TAPAK TANGAN HANTU
JILID 24
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“SUHU!”

Menyeramkan melihat itu. Sesosok arwah, begitu kira-kira patut disebut melayang lurus ke langit biru. Arwah atau mahluk halus ini jelas Sian-eng-jin yang memperlihatkan diri. Kakek itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Tapi ketika Sin Gak tertegun dengan mata terbelalak lebar, bulu tubuhnya berdiri mendadak sosok putih atau arwah ini melesat cepat, lenyap.

“Suhu...!”

Hilanglah kakek itu. Sian-eng-jin telah membawa raganya bersama-sama. Kakek itu moksa. Lalu ketika Sin Gak sadar mendengar suara hiruk-pikuk, gemuruh, maka puncak Awan Iblis mendadak runtuh. Bergeraklah pemuda ini menyelamatkan diri. Batu-batu berguguran dan pohon-pohon roboh. Seakan berbela sungkawa atas kepergian kakek itu, maka puncak gunung bergetar. Aum dan jerit binatang hutan silih berganti. Untuk beberapa saat Sin Gak dicekam ketegangan, ia tak tahu apa artinya itu. Tapi ketika suara-suara itu akhirnya lenyap dan sama sekali diam, Sin Gak memandang menggigil maka puncak biasa lagi dan sebagai gantinya terdapatlah suasana damai nan tenang.

Teringatlah Sin Gak. Dulu gurunya itu pernah berkata bahwa di atas bumi segala mahluk selalu berhubungan. Hanya karena masing-masing cara berkomunikasi sendiri maka manusia tak banyak menangkap. Ini harus dimengerti dengan bahasa batin, bahasa kasih sayang. Maka ketika ia tertegun dan berdiri mematung, batinnya bekerja maka segera ia mengerti bahwa Sian-thian-san atau Gunung Dewa sedang menyatakan selamat tinggalnya kepada gurunya itu.

“Tahukah kau bahwa tumbuh-tumbuhan dan batupun dapat saling berbicara. Mereka berkomunikasi dengan caranya sendiri, Sin Gak, cara aneh yang bagi kita asing. Tumbuh-tumbuhan misalnya, saling berbicara lewat akar-akarnya. Sedang batu atau benda-benda mati lainnya umumnya bicara lewat warna yang ada di tubuh mereka. Kita manusia tak dapat menangkapnya kecuali dengan bahasa batin, bahasa kasih sayang. Dan kau belajarlah secara perlahan-lahan menangkap semua peristiwa ini. Bumi sesungguhnya indah!”

Sin Gak mengangguk-angguk. Setelah ia menangkap isyarat suara-suara gemuruh itu maka iapun mengerti. Tempat yang ditinggali gurunya ini menyatakan kesedihannya dengan cara aneh, bahasa mereka. Lalu menarik napas dalam dan maklum tak mungkin gurunya kembali maka pemuda inipun berlutut dan mencium bekas gurunya tinggal. Penghormatan terakhir.

“Baiklah, selamat jalan, suhu. Restuilah teecu dan mohon pamit.”

Tak ada lagi yang dilakukan di situ. Setelah gurunya meninggalkan Sian-thian-san dan ia harus mencari orang tuanya, pemuda inipun tak mau diam. Sudah lama ia memiliki keinginan itu, ada rindu dan rintih batin. Maka ketika Sin Gak berkemas dan menyambar buntalannya tiba-tiba pemuda inipun meloncat pergi.

Gerakannya begitu cepat hingga dengan beberapa lompatan saja sudah di bawah gunung. Jurang lebar dilalui begitu mudah. Lalu ketika Sin Gak mengerahkan kepandaiannya dan terbang seperti siluman, maka bayang-bayang tubuhnya tak dapat diikuti lagi karena lenyap seperti iblis menyambar!

* * * * * * * *

Turun ke dunia ramai membuat Sin Gak terbengong-bengong. Bertahun-tahun hidup di gunung dan sepi dari pergaulan membuat pemuda ini begitu gembira melihat hilir-mudik manusia dan keramaian lalu lintas. Pertama-tama ia tiba di kota Ceng-kiang, sebuah kota pelabuhan. Dan ketika ia berhenti melihat perahu hilir-mudik di sungai yang lebar, menghubungkan seberang sana dengan sebuah kota lain maka di sini pemuda itu berhenti. Beberapa lamanya ia terkagum-kagum.

