PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 10
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
“MANUSIA lemah? Tidak mampu mengendalikan hawa amarah....??"

Malaikat Gurun Neraka terkejut sekali mendengar dampratan hwesio itu dan seketika mukanya berobah. Manusia lemah! Nafsu amarah! Ahh, bukankah kata-kata yang diucapkan Ta Bhok Hwesio ini merupakan pengulangan pesan Bu-beng Sian-su kepada dirinya sebelum manusia dewa itu pergi? Mengapa dia sampai melupakan hal ini? Dan Ta Bhok Hwesio yang merasa marah itu menjawab dengan suara kasar dan berapi-api.

"Ya, engkau manusia lemah taihiap, engkau terlalu terburu nafsu dan cupat pikiran! Sungguh pinceng amat menyesalkan sikapmu ini dan heran bukan main. Bukankah biasanya pinceng lihat engkau adalah seorang yang selalu dapat mengendalikan diri? Bukankah engkau biasanya selalu bersikap tenang dan teliti, tidak ceroboh dalam mengerjakan sesuatu? Akan tetapi sekarang, sikap taihiap ini seolah-olah menyatakan bahwa taihiap telah mengetahui segalanya dengan baik sehingga berani memutuskan persoalan murid sendiri dengan demikian dingin dan kejam. Taihiap seakan-akan telah mengetahui segala sesuatu yang melatarbelakangi kejadian ini. Padahal, kalau saja taihiap mau berpikir terang dan mengusir semua kekeruhan-kekeruhan batin yang ada di dalam hati, pinceng yakin bahwa kesalahan-kesalahan yang kau lihat dilakukan muridmu ini belum tentu seratus prosen benar. Dan ini diperkuat oleh kehadiran Phoa-lojin di sini. Taihiap tentu tahu orang macam apa kakek Phoa itu. Kalau Yap-goanswe betul-betul melakukan dosa, kukira Phoa lojin tidak akan mau jauh-jauh datang kemari dan menolong muridmu itu!"

Sampai di sini Ta Bhok Hwesio berhenti dan sepasang mata kakek gundul ini seakan-akan mengeluarkan api ketika dia memandang Malaikat Gurun Neraka dengan wajah bengis.

Pendekar sakti itu terkejut, perlahan-lahan mukanya menjadi merah dan sepasang matanya memandang Ta Bhok Hwesio dengan membelalak seolah-olah dia hendak menelan hwesio itu bulat-bulat. Sejenak keadaan terasa sunyi mencekam dan menegangkan, tidak ada orang yang bersuara. Bahkan Fan Li dan Hok Sun menjadi gelisah dan kebat-kebit hatinya. Ta Bhok Hwesio mereka anggap terlalu berani. Urusan ini sebetulnya bisa dibilang merupakan urusan dalam perguruan pendekar sakti itu, dan kakek ini secara lancang telah mencampurinya. Kalau Malaikat Gurun Neraka tersinggung dan marah lalu menyerang hwesio itu, sungguh keadaan akan menjadi lebih runyam lagi dan mereka tidak tahu siapakah yang harus mereka bela!

Akan tetapi, pendekar ini ternyata tidak melakukan sesuatu. Mukanya yang tadi merah sekarang berobah pucat kehijauan, lalu merah lagi dan sebentar kemudian kembali pucat seperti tadi. Hal ini hanya menandakan bahwa pendekar itu sedang mengalami pergolakan batin yang hebat. Dan dugaan ini memang benar. Semprotan hwesio itu yang bertubi-tubi membuat pendekar ini seperti ditampar dan seketika dia menjadi terkejut bukan main. Kenyataan demi kenyataan yang satu-persatu diuraikan sahabatnya ini membuat matanya seakan-akan terbuka lebar. Apalagi setelah Ta Bhok Hwesio menyinggung-nyinggung nama Phoa-lojin di situ. Ah, dia benar-benar melupakan si tukang ramal itu dari persoalan ini dan tentu saja Malaikat Gurun Neraka tersentak kaget.

Ta Bhok Hwesio yang melihat betapa pendekar ini masih belum mengeluarkan suara dan jelas sedang terkejut mendengar semua ucapannya tadi, lalu menyambung pula, "Memang tidak pinceng sangkal bahwa Yap-goanswe adalah muridmu dan urusan ini merupakan urusan dalam perguruan taihiap sendiri. Akan tetapi, harap taihiap ingat bahwa sedikit banyak sikap taihiap itu telah mempengaruhi murid perempuanku sehingga dia lari meninggalkan kita. Padahal menurut Phoa-lojin, untuk mendatangi Ang-bhok-san dan menemui Kauw-sian bukanlah suatu hal yang mudah. Totokan di tigabelas jalan darah belum dilaksanakan, dan sekarang murid pinceng telah pergi dan tidak sudi membantu. Kalau keadaan sudah begini, bagaimana kita dapat menyelamatkan Yap-goanswe? Bukankah ini berarti bahwa semua jerih payah kita akan sia-sia belaka?"

Ucapan demi ucapan terasa seperti air dingin mengguyur kemarahan Malaikat Gurun Neraka. Kalau orang lain demikian mati-matian menyelamatkan muridnya, tentu mereka mempunyai suatu keyakinan kuat. Apalagi kehadiran Phoa lojin yang terkenal dengan ilmunya melihat jauh ke depan, sungguh hal ini membuat pendekar itu dilanda kebimbangan dan penyesalan yang amat besar. Tampaklah kini olehnya betapa sikapnya memang kurang tepat.

Muridnya telah berhasil diselamatkan dan sekarang diserang racun jahat. Bukannya dia menolong sang murid, bahkan dia hendak melampiaskan kemarahannya dengan jalan membiarkan muridnya itu tersiksa lahir batin. Dia belum menanyai Bu Kong tentang segala perbuatannya, bagaimana dia hendak menghukum muridnya itu tanpa diberi kesempatan membela diri?

Ahh, ini semua adalah disebabkan oleh nafsunya sendiri. Kemarahan telah menguasai hatinya, dan dia terjebak dalam lingkaran nafsu pribadinya. Ta Bhok Hwesio telah menegurnya habis-habisan, dan kakek itu mengeluarkan kata-kata yang tajam menusuk, bahkan mendampratnya. Sebagai manusia lemah yang hanyut dalam nafsu amarah sehingga semua pikirannya keruh dan pertimbangannya goncang, apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini memang betul.

Akan tetapi lucunya, Ta Bhok Hwesio yang menyemprotnya habis-habisan itupun melupakan satu hal, yakni dia sendiri sekarang diliputi kemarahan yang meluap dan memandangnya seperti menghadapi seorang musuh besar! Bagaimana keganjilan ini tidak terasa menggelikan?

Dua orang tokoh besar ini saling pandang dan wajah Malaikat Gurun Neraka yang tadi selalu berubah-ubah itu kini tampak tenang seperti biasa. Sepasang mata yang tajam mencorong seperti mata seekor naga itu memandang Ta Bhok Hwesio dan perlahan-lahan wajah yang tadinya kaku membesi itu berobah. Senyuman tipis pecah di mulut pendekar sakti ini dan tiba-tiba terdengarlah suara ketawa Malaikat Gurun Neraka yang tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, lo-heng memang seorang pendeta yang hebat dan jempolan. Sungguh aku dibuat kagum dan tunduk! Tidak tahu, apakah nafsu amarah yang tadi menguasai diriku itu merupakan penyakit menular tidak? Dapatkah lo-heng menjawabnya?"

Semua orang melengak dan Ta Bhok Hwesio sendiri juga tercengang. Melihat betapa pendekar ini dalam waktu sekejap saja sudah hilang kemarahannya dan kini tertawa bergelak, sungguh perobahan yang amat tiba-tiba ini sama sekali di luar dugaannya. Menurut kebiasaan, mestinya Malaikat Gurun Neraka akan semakin marah karena didamprat habis-habisan di depan orang lain. Akan tetapi kenyataannya, pendekar itu malah tertawa-tawa dan kini sedang menanyainya apakah kemarahan yang tadi hinggap di dalam dirinya itu merupakan penyakit menular ataukah tidak! Mana hwesio ini mampu menjawab pertanyaan seaneh itu?

"Apa... apa maksudmu, taihiap? Penyakit menular bagaimana?" Ta Bhok Hwesio gelagapan dan dia tidak mengerti kemana tujuan orang. Tadinya dia menyangka bahwa Malaikat Gurun Neraka akan membalas semua dampratannya dengan sikap keras. Tidak tahunya sikap orang berbalik seratus delapan puluh derajat dan tampaknya sedang mengalami kegembiraan yang luar biasa. Melihat perobahan yang menggirangkan ini, tentu saja hwesio itupun terpengaruh dan otomatis semua kemarahannya terhadap pendekar itupun lenyap. Orang bertanya sambil tertawa-tawa kepada dirinya, bagaimana dia mampu mempertahankan cemberutnya?

Malaikat Gurun Neraka yang melihat hwesio itu kebingungan, menjadi semakin geli hatinya dan dia mengulang pertanyaannya, "Eh, lo-heng, masa kau tidak mengerti? Aku bertanya, apakah nafsu amarahku tadi itu merupakan penyakit menular ataukah tidak?"

"Penyakit menular..? Penyakit menular bagaimana, taihiap? Pertanyaanmu amat ganjil, bagaimana pinceng dapat menjawabnya?"

Pendekar itu semakin keras tertawanya dan tiba-tiba menoleh ke arah Phoa-lojin. "Ha-ha, kalau Ta Bhok lo-suhu tidak mampu menjawab, tentu To-heng yang lebih cerdas ini mampu menjawabnya. To-heng, tolong kau jawabkan pertanyaanku tadi agar Ta Bhok lo-suhu mengerti."

Phoa-lojin tersenyum lebar dan memang hanya kakek Phoa inilah satu-satunya orang yang semenjak tadi tidak menampakkan perasaan cemas ketika melihat ketegangan di antara Malaikat Gurun Neraka dengan Ta Bhok Hwesio. Dia adalah seorang yang tajam pandangan dan waspada, maka sebelumnya diapun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan suara tenang kakek ini lalu berkata.

"Sesungguhnyalah nafsu kemarahan taihiap tadi itu merupakan penyakit menular. Kalau tidak, bagaimana hwesio Tibet ini dapat marah-marah kepada taihiap? Dia telah menegur taihiap habis-habisan, mengatakan taihiap orang yang lemah dan dikuasai kemarahan. Akan tetapi Ta Bhok Hwesio sendiri tidak sadar betapa dia sendiri telah marah-marah kepada taihiap. Kalau begini, bukankah kejadian ini persis seperti maling yang berteriak maling?"

"Ha-ha-ha, bagus, tepat sekali!" Malaikat Gurun Neraka tertawa.

Dan Ta Bhok Hwesio terkejut setengah mati. Seketika mukanya menjadi merah, akan tetapi bukan karena marah, melainkan karena malu. Dia telah menegur pendekar itu, mengecamnya dengan kata kata tajam, mengatakan betapa Malaikat Gurun Neraka orang yang amat lemah terhadap kemarahan. Akan tetapi, semua kecamannya tadi, semua sikapnya tadi, jelas juga dilontarkan dengan nafsu amarah. Sungguh tepat perumpamaan Phoa-lojin yang menyindir dia seperti maling berteriak maling!

"Ahh, ini.... ehh, ini... wah, sialan! Pinceng sungguh tidak menyadarinya. Kakek sinting, kalau kau tidak menjelaskannya, sungguh mati pinceng tidak mengerti maksud kata-kata taihiap itu. Wahh, pinceng memang orang pandir, harap taihiap suka maafkan semua kesalahanku tadi!" Ta Bhok Hwesio cepat-cepat menjura di depan pendekar itu meminta maaf.

Malaikat Gurun Neraka tersenyum dan Phoa-lojin ikut tersenyum. Semua orang tersenyum dan Fan Li serta Hok Sun juga menjadi lega, ketegangan yang amat menggelisahkan tadi benar-benar amat mengkhawatirkan dua orang muda ini. Sungguh tidak dinyana akan berbalik secepat itu dalam suasana yang menggirangkan. "Taihiap, sekarang kuminta baiklah engkau segera menolong muridmu itu. Sambil menolong, akupun akan melihat garis tangannya dan memberikan keterangan kepada kalian semua akan garis besar semua peristiwa yang menimpa diri Yap-goanswe ini," Phoa-lojin tiba-tiba berkata dan semua orang lalu teringat akan pokok persoalan yang mereka hadapi.

Malaikat Gurun Neraka menarik napas panjang. "Sungguh aku merasa amat bersyukur sekali bahwa to-heng datang membantu. Kalau tidak, aku tidak berani membayangkan apa yang akan kulakukan terhadap murid tunggalku yang sebenarnya amat kusayang ini. Itulah sebabnya begitu aku mendengar berita di luaran yang amat menyakitkan hati tentang perbuatan muridku ini, aku tidak tahan lagi. Apalagi setelah kusaksikan sendiri perbuatannya digedung Cheng-gan Sian-jin. Semuanya itu memperkuat kepercayaanku bahwa apa yang dikabarkan orang ternyata betul adanya. Akan tetapi, kalau to-heng berani membelanya dan mengatakan muridku ini tidak bersalah, lalu apa yang sesungguhnya terjadi?"

"Ya, inilah yang harus kita ketahui bersama dan awal dari semua peristiwa ini berasal dari Laut Tung-hai (Laut Timur)."

"Ehh, bagaimana bisa dimulai dari sana?" Ta Bhok Hwesio nyeletuk bicara karena merasa heran mendengar keterangan itu.

Phoa-lojin menoleh ke arah kakek gundul ini dan menjawab sambil tersenyum, "Harap kalian ketahui, bahwa beberapa minggu yang lalu, badai yang amat dahsyat mengamuk di lautan itu. Bahkan tempat tinggalku sendiri diserang gelombang pasang yang amat besar dan air laut meluap sampai ke tengah pulau. Hampir saja pondokku disambar gulungan ombak yang membukit itu dan kalau hal ini terjadi, sungguh akan membuat aku runyam kehilangan tempat tinggal. Tidak biasanya Tung-hai diamuk badai semacam itu yang luar biasa hebatnya dan aku melihat tanda-tanda mengkhawatirkan dalam hal ini..."

Kakek itu menarik napas dan berhenti sejenak, lalu melanjutkan ceritanya, "Untunglah, pada saat aku sendiri tidak mengira akan datangnya kejadian ini, mendadak gelombang laut yang amat ganas itu perlahan-lahan surut kembali, seakan-akan korban yang mereka harapkan telah terpenuhi. Aku lalu bersamadhi menarik getaran-getaran gaib dari delapan penjuru angin, dan pada saat itulah kumelihat bayangan Yap-goanswe bersama seorang wanita cantik berlari-lari di tepi daratan seberang. Melihat gelagatnya, pemuda itu hendak mengunjungi pulauku, akan tetapi karena badai sedang mengganas, mana mereka dapat menyeberang? Aku melihat mereka kebingungan dan tiba-tiba pada saat itulah muncul dua bayangan di belakang mereka yang bergerak secara sembunyi-sembunyi. Aku tidak dapat melihat jelas, hanya yang dapat kutangkap adalah bahwa yang seorang bertubuh tinggi besar dengan hidung yang agak bengkung. Orang ini memiliki perbawa iblis, tubuhnya penuh hawa hitam sehingga aku terkejut dan ketika aku mencurahkan semua perhatian kepada bayangan ini, mendadak aku melihat Yap-goanswe terpukul roboh dari belakang. Mereka berbuat curang, akan tetapi persisnya bagaimana aku sendiri kurang jelas. Yang terang, mereka lalu membawa pergi pemuda itu dan badai di pulauku reda."

"Hemm, tentu akhirnya kau ketahui bahwa bayangan tinggi besar itu adalah Cheng-gan Sian-jin, bukan?” tanya si hwesio gundul.

"Benar," Phoa-lojin mengangguk. “Aku baru mengetahui setelah aku sendiri keluar dari sarang untuk menyaksikan apa sebenarnya yang terjadi. Ketika aku menyeberang dan tiba di tempat itu, aku sudah tidak menemukan siapa-siapa lagi kecuali wanita cantik yang datang bersama murid taihiap ini. Dia pingsan di tempat itu, untung badai telah reda, kalau tidak, tentu dia akan celaka digulung ombak ke tengah laut."

"Siapa wanita cantik itu?" Malaikat Gurun Neraka bertanya.

"Ah, dia tentu Bwee Li adanya!" Fan Li berseru mendahului Phoa-lojin dan kakek itu mengangguk membenarkan.

"Betul, wanita malang itu memang Bwee Li, selir Yun Chang yang dilarikan oleh Yap-goanswe. Dan dari wanita inilah aku menemukan rahasia-rahasia tersembunyi yang menimpa diri pemuda itu. Sungguh Yap-goanswe sedang terjebak siasat musuh yang amat keji dan hebat sekali."

“Siasat musuh?" Malaikat Gurun Neraka melengak. "Bukankah dia sudah meninggalkan istana seperti apa yang kudengar dari mulut orang? Apakah to-heng hendak maksudkan musuh pribadi ataukah musuh Kerajaan Yueh yang sudah hancur itu?"

Kakek dari Pulau Cemara ini sekarang memandang pendekar sakti itu dan menjawab dengan serius, "Kedua-duanya, taihiap, ya musuh pribadi ya musuh kerajaan. Ketika aku memeriksa garis tangan wanita itu, aku melihat betapa seseorang telah memperalat wanita ini untuk menjatuhkan nama Yap-goanswe. Dan setelah aku mendengar keterangan yang dituturkan olehnya, mendengar betapa bukan Yap-goanswe yang bermain gila dengan Bwee Li karena tanda luka di bawah dagunya tidak ada, maklumlah aku bahwa ada pihak ketiga yang menjalankan kekejian ini. Bukti satu-satunya yang dapat dipegang oleh wanita itu adalah bekas luka di bawah dagu, dan kalian lihat, betapa dagu Yap-goanswe ini bersih dari bekas luka..."

Phoa-lojin lalu menengadahkan dagu Bu Kong yang masih pingsan itu dan semua orang melihat betapa bekas luka seperti yang dimaksudkan memang tidak ada. Malaikat Gurun Neraka diam-diam menjadi girang hatinya dengan kebersihan muridnya ini, namun dia masih belum puas. Dan di samping pendekar itu, Fan Li pun juga merasa girang dengan adanya kenyataan ini. Akan tetapi, rahasia baru terkupas amat sedikit dan tentu saja pemuda inipun belum merasa puas. Kalau biang keladinya belum dapat ditemukan, bagaimana nama jenderal muda itu dapat dibersihkan?

Namun biar bagaimanapun juga titik terang yang kecil ini sudah melegakan hatinya. Ternyata dugaannya terhadap Yap-goanswe tidak keliru, hanya yang perlu mereka cari sekarang adalah si pelaku kejahatan ini. Dan agaknya satu-satunya orang yang dapat menyusun jejak peristiwa jahanam itu hanyalah Phoa-lojin. Dengan kepandaiannya menangkap "getaran" di delapan penjuru mata angin, rupanya rahasia kejahatan itu akan tersingkap dengan lebih jelas lagi.

"Lalu bagaimana kelanjutannya, to-heng? Apakah to-heng pun tahu siapa gerangan yang melakukan kejahatan yang sifatnya amat pengecut ini?" Malaikat Gurun Neraka bertanya kembali dan sinar matanya berkilat. "Untuk mencari orang yang mempunyai luka di bawah dagu sungguh seperti mencari jarum di dasar laut. Hemm, kalau dapat kubekuk, tentu kepalanya akan kupecahkan!"

"Harap taihiap bersabar. Saking asyiknya kalian mendengar, kita melupakan diri pemuda ini. Taihiap, kukira lebih baik cepat kau melakukan totokan di tigabelas jalan darahnya itu dan sambil bekerja akupun akan meneruskan ceritaku ini."

Kata-kata itu membuat Malaikat Gurun Neraka sadar dan cepat pendekar ini berjongkok, se jenak memeriksa pernapasan muridnya dan kemudian duduk bersila. Ketika tadi dia meraba tigabelas jalan darah di depan tubuh muridnya, pendekar ini mendapat kenyataan yang amat mengejutkan sekali. Denyut urat besar tampak lemah dan hawa Thai-yang di dalam tubuh muridnya bergolak hebat sehingga perutnya mengeluarkan suara berkeruyuk. Mula-mula suara berkeruyukan ini hampir tidak terdengar telinga biasa, akan tetapi semakin lama semakin keras dan akhirnya berbunyi seperti air mendidih!

Tentu saja pendekar ini terkejut dan mulutnya mengeluarkan seruan, "Ahh, benar-benar keji, terkutuk Cheng-gan Sian-jin itu...!" dan wajah pendekar ini menjadi merah padam dan sepasang matanya memancarkan sinar berapi. Sama sekali dia tidak mengira bahwa keadaan muridnya akan segawat ini. Pantas sedari tadi belum pernah sadar. Agaknya racun yang memasuki tubuhnya memang racun jahat yang kerjanya lambat, tepat seperti apa yang dikatakan oleh Phoa-lojin tadi.

