PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 11
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
BU KONG terhenyak, semua pertanyaannya tadi sama sekali tidak digubris. Bermacam perasaan mengaduk hatinya dan melihat betapa gadis itu menangis sedemikian sedihnya digoda kakek bermuka monyet, dia merasa kasihan dan terharu terhadap murid Ta Bhok Hwesio ini, sebaliknya merasa marah kepada si kakek sinting yang masih menari-nari sambil terkekeh gembira itu.

Dengan mengeraskan hatinya pemuda ini lalu bangkit duduk, memandang Si Dewa Mo nyet untuk mengingat-ingat siap akah gerangan kakek yang belum dikenalnya itu. Meskipun denyut di kepalanya semakin menghebat, akan tetapi dengan kemauannya yang kuat serta kekerasan hatinya yang luar biasa, Bu Kong berhasil menahan segala derita ini.

Mula-mula ketika matanya menyapu sekeliling, murid Malaikat Gurun Neraka ini terkejut menyaksikan ratusan ekor monyet yang malang-melintang di sekitarnya. Jelas binatang-binatang itu terbius dan kini ngorok dengan berbagai sikap. Ada yang tangannya sedang menjambak rambut kepala temannya, lalu ada pula yang kakinya menumpang diatas mulut seekor monyet lain dengan sikap seenaknya. Semuanya pulas dengan cara yang tidak wajar dan rata-rata menggelikan hati siapapun juga yang memandang kejadian yang amat ganjil ini.

Lalu ketika sepasang matanya mendongak ke bukit terjal berdinding curam itu, tampaklah olehnya pohon-pohon gundul berkulit merah yang berdiri tegak di atas sana. Melihat dua kenyataan ini, seketika Bu Kong tersentak hatinya. Ang-bhok-san (Bukit Kayu Merah)! Demikian desisnya di dalam hati. Karena sekarang sudah dapat menduga dimana dia berada, maklumlah pemuda ini bahwa kakek gila yang menari-nari bersama seekor monyet besar berbulu coklat muda itu tentulah Kauw sian atau Si Dewa Monyet yang pernah didengar namanya beberapa tahun yang lalu itu.

Hanya karena kakek aneh ini telah lama tidak turun ke dunia ramai maka namanyapun sekarang jarang-jarang disebut orang. Sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa pada hari ini murid Ta Bhok Hwesio itu membawanya menemui Si Dewa Monyet yang tidak waras otaknya. Dan lebih celaka lagi, menurut pendengarannya tadi, Pek Hong hendak mintakan obat untuknya kepada kakek ini!

Tentu saja kenyataan ini membuat Bu Kong terkejut. Walaupun dia telah mendengar nama Si Dewa Monyet yang dikabarkan orang tinggal di Ang-bhok-san, akan tetapi sama sekali dia tidak mendengar orang menyebut-nyebut kakek itu sebagai ahli obat. Apakah gadis ini tidak keliru mencari orang? Apakah Pek Hong tidak salah dengar?

Saking kaget dan herannya, sejenak pemuda ini tertegun. Sedianya dia hendak memaki kakek gila itu untuk menghibur Pek Hong dan mengajak gadis itu pergi dari tempat ini. Akan tetapi setelah dia tahu tentang hal ini, Bu Kong menjadi bingung.

Jelas gadis itu berusaha menolongnya mati-matian. Dia tidak mengerti bagaimanakah dara ini mampu membawanya dari gedung Cheng-gan Sian-jin. Sekilas dia teringat kepada suhunya yang muncul secara tiba-tiba di dalam kamar besar itu, dan ingatan ini membuat muka Bu Kong berobah. Tatapan mata suhunya yang dingin menusuk serta wajah yang membesi dari orang tua itu membuat jantung pemuda ini terasa keder dan gelisah.

Bagaimana dia berhasil lolos dari tawanan musuh? Ditolong suhunya? Mungkin begitulah. Akan tetapi bagaimana gadis ini tahu-tahu telah membawanya kemari? Dimanakah gurunya sekarang? Apakah gurunya yang menyuruh Pek Hong ke tempat ini?

Merasakan pandangan suhunya di kamar besar yang penuh ancaman itu membuat pemuda ini merasa sangsi. Sikap dan watak gurunya dia telah kenal dengan baik. Maka tatapan mata yang amat dingin serta wajah yang membesi dari gurunya itu cukup mengisyaratkan suatu bahaya bagi dirinya. Kalau suhunya menolongnya terlepas dari tangan musuh, mustahil gurunya itu mau melepaskan dia dari hukuman.

Sikap dari orang tua itu telah membuat pemuda ini maklum bahwa gurunya tentu telah mengetahui dan mendengar semua peristiwa-peristiwa jahanam yang dilontarkan orang kepadanya. Dan sekali orang tua itu telah mencarinya, tidak mungkin dia akan berhasil lolos dan kejaran suhunya yang amat sakti itu.

Tergetar hati Bu Kong membayangkan ancaman ini, dan kemarahannya kepada biang keladi si pembuat gara-gara merasuk ke tulang sumsum. Kalau suhunya sudah marah seperti itu, dia tidak berani membayangkan apa kiranya yang akan dilakukan orang tua yang keras hati itu kepadanya.

Maka adalah suatu keanehan luar biasa kalau tahu-tahu murid Ta Bhok Hwesio ini dapat meloloskan dirinya dari tangan Malaikat Gurun Neraka. Apakah yang sesungguhnya terjadi? Segera Bu Kong memandang gadis cantik ini yang mengguguk di depannya sambil menutupi mukanya. Betapa memilukan dan mengharukan tangis itu. Kedua pundaknya berguncang-guncang, air mata meleleh di sela-sela jarinya yang halus runcing.

Sejenak pemuda yang gagah perkasa ini mendelong. Ingatannya meluncur sepesat panah mengenangkan semua pertemuan pertama mereka dulu. Betapa gadis ini datang bersama suhunya yang pendek berkepala gundul itu ke kemahnya. Betapa Ta Bhok Hwesio datang menemuinya untuk memberikan bantuannya kepada pasukan Yueh yang dipimpinnya.

Berkat adanya dua orang guru dan murid inilah maka kemenangan-kemenangan yang dicapainya lebih mudah diraih. Satu-persatu pasukan musuh digempur mundur sampai akhirnya pertempuran puncak terjadi diantara mereka ketika pasukan Yueh telah berhadapan langsung dengan pasukan induk dari Kerajaan Wu yang dipimpin oleh Wu-sam-tai-ciangkun yang dibantu banyak orang-orang pandai itu.

Dan di dalam hubungan sehari-hari dengan gadis inilah terjalin keakraban di kedua belah pihak. Pek Hong memang gadis cantik yang lincah jenaka. Dalam beberapa jam saja semenjak pertemuan pertama mereka, gadis itu sudah tidak malu-malu lagi dan bergaul dengan sikap terbuka, bebas dan gembira.

Bu Kong adalah seorang pemuda yang jarang sekali bergaul dengan dara-dara cantik. Maka tidaklah mengherankan jika perkenalan dengan gadis lincah dan lihai murid Ta Bhok Hwesio ini benar-benar membuat dia merasa gembira sekali. Watak yang polos dan jujur dari dara ini membuat dia terpikat, dan seandainya saja dia belum bertemu dengan Siu Li, agaknya tidak mustahil kalau dia jatuh cinta kepada gad is ini.

Sayang, hatinya telah terisi oleh wajah jelita gadis pujaannya. Mana dia dapat membuka diri? Pada waktu itu pemuda ini masih belum mengetahui bahwa kekasihnya itu ternyata merupakan seorang pengkhianat, puteri musuh besar pasukan Yueh yang sengaja ditanam sebagai mata-mata oleh pihak lawan.

Semua peristiwa ini satu-persatu terbayang di kelopak matanya. Diapun bukanlah seorang yang buta perasaan, maka pemuda inipun tahu betapa murid Ta Bhok Hwesio yang telah banyak membantunya itu diam-diam jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi, karena pada waktu itu dia sendiri telah mempunyai calon sebagai teman hidup, bagaimana mungkin dia harus menerima uluran cinta kasih gadis ini?

Tak terasa dia merasa menyesal sekali. Budi gadis itu terhadap dirinya sudah cukup besar, berkali-kali telah menolongnya dari berbagai kesukaran. Namun apa yang dapat dia lakukan untuk membalas kebaikan orang? Dan sekarang untuk menolongnya dari racun yang mengeram di tubuhnya, lagi-lagi gadis itu telah berkorban tanpa menghiraukan diri sendiri.

Jerih payahnya tidak kecil, malah kalau dibandingkan dengan pertolongan-pertolongan yang lalu, agaknya pengorbanan kali ini tidak kalah besarnya. Mungkin bahkan lebih hebat lagi karena sekarang yang diancam adalah martabatnya sebagai gadis baik-baik. Teringat betapa untuk menolongnya dara itu telah mengakui diri sendiri sebagai isteri di depan Si Dewa Monyet yang berwatak konyol ini , jantung Bu Kong berdetak dan mukanya menjadi merah.

Pemuda ini maklum betapa dengan kata-kata itu gadis ini dapat terancam hinaan orang. Kalau kebetulan ada orang luar yang tahu bahwa apa yang dikata kannya tadi adalah suatu kebohongan besar, bukankah gadis itu akan direndahkan orang dan diejek sebagai gadis yang tidak tahu malu?

Ancaman ini tidak kalah besarnya dengan ancaman senjata pedang ataupun golok. Dan bekas jenderal muda yang telah berkali-kali menerima kebaikan gadis itu, mana bisa berdiam diri membiarkan hal ini terjadi? Dia harus memberi muka kepada dara itu, dan satu-satunya jalan yang dapat dia lakukan pada saat itu agaknya juga ikut-ikutan berbohong, membenarkan pengakuan Pek Hong bahwa gadis ini memang betul adalah isterinya dan dia adalah sang suami! Meskipun Bu Kong merasa berat dan tertekan perasaannya, akan tetapi demi menolong gadis itu keluar dari ancaman hinaan ini dia harus mampu menindas semua kecanggungannya.

Pada saat itu, Si Dewa Monyet yang menari-nari gembira bersama Siau- ji sedang berkata kepada monyetnya ini, "Ha-ha, Siau-jji, nasibmu sungguh mujur. Susah payah mencari isteri, tidak tahunya malah bakal isterimu itu sendiri yang datang kemari. Bukankah ini yang dinamakan peribahasa 'pucuk dicinta ulam tiba’? Ha-ha-heh-heh, malam ini juga kita harus rayakan pernikahanmu secara besar-besaran di atas bukit. Gadis cantik itu masih single, dan kaupun perjaka tulen, bukankah ini cocok sekali?"

Dengan sikap menggelikan kakek itu lalu memegang kedua tangan Siau-ji dan menari berputaran sambil terkekeh geli. Pek Hong tidak berani menjalankan perintahnya, dan hal itu hanya berarti bahwa apa yang telah dikatakannya tadi adalah bohong belaka. Maka sudah sepantasnya kalau gadis itu dihukum. Tentu saja hukumannya adalah dia yang memutuskan. Akan tetapi mengingat bahwa gadis itu gagu tidak dapat berbicara, dan hal ini mengingat dia kepada puterinya yang tewas di tangan penjahat, maka hukuman keji yang sedianya hendak dia berikan diganti "anugerah" istimewa, yakni mengawinkan nona itu dengan anak muridnya yang paling cakap ini.

Bukankah maksudnya ini bagus sekali? Apalagi kedua belah pihak agaknya sudah sama-sama setuju. Siau-ji bercecowetan riang sedangkan "calon isterinya" menangis di depan sana. Dan justeru inilah yang amat menggembirakan hati Si Dewa Monyet. Kalau dia melihat gadis itu tidak menangis, tentu dia akan turun tangan membunuhnya. Hanya gadis baik-baik sajalah yang harus mengeluarkan air mata kalau ditawari kawin karena air mata yang dikeluarkannya itu sebenarnya adalah air mata "kebahagiaan ".

Dasar manusia gila, maka jalan pikirannyapun juga tidak waras. Semenjak puterinya diculik dan dibunuh orang, kakek ini memang terganggu otaknya dan belasan tahun hidup dengan cara yang tidak normal. Sepak terjangnya memang tidak sehat, tampak gila-gilaan. Akan tetapi satu watak baik yang tidak lenyap di dalam dirinya, yakni tidak suka mengganggu orang lain. Hanya kalau orang lain datang mengganggunya sajalah maka kakek ini akan membalas. Juga terhadap kaum wanita, kakek ini tidak suka sewenang-wenang.

Pernah beberapa waktu yang la lu Dewa Monyet ini turun gunung, mendatangi sebuah dusun di kaki Pegunungan Ta pie-san. Maksudnya adalah untuk mencari anak-anak gadis yang belum bersuami untuk dijodohkan dengan beberapa orang anak muridnya yang disayang. Dia sudah bosan melihat betapa anak buahnya selalu melahirkan jenis monyet melulu. Kakek ini ingin sesuatu yang lain, yang aneh dan belum ada.

Dia berpikir bahwa apabila seorang anak buahnya kawin dengan seorang gadis, tentu anaknya akan istimewa bentuknya. Monyet bukan akan tetapi manusia penuh juga bukan. Dan mahluk aneh yang akan datang inilah yang kelak dapat diserahi untuk memimpin "rakyat "nya itu!

Akan tetapi, dasar manusia gila, mana ada gadis yang sudi dikawinkan dengan monyetnya? Dusun itu malah geger dan para penduduknya mengamuk, kakek ini dikeroyok dan dihujani senjata tajam. Si Dewa Monyet merasa marah dan mendongkol, lalu menghajar orang-orang itu. Karena marah maksud baiknya ditentang orang, kakek ini lalu merobohkan para penduduk dusun itu dan menculik lima dara-dara tanggung dibawa ke markasnya.

Lima orang gadis dusun itu menangis sepanjang jalan dan meronta-ronta, dan ketika mereka sampai di puncak Ang-bhok-san, gadis-gadis dusun ini malah roboh pingsan saking jijik dan ngerinya dirubung monyet-monyet besar kecil yang bercecowetan sambil mencolek sana-sini itu!

Namun kakek ini tidak putus asa. Setelah gadis-gadis itu sadar kembali, diapun lalu membujuk mereka. Dikatakannya bahwa apabila mereka mau, kelak mereka akan diangkat sebagai ibu suri dan putera mereka kelak dijadikan "putera mahkota"! Akan tetapi semua bujukan ini tidak mempan dan lima orang gadis itu menolak, bahkan ketika anak-anak buahnya dengan sikap tidak sabaran lalu melompat maju memeluk dara-dara itu, lima orang gadis inipun akhirnya jatuh pingsan lagi.

Hal ini terjadi berulang-ulang sehingga kakek itu menjadi gemas dan penasaran sekali. Karena gadis-gadis itu tidak mau menerima maksud baiknya, dengan mendongkol diapun lalu membawa lima orang gadis dusun ini turun gunung dan mengembalikan mereka ke rumah masing-masing.

"Kalian bangsa manusia memang sombong-sombong dan tidak tahu diri!" demikian omelnya dengan muka gelap. "Apakah kalian tidak ingat siapa nenek moyang kalian dahulu adalah monyet-monyet pula? Ciss, setelah menjadi sempurna lalu membelakangi leluhur dan merendahkan bangsa monyet. Manusia memang makhluk tidak kenal budi, semoga kalian dikutuk oleh Kauw-ce-thian (raja moayet dalam cerita Sun Go Kong) dunia akhirat!"

Demikianlah, dengan marah-marah kakek inipun lalu kembali ke Ang-bhok-san dengan muka uring-uringan. Sudah lama dia memendam hasrat ingin membopong cucu jenis “unggul". Dan satu-satunya jalan ialah mengawinkan salah satu anak buahnya dengan manusia. Hanya dari perkawinan inilah akan muncul jenis baru dan menurut kepercayaannya, si raja monyet Kauw-ce-thian pasti akan menjelma di dalam tubuh jabang bayi itu.

Tidak tahunya, sampai sekarangpun belum ada yang mau dikawinkan. Bangsa manusia ternyata bangsa yang betul-betul sombong, angkuh dan menganggap diri sendiri sebagai makhluk tertinggi di dunia. Tidak mau berdiri "sama tinggi" dengan bangsa lain, bahkan mereka itu sangat merendahkan mahluk-mahluk lain, tidak ingat betapa bangsa monyet adalah leluhur mereka!

Bukankah kalau dihitung-hitung monyet adalah nenek moyang manusia sekarang? Bagaimana manusia bisa melupakan dan menghina leluhurnya sendiri? Sungguh manusia mahluk menyebalkan! Demikian menurut pendapat kakek itu. Dia adalah pemuja Kauw-ce-thian, maka tidaklah mengherankan jikalau terhadap bangsa monyet kakek ini menghargai lebih dari sepantasnya. Bahkan menurut pikirannya, manusia lebih rendah satu tingkat dibandingkan bangsa monyet karena mahluk itulah yang mula-mula muncul di bumi sebelum manusia menjadi sempurna ujudnya!

Semua pikiran yang malang melintang tidak karuan inilah yang menyebabkan dia terasing dari pergaulan. Dan siapa sudi bersahabat dengan kakek gila semacam ini? Apalagi si Dewa Monyet sendiri lebih suka bergaul dengan monyet‐monyet itu yang dianggap jauh lebih menyenangkan daripada manusia yang penuh akal busuk dan tipu muslihat.

Bu Kong yang mendengar ucapan kakek ini terhadap si monyet besar berbulu coklat yang dipanggil Siau-ji dan yang hendak dijodohkan kepada Pek Hong, tentu saja merasa marah dan mendongkol sekali. Kakek itu benar-benar kurang ajar dan tidak waras otaknya. Sikapnya terlalu amat merendahkan orang. Masa gadis cantik seperti ini hendak dinikahkan dengan seekor monyet?

Maka sebelum Si Dewa Monyet sendiri tambah melantur, pemuda ini lalu membentak sambil melompat berdiri, "Kauw-sian, berani kau omong seenak perutmu sendiri? Siapa bilang gadis ini masih single? Dia adalah isteriku, sekali lagi kau mengeluarkan kata-kata tidak patut, jangan salahkan aku kalau kepalamu kupecahkan!"

Si Dewa Monyet tampak terkejut dan mengeluarkan jerit keras, seketika suara tawanya terhenti. Dia memutar tubuh, memandang pemuda itu dengan matanya yang bulat kecil kemerahan, sejenak terbelalak dan tampak terkejut, akan tetapi kemudian segera mukanya berobah dan kakek ini memekik.

"Kerrr! Anak muda bermulut besar bernyali naga! Dalam keadaanmu yang sudah sepayah ini masih berani mengancam aku? Hooo, kalau tidak ingat bahwa sebentar lagi kau akan masuk kubur, tentu kau akan kubikin mati tidak hiduppun tidak!" kakek ini membentak dan sekali kakinya bergerak, tiba-tiba tubuhnya telah melayang ke depan.

Pek Hong juga terkejut mendengar kata-kata pemuda itu, mulutnya mengeluarkan seruan tertahan dan seketika dia menghentikan tangisnya. Kedua tangannya diturunkan dan dengan mata basah gadis ini melihat betapa Bu Kong melangkah maju menyongsong kakek sinting itu dengan kaki terhuyung-huyung.

"Apa kau bilang, kakek setan? Siapa yang akan mati? Kau ataukah aku? Agaknya hal ini masih harus kita buktikan dulu. Dia adalah isteriku dan kau tidak boleh merampasnya begitu saja. Lalui dulu mayatku baru kau boleh berbuat sesuka hatimu!" begitu habis mengucapkan kata-katanya ini, Bu Kong tiba-tiba menubruk ke depan dengan kecepatan kilat.

"Wehhh...!" Kauw-sian terkejut, sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda yang dilihatnya sudah kemasukan racun jahat ini ternyata masih mampu melancarkan serangan hebat. Dari angin kesiurnya saja Si Dewa Monyet tampak terkejut setengah mati dan berteriak heran.

Akan tetapi karena pemuda itu dalam keadaan sakit, mana bisa menghadapi kakek sinting ini? Sekali mulutnya mengeluarkan suara mengejek, segesit kera Si Dewa Monyet melompat ke samping dan tanpa membalas Bu Kong dibuatnya roboh tersungkur mencium tanah!

"Ha ha-heh-heh, anak muda berotak udang, apa kubilang tadi? Tanpa menyerang sekalipun kau pasti akan mampus. Dan kalau engkau nekat, tenaga saktimu akan menghantam diri sendiri dan dinding ususmu akan pecah berantakan! Tidak tahu dari mana kau bisa menelan racun Jit-coa-tok (Racun Tujuh Ular) yang amat ganas ini? Kalau saja engkau tidak ikut-ikutan berdusta, agaknya masih suka aku menolongmu. Tapi kau telah melanggar dosa, mana sudi aku membantumu? Hanya kalau engkau menyangkal pengakuanmu tadi baru aku mau mengampunimu. Hayo, tarik kembali omonganmu...!"

Kiranya di dalam hatinya diam-diam kakek gila ini terpengaruh juga oleh kata-kata Bu Kong tadi. Sebagaimana dikatakan, kakek ini tidak suka mengambil wanita yang sudah menjadi isteri orang, maka tentu saja pengakuan pemuda itu mengejutkan hatinya. Dia sudah merasa girang mendapatkan calon mantu seperti gadis ini, karena tentu kelak anaknya istimewa sekali. Akan tetapi, kalau betul gadis itu isteri dari pemuda yang sudah hampir mati ini, bagaimana dia dapat tidur tenteram?

