TAPAK TANGAN HANTU
JILID 26
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
SIN GAK memandang penuh selidik. Untuk kesekian kalinya lagi ia melihat kesungguhan pada sikap dan kata-kata tosu ini. Dan karena ia mulai menaruh kepercayaan akhirnya ia berkata, “Baiklah, agaknya untuk kedua kalinya aku harus berhutang budi. Mari sekarang berangkat, totiang, aku percaya padamu.”

Bukan main girangnya tosu ini. Kali ini ia dapat bersama-sama anak muda yang lihai ini, anak muda yang mengagumkan hatinya. Maka ketika ia bergerak dan menyambar lengan pemuda itu segera diajaknya pemuda itu ke selatan. “Bagus, pinto mendapat kehormatan. Tapi ini jangan dianggap hutang kebaikan, Sin-hiante. Pinto dan Kun-lun cukup berhutang budi kepada ayahmu dan Hek-yan-pang. Mari kita ke sana dan lupakan segala hutang-pihutang itu!”

Sin Gak mengikuti. Mereka bergerak meninggalkan hutan di luar Hek-yan-pang itu tanpa banyak cakap lagi. Tosu ini tampak berseri-seri. Dan ketika sekejap mereka sudah mengerahkan ilmu lari cepat namun Sin Gak tiba-tiba melamunkan Bi Hong maka tak terasa pemuda itu membiarkan saja dirinya dibawa si tosu.

* * * * * * * *

Kiranya Ke Ke Cinjin menuju propinsi Shan-tung, di perbatasan Ho-nan. Di sini, berhenti di tepi sungai Huang-ho yang membelah dua propinsi itu tosu ini menarik napas panjang. Saat itu sungai sedang meluap dan banjir, airnya yang gelap kecoklatan bergemuruh, bergolak dan menuju utara untuk akhirnya tumpah di laut Po-hai. Sungai Kuning atau Huang-ho ini sedang menunjukkan kedahsyatannya, semalam terjadi hujan lebat di daerah Ho-nan dan kini melewati wilayah Shan-tung air sungai tampak bergemuruh.

Suaranya memekakkan telinga dan tosu ini ragu, ada bayangan gentar di wajahnya. Dan ketika Sin Gak juga berhenti dan memandang air sungai itu, mereka berada di atas tebing hingga leluasa memandang ke bawah maka aliran sungai yang panjang dan berkelak-kelok tampak bagai tubuh seekor naga atau ular besar yang sedang menggeliat-geliat.

“Naga Kuning sedang murka, pinto tak menyangka ini. Agaknya kita harus berhenti dulu di sini dua tiga hari, Sin-hiante, tunggu sampai air tenang atau setidak-tidaknya tak bergemuruh begini.”

“Totiang mau menyeberang?”

“Ya, dan kau lihat tak ada sebuahpun perahu di sini. Sial, musim hujan sudah tiba!”

“Hm, totiang sebenarnya hendak menuju ke mana. Apakah perjalanan masih jauh dari sini.”

“Tidak jauh lagi, Sin-hiante, tapi kalau kita tak dapat menyeberang ya lama juga. Terlalu berbahaya menentang arus seperti ini!”

Sin Gak mengangguk. Dia sendiri yang baru kali ini melihat amukan Huang-ho harus mengakui bahwa sungai terpanjang dan terkenal ini menyeramkan sekali. Gemuruh suaranya bagai pekikan seorang raksasa. Tebing di bawah mereka berdentang-dentang dipukul lidah air yang dahsyat, percikannya mencapai ketinggian lima sampai tujuh meter. Dan ketika percikan itu kebetulan mengenai wajah mereka, panas bagai dilecut maka Sin Gak kagum dan terkejut juga.

“Benar, tak ada sebuah perahupun di sini. Tapi kalau menunggu dua tiga hari rasanya juga terlalu lama, totiang. Bagaimana kalau kita ke tempat lebih rendah itu dan menyeberang berdua. Aku dapat menahan arus di bawah itu dan kita cari perahu yang kuat.”

“Kau gila? Huang-ho dalam keadaan seperti ini arusnya dapat merobohkan gunung, hiante. Biarpun tempat itu lebih datar namun gejolak airnya tetap dahsyat. Pinto tak berani, terlalu beresiko!”

“Kalau begitu bagaimana jika kutunjukkan kemampuanku dulu, nanti totiang percaya.”

“Maksudmu?”

“Aku menyeberang sendiri, totiang, lalu kembali. Kalau kau sudah melihatnya tentu kau tak perlu takut lagi. Aku hanya butuh perahu, yang kuat.”

Tosu ini tertegun. Di bawah sana, di tempat yang ditunjukkan Sin Gak adalah sebuah daerah yang airnya memang tidak seganas di sini. Dari sini air di sana kelihatan lebih tenang, permukaannya tidak menggempur-gempur seperti air di bawah mereka itu. Tapi karena sungai sedang bergolak dan Huang-ho adalah sungai ganas yang amat mengerikan di saat seperti itu, maka tosu inipun ragu dan menggeleng.

“Tetap berbahaya, arus di bawah permukaan biasanya lebih dahsyat daripada yang di atas. Idemu bagus tapi mengundang maut, hiante, pinto tak setuju dan jalan aman satu-satunya ya harus menunggu. Tidak, pinto juga tak mau mengorbankan dirimu. Apa gunanya melanjutkan perjalanan kalau kau terjatuh dan hanyut, tenggelam!”

“Aku dapat menjaga diriku, tak perlu khawatir. Asal kau sudah melihat aku menyeberang tentu kau percaya, totiang, marilah cari perahu dan buktikan dulu.”

“Tidak, tidak itu terlalu berbahaya. Betapapun pinto tak mau menyeberang, hiante. Bersabarlah dan apa boleh buat menunggu dulu, di sini!”

Sin Gak menarik napas dalam. Sebenarnya, kalau ia mau bersombong maka gejolak air yang seperti itu bukan apa-apa baginya. Ia memiliki Bu-bian-kang, ilmu Tanpa Bobot. Dengan ilmu itu ia dapat berjalan-jalan di air bagai kecapung beterbangan atau melayang-layang saja. Bu-bian-kang adalah ilmu amat tinggi yung pernah diajarkan gurunya kepadanya, di samping Sian-eng-sut (Ilmu Bayangan Dewa). Maka melihat tosu itu jerih dan rupanya ia harus unjuk gigi, tawarannya mencari perahu ditolak tiba-tiba pemuda ini berkelebat dan meluncur ke bawah mengejutkan temannya.

“Baiklah, kalau begitu dengan sebatang pohon di sana akan kubuktikan kepadamu, totiang, aku tak mau menunggu terlalu lama dan maaf!”

Tosu itu terkejut. Ia berteriak melihat temannya meluncur ke bawah dan tahu-tahu berjungkir balik menuju sungai. Pemuda itu seakan hendak bunuh diri dan mencebur! Ke Ke Cinjin terpekik. Tapi ketika sejenak Sin Gak berdiri diatas sebatang pohon hanyut, baru sekarang tosu ini melihat maka Sin Gak berseru menembus gemuruh suara sungai,

“Totiang, lihatlah. Dengan ini saja aku dapat menyeberang!”

Benar saja, Sin Gak menggerakkan kaki memutar dahan pohon besar itu. Kalau tidak memiliki kekuatan dan kepandaian khusus adalah tak mungkin memutar sebatang pohon di tengah-tengah sungai yang begitu deras arusnya. Melawan gerakan arus itu saja sudah merupakan hal yang sulit, salah-salah terbalik dan tenggelam. Tapi ketika dengan mudah Sin Gak memutar batang pohon, kakinya bagai berkuku menancap kuat, maka tampaklah pemandangan yang membuat tosu itu melongo, betapa Sin Gak melintangkan pohon di tengah gejolak sungai yang kuat, melawan arus dan akhirnya bergerak menyeberang!

Bagai mimpi atau melihat pertunjukan sihir Ke Ke Cinjin menyaksikan betapa batang pohon itu meluncur ke tepian sebelah sana, membelah arus sungai yang dahsyat dan tujuh delapan kali sapuan ombak memuncrat besar, dua kali tubuh Sin Gak hilang sekejap, tertutup oleh tingginya ombak memuncrat itu. Namun ketika pemuda itu tampak di seberang dan meloncat dengan kedua kaki berbareng, pohon itu terbawa dan menempel, di kakinya maka pemuda dan batang pohon ini selamat di sana, turun dengan lembut!

“Astaga, luar biasa sekali. Ah, kau hebat, Sin-hiante, pinto lupa bahwa kau memiliki kesaktian. Ha-ha, pinto takjub!” tosu ini bergerak dan tiba-tiba menghambur. Apa yang dilihat dari atas benar-benar membuatnya kagum bukan main, ia takjub dan berseru gembira. Tapi ketika saking tergesanya ia berlari di jalanan licin, terpeleset dan jatuh tiba-tiba tosu itu menjerit terjatuh ke tengah arus sungai yang deras, dari atas tebing.

“Sin-hiante.”

Sin Gak terkejut. Waktu itu ia sudah jauh di bawah dan tak mungkin menolong tosu ini, apalagi iapun sudah diseberang. Maka ketika tosu itu terbanting dan lenyap, tercebur di tengah gemuruh ombak maka iapun tertegun dan pucat, wajahnya pias. Akan tetapi Sin Gak berkelebat bagai siluman. Batang pohon yang tadi dibawanya ditendang ke tengah sungai, diikuti tubuhnya yang melayang dan hinggap di situ. Lalu ketika ia memutar batang pohon ini ke arah hulu, menentang arus sungai maka pekerjaan yang lebih berbahaya dilakukan pemuda ini.

Orang akan menjerit melihat perbuatan pemuda itu. Betapa tidak, untuk melawan arus dan menyelamatkan diri berkali-kali pemuda ini hilang timbul di tengah gejolak sungai yang dahsyat. Huang-ho sedang mengamuk dan siapapun tak mampu melawannya. Jangankan melakukan seperti pemuda ini, menyeberang dengan caranya seperti tadi saja sudah termasuk kejadian sulit dan sukar dibayangkan, apalagi sekarang, menuju arah hulu dan menentang arus deras bak seekor burung menyerbu gelombang awan hitam.

Kalau bukan Sin Gak yang memiliki Bu-bian-kang dan kesaktian warisan gurunya tak mungkin pemuda ini mampu melakukan itu. Apa yang dilakukan sungguh berbahaya sekali, pertarungan maut. Dan karena ombak atau gulungan sungai menghantamnya dari depan, muncrat dan mengaburkan pandangan maka sulit bagi manusia biasa untuk melihat ke depan.

Akan tetapi Sin Gak benar-benar anak muda luar biasa. Di Sin-thian-san, puncak gunung yang selalu tertutup kabut ia sudah terbiasa memandang ke depan. Matanya mampu menembus benda-benda kecil di antara awan-awan dingin, awan yang menyusup dan bahkan membuat mata pedih, sakit dan dingin oleh benda beruap ini. Maka ketika sebuah lengan mencuat di permukaan sungai, itulah lengan Ke Ke Cinjin yang sedang berjuang melawan maut, maka Sin Gak pun tak menunggu waktu lagi dan disambarnya lengan yang tampak sekilas itu.

“Brett!”

Lengan baju tertangkap lebih dulu. Sin Gak menarik dan menyendal tubuh ini dari dalam air, benar saja Ke Ke Cinjin tampak kehabisan napas. Lalu menyadari daerah itu amatlah berbahaya tiba-tiba pemuda ini berseru keras melempar tubuh itu ke seberang, kuat sekali.

"Totiang, sadarlah dan gunakan kakimu untuk berjungkir balik disana. Awas !”

Ke Ke Cinjin hampir hilang kesadaran. Waktu itu tosu ini sebisa-bisanya berenang cakar ayam, ia bergulat di antara gemuruh air dengan wajah pucat, hilang timbul berkali-kali dan habislah harapannya untuk hidup. Memang siapapun tak bakal menyangka tosu ini selamat. Kalaupun ia lolos di daerah itu maka di bawah, di tempat lain siap menunggu batu-batu hitam menerima tubuhnya. Sekali ia terlempar dan dihempas ke situ remuklah tubuhnya.

Maka ketika tiba-tiba ia merasa ditarik dan suara Sin Gak begitu dekat telinganya mendadak tosu ini seakan dibangkitkan tenaganya dan membuka, mata lebar-lebar. Ia begitu gembira dan merasa tubuh dilempar kuat. Ia tak tahu bagaimana Sin Gak tahu-tahu ada di situ, juga bagaimana pemuda itu dapat melihatnya padahal gejolak dan buih ombak menutupi mata. Maka ketika tubuhnya terlempar dan ia diayun begitu tinggi, melayang dan melewati lebar sungai, maka tosu inipun mengerahkan tenaganya dan berjungkir balik seperti yang diserukan pemuda itu.

“Bluk!”

Ke Ke Cinjin masih jatuh juga. Ia baru saja selamat dari bahaya maut dan tenaga baru saja didapat. Berjungkir balik dengan tubuh basah kuyup membuat kaki terasa berat juga, ia roboh dan terguling di situ. Namun ketika tosu ini mengeluh dan sadar, bangkit dan terhuyung mencari Sin Gak maka ia terkejut tak melihat pemuda itu di situ. Huang-ho masih bergolak dan membuih.

“Sin-hiante !”

Terdengar jawaban seratus meter di situ. Sin Gak, yang rupanya terseret dan hanyut setelah menolong Ke Ke Cinjin ternyata menemui kesulitan sendiri. Membagi perhatian dan tenaganya kepada tosu itu membuat batang pohon di bawah kakinya terlepas sejenak. Waktu itu cukup sedetik namun ia terdorong. Setelah ia melempar Ke Ke Cinjin maka kekuatan di kakinya lenyap, artinya ia tak mampu mengendalikan pohon itu lagi yang berputar arah, meluncur dan dahsyat terpukul ke arah hilir. Sedetik saja ia sudah terdorong seratus meter, begitu dahsyatnya kekuatan air setelah tak dilawan.

Tapi karena Ke Ke Cinjin sudah di lempar selamat dan kini ia harus memperhatikan diri sendiri maka Sin Gak menjejakkan kaki kuat-kuat dan ditinggalkannya batang pohon yang terus meluncur dan akhirnya pecah menabrak batu hitam, turun dan basah kuyup di tempat lain dan saat itulah sang tosu berdiri dan mencari-carinya. Ke Ke Cinjin tak melihat pemuda ini karena dengan amat cepatnya Sin Gak sudah bergeser seratus meter, ia terdorong oleh arus air tadi. Dan ketika Sin Gak menjawab dan suaranya membuat tosu ini menoleh, girang bukan main maka Ke Ke Cinjin meloncat dan menubruk pemuda itu.

“Ah, Sin-hiante!”

Sin Gak tersenyum. Ke Ke Cinjin memeluknya kuat-kuat dan keharuan serta kegembiraan tosu itu tak dapat disembunyikan lagi. Sin Gak tertegun ketika dua titik air mata meloncat dari pipi tosu ini. Tapi ketika Ke Ke Cinjin tiba-tiba melepaskan dirinya menjatuhkan diri berlutut, tersedak dan mengucapkan terima kasihnya dengan suara gemetar maka Sin Gak menarik bangun tosu itu yang masih belum dapat melepaskan keharuannya.

“Pinto berterima kasih, pinto bersyukur. Ah, tanpa kau disini tak mungkin nyawa pinto selamat, Sin- hiante. Sungguh besar budimu dan berat rasanya kebaikan ini kubalas. Pinto seakan hidup kedua kalinya dengan bantuanmu tadi. Kau membahayakan dirimu sendiri!”

“Bangunlah, tak perlu diingat semua budi dan pertolongan ini. Kau sendiri bilang di antara kita tak ada hutang-pihutang budi, totiang. Apa yang kulakukan adalah wajar saja. Bangun dan jangan buat aku sungkan dengan sikapmu ini.”

Ke Ke Cinjin bangun, bersinar-sinar. Ia semakin kagum oleh sikap dan kesederhanaan pemuda ini. Betapa bersahajanya pemuda itu. Namun karena ia telah lolos dari kematian dan betapapun pertolongan tadi tak akan dilupakannya seumur hidup, ia benar-benar lepas dari lubang jarum maka ia gemetar memegang lengan pemuda itu, menggeleng.

“Tidak, betapapun yang ini lain, hiante. Kau telah menyelamatkan nyawaku. Pinto tak akan melupakannya seumur hidup. Biarlah pinto akan membalasnya dengan mempertemukan kalian ayah dan anak dan mudah-mudahan ayahmu masih di Guha Hitam!”

“Hm, ayah berada di Guha Hitam? Di mana tempat ini?” Sin Gak baru mendengar itu.

“Agaknya tak perlu lagi pinto berahasia, Sin-hiante, tempat itu juga sudah dekat. Guha Hitam berada di balik gunung Cing-tao-san tapi belum ada orang datang ke sana. Tempat itu angker. Pinto sendiri mendengarnya dari ketua pinto Keng Hwat Taisu dan pernah ke sana sekali saja, mengunjungi ayahmu.”

“Ada urusan apa?”

“Membujuk ayahmu agar tidak bertapa, gagal.”

