bu Kong berkata sambil mengepalkan tinjunya.

"Benar," jawab Pek Hong, “Phoa lojin mengatakan demikian seperti kata Bwee Li yang ditemui Phoa-lojin di tepi pantai waktu itu.”

"Dan di mana sekarang Bwee Li? Apakah dia ikut kakek itu?"

Pek Hong menggeleng. "Tidak. Wanita itu pergi seorang diri. Katanya hendak mencari musuh besarnya hingga dapat."

"Ahh, mana mungkin?" Bu Kong berseru kaget. "Dia tidak tahu siapa jahanam keparat itu dan dia tidak tahu pula di mana iblis itu berada.”

"Akan tetapi, Yap-koko, dalam hal ini kau keliru. Meskipun kita semua sampai sekarang masih belum tahu siapa pemuda yang pandai sihir ini, namun Phoa-lojin tahu dimana beradanya pemuda itu!"

"Ah, begitukah?" Bu Kong terkejut. "Kalau begitu kita pergi ke sana sekarang juga!"

Pemuda ini melompat bangun akan tetapi Pek Hong menggoyang tangannya. "Jangan terburu-buru. Yap-koko, petunjuk yang diberikan kakek Phoa berlaku dalam beberapa hari yang lalu, mungkin sekarang iblis itu sudah tidak ada lagi di sana..."

“Ahh...." Bu Kong berseru kecewa dan dia bertanya lagi, “Menurut Phoa-lojin, dimana waktu itu dia berada, Hong-moi?”

“Kakek Phoa tidak memberikan petunjuk yang jelas, hanya dia memberitahukan bahwa orang yang dicari berada disebelah utara,” jawab gadis ini.

Bu Kong lalu termenung. Keterangan Pek Hong ini membantunya menyingkap tabir rahasia yang menimpa dirinya. Kini tahulah dia bahwa dalang yang berdiri di belakang peristiwa ini berjumlah empat orang, dan orang keempat adalah yang justeru merupakan tokoh langsung yang mencemarkan namanya. Wu-sam-tai-ciangkun agaknya telah menggunakan seorang yang pandai sihir untuk mempengaruhi Bwee Li dan perbuatan pemuda itu berhasil.

Diam-diam otaknya bekerja cepat. Dicobanya untuk mengingat-ingat siapa kiranya yang patut dicurigai sebagai pemuda itu. Kui Lun-kah? Ahh, tidak mungkin. Dia tahu bahwa pemuda putera Ok ciangkun itu tidak bisa sihir, jadi pasti bukan kakak Siu Li ini. Lalu siapa kalau begitu? Tiba-tiba Bu Kong melompat bangun, "Ahh, agaknya dia, Hong-moi!" serunya dengan wajah gembira.

Pek Hong terkejut dan gadis ini juga melompat kaget. Seruan tiba-tiba dari pemuda itu membuat hatinya berdebar tegang dan girang, maka cepat dia bertanya, "Siapakah, Yap-koko? Kau tahu orang itu?"

"Ya... ya, agaknya dia!"

"Dia siapa?"

"Murid Cheng-gan Sian jin! Bukankah iblis tua itu pandai ilmu sihir? Maka tentu muridnyalah yang melakukan penyamaran itu!"

"Ahh, tidak benar," Pek Hong menjawab lemas dan gadis ini duduk kembali. "Kakek Phoa bilang bahwa pemuda ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Cheng-gan Sian-jin. Juga, selain Tok-sim Sian-li yang menjadi murid perempuannya, iblis tua itu tidak mempunyai murid lain. Tebakanmu meleset, koko."

Bu Kong terbelalak dan akhirnya pemuda ini membanting tubuhnya dengan kesal. Bantahan gadis itu melumpuhkan kegembiraannya yang merasa telah berhasil menemukan musuh besar dan kini dia memandang ke depan dengan mata mendelong.

"Hemm, selain Cheng gan Sian-jin yang pandai ilmu sihir, lalu siapa lagi yang patut kita curigai?" Bu Kong mengeluh kecewa. "Kalau dulu sebelum datuk ini muncul, memang kutahu ada seorang tokoh sesat lain yang pandai ilmu sihir. Akan tetapi dia sudah tewas dan tidak mungkin dia yang melakukan perbuatan ini."

Pek Hong tertarik, "Siapakah, Yap-koko? Apakah.... ehh , wahh! Benar...! Benar.... Pasti dia! Yap-koko, ketemulah sekarang siapa orang ini!"

Gadis itu mendadak melompat bangun dan melonjak-lonjak girang sambil tertawa gembira seperti anak kecil mendapat kembang gula. Dan saking gembiranya berhasil menemukan orang yang dicari-cari itu, gadis ini lalu berteriak-teriak, "Yap goanswe, musuhmu ketemu! Aku berani sumpah potong leher bahwa pasti jahanam inilah yang telah merusak namamu itu!"

