PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 12
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
“AIIHH...!" Pek Hong mengeluarkan seruan tertahan dan gadis ini melompat mundur dengan muka berobah. Apa yang disaksikannya ini benar-benar mengejutkan hatinya dan tak terasa ia memandang dengan mata terbelalak, perasaannya tergetar hebat. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa Siu Li akan bersungguh-sungguh menepati ucapannya itu, dan hal ini membuat ia tertegun.

Sementara itu, bayangan kuning yang tadi berteriak dari kejauhan, sudah meluncur tiba. Dia adalah seorang pemuda likuran tahun, sepasang matanya tajam berpengaruh dan sikapnya serius, sebatang pedang tampak di balik punggungnya. Sekali lihat siapapun akan tahu bahwa pemuda yang baru datang ini bukan pemuda sembarangan karena dia bukan lain adalah murid pertama Mo-i Thai-houw alias kakak kandung Siu Li sendiri!

Begitu melihat keadaan adiknya ini, Kui Lun terkejut bukan main. Sejenak pemuda ini terbelalak dan berdiri mematung, lalu berteriak menyeramkan dan menubruk ke depan dengan muka pucat. "Li-moi, kau gila? Mengapa kau lakukan ini? Siapa yang menyuruhmu? Siapa...?” Pemuda itu menggerung hebat dan tak dapat menguasai dirinya lagi, mengguncang-guncang tubuh adiknya dengan mata melotot.

Akan tetapi Siu Li sama sekali tidak menjawab, hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak perlahan seperti orang hendak berkata sesuatu namun tidak sanggup disampaikan. Akhurnya gadis ini mengeluh perlahan, tubuhnya limbung d an roboh pingsan di dalam pelukan kakaknya.

Cepat Kui Lun merangkul adiknya ini, lalu tangannya menotok tujuh hiat-to penting dipangkal lengan untuk menghentikan darah yang masih mengucur deras itu. Semuanya ini dilakukan dengan muka pucat dan tubuh agak menggigil karena peristiwa yang dialaminya ini benar-benar mengguncang batinnya. Setelah itu, dia lalu merobek baju sendiri dan dengan tangan gemetar membalut lengan kiri yang buntung itu. “Li-moi, mengapa kau melakukan perbuatan gila ini? Mengapa...? Aduh, adikku, kau benar-benar terlalu sekali. Kenapa tidak menunggu sebentar seruanku tadi...?"

Demikianlah, dengan berbisik-bisik dan air mata bercucuran pemuda ini membalut luka adiknya, membaringkannya di atas rumput lunak dan menangis terisak-isak. Kesedihan yang diperlihatkan oleh Kui Lun terhadap adiknya ini memang tidak mengherankan. Sejak kecil mereka hidup bersama dan belum pernah pemuda ini mengalami kehancuran hati seperti sekarang. Adiknya itu memang kadang-kadang berwatak bengal, sering tidak menghiraukan nasehat-nasehat yang diberikan. Berapa kali sudah mereka selalu bertengkar, akan tetapi toh mereka selalu dapat hidup rukun. Hal ini disebabkan karena kasih sayangnya terhadap Siu Li amat besar sekali.

Apalagi karena sejak kecil mereka sudah jauh dari orang tua sendiri, maka ikatan cinta kasih sebagai kakak beradik diantara mereka semakin erat. Mereka saling membutuhkan hiburan, kasih sayang dan lain-lainnya lagi yang tidak mereka peroleh dari orang tua. Dan semenjak subo mereka tewas, dua orang kakak beradik ini tidak pernah berpisah lagi.

Tentu saja diantara mereka sudah tidak terdapat rahasia segala yang perlu disembunyikan. Maka pemuda inipun tahu betapa batin adiknya akhir-akhir ini tertekan hebat semenjak perkenalannya dengan Yap-goanswe. Bagi dia sendiri, masalah penyelundupannya dahulu di pasukan Yueh bukanlah apa-apa. Bukankah biasa saja bagi dua pihak yang sedang bertempur kalau kemasukan mata-mata dari pihak lawan? Apa yang perlu dipersoalkan? Kalau Yap-goanswe sampai kebobolan, itulah salahnya sendiri! Kenapa dia begitu bodoh sehingga kemasukan mata-mata?

Maka untuk masalah "pengkhianatan" begini Kui Lun sama sekali tidak ambil pusing. Persetan dengan semuanya itu. Akan tetapi lain bagi Siu Li. Gadis ini telah terjerat asmara bersama jenderal muda itu, maka tentu saja ia tidak bisa main "persetan" seperti kakaknya. Pertemuannya dengan Yap-goanswe untuk pertama kalinya dulu di padang pasir itu telah meninggalkan kesan-kesan indah di dalam hati, bagaimana dia tidak tertindih menghadapi hal semacam ini?

Sesungguhnyalah, sejak perkenalannya pertama di tepi padang gurun itu Siu Li benar-benar telah jatuh hati terhadap murid Malaikat Gurun Neraka ini. Belum pernah hatinya terguncang seperti itu, belum pernah perasaannya menjadi tidak karuan seperti pada perjumpaan pertama itu.

Semuanya ini telah meninggalkan kesan-kesan mendalam di sanubari, bagaimana dapat dihilangkan begitu saja? Maka tidaklah aneh kalau hati gadis itu menjadi risau sekali melihat keadaan dirinya yang amat buruk. Di satu pihak dia harus menjalankan siasat ayah untuk merobohkan jenderal muda itu, di pihak lain hati nuraninya berontak.

Dia tahu bahwa ayahnya liciik dan curang, sebaliknya Yapgoanswe demikian jujur dan gagah perkasa. Kenyataan ini semakin membuat Siu Li merasa kagum terhadap jenderal muda itu dan semakin tidak menyetujui perbuatan-perbuatan ayahnya. Namun, karena semuanya itu terjadi dalam perang antar dua kerajaan, mana bisa urusan pribadi dimasukkan?

Demikianlah, konflik-konflik batinpun berkecamuklah didalam hatinya sampai akhirnya Siu Li tidak tahan lagi melihat perbuatan kotor ayahnya yang memfitnah Yap-goanswe dan meninggalkan ayahnya den gan hati hancur.

Gadis ini merasa betapa dosanya terhadap pemuda itu semakin bertumpuk. Kalau saja ia tidak jatuh hati, mungkin dirinya tidak akan digerogoti perasaan bersalah separah ini. Akan tetapi celakanya, justeru kian hari perasaan cintanya terhadap jenderal muda itu kian menghebat. Membayangkan betapa kekasihnya dilakukan sekeji itu oleh ayahnya, hati Siu Li menjerit. Ingin dia melompat keluar dan berlari mencari pemuda itu, menceritakan semua perbuatan ayahnya yang curang, akan tetapi setiap kali itu pula kakakn ya muncul mencegah.

“Ini adalah urusan kerajaan, adikku, siasat dalam peperangan. Meskipun ayah kita curang dan sikapnya tidak terpuji, akan tetapi dia tetap ayah kita. Apa kah engkau hendak membongkar rahasia ayah sendiri kepada orang lain?"

"Akan tetapi, Lun-ko, Yap-goanswe bagiku bukan orang lain. Dia kekasihku, dia orang yang kucinta. Masa aku tega membiarkan dia menderita seperti itu?"

"Hmm, cinta apa?" Kui Lun mendengus. "Kau belum tahu arti sesungguhnya dari cinta, Li-moi, maka terus-terang saja aku meragukan kata-katamu itu. Memang benar Yap-goanswe terfitnah oleh siasat dari Kerajaan Wu, akan tetapi bukankah ini memang resikonya dalam setiap peperangan? Dia pucuk pimpinan dalam pasukan, terlalu tangguh untuk dirobohkan. Maka satu-satunya jalan paling-paling melancarkan siasat begitu...."

"Biarpun siasat itu licik dan tidak tahu malu?" Siu Li naik darah.

"Ahh, masalah licik atau tidak tahu malu ini adalah pendapat orang lain. Buat apa dihiraukan?" Kui Lun acuh tak acuh.

Tentu saja Siu Li marah sekali. "Lun-ko!" gadis ini membentak. "Kau agaknya amat membenci Yap-goanswe. Ada apa sih? Kesalahan dan dosa apa yang diperbuat oleh pemuda itu kepadamu?"

Kui Lun memutar tubuh, menoleh dan memandang adiknya dengan pandangan tajam, lalu dengan suara dingin dia menjawab, "Aku memang amat membencinya, Li-moi, dan kesalahannya terlalu besar. Memang bukan terhadap diriku kesalahannya itu dilakukan, akan tetapi toh sama saja. Aku tidak suka kepada pemuda sombong itu, aku memang membencinya!"

"Karena apa?"

"Karena dia berani mencintaimu!"

"Ahh, mengapa harus menyalahkan dia? Orang jatuh cinta adalah jamak, kenapa mesti menyalahkan Yap-goanswe? Kalau engkau menyalahkan dia harus pula berani menyalahkan aku, Lun-ko!"

"Hem, mengapa mesti begitu?" Kui Lun mengejek.

"Karena akupun mencintainya!"

"Phuihh...! Cinta monyet gadis belasan tahun mana bisa dipercaya. Tidak. Li-moi, kau tidak tahu apa-apa tentang cinta. Cinta tidak akan membawa kesengsaraan begini. Kalau kau jatuh cinta kepada seseorang, mestinya bukan kepada musuh. Sekarang, gara gara dirimu mengaku jatuh cinta terhadap jenderal muda itu, kau harus melawan orang tua sendiri! Mana bisa dibilang cinta kalau begitu?"

Kata-kata pemuda ini membuat wajah gadis itu menjadi merah sekali. Dia paling sengit kalau orang bilang cintanya "cinta monyet". Dan kini kakaknya menyinggung-nyinggung lagi hal itu. Maka dengan suara nyaring ia lalu membentak, "Lun-ko, berani kau mengataiku seperti ini? Berani kau menyebutku sebagai cinta monyet segala? Hemm, baiklah, lihat saja nanti, apakah betul-betul cintaku itu cinta monyet! Kau manusia tidak berperasaan begini, bagaimana dapat merasakan cinta murni? Musuh atau bukan, dia adalah manusia seperti kita juga. Herankah kalau manusia jatuh cinta kepada manusia lainnya? Cinta memang membutuhkan pengorbanan, dimana anehnya hal ini? Aku sudah berkorban perasaan demi orang yang kucintai, maka pengorbanan lainpun yang lebih besar aku sanggup menerimanya!"

Inilah kata-kata terakhir adiknya itu beberapa waktu yang lalu. Dan Kui Lun yang tidak mau banyak berdebat dengan adiknya ini, lalu meninggalkan gadis itu yang menangis seorang diri. Dia memang tidak setuju adiknya itu jatuh cinta kepada Yap-goanswe. Entah mengapa, ada perasaan tidak sukanya kepada murid Malaikat Gurun Neraka itu. Ada sesuatu yang tidak disenanginya. Dia sendiri sedang berusaha mencari-cari apakah gerangan sesuatu itu, namun belum juga dia berhasil menemukannya.

Dan sekarang, baru beberapa hari semenjak pertengkaran mereka itu, tahu-tahu adiknya telah mengorbankan lengan kiri sendiri untuk menebus dosanya terhadap Yap-goanswe! Kui Lun benar-benar marah sekali dan kebenciannya kepada jenderal muda itu memuncak, seketika dia melompat bangun, kedua tangannya dikepal dan pemuda ini lalu berteriak, "Yap-goanswe, kaukah yang menyuruh adikku menabas lengan ini? Kalau benar, hayo tunjukkan dirimu, aku hendak menuntut balas!"

Dia berteriak-teriak seperti orang kalap, akan tetapi mana Bu Kong ada di tempat itu? Biarpun dia berteriak sampai tenggorokannya pecah juga tidak mungkin orang yang ditantang akan muncul.

Pek Hong yang semenjak tadi tidak mengeluarkan suara karena masih tertegun melihat peristiwa Siu Li ini, tiba-tiba meiompat maju . "Saudara Kui Lun, percuma kau berteriak-teriak, orang yang kau cari tidak ada di sini. Dan lagi bukan Yap-goanswe yang menyuruh adikmu itu mengutungi lengannya..."

Kui Lun memutar tubuh, seakan-akan baru teringat olehnya bahwa di situ masih terdapat murid Ta Bhok Hwesio ini. Dia memang mengenal gadis itu seperti juga gadis itu mengenalnya. Maka dengan suara berat diapun bertanya. "Apa maksudmu, nona? Kenapa Yap-goanswe tidak berada di sini? Kalau dia tidak ada, mustahil adikku bisa begini. Hanya perjumpaannya dengan pemuda keparat itulah maka adikku selalu terhimpit batinnya, kalau tidak, masa tanpa sebab ia membuntungi lengan sendiri?"

Pek Hong menjadi panas hatinya mendengar Bu Kong dimaki sebagai pemuda keparat. "Hmm, sepatutnya engkaulah yang keparat, manusia she Ok, bukannya Yap-goanswe! Kenapa kau memakinya?" gadis ini membentak.

Kui Lun terbelalak, matanya tak berkedip. "Apa katamu? Aku yang keparat bukannya jenderal yang sombong itu? Huh, biar kumaki seribu kali engkau mau apa, nona? Dia memang keparat jahanam! Nah, dengar kau? Dia keparat jahanam yang hendak kubunuh!"

Gadis ini menjadi marah sekali. Dengan mata berapi dia melompat ke depan dan jari telunjuknya yang runcing halus itu menuding, “Orang she Ok, kau tidak ingat dosa sendiri? Berani kau bermulut besar hendak membunuh Yap-goanswe? Cihh, kalau dia benar-benar ada di sini, kutanggung dilawan dengan sebuah jarinya saja kau masih belum nempil! Mana bisa kau membunuhnya? Dasar manusia tidak tahu malu, mengancam orang pada saat orang yang diancam sedang tidak berada di sini. Perbuatan gagah macam apa ini?"

Kui Lun juga naik darah diejek begini, dengan muka gelap dan mata mendelik dia lalu balas membentak, "Eh, setan betina, kau agaknya penjilat Yap-goanswe, ya? Aha, pantas saja kalau begitu. Rupanya kau telah diberi upah oleh pemuda itu. Dan upah apa yang selalu diberikan seorang pemuda pemogoran seperti Yap-goanswe itu terhadap seorang gadis? Tentu peluk cium dan perbuatan-perbuatan tidak tahu malu lainnya! Cihh, kau marah? Hee, mukamu merah, tentu kata-kataku mengenai sasaran. Kenapa harus naik pitam?"

Memang wajah gadis itu sudah merah sekali karena ucapan yang dikeluarkan oleh pemuda ini amat menusuk perasaannya. Rahasia perjinaan Yan-goanswe memang sudah tersebar luas, maka tidak heran kalau Kui Lun mampu melontarkan hinaan itu. Akan tetapi, yang membuat kemarahan Pek Hong meledak adalah karena justeru pembuat gara-gara semua fitnah keji ini adalah Wusam-tai-ciangkun, ayah dari pemuda itu sendiri. Dan sekarang dengan seenaknya saja pemuda ini memaki-maki Yap-goanswe sebagai pemuda tidak tahu malu!

"Kaulah jahanam tidak tahu malu!" Pek Hong membentak sengit dan "sring", rantai perak di pinggangnya telah dilolos keluar. "Orang she Ok, perbuatan ayahmu yang memfitnah Yap-goanswe mustahul tidak diketahui olehmu. Dan sekarang kau berani memaki-maki Yap-goanswe seakan-akan kau tidak mengetahui semua kebusukan ayahmu. Dosa begini saja masa tidak adil kalau ditebus dengan kepalamu yang penuh ulat-ulat kotor itu? Nah, terimalah kematianmu dan ketahuilah pula sebelum kau menghadap Giam-lo-ong bahwa yang menyuruh adikmu tadi adalah aku sendiri!"

Begitu habis mengucapkan kata-katanya ini, tiba-tiba gadis itu melengking tinggi dan tubuhnya menerjang pemuda itu. Rantai perak di tangannya bergerak naik turun seperti naga putih, melenggang-lenggok dua kali di udara lalu tiba-tiba menghantam dengan sabetan miring. Gerakannya cepat dan kuat, apalagi didorong oleh kemarahan yang meluap membuat tenaganya besar sekali. Inilah jurus yang dinamakan Naga Putih Menerobos Gua, sebuah serangan lihai dari ilmu silat cambuk yang diganti dengan senjata rantai perak.

Kui Lun terkejut, bukan menyaksikan datangnya serangan ganas ini, melainkan terkejut mendengar kata-kata gadis itu. Ahh, bagaimana rahasia ayahnya bisa terbongkar? Sungguh dia kaget bukan main di dalam hatinya dan dia melirik ke arah Siu Li yang rebah di atas rumput. Apakah adiknya ini yang memberitahukan kepada lawan? Celaka. kalau benar demikian, adiknya itu pantas dihajar! Bukankah kalau diketahui musuh semua rahasia selama ini bakal terbongkar habis-habisan?

Sampai di manakah murid Ta Bhok Hwesio ini mengetahui rahasia itu? Hah, gadis ini benar-benar musuh yang berbahaya sekali. Dia harus secepatnya membunuh sebelum orang lain mendengar omongannya. Dia harus menutup mulut gadis ini untuk selamanya. Maka, begitu serangan lawan tiba secepat kilat Kui Lun mencabut pedangnya dan menangkis.

"Trangg...!" Bunga api berpijar dan rantai perak di tangan Pek Hong terpental. Gadis ini tercekat dan hampir dia mengeluarkan seruan kaget. Telapak tangannya terasa pedas dan panas, ini membuktikan bahwa dalam hal tenaga lweekang ia masih kalah. Tentu saja Pek Hong terkejut, maka sambil berteriak nyaring gadis ini lalu mengerahkan ginkangnya yang disebut Coan-goa-thui (Terbang Menerjang Bulan), dan segera tubuhnya beterbangan seperti burung walet menyambar-nyambar.

Dengan mengandalkan ginkangnya yang tinggi itu, Pek Hong ternyata berhasil menutup kelemahannya dalam hal tenaga. Tubuhnya naik turun di udara seperti kepinis mencari mangsa, dan rantai perak di tangannya tidak pernah berhenti bergerak.

Maka terjadilah pertandingan yang cukup seru di tempat sunyi ini. Dua orang murid dari tokoh-tokoh besar bertempur, tentu saja menarik untuk ditonton. Sayang, tempat yang sepi ini sama sekali tidak ada orangnya selain mereka sendiri. Perkelahian sengit yang terjadipun juga paling-paling hanya disaksikan oleh pohon-pohon dan semak belukar yang berkeresekan seakan orang berbisik-bisik.

Kui Lun yang sudah mengambil keputusan untuk melenyapkan dara ini agar rahasia ayahnya tidak bocor, mengerahkan semua kepandaiannya. Diam-diam dia terkejut juga. Dulu, beberapa bulan yang lalu, pernah juga dia bertempur melawan gadis ini, akan tetapi waktu itu pertempuran mereka kurang serius. Hal ini telah diceritakan dalam "Hancurnya Sebuah Kerajaan" jilid tiga karena pada waktu itu kedatangan Pek Hong menempur Kui Lun adalah untuk menolong Siu Li yang dikiranya bertemu dengan penjahat muda.

Pada pertandingan mereka yang berjalan dalam beberapa gebrakan itu, Kui Lun memang tahu bahwa lawannya ini amat lihai sekali. Apa lagi setelah dia mengetahui bahwa gadis itu adalah murid Ta Bhok Hwesio yang amat sakti dari Tibet, maka tentu saja dia tidak berani memandang rendah.

Sekarang, dalam pertandingan yang kedua kalinya ini, Kui Lun yang berniat membunuh gadis itu tidak mau main sungkan lagi. Sambil mengeluarkan bentakan keras tiba-tiba tangan kirinya diputar terus didorongkan kedepan. Serangkum hawa dingin menerjang keluar dan tampak sinar keperakan gemerdep menyilaukan mata. Inilah pukulan jarak jauh yang mengandalkan tenaga lweekang. Mo-i Thai-houw menamakannya Gin-kong-jiu (Pukulan Sinar Perak).

Pek Hong terkejut melihat serangan tiba-tibaa ini. Ia maklum bahwa dalam hal tenaga lweekang ia masih kalah seusap, maka tentu saja ia tidak berani menerimanya secara langsung. Hakikatnya gadis ini memang jeri kalau beradu tenaga, maka jalan satu-satunya adalah mengelit ke samping dan dari sini dia menampar dengan pukulan memutar.

"Plakk! Ihh...!" Pek Hong berteriak kaget. Betul bahwa pukulan Gin-kong-jiu berhasil dikelit ke samping, namun begitu tangannya menghantam lengan kiri lawan, seketika hawa dingin yang luar biasa membuat jari tangannya menggigil kaku seperti direndam es!

