TAPAK TANGAN HANTU
JILID 34
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
DUA orang itu pucat. Han Han dan Giam Liong melihat betapa putera-puteri mereka bertanding dahsyat di puncak Hutan Iblis. Pohon-pohon tinggi menjadi pijakan mereka dan di situlah kaki mereka bergerak naik turun, sebentar seperti belalang meloncat-loncat tapi tak jarang pula menyambar dan bergerak bagai burung besar.

Kaki mereka seakan tak menginjak pucuk dedaunan karena setiap menyentuh sudah melompat lagi, berkelebatan, cepat dan luar biasa hingga tubuh mereka lenyap menjadi bayang-bayang putih hitam dan merah hijau. Tepukan atau ledakan asap hitam menggelegar dahsyat menggetarkan seluruh isi hutan.

Dua pendekar ini mencoba bergerak maju akan tetapi tertahan. Di depan mereka seakan menghembus tembok tenaga yang amat kuat, begitu kuat hingga menyesakkan napas, Dan ketika dua orang ini tertegun dan terkejut bukan main, hawa pukulan di atas hutan menyambar mereka maka Han Han duduk bersila dan Giam Liong mengikuti pula, cepat mengerahkan sinkang menahan gelombang dahsyat itu.

“Pertandingan itu terasa sampai sini. Kita tak dapat maju kalau angin pukulan kuat itu tak berkurang, Giam Liong, satu-satunya jalan berhenti dan menonton dari sini.”

“Ya, dadaku ampeg. Angin pukulan itu kuat sekali dan kita akan celaka kalau menerjang. Bersila dan kerahkan tenaga sakti, Han Han, lindungi isterimu karena ia pucat!”

Han Han terkejut. Sang isteri bergoyang-goyang dan akhirnya roboh. Lengking dan pekik dahsyat itu semakin menjadi-jadi, telinga dan jantung bergetar hebat. Dan ketika ia mundur dan menahan isterinya, ternyata sudah pingsan maka Han Han berjengit ketika ledakan bagai petir meledak seakan di sisi telinganya.

“Dar!”

Cepat pendekar ini menghimpun tenaga sakti. Ia menutup kedua telinga dan memusatkan semua perhatian ke titik samadhi. Pori-pori dan lubang lain ditutup. Lalu ketika pendekar ini berhasil menenangkan hatinya dan tubuh tidak bergoyang-goyang lagi maka pertandingan di atas Hutan Iblis itu “dilihat” melalui mata batinnya. Han Han tertegun. Di atas pepohonan tak jauh dari pohon yang paling tinggi berkelebat enam bayangan yang bergerak amat cepat.

Hanya dengan mata batin ia dapat mengikuti mereka itu, dengan mata biasa tentu pusing. Dan ketika ia melihat betapa dua di antara enam bayangan itu beterbangan menangkis dan mengelak empat bayangan yang lain maka pendekar ini mengeluh karena Giok Cheng, puterinya mengeroyok Bi Hong dengan pemuda tinggi besar yang lebih mirip raksasa muda dengan hidung pesek dan bibir tebal.

“Thai Bang Kok Hu...!” Han Han teringat cerita Giam Liong akan raksasa muda itu. Ia berkerut kening memperhatikan raksasa ini dan mukanya tiba-tiba gelap. Wajah yang kasar dan mata yang melotot lebar itu cukup jelas membayangkan watak pemiliknya. Serangan-serangannya kasar dan buas, sepak terjangnya liar akan tetapi harus diakui dahsyat dan berbahaya sekali. Pukulannya menderukan angin kuat. Dan ketika raksasa itu tergelak-gelak dengan suaranya yang menggetarkan hutan, kasar dan buas maka Han Han maklum bahwa pemuda ini memang pantas sebagai pemuda urakan tapi lihai bukan main.

“Giok Cheng!” tiba-tiba pendekar itu membentak. “Siapa kawanmu yang buruk itu. Tak pantas kau bersahabat!”

“Dan kau,” Giam Liong tiba-tiba juga mengeluarkan suaranya yang kuat berpengaruh, menembus segala angin pukulan bersiutan. “Tak pantas bergabung dengan Majikan Hutan Iblis, Su Giok. Ingat betapa kedua orang tuamu dibunuh!”

Gadis-gadis itu terkejut. Giok Cheng, yang menyambar-nyambar dan beringas menyerang Bi Hong rupanya tak tahu bahwa sang ayah tiba-tiba ada di situ. Dia asyik sekali menerjang lawannya ini, dibantu Thai Bang Kok Hu. Maka ketika suara ayahnya menggetarkan tempat itu sampai di atas, terbelalaklah dia maka tiba-tiba serangannya agak mengendor namun saat itu si raksasa berseru menggetarkan menindih suara Han Han.

“Hei, tak perlu perhatikan yang lain. Serang dan robohkan gadis ini, sumoi, lalu pemuda itu. Jangan kendor dan hiraukan yang lain-lain!”

Akan tetapi gadis baju hijau ini terlanjur terkejut. Ia mengurangi serangan-serangannya kepada Bi Hong dan gadis itu bernapas lega. Tekanan dua orang ini berat sekali dan hanya karena Bu-bian-kangnya ia mampu mengelak dan menghindar. Kian-kun-siu, kibasan Sapu Jagadnya terpental. Dua lawan memang lebih kuat daripada seorang. Maka ketika gadis itu mundur memanggil ayahnya, di saat yang sama Su Giok juga tertegun oleh seruan Giam Liong maka gadis ini terbelalak mengendorkan tekanannya terhadap Sin Gak.

“Heh!” Majikan Hutan Iblis tiba-tiba mengebut dan mendorong. “Suara orang lain jangan didengarkan, Su Giok. Robohkan dulu pemuda ini baru yang lain belakangan!”

Akan tetapi gadis itu termakan. Semula ia begitu gencar dan gigih menyerang Sin Gak. Rasa penasarannya membuat ia tak mau sudah. Tapi ketika Giam Liong mengingatkan itu dan kematian ayah ibunya terbayang di depan mata tiba-tiba gadis ini membalik dan.... iapun membentak laki-laki berjubah hitam itu.

“Benar, kau berhutang jiwa keluargaku. Seharusnya aku berurusan dahulu denganmu, manusia jahanam. Buka kedokmu dan perlihatkan mukamu!”

Laki-laki itu terkejut. Ia yang semula menekan dan mendesak Sin Gak tiba-tiba menghadapi pukulan Su Giok. Gadis baju merah itu menyerangnya dengan Toat-beng-liong-jiauw-kang (Kuku Naga Pencabut Nyawa), cepat dan tak diduga karena mereka semula berdampingan. Maka ketika sepuluh jari itu menyentuh mukanya dan ia mengelak serta menangkis selanjutnya gadis ini menyerangnya dan sudah melepas cengkeraman atau guratan yang semuanya amat berbahaya dan memecah konsentrasinya.

“Keparat!” laki-laki itu membentak. “Urusan kita diurus belakangan, Su Giok, pemuda ini lebih berbahaya dibanding lain-lainnya. Jangan ngimpi dengan membunuhku cintamu akan diterima Giam Liong, ayah dan anak sama-sama mempermainkan wanita!”

Gadis itu terkejut. Sejenak ia mengendorkan serangan dan mukanya berubah, hasutan itu rupanya termakan. Namun ketika Giam Liong berseru bahwa urusan pribadi kalah oleh urusan yang lebih besar maka gadis itu terguncang lagi.

“Kematian ayah ibumu jauh lebih hebat. Tak ada gunanya menyenangkan diri sendiri kalau arwah orang tuamu masih penasaran di sana, Su Giok. Tindas kepentingan pribadi dan utamakan baktimu kepada ayah ibumu!”

Gadis itu membentak lagi. Tiba-tiba ia menerjang lebih sengit, dan kali ini kemarahan dan kebenciannya benar-benar meledak. Omongan Giam Liong menusuk perasaannya daripada omongan laki-laki berjubah hitam itu. Maka ketika ia melengking dan berkelebat menyerang lawannya, sepuluh jarinya mencuatkan kuku panjang maka Majikan Hutan Iblis menggeram dan tiba-tiba mengebutkan lengannya ke arah Giam Liong menonton. Percik-percik merah rmenyambar si buntung itu amat ganasnya, Ang-su-giat (Semut Merah Beracun).

“Awas, ayah!”

Giam Liong tak mungkin menyelamatkan diri dari serbuan ratusan semut-semut api ini. Binatang itu dikebut dari sebuah kantung dan melayang bagai pernik-pernik gemerlapan. Tubuhnya tertimpa cahaya matahari dan indah menyilaukan. Namun karena di balik keindahan ini terdapat maut yang amat mengerikan, Sin Gak berseru sambil mengebutkan lengannya pula maka sekelompok semut-semut itu dihembus dan hancur menghantam pohon di sebelah pendekar buntung ini.

“Wuutttt!” sisa hawa panas masih dirasakan pendekar itu. Giam Liong berdesis mengusap keringat dan biarpun ia dapat menghindarkan diri namun tak mungkin semua itu dielak. Seekor dua Ang-su-giat pasti mengenai tubuhnya. Maka ketika ia menggigil namun marah bukan main, betapapun ia tak takut sedikitpun maka di sana Su Giok sudah berkelebatan menyerang lawannya tak menghiraukan lagi bujukan atau hasutan.

Gadis ini benar-benar membayangkan kematian ayah ibunya yang amat mengerikan. Majikan Hutan Iblis itulah pembunuhnya. Maka ketika ia melengking dan terus melepas cengkeraman dan guratan, sementara di sana Sin Gak bernapas lega maka Bi Hong berhadapan satu lawan satu dengan sutenya yang amat lihai itu, murid Mo-bin-jin yang sepak terjangnya buas dan liar.

“Plak-dukk!” pukulan gadis itu melenceng bertemu Hek-be-kang. Ilmu Belut Hitam yang dipunyai lawannya ini membuat raksasa muda itu terkekeh-kekeh. Namun ketika membalas dan bertemu Kim-kong-ciok (Ilmu Arca Emas) maka tubuh gadis itupun tak bergeming dan Bi Hong tertawa mengejek.

“Hm, pukulanmu kurang kuat. Ayo serang lebih hebat, Kok Hu, mana kekuatanmu!”

Raksasa ini menggeram. Akhirnya ia membalas dan menyerang lagi namun gadis itu berkelebat mengandalkan Bu-bian-kangnya. Ilmu Tanpa Bobot ini benar-benar luar biasa hingga gadis cantik itu lenyap, tahu-tahu muncul di belakang tengkuknya dan menyambarlah tamparan amat kuat. Namun ketika Bi Hong mendesis bertemu Hek-be-kang itu, mental maka lawan ganti mengejek dengan tawa bergelak. Selanjutnya mereka bertanding lagi, sementara Giok Cheng melayang turun menghadapi ayahnya. 

Di sini sang ibu siuman dan kontan nyonya itu membentak puterinya kenapa tidak menyerang Majikan Hutan Iblis itu. Dan ketika Giok Cheng tertegun bahwa kakeknya tertawan, laki-laki itulah penangkapnya maka gadis ini menjadi merah dan sang ibu menudingkan telunjuknya.

“Lihat, jahanam itu sudah di situ. Apalagi yang kau tunggu, Giok Cheng, hajar dan robohkan dia. Rampas kembali kakekmu!”

“Tapi.... tapi Bi Hong!”

Sang ibu tertegun, kening berkerut. Akan. tetapi sebelum bicara maka Han Han maju dengan sikap keren, kewibawaannya sebagai ayah tampak. “Giok Cheng, Bi Hong adalah urusan yang lain lagi, keselamatan kakekmu lebih penting. Kalau kau mendahulukan kepentingan pribadi melupakan kakekmu maka kau bukan seorang anak yang baik. Kami bukan lawannya, kaulah tandingannya dan rampas kembali kakekmu, atau aku tak akan mengampunimu karena ini dosa besar yang tak dapat diterima lagi.”

“Baik!” gadis itu melompat, tahu-tahu terbang ke atas pucuk-pucuk daun itu. “Akan kuhajar dan kuminta kakekku sekarang, ayah. Biarlah urusan Bi Hong diselesaikan nanti!”

Yang berubah tentu saja Majikan Hutan Iblis itu. Setelah Su Giok menyerangnya dan iapun harus mengelak dan menangkis pukulan Sin Gak maka ia terdesak dan tertekan hebat. Giok Cheng tiba-tiba menyambar maju, siapa tidak kaget. Maka ketika ia berteriak mendapat pukulan muka belakang, juga kiri dan kanan maka laki-laki itu terbanting dan terhempas jatuh kebawah.

“Desss!”

Giok Cheng dan sucinya mengejar. Sin Gak tertegun dan tentu saja menarik pukulannya, bukan maksudnya untuk mengeroyok dan menekan lawan yang tidak kuat. Tapi ketika ia mengerutkan kening melihat jatuhnya lawan tiba-tiba Majikan Hutan Iblis itu membentak,

“Giok Cheng, Su Giok, kalian jangan main-main kepadaku. Aku menawan Pek-jit-kiam Ju-taihiap, kalau kalian mengeroyokku aku akan membunuhnya!”

“Jangan banyak cakap!” Giok Cheng membentak dan mencabut ikat pinggangnya, meledak dan menyambar telinga kiri lawan. "kau mengganggu kakekku maka aku siap mengadu jiwa, manusia busuk. Serahkan dia kepadaku dan kau kuampuni!”

“Hm, kau sumoiku, yang muda harus turut yang tua. Aku tak mengganggu sama sekali kakekmu, Giok Cheng, membawanya hanya sekedar untuk menundukkan kekerasan hatimu. Kalau kau mau membantu aku dan merobohkan dua anak muda itu maka kakekmu bebas!”

“Dan bagaimana dengan hutang jiwa keluargaku!” Su Giok mencelat dan menyambar muka Majikan Hutan Iblis, sepuluh kukunya menggurat panjang. “Kalau kau dapat mengembalikan mereka akupun mau mengampuni nyawamu, manusia busuk. Tapi bagaimana sekarang mampukah kau mengembalikan mereka!”

“Tunggu... bret!” laki-laki ini mengelak, kancing bajunya terbabat. “Urusan itu mudah, Su Giok. Aku siap mengembalikan mereka asal kau membantuku dulu membunuh anak-anak muda ini. Mereka lebih berbahaya!”

“Omongan bohong!” gadis itu melesat dan menyambar lagi. “Yang mati tak mungkin hidup, jahanam keparat, kecuali kau menyusul mereka di alam baka... bret-plak!”

Lawan menangkis dan gadis ini terpental sementara Majikan Hutan Iblis tiba-tiba berkemak-kemik. Entah apa yang dikehendaki mendadak saja ia berseru melontarkan sesuatu ke atas. Segumpal asap hitam meledak. Dan ketika ia membentak bahwa ayah ibu gadis itu ada di situ, hidup tiba-tiba Su Giok menghentikan serangan dan menjerit.

“Lihat, mereka ada di sini. Nah, aku mengembalikannya kepadamu, Su Giok, bantu aku dan kita robohkan pemuda dan gadis itu!”

Bukan hanya Su Giok, Giok Cheng dan Han Han serta Giam Liong dan Ju-hujin juga terkejut. Mereka melihat di angkasa tiba-tiba muncullah sepasang lelaki perempuan melambai kepada Su Giok. Itulah suami isteri Su Tong dan Bhi Li, sepasang pendekar yang dulu menjadi sahabat mereka ayah ibu Su Giok. Tapi ketika terdengar lengking tinggi membuyarkan asap hitam, pekik atau suara Sin Gak yang mengandung tenaga sakti maka pemuda itu mengebut seraya membentak,

“Bohong, itu hanya sihir. Lihat tak ada apa-apa di sini kecuali sepasang daun itu, enci Giok, jangan terkecoh dan mau ditipu!”

Lenyaplah bayangan lelaki perempuan itu. Sebagai gantinya dua daun kering melayang-layang jatuh ke tanah, hangus. Lalu ketika gadis itu membentak dan marah sekali maka laki-laki jubah hitam itu mendelik kepada Sin Gak.

“Keparat, jahanam kau, Sin Gak, menyusullah ibumu!”

Sin Gak mengelak ketika sekantung semut api berhamburan menyambarnya. Ia mengebut dan menghancurkan semut-semut itu. Dan ketika Su Giok melayang dan menerjang lagi maka Giok Cheng juga menyambar dan berkelebat marah.

“Penipu, licik dan curang. Sekarang kami tak mempercayaimu, manusia busuk, serahkan kakekku atau aku mengadu jiwa denganmu!”

Laki-laki itu berkelit dan membalas. Sin Gak memandang sekejap lalu melompat ke arah Bi Hong. Dan ketika Thai Bang Kok Hu terkejut melihat majunya pemuda ini maka Bi Hong menjadi girang.

“Sin Gak, jahanam ini mengandalkan Hek-be-kangnya.. Coba kau berikan Pek-mo-in-kangmu dan aku menghajarnya dengan tamparan-tamparanku!”

Sin Gak mengangguk. Ia berkelebat dan hawa dinginpun meluncur, kedua tangan mendorong dan bekulah udara oleh Pek-mo-in-kang yang amat kuat. Thai Bang Kok Hu menggigil, bajunya berkeriput-keriput. Lalu ketika ia terkejut, keringatnya beku maka Hek-be-kang tiba-tiba kosong tak dapat dipakai lagi.

“Des-plak!”

Tengkuk dan pundaknya tertampar. Raksasa ini terpelanting dan berteriak, kulitnya tak dapat licin lagi dibekukan Pek-mo-in-kang itu. Dan ketika ia bergulingan melempar tubuh ke sana-sini maka Bi Hong terkekeh-kekeh mengejarnya. Si raksasa memaki-maki.

“Heh, curang, licik. Kalian beraninya mengeroyok aku, Bi Hong. Coba satu lawan satu!”