Bu Kong terkesiap dan pemuda ini melompat dengan mata bersinar. Sikap gadis ini mengejutkan hatinya maka tidak tahan lagi dia untuk berdiam diri. Dengan suara gemetar dia lalu bertanya, "Hong-moi, siapakah yang kau maksudkan itu? Dan apakah kau yakin betul bahwa memang orang ini yang kita cari-cari?"

Pek Hong berhenti bersorak dan dengan senyum penuh kemenangan dia memandang Bu Kong sambil tersenyum manis. Dengan dada agak berombak dia lalu berkata, "Yap-koko, mana mungkin aku keliru? Tidak, tidak mungkin salah. Coba jawab pertanyaanku ini, bukankah orang yang kau maksudkan pandai sihir dan telah tewas itu adalah Ang-i Lo-mo?"

Bu Kong mengangguk. "Benar. Dari mana kau tahu?" tanyanya heran.

"Ahh, masa menduga begitu saja harus mencari keterangan dari orang lain? Siapa lagi tokoh sesat yang pandai sihir sebelum Cheng-gan Sian-jin? Kukira hanya Ang-i Lo-mo itulah! Nah, dari sinilah kita menemukan jawabannya."

"Siapa, Hong-moi?" pemuda itu tertarik dan melangkah maju dengan hati berdebar. Jawaban agaknya sudah di ambang pintu, maka tentu saja Bu Kong merasa tegang.

Pek Hong tersenyum melihat ketegangan pemuda ini dan dia sengaja menahan-nahan keterangan. Dengan muka berseri dia bahkan bertanya, "Yap koko, masa kau tidak tahu? Tidak dapatkah engkau menebaknya sendiri?”

"Hong-moi, aku terlalu tegang menanti jawabanmu. Otakku keruh dan tidak dapat berpikir panjang. Kalau sekarang kau yang tahu, harap beritahukan segera."

"Baiklah," gadis ini menjawab. "Dia bukan lain adalah..." Pek Hong tiba-tiba menghentikan kata-katanya karena mendadak Bu Kong mengangkat tangan kiri memberi isyarat."Ada apakah, Yap-koko?" gadis itu bertanya heran.

"Aku mendengar suara pakaian berkibar. Agaknya ada seseorang yang mengintai, akan tetapi suara itu sekarang telah hilang. Hemm, baik, nanti saja kucari dia dan sekarang lanjutkan kata-katamu tadi."

Bu Kong berkata tenang dan Pek Hong sekarang yang menjadi tegang. Dia memandang pemuda itu dengan mata terbelalak, lalu menoleh ke kanan kiri, akan tetapi Bu Kong kembali mengangkat tangannya, "Teruskanlah, Hong-moi, tidak ada apa-apa."

Ucapan ini menenangkan hatinya dan mengusir kegelisahannya. Yap-goanswe berada di sini, untuk apa takut? Maka dengan suara mantap penuh keyakinan Pek Hong berkata tandas, "Dia bukan lain adalah murid Ang-i Lo-mo sendiri, Yap-koko!"

"Hahh??" Bu Kong melompat kaget dan memandang gadis ini dengan mata terbelalak. "Murid Ang-i Lo-mo? Mengapa aku tidak pernah mendengarnya?"

Memang di dalam cerita "Hancurnya Sebuah Kerajaan" yang lalu, murid Ang-i Lo-mo yang bernama Pouw Kwi itu tidak pernah menampakkan diri. Inilah sebabnya mengapa tidak banyak orang tahu bahwa Ang-i Lo-mo mempunyai murid. Maka tentu saja bekas jenderal muda itu terkejut sekali menerima keterangan ini.

Pek Hong mengangguk. "Benar, Yap koko, aku berani bertaruh bahwa murid mendiang iblis tua itulah yang menyamar sebagai dirimu untuk membuat kekacauan. Dan hal ini memang tidak aneh. Kematian gurunya tentu membuat pemuda itu merasa dendam kepadamu. Maka bersama Wu-sam-tai-ciangkun pemuda itu lalu menemukan akal keji ini."

"Tapi, mengapa aku tidak pernah mendengar bahwa Ang- i Lo-mo mempunyai murid? Dan kenapa pula ketika Ang-i Lo-mo bertanding sampai tewas di tanganku, muridnya tidak pernah muncul? Hong-moi, dari manakah kau tahu tentang semuanya ini?"

Gadis itu tersenyum . "Aku tahu dari mulut seorang perwira Wu yang kutangkap di dekat gedung Ok-ciangkun, untuk mengorek keterangan ketika mencari dirimu yang tertawan Cheng-gan Sian-jin. Perwira itu mengatakan bahwa ada seorang pemuda yang membantu Wu-sam-tai ciangkun di samping Cheng-gan Sian- jin yang kini diangkat menjadi koksu. Tadinya kukira pemuda yang dimaksudkan ini adalah Kui Lun, tapi ternyata bukan. Dia mengatakan bahwa pemuda itu adalah murid mendiang Ang-i Lo-mo, dan tadinya aku sendiri tidak tertarik oleh keterangan ini. Akan tetapi, ketika engkau tadi mengingatkan bahwa sebelum Cheng-gan Sian-jin masih terdapat seorang datuk sesat yang pandai sihir dan sudah tewas, siapa lagi kalau bukan mendiang Ang-i Lo-mo? Dan kakek itu mempunyai seorang murid yang membantu Wu-sam-tai-ciangkun secara diam-diam! Nah, siapa lagi kalau bukan dia?"

