TAPAK TANGAN HANTU
JILID 32
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“BEGITULAH,” sang ayah mengakhiri dengan pandang mata redup. “Ia mencintaiku, Sin Gak, marah-marah ketika kutolak. Aku tak dapat menerimanya karena aku masih mencintai mendiang ibumu. Lagi pula aku bukan anak muda lagi.”

“Hm!” Sin Gak mengangguk-angguk, kagum. “Kau mengagumkan, ayah, betapa beruntungnya ibu. Ah, dapat kurasakan isi hati Su Giok kalau ia begitu.”

“Benar, dan aku menyesal, tapi mau apa lagi. Aku kasihan namun tidak mungkin menerimanya.”

Pemuda itu mengangguk-angguk lagi dan diam-diam Bi Hong di sebelah kiri bersinar-sinar, memandang tidak langsung pria berlengan buntung ini dan harus mengakui bahwa laki-laki seperti Naga Pembunuh ini daya tariknya besar. Lengan buntung itu bukan masalah malah justeru penimbul iba. Tak heran kalau Su Giok mencintai pendekar ini karena kesetiaan Naga Pembunuh memang mengagumkan.

Apalagi yang dicari seorang isteri kalau bukan suami setia dan jujur, untuk apa segala macam bujang kalau tak seperti laki-laki ini, biarpun duda namun kesetiaan dan cinta kasihnya tak luntur ditelan jaman. Isteri telah tiadapun masih meneguhkan imannya untuk tidak mencari lain, jarang ada pria seperti ini. Dan ketika gadis itu teringat gurunya sendiri, Naga Pembunuh ini mirip gurunya maka ia menghela napas dan haru serta sorot matanya yang lembut tiba-tiba tak dapat di sembunyikan lagi kepada pria itu, ayah dari kekasihnya.

“Paman memang benar, tapi enci Su Giok juga tidak salah. Cinta muncul di mana-mana, paman, juga dalam kondisi apapun. Untuk masalah umur kupikir tak jadi soal, lagi pula masih pantas. Bandingkan misalnya dengan guruku yang terpaut tiga puluh tahun dengan sumoinya Hek-i Hong-li. Paman masih termasuk muda!”

“Hm, apa maksudmu, Bi Hong. Apakah dengan begitu kau seperti Sin Gak yang berkesan setuju untuk menikah lagi.”

“Maaf,” gadis ini tersipu. Menikah atau tidak urusanmu pribadi, paman. Aku hanya hendak mengatakan bahwa masalah usia kau belumlah tua benar. Kau masih gagah dan kuat.”

“Ha-ha, kalian anak-anak muda memuji membesarkan kepala saja. Kalau aku sehat mungkin benar, Bi Hong, tapi kuat? Ah, menghadapi kalian anak-anak muda aku justeru merasa lemah, bodoh. Aku malu disebut itu dan menyadari bahwa ketuaan mulai menggerogoti tubuhku. Tidak, aku sudah betul-betul merasa tua, tak pantas untuk menikah lagi!”

“Hm, ayah tak usah meributkan ini. Kalau jodoh tentu tak mungkin dielak. Kalau memang sendiri tentu akan sendiri, sudahlah kita kembali kepada persoalan musuh kita dan kami girang bahwa ayah selamat.”

“Benar,” Bi Hong mengangguk. “Ada persoalan yang lebih penting, paman, Majikan Hutan Iblis tak ada di sini. Entah di mana dia. Biarlah urusan Su Giok kita bicarakan lagi kalau jahanam ini kita temui. Ia pembunuh keji dan banyak tengkorak di dalam hutan!”

Giam Liong mengangguk, lega. “Kalian benar, urusan kita masih banyak dan sebaiknya membicarakan yang penting saja. Sekarang bagaimana baiknya tapi aku orang tua rupanya tak banyak bisa membantu.”

“Ayah tak usah merendahkan diri. Setidaknya kau dapat berjaga dan mengawasi, ayah, tapi karena hutan ini kosong bagaimana menurut pendapatmu sebelum kami memberikan pendapat sendiri.”

“Hm, aku tak tahu apa-apa tentang jahanam ini. Sampai sekarang aku masih menduga-duga siapakah sebetulnya dia.”

“Dia murid susiok Te-gak Mo-ki!” Bi Hong berseru.

“Tidak, bukan itu. Kalau itu Sin Gak sudah menceritakannya, Bi Hong, tapi maksudku data pribadinya siapakah dia ini sebenarnya dan kenapakah dia begitu kejam membunuh isteriku. Tampaknya dia benci sekali!”

“Eh, aku ingat,” Sin Gak tiba-tiba berseru. “Ada sebuah nama disebut-sebut, ayah, barangkali kau perlu tahu. Majikan Hutan Iblis itu bernama Yu Bin!”

“Yu Bin?”

“Ya, begitu yang kuingat. Tadi Thai Bang Kok Hu menyebut itu!”

“Benar,” Bi Hong juga teringat. “Orang itu namanya Yu Bin, paman, sekarang aku juga ingat. Mungkin kau tahu siapa orang ini.”

Naga Pembunuh Giam Liong terbelalak. Ia memandang dua orang muda itu berganti-ganti lalu berhenti pada puteranya, mata itu bergerak dan pikiranpun tentu saja bekerja. Yu Bin! Tapi ketika ia menggeleng tak menemukan siapa jawabnya tiba-tiba Giam Liong teringat seseorang yang mungkin tahu itu.

“Hm, aku tak tahu ini, tapi namanya sama dengan she ibumu, she Yu. Agaknya seseorang di kota raja yang tahu ini, Sin Gak. Marilah kita ke sana dan selidiki siapa dia!”

“Ke kota raja?”

“Ya, menemui bibimu Hui Kiok, atau lebih tepat lagi menemui Yauw-ongya karena dialah yang tahu kerabat-kerabat istana. Mungkin aku belum menceritakan kepadamu bahwa ibumu jelek-jelek adalah seorang puteri pangeran. Ibumu seorang puteri bangsawan. Dan karena Yauw-ongya adalah pamannya yang kini beristerikan Hui Kiok biarlah kita ke sana mencari tahu. Aku teringat sekelumit cerita bahwa Majikan Hutan Iblis ini ada kaitannya dengan istana, maksudku bahwa dia kerabat dalam yang ada hubungannya dengan istana. Kalau kini dia bernama Yu Bin marilah kita cari tahu kepada Yauw-ongya ini!”

Sin Gak bersinar-sinar. Ia tertegun bahwa ibunya kiranya seorang puteri bangsawan, berarti jelek-jelek iapun berdarah biru. Tapi karena bukan wataknya untuk berbangga kosong, semua itu hanya sebutan saja maka ia bangkit dan mengangguk kepada ayahnya ini, mulai tertarik untuk mengetahui silsilah keluarga, terutama dari pihak ibunya itu, siapa kakeknya atau orang-orang dekat ibunya itu.

“Baiklah, rupanya dari sini kita akan menemukan titik terang, ayah, juga hal-hal penting yang mungkin akan kita temui. Tapi bagaimana dengan Bi Hong, bolehkah ia ikut.”

“Ah, tentu saja. Tak ada larangan menemui Yauw-ongya itu. Kita menemui kerabat sendiri, Sin Gak, Bi Hong boleh ikut, kecuali kalau ia tak suka!”

“Aku menjaga di sini saja, mengawasi keadaan. Sungkan rasanya mencampuri urusan keluarga.” Bi Hong ternyata menolak karena sungkan.

“Tidak,” Sin Gak menyambar lengan kekasihnya ini. “Kalau istana tak melarang orang luar datang bertamu tentu saja kau ikut, Hong-moi. Aku bertanya kalau-kalau kehadiranmu melanggar tata cara. Tapi ayah berkata tak apa-apa, nah, ikut saja dan temani kami. Tentu saja aku tak akan membiarkanmu sendiri di sini!”

“Benar,” Giam Liong mengerti perasaan gadis ini. “Kalau aku datang ke sana tak ada apa-apa, Bi Hong, aku sudah mereka kenal. Marilah, kau ikut bersama kami.”

Gadis itu girang. Sesungguhnya tentu saja ia gembira asal bersama Sin Gak, ke manapun tentu tak akan menolak. Maka ketika orang tua itu mengajak sendiri dan ia tak akan mengganggu, baru kali itu ia akan ke istana maka Giam Liong akhirnya mengajak puteranya meninggalkan Hutan Iblis. Tempat itu ternyata ditinggalkan penghuninya dan Thai Bang Kok Hu maupun si banci Siauw Hong sudah lama menghilang. Dan begitu mereka berkelebat ke utara maka kota raja adalah tujuannya.

* * * * * * * *

Yauw-ongya adalah pangeran ramah yang menyambut tiga orang ini. Ia adalah paman Yu Yin dan kalau wanita itu masih hidup maka usia mereka tidak jauh berbeda, seorang pangeran yang masih muda dan merupakan adik dari mendiang Kedok Hitam yang ganas (baca: Naga Pembunuh). Karena Kedok Hitam adalah ayah Yu Yin, sementara Yauw-ongya adalah adik Kedok Hitam maka pangeran ini merupakan paman bagi mendiang Yu Yin karena Kedok Hitam sesungguhnya juga seorang pangeran yang akhirnya tewas dibunuh Giam Liong. Semua ini telah kita ikuti dalam kisah yang lalu.

Sin Gak mula-mula bingung harus menyebut apa. Menurut urutan keluarga maka ayahnya harus menyebut paman pada pangeran itu, biarpun ayahnya lebih tua sekitar dua tahun dibanding pangeran ini. Namun karena Yauw-ongya bukanlah seorang yang banyak terikat adat dan hal ini dibuktikan ketika menyambut dirinya dan semua saja, maka pangeran itu justeru memanggil ayahnya Giam-siauwhiap (pendekar Giam).

“Aha, Giam-siauwhiap kiranya, selamat datang. Dan ini, eh.... puteramu, siauwhiap? Mirip benar, bagai pinang dibelah dua. Ha-ha, kalian mengejutkan aku dan pengawal memberi tahu tergesa-gesa, tak tahunya kalian berdua. Duduk, mari duduk.... dan maaf siapa nona ini!” tuan rumah menyambut begitu ramah dan diam-diam Sin Gak lega.

Bi Hong, yang ditanya tersipu merah. Mereka telah memasuki sebuah ruangan besar serba indah, tirainya dari sutera-sutera mahal sementara pengawal berjaga di kiri kanan gedung. Giam Liong mengajak mereka datang secara terang-terangan dan pengawal tentu saja bergegas menyambut kedatangan pria ini. Siapa tidak tahu Naga Pembunuh Giam Liong, orang yang dulu menggemparkan kota raja dengan sepak terjangnya yang tak kenal takut, tak kalah dengan mendiang Golok Maut Sin Hauw.

Inilah keluarga yang tak boleh dibuat main-main. Maka ketika pengawal memberi tahu dan mereka dibawa ke dalam muncullah pangeran itu maka Bi Hong maupun Sin Gak tercengang kagum melihat isi gedung yang gagah dan mewah, diam-diam melihat betapa berkelebat bayangan pengawal-pengawal rahasia yang siap mengamankan istana.

“Hm, mudah-mudahan kami tak mengganggu,” Giam Liong mengangguk dan memberi hormat. “Maafkan kalau kedatangan kami tanpa diundang, ongya. Tentang ini memang benar puteraku, Sin Gak. Dan gadis itu...”

“Tunggu, nanti dulu. Ini adalah Sin Gak yang hilang itu?”

“Benar, ongya, kami sudah bertemu. Dan gadis itu...”

“Astaga, sudah kuduga. Kalau saja tak hilang diculik orang tentu ibumu tak harus meninggalkan kita. Ah, aku gembira melihat kau datang!” Yauw-ongya menyambar dan lagi-lagi memotong omongan Naga Pembunuh, memeluk dan menepuk-nepuk pundak pemuda ini hingga Sin Gak terharu. Inilah orang yang menjadi kakeknya, kakek yang masih terlalu muda dan tak pantas disebut kakek! Maka ketika ia diam saja kecuali menunduk dan memberi hormat maka Sin Gak mengucapkan terima kasih atas perhatian dan semua bantuan yang pernah diberikan pangeran ini.

“Terima kasih? Ah, tak perlu. Ibumu adalah keponakanku, Sin Gak, tanpa dimintapun pasti aku membantu. Dan kau, hmm panggil saja aku paman karena aku memanggil ayahmu Giam-siauwhiap!”

Sin Gak tersipu, mundur. Pangeran ini rupanya dapat membaca perasaan orang.

“Dan itu, siapa gadis ini? Gagah dan mengagumkan, pasti sejenis kalian para pendekar kang-ouw!”

“Dia Bi Hong...”

“Aku yang bodoh Bi Hong,” gadis ini menyambung ucapan Giam Liong. “Aku gadis biasa yang tak pandai apa-apa, ongya, harap jangan terlalu memuji.”

“Hm, semuanya pandai merendah. Semakin merunduk berarti semakin lihai. Bagus, silakan duduk, nona, dan eh, itu isteriku!”

Seorang wanita cantik muncul membawa nampan dan inilah Hui Kiok isteri Yauw-ongya. Bahwa nyonya rumah tak menyuruh pelayan melainkan maju sendiri membawa minuman dapatlah diduga bahwa Giam Liong adalah tamu yang amat dihormati. Hal ini tak aneh karena Hui Kiok adalah sahabat dekat mendiang Yu Yin, bahkan perjodohan wanita itu dengan Yauw-ongya adalah atas jasa Yu Yin pula. Maka ketika Bi Hong terkejut melihat wanita cantik menemui mereka, membawa minuman pula maka wanita ini sudah melepas senyumnya memandang si Naga Pembunuh.

“Selamat datang, Giam-siauwhiap kiranya tak melupakan kami. Silakan minum, siauwhiap, dan ini”

“Itu Sin Gak, bocah yang hilang itu. Lihat betapa mirip dengan ayahnya!” Yauw-ongya memotong dan wanita itu melebarkan matanya. Ia tadi baru memperhatikan si Naga Pembunuh bukan yang lain-lain. Maka begitu melihat Sin Gak dan terkejut berseru kagum maka Sin Gak tersipu bangkit berdiri.

“Benar, hamba Sin Gak...”

“Eh, jangan menghamba. Aku adalah bibimu. Kau, ah... kau seperti ayahmu, Sin Gak, alangkah girangnya ibumu apabila melihat kau!” nyonya rumah menubruk dan tiba-tiba mengguncang bahu pemuda ini, terisak dan tiba-tiba sudah menangis begitu membayangkan masa lalu. Ibu pemuda ini adalah sahabatnya.

Maka ketika itu tersedu dan sudah mengguncang pundak pemuda ini dengan air mata bercucuran maka sejenak suasana menjadi penuh haru dan Bi Hong mengusap pula matanya yang basah. Nyonya rumah menbuat mereka bertangisan akan tetapi Yauw-ongya batuk-batuk, maju dan melepaskan isterinya dari Sin Gak. Lalu ketika ia berkata bahwa tamu harus disambut baik-baik, bukannya dengan air mata maka wanita itu sadar dan buru-buru meminta maaf.

“Aku... aku salah. Maafkan, Sin Gak. Melihatmu mengingatkan hubunganku dengan ibumu. Suamiku benar dan kalian tentu membawa berita penting, tapi sebelum itu ceritakanlah kepada kami bagaimana kalian ayah dan anak bertemu. Siapa penculik jahat itu, apakah Siauw Hong!"

“Benar dia, tapi sudah dilepas orang lain lagi. Sin Gak akhirnya dibawa orang sakti, Hui Kiok. Ia baru saja menemuiku setelah turun gunung.”

“Ah, ceritakan kepadaku. Tentu menarik!”

“Biasa-biasa saja,” Sin Gak mengedip dan cepat memberi isyarat ayahnya. “Kami bertemu semata kebaikan Tuhan, bibi, anugerah yang dilimpahkan kepada kami agar kami bersyukur dan berterima kasih. Tak ada yang istimewa.”

“Tapi tentu ada yang menarik, orang sakti itu!”

“Ah, guruku orang biasa juga, ayah terlalu memuji. Bibi tak perlu menyanjung karena ini semua kebaikan Yang Maha Baik belaka. Sudahlah tak ada apa-apa kecuali bahwa kami selamat dan akhirnya bertemu.”

Nyonya rumah penasaran. Tentu saja ia tak puas akan jawaban ini namun sang suami menyenggol. Dari isyarat itu segera ia tahu bahwa pemuda ini tak ingin banyak bicara, ada rahasia atau yang bersifat pribadi yang tak ingin diberitahukan. Maka ketika ia maklum dan duduk menemani segera matanya membentur Bi Hong. “Dan gadis ini,” katanya tak tercegah. “Apakah menantu Giam-siauwhiap?”

“Ha-ha!” Bi Hong semburat merah. "Ia teman Sin Gak, isteriku, mungkin masih bakal menantu. Namanya...”

“Bi Hong,” Giam Liong tersenyum berkata, menyambung tuan rumah. “Ia teman baik anakku, Hui Kiok, tapi tak kalah hebat. Maaf aku lupa memberi tahu padamu.”