Tentu perbuatannya ini akan dihukum oleh Kauw-ce-thian, Raja monyet itu pembenci kejahatan, paling tidak suka melihat sikap sewenang-wenang dari orang lain. Itulah sebabnya mengapa kakek inipun tidak suka mengganggu orang. Menurut kepercayaannya, mengganggu orang lain tidak akan diberkahi oleh Kauw-ce-thian, dan sekali raja monyet itu marah, tentu dia tidak akan diberi tambahan ilham untuk ilmu-ilmunya.

Bu Kong yang roboh tersungkur, terkejut sekali mendengar kata-kata kakek itu. Apa yang diucapkan Si Dewa Monyet ini ternyata benar belaka. Begitu dia mengerahkan tenaga memukul, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit dan nyeri, seperti dirobek dari dalam. Agaknya kalau dia nekat, dinding ususnya akan pecah berantakan terpukul balik oleh tenaga lweekangnya. Sungguh hal ini membuat Bu Kong merasa kaget sekali. Kiranya kakek itu betul-betul ahli obat yang amat lihai. Sekali pandang sudah tahu bahwa dia dicekoki racun Jit-coa-tok yang bersarang di dalam perutnya.

Pernah dia mendengar tentang keganasan racun ini, yang konon bekerja secara lambat selama tujuh hari penuh. Dan pada hari kedelapan, bila yang bersangkutan tidak mendapatkan obatnya yang tepat, akan tewas dengan tubuh mengerikan karena urat-urat darahnya pecah dan dari semua lubang akan keluar darah dengan tujuh warna!

Dia tidak tahu apakah racun yang diminumkan itu benar racun Jit-coa-tok. Akan tetapi, mendengar ucapan Si Dewa Monyet yang tepat ini, mau tak mau dia agaknya harus percaya juga dan seketika kemarahan menggelegak dikepalanya. Betapa keji dan jahatnya Cheng-gan Sian-jin! Sebelum dia menghancurkan kakek iblis itu, masa dia harus mati terlebih dahulu?

Dengan mengeraskan hatinya pemuda ini lalu melompat bangun. Wajahnya berwarna hitam keungu-unguan, tampak mengerikan sekali dan matanya merah buas ketika memandang kakek gila itu sampai Pek Hong sendiri menjerit tertahan.

"Kauw-sian, perduli aku mati atau tidak tetap kau tidak boleh mengganggu gadis itu. Sekali kau menghinanya, aku akan menyerangmu mati-matian dan kalau aku tewas, rohku akan mengejar-ngejarmu sampai ke liang kubur!"

Si Dewa Monyet terbelalak, tak terasa dia menjadi ngeri juga mendengar ancaman ini dan kakinya mundur setindak. “Kau... pemuda dogol, mengapa hendak berlaku nekat? Dia bukan isterimu dan kaupun bukan suaminya, mengapa mati-matian berbohong di depanku?"

Sejenak dua pasang mata beradu pandang, lalu Bu Kong mengalihkan pandangannya kepada murid Ta Bhok Hwesio ini. Dia hampir mati, racun jahat sudah mengeram selama beberapa hari. Dan melihat sikap permusuhan kakek ini kepadanya, agaknya tidak ada harapan baginya untuk hidup. Berkali-kali Pek Hong menolongnya dari bermacam kesulitan dan belum pernah dia memberikan sesuatu imbalan jasa yang memuaskan dan berarti bagi gadis itu. Maka sekaranglah saatnya dia harus memberikan sesuatu yang mengesankan.

Dia mengeluarkan jengekan dari hidung. "Huh, siapa berbohong kepadamu? Kau percaya atau tidak tentang pengakuan kami, terserah. Persetan dengan kepercayaanmu itu!"

Si Dewa Monyet naik pitam, dia mendelik dan hampir saja menggerakkan tangannya memukul, akan tetapi beradu pandang dengan sepasang mata yang mencorong kemerahan itu, dia membatalkan niatnya dan mendengus. Pemuda ini berjalan saja sudah terhuyung-huyung akan roboh, tanpa dia serang sebentar lagi tentu mati sendiri, buat apa melayani anak muda itu? Yang membuat dia mendongkol adalah dusta mereka, terang mereka bukan suami isteri, mengapa harus mengaku-aku demikian?

"He, nona gagu!" tiba-tiba kakek ini berpaling dan berteriak ke arah Pek Hong, "Coba kau jawab yang betul. Apakah pemuda ini betul-betul suamimu? Kalau benar harap anggukkan kepala akan tetapi kalau tidak cukup gelengkan kepalamu. Jika engkau gadis yang baik dan tidak tahu malu, tentu engkau akan menjawab dengan jujur! Hayo, bagaimana jawabmu?"

Muka Pek Hong menjadi merah sekali dan dia melirik ke arah Bu Kong. Kebetulan pada saat itupun pemuda ini sedang memandangnya dan sebelum gadis ini menjawab, Bu Kong telah mendahuluinya sambil tertawa getir, "Kauw-sian, kau sungguh terlalu. Dia memang isteriku, kenapa harus diulang-ulang lagi? "

Kakek itu tampak gemas. "Tutup mulutmu, aku tidak tanya kepadamu! Di dunia ini lebih banyak laki-laki yang tidak tahu malu daripada kaum perempuan!" bentaknya sambil melotot . "Kalau dia memang isterimu, kenapa kusuruh cium suami sendiri tidak mau? Ia bohong, dan kaupun pendusta besar!"

Melihat kakek itu mencak-mencak marah, pemuda ini tiba-tiba tertawa bergelak. "Hong-moi, kemarilah!" serunya dengan suara serak. "Kau adalah isteriku yang baik, meskipun sebentar lagi aku mati, akan tetapi tidak nanti aku akan mengecewakan dirimu. Kesinilah, aku hendak memberikan sesuatu..."

Pek Hong yang sudah dari tadi merasa gelisah dan tidak karuan hatinya, melangkah maju dengan kaki gemetar . Dia tidak tahu apa yang hendak dibicarakan oleh pemuda itu. Akan tetapi melihat keadaan orang semakin gawat, ia cepat menghampiri. Diam-diam gadis ini merasa marah sekali kepada Si Dewa Monyet. Hanya karena semata-mata mematuhi pesan Phoa lojin sajalah maka dia mandah mendengar semua kata-kata yang menyakitkan dari kakek yang tidak waras otaknya ini. Ia telah mengambil keputusan, bahwa jika pemuda itu tidak tertolong, dia akan mengadu jiwa dengan kakek monyet ini dan mengobrak-abrik sarangnya!

Setelah nona itu mendekat, dengan langkah terhuyung pemuda ini menyambut. Denyut di kepalanya menghantam bertalu-talu, tubuhnya gemetar, kaki tangannya menggigil. Pada saat itu dia sudah mirip orang mabok, semua peristiwa yang akhir-akhir ini dialami berkelebat silih berganti. Pertama-tama teringatlah olehnya akan kekasih sendiri yang berkhianat, lalu fitnah keji yang melekat di tubuhnya, kemudian perjumpaannya kembali dengan keponakan Lie-thaikam yang sama sekali tidak disangka-sangkanya itu. Bahkan yang lebih hebat lagi, ternyata Lie Lan adalah murid Cheng-gan Sian-jin yang mencekoki racun Jit coa-tok! Keadaannya sungguh mengenaskan, juga penuh penasaran.

Semuanya ini membuat hatinya sakit bukan main. Kalau kekasih sendiri sudah berkhianat, kalau namanya sudah dirusak orang seperti itu, dan kalau suhunya sendiri juga sudah mencarinya, apalagi yang harus dipikirkan? Perutnya bergolak, nyeri dan pedih seperti ditusuk pisau dari dalam, keadaannya sudah mencapai titik bahaya dan dia tidak mempunyai harapan lagi. Apa yang harus dicemaskan?

Dia tidak takut mati. Kalau Tuhan menghendaki dia harus mati dengan cara demikian, membawa sakit hati yang tak terlampiaskan, biarlah dia terima. Akan tetapi gadis murid Ta Bhok Hwesio inilah yang membuat Bu Kong merasa gelisah dan cemas Dia merasa berdosa terhadap gadis ini dan penyesalan besar menghimpit batinnya.

Dia tahu betapa besar dan murninya cinta kasih Pek Hong terhadap dirinya. Dan sekarang dengan mati-matian gadis itu telah berusaha menolongnya dari renggutan maut. Seharusnya, melihat kenyataan dan mengingat peristiwa-peristiwa pahit tentang hubungan cinta kasihnya dengan puteri Panglima Ok itu, dia harus bisa membebaskan diri dari Siu i yang telah mengkhianatinya dan menerima uluran cinta kasih murid hwesio Tibet ini.

Akan tetapi entah mengapa, meskipun dia marah dan benci sekali terhadap Siu Li yang telah mempermainkannya, tetap saja cinta kasihnya yang tertanam dalam-dalam di hatinya terhadap gadis itu tidak dapat dicabut begitu saja. Hatinya memang sakit, robek dan berdarah oleh semua perbuatan kekasihnya itu. Namun dia sendiri toh tidak mampu mengusir bayangan Siu Li dari lubuk hatinya.

Dan sekarang, dalam saat terakhir ini dia melihat betapa dia harus menyia-nyia kan cinta kasih Pek Hong. Meskipun mulutnya memberi muka, akan tetapi hatinya tertutup rapat. Dia tidak mampu membukanya dan inilah yang membuat Bu Kong merasa menyesal dan berdosa sekali.

Akan tetapi, pemuda ini telah bertekad untuk melakukan sesuatu bagi gadis itu, sesuatu yang dapat dikenang dan dirasakan selama hidup. Sebentar lagi maut akan menjemputnya dan sebelum ajal, dia hendak melindungi nama baik dara itu dari ejekan orang. Maka begitu gadis ini mendekatinya, cepat dia menyambar lengan Pek Hong dan menarik gadis itu di belakang tubuhnya. Kemudian dengan muka mengejek Bu Kong lalu menghadapi Si Dewa Monyet sambil berkata,

"Kauw-sian, isteriku ini adalah wanita terhormat, mana mungkin engkau dapat menyuruhnya melakukan perbuatan yang tidak sopan? Dia menangis karena melihat aku berada di ambang maut, dan ia tidak sudi menjalankan perintahmu adalah karena ia justeru seorang wanita yang tahu susila! Nah, apa maumu? Kalau engkau ingin sekedar bukti dariku, lihatlah..."

Selesai mengucapkan kata-katanya ini, tiba-tiba Bu Kong meraih pinggang murid Ta Bhok Hwesio itu dan dengan lembut mengecup kening si dara.

"Nah, sudah percayakah engkau, kakek sinting?" Bu Kong mengejek Si Dewa Monye t yang terkesima menyaksikan hal ini. Kakek itu melihat betapa gadis cantik itu diam saja ketika dicium, bahkan mukanya menjadi merah lalu kembali terisak-isak sedih dan menyembunyikan mukanya di dada pemuda ini. Jelas, dilihat begini saja terang bahwa apa yang dikatakan oleh mereka adalah benar.

Namun, perasaannya yang tajam membisiki kakek ini bahwa apa yang telah dilakukan muda-mudi itu tidak sungguh-sungguh. Terdapat kecanggungan dan keraguan diantara masing-masing pihak. Meskipun bukti yang diminta telah dipenuhi, tetap saja kakek yang mau menang sendiri ini merasa tidak puas.

"Kalian... keparat semuanya! Kalian bohong, kalian orang-orang muda yang tidak tahu malu. Dan kau, pemuda yang mau mampus, ternyata kaupun bermuka tebal! Cihh, mana bisa kau mengelabuhi orang tua seperti diriku ini? Aku belum percaya kalian tidak jujur, kalian curang!"

Kakek itu mencak-mencak dengan mata mendelik, sedangkan Siau-ji sendiri yang berada di dekat Si Dewa Monyet juga mengeluarkan cecowetan marah. Agaknya monyet inipun juga bisa dihinggapi perasaan "cemburu", buktinya, ketika dia melihat Pek Hong dicium pemuda itu, kera ini tampak beringas dan mengamang-amangkan tinjunya yang kecil kepada Bu Kong!

Tentu saja pemuda ini naik darah. Kalau saja kepalanya tidak berdenyut denyut seperti itu, kalau saja perutnya tidak terasa sakit dan nyeri seperti dirobek-robek dari dalam, tentu tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang kakek gila ini. Akan tetapi, dia masih mencoba menahan diri. Makian Si Dewa Monyet yang tepat mengenai sasarannya ini membuat mukanya terasa pedas. Begitulah banyak orang telah mengecamnya pemuda muka tebal alias pemuda tidak tahu malu, Bukankah ini cocok sekali dengan keadaannya sekarang yang dikabarkan orang melakukan perjinaan dan perbuatan tidak senonoh lainnya lagi?

"Hemm, kalau begitu apa maumu, kakek setan?" Bu Kong membentak dengan sinar mata berapi. Kemarahan yang memenuhi dadanya membuat kepalanya semakin hebat dihantam denyut nadi yang bertalu-talu, matanya berkunang-kunang akan tetapi sekuat tenaga dia masih mencoba bertahan.

"Aku menghendaki saksi! Ya, aku menghendaki saksi untuk menguatkan pengakuan kalian berdua. Tidak boleh kalian mengada-ada di sini untuk membohongi lohu. Bukankah bisa saja setiap orang saling mengaku sebagai suami isteri kalau mereka tergolong manusia-manusia tidak tahu malu? Dan kalian tidak boleh bermain-main di depan lohu. Sudah banyak aku ditipu orang dan sudah kenyang aku akan tipu muslihat busuk mereka. Kalian curang, lohu tidak terima, harus ada saksi di sini. Kalau tidak, jangan harap kalian dapat kabur setelah membuat onar di Ang-bhok-san!" Kakek itu mencak-mencak dan sepasang matanya tampak buas, agaknya siap menyerang dua orang muda-mudi ini.

Bu Kong menjadi marah sekali. "Kauw-sian, kau tahu bahwa di sini tidak ada orang lain yang dapat dijadikan saksi! Bagaimana kau minta kami memanggil seseorang untuk menjadi saksi?" pemuda ini membentak gusar.

"Aha, itulah salahmu sendiri!" kakek itu menjawab seenaknya. "Lohu tidak perduli kalian bisa atau tidak mendapatkan saksi. Kalau bisa, itulah nasib sial lohu, akan tetapi kalau tidak, itulah bukti kebohongan kalian. Kenapa waktu datang ke sini tidak membawa teman? Masalah kalian bisa memenuhi ataukah tidak inilah bukan urusan lohu lagi, heh-heh-heh..."

Kakek itu tertawa-tawa mengejek dan mukanya tampak gembira. Agaknya dia merasa berada di atas angin, maka semua kemendongkolan hat8nya hendak dia tumpahkan kepada murid Malaikat Gurun Neraka ini. Gara-gara pemuda itulah maka maksud hatinya tertunda-tunda. Kalau tidak, bukankah sejak tadi dia dapat membawa gadis itu ke puncak? Karena si pemuda mengaku sebagai sang suami sedangkan si gadis sendiri mengaku sebagai isteri inilah maka terpaksa dia berdebat mulut dahulu.

Bu Kong menjadi naik pitam. "Keparat, kau setan tua yang curang!" makinya penuh kemarahan .

"Dan kau pemuda muka tebal!" kakek itu membalas sambil terkekeh-kekeh.

"Jadi kau tetap tidak percaya kepada pengakuan kami?"

"Memangnya kalian bisa mengelabui lohu? He-he, anak muda, tua-tua lohu ini sudah banyak makan garam penghidupan. Mana bisa kalian berdusta di depan lohu? Aku menghendaki saksi, sekarang juga. Kalau engkau dapat memenuhinya, biarlah lohu terima kalah. Ha-hah-heh-heh...!"

Jelas inilah "vonis" si hakim gila. Terang di tempat yang sunyi itu tidak ada manusia lagi selain mereka bertiga. Dan Si Dewa Monyet menghendaki pada saat itu juga. Bukankah dia sengaja menggencet muda-mudi ini untuk mencari kemenangan diri sendiri? Bagaimana tidak membuat orang meluap kemarahannya?

Akan tetapi sungguh aneh bin ajaib! Sebelum Bu Kong berteriak gusar, tiba-tiba terdengar bentakan halus seorang wanita, "Hemm, Dewa monyet yang tak tahu diri, berani kau menghina Yap-goanswe? Kalau kau berkeras kepala menghendaki saksi, akulah saksinya...! Mereka berdua betul suami isteri, berani kau tidak percaya kepada omonganku?"

Suara ini merdu dan nyaring, tinggi melengking, dikeluarkan di tempat sesunyi itu dapat didengar sampai belasan lie jauhnya. Si Dewa Monyet terkejut, mukanya berobah dan seketika dia memutar tubuh memandang ke asal suara. Mulutnya sudah siap untuk melontarkan caci-maki, akan tetapi begitu melihat wanita yang berdiri anggun di atas batu karang di tepi tebing itu seketika wajah kakek ini berobah pucat dan tubuhnya menggigil.

"Siocia...!" kakek itu berseru kaget dan cepat maju berlutut, sikapnya tiba-tiba tampak ketakutan dan semua kegarangannya lenyap. Dengan tubuh gemetar kakek ini membentur-benturkan dahinya di atas tanah berbatu sampai kulit jidatnya lecet.

Peristiwa ini benar-benar luar biasa sekali. Si Dewa Monyet yang tadinya nampak galak itu begitu berjumpa dengan wanita berpakaian putih di atas batu karang ini tiba-tiba saja berobah seperti tikus yang bertemu dengan seekor kucing. Bu Kong dan Pek Hong juga terkejut sekali mendengar bentakan merdu itu. Mereka serasa mengenal suara ini, maka hampir berbareng keduanya segera menoleh dan... dua orang ini berteriak kaget seperti disambar petir!

"Siu Li...!" saking kagetnya melihat gadis di atas batu karang itu, Pek Hong memekik dan seketika sikap pura-puranya sebagai gadis gagu buyar berantakan.

Memang, siapakah yang tidak akan terkejut setengah mati menyaksikan kehadiran yang amat tiba-tiba dari puteri Panglima Ok atau kekasih dari Yap Bu Kong ini? Apalagi gadis itu datang sebagai saksi dan membenarkan pengakuan mereka bahwa mereka betul suami isteri! Siapa yang tidak terkejut?

Bu Kong sendiri seperti melihat setan di siang bolong. Mukanya pucat tak berdarah, matanya terbelalak tanpa berkedip dan pemuda ini seakan-akan telah berubah menjadi patung batu. Rasa kaget yang amat sangat mengguncang hatinya dan bekas jenderal muda itu berdiri terkesima.

Ada perasaan girang, cemas, marah, malu dan sebagainya lagi yang bercampur aduk tidak karuan. Kalau saja kehadiran Siu Li tidak di saat seperti itu, di mana dia bersama Pek Hong telah saling mengaku di hadapan Si Dewa Monyet sebagai suami isteri, agaknya kekagetan pemuda ini tidak akan separah itu. Akan tetapi, justeru dalam keadaan seperti inilah Siu Li muncul! Bagaimana dia tidak akan terkejut sekali?

Mendengar Pek Hong menyebut namanya gadis di atas batu karang itu menoleh dan senyum pahit membayangi wajahnya, Bu Kong melihat betapa meskipun gadis itu tersenyum, namun wajah jelita ini penuh diselimuti mendung gelap, sepasang matanya sayu dan redup, dan bibir yang basah itu agak ditarik seakan sedang merasakan suatu kenyerian batin yang amat hebat.

"Adik Hong, terima kasih bahwa kau masih suka mengenalku. Sungguh aku merasa menyesal sekali bahwa kedatanganku sedikit terlambat. Kalau tidak, bukankah suamimu itu dapat secepatnya ditolong? Racun Jit-coa-tok memang ganas, sekarang empat diantara tujuh racun telah tidak berani banyak bekerja, kalau kita tidk cepat bergerak, bukankah nyawanya sukar dipertahankan lagi?"

Demikian gadis ini berkata perlahan, lalu tiba-tiba dia menoleh ke arah Si Dewa Monyet, dengan suara bengis membentak, "Kauw-sian, berani kau bersikap kurang ajar terhadap Yap-goanswe suami isteri? Hayo bantu mereka dan cepat siapkan bahan-bahan obat yang diperlukan!"

Sikap yang diperlihatkan gadis ini terhadap SI Dewa Monyet sungguh amat berlawanan dengan sikapnya terhadap Pek Hong. Terhadap kakek ini gadis itu seakan-akan menganggap Si Dewa Monyet sebagai pelayannya, dan anehnya, kakek itu sendiri ternyata tidak banyak omong. Hanya karena merasa penasaran dan terkejut melihat betapa gadis yang tadi berpura-pura gagu itu ternyata dapat berbicara, kakek ini memprotes.

"Akan tetapi, siocia, mereka ini... mereka ini tukang bohong! Buat apa kita menolongnya? Biarkan saja mereka menerima hukuman. Lohu hendak ditipunya mentah-mentah, mereka berdua ini bukan orang baik-baik dan..."

“Tutup mulutmu!" tiba-tiba Siu Li membentak dengan sinar mata berapi. "Berani kau membantah semua perintahku? Beginikah subo mengajar adat kepadamu? Aku tidak butuh alasanmu yang tiada gunanya itu. Sekarang, cepat bawa Yap goanswe ke atas dan obati dia sebelum terlambat!”

Melihat betapa gadis cantik ini marah sekali, Si Dewa Monyet menguncup dan tubuhnya gemetar keras. Cepat kakek itu menjatuhkan diri berlutut dan dengan muka pucat berkata, "Ampun siocia.... ampunkan lohu yang kelepasan bicara. Kalau siocia menghendaki demikian, mana lohu berani membantah lagi? Harap siocia tidak melaporkan kecerewetan lohu kepada thai-siang, dan untuk ini biarlah lohu segera membawa pemuda itu ke puncak..."