Keterangan panjang lebar ini membuat Bu Kong tertegun dan akhirnya pemuda itu mengepal tinju dengan mata berapi-api. "Keparat! Kalau begitu aku harus mencari manusia terkutuk itu dan membunuhnya!" desisnya penuh kemarahan.

"Benar, Yap-koko, manusia berwatak iblis begitu memang harus kita cari. Apalagi kau sendiri yang menjadi orang yang berkepentingan langsung.. Dan tentang kemunculannya yang tidak pernah nampak pada saat gurunya tewas di tanganmu, tentunya pada saat itu dia sedang pergi ke istana Raja Muda Yun Chang untuk menjalankan akal kejinya. Bukankah semua kesimpulan ini amat sederhana dan masuk akal?"

Gigi Bu Kong berkerot. Semakin lama dia menjadi semakin jelas akan uraian gadis ini dan tentu saja dia marah sekali. Pantas kalau begini. Pada saat Ang-i Lo-mo terbunuh, muridnya yang berhati keji itu tentu lalu berunding dengan Wu-sam-tai-ciangkun dan dari hasil perundingan empat orang inilah dihasilkan sebuah "telur busuk".

Dia pada waktu itu masih sibuk menghantam pasukan musuh, maka tidaklah sukar bagi murid Ang-i Lo-mo itu buat memasuki istana Yun Chang dan dengan bantuan sihirnya, Bwee Li terjatuh di tangannya yang menganggap pemuda ini sebagai Yap-goanswe. Sungguh hasil kerja yang rapi dan bagus tetapi keji!

Dengan demikian, karena murid Ang-i Lo-mo itu sendiri memang telah membuatnya sedemikian rupa sehingga Yun Chang akan mengetahui perjinaannya bersama selirnya yang cantik dan amat disayang itu, terjadilah perpecahan di antara Raja Muda Yun Chang dengan Yap-goanswe. Ini berarti memukul kekuatan Kerajaan Yueh dari dalam karena Yun Chang tentu akan menghukum jenderal mudanya yang berjina itu. Dan di samping ini, nama Yap-goanswe yang terkenal gagah perkasa itu otomatis hancur berantakan di mata orang karena tertangkap basah ketika sedang melakukan permainan cintanya di kamar selir Yun Chang!

"Sungguh siasat yang amat keji!" Bu Kong berseru penuh kemarahan dan mukanya merah padam. "Hong-moi, kalau begitu aku akan menemui Wu-sam-tai-ciangkun dan membunuh mereka, juga sekalian mencari murid Ang-i Lo-mo itu!"

Pek Hong terkejut. "Apa? Kau hendak mendatangi Wu-sam-tai ciangkun yang berada di kota raja? Ah, Yap-koko, hal ini amat berbahaya sekali! Semenjak lolosnya para penyerbu, kota raja dijaga semakin kuat, juga Cheng-gan Sian-jin berada di sana. Bagaimana seorang diri kau hendak kesana?”

"Aku tidak takut, aku akan berhati-hati!" jawab pemuda ini dengan suara keras.

"Akan tetapi..." Pek Hong ragu-ragu dan pada saat itulah tiba-tiba Bu Kong membentak sambil melompat ke kiri.

"Siapa di situ? Hayo keluar!"

Tangan kanan bekas jenderal muda ini menampar dan semak belukar itu roboh terpukul angin pukulannya yang kuat. Sesosok bayangan putih berkelebat dari tempat gelap dan terdengar seruan nyaring yang agak gemetar,

"Yap-goanswe. tahan seranganmu...!!" Dan di tempat itu, di bawah sinar bulan yang baru muncul di langit yang bersih tanpa awan, seorang gadis cantik jelita berpakaian putih berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil.

Dua orang ini terkejut bukan main dan mereka mengeluarkan seruan kaget sampai melompat mundur ketika mengenal siapa gadis itu yang bukan lain adalah Siu Li adanya!

"Kau.... kau...?!" Bu Kong tergagap dan pemuda ini tertegun tak mampu melanjutkan kata-katanya. Sepasang matanya terbelalak dan ketika tiba-tiba matanya membentur lengan kiri yang kosong, pemuda ini merasa seperti disambar petir. "Li-moi, lenganmu... lenganmu itu.... buntung...?" Bu Kong terkejut setengah mati dan tenggorokannya seperti dicekik.

Siu Li menenangkan perasaannya yang seperti diremas dan gadis ini melang kah maju. Sejenak dua pasang mata beradu pandang dan jantung gadis ini tergetar. Dia melihat betapa sinar cinta kasih tiba-tiba memancar terang dari mata pemuda penuh kerinduan, penuh kemesraan dan penuh keharuan.