“Ha-ha, Bi Hong!” gadis itu semburat merah. “Benar ia Bi Hong. Eh, jangan tanya-tanya lagi karena keperluan tamu kita ini belum diutarakan. Hayo duduk dan silakan minum!”

Sin Gak dan Bi Hong sama-sama merah karena kedua orang tua itu jelas menggoda mereka. Untunglah Yauw-ongya tak lama-lama dan Giam Liong juga teringat keperluannya. Maka ketika semua duduk dan tuan rumah mempersilakan minum segera Yauw-ongya bertanya ada keperluan apakah Naga Pembunuh datang bertiga, hal yang mengingatkan pendekar ini dan membuat Bi Hong lega karena tak akan digoda lagi.

“Kami datang karena ada suatu keperluan.”

“Ya-ya, itu pasti. Kau tak akan datang kalau tak ada keperluan, Giam-siauwhiap. Coba katakan mungkin kami perlu membantu.”

“Hm,” Giam Liong agak memerah. “Kami datang untuk urusan lama, ongya, maksudku tentang musuh lamaku itu.”

“Majikan Hutan Iblis?”

“Benar.”

“Hm, coba katakan itu. Apa maksudmu.”

“Ia kutemukan jejaknya, maksudku kutemukan namanya.”

“Bagus, siapa dia!”

“Yu Bin!” langsung saja Giam Liong berkata dan suami isteri itu tampak terkejut, rasa terkejut yang tak dapat disembunyikan lagi.

“Yu Bin?” serentak mereka berseru. “Maksudmu adik kandung mendiang kakak tiriku Coa-ongya? Majikan Hutan Iblis adalah dia?”

“Aku tak tahu dan kurang jelas. Tapi namanya. Yu Bin, ongya, dan untuk inilah kami bertanya. Kalau begitu she Coa.”

“Benar,” Yauw-ongya termangu-mangu dan pucat. “Akan tetapi orang ini sudah lama tiada, siauwhiap, maksudku hilang atau tewas. Sejak kau membunuh Kedok Hitam itu lima tahun sebelumnya ia tak ada disini.”

Giam Liong bersinar-sinar. Ia tak tahu kalau Kedok Hitam yang sebenarnya adalah juga Coa-ongya itu mempunyai adik kandung. Yauw-ongya ini saudara lain ibu dengan Coa-ongya, dan selama Yu Yin menjadi isterinya iapun tak pernah mendengar nama ini. Maka ketika Yu Bin disebut sebagai adik Coa-ongya dan maklumlah dia kenapa isterinya dibunuh segera ia mengangguk-angguk dan pandang matanya berkilat melihat sebuah titik terang di depan.

“Hm, begitu kiranya, tapi Majikan Hutan Iblis ini bernama Yu Bin. Kalau ia memiliki hubungan dengan Kedok Hitam, maka sepak terjangnya selama ini dapat kumengerti, ongya, dan terima kasih untuk penuturanmu ini.”

“Nanti dulu, orang itu tak pernah lagi ada di istana dua puluh tiga tahu. Masa dia!”

“Aku akan melihatnya. Tapi kalau ia orang itu maka tak aneh kalau ia membunuh isteriku, ongya. Sebagai pamannya tentu ia merasa penasaran kenapa Yu Yin menjadi isteriku!”

“Siapa orang ini,” Sin Gak bertanya dan tak tahan. “Dapatkah kau menerangkan kepadaku, ayah, mungkin boleh aku tahu.”

“Hm, cerita yang tak enak,” sang ayah berkerut kening dengan wajah gelap. “Untuk ini sebaiknya di luar saja kuceritakan, Sin Gak, jangan di sini, mengganggu tuan rumah.”

“Ah, kalian jangan buru-buru pergi,” Yauw-ongya berkata dan mengangkat tangannya, Giam Liong siap bangkit berdiri. “Kalau demikian cepat kau meninggalkan kami maka sungguh kecewa hati ini Giam- siauwhiap. Betapapun hubungan keluarga jangan dilupakan begitu saja. Aku dan isteriku ingin kalian tinggal beberapa hari di sini!”

“Benar,” nyonya rumah mengangguk dan dapat melihat itu, khawatir kalau tamunya cepat-cepat pergi. “Berikan kesempatan untuk bercakap-cakap dengan puteramu, siauwhiap, atau nona ini. Kalian jangan cepat- cepat pergi!”

Giam Liong memandang puteranya. Kebetulan Sin Gak juga memandang ayahnya dan pemuda ini menahan agar sang ayah jangan buru-buru pergi. Berita itu justeru ingin digali. Dan ketika Giam Liong tak jadi berdiri dan meninggalkan kursi maka Yauw-ongya bertepuk tangan memanggil pengawal.

“Panggil putera-puteriku ke mari. Biar bertemu dan berkenalan dengan paman dan kakak atau encinya!”

Bi Hong semburat merah. Lagi untuk kesekian kali ia dianggap “orang dalam” bagi keluarga Naga Pembunuh, berarti kerabat tuan rumah pula. Dan muncul seorang pemuda dan dua gadis remaja maka Yauw-ongya bangkit tertawa memperkenalkan itu.

“Heii, ke mari. Ini pamanmu Giam Liong. Lihat ia bertamu di tempat kita, dan itu kakakmu Sin Gak, sedang enci ini adalah Bi Hong!”

Tiga muda-mudi itu melangkah lembut. Dari gerak-gerik mereka tampaklah bahwa mereka ini jelas orang-orang terpelajar yang tindak-tanduk atau kata-katanya halus. Mereka membungkuk dan hampir bersamaan memberi hormat, yang pemuda mewakili adik-adiknya menjura lebih dulu. Lalu ketika ia memperkenalkan bahwa ia bernama Yauw Kam sedang dua gadis di kiri kanannya itu adalah Yauw Hui dan Yauw Tien maka Yauw-ongya tertawa menuding.

“Barangkali siauwhiap ingat bahwa inilah Tien Tien, dulu ia masih bayi ketika kau dan isterimu datang. Nah, mereka sudah besar seperti puteramu ini pula yang sudah dewasa dan tampak matang.”

Giam Liong mengangguk-angguk. Sin Gak cepat berdiri disusul Bi Hong, putera-puteri tuan rumah memberi hormat. Dan ketika Giam Liong teringat gadis paling kecil itu, Tien Tien maka ia tersenyum berkata, “Benar, ini kiranya Tien Tien. Sudah besar dan cantik seperti ibunya.”

“Ha-ha, ibunya sudah tua. Kalau kau ingat maka ia yang paling nakal, siauwhiap. Barangkali kalau menjadi merupakan murid paling bandel dan suka membangkang!”

“Tapi anak-anak kita tak suka ilmu silat,” nyonya rumah menggeleng dan mengingatkan. “Yauw Tien lebih suka menyulam dan memasak, suamiku, mana bisa memegang golok atau pedang.”

“Ha-ha, aku bergurau saja, tapi benar, anak-anak kita tak suka kekerasan. Ah, duduk dan mari bercakap-cakap dengan keluarga, sendiri, ini pamanmu Giam Liong yang sering kuceritakan itu!”

Tiga muda-mudi itu mengangguk ragu dan mereka melirik si buntung bernama seram itu. Sesungguhnya mereka putera-puteri bangsawan yang lebih suka kehalusan daripada pelajaran pedang atau silat. Kalau saja tak dipanggil ke situ mungkin mereka enggan. Mereka telah mendengar datangnya tamu-tamu ini dan ketiganya tiba-tiba merasa tak senang. Naga Pembunuh adalah orang yang terlalu kejam di mata mereka, sadis.

Namun karena pria itu suami Yu Yin sedangkan mendiang wanita itu adalah puteri Coa-ongya kakak tiri ayah mereka maka mereka tak berani banyak membantah namun melihat Sin Gak dan Bi Hong justeru mereka tertegun. Dua orang ini halus dan tenang gerak-geriknya, meskipun Sin Gak berwajah dingin seperti ayahnya, dengan sepasang mata tajam namun saat itu teduh dan lembut.

“Nah, inilah keluarga dari encimu Yu Yin. Namun karena mereka adalah orang-orang kang-ouw dan pendekar pilihan maka sebaiknya kau panggil Giam-siauwhiap ini sebagai paman dan dua orang muda itu kakak atau enci kalian.”

Tiga orang muda itu mengangguk. Selanjutnya pembicaraan berkisar pada urusan lain dan sebentar kemudian Bi Hong didekati enci adik itu. Yauw Kam mengajak Sin Gak bercakap-cakap sementara Giam Liong berbicara dengan tuan rumah. Dari sini segera didapat keterangan bahwa Coa Yu Bin atau adik kandung Coa-ongya itu orang yang tak pernah tinggal di istana, duapuluhan tahun yang lalu ia lenyap entah ke mana. Maka ketika tiba-tiba Giam Liong membawa nama ini dan Yauw-ongya terkejut maka dengan nada khawatir tuan rumah berkata bahwa jangan-jangan Naga Pembunuh salah dengar nama orang, atau mungkin kebetulan sama nama.

“Seingatku Yu Bin adalah laki-laki lemah, cenderung bersifat kewanita-wanitaan. Kalau ia menjadi Majikan Hutan Iblis sungguh sukar kupercaya. Dan lagi namanya telah dihapus dari daftar istana karena tak pernah berkunjung atau memberi hormat kaisar. Ia telah dianggap tiada atau tewas, tak mungkin Yu Bin yang ini.”

“Baiklah, nanti kuselidiki. Tapi kalau boleh kutahu di mana tempat tinggalnya dulu, ongya. Mungkin aku ingin ke sana.”

“Hm, di bagian belakang istana, dekat taman binatang. Sekarang tempat itu tak pernah dipakai dan rumahnya kosong tak terawat. Rumah ini bahkan dianggap berhantu karena sering terdengar suara-suara aneh seperti orang menangis atau kesakitan. Orang menganggap roh Yu Bin gentayangan disitu.”

Giam Liong mengangguk-angguk. Segera ia teringat sebuah rumah kecil di dekat taman binatang. Dulu tempat ini dijadikan ransum binatang alias tempat makanan hewan yang dipelihara istana. Rumput-rumput kering atau sejenis padi-padian disimpan di situ. Akan tetapi setelah di rumah kosong ini sering terdengar suara hantu dan penjaga ketakutan maka ransum binatang piaraan tak ditaruh di situ lagi dan tempat itu benar-benar dikosongkan.

“Sekarang penuh debu dan sarang laba-laba, anyir dan berbau amis. Untuk apa ke sana hanya membuat hidung terganggu saja.”

“Tak apa,” Giam Liong tersenyum. “Sifatnya hanya penyelidikan saja, ongya, dan untuk ini aku amat berterima kasih.”

Pembicaraan berhenti di tengah jalan. Lonceng di atas dinding berdentang menunjukkan waktu makan, nyonya rumah bangkit dan buru-buru ke belakang. Lalu ketika muncul lagi mempersilakan tamunya maka pelayan muncul dan meja itu segera terisi hidangan. Makanan lezat dan anggur manis membangkitkan selera.

“Ngobrol boleh ngobrol, sekarang ditunda dulu. Ayo kalian nikmati ini dan makan seadanya dulu.”

“Benar,” Tien Tien gembira berseru kepada Bi Hong. “Ini hari ulang tahun ayah, enci Bi Hong. Ibu selamatan kecil khusus keluarga. Sekarang kalian datang, kebetulan sekali. Ayo sambar tapi aku ingin beri dulu hormat kepada ayah!”

Gadis itu ternyata sudah akrab dengan Bi Hong dan semua terkejut mendengar ini. Jadi Yauw-ongya berulang tahun? Maka ketika gadis itu meloncat dan menyalakan lilin, disusul kakaknya dan sang ibu maka nyonya rumah tersenyum berkata,

“Memang benar, suamiku berulang tahun. Ini adalah ulang tahunnya keempatpuluh dan hari ini aku sengaja masak sendiri untuk menyambutnya. Hayo ucapkan selamat dan nyalakan lilin!”

Kegembiraan meledak. Semua bangkit dan tertawa dan Tien Tien mencium pipi ayahnya. Yauw Hui melakukan hal yang sama pula dan tampaklah bahwa hubungan ayah dan anak amatlah baik. Yauw Kam tak mau kalah dan mencium pipi ayahnya dua kali, semua mengucapkan selamat ulang tahun. Dan ketika Yauw-ongya tertawa mengucap terima kasih, Sin Gak dan lain-lain tentu saja menjura dalam maka di saat meniup semua lilin mendadak lampu besar pecah.

“Darr!”

Semua terkejut dan mendongak. Entah kebetulan atau tidak lampu kaca itu hancur. Lampu ini tepat di atas meja dan seekor tokek jatuh. Tubuhnya hangus dan gosong. Lalu ketika semua tertegun dan membelalakkan mata, Yauw-hujin menjerit kecil maka kue tart yang tertimpa tokek tak jadi dimakan. Binatang itu terbenam dan melesak ke dalam kue.

“Ah, kurang ajar. Susah payah membuat kue akhirnya tak dapat dimakan. Terkutuk!” Tien Tien memaki tokek itu dan Giam Liong cepat mengambil dan membuang binatang ini.

Lampu-lampu kecil masih ada di situ dan menerangi ruangan ini. Sin Gak memandang ke atas namun kejadian ini rupanya tak disengaja. Seekor lalat hijau terbang meninggalkan lampu yang pecah itu dan si tokek rupanya mengejar, gagal dan akhirnya pecah sementara binatang itu hangus terbakar, Dan ketika semua menganggap peristiwa ini gangguan tak disengaja namun membuat muram Yauw-ongya maka pangeran ini tak senang dan kue ulang tahun terpaksa dibuang.

“Hm, menyesal sekali, buah karyamu tak dapat kunikmati. Maaf, isteriku, tak mungkin tamu-tamu kita memotong kue ulang tahun.”

“Sudahlah, tak apa,” Hui Kiok murung namun berusaha tenang lagi, memaksa senyum. “Gangguan ini di luar dugaan kita, suamiku, akan tetapi masih ada hidangan lain anggur dan arak. Mari, kau minum dulu dan kami mengiringi. Selamat ulang tahun!”

Yauw-ongya tersenyum dan mengangkat cawannya. Ternyata ulang tahun pangeran ini diperingati sederhana saja dan itupun oleh keluarga sendiri. Tak ada yang datang karena memang tak ada yang diundang. Namun ketika semua minum arak dan mencoba bergembira lagi mendadak muncullah seorang perwira gemuk pendek, nyelonong membawa kado.

“Ongya, maafkan hamba. Kami para pengawalmu hanya dapat memberikan ini sekedar ucapan ulang tahun. Harap diterima dan semoga panjang umur!”

“Ah, Ge-busu. Terima kasih, Ge Mok, kalian ingat juga ulang tahunku ini. Terima kasih dan salam untuk semua bawahanmu!” Yauw-ongya terkejut namun menerima pemberian itu.

Orang sudah menjura hormat dan tertawa lebar, inilah pengawal atau komandan jaga Yauw-ongya. Melalui orang inilah Giam Liong dan Sin Gak serta Bi Hong masuk. Maka ketika pangeran tertawa dan suasana menjadi hangat lagi, kado dibuka terisi kue tart maka Yauw-ongya berseri mendapat pengganti.

“Ha-ha, kue ulang tahun. Bagus, kebetulan sekali!”

Ge-busu merasa girang dan Yauw-ongya memotong kue itu. Sebelum pengawalnya keluar tentu saja ia memberi sepotong, yang lain dibagi dan diberikan tiga tamunya. Dan ketika kegembiraan berlanjut lagi maka Ge-busu sudah minta diri sementara pesta kecil itu dinikmati Yauw-ongya dan anak isterinya, juga Giam Liong. Lampu besar sudah dipasang yang baru dan ruanganpun kembali terang-benderang. Dan ketika makan minum berakhir menjelang waktu tidur maka Yauw-ongya mempersilakan tiga tamunya beristirahat, tadi Giam Liong telah menerima bujukan tuan rumah untuk menginap di situ, paling tidak malam itu.

“Bi Hong biar bersama Tien Tien, cukup berdua. Sedang siauwhiap dan Sin Gak boleh pilih kamar di samping.”

Pesta berakhir. Giam Liong bangkit dan meninggalkan kursinya sementara Yauw Kam mengantar tamu-tamunya sesuai kehendak sang ayah. Cepat sekali pemuda ini akrab dengan Sin Gak. Namun ketika pemuda itu hendak diberi kamar di sebelah ayahnya maka Sin Gak menggeleng dan berkata,

“Aku hendak bicara dulu dengan ayahku. Silakan tidur dan nanti aku beristirahat.”

“Baiklah, selamat malam, Gak-twako, selamat beristirahat. Kalau ingin sesuatu, panggil saja pelayan.”

Giam Liong memandang puteranya ini, tertegun.

“Ayah tak keberatan kita bercakap-cakap sebentar, bukan?”

“Hm, kau hendak bertanya tentang keluarga ibumu?”

“Benar, dan aku penasaran. Tolong ayah ceritakan kalau tidak keberatan.”

“Baiklah,” Giam Liong membawa anaknya masuk. “Mari di dalam, Sin Gak, dan tutup pintu rapat-rapat.”

