PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 03
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
DENGAN sikap marah pemuda itu lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi ! Pek Hong tertegun dan mukanya menjadi merah. Sama sekali tidak disangkanya bahwa maksud baiknya diterima salah oleh pelajar itu. Diam-diam hatinya mendongkol dan panas.

"Hemm, pemuda yang angkuh dan tinggi hati!" pikirnya marah.

Gadis ini lalu menyimpan uangnya dan sejenak mengikuti kepergian siucai itu dengan pandang matanya. Akan tetapi betapa heran dan terkejut hatinya ketika ia sudah tidak melihat bayangan pemuda tadi!

"Ehh, ke mana dia?" serunya heran dan matanya berputar ke sekeliling tempat itu, namun siucai yang dicarinya itu ternyata memang telah lenyap! Terkejutlah gadis ini dan teringatlah ia akan kedatangan pemuda tadi yang juga amat tiba-tiba dan tahu-tahu telah berada di belakangnya tanpa ia sadari. Kini, seperti datangnya tadi, tanpa diketahuinya pemuda itupun juga lenyap dengan amat cepatnya. Berdebarlah hatinya dan mulailah ia menaruh curiga. Melihat gelagatnya, siucai itu agaknya bukan sembarang orang!

"Hemm, aku harus berhati-hati," katanya perlahan dan wajah tampan dari pemuda pelajar itu dengan keangkuhan sikapnya mulai menarik perhatiannya.

Akan tetapi, teringat urusannya dengan Hek-tung Kai-pang segera lamunannya tentang pemuda itu membuyar. Cepat surat yang masih digenggamnya itu dibaca dan alis yang hitam panjang dari gadis ini berkerut marah. Liong tung Lo-kai, ketua Hek-tung Kai-pang, mengundangnya datang ke markas sebagai tamu kehormatan jika ia bernyali naga. Namun, apabila ia takut, ketua yang sombong itu menyuruhnya datang untuk minta ampun dan menerima dosa!

Pek Hong tersenyum mengejek, sama sekali tidak merasa gentar menerima surat tantangan dari ketua Hek-tung Kai-pang. Di tengah perjalanannya sedikit banyak ia memang telah mendengar tentang kekejaman-kekejaman perkumpulan pengemis ini, maka kebetulan sekali ia sekarang bertemu dengan penjahat-penjahat itu. Ia akan datang, dan hendak diobrak-abriknya sarang penjahat berkedok pengemis yang sebenarnya merupakan pemeras-pemeras keji itu!

Demikianlah, dengan sikap tabah dan tenang gadis ini kemudian meninggalkan tempat itu, pura-pura tidak tahu betapa beberapa pasang mata meng intainya dari jauh, mata orang-orang Hek-tung Kai-pang!

Pada saat itu, pesta ulang tahun di markas pusat perkumpulan Hek-tung Kai-pang mengalami sedikit keguncangan. Datangnya anggauta-anggauta yang terluka dan dipapah serta dua orang anggauta yang tewas membuat semua mata terbelalak kaget. Kenyataan ini sungguh mengejutkan bagi mereka, apalagi setelah mereka mendengar betapa yang merobohkan saudara-saudara mereka, itu hanyalah seorang gadis cantik berusia sembilan belasan tahun!

Liong-tung Lo-kai sendiri menjadi amat marah dan geram. Mata picaknya berputar liar dan sorot kekejaman membayang di mata tunggalnya itu. Diam-diam pikirannya sudah mencari-cari pembalasan apa yang hendak ditimpakannya kepada gadis yang berani mati menentang perkumpulannya. Akan tetapi di samping ini dia menjadi waspada dan maklum bahwa lawannya yang masih muda itu tentu bukan gadis sembarangan. Setidak-tidaknya merupakan murid dari seorang tokoh besar yang belum diketahuinya dan hal ini membuat kakek itu bersikap hati-hati.

Laporan dari para penyelidik yang mengatakan bahwa gadis cantik itu ternyata menerima "undangan" ketua Hek-tung Kai-pang dan kini sedang menuju ke tempat itu membuat orang-orang menjadi berisik dan muncullah ketegangan di situ. Dua orang tamu kehormatan dan merupakan teman lama Liong-tung Lo-kai yang bernama Hwa-tok-ciang Kim Siang dan Mo-kiam Sie Giam Tun diam- diam merasa tegang dan berdebarhati mereka.

"Gadis itu berani mati sekali," pikir mereka, “Dan ini semua tentu mengandalkan kelihaiannya, hmm, ingin kita melihat siapa gerangan dia dan tentu bakal terjadi keramaian disini."

Apa yang dipikirkan oleh dua orang itu agaknya memang akan menjadi kenyataan dan seperti biasanya sudah menjadi watak orang-orang kang- ouw yang berkepandaian tinggi, mendengar kelihaian seseorang membuat tangan mereka gatal-gatal untuk membuktikan sendiri.

"Pangcu, biarkanlah aku saja yang menangkapnya. Hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunmu!" Mo- kiam Sie Giam Tun si ahli pedang berkata mendahului yang lain dan sepasang matanya bersinar-sinar gembira. Membayangkan betapi lawannya adalah seorang wanita muda yang cantik, orang ini sudah mengilar dan ingin dia mempermainkan gadis itu.

Tokoh ini memang memiliki kepandaian tinggi dan terkenal sekali dengan permainan ilmu pedangnya Hek-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Iblis Hitam) dan dia mempunyai pedang dari besi hitam yang dinamakan Hek-mo-kiam. Dan seperti biasanya orang-orang golongan sesat, diapun tidak lupa untuk mengoleskan racun di batang pedangnya. Hal ini terutama kalau dia menghadapi lawan-lawan berat dan sukar dikalahkan. Maka dengan bantuan racunnya, sudah banyak dia merobohkan lawan-lawan kuat. Di samping itu, Mo-kiam Sie Giam Tun ini juga tergolong orang yang mata keranjang dan menjadi buas kalau menghadapi wanita-wanita cantik.

Hwa-tok-ciang tertawa dan orang yang mendengar suara ketawa tokoh ini pasti akan mengkirik bulu tengkuknya karena suara tawa itu seperti tawa perempuan! "Heh-heh, hi-hi-hikk! Mo-kiam si hidung belang, jangan kau tergesa-gesa maju dulu. Siapa tahu begitu maju kau lalu jatuh tunggang-langgang? Ihh, seorang gadis cantik yang berani menentang Hek-tung Kai-pang tentulah bukan gadis lemah seperti yang biasa kau permainkan, hi-hik!"

Hwa-tok-ciang lalu terkekeh-kekeh dan matanya mengerling kesana kemari dengan sikap genit. Bagi yang sudah mengenal baik tokoh ini, tentu tidak akan merasa heran karena Hwa-tok-ciang ini adalah seorang tokoh banci yang gemar pemuda-pemuda ganteng!

Si Pedang Iblis mendengus marah karena diejek dan dia menepuk pedangnya. "Hwa-tok-ciang, sepandai-pandainya seorang wanita, apalagi masih muda belia, sampai di manakah tingkatnya? Aku yakin dengan Hek mo kiam pasti akan dapat merobohkannya. Kau tahu, berapa banyak lawan-lawanku yang tangguh roboh di ujung pedang ini? Sudah tidak terhitung banyaknya! Hek-mo-kiam tidak pernah gagal dalam melaksanakan tugasnya!" orang ini bersombong.

Tokoh banci itu hanya tertawa-tawa genit dan sepasang matanya menyambar-nyambar ke sekeliling dan akhirnya berhenti kepada wajah tampan seorang pelajar yang duduk dibagian tamu-tamu biasa! Melihat siucai tampan itu, sepasang mata Hwa-tok- ciang bersinar penuh nafsu. Sudah seminggu ini dia tidak sempat mencari korban, dan kini secara tak disengaja tiba-tiba dia mendapatkan pemuda tampan di tempat itu. Sungguh kebetulan!

"Eh, pangcu, dia siapakah?" Hwa-tok ciang berbisik perlahan kepada tuan rumah dan matanya menunjuk pemuda yang sudah diincarnya itu.

Liong-tung Lo-kai mengerutkan alisnya, diam-diam merasa mendongkol kepada rekannya ini yang hendak mencari kesenangan pribadi padahal dia sedang menghadapi musuh yang akan datang menyatroni. Namun untuk menghormat tamu terpaksa dia mengikuti pandangan tokoh banci ini dan melihat pelajar tampan yang duduk di bagian tamu biasa, dia menjawab.

"Hwa-tok-ciang, golongan tamu-tamu biasa begitu mana aku bisa kenal? Paling-paling dia adalah penduduk Hun-kiang, mungkin mewakili ayahnya datang ke sini. Mau apa kau tanya-tanya? Huh, agaknya seleramu bangkit setiap melihat wajah ganteng. Dasar banci!"

"Hi-hi-hikk!" Hwa-tok-ciang terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan sikap kemayu, melirik ke arah Liong-tung Lo-kai dan berkata, "Pangcu, agaknya kau cemburu melihat kesenanganku, ya? Ihh, jangan begitu dong, kan isteri-isterimu banyak? Apalagi kalau nanti Mo-kiam bisa menangkap dan mempersembahkan gadis itu, tentu kau dapat memuaskan hati. Bukankah seekor kuda betina liar lebih menggairahkan daripada selir-selirmu yang lemah itu?"

Kakek ini mendengus tidak menjawab dan tiba-tiba matanya memandang tajam ke depan. Seorang gadis cantik berbaju hijau melangkah masuk dengan sikap tenang dan anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang yang berdiri di luar pintu gerbang tiba-tiba menyibak minggir!

Itulah Pek Hong, murid hwesio sakti Ta Bhok Hwesio yang bernyali naga! Ruangan gedung yang tadi bising dengan suara berisik, tiba-tiba sirap tanpa suara dan semua mata memandang kedatangan orang yang ditunggu-tunggu ini.

Gadis itu tersenyum mengejek dan orang-orang Hek-tung Kai-pang yang mendengar kelihaian dara ini memandang gentar namun gadis itu terus memasuki gedung. Walaupun sikapnya seakan-akan tak perduli terhadap keadaan sekeliling, akan tetapi sesungguhnya gadis ini bersikap waspada.

Dengan langkah kaki ringan dan tenang gadis berjalan menuju ke kursi kehormatan dan akhirnya berhenti. Sepasang matanya yang jeli bening itu memandang tamu di bagian itu satu persatu dengan sinar mencorong dan akhirnya beradu pandang dengan seorang kakek picak sebelah yang duduk dilindungi sebuah meja kecil penuh hidangan.

Dari pendengarannya tentang Hek-tung Kai-pang, gadis ini sedikit banyak telah mendengar ciri-ciri Liong-tung Lo-kai, yaitu seorang kakek bermuka buruk dan buta sebelah, kakinya pincang dan agak bongkok akan tetapi yang dikabarkan orang memiliki kepandaian tinggi. Maka begitu melihat kakek berpakaian hitam dari sutera halus dan mahal yang bajunya disulam dengan gambar sebatang tongkat berwarna kuning, tahulah ia bahwa inilah ketua Hek-tung Kai-pang yang dijuluki orang Liong-tung Lo-kai atau Pengemis Tua Bertongkat Naga! Hanya dia tidak melihat di mana tongkat sang ketua itu, mungkin disembunyikan di suatu tempat.

"Hek-tung Kai-pangcu (ketua Hek-tung Kai-pang), beginikah caramu menyambut tamu? Apakah kau tidak memberi didikan sopan-santun kepada anak buahmu yang menyambut tamu dengan mata melotot seperti kucing kelaparan?" Pek Hong memecahkan kesunyian dengan suaranya yang halus dan nyaring. Karena semua orang agaknya sedang menahan napas melihat keberanian gadis yang luar biasa ini, maka kata-kata itu terdengar amat lantang dan semua orang dapat mendengarnya.

Liong-tung Lo-kai sendiri yang diam-diam merasa marah sejenak tertegun dan silau oleh kecantikan gadis itu. Sama sekali tidak disangkanya bahwalawan yang mengacau Hek-tung Kai-pang ternyata demikian cantik manisnya! Seketika nafsu berahinya timbul dan kalau tadinya dia berniat untuk membunuh gadis itu, sekarang timbul pikiran lain. Tidak. Dia tidak hendak membunuh gadis ini, akan tetapi hendak menangkapnya hidup-hidup dan kalau gadis itu mau dijadikan isterinya, tentu akan merupakan seorang pembantu yang memuaskan.

Selain dapat memperkuat kedudukan Hek-tung Kai-pang, juga sekaligus merupakan teman bermain cinta yang hebat! Dia sudah mulai bosan dengan wanita-wanita yang lemah dan yang pandainya hanya menangis itu, dan dia ingin mendapatkan gadis seperti ini, kuat dan bernyali naga!

Liong-tung Lo-kai tiba-tiba tertawa karena hatinya memang gembira setelah dia mendapatkan rencana itu dan anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang yang tadinya mengira bahwa ketua mereka tentu akan menyambut musuh dengan sikap bengis, menjadi heran dan tidak mengerti mengapa ketua mereka tertawa seperti itu.

"Bagus, ha-ha-ha! Nona sungguh bernyali besar dan pantas menjadi tamu kehormatanku. Nona, kalau kami belum sempat mempersilahkanmu duduk, maaf, sekarang juga aku mempersilahkan nona duduk dan menikmati hidangan. Terimalah!" kaki Liong-tung Lo-kai tiba-tiba menendang meja kecil di depannya yang penuh hidangan itu dan tangannya menyambar sebuah kursi dan melemparkannya secepat kilat ke arah gadis itu.

Semua mata terbelalak. Hebat sekali apa yang dipertunjukkan oleh ketua Hek-tung Kai-pang ini. Meja yang penuh hidangan makanan itu terbang meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, dan anehnya, tidak ada satupun mangkok piring yang terguling! Dan kursi yang dilemparkan terakhir oleh tangan kakek itu tiba-tiba mengeluarkan suara bercuit dan mendadak mendahului terbangnya meja berikut hidangannya, menyambar kepala Pek Hong.

Demonstrasi yang dipertunjukkan oleh Liong -tung Lo-kai memang luar biasa. Hanya orang dengan lweekang yang sudah mencapai tingkat tinggi sajalah yang bisa mengirim serangan seperti itu, yang membuat segala benda di atas meja seakan-akan lengket dan tidak akan jatuh.

Akan tetapi apa yang diperlihatkan oleh gadis itu ternyata lebih luar biasa lagi. Pek Hong yang melihat betapa kursi itu terbang ke arahnya mendahului meja yang penuh makanan, menggerakkan kedua tangannya dan secepat kilat ia telah menangkap kursi itu, meletakkan di atas lantai dan berjungkir balik di atas kursi dengan kepala di bawah kaki di atas, lalu ketika meja kecil itu datang, dengan kedua kakinya gadis ini menyambut meja itu!

"Tapp...!" Tampaklah pemandangan yang amat luar biasa sekali. Gadis cantik itu berjungkir balik di atas kursi dan sepasang kakinya menyangga meja berikut hidangan yang ada tanpa sedikitpun ada yang tumpah! Gemparlah ruangan itu. Semua orang terkejut sekali melihat kelihaian dara remaja ini dan Liong-tung Lo-kai sendiri terbelalak kaget dan mata tunggalnya melotot lebih lebar!

"Ahh....!" kakek ini berseru terkejut, maklum bahwa agaknya dalam hal lwekang, dara cantik itu tidak berada di sebelah bawah tingkatnya!

Sedangkan Mo-kiam Sie Giam Tun dan Hwa-tok- ciang juga terperanjat di dalam hati mereka. Si Pedang Iblis ini yang tadi bersombong di depan orang lain, kini setelah menyaksikan kehebatan gadis itu terpaksa tidak berani memandang rendah. Akan tetapi teringat akan usulnya sendiri, tokoh ini sudah melompat dari kursinya dan biar bagaimanapun juga, dia merasa bahwa dengan ilmu pedangnya Hek-mo Kiam-sut pasti dia dapat merobohkan gadis itu. Apa yang baru dipertunjukkan oleh lawan adalah tentang kecepatan gerak dan tenaga lweekang yang memang luar biasa, namun tentang kepandaian silat dari gadis baju hijau ini belum dibuktikannya. Oleh sebab itu, sambil melompat maju orang ini berteriak,

"Pangcu, biarkan aku yang menangkap kucing liar ini!" dan sebelum ucapannya habis, tubuhnya menubruk ke depan untuk menangkap gadis yang masih berjungkir balik dengan kepala di bawah itu.

Pek Hong mendengus, "Huhh...!" dan sepasang kakinya yang menyangga meja kecil itu tiba-tiba digerakkan ke depan. Akibatnya, meja yang tadi disangganya ini sekonyong-konyong terlempar menyambut datangnya tubrukan Mo-kiam Sie Giam Tun dan karena ia melepaskan daya "sedot"-nya, otomatis segala mangkok piring dan isinya berhamburan keluar menyambar muka Si Pedang Iblis!

"Keparat!"Sie Giam Tun memaki marah namun dia benar-benar lihai. Karena tubuhnya sedang menubruk ke depan dan tidak ada kesempatan untuk menangkis dan juga karena dia tidak sudi tersiram segala macam kuah masakan, laki-laki ini mengeluarkan seruan keras dan tiba-tiba tubuhnya membalik, berjungkir balik di udara sebanyak tiga kali dan tangannya sudah mencabut Hek-mo-kiam dan membabat kaki dara itu dari atas dengan serangan ganas!

Pek Hong terkejut akan tetapi sama sekali ia tidak gugup. Melihat lawannya dapat mengelak dan bahkan kini menyerangnya dari atas dengan pedang hitamnya yang mengaung dahsyat, gadis ini melakukan perbuatan yang amat berani. Sambaran pedang Hek-mo-kiam di tangan lawan disambut dengan ujung sepatunya dan kursi yang dipegangnya tiba-tiba digerakkan, diangkat dan dibawa meloncat ke depan mendekati lawan dan dari bawah ia lalu menotok lutut lawan!

"Tring-trinngg... eehh celaka!"

Mo- kiam Sie Giam Tun berseru kaget dan semua penonton juga terbelalak heran. Pedang Hek-mo-kiam yang disambut ujung sepatu gadis itu tiba-tiba mengeluarkan suara keras seperti bertemu dengan besi atau baja dan terpental ke belakang, dan sementara laki-laki itu terkejut setengah mati, tahu-tahu totokan jari tangan Pek Hong telah tiba didepan lututnya! Tentu saja kejadian ini amat mengagetkan Giam Tun dan sambil memekik keras dia cepat menjejakkan kakinya dan berpoksai lima kali menjauhi lawan dan selamat dan serangan berbahaya itu, berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak lebar.

Dalam gebrakan yang berlangsung amat cepatnya ini Si Pedang Iblis yang sombong itu hampir saja roboh dan mukanya menjadi merah saking malu dan marahnya. Giam Tun hendak menerjang kembali dengan sinar mata beringas, akan tetapi Liong-tung Lo-kai tiba-tiba berseru dan menggoyang tangannya.

"Mo-kiam, tahan dulu kemarahanmu! Harap kau suka duduk sebagai penonton karena dia merupakan tamu kehormatanku. Biarlah pesta ulang tahunku hari ini diramaikan oleh pertunjukan istimewa nona ini," kakek itu berhenti sebentar dan menoleh ke arah tiga orang murid kepalanya yang bertali hitam, memberi isyarat dengan pandang mata dan melanjutkan, "Kalian majulah dan bentuk Sha-kak-tin untuk menandinginya!" dan wajah ketua Hek-tung Kai-pang ini tampak berseri-seri gembira.

Tiga orang murid kepala yang dipimpin oleh si muka merah yang sebelumnya memang telah bertemu dengan gadis itu di dalam kota Hun-kian, melompat maju dengan gerakan cepat dan ringan. Tongkat hitam di tangan mereka menggigil karena tiga orang ini menahan marah dan amat membenci gadis yang telah merobohkan dan membunuh saudara-saudara mereka. Sinar mata mereka berapi-api dan sikap mereka penuh ancaman. Sudah sejak tadi mereka menahan diri dan tidak berani bergerak karena suhu mereka belum memberikan tanda. Maka, begitu kini ketua mereka menyuruh mereka maju dan membentuk Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga) yang merupakan ilmu gabungan yang dimainkan oleh tiga orang, mereka menjadi girang dan amat bernafsu untuk segera merobohkan gadis itu.

Si Pedang Iblis yang disuruh mundur tampak tidak puas hatinya. Kekalahan yang hampir dialaminya tadi adalah karena kesalahannya yang memandang enteng lawan. Juga sama sekali tidak disangkanya bahwa ujung sepatu gadis itu ternyata dilindungi oleh sebatang logam sehingga tadi berani dipakai untuk menangkis pedangnya. Kalau tadi dia bersikap waspada, tidak mungkin dia akan kalah! Dia masih merasa penasaran dan ingin mencoba lagi sepuasnya, namun karena tiga orang murid kepala Hek-tung Kai-pang telah berdiri menghadapi gadis yang lihai itu, terpaksa sambil menggerutu diapun lalu kembali ke tempat duduknya dengan air muka keruh.

Sementara itu, Pek Hong telah berdiri seperti biasa dan kursi yang tadi dipegangnya sudah dilempar ke sudut ruangan. Gadis ini berdiri tegak sambil bertolak pinggang, dadanya membusung ke depan dan rambutnya agak kusut. Dalam keadaan seperti ini, ia nampak cantik dan menggairahkan sekali, membuat Liong tung Lo-kai yang sudah mengilar untuk menjadikan gadis itu sebagai isterinya diam-diam menelan ludahnya dan kalamenjingnya naik turun.

