TAPAK TANGAN HANTU
JILID 27
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“DESS!”

Sin Gak terlempar dan terbanting. Kalau saja di saat berbahaya itu seruannya tak mengurangi tenaga sang ayah tentu kepala pemuda ini hancur lebur. Sin Gak mengejutkan ayahnya sekaligus mengurangi tenaga serangan itu. Hampir limapuluh persen hilang. Namun karena pukulan itu amatlah berat dan mengenai kepala, pemuda ini terlempar dan terbanting maka pemuda itu pingsan dan di saat itulah Ke Ke Cinjin muncul berseru tertahan.

“Sin-taihiap!”

Giam Liong tertegun lagi. Ia bangkit terhuyung memandang pemuda terlempar di mulut guha itu. Tenaga yang dikeluarkan membuat ia lemas, tapa bertahun-tahun membuat ia cepat kehabisan daya. Maka ketika ia gemetar dan limbung memandang pemuda itu, sesungguhnya pukulannya tadi berkat tenaga pemuda itu maka pendekar ini terbelalak memandang Ke Ke Cinjin, suaranya parau bertanya, “Siapa kau!”

Tosu ini berlutut dan tersedu-sedu. Ia melihat Sin Gak tak bergerak-gerak lagi dan mengguguklah tosu itu. Dikiranya Sin Gak tewas. Maka ketika ia tersedu dan menubruk pemuda itu segera tosu ini menjawab, “Pinto adalah Ke Ke Cinjin, pinto adalah tosu Kun-lun-pai. Kau membunuh puteramu sendiri, taihiap. Dia adalah Sin Gak. Kau telah membunuhnya!”

Giam Liong terkejut dan gemetar. Ia baru saja sadar setelah sukmanya ditarik dan diseret kembali ke alam nyata. Ia sesungguhnya masih bingung oleh semua kejadian itu. Tapi begitu si tosu menyebut-nyebut puteranya dan nama Sin Gak adalah nama pemberiannya sendiri tiba-tiba pendekar itu mengeluh dan roboh di tubuh puteranya. Rasa lemas menghabiskan semua tenaganya. “Apa apa kau bilang. Dia puteraku, Ke Ke Cinjin? Dia Sin Gak yang hilang belasan tahun lalu?”

“Benar, dia puteramu, dan kau membunuhnya. Ah, dosa apa yang kau lakukan ini, taihiap, bagaimana kau mencelakai puteramu sendiri. Ia datang untuk bertemu dan menyelamatkanmu!”

Sang Naga Pembunuh menggigil. Giam Liong tiba-tiba mendorong tubuh tosu itu memeriksa puteranya. Ia gemetar dengan muka pucat sekali. Akan tetapi ketika denyut jantung itu dirasanya dan dada pemuda ini masih berdetak tiba-tiba pendekar itu girang bukan main dan berseru, “Ia masih hidup!”

Ke Ke Cinjin mengangkat mukanya. Ia kaget tapi girang mendengar itu, melihat betapa sang Naga Pembunuh memanggul tapi roboh kembali. Tenaga pendekar itu masih lemas. Lalu ketika tosu ini bergerak dan mengangkat tubuh Sin Gak maka Giam Liong berseru agar pemuda itu diletakkan di dalam guha, di tempat duduknya tadi.

“Angkat ia disana baringkan di situ. Biar aku melancarkan denyut nadinya!”

Ke Ke Cinjin tergopoh mengangkat pemuda itu. Akhirnya ia merasa bahwa denyut nadi pemuda ini masih berdetak, lemah tapi pemuda itu masih hidup. Maka ketika ia membaringkan pemuda itu di bekas tempat sang ayah, lantai batu yang dingin bekas tapa bertahun-tahun maka Giam Liong menekan dan mengurut dada puteranya berkali-kali, menyedot dan menghembuskan napas memberi bantuan udara segar, menggigil dan berurailah air mata di wajah gagah itu. Sang Naga Pembunuh menangis. Namun ketika perlahan-lahan pemuda itu membuka matanya dan sadar, Ke Ke Cinjin berseru girang maka Giam Liong bagai mendapat mustika melihat puteranya selamat.

“Sin Gak, anakku!”

Sin Gak tergetar bertemu sorot mata penuh sendu. Wajah di depannya itu tiba-tiba membungkuk memeluk dan menciuminya, air mata itu deras mengalir membasahi pipinya. Lalu ketika ia sadar tersedak bangun, air mata itu bagai hujan layaknya akhirnya iapun menubruk dan bertangis-tangisan memeluk ayahnya itu. “Ayah...!”

Ke Ke Cinjin melengos dengan mata basah pula. Pertemuan ayah dan anak yang begitu mengharukan membuat tosu ini batuk-batuk dan membanjir pula. Iapun menangis mewek-mewek! Dan ketika ayah dan anak berpelukan begitu erat, masing-masing begitu haru dan bahagia maka Giam Liong berbisik mernanggil-manggil puteranya ini.

“Kau kau anakku yang hilang. Kau Sin Gak. Ah, betapa tersiksa dan rinduku kepadamu, Sin Gak, betapa susah dan berat penderitaan ini. Kau kembali, kau menyegarkan sukmaku lagi. Tapi ibumu telah tiada...”

Sin Gak mengguguk dan menangis lagi. Suara dan kata-kata ayahnya yang serak menggigil membuat tengkuknya meremang tak keruan. Wajah ayahnya yang pucat penuh penderitaan membuat ia terharu. Dan ketika ayahnya tersedu dan memeluknya kencang-kencang, kembali mereka bertangisan maka keharuan dan air mata adalah sahabat akrab mereka di saat itu.

Tak ada kebahagiaan sekaligus keharuan seperti itu. Tak ada kebanggaan sekaligus kehancuran seperti itu. Hati mereka remuk berkeping-keping, apalagi teringat sang ibu yang telah tiada. Tapi ketika Sin Gak mendorong ayahnya dan pemuda ini menguasai dirinya terlebih dahulu, mendorong dan melepaskan diri maka Giam Liong juga menghapus air matanya memandang kagum.

“Ayah tak perlu lagi mengingat-ingat ibu, yang tiada tak akan kembali. Apa yang kau minta di sini hingga tapamu begitu hebat, ayah. Apa yang kau kehendaki hingga kau menyiapkan jiwamu!”

“Aku mencari keadilan,” sang ayah surut dan menarik napas dalam. “Aku kecewa menerima hidupku, Sin Gak, aku merasa disia-siakan. Aku protes kepada Kebenaran!”

“Hm, ayah demikian tenggelam, ayah demikian bersungguh-sungguh. Apa maksudmu dengan protes kepada Kebenaran.”

Pendekar itu memandang puteranya. Sin Gak yang sekarang bukanlah Sin Gak si kecil belasan tahun lalu itu. Puteranya ini telah gagah dan dewasa, sikap dan pandang mata puteranya itu bukan seperti anak kecil lagi. Maka ketika ia menarik napas dalam-dalam dan menoleh pada Ke Ke Cinjin maka tosu itu terkejut merasa mengganggu.

“Maaf, pinto akan mencari makanan di luar. Silakan ji-wi (kalian berdua) tunggu di sini.”

Giam Liong lega. Ia mengangguk melihat tosu itu berkelebat pergi, begitulah seharusnya orang yang tahu sopan santun, tak mengganggu. Dan ketika ia menarik lengan puteranya diajak duduk maka pendekar itu bercahaya memancarkan ketidakpuasan. “Sebelum kita bicara sebaiknya ceritakan dulu tentang dirimu. Bukankah gurumu adalah Sian-eng-jin, mana kakek sakti itu.”

“Suhu telah tiada, ia pulang. Aku disuruhnya mencarimu, ayah, ketemu dan sampai di sini.”

Giam Liong tertegun, jawaban puteranya begitu tenang, datar dan biasa! Tapi ketika ia teringat kakek sakti itu, mengangguk dan memandang puteranya kembali maka ia mendesah dan percaya bahwa puteranya ini memiliki sifat-sifat aneh sebagaimana biasanya orang sakti. “Hm-hm, begitu kiranya, tapi aneh terdengar. Kau menyebut gurumu pulang, Sin Gak, seolah gurumu bakal kembali lagi. Bukankah maksudmu ia meninggal.”

“Entahlah,” sang ayah terkejut. “Aku tak tahu ia meninggal atau tidak, ayah. Yang jelas ia pergi dan pulang secara gaib. Suhu tampaknya moksa.”

“Moksa?”

“Ya, tubuh dan jiwanya pergi bersama-sama. Bukankah itu namanya moksa.”

Naga Pembunuh tertegun. Untuk kedua kalinya lagi ia merasa aneh dengan jawaban puteranya ini, juga sikap puteranya yang begitu tenang dan datar saja. Tapi mengangguk menggenggam lengan itu akhirnya ia berkata, “Baiklah, mari duduk kembali. Apa saja yang kau dapat dari gurumu itu dan di mana selama ini kau tinggal.”

“Aku tinggal di Sian-thian-san, satu di antara puncak Himalaya. Suhu memberiku banyak kepandaian dan satu di antaranya adalah Gi-hong-ciok-beng.”

“Dan dengan itu kau menghancurkan Heng-siong-beng milikku?”

“Benar, ayah, aku tak ingin kau mati sia-sia. Aku ingin berdekatan denganmu dan mengetahui kenapa kau sampai bersikap bunuh diri.”

Giam Liong memejamkan mata. Ia kagum bukan main, namun hidupnya kembali membuat ia merintih. Sebenarnya ia ingin mati saja, terlampau berat beban yang dideritanya itu. Tapi ketika ia membuka kembali matanya itu dan berkaca-kaca maka ia berbisik bahwa sekarang ia tak ingin mati. “Aku ingin hidup, sekarang ingin hidup. Setelah kau muncul di depanku maka aku tak ingin mati!”

“Apa yang menyebabkan ayah seperti itu.”

“Kedukaan, puteraku, perasaan hancur dan remuk-redam. Aku merasa Kebenaran menjauhi diriku!”

“Hm, ceritakanlah itu, bagaimana mula-mula.”

“Berawal dari ini!” Giam Liong tiba-tiba mencabut golok di atas lantai itu, golok yang sejak tadi mengherankan puteranya. “Inilah sumber semuanya, Sin Gak, dan dengan ini ibumu terbunuh!”

“Ayah membunuh ibu?” Sin Gak terkejut.

“Bukan, melainkan orang lain. Ibumu tewas dibantai golok ini dan orang lain mencurinya. Dari sinilah semua itu terjadi dan peristiwa ini seakan tak henti-hentinya mendera aku!”

Sin Gak tertegun. Wajah ayahnya tiba-tiba beringas dan keganasan serta nafsu membunuh tampak di situ. Golok berdesing ketika digerakkan ke atas dan dinding guha tergetar. Cahaya golok membuat dinding guha hangus! Lalu ketika pemuda itu mengerutkan kening dan tergetar jantungnya maka ayahnya melontarkan golok itu menancap amblas di langit-langit guha.

“Aku tak ingin menyimpan golok itu lagi namun ingin mempergunakannya terakhir kali. Aku ingin membunuh musuhku dan mencincangnya seperti ia mencincang ibumu!”

“Majikan Hutan Iblis?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku telah ke Hek-yan-pang, ayah, dan bertemu musuhku itu. Tapi ia lolos, ia murid Te-gak Mo-ki.”

Naga Pembunuh tertegun. “Kau agaknya sudah banyak tahu tentang ini.”

“Kebetulan saja, suhu menyuruhku ke Hek-yan-pang. Dan di sanalah aku bertemu murid-murid Hek- yan-pang dan mendengar cerita tentang ini.”

“Bagus, dan kau rupanya dapat mengalahkan musuhmu itu. Kenapa ia lolos, Sin Gak, kenapa ia tak kau bunuh. Dan siapa itu Te-gakMo-ki!”

“Ceritanya panjang, ayah ceritakan dulu tentang kisah ayah ini dulu, baru setelah itu ayah mendengar dari aku.”

“Hm-hm, baik. Yang jelas aku kecewa kepada Kebenaran. Kenapa Kebenaran membiarkan Kejahatan merajalela tiada habisnya. Aku protes. Aku merasa Kebenaran menjadi mandul dan tidak berfungsi lagi!”

Sin Gak terkejut. Dari sikap dan pandang mata ayahnya yang berapi-api segera dia menangkap sesuatu yang serius. Ada kekecewaan berat di hati ayahnya itu, ada tekanan jiwa yang besar. Maka ketika ia mengangguk dan bertanya lebih lanjut maka ayahnya berkata lagi,

“Aku didera siksaan bertubi-tubi, aku serasa hidup tidak matipun tidak. Aku hampir gila!”

“Apa yang kau alami, ayah. Apa yang menyiksamu.”

“Pertama adalah hilangnya dirimu, lalu ibumu. Dan ketiga adalah Golok Maut itu!”

“Hm, jadi itu Golok Maut?”

“Ya, warisan kakekmu yang didapat dari mendiang gurunya dulu. Golok itu berbahaya untuk orang yang mengikat asmara!”

“Maksud ayah?”

“Golok ini hanya boleh dipegang kaum bujang, Sin Gak, tapi sekali sudah menjalin hubungan asmara apalagi menikah maka golok itu mengeluarkan kutuknya!”

“Hm-hm, itu kiranya. Lalu bagaimana.”

“Aku menyembunyikannya. Lenganku buntung juga gara-gara dia. Golok itu pantang disentuh mereka yang menjalin cinta kasih. Golok itu ciptaan Mo-bin-lo!”

“Aku sudah dengar. Dan bagaimana tentang ceritamu tadi, ayah, sampai di mana penderitaanmu tadi.”

Sang ayah tertegun. “Nanti dulu, dari siapa kau dengar tentang golok ini.”

“Dari suhu.”

“Apa yang dikatakan gurumu.”

“Cerita panjang tentang Ngo-cia Thian it.”

“Ngo-cia Thian-it (Lima Rasul Langit Tunggal)?”

“Ya, Ngo-cia Thian-it.”

“Aku belum mendengar itu, siapa mereka!”

“Guru dan saudara-saudara seperguruan guruku. Mereka lima orang yang gagah perkasa, ayah, sakti dan pilih tanding. Tak ada yang dapat menghadapi mereka kecuali mereka sendiri.”

“Tak mungkin. Ada seorang manusia dewa yang kesaktiannya di atas kesaktian para dewa sendiri. Kau belum mengenal Bu-beng Sian-su!”

“Hm, ya,” Sin Gak teringat. “Yang ini lain, ayah, tapi selain itu Ngo-cia Thian-it tak punya tandingan. Majikan Hutan Iblis sendiri adalah murid satu di antara Ngo-cia Thian-it itu. Pantas kalau siapapun tak dapat mengalahkannya.”

Giam Liong mengangguk-angguk. Kalau puteranya sudah bicara tentang Ngo-cia Thian-it dan pemuda itu sendiri adalah murid Sian-eng-jin yang merupakan satu di antara Ngo-cia Thian-it tentu saja ia percaya dan kagum. Tapi merasa bahwa kejahatan berjalan sewenang-wenang dan tiada hukuman maka iapun tak puas.

“Baik, pantas kalau Majikan Hutan Iblis itu bukan manusia lumrah. Tapi kau telah dapat mengalahkannya, kau telah membuatnya melarikan diri!”

“Tidak begitu gampang. Waktu itu dua orang datang di sana, ayah, dan mereka yang membuat dia ini ketakutan.”

“Siapa mereka itu.”

“Giok Cheng dan Su Giok.”

“Apa?”

“Ya, mereka, ayah, Giok Cheng dan Su Giok. Kau tentu kenal mereka ini terutama enci Su Giok!”

Giam Liong tertegun. “Giok Cheng adalah calon isterimu, sedang Su Giok, hm, ia cucu Pek-lui-kong dari ayah Su Tong dan BhiLi!”

“Dan mereka adalah murid bibi guruku Hek-i Hong-li.”

“Benar, benar gadis itu murid nenek berpakaian hitam-hitam yang amat hebat itu. Dia murid Hek-i Hong-li!”

“Dan gadis ini amat membenci kita, terutama ayah!”

“Hm!” Giam Liong teringat peristiwa itu. “Benar, Sin Gak, tidak salah. Tapi aku harus bersikap begitu.”

“Maksud ayah?”

“Ia menaruh hati padaku, waktu itu tak mau berjauhan. Dan karena aku tak mau terulang dengan kutukan Golok Maut itu maka ia kujauhi, sengaja kuacuhkan!”

Berceritalah Giam Liong akan kisah lama, didengar dan diperhatikan puteranya dan Sin Gak menarik napas dalam. Segera pemuda ini mengerti dan diam-diam kagum. Ayahnya meskipun buntung akan tetapi kegagahannya masih menonjol. Wajah itu juga masih tampan meskipun kini menua dan penuh gurat-gurat kepedihan. Ayahnya ini masih dapat menjatuhkan hati wanita! Maka ketika ia mengangguk-angguk dan mengerti duduk persoalannya iapun menerima itu dengan wajar, bahkan bangga.

“Aku tak mau memperdulikan gadis itu karena tuah dari Golok Maut ini, lagi pula mana mungkin aku beristeri lagi setelah ibumu tiada. Tidak, aku tak ingin menikah lagi, Sin Gak, aku tak ingin menjalin cinta. Itulah sebabnya segera aku bersikap dingin ketika tanda-tanda itu kulihat, dan ini dianggap sombong dan menyakitkan oleh Su Giok. Biarlah dia marah!”