Sin Gak mengangguk dan sudah duduk berhadapan dengan ayahnya ini. Tak dapat disangkal bahwa ia ingin mengetahui silsilah ibunya, paling tidak siapa kakeknya dari ibu dan siapa pula Kedok Hitam itu. Di ruangan tadi ayahnya berkerut gelap, tanda sesuatu tak menyenangkan ayahnya ini dan Yauw-ongyapun tampak kikuk. Tuan rumah dan ayahnya sama-sama terbawa kenangan buruk, kisah masa lalu. Dan karena ia tak tahu peristiwa apa itu dan Majikan Hutan Iblis agaknya berhubungan dengan ini maka ia tak ragu memandang ayahnya untuk minta diceritakan.

“Baru sekarang kutahu bahwa ibu berdarah bangsawan. Kau tak pernah bercerita tentang ini, ayah, keluarga ibu tak jelas bagiku. Coba ceritakan dan siapa ayah dari ibu, siapa Coa-ongya itu, juga mendiang Kedok Hitam.”

“Hm, peristiwa buruk bagai mimpi mengerikan,” sang ayah mulai dan menarik napas dalam. “Orang yang kau sebut bukan lain adalah kakekmu juga, Sin Gak. Coa-ongya itu adalah ayah ibumu, begitu juga Kedok Hitam.“

“Ah, ibu mempunyai dua orang ayah?” Mana mungkin?”

“Kedok Hitam adalah gurunya.“

“Oh, begitu. Jadi ayah ibu sebenarnya seorang.”

“Tidak, Kedok Hitam adalah juga ayah ibumu. Kedok Hitam ini adalah juga Coa-ongya, Sin Gak, jadi dua orang itu satu karena mereka sama!”

Sin Gak tertegun, mengerutkan kening.

“Dengarlah,” ayah bercerita. “Dulu dua puluh satu tahun yang lalu terjadi permusuhan hebat antara aku dengan si Kedok Hitam, Sin Gak, ia manusia jahat yang keji dan yang membuat ayahmu seperti ini. Permusuhan dimulai dari kakekmu Golok Maut, ayah dari ayahmu.“

“Hm, dan Kedok Hitam adalah ayah dari ibu?”

“Benar, ia kakekmu juga. Dan karena Kedok Hitam membunuh ayah ibuku maka ia kucari dan kutuntut balas.”

Sin Gak memandang ayahnya dengan tajam. Tiba-tiba ia menjadi ngeri karena peristiwa ini bertalian dengan keluarga sendiri, tapi mengangguk minta ayahnya meneruskan ia tak memberi komentar. “Baiklah, coba ayah lanjutkan.”

“Kedok Hitam adalah samaran Coa-ongya, kakak tiri Yauw-ongya. Tapi karena waktu itu aku tak tahu sama sekali maka terjalinlah hubunganku dengan mendiang ibumu.”

“Hm, ibu tak tahu bahwa ayah memusuhi Kedok Hitam?”

“Tahu, Sin Gak, tapi yang tak ia ketahui adalah bahwa Kedok Hitam ayahnya juga.”

“Menarik, coba ayah lanjutkan!”

“Ibumu adalah saorang wanita gagah yang lain dengan gurunya itu. Sepak terjangnya bahkan acap kali menentang gurunya sendiri. Dan ketika semua berakhir dengan keberhasilanku membunuh musuhku maka disitulah baru diketahui bahwa Kedok Hitam adalah sekaligus ayahnya.”

“Hm, hebat sekali, tentu mengerikan. Apa yang dilakukan ibu setelah itu, ayah, tentu ia marah besar!”

“Benar, dan untuk itu ia membuntungi lenganku ini.”

Sin Gak tertegun, baru kali ini mendengar itu. Ibu.... ibu yang membuntungi lenganmu itu? Jadi bukan orang lain?”

“Benar, Sin Gak, bahkan waktu itu golok ibumu menuju leherku. Kalau pamanmu Han Han tidak menangkis tentu waktu itu aku binasa.”

Sampai di sini sepasang mata sang ayah tiba-tiba berkaca-kaca. Sin Gak dapat membayangkan itu dan hatinya tergetar, tak terasa ia menjadi terharu dan memandang lengan ayahnya yang buntung. Lalu ketika ia mendesah berlutut di kaki ayahnya ini tiba-tiba pemuda itu mengeluh dan menitikkan air mata.

“Ayah, kiranya begitu berat penderitaanmu waktu itu. Tak kusangka bahwa kau memusuhi ayah dari kekasihmu sendiri. Kasihan pula ibu.”

“Benar, iapun menderita. Kemarahannya kepadaku waktu itu dapat kumaklumi Sin Gak, dan waktu itu aku juga pasrah dibunuh. Akan tetapi ah, pamanmu Han Han menyelamatkan aku dan sebagai gantinya lenganku inilah yang menjadi tumbal. Golok Maut semakin berdarah.”

“Jadi ayah dibuntungi golok ayah sendiri?”

“Benar, lewat tangan ibumu. Tapi setelah itu ibumu mengguguk dan menubruk aku. Sekian lama aku dirawat, lalu ketika sembuh kami akhirnya menikah.”

Sin Gak memejamkan mata. Baru sekian saja ia merasa tak tahan. Dapat dibayangkan betapa besar dan berat penderitaan ayahnya. Tapi ketika ia membuka mata kembali segera ia teringat sesuatu dan ayahnya menyuruhnya duduk lagi.

“Maaf, apa yang membuat ayah begitu benci kepada si Kedok Hitam.”

“Ia keji, membunuh kakek dan nenekmu.”

“Tapi kakek dan nenek mungkin melakukan sesuatu yang membuat Kedok Hitam membunuh mereka, ayah, kalau tidak masa ia sekejam itu.”

“Hm, jahanam ini bejat pada dasarnya. Ia buruk sejak muda, Sin Gak, dasarnya memang iblis. Coba pantaskah seorang ayah hendak memperkosa puterinya sendiri!”

“Maksud ayah kakek hendak mengganggu ibu?”

“Ya, coba benarkan. Iblis atau bukan manusia semacam itu!”

Sin Gak terbelalak. Sungguh tak di sangka kalau sejauh itu seorang ayah bersikap kepada puterinya sendiri. Maka ketika ia mendesah dan mengangguk geram iapun tak membela lagi Kedok Hitam ini. “Kalau begitu benar-benar jahat, tapi kenapa ia hendak melakukan itu. Apakah otaknya sudah gila.”

“Ia marah sekali kepada ibumu yang membela aku habis-habisan, tapi betapapun tak pantas seorang ayah melakukan itu!”

“Hm, benar, bejat sekali. Lalu sekarang informasi apa yang kau dapat dari Yauw-ongya, ayah, maksudku si Yu Bin itu. Apakah benar ia adik kandung Kedok Hitam.”

“Agaknya begitu, dan aku akan menyelidiki rumah kosong di taman binatang belakang istana.”

“Berarti ia pamanmu.”

“Paman dari ibumu!”

“Benar, tetapi kakekku juga. Ah, hidup begini rumit, ayah, tali-temali begitu membelit. Tapi kebenaran harus ditegakkan. Baiklah, kapan ayah ke sana dan bolehkah aku ikut!”

Giam Liong berseri. Ia melihat kekerasan di wajah puteranya ini dan gembira. Kalau benar Majikan Hutan Iblis itu adik kandung Coa-ongya maka ia adalah kakek luar puteranya. Berarti cucu akan berhadapan dengan kakeknya. Dan ketika ia girang bahwa puteranya tak tepengaruh hubungan keluarga itu, ikatan darah di pihak isterinya maka Giam Liong segera menjawab bahwa malam ini adalah saat yang tepat untuk pergi menyelidik.

“Besok kita harus pergi dari sini, malam ini kuputuskan untuk menyelidik. Kalau kau ikut tentu saja amat baik. Mari kita keluar dan jangan sampai membuat berisik!”

Sin Gak mengangguk. Sang ayah sudah memberi sekilas cerita dan itu cukup, ia telah mengetahui intinya. Maka begitu mereka berkelebat dan melayang keluar jendela, bergeraklah ayah dan anak menuju belakang istana tiba-tiba berkelebat bayangan lain dan Bi Hong telah menyusul mereka.

“Sin Gak !”

Pemuda ini terkejut. Dia dan ayahnya telah berlari di atas wuwungan ketika tiba-tiba saja seruan itu memanggil. Bi Hong berkelebat dan telah berdiri di dekat mereka. Dan ketika Sin Gak terkejut namun girang, sang ayah menoleh dan tersenyurn maka Giam Liong tiba-tiba melanjutkan larinya mengerahkan ilmu meringankan tubuh.

“Bagus, semakin baik. Ayo ajak Bi Hong sekalian, Sin Gak, tak apa bertiga menyelidiki tempat itu. Mari, cepat kesana!”

Sin Gak menyambar lengan kekasihnya ini. Ia bertanya apakah Tien Tien tak mengetahui kepergiannya, karena Bi Hong satu kamar dengan gadis itu. Namun ketika dengan tersenyum Bi Hong menggeleng maka gadis ini menjawab bahwa temannya sudah tidur.

“Tien Tien kuusap belakang tengkuknya, mengantuk. Ia tak akan bangun sebelum aku kembali.”

“Kenapa kau lakukan itu? Memangnya berbahaya untukmu?”

“Berbahaya apa,?” gadis ini tertawa. “Aku melakukan itu semata ingin mengikutimu, Sin Gak. Ayahmu tadi telah bertanya dan pasti menyelidik. Nah, kau tentu ikut ayahmu dan aku ikut kau!”

“Ha-ha, dasar cerdik. Dugaanmu memang benar, Bi Hong, aku penasaran bertanya kepada ayah. Dan hmm, ada hal-hal tidak kuduga yang kudapat dari ayah.”

“Tentang apa.”

“Kisah ibuku, atau lebih tepat keluarganya. Dan...“

“Dan kau berdarah bangsawan. Aku juga tidak menyangka ini, Sin Gak, jelek-jelek kau keturunan pangeran melalui ibumu!” Bi Hong memotong dan gadis itu tertawa.

Akan tetapi Sin Gak mendesah kecewa, tersenyum pahit. “Tidak seperti yang kau duga. Darah di tubuhku bisa kotor oleh kebangsawanan itu, Bi Hong, justeru aku tak senang.”

“Eh, kenapa begitu?”

“Hayo kejar ayah dan lihat ia menghilang!” Sin Gak menarik lengan kekasihnya ini untuk mengejar sang ayah yang sudah jauh di depan. Giam Liong melompat turun kemudian berlari di antara lorong-lorong gelap, hapal dan rupanya sudah biasa memasuki istana karena Naga Pembunuh ini memang tidak asing lagi, Dulu ketika ia mencari Kedok Hitam segala lika-liku istana dihapal, maka Sin Gak menyusul dan tak mau kehilangan ayahnya pemuda ini sudah menyeret kekasihnya setengah paksa, tak menjawab itu.

“Tunggu, jangan buru-buru. Kita atur jarak, Sin Gak, perlahan saja. Kalau kita mau dapat saja kita melampaui ayahmu. Ceritakan kenapa kau tak senang mendengar kebangsawananmu tadi!”

“Hm, siapa senang kalau aku cucu si Kedok Hitam. Orang itu ternyata jahat dan keji, Bi Hong, lebih baik aku menjadi cucu seorang gembel saja!”

“Eh, kenapa begitu. Coba ceritakan itu!”

Sin Gak lalu menceritakan apa yang didengar dari ayahnya. Tanpa perlu menutupi rahasia itu. Dan ketika gadis ini tertegun membelalakkan mata maka Bi Hong tak berani memberikan komentar.

“Lihat, apa senangnya menjadi cucu Coa-ongya. Kalau Coa Yu Bin itu betul adik kandungnya maka ia kakek luarku, Bi Hong, paman-kakek karena adik kakekku si Kedok Hitam.”

“Hm-hm, begitu kiranya, dan agaknya setali tiga uang. Kedok Hitam dan Majikan Hutan Iblis ini sama-sama jahat, Sin Gak. Kalau benar ia paman-kakekmu maka sepak terjang dan sifat-sifatnya tidak jauh berbeda dengan mendiang Kedok Hitam.”

“Ya, tapi ayah akan menyelidiki. Titik terang telah mulai tampak, tapi siapapun adanya dia harus tetap dilawan karena amat jahat dan keji. Ingat tengkorak atau tulang-belulang di pohon besar itu!”

Bi Hong mengangguk-angguk. Tentu saja ia memuji pemuda ini karena tak terpengaruh sama sekali oleh hubungan keluarga atau darah itu. Selama ini yang ia ketahui adalah Majikan Hutan Iblis itu adalah murid Te-gak Mo-ki, kedudukannya sebagai adik seperguruan tapi merupakan suheng (kakak) bagi Sin Gak. Janggal dan aneh kalau sute dan suheng adalah cucu dan kakeknya. Tapi karena sebut-menyebut itu tak berarti lagi bila melanggar kebenaran, mereka adalah pendekar yang harus membasmi kejahatan maka ketegasan dan sikap Sin Gak membuat Bi Hong kagum.

“Siapapun adanya dia maka dia adalah iblis. Coba ingat ketika dia membunuh ibuku, pantaskah seorang paman membunuh keponakannya? Tapi aku bergerak bukan berdasarkan dendam, Bi Hong, melainkan semata membela kebenaran menumpas kejahatan. Sudah terlalu banyak orang itu membuat dosa!”

“Ya, aku tahu. Dan sekarang lihat ayahmu membelok di situ!” Bi Hong menghentikan percakapan ketika tiba-tiba dia menuding.

Mereka telah tiba di taman margasatwa di mana geraman singa atau harimau mendirikan bulu kuduk. Di balik kerangkeng atau jeruji-jeruji besi tampaklah hewan-hewan buas tangkapan istana. Ini adalah hasil perburuan kaisar dan para pengawalnya, dipelihara dan sewaktu-waktu diambil kalau kaisar menghendaki santapan istimewa, daging harimau umpamanya, atau singa jantan. Dan ketika Sin Gak berhenti melihat ayahnya berhenti maka mereka sudah berada di sebuah rumah kosong yang daun pintunya tertutup rapat. Di tembok sebelah kiri terdapat tulisan “Rumah Hantu” dengan goresan besar-besar, begitu pula di pintu atau pilar merah di teras depan.

“Beranikah kau mengintai ke atas, sang ayah berbisik ketika sang putera digapai mendekat. “Aku ingin mengelilingi tempat ini sampai pintu besar, Sin Gak, dan kau periksalah dari atas genteng apa isi dalam rumah ini.”

“Hm, ayah seperti bertanya kepada anak kecil saja,” Sin Gak tersenyum. “Kenapa tidak berani dan harus takut, ayah? Baik aku ke atas dan kau putarilah rumah ini kalau menemukan sesuatu!”

Giam Liong tersenyum. Bulan di atas mereka tertutup awan sejenak dan tempat itupun gelap. Memasuki rumah ini berarti melompati pagar kawat sebagai batas pengaman, mereka telah melewati itu dan melihat keadaan rumah ini memang cukup menyeramkan. Sepasang pohon besar di depan rumah bergemeratak ditiup angin dingin, ujung ranting dan daun-daunnya bergesek menimbulkan bunyi setan. Mirip suling maut atau rintahan dedemit. Namun karena mereka bukanlah orang-orang penakut dan hawa dingin rumah itu dibuang dengan kibasan lengan baju maka Sin Gak sudah menghilang karena pemuda itu sudah berada di atas meletakkan kaki di atas genteng berwarna hitam.

“Kratakk-brukkk!”

Tempat yang diinjak pemuda itu roboh. Tanpa disangka-sangka dan tak menduga bahwa genteng yang diinjak begitu tua dan rapuh maka Sin Gak terjeblos ke bawah berseru kaget. Pemuda itu tak mengerahkan Bu-bian-kangnya karena tidak menghadapi musuh, hanya menginjak ringan akan tetapi bangunan tua itu roboh. Bersamaan ini terdengar raung dan pekik singa. Tempat itu hanya beberapa tombak saja dari kerangkeng besi yang mengurung binatang buas itu. Dan ketika Sin Gak terkejut terjeblos ke bawah maka dari kiri kanan menyambut sinar-sinar hitam menyambar tubuhnya, cepat luar biasa.

“Plak-plak-plak!” untunglah pemuda ini bermata tajam dan kedua tangannya menampar benda-benda hitam itu. Tujuh panah beracun dan tiga tombak panjang patah-patah, Sin Gak mengeluarkan keringat dingin karena tak menyangka serangan itu. Namun baru saja kakinya menginjak lantai dingin sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh dan terbukalah lantai itu menerima tubuhnya.

“Sin Gak!” Bi Hong berkelebat dan melihat pemuda itu di kegelapan yang pekat. Isi rumah ini tak tahu apa namun hawanya dingin menyeramkan. Ketika genteng rumah ambruk dan Sin Gak terjeblos ke bawah maka gadis ini sudah memanggil dan berseru cemas. Ia tadinya berada di luar berjaga-jaga, maksudnya menunggu pemuda itu memberi laporan. Tapi begitu genteng dan segalanya berdebum, ia berkelebat menyusul pemuda itu maka di saat itu ia melihat lubang hitam menerima kekasihnya.