Pendekar ini lalu menggulung lengan bajunya dan mengerahkan tenaga sinkangnya ke ujung-ujung jari tangan. Tampak warna kemerahan menjalar di kedua lengannya yang kokoh itu dan perlahan-lahan mengepullah uap panas keluar dari pori-pori kulitnya. Dan sementara semua orang memandang penuh perhatian, pendekar ini sudah melancarkan totokan bertubi-tubi dengan gerakan cepat di tigabelas jalan darah penting.

Terdengar suara "ces-ces" setiap kali ujung jari Malaikat Gurun Neraka menotok jalan darah di tubuh muridnya, dan tampaklah cahaya merah keluar dari ujung jarinya memasuki tigabelas jalan darah yang tertotok. Inilah tiam-hoat (ilmu menotok) yang disebut Sin hwee Tiam-hoat (Totokan Api Sakti). Ilmu ini hanya dimiliki oleh ahli-ahli tenaga Yang-kang belaka, karena hanya orang-orang yang memiliki tenaga Yang-kang itulah yang mempunyai simpanan tenaga panas.

Hawa Thai-yang di tubuh Bu Kong bergolak karena racun jahat, dan ini benar-benar amat berbahaya sekali bagi pemuda itu. Terlambat sedikit, maka semua jalan darahnya akan pecah karena tidak kuat menahan banjirnya hawa Thai-yang di dalam tubuh yang mendidih. Akan tetapi sekarang, setelah gurunya melakukan totokan Sin-hwee Tiam-hoat, bergolaknya hawa Thai-yang dapat ditahan dan perlahan-lahan mukanya yang tadi sepucat mayat itu mulai bersemu merah.

Sepuluh menit pengobatan pertama ini berlangsung, dan akhirnya Malaikat Gurun Neraka menarik napas panjang. Dahinya berkeringat karena biarpun pekerjaan itu tidak memakan waktu lama, namun pengerahan tenaga saktinya tujuh bagian ini membuat napasnya agak terengah juga.

"Hemm, sama sekali tidak kusangka bahwa keadaannya amatlah berbahaya," pendekar itu mendesis. "Terlambat setengah jam saja, kukira akupun tidak akan mampu menolongnya. Sungguh Cheng-gan Sian-jin iblis tua yang amat jahat. Sayang, Sian-su mencegah aku membunuhnya, kalau tidak, hmm, tentu dia sudah melayang di akhirat!"

"Ahh, jadi taihiap juga bertemu dengan manusia dewa itu?'' Ta Bhok Hwesio terbelalak dan yang lainpun terkejut.

Malaikat Gurun Neraka mengangguk, wajahnya muram. Dia berdiri sambil berkata, "Benar, pada saat pukulanku yang terakhir menghantam iblis tua yang remuk kaki kirinya itu, tiba-tiba dia muncul dan menyelamatkan Cheng-gan Sian-jin.”

"Wah, sungguh aneh!" Ta Bhok Hwesio berseru heran. "Setelah dia menolong Yap-goanswe sehingga kita semua dapat keluar dari kota raja dengan selamat, kukira manusia luar biasa itu berpihak kepada kita. Akan tetapi, perbuatannya menyelamatkan Cheng-gan Sian-jin ini bukankah sama saja seolah-olah menentang kita? Bu-beng Siansu memang orang yang sukar dimengerti sikapnya, tadi dia membantu kita namun sekarang membantu musuh. Bagaimana sikapnya ini?"

Malaikat Gurun Neraka terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu yang mengatakan Bu-beng Sian-su menyelamatkan muridnya. "Apa katamu, lo-heng? Dia menyelamatkan muridku? Bukankah kalian yang membawanya keluar dari kota raja?" tanyanya terheran-heran.

Akan tetapi sebelum Ta Bhok Hwesio menjawab, Phoa-lojin mendahului, "Benar, taihiap, dialah yang menolong muridmu itu. Bahkan bukan hanya Yap-goanswe saja yang ditolong, melainkan kita semua. Kalau manusia dewa itu tidak muncul bersama Fan-ciangkun ini, entah kita dapat meloloskan diri ataukah tidak dari kepungan musuh yang ribuan orang banyaknya itu."

"Ahh....!?" hanya seruan ini yang keluar dari mulut pendekar itu dan dia tidak mengeluarkan suara lagi. Diam-diam diapun merasa bingung juga oleh sikap manusia dewa itu. Dan kalau tadinya dia merasa kurang rela melepaskan Cheng-gan Sian-jin yang diketahuinya amat jahat itu, akan tetapi setelah sekarang dia mendengar betapa Bu-beng Sian-su telah menolong muridnya, perasaan kurang puasnya lenyap seketika. Kalau begini jadinya, biarlah hitung-hitung dia membalas budi manusia luar biasa itu.

"Nah, sekarang aku akan melanjutkan ceritaku tadi," Phoa-lojin berkata dan kakek ini berlutut di samping Bu Kong, memegang telapak tangannya dan melihat garis-garis tangan pemuda itu. "Meskipun aku telah mendapatkan ilham tentang kejadian-kejadian ini, akan tetapi biarlah kuperjelas dengan melihat garis nasibnya..."

"Tapi, lojin, kalau tadi kau bilang bertemu dengan Bwee Li yang telah menceritakan semuanya ini kepadamu, lalu kemana sekarang wanita itu?” tiba-tiba Ta Bhok Hwesio memotong percakapan dan bertanya.

Kakek Phoa menoleh, tersenyum dan menjawab, "Sedianya dia hendak kubawa ke Pulau Cemara dan tinggal di sana, akan tetapi sakit hati dan dendam menghimpit batinnya. Dia wanita keras hati, setelah bertubi-tubi mengalami peristiwa yang mengejutkan ini, dia bertekad untuk mencari orang yang amat dibencinya itu."

"Seorang diri?"

"Ya, dan aku membiarkannya karena kulihat bahwa jalan hidupnya memang ditakdirkan demikian.”

"Wahh, kau kejam, lojin! Seharusnya kau mencegahnya, masa seorang wanita lemah kau biarkan berkeliaran seorang diri mencari musuh yang masih gelap baginya?" Ta Bhok Hwesio mendamprat.

“Tidak, tidak gelap baginya karena aku telah memberikan arah kemana kira-kira dia harus pergi mencarinya," jawab kakek itu tenang.

"Hahh? Kau tahu...?" Ta Bhok Hwesio terbelalak.

"Ya, garis-garis tangan wanita itulah yang memberikan petunjuk-petunjuk kepadaku sehingga aku dapat menolongnya."

"Oo...?!" semua orang tercengang dan diam-diam mereka amat kagum sekali kepada ahli ramal dari Pulau Cemara ini.

"Ada lagi yang hendak kau tanyakan?" Phoa-lojin tersenyum kepada hwesio gundul itu dan yang ditanya menggelengkan kepala.

"Tidak... tidak ada lagi sementara ini..."

"Sementara ini?"

"Ya, sementara ini. Karena siapa tahu nanti aku akan bertanya macam-macam lagi kepadamu," Ta Bhok Hwesio menyengir dan yang lain tersenyum.

Phoa lo-jin lalu memusatkan perhatiannya kepada telapak tangan bekas jenderal muda yang gagah perkasa itu dan alisnya berkerut. "Hemm, muridmu ini masih akan mengalami kejadian mengejutkan lagi, taihiap dan dia patut dikasihani. Kulihat di sini bahwa ada empat orang musuh yang memperdayai dia. Tiga berada di kota raja Wu dan yang seorang berada di sebelah utara. Benar, yang seorang inilah malah yang berbahaya. Dia licik, curang, masih muda dan ehh... dia pandai sihir!"

Apa dikatakannya ini beralasan juga, tetapi Sampai di sini Phoa-lojin terkejut dan wajah semua orang berobah.

"Pandai sihir? Masih muda...?" Malaikat Gurun Neraka berseru perlahan dan otaknya bekerja. "Apakah dia murid Cheng-gan Sian-jin?”

"Ahh, tidak mungkin. Sepengetahuanku, murid iblis tua itu adalah seorang anak perempuan berjuluk Tok-sim Sian-li. Mana ada murid lain lagi?" Ta Bhok Hwesio membantah.

"Akan tetapi, satu-satunya orang yang pandai sihir pada saat ini adalah Cheng-gan Sian jin. Siapa lagi? Barangkali pemuda yang dimaksudkan Phoa-lojin itu murid barunya, bukankah ini masuk akal? karena baru saja diangkat, maka belum banyak orang tahu," Malaikat Gurun Neraka menyanggah bantahan hwesio yang menggeleng-gelengkan kepala.

“Tidak… tidak..." ucapnya perlahan, “kulihat pemuda itu tidak ada hubungan perguruan dengan Cheng-gan Sian-jin... aneh sekali, lalu siapakah gerangan dia?”

Tidak ada yang mampu menjawab. Ahli ramal itu mengerutkan alisnya yang putih, memandang garis tangan Bu Kong penuh perhatian dan sejenak suasana menjadi hening.

Malaikat Gurun Neraka tiba-tiba bertanya, "To-heng, kalau orang yang ke empat ini adalah seorang pemuda, lalu siapakah yang tiga orang lainnya itu?"

"Hemm, kulihat mereka berasal dari kota raja. Yang pertama tinggi kurus, yang kedua tinggi besar dan yang ketiga bertubuh sedang."

"Apakah yang pertama itu bersenjata tombak panjang?" mendadak Ta Bhok Hwesio menukas.

Sepasang mata ahli ramal ini bersinar dan tampak terkejut oleh pertanyaan kakek gundul itu. Sebenarnya dia sudah tahu siapa adanya tiga orang ini, akan tetapi dia hendak mengatakannya secara memutar. Tidak tahunya, Ta Bhok Hwesio bertanya langsung seperti itu. Apalagi yang dapat dilakukannya? Maka diapun mengangguk dan menarik napas panjang. "Benar, ciri-ciri orang pertama ini kulihat demikian, entah lo-heng dapat mengetahui tidak?"

"Mengetahuinya? Ha-ha-ha, kau lucu sekali, lojin!” Ta Bhok Hwesio tertawa bergelak dan tampak girang bukan main. "Sekarang tahulah siapa biang keladinya. Ahh, pantas saja kalau begitu, keparat! Dan dia telah menghadiahi aku dengan hiasan ini, lihat..." Kakek ini membuka bajunya dan tampak sebuah luka yang dibalut. Fan Li dan Hok Sun terkejut, mereka tidak mengira bahwa Ta Bhok Hwesio telah terluka dadanya.

"Ahh, siapa yang melukaimu, lo-heng?" Malaikat Gurun Neraka bertanya.

"Si Jahanam yang licik itu!"

"Siapa?"

"Yang tadi disebut-sebut oleh Phoa-lojin, orang tertua dari Wu-sam-tai ciangkun!" berkata demikian hwesio ini menyala matanya dan tinjunya dikepal gemas.

Perdekar sakti itu berseru tertahan dan tiba-tiba sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkeredep. Seketika mukanya menjadi merah beringas dan hawa dingin keluar dari tubuhnya. "Hmm, jadi mereka itukah biang keladinya? Baik, akan kuhancurkan kepala mereka!" Malaikat Gurun Neraka berkata, sinar matanya penuh nafsu membunuh dan berapi-api.

Akan tetapi, sebelum pendekar ini bergerak, Phoa-lojin sudah mendahuluinya dengan kata-kata halus, "Taihiap, harap jangan terburu nafsu. Ingatlah teguran Ta Bhok lo-suhu tadi, masa kau hendak melupakannya? Jangan khawatir, tiga orang ini tidak akan lari kemana-mana dan itu bukanlah bagianmu melainkan bagian Yap-goanswe sendiri. Dia yang terkena kotoran dan dia pula yang harus membersihkannya. Kulihat dalam gambaran alam bahwa semua kejadian ini memang sudah diatur begitu, jangan taihiap melibatkan diri. Yap-goanswe masih harus menerima kejadian-kejadian berikutnya dan biarlah kita melihatnya dari belakang. Kita hanya perlu menolong kalau dia benar-benar dalam keadaan berbahaya. Sekarang yang harus kita perhatikan justeru orang ke empat itu dan aku hendak menugaskan muridku bersama Fan-ciangkun untuk menuju ke suatu tempat..."

Malaikat Gurun Neraka menahan langkahnya dan tertegun. Kembali dia terkejut oleh peringatan ahli ramal itu. Ahh, mengapa lagi-lagi dia hendak terjebak dalam kemarahan? Mengapa dia sekarang mudah marah dan menjadi pemberang? Apakah dia sekarang sudah sedemikian lemahnya sehingga mudah dikuasai nafsu-nafsu pribadi?

Pendekar ini mengepal tinjunya dan dia menahan diri. Tidak, tidak boleh dia bersikap begitu. Dimana ketenangan sikapnya seperti yang sudah-sudah? Sungguh dia merasa heran terhadap perubahan di dalam dirinya ini. Semenjak kematian Mo-i Thai-houw dulu, dia merasa betapa batinnya terhimpit sesuatu, terluka oleh sesuatu. Agaknya kematian bekas kekasihnya itulah yang membekas didalam batinnya dan segala persoalan yang tidak menyenangkan tentu akan membuat dia cepat naik darah.

"Hmm, kau benar, lojin, maaf..." pendekar ini berkata perlahan dan tidak banyak bicara lagi.

Phoa lojin lalu menoleh ke arah dua orang pemuda itu, menggapai sambil berkata, "Harap kalian ke sini sebentar, aku hendak mengatakan sesuatu..."

Fan Li melangkah maju dan Hok Sun juga mendekati suhunya. Kakek ini lalu berbisik-bisik dengan suara lirih dan dua orang pemuda itu tampak mengangguk-angguk.

Akhirnya, kakek itu bertanya, "Kalian sudah mengerti?"

"Sudah, locianpwe, teecu sudah mengerti," Fan Li menjawab.

"Sudah, suhu, akupun juga sudah mengerti," Hok Sun menganggukkan kepala dan dua orang pemuda ini saling pandang dan wajah mereka tampak tegang.

“Nah, kalau sudah mengerti, kenapa tidak segera berangkat?" Phoa-lojin menegur sambil tertawa.

Dua orang muda itu tersipu-sipu dan mereka cepat memberi hormat kepada tiga orang tokoh itu lalu melompat keluar kelenteng dan menghilang tak lama kemudian.

"Hemm, urusan pertama sudah beres, tinggal urusan kedua. Nona Hong, kalau kau terus mendekam di situ, bukankah kakimu akan pegal-pegal? Hayo turun, aku hendak memberi tugas kepadamu!" Phoa-lojin berseru sambil terkekeh geli dan tiga orang ini memandang ke atas rumah.

Dari luar terdengar seruan tertahan dan sebuah bayangan langsung melompat turun, menerobos jendela yang tanpa daun itu dan Pek Hong dengan muka merah telah berdiri di depan orang-orang tua ini sambil menunduk.

Ta Bhok Hwesio tertawa bergelak dan menegur murid perempuannya itu, "Eh, Hong-ji, lain kali kau jangan bikin kaget orang tua lagi. Kalau kau betul-betul pergi, bukankah usaha pinceng menyelamatkan pemuda ini akan sia-sia belaka? Apa kau tega membiarkan jerih payah gurumu berhenti setengah jalan? Ha-ha, anak nakal, lain kali kalau berpura-pura harus bilang dulu sama gurumu, ya?"

Wajah gadis itu menjadi semakin merah dan dia melirik suhunya dengan mulut cemberut. Tadi dia benar-benar sudah pergi dan dia memang bertekad untuk pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi seruan gurunya yang berbunyi "kau belum mendengarkan selengkapnya" ini membuat kakinya merandek.

Kalimat itu mempengaruhi sikapnya dan biasanya apa yang diucapkan suhunya tidak pernah meleset. Itulah sebabnya dengan hati-hati dia lalu kembali ke kelenteng, akan tetapi karena malu terhadap semua orang karena dia tadi sudah bilang untuk pergi, maka gadis inipun lalu melayang dengan kaki ringan di atas kelenteng tua itu. Dari sini dapatlah dia mendengarkan semua kata-kata si tukang gwamia itu dan tentu saja perasaannya menjadi tidak karuan.

Ada perasaan terkejut, terharu dan girang bercampur aduk. Sama sekali dia tidak menduga bahwa guru Gin-ciam Siucai itu sedemikian lihai pandangannya dalam meramal sesuatu kejadian. Hanya dengan melihat garis tangan orang, kakek ini sudah mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa pula yang bakal terjadi.

Sungguh mengherankan, dan meskipun dia masih ragu-ragu, akan tetapi ketika tadi Phoa-lojin menyebut bahwa si pelaku semua kejahatan ini adalah seorang pemuda yang mempunyai bekas luka di bawah dagu dan melihat betapa dagu Yap-goanswe sendiri licin bersih, kegembiraan yang aneh menyelinap di lubuk hatinya.

Kalau demikian halnya, maklumlah gadis itu bahwa terdapat pihak lain yang memfitnah pemuda ini. Dan tadi suhunya menyinggung-nyinggung nama Wu-sam-tai ciangkun. Hemm, tiga orang panglima dari Wu itu memang bukan orang baik-baik. Ini saja dapat dibuktikan dari sikap anak-anaknya yang berwatak kotor, terutama si iblis betina Ok Siu Li itu.

Demikianlah, dengan hati yang dipenuhi bermacam-macam perasaan, Pek Hong terus bersembunyi di atas kelenteng mendengarkan semua percakapan di bawah. Sungguh dia tidak mengira bahwa sebetulnya tiga orang lihai ini sudah mengetahui kedatangannya. Dan ini memang tidak mengherankan karena dengan telinga mereka yang tajamnya melebihi telinga kucing, sedikit gerakan di atas rumah saja sudah cukup membuat tiga orang sakt i itu curiga.

Phoa-lojin yang melihat Ta Bhok Hwesio menggoda muridnya sehingga gadis itu menjadi jengah, segera berkata sambil tertawa ramah, "Lo-heng, harap kau jangan selalu main-main saja. Tidak tahukah kau bahwa nona Hong telah berbalik sikap dan kini hendak membantu kita? Seharusnya kita berterima kasih, bukan memperolok-oloknya. Nona Hong, jangan hiraukan suhumu ini. Lebih baik kita bersikap serius dan memperhatikan keadaan Yap-goanswe. Bagaimana menurut pikiranmu?"

Dara ini mengangkat mukanya dan memandang kakek itu. Pertanyaan Phoa-lojin mengusir kecanggungannya dan mendengar pertanyaan orang, diapun lalu menjawab lirih, "Apa lagi yang dapat kupikirkan, locianpwe? Aku ke sini kalau tugas yang hendak locianpwe berikan kepadaku memang tepat. Akan tetapi kalau aku kurang cocok, tentu saja akupun tidak berani banyak pendapat.”

"Ahh, siapa bilang kurang cocok? Justeru nonalah satu-satunya orang yang paling tepat!" Phoa-lojin tertawa. "Kalau nona sudah menyediakan diri, hal ini sungguh bagus sekali. Sekarang, karena waktu sudah terlalu mendesak, maka nona harus selekasnya pergi ke Ang-bhok-san. Namun, sebelum nona ke sana, baiklah nona ikuti aku ke belakang sebentar, ada hal-hal yang tidak boleh diketahui orang lain yang hendak kuberikan kepada nona."

Kakek itu la lu memberikan isyarat dan memutar tubuh, menuju ke ruangan belakang kelenteng. Pek Hong memandang gurunya sekejap seolah-olah merasa ragu untuk mengikuti kakek itu ke belakang, akan tetapi Ta Bhok hwesio bahkan mendampratnya.

"He, kenapa melenggong di situ? Hayo ikuti dia, untuk apa melototi suhumu? Apa kau mau menagih hutang kepada pinceng?"

Terpaksa sambil cemberut gadis ini membalikkan tubuhnya dan menuju ke belakang tanpa banyak bicara. Suhunya itu memang kadang-kadang mendongkolkan hati, akan tetapi di balik semua sikapnya itu tersembunyi kasih sayang yang besar terhadap dirinya. Maka meskipun mendongkol, iapun tersenyum geli mendengar ucapan suhunya itu.

Ada-ada saja gurunya ini. Dia memandang biasa katanya melotot, kalau melotot katanya mendelik. Memang susah dan menjengkelkan, sehingga kadang-kadang dia sendiripun dibuat gemas. Akan tetapi itulah suhunya, kakek yang amat sayang dan memperhatikan segala keperluannya.