“Hm, itu kiranya. Dan ini berawal dari kisah pertolonganmu kepadanya dulu. Baiklah, aku mengerti, ayah, dan sekarang aku tak perlu marah kepadanya. Ia bahkan perlu dikasihi.”

“Dan kau, sekarang ceritakan tentang Ngo-cia Thian-it itu.”

“Nanti dulu, apakah cerita ayah sudah selesai.”

“Hm, inti persoalannya hanya itu, Sin Gak. Aku kecewa Kebenaran tiada datang. Aku jemu dan lebih baik tidak usah hidup saja!”

“Jadi ayah menderita karena kehilangan aku dan ibu..”

“Ya, dan aku juga menderita karena manusia sejahat Majikan Hutan Iblis itu tak pernah dapat kubunuh. Pamanmu Han Han juga sering gagal dan bahkan nyaris terbunuh!”

“Hm-hm, mengerti aku. Kau benar. Dan Ke Ke Cinjin juga bercerita tentang keganasan iblis ini, ayah, betapa orang-orang kang-ouw roboh dan menjadi permainannya. Tapi sekarang ada aku, juga Giok Cheng dan enci Su Giok. Kami bertiga dapat merobohkan dan mengatasinya.”

“Aku senang mendengar itu, sekerang ceritakan tentang Ngo-cia Thian-it.”

“Mereka terdiri dari lima orang, guruku nomor empat. Dan karena mereka sebenarnya saudara seperguruan maka masing-masing memiliki kepandaian tak berbeda jauh dan masing-masing berjanji untuk tidak saling mengganggu dan mengusik yang lain.”

“Hm, siapa saja mereka itu. Coba sebutkan!” sang ayah memotong.

“Orang pertama adalah si Naga Berkabung Song-bun-liong. Orang kedua Mo-bin-jin saudara kandung Mo-bin-lo. Orang ketiga berjuluk Te-gak Mo-ki alias si banci. Dan orang keempat serta kelima bukan lain adalah guruku dan nenek Hek-i Hong-li itu.”

“Hebat, tapi bagaimana orang-orang seperti itu mempunyai murid seperti Majikan Hutan Iblis Itu, apakah mereka bukan para pendekar!”

“Tunggu, tiga di antara mereka adalah pendekar, ayah, akan tetapi dua yang di atas melenceng dari kebenaran.”

“Bagus, dan yang tiga mestinya mengalahkan yang dua ini!”

“Salah, ada Mo-bin-lo di luar sana. Kakek iblis ini membantu saudaranya, ayah, dan inilah yang menyebabkan kedudukan selalu berimbang.”

“Hm,” Giam Liong tertegun. “Lalu bagaimana. Kenapa dua orang jahat itu bisa menjadi saudara seperguruan!”

“Aku sendiri tak tahu, suhu tak pernah menceritakan. Tapi karena Te-gak Mo-ki melenceng di jalan kebenaran maka supek Song-bun-liong melakukan teguran.”

“Ceritakan itu, bagaimana asal mulanya!”

“Sederhana saja, Te-gak Mo-ki ini bertindak jahat kepada orang-orang lain. Kata guruku ia bermain cinta sesama lelaki dan membunuh mereka. Yang pertama kali menjadi sasaran adalah murid Bu-tong, lalu Hoa-san.”

Sang ayah mendengarkan terbelalak. Kisah ini belum pernah didengarnya dan segera Sin Gak menceritakan apa yang di dapat dari gurunya, betapa Te-gak Mo-ki mengganggu murid Bu-tong dan akhirnya orang lain. Hoa-san terlibat karena satu di antara murid Bu-tong yang bernama Teng Seng adalah calon suami murid Hoa-san bernama Cui Ling, dibunuh Te-gak Mo-ki itu dan akhirnya mengamuklah orang-orang dari dua partai persilatan itu menyerang iblis ini.

Namun karena kepandaian Te-gak Mo-ki benar-benar luar biasa dan ia adalah orang nomor tiga dari Ngo-cia Thian-it, satu persatu musuh-musuhnya roboh akhirnya si banci itu malang-melintang di tempat lain sampai akhirnya istana kaisar. Di sini suhengnya tertua mendengar, datang dan menegur namun Te-gak Mo-ki membalas. Ada perjanjian di antara mereka bahwa satu sama lain tak boleh mencampuri urusan, tingkat mereka sederajat. Tapi karena si Naga Berkabung membela kebenaran dan tetap menyalahkan sutenya akhirnya dua orang itu bertempur.

“Di sini supek tak dapat mengalahkan Te-gak Mo-ki. Meskipun kedudukannya sebagai saudara tertua namun kepandaian mereka berimbang. Baru setelah datangnya Hek-i Hong-li maka Te-gak Mo-ki terdesak.” Sin Gak berhenti sebentar dan sang ayah bersinar-sinar. Ternyata cerita ini benar-benar menarik perhatian dan itu kiranya cerita beberapa puluh tahun yang lampau, bahkan mungkin lebih jauh lagi. Maka ketika ia bertanya bagaimana selanjutnya segera puteranya ini menjawab,

“Yang terjadi semakin runyam, Mo-bin-jin datang.”

“Ah, dan dia membantu sutenya itu?”

“Ya, tidak salah. Sekarang empat orang itu bertanding hebat, ayah, semakin seru dan membuat langit gelap-gulita. Pukulan mereka bak petir menyambar-nyambar.”

“Hm-hm, lalu bagaimana!”

“Datanglah guruku itu, sekarang tiga lawan dua. Tapi ketika dua orang itu terdesak maka Mo-bin-lo muncul membantu saudara kandungnya. Pertandingan lalu berimbang lagi, seru...”

“Tidakkah satu di antara mereka roboh kehabisan tenaga?”

“Mereka orang-orang luar biasa, ayah, masing-masing memiliki kesaktian dan kepandaian berimbang. Bu-beng Sian-su datang pertandingan hebat itu berakhir.”

“Ah, kakek itu ada juga di sana. Mentakjubkan, lalu bagaimana!”

“Tidak bagaimana lagi, selesai. Mo-bin-lo melontarkan golok ciptaannya itu tapi disambut Guci Penghisap Roh.”

“Ah, tunggu dulu. Aku bertapa karena juga itu. Aku mencari guci itu sesuai petunjuknya!”

Sin Gak memandang ayahnya ini, mengerutkan kening. “Jadi ayah tahu juga akan guci ini?”

“Ya, tentu saja. Tapi aku belum berhasil menemukan, Sin Gak, aku ingin melumpuhkan Majikan Hutan Iblis itu dengan guci ini. Sekarang bagaimana akhir dari lontaran itu!”

“Bu-beng Sian-su menerimanya, melempar guci itu. Lalu Golok Maut terbang melayang bersama pemiliknya disusul saudara kandungnya pula. Te-gak Mo-ki terbirit-birit, menghilang. Dan sejak itu lima orang ini tak pernah muncul lagi namun masing-masing telah disumpah untuk tidak memasuki dunia kang-ouw secara langsung.”

“Tapi Majikan Hutan Iblis itu malang-melintang!”

“Bukan gurunya, ayah, melainkan hanya muridnya, dan itu tidak melanggar sumpah.”

“Sama saja, guru dan murid sama-sama membawa petaka. Mereka hanya memberikan kesusahan dan penderitaan kepada orang lain!”

Sin Gak diam saja, tak menjawab. Ayahnya lupa bahwa kini ada Giok Cheng dan Su Giok di situ, juga dirinya. Dan karena ini sudah merupakan tandingan bagi manusia iblis itu maka sebenarnya tak perlu ayahnya marah-marah. Keadilan sudah mulai bangun dari tidurnya!

“Hm, sekarang apa yang ingin ayah lakukan. Bukankah ayah tak perlu bertapa lagi.” Pemuda itu pindah ke persoalan lain.

“Aku ingin turun gunung, Sin Gak, mencari jahanam itu, mau apalagi. Bukankah sudah ada kau disini!”

“Baik, kapan kita berangkat?”

“Sekarang saja. Tapi, eh..... tunggu dulu. Mana Ke Ke Cinjin!”

Tiba-tiba berkelebat bayangan dari luar. “Pinto di sini. Baru saja pinto mendapatkan makanan, taihiap, lihat pisang dan buah-buahan ini!”

Tosu itu muncul dan ternyata ia membawa begitu banyak buah-buahan di kedua tangannya. Giam Liong bangkit dan berseri-seri sementara Sin Gak berdiri menyambut pula. Pemuda ini terharu dan gembira melihat tosu itu, betapapun ia telah mulai mengenal sahabatnya dari Kun-lun ini. Dan ketika sang tosu memberikn buah-buahannya dan Giam Liong mengucapkan terima kasih maka mereka duduk bersama menikmati itu. Ke Ke Cinjin tersenyum melihat ayah dan anak begitu rukun. Tiada kebahagiaan rasanya lebih dari itu. Dan karena ayah dan anak rupanya sudah selesai bercerita maka iapun bertanya apakah mereka tak akan turun gunung.

“Pinto menunggu kalian, keluar atau tidak. Masa taihiap mau bertapa lagi setelah putera taihlap datang menjemput.”

“Hm, ini berkat jasamu yang besar. Kalau kau tak membawa puteraku ke sini belum tentu kami ketemu, Cinjin, untuk ini aku mengucapkan banyak terima kasih. Entahlah bagaimana budi kebaikanmu ini kubayar!”

“Ha-ha!” tosu itu tertawa. “Kalau kau berterima kasih maka tiada artinya dibanding budi kebaikan puteramu, Sin-taihiap. Kalau tak ada puteramu ini tak mungkin pinto dapat bercakap-cakap. Pinto bakal hanyut dan tewas di sungai Huang-ho!”

“Apa yang terjadi,” Giam Liong terkejut. “Kenapa bisa begitu.”

“Bagaimana tidak. Pinto terpeleset dan jatuh di tebing licin, taihiap, tercebur dan masuk sungai yang ganas. Kalau puteramu tak datang menolong tentu pinto tinggal nama. Sudahlah, kebaikan ini tak ada artinya dibanding budi baik puteramu. Ia menyelamatkan pinto, ia mengembalikan nyawa pinto. Puteramu benar-benar luar biasa dan bukti bahwa ia dapat membangunkan tapamu sudah cukup dari segala bukti!”

Giam Liong bersinar, tentu saja bangga.

“Sekarang bagaimana pembicaraan kalian ayah dan anak, taihiap, akan keluar atau tetap di sini.”

“Hm, tentu saja keluar. Sekarang semangatku bangkit setelah puteraku datang. Aku hendak mencari musuhku!”

“Bagus, tapi apakah taihiap tidak ke Kun-lun dulu.”

“Untuk apa?”

“Bertemu dengan saudaramu, taihiap, Han Han. Ia ada di sana bersama isterinya.”

Giam Liong tertegun, tiba-tiba melirik puteranya. “Baiklah,” katanya mendadak. “Kalau begitu aku ke sana dulu, totiang, dan aku sudah mendengar bahwa Hek-yan-pang ditinggalkan pemimpinnya.”

Sin Gak tenang-tenang saja. Ia tak tahu lirikan ayahnya namun rencana ayahnya ke Kun-lun membuat ia berdebar juga. Bukan apa-apa melainkan bertemu dengan pamannya Han Han, ayah dari Giok Cheng! Namun karena ia tak akan berpisah dari ayahnya ini dan kerinduan mereka sebagai ayah dan anak juga masih kental maka ia tak perduli ke mana ayahnya mau pergi. Mencari Majikan Hutan Iblis ia siap, menuju Kun- lunpun ia tak keberatan. Maka ketika setelah mereka kenyang dan buah-buahan itu habis dimakan akhirnya Giam Liong mengajak puteranya berangkat.

Ke Ke Cinjin gembira dan mengikuti ayah dan anak ini. Kalau saja budinya tak begitu besar mempertemukan ayah dan anak tentu Giam Liong dan Sin Gak lebih senang sendiri. Mereka tak suka diganggu. Tapi karena tosu itu adalah tosu yang baik dan berjasa besar maka diajaklah tosu ini meskipun mula-mula Ke Ke Cinjin berpura memisah diri. Dan begitu mereka meninggalkan Guha Hitam menuju Kun-lun maka mereka bergerak dan meluncur turun gunung.

* * * * * * * *

Kita tengok apa yang ada di Kun-lun. Tosu itu memang benar bahwa suami isteri Han Han ada di sana. Tang Siu, sang isteri yang mengajak ke situ. Hal ini tidak aneh karena wanita ini adalah murid mendiang Kim-sim Tojin yang tewas dibunuh Majikan Hutan Iblis. Sebagai murid Kun-lun tentu saja nyonya ini menaruh sakit hati, ketua dan para pimpinan Kun-lun juga marah namun mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Apalagi setelah Kun-lun diobrak-abrik dan dibakar habis, balas dendam dari manusia iblis itu setelah tempat tinggalnya dibakar. Tapi setelah manusia itu tak muncul lagi sejak Hek-i Hong-li dan Sian- eng-jin muncul, Su Giok menjadi murid wanita itu dan akhirnya Giok Cheng pun diambil murid maka ketenangan dunia kang-ouw sebenarnya mulaiaman.

Akan tetapi keadaan ini hanyalah merupakan rasa aman semu. Iblis yang mereka takuti itu masih hidup, sekarang menghilang dan entah bersembunyi di mana dan Han Han diminta isterinya untuk pergi saja ke Kun-lun. Ju-taihiap, ayah mereka entah pergi ke mana pula melepas kekecewaan. Hek-yan-pang menjadi kering dan sepi. Dan karena puteri mereka Giok Cheng dibawa nenek sakti itu maka nyonya ini menjadi kesepian dan akhirnya minta pindah ke Kun-lun.

“Di sana ada supek dan para saudaraku yang lain. Biarlah Hek-yan-pang dibekukan dulu, suamiku, kita ke sana hitung-hitung istirahat. Capai tubuh ini rasanya, berkali-kali dicekam ketakutan!”

“Hm, aku pribadi tak takut. Meskipun iblis itu memiliki kepandaian luar biasa yang begitu aneh namun aku tak gentar menghadapinya, Siu-moi, matipun tak apa-apa demi membela kebenaran.”

“Tidak, aku tak mau kau bicara seperti itu. Kita tunggu kedatangan Giok Cheng di Kun-lun, kita masih mempunyai harapan!”

“Dan kita tinggalkan perkumpulan ini tanpa pemimpin?”

“Sifatnya sementara, suamiku. Kita beri tahu para murid bahwa kegiatan sementara ini dihentikan. Kalau ada di antara mereka yang ingin tinggal terserah, tapi aku ingin ke Kun-lun, atau aku berangkat sendiri!”

Kalau sudah begini maka Han Han pasti mengalah. Pemuda ini lembut dan sabar seperti ayahnya, iapun amat menyayang isterinya itu. Maka ketika para murid diberi tahu bahwa mereka hendak mengasingkan diri beberapa waktu, beristirahat maka murid-muridpun tertegun tak dapat bicara.

“Iblis itu masih hidup entah di mana, belum mati. Sebaiknya kalian tinggalkan saja Hek-yan-pang dan hiduplah sendiri-sendiri. Nanti kalau kami sudah tiba dan kembali bersama Giok Cheng kalian boleh berkumpul lagi seperti biasa. Isteriku tak tahan kesepian di sini. Harap kalian maklum.”

Para murid terisak. Kalau pimpinan meninggalkan mereka lalu apa yang dapat mereka perbuat? Dengan adanya suami isteri itu saja Majikan Hutan Iblis berat mereka hadapi, apalagi sendiri. Maka ketika beberapa murid meninggalkan tempat itu dan hanya beberapa saja yang masih tetap tinggal maka Han Han terharu dan terkejut.

“Kami tetap di sekitar sini menjaga rumah. Paling tidak dapat mengawasi kalau-kalau ada orang jahat menghuni seenaknya. Kau boleh pergi dan beristirahatlah, kongcu, kami akan menunggu dan menanti kembalinya nona Giok Cheng.”

“Baiklah,” Han Han menahan runtuhnya air mata. “Terima kasih untuk kesetiaanmu, Cu Pin. Tapi kalau iblis itu muncul sebaiknya kau bersembunyi saja.”

Murid itu mengangguk. Dia adalah Cu Pin yang akhirnya bertemu Sin Gak itu, menjaga dan bersama beberapa yang lain berada di sekitar Hek-yan-pang. Lalu ketika Han Han meninggalkan tempat itu menuju Kun-lun, tak mau membiarkan isterinya sendiri maka di Kun-lun mereka disambut gembira oleh Keng Hwat Taisu.

“Siancai, tamu agung datang tak memberi kabar. Aih, ada apa gerangan kalian ke sini, Ju-siauwhiap. Pinto harap tak ada apa-apa dan bukan masalah Majikan Hutan Iblis itu!”

Han Han tersenyum, menjura hormat. “Siauwte datang memenuhi permintaan isteri. Siu-moi kangen kepada totiang dan saudara-saudara lain, Taisu. Maaf tak memberi kabar dan sesungguhnya tak ada apa-apa yang penting.”

“Ha-ha, silakan masuk, selamat datang. Ah, pinto juga kangen dan ingin tahu keadaan keluarga Hek-yan-pang!”