“Hm, akal busuk. Tadi kau mengeroyokku diam saja, Kok Hu, sekarang berkaok-kaok kayak ayam kehilangan induknya. Hayo terima pukulanku dan tunjukkan kelicinan tubuhmu itu... bak-bukk!"

Bi Hong melepaskan tamparannya dan raksasa ini bergulingan memaki-maki. Tamparan gadis itu tidak membuatnya roboh akan tetapi membuat kulit tubuhnya pedas dan sakit-sakit. Ia memiliki kekebalan namun tertembus juga, betapapun sinkang yang dimiliki gadis itu cukup kuat dan tak jauh dengan sinkangnya sendiri. Maka ketika Sin Gak mengejarnya juga dan mendesak raksasa ini, Sin Gak lega bahwa Su Giok dan Giok Cheng tak mengeroyoknya lagi maka pertandingan berubah dengan pihak Majikan Hutan Iblis menghadapi mereka berempat.

Akan tetapi itu tidak lama. Majikan Hutan Iblis yang gusar dikeroyok dua tiba-tiba berkelebat menghilang, ia menyelinap dan memasuki semak-semak belukar. Dan ketika Su Giok maupun Giok Cheng mengejarnya tak mau sudah, membentak maka tiba-tiba lelaki itu muncul lagi dengan mencengkeram seseorang sambil tertawa dingin.

“Bagus, pukullah orang ini dan aku akan memakainya sebagai tameng!”

Giok Cheng menjerit. Ju-taihiap kakeknya tiba-tiba diputar tangan laki-laki itu menangkis pukulan mereka. Tentu saja ia berteriak menarik pukulan. Tapi ketika sucinya terlanjur menusuk dan Toat-beng- liong-jiauw-kang mengenai kaki, untunglah sebagian dari tenaga sudah dihilangkan maka Ju-taihiap mengeluh dan gadis baju merah itu terpekik menarik serangannya.

“Ha-ha!” Majikan Hutan Iblis tertawa-tawa. “Ayo serang dan desak aku, anak-anak. Bunuh orang ini dan kalian jangan menyalahkan aku!”

“Terkutuk, curang!” Giok Cheng menjerit. “Lepaskan kakekku, manusia siluman. Mari bertempur secara jantan!”

“Hm, kalian sendiri tak jantan. Kau mengeroyokku, Giok Cheng, merusak persahabatan. Aku membebaskan kakekmu asal kau membantu aku menghadapi muda-mudi itu. Ingat, Bi Hong musuhmu. Ia merebut kekasihmu Sin Gak!”

Gadis ini terbakar. Omongan ini memang tajam akan tetapi Giok Cheng masih ingat diri, diserangnya itu. Akan tetapi ketika tubuh kakeknya dipakai menangkis dan ia menjerit menarik serangan maka laki-laki itu terkekeh dan Giok Chengpun bingung.

“Serang, ayo serang lagi. Hajar dan bunuh kakekmu ini, Giok Cheng, perbuatanmu lebih jahat daripada aku!”

Gadis itu melengking-lengking. Akhirnya ia berkelebatan dan mengitari laki-laki ini sampai akhirnya bujukan atau kata-kata lawannya memerahkan telinga. Ia mulai digosok dan dihasut tentang Bi Hong. Dan ketika di sana Bi Hong begitu mesra mendampingi Sin Gak, terkekeh dan mengejek Kok Hu tiba-tiba lelaki itu berkata terakhir kalinya. Ju-taihiap tertotok, urat gagunya dilumpuhkan.

“Aku tak berkepentingan dengan kakekmu, hanya janjimu. Nah, ia akan kubebaskan asal kau hadapi gadis itu bukan sebagai membantu Kok Hu melainkan semata menukar tawanan ini. Jangan hadapi aku dan hadapilah musuh utamamu itu. Jangan biarkan ia bermesraan dengan Sin Gak, setuju atau tidak.”

Giok Cheng merah padam melihat kenyataan itu. Kalau saja Bi Hong tak terkekeh-kekeh dan begitu mesra didekat Sin Gak barangkali hatinya tak begitu panas terbakar. Ditambah omongan dan ajakan ini tiba- tiba saja ia melengking, Dan ketika ia mengangguk dan laki-laki itu tertawa aneh, sekali lagi minta ketegasan maka Giok Cheng hilang kejernihannya dibakar cemburu.

“Baik, lepaskan kakekku. Aku akan menghadapi Bi Hong. Sekarang jangan banyak bicara atau aku membunuhmu!”

“Wut!” bersamaan itu Ju-taihiap dibebaskan, langsung ditangkap gadis ini. “Kau sudah berjanji, Giok Cheng, seumur hidup tak boleh ditarik lagi. Terimalah kakekmu dan jangan ganggu aku!”

Su Giok terkejut. Ia membentak mencegah sumoinya akan tetapi gadis itu telah terbang menyambar Bi Hong. Giok Cheng berteriak kepada ayahnya untuk menerima kakeknya itu. Dan ketika Han Han tertegun menerima ayahnya, Giok Cheng melengking dan menerjang Bi Hong maka gadis itu berkata bahwa ia telah membebaskan kakeknya.

“Sekarang ayah jangan menghalangi aku, kong-kong telah kuselamatkan. Aku akan membuat perhitungan dengan gadis itu dan jangan aku diganggu!”

Bi Hong tentu saja terkejut. Ia sedang enak-enaknya mempermainkan Thai Bang Kok Hu, raksasa itu jungkir balik menerima pukulannya. Maka ketika Giok Cheng tiba-tiba menyambar dan tanpa ba-bi-bu lagi menerjang dan membentaknya kontan iapun terkejut dan kaget. “Heii,apaini plak-dukk!” dua lengan bertemu sama kuat dan masing-masing pemiliknya terpental dan terhuyung. Lengan-lengan halus itu sama-sama terisi tenaga sinkang. Tapi ketika Giok Cheng melotot dan menerjang lagi maka gadis ini menggirangkan Thai Bang Kok Hu yang merasa mendapat bala bantuan.

“Ha-ha, bagus. Begitu seharusnya, sumoiku yang manis. Kau membantuku dan kita beradu punggung layani lawan-lawan kita ini.”

“Tutup mulutmu, aku tak membantumu. Aku menghadapi lawanku semata sebagai penukar kakekku, Thai Bang Kok Hu, jangan bicara macam-macam atau nanti aku menyerangmu!”

“Weh?!” si raksasa terbelalak. “Begitu kiranya? Yu-sute membebaskan kakekmu? Bagus, ha-ha, sama saja. Sekarang lawan kita seorang lawan seorang, sumoi, Bi Hong atau Sin Gak sama saja. Heh, ayo maju dan kita bertanding lagi!” raksasa itu meloncat dan tangannya menderu menyambar Sin Gak.

Pemuda ini terkejut dan sedang mengerutkan keningnya melihat Giok Cheng menyerang Bi Hong. Tak ada lagi yang mampu mencegah mereka. Tapi ketika ia menangkis dan berkelebat marah tiba-tiba pemuda ini menyambar Giok Cheng berseru pada Bi Hong,

“Hong-moi, kita bertukar lawan. Serahkan dia kepadaku dan kau hadapilah Kok Hu!”

Kejadian berlangsung cepat. Sin Gak mendorong dan menarik Bi Hong sementara tangannya yang lain menangkis pukulan Giok Cheng. Gadis itu terpental. Dan ketika Giok Cheng membelalakkan mata melihat Sin Gak melindungi Bi Hong tiba-tiba ia menjadi kalap dan berseru melengking, panas hatinya.

“Bagus, semakin manja. Biarkan kami wanita dengan wanita, Sin Gak, kalian laki-laki dengan laki- laki. Atau boleh kau gantikan dia dan kau atau aku mampus.... wiirrrr-plakk!” ujung ikat pinggang meledak ditangkis Sin Gak namun pemuda itu sudah mendorong Bi Hong. Gadis ini terhuyung. Akan tetapi ketika Sin Gak melayani Giok Cheng dan ia tak mungkin mengeroyok maka Kok Hu yang girang ditinggalkan Sin Gak menyambar Bi Hong. Gadis itu lebih ringan daripada Sin Gak, meskipun bukan berarti ia mampu mengalahkan.

“Bagus, kau dengan aku. Ha-ha, sepadan sudah, suci. Sin Gak dengan Giok Cheng dan kau dengan aku. Mari, mari main-main lagi dan jangan cemburu melihat kekasihmu berduaan dengan sumoi!”

“Tutup mulutmu!” Bi Hong mengelak dan membalas. “Kau dan Sin Gak bagai bumi dengan langit, Kok Hu, seribu kalipun masih juga kalah tampan. Jangan kira aku takut dan mari kuhadapi kau!”

Si raksasa tertawa bergelak. Yang tambah panas tentu saja Giok Cheng, terang-terangan Bi Hong memuji Sin Gak, padahal gadis itu untuk mengejek lawannya yang bermuka buruk. Maka ketika Giok Cheng melengking dan menyambitkan jarum-jarum pencabut nyawanya, Touw-beng-tok-ciam maka Sin Gak menangkis dan melindungi kekasihnya, hal yang membuat gadis itu semakin naik pitam.

“Bagus, kau sudah begitu tergila-gila kepada siluman betina itu. Sekarang kau atau aku mampus, Sin Gak, tak kuat hidup kalau terhina begini!”

Sin Gak berdebar mengerutkan keningnya. Tak dapat disangkal kemarahan dan kebencian sumoinya ini, akan tetapi karena di balik itu ia melihat cinta asmara yang berapi-api, bak gunung bergemuruh maka pemuda ini merasa iba dan kasihan juga. “Giok Cheng, aku tak ingin kalian saling bunuh. Kalian sama-sama wanita gagah. Kalau hendak bermusuhan maka musuh kita adalah Majikan Hutan Iblis itu, juga Kok Hu. Merekalah orang-orang jahat yang seharusnya kau musuhi.”

“Tak perlu menggurui, aku tahu baik buruk, Sin Gak. Biarkan aku menghadapi Bi Hong atau aku mengadu jiwa denganmu!”

“Hm, Bi Hong bukan musuhmu, kau salah. Musuh kita adalah dua orang jahat itu, Giok Cheng, sadarlah dan putar haluan. Urusan kita dapat dibicarakan baik-baik.”

“Baik-baik? Huh, kau menyakiti hatiku. Aku sudah mendapatkan kong-kong dan janjiku harus berjalan. Minggir dan biarkan Bi Hong melawanku atau kau atau aku mampus!”

Sin Gak kewalahan. Sekarang mereka berkelebatan cepat tapi masing-masing berganti lawan. Kini terjadi perpecahan lagi di mana enam orang dengan tiga pertandingan. Su Giok bertanding hebat dengan Majikan Hutan Iblis itu, sementara Bi Hong menghadapi Kok Hu dan dia sendiri dilabrak gadis baju hijau yang marah ini. Giok Cheng menyerang sambil menangis.

Dan karena dari tiga pertempuran ini tentu saja Sin Gak mengalah, yang di hadapi adalah puteri pamannya Han Han maka ia mengelak dan membalas ala kadarnya saja, terdesak dan dilihat Bi Hong dan gadis itu panas. Entah mengapa sikap ini menimbulkan kecemburuan Bi Hong, mencoba ditahan tapi akhirnya tak kuat. Sin Gak terpelanting oleh ledakan ikat pinggang yang membuat pipinya tergurat, darah mengalir. Dan ketika pemuda itu main mundur dan sempoyongan bingung, Bi Hong membentak tiba-tiba gadis itu meninggalkan lawan dan menyambar Giok Cheng.

“Manusia tak tahu diri. Kalau Sin Gak menghadapimu sungguh-sungguh tak mungkin kau melukainya, Giok Cheng, baik hadapilah aku dan kita wanita sama wanita!”

“Ha-ha!” Thai Bang Kok Hu melihat kesempatan. “Kalau aku sendirian biarlah kubantu suteku, Bi Hong, bertengkarlah dan selesaikan urusan kalian!”

Su Giok terkejut. Ia mati-matian mempertahankan diri dan perlahan tetapi pasti terdesak. Ternyata sendirian saja menghadapi manusia ini ia kalah seusap. Sayang ia tak memiliki Bu-bian-kang. Maka ketika si raksasa menyambar maju dan ia terkejut gadis itupun menjerit dan terbanting, melempar tubuh bergulingan.

“Sin Gak, bantu Su Giok. Jangan biarkan ia celaka!”

Sin Gak bingung. Waktu itu ia melerai Bi Hong akan tetapi gadis ini balas membentaknya. Sorot kemarahan dan cemburu panas membakar. Dan ketika ia terkejut oleh seruan ayahnya maka benar saja Su Giok bergulingan dikejar dan dikeroyok dua orang itu. Kok Hu tak malu-malu membantu. Akan tetapi Sin Gak mencoba lagi membujuk.

“Bi Hong, kalian bukan orang-orang jahat. Musuh kita adalah dua orang itu. Hentikan pertikaian ini dan robohkan dulu Majikan Hutan Iblis itu!”

“Aku ditantang Giok Cheng. Pergi meninggalkannya sama dengan mencoreng muka, Sin Gak, biarkan ia kuhadapi dan kau hadapilah musuhmu itu. Kau lebih berkepentingan.”

“Tapi Giok Cheng tak perlu dituruti, ia membawa emosinya.”

“Bagus, memangnya aku anak kecil. Maju dan keroyok sekalian, Sin Gak, aku memang emosi!”

“Nah, nah, apa itu. Tinggalkan gadis ini dan hadapi orang-orang itu, Bi Hong. Ingatlah bahwa kalian sama-sama wanita gagah. Dan kau,...” Sin Gak berseru pada Giok Cheng. “Sucimu dalam bahaya, Giok Cheng, bantulah dia dan tinggalkan ini!”

“Aku terlanjur berjanji. Kong-kongku dibebaskan, Sin Gak, bukan kau atau orang lain yang menolong. Biar enci Su Giok ke sini dan kau atau siapapun kami hadapi!”

Susahlah pemuda ini. Bi Hong sudah menerjang dan Giok Cheng menyambut, ada kesan bahwa masing-masing tak mau diganggu lagi. Ketika ia melerai tahu-tahu pukulan Bi Hong maupun Giok Cheng menyambar, dua gadis itu tak perduli! Dan ketika Sin Gak menjadi pucat dan terdengar lagi bentakan ayahnya maka pemuda ini melompat dan terpaksa menolong Su Giok, yang terguling-guling dan hampir saja terkena semut api yang disambitkan lawannya.

“Baiklah, kalian sama-sama keras kepala. Kalau tak mau dilerai biarlah aku ke sana dulu, Bi Hong, setelah itu kalian hadapi aku!”

Giam Liong lega. Sin Gak berkelebat dan menangkis pukulan Kok Hu, raksasa ini terhuyung namun tergelak marah. Dan ketika Su Giok meloncat bangun dan berterima kasih diselamatkan Sin Gak, seruan Giam Liong membuat matanya basah maka ia membentak dan mencabut pecut hitam di tangan kiri, tangan kanan bergetar-getar merobah gerakan. Siap melancarkan pukulan Siau-hun-bi-kiong-hoat (Pukulan Penggetar Sukma).

“Bagus, tak akan kulupa budimu. Mereka ini licik dan curang, Sin Gak. Biar aku mengadu jiwa!

“Hm, cici harap hati-hati. Sebaiknya berikan musuhmu itu kepadaku, enci Giok. Ia memiliki banyak hutang kepadaku.”

“Tidak, iapun memiliki hutang kepadaku, setumpuk. Akan kuhadapi sampai mati dan dia atau aku mampus!”

Majikan Hutan Iblis tertawa mengejek. Diam-diam ia menggosok sepasang telapak tangannya dan muncullah uap hitam tipis. Bau amis muncul. Lalu ketika ia mengelak dan berkelebatan melayani gadis itu tiba-tiba sepasang tangannya di dorongkan ke depan dan menyambarlah pukulan dahsyat itu. Mo-seng-ciang (Tapak Tangan Hantu)!

“Awas, enci Giok!”

Gadis baju merah itu terkejut. Ia telah meledak-ledakkan pecut hitamnya sementara tangan kanan bergetar-getar melepas Siau-hun-bi-kiong-hoat. Biasanya ilmu ini menyambar lawan di saat tak terduga, tangan yang bergetar menjadi banyak dan lawan akan bingung melihat yang asli. Maka ketika tiba-tiba ia didahului dan seruan Sin Gak jelas bernada terkejut, bau amis membuat orang seakan muntah maka Su Giok yang terkena langsung tiba-tiba saja perutnya mual dan muntah tanpa sengaja.

“Huekk!”

Saat itulah telapak lawan menyambar dada. Hitam mengandung racun telapak ini tak dapat dicegah lagi, mula-mula perlahan akan tetapi tiba-tiba berobah begitu cepatnya, Su Giok menjerit dan melempar tubuh bergulingan. Dan ketika ia dikejar namun Sin Gak berkelebat menghadang maka Mo-seng-ciang bertemu Pek-mo-in-kang yang dingin.

“Desss!”

Sin Gak maupun lawan tergetar. Majikan Hutan Iblis membelalakkan mata akan tetapi Kok Hu sudah menyerang pemuda itu, Su Giok bergulingan meloncat bangun. Dan ketika Sin Gak mengelak sana-sini dikeroyok dua maka gadis baju merah itu menerjang lagi lawan utamanya, Majikan Hutan Iblis.

“Biarkan ia bagianku, raksasa itu bagianmu!”

Sin Gak mengerutkan kening. Dari adu tenaga tadi dia maklum bahwa Su Giok masih kalah seusap. Hawa panas gatal menyusul di lengannya ketika bertemu Mo-seng-ciang tadi. Akan tetapi karena ia membekukan pengaruh buruk itu dan hawa beracun terhenti didorong dan keluar lagi maka pukulan itu tak berbekas apa-apa meskipun Sin Gak diam-diam terkejut karena kalau ia kurang kuat tentu terdorong dan telah terserang racun.