Dengan tergopoh-gopoh kakek yang ketakutan ini lalu menghampiri Bu Kong, maksudnya hendak membawa pemuda itu ke atas bukit untuk diobati. Dia sudah tidak berani banyak cing-cong lagi melihat murid Mo-i Thai-houw itu marah kepadanya. Kalau sampai gadis ini melapor kepada thai-sian (sebutan terhadap Mo-i Thai-houw), kakek itu tidak berani membayangkan hukuman apa yang bakal diterimanya. Nenek itu terkenal kejam dan telengas, membunuh orang lain seperti membunuh semut saja.

Apa yang diperlihatkan kakek ini sungguh mengherankan. Mengapa dia tampak ketakutan dan jerih terhadap Mo-i Thai - how? Memang ada terselip rahasia di sini mengapa sebabnya kakek bermuka monyet itu paling ta kut ter hadap Mo-i Thai-houw yang menjadi subo (guru) dari gadis berpakaian putih ini.

Dulu belasan tahun yang lalu, ketika Kauw sian ini masih muda, kakek itu pernah melakukan sebuah dosa terhadap Mo-i Thai-houw. Pada waktu itu usia kakek ini kurang lebih hampir empat puluh tahun. Dan konon menurut kata orang, usia sekian bagi kaum lelaki adalah "panas-panasnya” gairah berahi yang kembali bergejolak.

Orang sekarang bilang bahwa itu adalah masa “puber kedua". Entah benar entah tidak, yang jelas si Dewa Monyet ini pada suatu hari bertemu dengan Mo‐i Thai-houw yang pada waktu itu juga masih merupakan wanita muda yang cantik jelita. Perjumpaannya dimulai ketika kakek ini sedang mengaso di atas sebatang pohon raksasa yang rindang daunnya dalam sebuah hutan. Dan tak jauh dari pohon ini, sebuah telaga kecil yang jernih airnya mengalir di situ. Demikian beningnya air ini sehingga da sar telaga tampak dengan nyata.

Dihembus angin semilir yang demikian lembut dan sepoi-sepoi basah, Dewa Monyet yang tadi duduk melenggut di atas dahan itu akhirnya jatuh tertidur. Berapa lama dia pulas kakek itu tidak tahu. Yang jelas, tiba-tiba telinganya yang tajam ini mendengar suara air berkecipak. Tentu saja kakek itu terkejut dan dia mengira bahwa ada ular yang sedang berenang di telaga kecil itu. Cepat dia membuka mata dan apa yang dilihatnya? Seorang bidadari sedang mandi telanjang bulat di dalam air yang amat jernih itu. Sedemikian jernihnya air telaga ini sehingga segala sesuatunya tampak dengan demikian jelas!

Bagaimana kakek itu tidak mencelos hatinya melihat pemandangan yang luar biasa ini? Jantungnya serasa berhenti berdetik, jakunnya naik turun dan tanpa dia sadari lagi, sepasang matanya melotot tak berkedip seperti ikan emas. Dasar lelaki. Sejelek-jeleknya muka kakek ini toh dia bukan golongan betina. Mana hatinya tidak dag-dig-dug sejak semula? Maka pemandangan yang amat langka ini benar-benar tidak dilewatkannya begitu saja.

Namun sungguh sial, saking asyiknya mengintai kakek itu sampai tidak menyadari betapa dari bawah pohon merayap naik sebarisan semut merah. Semut ini besar-besar, sungutnya panjang dan sikapnya buas. Barisan semut merah ini membawa seekor bangkai cecak yang telah kering. Iring-iringan semut berapi ini menuju ke atas pohon, dan yang mereka tuju adalah markas pusat berupa sebuah lubang dimana semut-semut itu biasanya menyimpan bahan makanan cadangan.

Dan celakanya, justeru lubang tempat pasukan semut merah ini berada di bawah kaki Si Dewa Monyet. Kakek itu tidak tahu betapa kakinya menutup lubang yang merupakan markas pusat binatang-binatang kecil ini, maka tidaklah aneh kalau semut-semut berapi itu menjadi marah kepada pengganggu ini dan mereka lalu menyerbu kakek itu habis-habisan!

Mula-mula semut yang di depan sendiri menggigit ibu jari kakek ini. Akan tetapi, karena yang menggigit baru seekor dan kakek itu sendiri sedang asyik melahap pemandangan indah di bawah sana, maka kakek ini seakan tidak merasakan apa-apa. Dia hanya sedikit berjengit dan dengan gemas tangannya memencet mampus semut kurang ajar itu.

Akan tetapi, kakek ini tidak tahu betapa setelah seekor semut dipijatnya mampus, semut-semut yang lain telah merubung seluruh kakinya dan bagaikan perajurit-perajurit berani mati, ratusan semut berapi itu menggigit sana-sini sehingga Si Dewa Monyet berteriak kesakitan.

Inilah kesalahannya pertama. Saking asyiknya mengintai gratis, kakek ini sudah terlambat untuk mengetahui bahwa dirinya sudah diserang barisan semut merah yang banyak jumlahnya. Karena kaget dan kesakitan, kakek itu menjerit dan menggaruk sana memencet sini membunuh semut-semut berapi ini. Dan hal ini membuat wanita muda yang sedang mandi di dalam telaga kecil itu terkejut bukan main.

Cepat wanita ini mendongak dan seketika mulutnya berteriak kaget. Melihat betapa seorang laki-laki kurang ajar telah mengintainya secara cuma-cuma sambil nongkrong di atas pohon, wanita itu meluap kemarahannya. Sekali melengking tubuhnya yang telanjang bulat itu melompat dari dalam air!

Si Dewa Monyet terpesona dan mulutnya celangap, sejenak dia melupakan serangan semut-semut merah itu. Pemandangan ini terlampau luar biasa baginya dan karena lengah, kakek itu harus membayar mahal. Belasan ekor semut secara serentak memasuki pipa celananya dan menerobos ke atas. Akhirnya, setelah berhasil menemukan yang mereka cari, semut-semut ini menggigit dan kontan kakek itu menjerit ngeri.

Dan pada saat itu, wanita cantik yang sebenarnya bukan lain ad alah Mo-i Thai-houw adanya, telah melayang keatas pohon dan sekali tangannya bergerak, angin pukulan yang amat dahsyat menghantam Si Dewa Monyet. Kakek itu terkesiap, tanpa menghiraukan barangnya diserbu semut ganas, cepat dia mumbul lebih tinggi. Dia selamat dari serangan maut itu, akan tetapi dahan yang tadi dibuatnya nongkrong patah dan roboh berderak sambil mengeluarkan suara hiruk pikuk.

Tentu saja kakek ini tercekat. Saking bingung dan paniknya, dia lupa bahwa pada saat itu dia sedang berada di udara. Disangkanya bahwa dia berada di atas tanah maka begitu tubuhnya turun kembali, langsung dia hendak memasang kuda-kuda. Sial dangkalan! Baru saja dia mencoba menggeser kaki untuk membuat bhesi, tahu-tahu..."bless" tubuhnya terus merosot turun ke bawah tanpa ampun!

"Haiiii...?!?" kakek ini berseru kaget namun semuanya sudah terlambat. Karena tidak menyangka-nyangka akan kejadian begini, kontan tubuh kakek itu terbanting di atas tanah keras dengan pantat terlebih dahulu.

"Blukk... Aduhhh...!" Kakek ini menjerit kesakitan dan saking kerasnya dia jatuh, dia tidak dapat melompat bangun dengan seketika. Tulang ekornya bertemu dengan tanah keras dan kontan pandangan matanya gelap.Keadaan sungguh runyam baginya, pantat terasa nyeri dan semut-semut berapi yang tadi memasuki celananya itu ternyata agaknya kerasan sekali di dalam. Buktinya, mereka ini terus menggigit sana-sini dan tidak mau keluar. Tentu saja kakek ini kelabakan, apalagi Mo-i Thai-houw yang sudah marah sekali itu juga sudah menerjang tiba.

"Heii, nyonya... eh, nona, perlahan dulu...! Aku tidak sengaja, aku tidak bersalah! Eiittt....!" kakek itu berkaok-kaok seperti kambing kebakaran jenggot dan dengan gugup mencoba bergulingan menghindarkan diri.

"Tidak bersalah apanya? Tidak sengaja apanya? Jelas matamu melotot seperti ikan emas masih berani bilang tidak berdosa kepada nonamu, ya? Keparat jahanam, kau laki-laki yang pantas mampus...!" wanita muda ini memekik marah seperti seekor harimau betina dan menghajar kakek itu.

Karena kepandaian Mo-i Thai-houw memang jauh lebih tinggi daripada kakek ini, akhirnya Si Dewa Monyet harus mengakui keunggulan lawan. Tubuhnya babak-belur dan kulit mukanya pecah-pecah ditampar orang. Baru kakek ini benar-benar merasa kaget bukan main. Sama sekali dia tidak mengira bahwa wanita muda yang tubuhnya aduhai itu ternyata sedemikian hebat kepandaiannya! Kalau tahu begini, mana berani dia tadi mengintai si bidadari yang ganas ini?

Maka segera timbul pikirannya untuk kabur. Lawan terlampau kuat baginya, dan jalan paling aman sementara ini adalah menjalankan jurus "langkah kaki seribu" alias merat! Begitu berpikir, begitu kakek ini mengerjakannya. Ketika wanita muda itu kembali menyerang dahsyat, tiba-tiba dia berteriak, "Hei, nona... ular... ular telaga menempel di dadamu...!"

Teriakan ini dilakukan dengan amat tiba-tiba dan mimik muka kakek itupun juga tampak sungguh-sungguh. Mo-i Thai-houw terkejut dan tanpa terasa menjerit kecil, seketika serangannya mandek setengah jalan. Cepat wanita ini memandang dadanya sendiri dan seketika itu juga wajahnya menjadi merah padam. Kiranya kemarahan yang kelewat sangat telah membuat dirinya lupa untuk menutupi tubuhnya. Dengan telanjang bulat begitu saja dia menyerang orang mati-matian!

"Ihh....!" Wanita ini memekik tertahan dan sekali tubuhnya berkelebat, ia lenyap di balik kerimbunan semak belukar. Disitulah dia tadi meletakkan pakaiannya, maka cepat sekali seperti maling takut konangan, wanita ini mengenakan pakaian sebisanya. Karena terlalu tergesa-gesa, bajunya dia pakai secara terbalik dan dengan model aneh ini Mo-i Thai-houw segera melompat keluar untuk meneruskan perhitungannya dengan si kakek laknat.

Tapi sayang Si Dewa Monyet sudah kabur dari tempat itu. Tentu saja wanita ini menjadi gemas dan marah. Sekali kakinya menotol tanah, tubuhnya melayang ke puncak sebatang pohon yang paling tinggi dan dari tempat inilah ia melayangkan pandang ke segala penjuru. Dan.. itu dia! Dengan hati berang wanita ini melihat betapa laki-laki yang tadi mengintainya secara kurang ajar itu sedang lari terbirit-birit di sebelah barat. Ginkang Mo-ii Thai-houw memang luar biasa. Tanpa turun lagi di atas tanah, wanita ini lalu mengejar kakek itu dengan cara terbang di atas pucuk pucuk pohon yang tinggi menjulang itu!

Gerakannya sungguh mentakjubkan. Kalau saja di tempat itu kebetulan ada orang lain yang melihat kejadian ini, tentu dia akan mengira bahwa yang dilihatnya melayang-layang secepat burung besar dan meloncat-loncat dari pohon yang satu ke pohon yang lain itu bukanlah manusia namun sebangsa siluman. Siluman rimba!

Memang luar biasa wanita ini, juga akal yang digunakannya menunjukkan kecerdikan otaknya. Kalau dia mengejar di atas tanah, kemungkinan jejak Si Dewa Monyet dapat lenyap dengan jalan menyelinap di semak-semak belukar. Tapi dengan pengejaran dari atas pohon ini membuat pandangannya ke depan amat leluasa dan tajam.

Mana kakek itu mampu lolos dari uberannya? Jarak mereka semakin dekat saja dan ketika Si Dewa Monyet hampir menarik napas lega, tiba-tiba dari udara menyambar turun sesosok bayangan disusul bentakan nyaring.

"Monyet buruk, ke mana kau hendak lari?”

Sungguh seakan terbang semangat kakek ini. Sama sekali tidak dikiranya bahwa wanita cantik itu sedemikian lihainya. Kalau sudah begini, apa lagi yang dapat dikerjakannya? Satu-satunya jalan ialah nekat melawan! "Siluman betina, siapa takut padamu? Kalau engkau memaksaku maka akupun tidak akan segan-segan lagi terhadapmu. Lihat serangan...!"

Di mulut mengeluarkan teriakan garang akan tetapi di dalam hati sebenarnya kakek ini sudah hampir roboh pingsan. Tadi dia berkali-kali menerima tamparan wanita itu tanpa dia sempat mengelak. Gerakan wanita cantik ini teramat cepat, baru dia menggerakkan pundak untuk mengangkat lengannya menangkis, tahu-tahu pukulan orang telah tiba terlebih dahulu.

Bagaimana kakek ini tidak menjadi gentar? Dan sesungguhnya tingkat kepandaiannya juga masih jauh di bawah kepandaian Mo-i Thai-houw. Apalagi wanita ini sedang dilanda kejengkelan dan murung karena ditinggal pergi oleh kekasih pujaan hatinya.

Maka bertemu dengan manusia muka monyet yang telah mengintainya ketika dia sedang asyik mandi adalah merupakan jalan keluar bagi semua kemarahannya. Dia tidak mau memberi ampun, akan tetapi Mo-i Thai-houw pun juga tidak segera membunuh kakek ini. Dia hendak menghajar laki-laki ini sampai setengah mati baru urusan gampang untuk menurunkan tangan kejam.

Itulah sebabnya meskipun kakek ini menyerang lebih dulu, sambil menjengek hina Mo-ii Thai-houw tidak mengelak. Serangan orang dia kelit sedikit tanpa susah dan kedua kakinya sudah menggeser ke depan dua tindak. Tangan kirinya bergerak, dan yang kanan menyusul sedetik kemudian. Kalau yang kiri menempeleng pelipis kakek itu, adalah yang kanan menepuk perlahan di pangkal tenggorokan.

"Plak-nguukkkk!" Suara kedua ini keluar dari mulut Si Dewa Monyet seperti kera terjepit, tubuhnya terputar empat kali dan akhirnya roboh terlempar ketika sebuah kaki menendang tempurung lututnya.

"Aduhh.... ampun nona... tobaattt... mati aku…!" kakek itu menjerit ngeri dan takut disusul serangan berikutnya, dia lalu menggelundung pergi. Namun semua gerakannya ini sia-sia belaka. Kemanapun dia menghindar, kesitu juga Mo-i Thai-houw mengejarnya sambil melancarkan pukulan pukulan keras.

"Kau telah bersikap kurang ajar terhadap diriku, mana aku mau mengampunimu? Mati di tangan Mo-i Thai-houw bukanlah kematian yang jelek, kenapa kau berteriak-teriak? Terimalah ini... plakk! Dan rasakan yang ini... plokk!"

Demikian berkali-kali kakek itu dihajar jatuh bangun. Akhirnya Si Dewa Monyet ini merintih panjang. Tubuhnya bengkak-bengkak, mukanya bengap dan berdarah, membuat wajahnya yang sudah jelek itu semakin mengerikan. Dan kakek ini mengeluarkan seruan tertahan ketika mendengar siapa gerangan wanita cantik bertangan ganas itu. Kiranya Mo-i Thai-houw!

Tentu saja kejutnya bukan main dan kakek ini hampir putus asa. Akan tetapi tiba-tiba melintas sesuatu diotaknya. Wajah yang sudah pucat itu mendadak bersinar terang. Sebelum Mo-i Thai-houw menambahi pukulannya, kakek itu berseru keras, "Thai-houw, tahan.... tahan dulu!" dan bagaikan mendapat semangat baru, dia lalu melompat bangun dengan amat sigap.

"Apa yang hendak kau katakan?" wanita ini membentak, namun pukulannya ditunda juga dan ia memandang kakek itu dengan sinar mata yang membuat bulu tengkuk lawannya meremang.

"Aku.... ehh.... hendak omong sedikit.... ehh.... harap engkau tidak marah..."

Melihat orang bicara gagap begini Mo-ii Thai-houw menjadi tidak sabar lagi. Sepasang matanya mendelik dan kembali dia menghardik, "Mau omong lekas omong, memangnya kau tidak punya lidah? Hayo cepat, sebelum nyawa monyetmu kukirim ke akhirat!"

Tubuh kakek ini menggigil dan dengan suara terbata-bata diapun lalu menjawab, "Thai-houw, bukankah orang menjunjung namamu sebagai seorang lihiap (pendekar wanita) yang selalu bersikap adil dan jujur? Tapi kenapa terhadap aku kau bertindak tidak adil begini...?"

"Tidak adil apanya? Memangnya kau tidak punya dosa kepadaku?"

"Akan tetapi... akan tetapi semua kelakuanku itu tidak kusengaja. Aku sudah lama berada di atas pohon. Kalau aku baru datang, masa telingamu yang tajam tidak dapat menangkap gerakan kakiku? Adalah salahmu maka engkau tidak meneliti dulu keadaan sekitar dan..."

"Keparat, berani kau malah menyalah-nyalahkan aku?" bentakan ini memotong ucapan kakek itu dan Dewa Monyet pucat mukanya.

"Eh, tidak... tidak begitu maksudku! Aku hendak bilang bahwa aku terlebih dulu berada di sana dan karena mendengar kecipak air, kukira ada ular menyeberang ditengah telaga. Aku lantas terbangun dan karena terkejut, aku tidak dapat menjaga sepasang mataku yang melotot kagum ini. Siapa suruh nona memiliki tubuh seindah itu dan.... ehh, maaf.... maaf..." karena kaget mendengar omongan sendiri yang meloncat begitu saja, kakek ini mundur-mundur ketakutan dengan kaki gemetar.

Muka Mo-ii Thai-houw menjadi merah. Meskipun rasa malu mengusik hatinya, akan tetapi pujian kakek itu membuat kemarahannya agak dingin. Namun tentu saja hal ini bukan berarti dia mau mengampuni orang. "Hmm, baik aku terima alasanmu ini. Tapi kenapa kau bilang aku tidak adil? Apakah kalau kubunuh mampus laki-laki kotor sepertimu ini terlalu murah? Atau mungkin kau minta agar matamu itu kucolok keluar? Begitukah...?” Mo-i Thai-houw melangkah maju dan Si Dewa Monyet cepat menggoyang-goyang tangannya.

"Tidak... tidak... tahan dulu! Engkau tidak adil, Thai-houw, dan aku berani sumpah!"

"Tidak adil dalam hal apa?" Mo-i Thai-houw membentak dengan pandangan bengis.

Dan Dewa Monyet yang jerih setengah mati itu lalu menjawab cepat, "Kau tidak adil kalau membunuhku. Aku tidak mengambil apa-apamu, tidak mencuri barangmu, kenapa harus dibunuh? Kalau kau merasa dirugikan adalah karena aku secara tidak sengaja telah melihat... melihat tubuhmu yang mulus. Nah, kalau aku berhutang dalam hal ini, bukankah membayarnyapun juga harus setimpal...?"

"Maksudmu...?" mata wanita muda ini bersinar-sinar.

"Maksudku... maksudku begini..." dengan cepat kakek itupun lalu mencopoti semua pakaiannya dan sejenak kemudian diapun telah berdiri bugil di depan Mo-i Thai-houw, persis penari striptease di panggung terbuka!

"Setan...!" wanita ini mengumpat jengah dan mukanya melengos merah. Sama sekali tidak disangkanya bahwa laki-laki itu akan melakukan perbuatan ini. Dan siapa yang sudi memandang tubuhnya? Ia bahkan merasa muak namun juga tidak mampu berbuat sesuatu.

Meskipun konyol cara orang, akan tetapi kata-katanya tadi masuk akal juga. Kakek itu telah membayar lunas hutangnya secara adil. Mau apa lagi? Hanya bedanya, kalau laki-laki kurang ajar ini telah melahap tubuhnya dengan pandangan kelaparan, adalah dia yang sama sekali tidak sudi memandang tubuh laki laki itu. Dan hal ini bukanlah kesalahan Si Dewa Monyet.

"Bagaimana.... bagaimana Thai-houw...? Bukankah tubuhku juga cukup siipp...?"

"Sipp apanya? Sip hidungmu itu!” wanita ini membentak akan tetapi suaranya sudah segalak tadi. "Siapa suka memandang tubuh seperti tengkorak begini? Hayo cepat kenakan pakaianmu itu. Kalau tidak, aku benar-benar tidak akan mengampunimu lagi!"

Kakek itu tampak girang dan dengan wajah gembira dia lalu mengenakan kembali pakaiannya. Kiranya akalnya ini jitu sekali, akan tetapi yang amat disayangkan, mengapa baru timbul setelah badannya babak bundas? Bukankah kalau sejak semula dia menggunakan akalnya ini tubuhnya tidak akan dihajar orang?

Namun melihat perobahan ini saja dia sudah menjadi girang. Kata-kata wanita itu sudah lunak, dan harapan hidup baginya terbuka kembali. Dan setelah mereka kembali berhadapan, Mo-i Thai-houw benar-benar tidak membunuh kakek ini. Namun, sebagai "bunga"nya ia menghukum kakek itu untuk melayani segala keperluannya selama lima tahun. Si Dewa Monyet dijadikan jongos!

Tentu saja kakek ini mendongkol sekali. Tapi apa yang dapat dilakukannya? Maka dengan menyengir pahit diapun mematuhi saja orang punya perintah. Dan selama lima tahun ini kakek itu mengalami bermacam peristiwa yang sungguh-sungguh tidak dapat dilupakannya.