Tentu saja gadis ini terkejut bukan main. Pada saat itu, dalam keadaan jari tangan lumpuh sedetik, Kui Lun tertawa dingin dan kaki kanannya tiba-tiba menendang lutut Pek Hong berbareng tangan kirinya membalik untuk mencengkeram tangan gadis itu.

Serangan ini sungguh berbahaya bagi murid Ta Bhok Hwesio ini. Rantai peraknya yang tadi menyambar leher lawan, ditangkis pedang bersinar biru sehingga terpental ke atas, sementara pedang Kui Lun sendiri terus meluncur membabat leher si gadis. Balasan serangan yang amat di luar dugaan ini sedikit banyak membuat Pek Hong terkesiap juga.

Akan tetapi dara ini ternyata benar-benar tidak percuma dididik oleh seorang tokoh besar macam Ta Bhok Hwesio yang sakti itu. Begitu rantainya terpental, tiba-tiba Pek Hong melengking nyaring dan mengerahkan tenaga. Rantai perak yang tadi lemas seperti ruyung itu mendadak kaku seperti toya baja! Dan pada detik itu juga, senjata yang telah berobah kaku ini dari atas tiba-tiba meliuk ke bawah, menghantam tangan kiri lawan yang hendak mencengkeram lengannya disusul gerakan merendahkan kepala untuk menghindari babatan pedang ke arah kepalanya!

"Singg-dess-brett...!"

Tiga gebrakan ini terjadi dengan amat cepatnya. Pedang Kui Lun luput menyambar kepala karena gadis itu secepat kilat telah merendahkan kepalanya, akan tetapi sebagai gantinya rambut Pek Hong terbabat ujungnya. Ini di pihak si gadis. Sedangkan di pihak Kui Lun sendiri, karena diapun tidak menyangka bahwa Pek Hong akan menghantam lengan kirinya yang siap mencengkeram, maka pemuda inipun tìdak mampu mengelak dan dengan telak tangan kirinya terpukul rantai lawan yang menjadi keras seperti sebatang toya itu.

"Aduhhh...!" Kui Lun berteriak dan otomatis cengkeramannya gagal. Pemuda ini kesakitan dan menjadi marah sekali. Hantaman rantai baja itu diisi dengan tenaga lweekang, maka hebatnya tentu saja bukan kepalang. Kalau bukan pemuda ini yang menerima, agaknya seketika itu juga tulang lengannya akan remuk dan hancur berantakan. Untunglah, berkat tenaga Gin-kong-jiu yang masih d ilancarkan, maka serangan ini tidak sampai membuat lengan Kui Lun patah.

Sementara itu, hampir bersamaan dengan hantaman rantai perak, tendangan Kui Lun mengenai lutut Pek Hong. "Tak..." tidak begitu keras tendangan ini, akan tetapi tetap saja gadis itu roboh berlutut. Karena tadi Kui Lun kesakitan dihantam senjata lawan, maka tenaga yang dikerahkan ke kakinya sudah jauh berkurang. Itulah sebabnya mengapa Pek Hong tidak sampai terkilir tempurung lututnya dan gadis ini hanya terkena totokan yang tidak begitu tepat arahnya.

Akan tetapi meskipun demikian tetap saja Pek Hong terkejut. Dia berseru perlahan dan begitu tubuhnya roboh berlutut di depan lawan, rantainya diputar menyerang pemuda itu agar tidak melanjutkan pukulannya sementara tubuhnya sendiri sudah cepat bergulingan menjauh.

"Bagus..." Kui Lun berseru mendongkol dan dia melompat mundur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Pek Hong untuk melompat bangun dan dengan muka merah gadis ini mendeliki pemuda itu. "Kau.... keparat, berani kau membabat rambutku?" Pek Hong berteriak gusar dengan mata berapi-api.

"Hmm, bukan hanya rambutmu yang akan kupotong, nona, melainkan kepalamu. Kau terlalu banyak mengetahui rahasia orang lain, bagaimana aku tega membiarkan kau hidup lagi di dunia ini? Daripada kau nanti dicelakai orang lain, lebih baik kuantar kau kepada Giam-lo-ong saja," Kui Lun tersenyum dingin.

Pek Hong marah sekali dan ia siap menerjang lagi. "Bagus, kalau begitu kau sudah mengakui tipu muslihat orang tuamu yang busuk itu?" bentaknya nyaring.

"Muslihat busuk apa?" pemuda itu menjengek. “Dalam setiap peperangan tidak ada muslihat busuk segala. Yang ada hanyalah kecerdikan otak masing-masing. Siapa cerdik dialah yang menang, mengapa heran?"

"Setan...!!" Pek Hong memekik dan dengan kemarahan meluap gadis ini lalu menerjang ke depan. Meskipun dalam gebrakan terakhir tadi jelas ia kalah sedikit, namun demi membela Bu Kong mana gadis itu merasa takut kepada musuh? Apalagi terhadap putera Ok-ciangkun yang terang-terangan telah mengakui perbuatan orang tuanya itu, gadis ini menjadi marah sekali. Kalau begitu betul kata-kata ramalan yang diucapkan oleh Phoa-lojin dulu, dan Yap-goanswe memang terfitnah oleh perbuatan Wu-sam-tai-ciangkun. Hanya yang belum ia ketahui, siapakah orang keempat disebut sebagai seorang pemuda yang pandai sihir itu? Akan tetapi, baru saja Pek Hong melompat ke depan, tiba-tiba terdengar seruan nyaring,

"Adik Hong, tahan...!" dan Siu Li tiba-tiba melompat bangun dengan tubuh gemetar. Kiranya gadis ini siuman kembali dari pingsannya dan kini dengan langkah terhuyung-huyung menghampiri dua orang yang bertempur itu.

Terpaksa Pek Hong menarik serangannya dan menanti apa yang hendak dika takan oleh gadis itu. Apakah Siu Li hendak mengeroyoknya? Agaknya tidak mungkin. Gadis ini payah keadaannya, tubuhnya menggigil seperti orang kena demam dan luka yang masih baru itu tentu amat mengganggunya. Masa akan nekat maju segala? Akan tetapi kalau begitu kehendaknya, iapun tidak gentar. Boleh, boleh mereka maju sekalian, diapun tidak takut. Maka dengan kepala dikedikkan gadis ini memandang dua orang musuhnya itu bergantian. Akan tetapi ternyata Siu Li sama sekali tidak menyerangnya. Gadis ini menghampiri kakaknya, lalu dengan suara lirih berbisik-bisik di telinga pemuda itu.

"Hahh...?!" Kui Lun tampak terkejut dan mukanya berobah. "Kau gila, Li-moi? Kau gila?" pemuda ini melotot ke arah adiknya namun Siu Li tiba-tiba sudah ambruk dan pingsan di pelukan kakaknya.

Pek Hong tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja kembali Siu Li roboh pingsan. Dan iapun tidak tahu apa yang tadi dibisik-bisikkan oleh gadis itu kepada kakaknya. Yang ia lihat sekarang adalah bahwa Kui Lun mendadak tampak gugup sekali dan begitu adiknya tak sadarkan diri, pemuda ini lalu memanggulnya dan tanpa menoleh kepada Pek Hong, Kui Lun melompat secepat terbang meninggalkan tempat itu dengan muka pucat.

"Heii, iblis kecil...! Kenapa lari? Tunggu dulu...!" Pek Hong yang penasaran melihat semuanya ini hendak lompat mengejar, akan tetapi tiba-tiba matanya membentur sesuatu di atas tanah. Itulah tanah berumput yang tadi dipergunakan Kui Lun untuk membaringkan adiknya. Dan sekarang, di atas tanah itu terdapat coretan huruf yang tidak begitu besar dan sebuah cincin kecil yang gemerlapan.

Karena perhatiannya tertarik ke sini, cepat Pek Hong menahan langkah dan menuju ke tempat itu. Ternyata memang betul. Coretan kalimat itu dibuat oleh Siu Li yang berbunyi:

Jangan buang-buang waktu lagi, cepat naik ke atas dan bantu dia segera, bawa cincin ini dan tunjukkan pada Kauw-sian, maka diapun tidak akan banyak cerewet lagi. Semoga bahagia!

Inilah bunyi kalimat itu dan Pek Hong seketika sadar bahwa Yap-goanswe telah dibawa si kakek monyet ke atas puncak. Memang betul, ia harus menolong Bu Kong dan membantu Si Dewa Monyet. Kalau tidak, keadaan bekas jenderal muda itu bisa berbahaya sekali. Seketika ia merasa gelisah dan melihat sebuah cincin menggeletak di samping coretan huruf-huruf ini, Pek Hong lalu memungut benda ini dan tanpa banyak bicara lagi iapun lalu terbang ke puncak bukit menyusul Kauw-sian yang sudah duluan membawa pasiennya. Semuanya segera dilupakan dan satu-satunya ingatan adalah menolong Yap-goanswe. Dan gadis inipun juga tidak mau tahu lagi apa sih yang tadi dibisikkan Siu Li kepada kakaknya itu?

Sebenarnya jawaban tentang ini sederhana saja. Tadi, ketika Siu Li menghampiri kakaknya, gadis ini berbisik perlahan, "Lun-ko, karena tidak menyangka kedatanganmu, aku terlanjur menelan Siau-hun-tan (Pil Pembuyar Sukma). Kau tahu sendiri, bekerjanya obat ini amat cepat, terlambat sedikit tentu sukmaku benar-benar akan buyar. Nah, terserah padamu, hendak cekcok dulu dengan murid Ta Bhok Hwesio itu ataukah hendak segera menolong diriku."

Kui Lun yang mendengar keterangan ini tentu saja kaget setengah mati. Itulah sebabnya mengapa Pek Hong melihat muka pemuda ini berobah seketika dan melotot ke arah adiknya serta memaki adiknya itu sebagai orang gila. Siau-hun-tan adalah obat yang amat keras sekali, memang cocok kalau dipakai untuk maksud-maksud bunuh diri. Dan obat penawarnya berada di Lembah Bambu Kuning. Mana Kui Lun mau membuang-buang waktu lagi? Nyawa adiknya jauh lebih penting daripada segala urusan lain!

Maka begitu adiknya roboh pingsan, pemuda ini segera membawanya pergi dan berlari seperti terbang menuju ke Lembah Bambu Kuning. Sama sekali Kui Lun tidak mengira seujung rambutpun bahwa adiknya itu telah membohonginya!

Siu Li memang membohongi kakaknya ini. Dia tahu bahwa kalau pertempuran itu tidak dicegah, Pek Hong bukanlah lawan kakaknya yang lihai. Meskipun pertandingan akan berjalan lama sekali, namun akhirnya Pek Hong tentu dibawah angin. Kalau gadis itu sampai celaka, bukankah Yap-goanswe akan menuntut balas terhadap kakaknya? Ia tidak mau hal ini terjadi. Kesalahan mereka terhadap jenderai muda itu sudah cukup banyak, tidak perlu ditambah lagi.

Apalagi Bu Kong sendiri sedang keracunan dan pemuda itu harus secepatnya ditolong, untuk apa pertempuran itu dilanjutkan? Dengan akal begini, otomatis kedua pihak akan berhenti dengan sendirinya karena masing-masing saling mempunyai kepentingan yang perlu didahulukan. Kui Lun perlu mencarikan obat penawar adiknya, sedangkan Pek Hong dapat naik ke puncak untuk menyusul Yap-goanswe.

Demikianlah, dengan sedikit akal bikinan begini, Siu Li telah memisah dua orang itu tanpa susah payah dan sekarang kakaknya yang mengira ia pingsan itu berlari-lari ke Lembah Bambu Kuning untuk menolongnya.

* * * * * * * *

Dewa Monyet yang tergopoh-gopoh membawa pasiennya, dengan cepat telah tiba di atas bukit. Tubuh kakek ini benar-benar gesit seperti kera, lompatan-lompatannya di atas batu karang di dinding tebing itu sama sekali tidak mengalami kesukaran sedikitpun juga. Apalagi dia telah sering naik turun bukit, tentu saja perjalanan semacam ini tidak ada artinya bagi kakek itu biarpun dia memanggul seorang pemuda yang cukup berat.

Lain halnya dengan Pek Hong sendiri. Gadis ini tidak secepat penghuni atau tuan rumahnya itu, karena mengenai tonjolan-tonjolan batu karang yang harus diinjak perlu dicarinya dahulu. Dinding ini amat tinggi dan terjal sekali, juga dipandang dari bawah licin berkilauan. Maka Pek Hong harus berhati-hati.

Akan tetapi dengan melihat jejak kaki Si Dewa Monyet di atas tanah, dapat juga Pek Hong tiba di puncak dan gadis ini sejenak tercengang. Ternyata puncak Ang-bhok-san ini merupakan tanah datar yang luasnya sekitar seribu li persegi. Sekelilingnya penuh pohon-pohon gundul berkulit merah, kering dan membayangkan suasana tandus. Akan tetapi anehnya, di sela-sela pepohonan itu, tampak rumput-rumput hijau dan tanaman-tanaman perdu. Melihat baunya, meskipun Pek Hong bukan seorang ahli obat, namun gadis ini maklum bahwa tanaman perdu dan rumput rumput itu ternyata adalah obat-obatan yang sengaja ditanam Si Dewa Monyet di tempat kediamannya ini.

Dan di tengah-tengah hutan kecil itu, berdiri sebuah pondok merah yang tidak begitu besar. Warna merah dari pondok ini bukannya cat rumah melainkan asli begitu karena banngunan pondok itu terbuat dari Ang-bhok (Pohon Merah). Sementara gadis ini memandang sekitar sambil mencari-cari, tiba-tiba dari arah pondok terdengar teriakan Dewa monyet.

“Heii, nona cilik, ehh... nyonya muda, cepat kesini, jangan melenggong saja di situ! Suamimu perlu dibantu dua orang, lohu harus memasak obat!"

Pek Hong tersentak dan sekejap mukanya terasa panas. Orang memanggilnya "nyonya muda", bagaimana dia tidak merasa jengah? Akan tetapi teringat akan nasib pemuda itu membuat Pek Hong melenyapkan rasa malunya dan cepat dia berlari ke pondok merah itu. Sampai di depan pintu dia mendengar Kauw-sian mengomel,

“Sungguh aneh, suami sakit berat datang saja masih terlambat. Isteri macam apa ini? Huhh...!" dan ketika gadis itu sudah melangkah masuk, kakek ini tidak melanjutkan kata-katanya dan tutup mulut dengan muka cemberut.

"Apa katamu, locianpwe?" Pek Hong bertanya dan kini dia memanggil kakek itu dengan sebutan "locianpwe" (orang golongan tua) karena mau tak mau ia harus bersikap manis terhadap sang penolong ini.

Kakek itu menoleh, sekejap celingukan kesana-sini dan tidak menjawab. Melihat Siu Li tidak berada bersama, kakek ini tampak terheran. "Mana siocia?" tanyanya.

"Dia sudah pergi."

"Ahh, betulkah?" kakek ini tiba-tiba nampak girang dan sepasang matanya bersinar aneh.

Pek Hong tidak mengerti mengapa sikap kakek itu tampak gembira dan sambil menganggukkan kepala dia menjawab, "Betul, ia sudah pulang kembali. Mengapa, locianpwe?"

"Tidak apa-apa, hanya lohu agaknya terpaksa...” Dewa Monyet menghentikan ucapannya dan menyeringai, memandang gadis itu dari atas ke bawah dan tiba-tiba terkekeh-kekeh, “Agaknya lohu terpaksa tidak dapat menolong suamimu ini, heh-heh-heh!"

Tentu saja Pek Hong terkejut. Seketika mukanya berobah dan tanpa terasa gadis ini mengeluarkan seruan tertahan, "Ahh, kenapa begitu?” dan tangan kanannya terangkat, mendekap mulutnya sendiri yang hampir saja mengeluarkan makian terhadap Si Dewa Monyet.

Kakek itu masih terkekeh-kekeh, akan tetapi ketika secara tidak sengaja matanya memandang cincin di jari manis Pek Hong, sekonyong-konyong ketawanya berhenti sama sekali dan kakek ini tampak terkejut.

“Ehh…. ohh, tidak... bukan... bukan begitu maksud lohu! Lohu hendak mengatakan bahwa jika pertolongan lohu ini tidak berhasil, lohu agaknya terpaksa tidak mampu berbuat lebih jauh. Harap nyonya muda tidak salah paham, sungguh mati lohu tidak ada pikiran jelek, sungguh mati...!" dan dengan tergopoh-gopoh kakek ini lalu berlari kian kemari di ruangan kamar itu mengumpulkan daun-daun obat.

Sejenak Pek Hong tertegun. Sikap kakek gila itu betul-betul tidak waras. Tadi menyeringai iblis dan sekarang munduk-munduk ketakutan. Ada apa gerangan? Teringat betapa tadi kakek itu memandang cincin di jarinya dengan mata terbelalak, tahulah gadis itu bahwa yang ditakuti oleh Dewa Monyet ini agakn ya cincin yang dipakainya itu. Hemm, rupanya senjata ampuh untuk menundukkan kakek ini adalah cincin itu. Cincin apakah ini sehingga Si Dewa Monyet tampak jerih dan gentar jika memandangnya? Akan tetapi Pek Hong tidak merenungkannya lebih jauh. Setelah ia tahu hal ini, dapatlah ia sekarang mempergunakan kekuasaannya untuk menekan kakek itu.

Teringat betapa kakek itu hampir saja main gila, Pek Hong mendengus. "He, setan tua, kau tadi ada pikiran busuk, ya? Awas, sekali lagi kau bersikap tidak wajar, aku akan melaporkan semua sepak terjangmu ini kepada ratu!"

Omongan Pek Hong ini diucapkan sekenanya saja. Melihat bentuk cincin, sekali lihat gadis itu mengerti bahwa pemilik benda ini adalah seorang wanita. Dan kalau kakek itu takut-takut terhadap wanita yang tidak diketahuinya itu, bukankah kekuasaan wanita pemilik cincin ini sama halnya dengan seorang ratu? Sama sekali ia tidak mengira bahwa kata-katanya itu justeru tepat mengenai sasaran karena pemilik cincin yang membuat Si Dewa Monyet jerih ini adalah Mo-i Thai-houw atau Sang Ratu Berbaju Iblis! Jadi ancamannya itu malah tepat sekali.

Tentu saja Si Dewa Monyet pucat ketakutan. "Ah, nyonya muda jangan main-main. Mana lohu berani main gila? Tidak.... tidak ada pikiran busuk lohu selain hendak menyelamatkan suamimu itu. Harap nyonya muda tidak melaporkan kesalahan lohu terhadap thai-siang!"

“Baik, akan tetapi kau harus bisa menolong jiwanya. Jika tidak, hmm, tahu sendiri..." Pek Hong mengancam dan sekarang dia tidak lagi memanggil locianpwe tapi menyebutnya setan tua. Dan anehnya kakek itu malah tampaknya lebih senang dipanggil begitu daripada disebut locianpwe.

“Tentu... tentu, nyonya muda. Biarlah nyawa lohu yang menjadi taruhan," Kauw-sian menjawab terbata-bata dan gadis itu menarik napas lega. “Akan tetapi..." Tiba-tiba kakek itu menghentikan kalimatnya dan Pek Hong sudah mendelik, mengira bahwa kakek ini lagi-lagi hendak main gila. Tapi cepat kakek itu lalu menyambung, "Akan tetapi kuharap hujin (nyonya) juga membantu agar cepat selesai."

"Hemm, kalau itu yang kau kehendaki, boleh saja. Memangnya kenapa mesti takut-takut? Kau ada akal busuk lagi, ya?"

Ah, tidak... tidak ada!" Si Dewa Monyet cepat menggelengkan kepalanya dan demikianlah dua orang ini lalu mulai bekerja.

Kakek itu sudah memasang kuali dari tanah liat, mengisi air lalu menjerangnya di atas api. Sementara itu, sambil menunggu air mendidih, kakek ini lari kesana kemari dengan sikap cekatan mengambil ramuan obat-obatan. Setiap comot sana ambil sini hidungnya selalu mengendus seperti anjing pelacak, tangannya menakar dan menimbang daun-daun dan akar-akar obat tiada hentinya.

Mula-mula Pek Hong mengawasi semua gerak-gerik orang dengan perasaan tegang dan seringkali ia menengok kearah Bu Kong berbaring. Pemuda itu telentang di atas dipan, mukanya pucat semu hijau dan kuning jingga, napasnya hampir tidak terdengar. Hanya dadanya yang mengembung perlahan dan berat itu sajalah yang membuktikan bahwa jenderal muda itu masih bernapas. Dipandang sepintas lalu dari kejauhan, keadaan pemuda ini tiada ubahnya dengan mayat belaka.

"Hujin, tolong ambilkan tabung biru di atas rumah!” tiba-tiba kakek monyet berteriak dan gadis itu terkejut.