“Hati-hati!” serunya kepada Su Giok. “Jangan hadapi langsung pukulan tangannya, enci. Tutup hidungmu atau tiup bau amis itu!”

Su Giok mengangguk. Ia telah menutup hidungnya dengan saputangan, meniup dan mendorong bau amis dari pukulan Tangan Hantu itu. Akan tetapi ketika lawan mengejek dan menggerak-gerakkan tubuhya sedemikian rupa mendadak keringat bermunculan dan berhamburan menciprat sana-sini.

“Sin-can-po-he (Ilmu Keringat Sakti)!” Su Giok terkejut dan mengelak sana-sini dan tentu saja jijik sekali. Keringat itu bukan sembarang keringat karena di samping kecut juga berbentuk butiran-butiran keras seperti es. Sekali ujung bajunya kena dan bolong. Maka ketika ia berseru dan kaget serta marah maka lawan terkekeh-kekeh dan suaranya yang tinggi nyaring benar-benar mirip banci kegirangan.

“Bagus, sekarang kau mengenal kepandaianku. Dan ini tambahan untukmu, Su Giok, terima dan rasakanlah hah!” orang itu membuka mulut dan bau amat busuk menyambar wajah Su Giok.

Gadis ini berteriak dan membuang kepala ke belakang akan tetapi Mo-seng-ciang menyusul. Dan ketika ia melempar tubuh lagi namun Sin-can-po-he menyerang tubuhnya maka Su Giok benar-benar sibuk dan pecut di tangannya meledak dan menghalau semua itu.

“Tar-tar-tar!”

Siau-hun-bi-kiong-hoat juga ikut bergerak. Sambil bergulingan tangan kanan gadis ini bergetar-getar, mendorong dan menampar dan jarum-jarum Touw-beng-tok-ciam berhamburan pula. Dan ketika dengan cara begini ia dapat meloncat bangun dan pucat memandang lawannya maka itu tertawa dan menyerang lagi. Su Giok terdesak.

“Hah, aku akan merobohkanmu. Cepat. atau lambat kau tak dapat mempertahankan diri, Su Giok, menyerahlah dan bantu aku atau aku membunuhmu!”

Gadis ini memutar senjatanya membungkus seluruh tubuh. Setelah satu lawan satu ia benar-benar mengakui keunggulan lawannya. Lawan memiliki beragam ilmu yang aneh-aneh, selain Mo-seng-ciang yang berbahaya itu juga Keringat Saktinya yang berhamburan seperti butir-butir es dingin, belum lagi bentakan mulutnya yang baunya minta ampun itu, bau bangkai! Maka ketika gadis itu terdesak dan hanya berkat putaran cambuknya ia mampu bertahan maka Siau-hun-bi-kiong-hoat menjadi mandul karena lebih banyak dipakai untuk mempertahankan diri daripada menyerang.

“Enci Giok, kita bertukar lawan saja. Kau hadapi raksasa ini dan aku laki-laki itu!”

“Tidak!” gadis ini menolak seruan Sin Gak. “Aku belum kalah, Sin Gak, apalagi roboh. Biarlah aku bertanding mati hidup dan jangan harap lawanku dapat mengalahkan aku dengan mudah!”

“Hm!” Majikan Hutan Iblis berkemak-kemik. “Kau memang gagah, Su Giok, akan tetapi bukan tandinganku. Lihat, siapa yang kau hadapi dan mampukah kau melawan sepuluh laki-laki seperti aku....dar!” tepukan asap hitam disusul pecahnya tubuh laki-laki itu.

Majikan Hutan Iblis mendadak menjadi sepuluh dan menjeritlah gadis itu oleh bayangan di sekeliling dirinya. Sepuluh laki-laki jubah hitam menyambar dan menyerangnya dari kanan kiri. Dan ketika gadis itu berteriak dan Sin Gak terkejut maka pemuda ini membentak dan mendorongkan kedua tangannya kedepan, mengerahkan penangkal sihir dengan Pat-gen-sin-hoat-sutnya (Pagar Sihir Delapan Penjuru Dunia).

“Enci Giok, masuk ke sini. Awas itu hanya bayang-bayang saja!”

Akan tetapi ini berakibat buruk bagi diri sendiri. Sin Gak yang menolong dan melepas Pat-gen-sin- hoat-sutnya untuk melindungi gadis itu menjadikan dirinya terbuka oleh pukulan lawan. Kok Hu raksasa itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Maka ketika ia menghantam dan mengenai pundak pemuda ini, Sin Gak mengeluh maka pemuda itu terbanting dan si raksasa mengejar dengan tawa bergelak.

“Ha-ha, mampus kau. Rasakan sekali lagi, Sin Gak, ini bagianmu!” Sian Gak mengelak tapi kena lagi, bergulingan dan meloncat bangun akan tetapi raksasa itu tak memberinya kesempatan. Sin Gak menerima pukulan mengerahkan sinkangnya. Dan ketika ia mendesis dikejar lagi, mengelak sana-sini maka Su Giok selamat dan ajaib sekali di sekeliling gadis ini terdapat sinar merah melindungi diri. Sinar gaib dari Pat-gen- sin-hoat-sut yang dilemparkan Sin Gak tadi.

“Keparat!” Majikan Hutan Iblis membentak dan mencoba menerobos pagar ini. “Keluarlah dan hadapi aku, Su Giok, jangan bersembunyi!”

“Aku tidak bersembunyi, siapa bersembunyi. Aku di sini, iblis jahanam, mari bertanding lagi dan keluarkan ilmu silumanmu itu!”

Majikan Hutan Iblis menggeram. Sinar merah yang mengelilingi Su Giok adalah pagar sihir penolak bentakannya tadi. Sesungguhnya ia mengeluarkan Toat-seng-hoat-sut (Sihir Mencabut Sukma) untuk menggoyahkan gadis ini. Maka setelah gadis itu dilindungi Pat-gen-sin-hoat-sut dan sihirnya tentu saja tak mungkin mempan, marahlah laki-laki ini maka ia bergerak lagi mengeluarkan ilmu-ilmu non-sihirnya, Mo-seng-ciang dan itu.

Su Giok menghadapi dengan penuh semangat dan diam-diam menyesallah gadis ini kenapa subonya masih tak menurunkan semua ilmunya. Harus diketahui bahwa untuk sihir memang ia tak mendapat pelajaran, paling-paling sekedar kulitnya saja dan entah kenapa nenek itu tak mewariskannya. Dan karena Hek-i Hong-lipun tak memberikan Bu-bian-kang alias Ilmu Tanpa Bobot, kecuali Coan-po-ginkang (Ginkang Menerjang Ombak) yang dimilikinya itu maka sesungguhnya sebagai murid tokoh termuda. Ngo-cia Thian-it gadis ini kalah banyak dibanding Majikan Hutan Iblis yang memiliki beragam ilmu itu.

Untunglah dengan pagar sihir Put-gen-sin-hoat-sut lawan tak akan mampu menyerang dengan sihir lagi, sinar merah yang mengelilingi itu amat kuatnya. Namun karena ia kalah matang dan kalah pengalaman, betapapun itu adalah lawan yang hebat maka sedikit demi sedikit gadis ini terdesak dan bau mulut busuk yang dihembuskan lawannya itu mulai membuat ia goyah, terhuyung dan ditambah amis menyambar dari pukulan Tapak Hantu itu. Uap kehitaman di kedua lengan laki-laki ini juga mulai mengganggu pemandangan. Dan ketika gadis itu batuk-batuk dan sempoyongan ke sana ke mari akhirnya tak dapat dicegah lagi pukulan Mo-seng-ciang menghantam pundaknya, masuk dicelah-celah putaran cambuk yang lemah.

“Plak!”

Su Giok mengeluh. Ia merasa panas terbakar dan pundaknya kehitam-hitaman, rasa gatal mengganggu pula. Dan ketika ia terhuyung dan membentak serta coba membalas tiba-tiba senjatanya tertangkap dan laki-laki itu menariknya ke depan.

“Ke marilah!”

Pucatlah gadis ini. Ia kalah tenaga dan lawan memang hebat. Bentakan itu kembali menyemburkan bau busuk, mulut itu sungguh seperti bangkai. Dan ketika ia tak tahan dan merasa pusing, terbawa ke depan maka telapak lebar Majikan Hutan Iblis menyambutnya keji.

“Dess!” Terbantinglah gadis ini. Su Giok mengeluh dan melontarkan darah segar dan laki-laki itu tiba-tiba mengeluarkan kipas. Sambil tertawa mengejek ia mengejar gadis itu, kipas dilipat dan siap menotok ubun- ubun. Namun karena Sin Gak ada di situ dan tak mungkin membiarkan ini maka pemuda itu mendorong Kok Hu dan secepat kilat meloncat menangkis kipas maut itu.

“Jangan bunuh orang!”

Kipas terpental dan Su Giok jatuh terduduk. Gadis ini pucat dan memejamkan mata dan Majikan Hutan Iblis melotot lebar. Tentu saja ia marah. Dan ketika laki-laki itu membentak dan menyerang Sin Gak, kipas dan Mo-seng-ciang susul-menyusul maka Kok Hu tak tinggal diam dan menyambar pemuda ini, tertawa bergelak.

“Ha-ha, menjadi pahlawan. Bunuh dan robohkan pemuda ini, sute. Mari kita keroyok dia!”

Sin Gak berkelit dan menangkis. Ia mengerahkan Pek-mo-in-kangnya namun karena dari kiri kanan menghadapi dua lawan sekaligus iapun terpental dan terhuyung, Kok Hu tertawa-tawa dan mengejar lagi dan Majikan Hutan Iblis itupun mendesak dan menekan. Sin Gak kewalahan. Dan ketika ia kembali menerima pukulan dan terpelanting roboh maka raksasa mencabut gada hitamnya tertawa bergelak.

“Ha-Ha, sekarang kau mampus. Pecah kepalamu, Sin Gak. Terimalah ini... wuutttt!” gada berkesiur begitu dahsyat sementara kipas di tangan Majikan Hutan Iblis mencegah arah lari. Ke manapun Sin Gak mengelak ke situ pula ia disambut senjata, entah kipas atau gada. Dan ketika keadaannya benar-benar berbahaya dan sang ayah serta Han Han hendak melompat maju tiba-tiba Bi Hong dan Giok Cheng yang melihat itu berkelebat bersamaan menangkis dan menolong pemuda ini.

“Sin Gak!”

“Jahanam keparat!”

Dua senjata itu terpental dan Majikan Hutan Iblis serta raksasa tentu saja marah sekali. Mereka tak menyangka bahwa dua gadis yang sedang bertanding hebat itu tiba-tiba saja berhenti dan menolong Sin Gak, dua-duanya beradu cepat dan Bi Hong menangkis kipas. Dan ketika Sin Gak melompat bangun dan tertegun oleh pertolongan itu, Bi Hong dan Giok Cheng sudah menghadapi lawan-lawan mereka maka pemuda ini terharu dan berdesis. Giam Liong dan Han Han juga tertegun di bawah.

“Bi Hong, Giok Cheng, terima kasih. Akan tetapi biarlah kuhadapi laki-laki itu dan kalian bagian Kok Hu!”

“Tak apa.” Bi Hong lega sedikit gemetar. “Ini atau itu sama saja, Sin Gak. Dia atau Kok Hu sama-sama bagiku!”

“Tapi aku menghadapi jahanam ini. Aku tak dapat menyerang jahanam itu, Sin Gak, aku terikat perjanjian!" Giok Cheng berseru, menyerang dan berkelebatan mengelilingi Kok Hu dan cengkeraman atau tamparannya membuat sibuk.

Dan ketika si raksasa menjadi marah sementara Sin Gak mengangguk dan menghela napas tiba-tiba pemuda itu berkelebat mandorong Bi Hong “Dia bagianku, kau bantulah Giok Cheng. Satu di antara kita sudah terluka, Bi Hong, sekarang bahu-membahu dan kita basmi kejahatan. Berikan orang ini kepadaku!”

Bi Hong mula-mula enggan, Dia mengerutkan kening melihat pertandingan Giok Cheng, akan tetapi ketika gadis itu terpental dan gada menyambar-nyambar akhirnya seruan Sin Gak membuat ia menurut.

“Kita adalah orang-orang gagah. Membela kebenaran diatas segala-galanya, Bi Hong. Urusan pribadi harus dikesampingkan. Lihat manakah yang buruk Giok Cheng atau Kok Hu!”

Gadis itu bergerak. Memang harus diakui bahwa Kok Hu jauh lebih jahat dibanding Giok Cheng. Kalau mereka bermusuhan maka semata bersifat pribadi, sama-sama memperebutkan Sin Gak. Maka ketika ia membentak dan kebetulan saat itu Giok Cheng terpelanting menangkis gada maka tanpa banyak cakap gadis ini menampar raksasa muda itu.

“Kau pangecut dan curang seperti gurumu. Sekarang terimalah pukulanku, Kok Hu, kami akan menghajarmu sampai babak-belur!”

Si rakaasa berteriak. Kian-kun-siu, tamparan Sapu Jagad manyambar kepalanya, Meskipun ia kuat namun jari-jari lentik kecil halus itu penuh terisi sinkang. Kalau tidak kelenger tentu pusing, Maka ketika ia mengelak dan membanting tubuh bergulingan Giok Cheng diam-diam melirik saingannya ini dan tergetar mendengar kata-kata “kami”, berarti Bi Hong tak ragu bergabung dengannya dan iapun tak banyak cakap. Harus diakui bahwa sendirian saja menghadapi raksasa ini amatlah berat, ia sendiri merasa kalah seusap. Maka ketika Bi Hong membantu dan iapun sudah diselamatkan, Giok Cheng memekik dan menerjang raksasa ini maka Kok Hu kelabakan karena dikeroyok dua tentu saja ia merasa berat.

“He, curang dan licik. Tadi kalian bermusuhan, Giok Cheng, sekarang mengeroyok aku. Selesaikan dulu urusan kalian dan nanti baru aku!”

“Tutup mulutmu, kau tak boleh mengeroyok Sin Gak. Daripada begitu lebih baik hadapi kami, Kok Hu atau enyah dan pergi jauh-jauh jangan membantu siapapun!”

“Hoah, perempuan memerintah laki-laki. Siapa enyah dan pergi dari sini, Bi Hong. Kalau kalian mengeroyok akupun tak takut, mari maju dan kita bertempur seribu jurus!” raksasa itu menjadi marah dan iapun melayani dua gadis ini dengan sambaran gadanya yang menderu-deru. Gada meledak setiap ditangkis, terpental namun menyambar lagi namun karena Bi Hong memiliki Bu-bian-kang maka repotlah raksasa ini menyelamatkan diri. Berkali-kali gadis itu lenyap dan tahu-tahu muncul di belakangnya, menampar atau mengibas dan ia selalu terhuyung.

Untunglah Giok Cheng hanya memiliki Coan-po-ginkang yang setingkat di bawah Bu-bian-kang itu, sempat diikuti dan gadis ini menjadi incaran gadanya. Namun karena Bi Hong mengganggu dan berkelebatan ke sana-sini, kepalanya pening akhirnya raksasa ini berkaok-kaok dan bibirnya yang tebal digigit-gigit. Entah apa yang diucapkan raksasa inipun berkemak-kemik, tangannya digosok dan udara di Hutan Iblis berubah. Awan hitam melayang ringan, disusul oleh bunyi aneh dari dalam perutnya. Dan ketika mendung tebal menggantung di situ, angin dingin berkesiur disusul gemerisik pohon- pohon bambu maka terlihat kilauan cahaya di langit gelap gulita. Tempat itu tiba-tiba sudah menjadi hitam.

“Dar!”

Terkejutlah Han Han dan Giam Liong. Mereka yang menonton di bawah dan masih tak berani maju melihat kilauan petir di angkasa. Samar-samar tipis namun jelas sosok ini. Dan ketika Giam Liong terkejut mengenal itu, teringatlah dia pertandingan si Naga Berkabung dengan seorang raksasa tinggi hitam maka ia berseru,

“Mo-bin-jin!”

Han Han tersentak. Sahabatnya ini pernah bercerita sesuatu yang mirip dongeng, Cerita itu seakan mimpi besar yang tiada terkupas, sebuah perjalanan aneh ketika dulu Naga Pembunuh ini bertemu orang- orang sakti, tokoh Ngo-cia Thian-it. Maka ketika tiba-tiba sosok tinggi besar di angkasa itu semakin jelas, bentuknya seperti asap dan bergerak-gerak seperti melayang maka Kok Hu berteriak girang melihat sosok bayangan ini, hasil panggilannya lewat kekuatan batin.

“Suhu!”

Yang paling kaget tentu saja Giok Cheng dan Bi Hong. Mahluk tinggi besar hitam gelap itu yang muncul dan menyembul dari balik bongkah awan hitam mulai menampakkan dirinya semakin jelas. Mula- mula ia seakan melayang, turun dan perlahan-lahan mendekati Hutan Ibils. Tubuhnya seperti asap tipis namun kian lama kian tebal, jelas dan membentuk sosok raksasa setinggl bukit. Giok Cheng terpekik melihat itu. Dan ketika tiba-tiba sepasang taring mencuat keluar, bersamaan itu muncullah dua bola mata bagai api maka Kok Hu berteriak sekali lagi dengan seruan dahsyat.

“Suhu!”

Puncak Hutan Iblis tergetar. Bersamaan itu terdengar ledakan di atas pohon-pohon tinggi, angin bertiup dengan kencang dan mendadak Giam Liong serta lain-lainnya terlempar. Mereka terkejut dan berteriak tapi masing-masing membentur benda keras. Ju-hujin roboh dan pingsan.