“Semua baik-baik saja, terima kasih.”

Lalu ketika ketua Kun-lun itu mempersilakan tamunya, maka mereka terlibat percakapan hangat di mana akhirnya Han Han menyatakan keinginan isterinya untuk beristirahat di situ.

Keng Hwat Taisu tertawa. “Sebetulnya isterimu bukan orang luar bagi Kun-lun, kenapa meminta ijin? Sebulan atau setahun boleh saja, siauwhiap, tapi bagaimana Hek-yan-pang.”

“Telah kami bubarkan sementara. Siu-moi kesepian sejak ditinggal puterinya.”

“Hm, pinto mengerti. Baiklah kalian tinggal di sini sampai kalian bosan. Tapi maaf bahwa kami tak dapat menyajikan hidangan yang serba enak. Di gunung hanya sayur dan buah melulu!”

Han Han tertawa. Sejak itu ia tinggal di sini dan hadirnya suami isteri gagah ini membuat murid-rnurid Kun-lun semakin mantap. Siapa tidak mengenal putera Ju-taihiap yang lihai ini, murid Im Yang Cinjin tokoh selatan. Maka ketika suami isteri itu tinggal di sana dan sesekali mereka turun gunung, sekedar mencari udara segar tak terasa lagi bulan demi bulanpun dilewati cepat. Tahun berganti tahun dan akhirnya kerinduan Tang Siu menyesak dada. Sudah lima tahun lebih ia tak bertemu puterinya. Dan ketika suatu pagi ia duduk di belakang gunung, minum teh bersama suami maka keluhannya akan anak tak dapat dibendung lagi.

“Nenek itu tak tahu perasaan ibu. Rasanya aku tak ingin di sini lagi, Han-ko, aku ingin kembali dan tinggal di Hek-yan-pang. Aku ingin melihat Giok Cheng!”

“Hm, di sana atau di sini sama saja. Kalau ia datang tentu mencari kita, Siu-moi, kalau belum pulang tentu percuma dicari. Tunggu sajalah.”

“Kau selalu bilang begitu kalau rinduku tak tertahan. Kau laki-laki sama dengan nenek itu, Han-ko, kalian tak tahu perasaan seorang ibu. Aku rindu, aku ingin bertemu Giok Cheng!”

“Baik, kalau begitu mari pulang, aku tak akan melarangmu.”

Aneh, wanita ini tiba-tiba menangis. Kata-kata Han Han yang begitu lembut dan tak banyak membantah membuat wanita ini gemas. Dalam keadaan seperti itu maunya ia ingin bertengkar, bukan dituruti begini saja. Maka ketika ia uring-uringan dan memukul pundak suaminya wanita itupun berseru marah,

“Aku tak ingin melihat sikapmu yang seperti ini. Kau bukan kerbau atau kambing. Aku ingin kau mendebat dan berbantah sengit, Han-ko, bukan lembut dan apa adanya begini. Kau seperti bukan laki-laki. Gemas aku!”

“Lho-lho!” sang suami terbelalak dan tiba-tiba tertawa. “Bagaimana sikapmu ini, Siu-moi, masa berbantah dan berdebat segala. Memangnya kita musuh!”

“Ya, aku ingin musuh. Aku jengkel menunggu puteriku tak pulang-pulang. Aku ingin menumpahkan marah!” lalu ketika wanita ini tersedu dan memukul-mukul suaminya, maka maklumlah Han Han bahwa isterinya ini ditekan kegelisahan, bukan gelisah seperti dulu menunggu datangnya Majikan Hutan Iblis melainkan kegelisahan menunggu puteri mereka yang tak pulang-pulang. Kegelisahan ini membawa cemas dan tekanan jiwa, mencekam kerinduan yang tak kunjung lepas. Maka ketika ia memeluk isterinya itu dan mengecup perlahan maka pemuda ini berkata bahwa bukankah semuanya itu sudah atas kehendak isterinya sendiri.

“Ingat, apa yang kau lakukan dulu. Bukankah atas kehendakmu sendiri kau memberikan puterimu kepada nenek itu. Kalau sekarang Giok Cheng belum pulang tentu karena kepandaiannya belum cukup, moi-moi, bukan karena lupa kepada ayah ibunya. Sudahlah kau bersabar dan mari kita ke danau Tung-ting. Kita memancing dan menghibur diri di sana.”

“Tidak, tidak , kali ini aku tak mau dihibur apapun. Aku tak mau mancing atau ke mana-mana. Aku ingin menangis!” lalu ketika wanita itu menangis dan sesenggukan di pangkuan suaminya maka Han Han tak dapat berbuat apa-apa selain menghela napas panjang pendek.

Dan saat itu tiba-tiba terdengar bentakan dan seruan di bawah gunung. Seorang tosu, berlari-lari dan menjatuhkan diri di depan suami isteri ini, napasnya berkejaran. “Han-siauwhiap, seorang gadis mencari-carimu dengan marah. Kami mencegahnya di bawah gunung namun ia melempar dan membuat kami semua berpelantingan. Tolonglah, gadis itu mengamuk!”

Han Han terkejut. Ia mendorong dan melepaskan isterinya dan seketika hapuslah air mata di kedua pipi nyonya itu. Wajah Tang Siu tiba-tiba terbakar, matanya melirik ganas kepada suami. Dan ketika ia mendengus dan berkelebat lenyap maka nyonya itu berseru akan dilihatnya siapa gadis pengacau itu.

“Jangan-jangan kau main mata. Siapa yang mencari-carimu seserius itu, Han-ko, awas kalau pacar simpanan!”

Wah! Han Han membelalakkan mata. Tak disangkanya setipis itu jalan pikiran isterinya di kala sesak napas. Kerinduan kepada anak begitu cepatnya berkobar menjadi api cemburu. Ia disangka menyimpan pacar gelap. Maka berkelebat dan menyusul isterinya cepat ia menangkap dan berseru, “Siu-moi, omongan apa yang kau katakan ini. Pacar gelap apa. Aku tak mempunyai simpanan dan kaulah satu-satunya orang yang kucinta!”

“Cih, lepaskan. Mulut lelaki biasanya memang begitu, Han-ko, di sini bilang begini di sana bilang lain lagi. Aku tak percaya, lepaskan!”

Han Han terbelalak. Isterinya tampak marah benar dan meradang. Ia melepaskan tangannya dan meluncurlah isterinya itu di bawah gunung. Dan ketika ia berdebar dan merasa mendongkol, siapa gadis di bawah gunung itu maka ia berkelebat dan tiba-tiba mengambil jalan lain, memotong.

Ternyata ribut-ribut memang disertai perkelahian dan maki-makian para tosu. Seorang gadis baju hijau, mencoreng mukanya dengan bedak hitam putih menghajar tosu-tosu Kun-lun yang menghadang jalan. Ia ingin ke atas tapi murid-murid itu mencegah, dikeroyok tepi ikat pinggang hitam di tangannya meledak dan membuat para tosu jatuh bangun. Dan ketika Han Han bersembunyi di balik sebatang pohon dan tak lama kemudian sang isteri muncul, tertegun dan terbelalak di situ tiba-tiba Tang Siu meloncat dan melancarkan pukulannya ke pundak gadis itu.

“Siluman dari mana ini berani mengacau Kun-lun. Robohlah!”

Gadis itu terkejut. Ia diserang dari samping dan tubuh si nyonya tahu-tahu menyambar bagai burung walet, telapaknya menghantam pundak. Tapi ketika berkelit dan lawanpun luput maka Tang Siu semakin meradang dan bertambah gusar, membalik dan menyerang lagi dan akhirnya gadis itu menangkis. Ia mengerakkan ujung ikat pinggangnya dan berteriaklah nyonya itu. Telapak Tang Siu bagai terbakar. Dan ketika nyonya ini bergulingan meloncat bangun, matanya mendelik maka pedangpun dicabut dan sudah menerjang lagi bagai harimau betina di ganggu anaknya.

“Bagus, lihai tapi sombong. Tapi jangan harap aku menyerah!”

Nyonya itu menyerang lagi dengan marahnya. Pedangnya menusuk dan menikam namun anehnya gadis itu tersenyum-senyum mengelak maju mundur. Semua serangan pedang luput. Lalu ketika wanita itu menjadi semakin marah dan gusar maka Tang Siu pun melengking dan bergeraklah tangan kirinya dengan pukulan-pukulan Kiam-ciang (Tangan Pedang), mendesing dan mengaung tiada ubahnya pedang sendiri disertai ilmu meringankan tubuh Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Sakti Terbang Ke Langit). Biasanya kalau sudah begini lawanpun akan roboh dan pusing tak mampu mengikuti gerakannya.

Hui-thian-sin-tiauw adalah ilmu suaminya yang dipelajari cukup matang. Tapi ketika gadis itu juga bergerak sama cepat dan ikat pinggang menotok dan mengenai pergelangannya maka sang nyonya menjerit dan pedangpun terlepas, kaget melempar tubuh bergulingan tapi celakanya senjata seperti ular itu terus mengejarnya, siap merobohkan dan menotok punggungnya. Dan ketika Han Han tak dapat menahan diri lagi melihat isterinya dalam bahaya maka pendekar inipun berkelebet keluar membentak dan menangkis gadis itu.

“Plak-plak!”

Han Han terpental dan berjungkir balik melayang turun. Ia kaget merasa telapaknya terbakar sementara gadis itu hanya terhuyung sedikit. Cepat ia mengerahkan sinkang melenyapkan rasa panas di ujung jari-jarinya itu. Lalu ketika ia menangkap isterinya yang baru meloncat bangun, melotot dan merah padam maka ia membentak dan maju mendekati, suaranya keren dan penuh wibawa,

“Siapa kau dan dari mana berasal. Ada apa mencari aku dan kenapa ribut-ribut dengan para tosu dari Kun-lun. Katakan maksudmu dan jangan main-main di sini!”

Aneh, gadis itu tiba-tiba terkekeh. Tawanya yang lepas bebas memperlihatkan sederet giginya yang putih bersih, sepasang lesung pipit juga tampak di sudut pipi dan Tang Siu terbakar melihat sikapnya. Kalau saja suaminya tak bersikap sekeren itu tentu ia dihanguskan cemburu. Gadis ini sesungguhnya cantik sekali. Entah apa maksudnya mencoreng muka dengan bedak hitam putih. Lalu ketika ia menahan marah sementara suaminya menekan telapaknya agar tetap tidak bergerak, gadis itu berseri-seri maka tiba-tiba ia menghapus mukanya dan lenyaplah bedak yang sengaja dibuat belang-belonteng itu.

“Apakah ayah dan ibu tidak mengenal. Cobalah lihat!”

Bukan main terkejutnya Tang Siu. Wajah itu tiba-tiba begitu bersih dan benarlah dugaannya bahwa gadis di depannya ini memang cantik sekali. Tubuhnya yang tinggi semampai dan mata yang hidup bergerak-gerak itu amatlah indahnya. Giok Cheng! Maka ketika ia menyebut dan menubruk puterinya itu maka sang suami juga mendelong namun tiba-tiba tertawa lebar.

“Giok Cheng, nakal kau!”

Gadis itu sudah disambut ayah ibunya. Ia tertawa-tawa dan menciumi ibunya dengan sikap nakal seorang anak. Bukan main haru dan gemasnya Tang Siu. Maka ketika wanita ini mencubit dan menampar punggung puterinya itu iapun berseru kenapa anak gadisnya itu berbuat seperti itu.

“Aku hanya ingin menunjukkan kepada ayah ibu kemajuan yang telah kucapai, tidak ada maksud lain. Kalau ibu marah, boleh pukul dan maki-maki aku.”

“Ah, dasar bengal. Tahukah kau betapa ibumu dibakar cemburu, Giok Cheng, mengira ayahmu didatangi pacar baru menuntut tanggung jawab.”

“Apa?”

“Tanya ibumu itu.”

“Hi-hik!” dan ketika gadis ini memeluk dan menciumi ibunya lagi maka Giok Cheng terkekeh-kekeh memandang ibunya ini, geli dan haru bahwa ibunya begitu perasa. Sang ayah segera berkata bahwa semua itu karena ketidakhadirannya, betapa sang ibu rindu dan mudah marah-marah. Dan ketika berkelebat beberapa bayangan dan muncullah tokoh-tokoh Kun-lun maka Han Han cepat menjura dan melepaskan puterinya.

“Siancai, pinto mendengar ribut-ribut. Ada apa seorang gadis mencari-cari Han-siauwhiap. Inikah kiranya!”

“Maaf,” Han Han memandang ketua Kun-lun itu. “Ini gara-gara ulah puteriku, totiang. Ia ternyata Giok Cheng dan menggoda kami ibu dan ayah. Inilah si bengal itu!”

Sang ibu buru-buru menyuruhnya memberi hormat. “Ayo, itu Keng Hwat Taisu ketua Kun-lun. Cepatlah minta maaf atau Taisu mengemplang kepalamu nanti!”

“Ha-ha!” Keng Hwat Taisu tertawa gembira. “Tak apa, Giok Cheng, pinto sudah tahu. Kalau tidak begini tentu ayah ibumu tak tahu kemajuanmu. Ah, pinto melihat seranganmu tadi ketika ditangkis ayahmu. Ayahmu terpental berjungkir balik. Hebat, ini kiranya gemblengan gurumu Hek-i Hong-li!”

Giok Cheng memberi hormat malu-malu. Setelah semua orang keluar dan ia dijadikan pusat perhatian tiba-tiba iapun menjadi jengah, apalagi ketika rata-rata para tosu kagum memandang kecantikannya. Maklumlah, ia sekarang seorang gadis mekar yang telah mulai semerbak. Ayah ibunya sendiri bangga melihat dirinya itu. Tapi ketika Keng Hwat Taisu mempersilakannya naik dan memintanya berbicara di atas, biarlah ayah dan ibunya melepas rindu maka gadis ini lega terlepas dari rasa jengah.

“Pinto gembira, benar-benar gembira. Silakan kalian keatas dan berbincang-bincanglah melepas rindu. Pinto akan kembali bersama para murid.”

Han Han mengangguk. Akhirnya ia mengajak puterinya ini ke tempat tinggal mereka. Di atas gunung Keng Hwat Taisu memberikan rumah khusus untuk mereka. Maka ketika ia mengajak puterinya naik sementara para tosu juga kembali ke tempat masing-masing maka di sini Tang Siu memeluk dan mencium puterinya itu, haru dan basah air mata.

“Aku menunggu-nunggumu pulang, kenapa baru sekarang. Mana Su Giok yang menjadi sucimu itu, Giok Cheng, mana pula subomu yang hebat itu. Apakah mereka baik-baik saja.”

“Baik-baik saja, tak ada apa-apa. Aku datang karena baru sekarang subo memberiku ijin, ibu. Akupun juga rindu tapi mau apalagi. Kepandaianku belum cukup.”

“Tapi kau sudah dapat mengalahkan ibumu. Ayahmupun agaknya dapat kau kalahkan!”

“Hm, menghadapi kalian mungkin saja aku menang. Tapi aku masih merasa bodoh, ibu, terutama... terutama setelah bertemu Sin Gak!”

“Ah, kau bertemu anak itu? Bagaimana dia? Gagah dan tampan seperti ayahnya? Bagus, aku ingin melihatnya, Giok Cheng. Ia calon jodohmu!”

Akan tetapi wajah itu tiba-tiba terbakar. “Tidak!” seruan Giok Cheng mengejutkan ayah ibunya. “Urusan jodoh sebaiknya diserahkan kepadaku, ibu, aku tak suka pemuda itu dan benci kepadanya. Aku datang justeru untuk memberi tahu ini. Beritahukanlah kepada paman Giam Liong bahwa perjodohan diputuskan, batal!”

“Giok Cheng!” sang ibu mencelat bangun. “Apa arti kata-katamu ini. Apa yang dilakukan pemuda itu. Masa seenakmu saja memutuskan perjodohan sepihak!”

“Ia telah mempunyai calon pendampingnya sendiri,” Giok Cheng terisak, tiba-tiba menubruk ibunya ini. “Sin Gak mengkhianati ikatan jodoh itu, ibu. Ia menyakiti hatiku!” Lalu ketika gadis ini tersedu-sedu dan dipandang terbelalak maka Han Han yang juga terkejut dan berdiri dari kursinya segera mengedip agar sang isteri tak bicara soal itu dulu.

“Anak kita baru datang, sebaiknya jangan bicara yang berat-berat. Sudahlah kita bicarakan yang lain dan ganti saja. Besok atau kapan dapat ditanyakan.”

Giok Cheng akhirnya lega. Sang ayah ternyata begitu bijak dan mampu meringankan pikirannya. Tak dapat disangkal bahwa bicara tentang Sin Gak selalu membuatnya sakit dan terbakar. Ia cemburu sekali teringat gadis lihai di samping pemuda itu, Bi Hong. Maka ketika pertemuan itu tak diganggu urusan Sin Gak dan mereka dapat bicara yang lain maka baru pada hari ketiga Giok Cheng ditanya ibunya lagi. Kali ini sang ayah sengaja di luar rumah.

“Coba kau katakan lagi tentang pemuda itu. Apa yang dilakukan.”

“Hm!” gadis ini mengepal tinju. “Aku mula-mula gembira bertemu dengannya, ibu, bukan karena ia calon jodohku melainkan karena putera paman Giam Liong muncul. Bukankah ibu bilang bahwa anak itu hilang dibawa orang.”