"Liong-tung Lo kai, mengapa kau menyuruh si mata sipit itu mundur? Aku tidak mau bekerja kepalang tanggung, suruh saja dia maju sekalian dan boleh kau kerahkan semua anak buahmu. Bukankah sejak dahulu Hek-tung Kai-pang adalah sebuah perkumpulan yang suka main keroyok? Hayo kalian maju semua, dan kau juga Liong-tung Lo-kai, turunlah dari kursimu dan majulah ke sini!"

Si Pedang Iblis yang disindir menjadi merah mukanya dan hendak melompat maju, namun ketua Hek-tung Kai-pang menekan tangannya.

Hebat kata-kata ini dan amat tajam sekali, juga terdengar amat sombong. Akan tetapi sebenarnya ada maksud tersembunyi di dalam hati Pek Hong. Ia sengaja mengeluarkan kata-kata itu untuk menyinggung harga diri tokoh-tokoh Hek-tung Kai- pang. Bukan kehendaknya untuk menandingi sekian banyaknya orang. Kalau hal itu sampai terjadi, tentu saja dia akan kalah kehabisan tenaga. Gadis ini bermaksud untuk membasmi Hek-tung Kai-pang dengan cara melenyapkan tokoh-tokohnya dan kalau mereka sampai tersinggung oleh ucapannya dan tidak main keroyok, ia mempunyai harapan untuk dapat mengatasi kepandaian orang-orang Hek-tung Kai-pang.

Si muka merah melotot marah dan dua orang sutenya juga ikut mendelik. "Siluman betina!" si muka merah membentak. "Siapa mau mengeroyokmu? Sha-kak-tin selamanya dimainkan oleh tiga orang dan kalau kau tidak berani menghadapinya, lebih baik kau lekas berlutut dan menerima dosa!"

Pek Hong melirik dan tersenyum mengejek. "Hem, kalian ini orang-orang yang besar mulut. Suruh guru kalian yang maju, aku segan mengotorkan tangan menyentuh tubuh kalian yang apek."

Tiga orang itu tidak kuat menahan marah dan sambil berseru keras mereka lalu mulai menerjang. Sesuai dengan barisan yang mereka pakai, yaitu Barisan Segi Tiga, mereka ini mengurung Pek Hong di tengah- tengah dalam kedudukan tiga sudut. Si muka merah berada di depan dan dua orang sutenya menyerang dari kiri kanan belakang gadis itu. Tongkat mereka menyambar susul-menyusul dan kaki merekapun bergerak dengan teratur.

Hebat dan ganas permainan berpasangan yang dimainkan tiga orang murid kepala Hek-tung Kai pang ini. Mereka adalah tokoh-tokoh di bawah sang ketua sendiri, jadi tingkat kepandaian mereka merupakan tokoh-tokoh kelas dua di perkumpulan itu. Tenaga lweekang mereka kuat dan gerak kaki mereka juga mantap. Tongkat yang menghantam lawan sampai mengeluarkan bunyi yang bersiuran tanda bahwa tenaga mereka hebat sekali, dan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan itu semuanya menurut irama, tidak ngawur.

Si muka merah yang menjadi pelopor dalam serangan Barisan Segi Tiga ini selalu mengarah bagian depan tubuh lawan. Tongkatnya mengemplang, menyodok dan membabat bertubi-tubi ke arah tubuh Pek Hong dan sekali mengenai sasarannya, agaknya akan menimbulkan luka berat bagi musuh. Dua orang sutenya bergerak di samping kanan kiri lawan dan tongkat mereka menusuk-nusuk cepat dari sisi kepala sampai bagian pinggul.

Mula-mula, dalam jurus-jurus pertama Pek Hong berhasil dibuat kerepotan, ia belum mengenal baik akan sifat dari Sha-kak-tin yang dimainkan oleh tiga orang murid Hek-tung Kai-pang ini. Gadis itu tidak berani bersikap sembrono dan tubuhnya berloncatan kesana kemari dan beterbangan di antara sambaran senjata tongkat. Ginkangnya yang tinggi membuat loncatannya ringan dan gesit dan bayangan hijau berkelebatan cepat di antara gulungan sinar hitam tongkat-tongkat itu.

Lima puluh jurus berlalu dan tiga orang murid Liong-tung Lo-kai ini diam-diam merasa amat penasaran dan marah. Selama itu, belum juga senjata mereka berhasil menyentuh tubuh lawan. Gadis itu seperti bayangan saja yang tidak dapat dipukul roboh! Tentu saja kenyataan ini membuat kemarahan mereka semakin meledak. Di tempat itu banyak orang dan mereka yang terkenal sebagai tokoh-tokoh kelas dua di Hek-tung Kai-pang masa sama sekali tidak dapat memukul roboh seorang gadis remaja? Sungguh terlalu dan amat memalukan!

"Hyaaattt...!" akhirnya si muka merah membentak keras dan berlaku nekat. Dia tiba-tiba menjatuhkan diri bergulingan dan kalau tadinya dia selalu menyerang tubuh bagian depan, sekarang dia menyerang dari bawah dengan putaran tongkatnya yang bertubi-tubi. Dengan perbuatannya ini dimaksudkan agar gadis yang lihai itu tidak ada kesempatan turun karena dia selalu menghadang kaki gadis itu dan siap menghantam. Perbuatannya ini otomatis membuyarkan barisan Sha-kak-tin akan tetapi memberi kesempatan lebih luas bagi dua orang sutenya untuk melancarkan serangan-serangan terhadap gadis itu yang selalu berkelebatan seperti burung. Si muka merah ini memang siap untuk mengorbankan diri asal gadis yang amat dibencinya itu dapat dirobohkan.

Dua orang sutenya sejenak terkejut karena suheng mereka membuyarkan Sha-kak-tin. Akan tetapi, setelah melihat perbuatan si muka merah yang selalu menjaga turunnya gadis itu dengan tongkat terputar seperti kitiran, akhirnya mereka maklum bahwa suheng mereka sedang menjalankan siasat lain yaitu dengan menyuruh mereka melancarkan serangan gencar ke arah bayangan hijau yang bergerak-gerak seperti burung walet itu. Dengan adanya perbuatan si muka merah, tentu saja gadis itu tidak akan dapat turun dan mudahlah bagi mereka untuk menyerang dan merobohkan lawan yang tidak mempunyai jalan keluar ini!

Melihat perobahan lawan, Pek Hong terkejut. Selama ini ia memang sedang mencoba untuk menyelidiki barisan Sha-kak tin itu dan setelah limapuluh jurus berlangsung, akhirnya ia mendapat jalan atau kuncinya untuk melumpuhkan tiga orang lawannya yang melakukan serangan secara teratur dan berpasangan itu. Memang tidak mudah baginya untuk cepat-cepat merobohkan mereka tanpa senjata, akan tetapi tiga orang itupun juga tidak mudah untuk merobohkannya. Dengan ginkangnya yang disebut Coan-goat-hui membuat tubuhnya dapat menyelinap di antara sambaran senjata dengan amat ringan dan cepatnya dan setelah dia merasa puas dan siap untuk merobohkan tiga orang lawannya, tiba-tiba saja si muka merah yang malu dan penasaran itu merobah sikap, yaitu membuntu jalan turunnya.

Apa yang dilakukan oleh si muka merah ini amat membahayakan kedudukannya. Tidak mungkin baginya untuk selalu mengerahkan ginkang tanpa turun sejenak di atas lantai. Oleh sebab itu, melihat betapa si muka merah menghadang jalan turunnya dan dua orang yang lain lalu menyerang gencar dengan serangan-serangan ganas yang mengancam jiwanya, gadis ini tiba-tiba melengking panjang dan terpaksa ia mengeluarkan senjata rantainya.

"Wuutt...tar-tarrr!" senjata itu mulai meledak di tangannya dan ketika dua batang tongkat hitam menyambar leher dan pinggangnya, Pek Hong menggerakkan rantai peraknya secepat kilat.

"Syutt rrtt... rrtt!"

Dalam gebrakan yang amat cepat ini tahu-tahu dua batang tongkat itu terlibat rantai dan sebelum dua orang anggauta Hek-tung Kai-pang ini hilang kagetnya, gadis itu membetot kuat sehingga tubuh mereka tertarik ke depan dan… plak-plakk!" tangan kiri Pek Hong menampar pipi mereka dengan amat kerasnya!

Dua orang ini berteriak mengaduh dan tongkat mereka terampas. Pek Hong tidak menghentikan gerakannya sampai di situ karena begitu tangan kirinya menampar, kakinya segera menendang dua kali berturut-turut dan akibatnya, dua orang itu roboh sambil menjerit ngeri. Celakanya, si muka merah yang pada saat itu menjaga di bagian bawah dengan putaran tongkatnya, tak sempat menarik senjatanya yang menghantam robohnya dua orang sutenya itu.

"Bluk-blukk!” Tongkat hitam di tangannya menghantam keras dan karena si muka merah ini mengerahkan lweekang pada hantamannya tadi, dua orang sutenya terpukul hebat dan tulang punggung mereka patah, dalam waktu yang hampir bersamaan keduanya roboh binasa dengan mata mendelik!

Tentu saja kejadian ini amat menggemparkan dan semua orang berseru kaget. Si muka merah sendiri juga sampai pucat mukanya ketika dia melihat betapa secara tidak disengaja dia telah membunuh sute-sutenya sendiri. Peristiwa itu datang terlalu cepat dan dia hendak melompat bangun. Namun, gerakannya kalah cepat dan tahu-tahu ujung sepatu gadis itu telah menghantam dagunya.

"Krakkk!" Terdengar bunyi tulang patah dan rahang si muka merah yang bertemu dengan logam yang tersembunyi di dalam sepatu Pek Hong hancur remuk dan sekaligus tengkorak kepalanya juga retak-retak. Si muka merah berteriak ngeri dan tongkatnya terlempar, berputar-putar sejenak dan akhirnya roboh, terkapar tanpa nyawa menyusul dua orang sutenya!

Gegerlah tempat itu dan semua orang bangkit dari kursi masing-masing. Liong-tung Lo-kai tertegun di kursinya dan terpukau, seakan-akan dia sedang mengalami mimpi buruk. Akan tetapi begitu dia sadar bahwa tiga orang murid utamanya memang benar-benar telah binasa, ketua Hek-tung Kai-pang ini mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya tiba-tiba mencelat dari atas kursinya dan terbang ke depan!

Semua mata terbelalak dan anggauta Hek-tung Kai-pang yang merasa marah dengan kejadian ini, segera berlompatan dan maju mengurung dengan sikap beringas. Sepak terjang gadis itu yang berani membunuh tiga orang murid kepala Hek-tung Kai-pang di sarang sendiri adalah benar-benar merupakan kejadian yang amat hebat!

"Wessss... darrrr!"

Tongkat bergagang naga yang dilapis emas berkilauan yang tahu-tahu telah berada di tangan tokoh Hek-tung Kai-pang ini luput mengenai sasarannya dan lantai ruangan itu pecah berhamburan. Pek Hong telah melompat jauh ketika tadi Liong-tung Lo-kai mencelat dari kursinya dan menyerang, ia tidak berani sembarangan menangkis karena dari suara angin pukulan itu, ia tahu betapa hebat tenaga yang terkandung di dalamnya, apalagi karena ketua Hek tung Kai-pang ini dalam kemarahan yang meluap-luap.

Kali ini Liong-tung Lo-kai memang mencapai puncak kemarahannya. Tadinya ketika dia mendengar laporan bahwa anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang rendahan ada yang tewas di tangan Pek Hong, dia masih dapat mengampuni karena dia berpikir untuk menundukkan gadis itu dan menjadikannya sebagai isteri sekaligus pembantu istimewa.

Akan tetapi, melihat betapa gadis itu telah membunuh tiga orang murid utama yang amat disayangnya, maklumlah dia bahwa gadis ini tidak mungkin lagi dapat diajak bekerja sama, bahkan merupakan musuh berbahaya yang harus segera dilenyapkan. Hilanglah sudah semua rencananya tadi seperti awan tipis ditiup angin, dan menyaksikan kepandaian dara itu, agaknya hanya dia seoranglah yang dapat merobohkannya! Tidak ada kompromi lagi baginya dan dia harus dapat membunuh gadis ini!

Begitu serangan pertamanya luput, Tongkat Naga ditangan kakek picak ini sudah menyambar lagi. Dan sungguh hebat ilmu silat ketua Hek-tung Kai-pang itu. Suara angin pukulannya menderu-deru dan dinding ruangan besar itu dilanda angin kuat sehingga beberapa orang yang berada di situ segera berkibar-kibar pakaiannya.

Pek Hong kaget melihat kenyataan ini. Tahulah ia bahwa lweekang kakek iblis itu benar-benar amat dahsyat dan berbahaya. Baru angin pukulan tongkatnya saja agaknya telah mampu untuk merobohkan orang-orang yang berkepandaian lumayan. Gadis ini tidak berani main-main lagi dan cepat dia mengerahkan ginkangnya yang disebut Coan-goat-hui (Terbang Menerjang Bulan) dan memainkan Ilmu Silat Hong-thian-lohai-kun (Badai Mengamuk di Samudra) dan segera tubuhnya berkelebatan kesana-sini mengelak dari sambaran tongkat dan senjatanya meledak-ledak membentuk lingkaran ombak yang bergulung-gulung seakan-akan hendak menelan tubuh Liong-tungLo-kai.

Terjadilah pertandingan yang amat luar biasa di ruangan itu. Liong-tung Lo kai yang amat marah sudah mainkan ilmu silat simpanannya, yaitu Lo-thian-liong-tung-hoat atau Ilmu Tongkat Naga Pengacau Langit. Dan seperti namanya, senjata di tangan kakek picak ini benar-benar seperti seekor naga yang sedang mengamuk, berkelebatan menyambar-nyambar di udara dan mengibas, mematuk atau menyabet dengan serangan maut.

Ketua Hek-tung Kai-pang ini sebenarnya amat jarang sekali mengeluarkan ilmu silat simpanannya itu karena ilmu silat ini yang banyaknya ada tujuh puluh dua jurus, amat memakan banyak tenaga dan kalau dia tidak sedang menghadapi lawan yang betul-betul tangguh, tidak mau dia mengeluarkan ilmu silatnya ini. Sekarang terpaksa dia harus mengeluarkannya karena lawannya yang masih muda itu ternyata amat lihai dan telah merobohkan cukup banyak anggauta- anggauta Hek-tung Kai-pang. Kalau dia tidak dapat segera merobohkan gadis itu, tentu namanya akan terancam bahaya kehancuran. Selama Hek-tung Kai- pang berdiri, belum pernah ada musuh yang dapat menahan serangannya.

Maka, dapat dibayangkan betapa kagetnya hati kakek ini ketika melihat betapa setelah mereka bertempur dalam gebrakan-gebrakan cepat dan hampir limapuluh jurus, ternyata dia belum berhasil merobohkan lawannya. Jangankan merobohkan, mendesak saja dia belum sanggup. Ginkang gadis itu luar biasa sekali cepat dan ringannya. Sebelum tongkatnya tiba tubuh lawan telah terdorong seperti kapas dan tentu saja semua serangannya menjadi tidak ada artinya lagi.

Padahal, biasanya kalau dia sudah mengeluarkan ilmu silatnya ini, paling banyak duapertiga bagian saja lawan pasti akan terdesak hebat dan akhirnya roboh oleh tongkatnya. Namun gadis yang satu ini benar-benar mengejutkan. Sudah hampir habis ilmu silatnya dimainkan dan napasnya mulai memburu, tanda-tanda lawan terdesak sama sekali belum nampak!

Mulailah wajah kakek itu menjadi pucat dan mata tunggalnya merah berapi-api. Jelas bahwa selama ini, gadis itu tidak berani menangkis tongkatnya. Selalu menghindar menjauhi adu tenaga. Hal ini karena Pek Hong tahu bahwa dalam hal lweekang, dia masih kalah oleh kakek itu. Akan tetapi mengenai ginkang, jelas ia menang banyak, apalagi karena Liong -tung Lo-kai sendiri kurang leluasa gerakannya karena kakinya pincang. Hal ini amat menguntungkan baginya dan mengandaikan ginkangnya itulah, di samping tenaganya yang masih muda, gadis itu belum dapat didesak ketua Hek-tung Kai-pang ini.

Akan tetapi pertandingan yang hebat dan menegangkan ini berjalan dengan luar biasa serunya. Liong-tung Lo-kai napasnya semakin memburu dan keringatnya mengucur deras. Tenaga lweekang yang dikerahkan untuk melakukan Lo-thian-liong-tung-hoat benar-benar menguras seluruh tenaga dalamnya. Apalagi kemarahan yang meluap-luap itu juga membutuhkan energi besar. Sebentar saja, duapuluh jurus kembali telah berlalu dan Lo-thian-liong tung-hoat tinggal dua jurus terakhir saja!

Ketua Hek-tung Kai-pang ini benar-benar meledak kemarahannya dan kalau dia tidak dapat merobohkan lawan setelah menghabiskan seluruh ilmu silatnya, benar-benar kenyataan ini akan menampar mukanya. Oleh sebab itu, kakek ini tiba-tiba mengeluarkan bentakan menggeledek dan berlaku nekat. Tongkat Naga yang gagangnya dilapis emas sehingga tampak berkilauan ini mendadak menyambar tanpa suara dan angin pukulan yang biasanya mendahului ujung tongkat, tiba-tiba lenyap!

Inilah dua jurus pamungkas yang berbahaya sekali. Kalau tadinya tubuh lawan selalu terdorong mundur oleh hawa pukulan tongkat, kini sudah tidak ada lagi angin pukulan itu karena tampaknya seolah-olah tongkat di tangan ketua Hek-tung Kai-pang itu menyambar tanpa tenaga. Padahal, begitu ujung tongkat mendekati lawan, tiba-tiba saja tongkat itu mengaung dengan suara dahsyat penuh tenaga sakti tersembunyi yang tadi disimpan oleh kakek ini, menghantam dua kali berturut-turut dengan gerakan menyilang dari atas ke bawah disusul tarikan ke dalam secepat kilat untuk akhirnya dilanjutkan dengan sodokan maut ke ulu hati!

Dan hebatnya, kakek ini yang merasa khawatir kalau-kalau serangannya masih tidak berhasil, tiba-tiba memencet kepala naga yang berada di pangkal tongkat dan berhamburanlah jarum-jarum hitam yang halus dari ujung tongkat!

"Curang!" Tiba-tiba terdengar bentakan ini dari golongan tamu dan sesosok tubuh melayang ke depan dan sinar putih yang banyak jumlahnya berkeredepan menyambar jarum-jarum hitam yang keluar dari ujung Tongkat Naga di tangan ketua Hek-tung Kai-pang.

Semua orang terkejut dan cepat memandang siapa tamu yang berteriak tadi. Kiranya dia adalah pemuda pelajar yang tadi dibicarakan oleh Hwa-tok-ciang! Pemuda ini melesat dari tempat duduknya dan tangan kanannya bergerak melemparkan jarum-jarum halus berwarna putih sehingga tampak sinar-sinar berkeredepan tadi, dan sementara itu tangan kirinya mengebutkan kipas hitam ke muka Liong-tung Lo-kai.

Tentu saja perbuatan pemuda pelajar ini mengejutkan semua orang, termasuk Hwa-tok-ciang sendiri yang tadi mengincar pemuda itu untuk teman bermain cintanya. Akan tetapi, yang paling kaget adalah Liong-tung Lo-kai. Sebuah kipas hitam tahu-tahu telah menutup mukanya dan serangkum hawa panas menyambar datang. Jarum-jarum hitam mengandung racun yang tadi dilepaskan, mengeluarkan suara "tang-ting-tang-ting" nyaring ketika bertemu dengan hamburan jarum putih milik siucai itu dan semuanya runtuh ke atas lantai.

"Haiiitttt...!”

"Hayaa...!”

Dua teriakan terdengar berbareng. Yang pertama adalah dari gadis itu sedangkan yang kedua adalah dari mulut Liong-tung Lo-kai. Kedua-duanya sama- sama terkejut. Pek Hong terkejut melihat kecurangan ketua Hek tung Kai-pang, sedangkan kakek picak ini terkejut melihat kipas hitam mengebut mukanya. Pek Hong menggerakkan rantainya. Dua serangan terakhir dari musuhnya amat berbahaya dan ia tidak sempat lagi untuk mengelak. Terpaksa ia mengadu tenaga keras lawan keras dan sebisa-bisanya mencoba untuk melompat ke samping menghindarkan diri dari sisa-sisa jarum yang menyambar. Namun, gerakannya kurang cepat dan dua batang jarum hitam menancap di leher dan pundaknya, dan tangkisannya terhadap tongkat lawan membuat senjatanya hampir terlepas.

"Plak-trang-tranggg!"

"Aduhh!" Gadis itu mengeluh dan kalau saja pada saat itu tidak ada siucai yang datang mengganggu dengan serangannya ke arah ketua Hek-tung Kai-pang se- hingga kakek ini terkejut dan tenaganya otomatis berkurang, tentu rantai perak di tangan nona itu akan terlepas dari tangannya. Pek Hong marah bukan main dan tubuhnya terhuyung-huyung akibat serangan ini dan dua jarum hitam yang menancap di pundak dan lehernya menimbulkan rasa gatal-gatal panas. Terkejutlah dia dan maklum bahwa ia terkena jarum beracun.