Perahu besar dan para hartawan kaya membuat ia bengong. Mereka berpakaian indah-indah dan sutera mahal yang menempel itu membuat pemiliknya semakin gemerlap dan tampak “wah”. Dari kejauhan seakan penuh suka-cita dan serba gembira. Inilah kota pelabuhan yang sibuk oleh kaum pedagang, jual beli ikan atau barter sutera-sutera mahal. Dan ketika tanpa terasa Sin Gak mendekati tempat ini, berhenti dan berdiri di tepi sungai mendadak apa yang tidak tampak dari kejauhan sekonyong-konyong muncul.

Mula-mula adalah kuli panggul yang terseok naik turun dari perahu satu ke perahu lain. Karung berat di atas pundak mereka itu sarat hasil bumi. Lalu ketika keranjang-keranjang ikan juga dipikul dan masuk keluar perahu maka di sisi lain orang-orang yang berpakaian indah itu tunjuk sana tunjuk sini diiring bentakan-bentakan. Para majikan ini rata-rata dikelilingi empat lima orang pembantunya yang bersikap sebagai anjing penjaga, sekaligus tukang pukul.

Sin Gak mengerutkan kening. Hal-hal begini masih baru baginya dan ia merasa sesuatu yang timpang. Betapa beratnya para kuli-kuli panggul itu sementara sang majikan enak saja main perintah, Telunjuk tak henti-hentinya menuding sementara yang bekerja mandi keringat. Tapi ketika seorang laki-laki tua kena cambuk dan jeritan pecah di sini, Sin Gak menoleh maka ia terkejut karena di perahu yang lain seorang manusia sedang mendera manusia lainnya.

“Anjing, manusia sampah! Bangun dan pikul lagi karung itu, tua bangka. Hutangmu belum lunas meskipun hari ini kau bekerja penuh. Ayo, bangun dan pikul lagi atau cambukku menghajarmu... tar-tar!”

Sin Gak menjadi sakit. Seorang kakek tua, terseok dan merintih-rintih dicambuk seorang tukang pukul yang berdiri garang. Sebuah karung besar terguling di dekatnya dan kakek ini megap-megap. Ia rupanya sakit, terbukti mukanya pucat sementara tubuh itupun menggigil. Sekali lihat Sin Gak tahu bahwa kakek ini terserang demam. Maka ketika ia terkejut kakek itu didera lagi, menjerit dan roboh tahu-tahu ia bergerak dan telah menangkap ujung cambuk itu.

“Jangan siksa orang tua atau aku menghajarmu. Lepaskan dan biarkan ia berdiri!"

Tukang pukul ini terkejut. Ia akan menghajar lagi ketika ujung cambuk tahu-tahu tertangkap, pemuda itu telah berada di belakangnya bagai iblis. Tapi membalik dan menjadi marah, sadar tiba-tiba tukang pukul ini membentak menyodokkan sikunya ke ulu hati Sin Gak.

“Serahkan cambukku atau kau mampus!”

Sin Gak mendengus. Ia sudah merasa tak senang kepada tukang pukul yang dianggapnya kejam ini, mendahului dan tahu-tahu mencengkeram dan mengangkat laki-laki itu. Lalu ketika ia melempar lawannya ke kiri maka terdengar teriakan dan pekik kaget.

“Heiiiiiii... byuurrrrr!”

Semua menoleh. Kejadian itu menarik perhatian kuli panggul dan para pedagang. Tukang pukul itu terbanting dan masuk sungai, basah kuyup. Lalu ketika ia memaki-maki namun Sin Gak tak perduli, menolong dan sudah mengangkat bangun kakek itu maka pemuda ini menyuruh kakek itu beristirahat.

“Kau sakit, tak seharusnya bekerja. Jangan memaksa diri dan biarlah kuselesaikan pekerjaanmu. Di mana karung ini harus kuletakkan.”