Tentu saja Pek Hong juga melihat semuanya ini dan gadis itu merasa tertusuk. Kehadiran Siu Li yang amat mendadak di tempat ini sungguh mengejutkannya. Sebenarnya, semenjak puteri Ok-ciangkun ini membuntungi lengan sendiri atas permintaannya, hati Pek Hong sudah merasa tidak enak sekali. Tadinya hal itu dilakukan karena ia menduga bahwa Siu Li pasti akan menolak. Siapa sangka, murid mendiang Mo-i Thai-houw itu benar-benar melaksanakan permintaannya dan membuntungi lengan kiri untuk penebus "dosanya" terhadap Yap-goanswe.

Dan kini, tiba-tiba saja gadis ini muncul di tempat itu. Kalau Bu Kong tahu bahwa Siu Li membuntungi lengan atas permintaannya, ia tidak tahu bagaimanakah reaksi pemuda itu! Maka hal ini membuat Pek Hong tegang sekali dan diam-diam jantungnya berdebar kencang.

"Yap goanswe..." Siu Li menundukkan mukanya dan berkata dengan suara gemetar, "anak seorang jahat sudah sepatutnya menerima hukuman seperti ini. Untuk apa diherankan? Aku sudah mendengar semua percakapan kalian dan apa yang dikatakan oleh adik Hong memang benar. Ayah bersama rekan-rekannya telah melempar fitnah keji kepadamu, dan itu semua mereka lakukan karena menurut mereka, ini hanyalah sekedar siasat untuk mengalahkan Kerajaan Yueh yang terlalu kuat kalau kau masih berada di sana. Itulah sebabnya maka dicari suatu akal bagaimanakah caranya agar engkau tidak lagi membantu Yueh. Engkau terlalu kuat untuk dikalahkan begitu saja, maka ayah lalu menemukan siasat ini dan terjadilah semuanya seperti apa yang telah kau alami."

Pucat wajah pemuda ini dan dia memandang gadis itu dengan mata terbelalak. Bu Kong tak mampu mengeluarkan suara karena perasaannya semakin terpukul hebat. Kalau tadi yang di katakan Pek Hong adalah sekedar dugaan, kini apa yang dikatakan Siu Li adalah pengakuan sebenarnya!

Tentu saja Bu Kong terpaku. Dia tak tahu bagaimanakah perasaannya sendiri pada saat itu, perasaan yang bergolak dan bercampur aduk tidak karuan. Ada rasa marah, benci, dendam akan tetapi juga ada rasa kasih, iba dan terharu melihat nasib kekasihnya yang mempunyai ayah semacam itu. Gadis ini telah berkhianat terhadap ayah sendiri karena pengakuannya itu akan membuat kedudukan ayahnya terancam pembalasan dendamnya!

Akan tetapi gadis itu sendiri juga pernah mengkhianatinya ketika pura-pura membantu Yueh padahal sebenarnya merupakan mata-mata Wu yang diselundupkan ke pasukannya. Gadis ini mengalami posisi yang luar biasa sulitnya, sebentar condong ke ayah namun sebentar kemudian condong ke pada dirinya. Dan hal ini membuktikan bahwa hingga saat inipun juga cinta kasih di dalam hati gadis itu tidak dapat dilenyapkan!

"Li-moi..." suara Bu Kong juga gemetar dan pemuda ini melangkah maju terhuyung-huyung, matanya nanar memandang ke depan, "betapa buruk nasibmu.... betapa buruk nasib kita… Ohh, Dewi Welas Asih, dosa-dosa apakah yang dulu telah kami perbuat? Li-moi, ayahmu memang kejam, dan dia telah merusak namaku sedemikian rupa. Tidak patutkah kalau aku membalas semua kejahatannya ini? Tidak bolehkah aku membalas dendam dan membersihkan namaku dari kecemaran? Tuhan... mengapa Engkau membuat keadaan kami menjadi begini...?"

Bu Kong mengeluh dan akhirnya pemuda ini tak dapat menahan diri lagi, menubruk gadis itu dan mendekapnya kuat-kuat dengan hati remuk penuh kedukaan dan kebingungan. Sudah lama dua orang kekasih yang saling mencinta ini tidak berjumpa. Semenjak Bu Kong terfitnah, Siu Li sendiri lalu meninggalkan Wu dan bersunyi diri merenungkan nasibnya yang buruk di Lembah Bambu Kuning. Meskipun di dalam hati gadis ini tidak dapat menyetujui cara-cara kotor yang dilakukan ayahnya, akan tetapi orang tua tetap orang tua!

Dan inilah yang menyulitkannya. Keadaan ini menjepit kedudukannya dari dua arah. Semenjak fitnah keji yang didalangi oleh ayahnya bertiga, Siu Li sadar bahwa ayahnya memang bukan orang baik-baik. Dan kenyataan ini malah menonjolkan pribadi Yap-goanswe yang gagah perkasa dan yang tidak suka melakukan segala tipu curang.