"Keparat Liong-tung Lo-kai manusia curang!" bentaknya dan ia hendak menerjang lagi.

Akan tetapi mendadak rasa gatal-gatal panas itu menghebat dan kepalanya pusing tujuh keliling. Lompatannya yang sudah dilakukan terhenti di tengah jalan dan gadis ini terguling.

"Bunuh dia!"

"Cincangtubuhnya !"

"Balaskan kematian saudara-saudara kita."

Anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang berteriak-teriak dan orang-orang ini menubruk gadis itu dengan tongkat di tangan. Namun, mereka salah duga kalau menganggap bahwa Pek Hong sudah tidak berbahaya lagi. Memang betul bahwa akibat racun yang memasuki tubuhnya membuat gadis ini seakan-akan lumpuh, akan tetapi kalau untuk menghadapi orang-orang Hek-tung Kai-pang tentu saja ia masih bisa. Begitu empat orang menubruknya dengan tongkat hitam, gadis ini menjerit keras dan tubuhnya berputar memakai pinggulnya, sekali babat rantai di tangannya meledak di atas kepala empat orang itu yang berteriak ngeri dan tewas disambar rantai perak.

"Mundur kalian semua. Biarkan aku yang menangkap kucing betina ini!" Mo-kiam Sie giam Tun yang hendak menebus rasa malunya karena tadi hampir saja dipecundangi oleh gadis itu, berteriak dan melompat maju. Pedang Hek-mo-kiam berkelebat ke arah kaki Pek Hong dan sekali mengenai sasaran, tentu akan membuntungi gadis cantik itu!

Pek Hong sudah berkunang-kunang matanya dan ia masih duduk dengan pinggul di atas lantai. Akan tetapi, melihat sambaran pedang hitam ke arah kakinya, ia masih sempat menghindar dan rantainya balas menyambar.

"Trang... aihhhh!"

Gadis ini menjerit kaget menggulingkan tubuh. Rantai peraknya yang tadi menangkis pedang Hek-mo-kiam terpental jauh karena tenaganyamenurun banyak akibat gangguan racun jarum hitam. Si Pedang Iblis terbahak-bahak dan mengejarnya dengan wajah membayangkan kekejaman, pedangnya menyambar tak kenal ampun dengan lima kali bacokan cepat.

Akan tetapi, sungguh patut dipuji semangat dan ketabahan gadis itu. Meskipun ia selalu dikejar pedang hitam, namun ia selalu dapat bergulingan menyelamatkan diri. Ia tidak dapat berdiri karena kepalanya berdenyut-denyut dan terasa berat. Diam-diam Pek Hong mengeluh di dalam hati bahwa agaknya hari ini ia akan tewas. Bukan kematiannya yang memberatkan hati, namun rasa penasarannya yang masih bertimbun-timbun dan belum ada penyelesaiannya itulah yang membuatnya tidak akan dapat mati dengan mata meram. Pada saat-saat yang amat berbahaya ini, tiba-tiba saja bayangan Yap-goanswe muncul di depan matanya. Gadis ini mengeluh panjang dan ketika serangan Hek-mo-kiam menyambar lehernya, ia kurang cepat mengelak.

"Singg...brett!" Lehernya selamat akan tetapi sebagai gantinya pundak kanannya terbabat pedang dan darah segar muncrat ke luar. Pek Hong menjerit dan karena rasa panas akibat jarum hitam semakin menghebat dan kepalanya berat bukan main, akhirnya gadis ini roboh pingsan di atas lantai.

Mo-kiam Sie Giam-Tun tertawa menyeramkan dan sinar matanya membayangkan kekejian. Melihat betapa gadis itu berhasil dirobohkannya, ia merasa sakit hatinya agak berkurang. Namun, dia belum puas. Dia hendak membalas dendamnya sepuas hati dulu baru kemudian membunuh gadis ini. Oleh sebab itu, pedangnya kembali digerakkan, kali ini menyambar kancing-kancing baju gadis itu untuk membuatnya terlepas dan telanjang bulat. Hanya dengan pembalasan seperti itu sajalah dendamnya dapat dibalas dan dia hendak mempermainkan korbannya ini sepuas hati!

"Ha-ha-ha, kuda liar, nasibmu memang buruk!" laki- laki ini tertawa dan mengayun pedangnya.

"Singggg... plakk!" Begitu pedang menyambar, begitu pula Si Pedang Iblis ini berteriak mengaduh.

Seorang pria gagah perkasa berjubah biru gelap dengan sepasang mata mencorong tajam seperti mata seekor naga sakti tahu-tahu telah berada di ruangan ini, tangannya menangkis pedang Hek-mo-kiam begitu saja sehingga pedang itu terlempar dari tangan pemiliknya dan Giam Tun sendiri mencelat tiga meter jauhnya dengan lengan patah!

Terkejutlah semua orang dan Giam Tun melompat bangun dengan mulut menyeringai dan mata bersinar marah. Akan tetapi, begitu melihat pria gagah perkasa yang bersikap angker penuh wibawa ini, tiba-tiba saja wajah Giam Tun berobah kaget dan pucat. Matanya terbelalak seperti melihat setan di siang hari dan tanpa disadarinya meluncurlah teriakan dari mulutnya.

"Takla Sin-jin (Malaikat Dari Gurun Takla)!" Si Pedang Iblis memutar tubuhnya dan melarikan diri tanpa menghiraukan pedangnya!

Gemparlah semua orang ketika mendengar teriakan ini. Siapa yang belum pernah mendengar nama Malaikat Dari Gurun Takla? Tidak ada seorangpun yang belum mendengar nama besar tokoh dari utara ini! Begitu pula halnya dengan orang-orang Hek-tung Kai-pang yang tadi menonton sepak terjang Mo-kiam Sie Giam Tun. Keributan segera terjadi di situ dan setelah terbelalak sebentar melihat munculnya pendekar besar yang mereka takuti ini, orang-orang Hek-tung Kai-pang berteriak-teriak dan buyar cerai berai!

"Takla Sin-jin...! Takla Sin-jin!”

Berserabutanlah orang-orang ini keluar dari ruangan itu, mulut mereka berteriak-teriak seperti kedatangan hantu. Si Pedang Iblis sendiri menjadi pelopornya dan dia yang pertama kali sudah sampai di pintu keluar. Akan tetapi, dari belakang terdengar suara berpengaruh dan pria gagah perkasa itu mendorongkan tangan kanannya ke depan sambil membentak,

"Mo-kiam, kembali kau ke sini dan serahkan dulu obat penawar racunmu!"

Dan sungguh aneh, Giam Tun yang tinggal selangkah lagi untuk sampai di luar pintu itu tiba-tiba saja berseru kaget. Sebuah tenaga yang tidak nampak menahan kakinya dan seketika laki-laki ini terpelanting. Sebelum dia hilang dari kagetnya, tenaga mujijat itu menyedot lalu menarik dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh Si Pedang Iblis terseret memasuki ruangan dalam untuk akhirnya berhenti didepan kaki Malaikat Dari Gurun Takla itu!

"Ampun... ampun, taihiap ampun…!" Laki-laki yang tadinya amat sombong ini mengeluh dan merintih-rintih, dengan tangan menggigil merogoh saku bajunya sebelah dalam dan cepat mengeluarkan obat penawar racun akibat pedang Hek-mo-kiam.

Takla Sin-jin menerima, alisnya berkerut dan hidungnya mengendus obat itu untuk meneliti kebenarannya. Setelah dia tahu bahwa obat itu memang benar, tangannya digerakkan ke bawah dan menepuk perlahan pundak kiri laki-laki itu sambil berkata dingin, "Sekarang pergilah!"

"Krakk....!" Si Pedang Iblis berteriak keras dan terguling, tulang pundaknya patah dan kini kedua lengannya sengkleh tergantung. Sambil menggigit bibir menahan sakit laki-laki ini bangkit berdiri dan dengan langkah terhuyung-huyung cepat melarikan diri, diam-diam menyumpah diri sendiri yang amat sial bertemu dengan "hantu" itu.

Sebentar saja ruangan gedung Hek-tung Kai-Pang yang tadinya gaduh oleh suara pertempuran, menjadi sunyi kembali. Liong-tung Lo-kai yang tadi bertanding dengan pelajar bersenjata kipas hitam itu posisinya terdesak terus. Sebelumnya dia telah mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit ketika menghadapi Pek Hong. Maka, ketika pelajar ini maju menyerangnya, hati kakek itu terkejut sekali.

Siapa menyangka bahwa siucai yang tadi justeru diincar oleh Hwa-tok-ciang ini ternyata merupakan seorang musuh? Liong-tung Lo-kai mengumpat caci dengan maki-makian kotor dan dia menjadi semakin terkejut melihat kehebatan siucai ini. Untunglah, pada saat-saat yang amat gawat ini Hwa-tok-ciang si tokoh banci tiba-tiba melompat dari kursinya dan membantu.

Sudah sejak tadi Hwa-tok-ciang mengamati pertandingan antara ketua Hek-tung Kai-pang ini dengan pelajar itu. Diam-diam hatinya terperanjat sekali, tidak menduga bahwa siucai yang duduk di golongan tamu biasa dan yang diincarnya untuk dijadikan kekasihnya ini ternyata bukan siucai biasa. Akan tetapi, bukannya kecewa, sebaliknya tokoh banci ini menjadi semakin girang. Dia tidak memperdulikan tentang Pek Hong yangdihadapi oleh rekannya Si Pedang Iblis dan yang kalau dilihat sepintas lalu tentu gadis itu akan segera dapat dirobohkan.

Yang penting baginya adalah menangkap siucai itu. Kalau dia berhasil mendapatkan pemuda seperti itu, tentu dia akan puas sekali. Pemuda tampan itu hebat, ilmu silatnya juga tinggi dan segera hatinya tertarik. Bila membayangkan bahwa kalau pemuda sehebat ini dapat dijadikan kekasihnya, tentu akan merupakan kawan bermain cinta yang “Tar" dan perkasa! Dan hal inilah yang menggembirakan. Belum pernah dia mendapatkan pemuda tampan semacam itu, dan mumpung ada kesempatan, dia hendak menangkap siucai lihai itu bersama-sama Liong-tungLo-kai.

Akan tetapi, angan-angan ternyata lebih mudah dipikirkan daripada dibuktikan. Siucai berkipas hitam itu kiranya memang betul-betul hebat dan majunya Hwa-tok-ciang sedikit sekali mempengaruhi permainannya. Serangan-serangan kipas hitamnya luar biasa sekali dan setiap kebutan kipas membawa angin panas. Dan pemuda itu kini menambah senjatanya dengan sebuah jarum perak yang panjangnya sekitar lima inci dan melihat senjata ini, ketua Hek-tung Kai-pang terkejut dan berteriak.

"Gin-ciam Siucai (Pelajar Berjarum Perak)!"

Seruan ini mengejutkan Hwa-tok ciang yang terbelalak matanya. Memang sudah lama dia mendengar munculnya seorang tokoh muda yang dijuluki orang Gin-ciam Siucai atau Pelajar Berjarum Perak. Namun, karena tidak pernah bertemu muka, ia belum mengenalnya. Baru setelah Liong tung Lo-kai menyebut nama ini dan melihat senjata khas di tangan kiri siucai itu, tokoh banci ini menjadi kaget.

Wah, kalau yang datang ini adalah Gin-ciam Siucai, tentu saja berat untuk menangkapnya hidup-hidup. Bersama keroyokan ketua Hek-tung Kai-pang, sukar baginya untuk memperoleh pemuda tampan ini tanpa menewaskannya. Diam-diam Hwa-tok-ciang menyesal di dalam hati. Pemuda ini hebat, dan dia tertarik sekali. Gairahnya sudah bangkit melihat ketampanan dan kehebatan pemuda ini. Akan tetapi agaknya dia hanya akan mendapatkan mayatnya saja!

"Gin-ciam Siucai, kau menyerahlah saja. Marilah kau ikut bersamaku dan kita berdua membangun sorga. Percayalah, tampan, bahwa bersahabat denganku tidak rugi. Kau akan mendapatkan hal-hal luar biasa yang belum pernah kaurasakan dalam hidupmu, heh-heh, hi-hikk!" Hwa-tok-ciang berusaha membujuk dan terkekeh genit dengan kerling menyambar persis wanita, senjatanya berupa sebuah selendang sutera dan sebatang kebutan dari ekor kuda bergerak menari-nari mengurung pemuda itu.

"Manusia banci! Siapa sudi mendekatimu? Aku bahkan muak dan ingin membunuhmu karena kau telah menculik pemuda-pemuda tampan untuk menjadi barang permainanmu!"

Sepasang mata yang penuh nafsu dari si banci ini tiba-tiba saja berobah penuh kemarahan. Kata-kata itu membuat semua nafsunya lenyap terganti kekejaman. "Hiehh, agaknya kau minta mampus, ya? Hi-hikk, permintaanmu kuturuti dan pergilah kau menghadap Giam-lo-ong!"

Sepasang senjata aneh di tangan Hwa-tok-ciang ini tiba-tiba berobah gerakannya. Selendang di tangan kirinya menjetar nyaring di udara dan tiba-tiba menukik ke mata kanan, siap mematuk untuk mencokel mata Gin-ciam Siucai, sedangkan kebutan bulu kudanya yang berwarna merah itu tiba-tiba menjadi kaku seperti ujung tombak dan menusuk tenggorokan! Hebat dua serangan yang dilancarkan sekaligus ini, apalagi Liong tung Lo-kai juga tidak tinggal diam, tongkat Liong-tung (Tongkat Naga) di tangannya juga ikut menyambar kepala lawan, sekali kena tentu akan menghancurkan tengkorak Gin-ciam Siucai!

Namun Gin-ciam Siucai betul-betul bukan pemuda sembarangan. Diapun juga hendak cepat-cepat menyelesaikan pertempuran ini karena ketika matanya melirik ke arah Pek Hong, dia melihat betapa gadis itu sudah lemah gerakan-gerakannya dan sebentar lagi tentu roboh. Hatinya menjadi khawatir dan melihat banyaknya orang yang mengurung dengan sikap mengancam, diam-diam pemuda ini menjadi cemas. Dia harus dapat merobohkan dua orang lawannya yang tangguh ini dan mengajak gadis itu melarikan diri.

"Hyaattt...!" Pemuda ini berteriak keras dan kepalanya menunduk, jarum perak di tangan kirinya bergerak ke atas menangkis selendang yang menusuk matanya sedangkan kipas hitam mengebut kebutan ekor kuda yang menyambar tenggorokannya. Dua gerakan ini dilakukan hampir berbareng dan ketika Tongkat Naga di tangan ketua Hek tung Kay-pang itu menderu ke batok kepalanya, Gin-ciam Siucai merobohkan tubuh sejajar lantai dan kaki kanannya tiba-tiba mencuat dan menendang tongkat seperti sikap kalajengking menyengat.

"Brettt wutt-plakk!”

Dalam gebrakan-gebrakan yang amat cepat ini Gin ciam Siucai menunjukkan kebolehannya. Selendang Hwa-tok-ciang tertangkis jarum dan robek, sedangkan kebutan bulu kudanya bertemu dengan hawa panas dari kipas hitam di tangan pemuda itu sehingga terpental balik dan dua detik kemudian, tongkat di tangan Liong-tung Lo-kai bertemu dengan telapak kaki pemuda itu yang menjengit seperti sengat kalajengking.

Akibatnya, Hwa-tok-ciang menjerit marah sedangkan ketua Hek-tung Kai-pang berseru kaget. Namun sebaliknya, karena tiga buah serangan tadi dikerja kan dalam waktu yang tidak banyak selisihnya dan pemuda itu harus memecah perhatiannya, siucai ini kurang kuat ketika menangkis tongkat yang berat di tangan Liong-tung Lo-kai. Kakinya tergetar hebat dan tubuhnya terlempar tiga langkah jauhnya.

"Mampus kau...!" ketua Hek-tung Kai-pang telah meloncat ke depan dan kembali mengayun senjatanya, mulutnya berteriak geram dan lompatannya amat cepat.

Pada saat itu, pemuda ini belum sempat bangun. Dia masih terguling-guling dan tentu saja serangan tongkat itu amat membahayakan jiwanya, terpaksa diapun terus melanjutkan gulingannya dan tongkat di tangan ketua Hek-tung Kai-pang itu meledak di atas lantai ruangan yang pecah berhamburan terhantam senjata maut di tangan kakek picak ini!

Sementara itu, Hwa-tok-ciang melengking tinggi seperti kuntilanak dan tiba-tiba sambil terkekeh menyeramkan laki-laki banci ini menyerang bertubi-tubi dengan kebutannya. Selendangnya yang robek dibuang gemas dan kini tangan kirinya mengiringi dengan pukulan-pukulan jarak jauh yang mematikan.

Akan tetapi biarpun keadaan Gin-ciam siucai ini sudah jelek posisinya dan diserang gencar, masih saja dia berhasil menyelamatkan diri. Dalam keadaan bergulingan itu jarum dan kipas ditangannya bergerak-gerak menangkis dan selalu senjata lawan terpental mundur. Sayangnya, karena kedudukannya yang tidak menguntungkan, setiap kali menangkis tentu tangannya tergetar dan setengah lumpuh. Terutama sekali kalau beradu dengan tongkat naga di tangan kakek iblis itu.

Akhirnya setelah mati-matian mengelak kesana-sini dengan susah payah, pemuda itu dapat melompat bangun. Peluh membasahi seluruh mukanya yang kini kotor terkena debu. Liong-tung Lo-kai yang merasa amat marah kepada pemuda ini dan penasaran karena walaupun dibantu oleh Hwa-tok-ciang ternyata belum juga dapat merobohkan lawannya, memekik keras dan mencelat ke depan. Tongkat di tangannya menyambar tanpa bunyi dengan gerak silang dari atas ke bawah dilanjutkan dengan sodokan maut ke arah ulu hati.

Serangan ini adalah merupakan jurus pamungkas dari ilmu silatnya yang amat diandalkan, seperti yang pernah dilakukannya terhadap Pek Hong dan seperti tadi juga, sekali ibu jarinya memencet sebuah alat rahasia di gagang tongkat, berhamburanlah jarum-jarum hitam ke arah pemuda itu!

"Cet-cet-cett!” Belasan hek-tok-ciam menyambar tubuh Gin-ciam Siucai dan pemuda ini berseru keras sambil mengebutkan kipasnya ke depan. Jarum-jarum itu terpukul runtuh akan tetapi serangan terakhir berupa sodokan maut ke arah ulu hatinya kurang cepat dielakkan.

“Dukkk….!”

Sebagai gantinya, dadanya terkena tongkat dan Gin-ciam Siucai menyeringai sambil menggigit bibir. Tubuhnya terdorong ke belakang dan kakinya tiba-tiba dikait oleh Hwa-tok-ciang yang tahu-tahu berada di belakangnya. Tanpa ampun lagi, pemuda ini roboh terjengkang.

“Mati kau, keparat!” Liong-tung Lo-kai berseru girang dan secepat kilat senjatanya menghantam leher.

“Eh, pangcu, jangan…!” Hwa-tok-ciang tiba-tiba berteriak dan kebutannya menangkis. Karena si banci ini mengerahkan lweekang ke dalam kebutannya ini, maka senjata itu berobah keras dan sanggup menangkis tongkat naga di tangan ketua Hek-tung Kai-pang.

“Takk!”

“Aiihhh!”

Tongkat si kakek picak bertemu dengan gagang kebutan dan Liong-tung Lo-kai berseru kaget dengan mata melotot. Namun, karena tenaganya memang lebih besar, tongkat itu masih terus menyambar ke bawah dan... bukk !”pinggang Gin-ciam Siucai terhajar ujung tongkat!

Hwa-tok-ciang terbelalak lebar dan matanya berkedip-kedip. Diam-diam dia merasa kaget karena telapak tangannya panas dan tergetar ketika tadi menangkis sebisa-bisanya serangan maut Liong-tung Lo-kai yang ditujukan kepada pemuda tampan itu. Dia melihat betapa Gin-ciam Siucai mengeluh dan sejenak menegang, akan tetapi pemuda itu sudah cepat bergulingan dan melompat bangun dengan muka pucat. Untunglah bahwa hantaman tongkat tadi sudah berkurang banyak karena ditangkis oleh kebutan Hwa-tok-ciang, kalau tidak, tentu pinggangnya akan patah dan nyawanya melayang pergi!

"Manusia banci!" Hek-tung Kai-pangcu yang amat marah itu membentak dan mata tunggalnya berputar ganas. "Apa yang kaulakukan ini? Kenapa kau tidak membolehkan aku membunuhnya? Apakah kau hendak membelanya? Kalau begitu, kau adalah musuhku!" dan Liong-tung Lo-kai sudah siap menerjang.

Tentu saja Hwa-tok-ciang terkejut. "Lo-kai, jangan salah paham!" dia berteriak dan mengangkat tangannya. "Bukannya aku membela pemuda itu, akan tetapi kalau dia dibunuh kan sayang? Aku ingin menangkapnya dan menghibur diri dengan pemuda seperti itu." Si banci ini berkata cepat-cepat, khawatir kalau ketua Hek-tung pang itu menyerangnya.

"Cuhh, dasar kau laki-laki tidak normal! Untuk apa kau bermain-main dengan api? Dia harus kita bunuh!" kakek ini berkata gusar dan membalik, menghadapi Gin ciam Siucai dengan sinar mata berapi. Halangan rekannya tadi benar-benar membuat kakek ini marah dan mendongkol. Si banci itu benar-benar memualkan perutnya. Masa musuh yang amat berbahaya seperti ini mau dilindungi?