Kakek itu terbelalak. la batuk-batuk dan memang terserang demam, hanya karena terpaksa saja ia bekerja. Hutangnya telah banyak. Tapi ketika tukang pukul itu berenang menepi dan meloncat ke darat, mencabut golok maka ia gemetar menuding belakang. “Dia dia datang lagi. Awas, megang senjata tajam!”

Sin Gak tak menoleh. Ia mendengar kesiur angin di belakang, tukang pukul itu membentak dan menyerangnya lagi dengan cepat. Tapi ketika ia menggerakkan cambuk ke belakang dan terdengar ledakan keras maka lelaki itu menjerit dan goloknya terlepas, jarinya berdarah.

“Aduh!”

Sin Gak sudah menyentuh kakek ini lagi. Untuk kedua kalinya ia menyuruh beristirahat, kakek itu terbelalak dan takjub. Tapi ketika berkelebat tiga laki-laki lain dan itulah kawan dari tukang pukul pertama, yang masih mengaduh dan bergulingan memegangi jarinya yang berdarah maka kakek ini kembali berseru,

“Anak muda, awas belakangmu!”

Sin Gak menjadi tak sabar. Ia membalik dan secepat itu mengayun cambuk rampasan, tiga lawannya terkejut dan menangkis tapi golok mencelat. Lima jari mereka tersabet pecah. Lalu ketika mereka terjungkal dan masuk sungai maka ke tiga-tiganya tercebur. Gerakan Sin Gak begitu cepat.

Sadarlah kakek ini bahwa pemuda di depannya bukan orang sembarangan. Saat itu terdengar jerit seorang perempuan dan gadis manis berpakaian sederhana berlarian datang. Ia cucu kakek ini. Lalu menubruk dan menjerit di pundak kakek ini gadis itu berteriak,

“Kong-kong, kau dihajar orang-orangnya Khe-wangwe lagi? Mereka tak mau tahu keadaanmu yang sakit? Ah, kejam mereka itu, kong-kong. Biarlah kugantikan pekerjaanmu dan kau pulang!”

Kakek ini terhuyung diguncang-guncang. Gadis itu rupanya tak tahu kehadiran Sin Gak atau mungkin tak melihat pemuda ini. Dia berlari dan langsung menubruk kakeknya. Tapi ketika kakek tersenyum dan percaya kepada Sin Gak, keberaniannya bangkit maka ia mendorong cucunya itu berkata serak,

“Anak muda ini menolongku. Dialah yang melempar-lempar tukang pukul Khe-wangwe. Minggir dan biar kuucapkan terima kasih dulu, Si Lan. Tanpa dia kakekmu sudah mampus!”

Gadis ini sadar. Ia melepaskan diri membalik memandang Sin Gak. Pemuda itu tenang-tenang saja memandang kakeknya, wajahnya agak dingin sementara bibir itu tersenyum mengejek. Sebuah kebiasaan bagi Sin Gak kalau ia mulai marah. Dan ketika kakek itu menjura mengucap terima kasih, empat tukang pukul di sana sudah meloncat dan menyambar senjatanya kembali maka Sin Gak membuang cambuk rampasan waspada akan bahaya di belakang. Kakek itu juga seakan tak perduli kepada tukang-tukang pukul itu yang sudah bergerak dan mengangkat goloknya.

“Kongcu, kau agaknya seorang lihai yang suka membantu aku si tua ini. Terima kasih untuk bantuanmu ini tapi pergilah karena orang-orangnya Khe-wangwe berjumlah banyak. Aku tak ingin kau celaka, betapapun kau orang luar.”

“Hm, aku bertanya di mana karung ini kutempatkan, lopek. Kau tak mungkin mengangkatnya lagi karena sakit. Sebaiknya kaulah yang pergi dan jangan berhubungan lagi dengan orang-orang kejam itu.”

“Aku masih berhutang, sudah kuambil uangnya.”

