PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 07
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka
“HA HA HA HA, sobat dari Gurun Neraka, sungguh kebetulan sekali pertemuan kita kali ini! Tidak tahu, ada maksud apakah sahabat jauh-jauh datang kemari secara sembunyi? Mengapa tidak terus terang saja dari pintu depan? Lihat, kami siap menyambut siapapun tamu kami yang datang berkunjung dengan tangan terbuka, baik yang membawa maksud berkawan maupun berlawan. Ha-ha-ha-ha...!!"

Cheng gan Sian-jin tertawa gemuruh sehingga perutnya yang besar keras itu berguncang guncang, dan karena kakek ini memang sengaja hendak memamerkan kekuatannya, maka di dalam suara ketawanya ini terkandung tenaga khikang yang amat dahsyat sehingga dinding kamar tergetar dan beberapa buah genteng di atas rumah mengeluarkan suara berkeresekan karena melorot turun dari letaknya semula!

Hebat memang kakek iblis itu. Hek-mo-ko dan teman temannya yang terguncang isi dadanya, sudah cepat mengerahkan lweekang untuk melindungi jantung dan beberapa orang di antaranya yang agak lemah, bahkan telah duduk bersila untuk menyelamatkan diri dari ancaman bahaya luka dalam.

Akan tetapi, pengaruh suara tawa yang mengandung tenaga khikang dan yang telah mempengaruhi Hek-mo-ko dan kawan-kawannya itu ternyata sama sekali tidak mempengaruhi diri Malaikat Gurun Neraka. Pendekar sakti ini tampak tenang-tenang saja, hanya sepasang alisnya yang putih tebal dan gagah itu berkerut semakin dalam. Pendekar ini melangkah maju dan berhenti dalam jarak kira-kira tiga langkah di depan Cheng-gan Sian-jin, dan gembong iblis itu tampak terkejut ketika melihat betapa secara samar-samar sinar kemerahan seperti api muncul di belakang tubuh pendekar itu!

"Ahh...!" Cheng-gan Sian-jin mengeluarkan seruan pendek dan seketika ketawanya lenyap. Sepasang matanya terbelalak dan diam-diam hatinya kaget bukan main. Orang yang dapat mengeluarkan sinar kemerahan seperti yang dimiliki oleh Malaikat Gurun Neraka ini menandakan seorang yang telah mencapai tingkat tertinggi dalam penguasaan tenaga Yang-kang! Dan teringatlah kakek itu bahwa lawan yang berada di depannya ini adalah seorang yang telah bertahun-tahun lamanya bertapa di gurun pasir yang konon kabarnya memiliki pasir-pasir berapi seperti neraka sendiri!

Itulah sebabnya selain disebut Gurun Takla, padang pasir itupun disebut orang dengan nama Gurun Neraka. Maka tidaklah mengherankan apabila pendekar sakti ini telah menguasai inti tenaga Yang-kang yang amat hebat dari dasar gurun itu. Agaknya pria gagah perkasa ini telah berhasil menyerap inti tenaga api dari gurun pasir yang mengerikan itu!

Apa yang dilihat oleh Cheng-gan Sian-jin ini juga dilihat oleh Hek-mo-ko dan teman-temannya. Orang-orang itupun juga terbelalak matanya dan tak terasa lagi hati mereka terasa gentar. Perbawa luar biasa dan sinar kemerahan yang merupakan inti hawa berapi itu membuat mereka tercekat dan pada saat itu, Malaikat Gurun Neraka yang sudah berhadapan dengan datuk mereka ini membuka suara.

"Cheng-gan Sian-jin, sudah lama sebetulnya aku ingin bertemu denganmu, terutama pada tiga-puluh tahun yang lampau dimana engkau mengumbar nafsu angkara murkamu. Sekarang, dalam saat yang agaknya telah kau atur sebelumnya, kita bertemu muka. Pertanyaanmu tadi kiranya tidak perlu kujawab karena bukankah engkau sendiri yang mengundangku kemari? Nah, aku sudah datang. Apa maumu?"

Kata-kata yang diucapkan dengan suara tegas dan tandas ini membuat muka Cheng-gan Sian-jin menjadi merah. Akan tetapi disamping itu kakek inipun merasa kagum. Tidak percuma pendekar ini disebut sebagai tokoh besar yang dimalui orang-orang persilatan. Kiranya memang demikianlah kenyataannya. Sikapnya yang tenang penuh kepercayaan terhadap diri sendiri itu benar-benar membayangkan watak seorang pendekar besar.

Diam-diam dia ingin sekali menjajal kepandaian laki-laki ini, apalagi ucapan terakhir pendekar itu yang menanyakan apa maunya! Inilah kata-kata yang mengandung tantangan halus dan hati Cheng gan Sian-jin menjadi panas terbakar.

"Malaikat Gurun Neraka, jangan kau bersombong!" kakek itu membentak. "Tidak tahukah engkau bahwa dirimu terkurung dan nyawamu berada dalam telapak tanganku? Setelah engkau masuk ke tempat ini, hanya ada dua pilihan bagimu, yakni ingin selamat ataukah ingin ke akhirat! Kalau kau ingin seiamat, berarti kau harus tunduk kepadaku dan kita bersahabat, akan tetapi, kalau kau ingin..."

Belum habis kalimat ini, pendekar sakti itu mengulapkan tangan ke atas dan memotong, "Cheng-gan Sian jin, tidak perlu kau lanjutkan kata-katamu itu. Nyawa seseorang berada di tangan Yang Maha Kuasa, bukan berada ditanganmu. Kalau kau memang hendak ribut-ribut, majulah!"

Inilah tantangan terbuka dan Cheng-gan Sian-jin mendelik, tak dapat menahan kemarahannya lagi. Kata-kata pendekar itu telah memutuskan segala kompromi dan kakek ini menggereng. Sepasang matanya yang kehijauan itu tiba-tiba mengeluarkan sinar berkilat aneh, berpijar seperti lampu iblis dan sementara anak buahnya memandang dengan jantung berdegup kencang karena merasa bahwa ketegangan telah sampai di puncaknya, tiba-tiba kakek tinggi besar ini mengeluarkan bentakan menggeledek yang penuh pengaruh mujijat dan kedua tangannya bergerak ke depan seperti orang melemparkan sesuatu.

"Malaikat Gurun Neraka, kau tak dapat disayang orang! Lihatlah, dua bola Mahadewa memasuki kepalamu dan Sang Sakti menghendaki agar kau berlutut dan merangkak kemari. Hayo, berlutut dan merangkaklah kemari...!!"

Semua orang terkejut ketika mereka melihat betapa sepasang gundu yang bulat kehijauan menyambar ke arah pendekar itu. Orang-orang ini terkejut karena mereka mengenal sepasang benda aneh itu sebagai mata Cheng-gan Sian-jin! Tentu saja mereka ini kaget dan beberapa orang diantaranya bahkan ada yang mengeluarkan seruan.

Bagaimana kakek itu sampai bisa menyerang dengan gundu matanya sendiri? Apakah Cheng-gan Sian-jin memiliki mata cadangan sehingga berani mencokel bola matanya dan dipergunakan sebagai am-gi (senjata rahasia) yang luar biasa itu? Hek-mo-ko yang sebelumnya tahu bahwa Cheng-gan Sian-jin adalah seorang yang pandai ilmu sihir, juga dapat dibikin terkejut dan terbelalak.

Namun, kalau semua orang dibikin kaget oleh perbuatan kakek iblis itu, adalah Malaikat Gurun Neraka tenang-tenang saja. Pendekar yang memiliki kepandaian tinggi dan sudah banyak makan asam garam dunia ini sama sekali tidak tampak terkejut. Dulu, belasan tahun yang lalu, pernah dia menandingi seorang datuk hitam yang juga pandai sihir berjuluk Ang-i Lo-mo. Di samping itu, diapun telah mempunyai banyak pengalaman dalam menghadapi tokoh-tokoh sesat lainnya. Itulah sebabnya, begitu Cheng-gan Sian-jin menyerangnya dengan ilmu sihir, pendekar ini tenang-tenang saja karena dia telah memiliki "kunci" untuk mematahkan semua jenis ilmu sihir yang bercampur ilmu hitam seperti yang dimiliki Cheng-gan Sian-jin itu.

"Cheng gan Sian-jin, bola Mahadewamu tak berguna bagiku. Lihatlah, mereka kutangkap dan biarlah anak-anak buahmu saja yang mewakiliku merangkak di depan kakimu!"

Malaikat Gurun Neraka mengeluarkan seruan nyaring, kedua tangannya bergerak di udara, berputar tiga kali menyambut sepasang gundu itu dan.... "whussss!" benda-benda aneh itupun lenyap ke dalam tangannya. Dan sementara Hek-mo-ko bersama teman-temannya tercengang keheranan, tiba-tiba pendekar sakti ini membalikkan tubuh ke arah mereka, kedua tangannya bergerak cepat bergantian dan "wut-wutt", sepasang gundu mata itupun muncul kembali dan kini "terbang" ke arah mereka dengan kecepatan kilat!

Tentu saja orang-orang ini terkejut sekali. Tadi mereka sedang terbelalak memandang bola mata Cheng gan Sian-jin yang menyambar pendekar itu. Kini, secara tiba-tiba dan amat mengejutkan, sepasang gundu mata yang mengerikan itu menyerang mereka semua.

HeK-mo-ko yang menjadi orang pertama dalam serangan ini, mengeluarkan teriakan keras. Iblis hitam ini kaget bukan main ketika dia disambar sepasang gundu mata yang melotot kehijauan itu. Dia hendak mengelak, namun kalah cepat. Gundu mata itu tahu-tahu telah menghantam dahinya, mengeluarkan suara "tak-takk!" dan terpental ke arah si wanita berambut keemasan.

Wanita ini, yang bukan lain adalah Kim-bian atau Si Rase Emas, mengeluarkan pekik kaget. Akan tetapi, seperti halnya Hek-mo-ko sendiri, iapun tidak sempat menghindar. Benda aneh ini melesat secepat kilat, dan tadi setelah membentur dahi Hek-mo-ko, kecepatannya seakan-akan berlipat ganda dan tahu-tahu dahinyapun telah disambar gundu mata itu!

"Takk...!" Kim-bian menjerit marah karena tulang dahinya terasa nyeri, namun gundu mata itu sendiri sudah tidak menghiraukannya dan kini menyambar ke arah Liong-tung Lo-kai si kakek picak. Dan seperti lebah setan saja, begitu berhasil "menyengat" dahi Liong-tung Lo kai, gundu mata ini sudah menyambar dahi orang-orang lainnya. Berturut-turut, satu persatu anak buah Cheng-gan Sian-jin "dicium" gundu mata itu dan terdengarlah jeritan di sana-sini.

Cheng-gan Sian-jin terkejut melihat hal yang sama sekali tidak disangkanya ini. Dan kakek itu menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba Hek-mo-ko dan teman-temannya mengeluh, jatuh berlutut dengan muka bingung, lalu setelah terbelalak dengan mata liar, orang-orang itupun merangkak ke depan kakinya!

"Ahhh...!" kakek itu berseru keras dan memandang anak buahnya yang merangkak seperti anjing ini, maklum bahwa agaknya ilmu sihirnya yang tadi ditujukan kepada Malaikat Gurun Neraka, berhasil ditolak oleh pendekar itu dan kini di-"retour" kepada anak buahnya sendiri!

Apa yang diduga oleh Cheng-gan Sian-jin memang benar sebagian. Sebagai orang yang telah berkali-kali menghadapi ilmu sihir, Malaikat Gurun Neraka itu memang tidak terpengaruh oleh Sin-gan-i-hun-to yang tadi dikerahkan oleh lawannya. Dengan getaran tenaga saktinya, pendekar ini berhasil menolak semua ilmu gaib. Getaran tenaga mujijat ini telah ditunjukkannya dengan munculnya cahaya kemerahan di belakang punggungnya. Cahaya inilah yang melindungi dirinya dari serangan-serangan ilmu hitam.

Malaikat Gurun Neraka yang tahu betapa Cheng-gan Sian-jin kabarnya pandai ilmu sihir tadi telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, yaitu dengan mengerahkan tenaga sakti di dalam tubuhnya. Dengan adanya persiapan inilah maka Sin-gan-i-hun-to milik Cheng-gan Sian-jin tertahan, tidak dapat menembus tubuhnya yang dilindungi cahaya kemerahan yang samar-samar tampak itu.

Inilah sebabnya ketika Cheng-gan Sian-jin menyerang dengan ilmu sihirnya dan mengatakan bahwa ada bola Mahadewa hendak memasuki kepalanya, pendekar sakti itu dapat melihat dengan jelas bahwa yang datang menyambar itu bukanlah sepasang gundu mata asli, melainkan dua buah kancing baju yang tadi secepat kilat direnggut oleh kakek itu dan dilontarkan ke arahnya.

Demikianlah, dengan sikap tenang pendekar ini lalu menggerakkan tangannya, menangkap kancing baju itu dan melontarkannya ke arah Hek-mo-ko serta teman-temannya yang lain. Lontaran bukan sembarang lontaran karena kancing baju itu mengarah pada urat-urat syaraf tertentu di bagian dahi sehingga melumpuhkan kerjanya otak, merupakan "totokan terbang" yang tiada bandingannya!

Maka tidaklah heran jika Hek-mo-ko dan teman-temannya tak mampu mengendalikan kesadaran mereka sendiri setelah terkena totokan lihai pendekar sakti itu, apalagi perintah yang penuh pengaruh yang tadi dikeluarkan Cheng-gan Sian-jin, gemanya masih melingkar-lingkar di ruangan ini. Otomatis orang-orang itupun berada di bawah pengaruh sihir Sin-gan-i-hun-to datuk mereka sendiri dan kini bagaikan sekumpulan anjing, merangkak mendekati tuannya!

Namun peristiwa ini hanya berjalan beberapa waktu saja. Cheng-gan Sian jin yang merasa terkejut dan marah, sudah berseru keras dan tubuhnya berkelebat, kakinya bergerak bergantian dan orang-orang itupun ditendangnya sehingga menjerit dan terpental bergulingan. "Manusia-manusia tolol, pergi kalian semua...!" kakek itu membentak dengan muka merah, gemas melihat betapa anak-anak buahnya sendiri menjadi korban ilmunya. "Malaikat Gurun Neraka, jangan bersikap pengecut! Kalau kau memang lihai, coba terimalah seranganku yang kedua secara jantan. Lihatlah, ular berkepala dua ini akan menyerangmu, haiitttt...!”

Cheng-gan Sian-jin yang merasa marah dan penasaran itu kembali menggerakkan tangannya ke depan dan tiba-tiba seekor ular kuning dua kepala terbang menyambar pendekar sakti itu! Ular ini mengeluarkan suara mendesis nyaring dan dari sepasang lidahnya yang bercabang itu tampak uap hitam berbau amis.

Takla Sin-jin terkejut karena kali ini dia terpengaruh. Tidak seperti serangan pertama dimana dia tadi dapat melihat dengan jelas bahwa yang menyerangnya hanyalah kancing-kancing baju yang disebut oleh Cheng-gan Sian-jin sebagai bola mata Mahadewa, adalah serangan yang kedua kalinya ini dia melihat bahwa yang terbang menyambarnya dengan kecepatan kilat itu adalah betul-betul ular sungguhan. Tentu saja pendekar ini terkejut, padahal sepengetahuannya gembong iblis itu tidak pernah memiliki ular apapun. Ini berarti bahwa lawannya itu telah menambah kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi dirinya!

Sadar akan kenyataan ini, pendekar itu tiba-tiba mengempos semangatnya, menarik hawa sakti dari pusar sehingga dadanya berkembang penuh, lalu mengeluarkan hawa sakti ini melalui bentakan, "Cheng-gan Sian-jin, aku tidak takut akan serangan ularmu, bahkan aku hendak menangkapnya hancur. Lihat...!"

Dengan kecepatan luar biasa Malaikat Gurun Neraka menggerakkan tangannya ke depan dan serangkum hawa yang amat kuat menahan luncuran ular kuning itu. Dan pada detik itulah, setelah dia menambah kekuatan batinnya untuk menolak pengaruh sihir Chen-gan Sian-jin, pendekar ini melihat jelas bahwa yang menyerangnya itu ternyata hanyalah sehelai kain kuning pengikat rambut yang tadi berada di kepala kakek iblis itu!

Muka pendekar ini menjadi merah. Hampir saja dia kena dikecoh lawan. Akan tetapi di samping itu, diam-diam hatinya terkejut sekali. Terlambat sedikit saja, tentu pengaruh sihir Cheng-gan Sian-jin akan berhasil menguasainya, padahal tadi dia telah melindungi diri dengan tenaga sakti setengah bagian! Ini membuktikan bahwa pentolan kaum sesat itu memang tidak boleh dibuat main-main!

Maka, begitu dia berhasil menolak pengaruh lawan setelah dia menambah tenaga saktinya dua bagian lagi sehingga cahaya kemerahan yang muncul di punggungnya menjadi semakin terang, pendekar ini sudah menggerakkan jari tangannya dan menjepit "ular" itu, menangkapnya dan meremasnya hancur.

"Kresss...."

Cheng-gan Sian-jin terbelalak melihat betapa "ular"nya hancur di tangan Malaikat Gurun Neraka. Kakek ini kaget dan marah, juga semakin penasaran. Tadi jelas bahwa dia hampir berhasil mempengaruhi lawan, tapi kenapa patah di tengah jalan? Dan dia semakin terkejut melihat betapa sinar merah yang melindungi tubuh pendekar itu tampak semakin terang, tanda bahwa lawannya itu menambah tenaga saktinya.

Kakek ini penasaran sekali. Masa dia tidak berhasil mempengaruhi lawannya ? Padahal Hek-mo-ko dan rekan-rekannya yang terkena retouran Sin-gan-i-hun-to tadi sudah dapat dikuasai dengan mudah. Apakah dia yang terlalu lemah menghadapi pendekar itu sehingga dua kali serangannya selalu kandas melulu? Cheng-gan Sian-jin menggereng dan saking marahnya, kakek ini lalu membanting kakinya.

"Dess!" kaki Cheng-gan Sian-jin melesak lima senti dan permukaan lantai hancur. Wajah datuk ini merah berapi-api dan sepasang matanya mendelik penuh kemarahan. Dia menudingkan telunjuknya dan membentak. "Malaikat Gurun Neraka, kau memang hebat, akan tetapi jangan kau tekebur! Dua kali sudah kau berhasil menangkis balik, namun jagalah seranganku yang ketiga kalinya ini. Lihatlah, lihat baik-baik...." kakek itu lalu berkemak-kemik, mulutnya bergerak-gerak aneh dan menggigil seperti orang kedinginan atau terserang penyakit malaria.

Sementara itu, Hek-mo-ko dan teman-temannya yang tadi ditendang bergulingan, sudah bangkit berdiri dengan muka pucat. Pertandingan aneh antara dua jago tua ini hampir saja melibatkan mereka ke dalam kesulitan. Diam-diam mereka gentar sekali dan Hek-mo-ko yang teringat betapa dahinya disambar gundu mata Cheng-gan Sian-jin, mengkirik seram. Dia tadi seakan-akan diserang gundu mata sungguhan sehingga begitu mengenai dahinya, tiba-tiba gundu mata itu "amblas" ke dalam batok kepalanya. Dan yang amat mengerikan sekali, begitu gundu mata itu lenyap memasuki kepalanya, tiba-tiba saja dia seperti kemasukan roh penasaran yang menyuruhnya berlutut dan merangkak ke arah Cheng-gan Sian-jin!

Tentu saja iblis hitam ini meremang bulu kuduknya. Mana ada kejadian yang demikian aneh dan menyeramkan? Dan hebatnya lagi, dia tadi tahu-tahu tidak dapat menguasai kesadaran diri sendiri dan roboh berlutut mengikuti perintah yang datang dari dalam kepalanya sendiri! Mana ada peristiwa yang lebih menyeramkan daripada ini? Hek-mo-ko terguncang batinnya dan sepasang matanya berputaran, dan ketika dia menoleh ke arah teman-temannya, diapun melihat betapa keadaan orang-orang itupun agaknya sama dengan dirinya, pucat dan dicekam rasa ngeri.

Cheng-gan Sian-jin yang berdiri sambil berkemak-kemik, tiba-tiba mengeluarkan teriakan parau. Suara kakek ini seperti suara hantu menjerit, melolong panjang dan sekonyong-konyong berhenti seperti setan tercekik. Semua mata memandang terbelalak dan Hek-mo ko melihat betapa kepala Cheng-gan Sian-jin tiba-tiba terbungkus uap hitam. Mula-mula tipis saja uap ini, akan tetapi semakin lama semakin tebal dan akhirnya lenyaplah kepala kakek iblis itu. Sama sekali tidak tampak wajahnya, terseiubung kabut hitam dan suasana di ruangan itu terasa lebih menyeramkan lagi.

Dan sementara orang-orang ini menanti dengan jantung berdebar untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan kakek itu, Cheng-gan Sian-jin tiba-tiba meledakkan kedua tangannya sambil berseru. "Malaikat Gurun Neraka, waspadalah terhadap seranganku yang ketiga kalinya ini. Lihatlah, naga raksasaku ini akan menyambar kepalamu. Hagggggghhhhhhhh.....!"

Raung yang mirip suara binatang buas ini benar-benar hebat bukan main, jauh lebih kuat daripada yang sudah-sudah karena Cheng-gan Sian-jin mengerahkan semua kekuatannya untuk mempengaruhi diri Malaikat Gurun Neraka. Hek-mo-ko sendiri yang bisa dibilang memiliki tingkat paling tinggi di antara teman-temannya, tidak kuat menahan dan terpelanting!