Kenyataan ini ma mlah membuat pandangannya terhadap pemuda itu semakin tinggi dan kekaguman serta cinta kasihnya terhadap jenderal muda itu meningkat. Betapa gagahnya pemuda itu, betapa mengagumkan. Dan sekarang pemuda yang demikian gagah perkasa dan mengagumkan dirusak namanya oleh ayahnya sendiri!

Siapa tidak akan berduka? Maka tanpa dapat ditahan lagi gadis inipun menjadi basah matanya dan sejenak tubuhnya menggigil di pelukan pemuda itu. Betapa rindunya ia akan suasana seperti ini, merasakan dekapan kekasih dan belaian sayangnya. Namun tiba-tiba dalam kesuraman air mata ini Siu Li melihat sorot mata lain sedang memandangnya berapi-api. Seketika gadis itu terkejut dan sadarlah dia bahwa di tempat ini masih terdapat orang lain dan orang ini bukan lain adalah Pek Hong!

"Ahh...!" Siu Li berseru dan cepat ia merenggutkan dirinya, terlepas dari pelukan pemuda itu. Dengan muka pucat gadis ini melompat mundur dan dengan suara gagap dia berkata, "Yap-goanswe, apa... apa yang kau lakukan ini? Aku adalah puteri musuh besarmu! Tidak ingatkah engkau? Dan kau... kau... ahh....!" Siu Li mundur-mundur dan karena lengah, ia tidak tahu betapa di belakangnya terdapat tanah legok dan ketika kakinya menginjak bagian kosong ini, tanpa ampun lagi tubuhnya terjengkang.

"Li-moi...!" Bu Kong berseru dan pemuda ini melompat menyambar lengan gadis itu. Tapi karena dia lupa bahwa tangan kiri gadis itu buntung, maka yang tertangkap adalah lengan baju yang kosong melompong.

"Brett...!" lengan baju itu robek didalam cengkeraman Bu Kong sementara Siu Li sendiri tetap terjerumus di lubang itu. Bu Kong terkejut dan pemuda ini berdiri terbelalak, melihat betapa dengan muka pucat kekasihnya itu melompat dan terhuyung-huyung memandang dirinya dengan air mata bercucuran.

"Yap-goanswe, jangan sentuh aku lagi! Aku adalah musuhmu! Dengarkah ini? Aku adalah musuhmu! Sekali kau bersikap kurang ajar, aku akan membunuhmu...!"

"Li-moi..."

"Diam!" gadis itu membentak. "Aku bukan adikmu, akupun bukan pula... kekasihmu! Tahukah engkau? Maka, sekali lagi kau bicara yang tidak-tidak, aku tidak akan segan-segan menyerangmu biarpun kau berkepandaian jauh lebih tinggi dariku."

"Ahh...!" Bu Kong tertegun dan tiba-tiba angin halus berdesir di sampingnya. Ketika dia menoleh, barulah pemuda ini terkejut melihat Pek Hong telah berdiri di sampingnya dengan pandangan dingin!

"Yap goanswe," Pek Hong berkata dan merobah sebutannya dari Yap-koko menjadi Yap-goanswe, "kalau ia sendiri sudah mengakui diri sebagai musuh, kenapa kau bersikap lemah begini? Di mana kegagahanmu? Di mana kejantananmu? Orang telah bersikap kasar kepadamu, maka tidak selayaknya kalau engkau terus mengalah!"

"Akan tetapi... akan tetapi ia bukan musuh kita, Hong-moi... ia tidak ikut apa-apa. Ayahnyalah yang menjadi musuhku, bukan dia!"

"Hemm, tidak ingatkah engkau ketika gadis ini berkhianat kepadamu? Ketika ia menyelundup sebagai mata-mata di pasukanmu?"

"Namun itupun ia lakukan karena perintah ayahnya!"

"Perintah atau bukan, dia yang melakukan pekerjaan ini! Apakah tidak bisa dianggap musuh?" Pek Hong berkata marah dan gadis yang diam-diam sudah marah menyaksikan adegan tadi kini menjadi semakin naik darah mendengar bantahan-bantahan Bu Kong yang merupakan pembelaan terhadap puteri Panglima Ok ini. Dan ia tahu apa yang menyebabkan pemuda itu berbuat demikian. Tentu cinta kasihnya yang tumbuh kembali!

Bu Kong memandang murid Ta Bhok Hwesio ini dengan mata dibuka lebar-lebar. Dari semua ucapan gadis ini dia merasakan tekanan-tekanan tajam dan baru setelah dia melihat muka yang merah serta sepasang mata yang berapi-api itu pemuda ini terkejut dan sadar. Tentu saja dia merasa seakan-akan diguyur air dingin! "Ahh!" pemuda itu berseru tertahan dan melangkah mundur setindak. Sekarang dia melihat kenyataan ini, kenyataan yang membuatnya bingung. Tadinya, karena kurang memperhatikan, dia bicara dengan murid Ta Bhok Hwesio itu sebagai seorang sahabat. Tapi, setelah kini sadar bahwa gadis itu sendiri tidak menganggapnya sekedar "sahabat" belaka, tentu saja hatinya terkesiap dan terguncang.