Mo-i Thai-houw ternyata merupakan wanita galak dan sangat cerewet sekali. Bangun tidur harus disediakan air hangat yang suam-suam kuku. Terlalu dingin tidak mau dan kalau terlalu panas malah disiramkan kepada tubuhnya! Sungguh celaka. Dan sepatunya harus tiap pagi dia lap, piring-piring kotor harus dia yang mencuci dan dalam hal makan saja wanita itu cerewetnya bukan main. Adakalanya bilang terlalu asin, di lain saat bilang kurang cabe dan di saat lain lagi bilang terlalu banyak kuah sehingga seperti minum air di pecomberan!

Semuanya serba susah, semuanya serba membuat kheki. Saking tak tahan kakek ini pada suatu malam mencoba untuk kabur. Akan tetapi baru saja dia tiba di luar pintu, bayangan Mo-i Thai-houw telah berdiri di bawah sebatang pohon, mendelik dengan sinar mengancam kepadanya! Apa lagi yang berani dilakukannya? Paling-paling kembali ngeloyor ke kamar dan pura-pura ngorok seperti ayam biang ketemu elang. Pendeknya, kakek ini benar-benar "digencet" oleh Mo-i Thai-houw habis-habisan.

Sudah sikapnya cerewet juga selama lima tahun itu sepeserpun wanita ini tidak pernah keluar duit! Semuanya diurus "pelayannya" yang lugu ini. Uang habis? Curi saja di rumah seorang hartawan! Pakaian sudah kumal? Curi saja di toko cita seorang juragan kain! Mo-i Thai-houw benar-benar seperti ratu tanpa mahkota. Semuanya minta gampang dan enak. Bagaimana Dewa Monyet ini tidak "makan hati"?

Dan yang amat mengganggu perasaan laki-laki ini adalah nafsu berahinya. Semenjak pertama kali menyaksikan tubuh mulus Mo-i Thai-houw di telaga kecil itu, jantung kakek ini selalu berdebar-debar. Pada suatu hari mereka tiba di sebuah kota. Tidak begitu besar kota ini, akan tetapi segala sesuatunya cukup lengkap. Rumah-rumah makan ada, losmen-losmen besar kecil juga ada. Bahkan, seperti juga kota-kota lainnya, kota inipun mempunyai sebuah "rumah kembang" yang menyimpan bunga-bunga indah di dalamnya.

Mo-i Thai-houw ternyata paling lama tinggal di kota ini. Kakek itu tidak tahu apa yang sedang dikerjakan wanita itu, akan tetapi yang jelas adalah bahwa dia mempunyai kesempatan bagus pula di tempat ini. Ketika pada suatu hari Mo-i Thai-houw menyuruhnya berbelanja cita di toko kain, kakek inipun lalu mempergunakan kesempatan itu untuk mendatangi si rumah kembang alias sarang pel*cur! Di tempat inilah dia "jajan" dan akhirnya kecantol sekuntum kembang harum yang terpikat oleh duitnya yang banyak. Tentu saja pelacur itu tidak mengetahui bahwa uang yang diperoleh kakek ini didapat dari mencuri di sebuah rumah gedung hartawan yang tadi siang dibeli kainnya itu!

Begitulah. Main punya main akhirnya kakek ini jatuh cinta kepada pelacur itu yang dianggapnya cukup "asooy", tidak kalah dengan Mo-i Thai-houw yang galak! Dan dari hubungan ini tanpa dapat mereka cegah tiba-tiba si wanita bunting! Sungguh kejadian ini adalah peristiwa yang agak luar biasa. Jarang ada pel*cur yang dapat hamil digauli oleh kaum hidung belang. Akan tetapi nyatanya keadaan yang menimpa dua insan ini memang begitu. Tentu saja si wanita kelabakan.

Akan tetapi Si Dewa Monyet malah bergembira. Kebetulan bahwa pada waktu itu hukuman yang diberikan oleh Mo-i Thai-houw hampir habis. Sebentar lagi dia bebas dan secara kebetulan pula dia akan punya anak!

Siapa tidak akan girang? Maka beberapa bulan kemudianpun lahirlah anak perempuan yang dikandung si bekas pelacur. Malang, karena kehabisan darah maka wanita ini meninggal. Si Dewa Monyet kerepotan mengasuh anak perempuannya yang kecil. Akan tetapi dengan pertolongan ibu-ibu dusun yang juga sedang menyusui anaknya, dapatlah umur anak perempuan kakek itu diperpanjang.

Setahun, dua tahun, semuanya berjalan dengan cepat. Si Dewa Monyet mulai kecut hatinya melihat sesuatu yang tidak beres pada anaknya ini. Dan setelah ditunggu sampai lima tahun, harapan kakek itu habis. Kenapa? Karena anak perempuannya ini tidak bisa bicara. Gagu!

Oo, sialan! Agaknya karena ibunya dulu seorang pelacur maka tubuhnya mengandung penyakit kotor. Dan kini akibat dari penyakit kotornya itu menimpa anak mereka sendiri yang tidak berdosa! Dan lebih celaka lagi, ketika anak perempuan itu menjelang remaja, datang segerombolan perampok yang mengganggu ketenangan hidup ayah dan anak ini. Si kepala rampok hendak memperkosa anak perempuan itu dan terjadi perkelahian sengit.

Dan di dalam pertempuran itulah maka anak tunggal kakek ini tewas. Memang betul akhirnya para perampok itupun dapat dibinasakan semua, akan tetapi kalau anaknya sendiri juga menjadi korban, lalu apa gunanya bagi kakek ini? Semenjak itu juga pikiran Si Dewa Monyet tidak karuan. Urat syarafnya terguncang dan akhirnya jadilah dia manusia setengah gila. Rumahnya ditinggal dan kakek ini lalu merantau dan akhirnya bertempat di Ang-bhok-san bersama monyet-monyet yang banyak terdapat di situ.

Demikianlah sedikit keterangan mengapa kakek ini amat takut dan jerih terhadap Mo-ii Thai-houw. Dia sudah kenyang menerima hal-hal pahit dari wanita itu, maka diapun selalu berhati-hati agar tidak membuat marah Mo-i Thai-houw. Karena lama tak turun gunung, kakek ini tidak tahu betapa Mo-i Thai-houw sebenarnya sudah meninggal.

Melihat kakek itu hendak memanggul Yap-goanswe, mula-mula Pek Hong merasa was-was dan kurang percaya. Apa lagi karena yang menyuruh kakek itu adalah Siu Li. Gadis ini adalah musuh, bagaimana dia bisa mempercayai semua omongannya? Yap Bu Kong sendiri sudah roboh pingsan, tak dapat ia tanyai pendapatnya. Pertemuan mendadak dengan puteri Panglima Ok dari Kerajaan Wu itu membuat pemuda ini kaget sekali. Apalagi ke adaannya juga gawat karena racun Jit-coa-tok telah mulai bekerja. Bagaimana dia tahan?

Sementara Pek Hong ragu-ragu, Siu Li melayang turun dari atas batu karang dan berkata kepada gadis ini dengan suara lirih, "Adik Hong, semuanya sudah terjadi dan tidak perlu kita bingung. Kauw-sian telah kuperintahkan untuk menolong... suamimu itu dan kutanggung dia akan sembuh. Kalian memang pasangan yang serasi dan semoga dapat hidup berbahagia. Selamat tinggal...!"

Begitu selesai mengucapkan kata-katanya, gadis ini lalu membalikkan tubuh dan meloncat pergi. Sejenak Pek Hong tertegun bingung. Yap-goanswe sudah dibawa Si Dewa Monyet yang terbang ke atas puncak dengan kecepatan luar biasa. Sebenarnya dia ingin mengikuti kakek itu secepatnya agar mengetahui apakah betul-betul Si Dewa Monyet berusaha mengobati Bu Kong.

Akan tetapi, perjumpaannya secara tiba-tiba dengan Siu Li inipun juga merupakan suatu kebetulan baginya. Dia sedang mencari-cari gadis ini untuk dimintai pertanggungan jawabnya, dan sekarang secara tak sengaja dia menemukannya. Maka tentu saja Pek Hong tidak mau melepaskan kesempatan bagus itu.

"Eh, tunggu dulu...!" gadis itu membentak. "Jangan lari sebelum semuanya beres!"

Siu Li menghentikan langkahnya, memutar tubuh perlahan-lahan dan Pek Hong terkejut melihat betapa sepasang mata gadis ini basah. "Apa yang hendak kau katakan, adik Hong? Apa yang belum beres...?" dengan menahan isak gadis itu bertanya.

"Kau.... kau... gadis siluman, akal apa yang sedang kau jalankan ini? Kau kira aku percaya begitu saja akan semua tipu muslihatmu yang busuk ini? Cihh, pura-pura melakukan perbuatan baik tapi di dalamnya tersembunyi maksud kotor! Kau tidak boleh pergi dari sini dan semua perhitungan di antara kita harus segera dibereskan!”

"Perhitungan di antara kita? Apa maksudmu, Hong moi?" Siu Li terbelalak matanya.

"Hemm, jangan berpura-pura tidak tahu!" Pek Hong membentak. "Kelakuanmu yang curang ketika berada di kemah pasukan Yueh cukup untuk membuat siapapun turun tangan menghukummu. Kau siluman betina yang banyak akal, pura-pura membantu Yap-goanswe padahal menyelundup sebagai mata-mata Wu-sam-tai ciangkun. Berani kau menyangkal ini? Dan kau... kau mempermainkan perasaan pemuda itu secara keji, membuat pemuda itu hampir gila dan ini semua masih ditambah dengan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh ayahmu terhadap Yap-goanswe! Kalian ayah beranak semuanya manusia busuk, gudang penyimpan sampah kotor yang amat menjijikkan!"

Tubuh Siu Li menggigil, sedetik sinar matanya mengeluarkan sinar berapi ketika mendengar ucapan Pek Hong yang pertama, akan tetapi setelah gadis itu melanjutkan dengan kalimat-kalimat berikutnya, puteri Ok ciangkun ini mengeluarkan keluhan tertahan. Badannya limbung dan dengan suara tersendat-sendat gadis ini merintih.

"Adik Hong, jangan katakan itu... jangan katakan itu... aku memang berdosa kepadanya, akan tetapi semuanya atas perintah orang tua. Aduh, Hong-moi, jangan mengorek-ngorek semua kelakuanku dulu.... aku menyesal... aku menyesal sekali dan itulah sebabnya mengapa aku rela melepaskan dia kepadamu. Adik Hong, biarkan aku pergi, aku tidak akan mengganggu kalian, bahkan aku akan berusaha menebus semua dosa-dosaku terhadap Yap-goanswe. Jangan menikam perasaanku dengan kata-kata menusuk lagi, Hong-moi, karena sesungguhnya selama inipun aku menderita sekali. Kau tidak tahu semua perasaanku selama ini...." dan gadis itu tiba-tiba menangis dengan air mata bercucuran.

"Hemm, bisa juga engkau menangis, ya? Sungguh tidak kukira," Pek Hong mengejek dengan senyum sinis karena mana ia mau percaya kepada tangis gadis ini? Murid mendiang Mo-i Thai-houw itu adalah iblis betina yang banyak akal, maka tidak mengherankan jikalau air mata yang dikeluarkan kali ini hanya merupakan air mata buaya!

Siu Li tidak menghiraukan ejekan ini bahkan gadis itu lalu m enangis tersedu-sedu. Sesungguhnyalah apa yang dikatakannya tadi benar belaka. Betapa semenjak melaksanakan perintah ayahnya, di dalam hati gadis ini sebenarnya sudah terdapat perasaan menentang. Apalagi setelah kisah cintanya dengan jenderal muda itu, hati gadis ini tidak karuan rasa. Di satu pihak dia harus berbakti terhadap orang tua, akan tetapi di pihak lain dia mengkhianati cinta kasih yang terjalin diantara dirinya dengan Yap Bu Kong.

Pek Hong mengira bahwa cinta kasih yang diperlihatkan Siu Li kepada Jenderal Muda Yap itu adalah cinta kasih murahan. Gadis ini tidak tahu betapa semenjak pertengkarannya dengan Kui Lun yang mengatakan cinta kasih Siu Li seperti cinta monyet, di dalam hati puteri Panglima Ok ini telah terdapat suatu tekad untuk menunjukkan kepada orang lain, terutama sekali kepada kakaknya itu, bahwa cinta kasihnya terhadap Yap-goanswe bukanlah cinta kasih biasa saja, bukan sekedar cinta monyet!

Itulah sebabnya di dalam jilid terakhir dalam cerita "Hancurnya Sebuah Kerajaan", gadis ini telah berani mati menentang keputusan orang tuanya yang hendak membunuh Bu Kong. Dengan tidak mengenal takut terhadap setan maupun iblis, gadis ini terang-terangan berbalik sikap, menentang orang tua sendiri. Bahkan hebatnya, didengar telinga para pasukan yang ribuan jumlahnya, puteri Ok-ciangkun ini terang-terangan menyatakan cinta kasihnya terhadap Yap-goanswe!

Dan semenjak saat itulah, melihat betapa ayahnya berteman dengan orang-orang jahat seperti Ang-i Lo-mo dan lain-lain, di dalam hati gadis ini timbul rasa tidak sukanya. Apa lagi setelah subonya tewas, hati gadis ini menjadi tawar. Ia melihat bahwa ayahnya tidak segan-segan untuk melakukan tipu muslihat busuk apapun untuk menjatuhkan lawan, dan semua sikap ayahnya akhir-akhir ini telah diketahuinya dengan baik.

Tentu saja perasaan gadis ini amat tertekan sekali. Batinnya terpukul dan kekecewaan yang amat sangat membuat ia marah sekali terhadap ayahnya itu. Akan tetapi, pada jaman itu kata-kata "hauw" (bakti) amat ditakuti generasi muda. Itulah sebabnya gadis ini lalu tidak bisa berkutik sama sekali. Dan puncak dari kemarahan serta kekecewaannya tiba ketika ia mengetahui betapa ayahnya serta dua orang Panglima Wu yang lain bersekongkol dengan murid mendiang Ang-i Lo-mo untuk menjatuhkan fitnah busuk terhadap kekasihnya!

Pouw Kwi (yaitu murid Ang-i Lo-mo itu), lalu menyamar sebagai Yap-goanswe dan menjatuhkan fitnah keji dengan jalan melakukan perjinaan di istana Yueh bersama Bwee Li yang menganggap pemuda ini sebagai Bu Kong. Akal muslihat yang amat culas ini benar-benar membuat Siu Li seketika sadar betapa ayahnya bukanlah orang yang baik. Ayahnya ternyata jahat sekali, dan gadis ini benar-benar kecewa bukan main. Sambil menangis tersedu-sedu, gadis itu lalu meninggalkan gedung ayahnya dan berdiam di Lembah Bambu Kuning bersama kakaknya yang diam-diam juga merasa kecewa terhadap sepak terjang ayahnya ini.

Memang betul Mo-i Thai-houw bukan orang yang tidak kejam. Akan tetapi mendiang nenek itu selalu menanamkan rasa kegagahan dan pantang sekali melakukan perbuatan-perbuatan curang dan pengecut. Didikan ini tentu saja amat berlawanan dengan watak ayah mereka, dan demikianlah, dua orang muda-mudi itu lalu meninggalkan gedung ayah mereka dan tidak mau membantu orang tua mereka lagi.

Apalagi ketika mereka ini mengetahui kehadiran Cheng-gan Sian-jin bersama murid perempuannya itu, dua orang muda ini menjadi semakin prihatin sekali. Dan Siu Li melihat betapa Yap-goanswe sebenarnya berada di pihak yang benar. Hal ini membuat rasa sesal dan berdosanya terhadap pemuda itu semakin besar saja. Batinnya terhimpit sekali dan ke kecewaan demi kekecewaan yang dia laminya membuat gadis cantik ini menjadi dingin terhadap semua persoalan.

Hanya satu keinginannya yang tidak dapat dihapus, yakni keinginan untuk suatu ketika membayar semua dosa-dosanya terhadap Yap Bu Kong. Teringat kepada pemuda yang gagah perkasa itu selalu Siu Li menangis sedih. Cinta kasihnya semakin mendalam dan ia merasa betapa ia membikin susah yang tidak sedikit terhadap pemuda itu.

Namun, apa yang dapat dilakukannya? Peristiwa-peristiwa dahulu tentu membuat bekas jenderal muda itu menghadapi membencinya. Ia hal ini. Bukan tidak karena berani takut menghadapi kemarahan pemuda itu, melainkan takut akan bayangan dosa yang telah dilakukannya. Itulah sebabnya ketika diketahuinya bahwa murid Ta Bhok Hwesio ini ternyata mencintai Bu Kong, dengan penuh kesadaran dan ikhlas yang besar gadis itu rela mengundurkan diri. Dia orang hina, mana sanggup disejajarkan dengan Yap-goanswe yang gagah perkasa itu? Murid Ta Bhok Hwes io inilah yang memang serasi menjadi isteri pemuda itu.

Demikianlah, dihimpit rasa salah yang tiada habisnya, gadis ini rela menghancurkan diri sendiri dan mendengar semua kata-kata Pek Hong yang amat tajam itu, dia sama sekali tidak marah. Bukankah memang begitu kenyataannya? Semua orang telah mencapnya sebagai gadis yang tidak tahu malu, apa lagi bagi Yap-goanswe sendiri, tentu lebih hebat makiannya. Siu Li masih menangis tersedu-sedu ketika Pek Hong tiba-tiba bertanya kepadanya,

“Eh, enci yang manis, kau tadi bilang bahwa kau merasa menyesal sekali. Tidak tahu, apakah kata-katamu itu benar ataukah hanya basa-basi saja?"

Gadis ini mengangkat mukanya yang pucat, dengan suara gemetar balik bertanya, "Adik Hong, apa maksudmu? Apakah kau tidak percaya akan apa yang telah kuucapkan? Rasa penyesalanku terhadap Yap-goanswe setinggi gunung sedalam lautan, masa aku berpura-pura...?"

"Hem, begitukah?" Pek Hong mengejek. "Kalau betul kata-katamu ini, kenapa kau tidak menghukum semua kesalahan-kesalahanmu?"

Siu Li terbelalak, tampak terkejut dan air matanya seketika berhenti mengalir. Dia melihat sesuatu yang menyeramkan di balik kata-kata itu, sesuatu yang belum dipahaminya akan tetapi sudah dirasakannya. "Apa... apa maksudmu, adik Hong? Bukankah aku sudah cukup terhukum dengan penyesalan dan dosa-dosa yang kuperbuat?"

"Hmm, siapa tahu isi hatimu di dalam? Siapa dapat percaya begitu saja apakah engkau ini betul-betul menyesal terhadap semua dosa-dosamu ataukah tidak? Itu perasaan hati manusia, tidak terlihat dan tidak dapat dijadikan bukti yang mantap!"

"Lalu... maksudmu?" tubuh Siu Li mulai gemetar dan dia memandang gadis itu dengan sinar mata tajam.

"Orang bersalah harus dihukum, ini sudah kodrat alam. Siapa menyingkir berarti dia seorang pengecut! Sudah lama aku mencarimu, Ok siocia dan baru pada hari ini kita bertemu. Kau sendiri sudah terang-terangan mengakui kesalahanmu terhadap Yap-goanswe, ini sungguh bagus. Ternyata kaupun cukup jantan, hal yang sama sekali agak di luar dugaanku. Akan tetapi, pengakuan begitu saja belum cukup, enci yang manis, masih harus disusui dengan hukuman nyata. Kau membawa pedang, bukan? Nah, keluarkan pedangmu itu. Sedianya aku hendak memberi hukuman penggal leher, akan tetapi karena kau cukup jujur, biarlah kau kutungi saja lengan kirimu itu!"

"Ahhh...!" Siu Li berseru kaget dan gadis ini melangkah mundur, wajahnya berobah seketika. "Kwan Pek Hong, sungguh tidak kunyana bahwa pengorbanan hatiku belum cukup besar. Kau khawatir pemuda itu kurebut kembali, bukan? Dengan melihat tubuhku yang cacad, tentu kau mengira Yap-goanswe akan jijik kepadaku. Baiklah kita sama-sama lihat saja nanti. Kau menghendaki hukuman nyata dariku? Baik, segera kulakukan. Akan tetapi ingatlah, murid Ta Bhok Hwesio, bahwa apa yang kulakukan ini semata-mata sebagai penebusan dosa ku terhadap Yap-goanswe, bukan kepada dirimu. Dan aku bukan seorang pengecut...!"

Begitu habis mengucapkan kata-katanya ini, dengan kemarahan memuncak Siu Li menggerakkan tangan kanannya secepat kilat dan tahu-tahu sebatang pedang bersinar kehijauan mendesing di udara. Pek Hong bersiap-siap karena dia mengira bahwa gadis itu tentu akan menyerangnya, maka iapun sudah meraba rantai peraknya di pinggang untuk menghadapi terjangan puteri Panglima Ok yang merupakan murid Mo-ii Thai-houw ini.

Akan tetapi, sungguh amat di luar dugaan. Gadis cantik itu ternyata benar-benar menepati janjinya, membacokkan pedangnya ke lengan kiri sendiri! Pada saat itu, bersamaan dengan kejadian ini, dari jauh sesosok bayangan berbaju kuning berkelebat datang sambil berteriak.

"Li-moi, jangaannn...!!"

Namun semuanya terlambat. Dengan kecepatan kilat pedang bersinar hijau yang digerakkan oleh murid Mo-i Thai-houw ini telah menabas lengan kiri sebatas siku. Terdengar suara "crakk...!" dan lengan gadis itu buntung seketika...!