Dan sebelum orang-orang itu mampu bangkit kembali, gerengan Cheng-gan Sian-jin itu sudah disusul dengan pekik lain yang tidak kalah dahsyatnya dan tiba-tiba dari dalam kabut hitam yang membungkus kepala kakek ini muncul seekor naga raksasa. Hebat bukan main binatang ini, tubuhnya bersisik emas dan di kepalanya terdapat sebuah tanduk yang ujungnya bercabang tiga. Dan yang amat mengerikan adalah sepasang mata naga ini. Matanya mencorong buas dan merah berapi-api, bulat sebesar piring!

"Kooaakkkkk...!!" Bumi bergetar bagaikan dilanda gempa ketika naga raksasa bersisik emas ini membuka mulutnya, dan tanpa dapat dicegah lagi, kaca jendela di ruangan itu hancur berantakan! Dari sini saja dapat dibayangkan betapa dahsyatnya naga ciptaan Cheng-gan Sian-jin ini.

Malaikat Gurun Neraka sendiri tampak terkejut. Wajah pendekar sakti itu berobah dan jantungnya tergetar mendengar dua kali pekik dahsyat berturut-turut ini. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah karena sekarang dia tidak mampu melihat wajah kakek iblis yang terselubung dalam kabut hitamnya!

"Ihhh....!" pendekar sakti itu mengeluarkan seruan lirih. Kalau dia sudah tidak dapat melihat wajah lawan, tentu saja hal ini amat berbahaya baginya. Itu menandakan bahwa Cheng-gan Sian-jin telah mengerahkan seluruh kekuatannya dan kakek itu memang betul-betul hebat. Kekuatan batin Cheng-gan Sian-jin agaknya jauh lebih kuat dibandingkan dengan mendiang Ang-i Lo-mo. Dan sebelum dia sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba saja Cheng-gan Sian-jin telah mengeluarkan bentakan keras sambil menudingkan tangannya.

"Kwi-liong (Naga Setan), hayo serang lawanmu itu. Terkam kepalanya dan banting tubuhnya, haiittt...!"

Ajaib! Bagaikan mengerti pembicaraan orang, naga raksasa itu tiba-tiba berkoak panjang dan tubuhnya terbang menyambar ke arah Malaikat Gurun Neraka. Kecepatannya sungguh luar biasa, bagaikan sinar halilintar. Terdengar angin bertiup keras dan tahu-tahu binatang mengerikan ini telah berada di depan hidung pendekar sakti itu.

"Ahhh...!" Malaikat Gurun Neraka mengeluarkan seruan kaget karena tadi dia masih tertegun heran. Melihat betapa naga raksasa ini menyambar sambil membuka mulutnya lebar-lebar dan lidahnya yang kasar merah itu menjilat buas, hampir saja pendekar ini kehilangan akal. Tadi dia merasa terkejut menyaksikan kehebatan datuk sesat itu. Belum pernah selama hidupnya dia menjumpai seorang ahli ilmu hitam yang sesakti Cheng-gan Sian-jin ini sehingga mampu menyembunyikan wajahnya di balik uap hitam.

Maka, diserang secara tiba-tiba oleh binatang buas itu membuat pendekar ini kaget sekali. Dia melengking tinggi dan ketika naga itu menyambar datang, Malaikat Gurun Neraka secepat kilat merobohkan tubuh sejajar lantai dan dari bawah kedua kakinya bergerak ke atas melakukan tendangan kilat.

"Plak-duk-dukk!"

Tiga kali tendangan kiri kanan pendekar itu dengan tepat menghantam perut naga, dan akibatnya binatang itu memekik kesakitan dan tubuhnya terpental jauh. Namun, binatang ini sudah membalik lagi dan karena kesakitan, terjangannya semakin buas dan keempat kakinya yang pendek-pendek akan tetapi kuat dan kokoh itu menjulurkan kuku-kuku maut yang siap merobek tubuh lawan.

Namun, Malaikat Gurun Neraka yang sudah hilang kagetnya ini telah melenting berdiri seperti semula. Pendekar ini melihat betapa tangan kanan Cheng-gan Sian-jin berputar aneh dan naga itu mengikuti gerakan tangan majikannya, seolah-olah di-"stir" dari jauh oleh gembong iblis itu. Dan ketika jari Cheng-gan Sian-jin menuding ke arahnya, naga itupun mengikuti gerakan ini dan meluncur dengan kecepatan kilat menerkam kepalanya.

"Hemm....!" pendekar itu menggeram dan karena dia merasa diganggu oleh binatang ini, maka begitu naga itu menyambar dekat, Malaikat Gurun Neraka ini menggerakkan tangan kirinya, mendorong ke depan dan serangkum angin pukulan yang luar biasa kuatnya menahan binatang itu. Dan sebelum naga ini sempat melanjutkan serangannya, secepat kilat pendekar itu melangkah maju dan kedua jari tangan kanannya menusuk ke depan.

"Crot-crott! Kooaakkk....!"

Tusukan kilat ke arah mata naga itu dengan tepat mengenai sasarannya dan terdengarlah pekik kesakitan yang memekakkan telinga ini. Naga itu menggeliat kaget, keempat kakinya berusaha mencengkeram ke depan namun Malaikat Gurun Neraka yang tidak mau memberi hati sudah menyusuli dengan tamparan tangan kirinya yang berhawa panas.

"Prakk!" Kepala naga itu terhantam telapak pendekar ini dan binatang itu tidak sempat menjerit lagi. Kepalanya hancur lebur dan bersamaan dengan pukulan yang menewaskan naga ini, lenyaplah tubuhnya terganti dengan sebatang tongkat ular yang hancur menjadi debu!

Cheng-gan Sian-jin berteriak parau saking marahnya melihat betapa tiga kali berturut-turut semua serangan ilmu hitamnya gagal. Kakek ini murka sekali. Dia meledakkan kedua tangannya lima kali bertubi-tubi dan tiba-tiba uap hitam yang membungkus kepalanya melebar, kian lama kian besar dan kalau tadi hanya menyelubungi kepala Cheng-gan Sian jin, sekarang dalam waktu tidak lebih dari lima detik saja seluruh tubuh kakek itu dari ujung-ujung jari kakinya sampai ke ubun-ubun sudah tidak tampak lagi, terlindung kabut hitam yang gelap pekat!

"Malaikat Gurun Neraka, kau memang tidak dapat diajak bersahabat. Baiklah, aku akan membunuhmu dari dalam kabut ini. Awas, siapkan nyawamu ke hadapan Giam-lo-ong, harrggghh...!"

Raung seperti hantu dalam kubur ini membuat bulu roma berdiri. Apalagi ketika tiba-tiba kabut hitam itu berjalan dan akhirnya melayang di atas permukaan lantai, mengangkat tubuh Cheng-gan Sian-jin di dalamnya! Sungguh seperti roh penasaran yang muncul di kulit bumi!

Malaikat Gurun Neraka yang sudah banyak kali mengalami hal-hal mengerikan, tak terasa lagi terbelalak matanya. Pendekar ini terkejut setengah mati melihat peristiwa yang amat luar biasa itu. Dia memang pernah mendengar tentang kekuatan hitam seperti apa yang ditunjukkan oleh Cheng-gan Sian-jin ini, namun karena seumur hidupnya pendekar ini belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, maka begitu menjumpai hal seperti itu, dia merasa seram juga. Cheng-gan Sian-jin ini betul-betul seorang kakek iblis yang mengerikan. Ilmunya aneh-aneh dan rata-rata semuanya berbau ilmu setan.

Melihat betapa kabut hitam yang mengangkat tubuh Cheng-gan Sian-jin itu melayang di atas permukaan lantai mendekatinya, pendekar ini menahan napas sejenak dan ketika kabut ini telah berada di depannya dalam jarak dua meter, pendekar itu memukul ke depan dan mengeluarkan bentakan menggeledek.

"Cheng gan Sian-jin, keluarlah kalau kau tidak ingin kubakar hidup-hidup...!"

Dan sungguh mengejutkan. Begitu kedua tangan Malaikat Gurun Neraka menghantam ke depan, tampak asap mengepul dari telapak tangan pendekar itu dan ketika asap merah ini bertemu dengan kabut hitam Cheng-gan Sian-jin, terdengar ledakan nyaring dan kabut hitam itu terbakar! Kiranya pukulan api yang dilancarkan Malaikat Gurun Neraka ini telah bersenyawa dengan uap hitam itu, bagaikan bensin bertemu api!

Tentu saja Cheng-gan Sian-jin kaget sekali. Kakek ini berseru keras dan dua kali dia membanting kaki, lenyaplah ilmu hitamnya itu. Kabut hitam yang menyelubungi tubuhnya musnah dalam sekejap, begitu pula pukulan berapi lawannya. Tampaklah sekarang tubuhnya yang tinggi besar itu berdiri dengan mata mendelik dan berapi-api. Kemarahan dan penasaran kakek ini benar-benar telah diuji kelewat batas baginya. Sadar bahwa semua ilmu-ilmu sihirnya tidak akan mampu digunakannya terhadap lawan yang benar-benar luar biasa ini, kakek ini lalu menggereng dan secepat kilat tubuhnya mencelat ke depan.

"Malaikat Gurun Neraka, terimalah pukulanku!" Cheng-gan Sian-jin berteriak parau dan kedua tangannya menampar bertubi, cepat bukan main dan dalam satu gebrakan ini saja dia telah mengarah empat bagian mematikan di tubuh lawan, yakni di kepala, leher, ulu hati dan pusar. Dan empat serangan yang saling susul-menyusul inipun masih disambungnya lagi dengan dua kali tendangan berantai, satu menghantam lutut dan yang kedua ke arah anggauta rahasia lawan. Sungguh serentetan serangan maut!

Akan tetapi, Malaikat Gurun Neraka bukanlah orang biasa. Melihat keganasan kakek itu, pendekar ini tidak menjadi gugup. Hanya dia berhati-hati sekali, terutama ketika dia melihat betapa kedua tangan Cheng-gan Sian-jin berwarna merah seperti darah dan angin pukulannya membawa bau amis. Maka ketika kedua tangan lawannya melancarkan empat serangan bertubi itu, pendekar ini mengerahkan tenaga sinkangnya, menangkis sekaligus mencoba untuk melihat sampai dimana kekuatan sinkang kakek itu.

"Plak-plak-plak-plakk!" empat serangan susul-menyusul yang dilakukan Cheng-gan Sian jin bertemu dengan tangkisan pendekar itu. Keduanya terkejut ketika merasa betapa lengan mereka tergetar, tanda masing-masing pihak memiliki sinkang yang tidak boleh dipandang enteng. Dan pada waktu itu, susulan tendangan yang dilancarkan Cheng-gan Sian-jin tiba, Malaikat Gurun Neraka mengeluarkan seruan nyaring, menggerakkan kedua kakinya dan menyambut dua buah tendangan kilat itu dengan lututnya.

"Des-desss!" Dua pasang kaki saling bertemu dan Cheng-gan Sian-jin mendesis, tubuhnya terpental dua tindak sedangkan Malaikat Gurun Neraka terdorong ke belakang satu langkah. Kenyataan ini membuktikan bahwa tenaga sinkang pendekar itu masih unggul satu tingkat di atas Cheng-gan Sian-jin!

Dan ini membuat kakek itu terkejut. Sama sekali Cheng-gan Sian-jin tidak mengira bahwa dia akan bertemu dengan seorang lawan yang sanggup menandingi sinkangnya, malah di atas tenaganya sendiri! Oleh sebab itu, kakek ini mulai merasa gelisah dan dia benar-benar penasaran sekali. Masa dia akan kalah segala-galanya oleh lawan? Tadi pertama-tama ilmu hitamnya dilumpuhkan, dan sekarang dalam adu tenaga inipun agaknya dia kembali harus mengakui kelebihan Malaikat Gurun Neraka. Tidak biasa baginya untuk menerima hal yang semacam ini dan kakek itu lalu melengking, tubuhnya berkelebat lenyap dan tahu-tahu dia telah mencelat ke atas lalu menukik turun sambil menghantam ke bawah.

Hebat bukan main kecepatan gerak kakek ini. Cheng gan Sian-jin yang merasa agak "minder" melihat kesaktian pendekar itu, kali ini mencoba untuk merebut kemenangan mengandalkan ginkangnya. Dan memang ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan Cheng-gan Sian-jin betul-betul mengagumkan. Dalam sekali gerak saja tubuhnya lenyap bagaikan asap karena inilah ilmu ginkang andalannya yang disebut Cui-beng Ginkang, Ginkang Pengejar Roh!

Dengan ilmu meringankan tubuhnya itu kakek tinggi besar ini sanggup membuat bobot tubuhnya seringan roh atau sukma, sebuah kepandaian yang didapatnya dari Pegunungan Himalaya belasan tahun yang lampau. Dan dengan ilmunya inilah maka tadi dia dapat muncul di ambang pintu dengan tiba-tiba karena langkah kakinya tidak tertangkap oleh telinga Malaikat Gurun Neraka. Apalagi karena tadi perhatian pendekar ini tercurah kepada murid tunggalnya yang tidur sepembaringan dengan murid perempuannya.

Takla Sin-jin sendiri terkejut menyaksikan ginkang Cheng-gan Sian-jin yang sanggup membuat tubuhnya berkelebat lenyap dari pandangan mata lawan. Diam-diam pendekar ini merasa kagum juga. Mau tak mau dia harus mengakui kehebatan datuk itu dan kalau bukan dia, agaknya orang lain memang bukan tandingan kakek iblis itu. Dan dia merasa prihatin melihat betapa dunia dihuni oleh manusia seperti Cheng-gan Sian-jin ini. Pantas saja ketua-ketua partai besar dirobohkan oleh kakek itu. Kiranya kakek itu memang bukan orang sembarangan!

Timbullah niat di dalam hati pendekar sakti ini untuk melenyapkan Cheng-gan Sian jin dari muka bumi. Dia melihat bahwa kalau kakek itu masih berkeliaran di dunia, ancaman malapetaka akan membubung di atas kepala orang-orang tak berdosa. Oleh sebab itu, setelah membulatkan tekadnya, pendekar ini lalu memekik dan mulailah dia mainkan ilmu-ilmu silatnya yang hebat bukan main. Hantaman lawan dari udara itu disambut dorongan kedua tangannya dan meluncurlah sinar merah menyambut telapak Cheng-gan Sian-jin yang menukik bagaikan burung terbang itu.

"Plak-dukk....aihhh!" Cheng-gan Sian-jin menjerit kaget begitu telapak tangannya bertemu dengan kedua tangan Malaikat Gurun Neraka. Kakek ini kaget karena ketika sepasang tangannya disambut tangan lawan, tiba-tiba saja dari sepasang tangan pendekar itu timbul getaran mujijat seperti listrik. Getaran ini menyengat dan sekaligus menghisap tenaga saktinya, seperti orang kena stroom!

Tentu saja Cheng-gan Sian jin terkejut setengah mati. Dia tidak tahu bahwa pada waktu itu, Malaikat Gurun Neraka telah mengisi kedua batang lengannya dengan tenaga saktinya yang amat mujijat, yaitu tenaga Lui-kong-yang Sin-kang atau Tenaga Sakti Inti Petir! Inilah sebabnya begitu telapak Cheng-gan Sian-jin bertemu dengan kedua lengan Malaikat Gurun Neraka, tenaga Lui-kong-yang Sin-kang bekerja, menyengat dan sekaligus menghisap pukulan lawan, tiada ubahnya seperti orang yang disambar petir!

Akan tetapi, kalau kakek iblis itu bukan seorang yang memiliki ilmu aneh-aneh dan bermacam-macam, agaknya gebrakan pertama yang dilakukan oleh pendekar itu dapat menyedot tenaga lawan dan menghisapnya sampai kehabisan tenaga. Sayang, Cheng gan Sian-jin betul-betul orang yang memiliki banyak akal dan kepandaiannya sudah terlalu tinggi untuk dirobohkan dalam segebrakan saja.

Begitu tenaga saktinya disedot "stroom" yang mengalir dari tangan lawan, kakek ini cepat membuka mulutnya dan mengeluarkan seruan "hahhh...!" yang keras sekali.

Malaikat Gurun Neraka yang berhadapan dalam jarak yang sedekat itu, kaget ketika melihat betapa dari mulut kakek iblis ini berhamburan jarum-jarum halus yang menyambar seluruh wajahnya! "Uhhh....!" pendekar ini berteriak perlahan dan karena kejadian ini datangnya di luar dugaan maka satu-satunya jalan adalah melompat mundur dan ini berarti dia harus melepaskan lawan yang sudah dicengkeramnya. Namun, demi keselamatan diri sendiri maka pendekar itu terpaksa melakukan satu-satunya jalan ini. Dia melompat mundur dan jarum-jarum halus itu lewat di sisinya, sementara Cheng-gan Sian-jin menarik kedua tangannya dan melompat ke belakang sambil menyumpah-nyumpah.

Demikianlah, kedua jago tua itu lalu bertanding lagi, masing-masing amat berhati-hati sekali. Cheng-gan Sian-jin sudah tidak mau sembrono lagi beradu langsung dan menyentuh tubuh lawan, sedangkan Malaikat Gurun Neraka harus berhati-hati karena gembong iblis itu dapat saja melakukan serangan tak diduga-duga yang amat licik dan curang, seperti tadi tiba-tiba saja menghamburkan serangan jarum dari mulutnya. Kalau bukan golongan sesat, mana ada orang mau melancarkan serangan curang seperti yang dilakukan kakek iblis ini?

Cheng-gan Sian-jin yang mendapat pengalaman mengejutkan dalam adu tenaga itu, kini telah mengeluarkan senjatanya yang terakhir, yaitu untaian tasbeh hitam yang tadi melingkar di lehernya. Dia memiliki tiga macam jenis senjata, yaitu yang pertama adalah pengikat rambutnya, kedua merupakan tongkat ular dan yang ketiga bukan lain adalah untaian tasbeh hitam yang selalu melilit batang lehernya yang kokoh itu. Dua senjatanya yang pertama telah dihancurkan oleh pendekar itu, dan kini tinggallah senjatanya yang terakhir, yakni tasbehnya ini.

Dengan tasbeh di tangan kanan dan pukulan Tok-hiat-jiu di tangan kiri, ditambah dengan pengerahan tenaga Cui-beng Ginkang yang membuat tubuhnya dapat lenyap dan berpindah-pindah dalam kecepatan kilat, kakek ini memang benar-benar hebat sekali. Senjata di tangan kanannya itu mengeluarkan angin bersiutan, menyambar-nyambar di delapan penjuru dan kadang-kadang dalam sat yang tidak terduga tasbehnya datang tanpa suara, lenyap angin serangannya. Dan inilah yang berbahaya sekali karena Malaikat Gurun Neraka harus mengerahkan pendengaran dan ketajaman matanya untuk melihat kemana tasbeh itu menyambar.

Terjadilah pertandingan yang luar biasa serunya. Cheng-gan Sian-jin tidak mengira bahwa selain dia, Malaikat Gurun Neraka juga diam-diam merasa kaget dalam pertemuan adu tenaga yang pertama kalinya tadi. Hanya pendekar ini dapat menyimpan rasa terkejutnya sedangkan kakek itu sendiri tidak. Yang dikejutkan oleh pendekar ini bukan lain adalah pukulan Tok-hiat-jiu. Dalam pertemuan telapak tangan tadi, pendekar ini merasakan betapa kedua telapak tangannya gatal-gatal dan panas, menimbulkan nyeri tanda pukulan lawannya mengandung racun.

Dan hanya berkat pengerahan tenaga sinkang Lui-kong-yang itu sajalah maka dia berhasil membakar racun darah yang dimiliki Cheng-gan Sian-jin dan melenyapkannya pada saat itu juga. Kalau tidak, tentu tubuh pendekar ini sudah keracunan. Dan inilah yang membuat pendekar itu merasa kaget di dalam hati.

Maka, untuk mengimbangi Cheng-gan Sian-jin, Malaikat Gurun Neraka lalu mengeluarkan ilmu-ilmu silatnya yang beraneka ragam. Mula-mula sebagai balasan, dia melancarkan pukulan-pukulan Cap-jiu-kun (Silat Sepuluh Kepalan) dimana semua serangan-serangannya ini mengandung tenaga Lui-kong-yang Sin-kang. Akan tetapi, melihat betapa gelombang serangan kakek itu semakin lama semakin dahsyat, maka untuk menahan arus serangan ini dia mainkan Khong-ji-ciang. Dua ilmu silat ini digabung dan gelombang pukulan Cheng-gan Sian-jin serta tasbeh hitamnya dapat diatasi.

Akan tetapi, ketika kakek iblis itu merobah ilmu silatnya dan kini mulai bergulingan di lantai dan melancarkan serangan bertubi-tubi ke bagian bawah tubuh lawan, pendekar ini kewalahan juga. Gerakan kakek itu luar biasa cepatnya dan sekarang Cheng-gan Sian-jin juga menggabungkan dua macam serangannya. Sedetik bergulingan di lantai sambil menyerang dengan tasbeh dan tangan kiri, sedetik kemudian kakek inipun telah mencelat bangun dan terbang berputaran dengan ilmu ginkangnya yang luar biasa itu. Berat tubuhnya seakan-akan tidak berbobot lagi, melayang ringan di atas permukaan lantai bagaikan seekor burung.

Hal ini membuat Malaikat Gurun Neraka repot juga. Cheng-gan Sian-jin terlalu cerdik untuk diajak beradu tenaga secara langsung seperti tadi. Setiap kali kedua tangan mereka hendak bertemu, selalu kakek itu mengelak cepat dan dari samping lalu menyerang secara tiba-tiba. Tentu saja pertandingan yang seperti ini akan memakan waktu lama. Malaikat Gurun Neraka menjadi tidak sabar, maka ketika Cheng-gan Sian-jin kembali melancarkan serangan sambil bergulingan, pendekar itu mengeluarkan bentakan menggeledek dan kedua kakinya tiba-tiba dibanting keras di atas lantai.