"Apa?" Pek Hong terbelalak. "Di atas rumah? Atas yang mana, bukankah rumahmu ini tidak bertingkat?"

"Ah, hujin tidak tahu. Itu, langit-langit rumah kan juga bisa disebut atas? Nah, harap hujin ke belakang, masuk saja dari lubang penutup atas di pojok kiri, lalu ambil tabung bambu bercat biru. Harap hati-hati, jangan salah ambil karena di situ ada tiga buah tabung yang bentuknya sama."

"Apa catnya juga sama?"

"Tidak, yang satu bercat hijau tua dan yang lain ungu."

"Baik," Pek Hong menjawab dan cepat dia menyelinap ke belakang rumah. Di sini ia mencari-cari lubang penutup atap yang katanya berada di pojok kiri, dan betul saja, gadis itu melihat sebuah penutup yang terbuat dari kayu tipis merah semacam triplex di pojok sana.

Sekali lompat, tubuhnya melayang ke atas dan tutup lubang atap itu disingkirkannya. Tubuhnya terus menerobos dan akhirnya berada di langit-langit rumah. Suasana gelap, diam-diam Pek Hong mendongkol sekali. Tiga buah tabung itu kalau dilihat dari tempat gelap begini mana bisa dibedakan? Yang satu ungu, yang lain biru dan yang satunya lagi hijau tua.

Mana orang tahu mana yang biru dan mana yang ungu atau hijau tua? Di atas langit-langit rumah ini memang betul berjajar tiga buah tabung bambu, dan karena tidak kelihatan mana yang biru dan yang ungu atau hijau segala macam, maka dengan gemas Pek Hong mengambil semuanya itu. Dia melompat kembali ke bawah dan baru setelah berada di tempat terang begini ketiga macam barang itu dapat dibedakan. Ternyata yang biru adalah tabung yang di tengah, maka dua yang lain lalu dilemparkan Pek Hong ke tempatnya semula. Kemudian dengan cepat dia keluar menemui kakek itu dan menyerahkan barang yang diminta.

"Terima kasih, hujin, pekerjaanmu cepat sekali," Si Dewa Monyet tersenyum. "Sekarang, karena obat mulai mendidih dan lohu harus mengaduk terus, tolong hujin buka baju suamimu itu. Lohu hendak melihat keadaannya."

Pek Hong tertegun dan rasa panas memenuhi mukanya. Tapi, karena kakek itu telah menganggap mereka sebagai suami-isteri, maka dengan mengeraskan hati iapun menghampiri pembaringan. Sejenak ia termangu, jantungnya berdetak kencang. Namun setelah ia berhasil menenangkan hati, dengan jari tangan sedikit gemetar Pek Hong lalu meraba kancing baju Bu Kong dan perlahan-lahan membuka pakaian pemuda itu.

Selamanya gadis ini belum pernah melakukan hal begini, jadi tidak heran jika tiba-tiba mukanya bersemu dadu ketika melihat dada yang bidang dan tampak kuat itu. Sekilas ia melirik ke arah wajah Bu Kong seakan khawatir kalau pemuda itu melihat perbuatannya, tapi pemuda itu sama sekali tidak bergerak. Kulit mukanya pucat kehijauan dan di pelipis kirinya terdapat segaris cahaya merah jingga.

Tentu saja rasa likat nona itu lenyap seketika. Melihat keadaan Bu Kong yang demikian mengenaskan, kembali hatinya gelisah. Pada saat itu tiba-tiba si kakek monyet kembali berseru.

"Hujin, tolong kemari sebentar. Obat ini harus terus kuaduk, tidak boleh kutinggalkan. Maka tolong buka tabung biru itu dan tuangkan isinya ke dalam kuali!"

Pek Hong menoleh dan gadis ini maju mengambil tabung yang ditaruh di samping kuali obat. Dia sudah hendak membuka tutup tabung ketika tiba-tiba Si Dewa Monyet berteriak, "Hee, jangan tergesa-gesa, nanti mereka meloncat!"

"Ehh, meloncat? Siapa yang meloncat?" gadis itu terkejut dan mukanya berobah. Dengan sinar mata tajam ia menatap kakek itu dan tak terasa tabung yang dipegangnya itu terlepas. Ucapan Si kakek monyet membuat ia seakan dipagut ular. Melihat naga-naganya agaknya isi tabung itu barang hidup! Kalau tidak, masa dikatakan "meloncat" segala?

Dewa Monyet tidak segera menjawab, dia terkekeh dan tangannya bergerak, menyambar tabung biru yang terlepas dari tangan gadis itu. "Ahh, hujin tidak tahu. Inilah teman-temanku yang paling setia selama ini. Kalau saja tidak atas perintah hujin, mana lohu mau memberikan mereka kepada setiap orang? Hemm, sebenarnya lohu merasa sayang juga, tapi demi suami hujin yang sakit parah, biarlah lohu berkorban."

Sampai di sini wajah kakek itu tampak murung, namun hanya sekejap saja karena segera sikapnya kembali seperti biasa. "Hujin, pegang lagi, taati perintah lohu," kakek itu menyerahkan tabung di tangannya dan tiba-tiba Pek Hong merasakan betapa di dalam tabung ini ada benda bergerak-gerak. Gadis ini mengkirik, memandang Si Dewa Monyet dengan ragu-ragu, akan tetapi sambil tertawa kakek itu menyusupkan tabung biru di telapak tangannya.

"Jangan khawatir, asal lohu berada di sini, teman lohu tidak akan merugikan orang lain," kakek itu berkata sambil menyeringai. "Nah, sekarang hujin balikkan tabung itu, kepalanya di bawah... ya.... ya begitu. La lu pencet tutup atas, hitung dari satu sampai tiga. Nah, mulai...”

Demikianlah, sambil memberikan petunjuk kepada gadis itu, kakek ini tiba-tiba mengaduk obat di dalam kuali itu dengan cepat sehingga air yang mendidih itu berbuih. Pek Hong mengangkat tabung seperti yang diperintahkan Si Dewa Monyet, diam-diam merasa tegang hatinya. Dan mulailah kakek itu berseru, "Satu... dua... tiga... hei!"

Bersama dengan teriakan terakhir itu terdengar suara "klik-klik-klik" tiga kaii disusul suara mendesis dan menciap macam cecak. Dari tutup tabung bagian bawah tiba-tiba meluncur turun tiga ekor binatang, yang pertama adalah seekor kadal, kedua seekor tokek dan yang terakhir adalah seekor kelabang!

"Plung-plung-plung!" karena ditaruh di atas kuali yang sedang digodok, tentu saja tiga ekor binatang itu langsung nyemplung ke dalam air obat dan terdengar si tokek menjerit keras memekakkan telinga. Tiga ekor binatang itu meloncat-loncat di atas air mendidih dan jelas mereka tampak kesakitan sekali. Namun si kakek monyet tidak perduli, mulutnya bersiul perlahan seperti seorang ibu hendak meninabobokkan bayinya sementara tangan kanan yang memegang adukan terus bekerja, memutar air obat yang berbuih itu bersama tiga ekor binatang tersebut.

Pek Hong terbelalak dengan wajah pucat, terkesiap melihat bahwa isi tabung biru ini ternyata adalah binatang-binatang menjijikkan itu. Dan tadi ia telah mengempit "kurungan" ini di bawah ketiaknya! Kalau saja salah seekor diantaranya lolos, bukankah dia akan digigit mampus? Melihat warna-warna kulit tiga ekor binatang itu yang semuanya berwarna biru, maklumlah gadis ini bahwa semua binatang itu merupakan binatang-binatang yang amat berbisa. Dan sekarang tiga mahluk berbisa itu dijadikan obat untuk Bu Kong!

Apakah kakek ini tidak main gila? Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara "ngungg..." yang panjang dan dari dalam tabung menyelinap seekor kumbang bersayap biru. Tentu saja Pek Hong yang masih memegang tabung itu terkejut sekali.

"Aihh...!" gadis ini berteriak tertahan dan tabung yang ada di tangannya itu seketika dilempar jauh.

"Prang! "tabung pecah dan sekonyong konyong kembali dari dalam benda itu terdengar suara "ngungg" seperti yang pertama, dan tiba-tiba kembali seekor kumbang terbang keluar. Pucat muka Pek Hong menyaksikan ini semua. Tadi dia mengira bahwa tabung itu sudah habis, tidak ada isinya. Siapa sangka, tahu-tahu di dalamnya masih tersisa dua ekor kumbang beracun!

"Kau…" baru saja ia berteriak hendak memaki Si Dewa Monyet, tiba-tiba Si Dewa Monyet sendiri tampak terkejut dan berseru,

"Hee, kenapa tabung itu dibuang? Wah celaka, mereka keluar semua. Hujin, tolong gantikan aku mengaduk obat ini, biar aku menangkap kembali binatang-binatang itu. Cepat, sebelum mereka merat keluar!"

Sikap yang gugup dan wajah yang berobah dari kakek ini membuat Pek Hong menghilangkan curiganya. Dan sini tahulah dia bahwa rupanya kakek itu tidak sedang bermain gila akan tetapi sungguh-sungguh tidak sengaja. "Kenapa kau tidak memberi tahu bahwa di dalam tabung masih ada isinya?" gadis ini melotot marah.

"Aihh, salah ku.... salahku semua, tadi lohu lupa memberi tahu bahwa begitu tiga ekor binatang pertama keluar, hujin seharusnya menekan samping tabung sebelah kiri sehingga lubang yang tadi terbuka untuk lolos itu tertutup kembali. Siapa kira, karena lohu lupa memberi tahu hujin maka sekarang dua ekor kumbangku lari. Hujin, cepat ke sini, aduk obat ini dengan gencar. Biar lohu yang menangkap mereka sebelum kabur!"

Dengan muka bersungut Pek Hong cepat menghampiri kakek itu dan menerima adukan obat, sedangkan Dewa Monyet sendiri sudah cepat meloncat dan duduk di atas tanah. Gadis ini melihat betapa kakek itu mengeluarkan madu dari dalam botol kecil, lalu mengoleskannya di atas telapak tangan, kemudian bersiul tinggi rendah secara berirama.

Aneh. Dua ekor kumbang beracun yang tadi terbang berputaran di atas kamar, mendadak mendengung keras dan tiba-tiba dua ekor binatang ini membalik, menubruk ke arah si kakek monyet. Rupanya pangg ilan serta madu di telapak tangan kakek itulah yang memanggil pulang dua ekor kumbang ini dan begitu mereka melekat di atas madu, Si Dewa Monyet menangkapnya dengan cepat dan berturut-turut dia menggulung dua ekor binatang itu di dalam lengan bajunya.

Akan tetapi baru saja kakek ini menangkap binatang peliharaannya, tiba-tiba Pek Hong menjerit kaget. Si Dewa Monyet terkejut dan menoleh, dan tampaklah apa gerangan yang membuat gadis itu berteriak. Kiranya karena tadi melihat kakek itu beraksi menangkap sepasang kumbang, gadis ini berhenti mengaduk satu putaran. Kejadian ini hanya sedetik saja, akan tetapi toh cukup membawa perobahan. Tiga macam binatang yang digodok bersama di dalam air mendidih itu sebenarnya belum mati, mereka masih berkelojotan dan meloncat-loncat lemah. Terutama si tokek. Binatang ini yang paling besar dan paling kuat.

Maka begitu adukan berhenti satu putaran, tiba-tiba binatang ini menjerit keras dan sekuat tenaga dia meloncat. Karena tidak ada penghalang, tokek ini dapat melompat melewati bibir kuali dan langsung jatuh di atas kaki Pek Hong! Tentu saja gadis itu kaget bukan main. Seketika ia merasa jantungnya berhenti berdenyut dan mukanya sepucat mayat. Dia menjerit dan pada saat itulah si kakek monyet menoleh. Tokek besar ini sedang kesakitan, tubuhnya melepuh karena digodok air mendidih, maka tentu saja begitu jatuh di lantai segera dia menggigit dengan buas.

"Kauw-sian, tolong...!" Pek Hong menjerit ngeri dan ia mengipatkan kaki sekuat tenaga. Akan tetapi sungguh celaka. Tokek yang sudah marah ini ternyata tidak dapat dilemparkan. Sekali dia menggigit maka dia tidak mau sudah kalau belum mencium darah. Dan karena gadis itu mengenakan sepatu kulit, tokek ini menggigit sekerasnya dan tubuhnya melekat di situ seperti lintah.

Konon menurut kabar, jika ada geledek menggelegar sajalah maka binatang ini mau melepaskan gigitannya terhadap korban. Untunglah pada saat yang berbahaya ini tiba-tiba si Dewa Monyet mencelat dari tempatnya dan mulutnya mengeluarkan bentakan menggeledek. Si tokek terkejut, mengira bahwa ada halilintar berbunyi, maka sedetik dia melepaskan gigitannya dan pada waktu yang tepat inilah kakek monyet itu menangkap lehernya.

"Hayo kembali, anak manis, jangan bikin kaget hujin!" Dewa Monyet berseru perlahan dan cepat sekali tangannya bergerak melemparkan tokek ini ke dalam kuali.

"Plungg..." binatang ini menjerit parau di dalam air mendidih, meloncat-loncat dengan keras namun si kakek monyet telah mengaduk air itu dengan gencar. Dengan cara adukan seperti ini, tentu saja tokek itu ikut terputar dan tidak ada kesempatan baginya untuk meloloskan diri. Itulah sebabnya mengapa tadi kakek ini menyuruh agar adukan diputar gencar. Maksudnya adalah agar binatang-binatang itu tidak mampu keluar karena hanyut dalam putaran kuat.

Sementara itu Pek Hong terengah-engah, mukanya pucat dan gadis ini memandang ke arah kuali obat dengan mata terbelalak. Betapa berbahayanya kejadian tadi, sedikit terlambat tentu ia akan tergigit binatang mengerikan itu.

"Kauw-sian, terima..... terima kasih atas pertolonganmu..." gadis ini berkata setelah dia menelan ludahnya satu kali, dan suaranya terdengar agak gemetar. Memang gadis itu merasa ngeri sekali. Bayangkan saja, seekor tokek berkulit biru dan amat beracun telah menggigit sepatunya. Coba kakinya telanjang, bukankah tokek itu akan menggigit kakinya? Dan membayangkan betapa binatang itu melekat kuat di atas kakinya benar-benar membuat murid Ta Bhok Hwesio yang biasanya tabah ini menjadi bergidik seram.

Akan tetapi si kakek monyet hanya terkekeh saja. "Hujin kenapa sungkan?" katanya perlahan. “Biar tidak hujin minta sekalipun lohu tidak berani membiarkan hujin celaka, apalagi celaka di tangan teman-temanku yang nakal ini. Memangnya thai-siang suka memberi ampun kepada lohu kalau hal itu terjadi?"

Pek Hong terdiam, teringat akan cincin di jari kanannya, hal ini membuat perasaannya tenang kembali dan dia tidak mau banyak bicara lagi, khawatir diketawai kakek itu kalau suaranya masih menggigil.

Demikianlah, setelah Si Dewa Monyet meng aduk kuali obat yang airnya me ndidih itu dengan putaran gencar, tiga ekor binat ang beracun yang tadi meloncat-loncat itu tidak dapat berkutik lagi. Si kadal mengeluarkan suara mencicit seperti anak tikus terjepit, lalu akhirnya diam mengambang tergulung buih air di dalam kuali. Begitu pula halnya dengan si kelabang dan tokek tadi, dua ekor binatang inipun berkelojotan lemah dan akhirnya terdiam tenang, tanda mereka telah mati tergodok air panas itu.

"Hujin, tolong ambilkan piring kembang, cepat, sebelum daging tiga ekor binatang ini hancur," si kakek monyet tiba-tiba berseru dan Pek Hong yang sejak tadi menyaksikan orang punya kerja, tersentak dan cepat menghampiri rak piring di sudut dalam, mengambil piring kembang seperti yang diminta kakek itu.

"Dan sekarang harap hujin jaga daging ajaib ini, lohu hendak melihat keadaan suamimu, " kakek itu meniup padam api tungku dan bangkit berdiri.

"Enh, bagaimana dengan air obat ini, Kauw-sian?"

"Biarkan saja, hujin, tunggu sampai dingin. Yang penting kau keluarkan dulu tiga ekor binatang itu dan letakkan dipiring kembang. Awas, hati hati, racun di tubuhnya masih ganas. Lebih baik pakai sumpit lohu yang tadi kupergunakan untuk mengaduk mereka."

"Baik," gadis itu menjawab namun sikapnya agak jerih. Dengan hati-hati ia menyumpit keluar tiga ekor kadal, tokek dan kelabang itu, menaruhnya di atas piring kembang. Aneh, begitu menyentuh dasar piring, tiba-tiba terdengar suara "cess " dan asap biru menguap keluar.

Tentu saja Pek Hong terkejut dari hidungnya mencium bau amis yang keras memuakkan. Cepat gadis ini menjauhkan mukanya dan dengan hati-hati dia meletakkan piring yang berisi tiga macam binatang itu dengan perut mual. Hendak diapakan daging binatang-binatang ini? Dan tadi kakek itu mengatakannya sebagai "daging ajaib".

Sama sekali Pek Hong tidak mengira bahwa ucapan yang dikeluarkan oleh Si Dewa Monyet ini sesungguhnya memang benar begitu. Gadis ini tidak tahu betapa kadal biru itu adalah sejenis binatang yang amat langka didapat. Umurnya sudah seratus tahun dan kulitnya yang kebiruan itu menandakan usia binatang tersebut.

Konon menurut cerita orang kang-ouw, kadal macam begini hanya bisa didapat di daerah dingin, terutama di liang tikus di Pegunungan Himalaya. Itupun tidak mudah dan amat berbahaya. Binatang ini dapat menyembur, dan uap semburannya itulah yang sanggup membunuh setiap manusia tidak lebih dalam jangka waktu lima menit!

Itulah sebabnya tidak sembarang orang dapat menangkap kadal yang amat ganas ini. Namun, di samping beracun dan amat berbahaya, konon binatang itu dapat dijadikan ramuan obat penawar segala bisa, kecuali racun dari tujuh ular kembang yang oleh orang kang-ouw disebut Jit-coa-tok.

Entah darimana kakek sinting itu memperolehnya, sukar untuk di ketahui. Yang jelas, karena jerih melihat cincin tanda kuasa dari Mo-i Thai-houw yang ditakutinya itu, kakek ini sekarang telah mengorbankan kadal beracunnya, bahkan masih dit ambah dengan seekor kelabang dan seekor tokek.

Memang tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa sebenarnya kakek yang tidak waras otaknya ini adalah seorang ahli racun yang amat lihai. Hanya segelintir saja orang kang-ouw yang mengetahuinya dan itupun jarang yang datang ke Ang bhok-san. Dan sekali pandang dalam pertemuannya dengan dua orang itu kakek ini tahu bahwa Bu Kong diserang racun Jit-coa-tok. Sungguh matanya yang awas itu patut dipuji. Dan karena Dewa Monyet ini maklum bahwa dengan seekor kadal saja kurang meyakinkan, maka sekarang kakek itu menambah ramuan obatnya dengan seekor kelabang dan seekor tokek. Semua binatang ini diperolehnya dari Pegunungan Himalaya dan sudah lama menjadi sahabatnya.

Maka tidaklah heran kalau diam-diam dia meringis melihat betapa barang yang dimilikinya selama bertahun-tahun itu harus diberikan kepada orang lain secara percuma. Kalau saja dia tidak melihat cincin tanda kuasa itu, tentu dia tidak akan sudi membantu dua orang ini, apa lagi murid Mo-i Thai-houw sendiri telah meninggalkan tempat itu.

Apa yang ditakutinya? Tapi, kakek ini tidak berani main gila. Mo-i Thai-houw benar-benar siluman betina. Wanita iblis itu dapat muncul sewaktu-waktu, maka inilah yang membuat Dewa Monyet berhati-hati. Kalau saja kakek itu tahu bahwa orang yang ditakutinya ini sudah lama meninggal, tentu keadaan dua orang itu akan terbalik seratus delapanpuluh derajat.

Demikianlah, setelah menggodok daun dan akar-akaran yang masih dicampur dengan sarinya tiga ekor binatang beracun, obat yang dibuat kakek itupun selesai. Api tungku sudah dipadamkan, maka selang beberapa menit kemudian obat itu dapat diminumkan. Sekarang setelah dia menyerahkan "daging ajaib" kepada sang "hujin", kakek ini menghampiri Bu Kong yang menggeletak di atas dipan. Jari tangannya yang panjang dan kurus itu meraba-raba dada, ketuk sana ketuk sini ditulang iga dan tiba-tiba kakek ini berteriak.

"Hee, pemuda ini sudah pernah ditotok orang! Hujin, siapakah yang melakukan pertolongan pertama bagi suamimu itu?"