Sin Gak menarik napas dalam. Setelah ia menyelamatkan tosu ini dan mendengar tentang ayahnya tak pelak lagi ia berdebar-debar. Seperti apakah ayahnya itu? Dan kenapa bertapa? Dan tiba-tiba ia menanyakan hal ini kepada tosu itu. “Maaf, tahukah totiang untuk apa ayahku bertapa.”

“Tidak, hal itu dirahasiakan. Ketua pinto juga tak tahu, hiante, namun melihat seriusnya ayahmu tentu ada sesuatu yang penting, amat penting!”

“Baiklah, sekarang di mana Guha Hitam itu dan apakah totiang tidak berganti baju dulu.”

Ke Ke Cinjin tersipu. Pakaiannya basah kuyup namun ia menggeleng, sambil tersenyum iapun menunjuk pemuda itu bahwa Sin Gak pun perlu ganti baju. Dan ketika pemuda itu tersenyum menggeleng pula maka tosu ini tertawa berkata,

“Ini urusan kecil. Dengan berlari cepat kita dapat mengeringkan pakaian sendiri, hiante, menghangatkan baju yang dingin. Kalau kau juga tak melepas bajumu buat apa pinto ganti. Marilah, kita lanjutkan perjalanan!”

Tosu itu bergerak. Sekarang mereka sudah menyeberangi sungai dan cara penyeberangan ini benar-benar luar biasa. Kalau bukan Sin Gak tak mungkin mereka melakukan itu. Dan ketika pemuda itu juga bergerak dan mengikuti tosu ini maka perjalanan dilanjutkan dan kini mereka memasuki sebuah hutan. Gemuruh atau suara dahsyat dari air Huang-ho masih terdengar di situ.

“Bukan main, hebat sekali. Baru, kali ini aku melihat sebuah sungai mengamuk, totiang. Beginilah agaknya hingga sungai itu ditakuti. Tak heran kalau tak ada seorangpun di dekatnya.”

“Wah, mana berani. Kalau pinto tak memiliki perjalanan penting juga tak mungkin mendekat, Sin-hiante. Terlalu berbahaya dan lihat kejadian tadi. Hanya karena terpeleset pinto nyaris tewas!”

“Sudahlah itu tak perlu kau kenang lagi. Sekarang kita sama-sama selamat, aku mengagumi sungai itu.”

“Ya, sungai yang hebat. Tapi setelah ini ia justeru membuat rakyat sejahtera!”

“Bagaimana begitu?”

“Eh, bagaimana tidak, hiante. Setelah banjir usai maka Huang-ho melemparkan humus tanahnya dikedua tepian. Endapan lumpur dan semua rabuk disebar merata. Tanah di sepanjang sungai ini menjadi gembur dan amat subur. Petani mendapat rejeki!”

“Hm, begitu kiranya,” Sin Gak mengangguk-angguk. “Kalau begitu alam benar-benar adil. Di samping merusak iapun memberi.”

Ke Ke Cinjin mengangguk. Kini mereka sudah jauh meninggalkan sungai itu dan keluar hutan. Di sini tiba-tiba mereka dihadang sebuah gunung, tidak begitu tinggi namun berwajah garang. Pohon-pohonnya tampak lebat sementara garis-garis hitam melintang di mana-mana. Itulah jurang yang banyak terdapat dan Sin Gak yang lama berada di Sin-thian-san (Gunung Para Dewa) tentu saja tertegun. Ia heran oleh begitu banyaknya jurang, tak kurang seratus jumlahnya. Hanya untuk, sebuah gunung kecil! Dan ketika ia berhenti melihat Ke Ke Cinjin juga berhenti, mengusap keringat maka tosu itu menunjuk dengan tangan kirinya.

“Itulah Cing-tao-san. Dibanding Kun-lun gunung ini bukan apa-apa, hiante, tapi jurangnya minta ampun. Pinto menghitung ada seratus tiga belas jurang di situ, dalam dan semuanya berbahaya. Dan mendaki gunung itu sama dengan mendaki seekor belut raksasa!”

“Maksud totiang?”

“Licin karena selalu basah. Pinto sendiri harus dibantu ini untuk ke sana!”

Sin Gak mengerutkan kening. Ke Ke Cinjin mencabut sepatu bergigi dari balik punggungnya. Ia memperlihatkan sepatu itu kepada Sin Gak. Lalu ketika Sin Gak mengangguk-angguk dan maklum kegunaannya maka tosu itu meneruskan bahwa ketuanya juga mempergunakan sepatu bergigi itu.

“Keng Hwat Taisu yang merupakan suheng pinto mempergunakan ini pula. Pinto hanya mempunyai sepasang. Agaknya kita nanti bergantian saja setelah pinto mendaki lebih dulu.”

“Totiang hendak mempergunakan itu?”

“Ya, tentu saja, Sin-hiante, dan maaf bahwa sepatu ini hanya sepasang!”

“Tak apa. Marilah ke sana dan tentunya Guha Hitam berada di balik gunung itu.”

”Ya, di balik punggung gunung. Dan hati-hati terhadap penghuninya yang tidak ramah karena di sana terdapat ular-ular berbisa!”

“Terima kasih. Kau sudah menuntun sampai ke sini, totiang, sekarang marilah pergi dan lanjutkan perjalanan kita. Agaknya dua jam saja kita sampai.”

“Benar, mari kesana.” dan si tosu menyimpan kembali sepatunya lalu bergerak dan mengajak temannya pergi.

Mereka masih sepeminuman teh untuk sampai di kaki gunung. Diam-diam Sin Gak semakin berdebar dan tegang. Di situlah dia akan bertemu ayah kandungnya! Dan ketika mereka bergerak dan semakin dekat maka tahulah pemuda ini bahwa, Cing-tao-san memang bukan gunung sembarangan yang mudah didaki. Gunung ini setinggi tiga ribu kaki akan tetapi menginjak wilayahnya orangpun akan merasa meremang.

Dari balik jurang-jurang dalam itu mengebul tipis-tipis asap belerang. Dari kejauhan tidak tampak tapi setelah dekat tercium baunya, keras dan menyengat. Dan ketika di kaki gunung ada tiga bangkai kerbau hutan yang tinggal tanduknya, menggeletak tinggal tulang-belulangnya maka Ke Ke Cinjin berhenti dan kali ini memasang sepatu bergiginya itu.

“Lihat, wilayah ini benar-benar berbahaya. Kematian kerbau-kerbau hutan ini, akibat perkelahian mereka dengan ular-ular besar, Sin-hiante, juga harimau-harimau loreng yang buas dan mencari mangsa. Pinto pernah melihat seekor di antara mereka dililit ular besar, menguak dan tercekik sampai akhirnya mati!”

“Hm, hawanya pun menyeramkan. Tempat ini mulai dingin, totiang, dan aneh bahwa semua tanahnya basah.”

“Itulah! Itu yang menyebabkan Cing-tao-san licin, hiante, dan betapa berbahayanya mendaki gunung ini. Sekarang kita sudah di sini, marilah mulai bekerja dan pinto mempergunakan sepatu bergigi ini!”

Sin Gak mengangguk. Setelah tiba di situ maka keadaanpun semakin jelas. Gunung ini memang benar-benar berbahaya dan menyeramkan. Pohon-pohonnya hijau subur namun di balik itu tersembunyi binatang-binatang berbahaya. Secara kebetulan pandang matanya bertemu dengan sepasang mata berkilat bundar kecil, di balik sebatang pohon tak jauh dari Ke Ke Cinjin. Maka ketika tosu itu meloncat kecil ke dekat sebuah batu hitam, dari sini hendak mendaki dan menancapkan sepatu bergiginya maka tosu itu tak tahu bahwa di balik pinggangnya ular itu menjulur dan secepat kilat menggigit tengkuk tosu itu dari belakang.

“Tak!”

Ke Ke Cinjin terkejut. Sin Gak bergerak lebih cepat dengan menendang sebutir batu hitam, tepat mengenai kepala dan robohlah binatang itu mengejutkan Ke Ke Cinjin. Barulah tosu ini tahu serangan di belakangnya, terbelalak namun Sin Gak tersenyum memberikan tanda agar dia melanjutkan pendakiannya. Dan ketika tosu itu sadar namun tertawa, kecut maka Ke Ke Cinjin berseru menggerakkan tubuh mulai pendakiannya.

“Sin-hiante, terima kasih. Lagi-lagi kau menyelamatkan aku!”

“Sudahlah, totiang cepat saja mendaki. Justeru di bawah sini aku dapat berjaga-jaga, totiang, melindungimu. Hati-hati di atas kepalamu kalau ada bahaya lain!”

Tosu itu mengangguk. Setelah Sin Gak membunuh ular itu dan perasaannya kian tenang, kepercayaannya menjadi besar maka mulailah tosu ini bergerak mendaki Cing-tao-san. Tak ada jalanan setapak dan semua harus dicari. Tebing atau tanah-tanah terjal diloncati, yang terlalu berbahaya malah dirayapi, maklum, semua daerah basah dan licin. Dan ketika tosu ini terus bergerak dan naik ke atas, ada sepuluh tombak maka ia berhenti sesuai rencana.

“Stop, sekarang giliranmu. Naiklah dan pakai sepatu pinto, hiante. Aku menunggumu di sini!”

Akan tetapi betapa tercengangnya tosu itu. Baru saja ia duduk dan melepas sepatunya maka Sin Gak berada di sebelahnya. Pemuda itu tersenyum menolak pemberiannya dan berkata biarlah perjalanan diteruskan. Ke Ke Cinjin tak tahu bagaimana pemuda itu naik. Tahu-tahu Sin Gak sudah di situ seperti iblis. Dan ketika tosu ini terkejut dan heran serta kaget, sungguh ia tak tahu bagaimana pemuda itu menyusulnya maka Sin Gak berkata lagi, tertawa,

“Jalan terus, jangan tunggu aku. Naik dan pakai saja sepatumu, totiang, aku dapat menyusulmu begitu kau tiba di atas. Ayolah, jangan mendelong.”

Merahlah wajah tosu ini. Akhirnya Ke Ke Cinjin tertawa bergelak dan sadar bahwa sikapnya terlalu memandang rendah. Pemuda di sebelahnya ini masih jauh lebih tinggi dibanding ketua Kun-lun sendiri. Maka ketika ia terkejut dan menjadi malu, mengikat sepatunya dan mendaki lagi maka tosu ini berseru bahwa menyamakan pemuda itu seperti dirinya sendiri.

“Ha-ha, tolol, pinto sungguh goblok. Eh, maafkan kalau pinto mengkhawatirkanmu, Sin-hiante. Pinto sama sekali bukan bermaksud memandang rendah. Pinto hanya takut perjalanan ini membahayakanmu!”

“Totiang tak perlu khawatir. Jaga dan hati-hati setiap pendakian, totiang, semakin ke atas kulihat semakin terjal. Awas jurang!”

“Ya, pinto tak perlu memperhatikanmu, malah sebaliknya kaulah yang bakal melindungi pinto. Baik, pendakian semakin terjal, Sin-hiante, dan semak di kiri kanan juga semakin lebat... augh!” tosu, ini menjerit, tepat merangkul sebuah batu runcing tapi saat itulah seekor ular mematuk jarinya. Ia terpelanting dan jatuh ke bawah, Sin Gak tak melihat ular itu. Tapi ketika pemuda ini menggerakkan tangannya dan menyambar tosu itu, tepat menangkap ikat pinggang maka Ke Ke Cinjin sudah kebiruan lengannya dan kaku menggigil.

“Pinto tergigit ular kepala merah. Aduh, dingin sekali!”

Sin Gak terkejut. Sekejap saja lengan si tosu sudah membiru dan hitam gelap, wajahnya pucat dan lengan itu tak dapat digerakkan lagi. Namun ketika ia menggerakkan jari menotok dan menghentikan racun di pergelangan lengan, cepat mengerahkan dan menyedot luka itu maka segumpal darah hitam dimuntahkan dan Sin Gak berseru agar tosu itu tenang.

“Jangan panik, aku membawa obat penawar. Bebat dan minum pil ini, totiang, lalu tarik napas dalam-dalam.”

Ke Ke Cinjin menggeliat. Setelah Sin Gak menotok dan menyedot luka itu maka jaripun dapat digerakkan kembali. Tadi sedetik saja rasa kaku sudah di siku, sakit dan panas namun bagian yang tergigit terasa dingin, beku. Maka ketika ia dapat menggerakkan lengannya kembali dan obat itu cepat diminum, tosu ini menarik napas dalam-dalam akhirnya sakit di bekas gigitan itu lenyap terganti hawa hangat ketika pemuda itu mengerahkan sinkang ke pundaknya. Begitu ampuhnya pertolongan pemuda ini!

“Sin-hiante, pinto tiga kali berhutan budi.Pinto...“

“Tak usah bicara itu. Sekali lagi kau, bicara tentang ini maka aku tak senang mendengarnya, totiang. Mungkin aku akan mencari sendiri dan kita tak usah bersama-sama saja!”

“Ah, maaf,” tosu itu semburat. ''Pinto hanya hendak menyampaikan terima kasih, hiante, kau telah menyelamatkan lagi!”

“Aku tak ingin bicara tentang ini, agaknya kau sekarang di bawah dan aku di atas!” Sin Gak memotong, berbahaya membiarkan tosu itu di depan karena kenyataannya sudah terluka. Ia tak menyangka demikian banyaknya ular bersembunyi di situ, untuk ini Sin-thian-san kalah! Namun karena ia berasal dari gunung yang jauh lebih sulit didaki lagi, tebing dan jurang-jurang dalam bukanlah apa-apa baginya maka Sin Gak mengambil keputusan bahwa ia harus di depan, tosu ini mengikutinya.

“Katakan kepadaku daerah mana yang ingin kau tuju. Aku di atas dan totiang mengikutiku.”

“Itu, puncak sebelah kiri, tiga pohon raksasa yang berdiri di atas sendiri. Di situ kita turun di seberang gunung, hiante, belok ke kanan dan mencari gerumbul alang hitam!”

“Hm, di atas itu? Baik, tunggu sebentar di sini, totiang, kucarikan tali perambat untukmu. Jaga dan hati-hati dulu!”

Sin Gak berkelebat dan berjungkir balik ke atas. Barulah tosu ini tahu cara pemuda itu naik, yakni dengan melempar tubuh ke atas dan membuang diri dengan enjotan kuat. Begitu kuatnya gerakan kaki pemuda itu hingga sekall enjot sepuluh tombak. Pantas ia tersusul begitu cepatnya. Tapi ketika Sin Gak lenyap di atas sana, melewati batu yang ada ularnya maka tosu ini khawatir berteriak nyaring.

“Sin-hiante, ke mana kau. Jangan terlampau jauh!”

“Aku di sini,” pemuda itu muncul, begitu tiba-tiba. “Ternyata ada banyak ular di sini, totiang. Tunggulah sebentar dan untung aku datang!”

Suara ini disusul oleh “wat-wut” lemparan panjang. Ular besar kecil, merah, hitam dan bermacam warna tahu-tahu di lempar Sin Gak ke bawah gunung. Sang tosu berteriak kaget karena ular-ular itu melewati kepalanya. Dia ngeri bagaimana kalau sampai terbelit. Bagaimana kalau satu di antara ular-ular itu jatuh diatas kepalanya! Tapi ketika belasan bahkan puluhan ular disapu bersih, benda-benda panjang mengerikan itu habis maka berhentilah Sin Gak di atas batu runcing itu.

“Selesai,” pemuda itu tersenyum. “Pantas kalau kau tergigit, totiang, dari bawah tak akan terlihat mereka itu. Naiklah ke atas dan sudah kutemukan seutas tali panjang!”

Kali ini Ke Ke Cinjin berteriak. Sin Gak melempar benda panjang seperti ular, membelit dan langsung mengenai pinggang tosu itu membuat Ke Ke Cinjin terkesisp. Ia terangkat dan disendal naik, terkejut. Tapi ketika ia tahu bahwa itu adalah akar pohon besar, melayang dan jatuh di dekat pemuda ini maka tosu itu mengusap keringat dingin.

“Celaka, kukira ular. Ah, kau mengejutkan pinto, Sin-hiante. Hampir saja putus semangat ini!”

“Tak usah cemas,” Sin Gak tersenyum “Sekarang tempat ini sudah bersih, totiang, mari lanjutkan perjalanan dan berpeganglah pada akar itu. Aku akan menarikmu ke atas.”

Sang tosu berseri gembira. Kalau Sin Gak berada didepannya tentu saja ia tak akan takut. Berkali-kali ia membuktikan kelihaian pemuda ini. Maka ketika ia mengangguk dan memegangi ujung akar itu, ujung yang lain di tangan Sin Gak maka bergeraklah pemuda itu mendaki Cing-tao-san. Apa yang dilakukan Sin Gak tentu saja jauh dengan apa yang dilakukan tosu Kun-lun ini.

Tanah-tanah licin didaki begitu enak seolah telapak pemuda itu bergetah karet. Setiap menginjak tentu lekat bak sembrani dengan logam, kagumlah tosu ini. Lalu ketika Sin Gak mendaki cepat meloncati jurang-jurang dalam, melempar atau menarik tosu itu melampaui semua bahaya akhirnya mereka berada di leher gunung di mana tiga pohon raksasa itu berdiri di atas mereka. Sekarang berhadapan dengan sebuah tebing tinggi yang tegak lurus.