“Rrrtttt!” Bi Hong melepas tali hitam dan cepat sekali membelit tubuh Sin Gak. Hampir saja pemuda ini menampar tali menyangka serangan. Akan tetapi ketika Bi Hong mengeluarkan seruan dan benda itu jelas berasal dari tangan si gadis, saat itu Sin Gak terjeblos masuk maka tertahanlah tubuhnya dan sekali Bi Hong menyentak pemuda itupun berjungkir balik menyelamatkan diri.

“Keluar!”

Akan tetapi kejadian tidak berhenti hanya sampai di sini. Begitu lantai membuka mendadak meja kursi menyambar-nyambar. Di sudut ruangan itu ternyata terdapat empat meja dan empat kursi, letaknya berhadapan dan di ujung meja atau kursi ini tertancap sebilah belati tajam. Bagai digerakkan tangan setan benda-benda ini melayang ke tengah, menuju ke lubang yang merupakan sumur itu. Akan tetapi karena Sin Gak sudah disendal ke atas dan pemuda itu berjungkir balik pula maka terdengar benda patah ketika meja dan kursi itu saling hantam.

“Brakkk!”

Rupanya ada karet lentur di kaki meja kursi itu. Mereka tertarik ketika lubang sumur terbuka, sepintas seperti digerakkan tangan setan dan tak aneh kalau orang biasa bakal mati kaku. Orang lihaipun bakal terancam bahaya kalau mampu meloncat keluar. Benda-benda itu sengaja dipasang kalau seseorang bisa menyelamatkan diri dari sumur jebakan. Dan ketika Sin Gak memaki merasa marah maka Bi Hong melepaskan talinya pemuda itu meloncat turun.

Akan tetapi kejadian belum habis. Bi Hong yang lega melihat Sin Gak selamat sekonyong-konyong dikejutkan teriakan di luar rumah. Giam Liong si Naga Pembunuh berseru keras, mengejutkan mereka hingga dua muda-mudi ini berkelebat menuju asal suara. Namun ketika mereka menabrak seutas tali setinggi dada, tak terlihat karena terlindung gelapnya malam maka sepasang pohon besar roboh menimpa mereka. Tali itu dilkatkan di sana dan entah bagaimana pohon yang tampaknya tegar itu rapuh.

“Awas!”

Sin Gak menyabetkan jarinya menghantam tali itu. Untunglah mereka orang-orang kuat hingga tak sampai terluka. Namun karena tabrakan itu terjadi dengan kuat dan pohon berdebum menimpa maka Bi Hong melengking mendorongkan tangannya kedepan.

“Bummm!” pohon miring dan tumbang, jatuh di sebelah kanan dua orang muda ini Bi Hong maupun Sin Gak meloncat ke kiri. Mereka marah sekali karena maklum bahwa semua ini bukan kebetulan belaka, seseorang telah menjebak mereka dan menyambut. Dan ketika terdengar teriakan lagi di dekat mereka, Sin Gak berkelebat melihat ayahnya maka dua singa jantan menyerang ayahnya disusul harimau dan hewan-hewan buas yang keluar dari kerangkengnya. Pintu-pintu jeruji terbuka serentak.

“Keparat!” Giam Liong membentak dan membabat singa jantan itu. “Majikan Hutan Iblis ada di sini, Sin Gak, ia membuka semua kerangkeng besi. Awas, mereka lari!”

Sin Gak tertegum Ayahnya mencabut Golok Maut dan sekali babat robohlah dua singa itu. Akan tetapi karena dari kanan kiri menyambar binatang-binatang lain, tempat itu menjadi gaduh maka kejadian ini mirip ketika dulu si Naga Pembunuh mengejar Siauw Hong. Si banci itu waktu itu juga lari ke situ dan Majikan Hutan Iblis malah berada di sini, membunuh Yu Yin dan membantai orang-orang kang-ouw.

“Crat-crat!”

Sin Gak ngeri melihat ganasnya sang ayah. Sepasang harimau jantan dan betina yang menyerang pula disambut bacokan miring, kepala binatang itu belah. Namun karena tempat itu dipenuhi lalu-lalangnya binatang berlarian, suara auman dan pekik gentar berbaur menjadi satu maka istana terkejut dan tampaklah bayangan para penjaga di luar kawat berduri.

“Maling pengacau! Ada pembuat onar!”

Sin Gak menyambar ayahnya. Bi Hong berkelebat dan tampak bingung karena dari luar taman muncullah puluhan obor menerangi tempat itu. Para penjaga berteriak-teriak sementara sebatang panah api tiba-tiba menyambar. Cepat dan kuat sekali panah ini menyambar Giam Liong, di tangkis akan tetapi pendekar itu terpelanting. Dan ketika Sin Gak terkejut melihat panah kedua maka ia melompat dan menangkis serangan berbahaya ini.

“Plak!”

Gaduh dan ramainya tempat ini membuat Giam Liong tak mendengar kekeh tawa ditahan. Ia baru terhuyung bangun ketika puteranya menangkis panah kedua. Sin Gak tergetar dan kaget karena iapun terdorong. Dan ketika pemuda itu terbelalak melihat sepasang mata berkilat, lenyap dan menghilang di balik punggung penjaga maka Bi Hong berseru kaget karena panah yang ditangkis Sin Gak terpental dan jatuh menimpa rumah tua itu.

“Kebakaran, rumah itu terbakar!”

Giam Liong membelalakkan mata. Ia tak melihat apa yang dilihat puteranya, sosok mata berkilat yang menghilang di balik punggung penjaga itu. Dan ketika Sin Gak berkelebat mengejar pemilik mata itu maka ia berseru agar ayahnya dan Bi Hong kembali saja ke tempat Yauw-ongya.

“Jahanam itu rupanya berada di sini. Keluar dan cepat kembali di rumah Yauw-ongya, jangan terlihat pengawal!”

Akan tetapi ratusan orang telah berada di sini. Api yang membakar rumah itu membuat suasana terang-benderang, Giam Liong segera dikenal. Dan ketika pengawal terkejut melihat dirinya, berteriaklah mereka menyebut si buntung itu maka hujan tombak dan panah berapi kembali menyambar.

“Naga Pembunuh! Dia Naga Pembunuh!”

Giam Liong mengerutkan kening. Ia telah dikenal pengawal dan mereka menyerangnya. Hewan-hewan buas digebah. Dan ketika mereka berlarian dan masuk ke kandang, ributlah tempat itu maka Bi Hong menyambarnya dan berkata,

“Sin Gak menyuruh kita kembali, biar paman ikut aku!”

Naga Pembunuh terkejut. Jantungnya berdesir ketika tiba-tiba tubuhnya terbawa naik dan melayang ringan. Bagai hantu saja gadis ini melewati orang-orang itu, mempergunakan Bu-bian-kang atau Ilmu Tanpa Bobot hingga dengan mudah Bi Hong membawa temannya. Dan ketika semua membalik dan berteriak-teriak, mereka bukan pengawal di tempat Yauw-ongya maka datangnya Naga Pembunuh menimbulkan guncangan hebat karena mereka tahu siapa si buntung yang lihai ini. Bi Hong menghindar cepat ketika golok dan tombak menyambar mereka. Semua senjata runtuh dan patah-patah. Namun ketika mereka keluar dan Giam Liong minta dilepaskan maka gadis itu melayang turun berkata cemas,

“Paman sudah dikenal, apakah sebaiknya tidak berpamit saja pada Yauw-ongya. Kita jelas dianggap pengacau, paman, dan ke mana Sin Gak meninggalkan kita!”

“Tidak, tak perlu lari. Justeru di tempat Yauw-ongya kita aman, Bi Hong. Di sana kita dapat menerangkan baik-baik. Tak usah khawatir, Sin Gak pasti datang!"

Akhirnya Bi Hong menurut. Di belakang mereka api bertambah besar, raung dan lolong binatang buas riuh sekali. Akan tetapi begitu mereka berkelebat di gedung ini tiba-tiba pengawal menyambut dan Ge-busu menyerang amat marah.

“Pembunuh! Ia datang dan kembali lagi. Awas, tangkap dan serang Naga Pembunuh ini, anak-anak, jangan biarkan ia lolos!”

Giam Liong terkejut dan menangkis tusukan Ge-busu itu. Komandan ini membawa golok lebar dan melihat Giam Liong langsung saja ia menyerang.. Dari dalam rumah terdengar jerit dan tangis histeris. Dan ketika golok terpental dan Bi Hong tertegun, semua tiba-tiba berbalik dan menyerang mereka maka gadis itupun tak luput dari sasaran dan hujan tombak atau golok menimpanya pula.

“Keparat, apa yang terjadi. Kenapa kau menyerang dan menyebutku pembunuh, Ge-busu. Mana Yauw-ongya dan biarkan aku bertemu!” Giam Liong membalik dan menangkis hujan serangan lain ketika komandan itu terpelanting ditangkis. Anak buahnya menyerang dari kiri kanan dan membuat sibuk. Akan tetapi ketika laki-laki gemuk itu membentak dan menyerang lagi, Yauw Kam tiba-tiba muncul di pintu mendadak putera Yauw-ongya itu menuding.

“Orang she Sin, kau benar-benar keji. Kau pantas berjuluk Naga Pembunuh. Kenapa kau bunuh ayah ibuku dan biarlah aku mengadu jiwa!” pemuda yang tidak bisa silat itu tiba-tiba melempar pot bunga dan turun dari tangga batu menyerang Giam Liong, memaki dan membentak sementara pengawal berseru mencegah. Tanpa takut ini-itu pemuda itu menubruk terus, entah dari mana ia sudah menyambar sebuah golok bengkok. Ini adalah senjata seorang pengawal yang roboh ditangkis pendekar itu, goloknya mencelat dan bengkok menghantam tembok. Lalu ketika pemuda itu kalap dan memaki-maki, tertegunlah Giam Liong maka hampir saja tusukan pemuda itu mengenai matanya.

“Plak!” Giam Liong menangkis dan pemuda itu terbanting. Hanya dengan sekali pukul mencelatlah golok itu. Tapi ketika Giam Liong hendak mendekati pemuda ini dan menyambar bajunya, marah dan kaget maka para pengawal yang salah sangka sudah membentak dan menyerangnya lagi.

“Awas, lindungi Yauw-kongcu. Ia akan dibunuh!”

Giam Liong menjadi geram. Untunglah Bi Hong berkelebatan bagai walet menyambar-nyambar, menotok dan merobohkan mereka dan terpelantinglah pengawal-pengawal itu tanpa dapat melompat bangun lagi. Mereka merintih dan tertotok dan gadis ini berseru agar Giam Liong memasuki rumah. Dan ketika pendekar itu berkelebat dan Bi Hong menyusul maka di kamar dalam di mana jerit tangis dan teriakan terdengar terpakulah pendekar ini melihat Yauw-ongya suami isteri mandi darah dengan luka tusukan dalam.

“Ongya!”

Semua menoleh dan membelalakkan mata. Yauw Hui, puteri pertama Yauw-ongya tiba-tiba menjerit melihat pendekar ini. Giam Liong yang bergerak dan berlutut memeriksa korban tiba-tiba disambar kaki kursi, gadis itu memekik dan menghantam pendekar ini. Namun ketika kursi patah-patah sementara Giam Liong menggigil tak apa-apa, sama sekali tak memperdulikan gadis itu dan Bi Hong menyambar dan mencengkeram gadis ini maka Naga Pembunuh itu terbelalak karena luka tusukan jelas adalah luka tusukan golok.

“Jahanam!” Bentakan atau seruan itu mengejutkan semua orang. Giam Liong membalik dan meloncat bangun dan saat itu muncullah Tien Tien. Gadis ini datang terlambat setelah ayah ibunya terbunuh, karena Bi Hong tadi menotoknya agar tidur pulas. Dan begitu gadis ini melihat ayah ibunya dan menjerit melihat Giam Liong tiba-tiba ia melengking dan menubruk Giam Liong.

“Pembunuh!”

Giam Liong menangkis dan menangkap gadis ini. Tentu saja ia marah karena semua orang menyangkanya pembunuh. Tahulah dia siapa yang melakukan perbuatan itu, siapa lagi kalau bukan Majikan Hutan Iblis Yu Bin. Maka ketika ia mendorong dan melepaskan gadis itu, berkelebat dan melengking maka pendekar itu lenyap dan Bi Hong juga melepaskan Yauw Hui menyusul Naga Pembunuh itu.

“Jangan salah sangka, paman Giam Liong tidak membunuh siapapun. Orang lain yang membunuh ayah ibu kalian itu!”

“Keparat, jahanam!” dua gadis itu mengejar berteriak-teriak. “Kalau bukan pembunuh tak perlu lari, orang she Sin, dan kau gadis siluman pembela iblis keji itu!”

Bi Hong hampir marah dan membalik menampar gadis ini. Mereka melemparkan apa saja ke arah mereka dan sapu serta botol melayang bertubi-tubi. Pelayan dan para dayang juga menjerit dan memaki- maki. Namun karena Giam Liong sudah keluar lewat pintu depan dan Bi Hong tak ingin ada apa-apa dengan ayah kekasihnya itu maka ia mengerahkan ilmunya meringankan tubuh dan sekali berkelebat lenyap meninggalkan ruangan dalam itu.

Akan tetapi di luar gedung sudah menunggu puluhan bahkan ratusan orang. Berita pembunuhan Yauw-ongya menyebar cepat dan pengawal istana bergabung. Dari mereka yang melihat dan mengejar Naga Pembunuh di taman margasatwa segera menyebar bahwa Naga Pembunuh berbuat kekacauan. Ia membakar dan melepas kerangkeng-kerangkeng binatang, lari dan membunuh Yauw-ongya pula. Maka ketika semua mengejar dan marah mendengar itu, dulu laki-laki itu juga pernah mengacau istana maka kenangan buruk yang pernah ditinggalkan Giam Liong bangkit lagi dan orang mudah percaya akan apa yang dilakukan.

Tiga ratus pengawal bersenjata lengkap mengepung ketat gedung Yauw-ongya. Pasukan berkuda juga disiapkan bila laki-laki itu lari. Maka begitu Giam Liong muncul dan panah menyambar lebih dulu maka Naga Pembunuh ini terbelalak dan menangkis dengan marah.

“Plak-trak-tak!”

Akan tetapi serangan tidak berhenti sampai di sini. Sadar bahwa si buntung itu bukan orang sembarangan tombakpun menyambar susul-menyusul. Pisau dan golok terbang juga tak mau kalah. Dan ketika hujan serangan itu menyibukkan pendekar ini maka Giam Liong mencabut goloknya dan sekali sinar golok melebar membungkus dirinya maka semua senjata patah-patah dan cahaya gemerlapan menyertai golok ini. Golok Maut!

“Minggir atau kalian mampus. Aku tidak membunuh Yauw-ongya!”

“Bohong, pembunuh! Kalau kau tidak membunuh ayahku kenapa kau meninggalkan tempat ini, Naga Pembunuh. Kau berhutang dua jiwa dan tidak berperikemanusiaan. Serang dan bunuh dia, mana puteranya Sin Gak!”

Yauw Kam, pemuda yang kalap itu membentak-bentak dibalik punggung Ge-busu. Pengawal itulah yang pertama kali melihat kematian ayahnya, mendobrak pintu karena mendengar ribut-ribut akan tetapi ayah ibunya sudah terkapar mandi darah. Celakanya sebelum pangeran ini tewas ia megap-megap menyebut nama Giam Liong, maksudnya hendak memanggil dan bertanya di mana pendekar itu tapi Ge-busu salah terima. Ia menganggap bahwa Naga Pembunuh itulah yang membuat bencana. Maka ketika Ge-busu berteriak dan memanggil anak buahnya, gegerlah tempat itu maka Giam Liong dijadikan sasaran dan gedung Yauw-ongya menjadi ribut.

Giam Liong sendiri tak tahu apa yang terjadi karena ketika ia menuju taman margasatwa maka seseorang berkelebat memasuki kamar pangeran ini. Yauw-Ongya suami isteri hampir terlelap ketika tubuh mereka diguncang-guncang. Seseorang berkedok dan mengenakan jubah hitam tertawa aneh, menyuruh mereka bangun. Dan ketika Yauw-ongya meloncat berseru kaget sekonyong-konyong sebuah sinar berkelebat dan menusuk dadanya.

“Kau membuka rahasiaku, terimalah kematianmu. Orang berdosa patut menerima hukuman, Yauw Bun, berangkatlah ke akherat dan terimalah ini!”

Yauw-ongya menjerit dan roboh. Ujung sebatang golok menusuk cepat dan ia terjengkang. Hui Kiok terpekik dan menubruk suaminya. Dan ketika laki-laki itu terkekeh sementara Hui Kiok tiba-tiba sadar dan membalik maka nyonya itu menyambar kursi dan menghantam pembunuh ini.

Akan tetapi apa artinya perlawanan wanita itu terhadap lawan. Ia ditangkis terpelanting dan menjerit menyambar kursi lain, sia-sia dan ribut-ribut itu didengar Ge-busu. Dan ketika pengawal itu berteriak-teriak sementara si pembunuh menyeringai kejam, tangannya bergerak dan robohlah wanita itu dengan dada berlubang maka bagai hantu malam saja laki-laki berkedok ini melayang dan lenyap lewat jendela, Ge-busu mendobrak hanya untuk melihat majikannya terkulai berlumuran darah...