Gadis itu menoleh dan sepasang matanya bersinar. Ia melihat wajah si Dewa Monyet penuh keheranan, diam-diam Pek Hong merasa kagum juga. Dengan tepat kakek itu mengetahui bahwa Yap goanswe pernah ditolong orang yaitu dengan cara totokan-totokan di depan tubuh, benar-benar kakek ini bukan orang sembarangan. Maka dengan suara perlahan dia menjawab. "Memang betul, dan yang menolong adalah gurunya sendiri..."

"Ah, hebat kalau begitu!" kakek ini berseru. "Kulihat totokan yang dilakukan mengandung tenaga Yang, sungguh tepat untuk pertolongan pertama bagi suamimu ini. Jika tidak tentu racun Jit-coa-tok sudah memasuki jantungnya dan biarpun ada dewa menolong juga tidak keburu lagi!"

Dewa Monyet tampak tercengang heran dan Pek Hong menanti pertanyaan orang. Dia menduga bahwa kakek itu tentu akan menanyakan siapa gerangan guru pemuda itu, namun ia kecelik. Ternyata kakek itu diam saja, sikapnya acuh tak acuh. Dia sedang memandang pasiennya dengan penuh perhatian lalu tiba-tiba membalikkan tubuh Bu Kong, ditelungkupkan di atas dipan. Pek Hong hampir saja mengeluarkan jerit tertahan ketika menyaksikan apa yang dilihatnya. Ternyata tidak seperti bagian depan tubuh yang putih bersih, adalah di belakang punggung ini tubuh pemuda itu gosong tujuh warna sehingga persis warna pelangi. Ada biru, merah, hijau, kuning dan sebagainya, semuanya tujuh warna!

"Aihh...!" Kauw-sian berseru heran. "Sungguh hebat pemuda ini, dia masih dapat bertahan dan semua racun berkumpul di belakang punggungnya. Nyata tenaga dalamnya benar-benar luar biasa sekali! Hujin..." kakek itu menoleh ke arah Pek Hong, "coba segera cari tali yang kuat, lohu memerlukannya..."

Gadis itu mengangguk dan cepat mencari tali yang dimaksud. Kebetulan di belakang kamar terdapat segulung tali sebesar ibu jari, maka diambilnya tali ini dan diberikannya kepada kakek itu.

"Wah, suamimu ini benar-benar hebat sekali, hujin, sungguh beruntung kau menjadi isterinya!" kakek itu berkata lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh kekaguman. "Selain kena racun Jit-coa tok, juga agaknya sebelum ini dia minum obat perangsang. Aneh, sudah punya isteri begini mengapa suamimu itu minum obat perangsang segala?"

Pek Hong terkejut . "Apa? Obat perangsang?” gadis ini terbelalak.

"Ya," kakek itu mengangguk, "Suamimu ini pernah minum obat perangsang. Lihat, bawah pusarnya ada bekas merah memanjang, rupanya sejenis arak obat yang amat hebat daya rangsangnya...." kakek ini lalu menyingkap sedikit pakaian pemuda itu ke bawah namun Pek Hong segera melengos. Pipinya menjadi merah bukan main dan perasaan jengah membuatnya kikuk.

"Ehh, kenapa memalingkan muka? Bukankah ini adalah suamimu sendiri?" Si Dewa Monyet menegur dan matanya memandang curiga.

Kembali gadis itu terkejut dan sejenak dia menjadi gugup. Tapi, sekali otaknya bekerja iapun sudah mendapatkan akal untuk menghilangkan kecurigaan kakek ini. "Kauw-sian, dia memang pernah dicekoki arak oleh seorang iblis betina dalam keadaan tak sadar. Itulah sebabnya maka dia... dia tiba-tiba bersikap kasar kepadaku. Teringat kejadian ini hatiku sakit sekali, maka aku segan memandang. Sama sekali aku tidak mengira bahwa arak yang diminumkannya itu adalah arak perangsang. Hemm, kalau tahu begini tentu aku akan mengadu jiwa dengan siluman betina itu!"

Kakek itu tidak memberi komentar dan kecurigaannya lenyap. Kalau benar begitu, tentu saja nyonya ini sakit hati diperlakukan kasar oleh suaminya. Dan dari jalur merah di bawah pusar itu kakek ini mendapatkan kenyataan bahwa arak perangsang yang diminum oleh pemuda itu benar-benar memiliki pengaruh memabokkan yang luar biasa. "Sungguh heran, siapa iblis betina yang kau maksudkan itu dan apakah suamimu ini diracun oleh wanita itu pula?"

"Benar, tapi yang memberikan racun tentu gurunya, bukan siluman betina itu," gadis ini menjawab dan sekarang tahulah dia apa sebabnya Bu Kong tidur sepembaringan dengan murid Cheng-gan Sian-jin dan terlihat oleh Malaikat Gurun Neraka. Pantas saja kalau begitu, dan dua orang musuh ini benar-benar jahat sekali, kejam dan tidak tahu malu, terutama Tok-sim Sian-li itu.

"Hemm..." Pek Hong mengepal tinjunya dan mukanya menjadi merah. Siapa tidak marah membayangkan murid perempuan Cheng-gan Sian-jin itu mempermainkan pemuda ini? Maka sambil mendesis gadis ini lalu berkata, "Tok-sim Sian-li, tunggulah kau. Suatu hari aku tentu akan mengorek jantungmu yang busuk itu!"

Dewa Monyet tadinya bersikap tidak perdulian, tetapi ketika mendengar nama Tok-sim Sian-li kakek itu tampaknya tertarik. "Tok-sim Sian-li?" katanya heran . "Siapakah wanita ini, hujin? Kenapa lohu belum pernah dengar julukannya? Agaknya tokoh itu seorang yang baru saja muncul di dunia kang-ouw?"

Pek Hong mengangguk. "Benar, dia memang baru muncul, akan tetapi gurunya bukan orang baru lagi bagi dunia kang-ouw karena dia adalah pentolan yang paling jahat di dunia ini!"

"Ehh, siapakah kalau begitu? Mungkin lohu kenal."

"Kau tentu mengenalnya, Kauw-sian, karena tigapuluh tahun yang lampau iblis ini telah membuat keonaran besar."

Kakek itu tampak tercengang dan tiba-tiba matanya bersinar aneh . "Tigapuluh tahun yang lalu? Apakah dia adalah..."

"Betul," Pek Hong memotong. "Dia bukan lain adalah Cheng-gan Sian-jin!"

"Aahh...!" kakek itu berseru tertahan dan tampak terkejut. "Cheng-gan Sian-jin? Jadi tua bangka jahanam itu yang membikin susah suamimu ini, hujin? Bagaimana mungkin? Bukankah iblis itu sudah lama tidak menampakkan diri setelah keka lahannya di tangan manusia berkedok misterius?"

"Itulah dugaan yang keliru. Siluman tua itu tidak mampus, hanya bersembunyi di suatu tempat. Setelah sekarang merasa aman karena musuhnya juga tidak terdengar lagi namanya di dunia kang-ouw, maka dia muncul lagi dan kembali melakukan kejahatan-kejahatan terkutuk."

"Ahh..... hmm... begitukah?" kakek ini termenung dan tiba-tiba mukanya menjadi beringas, matanya melotot dan mendada k kakek ini memekik, “Cheng-gan Sian-jin bangsat tua, awas kau, lohu hendak mencarimu untuk menuntut balas! Perhitungan lama harus dilunaskan dan sebelum melihat kau terbujur menjadi mayat, mana aku mau mampus terlebih dahulu?"

Pek Hong tidak terkejut mendengar kata-kata ini karena sebagai datuk sesat, tentu saja Cheng-gan Sian-jin memiliki banyak musuh. Hanya yang dia tidak mengerti adalah permusuhan apakah yang terdapat diantara dua orang ini? "Kauw-sian, kaupun kiranya juga memusuhi iblis itu? Ah, sungguh kebetulan sekali. Kita berdiri di satu pihak dan agaknya kita dapat saling membantu..."

"Tidak, hujin, ini urusan pribadi lohu. Sakit hati ini hendak lohu balaskan seorang diri dan apapun yang terjadi, asal lohu sudah menuntut balas maka akan legalah perasaanku."

"Hemm, jangan kau sombong. Seorang diri mana kau mampu?"

"Memang lohu tidak mampu, akan tetapi dibantu dengan anak buahku pasukan monyet ini masa tidak akan berhasil?"

Pek Hong terkejut dan segera dia sadar. Tiba-tiba terlintas suatu pikiran baik di otaknya. Benar, dengan pasukan monyet yang banyak jumlahnya itu mustahil Cheng-gan Sian-jin tidak dapat dibuat kewalahan? Dan, kalau kelak Yap-goanswe dibantu oleh kakek ini membuat kegaduhan di pihak musuh, bukankah Wu-sam-tai-ciangkun akan kelabakan?

Pikiran ini membuat hatinya girang dan senyum manis tersembul di mulutnya. "Benar juga, kenapa aku melupakan pasukanmu itu?" Pek Hong berkata dengan mata bersinar-sinar. "Dengan begini, rupanya iblis itu mau ngacir juga tidak gampang. Baiklah, walaupun kita sebenarnya satu golongan, akan tetapi biarlah kita bergerak sendiri-sendiri. Sekarang yang penting adalah pengobatan... suamiku ini, Kauw-sian."

Kakek itu mengangguk dan tanpa banyak bicara dia lalu menghampiri pembaringan. Segera dia bekerja cepat, setelah meraba tubuh di sana-sini, lalu kakek ini melompat ke atas sebuah belandar rumah. Tali yang dipegangnya diikatkan disini, kemudian sambil membawa ujung satunya, Dewa Monyet ini meloncat turun.

Pek Hong melihat semua pekerjaan orang dan dengan heran dia melihat betapa kakek itu lalu mengikat kedua kaki Yap goanswe, menyeretnya sampai di bawah belandar tadi lalu menarik ujung tali perlahan-lahan sehingga tubuh pemuda ini tergantung di udara!

"Hee kenapa orang sakit malah digantung? Apa-apaan ini?" gadis itu tak tahan dan berseru dengan mata terbelalak.

Namun Dewa Monyet tidak perduli. "Hujin, harap jangan banyak bertanya. Karena kulihat totokan di depan tubuh sudah dilakukan orang lain, maka lohu hendak melanjutkan totokan di bagian belakang. Racun tertahan di punggungnya, dan ini hendak lohu buyarkan dulu. Baru setelah itu dia kita minumi obat penawar bisa. Cara yang hendak lohu pergunakan ini mempersingkat waktu dan begitu selesai, segera dia akan muntahkan semua isi perutnya yang kotor. Oleh sebab itu harap hujin singkirkan jauh-jauh mangkok obat itu dari sini."

Mendengar keterangan ini gadis itu lalu tidak banyak bertanya lagi dan segera ia menyingkirkan mangkok obat dan benda-benda lain yang agak berdekatan dengan tubuh kakek itu.

Lalu Si Dewa Monyet kembali berkata, "Dan kalau lohu memerlukan sesuatu harap hujin tolong kerjakan."

"Baik, aku siap membantumu," Pek Hong mengangguk dan gadis ini memandang semua tindak-tanduk kakek itu dengan penuh perhatian.

Mulailah sekarang Dewa Monyet bekerja. Setelah tubuh pasiennya digantung terbalik dengan kaki di atas kepala di bawah begini, kakek itu lalu duduk bersila di belakang si sakit. Kedua matanya dipejamkan dan kakek ini lalu mencurahkan segenap perhatiannya kepada titik manunggal. Itulah titik pusat di mana seseorang sedang mencoba untuk membangkitkan hawa lweekang.

Semua orang persilatan mengerti tentang hal ini, maka Pek Hong juga t idak mengganggu. Perlahan-lahan muka kakek itu mulai berobah, warna merah menjalari seluruh mukanya, lengannya, tubuhnya dan sekujur badan. Inilah tanda dari bangkitnya hawa lweekang yang terkontrol dan tampaklah tubuh Dewa Monyet mulai menggigil seperti orang kedinginan. Semakin lama tubuh kakek itu semakin gemetar keras dan setelah kead aan macam ini berjalan kurang lebih lima menit lamanya, tiba-tiba kakek itu membuka matanya dan mengeluarkan bentakan nyaring.

"Haiittt...!" mulut menggerung tubuh meloncat, dan jari tanganpun tidak tinggal diam. Begitu membentak kakek ini sudah menggerakkan dua jari telunjuk dan jari tengah melakukan totokan di jalan darah Thai yang-hiat. Jalan darah ini mempunyai tiga cabang urat halus, maka begitu menyentuh jalan darah Thai-yang-hiat ini, kakek itupun langsung menotok tiga cabang jalan darah ini.

"Tuk-tuk-tuk-tukk!"

Empat kali berturut-turut kakek ini menotok dengan gerakan secepat kilat, lalu ketika tubuhnya meluncur turun, totokan pertama di bagian inipun rampung. Namun, baru saja pantatnya menyentuh lantai, tiba-tiba kembali Dewa Monyet membentak nyaring d an tubuhnya mencelat ke atas, kali ini menotok jalan darah Yong-gi-hiat yang mempunyai enam cabang jalan darah kecil di sisi kiri dan kanan.

Dan begitu totokan di jalan darah Yong-gi-hiat ini selesai, kembali kakek itu menggerung dan menotok jalan darah lain. Berturut-turut dia melancarkan totokan di sembilan belas jalan darah pusat yang masih ditambah dengan totokan di delapan puluh sembilan jalan darah halus. Total jenderal pekerjaan yang dilakukan oleh kakek ini berjumlah seratus delapan buah jalan darah!

Tentu saja memakan tenaga yang tidak sedikit. Sebentar saja muka yang merah itu semakin merah dan keringat membasahi tubuh kakek ini. Akan tetapi Dewa Monyet agaknya tidak mengenal lelah. Sebelum pekerjaannya selesai, dia sama sekali tidak mau berhenti dan setelah totokan di seratus delapan buah jalan darah itu rampung, tubuhnya nglimpruk di atas lantai dengan napas ngos-ngosan!

"Hujin, tolong ambilkan tabung merah di kamar obatku. Cepat, lohu payah sekali," kakek itu berkata dengan terengah-engah.

Pek Hong mengiakan dan dengan cepat memasuki kamar obat . Setelah mencari-cari sejenak, akhirnya dia melihat tabung merah yang dimaksud. Karena tadi sudah ada "pengalaman" tentang isi dari tabung biru, maka dengan tangan agak menggigil gadis ini menduga-duga apa pula gerangan isi daripada tabung merah ini.

Dan Pek Hong semakin mengkirik ketika tiba-tiba tabung yang dipegangnya itu bergerak-gerak dan terdengar suara mencicit lemah di dalam benda ini! Sungguh kalau bisa ia ingin melepaskan tabung itu saking gelinya. Namun karena dia harus menolong kakek itu, maka dengan menahan rasa seram dia cepat berlari keluar dan menyerahkan tabung ini. Lebih cepat berada di tangan kakek itu baginya sungguh jauh lebih baik.

Si kakek monyet membuka matanya yang kuyu dan begitu menerima tabung ini, serentak matanya yang tadi redup seperti orang hendak tidur saking lelahnya itu tiba-tiba bersinar gembira. "Terima kasih, hujin. Inilah obatku yang paling mujarab. Setiap kali lohu merasa kecapaian, maka isi dari tabung inilah yang dapat mengembalikan tenaga lohu, heh-heh-heh," kakek itu tertawa dan "cret" dia membuka tutup tabung.

Apa yang keluar? Tidak ada, Akan tetapi meskipun tidak ada yang meloncat seperti tokek dan lain-lainnya tadi, tetap s aja Pek Hong berteriak tertahan dan seketika gadis ini hendak muntah-muntah saking jijiknya. Ternyata di dalam tabung merah ini penuh dengan cindil (anak tikus yang baru berumur beberapa hari dan masih merah)! Keruan gadis itu terbelalak dan "huaakk", tanpa dapat dicegah lagi mulutnya tumpah-tumpah ketika dia melihat betapa sambil terkekeh-kekeh kakek itu mengambil seekor cindil ini dan menelannya begitu saja seperti orang makan kue biskuit!

"Ha-ha-ha, hujin jangan memandang lohu!" Dewa Monyet tertawa geli. "Kalau hujin memandang, tentu saja tidak tahan. Hemm, kaum wanita sebenarnya kurang dapat menghargai daging begini. Tahukah hujin bahwa makanan hidup ini dapat membuat orang umur panjang? Heh-heh-heh..."

Kakek itu terkekeh-kekeh namun Pek Hong sudah cepat menjauhi kakek ini dengan hati mendongkol bukan main. Kalau saja kakek itu bukan merupakan bintang penolong Bu Kong, tentu setidak-tidaknya ia akan menghajar orang yang telah membuat dia tumpah-tumpah seperti itu. Akan tetapi syukurlah, setelah menelan lima ekor anak tikus yang masih bayi ini, kakek itu sudah menutup tabung dan menyimpannya di balik bajunya yang longgar. Agaknya ucapannya tadi memang betul, karena begitu selesai menyantap makanan nikmat tadi, ka kek ini sudah berdiri dengan tubuh segar. Dia mengusap ujung bibirnya yang sedikit ternoda darah, tertawa-tawa kecil dan tampak puas sekali.

Sementara itu, Yap-goanswe yang telah ditotok sebanyak seratus delapan buah jalan darah ini ternyata mengalami perobahan. Muka yang tadi pucat kehijauan serta bercampur warna jingga itu sekarang perlahan-lahan bersemu merah dan tubuhnyapun mulai bergerak-gerak di tiang gantungan itu. Keadaannya ini sungguh mirip seekor jengkerik yang sedang dijantur oleh tuannya, menggelikan namun juga menyedihkan. Akan tetapi, demi selamatnya jiwa orang yang dicinta tentu saja Pek Hong tidak banyak pusing. Perobahan yang terjadi ini sudah dilihatnya dan diam-diam ia merasa girang bukan main.

"Kauw-sian, dia... dia mulai bergerak sadar," gadis itu berbisik dan mukanya menjadi tegang.

Dewa Monyet yang juga sudah melihat perubahan ini mengangguk. "Harap hujin tenang-tenang saja. Totokan lohu agaknya telah membuyarkan kumpulan racun yang mengeram di punggung dan sekarang racun-racun yang amat berbahaya itu mengalir di perutnya. Sebentar lagi dia akan muntah-muntah dan sekarang jalan paling baik bagi hujin adalah memasak ang-sio-bak (daging dimasak angsio atau digoreng dengan diberi saus) untuk suamimu itu."

"Apa?" Pek Hong terkejut. "Masak ang-sio-bak? Memangnya di tempatmu ini ada persediaan daging, Kauw-sian?"

Kakek itu tertawa, "Kenapa tidak? Bukankah tiga ekor binatang di atas piring kembang itu lebih dari cukup untuk membuat ang-sio-bak? Hujin harus membuang segala rasa jijik kalau ingin melihat suami sendiri selamat. Nah, terserah apakah hujin mau memasaknya ataukah tidak lohu tidak ambil pusing." permintaan kakek itu.

Teringat betapa tiga Mata yang indah itu terbelalak memandang Si Dewa Monyet, lalu melirik ke arah piring kembang. Sejenak gadis ini tertegun, sama sekali tidak mengira bahwa tiga ekor kadal, kelabang dan tokek itu hendak dijadikan masakan ang-sio-bak. Baru melihat binatang-binatang ini saja dia sudah geli dan jijik, belum lagi menyentuhnya!

Dan sekarang perintah kakek itu agaknya tidak dapat dibantah lagi. Pek Hong mengeraskan hati dan tanpa banyak cakap lagi diapun lalu menghampiri piring kembang dan mengerjakan ekor binatang ini adalah mahluk-mahluk berbisa, diam-diam hatinya kebat-kebit tidak karuan. Namun terdengar kakek itu berkata, "Hujin tidak usah khawatir. Piring kembang itu telah menolak semua racun yang ada di tubuh mereka, jadi dipegang dengan tanganpun juga tidak apa."

"O, begitu? Baiklah," hanya ini saja yang keluar dari mulut si nona dan iapun sudah mengambil seekor demi seekor tiga mahluk menjijikkan itu dengan cepat. Pantas saja ketika tadi diletakkan di atas piring segera terdengar suara "cess", kiranya piring inipun bukan piring sembarangan. Agaknya piring anti bisa yang dapat menawarkan semua jenis racun. Membayangkan bahwa kakek itu dapat memiliki bermacam-macam barang begini sungguh membuat orang heran bukan main. Dari mana sajakah Si Dewa Monyet memperoleh benda-benda itu?

Akan tetapi Pek Hong tidak mau merenungkan pertanyaan ini lebih jauh. Yang penting sekarang adalah menjalankan pekerjaan ini, membuat ang-sio-bak dari daging kadal, kelabang dan tokek! Sungguh ini merupakan peristiwa langka, karena mana di dunia ini terdapat masakan ang-sio-bak dengan daging tiga ekor binatang begituan...?