“Ya-ya, lalu bagaimana? Di mana pertemuan itu?”

“Di Hek-yan-pang.“

“Eh, di tempat tinggal kita? Begitu kebetulan?”

“Tidak kebetulan, pemuda itu memang sengaja datang untuk mencari ayahnya. Bibi Cu Pin yang bercerita tentang ini.”

Gadis itu lalu menceritakan pertemuannya dengan Sin Gak. Ia berkata bahwa Sin Gak membantu Hek-yan-pang menghalau Majikan Hutan Iblis, betapa mereka bertemu karena saat itupun ia datang bersama sucinya Su Giok untuk mencari ayah ibunya ini. Tapi belum ia melanjutkan tiba-tiba ibunya bertanya melotot,

“Majikan Hutan Iblis? Jahanam itu keluar lagi? Ah, hidup benar-benar tak tenang kalau setan ini masih berkeliaran, Giok Cheng. Tapi bagaimana akhirnya!”

“Ia melarikan diri, Sin Gak mengalahkannya.”

Sang ibu semakin melotot lagi. “Sin Gak, ia mengalahkannya?”

“Ya, ia mengalahkannya, ibu, setidak-tidaknya gentar setelah bertanding dengan pemuda itu. Sin Gak memang hebat, ia murid supek Sian-eng-jin!”

Tang Siu mendecak takjub. Tiba-tiba saja ia ingin bertemu pemuda itu tapi teringat urusan puterinya mendadak ia tak puas. Hawa marah mulai memancar. Dan ketika ia bertanya bagaimana selanjutnya maka Giok Cheng berkata bahwa selanjutnya pemuda itu ditemani seorang gadis lain yang amat lihai.

“Aku tak tahu siapa namanya tapi mereka tampak begitu akrab, bahkan Sin Gak membela temannya ini. Aku terbakar!”

“Hm-hm, pamanmu Giam Liong harus memberi pelajaran kepada puteranya itu. Lalu bagaimana!”

"Pergi bersama gadis itu, meninggalkan Hek-yan-pang.”

“Dan ia tidak tahu ikatan jodoh ini?”

“Tahu, ibu. Bibi Cu Pin sudah memberitahunya. Tapi begitulah, ia pergi bersama gadis itu dan tidak menghiraukan aku. Karena itu putuskan saja perjodohan itu dan katakan kepada paman Giam Liong bahwa puteranya tergila-gila kepada gadis siluman lain!”

“Hm-hm, baik, akan kuputuskan ikatan jodoh itu. Kalau perlu kudamprat bapaknya. Tapi anak itu juga harus diberi adat!”

Akhirnya malam harinya nyonya ini bicara kepada suaminya, Han Han mendengarkan dengan alis berkerut. “Coba artikan itu apakah bocah itu tidak kurang ajar. Kalau ia memang tidak suka kepada Giok Cheng tak perlu menunjukkan calonnya begitu rupa, suamiku, apalagi katanya menggandeng-gandeng segala. Apakah Giok Cheng tak dapat pula digandeng-gandeng pemuda lain. Congkak benar pemuda itu. Perjodohan harus diputuskan, aku mendukung puteriku!”

“Hm, mana Giok Cheng. Apakah ia sudah tidur.”

“Ia beristirahat di kamarnya. Ia tak mau diikatkan lagi dan kita harus memaklumi. Wanita mana tak panas hatinya melihat calon suami runtang-runtung dengan wanita lain. Cih, apa maunya bocah itu. Jangan mentang-mentang sudah berkepandaian tinggi lalu berlagak dan sombong di depan kita!”

“Sabar, jangan terburu nafsu. Hal ini baru kita dengar sepihak dari anak kita, niocu. Mestinya kita juga harus menyelidiki dan mendengar dari pihak lain. Kupikir hal ini harus dibicarakan secara hati-hati.”

“Eh, kau tak percaya anakmu sendiri? Kau menyangsikannya dan masih ragu?”

“Bukan begitu. Masalah jodoh adalah masalah yang sensitif, isteriku, kau tahu ini. Kita sebagai orang-orang tua tak boleh begitu saja terpengaruh oleh cerita anak-anak muda. Giok Cheng bisa saja emosi.”

“Bagus, emosi! Coba kau katakan bagaimana sikapku kalau kulihat kau bergandengan tangan dengan wanita lain. Apakah aku duduk tersenyum-senyum dan memberikan cium manisku untukmu!”

“Sabarlah,” Han Han hampir tertawa. “Inipun emosi yang terlalu meledak-ledak, isteriku. Kalau Giok Cheng ingin memutuskan ikatan jodoh tentu saja tak dilarang, hanya semuanya ini harus berjalan baik-baik. Lagi pula pemutusan ini harus dilandasi rasa tak suka.“

“Ya, siapa suka melihat pemuda itu bergandengan mesra dengan gadis lain. Darah siapa tak akan mendidih!”

“Hm, kau selalu memotong. Maksudku bukan begitu, niocu. Rasa tak suka di sini adalah tiadanya rasa cinta. Sekarang aku ingin tahu apakah puteri kita itu tak mencintai Sin Gak.”

“Tentu saja tak mencintai. Kalau Sin Gak bermesraan dengan gadis lain maka puteri kita tak ada rasa cinta, suamiku, masa harus merunduk-runduk dan mengemis belas kasihan!”

“Kau seperti air panas saja, mendidih. Baiklah bagaimana kalau misalnya semua itu keliru. Maksudku bagaimana kalau gadis teman pemuda itu bukanlah kekasih.”

Sang isteri tertegun, tapi tiba-tiba menggeleng. “Tak mungkin,” serunya. “Hal itu tak mungkin, suamiku. Sin Gak sudah terang-terangan melakukannya di depan Giok Cheng!”

“Dan puteri kita tahu bahwa itu benar-benar kekasih Sin Gak? Dia sudah yakin dan bertanya sendiri?”

“Tak ada wanita yang mau bertanya sejauh itu. Itu bukan urusan Giok Cheng!"

“Nah, dan ini kewajiban kita menanyai pemuda itu. Kalau Giok Cheng belum mendapat jawaban sendiri bahwa gadis itu kekasih atau sekedar teman biasa maka hal ini masih kuragukan, isteriku. Karena itu tugas kita untuk menanyakannya nanti. Kupikir hal ini harus diselesaikan dengan kepala dingin!”

Nyonya ini uring-uringan. “Kau agaknya enggan melepaskan ikatan jodoh ini. Apakah tak ada pemuda lain yang lebih hebat dari pemuda itu!”

“Bukan begitu, melainkan justeru memberikan kasih sayang kita kepada anak. Kalau Giok Cheng tak mencintai Sin Gak tak mungkin sekeras itu ia marah-marah, niocu. Ini gejala cemburu yang berasal dari cinta. Coba kau lihat bagaimana dirimu sendiri kalau marah-marah karena cemburu. Bukankah cemburu pertanda adanya cinta!”

Sang nyonya terkejut.

“Nah, benar, bukan? Karena itu aku memiliki kepercayaan bahwa sesungguhnya puteri kita mencintai Sin Gak. Ia marah dan cemburu karena cintanya merasa diganggu. Dan kalau Sin Gak ternyata hanya berkawan biasa maka hancurlah masa depan puteri kita yang akan kecewa selama-lamanya, dan aku tak mau hal ini terjadi.”

Terdengar isak tangis di kamar lain. Han Han, yang bicara blak-blakan dengan suara sedikit keras ini sengaja membiarkan begitu agar didengar puterinya. Padahal, seandainya ia bicara bisik-bisikpun pasti Giok Cheng akan menangkap pembicaraan. Gadis ini sesungguhnya pura-pura beristirahat tapi diam-diam mengerahkan pendengaran. Siapa tak tertarik kalau orang tua membicarakan urusan jodoh, apalagi kalau pemuda idaman adalah orang yang dicinta. Maka ketika tiba-tiba gadis itu terpukul karena semua kata-kata ayahnya tepat, sesungguhnya ia cemburu dan panas tak mau ada wanita lain di sisi Sin Gak maka Giok Cheng tersedu-sedu dan menutupi mukanya dengan bantal, mengguguk!

Namun gadis ini cukup berhati-hati agar tangisnya tak didengar ayah ibunya. Di kamar sana sang ibu akhirnya tersudut oleh kata-kata ayahnya, betapa Sin Gak harus ditanya dulu dan diminta kepastiannya. Dan ketika malam itu Tang Siu termangu-mangu oleh penjelasan suaminya yang sabar dan sareh akhirnya diambil kesepakatan bahwa Giam Liong dan puteranya akan ditunggu.

“Baiklah, kita hadapi mereka nanti. Namun kalau benar pemuda itu sudah mempunyai kekasih maka ia perlu kita damprat, ayahnya juga. Tak boleh mereka seenaknya begitu mempermalukan anak kita!”

“Hm, Giam Liong bertapa di Guha Hitam. Kalau ia tak datang dan puteranya tak kemari biarlah aku yang membangunkannya di sana. Tapi pemuda itu pasti mencari ayahnya, dan sebaiknya kita tunggu saja di Hek-yan-pang.”

“Kita kembali ke Hek-yan-pang?”

“Ya, untuk apalagi tinggal di sini? Anak kita Giok Cheng telah kembali, niocu, dan iapun dapat menghadapi Majikan Hutan Iblis. Kita tak perlu gentar lagi. Dan tak enak rasanya bicara tentang perjodohan di rumah orang lain.”

Tang Siu setuju. Memang tak enak juga kalau Giam Liong dan puteranya datang di situ bicara tentang Giok Cheng. Kun-lun bukanlah tempat mereka dan kurang sopan menyambut tamu, sementara mereka sendiri juga tamu. Dan ketika di ambil kesepakatan bahwa mereka kembali ke Hek-yan-pang maka Keng Hwat Taisu tak dapat menahan keluarga ini.

“Sebelumnya mohon maaf bahwa kami sekeluarga hendak kembali. Puteri kami Giok Cheng telah datang, totiang, dan kami ingin menata lagi kehidupan di sana. Kami akan kembali ke Hek-yan-pang, dan banyak terima kasih atas kebaikan totiang semua yang telah memperkenankan kami berlibur di sini.”

“Ah, siauwhiap tak perlu sungkan. Isterimu bukan orang lain, siauwhiap, kapan saja kalian datang Kun-lun terbuka untuk kalian sekeluarga. Baiklah, pinto mengerti ini, selamat jalan.”

Tang Siu mengucapkan terima kasihnya pula. Keng Hwat Taisu adalah supeknya dan Giok Chengpun memberi hormat. Diam-diam gadis ini berdebar. Tentu saja ia tahu maksud ayahnya yang akan menunggu Sin Gak dan ayahnya di Hek-yan-pang. Maka ketika mereka berangkat dan meninggalkan tempat itu maka kepergian merekapun dipandang sayang oleh tosu-tosu Kun-lun yang agak kehilangan semangat ditinggalkan keluarga pendekar ini. ketika mereka lenyap dan meluncur di bawah gunung maka Keng Hwat Taisupun kembali ke kamarnya duduk bersila.

* * * * * * * *

Tiga hari kemudian datanglah sepasang ayah dan anak di tempat itu. Sang ayah buntung sementara pemuda di sebelahnya gagah dan tampan. Itulah Giam Liong dan puteranya, Sin Gak. Ke Ke Cinjin masih mengiringi tapi tosu ini cepat mendahului melapor, ia menemui ketuanya. Dan ketika Keng Hwat Taisu muncul dan berseri memandang jago buntung ini segera Giam Liong menyatakan maksud kedatangannya bahwa ia ingin menemui saudaranya Han Han. Sin Gak perkenalkan sebagai puteranya dan ayah serta anak tampak berseri-seri, terutama Giam Liong.

“Kami berdua mengganggu totiang. Maafkan kedatangan kami karena kami ingin bertemu Han Han. Ke Ke Cinjin mengatakan bahwa saudaraku itu di sini. Harap totiang mempertemukan kami dan ijinkanlah kami bercakap-cakap.”

“Ha-ha, kau sudah bangun dari tapamu. Ah, wajahmu semakin memancarkan cahaya terang, Sin-siauwhiap. Agaknya permintaanmu dikabulkan Yang Maha Kuasa. Siancai, pinto gembira melihat kau tapi sayang sekali Han-siauwhiap sudah pulang tiga hari yang lalu. Puterinya juga ikut!”

“Hm, Han Han sudah bertemu puterinya?”

“Benar, dan mereka tampak bahagia sekali. Katanya mereka menunggumu di Hek-yan-pang!”

Giam Liong memandang puteranya ini, berkerut kening. “Bagaimana?” tanyanya. “Kita ke sana sekarang?”

“Terserah ayah,” Sin Gak tersipu menunduk. “Kalau kita sekarang juga aku tentu mengiringi, ayah. Boleh saja kita kembali dan berputar.”

“Wah!” Keng Hwat Taisu menggoyang lengan. “Jangan buru-buru. Adalah kebahagiaan besar bagi pinto dan para murid mendapat kunjungan kalian. Beristirahatlah barang sehari dua dan kita bercakap-cakap!”

“Hm,” Giam Liong tak enak juga. “Kalau begitu permintaanmu baiklah kupenuhi, totiang, terima kasih. Tapi cukup sehari saja dan biarlah besok kita melanjutkan perjalanan.”

Kakek itu terkekeh. Ia gembira menerima si buntung ini dan segera mereka bercakap-cakap. Giam Liong mendapat tempat di bekas Han Han, kebetulan dia di kamar itu sementara Sin Gak di bekas kamar Giok Cheng! Dan karena ayahnya masih ngobrol dengan ketua Kun-lun dan ia beristirahat di kamar ini maka jantung di dada Sin Gak berdegup kencang ketika secara tak sengaja ia menemukan sebuah saputangan harum di bawah bantal. Di sudut kiri bawah terdapat sulaman benang emas bertuliskan huruf “Giok Cheng”!

Sin Gak tak dapat tidur. Akhirnya ia tahu bahwa kamar di mana ia beristirahat adalah bekas kamar Giok Cheng. Seorang tosu muda memberi tahu itu. Dan ketika sampai larut malam ia hanya membolak-balikkan tubuh di atas pembaringan maka tiba-tiba ia tersentak ketika lagi-lagi secara tak sengaja melihat guratan halus di dinding pembaringan yang menyebutkan “Aku benci Sin Gak”!

Tergetarlah pemuda ini. Teringatlah ia akan wajah Giok Cheng yang cantik bertubuh ramping itu, wajah dengan sepasang mata bulat dan lesung pipit di kedua pipi. Dan teringat gadis ini iapun tiba-tiba teringat Bi Hong. Hm! Sin Gak semakin susah tidur. Kalau saja ia tak tahu bahwa kamar yang dihuninya adalah bekas kamar Giok Cheng barangkali ia tak akan bolak-balik seperti itu. Dan saputangan itu, juga guratan di dinding itu! Maka ketika ia gelisah tak dapat tidur akhirnya pagi-pagi sekali ayahnya mengetuk pintu kamar, heran melihat puteranya ini tampak kusut dan sembab.

“Kau seakan habis begadang semalam suntuk saja. Apakah tidak tidur!”

“Hm, aku tak dapat tidur. Entahlah aku gelisah tak keruan, ayah, seakan menyongsong sesuatu yang menakutkan saja. Aku enggan ke Hek-yan-pang.”

“Eh, tak boleh begitu. Kau ingin kuperkenalkan kepada pamanmu Han Han, juga bibimu Tang Siu. Lagi pula aku ingin tahu seberapa cantik Giok Cheng sekarang. Ah, aku ingin tahu gadis itu!”

Sin Gak ogah-ogahan. Akhirnya ia mencuci muka dan ayahnya mengajaknya pamit. Keng Hwat Taisu menunggu tamunya itu. Dan ketika mereka pamit dan turun gunung, hari masih pagi maka sang ayah tertawa melihat puteranya seperti gugup. Ke Ke Cinjin tak ikut lagi karena sudah cukup mengganggu.

“Seperti itulah ayahmu di kala muda. Dulu aku juga gugup tapi senang bertemu ibumu, Sin Gak, cinta memang selalu begitu. Berdebar-debar nikmat. Tenang sajalah, mereka pasti menyambut baik-baik!”

Pemuda ini diam saja. Di saku bajunya tersimpan benda-benda itu, saputangan Giok Cheng dan guratan di dinding. Ia mencongkel dan mengambil ini. Dan ketika perjalanan terus dilanjutkan dan perihal Giok Cheng sudah diketahui Giam Liong, puteranya sudah bercerita maka beberapa hari kemudian mereka sudah menginjak wilayah Hek-yan-pang. Dan tempat itu ternyata sudah ramai kembali, penuh orang dan hilir-mudik para murid baik laki-laki maupun wanita.

Kedatangan ayah dan anak cepat diketahui dan bersorak-soraklah para murid menyambut gembira. Giam Liong mengangguk-angguk dan melambaikan tangan. Mereka diantar dan menyeberangi telaga menuju pulau kecil di tengah itu. Di sana tampak menyambut Han Han dan isterinya. Dan ketika Giam Liong meloncat turun dan Han Han meloncat merangkulnya maka adalah nyonya rumah berwajah gelap dan tidak tampak bersahabat. Mata wanita itu bersinar-sinar dan bahkan berapi memandang Sin Gak, pemuda di samping ayahnya itu...!