“Cukup, nanti dulu. Bagaimana pinto melewati ini!”

Sin Gak tarsenyum. Ia melihat tosu itu mengeluarkan keringat dingin memandang ke atas. Dulu dengan ketuanya ia mempergunakan pedang, masing-masing membawa sepasang dan menancap-nancapkan itu untuk tempat pijakan. Kini mereka tak membawa apa-apa dan Sin Gak pun bersikap biasa. Heran tosu ini, juga kecut. Tapi ketika Sin Gak menyuruh ia melepaskan akar tali itu dan menunjuk punggungnya maka dengan tenang pemuda ini berkata agar si tosu naik di situ, digendong.

“Kalau aku sendlri tentu tidak repot. Tapi tak mungkin pula melemparmu setinggi itu, totiang, bagaimana kalau ada bahaya di sana. Sebaiknya kau naik di punggungku dan kita merayap.”

“Merayap? Maksudmu kau akan berjalan seperti cecak dengan pinto di punggung?”

“Ya, naiklah, totiang, tak apa-apa. Mari dan melompatlah.”

Tosu ini ngeri, memandang ke atas. “Tapi tempat ini setinggi pohon kelapa, bagaimana kalau jatuh!”

“Aku melihat lubang-lubang di dinding itu, mudah sekali. Asal kau berpegangan erat-erat tak mungkin jatuh.”

“Itu lubang bekas tusukan pedang. Dulu suheng Keng Hwat Taisu naik mempergunakan senjata!”

“Nah, aku tahu. Marilah totiang naik dan kita ke atas, tak ada jalan lain.”

Ke Ke Cinjin masih ragu. Ia mecari berputar-putar namun tak ada senjata tajam di situ. Baginya lebih baik naik sendiri daripada digendong. Malu dia. Namun karena tak ada apa-apa dan ia juga menyesal tak membawa senjata, buntalanya hanyut di sungai Huong-ho akhirnya tosu ini malu-malu melompat di punggung Sin Gak, seperti anak kecil!

“Heh-heh, pinto jadi malu. Baiklah, Sin-hiante, jangan diolok-olok!”

Sang tosu sudah melekat dan menempel di punggung pemuda ini. Ke Ke Cinjin memegang pundak namun Sin Gak berseru agar memeluk lehernya, cara itu kurang tepat. Dan ketika dengan muka merah tosu ini memeluk leher Sin Gak, kencang maka... tap, Sin Gak melompat dan tahu-tahu sudah menempel dinding.

“Hati-hati,” pemuda itu bergerak dan mulai merayap. “Pegang erat-erat leherku, totiang, jangan sampai lepas!”

Ke Ke Cinjin kagum. Kalau ia tidak membuktikan kelihaian dan kehebatan pemuda ini tentu sukar baginya untuk percaya bahwa temannya ini sudah bergerak dan merayap seperti cecak. Dari telapak pemuda itu keluar hawa menyedot yang membuat tangannya melekat. Bukan hanya tangan, kakipun juga melekat seperti kaki cecak. Lalu ketika dengan cepat namun ringan pemuda ini naik ke atas maka tebing tegak lurus di puncak Cing-tao san itu didaki begitu mudah!

Tak sampai semenit pemuda ini tiba di atas. Lalu ketika ia berseru menyentak bagian belakang punggungnya, membalik dan berjungkir balik maka Ke Ke Cinjin meramkan mata ketika pemuda itu melewati bibir tebing dan melayang ke atas. Bagaimana kalau misalnya kaki pemuda itu tak sampai di sana!

“Aman!” seruan ini membuat tosu itu membuka mata. “Lepaskan pelukanmu, totiang. Kita sudah sampai di puncak!”

Wajah tosu ini kemerah-merahan. Seumur hidup baru kali itulah dia digendong dan dibawa naik. Ada rasa nikmat dan kagum yang besar. Maka ketika ia bersinar-sinar memandang pemuda itu dan mendecak tak habis takjub, Ke Ke Cinjin benar-benar kagum maka ia berkata bahwa apa yang dilakukan pemuda itu tak sembarang orang dapat melakukannya.

“Ketua Kun-lun sendiri agaknya tak berani melakukan ini, tapi kau dapat dan melakukannya begitu mudah. Pinto mendengar adanya semacam ilmu yang disebut Pek-houw-yu-ebong (Ilmu Cecak), Sin-hiante, agaknya kau telah menguasai ini. Hebat!”

“Tak perlu memuji lagi. Kita sudah di sini, totiang, di mana ayahku itu.”

“Di balik pohon besar itu, di bawah. Kita harus menuruni jalanan tikus yang amat sempit. Marilah!”

“Nanti dulu!” Sin Gak mencegah dan menarik tosu ini mundur. “Sebaiknya aku tetap di depan, totiang, kau memberi petunjuk. Tetaplah di belakang dan mari ke sana.”

Tosu ini sadar. Akhirnya ia mengangguk dan memberi petunjuk. Di bawah mereka tampak kabut tipis di kaki gunung. Mereka sudah di puncak dan memandang ke bawah amatlah mengerikan. Tebing tegak lurus itu seakan penyangga terakhir. Maka ketika tosu ini bergerak dan Sin Gak berada di depan maka menyeruak gerumbul tanaman menyeranglah tiga ekor ular belang.

“Wus-wush!”

Sin Gak melihat semburan asap hitam, Untunglah ia melihat ini dan waspada, berkelit dan menampar dan robohlah ular berbisa itu. Lalu ketika temannya meleletkan lidah akan tetapi pemuda ini sudah meloncat turun maka gerumbul demi gerumbul disingkap, menangkis atau mengelak serangan-serangan ular lainnya dan Sin Gak mengerutkan kening.

Tempat itu benar-benar berbahaya dan semakin gelap. Kalau Ke Ke Cinjin tak mengingat baik-baik tentu jalanan tikus itu tak dapat mereka temukan. Di tempat-tempat tertentu ternyata Keng Hwat Taisu memberikan tanda, yakni menggores batang-batang pohon yang menuju Guha Hitam. Lalu ketika tak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud maka di tempat amat gelap tosu ini menyuruh Sin Gak berhenti.

“Stop, cukup di sini. Di antara dua pohon itulah guha itu berada!”

Sin Gak berdebar, memandang tajam. Mereka sudah berhenti di lereng curam yang amat berbahaya. Tempat yang gelap membuat orang tak tahu dan bisa terpeleset. Sekali terguling tentu hancur diterima batu- batu di bawah. Dan karena guha yang ditunjuk berada di antara dua pohon yang cukup besar, gelap dan sekilas tak kelihatan maka setelah membiasakan diri barulah orang tahu bahwa samar-samar di tempat gelap itu ada sebuah guha.

“Hm, benar juga. Sebaiknya kau di sini aku yang masuk, totiang. Jangan menyusul kalau tidak kuperintahkan. Dan jangan berisik!”

Ke Ke Cinjin gemetar. Tosu ini tampak ngeri dan pucat. Meskipun ia pernah ke mari namun tempat itu rasanya lebih menyeramkan. Hawanya lebih dingin. Dan ketika Sin Gak mulai bergerak dan hati-hati menuju tempat itu maka Sin Gak merasa adanya sesuatu yang mendorong dari dalam guha, semacam kekuatan aneh mirip getaran maut. Berkerutlah kening pemuda ini. Apa yang dilakukan ayahnya di dalam? Kenapa di mulut guha tiba-tiba tercium bau amis seperti darah? Ada apa? Tapi ketika ia mengerahkan sinkangnya melindungi seluruh tubuh, semua syaraf bergetar dan siap bergerak maka ia tak perlu gentar menghadapi apapun.

Semua ini dilihat Ke Ke Cinjin dengan mata terbelalak. Tosu itu kebat-kebit dan menggigil mengeluarkan keringat dingin. Dulu ia memberi tahu dengan cara memanggil, setelah ada jawaban barulah masuk. Tapi karena Sin Gak tak melakukan itu dan menggeleng, berkata biarlah dia melihat diam-diam apa yang di dalam guha maka tosu ini khawatir dan cemas sekali. Demikian cemasnya tosu ini memperhatikan Sin Gak hingga tak tahu adanya sepasang harimau loreng di atas kepala.

Harimau itu mendekam dengan amat hati-hati di atas sebatang dahan, kumisnya bergerak naik turun dengan amat halus namun sepasang mata itu mencorong lapar. Air liurnya menetes! Dan karena Sin Gak sendiri terpusat kepada Guha Hitam, tegang karena pertemuan dengan ayahnya ini menimbulkan debar jantung kencang maka pemuda itu tak melihat apa yang mengancam temannya ini.

Sin Gak baru terkejut ketika tiba-tiba dari dalam guha muncul sepasang mata biru, mencorong dan bagai lampu senter dan tahu-tahu terdengar geraman dahsyat. Seekor mahluk berbulu meloncat keluar, mengayun tubuh dengan cepat namun kuat dan itulah seekor harimau benggala sebesar kerbau. Kedua kaki depannya yang mencengkeram mengeluarkan kuku-kuku tajam bagai pisau belati, aumnya menggetarkan puncak dan bagi orang biasa sudah cukup menerbangkan semangat.

Melihat harimau itu saja orang sudah akan roboh ketakutan, apalagi gerak tubuhnya yang berat namun cepat itu. Sukar bagi seseorang melepaskan diri. Tapi Sin Gak yang menyambut dan justeru menangkap dua kaki depan itu bergerak tak kalah cepat dan ketika binatang itu menerkamnya iapun sudah menggerakkan tubuh menyelinap di bawah perut binatang ini dan sambil berseru keras ia sudah meneruskan daya dorong itu melempar si raja hutan ke bawah tebing.

“Sin-hiante!”

Sin Gak terkejut. Waktu itu ia sudah memutar tubuh melempar lawannya. Harimau sebesar kerbau ini tergetar perasaannya, kaget karena kuku-kukunya yang tajam bertemu telapak pemuda itu, keras bagai lempengan besi dan gerakan Sin Gak yang melempar tubuhnya membuat binatang ini mengaum dahsyat. Ia terlempar ke bawah puncak, menuju batu-batu runcing yang bakal melumat tubuhnya. Harimau ini tak menyangka bahwa hanya segebrakan saja ia dikalahkan begitu mudah, tubuhnya meluncur dan terdengarlah suara berdebum ketika terbanting di bawah tebing, dahsyat menggetarkan puncak tak kalah dahsyat dengan aumnya tadi.

Tapi ketika Sin Gak sudah berputar posisi dan melihat keadaan Ke Ke Cinjin maka di saat itulah tosu ini berteriak karena harimau di atas tubuhnya tadi meloncat dan menerkam kepalanya! Bukan main berdetaknya jantung di dada pemuda ini. Kepala si tosu tahu-tahu masuk di mulut harimau yang lebar, sebatas dahi dan dua orang itu bergulingan. Ke Ke Cinjin menjerit karena tak menyangka sama sekali serangan tiba-tiba ini, ia kaget luar biasa. Tapi ketika ia menangkap tubuh harimau itu dan bergulingan meronta-ronta maka taring di mulut binatang itu terlanjur menancap dahinya. Tosu ini setengah pingsan!

Untunglah, Sin Gak bergerak cepat. Pemuda yang sadar dan membelalakkan matanya ini berkelebat ke depan. Ia membentak binatang itu menarik ekornya, tangan yang lain menotok samping leher dengan tusukan kuat. Jari-jari itu penuh sinkang dan batupun bakal berlubang. Maka ketika sang harimau terkejut mengaum kesakitan, kepala sang tosu dilepaskan maka Sin Gak tak membuang waktu dan mengangkat serta melempar binatang itu menyusul temannya.

“Buummm!” Suara menggetarkan itu menggoyang dinding-dinding tebing. Aum atau pekik binatang itu tak kalah dahsyat, terbanting dan meliuk untuk akhirnya roboh. Kepalanya pecah menghantam batu runcing. Dan ketika Sin Gak bergerak dan cepat menolong Ke Ke Cinjin maka tosu itu ternyata pingsan dengan luka dalam di depan dahinya.

Merahlah wajah Sin Gak. Ia sungguh tak menyangka bahwa di Guha Hitam terdapat harimau-harimau berbahaya. Ia tak tahu bahwa sepasang harimau itu adalah penunggu-penunggu guha, tertarik atau mencium bau darah dari sebatang golok yang menancap di lantai guha, di dalam sana. Dan karena ia masih tak tahu dan sekarang temannya terluka, pemuda ini merobek baju tosu itu maka cepat Sin Gak memberikan pertolongan dan mengembalikan denyut nadi Ke Ke Cinjin.

Tosu ini terguncang oleh peristiwa itu dan hampir tewas. Iapun tak menyangka bahwa di atas kepalanya telah mengintai seorang musuh berbahaya. Kalau kepalanya tak terbenam di mulut harimau tentu tosu ini dapat melakukan perlawanan, jelek-jelek dia adalah sute ketua Kun-lun yang lihai. Tapi karena perhatiannya tertuju ke depan dan harimau keparat itu tak mau melepas kepalanya, taring yang menancap dahi melukai cukup dalam maka tosu ini benar-benar sial dan nyaris binasa.

Akan tetapi masih ada musuh lain yang tak kalah berbahaya. Sin Gak tak tahu betapa dari atas guha, merayap cepat seekor ular besar menghampirinya. Dia membelakangi guha dalam usaha menolong temannya, perhatiannyapun terpusat pada luka di dahi itu. Maka ketika tiba-tiba sebuah benda dingin melekat dan membelit tubuhnya dari pinggang ke atas, demikian cepatnya kejadian itu maka terkejutlah Sin Gak ketika seekor ular sebesar paha manusia dewasa menyerang dan membelitnya dengan amat kencang. Kepala binatang itu sudah di atas kepalanya sendiri.

“Keparat!” Sin Gak mengerahkan tenaga membuat tubuhnya seperti batu, keras oleh pengerahan sinkang. “Pergi kau, ular busuk. Enyahlah!”

Ular ini terkejut. Ia merasa girang ketika mula-mula membelit dan menguasai pemuda itu. Dengan mudah ia menyerang lawannya. Tapi ketika dari tubuh pemuda itu keluar semacam kekuatan yang melawan belitannya, yang semakin dibelit kencang justeru mengeluarkan hawa panas yang membuatnya terkejut maka saat itu tangan pemuda ini lepas dan menampar kepalanya.

“Prakk!” Ular ini berusaha mengelak dan menggigit. Akan tetapi apalah gunanya menghadapi murid si Bayangan Dewa yang sakti ini, yang bergerak jauh lebih cepat dan tahu-tahu lima jari Sin Gak menampar kepalanya. Maka ketika ia roboh dan belitan otomatis terlepas, Sin Gak meloncat bangun maka ditendangnya bangkai ular itu dengan amat gemas.

Ke Ke Cinjin sadar. Tosu ini mengeluh dan sempat melihat ular besar itu, terkejut dan hampir berteriak namun Sin Gak menepuknya perlahan. Ular itupun melayang dan jatuh di bawah tebing, berdebuk bersama bangkai dua ekor harimau yang tewas lebih dulu. Lalu ketika Sin Gak membersihkan bajunya mengebut semua debu maka pemuda itu berkata agar Ke Ke Cinjin menjaga diri baik-baik.

“Totiang jangan menghilangkan kewaspadaan terhadap diri sendiri. Hampir saja kau celaka. Aku belum masuk dan menyelidiki guha itu, totiang, jangan membuatku membagi perhatian dan berhati-hatilah. Untung bahaya sudah lewat!”

“Pinto benar-benar manusia tak berguna, pinto manusia bodoh. Pinto tak menyangka bahaya di atas kepala, Sin-hian-te, pinto terlampau tegang mengawasimu di depan guha. Sudahlah pinto akan berhati-hati meskipun kepala pinto masih pusing.”

“Atau totiang kugendong saja di belakang, aku mencium bau darah.”

“Tidak, tidak. Pinto tetap di sini dan biarlah kau masuk. Pinto akan menjaga diri!”

Sin Gak menarik napas dalam. Tempat ini memang benar-benar berbahaya terutama bagi orang semacam Ke Ke Cinjin ini. Akan tetapi karena tosu itu menolak dan jelas malu, rasanya terlalu berlebihan digendong seperti anak kecil akhirnya pemuda ini mengangguk berkelebat kembali ke guha.

“Baiklah, dan pegang pisau kecil ini kalau ada bahaya, totiang. Aku biasanya tak pernah mempergunakan tapi sebaiknya kau pegang!”

Ke Ke Cinjin menerima pisau kecil itu. Benda ini biasanya dipergunakan Sin Gak untuk mengupas buah-buahan hutan ketika lapar, hanya pisau kecil saja dan tak pantas untuk senjata. Namun karena bahaya bisa sewaktu-waktu datang dan tak ada jeleknya menggenggam itu maka tosu inipun berdebar memegang pisau ini, bersandar pohon, kepala masih pusing.

“Sin-hiante, hati-hati!”