Pendekar Gurun Neraka Jilid 12

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 12
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
“AIIHH...!" Pek Hong mengeluarkan seruan tertahan dan gadis ini melompat mundur dengan muka berobah. Apa yang disaksikannya ini benar-benar mengejutkan hatinya dan tak terasa ia memandang dengan mata terbelalak, perasaannya tergetar hebat. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa Siu Li akan bersungguh-sungguh menepati ucapannya itu, dan hal ini membuat ia tertegun.

Sementara itu, bayangan kuning yang tadi berteriak dari kejauhan, sudah meluncur tiba. Dia adalah seorang pemuda likuran tahun, sepasang matanya tajam berpengaruh dan sikapnya serius, sebatang pedang tampak di balik punggungnya. Sekali lihat siapapun akan tahu bahwa pemuda yang baru datang ini bukan pemuda sembarangan karena dia bukan lain adalah murid pertama Mo-i Thai-houw alias kakak kandung Siu Li sendiri!

Begitu melihat keadaan adiknya ini, Kui Lun terkejut bukan main. Sejenak pemuda ini terbelalak dan berdiri mematung, lalu berteriak menyeramkan dan menubruk ke depan dengan muka pucat. "Li-moi, kau gila? Mengapa kau lakukan ini? Siapa yang menyuruhmu? Siapa...?” Pemuda itu menggerung hebat dan tak dapat menguasai dirinya lagi, mengguncang-guncang tubuh adiknya dengan mata melotot.

Akan tetapi Siu Li sama sekali tidak menjawab, hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak perlahan seperti orang hendak berkata sesuatu namun tidak sanggup disampaikan. Akhurnya gadis ini mengeluh perlahan, tubuhnya limbung d an roboh pingsan di dalam pelukan kakaknya.

Cepat Kui Lun merangkul adiknya ini, lalu tangannya menotok tujuh hiat-to penting dipangkal lengan untuk menghentikan darah yang masih mengucur deras itu. Semuanya ini dilakukan dengan muka pucat dan tubuh agak menggigil karena peristiwa yang dialaminya ini benar-benar mengguncang batinnya. Setelah itu, dia lalu merobek baju sendiri dan dengan tangan gemetar membalut lengan kiri yang buntung itu. “Li-moi, mengapa kau melakukan perbuatan gila ini? Mengapa...? Aduh, adikku, kau benar-benar terlalu sekali. Kenapa tidak menunggu sebentar seruanku tadi...?"

Demikianlah, dengan berbisik-bisik dan air mata bercucuran pemuda ini membalut luka adiknya, membaringkannya di atas rumput lunak dan menangis terisak-isak. Kesedihan yang diperlihatkan oleh Kui Lun terhadap adiknya ini memang tidak mengherankan. Sejak kecil mereka hidup bersama dan belum pernah pemuda ini mengalami kehancuran hati seperti sekarang. Adiknya itu memang kadang-kadang berwatak bengal, sering tidak menghiraukan nasehat-nasehat yang diberikan. Berapa kali sudah mereka selalu bertengkar, akan tetapi toh mereka selalu dapat hidup rukun. Hal ini disebabkan karena kasih sayangnya terhadap Siu Li amat besar sekali.

Apalagi karena sejak kecil mereka sudah jauh dari orang tua sendiri, maka ikatan cinta kasih sebagai kakak beradik diantara mereka semakin erat. Mereka saling membutuhkan hiburan, kasih sayang dan lain-lainnya lagi yang tidak mereka peroleh dari orang tua. Dan semenjak subo mereka tewas, dua orang kakak beradik ini tidak pernah berpisah lagi.

Tentu saja diantara mereka sudah tidak terdapat rahasia segala yang perlu disembunyikan. Maka pemuda inipun tahu betapa batin adiknya akhir-akhir ini tertekan hebat semenjak perkenalannya dengan Yap-goanswe. Bagi dia sendiri, masalah penyelundupannya dahulu di pasukan Yueh bukanlah apa-apa. Bukankah biasa saja bagi dua pihak yang sedang bertempur kalau kemasukan mata-mata dari pihak lawan? Apa yang perlu dipersoalkan? Kalau Yap-goanswe sampai kebobolan, itulah salahnya sendiri! Kenapa dia begitu bodoh sehingga kemasukan mata-mata?

Maka untuk masalah "pengkhianatan" begini Kui Lun sama sekali tidak ambil pusing. Persetan dengan semuanya itu. Akan tetapi lain bagi Siu Li. Gadis ini telah terjerat asmara bersama jenderal muda itu, maka tentu saja ia tidak bisa main "persetan" seperti kakaknya. Pertemuannya dengan Yap-goanswe untuk pertama kalinya dulu di padang pasir itu telah meninggalkan kesan-kesan indah di dalam hati, bagaimana dia tidak tertindih menghadapi hal semacam ini?

Sesungguhnyalah, sejak perkenalannya pertama di tepi padang gurun itu Siu Li benar-benar telah jatuh hati terhadap murid Malaikat Gurun Neraka ini. Belum pernah hatinya terguncang seperti itu, belum pernah perasaannya menjadi tidak karuan seperti pada perjumpaan pertama itu.

Semuanya ini telah meninggalkan kesan-kesan mendalam di sanubari, bagaimana dapat dihilangkan begitu saja? Maka tidaklah aneh kalau hati gadis itu menjadi risau sekali melihat keadaan dirinya yang amat buruk. Di satu pihak dia harus menjalankan siasat ayah untuk merobohkan jenderal muda itu, di pihak lain hati nuraninya berontak.

Dia tahu bahwa ayahnya liciik dan curang, sebaliknya Yapgoanswe demikian jujur dan gagah perkasa. Kenyataan ini semakin membuat Siu Li merasa kagum terhadap jenderal muda itu dan semakin tidak menyetujui perbuatan-perbuatan ayahnya. Namun, karena semuanya itu terjadi dalam perang antar dua kerajaan, mana bisa urusan pribadi dimasukkan?

Demikianlah, konflik-konflik batinpun berkecamuklah didalam hatinya sampai akhirnya Siu Li tidak tahan lagi melihat perbuatan kotor ayahnya yang memfitnah Yap-goanswe dan meninggalkan ayahnya den gan hati hancur.

Gadis ini merasa betapa dosanya terhadap pemuda itu semakin bertumpuk. Kalau saja ia tidak jatuh hati, mungkin dirinya tidak akan digerogoti perasaan bersalah separah ini. Akan tetapi celakanya, justeru kian hari perasaan cintanya terhadap jenderal muda itu kian menghebat. Membayangkan betapa kekasihnya dilakukan sekeji itu oleh ayahnya, hati Siu Li menjerit. Ingin dia melompat keluar dan berlari mencari pemuda itu, menceritakan semua perbuatan ayahnya yang curang, akan tetapi setiap kali itu pula kakakn ya muncul mencegah.

“Ini adalah urusan kerajaan, adikku, siasat dalam peperangan. Meskipun ayah kita curang dan sikapnya tidak terpuji, akan tetapi dia tetap ayah kita. Apa kah engkau hendak membongkar rahasia ayah sendiri kepada orang lain?"

"Akan tetapi, Lun-ko, Yap-goanswe bagiku bukan orang lain. Dia kekasihku, dia orang yang kucinta. Masa aku tega membiarkan dia menderita seperti itu?"

"Hmm, cinta apa?" Kui Lun mendengus. "Kau belum tahu arti sesungguhnya dari cinta, Li-moi, maka terus-terang saja aku meragukan kata-katamu itu. Memang benar Yap-goanswe terfitnah oleh siasat dari Kerajaan Wu, akan tetapi bukankah ini memang resikonya dalam setiap peperangan? Dia pucuk pimpinan dalam pasukan, terlalu tangguh untuk dirobohkan. Maka satu-satunya jalan paling-paling melancarkan siasat begitu...."

"Biarpun siasat itu licik dan tidak tahu malu?" Siu Li naik darah.

"Ahh, masalah licik atau tidak tahu malu ini adalah pendapat orang lain. Buat apa dihiraukan?" Kui Lun acuh tak acuh.

Tentu saja Siu Li marah sekali. "Lun-ko!" gadis ini membentak. "Kau agaknya amat membenci Yap-goanswe. Ada apa sih? Kesalahan dan dosa apa yang diperbuat oleh pemuda itu kepadamu?"

Kui Lun memutar tubuh, menoleh dan memandang adiknya dengan pandangan tajam, lalu dengan suara dingin dia menjawab, "Aku memang amat membencinya, Li-moi, dan kesalahannya terlalu besar. Memang bukan terhadap diriku kesalahannya itu dilakukan, akan tetapi toh sama saja. Aku tidak suka kepada pemuda sombong itu, aku memang membencinya!"

"Karena apa?"

"Karena dia berani mencintaimu!"

"Ahh, mengapa harus menyalahkan dia? Orang jatuh cinta adalah jamak, kenapa mesti menyalahkan Yap-goanswe? Kalau engkau menyalahkan dia harus pula berani menyalahkan aku, Lun-ko!"

"Hem, mengapa mesti begitu?" Kui Lun mengejek.

"Karena akupun mencintainya!"

"Phuihh...! Cinta monyet gadis belasan tahun mana bisa dipercaya. Tidak. Li-moi, kau tidak tahu apa-apa tentang cinta. Cinta tidak akan membawa kesengsaraan begini. Kalau kau jatuh cinta kepada seseorang, mestinya bukan kepada musuh. Sekarang, gara gara dirimu mengaku jatuh cinta terhadap jenderal muda itu, kau harus melawan orang tua sendiri! Mana bisa dibilang cinta kalau begitu?"

Kata-kata pemuda ini membuat wajah gadis itu menjadi merah sekali. Dia paling sengit kalau orang bilang cintanya "cinta monyet". Dan kini kakaknya menyinggung-nyinggung lagi hal itu. Maka dengan suara nyaring ia lalu membentak, "Lun-ko, berani kau mengataiku seperti ini? Berani kau menyebutku sebagai cinta monyet segala? Hemm, baiklah, lihat saja nanti, apakah betul-betul cintaku itu cinta monyet! Kau manusia tidak berperasaan begini, bagaimana dapat merasakan cinta murni? Musuh atau bukan, dia adalah manusia seperti kita juga. Herankah kalau manusia jatuh cinta kepada manusia lainnya? Cinta memang membutuhkan pengorbanan, dimana anehnya hal ini? Aku sudah berkorban perasaan demi orang yang kucintai, maka pengorbanan lainpun yang lebih besar aku sanggup menerimanya!"

Inilah kata-kata terakhir adiknya itu beberapa waktu yang lalu. Dan Kui Lun yang tidak mau banyak berdebat dengan adiknya ini, lalu meninggalkan gadis itu yang menangis seorang diri. Dia memang tidak setuju adiknya itu jatuh cinta kepada Yap-goanswe. Entah mengapa, ada perasaan tidak sukanya kepada murid Malaikat Gurun Neraka itu. Ada sesuatu yang tidak disenanginya. Dia sendiri sedang berusaha mencari-cari apakah gerangan sesuatu itu, namun belum juga dia berhasil menemukannya.

Dan sekarang, baru beberapa hari semenjak pertengkaran mereka itu, tahu-tahu adiknya telah mengorbankan lengan kiri sendiri untuk menebus dosanya terhadap Yap-goanswe! Kui Lun benar-benar marah sekali dan kebenciannya kepada jenderal muda itu memuncak, seketika dia melompat bangun, kedua tangannya dikepal dan pemuda ini lalu berteriak, "Yap-goanswe, kaukah yang menyuruh adikku menabas lengan ini? Kalau benar, hayo tunjukkan dirimu, aku hendak menuntut balas!"

Dia berteriak-teriak seperti orang kalap, akan tetapi mana Bu Kong ada di tempat itu? Biarpun dia berteriak sampai tenggorokannya pecah juga tidak mungkin orang yang ditantang akan muncul.

Pek Hong yang semenjak tadi tidak mengeluarkan suara karena masih tertegun melihat peristiwa Siu Li ini, tiba-tiba meiompat maju . "Saudara Kui Lun, percuma kau berteriak-teriak, orang yang kau cari tidak ada di sini. Dan lagi bukan Yap-goanswe yang menyuruh adikmu itu mengutungi lengannya..."

Kui Lun memutar tubuh, seakan-akan baru teringat olehnya bahwa di situ masih terdapat murid Ta Bhok Hwesio ini. Dia memang mengenal gadis itu seperti juga gadis itu mengenalnya. Maka dengan suara berat diapun bertanya. "Apa maksudmu, nona? Kenapa Yap-goanswe tidak berada di sini? Kalau dia tidak ada, mustahil adikku bisa begini. Hanya perjumpaannya dengan pemuda keparat itulah maka adikku selalu terhimpit batinnya, kalau tidak, masa tanpa sebab ia membuntungi lengan sendiri?"

Pek Hong menjadi panas hatinya mendengar Bu Kong dimaki sebagai pemuda keparat. "Hmm, sepatutnya engkaulah yang keparat, manusia she Ok, bukannya Yap-goanswe! Kenapa kau memakinya?" gadis ini membentak.

Kui Lun terbelalak, matanya tak berkedip. "Apa katamu? Aku yang keparat bukannya jenderal yang sombong itu? Huh, biar kumaki seribu kali engkau mau apa, nona? Dia memang keparat jahanam! Nah, dengar kau? Dia keparat jahanam yang hendak kubunuh!"

Gadis ini menjadi marah sekali. Dengan mata berapi dia melompat ke depan dan jari telunjuknya yang runcing halus itu menuding, “Orang she Ok, kau tidak ingat dosa sendiri? Berani kau bermulut besar hendak membunuh Yap-goanswe? Cihh, kalau dia benar-benar ada di sini, kutanggung dilawan dengan sebuah jarinya saja kau masih belum nempil! Mana bisa kau membunuhnya? Dasar manusia tidak tahu malu, mengancam orang pada saat orang yang diancam sedang tidak berada di sini. Perbuatan gagah macam apa ini?"

Kui Lun juga naik darah diejek begini, dengan muka gelap dan mata mendelik dia lalu balas membentak, "Eh, setan betina, kau agaknya penjilat Yap-goanswe, ya? Aha, pantas saja kalau begitu. Rupanya kau telah diberi upah oleh pemuda itu. Dan upah apa yang selalu diberikan seorang pemuda pemogoran seperti Yap-goanswe itu terhadap seorang gadis? Tentu peluk cium dan perbuatan-perbuatan tidak tahu malu lainnya! Cihh, kau marah? Hee, mukamu merah, tentu kata-kataku mengenai sasaran. Kenapa harus naik pitam?"

Memang wajah gadis itu sudah merah sekali karena ucapan yang dikeluarkan oleh pemuda ini amat menusuk perasaannya. Rahasia perjinaan Yan-goanswe memang sudah tersebar luas, maka tidak heran kalau Kui Lun mampu melontarkan hinaan itu. Akan tetapi, yang membuat kemarahan Pek Hong meledak adalah karena justeru pembuat gara-gara semua fitnah keji ini adalah Wusam-tai-ciangkun, ayah dari pemuda itu sendiri. Dan sekarang dengan seenaknya saja pemuda ini memaki-maki Yap-goanswe sebagai pemuda tidak tahu malu!

"Kaulah jahanam tidak tahu malu!" Pek Hong membentak sengit dan "sring", rantai perak di pinggangnya telah dilolos keluar. "Orang she Ok, perbuatan ayahmu yang memfitnah Yap-goanswe mustahul tidak diketahui olehmu. Dan sekarang kau berani memaki-maki Yap-goanswe seakan-akan kau tidak mengetahui semua kebusukan ayahmu. Dosa begini saja masa tidak adil kalau ditebus dengan kepalamu yang penuh ulat-ulat kotor itu? Nah, terimalah kematianmu dan ketahuilah pula sebelum kau menghadap Giam-lo-ong bahwa yang menyuruh adikmu tadi adalah aku sendiri!"

Begitu habis mengucapkan kata-katanya ini, tiba-tiba gadis itu melengking tinggi dan tubuhnya menerjang pemuda itu. Rantai perak di tangannya bergerak naik turun seperti naga putih, melenggang-lenggok dua kali di udara lalu tiba-tiba menghantam dengan sabetan miring. Gerakannya cepat dan kuat, apalagi didorong oleh kemarahan yang meluap membuat tenaganya besar sekali. Inilah jurus yang dinamakan Naga Putih Menerobos Gua, sebuah serangan lihai dari ilmu silat cambuk yang diganti dengan senjata rantai perak.

Kui Lun terkejut, bukan menyaksikan datangnya serangan ganas ini, melainkan terkejut mendengar kata-kata gadis itu. Ahh, bagaimana rahasia ayahnya bisa terbongkar? Sungguh dia kaget bukan main di dalam hatinya dan dia melirik ke arah Siu Li yang rebah di atas rumput. Apakah adiknya ini yang memberitahukan kepada lawan? Celaka. kalau benar demikian, adiknya itu pantas dihajar! Bukankah kalau diketahui musuh semua rahasia selama ini bakal terbongkar habis-habisan?

Sampai di manakah murid Ta Bhok Hwesio ini mengetahui rahasia itu? Hah, gadis ini benar-benar musuh yang berbahaya sekali. Dia harus secepatnya membunuh sebelum orang lain mendengar omongannya. Dia harus menutup mulut gadis ini untuk selamanya. Maka, begitu serangan lawan tiba secepat kilat Kui Lun mencabut pedangnya dan menangkis.

"Trangg...!" Bunga api berpijar dan rantai perak di tangan Pek Hong terpental. Gadis ini tercekat dan hampir dia mengeluarkan seruan kaget. Telapak tangannya terasa pedas dan panas, ini membuktikan bahwa dalam hal tenaga lweekang ia masih kalah. Tentu saja Pek Hong terkejut, maka sambil berteriak nyaring gadis ini lalu mengerahkan ginkangnya yang disebut Coan-goa-thui (Terbang Menerjang Bulan), dan segera tubuhnya beterbangan seperti burung walet menyambar-nyambar.

Dengan mengandalkan ginkangnya yang tinggi itu, Pek Hong ternyata berhasil menutup kelemahannya dalam hal tenaga. Tubuhnya naik turun di udara seperti kepinis mencari mangsa, dan rantai perak di tangannya tidak pernah berhenti bergerak.

Maka terjadilah pertandingan yang cukup seru di tempat sunyi ini. Dua orang murid dari tokoh-tokoh besar bertempur, tentu saja menarik untuk ditonton. Sayang, tempat yang sepi ini sama sekali tidak ada orangnya selain mereka sendiri. Perkelahian sengit yang terjadipun juga paling-paling hanya disaksikan oleh pohon-pohon dan semak belukar yang berkeresekan seakan orang berbisik-bisik.

Kui Lun yang sudah mengambil keputusan untuk melenyapkan dara ini agar rahasia ayahnya tidak bocor, mengerahkan semua kepandaiannya. Diam-diam dia terkejut juga. Dulu, beberapa bulan yang lalu, pernah juga dia bertempur melawan gadis ini, akan tetapi waktu itu pertempuran mereka kurang serius. Hal ini telah diceritakan dalam "Hancurnya Sebuah Kerajaan" jilid tiga karena pada waktu itu kedatangan Pek Hong menempur Kui Lun adalah untuk menolong Siu Li yang dikiranya bertemu dengan penjahat muda.

Pada pertandingan mereka yang berjalan dalam beberapa gebrakan itu, Kui Lun memang tahu bahwa lawannya ini amat lihai sekali. Apa lagi setelah dia mengetahui bahwa gadis itu adalah murid Ta Bhok Hwesio yang amat sakti dari Tibet, maka tentu saja dia tidak berani memandang rendah.

Sekarang, dalam pertandingan yang kedua kalinya ini, Kui Lun yang berniat membunuh gadis itu tidak mau main sungkan lagi. Sambil mengeluarkan bentakan keras tiba-tiba tangan kirinya diputar terus didorongkan kedepan. Serangkum hawa dingin menerjang keluar dan tampak sinar keperakan gemerdep menyilaukan mata. Inilah pukulan jarak jauh yang mengandalkan tenaga lweekang. Mo-i Thai-houw menamakannya Gin-kong-jiu (Pukulan Sinar Perak).

Pek Hong terkejut melihat serangan tiba-tibaa ini. Ia maklum bahwa dalam hal tenaga lweekang ia masih kalah seusap, maka tentu saja ia tidak berani menerimanya secara langsung. Hakikatnya gadis ini memang jeri kalau beradu tenaga, maka jalan satu-satunya adalah mengelit ke samping dan dari sini dia menampar dengan pukulan memutar.

"Plakk! Ihh...!" Pek Hong berteriak kaget. Betul bahwa pukulan Gin-kong-jiu berhasil dikelit ke samping, namun begitu tangannya menghantam lengan kiri lawan, seketika hawa dingin yang luar biasa membuat jari tangannya menggigil kaku seperti direndam es!