Akan tetapi, sebelum kakek ini kembali menyerang, tiba-tiba dia mendengar teriakan Mo-kiam Sie Giam Tun yang menyebut-nyebut nama Malaikat Dari Gurun Takla! Tentu saja dia kaget setengah mati dan ketika kakek iblis ini menoleh, dia melihat seorang pria setengah baya yang gagah perkasa dan bersikap angker berdiri di ruangan itu.

Terkejutlah dua orang ini. Nama Takla Sin-jin merupakan nama yang menakutkan bagi mereka, melebihi nama-nama hantu yang bagaimanapun juga! Kehadiran Malaikat Gurun Takla atau Malaikat Gurun Neraka yang amat tiba-tiba di tempat mereka adalah sungguh amat mengejutkan. Bagaimana tokoh besar yang tempat tinggalnya jauh di utara ini bisa muncul di tempat mereka?

Liong-tung Lo-kai dan Hwa tok-ciang sejenak tertegun dan mereka sempat menyaksikan betapa hanya dengan sebelah lengan "melambai" saja, rekan mereka Si Pedang Iblis di "sedot" dan terseret ke depan kaki pendekar sakti itu. Kejadian ini membuat muka keduanya pucat dan gentar bukan main. Malaikat Gurun Neraka itu seperti bukan manusia saja kepandaiannya. Kesaktiannya luar biasa sekali dan pendekar sakti itu memang pantas mendapatkan julukan Malaikat!

Tanpa banyak cakap, ketua Hek-tung Kai-pang yang sudah pucat mukanya ini lalu memutar tubuh dan menyelinap pergi dengan tergesa-gesa. Perbuatannya ditiru oleh Hwa-tok-ciang dan si banci inipun juga dengan cepat menghilang dari tempat itu. Hanya sekilas laki-laki berselera wanita itu melirik ke arah Gin-ciam Siucai dengan air muka kecewa.

Demikianlah, Liong-tung Lo-kai melarikan diri sambil menyumpah-nyumpah sepanjang jalan, sedangkan Hwa-tok-ciang menggerutu kesal karena pemuda tampan yang sudah hampir ditangkapnya itu terpaksa dilepaskan lagi. Ini semua gara-gara munculnya Takla Sin-jin. Dengan datangnya pendekar besar itu, siapa berani bermain kayu? Sedang rekan mereka saja, yaitu Mo-kiam Sie Giam Tun yang memiliki kepandaian tidak banyak selisihnya dengan mereka, roboh tanpa berdaya di depan tokoh besar itu.

Dengan perginya ketua Hek-tung Kai-pang serta tokoh-tokoh lainnya termasuk anggauta perkumpulan ini, gedung yang tadinya penuh orang itu kini menjadi sepi. Meja kursi porak-poranda dan disana-sini makanan-makanan berhamburan keterjang orang. Yang tinggal di dalam gedung itu hanyalah tiga orang saja, yakni Malaikat Gurun Neraka yang masih berdiri dengan sikap angker serta Gin-ciam Siucai yang menekan dadanya yang ampeg tersodok tongkat, dan Pek Hong yang pingsan di lantai ruangan.

Keadaan sunyi bukan main dan Gin-ciam Siucai melangkah maju tertatih-tatih dan akhirnya berhenti di depan pendekar sakti itu, menjura dan memberi hormat. "Locianpwe, boanpwe Kwa Sun Hok menghaturkan terima kasih atas pertolongan locianpwe mengusir orang-orang Hek-tung Kai-pang."

Takla Sin-jin memandang tajam dan siucai itu yang ternyata bernama Kwa Sun Hok tergetar hatinya melihat tatapan mata yang demikian tajam mencorong dan berkilauan. Jantungnya berdetak kencang dan diam-diam Sun Hok kagum bukan main. Tokoh dari Gurun Neraka ini benar-benar hebat, pikirnya di dalam hati. Perbawanya amat besar dan sepasang matanya yang seperti mata seekor naga sakti itu dapat membuat orang lumpuh semangatnya dan keder nyalinya! Tidak heran bila Yap goanswe, murid tunggal tokoh besar ini juga memiliki nama besar dan ditakuti lawan.

"Orang muda, kau siapakah?" pendekar sakti itu bertanya dan memandang penuh selidik. "Ilmu silatmu mengingatkan aku akan seseorang. Apakah kau muridnya?"

Pertanyaan ini tidak jelas kemana arahnya, namun Gin-ciam Siucai berseri wajahnya dan menjawab cepat, "Boanpwe memang muridnya, locianpwe. Suhu Phoa-lojin memang mengutus boanpwe untuk mencari Yap-goanswe dan..."

Sun Hok menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba dia melihat betapa alis pendekar sakti itu terangkat naik dan sepasang matanya berkilat marah. "Hemm, ada apa kau hendak mencarinya? Dan di mana gurumu itu sekarang? Apakah kalian guru dan murid hendak mengecam kelakuan muridku yang kurang ajar itu?"

Sun Hok terkejut. Dari nada suaranya, dia dapat menangkap bahwa pendekar sakti ini sedang marah. Memang berita tentang Yap-goanswe itu amat menghebohkan seluruh daratan Tiong-goan dan tidak aneh kalau guru dari jenderal muda ini merasa marah kepada muridnya itu. Namun Sun Hok cepat menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

"Tidak, tidak demikian, locianpwe. Bahkan sebaliknya, kami hendak membantu Yap- goanswe yang menurut suhu sedang ditimpa suatu malapetaka! Suhu mengutus saya untuk cepat menemui Yap-goanswe karena kata suhu, murid locianpwe itu berada dalam bahaya besar. Dan apa yang dikatakan oleh suhu ternyata benar. Baru-baru ini saya mendengar bahwa Yap-goanswe ditawan oleh Cheng-gan Sian-jin yang menjadi koksu dari Kerajaan Wu!"

Malaikat dari Gurun Neraka itu tampak terkejut, wajahnya berobah dan terdengar seruan kaget dari mulutnya, "Ahh! Apa kau bilang, orang muda? Cheng-gan Sian-jin?"

"Betul, locianpwe. Tertangkapnya Yap-goanswe yang terjadi beberapa hari yang lalu oleh Cheng-gan Sian-jin yang katanya dibantu oleh seorang tokoh hitam lain bernama Hek-mo-ko itu bahkan disiarkan luas oleh koksu itu. Dia mempunyai maksud tersembunyi yang mengerikan terhadap diri Yap-goanswe. Kami belum tahu jelas apa maksudnya itu, akan tetapi yang terang ialah dengan jalan menyiarkan tertangkapnya murid locianpwe itu, Cheng-gan Sian-jin secara memutar agaknya memang hendak menantang locianpwe dengan jalan mendatanginya di kota raja."

Jenggot pendek pendekar sakti itu bergoyang dan Sun Hok melihat betapa wajah tokoh ini diliputi kemarahan besar. Pertama-tama berita tentang sepak terjang muridnya yang melakukan perjinaan dengan selir Raja Muda Yun Chang telah membuat pendekar ini marah. Kini ditambah lagi dengan munculnya Cheng-gan Sian-jin yang menawan muridnya dan jelas merupakan tantangan secara terbuka!

Dua peristiwa ini membuat pendekar sakti itu menjadi marah sekali. Dia hendak menghukum muridnya masih belum terlaksana, kini tiba-tiba dia mendapatkan berita tentang tertangkapnya Yap- goanswe di tangan Cheng-gan Sian jin! Hal ini benar-benar membuatnya marah disamping terkejut.

"Hemmm..." hanya ini saja yang keluar dari mulut pendekar besar itu karena sebagai pendekar sakti, guru Yap-goanswe ini telah dapat menekan hawa amarahnya. Dulu ketika Cheng-gan Sian-jin merobohkan ketua-ketua partai persilatan besar di Pegunungan Beng-san, dia sudah naik ke atas untuk melawan iblis itu. Namun keburu didahului oleh seorang sakti yang mengenakan kedok dan menawan Cheng-gan Sian-jin. Sejak saat itulah tidak ada lagi orang yang mendengar kabar tentang gembong iblis ini dan karena kejadian itu sudah lewat tigapuluhan tahun, tidak ada lagi orang yang memikirkan pentolan sesat itu.

"Bagaimana, locianpwe?" Sun Hok bertanya dan memandang pendekar sakti ini.

Takla Sin-jin menoleh dan menganggukkan kepalanya, "Aku akan menemuinya dan menghajar iblis tua itu!" kata-katanya diucapkan tegas dengan sinar mata berkilat, "Akan tetapi yang penting sekarang adalah menolong murid Ta Bhok Hwesio ini. Ia agaknya terkena racun dan aku harus cepat memberi bantuan, kalau tidak, tentu ia akan tewas."

Sun Hok terkejut dan sejenak terbelalak. "Ah, jadi nona ini adalah murid hwesio sakti dari Tibet itu? Pantas saja kepandaiannya demikian lihai!" pemuda ini memandang gadis yang pingsan itu dengan sinar mata kagum.

Takla Sin-jin lalu menolong murid dari sahabatnya itu dibantu pula oleh Sun Hok. Diam-diam di dalam hati pemuda ini terdapat perasaan yang aneh terhadap Pek Hong, suatu perasaan ganjil yang tidak dimengertinya.

Berkat pertolongan pendekar sakti itu, racun yang mengeram di dalam tubuh gadis ini dapat disembuhkan. Obat penawar dari Mo-kiam Sie Giam Tun ternyata memang manjur. Luka membengkak yang kehitaman dipundak Pek Hong segera lenyap dan dua jarum yang hitam memasuki leher dan pundak kiri, yaitu jarum-jarum beracun yang dilepas oleh Liong-tung Lo-kai, disedot keluar oleh pendekar sakti itu dengan tenaga sinkangnya.

Seperempat jam lamanya dua orang ini bekerja, dan tak lama kemudian sadarlah Pek Hong dari pingsannya. Gadis ini mengeluh dan membuka kelopak matanya. Mula-mula dia tertegun heran melihat wajah pria gagah perkasa itu, akan tetapi begitu dia teringat, gadis ini memekik girang dan melompat bangun.

"Locianpwe...!" Pek Hong menjatuhkan dirinya berlutut, memberi hormat kepada pendekar besar ini.

"Nona, bangkitlah, bahaya telah lewat. Di mana suhumu?" Takla Sin-jin berkata halus dan lembut, mengangkat bangun gadis itu.

Pek Hong bangkit berdiri dan baru ia tahu bahwa di situ masih terdapat manusia lain. Ia terkejut ketika melihat Gin-ciam Siucai karena pemuda pelajar inilah yang ia lihat di dalam kota Hun-kiang dan bersorak-sorak ketika ia menghajar anggauta-anggauta Hek-tungKai-pang! "Kau...?!" gadis ini menegur kaget dan mukanya menjadi merah. Teringat akan keangkuhan pemuda itu membuat kegemasan hatinya timbul kembali.

Gin-ciam Siucai melangkah maju dan cepat-cepat memberi hormat. "Nona, harap maafkan. Aku sendiri memang mempunyai kepentingan dengan perkumpulan pengemis-pengemis busuk ini, maka itulah sebabnya akupun berada di sini dan tadi melihat betapa nona dicurangi oleh ketua Hek-tung Kai-pang, terpaksa aku menampakkan diri menolongmu."

"Siapa sudi bantuanmu? Aku tidak sudi menerima pertolongan pemuda angkuh sepertimu ini. Kalau aku tewas, apa perdulimu?" Pek Hong membentak dan hatinya mendongkol.

Gin-ciam Siucai menjadi merah mukanya dan tak mampu membuka mulut. Gadis ini membalas kata- katanya sendiri yang dibalik! Akan tetapi melihat betapa sepasang mata yang bening indah itu terbelalak marah kepadanya, pemuda ini terpesona kagum dan menatap mata jeli itu dengan bengong!

"Kau... mau apa melotot?" Pek Hong marah dan menudingkan telunjuknya. "Apakah setelah kau melepas pertolongan lalu kau boleh bersikap kurang ajar sesuka hatimu?"

Pemuda ini seperti orang baru sadar dan wajahnya seperti kepiting direbus. Cepat dia menundukkan mukanya dan Takla Sin-jin yang melihat kegalakan gadis ini, menegur.

"Pek Hong, jangan kau bersikap seperti itu. Bukankah dia telah menolongmu? Kalau pemuda ini tidak datang, kau tentu mengalami kesulitan besar. Sudahlah, harap kau maafkan kalau orang muda ini telah membuat suatu kesalahan terhadapmu. Dia telah menebus kesalahannya dengan membantumu tadi. Sekarang, di manakah gurumu itu dan apakah yang kau cari di kota ini?"

Pertanyaan terakhir ini membuat Gin-ciam bernapas lega dan Pek Hong sendiri juga segera mengalihkan perhatiannya. Teringatlah semua rencananya semula, betapa pertama-tama ia hendak mencari Siu Li untuk diambil perhitungannya. Kemudian menemui Yap Bu Kong atau Yap-goanswe yang beritanya akhir-akhir ini menggegerkan semua orang. Wajahnya muram ketika ia mengenang pemuda itu dan hatinya terasa sakit bukan main.

"Locianpwe, suhu pergi ke utara untuk menemui locianpwe dan memberitahukan sesuatu yang penting kepada locianpwe. Siapa kira agaknya locianpwe keluar dan tentu saja suhu tidak dapat menemui locianpwe. Sedangkan teecu sendiri, tadinya mula-mula hendak mencari musuh teecu dan Yap-goanswe."

"Hemm..." Takla Sin-jin mengerutkan keningnya, dan Sun Hok yang mendengar ini segera nyeletuk.

"Ah, nona rupanya belum tahu! Yap-goanswe baru-baru ini ditawan oleh seorang gembong iblis dan sekarang dibawa ke kota raja!"

Pek Hong terkejut dan memandang siucai itu, tak terasa mengeluarkan seruan kaget, "Ahh....!" dan sepasang matanya yang indah itu kembali terbelalak. Sun Hok hampir saja kembali menjadi bengong. Entah mengapa, setiap kali mata gadis itu terbelalak, tampak demikian indah dan amat mempesona baginya. Diam-diam Sun Hok memaki diri sendiri yang kini agaknya menjadi pemuda mata keranjang!

Pek Hong menoleh kepada pendekar sakti itu dan untuk meyakinkan hatinya, ia bertanya, "Benarkah itu, locianpwe?"

Takla Sin-jin mengangguk. "Begitulah menurut keterangan orang muda ini."

"Aihh, kalau begitu, siapa orangnya yang mampu merobohkan murid locianpwe itu?"

"Dia adalah Cheng-gan Sian-jin!" Sun Hok menjawab cepat memberi tahu.

Pek Hong terkejut sampai melompat kaget. "Cheng-gan Sian-jin??" katanya dengan muka pucat. "Bukankah dia sudah tewas pada tigapuluh tahun yang lampau? Menurut suhu, tokoh sesat itu sudah tidak ada lagi d idunia!"

"Tapi nyatanya kini secara tiba-tiba dia muncul. Ini berarti bahwa dulu pada tigapuluh tahun yang lalu, orang berkedok yang merobohkan Cheng-gan Sian-jin tidak membunuhnya," Malaikat Gurun Neraka berkata. "Dan bersama lenyapnya manusia iblis itu, orang berkedok yang penuh rahasia itupun juga tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Tigapuluh tahun telah berlalu dan agaknya Cheng-gan Sian jin yang ternyata masih hidup ini kembali menampakkan diri karena orang yangditakutinya, yaitu musuh yang telah merobohkannya pada tigapuluh tahun berselang, mungkin telah tiada lagi di dunia ini."

"Ahh, hal ini amat berbahaya sekali, locianpwe. Dan agaknya yang dapat merampas kembali Yap-goanswe hanyalah locianpwe seorang! Akan tetapi, mendatangi kota raja? Sungguh hal ini berbahaya sekali dan Cheng-gan Sian-jin si iblis tua yang licik itu tentu telah mempersiapkan suatu kecurangan," Pek Hong berkata dengan suara khawatir.

Berita tertawannya Yap-goanswe ini memang mengejutkan hatinya. Betapapun sakit hatinya terhadap pemuda itu, akan tetapi mendengar betapa pemuda yang dicintanya itu tertangkap musuh yang demikian hebatnya karena Cheng gan Sian-jin adalah gembong kaum sesat, diam-diam ia menjadi cemas dan jantungnya berdebar tegang.

"Akan tetapi, menurut suhu, keadaan diri Yap-goanswe walaupun amat berbahaya sekali, namun akhirnya dapat pula diselamatkan. Hanya saja, agaknya akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan di kelak kemudian hari yang menimpa diri Yap-goanswe pribadi, demikian menurut suhu," Sun Hok berkata serius dan memandang kepada pendekar itu.

"Locianpwe, dia ini sebenarnya siapakah? Dia bilang bahwa menurut suhunya akan terjadi begini atau begitu. Agaknya gurunya ini tukang gwa-mia (peramal), ya?" Pek Hong berkata dengan setengah mengejek dan bibirnya berjebi.

"Ah, nona, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri. Sekarang perkenalkanlah, aku bernama Sun Hok, she Kwa dan guruku adalah Phoa-lojin (kakek Phoa) yang tinggal di Pulau Cemara di sebelah timur," Sun Hok menjawab sambil menjura memberi hormat dengan wajah berseri, kemudian dengan suara penuh kebanggaan pemuda ini melanjutkan, "Dan guruku memang tukang ramal nona, bahkan tukang ramal yang paling jempolan!"

Tentu saja gadis itu terkejut. Sikapnya yang tadinya main-main dan setengah mengejek itu kiranya malah memang demikian kenyataannya! Maka, melihat betapa Sun Hok memberi hormat kepadanya, mau tidak mau ia pun juga terpaksa membalas penghormatan pemuda ini namun tidak memperkenalkan namanya! Hal ini dilakukan karena ia masih mendongkol teringat akan sikap Sun Hok pertama kalinya dulu.

Sun Hok tahu akan kemendongkolan orang, dan diapun tidak mendesak. Juga tadi dia sempat mendengar nama gadis itu ketika Takla Sin-jin berbicara. Hanya dia tidak tahu siapa she gadis ini.

"Orang muda, sekarang kau mau kemanakah?" tiba-tiba pendekar tua itu bertanya dengan sinar mata tajam. "Dan di manakah gurumu itu?"

"Saya... saya hendak menolong Yap-goanswe, locianpwe. Suhu menyuruh saya agar pergi ke kota raja dan bertindak secara hati-hati di sana. Dan tentang suhu sendiri, teecu tidak mengetahui dimana dia sekarang berada karena ketika keluar pulau, suhu dan saya berpisah."

"Hemm, begitukah? Baiklah, terima kasih atas kesanggupanmu." Takla Sin-jin mengangguk dan menoleh kepada Pek Hong. "Dan kau, nona Hong?"

"Ah, locianpwe, aku... aku juga hendak ke kota raja..." gadis itu tergagap dan mukanya menjadi merah.

"Kalau begitu berhati-hatilah. Agaknya muridku yang kurang ajar itu benar-benar bernasib baik, masih diperhatikan oleh banyak orang. Baiklah, aku pergi dulu...!" baru saja kata-katanya selesai, tubuh Malaikat Gurun Neraka ini sudah berkelebat lenyap!

Sun Hok meleletkan lidahnya. "Aihh, bukan main!" serunya dengan penuh kekaguman. "Pendekar sakti itu betul-betul hebat, dan tidaklah mengherankan jika murid tunggalnya juga merupakan pemuda yang luar biasa!"

Pek Hong tidak menjawab dan tampak termenung. Pemuda luar biasa? Memang luar biasa cerdiknya, karena dapat mengelabuhi orang lain dengan sikapnya yang pura-pura sopan dan alim padahal sebenarnya merupakan pemuda hidung belang! Dan untuk pemuda seperti itu mengapa ia masih saja memperhatikan? Mengapa ia hendak ke kota raja untuk menolong pemuda itu dari cengkeraman musuh? Apa perdulinya?

"Yap-koko…” gadis ini mengeluh di dalam hati dengan perasaan seperti diremas dan tak terasa lagi air mata berlinang di kelopak matanya. Betapa ia amat mencinta jenderal muda itu, mencintanya dengan sepenuh hati. Betapa sekejappun selama ini ia tidak dapat melupakan pemuda yang gagah perkasa itu, meskipun ia mendengar hal-hal yang amat menyakitkan hatinya yang dilakukan oleh Yap-goanswe di dalam istana.

"Nona Hong, kau kenapakah?" tiba-tiba Sun Hok bertanya melihat gadis itu menangis tanpa suara dan panggilannya terdengar agak ragu-ragu karena dia takut gadis galak ini akan marah.

Pek Hong terkejut dan dua butir air mata yang menggantung di bulu matanya jatuh ke bawah. Cepat ia menggeleng kepala dan menjawab, "Tidak apa-apa. Untuk apa kau tanya-tanya segala?" suaranya terdengar ketus dan Sun Hok tidak berani lagi bertanya macam-macam.

"Nona, musuh telah pergi. Buat apa kita masih tinggal disini? Mari kita bakar saja sarang pengemis kotor ini dan kita dapat melakukan perjalanan bersama ke kota raja..."