Sin Gak mengerutkan kening. Saat itu empat tukang pukul maju kembali, tidak mengeluarkan bentakan karena kali ini menyerang secara diam-diam. Sin Gak tak menghiraukan itu karena tertegun teringat kantungnya sendiri yang kosong. Selama hidup dengan gurunya tak pernah ia berkenalan dengan uang. Maka ketika kakek itu berkata kesulitannya dan ia tak dapat menjawab, saat itulah tukang-tukang pukul itu menusuk dan membacokkan goloknya dari belakang maka tiba-tiba cucu kakek itu menjerit namun secepat kilat pemuda ini menggerakkan ujung bajunya ke belakang. Benda ini sudah menegang kaku seperti lempengan baja.

“Kongcu, awas!”

Terdengar empat kali benturan nyaring. Empat golok di tangan tukang-tukang pukul itu patah, pemiliknya berteriak tapi patahan golok membalik dan menyambar tuannya, menancap dan membuat mereka terbanting karena patahan golok mengenai pundak dan paha, bahkan sebatang tembus di pipi. Dan ketika empat orang itu roboh bergulingan menjerit keras, yang terakhir seketika pingsan maka gegerlah tempat itu oleh kepandaian Sin Gak.

Namun saat itu berkelebat bayangan-bayangan lain. Kakek ini tiba-tiba pucat teringat sesuatu. Di tepi sungai itu banyak terdapat tukang-tukang pukul lain yang marah menyaksikan rekannya dirobohkan seorang pemuda. Mereka ini memiliki kesetiakawanan yang kuat. Maka ketika belasan bayangan meloncat maju dan kakek ini berubah tiba-tiba ia menarik lengan Sin Gak dan cucunya.

“Si Lan, celaka. Kongcu ini akan dibunuh!”

Gadis itu menangis. Ia tersedu ditarik kakeknya, berlari dan memegang lengan Sin Gak tanpa sadar. Tiba-tiba iapun mengkhawatirkan nasib pemuda ini. Sekarang semua orang memandang mereka, ada yang khawatir namun ada juga yang mengejek. Sin Gak adalah pemuda asing di situ. Tapi ketika Sin Gak melepaskan dirinya dan mendorong kakek itu, berseru agar kakek itu pergi maka pemuda ini sudah membalik dan menyambut belasan orang tukang pukul itu. Rata-rata bertubuh tinggi tegap dengan kumis terpilin.

“Lopek, kau pulang saja ke rumahmu. Agaknya tikus-tikus busuk ini tak mau sudah kalau belum kuhajar!”

Belum habis suara ini tiba-tiba pemuda itu lenyap berkelebat ke depan. Sin Gak mulai marah dan sepasang matanya yang mencorong menggetarkan siapapun. Enam belas orang mengepungnya dan siap menyerang, tahu-tahu terpekik dan berteriak keras karena pemuda itu menyambar mereka. Bayangan putih berkelebat ke kiri kanan, menampar dan mengebutkan ujung bajunyn dan tiba-tiba semua terlempar. Dan ketika sekejap kemudian pemuda itu sudah berdiri lagi, berkacak pinggang maka enam belas tukang pukul itu berdebuk di sekelilingnya menggeliat-geliat. Senjata mereka mencelat ke kiri kanan patah-patah!

Pucatlah semua orang memandang kejadian cepat ini. Para hartawan, kaum pedagang itu tiba-tiba terbelalak dengan muka takjub. Begitu lihainya Sin Gak merobohkan semua tukang pukul. Tapi ketika seorang di antaranya berlari dan terkekeh-kekeh, yang lain terkejut maka Sin Gak sudah berhadapan dengan hartawan berpakaian mewah ini, membungkuk-bungkuk.

“Heh-heh, siauwhiap (pendekar muda) kiranya seorang pemuda yang benar-benar lihai. Aha, aku kagum kepadamu, anak muda. Kau hebat dan luar biasa sekali. Aih, aku Koan-wangwe ingin menerimamu sebagai pembantuku terpercaya. Bagaimana kalau kau tinggal di gedungku dan sebulan seratus tail. Cocok untukmu yang gagah perkasa ini!”