Entah apa yang diberikan oleh Phoa-lojin kepada gadis itu, Ta Bhok Hwesio tidak tahu. Yang jelas adalah ketika dua orang ini muncul kembali, dia melihat betapa wajah muridnya berseri gembira dan sinar matanya menunjukkan kenakalan tersembunyi. Bertahun-tahun hwesio ini berdekatan dengan muridnya itu, maka bisa dibilang hampir setiap gerak-geriknya tentu akan diketahuinya belaka. Dia sudah hendak menegur, akan tetapi Phoa -lojin cepat menggerakkan jarinya di depan mulut tanda dia tidak boleh berbicara.

Sementara kakek ini terheran-heran, Phoa-lojin telah mendekatinya dan berbisik perlahan di pinggir telinganya. Lalu kakek itupun juga mendekati Malaikat Gurun Neraka, berbisik-bisik perlahan seperti orang ketakutan terdengar suaranya oleh telinga lain, lalu tampak dua orang itu mengangkat alis mereka dan tercengang.

Demikianlah, gerak-gerik yang aneh dari tiga orang tua itu disaksikan gadis ini, lalu tanpa banyak cakap dan tanpa memandang lagi kepadanya, tiga orang tokoh itupun berkelebat meninggalkan ruangan itu. Kejadian ini berlangsung cepat dan sebentar saja Pek Hong ditinggal seorang diri. Gadis ini berdiri mematung dan matanya terbelalak memandang kepergian tiga orang tua itu, sejenak tertegun bingung. Tadi, setelah dia berada di ruang belakang, Phoa-lojin juga berbisik-bisik kepadanya dan menyerahkan sebuah bungkusan kain berwarna hijau.

"Mulai sekarang nona tidak boleh membuka suara. Kalau ingin berhasil menemui Si Dewa Monyet di Ang-bhok-san, nona harus selalu tutup mulut. Ingat, nona harus tutup mulut dan menjadi orang bisu biarpun di depan Kauw-sian. Mengertikah nona?"

Dara itu mengangguk dan hendak menjawab, akan tetapi kakek Phoa buru-buru berkata, "Ahh, jangan bersuara! Ingat, nona mulai sekarang menjadi orang bisu dan apapun yang orang katakan, nona hanya mengangguk atau menggeleng. Kalau tidak pertolongan terhadap Yap-goanswe akan gagal sama sekali. Bukankah nona mencintanya?"

Gadis itu menjadi merah mukanya dan dia memandang Phoa-lojin dengan mata terbelalak. Dia hendak mengeluarkan suara, akan tetapi lagi-lagi kakek itu mendesis,

"Sstt, nona, jangan membuka mulut! Masa baru saja kuperingatkan sudah akan lupa? Pertanyaanku tidak seberapa, nanti kalau nona berhadapan dengan Si Dewa Monyet sendiri, mungkin nona akan lebih terkejut lagi. Nah, coba jawab sejujurnya pertanyaanku tadi, bukankah nona mencinta pemuda itu?"

Pertanyaan ini melebihi todongan pedang tajam, bagaimana Pek Hong dapat menjawabnya? Bahkan mukanya menjadi semakin merah sampai ke telinganya dan dia tidak mampu bersuara. Kalau saja bukan kakek ini yang bertanya, tentu dia menyemprot orang habis-habisan.

Akan tetapi Phoa-lojin malah tampak gembira, "Bagus, tidak menjawab berarti membenarkan. Dan ini satu langkah pertama nona menuju ke arah kebahagiaan. Harap nona ingat pesanku tadi, apapun yang orang katakan, nona tidak boleh membuka mulut dan bersikap gagu sampai tiba di tempat kediaman Si Dewa Monyet."

Kakek ini lalu mengisiki tentang beberapa hal lagi dan semuanya itu diucapkan dengan suara amat perlahan. Mula-mula gadis itu terkejut, akan tetapi akhirnya tercengang keheranan dan tampak gembira. Wajahnya berseri seperti anak kecil memperoleh hadiah kembang gula dan demikianlah, dua orang ini lalu kelu ar dari ruangan belakang menemui Ta Bhok Hwesio yang sedang menunggu.

Sekarang, setelah Phoa-lojin dan dua orang kakek itu pergi tanpa menghiraukan dirinya, Pek Hong melenggong. Hal ini sama sekali tidak diketahuinya karena kakek Phoa itu memang tidak memberi tahu. Hampir saja mulutnya memanggil suhunya, akan tetapi segera dia mendekap mulutnya kembali dengan cepat. Lagi-lagi dia lupa bahwa sekarang dia harus berlagak menjadi gadis bisu!

Sialan, pikirnya di dalam hati. Syarat menutup mulut ini walaupun tidak begitu berat, akan tetapi toh amat menjengkelkan sekali. Mau bicara apa-apa tidak boleh, bagaimana tidak membuat orang kheki? Apalagi bagi perempuan yang biasanya jauh lebih cerewet daripada laki-laki, "puasa" ini benar-benar merupakan suatu siksaan.

"Bukankah nona mencinta pemuda itu?” pertanyaan ini mengiang di telinganya dan pipi gadis ini bersemu dadu. Kalau dia tidak mencinta pemuda itu, mana dia suka membawanya ke Ang-bhok-san menemui Si Dewa Monyet yang konon berwatak aneh itu?

Demi pemuda pujaan hati dia rela melakukan segala hal. Jangankan disuruh ke tempat Kauw sian, biar ke neraka sekalipun dia ikut! Gadis ini menggreget, lalu memondong tubuh Bu Kong dan melompat keluar. Hek-ma meringkik girang melihat munculnya gadis yang sudah dikenalnya ini, dan Pek Hong tanpa banyak cakap lagi lalu melompat di punggung kuda hitam itu. Karena tidak boleh membuka mulut, maka nona ini menepuk leher Hek-ma sebagai isyarat dan kuda itu bergerak kaget, kemudian kabur mengikuti kehendak nonanya.

* * * * * * * *

Malam hampir menghilang, dan fajar mulai menyingsing. Kegelapan terusir dan muncullah cahaya terang di atas bumi. Perjalanan ke Ang-bhok-san bukanlah suatu perjalanan mudah. Tempat ini terletak di Pegunungan Ta-pie-san di sebelah selatan. Akan tetapi, bersama Hek-ma yang sanggup berlari seribu li dalam sehari, perjalanan panjang ini dapat dipercepat.

Pegunungan Ta-pie-san adalah pegunungan yang amat luas dan penuh hutan-hutan lebat. Banyak binatang-binatang buas di sini yang amat berbahaya. Maka tidaklah heran kalau pegunungan ini jarang didatangi manusia.

Ang-bhok-san atau Bukit Kayu Merah berada di lereng timur, dan ke sinilah gadis itu menuju. Pada saat dia tiba di wilayah ini, mula-mula yang menyambutnya adalah jalanan yang amat kasar itu berbatu-batu. Dari tempat ini memandang ke atas, tampaklah sebuah bukit yang aneh bentuknya.

Tidak seperti bukit-bukit lainnya, Bukit Kayu Merah ini memang memiliki keistimewaan tersendiri. Puncaknya legok, dindingnya terdiri dari karang yang amat tinggi dan curam. Untuk mendaki sampai di atas sana orang harus merayap di dinding bukit yang curam itu. Dan di atas puncak yang berlegok ini, ribuan pohon gundul tanpa daun berdiri kokoh.

Memang aneh melihat seragamnya pohon-pohon itu yang gundul licin tanpa sehelai daunpun, dan kulit pohon yang kemerahan itu bersinar tertimpa cahaya matahari. Inilah sebabnya mengapa bukit itu dinamakan Ang-bhok-san (Bukit Kayu Merah), karena di tempat itu bisa dibilang tidak ada sebatangpun pohon yang berdaun. Semuanya gundul dan cabang serta ranting pohon merah itu mencungat ke sana-sini seperti cakar setan.

Jalanan berbatu ini amat kasar dan diam-diam Pek Hong menggerutu di dalam hati. Hek-ma tidak berani mencongklang karena sekali kakinya terpeleset, tentu dia akan tergelincir jatuh. Selama dalam perjalanan, berkali-kali kuda ini meringkik untuk mengajak bicara nonanya, akan tetapi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut gadis itu.

Pek Hong hanya menepuk-nepuk leher dan punggung kuda ini dengan sentuhan mesra dan diam-diam gadis ini amat berterima kasih sekali kepada Hek-ma. Kalau kuda biasa yang mengantarkan mereka, agaknya sekarang belum tentu dia sampai di tempat ini.

Akhirnya jalan yang berbatu itu habis dan sekarang mereka melalui jalan setapak yang penuh rumput halus. Enak berjalan kaki di sini dan dapat membuat orang merasa nyaman. Akan tetapi, semakin dekat dengan bukit yang dindingnya curam intu, Pek Hong semakin tidak terasa nyaman. Ketegangan mulai dirasakannya.

Dia belum tahu bagaimana rupa Si Dewa Monyet itu. Akan tetapi, melihat julukannya agaknya tidak meleset jauh kalau dia membayangkan bahwa tokoh ini pasti mukanya mirip monyet. Kalau tidak, bagaimana dia bisa mendapatkan nama poyokan itu?

Membayangkan wajah yang buruk seperti monyet membuat gadis ini mengkirik. Masa ada m anusia yang rupanya betul-betul mirip monyet? Dan kakek itu disebut orang sebagai "dewa"nya monyet! Ihh, kalau monyetnya saja sudah cukup membuat dia ngeri, apalagi kalau bertemu dengan Si Dewa Monyet sendiri yang berwatak kukoai. Jangan-jangan wataknyapun juga persis monyet, kan berabe kalau begini?

Pikiran tentang bayangan ini membuat gadis itu meremang bulunya dan tahu-tahu kudanya berhenti. Hek-ma meringkik nyaring karena dia sudah tidak dapat berjalan lagi. Di depannya menjulang dinding batu karang yang tinggi dan Pek Hong terkejut.

Kiranya mereka telah sampai di tempat tujuan. Perjalanan ke sini ternyata tidak terlalu sukar seperti yang dibayangkannya semula. Akan tetapi perjalanan berikutnya untuk merayap di puncak bukit itu bukanlah pekerjaan ringan. Apalagi dia harus membawa tubuh orang sakit! Sejenak gadis ini kebingungan. Dengan cara bagaimana dia akan mendaki ke atas? Dinding bukit ini amat terjal dan sekali dia tergelincir dari tempat setinggi itu, alamat jiwanya akan melayang.

Sebagai murid Ta Bhok Hwesio yang gemblengan, dalam hal menanggung resiko-resiko semacam ini Pek Hong bukanlah seorang dara penakut. Akan tetapi, kalau dia harus merayap ke atas sambil membawa Yap-goanswe serta terpeleset, bukankah nyawa pemuda itu sukar dipertahankan lagi?

Pada saat dia kebingungan mencari akal itulah tiba-tiba didengarnya suara ramai di balik dinding sana. Gadis ini terkejut dan wajahnya berobah. Siapakah yang bersuara gaduh itu? Baru saja dia menengok, hampir saja Pek Hong menjerit dan seketika mukanya menjadi pucat. Apa yang dilihatnya? Bukan lain adalah ribuan monyet besar kecil yang berbondong-bondong lari menghampirinya!

Binatang-binatang ini bercecowetan, kakinya yang kecil-kecil panjang itu melompat-lompat lucu akan tetapi bagi Pek Hong sendiri, sama sekali dia tidak merasa geli karena dia melihat betapa monyet-monyet itu menyeringai ke arahnya dengan sikap marah!

Ujian pertama bagi dirinya telah datang! Persis seperti apa yang diberitahukan oleh kakek Phoa ketika mereka berada di kelen teng tua. Sejenak gadis ini pucat dan dia merasa ngeri, sementara Hek-ma sendiri sudah meringkik marah dan kuda yang biasanya tidak kenal ta kut itu kini juga tampak gelisah. Memang kedatangan binatang-binatang ini cukup membuat kuncup nyali orang. Kalau se ekor dua saja tidak apa. Akan tetapi kalau jumlahnya sampai beribu ekor inilah s atu hal lain lagi.

Dan sementara gadis itu bengong di tempatnya, beberapa ekor monyet besar yang larinya paling cepat telah tiba di situ. Monyet-monyet ini mengeluarkan pekik lantang dan gigi mereka yang kecil t ajam itu tampak buas. Enam ekor monyet melompat ke depan dan kedua tangan mereka dengan cakar tajam menyerang gadis ini.

Pek Hong terkejut dan otomatis dia mengelak. Sambaran monyet - monyet itu luput, akan tetapi dasar monyet adalah binatang yang gerak-geriknya gesit dan cekatan, begitu serangannya menubruk angin, binatang-binatang ini sudah membalik dan melompat sambil menggereng, agaknya mereka itu merasa marah mengapa serangan berbareng dari enam jurusan ini luput. Tentu saja gadis itu merasa gemas dan mendongkol, juga geli. Maka begitu monyet-monyet besar ini menyerangnya kembali, dia tidak mau mengelak seperti tadi dan kakinya berputar, sekali tendang mengenai tubuh enam ekor binatang itu yang menjerit kaget dan terpelanting!

Namun monyet-monyet ini sungguh istimewa dan lain daripada monyet biasa. Begitu kena tendang dan mencelat jauh, binatang-binatang itu tidak jera bahkan semakin marah. Mereka memekik seakan memberi komando dan kini menerjang lagi. Tangan mereka mencengkeram dan mulut mereka menggigit. Sekali kena tentu akan sukar melepaskan diri karena monyet-monyet ini adalah anak-anak "murid" Kauw Sian yang menjaga sekeliling gunung.

Dan pada saat itu, monyet-monyet la in yang tadi ketinggalan, kini sudah berdatangan ke tempat itu dan mereka langsung mengerubut murid Ta Bhok Hwesio ini! Tentu saja keadaan semakin gaduh dan Pek Hong meluap kemarahannya. Dia masih memanggul Bu Kong, gerakannya kurang leluasa. Maka hanya kedua kakinya saja yang bergerak bergantian menghalau binatang-binatang kurang ajar ini. Akan tetapi, dikeroyok monyet-monyet celaka yang luar biasa banyaknya itu bagaimana dia dapat bertahan? Lama-lama tentu dia akan celaka dan kalau hal ini sampai terjadi, dia harus menaruh mukanya di mana?

Bukankah amat memalukan sekali kalau murid Ta Bhok Hwesio yang sakti ternyata dikalahkan monyet? Seluruh dunia kang-ouw tentu akan ketawa bergelak mendengar berita ini! Pek Hong menggreget dan dia benar-benar bingung. Kalau saja tidak ingat kepada pesan Phoa-lojin, tentu dia akan membunuh monyet-monyet ini. Akan tetapi binatang-binatang itu adalah peliharaan Si Dewa Monyet, dan dia datang ke sini untuk minta pertolongan orang, masa dia harus membunuh "perajurit-perajurit" Ang-bhok-san ini?

Saking bingung dan marahnya, gerakan Pek Hong kurang cepat. Seekor monyet besar yang tadi ditendangnya sampai terpental bergulingan, mendadak berhasil mencengkeram kaki kanannya. Gadis ini menjerit dan binatang itu menggigit. Pek Hong mengipatkan kakinya keras-keras dan akibatnya celananya robek. Akan tetapi gigitan monyet ini luput dan binatang itu terlempar bersama sobekan celananya. Dan belum lagi dia hilang dari rasa terkejut, tiba-tiba didengarnya Hek-ma meringkik dan kuda hitam tinggi besar itu lari berputaran sambil menendang-nendangkan kakinya.

Kiranya seperti juga keadaan non anya itu kuda inipun juga telah dikerubuti oleh puluhan ekor monyet besar kecil! Ada yang menggelantung di pahanya, ada yang merangkul lehernya dan ada pula yang menarik-narik ekornya. Dan celakanya, semua binatang itu menggigit sana-sini sambil memekik-mekik seperti perajurit maju perang!

Mana ada kejadian yang demikian memprihatinkan? Si majikan dikeroyok sampai pakaiannya robek-robek, dan kini kuda tunggangannya ikut-ikutan disikat! Untung Hek-ma bukan kuda sembarangan. Seperti kita ketahui, kuda ini adalah seekor kuda jempolan. Tahan bacokan golok maupun pedang. Maka gigitan monyet-monyet liar itupun tidak membuatnya terluka akan tetapi membuatnya seperti digelitik.

Kalau digelitik sedetik dua detik saja tentu tidak akan membuat orang marah. Akan tetapi kalau gelitikan ini terus-menerus, siapa tidak akan naik pitam? Begitu pula halnya dengan kuda ini. Melihat monyet-monyet itu menggigitnya dan seperti lintah melekat di tubuhnya, Hek-ma menjadi marah dan kuda ini lalu meringkik nyaring.

Kaki belakangnya menyepak dan belasan ekor monyet yang terkena "sotangan" kuda ini, menjerit ngeri dan terbanting di atas tanah, tak mampu bangkit lagi. Tubuh mereka remuk dan monyet-monyet itu tewas seketika. Dalam dua kali gebrakan saja, duapuluh empat ekor monyet ini mati dalam sekejap!

Pek Hong terkejut. Wah, kalau binatang-binatang ini mati semua diamuk Hek-ma, tentu Kauw-sian akan marah sekali kepadanya. Dia hendak berteriak, akan tetapi yang keluar hanya suara yang tertahan di kerongkongannya. Hal ini disebabkan karena dia teringat akan pesan Phoa-lojin. Kakek itu berkata bahwa apapun yang akan dihadapinya, dia harus selalu tutup mulut dan menjadi gadis bisu!

Inilah yang membuat gadis itu kian lama kian gelisah. Dan akhirnya dia melihat Hek-ma mulai bergulingan di tanah. Kuda yang marah itu tampak buas, monyet-monyet yang berada di dekatnya sudah ditendangi semua. Akan tetapi monyet-monyet yang melekat di punggung dan lehernya, tidak mau turun. Sebelas ekor monyet melekat di tubuhnya dan tiga ekor malah menggigit pantatnya. Agaknya Hek-ma kesakitan dan tiba-tiba kuda itu menggulingkan diri di tanah. Sekali berguling, tujuh ekor monyet yang tidak sempat melompat, menjerit dan tergencet mampus!

"Oohhh...!" Pek Hong menjerit tertahan dan matanya terbelalak. Duapuluh ekor monyet yang tewas diamuk Hek-ma itu kalau ketahuan pemiliknya tentu akan merunyamkan keadaannya. Akan tetapi apa yang bisa diperbuatnya? Dia tidak boleh berbicara dan kalau hendak mencegah kudanya membunuh monyet-monyet itu, satu-satunya jalan ialah mengajak Hek-ma kabur dari tempat ini.

Akan tetapi kalau dia melarikan diri, habis apa gunanya dia jauh-jauh datang kemari? Pergi dari tempat mengerikan ini berarti gagal menolong Yap-goanswe, namun jika hendak menolong Yap-goanswe berarti tidak bisa mencegah Hek-ma menyerang monyet-monyet itu. Keadaan serba rumit, serba susah dan tidak menyenangkan baginya. Padahal dia harus memilih satu diantara dua keputusan. Yang mana harus diambilnya?

Pada saat Pek Hong gelisah inilah tiba-tiba gadis itu merasa betapa tubuh Bu Kong menggeliat dan pemuda itu mengeluh. Kiranya suara gaduh dan cecowetan monyet penghuni Ang bhok-san ini menyadarkan Yap-goanswe. Tentu saja gadis itu menjadi girang dan harapannya timbul. Dia harus membisu selama di tempat ini, namun pemuda itu tidak dikenakan syarat demikian. Hal ini berarti ada harapan baginya untuk mendapat jalan keluar.

Apa yang diduga ternyata benar. Bu Kong telah sadar dari pingsannya dan pemuda ini perlahan-lahan membuka sepasang matanya, berkedip-kedip sejenak dan akhirnya terkejut ketika melihat betapa tubuhnya dipanggul seorang wanita muda.

"Ahh, siapa anda...?" pemuda itu berseru kaget dan cepat meronta, lalu melompat turun dari pondongan orang. Begitu kakinya menyentuh tanah, tiba-tiba pemuda ini kembali mengeluh dan memegangi kepalanya yang berputar tujuh keliling.

Racun yang diminum melalui Arak Sorga di gedung Cheng-gan Sian-jin ternyata mulai bereaksi. Begitu dia sadar, seketika pemuda ini merasa betapa kepalanya terasa pusing dan dunia berputaran cepat. Dia merasa seakan-akan di balik, sebentar di atas dan sebentar kemudian di bawah. Semuanya berputar dan Bu Kong terhuyung-huyung hampir jatuh.

Tentu saja Pek Hong terkejut, apalagi ketika melihat betapa empat ekor monyet besar mengeluarkan pekik marah dan menyerang pemuda itu, gadis ini terkesiap kaget. "Uhh...!" Pek Hong berseru tertahan dan tubuhnya berkelebat. Kaki tangannya bergerak cepat dan sekali pukul, empat ekor monyet itu menjerit dan roboh terkapar dengan tulang kaki patah-patah!