Pendekar Gurun Neraka Jilid 03

PENDEKAR GURUN NERAKA
JILID 03
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Gurun Neraka Karya Batara
DENGAN sikap marah pemuda itu lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi ! Pek Hong tertegun dan mukanya menjadi merah. Sama sekali tidak disangkanya bahwa maksud baiknya diterima salah oleh pelajar itu. Diam-diam hatinya mendongkol dan panas.

"Hemm, pemuda yang angkuh dan tinggi hati!" pikirnya marah.

Gadis ini lalu menyimpan uangnya dan sejenak mengikuti kepergian siucai itu dengan pandang matanya. Akan tetapi betapa heran dan terkejut hatinya ketika ia sudah tidak melihat bayangan pemuda tadi!

"Ehh, ke mana dia?" serunya heran dan matanya berputar ke sekeliling tempat itu, namun siucai yang dicarinya itu ternyata memang telah lenyap! Terkejutlah gadis ini dan teringatlah ia akan kedatangan pemuda tadi yang juga amat tiba-tiba dan tahu-tahu telah berada di belakangnya tanpa ia sadari. Kini, seperti datangnya tadi, tanpa diketahuinya pemuda itupun juga lenyap dengan amat cepatnya. Berdebarlah hatinya dan mulailah ia menaruh curiga. Melihat gelagatnya, siucai itu agaknya bukan sembarang orang!

"Hemm, aku harus berhati-hati," katanya perlahan dan wajah tampan dari pemuda pelajar itu dengan keangkuhan sikapnya mulai menarik perhatiannya.

Akan tetapi, teringat urusannya dengan Hek-tung Kai-pang segera lamunannya tentang pemuda itu membuyar. Cepat surat yang masih digenggamnya itu dibaca dan alis yang hitam panjang dari gadis ini berkerut marah. Liong tung Lo-kai, ketua Hek-tung Kai-pang, mengundangnya datang ke markas sebagai tamu kehormatan jika ia bernyali naga. Namun, apabila ia takut, ketua yang sombong itu menyuruhnya datang untuk minta ampun dan menerima dosa!

Pek Hong tersenyum mengejek, sama sekali tidak merasa gentar menerima surat tantangan dari ketua Hek-tung Kai-pang. Di tengah perjalanannya sedikit banyak ia memang telah mendengar tentang kekejaman-kekejaman perkumpulan pengemis ini, maka kebetulan sekali ia sekarang bertemu dengan penjahat-penjahat itu. Ia akan datang, dan hendak diobrak-abriknya sarang penjahat berkedok pengemis yang sebenarnya merupakan pemeras-pemeras keji itu!

Demikianlah, dengan sikap tabah dan tenang gadis ini kemudian meninggalkan tempat itu, pura-pura tidak tahu betapa beberapa pasang mata meng intainya dari jauh, mata orang-orang Hek-tung Kai-pang!

Pada saat itu, pesta ulang tahun di markas pusat perkumpulan Hek-tung Kai-pang mengalami sedikit keguncangan. Datangnya anggauta-anggauta yang terluka dan dipapah serta dua orang anggauta yang tewas membuat semua mata terbelalak kaget. Kenyataan ini sungguh mengejutkan bagi mereka, apalagi setelah mereka mendengar betapa yang merobohkan saudara-saudara mereka, itu hanyalah seorang gadis cantik berusia sembilan belasan tahun!

Liong-tung Lo-kai sendiri menjadi amat marah dan geram. Mata picaknya berputar liar dan sorot kekejaman membayang di mata tunggalnya itu. Diam-diam pikirannya sudah mencari-cari pembalasan apa yang hendak ditimpakannya kepada gadis yang berani mati menentang perkumpulannya. Akan tetapi di samping ini dia menjadi waspada dan maklum bahwa lawannya yang masih muda itu tentu bukan gadis sembarangan. Setidak-tidaknya merupakan murid dari seorang tokoh besar yang belum diketahuinya dan hal ini membuat kakek itu bersikap hati-hati.

Laporan dari para penyelidik yang mengatakan bahwa gadis cantik itu ternyata menerima "undangan" ketua Hek-tung Kai-pang dan kini sedang menuju ke tempat itu membuat orang-orang menjadi berisik dan muncullah ketegangan di situ. Dua orang tamu kehormatan dan merupakan teman lama Liong-tung Lo-kai yang bernama Hwa-tok-ciang Kim Siang dan Mo-kiam Sie Giam Tun diam- diam merasa tegang dan berdebarhati mereka.

"Gadis itu berani mati sekali," pikir mereka, “Dan ini semua tentu mengandalkan kelihaiannya, hmm, ingin kita melihat siapa gerangan dia dan tentu bakal terjadi keramaian disini."

Apa yang dipikirkan oleh dua orang itu agaknya memang akan menjadi kenyataan dan seperti biasanya sudah menjadi watak orang-orang kang- ouw yang berkepandaian tinggi, mendengar kelihaian seseorang membuat tangan mereka gatal-gatal untuk membuktikan sendiri.

"Pangcu, biarkanlah aku saja yang menangkapnya. Hitung-hitung sebagai hadiah ulang tahunmu!" Mo- kiam Sie Giam Tun si ahli pedang berkata mendahului yang lain dan sepasang matanya bersinar-sinar gembira. Membayangkan betapi lawannya adalah seorang wanita muda yang cantik, orang ini sudah mengilar dan ingin dia mempermainkan gadis itu.

Tokoh ini memang memiliki kepandaian tinggi dan terkenal sekali dengan permainan ilmu pedangnya Hek-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Iblis Hitam) dan dia mempunyai pedang dari besi hitam yang dinamakan Hek-mo-kiam. Dan seperti biasanya orang-orang golongan sesat, diapun tidak lupa untuk mengoleskan racun di batang pedangnya. Hal ini terutama kalau dia menghadapi lawan-lawan berat dan sukar dikalahkan. Maka dengan bantuan racunnya, sudah banyak dia merobohkan lawan-lawan kuat. Di samping itu, Mo-kiam Sie Giam Tun ini juga tergolong orang yang mata keranjang dan menjadi buas kalau menghadapi wanita-wanita cantik.

Hwa-tok-ciang tertawa dan orang yang mendengar suara ketawa tokoh ini pasti akan mengkirik bulu tengkuknya karena suara tawa itu seperti tawa perempuan! "Heh-heh, hi-hi-hikk! Mo-kiam si hidung belang, jangan kau tergesa-gesa maju dulu. Siapa tahu begitu maju kau lalu jatuh tunggang-langgang? Ihh, seorang gadis cantik yang berani menentang Hek-tung Kai-pang tentulah bukan gadis lemah seperti yang biasa kau permainkan, hi-hik!"

Hwa-tok-ciang lalu terkekeh-kekeh dan matanya mengerling kesana kemari dengan sikap genit. Bagi yang sudah mengenal baik tokoh ini, tentu tidak akan merasa heran karena Hwa-tok-ciang ini adalah seorang tokoh banci yang gemar pemuda-pemuda ganteng!

Si Pedang Iblis mendengus marah karena diejek dan dia menepuk pedangnya. "Hwa-tok-ciang, sepandai-pandainya seorang wanita, apalagi masih muda belia, sampai di manakah tingkatnya? Aku yakin dengan Hek mo kiam pasti akan dapat merobohkannya. Kau tahu, berapa banyak lawan-lawanku yang tangguh roboh di ujung pedang ini? Sudah tidak terhitung banyaknya! Hek-mo-kiam tidak pernah gagal dalam melaksanakan tugasnya!" orang ini bersombong.

Tokoh banci itu hanya tertawa-tawa genit dan sepasang matanya menyambar-nyambar ke sekeliling dan akhirnya berhenti kepada wajah tampan seorang pelajar yang duduk dibagian tamu-tamu biasa! Melihat siucai tampan itu, sepasang mata Hwa-tok- ciang bersinar penuh nafsu. Sudah seminggu ini dia tidak sempat mencari korban, dan kini secara tak disengaja tiba-tiba dia mendapatkan pemuda tampan di tempat itu. Sungguh kebetulan!

"Eh, pangcu, dia siapakah?" Hwa-tok ciang berbisik perlahan kepada tuan rumah dan matanya menunjuk pemuda yang sudah diincarnya itu.

Liong-tung Lo-kai mengerutkan alisnya, diam-diam merasa mendongkol kepada rekannya ini yang hendak mencari kesenangan pribadi padahal dia sedang menghadapi musuh yang akan datang menyatroni. Namun untuk menghormat tamu terpaksa dia mengikuti pandangan tokoh banci ini dan melihat pelajar tampan yang duduk di bagian tamu biasa, dia menjawab.

"Hwa-tok-ciang, golongan tamu-tamu biasa begitu mana aku bisa kenal? Paling-paling dia adalah penduduk Hun-kiang, mungkin mewakili ayahnya datang ke sini. Mau apa kau tanya-tanya? Huh, agaknya seleramu bangkit setiap melihat wajah ganteng. Dasar banci!"

"Hi-hi-hikk!" Hwa-tok-ciang terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan sikap kemayu, melirik ke arah Liong-tung Lo-kai dan berkata, "Pangcu, agaknya kau cemburu melihat kesenanganku, ya? Ihh, jangan begitu dong, kan isteri-isterimu banyak? Apalagi kalau nanti Mo-kiam bisa menangkap dan mempersembahkan gadis itu, tentu kau dapat memuaskan hati. Bukankah seekor kuda betina liar lebih menggairahkan daripada selir-selirmu yang lemah itu?"

Kakek ini mendengus tidak menjawab dan tiba-tiba matanya memandang tajam ke depan. Seorang gadis cantik berbaju hijau melangkah masuk dengan sikap tenang dan anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang yang berdiri di luar pintu gerbang tiba-tiba menyibak minggir!

Itulah Pek Hong, murid hwesio sakti Ta Bhok Hwesio yang bernyali naga! Ruangan gedung yang tadi bising dengan suara berisik, tiba-tiba sirap tanpa suara dan semua mata memandang kedatangan orang yang ditunggu-tunggu ini.

Gadis itu tersenyum mengejek dan orang-orang Hek-tung Kai-pang yang mendengar kelihaian dara ini memandang gentar namun gadis itu terus memasuki gedung. Walaupun sikapnya seakan-akan tak perduli terhadap keadaan sekeliling, akan tetapi sesungguhnya gadis ini bersikap waspada.

Dengan langkah kaki ringan dan tenang gadis berjalan menuju ke kursi kehormatan dan akhirnya berhenti. Sepasang matanya yang jeli bening itu memandang tamu di bagian itu satu persatu dengan sinar mencorong dan akhirnya beradu pandang dengan seorang kakek picak sebelah yang duduk dilindungi sebuah meja kecil penuh hidangan.

Dari pendengarannya tentang Hek-tung Kai-pang, gadis ini sedikit banyak telah mendengar ciri-ciri Liong-tung Lo-kai, yaitu seorang kakek bermuka buruk dan buta sebelah, kakinya pincang dan agak bongkok akan tetapi yang dikabarkan orang memiliki kepandaian tinggi. Maka begitu melihat kakek berpakaian hitam dari sutera halus dan mahal yang bajunya disulam dengan gambar sebatang tongkat berwarna kuning, tahulah ia bahwa inilah ketua Hek-tung Kai-pang yang dijuluki orang Liong-tung Lo-kai atau Pengemis Tua Bertongkat Naga! Hanya dia tidak melihat di mana tongkat sang ketua itu, mungkin disembunyikan di suatu tempat.

"Hek-tung Kai-pangcu (ketua Hek-tung Kai-pang), beginikah caramu menyambut tamu? Apakah kau tidak memberi didikan sopan-santun kepada anak buahmu yang menyambut tamu dengan mata melotot seperti kucing kelaparan?" Pek Hong memecahkan kesunyian dengan suaranya yang halus dan nyaring. Karena semua orang agaknya sedang menahan napas melihat keberanian gadis yang luar biasa ini, maka kata-kata itu terdengar amat lantang dan semua orang dapat mendengarnya.

Liong-tung Lo-kai sendiri yang diam-diam merasa marah sejenak tertegun dan silau oleh kecantikan gadis itu. Sama sekali tidak disangkanya bahwalawan yang mengacau Hek-tung Kai-pang ternyata demikian cantik manisnya! Seketika nafsu berahinya timbul dan kalau tadinya dia berniat untuk membunuh gadis itu, sekarang timbul pikiran lain. Tidak. Dia tidak hendak membunuh gadis ini, akan tetapi hendak menangkapnya hidup-hidup dan kalau gadis itu mau dijadikan isterinya, tentu akan merupakan seorang pembantu yang memuaskan.

Selain dapat memperkuat kedudukan Hek-tung Kai-pang, juga sekaligus merupakan teman bermain cinta yang hebat! Dia sudah mulai bosan dengan wanita-wanita yang lemah dan yang pandainya hanya menangis itu, dan dia ingin mendapatkan gadis seperti ini, kuat dan bernyali naga!

Liong-tung Lo-kai tiba-tiba tertawa karena hatinya memang gembira setelah dia mendapatkan rencana itu dan anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang yang tadinya mengira bahwa ketua mereka tentu akan menyambut musuh dengan sikap bengis, menjadi heran dan tidak mengerti mengapa ketua mereka tertawa seperti itu.

"Bagus, ha-ha-ha! Nona sungguh bernyali besar dan pantas menjadi tamu kehormatanku. Nona, kalau kami belum sempat mempersilahkanmu duduk, maaf, sekarang juga aku mempersilahkan nona duduk dan menikmati hidangan. Terimalah!" kaki Liong-tung Lo-kai tiba-tiba menendang meja kecil di depannya yang penuh hidangan itu dan tangannya menyambar sebuah kursi dan melemparkannya secepat kilat ke arah gadis itu.

Semua mata terbelalak. Hebat sekali apa yang dipertunjukkan oleh ketua Hek-tung Kai-pang ini. Meja yang penuh hidangan makanan itu terbang meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, dan anehnya, tidak ada satupun mangkok piring yang terguling! Dan kursi yang dilemparkan terakhir oleh tangan kakek itu tiba-tiba mengeluarkan suara bercuit dan mendadak mendahului terbangnya meja berikut hidangannya, menyambar kepala Pek Hong.

Demonstrasi yang dipertunjukkan oleh Liong -tung Lo-kai memang luar biasa. Hanya orang dengan lweekang yang sudah mencapai tingkat tinggi sajalah yang bisa mengirim serangan seperti itu, yang membuat segala benda di atas meja seakan-akan lengket dan tidak akan jatuh.

Akan tetapi apa yang diperlihatkan oleh gadis itu ternyata lebih luar biasa lagi. Pek Hong yang melihat betapa kursi itu terbang ke arahnya mendahului meja yang penuh makanan, menggerakkan kedua tangannya dan secepat kilat ia telah menangkap kursi itu, meletakkan di atas lantai dan berjungkir balik di atas kursi dengan kepala di bawah kaki di atas, lalu ketika meja kecil itu datang, dengan kedua kakinya gadis ini menyambut meja itu!

"Tapp...!" Tampaklah pemandangan yang amat luar biasa sekali. Gadis cantik itu berjungkir balik di atas kursi dan sepasang kakinya menyangga meja berikut hidangan yang ada tanpa sedikitpun ada yang tumpah! Gemparlah ruangan itu. Semua orang terkejut sekali melihat kelihaian dara remaja ini dan Liong-tung Lo-kai sendiri terbelalak kaget dan mata tunggalnya melotot lebih lebar!

"Ahh....!" kakek ini berseru terkejut, maklum bahwa agaknya dalam hal lwekang, dara cantik itu tidak berada di sebelah bawah tingkatnya!

Sedangkan Mo-kiam Sie Giam Tun dan Hwa-tok- ciang juga terperanjat di dalam hati mereka. Si Pedang Iblis ini yang tadi bersombong di depan orang lain, kini setelah menyaksikan kehebatan gadis itu terpaksa tidak berani memandang rendah. Akan tetapi teringat akan usulnya sendiri, tokoh ini sudah melompat dari kursinya dan biar bagaimanapun juga, dia merasa bahwa dengan ilmu pedangnya Hek-mo Kiam-sut pasti dia dapat merobohkan gadis itu. Apa yang baru dipertunjukkan oleh lawan adalah tentang kecepatan gerak dan tenaga lweekang yang memang luar biasa, namun tentang kepandaian silat dari gadis baju hijau ini belum dibuktikannya. Oleh sebab itu, sambil melompat maju orang ini berteriak,

"Pangcu, biarkan aku yang menangkap kucing liar ini!" dan sebelum ucapannya habis, tubuhnya menubruk ke depan untuk menangkap gadis yang masih berjungkir balik dengan kepala di bawah itu.

Pek Hong mendengus, "Huhh...!" dan sepasang kakinya yang menyangga meja kecil itu tiba-tiba digerakkan ke depan. Akibatnya, meja yang tadi disangganya ini sekonyong-konyong terlempar menyambut datangnya tubrukan Mo-kiam Sie Giam Tun dan karena ia melepaskan daya "sedot"-nya, otomatis segala mangkok piring dan isinya berhamburan keluar menyambar muka Si Pedang Iblis!

"Keparat!"Sie Giam Tun memaki marah namun dia benar-benar lihai. Karena tubuhnya sedang menubruk ke depan dan tidak ada kesempatan untuk menangkis dan juga karena dia tidak sudi tersiram segala macam kuah masakan, laki-laki ini mengeluarkan seruan keras dan tiba-tiba tubuhnya membalik, berjungkir balik di udara sebanyak tiga kali dan tangannya sudah mencabut Hek-mo-kiam dan membabat kaki dara itu dari atas dengan serangan ganas!

Pek Hong terkejut akan tetapi sama sekali ia tidak gugup. Melihat lawannya dapat mengelak dan bahkan kini menyerangnya dari atas dengan pedang hitamnya yang mengaung dahsyat, gadis ini melakukan perbuatan yang amat berani. Sambaran pedang Hek-mo-kiam di tangan lawan disambut dengan ujung sepatunya dan kursi yang dipegangnya tiba-tiba digerakkan, diangkat dan dibawa meloncat ke depan mendekati lawan dan dari bawah ia lalu menotok lutut lawan!

"Tring-trinngg... eehh celaka!"

Mo- kiam Sie Giam Tun berseru kaget dan semua penonton juga terbelalak heran. Pedang Hek-mo-kiam yang disambut ujung sepatu gadis itu tiba-tiba mengeluarkan suara keras seperti bertemu dengan besi atau baja dan terpental ke belakang, dan sementara laki-laki itu terkejut setengah mati, tahu-tahu totokan jari tangan Pek Hong telah tiba didepan lututnya! Tentu saja kejadian ini amat mengagetkan Giam Tun dan sambil memekik keras dia cepat menjejakkan kakinya dan berpoksai lima kali menjauhi lawan dan selamat dan serangan berbahaya itu, berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak lebar.

Dalam gebrakan yang berlangsung amat cepatnya ini Si Pedang Iblis yang sombong itu hampir saja roboh dan mukanya menjadi merah saking malu dan marahnya. Giam Tun hendak menerjang kembali dengan sinar mata beringas, akan tetapi Liong-tung Lo-kai tiba-tiba berseru dan menggoyang tangannya.

"Mo-kiam, tahan dulu kemarahanmu! Harap kau suka duduk sebagai penonton karena dia merupakan tamu kehormatanku. Biarlah pesta ulang tahunku hari ini diramaikan oleh pertunjukan istimewa nona ini," kakek itu berhenti sebentar dan menoleh ke arah tiga orang murid kepalanya yang bertali hitam, memberi isyarat dengan pandang mata dan melanjutkan, "Kalian majulah dan bentuk Sha-kak-tin untuk menandinginya!" dan wajah ketua Hek-tung Kai-pang ini tampak berseri-seri gembira.

Tiga orang murid kepala yang dipimpin oleh si muka merah yang sebelumnya memang telah bertemu dengan gadis itu di dalam kota Hun-kian, melompat maju dengan gerakan cepat dan ringan. Tongkat hitam di tangan mereka menggigil karena tiga orang ini menahan marah dan amat membenci gadis yang telah merobohkan dan membunuh saudara-saudara mereka. Sinar mata mereka berapi-api dan sikap mereka penuh ancaman. Sudah sejak tadi mereka menahan diri dan tidak berani bergerak karena suhu mereka belum memberikan tanda. Maka, begitu kini ketua mereka menyuruh mereka maju dan membentuk Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga) yang merupakan ilmu gabungan yang dimainkan oleh tiga orang, mereka menjadi girang dan amat bernafsu untuk segera merobohkan gadis itu.

Si Pedang Iblis yang disuruh mundur tampak tidak puas hatinya. Kekalahan yang hampir dialaminya tadi adalah karena kesalahannya yang memandang enteng lawan. Juga sama sekali tidak disangkanya bahwa ujung sepatu gadis itu ternyata dilindungi oleh sebatang logam sehingga tadi berani dipakai untuk menangkis pedangnya. Kalau tadi dia bersikap waspada, tidak mungkin dia akan kalah! Dia masih merasa penasaran dan ingin mencoba lagi sepuasnya, namun karena tiga orang murid kepala Hek-tung Kai-pang telah berdiri menghadapi gadis yang lihai itu, terpaksa sambil menggerutu diapun lalu kembali ke tempat duduknya dengan air muka keruh.

Sementara itu, Pek Hong telah berdiri seperti biasa dan kursi yang tadi dipegangnya sudah dilempar ke sudut ruangan. Gadis ini berdiri tegak sambil bertolak pinggang, dadanya membusung ke depan dan rambutnya agak kusut. Dalam keadaan seperti ini, ia nampak cantik dan menggairahkan sekali, membuat Liong tung Lo-kai yang sudah mengilar untuk menjadikan gadis itu sebagai isterinya diam-diam menelan ludahnya dan kalamenjingnya naik turun.