“Tidak!” seorang yang lain tiba-tiba meloncat dan berlari menghampiri, kantung uangnya diayun- ayunkan. “Ikut aku saja, anak muda. Seratus lima puluh tail sebulan. Aku Gun-wangwe dapat menghargaimu lebih tinggi!”

“Aku dua ratus tail!” orang ketiga meloncat dan terkekeh-kekeh, mukanya gemuk bulat. “Aku Bu-wangwe akan memberimu di atas mereka, anak muda. Berikut pelayan cantik yang melayani segala keperluanmu!”

Riuhlah tempat itu oleh tawar-menawar. Kiranya tiga hartawan ini berebut mendapatkan Sin Gak dengan saling memberikan imbalan menarik. Yang pertama tentu saja melotot karena dua saingannya tinggal menumpang melulu, yang terakhir malah memberikan dua kali lipat daripada yang ia tawarkan. Tapi ketika Sin Gak menggeleng dan tiga orang itu terkejut maka pemuda ini mendorong dan berkata,

“Aku tak ingin menjadi tukang pukul kalian, aku tak mau menghamba. Pergilah dan semua kutolak.”

Tertegunlah tiga orang itu. Sin Gak keluar mendorong hartawan-hartawan ini menghampiri si kakek tua. Kakek itu masih di situ bersama cucunya. Lalu ketika tiba-tiba kakek itu berlutut dan menangis maka ia berkata bahwa kesulitannya masih belum habis.

“Aku tak dapat bekerja hari ini, tapi hutangku belum terbayar. Aku tak dapat pergi kalau kau juga pergi, inkong. Majikanku tentu marah dan nanti aku didera lagi.”

“Siapa majikanmu,” Sin Gak membangunkan kakek ini. “Beritahukan kepadaku dan kuselesaikan sekarang.”

“Itulah...“ kakek ini menunjuk disana. “Dialah Ek-wangwe, inkong, yang memberiku hutang lima puluh tail!”

Hartawan ini menyelinap di balik kepala perahu. Dia adalah seorang laki-laki berkumis panjang dengan mata sipit yang cepat menyembunyikan diri begitu ditunjuk. Sin Gak memandangnya dan ia gentar, pucat. Tapi ketika Sin Gak berkelebat dan tak ada tukang pukulnya yang maju melindungi, semua sudah jerih terhadap kelihaian pemuda ini maka juragan itu terbata-bata ketika ditangkap.

“Am... ampun. Aku tak akan mengganggu Lauw-lopek kalau kau menghendaki. Lep...lepaskan aku, anak muda. Hutangnya kubebaskan!”

Sin Gak lega, memang itulah maksudnya. Tapi sebelurn dia bicara tiba-tiba berkelebat bayangan langsing yang tertawa mengejek. “Apa artinya ini kalau semua orang di bebaskan begitu mudah. Heh, uang didapat bukan dengan cara yang gampang, anak muda. Kalau kau berwatak adil bayar saja dengan uangmu, jangan memaksa orang lain!”

Sin Gak mengerutkan kening. Di depannya telah berdiri seorang gadis cantik berpakaian hitam putih, rambutnya dikepang dan sepasang alis yang terangkat itu membuat mukanya yang lonjong menjadi memanjang. Pipinya kemerah-merahan sementara bola matanya dilindungi bulu mata yang hitam lentik, rambutnyapun tebal dan lebat, diikat hiasan manik-manik yang membuat wajahnya menjadi begitu cantik manis. Dan ketika ia tertegun tak mampu bicara, mata itu mengejeknya dengan tajam maka gadis itu bicara lagi dengan lebih nyaring.

“Heh, aku bicara kepadamu, kenapa diam saja. Kalau kau memaksa Ek-wangwe membebaskan hutangnya maka kau bersikap tak adil. Semua kuli panggul di sini bisa dengan mudah minta dibebaskan pula. Nah, kalau ingin bersikap pendekar berbuatlah yang benar, bayar dengan uangmu dan jangan memaksa orang lain. Itu gagah namanya!”

“Heh-heh, benar,” tiga hartawan serentak berlari maju, kembali melihat kesempatan. “Kalau kau seorang pendekar memang seharusnya begitu, siauwhiap. Kalau tidak maka perbuatanmu sama jahatnya. Kaupun memaksa orang lain!”