"Yap-goanswe," tiba-tiba Siu Li berkata sambil melangkah maju, "Apa yang dikatakan oleh calon isterimu itu benar. Kenapa kau menjadi lemah begini? Seorang laki-laki sejati dapat mengambil keputusan berdasarkan kenyataan, bukan hanya menuruti perasaan hati nurani sendiri. Kalau kau tetap bersikap begini, mana mungkin kau kelak dapat menjadi seorang pemimpin yang disegani orang? Ayahku adalah musuh besarmu, ini kenyataan. Dan aku adalah puterinya. Inipun kenyataan. Kalau engkau tidak menganggapku musuh, maka akulah yang akan menganggap dirimu sebagai musuh karena engkau adalah musuh besar orang tuaku!"

Kata-kata ini seperti pisau berkarat yang menusuk perasaan Bu Kong dan pemuda ini mengeluh perlahan. Tubuhnya menggigil dan kakinya gemetar seperti orang sakit demam. Dan Siu Li lalu melanjutkan, kini menoleh kepada Pek Hong yang memandangnya dengan mata berapi-api itu,

"Dan engkau, adik Hong, semoga engkau tidak salah arah dalam melempar kebencianmu terhadap seseorang. Apabila orang itu memang patut kau benci, bencilah berdasarkan kebenaran, bukan hanya karena luapan hati nurani yang berlebih-lebihan. Hal ini perlu kau ingat agar kelak kau tidak mengalami kesengsaraan dalam menempuh hidup yang penuh kedukaan ini. Nah, kukira cukup sekian perjumpaan kita dan moga-moga kalian berdua dapat hidup bahagia!" Gadis itu membalikkan tubuh, lalu melompat pergi menyembunyikan hatinya yang berdarah dan air mata yang semakin deras mengucur membasahi pipinya.

Pek Hong tertegun dan kata-kata puteri Panglima Ok itu seakan menampar mukanya. "Bencilah berdasarkan kebenaran, bukan hanya karena luapan perasaan diri pribadi yang berlebih-lebihan."

Kata-kata ini tepat menghunjam di sanubarinya dan merupakan sindiran tajam bagi dirinya. Dia tahu apa yang dimaksud kan Siu Li dalam kata-katanya itu. Dan tentu saja dia merasa tidak enak sekali. Kalau Yap-goanswe dan Siu Li saling mencinta, sudah benarkah kalau dia marah-marah terhadap saingannya itu dan membencinya sedemikian rupa sehingga gadis itu mengalami kesengsaraan? benarkah sikapnya ini? Memang sudah sepatutnyakah gadis itu dibenci hanya karena luapan emosinya belaka?

Jika dia mau bicara secara jujur, jawabannya adalah tidak! Namun kenyataan ini terlalu pahit baginya, terlalu berat dan sukar. Maka sejenak gadis ini termangu-mangu, memandang kepergian puteri Panglima Ok itu dengan mata tak berkedip.

Akan tetapi lain halnya bagi Bu Kong sendiri. Begitu Siu Li memutar tubuh dan meninggalkan mereka, pemuda ini tiba-tiba berteriak sambil mengejar, "Li-moi, tunggu dulu...!"

Gerakan gadis itu tertahan dan kakinya menegang kejang, tampak terkejut dan menggigil. Dia memang berhenti, namun sama sekali tidak mau menoleh ke belakang. "Yap-goanswe, kau memanggilku ada keperluan apakah?" tanyanya dengan suara gemetar.

Bu Kong berkelebat dan pemuda ini berdiri di sebelah kiri gadis itu yang tetap tidak mau menengok dan memandang lurus ke depan seperti patung hidup. "Li-moi," Bu Kong berkata dengan napas terengah dan menyentuh lengan baju kiri yang kosong itu dengan jari tangan menggigil. "Aku hendak bertanya, siapakah yang membuntungi lenganmu ini? Siapa...?"

Perlahan-lahan wajah yang sayu itu menoleh, pucat dan air mata deras membanjir di kedua pipinya. "Yap-goanswe, perlukah pertanyaanmu itu kujawab?"

Bu Kong seperti diremas perasaannya dan dengan suara serak dia menjawab, "Perlu, Li-moi, perlu sekali!"

"Untuk apakah?" gadis itu bertanya.

"Untuk membunuh orang yang telah berlaku keji terhadapmu ini!"

"Ahh...!" Siu Li menyurut mundur dan tubuhnya gemetar. "Yap-goanswe, aku adalah musuhmu. Kenapa kau ikut memperdulikan nasibku?"

"Karena aku hendak membalas budimu yang telah kau berikan lewat Dewa Monyet."