"Liong-tung Lo kai, mengapa kau menyuruh si mata sipit itu mundur? Aku tidak mau bekerja kepalang tanggung, suruh saja dia maju sekalian dan boleh kau kerahkan semua anak buahmu. Bukankah sejak dahulu Hek-tung Kai-pang adalah sebuah perkumpulan yang suka main keroyok? Hayo kalian maju semua, dan kau juga Liong-tung Lo-kai, turunlah dari kursimu dan majulah ke sini!"

Si Pedang Iblis yang disindir menjadi merah mukanya dan hendak melompat maju, namun ketua Hek-tung Kai-pang menekan tangannya.

Hebat kata-kata ini dan amat tajam sekali, juga terdengar amat sombong. Akan tetapi sebenarnya ada maksud tersembunyi di dalam hati Pek Hong. Ia sengaja mengeluarkan kata-kata itu untuk menyinggung harga diri tokoh-tokoh Hek-tung Kai- pang. Bukan kehendaknya untuk menandingi sekian banyaknya orang. Kalau hal itu sampai terjadi, tentu saja dia akan kalah kehabisan tenaga. Gadis ini bermaksud untuk membasmi Hek-tung Kai-pang dengan cara melenyapkan tokoh-tokohnya dan kalau mereka sampai tersinggung oleh ucapannya dan tidak main keroyok, ia mempunyai harapan untuk dapat mengatasi kepandaian orang-orang Hek-tung Kai-pang.

Si muka merah melotot marah dan dua orang sutenya juga ikut mendelik. "Siluman betina!" si muka merah membentak. "Siapa mau mengeroyokmu? Sha-kak-tin selamanya dimainkan oleh tiga orang dan kalau kau tidak berani menghadapinya, lebih baik kau lekas berlutut dan menerima dosa!"

Pek Hong melirik dan tersenyum mengejek. "Hem, kalian ini orang-orang yang besar mulut. Suruh guru kalian yang maju, aku segan mengotorkan tangan menyentuh tubuh kalian yang apek."

Tiga orang itu tidak kuat menahan marah dan sambil berseru keras mereka lalu mulai menerjang. Sesuai dengan barisan yang mereka pakai, yaitu Barisan Segi Tiga, mereka ini mengurung Pek Hong di tengah- tengah dalam kedudukan tiga sudut. Si muka merah berada di depan dan dua orang sutenya menyerang dari kiri kanan belakang gadis itu. Tongkat mereka menyambar susul-menyusul dan kaki merekapun bergerak dengan teratur.

Hebat dan ganas permainan berpasangan yang dimainkan tiga orang murid kepala Hek-tung Kai pang ini. Mereka adalah tokoh-tokoh di bawah sang ketua sendiri, jadi tingkat kepandaian mereka merupakan tokoh-tokoh kelas dua di perkumpulan itu. Tenaga lweekang mereka kuat dan gerak kaki mereka juga mantap. Tongkat yang menghantam lawan sampai mengeluarkan bunyi yang bersiuran tanda bahwa tenaga mereka hebat sekali, dan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan itu semuanya menurut irama, tidak ngawur.

Si muka merah yang menjadi pelopor dalam serangan Barisan Segi Tiga ini selalu mengarah bagian depan tubuh lawan. Tongkatnya mengemplang, menyodok dan membabat bertubi-tubi ke arah tubuh Pek Hong dan sekali mengenai sasarannya, agaknya akan menimbulkan luka berat bagi musuh. Dua orang sutenya bergerak di samping kanan kiri lawan dan tongkat mereka menusuk-nusuk cepat dari sisi kepala sampai bagian pinggul.

Mula-mula, dalam jurus-jurus pertama Pek Hong berhasil dibuat kerepotan, ia belum mengenal baik akan sifat dari Sha-kak-tin yang dimainkan oleh tiga orang murid Hek-tung Kai-pang ini. Gadis itu tidak berani bersikap sembrono dan tubuhnya berloncatan kesana kemari dan beterbangan di antara sambaran senjata tongkat. Ginkangnya yang tinggi membuat loncatannya ringan dan gesit dan bayangan hijau berkelebatan cepat di antara gulungan sinar hitam tongkat-tongkat itu.

Lima puluh jurus berlalu dan tiga orang murid Liong-tung Lo-kai ini diam-diam merasa amat penasaran dan marah. Selama itu, belum juga senjata mereka berhasil menyentuh tubuh lawan. Gadis itu seperti bayangan saja yang tidak dapat dipukul roboh! Tentu saja kenyataan ini membuat kemarahan mereka semakin meledak. Di tempat itu banyak orang dan mereka yang terkenal sebagai tokoh-tokoh kelas dua di Hek-tung Kai-pang masa sama sekali tidak dapat memukul roboh seorang gadis remaja? Sungguh terlalu dan amat memalukan!

"Hyaaattt...!" akhirnya si muka merah membentak keras dan berlaku nekat. Dia tiba-tiba menjatuhkan diri bergulingan dan kalau tadinya dia selalu menyerang tubuh bagian depan, sekarang dia menyerang dari bawah dengan putaran tongkatnya yang bertubi-tubi. Dengan perbuatannya ini dimaksudkan agar gadis yang lihai itu tidak ada kesempatan turun karena dia selalu menghadang kaki gadis itu dan siap menghantam. Perbuatannya ini otomatis membuyarkan barisan Sha-kak-tin akan tetapi memberi kesempatan lebih luas bagi dua orang sutenya untuk melancarkan serangan-serangan terhadap gadis itu yang selalu berkelebatan seperti burung. Si muka merah ini memang siap untuk mengorbankan diri asal gadis yang amat dibencinya itu dapat dirobohkan.

Dua orang sutenya sejenak terkejut karena suheng mereka membuyarkan Sha-kak-tin. Akan tetapi, setelah melihat perbuatan si muka merah yang selalu menjaga turunnya gadis itu dengan tongkat terputar seperti kitiran, akhirnya mereka maklum bahwa suheng mereka sedang menjalankan siasat lain yaitu dengan menyuruh mereka melancarkan serangan gencar ke arah bayangan hijau yang bergerak-gerak seperti burung walet itu. Dengan adanya perbuatan si muka merah, tentu saja gadis itu tidak akan dapat turun dan mudahlah bagi mereka untuk menyerang dan merobohkan lawan yang tidak mempunyai jalan keluar ini!

Melihat perobahan lawan, Pek Hong terkejut. Selama ini ia memang sedang mencoba untuk menyelidiki barisan Sha-kak tin itu dan setelah limapuluh jurus berlangsung, akhirnya ia mendapat jalan atau kuncinya untuk melumpuhkan tiga orang lawannya yang melakukan serangan secara teratur dan berpasangan itu. Memang tidak mudah baginya untuk cepat-cepat merobohkan mereka tanpa senjata, akan tetapi tiga orang itupun juga tidak mudah untuk merobohkannya. Dengan ginkangnya yang disebut Coan-goat-hui membuat tubuhnya dapat menyelinap di antara sambaran senjata dengan amat ringan dan cepatnya dan setelah dia merasa puas dan siap untuk merobohkan tiga orang lawannya, tiba-tiba saja si muka merah yang malu dan penasaran itu merobah sikap, yaitu membuntu jalan turunnya.

Apa yang dilakukan oleh si muka merah ini amat membahayakan kedudukannya. Tidak mungkin baginya untuk selalu mengerahkan ginkang tanpa turun sejenak di atas lantai. Oleh sebab itu, melihat betapa si muka merah menghadang jalan turunnya dan dua orang yang lain lalu menyerang gencar dengan serangan-serangan ganas yang mengancam jiwanya, gadis ini tiba-tiba melengking panjang dan terpaksa ia mengeluarkan senjata rantainya.

"Wuutt...tar-tarrr!" senjata itu mulai meledak di tangannya dan ketika dua batang tongkat hitam menyambar leher dan pinggangnya, Pek Hong menggerakkan rantai peraknya secepat kilat.

"Syutt rrtt... rrtt!"

Dalam gebrakan yang amat cepat ini tahu-tahu dua batang tongkat itu terlibat rantai dan sebelum dua orang anggauta Hek-tung Kai-pang ini hilang kagetnya, gadis itu membetot kuat sehingga tubuh mereka tertarik ke depan dan… plak-plakk!" tangan kiri Pek Hong menampar pipi mereka dengan amat kerasnya!

Dua orang ini berteriak mengaduh dan tongkat mereka terampas. Pek Hong tidak menghentikan gerakannya sampai di situ karena begitu tangan kirinya menampar, kakinya segera menendang dua kali berturut-turut dan akibatnya, dua orang itu roboh sambil menjerit ngeri. Celakanya, si muka merah yang pada saat itu menjaga di bagian bawah dengan putaran tongkatnya, tak sempat menarik senjatanya yang menghantam robohnya dua orang sutenya itu.

"Bluk-blukk!” Tongkat hitam di tangannya menghantam keras dan karena si muka merah ini mengerahkan lweekang pada hantamannya tadi, dua orang sutenya terpukul hebat dan tulang punggung mereka patah, dalam waktu yang hampir bersamaan keduanya roboh binasa dengan mata mendelik!

Tentu saja kejadian ini amat menggemparkan dan semua orang berseru kaget. Si muka merah sendiri juga sampai pucat mukanya ketika dia melihat betapa secara tidak disengaja dia telah membunuh sute-sutenya sendiri. Peristiwa itu datang terlalu cepat dan dia hendak melompat bangun. Namun, gerakannya kalah cepat dan tahu-tahu ujung sepatu gadis itu telah menghantam dagunya.

"Krakkk!" Terdengar bunyi tulang patah dan rahang si muka merah yang bertemu dengan logam yang tersembunyi di dalam sepatu Pek Hong hancur remuk dan sekaligus tengkorak kepalanya juga retak-retak. Si muka merah berteriak ngeri dan tongkatnya terlempar, berputar-putar sejenak dan akhirnya roboh, terkapar tanpa nyawa menyusul dua orang sutenya!

Gegerlah tempat itu dan semua orang bangkit dari kursi masing-masing. Liong-tung Lo-kai tertegun di kursinya dan terpukau, seakan-akan dia sedang mengalami mimpi buruk. Akan tetapi begitu dia sadar bahwa tiga orang murid utamanya memang benar-benar telah binasa, ketua Hek-tung Kai-pang ini mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya tiba-tiba mencelat dari atas kursinya dan terbang ke depan!

Semua mata terbelalak dan anggauta Hek-tung Kai-pang yang merasa marah dengan kejadian ini, segera berlompatan dan maju mengurung dengan sikap beringas. Sepak terjang gadis itu yang berani membunuh tiga orang murid kepala Hek-tung Kai-pang di sarang sendiri adalah benar-benar merupakan kejadian yang amat hebat!

"Wessss... darrrr!"

Tongkat bergagang naga yang dilapis emas berkilauan yang tahu-tahu telah berada di tangan tokoh Hek-tung Kai-pang ini luput mengenai sasarannya dan lantai ruangan itu pecah berhamburan. Pek Hong telah melompat jauh ketika tadi Liong-tung Lo-kai mencelat dari kursinya dan menyerang, ia tidak berani sembarangan menangkis karena dari suara angin pukulan itu, ia tahu betapa hebat tenaga yang terkandung di dalamnya, apalagi karena ketua Hek tung Kai-pang ini dalam kemarahan yang meluap-luap.

Kali ini Liong-tung Lo-kai memang mencapai puncak kemarahannya. Tadinya ketika dia mendengar laporan bahwa anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang rendahan ada yang tewas di tangan Pek Hong, dia masih dapat mengampuni karena dia berpikir untuk menundukkan gadis itu dan menjadikannya sebagai isteri sekaligus pembantu istimewa.

Akan tetapi, melihat betapa gadis itu telah membunuh tiga orang murid utama yang amat disayangnya, maklumlah dia bahwa gadis ini tidak mungkin lagi dapat diajak bekerja sama, bahkan merupakan musuh berbahaya yang harus segera dilenyapkan. Hilanglah sudah semua rencananya tadi seperti awan tipis ditiup angin, dan menyaksikan kepandaian dara itu, agaknya hanya dia seoranglah yang dapat merobohkannya! Tidak ada kompromi lagi baginya dan dia harus dapat membunuh gadis ini!

Begitu serangan pertamanya luput, Tongkat Naga ditangan kakek picak ini sudah menyambar lagi. Dan sungguh hebat ilmu silat ketua Hek-tung Kai-pang itu. Suara angin pukulannya menderu-deru dan dinding ruangan besar itu dilanda angin kuat sehingga beberapa orang yang berada di situ segera berkibar-kibar pakaiannya.

Pek Hong kaget melihat kenyataan ini. Tahulah ia bahwa lweekang kakek iblis itu benar-benar amat dahsyat dan berbahaya. Baru angin pukulan tongkatnya saja agaknya telah mampu untuk merobohkan orang-orang yang berkepandaian lumayan. Gadis ini tidak berani main-main lagi dan cepat dia mengerahkan ginkangnya yang disebut Coan-goat-hui (Terbang Menerjang Bulan) dan memainkan Ilmu Silat Hong-thian-lohai-kun (Badai Mengamuk di Samudra) dan segera tubuhnya berkelebatan kesana-sini mengelak dari sambaran tongkat dan senjatanya meledak-ledak membentuk lingkaran ombak yang bergulung-gulung seakan-akan hendak menelan tubuh Liong-tungLo-kai.

Terjadilah pertandingan yang amat luar biasa di ruangan itu. Liong-tung Lo kai yang amat marah sudah mainkan ilmu silat simpanannya, yaitu Lo-thian-liong-tung-hoat atau Ilmu Tongkat Naga Pengacau Langit. Dan seperti namanya, senjata di tangan kakek picak ini benar-benar seperti seekor naga yang sedang mengamuk, berkelebatan menyambar-nyambar di udara dan mengibas, mematuk atau menyabet dengan serangan maut.

Ketua Hek-tung Kai-pang ini sebenarnya amat jarang sekali mengeluarkan ilmu silat simpanannya itu karena ilmu silat ini yang banyaknya ada tujuh puluh dua jurus, amat memakan banyak tenaga dan kalau dia tidak sedang menghadapi lawan yang betul-betul tangguh, tidak mau dia mengeluarkan ilmu silatnya ini. Sekarang terpaksa dia harus mengeluarkannya karena lawannya yang masih muda itu ternyata amat lihai dan telah merobohkan cukup banyak anggauta- anggauta Hek-tung Kai-pang. Kalau dia tidak dapat segera merobohkan gadis itu, tentu namanya akan terancam bahaya kehancuran. Selama Hek-tung Kai- pang berdiri, belum pernah ada musuh yang dapat menahan serangannya.

Maka, dapat dibayangkan betapa kagetnya hati kakek ini ketika melihat betapa setelah mereka bertempur dalam gebrakan-gebrakan cepat dan hampir limapuluh jurus, ternyata dia belum berhasil merobohkan lawannya. Jangankan merobohkan, mendesak saja dia belum sanggup. Ginkang gadis itu luar biasa sekali cepat dan ringannya. Sebelum tongkatnya tiba tubuh lawan telah terdorong seperti kapas dan tentu saja semua serangannya menjadi tidak ada artinya lagi.

Padahal, biasanya kalau dia sudah mengeluarkan ilmu silatnya ini, paling banyak duapertiga bagian saja lawan pasti akan terdesak hebat dan akhirnya roboh oleh tongkatnya. Namun gadis yang satu ini benar-benar mengejutkan. Sudah hampir habis ilmu silatnya dimainkan dan napasnya mulai memburu, tanda-tanda lawan terdesak sama sekali belum nampak!

Mulailah wajah kakek itu menjadi pucat dan mata tunggalnya merah berapi-api. Jelas bahwa selama ini, gadis itu tidak berani menangkis tongkatnya. Selalu menghindar menjauhi adu tenaga. Hal ini karena Pek Hong tahu bahwa dalam hal lweekang, dia masih kalah oleh kakek itu. Akan tetapi mengenai ginkang, jelas ia menang banyak, apalagi karena Liong -tung Lo-kai sendiri kurang leluasa gerakannya karena kakinya pincang. Hal ini amat menguntungkan baginya dan mengandaikan ginkangnya itulah, di samping tenaganya yang masih muda, gadis itu belum dapat didesak ketua Hek-tung Kai-pang ini.

Akan tetapi pertandingan yang hebat dan menegangkan ini berjalan dengan luar biasa serunya. Liong-tung Lo-kai napasnya semakin memburu dan keringatnya mengucur deras. Tenaga lweekang yang dikerahkan untuk melakukan Lo-thian-liong-tung-hoat benar-benar menguras seluruh tenaga dalamnya. Apalagi kemarahan yang meluap-luap itu juga membutuhkan energi besar. Sebentar saja, duapuluh jurus kembali telah berlalu dan Lo-thian-liong tung-hoat tinggal dua jurus terakhir saja!

Ketua Hek-tung Kai-pang ini benar-benar meledak kemarahannya dan kalau dia tidak dapat merobohkan lawan setelah menghabiskan seluruh ilmu silatnya, benar-benar kenyataan ini akan menampar mukanya. Oleh sebab itu, kakek ini tiba-tiba mengeluarkan bentakan menggeledek dan berlaku nekat. Tongkat Naga yang gagangnya dilapis emas sehingga tampak berkilauan ini mendadak menyambar tanpa suara dan angin pukulan yang biasanya mendahului ujung tongkat, tiba-tiba lenyap!

Inilah dua jurus pamungkas yang berbahaya sekali. Kalau tadinya tubuh lawan selalu terdorong mundur oleh hawa pukulan tongkat, kini sudah tidak ada lagi angin pukulan itu karena tampaknya seolah-olah tongkat di tangan ketua Hek-tung Kai-pang itu menyambar tanpa tenaga. Padahal, begitu ujung tongkat mendekati lawan, tiba-tiba saja tongkat itu mengaung dengan suara dahsyat penuh tenaga sakti tersembunyi yang tadi disimpan oleh kakek ini, menghantam dua kali berturut-turut dengan gerakan menyilang dari atas ke bawah disusul tarikan ke dalam secepat kilat untuk akhirnya dilanjutkan dengan sodokan maut ke ulu hati!

Dan hebatnya, kakek ini yang merasa khawatir kalau-kalau serangannya masih tidak berhasil, tiba-tiba memencet kepala naga yang berada di pangkal tongkat dan berhamburanlah jarum-jarum hitam yang halus dari ujung tongkat!

"Curang!" Tiba-tiba terdengar bentakan ini dari golongan tamu dan sesosok tubuh melayang ke depan dan sinar putih yang banyak jumlahnya berkeredepan menyambar jarum-jarum hitam yang keluar dari ujung Tongkat Naga di tangan ketua Hek-tung Kai-pang.

Semua orang terkejut dan cepat memandang siapa tamu yang berteriak tadi. Kiranya dia adalah pemuda pelajar yang tadi dibicarakan oleh Hwa-tok-ciang! Pemuda ini melesat dari tempat duduknya dan tangan kanannya bergerak melemparkan jarum-jarum halus berwarna putih sehingga tampak sinar-sinar berkeredepan tadi, dan sementara itu tangan kirinya mengebutkan kipas hitam ke muka Liong-tung Lo-kai.

Tentu saja perbuatan pemuda pelajar ini mengejutkan semua orang, termasuk Hwa-tok-ciang sendiri yang tadi mengincar pemuda itu untuk teman bermain cintanya. Akan tetapi, yang paling kaget adalah Liong-tung Lo-kai. Sebuah kipas hitam tahu-tahu telah menutup mukanya dan serangkum hawa panas menyambar datang. Jarum-jarum hitam mengandung racun yang tadi dilepaskan, mengeluarkan suara "tang-ting-tang-ting" nyaring ketika bertemu dengan hamburan jarum putih milik siucai itu dan semuanya runtuh ke atas lantai.

"Haiiitttt...!”

"Hayaa...!”

Dua teriakan terdengar berbareng. Yang pertama adalah dari gadis itu sedangkan yang kedua adalah dari mulut Liong-tung Lo-kai. Kedua-duanya sama- sama terkejut. Pek Hong terkejut melihat kecurangan ketua Hek tung Kai-pang, sedangkan kakek picak ini terkejut melihat kipas hitam mengebut mukanya. Pek Hong menggerakkan rantainya. Dua serangan terakhir dari musuhnya amat berbahaya dan ia tidak sempat lagi untuk mengelak. Terpaksa ia mengadu tenaga keras lawan keras dan sebisa-bisanya mencoba untuk melompat ke samping menghindarkan diri dari sisa-sisa jarum yang menyambar. Namun, gerakannya kurang cepat dan dua batang jarum hitam menancap di leher dan pundaknya, dan tangkisannya terhadap tongkat lawan membuat senjatanya hampir terlepas.

"Plak-trang-tranggg!"

"Aduhh!" Gadis itu mengeluh dan kalau saja pada saat itu tidak ada siucai yang datang mengganggu dengan serangannya ke arah ketua Hek-tung Kai-pang se- hingga kakek ini terkejut dan tenaganya otomatis berkurang, tentu rantai perak di tangan nona itu akan terlepas dari tangannya. Pek Hong marah bukan main dan tubuhnya terhuyung-huyung akibat serangan ini dan dua jarum hitam yang menancap di pundak dan lehernya menimbulkan rasa gatal-gatal panas. Terkejutlah dia dan maklum bahwa ia terkena jarum beracun.