Sin Gak tak perlu menjawab. Ia sudah di mulut guha dan kali ini tak mau berlama-lama. Tubuhnya bergerak bagai seekor walet, menyambar dan lenyap di dalam. Dan karena ia sudah biasa dengan suasana sekitar, seluruh syaraf menegang dan siap menyambut atau menghantam musuh maka di dalam guha ini Sin Gak tertegun oleh sebuah cahaya menyilaukan dari sebatang golok yang menancap secara terbalik, gagangnya di atas sementara di depan golok ini, duduk bersila dengan mata terpejam tampaklah sebuah patung hidup yang wajahnya bersinar terang bagai dewa sedang bertapa!

Tergetarlah pemuda ini. Ternyata di dalam guha ini keadaan tidak seperti di luar sana. Guha ini tidak merupakan tempat yang panjang karena terdiri hanya dua ruangan saja, membelok ke dalam dan di sinilah patung hidup itu berada. Dari tubuhnya memancar getaran kuat yang membuat orang menjauh mundur, ada semacam kewibawaan atau kekuatan batin yang hebat di situ. Sementara golok di lantai itu, yang bersinar dan menerangi ruangan guha tampak memancarkan cahaya bergidik yang membuat tengkuk terasa dingin!

Sin Gak harus menambah sinkangnya untuk mengusir pengaruh dingin ini, terutama dari golok di depan patung hidup itu. Bau amis menyambar dari sini dan kiranya inilah sumber kengerian itu. Baunya memancing harimau dan binatang buas untuk datang mendekat namun mereka terdorong oleh getaran batin yang keluar dari laki-laki yang sedang duduk bersila itu, tampak berwibawa dan gagah sekali namun Sin Gak tertegun melihat lengan kiri yang buntung.

Ternyata patung hidup ini manusia cacad. Wajahnya terang di kala bersila itu namun gurat-gurat kedukaan tak dapat disembunyikan dari wajahnya yang tampan. Garis duka itu membekas dalam hingga siapapun dapat merasa. Sin Gak terharu. Dan karena ia begitu terpesona memandang wajah gagah itu, wajah yang benar-benar mirip dengannya tiba-tiba saja Sin Gak meloncat maju dan berseru menggigil, air matapun tiba-tiba mengucur turun.

“Ayah...!”

Tak ada jawaban. Pria itu, Giam Liong memang sedang bertapa dengan amat khusuknya. Sudah bertahun-tahun ini pria gagah yang berjuluk Naga Pembunuh itu mengheningkan cipta. Jangankan panggilan, gunung robohpun tak akan membuat kesadarannya datang. Naga Pembunuh telah mencapai titik tertinggi dalam niat samadhinya yang dalam, begitu dalam hingga jiwanya seakan menyatu dengan alam. Ia tak akan mendengar apa-apa dan tak memperdulikan apa-apa.

Dulu Keng Hwat Taisu juga gagal setelah memaksa berkali-kali. Samadhi atau tapa Naga Pembunuh ini telah mencapai pusat roh. Maka ketika ia diam saja dan benar-benar tak merasa kehadiran puteranya, demikian hebat tapanya hingga kesungguhan itu memancarkan sinar gaib maka Sin Gak menubruk dan mengguguk memeluk ayahnya ini, maklum bahwa sesuatu yang hebat telah memaksa ayahnya itu untuk bertapa sedemikian dalamnya hingga siap mengorbankan nyawa, hilang dalam hening!

“Ayah.. !”

Sin Gak tersedu-sedu. Pemuda yang biasanya gagah dan tabah hati itu mendadak kehilangan kegagahannya lagi seperti anak cengeng. Murid Sian-eng-jin ini terharu dan bagai disayat-sayat melihat keadaan ayahnya itu. Itulah keadaan yang disebut Heng-siong-beng (Siap Menyerahkan Roh) dalam tapa, sikap yang diambil sebagai protes atau tuntutan sesuatu kepada Yang Di Atas, sikap yang biasanya timbul atas derita atau kecewa yang berat.

Seseorang yang telah mencapai tingkat ini biasanya tak akan kembali dalam hidup, rohnya telah terbang dan melayang-layang dalam alam gaib. Hanya karena detak jantungnya saja yang masih menunjukkan orang itu belum meninggal, detak jantung yang biasanya lemah dan hampir tak terdengar telinga biasa, detak jantung ke alam ajal. Maka ketika Sin Gak melihat keadaan ayahnya itu dan betapa perasaannya seakan dirobek-robek, inilah orang tua satu-satunya yang masih hidup maka keharuan dan kehancuran memukul pemuda itu sampai Sin Gak mengguguk dan mengejutkan Ke Ke Cinjin yang ada di luar guha.

Tosu ini terkejut dan tegang mendengar tangis itu, tak ayal lagi bangkit dan menghampiri guha. Lalu ketika ia masuk dan melihat itu, terkesima oleh wajah yang mengeluarkan sinar terang ini akhirnya tosu itu sadar bahwa Si Naga Pembunuh itu memang hidup namun “mati”.

“Sin-hiante !”

Sin Gak terkejut. Tiba-tiba ia sadar bahwa ada orang lain di situ. Ke Ke Cinjin telah berada di belakangnya. Dan ketika cepat ia menghentikan tangis dan mengusap air mata maka ia berdiri dan gemetar meminta tosu itu menjauh. “Keluarlah... pergilah. Aku hendak menyadarkan ayahku, totiang. Jangan masuk dan dekat-dekat sini. Aku telah menemukan orang tuaku.”

“Benar, bagai pinang dibelah dua. Kau dan ayahmu tak ada bedanya, hiante, kalian benar-benar mirip. Siancai, pinto merasa girang, tapi bingung. Apa yang hendak kau lakukan dan tak adakah yang bisa pinto bantu!”

“Tidak, kau keluarlah. Ayah telah mencapai tingkat Heng-siong-beng, totiang, tak akan bangun kalau tidak dihentak dari dalam. Aku akan membangunkannya dan harap kau keluar. Ada bahaya untuk ini.”

“Heng-siong-beng? Sedalam itu tapanya? Astaga, pantas dulu tak dapat digugah!”

“Totiang harap keluar, cepat. Aku tak mau ia mati dan ingin kutanya apa sebabnya demikian nekat. Aku tak mau kehilanganayahku!”

Ke Ke Cinjin maklum. Sebagai murid Kun-lun dan seorang pertapa iapun mengerti apa artinya itu. Sedikit banyak ia tahu pula tingkatan-tingkatan tapa. Maka mundur dan mengangguk dengan hati berdebar iapun keluar dan menjaga disana.

“Hiante, hati-hati. Kalau kau gagal malah ayahmu meninggal seketika. Pinto berlindung di luar!”

Sin Gak mengangguk. Ia tahu pula resiko membangunkan sebuah tapa, apalagi sekuat ini. Namun karena gurunya si Bayangan Dewa adalah seorang manusia sakti yang banyak menurunkan kepandaian, di antaranya tentang kegaiban alam semesta dan kebatinan maka iapun maklum dan tak mau menunda waktu lagi. Ia sadar setelah tosu itu masuk. Ia tenggelam oleh kesedihannya tadi. Ia tak boleh berlaru-larut. Maka ketika Sin Gak bersila dan duduk di depan ayahnya itu, meletakkan tangan di pundak maka pemuda inipun sudah membayangkan wajah mendiang gurunya dan minta bantuan kekuatan batin untuk menghantam atau menjebolkan Heng-siong-beng.

“Heng-siong-beng adalah tingkat tapa paling tinggi, juga maut. Hanya orang gila yang berat frustrasinya melakukan ini. Ia siap tak makan maupun minum bertahun-tahun, biasanya hanya dilakukan orang-orang yang hebat dan terlatih saja. Kalau tak ada sesuatu yang menindih batin biasanya seseorang tak akan bertapa sedalam itu, karena di samping mengorbankan nyawa juga kalau sembuh biasanya gila. Syaraf di otak selalu hancur. Maka kalau kau mengerti ini jangan sembarangan terhadap Heng-siong-beng karena pada hakekatnya banyak merugikan diri daripada untungnya!”

“Lalu peristiwa-peristiwa apa yang menyebabkan manusia senekat itu, suhu? Masa ada orang siap mengorbankan diri dalam tapa sedemikian hebat? Bukankah tapa dilakukan justeru untuk membersihkan batin menjernihkan pikiran?”

“Hm, hidup di dunia ini bermacam ragam isinya, tapi tak lepas dari tiga sisi. Satu adalah berahi, dua kekuasaan dan tiga kekayaan. Kalau orang sudah demikian dalam tenggelam dalam satu atau ketiga-tiganya ini maka frustrasi berat bisa dirasakannya apabila gagal. Orang bisa nekat, mata gelap. Apapun dilakukan kalau perlu berkorban nyawa. Mereka sudah mulai gila, dan karena mereka gila maka berbahaya menghadapi orang-orang seperti ini, jauhi saja!”

Begitu dulu sekilas Sin Gak bercakap-cakap dengan gurunya. Ia belum menghadapi sendiri Heng- siong-beng ini, masih dalam taraf informasi. Maka ketika tiba-tiba kini ayahnya melakukan hal seperti itu dan ia tentu saja terkejut, pucat maka di samping tersentak ia juga merasa heran keinginan apa yang dipendam ayahnya ini. Menginginkan kekuasaan? Kekayaan? Rasanya tak masuk akal. Atau berahi? Ah, lebih tak masuk akal lagi. Wajah ayahnya itu bukan wajah seorang yang doyan paras cantik, wajah itu gagah dan bahkan keras. Tak masuk akal kalau ayahnya yang berjuluk Naga Pembunuh ini melakukan protes hanya karena keinginan berahi!

Sin Gak tak berpikir panjang lagi dan cepat mengosongkan pikiran. Dalam saat seperti itu maka Gi- hong-ciok-beng (Memanggil Roh Yang Sudah Membatu) adalah satu-satunya pilihan tepat menjebolkan, Heng-siong-beng. Hanya ilmu ini pelawan Heng-siong-beng. Untunglah ia murid seorang sakti macam gurunya itu, Bayangan Dewa bukan orang sembarangan. Maka ketika ia meletakkan tangan di kedua pundak dan menarik napas dalam sambil memejamkan mata, mengosongkan pikiran menujukan perhatian ke pusat alam gaib maka tiba-tiba tubuh pemuda inipun bergetar seolah diguncang dari dalam.

Telapak Sin Gak mengeluarkan asap panas memasuki pundak ayahnya itu, menembus dan “menghidupkan” dulu syaraf-syaraf penting di tubuh. Syaraf-syaraf ini sudah mati rasa sejak pemiliknya bertahun-tahun mengheningkan cipta. Si Naga Pembunuh tiada ubahnya seorang yang mati semu. Dan ketika tenaga panas itu memasuki pundak dan terus menembus ke dalam, patung hidup itu tiba-tiba tersentak dan seakan berjengit maka Sin Gak girang karena usahanya berhasil!

Akan tetapi belum selesai. Tidak semudah itu menggempur Heng-siong-beng yang mencapai puncaknya, apalagi yang dilakukan seorang pendekar macam Naga Pembunuh ini. Maka ketika tiba-tiba tubuh itu tak bergerak lagi seakan tak merasa aliran listrik yang dimasukkan Sin Gak, kembali tubuh itu tak bergeming dan diam membatu maka Sin Gak harus menambah tenaganya untuk memperkuat getaran hawa panas menembus seluruh syaraf di tubuh ayahnya ini.

Tujuan utama adalah syaraf otak. Bagian inilah yang merupakan kunci dari Heng-siong-beng, baru setelah itu jantung dan paru-paru. Dan karena untuk ke otak harus melewati dulu dua bagian ini maka pemuda itu memejamkan mata bekerja keras mengalirkan tenaga Gi-hong-ciok-beng menuju syaraf-syaraf penting itu. Ia harus melakukan hati-hati atau semua bakal hancur. Dan ketika dari tubuh ayahnya bergerak sebuah tenaga sakti yang menolak sinkangnya, maklumlah pemuda ini bahwa ayahnya bukan orang sembarangan maka ia memperkuat dan mendorong tenaga ayahnya itu.

Ia harus mengalahkan ini dan menguasai seluruh tubuh ayahnya kalau tak mau gagal. Tenaga tolak itu harus ditundukkan, bahkan kalau perlu bergabung dengan tenaganya sendiri untuk menjebol Heng-siong-beng. Dan ketika ia berhasil dan tenaga itu terdesak mundur, berputar dan terus terdorong maka Sin Gak tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dan mendesak tenaga itu sampai di daerah tan-tian, pusar. Di sini terjadi perlawanan berat. Tenaga itu tak mau ditundukkan, bergolak dan menyerang pemuda itu mati-matian.

Tubuh sang Naga Pembunuh bergetar oleh arus di tan-tian ini, bagi seorang ahli silat semuanya sudah berjalan secara otomatis. Tapi karena Sin Gak adalah murid seorang tokoh Ngo-cia Thian-it, satu di antara Lima Rasul maka pemuda itu mendesak dan akhirnya menembus perlawanan sinkang itu, menjebolnya sedemikian rupa hingga cerai-berai dan saat itulah pemuda ini bergerak cepat. Ia mendekati semua bagian pusat-pusat tenaga yang hilang kendali itu untuk ditarik dan digabung dengan tenaganya sendiri, berhasil dan akhirnya terkumpullah sinkang sang ayah dengan sinkangnya sendiri. Lalu ketika gabungan sinkang ini bergerak dan naik ke atas, jantung dan paru-paru maka jebollah sumbat Heng-siong-beng di bagian itu.

“Cess!” Asap putih keluar dari dada si Naga Pembunuh, terus naik ke pundak dan leher untuk akhirnya menuju kepala. Inilah pusat syaraf yang hendak digempur Sin Gak. Inti Heng-siong-beng akan dihancurkannya di situ. Dan karena tenaga ayahnya sudah berhasil dikuasai dan ia mengendalikan semua ini dengan konsentrasi penuh maka Sin Gak tak tahu betapa tubuh ayahnya itu bergetar hebat sampai akhirnya sepasang mata itu terbuka lebar.

Giam Liong sang Naga Pembunuh mulai sadar. Perlahan-lahan sukma atau jiwa pendekar ini ditarik ke dalam, menyatu dan hidup lagi ketika semua simpul-simpul syaraf dibuka. Sin Gak menjebol semua sumbatan simpul syaraf dari bawah ke atas. Wajah pemuda itu berkeringat dan kemerah-merahan, tanda betapa besarnya kesungguhan dan hasrat pemuda ini “menghidupkan” ayahnya lagi. Dan ketika ia terus bekerja dan menggetarkan syaraf pusat di otak, usahanya sudah sembilan puluh persen berhasil maka saat itulah sang ayah mulai sadar namun masih dalam bayang-bayang bingung, juga marah!

Membangunkan orang yang tenggelam dalam tapa memang perbuatan berbahaya. Sin Gak bukannya tak tahu resiko itu namun apa boleh buat, ia tak akan membiarkan ayahnya ini mati sia-sia. Maka ketika ia sudah menembus simpul-simpul penting dan tinggal satu di inti pusat, gabungan tenaganya dengan sinkang ayahnya itu mempercepat semuanya maka tak lama kemudian pusat Heng-siong-beng di otak jebol. Kepala ayahnya meletus dan muncratlah asap tebal ke atas. Itulah tanda hancurnya Heng-siong-beng.

Namun ketika sukma sang ayah masuk dan kembali ke tubuh, menyatu dengan pusat-pusat kehidupan di denyut nadi maka saat itulah wajah yang terbakar dan mata yang melotot menghanguskan si Naga Pembunuh ini, beringas. Giam Liong tiba-tiba begitu marah ketika seseorang memaksanya kembali. Ia seakan disentak dari alam halus memasuki alam kasar. Paksaan itu membuatnya sakit. Ada nyeri tajam di dada dan kepala, terutama kepala yang baru saja meledak dan terasa terbakar. Rasa sakit itu membangkitkan kemarahannya.

Maka ketika tiba-tiba kesadarannya tertarik kembali dan seorang pemuda rupanya hendak mencelakainya tiba-tiba pendekar itu bergerak dan diiringi satu pekikan menggetarkan guha ia menghantam kepala Sin Gak yang saat itu terisi tenaga gabungan antara puteranya dan dirinya sendiri. “Siapa kau, jahanam!”

Sin Gak terkejut. Ia bersila memejamkan mata hingga tak tahu perobahan ayahnya itu, betapa mula-mula kelopak ayahnya bergerak dan wajah itu kemerah-merahan, terbakar. Ia begitu asyik dalam pekerjaannya sendiri dan girang bahwa Heng-siong-beng jebol. Inilah yang diharap. Maka ketika tiba-tiba tangan ayahnya menghantam kepala dan tenaga yang digunakan itu adalah tenaga gabungan, ia belum menarik lepas tangannya maka jarak sedekat itu tak mungkin mengelak dan barulah pemuda ini membuka mata ketika serangan itu tiba.

“Ayah!”

Seruan ini menggetarkan jiwa sang Naga Pembunuh. Dalam keadaan baru sadar dan kaget serta marah tapi juga bingung maka sebenarnya Giam Liong tertegun melihat wajah yang mirip dengan dirinya itu. Hanya karena ia baru tertarik dari alam gaib dan belum sepenuhnya ingat iapun masih ragu-ragu. Tapi ketika seruan itu mengguncangkan hatinya dan betapapun mengurangi tenaga maka pukulannya meskipun telak tapi sudah hilang setengah bagian menghantam kepala pemuda itu.