Dan ketika Giam Liong juga mengeluh dan lupa-lupa ingat, antara sadar dan tidak maka Han Han dan Ju-taihiap sendiri mengalami nasib sama dan selanjutnya mereka seakan berada di dunia aneh di mana tubuh tak dapat digerakkan tapi mata mereka melihat jelas, bukan mata biasa melainkan mata-hati, mata sebuah roh dan saat itulah Hutan Iblis berderak-derak bagai dihempas badai.

Sosok hitam tinggi besar di langit itu telah turun, ia telah menginjakkan kakinya di Hutan Iblis. Dan ketika keberadaannya ini disertai angin ribut, pohon dan segalanya menderu kencang maka mahluk tinggi besar itu, Mo-bin-jin tiba-tiba mengembangkan kedua lengannya kedepan.

“Wuusshhhh!”

Bi Hong dan Giok Cheng terpelanting. Mereka terbelalak setelah mahluk ini berada di atas bumi dan siapa yang tidak ngeri melihat sosok tinggi besar itu. Wajahnya kehitaman dengan mata melotot lebar, hidungnya besar dengan bibir tebal seperti Kok Hu, pesek dan muka itu buruk serta amat menyeramkan. Giok Cheng sampai terpekik melihat ini. Tapi karena mahluk itu tak bicara sepatahpun dan rupanya ia tak mampu bicara, hanya menggerak-gerakkan kedua tangannya ke depan maka Kok Hu menyambut dan rupanya mengerti itu.

“Teecu datang, teecu mengerti. Maaf, suhu silakan masuk dan pakai tubuh teecu. Teecu tak mau kalah dengan dua gadis itu!" lalu ketika pemuda ini berlari dan melompat di dekat mahluk itu maka raksasa yang tampak kecil dibanding mahluk tinggi besar itu sudah berlutut di bawah kaki gurunya, memberikan ubun-ubun dan tiba-tiba...slap, seberkas cahaya hitam masuk.

Mahluk itu lenyap dan sebagai gantinya mencuatlah sepasang taring di tepi mulut pemuda ini. Sepasang matanya merah membakar seperti mahluk tinggi besar itu. Dan ketika Kok Hu bangkit dan memutar tubuhnya. Bi Hong dan Giok Cheng sudah meloncat bangun di sana maka dua gadis ini gentar karena yang mereka hadapi bukan lagi Kok Hu yang tadi melainkan seorang raksasa muda yang perbawanya menyeramkan. Asap atau bayang-bayang hitam terlihat jelas di punggung pemuda ini.

“Majulah!” raksasa itu membentak. “Kalian tahu rasa, Bi Hong sekarang aku akan membunuh kalian dan tak ada lagi yang mampu menyelamatkan!”

“Dia... dia mempergunakan Beng-hu-tai-swe. Ah, kita menghadapi paman guru sendiri, Giok Cheng. Kok Hu memanggil susiok Mo-bin-jin!” Bi Hong melempar tubuh ketika diterkam dan Giok Cheng kaget serta pucat.

Beng-hu-tai-swe adalah ilmu roh memanggil guru sendiri, mempersiapkan tubuh untuk dipakai dan Mo-bi-jin paman guru yang sakti itu telah berada di tubuh muridnya. Ilmu ini termasuk ilmu hitam dan Giok Cheng tentu saja ngeri sekali. Ia melempar tubuh ketika diterkam pula, gerakan tangan itu dahsyat sekali. Dan ketika Bi Hong juga terkejut dan pucat disambar lagi, kali ini melesat sinar kuning dari sepasang taring itu maka dua gadis ini jatuh bangun dan berteriaklah keduanya memanggil Sin Gak.

“Sin Gak...”

Pemuda itu terkejut. Saat itu dalam pertandingan amat cepat menghadapi Majikan Hutan Iblis ini Sin Gak mengerahkan seluruh kepandaiannya menghadapi lawan. Perlahan tetapi pasti ia menambah Pek-mo-in- kangnya, kabut atau uap dingin keluar dari sepasang lengannya. Dan ketika tubuhnya tiba-tiba juga mengeluarkan uap dan hawa kian dingin membeku maka Mo-seng-ciang tertahan dan laki-laki itu mendelik.

Sin Gak melihat mata mencorong berapi-api. Setelah dekat dan bertanding dengan lawan segera ia tahu bahwa Majikan Hutan Iblis ini mempergunakan topeng amat tipis menyembunyikan mukanya. Tiga kali mereka bertemu tenaga namun tiga kali itu pula masing-masing sama tergetar mundur, Majikan Hutan Iblis bahkan terhuyung. Dan ketika uap hitam di tangannya tertolak uap dingin di lengan Sin Gak, terdorong dan buyar maka laki-laki ini kagum akan tetapi dia tak mau sudah. Bentakan mulutnya yang busuk, yang tadi membuat Su Giok muntah ternyata ditiup balik oleh pemuda ini.

Sin Gak membalasnya dengan bentakan pula, mengeluarkan khikang atau hawa suara memukul balik bentakan lawan. Dan ketika pemuda ini enak saja dan tak terpengaruh, bau amis dari Mo-seng-ciang ditahan pemuda ini dengan mengerahkah pernapasan di perut maka lawan gagal mengacau pemuda itu dengan bau dan pukulan-pukulan amisnya.

Akan tetapi laki-laki ini tidak berhenti di situ saja. Kipas di tangan kanan yang kini bersiutan menyambar-nyambar melakukan totokan dan ketukan, kuku jarinya menjentik-jentik dan menyambarlah bubuk semut api ke wajah Sin Gak. Akan tetapi karena pemuda ini selalu waspada dan tak membiarkan itu, mengebut dan menolak maka serangan itu sia-sia sampai akhirnya keluarlah bentakan yang menggetarkan hutan.

“Kau tak dapat melawanku, aku Sang Naga Perkasa!”

Sin Gak terkejut. Ia melihat lawan lenyap menjadi naga, yang lidahnya menjulur berapi, ganas, dan membuka mulutnya akan tetapi untunglah dia telah melindungi diri dengan Pat-gen-sin-hoat-sut. Dengan ilmu ini ia membentak dan menghancurkan itu, lawan tampak seperti biasa dan lidah api ternyata daun kipas. Senjata itu dibuka dan menyambar kepalanya, orang lain akan melihatnya sebagai kepala seekor naga yang siap mencaplok dirinya. Akan tetapi karena dia balas membentak dan lengan kanan didorong menyambut itu maka... krak, kipas hancur tak kuat digencet dua tenaga sakti.

Majikan Hutan Iblis melengking lagi dan berkemak-kemik, Sin Gak melihat kesempatan dan melepas pukulannya. Akan tetapi ketika lawan tergetar dan terhuyung mundur, tubuh licin bagai belut maka Hek-be-kang atau ilmu Belut Hitam itu melindungi lawannya.

“Desss!”

Sin Gak membalik dan waspada akan serangan balasan. Benar saja lawan tersenyum dan tiba-tiba menyambar pinggangnya, mencengkeram dan menusuk dengan kuku yang beracun. Akan tetapi ketika ia menangkis dan menghalau cengkeraman itu maka Majikan Hutan Iblis selesai berkomat-kamit dan saat itulah ia tertawa aneh, berkelebat dan menghilang.

“Sekarang kau menghadapi ayahmu. Berlutut dan serahkan dirimu, Sin Gak. Jangan menjadi anak puthauw (tak berbakti)!”

Sin Gak terkejut. Ia membalik dan ayahnya, si lengan buntung menyambar mukanya. Hampir saja ia membiarkan itu kalau saja Pat-gen-sin-hoat-sut tidak bekerja melindunginya. Ketika jari-jari itu sudah dekat mendadak kuku-kuku merah tercium amis, itulah racun semut api yang menyentakkannya ke dalam kesadaran. Maka ketika ia berseru dan menangkis lagi, lawan, benar-benar penasaran akhirnya Majikan Hutan Iblis berkelebatan membaca mantra-mantra.

Kipas sudah rusak akan tetapi gagangnya masih dipegang, naik turun dengan pukulan-pukulan Mo-seng-ciang dan uap hitam menggelapkan pandangan. Untunglah berkat Pek-mo-in-kang Sin Gak benar-benar memiliki pertahanan kokoh. Ia menghalau dan mendorong semua pukulan-pukulan lawan. Namun ketika bayangan hitam berubah menjadi biru, kian lama kian jelas hingga akhirnya muncullah sosok tubuh yang lain maka Sin Gak kaget setengah mati karena Te-gak Mo-ki, paman gurunya berada di situ. Sambil berpusing kiranya Majikan Hutan Iblis ini memanggil gurunya.

“Sam-susiok!”

Sin Gak terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Meskipun seumur hidup belum pernah dia bertemu muka akan tetapi ciri-ciri dan watak serta gambaran susioknya ini jelas sekali. Te-gak Mo-ki adalah seorang laki-laki tampan berwajah kewanita-wanitaan, pakaiannya biru bersulam emas dan kipas di tangan adalah ciri yang lebih khusus lagi. Pria ini seperti siucai (sastrawan). Maka ketika ia tersentak dan kaget bukan main, di hadapannya bukan lagi lawannya itu melainkan Te-gak Mo-ki paman gurunya maka terkekehlah laki-laki itu menudingkan telunjuk.

“Bagus, kau mengenalku. Berlutut dan mintalah ampun, Sin Gak, atau aku membunuhmu!”

Sin Gak membelalakkan mata. Dari ujung jari itu meluncur sinar merah dan It-yang-ci, totokan satu jari menyambar dahinya. Ia masih bengong dan kaget melihat itu, mengelakpun mungkin percuma. Tapi ketika ia terbelalak dan bengong di tempat, perubahan ujud itu mengguncangkan batinnya maka sebuah angin kuat menyambar dari samping dan ia terbanting serta terlempar tepat ketika totokan It-yang-ci hampir mengenai dahinya.

“Crit!” pohon di belakang pemuda ini roboh. Bersamaan itu terdengar kekeh nyaring dan sesosok asap putih membentuk bayangan seorang kakek berada di belakangnya, bergoyang-goyang. Sin Gak menoleh dan kaget melihat gurunya, Sian-eng-jin tahu-tahu berdiri di situ. Gurunya ini merupakan mahluk halus dan melayang-layang di atas tanah, terkekeh dan menghadapi Te-gak Mo-ki yang memasuki tubuh muridnya. Dan ketika si banci itu tertegun namun tertawa aneh, berkelebat dan menerjang ke depan tahu-tahu ia menyerang Sin Gak lagi dengan dua totokan sekaligus.

“Bagus, kita bertemu lagi. Mari adu cepat, Sian-eng-jin, kau atau muridmu roboh!”

Sin Gak seakan terhipnotis. Gurunya yang sakti ini, juga Te-gak Mo-ki yang kabarnya tidak menginjak dunia lagi itu tiba-tiba saja muncul dan mengguncangkan hatinya. Saat itu ia masih terbelalak dan begitu bingung oleh perubahan cepat ini. Ia masih terguncang oleh hadirnya paman gurunya ketiga itu, tokoh yang seharusnya tidak berada di dunia lagi. Namun ketika ia teringat Beng-jong-kwi-kang dan betapa Majikan Hutan Iblis memiliki itu, memanggil dan dimasuki roh gurunya maka iapun sadar bahwa yang halus bisa memasuki badan kasar.

“Plak-dukk!”

Ia terbanting dan terlempar. Gurunya, Sian-eng-jin menghembusnya dengan pukulan sakti. Sin Gak bergulingan. Dan ketika ia meloncat bangun mendengar seruan gurunya maka ia diminta untuk membuka jalan darah Tai-we-hiat di telinga kiri.

“Lawanmu curang, memanggil gurunya. Buka jalan darah Tai-we-hiat di telinga kirimu, Sin Gak, biarkan aku masuk!”

Pemuda ini berdebar. Ia menotok dan membuka jalan darah itu, gurunya melesat dan... wushh, lenyap memasuki telinga kirinya. Dan ketika ia tergetar dan seakan disentakkan, sesuatu memasuki tubuhnya mendadak tanpa dikehendaki sendiri tubuhnya bergerak-gerak melayani Te-gak Mo-ki. Sin Gak hendak berteriak akan tetapi gagu. Roh gurunya telah memasuki tubuhnya dan untuk sementara ini badan kasarnya dipergunakan orang lain.

“Heh-heh!” orang akan seram mendengar Sin Gak tertawa seperti itu, tawa kakek-kakek. “Kini kau dan aku sama-sama mempergunakan murid sendiri, Te-gak Mo-ki, tua sama tua dan jangan berbuat curang. Kita tentukan pertandingan kali ini dan selanjutnya kita bukan di bumi lagi.”

“Keparat , kau selalu mengikutiku. Sebagai saudara muda seharusnya kau tahu diri, Sian-eng-jin. Berani kepada yang tua berarti kena kutuk!”

“Heh-heh, kutuk tak akan jatuh kepada kebenaran. Aku melihat cahayamu, Mo-ki, dan di sini kau berhenti. Kiranya kau membantu muridmu menyebar kejahatan. Sekarang aku tak akan diam lagi dan mati hidup ditentukan di sini!”

“Bagus, kita selamanya setingkat. Jangan omong besar dan mari buktikan siapa yang unggul!” dua orang itu lenyap dan bayangan biru serta putih saling berkelebatan dengan amat cepatnya. Begitu cepatnya hingga Sin Gak pusing sendiri. Ia bergerak dan digerakkan oleh roh gurunya.

Dan ketika Te-gak Mo-ki menambah kecepatannya akan tetapi gurunya memiliki ginkang Bayangan Dewa maka dengan ilmu ini mereka bertempur dan Te-gak Mo-ki berkali-kali mendesis akan tetapi juga terkekeh. Menyeramkan sekali kekehnya itu karena tawa ini mirip tangis atau jerit gemas, kadang-kadang begitu genit namun tak jarang pula serak-parau, melengking dan membentak-bentak dan lenyaplah dua orang sakti ini bertempur hebat. Masing-masing mempergunakan wadag muridnya untuk melampiaskan kemarahan dan kebencian.

Namun karena Sin Gak dimasuki secara wajar sementara lawan mempergunakan Beng-jong-kwi-kang (Tenaga Setan Penembus Roh) untuk menambah kekuatan maka di pihak Majikan Hutan Iblis sebenarnya terjadi kerugian karena sukma serta raganya benar-benar menyatu dengan roh yang dipanggil. Sekali ia roboh maka bukan hanya Te-gak Mo-ki yang harus meninggalkan badan kasar melainkan Majikan Hutan Iblis itu juga, lain dengan Sin Gak di mana kalau gurunya kalah maka sukma gurunya itulah yang akan meninggalkan dirinya. Dengan lain kata roh Sian-eng-jin tak menyatu dengan roh pemuda ini, sukma Sin Gak dibiarkan “tidur” diam.

Maka ketika mereka bertanding sengit dan mulailah kesaktian atau ilmu-ilmu tingkat tinggi dikeluarkan masing-masing pihak maka di sana Giok Cheng dan Bi Hong memanggil pemuda itu ketika terkejut melihat lawan mereka berganti ujud. Kok Hu memiliki sepasang taring panjang yang mencuatkan sinar-sinar. Sin-ci-beng.

Akan tetapi Sin Gak tak dapat berbuat apa-apa. Diapun tak tahu betapa Mo-bin-jin, paman gurunya kedua dipanggil Kok Hu lewat kemak-kemik mantra hitam. Sama seperti Majikan Hutan Iblis raksasa itupun mempergunakan Beng-jong kwi-kang, memanggil dan akhirnya menyatu dengan roh gurunya. Namun ketika ia menyergap gadis-gadis itu dan Bi Hong maupun Giok Cheng jatuh bangun jungkir balik maka melesat dua sinar di angkasa, membelah bongkahan awan hitam menuju ke tempat pertandingan ini.

“Mo-bin-jin, jangan serang muridku. Beraninya hanya terhadap anak kecil!”

“Subo!” Giok Cheng terkejut, melihat bayangan hitam menyambar. “Ah, dia ini hebat sekali, subo. Lawanku bukan Kok Hu yang tadi!”

“Perlihatkan pusarmu, buka jalan darah Yu-seng-hiat. Biarkan aku masuk ke situ, Giok Cheng, kuhajar jahanam ini...plak-bresss!”

Giok Cheng terguling-guling, terlempar oleh angin pukulan kuat dan subonya membentak agar ia cepat membuka jalan darah Yu-seng-hiat. Jalan darah ini di pusar, mana mungkin ia membuka daerah itu di depan banyak orang. Tapi ketika ia terbanting dan terlempar lagi, sang subo membentak akhirnya gadis ini merobek baju bawahnya dan tanpa banyak cakap ia menotok Yu-seng- hiat tanpa malu-malu lagi.

“Slap!” Bayangan atau sosok sinar hitam lenyap memasuki tempat itu. Sedetik gadis ini menegang dan terkejut, tubuhnya bagai dimasuki aliran listrik tinggi. Namun ketika ia terhuyung dan tegak lagi, terkekeh maka Giok Cheng telah berubah menjadi nenek Hek-i Hong-li, hanya wajahnya saja masih gadis karena roh gurunya tidak menyatu dengan rohnya sendiri, sama seperti Sin Gak disana.

“Heh-heh, tua sama tua. Kau atau aku mampus, suheng. Berani benar kau menyerang muridku....cringg-cranggg!” gada bertemu ikat pinggang hitam dan meledaklah benda lemas yang sudah kaku terisi sinkang itu.

Giok Cheng sudah menjadi Hek-i Hong-li, garang dan pemarah. Dan ketika lawan terhuyung dan membentak serta memaki maka sinar lain yang melesat di belakang nenek itu berhenti di depan Ju-taihiap dan Naga Pembunuh. Dua orang ini masih sama-sama seperti mimpi dan entah sadar atau tidak...