Saking gemas dan marah, gadis ini mulai bersikap keras dan sekarang ia tidak menanti sampai binatang-binatang itu menyerang, melainkan dialah yang menerjang monyet-monyet ini. Sebentar saja puluhan ekor monyet itu menjerit kesakitan dan tubuh mereka dilontar-lontarkan ke udara dan terbanting di atas tanah berdebukan.

Bu Kong terkejut mendengar pekik monyet-monyet ini dan dia menahan napas, mengumpulkan kekuatannya untuk memandang jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi di tempat itu dan siapakah wanita muda yang menolongnya ini. Dan begitu pemuda ini melihat gadis itu, mulutnya mengeluarkan teriakan tertahan. "Hong-moi, ah, kaukah ini...?" dan wajah Bu Kong tampak pucat.

Walaupun kepalanya berdenyut-denyut, namun sekarang dia dapat melihat jelas apa yang sedang terjadi di sekelilingnya itu dan Bu Kong terkejut sekali. Bagaimana gadis ini tahu-tahu berada di sini? Dan tempat apakah ini? Mengapa banyak terdapat monyet-monyet liarnya? Dan, ehh...! Bukankah dia berada di gedung Cheng-gan Sian-jin? Dimana sekarang iblis tua berhati keji bersama murid perempuannya itu? Semua pertanyaan ini bertubi-tubi memenuhi pikirannya dan pemuda itu menjadi bingung dan rasa pusing semakin menghebat.

"Hong-moi, aduhh... kepalaku pusing... dan monyet-monyet ini... ahh, mengapa kita kemari...?" Bu Kong mengeluh dan langkahnya terhuyung-huyung, akhirnya roboh menelungkup.

Monyet yang dihalau oleh gadis itu kocar-kacir, akan tetapi tiba-tiba binatang-binatang ini menjerit kegirangan dan menyerbu ke arah pemuda yang ambruk di atas tanah itu! Tentu saja kejadian ini membuat Pek Hong kaget setengah mati. Dan pada detik yang amat gawat itulah gadis ini tiba-tiba teringat akan sesuatu. Dia mengeluarkan seruan "ah-uhh" seperti orang gagu dan tangan kanannya mengambil sesuatu di balik baju. Lalu, sekali tubuhnya melayang, tangan kanannya telah mengebutkan sebuah bungkusan kain berwarna hijau ke arah monyet-monyet itu.

Akibatnya sungguh mengherankan. Dari dalam bungkusan ini berhamburanlah bubuk-bubuk putih yang berbau harum dan amat keras, mirip arak Hang-cou dicampur dupa peh-in soat yang amat terkenal dari kota Se-bun, dan puluhan monyet yang tersiram bubuk ini dan mengendus baunya, tiba-tiba bercecowetan perlahan lalu roboh di atas tanah seperti kena bius!

Hal ini menggembirakan hati nona itu dan diapun segera mengebut-ngebutkan bubukan putih ini ke arah ribuan ekor monyet itu. Dan sungguh ajaib, bubuk putih ini begitu tercium oleh monyet-monyet itu, seketika binatang-binatang ini mengeluh aneh dan lumpuh, roboh satu-persatu di atas tanah dan jatuh tertidur!

Sebentar saja, dibantu tiupan angin pegunungan, bubuk pemberian Phoa-lojin ini telah membius seribu ekor lebih monyet-monyet yang tadi mengerubut gadis itu dan Hek-ma! Kejadian ini berlangsung beberapa kejap dan monyet-monyet lain yang berada di belakang, memekik ketakutan dan mereka itu lari pontang-panting kembali ke dinding bukit sebelah sana.

Pek Hong menarik napas lega. Karena tadi terkejut dan merasa ngeri dengan datangnya ribuan ekor monyet itu, dia melupakan bungkusan kain hijau yang diberikan oleh kakek Phoa kepadanya. Waktu di kelenteng tua Phoa-lojin memang telah memberitahunya bahwa kalau dia tiba di Ang bhok-san, mungkin anak buah Si Dewa Monyet yang pertama-tama akan menyambutnya.

Hanya yang dia kurang paham, disangkanya bahwa "anak buah" yang diartikan oleh kakek itu adalah pelayan atau sebangsanya. Sama sekali dia tidak menduga bahwa yang dimaksudkan oleh Phoa-lojin ternyata adalah monyet-monyet menggelikan itu! Kalau tahu begini, bagaimana dia tidak akan merasa jijik?

Dan itulah sebabnya mengapa kakek Phoa lalu membekalinya dengan bungkusan kain berwarna hijau. Katanya jika dia kewalahan menghadapi anak buah Si Dewa Monyet, harap keluarkan bungkusan ini dan kebutkan ke arah mereka, pasti akan jatuh kelenger. Betul saja, setelah dia mengeluarkan bungkus an itu, anak buah Kauw-sian ini memang benar-benar dapat dilumpuhkan. Kini dia bebas dari gangguan monyet-monyet kurang ajar itu dan Hek-ma meringkik sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

Keadaan menjadi sunyi kembali seperti sedia kala, akan tetapi seribu ekor monyet yang malang -melintang di situ membuat gadis ini merasa geli dan mengkirik. Melihat betapa Bu Kong rebah menelungkup dan di sekitarnya penuh dengan monyet-monyet yang terbius, dengan hati-hati gadis ini lalu menghampiri untuk menolong.

Akan tetapi, baru tiga langkah dia berjalan, mendadak terdengar pekik monyet yang menggetarkan hati. Pek Hong terkejut dan ketika dia menengok, tampaklah dari atas bukit itu meluncur sesosok bayangan yang luar biasa cepatnya. Mengejutkan sekali gerakan bayangan ini. Tubuhnya seakan-akan terbang menukik dan setelah sampai di atas dinding sebelah sana, bayangannya lenyap terhalang. Akan tetapi, lenyapnya bayangan yang belum diketahui apa sebenarnya itu hanya sekejap saja.

Pek Hong tahu-tahu telah melihat kembali bayangan ini yang muncul tiba-tiba dari balik dinding dimana monyet-monyet tadi melarikan diri. Dan gadis itu terkejut. Belum sempat dia mengejapkan mata, bayangan ini telah meluncur secepat terbang dan berhenti mendadak di depannya seperti rem pakem. Seorang kakek pendek mengerikan memandang gadis ini dengan sepasang matanya yang bulat kecil bersinar-sinar, melotot penuh kemarahan. Mukanya lonjong kecil seperti monyet, hidungnya bagian tengah melesak ke dalam, mulutnya agak lebar dan kedua pundaknya berbulu. Sungguh manusia monyet yang tidak ada cacad celanya!

"Uhh...!" gadis itu berseru kaget dan mukanya berobah, otomatis ia melompat mundur dan sepasang matanya terbelalak ngeri. Belum pernah selama hidupnya dia menyaksikan wajah seperti ini. Tubuhnya memang manusia tulen, akan tetapi mukanya muka monyet asli! Siapa tidak akan meremang bulu tengkuknya.

"Kerrrr, hieehhhh....! Siapa mencelakai anak-anak buahku, hah?" kakek mengerikan ini memekik marah dan jeritannya mirip monyet murka. Dia memandang Pek Hong dan kedua kakinya mencak-mencak seperti monyet menari, sikapnya lucu dan kalau dilihat dari jauh persis lagak seorang badut.

Namun gadis itu sama sekali tidak dapat tertawa karena dia masih terkesiap menyaksikan bentuk wajah Si Dewa Monyet itu. Tepat dugaannya, Kauw sian ternyata sesuai dengan julukannya. Mukanya seperti monyet bahkan tindak-tanduknya juga persis monyet. Dan dia harus menemui manusia macam ini untuk minta pertolongan! Mungkinkah berhasil?

"Hiehhh, gadis muda bertangan ganas. Kau punya mulut untuk menjawab tidak? Atau barangkali kau ingin kupaksa? Hayo cepat mengaku siapa yang mencelakai anak-anak buahku, kerrr...!” kakek ini membentak dan memekik-mekik, kakinya maju mundur tak bisa diam seakan-akan hendak menyerang orang dan kedua tangannya diulur ke depan untuk mengancam.

Menghadapi orang begini, apa yang harus dikatakan? Pek Hong tidak menjawab dan sebagai gantinya dia menggeleng dengan mata terbelalak. Nasehat Phoa lojin agar dia menutup mulut tidak berbicara di depan kakek aneh ini dijalankannya. Maka kini hatinya mulai tenang meskipun jantungnya masih berdegup kencang. Melihat sikapnya, Dewa Monyet ini amat buas seperti binatang liar dan sepasang matanya yang bulat kecil bersinar-sinar seperti monyet itu berputaran.

"Hehh, kenapa menggeleng? Tidak bisa bicara, ya? Kau bisu, ya? Bagaimana kau gagu? Apa ada orang yang mencelakaimu? Ehh, nona cantik, kalau begitu sayang sekali. Tentu tidak ada laki-laki yang mau mengawinimu. Siapa suka beristerikan gadis bisu? Ha hah he-heh, tidak ada orang suka... tidak ada orang suka...! Akan tetapi anak buahku tentu suka! Ya...ya... anak-anak buahku banyak yang suka. Bukankah tadi mereka telah menyambutmu dengan gembira? Ha-ha, bagus sekali... bagus sekali! Sungguh beruntung tempatku kedatangan gadis manis sepertimu ini, nona. Dan aku akan memilihkan pasangan yang paling cakap untukmu. Hee, Siau ji, hayo ke sini dan temui calon isterimu ini, ha-ha hehheh!"

Kakek sinting itu terkekeh-kekeh dan tangannya mengapai ke belakang. Dari balik dinding sana muncul seekor monyet besar berbulu coklat muda. Binatang ini berjalan menghampiri dengan perlahan, langkahnya takut-takut dan dia memandang Pek Hong dengan sikap jerih, tangan kirinya menyeret sobekan kain dan seketika gadis itu menjadi merah mukanya dan dia memandang monyet besar ini dengan sinar mata berapi.

Kiranya itulah robekan kain celananya yang tadi dijambret oleh monyet yang dipanggil Siau-ji ini! Tentu saja Pek Hong menjadi marah akan tetapi Si Dewa Monyet tidak memperdulikannya bahkan ketawanya semakin keras dan terpingkal-pingkal.

"Heh-heh-heh, Siau-ji, apa kau betul-betul telah jatuh cinta kepada calon isterimu ini, hah? Wahh, bagus, pilihanmu pandai dan tepat sekali, cocok dan kau patut bersyukur kepada sang maha dewa kita !" Si Dewa Monyet terkekeh - kekeh lalu menoleh ke arah gadis itu, menyambung dengan suara girang, "Nona cantik bukankah kaupun akan menerima pinangan Siau - ji ini? Lihat, dia telah membawa emas kawinnya yang istimewa!"

Akan tetapi Pek Hong mendelik ke arah kake k ini dan kepalanya menggeleng tegas. Kauw-sian terkejut, seketika suara ketawanya sir ap dan mukanya berobah bengis. Dia memandang gadis itu dengan muka ke lam dan bola matanya yang kecil itu berputaran liar. Pek Hong menjadi ngeri dan tak terasa dia la lu mundur setindak.

"Kerrr! K au berani menolak pinangan anak muridku, nona?" Dewa Monyet ini t iba-tiba membentak marah dan melompat, gerakannya cepat bukan main dan tahu- tahu telah melejit seperti ikan terbang dan berada di depan Pek Hong dengan sikap mengancam.

"Apa yang kau andalkan, heh? Berani kau membantah perintahku? Kau telah membuat onar di sini dan sudah bagus aku tidak mengusutnya lebih jauh. Mengingat kau adalah gadis gagu seperti anakku dulu yang tewas di tangan manus ia jahat, aku suka mengampunimu dan bahkan mencarikan jodoh yang sepadan untukmu. Kenapa kau berani menolaknya?"

Bentakan ini keras sekali dan memekakkan telinga, seperti suara genta dipukul. Pek Hong semakin terkejut sedang kan Siau-ji yang melihat betapa kakek itu marah-marah kepada "calon isterinya" ini, melompat maju dan bercecowetan perlahan, memegang ujung baju majikannya seakan-akan hendak mencegah kakek itu menerjang gadis ini.

Tentu saja pemandangan ini membuat Pek Hong merasa mendongkol dan gemas, juga marah sekali. Kurang ajar betul monyet itu, terang-terangan menyatakan "cinta" kepadanya dengan cara melindunginya. Hatinya menjadi sebal dan kalau tidak mengingat keadaan Bu Kong yang menelungkup di atas tanah itu, tentu dia tidak mau banyak bicara dan sudah menerjang kakek bermuka monyet ini.

Karena dia berpura-pura sebagai nona bisu, maka gadis inipun lalu mengelu arkan suara "ah-ah-uh-uh" dan menggerak-gerakkan jari tangan memberi bahasa isyarat . Dia menuding-nuding diri sendiri, lalu menunjuk ke arah Yap-goanswe yang menggeletak di tanah, mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima "pinangan" ini karena dia telah terikat jodoh dengan pemuda itu, dan maksud kedatangannya kemari adalah untuk minta obat kepada kakek itu.

Si Dewa Monyet tertegun dan sepasang ma tanya yang tadi berputar liar itu tiba-tiba berhenti. "O, kau maksudkan bahwa dia itu adalah suamimu? Jadi kau sudah menikah? Kenapa bentuk tubuhmu masih seperti gadis? Apakah kalian ini pengantin baru? Atau jangan-jangan kau hendak membohongi aku, nona cilik? Hayo jawab yang betul semua pertanyaanku ini, kalau tidak, tentu aku tidak mau sudah dihina orang dan semua perbuatanmu hari ini harus kaubayar lunas!"

Kembali Pek Hong mengeluarkan suara "Ah-ah-uh-uh" dan menggerak-gerakkan jari tangannya, kepalanya juga mengangguk-angguk menyatakan bahwa apa yang dika takan oleh kakek itu benar belaka dan dia tidak membohong.

“Jadi dia betul-betul suamimu, bukan pacar mu?" Si Dewa Monyet membelalak dan air mukanya tampak kecewa.

Pek Hong mengangguk mengiakan dan mukanya menjadi merah padam. Keadaan memaksa dia, maka apa boleh buat. Kalau pemuda itu tidak pingsan dan mendengar semuanya ini, entah apa yang akan dialamin ya. Akan tetapi karena dia memang mencinta pemuda itu, untuk apa lagi malu-malu? Maka anggukan kepa lanya itupun tegas dan sungguh-sungguh.

"Wahh, Siau-ji, kau memang sial! " kakek itu mengeluh dan mukanya seperti orang menangis, akan tetapi tiba-tiba kembali sepasang matanya berkilat aneh. Walaupun otaknya tidak sebat, akan tetapi kakek inipun bukan orang bodoh yang gampang dikelabuhi orang. Dia masih ragu-ragu dan tidak percaya penuh, maka tiba-tiba kakek ini memandang gadis itu dan membentak, "Kau bohong!”

Pek Hong terkejut dan seketika dia meloncat kaget. Bentakan kakek gila ini mengguntur dan Siau-ji yang berada di belakangnya sampai memekik dan mencelat lima langkah. Dengan bahasa isyarat gadis ini bertanya, "Apa maksudmu? Kenapa kau bilang aku bohong?"

Dan kakek itu dengan mata mendelik lalu menjawab, "Kau tidak bicara jujur. Sikapmu penuh kebimbangan, matamu berkedip-kedip licik mencari akal! Hayo betul tidak kata-kataku ini?"

Akan tetapi tentu saja Pek Hong menyangkal. Kepalanya digelengkan berkali-kali dan jari-jari tangannyapun bergerak-gerak memberi jawaban, "Tidak, tidak betul apa yang kau katakan ini. Dia memang suamiku, kenapa aku harus bimbang dan ragu-ragu mengakui suami sendiri?"

"Hemm, kalau begitu coba kau buktikan!" kakek ini masih membentak penasaran.

Dan Pek Hong berobah mukanya. Suruh buktikan gimana? Kalau tidak-tidak yang diminta kakek ini, misalnya saja... misalnya saja... Sampai di sini muka Pek Hong menjadi semerah kepiting direbus dan dia memandang kakek itu dengan mata terbelalak. Kalau kakek itu menyuruhnya yang tidak pantas, sikap apa yang harus diambilnya?

Belum habis dia berpikir, Dewa Monyet yang berwatak aneh ini lalu berkata, "Kalau engkau betul-betul tidak berdusta, sekarang coba buktikan semua pengakuanmu itu. Hayo cium suamimu itu sekarang juga!"

Pek Hong seperti disengat kalajengking dan alisnya yang lentik panjang itu terangkat. Walaupun sedikit banyak sudah menduga bahwa orang akan memerintahkan dia seperti ini, akan tetapi tak urung mukanya menjadi merah juga dan sejenak dia berdiri mematung.

Tiba-tiba terdengar kakek ini tertawa keras. "Ha-hah heh-heh, terlihat belangmu sekarang, kancil betina! Kau tidak segera mengerjakan apa yang kuperintahkan, ini berarti kau telah membongkar kebohonganmu sendiri. Ha-ha, Siau-ji, nasibmu masih mujur, nona ini belum ada yang punya!"

Kauw-sian terkekeh-kekeh gembira dan Siau-ji yang tadi tampak mewek-mewek itu juga melonjak-lonjak sambil memekik kegirangan. Agaknya monyet ini mengerti semua percakapan itu dan kini sobekan kain celana Pek Hong yang berada di tangannya itu dicium-cium di dekat hidungnya dan matanya memandang gadis itu dengan mulut menyungging senyum kemenangan.

"Ha, kau memang harus menjadi milikku, nona cantik!" demikian monyet ini seakan-akan bicara.

Pek Hong menjadi pucat mukanya dan dia menggigit bibirnya. Dengan bahasa isyarat dia membantah, "Bukannya aku berdusta, akan tetapi permintaanmu itu sungguh keterlaluan. Masa kemesraan suami isteri harus dipertunjukkan di hadapan orang lain?"

Akan tetapi Si Dewa Monyet tidak perduli, kakek ini menari-nari dan mulutnya terkekeh sambil berkata, "Kau bohong, kau tidak berani, kau telah mendustai kami! Hanya kalau kau dapat membuktikan permintaanku sajalah maka aku akan percaya. Dan kalau engkau tidak mengaku-aku dan dia betul-betul suamimu, mengapa harus malu? Mencium suami sendiri baik di dalam kamar maupun di hadapan orang lain bukan hal memalukan. Kenapa bingung? Kalau kau tidak mau itulah karena dia bukan suamimu! Ha-hah heh-heh, Siau- ji masih beruntung... Siau-ji masih beruntung dan sebentar lagi aku akan punya mantu cantik sebagai pengganti puteriku...!"

Kakek itu terkekeh-kekeh dan Pek Hong melihat betapa monyet yang dipanggil Siau-ji itu berkedip-kedip kepadanya seakan hendak bermain mata. Melihat monyet ini seketika Pek Hong menjadi muak. Dia mendelik penuh kemarahan kepada monyet itu, lalu tiba-tiba memutar tubuh menghampiri Bu Kong yang menggeletak di atas tanah. Tekadnya telah bulat, daripada dia harus tersiksa lebih lama dengan sikap gila-gilaan Si Dewa Monyet lebih baik dia membuktikan kepada kakek itu dengan jalan mencium Yap-goanswe. Bukankah pemuda itu kembali jatuh pingsan?

Akan tetapi, begitu dia berlutut di samping jenderal muda ini, Pek Hong melihat betapa pemuda sedang memandang kepadanya dengan mata terbelalak lebar! Tentu saja gadis ini terkejut bukan main dan mukanya yang tadi pucat itu seketika menjadi merah padam. Dari kerongkongannya keluar keluhan tertahan dan gadis ini terisak.

Kiranya Bu Kong tidak pingsan, hanya roboh di atas tanah begitu saja karena kalau dia berdiri, denyut di kepalanya terasa menghebat dan semua percakapan tadi didengarnya dengan jelas. Tentu saja pemuda inipun merasa terkejut dan heran. Kenapa nona itu menjadi gagu dan tidak mampu bersuara? Apa yang terjadi? Dan dimanakah mereka sekarang ini?

"Hong-moi..." suara Bu Kong terdengar gemetar. "Apa-apaan ini? Siapakah kakek itu? Mengapa ada syarat gila-gilaan begini? Kau kenapakah dan mengapa kau berpura-pura gagu begini? Aku yakin kau sedang melakukan sandiwara, akan tetapi untuk siapakah? Dan di mana Cheng-gan Sian-jin si iblis tua berhati keji bersama muridnya itu?"

Akan tetapi Pek Hong tidak menjawab dan isaknya semakin keras. Dia hendak membuktikan omongannya kepada kakek bermuka monyet itu, yaitu mencium pemuda ini. Akan tetapi itupun kalau pemuda ini pingsan. Sekarang, dalam keadaan sadar begini bagaimana dia mampu melaksanakan niatnya itu? Saking bingung dan malu, nona inipun lalu menangis terisak-isak dan menutupi mukanya...