Tapak Tangan Hantu Jilid 27

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 27
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“DESS!”

Sin Gak terlempar dan terbanting. Kalau saja di saat berbahaya itu seruannya tak mengurangi tenaga sang ayah tentu kepala pemuda ini hancur lebur. Sin Gak mengejutkan ayahnya sekaligus mengurangi tenaga serangan itu. Hampir limapuluh persen hilang. Namun karena pukulan itu amatlah berat dan mengenai kepala, pemuda ini terlempar dan terbanting maka pemuda itu pingsan dan di saat itulah Ke Ke Cinjin muncul berseru tertahan.

“Sin-taihiap!”

Giam Liong tertegun lagi. Ia bangkit terhuyung memandang pemuda terlempar di mulut guha itu. Tenaga yang dikeluarkan membuat ia lemas, tapa bertahun-tahun membuat ia cepat kehabisan daya. Maka ketika ia gemetar dan limbung memandang pemuda itu, sesungguhnya pukulannya tadi berkat tenaga pemuda itu maka pendekar ini terbelalak memandang Ke Ke Cinjin, suaranya parau bertanya, “Siapa kau!”

Tosu ini berlutut dan tersedu-sedu. Ia melihat Sin Gak tak bergerak-gerak lagi dan mengguguklah tosu itu. Dikiranya Sin Gak tewas. Maka ketika ia tersedu dan menubruk pemuda itu segera tosu ini menjawab, “Pinto adalah Ke Ke Cinjin, pinto adalah tosu Kun-lun-pai. Kau membunuh puteramu sendiri, taihiap. Dia adalah Sin Gak. Kau telah membunuhnya!”

Giam Liong terkejut dan gemetar. Ia baru saja sadar setelah sukmanya ditarik dan diseret kembali ke alam nyata. Ia sesungguhnya masih bingung oleh semua kejadian itu. Tapi begitu si tosu menyebut-nyebut puteranya dan nama Sin Gak adalah nama pemberiannya sendiri tiba-tiba pendekar itu mengeluh dan roboh di tubuh puteranya. Rasa lemas menghabiskan semua tenaganya. “Apa apa kau bilang. Dia puteraku, Ke Ke Cinjin? Dia Sin Gak yang hilang belasan tahun lalu?”

“Benar, dia puteramu, dan kau membunuhnya. Ah, dosa apa yang kau lakukan ini, taihiap, bagaimana kau mencelakai puteramu sendiri. Ia datang untuk bertemu dan menyelamatkanmu!”

Sang Naga Pembunuh menggigil. Giam Liong tiba-tiba mendorong tubuh tosu itu memeriksa puteranya. Ia gemetar dengan muka pucat sekali. Akan tetapi ketika denyut jantung itu dirasanya dan dada pemuda ini masih berdetak tiba-tiba pendekar itu girang bukan main dan berseru, “Ia masih hidup!”

Ke Ke Cinjin mengangkat mukanya. Ia kaget tapi girang mendengar itu, melihat betapa sang Naga Pembunuh memanggul tapi roboh kembali. Tenaga pendekar itu masih lemas. Lalu ketika tosu ini bergerak dan mengangkat tubuh Sin Gak maka Giam Liong berseru agar pemuda itu diletakkan di dalam guha, di tempat duduknya tadi.

“Angkat ia disana baringkan di situ. Biar aku melancarkan denyut nadinya!”

Ke Ke Cinjin tergopoh mengangkat pemuda itu. Akhirnya ia merasa bahwa denyut nadi pemuda ini masih berdetak, lemah tapi pemuda itu masih hidup. Maka ketika ia membaringkan pemuda itu di bekas tempat sang ayah, lantai batu yang dingin bekas tapa bertahun-tahun maka Giam Liong menekan dan mengurut dada puteranya berkali-kali, menyedot dan menghembuskan napas memberi bantuan udara segar, menggigil dan berurailah air mata di wajah gagah itu. Sang Naga Pembunuh menangis. Namun ketika perlahan-lahan pemuda itu membuka matanya dan sadar, Ke Ke Cinjin berseru girang maka Giam Liong bagai mendapat mustika melihat puteranya selamat.

“Sin Gak, anakku!”

Sin Gak tergetar bertemu sorot mata penuh sendu. Wajah di depannya itu tiba-tiba membungkuk memeluk dan menciuminya, air mata itu deras mengalir membasahi pipinya. Lalu ketika ia sadar tersedak bangun, air mata itu bagai hujan layaknya akhirnya iapun menubruk dan bertangis-tangisan memeluk ayahnya itu. “Ayah...!”

Ke Ke Cinjin melengos dengan mata basah pula. Pertemuan ayah dan anak yang begitu mengharukan membuat tosu ini batuk-batuk dan membanjir pula. Iapun menangis mewek-mewek! Dan ketika ayah dan anak berpelukan begitu erat, masing-masing begitu haru dan bahagia maka Giam Liong berbisik mernanggil-manggil puteranya ini.

“Kau kau anakku yang hilang. Kau Sin Gak. Ah, betapa tersiksa dan rinduku kepadamu, Sin Gak, betapa susah dan berat penderitaan ini. Kau kembali, kau menyegarkan sukmaku lagi. Tapi ibumu telah tiada...”

Sin Gak mengguguk dan menangis lagi. Suara dan kata-kata ayahnya yang serak menggigil membuat tengkuknya meremang tak keruan. Wajah ayahnya yang pucat penuh penderitaan membuat ia terharu. Dan ketika ayahnya tersedu dan memeluknya kencang-kencang, kembali mereka bertangisan maka keharuan dan air mata adalah sahabat akrab mereka di saat itu.

Tak ada kebahagiaan sekaligus keharuan seperti itu. Tak ada kebanggaan sekaligus kehancuran seperti itu. Hati mereka remuk berkeping-keping, apalagi teringat sang ibu yang telah tiada. Tapi ketika Sin Gak mendorong ayahnya dan pemuda ini menguasai dirinya terlebih dahulu, mendorong dan melepaskan diri maka Giam Liong juga menghapus air matanya memandang kagum.

“Ayah tak perlu lagi mengingat-ingat ibu, yang tiada tak akan kembali. Apa yang kau minta di sini hingga tapamu begitu hebat, ayah. Apa yang kau kehendaki hingga kau menyiapkan jiwamu!”

“Aku mencari keadilan,” sang ayah surut dan menarik napas dalam. “Aku kecewa menerima hidupku, Sin Gak, aku merasa disia-siakan. Aku protes kepada Kebenaran!”

“Hm, ayah demikian tenggelam, ayah demikian bersungguh-sungguh. Apa maksudmu dengan protes kepada Kebenaran.”

Pendekar itu memandang puteranya. Sin Gak yang sekarang bukanlah Sin Gak si kecil belasan tahun lalu itu. Puteranya ini telah gagah dan dewasa, sikap dan pandang mata puteranya itu bukan seperti anak kecil lagi. Maka ketika ia menarik napas dalam-dalam dan menoleh pada Ke Ke Cinjin maka tosu itu terkejut merasa mengganggu.

“Maaf, pinto akan mencari makanan di luar. Silakan ji-wi (kalian berdua) tunggu di sini.”

Giam Liong lega. Ia mengangguk melihat tosu itu berkelebat pergi, begitulah seharusnya orang yang tahu sopan santun, tak mengganggu. Dan ketika ia menarik lengan puteranya diajak duduk maka pendekar itu bercahaya memancarkan ketidakpuasan. “Sebelum kita bicara sebaiknya ceritakan dulu tentang dirimu. Bukankah gurumu adalah Sian-eng-jin, mana kakek sakti itu.”

“Suhu telah tiada, ia pulang. Aku disuruhnya mencarimu, ayah, ketemu dan sampai di sini.”

Giam Liong tertegun, jawaban puteranya begitu tenang, datar dan biasa! Tapi ketika ia teringat kakek sakti itu, mengangguk dan memandang puteranya kembali maka ia mendesah dan percaya bahwa puteranya ini memiliki sifat-sifat aneh sebagaimana biasanya orang sakti. “Hm-hm, begitu kiranya, tapi aneh terdengar. Kau menyebut gurumu pulang, Sin Gak, seolah gurumu bakal kembali lagi. Bukankah maksudmu ia meninggal.”

“Entahlah,” sang ayah terkejut. “Aku tak tahu ia meninggal atau tidak, ayah. Yang jelas ia pergi dan pulang secara gaib. Suhu tampaknya moksa.”

“Moksa?”

“Ya, tubuh dan jiwanya pergi bersama-sama. Bukankah itu namanya moksa.”

Naga Pembunuh tertegun. Untuk kedua kalinya lagi ia merasa aneh dengan jawaban puteranya ini, juga sikap puteranya yang begitu tenang dan datar saja. Tapi mengangguk menggenggam lengan itu akhirnya ia berkata, “Baiklah, mari duduk kembali. Apa saja yang kau dapat dari gurumu itu dan di mana selama ini kau tinggal.”

“Aku tinggal di Sian-thian-san, satu di antara puncak Himalaya. Suhu memberiku banyak kepandaian dan satu di antaranya adalah Gi-hong-ciok-beng.”

“Dan dengan itu kau menghancurkan Heng-siong-beng milikku?”

“Benar, ayah, aku tak ingin kau mati sia-sia. Aku ingin berdekatan denganmu dan mengetahui kenapa kau sampai bersikap bunuh diri.”

Giam Liong memejamkan mata. Ia kagum bukan main, namun hidupnya kembali membuat ia merintih. Sebenarnya ia ingin mati saja, terlampau berat beban yang dideritanya itu. Tapi ketika ia membuka kembali matanya itu dan berkaca-kaca maka ia berbisik bahwa sekarang ia tak ingin mati. “Aku ingin hidup, sekarang ingin hidup. Setelah kau muncul di depanku maka aku tak ingin mati!”

“Apa yang menyebabkan ayah seperti itu.”

“Kedukaan, puteraku, perasaan hancur dan remuk-redam. Aku merasa Kebenaran menjauhi diriku!”

“Hm, ceritakanlah itu, bagaimana mula-mula.”

“Berawal dari ini!” Giam Liong tiba-tiba mencabut golok di atas lantai itu, golok yang sejak tadi mengherankan puteranya. “Inilah sumber semuanya, Sin Gak, dan dengan ini ibumu terbunuh!”

“Ayah membunuh ibu?” Sin Gak terkejut.

“Bukan, melainkan orang lain. Ibumu tewas dibantai golok ini dan orang lain mencurinya. Dari sinilah semua itu terjadi dan peristiwa ini seakan tak henti-hentinya mendera aku!”

Sin Gak tertegun. Wajah ayahnya tiba-tiba beringas dan keganasan serta nafsu membunuh tampak di situ. Golok berdesing ketika digerakkan ke atas dan dinding guha tergetar. Cahaya golok membuat dinding guha hangus! Lalu ketika pemuda itu mengerutkan kening dan tergetar jantungnya maka ayahnya melontarkan golok itu menancap amblas di langit-langit guha.

“Aku tak ingin menyimpan golok itu lagi namun ingin mempergunakannya terakhir kali. Aku ingin membunuh musuhku dan mencincangnya seperti ia mencincang ibumu!”

“Majikan Hutan Iblis?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku telah ke Hek-yan-pang, ayah, dan bertemu musuhku itu. Tapi ia lolos, ia murid Te-gak Mo-ki.”

Naga Pembunuh tertegun. “Kau agaknya sudah banyak tahu tentang ini.”

“Kebetulan saja, suhu menyuruhku ke Hek-yan-pang. Dan di sanalah aku bertemu murid-murid Hek- yan-pang dan mendengar cerita tentang ini.”

“Bagus, dan kau rupanya dapat mengalahkan musuhmu itu. Kenapa ia lolos, Sin Gak, kenapa ia tak kau bunuh. Dan siapa itu Te-gakMo-ki!”

“Ceritanya panjang, ayah ceritakan dulu tentang kisah ayah ini dulu, baru setelah itu ayah mendengar dari aku.”

“Hm-hm, baik. Yang jelas aku kecewa kepada Kebenaran. Kenapa Kebenaran membiarkan Kejahatan merajalela tiada habisnya. Aku protes. Aku merasa Kebenaran menjadi mandul dan tidak berfungsi lagi!”

Sin Gak terkejut. Dari sikap dan pandang mata ayahnya yang berapi-api segera dia menangkap sesuatu yang serius. Ada kekecewaan berat di hati ayahnya itu, ada tekanan jiwa yang besar. Maka ketika ia mengangguk dan bertanya lebih lanjut maka ayahnya berkata lagi,

“Aku didera siksaan bertubi-tubi, aku serasa hidup tidak matipun tidak. Aku hampir gila!”

“Apa yang kau alami, ayah. Apa yang menyiksamu.”

“Pertama adalah hilangnya dirimu, lalu ibumu. Dan ketiga adalah Golok Maut itu!”

“Hm, jadi itu Golok Maut?”

“Ya, warisan kakekmu yang didapat dari mendiang gurunya dulu. Golok itu berbahaya untuk orang yang mengikat asmara!”

“Maksud ayah?”

“Golok ini hanya boleh dipegang kaum bujang, Sin Gak, tapi sekali sudah menjalin hubungan asmara apalagi menikah maka golok itu mengeluarkan kutuknya!”

“Hm-hm, itu kiranya. Lalu bagaimana.”

“Aku menyembunyikannya. Lenganku buntung juga gara-gara dia. Golok itu pantang disentuh mereka yang menjalin cinta kasih. Golok itu ciptaan Mo-bin-lo!”

“Aku sudah dengar. Dan bagaimana tentang ceritamu tadi, ayah, sampai di mana penderitaanmu tadi.”

Sang ayah tertegun. “Nanti dulu, dari siapa kau dengar tentang golok ini.”

“Dari suhu.”

“Apa yang dikatakan gurumu.”

“Cerita panjang tentang Ngo-cia Thian it.”

“Ngo-cia Thian-it (Lima Rasul Langit Tunggal)?”

“Ya, Ngo-cia Thian-it.”

“Aku belum mendengar itu, siapa mereka!”

“Guru dan saudara-saudara seperguruan guruku. Mereka lima orang yang gagah perkasa, ayah, sakti dan pilih tanding. Tak ada yang dapat menghadapi mereka kecuali mereka sendiri.”

“Tak mungkin. Ada seorang manusia dewa yang kesaktiannya di atas kesaktian para dewa sendiri. Kau belum mengenal Bu-beng Sian-su!”

“Hm, ya,” Sin Gak teringat. “Yang ini lain, ayah, tapi selain itu Ngo-cia Thian-it tak punya tandingan. Majikan Hutan Iblis sendiri adalah murid satu di antara Ngo-cia Thian-it itu. Pantas kalau siapapun tak dapat mengalahkannya.”

Giam Liong mengangguk-angguk. Kalau puteranya sudah bicara tentang Ngo-cia Thian-it dan pemuda itu sendiri adalah murid Sian-eng-jin yang merupakan satu di antara Ngo-cia Thian-it tentu saja ia percaya dan kagum. Tapi merasa bahwa kejahatan berjalan sewenang-wenang dan tiada hukuman maka iapun tak puas.

“Baik, pantas kalau Majikan Hutan Iblis itu bukan manusia lumrah. Tapi kau telah dapat mengalahkannya, kau telah membuatnya melarikan diri!”

“Tidak begitu gampang. Waktu itu dua orang datang di sana, ayah, dan mereka yang membuat dia ini ketakutan.”

“Siapa mereka itu.”

“Giok Cheng dan Su Giok.”

“Apa?”

“Ya, mereka, ayah, Giok Cheng dan Su Giok. Kau tentu kenal mereka ini terutama enci Su Giok!”

Giam Liong tertegun. “Giok Cheng adalah calon isterimu, sedang Su Giok, hm, ia cucu Pek-lui-kong dari ayah Su Tong dan BhiLi!”

“Dan mereka adalah murid bibi guruku Hek-i Hong-li.”

“Benar, benar gadis itu murid nenek berpakaian hitam-hitam yang amat hebat itu. Dia murid Hek-i Hong-li!”

“Dan gadis ini amat membenci kita, terutama ayah!”

“Hm!” Giam Liong teringat peristiwa itu. “Benar, Sin Gak, tidak salah. Tapi aku harus bersikap begitu.”

“Maksud ayah?”

“Ia menaruh hati padaku, waktu itu tak mau berjauhan. Dan karena aku tak mau terulang dengan kutukan Golok Maut itu maka ia kujauhi, sengaja kuacuhkan!”

Berceritalah Giam Liong akan kisah lama, didengar dan diperhatikan puteranya dan Sin Gak menarik napas dalam. Segera pemuda ini mengerti dan diam-diam kagum. Ayahnya meskipun buntung akan tetapi kegagahannya masih menonjol. Wajah itu juga masih tampan meskipun kini menua dan penuh gurat-gurat kepedihan. Ayahnya ini masih dapat menjatuhkan hati wanita! Maka ketika ia mengangguk-angguk dan mengerti duduk persoalannya iapun menerima itu dengan wajar, bahkan bangga.

“Aku tak mau memperdulikan gadis itu karena tuah dari Golok Maut ini, lagi pula mana mungkin aku beristeri lagi setelah ibumu tiada. Tidak, aku tak ingin menikah lagi, Sin Gak, aku tak ingin menjalin cinta. Itulah sebabnya segera aku bersikap dingin ketika tanda-tanda itu kulihat, dan ini dianggap sombong dan menyakitkan oleh Su Giok. Biarlah dia marah!”