Pendekar Gurun Neraka Jilid 11

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 11
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
BU KONG terhenyak, semua pertanyaannya tadi sama sekali tidak digubris. Bermacam perasaan mengaduk hatinya dan melihat betapa gadis itu menangis sedemikian sedihnya digoda kakek bermuka monyet, dia merasa kasihan dan terharu terhadap murid Ta Bhok Hwesio ini, sebaliknya merasa marah kepada si kakek sinting yang masih menari-nari sambil terkekeh gembira itu.

Dengan mengeraskan hatinya pemuda ini lalu bangkit duduk, memandang Si Dewa Mo nyet untuk mengingat-ingat siap akah gerangan kakek yang belum dikenalnya itu. Meskipun denyut di kepalanya semakin menghebat, akan tetapi dengan kemauannya yang kuat serta kekerasan hatinya yang luar biasa, Bu Kong berhasil menahan segala derita ini.

Mula-mula ketika matanya menyapu sekeliling, murid Malaikat Gurun Neraka ini terkejut menyaksikan ratusan ekor monyet yang malang-melintang di sekitarnya. Jelas binatang-binatang itu terbius dan kini ngorok dengan berbagai sikap. Ada yang tangannya sedang menjambak rambut kepala temannya, lalu ada pula yang kakinya menumpang diatas mulut seekor monyet lain dengan sikap seenaknya. Semuanya pulas dengan cara yang tidak wajar dan rata-rata menggelikan hati siapapun juga yang memandang kejadian yang amat ganjil ini.

Lalu ketika sepasang matanya mendongak ke bukit terjal berdinding curam itu, tampaklah olehnya pohon-pohon gundul berkulit merah yang berdiri tegak di atas sana. Melihat dua kenyataan ini, seketika Bu Kong tersentak hatinya. Ang-bhok-san (Bukit Kayu Merah)! Demikian desisnya di dalam hati. Karena sekarang sudah dapat menduga dimana dia berada, maklumlah pemuda ini bahwa kakek gila yang menari-nari bersama seekor monyet besar berbulu coklat muda itu tentulah Kauw sian atau Si Dewa Monyet yang pernah didengar namanya beberapa tahun yang lalu itu.

Hanya karena kakek aneh ini telah lama tidak turun ke dunia ramai maka namanyapun sekarang jarang-jarang disebut orang. Sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa pada hari ini murid Ta Bhok Hwesio itu membawanya menemui Si Dewa Monyet yang tidak waras otaknya. Dan lebih celaka lagi, menurut pendengarannya tadi, Pek Hong hendak mintakan obat untuknya kepada kakek ini!

Tentu saja kenyataan ini membuat Bu Kong terkejut. Walaupun dia telah mendengar nama Si Dewa Monyet yang dikabarkan orang tinggal di Ang-bhok-san, akan tetapi sama sekali dia tidak mendengar orang menyebut-nyebut kakek itu sebagai ahli obat. Apakah gadis ini tidak keliru mencari orang? Apakah Pek Hong tidak salah dengar?

Saking kaget dan herannya, sejenak pemuda ini tertegun. Sedianya dia hendak memaki kakek gila itu untuk menghibur Pek Hong dan mengajak gadis itu pergi dari tempat ini. Akan tetapi setelah dia tahu tentang hal ini, Bu Kong menjadi bingung.

Jelas gadis itu berusaha menolongnya mati-matian. Dia tidak mengerti bagaimanakah dara ini mampu membawanya dari gedung Cheng-gan Sian-jin. Sekilas dia teringat kepada suhunya yang muncul secara tiba-tiba di dalam kamar besar itu, dan ingatan ini membuat muka Bu Kong berobah. Tatapan mata suhunya yang dingin menusuk serta wajah yang membesi dari orang tua itu membuat jantung pemuda ini terasa keder dan gelisah.

Bagaimana dia berhasil lolos dari tawanan musuh? Ditolong suhunya? Mungkin begitulah. Akan tetapi bagaimana gadis ini tahu-tahu telah membawanya kemari? Dimanakah gurunya sekarang? Apakah gurunya yang menyuruh Pek Hong ke tempat ini?

Merasakan pandangan suhunya di kamar besar yang penuh ancaman itu membuat pemuda ini merasa sangsi. Sikap dan watak gurunya dia telah kenal dengan baik. Maka tatapan mata yang amat dingin serta wajah yang membesi dari gurunya itu cukup mengisyaratkan suatu bahaya bagi dirinya. Kalau suhunya menolongnya terlepas dari tangan musuh, mustahil gurunya itu mau melepaskan dia dari hukuman.

Sikap dari orang tua itu telah membuat pemuda ini maklum bahwa gurunya tentu telah mengetahui dan mendengar semua peristiwa-peristiwa jahanam yang dilontarkan orang kepadanya. Dan sekali orang tua itu telah mencarinya, tidak mungkin dia akan berhasil lolos dan kejaran suhunya yang amat sakti itu.

Tergetar hati Bu Kong membayangkan ancaman ini, dan kemarahannya kepada biang keladi si pembuat gara-gara merasuk ke tulang sumsum. Kalau suhunya sudah marah seperti itu, dia tidak berani membayangkan apa kiranya yang akan dilakukan orang tua yang keras hati itu kepadanya.

Maka adalah suatu keanehan luar biasa kalau tahu-tahu murid Ta Bhok Hwesio ini dapat meloloskan dirinya dari tangan Malaikat Gurun Neraka. Apakah yang sesungguhnya terjadi? Segera Bu Kong memandang gadis cantik ini yang mengguguk di depannya sambil menutupi mukanya. Betapa memilukan dan mengharukan tangis itu. Kedua pundaknya berguncang-guncang, air mata meleleh di sela-sela jarinya yang halus runcing.

Sejenak pemuda yang gagah perkasa ini mendelong. Ingatannya meluncur sepesat panah mengenangkan semua pertemuan pertama mereka dulu. Betapa gadis ini datang bersama suhunya yang pendek berkepala gundul itu ke kemahnya. Betapa Ta Bhok Hwesio datang menemuinya untuk memberikan bantuannya kepada pasukan Yueh yang dipimpinnya.

Berkat adanya dua orang guru dan murid inilah maka kemenangan-kemenangan yang dicapainya lebih mudah diraih. Satu-persatu pasukan musuh digempur mundur sampai akhirnya pertempuran puncak terjadi diantara mereka ketika pasukan Yueh telah berhadapan langsung dengan pasukan induk dari Kerajaan Wu yang dipimpin oleh Wu-sam-tai-ciangkun yang dibantu banyak orang-orang pandai itu.

Dan di dalam hubungan sehari-hari dengan gadis inilah terjalin keakraban di kedua belah pihak. Pek Hong memang gadis cantik yang lincah jenaka. Dalam beberapa jam saja semenjak pertemuan pertama mereka, gadis itu sudah tidak malu-malu lagi dan bergaul dengan sikap terbuka, bebas dan gembira.

Bu Kong adalah seorang pemuda yang jarang sekali bergaul dengan dara-dara cantik. Maka tidaklah mengherankan jika perkenalan dengan gadis lincah dan lihai murid Ta Bhok Hwesio ini benar-benar membuat dia merasa gembira sekali. Watak yang polos dan jujur dari dara ini membuat dia terpikat, dan seandainya saja dia belum bertemu dengan Siu Li, agaknya tidak mustahil kalau dia jatuh cinta kepada gad is ini.

Sayang, hatinya telah terisi oleh wajah jelita gadis pujaannya. Mana dia dapat membuka diri? Pada waktu itu pemuda ini masih belum mengetahui bahwa kekasihnya itu ternyata merupakan seorang pengkhianat, puteri musuh besar pasukan Yueh yang sengaja ditanam sebagai mata-mata oleh pihak lawan.

Semua peristiwa ini satu-persatu terbayang di kelopak matanya. Diapun bukanlah seorang yang buta perasaan, maka pemuda inipun tahu betapa murid Ta Bhok Hwesio yang telah banyak membantunya itu diam-diam jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi, karena pada waktu itu dia sendiri telah mempunyai calon sebagai teman hidup, bagaimana mungkin dia harus menerima uluran cinta kasih gadis ini?

Tak terasa dia merasa menyesal sekali. Budi gadis itu terhadap dirinya sudah cukup besar, berkali-kali telah menolongnya dari berbagai kesukaran. Namun apa yang dapat dia lakukan untuk membalas kebaikan orang? Dan sekarang untuk menolongnya dari racun yang mengeram di tubuhnya, lagi-lagi gadis itu telah berkorban tanpa menghiraukan diri sendiri.

Jerih payahnya tidak kecil, malah kalau dibandingkan dengan pertolongan-pertolongan yang lalu, agaknya pengorbanan kali ini tidak kalah besarnya. Mungkin bahkan lebih hebat lagi karena sekarang yang diancam adalah martabatnya sebagai gadis baik-baik. Teringat betapa untuk menolongnya dara itu telah mengakui diri sendiri sebagai isteri di depan Si Dewa Monyet yang berwatak konyol ini , jantung Bu Kong berdetak dan mukanya menjadi merah.

Pemuda ini maklum betapa dengan kata-kata itu gadis ini dapat terancam hinaan orang. Kalau kebetulan ada orang luar yang tahu bahwa apa yang dikata kannya tadi adalah suatu kebohongan besar, bukankah gadis itu akan direndahkan orang dan diejek sebagai gadis yang tidak tahu malu?

Ancaman ini tidak kalah besarnya dengan ancaman senjata pedang ataupun golok. Dan bekas jenderal muda yang telah berkali-kali menerima kebaikan gadis itu, mana bisa berdiam diri membiarkan hal ini terjadi? Dia harus memberi muka kepada dara itu, dan satu-satunya jalan yang dapat dia lakukan pada saat itu agaknya juga ikut-ikutan berbohong, membenarkan pengakuan Pek Hong bahwa gadis ini memang betul adalah isterinya dan dia adalah sang suami! Meskipun Bu Kong merasa berat dan tertekan perasaannya, akan tetapi demi menolong gadis itu keluar dari ancaman hinaan ini dia harus mampu menindas semua kecanggungannya.

Pada saat itu, Si Dewa Monyet yang menari-nari gembira bersama Siau- ji sedang berkata kepada monyetnya ini, "Ha-ha, Siau-jji, nasibmu sungguh mujur. Susah payah mencari isteri, tidak tahunya malah bakal isterimu itu sendiri yang datang kemari. Bukankah ini yang dinamakan peribahasa 'pucuk dicinta ulam tiba’? Ha-ha-heh-heh, malam ini juga kita harus rayakan pernikahanmu secara besar-besaran di atas bukit. Gadis cantik itu masih single, dan kaupun perjaka tulen, bukankah ini cocok sekali?"

Dengan sikap menggelikan kakek itu lalu memegang kedua tangan Siau-ji dan menari berputaran sambil terkekeh geli. Pek Hong tidak berani menjalankan perintahnya, dan hal itu hanya berarti bahwa apa yang telah dikatakannya tadi adalah bohong belaka. Maka sudah sepantasnya kalau gadis itu dihukum. Tentu saja hukumannya adalah dia yang memutuskan. Akan tetapi mengingat bahwa gadis itu gagu tidak dapat berbicara, dan hal ini mengingat dia kepada puterinya yang tewas di tangan penjahat, maka hukuman keji yang sedianya hendak dia berikan diganti "anugerah" istimewa, yakni mengawinkan nona itu dengan anak muridnya yang paling cakap ini.

Bukankah maksudnya ini bagus sekali? Apalagi kedua belah pihak agaknya sudah sama-sama setuju. Siau-ji bercecowetan riang sedangkan "calon isterinya" menangis di depan sana. Dan justeru inilah yang amat menggembirakan hati Si Dewa Monyet. Kalau dia melihat gadis itu tidak menangis, tentu dia akan turun tangan membunuhnya. Hanya gadis baik-baik sajalah yang harus mengeluarkan air mata kalau ditawari kawin karena air mata yang dikeluarkannya itu sebenarnya adalah air mata "kebahagiaan ".

Dasar manusia gila, maka jalan pikirannyapun juga tidak waras. Semenjak puterinya diculik dan dibunuh orang, kakek ini memang terganggu otaknya dan belasan tahun hidup dengan cara yang tidak normal. Sepak terjangnya memang tidak sehat, tampak gila-gilaan. Akan tetapi satu watak baik yang tidak lenyap di dalam dirinya, yakni tidak suka mengganggu orang lain. Hanya kalau orang lain datang mengganggunya sajalah maka kakek ini akan membalas. Juga terhadap kaum wanita, kakek ini tidak suka sewenang-wenang.

Pernah beberapa waktu yang la lu Dewa Monyet ini turun gunung, mendatangi sebuah dusun di kaki Pegunungan Ta pie-san. Maksudnya adalah untuk mencari anak-anak gadis yang belum bersuami untuk dijodohkan dengan beberapa orang anak muridnya yang disayang. Dia sudah bosan melihat betapa anak buahnya selalu melahirkan jenis monyet melulu. Kakek ini ingin sesuatu yang lain, yang aneh dan belum ada.

Dia berpikir bahwa apabila seorang anak buahnya kawin dengan seorang gadis, tentu anaknya akan istimewa bentuknya. Monyet bukan akan tetapi manusia penuh juga bukan. Dan mahluk aneh yang akan datang inilah yang kelak dapat diserahi untuk memimpin "rakyat "nya itu!

Akan tetapi, dasar manusia gila, mana ada gadis yang sudi dikawinkan dengan monyetnya? Dusun itu malah geger dan para penduduknya mengamuk, kakek ini dikeroyok dan dihujani senjata tajam. Si Dewa Monyet merasa marah dan mendongkol, lalu menghajar orang-orang itu. Karena marah maksud baiknya ditentang orang, kakek ini lalu merobohkan para penduduk dusun itu dan menculik lima dara-dara tanggung dibawa ke markasnya.

Lima orang gadis dusun itu menangis sepanjang jalan dan meronta-ronta, dan ketika mereka sampai di puncak Ang-bhok-san, gadis-gadis dusun ini malah roboh pingsan saking jijik dan ngerinya dirubung monyet-monyet besar kecil yang bercecowetan sambil mencolek sana-sini itu!

Namun kakek ini tidak putus asa. Setelah gadis-gadis itu sadar kembali, diapun lalu membujuk mereka. Dikatakannya bahwa apabila mereka mau, kelak mereka akan diangkat sebagai ibu suri dan putera mereka kelak dijadikan "putera mahkota"! Akan tetapi semua bujukan ini tidak mempan dan lima orang gadis itu menolak, bahkan ketika anak-anak buahnya dengan sikap tidak sabaran lalu melompat maju memeluk dara-dara itu, lima orang gadis inipun akhirnya jatuh pingsan lagi.

Hal ini terjadi berulang-ulang sehingga kakek itu menjadi gemas dan penasaran sekali. Karena gadis-gadis itu tidak mau menerima maksud baiknya, dengan mendongkol diapun lalu membawa lima orang gadis dusun ini turun gunung dan mengembalikan mereka ke rumah masing-masing.

"Kalian bangsa manusia memang sombong-sombong dan tidak tahu diri!" demikian omelnya dengan muka gelap. "Apakah kalian tidak ingat siapa nenek moyang kalian dahulu adalah monyet-monyet pula? Ciss, setelah menjadi sempurna lalu membelakangi leluhur dan merendahkan bangsa monyet. Manusia memang makhluk tidak kenal budi, semoga kalian dikutuk oleh Kauw-ce-thian (raja moayet dalam cerita Sun Go Kong) dunia akhirat!"

Demikianlah, dengan marah-marah kakek inipun lalu kembali ke Ang-bhok-san dengan muka uring-uringan. Sudah lama dia memendam hasrat ingin membopong cucu jenis “unggul". Dan satu-satunya jalan ialah mengawinkan salah satu anak buahnya dengan manusia. Hanya dari perkawinan inilah akan muncul jenis baru dan menurut kepercayaannya, si raja monyet Kauw-ce-thian pasti akan menjelma di dalam tubuh jabang bayi itu.

Tidak tahunya, sampai sekarangpun belum ada yang mau dikawinkan. Bangsa manusia ternyata bangsa yang betul-betul sombong, angkuh dan menganggap diri sendiri sebagai makhluk tertinggi di dunia. Tidak mau berdiri "sama tinggi" dengan bangsa lain, bahkan mereka itu sangat merendahkan mahluk-mahluk lain, tidak ingat betapa bangsa monyet adalah leluhur mereka!

Bukankah kalau dihitung-hitung monyet adalah nenek moyang manusia sekarang? Bagaimana manusia bisa melupakan dan menghina leluhurnya sendiri? Sungguh manusia mahluk menyebalkan! Demikian menurut pendapat kakek itu. Dia adalah pemuja Kauw-ce-thian, maka tidaklah mengherankan jikalau terhadap bangsa monyet kakek ini menghargai lebih dari sepantasnya. Bahkan menurut pikirannya, manusia lebih rendah satu tingkat dibandingkan bangsa monyet karena mahluk itulah yang mula-mula muncul di bumi sebelum manusia menjadi sempurna ujudnya!

Semua pikiran yang malang melintang tidak karuan inilah yang menyebabkan dia terasing dari pergaulan. Dan siapa sudi bersahabat dengan kakek gila semacam ini? Apalagi si Dewa Monyet sendiri lebih suka bergaul dengan monyet‐monyet itu yang dianggap jauh lebih menyenangkan daripada manusia yang penuh akal busuk dan tipu muslihat.

Bu Kong yang mendengar ucapan kakek ini terhadap si monyet besar berbulu coklat yang dipanggil Siau-ji dan yang hendak dijodohkan kepada Pek Hong, tentu saja merasa marah dan mendongkol sekali. Kakek itu benar-benar kurang ajar dan tidak waras otaknya. Sikapnya terlalu amat merendahkan orang. Masa gadis cantik seperti ini hendak dinikahkan dengan seekor monyet?

Maka sebelum Si Dewa Monyet sendiri tambah melantur, pemuda ini lalu membentak sambil melompat berdiri, "Kauw-sian, berani kau omong seenak perutmu sendiri? Siapa bilang gadis ini masih single? Dia adalah isteriku, sekali lagi kau mengeluarkan kata-kata tidak patut, jangan salahkan aku kalau kepalamu kupecahkan!"

Si Dewa Monyet tampak terkejut dan mengeluarkan jerit keras, seketika suara tawanya terhenti. Dia memutar tubuh, memandang pemuda itu dengan matanya yang bulat kecil kemerahan, sejenak terbelalak dan tampak terkejut, akan tetapi kemudian segera mukanya berobah dan kakek ini memekik.

"Kerrr! Anak muda bermulut besar bernyali naga! Dalam keadaanmu yang sudah sepayah ini masih berani mengancam aku? Hooo, kalau tidak ingat bahwa sebentar lagi kau akan masuk kubur, tentu kau akan kubikin mati tidak hiduppun tidak!" kakek ini membentak dan sekali kakinya bergerak, tiba-tiba tubuhnya telah melayang ke depan.

Pek Hong juga terkejut mendengar kata-kata pemuda itu, mulutnya mengeluarkan seruan tertahan dan seketika dia menghentikan tangisnya. Kedua tangannya diturunkan dan dengan mata basah gadis ini melihat betapa Bu Kong melangkah maju menyongsong kakek sinting itu dengan kaki terhuyung-huyung.

"Apa kau bilang, kakek setan? Siapa yang akan mati? Kau ataukah aku? Agaknya hal ini masih harus kita buktikan dulu. Dia adalah isteriku dan kau tidak boleh merampasnya begitu saja. Lalui dulu mayatku baru kau boleh berbuat sesuka hatimu!" begitu habis mengucapkan kata-katanya ini, Bu Kong tiba-tiba menubruk ke depan dengan kecepatan kilat.

"Wehhh...!" Kauw-sian terkejut, sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda yang dilihatnya sudah kemasukan racun jahat ini ternyata masih mampu melancarkan serangan hebat. Dari angin kesiurnya saja Si Dewa Monyet tampak terkejut setengah mati dan berteriak heran.

Akan tetapi karena pemuda itu dalam keadaan sakit, mana bisa menghadapi kakek sinting ini? Sekali mulutnya mengeluarkan suara mengejek, segesit kera Si Dewa Monyet melompat ke samping dan tanpa membalas Bu Kong dibuatnya roboh tersungkur mencium tanah!

"Ha ha-heh-heh, anak muda berotak udang, apa kubilang tadi? Tanpa menyerang sekalipun kau pasti akan mampus. Dan kalau engkau nekat, tenaga saktimu akan menghantam diri sendiri dan dinding ususmu akan pecah berantakan! Tidak tahu dari mana kau bisa menelan racun Jit-coa-tok (Racun Tujuh Ular) yang amat ganas ini? Kalau saja engkau tidak ikut-ikutan berdusta, agaknya masih suka aku menolongmu. Tapi kau telah melanggar dosa, mana sudi aku membantumu? Hanya kalau engkau menyangkal pengakuanmu tadi baru aku mau mengampunimu. Hayo, tarik kembali omonganmu...!"

Kiranya di dalam hatinya diam-diam kakek gila ini terpengaruh juga oleh kata-kata Bu Kong tadi. Sebagaimana dikatakan, kakek ini tidak suka mengambil wanita yang sudah menjadi isteri orang, maka tentu saja pengakuan pemuda itu mengejutkan hatinya. Dia sudah merasa girang mendapatkan calon mantu seperti gadis ini, karena tentu kelak anaknya istimewa sekali. Akan tetapi, kalau betul gadis itu isteri dari pemuda yang sudah hampir mati ini, bagaimana dia dapat tidur tenteram?