Tentu saja gadis ini terkejut bukan main. Pada saat itu, dalam keadaan jari tangan lumpuh sedetik, Kui Lun tertawa dingin dan kaki kanannya tiba-tiba menendang lutut Pek Hong berbareng tangan kirinya membalik untuk mencengkeram tangan gadis itu.

Serangan ini sungguh berbahaya bagi murid Ta Bhok Hwesio ini. Rantai peraknya yang tadi menyambar leher lawan, ditangkis pedang bersinar biru sehingga terpental ke atas, sementara pedang Kui Lun sendiri terus meluncur membabat leher si gadis. Balasan serangan yang amat di luar dugaan ini sedikit banyak membuat Pek Hong terkesiap juga.

Akan tetapi dara ini ternyata benar-benar tidak percuma dididik oleh seorang tokoh besar macam Ta Bhok Hwesio yang sakti itu. Begitu rantainya terpental, tiba-tiba Pek Hong melengking nyaring dan mengerahkan tenaga. Rantai perak yang tadi lemas seperti ruyung itu mendadak kaku seperti toya baja! Dan pada detik itu juga, senjata yang telah berobah kaku ini dari atas tiba-tiba meliuk ke bawah, menghantam tangan kiri lawan yang hendak mencengkeram lengannya disusul gerakan merendahkan kepala untuk menghindari babatan pedang ke arah kepalanya!

"Singg-dess-brett...!"

Tiga gebrakan ini terjadi dengan amat cepatnya. Pedang Kui Lun luput menyambar kepala karena gadis itu secepat kilat telah merendahkan kepalanya, akan tetapi sebagai gantinya rambut Pek Hong terbabat ujungnya. Ini di pihak si gadis. Sedangkan di pihak Kui Lun sendiri, karena diapun tidak menyangka bahwa Pek Hong akan menghantam lengan kirinya yang siap mencengkeram, maka pemuda inipun tìdak mampu mengelak dan dengan telak tangan kirinya terpukul rantai lawan yang menjadi keras seperti sebatang toya itu.

"Aduhhh...!" Kui Lun berteriak dan otomatis cengkeramannya gagal. Pemuda ini kesakitan dan menjadi marah sekali. Hantaman rantai baja itu diisi dengan tenaga lweekang, maka hebatnya tentu saja bukan kepalang. Kalau bukan pemuda ini yang menerima, agaknya seketika itu juga tulang lengannya akan remuk dan hancur berantakan. Untunglah, berkat tenaga Gin-kong-jiu yang masih d ilancarkan, maka serangan ini tidak sampai membuat lengan Kui Lun patah.

Sementara itu, hampir bersamaan dengan hantaman rantai perak, tendangan Kui Lun mengenai lutut Pek Hong. "Tak..." tidak begitu keras tendangan ini, akan tetapi tetap saja gadis itu roboh berlutut. Karena tadi Kui Lun kesakitan dihantam senjata lawan, maka tenaga yang dikerahkan ke kakinya sudah jauh berkurang. Itulah sebabnya mengapa Pek Hong tidak sampai terkilir tempurung lututnya dan gadis ini hanya terkena totokan yang tidak begitu tepat arahnya.

Akan tetapi meskipun demikian tetap saja Pek Hong terkejut. Dia berseru perlahan dan begitu tubuhnya roboh berlutut di depan lawan, rantainya diputar menyerang pemuda itu agar tidak melanjutkan pukulannya sementara tubuhnya sendiri sudah cepat bergulingan menjauh.

"Bagus..." Kui Lun berseru mendongkol dan dia melompat mundur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Pek Hong untuk melompat bangun dan dengan muka merah gadis ini mendeliki pemuda itu. "Kau.... keparat, berani kau membabat rambutku?" Pek Hong berteriak gusar dengan mata berapi-api.

"Hmm, bukan hanya rambutmu yang akan kupotong, nona, melainkan kepalamu. Kau terlalu banyak mengetahui rahasia orang lain, bagaimana aku tega membiarkan kau hidup lagi di dunia ini? Daripada kau nanti dicelakai orang lain, lebih baik kuantar kau kepada Giam-lo-ong saja," Kui Lun tersenyum dingin.

Pek Hong marah sekali dan ia siap menerjang lagi. "Bagus, kalau begitu kau sudah mengakui tipu muslihat orang tuamu yang busuk itu?" bentaknya nyaring.

"Muslihat busuk apa?" pemuda itu menjengek. “Dalam setiap peperangan tidak ada muslihat busuk segala. Yang ada hanyalah kecerdikan otak masing-masing. Siapa cerdik dialah yang menang, mengapa heran?"

"Setan...!!" Pek Hong memekik dan dengan kemarahan meluap gadis ini lalu menerjang ke depan. Meskipun dalam gebrakan terakhir tadi jelas ia kalah sedikit, namun demi membela Bu Kong mana gadis itu merasa takut kepada musuh? Apalagi terhadap putera Ok-ciangkun yang terang-terangan telah mengakui perbuatan orang tuanya itu, gadis ini menjadi marah sekali. Kalau begitu betul kata-kata ramalan yang diucapkan oleh Phoa-lojin dulu, dan Yap-goanswe memang terfitnah oleh perbuatan Wu-sam-tai-ciangkun. Hanya yang belum ia ketahui, siapakah orang keempat disebut sebagai seorang pemuda yang pandai sihir itu? Akan tetapi, baru saja Pek Hong melompat ke depan, tiba-tiba terdengar seruan nyaring,

"Adik Hong, tahan...!" dan Siu Li tiba-tiba melompat bangun dengan tubuh gemetar. Kiranya gadis ini siuman kembali dari pingsannya dan kini dengan langkah terhuyung-huyung menghampiri dua orang yang bertempur itu.

Terpaksa Pek Hong menarik serangannya dan menanti apa yang hendak dika takan oleh gadis itu. Apakah Siu Li hendak mengeroyoknya? Agaknya tidak mungkin. Gadis ini payah keadaannya, tubuhnya menggigil seperti orang kena demam dan luka yang masih baru itu tentu amat mengganggunya. Masa akan nekat maju segala? Akan tetapi kalau begitu kehendaknya, iapun tidak gentar. Boleh, boleh mereka maju sekalian, diapun tidak takut. Maka dengan kepala dikedikkan gadis ini memandang dua orang musuhnya itu bergantian. Akan tetapi ternyata Siu Li sama sekali tidak menyerangnya. Gadis ini menghampiri kakaknya, lalu dengan suara lirih berbisik-bisik di telinga pemuda itu.

"Hahh...?!" Kui Lun tampak terkejut dan mukanya berobah. "Kau gila, Li-moi? Kau gila?" pemuda ini melotot ke arah adiknya namun Siu Li tiba-tiba sudah ambruk dan pingsan di pelukan kakaknya.

Pek Hong tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja kembali Siu Li roboh pingsan. Dan iapun tidak tahu apa yang tadi dibisik-bisikkan oleh gadis itu kepada kakaknya. Yang ia lihat sekarang adalah bahwa Kui Lun mendadak tampak gugup sekali dan begitu adiknya tak sadarkan diri, pemuda ini lalu memanggulnya dan tanpa menoleh kepada Pek Hong, Kui Lun melompat secepat terbang meninggalkan tempat itu dengan muka pucat.

"Heii, iblis kecil...! Kenapa lari? Tunggu dulu...!" Pek Hong yang penasaran melihat semuanya ini hendak lompat mengejar, akan tetapi tiba-tiba matanya membentur sesuatu di atas tanah. Itulah tanah berumput yang tadi dipergunakan Kui Lun untuk membaringkan adiknya. Dan sekarang, di atas tanah itu terdapat coretan huruf yang tidak begitu besar dan sebuah cincin kecil yang gemerlapan.

Karena perhatiannya tertarik ke sini, cepat Pek Hong menahan langkah dan menuju ke tempat itu. Ternyata memang betul. Coretan kalimat itu dibuat oleh Siu Li yang berbunyi:

Jangan buang-buang waktu lagi, cepat naik ke atas dan bantu dia segera, bawa cincin ini dan tunjukkan pada Kauw-sian, maka diapun tidak akan banyak cerewet lagi. Semoga bahagia!

Inilah bunyi kalimat itu dan Pek Hong seketika sadar bahwa Yap-goanswe telah dibawa si kakek monyet ke atas puncak. Memang betul, ia harus menolong Bu Kong dan membantu Si Dewa Monyet. Kalau tidak, keadaan bekas jenderal muda itu bisa berbahaya sekali. Seketika ia merasa gelisah dan melihat sebuah cincin menggeletak di samping coretan huruf-huruf ini, Pek Hong lalu memungut benda ini dan tanpa banyak bicara lagi iapun lalu terbang ke puncak bukit menyusul Kauw-sian yang sudah duluan membawa pasiennya. Semuanya segera dilupakan dan satu-satunya ingatan adalah menolong Yap-goanswe. Dan gadis inipun juga tidak mau tahu lagi apa sih yang tadi dibisikkan Siu Li kepada kakaknya itu?

Sebenarnya jawaban tentang ini sederhana saja. Tadi, ketika Siu Li menghampiri kakaknya, gadis ini berbisik perlahan, "Lun-ko, karena tidak menyangka kedatanganmu, aku terlanjur menelan Siau-hun-tan (Pil Pembuyar Sukma). Kau tahu sendiri, bekerjanya obat ini amat cepat, terlambat sedikit tentu sukmaku benar-benar akan buyar. Nah, terserah padamu, hendak cekcok dulu dengan murid Ta Bhok Hwesio itu ataukah hendak segera menolong diriku."

Kui Lun yang mendengar keterangan ini tentu saja kaget setengah mati. Itulah sebabnya mengapa Pek Hong melihat muka pemuda ini berobah seketika dan melotot ke arah adiknya serta memaki adiknya itu sebagai orang gila. Siau-hun-tan adalah obat yang amat keras sekali, memang cocok kalau dipakai untuk maksud-maksud bunuh diri. Dan obat penawarnya berada di Lembah Bambu Kuning. Mana Kui Lun mau membuang-buang waktu lagi? Nyawa adiknya jauh lebih penting daripada segala urusan lain!

Maka begitu adiknya roboh pingsan, pemuda ini segera membawanya pergi dan berlari seperti terbang menuju ke Lembah Bambu Kuning. Sama sekali Kui Lun tidak mengira seujung rambutpun bahwa adiknya itu telah membohonginya!

Siu Li memang membohongi kakaknya ini. Dia tahu bahwa kalau pertempuran itu tidak dicegah, Pek Hong bukanlah lawan kakaknya yang lihai. Meskipun pertandingan akan berjalan lama sekali, namun akhirnya Pek Hong tentu dibawah angin. Kalau gadis itu sampai celaka, bukankah Yap-goanswe akan menuntut balas terhadap kakaknya? Ia tidak mau hal ini terjadi. Kesalahan mereka terhadap jenderai muda itu sudah cukup banyak, tidak perlu ditambah lagi.

Apalagi Bu Kong sendiri sedang keracunan dan pemuda itu harus secepatnya ditolong, untuk apa pertempuran itu dilanjutkan? Dengan akal begini, otomatis kedua pihak akan berhenti dengan sendirinya karena masing-masing saling mempunyai kepentingan yang perlu didahulukan. Kui Lun perlu mencarikan obat penawar adiknya, sedangkan Pek Hong dapat naik ke puncak untuk menyusul Yap-goanswe.

Demikianlah, dengan sedikit akal bikinan begini, Siu Li telah memisah dua orang itu tanpa susah payah dan sekarang kakaknya yang mengira ia pingsan itu berlari-lari ke Lembah Bambu Kuning untuk menolongnya.

* * * * * * * *

Dewa Monyet yang tergopoh-gopoh membawa pasiennya, dengan cepat telah tiba di atas bukit. Tubuh kakek ini benar-benar gesit seperti kera, lompatan-lompatannya di atas batu karang di dinding tebing itu sama sekali tidak mengalami kesukaran sedikitpun juga. Apalagi dia telah sering naik turun bukit, tentu saja perjalanan semacam ini tidak ada artinya bagi kakek itu biarpun dia memanggul seorang pemuda yang cukup berat.

Lain halnya dengan Pek Hong sendiri. Gadis ini tidak secepat penghuni atau tuan rumahnya itu, karena mengenai tonjolan-tonjolan batu karang yang harus diinjak perlu dicarinya dahulu. Dinding ini amat tinggi dan terjal sekali, juga dipandang dari bawah licin berkilauan. Maka Pek Hong harus berhati-hati.

Akan tetapi dengan melihat jejak kaki Si Dewa Monyet di atas tanah, dapat juga Pek Hong tiba di puncak dan gadis ini sejenak tercengang. Ternyata puncak Ang-bhok-san ini merupakan tanah datar yang luasnya sekitar seribu li persegi. Sekelilingnya penuh pohon-pohon gundul berkulit merah, kering dan membayangkan suasana tandus. Akan tetapi anehnya, di sela-sela pepohonan itu, tampak rumput-rumput hijau dan tanaman-tanaman perdu. Melihat baunya, meskipun Pek Hong bukan seorang ahli obat, namun gadis ini maklum bahwa tanaman perdu dan rumput rumput itu ternyata adalah obat-obatan yang sengaja ditanam Si Dewa Monyet di tempat kediamannya ini.

Dan di tengah-tengah hutan kecil itu, berdiri sebuah pondok merah yang tidak begitu besar. Warna merah dari pondok ini bukannya cat rumah melainkan asli begitu karena banngunan pondok itu terbuat dari Ang-bhok (Pohon Merah). Sementara gadis ini memandang sekitar sambil mencari-cari, tiba-tiba dari arah pondok terdengar teriakan Dewa monyet.

“Heii, nona cilik, ehh... nyonya muda, cepat kesini, jangan melenggong saja di situ! Suamimu perlu dibantu dua orang, lohu harus memasak obat!"

Pek Hong tersentak dan sekejap mukanya terasa panas. Orang memanggilnya "nyonya muda", bagaimana dia tidak merasa jengah? Akan tetapi teringat akan nasib pemuda itu membuat Pek Hong melenyapkan rasa malunya dan cepat dia berlari ke pondok merah itu. Sampai di depan pintu dia mendengar Kauw-sian mengomel,

“Sungguh aneh, suami sakit berat datang saja masih terlambat. Isteri macam apa ini? Huhh...!" dan ketika gadis itu sudah melangkah masuk, kakek ini tidak melanjutkan kata-katanya dan tutup mulut dengan muka cemberut.

"Apa katamu, locianpwe?" Pek Hong bertanya dan kini dia memanggil kakek itu dengan sebutan "locianpwe" (orang golongan tua) karena mau tak mau ia harus bersikap manis terhadap sang penolong ini.

Kakek itu menoleh, sekejap celingukan kesana-sini dan tidak menjawab. Melihat Siu Li tidak berada bersama, kakek ini tampak terheran. "Mana siocia?" tanyanya.

"Dia sudah pergi."

"Ahh, betulkah?" kakek ini tiba-tiba nampak girang dan sepasang matanya bersinar aneh.

Pek Hong tidak mengerti mengapa sikap kakek itu tampak gembira dan sambil menganggukkan kepala dia menjawab, "Betul, ia sudah pulang kembali. Mengapa, locianpwe?"

"Tidak apa-apa, hanya lohu agaknya terpaksa...” Dewa Monyet menghentikan ucapannya dan menyeringai, memandang gadis itu dari atas ke bawah dan tiba-tiba terkekeh-kekeh, “Agaknya lohu terpaksa tidak dapat menolong suamimu ini, heh-heh-heh!"

Tentu saja Pek Hong terkejut. Seketika mukanya berobah dan tanpa terasa gadis ini mengeluarkan seruan tertahan, "Ahh, kenapa begitu?” dan tangan kanannya terangkat, mendekap mulutnya sendiri yang hampir saja mengeluarkan makian terhadap Si Dewa Monyet.

Kakek itu masih terkekeh-kekeh, akan tetapi ketika secara tidak sengaja matanya memandang cincin di jari manis Pek Hong, sekonyong-konyong ketawanya berhenti sama sekali dan kakek ini tampak terkejut.

“Ehh…. ohh, tidak... bukan... bukan begitu maksud lohu! Lohu hendak mengatakan bahwa jika pertolongan lohu ini tidak berhasil, lohu agaknya terpaksa tidak mampu berbuat lebih jauh. Harap nyonya muda tidak salah paham, sungguh mati lohu tidak ada pikiran jelek, sungguh mati...!" dan dengan tergopoh-gopoh kakek ini lalu berlari kian kemari di ruangan kamar itu mengumpulkan daun-daun obat.

Sejenak Pek Hong tertegun. Sikap kakek gila itu betul-betul tidak waras. Tadi menyeringai iblis dan sekarang munduk-munduk ketakutan. Ada apa gerangan? Teringat betapa tadi kakek itu memandang cincin di jarinya dengan mata terbelalak, tahulah gadis itu bahwa yang ditakuti oleh Dewa Monyet ini agakn ya cincin yang dipakainya itu. Hemm, rupanya senjata ampuh untuk menundukkan kakek ini adalah cincin itu. Cincin apakah ini sehingga Si Dewa Monyet tampak jerih dan gentar jika memandangnya? Akan tetapi Pek Hong tidak merenungkannya lebih jauh. Setelah ia tahu hal ini, dapatlah ia sekarang mempergunakan kekuasaannya untuk menekan kakek itu.

Teringat betapa kakek itu hampir saja main gila, Pek Hong mendengus. "He, setan tua, kau tadi ada pikiran busuk, ya? Awas, sekali lagi kau bersikap tidak wajar, aku akan melaporkan semua sepak terjangmu ini kepada ratu!"

Omongan Pek Hong ini diucapkan sekenanya saja. Melihat bentuk cincin, sekali lihat gadis itu mengerti bahwa pemilik benda ini adalah seorang wanita. Dan kalau kakek itu takut-takut terhadap wanita yang tidak diketahuinya itu, bukankah kekuasaan wanita pemilik cincin ini sama halnya dengan seorang ratu? Sama sekali ia tidak mengira bahwa kata-katanya itu justeru tepat mengenai sasaran karena pemilik cincin yang membuat Si Dewa Monyet jerih ini adalah Mo-i Thai-houw atau Sang Ratu Berbaju Iblis! Jadi ancamannya itu malah tepat sekali.

Tentu saja Si Dewa Monyet pucat ketakutan. "Ah, nyonya muda jangan main-main. Mana lohu berani main gila? Tidak.... tidak ada pikiran busuk lohu selain hendak menyelamatkan suamimu itu. Harap nyonya muda tidak melaporkan kesalahan lohu terhadap thai-siang!"

“Baik, akan tetapi kau harus bisa menolong jiwanya. Jika tidak, hmm, tahu sendiri..." Pek Hong mengancam dan sekarang dia tidak lagi memanggil locianpwe tapi menyebutnya setan tua. Dan anehnya kakek itu malah tampaknya lebih senang dipanggil begitu daripada disebut locianpwe.

“Tentu... tentu, nyonya muda. Biarlah nyawa lohu yang menjadi taruhan," Kauw-sian menjawab terbata-bata dan gadis itu menarik napas lega. “Akan tetapi..." Tiba-tiba kakek itu menghentikan kalimatnya dan Pek Hong sudah mendelik, mengira bahwa kakek ini lagi-lagi hendak main gila. Tapi cepat kakek itu lalu menyambung, "Akan tetapi kuharap hujin (nyonya) juga membantu agar cepat selesai."

"Hemm, kalau itu yang kau kehendaki, boleh saja. Memangnya kenapa mesti takut-takut? Kau ada akal busuk lagi, ya?"

Ah, tidak... tidak ada!" Si Dewa Monyet cepat menggelengkan kepalanya dan demikianlah dua orang ini lalu mulai bekerja.

Kakek itu sudah memasang kuali dari tanah liat, mengisi air lalu menjerangnya di atas api. Sementara itu, sambil menunggu air mendidih, kakek ini lari kesana kemari dengan sikap cekatan mengambil ramuan obat-obatan. Setiap comot sana ambil sini hidungnya selalu mengendus seperti anjing pelacak, tangannya menakar dan menimbang daun-daun dan akar-akar obat tiada hentinya.

Mula-mula Pek Hong mengawasi semua gerak-gerik orang dengan perasaan tegang dan seringkali ia menengok kearah Bu Kong berbaring. Pemuda itu telentang di atas dipan, mukanya pucat semu hijau dan kuning jingga, napasnya hampir tidak terdengar. Hanya dadanya yang mengembung perlahan dan berat itu sajalah yang membuktikan bahwa jenderal muda itu masih bernapas. Dipandang sepintas lalu dari kejauhan, keadaan pemuda ini tiada ubahnya dengan mayat belaka.

"Hujin, tolong ambilkan tabung biru di atas rumah!” tiba-tiba kakek monyet berteriak dan gadis itu terkejut.