Tapak Tangan Hantu Jilid 26

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 26
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
SIN GAK memandang penuh selidik. Untuk kesekian kalinya lagi ia melihat kesungguhan pada sikap dan kata-kata tosu ini. Dan karena ia mulai menaruh kepercayaan akhirnya ia berkata, “Baiklah, agaknya untuk kedua kalinya aku harus berhutang budi. Mari sekarang berangkat, totiang, aku percaya padamu.”

Bukan main girangnya tosu ini. Kali ini ia dapat bersama-sama anak muda yang lihai ini, anak muda yang mengagumkan hatinya. Maka ketika ia bergerak dan menyambar lengan pemuda itu segera diajaknya pemuda itu ke selatan. “Bagus, pinto mendapat kehormatan. Tapi ini jangan dianggap hutang kebaikan, Sin-hiante. Pinto dan Kun-lun cukup berhutang budi kepada ayahmu dan Hek-yan-pang. Mari kita ke sana dan lupakan segala hutang-pihutang itu!”

Sin Gak mengikuti. Mereka bergerak meninggalkan hutan di luar Hek-yan-pang itu tanpa banyak cakap lagi. Tosu ini tampak berseri-seri. Dan ketika sekejap mereka sudah mengerahkan ilmu lari cepat namun Sin Gak tiba-tiba melamunkan Bi Hong maka tak terasa pemuda itu membiarkan saja dirinya dibawa si tosu.

* * * * * * * *

Kiranya Ke Ke Cinjin menuju propinsi Shan-tung, di perbatasan Ho-nan. Di sini, berhenti di tepi sungai Huang-ho yang membelah dua propinsi itu tosu ini menarik napas panjang. Saat itu sungai sedang meluap dan banjir, airnya yang gelap kecoklatan bergemuruh, bergolak dan menuju utara untuk akhirnya tumpah di laut Po-hai. Sungai Kuning atau Huang-ho ini sedang menunjukkan kedahsyatannya, semalam terjadi hujan lebat di daerah Ho-nan dan kini melewati wilayah Shan-tung air sungai tampak bergemuruh.

Suaranya memekakkan telinga dan tosu ini ragu, ada bayangan gentar di wajahnya. Dan ketika Sin Gak juga berhenti dan memandang air sungai itu, mereka berada di atas tebing hingga leluasa memandang ke bawah maka aliran sungai yang panjang dan berkelak-kelok tampak bagai tubuh seekor naga atau ular besar yang sedang menggeliat-geliat.

“Naga Kuning sedang murka, pinto tak menyangka ini. Agaknya kita harus berhenti dulu di sini dua tiga hari, Sin-hiante, tunggu sampai air tenang atau setidak-tidaknya tak bergemuruh begini.”

“Totiang mau menyeberang?”

“Ya, dan kau lihat tak ada sebuahpun perahu di sini. Sial, musim hujan sudah tiba!”

“Hm, totiang sebenarnya hendak menuju ke mana. Apakah perjalanan masih jauh dari sini.”

“Tidak jauh lagi, Sin-hiante, tapi kalau kita tak dapat menyeberang ya lama juga. Terlalu berbahaya menentang arus seperti ini!”

Sin Gak mengangguk. Dia sendiri yang baru kali ini melihat amukan Huang-ho harus mengakui bahwa sungai terpanjang dan terkenal ini menyeramkan sekali. Gemuruh suaranya bagai pekikan seorang raksasa. Tebing di bawah mereka berdentang-dentang dipukul lidah air yang dahsyat, percikannya mencapai ketinggian lima sampai tujuh meter. Dan ketika percikan itu kebetulan mengenai wajah mereka, panas bagai dilecut maka Sin Gak kagum dan terkejut juga.

“Benar, tak ada sebuah perahupun di sini. Tapi kalau menunggu dua tiga hari rasanya juga terlalu lama, totiang. Bagaimana kalau kita ke tempat lebih rendah itu dan menyeberang berdua. Aku dapat menahan arus di bawah itu dan kita cari perahu yang kuat.”

“Kau gila? Huang-ho dalam keadaan seperti ini arusnya dapat merobohkan gunung, hiante. Biarpun tempat itu lebih datar namun gejolak airnya tetap dahsyat. Pinto tak berani, terlalu beresiko!”

“Kalau begitu bagaimana jika kutunjukkan kemampuanku dulu, nanti totiang percaya.”

“Maksudmu?”

“Aku menyeberang sendiri, totiang, lalu kembali. Kalau kau sudah melihatnya tentu kau tak perlu takut lagi. Aku hanya butuh perahu, yang kuat.”

Tosu ini tertegun. Di bawah sana, di tempat yang ditunjukkan Sin Gak adalah sebuah daerah yang airnya memang tidak seganas di sini. Dari sini air di sana kelihatan lebih tenang, permukaannya tidak menggempur-gempur seperti air di bawah mereka itu. Tapi karena sungai sedang bergolak dan Huang-ho adalah sungai ganas yang amat mengerikan di saat seperti itu, maka tosu inipun ragu dan menggeleng.

“Tetap berbahaya, arus di bawah permukaan biasanya lebih dahsyat daripada yang di atas. Idemu bagus tapi mengundang maut, hiante, pinto tak setuju dan jalan aman satu-satunya ya harus menunggu. Tidak, pinto juga tak mau mengorbankan dirimu. Apa gunanya melanjutkan perjalanan kalau kau terjatuh dan hanyut, tenggelam!”

“Aku dapat menjaga diriku, tak perlu khawatir. Asal kau sudah melihat aku menyeberang tentu kau percaya, totiang, marilah cari perahu dan buktikan dulu.”

“Tidak, tidak itu terlalu berbahaya. Betapapun pinto tak mau menyeberang, hiante. Bersabarlah dan apa boleh buat menunggu dulu, di sini!”

Sin Gak menarik napas dalam. Sebenarnya, kalau ia mau bersombong maka gejolak air yang seperti itu bukan apa-apa baginya. Ia memiliki Bu-bian-kang, ilmu Tanpa Bobot. Dengan ilmu itu ia dapat berjalan-jalan di air bagai kecapung beterbangan atau melayang-layang saja. Bu-bian-kang adalah ilmu amat tinggi yung pernah diajarkan gurunya kepadanya, di samping Sian-eng-sut (Ilmu Bayangan Dewa). Maka melihat tosu itu jerih dan rupanya ia harus unjuk gigi, tawarannya mencari perahu ditolak tiba-tiba pemuda ini berkelebat dan meluncur ke bawah mengejutkan temannya.

“Baiklah, kalau begitu dengan sebatang pohon di sana akan kubuktikan kepadamu, totiang, aku tak mau menunggu terlalu lama dan maaf!”

Tosu itu terkejut. Ia berteriak melihat temannya meluncur ke bawah dan tahu-tahu berjungkir balik menuju sungai. Pemuda itu seakan hendak bunuh diri dan mencebur! Ke Ke Cinjin terpekik. Tapi ketika sejenak Sin Gak berdiri diatas sebatang pohon hanyut, baru sekarang tosu ini melihat maka Sin Gak berseru menembus gemuruh suara sungai,

“Totiang, lihatlah. Dengan ini saja aku dapat menyeberang!”

Benar saja, Sin Gak menggerakkan kaki memutar dahan pohon besar itu. Kalau tidak memiliki kekuatan dan kepandaian khusus adalah tak mungkin memutar sebatang pohon di tengah-tengah sungai yang begitu deras arusnya. Melawan gerakan arus itu saja sudah merupakan hal yang sulit, salah-salah terbalik dan tenggelam. Tapi ketika dengan mudah Sin Gak memutar batang pohon, kakinya bagai berkuku menancap kuat, maka tampaklah pemandangan yang membuat tosu itu melongo, betapa Sin Gak melintangkan pohon di tengah gejolak sungai yang kuat, melawan arus dan akhirnya bergerak menyeberang!

Bagai mimpi atau melihat pertunjukan sihir Ke Ke Cinjin menyaksikan betapa batang pohon itu meluncur ke tepian sebelah sana, membelah arus sungai yang dahsyat dan tujuh delapan kali sapuan ombak memuncrat besar, dua kali tubuh Sin Gak hilang sekejap, tertutup oleh tingginya ombak memuncrat itu. Namun ketika pemuda itu tampak di seberang dan meloncat dengan kedua kaki berbareng, pohon itu terbawa dan menempel, di kakinya maka pemuda dan batang pohon ini selamat di sana, turun dengan lembut!

“Astaga, luar biasa sekali. Ah, kau hebat, Sin-hiante, pinto lupa bahwa kau memiliki kesaktian. Ha-ha, pinto takjub!” tosu ini bergerak dan tiba-tiba menghambur. Apa yang dilihat dari atas benar-benar membuatnya kagum bukan main, ia takjub dan berseru gembira. Tapi ketika saking tergesanya ia berlari di jalanan licin, terpeleset dan jatuh tiba-tiba tosu itu menjerit terjatuh ke tengah arus sungai yang deras, dari atas tebing.

“Sin-hiante.”

Sin Gak terkejut. Waktu itu ia sudah jauh di bawah dan tak mungkin menolong tosu ini, apalagi iapun sudah diseberang. Maka ketika tosu itu terbanting dan lenyap, tercebur di tengah gemuruh ombak maka iapun tertegun dan pucat, wajahnya pias. Akan tetapi Sin Gak berkelebat bagai siluman. Batang pohon yang tadi dibawanya ditendang ke tengah sungai, diikuti tubuhnya yang melayang dan hinggap di situ. Lalu ketika ia memutar batang pohon ini ke arah hulu, menentang arus sungai maka pekerjaan yang lebih berbahaya dilakukan pemuda ini.

Orang akan menjerit melihat perbuatan pemuda itu. Betapa tidak, untuk melawan arus dan menyelamatkan diri berkali-kali pemuda ini hilang timbul di tengah gejolak sungai yang dahsyat. Huang-ho sedang mengamuk dan siapapun tak mampu melawannya. Jangankan melakukan seperti pemuda ini, menyeberang dengan caranya seperti tadi saja sudah termasuk kejadian sulit dan sukar dibayangkan, apalagi sekarang, menuju arah hulu dan menentang arus deras bak seekor burung menyerbu gelombang awan hitam.

Kalau bukan Sin Gak yang memiliki Bu-bian-kang dan kesaktian warisan gurunya tak mungkin pemuda ini mampu melakukan itu. Apa yang dilakukan sungguh berbahaya sekali, pertarungan maut. Dan karena ombak atau gulungan sungai menghantamnya dari depan, muncrat dan mengaburkan pandangan maka sulit bagi manusia biasa untuk melihat ke depan.

Akan tetapi Sin Gak benar-benar anak muda luar biasa. Di Sin-thian-san, puncak gunung yang selalu tertutup kabut ia sudah terbiasa memandang ke depan. Matanya mampu menembus benda-benda kecil di antara awan-awan dingin, awan yang menyusup dan bahkan membuat mata pedih, sakit dan dingin oleh benda beruap ini. Maka ketika sebuah lengan mencuat di permukaan sungai, itulah lengan Ke Ke Cinjin yang sedang berjuang melawan maut, maka Sin Gak pun tak menunggu waktu lagi dan disambarnya lengan yang tampak sekilas itu.

“Brett!”

Lengan baju tertangkap lebih dulu. Sin Gak menarik dan menyendal tubuh ini dari dalam air, benar saja Ke Ke Cinjin tampak kehabisan napas. Lalu menyadari daerah itu amatlah berbahaya tiba-tiba pemuda ini berseru keras melempar tubuh itu ke seberang, kuat sekali.

"Totiang, sadarlah dan gunakan kakimu untuk berjungkir balik disana. Awas !”

Ke Ke Cinjin hampir hilang kesadaran. Waktu itu tosu ini sebisa-bisanya berenang cakar ayam, ia bergulat di antara gemuruh air dengan wajah pucat, hilang timbul berkali-kali dan habislah harapannya untuk hidup. Memang siapapun tak bakal menyangka tosu ini selamat. Kalaupun ia lolos di daerah itu maka di bawah, di tempat lain siap menunggu batu-batu hitam menerima tubuhnya. Sekali ia terlempar dan dihempas ke situ remuklah tubuhnya.

Maka ketika tiba-tiba ia merasa ditarik dan suara Sin Gak begitu dekat telinganya mendadak tosu ini seakan dibangkitkan tenaganya dan membuka, mata lebar-lebar. Ia begitu gembira dan merasa tubuh dilempar kuat. Ia tak tahu bagaimana Sin Gak tahu-tahu ada di situ, juga bagaimana pemuda itu dapat melihatnya padahal gejolak dan buih ombak menutupi mata. Maka ketika tubuhnya terlempar dan ia diayun begitu tinggi, melayang dan melewati lebar sungai, maka tosu inipun mengerahkan tenaganya dan berjungkir balik seperti yang diserukan pemuda itu.

“Bluk!”

Ke Ke Cinjin masih jatuh juga. Ia baru saja selamat dari bahaya maut dan tenaga baru saja didapat. Berjungkir balik dengan tubuh basah kuyup membuat kaki terasa berat juga, ia roboh dan terguling di situ. Namun ketika tosu ini mengeluh dan sadar, bangkit dan terhuyung mencari Sin Gak maka ia terkejut tak melihat pemuda itu di situ. Huang-ho masih bergolak dan membuih.

“Sin-hiante !”

Terdengar jawaban seratus meter di situ. Sin Gak, yang rupanya terseret dan hanyut setelah menolong Ke Ke Cinjin ternyata menemui kesulitan sendiri. Membagi perhatian dan tenaganya kepada tosu itu membuat batang pohon di bawah kakinya terlepas sejenak. Waktu itu cukup sedetik namun ia terdorong. Setelah ia melempar Ke Ke Cinjin maka kekuatan di kakinya lenyap, artinya ia tak mampu mengendalikan pohon itu lagi yang berputar arah, meluncur dan dahsyat terpukul ke arah hilir. Sedetik saja ia sudah terdorong seratus meter, begitu dahsyatnya kekuatan air setelah tak dilawan.

Tapi karena Ke Ke Cinjin sudah di lempar selamat dan kini ia harus memperhatikan diri sendiri maka Sin Gak menjejakkan kaki kuat-kuat dan ditinggalkannya batang pohon yang terus meluncur dan akhirnya pecah menabrak batu hitam, turun dan basah kuyup di tempat lain dan saat itulah sang tosu berdiri dan mencari-carinya. Ke Ke Cinjin tak melihat pemuda ini karena dengan amat cepatnya Sin Gak sudah bergeser seratus meter, ia terdorong oleh arus air tadi. Dan ketika Sin Gak menjawab dan suaranya membuat tosu ini menoleh, girang bukan main maka Ke Ke Cinjin meloncat dan menubruk pemuda itu.

“Ah, Sin-hiante!”

Sin Gak tersenyum. Ke Ke Cinjin memeluknya kuat-kuat dan keharuan serta kegembiraan tosu itu tak dapat disembunyikan lagi. Sin Gak tertegun ketika dua titik air mata meloncat dari pipi tosu ini. Tapi ketika Ke Ke Cinjin tiba-tiba melepaskan dirinya menjatuhkan diri berlutut, tersedak dan mengucapkan terima kasihnya dengan suara gemetar maka Sin Gak menarik bangun tosu itu yang masih belum dapat melepaskan keharuannya.

“Pinto berterima kasih, pinto bersyukur. Ah, tanpa kau disini tak mungkin nyawa pinto selamat, Sin- hiante. Sungguh besar budimu dan berat rasanya kebaikan ini kubalas. Pinto seakan hidup kedua kalinya dengan bantuanmu tadi. Kau membahayakan dirimu sendiri!”

“Bangunlah, tak perlu diingat semua budi dan pertolongan ini. Kau sendiri bilang di antara kita tak ada hutang-pihutang budi, totiang. Apa yang kulakukan adalah wajar saja. Bangun dan jangan buat aku sungkan dengan sikapmu ini.”

Ke Ke Cinjin bangun, bersinar-sinar. Ia semakin kagum oleh sikap dan kesederhanaan pemuda ini. Betapa bersahajanya pemuda itu. Namun karena ia telah lolos dari kematian dan betapapun pertolongan tadi tak akan dilupakannya seumur hidup, ia benar-benar lepas dari lubang jarum maka ia gemetar memegang lengan pemuda itu, menggeleng.

“Tidak, betapapun yang ini lain, hiante. Kau telah menyelamatkan nyawaku. Pinto tak akan melupakannya seumur hidup. Biarlah pinto akan membalasnya dengan mempertemukan kalian ayah dan anak dan mudah-mudahan ayahmu masih di Guha Hitam!”

“Hm, ayah berada di Guha Hitam? Di mana tempat ini?” Sin Gak baru mendengar itu.

“Agaknya tak perlu lagi pinto berahasia, Sin-hiante, tempat itu juga sudah dekat. Guha Hitam berada di balik gunung Cing-tao-san tapi belum ada orang datang ke sana. Tempat itu angker. Pinto sendiri mendengarnya dari ketua pinto Keng Hwat Taisu dan pernah ke sana sekali saja, mengunjungi ayahmu.”

“Ada urusan apa?”

“Membujuk ayahmu agar tidak bertapa, gagal.”