"Duk-dukk!" sepasang kaki pendekar ini melesak empat dim dan lantai itu hancur! Tasbeh di tangan kanan Cheng-gan Sian-jin yang pada saat itu sedang menyerang dari bawah, dengan tepat mengenai kaki kiri Malaikat Gurun Neraka dan karena pendekar itu tidak mengelak, maka tasbeh hitam ini membelit kakinya. Sementara itu, pukulan tangan kiri Tok-hiat-jiu menyusul sedetik kemudian dan dengan tepat menghantam kaki kanan Malaikat Gurun Neraka.

"Rrrtttt-desss!"

Kedua kaki pendekar itu tidak bergeming. Baik tasbeh yang membelit kaki kirinya maupun pukulan Tok-hiat-jiu yang menghantam kaki kanannya, sama sekali tidak mengguncangkan sepasang kaki pendekar sakti itu yang menancap kokoh bagaikan tertanam di dasar bumi. Itulah kuda-kuda Siang-kak-jip-te (Sepasang Kaki Berakar di Bumi) yang dilakukan Malaikat Gurun Neraka. Dengan pasangan kuda-kuda seperti ini, biar ada gunung ambruk sekalipun tidak akan sanggup merobohkan tubuh pendekar itu!

Dan sementara gerakan Cheng-gan Sian-jin tertahan, Malaikat Gurun Neraka tiba-tiba meledakkan kedua tangannya dan terdengarlah tepukan bagaikan suara halilintar. Dari telapak tangan pendekar ini muncrat bunga api yang berkobar ketika meluncur ke arah tubuh Cheng-gan Sian-jin yang masih berkutetan di bawah!

"Darr! Ciuuutttt.... bushhh!"

Serangan api petir ini menghantam lantai karena Cheng-gan Sian jin sudah berteriak kaget dan mencelat bangun. Untung gerakan kakek iblis itu cepat sekali dan berkat Cui-beng Ginkangnya maka dia berhasil menyelamatkan diri dari serangan mujijat pendekar itu. Namun Malaikat Gurun Neraka yang kini telah mengeluarkan ilmu saktinya yang bernama Lui-kong Ciang-hoat (Ilmu Silat Halilintar) itu dan sudah tidak mau memberi hati, mencabut kakinya dan berkelebat menyerang Cheng-gan Sian-jin.

"Dar...darrr!"

Dua kali serangan ini kembali luput. Cheng-gan Sian-jin sudah berteriak gentar dan wajah kakek yang biasanva tidak mengenal takut itu kini tampak pucat. Teringatlah dia ketika dulu Hek-mo-ko menghadapi murid pendekar sakti itu. Juga Hek-mo-ko diserang gencar oleh ilmu pukulan sakti ini, namun yang keluar dari tangan bekas jenderal muda itu hanyalah sinar-sinar kebiruan yang berhawa panas. Sama sekali bukan api sakti seperti yang sekarang dikeluarkan oleh Malaikat Gurun Neraka ini! Benar-benar guru lebih hebat daripada murid!

“Hek-mo-ko, bantu aku, serang dia! He, Lie Lan, mengapa melenggong saja disitu? Anak bodoh, hayo maju! Dan kalian semua, hei kerbau-kerbau dungu, cepat bunuh musuh ini. Serangg...!!"

Cheng-gan Sian jin berteriak-teriak, bingung dan marah kepada anak buahnya yang menonton dari jauh. Pukulan-pukulan Lui-kong Ciang-hoat yang dilancarkan pendekar sakti itu benar-benar membuatnya gelisah, selalu mengejarnya kemanapun dia lari. Dan hanya berkat Ginkang Pengejar Roh sajalah dia masih dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi, ketika tiba-tiba pendekar itu melengking nyaring dan tubuhnya berkelebat ke depan dan terbang berputaran mengejarnya, kakek iblis ini benar-benar hampir berhenti denyut jantungnya.

Dia melihat betapa ilmu ginkang yang amat diandalkannya itu kini mendapatkan lawan yang setimpal. Tubuh Malaikat Gurun Neraka melayang seperti kapas ringannya dan kemanapun dia pergi, musuhnya itu selalu membuntutinya bagaikan bayangannya sendiri. Akibatnya, dua orang ini segera lenyap tubuhnya karena masing-masing mengerahkan seluruh ilmu ginkangnya. Cheng-gan Sian-jin mati-matian mengerahkan Cui-beng Ginkang untuk melarikan diri, sedangkan Malaikat Gurun Neraka mengerahkan Jouw-sang-hui-teng (Terbang Di Atas Rumput) sambil menyerang bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan saktinya yang meluncurkan api petir!

Sebentar saja, pukulan Lui-kong Ciang-hoat yang luput mengenai Cheng-gan Sian-jin menghantam apa saja. Dan di mana pukulan ini meledak, muncratlah api yang segera berkobar besar dan tidak lama kemudian kamar besar itupun terbakar!

Kacaulah keadaan di situ. Hek-mo-ko dan teman-temannya yang diteriaki pimpinannya agar membantu dan mengeroyok Malaikat Gurun Neraka menjadi ragu-ragu dan tidak segera menolong. Akan tetapi, ketika Cheng-gan Sian-jin mulai mengancam untuk kelak membunuh mereka dengan sekejam-kejamnya, orang-orang inipun merasa serba salah. Maju takut, mundur gentar! Mana yang harus dipilih? Benar-benar situasi yang amat runyam!

Akhirnya, Hek-mo-ko yang lebih takut terhadap koksu, melompat maju dan tindakannya ini segera diikuti oleh yang lain. Mereka berada di sarang sendiri, dan musuh mereka hanya seorang, masa mereka harus terlalu takut? Maka dengan nekat orang-orang inipun lalu berlarian mengejar. Akan tetapi ternyata maksud mereka inipun juga tidak gampang dilaksanakan. Dua orang sakti itu bergerak-gerak cepat, tubuh mereka sudah tidak tampak lagi karena merupakan dua gulung bayangan yang tidak jelas.

Apalagi mereka itupun juga sudah tidak selalu berada di tempat yang sama. Sebentar di atas tanah, sekejap kemudian sudah melayang di atas rumah. Kejar-kejaran yang seru terjadi dan dua orang itu berkelebat-kelebat cepat seperti setan. Dan hanya tubuh Malaikat Gurun Neraka yang kini diselimuti cahaya kemerahan yang terang benderang itulah yang memberi tahu kepada Hek-mo-ko dan teman-temannya bahwa bayangan itu adalah bayangan pendekar sakti yang mengejar Cheng-gan Sian-jin.

"Ah, kita tangkap muridnya dan jadikan sandera!" tiba tiba Kim-bian berseru. Yang lain seperti diingatkan dan beramai-ramai mereka menyatakan setuju.

"Benar, dan kita kumpulkan pasukan besar untuk mengurung tempat ini !" Lie Lan menyambung dan gadis ini lalu memerintahkan beberapa orang perwira yang ada di situ untuk mengumpulkan seluruh pasukan yang ada di kota raja.

Gegerlah keadaan di situ. Para perwira sudah cepat membunyikan terompet tanduk untuk membangunkan pasukan yang tidur, sedangkan Hek-mo-ko dan kawan-kawannya berlarian masuk untuk menawan Bu Kong yang tadi masih pingsan di dalam kamar. Kebakaran yang terjadi semakin luas dan orang-orang ini semakin panik. Akibat pukulan Lui-kong Ciang-hoat benar-benar hebat sekali. Wuwungan-wuwungan rumah yang tadi dipakai kejar-kejaran oleh dua orang sakti itu, juga tidak luput dari pukulan Malaikat Gurun Neraka yang luput mengenai tubuh Cheng-gan Sian-jin dan apipun membakar rumah-rumah ini!

Kota raja benar-benar gempar. Tadinya Cheng-gan Sian-jin memang tidak mempersiapkan pasukan karena pikirnya untuk menghadapi seorang musuh saja buat apa pasukan segala harus diikut sertakan? Dengan anak-anak buahnya sendiripun kiranya sudah cukup. Kepercayaan diri yang terlalu berlebih-lebihan ini ternyata merugikan kakek iblis itu karena sekarang nyatanya dia diancam pukulan maut yang dilancarkan lawannya yang telah mengambil keputusan bulat untuk mengenyahkan dirinya dari muka bumi.

Sementara itu, Lie Lan dan teman-temannya yang berlarian untuk mengambil murid pendekar sakti yang masih pingsan itu, kembali mengalami kejutan. Baru saja mereka ini tiba di pintu, bayangan-bayangan berkelebatan dari dalam kamar dan tampak oleh murid perempuan Cheng-gan Sian-jin ini betapa tubuh Yap goanswe dipondong dan dilarikan oleh seorang gadis cantik berbaju hijau!

"Heii, berhenti kalian...!" Lie Lan membentak dan gadis ini melompat, memukul dengan serangan jarak jauh.

"Plakk!" gadis baju hijau itu menangkis dan tubuhnya terhuyung hampir jatuh. Gadis ini mengeluarkan seruan kaget dan pada saat itu Lie Lan yang merasa marah kembali melancarkan pukulannya.

"Gadis siluman, perlahan dulu...!" tiba-tiba dari samping menyambar bayangan putih dan seorang pemuda tampan menangkis pukulan murid Cheng-gan Sian-jin ini.

"Dukk!" Lie Lan tertahan pukulannya dan tergetar tangannya, akan tetapi pemuda itu terpental ke belakang.

"Aihh, lihai sekali!" pemuda itu berseru kaget. "Hong-moi (adik Hong), cepat pergi, biar aku menahan gadis siluman ini!" pemuda itu berteriak kepada gadis baju hijau, lalu mengeluarkan kipas hitam dan jarum perak yang panjangnya lima inci kemudian menerjang Lie Lan yang hendak menyusul gadis baju hijau yang melarikan tubuh Yap Bu Kong.

Siapakah pemuda tampan berbaju putih itu? Agaknya para pembaca tentu sudah mengenalnya. Melihat kipas hitam dan jarum peraknya, siapa lagi kalau bukan Gin-ciam Siucai? Benar, pemuda itu memang Hok Sun adanya sedangkan gadis cantik berbaju hijau yang melarikan Bu Kong bukan lain adalah Pek Hong, itu murid tunggal Ta Bhok Hwesio yang berkepandaian tinggi.

Dua orang muda ini tidak sendirian saja. Mereka itu dibantu oleh banyak orang teman dan diantaranya tampak seorang hwesio gemuk pendek yang selalu tersenyum-senyum serta seorang Kakek berpakaian nelayan. Dan hwesio gemuk yang bermulut ramah itu bukan lain adalah Ta Bhok Hwesio sendiri, hwesio sakti yang berasal dari Tibet, sedangkan kakek berpakaian nelayan itu bukan lain Phoa-lojin (kakek Phoa) dari Pulau Cemara di Laut Timur. Kakek inilah yang dulu oleh Yap Bu Kong hendak ditemui karena Phoa-lojin itu adalah seorang ahli gwamia (tukang ramal) yang ulung!

Hek-mo-ko dan teman-temannya terkejut sekali melihat kehadiran orang-orang tak diundang ini. Dia memandang terbelalak ke arah Ta Bhok Hwesio yang melangkah menghampirinya sambil tersenyum-senyum itu.

"Ha, Setan Hitam, apa kabar? Wahh, setelah dekat dengan koksu tubuhmu semakin gemuk saja. Ha-ha, agaknya kau disuguhi daging-daging empuk, ya? Ehh, kenapa melotot? Oh-ya, aku lupa, bukankah sepasang matamu itu memang tidak dapat dipejamkan? Kabarnya kalau kau tidur sekalipun matamu masih mendelik, he-he..."

Ta Bhok Hwesio tertawa geli. Kakek ini memang berwatak periang dan suka bergembira. Dalam perjalanannya mencari murid perempuannya yang bengal itu, dia mendengar berita di perjalanan bahwa Yap-goanswe tertawan di kota raja Kerajaan Wu. Dia tahu bahwa muridnya itu mencinta Yap-goanswe, dan tentu juga sudah mendengar kabar ini. Maka, ke mana lagi dia harus mencari Pek Hong kalau bukan ke kota raja?

Itulah sebabnya kakek ini lalu melangkahkan kakinya kesana, dan di tengah perjalanan hwesio ini melihat kejadian-kejadian yang menarik hatinya. Dia melihat orang-orang kang-ouw sedang berkumpul di sebuah hutan dekat kota raja, mereka itu melakukan perundingan rahasia dan ketika dia mencuri dengar, hwesio ini mendapatkan keterangan bahwa orang-orang itu hendak memasuki Sucouw secara diam-diam dan menyamar dengan bermacam-macam pakaian untuk membantu Malaikat Gurun Neraka yang hendak membebaskan muridnya dari tangan Cheng-gan Sian jin.

Tentu saja mendengar nama Cheng-gan Sian-jin Ta Bhok Hwesio kaget sekali. Sepasang mata-nya terbelalak dan kalau dia tidak dapat menekan hatinya, agaknya dia telah mengeluarkan seruan keras mengejutkan orang-orang itu. Memang betul bahwa dia telah mendengar berita tentang tertawannya Yap-goanswe di kota raja musuh, akan tetapi tadinya dia menyangka bahwa yang menawan bekas jenderal muda itu adalah panglima-panglima Kerajaan Wu. Sama sekali dia tidak mengira bahwa pemuda itu ditangkap Cheng-gan Sian-jin yang kini menjadi koksu Kerajaan Wu!

"Ahh, bagaimana siluman raksasa itu dapat hidup kembali setelah tigapuluhan tahun lenyap? Celaka, aku harus segera ke sana, kalau tidak, tentu nasib pemuda itu berbahaya sekali!" kakek ini berkata di dalam hatinya dan dia lalu mendahului orang-orang itu, memasuki kota raja dengan cepat namun secara hati-hati sekali.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, hwesio Tibet ini tidak mengalami banyak kesukaran dan diapun lalu melakukan penyelidikan. Dan hwesio ini menjadi terheran-heran dan semakin kaget ketika dia mendengar perbuatan-perbuatan Yap-goanswe yang dikabarkan orang melakukan perjinaan dengan selir Yun Chang dari Kerajaan Yueh, betapa Yueh hancur di tangan musuh dan betapa Raja Muda Yun Chang sendiri tewas dalam peperangan itu.

"Wahh, luar biasa sekali!" Ta Bhok Hwesio berseru. "Bagaimana mungkin pemuda yang gagah perkasa seperti itu mampu melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk semacam ini? Hampir tidak masuk akal...hampir tidak masuk akal, ini tentu fitnah! Dan kalau gurunya tergesa-gesa turun tangan menghukum muridnya, hal ini benar-benar berbahaya sekali...ahh, pinceng harus mencari tahu pokok pangkalnya yang benar..."

Hwesio sakti itu dengan muka tegang lalu cepat mencari keterangan dimana kiranya Yap Bu Kong ditawan. Dia telah mengenal baik watak jenderal muda yang gagah perkasa itu dan dia tidak mudah begitu saja untuk mempercayai berita-berita yang mengejutkan tentang diri pemuda itu. Dia tertarik dan suka kepada murid Malaikat Gurun Neraka ini, kagum akan kegagahan dan ilmu kepandaiannya yang tinggi. Bahkan diam-diam kakek ini telah berbicara dengan guru pemuda itu untuk menjodohkan Bu Kong dengan murid perempuannya sendiri.

Akan tetapi malang, sebelum dia menyinggung-nyinggung hal ini dengan yang bersangkutan, agaknya pemuda itu sudah saling jatuh cinta dengan gadis lain yang cantik jelita, murid Mo-i Thai-houw yang telah tewas ketika dulu bertempur seru dengannya. Memang nenek itu bukan tewas di tangannya, melainkan tewas setelah secara nekat dan mati-matian menyerang guru Yap-goanswe. Sebelumnya Mo-i Thai-houw telah menderita luka dalam ketika bertempur dengannya, maka ketika nekat menyerang Malaikat Gurun Neraka, luka nenek itu menjadi semakin parah dan akhirnya ajal menjemput Mo-i Thai-houw yang dulu merupakan bekas kekasih pendekar sakti itu.

Kisah menyedihkan terjadi. Hubungan asmara antara Yap Bu Kong dengan murid Mo-i Thai-ouw diketahui juga oleh muridnya. Pek Hong terpukul batinnya dan semenjak saat itu, gadis yang biasanya berwatak lincah jenaka ini sekarang berobah seratus delapanpuluh derajat. Tidak nampak lagi keriangan itu, tidak nampak lagi kegembiraan wataknya. Wajahnya selalu murung dan kini, akibat patah hati, gadis itu menjadi lebih kurus da n sinar matanya tidak menunjukkan gairah hidup, da n hanya sesekali, apabila gadis itu teringat kepada Siu Li yang menjadi kekasih pemuda itu, sepasang mata gadis ini menyinarkan api kebencian!

Ta Bhok Hwesio adalah seorang sakti yang berkepandaian tinggi. Dia berhasil menggembleng murid perempuan yang amat disayangnya itu menjadi seorang dara pendekar yang lihai, akan tetapi dia tidak berhasil menyembuhkan patah hati muridnya itu dengan ilmu kepandaiannya. Hwesio ini kebingungan dan untung baginya, Pek Hong yang hilang semangat hidupnya itu tidak sampai kehilangan semangatnya untuk menggembleng diri dalam ilmu silat.

Gadis itu dengan tekun sehingga kadang-kadang lupa makan lupa tidur, memperdalam ilmunya di bawah bimbingan kakek ini. Ta Bhok Hwesio merasa heran melihat betapa Pek Hong kian hari kian bersemangat berlatih ilmu silat dan sinar berapi-api di dalam sepasang mata muridnya nampak semakin hebat.

Kakek ini tidak tahu betapa di dalam hati muridnya itu terdapat kekecewaan dan rasa penasaran yang hebat. Apakah Siu Li lebih cantik daripada dirinya sehingga Yap goanswe lebih tertarik kepada gadis itu? Ataukah karena kepandaian Siu Li lebih tinggi daripada kepandaiannya sehingga jenderal muda yang tampan dan gagah perkasa itu lebih terpikat kepada murid mendiang Mo-i Thai-houw? Dan kekasih pemuda itu bahkan adalah seorang puteri musuh besar dari Kerajaan Yueh!

Bagaimana Yap-goanswe dapat jatuh hati terhadap gadis seperti itu? Padahal jelas bahwa disamping sebagai murid nenek iblis yang berjuluk Mo-I Thai-houw, Siu Li adalah puteri panglima tertua dari Wu-sam-tai-ciangkun! Pek Hong benar-benar penasaran sekali. Tentu murid nenek jahat itu mempergunakan ilmu siluman. Dan untuk menghadapi ilmu silumannya inilah maka sekarang gadis itu berlatih silat dengan giat dan mati-matian tak kenal lelah! Pek Hong telah bertekad untuk kelak mencari gadis itu dan hendak dihajarnya Siu Li yang telah mempergunakan “ilmu silumannya” menjatuhkan hati Yap-goanswe!

Dan gadis ini menjadi semakin yakin akan watak kotor Siu Li ketika gadis itu kini meninggalkan Yap-goanswe setelah membuat jenderal muda itu hampir gila. Kalau memang cinta sungguhan, mana mungkin meninggalkan kekasih merana dan hancur lebur perasaannya? Hanya gadis-gadis siluman sajalah yang mampu melakukan kekejian itu, mempermainkan orang sepuas hati lalu meninggalkannya begitu saja!

Inilah yang mendorong Pek Hong berlatih ilmu silat dengan semangat yang luar biasa sehingga mengherankan gurunya yang tidak mengerti akan sebab-sebabnya. Dan tentu saja hwesio ini menjadi gembira. Setidak-tidaknya muridnya itu tidak menenggelamkan diri dalam kedukaan, dan ini sudah dirasakannya sebagai suatu keuntungan.

Demikianlah, setelah dua tahun memperdalam ilmunya, gadis itu lalu meninggalkan suhunya dan merantau seorang diri. Dia berjanji bahwa tiga bulan lagi akan kembali, akan tetapi setelah Ta Bhok Hwesio menunggu sampai tiga bulan dan ternyata muridnya itu belum kembali, kakek ini menjadi gelisah. Hwesio itu menunggu dan bersabar sampai bulan yang ke empat dan akhirnya, karena Pek Hong belum juga muncul, guru yang amat sayang kepada murid perempuannya itu lalu mencari dengan hati gelisah dan mulut mengomel panjang pendek.

"Uhh, dasar bengal, orang tua disuruh tunggu rumah sedang dia sendiri kelayapan sesuka hati. Awas kau, sekali bertemu tentu kujewer telingamu!” Hwesio ini bersungut-sungut dan kakek itu lalu turun gunung, sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan mendengar hal-hal mengejutkan, terutama tentang munculnya Cheng-gan Sian-jin yang orang kira telah tewas pada tiga puluh tahun yang lampau. Juga tentang tertawannya Yap-goanswe dan hancurnya Kerajaan Yueh serta angkatan perangnya.

Semuanya ini membuat kakek itu terkejut dan dengan muka khawatir diapun lalu menuju ke kota raja. Dia merasa yakin bahwa di kota rajalah dia akan bertemu dengan muridnya itu. Dan apa yang diduga oleh kakek ini ternyata cocok. Mula-mula sekali, ketika dia menangkap seorang perajurit penjaga dan menotoknya lumpuh lalu membawanya ke semak-semak belukar yang gelap, dia mendapatkan keterangan yang jelas sekali tentang di mana beradanya Yap-goanswe yang ditawan koksu. Hwesio ini lalu menggerakkan tangannya sekali lagi dan perajurit itupun pingsan ketika tersentuh jari-jari tangan kakek ini yang mengenai tengkuknya.

"Hemm, di gedung besar bercat kuning. Begitukah kiranya?" demikian hwesio ini mendapatkan keterangan dari mulut penjaga tadi. "Kalau begitu, aku harus segera ke sana."