Tentu perbuatannya ini akan dihukum oleh Kauw-ce-thian, Raja monyet itu pembenci kejahatan, paling tidak suka melihat sikap sewenang-wenang dari orang lain. Itulah sebabnya mengapa kakek inipun tidak suka mengganggu orang. Menurut kepercayaannya, mengganggu orang lain tidak akan diberkahi oleh Kauw-ce-thian, dan sekali raja monyet itu marah, tentu dia tidak akan diberi tambahan ilham untuk ilmu-ilmunya.

Bu Kong yang roboh tersungkur, terkejut sekali mendengar kata-kata kakek itu. Apa yang diucapkan Si Dewa Monyet ini ternyata benar belaka. Begitu dia mengerahkan tenaga memukul, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit dan nyeri, seperti dirobek dari dalam. Agaknya kalau dia nekat, dinding ususnya akan pecah berantakan terpukul balik oleh tenaga lweekangnya. Sungguh hal ini membuat Bu Kong merasa kaget sekali. Kiranya kakek itu betul-betul ahli obat yang amat lihai. Sekali pandang sudah tahu bahwa dia dicekoki racun Jit-coa-tok yang bersarang di dalam perutnya.

Pernah dia mendengar tentang keganasan racun ini, yang konon bekerja secara lambat selama tujuh hari penuh. Dan pada hari kedelapan, bila yang bersangkutan tidak mendapatkan obatnya yang tepat, akan tewas dengan tubuh mengerikan karena urat-urat darahnya pecah dan dari semua lubang akan keluar darah dengan tujuh warna!

Dia tidak tahu apakah racun yang diminumkan itu benar racun Jit-coa-tok. Akan tetapi, mendengar ucapan Si Dewa Monyet yang tepat ini, mau tak mau dia agaknya harus percaya juga dan seketika kemarahan menggelegak dikepalanya. Betapa keji dan jahatnya Cheng-gan Sian-jin! Sebelum dia menghancurkan kakek iblis itu, masa dia harus mati terlebih dahulu?

Dengan mengeraskan hatinya pemuda ini lalu melompat bangun. Wajahnya berwarna hitam keungu-unguan, tampak mengerikan sekali dan matanya merah buas ketika memandang kakek gila itu sampai Pek Hong sendiri menjerit tertahan.

"Kauw-sian, perduli aku mati atau tidak tetap kau tidak boleh mengganggu gadis itu. Sekali kau menghinanya, aku akan menyerangmu mati-matian dan kalau aku tewas, rohku akan mengejar-ngejarmu sampai ke liang kubur!"

Si Dewa Monyet terbelalak, tak terasa dia menjadi ngeri juga mendengar ancaman ini dan kakinya mundur setindak. “Kau... pemuda dogol, mengapa hendak berlaku nekat? Dia bukan isterimu dan kaupun bukan suaminya, mengapa mati-matian berbohong di depanku?"

Sejenak dua pasang mata beradu pandang, lalu Bu Kong mengalihkan pandangannya kepada murid Ta Bhok Hwesio ini. Dia hampir mati, racun jahat sudah mengeram selama beberapa hari. Dan melihat sikap permusuhan kakek ini kepadanya, agaknya tidak ada harapan baginya untuk hidup. Berkali-kali Pek Hong menolongnya dari bermacam kesulitan dan belum pernah dia memberikan sesuatu imbalan jasa yang memuaskan dan berarti bagi gadis itu. Maka sekaranglah saatnya dia harus memberikan sesuatu yang mengesankan.

Dia mengeluarkan jengekan dari hidung. "Huh, siapa berbohong kepadamu? Kau percaya atau tidak tentang pengakuan kami, terserah. Persetan dengan kepercayaanmu itu!"

Si Dewa Monyet naik pitam, dia mendelik dan hampir saja menggerakkan tangannya memukul, akan tetapi beradu pandang dengan sepasang mata yang mencorong kemerahan itu, dia membatalkan niatnya dan mendengus. Pemuda ini berjalan saja sudah terhuyung-huyung akan roboh, tanpa dia serang sebentar lagi tentu mati sendiri, buat apa melayani anak muda itu? Yang membuat dia mendongkol adalah dusta mereka, terang mereka bukan suami isteri, mengapa harus mengaku-aku demikian?

"He, nona gagu!" tiba-tiba kakek ini berpaling dan berteriak ke arah Pek Hong, "Coba kau jawab yang betul. Apakah pemuda ini betul-betul suamimu? Kalau benar harap anggukkan kepala akan tetapi kalau tidak cukup gelengkan kepalamu. Jika engkau gadis yang baik dan tidak tahu malu, tentu engkau akan menjawab dengan jujur! Hayo, bagaimana jawabmu?"

Muka Pek Hong menjadi merah sekali dan dia melirik ke arah Bu Kong. Kebetulan pada saat itupun pemuda ini sedang memandangnya dan sebelum gadis ini menjawab, Bu Kong telah mendahuluinya sambil tertawa getir, "Kauw-sian, kau sungguh terlalu. Dia memang isteriku, kenapa harus diulang-ulang lagi? "

Kakek itu tampak gemas. "Tutup mulutmu, aku tidak tanya kepadamu! Di dunia ini lebih banyak laki-laki yang tidak tahu malu daripada kaum perempuan!" bentaknya sambil melotot . "Kalau dia memang isterimu, kenapa kusuruh cium suami sendiri tidak mau? Ia bohong, dan kaupun pendusta besar!"

Melihat kakek itu mencak-mencak marah, pemuda ini tiba-tiba tertawa bergelak. "Hong-moi, kemarilah!" serunya dengan suara serak. "Kau adalah isteriku yang baik, meskipun sebentar lagi aku mati, akan tetapi tidak nanti aku akan mengecewakan dirimu. Kesinilah, aku hendak memberikan sesuatu..."

Pek Hong yang sudah dari tadi merasa gelisah dan tidak karuan hatinya, melangkah maju dengan kaki gemetar . Dia tidak tahu apa yang hendak dibicarakan oleh pemuda itu. Akan tetapi melihat keadaan orang semakin gawat, ia cepat menghampiri. Diam-diam gadis ini merasa marah sekali kepada Si Dewa Monyet. Hanya karena semata-mata mematuhi pesan Phoa lojin sajalah maka dia mandah mendengar semua kata-kata yang menyakitkan dari kakek yang tidak waras otaknya ini. Ia telah mengambil keputusan, bahwa jika pemuda itu tidak tertolong, dia akan mengadu jiwa dengan kakek monyet ini dan mengobrak-abrik sarangnya!

Setelah nona itu mendekat, dengan langkah terhuyung pemuda ini menyambut. Denyut di kepalanya menghantam bertalu-talu, tubuhnya gemetar, kaki tangannya menggigil. Pada saat itu dia sudah mirip orang mabok, semua peristiwa yang akhir-akhir ini dialami berkelebat silih berganti. Pertama-tama teringatlah olehnya akan kekasih sendiri yang berkhianat, lalu fitnah keji yang melekat di tubuhnya, kemudian perjumpaannya kembali dengan keponakan Lie-thaikam yang sama sekali tidak disangka-sangkanya itu. Bahkan yang lebih hebat lagi, ternyata Lie Lan adalah murid Cheng-gan Sian-jin yang mencekoki racun Jit coa-tok! Keadaannya sungguh mengenaskan, juga penuh penasaran.

Semuanya ini membuat hatinya sakit bukan main. Kalau kekasih sendiri sudah berkhianat, kalau namanya sudah dirusak orang seperti itu, dan kalau suhunya sendiri juga sudah mencarinya, apalagi yang harus dipikirkan? Perutnya bergolak, nyeri dan pedih seperti ditusuk pisau dari dalam, keadaannya sudah mencapai titik bahaya dan dia tidak mempunyai harapan lagi. Apa yang harus dicemaskan?

Dia tidak takut mati. Kalau Tuhan menghendaki dia harus mati dengan cara demikian, membawa sakit hati yang tak terlampiaskan, biarlah dia terima. Akan tetapi gadis murid Ta Bhok Hwesio inilah yang membuat Bu Kong merasa gelisah dan cemas Dia merasa berdosa terhadap gadis ini dan penyesalan besar menghimpit batinnya.

Dia tahu betapa besar dan murninya cinta kasih Pek Hong terhadap dirinya. Dan sekarang dengan mati-matian gadis itu telah berusaha menolongnya dari renggutan maut. Seharusnya, melihat kenyataan dan mengingat peristiwa-peristiwa pahit tentang hubungan cinta kasihnya dengan puteri Panglima Ok itu, dia harus bisa membebaskan diri dari Siu i yang telah mengkhianatinya dan menerima uluran cinta kasih murid hwesio Tibet ini.

Akan tetapi entah mengapa, meskipun dia marah dan benci sekali terhadap Siu Li yang telah mempermainkannya, tetap saja cinta kasihnya yang tertanam dalam-dalam di hatinya terhadap gadis itu tidak dapat dicabut begitu saja. Hatinya memang sakit, robek dan berdarah oleh semua perbuatan kekasihnya itu. Namun dia sendiri toh tidak mampu mengusir bayangan Siu Li dari lubuk hatinya.

Dan sekarang, dalam saat terakhir ini dia melihat betapa dia harus menyia-nyia kan cinta kasih Pek Hong. Meskipun mulutnya memberi muka, akan tetapi hatinya tertutup rapat. Dia tidak mampu membukanya dan inilah yang membuat Bu Kong merasa menyesal dan berdosa sekali.

Akan tetapi, pemuda ini telah bertekad untuk melakukan sesuatu bagi gadis itu, sesuatu yang dapat dikenang dan dirasakan selama hidup. Sebentar lagi maut akan menjemputnya dan sebelum ajal, dia hendak melindungi nama baik dara itu dari ejekan orang. Maka begitu gadis ini mendekatinya, cepat dia menyambar lengan Pek Hong dan menarik gadis itu di belakang tubuhnya. Kemudian dengan muka mengejek Bu Kong lalu menghadapi Si Dewa Monyet sambil berkata,

"Kauw-sian, isteriku ini adalah wanita terhormat, mana mungkin engkau dapat menyuruhnya melakukan perbuatan yang tidak sopan? Dia menangis karena melihat aku berada di ambang maut, dan ia tidak sudi menjalankan perintahmu adalah karena ia justeru seorang wanita yang tahu susila! Nah, apa maumu? Kalau engkau ingin sekedar bukti dariku, lihatlah..."

Selesai mengucapkan kata-katanya ini, tiba-tiba Bu Kong meraih pinggang murid Ta Bhok Hwesio itu dan dengan lembut mengecup kening si dara.

"Nah, sudah percayakah engkau, kakek sinting?" Bu Kong mengejek Si Dewa Monye t yang terkesima menyaksikan hal ini. Kakek itu melihat betapa gadis cantik itu diam saja ketika dicium, bahkan mukanya menjadi merah lalu kembali terisak-isak sedih dan menyembunyikan mukanya di dada pemuda ini. Jelas, dilihat begini saja terang bahwa apa yang dikatakan oleh mereka adalah benar.

Namun, perasaannya yang tajam membisiki kakek ini bahwa apa yang telah dilakukan muda-mudi itu tidak sungguh-sungguh. Terdapat kecanggungan dan keraguan diantara masing-masing pihak. Meskipun bukti yang diminta telah dipenuhi, tetap saja kakek yang mau menang sendiri ini merasa tidak puas.

"Kalian... keparat semuanya! Kalian bohong, kalian orang-orang muda yang tidak tahu malu. Dan kau, pemuda yang mau mampus, ternyata kaupun bermuka tebal! Cihh, mana bisa kau mengelabuhi orang tua seperti diriku ini? Aku belum percaya kalian tidak jujur, kalian curang!"

Kakek itu mencak-mencak dengan mata mendelik, sedangkan Siau-ji sendiri yang berada di dekat Si Dewa Monyet juga mengeluarkan cecowetan marah. Agaknya monyet inipun juga bisa dihinggapi perasaan "cemburu", buktinya, ketika dia melihat Pek Hong dicium pemuda itu, kera ini tampak beringas dan mengamang-amangkan tinjunya yang kecil kepada Bu Kong!

Tentu saja pemuda ini naik darah. Kalau saja kepalanya tidak berdenyut denyut seperti itu, kalau saja perutnya tidak terasa sakit dan nyeri seperti dirobek-robek dari dalam, tentu tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang kakek gila ini. Akan tetapi, dia masih mencoba menahan diri. Makian Si Dewa Monyet yang tepat mengenai sasarannya ini membuat mukanya terasa pedas. Begitulah banyak orang telah mengecamnya pemuda muka tebal alias pemuda tidak tahu malu, Bukankah ini cocok sekali dengan keadaannya sekarang yang dikabarkan orang melakukan perjinaan dan perbuatan tidak senonoh lainnya lagi?

"Hemm, kalau begitu apa maumu, kakek setan?" Bu Kong membentak dengan sinar mata berapi. Kemarahan yang memenuhi dadanya membuat kepalanya semakin hebat dihantam denyut nadi yang bertalu-talu, matanya berkunang-kunang akan tetapi sekuat tenaga dia masih mencoba bertahan.

"Aku menghendaki saksi! Ya, aku menghendaki saksi untuk menguatkan pengakuan kalian berdua. Tidak boleh kalian mengada-ada di sini untuk membohongi lohu. Bukankah bisa saja setiap orang saling mengaku sebagai suami isteri kalau mereka tergolong manusia-manusia tidak tahu malu? Dan kalian tidak boleh bermain-main di depan lohu. Sudah banyak aku ditipu orang dan sudah kenyang aku akan tipu muslihat busuk mereka. Kalian curang, lohu tidak terima, harus ada saksi di sini. Kalau tidak, jangan harap kalian dapat kabur setelah membuat onar di Ang-bhok-san!" Kakek itu mencak-mencak dan sepasang matanya tampak buas, agaknya siap menyerang dua orang muda-mudi ini.

Bu Kong menjadi marah sekali. "Kauw-sian, kau tahu bahwa di sini tidak ada orang lain yang dapat dijadikan saksi! Bagaimana kau minta kami memanggil seseorang untuk menjadi saksi?" pemuda ini membentak gusar.

"Aha, itulah salahmu sendiri!" kakek itu menjawab seenaknya. "Lohu tidak perduli kalian bisa atau tidak mendapatkan saksi. Kalau bisa, itulah nasib sial lohu, akan tetapi kalau tidak, itulah bukti kebohongan kalian. Kenapa waktu datang ke sini tidak membawa teman? Masalah kalian bisa memenuhi ataukah tidak inilah bukan urusan lohu lagi, heh-heh-heh..."

Kakek itu tertawa-tawa mengejek dan mukanya tampak gembira. Agaknya dia merasa berada di atas angin, maka semua kemendongkolan hat8nya hendak dia tumpahkan kepada murid Malaikat Gurun Neraka ini. Gara-gara pemuda itulah maka maksud hatinya tertunda-tunda. Kalau tidak, bukankah sejak tadi dia dapat membawa gadis itu ke puncak? Karena si pemuda mengaku sebagai sang suami sedangkan si gadis sendiri mengaku sebagai isteri inilah maka terpaksa dia berdebat mulut dahulu.

Bu Kong menjadi naik pitam. "Keparat, kau setan tua yang curang!" makinya penuh kemarahan .

"Dan kau pemuda muka tebal!" kakek itu membalas sambil terkekeh-kekeh.

"Jadi kau tetap tidak percaya kepada pengakuan kami?"

"Memangnya kalian bisa mengelabui lohu? He-he, anak muda, tua-tua lohu ini sudah banyak makan garam penghidupan. Mana bisa kalian berdusta di depan lohu? Aku menghendaki saksi, sekarang juga. Kalau engkau dapat memenuhinya, biarlah lohu terima kalah. Ha-hah-heh-heh...!"

Jelas inilah "vonis" si hakim gila. Terang di tempat yang sunyi itu tidak ada manusia lagi selain mereka bertiga. Dan Si Dewa Monyet menghendaki pada saat itu juga. Bukankah dia sengaja menggencet muda-mudi ini untuk mencari kemenangan diri sendiri? Bagaimana tidak membuat orang meluap kemarahannya?

Akan tetapi sungguh aneh bin ajaib! Sebelum Bu Kong berteriak gusar, tiba-tiba terdengar bentakan halus seorang wanita, "Hemm, Dewa monyet yang tak tahu diri, berani kau menghina Yap-goanswe? Kalau kau berkeras kepala menghendaki saksi, akulah saksinya...! Mereka berdua betul suami isteri, berani kau tidak percaya kepada omonganku?"

Suara ini merdu dan nyaring, tinggi melengking, dikeluarkan di tempat sesunyi itu dapat didengar sampai belasan lie jauhnya. Si Dewa Monyet terkejut, mukanya berobah dan seketika dia memutar tubuh memandang ke asal suara. Mulutnya sudah siap untuk melontarkan caci-maki, akan tetapi begitu melihat wanita yang berdiri anggun di atas batu karang di tepi tebing itu seketika wajah kakek ini berobah pucat dan tubuhnya menggigil.

"Siocia...!" kakek itu berseru kaget dan cepat maju berlutut, sikapnya tiba-tiba tampak ketakutan dan semua kegarangannya lenyap. Dengan tubuh gemetar kakek ini membentur-benturkan dahinya di atas tanah berbatu sampai kulit jidatnya lecet.

Peristiwa ini benar-benar luar biasa sekali. Si Dewa Monyet yang tadinya nampak galak itu begitu berjumpa dengan wanita berpakaian putih di atas batu karang ini tiba-tiba saja berobah seperti tikus yang bertemu dengan seekor kucing. Bu Kong dan Pek Hong juga terkejut sekali mendengar bentakan merdu itu. Mereka serasa mengenal suara ini, maka hampir berbareng keduanya segera menoleh dan... dua orang ini berteriak kaget seperti disambar petir!

"Siu Li...!" saking kagetnya melihat gadis di atas batu karang itu, Pek Hong memekik dan seketika sikap pura-puranya sebagai gadis gagu buyar berantakan.

Memang, siapakah yang tidak akan terkejut setengah mati menyaksikan kehadiran yang amat tiba-tiba dari puteri Panglima Ok atau kekasih dari Yap Bu Kong ini? Apalagi gadis itu datang sebagai saksi dan membenarkan pengakuan mereka bahwa mereka betul suami isteri! Siapa yang tidak terkejut?

Bu Kong sendiri seperti melihat setan di siang bolong. Mukanya pucat tak berdarah, matanya terbelalak tanpa berkedip dan pemuda ini seakan-akan telah berubah menjadi patung batu. Rasa kaget yang amat sangat mengguncang hatinya dan bekas jenderal muda itu berdiri terkesima.

Ada perasaan girang, cemas, marah, malu dan sebagainya lagi yang bercampur aduk tidak karuan. Kalau saja kehadiran Siu Li tidak di saat seperti itu, di mana dia bersama Pek Hong telah saling mengaku di hadapan Si Dewa Monyet sebagai suami isteri, agaknya kekagetan pemuda ini tidak akan separah itu. Akan tetapi, justeru dalam keadaan seperti inilah Siu Li muncul! Bagaimana dia tidak akan terkejut sekali?

Mendengar Pek Hong menyebut namanya gadis di atas batu karang itu menoleh dan senyum pahit membayangi wajahnya, Bu Kong melihat betapa meskipun gadis itu tersenyum, namun wajah jelita ini penuh diselimuti mendung gelap, sepasang matanya sayu dan redup, dan bibir yang basah itu agak ditarik seakan sedang merasakan suatu kenyerian batin yang amat hebat.

"Adik Hong, terima kasih bahwa kau masih suka mengenalku. Sungguh aku merasa menyesal sekali bahwa kedatanganku sedikit terlambat. Kalau tidak, bukankah suamimu itu dapat secepatnya ditolong? Racun Jit-coa-tok memang ganas, sekarang empat diantara tujuh racun telah tidak berani banyak bekerja, kalau kita tidk cepat bergerak, bukankah nyawanya sukar dipertahankan lagi?"

Demikian gadis ini berkata perlahan, lalu tiba-tiba dia menoleh ke arah Si Dewa Monyet, dengan suara bengis membentak, "Kauw-sian, berani kau bersikap kurang ajar terhadap Yap-goanswe suami isteri? Hayo bantu mereka dan cepat siapkan bahan-bahan obat yang diperlukan!"

Sikap yang diperlihatkan gadis ini terhadap SI Dewa Monyet sungguh amat berlawanan dengan sikapnya terhadap Pek Hong. Terhadap kakek ini gadis itu seakan-akan menganggap Si Dewa Monyet sebagai pelayannya, dan anehnya, kakek itu sendiri ternyata tidak banyak omong. Hanya karena merasa penasaran dan terkejut melihat betapa gadis yang tadi berpura-pura gagu itu ternyata dapat berbicara, kakek ini memprotes.

"Akan tetapi, siocia, mereka ini... mereka ini tukang bohong! Buat apa kita menolongnya? Biarkan saja mereka menerima hukuman. Lohu hendak ditipunya mentah-mentah, mereka berdua ini bukan orang baik-baik dan..."

“Tutup mulutmu!" tiba-tiba Siu Li membentak dengan sinar mata berapi. "Berani kau membantah semua perintahku? Beginikah subo mengajar adat kepadamu? Aku tidak butuh alasanmu yang tiada gunanya itu. Sekarang, cepat bawa Yap goanswe ke atas dan obati dia sebelum terlambat!”

Melihat betapa gadis cantik ini marah sekali, Si Dewa Monyet menguncup dan tubuhnya gemetar keras. Cepat kakek itu menjatuhkan diri berlutut dan dengan muka pucat berkata, "Ampun siocia.... ampunkan lohu yang kelepasan bicara. Kalau siocia menghendaki demikian, mana lohu berani membantah lagi? Harap siocia tidak melaporkan kecerewetan lohu kepada thai-siang, dan untuk ini biarlah lohu segera membawa pemuda itu ke puncak..."