Sin Gak menarik napas dalam. Setelah ia menyelamatkan tosu ini dan mendengar tentang ayahnya tak pelak lagi ia berdebar-debar. Seperti apakah ayahnya itu? Dan kenapa bertapa? Dan tiba-tiba ia menanyakan hal ini kepada tosu itu. “Maaf, tahukah totiang untuk apa ayahku bertapa.”

“Tidak, hal itu dirahasiakan. Ketua pinto juga tak tahu, hiante, namun melihat seriusnya ayahmu tentu ada sesuatu yang penting, amat penting!”

“Baiklah, sekarang di mana Guha Hitam itu dan apakah totiang tidak berganti baju dulu.”

Ke Ke Cinjin tersipu. Pakaiannya basah kuyup namun ia menggeleng, sambil tersenyum iapun menunjuk pemuda itu bahwa Sin Gak pun perlu ganti baju. Dan ketika pemuda itu tersenyum menggeleng pula maka tosu ini tertawa berkata,

“Ini urusan kecil. Dengan berlari cepat kita dapat mengeringkan pakaian sendiri, hiante, menghangatkan baju yang dingin. Kalau kau juga tak melepas bajumu buat apa pinto ganti. Marilah, kita lanjutkan perjalanan!”

Tosu itu bergerak. Sekarang mereka sudah menyeberangi sungai dan cara penyeberangan ini benar-benar luar biasa. Kalau bukan Sin Gak tak mungkin mereka melakukan itu. Dan ketika pemuda itu juga bergerak dan mengikuti tosu ini maka perjalanan dilanjutkan dan kini mereka memasuki sebuah hutan. Gemuruh atau suara dahsyat dari air Huang-ho masih terdengar di situ.

“Bukan main, hebat sekali. Baru, kali ini aku melihat sebuah sungai mengamuk, totiang. Beginilah agaknya hingga sungai itu ditakuti. Tak heran kalau tak ada seorangpun di dekatnya.”

“Wah, mana berani. Kalau pinto tak memiliki perjalanan penting juga tak mungkin mendekat, Sin-hiante. Terlalu berbahaya dan lihat kejadian tadi. Hanya karena terpeleset pinto nyaris tewas!”

“Sudahlah itu tak perlu kau kenang lagi. Sekarang kita sama-sama selamat, aku mengagumi sungai itu.”

“Ya, sungai yang hebat. Tapi setelah ini ia justeru membuat rakyat sejahtera!”

“Bagaimana begitu?”

“Eh, bagaimana tidak, hiante. Setelah banjir usai maka Huang-ho melemparkan humus tanahnya dikedua tepian. Endapan lumpur dan semua rabuk disebar merata. Tanah di sepanjang sungai ini menjadi gembur dan amat subur. Petani mendapat rejeki!”

“Hm, begitu kiranya,” Sin Gak mengangguk-angguk. “Kalau begitu alam benar-benar adil. Di samping merusak iapun memberi.”

Ke Ke Cinjin mengangguk. Kini mereka sudah jauh meninggalkan sungai itu dan keluar hutan. Di sini tiba-tiba mereka dihadang sebuah gunung, tidak begitu tinggi namun berwajah garang. Pohon-pohonnya tampak lebat sementara garis-garis hitam melintang di mana-mana. Itulah jurang yang banyak terdapat dan Sin Gak yang lama berada di Sin-thian-san (Gunung Para Dewa) tentu saja tertegun. Ia heran oleh begitu banyaknya jurang, tak kurang seratus jumlahnya. Hanya untuk, sebuah gunung kecil! Dan ketika ia berhenti melihat Ke Ke Cinjin juga berhenti, mengusap keringat maka tosu itu menunjuk dengan tangan kirinya.

“Itulah Cing-tao-san. Dibanding Kun-lun gunung ini bukan apa-apa, hiante, tapi jurangnya minta ampun. Pinto menghitung ada seratus tiga belas jurang di situ, dalam dan semuanya berbahaya. Dan mendaki gunung itu sama dengan mendaki seekor belut raksasa!”

“Maksud totiang?”

“Licin karena selalu basah. Pinto sendiri harus dibantu ini untuk ke sana!”

Sin Gak mengerutkan kening. Ke Ke Cinjin mencabut sepatu bergigi dari balik punggungnya. Ia memperlihatkan sepatu itu kepada Sin Gak. Lalu ketika Sin Gak mengangguk-angguk dan maklum kegunaannya maka tosu itu meneruskan bahwa ketuanya juga mempergunakan sepatu bergigi itu.

“Keng Hwat Taisu yang merupakan suheng pinto mempergunakan ini pula. Pinto hanya mempunyai sepasang. Agaknya kita nanti bergantian saja setelah pinto mendaki lebih dulu.”

“Totiang hendak mempergunakan itu?”

“Ya, tentu saja, Sin-hiante, dan maaf bahwa sepatu ini hanya sepasang!”

“Tak apa. Marilah ke sana dan tentunya Guha Hitam berada di balik gunung itu.”

”Ya, di balik punggung gunung. Dan hati-hati terhadap penghuninya yang tidak ramah karena di sana terdapat ular-ular berbisa!”

“Terima kasih. Kau sudah menuntun sampai ke sini, totiang, sekarang marilah pergi dan lanjutkan perjalanan kita. Agaknya dua jam saja kita sampai.”

“Benar, mari kesana.” dan si tosu menyimpan kembali sepatunya lalu bergerak dan mengajak temannya pergi.

Mereka masih sepeminuman teh untuk sampai di kaki gunung. Diam-diam Sin Gak semakin berdebar dan tegang. Di situlah dia akan bertemu ayah kandungnya! Dan ketika mereka bergerak dan semakin dekat maka tahulah pemuda ini bahwa, Cing-tao-san memang bukan gunung sembarangan yang mudah didaki. Gunung ini setinggi tiga ribu kaki akan tetapi menginjak wilayahnya orangpun akan merasa meremang.

Dari balik jurang-jurang dalam itu mengebul tipis-tipis asap belerang. Dari kejauhan tidak tampak tapi setelah dekat tercium baunya, keras dan menyengat. Dan ketika di kaki gunung ada tiga bangkai kerbau hutan yang tinggal tanduknya, menggeletak tinggal tulang-belulangnya maka Ke Ke Cinjin berhenti dan kali ini memasang sepatu bergiginya itu.

“Lihat, wilayah ini benar-benar berbahaya. Kematian kerbau-kerbau hutan ini, akibat perkelahian mereka dengan ular-ular besar, Sin-hiante, juga harimau-harimau loreng yang buas dan mencari mangsa. Pinto pernah melihat seekor di antara mereka dililit ular besar, menguak dan tercekik sampai akhirnya mati!”

“Hm, hawanya pun menyeramkan. Tempat ini mulai dingin, totiang, dan aneh bahwa semua tanahnya basah.”

“Itulah! Itu yang menyebabkan Cing-tao-san licin, hiante, dan betapa berbahayanya mendaki gunung ini. Sekarang kita sudah di sini, marilah mulai bekerja dan pinto mempergunakan sepatu bergigi ini!”

Sin Gak mengangguk. Setelah tiba di situ maka keadaanpun semakin jelas. Gunung ini memang benar-benar berbahaya dan menyeramkan. Pohon-pohonnya hijau subur namun di balik itu tersembunyi binatang-binatang berbahaya. Secara kebetulan pandang matanya bertemu dengan sepasang mata berkilat bundar kecil, di balik sebatang pohon tak jauh dari Ke Ke Cinjin. Maka ketika tosu itu meloncat kecil ke dekat sebuah batu hitam, dari sini hendak mendaki dan menancapkan sepatu bergiginya maka tosu itu tak tahu bahwa di balik pinggangnya ular itu menjulur dan secepat kilat menggigit tengkuk tosu itu dari belakang.

“Tak!”

Ke Ke Cinjin terkejut. Sin Gak bergerak lebih cepat dengan menendang sebutir batu hitam, tepat mengenai kepala dan robohlah binatang itu mengejutkan Ke Ke Cinjin. Barulah tosu ini tahu serangan di belakangnya, terbelalak namun Sin Gak tersenyum memberikan tanda agar dia melanjutkan pendakiannya. Dan ketika tosu itu sadar namun tertawa, kecut maka Ke Ke Cinjin berseru menggerakkan tubuh mulai pendakiannya.

“Sin-hiante, terima kasih. Lagi-lagi kau menyelamatkan aku!”

“Sudahlah, totiang cepat saja mendaki. Justeru di bawah sini aku dapat berjaga-jaga, totiang, melindungimu. Hati-hati di atas kepalamu kalau ada bahaya lain!”

Tosu itu mengangguk. Setelah Sin Gak membunuh ular itu dan perasaannya kian tenang, kepercayaannya menjadi besar maka mulailah tosu ini bergerak mendaki Cing-tao-san. Tak ada jalanan setapak dan semua harus dicari. Tebing atau tanah-tanah terjal diloncati, yang terlalu berbahaya malah dirayapi, maklum, semua daerah basah dan licin. Dan ketika tosu ini terus bergerak dan naik ke atas, ada sepuluh tombak maka ia berhenti sesuai rencana.

“Stop, sekarang giliranmu. Naiklah dan pakai sepatu pinto, hiante. Aku menunggumu di sini!”

Akan tetapi betapa tercengangnya tosu itu. Baru saja ia duduk dan melepas sepatunya maka Sin Gak berada di sebelahnya. Pemuda itu tersenyum menolak pemberiannya dan berkata biarlah perjalanan diteruskan. Ke Ke Cinjin tak tahu bagaimana pemuda itu naik. Tahu-tahu Sin Gak sudah di situ seperti iblis. Dan ketika tosu ini terkejut dan heran serta kaget, sungguh ia tak tahu bagaimana pemuda itu menyusulnya maka Sin Gak berkata lagi, tertawa,

“Jalan terus, jangan tunggu aku. Naik dan pakai saja sepatumu, totiang, aku dapat menyusulmu begitu kau tiba di atas. Ayolah, jangan mendelong.”

Merahlah wajah tosu ini. Akhirnya Ke Ke Cinjin tertawa bergelak dan sadar bahwa sikapnya terlalu memandang rendah. Pemuda di sebelahnya ini masih jauh lebih tinggi dibanding ketua Kun-lun sendiri. Maka ketika ia terkejut dan menjadi malu, mengikat sepatunya dan mendaki lagi maka tosu ini berseru bahwa menyamakan pemuda itu seperti dirinya sendiri.

“Ha-ha, tolol, pinto sungguh goblok. Eh, maafkan kalau pinto mengkhawatirkanmu, Sin-hiante. Pinto sama sekali bukan bermaksud memandang rendah. Pinto hanya takut perjalanan ini membahayakanmu!”

“Totiang tak perlu khawatir. Jaga dan hati-hati setiap pendakian, totiang, semakin ke atas kulihat semakin terjal. Awas jurang!”

“Ya, pinto tak perlu memperhatikanmu, malah sebaliknya kaulah yang bakal melindungi pinto. Baik, pendakian semakin terjal, Sin-hiante, dan semak di kiri kanan juga semakin lebat... augh!” tosu, ini menjerit, tepat merangkul sebuah batu runcing tapi saat itulah seekor ular mematuk jarinya. Ia terpelanting dan jatuh ke bawah, Sin Gak tak melihat ular itu. Tapi ketika pemuda ini menggerakkan tangannya dan menyambar tosu itu, tepat menangkap ikat pinggang maka Ke Ke Cinjin sudah kebiruan lengannya dan kaku menggigil.

“Pinto tergigit ular kepala merah. Aduh, dingin sekali!”

Sin Gak terkejut. Sekejap saja lengan si tosu sudah membiru dan hitam gelap, wajahnya pucat dan lengan itu tak dapat digerakkan lagi. Namun ketika ia menggerakkan jari menotok dan menghentikan racun di pergelangan lengan, cepat mengerahkan dan menyedot luka itu maka segumpal darah hitam dimuntahkan dan Sin Gak berseru agar tosu itu tenang.

“Jangan panik, aku membawa obat penawar. Bebat dan minum pil ini, totiang, lalu tarik napas dalam-dalam.”

Ke Ke Cinjin menggeliat. Setelah Sin Gak menotok dan menyedot luka itu maka jaripun dapat digerakkan kembali. Tadi sedetik saja rasa kaku sudah di siku, sakit dan panas namun bagian yang tergigit terasa dingin, beku. Maka ketika ia dapat menggerakkan lengannya kembali dan obat itu cepat diminum, tosu ini menarik napas dalam-dalam akhirnya sakit di bekas gigitan itu lenyap terganti hawa hangat ketika pemuda itu mengerahkan sinkang ke pundaknya. Begitu ampuhnya pertolongan pemuda ini!

“Sin-hiante, pinto tiga kali berhutan budi.Pinto...“

“Tak usah bicara itu. Sekali lagi kau, bicara tentang ini maka aku tak senang mendengarnya, totiang. Mungkin aku akan mencari sendiri dan kita tak usah bersama-sama saja!”

“Ah, maaf,” tosu itu semburat. ''Pinto hanya hendak menyampaikan terima kasih, hiante, kau telah menyelamatkan lagi!”

“Aku tak ingin bicara tentang ini, agaknya kau sekarang di bawah dan aku di atas!” Sin Gak memotong, berbahaya membiarkan tosu itu di depan karena kenyataannya sudah terluka. Ia tak menyangka demikian banyaknya ular bersembunyi di situ, untuk ini Sin-thian-san kalah! Namun karena ia berasal dari gunung yang jauh lebih sulit didaki lagi, tebing dan jurang-jurang dalam bukanlah apa-apa baginya maka Sin Gak mengambil keputusan bahwa ia harus di depan, tosu ini mengikutinya.

“Katakan kepadaku daerah mana yang ingin kau tuju. Aku di atas dan totiang mengikutiku.”

“Itu, puncak sebelah kiri, tiga pohon raksasa yang berdiri di atas sendiri. Di situ kita turun di seberang gunung, hiante, belok ke kanan dan mencari gerumbul alang hitam!”

“Hm, di atas itu? Baik, tunggu sebentar di sini, totiang, kucarikan tali perambat untukmu. Jaga dan hati-hati dulu!”

Sin Gak berkelebat dan berjungkir balik ke atas. Barulah tosu ini tahu cara pemuda itu naik, yakni dengan melempar tubuh ke atas dan membuang diri dengan enjotan kuat. Begitu kuatnya gerakan kaki pemuda itu hingga sekall enjot sepuluh tombak. Pantas ia tersusul begitu cepatnya. Tapi ketika Sin Gak lenyap di atas sana, melewati batu yang ada ularnya maka tosu ini khawatir berteriak nyaring.

“Sin-hiante, ke mana kau. Jangan terlampau jauh!”

“Aku di sini,” pemuda itu muncul, begitu tiba-tiba. “Ternyata ada banyak ular di sini, totiang. Tunggulah sebentar dan untung aku datang!”

Suara ini disusul oleh “wat-wut” lemparan panjang. Ular besar kecil, merah, hitam dan bermacam warna tahu-tahu di lempar Sin Gak ke bawah gunung. Sang tosu berteriak kaget karena ular-ular itu melewati kepalanya. Dia ngeri bagaimana kalau sampai terbelit. Bagaimana kalau satu di antara ular-ular itu jatuh diatas kepalanya! Tapi ketika belasan bahkan puluhan ular disapu bersih, benda-benda panjang mengerikan itu habis maka berhentilah Sin Gak di atas batu runcing itu.

“Selesai,” pemuda itu tersenyum. “Pantas kalau kau tergigit, totiang, dari bawah tak akan terlihat mereka itu. Naiklah ke atas dan sudah kutemukan seutas tali panjang!”

Kali ini Ke Ke Cinjin berteriak. Sin Gak melempar benda panjang seperti ular, membelit dan langsung mengenai pinggang tosu itu membuat Ke Ke Cinjin terkesisp. Ia terangkat dan disendal naik, terkejut. Tapi ketika ia tahu bahwa itu adalah akar pohon besar, melayang dan jatuh di dekat pemuda ini maka tosu itu mengusap keringat dingin.

“Celaka, kukira ular. Ah, kau mengejutkan pinto, Sin-hiante. Hampir saja putus semangat ini!”

“Tak usah cemas,” Sin Gak tersenyum “Sekarang tempat ini sudah bersih, totiang, mari lanjutkan perjalanan dan berpeganglah pada akar itu. Aku akan menarikmu ke atas.”

Sang tosu berseri gembira. Kalau Sin Gak berada didepannya tentu saja ia tak akan takut. Berkali-kali ia membuktikan kelihaian pemuda ini. Maka ketika ia mengangguk dan memegangi ujung akar itu, ujung yang lain di tangan Sin Gak maka bergeraklah pemuda itu mendaki Cing-tao-san. Apa yang dilakukan Sin Gak tentu saja jauh dengan apa yang dilakukan tosu Kun-lun ini.

Tanah-tanah licin didaki begitu enak seolah telapak pemuda itu bergetah karet. Setiap menginjak tentu lekat bak sembrani dengan logam, kagumlah tosu ini. Lalu ketika Sin Gak mendaki cepat meloncati jurang-jurang dalam, melempar atau menarik tosu itu melampaui semua bahaya akhirnya mereka berada di leher gunung di mana tiga pohon raksasa itu berdiri di atas mereka. Sekarang berhadapan dengan sebuah tebing tinggi yang tegak lurus.