"Ahh...!" kembali gadis itu berseru dan tiba-tiba Siu Li terkekeh menyeramkan. "Yap-goanswe, kalau kau ingin tahu siapakah yang membuntungi lenganku ini, nah dengarlah. Orang yang berlaku keji seperti yang kau katakan tadi bukan lain adalah diriku sendiri! Nah, dengarkah engkau? Akulah yang telah membuntungi lenganku sendiri ini, hi-hi-hikk-heh-heh-heh...!" Gadis itu terkekeh-kekeh.

Dan Bu Kong meremang bulu tengkuknya. Kagetnya bukan kepalang mendengar jawaban itu dan dia terhenyak tak mampu bersuara. Sejenak dia seperti mendengar petir di siang bolong, akan tetapi dengan cepat dia telah dapat menguasai diri lagi. "Apa? Kau sendiri, Li-moi?" tanyanya kaget. "Mengapa? Siapa yang menyuruhmu...?"

Siu Li tiba-tiba membalikkan tubuh, ketawanya yang mirip kuntilanak menangis itu sekonyong-konyong berhenti. Dangan mata bersinar-sinar gadis ini menjawab. "Yap-goanswe, pertanyaanmu sudah kelewat jauh. Ini adalah urusan pribadiku sendiri, pantaskah kau bertanya urusan pribadi orang lain? Tidak ada yang menyuruhku, ini semua adalah keinginan hatiku sendiri. Nah, cukup, jangan menggangguku lagi!" Gadis itu mengebutkan lengannya dan menghilang di kegelapan malam.

Bu Kong termangu-mangu, wajahnya pucat dan dia mengepal tinju tak tahu apa yang harus dilakukannya. "Mengapa dia membuntungi lengan sendiri? Siapa yang menyuruhnya? Masa tanpa sebab dia memotong lengan sendiri seperti orang gila?"

Pertanyaan ini ber tubi-tubi memenuhi pikirannya, namun meskipun dia memeras otak sampai tua agaknya juga tidak akan berhasil memecahkan rahasia yang luar biasa ganjilnya ini.

"Yap-goanswe, apa yang dikatakan oleh gadis itu memang benar. Bukan orang lain yang membuntungi lengannya, melainkan dia sendirilah," tiba-tiba Pek Hong maju menghampiri dan berkata perlahan di samping pemuda itu.

Suara yang demikian dekat ini bagi Bu Kong seakan-akan sayup sampai datangnya. Dia masih kaget mendengar jawaban Siu Li yang demikian mengejutkan, maka seperti orang tidak sadar diapun lalu bertanya, "Mengapa dia melakukan hal itu? Masa gadis itu menyuruh dirinya sendiri untuk membuntungi lengannya?"

"Tidak! Dalam hal ini pengakuannya bohong!"

Seruan lantang yang dikeluarkan Pek Hong mengagetkan Bu Kong dan kalau tadi dia seperti orang linglung, adalah sekarang dia seperti disengat ular berbisa dan seketika pemuda ini membalikkan tubuh. "Apa katamu, Hong-moi?" serunya terbelalak. "Pengakuannya bohong? Jadi betul bahwa ada orang lain yang menyuruhnya untuk membuntungi lengan kirinya itu?"

Bu Kong sudah mengepal tinju dan dia mulai menduga-duga bahwa agaknya kalau bukan Ok-ciangkun sendiri, tentulah Kui Lun yang bertindak sebagai pengganti guru. Kalau hanya masalah gadis itu jatuh cinta kepadanya kemudian dihukum buntung lengan, inilah hukum kelewat batas sekali dan dia akan menghajar orang yang bertindak kejam itu!

Pek Hong mengangguk dan gadis ini memandang penuh selidik dan mata bersinar aneh. "Betul, Yap-goanswe, orang lainlah yang menyuruhnya, bukan atas keinginannya sendiri."

"Dan kau tahu siapa jahanam keparat itu?" Bu Kong bertanya setengah berteriak.

Pek Hong kembali mengangguk. "Benar, aku tahu," jawabnya tenang.

“Siapa?” Bu Kong terbelalak dengan mata merah.

Akan tetapi gadis ini tidak segera menjawab. “Yap-goanswe, kalau aku memberitahukan orang itu, hendak kau apakan kah dia?"

Bu Kong menggeram. "Aku hendak menghancurkan kepalanya!" desisnya penuh kemarahan.

"Oh, begitukah?" Pek Hong tersenyum getir. “Yap goanswe, jika kau mempunyai niat demikian, agaknya keinginanmu terkabul. Ketahuilah, orang yang menyuruh Siu Li membuntungi lengannya itu bukan lain adalah..."

"Ok-ciangkun sendiri?" Bu Kong memotong tak sabar..

"Bukan,” gadis itu menggeleng. "Jahanam keparat yang kau maki tadi bukan lain adalah diriku sendiri! Akulah yang menyuruh Siu Li membuntungi lengannya sebagai penebus dosa!"