Pendekar Gurun Neraka Jilid 10

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 10
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
“MANUSIA lemah? Tidak mampu mengendalikan hawa amarah....??"

Malaikat Gurun Neraka terkejut sekali mendengar dampratan hwesio itu dan seketika mukanya berobah. Manusia lemah! Nafsu amarah! Ahh, bukankah kata-kata yang diucapkan Ta Bhok Hwesio ini merupakan pengulangan pesan Bu-beng Sian-su kepada dirinya sebelum manusia dewa itu pergi? Mengapa dia sampai melupakan hal ini? Dan Ta Bhok Hwesio yang merasa marah itu menjawab dengan suara kasar dan berapi-api.

"Ya, engkau manusia lemah taihiap, engkau terlalu terburu nafsu dan cupat pikiran! Sungguh pinceng amat menyesalkan sikapmu ini dan heran bukan main. Bukankah biasanya pinceng lihat engkau adalah seorang yang selalu dapat mengendalikan diri? Bukankah engkau biasanya selalu bersikap tenang dan teliti, tidak ceroboh dalam mengerjakan sesuatu? Akan tetapi sekarang, sikap taihiap ini seolah-olah menyatakan bahwa taihiap telah mengetahui segalanya dengan baik sehingga berani memutuskan persoalan murid sendiri dengan demikian dingin dan kejam. Taihiap seakan-akan telah mengetahui segala sesuatu yang melatarbelakangi kejadian ini. Padahal, kalau saja taihiap mau berpikir terang dan mengusir semua kekeruhan-kekeruhan batin yang ada di dalam hati, pinceng yakin bahwa kesalahan-kesalahan yang kau lihat dilakukan muridmu ini belum tentu seratus prosen benar. Dan ini diperkuat oleh kehadiran Phoa-lojin di sini. Taihiap tentu tahu orang macam apa kakek Phoa itu. Kalau Yap-goanswe betul-betul melakukan dosa, kukira Phoa lojin tidak akan mau jauh-jauh datang kemari dan menolong muridmu itu!"

Sampai di sini Ta Bhok Hwesio berhenti dan sepasang mata kakek gundul ini seakan-akan mengeluarkan api ketika dia memandang Malaikat Gurun Neraka dengan wajah bengis.

Pendekar sakti itu terkejut, perlahan-lahan mukanya menjadi merah dan sepasang matanya memandang Ta Bhok Hwesio dengan membelalak seolah-olah dia hendak menelan hwesio itu bulat-bulat. Sejenak keadaan terasa sunyi mencekam dan menegangkan, tidak ada orang yang bersuara. Bahkan Fan Li dan Hok Sun menjadi gelisah dan kebat-kebit hatinya. Ta Bhok Hwesio mereka anggap terlalu berani. Urusan ini sebetulnya bisa dibilang merupakan urusan dalam perguruan pendekar sakti itu, dan kakek ini secara lancang telah mencampurinya. Kalau Malaikat Gurun Neraka tersinggung dan marah lalu menyerang hwesio itu, sungguh keadaan akan menjadi lebih runyam lagi dan mereka tidak tahu siapakah yang harus mereka bela!

Akan tetapi, pendekar ini ternyata tidak melakukan sesuatu. Mukanya yang tadi merah sekarang berobah pucat kehijauan, lalu merah lagi dan sebentar kemudian kembali pucat seperti tadi. Hal ini hanya menandakan bahwa pendekar itu sedang mengalami pergolakan batin yang hebat. Dan dugaan ini memang benar. Semprotan hwesio itu yang bertubi-tubi membuat pendekar ini seperti ditampar dan seketika dia menjadi terkejut bukan main. Kenyataan demi kenyataan yang satu-persatu diuraikan sahabatnya ini membuat matanya seakan-akan terbuka lebar. Apalagi setelah Ta Bhok Hwesio menyinggung-nyinggung nama Phoa-lojin di situ. Ah, dia benar-benar melupakan si tukang ramal itu dari persoalan ini dan tentu saja Malaikat Gurun Neraka tersentak kaget.

Ta Bhok Hwesio yang melihat betapa pendekar ini masih belum mengeluarkan suara dan jelas sedang terkejut mendengar semua ucapannya tadi, lalu menyambung pula, "Memang tidak pinceng sangkal bahwa Yap-goanswe adalah muridmu dan urusan ini merupakan urusan dalam perguruan taihiap sendiri. Akan tetapi, harap taihiap ingat bahwa sedikit banyak sikap taihiap itu telah mempengaruhi murid perempuanku sehingga dia lari meninggalkan kita. Padahal menurut Phoa-lojin, untuk mendatangi Ang-bhok-san dan menemui Kauw-sian bukanlah suatu hal yang mudah. Totokan di tigabelas jalan darah belum dilaksanakan, dan sekarang murid pinceng telah pergi dan tidak sudi membantu. Kalau keadaan sudah begini, bagaimana kita dapat menyelamatkan Yap-goanswe? Bukankah ini berarti bahwa semua jerih payah kita akan sia-sia belaka?"

Ucapan demi ucapan terasa seperti air dingin mengguyur kemarahan Malaikat Gurun Neraka. Kalau orang lain demikian mati-matian menyelamatkan muridnya, tentu mereka mempunyai suatu keyakinan kuat. Apalagi kehadiran Phoa lojin yang terkenal dengan ilmunya melihat jauh ke depan, sungguh hal ini membuat pendekar itu dilanda kebimbangan dan penyesalan yang amat besar. Tampaklah kini olehnya betapa sikapnya memang kurang tepat.

Muridnya telah berhasil diselamatkan dan sekarang diserang racun jahat. Bukannya dia menolong sang murid, bahkan dia hendak melampiaskan kemarahannya dengan jalan membiarkan muridnya itu tersiksa lahir batin. Dia belum menanyai Bu Kong tentang segala perbuatannya, bagaimana dia hendak menghukum muridnya itu tanpa diberi kesempatan membela diri?

Ahh, ini semua adalah disebabkan oleh nafsunya sendiri. Kemarahan telah menguasai hatinya, dan dia terjebak dalam lingkaran nafsu pribadinya. Ta Bhok Hwesio telah menegurnya habis-habisan, dan kakek itu mengeluarkan kata-kata yang tajam menusuk, bahkan mendampratnya. Sebagai manusia lemah yang hanyut dalam nafsu amarah sehingga semua pikirannya keruh dan pertimbangannya goncang, apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini memang betul.

Akan tetapi lucunya, Ta Bhok Hwesio yang menyemprotnya habis-habisan itupun melupakan satu hal, yakni dia sendiri sekarang diliputi kemarahan yang meluap dan memandangnya seperti menghadapi seorang musuh besar! Bagaimana keganjilan ini tidak terasa menggelikan?

Dua orang tokoh besar ini saling pandang dan wajah Malaikat Gurun Neraka yang tadi selalu berubah-ubah itu kini tampak tenang seperti biasa. Sepasang mata yang tajam mencorong seperti mata seekor naga itu memandang Ta Bhok Hwesio dan perlahan-lahan wajah yang tadinya kaku membesi itu berobah. Senyuman tipis pecah di mulut pendekar sakti ini dan tiba-tiba terdengarlah suara ketawa Malaikat Gurun Neraka yang tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, lo-heng memang seorang pendeta yang hebat dan jempolan. Sungguh aku dibuat kagum dan tunduk! Tidak tahu, apakah nafsu amarah yang tadi menguasai diriku itu merupakan penyakit menular tidak? Dapatkah lo-heng menjawabnya?"

Semua orang melengak dan Ta Bhok Hwesio sendiri juga tercengang. Melihat betapa pendekar ini dalam waktu sekejap saja sudah hilang kemarahannya dan kini tertawa bergelak, sungguh perobahan yang amat tiba-tiba ini sama sekali di luar dugaannya. Menurut kebiasaan, mestinya Malaikat Gurun Neraka akan semakin marah karena didamprat habis-habisan di depan orang lain. Akan tetapi kenyataannya, pendekar itu malah tertawa-tawa dan kini sedang menanyainya apakah kemarahan yang tadi hinggap di dalam dirinya itu merupakan penyakit menular ataukah tidak! Mana hwesio ini mampu menjawab pertanyaan seaneh itu?

"Apa... apa maksudmu, taihiap? Penyakit menular bagaimana?" Ta Bhok Hwesio gelagapan dan dia tidak mengerti kemana tujuan orang. Tadinya dia menyangka bahwa Malaikat Gurun Neraka akan membalas semua dampratannya dengan sikap keras. Tidak tahunya sikap orang berbalik seratus delapan puluh derajat dan tampaknya sedang mengalami kegembiraan yang luar biasa. Melihat perobahan yang menggirangkan ini, tentu saja hwesio itupun terpengaruh dan otomatis semua kemarahannya terhadap pendekar itupun lenyap. Orang bertanya sambil tertawa-tawa kepada dirinya, bagaimana dia mampu mempertahankan cemberutnya?

Malaikat Gurun Neraka yang melihat hwesio itu kebingungan, menjadi semakin geli hatinya dan dia mengulang pertanyaannya, "Eh, lo-heng, masa kau tidak mengerti? Aku bertanya, apakah nafsu amarahku tadi itu merupakan penyakit menular ataukah tidak?"

"Penyakit menular..? Penyakit menular bagaimana, taihiap? Pertanyaanmu amat ganjil, bagaimana pinceng dapat menjawabnya?"

Pendekar itu semakin keras tertawanya dan tiba-tiba menoleh ke arah Phoa-lojin. "Ha-ha, kalau Ta Bhok lo-suhu tidak mampu menjawab, tentu To-heng yang lebih cerdas ini mampu menjawabnya. To-heng, tolong kau jawabkan pertanyaanku tadi agar Ta Bhok lo-suhu mengerti."

Phoa-lojin tersenyum lebar dan memang hanya kakek Phoa inilah satu-satunya orang yang semenjak tadi tidak menampakkan perasaan cemas ketika melihat ketegangan di antara Malaikat Gurun Neraka dengan Ta Bhok Hwesio. Dia adalah seorang yang tajam pandangan dan waspada, maka sebelumnya diapun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan suara tenang kakek ini lalu berkata.

"Sesungguhnyalah nafsu kemarahan taihiap tadi itu merupakan penyakit menular. Kalau tidak, bagaimana hwesio Tibet ini dapat marah-marah kepada taihiap? Dia telah menegur taihiap habis-habisan, mengatakan taihiap orang yang lemah dan dikuasai kemarahan. Akan tetapi Ta Bhok Hwesio sendiri tidak sadar betapa dia sendiri telah marah-marah kepada taihiap. Kalau begini, bukankah kejadian ini persis seperti maling yang berteriak maling?"

"Ha-ha-ha, bagus, tepat sekali!" Malaikat Gurun Neraka tertawa.

Dan Ta Bhok Hwesio terkejut setengah mati. Seketika mukanya menjadi merah, akan tetapi bukan karena marah, melainkan karena malu. Dia telah menegur pendekar itu, mengecamnya dengan kata kata tajam, mengatakan betapa Malaikat Gurun Neraka orang yang amat lemah terhadap kemarahan. Akan tetapi, semua kecamannya tadi, semua sikapnya tadi, jelas juga dilontarkan dengan nafsu amarah. Sungguh tepat perumpamaan Phoa-lojin yang menyindir dia seperti maling berteriak maling!

"Ahh, ini.... ehh, ini... wah, sialan! Pinceng sungguh tidak menyadarinya. Kakek sinting, kalau kau tidak menjelaskannya, sungguh mati pinceng tidak mengerti maksud kata-kata taihiap itu. Wahh, pinceng memang orang pandir, harap taihiap suka maafkan semua kesalahanku tadi!" Ta Bhok Hwesio cepat-cepat menjura di depan pendekar itu meminta maaf.

Malaikat Gurun Neraka tersenyum dan Phoa-lojin ikut tersenyum. Semua orang tersenyum dan Fan Li serta Hok Sun juga menjadi lega, ketegangan yang amat menggelisahkan tadi benar-benar amat mengkhawatirkan dua orang muda ini. Sungguh tidak dinyana akan berbalik secepat itu dalam suasana yang menggirangkan. "Taihiap, sekarang kuminta baiklah engkau segera menolong muridmu itu. Sambil menolong, akupun akan melihat garis tangannya dan memberikan keterangan kepada kalian semua akan garis besar semua peristiwa yang menimpa diri Yap-goanswe ini," Phoa-lojin tiba-tiba berkata dan semua orang lalu teringat akan pokok persoalan yang mereka hadapi.

Malaikat Gurun Neraka menarik napas panjang. "Sungguh aku merasa amat bersyukur sekali bahwa to-heng datang membantu. Kalau tidak, aku tidak berani membayangkan apa yang akan kulakukan terhadap murid tunggalku yang sebenarnya amat kusayang ini. Itulah sebabnya begitu aku mendengar berita di luaran yang amat menyakitkan hati tentang perbuatan muridku ini, aku tidak tahan lagi. Apalagi setelah kusaksikan sendiri perbuatannya digedung Cheng-gan Sian-jin. Semuanya itu memperkuat kepercayaanku bahwa apa yang dikabarkan orang ternyata betul adanya. Akan tetapi, kalau to-heng berani membelanya dan mengatakan muridku ini tidak bersalah, lalu apa yang sesungguhnya terjadi?"

"Ya, inilah yang harus kita ketahui bersama dan awal dari semua peristiwa ini berasal dari Laut Tung-hai (Laut Timur)."

"Ehh, bagaimana bisa dimulai dari sana?" Ta Bhok Hwesio nyeletuk bicara karena merasa heran mendengar keterangan itu.

Phoa-lojin menoleh ke arah kakek gundul ini dan menjawab sambil tersenyum, "Harap kalian ketahui, bahwa beberapa minggu yang lalu, badai yang amat dahsyat mengamuk di lautan itu. Bahkan tempat tinggalku sendiri diserang gelombang pasang yang amat besar dan air laut meluap sampai ke tengah pulau. Hampir saja pondokku disambar gulungan ombak yang membukit itu dan kalau hal ini terjadi, sungguh akan membuat aku runyam kehilangan tempat tinggal. Tidak biasanya Tung-hai diamuk badai semacam itu yang luar biasa hebatnya dan aku melihat tanda-tanda mengkhawatirkan dalam hal ini..."

Kakek itu menarik napas dan berhenti sejenak, lalu melanjutkan ceritanya, "Untunglah, pada saat aku sendiri tidak mengira akan datangnya kejadian ini, mendadak gelombang laut yang amat ganas itu perlahan-lahan surut kembali, seakan-akan korban yang mereka harapkan telah terpenuhi. Aku lalu bersamadhi menarik getaran-getaran gaib dari delapan penjuru angin, dan pada saat itulah kumelihat bayangan Yap-goanswe bersama seorang wanita cantik berlari-lari di tepi daratan seberang. Melihat gelagatnya, pemuda itu hendak mengunjungi pulauku, akan tetapi karena badai sedang mengganas, mana mereka dapat menyeberang? Aku melihat mereka kebingungan dan tiba-tiba pada saat itulah muncul dua bayangan di belakang mereka yang bergerak secara sembunyi-sembunyi. Aku tidak dapat melihat jelas, hanya yang dapat kutangkap adalah bahwa yang seorang bertubuh tinggi besar dengan hidung yang agak bengkung. Orang ini memiliki perbawa iblis, tubuhnya penuh hawa hitam sehingga aku terkejut dan ketika aku mencurahkan semua perhatian kepada bayangan ini, mendadak aku melihat Yap-goanswe terpukul roboh dari belakang. Mereka berbuat curang, akan tetapi persisnya bagaimana aku sendiri kurang jelas. Yang terang, mereka lalu membawa pergi pemuda itu dan badai di pulauku reda."

"Hemm, tentu akhirnya kau ketahui bahwa bayangan tinggi besar itu adalah Cheng-gan Sian-jin, bukan?” tanya si hwesio gundul.

"Benar," Phoa-lojin mengangguk. “Aku baru mengetahui setelah aku sendiri keluar dari sarang untuk menyaksikan apa sebenarnya yang terjadi. Ketika aku menyeberang dan tiba di tempat itu, aku sudah tidak menemukan siapa-siapa lagi kecuali wanita cantik yang datang bersama murid taihiap ini. Dia pingsan di tempat itu, untung badai telah reda, kalau tidak, tentu dia akan celaka digulung ombak ke tengah laut."

"Siapa wanita cantik itu?" Malaikat Gurun Neraka bertanya.

"Ah, dia tentu Bwee Li adanya!" Fan Li berseru mendahului Phoa-lojin dan kakek itu mengangguk membenarkan.

"Betul, wanita malang itu memang Bwee Li, selir Yun Chang yang dilarikan oleh Yap-goanswe. Dan dari wanita inilah aku menemukan rahasia-rahasia tersembunyi yang menimpa diri pemuda itu. Sungguh Yap-goanswe sedang terjebak siasat musuh yang amat keji dan hebat sekali."

“Siasat musuh?" Malaikat Gurun Neraka melengak. "Bukankah dia sudah meninggalkan istana seperti apa yang kudengar dari mulut orang? Apakah to-heng hendak maksudkan musuh pribadi ataukah musuh Kerajaan Yueh yang sudah hancur itu?"

Kakek dari Pulau Cemara ini sekarang memandang pendekar sakti itu dan menjawab dengan serius, "Kedua-duanya, taihiap, ya musuh pribadi ya musuh kerajaan. Ketika aku memeriksa garis tangan wanita itu, aku melihat betapa seseorang telah memperalat wanita ini untuk menjatuhkan nama Yap-goanswe. Dan setelah aku mendengar keterangan yang dituturkan olehnya, mendengar betapa bukan Yap-goanswe yang bermain gila dengan Bwee Li karena tanda luka di bawah dagunya tidak ada, maklumlah aku bahwa ada pihak ketiga yang menjalankan kekejian ini. Bukti satu-satunya yang dapat dipegang oleh wanita itu adalah bekas luka di bawah dagu, dan kalian lihat, betapa dagu Yap-goanswe ini bersih dari bekas luka..."

Phoa-lojin lalu menengadahkan dagu Bu Kong yang masih pingsan itu dan semua orang melihat betapa bekas luka seperti yang dimaksudkan memang tidak ada. Malaikat Gurun Neraka diam-diam menjadi girang hatinya dengan kebersihan muridnya ini, namun dia masih belum puas. Dan di samping pendekar itu, Fan Li pun juga merasa girang dengan adanya kenyataan ini. Akan tetapi, rahasia baru terkupas amat sedikit dan tentu saja pemuda inipun belum merasa puas. Kalau biang keladinya belum dapat ditemukan, bagaimana nama jenderal muda itu dapat dibersihkan?

Namun biar bagaimanapun juga titik terang yang kecil ini sudah melegakan hatinya. Ternyata dugaannya terhadap Yap-goanswe tidak keliru, hanya yang perlu mereka cari sekarang adalah si pelaku kejahatan ini. Dan agaknya satu-satunya orang yang dapat menyusun jejak peristiwa jahanam itu hanyalah Phoa-lojin. Dengan kepandaiannya menangkap "getaran" di delapan penjuru mata angin, rupanya rahasia kejahatan itu akan tersingkap dengan lebih jelas lagi.

"Lalu bagaimana kelanjutannya, to-heng? Apakah to-heng pun tahu siapa gerangan yang melakukan kejahatan yang sifatnya amat pengecut ini?" Malaikat Gurun Neraka bertanya kembali dan sinar matanya berkilat. "Untuk mencari orang yang mempunyai luka di bawah dagu sungguh seperti mencari jarum di dasar laut. Hemm, kalau dapat kubekuk, tentu kepalanya akan kupecahkan!"

"Harap taihiap bersabar. Saking asyiknya kalian mendengar, kita melupakan diri pemuda ini. Taihiap, kukira lebih baik cepat kau melakukan totokan di tigabelas jalan darahnya itu dan sambil bekerja akupun akan meneruskan ceritaku ini."

Kata-kata itu membuat Malaikat Gurun Neraka sadar dan cepat pendekar ini berjongkok, se jenak memeriksa pernapasan muridnya dan kemudian duduk bersila. Ketika tadi dia meraba tigabelas jalan darah di depan tubuh muridnya, pendekar ini mendapat kenyataan yang amat mengejutkan sekali. Denyut urat besar tampak lemah dan hawa Thai-yang di dalam tubuh muridnya bergolak hebat sehingga perutnya mengeluarkan suara berkeruyuk. Mula-mula suara berkeruyukan ini hampir tidak terdengar telinga biasa, akan tetapi semakin lama semakin keras dan akhirnya berbunyi seperti air mendidih!

Tentu saja pendekar ini terkejut dan mulutnya mengeluarkan seruan, "Ahh, benar-benar keji, terkutuk Cheng-gan Sian-jin itu...!" dan wajah pendekar ini menjadi merah padam dan sepasang matanya memancarkan sinar berapi. Sama sekali dia tidak mengira bahwa keadaan muridnya akan segawat ini. Pantas sedari tadi belum pernah sadar. Agaknya racun yang memasuki tubuhnya memang racun jahat yang kerjanya lambat, tepat seperti apa yang dikatakan oleh Phoa-lojin tadi.