Tapak Tangan Hantu Jilid 32

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 32
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“BEGITULAH,” sang ayah mengakhiri dengan pandang mata redup. “Ia mencintaiku, Sin Gak, marah-marah ketika kutolak. Aku tak dapat menerimanya karena aku masih mencintai mendiang ibumu. Lagi pula aku bukan anak muda lagi.”

“Hm!” Sin Gak mengangguk-angguk, kagum. “Kau mengagumkan, ayah, betapa beruntungnya ibu. Ah, dapat kurasakan isi hati Su Giok kalau ia begitu.”

“Benar, dan aku menyesal, tapi mau apa lagi. Aku kasihan namun tidak mungkin menerimanya.”

Pemuda itu mengangguk-angguk lagi dan diam-diam Bi Hong di sebelah kiri bersinar-sinar, memandang tidak langsung pria berlengan buntung ini dan harus mengakui bahwa laki-laki seperti Naga Pembunuh ini daya tariknya besar. Lengan buntung itu bukan masalah malah justeru penimbul iba. Tak heran kalau Su Giok mencintai pendekar ini karena kesetiaan Naga Pembunuh memang mengagumkan.

Apalagi yang dicari seorang isteri kalau bukan suami setia dan jujur, untuk apa segala macam bujang kalau tak seperti laki-laki ini, biarpun duda namun kesetiaan dan cinta kasihnya tak luntur ditelan jaman. Isteri telah tiadapun masih meneguhkan imannya untuk tidak mencari lain, jarang ada pria seperti ini. Dan ketika gadis itu teringat gurunya sendiri, Naga Pembunuh ini mirip gurunya maka ia menghela napas dan haru serta sorot matanya yang lembut tiba-tiba tak dapat di sembunyikan lagi kepada pria itu, ayah dari kekasihnya.

“Paman memang benar, tapi enci Su Giok juga tidak salah. Cinta muncul di mana-mana, paman, juga dalam kondisi apapun. Untuk masalah umur kupikir tak jadi soal, lagi pula masih pantas. Bandingkan misalnya dengan guruku yang terpaut tiga puluh tahun dengan sumoinya Hek-i Hong-li. Paman masih termasuk muda!”

“Hm, apa maksudmu, Bi Hong. Apakah dengan begitu kau seperti Sin Gak yang berkesan setuju untuk menikah lagi.”

“Maaf,” gadis ini tersipu. Menikah atau tidak urusanmu pribadi, paman. Aku hanya hendak mengatakan bahwa masalah usia kau belumlah tua benar. Kau masih gagah dan kuat.”

“Ha-ha, kalian anak-anak muda memuji membesarkan kepala saja. Kalau aku sehat mungkin benar, Bi Hong, tapi kuat? Ah, menghadapi kalian anak-anak muda aku justeru merasa lemah, bodoh. Aku malu disebut itu dan menyadari bahwa ketuaan mulai menggerogoti tubuhku. Tidak, aku sudah betul-betul merasa tua, tak pantas untuk menikah lagi!”

“Hm, ayah tak usah meributkan ini. Kalau jodoh tentu tak mungkin dielak. Kalau memang sendiri tentu akan sendiri, sudahlah kita kembali kepada persoalan musuh kita dan kami girang bahwa ayah selamat.”

“Benar,” Bi Hong mengangguk. “Ada persoalan yang lebih penting, paman, Majikan Hutan Iblis tak ada di sini. Entah di mana dia. Biarlah urusan Su Giok kita bicarakan lagi kalau jahanam ini kita temui. Ia pembunuh keji dan banyak tengkorak di dalam hutan!”

Giam Liong mengangguk, lega. “Kalian benar, urusan kita masih banyak dan sebaiknya membicarakan yang penting saja. Sekarang bagaimana baiknya tapi aku orang tua rupanya tak banyak bisa membantu.”

“Ayah tak usah merendahkan diri. Setidaknya kau dapat berjaga dan mengawasi, ayah, tapi karena hutan ini kosong bagaimana menurut pendapatmu sebelum kami memberikan pendapat sendiri.”

“Hm, aku tak tahu apa-apa tentang jahanam ini. Sampai sekarang aku masih menduga-duga siapakah sebetulnya dia.”

“Dia murid susiok Te-gak Mo-ki!” Bi Hong berseru.

“Tidak, bukan itu. Kalau itu Sin Gak sudah menceritakannya, Bi Hong, tapi maksudku data pribadinya siapakah dia ini sebenarnya dan kenapakah dia begitu kejam membunuh isteriku. Tampaknya dia benci sekali!”

“Eh, aku ingat,” Sin Gak tiba-tiba berseru. “Ada sebuah nama disebut-sebut, ayah, barangkali kau perlu tahu. Majikan Hutan Iblis itu bernama Yu Bin!”

“Yu Bin?”

“Ya, begitu yang kuingat. Tadi Thai Bang Kok Hu menyebut itu!”

“Benar,” Bi Hong juga teringat. “Orang itu namanya Yu Bin, paman, sekarang aku juga ingat. Mungkin kau tahu siapa orang ini.”

Naga Pembunuh Giam Liong terbelalak. Ia memandang dua orang muda itu berganti-ganti lalu berhenti pada puteranya, mata itu bergerak dan pikiranpun tentu saja bekerja. Yu Bin! Tapi ketika ia menggeleng tak menemukan siapa jawabnya tiba-tiba Giam Liong teringat seseorang yang mungkin tahu itu.

“Hm, aku tak tahu ini, tapi namanya sama dengan she ibumu, she Yu. Agaknya seseorang di kota raja yang tahu ini, Sin Gak. Marilah kita ke sana dan selidiki siapa dia!”

“Ke kota raja?”

“Ya, menemui bibimu Hui Kiok, atau lebih tepat lagi menemui Yauw-ongya karena dialah yang tahu kerabat-kerabat istana. Mungkin aku belum menceritakan kepadamu bahwa ibumu jelek-jelek adalah seorang puteri pangeran. Ibumu seorang puteri bangsawan. Dan karena Yauw-ongya adalah pamannya yang kini beristerikan Hui Kiok biarlah kita ke sana mencari tahu. Aku teringat sekelumit cerita bahwa Majikan Hutan Iblis ini ada kaitannya dengan istana, maksudku bahwa dia kerabat dalam yang ada hubungannya dengan istana. Kalau kini dia bernama Yu Bin marilah kita cari tahu kepada Yauw-ongya ini!”

Sin Gak bersinar-sinar. Ia tertegun bahwa ibunya kiranya seorang puteri bangsawan, berarti jelek-jelek iapun berdarah biru. Tapi karena bukan wataknya untuk berbangga kosong, semua itu hanya sebutan saja maka ia bangkit dan mengangguk kepada ayahnya ini, mulai tertarik untuk mengetahui silsilah keluarga, terutama dari pihak ibunya itu, siapa kakeknya atau orang-orang dekat ibunya itu.

“Baiklah, rupanya dari sini kita akan menemukan titik terang, ayah, juga hal-hal penting yang mungkin akan kita temui. Tapi bagaimana dengan Bi Hong, bolehkah ia ikut.”

“Ah, tentu saja. Tak ada larangan menemui Yauw-ongya itu. Kita menemui kerabat sendiri, Sin Gak, Bi Hong boleh ikut, kecuali kalau ia tak suka!”

“Aku menjaga di sini saja, mengawasi keadaan. Sungkan rasanya mencampuri urusan keluarga.” Bi Hong ternyata menolak karena sungkan.

“Tidak,” Sin Gak menyambar lengan kekasihnya ini. “Kalau istana tak melarang orang luar datang bertamu tentu saja kau ikut, Hong-moi. Aku bertanya kalau-kalau kehadiranmu melanggar tata cara. Tapi ayah berkata tak apa-apa, nah, ikut saja dan temani kami. Tentu saja aku tak akan membiarkanmu sendiri di sini!”

“Benar,” Giam Liong mengerti perasaan gadis ini. “Kalau aku datang ke sana tak ada apa-apa, Bi Hong, aku sudah mereka kenal. Marilah, kau ikut bersama kami.”

Gadis itu girang. Sesungguhnya tentu saja ia gembira asal bersama Sin Gak, ke manapun tentu tak akan menolak. Maka ketika orang tua itu mengajak sendiri dan ia tak akan mengganggu, baru kali itu ia akan ke istana maka Giam Liong akhirnya mengajak puteranya meninggalkan Hutan Iblis. Tempat itu ternyata ditinggalkan penghuninya dan Thai Bang Kok Hu maupun si banci Siauw Hong sudah lama menghilang. Dan begitu mereka berkelebat ke utara maka kota raja adalah tujuannya.

* * * * * * * *

Yauw-ongya adalah pangeran ramah yang menyambut tiga orang ini. Ia adalah paman Yu Yin dan kalau wanita itu masih hidup maka usia mereka tidak jauh berbeda, seorang pangeran yang masih muda dan merupakan adik dari mendiang Kedok Hitam yang ganas (baca: Naga Pembunuh). Karena Kedok Hitam adalah ayah Yu Yin, sementara Yauw-ongya adalah adik Kedok Hitam maka pangeran ini merupakan paman bagi mendiang Yu Yin karena Kedok Hitam sesungguhnya juga seorang pangeran yang akhirnya tewas dibunuh Giam Liong. Semua ini telah kita ikuti dalam kisah yang lalu.

Sin Gak mula-mula bingung harus menyebut apa. Menurut urutan keluarga maka ayahnya harus menyebut paman pada pangeran itu, biarpun ayahnya lebih tua sekitar dua tahun dibanding pangeran ini. Namun karena Yauw-ongya bukanlah seorang yang banyak terikat adat dan hal ini dibuktikan ketika menyambut dirinya dan semua saja, maka pangeran itu justeru memanggil ayahnya Giam-siauwhiap (pendekar Giam).

“Aha, Giam-siauwhiap kiranya, selamat datang. Dan ini, eh.... puteramu, siauwhiap? Mirip benar, bagai pinang dibelah dua. Ha-ha, kalian mengejutkan aku dan pengawal memberi tahu tergesa-gesa, tak tahunya kalian berdua. Duduk, mari duduk.... dan maaf siapa nona ini!” tuan rumah menyambut begitu ramah dan diam-diam Sin Gak lega.

Bi Hong, yang ditanya tersipu merah. Mereka telah memasuki sebuah ruangan besar serba indah, tirainya dari sutera-sutera mahal sementara pengawal berjaga di kiri kanan gedung. Giam Liong mengajak mereka datang secara terang-terangan dan pengawal tentu saja bergegas menyambut kedatangan pria ini. Siapa tidak tahu Naga Pembunuh Giam Liong, orang yang dulu menggemparkan kota raja dengan sepak terjangnya yang tak kenal takut, tak kalah dengan mendiang Golok Maut Sin Hauw.

Inilah keluarga yang tak boleh dibuat main-main. Maka ketika pengawal memberi tahu dan mereka dibawa ke dalam muncullah pangeran itu maka Bi Hong maupun Sin Gak tercengang kagum melihat isi gedung yang gagah dan mewah, diam-diam melihat betapa berkelebat bayangan pengawal-pengawal rahasia yang siap mengamankan istana.

“Hm, mudah-mudahan kami tak mengganggu,” Giam Liong mengangguk dan memberi hormat. “Maafkan kalau kedatangan kami tanpa diundang, ongya. Tentang ini memang benar puteraku, Sin Gak. Dan gadis itu...”

“Tunggu, nanti dulu. Ini adalah Sin Gak yang hilang itu?”

“Benar, ongya, kami sudah bertemu. Dan gadis itu...”

“Astaga, sudah kuduga. Kalau saja tak hilang diculik orang tentu ibumu tak harus meninggalkan kita. Ah, aku gembira melihat kau datang!” Yauw-ongya menyambar dan lagi-lagi memotong omongan Naga Pembunuh, memeluk dan menepuk-nepuk pundak pemuda ini hingga Sin Gak terharu. Inilah orang yang menjadi kakeknya, kakek yang masih terlalu muda dan tak pantas disebut kakek! Maka ketika ia diam saja kecuali menunduk dan memberi hormat maka Sin Gak mengucapkan terima kasih atas perhatian dan semua bantuan yang pernah diberikan pangeran ini.

“Terima kasih? Ah, tak perlu. Ibumu adalah keponakanku, Sin Gak, tanpa dimintapun pasti aku membantu. Dan kau, hmm panggil saja aku paman karena aku memanggil ayahmu Giam-siauwhiap!”

Sin Gak tersipu, mundur. Pangeran ini rupanya dapat membaca perasaan orang.

“Dan itu, siapa gadis ini? Gagah dan mengagumkan, pasti sejenis kalian para pendekar kang-ouw!”

“Dia Bi Hong...”

“Aku yang bodoh Bi Hong,” gadis ini menyambung ucapan Giam Liong. “Aku gadis biasa yang tak pandai apa-apa, ongya, harap jangan terlalu memuji.”

“Hm, semuanya pandai merendah. Semakin merunduk berarti semakin lihai. Bagus, silakan duduk, nona, dan eh, itu isteriku!”

Seorang wanita cantik muncul membawa nampan dan inilah Hui Kiok isteri Yauw-ongya. Bahwa nyonya rumah tak menyuruh pelayan melainkan maju sendiri membawa minuman dapatlah diduga bahwa Giam Liong adalah tamu yang amat dihormati. Hal ini tak aneh karena Hui Kiok adalah sahabat dekat mendiang Yu Yin, bahkan perjodohan wanita itu dengan Yauw-ongya adalah atas jasa Yu Yin pula. Maka ketika Bi Hong terkejut melihat wanita cantik menemui mereka, membawa minuman pula maka wanita ini sudah melepas senyumnya memandang si Naga Pembunuh.

“Selamat datang, Giam-siauwhiap kiranya tak melupakan kami. Silakan minum, siauwhiap, dan ini”

“Itu Sin Gak, bocah yang hilang itu. Lihat betapa mirip dengan ayahnya!” Yauw-ongya memotong dan wanita itu melebarkan matanya. Ia tadi baru memperhatikan si Naga Pembunuh bukan yang lain-lain. Maka begitu melihat Sin Gak dan terkejut berseru kagum maka Sin Gak tersipu bangkit berdiri.

“Benar, hamba Sin Gak...”

“Eh, jangan menghamba. Aku adalah bibimu. Kau, ah... kau seperti ayahmu, Sin Gak, alangkah girangnya ibumu apabila melihat kau!” nyonya rumah menubruk dan tiba-tiba mengguncang bahu pemuda ini, terisak dan tiba-tiba sudah menangis begitu membayangkan masa lalu. Ibu pemuda ini adalah sahabatnya.

Maka ketika itu tersedu dan sudah mengguncang pundak pemuda ini dengan air mata bercucuran maka sejenak suasana menjadi penuh haru dan Bi Hong mengusap pula matanya yang basah. Nyonya rumah menbuat mereka bertangisan akan tetapi Yauw-ongya batuk-batuk, maju dan melepaskan isterinya dari Sin Gak. Lalu ketika ia berkata bahwa tamu harus disambut baik-baik, bukannya dengan air mata maka wanita itu sadar dan buru-buru meminta maaf.

“Aku... aku salah. Maafkan, Sin Gak. Melihatmu mengingatkan hubunganku dengan ibumu. Suamiku benar dan kalian tentu membawa berita penting, tapi sebelum itu ceritakanlah kepada kami bagaimana kalian ayah dan anak bertemu. Siapa penculik jahat itu, apakah Siauw Hong!"

“Benar dia, tapi sudah dilepas orang lain lagi. Sin Gak akhirnya dibawa orang sakti, Hui Kiok. Ia baru saja menemuiku setelah turun gunung.”

“Ah, ceritakan kepadaku. Tentu menarik!”

“Biasa-biasa saja,” Sin Gak mengedip dan cepat memberi isyarat ayahnya. “Kami bertemu semata kebaikan Tuhan, bibi, anugerah yang dilimpahkan kepada kami agar kami bersyukur dan berterima kasih. Tak ada yang istimewa.”

“Tapi tentu ada yang menarik, orang sakti itu!”

“Ah, guruku orang biasa juga, ayah terlalu memuji. Bibi tak perlu menyanjung karena ini semua kebaikan Yang Maha Baik belaka. Sudahlah tak ada apa-apa kecuali bahwa kami selamat dan akhirnya bertemu.”

Nyonya rumah penasaran. Tentu saja ia tak puas akan jawaban ini namun sang suami menyenggol. Dari isyarat itu segera ia tahu bahwa pemuda ini tak ingin banyak bicara, ada rahasia atau yang bersifat pribadi yang tak ingin diberitahukan. Maka ketika ia maklum dan duduk menemani segera matanya membentur Bi Hong. “Dan gadis ini,” katanya tak tercegah. “Apakah menantu Giam-siauwhiap?”

“Ha-ha!” Bi Hong semburat merah. "Ia teman Sin Gak, isteriku, mungkin masih bakal menantu. Namanya...”

“Bi Hong,” Giam Liong tersenyum berkata, menyambung tuan rumah. “Ia teman baik anakku, Hui Kiok, tapi tak kalah hebat. Maaf aku lupa memberi tahu padamu.”