Dengan tergopoh-gopoh kakek yang ketakutan ini lalu menghampiri Bu Kong, maksudnya hendak membawa pemuda itu ke atas bukit untuk diobati. Dia sudah tidak berani banyak cing-cong lagi melihat murid Mo-i Thai-houw itu marah kepadanya. Kalau sampai gadis ini melapor kepada thai-sian (sebutan terhadap Mo-i Thai-houw), kakek itu tidak berani membayangkan hukuman apa yang bakal diterimanya. Nenek itu terkenal kejam dan telengas, membunuh orang lain seperti membunuh semut saja.

Apa yang diperlihatkan kakek ini sungguh mengherankan. Mengapa dia tampak ketakutan dan jerih terhadap Mo-i Thai - how? Memang ada terselip rahasia di sini mengapa sebabnya kakek bermuka monyet itu paling ta kut ter hadap Mo-i Thai-houw yang menjadi subo (guru) dari gadis berpakaian putih ini.

Dulu belasan tahun yang lalu, ketika Kauw sian ini masih muda, kakek itu pernah melakukan sebuah dosa terhadap Mo-i Thai-houw. Pada waktu itu usia kakek ini kurang lebih hampir empat puluh tahun. Dan konon menurut kata orang, usia sekian bagi kaum lelaki adalah "panas-panasnya” gairah berahi yang kembali bergejolak.

Orang sekarang bilang bahwa itu adalah masa “puber kedua". Entah benar entah tidak, yang jelas si Dewa Monyet ini pada suatu hari bertemu dengan Mo‐i Thai-houw yang pada waktu itu juga masih merupakan wanita muda yang cantik jelita. Perjumpaannya dimulai ketika kakek ini sedang mengaso di atas sebatang pohon raksasa yang rindang daunnya dalam sebuah hutan. Dan tak jauh dari pohon ini, sebuah telaga kecil yang jernih airnya mengalir di situ. Demikian beningnya air ini sehingga da sar telaga tampak dengan nyata.

Dihembus angin semilir yang demikian lembut dan sepoi-sepoi basah, Dewa Monyet yang tadi duduk melenggut di atas dahan itu akhirnya jatuh tertidur. Berapa lama dia pulas kakek itu tidak tahu. Yang jelas, tiba-tiba telinganya yang tajam ini mendengar suara air berkecipak. Tentu saja kakek itu terkejut dan dia mengira bahwa ada ular yang sedang berenang di telaga kecil itu. Cepat dia membuka mata dan apa yang dilihatnya? Seorang bidadari sedang mandi telanjang bulat di dalam air yang amat jernih itu. Sedemikian jernihnya air telaga ini sehingga segala sesuatunya tampak dengan demikian jelas!

Bagaimana kakek itu tidak mencelos hatinya melihat pemandangan yang luar biasa ini? Jantungnya serasa berhenti berdetik, jakunnya naik turun dan tanpa dia sadari lagi, sepasang matanya melotot tak berkedip seperti ikan emas. Dasar lelaki. Sejelek-jeleknya muka kakek ini toh dia bukan golongan betina. Mana hatinya tidak dag-dig-dug sejak semula? Maka pemandangan yang amat langka ini benar-benar tidak dilewatkannya begitu saja.

Namun sungguh sial, saking asyiknya mengintai kakek itu sampai tidak menyadari betapa dari bawah pohon merayap naik sebarisan semut merah. Semut ini besar-besar, sungutnya panjang dan sikapnya buas. Barisan semut merah ini membawa seekor bangkai cecak yang telah kering. Iring-iringan semut berapi ini menuju ke atas pohon, dan yang mereka tuju adalah markas pusat berupa sebuah lubang dimana semut-semut itu biasanya menyimpan bahan makanan cadangan.

Dan celakanya, justeru lubang tempat pasukan semut merah ini berada di bawah kaki Si Dewa Monyet. Kakek itu tidak tahu betapa kakinya menutup lubang yang merupakan markas pusat binatang-binatang kecil ini, maka tidaklah aneh kalau semut-semut berapi itu menjadi marah kepada pengganggu ini dan mereka lalu menyerbu kakek itu habis-habisan!

Mula-mula semut yang di depan sendiri menggigit ibu jari kakek ini. Akan tetapi, karena yang menggigit baru seekor dan kakek itu sendiri sedang asyik melahap pemandangan indah di bawah sana, maka kakek ini seakan tidak merasakan apa-apa. Dia hanya sedikit berjengit dan dengan gemas tangannya memencet mampus semut kurang ajar itu.

Akan tetapi, kakek ini tidak tahu betapa setelah seekor semut dipijatnya mampus, semut-semut yang lain telah merubung seluruh kakinya dan bagaikan perajurit-perajurit berani mati, ratusan semut berapi itu menggigit sana-sini sehingga Si Dewa Monyet berteriak kesakitan.

Inilah kesalahannya pertama. Saking asyiknya mengintai gratis, kakek ini sudah terlambat untuk mengetahui bahwa dirinya sudah diserang barisan semut merah yang banyak jumlahnya. Karena kaget dan kesakitan, kakek itu menjerit dan menggaruk sana memencet sini membunuh semut-semut berapi ini. Dan hal ini membuat wanita muda yang sedang mandi di dalam telaga kecil itu terkejut bukan main.

Cepat wanita ini mendongak dan seketika mulutnya berteriak kaget. Melihat betapa seorang laki-laki kurang ajar telah mengintainya secara cuma-cuma sambil nongkrong di atas pohon, wanita itu meluap kemarahannya. Sekali melengking tubuhnya yang telanjang bulat itu melompat dari dalam air!

Si Dewa Monyet terpesona dan mulutnya celangap, sejenak dia melupakan serangan semut-semut merah itu. Pemandangan ini terlampau luar biasa baginya dan karena lengah, kakek itu harus membayar mahal. Belasan ekor semut secara serentak memasuki pipa celananya dan menerobos ke atas. Akhirnya, setelah berhasil menemukan yang mereka cari, semut-semut ini menggigit dan kontan kakek itu menjerit ngeri.

Dan pada saat itu, wanita cantik yang sebenarnya bukan lain ad alah Mo-i Thai-houw adanya, telah melayang keatas pohon dan sekali tangannya bergerak, angin pukulan yang amat dahsyat menghantam Si Dewa Monyet. Kakek itu terkesiap, tanpa menghiraukan barangnya diserbu semut ganas, cepat dia mumbul lebih tinggi. Dia selamat dari serangan maut itu, akan tetapi dahan yang tadi dibuatnya nongkrong patah dan roboh berderak sambil mengeluarkan suara hiruk pikuk.

Tentu saja kakek ini tercekat. Saking bingung dan paniknya, dia lupa bahwa pada saat itu dia sedang berada di udara. Disangkanya bahwa dia berada di atas tanah maka begitu tubuhnya turun kembali, langsung dia hendak memasang kuda-kuda. Sial dangkalan! Baru saja dia mencoba menggeser kaki untuk membuat bhesi, tahu-tahu..."bless" tubuhnya terus merosot turun ke bawah tanpa ampun!

"Haiiii...?!?" kakek ini berseru kaget namun semuanya sudah terlambat. Karena tidak menyangka-nyangka akan kejadian begini, kontan tubuh kakek itu terbanting di atas tanah keras dengan pantat terlebih dahulu.

"Blukk... Aduhhh...!" Kakek ini menjerit kesakitan dan saking kerasnya dia jatuh, dia tidak dapat melompat bangun dengan seketika. Tulang ekornya bertemu dengan tanah keras dan kontan pandangan matanya gelap.Keadaan sungguh runyam baginya, pantat terasa nyeri dan semut-semut berapi yang tadi memasuki celananya itu ternyata agaknya kerasan sekali di dalam. Buktinya, mereka ini terus menggigit sana-sini dan tidak mau keluar. Tentu saja kakek ini kelabakan, apalagi Mo-i Thai-houw yang sudah marah sekali itu juga sudah menerjang tiba.

"Heii, nyonya... eh, nona, perlahan dulu...! Aku tidak sengaja, aku tidak bersalah! Eiittt....!" kakek itu berkaok-kaok seperti kambing kebakaran jenggot dan dengan gugup mencoba bergulingan menghindarkan diri.

"Tidak bersalah apanya? Tidak sengaja apanya? Jelas matamu melotot seperti ikan emas masih berani bilang tidak berdosa kepada nonamu, ya? Keparat jahanam, kau laki-laki yang pantas mampus...!" wanita muda ini memekik marah seperti seekor harimau betina dan menghajar kakek itu.

Karena kepandaian Mo-i Thai-houw memang jauh lebih tinggi daripada kakek ini, akhirnya Si Dewa Monyet harus mengakui keunggulan lawan. Tubuhnya babak-belur dan kulit mukanya pecah-pecah ditampar orang. Baru kakek ini benar-benar merasa kaget bukan main. Sama sekali dia tidak mengira bahwa wanita muda yang tubuhnya aduhai itu ternyata sedemikian hebat kepandaiannya! Kalau tahu begini, mana berani dia tadi mengintai si bidadari yang ganas ini?

Maka segera timbul pikirannya untuk kabur. Lawan terlampau kuat baginya, dan jalan paling aman sementara ini adalah menjalankan jurus "langkah kaki seribu" alias merat! Begitu berpikir, begitu kakek ini mengerjakannya. Ketika wanita muda itu kembali menyerang dahsyat, tiba-tiba dia berteriak, "Hei, nona... ular... ular telaga menempel di dadamu...!"

Teriakan ini dilakukan dengan amat tiba-tiba dan mimik muka kakek itupun juga tampak sungguh-sungguh. Mo-i Thai-houw terkejut dan tanpa terasa menjerit kecil, seketika serangannya mandek setengah jalan. Cepat wanita ini memandang dadanya sendiri dan seketika itu juga wajahnya menjadi merah padam. Kiranya kemarahan yang kelewat sangat telah membuat dirinya lupa untuk menutupi tubuhnya. Dengan telanjang bulat begitu saja dia menyerang orang mati-matian!

"Ihh....!" Wanita ini memekik tertahan dan sekali tubuhnya berkelebat, ia lenyap di balik kerimbunan semak belukar. Disitulah dia tadi meletakkan pakaiannya, maka cepat sekali seperti maling takut konangan, wanita ini mengenakan pakaian sebisanya. Karena terlalu tergesa-gesa, bajunya dia pakai secara terbalik dan dengan model aneh ini Mo-i Thai-houw segera melompat keluar untuk meneruskan perhitungannya dengan si kakek laknat.

Tapi sayang Si Dewa Monyet sudah kabur dari tempat itu. Tentu saja wanita ini menjadi gemas dan marah. Sekali kakinya menotol tanah, tubuhnya melayang ke puncak sebatang pohon yang paling tinggi dan dari tempat inilah ia melayangkan pandang ke segala penjuru. Dan.. itu dia! Dengan hati berang wanita ini melihat betapa laki-laki yang tadi mengintainya secara kurang ajar itu sedang lari terbirit-birit di sebelah barat. Ginkang Mo-ii Thai-houw memang luar biasa. Tanpa turun lagi di atas tanah, wanita ini lalu mengejar kakek itu dengan cara terbang di atas pucuk pucuk pohon yang tinggi menjulang itu!

Gerakannya sungguh mentakjubkan. Kalau saja di tempat itu kebetulan ada orang lain yang melihat kejadian ini, tentu dia akan mengira bahwa yang dilihatnya melayang-layang secepat burung besar dan meloncat-loncat dari pohon yang satu ke pohon yang lain itu bukanlah manusia namun sebangsa siluman. Siluman rimba!

Memang luar biasa wanita ini, juga akal yang digunakannya menunjukkan kecerdikan otaknya. Kalau dia mengejar di atas tanah, kemungkinan jejak Si Dewa Monyet dapat lenyap dengan jalan menyelinap di semak-semak belukar. Tapi dengan pengejaran dari atas pohon ini membuat pandangannya ke depan amat leluasa dan tajam.

Mana kakek itu mampu lolos dari uberannya? Jarak mereka semakin dekat saja dan ketika Si Dewa Monyet hampir menarik napas lega, tiba-tiba dari udara menyambar turun sesosok bayangan disusul bentakan nyaring.

"Monyet buruk, ke mana kau hendak lari?”

Sungguh seakan terbang semangat kakek ini. Sama sekali tidak dikiranya bahwa wanita cantik itu sedemikian lihainya. Kalau sudah begini, apa lagi yang dapat dikerjakannya? Satu-satunya jalan ialah nekat melawan! "Siluman betina, siapa takut padamu? Kalau engkau memaksaku maka akupun tidak akan segan-segan lagi terhadapmu. Lihat serangan...!"

Di mulut mengeluarkan teriakan garang akan tetapi di dalam hati sebenarnya kakek ini sudah hampir roboh pingsan. Tadi dia berkali-kali menerima tamparan wanita itu tanpa dia sempat mengelak. Gerakan wanita cantik ini teramat cepat, baru dia menggerakkan pundak untuk mengangkat lengannya menangkis, tahu-tahu pukulan orang telah tiba terlebih dahulu.

Bagaimana kakek ini tidak menjadi gentar? Dan sesungguhnya tingkat kepandaiannya juga masih jauh di bawah kepandaian Mo-i Thai-houw. Apalagi wanita ini sedang dilanda kejengkelan dan murung karena ditinggal pergi oleh kekasih pujaan hatinya.

Maka bertemu dengan manusia muka monyet yang telah mengintainya ketika dia sedang asyik mandi adalah merupakan jalan keluar bagi semua kemarahannya. Dia tidak mau memberi ampun, akan tetapi Mo-i Thai-houw pun juga tidak segera membunuh kakek ini. Dia hendak menghajar laki-laki ini sampai setengah mati baru urusan gampang untuk menurunkan tangan kejam.

Itulah sebabnya meskipun kakek ini menyerang lebih dulu, sambil menjengek hina Mo-ii Thai-houw tidak mengelak. Serangan orang dia kelit sedikit tanpa susah dan kedua kakinya sudah menggeser ke depan dua tindak. Tangan kirinya bergerak, dan yang kanan menyusul sedetik kemudian. Kalau yang kiri menempeleng pelipis kakek itu, adalah yang kanan menepuk perlahan di pangkal tenggorokan.

"Plak-nguukkkk!" Suara kedua ini keluar dari mulut Si Dewa Monyet seperti kera terjepit, tubuhnya terputar empat kali dan akhirnya roboh terlempar ketika sebuah kaki menendang tempurung lututnya.

"Aduhh.... ampun nona... tobaattt... mati aku…!" kakek itu menjerit ngeri dan takut disusul serangan berikutnya, dia lalu menggelundung pergi. Namun semua gerakannya ini sia-sia belaka. Kemanapun dia menghindar, kesitu juga Mo-i Thai-houw mengejarnya sambil melancarkan pukulan pukulan keras.

"Kau telah bersikap kurang ajar terhadap diriku, mana aku mau mengampunimu? Mati di tangan Mo-i Thai-houw bukanlah kematian yang jelek, kenapa kau berteriak-teriak? Terimalah ini... plakk! Dan rasakan yang ini... plokk!"

Demikian berkali-kali kakek itu dihajar jatuh bangun. Akhirnya Si Dewa Monyet ini merintih panjang. Tubuhnya bengkak-bengkak, mukanya bengap dan berdarah, membuat wajahnya yang sudah jelek itu semakin mengerikan. Dan kakek ini mengeluarkan seruan tertahan ketika mendengar siapa gerangan wanita cantik bertangan ganas itu. Kiranya Mo-i Thai-houw!

Tentu saja kejutnya bukan main dan kakek ini hampir putus asa. Akan tetapi tiba-tiba melintas sesuatu diotaknya. Wajah yang sudah pucat itu mendadak bersinar terang. Sebelum Mo-i Thai-houw menambahi pukulannya, kakek itu berseru keras, "Thai-houw, tahan.... tahan dulu!" dan bagaikan mendapat semangat baru, dia lalu melompat bangun dengan amat sigap.

"Apa yang hendak kau katakan?" wanita ini membentak, namun pukulannya ditunda juga dan ia memandang kakek itu dengan sinar mata yang membuat bulu tengkuk lawannya meremang.

"Aku.... ehh.... hendak omong sedikit.... ehh.... harap engkau tidak marah..."

Melihat orang bicara gagap begini Mo-ii Thai-houw menjadi tidak sabar lagi. Sepasang matanya mendelik dan kembali dia menghardik, "Mau omong lekas omong, memangnya kau tidak punya lidah? Hayo cepat, sebelum nyawa monyetmu kukirim ke akhirat!"

Tubuh kakek ini menggigil dan dengan suara terbata-bata diapun lalu menjawab, "Thai-houw, bukankah orang menjunjung namamu sebagai seorang lihiap (pendekar wanita) yang selalu bersikap adil dan jujur? Tapi kenapa terhadap aku kau bertindak tidak adil begini...?"

"Tidak adil apanya? Memangnya kau tidak punya dosa kepadaku?"

"Akan tetapi... akan tetapi semua kelakuanku itu tidak kusengaja. Aku sudah lama berada di atas pohon. Kalau aku baru datang, masa telingamu yang tajam tidak dapat menangkap gerakan kakiku? Adalah salahmu maka engkau tidak meneliti dulu keadaan sekitar dan..."

"Keparat, berani kau malah menyalah-nyalahkan aku?" bentakan ini memotong ucapan kakek itu dan Dewa Monyet pucat mukanya.

"Eh, tidak... tidak begitu maksudku! Aku hendak bilang bahwa aku terlebih dulu berada di sana dan karena mendengar kecipak air, kukira ada ular menyeberang ditengah telaga. Aku lantas terbangun dan karena terkejut, aku tidak dapat menjaga sepasang mataku yang melotot kagum ini. Siapa suruh nona memiliki tubuh seindah itu dan.... ehh, maaf.... maaf..." karena kaget mendengar omongan sendiri yang meloncat begitu saja, kakek ini mundur-mundur ketakutan dengan kaki gemetar.

Muka Mo-ii Thai-houw menjadi merah. Meskipun rasa malu mengusik hatinya, akan tetapi pujian kakek itu membuat kemarahannya agak dingin. Namun tentu saja hal ini bukan berarti dia mau mengampuni orang. "Hmm, baik aku terima alasanmu ini. Tapi kenapa kau bilang aku tidak adil? Apakah kalau kubunuh mampus laki-laki kotor sepertimu ini terlalu murah? Atau mungkin kau minta agar matamu itu kucolok keluar? Begitukah...?” Mo-i Thai-houw melangkah maju dan Si Dewa Monyet cepat menggoyang-goyang tangannya.

"Tidak... tidak... tahan dulu! Engkau tidak adil, Thai-houw, dan aku berani sumpah!"

"Tidak adil dalam hal apa?" Mo-i Thai-houw membentak dengan pandangan bengis.

Dan Dewa Monyet yang jerih setengah mati itu lalu menjawab cepat, "Kau tidak adil kalau membunuhku. Aku tidak mengambil apa-apamu, tidak mencuri barangmu, kenapa harus dibunuh? Kalau kau merasa dirugikan adalah karena aku secara tidak sengaja telah melihat... melihat tubuhmu yang mulus. Nah, kalau aku berhutang dalam hal ini, bukankah membayarnyapun juga harus setimpal...?"

"Maksudmu...?" mata wanita muda ini bersinar-sinar.

"Maksudku... maksudku begini..." dengan cepat kakek itupun lalu mencopoti semua pakaiannya dan sejenak kemudian diapun telah berdiri bugil di depan Mo-i Thai-houw, persis penari striptease di panggung terbuka!

"Setan...!" wanita ini mengumpat jengah dan mukanya melengos merah. Sama sekali tidak disangkanya bahwa laki-laki itu akan melakukan perbuatan ini. Dan siapa yang sudi memandang tubuhnya? Ia bahkan merasa muak namun juga tidak mampu berbuat sesuatu.

Meskipun konyol cara orang, akan tetapi kata-katanya tadi masuk akal juga. Kakek itu telah membayar lunas hutangnya secara adil. Mau apa lagi? Hanya bedanya, kalau laki-laki kurang ajar ini telah melahap tubuhnya dengan pandangan kelaparan, adalah dia yang sama sekali tidak sudi memandang tubuh laki laki itu. Dan hal ini bukanlah kesalahan Si Dewa Monyet.

"Bagaimana.... bagaimana Thai-houw...? Bukankah tubuhku juga cukup siipp...?"

"Sipp apanya? Sip hidungmu itu!” wanita ini membentak akan tetapi suaranya sudah segalak tadi. "Siapa suka memandang tubuh seperti tengkorak begini? Hayo cepat kenakan pakaianmu itu. Kalau tidak, aku benar-benar tidak akan mengampunimu lagi!"

Kakek itu tampak girang dan dengan wajah gembira dia lalu mengenakan kembali pakaiannya. Kiranya akalnya ini jitu sekali, akan tetapi yang amat disayangkan, mengapa baru timbul setelah badannya babak bundas? Bukankah kalau sejak semula dia menggunakan akalnya ini tubuhnya tidak akan dihajar orang?

Namun melihat perobahan ini saja dia sudah menjadi girang. Kata-kata wanita itu sudah lunak, dan harapan hidup baginya terbuka kembali. Dan setelah mereka kembali berhadapan, Mo-i Thai-houw benar-benar tidak membunuh kakek ini. Namun, sebagai "bunga"nya ia menghukum kakek itu untuk melayani segala keperluannya selama lima tahun. Si Dewa Monyet dijadikan jongos!

Tentu saja kakek ini mendongkol sekali. Tapi apa yang dapat dilakukannya? Maka dengan menyengir pahit diapun mematuhi saja orang punya perintah. Dan selama lima tahun ini kakek itu mengalami bermacam peristiwa yang sungguh-sungguh tidak dapat dilupakannya.