Tapak Tangan Hantu Jilid 34

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 34
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
DUA orang itu pucat. Han Han dan Giam Liong melihat betapa putera-puteri mereka bertanding dahsyat di puncak Hutan Iblis. Pohon-pohon tinggi menjadi pijakan mereka dan di situlah kaki mereka bergerak naik turun, sebentar seperti belalang meloncat-loncat tapi tak jarang pula menyambar dan bergerak bagai burung besar.

Kaki mereka seakan tak menginjak pucuk dedaunan karena setiap menyentuh sudah melompat lagi, berkelebatan, cepat dan luar biasa hingga tubuh mereka lenyap menjadi bayang-bayang putih hitam dan merah hijau. Tepukan atau ledakan asap hitam menggelegar dahsyat menggetarkan seluruh isi hutan.

Dua pendekar ini mencoba bergerak maju akan tetapi tertahan. Di depan mereka seakan menghembus tembok tenaga yang amat kuat, begitu kuat hingga menyesakkan napas, Dan ketika dua orang ini tertegun dan terkejut bukan main, hawa pukulan di atas hutan menyambar mereka maka Han Han duduk bersila dan Giam Liong mengikuti pula, cepat mengerahkan sinkang menahan gelombang dahsyat itu.

“Pertandingan itu terasa sampai sini. Kita tak dapat maju kalau angin pukulan kuat itu tak berkurang, Giam Liong, satu-satunya jalan berhenti dan menonton dari sini.”

“Ya, dadaku ampeg. Angin pukulan itu kuat sekali dan kita akan celaka kalau menerjang. Bersila dan kerahkan tenaga sakti, Han Han, lindungi isterimu karena ia pucat!”

Han Han terkejut. Sang isteri bergoyang-goyang dan akhirnya roboh. Lengking dan pekik dahsyat itu semakin menjadi-jadi, telinga dan jantung bergetar hebat. Dan ketika ia mundur dan menahan isterinya, ternyata sudah pingsan maka Han Han berjengit ketika ledakan bagai petir meledak seakan di sisi telinganya.

“Dar!”

Cepat pendekar ini menghimpun tenaga sakti. Ia menutup kedua telinga dan memusatkan semua perhatian ke titik samadhi. Pori-pori dan lubang lain ditutup. Lalu ketika pendekar ini berhasil menenangkan hatinya dan tubuh tidak bergoyang-goyang lagi maka pertandingan di atas Hutan Iblis itu “dilihat” melalui mata batinnya. Han Han tertegun. Di atas pepohonan tak jauh dari pohon yang paling tinggi berkelebat enam bayangan yang bergerak amat cepat.

Hanya dengan mata batin ia dapat mengikuti mereka itu, dengan mata biasa tentu pusing. Dan ketika ia melihat betapa dua di antara enam bayangan itu beterbangan menangkis dan mengelak empat bayangan yang lain maka pendekar ini mengeluh karena Giok Cheng, puterinya mengeroyok Bi Hong dengan pemuda tinggi besar yang lebih mirip raksasa muda dengan hidung pesek dan bibir tebal.

“Thai Bang Kok Hu...!” Han Han teringat cerita Giam Liong akan raksasa muda itu. Ia berkerut kening memperhatikan raksasa ini dan mukanya tiba-tiba gelap. Wajah yang kasar dan mata yang melotot lebar itu cukup jelas membayangkan watak pemiliknya. Serangan-serangannya kasar dan buas, sepak terjangnya liar akan tetapi harus diakui dahsyat dan berbahaya sekali. Pukulannya menderukan angin kuat. Dan ketika raksasa itu tergelak-gelak dengan suaranya yang menggetarkan hutan, kasar dan buas maka Han Han maklum bahwa pemuda ini memang pantas sebagai pemuda urakan tapi lihai bukan main.

“Giok Cheng!” tiba-tiba pendekar itu membentak. “Siapa kawanmu yang buruk itu. Tak pantas kau bersahabat!”

“Dan kau,” Giam Liong tiba-tiba juga mengeluarkan suaranya yang kuat berpengaruh, menembus segala angin pukulan bersiutan. “Tak pantas bergabung dengan Majikan Hutan Iblis, Su Giok. Ingat betapa kedua orang tuamu dibunuh!”

Gadis-gadis itu terkejut. Giok Cheng, yang menyambar-nyambar dan beringas menyerang Bi Hong rupanya tak tahu bahwa sang ayah tiba-tiba ada di situ. Dia asyik sekali menerjang lawannya ini, dibantu Thai Bang Kok Hu. Maka ketika suara ayahnya menggetarkan tempat itu sampai di atas, terbelalaklah dia maka tiba-tiba serangannya agak mengendor namun saat itu si raksasa berseru menggetarkan menindih suara Han Han.

“Hei, tak perlu perhatikan yang lain. Serang dan robohkan gadis ini, sumoi, lalu pemuda itu. Jangan kendor dan hiraukan yang lain-lain!”

Akan tetapi gadis baju hijau ini terlanjur terkejut. Ia mengurangi serangan-serangannya kepada Bi Hong dan gadis itu bernapas lega. Tekanan dua orang ini berat sekali dan hanya karena Bu-bian-kangnya ia mampu mengelak dan menghindar. Kian-kun-siu, kibasan Sapu Jagadnya terpental. Dua lawan memang lebih kuat daripada seorang. Maka ketika gadis itu mundur memanggil ayahnya, di saat yang sama Su Giok juga tertegun oleh seruan Giam Liong maka gadis ini terbelalak mengendorkan tekanannya terhadap Sin Gak.

“Heh!” Majikan Hutan Iblis tiba-tiba mengebut dan mendorong. “Suara orang lain jangan didengarkan, Su Giok. Robohkan dulu pemuda ini baru yang lain belakangan!”

Akan tetapi gadis itu termakan. Semula ia begitu gencar dan gigih menyerang Sin Gak. Rasa penasarannya membuat ia tak mau sudah. Tapi ketika Giam Liong mengingatkan itu dan kematian ayah ibunya terbayang di depan mata tiba-tiba gadis ini membalik dan.... iapun membentak laki-laki berjubah hitam itu.

“Benar, kau berhutang jiwa keluargaku. Seharusnya aku berurusan dahulu denganmu, manusia jahanam. Buka kedokmu dan perlihatkan mukamu!”

Laki-laki itu terkejut. Ia yang semula menekan dan mendesak Sin Gak tiba-tiba menghadapi pukulan Su Giok. Gadis baju merah itu menyerangnya dengan Toat-beng-liong-jiauw-kang (Kuku Naga Pencabut Nyawa), cepat dan tak diduga karena mereka semula berdampingan. Maka ketika sepuluh jari itu menyentuh mukanya dan ia mengelak serta menangkis selanjutnya gadis ini menyerangnya dan sudah melepas cengkeraman atau guratan yang semuanya amat berbahaya dan memecah konsentrasinya.

“Keparat!” laki-laki itu membentak. “Urusan kita diurus belakangan, Su Giok, pemuda ini lebih berbahaya dibanding lain-lainnya. Jangan ngimpi dengan membunuhku cintamu akan diterima Giam Liong, ayah dan anak sama-sama mempermainkan wanita!”

Gadis itu terkejut. Sejenak ia mengendorkan serangan dan mukanya berubah, hasutan itu rupanya termakan. Namun ketika Giam Liong berseru bahwa urusan pribadi kalah oleh urusan yang lebih besar maka gadis itu terguncang lagi.

“Kematian ayah ibumu jauh lebih hebat. Tak ada gunanya menyenangkan diri sendiri kalau arwah orang tuamu masih penasaran di sana, Su Giok. Tindas kepentingan pribadi dan utamakan baktimu kepada ayah ibumu!”

Gadis itu membentak lagi. Tiba-tiba ia menerjang lebih sengit, dan kali ini kemarahan dan kebenciannya benar-benar meledak. Omongan Giam Liong menusuk perasaannya daripada omongan laki-laki berjubah hitam itu. Maka ketika ia melengking dan berkelebat menyerang lawannya, sepuluh jarinya mencuatkan kuku panjang maka Majikan Hutan Iblis menggeram dan tiba-tiba mengebutkan lengannya ke arah Giam Liong menonton. Percik-percik merah rmenyambar si buntung itu amat ganasnya, Ang-su-giat (Semut Merah Beracun).

“Awas, ayah!”

Giam Liong tak mungkin menyelamatkan diri dari serbuan ratusan semut-semut api ini. Binatang itu dikebut dari sebuah kantung dan melayang bagai pernik-pernik gemerlapan. Tubuhnya tertimpa cahaya matahari dan indah menyilaukan. Namun karena di balik keindahan ini terdapat maut yang amat mengerikan, Sin Gak berseru sambil mengebutkan lengannya pula maka sekelompok semut-semut itu dihembus dan hancur menghantam pohon di sebelah pendekar buntung ini.

“Wuutttt!” sisa hawa panas masih dirasakan pendekar itu. Giam Liong berdesis mengusap keringat dan biarpun ia dapat menghindarkan diri namun tak mungkin semua itu dielak. Seekor dua Ang-su-giat pasti mengenai tubuhnya. Maka ketika ia menggigil namun marah bukan main, betapapun ia tak takut sedikitpun maka di sana Su Giok sudah berkelebatan menyerang lawannya tak menghiraukan lagi bujukan atau hasutan.

Gadis ini benar-benar membayangkan kematian ayah ibunya yang amat mengerikan. Majikan Hutan Iblis itulah pembunuhnya. Maka ketika ia melengking dan terus melepas cengkeraman dan guratan, sementara di sana Sin Gak bernapas lega maka Bi Hong berhadapan satu lawan satu dengan sutenya yang amat lihai itu, murid Mo-bin-jin yang sepak terjangnya buas dan liar.

“Plak-dukk!” pukulan gadis itu melenceng bertemu Hek-be-kang. Ilmu Belut Hitam yang dipunyai lawannya ini membuat raksasa muda itu terkekeh-kekeh. Namun ketika membalas dan bertemu Kim-kong-ciok (Ilmu Arca Emas) maka tubuh gadis itupun tak bergeming dan Bi Hong tertawa mengejek.

“Hm, pukulanmu kurang kuat. Ayo serang lebih hebat, Kok Hu, mana kekuatanmu!”

Raksasa ini menggeram. Akhirnya ia membalas dan menyerang lagi namun gadis itu berkelebat mengandalkan Bu-bian-kangnya. Ilmu Tanpa Bobot ini benar-benar luar biasa hingga gadis cantik itu lenyap, tahu-tahu muncul di belakang tengkuknya dan menyambarlah tamparan amat kuat. Namun ketika Bi Hong mendesis bertemu Hek-be-kang itu, mental maka lawan ganti mengejek dengan tawa bergelak. Selanjutnya mereka bertanding lagi, sementara Giok Cheng melayang turun menghadapi ayahnya. 

Di sini sang ibu siuman dan kontan nyonya itu membentak puterinya kenapa tidak menyerang Majikan Hutan Iblis itu. Dan ketika Giok Cheng tertegun bahwa kakeknya tertawan, laki-laki itulah penangkapnya maka gadis ini menjadi merah dan sang ibu menudingkan telunjuknya.

“Lihat, jahanam itu sudah di situ. Apalagi yang kau tunggu, Giok Cheng, hajar dan robohkan dia. Rampas kembali kakekmu!”

“Tapi.... tapi Bi Hong!”

Sang ibu tertegun, kening berkerut. Akan. tetapi sebelum bicara maka Han Han maju dengan sikap keren, kewibawaannya sebagai ayah tampak. “Giok Cheng, Bi Hong adalah urusan yang lain lagi, keselamatan kakekmu lebih penting. Kalau kau mendahulukan kepentingan pribadi melupakan kakekmu maka kau bukan seorang anak yang baik. Kami bukan lawannya, kaulah tandingannya dan rampas kembali kakekmu, atau aku tak akan mengampunimu karena ini dosa besar yang tak dapat diterima lagi.”

“Baik!” gadis itu melompat, tahu-tahu terbang ke atas pucuk-pucuk daun itu. “Akan kuhajar dan kuminta kakekku sekarang, ayah. Biarlah urusan Bi Hong diselesaikan nanti!”

Yang berubah tentu saja Majikan Hutan Iblis itu. Setelah Su Giok menyerangnya dan iapun harus mengelak dan menangkis pukulan Sin Gak maka ia terdesak dan tertekan hebat. Giok Cheng tiba-tiba menyambar maju, siapa tidak kaget. Maka ketika ia berteriak mendapat pukulan muka belakang, juga kiri dan kanan maka laki-laki itu terbanting dan terhempas jatuh kebawah.

“Desss!”

Giok Cheng dan sucinya mengejar. Sin Gak tertegun dan tentu saja menarik pukulannya, bukan maksudnya untuk mengeroyok dan menekan lawan yang tidak kuat. Tapi ketika ia mengerutkan kening melihat jatuhnya lawan tiba-tiba Majikan Hutan Iblis itu membentak,

“Giok Cheng, Su Giok, kalian jangan main-main kepadaku. Aku menawan Pek-jit-kiam Ju-taihiap, kalau kalian mengeroyokku aku akan membunuhnya!”

“Jangan banyak cakap!” Giok Cheng membentak dan mencabut ikat pinggangnya, meledak dan menyambar telinga kiri lawan. "kau mengganggu kakekku maka aku siap mengadu jiwa, manusia busuk. Serahkan dia kepadaku dan kau kuampuni!”

“Hm, kau sumoiku, yang muda harus turut yang tua. Aku tak mengganggu sama sekali kakekmu, Giok Cheng, membawanya hanya sekedar untuk menundukkan kekerasan hatimu. Kalau kau mau membantu aku dan merobohkan dua anak muda itu maka kakekmu bebas!”

“Dan bagaimana dengan hutang jiwa keluargaku!” Su Giok mencelat dan menyambar muka Majikan Hutan Iblis, sepuluh kukunya menggurat panjang. “Kalau kau dapat mengembalikan mereka akupun mau mengampuni nyawamu, manusia busuk. Tapi bagaimana sekarang mampukah kau mengembalikan mereka!”

“Tunggu... bret!” laki-laki ini mengelak, kancing bajunya terbabat. “Urusan itu mudah, Su Giok. Aku siap mengembalikan mereka asal kau membantuku dulu membunuh anak-anak muda ini. Mereka lebih berbahaya!”

“Omongan bohong!” gadis itu melesat dan menyambar lagi. “Yang mati tak mungkin hidup, jahanam keparat, kecuali kau menyusul mereka di alam baka... bret-plak!”

Lawan menangkis dan gadis ini terpental sementara Majikan Hutan Iblis tiba-tiba berkemak-kemik. Entah apa yang dikehendaki mendadak saja ia berseru melontarkan sesuatu ke atas. Segumpal asap hitam meledak. Dan ketika ia membentak bahwa ayah ibu gadis itu ada di situ, hidup tiba-tiba Su Giok menghentikan serangan dan menjerit.

“Lihat, mereka ada di sini. Nah, aku mengembalikannya kepadamu, Su Giok, bantu aku dan kita robohkan pemuda dan gadis itu!”

Bukan hanya Su Giok, Giok Cheng dan Han Han serta Giam Liong dan Ju-hujin juga terkejut. Mereka melihat di angkasa tiba-tiba muncullah sepasang lelaki perempuan melambai kepada Su Giok. Itulah suami isteri Su Tong dan Bhi Li, sepasang pendekar yang dulu menjadi sahabat mereka ayah ibu Su Giok. Tapi ketika terdengar lengking tinggi membuyarkan asap hitam, pekik atau suara Sin Gak yang mengandung tenaga sakti maka pemuda itu mengebut seraya membentak,

“Bohong, itu hanya sihir. Lihat tak ada apa-apa di sini kecuali sepasang daun itu, enci Giok, jangan terkecoh dan mau ditipu!”

Lenyaplah bayangan lelaki perempuan itu. Sebagai gantinya dua daun kering melayang-layang jatuh ke tanah, hangus. Lalu ketika gadis itu membentak dan marah sekali maka laki-laki jubah hitam itu mendelik kepada Sin Gak.

“Keparat, jahanam kau, Sin Gak, menyusullah ibumu!”

Sin Gak mengelak ketika sekantung semut api berhamburan menyambarnya. Ia mengebut dan menghancurkan semut-semut itu. Dan ketika Su Giok melayang dan menerjang lagi maka Giok Cheng juga menyambar dan berkelebat marah.

“Penipu, licik dan curang. Sekarang kami tak mempercayaimu, manusia busuk, serahkan kakekku atau aku mengadu jiwa denganmu!”

Laki-laki itu berkelit dan membalas. Sin Gak memandang sekejap lalu melompat ke arah Bi Hong. Dan ketika Thai Bang Kok Hu terkejut melihat majunya pemuda ini maka Bi Hong menjadi girang.

“Sin Gak, jahanam ini mengandalkan Hek-be-kangnya.. Coba kau berikan Pek-mo-in-kangmu dan aku menghajarnya dengan tamparan-tamparanku!”

Sin Gak mengangguk. Ia berkelebat dan hawa dinginpun meluncur, kedua tangan mendorong dan bekulah udara oleh Pek-mo-in-kang yang amat kuat. Thai Bang Kok Hu menggigil, bajunya berkeriput-keriput. Lalu ketika ia terkejut, keringatnya beku maka Hek-be-kang tiba-tiba kosong tak dapat dipakai lagi.

“Des-plak!”

Tengkuk dan pundaknya tertampar. Raksasa ini terpelanting dan berteriak, kulitnya tak dapat licin lagi dibekukan Pek-mo-in-kang itu. Dan ketika ia bergulingan melempar tubuh ke sana-sini maka Bi Hong terkekeh-kekeh mengejarnya. Si raksasa memaki-maki.

“Heh, curang, licik. Kalian beraninya mengeroyok aku, Bi Hong. Coba satu lawan satu!”