“Hm, itu kiranya. Dan ini berawal dari kisah pertolonganmu kepadanya dulu. Baiklah, aku mengerti, ayah, dan sekarang aku tak perlu marah kepadanya. Ia bahkan perlu dikasihi.”

“Dan kau, sekarang ceritakan tentang Ngo-cia Thian-it itu.”

“Nanti dulu, apakah cerita ayah sudah selesai.”

“Hm, inti persoalannya hanya itu, Sin Gak. Aku kecewa Kebenaran tiada datang. Aku jemu dan lebih baik tidak usah hidup saja!”

“Jadi ayah menderita karena kehilangan aku dan ibu..”

“Ya, dan aku juga menderita karena manusia sejahat Majikan Hutan Iblis itu tak pernah dapat kubunuh. Pamanmu Han Han juga sering gagal dan bahkan nyaris terbunuh!”

“Hm-hm, mengerti aku. Kau benar. Dan Ke Ke Cinjin juga bercerita tentang keganasan iblis ini, ayah, betapa orang-orang kang-ouw roboh dan menjadi permainannya. Tapi sekarang ada aku, juga Giok Cheng dan enci Su Giok. Kami bertiga dapat merobohkan dan mengatasinya.”

“Aku senang mendengar itu, sekerang ceritakan tentang Ngo-cia Thian-it.”

“Mereka terdiri dari lima orang, guruku nomor empat. Dan karena mereka sebenarnya saudara seperguruan maka masing-masing memiliki kepandaian tak berbeda jauh dan masing-masing berjanji untuk tidak saling mengganggu dan mengusik yang lain.”

“Hm, siapa saja mereka itu. Coba sebutkan!” sang ayah memotong.

“Orang pertama adalah si Naga Berkabung Song-bun-liong. Orang kedua Mo-bin-jin saudara kandung Mo-bin-lo. Orang ketiga berjuluk Te-gak Mo-ki alias si banci. Dan orang keempat serta kelima bukan lain adalah guruku dan nenek Hek-i Hong-li itu.”

“Hebat, tapi bagaimana orang-orang seperti itu mempunyai murid seperti Majikan Hutan Iblis Itu, apakah mereka bukan para pendekar!”

“Tunggu, tiga di antara mereka adalah pendekar, ayah, akan tetapi dua yang di atas melenceng dari kebenaran.”

“Bagus, dan yang tiga mestinya mengalahkan yang dua ini!”

“Salah, ada Mo-bin-lo di luar sana. Kakek iblis ini membantu saudaranya, ayah, dan inilah yang menyebabkan kedudukan selalu berimbang.”

“Hm,” Giam Liong tertegun. “Lalu bagaimana. Kenapa dua orang jahat itu bisa menjadi saudara seperguruan!”

“Aku sendiri tak tahu, suhu tak pernah menceritakan. Tapi karena Te-gak Mo-ki melenceng di jalan kebenaran maka supek Song-bun-liong melakukan teguran.”

“Ceritakan itu, bagaimana asal mulanya!”

“Sederhana saja, Te-gak Mo-ki ini bertindak jahat kepada orang-orang lain. Kata guruku ia bermain cinta sesama lelaki dan membunuh mereka. Yang pertama kali menjadi sasaran adalah murid Bu-tong, lalu Hoa-san.”

Sang ayah mendengarkan terbelalak. Kisah ini belum pernah didengarnya dan segera Sin Gak menceritakan apa yang di dapat dari gurunya, betapa Te-gak Mo-ki mengganggu murid Bu-tong dan akhirnya orang lain. Hoa-san terlibat karena satu di antara murid Bu-tong yang bernama Teng Seng adalah calon suami murid Hoa-san bernama Cui Ling, dibunuh Te-gak Mo-ki itu dan akhirnya mengamuklah orang-orang dari dua partai persilatan itu menyerang iblis ini.

Namun karena kepandaian Te-gak Mo-ki benar-benar luar biasa dan ia adalah orang nomor tiga dari Ngo-cia Thian-it, satu persatu musuh-musuhnya roboh akhirnya si banci itu malang-melintang di tempat lain sampai akhirnya istana kaisar. Di sini suhengnya tertua mendengar, datang dan menegur namun Te-gak Mo-ki membalas. Ada perjanjian di antara mereka bahwa satu sama lain tak boleh mencampuri urusan, tingkat mereka sederajat. Tapi karena si Naga Berkabung membela kebenaran dan tetap menyalahkan sutenya akhirnya dua orang itu bertempur.

“Di sini supek tak dapat mengalahkan Te-gak Mo-ki. Meskipun kedudukannya sebagai saudara tertua namun kepandaian mereka berimbang. Baru setelah datangnya Hek-i Hong-li maka Te-gak Mo-ki terdesak.” Sin Gak berhenti sebentar dan sang ayah bersinar-sinar. Ternyata cerita ini benar-benar menarik perhatian dan itu kiranya cerita beberapa puluh tahun yang lampau, bahkan mungkin lebih jauh lagi. Maka ketika ia bertanya bagaimana selanjutnya segera puteranya ini menjawab,

“Yang terjadi semakin runyam, Mo-bin-jin datang.”

“Ah, dan dia membantu sutenya itu?”

“Ya, tidak salah. Sekarang empat orang itu bertanding hebat, ayah, semakin seru dan membuat langit gelap-gulita. Pukulan mereka bak petir menyambar-nyambar.”

“Hm-hm, lalu bagaimana!”

“Datanglah guruku itu, sekarang tiga lawan dua. Tapi ketika dua orang itu terdesak maka Mo-bin-lo muncul membantu saudara kandungnya. Pertandingan lalu berimbang lagi, seru...”

“Tidakkah satu di antara mereka roboh kehabisan tenaga?”

“Mereka orang-orang luar biasa, ayah, masing-masing memiliki kesaktian dan kepandaian berimbang. Bu-beng Sian-su datang pertandingan hebat itu berakhir.”

“Ah, kakek itu ada juga di sana. Mentakjubkan, lalu bagaimana!”

“Tidak bagaimana lagi, selesai. Mo-bin-lo melontarkan golok ciptaannya itu tapi disambut Guci Penghisap Roh.”

“Ah, tunggu dulu. Aku bertapa karena juga itu. Aku mencari guci itu sesuai petunjuknya!”

Sin Gak memandang ayahnya ini, mengerutkan kening. “Jadi ayah tahu juga akan guci ini?”

“Ya, tentu saja. Tapi aku belum berhasil menemukan, Sin Gak, aku ingin melumpuhkan Majikan Hutan Iblis itu dengan guci ini. Sekarang bagaimana akhir dari lontaran itu!”

“Bu-beng Sian-su menerimanya, melempar guci itu. Lalu Golok Maut terbang melayang bersama pemiliknya disusul saudara kandungnya pula. Te-gak Mo-ki terbirit-birit, menghilang. Dan sejak itu lima orang ini tak pernah muncul lagi namun masing-masing telah disumpah untuk tidak memasuki dunia kang-ouw secara langsung.”

“Tapi Majikan Hutan Iblis itu malang-melintang!”

“Bukan gurunya, ayah, melainkan hanya muridnya, dan itu tidak melanggar sumpah.”

“Sama saja, guru dan murid sama-sama membawa petaka. Mereka hanya memberikan kesusahan dan penderitaan kepada orang lain!”

Sin Gak diam saja, tak menjawab. Ayahnya lupa bahwa kini ada Giok Cheng dan Su Giok di situ, juga dirinya. Dan karena ini sudah merupakan tandingan bagi manusia iblis itu maka sebenarnya tak perlu ayahnya marah-marah. Keadilan sudah mulai bangun dari tidurnya!

“Hm, sekarang apa yang ingin ayah lakukan. Bukankah ayah tak perlu bertapa lagi.” Pemuda itu pindah ke persoalan lain.

“Aku ingin turun gunung, Sin Gak, mencari jahanam itu, mau apalagi. Bukankah sudah ada kau disini!”

“Baik, kapan kita berangkat?”

“Sekarang saja. Tapi, eh..... tunggu dulu. Mana Ke Ke Cinjin!”

Tiba-tiba berkelebat bayangan dari luar. “Pinto di sini. Baru saja pinto mendapatkan makanan, taihiap, lihat pisang dan buah-buahan ini!”

Tosu itu muncul dan ternyata ia membawa begitu banyak buah-buahan di kedua tangannya. Giam Liong bangkit dan berseri-seri sementara Sin Gak berdiri menyambut pula. Pemuda ini terharu dan gembira melihat tosu itu, betapapun ia telah mulai mengenal sahabatnya dari Kun-lun ini. Dan ketika sang tosu memberikn buah-buahannya dan Giam Liong mengucapkan terima kasih maka mereka duduk bersama menikmati itu. Ke Ke Cinjin tersenyum melihat ayah dan anak begitu rukun. Tiada kebahagiaan rasanya lebih dari itu. Dan karena ayah dan anak rupanya sudah selesai bercerita maka iapun bertanya apakah mereka tak akan turun gunung.

“Pinto menunggu kalian, keluar atau tidak. Masa taihiap mau bertapa lagi setelah putera taihlap datang menjemput.”

“Hm, ini berkat jasamu yang besar. Kalau kau tak membawa puteraku ke sini belum tentu kami ketemu, Cinjin, untuk ini aku mengucapkan banyak terima kasih. Entahlah bagaimana budi kebaikanmu ini kubayar!”

“Ha-ha!” tosu itu tertawa. “Kalau kau berterima kasih maka tiada artinya dibanding budi kebaikan puteramu, Sin-taihiap. Kalau tak ada puteramu ini tak mungkin pinto dapat bercakap-cakap. Pinto bakal hanyut dan tewas di sungai Huang-ho!”

“Apa yang terjadi,” Giam Liong terkejut. “Kenapa bisa begitu.”

“Bagaimana tidak. Pinto terpeleset dan jatuh di tebing licin, taihiap, tercebur dan masuk sungai yang ganas. Kalau puteramu tak datang menolong tentu pinto tinggal nama. Sudahlah, kebaikan ini tak ada artinya dibanding budi baik puteramu. Ia menyelamatkan pinto, ia mengembalikan nyawa pinto. Puteramu benar-benar luar biasa dan bukti bahwa ia dapat membangunkan tapamu sudah cukup dari segala bukti!”

Giam Liong bersinar, tentu saja bangga.

“Sekarang bagaimana pembicaraan kalian ayah dan anak, taihiap, akan keluar atau tetap di sini.”

“Hm, tentu saja keluar. Sekarang semangatku bangkit setelah puteraku datang. Aku hendak mencari musuhku!”

“Bagus, tapi apakah taihiap tidak ke Kun-lun dulu.”

“Untuk apa?”

“Bertemu dengan saudaramu, taihiap, Han Han. Ia ada di sana bersama isterinya.”

Giam Liong tertegun, tiba-tiba melirik puteranya. “Baiklah,” katanya mendadak. “Kalau begitu aku ke sana dulu, totiang, dan aku sudah mendengar bahwa Hek-yan-pang ditinggalkan pemimpinnya.”

Sin Gak tenang-tenang saja. Ia tak tahu lirikan ayahnya namun rencana ayahnya ke Kun-lun membuat ia berdebar juga. Bukan apa-apa melainkan bertemu dengan pamannya Han Han, ayah dari Giok Cheng! Namun karena ia tak akan berpisah dari ayahnya ini dan kerinduan mereka sebagai ayah dan anak juga masih kental maka ia tak perduli ke mana ayahnya mau pergi. Mencari Majikan Hutan Iblis ia siap, menuju Kun- lunpun ia tak keberatan. Maka ketika setelah mereka kenyang dan buah-buahan itu habis dimakan akhirnya Giam Liong mengajak puteranya berangkat.

Ke Ke Cinjin gembira dan mengikuti ayah dan anak ini. Kalau saja budinya tak begitu besar mempertemukan ayah dan anak tentu Giam Liong dan Sin Gak lebih senang sendiri. Mereka tak suka diganggu. Tapi karena tosu itu adalah tosu yang baik dan berjasa besar maka diajaklah tosu ini meskipun mula-mula Ke Ke Cinjin berpura memisah diri. Dan begitu mereka meninggalkan Guha Hitam menuju Kun-lun maka mereka bergerak dan meluncur turun gunung.

* * * * * * * *

Kita tengok apa yang ada di Kun-lun. Tosu itu memang benar bahwa suami isteri Han Han ada di sana. Tang Siu, sang isteri yang mengajak ke situ. Hal ini tidak aneh karena wanita ini adalah murid mendiang Kim-sim Tojin yang tewas dibunuh Majikan Hutan Iblis. Sebagai murid Kun-lun tentu saja nyonya ini menaruh sakit hati, ketua dan para pimpinan Kun-lun juga marah namun mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Apalagi setelah Kun-lun diobrak-abrik dan dibakar habis, balas dendam dari manusia iblis itu setelah tempat tinggalnya dibakar. Tapi setelah manusia itu tak muncul lagi sejak Hek-i Hong-li dan Sian- eng-jin muncul, Su Giok menjadi murid wanita itu dan akhirnya Giok Cheng pun diambil murid maka ketenangan dunia kang-ouw sebenarnya mulaiaman.

Akan tetapi keadaan ini hanyalah merupakan rasa aman semu. Iblis yang mereka takuti itu masih hidup, sekarang menghilang dan entah bersembunyi di mana dan Han Han diminta isterinya untuk pergi saja ke Kun-lun. Ju-taihiap, ayah mereka entah pergi ke mana pula melepas kekecewaan. Hek-yan-pang menjadi kering dan sepi. Dan karena puteri mereka Giok Cheng dibawa nenek sakti itu maka nyonya ini menjadi kesepian dan akhirnya minta pindah ke Kun-lun.

“Di sana ada supek dan para saudaraku yang lain. Biarlah Hek-yan-pang dibekukan dulu, suamiku, kita ke sana hitung-hitung istirahat. Capai tubuh ini rasanya, berkali-kali dicekam ketakutan!”

“Hm, aku pribadi tak takut. Meskipun iblis itu memiliki kepandaian luar biasa yang begitu aneh namun aku tak gentar menghadapinya, Siu-moi, matipun tak apa-apa demi membela kebenaran.”

“Tidak, aku tak mau kau bicara seperti itu. Kita tunggu kedatangan Giok Cheng di Kun-lun, kita masih mempunyai harapan!”

“Dan kita tinggalkan perkumpulan ini tanpa pemimpin?”

“Sifatnya sementara, suamiku. Kita beri tahu para murid bahwa kegiatan sementara ini dihentikan. Kalau ada di antara mereka yang ingin tinggal terserah, tapi aku ingin ke Kun-lun, atau aku berangkat sendiri!”

Kalau sudah begini maka Han Han pasti mengalah. Pemuda ini lembut dan sabar seperti ayahnya, iapun amat menyayang isterinya itu. Maka ketika para murid diberi tahu bahwa mereka hendak mengasingkan diri beberapa waktu, beristirahat maka murid-muridpun tertegun tak dapat bicara.

“Iblis itu masih hidup entah di mana, belum mati. Sebaiknya kalian tinggalkan saja Hek-yan-pang dan hiduplah sendiri-sendiri. Nanti kalau kami sudah tiba dan kembali bersama Giok Cheng kalian boleh berkumpul lagi seperti biasa. Isteriku tak tahan kesepian di sini. Harap kalian maklum.”

Para murid terisak. Kalau pimpinan meninggalkan mereka lalu apa yang dapat mereka perbuat? Dengan adanya suami isteri itu saja Majikan Hutan Iblis berat mereka hadapi, apalagi sendiri. Maka ketika beberapa murid meninggalkan tempat itu dan hanya beberapa saja yang masih tetap tinggal maka Han Han terharu dan terkejut.

“Kami tetap di sekitar sini menjaga rumah. Paling tidak dapat mengawasi kalau-kalau ada orang jahat menghuni seenaknya. Kau boleh pergi dan beristirahatlah, kongcu, kami akan menunggu dan menanti kembalinya nona Giok Cheng.”

“Baiklah,” Han Han menahan runtuhnya air mata. “Terima kasih untuk kesetiaanmu, Cu Pin. Tapi kalau iblis itu muncul sebaiknya kau bersembunyi saja.”

Murid itu mengangguk. Dia adalah Cu Pin yang akhirnya bertemu Sin Gak itu, menjaga dan bersama beberapa yang lain berada di sekitar Hek-yan-pang. Lalu ketika Han Han meninggalkan tempat itu menuju Kun-lun, tak mau membiarkan isterinya sendiri maka di Kun-lun mereka disambut gembira oleh Keng Hwat Taisu.

“Siancai, tamu agung datang tak memberi kabar. Aih, ada apa gerangan kalian ke sini, Ju-siauwhiap. Pinto harap tak ada apa-apa dan bukan masalah Majikan Hutan Iblis itu!”

Han Han tersenyum, menjura hormat. “Siauwte datang memenuhi permintaan isteri. Siu-moi kangen kepada totiang dan saudara-saudara lain, Taisu. Maaf tak memberi kabar dan sesungguhnya tak ada apa-apa yang penting.”

“Ha-ha, silakan masuk, selamat datang. Ah, pinto juga kangen dan ingin tahu keadaan keluarga Hek-yan-pang!”