Mo-i Thai-houw ternyata merupakan wanita galak dan sangat cerewet sekali. Bangun tidur harus disediakan air hangat yang suam-suam kuku. Terlalu dingin tidak mau dan kalau terlalu panas malah disiramkan kepada tubuhnya! Sungguh celaka. Dan sepatunya harus tiap pagi dia lap, piring-piring kotor harus dia yang mencuci dan dalam hal makan saja wanita itu cerewetnya bukan main. Adakalanya bilang terlalu asin, di lain saat bilang kurang cabe dan di saat lain lagi bilang terlalu banyak kuah sehingga seperti minum air di pecomberan!

Semuanya serba susah, semuanya serba membuat kheki. Saking tak tahan kakek ini pada suatu malam mencoba untuk kabur. Akan tetapi baru saja dia tiba di luar pintu, bayangan Mo-i Thai-houw telah berdiri di bawah sebatang pohon, mendelik dengan sinar mengancam kepadanya! Apa lagi yang berani dilakukannya? Paling-paling kembali ngeloyor ke kamar dan pura-pura ngorok seperti ayam biang ketemu elang. Pendeknya, kakek ini benar-benar "digencet" oleh Mo-i Thai-houw habis-habisan.

Sudah sikapnya cerewet juga selama lima tahun itu sepeserpun wanita ini tidak pernah keluar duit! Semuanya diurus "pelayannya" yang lugu ini. Uang habis? Curi saja di rumah seorang hartawan! Pakaian sudah kumal? Curi saja di toko cita seorang juragan kain! Mo-i Thai-houw benar-benar seperti ratu tanpa mahkota. Semuanya minta gampang dan enak. Bagaimana Dewa Monyet ini tidak "makan hati"?

Dan yang amat mengganggu perasaan laki-laki ini adalah nafsu berahinya. Semenjak pertama kali menyaksikan tubuh mulus Mo-i Thai-houw di telaga kecil itu, jantung kakek ini selalu berdebar-debar. Pada suatu hari mereka tiba di sebuah kota. Tidak begitu besar kota ini, akan tetapi segala sesuatunya cukup lengkap. Rumah-rumah makan ada, losmen-losmen besar kecil juga ada. Bahkan, seperti juga kota-kota lainnya, kota inipun mempunyai sebuah "rumah kembang" yang menyimpan bunga-bunga indah di dalamnya.

Mo-i Thai-houw ternyata paling lama tinggal di kota ini. Kakek itu tidak tahu apa yang sedang dikerjakan wanita itu, akan tetapi yang jelas adalah bahwa dia mempunyai kesempatan bagus pula di tempat ini. Ketika pada suatu hari Mo-i Thai-houw menyuruhnya berbelanja cita di toko kain, kakek inipun lalu mempergunakan kesempatan itu untuk mendatangi si rumah kembang alias sarang pel*cur! Di tempat inilah dia "jajan" dan akhirnya kecantol sekuntum kembang harum yang terpikat oleh duitnya yang banyak. Tentu saja pelacur itu tidak mengetahui bahwa uang yang diperoleh kakek ini didapat dari mencuri di sebuah rumah gedung hartawan yang tadi siang dibeli kainnya itu!

Begitulah. Main punya main akhirnya kakek ini jatuh cinta kepada pelacur itu yang dianggapnya cukup "asooy", tidak kalah dengan Mo-i Thai-houw yang galak! Dan dari hubungan ini tanpa dapat mereka cegah tiba-tiba si wanita bunting! Sungguh kejadian ini adalah peristiwa yang agak luar biasa. Jarang ada pel*cur yang dapat hamil digauli oleh kaum hidung belang. Akan tetapi nyatanya keadaan yang menimpa dua insan ini memang begitu. Tentu saja si wanita kelabakan.

Akan tetapi Si Dewa Monyet malah bergembira. Kebetulan bahwa pada waktu itu hukuman yang diberikan oleh Mo-i Thai-houw hampir habis. Sebentar lagi dia bebas dan secara kebetulan pula dia akan punya anak!

Siapa tidak akan girang? Maka beberapa bulan kemudianpun lahirlah anak perempuan yang dikandung si bekas pelacur. Malang, karena kehabisan darah maka wanita ini meninggal. Si Dewa Monyet kerepotan mengasuh anak perempuannya yang kecil. Akan tetapi dengan pertolongan ibu-ibu dusun yang juga sedang menyusui anaknya, dapatlah umur anak perempuan kakek itu diperpanjang.

Setahun, dua tahun, semuanya berjalan dengan cepat. Si Dewa Monyet mulai kecut hatinya melihat sesuatu yang tidak beres pada anaknya ini. Dan setelah ditunggu sampai lima tahun, harapan kakek itu habis. Kenapa? Karena anak perempuannya ini tidak bisa bicara. Gagu!

Oo, sialan! Agaknya karena ibunya dulu seorang pelacur maka tubuhnya mengandung penyakit kotor. Dan kini akibat dari penyakit kotornya itu menimpa anak mereka sendiri yang tidak berdosa! Dan lebih celaka lagi, ketika anak perempuan itu menjelang remaja, datang segerombolan perampok yang mengganggu ketenangan hidup ayah dan anak ini. Si kepala rampok hendak memperkosa anak perempuan itu dan terjadi perkelahian sengit.

Dan di dalam pertempuran itulah maka anak tunggal kakek ini tewas. Memang betul akhirnya para perampok itupun dapat dibinasakan semua, akan tetapi kalau anaknya sendiri juga menjadi korban, lalu apa gunanya bagi kakek ini? Semenjak itu juga pikiran Si Dewa Monyet tidak karuan. Urat syarafnya terguncang dan akhirnya jadilah dia manusia setengah gila. Rumahnya ditinggal dan kakek ini lalu merantau dan akhirnya bertempat di Ang-bhok-san bersama monyet-monyet yang banyak terdapat di situ.

Demikianlah sedikit keterangan mengapa kakek ini amat takut dan jerih terhadap Mo-ii Thai-houw. Dia sudah kenyang menerima hal-hal pahit dari wanita itu, maka diapun selalu berhati-hati agar tidak membuat marah Mo-i Thai-houw. Karena lama tak turun gunung, kakek ini tidak tahu betapa Mo-i Thai-houw sebenarnya sudah meninggal.

Melihat kakek itu hendak memanggul Yap-goanswe, mula-mula Pek Hong merasa was-was dan kurang percaya. Apa lagi karena yang menyuruh kakek itu adalah Siu Li. Gadis ini adalah musuh, bagaimana dia bisa mempercayai semua omongannya? Yap Bu Kong sendiri sudah roboh pingsan, tak dapat ia tanyai pendapatnya. Pertemuan mendadak dengan puteri Panglima Ok dari Kerajaan Wu itu membuat pemuda ini kaget sekali. Apalagi ke adaannya juga gawat karena racun Jit-coa-tok telah mulai bekerja. Bagaimana dia tahan?

Sementara Pek Hong ragu-ragu, Siu Li melayang turun dari atas batu karang dan berkata kepada gadis ini dengan suara lirih, "Adik Hong, semuanya sudah terjadi dan tidak perlu kita bingung. Kauw-sian telah kuperintahkan untuk menolong... suamimu itu dan kutanggung dia akan sembuh. Kalian memang pasangan yang serasi dan semoga dapat hidup berbahagia. Selamat tinggal...!"

Begitu selesai mengucapkan kata-katanya, gadis ini lalu membalikkan tubuh dan meloncat pergi. Sejenak Pek Hong tertegun bingung. Yap-goanswe sudah dibawa Si Dewa Monyet yang terbang ke atas puncak dengan kecepatan luar biasa. Sebenarnya dia ingin mengikuti kakek itu secepatnya agar mengetahui apakah betul-betul Si Dewa Monyet berusaha mengobati Bu Kong.

Akan tetapi, perjumpaannya secara tiba-tiba dengan Siu Li inipun juga merupakan suatu kebetulan baginya. Dia sedang mencari-cari gadis ini untuk dimintai pertanggungan jawabnya, dan sekarang secara tak sengaja dia menemukannya. Maka tentu saja Pek Hong tidak mau melepaskan kesempatan bagus itu.

"Eh, tunggu dulu...!" gadis itu membentak. "Jangan lari sebelum semuanya beres!"

Siu Li menghentikan langkahnya, memutar tubuh perlahan-lahan dan Pek Hong terkejut melihat betapa sepasang mata gadis ini basah. "Apa yang hendak kau katakan, adik Hong? Apa yang belum beres...?" dengan menahan isak gadis itu bertanya.

"Kau.... kau... gadis siluman, akal apa yang sedang kau jalankan ini? Kau kira aku percaya begitu saja akan semua tipu muslihatmu yang busuk ini? Cihh, pura-pura melakukan perbuatan baik tapi di dalamnya tersembunyi maksud kotor! Kau tidak boleh pergi dari sini dan semua perhitungan di antara kita harus segera dibereskan!”

"Perhitungan di antara kita? Apa maksudmu, Hong moi?" Siu Li terbelalak matanya.

"Hemm, jangan berpura-pura tidak tahu!" Pek Hong membentak. "Kelakuanmu yang curang ketika berada di kemah pasukan Yueh cukup untuk membuat siapapun turun tangan menghukummu. Kau siluman betina yang banyak akal, pura-pura membantu Yap-goanswe padahal menyelundup sebagai mata-mata Wu-sam-tai ciangkun. Berani kau menyangkal ini? Dan kau... kau mempermainkan perasaan pemuda itu secara keji, membuat pemuda itu hampir gila dan ini semua masih ditambah dengan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh ayahmu terhadap Yap-goanswe! Kalian ayah beranak semuanya manusia busuk, gudang penyimpan sampah kotor yang amat menjijikkan!"

Tubuh Siu Li menggigil, sedetik sinar matanya mengeluarkan sinar berapi ketika mendengar ucapan Pek Hong yang pertama, akan tetapi setelah gadis itu melanjutkan dengan kalimat-kalimat berikutnya, puteri Ok ciangkun ini mengeluarkan keluhan tertahan. Badannya limbung dan dengan suara tersendat-sendat gadis ini merintih.

"Adik Hong, jangan katakan itu... jangan katakan itu... aku memang berdosa kepadanya, akan tetapi semuanya atas perintah orang tua. Aduh, Hong-moi, jangan mengorek-ngorek semua kelakuanku dulu.... aku menyesal... aku menyesal sekali dan itulah sebabnya mengapa aku rela melepaskan dia kepadamu. Adik Hong, biarkan aku pergi, aku tidak akan mengganggu kalian, bahkan aku akan berusaha menebus semua dosa-dosaku terhadap Yap-goanswe. Jangan menikam perasaanku dengan kata-kata menusuk lagi, Hong-moi, karena sesungguhnya selama inipun aku menderita sekali. Kau tidak tahu semua perasaanku selama ini...." dan gadis itu tiba-tiba menangis dengan air mata bercucuran.

"Hemm, bisa juga engkau menangis, ya? Sungguh tidak kukira," Pek Hong mengejek dengan senyum sinis karena mana ia mau percaya kepada tangis gadis ini? Murid mendiang Mo-i Thai-houw itu adalah iblis betina yang banyak akal, maka tidak mengherankan jikalau air mata yang dikeluarkan kali ini hanya merupakan air mata buaya!

Siu Li tidak menghiraukan ejekan ini bahkan gadis itu lalu m enangis tersedu-sedu. Sesungguhnyalah apa yang dikatakannya tadi benar belaka. Betapa semenjak melaksanakan perintah ayahnya, di dalam hati gadis ini sebenarnya sudah terdapat perasaan menentang. Apalagi setelah kisah cintanya dengan jenderal muda itu, hati gadis ini tidak karuan rasa. Di satu pihak dia harus berbakti terhadap orang tua, akan tetapi di pihak lain dia mengkhianati cinta kasih yang terjalin diantara dirinya dengan Yap Bu Kong.

Pek Hong mengira bahwa cinta kasih yang diperlihatkan Siu Li kepada Jenderal Muda Yap itu adalah cinta kasih murahan. Gadis ini tidak tahu betapa semenjak pertengkarannya dengan Kui Lun yang mengatakan cinta kasih Siu Li seperti cinta monyet, di dalam hati puteri Panglima Ok ini telah terdapat suatu tekad untuk menunjukkan kepada orang lain, terutama sekali kepada kakaknya itu, bahwa cinta kasihnya terhadap Yap-goanswe bukanlah cinta kasih biasa saja, bukan sekedar cinta monyet!

Itulah sebabnya di dalam jilid terakhir dalam cerita "Hancurnya Sebuah Kerajaan", gadis ini telah berani mati menentang keputusan orang tuanya yang hendak membunuh Bu Kong. Dengan tidak mengenal takut terhadap setan maupun iblis, gadis ini terang-terangan berbalik sikap, menentang orang tua sendiri. Bahkan hebatnya, didengar telinga para pasukan yang ribuan jumlahnya, puteri Ok-ciangkun ini terang-terangan menyatakan cinta kasihnya terhadap Yap-goanswe!

Dan semenjak saat itulah, melihat betapa ayahnya berteman dengan orang-orang jahat seperti Ang-i Lo-mo dan lain-lain, di dalam hati gadis ini timbul rasa tidak sukanya. Apa lagi setelah subonya tewas, hati gadis ini menjadi tawar. Ia melihat bahwa ayahnya tidak segan-segan untuk melakukan tipu muslihat busuk apapun untuk menjatuhkan lawan, dan semua sikap ayahnya akhir-akhir ini telah diketahuinya dengan baik.

Tentu saja perasaan gadis ini amat tertekan sekali. Batinnya terpukul dan kekecewaan yang amat sangat membuat ia marah sekali terhadap ayahnya itu. Akan tetapi, pada jaman itu kata-kata "hauw" (bakti) amat ditakuti generasi muda. Itulah sebabnya gadis ini lalu tidak bisa berkutik sama sekali. Dan puncak dari kemarahan serta kekecewaannya tiba ketika ia mengetahui betapa ayahnya serta dua orang Panglima Wu yang lain bersekongkol dengan murid mendiang Ang-i Lo-mo untuk menjatuhkan fitnah busuk terhadap kekasihnya!

Pouw Kwi (yaitu murid Ang-i Lo-mo itu), lalu menyamar sebagai Yap-goanswe dan menjatuhkan fitnah keji dengan jalan melakukan perjinaan di istana Yueh bersama Bwee Li yang menganggap pemuda ini sebagai Bu Kong. Akal muslihat yang amat culas ini benar-benar membuat Siu Li seketika sadar betapa ayahnya bukanlah orang yang baik. Ayahnya ternyata jahat sekali, dan gadis ini benar-benar kecewa bukan main. Sambil menangis tersedu-sedu, gadis itu lalu meninggalkan gedung ayahnya dan berdiam di Lembah Bambu Kuning bersama kakaknya yang diam-diam juga merasa kecewa terhadap sepak terjang ayahnya ini.

Memang betul Mo-i Thai-houw bukan orang yang tidak kejam. Akan tetapi mendiang nenek itu selalu menanamkan rasa kegagahan dan pantang sekali melakukan perbuatan-perbuatan curang dan pengecut. Didikan ini tentu saja amat berlawanan dengan watak ayah mereka, dan demikianlah, dua orang muda-mudi itu lalu meninggalkan gedung ayah mereka dan tidak mau membantu orang tua mereka lagi.

Apalagi ketika mereka ini mengetahui kehadiran Cheng-gan Sian-jin bersama murid perempuannya itu, dua orang muda ini menjadi semakin prihatin sekali. Dan Siu Li melihat betapa Yap-goanswe sebenarnya berada di pihak yang benar. Hal ini membuat rasa sesal dan berdosanya terhadap pemuda itu semakin besar saja. Batinnya terhimpit sekali dan ke kecewaan demi kekecewaan yang dia laminya membuat gadis cantik ini menjadi dingin terhadap semua persoalan.

Hanya satu keinginannya yang tidak dapat dihapus, yakni keinginan untuk suatu ketika membayar semua dosa-dosanya terhadap Yap Bu Kong. Teringat kepada pemuda yang gagah perkasa itu selalu Siu Li menangis sedih. Cinta kasihnya semakin mendalam dan ia merasa betapa ia membikin susah yang tidak sedikit terhadap pemuda itu.

Namun, apa yang dapat dilakukannya? Peristiwa-peristiwa dahulu tentu membuat bekas jenderal muda itu menghadapi membencinya. Ia hal ini. Bukan tidak karena berani takut menghadapi kemarahan pemuda itu, melainkan takut akan bayangan dosa yang telah dilakukannya. Itulah sebabnya ketika diketahuinya bahwa murid Ta Bhok Hwesio ini ternyata mencintai Bu Kong, dengan penuh kesadaran dan ikhlas yang besar gadis itu rela mengundurkan diri. Dia orang hina, mana sanggup disejajarkan dengan Yap-goanswe yang gagah perkasa itu? Murid Ta Bhok Hwes io inilah yang memang serasi menjadi isteri pemuda itu.

Demikianlah, dihimpit rasa salah yang tiada habisnya, gadis ini rela menghancurkan diri sendiri dan mendengar semua kata-kata Pek Hong yang amat tajam itu, dia sama sekali tidak marah. Bukankah memang begitu kenyataannya? Semua orang telah mencapnya sebagai gadis yang tidak tahu malu, apa lagi bagi Yap-goanswe sendiri, tentu lebih hebat makiannya. Siu Li masih menangis tersedu-sedu ketika Pek Hong tiba-tiba bertanya kepadanya,

“Eh, enci yang manis, kau tadi bilang bahwa kau merasa menyesal sekali. Tidak tahu, apakah kata-katamu itu benar ataukah hanya basa-basi saja?"

Gadis ini mengangkat mukanya yang pucat, dengan suara gemetar balik bertanya, "Adik Hong, apa maksudmu? Apakah kau tidak percaya akan apa yang telah kuucapkan? Rasa penyesalanku terhadap Yap-goanswe setinggi gunung sedalam lautan, masa aku berpura-pura...?"

"Hem, begitukah?" Pek Hong mengejek. "Kalau betul kata-katamu ini, kenapa kau tidak menghukum semua kesalahan-kesalahanmu?"

Siu Li terbelalak, tampak terkejut dan air matanya seketika berhenti mengalir. Dia melihat sesuatu yang menyeramkan di balik kata-kata itu, sesuatu yang belum dipahaminya akan tetapi sudah dirasakannya. "Apa... apa maksudmu, adik Hong? Bukankah aku sudah cukup terhukum dengan penyesalan dan dosa-dosa yang kuperbuat?"

"Hmm, siapa tahu isi hatimu di dalam? Siapa dapat percaya begitu saja apakah engkau ini betul-betul menyesal terhadap semua dosa-dosamu ataukah tidak? Itu perasaan hati manusia, tidak terlihat dan tidak dapat dijadikan bukti yang mantap!"

"Lalu... maksudmu?" tubuh Siu Li mulai gemetar dan dia memandang gadis itu dengan sinar mata tajam.

"Orang bersalah harus dihukum, ini sudah kodrat alam. Siapa menyingkir berarti dia seorang pengecut! Sudah lama aku mencarimu, Ok siocia dan baru pada hari ini kita bertemu. Kau sendiri sudah terang-terangan mengakui kesalahanmu terhadap Yap-goanswe, ini sungguh bagus. Ternyata kaupun cukup jantan, hal yang sama sekali agak di luar dugaanku. Akan tetapi, pengakuan begitu saja belum cukup, enci yang manis, masih harus disusui dengan hukuman nyata. Kau membawa pedang, bukan? Nah, keluarkan pedangmu itu. Sedianya aku hendak memberi hukuman penggal leher, akan tetapi karena kau cukup jujur, biarlah kau kutungi saja lengan kirimu itu!"

"Ahhh...!" Siu Li berseru kaget dan gadis ini melangkah mundur, wajahnya berobah seketika. "Kwan Pek Hong, sungguh tidak kunyana bahwa pengorbanan hatiku belum cukup besar. Kau khawatir pemuda itu kurebut kembali, bukan? Dengan melihat tubuhku yang cacad, tentu kau mengira Yap-goanswe akan jijik kepadaku. Baiklah kita sama-sama lihat saja nanti. Kau menghendaki hukuman nyata dariku? Baik, segera kulakukan. Akan tetapi ingatlah, murid Ta Bhok Hwesio, bahwa apa yang kulakukan ini semata-mata sebagai penebusan dosa ku terhadap Yap-goanswe, bukan kepada dirimu. Dan aku bukan seorang pengecut...!"

Begitu habis mengucapkan kata-katanya ini, dengan kemarahan memuncak Siu Li menggerakkan tangan kanannya secepat kilat dan tahu-tahu sebatang pedang bersinar kehijauan mendesing di udara. Pek Hong bersiap-siap karena dia mengira bahwa gadis itu tentu akan menyerangnya, maka iapun sudah meraba rantai peraknya di pinggang untuk menghadapi terjangan puteri Panglima Ok yang merupakan murid Mo-ii Thai-houw ini.

Akan tetapi, sungguh amat di luar dugaan. Gadis cantik itu ternyata benar-benar menepati janjinya, membacokkan pedangnya ke lengan kiri sendiri! Pada saat itu, bersamaan dengan kejadian ini, dari jauh sesosok bayangan berbaju kuning berkelebat datang sambil berteriak.

"Li-moi, jangaannn...!!"

Namun semuanya terlambat. Dengan kecepatan kilat pedang bersinar hijau yang digerakkan oleh murid Mo-i Thai-houw ini telah menabas lengan kiri sebatas siku. Terdengar suara "crakk...!" dan lengan gadis itu buntung seketika...!