"Apa?" Pek Hong terbelalak. "Di atas rumah? Atas yang mana, bukankah rumahmu ini tidak bertingkat?"

"Ah, hujin tidak tahu. Itu, langit-langit rumah kan juga bisa disebut atas? Nah, harap hujin ke belakang, masuk saja dari lubang penutup atas di pojok kiri, lalu ambil tabung bambu bercat biru. Harap hati-hati, jangan salah ambil karena di situ ada tiga buah tabung yang bentuknya sama."

"Apa catnya juga sama?"

"Tidak, yang satu bercat hijau tua dan yang lain ungu."

"Baik," Pek Hong menjawab dan cepat dia menyelinap ke belakang rumah. Di sini ia mencari-cari lubang penutup atap yang katanya berada di pojok kiri, dan betul saja, gadis itu melihat sebuah penutup yang terbuat dari kayu tipis merah semacam triplex di pojok sana.

Sekali lompat, tubuhnya melayang ke atas dan tutup lubang atap itu disingkirkannya. Tubuhnya terus menerobos dan akhirnya berada di langit-langit rumah. Suasana gelap, diam-diam Pek Hong mendongkol sekali. Tiga buah tabung itu kalau dilihat dari tempat gelap begini mana bisa dibedakan? Yang satu ungu, yang lain biru dan yang satunya lagi hijau tua.

Mana orang tahu mana yang biru dan mana yang ungu atau hijau tua? Di atas langit-langit rumah ini memang betul berjajar tiga buah tabung bambu, dan karena tidak kelihatan mana yang biru dan yang ungu atau hijau segala macam, maka dengan gemas Pek Hong mengambil semuanya itu. Dia melompat kembali ke bawah dan baru setelah berada di tempat terang begini ketiga macam barang itu dapat dibedakan. Ternyata yang biru adalah tabung yang di tengah, maka dua yang lain lalu dilemparkan Pek Hong ke tempatnya semula. Kemudian dengan cepat dia keluar menemui kakek itu dan menyerahkan barang yang diminta.

"Terima kasih, hujin, pekerjaanmu cepat sekali," Si Dewa Monyet tersenyum. "Sekarang, karena obat mulai mendidih dan lohu harus mengaduk terus, tolong hujin buka baju suamimu itu. Lohu hendak melihat keadaannya."

Pek Hong tertegun dan rasa panas memenuhi mukanya. Tapi, karena kakek itu telah menganggap mereka sebagai suami-isteri, maka dengan mengeraskan hati iapun menghampiri pembaringan. Sejenak ia termangu, jantungnya berdetak kencang. Namun setelah ia berhasil menenangkan hati, dengan jari tangan sedikit gemetar Pek Hong lalu meraba kancing baju Bu Kong dan perlahan-lahan membuka pakaian pemuda itu.

Selamanya gadis ini belum pernah melakukan hal begini, jadi tidak heran jika tiba-tiba mukanya bersemu dadu ketika melihat dada yang bidang dan tampak kuat itu. Sekilas ia melirik ke arah wajah Bu Kong seakan khawatir kalau pemuda itu melihat perbuatannya, tapi pemuda itu sama sekali tidak bergerak. Kulit mukanya pucat kehijauan dan di pelipis kirinya terdapat segaris cahaya merah jingga.

Tentu saja rasa likat nona itu lenyap seketika. Melihat keadaan Bu Kong yang demikian mengenaskan, kembali hatinya gelisah. Pada saat itu tiba-tiba si kakek monyet kembali berseru.

"Hujin, tolong kemari sebentar. Obat ini harus terus kuaduk, tidak boleh kutinggalkan. Maka tolong buka tabung biru itu dan tuangkan isinya ke dalam kuali!"

Pek Hong menoleh dan gadis ini maju mengambil tabung yang ditaruh di samping kuali obat. Dia sudah hendak membuka tutup tabung ketika tiba-tiba Si Dewa Monyet berteriak, "Hee, jangan tergesa-gesa, nanti mereka meloncat!"

"Ehh, meloncat? Siapa yang meloncat?" gadis itu terkejut dan mukanya berobah. Dengan sinar mata tajam ia menatap kakek itu dan tak terasa tabung yang dipegangnya itu terlepas. Ucapan Si kakek monyet membuat ia seakan dipagut ular. Melihat naga-naganya agaknya isi tabung itu barang hidup! Kalau tidak, masa dikatakan "meloncat" segala?

Dewa Monyet tidak segera menjawab, dia terkekeh dan tangannya bergerak, menyambar tabung biru yang terlepas dari tangan gadis itu. "Ahh, hujin tidak tahu. Inilah teman-temanku yang paling setia selama ini. Kalau saja tidak atas perintah hujin, mana lohu mau memberikan mereka kepada setiap orang? Hemm, sebenarnya lohu merasa sayang juga, tapi demi suami hujin yang sakit parah, biarlah lohu berkorban."

Sampai di sini wajah kakek itu tampak murung, namun hanya sekejap saja karena segera sikapnya kembali seperti biasa. "Hujin, pegang lagi, taati perintah lohu," kakek itu menyerahkan tabung di tangannya dan tiba-tiba Pek Hong merasakan betapa di dalam tabung ini ada benda bergerak-gerak. Gadis ini mengkirik, memandang Si Dewa Monyet dengan ragu-ragu, akan tetapi sambil tertawa kakek itu menyusupkan tabung biru di telapak tangannya.

"Jangan khawatir, asal lohu berada di sini, teman lohu tidak akan merugikan orang lain," kakek itu berkata sambil menyeringai. "Nah, sekarang hujin balikkan tabung itu, kepalanya di bawah... ya.... ya begitu. La lu pencet tutup atas, hitung dari satu sampai tiga. Nah, mulai...”

Demikianlah, sambil memberikan petunjuk kepada gadis itu, kakek ini tiba-tiba mengaduk obat di dalam kuali itu dengan cepat sehingga air yang mendidih itu berbuih. Pek Hong mengangkat tabung seperti yang diperintahkan Si Dewa Monyet, diam-diam merasa tegang hatinya. Dan mulailah kakek itu berseru, "Satu... dua... tiga... hei!"

Bersama dengan teriakan terakhir itu terdengar suara "klik-klik-klik" tiga kaii disusul suara mendesis dan menciap macam cecak. Dari tutup tabung bagian bawah tiba-tiba meluncur turun tiga ekor binatang, yang pertama adalah seekor kadal, kedua seekor tokek dan yang terakhir adalah seekor kelabang!

"Plung-plung-plung!" karena ditaruh di atas kuali yang sedang digodok, tentu saja tiga ekor binatang itu langsung nyemplung ke dalam air obat dan terdengar si tokek menjerit keras memekakkan telinga. Tiga ekor binatang itu meloncat-loncat di atas air mendidih dan jelas mereka tampak kesakitan sekali. Namun si kakek monyet tidak perduli, mulutnya bersiul perlahan seperti seorang ibu hendak meninabobokkan bayinya sementara tangan kanan yang memegang adukan terus bekerja, memutar air obat yang berbuih itu bersama tiga ekor binatang tersebut.

Pek Hong terbelalak dengan wajah pucat, terkesiap melihat bahwa isi tabung biru ini ternyata adalah binatang-binatang menjijikkan itu. Dan tadi ia telah mengempit "kurungan" ini di bawah ketiaknya! Kalau saja salah seekor diantaranya lolos, bukankah dia akan digigit mampus? Melihat warna-warna kulit tiga ekor binatang itu yang semuanya berwarna biru, maklumlah gadis ini bahwa semua binatang itu merupakan binatang-binatang yang amat berbisa. Dan sekarang tiga mahluk berbisa itu dijadikan obat untuk Bu Kong!

Apakah kakek ini tidak main gila? Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara "ngungg..." yang panjang dan dari dalam tabung menyelinap seekor kumbang bersayap biru. Tentu saja Pek Hong yang masih memegang tabung itu terkejut sekali.

"Aihh...!" gadis ini berteriak tertahan dan tabung yang ada di tangannya itu seketika dilempar jauh.

"Prang! "tabung pecah dan sekonyong konyong kembali dari dalam benda itu terdengar suara "ngungg" seperti yang pertama, dan tiba-tiba kembali seekor kumbang terbang keluar. Pucat muka Pek Hong menyaksikan ini semua. Tadi dia mengira bahwa tabung itu sudah habis, tidak ada isinya. Siapa sangka, tahu-tahu di dalamnya masih tersisa dua ekor kumbang beracun!

"Kau…" baru saja ia berteriak hendak memaki Si Dewa Monyet, tiba-tiba Si Dewa Monyet sendiri tampak terkejut dan berseru,

"Hee, kenapa tabung itu dibuang? Wah celaka, mereka keluar semua. Hujin, tolong gantikan aku mengaduk obat ini, biar aku menangkap kembali binatang-binatang itu. Cepat, sebelum mereka merat keluar!"

Sikap yang gugup dan wajah yang berobah dari kakek ini membuat Pek Hong menghilangkan curiganya. Dan sini tahulah dia bahwa rupanya kakek itu tidak sedang bermain gila akan tetapi sungguh-sungguh tidak sengaja. "Kenapa kau tidak memberi tahu bahwa di dalam tabung masih ada isinya?" gadis ini melotot marah.

"Aihh, salah ku.... salahku semua, tadi lohu lupa memberi tahu bahwa begitu tiga ekor binatang pertama keluar, hujin seharusnya menekan samping tabung sebelah kiri sehingga lubang yang tadi terbuka untuk lolos itu tertutup kembali. Siapa kira, karena lohu lupa memberi tahu hujin maka sekarang dua ekor kumbangku lari. Hujin, cepat ke sini, aduk obat ini dengan gencar. Biar lohu yang menangkap mereka sebelum kabur!"

Dengan muka bersungut Pek Hong cepat menghampiri kakek itu dan menerima adukan obat, sedangkan Dewa Monyet sendiri sudah cepat meloncat dan duduk di atas tanah. Gadis ini melihat betapa kakek itu mengeluarkan madu dari dalam botol kecil, lalu mengoleskannya di atas telapak tangan, kemudian bersiul tinggi rendah secara berirama.

Aneh. Dua ekor kumbang beracun yang tadi terbang berputaran di atas kamar, mendadak mendengung keras dan tiba-tiba dua ekor binatang ini membalik, menubruk ke arah si kakek monyet. Rupanya pangg ilan serta madu di telapak tangan kakek itulah yang memanggil pulang dua ekor kumbang ini dan begitu mereka melekat di atas madu, Si Dewa Monyet menangkapnya dengan cepat dan berturut-turut dia menggulung dua ekor binatang itu di dalam lengan bajunya.

Akan tetapi baru saja kakek ini menangkap binatang peliharaannya, tiba-tiba Pek Hong menjerit kaget. Si Dewa Monyet terkejut dan menoleh, dan tampaklah apa gerangan yang membuat gadis itu berteriak. Kiranya karena tadi melihat kakek itu beraksi menangkap sepasang kumbang, gadis ini berhenti mengaduk satu putaran. Kejadian ini hanya sedetik saja, akan tetapi toh cukup membawa perobahan. Tiga macam binatang yang digodok bersama di dalam air mendidih itu sebenarnya belum mati, mereka masih berkelojotan dan meloncat-loncat lemah. Terutama si tokek. Binatang ini yang paling besar dan paling kuat.

Maka begitu adukan berhenti satu putaran, tiba-tiba binatang ini menjerit keras dan sekuat tenaga dia meloncat. Karena tidak ada penghalang, tokek ini dapat melompat melewati bibir kuali dan langsung jatuh di atas kaki Pek Hong! Tentu saja gadis itu kaget bukan main. Seketika ia merasa jantungnya berhenti berdenyut dan mukanya sepucat mayat. Dia menjerit dan pada saat itulah si kakek monyet menoleh. Tokek besar ini sedang kesakitan, tubuhnya melepuh karena digodok air mendidih, maka tentu saja begitu jatuh di lantai segera dia menggigit dengan buas.

"Kauw-sian, tolong...!" Pek Hong menjerit ngeri dan ia mengipatkan kaki sekuat tenaga. Akan tetapi sungguh celaka. Tokek yang sudah marah ini ternyata tidak dapat dilemparkan. Sekali dia menggigit maka dia tidak mau sudah kalau belum mencium darah. Dan karena gadis itu mengenakan sepatu kulit, tokek ini menggigit sekerasnya dan tubuhnya melekat di situ seperti lintah.

Konon menurut kabar, jika ada geledek menggelegar sajalah maka binatang ini mau melepaskan gigitannya terhadap korban. Untunglah pada saat yang berbahaya ini tiba-tiba si Dewa Monyet mencelat dari tempatnya dan mulutnya mengeluarkan bentakan menggeledek. Si tokek terkejut, mengira bahwa ada halilintar berbunyi, maka sedetik dia melepaskan gigitannya dan pada waktu yang tepat inilah kakek monyet itu menangkap lehernya.

"Hayo kembali, anak manis, jangan bikin kaget hujin!" Dewa Monyet berseru perlahan dan cepat sekali tangannya bergerak melemparkan tokek ini ke dalam kuali.

"Plungg..." binatang ini menjerit parau di dalam air mendidih, meloncat-loncat dengan keras namun si kakek monyet telah mengaduk air itu dengan gencar. Dengan cara adukan seperti ini, tentu saja tokek itu ikut terputar dan tidak ada kesempatan baginya untuk meloloskan diri. Itulah sebabnya mengapa tadi kakek ini menyuruh agar adukan diputar gencar. Maksudnya adalah agar binatang-binatang itu tidak mampu keluar karena hanyut dalam putaran kuat.

Sementara itu Pek Hong terengah-engah, mukanya pucat dan gadis ini memandang ke arah kuali obat dengan mata terbelalak. Betapa berbahayanya kejadian tadi, sedikit terlambat tentu ia akan tergigit binatang mengerikan itu.

"Kauw-sian, terima..... terima kasih atas pertolonganmu..." gadis ini berkata setelah dia menelan ludahnya satu kali, dan suaranya terdengar agak gemetar. Memang gadis itu merasa ngeri sekali. Bayangkan saja, seekor tokek berkulit biru dan amat beracun telah menggigit sepatunya. Coba kakinya telanjang, bukankah tokek itu akan menggigit kakinya? Dan membayangkan betapa binatang itu melekat kuat di atas kakinya benar-benar membuat murid Ta Bhok Hwesio yang biasanya tabah ini menjadi bergidik seram.

Akan tetapi si kakek monyet hanya terkekeh saja. "Hujin kenapa sungkan?" katanya perlahan. “Biar tidak hujin minta sekalipun lohu tidak berani membiarkan hujin celaka, apalagi celaka di tangan teman-temanku yang nakal ini. Memangnya thai-siang suka memberi ampun kepada lohu kalau hal itu terjadi?"

Pek Hong terdiam, teringat akan cincin di jari kanannya, hal ini membuat perasaannya tenang kembali dan dia tidak mau banyak bicara lagi, khawatir diketawai kakek itu kalau suaranya masih menggigil.

Demikianlah, setelah Si Dewa Monyet meng aduk kuali obat yang airnya me ndidih itu dengan putaran gencar, tiga ekor binat ang beracun yang tadi meloncat-loncat itu tidak dapat berkutik lagi. Si kadal mengeluarkan suara mencicit seperti anak tikus terjepit, lalu akhirnya diam mengambang tergulung buih air di dalam kuali. Begitu pula halnya dengan si kelabang dan tokek tadi, dua ekor binatang inipun berkelojotan lemah dan akhirnya terdiam tenang, tanda mereka telah mati tergodok air panas itu.

"Hujin, tolong ambilkan piring kembang, cepat, sebelum daging tiga ekor binatang ini hancur," si kakek monyet tiba-tiba berseru dan Pek Hong yang sejak tadi menyaksikan orang punya kerja, tersentak dan cepat menghampiri rak piring di sudut dalam, mengambil piring kembang seperti yang diminta kakek itu.

"Dan sekarang harap hujin jaga daging ajaib ini, lohu hendak melihat keadaan suamimu, " kakek itu meniup padam api tungku dan bangkit berdiri.

"Enh, bagaimana dengan air obat ini, Kauw-sian?"

"Biarkan saja, hujin, tunggu sampai dingin. Yang penting kau keluarkan dulu tiga ekor binatang itu dan letakkan dipiring kembang. Awas, hati hati, racun di tubuhnya masih ganas. Lebih baik pakai sumpit lohu yang tadi kupergunakan untuk mengaduk mereka."

"Baik," gadis itu menjawab namun sikapnya agak jerih. Dengan hati-hati ia menyumpit keluar tiga ekor kadal, tokek dan kelabang itu, menaruhnya di atas piring kembang. Aneh, begitu menyentuh dasar piring, tiba-tiba terdengar suara "cess " dan asap biru menguap keluar.

Tentu saja Pek Hong terkejut dari hidungnya mencium bau amis yang keras memuakkan. Cepat gadis ini menjauhkan mukanya dan dengan hati-hati dia meletakkan piring yang berisi tiga macam binatang itu dengan perut mual. Hendak diapakan daging binatang-binatang ini? Dan tadi kakek itu mengatakannya sebagai "daging ajaib".

Sama sekali Pek Hong tidak mengira bahwa ucapan yang dikeluarkan oleh Si Dewa Monyet ini sesungguhnya memang benar begitu. Gadis ini tidak tahu betapa kadal biru itu adalah sejenis binatang yang amat langka didapat. Umurnya sudah seratus tahun dan kulitnya yang kebiruan itu menandakan usia binatang tersebut.

Konon menurut cerita orang kang-ouw, kadal macam begini hanya bisa didapat di daerah dingin, terutama di liang tikus di Pegunungan Himalaya. Itupun tidak mudah dan amat berbahaya. Binatang ini dapat menyembur, dan uap semburannya itulah yang sanggup membunuh setiap manusia tidak lebih dalam jangka waktu lima menit!

Itulah sebabnya tidak sembarang orang dapat menangkap kadal yang amat ganas ini. Namun, di samping beracun dan amat berbahaya, konon binatang itu dapat dijadikan ramuan obat penawar segala bisa, kecuali racun dari tujuh ular kembang yang oleh orang kang-ouw disebut Jit-coa-tok.

Entah darimana kakek sinting itu memperolehnya, sukar untuk di ketahui. Yang jelas, karena jerih melihat cincin tanda kuasa dari Mo-i Thai-houw yang ditakutinya itu, kakek ini sekarang telah mengorbankan kadal beracunnya, bahkan masih dit ambah dengan seekor kelabang dan seekor tokek.

Memang tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa sebenarnya kakek yang tidak waras otaknya ini adalah seorang ahli racun yang amat lihai. Hanya segelintir saja orang kang-ouw yang mengetahuinya dan itupun jarang yang datang ke Ang bhok-san. Dan sekali pandang dalam pertemuannya dengan dua orang itu kakek ini tahu bahwa Bu Kong diserang racun Jit-coa-tok. Sungguh matanya yang awas itu patut dipuji. Dan karena Dewa Monyet ini maklum bahwa dengan seekor kadal saja kurang meyakinkan, maka sekarang kakek itu menambah ramuan obatnya dengan seekor kelabang dan seekor tokek. Semua binatang ini diperolehnya dari Pegunungan Himalaya dan sudah lama menjadi sahabatnya.

Maka tidaklah heran kalau diam-diam dia meringis melihat betapa barang yang dimilikinya selama bertahun-tahun itu harus diberikan kepada orang lain secara percuma. Kalau saja dia tidak melihat cincin tanda kuasa itu, tentu dia tidak akan sudi membantu dua orang ini, apa lagi murid Mo-i Thai-houw sendiri telah meninggalkan tempat itu.

Apa yang ditakutinya? Tapi, kakek ini tidak berani main gila. Mo-i Thai-houw benar-benar siluman betina. Wanita iblis itu dapat muncul sewaktu-waktu, maka inilah yang membuat Dewa Monyet berhati-hati. Kalau saja kakek itu tahu bahwa orang yang ditakutinya ini sudah lama meninggal, tentu keadaan dua orang itu akan terbalik seratus delapanpuluh derajat.

Demikianlah, setelah menggodok daun dan akar-akaran yang masih dicampur dengan sarinya tiga ekor binatang beracun, obat yang dibuat kakek itupun selesai. Api tungku sudah dipadamkan, maka selang beberapa menit kemudian obat itu dapat diminumkan. Sekarang setelah dia menyerahkan "daging ajaib" kepada sang "hujin", kakek ini menghampiri Bu Kong yang menggeletak di atas dipan. Jari tangannya yang panjang dan kurus itu meraba-raba dada, ketuk sana ketuk sini ditulang iga dan tiba-tiba kakek ini berteriak.

"Hee, pemuda ini sudah pernah ditotok orang! Hujin, siapakah yang melakukan pertolongan pertama bagi suamimu itu?"