“Semua baik-baik saja, terima kasih.”

Lalu ketika ketua Kun-lun itu mempersilakan tamunya, maka mereka terlibat percakapan hangat di mana akhirnya Han Han menyatakan keinginan isterinya untuk beristirahat di situ.

Keng Hwat Taisu tertawa. “Sebetulnya isterimu bukan orang luar bagi Kun-lun, kenapa meminta ijin? Sebulan atau setahun boleh saja, siauwhiap, tapi bagaimana Hek-yan-pang.”

“Telah kami bubarkan sementara. Siu-moi kesepian sejak ditinggal puterinya.”

“Hm, pinto mengerti. Baiklah kalian tinggal di sini sampai kalian bosan. Tapi maaf bahwa kami tak dapat menyajikan hidangan yang serba enak. Di gunung hanya sayur dan buah melulu!”

Han Han tertawa. Sejak itu ia tinggal di sini dan hadirnya suami isteri gagah ini membuat murid-rnurid Kun-lun semakin mantap. Siapa tidak mengenal putera Ju-taihiap yang lihai ini, murid Im Yang Cinjin tokoh selatan. Maka ketika suami isteri itu tinggal di sana dan sesekali mereka turun gunung, sekedar mencari udara segar tak terasa lagi bulan demi bulanpun dilewati cepat. Tahun berganti tahun dan akhirnya kerinduan Tang Siu menyesak dada. Sudah lima tahun lebih ia tak bertemu puterinya. Dan ketika suatu pagi ia duduk di belakang gunung, minum teh bersama suami maka keluhannya akan anak tak dapat dibendung lagi.

“Nenek itu tak tahu perasaan ibu. Rasanya aku tak ingin di sini lagi, Han-ko, aku ingin kembali dan tinggal di Hek-yan-pang. Aku ingin melihat Giok Cheng!”

“Hm, di sana atau di sini sama saja. Kalau ia datang tentu mencari kita, Siu-moi, kalau belum pulang tentu percuma dicari. Tunggu sajalah.”

“Kau selalu bilang begitu kalau rinduku tak tertahan. Kau laki-laki sama dengan nenek itu, Han-ko, kalian tak tahu perasaan seorang ibu. Aku rindu, aku ingin bertemu Giok Cheng!”

“Baik, kalau begitu mari pulang, aku tak akan melarangmu.”

Aneh, wanita ini tiba-tiba menangis. Kata-kata Han Han yang begitu lembut dan tak banyak membantah membuat wanita ini gemas. Dalam keadaan seperti itu maunya ia ingin bertengkar, bukan dituruti begini saja. Maka ketika ia uring-uringan dan memukul pundak suaminya wanita itupun berseru marah,

“Aku tak ingin melihat sikapmu yang seperti ini. Kau bukan kerbau atau kambing. Aku ingin kau mendebat dan berbantah sengit, Han-ko, bukan lembut dan apa adanya begini. Kau seperti bukan laki-laki. Gemas aku!”

“Lho-lho!” sang suami terbelalak dan tiba-tiba tertawa. “Bagaimana sikapmu ini, Siu-moi, masa berbantah dan berdebat segala. Memangnya kita musuh!”

“Ya, aku ingin musuh. Aku jengkel menunggu puteriku tak pulang-pulang. Aku ingin menumpahkan marah!” lalu ketika wanita ini tersedu dan memukul-mukul suaminya, maka maklumlah Han Han bahwa isterinya ini ditekan kegelisahan, bukan gelisah seperti dulu menunggu datangnya Majikan Hutan Iblis melainkan kegelisahan menunggu puteri mereka yang tak pulang-pulang. Kegelisahan ini membawa cemas dan tekanan jiwa, mencekam kerinduan yang tak kunjung lepas. Maka ketika ia memeluk isterinya itu dan mengecup perlahan maka pemuda ini berkata bahwa bukankah semuanya itu sudah atas kehendak isterinya sendiri.

“Ingat, apa yang kau lakukan dulu. Bukankah atas kehendakmu sendiri kau memberikan puterimu kepada nenek itu. Kalau sekarang Giok Cheng belum pulang tentu karena kepandaiannya belum cukup, moi-moi, bukan karena lupa kepada ayah ibunya. Sudahlah kau bersabar dan mari kita ke danau Tung-ting. Kita memancing dan menghibur diri di sana.”

“Tidak, tidak , kali ini aku tak mau dihibur apapun. Aku tak mau mancing atau ke mana-mana. Aku ingin menangis!” lalu ketika wanita itu menangis dan sesenggukan di pangkuan suaminya maka Han Han tak dapat berbuat apa-apa selain menghela napas panjang pendek.

Dan saat itu tiba-tiba terdengar bentakan dan seruan di bawah gunung. Seorang tosu, berlari-lari dan menjatuhkan diri di depan suami isteri ini, napasnya berkejaran. “Han-siauwhiap, seorang gadis mencari-carimu dengan marah. Kami mencegahnya di bawah gunung namun ia melempar dan membuat kami semua berpelantingan. Tolonglah, gadis itu mengamuk!”

Han Han terkejut. Ia mendorong dan melepaskan isterinya dan seketika hapuslah air mata di kedua pipi nyonya itu. Wajah Tang Siu tiba-tiba terbakar, matanya melirik ganas kepada suami. Dan ketika ia mendengus dan berkelebat lenyap maka nyonya itu berseru akan dilihatnya siapa gadis pengacau itu.

“Jangan-jangan kau main mata. Siapa yang mencari-carimu seserius itu, Han-ko, awas kalau pacar simpanan!”

Wah! Han Han membelalakkan mata. Tak disangkanya setipis itu jalan pikiran isterinya di kala sesak napas. Kerinduan kepada anak begitu cepatnya berkobar menjadi api cemburu. Ia disangka menyimpan pacar gelap. Maka berkelebat dan menyusul isterinya cepat ia menangkap dan berseru, “Siu-moi, omongan apa yang kau katakan ini. Pacar gelap apa. Aku tak mempunyai simpanan dan kaulah satu-satunya orang yang kucinta!”

“Cih, lepaskan. Mulut lelaki biasanya memang begitu, Han-ko, di sini bilang begini di sana bilang lain lagi. Aku tak percaya, lepaskan!”

Han Han terbelalak. Isterinya tampak marah benar dan meradang. Ia melepaskan tangannya dan meluncurlah isterinya itu di bawah gunung. Dan ketika ia berdebar dan merasa mendongkol, siapa gadis di bawah gunung itu maka ia berkelebat dan tiba-tiba mengambil jalan lain, memotong.

Ternyata ribut-ribut memang disertai perkelahian dan maki-makian para tosu. Seorang gadis baju hijau, mencoreng mukanya dengan bedak hitam putih menghajar tosu-tosu Kun-lun yang menghadang jalan. Ia ingin ke atas tapi murid-murid itu mencegah, dikeroyok tepi ikat pinggang hitam di tangannya meledak dan membuat para tosu jatuh bangun. Dan ketika Han Han bersembunyi di balik sebatang pohon dan tak lama kemudian sang isteri muncul, tertegun dan terbelalak di situ tiba-tiba Tang Siu meloncat dan melancarkan pukulannya ke pundak gadis itu.

“Siluman dari mana ini berani mengacau Kun-lun. Robohlah!”

Gadis itu terkejut. Ia diserang dari samping dan tubuh si nyonya tahu-tahu menyambar bagai burung walet, telapaknya menghantam pundak. Tapi ketika berkelit dan lawanpun luput maka Tang Siu semakin meradang dan bertambah gusar, membalik dan menyerang lagi dan akhirnya gadis itu menangkis. Ia mengerakkan ujung ikat pinggangnya dan berteriaklah nyonya itu. Telapak Tang Siu bagai terbakar. Dan ketika nyonya ini bergulingan meloncat bangun, matanya mendelik maka pedangpun dicabut dan sudah menerjang lagi bagai harimau betina di ganggu anaknya.

“Bagus, lihai tapi sombong. Tapi jangan harap aku menyerah!”

Nyonya itu menyerang lagi dengan marahnya. Pedangnya menusuk dan menikam namun anehnya gadis itu tersenyum-senyum mengelak maju mundur. Semua serangan pedang luput. Lalu ketika wanita itu menjadi semakin marah dan gusar maka Tang Siu pun melengking dan bergeraklah tangan kirinya dengan pukulan-pukulan Kiam-ciang (Tangan Pedang), mendesing dan mengaung tiada ubahnya pedang sendiri disertai ilmu meringankan tubuh Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Sakti Terbang Ke Langit). Biasanya kalau sudah begini lawanpun akan roboh dan pusing tak mampu mengikuti gerakannya.

Hui-thian-sin-tiauw adalah ilmu suaminya yang dipelajari cukup matang. Tapi ketika gadis itu juga bergerak sama cepat dan ikat pinggang menotok dan mengenai pergelangannya maka sang nyonya menjerit dan pedangpun terlepas, kaget melempar tubuh bergulingan tapi celakanya senjata seperti ular itu terus mengejarnya, siap merobohkan dan menotok punggungnya. Dan ketika Han Han tak dapat menahan diri lagi melihat isterinya dalam bahaya maka pendekar inipun berkelebet keluar membentak dan menangkis gadis itu.

“Plak-plak!”

Han Han terpental dan berjungkir balik melayang turun. Ia kaget merasa telapaknya terbakar sementara gadis itu hanya terhuyung sedikit. Cepat ia mengerahkan sinkang melenyapkan rasa panas di ujung jari-jarinya itu. Lalu ketika ia menangkap isterinya yang baru meloncat bangun, melotot dan merah padam maka ia membentak dan maju mendekati, suaranya keren dan penuh wibawa,

“Siapa kau dan dari mana berasal. Ada apa mencari aku dan kenapa ribut-ribut dengan para tosu dari Kun-lun. Katakan maksudmu dan jangan main-main di sini!”

Aneh, gadis itu tiba-tiba terkekeh. Tawanya yang lepas bebas memperlihatkan sederet giginya yang putih bersih, sepasang lesung pipit juga tampak di sudut pipi dan Tang Siu terbakar melihat sikapnya. Kalau saja suaminya tak bersikap sekeren itu tentu ia dihanguskan cemburu. Gadis ini sesungguhnya cantik sekali. Entah apa maksudnya mencoreng muka dengan bedak hitam putih. Lalu ketika ia menahan marah sementara suaminya menekan telapaknya agar tetap tidak bergerak, gadis itu berseri-seri maka tiba-tiba ia menghapus mukanya dan lenyaplah bedak yang sengaja dibuat belang-belonteng itu.

“Apakah ayah dan ibu tidak mengenal. Cobalah lihat!”

Bukan main terkejutnya Tang Siu. Wajah itu tiba-tiba begitu bersih dan benarlah dugaannya bahwa gadis di depannya ini memang cantik sekali. Tubuhnya yang tinggi semampai dan mata yang hidup bergerak-gerak itu amatlah indahnya. Giok Cheng! Maka ketika ia menyebut dan menubruk puterinya itu maka sang suami juga mendelong namun tiba-tiba tertawa lebar.

“Giok Cheng, nakal kau!”

Gadis itu sudah disambut ayah ibunya. Ia tertawa-tawa dan menciumi ibunya dengan sikap nakal seorang anak. Bukan main haru dan gemasnya Tang Siu. Maka ketika wanita ini mencubit dan menampar punggung puterinya itu iapun berseru kenapa anak gadisnya itu berbuat seperti itu.

“Aku hanya ingin menunjukkan kepada ayah ibu kemajuan yang telah kucapai, tidak ada maksud lain. Kalau ibu marah, boleh pukul dan maki-maki aku.”

“Ah, dasar bengal. Tahukah kau betapa ibumu dibakar cemburu, Giok Cheng, mengira ayahmu didatangi pacar baru menuntut tanggung jawab.”

“Apa?”

“Tanya ibumu itu.”

“Hi-hik!” dan ketika gadis ini memeluk dan menciumi ibunya lagi maka Giok Cheng terkekeh-kekeh memandang ibunya ini, geli dan haru bahwa ibunya begitu perasa. Sang ayah segera berkata bahwa semua itu karena ketidakhadirannya, betapa sang ibu rindu dan mudah marah-marah. Dan ketika berkelebat beberapa bayangan dan muncullah tokoh-tokoh Kun-lun maka Han Han cepat menjura dan melepaskan puterinya.

“Siancai, pinto mendengar ribut-ribut. Ada apa seorang gadis mencari-cari Han-siauwhiap. Inikah kiranya!”

“Maaf,” Han Han memandang ketua Kun-lun itu. “Ini gara-gara ulah puteriku, totiang. Ia ternyata Giok Cheng dan menggoda kami ibu dan ayah. Inilah si bengal itu!”

Sang ibu buru-buru menyuruhnya memberi hormat. “Ayo, itu Keng Hwat Taisu ketua Kun-lun. Cepatlah minta maaf atau Taisu mengemplang kepalamu nanti!”

“Ha-ha!” Keng Hwat Taisu tertawa gembira. “Tak apa, Giok Cheng, pinto sudah tahu. Kalau tidak begini tentu ayah ibumu tak tahu kemajuanmu. Ah, pinto melihat seranganmu tadi ketika ditangkis ayahmu. Ayahmu terpental berjungkir balik. Hebat, ini kiranya gemblengan gurumu Hek-i Hong-li!”

Giok Cheng memberi hormat malu-malu. Setelah semua orang keluar dan ia dijadikan pusat perhatian tiba-tiba iapun menjadi jengah, apalagi ketika rata-rata para tosu kagum memandang kecantikannya. Maklumlah, ia sekarang seorang gadis mekar yang telah mulai semerbak. Ayah ibunya sendiri bangga melihat dirinya itu. Tapi ketika Keng Hwat Taisu mempersilakannya naik dan memintanya berbicara di atas, biarlah ayah dan ibunya melepas rindu maka gadis ini lega terlepas dari rasa jengah.

“Pinto gembira, benar-benar gembira. Silakan kalian keatas dan berbincang-bincanglah melepas rindu. Pinto akan kembali bersama para murid.”

Han Han mengangguk. Akhirnya ia mengajak puterinya ini ke tempat tinggal mereka. Di atas gunung Keng Hwat Taisu memberikan rumah khusus untuk mereka. Maka ketika ia mengajak puterinya naik sementara para tosu juga kembali ke tempat masing-masing maka di sini Tang Siu memeluk dan mencium puterinya itu, haru dan basah air mata.

“Aku menunggu-nunggumu pulang, kenapa baru sekarang. Mana Su Giok yang menjadi sucimu itu, Giok Cheng, mana pula subomu yang hebat itu. Apakah mereka baik-baik saja.”

“Baik-baik saja, tak ada apa-apa. Aku datang karena baru sekarang subo memberiku ijin, ibu. Akupun juga rindu tapi mau apalagi. Kepandaianku belum cukup.”

“Tapi kau sudah dapat mengalahkan ibumu. Ayahmupun agaknya dapat kau kalahkan!”

“Hm, menghadapi kalian mungkin saja aku menang. Tapi aku masih merasa bodoh, ibu, terutama... terutama setelah bertemu Sin Gak!”

“Ah, kau bertemu anak itu? Bagaimana dia? Gagah dan tampan seperti ayahnya? Bagus, aku ingin melihatnya, Giok Cheng. Ia calon jodohmu!”

Akan tetapi wajah itu tiba-tiba terbakar. “Tidak!” seruan Giok Cheng mengejutkan ayah ibunya. “Urusan jodoh sebaiknya diserahkan kepadaku, ibu, aku tak suka pemuda itu dan benci kepadanya. Aku datang justeru untuk memberi tahu ini. Beritahukanlah kepada paman Giam Liong bahwa perjodohan diputuskan, batal!”

“Giok Cheng!” sang ibu mencelat bangun. “Apa arti kata-katamu ini. Apa yang dilakukan pemuda itu. Masa seenakmu saja memutuskan perjodohan sepihak!”

“Ia telah mempunyai calon pendampingnya sendiri,” Giok Cheng terisak, tiba-tiba menubruk ibunya ini. “Sin Gak mengkhianati ikatan jodoh itu, ibu. Ia menyakiti hatiku!” Lalu ketika gadis ini tersedu-sedu dan dipandang terbelalak maka Han Han yang juga terkejut dan berdiri dari kursinya segera mengedip agar sang isteri tak bicara soal itu dulu.

“Anak kita baru datang, sebaiknya jangan bicara yang berat-berat. Sudahlah kita bicarakan yang lain dan ganti saja. Besok atau kapan dapat ditanyakan.”

Giok Cheng akhirnya lega. Sang ayah ternyata begitu bijak dan mampu meringankan pikirannya. Tak dapat disangkal bahwa bicara tentang Sin Gak selalu membuatnya sakit dan terbakar. Ia cemburu sekali teringat gadis lihai di samping pemuda itu, Bi Hong. Maka ketika pertemuan itu tak diganggu urusan Sin Gak dan mereka dapat bicara yang lain maka baru pada hari ketiga Giok Cheng ditanya ibunya lagi. Kali ini sang ayah sengaja di luar rumah.

“Coba kau katakan lagi tentang pemuda itu. Apa yang dilakukan.”

“Hm!” gadis ini mengepal tinju. “Aku mula-mula gembira bertemu dengannya, ibu, bukan karena ia calon jodohku melainkan karena putera paman Giam Liong muncul. Bukankah ibu bilang bahwa anak itu hilang dibawa orang.”