Pendekar ini lalu menggulung lengan bajunya dan mengerahkan tenaga sinkangnya ke ujung-ujung jari tangan. Tampak warna kemerahan menjalar di kedua lengannya yang kokoh itu dan perlahan-lahan mengepullah uap panas keluar dari pori-pori kulitnya. Dan sementara semua orang memandang penuh perhatian, pendekar ini sudah melancarkan totokan bertubi-tubi dengan gerakan cepat di tigabelas jalan darah penting.

Terdengar suara "ces-ces" setiap kali ujung jari Malaikat Gurun Neraka menotok jalan darah di tubuh muridnya, dan tampaklah cahaya merah keluar dari ujung jarinya memasuki tigabelas jalan darah yang tertotok. Inilah tiam-hoat (ilmu menotok) yang disebut Sin hwee Tiam-hoat (Totokan Api Sakti). Ilmu ini hanya dimiliki oleh ahli-ahli tenaga Yang-kang belaka, karena hanya orang-orang yang memiliki tenaga Yang-kang itulah yang mempunyai simpanan tenaga panas.

Hawa Thai-yang di tubuh Bu Kong bergolak karena racun jahat, dan ini benar-benar amat berbahaya sekali bagi pemuda itu. Terlambat sedikit, maka semua jalan darahnya akan pecah karena tidak kuat menahan banjirnya hawa Thai-yang di dalam tubuh yang mendidih. Akan tetapi sekarang, setelah gurunya melakukan totokan Sin-hwee Tiam-hoat, bergolaknya hawa Thai-yang dapat ditahan dan perlahan-lahan mukanya yang tadi sepucat mayat itu mulai bersemu merah.

Sepuluh menit pengobatan pertama ini berlangsung, dan akhirnya Malaikat Gurun Neraka menarik napas panjang. Dahinya berkeringat karena biarpun pekerjaan itu tidak memakan waktu lama, namun pengerahan tenaga saktinya tujuh bagian ini membuat napasnya agak terengah juga.

"Hemm, sama sekali tidak kusangka bahwa keadaannya amatlah berbahaya," pendekar itu mendesis. "Terlambat setengah jam saja, kukira akupun tidak akan mampu menolongnya. Sungguh Cheng-gan Sian-jin iblis tua yang amat jahat. Sayang, Sian-su mencegah aku membunuhnya, kalau tidak, hmm, tentu dia sudah melayang di akhirat!"

"Ahh, jadi taihiap juga bertemu dengan manusia dewa itu?'' Ta Bhok Hwesio terbelalak dan yang lainpun terkejut.

Malaikat Gurun Neraka mengangguk, wajahnya muram. Dia berdiri sambil berkata, "Benar, pada saat pukulanku yang terakhir menghantam iblis tua yang remuk kaki kirinya itu, tiba-tiba dia muncul dan menyelamatkan Cheng-gan Sian-jin.”

"Wah, sungguh aneh!" Ta Bhok Hwesio berseru heran. "Setelah dia menolong Yap-goanswe sehingga kita semua dapat keluar dari kota raja dengan selamat, kukira manusia luar biasa itu berpihak kepada kita. Akan tetapi, perbuatannya menyelamatkan Cheng-gan Sian-jin ini bukankah sama saja seolah-olah menentang kita? Bu-beng Siansu memang orang yang sukar dimengerti sikapnya, tadi dia membantu kita namun sekarang membantu musuh. Bagaimana sikapnya ini?"

Malaikat Gurun Neraka terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu yang mengatakan Bu-beng Sian-su menyelamatkan muridnya. "Apa katamu, lo-heng? Dia menyelamatkan muridku? Bukankah kalian yang membawanya keluar dari kota raja?" tanyanya terheran-heran.

Akan tetapi sebelum Ta Bhok Hwesio menjawab, Phoa-lojin mendahului, "Benar, taihiap, dialah yang menolong muridmu itu. Bahkan bukan hanya Yap-goanswe saja yang ditolong, melainkan kita semua. Kalau manusia dewa itu tidak muncul bersama Fan-ciangkun ini, entah kita dapat meloloskan diri ataukah tidak dari kepungan musuh yang ribuan orang banyaknya itu."

"Ahh....!?" hanya seruan ini yang keluar dari mulut pendekar itu dan dia tidak mengeluarkan suara lagi. Diam-diam diapun merasa bingung juga oleh sikap manusia dewa itu. Dan kalau tadinya dia merasa kurang rela melepaskan Cheng-gan Sian-jin yang diketahuinya amat jahat itu, akan tetapi setelah sekarang dia mendengar betapa Bu-beng Sian-su telah menolong muridnya, perasaan kurang puasnya lenyap seketika. Kalau begini jadinya, biarlah hitung-hitung dia membalas budi manusia luar biasa itu.

"Nah, sekarang aku akan melanjutkan ceritaku tadi," Phoa-lojin berkata dan kakek ini berlutut di samping Bu Kong, memegang telapak tangannya dan melihat garis-garis tangan pemuda itu. "Meskipun aku telah mendapatkan ilham tentang kejadian-kejadian ini, akan tetapi biarlah kuperjelas dengan melihat garis nasibnya..."

"Tapi, lojin, kalau tadi kau bilang bertemu dengan Bwee Li yang telah menceritakan semuanya ini kepadamu, lalu kemana sekarang wanita itu?” tiba-tiba Ta Bhok Hwesio memotong percakapan dan bertanya.

Kakek Phoa menoleh, tersenyum dan menjawab, "Sedianya dia hendak kubawa ke Pulau Cemara dan tinggal di sana, akan tetapi sakit hati dan dendam menghimpit batinnya. Dia wanita keras hati, setelah bertubi-tubi mengalami peristiwa yang mengejutkan ini, dia bertekad untuk mencari orang yang amat dibencinya itu."

"Seorang diri?"

"Ya, dan aku membiarkannya karena kulihat bahwa jalan hidupnya memang ditakdirkan demikian.”

"Wahh, kau kejam, lojin! Seharusnya kau mencegahnya, masa seorang wanita lemah kau biarkan berkeliaran seorang diri mencari musuh yang masih gelap baginya?" Ta Bhok Hwesio mendamprat.

“Tidak, tidak gelap baginya karena aku telah memberikan arah kemana kira-kira dia harus pergi mencarinya," jawab kakek itu tenang.

"Hahh? Kau tahu...?" Ta Bhok Hwesio terbelalak.

"Ya, garis-garis tangan wanita itulah yang memberikan petunjuk-petunjuk kepadaku sehingga aku dapat menolongnya."

"Oo...?!" semua orang tercengang dan diam-diam mereka amat kagum sekali kepada ahli ramal dari Pulau Cemara ini.

"Ada lagi yang hendak kau tanyakan?" Phoa-lojin tersenyum kepada hwesio gundul itu dan yang ditanya menggelengkan kepala.

"Tidak... tidak ada lagi sementara ini..."

"Sementara ini?"

"Ya, sementara ini. Karena siapa tahu nanti aku akan bertanya macam-macam lagi kepadamu," Ta Bhok Hwesio menyengir dan yang lain tersenyum.

Phoa lo-jin lalu memusatkan perhatiannya kepada telapak tangan bekas jenderal muda yang gagah perkasa itu dan alisnya berkerut. "Hemm, muridmu ini masih akan mengalami kejadian mengejutkan lagi, taihiap dan dia patut dikasihani. Kulihat di sini bahwa ada empat orang musuh yang memperdayai dia. Tiga berada di kota raja Wu dan yang seorang berada di sebelah utara. Benar, yang seorang inilah malah yang berbahaya. Dia licik, curang, masih muda dan ehh... dia pandai sihir!"

Apa dikatakannya ini beralasan juga, tetapi Sampai di sini Phoa-lojin terkejut dan wajah semua orang berobah.

"Pandai sihir? Masih muda...?" Malaikat Gurun Neraka berseru perlahan dan otaknya bekerja. "Apakah dia murid Cheng-gan Sian-jin?”

"Ahh, tidak mungkin. Sepengetahuanku, murid iblis tua itu adalah seorang anak perempuan berjuluk Tok-sim Sian-li. Mana ada murid lain lagi?" Ta Bhok Hwesio membantah.

"Akan tetapi, satu-satunya orang yang pandai sihir pada saat ini adalah Cheng-gan Sian jin. Siapa lagi? Barangkali pemuda yang dimaksudkan Phoa-lojin itu murid barunya, bukankah ini masuk akal? karena baru saja diangkat, maka belum banyak orang tahu," Malaikat Gurun Neraka menyanggah bantahan hwesio yang menggeleng-gelengkan kepala.

“Tidak… tidak..." ucapnya perlahan, “kulihat pemuda itu tidak ada hubungan perguruan dengan Cheng-gan Sian-jin... aneh sekali, lalu siapakah gerangan dia?”

Tidak ada yang mampu menjawab. Ahli ramal itu mengerutkan alisnya yang putih, memandang garis tangan Bu Kong penuh perhatian dan sejenak suasana menjadi hening.

Malaikat Gurun Neraka tiba-tiba bertanya, "To-heng, kalau orang yang ke empat ini adalah seorang pemuda, lalu siapakah yang tiga orang lainnya itu?"

"Hemm, kulihat mereka berasal dari kota raja. Yang pertama tinggi kurus, yang kedua tinggi besar dan yang ketiga bertubuh sedang."

"Apakah yang pertama itu bersenjata tombak panjang?" mendadak Ta Bhok Hwesio menukas.

Sepasang mata ahli ramal ini bersinar dan tampak terkejut oleh pertanyaan kakek gundul itu. Sebenarnya dia sudah tahu siapa adanya tiga orang ini, akan tetapi dia hendak mengatakannya secara memutar. Tidak tahunya, Ta Bhok Hwesio bertanya langsung seperti itu. Apalagi yang dapat dilakukannya? Maka diapun mengangguk dan menarik napas panjang. "Benar, ciri-ciri orang pertama ini kulihat demikian, entah lo-heng dapat mengetahui tidak?"

"Mengetahuinya? Ha-ha-ha, kau lucu sekali, lojin!” Ta Bhok Hwesio tertawa bergelak dan tampak girang bukan main. "Sekarang tahulah siapa biang keladinya. Ahh, pantas saja kalau begitu, keparat! Dan dia telah menghadiahi aku dengan hiasan ini, lihat..." Kakek ini membuka bajunya dan tampak sebuah luka yang dibalut. Fan Li dan Hok Sun terkejut, mereka tidak mengira bahwa Ta Bhok Hwesio telah terluka dadanya.

"Ahh, siapa yang melukaimu, lo-heng?" Malaikat Gurun Neraka bertanya.

"Si Jahanam yang licik itu!"

"Siapa?"

"Yang tadi disebut-sebut oleh Phoa-lojin, orang tertua dari Wu-sam-tai ciangkun!" berkata demikian hwesio ini menyala matanya dan tinjunya dikepal gemas.

Perdekar sakti itu berseru tertahan dan tiba-tiba sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkeredep. Seketika mukanya menjadi merah beringas dan hawa dingin keluar dari tubuhnya. "Hmm, jadi mereka itukah biang keladinya? Baik, akan kuhancurkan kepala mereka!" Malaikat Gurun Neraka berkata, sinar matanya penuh nafsu membunuh dan berapi-api.

Akan tetapi, sebelum pendekar ini bergerak, Phoa-lojin sudah mendahuluinya dengan kata-kata halus, "Taihiap, harap jangan terburu nafsu. Ingatlah teguran Ta Bhok lo-suhu tadi, masa kau hendak melupakannya? Jangan khawatir, tiga orang ini tidak akan lari kemana-mana dan itu bukanlah bagianmu melainkan bagian Yap-goanswe sendiri. Dia yang terkena kotoran dan dia pula yang harus membersihkannya. Kulihat dalam gambaran alam bahwa semua kejadian ini memang sudah diatur begitu, jangan taihiap melibatkan diri. Yap-goanswe masih harus menerima kejadian-kejadian berikutnya dan biarlah kita melihatnya dari belakang. Kita hanya perlu menolong kalau dia benar-benar dalam keadaan berbahaya. Sekarang yang harus kita perhatikan justeru orang ke empat itu dan aku hendak menugaskan muridku bersama Fan-ciangkun untuk menuju ke suatu tempat..."

Malaikat Gurun Neraka menahan langkahnya dan tertegun. Kembali dia terkejut oleh peringatan ahli ramal itu. Ahh, mengapa lagi-lagi dia hendak terjebak dalam kemarahan? Mengapa dia sekarang mudah marah dan menjadi pemberang? Apakah dia sekarang sudah sedemikian lemahnya sehingga mudah dikuasai nafsu-nafsu pribadi?

Pendekar ini mengepal tinjunya dan dia menahan diri. Tidak, tidak boleh dia bersikap begitu. Dimana ketenangan sikapnya seperti yang sudah-sudah? Sungguh dia merasa heran terhadap perubahan di dalam dirinya ini. Semenjak kematian Mo-i Thai-houw dulu, dia merasa betapa batinnya terhimpit sesuatu, terluka oleh sesuatu. Agaknya kematian bekas kekasihnya itulah yang membekas didalam batinnya dan segala persoalan yang tidak menyenangkan tentu akan membuat dia cepat naik darah.

"Hmm, kau benar, lojin, maaf..." pendekar ini berkata perlahan dan tidak banyak bicara lagi.

Phoa lojin lalu menoleh ke arah dua orang pemuda itu, menggapai sambil berkata, "Harap kalian ke sini sebentar, aku hendak mengatakan sesuatu..."

Fan Li melangkah maju dan Hok Sun juga mendekati suhunya. Kakek ini lalu berbisik-bisik dengan suara lirih dan dua orang pemuda itu tampak mengangguk-angguk.

Akhirnya, kakek itu bertanya, "Kalian sudah mengerti?"

"Sudah, locianpwe, teecu sudah mengerti," Fan Li menjawab.

"Sudah, suhu, akupun juga sudah mengerti," Hok Sun menganggukkan kepala dan dua orang pemuda ini saling pandang dan wajah mereka tampak tegang.

“Nah, kalau sudah mengerti, kenapa tidak segera berangkat?" Phoa-lojin menegur sambil tertawa.

Dua orang muda itu tersipu-sipu dan mereka cepat memberi hormat kepada tiga orang tokoh itu lalu melompat keluar kelenteng dan menghilang tak lama kemudian.

"Hemm, urusan pertama sudah beres, tinggal urusan kedua. Nona Hong, kalau kau terus mendekam di situ, bukankah kakimu akan pegal-pegal? Hayo turun, aku hendak memberi tugas kepadamu!" Phoa-lojin berseru sambil terkekeh geli dan tiga orang ini memandang ke atas rumah.

Dari luar terdengar seruan tertahan dan sebuah bayangan langsung melompat turun, menerobos jendela yang tanpa daun itu dan Pek Hong dengan muka merah telah berdiri di depan orang-orang tua ini sambil menunduk.

Ta Bhok Hwesio tertawa bergelak dan menegur murid perempuannya itu, "Eh, Hong-ji, lain kali kau jangan bikin kaget orang tua lagi. Kalau kau betul-betul pergi, bukankah usaha pinceng menyelamatkan pemuda ini akan sia-sia belaka? Apa kau tega membiarkan jerih payah gurumu berhenti setengah jalan? Ha-ha, anak nakal, lain kali kalau berpura-pura harus bilang dulu sama gurumu, ya?"

Wajah gadis itu menjadi semakin merah dan dia melirik suhunya dengan mulut cemberut. Tadi dia benar-benar sudah pergi dan dia memang bertekad untuk pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi seruan gurunya yang berbunyi "kau belum mendengarkan selengkapnya" ini membuat kakinya merandek.

Kalimat itu mempengaruhi sikapnya dan biasanya apa yang diucapkan suhunya tidak pernah meleset. Itulah sebabnya dengan hati-hati dia lalu kembali ke kelenteng, akan tetapi karena malu terhadap semua orang karena dia tadi sudah bilang untuk pergi, maka gadis inipun lalu melayang dengan kaki ringan di atas kelenteng tua itu. Dari sini dapatlah dia mendengarkan semua kata-kata si tukang gwamia itu dan tentu saja perasaannya menjadi tidak karuan.

Ada perasaan terkejut, terharu dan girang bercampur aduk. Sama sekali dia tidak menduga bahwa guru Gin-ciam Siucai itu sedemikian lihai pandangannya dalam meramal sesuatu kejadian. Hanya dengan melihat garis tangan orang, kakek ini sudah mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa pula yang bakal terjadi.

Sungguh mengherankan, dan meskipun dia masih ragu-ragu, akan tetapi ketika tadi Phoa-lojin menyebut bahwa si pelaku semua kejahatan ini adalah seorang pemuda yang mempunyai bekas luka di bawah dagu dan melihat betapa dagu Yap-goanswe sendiri licin bersih, kegembiraan yang aneh menyelinap di lubuk hatinya.

Kalau demikian halnya, maklumlah gadis itu bahwa terdapat pihak lain yang memfitnah pemuda ini. Dan tadi suhunya menyinggung-nyinggung nama Wu-sam-tai ciangkun. Hemm, tiga orang panglima dari Wu itu memang bukan orang baik-baik. Ini saja dapat dibuktikan dari sikap anak-anaknya yang berwatak kotor, terutama si iblis betina Ok Siu Li itu.

Demikianlah, dengan hati yang dipenuhi bermacam-macam perasaan, Pek Hong terus bersembunyi di atas kelenteng mendengarkan semua percakapan di bawah. Sungguh dia tidak mengira bahwa sebetulnya tiga orang lihai ini sudah mengetahui kedatangannya. Dan ini memang tidak mengherankan karena dengan telinga mereka yang tajamnya melebihi telinga kucing, sedikit gerakan di atas rumah saja sudah cukup membuat tiga orang sakt i itu curiga.

Phoa-lojin yang melihat Ta Bhok Hwesio menggoda muridnya sehingga gadis itu menjadi jengah, segera berkata sambil tertawa ramah, "Lo-heng, harap kau jangan selalu main-main saja. Tidak tahukah kau bahwa nona Hong telah berbalik sikap dan kini hendak membantu kita? Seharusnya kita berterima kasih, bukan memperolok-oloknya. Nona Hong, jangan hiraukan suhumu ini. Lebih baik kita bersikap serius dan memperhatikan keadaan Yap-goanswe. Bagaimana menurut pikiranmu?"

Dara ini mengangkat mukanya dan memandang kakek itu. Pertanyaan Phoa-lojin mengusir kecanggungannya dan mendengar pertanyaan orang, diapun lalu menjawab lirih, "Apa lagi yang dapat kupikirkan, locianpwe? Aku ke sini kalau tugas yang hendak locianpwe berikan kepadaku memang tepat. Akan tetapi kalau aku kurang cocok, tentu saja akupun tidak berani banyak pendapat.”

"Ahh, siapa bilang kurang cocok? Justeru nonalah satu-satunya orang yang paling tepat!" Phoa-lojin tertawa. "Kalau nona sudah menyediakan diri, hal ini sungguh bagus sekali. Sekarang, karena waktu sudah terlalu mendesak, maka nona harus selekasnya pergi ke Ang-bhok-san. Namun, sebelum nona ke sana, baiklah nona ikuti aku ke belakang sebentar, ada hal-hal yang tidak boleh diketahui orang lain yang hendak kuberikan kepada nona."

Kakek itu la lu memberikan isyarat dan memutar tubuh, menuju ke ruangan belakang kelenteng. Pek Hong memandang gurunya sekejap seolah-olah merasa ragu untuk mengikuti kakek itu ke belakang, akan tetapi Ta Bhok hwesio bahkan mendampratnya.

"He, kenapa melenggong di situ? Hayo ikuti dia, untuk apa melototi suhumu? Apa kau mau menagih hutang kepada pinceng?"

Terpaksa sambil cemberut gadis ini membalikkan tubuhnya dan menuju ke belakang tanpa banyak bicara. Suhunya itu memang kadang-kadang mendongkolkan hati, akan tetapi di balik semua sikapnya itu tersembunyi kasih sayang yang besar terhadap dirinya. Maka meskipun mendongkol, iapun tersenyum geli mendengar ucapan suhunya itu.

Ada-ada saja gurunya ini. Dia memandang biasa katanya melotot, kalau melotot katanya mendelik. Memang susah dan menjengkelkan, sehingga kadang-kadang dia sendiripun dibuat gemas. Akan tetapi itulah suhunya, kakek yang amat sayang dan memperhatikan segala keperluannya.