“Hahhh...??!!??" Kalau ada geledek menggelegar tiba-tiba di pinggir telinganya agaknya pemuda itu tidak akan sekaget ini. Jawaban yang diluar dugaan itu benar-benar membuatnya terkejut bukan main dan Bu Kong sampai mencelat jauh dan punggungnya menabrak sebatang pohon hingga roboh. "Kau... kau...??"

Bu Kong menuding dan telunjuknya menggigil, tubuhnya terhuyung-huyung melangkah ke depan dengan mata beringas. Dia memandang gadis ini seperti orang memandang setan di dalam gelap, penuh kemarahan dan penuh kebencian. Membayangkan betapa gadis itu menyuruh Siu Li membuntungi lengannya sebagai penebus dosa, kemarahan pemuda ini memuncak. Penderitaan Siu Li sudah cukup berat, dan masih harus ditambah lagi dengan perbuatan Pek Hong ini!

"Kwan Pek Hong, kau wanita keji! Ada hak apa kau menjadi hakim atas diri gadis yang bernasib malang itu? Tidak cukupkah kesengsaraan yang dideritanya? Apa yang mendorongmu sampai hati melakukan kekejaman ini? Terkutuk! Kau manusia iblis berhati culas. Karena cemburu kau melakukan perbuatan itu. Kau menghancurkan hidupnya, kau membelah jantungnya yang sudah berdarah!"

Semakin lama Bu Kong semakin meluap kemarahannya dan tiba-tiba pemuda ini memekik sambil melompat maju. Tangan kanannya bergerak menampar dan angin pukulan yang kuat menyambar gadis itu.

Pek Hong berdiri terbelalak, wajahnya sepucat kertas menerima cercaan yang kasar itu dan gadis ini mengeluh tertahan. Dia memang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi reaksi pemuda itu, namun toh dia tak kuat juga. Lontaran kata-kata pedas yang dikeluarkan pemuda ini menusuk hatinya dan membuat tubuhnya gemetar. Maka ketika tamparan itu tiba, gadis ini sama sekali tidak menolak, juga tidak berkedip, memandang seperti orang kehilangan ingatan.

"Plakk!" Tamparan ini keras sekali dan kontan tubuh gadis itu terpelanting roboh. Pipinya seketika bengap dan bibirnya pecah berdarah.

Bu Kong yang mata gelap itu agaknya menjadi semakin beringas ketika melihat darah segar dan pemuda ini menggereng sambil menggerakkan tangannya kembali. Sikapnya ini mengingatkan orang akan seekor harimau yang kelaparan dan kini melihat daging segar.

Namun, sebelum pukulan kedua kalinya ini menyambar, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan putih yang luar biasa cepatnya. Gerakan bayangan ini seperti iblis saja, begitu tiba lalu mendorongkan lengannya perlahan menahan tamparan pemuda itu, kemudian melesat ke depan dan menghadang dalam waktu sekejap saja.

Aneh, Bu Kong tiba-tiba merasakan suatu tolakan tenaga halus yang luar biasa kuatnya menahan pukulannya dan sekonyong-konyong telapak tangannya disentuh benda dingin. Sentuhan ini amat mengejutkan karena tiba-tiba saja seluruh tenaga yang siap bergetar di tangannya mendadak lenyap tak bertenaga lagi!

Tentu saja murid Malaikat Gurun Neraka ini mencelos. Totokan lihai berupa usapan jari yang mengandung hawa dingin itu telah melumpuhkan dirinya dan hebatnya, dia sendiri tidak sempat melihat wajah bayangan putih yang berkelebat seperti iblis itu.

"Ahh..." Bu Kong berseru kaget dan pemuda ini tertegun. Sentuhan benda dingin tadi bukan hanya melumpuhkan tenaganya belaka, tetapi juga sekaligus mendinginkan kemarahannya yang bergolak. Usapan lembut berhawa dingin itu ternyata memiliki kemujijatan luar biasa, menyadarkannya dari hawa nafsu iblis yang hampir saja membuatnya sebuas binatang liar. Dan pada saat pemuda ini bengong di tempatnya, terdengarlah suara halus di balik sebatang pohon,

"Yap-goanswe, kemarahan tanpa perhitungan adalah kesesatan. Melupakan budi mengingat kesalahan adalah kemurtadan. Bagaimana kau hendak membunuh orang yang telah menolongmu dari tangan maut? Anak muda, sadarlah. Usir segala benci dan dendam di hatimu. Jauhkan segala kedengkian dan tanamlah segala kebaikan. Apa yang terjadi adalah kehendak Yang Maha Kuasa, bagaimana kau akan menolaknya?"

Tiba-tiba di samping pohon tadi muncul seorang berpakaian putih yang wajahnya tertutup halimun. Bu Kong terkejut dan dia memandang manusia luar biasa itu dengan mata terbuka lebar dan penuh tanda tanya, akan tetapi Pek Hong yang melihat kehadiran orang ini sudah cepat menjatuhkan diri berlutut sambil menangis tersedu-sedu...