“Cukup, nanti dulu. Bagaimana pinto melewati ini!”

Sin Gak tarsenyum. Ia melihat tosu itu mengeluarkan keringat dingin memandang ke atas. Dulu dengan ketuanya ia mempergunakan pedang, masing-masing membawa sepasang dan menancap-nancapkan itu untuk tempat pijakan. Kini mereka tak membawa apa-apa dan Sin Gak pun bersikap biasa. Heran tosu ini, juga kecut. Tapi ketika Sin Gak menyuruh ia melepaskan akar tali itu dan menunjuk punggungnya maka dengan tenang pemuda ini berkata agar si tosu naik di situ, digendong.

“Kalau aku sendlri tentu tidak repot. Tapi tak mungkin pula melemparmu setinggi itu, totiang, bagaimana kalau ada bahaya di sana. Sebaiknya kau naik di punggungku dan kita merayap.”

“Merayap? Maksudmu kau akan berjalan seperti cecak dengan pinto di punggung?”

“Ya, naiklah, totiang, tak apa-apa. Mari dan melompatlah.”

Tosu ini ngeri, memandang ke atas. “Tapi tempat ini setinggi pohon kelapa, bagaimana kalau jatuh!”

“Aku melihat lubang-lubang di dinding itu, mudah sekali. Asal kau berpegangan erat-erat tak mungkin jatuh.”

“Itu lubang bekas tusukan pedang. Dulu suheng Keng Hwat Taisu naik mempergunakan senjata!”

“Nah, aku tahu. Marilah totiang naik dan kita ke atas, tak ada jalan lain.”

Ke Ke Cinjin masih ragu. Ia mecari berputar-putar namun tak ada senjata tajam di situ. Baginya lebih baik naik sendiri daripada digendong. Malu dia. Namun karena tak ada apa-apa dan ia juga menyesal tak membawa senjata, buntalanya hanyut di sungai Huong-ho akhirnya tosu ini malu-malu melompat di punggung Sin Gak, seperti anak kecil!

“Heh-heh, pinto jadi malu. Baiklah, Sin-hiante, jangan diolok-olok!”

Sang tosu sudah melekat dan menempel di punggung pemuda ini. Ke Ke Cinjin memegang pundak namun Sin Gak berseru agar memeluk lehernya, cara itu kurang tepat. Dan ketika dengan muka merah tosu ini memeluk leher Sin Gak, kencang maka... tap, Sin Gak melompat dan tahu-tahu sudah menempel dinding.

“Hati-hati,” pemuda itu bergerak dan mulai merayap. “Pegang erat-erat leherku, totiang, jangan sampai lepas!”

Ke Ke Cinjin kagum. Kalau ia tidak membuktikan kelihaian dan kehebatan pemuda ini tentu sukar baginya untuk percaya bahwa temannya ini sudah bergerak dan merayap seperti cecak. Dari telapak pemuda itu keluar hawa menyedot yang membuat tangannya melekat. Bukan hanya tangan, kakipun juga melekat seperti kaki cecak. Lalu ketika dengan cepat namun ringan pemuda ini naik ke atas maka tebing tegak lurus di puncak Cing-tao san itu didaki begitu mudah!

Tak sampai semenit pemuda ini tiba di atas. Lalu ketika ia berseru menyentak bagian belakang punggungnya, membalik dan berjungkir balik maka Ke Ke Cinjin meramkan mata ketika pemuda itu melewati bibir tebing dan melayang ke atas. Bagaimana kalau misalnya kaki pemuda itu tak sampai di sana!

“Aman!” seruan ini membuat tosu itu membuka mata. “Lepaskan pelukanmu, totiang. Kita sudah sampai di puncak!”

Wajah tosu ini kemerah-merahan. Seumur hidup baru kali itulah dia digendong dan dibawa naik. Ada rasa nikmat dan kagum yang besar. Maka ketika ia bersinar-sinar memandang pemuda itu dan mendecak tak habis takjub, Ke Ke Cinjin benar-benar kagum maka ia berkata bahwa apa yang dilakukan pemuda itu tak sembarang orang dapat melakukannya.

“Ketua Kun-lun sendiri agaknya tak berani melakukan ini, tapi kau dapat dan melakukannya begitu mudah. Pinto mendengar adanya semacam ilmu yang disebut Pek-houw-yu-ebong (Ilmu Cecak), Sin-hiante, agaknya kau telah menguasai ini. Hebat!”

“Tak perlu memuji lagi. Kita sudah di sini, totiang, di mana ayahku itu.”

“Di balik pohon besar itu, di bawah. Kita harus menuruni jalanan tikus yang amat sempit. Marilah!”

“Nanti dulu!” Sin Gak mencegah dan menarik tosu ini mundur. “Sebaiknya aku tetap di depan, totiang, kau memberi petunjuk. Tetaplah di belakang dan mari ke sana.”

Tosu ini sadar. Akhirnya ia mengangguk dan memberi petunjuk. Di bawah mereka tampak kabut tipis di kaki gunung. Mereka sudah di puncak dan memandang ke bawah amatlah mengerikan. Tebing tegak lurus itu seakan penyangga terakhir. Maka ketika tosu ini bergerak dan Sin Gak berada di depan maka menyeruak gerumbul tanaman menyeranglah tiga ekor ular belang.

“Wus-wush!”

Sin Gak melihat semburan asap hitam, Untunglah ia melihat ini dan waspada, berkelit dan menampar dan robohlah ular berbisa itu. Lalu ketika temannya meleletkan lidah akan tetapi pemuda ini sudah meloncat turun maka gerumbul demi gerumbul disingkap, menangkis atau mengelak serangan-serangan ular lainnya dan Sin Gak mengerutkan kening.

Tempat itu benar-benar berbahaya dan semakin gelap. Kalau Ke Ke Cinjin tak mengingat baik-baik tentu jalanan tikus itu tak dapat mereka temukan. Di tempat-tempat tertentu ternyata Keng Hwat Taisu memberikan tanda, yakni menggores batang-batang pohon yang menuju Guha Hitam. Lalu ketika tak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud maka di tempat amat gelap tosu ini menyuruh Sin Gak berhenti.

“Stop, cukup di sini. Di antara dua pohon itulah guha itu berada!”

Sin Gak berdebar, memandang tajam. Mereka sudah berhenti di lereng curam yang amat berbahaya. Tempat yang gelap membuat orang tak tahu dan bisa terpeleset. Sekali terguling tentu hancur diterima batu- batu di bawah. Dan karena guha yang ditunjuk berada di antara dua pohon yang cukup besar, gelap dan sekilas tak kelihatan maka setelah membiasakan diri barulah orang tahu bahwa samar-samar di tempat gelap itu ada sebuah guha.

“Hm, benar juga. Sebaiknya kau di sini aku yang masuk, totiang. Jangan menyusul kalau tidak kuperintahkan. Dan jangan berisik!”

Ke Ke Cinjin gemetar. Tosu ini tampak ngeri dan pucat. Meskipun ia pernah ke mari namun tempat itu rasanya lebih menyeramkan. Hawanya lebih dingin. Dan ketika Sin Gak mulai bergerak dan hati-hati menuju tempat itu maka Sin Gak merasa adanya sesuatu yang mendorong dari dalam guha, semacam kekuatan aneh mirip getaran maut. Berkerutlah kening pemuda ini. Apa yang dilakukan ayahnya di dalam? Kenapa di mulut guha tiba-tiba tercium bau amis seperti darah? Ada apa? Tapi ketika ia mengerahkan sinkangnya melindungi seluruh tubuh, semua syaraf bergetar dan siap bergerak maka ia tak perlu gentar menghadapi apapun.

Semua ini dilihat Ke Ke Cinjin dengan mata terbelalak. Tosu itu kebat-kebit dan menggigil mengeluarkan keringat dingin. Dulu ia memberi tahu dengan cara memanggil, setelah ada jawaban barulah masuk. Tapi karena Sin Gak tak melakukan itu dan menggeleng, berkata biarlah dia melihat diam-diam apa yang di dalam guha maka tosu ini khawatir dan cemas sekali. Demikian cemasnya tosu ini memperhatikan Sin Gak hingga tak tahu adanya sepasang harimau loreng di atas kepala.

Harimau itu mendekam dengan amat hati-hati di atas sebatang dahan, kumisnya bergerak naik turun dengan amat halus namun sepasang mata itu mencorong lapar. Air liurnya menetes! Dan karena Sin Gak sendiri terpusat kepada Guha Hitam, tegang karena pertemuan dengan ayahnya ini menimbulkan debar jantung kencang maka pemuda itu tak melihat apa yang mengancam temannya ini.

Sin Gak baru terkejut ketika tiba-tiba dari dalam guha muncul sepasang mata biru, mencorong dan bagai lampu senter dan tahu-tahu terdengar geraman dahsyat. Seekor mahluk berbulu meloncat keluar, mengayun tubuh dengan cepat namun kuat dan itulah seekor harimau benggala sebesar kerbau. Kedua kaki depannya yang mencengkeram mengeluarkan kuku-kuku tajam bagai pisau belati, aumnya menggetarkan puncak dan bagi orang biasa sudah cukup menerbangkan semangat.

Melihat harimau itu saja orang sudah akan roboh ketakutan, apalagi gerak tubuhnya yang berat namun cepat itu. Sukar bagi seseorang melepaskan diri. Tapi Sin Gak yang menyambut dan justeru menangkap dua kaki depan itu bergerak tak kalah cepat dan ketika binatang itu menerkamnya iapun sudah menggerakkan tubuh menyelinap di bawah perut binatang ini dan sambil berseru keras ia sudah meneruskan daya dorong itu melempar si raja hutan ke bawah tebing.

“Sin-hiante!”

Sin Gak terkejut. Waktu itu ia sudah memutar tubuh melempar lawannya. Harimau sebesar kerbau ini tergetar perasaannya, kaget karena kuku-kukunya yang tajam bertemu telapak pemuda itu, keras bagai lempengan besi dan gerakan Sin Gak yang melempar tubuhnya membuat binatang ini mengaum dahsyat. Ia terlempar ke bawah puncak, menuju batu-batu runcing yang bakal melumat tubuhnya. Harimau ini tak menyangka bahwa hanya segebrakan saja ia dikalahkan begitu mudah, tubuhnya meluncur dan terdengarlah suara berdebum ketika terbanting di bawah tebing, dahsyat menggetarkan puncak tak kalah dahsyat dengan aumnya tadi.

Tapi ketika Sin Gak sudah berputar posisi dan melihat keadaan Ke Ke Cinjin maka di saat itulah tosu ini berteriak karena harimau di atas tubuhnya tadi meloncat dan menerkam kepalanya! Bukan main berdetaknya jantung di dada pemuda ini. Kepala si tosu tahu-tahu masuk di mulut harimau yang lebar, sebatas dahi dan dua orang itu bergulingan. Ke Ke Cinjin menjerit karena tak menyangka sama sekali serangan tiba-tiba ini, ia kaget luar biasa. Tapi ketika ia menangkap tubuh harimau itu dan bergulingan meronta-ronta maka taring di mulut binatang itu terlanjur menancap dahinya. Tosu ini setengah pingsan!

Untunglah, Sin Gak bergerak cepat. Pemuda yang sadar dan membelalakkan matanya ini berkelebat ke depan. Ia membentak binatang itu menarik ekornya, tangan yang lain menotok samping leher dengan tusukan kuat. Jari-jari itu penuh sinkang dan batupun bakal berlubang. Maka ketika sang harimau terkejut mengaum kesakitan, kepala sang tosu dilepaskan maka Sin Gak tak membuang waktu dan mengangkat serta melempar binatang itu menyusul temannya.

“Buummm!” Suara menggetarkan itu menggoyang dinding-dinding tebing. Aum atau pekik binatang itu tak kalah dahsyat, terbanting dan meliuk untuk akhirnya roboh. Kepalanya pecah menghantam batu runcing. Dan ketika Sin Gak bergerak dan cepat menolong Ke Ke Cinjin maka tosu itu ternyata pingsan dengan luka dalam di depan dahinya.

Merahlah wajah Sin Gak. Ia sungguh tak menyangka bahwa di Guha Hitam terdapat harimau-harimau berbahaya. Ia tak tahu bahwa sepasang harimau itu adalah penunggu-penunggu guha, tertarik atau mencium bau darah dari sebatang golok yang menancap di lantai guha, di dalam sana. Dan karena ia masih tak tahu dan sekarang temannya terluka, pemuda ini merobek baju tosu itu maka cepat Sin Gak memberikan pertolongan dan mengembalikan denyut nadi Ke Ke Cinjin.

Tosu ini terguncang oleh peristiwa itu dan hampir tewas. Iapun tak menyangka bahwa di atas kepalanya telah mengintai seorang musuh berbahaya. Kalau kepalanya tak terbenam di mulut harimau tentu tosu ini dapat melakukan perlawanan, jelek-jelek dia adalah sute ketua Kun-lun yang lihai. Tapi karena perhatiannya tertuju ke depan dan harimau keparat itu tak mau melepas kepalanya, taring yang menancap dahi melukai cukup dalam maka tosu ini benar-benar sial dan nyaris binasa.

Akan tetapi masih ada musuh lain yang tak kalah berbahaya. Sin Gak tak tahu betapa dari atas guha, merayap cepat seekor ular besar menghampirinya. Dia membelakangi guha dalam usaha menolong temannya, perhatiannyapun terpusat pada luka di dahi itu. Maka ketika tiba-tiba sebuah benda dingin melekat dan membelit tubuhnya dari pinggang ke atas, demikian cepatnya kejadian itu maka terkejutlah Sin Gak ketika seekor ular sebesar paha manusia dewasa menyerang dan membelitnya dengan amat kencang. Kepala binatang itu sudah di atas kepalanya sendiri.

“Keparat!” Sin Gak mengerahkan tenaga membuat tubuhnya seperti batu, keras oleh pengerahan sinkang. “Pergi kau, ular busuk. Enyahlah!”

Ular ini terkejut. Ia merasa girang ketika mula-mula membelit dan menguasai pemuda itu. Dengan mudah ia menyerang lawannya. Tapi ketika dari tubuh pemuda itu keluar semacam kekuatan yang melawan belitannya, yang semakin dibelit kencang justeru mengeluarkan hawa panas yang membuatnya terkejut maka saat itu tangan pemuda ini lepas dan menampar kepalanya.

“Prakk!” Ular ini berusaha mengelak dan menggigit. Akan tetapi apalah gunanya menghadapi murid si Bayangan Dewa yang sakti ini, yang bergerak jauh lebih cepat dan tahu-tahu lima jari Sin Gak menampar kepalanya. Maka ketika ia roboh dan belitan otomatis terlepas, Sin Gak meloncat bangun maka ditendangnya bangkai ular itu dengan amat gemas.

Ke Ke Cinjin sadar. Tosu ini mengeluh dan sempat melihat ular besar itu, terkejut dan hampir berteriak namun Sin Gak menepuknya perlahan. Ular itupun melayang dan jatuh di bawah tebing, berdebuk bersama bangkai dua ekor harimau yang tewas lebih dulu. Lalu ketika Sin Gak membersihkan bajunya mengebut semua debu maka pemuda itu berkata agar Ke Ke Cinjin menjaga diri baik-baik.

“Totiang jangan menghilangkan kewaspadaan terhadap diri sendiri. Hampir saja kau celaka. Aku belum masuk dan menyelidiki guha itu, totiang, jangan membuatku membagi perhatian dan berhati-hatilah. Untung bahaya sudah lewat!”

“Pinto benar-benar manusia tak berguna, pinto manusia bodoh. Pinto tak menyangka bahaya di atas kepala, Sin-hian-te, pinto terlampau tegang mengawasimu di depan guha. Sudahlah pinto akan berhati-hati meskipun kepala pinto masih pusing.”

“Atau totiang kugendong saja di belakang, aku mencium bau darah.”

“Tidak, tidak. Pinto tetap di sini dan biarlah kau masuk. Pinto akan menjaga diri!”

Sin Gak menarik napas dalam. Tempat ini memang benar-benar berbahaya terutama bagi orang semacam Ke Ke Cinjin ini. Akan tetapi karena tosu itu menolak dan jelas malu, rasanya terlalu berlebihan digendong seperti anak kecil akhirnya pemuda ini mengangguk berkelebat kembali ke guha.

“Baiklah, dan pegang pisau kecil ini kalau ada bahaya, totiang. Aku biasanya tak pernah mempergunakan tapi sebaiknya kau pegang!”

Ke Ke Cinjin menerima pisau kecil itu. Benda ini biasanya dipergunakan Sin Gak untuk mengupas buah-buahan hutan ketika lapar, hanya pisau kecil saja dan tak pantas untuk senjata. Namun karena bahaya bisa sewaktu-waktu datang dan tak ada jeleknya menggenggam itu maka tosu inipun berdebar memegang pisau ini, bersandar pohon, kepala masih pusing.

“Sin-hiante, hati-hati!”