“Ya-ya, lalu bagaimana? Di mana pertemuan itu?”

“Di Hek-yan-pang.“

“Eh, di tempat tinggal kita? Begitu kebetulan?”

“Tidak kebetulan, pemuda itu memang sengaja datang untuk mencari ayahnya. Bibi Cu Pin yang bercerita tentang ini.”

Gadis itu lalu menceritakan pertemuannya dengan Sin Gak. Ia berkata bahwa Sin Gak membantu Hek-yan-pang menghalau Majikan Hutan Iblis, betapa mereka bertemu karena saat itupun ia datang bersama sucinya Su Giok untuk mencari ayah ibunya ini. Tapi belum ia melanjutkan tiba-tiba ibunya bertanya melotot,

“Majikan Hutan Iblis? Jahanam itu keluar lagi? Ah, hidup benar-benar tak tenang kalau setan ini masih berkeliaran, Giok Cheng. Tapi bagaimana akhirnya!”

“Ia melarikan diri, Sin Gak mengalahkannya.”

Sang ibu semakin melotot lagi. “Sin Gak, ia mengalahkannya?”

“Ya, ia mengalahkannya, ibu, setidak-tidaknya gentar setelah bertanding dengan pemuda itu. Sin Gak memang hebat, ia murid supek Sian-eng-jin!”

Tang Siu mendecak takjub. Tiba-tiba saja ia ingin bertemu pemuda itu tapi teringat urusan puterinya mendadak ia tak puas. Hawa marah mulai memancar. Dan ketika ia bertanya bagaimana selanjutnya maka Giok Cheng berkata bahwa selanjutnya pemuda itu ditemani seorang gadis lain yang amat lihai.

“Aku tak tahu siapa namanya tapi mereka tampak begitu akrab, bahkan Sin Gak membela temannya ini. Aku terbakar!”

“Hm-hm, pamanmu Giam Liong harus memberi pelajaran kepada puteranya itu. Lalu bagaimana!”

"Pergi bersama gadis itu, meninggalkan Hek-yan-pang.”

“Dan ia tidak tahu ikatan jodoh ini?”

“Tahu, ibu. Bibi Cu Pin sudah memberitahunya. Tapi begitulah, ia pergi bersama gadis itu dan tidak menghiraukan aku. Karena itu putuskan saja perjodohan itu dan katakan kepada paman Giam Liong bahwa puteranya tergila-gila kepada gadis siluman lain!”

“Hm-hm, baik, akan kuputuskan ikatan jodoh itu. Kalau perlu kudamprat bapaknya. Tapi anak itu juga harus diberi adat!”

Akhirnya malam harinya nyonya ini bicara kepada suaminya, Han Han mendengarkan dengan alis berkerut. “Coba artikan itu apakah bocah itu tidak kurang ajar. Kalau ia memang tidak suka kepada Giok Cheng tak perlu menunjukkan calonnya begitu rupa, suamiku, apalagi katanya menggandeng-gandeng segala. Apakah Giok Cheng tak dapat pula digandeng-gandeng pemuda lain. Congkak benar pemuda itu. Perjodohan harus diputuskan, aku mendukung puteriku!”

“Hm, mana Giok Cheng. Apakah ia sudah tidur.”

“Ia beristirahat di kamarnya. Ia tak mau diikatkan lagi dan kita harus memaklumi. Wanita mana tak panas hatinya melihat calon suami runtang-runtung dengan wanita lain. Cih, apa maunya bocah itu. Jangan mentang-mentang sudah berkepandaian tinggi lalu berlagak dan sombong di depan kita!”

“Sabar, jangan terburu nafsu. Hal ini baru kita dengar sepihak dari anak kita, niocu. Mestinya kita juga harus menyelidiki dan mendengar dari pihak lain. Kupikir hal ini harus dibicarakan secara hati-hati.”

“Eh, kau tak percaya anakmu sendiri? Kau menyangsikannya dan masih ragu?”

“Bukan begitu. Masalah jodoh adalah masalah yang sensitif, isteriku, kau tahu ini. Kita sebagai orang-orang tua tak boleh begitu saja terpengaruh oleh cerita anak-anak muda. Giok Cheng bisa saja emosi.”

“Bagus, emosi! Coba kau katakan bagaimana sikapku kalau kulihat kau bergandengan tangan dengan wanita lain. Apakah aku duduk tersenyum-senyum dan memberikan cium manisku untukmu!”

“Sabarlah,” Han Han hampir tertawa. “Inipun emosi yang terlalu meledak-ledak, isteriku. Kalau Giok Cheng ingin memutuskan ikatan jodoh tentu saja tak dilarang, hanya semuanya ini harus berjalan baik-baik. Lagi pula pemutusan ini harus dilandasi rasa tak suka.“

“Ya, siapa suka melihat pemuda itu bergandengan mesra dengan gadis lain. Darah siapa tak akan mendidih!”

“Hm, kau selalu memotong. Maksudku bukan begitu, niocu. Rasa tak suka di sini adalah tiadanya rasa cinta. Sekarang aku ingin tahu apakah puteri kita itu tak mencintai Sin Gak.”

“Tentu saja tak mencintai. Kalau Sin Gak bermesraan dengan gadis lain maka puteri kita tak ada rasa cinta, suamiku, masa harus merunduk-runduk dan mengemis belas kasihan!”

“Kau seperti air panas saja, mendidih. Baiklah bagaimana kalau misalnya semua itu keliru. Maksudku bagaimana kalau gadis teman pemuda itu bukanlah kekasih.”

Sang isteri tertegun, tapi tiba-tiba menggeleng. “Tak mungkin,” serunya. “Hal itu tak mungkin, suamiku. Sin Gak sudah terang-terangan melakukannya di depan Giok Cheng!”

“Dan puteri kita tahu bahwa itu benar-benar kekasih Sin Gak? Dia sudah yakin dan bertanya sendiri?”

“Tak ada wanita yang mau bertanya sejauh itu. Itu bukan urusan Giok Cheng!"

“Nah, dan ini kewajiban kita menanyai pemuda itu. Kalau Giok Cheng belum mendapat jawaban sendiri bahwa gadis itu kekasih atau sekedar teman biasa maka hal ini masih kuragukan, isteriku. Karena itu tugas kita untuk menanyakannya nanti. Kupikir hal ini harus diselesaikan dengan kepala dingin!”

Nyonya ini uring-uringan. “Kau agaknya enggan melepaskan ikatan jodoh ini. Apakah tak ada pemuda lain yang lebih hebat dari pemuda itu!”

“Bukan begitu, melainkan justeru memberikan kasih sayang kita kepada anak. Kalau Giok Cheng tak mencintai Sin Gak tak mungkin sekeras itu ia marah-marah, niocu. Ini gejala cemburu yang berasal dari cinta. Coba kau lihat bagaimana dirimu sendiri kalau marah-marah karena cemburu. Bukankah cemburu pertanda adanya cinta!”

Sang nyonya terkejut.

“Nah, benar, bukan? Karena itu aku memiliki kepercayaan bahwa sesungguhnya puteri kita mencintai Sin Gak. Ia marah dan cemburu karena cintanya merasa diganggu. Dan kalau Sin Gak ternyata hanya berkawan biasa maka hancurlah masa depan puteri kita yang akan kecewa selama-lamanya, dan aku tak mau hal ini terjadi.”

Terdengar isak tangis di kamar lain. Han Han, yang bicara blak-blakan dengan suara sedikit keras ini sengaja membiarkan begitu agar didengar puterinya. Padahal, seandainya ia bicara bisik-bisikpun pasti Giok Cheng akan menangkap pembicaraan. Gadis ini sesungguhnya pura-pura beristirahat tapi diam-diam mengerahkan pendengaran. Siapa tak tertarik kalau orang tua membicarakan urusan jodoh, apalagi kalau pemuda idaman adalah orang yang dicinta. Maka ketika tiba-tiba gadis itu terpukul karena semua kata-kata ayahnya tepat, sesungguhnya ia cemburu dan panas tak mau ada wanita lain di sisi Sin Gak maka Giok Cheng tersedu-sedu dan menutupi mukanya dengan bantal, mengguguk!

Namun gadis ini cukup berhati-hati agar tangisnya tak didengar ayah ibunya. Di kamar sana sang ibu akhirnya tersudut oleh kata-kata ayahnya, betapa Sin Gak harus ditanya dulu dan diminta kepastiannya. Dan ketika malam itu Tang Siu termangu-mangu oleh penjelasan suaminya yang sabar dan sareh akhirnya diambil kesepakatan bahwa Giam Liong dan puteranya akan ditunggu.

“Baiklah, kita hadapi mereka nanti. Namun kalau benar pemuda itu sudah mempunyai kekasih maka ia perlu kita damprat, ayahnya juga. Tak boleh mereka seenaknya begitu mempermalukan anak kita!”

“Hm, Giam Liong bertapa di Guha Hitam. Kalau ia tak datang dan puteranya tak kemari biarlah aku yang membangunkannya di sana. Tapi pemuda itu pasti mencari ayahnya, dan sebaiknya kita tunggu saja di Hek-yan-pang.”

“Kita kembali ke Hek-yan-pang?”

“Ya, untuk apalagi tinggal di sini? Anak kita Giok Cheng telah kembali, niocu, dan iapun dapat menghadapi Majikan Hutan Iblis. Kita tak perlu gentar lagi. Dan tak enak rasanya bicara tentang perjodohan di rumah orang lain.”

Tang Siu setuju. Memang tak enak juga kalau Giam Liong dan puteranya datang di situ bicara tentang Giok Cheng. Kun-lun bukanlah tempat mereka dan kurang sopan menyambut tamu, sementara mereka sendiri juga tamu. Dan ketika di ambil kesepakatan bahwa mereka kembali ke Hek-yan-pang maka Keng Hwat Taisu tak dapat menahan keluarga ini.

“Sebelumnya mohon maaf bahwa kami sekeluarga hendak kembali. Puteri kami Giok Cheng telah datang, totiang, dan kami ingin menata lagi kehidupan di sana. Kami akan kembali ke Hek-yan-pang, dan banyak terima kasih atas kebaikan totiang semua yang telah memperkenankan kami berlibur di sini.”

“Ah, siauwhiap tak perlu sungkan. Isterimu bukan orang lain, siauwhiap, kapan saja kalian datang Kun-lun terbuka untuk kalian sekeluarga. Baiklah, pinto mengerti ini, selamat jalan.”

Tang Siu mengucapkan terima kasihnya pula. Keng Hwat Taisu adalah supeknya dan Giok Chengpun memberi hormat. Diam-diam gadis ini berdebar. Tentu saja ia tahu maksud ayahnya yang akan menunggu Sin Gak dan ayahnya di Hek-yan-pang. Maka ketika mereka berangkat dan meninggalkan tempat itu maka kepergian merekapun dipandang sayang oleh tosu-tosu Kun-lun yang agak kehilangan semangat ditinggalkan keluarga pendekar ini. ketika mereka lenyap dan meluncur di bawah gunung maka Keng Hwat Taisupun kembali ke kamarnya duduk bersila.

* * * * * * * *

Tiga hari kemudian datanglah sepasang ayah dan anak di tempat itu. Sang ayah buntung sementara pemuda di sebelahnya gagah dan tampan. Itulah Giam Liong dan puteranya, Sin Gak. Ke Ke Cinjin masih mengiringi tapi tosu ini cepat mendahului melapor, ia menemui ketuanya. Dan ketika Keng Hwat Taisu muncul dan berseri memandang jago buntung ini segera Giam Liong menyatakan maksud kedatangannya bahwa ia ingin menemui saudaranya Han Han. Sin Gak perkenalkan sebagai puteranya dan ayah serta anak tampak berseri-seri, terutama Giam Liong.

“Kami berdua mengganggu totiang. Maafkan kedatangan kami karena kami ingin bertemu Han Han. Ke Ke Cinjin mengatakan bahwa saudaraku itu di sini. Harap totiang mempertemukan kami dan ijinkanlah kami bercakap-cakap.”

“Ha-ha, kau sudah bangun dari tapamu. Ah, wajahmu semakin memancarkan cahaya terang, Sin-siauwhiap. Agaknya permintaanmu dikabulkan Yang Maha Kuasa. Siancai, pinto gembira melihat kau tapi sayang sekali Han-siauwhiap sudah pulang tiga hari yang lalu. Puterinya juga ikut!”

“Hm, Han Han sudah bertemu puterinya?”

“Benar, dan mereka tampak bahagia sekali. Katanya mereka menunggumu di Hek-yan-pang!”

Giam Liong memandang puteranya ini, berkerut kening. “Bagaimana?” tanyanya. “Kita ke sana sekarang?”

“Terserah ayah,” Sin Gak tersipu menunduk. “Kalau kita sekarang juga aku tentu mengiringi, ayah. Boleh saja kita kembali dan berputar.”

“Wah!” Keng Hwat Taisu menggoyang lengan. “Jangan buru-buru. Adalah kebahagiaan besar bagi pinto dan para murid mendapat kunjungan kalian. Beristirahatlah barang sehari dua dan kita bercakap-cakap!”

“Hm,” Giam Liong tak enak juga. “Kalau begitu permintaanmu baiklah kupenuhi, totiang, terima kasih. Tapi cukup sehari saja dan biarlah besok kita melanjutkan perjalanan.”

Kakek itu terkekeh. Ia gembira menerima si buntung ini dan segera mereka bercakap-cakap. Giam Liong mendapat tempat di bekas Han Han, kebetulan dia di kamar itu sementara Sin Gak di bekas kamar Giok Cheng! Dan karena ayahnya masih ngobrol dengan ketua Kun-lun dan ia beristirahat di kamar ini maka jantung di dada Sin Gak berdegup kencang ketika secara tak sengaja ia menemukan sebuah saputangan harum di bawah bantal. Di sudut kiri bawah terdapat sulaman benang emas bertuliskan huruf “Giok Cheng”!

Sin Gak tak dapat tidur. Akhirnya ia tahu bahwa kamar di mana ia beristirahat adalah bekas kamar Giok Cheng. Seorang tosu muda memberi tahu itu. Dan ketika sampai larut malam ia hanya membolak-balikkan tubuh di atas pembaringan maka tiba-tiba ia tersentak ketika lagi-lagi secara tak sengaja melihat guratan halus di dinding pembaringan yang menyebutkan “Aku benci Sin Gak”!

Tergetarlah pemuda ini. Teringatlah ia akan wajah Giok Cheng yang cantik bertubuh ramping itu, wajah dengan sepasang mata bulat dan lesung pipit di kedua pipi. Dan teringat gadis ini iapun tiba-tiba teringat Bi Hong. Hm! Sin Gak semakin susah tidur. Kalau saja ia tak tahu bahwa kamar yang dihuninya adalah bekas kamar Giok Cheng barangkali ia tak akan bolak-balik seperti itu. Dan saputangan itu, juga guratan di dinding itu! Maka ketika ia gelisah tak dapat tidur akhirnya pagi-pagi sekali ayahnya mengetuk pintu kamar, heran melihat puteranya ini tampak kusut dan sembab.

“Kau seakan habis begadang semalam suntuk saja. Apakah tidak tidur!”

“Hm, aku tak dapat tidur. Entahlah aku gelisah tak keruan, ayah, seakan menyongsong sesuatu yang menakutkan saja. Aku enggan ke Hek-yan-pang.”

“Eh, tak boleh begitu. Kau ingin kuperkenalkan kepada pamanmu Han Han, juga bibimu Tang Siu. Lagi pula aku ingin tahu seberapa cantik Giok Cheng sekarang. Ah, aku ingin tahu gadis itu!”

Sin Gak ogah-ogahan. Akhirnya ia mencuci muka dan ayahnya mengajaknya pamit. Keng Hwat Taisu menunggu tamunya itu. Dan ketika mereka pamit dan turun gunung, hari masih pagi maka sang ayah tertawa melihat puteranya seperti gugup. Ke Ke Cinjin tak ikut lagi karena sudah cukup mengganggu.

“Seperti itulah ayahmu di kala muda. Dulu aku juga gugup tapi senang bertemu ibumu, Sin Gak, cinta memang selalu begitu. Berdebar-debar nikmat. Tenang sajalah, mereka pasti menyambut baik-baik!”

Pemuda ini diam saja. Di saku bajunya tersimpan benda-benda itu, saputangan Giok Cheng dan guratan di dinding. Ia mencongkel dan mengambil ini. Dan ketika perjalanan terus dilanjutkan dan perihal Giok Cheng sudah diketahui Giam Liong, puteranya sudah bercerita maka beberapa hari kemudian mereka sudah menginjak wilayah Hek-yan-pang. Dan tempat itu ternyata sudah ramai kembali, penuh orang dan hilir-mudik para murid baik laki-laki maupun wanita.

Kedatangan ayah dan anak cepat diketahui dan bersorak-soraklah para murid menyambut gembira. Giam Liong mengangguk-angguk dan melambaikan tangan. Mereka diantar dan menyeberangi telaga menuju pulau kecil di tengah itu. Di sana tampak menyambut Han Han dan isterinya. Dan ketika Giam Liong meloncat turun dan Han Han meloncat merangkulnya maka adalah nyonya rumah berwajah gelap dan tidak tampak bersahabat. Mata wanita itu bersinar-sinar dan bahkan berapi memandang Sin Gak, pemuda di samping ayahnya itu...!