Ta Bhok Hwesio lalu berkelebat dengan gerakan ringan dan dia mencari-cari dengan matanya di manakah beradanya gedung bercat kuning itu. Karena kompleks istana yang dimasukinya ini rata-rata memiliki gedung-gedung yang besar dan tinggi, maka kakek itu lalu melayang di atas wuwungan sebuah gedung dan dari sinilah dia melayangkan matanya mencari. Dan tiba-tiba kakek ini terkejut. Baru saja dia menginjakkan kaki di wuwungan paling atas, kakek ini melihat betapa seorang kakek lain berpakaian nelayan sedang duduk bersila di atas rumah menghadapi sebidang papan catur sambil tertawa ha-ha-he-he!

“Wah, raja hitam sedang tidur dan ratunya bersembunyi di gedung kuning! Ha-ha, kedudukan mereka memang kuat, akan tetapi didatangi kuda-kuda putih dan keledai gundul dari barat, mana mereka bisa tahan? Apalagi raja putih marah-marah dan menyatroni bidang hitam. He-he, bakal ramai sekali!" Kakek aneh itu berteriak-teriak seperti anak kecil dan tangannya bergerak-gerak cepat di atas papan catur, memindahkan biji-biji catur ke sana-sini dengan wajah gembira.

Ta Bhok Hwesio merasa terkejut, apalagi ketika mendengar ucapan "keledai gundul dari barat!" Apa yang dimaksudkan oleh kakek aneh itu? Cepat dia menahan napas karena maklum bahwa agaknya kakek aneh yang sedang menghadapi papan caturnya itu bukanlah orang sembarangan. Sayang kakek itu membelakanginya sehingga dia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Dan sementara itu, kakek aneh ini kembali bicara seorang diri seperti orang sinting, "Ha, keledai putih naik atap, mulutnya menyeringai ketakutan, sikapnya mau menyerang orang. Tapi sayang, di bawahnya ada anak sapi yang melotot keheranan. Ha-ha ha, hayo keledai gundul, loncat sini, jangan takut, heiiitttt...!"

Kakek aneh itu tiba-tiba mengangkat sebuah bidak, yaitu kuda putih yang daun telinganya sudah dipapas buntung sehingga merupakan "kuda gundul", melemparkan biji catur ini ke belakang yang tepat menyambar ke arah Ta Bhok Hwesio!

Tentu saja hwesio ini terkejut. Sambitan biji catur itu jelas bukan serampangan atau ngawur saja, melainkan memang disambitkan karena kakek aneh yang tertawa ha-ha-he-he itu sudah mengetahui kedatangannya! Oleh sebab itu, hwesio ini lalu melompat dan secepat kilat tangan kanannya bergerak menangkap biji "kuda gundul" yang sekarang mirip keledai itu, ejekan yang ditujukan kepada dirinya!

"Wuutti!" Biji catur itu tertangkap dan Ta Bhok Hwesio merasa betapa lengannya tergetar. Kagetlah kakek ini. Dia belum tahu apakah kakek berpakaian nelayan itu kawan ataukah lawan. Kalau lawan, benar-benar berat sekali karena dia menghadapi seorang musuh yang memiliki sinkang kuat. Namun kakek ini tidak takut dan begitu dia berhasil menangkap biji catur itu, dia melayang sambil menyambitkan kembali bidak itu dan berseru, "Manusia sinting, terimalah biji caturmu ini!"

Kakek berpakaian nelayan itu agaknya terkejut, dia memutar tubuh menoleh dan ketika melihat sambaran "kuda gundul"nya, papan caturnya diangkat cepat dan... "tapp!" biji catur itupun hinggap di atas papan caturnya tanpa bergoyang!

Kini keduanya telah saling berhadapan dan masing-masing pihak melihat jelas muka lawan. Ta Bhok Hwesio terbelalak sejenak dan tampak terkejut, akan tetapi segera mukanya berseri gembira dan kakek ini tertawa bergelak. "Wahh, tidak tahunya Phoa-lojin si tukang pancing dari Pulau Cemara! Ha-haha, tua bangka kurus kering, apa maumu datang ke tempat ini? Apakah di sinipun banyak ikan gemuknya sehingga kau kelayapan kemari jauh-jauh meninggalkan pulaumu? Hati-hati, jangan-jangan kaulah yang terpancing dan dijebloskan dalam penjara, ha-ha!"

Ta Bhok Hwesio tertawa keras karena hatinya betul-betul gembira sekali bertemu dengan sahabat lamanya ini. Sama sekali dia tidak menyangka akan dapat melihat Phoa-lojin di tempat ini dan kejadian ini sungguh kebetulan baginya. Dia tahu bahwa disamping memiliki ilmu silat tinggi, Phoa-lojin adalah seorang tukang gwamia yang ulung, dan dia hendak mempergunakan kesempatan ini untuk bertanya tentang muridnya! Inilah yang menggembirakan hatinya dan kakek itu tertawa dengan muka berseri-seri. Pantas saja kehadirannya diketahui oleh kakek ini, tidak tahunya yang menebak adalah Phoa-lojin! Dia benar-benar merasa kagum sekali akan kepandaian meramal sahabatnya itu.

Phoa-lojin yang melihat kegembiraan hwesio itu, cepat meletakkan jarinya di mulut memberi isyarat, "Sstt, keledai gundul, jangan ribut-ribut! Malam ini akan terjadi peristiwa luar biasa dan harap kau tenangkan diri. Jangan terlalu menggelisahkan murid perempuanmu. Anak itu memang nakal, akan tetapi ia tidak apa-apa. Yang penting adalah menolong Yap-goanswe dan kau harus mengutamakan hal ini. Bukankah kedatanganmu inipun juga hendak membebaskan pemuda itu? Nah, sekarang taatilah omonganku ini dan lihat...!"

Phoa iojin menjentrekkan jari tengah dengan ibu jarinya ke atas, dan tiba-tiba dari bawah melayang sesosok tubuh berpakaian putih. Seorang pemuda tampan berdandan seperti siucai (pelajar) muncul di situ dan pemuda ini memberi hormat kepada kakek berpakaian nelayan itu.

"Suhu memanggil teecu?" pemuda itu bertanya.

Phoa-lojin mengangguk. "Benar, Hok Sun, aku hendak bertanya apa saja yang telah kau lihat di bawah dan bukankah gadis baju hijau yang dulu kau temui tidak kurang suatu apa? Ketahuilah, kakek ini adalah Ta Bhok Hwesio sahabat lamaku dan gadis itu adalah muridnya."

Pemuda baju putih ini tampak terkejut ketika dia mendengar dari suhunya siapa adanya hwesio gundul itu. Cepat dia memberi hormat dan berkata, "Ah, kiranya lo-suhu adalah guru dari nona Pek Hong! Locianpwe, memang beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan murid locianpwe itu di kota Hun-kiang. Dia mengobrak-abrik sarang Hek-tung Kai-pang seorang diri! Sungguh nona Hong gagah dan berani sekali, saya benar-benar kagum. Akan tetapi, karena yang dimasukinya itu adalah sarang orang-orang jahat, maka hampir saja murid locianpwe itu celaka. Untung, pada saat yang berbahaya, muncullah Malaikat Gurun Neraka yang membuat semua orang lari ketakutan dan nona Hong nyaris dari bahaya..."

"Dan dimana ia sekarang?" Ta Bhok Hwesio bertanya dengan muka berobah. Mendengar betapa muridnya itu mengobrak-obrik sarang Hek-tung Kai-pang benar-benar membuat hatinya terkejut sekali. Dia memang pernah mendengar nama Hek-tung Kai-pang yang kabarnya diketuai oleh Liong-tung Lo kai dan dia cukup tahu macam apa adanya perkumpulan kaum pengemis berbaju hitam itu, sekumpulan orang yang tidak segan-segan melakukan tindakan curang dan licik.

"Menurut perkiraan saya ia akan datang di kota raja juga, locianpwe. Dulu sebelum berpisah, nona Hong berkata demikian."

"Hemm, anak bengal, pergi sesuka hati menggelisahkan orang tua," kakek itu mengomel akan tetapi hatinya sudah agak lega dan Phoa-lojin tertawa.

"Sudahlah, kujamin muridmu itu selamat, Ta Bhok Hwesio, jangan resah. Eh, Hok Sun, apa lagi laporanmu?" kakek ini menoleh ke arah muridnya dan bertanya.

"Suhu, orang-orang kangouw belum nampak kedatangannya, begitu pula Malaikat Gurun Neraka. Agaknya kita terlalu cepat mendahului kedatangan mereka. Sejak tadi teecu belum melihat sebuah bayangan yang mencurigakan. Apakah tidak lebih baik kita..."

Phoa-lojin tiba-tiba memberi isyarat dan Hok Sun menghentikan ucapannya. "Sst, lihatlah, orang pertama yang kita nanti-nantikan telah tiba! Ta Bhok Hwesio, Malaikat Gurun Neraka datang....!"

Hok Sun memandang ke depan namun dia sama sekali belum melihat apapun. Sementara dia keheranan, tiba-tiba saja dari jauh tampak sebuah bayangan yang gerakannya cepat bukan main berkelebatan di atas wuwungan rumah-rumah besar. Hok Sun tidak tahu apakah bayangan itu adalah betul bayangan Malaikat Gurun Neraka, akan tetapi karena gurunya telah berkata demikian diapun tinggal percaya saja, apalagi Ta Bhok Hwesio juga mengangguk-angguk dan menjawab.

"Tua bangka, matamu benar-benar tajam sekali. Benar, dia sudah datang dan apa selanjutnya rencanamu?"

"Kita berpencar menuju ke gedung kuning. Hati-hati, Cheng-gan Sian-jin membawa anak buahnya dan kalau pertandingan itu tiba, jangan sekali-kali diantara kita ada yang maju membantu. Hanya setelah suasana mengijinkan sajalah kita menolong Yap-goanswe. Kasihan, pemuda itu benar-benar menderita sekali lahir batinnya. Hok Sun, pergi dan berhati-hatilah dan kita bertemu di gedung kuning itu!"

Phoa-lojin menggerakkan tubuhnya dan tanpa banyak bicara kakek ini telah melayang seperti seekor burung, melompat-lompat di atas gedung-gedung besar itu dan segera lenyap bayangannya tertelan kegelapan malam.

Ta Bhok Hwesio segera mengikuti gerakan kakek itu dan Hok Sun sendiri juga sudah melompat berindap-indap menuju ke gedung kuning yang tampak di kejauhan. Sebentar saja, dengan gerakan mereka yang seperti iblis tiga orang ini sudah lenyap dan ketiga-tiganya sudah bersembunyi di tempat gelap dan menunggu dengan hati tegang di gedung kuning itu.

Kedatangan Malaikat Gurun Neraka sampai pertandingannya melawan Cheng-gan Sian-jin, semuanya ini telah disaksikan oleh tiga orang itu. Dan Ta Bhok Hwesio diam-diam kaget bukan main, terutama menyaksikan Ilmu Sin-gan-i-hun-to yang dilancarkan oleh kakek iblis itu. Hwesio ini merasa betapa hebatnya kesaktian Cheng-gan Sian-jin, apalagi setelah iblis tua itu mengeluarkan ilmu ginkangnya yang disebut Cui-beng Gin-kang yang membuat tubuhnya melayang seringan roh. Penglihatan ini benar-benar membuat hwesio dari Tibet itu terkejut sekali. Diam-diam dia merasa sangsi apakah sanggup kiranya dia menghadapi Cheng-gan Sian-jin!

"Ah, iblis itu sungguh luar biasa. Pinceng sendiri agaknya tidak akan mampu menandinginya. Kalau tidak ada Malaikat Gurun Neraka, siapa kelak yang bakal mampu mengatasi sepak terjang Cheng-gan Sian-jin?" kakek ini berkata seorang diri dan air mukanya tampak gelisah.

Namun keresahan hwesio ini segera hilang ketika dia melihat betapa perlahan-lahan akan tetapi pasti, Malaikat Gurun Neraka mulai mendesak kakek iblis itu dan betapa Cheng-gan Sian-jin mundur-mundur sampai akhirnya keluar rumah berteriak-teriak kepada anak buahnya agar mau membantu. Pukulan-pukulan petir pendekar ini membuat Ta Bhok Hwesio dan yang lain-lain terbelalak ngeri disamping kagum. Mereka melihat betapa dari kedua telapak tangan pendekar sakti itu muncrat tenaga Yang-kang yang amat dahsyat melebihi api dan betapa kian lama tubuh Malaikat Gurun Neraka terselubung cahaya kemerahan seperti api unggun.

Ini semua membuktikan betapa Malaikat Gurun Neraka benar-benar telah sempurna sekali tenaga sinkangnya. Agaknya hawa berapi dari pasir-pasir panas di Gurun Takla telah meresap di dalam tubuhnya, membuat tubuh pendekar ini penuh dengan tenaga api yang terpendam. Dan kalau sewaktu-waktu pendekar itu memerlukannya, dia tinggal memakainya sesuka hati.

Phoa-lojin sendiri yang menyaksikan dari tempat gelap, menggeleng-geleng kepala dengan kagum. Belum pernah selama hidupnya dia melihat kepandaian sehebat itu, dan Malaikat Gurun Neraka itu benar-benar pantas mendapat sebutan pendekar besar yang jarang tandingannya!

Sementara itu, pada saat semua orang sedang tercurah perhatiannya kepada pertandingan antara Malaikat Gurun Neraka melawan Cheng gan Sian-jin, dari luar taman tampak beberapa bayangan berlompatan masuk. Mereka ini bukan lain adalah orang-orang kang-ouw yang berhasil menyelinap ke tempat itu untuk membebaskan Yap-goanswe yang mereka dengar tertawan di tangan Cheng gan Sian-jin yang menjadi koksu Kerajaan Wu. Dan diantara bayangan-bayangan ini, tampak sesosok tubuh yang ramping padat bergerak ringan selincah kijang, berindap-indap mendekati jendela sebelah utara.

Gin-ciam Siucai Hok Sun yang kebetulan berada di jendela utara ini, hampir saja mengeluarkan teriakan girang ketika melihat siapa adanya gadis itu. Bukan lain adalah Pek Hong, murid hwesio Tibet yang sedang dicari-cari gurunya itu. "Nona Hong....!" pemuda itu berseru perlahan setengah berbisik dan suaranya itu ternyata dapat didengar oleh gadis itu.

Pek Hong terkejut dan cepat menengadah sambil meraba rantai peraknya, dan sejenak mukanya menjadi merah ketika melihat siapa gerangan pemuda yang mengaitkan sepasang kakinya di tiang melintang itu. "Kau....?" gadis ini berkata dengan muka tidak senang.

"Sstt, adik Hong, jangan mengeluarkan suara," Hok Sun memberi isyarat dengan telunjuk di bibir. "Banyak orang lihai di dalam, hati-hati, jangan sembrono. Gurumu ada di sini dan sejak tadi bersama kita. Apakah engkau tidak ingin bertemu dengan suhumu itu?"

Wajah cantik yang tadi merah ini segera berseri. Dan memang gadis itu gembira mendengar betapa suhunya ada di situ. Dengan adanya gurunya di tempat ini, bukankah pekerjaannya akan menjadi lebih mudah lagi? Oleh sebab itu, sambil berbisik ia lalu bertanya, "Eh, twako, dimana suhu berada? Kenapa dia tidak keluar membantu? Bukankah kalau kita semua maju, anak buah kakek iblis itu dapat kita basmi? Mengapa masih takut-takut lagi? Hayo kita keluar dan bantu Malaikat Gurun Neraka!" dan Pek Hong sudah hendak melompat keluar!

Tentu saja Hok Sun terkejut. Pemuda ini melepaskan kakinya dan tubuhnya melayang ke bawah. "Adik Hong, jangan tergesa-gesa....! Suhu sedang merencanakan sesuatu, tidak boleh kita merusaknya!" pemuda itu berseru perlahan dan cepat memegang lengan gadis itu.

Pek Hong merengut lengannya dan gadis ini memutar tubuh dengan mata berapi. "Hemm, kau hendak kurang ajar kepadaku, ya? Kau kira aku takut kepadamu? Laki-laki ceriwis, siapa suruh kau pegang-pegang lenganku?"

Hok Sun tergagap dan mukanya merah bagai udang direbus. Tadi melihat betapa gadis ini bersikap manis kepadanya dan memanggil "twako", dia kira bahwa nona itu sudah lenyap marahnya. Siapa tahu, bagaikan angin topan yang dapat muncul sewaktu-waktu, kegalakannya "kumat" lagi dan kini dia disemprot sebagai laki-laki ceriwis!

"Eh... ini... ini... aku... ahh, maafkan kelancanganku, nona. Aku tidak bermaksud kurang ajar, sungguh mati! Aku tidak bermaksud buruk. Apa yang kulakukan adalah atas pesan suhu dan locianpwe Ta Bhok Hwesio yang menekankan agar kita jangan bertindak sembrono. Kalau nona tidak percaya, boleh nona buktikan sendiri dan bertanya kepada mereka..."

Pada saat itu, berkesiur angin dingin dan tahu-tahu Ta Bhok Hwesio telah berdiri di situ dengan kepala tegak. Sinar mata hwesio ini penuh teguran dan dia berkata, "Hong-ji, apa yang dikatakan oleh pemuda ini memang benar. Kau sembrono sekali dan kelewat berani. Kalau kita hendak menyerang musuh, itu harus kita lakukan dengan perhitungan masak, bukannya lalu nyeruduk begitu saja. Sekarang, apa jawabmu setelah berbulan-bulan pergi menggelisahkan orang tua?"

Gadis itu memandang suhunya dan tampak terkejut. Melihat betapa sinar mata gurunya penuh teguran, dia menjatuhkan diri berlutut. "Suhu, mohon maaf sebesar-besarnya jika aku telah membuat kau orang tua gelisah. Aku tidak sengaja, suhu, karena di tengah perjalanan pulang, aku mendengar berita tentang...tentang diri Yap-goanswe... Inilah yang membuat aku terlambat pulang dan harap suhu suka mengampuninya..."

"Hemm...." kakek itu mengeluarkan suara dari hidung dan seketika semua kemarahannya lenyap. Dia tahu betapa muridnya ini mencinta Yap-goanswe, maka mendengar pemuda itu tertangkap musuh, mana bisa berdiam diri? "Sudahlah, hayo bangun dan cepat kita tolong pemuda itu. Lihat, Cheng-gan Sian jin dan anak buahnya telah keluar semua. Kamar terbakar dan kalau kita tidak bertindak, tentu tubuh jenderal muda itu akan termakan api."

Maka beramai-ramai mereka ini lalu melompat ke dalam ruangan besar itu, menjebol pintu atau jendela yang tertutup rapat. Pek Hong melihat betapa tubuh Bu Kong menggeletak di lantai kamar dengan muka sepucat kertas. Betapapun sakit hatinya terhadap pemuda ini teringat akan kabar diluaran tentang perjinaannya dengan wanita-wanita cantik, gadis itu tidak dapat melupakan cinta kasihnya sendiri.

Kamar besar itu sudah terbakar hebat. Api menyala-nyala dan dari luar rumah terdengar suara orang berteriak-teriak dan tindakan kaki berlari-lari. Agaknya para penjaga menjadi gempar dan tiba-tiba terdengarlah suara terompet tanduk ditiup tanda bahaya! Cepat gadis ini mengangkat tubuh yang pingsan itu, menjadi merah mukanya melihat betapa pakaian pemuda itu koyak-koyak setengah telanjang.

Namun Pek Hong tidak perdulikan semuanya ini dan karena maklum bahwa ia berada di sarang harimau, maka begitu dia memondong tubuh Yap-goanswe, gadis inipun segera melompat keluar. Dan pada saat itulah Lie Lan dan teman-temannya memasuki kamar dan melihat betapa Yap-goanswe dilarikan orang, murid Cheng-gan Sian-jin ini berseru marah dan menyerang Pek Hong dengan pukulan jarak jauhnya. Pek Hong menangkis dan karena posisinya kurang menguntungkan, hampir saja dia terpelanting.

Untunglah ketika Lie Lan menyerang untuk kedua kalinya, Hok Sun yang selalu bersiap sedia untuk melindungi gadis itu sudah cepat menahan. Pemuda itu terkejut karena dari tangkisan lengan tadi, dia merasa betapa tenaga lawan amat kuat dan karena dia harus berhati-hati, maka pemuda ini cepat mengeluarkan sepasang senjatanya, yakni kipas hitam dan jarum peraknya yang amat lihai itu sehingga dia dijuluki orang Gin-ciam Siucai.

Demikianlah Hok Sun lalu bertanding dengan murid Cheng-gan Sian-jin itu dan semakin lama pemuda ini menjadi semakin kaget. Dia merasa terkejut karena semua balasannya ditangkis lengan halus gadis itu dan setiap kali tangkisan, tentu senjatanya yang terpental keras ! tentu saja pemuda ini kaget sekali, apalagi setelah lawannya mengeluarkan ilmu pukulannya yang dahsyat, pukulan yang membawa serta bau amis dan betapa kedua lengan gadis cantik itu kini berobah semerah darah dan tampak mengerikan.

“Tok-hiat-jiu…!” Hok Sun berseru kaget dan tahulah dia sekarang dengan siapa dia berhadapan. Kiranya murid Cheng-gan Sian-jin sendiri! ini sama sekali tidak diduganya karena memang sebelumnya dia tidak tahu siapakah murid Cheng-gan Sian-jin itu.

Sementara itu, Hek-mo-ko yang berhadapan dengan Ta Bhok Hwesio dan tidak mengenal hwesio dari Tibet ini, tidak mengeluarkan banyak kata. Iblis hitam ini menggeram dan sekali kaki kanannya bergerak, tahu-tahu kaki itu telah mencuat dari bawah menendang anggauta rahasia lawan dengan kecepatan kilat.