“Ha-ha, Bi Hong!” gadis itu semburat merah. “Benar ia Bi Hong. Eh, jangan tanya-tanya lagi karena keperluan tamu kita ini belum diutarakan. Hayo duduk dan silakan minum!”

Sin Gak dan Bi Hong sama-sama merah karena kedua orang tua itu jelas menggoda mereka. Untunglah Yauw-ongya tak lama-lama dan Giam Liong juga teringat keperluannya. Maka ketika semua duduk dan tuan rumah mempersilakan minum segera Yauw-ongya bertanya ada keperluan apakah Naga Pembunuh datang bertiga, hal yang mengingatkan pendekar ini dan membuat Bi Hong lega karena tak akan digoda lagi.

“Kami datang karena ada suatu keperluan.”

“Ya-ya, itu pasti. Kau tak akan datang kalau tak ada keperluan, Giam-siauwhiap. Coba katakan mungkin kami perlu membantu.”

“Hm,” Giam Liong agak memerah. “Kami datang untuk urusan lama, ongya, maksudku tentang musuh lamaku itu.”

“Majikan Hutan Iblis?”

“Benar.”

“Hm, coba katakan itu. Apa maksudmu.”

“Ia kutemukan jejaknya, maksudku kutemukan namanya.”

“Bagus, siapa dia!”

“Yu Bin!” langsung saja Giam Liong berkata dan suami isteri itu tampak terkejut, rasa terkejut yang tak dapat disembunyikan lagi.

“Yu Bin?” serentak mereka berseru. “Maksudmu adik kandung mendiang kakak tiriku Coa-ongya? Majikan Hutan Iblis adalah dia?”

“Aku tak tahu dan kurang jelas. Tapi namanya. Yu Bin, ongya, dan untuk inilah kami bertanya. Kalau begitu she Coa.”

“Benar,” Yauw-ongya termangu-mangu dan pucat. “Akan tetapi orang ini sudah lama tiada, siauwhiap, maksudku hilang atau tewas. Sejak kau membunuh Kedok Hitam itu lima tahun sebelumnya ia tak ada disini.”

Giam Liong bersinar-sinar. Ia tak tahu kalau Kedok Hitam yang sebenarnya adalah juga Coa-ongya itu mempunyai adik kandung. Yauw-ongya ini saudara lain ibu dengan Coa-ongya, dan selama Yu Yin menjadi isterinya iapun tak pernah mendengar nama ini. Maka ketika Yu Bin disebut sebagai adik Coa-ongya dan maklumlah dia kenapa isterinya dibunuh segera ia mengangguk-angguk dan pandang matanya berkilat melihat sebuah titik terang di depan.

“Hm, begitu kiranya, tapi Majikan Hutan Iblis ini bernama Yu Bin. Kalau ia memiliki hubungan dengan Kedok Hitam, maka sepak terjangnya selama ini dapat kumengerti, ongya, dan terima kasih untuk penuturanmu ini.”

“Nanti dulu, orang itu tak pernah lagi ada di istana dua puluh tiga tahu. Masa dia!”

“Aku akan melihatnya. Tapi kalau ia orang itu maka tak aneh kalau ia membunuh isteriku, ongya. Sebagai pamannya tentu ia merasa penasaran kenapa Yu Yin menjadi isteriku!”

“Siapa orang ini,” Sin Gak bertanya dan tak tahan. “Dapatkah kau menerangkan kepadaku, ayah, mungkin boleh aku tahu.”

“Hm, cerita yang tak enak,” sang ayah berkerut kening dengan wajah gelap. “Untuk ini sebaiknya di luar saja kuceritakan, Sin Gak, jangan di sini, mengganggu tuan rumah.”

“Ah, kalian jangan buru-buru pergi,” Yauw-ongya berkata dan mengangkat tangannya, Giam Liong siap bangkit berdiri. “Kalau demikian cepat kau meninggalkan kami maka sungguh kecewa hati ini Giam- siauwhiap. Betapapun hubungan keluarga jangan dilupakan begitu saja. Aku dan isteriku ingin kalian tinggal beberapa hari di sini!”

“Benar,” nyonya rumah mengangguk dan dapat melihat itu, khawatir kalau tamunya cepat-cepat pergi. “Berikan kesempatan untuk bercakap-cakap dengan puteramu, siauwhiap, atau nona ini. Kalian jangan cepat- cepat pergi!”

Giam Liong memandang puteranya. Kebetulan Sin Gak juga memandang ayahnya dan pemuda ini menahan agar sang ayah jangan buru-buru pergi. Berita itu justeru ingin digali. Dan ketika Giam Liong tak jadi berdiri dan meninggalkan kursi maka Yauw-ongya bertepuk tangan memanggil pengawal.

“Panggil putera-puteriku ke mari. Biar bertemu dan berkenalan dengan paman dan kakak atau encinya!”

Bi Hong semburat merah. Lagi untuk kesekian kali ia dianggap “orang dalam” bagi keluarga Naga Pembunuh, berarti kerabat tuan rumah pula. Dan muncul seorang pemuda dan dua gadis remaja maka Yauw-ongya bangkit tertawa memperkenalkan itu.

“Heii, ke mari. Ini pamanmu Giam Liong. Lihat ia bertamu di tempat kita, dan itu kakakmu Sin Gak, sedang enci ini adalah Bi Hong!”

Tiga muda-mudi itu melangkah lembut. Dari gerak-gerik mereka tampaklah bahwa mereka ini jelas orang-orang terpelajar yang tindak-tanduk atau kata-katanya halus. Mereka membungkuk dan hampir bersamaan memberi hormat, yang pemuda mewakili adik-adiknya menjura lebih dulu. Lalu ketika ia memperkenalkan bahwa ia bernama Yauw Kam sedang dua gadis di kiri kanannya itu adalah Yauw Hui dan Yauw Tien maka Yauw-ongya tertawa menuding.

“Barangkali siauwhiap ingat bahwa inilah Tien Tien, dulu ia masih bayi ketika kau dan isterimu datang. Nah, mereka sudah besar seperti puteramu ini pula yang sudah dewasa dan tampak matang.”

Giam Liong mengangguk-angguk. Sin Gak cepat berdiri disusul Bi Hong, putera-puteri tuan rumah memberi hormat. Dan ketika Giam Liong teringat gadis paling kecil itu, Tien Tien maka ia tersenyum berkata, “Benar, ini kiranya Tien Tien. Sudah besar dan cantik seperti ibunya.”

“Ha-ha, ibunya sudah tua. Kalau kau ingat maka ia yang paling nakal, siauwhiap. Barangkali kalau menjadi merupakan murid paling bandel dan suka membangkang!”

“Tapi anak-anak kita tak suka ilmu silat,” nyonya rumah menggeleng dan mengingatkan. “Yauw Tien lebih suka menyulam dan memasak, suamiku, mana bisa memegang golok atau pedang.”

“Ha-ha, aku bergurau saja, tapi benar, anak-anak kita tak suka kekerasan. Ah, duduk dan mari bercakap-cakap dengan keluarga, sendiri, ini pamanmu Giam Liong yang sering kuceritakan itu!”

Tiga muda-mudi itu mengangguk ragu dan mereka melirik si buntung bernama seram itu. Sesungguhnya mereka putera-puteri bangsawan yang lebih suka kehalusan daripada pelajaran pedang atau silat. Kalau saja tak dipanggil ke situ mungkin mereka enggan. Mereka telah mendengar datangnya tamu-tamu ini dan ketiganya tiba-tiba merasa tak senang. Naga Pembunuh adalah orang yang terlalu kejam di mata mereka, sadis.

Namun karena pria itu suami Yu Yin sedangkan mendiang wanita itu adalah puteri Coa-ongya kakak tiri ayah mereka maka mereka tak berani banyak membantah namun melihat Sin Gak dan Bi Hong justeru mereka tertegun. Dua orang ini halus dan tenang gerak-geriknya, meskipun Sin Gak berwajah dingin seperti ayahnya, dengan sepasang mata tajam namun saat itu teduh dan lembut.

“Nah, inilah keluarga dari encimu Yu Yin. Namun karena mereka adalah orang-orang kang-ouw dan pendekar pilihan maka sebaiknya kau panggil Giam-siauwhiap ini sebagai paman dan dua orang muda itu kakak atau enci kalian.”

Tiga orang muda itu mengangguk. Selanjutnya pembicaraan berkisar pada urusan lain dan sebentar kemudian Bi Hong didekati enci adik itu. Yauw Kam mengajak Sin Gak bercakap-cakap sementara Giam Liong berbicara dengan tuan rumah. Dari sini segera didapat keterangan bahwa Coa Yu Bin atau adik kandung Coa-ongya itu orang yang tak pernah tinggal di istana, duapuluhan tahun yang lalu ia lenyap entah ke mana. Maka ketika tiba-tiba Giam Liong membawa nama ini dan Yauw-ongya terkejut maka dengan nada khawatir tuan rumah berkata bahwa jangan-jangan Naga Pembunuh salah dengar nama orang, atau mungkin kebetulan sama nama.

“Seingatku Yu Bin adalah laki-laki lemah, cenderung bersifat kewanita-wanitaan. Kalau ia menjadi Majikan Hutan Iblis sungguh sukar kupercaya. Dan lagi namanya telah dihapus dari daftar istana karena tak pernah berkunjung atau memberi hormat kaisar. Ia telah dianggap tiada atau tewas, tak mungkin Yu Bin yang ini.”

“Baiklah, nanti kuselidiki. Tapi kalau boleh kutahu di mana tempat tinggalnya dulu, ongya. Mungkin aku ingin ke sana.”

“Hm, di bagian belakang istana, dekat taman binatang. Sekarang tempat itu tak pernah dipakai dan rumahnya kosong tak terawat. Rumah ini bahkan dianggap berhantu karena sering terdengar suara-suara aneh seperti orang menangis atau kesakitan. Orang menganggap roh Yu Bin gentayangan disitu.”

Giam Liong mengangguk-angguk. Segera ia teringat sebuah rumah kecil di dekat taman binatang. Dulu tempat ini dijadikan ransum binatang alias tempat makanan hewan yang dipelihara istana. Rumput-rumput kering atau sejenis padi-padian disimpan di situ. Akan tetapi setelah di rumah kosong ini sering terdengar suara hantu dan penjaga ketakutan maka ransum binatang piaraan tak ditaruh di situ lagi dan tempat itu benar-benar dikosongkan.

“Sekarang penuh debu dan sarang laba-laba, anyir dan berbau amis. Untuk apa ke sana hanya membuat hidung terganggu saja.”

“Tak apa,” Giam Liong tersenyum. “Sifatnya hanya penyelidikan saja, ongya, dan untuk ini aku amat berterima kasih.”

Pembicaraan berhenti di tengah jalan. Lonceng di atas dinding berdentang menunjukkan waktu makan, nyonya rumah bangkit dan buru-buru ke belakang. Lalu ketika muncul lagi mempersilakan tamunya maka pelayan muncul dan meja itu segera terisi hidangan. Makanan lezat dan anggur manis membangkitkan selera.

“Ngobrol boleh ngobrol, sekarang ditunda dulu. Ayo kalian nikmati ini dan makan seadanya dulu.”

“Benar,” Tien Tien gembira berseru kepada Bi Hong. “Ini hari ulang tahun ayah, enci Bi Hong. Ibu selamatan kecil khusus keluarga. Sekarang kalian datang, kebetulan sekali. Ayo sambar tapi aku ingin beri dulu hormat kepada ayah!”

Gadis itu ternyata sudah akrab dengan Bi Hong dan semua terkejut mendengar ini. Jadi Yauw-ongya berulang tahun? Maka ketika gadis itu meloncat dan menyalakan lilin, disusul kakaknya dan sang ibu maka nyonya rumah tersenyum berkata,

“Memang benar, suamiku berulang tahun. Ini adalah ulang tahunnya keempatpuluh dan hari ini aku sengaja masak sendiri untuk menyambutnya. Hayo ucapkan selamat dan nyalakan lilin!”

Kegembiraan meledak. Semua bangkit dan tertawa dan Tien Tien mencium pipi ayahnya. Yauw Hui melakukan hal yang sama pula dan tampaklah bahwa hubungan ayah dan anak amatlah baik. Yauw Kam tak mau kalah dan mencium pipi ayahnya dua kali, semua mengucapkan selamat ulang tahun. Dan ketika Yauw-ongya tertawa mengucap terima kasih, Sin Gak dan lain-lain tentu saja menjura dalam maka di saat meniup semua lilin mendadak lampu besar pecah.

“Darr!”

Semua terkejut dan mendongak. Entah kebetulan atau tidak lampu kaca itu hancur. Lampu ini tepat di atas meja dan seekor tokek jatuh. Tubuhnya hangus dan gosong. Lalu ketika semua tertegun dan membelalakkan mata, Yauw-hujin menjerit kecil maka kue tart yang tertimpa tokek tak jadi dimakan. Binatang itu terbenam dan melesak ke dalam kue.

“Ah, kurang ajar. Susah payah membuat kue akhirnya tak dapat dimakan. Terkutuk!” Tien Tien memaki tokek itu dan Giam Liong cepat mengambil dan membuang binatang ini.

Lampu-lampu kecil masih ada di situ dan menerangi ruangan ini. Sin Gak memandang ke atas namun kejadian ini rupanya tak disengaja. Seekor lalat hijau terbang meninggalkan lampu yang pecah itu dan si tokek rupanya mengejar, gagal dan akhirnya pecah sementara binatang itu hangus terbakar, Dan ketika semua menganggap peristiwa ini gangguan tak disengaja namun membuat muram Yauw-ongya maka pangeran ini tak senang dan kue ulang tahun terpaksa dibuang.

“Hm, menyesal sekali, buah karyamu tak dapat kunikmati. Maaf, isteriku, tak mungkin tamu-tamu kita memotong kue ulang tahun.”

“Sudahlah, tak apa,” Hui Kiok murung namun berusaha tenang lagi, memaksa senyum. “Gangguan ini di luar dugaan kita, suamiku, akan tetapi masih ada hidangan lain anggur dan arak. Mari, kau minum dulu dan kami mengiringi. Selamat ulang tahun!”

Yauw-ongya tersenyum dan mengangkat cawannya. Ternyata ulang tahun pangeran ini diperingati sederhana saja dan itupun oleh keluarga sendiri. Tak ada yang datang karena memang tak ada yang diundang. Namun ketika semua minum arak dan mencoba bergembira lagi mendadak muncullah seorang perwira gemuk pendek, nyelonong membawa kado.

“Ongya, maafkan hamba. Kami para pengawalmu hanya dapat memberikan ini sekedar ucapan ulang tahun. Harap diterima dan semoga panjang umur!”

“Ah, Ge-busu. Terima kasih, Ge Mok, kalian ingat juga ulang tahunku ini. Terima kasih dan salam untuk semua bawahanmu!” Yauw-ongya terkejut namun menerima pemberian itu.

Orang sudah menjura hormat dan tertawa lebar, inilah pengawal atau komandan jaga Yauw-ongya. Melalui orang inilah Giam Liong dan Sin Gak serta Bi Hong masuk. Maka ketika pangeran tertawa dan suasana menjadi hangat lagi, kado dibuka terisi kue tart maka Yauw-ongya berseri mendapat pengganti.

“Ha-ha, kue ulang tahun. Bagus, kebetulan sekali!”

Ge-busu merasa girang dan Yauw-ongya memotong kue itu. Sebelum pengawalnya keluar tentu saja ia memberi sepotong, yang lain dibagi dan diberikan tiga tamunya. Dan ketika kegembiraan berlanjut lagi maka Ge-busu sudah minta diri sementara pesta kecil itu dinikmati Yauw-ongya dan anak isterinya, juga Giam Liong. Lampu besar sudah dipasang yang baru dan ruanganpun kembali terang-benderang. Dan ketika makan minum berakhir menjelang waktu tidur maka Yauw-ongya mempersilakan tiga tamunya beristirahat, tadi Giam Liong telah menerima bujukan tuan rumah untuk menginap di situ, paling tidak malam itu.

“Bi Hong biar bersama Tien Tien, cukup berdua. Sedang siauwhiap dan Sin Gak boleh pilih kamar di samping.”

Pesta berakhir. Giam Liong bangkit dan meninggalkan kursinya sementara Yauw Kam mengantar tamu-tamunya sesuai kehendak sang ayah. Cepat sekali pemuda ini akrab dengan Sin Gak. Namun ketika pemuda itu hendak diberi kamar di sebelah ayahnya maka Sin Gak menggeleng dan berkata,

“Aku hendak bicara dulu dengan ayahku. Silakan tidur dan nanti aku beristirahat.”

“Baiklah, selamat malam, Gak-twako, selamat beristirahat. Kalau ingin sesuatu, panggil saja pelayan.”

Giam Liong memandang puteranya ini, tertegun.

“Ayah tak keberatan kita bercakap-cakap sebentar, bukan?”

“Hm, kau hendak bertanya tentang keluarga ibumu?”

“Benar, dan aku penasaran. Tolong ayah ceritakan kalau tidak keberatan.”

“Baiklah,” Giam Liong membawa anaknya masuk. “Mari di dalam, Sin Gak, dan tutup pintu rapat-rapat.”