“Hm, akal busuk. Tadi kau mengeroyokku diam saja, Kok Hu, sekarang berkaok-kaok kayak ayam kehilangan induknya. Hayo terima pukulanku dan tunjukkan kelicinan tubuhmu itu... bak-bukk!"

Bi Hong melepaskan tamparannya dan raksasa ini bergulingan memaki-maki. Tamparan gadis itu tidak membuatnya roboh akan tetapi membuat kulit tubuhnya pedas dan sakit-sakit. Ia memiliki kekebalan namun tertembus juga, betapapun sinkang yang dimiliki gadis itu cukup kuat dan tak jauh dengan sinkangnya sendiri. Maka ketika Sin Gak mengejarnya juga dan mendesak raksasa ini, Sin Gak lega bahwa Su Giok dan Giok Cheng tak mengeroyoknya lagi maka pertandingan berubah dengan pihak Majikan Hutan Iblis menghadapi mereka berempat.

Akan tetapi itu tidak lama. Majikan Hutan Iblis yang gusar dikeroyok dua tiba-tiba berkelebat menghilang, ia menyelinap dan memasuki semak-semak belukar. Dan ketika Su Giok maupun Giok Cheng mengejarnya tak mau sudah, membentak maka tiba-tiba lelaki itu muncul lagi dengan mencengkeram seseorang sambil tertawa dingin.

“Bagus, pukullah orang ini dan aku akan memakainya sebagai tameng!”

Giok Cheng menjerit. Ju-taihiap kakeknya tiba-tiba diputar tangan laki-laki itu menangkis pukulan mereka. Tentu saja ia berteriak menarik pukulan. Tapi ketika sucinya terlanjur menusuk dan Toat-beng- liong-jiauw-kang mengenai kaki, untunglah sebagian dari tenaga sudah dihilangkan maka Ju-taihiap mengeluh dan gadis baju merah itu terpekik menarik serangannya.

“Ha-ha!” Majikan Hutan Iblis tertawa-tawa. “Ayo serang dan desak aku, anak-anak. Bunuh orang ini dan kalian jangan menyalahkan aku!”

“Terkutuk, curang!” Giok Cheng menjerit. “Lepaskan kakekku, manusia siluman. Mari bertempur secara jantan!”

“Hm, kalian sendiri tak jantan. Kau mengeroyokku, Giok Cheng, merusak persahabatan. Aku membebaskan kakekmu asal kau membantu aku menghadapi muda-mudi itu. Ingat, Bi Hong musuhmu. Ia merebut kekasihmu Sin Gak!”

Gadis ini terbakar. Omongan ini memang tajam akan tetapi Giok Cheng masih ingat diri, diserangnya itu. Akan tetapi ketika tubuh kakeknya dipakai menangkis dan ia menjerit menarik serangan maka laki-laki itu terkekeh dan Giok Chengpun bingung.

“Serang, ayo serang lagi. Hajar dan bunuh kakekmu ini, Giok Cheng, perbuatanmu lebih jahat daripada aku!”

Gadis itu melengking-lengking. Akhirnya ia berkelebatan dan mengitari laki-laki ini sampai akhirnya bujukan atau kata-kata lawannya memerahkan telinga. Ia mulai digosok dan dihasut tentang Bi Hong. Dan ketika di sana Bi Hong begitu mesra mendampingi Sin Gak, terkekeh dan mengejek Kok Hu tiba-tiba lelaki itu berkata terakhir kalinya. Ju-taihiap tertotok, urat gagunya dilumpuhkan.

“Aku tak berkepentingan dengan kakekmu, hanya janjimu. Nah, ia akan kubebaskan asal kau hadapi gadis itu bukan sebagai membantu Kok Hu melainkan semata menukar tawanan ini. Jangan hadapi aku dan hadapilah musuh utamamu itu. Jangan biarkan ia bermesraan dengan Sin Gak, setuju atau tidak.”

Giok Cheng merah padam melihat kenyataan itu. Kalau saja Bi Hong tak terkekeh-kekeh dan begitu mesra didekat Sin Gak barangkali hatinya tak begitu panas terbakar. Ditambah omongan dan ajakan ini tiba- tiba saja ia melengking, Dan ketika ia mengangguk dan laki-laki itu tertawa aneh, sekali lagi minta ketegasan maka Giok Cheng hilang kejernihannya dibakar cemburu.

“Baik, lepaskan kakekku. Aku akan menghadapi Bi Hong. Sekarang jangan banyak bicara atau aku membunuhmu!”

“Wut!” bersamaan itu Ju-taihiap dibebaskan, langsung ditangkap gadis ini. “Kau sudah berjanji, Giok Cheng, seumur hidup tak boleh ditarik lagi. Terimalah kakekmu dan jangan ganggu aku!”

Su Giok terkejut. Ia membentak mencegah sumoinya akan tetapi gadis itu telah terbang menyambar Bi Hong. Giok Cheng berteriak kepada ayahnya untuk menerima kakeknya itu. Dan ketika Han Han tertegun menerima ayahnya, Giok Cheng melengking dan menerjang Bi Hong maka gadis itu berkata bahwa ia telah membebaskan kakeknya.

“Sekarang ayah jangan menghalangi aku, kong-kong telah kuselamatkan. Aku akan membuat perhitungan dengan gadis itu dan jangan aku diganggu!”

Bi Hong tentu saja terkejut. Ia sedang enak-enaknya mempermainkan Thai Bang Kok Hu, raksasa itu jungkir balik menerima pukulannya. Maka ketika Giok Cheng tiba-tiba menyambar dan tanpa ba-bi-bu lagi menerjang dan membentaknya kontan iapun terkejut dan kaget. “Heii,apaini plak-dukk!” dua lengan bertemu sama kuat dan masing-masing pemiliknya terpental dan terhuyung. Lengan-lengan halus itu sama-sama terisi tenaga sinkang. Tapi ketika Giok Cheng melotot dan menerjang lagi maka gadis ini menggirangkan Thai Bang Kok Hu yang merasa mendapat bala bantuan.

“Ha-ha, bagus. Begitu seharusnya, sumoiku yang manis. Kau membantuku dan kita beradu punggung layani lawan-lawan kita ini.”

“Tutup mulutmu, aku tak membantumu. Aku menghadapi lawanku semata sebagai penukar kakekku, Thai Bang Kok Hu, jangan bicara macam-macam atau nanti aku menyerangmu!”

“Weh?!” si raksasa terbelalak. “Begitu kiranya? Yu-sute membebaskan kakekmu? Bagus, ha-ha, sama saja. Sekarang lawan kita seorang lawan seorang, sumoi, Bi Hong atau Sin Gak sama saja. Heh, ayo maju dan kita bertanding lagi!” raksasa itu meloncat dan tangannya menderu menyambar Sin Gak.

Pemuda ini terkejut dan sedang mengerutkan keningnya melihat Giok Cheng menyerang Bi Hong. Tak ada lagi yang mampu mencegah mereka. Tapi ketika ia menangkis dan berkelebat marah tiba-tiba pemuda ini menyambar Giok Cheng berseru pada Bi Hong,

“Hong-moi, kita bertukar lawan. Serahkan dia kepadaku dan kau hadapilah Kok Hu!”

Kejadian berlangsung cepat. Sin Gak mendorong dan menarik Bi Hong sementara tangannya yang lain menangkis pukulan Giok Cheng. Gadis itu terpental. Dan ketika Giok Cheng membelalakkan mata melihat Sin Gak melindungi Bi Hong tiba-tiba ia menjadi kalap dan berseru melengking, panas hatinya.

“Bagus, semakin manja. Biarkan kami wanita dengan wanita, Sin Gak, kalian laki-laki dengan laki- laki. Atau boleh kau gantikan dia dan kau atau aku mampus.... wiirrrr-plakk!” ujung ikat pinggang meledak ditangkis Sin Gak namun pemuda itu sudah mendorong Bi Hong. Gadis ini terhuyung. Akan tetapi ketika Sin Gak melayani Giok Cheng dan ia tak mungkin mengeroyok maka Kok Hu yang girang ditinggalkan Sin Gak menyambar Bi Hong. Gadis itu lebih ringan daripada Sin Gak, meskipun bukan berarti ia mampu mengalahkan.

“Bagus, kau dengan aku. Ha-ha, sepadan sudah, suci. Sin Gak dengan Giok Cheng dan kau dengan aku. Mari, mari main-main lagi dan jangan cemburu melihat kekasihmu berduaan dengan sumoi!”

“Tutup mulutmu!” Bi Hong mengelak dan membalas. “Kau dan Sin Gak bagai bumi dengan langit, Kok Hu, seribu kalipun masih juga kalah tampan. Jangan kira aku takut dan mari kuhadapi kau!”

Si raksasa tertawa bergelak. Yang tambah panas tentu saja Giok Cheng, terang-terangan Bi Hong memuji Sin Gak, padahal gadis itu untuk mengejek lawannya yang bermuka buruk. Maka ketika Giok Cheng melengking dan menyambitkan jarum-jarum pencabut nyawanya, Touw-beng-tok-ciam maka Sin Gak menangkis dan melindungi kekasihnya, hal yang membuat gadis itu semakin naik pitam.

“Bagus, kau sudah begitu tergila-gila kepada siluman betina itu. Sekarang kau atau aku mampus, Sin Gak, tak kuat hidup kalau terhina begini!”

Sin Gak berdebar mengerutkan keningnya. Tak dapat disangkal kemarahan dan kebencian sumoinya ini, akan tetapi karena di balik itu ia melihat cinta asmara yang berapi-api, bak gunung bergemuruh maka pemuda ini merasa iba dan kasihan juga. “Giok Cheng, aku tak ingin kalian saling bunuh. Kalian sama-sama wanita gagah. Kalau hendak bermusuhan maka musuh kita adalah Majikan Hutan Iblis itu, juga Kok Hu. Merekalah orang-orang jahat yang seharusnya kau musuhi.”

“Tak perlu menggurui, aku tahu baik buruk, Sin Gak. Biarkan aku menghadapi Bi Hong atau aku mengadu jiwa denganmu!”

“Hm, Bi Hong bukan musuhmu, kau salah. Musuh kita adalah dua orang jahat itu, Giok Cheng, sadarlah dan putar haluan. Urusan kita dapat dibicarakan baik-baik.”

“Baik-baik? Huh, kau menyakiti hatiku. Aku sudah mendapatkan kong-kong dan janjiku harus berjalan. Minggir dan biarkan Bi Hong melawanku atau kau atau aku mampus!”

Sin Gak kewalahan. Sekarang mereka berkelebatan cepat tapi masing-masing berganti lawan. Kini terjadi perpecahan lagi di mana enam orang dengan tiga pertandingan. Su Giok bertanding hebat dengan Majikan Hutan Iblis itu, sementara Bi Hong menghadapi Kok Hu dan dia sendiri dilabrak gadis baju hijau yang marah ini. Giok Cheng menyerang sambil menangis.

Dan karena dari tiga pertempuran ini tentu saja Sin Gak mengalah, yang di hadapi adalah puteri pamannya Han Han maka ia mengelak dan membalas ala kadarnya saja, terdesak dan dilihat Bi Hong dan gadis itu panas. Entah mengapa sikap ini menimbulkan kecemburuan Bi Hong, mencoba ditahan tapi akhirnya tak kuat. Sin Gak terpelanting oleh ledakan ikat pinggang yang membuat pipinya tergurat, darah mengalir. Dan ketika pemuda itu main mundur dan sempoyongan bingung, Bi Hong membentak tiba-tiba gadis itu meninggalkan lawan dan menyambar Giok Cheng.

“Manusia tak tahu diri. Kalau Sin Gak menghadapimu sungguh-sungguh tak mungkin kau melukainya, Giok Cheng, baik hadapilah aku dan kita wanita sama wanita!”

“Ha-ha!” Thai Bang Kok Hu melihat kesempatan. “Kalau aku sendirian biarlah kubantu suteku, Bi Hong, bertengkarlah dan selesaikan urusan kalian!”

Su Giok terkejut. Ia mati-matian mempertahankan diri dan perlahan tetapi pasti terdesak. Ternyata sendirian saja menghadapi manusia ini ia kalah seusap. Sayang ia tak memiliki Bu-bian-kang. Maka ketika si raksasa menyambar maju dan ia terkejut gadis itupun menjerit dan terbanting, melempar tubuh bergulingan.

“Sin Gak, bantu Su Giok. Jangan biarkan ia celaka!”

Sin Gak bingung. Waktu itu ia melerai Bi Hong akan tetapi gadis ini balas membentaknya. Sorot kemarahan dan cemburu panas membakar. Dan ketika ia terkejut oleh seruan ayahnya maka benar saja Su Giok bergulingan dikejar dan dikeroyok dua orang itu. Kok Hu tak malu-malu membantu. Akan tetapi Sin Gak mencoba lagi membujuk.

“Bi Hong, kalian bukan orang-orang jahat. Musuh kita adalah dua orang itu. Hentikan pertikaian ini dan robohkan dulu Majikan Hutan Iblis itu!”

“Aku ditantang Giok Cheng. Pergi meninggalkannya sama dengan mencoreng muka, Sin Gak, biarkan ia kuhadapi dan kau hadapilah musuhmu itu. Kau lebih berkepentingan.”

“Tapi Giok Cheng tak perlu dituruti, ia membawa emosinya.”

“Bagus, memangnya aku anak kecil. Maju dan keroyok sekalian, Sin Gak, aku memang emosi!”

“Nah, nah, apa itu. Tinggalkan gadis ini dan hadapi orang-orang itu, Bi Hong. Ingatlah bahwa kalian sama-sama wanita gagah. Dan kau,...” Sin Gak berseru pada Giok Cheng. “Sucimu dalam bahaya, Giok Cheng, bantulah dia dan tinggalkan ini!”

“Aku terlanjur berjanji. Kong-kongku dibebaskan, Sin Gak, bukan kau atau orang lain yang menolong. Biar enci Su Giok ke sini dan kau atau siapapun kami hadapi!”

Susahlah pemuda ini. Bi Hong sudah menerjang dan Giok Cheng menyambut, ada kesan bahwa masing-masing tak mau diganggu lagi. Ketika ia melerai tahu-tahu pukulan Bi Hong maupun Giok Cheng menyambar, dua gadis itu tak perduli! Dan ketika Sin Gak menjadi pucat dan terdengar lagi bentakan ayahnya maka pemuda ini melompat dan terpaksa menolong Su Giok, yang terguling-guling dan hampir saja terkena semut api yang disambitkan lawannya.

“Baiklah, kalian sama-sama keras kepala. Kalau tak mau dilerai biarlah aku ke sana dulu, Bi Hong, setelah itu kalian hadapi aku!”

Giam Liong lega. Sin Gak berkelebat dan menangkis pukulan Kok Hu, raksasa ini terhuyung namun tergelak marah. Dan ketika Su Giok meloncat bangun dan berterima kasih diselamatkan Sin Gak, seruan Giam Liong membuat matanya basah maka ia membentak dan mencabut pecut hitam di tangan kiri, tangan kanan bergetar-getar merobah gerakan. Siap melancarkan pukulan Siau-hun-bi-kiong-hoat (Pukulan Penggetar Sukma).

“Bagus, tak akan kulupa budimu. Mereka ini licik dan curang, Sin Gak. Biar aku mengadu jiwa!

“Hm, cici harap hati-hati. Sebaiknya berikan musuhmu itu kepadaku, enci Giok. Ia memiliki banyak hutang kepadaku.”

“Tidak, iapun memiliki hutang kepadaku, setumpuk. Akan kuhadapi sampai mati dan dia atau aku mampus!”

Majikan Hutan Iblis tertawa mengejek. Diam-diam ia menggosok sepasang telapak tangannya dan muncullah uap hitam tipis. Bau amis muncul. Lalu ketika ia mengelak dan berkelebatan melayani gadis itu tiba-tiba sepasang tangannya di dorongkan ke depan dan menyambarlah pukulan dahsyat itu. Mo-seng-ciang (Tapak Tangan Hantu)!

“Awas, enci Giok!”

Gadis baju merah itu terkejut. Ia telah meledak-ledakkan pecut hitamnya sementara tangan kanan bergetar-getar melepas Siau-hun-bi-kiong-hoat. Biasanya ilmu ini menyambar lawan di saat tak terduga, tangan yang bergetar menjadi banyak dan lawan akan bingung melihat yang asli. Maka ketika tiba-tiba ia didahului dan seruan Sin Gak jelas bernada terkejut, bau amis membuat orang seakan muntah maka Su Giok yang terkena langsung tiba-tiba saja perutnya mual dan muntah tanpa sengaja.

“Huekk!”

Saat itulah telapak lawan menyambar dada. Hitam mengandung racun telapak ini tak dapat dicegah lagi, mula-mula perlahan akan tetapi tiba-tiba berobah begitu cepatnya, Su Giok menjerit dan melempar tubuh bergulingan. Dan ketika ia dikejar namun Sin Gak berkelebat menghadang maka Mo-seng-ciang bertemu Pek-mo-in-kang yang dingin.

“Desss!”

Sin Gak maupun lawan tergetar. Majikan Hutan Iblis membelalakkan mata akan tetapi Kok Hu sudah menyerang pemuda itu, Su Giok bergulingan meloncat bangun. Dan ketika Sin Gak mengelak sana-sini dikeroyok dua maka gadis baju merah itu menerjang lagi lawan utamanya, Majikan Hutan Iblis.

“Biarkan ia bagianku, raksasa itu bagianmu!”

Sin Gak mengerutkan kening. Dari adu tenaga tadi dia maklum bahwa Su Giok masih kalah seusap. Hawa panas gatal menyusul di lengannya ketika bertemu Mo-seng-ciang tadi. Akan tetapi karena ia membekukan pengaruh buruk itu dan hawa beracun terhenti didorong dan keluar lagi maka pukulan itu tak berbekas apa-apa meskipun Sin Gak diam-diam terkejut karena kalau ia kurang kuat tentu terdorong dan telah terserang racun.