Gadis itu menoleh dan sepasang matanya bersinar. Ia melihat wajah si Dewa Monyet penuh keheranan, diam-diam Pek Hong merasa kagum juga. Dengan tepat kakek itu mengetahui bahwa Yap goanswe pernah ditolong orang yaitu dengan cara totokan-totokan di depan tubuh, benar-benar kakek ini bukan orang sembarangan. Maka dengan suara perlahan dia menjawab. "Memang betul, dan yang menolong adalah gurunya sendiri..."

"Ah, hebat kalau begitu!" kakek ini berseru. "Kulihat totokan yang dilakukan mengandung tenaga Yang, sungguh tepat untuk pertolongan pertama bagi suamimu ini. Jika tidak tentu racun Jit-coa-tok sudah memasuki jantungnya dan biarpun ada dewa menolong juga tidak keburu lagi!"

Dewa Monyet tampak tercengang heran dan Pek Hong menanti pertanyaan orang. Dia menduga bahwa kakek itu tentu akan menanyakan siapa gerangan guru pemuda itu, namun ia kecelik. Ternyata kakek itu diam saja, sikapnya acuh tak acuh. Dia sedang memandang pasiennya dengan penuh perhatian lalu tiba-tiba membalikkan tubuh Bu Kong, ditelungkupkan di atas dipan. Pek Hong hampir saja mengeluarkan jerit tertahan ketika menyaksikan apa yang dilihatnya. Ternyata tidak seperti bagian depan tubuh yang putih bersih, adalah di belakang punggung ini tubuh pemuda itu gosong tujuh warna sehingga persis warna pelangi. Ada biru, merah, hijau, kuning dan sebagainya, semuanya tujuh warna!

"Aihh...!" Kauw-sian berseru heran. "Sungguh hebat pemuda ini, dia masih dapat bertahan dan semua racun berkumpul di belakang punggungnya. Nyata tenaga dalamnya benar-benar luar biasa sekali! Hujin..." kakek itu menoleh ke arah Pek Hong, "coba segera cari tali yang kuat, lohu memerlukannya..."

Gadis itu mengangguk dan cepat mencari tali yang dimaksud. Kebetulan di belakang kamar terdapat segulung tali sebesar ibu jari, maka diambilnya tali ini dan diberikannya kepada kakek itu.

"Wah, suamimu ini benar-benar hebat sekali, hujin, sungguh beruntung kau menjadi isterinya!" kakek itu berkata lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh kekaguman. "Selain kena racun Jit-coa tok, juga agaknya sebelum ini dia minum obat perangsang. Aneh, sudah punya isteri begini mengapa suamimu itu minum obat perangsang segala?"

Pek Hong terkejut . "Apa? Obat perangsang?” gadis ini terbelalak.

"Ya," kakek itu mengangguk, "Suamimu ini pernah minum obat perangsang. Lihat, bawah pusarnya ada bekas merah memanjang, rupanya sejenis arak obat yang amat hebat daya rangsangnya...." kakek ini lalu menyingkap sedikit pakaian pemuda itu ke bawah namun Pek Hong segera melengos. Pipinya menjadi merah bukan main dan perasaan jengah membuatnya kikuk.

"Ehh, kenapa memalingkan muka? Bukankah ini adalah suamimu sendiri?" Si Dewa Monyet menegur dan matanya memandang curiga.

Kembali gadis itu terkejut dan sejenak dia menjadi gugup. Tapi, sekali otaknya bekerja iapun sudah mendapatkan akal untuk menghilangkan kecurigaan kakek ini. "Kauw-sian, dia memang pernah dicekoki arak oleh seorang iblis betina dalam keadaan tak sadar. Itulah sebabnya maka dia... dia tiba-tiba bersikap kasar kepadaku. Teringat kejadian ini hatiku sakit sekali, maka aku segan memandang. Sama sekali aku tidak mengira bahwa arak yang diminumkannya itu adalah arak perangsang. Hemm, kalau tahu begini tentu aku akan mengadu jiwa dengan siluman betina itu!"

Kakek itu tidak memberi komentar dan kecurigaannya lenyap. Kalau benar begitu, tentu saja nyonya ini sakit hati diperlakukan kasar oleh suaminya. Dan dari jalur merah di bawah pusar itu kakek ini mendapatkan kenyataan bahwa arak perangsang yang diminum oleh pemuda itu benar-benar memiliki pengaruh memabokkan yang luar biasa. "Sungguh heran, siapa iblis betina yang kau maksudkan itu dan apakah suamimu ini diracun oleh wanita itu pula?"

"Benar, tapi yang memberikan racun tentu gurunya, bukan siluman betina itu," gadis ini menjawab dan sekarang tahulah dia apa sebabnya Bu Kong tidur sepembaringan dengan murid Cheng-gan Sian-jin dan terlihat oleh Malaikat Gurun Neraka. Pantas saja kalau begitu, dan dua orang musuh ini benar-benar jahat sekali, kejam dan tidak tahu malu, terutama Tok-sim Sian-li itu.

"Hemm..." Pek Hong mengepal tinjunya dan mukanya menjadi merah. Siapa tidak marah membayangkan murid perempuan Cheng-gan Sian-jin itu mempermainkan pemuda ini? Maka sambil mendesis gadis ini lalu berkata, "Tok-sim Sian-li, tunggulah kau. Suatu hari aku tentu akan mengorek jantungmu yang busuk itu!"

Dewa Monyet tadinya bersikap tidak perdulian, tetapi ketika mendengar nama Tok-sim Sian-li kakek itu tampaknya tertarik. "Tok-sim Sian-li?" katanya heran . "Siapakah wanita ini, hujin? Kenapa lohu belum pernah dengar julukannya? Agaknya tokoh itu seorang yang baru saja muncul di dunia kang-ouw?"

Pek Hong mengangguk. "Benar, dia memang baru muncul, akan tetapi gurunya bukan orang baru lagi bagi dunia kang-ouw karena dia adalah pentolan yang paling jahat di dunia ini!"

"Ehh, siapakah kalau begitu? Mungkin lohu kenal."

"Kau tentu mengenalnya, Kauw-sian, karena tigapuluh tahun yang lampau iblis ini telah membuat keonaran besar."

Kakek itu tampak tercengang dan tiba-tiba matanya bersinar aneh . "Tigapuluh tahun yang lalu? Apakah dia adalah..."

"Betul," Pek Hong memotong. "Dia bukan lain adalah Cheng-gan Sian-jin!"

"Aahh...!" kakek itu berseru tertahan dan tampak terkejut. "Cheng-gan Sian-jin? Jadi tua bangka jahanam itu yang membikin susah suamimu ini, hujin? Bagaimana mungkin? Bukankah iblis itu sudah lama tidak menampakkan diri setelah keka lahannya di tangan manusia berkedok misterius?"

"Itulah dugaan yang keliru. Siluman tua itu tidak mampus, hanya bersembunyi di suatu tempat. Setelah sekarang merasa aman karena musuhnya juga tidak terdengar lagi namanya di dunia kang-ouw, maka dia muncul lagi dan kembali melakukan kejahatan-kejahatan terkutuk."

"Ahh..... hmm... begitukah?" kakek ini termenung dan tiba-tiba mukanya menjadi beringas, matanya melotot dan mendada k kakek ini memekik, “Cheng-gan Sian-jin bangsat tua, awas kau, lohu hendak mencarimu untuk menuntut balas! Perhitungan lama harus dilunaskan dan sebelum melihat kau terbujur menjadi mayat, mana aku mau mampus terlebih dahulu?"

Pek Hong tidak terkejut mendengar kata-kata ini karena sebagai datuk sesat, tentu saja Cheng-gan Sian-jin memiliki banyak musuh. Hanya yang dia tidak mengerti adalah permusuhan apakah yang terdapat diantara dua orang ini? "Kauw-sian, kaupun kiranya juga memusuhi iblis itu? Ah, sungguh kebetulan sekali. Kita berdiri di satu pihak dan agaknya kita dapat saling membantu..."

"Tidak, hujin, ini urusan pribadi lohu. Sakit hati ini hendak lohu balaskan seorang diri dan apapun yang terjadi, asal lohu sudah menuntut balas maka akan legalah perasaanku."

"Hemm, jangan kau sombong. Seorang diri mana kau mampu?"

"Memang lohu tidak mampu, akan tetapi dibantu dengan anak buahku pasukan monyet ini masa tidak akan berhasil?"

Pek Hong terkejut dan segera dia sadar. Tiba-tiba terlintas suatu pikiran baik di otaknya. Benar, dengan pasukan monyet yang banyak jumlahnya itu mustahil Cheng-gan Sian-jin tidak dapat dibuat kewalahan? Dan, kalau kelak Yap-goanswe dibantu oleh kakek ini membuat kegaduhan di pihak musuh, bukankah Wu-sam-tai-ciangkun akan kelabakan?

Pikiran ini membuat hatinya girang dan senyum manis tersembul di mulutnya. "Benar juga, kenapa aku melupakan pasukanmu itu?" Pek Hong berkata dengan mata bersinar-sinar. "Dengan begini, rupanya iblis itu mau ngacir juga tidak gampang. Baiklah, walaupun kita sebenarnya satu golongan, akan tetapi biarlah kita bergerak sendiri-sendiri. Sekarang yang penting adalah pengobatan... suamiku ini, Kauw-sian."

Kakek itu mengangguk dan tanpa banyak bicara dia lalu menghampiri pembaringan. Segera dia bekerja cepat, setelah meraba tubuh di sana-sini, lalu kakek ini melompat ke atas sebuah belandar rumah. Tali yang dipegangnya diikatkan disini, kemudian sambil membawa ujung satunya, Dewa Monyet ini meloncat turun.

Pek Hong melihat semua pekerjaan orang dan dengan heran dia melihat betapa kakek itu lalu mengikat kedua kaki Yap goanswe, menyeretnya sampai di bawah belandar tadi lalu menarik ujung tali perlahan-lahan sehingga tubuh pemuda ini tergantung di udara!

"Hee kenapa orang sakit malah digantung? Apa-apaan ini?" gadis itu tak tahan dan berseru dengan mata terbelalak.

Namun Dewa Monyet tidak perduli. "Hujin, harap jangan banyak bertanya. Karena kulihat totokan di depan tubuh sudah dilakukan orang lain, maka lohu hendak melanjutkan totokan di bagian belakang. Racun tertahan di punggungnya, dan ini hendak lohu buyarkan dulu. Baru setelah itu dia kita minumi obat penawar bisa. Cara yang hendak lohu pergunakan ini mempersingkat waktu dan begitu selesai, segera dia akan muntahkan semua isi perutnya yang kotor. Oleh sebab itu harap hujin singkirkan jauh-jauh mangkok obat itu dari sini."

Mendengar keterangan ini gadis itu lalu tidak banyak bertanya lagi dan segera ia menyingkirkan mangkok obat dan benda-benda lain yang agak berdekatan dengan tubuh kakek itu.

Lalu Si Dewa Monyet kembali berkata, "Dan kalau lohu memerlukan sesuatu harap hujin tolong kerjakan."

"Baik, aku siap membantumu," Pek Hong mengangguk dan gadis ini memandang semua tindak-tanduk kakek itu dengan penuh perhatian.

Mulailah sekarang Dewa Monyet bekerja. Setelah tubuh pasiennya digantung terbalik dengan kaki di atas kepala di bawah begini, kakek itu lalu duduk bersila di belakang si sakit. Kedua matanya dipejamkan dan kakek ini lalu mencurahkan segenap perhatiannya kepada titik manunggal. Itulah titik pusat di mana seseorang sedang mencoba untuk membangkitkan hawa lweekang.

Semua orang persilatan mengerti tentang hal ini, maka Pek Hong juga t idak mengganggu. Perlahan-lahan muka kakek itu mulai berobah, warna merah menjalari seluruh mukanya, lengannya, tubuhnya dan sekujur badan. Inilah tanda dari bangkitnya hawa lweekang yang terkontrol dan tampaklah tubuh Dewa Monyet mulai menggigil seperti orang kedinginan. Semakin lama tubuh kakek itu semakin gemetar keras dan setelah kead aan macam ini berjalan kurang lebih lima menit lamanya, tiba-tiba kakek itu membuka matanya dan mengeluarkan bentakan nyaring.

"Haiittt...!" mulut menggerung tubuh meloncat, dan jari tanganpun tidak tinggal diam. Begitu membentak kakek ini sudah menggerakkan dua jari telunjuk dan jari tengah melakukan totokan di jalan darah Thai yang-hiat. Jalan darah ini mempunyai tiga cabang urat halus, maka begitu menyentuh jalan darah Thai-yang-hiat ini, kakek itupun langsung menotok tiga cabang jalan darah ini.

"Tuk-tuk-tuk-tukk!"

Empat kali berturut-turut kakek ini menotok dengan gerakan secepat kilat, lalu ketika tubuhnya meluncur turun, totokan pertama di bagian inipun rampung. Namun, baru saja pantatnya menyentuh lantai, tiba-tiba kembali Dewa Monyet membentak nyaring d an tubuhnya mencelat ke atas, kali ini menotok jalan darah Yong-gi-hiat yang mempunyai enam cabang jalan darah kecil di sisi kiri dan kanan.

Dan begitu totokan di jalan darah Yong-gi-hiat ini selesai, kembali kakek itu menggerung dan menotok jalan darah lain. Berturut-turut dia melancarkan totokan di sembilan belas jalan darah pusat yang masih ditambah dengan totokan di delapan puluh sembilan jalan darah halus. Total jenderal pekerjaan yang dilakukan oleh kakek ini berjumlah seratus delapan buah jalan darah!

Tentu saja memakan tenaga yang tidak sedikit. Sebentar saja muka yang merah itu semakin merah dan keringat membasahi tubuh kakek ini. Akan tetapi Dewa Monyet agaknya tidak mengenal lelah. Sebelum pekerjaannya selesai, dia sama sekali tidak mau berhenti dan setelah totokan di seratus delapan buah jalan darah itu rampung, tubuhnya nglimpruk di atas lantai dengan napas ngos-ngosan!

"Hujin, tolong ambilkan tabung merah di kamar obatku. Cepat, lohu payah sekali," kakek itu berkata dengan terengah-engah.

Pek Hong mengiakan dan dengan cepat memasuki kamar obat . Setelah mencari-cari sejenak, akhirnya dia melihat tabung merah yang dimaksud. Karena tadi sudah ada "pengalaman" tentang isi dari tabung biru, maka dengan tangan agak menggigil gadis ini menduga-duga apa pula gerangan isi daripada tabung merah ini.

Dan Pek Hong semakin mengkirik ketika tiba-tiba tabung yang dipegangnya itu bergerak-gerak dan terdengar suara mencicit lemah di dalam benda ini! Sungguh kalau bisa ia ingin melepaskan tabung itu saking gelinya. Namun karena dia harus menolong kakek itu, maka dengan menahan rasa seram dia cepat berlari keluar dan menyerahkan tabung ini. Lebih cepat berada di tangan kakek itu baginya sungguh jauh lebih baik.

Si kakek monyet membuka matanya yang kuyu dan begitu menerima tabung ini, serentak matanya yang tadi redup seperti orang hendak tidur saking lelahnya itu tiba-tiba bersinar gembira. "Terima kasih, hujin. Inilah obatku yang paling mujarab. Setiap kali lohu merasa kecapaian, maka isi dari tabung inilah yang dapat mengembalikan tenaga lohu, heh-heh-heh," kakek itu tertawa dan "cret" dia membuka tutup tabung.

Apa yang keluar? Tidak ada, Akan tetapi meskipun tidak ada yang meloncat seperti tokek dan lain-lainnya tadi, tetap s aja Pek Hong berteriak tertahan dan seketika gadis ini hendak muntah-muntah saking jijiknya. Ternyata di dalam tabung merah ini penuh dengan cindil (anak tikus yang baru berumur beberapa hari dan masih merah)! Keruan gadis itu terbelalak dan "huaakk", tanpa dapat dicegah lagi mulutnya tumpah-tumpah ketika dia melihat betapa sambil terkekeh-kekeh kakek itu mengambil seekor cindil ini dan menelannya begitu saja seperti orang makan kue biskuit!

"Ha-ha-ha, hujin jangan memandang lohu!" Dewa Monyet tertawa geli. "Kalau hujin memandang, tentu saja tidak tahan. Hemm, kaum wanita sebenarnya kurang dapat menghargai daging begini. Tahukah hujin bahwa makanan hidup ini dapat membuat orang umur panjang? Heh-heh-heh..."

Kakek itu terkekeh-kekeh namun Pek Hong sudah cepat menjauhi kakek ini dengan hati mendongkol bukan main. Kalau saja kakek itu bukan merupakan bintang penolong Bu Kong, tentu setidak-tidaknya ia akan menghajar orang yang telah membuat dia tumpah-tumpah seperti itu. Akan tetapi syukurlah, setelah menelan lima ekor anak tikus yang masih bayi ini, kakek itu sudah menutup tabung dan menyimpannya di balik bajunya yang longgar. Agaknya ucapannya tadi memang betul, karena begitu selesai menyantap makanan nikmat tadi, ka kek ini sudah berdiri dengan tubuh segar. Dia mengusap ujung bibirnya yang sedikit ternoda darah, tertawa-tawa kecil dan tampak puas sekali.

Sementara itu, Yap-goanswe yang telah ditotok sebanyak seratus delapan buah jalan darah ini ternyata mengalami perobahan. Muka yang tadi pucat kehijauan serta bercampur warna jingga itu sekarang perlahan-lahan bersemu merah dan tubuhnyapun mulai bergerak-gerak di tiang gantungan itu. Keadaannya ini sungguh mirip seekor jengkerik yang sedang dijantur oleh tuannya, menggelikan namun juga menyedihkan. Akan tetapi, demi selamatnya jiwa orang yang dicinta tentu saja Pek Hong tidak banyak pusing. Perobahan yang terjadi ini sudah dilihatnya dan diam-diam ia merasa girang bukan main.

"Kauw-sian, dia... dia mulai bergerak sadar," gadis itu berbisik dan mukanya menjadi tegang.

Dewa Monyet yang juga sudah melihat perubahan ini mengangguk. "Harap hujin tenang-tenang saja. Totokan lohu agaknya telah membuyarkan kumpulan racun yang mengeram di punggung dan sekarang racun-racun yang amat berbahaya itu mengalir di perutnya. Sebentar lagi dia akan muntah-muntah dan sekarang jalan paling baik bagi hujin adalah memasak ang-sio-bak (daging dimasak angsio atau digoreng dengan diberi saus) untuk suamimu itu."

"Apa?" Pek Hong terkejut. "Masak ang-sio-bak? Memangnya di tempatmu ini ada persediaan daging, Kauw-sian?"

Kakek itu tertawa, "Kenapa tidak? Bukankah tiga ekor binatang di atas piring kembang itu lebih dari cukup untuk membuat ang-sio-bak? Hujin harus membuang segala rasa jijik kalau ingin melihat suami sendiri selamat. Nah, terserah apakah hujin mau memasaknya ataukah tidak lohu tidak ambil pusing." permintaan kakek itu.

Teringat betapa tiga Mata yang indah itu terbelalak memandang Si Dewa Monyet, lalu melirik ke arah piring kembang. Sejenak gadis ini tertegun, sama sekali tidak mengira bahwa tiga ekor kadal, kelabang dan tokek itu hendak dijadikan masakan ang-sio-bak. Baru melihat binatang-binatang ini saja dia sudah geli dan jijik, belum lagi menyentuhnya!

Dan sekarang perintah kakek itu agaknya tidak dapat dibantah lagi. Pek Hong mengeraskan hati dan tanpa banyak cakap lagi diapun lalu menghampiri piring kembang dan mengerjakan ekor binatang ini adalah mahluk-mahluk berbisa, diam-diam hatinya kebat-kebit tidak karuan. Namun terdengar kakek itu berkata, "Hujin tidak usah khawatir. Piring kembang itu telah menolak semua racun yang ada di tubuh mereka, jadi dipegang dengan tanganpun juga tidak apa."

"O, begitu? Baiklah," hanya ini saja yang keluar dari mulut si nona dan iapun sudah mengambil seekor demi seekor tiga mahluk menjijikkan itu dengan cepat. Pantas saja ketika tadi diletakkan di atas piring segera terdengar suara "cess", kiranya piring inipun bukan piring sembarangan. Agaknya piring anti bisa yang dapat menawarkan semua jenis racun. Membayangkan bahwa kakek itu dapat memiliki bermacam-macam barang begini sungguh membuat orang heran bukan main. Dari mana sajakah Si Dewa Monyet memperoleh benda-benda itu?

Akan tetapi Pek Hong tidak mau merenungkan pertanyaan ini lebih jauh. Yang penting sekarang adalah menjalankan pekerjaan ini, membuat ang-sio-bak dari daging kadal, kelabang dan tokek! Sungguh ini merupakan peristiwa langka, karena mana di dunia ini terdapat masakan ang-sio-bak dengan daging tiga ekor binatang begituan...?