"Keparat Liong-tung Lo-kai manusia curang!" bentaknya dan ia hendak menerjang lagi.

Akan tetapi mendadak rasa gatal-gatal panas itu menghebat dan kepalanya pusing tujuh keliling. Lompatannya yang sudah dilakukan terhenti di tengah jalan dan gadis ini terguling.

"Bunuh dia!"

"Cincangtubuhnya !"

"Balaskan kematian saudara-saudara kita."

Anggauta-anggauta Hek-tung Kai-pang berteriak-teriak dan orang-orang ini menubruk gadis itu dengan tongkat di tangan. Namun, mereka salah duga kalau menganggap bahwa Pek Hong sudah tidak berbahaya lagi. Memang betul bahwa akibat racun yang memasuki tubuhnya membuat gadis ini seakan-akan lumpuh, akan tetapi kalau untuk menghadapi orang-orang Hek-tung Kai-pang tentu saja ia masih bisa. Begitu empat orang menubruknya dengan tongkat hitam, gadis ini menjerit keras dan tubuhnya berputar memakai pinggulnya, sekali babat rantai di tangannya meledak di atas kepala empat orang itu yang berteriak ngeri dan tewas disambar rantai perak.

"Mundur kalian semua. Biarkan aku yang menangkap kucing betina ini!" Mo-kiam Sie giam Tun yang hendak menebus rasa malunya karena tadi hampir saja dipecundangi oleh gadis itu, berteriak dan melompat maju. Pedang Hek-mo-kiam berkelebat ke arah kaki Pek Hong dan sekali mengenai sasaran, tentu akan membuntungi gadis cantik itu!

Pek Hong sudah berkunang-kunang matanya dan ia masih duduk dengan pinggul di atas lantai. Akan tetapi, melihat sambaran pedang hitam ke arah kakinya, ia masih sempat menghindar dan rantainya balas menyambar.

"Trang... aihhhh!"

Gadis ini menjerit kaget menggulingkan tubuh. Rantai peraknya yang tadi menangkis pedang Hek-mo-kiam terpental jauh karena tenaganyamenurun banyak akibat gangguan racun jarum hitam. Si Pedang Iblis terbahak-bahak dan mengejarnya dengan wajah membayangkan kekejaman, pedangnya menyambar tak kenal ampun dengan lima kali bacokan cepat.

Akan tetapi, sungguh patut dipuji semangat dan ketabahan gadis itu. Meskipun ia selalu dikejar pedang hitam, namun ia selalu dapat bergulingan menyelamatkan diri. Ia tidak dapat berdiri karena kepalanya berdenyut-denyut dan terasa berat. Diam-diam Pek Hong mengeluh di dalam hati bahwa agaknya hari ini ia akan tewas. Bukan kematiannya yang memberatkan hati, namun rasa penasarannya yang masih bertimbun-timbun dan belum ada penyelesaiannya itulah yang membuatnya tidak akan dapat mati dengan mata meram. Pada saat-saat yang amat berbahaya ini, tiba-tiba saja bayangan Yap-goanswe muncul di depan matanya. Gadis ini mengeluh panjang dan ketika serangan Hek-mo-kiam menyambar lehernya, ia kurang cepat mengelak.

"Singg...brett!" Lehernya selamat akan tetapi sebagai gantinya pundak kanannya terbabat pedang dan darah segar muncrat ke luar. Pek Hong menjerit dan karena rasa panas akibat jarum hitam semakin menghebat dan kepalanya berat bukan main, akhirnya gadis ini roboh pingsan di atas lantai.

Mo-kiam Sie Giam-Tun tertawa menyeramkan dan sinar matanya membayangkan kekejian. Melihat betapa gadis itu berhasil dirobohkannya, ia merasa sakit hatinya agak berkurang. Namun, dia belum puas. Dia hendak membalas dendamnya sepuas hati dulu baru kemudian membunuh gadis ini. Oleh sebab itu, pedangnya kembali digerakkan, kali ini menyambar kancing-kancing baju gadis itu untuk membuatnya terlepas dan telanjang bulat. Hanya dengan pembalasan seperti itu sajalah dendamnya dapat dibalas dan dia hendak mempermainkan korbannya ini sepuas hati!

"Ha-ha-ha, kuda liar, nasibmu memang buruk!" laki- laki ini tertawa dan mengayun pedangnya.

"Singggg... plakk!" Begitu pedang menyambar, begitu pula Si Pedang Iblis ini berteriak mengaduh.

Seorang pria gagah perkasa berjubah biru gelap dengan sepasang mata mencorong tajam seperti mata seekor naga sakti tahu-tahu telah berada di ruangan ini, tangannya menangkis pedang Hek-mo-kiam begitu saja sehingga pedang itu terlempar dari tangan pemiliknya dan Giam Tun sendiri mencelat tiga meter jauhnya dengan lengan patah!

Terkejutlah semua orang dan Giam Tun melompat bangun dengan mulut menyeringai dan mata bersinar marah. Akan tetapi, begitu melihat pria gagah perkasa yang bersikap angker penuh wibawa ini, tiba-tiba saja wajah Giam Tun berobah kaget dan pucat. Matanya terbelalak seperti melihat setan di siang hari dan tanpa disadarinya meluncurlah teriakan dari mulutnya.

"Takla Sin-jin (Malaikat Dari Gurun Takla)!" Si Pedang Iblis memutar tubuhnya dan melarikan diri tanpa menghiraukan pedangnya!

Gemparlah semua orang ketika mendengar teriakan ini. Siapa yang belum pernah mendengar nama Malaikat Dari Gurun Takla? Tidak ada seorangpun yang belum mendengar nama besar tokoh dari utara ini! Begitu pula halnya dengan orang-orang Hek-tung Kai-pang yang tadi menonton sepak terjang Mo-kiam Sie Giam Tun. Keributan segera terjadi di situ dan setelah terbelalak sebentar melihat munculnya pendekar besar yang mereka takuti ini, orang-orang Hek-tung Kai-pang berteriak-teriak dan buyar cerai berai!

"Takla Sin-jin...! Takla Sin-jin!”

Berserabutanlah orang-orang ini keluar dari ruangan itu, mulut mereka berteriak-teriak seperti kedatangan hantu. Si Pedang Iblis sendiri menjadi pelopornya dan dia yang pertama kali sudah sampai di pintu keluar. Akan tetapi, dari belakang terdengar suara berpengaruh dan pria gagah perkasa itu mendorongkan tangan kanannya ke depan sambil membentak,

"Mo-kiam, kembali kau ke sini dan serahkan dulu obat penawar racunmu!"

Dan sungguh aneh, Giam Tun yang tinggal selangkah lagi untuk sampai di luar pintu itu tiba-tiba saja berseru kaget. Sebuah tenaga yang tidak nampak menahan kakinya dan seketika laki-laki ini terpelanting. Sebelum dia hilang dari kagetnya, tenaga mujijat itu menyedot lalu menarik dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh Si Pedang Iblis terseret memasuki ruangan dalam untuk akhirnya berhenti didepan kaki Malaikat Dari Gurun Takla itu!

"Ampun... ampun, taihiap ampun…!" Laki-laki yang tadinya amat sombong ini mengeluh dan merintih-rintih, dengan tangan menggigil merogoh saku bajunya sebelah dalam dan cepat mengeluarkan obat penawar racun akibat pedang Hek-mo-kiam.

Takla Sin-jin menerima, alisnya berkerut dan hidungnya mengendus obat itu untuk meneliti kebenarannya. Setelah dia tahu bahwa obat itu memang benar, tangannya digerakkan ke bawah dan menepuk perlahan pundak kiri laki-laki itu sambil berkata dingin, "Sekarang pergilah!"

"Krakk....!" Si Pedang Iblis berteriak keras dan terguling, tulang pundaknya patah dan kini kedua lengannya sengkleh tergantung. Sambil menggigit bibir menahan sakit laki-laki ini bangkit berdiri dan dengan langkah terhuyung-huyung cepat melarikan diri, diam-diam menyumpah diri sendiri yang amat sial bertemu dengan "hantu" itu.

Sebentar saja ruangan gedung Hek-tung Kai-Pang yang tadinya gaduh oleh suara pertempuran, menjadi sunyi kembali. Liong-tung Lo-kai yang tadi bertanding dengan pelajar bersenjata kipas hitam itu posisinya terdesak terus. Sebelumnya dia telah mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit ketika menghadapi Pek Hong. Maka, ketika pelajar ini maju menyerangnya, hati kakek itu terkejut sekali.

Siapa menyangka bahwa siucai yang tadi justeru diincar oleh Hwa-tok-ciang ini ternyata merupakan seorang musuh? Liong-tung Lo-kai mengumpat caci dengan maki-makian kotor dan dia menjadi semakin terkejut melihat kehebatan siucai ini. Untunglah, pada saat-saat yang amat gawat ini Hwa-tok-ciang si tokoh banci tiba-tiba melompat dari kursinya dan membantu.

Sudah sejak tadi Hwa-tok-ciang mengamati pertandingan antara ketua Hek-tung Kai-pang ini dengan pelajar itu. Diam-diam hatinya terperanjat sekali, tidak menduga bahwa siucai yang duduk di golongan tamu biasa dan yang diincarnya untuk dijadikan kekasihnya ini ternyata bukan siucai biasa. Akan tetapi, bukannya kecewa, sebaliknya tokoh banci ini menjadi semakin girang. Dia tidak memperdulikan tentang Pek Hong yangdihadapi oleh rekannya Si Pedang Iblis dan yang kalau dilihat sepintas lalu tentu gadis itu akan segera dapat dirobohkan.

Yang penting baginya adalah menangkap siucai itu. Kalau dia berhasil mendapatkan pemuda seperti itu, tentu dia akan puas sekali. Pemuda tampan itu hebat, ilmu silatnya juga tinggi dan segera hatinya tertarik. Bila membayangkan bahwa kalau pemuda sehebat ini dapat dijadikan kekasihnya, tentu akan merupakan kawan bermain cinta yang “Tar" dan perkasa! Dan hal inilah yang menggembirakan. Belum pernah dia mendapatkan pemuda tampan semacam itu, dan mumpung ada kesempatan, dia hendak menangkap siucai lihai itu bersama-sama Liong-tungLo-kai.

Akan tetapi, angan-angan ternyata lebih mudah dipikirkan daripada dibuktikan. Siucai berkipas hitam itu kiranya memang betul-betul hebat dan majunya Hwa-tok-ciang sedikit sekali mempengaruhi permainannya. Serangan-serangan kipas hitamnya luar biasa sekali dan setiap kebutan kipas membawa angin panas. Dan pemuda itu kini menambah senjatanya dengan sebuah jarum perak yang panjangnya sekitar lima inci dan melihat senjata ini, ketua Hek-tung Kai-pang terkejut dan berteriak.

"Gin-ciam Siucai (Pelajar Berjarum Perak)!"

Seruan ini mengejutkan Hwa-tok ciang yang terbelalak matanya. Memang sudah lama dia mendengar munculnya seorang tokoh muda yang dijuluki orang Gin-ciam Siucai atau Pelajar Berjarum Perak. Namun, karena tidak pernah bertemu muka, ia belum mengenalnya. Baru setelah Liong tung Lo-kai menyebut nama ini dan melihat senjata khas di tangan kiri siucai itu, tokoh banci ini menjadi kaget.

Wah, kalau yang datang ini adalah Gin-ciam Siucai, tentu saja berat untuk menangkapnya hidup-hidup. Bersama keroyokan ketua Hek-tung Kai-pang, sukar baginya untuk memperoleh pemuda tampan ini tanpa menewaskannya. Diam-diam Hwa-tok-ciang menyesal di dalam hati. Pemuda ini hebat, dan dia tertarik sekali. Gairahnya sudah bangkit melihat ketampanan dan kehebatan pemuda ini. Akan tetapi agaknya dia hanya akan mendapatkan mayatnya saja!

"Gin-ciam Siucai, kau menyerahlah saja. Marilah kau ikut bersamaku dan kita berdua membangun sorga. Percayalah, tampan, bahwa bersahabat denganku tidak rugi. Kau akan mendapatkan hal-hal luar biasa yang belum pernah kaurasakan dalam hidupmu, heh-heh, hi-hikk!" Hwa-tok-ciang berusaha membujuk dan terkekeh genit dengan kerling menyambar persis wanita, senjatanya berupa sebuah selendang sutera dan sebatang kebutan dari ekor kuda bergerak menari-nari mengurung pemuda itu.

"Manusia banci! Siapa sudi mendekatimu? Aku bahkan muak dan ingin membunuhmu karena kau telah menculik pemuda-pemuda tampan untuk menjadi barang permainanmu!"

Sepasang mata yang penuh nafsu dari si banci ini tiba-tiba saja berobah penuh kemarahan. Kata-kata itu membuat semua nafsunya lenyap terganti kekejaman. "Hiehh, agaknya kau minta mampus, ya? Hi-hikk, permintaanmu kuturuti dan pergilah kau menghadap Giam-lo-ong!"

Sepasang senjata aneh di tangan Hwa-tok-ciang ini tiba-tiba berobah gerakannya. Selendang di tangan kirinya menjetar nyaring di udara dan tiba-tiba menukik ke mata kanan, siap mematuk untuk mencokel mata Gin-ciam Siucai, sedangkan kebutan bulu kudanya yang berwarna merah itu tiba-tiba menjadi kaku seperti ujung tombak dan menusuk tenggorokan! Hebat dua serangan yang dilancarkan sekaligus ini, apalagi Liong tung Lo-kai juga tidak tinggal diam, tongkat Liong-tung (Tongkat Naga) di tangannya juga ikut menyambar kepala lawan, sekali kena tentu akan menghancurkan tengkorak Gin-ciam Siucai!

Namun Gin-ciam Siucai betul-betul bukan pemuda sembarangan. Diapun juga hendak cepat-cepat menyelesaikan pertempuran ini karena ketika matanya melirik ke arah Pek Hong, dia melihat betapa gadis itu sudah lemah gerakan-gerakannya dan sebentar lagi tentu roboh. Hatinya menjadi khawatir dan melihat banyaknya orang yang mengurung dengan sikap mengancam, diam-diam pemuda ini menjadi cemas. Dia harus dapat merobohkan dua orang lawannya yang tangguh ini dan mengajak gadis itu melarikan diri.

"Hyaattt...!" Pemuda ini berteriak keras dan kepalanya menunduk, jarum perak di tangan kirinya bergerak ke atas menangkis selendang yang menusuk matanya sedangkan kipas hitam mengebut kebutan ekor kuda yang menyambar tenggorokannya. Dua gerakan ini dilakukan hampir berbareng dan ketika Tongkat Naga di tangan ketua Hek tung Kay-pang itu menderu ke batok kepalanya, Gin-ciam Siucai merobohkan tubuh sejajar lantai dan kaki kanannya tiba-tiba mencuat dan menendang tongkat seperti sikap kalajengking menyengat.

"Brettt wutt-plakk!”

Dalam gebrakan-gebrakan yang amat cepat ini Gin ciam Siucai menunjukkan kebolehannya. Selendang Hwa-tok-ciang tertangkis jarum dan robek, sedangkan kebutan bulu kudanya bertemu dengan hawa panas dari kipas hitam di tangan pemuda itu sehingga terpental balik dan dua detik kemudian, tongkat di tangan Liong-tung Lo-kai bertemu dengan telapak kaki pemuda itu yang menjengit seperti sengat kalajengking.

Akibatnya, Hwa-tok-ciang menjerit marah sedangkan ketua Hek-tung Kai-pang berseru kaget. Namun sebaliknya, karena tiga buah serangan tadi dikerja kan dalam waktu yang tidak banyak selisihnya dan pemuda itu harus memecah perhatiannya, siucai ini kurang kuat ketika menangkis tongkat yang berat di tangan Liong-tung Lo-kai. Kakinya tergetar hebat dan tubuhnya terlempar tiga langkah jauhnya.

"Mampus kau...!" ketua Hek-tung Kai-pang telah meloncat ke depan dan kembali mengayun senjatanya, mulutnya berteriak geram dan lompatannya amat cepat.

Pada saat itu, pemuda ini belum sempat bangun. Dia masih terguling-guling dan tentu saja serangan tongkat itu amat membahayakan jiwanya, terpaksa diapun terus melanjutkan gulingannya dan tongkat di tangan ketua Hek-tung Kai-pang itu meledak di atas lantai ruangan yang pecah berhamburan terhantam senjata maut di tangan kakek picak ini!

Sementara itu, Hwa-tok-ciang melengking tinggi seperti kuntilanak dan tiba-tiba sambil terkekeh menyeramkan laki-laki banci ini menyerang bertubi-tubi dengan kebutannya. Selendangnya yang robek dibuang gemas dan kini tangan kirinya mengiringi dengan pukulan-pukulan jarak jauh yang mematikan.

Akan tetapi biarpun keadaan Gin-ciam siucai ini sudah jelek posisinya dan diserang gencar, masih saja dia berhasil menyelamatkan diri. Dalam keadaan bergulingan itu jarum dan kipas ditangannya bergerak-gerak menangkis dan selalu senjata lawan terpental mundur. Sayangnya, karena kedudukannya yang tidak menguntungkan, setiap kali menangkis tentu tangannya tergetar dan setengah lumpuh. Terutama sekali kalau beradu dengan tongkat naga di tangan kakek iblis itu.

Akhirnya setelah mati-matian mengelak kesana-sini dengan susah payah, pemuda itu dapat melompat bangun. Peluh membasahi seluruh mukanya yang kini kotor terkena debu. Liong-tung Lo-kai yang merasa amat marah kepada pemuda ini dan penasaran karena walaupun dibantu oleh Hwa-tok-ciang ternyata belum juga dapat merobohkan lawannya, memekik keras dan mencelat ke depan. Tongkat di tangannya menyambar tanpa bunyi dengan gerak silang dari atas ke bawah dilanjutkan dengan sodokan maut ke arah ulu hati.

Serangan ini adalah merupakan jurus pamungkas dari ilmu silatnya yang amat diandalkan, seperti yang pernah dilakukannya terhadap Pek Hong dan seperti tadi juga, sekali ibu jarinya memencet sebuah alat rahasia di gagang tongkat, berhamburanlah jarum-jarum hitam ke arah pemuda itu!

"Cet-cet-cett!” Belasan hek-tok-ciam menyambar tubuh Gin-ciam Siucai dan pemuda ini berseru keras sambil mengebutkan kipasnya ke depan. Jarum-jarum itu terpukul runtuh akan tetapi serangan terakhir berupa sodokan maut ke arah ulu hatinya kurang cepat dielakkan.

“Dukkk….!”

Sebagai gantinya, dadanya terkena tongkat dan Gin-ciam Siucai menyeringai sambil menggigit bibir. Tubuhnya terdorong ke belakang dan kakinya tiba-tiba dikait oleh Hwa-tok-ciang yang tahu-tahu berada di belakangnya. Tanpa ampun lagi, pemuda ini roboh terjengkang.

“Mati kau, keparat!” Liong-tung Lo-kai berseru girang dan secepat kilat senjatanya menghantam leher.

“Eh, pangcu, jangan…!” Hwa-tok-ciang tiba-tiba berteriak dan kebutannya menangkis. Karena si banci ini mengerahkan lweekang ke dalam kebutannya ini, maka senjata itu berobah keras dan sanggup menangkis tongkat naga di tangan ketua Hek-tung Kai-pang.

“Takk!”

“Aiihhh!”

Tongkat si kakek picak bertemu dengan gagang kebutan dan Liong-tung Lo-kai berseru kaget dengan mata melotot. Namun, karena tenaganya memang lebih besar, tongkat itu masih terus menyambar ke bawah dan... bukk !”pinggang Gin-ciam Siucai terhajar ujung tongkat!

Hwa-tok-ciang terbelalak lebar dan matanya berkedip-kedip. Diam-diam dia merasa kaget karena telapak tangannya panas dan tergetar ketika tadi menangkis sebisa-bisanya serangan maut Liong-tung Lo-kai yang ditujukan kepada pemuda tampan itu. Dia melihat betapa Gin-ciam Siucai mengeluh dan sejenak menegang, akan tetapi pemuda itu sudah cepat bergulingan dan melompat bangun dengan muka pucat. Untunglah bahwa hantaman tongkat tadi sudah berkurang banyak karena ditangkis oleh kebutan Hwa-tok-ciang, kalau tidak, tentu pinggangnya akan patah dan nyawanya melayang pergi!

"Manusia banci!" Hek-tung Kai-pangcu yang amat marah itu membentak dan mata tunggalnya berputar ganas. "Apa yang kaulakukan ini? Kenapa kau tidak membolehkan aku membunuhnya? Apakah kau hendak membelanya? Kalau begitu, kau adalah musuhku!" dan Liong-tung Lo-kai sudah siap menerjang.

Tentu saja Hwa-tok-ciang terkejut. "Lo-kai, jangan salah paham!" dia berteriak dan mengangkat tangannya. "Bukannya aku membela pemuda itu, akan tetapi kalau dia dibunuh kan sayang? Aku ingin menangkapnya dan menghibur diri dengan pemuda seperti itu." Si banci ini berkata cepat-cepat, khawatir kalau ketua Hek-tung pang itu menyerangnya.