Sin Gak mengangguk dan sudah duduk berhadapan dengan ayahnya ini. Tak dapat disangkal bahwa ia ingin mengetahui silsilah ibunya, paling tidak siapa kakeknya dari ibu dan siapa pula Kedok Hitam itu. Di ruangan tadi ayahnya berkerut gelap, tanda sesuatu tak menyenangkan ayahnya ini dan Yauw-ongyapun tampak kikuk. Tuan rumah dan ayahnya sama-sama terbawa kenangan buruk, kisah masa lalu. Dan karena ia tak tahu peristiwa apa itu dan Majikan Hutan Iblis agaknya berhubungan dengan ini maka ia tak ragu memandang ayahnya untuk minta diceritakan.

“Baru sekarang kutahu bahwa ibu berdarah bangsawan. Kau tak pernah bercerita tentang ini, ayah, keluarga ibu tak jelas bagiku. Coba ceritakan dan siapa ayah dari ibu, siapa Coa-ongya itu, juga mendiang Kedok Hitam.”

“Hm, peristiwa buruk bagai mimpi mengerikan,” sang ayah mulai dan menarik napas dalam. “Orang yang kau sebut bukan lain adalah kakekmu juga, Sin Gak. Coa-ongya itu adalah ayah ibumu, begitu juga Kedok Hitam.“

“Ah, ibu mempunyai dua orang ayah?” Mana mungkin?”

“Kedok Hitam adalah gurunya.“

“Oh, begitu. Jadi ayah ibu sebenarnya seorang.”

“Tidak, Kedok Hitam adalah juga ayah ibumu. Kedok Hitam ini adalah juga Coa-ongya, Sin Gak, jadi dua orang itu satu karena mereka sama!”

Sin Gak tertegun, mengerutkan kening.

“Dengarlah,” ayah bercerita. “Dulu dua puluh satu tahun yang lalu terjadi permusuhan hebat antara aku dengan si Kedok Hitam, Sin Gak, ia manusia jahat yang keji dan yang membuat ayahmu seperti ini. Permusuhan dimulai dari kakekmu Golok Maut, ayah dari ayahmu.“

“Hm, dan Kedok Hitam adalah ayah dari ibu?”

“Benar, ia kakekmu juga. Dan karena Kedok Hitam membunuh ayah ibuku maka ia kucari dan kutuntut balas.”

Sin Gak memandang ayahnya dengan tajam. Tiba-tiba ia menjadi ngeri karena peristiwa ini bertalian dengan keluarga sendiri, tapi mengangguk minta ayahnya meneruskan ia tak memberi komentar. “Baiklah, coba ayah lanjutkan.”

“Kedok Hitam adalah samaran Coa-ongya, kakak tiri Yauw-ongya. Tapi karena waktu itu aku tak tahu sama sekali maka terjalinlah hubunganku dengan mendiang ibumu.”

“Hm, ibu tak tahu bahwa ayah memusuhi Kedok Hitam?”

“Tahu, Sin Gak, tapi yang tak ia ketahui adalah bahwa Kedok Hitam ayahnya juga.”

“Menarik, coba ayah lanjutkan!”

“Ibumu adalah saorang wanita gagah yang lain dengan gurunya itu. Sepak terjangnya bahkan acap kali menentang gurunya sendiri. Dan ketika semua berakhir dengan keberhasilanku membunuh musuhku maka disitulah baru diketahui bahwa Kedok Hitam adalah sekaligus ayahnya.”

“Hm, hebat sekali, tentu mengerikan. Apa yang dilakukan ibu setelah itu, ayah, tentu ia marah besar!”

“Benar, dan untuk itu ia membuntungi lenganku ini.”

Sin Gak tertegun, baru kali ini mendengar itu. Ibu.... ibu yang membuntungi lenganmu itu? Jadi bukan orang lain?”

“Benar, Sin Gak, bahkan waktu itu golok ibumu menuju leherku. Kalau pamanmu Han Han tidak menangkis tentu waktu itu aku binasa.”

Sampai di sini sepasang mata sang ayah tiba-tiba berkaca-kaca. Sin Gak dapat membayangkan itu dan hatinya tergetar, tak terasa ia menjadi terharu dan memandang lengan ayahnya yang buntung. Lalu ketika ia mendesah berlutut di kaki ayahnya ini tiba-tiba pemuda itu mengeluh dan menitikkan air mata.

“Ayah, kiranya begitu berat penderitaanmu waktu itu. Tak kusangka bahwa kau memusuhi ayah dari kekasihmu sendiri. Kasihan pula ibu.”

“Benar, iapun menderita. Kemarahannya kepadaku waktu itu dapat kumaklumi Sin Gak, dan waktu itu aku juga pasrah dibunuh. Akan tetapi ah, pamanmu Han Han menyelamatkan aku dan sebagai gantinya lenganku inilah yang menjadi tumbal. Golok Maut semakin berdarah.”

“Jadi ayah dibuntungi golok ayah sendiri?”

“Benar, lewat tangan ibumu. Tapi setelah itu ibumu mengguguk dan menubruk aku. Sekian lama aku dirawat, lalu ketika sembuh kami akhirnya menikah.”

Sin Gak memejamkan mata. Baru sekian saja ia merasa tak tahan. Dapat dibayangkan betapa besar dan berat penderitaan ayahnya. Tapi ketika ia membuka mata kembali segera ia teringat sesuatu dan ayahnya menyuruhnya duduk lagi.

“Maaf, apa yang membuat ayah begitu benci kepada si Kedok Hitam.”

“Ia keji, membunuh kakek dan nenekmu.”

“Tapi kakek dan nenek mungkin melakukan sesuatu yang membuat Kedok Hitam membunuh mereka, ayah, kalau tidak masa ia sekejam itu.”

“Hm, jahanam ini bejat pada dasarnya. Ia buruk sejak muda, Sin Gak, dasarnya memang iblis. Coba pantaskah seorang ayah hendak memperkosa puterinya sendiri!”

“Maksud ayah kakek hendak mengganggu ibu?”

“Ya, coba benarkan. Iblis atau bukan manusia semacam itu!”

Sin Gak terbelalak. Sungguh tak di sangka kalau sejauh itu seorang ayah bersikap kepada puterinya sendiri. Maka ketika ia mendesah dan mengangguk geram iapun tak membela lagi Kedok Hitam ini. “Kalau begitu benar-benar jahat, tapi kenapa ia hendak melakukan itu. Apakah otaknya sudah gila.”

“Ia marah sekali kepada ibumu yang membela aku habis-habisan, tapi betapapun tak pantas seorang ayah melakukan itu!”

“Hm, benar, bejat sekali. Lalu sekarang informasi apa yang kau dapat dari Yauw-ongya, ayah, maksudku si Yu Bin itu. Apakah benar ia adik kandung Kedok Hitam.”

“Agaknya begitu, dan aku akan menyelidiki rumah kosong di taman binatang belakang istana.”

“Berarti ia pamanmu.”

“Paman dari ibumu!”

“Benar, tetapi kakekku juga. Ah, hidup begini rumit, ayah, tali-temali begitu membelit. Tapi kebenaran harus ditegakkan. Baiklah, kapan ayah ke sana dan bolehkah aku ikut!”

Giam Liong berseri. Ia melihat kekerasan di wajah puteranya ini dan gembira. Kalau benar Majikan Hutan Iblis itu adik kandung Coa-ongya maka ia adalah kakek luar puteranya. Berarti cucu akan berhadapan dengan kakeknya. Dan ketika ia girang bahwa puteranya tak tepengaruh hubungan keluarga itu, ikatan darah di pihak isterinya maka Giam Liong segera menjawab bahwa malam ini adalah saat yang tepat untuk pergi menyelidik.

“Besok kita harus pergi dari sini, malam ini kuputuskan untuk menyelidik. Kalau kau ikut tentu saja amat baik. Mari kita keluar dan jangan sampai membuat berisik!”

Sin Gak mengangguk. Sang ayah sudah memberi sekilas cerita dan itu cukup, ia telah mengetahui intinya. Maka begitu mereka berkelebat dan melayang keluar jendela, bergeraklah ayah dan anak menuju belakang istana tiba-tiba berkelebat bayangan lain dan Bi Hong telah menyusul mereka.

“Sin Gak !”

Pemuda ini terkejut. Dia dan ayahnya telah berlari di atas wuwungan ketika tiba-tiba saja seruan itu memanggil. Bi Hong berkelebat dan telah berdiri di dekat mereka. Dan ketika Sin Gak terkejut namun girang, sang ayah menoleh dan tersenyurn maka Giam Liong tiba-tiba melanjutkan larinya mengerahkan ilmu meringankan tubuh.

“Bagus, semakin baik. Ayo ajak Bi Hong sekalian, Sin Gak, tak apa bertiga menyelidiki tempat itu. Mari, cepat kesana!”

Sin Gak menyambar lengan kekasihnya ini. Ia bertanya apakah Tien Tien tak mengetahui kepergiannya, karena Bi Hong satu kamar dengan gadis itu. Namun ketika dengan tersenyum Bi Hong menggeleng maka gadis ini menjawab bahwa temannya sudah tidur.

“Tien Tien kuusap belakang tengkuknya, mengantuk. Ia tak akan bangun sebelum aku kembali.”

“Kenapa kau lakukan itu? Memangnya berbahaya untukmu?”

“Berbahaya apa,?” gadis ini tertawa. “Aku melakukan itu semata ingin mengikutimu, Sin Gak. Ayahmu tadi telah bertanya dan pasti menyelidik. Nah, kau tentu ikut ayahmu dan aku ikut kau!”

“Ha-ha, dasar cerdik. Dugaanmu memang benar, Bi Hong, aku penasaran bertanya kepada ayah. Dan hmm, ada hal-hal tidak kuduga yang kudapat dari ayah.”

“Tentang apa.”

“Kisah ibuku, atau lebih tepat keluarganya. Dan...“

“Dan kau berdarah bangsawan. Aku juga tidak menyangka ini, Sin Gak, jelek-jelek kau keturunan pangeran melalui ibumu!” Bi Hong memotong dan gadis itu tertawa.

Akan tetapi Sin Gak mendesah kecewa, tersenyum pahit. “Tidak seperti yang kau duga. Darah di tubuhku bisa kotor oleh kebangsawanan itu, Bi Hong, justeru aku tak senang.”

“Eh, kenapa begitu?”

“Hayo kejar ayah dan lihat ia menghilang!” Sin Gak menarik lengan kekasihnya ini untuk mengejar sang ayah yang sudah jauh di depan. Giam Liong melompat turun kemudian berlari di antara lorong-lorong gelap, hapal dan rupanya sudah biasa memasuki istana karena Naga Pembunuh ini memang tidak asing lagi, Dulu ketika ia mencari Kedok Hitam segala lika-liku istana dihapal, maka Sin Gak menyusul dan tak mau kehilangan ayahnya pemuda ini sudah menyeret kekasihnya setengah paksa, tak menjawab itu.

“Tunggu, jangan buru-buru. Kita atur jarak, Sin Gak, perlahan saja. Kalau kita mau dapat saja kita melampaui ayahmu. Ceritakan kenapa kau tak senang mendengar kebangsawananmu tadi!”

“Hm, siapa senang kalau aku cucu si Kedok Hitam. Orang itu ternyata jahat dan keji, Bi Hong, lebih baik aku menjadi cucu seorang gembel saja!”

“Eh, kenapa begitu. Coba ceritakan itu!”

Sin Gak lalu menceritakan apa yang didengar dari ayahnya. Tanpa perlu menutupi rahasia itu. Dan ketika gadis ini tertegun membelalakkan mata maka Bi Hong tak berani memberikan komentar.

“Lihat, apa senangnya menjadi cucu Coa-ongya. Kalau Coa Yu Bin itu betul adik kandungnya maka ia kakek luarku, Bi Hong, paman-kakek karena adik kakekku si Kedok Hitam.”

“Hm-hm, begitu kiranya, dan agaknya setali tiga uang. Kedok Hitam dan Majikan Hutan Iblis ini sama-sama jahat, Sin Gak. Kalau benar ia paman-kakekmu maka sepak terjang dan sifat-sifatnya tidak jauh berbeda dengan mendiang Kedok Hitam.”

“Ya, tapi ayah akan menyelidiki. Titik terang telah mulai tampak, tapi siapapun adanya dia harus tetap dilawan karena amat jahat dan keji. Ingat tengkorak atau tulang-belulang di pohon besar itu!”

Bi Hong mengangguk-angguk. Tentu saja ia memuji pemuda ini karena tak terpengaruh sama sekali oleh hubungan keluarga atau darah itu. Selama ini yang ia ketahui adalah Majikan Hutan Iblis itu adalah murid Te-gak Mo-ki, kedudukannya sebagai adik seperguruan tapi merupakan suheng (kakak) bagi Sin Gak. Janggal dan aneh kalau sute dan suheng adalah cucu dan kakeknya. Tapi karena sebut-menyebut itu tak berarti lagi bila melanggar kebenaran, mereka adalah pendekar yang harus membasmi kejahatan maka ketegasan dan sikap Sin Gak membuat Bi Hong kagum.

“Siapapun adanya dia maka dia adalah iblis. Coba ingat ketika dia membunuh ibuku, pantaskah seorang paman membunuh keponakannya? Tapi aku bergerak bukan berdasarkan dendam, Bi Hong, melainkan semata membela kebenaran menumpas kejahatan. Sudah terlalu banyak orang itu membuat dosa!”

“Ya, aku tahu. Dan sekarang lihat ayahmu membelok di situ!” Bi Hong menghentikan percakapan ketika tiba-tiba dia menuding.

Mereka telah tiba di taman margasatwa di mana geraman singa atau harimau mendirikan bulu kuduk. Di balik kerangkeng atau jeruji-jeruji besi tampaklah hewan-hewan buas tangkapan istana. Ini adalah hasil perburuan kaisar dan para pengawalnya, dipelihara dan sewaktu-waktu diambil kalau kaisar menghendaki santapan istimewa, daging harimau umpamanya, atau singa jantan. Dan ketika Sin Gak berhenti melihat ayahnya berhenti maka mereka sudah berada di sebuah rumah kosong yang daun pintunya tertutup rapat. Di tembok sebelah kiri terdapat tulisan “Rumah Hantu” dengan goresan besar-besar, begitu pula di pintu atau pilar merah di teras depan.

“Beranikah kau mengintai ke atas, sang ayah berbisik ketika sang putera digapai mendekat. “Aku ingin mengelilingi tempat ini sampai pintu besar, Sin Gak, dan kau periksalah dari atas genteng apa isi dalam rumah ini.”

“Hm, ayah seperti bertanya kepada anak kecil saja,” Sin Gak tersenyum. “Kenapa tidak berani dan harus takut, ayah? Baik aku ke atas dan kau putarilah rumah ini kalau menemukan sesuatu!”

Giam Liong tersenyum. Bulan di atas mereka tertutup awan sejenak dan tempat itupun gelap. Memasuki rumah ini berarti melompati pagar kawat sebagai batas pengaman, mereka telah melewati itu dan melihat keadaan rumah ini memang cukup menyeramkan. Sepasang pohon besar di depan rumah bergemeratak ditiup angin dingin, ujung ranting dan daun-daunnya bergesek menimbulkan bunyi setan. Mirip suling maut atau rintahan dedemit. Namun karena mereka bukanlah orang-orang penakut dan hawa dingin rumah itu dibuang dengan kibasan lengan baju maka Sin Gak sudah menghilang karena pemuda itu sudah berada di atas meletakkan kaki di atas genteng berwarna hitam.

“Kratakk-brukkk!”

Tempat yang diinjak pemuda itu roboh. Tanpa disangka-sangka dan tak menduga bahwa genteng yang diinjak begitu tua dan rapuh maka Sin Gak terjeblos ke bawah berseru kaget. Pemuda itu tak mengerahkan Bu-bian-kangnya karena tidak menghadapi musuh, hanya menginjak ringan akan tetapi bangunan tua itu roboh. Bersamaan ini terdengar raung dan pekik singa. Tempat itu hanya beberapa tombak saja dari kerangkeng besi yang mengurung binatang buas itu. Dan ketika Sin Gak terkejut terjeblos ke bawah maka dari kiri kanan menyambut sinar-sinar hitam menyambar tubuhnya, cepat luar biasa.

“Plak-plak-plak!” untunglah pemuda ini bermata tajam dan kedua tangannya menampar benda-benda hitam itu. Tujuh panah beracun dan tiga tombak panjang patah-patah, Sin Gak mengeluarkan keringat dingin karena tak menyangka serangan itu. Namun baru saja kakinya menginjak lantai dingin sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh dan terbukalah lantai itu menerima tubuhnya.

“Sin Gak!” Bi Hong berkelebat dan melihat pemuda itu di kegelapan yang pekat. Isi rumah ini tak tahu apa namun hawanya dingin menyeramkan. Ketika genteng rumah ambruk dan Sin Gak terjeblos ke bawah maka gadis ini sudah memanggil dan berseru cemas. Ia tadinya berada di luar berjaga-jaga, maksudnya menunggu pemuda itu memberi laporan. Tapi begitu genteng dan segalanya berdebum, ia berkelebat menyusul pemuda itu maka di saat itu ia melihat lubang hitam menerima kekasihnya.