Sin Gak tak perlu menjawab. Ia sudah di mulut guha dan kali ini tak mau berlama-lama. Tubuhnya bergerak bagai seekor walet, menyambar dan lenyap di dalam. Dan karena ia sudah biasa dengan suasana sekitar, seluruh syaraf menegang dan siap menyambut atau menghantam musuh maka di dalam guha ini Sin Gak tertegun oleh sebuah cahaya menyilaukan dari sebatang golok yang menancap secara terbalik, gagangnya di atas sementara di depan golok ini, duduk bersila dengan mata terpejam tampaklah sebuah patung hidup yang wajahnya bersinar terang bagai dewa sedang bertapa!

Tergetarlah pemuda ini. Ternyata di dalam guha ini keadaan tidak seperti di luar sana. Guha ini tidak merupakan tempat yang panjang karena terdiri hanya dua ruangan saja, membelok ke dalam dan di sinilah patung hidup itu berada. Dari tubuhnya memancar getaran kuat yang membuat orang menjauh mundur, ada semacam kewibawaan atau kekuatan batin yang hebat di situ. Sementara golok di lantai itu, yang bersinar dan menerangi ruangan guha tampak memancarkan cahaya bergidik yang membuat tengkuk terasa dingin!

Sin Gak harus menambah sinkangnya untuk mengusir pengaruh dingin ini, terutama dari golok di depan patung hidup itu. Bau amis menyambar dari sini dan kiranya inilah sumber kengerian itu. Baunya memancing harimau dan binatang buas untuk datang mendekat namun mereka terdorong oleh getaran batin yang keluar dari laki-laki yang sedang duduk bersila itu, tampak berwibawa dan gagah sekali namun Sin Gak tertegun melihat lengan kiri yang buntung.

Ternyata patung hidup ini manusia cacad. Wajahnya terang di kala bersila itu namun gurat-gurat kedukaan tak dapat disembunyikan dari wajahnya yang tampan. Garis duka itu membekas dalam hingga siapapun dapat merasa. Sin Gak terharu. Dan karena ia begitu terpesona memandang wajah gagah itu, wajah yang benar-benar mirip dengannya tiba-tiba saja Sin Gak meloncat maju dan berseru menggigil, air matapun tiba-tiba mengucur turun.

“Ayah...!”

Tak ada jawaban. Pria itu, Giam Liong memang sedang bertapa dengan amat khusuknya. Sudah bertahun-tahun ini pria gagah yang berjuluk Naga Pembunuh itu mengheningkan cipta. Jangankan panggilan, gunung robohpun tak akan membuat kesadarannya datang. Naga Pembunuh telah mencapai titik tertinggi dalam niat samadhinya yang dalam, begitu dalam hingga jiwanya seakan menyatu dengan alam. Ia tak akan mendengar apa-apa dan tak memperdulikan apa-apa.

Dulu Keng Hwat Taisu juga gagal setelah memaksa berkali-kali. Samadhi atau tapa Naga Pembunuh ini telah mencapai pusat roh. Maka ketika ia diam saja dan benar-benar tak merasa kehadiran puteranya, demikian hebat tapanya hingga kesungguhan itu memancarkan sinar gaib maka Sin Gak menubruk dan mengguguk memeluk ayahnya ini, maklum bahwa sesuatu yang hebat telah memaksa ayahnya itu untuk bertapa sedemikian dalamnya hingga siap mengorbankan nyawa, hilang dalam hening!

“Ayah.. !”

Sin Gak tersedu-sedu. Pemuda yang biasanya gagah dan tabah hati itu mendadak kehilangan kegagahannya lagi seperti anak cengeng. Murid Sian-eng-jin ini terharu dan bagai disayat-sayat melihat keadaan ayahnya itu. Itulah keadaan yang disebut Heng-siong-beng (Siap Menyerahkan Roh) dalam tapa, sikap yang diambil sebagai protes atau tuntutan sesuatu kepada Yang Di Atas, sikap yang biasanya timbul atas derita atau kecewa yang berat.

Seseorang yang telah mencapai tingkat ini biasanya tak akan kembali dalam hidup, rohnya telah terbang dan melayang-layang dalam alam gaib. Hanya karena detak jantungnya saja yang masih menunjukkan orang itu belum meninggal, detak jantung yang biasanya lemah dan hampir tak terdengar telinga biasa, detak jantung ke alam ajal. Maka ketika Sin Gak melihat keadaan ayahnya itu dan betapa perasaannya seakan dirobek-robek, inilah orang tua satu-satunya yang masih hidup maka keharuan dan kehancuran memukul pemuda itu sampai Sin Gak mengguguk dan mengejutkan Ke Ke Cinjin yang ada di luar guha.

Tosu ini terkejut dan tegang mendengar tangis itu, tak ayal lagi bangkit dan menghampiri guha. Lalu ketika ia masuk dan melihat itu, terkesima oleh wajah yang mengeluarkan sinar terang ini akhirnya tosu itu sadar bahwa Si Naga Pembunuh itu memang hidup namun “mati”.

“Sin-hiante !”

Sin Gak terkejut. Tiba-tiba ia sadar bahwa ada orang lain di situ. Ke Ke Cinjin telah berada di belakangnya. Dan ketika cepat ia menghentikan tangis dan mengusap air mata maka ia berdiri dan gemetar meminta tosu itu menjauh. “Keluarlah... pergilah. Aku hendak menyadarkan ayahku, totiang. Jangan masuk dan dekat-dekat sini. Aku telah menemukan orang tuaku.”

“Benar, bagai pinang dibelah dua. Kau dan ayahmu tak ada bedanya, hiante, kalian benar-benar mirip. Siancai, pinto merasa girang, tapi bingung. Apa yang hendak kau lakukan dan tak adakah yang bisa pinto bantu!”

“Tidak, kau keluarlah. Ayah telah mencapai tingkat Heng-siong-beng, totiang, tak akan bangun kalau tidak dihentak dari dalam. Aku akan membangunkannya dan harap kau keluar. Ada bahaya untuk ini.”

“Heng-siong-beng? Sedalam itu tapanya? Astaga, pantas dulu tak dapat digugah!”

“Totiang harap keluar, cepat. Aku tak mau ia mati dan ingin kutanya apa sebabnya demikian nekat. Aku tak mau kehilanganayahku!”

Ke Ke Cinjin maklum. Sebagai murid Kun-lun dan seorang pertapa iapun mengerti apa artinya itu. Sedikit banyak ia tahu pula tingkatan-tingkatan tapa. Maka mundur dan mengangguk dengan hati berdebar iapun keluar dan menjaga disana.

“Hiante, hati-hati. Kalau kau gagal malah ayahmu meninggal seketika. Pinto berlindung di luar!”

Sin Gak mengangguk. Ia tahu pula resiko membangunkan sebuah tapa, apalagi sekuat ini. Namun karena gurunya si Bayangan Dewa adalah seorang manusia sakti yang banyak menurunkan kepandaian, di antaranya tentang kegaiban alam semesta dan kebatinan maka iapun maklum dan tak mau menunda waktu lagi. Ia sadar setelah tosu itu masuk. Ia tenggelam oleh kesedihannya tadi. Ia tak boleh berlaru-larut. Maka ketika Sin Gak bersila dan duduk di depan ayahnya itu, meletakkan tangan di pundak maka pemuda inipun sudah membayangkan wajah mendiang gurunya dan minta bantuan kekuatan batin untuk menghantam atau menjebolkan Heng-siong-beng.

“Heng-siong-beng adalah tingkat tapa paling tinggi, juga maut. Hanya orang gila yang berat frustrasinya melakukan ini. Ia siap tak makan maupun minum bertahun-tahun, biasanya hanya dilakukan orang-orang yang hebat dan terlatih saja. Kalau tak ada sesuatu yang menindih batin biasanya seseorang tak akan bertapa sedalam itu, karena di samping mengorbankan nyawa juga kalau sembuh biasanya gila. Syaraf di otak selalu hancur. Maka kalau kau mengerti ini jangan sembarangan terhadap Heng-siong-beng karena pada hakekatnya banyak merugikan diri daripada untungnya!”

“Lalu peristiwa-peristiwa apa yang menyebabkan manusia senekat itu, suhu? Masa ada orang siap mengorbankan diri dalam tapa sedemikian hebat? Bukankah tapa dilakukan justeru untuk membersihkan batin menjernihkan pikiran?”

“Hm, hidup di dunia ini bermacam ragam isinya, tapi tak lepas dari tiga sisi. Satu adalah berahi, dua kekuasaan dan tiga kekayaan. Kalau orang sudah demikian dalam tenggelam dalam satu atau ketiga-tiganya ini maka frustrasi berat bisa dirasakannya apabila gagal. Orang bisa nekat, mata gelap. Apapun dilakukan kalau perlu berkorban nyawa. Mereka sudah mulai gila, dan karena mereka gila maka berbahaya menghadapi orang-orang seperti ini, jauhi saja!”

Begitu dulu sekilas Sin Gak bercakap-cakap dengan gurunya. Ia belum menghadapi sendiri Heng- siong-beng ini, masih dalam taraf informasi. Maka ketika tiba-tiba kini ayahnya melakukan hal seperti itu dan ia tentu saja terkejut, pucat maka di samping tersentak ia juga merasa heran keinginan apa yang dipendam ayahnya ini. Menginginkan kekuasaan? Kekayaan? Rasanya tak masuk akal. Atau berahi? Ah, lebih tak masuk akal lagi. Wajah ayahnya itu bukan wajah seorang yang doyan paras cantik, wajah itu gagah dan bahkan keras. Tak masuk akal kalau ayahnya yang berjuluk Naga Pembunuh ini melakukan protes hanya karena keinginan berahi!

Sin Gak tak berpikir panjang lagi dan cepat mengosongkan pikiran. Dalam saat seperti itu maka Gi- hong-ciok-beng (Memanggil Roh Yang Sudah Membatu) adalah satu-satunya pilihan tepat menjebolkan, Heng-siong-beng. Hanya ilmu ini pelawan Heng-siong-beng. Untunglah ia murid seorang sakti macam gurunya itu, Bayangan Dewa bukan orang sembarangan. Maka ketika ia meletakkan tangan di kedua pundak dan menarik napas dalam sambil memejamkan mata, mengosongkan pikiran menujukan perhatian ke pusat alam gaib maka tiba-tiba tubuh pemuda inipun bergetar seolah diguncang dari dalam.

Telapak Sin Gak mengeluarkan asap panas memasuki pundak ayahnya itu, menembus dan “menghidupkan” dulu syaraf-syaraf penting di tubuh. Syaraf-syaraf ini sudah mati rasa sejak pemiliknya bertahun-tahun mengheningkan cipta. Si Naga Pembunuh tiada ubahnya seorang yang mati semu. Dan ketika tenaga panas itu memasuki pundak dan terus menembus ke dalam, patung hidup itu tiba-tiba tersentak dan seakan berjengit maka Sin Gak girang karena usahanya berhasil!

Akan tetapi belum selesai. Tidak semudah itu menggempur Heng-siong-beng yang mencapai puncaknya, apalagi yang dilakukan seorang pendekar macam Naga Pembunuh ini. Maka ketika tiba-tiba tubuh itu tak bergerak lagi seakan tak merasa aliran listrik yang dimasukkan Sin Gak, kembali tubuh itu tak bergeming dan diam membatu maka Sin Gak harus menambah tenaganya untuk memperkuat getaran hawa panas menembus seluruh syaraf di tubuh ayahnya ini.

Tujuan utama adalah syaraf otak. Bagian inilah yang merupakan kunci dari Heng-siong-beng, baru setelah itu jantung dan paru-paru. Dan karena untuk ke otak harus melewati dulu dua bagian ini maka pemuda itu memejamkan mata bekerja keras mengalirkan tenaga Gi-hong-ciok-beng menuju syaraf-syaraf penting itu. Ia harus melakukan hati-hati atau semua bakal hancur. Dan ketika dari tubuh ayahnya bergerak sebuah tenaga sakti yang menolak sinkangnya, maklumlah pemuda ini bahwa ayahnya bukan orang sembarangan maka ia memperkuat dan mendorong tenaga ayahnya itu.

Ia harus mengalahkan ini dan menguasai seluruh tubuh ayahnya kalau tak mau gagal. Tenaga tolak itu harus ditundukkan, bahkan kalau perlu bergabung dengan tenaganya sendiri untuk menjebol Heng-siong-beng. Dan ketika ia berhasil dan tenaga itu terdesak mundur, berputar dan terus terdorong maka Sin Gak tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dan mendesak tenaga itu sampai di daerah tan-tian, pusar. Di sini terjadi perlawanan berat. Tenaga itu tak mau ditundukkan, bergolak dan menyerang pemuda itu mati-matian.

Tubuh sang Naga Pembunuh bergetar oleh arus di tan-tian ini, bagi seorang ahli silat semuanya sudah berjalan secara otomatis. Tapi karena Sin Gak adalah murid seorang tokoh Ngo-cia Thian-it, satu di antara Lima Rasul maka pemuda itu mendesak dan akhirnya menembus perlawanan sinkang itu, menjebolnya sedemikian rupa hingga cerai-berai dan saat itulah pemuda ini bergerak cepat. Ia mendekati semua bagian pusat-pusat tenaga yang hilang kendali itu untuk ditarik dan digabung dengan tenaganya sendiri, berhasil dan akhirnya terkumpullah sinkang sang ayah dengan sinkangnya sendiri. Lalu ketika gabungan sinkang ini bergerak dan naik ke atas, jantung dan paru-paru maka jebollah sumbat Heng-siong-beng di bagian itu.

“Cess!” Asap putih keluar dari dada si Naga Pembunuh, terus naik ke pundak dan leher untuk akhirnya menuju kepala. Inilah pusat syaraf yang hendak digempur Sin Gak. Inti Heng-siong-beng akan dihancurkannya di situ. Dan karena tenaga ayahnya sudah berhasil dikuasai dan ia mengendalikan semua ini dengan konsentrasi penuh maka Sin Gak tak tahu betapa tubuh ayahnya itu bergetar hebat sampai akhirnya sepasang mata itu terbuka lebar.

Giam Liong sang Naga Pembunuh mulai sadar. Perlahan-lahan sukma atau jiwa pendekar ini ditarik ke dalam, menyatu dan hidup lagi ketika semua simpul-simpul syaraf dibuka. Sin Gak menjebol semua sumbatan simpul syaraf dari bawah ke atas. Wajah pemuda itu berkeringat dan kemerah-merahan, tanda betapa besarnya kesungguhan dan hasrat pemuda ini “menghidupkan” ayahnya lagi. Dan ketika ia terus bekerja dan menggetarkan syaraf pusat di otak, usahanya sudah sembilan puluh persen berhasil maka saat itulah sang ayah mulai sadar namun masih dalam bayang-bayang bingung, juga marah!

Membangunkan orang yang tenggelam dalam tapa memang perbuatan berbahaya. Sin Gak bukannya tak tahu resiko itu namun apa boleh buat, ia tak akan membiarkan ayahnya ini mati sia-sia. Maka ketika ia sudah menembus simpul-simpul penting dan tinggal satu di inti pusat, gabungan tenaganya dengan sinkang ayahnya itu mempercepat semuanya maka tak lama kemudian pusat Heng-siong-beng di otak jebol. Kepala ayahnya meletus dan muncratlah asap tebal ke atas. Itulah tanda hancurnya Heng-siong-beng.

Namun ketika sukma sang ayah masuk dan kembali ke tubuh, menyatu dengan pusat-pusat kehidupan di denyut nadi maka saat itulah wajah yang terbakar dan mata yang melotot menghanguskan si Naga Pembunuh ini, beringas. Giam Liong tiba-tiba begitu marah ketika seseorang memaksanya kembali. Ia seakan disentak dari alam halus memasuki alam kasar. Paksaan itu membuatnya sakit. Ada nyeri tajam di dada dan kepala, terutama kepala yang baru saja meledak dan terasa terbakar. Rasa sakit itu membangkitkan kemarahannya.

Maka ketika tiba-tiba kesadarannya tertarik kembali dan seorang pemuda rupanya hendak mencelakainya tiba-tiba pendekar itu bergerak dan diiringi satu pekikan menggetarkan guha ia menghantam kepala Sin Gak yang saat itu terisi tenaga gabungan antara puteranya dan dirinya sendiri. “Siapa kau, jahanam!”

Sin Gak terkejut. Ia bersila memejamkan mata hingga tak tahu perobahan ayahnya itu, betapa mula-mula kelopak ayahnya bergerak dan wajah itu kemerah-merahan, terbakar. Ia begitu asyik dalam pekerjaannya sendiri dan girang bahwa Heng-siong-beng jebol. Inilah yang diharap. Maka ketika tiba-tiba tangan ayahnya menghantam kepala dan tenaga yang digunakan itu adalah tenaga gabungan, ia belum menarik lepas tangannya maka jarak sedekat itu tak mungkin mengelak dan barulah pemuda ini membuka mata ketika serangan itu tiba.

“Ayah!”

Seruan ini menggetarkan jiwa sang Naga Pembunuh. Dalam keadaan baru sadar dan kaget serta marah tapi juga bingung maka sebenarnya Giam Liong tertegun melihat wajah yang mirip dengan dirinya itu. Hanya karena ia baru tertarik dari alam gaib dan belum sepenuhnya ingat iapun masih ragu-ragu. Tapi ketika seruan itu mengguncangkan hatinya dan betapapun mengurangi tenaga maka pukulannya meskipun telak tapi sudah hilang setengah bagian menghantam kepala pemuda itu.