Pendekar Gurun Neraka Jilid 07

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 07
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka
“HA HA HA HA, sobat dari Gurun Neraka, sungguh kebetulan sekali pertemuan kita kali ini! Tidak tahu, ada maksud apakah sahabat jauh-jauh datang kemari secara sembunyi? Mengapa tidak terus terang saja dari pintu depan? Lihat, kami siap menyambut siapapun tamu kami yang datang berkunjung dengan tangan terbuka, baik yang membawa maksud berkawan maupun berlawan. Ha-ha-ha-ha...!!"

Cheng gan Sian-jin tertawa gemuruh sehingga perutnya yang besar keras itu berguncang guncang, dan karena kakek ini memang sengaja hendak memamerkan kekuatannya, maka di dalam suara ketawanya ini terkandung tenaga khikang yang amat dahsyat sehingga dinding kamar tergetar dan beberapa buah genteng di atas rumah mengeluarkan suara berkeresekan karena melorot turun dari letaknya semula!

Hebat memang kakek iblis itu. Hek-mo-ko dan teman temannya yang terguncang isi dadanya, sudah cepat mengerahkan lweekang untuk melindungi jantung dan beberapa orang di antaranya yang agak lemah, bahkan telah duduk bersila untuk menyelamatkan diri dari ancaman bahaya luka dalam.

Akan tetapi, pengaruh suara tawa yang mengandung tenaga khikang dan yang telah mempengaruhi Hek-mo-ko dan kawan-kawannya itu ternyata sama sekali tidak mempengaruhi diri Malaikat Gurun Neraka. Pendekar sakti ini tampak tenang-tenang saja, hanya sepasang alisnya yang putih tebal dan gagah itu berkerut semakin dalam. Pendekar ini melangkah maju dan berhenti dalam jarak kira-kira tiga langkah di depan Cheng-gan Sian-jin, dan gembong iblis itu tampak terkejut ketika melihat betapa secara samar-samar sinar kemerahan seperti api muncul di belakang tubuh pendekar itu!

"Ahh...!" Cheng-gan Sian-jin mengeluarkan seruan pendek dan seketika ketawanya lenyap. Sepasang matanya terbelalak dan diam-diam hatinya kaget bukan main. Orang yang dapat mengeluarkan sinar kemerahan seperti yang dimiliki oleh Malaikat Gurun Neraka ini menandakan seorang yang telah mencapai tingkat tertinggi dalam penguasaan tenaga Yang-kang! Dan teringatlah kakek itu bahwa lawan yang berada di depannya ini adalah seorang yang telah bertahun-tahun lamanya bertapa di gurun pasir yang konon kabarnya memiliki pasir-pasir berapi seperti neraka sendiri!

Itulah sebabnya selain disebut Gurun Takla, padang pasir itupun disebut orang dengan nama Gurun Neraka. Maka tidaklah mengherankan apabila pendekar sakti ini telah menguasai inti tenaga Yang-kang yang amat hebat dari dasar gurun itu. Agaknya pria gagah perkasa ini telah berhasil menyerap inti tenaga api dari gurun pasir yang mengerikan itu!

Apa yang dilihat oleh Cheng-gan Sian-jin ini juga dilihat oleh Hek-mo-ko dan teman-temannya. Orang-orang itupun juga terbelalak matanya dan tak terasa lagi hati mereka terasa gentar. Perbawa luar biasa dan sinar kemerahan yang merupakan inti hawa berapi itu membuat mereka tercekat dan pada saat itu, Malaikat Gurun Neraka yang sudah berhadapan dengan datuk mereka ini membuka suara.

"Cheng-gan Sian-jin, sudah lama sebetulnya aku ingin bertemu denganmu, terutama pada tiga-puluh tahun yang lampau dimana engkau mengumbar nafsu angkara murkamu. Sekarang, dalam saat yang agaknya telah kau atur sebelumnya, kita bertemu muka. Pertanyaanmu tadi kiranya tidak perlu kujawab karena bukankah engkau sendiri yang mengundangku kemari? Nah, aku sudah datang. Apa maumu?"

Kata-kata yang diucapkan dengan suara tegas dan tandas ini membuat muka Cheng-gan Sian-jin menjadi merah. Akan tetapi disamping itu kakek inipun merasa kagum. Tidak percuma pendekar ini disebut sebagai tokoh besar yang dimalui orang-orang persilatan. Kiranya memang demikianlah kenyataannya. Sikapnya yang tenang penuh kepercayaan terhadap diri sendiri itu benar-benar membayangkan watak seorang pendekar besar.

Diam-diam dia ingin sekali menjajal kepandaian laki-laki ini, apalagi ucapan terakhir pendekar itu yang menanyakan apa maunya! Inilah kata-kata yang mengandung tantangan halus dan hati Cheng gan Sian-jin menjadi panas terbakar.

"Malaikat Gurun Neraka, jangan kau bersombong!" kakek itu membentak. "Tidak tahukah engkau bahwa dirimu terkurung dan nyawamu berada dalam telapak tanganku? Setelah engkau masuk ke tempat ini, hanya ada dua pilihan bagimu, yakni ingin selamat ataukah ingin ke akhirat! Kalau kau ingin seiamat, berarti kau harus tunduk kepadaku dan kita bersahabat, akan tetapi, kalau kau ingin..."

Belum habis kalimat ini, pendekar sakti itu mengulapkan tangan ke atas dan memotong, "Cheng-gan Sian jin, tidak perlu kau lanjutkan kata-katamu itu. Nyawa seseorang berada di tangan Yang Maha Kuasa, bukan berada ditanganmu. Kalau kau memang hendak ribut-ribut, majulah!"

Inilah tantangan terbuka dan Cheng-gan Sian-jin mendelik, tak dapat menahan kemarahannya lagi. Kata-kata pendekar itu telah memutuskan segala kompromi dan kakek ini menggereng. Sepasang matanya yang kehijauan itu tiba-tiba mengeluarkan sinar berkilat aneh, berpijar seperti lampu iblis dan sementara anak buahnya memandang dengan jantung berdegup kencang karena merasa bahwa ketegangan telah sampai di puncaknya, tiba-tiba kakek tinggi besar ini mengeluarkan bentakan menggeledek yang penuh pengaruh mujijat dan kedua tangannya bergerak ke depan seperti orang melemparkan sesuatu.

"Malaikat Gurun Neraka, kau tak dapat disayang orang! Lihatlah, dua bola Mahadewa memasuki kepalamu dan Sang Sakti menghendaki agar kau berlutut dan merangkak kemari. Hayo, berlutut dan merangkaklah kemari...!!"

Semua orang terkejut ketika mereka melihat betapa sepasang gundu yang bulat kehijauan menyambar ke arah pendekar itu. Orang-orang ini terkejut karena mereka mengenal sepasang benda aneh itu sebagai mata Cheng-gan Sian-jin! Tentu saja mereka ini kaget dan beberapa orang diantaranya bahkan ada yang mengeluarkan seruan.

Bagaimana kakek itu sampai bisa menyerang dengan gundu matanya sendiri? Apakah Cheng-gan Sian-jin memiliki mata cadangan sehingga berani mencokel bola matanya dan dipergunakan sebagai am-gi (senjata rahasia) yang luar biasa itu? Hek-mo-ko yang sebelumnya tahu bahwa Cheng-gan Sian-jin adalah seorang yang pandai ilmu sihir, juga dapat dibikin terkejut dan terbelalak.

Namun, kalau semua orang dibikin kaget oleh perbuatan kakek iblis itu, adalah Malaikat Gurun Neraka tenang-tenang saja. Pendekar yang memiliki kepandaian tinggi dan sudah banyak makan asam garam dunia ini sama sekali tidak tampak terkejut. Dulu, belasan tahun yang lalu, pernah dia menandingi seorang datuk hitam yang juga pandai sihir berjuluk Ang-i Lo-mo. Di samping itu, diapun telah mempunyai banyak pengalaman dalam menghadapi tokoh-tokoh sesat lainnya. Itulah sebabnya, begitu Cheng-gan Sian-jin menyerangnya dengan ilmu sihir, pendekar ini tenang-tenang saja karena dia telah memiliki "kunci" untuk mematahkan semua jenis ilmu sihir yang bercampur ilmu hitam seperti yang dimiliki Cheng-gan Sian-jin itu.

"Cheng gan Sian-jin, bola Mahadewamu tak berguna bagiku. Lihatlah, mereka kutangkap dan biarlah anak-anak buahmu saja yang mewakiliku merangkak di depan kakimu!"

Malaikat Gurun Neraka mengeluarkan seruan nyaring, kedua tangannya bergerak di udara, berputar tiga kali menyambut sepasang gundu itu dan.... "whussss!" benda-benda aneh itupun lenyap ke dalam tangannya. Dan sementara Hek-mo-ko bersama teman-temannya tercengang keheranan, tiba-tiba pendekar sakti ini membalikkan tubuh ke arah mereka, kedua tangannya bergerak cepat bergantian dan "wut-wutt", sepasang gundu mata itupun muncul kembali dan kini "terbang" ke arah mereka dengan kecepatan kilat!

Tentu saja orang-orang ini terkejut sekali. Tadi mereka sedang terbelalak memandang bola mata Cheng gan Sian-jin yang menyambar pendekar itu. Kini, secara tiba-tiba dan amat mengejutkan, sepasang gundu mata yang mengerikan itu menyerang mereka semua.

HeK-mo-ko yang menjadi orang pertama dalam serangan ini, mengeluarkan teriakan keras. Iblis hitam ini kaget bukan main ketika dia disambar sepasang gundu mata yang melotot kehijauan itu. Dia hendak mengelak, namun kalah cepat. Gundu mata itu tahu-tahu telah menghantam dahinya, mengeluarkan suara "tak-takk!" dan terpental ke arah si wanita berambut keemasan.

Wanita ini, yang bukan lain adalah Kim-bian atau Si Rase Emas, mengeluarkan pekik kaget. Akan tetapi, seperti halnya Hek-mo-ko sendiri, iapun tidak sempat menghindar. Benda aneh ini melesat secepat kilat, dan tadi setelah membentur dahi Hek-mo-ko, kecepatannya seakan-akan berlipat ganda dan tahu-tahu dahinyapun telah disambar gundu mata itu!

"Takk...!" Kim-bian menjerit marah karena tulang dahinya terasa nyeri, namun gundu mata itu sendiri sudah tidak menghiraukannya dan kini menyambar ke arah Liong-tung Lo-kai si kakek picak. Dan seperti lebah setan saja, begitu berhasil "menyengat" dahi Liong-tung Lo kai, gundu mata ini sudah menyambar dahi orang-orang lainnya. Berturut-turut, satu persatu anak buah Cheng-gan Sian-jin "dicium" gundu mata itu dan terdengarlah jeritan di sana-sini.

Cheng-gan Sian-jin terkejut melihat hal yang sama sekali tidak disangkanya ini. Dan kakek itu menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba Hek-mo-ko dan teman-temannya mengeluh, jatuh berlutut dengan muka bingung, lalu setelah terbelalak dengan mata liar, orang-orang itupun merangkak ke depan kakinya!

"Ahhh...!" kakek itu berseru keras dan memandang anak buahnya yang merangkak seperti anjing ini, maklum bahwa agaknya ilmu sihirnya yang tadi ditujukan kepada Malaikat Gurun Neraka, berhasil ditolak oleh pendekar itu dan kini di-"retour" kepada anak buahnya sendiri!

Apa yang diduga oleh Cheng-gan Sian-jin memang benar sebagian. Sebagai orang yang telah berkali-kali menghadapi ilmu sihir, Malaikat Gurun Neraka itu memang tidak terpengaruh oleh Sin-gan-i-hun-to yang tadi dikerahkan oleh lawannya. Dengan getaran tenaga saktinya, pendekar ini berhasil menolak semua ilmu gaib. Getaran tenaga mujijat ini telah ditunjukkannya dengan munculnya cahaya kemerahan di belakang punggungnya. Cahaya inilah yang melindungi dirinya dari serangan-serangan ilmu hitam.

Malaikat Gurun Neraka yang tahu betapa Cheng-gan Sian-jin kabarnya pandai ilmu sihir tadi telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, yaitu dengan mengerahkan tenaga sakti di dalam tubuhnya. Dengan adanya persiapan inilah maka Sin-gan-i-hun-to milik Cheng-gan Sian-jin tertahan, tidak dapat menembus tubuhnya yang dilindungi cahaya kemerahan yang samar-samar tampak itu.

Inilah sebabnya ketika Cheng-gan Sian-jin menyerang dengan ilmu sihirnya dan mengatakan bahwa ada bola Mahadewa hendak memasuki kepalanya, pendekar sakti itu dapat melihat dengan jelas bahwa yang datang menyambar itu bukanlah sepasang gundu mata asli, melainkan dua buah kancing baju yang tadi secepat kilat direnggut oleh kakek itu dan dilontarkan ke arahnya.

Demikianlah, dengan sikap tenang pendekar ini lalu menggerakkan tangannya, menangkap kancing baju itu dan melontarkannya ke arah Hek-mo-ko serta teman-temannya yang lain. Lontaran bukan sembarang lontaran karena kancing baju itu mengarah pada urat-urat syaraf tertentu di bagian dahi sehingga melumpuhkan kerjanya otak, merupakan "totokan terbang" yang tiada bandingannya!

Maka tidaklah heran jika Hek-mo-ko dan teman-temannya tak mampu mengendalikan kesadaran mereka sendiri setelah terkena totokan lihai pendekar sakti itu, apalagi perintah yang penuh pengaruh yang tadi dikeluarkan Cheng-gan Sian-jin, gemanya masih melingkar-lingkar di ruangan ini. Otomatis orang-orang itupun berada di bawah pengaruh sihir Sin-gan-i-hun-to datuk mereka sendiri dan kini bagaikan sekumpulan anjing, merangkak mendekati tuannya!

Namun peristiwa ini hanya berjalan beberapa waktu saja. Cheng-gan Sian jin yang merasa terkejut dan marah, sudah berseru keras dan tubuhnya berkelebat, kakinya bergerak bergantian dan orang-orang itupun ditendangnya sehingga menjerit dan terpental bergulingan. "Manusia-manusia tolol, pergi kalian semua...!" kakek itu membentak dengan muka merah, gemas melihat betapa anak-anak buahnya sendiri menjadi korban ilmunya. "Malaikat Gurun Neraka, jangan bersikap pengecut! Kalau kau memang lihai, coba terimalah seranganku yang kedua secara jantan. Lihatlah, ular berkepala dua ini akan menyerangmu, haiitttt...!”

Cheng-gan Sian-jin yang merasa marah dan penasaran itu kembali menggerakkan tangannya ke depan dan tiba-tiba seekor ular kuning dua kepala terbang menyambar pendekar sakti itu! Ular ini mengeluarkan suara mendesis nyaring dan dari sepasang lidahnya yang bercabang itu tampak uap hitam berbau amis.

Takla Sin-jin terkejut karena kali ini dia terpengaruh. Tidak seperti serangan pertama dimana dia tadi dapat melihat dengan jelas bahwa yang menyerangnya hanyalah kancing-kancing baju yang disebut oleh Cheng-gan Sian-jin sebagai bola mata Mahadewa, adalah serangan yang kedua kalinya ini dia melihat bahwa yang terbang menyambarnya dengan kecepatan kilat itu adalah betul-betul ular sungguhan. Tentu saja pendekar ini terkejut, padahal sepengetahuannya gembong iblis itu tidak pernah memiliki ular apapun. Ini berarti bahwa lawannya itu telah menambah kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi dirinya!

Sadar akan kenyataan ini, pendekar itu tiba-tiba mengempos semangatnya, menarik hawa sakti dari pusar sehingga dadanya berkembang penuh, lalu mengeluarkan hawa sakti ini melalui bentakan, "Cheng-gan Sian-jin, aku tidak takut akan serangan ularmu, bahkan aku hendak menangkapnya hancur. Lihat...!"

Dengan kecepatan luar biasa Malaikat Gurun Neraka menggerakkan tangannya ke depan dan serangkum hawa yang amat kuat menahan luncuran ular kuning itu. Dan pada detik itulah, setelah dia menambah kekuatan batinnya untuk menolak pengaruh sihir Chen-gan Sian-jin, pendekar ini melihat jelas bahwa yang menyerangnya itu ternyata hanyalah sehelai kain kuning pengikat rambut yang tadi berada di kepala kakek iblis itu!

Muka pendekar ini menjadi merah. Hampir saja dia kena dikecoh lawan. Akan tetapi di samping itu, diam-diam hatinya terkejut sekali. Terlambat sedikit saja, tentu pengaruh sihir Cheng-gan Sian-jin akan berhasil menguasainya, padahal tadi dia telah melindungi diri dengan tenaga sakti setengah bagian! Ini membuktikan bahwa pentolan kaum sesat itu memang tidak boleh dibuat main-main!

Maka, begitu dia berhasil menolak pengaruh lawan setelah dia menambah tenaga saktinya dua bagian lagi sehingga cahaya kemerahan yang muncul di punggungnya menjadi semakin terang, pendekar ini sudah menggerakkan jari tangannya dan menjepit "ular" itu, menangkapnya dan meremasnya hancur.

"Kresss...."

Cheng-gan Sian-jin terbelalak melihat betapa "ular"nya hancur di tangan Malaikat Gurun Neraka. Kakek ini kaget dan marah, juga semakin penasaran. Tadi jelas bahwa dia hampir berhasil mempengaruhi lawan, tapi kenapa patah di tengah jalan? Dan dia semakin terkejut melihat betapa sinar merah yang melindungi tubuh pendekar itu tampak semakin terang, tanda bahwa lawannya itu menambah tenaga saktinya.

Kakek ini penasaran sekali. Masa dia tidak berhasil mempengaruhi lawannya ? Padahal Hek-mo-ko dan rekan-rekannya yang terkena retouran Sin-gan-i-hun-to tadi sudah dapat dikuasai dengan mudah. Apakah dia yang terlalu lemah menghadapi pendekar itu sehingga dua kali serangannya selalu kandas melulu? Cheng-gan Sian-jin menggereng dan saking marahnya, kakek ini lalu membanting kakinya.

"Dess!" kaki Cheng-gan Sian-jin melesak lima senti dan permukaan lantai hancur. Wajah datuk ini merah berapi-api dan sepasang matanya mendelik penuh kemarahan. Dia menudingkan telunjuknya dan membentak. "Malaikat Gurun Neraka, kau memang hebat, akan tetapi jangan kau tekebur! Dua kali sudah kau berhasil menangkis balik, namun jagalah seranganku yang ketiga kalinya ini. Lihatlah, lihat baik-baik...." kakek itu lalu berkemak-kemik, mulutnya bergerak-gerak aneh dan menggigil seperti orang kedinginan atau terserang penyakit malaria.

Sementara itu, Hek-mo-ko dan teman-temannya yang tadi ditendang bergulingan, sudah bangkit berdiri dengan muka pucat. Pertandingan aneh antara dua jago tua ini hampir saja melibatkan mereka ke dalam kesulitan. Diam-diam mereka gentar sekali dan Hek-mo-ko yang teringat betapa dahinya disambar gundu mata Cheng-gan Sian-jin, mengkirik seram. Dia tadi seakan-akan diserang gundu mata sungguhan sehingga begitu mengenai dahinya, tiba-tiba gundu mata itu "amblas" ke dalam batok kepalanya. Dan yang amat mengerikan sekali, begitu gundu mata itu lenyap memasuki kepalanya, tiba-tiba saja dia seperti kemasukan roh penasaran yang menyuruhnya berlutut dan merangkak ke arah Cheng-gan Sian-jin!

Tentu saja iblis hitam ini meremang bulu kuduknya. Mana ada kejadian yang demikian aneh dan menyeramkan? Dan hebatnya lagi, dia tadi tahu-tahu tidak dapat menguasai kesadaran diri sendiri dan roboh berlutut mengikuti perintah yang datang dari dalam kepalanya sendiri! Mana ada peristiwa yang lebih menyeramkan daripada ini? Hek-mo-ko terguncang batinnya dan sepasang matanya berputaran, dan ketika dia menoleh ke arah teman-temannya, diapun melihat betapa keadaan orang-orang itupun agaknya sama dengan dirinya, pucat dan dicekam rasa ngeri.

Cheng-gan Sian-jin yang berdiri sambil berkemak-kemik, tiba-tiba mengeluarkan teriakan parau. Suara kakek ini seperti suara hantu menjerit, melolong panjang dan sekonyong-konyong berhenti seperti setan tercekik. Semua mata memandang terbelalak dan Hek-mo ko melihat betapa kepala Cheng-gan Sian-jin tiba-tiba terbungkus uap hitam. Mula-mula tipis saja uap ini, akan tetapi semakin lama semakin tebal dan akhirnya lenyaplah kepala kakek iblis itu. Sama sekali tidak tampak wajahnya, terseiubung kabut hitam dan suasana di ruangan itu terasa lebih menyeramkan lagi.

Dan sementara orang-orang ini menanti dengan jantung berdebar untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan kakek itu, Cheng-gan Sian-jin tiba-tiba meledakkan kedua tangannya sambil berseru. "Malaikat Gurun Neraka, waspadalah terhadap seranganku yang ketiga kalinya ini. Lihatlah, naga raksasaku ini akan menyambar kepalamu. Hagggggghhhhhhhh.....!"

Raung yang mirip suara binatang buas ini benar-benar hebat bukan main, jauh lebih kuat daripada yang sudah-sudah karena Cheng-gan Sian-jin mengerahkan semua kekuatannya untuk mempengaruhi diri Malaikat Gurun Neraka. Hek-mo-ko sendiri yang bisa dibilang memiliki tingkat paling tinggi di antara teman-temannya, tidak kuat menahan dan terpelanting!