“Rrrtttt!” Bi Hong melepas tali hitam dan cepat sekali membelit tubuh Sin Gak. Hampir saja pemuda ini menampar tali menyangka serangan. Akan tetapi ketika Bi Hong mengeluarkan seruan dan benda itu jelas berasal dari tangan si gadis, saat itu Sin Gak terjeblos masuk maka tertahanlah tubuhnya dan sekali Bi Hong menyentak pemuda itupun berjungkir balik menyelamatkan diri.

“Keluar!”

Akan tetapi kejadian tidak berhenti hanya sampai di sini. Begitu lantai membuka mendadak meja kursi menyambar-nyambar. Di sudut ruangan itu ternyata terdapat empat meja dan empat kursi, letaknya berhadapan dan di ujung meja atau kursi ini tertancap sebilah belati tajam. Bagai digerakkan tangan setan benda-benda ini melayang ke tengah, menuju ke lubang yang merupakan sumur itu. Akan tetapi karena Sin Gak sudah disendal ke atas dan pemuda itu berjungkir balik pula maka terdengar benda patah ketika meja dan kursi itu saling hantam.

“Brakkk!”

Rupanya ada karet lentur di kaki meja kursi itu. Mereka tertarik ketika lubang sumur terbuka, sepintas seperti digerakkan tangan setan dan tak aneh kalau orang biasa bakal mati kaku. Orang lihaipun bakal terancam bahaya kalau mampu meloncat keluar. Benda-benda itu sengaja dipasang kalau seseorang bisa menyelamatkan diri dari sumur jebakan. Dan ketika Sin Gak memaki merasa marah maka Bi Hong melepaskan talinya pemuda itu meloncat turun.

Akan tetapi kejadian belum habis. Bi Hong yang lega melihat Sin Gak selamat sekonyong-konyong dikejutkan teriakan di luar rumah. Giam Liong si Naga Pembunuh berseru keras, mengejutkan mereka hingga dua muda-mudi ini berkelebat menuju asal suara. Namun ketika mereka menabrak seutas tali setinggi dada, tak terlihat karena terlindung gelapnya malam maka sepasang pohon besar roboh menimpa mereka. Tali itu dilkatkan di sana dan entah bagaimana pohon yang tampaknya tegar itu rapuh.

“Awas!”

Sin Gak menyabetkan jarinya menghantam tali itu. Untunglah mereka orang-orang kuat hingga tak sampai terluka. Namun karena tabrakan itu terjadi dengan kuat dan pohon berdebum menimpa maka Bi Hong melengking mendorongkan tangannya kedepan.

“Bummm!” pohon miring dan tumbang, jatuh di sebelah kanan dua orang muda ini Bi Hong maupun Sin Gak meloncat ke kiri. Mereka marah sekali karena maklum bahwa semua ini bukan kebetulan belaka, seseorang telah menjebak mereka dan menyambut. Dan ketika terdengar teriakan lagi di dekat mereka, Sin Gak berkelebat melihat ayahnya maka dua singa jantan menyerang ayahnya disusul harimau dan hewan-hewan buas yang keluar dari kerangkengnya. Pintu-pintu jeruji terbuka serentak.

“Keparat!” Giam Liong membentak dan membabat singa jantan itu. “Majikan Hutan Iblis ada di sini, Sin Gak, ia membuka semua kerangkeng besi. Awas, mereka lari!”

Sin Gak tertegum Ayahnya mencabut Golok Maut dan sekali babat robohlah dua singa itu. Akan tetapi karena dari kanan kiri menyambar binatang-binatang lain, tempat itu menjadi gaduh maka kejadian ini mirip ketika dulu si Naga Pembunuh mengejar Siauw Hong. Si banci itu waktu itu juga lari ke situ dan Majikan Hutan Iblis malah berada di sini, membunuh Yu Yin dan membantai orang-orang kang-ouw.

“Crat-crat!”

Sin Gak ngeri melihat ganasnya sang ayah. Sepasang harimau jantan dan betina yang menyerang pula disambut bacokan miring, kepala binatang itu belah. Namun karena tempat itu dipenuhi lalu-lalangnya binatang berlarian, suara auman dan pekik gentar berbaur menjadi satu maka istana terkejut dan tampaklah bayangan para penjaga di luar kawat berduri.

“Maling pengacau! Ada pembuat onar!”

Sin Gak menyambar ayahnya. Bi Hong berkelebat dan tampak bingung karena dari luar taman muncullah puluhan obor menerangi tempat itu. Para penjaga berteriak-teriak sementara sebatang panah api tiba-tiba menyambar. Cepat dan kuat sekali panah ini menyambar Giam Liong, di tangkis akan tetapi pendekar itu terpelanting. Dan ketika Sin Gak terkejut melihat panah kedua maka ia melompat dan menangkis serangan berbahaya ini.

“Plak!”

Gaduh dan ramainya tempat ini membuat Giam Liong tak mendengar kekeh tawa ditahan. Ia baru terhuyung bangun ketika puteranya menangkis panah kedua. Sin Gak tergetar dan kaget karena iapun terdorong. Dan ketika pemuda itu terbelalak melihat sepasang mata berkilat, lenyap dan menghilang di balik punggung penjaga maka Bi Hong berseru kaget karena panah yang ditangkis Sin Gak terpental dan jatuh menimpa rumah tua itu.

“Kebakaran, rumah itu terbakar!”

Giam Liong membelalakkan mata. Ia tak melihat apa yang dilihat puteranya, sosok mata berkilat yang menghilang di balik punggung penjaga itu. Dan ketika Sin Gak berkelebat mengejar pemilik mata itu maka ia berseru agar ayahnya dan Bi Hong kembali saja ke tempat Yauw-ongya.

“Jahanam itu rupanya berada di sini. Keluar dan cepat kembali di rumah Yauw-ongya, jangan terlihat pengawal!”

Akan tetapi ratusan orang telah berada di sini. Api yang membakar rumah itu membuat suasana terang-benderang, Giam Liong segera dikenal. Dan ketika pengawal terkejut melihat dirinya, berteriaklah mereka menyebut si buntung itu maka hujan tombak dan panah berapi kembali menyambar.

“Naga Pembunuh! Dia Naga Pembunuh!”

Giam Liong mengerutkan kening. Ia telah dikenal pengawal dan mereka menyerangnya. Hewan-hewan buas digebah. Dan ketika mereka berlarian dan masuk ke kandang, ributlah tempat itu maka Bi Hong menyambarnya dan berkata,

“Sin Gak menyuruh kita kembali, biar paman ikut aku!”

Naga Pembunuh terkejut. Jantungnya berdesir ketika tiba-tiba tubuhnya terbawa naik dan melayang ringan. Bagai hantu saja gadis ini melewati orang-orang itu, mempergunakan Bu-bian-kang atau Ilmu Tanpa Bobot hingga dengan mudah Bi Hong membawa temannya. Dan ketika semua membalik dan berteriak-teriak, mereka bukan pengawal di tempat Yauw-ongya maka datangnya Naga Pembunuh menimbulkan guncangan hebat karena mereka tahu siapa si buntung yang lihai ini. Bi Hong menghindar cepat ketika golok dan tombak menyambar mereka. Semua senjata runtuh dan patah-patah. Namun ketika mereka keluar dan Giam Liong minta dilepaskan maka gadis itu melayang turun berkata cemas,

“Paman sudah dikenal, apakah sebaiknya tidak berpamit saja pada Yauw-ongya. Kita jelas dianggap pengacau, paman, dan ke mana Sin Gak meninggalkan kita!”

“Tidak, tak perlu lari. Justeru di tempat Yauw-ongya kita aman, Bi Hong. Di sana kita dapat menerangkan baik-baik. Tak usah khawatir, Sin Gak pasti datang!"

Akhirnya Bi Hong menurut. Di belakang mereka api bertambah besar, raung dan lolong binatang buas riuh sekali. Akan tetapi begitu mereka berkelebat di gedung ini tiba-tiba pengawal menyambut dan Ge-busu menyerang amat marah.

“Pembunuh! Ia datang dan kembali lagi. Awas, tangkap dan serang Naga Pembunuh ini, anak-anak, jangan biarkan ia lolos!”

Giam Liong terkejut dan menangkis tusukan Ge-busu itu. Komandan ini membawa golok lebar dan melihat Giam Liong langsung saja ia menyerang.. Dari dalam rumah terdengar jerit dan tangis histeris. Dan ketika golok terpental dan Bi Hong tertegun, semua tiba-tiba berbalik dan menyerang mereka maka gadis itupun tak luput dari sasaran dan hujan tombak atau golok menimpanya pula.

“Keparat, apa yang terjadi. Kenapa kau menyerang dan menyebutku pembunuh, Ge-busu. Mana Yauw-ongya dan biarkan aku bertemu!” Giam Liong membalik dan menangkis hujan serangan lain ketika komandan itu terpelanting ditangkis. Anak buahnya menyerang dari kiri kanan dan membuat sibuk. Akan tetapi ketika laki-laki gemuk itu membentak dan menyerang lagi, Yauw Kam tiba-tiba muncul di pintu mendadak putera Yauw-ongya itu menuding.

“Orang she Sin, kau benar-benar keji. Kau pantas berjuluk Naga Pembunuh. Kenapa kau bunuh ayah ibuku dan biarlah aku mengadu jiwa!” pemuda yang tidak bisa silat itu tiba-tiba melempar pot bunga dan turun dari tangga batu menyerang Giam Liong, memaki dan membentak sementara pengawal berseru mencegah. Tanpa takut ini-itu pemuda itu menubruk terus, entah dari mana ia sudah menyambar sebuah golok bengkok. Ini adalah senjata seorang pengawal yang roboh ditangkis pendekar itu, goloknya mencelat dan bengkok menghantam tembok. Lalu ketika pemuda itu kalap dan memaki-maki, tertegunlah Giam Liong maka hampir saja tusukan pemuda itu mengenai matanya.

“Plak!” Giam Liong menangkis dan pemuda itu terbanting. Hanya dengan sekali pukul mencelatlah golok itu. Tapi ketika Giam Liong hendak mendekati pemuda ini dan menyambar bajunya, marah dan kaget maka para pengawal yang salah sangka sudah membentak dan menyerangnya lagi.

“Awas, lindungi Yauw-kongcu. Ia akan dibunuh!”

Giam Liong menjadi geram. Untunglah Bi Hong berkelebatan bagai walet menyambar-nyambar, menotok dan merobohkan mereka dan terpelantinglah pengawal-pengawal itu tanpa dapat melompat bangun lagi. Mereka merintih dan tertotok dan gadis ini berseru agar Giam Liong memasuki rumah. Dan ketika pendekar itu berkelebat dan Bi Hong menyusul maka di kamar dalam di mana jerit tangis dan teriakan terdengar terpakulah pendekar ini melihat Yauw-ongya suami isteri mandi darah dengan luka tusukan dalam.

“Ongya!”

Semua menoleh dan membelalakkan mata. Yauw Hui, puteri pertama Yauw-ongya tiba-tiba menjerit melihat pendekar ini. Giam Liong yang bergerak dan berlutut memeriksa korban tiba-tiba disambar kaki kursi, gadis itu memekik dan menghantam pendekar ini. Namun ketika kursi patah-patah sementara Giam Liong menggigil tak apa-apa, sama sekali tak memperdulikan gadis itu dan Bi Hong menyambar dan mencengkeram gadis ini maka Naga Pembunuh itu terbelalak karena luka tusukan jelas adalah luka tusukan golok.

“Jahanam!” Bentakan atau seruan itu mengejutkan semua orang. Giam Liong membalik dan meloncat bangun dan saat itu muncullah Tien Tien. Gadis ini datang terlambat setelah ayah ibunya terbunuh, karena Bi Hong tadi menotoknya agar tidur pulas. Dan begitu gadis ini melihat ayah ibunya dan menjerit melihat Giam Liong tiba-tiba ia melengking dan menubruk Giam Liong.

“Pembunuh!”

Giam Liong menangkis dan menangkap gadis ini. Tentu saja ia marah karena semua orang menyangkanya pembunuh. Tahulah dia siapa yang melakukan perbuatan itu, siapa lagi kalau bukan Majikan Hutan Iblis Yu Bin. Maka ketika ia mendorong dan melepaskan gadis itu, berkelebat dan melengking maka pendekar itu lenyap dan Bi Hong juga melepaskan Yauw Hui menyusul Naga Pembunuh itu.

“Jangan salah sangka, paman Giam Liong tidak membunuh siapapun. Orang lain yang membunuh ayah ibu kalian itu!”

“Keparat, jahanam!” dua gadis itu mengejar berteriak-teriak. “Kalau bukan pembunuh tak perlu lari, orang she Sin, dan kau gadis siluman pembela iblis keji itu!”

Bi Hong hampir marah dan membalik menampar gadis ini. Mereka melemparkan apa saja ke arah mereka dan sapu serta botol melayang bertubi-tubi. Pelayan dan para dayang juga menjerit dan memaki- maki. Namun karena Giam Liong sudah keluar lewat pintu depan dan Bi Hong tak ingin ada apa-apa dengan ayah kekasihnya itu maka ia mengerahkan ilmunya meringankan tubuh dan sekali berkelebat lenyap meninggalkan ruangan dalam itu.

Akan tetapi di luar gedung sudah menunggu puluhan bahkan ratusan orang. Berita pembunuhan Yauw-ongya menyebar cepat dan pengawal istana bergabung. Dari mereka yang melihat dan mengejar Naga Pembunuh di taman margasatwa segera menyebar bahwa Naga Pembunuh berbuat kekacauan. Ia membakar dan melepas kerangkeng-kerangkeng binatang, lari dan membunuh Yauw-ongya pula. Maka ketika semua mengejar dan marah mendengar itu, dulu laki-laki itu juga pernah mengacau istana maka kenangan buruk yang pernah ditinggalkan Giam Liong bangkit lagi dan orang mudah percaya akan apa yang dilakukan.

Tiga ratus pengawal bersenjata lengkap mengepung ketat gedung Yauw-ongya. Pasukan berkuda juga disiapkan bila laki-laki itu lari. Maka begitu Giam Liong muncul dan panah menyambar lebih dulu maka Naga Pembunuh ini terbelalak dan menangkis dengan marah.

“Plak-trak-tak!”

Akan tetapi serangan tidak berhenti sampai di sini. Sadar bahwa si buntung itu bukan orang sembarangan tombakpun menyambar susul-menyusul. Pisau dan golok terbang juga tak mau kalah. Dan ketika hujan serangan itu menyibukkan pendekar ini maka Giam Liong mencabut goloknya dan sekali sinar golok melebar membungkus dirinya maka semua senjata patah-patah dan cahaya gemerlapan menyertai golok ini. Golok Maut!

“Minggir atau kalian mampus. Aku tidak membunuh Yauw-ongya!”

“Bohong, pembunuh! Kalau kau tidak membunuh ayahku kenapa kau meninggalkan tempat ini, Naga Pembunuh. Kau berhutang dua jiwa dan tidak berperikemanusiaan. Serang dan bunuh dia, mana puteranya Sin Gak!”

Yauw Kam, pemuda yang kalap itu membentak-bentak dibalik punggung Ge-busu. Pengawal itulah yang pertama kali melihat kematian ayahnya, mendobrak pintu karena mendengar ribut-ribut akan tetapi ayah ibunya sudah terkapar mandi darah. Celakanya sebelum pangeran ini tewas ia megap-megap menyebut nama Giam Liong, maksudnya hendak memanggil dan bertanya di mana pendekar itu tapi Ge-busu salah terima. Ia menganggap bahwa Naga Pembunuh itulah yang membuat bencana. Maka ketika Ge-busu berteriak dan memanggil anak buahnya, gegerlah tempat itu maka Giam Liong dijadikan sasaran dan gedung Yauw-ongya menjadi ribut.

Giam Liong sendiri tak tahu apa yang terjadi karena ketika ia menuju taman margasatwa maka seseorang berkelebat memasuki kamar pangeran ini. Yauw-Ongya suami isteri hampir terlelap ketika tubuh mereka diguncang-guncang. Seseorang berkedok dan mengenakan jubah hitam tertawa aneh, menyuruh mereka bangun. Dan ketika Yauw-ongya meloncat berseru kaget sekonyong-konyong sebuah sinar berkelebat dan menusuk dadanya.

“Kau membuka rahasiaku, terimalah kematianmu. Orang berdosa patut menerima hukuman, Yauw Bun, berangkatlah ke akherat dan terimalah ini!”

Yauw-ongya menjerit dan roboh. Ujung sebatang golok menusuk cepat dan ia terjengkang. Hui Kiok terpekik dan menubruk suaminya. Dan ketika laki-laki itu terkekeh sementara Hui Kiok tiba-tiba sadar dan membalik maka nyonya itu menyambar kursi dan menghantam pembunuh ini.

Akan tetapi apa artinya perlawanan wanita itu terhadap lawan. Ia ditangkis terpelanting dan menjerit menyambar kursi lain, sia-sia dan ribut-ribut itu didengar Ge-busu. Dan ketika pengawal itu berteriak-teriak sementara si pembunuh menyeringai kejam, tangannya bergerak dan robohlah wanita itu dengan dada berlubang maka bagai hantu malam saja laki-laki berkedok ini melayang dan lenyap lewat jendela, Ge-busu mendobrak hanya untuk melihat majikannya terkulai berlumuran darah...