Entah apa yang diberikan oleh Phoa-lojin kepada gadis itu, Ta Bhok Hwesio tidak tahu. Yang jelas adalah ketika dua orang ini muncul kembali, dia melihat betapa wajah muridnya berseri gembira dan sinar matanya menunjukkan kenakalan tersembunyi. Bertahun-tahun hwesio ini berdekatan dengan muridnya itu, maka bisa dibilang hampir setiap gerak-geriknya tentu akan diketahuinya belaka. Dia sudah hendak menegur, akan tetapi Phoa -lojin cepat menggerakkan jarinya di depan mulut tanda dia tidak boleh berbicara.

Sementara kakek ini terheran-heran, Phoa-lojin telah mendekatinya dan berbisik perlahan di pinggir telinganya. Lalu kakek itupun juga mendekati Malaikat Gurun Neraka, berbisik-bisik perlahan seperti orang ketakutan terdengar suaranya oleh telinga lain, lalu tampak dua orang itu mengangkat alis mereka dan tercengang.

Demikianlah, gerak-gerik yang aneh dari tiga orang tua itu disaksikan gadis ini, lalu tanpa banyak cakap dan tanpa memandang lagi kepadanya, tiga orang tokoh itupun berkelebat meninggalkan ruangan itu. Kejadian ini berlangsung cepat dan sebentar saja Pek Hong ditinggal seorang diri. Gadis ini berdiri mematung dan matanya terbelalak memandang kepergian tiga orang tua itu, sejenak tertegun bingung. Tadi, setelah dia berada di ruang belakang, Phoa-lojin juga berbisik-bisik kepadanya dan menyerahkan sebuah bungkusan kain berwarna hijau.

"Mulai sekarang nona tidak boleh membuka suara. Kalau ingin berhasil menemui Si Dewa Monyet di Ang-bhok-san, nona harus selalu tutup mulut. Ingat, nona harus tutup mulut dan menjadi orang bisu biarpun di depan Kauw-sian. Mengertikah nona?"

Dara itu mengangguk dan hendak menjawab, akan tetapi kakek Phoa buru-buru berkata, "Ahh, jangan bersuara! Ingat, nona mulai sekarang menjadi orang bisu dan apapun yang orang katakan, nona hanya mengangguk atau menggeleng. Kalau tidak pertolongan terhadap Yap-goanswe akan gagal sama sekali. Bukankah nona mencintanya?"

Gadis itu menjadi merah mukanya dan dia memandang Phoa-lojin dengan mata terbelalak. Dia hendak mengeluarkan suara, akan tetapi lagi-lagi kakek itu mendesis,

"Sstt, nona, jangan membuka mulut! Masa baru saja kuperingatkan sudah akan lupa? Pertanyaanku tidak seberapa, nanti kalau nona berhadapan dengan Si Dewa Monyet sendiri, mungkin nona akan lebih terkejut lagi. Nah, coba jawab sejujurnya pertanyaanku tadi, bukankah nona mencinta pemuda itu?"

Pertanyaan ini melebihi todongan pedang tajam, bagaimana Pek Hong dapat menjawabnya? Bahkan mukanya menjadi semakin merah sampai ke telinganya dan dia tidak mampu bersuara. Kalau saja bukan kakek ini yang bertanya, tentu dia menyemprot orang habis-habisan.

Akan tetapi Phoa-lojin malah tampak gembira, "Bagus, tidak menjawab berarti membenarkan. Dan ini satu langkah pertama nona menuju ke arah kebahagiaan. Harap nona ingat pesanku tadi, apapun yang orang katakan, nona tidak boleh membuka mulut dan bersikap gagu sampai tiba di tempat kediaman Si Dewa Monyet."

Kakek ini lalu mengisiki tentang beberapa hal lagi dan semuanya itu diucapkan dengan suara amat perlahan. Mula-mula gadis itu terkejut, akan tetapi akhirnya tercengang keheranan dan tampak gembira. Wajahnya berseri seperti anak kecil memperoleh hadiah kembang gula dan demikianlah, dua orang ini lalu kelu ar dari ruangan belakang menemui Ta Bhok Hwesio yang sedang menunggu.

Sekarang, setelah Phoa-lojin dan dua orang kakek itu pergi tanpa menghiraukan dirinya, Pek Hong melenggong. Hal ini sama sekali tidak diketahuinya karena kakek Phoa itu memang tidak memberi tahu. Hampir saja mulutnya memanggil suhunya, akan tetapi segera dia mendekap mulutnya kembali dengan cepat. Lagi-lagi dia lupa bahwa sekarang dia harus berlagak menjadi gadis bisu!

Sialan, pikirnya di dalam hati. Syarat menutup mulut ini walaupun tidak begitu berat, akan tetapi toh amat menjengkelkan sekali. Mau bicara apa-apa tidak boleh, bagaimana tidak membuat orang kheki? Apalagi bagi perempuan yang biasanya jauh lebih cerewet daripada laki-laki, "puasa" ini benar-benar merupakan suatu siksaan.

"Bukankah nona mencinta pemuda itu?” pertanyaan ini mengiang di telinganya dan pipi gadis ini bersemu dadu. Kalau dia tidak mencinta pemuda itu, mana dia suka membawanya ke Ang-bhok-san menemui Si Dewa Monyet yang konon berwatak aneh itu?

Demi pemuda pujaan hati dia rela melakukan segala hal. Jangankan disuruh ke tempat Kauw sian, biar ke neraka sekalipun dia ikut! Gadis ini menggreget, lalu memondong tubuh Bu Kong dan melompat keluar. Hek-ma meringkik girang melihat munculnya gadis yang sudah dikenalnya ini, dan Pek Hong tanpa banyak cakap lagi lalu melompat di punggung kuda hitam itu. Karena tidak boleh membuka mulut, maka nona ini menepuk leher Hek-ma sebagai isyarat dan kuda itu bergerak kaget, kemudian kabur mengikuti kehendak nonanya.

* * * * * * * *

Malam hampir menghilang, dan fajar mulai menyingsing. Kegelapan terusir dan muncullah cahaya terang di atas bumi. Perjalanan ke Ang-bhok-san bukanlah suatu perjalanan mudah. Tempat ini terletak di Pegunungan Ta-pie-san di sebelah selatan. Akan tetapi, bersama Hek-ma yang sanggup berlari seribu li dalam sehari, perjalanan panjang ini dapat dipercepat.

Pegunungan Ta-pie-san adalah pegunungan yang amat luas dan penuh hutan-hutan lebat. Banyak binatang-binatang buas di sini yang amat berbahaya. Maka tidaklah heran kalau pegunungan ini jarang didatangi manusia.

Ang-bhok-san atau Bukit Kayu Merah berada di lereng timur, dan ke sinilah gadis itu menuju. Pada saat dia tiba di wilayah ini, mula-mula yang menyambutnya adalah jalanan yang amat kasar itu berbatu-batu. Dari tempat ini memandang ke atas, tampaklah sebuah bukit yang aneh bentuknya.

Tidak seperti bukit-bukit lainnya, Bukit Kayu Merah ini memang memiliki keistimewaan tersendiri. Puncaknya legok, dindingnya terdiri dari karang yang amat tinggi dan curam. Untuk mendaki sampai di atas sana orang harus merayap di dinding bukit yang curam itu. Dan di atas puncak yang berlegok ini, ribuan pohon gundul tanpa daun berdiri kokoh.

Memang aneh melihat seragamnya pohon-pohon itu yang gundul licin tanpa sehelai daunpun, dan kulit pohon yang kemerahan itu bersinar tertimpa cahaya matahari. Inilah sebabnya mengapa bukit itu dinamakan Ang-bhok-san (Bukit Kayu Merah), karena di tempat itu bisa dibilang tidak ada sebatangpun pohon yang berdaun. Semuanya gundul dan cabang serta ranting pohon merah itu mencungat ke sana-sini seperti cakar setan.

Jalanan berbatu ini amat kasar dan diam-diam Pek Hong menggerutu di dalam hati. Hek-ma tidak berani mencongklang karena sekali kakinya terpeleset, tentu dia akan tergelincir jatuh. Selama dalam perjalanan, berkali-kali kuda ini meringkik untuk mengajak bicara nonanya, akan tetapi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut gadis itu.

Pek Hong hanya menepuk-nepuk leher dan punggung kuda ini dengan sentuhan mesra dan diam-diam gadis ini amat berterima kasih sekali kepada Hek-ma. Kalau kuda biasa yang mengantarkan mereka, agaknya sekarang belum tentu dia sampai di tempat ini.

Akhirnya jalan yang berbatu itu habis dan sekarang mereka melalui jalan setapak yang penuh rumput halus. Enak berjalan kaki di sini dan dapat membuat orang merasa nyaman. Akan tetapi, semakin dekat dengan bukit yang dindingnya curam intu, Pek Hong semakin tidak terasa nyaman. Ketegangan mulai dirasakannya.

Dia belum tahu bagaimana rupa Si Dewa Monyet itu. Akan tetapi, melihat julukannya agaknya tidak meleset jauh kalau dia membayangkan bahwa tokoh ini pasti mukanya mirip monyet. Kalau tidak, bagaimana dia bisa mendapatkan nama poyokan itu?

Membayangkan wajah yang buruk seperti monyet membuat gadis ini mengkirik. Masa ada m anusia yang rupanya betul-betul mirip monyet? Dan kakek itu disebut orang sebagai "dewa"nya monyet! Ihh, kalau monyetnya saja sudah cukup membuat dia ngeri, apalagi kalau bertemu dengan Si Dewa Monyet sendiri yang berwatak kukoai. Jangan-jangan wataknyapun juga persis monyet, kan berabe kalau begini?

Pikiran tentang bayangan ini membuat gadis itu meremang bulunya dan tahu-tahu kudanya berhenti. Hek-ma meringkik nyaring karena dia sudah tidak dapat berjalan lagi. Di depannya menjulang dinding batu karang yang tinggi dan Pek Hong terkejut.

Kiranya mereka telah sampai di tempat tujuan. Perjalanan ke sini ternyata tidak terlalu sukar seperti yang dibayangkannya semula. Akan tetapi perjalanan berikutnya untuk merayap di puncak bukit itu bukanlah pekerjaan ringan. Apalagi dia harus membawa tubuh orang sakit! Sejenak gadis ini kebingungan. Dengan cara bagaimana dia akan mendaki ke atas? Dinding bukit ini amat terjal dan sekali dia tergelincir dari tempat setinggi itu, alamat jiwanya akan melayang.

Sebagai murid Ta Bhok Hwesio yang gemblengan, dalam hal menanggung resiko-resiko semacam ini Pek Hong bukanlah seorang dara penakut. Akan tetapi, kalau dia harus merayap ke atas sambil membawa Yap-goanswe serta terpeleset, bukankah nyawa pemuda itu sukar dipertahankan lagi?

Pada saat dia kebingungan mencari akal itulah tiba-tiba didengarnya suara ramai di balik dinding sana. Gadis ini terkejut dan wajahnya berobah. Siapakah yang bersuara gaduh itu? Baru saja dia menengok, hampir saja Pek Hong menjerit dan seketika mukanya menjadi pucat. Apa yang dilihatnya? Bukan lain adalah ribuan monyet besar kecil yang berbondong-bondong lari menghampirinya!

Binatang-binatang ini bercecowetan, kakinya yang kecil-kecil panjang itu melompat-lompat lucu akan tetapi bagi Pek Hong sendiri, sama sekali dia tidak merasa geli karena dia melihat betapa monyet-monyet itu menyeringai ke arahnya dengan sikap marah!

Ujian pertama bagi dirinya telah datang! Persis seperti apa yang diberitahukan oleh kakek Phoa ketika mereka berada di kelen teng tua. Sejenak gadis ini pucat dan dia merasa ngeri, sementara Hek-ma sendiri sudah meringkik marah dan kuda yang biasanya tidak kenal ta kut itu kini juga tampak gelisah. Memang kedatangan binatang-binatang ini cukup membuat kuncup nyali orang. Kalau se ekor dua saja tidak apa. Akan tetapi kalau jumlahnya sampai beribu ekor inilah s atu hal lain lagi.

Dan sementara gadis itu bengong di tempatnya, beberapa ekor monyet besar yang larinya paling cepat telah tiba di situ. Monyet-monyet ini mengeluarkan pekik lantang dan gigi mereka yang kecil t ajam itu tampak buas. Enam ekor monyet melompat ke depan dan kedua tangan mereka dengan cakar tajam menyerang gadis ini.

Pek Hong terkejut dan otomatis dia mengelak. Sambaran monyet - monyet itu luput, akan tetapi dasar monyet adalah binatang yang gerak-geriknya gesit dan cekatan, begitu serangannya menubruk angin, binatang-binatang ini sudah membalik dan melompat sambil menggereng, agaknya mereka itu merasa marah mengapa serangan berbareng dari enam jurusan ini luput. Tentu saja gadis itu merasa gemas dan mendongkol, juga geli. Maka begitu monyet-monyet besar ini menyerangnya kembali, dia tidak mau mengelak seperti tadi dan kakinya berputar, sekali tendang mengenai tubuh enam ekor binatang itu yang menjerit kaget dan terpelanting!

Namun monyet-monyet ini sungguh istimewa dan lain daripada monyet biasa. Begitu kena tendang dan mencelat jauh, binatang-binatang itu tidak jera bahkan semakin marah. Mereka memekik seakan memberi komando dan kini menerjang lagi. Tangan mereka mencengkeram dan mulut mereka menggigit. Sekali kena tentu akan sukar melepaskan diri karena monyet-monyet ini adalah anak-anak "murid" Kauw Sian yang menjaga sekeliling gunung.

Dan pada saat itu, monyet-monyet la in yang tadi ketinggalan, kini sudah berdatangan ke tempat itu dan mereka langsung mengerubut murid Ta Bhok Hwesio ini! Tentu saja keadaan semakin gaduh dan Pek Hong meluap kemarahannya. Dia masih memanggul Bu Kong, gerakannya kurang leluasa. Maka hanya kedua kakinya saja yang bergerak bergantian menghalau binatang-binatang kurang ajar ini. Akan tetapi, dikeroyok monyet-monyet celaka yang luar biasa banyaknya itu bagaimana dia dapat bertahan? Lama-lama tentu dia akan celaka dan kalau hal ini sampai terjadi, dia harus menaruh mukanya di mana?

Bukankah amat memalukan sekali kalau murid Ta Bhok Hwesio yang sakti ternyata dikalahkan monyet? Seluruh dunia kang-ouw tentu akan ketawa bergelak mendengar berita ini! Pek Hong menggreget dan dia benar-benar bingung. Kalau saja tidak ingat kepada pesan Phoa-lojin, tentu dia akan membunuh monyet-monyet ini. Akan tetapi binatang-binatang itu adalah peliharaan Si Dewa Monyet, dan dia datang ke sini untuk minta pertolongan orang, masa dia harus membunuh "perajurit-perajurit" Ang-bhok-san ini?

Saking bingung dan marahnya, gerakan Pek Hong kurang cepat. Seekor monyet besar yang tadi ditendangnya sampai terpental bergulingan, mendadak berhasil mencengkeram kaki kanannya. Gadis ini menjerit dan binatang itu menggigit. Pek Hong mengipatkan kakinya keras-keras dan akibatnya celananya robek. Akan tetapi gigitan monyet ini luput dan binatang itu terlempar bersama sobekan celananya. Dan belum lagi dia hilang dari rasa terkejut, tiba-tiba didengarnya Hek-ma meringkik dan kuda hitam tinggi besar itu lari berputaran sambil menendang-nendangkan kakinya.

Kiranya seperti juga keadaan non anya itu kuda inipun juga telah dikerubuti oleh puluhan ekor monyet besar kecil! Ada yang menggelantung di pahanya, ada yang merangkul lehernya dan ada pula yang menarik-narik ekornya. Dan celakanya, semua binatang itu menggigit sana-sini sambil memekik-mekik seperti perajurit maju perang!

Mana ada kejadian yang demikian memprihatinkan? Si majikan dikeroyok sampai pakaiannya robek-robek, dan kini kuda tunggangannya ikut-ikutan disikat! Untung Hek-ma bukan kuda sembarangan. Seperti kita ketahui, kuda ini adalah seekor kuda jempolan. Tahan bacokan golok maupun pedang. Maka gigitan monyet-monyet liar itupun tidak membuatnya terluka akan tetapi membuatnya seperti digelitik.

Kalau digelitik sedetik dua detik saja tentu tidak akan membuat orang marah. Akan tetapi kalau gelitikan ini terus-menerus, siapa tidak akan naik pitam? Begitu pula halnya dengan kuda ini. Melihat monyet-monyet itu menggigitnya dan seperti lintah melekat di tubuhnya, Hek-ma menjadi marah dan kuda ini lalu meringkik nyaring.

Kaki belakangnya menyepak dan belasan ekor monyet yang terkena "sotangan" kuda ini, menjerit ngeri dan terbanting di atas tanah, tak mampu bangkit lagi. Tubuh mereka remuk dan monyet-monyet itu tewas seketika. Dalam dua kali gebrakan saja, duapuluh empat ekor monyet ini mati dalam sekejap!

Pek Hong terkejut. Wah, kalau binatang-binatang ini mati semua diamuk Hek-ma, tentu Kauw-sian akan marah sekali kepadanya. Dia hendak berteriak, akan tetapi yang keluar hanya suara yang tertahan di kerongkongannya. Hal ini disebabkan karena dia teringat akan pesan Phoa-lojin. Kakek itu berkata bahwa apapun yang akan dihadapinya, dia harus selalu tutup mulut dan menjadi gadis bisu!

Inilah yang membuat gadis itu kian lama kian gelisah. Dan akhirnya dia melihat Hek-ma mulai bergulingan di tanah. Kuda yang marah itu tampak buas, monyet-monyet yang berada di dekatnya sudah ditendangi semua. Akan tetapi monyet-monyet yang melekat di punggung dan lehernya, tidak mau turun. Sebelas ekor monyet melekat di tubuhnya dan tiga ekor malah menggigit pantatnya. Agaknya Hek-ma kesakitan dan tiba-tiba kuda itu menggulingkan diri di tanah. Sekali berguling, tujuh ekor monyet yang tidak sempat melompat, menjerit dan tergencet mampus!

"Oohhh...!" Pek Hong menjerit tertahan dan matanya terbelalak. Duapuluh ekor monyet yang tewas diamuk Hek-ma itu kalau ketahuan pemiliknya tentu akan merunyamkan keadaannya. Akan tetapi apa yang bisa diperbuatnya? Dia tidak boleh berbicara dan kalau hendak mencegah kudanya membunuh monyet-monyet itu, satu-satunya jalan ialah mengajak Hek-ma kabur dari tempat ini.

Akan tetapi kalau dia melarikan diri, habis apa gunanya dia jauh-jauh datang kemari? Pergi dari tempat mengerikan ini berarti gagal menolong Yap-goanswe, namun jika hendak menolong Yap-goanswe berarti tidak bisa mencegah Hek-ma menyerang monyet-monyet itu. Keadaan serba rumit, serba susah dan tidak menyenangkan baginya. Padahal dia harus memilih satu diantara dua keputusan. Yang mana harus diambilnya?

Pada saat Pek Hong gelisah inilah tiba-tiba gadis itu merasa betapa tubuh Bu Kong menggeliat dan pemuda itu mengeluh. Kiranya suara gaduh dan cecowetan monyet penghuni Ang bhok-san ini menyadarkan Yap-goanswe. Tentu saja gadis itu menjadi girang dan harapannya timbul. Dia harus membisu selama di tempat ini, namun pemuda itu tidak dikenakan syarat demikian. Hal ini berarti ada harapan baginya untuk mendapat jalan keluar.

Apa yang diduga ternyata benar. Bu Kong telah sadar dari pingsannya dan pemuda ini perlahan-lahan membuka sepasang matanya, berkedip-kedip sejenak dan akhirnya terkejut ketika melihat betapa tubuhnya dipanggul seorang wanita muda.

"Ahh, siapa anda...?" pemuda itu berseru kaget dan cepat meronta, lalu melompat turun dari pondongan orang. Begitu kakinya menyentuh tanah, tiba-tiba pemuda ini kembali mengeluh dan memegangi kepalanya yang berputar tujuh keliling.

Racun yang diminum melalui Arak Sorga di gedung Cheng-gan Sian-jin ternyata mulai bereaksi. Begitu dia sadar, seketika pemuda ini merasa betapa kepalanya terasa pusing dan dunia berputaran cepat. Dia merasa seakan-akan di balik, sebentar di atas dan sebentar kemudian di bawah. Semuanya berputar dan Bu Kong terhuyung-huyung hampir jatuh.

Tentu saja Pek Hong terkejut, apalagi ketika melihat betapa empat ekor monyet besar mengeluarkan pekik marah dan menyerang pemuda itu, gadis ini terkesiap kaget. "Uhh...!" Pek Hong berseru tertahan dan tubuhnya berkelebat. Kaki tangannya bergerak cepat dan sekali pukul, empat ekor monyet itu menjerit dan roboh terkapar dengan tulang kaki patah-patah!