“Hati-hati!” serunya kepada Su Giok. “Jangan hadapi langsung pukulan tangannya, enci. Tutup hidungmu atau tiup bau amis itu!”

Su Giok mengangguk. Ia telah menutup hidungnya dengan saputangan, meniup dan mendorong bau amis dari pukulan Tangan Hantu itu. Akan tetapi ketika lawan mengejek dan menggerak-gerakkan tubuhya sedemikian rupa mendadak keringat bermunculan dan berhamburan menciprat sana-sini.

“Sin-can-po-he (Ilmu Keringat Sakti)!” Su Giok terkejut dan mengelak sana-sini dan tentu saja jijik sekali. Keringat itu bukan sembarang keringat karena di samping kecut juga berbentuk butiran-butiran keras seperti es. Sekali ujung bajunya kena dan bolong. Maka ketika ia berseru dan kaget serta marah maka lawan terkekeh-kekeh dan suaranya yang tinggi nyaring benar-benar mirip banci kegirangan.

“Bagus, sekarang kau mengenal kepandaianku. Dan ini tambahan untukmu, Su Giok, terima dan rasakanlah hah!” orang itu membuka mulut dan bau amat busuk menyambar wajah Su Giok.

Gadis ini berteriak dan membuang kepala ke belakang akan tetapi Mo-seng-ciang menyusul. Dan ketika ia melempar tubuh lagi namun Sin-can-po-he menyerang tubuhnya maka Su Giok benar-benar sibuk dan pecut di tangannya meledak dan menghalau semua itu.

“Tar-tar-tar!”

Siau-hun-bi-kiong-hoat juga ikut bergerak. Sambil bergulingan tangan kanan gadis ini bergetar-getar, mendorong dan menampar dan jarum-jarum Touw-beng-tok-ciam berhamburan pula. Dan ketika dengan cara begini ia dapat meloncat bangun dan pucat memandang lawannya maka itu tertawa dan menyerang lagi. Su Giok terdesak.

“Hah, aku akan merobohkanmu. Cepat. atau lambat kau tak dapat mempertahankan diri, Su Giok, menyerahlah dan bantu aku atau aku membunuhmu!”

Gadis ini memutar senjatanya membungkus seluruh tubuh. Setelah satu lawan satu ia benar-benar mengakui keunggulan lawannya. Lawan memiliki beragam ilmu yang aneh-aneh, selain Mo-seng-ciang yang berbahaya itu juga Keringat Saktinya yang berhamburan seperti butir-butir es dingin, belum lagi bentakan mulutnya yang baunya minta ampun itu, bau bangkai! Maka ketika gadis itu terdesak dan hanya berkat putaran cambuknya ia mampu bertahan maka Siau-hun-bi-kiong-hoat menjadi mandul karena lebih banyak dipakai untuk mempertahankan diri daripada menyerang.

“Enci Giok, kita bertukar lawan saja. Kau hadapi raksasa ini dan aku laki-laki itu!”

“Tidak!” gadis ini menolak seruan Sin Gak. “Aku belum kalah, Sin Gak, apalagi roboh. Biarlah aku bertanding mati hidup dan jangan harap lawanku dapat mengalahkan aku dengan mudah!”

“Hm!” Majikan Hutan Iblis berkemak-kemik. “Kau memang gagah, Su Giok, akan tetapi bukan tandinganku. Lihat, siapa yang kau hadapi dan mampukah kau melawan sepuluh laki-laki seperti aku....dar!” tepukan asap hitam disusul pecahnya tubuh laki-laki itu.

Majikan Hutan Iblis mendadak menjadi sepuluh dan menjeritlah gadis itu oleh bayangan di sekeliling dirinya. Sepuluh laki-laki jubah hitam menyambar dan menyerangnya dari kanan kiri. Dan ketika gadis itu berteriak dan Sin Gak terkejut maka pemuda ini membentak dan mendorongkan kedua tangannya kedepan, mengerahkan penangkal sihir dengan Pat-gen-sin-hoat-sutnya (Pagar Sihir Delapan Penjuru Dunia).

“Enci Giok, masuk ke sini. Awas itu hanya bayang-bayang saja!”

Akan tetapi ini berakibat buruk bagi diri sendiri. Sin Gak yang menolong dan melepas Pat-gen-sin- hoat-sutnya untuk melindungi gadis itu menjadikan dirinya terbuka oleh pukulan lawan. Kok Hu raksasa itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Maka ketika ia menghantam dan mengenai pundak pemuda ini, Sin Gak mengeluh maka pemuda itu terbanting dan si raksasa mengejar dengan tawa bergelak.

“Ha-ha, mampus kau. Rasakan sekali lagi, Sin Gak, ini bagianmu!” Sian Gak mengelak tapi kena lagi, bergulingan dan meloncat bangun akan tetapi raksasa itu tak memberinya kesempatan. Sin Gak menerima pukulan mengerahkan sinkangnya. Dan ketika ia mendesis dikejar lagi, mengelak sana-sini maka Su Giok selamat dan ajaib sekali di sekeliling gadis ini terdapat sinar merah melindungi diri. Sinar gaib dari Pat-gen- sin-hoat-sut yang dilemparkan Sin Gak tadi.

“Keparat!” Majikan Hutan Iblis membentak dan mencoba menerobos pagar ini. “Keluarlah dan hadapi aku, Su Giok, jangan bersembunyi!”

“Aku tidak bersembunyi, siapa bersembunyi. Aku di sini, iblis jahanam, mari bertanding lagi dan keluarkan ilmu silumanmu itu!”

Majikan Hutan Iblis menggeram. Sinar merah yang mengelilingi Su Giok adalah pagar sihir penolak bentakannya tadi. Sesungguhnya ia mengeluarkan Toat-seng-hoat-sut (Sihir Mencabut Sukma) untuk menggoyahkan gadis ini. Maka setelah gadis itu dilindungi Pat-gen-sin-hoat-sut dan sihirnya tentu saja tak mungkin mempan, marahlah laki-laki ini maka ia bergerak lagi mengeluarkan ilmu-ilmu non-sihirnya, Mo-seng-ciang dan itu.

Su Giok menghadapi dengan penuh semangat dan diam-diam menyesallah gadis ini kenapa subonya masih tak menurunkan semua ilmunya. Harus diketahui bahwa untuk sihir memang ia tak mendapat pelajaran, paling-paling sekedar kulitnya saja dan entah kenapa nenek itu tak mewariskannya. Dan karena Hek-i Hong-lipun tak memberikan Bu-bian-kang alias Ilmu Tanpa Bobot, kecuali Coan-po-ginkang (Ginkang Menerjang Ombak) yang dimilikinya itu maka sesungguhnya sebagai murid tokoh termuda. Ngo-cia Thian-it gadis ini kalah banyak dibanding Majikan Hutan Iblis yang memiliki beragam ilmu itu.

Untunglah dengan pagar sihir Put-gen-sin-hoat-sut lawan tak akan mampu menyerang dengan sihir lagi, sinar merah yang mengelilingi itu amat kuatnya. Namun karena ia kalah matang dan kalah pengalaman, betapapun itu adalah lawan yang hebat maka sedikit demi sedikit gadis ini terdesak dan bau mulut busuk yang dihembuskan lawannya itu mulai membuat ia goyah, terhuyung dan ditambah amis menyambar dari pukulan Tapak Hantu itu. Uap kehitaman di kedua lengan laki-laki ini juga mulai mengganggu pemandangan. Dan ketika gadis itu batuk-batuk dan sempoyongan ke sana ke mari akhirnya tak dapat dicegah lagi pukulan Mo-seng-ciang menghantam pundaknya, masuk dicelah-celah putaran cambuk yang lemah.

“Plak!”

Su Giok mengeluh. Ia merasa panas terbakar dan pundaknya kehitam-hitaman, rasa gatal mengganggu pula. Dan ketika ia terhuyung dan membentak serta coba membalas tiba-tiba senjatanya tertangkap dan laki-laki itu menariknya ke depan.

“Ke marilah!”

Pucatlah gadis ini. Ia kalah tenaga dan lawan memang hebat. Bentakan itu kembali menyemburkan bau busuk, mulut itu sungguh seperti bangkai. Dan ketika ia tak tahan dan merasa pusing, terbawa ke depan maka telapak lebar Majikan Hutan Iblis menyambutnya keji.

“Dess!” Terbantinglah gadis ini. Su Giok mengeluh dan melontarkan darah segar dan laki-laki itu tiba-tiba mengeluarkan kipas. Sambil tertawa mengejek ia mengejar gadis itu, kipas dilipat dan siap menotok ubun- ubun. Namun karena Sin Gak ada di situ dan tak mungkin membiarkan ini maka pemuda itu mendorong Kok Hu dan secepat kilat meloncat menangkis kipas maut itu.

“Jangan bunuh orang!”

Kipas terpental dan Su Giok jatuh terduduk. Gadis ini pucat dan memejamkan mata dan Majikan Hutan Iblis melotot lebar. Tentu saja ia marah. Dan ketika laki-laki itu membentak dan menyerang Sin Gak, kipas dan Mo-seng-ciang susul-menyusul maka Kok Hu tak tinggal diam dan menyambar pemuda ini, tertawa bergelak.

“Ha-ha, menjadi pahlawan. Bunuh dan robohkan pemuda ini, sute. Mari kita keroyok dia!”

Sin Gak berkelit dan menangkis. Ia mengerahkan Pek-mo-in-kangnya namun karena dari kiri kanan menghadapi dua lawan sekaligus iapun terpental dan terhuyung, Kok Hu tertawa-tawa dan mengejar lagi dan Majikan Hutan Iblis itupun mendesak dan menekan. Sin Gak kewalahan. Dan ketika ia kembali menerima pukulan dan terpelanting roboh maka raksasa mencabut gada hitamnya tertawa bergelak.

“Ha-Ha, sekarang kau mampus. Pecah kepalamu, Sin Gak. Terimalah ini... wuutttt!” gada berkesiur begitu dahsyat sementara kipas di tangan Majikan Hutan Iblis mencegah arah lari. Ke manapun Sin Gak mengelak ke situ pula ia disambut senjata, entah kipas atau gada. Dan ketika keadaannya benar-benar berbahaya dan sang ayah serta Han Han hendak melompat maju tiba-tiba Bi Hong dan Giok Cheng yang melihat itu berkelebat bersamaan menangkis dan menolong pemuda ini.

“Sin Gak!”

“Jahanam keparat!”

Dua senjata itu terpental dan Majikan Hutan Iblis serta raksasa tentu saja marah sekali. Mereka tak menyangka bahwa dua gadis yang sedang bertanding hebat itu tiba-tiba saja berhenti dan menolong Sin Gak, dua-duanya beradu cepat dan Bi Hong menangkis kipas. Dan ketika Sin Gak melompat bangun dan tertegun oleh pertolongan itu, Bi Hong dan Giok Cheng sudah menghadapi lawan-lawan mereka maka pemuda ini terharu dan berdesis. Giam Liong dan Han Han juga tertegun di bawah.

“Bi Hong, Giok Cheng, terima kasih. Akan tetapi biarlah kuhadapi laki-laki itu dan kalian bagian Kok Hu!”

“Tak apa.” Bi Hong lega sedikit gemetar. “Ini atau itu sama saja, Sin Gak. Dia atau Kok Hu sama-sama bagiku!”

“Tapi aku menghadapi jahanam ini. Aku tak dapat menyerang jahanam itu, Sin Gak, aku terikat perjanjian!" Giok Cheng berseru, menyerang dan berkelebatan mengelilingi Kok Hu dan cengkeraman atau tamparannya membuat sibuk.

Dan ketika si raksasa menjadi marah sementara Sin Gak mengangguk dan menghela napas tiba-tiba pemuda itu berkelebat mandorong Bi Hong “Dia bagianku, kau bantulah Giok Cheng. Satu di antara kita sudah terluka, Bi Hong, sekarang bahu-membahu dan kita basmi kejahatan. Berikan orang ini kepadaku!”

Bi Hong mula-mula enggan, Dia mengerutkan kening melihat pertandingan Giok Cheng, akan tetapi ketika gadis itu terpental dan gada menyambar-nyambar akhirnya seruan Sin Gak membuat ia menurut.

“Kita adalah orang-orang gagah. Membela kebenaran diatas segala-galanya, Bi Hong. Urusan pribadi harus dikesampingkan. Lihat manakah yang buruk Giok Cheng atau Kok Hu!”

Gadis itu bergerak. Memang harus diakui bahwa Kok Hu jauh lebih jahat dibanding Giok Cheng. Kalau mereka bermusuhan maka semata bersifat pribadi, sama-sama memperebutkan Sin Gak. Maka ketika ia membentak dan kebetulan saat itu Giok Cheng terpelanting menangkis gada maka tanpa banyak cakap gadis ini menampar raksasa muda itu.

“Kau pangecut dan curang seperti gurumu. Sekarang terimalah pukulanku, Kok Hu, kami akan menghajarmu sampai babak-belur!”

Si rakaasa berteriak. Kian-kun-siu, tamparan Sapu Jagad manyambar kepalanya, Meskipun ia kuat namun jari-jari lentik kecil halus itu penuh terisi sinkang. Kalau tidak kelenger tentu pusing, Maka ketika ia mengelak dan membanting tubuh bergulingan Giok Cheng diam-diam melirik saingannya ini dan tergetar mendengar kata-kata “kami”, berarti Bi Hong tak ragu bergabung dengannya dan iapun tak banyak cakap. Harus diakui bahwa sendirian saja menghadapi raksasa ini amatlah berat, ia sendiri merasa kalah seusap. Maka ketika Bi Hong membantu dan iapun sudah diselamatkan, Giok Cheng memekik dan menerjang raksasa ini maka Kok Hu kelabakan karena dikeroyok dua tentu saja ia merasa berat.

“He, curang dan licik. Tadi kalian bermusuhan, Giok Cheng, sekarang mengeroyok aku. Selesaikan dulu urusan kalian dan nanti baru aku!”

“Tutup mulutmu, kau tak boleh mengeroyok Sin Gak. Daripada begitu lebih baik hadapi kami, Kok Hu atau enyah dan pergi jauh-jauh jangan membantu siapapun!”

“Hoah, perempuan memerintah laki-laki. Siapa enyah dan pergi dari sini, Bi Hong. Kalau kalian mengeroyok akupun tak takut, mari maju dan kita bertempur seribu jurus!” raksasa itu menjadi marah dan iapun melayani dua gadis ini dengan sambaran gadanya yang menderu-deru. Gada meledak setiap ditangkis, terpental namun menyambar lagi namun karena Bi Hong memiliki Bu-bian-kang maka repotlah raksasa ini menyelamatkan diri. Berkali-kali gadis itu lenyap dan tahu-tahu muncul di belakangnya, menampar atau mengibas dan ia selalu terhuyung.

Untunglah Giok Cheng hanya memiliki Coan-po-ginkang yang setingkat di bawah Bu-bian-kang itu, sempat diikuti dan gadis ini menjadi incaran gadanya. Namun karena Bi Hong mengganggu dan berkelebatan ke sana-sini, kepalanya pening akhirnya raksasa ini berkaok-kaok dan bibirnya yang tebal digigit-gigit. Entah apa yang diucapkan raksasa inipun berkemak-kemik, tangannya digosok dan udara di Hutan Iblis berubah. Awan hitam melayang ringan, disusul oleh bunyi aneh dari dalam perutnya. Dan ketika mendung tebal menggantung di situ, angin dingin berkesiur disusul gemerisik pohon- pohon bambu maka terlihat kilauan cahaya di langit gelap gulita. Tempat itu tiba-tiba sudah menjadi hitam.

“Dar!”

Terkejutlah Han Han dan Giam Liong. Mereka yang menonton di bawah dan masih tak berani maju melihat kilauan petir di angkasa. Samar-samar tipis namun jelas sosok ini. Dan ketika Giam Liong terkejut mengenal itu, teringatlah dia pertandingan si Naga Berkabung dengan seorang raksasa tinggi hitam maka ia berseru,

“Mo-bin-jin!”

Han Han tersentak. Sahabatnya ini pernah bercerita sesuatu yang mirip dongeng, Cerita itu seakan mimpi besar yang tiada terkupas, sebuah perjalanan aneh ketika dulu Naga Pembunuh ini bertemu orang- orang sakti, tokoh Ngo-cia Thian-it. Maka ketika tiba-tiba sosok tinggi besar di angkasa itu semakin jelas, bentuknya seperti asap dan bergerak-gerak seperti melayang maka Kok Hu berteriak girang melihat sosok bayangan ini, hasil panggilannya lewat kekuatan batin.

“Suhu!”

Yang paling kaget tentu saja Giok Cheng dan Bi Hong. Mahluk tinggi besar hitam gelap itu yang muncul dan menyembul dari balik bongkah awan hitam mulai menampakkan dirinya semakin jelas. Mula- mula ia seakan melayang, turun dan perlahan-lahan mendekati Hutan Ibils. Tubuhnya seperti asap tipis namun kian lama kian tebal, jelas dan membentuk sosok raksasa setinggl bukit. Giok Cheng terpekik melihat itu. Dan ketika tiba-tiba sepasang taring mencuat keluar, bersamaan itu muncullah dua bola mata bagai api maka Kok Hu berteriak sekali lagi dengan seruan dahsyat.

“Suhu!”

Puncak Hutan Iblis tergetar. Bersamaan itu terdengar ledakan di atas pohon-pohon tinggi, angin bertiup dengan kencang dan mendadak Giam Liong serta lain-lainnya terlempar. Mereka terkejut dan berteriak tapi masing-masing membentur benda keras. Ju-hujin roboh dan pingsan.