Dan sebelum orang-orang itu mampu bangkit kembali, gerengan Cheng-gan Sian-jin itu sudah disusul dengan pekik lain yang tidak kalah dahsyatnya dan tiba-tiba dari dalam kabut hitam yang membungkus kepala kakek ini muncul seekor naga raksasa. Hebat bukan main binatang ini, tubuhnya bersisik emas dan di kepalanya terdapat sebuah tanduk yang ujungnya bercabang tiga. Dan yang amat mengerikan adalah sepasang mata naga ini. Matanya mencorong buas dan merah berapi-api, bulat sebesar piring!

"Kooaakkkkk...!!" Bumi bergetar bagaikan dilanda gempa ketika naga raksasa bersisik emas ini membuka mulutnya, dan tanpa dapat dicegah lagi, kaca jendela di ruangan itu hancur berantakan! Dari sini saja dapat dibayangkan betapa dahsyatnya naga ciptaan Cheng-gan Sian-jin ini.

Malaikat Gurun Neraka sendiri tampak terkejut. Wajah pendekar sakti itu berobah dan jantungnya tergetar mendengar dua kali pekik dahsyat berturut-turut ini. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah karena sekarang dia tidak mampu melihat wajah kakek iblis yang terselubung dalam kabut hitamnya!

"Ihhh....!" pendekar sakti itu mengeluarkan seruan lirih. Kalau dia sudah tidak dapat melihat wajah lawan, tentu saja hal ini amat berbahaya baginya. Itu menandakan bahwa Cheng-gan Sian-jin telah mengerahkan seluruh kekuatannya dan kakek itu memang betul-betul hebat. Kekuatan batin Cheng-gan Sian-jin agaknya jauh lebih kuat dibandingkan dengan mendiang Ang-i Lo-mo. Dan sebelum dia sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba saja Cheng-gan Sian-jin telah mengeluarkan bentakan keras sambil menudingkan tangannya.

"Kwi-liong (Naga Setan), hayo serang lawanmu itu. Terkam kepalanya dan banting tubuhnya, haiittt...!"

Ajaib! Bagaikan mengerti pembicaraan orang, naga raksasa itu tiba-tiba berkoak panjang dan tubuhnya terbang menyambar ke arah Malaikat Gurun Neraka. Kecepatannya sungguh luar biasa, bagaikan sinar halilintar. Terdengar angin bertiup keras dan tahu-tahu binatang mengerikan ini telah berada di depan hidung pendekar sakti itu.

"Ahhh...!" Malaikat Gurun Neraka mengeluarkan seruan kaget karena tadi dia masih tertegun heran. Melihat betapa naga raksasa ini menyambar sambil membuka mulutnya lebar-lebar dan lidahnya yang kasar merah itu menjilat buas, hampir saja pendekar ini kehilangan akal. Tadi dia merasa terkejut menyaksikan kehebatan datuk sesat itu. Belum pernah selama hidupnya dia menjumpai seorang ahli ilmu hitam yang sesakti Cheng-gan Sian-jin ini sehingga mampu menyembunyikan wajahnya di balik uap hitam.

Maka, diserang secara tiba-tiba oleh binatang buas itu membuat pendekar ini kaget sekali. Dia melengking tinggi dan ketika naga itu menyambar datang, Malaikat Gurun Neraka secepat kilat merobohkan tubuh sejajar lantai dan dari bawah kedua kakinya bergerak ke atas melakukan tendangan kilat.

"Plak-duk-dukk!"

Tiga kali tendangan kiri kanan pendekar itu dengan tepat menghantam perut naga, dan akibatnya binatang itu memekik kesakitan dan tubuhnya terpental jauh. Namun, binatang ini sudah membalik lagi dan karena kesakitan, terjangannya semakin buas dan keempat kakinya yang pendek-pendek akan tetapi kuat dan kokoh itu menjulurkan kuku-kuku maut yang siap merobek tubuh lawan.

Namun, Malaikat Gurun Neraka yang sudah hilang kagetnya ini telah melenting berdiri seperti semula. Pendekar ini melihat betapa tangan kanan Cheng-gan Sian-jin berputar aneh dan naga itu mengikuti gerakan tangan majikannya, seolah-olah di-"stir" dari jauh oleh gembong iblis itu. Dan ketika jari Cheng-gan Sian-jin menuding ke arahnya, naga itupun mengikuti gerakan ini dan meluncur dengan kecepatan kilat menerkam kepalanya.

"Hemm....!" pendekar itu menggeram dan karena dia merasa diganggu oleh binatang ini, maka begitu naga itu menyambar dekat, Malaikat Gurun Neraka ini menggerakkan tangan kirinya, mendorong ke depan dan serangkum angin pukulan yang luar biasa kuatnya menahan binatang itu. Dan sebelum naga ini sempat melanjutkan serangannya, secepat kilat pendekar itu melangkah maju dan kedua jari tangan kanannya menusuk ke depan.

"Crot-crott! Kooaakkk....!"

Tusukan kilat ke arah mata naga itu dengan tepat mengenai sasarannya dan terdengarlah pekik kesakitan yang memekakkan telinga ini. Naga itu menggeliat kaget, keempat kakinya berusaha mencengkeram ke depan namun Malaikat Gurun Neraka yang tidak mau memberi hati sudah menyusuli dengan tamparan tangan kirinya yang berhawa panas.

"Prakk!" Kepala naga itu terhantam telapak pendekar ini dan binatang itu tidak sempat menjerit lagi. Kepalanya hancur lebur dan bersamaan dengan pukulan yang menewaskan naga ini, lenyaplah tubuhnya terganti dengan sebatang tongkat ular yang hancur menjadi debu!

Cheng-gan Sian-jin berteriak parau saking marahnya melihat betapa tiga kali berturut-turut semua serangan ilmu hitamnya gagal. Kakek ini murka sekali. Dia meledakkan kedua tangannya lima kali bertubi-tubi dan tiba-tiba uap hitam yang membungkus kepalanya melebar, kian lama kian besar dan kalau tadi hanya menyelubungi kepala Cheng-gan Sian jin, sekarang dalam waktu tidak lebih dari lima detik saja seluruh tubuh kakek itu dari ujung-ujung jari kakinya sampai ke ubun-ubun sudah tidak tampak lagi, terlindung kabut hitam yang gelap pekat!

"Malaikat Gurun Neraka, kau memang tidak dapat diajak bersahabat. Baiklah, aku akan membunuhmu dari dalam kabut ini. Awas, siapkan nyawamu ke hadapan Giam-lo-ong, harrggghh...!"

Raung seperti hantu dalam kubur ini membuat bulu roma berdiri. Apalagi ketika tiba-tiba kabut hitam itu berjalan dan akhirnya melayang di atas permukaan lantai, mengangkat tubuh Cheng-gan Sian-jin di dalamnya! Sungguh seperti roh penasaran yang muncul di kulit bumi!

Malaikat Gurun Neraka yang sudah banyak kali mengalami hal-hal mengerikan, tak terasa lagi terbelalak matanya. Pendekar ini terkejut setengah mati melihat peristiwa yang amat luar biasa itu. Dia memang pernah mendengar tentang kekuatan hitam seperti apa yang ditunjukkan oleh Cheng-gan Sian-jin ini, namun karena seumur hidupnya pendekar ini belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, maka begitu menjumpai hal seperti itu, dia merasa seram juga. Cheng-gan Sian-jin ini betul-betul seorang kakek iblis yang mengerikan. Ilmunya aneh-aneh dan rata-rata semuanya berbau ilmu setan.

Melihat betapa kabut hitam yang mengangkat tubuh Cheng-gan Sian-jin itu melayang di atas permukaan lantai mendekatinya, pendekar ini menahan napas sejenak dan ketika kabut ini telah berada di depannya dalam jarak dua meter, pendekar itu memukul ke depan dan mengeluarkan bentakan menggeledek.

"Cheng gan Sian-jin, keluarlah kalau kau tidak ingin kubakar hidup-hidup...!"

Dan sungguh mengejutkan. Begitu kedua tangan Malaikat Gurun Neraka menghantam ke depan, tampak asap mengepul dari telapak tangan pendekar itu dan ketika asap merah ini bertemu dengan kabut hitam Cheng-gan Sian-jin, terdengar ledakan nyaring dan kabut hitam itu terbakar! Kiranya pukulan api yang dilancarkan Malaikat Gurun Neraka ini telah bersenyawa dengan uap hitam itu, bagaikan bensin bertemu api!

Tentu saja Cheng-gan Sian-jin kaget sekali. Kakek ini berseru keras dan dua kali dia membanting kaki, lenyaplah ilmu hitamnya itu. Kabut hitam yang menyelubungi tubuhnya musnah dalam sekejap, begitu pula pukulan berapi lawannya. Tampaklah sekarang tubuhnya yang tinggi besar itu berdiri dengan mata mendelik dan berapi-api. Kemarahan dan penasaran kakek ini benar-benar telah diuji kelewat batas baginya. Sadar bahwa semua ilmu-ilmu sihirnya tidak akan mampu digunakannya terhadap lawan yang benar-benar luar biasa ini, kakek ini lalu menggereng dan secepat kilat tubuhnya mencelat ke depan.

"Malaikat Gurun Neraka, terimalah pukulanku!" Cheng-gan Sian-jin berteriak parau dan kedua tangannya menampar bertubi, cepat bukan main dan dalam satu gebrakan ini saja dia telah mengarah empat bagian mematikan di tubuh lawan, yakni di kepala, leher, ulu hati dan pusar. Dan empat serangan yang saling susul-menyusul inipun masih disambungnya lagi dengan dua kali tendangan berantai, satu menghantam lutut dan yang kedua ke arah anggauta rahasia lawan. Sungguh serentetan serangan maut!

Akan tetapi, Malaikat Gurun Neraka bukanlah orang biasa. Melihat keganasan kakek itu, pendekar ini tidak menjadi gugup. Hanya dia berhati-hati sekali, terutama ketika dia melihat betapa kedua tangan Cheng-gan Sian-jin berwarna merah seperti darah dan angin pukulannya membawa bau amis. Maka ketika kedua tangan lawannya melancarkan empat serangan bertubi itu, pendekar ini mengerahkan tenaga sinkangnya, menangkis sekaligus mencoba untuk melihat sampai dimana kekuatan sinkang kakek itu.

"Plak-plak-plak-plakk!" empat serangan susul-menyusul yang dilakukan Cheng-gan Sian jin bertemu dengan tangkisan pendekar itu. Keduanya terkejut ketika merasa betapa lengan mereka tergetar, tanda masing-masing pihak memiliki sinkang yang tidak boleh dipandang enteng. Dan pada waktu itu, susulan tendangan yang dilancarkan Cheng-gan Sian-jin tiba, Malaikat Gurun Neraka mengeluarkan seruan nyaring, menggerakkan kedua kakinya dan menyambut dua buah tendangan kilat itu dengan lututnya.

"Des-desss!" Dua pasang kaki saling bertemu dan Cheng-gan Sian-jin mendesis, tubuhnya terpental dua tindak sedangkan Malaikat Gurun Neraka terdorong ke belakang satu langkah. Kenyataan ini membuktikan bahwa tenaga sinkang pendekar itu masih unggul satu tingkat di atas Cheng-gan Sian-jin!

Dan ini membuat kakek itu terkejut. Sama sekali Cheng-gan Sian-jin tidak mengira bahwa dia akan bertemu dengan seorang lawan yang sanggup menandingi sinkangnya, malah di atas tenaganya sendiri! Oleh sebab itu, kakek ini mulai merasa gelisah dan dia benar-benar penasaran sekali. Masa dia akan kalah segala-galanya oleh lawan? Tadi pertama-tama ilmu hitamnya dilumpuhkan, dan sekarang dalam adu tenaga inipun agaknya dia kembali harus mengakui kelebihan Malaikat Gurun Neraka. Tidak biasa baginya untuk menerima hal yang semacam ini dan kakek itu lalu melengking, tubuhnya berkelebat lenyap dan tahu-tahu dia telah mencelat ke atas lalu menukik turun sambil menghantam ke bawah.

Hebat bukan main kecepatan gerak kakek ini. Cheng gan Sian-jin yang merasa agak "minder" melihat kesaktian pendekar itu, kali ini mencoba untuk merebut kemenangan mengandalkan ginkangnya. Dan memang ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan Cheng-gan Sian-jin betul-betul mengagumkan. Dalam sekali gerak saja tubuhnya lenyap bagaikan asap karena inilah ilmu ginkang andalannya yang disebut Cui-beng Ginkang, Ginkang Pengejar Roh!

Dengan ilmu meringankan tubuhnya itu kakek tinggi besar ini sanggup membuat bobot tubuhnya seringan roh atau sukma, sebuah kepandaian yang didapatnya dari Pegunungan Himalaya belasan tahun yang lampau. Dan dengan ilmunya inilah maka tadi dia dapat muncul di ambang pintu dengan tiba-tiba karena langkah kakinya tidak tertangkap oleh telinga Malaikat Gurun Neraka. Apalagi karena tadi perhatian pendekar ini tercurah kepada murid tunggalnya yang tidur sepembaringan dengan murid perempuannya.

Takla Sin-jin sendiri terkejut menyaksikan ginkang Cheng-gan Sian-jin yang sanggup membuat tubuhnya berkelebat lenyap dari pandangan mata lawan. Diam-diam pendekar ini merasa kagum juga. Mau tak mau dia harus mengakui kehebatan datuk itu dan kalau bukan dia, agaknya orang lain memang bukan tandingan kakek iblis itu. Dan dia merasa prihatin melihat betapa dunia dihuni oleh manusia seperti Cheng-gan Sian-jin ini. Pantas saja ketua-ketua partai besar dirobohkan oleh kakek itu. Kiranya kakek itu memang bukan orang sembarangan!

Timbullah niat di dalam hati pendekar sakti ini untuk melenyapkan Cheng-gan Sian jin dari muka bumi. Dia melihat bahwa kalau kakek itu masih berkeliaran di dunia, ancaman malapetaka akan membubung di atas kepala orang-orang tak berdosa. Oleh sebab itu, setelah membulatkan tekadnya, pendekar ini lalu memekik dan mulailah dia mainkan ilmu-ilmu silatnya yang hebat bukan main. Hantaman lawan dari udara itu disambut dorongan kedua tangannya dan meluncurlah sinar merah menyambut telapak Cheng-gan Sian-jin yang menukik bagaikan burung terbang itu.

"Plak-dukk....aihhh!" Cheng-gan Sian-jin menjerit kaget begitu telapak tangannya bertemu dengan kedua tangan Malaikat Gurun Neraka. Kakek ini kaget karena ketika sepasang tangannya disambut tangan lawan, tiba-tiba saja dari sepasang tangan pendekar itu timbul getaran mujijat seperti listrik. Getaran ini menyengat dan sekaligus menghisap tenaga saktinya, seperti orang kena stroom!

Tentu saja Cheng-gan Sian jin terkejut setengah mati. Dia tidak tahu bahwa pada waktu itu, Malaikat Gurun Neraka telah mengisi kedua batang lengannya dengan tenaga saktinya yang amat mujijat, yaitu tenaga Lui-kong-yang Sin-kang atau Tenaga Sakti Inti Petir! Inilah sebabnya begitu telapak Cheng-gan Sian-jin bertemu dengan kedua lengan Malaikat Gurun Neraka, tenaga Lui-kong-yang Sin-kang bekerja, menyengat dan sekaligus menghisap pukulan lawan, tiada ubahnya seperti orang yang disambar petir!

Akan tetapi, kalau kakek iblis itu bukan seorang yang memiliki ilmu aneh-aneh dan bermacam-macam, agaknya gebrakan pertama yang dilakukan oleh pendekar itu dapat menyedot tenaga lawan dan menghisapnya sampai kehabisan tenaga. Sayang, Cheng gan Sian-jin betul-betul orang yang memiliki banyak akal dan kepandaiannya sudah terlalu tinggi untuk dirobohkan dalam segebrakan saja.

Begitu tenaga saktinya disedot "stroom" yang mengalir dari tangan lawan, kakek ini cepat membuka mulutnya dan mengeluarkan seruan "hahhh...!" yang keras sekali.

Malaikat Gurun Neraka yang berhadapan dalam jarak yang sedekat itu, kaget ketika melihat betapa dari mulut kakek iblis ini berhamburan jarum-jarum halus yang menyambar seluruh wajahnya! "Uhhh....!" pendekar ini berteriak perlahan dan karena kejadian ini datangnya di luar dugaan maka satu-satunya jalan adalah melompat mundur dan ini berarti dia harus melepaskan lawan yang sudah dicengkeramnya. Namun, demi keselamatan diri sendiri maka pendekar itu terpaksa melakukan satu-satunya jalan ini. Dia melompat mundur dan jarum-jarum halus itu lewat di sisinya, sementara Cheng-gan Sian-jin menarik kedua tangannya dan melompat ke belakang sambil menyumpah-nyumpah.

Demikianlah, kedua jago tua itu lalu bertanding lagi, masing-masing amat berhati-hati sekali. Cheng-gan Sian-jin sudah tidak mau sembrono lagi beradu langsung dan menyentuh tubuh lawan, sedangkan Malaikat Gurun Neraka harus berhati-hati karena gembong iblis itu dapat saja melakukan serangan tak diduga-duga yang amat licik dan curang, seperti tadi tiba-tiba saja menghamburkan serangan jarum dari mulutnya. Kalau bukan golongan sesat, mana ada orang mau melancarkan serangan curang seperti yang dilakukan kakek iblis ini?

Cheng-gan Sian-jin yang mendapat pengalaman mengejutkan dalam adu tenaga itu, kini telah mengeluarkan senjatanya yang terakhir, yaitu untaian tasbeh hitam yang tadi melingkar di lehernya. Dia memiliki tiga macam jenis senjata, yaitu yang pertama adalah pengikat rambutnya, kedua merupakan tongkat ular dan yang ketiga bukan lain adalah untaian tasbeh hitam yang selalu melilit batang lehernya yang kokoh itu. Dua senjatanya yang pertama telah dihancurkan oleh pendekar itu, dan kini tinggallah senjatanya yang terakhir, yakni tasbehnya ini.

Dengan tasbeh di tangan kanan dan pukulan Tok-hiat-jiu di tangan kiri, ditambah dengan pengerahan tenaga Cui-beng Ginkang yang membuat tubuhnya dapat lenyap dan berpindah-pindah dalam kecepatan kilat, kakek ini memang benar-benar hebat sekali. Senjata di tangan kanannya itu mengeluarkan angin bersiutan, menyambar-nyambar di delapan penjuru dan kadang-kadang dalam sat yang tidak terduga tasbehnya datang tanpa suara, lenyap angin serangannya. Dan inilah yang berbahaya sekali karena Malaikat Gurun Neraka harus mengerahkan pendengaran dan ketajaman matanya untuk melihat kemana tasbeh itu menyambar.

Terjadilah pertandingan yang luar biasa serunya. Cheng-gan Sian-jin tidak mengira bahwa selain dia, Malaikat Gurun Neraka juga diam-diam merasa kaget dalam pertemuan adu tenaga yang pertama kalinya tadi. Hanya pendekar ini dapat menyimpan rasa terkejutnya sedangkan kakek itu sendiri tidak. Yang dikejutkan oleh pendekar ini bukan lain adalah pukulan Tok-hiat-jiu. Dalam pertemuan telapak tangan tadi, pendekar ini merasakan betapa kedua telapak tangannya gatal-gatal dan panas, menimbulkan nyeri tanda pukulan lawannya mengandung racun.

Dan hanya berkat pengerahan tenaga sinkang Lui-kong-yang itu sajalah maka dia berhasil membakar racun darah yang dimiliki Cheng-gan Sian-jin dan melenyapkannya pada saat itu juga. Kalau tidak, tentu tubuh pendekar ini sudah keracunan. Dan inilah yang membuat pendekar itu merasa kaget di dalam hati.

Maka, untuk mengimbangi Cheng-gan Sian-jin, Malaikat Gurun Neraka lalu mengeluarkan ilmu-ilmu silatnya yang beraneka ragam. Mula-mula sebagai balasan, dia melancarkan pukulan-pukulan Cap-jiu-kun (Silat Sepuluh Kepalan) dimana semua serangan-serangannya ini mengandung tenaga Lui-kong-yang Sin-kang. Akan tetapi, melihat betapa gelombang serangan kakek itu semakin lama semakin dahsyat, maka untuk menahan arus serangan ini dia mainkan Khong-ji-ciang. Dua ilmu silat ini digabung dan gelombang pukulan Cheng-gan Sian-jin serta tasbeh hitamnya dapat diatasi.

Akan tetapi, ketika kakek iblis itu merobah ilmu silatnya dan kini mulai bergulingan di lantai dan melancarkan serangan bertubi-tubi ke bagian bawah tubuh lawan, pendekar ini kewalahan juga. Gerakan kakek itu luar biasa cepatnya dan sekarang Cheng-gan Sian-jin juga menggabungkan dua macam serangannya. Sedetik bergulingan di lantai sambil menyerang dengan tasbeh dan tangan kiri, sedetik kemudian kakek inipun telah mencelat bangun dan terbang berputaran dengan ilmu ginkangnya yang luar biasa itu. Berat tubuhnya seakan-akan tidak berbobot lagi, melayang ringan di atas permukaan lantai bagaikan seekor burung.

Hal ini membuat Malaikat Gurun Neraka repot juga. Cheng-gan Sian-jin terlalu cerdik untuk diajak beradu tenaga secara langsung seperti tadi. Setiap kali kedua tangan mereka hendak bertemu, selalu kakek itu mengelak cepat dan dari samping lalu menyerang secara tiba-tiba. Tentu saja pertandingan yang seperti ini akan memakan waktu lama. Malaikat Gurun Neraka menjadi tidak sabar, maka ketika Cheng-gan Sian-jin kembali melancarkan serangan sambil bergulingan, pendekar itu mengeluarkan bentakan menggeledek dan kedua kakinya tiba-tiba dibanting keras di atas lantai.