“Dan aku siap memberikan lima puluh tailku kepadarnu, asal kau ikut aku!”

“Atau aku dua ratus kubayar di muka. He, gadis ini benar, anak muda. Kau harus bersikap adil dan mengeluarkan kocekmu. Nih, bayarkan Ek-wangwe!”

Tiga orang itu berebut memberikan uangnya kepada Sin Gak. Cepat dan amat tangkas masing-masing sudah mendahului yang lain, berebut tapi yang ketiga menang dulu. Kantung uangnya diberikan Sin Gak, semua! Lalu ketika pemuda itu tertegun sementara si kakek terbeliak melebarkan mata, begitu mudahnya pemuda itu mendapatkan begitu banyak uang maka Ek-wangwe tiba-tiba timbul keberaniannya merasa dibela.

“Mereka semua ini benar, uangku adalah hasil jerih payah. Kalau kau mau mengganti rugi biarlah kakek itu kubebaskan!”

Uang telah merobah sikap. Ek-wangwe yang tadinya ketakutan dan membebaskan begitu saja mendadak mencabut lagi keputusannya sendiri begitu melihat kantung uang di tangan Sin Gak. Pemuda itu telah menerima ratusan tail dari Koan-wangwe dan kawan-kawan, matanya tiba-tiba hijau kembali. Dan ketika Sin Gak bingung mendengar itu, mata gadis cantik ini membangkitkan harga dirinya tiba-tiba pemuda ini berada di persimpangan jalan dan bimbang.

Haruskah dia menerima uang itu? Tentu, kalau ingin menolong si kakek. Tapi kalau menerima ini berarti harus menjadi pembantu seorang di antara majikan-majikan ini, tukang pukul! Tapi untunglah ketika dia dalam kesulitan mendadak muncul seorang tosu bermuka ramah.

“Hiante (saudara muda), sebaiknya kembalikan saja semua uang itu kepada pemiliknya. Kau tak mungkin harus menjadi tukang pukul juragan-juragan ini, jatuh martabatmu nanti. Biarlah pinto menolongmu meminjamkan lima puluh tail dan kelak kapan-kapan dapat kau bayar kembali. Bukankah enak?”

Tosu itu sudah mengeluarkan uangnya dan Sin Gak girang. Ini jalan tengah penolong dirinya, iapun menerima itu dan melempar kembali kantung-kantung uang kepada tiga hartawan itu. Lalu ketika ia menghadapi Ek-wangwe dan lepas dari kesulitan maka ia menyerahkan uang tosu itu sambil berkata,

“Aku telah membayar uangmu lunas, jangan ganggu kakek itu atau aku menghajarmu nanti. Nah, terimalah dan urusan ini selesai!”

Ek-wangwe berseri mukanya. Ia menerima itu dan ngeloyor pergi, cepat menghilang setelah mendapatkan kembali uangnya. Dan ketika tiga hartawan tertegun dan melotot kepada si tosu, lagi-lagivrencana mereka gagal maka tosu ini tenang-tenang saja berkata kepada Sin Gak.

“Sekarang urusannya selesai, marilah kita pergi dan sumpek rasanya di tengah-tengah kerumuman banyak orang begini.”

Sin Gak mengangguk. Ia tertarik dan berterima kasih kepada tosu bermuka ramah ini, diam-diam berhutang sebuah kebaikan. Tapi ketika ia melangkah pergi mengikuti tosu itu tiba-tiba terdengar jerit dan pekik kaget.

“Heiiii !”

Kiranya gadis baju hitam menyambar dan membawa lari kakek ini. Si Lan menjerit memanggil kakeknya tapi gadis itu terkekeh lenyap. Gerakannya begitu cepat dan orang di kiri kanannya terpelanting. Tapi ketika tosu itu berkelebat dan Sin Gak juga menjadi marah, di siang bolong ada orang menculik orang maka pemuda itu juga berkelebat dan membentak.

“Apa yang kau lakukan ini!”