Dan ketika Giam Liong juga mengeluh dan lupa-lupa ingat, antara sadar dan tidak maka Han Han dan Ju-taihiap sendiri mengalami nasib sama dan selanjutnya mereka seakan berada di dunia aneh di mana tubuh tak dapat digerakkan tapi mata mereka melihat jelas, bukan mata biasa melainkan mata-hati, mata sebuah roh dan saat itulah Hutan Iblis berderak-derak bagai dihempas badai.

Sosok hitam tinggi besar di langit itu telah turun, ia telah menginjakkan kakinya di Hutan Iblis. Dan ketika keberadaannya ini disertai angin ribut, pohon dan segalanya menderu kencang maka mahluk tinggi besar itu, Mo-bin-jin tiba-tiba mengembangkan kedua lengannya kedepan.

“Wuusshhhh!”

Bi Hong dan Giok Cheng terpelanting. Mereka terbelalak setelah mahluk ini berada di atas bumi dan siapa yang tidak ngeri melihat sosok tinggi besar itu. Wajahnya kehitaman dengan mata melotot lebar, hidungnya besar dengan bibir tebal seperti Kok Hu, pesek dan muka itu buruk serta amat menyeramkan. Giok Cheng sampai terpekik melihat ini. Tapi karena mahluk itu tak bicara sepatahpun dan rupanya ia tak mampu bicara, hanya menggerak-gerakkan kedua tangannya ke depan maka Kok Hu menyambut dan rupanya mengerti itu.

“Teecu datang, teecu mengerti. Maaf, suhu silakan masuk dan pakai tubuh teecu. Teecu tak mau kalah dengan dua gadis itu!" lalu ketika pemuda ini berlari dan melompat di dekat mahluk itu maka raksasa yang tampak kecil dibanding mahluk tinggi besar itu sudah berlutut di bawah kaki gurunya, memberikan ubun-ubun dan tiba-tiba...slap, seberkas cahaya hitam masuk.

Mahluk itu lenyap dan sebagai gantinya mencuatlah sepasang taring di tepi mulut pemuda ini. Sepasang matanya merah membakar seperti mahluk tinggi besar itu. Dan ketika Kok Hu bangkit dan memutar tubuhnya. Bi Hong dan Giok Cheng sudah meloncat bangun di sana maka dua gadis ini gentar karena yang mereka hadapi bukan lagi Kok Hu yang tadi melainkan seorang raksasa muda yang perbawanya menyeramkan. Asap atau bayang-bayang hitam terlihat jelas di punggung pemuda ini.

“Majulah!” raksasa itu membentak. “Kalian tahu rasa, Bi Hong sekarang aku akan membunuh kalian dan tak ada lagi yang mampu menyelamatkan!”

“Dia... dia mempergunakan Beng-hu-tai-swe. Ah, kita menghadapi paman guru sendiri, Giok Cheng. Kok Hu memanggil susiok Mo-bin-jin!” Bi Hong melempar tubuh ketika diterkam dan Giok Cheng kaget serta pucat.

Beng-hu-tai-swe adalah ilmu roh memanggil guru sendiri, mempersiapkan tubuh untuk dipakai dan Mo-bi-jin paman guru yang sakti itu telah berada di tubuh muridnya. Ilmu ini termasuk ilmu hitam dan Giok Cheng tentu saja ngeri sekali. Ia melempar tubuh ketika diterkam pula, gerakan tangan itu dahsyat sekali. Dan ketika Bi Hong juga terkejut dan pucat disambar lagi, kali ini melesat sinar kuning dari sepasang taring itu maka dua gadis ini jatuh bangun dan berteriaklah keduanya memanggil Sin Gak.

“Sin Gak...”

Pemuda itu terkejut. Saat itu dalam pertandingan amat cepat menghadapi Majikan Hutan Iblis ini Sin Gak mengerahkan seluruh kepandaiannya menghadapi lawan. Perlahan tetapi pasti ia menambah Pek-mo-in- kangnya, kabut atau uap dingin keluar dari sepasang lengannya. Dan ketika tubuhnya tiba-tiba juga mengeluarkan uap dan hawa kian dingin membeku maka Mo-seng-ciang tertahan dan laki-laki itu mendelik.

Sin Gak melihat mata mencorong berapi-api. Setelah dekat dan bertanding dengan lawan segera ia tahu bahwa Majikan Hutan Iblis ini mempergunakan topeng amat tipis menyembunyikan mukanya. Tiga kali mereka bertemu tenaga namun tiga kali itu pula masing-masing sama tergetar mundur, Majikan Hutan Iblis bahkan terhuyung. Dan ketika uap hitam di tangannya tertolak uap dingin di lengan Sin Gak, terdorong dan buyar maka laki-laki ini kagum akan tetapi dia tak mau sudah. Bentakan mulutnya yang busuk, yang tadi membuat Su Giok muntah ternyata ditiup balik oleh pemuda ini.

Sin Gak membalasnya dengan bentakan pula, mengeluarkan khikang atau hawa suara memukul balik bentakan lawan. Dan ketika pemuda ini enak saja dan tak terpengaruh, bau amis dari Mo-seng-ciang ditahan pemuda ini dengan mengerahkah pernapasan di perut maka lawan gagal mengacau pemuda itu dengan bau dan pukulan-pukulan amisnya.

Akan tetapi laki-laki ini tidak berhenti di situ saja. Kipas di tangan kanan yang kini bersiutan menyambar-nyambar melakukan totokan dan ketukan, kuku jarinya menjentik-jentik dan menyambarlah bubuk semut api ke wajah Sin Gak. Akan tetapi karena pemuda ini selalu waspada dan tak membiarkan itu, mengebut dan menolak maka serangan itu sia-sia sampai akhirnya keluarlah bentakan yang menggetarkan hutan.

“Kau tak dapat melawanku, aku Sang Naga Perkasa!”

Sin Gak terkejut. Ia melihat lawan lenyap menjadi naga, yang lidahnya menjulur berapi, ganas, dan membuka mulutnya akan tetapi untunglah dia telah melindungi diri dengan Pat-gen-sin-hoat-sut. Dengan ilmu ini ia membentak dan menghancurkan itu, lawan tampak seperti biasa dan lidah api ternyata daun kipas. Senjata itu dibuka dan menyambar kepalanya, orang lain akan melihatnya sebagai kepala seekor naga yang siap mencaplok dirinya. Akan tetapi karena dia balas membentak dan lengan kanan didorong menyambut itu maka... krak, kipas hancur tak kuat digencet dua tenaga sakti.

Majikan Hutan Iblis melengking lagi dan berkemak-kemik, Sin Gak melihat kesempatan dan melepas pukulannya. Akan tetapi ketika lawan tergetar dan terhuyung mundur, tubuh licin bagai belut maka Hek-be-kang atau ilmu Belut Hitam itu melindungi lawannya.

“Desss!”

Sin Gak membalik dan waspada akan serangan balasan. Benar saja lawan tersenyum dan tiba-tiba menyambar pinggangnya, mencengkeram dan menusuk dengan kuku yang beracun. Akan tetapi ketika ia menangkis dan menghalau cengkeraman itu maka Majikan Hutan Iblis selesai berkomat-kamit dan saat itulah ia tertawa aneh, berkelebat dan menghilang.

“Sekarang kau menghadapi ayahmu. Berlutut dan serahkan dirimu, Sin Gak. Jangan menjadi anak puthauw (tak berbakti)!”

Sin Gak terkejut. Ia membalik dan ayahnya, si lengan buntung menyambar mukanya. Hampir saja ia membiarkan itu kalau saja Pat-gen-sin-hoat-sut tidak bekerja melindunginya. Ketika jari-jari itu sudah dekat mendadak kuku-kuku merah tercium amis, itulah racun semut api yang menyentakkannya ke dalam kesadaran. Maka ketika ia berseru dan menangkis lagi, lawan, benar-benar penasaran akhirnya Majikan Hutan Iblis berkelebatan membaca mantra-mantra.

Kipas sudah rusak akan tetapi gagangnya masih dipegang, naik turun dengan pukulan-pukulan Mo-seng-ciang dan uap hitam menggelapkan pandangan. Untunglah berkat Pek-mo-in-kang Sin Gak benar-benar memiliki pertahanan kokoh. Ia menghalau dan mendorong semua pukulan-pukulan lawan. Namun ketika bayangan hitam berubah menjadi biru, kian lama kian jelas hingga akhirnya muncullah sosok tubuh yang lain maka Sin Gak kaget setengah mati karena Te-gak Mo-ki, paman gurunya berada di situ. Sambil berpusing kiranya Majikan Hutan Iblis ini memanggil gurunya.

“Sam-susiok!”

Sin Gak terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Meskipun seumur hidup belum pernah dia bertemu muka akan tetapi ciri-ciri dan watak serta gambaran susioknya ini jelas sekali. Te-gak Mo-ki adalah seorang laki-laki tampan berwajah kewanita-wanitaan, pakaiannya biru bersulam emas dan kipas di tangan adalah ciri yang lebih khusus lagi. Pria ini seperti siucai (sastrawan). Maka ketika ia tersentak dan kaget bukan main, di hadapannya bukan lagi lawannya itu melainkan Te-gak Mo-ki paman gurunya maka terkekehlah laki-laki itu menudingkan telunjuk.

“Bagus, kau mengenalku. Berlutut dan mintalah ampun, Sin Gak, atau aku membunuhmu!”

Sin Gak membelalakkan mata. Dari ujung jari itu meluncur sinar merah dan It-yang-ci, totokan satu jari menyambar dahinya. Ia masih bengong dan kaget melihat itu, mengelakpun mungkin percuma. Tapi ketika ia terbelalak dan bengong di tempat, perubahan ujud itu mengguncangkan batinnya maka sebuah angin kuat menyambar dari samping dan ia terbanting serta terlempar tepat ketika totokan It-yang-ci hampir mengenai dahinya.

“Crit!” pohon di belakang pemuda ini roboh. Bersamaan itu terdengar kekeh nyaring dan sesosok asap putih membentuk bayangan seorang kakek berada di belakangnya, bergoyang-goyang. Sin Gak menoleh dan kaget melihat gurunya, Sian-eng-jin tahu-tahu berdiri di situ. Gurunya ini merupakan mahluk halus dan melayang-layang di atas tanah, terkekeh dan menghadapi Te-gak Mo-ki yang memasuki tubuh muridnya. Dan ketika si banci itu tertegun namun tertawa aneh, berkelebat dan menerjang ke depan tahu-tahu ia menyerang Sin Gak lagi dengan dua totokan sekaligus.

“Bagus, kita bertemu lagi. Mari adu cepat, Sian-eng-jin, kau atau muridmu roboh!”

Sin Gak seakan terhipnotis. Gurunya yang sakti ini, juga Te-gak Mo-ki yang kabarnya tidak menginjak dunia lagi itu tiba-tiba saja muncul dan mengguncangkan hatinya. Saat itu ia masih terbelalak dan begitu bingung oleh perubahan cepat ini. Ia masih terguncang oleh hadirnya paman gurunya ketiga itu, tokoh yang seharusnya tidak berada di dunia lagi. Namun ketika ia teringat Beng-jong-kwi-kang dan betapa Majikan Hutan Iblis memiliki itu, memanggil dan dimasuki roh gurunya maka iapun sadar bahwa yang halus bisa memasuki badan kasar.

“Plak-dukk!”

Ia terbanting dan terlempar. Gurunya, Sian-eng-jin menghembusnya dengan pukulan sakti. Sin Gak bergulingan. Dan ketika ia meloncat bangun mendengar seruan gurunya maka ia diminta untuk membuka jalan darah Tai-we-hiat di telinga kiri.

“Lawanmu curang, memanggil gurunya. Buka jalan darah Tai-we-hiat di telinga kirimu, Sin Gak, biarkan aku masuk!”

Pemuda ini berdebar. Ia menotok dan membuka jalan darah itu, gurunya melesat dan... wushh, lenyap memasuki telinga kirinya. Dan ketika ia tergetar dan seakan disentakkan, sesuatu memasuki tubuhnya mendadak tanpa dikehendaki sendiri tubuhnya bergerak-gerak melayani Te-gak Mo-ki. Sin Gak hendak berteriak akan tetapi gagu. Roh gurunya telah memasuki tubuhnya dan untuk sementara ini badan kasarnya dipergunakan orang lain.

“Heh-heh!” orang akan seram mendengar Sin Gak tertawa seperti itu, tawa kakek-kakek. “Kini kau dan aku sama-sama mempergunakan murid sendiri, Te-gak Mo-ki, tua sama tua dan jangan berbuat curang. Kita tentukan pertandingan kali ini dan selanjutnya kita bukan di bumi lagi.”

“Keparat , kau selalu mengikutiku. Sebagai saudara muda seharusnya kau tahu diri, Sian-eng-jin. Berani kepada yang tua berarti kena kutuk!”

“Heh-heh, kutuk tak akan jatuh kepada kebenaran. Aku melihat cahayamu, Mo-ki, dan di sini kau berhenti. Kiranya kau membantu muridmu menyebar kejahatan. Sekarang aku tak akan diam lagi dan mati hidup ditentukan di sini!”

“Bagus, kita selamanya setingkat. Jangan omong besar dan mari buktikan siapa yang unggul!” dua orang itu lenyap dan bayangan biru serta putih saling berkelebatan dengan amat cepatnya. Begitu cepatnya hingga Sin Gak pusing sendiri. Ia bergerak dan digerakkan oleh roh gurunya.

Dan ketika Te-gak Mo-ki menambah kecepatannya akan tetapi gurunya memiliki ginkang Bayangan Dewa maka dengan ilmu ini mereka bertempur dan Te-gak Mo-ki berkali-kali mendesis akan tetapi juga terkekeh. Menyeramkan sekali kekehnya itu karena tawa ini mirip tangis atau jerit gemas, kadang-kadang begitu genit namun tak jarang pula serak-parau, melengking dan membentak-bentak dan lenyaplah dua orang sakti ini bertempur hebat. Masing-masing mempergunakan wadag muridnya untuk melampiaskan kemarahan dan kebencian.

Namun karena Sin Gak dimasuki secara wajar sementara lawan mempergunakan Beng-jong-kwi-kang (Tenaga Setan Penembus Roh) untuk menambah kekuatan maka di pihak Majikan Hutan Iblis sebenarnya terjadi kerugian karena sukma serta raganya benar-benar menyatu dengan roh yang dipanggil. Sekali ia roboh maka bukan hanya Te-gak Mo-ki yang harus meninggalkan badan kasar melainkan Majikan Hutan Iblis itu juga, lain dengan Sin Gak di mana kalau gurunya kalah maka sukma gurunya itulah yang akan meninggalkan dirinya. Dengan lain kata roh Sian-eng-jin tak menyatu dengan roh pemuda ini, sukma Sin Gak dibiarkan “tidur” diam.

Maka ketika mereka bertanding sengit dan mulailah kesaktian atau ilmu-ilmu tingkat tinggi dikeluarkan masing-masing pihak maka di sana Giok Cheng dan Bi Hong memanggil pemuda itu ketika terkejut melihat lawan mereka berganti ujud. Kok Hu memiliki sepasang taring panjang yang mencuatkan sinar-sinar. Sin-ci-beng.

Akan tetapi Sin Gak tak dapat berbuat apa-apa. Diapun tak tahu betapa Mo-bin-jin, paman gurunya kedua dipanggil Kok Hu lewat kemak-kemik mantra hitam. Sama seperti Majikan Hutan Iblis raksasa itupun mempergunakan Beng-jong kwi-kang, memanggil dan akhirnya menyatu dengan roh gurunya. Namun ketika ia menyergap gadis-gadis itu dan Bi Hong maupun Giok Cheng jatuh bangun jungkir balik maka melesat dua sinar di angkasa, membelah bongkahan awan hitam menuju ke tempat pertandingan ini.

“Mo-bin-jin, jangan serang muridku. Beraninya hanya terhadap anak kecil!”

“Subo!” Giok Cheng terkejut, melihat bayangan hitam menyambar. “Ah, dia ini hebat sekali, subo. Lawanku bukan Kok Hu yang tadi!”

“Perlihatkan pusarmu, buka jalan darah Yu-seng-hiat. Biarkan aku masuk ke situ, Giok Cheng, kuhajar jahanam ini...plak-bresss!”

Giok Cheng terguling-guling, terlempar oleh angin pukulan kuat dan subonya membentak agar ia cepat membuka jalan darah Yu-seng-hiat. Jalan darah ini di pusar, mana mungkin ia membuka daerah itu di depan banyak orang. Tapi ketika ia terbanting dan terlempar lagi, sang subo membentak akhirnya gadis ini merobek baju bawahnya dan tanpa banyak cakap ia menotok Yu-seng- hiat tanpa malu-malu lagi.

“Slap!” Bayangan atau sosok sinar hitam lenyap memasuki tempat itu. Sedetik gadis ini menegang dan terkejut, tubuhnya bagai dimasuki aliran listrik tinggi. Namun ketika ia terhuyung dan tegak lagi, terkekeh maka Giok Cheng telah berubah menjadi nenek Hek-i Hong-li, hanya wajahnya saja masih gadis karena roh gurunya tidak menyatu dengan rohnya sendiri, sama seperti Sin Gak disana.

“Heh-heh, tua sama tua. Kau atau aku mampus, suheng. Berani benar kau menyerang muridku....cringg-cranggg!” gada bertemu ikat pinggang hitam dan meledaklah benda lemas yang sudah kaku terisi sinkang itu.

Giok Cheng sudah menjadi Hek-i Hong-li, garang dan pemarah. Dan ketika lawan terhuyung dan membentak serta memaki maka sinar lain yang melesat di belakang nenek itu berhenti di depan Ju-taihiap dan Naga Pembunuh. Dua orang ini masih sama-sama seperti mimpi dan entah sadar atau tidak...