"Duk-dukk!" sepasang kaki pendekar ini melesak empat dim dan lantai itu hancur! Tasbeh di tangan kanan Cheng-gan Sian-jin yang pada saat itu sedang menyerang dari bawah, dengan tepat mengenai kaki kiri Malaikat Gurun Neraka dan karena pendekar itu tidak mengelak, maka tasbeh hitam ini membelit kakinya. Sementara itu, pukulan tangan kiri Tok-hiat-jiu menyusul sedetik kemudian dan dengan tepat menghantam kaki kanan Malaikat Gurun Neraka.

"Rrrtttt-desss!"

Kedua kaki pendekar itu tidak bergeming. Baik tasbeh yang membelit kaki kirinya maupun pukulan Tok-hiat-jiu yang menghantam kaki kanannya, sama sekali tidak mengguncangkan sepasang kaki pendekar sakti itu yang menancap kokoh bagaikan tertanam di dasar bumi. Itulah kuda-kuda Siang-kak-jip-te (Sepasang Kaki Berakar di Bumi) yang dilakukan Malaikat Gurun Neraka. Dengan pasangan kuda-kuda seperti ini, biar ada gunung ambruk sekalipun tidak akan sanggup merobohkan tubuh pendekar itu!

Dan sementara gerakan Cheng-gan Sian-jin tertahan, Malaikat Gurun Neraka tiba-tiba meledakkan kedua tangannya dan terdengarlah tepukan bagaikan suara halilintar. Dari telapak tangan pendekar ini muncrat bunga api yang berkobar ketika meluncur ke arah tubuh Cheng-gan Sian-jin yang masih berkutetan di bawah!

"Darr! Ciuuutttt.... bushhh!"

Serangan api petir ini menghantam lantai karena Cheng-gan Sian jin sudah berteriak kaget dan mencelat bangun. Untung gerakan kakek iblis itu cepat sekali dan berkat Cui-beng Ginkangnya maka dia berhasil menyelamatkan diri dari serangan mujijat pendekar itu. Namun Malaikat Gurun Neraka yang kini telah mengeluarkan ilmu saktinya yang bernama Lui-kong Ciang-hoat (Ilmu Silat Halilintar) itu dan sudah tidak mau memberi hati, mencabut kakinya dan berkelebat menyerang Cheng-gan Sian-jin.

"Dar...darrr!"

Dua kali serangan ini kembali luput. Cheng-gan Sian-jin sudah berteriak gentar dan wajah kakek yang biasanva tidak mengenal takut itu kini tampak pucat. Teringatlah dia ketika dulu Hek-mo-ko menghadapi murid pendekar sakti itu. Juga Hek-mo-ko diserang gencar oleh ilmu pukulan sakti ini, namun yang keluar dari tangan bekas jenderal muda itu hanyalah sinar-sinar kebiruan yang berhawa panas. Sama sekali bukan api sakti seperti yang sekarang dikeluarkan oleh Malaikat Gurun Neraka ini! Benar-benar guru lebih hebat daripada murid!

“Hek-mo-ko, bantu aku, serang dia! He, Lie Lan, mengapa melenggong saja disitu? Anak bodoh, hayo maju! Dan kalian semua, hei kerbau-kerbau dungu, cepat bunuh musuh ini. Serangg...!!"

Cheng-gan Sian jin berteriak-teriak, bingung dan marah kepada anak buahnya yang menonton dari jauh. Pukulan-pukulan Lui-kong Ciang-hoat yang dilancarkan pendekar sakti itu benar-benar membuatnya gelisah, selalu mengejarnya kemanapun dia lari. Dan hanya berkat Ginkang Pengejar Roh sajalah dia masih dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi, ketika tiba-tiba pendekar itu melengking nyaring dan tubuhnya berkelebat ke depan dan terbang berputaran mengejarnya, kakek iblis ini benar-benar hampir berhenti denyut jantungnya.

Dia melihat betapa ilmu ginkang yang amat diandalkannya itu kini mendapatkan lawan yang setimpal. Tubuh Malaikat Gurun Neraka melayang seperti kapas ringannya dan kemanapun dia pergi, musuhnya itu selalu membuntutinya bagaikan bayangannya sendiri. Akibatnya, dua orang ini segera lenyap tubuhnya karena masing-masing mengerahkan seluruh ilmu ginkangnya. Cheng-gan Sian-jin mati-matian mengerahkan Cui-beng Ginkang untuk melarikan diri, sedangkan Malaikat Gurun Neraka mengerahkan Jouw-sang-hui-teng (Terbang Di Atas Rumput) sambil menyerang bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan saktinya yang meluncurkan api petir!

Sebentar saja, pukulan Lui-kong Ciang-hoat yang luput mengenai Cheng-gan Sian-jin menghantam apa saja. Dan di mana pukulan ini meledak, muncratlah api yang segera berkobar besar dan tidak lama kemudian kamar besar itupun terbakar!

Kacaulah keadaan di situ. Hek-mo-ko dan teman-temannya yang diteriaki pimpinannya agar membantu dan mengeroyok Malaikat Gurun Neraka menjadi ragu-ragu dan tidak segera menolong. Akan tetapi, ketika Cheng-gan Sian-jin mulai mengancam untuk kelak membunuh mereka dengan sekejam-kejamnya, orang-orang inipun merasa serba salah. Maju takut, mundur gentar! Mana yang harus dipilih? Benar-benar situasi yang amat runyam!

Akhirnya, Hek-mo-ko yang lebih takut terhadap koksu, melompat maju dan tindakannya ini segera diikuti oleh yang lain. Mereka berada di sarang sendiri, dan musuh mereka hanya seorang, masa mereka harus terlalu takut? Maka dengan nekat orang-orang inipun lalu berlarian mengejar. Akan tetapi ternyata maksud mereka inipun juga tidak gampang dilaksanakan. Dua orang sakti itu bergerak-gerak cepat, tubuh mereka sudah tidak tampak lagi karena merupakan dua gulung bayangan yang tidak jelas.

Apalagi mereka itupun juga sudah tidak selalu berada di tempat yang sama. Sebentar di atas tanah, sekejap kemudian sudah melayang di atas rumah. Kejar-kejaran yang seru terjadi dan dua orang itu berkelebat-kelebat cepat seperti setan. Dan hanya tubuh Malaikat Gurun Neraka yang kini diselimuti cahaya kemerahan yang terang benderang itulah yang memberi tahu kepada Hek-mo-ko dan teman-temannya bahwa bayangan itu adalah bayangan pendekar sakti yang mengejar Cheng-gan Sian-jin.

"Ah, kita tangkap muridnya dan jadikan sandera!" tiba tiba Kim-bian berseru. Yang lain seperti diingatkan dan beramai-ramai mereka menyatakan setuju.

"Benar, dan kita kumpulkan pasukan besar untuk mengurung tempat ini !" Lie Lan menyambung dan gadis ini lalu memerintahkan beberapa orang perwira yang ada di situ untuk mengumpulkan seluruh pasukan yang ada di kota raja.

Gegerlah keadaan di situ. Para perwira sudah cepat membunyikan terompet tanduk untuk membangunkan pasukan yang tidur, sedangkan Hek-mo-ko dan kawan-kawannya berlarian masuk untuk menawan Bu Kong yang tadi masih pingsan di dalam kamar. Kebakaran yang terjadi semakin luas dan orang-orang ini semakin panik. Akibat pukulan Lui-kong Ciang-hoat benar-benar hebat sekali. Wuwungan-wuwungan rumah yang tadi dipakai kejar-kejaran oleh dua orang sakti itu, juga tidak luput dari pukulan Malaikat Gurun Neraka yang luput mengenai tubuh Cheng-gan Sian-jin dan apipun membakar rumah-rumah ini!

Kota raja benar-benar gempar. Tadinya Cheng-gan Sian-jin memang tidak mempersiapkan pasukan karena pikirnya untuk menghadapi seorang musuh saja buat apa pasukan segala harus diikut sertakan? Dengan anak-anak buahnya sendiripun kiranya sudah cukup. Kepercayaan diri yang terlalu berlebih-lebihan ini ternyata merugikan kakek iblis itu karena sekarang nyatanya dia diancam pukulan maut yang dilancarkan lawannya yang telah mengambil keputusan bulat untuk mengenyahkan dirinya dari muka bumi.

Sementara itu, Lie Lan dan teman-temannya yang berlarian untuk mengambil murid pendekar sakti yang masih pingsan itu, kembali mengalami kejutan. Baru saja mereka ini tiba di pintu, bayangan-bayangan berkelebatan dari dalam kamar dan tampak oleh murid perempuan Cheng-gan Sian-jin ini betapa tubuh Yap goanswe dipondong dan dilarikan oleh seorang gadis cantik berbaju hijau!

"Heii, berhenti kalian...!" Lie Lan membentak dan gadis ini melompat, memukul dengan serangan jarak jauh.

"Plakk!" gadis baju hijau itu menangkis dan tubuhnya terhuyung hampir jatuh. Gadis ini mengeluarkan seruan kaget dan pada saat itu Lie Lan yang merasa marah kembali melancarkan pukulannya.

"Gadis siluman, perlahan dulu...!" tiba-tiba dari samping menyambar bayangan putih dan seorang pemuda tampan menangkis pukulan murid Cheng-gan Sian-jin ini.

"Dukk!" Lie Lan tertahan pukulannya dan tergetar tangannya, akan tetapi pemuda itu terpental ke belakang.

"Aihh, lihai sekali!" pemuda itu berseru kaget. "Hong-moi (adik Hong), cepat pergi, biar aku menahan gadis siluman ini!" pemuda itu berteriak kepada gadis baju hijau, lalu mengeluarkan kipas hitam dan jarum perak yang panjangnya lima inci kemudian menerjang Lie Lan yang hendak menyusul gadis baju hijau yang melarikan tubuh Yap Bu Kong.

Siapakah pemuda tampan berbaju putih itu? Agaknya para pembaca tentu sudah mengenalnya. Melihat kipas hitam dan jarum peraknya, siapa lagi kalau bukan Gin-ciam Siucai? Benar, pemuda itu memang Hok Sun adanya sedangkan gadis cantik berbaju hijau yang melarikan Bu Kong bukan lain adalah Pek Hong, itu murid tunggal Ta Bhok Hwesio yang berkepandaian tinggi.

Dua orang muda ini tidak sendirian saja. Mereka itu dibantu oleh banyak orang teman dan diantaranya tampak seorang hwesio gemuk pendek yang selalu tersenyum-senyum serta seorang Kakek berpakaian nelayan. Dan hwesio gemuk yang bermulut ramah itu bukan lain adalah Ta Bhok Hwesio sendiri, hwesio sakti yang berasal dari Tibet, sedangkan kakek berpakaian nelayan itu bukan lain Phoa-lojin (kakek Phoa) dari Pulau Cemara di Laut Timur. Kakek inilah yang dulu oleh Yap Bu Kong hendak ditemui karena Phoa-lojin itu adalah seorang ahli gwamia (tukang ramal) yang ulung!

Hek-mo-ko dan teman-temannya terkejut sekali melihat kehadiran orang-orang tak diundang ini. Dia memandang terbelalak ke arah Ta Bhok Hwesio yang melangkah menghampirinya sambil tersenyum-senyum itu.

"Ha, Setan Hitam, apa kabar? Wahh, setelah dekat dengan koksu tubuhmu semakin gemuk saja. Ha-ha, agaknya kau disuguhi daging-daging empuk, ya? Ehh, kenapa melotot? Oh-ya, aku lupa, bukankah sepasang matamu itu memang tidak dapat dipejamkan? Kabarnya kalau kau tidur sekalipun matamu masih mendelik, he-he..."

Ta Bhok Hwesio tertawa geli. Kakek ini memang berwatak periang dan suka bergembira. Dalam perjalanannya mencari murid perempuannya yang bengal itu, dia mendengar berita di perjalanan bahwa Yap-goanswe tertawan di kota raja Kerajaan Wu. Dia tahu bahwa muridnya itu mencinta Yap-goanswe, dan tentu juga sudah mendengar kabar ini. Maka, ke mana lagi dia harus mencari Pek Hong kalau bukan ke kota raja?

Itulah sebabnya kakek ini lalu melangkahkan kakinya kesana, dan di tengah perjalanan hwesio ini melihat kejadian-kejadian yang menarik hatinya. Dia melihat orang-orang kang-ouw sedang berkumpul di sebuah hutan dekat kota raja, mereka itu melakukan perundingan rahasia dan ketika dia mencuri dengar, hwesio ini mendapatkan keterangan bahwa orang-orang itu hendak memasuki Sucouw secara diam-diam dan menyamar dengan bermacam-macam pakaian untuk membantu Malaikat Gurun Neraka yang hendak membebaskan muridnya dari tangan Cheng-gan Sian jin.

Tentu saja mendengar nama Cheng-gan Sian-jin Ta Bhok Hwesio kaget sekali. Sepasang mata-nya terbelalak dan kalau dia tidak dapat menekan hatinya, agaknya dia telah mengeluarkan seruan keras mengejutkan orang-orang itu. Memang betul bahwa dia telah mendengar berita tentang tertawannya Yap-goanswe di kota raja musuh, akan tetapi tadinya dia menyangka bahwa yang menawan bekas jenderal muda itu adalah panglima-panglima Kerajaan Wu. Sama sekali dia tidak mengira bahwa pemuda itu ditangkap Cheng-gan Sian-jin yang kini menjadi koksu Kerajaan Wu!

"Ahh, bagaimana siluman raksasa itu dapat hidup kembali setelah tigapuluhan tahun lenyap? Celaka, aku harus segera ke sana, kalau tidak, tentu nasib pemuda itu berbahaya sekali!" kakek ini berkata di dalam hatinya dan dia lalu mendahului orang-orang itu, memasuki kota raja dengan cepat namun secara hati-hati sekali.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, hwesio Tibet ini tidak mengalami banyak kesukaran dan diapun lalu melakukan penyelidikan. Dan hwesio ini menjadi terheran-heran dan semakin kaget ketika dia mendengar perbuatan-perbuatan Yap-goanswe yang dikabarkan orang melakukan perjinaan dengan selir Yun Chang dari Kerajaan Yueh, betapa Yueh hancur di tangan musuh dan betapa Raja Muda Yun Chang sendiri tewas dalam peperangan itu.

"Wahh, luar biasa sekali!" Ta Bhok Hwesio berseru. "Bagaimana mungkin pemuda yang gagah perkasa seperti itu mampu melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk semacam ini? Hampir tidak masuk akal...hampir tidak masuk akal, ini tentu fitnah! Dan kalau gurunya tergesa-gesa turun tangan menghukum muridnya, hal ini benar-benar berbahaya sekali...ahh, pinceng harus mencari tahu pokok pangkalnya yang benar..."

Hwesio sakti itu dengan muka tegang lalu cepat mencari keterangan dimana kiranya Yap Bu Kong ditawan. Dia telah mengenal baik watak jenderal muda yang gagah perkasa itu dan dia tidak mudah begitu saja untuk mempercayai berita-berita yang mengejutkan tentang diri pemuda itu. Dia tertarik dan suka kepada murid Malaikat Gurun Neraka ini, kagum akan kegagahan dan ilmu kepandaiannya yang tinggi. Bahkan diam-diam kakek ini telah berbicara dengan guru pemuda itu untuk menjodohkan Bu Kong dengan murid perempuannya sendiri.

Akan tetapi malang, sebelum dia menyinggung-nyinggung hal ini dengan yang bersangkutan, agaknya pemuda itu sudah saling jatuh cinta dengan gadis lain yang cantik jelita, murid Mo-i Thai-houw yang telah tewas ketika dulu bertempur seru dengannya. Memang nenek itu bukan tewas di tangannya, melainkan tewas setelah secara nekat dan mati-matian menyerang guru Yap-goanswe. Sebelumnya Mo-i Thai-houw telah menderita luka dalam ketika bertempur dengannya, maka ketika nekat menyerang Malaikat Gurun Neraka, luka nenek itu menjadi semakin parah dan akhirnya ajal menjemput Mo-i Thai-houw yang dulu merupakan bekas kekasih pendekar sakti itu.

Kisah menyedihkan terjadi. Hubungan asmara antara Yap Bu Kong dengan murid Mo-i Thai-ouw diketahui juga oleh muridnya. Pek Hong terpukul batinnya dan semenjak saat itu, gadis yang biasanya berwatak lincah jenaka ini sekarang berobah seratus delapanpuluh derajat. Tidak nampak lagi keriangan itu, tidak nampak lagi kegembiraan wataknya. Wajahnya selalu murung dan kini, akibat patah hati, gadis itu menjadi lebih kurus da n sinar matanya tidak menunjukkan gairah hidup, da n hanya sesekali, apabila gadis itu teringat kepada Siu Li yang menjadi kekasih pemuda itu, sepasang mata gadis ini menyinarkan api kebencian!

Ta Bhok Hwesio adalah seorang sakti yang berkepandaian tinggi. Dia berhasil menggembleng murid perempuan yang amat disayangnya itu menjadi seorang dara pendekar yang lihai, akan tetapi dia tidak berhasil menyembuhkan patah hati muridnya itu dengan ilmu kepandaiannya. Hwesio ini kebingungan dan untung baginya, Pek Hong yang hilang semangat hidupnya itu tidak sampai kehilangan semangatnya untuk menggembleng diri dalam ilmu silat.

Gadis itu dengan tekun sehingga kadang-kadang lupa makan lupa tidur, memperdalam ilmunya di bawah bimbingan kakek ini. Ta Bhok Hwesio merasa heran melihat betapa Pek Hong kian hari kian bersemangat berlatih ilmu silat dan sinar berapi-api di dalam sepasang mata muridnya nampak semakin hebat.

Kakek ini tidak tahu betapa di dalam hati muridnya itu terdapat kekecewaan dan rasa penasaran yang hebat. Apakah Siu Li lebih cantik daripada dirinya sehingga Yap goanswe lebih tertarik kepada gadis itu? Ataukah karena kepandaian Siu Li lebih tinggi daripada kepandaiannya sehingga jenderal muda yang tampan dan gagah perkasa itu lebih terpikat kepada murid mendiang Mo-i Thai-houw? Dan kekasih pemuda itu bahkan adalah seorang puteri musuh besar dari Kerajaan Yueh!

Bagaimana Yap-goanswe dapat jatuh hati terhadap gadis seperti itu? Padahal jelas bahwa disamping sebagai murid nenek iblis yang berjuluk Mo-I Thai-houw, Siu Li adalah puteri panglima tertua dari Wu-sam-tai-ciangkun! Pek Hong benar-benar penasaran sekali. Tentu murid nenek jahat itu mempergunakan ilmu siluman. Dan untuk menghadapi ilmu silumannya inilah maka sekarang gadis itu berlatih silat dengan giat dan mati-matian tak kenal lelah! Pek Hong telah bertekad untuk kelak mencari gadis itu dan hendak dihajarnya Siu Li yang telah mempergunakan “ilmu silumannya” menjatuhkan hati Yap-goanswe!

Dan gadis ini menjadi semakin yakin akan watak kotor Siu Li ketika gadis itu kini meninggalkan Yap-goanswe setelah membuat jenderal muda itu hampir gila. Kalau memang cinta sungguhan, mana mungkin meninggalkan kekasih merana dan hancur lebur perasaannya? Hanya gadis-gadis siluman sajalah yang mampu melakukan kekejian itu, mempermainkan orang sepuas hati lalu meninggalkannya begitu saja!

Inilah yang mendorong Pek Hong berlatih ilmu silat dengan semangat yang luar biasa sehingga mengherankan gurunya yang tidak mengerti akan sebab-sebabnya. Dan tentu saja hwesio ini menjadi gembira. Setidak-tidaknya muridnya itu tidak menenggelamkan diri dalam kedukaan, dan ini sudah dirasakannya sebagai suatu keuntungan.

Demikianlah, setelah dua tahun memperdalam ilmunya, gadis itu lalu meninggalkan suhunya dan merantau seorang diri. Dia berjanji bahwa tiga bulan lagi akan kembali, akan tetapi setelah Ta Bhok Hwesio menunggu sampai tiga bulan dan ternyata muridnya itu belum kembali, kakek ini menjadi gelisah. Hwesio itu menunggu dan bersabar sampai bulan yang ke empat dan akhirnya, karena Pek Hong belum juga muncul, guru yang amat sayang kepada murid perempuannya itu lalu mencari dengan hati gelisah dan mulut mengomel panjang pendek.

"Uhh, dasar bengal, orang tua disuruh tunggu rumah sedang dia sendiri kelayapan sesuka hati. Awas kau, sekali bertemu tentu kujewer telingamu!” Hwesio ini bersungut-sungut dan kakek itu lalu turun gunung, sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan mendengar hal-hal mengejutkan, terutama tentang munculnya Cheng-gan Sian-jin yang orang kira telah tewas pada tiga puluh tahun yang lampau. Juga tentang tertawannya Yap-goanswe dan hancurnya Kerajaan Yueh serta angkatan perangnya.

Semuanya ini membuat kakek itu terkejut dan dengan muka khawatir diapun lalu menuju ke kota raja. Dia merasa yakin bahwa di kota rajalah dia akan bertemu dengan muridnya itu. Dan apa yang diduga oleh kakek ini ternyata cocok. Mula-mula sekali, ketika dia menangkap seorang perajurit penjaga dan menotoknya lumpuh lalu membawanya ke semak-semak belukar yang gelap, dia mendapatkan keterangan yang jelas sekali tentang di mana beradanya Yap-goanswe yang ditawan koksu. Hwesio ini lalu menggerakkan tangannya sekali lagi dan perajurit itupun pingsan ketika tersentuh jari-jari tangan kakek ini yang mengenai tengkuknya.

"Hemm, di gedung besar bercat kuning. Begitukah kiranya?" demikian hwesio ini mendapatkan keterangan dari mulut penjaga tadi. "Kalau begitu, aku harus segera ke sana."