"Cuhh, dasar kau laki-laki tidak normal! Untuk apa kau bermain-main dengan api? Dia harus kita bunuh!" kakek ini berkata gusar dan membalik, menghadapi Gin ciam Siucai dengan sinar mata berapi. Halangan rekannya tadi benar-benar membuat kakek ini marah dan mendongkol. Si banci itu benar-benar memualkan perutnya. Masa musuh yang amat berbahaya seperti ini mau dilindungi?

Akan tetapi, sebelum kakek ini kembali menyerang, tiba-tiba dia mendengar teriakan Mo-kiam Sie Giam Tun yang menyebut-nyebut nama Malaikat Dari Gurun Takla! Tentu saja dia kaget setengah mati dan ketika kakek iblis ini menoleh, dia melihat seorang pria setengah baya yang gagah perkasa dan bersikap angker berdiri di ruangan itu.

Terkejutlah dua orang ini. Nama Takla Sin-jin merupakan nama yang menakutkan bagi mereka, melebihi nama-nama hantu yang bagaimanapun juga! Kehadiran Malaikat Gurun Takla atau Malaikat Gurun Neraka yang amat tiba-tiba di tempat mereka adalah sungguh amat mengejutkan. Bagaimana tokoh besar yang tempat tinggalnya jauh di utara ini bisa muncul di tempat mereka?

Liong-tung Lo-kai dan Hwa tok-ciang sejenak tertegun dan mereka sempat menyaksikan betapa hanya dengan sebelah lengan "melambai" saja, rekan mereka Si Pedang Iblis di "sedot" dan terseret ke depan kaki pendekar sakti itu. Kejadian ini membuat muka keduanya pucat dan gentar bukan main. Malaikat Gurun Neraka itu seperti bukan manusia saja kepandaiannya. Kesaktiannya luar biasa sekali dan pendekar sakti itu memang pantas mendapatkan julukan Malaikat!

Tanpa banyak cakap, ketua Hek-tung Kai-pang yang sudah pucat mukanya ini lalu memutar tubuh dan menyelinap pergi dengan tergesa-gesa. Perbuatannya ditiru oleh Hwa-tok-ciang dan si banci inipun juga dengan cepat menghilang dari tempat itu. Hanya sekilas laki-laki berselera wanita itu melirik ke arah Gin-ciam Siucai dengan air muka kecewa.

Demikianlah, Liong-tung Lo-kai melarikan diri sambil menyumpah-nyumpah sepanjang jalan, sedangkan Hwa-tok-ciang menggerutu kesal karena pemuda tampan yang sudah hampir ditangkapnya itu terpaksa dilepaskan lagi. Ini semua gara-gara munculnya Takla Sin-jin. Dengan datangnya pendekar besar itu, siapa berani bermain kayu? Sedang rekan mereka saja, yaitu Mo-kiam Sie Giam Tun yang memiliki kepandaian tidak banyak selisihnya dengan mereka, roboh tanpa berdaya di depan tokoh besar itu.

Dengan perginya ketua Hek-tung Kai-pang serta tokoh-tokoh lainnya termasuk anggauta perkumpulan ini, gedung yang tadinya penuh orang itu kini menjadi sepi. Meja kursi porak-poranda dan disana-sini makanan-makanan berhamburan keterjang orang. Yang tinggal di dalam gedung itu hanyalah tiga orang saja, yakni Malaikat Gurun Neraka yang masih berdiri dengan sikap angker serta Gin-ciam Siucai yang menekan dadanya yang ampeg tersodok tongkat, dan Pek Hong yang pingsan di lantai ruangan.

Keadaan sunyi bukan main dan Gin-ciam Siucai melangkah maju tertatih-tatih dan akhirnya berhenti di depan pendekar sakti itu, menjura dan memberi hormat. "Locianpwe, boanpwe Kwa Sun Hok menghaturkan terima kasih atas pertolongan locianpwe mengusir orang-orang Hek-tung Kai-pang."

Takla Sin-jin memandang tajam dan siucai itu yang ternyata bernama Kwa Sun Hok tergetar hatinya melihat tatapan mata yang demikian tajam mencorong dan berkilauan. Jantungnya berdetak kencang dan diam-diam Sun Hok kagum bukan main. Tokoh dari Gurun Neraka ini benar-benar hebat, pikirnya di dalam hati. Perbawanya amat besar dan sepasang matanya yang seperti mata seekor naga sakti itu dapat membuat orang lumpuh semangatnya dan keder nyalinya! Tidak heran bila Yap goanswe, murid tunggal tokoh besar ini juga memiliki nama besar dan ditakuti lawan.

"Orang muda, kau siapakah?" pendekar sakti itu bertanya dan memandang penuh selidik. "Ilmu silatmu mengingatkan aku akan seseorang. Apakah kau muridnya?"

Pertanyaan ini tidak jelas kemana arahnya, namun Gin-ciam Siucai berseri wajahnya dan menjawab cepat, "Boanpwe memang muridnya, locianpwe. Suhu Phoa-lojin memang mengutus boanpwe untuk mencari Yap-goanswe dan..."

Sun Hok menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba dia melihat betapa alis pendekar sakti itu terangkat naik dan sepasang matanya berkilat marah. "Hemm, ada apa kau hendak mencarinya? Dan di mana gurumu itu sekarang? Apakah kalian guru dan murid hendak mengecam kelakuan muridku yang kurang ajar itu?"

Sun Hok terkejut. Dari nada suaranya, dia dapat menangkap bahwa pendekar sakti ini sedang marah. Memang berita tentang Yap-goanswe itu amat menghebohkan seluruh daratan Tiong-goan dan tidak aneh kalau guru dari jenderal muda ini merasa marah kepada muridnya itu. Namun Sun Hok cepat menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

"Tidak, tidak demikian, locianpwe. Bahkan sebaliknya, kami hendak membantu Yap- goanswe yang menurut suhu sedang ditimpa suatu malapetaka! Suhu mengutus saya untuk cepat menemui Yap-goanswe karena kata suhu, murid locianpwe itu berada dalam bahaya besar. Dan apa yang dikatakan oleh suhu ternyata benar. Baru-baru ini saya mendengar bahwa Yap-goanswe ditawan oleh Cheng-gan Sian-jin yang menjadi koksu dari Kerajaan Wu!"

Malaikat dari Gurun Neraka itu tampak terkejut, wajahnya berobah dan terdengar seruan kaget dari mulutnya, "Ahh! Apa kau bilang, orang muda? Cheng-gan Sian-jin?"

"Betul, locianpwe. Tertangkapnya Yap-goanswe yang terjadi beberapa hari yang lalu oleh Cheng-gan Sian-jin yang katanya dibantu oleh seorang tokoh hitam lain bernama Hek-mo-ko itu bahkan disiarkan luas oleh koksu itu. Dia mempunyai maksud tersembunyi yang mengerikan terhadap diri Yap-goanswe. Kami belum tahu jelas apa maksudnya itu, akan tetapi yang terang ialah dengan jalan menyiarkan tertangkapnya murid locianpwe itu, Cheng-gan Sian-jin secara memutar agaknya memang hendak menantang locianpwe dengan jalan mendatanginya di kota raja."

Jenggot pendek pendekar sakti itu bergoyang dan Sun Hok melihat betapa wajah tokoh ini diliputi kemarahan besar. Pertama-tama berita tentang sepak terjang muridnya yang melakukan perjinaan dengan selir Raja Muda Yun Chang telah membuat pendekar ini marah. Kini ditambah lagi dengan munculnya Cheng-gan Sian-jin yang menawan muridnya dan jelas merupakan tantangan secara terbuka!

Dua peristiwa ini membuat pendekar sakti itu menjadi marah sekali. Dia hendak menghukum muridnya masih belum terlaksana, kini tiba-tiba dia mendapatkan berita tentang tertangkapnya Yap- goanswe di tangan Cheng-gan Sian jin! Hal ini benar-benar membuatnya marah disamping terkejut.

"Hemmm..." hanya ini saja yang keluar dari mulut pendekar besar itu karena sebagai pendekar sakti, guru Yap-goanswe ini telah dapat menekan hawa amarahnya. Dulu ketika Cheng-gan Sian-jin merobohkan ketua-ketua partai persilatan besar di Pegunungan Beng-san, dia sudah naik ke atas untuk melawan iblis itu. Namun keburu didahului oleh seorang sakti yang mengenakan kedok dan menawan Cheng-gan Sian-jin. Sejak saat itulah tidak ada lagi orang yang mendengar kabar tentang gembong iblis ini dan karena kejadian itu sudah lewat tigapuluhan tahun, tidak ada lagi orang yang memikirkan pentolan sesat itu.

"Bagaimana, locianpwe?" Sun Hok bertanya dan memandang pendekar sakti ini.

Takla Sin-jin menoleh dan menganggukkan kepalanya, "Aku akan menemuinya dan menghajar iblis tua itu!" kata-katanya diucapkan tegas dengan sinar mata berkilat, "Akan tetapi yang penting sekarang adalah menolong murid Ta Bhok Hwesio ini. Ia agaknya terkena racun dan aku harus cepat memberi bantuan, kalau tidak, tentu ia akan tewas."

Sun Hok terkejut dan sejenak terbelalak. "Ah, jadi nona ini adalah murid hwesio sakti dari Tibet itu? Pantas saja kepandaiannya demikian lihai!" pemuda ini memandang gadis yang pingsan itu dengan sinar mata kagum.

Takla Sin-jin lalu menolong murid dari sahabatnya itu dibantu pula oleh Sun Hok. Diam-diam di dalam hati pemuda ini terdapat perasaan yang aneh terhadap Pek Hong, suatu perasaan ganjil yang tidak dimengertinya.

Berkat pertolongan pendekar sakti itu, racun yang mengeram di dalam tubuh gadis ini dapat disembuhkan. Obat penawar dari Mo-kiam Sie Giam Tun ternyata memang manjur. Luka membengkak yang kehitaman dipundak Pek Hong segera lenyap dan dua jarum yang hitam memasuki leher dan pundak kiri, yaitu jarum-jarum beracun yang dilepas oleh Liong-tung Lo-kai, disedot keluar oleh pendekar sakti itu dengan tenaga sinkangnya.

Seperempat jam lamanya dua orang ini bekerja, dan tak lama kemudian sadarlah Pek Hong dari pingsannya. Gadis ini mengeluh dan membuka kelopak matanya. Mula-mula dia tertegun heran melihat wajah pria gagah perkasa itu, akan tetapi begitu dia teringat, gadis ini memekik girang dan melompat bangun.

"Locianpwe...!" Pek Hong menjatuhkan dirinya berlutut, memberi hormat kepada pendekar besar ini.

"Nona, bangkitlah, bahaya telah lewat. Di mana suhumu?" Takla Sin-jin berkata halus dan lembut, mengangkat bangun gadis itu.

Pek Hong bangkit berdiri dan baru ia tahu bahwa di situ masih terdapat manusia lain. Ia terkejut ketika melihat Gin-ciam Siucai karena pemuda pelajar inilah yang ia lihat di dalam kota Hun-kiang dan bersorak-sorak ketika ia menghajar anggauta-anggauta Hek-tungKai-pang! "Kau...?!" gadis ini menegur kaget dan mukanya menjadi merah. Teringat akan keangkuhan pemuda itu membuat kegemasan hatinya timbul kembali.

Gin-ciam Siucai melangkah maju dan cepat-cepat memberi hormat. "Nona, harap maafkan. Aku sendiri memang mempunyai kepentingan dengan perkumpulan pengemis-pengemis busuk ini, maka itulah sebabnya akupun berada di sini dan tadi melihat betapa nona dicurangi oleh ketua Hek-tung Kai-pang, terpaksa aku menampakkan diri menolongmu."

"Siapa sudi bantuanmu? Aku tidak sudi menerima pertolongan pemuda angkuh sepertimu ini. Kalau aku tewas, apa perdulimu?" Pek Hong membentak dan hatinya mendongkol.

Gin-ciam Siucai menjadi merah mukanya dan tak mampu membuka mulut. Gadis ini membalas kata- katanya sendiri yang dibalik! Akan tetapi melihat betapa sepasang mata yang bening indah itu terbelalak marah kepadanya, pemuda ini terpesona kagum dan menatap mata jeli itu dengan bengong!

"Kau... mau apa melotot?" Pek Hong marah dan menudingkan telunjuknya. "Apakah setelah kau melepas pertolongan lalu kau boleh bersikap kurang ajar sesuka hatimu?"

Pemuda ini seperti orang baru sadar dan wajahnya seperti kepiting direbus. Cepat dia menundukkan mukanya dan Takla Sin-jin yang melihat kegalakan gadis ini, menegur.

"Pek Hong, jangan kau bersikap seperti itu. Bukankah dia telah menolongmu? Kalau pemuda ini tidak datang, kau tentu mengalami kesulitan besar. Sudahlah, harap kau maafkan kalau orang muda ini telah membuat suatu kesalahan terhadapmu. Dia telah menebus kesalahannya dengan membantumu tadi. Sekarang, di manakah gurumu itu dan apakah yang kau cari di kota ini?"

Pertanyaan terakhir ini membuat Gin-ciam bernapas lega dan Pek Hong sendiri juga segera mengalihkan perhatiannya. Teringatlah semua rencananya semula, betapa pertama-tama ia hendak mencari Siu Li untuk diambil perhitungannya. Kemudian menemui Yap Bu Kong atau Yap-goanswe yang beritanya akhir-akhir ini menggegerkan semua orang. Wajahnya muram ketika ia mengenang pemuda itu dan hatinya terasa sakit bukan main.

"Locianpwe, suhu pergi ke utara untuk menemui locianpwe dan memberitahukan sesuatu yang penting kepada locianpwe. Siapa kira agaknya locianpwe keluar dan tentu saja suhu tidak dapat menemui locianpwe. Sedangkan teecu sendiri, tadinya mula-mula hendak mencari musuh teecu dan Yap-goanswe."

"Hemm..." Takla Sin-jin mengerutkan keningnya, dan Sun Hok yang mendengar ini segera nyeletuk.

"Ah, nona rupanya belum tahu! Yap-goanswe baru-baru ini ditawan oleh seorang gembong iblis dan sekarang dibawa ke kota raja!"

Pek Hong terkejut dan memandang siucai itu, tak terasa mengeluarkan seruan kaget, "Ahh....!" dan sepasang matanya yang indah itu kembali terbelalak. Sun Hok hampir saja kembali menjadi bengong. Entah mengapa, setiap kali mata gadis itu terbelalak, tampak demikian indah dan amat mempesona baginya. Diam-diam Sun Hok memaki diri sendiri yang kini agaknya menjadi pemuda mata keranjang!

Pek Hong menoleh kepada pendekar sakti itu dan untuk meyakinkan hatinya, ia bertanya, "Benarkah itu, locianpwe?"

Takla Sin-jin mengangguk. "Begitulah menurut keterangan orang muda ini."

"Aihh, kalau begitu, siapa orangnya yang mampu merobohkan murid locianpwe itu?"

"Dia adalah Cheng-gan Sian-jin!" Sun Hok menjawab cepat memberi tahu.

Pek Hong terkejut sampai melompat kaget. "Cheng-gan Sian-jin??" katanya dengan muka pucat. "Bukankah dia sudah tewas pada tigapuluh tahun yang lampau? Menurut suhu, tokoh sesat itu sudah tidak ada lagi d idunia!"

"Tapi nyatanya kini secara tiba-tiba dia muncul. Ini berarti bahwa dulu pada tigapuluh tahun yang lalu, orang berkedok yang merobohkan Cheng-gan Sian-jin tidak membunuhnya," Malaikat Gurun Neraka berkata. "Dan bersama lenyapnya manusia iblis itu, orang berkedok yang penuh rahasia itupun juga tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Tigapuluh tahun telah berlalu dan agaknya Cheng-gan Sian jin yang ternyata masih hidup ini kembali menampakkan diri karena orang yangditakutinya, yaitu musuh yang telah merobohkannya pada tigapuluh tahun berselang, mungkin telah tiada lagi di dunia ini."

"Ahh, hal ini amat berbahaya sekali, locianpwe. Dan agaknya yang dapat merampas kembali Yap-goanswe hanyalah locianpwe seorang! Akan tetapi, mendatangi kota raja? Sungguh hal ini berbahaya sekali dan Cheng-gan Sian-jin si iblis tua yang licik itu tentu telah mempersiapkan suatu kecurangan," Pek Hong berkata dengan suara khawatir.

Berita tertawannya Yap-goanswe ini memang mengejutkan hatinya. Betapapun sakit hatinya terhadap pemuda itu, akan tetapi mendengar betapa pemuda yang dicintanya itu tertangkap musuh yang demikian hebatnya karena Cheng gan Sian-jin adalah gembong kaum sesat, diam-diam ia menjadi cemas dan jantungnya berdebar tegang.

"Akan tetapi, menurut suhu, keadaan diri Yap-goanswe walaupun amat berbahaya sekali, namun akhirnya dapat pula diselamatkan. Hanya saja, agaknya akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan di kelak kemudian hari yang menimpa diri Yap-goanswe pribadi, demikian menurut suhu," Sun Hok berkata serius dan memandang kepada pendekar itu.

"Locianpwe, dia ini sebenarnya siapakah? Dia bilang bahwa menurut suhunya akan terjadi begini atau begitu. Agaknya gurunya ini tukang gwa-mia (peramal), ya?" Pek Hong berkata dengan setengah mengejek dan bibirnya berjebi.

"Ah, nona, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri. Sekarang perkenalkanlah, aku bernama Sun Hok, she Kwa dan guruku adalah Phoa-lojin (kakek Phoa) yang tinggal di Pulau Cemara di sebelah timur," Sun Hok menjawab sambil menjura memberi hormat dengan wajah berseri, kemudian dengan suara penuh kebanggaan pemuda ini melanjutkan, "Dan guruku memang tukang ramal nona, bahkan tukang ramal yang paling jempolan!"

Tentu saja gadis itu terkejut. Sikapnya yang tadinya main-main dan setengah mengejek itu kiranya malah memang demikian kenyataannya! Maka, melihat betapa Sun Hok memberi hormat kepadanya, mau tidak mau ia pun juga terpaksa membalas penghormatan pemuda ini namun tidak memperkenalkan namanya! Hal ini dilakukan karena ia masih mendongkol teringat akan sikap Sun Hok pertama kalinya dulu.

Sun Hok tahu akan kemendongkolan orang, dan diapun tidak mendesak. Juga tadi dia sempat mendengar nama gadis itu ketika Takla Sin-jin berbicara. Hanya dia tidak tahu siapa she gadis ini.

"Orang muda, sekarang kau mau kemanakah?" tiba-tiba pendekar tua itu bertanya dengan sinar mata tajam. "Dan di manakah gurumu itu?"

"Saya... saya hendak menolong Yap-goanswe, locianpwe. Suhu menyuruh saya agar pergi ke kota raja dan bertindak secara hati-hati di sana. Dan tentang suhu sendiri, teecu tidak mengetahui dimana dia sekarang berada karena ketika keluar pulau, suhu dan saya berpisah."

"Hemm, begitukah? Baiklah, terima kasih atas kesanggupanmu." Takla Sin-jin mengangguk dan menoleh kepada Pek Hong. "Dan kau, nona Hong?"

"Ah, locianpwe, aku... aku juga hendak ke kota raja..." gadis itu tergagap dan mukanya menjadi merah.

"Kalau begitu berhati-hatilah. Agaknya muridku yang kurang ajar itu benar-benar bernasib baik, masih diperhatikan oleh banyak orang. Baiklah, aku pergi dulu...!" baru saja kata-katanya selesai, tubuh Malaikat Gurun Neraka ini sudah berkelebat lenyap!

Sun Hok meleletkan lidahnya. "Aihh, bukan main!" serunya dengan penuh kekaguman. "Pendekar sakti itu betul-betul hebat, dan tidaklah mengherankan jika murid tunggalnya juga merupakan pemuda yang luar biasa!"

Pek Hong tidak menjawab dan tampak termenung. Pemuda luar biasa? Memang luar biasa cerdiknya, karena dapat mengelabuhi orang lain dengan sikapnya yang pura-pura sopan dan alim padahal sebenarnya merupakan pemuda hidung belang! Dan untuk pemuda seperti itu mengapa ia masih saja memperhatikan? Mengapa ia hendak ke kota raja untuk menolong pemuda itu dari cengkeraman musuh? Apa perdulinya?

"Yap-koko…” gadis ini mengeluh di dalam hati dengan perasaan seperti diremas dan tak terasa lagi air mata berlinang di kelopak matanya. Betapa ia amat mencinta jenderal muda itu, mencintanya dengan sepenuh hati. Betapa sekejappun selama ini ia tidak dapat melupakan pemuda yang gagah perkasa itu, meskipun ia mendengar hal-hal yang amat menyakitkan hatinya yang dilakukan oleh Yap-goanswe di dalam istana.

"Nona Hong, kau kenapakah?" tiba-tiba Sun Hok bertanya melihat gadis itu menangis tanpa suara dan panggilannya terdengar agak ragu-ragu karena dia takut gadis galak ini akan marah.

Pek Hong terkejut dan dua butir air mata yang menggantung di bulu matanya jatuh ke bawah. Cepat ia menggeleng kepala dan menjawab, "Tidak apa-apa. Untuk apa kau tanya-tanya segala?" suaranya terdengar ketus dan Sun Hok tidak berani lagi bertanya macam-macam.

"Nona, musuh telah pergi. Buat apa kita masih tinggal disini? Mari kita bakar saja sarang pengemis kotor ini dan kita dapat melakukan perjalanan bersama ke kota raja..."