Saking gemas dan marah, gadis ini mulai bersikap keras dan sekarang ia tidak menanti sampai binatang-binatang itu menyerang, melainkan dialah yang menerjang monyet-monyet ini. Sebentar saja puluhan ekor monyet itu menjerit kesakitan dan tubuh mereka dilontar-lontarkan ke udara dan terbanting di atas tanah berdebukan.

Bu Kong terkejut mendengar pekik monyet-monyet ini dan dia menahan napas, mengumpulkan kekuatannya untuk memandang jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi di tempat itu dan siapakah wanita muda yang menolongnya ini. Dan begitu pemuda ini melihat gadis itu, mulutnya mengeluarkan teriakan tertahan. "Hong-moi, ah, kaukah ini...?" dan wajah Bu Kong tampak pucat.

Walaupun kepalanya berdenyut-denyut, namun sekarang dia dapat melihat jelas apa yang sedang terjadi di sekelilingnya itu dan Bu Kong terkejut sekali. Bagaimana gadis ini tahu-tahu berada di sini? Dan tempat apakah ini? Mengapa banyak terdapat monyet-monyet liarnya? Dan, ehh...! Bukankah dia berada di gedung Cheng-gan Sian-jin? Dimana sekarang iblis tua berhati keji bersama murid perempuannya itu? Semua pertanyaan ini bertubi-tubi memenuhi pikirannya dan pemuda itu menjadi bingung dan rasa pusing semakin menghebat.

"Hong-moi, aduhh... kepalaku pusing... dan monyet-monyet ini... ahh, mengapa kita kemari...?" Bu Kong mengeluh dan langkahnya terhuyung-huyung, akhirnya roboh menelungkup.

Monyet yang dihalau oleh gadis itu kocar-kacir, akan tetapi tiba-tiba binatang-binatang ini menjerit kegirangan dan menyerbu ke arah pemuda yang ambruk di atas tanah itu! Tentu saja kejadian ini membuat Pek Hong kaget setengah mati. Dan pada detik yang amat gawat itulah gadis ini tiba-tiba teringat akan sesuatu. Dia mengeluarkan seruan "ah-uhh" seperti orang gagu dan tangan kanannya mengambil sesuatu di balik baju. Lalu, sekali tubuhnya melayang, tangan kanannya telah mengebutkan sebuah bungkusan kain berwarna hijau ke arah monyet-monyet itu.

Akibatnya sungguh mengherankan. Dari dalam bungkusan ini berhamburanlah bubuk-bubuk putih yang berbau harum dan amat keras, mirip arak Hang-cou dicampur dupa peh-in soat yang amat terkenal dari kota Se-bun, dan puluhan monyet yang tersiram bubuk ini dan mengendus baunya, tiba-tiba bercecowetan perlahan lalu roboh di atas tanah seperti kena bius!

Hal ini menggembirakan hati nona itu dan diapun segera mengebut-ngebutkan bubukan putih ini ke arah ribuan ekor monyet itu. Dan sungguh ajaib, bubuk putih ini begitu tercium oleh monyet-monyet itu, seketika binatang-binatang ini mengeluh aneh dan lumpuh, roboh satu-persatu di atas tanah dan jatuh tertidur!

Sebentar saja, dibantu tiupan angin pegunungan, bubuk pemberian Phoa-lojin ini telah membius seribu ekor lebih monyet-monyet yang tadi mengerubut gadis itu dan Hek-ma! Kejadian ini berlangsung beberapa kejap dan monyet-monyet lain yang berada di belakang, memekik ketakutan dan mereka itu lari pontang-panting kembali ke dinding bukit sebelah sana.

Pek Hong menarik napas lega. Karena tadi terkejut dan merasa ngeri dengan datangnya ribuan ekor monyet itu, dia melupakan bungkusan kain hijau yang diberikan oleh kakek Phoa kepadanya. Waktu di kelenteng tua Phoa-lojin memang telah memberitahunya bahwa kalau dia tiba di Ang bhok-san, mungkin anak buah Si Dewa Monyet yang pertama-tama akan menyambutnya.

Hanya yang dia kurang paham, disangkanya bahwa "anak buah" yang diartikan oleh kakek itu adalah pelayan atau sebangsanya. Sama sekali dia tidak menduga bahwa yang dimaksudkan oleh Phoa-lojin ternyata adalah monyet-monyet menggelikan itu! Kalau tahu begini, bagaimana dia tidak akan merasa jijik?

Dan itulah sebabnya mengapa kakek Phoa lalu membekalinya dengan bungkusan kain berwarna hijau. Katanya jika dia kewalahan menghadapi anak buah Si Dewa Monyet, harap keluarkan bungkusan ini dan kebutkan ke arah mereka, pasti akan jatuh kelenger. Betul saja, setelah dia mengeluarkan bungkus an itu, anak buah Kauw-sian ini memang benar-benar dapat dilumpuhkan. Kini dia bebas dari gangguan monyet-monyet kurang ajar itu dan Hek-ma meringkik sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

Keadaan menjadi sunyi kembali seperti sedia kala, akan tetapi seribu ekor monyet yang malang -melintang di situ membuat gadis ini merasa geli dan mengkirik. Melihat betapa Bu Kong rebah menelungkup dan di sekitarnya penuh dengan monyet-monyet yang terbius, dengan hati-hati gadis ini lalu menghampiri untuk menolong.

Akan tetapi, baru tiga langkah dia berjalan, mendadak terdengar pekik monyet yang menggetarkan hati. Pek Hong terkejut dan ketika dia menengok, tampaklah dari atas bukit itu meluncur sesosok bayangan yang luar biasa cepatnya. Mengejutkan sekali gerakan bayangan ini. Tubuhnya seakan-akan terbang menukik dan setelah sampai di atas dinding sebelah sana, bayangannya lenyap terhalang. Akan tetapi, lenyapnya bayangan yang belum diketahui apa sebenarnya itu hanya sekejap saja.

Pek Hong tahu-tahu telah melihat kembali bayangan ini yang muncul tiba-tiba dari balik dinding dimana monyet-monyet tadi melarikan diri. Dan gadis itu terkejut. Belum sempat dia mengejapkan mata, bayangan ini telah meluncur secepat terbang dan berhenti mendadak di depannya seperti rem pakem. Seorang kakek pendek mengerikan memandang gadis ini dengan sepasang matanya yang bulat kecil bersinar-sinar, melotot penuh kemarahan. Mukanya lonjong kecil seperti monyet, hidungnya bagian tengah melesak ke dalam, mulutnya agak lebar dan kedua pundaknya berbulu. Sungguh manusia monyet yang tidak ada cacad celanya!

"Uhh...!" gadis itu berseru kaget dan mukanya berobah, otomatis ia melompat mundur dan sepasang matanya terbelalak ngeri. Belum pernah selama hidupnya dia menyaksikan wajah seperti ini. Tubuhnya memang manusia tulen, akan tetapi mukanya muka monyet asli! Siapa tidak akan meremang bulu tengkuknya.

"Kerrrr, hieehhhh....! Siapa mencelakai anak-anak buahku, hah?" kakek mengerikan ini memekik marah dan jeritannya mirip monyet murka. Dia memandang Pek Hong dan kedua kakinya mencak-mencak seperti monyet menari, sikapnya lucu dan kalau dilihat dari jauh persis lagak seorang badut.

Namun gadis itu sama sekali tidak dapat tertawa karena dia masih terkesiap menyaksikan bentuk wajah Si Dewa Monyet itu. Tepat dugaannya, Kauw sian ternyata sesuai dengan julukannya. Mukanya seperti monyet bahkan tindak-tanduknya juga persis monyet. Dan dia harus menemui manusia macam ini untuk minta pertolongan! Mungkinkah berhasil?

"Hiehhh, gadis muda bertangan ganas. Kau punya mulut untuk menjawab tidak? Atau barangkali kau ingin kupaksa? Hayo cepat mengaku siapa yang mencelakai anak-anak buahku, kerrr...!” kakek ini membentak dan memekik-mekik, kakinya maju mundur tak bisa diam seakan-akan hendak menyerang orang dan kedua tangannya diulur ke depan untuk mengancam.

Menghadapi orang begini, apa yang harus dikatakan? Pek Hong tidak menjawab dan sebagai gantinya dia menggeleng dengan mata terbelalak. Nasehat Phoa lojin agar dia menutup mulut tidak berbicara di depan kakek aneh ini dijalankannya. Maka kini hatinya mulai tenang meskipun jantungnya masih berdegup kencang. Melihat sikapnya, Dewa Monyet ini amat buas seperti binatang liar dan sepasang matanya yang bulat kecil bersinar-sinar seperti monyet itu berputaran.

"Hehh, kenapa menggeleng? Tidak bisa bicara, ya? Kau bisu, ya? Bagaimana kau gagu? Apa ada orang yang mencelakaimu? Ehh, nona cantik, kalau begitu sayang sekali. Tentu tidak ada laki-laki yang mau mengawinimu. Siapa suka beristerikan gadis bisu? Ha hah he-heh, tidak ada orang suka... tidak ada orang suka...! Akan tetapi anak buahku tentu suka! Ya...ya... anak-anak buahku banyak yang suka. Bukankah tadi mereka telah menyambutmu dengan gembira? Ha-ha, bagus sekali... bagus sekali! Sungguh beruntung tempatku kedatangan gadis manis sepertimu ini, nona. Dan aku akan memilihkan pasangan yang paling cakap untukmu. Hee, Siau ji, hayo ke sini dan temui calon isterimu ini, ha-ha hehheh!"

Kakek sinting itu terkekeh-kekeh dan tangannya mengapai ke belakang. Dari balik dinding sana muncul seekor monyet besar berbulu coklat muda. Binatang ini berjalan menghampiri dengan perlahan, langkahnya takut-takut dan dia memandang Pek Hong dengan sikap jerih, tangan kirinya menyeret sobekan kain dan seketika gadis itu menjadi merah mukanya dan dia memandang monyet besar ini dengan sinar mata berapi.

Kiranya itulah robekan kain celananya yang tadi dijambret oleh monyet yang dipanggil Siau-ji ini! Tentu saja Pek Hong menjadi marah akan tetapi Si Dewa Monyet tidak memperdulikannya bahkan ketawanya semakin keras dan terpingkal-pingkal.

"Heh-heh-heh, Siau-ji, apa kau betul-betul telah jatuh cinta kepada calon isterimu ini, hah? Wahh, bagus, pilihanmu pandai dan tepat sekali, cocok dan kau patut bersyukur kepada sang maha dewa kita !" Si Dewa Monyet terkekeh - kekeh lalu menoleh ke arah gadis itu, menyambung dengan suara girang, "Nona cantik bukankah kaupun akan menerima pinangan Siau - ji ini? Lihat, dia telah membawa emas kawinnya yang istimewa!"

Akan tetapi Pek Hong mendelik ke arah kake k ini dan kepalanya menggeleng tegas. Kauw-sian terkejut, seketika suara ketawanya sir ap dan mukanya berobah bengis. Dia memandang gadis itu dengan muka ke lam dan bola matanya yang kecil itu berputaran liar. Pek Hong menjadi ngeri dan tak terasa dia la lu mundur setindak.

"Kerrr! K au berani menolak pinangan anak muridku, nona?" Dewa Monyet ini t iba-tiba membentak marah dan melompat, gerakannya cepat bukan main dan tahu- tahu telah melejit seperti ikan terbang dan berada di depan Pek Hong dengan sikap mengancam.

"Apa yang kau andalkan, heh? Berani kau membantah perintahku? Kau telah membuat onar di sini dan sudah bagus aku tidak mengusutnya lebih jauh. Mengingat kau adalah gadis gagu seperti anakku dulu yang tewas di tangan manus ia jahat, aku suka mengampunimu dan bahkan mencarikan jodoh yang sepadan untukmu. Kenapa kau berani menolaknya?"

Bentakan ini keras sekali dan memekakkan telinga, seperti suara genta dipukul. Pek Hong semakin terkejut sedang kan Siau-ji yang melihat betapa kakek itu marah-marah kepada "calon isterinya" ini, melompat maju dan bercecowetan perlahan, memegang ujung baju majikannya seakan-akan hendak mencegah kakek itu menerjang gadis ini.

Tentu saja pemandangan ini membuat Pek Hong merasa mendongkol dan gemas, juga marah sekali. Kurang ajar betul monyet itu, terang-terangan menyatakan "cinta" kepadanya dengan cara melindunginya. Hatinya menjadi sebal dan kalau tidak mengingat keadaan Bu Kong yang menelungkup di atas tanah itu, tentu dia tidak mau banyak bicara dan sudah menerjang kakek bermuka monyet ini.

Karena dia berpura-pura sebagai nona bisu, maka gadis inipun lalu mengelu arkan suara "ah-ah-uh-uh" dan menggerak-gerakkan jari tangan memberi bahasa isyarat . Dia menuding-nuding diri sendiri, lalu menunjuk ke arah Yap-goanswe yang menggeletak di tanah, mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima "pinangan" ini karena dia telah terikat jodoh dengan pemuda itu, dan maksud kedatangannya kemari adalah untuk minta obat kepada kakek itu.

Si Dewa Monyet tertegun dan sepasang ma tanya yang tadi berputar liar itu tiba-tiba berhenti. "O, kau maksudkan bahwa dia itu adalah suamimu? Jadi kau sudah menikah? Kenapa bentuk tubuhmu masih seperti gadis? Apakah kalian ini pengantin baru? Atau jangan-jangan kau hendak membohongi aku, nona cilik? Hayo jawab yang betul semua pertanyaanku ini, kalau tidak, tentu aku tidak mau sudah dihina orang dan semua perbuatanmu hari ini harus kaubayar lunas!"

Kembali Pek Hong mengeluarkan suara "Ah-ah-uh-uh" dan menggerak-gerakkan jari tangannya, kepalanya juga mengangguk-angguk menyatakan bahwa apa yang dika takan oleh kakek itu benar belaka dan dia tidak membohong.

“Jadi dia betul-betul suamimu, bukan pacar mu?" Si Dewa Monyet membelalak dan air mukanya tampak kecewa.

Pek Hong mengangguk mengiakan dan mukanya menjadi merah padam. Keadaan memaksa dia, maka apa boleh buat. Kalau pemuda itu tidak pingsan dan mendengar semuanya ini, entah apa yang akan dialamin ya. Akan tetapi karena dia memang mencinta pemuda itu, untuk apa lagi malu-malu? Maka anggukan kepa lanya itupun tegas dan sungguh-sungguh.

"Wahh, Siau-ji, kau memang sial! " kakek itu mengeluh dan mukanya seperti orang menangis, akan tetapi tiba-tiba kembali sepasang matanya berkilat aneh. Walaupun otaknya tidak sebat, akan tetapi kakek inipun bukan orang bodoh yang gampang dikelabuhi orang. Dia masih ragu-ragu dan tidak percaya penuh, maka tiba-tiba kakek ini memandang gadis itu dan membentak, "Kau bohong!”

Pek Hong terkejut dan seketika dia meloncat kaget. Bentakan kakek gila ini mengguntur dan Siau-ji yang berada di belakangnya sampai memekik dan mencelat lima langkah. Dengan bahasa isyarat gadis ini bertanya, "Apa maksudmu? Kenapa kau bilang aku bohong?"

Dan kakek itu dengan mata mendelik lalu menjawab, "Kau tidak bicara jujur. Sikapmu penuh kebimbangan, matamu berkedip-kedip licik mencari akal! Hayo betul tidak kata-kataku ini?"

Akan tetapi tentu saja Pek Hong menyangkal. Kepalanya digelengkan berkali-kali dan jari-jari tangannyapun bergerak-gerak memberi jawaban, "Tidak, tidak betul apa yang kau katakan ini. Dia memang suamiku, kenapa aku harus bimbang dan ragu-ragu mengakui suami sendiri?"

"Hemm, kalau begitu coba kau buktikan!" kakek ini masih membentak penasaran.

Dan Pek Hong berobah mukanya. Suruh buktikan gimana? Kalau tidak-tidak yang diminta kakek ini, misalnya saja... misalnya saja... Sampai di sini muka Pek Hong menjadi semerah kepiting direbus dan dia memandang kakek itu dengan mata terbelalak. Kalau kakek itu menyuruhnya yang tidak pantas, sikap apa yang harus diambilnya?

Belum habis dia berpikir, Dewa Monyet yang berwatak aneh ini lalu berkata, "Kalau engkau betul-betul tidak berdusta, sekarang coba buktikan semua pengakuanmu itu. Hayo cium suamimu itu sekarang juga!"

Pek Hong seperti disengat kalajengking dan alisnya yang lentik panjang itu terangkat. Walaupun sedikit banyak sudah menduga bahwa orang akan memerintahkan dia seperti ini, akan tetapi tak urung mukanya menjadi merah juga dan sejenak dia berdiri mematung.

Tiba-tiba terdengar kakek ini tertawa keras. "Ha-hah heh-heh, terlihat belangmu sekarang, kancil betina! Kau tidak segera mengerjakan apa yang kuperintahkan, ini berarti kau telah membongkar kebohonganmu sendiri. Ha-ha, Siau-ji, nasibmu masih mujur, nona ini belum ada yang punya!"

Kauw-sian terkekeh-kekeh gembira dan Siau-ji yang tadi tampak mewek-mewek itu juga melonjak-lonjak sambil memekik kegirangan. Agaknya monyet ini mengerti semua percakapan itu dan kini sobekan kain celana Pek Hong yang berada di tangannya itu dicium-cium di dekat hidungnya dan matanya memandang gadis itu dengan mulut menyungging senyum kemenangan.

"Ha, kau memang harus menjadi milikku, nona cantik!" demikian monyet ini seakan-akan bicara.

Pek Hong menjadi pucat mukanya dan dia menggigit bibirnya. Dengan bahasa isyarat dia membantah, "Bukannya aku berdusta, akan tetapi permintaanmu itu sungguh keterlaluan. Masa kemesraan suami isteri harus dipertunjukkan di hadapan orang lain?"

Akan tetapi Si Dewa Monyet tidak perduli, kakek ini menari-nari dan mulutnya terkekeh sambil berkata, "Kau bohong, kau tidak berani, kau telah mendustai kami! Hanya kalau kau dapat membuktikan permintaanku sajalah maka aku akan percaya. Dan kalau engkau tidak mengaku-aku dan dia betul-betul suamimu, mengapa harus malu? Mencium suami sendiri baik di dalam kamar maupun di hadapan orang lain bukan hal memalukan. Kenapa bingung? Kalau kau tidak mau itulah karena dia bukan suamimu! Ha-hah heh-heh, Siau- ji masih beruntung... Siau-ji masih beruntung dan sebentar lagi aku akan punya mantu cantik sebagai pengganti puteriku...!"

Kakek itu terkekeh-kekeh dan Pek Hong melihat betapa monyet yang dipanggil Siau-ji itu berkedip-kedip kepadanya seakan hendak bermain mata. Melihat monyet ini seketika Pek Hong menjadi muak. Dia mendelik penuh kemarahan kepada monyet itu, lalu tiba-tiba memutar tubuh menghampiri Bu Kong yang menggeletak di atas tanah. Tekadnya telah bulat, daripada dia harus tersiksa lebih lama dengan sikap gila-gilaan Si Dewa Monyet lebih baik dia membuktikan kepada kakek itu dengan jalan mencium Yap-goanswe. Bukankah pemuda itu kembali jatuh pingsan?

Akan tetapi, begitu dia berlutut di samping jenderal muda ini, Pek Hong melihat betapa pemuda sedang memandang kepadanya dengan mata terbelalak lebar! Tentu saja gadis ini terkejut bukan main dan mukanya yang tadi pucat itu seketika menjadi merah padam. Dari kerongkongannya keluar keluhan tertahan dan gadis ini terisak.

Kiranya Bu Kong tidak pingsan, hanya roboh di atas tanah begitu saja karena kalau dia berdiri, denyut di kepalanya terasa menghebat dan semua percakapan tadi didengarnya dengan jelas. Tentu saja pemuda inipun merasa terkejut dan heran. Kenapa nona itu menjadi gagu dan tidak mampu bersuara? Apa yang terjadi? Dan dimanakah mereka sekarang ini?

"Hong-moi..." suara Bu Kong terdengar gemetar. "Apa-apaan ini? Siapakah kakek itu? Mengapa ada syarat gila-gilaan begini? Kau kenapakah dan mengapa kau berpura-pura gagu begini? Aku yakin kau sedang melakukan sandiwara, akan tetapi untuk siapakah? Dan di mana Cheng-gan Sian-jin si iblis tua berhati keji bersama muridnya itu?"

Akan tetapi Pek Hong tidak menjawab dan isaknya semakin keras. Dia hendak membuktikan omongannya kepada kakek bermuka monyet itu, yaitu mencium pemuda ini. Akan tetapi itupun kalau pemuda ini pingsan. Sekarang, dalam keadaan sadar begini bagaimana dia mampu melaksanakan niatnya itu? Saking bingung dan malu, nona inipun lalu menangis terisak-isak dan menutupi mukanya...