Ta Bhok Hwesio lalu berkelebat dengan gerakan ringan dan dia mencari-cari dengan matanya di manakah beradanya gedung bercat kuning itu. Karena kompleks istana yang dimasukinya ini rata-rata memiliki gedung-gedung yang besar dan tinggi, maka kakek itu lalu melayang di atas wuwungan sebuah gedung dan dari sinilah dia melayangkan matanya mencari. Dan tiba-tiba kakek ini terkejut. Baru saja dia menginjakkan kaki di wuwungan paling atas, kakek ini melihat betapa seorang kakek lain berpakaian nelayan sedang duduk bersila di atas rumah menghadapi sebidang papan catur sambil tertawa ha-ha-he-he!

“Wah, raja hitam sedang tidur dan ratunya bersembunyi di gedung kuning! Ha-ha, kedudukan mereka memang kuat, akan tetapi didatangi kuda-kuda putih dan keledai gundul dari barat, mana mereka bisa tahan? Apalagi raja putih marah-marah dan menyatroni bidang hitam. He-he, bakal ramai sekali!" Kakek aneh itu berteriak-teriak seperti anak kecil dan tangannya bergerak-gerak cepat di atas papan catur, memindahkan biji-biji catur ke sana-sini dengan wajah gembira.

Ta Bhok Hwesio merasa terkejut, apalagi ketika mendengar ucapan "keledai gundul dari barat!" Apa yang dimaksudkan oleh kakek aneh itu? Cepat dia menahan napas karena maklum bahwa agaknya kakek aneh yang sedang menghadapi papan caturnya itu bukanlah orang sembarangan. Sayang kakek itu membelakanginya sehingga dia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Dan sementara itu, kakek aneh ini kembali bicara seorang diri seperti orang sinting, "Ha, keledai putih naik atap, mulutnya menyeringai ketakutan, sikapnya mau menyerang orang. Tapi sayang, di bawahnya ada anak sapi yang melotot keheranan. Ha-ha ha, hayo keledai gundul, loncat sini, jangan takut, heiiitttt...!"

Kakek aneh itu tiba-tiba mengangkat sebuah bidak, yaitu kuda putih yang daun telinganya sudah dipapas buntung sehingga merupakan "kuda gundul", melemparkan biji catur ini ke belakang yang tepat menyambar ke arah Ta Bhok Hwesio!

Tentu saja hwesio ini terkejut. Sambitan biji catur itu jelas bukan serampangan atau ngawur saja, melainkan memang disambitkan karena kakek aneh yang tertawa ha-ha-he-he itu sudah mengetahui kedatangannya! Oleh sebab itu, hwesio ini lalu melompat dan secepat kilat tangan kanannya bergerak menangkap biji "kuda gundul" yang sekarang mirip keledai itu, ejekan yang ditujukan kepada dirinya!

"Wuutti!" Biji catur itu tertangkap dan Ta Bhok Hwesio merasa betapa lengannya tergetar. Kagetlah kakek ini. Dia belum tahu apakah kakek berpakaian nelayan itu kawan ataukah lawan. Kalau lawan, benar-benar berat sekali karena dia menghadapi seorang musuh yang memiliki sinkang kuat. Namun kakek ini tidak takut dan begitu dia berhasil menangkap biji catur itu, dia melayang sambil menyambitkan kembali bidak itu dan berseru, "Manusia sinting, terimalah biji caturmu ini!"

Kakek berpakaian nelayan itu agaknya terkejut, dia memutar tubuh menoleh dan ketika melihat sambaran "kuda gundul"nya, papan caturnya diangkat cepat dan... "tapp!" biji catur itupun hinggap di atas papan caturnya tanpa bergoyang!

Kini keduanya telah saling berhadapan dan masing-masing pihak melihat jelas muka lawan. Ta Bhok Hwesio terbelalak sejenak dan tampak terkejut, akan tetapi segera mukanya berseri gembira dan kakek ini tertawa bergelak. "Wahh, tidak tahunya Phoa-lojin si tukang pancing dari Pulau Cemara! Ha-haha, tua bangka kurus kering, apa maumu datang ke tempat ini? Apakah di sinipun banyak ikan gemuknya sehingga kau kelayapan kemari jauh-jauh meninggalkan pulaumu? Hati-hati, jangan-jangan kaulah yang terpancing dan dijebloskan dalam penjara, ha-ha!"

Ta Bhok Hwesio tertawa keras karena hatinya betul-betul gembira sekali bertemu dengan sahabat lamanya ini. Sama sekali dia tidak menyangka akan dapat melihat Phoa-lojin di tempat ini dan kejadian ini sungguh kebetulan baginya. Dia tahu bahwa disamping memiliki ilmu silat tinggi, Phoa-lojin adalah seorang tukang gwamia yang ulung, dan dia hendak mempergunakan kesempatan ini untuk bertanya tentang muridnya! Inilah yang menggembirakan hatinya dan kakek itu tertawa dengan muka berseri-seri. Pantas saja kehadirannya diketahui oleh kakek ini, tidak tahunya yang menebak adalah Phoa-lojin! Dia benar-benar merasa kagum sekali akan kepandaian meramal sahabatnya itu.

Phoa-lojin yang melihat kegembiraan hwesio itu, cepat meletakkan jarinya di mulut memberi isyarat, "Sstt, keledai gundul, jangan ribut-ribut! Malam ini akan terjadi peristiwa luar biasa dan harap kau tenangkan diri. Jangan terlalu menggelisahkan murid perempuanmu. Anak itu memang nakal, akan tetapi ia tidak apa-apa. Yang penting adalah menolong Yap-goanswe dan kau harus mengutamakan hal ini. Bukankah kedatanganmu inipun juga hendak membebaskan pemuda itu? Nah, sekarang taatilah omonganku ini dan lihat...!"

Phoa iojin menjentrekkan jari tengah dengan ibu jarinya ke atas, dan tiba-tiba dari bawah melayang sesosok tubuh berpakaian putih. Seorang pemuda tampan berdandan seperti siucai (pelajar) muncul di situ dan pemuda ini memberi hormat kepada kakek berpakaian nelayan itu.

"Suhu memanggil teecu?" pemuda itu bertanya.

Phoa-lojin mengangguk. "Benar, Hok Sun, aku hendak bertanya apa saja yang telah kau lihat di bawah dan bukankah gadis baju hijau yang dulu kau temui tidak kurang suatu apa? Ketahuilah, kakek ini adalah Ta Bhok Hwesio sahabat lamaku dan gadis itu adalah muridnya."

Pemuda baju putih ini tampak terkejut ketika dia mendengar dari suhunya siapa adanya hwesio gundul itu. Cepat dia memberi hormat dan berkata, "Ah, kiranya lo-suhu adalah guru dari nona Pek Hong! Locianpwe, memang beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan murid locianpwe itu di kota Hun-kiang. Dia mengobrak-abrik sarang Hek-tung Kai-pang seorang diri! Sungguh nona Hong gagah dan berani sekali, saya benar-benar kagum. Akan tetapi, karena yang dimasukinya itu adalah sarang orang-orang jahat, maka hampir saja murid locianpwe itu celaka. Untung, pada saat yang berbahaya, muncullah Malaikat Gurun Neraka yang membuat semua orang lari ketakutan dan nona Hong nyaris dari bahaya..."

"Dan dimana ia sekarang?" Ta Bhok Hwesio bertanya dengan muka berobah. Mendengar betapa muridnya itu mengobrak-obrik sarang Hek-tung Kai-pang benar-benar membuat hatinya terkejut sekali. Dia memang pernah mendengar nama Hek-tung Kai-pang yang kabarnya diketuai oleh Liong-tung Lo kai dan dia cukup tahu macam apa adanya perkumpulan kaum pengemis berbaju hitam itu, sekumpulan orang yang tidak segan-segan melakukan tindakan curang dan licik.

"Menurut perkiraan saya ia akan datang di kota raja juga, locianpwe. Dulu sebelum berpisah, nona Hong berkata demikian."

"Hemm, anak bengal, pergi sesuka hati menggelisahkan orang tua," kakek itu mengomel akan tetapi hatinya sudah agak lega dan Phoa-lojin tertawa.

"Sudahlah, kujamin muridmu itu selamat, Ta Bhok Hwesio, jangan resah. Eh, Hok Sun, apa lagi laporanmu?" kakek ini menoleh ke arah muridnya dan bertanya.

"Suhu, orang-orang kangouw belum nampak kedatangannya, begitu pula Malaikat Gurun Neraka. Agaknya kita terlalu cepat mendahului kedatangan mereka. Sejak tadi teecu belum melihat sebuah bayangan yang mencurigakan. Apakah tidak lebih baik kita..."

Phoa-lojin tiba-tiba memberi isyarat dan Hok Sun menghentikan ucapannya. "Sst, lihatlah, orang pertama yang kita nanti-nantikan telah tiba! Ta Bhok Hwesio, Malaikat Gurun Neraka datang....!"

Hok Sun memandang ke depan namun dia sama sekali belum melihat apapun. Sementara dia keheranan, tiba-tiba saja dari jauh tampak sebuah bayangan yang gerakannya cepat bukan main berkelebatan di atas wuwungan rumah-rumah besar. Hok Sun tidak tahu apakah bayangan itu adalah betul bayangan Malaikat Gurun Neraka, akan tetapi karena gurunya telah berkata demikian diapun tinggal percaya saja, apalagi Ta Bhok Hwesio juga mengangguk-angguk dan menjawab.

"Tua bangka, matamu benar-benar tajam sekali. Benar, dia sudah datang dan apa selanjutnya rencanamu?"

"Kita berpencar menuju ke gedung kuning. Hati-hati, Cheng-gan Sian-jin membawa anak buahnya dan kalau pertandingan itu tiba, jangan sekali-kali diantara kita ada yang maju membantu. Hanya setelah suasana mengijinkan sajalah kita menolong Yap-goanswe. Kasihan, pemuda itu benar-benar menderita sekali lahir batinnya. Hok Sun, pergi dan berhati-hatilah dan kita bertemu di gedung kuning itu!"

Phoa-lojin menggerakkan tubuhnya dan tanpa banyak bicara kakek ini telah melayang seperti seekor burung, melompat-lompat di atas gedung-gedung besar itu dan segera lenyap bayangannya tertelan kegelapan malam.

Ta Bhok Hwesio segera mengikuti gerakan kakek itu dan Hok Sun sendiri juga sudah melompat berindap-indap menuju ke gedung kuning yang tampak di kejauhan. Sebentar saja, dengan gerakan mereka yang seperti iblis tiga orang ini sudah lenyap dan ketiga-tiganya sudah bersembunyi di tempat gelap dan menunggu dengan hati tegang di gedung kuning itu.

Kedatangan Malaikat Gurun Neraka sampai pertandingannya melawan Cheng-gan Sian-jin, semuanya ini telah disaksikan oleh tiga orang itu. Dan Ta Bhok Hwesio diam-diam kaget bukan main, terutama menyaksikan Ilmu Sin-gan-i-hun-to yang dilancarkan oleh kakek iblis itu. Hwesio ini merasa betapa hebatnya kesaktian Cheng-gan Sian-jin, apalagi setelah iblis tua itu mengeluarkan ilmu ginkangnya yang disebut Cui-beng Gin-kang yang membuat tubuhnya melayang seringan roh. Penglihatan ini benar-benar membuat hwesio dari Tibet itu terkejut sekali. Diam-diam dia merasa sangsi apakah sanggup kiranya dia menghadapi Cheng-gan Sian-jin!

"Ah, iblis itu sungguh luar biasa. Pinceng sendiri agaknya tidak akan mampu menandinginya. Kalau tidak ada Malaikat Gurun Neraka, siapa kelak yang bakal mampu mengatasi sepak terjang Cheng-gan Sian-jin?" kakek ini berkata seorang diri dan air mukanya tampak gelisah.

Namun keresahan hwesio ini segera hilang ketika dia melihat betapa perlahan-lahan akan tetapi pasti, Malaikat Gurun Neraka mulai mendesak kakek iblis itu dan betapa Cheng-gan Sian-jin mundur-mundur sampai akhirnya keluar rumah berteriak-teriak kepada anak buahnya agar mau membantu. Pukulan-pukulan petir pendekar ini membuat Ta Bhok Hwesio dan yang lain-lain terbelalak ngeri disamping kagum. Mereka melihat betapa dari kedua telapak tangan pendekar sakti itu muncrat tenaga Yang-kang yang amat dahsyat melebihi api dan betapa kian lama tubuh Malaikat Gurun Neraka terselubung cahaya kemerahan seperti api unggun.

Ini semua membuktikan betapa Malaikat Gurun Neraka benar-benar telah sempurna sekali tenaga sinkangnya. Agaknya hawa berapi dari pasir-pasir panas di Gurun Takla telah meresap di dalam tubuhnya, membuat tubuh pendekar ini penuh dengan tenaga api yang terpendam. Dan kalau sewaktu-waktu pendekar itu memerlukannya, dia tinggal memakainya sesuka hati.

Phoa-lojin sendiri yang menyaksikan dari tempat gelap, menggeleng-geleng kepala dengan kagum. Belum pernah selama hidupnya dia melihat kepandaian sehebat itu, dan Malaikat Gurun Neraka itu benar-benar pantas mendapat sebutan pendekar besar yang jarang tandingannya!

Sementara itu, pada saat semua orang sedang tercurah perhatiannya kepada pertandingan antara Malaikat Gurun Neraka melawan Cheng gan Sian-jin, dari luar taman tampak beberapa bayangan berlompatan masuk. Mereka ini bukan lain adalah orang-orang kang-ouw yang berhasil menyelinap ke tempat itu untuk membebaskan Yap-goanswe yang mereka dengar tertawan di tangan Cheng gan Sian-jin yang menjadi koksu Kerajaan Wu. Dan diantara bayangan-bayangan ini, tampak sesosok tubuh yang ramping padat bergerak ringan selincah kijang, berindap-indap mendekati jendela sebelah utara.

Gin-ciam Siucai Hok Sun yang kebetulan berada di jendela utara ini, hampir saja mengeluarkan teriakan girang ketika melihat siapa adanya gadis itu. Bukan lain adalah Pek Hong, murid hwesio Tibet yang sedang dicari-cari gurunya itu. "Nona Hong....!" pemuda itu berseru perlahan setengah berbisik dan suaranya itu ternyata dapat didengar oleh gadis itu.

Pek Hong terkejut dan cepat menengadah sambil meraba rantai peraknya, dan sejenak mukanya menjadi merah ketika melihat siapa gerangan pemuda yang mengaitkan sepasang kakinya di tiang melintang itu. "Kau....?" gadis ini berkata dengan muka tidak senang.

"Sstt, adik Hong, jangan mengeluarkan suara," Hok Sun memberi isyarat dengan telunjuk di bibir. "Banyak orang lihai di dalam, hati-hati, jangan sembrono. Gurumu ada di sini dan sejak tadi bersama kita. Apakah engkau tidak ingin bertemu dengan suhumu itu?"

Wajah cantik yang tadi merah ini segera berseri. Dan memang gadis itu gembira mendengar betapa suhunya ada di situ. Dengan adanya gurunya di tempat ini, bukankah pekerjaannya akan menjadi lebih mudah lagi? Oleh sebab itu, sambil berbisik ia lalu bertanya, "Eh, twako, dimana suhu berada? Kenapa dia tidak keluar membantu? Bukankah kalau kita semua maju, anak buah kakek iblis itu dapat kita basmi? Mengapa masih takut-takut lagi? Hayo kita keluar dan bantu Malaikat Gurun Neraka!" dan Pek Hong sudah hendak melompat keluar!

Tentu saja Hok Sun terkejut. Pemuda ini melepaskan kakinya dan tubuhnya melayang ke bawah. "Adik Hong, jangan tergesa-gesa....! Suhu sedang merencanakan sesuatu, tidak boleh kita merusaknya!" pemuda itu berseru perlahan dan cepat memegang lengan gadis itu.

Pek Hong merengut lengannya dan gadis ini memutar tubuh dengan mata berapi. "Hemm, kau hendak kurang ajar kepadaku, ya? Kau kira aku takut kepadamu? Laki-laki ceriwis, siapa suruh kau pegang-pegang lenganku?"

Hok Sun tergagap dan mukanya merah bagai udang direbus. Tadi melihat betapa gadis ini bersikap manis kepadanya dan memanggil "twako", dia kira bahwa nona itu sudah lenyap marahnya. Siapa tahu, bagaikan angin topan yang dapat muncul sewaktu-waktu, kegalakannya "kumat" lagi dan kini dia disemprot sebagai laki-laki ceriwis!

"Eh... ini... ini... aku... ahh, maafkan kelancanganku, nona. Aku tidak bermaksud kurang ajar, sungguh mati! Aku tidak bermaksud buruk. Apa yang kulakukan adalah atas pesan suhu dan locianpwe Ta Bhok Hwesio yang menekankan agar kita jangan bertindak sembrono. Kalau nona tidak percaya, boleh nona buktikan sendiri dan bertanya kepada mereka..."

Pada saat itu, berkesiur angin dingin dan tahu-tahu Ta Bhok Hwesio telah berdiri di situ dengan kepala tegak. Sinar mata hwesio ini penuh teguran dan dia berkata, "Hong-ji, apa yang dikatakan oleh pemuda ini memang benar. Kau sembrono sekali dan kelewat berani. Kalau kita hendak menyerang musuh, itu harus kita lakukan dengan perhitungan masak, bukannya lalu nyeruduk begitu saja. Sekarang, apa jawabmu setelah berbulan-bulan pergi menggelisahkan orang tua?"

Gadis itu memandang suhunya dan tampak terkejut. Melihat betapa sinar mata gurunya penuh teguran, dia menjatuhkan diri berlutut. "Suhu, mohon maaf sebesar-besarnya jika aku telah membuat kau orang tua gelisah. Aku tidak sengaja, suhu, karena di tengah perjalanan pulang, aku mendengar berita tentang...tentang diri Yap-goanswe... Inilah yang membuat aku terlambat pulang dan harap suhu suka mengampuninya..."

"Hemm...." kakek itu mengeluarkan suara dari hidung dan seketika semua kemarahannya lenyap. Dia tahu betapa muridnya ini mencinta Yap-goanswe, maka mendengar pemuda itu tertangkap musuh, mana bisa berdiam diri? "Sudahlah, hayo bangun dan cepat kita tolong pemuda itu. Lihat, Cheng-gan Sian jin dan anak buahnya telah keluar semua. Kamar terbakar dan kalau kita tidak bertindak, tentu tubuh jenderal muda itu akan termakan api."

Maka beramai-ramai mereka ini lalu melompat ke dalam ruangan besar itu, menjebol pintu atau jendela yang tertutup rapat. Pek Hong melihat betapa tubuh Bu Kong menggeletak di lantai kamar dengan muka sepucat kertas. Betapapun sakit hatinya terhadap pemuda ini teringat akan kabar diluaran tentang perjinaannya dengan wanita-wanita cantik, gadis itu tidak dapat melupakan cinta kasihnya sendiri.

Kamar besar itu sudah terbakar hebat. Api menyala-nyala dan dari luar rumah terdengar suara orang berteriak-teriak dan tindakan kaki berlari-lari. Agaknya para penjaga menjadi gempar dan tiba-tiba terdengarlah suara terompet tanduk ditiup tanda bahaya! Cepat gadis ini mengangkat tubuh yang pingsan itu, menjadi merah mukanya melihat betapa pakaian pemuda itu koyak-koyak setengah telanjang.

Namun Pek Hong tidak perdulikan semuanya ini dan karena maklum bahwa ia berada di sarang harimau, maka begitu dia memondong tubuh Yap-goanswe, gadis inipun segera melompat keluar. Dan pada saat itulah Lie Lan dan teman-temannya memasuki kamar dan melihat betapa Yap-goanswe dilarikan orang, murid Cheng-gan Sian-jin ini berseru marah dan menyerang Pek Hong dengan pukulan jarak jauhnya. Pek Hong menangkis dan karena posisinya kurang menguntungkan, hampir saja dia terpelanting.

Untunglah ketika Lie Lan menyerang untuk kedua kalinya, Hok Sun yang selalu bersiap sedia untuk melindungi gadis itu sudah cepat menahan. Pemuda itu terkejut karena dari tangkisan lengan tadi, dia merasa betapa tenaga lawan amat kuat dan karena dia harus berhati-hati, maka pemuda ini cepat mengeluarkan sepasang senjatanya, yakni kipas hitam dan jarum peraknya yang amat lihai itu sehingga dia dijuluki orang Gin-ciam Siucai.

Demikianlah Hok Sun lalu bertanding dengan murid Cheng-gan Sian-jin itu dan semakin lama pemuda ini menjadi semakin kaget. Dia merasa terkejut karena semua balasannya ditangkis lengan halus gadis itu dan setiap kali tangkisan, tentu senjatanya yang terpental keras ! tentu saja pemuda ini kaget sekali, apalagi setelah lawannya mengeluarkan ilmu pukulannya yang dahsyat, pukulan yang membawa serta bau amis dan betapa kedua lengan gadis cantik itu kini berobah semerah darah dan tampak mengerikan.

“Tok-hiat-jiu…!” Hok Sun berseru kaget dan tahulah dia sekarang dengan siapa dia berhadapan. Kiranya murid Cheng-gan Sian-jin sendiri! ini sama sekali tidak diduganya karena memang sebelumnya dia tidak tahu siapakah murid Cheng-gan Sian-jin itu.

Sementara itu, Hek-mo-ko yang berhadapan dengan Ta Bhok Hwesio dan tidak mengenal hwesio dari Tibet ini, tidak mengeluarkan banyak kata. Iblis hitam ini menggeram dan sekali kaki kanannya bergerak, tahu-tahu kaki itu telah mencuat dari bawah menendang anggauta rahasia lawan dengan kecepatan kilat.