Gadis itu meluncur terus. Ginkangnya (ilmu meringankan tubuh) ternyata hebat bukan main dan tosu dibelakangnya terkejut, baru sekejap saja ia sudah tertinggal ratusan meter. Dan ketika tosu ini membentak mempercepat larinya, Sin Gak tahu-tahu menyambar lewat dan melewati dirinya maka tosu itu semakin kaget karena dua anak muda itu kiranya, melampaui kepandaiannya. Sama-sama lenyap seperti iblis!

“Heiii!”

Sin Gak tak menoleh. Pemuda inipun terkejut oleh ginkang gadis di depan itu, mengerahkan kepandaiannya dan melesat menyambar ke depan, sekejap sudah meninggalkan Ceng-kiang dan pemuda ini melihat lawannya menuju bukit kapur. Banyak batu-batu besar disitu dan sejenak gadis ini menoleh, terkekeh dan berjungkir balik lalu lenyap di batu-batu karang itu. Lalu ketika Sin Gak tertegun dan berhenti, ada puluhan batu di situ maka ia mengepal tinju tak tahu lawan bersembunyi dimana. Dan saat itu muncullah si tosu bermandi keringat, basah kuyup.

“Mana gadis siluman itu. Hebat benar ilmu lari cepatnya hingga pinto tak mampu mengejar!”

“Ia bersembunyi di sini,” Sin Gak berkata. “Coba kau kitari sebelah kiri, totiang, aku sebelah kanan.”

“Ia masih di sini?”

“Benar, di balik batu-batu karang itu. Awas rupanya bukan gadis baik-baik dan mari putari tempat ini!” Sin Gak berkelebat tak mau banyak bicara lagi. Pada dasarnya pemuda ini memang pendiam dan tak aneh karena ayah maupun mendiang kakeknya juga bukan orang yang banyak bicara. Mereka adalah orang-orang serius dibesarkan dalam suasana serius pula, ketegangan demi ketegangan selalu mewarnai hidup mereka. Maka ketika Sin Gak melompat ke kanan sementara tosu itu melompat ke kiri maka di sepasang batu kembar yang tingginya hampir sama mendadak gadis itu muncul dan langsung menyerang.

“Aku di sini!”

Sin Gak mengelak. Ia telah mendengar angin sambaran pukulan dan waspada, meloncat ke kiri. Tapi ketika gadis itu mengejar dan tangan yang lain menotok lehernya maka pemuda ini terkejut karena bunyi mencicit menyertai serangan itu.

“Plak-dess!”

Gadis itu terpental namun berjungkir balik melayang turun. Sin Gak terhuyung dan diam-diam berdesir, ada rasa panas pada ujung jari lawan ketika menotok. Tapi ketika ia bersiap lagi berdiri tegak, gadis itu terkekeh maka ia sudah melompat dan menyerang lagi, menyambar bagai burung srikatan.

“Bagus, tak heran kalau kau sombong. Kau rupanya berkepandaian cukup, bocah, sebutkan namamu agar kutahu lawan yang akan kurobohkan!”

“Aku tak ingin memperkenalkan diri, dan juga tak ingin tahu siapa kau. Aku datang untuk mencari kakek itu, gadis siluman. Di mana kau sembunyikan dan serahkan padaku!” Sin Gak terkejut, lawan lenyap berkelebatan sementara kakek tua tak ada di situ. Gadis ini sudah menyembunyikannya entah di mana dan tentu saja dia marah. Lalu ketika ia mengelak dan menangkis serta membalas serangan maka pemuda inipun mengeluarkan ginkangnya berkelebatan cepat. Dua bayangan putih dan hitam saling kejar menyilaukan mata.

“Duk-plakk!”

Sin Gak tergetar dan untuk kesekian kalinya terkejut. Dalam adu pukulan dengan gadis ini selalu masing-masing. terpental. Sinkang atau tenaga sakti gadis itu hebat juga. Dan ketika ia menjadi penasaran dan mengerahkan Pek-mo-in-kangnya, Tenaga Awan Iblis, maka gadis itu terpekik karena sekarang terpelanting.

“Dukk!”

Sin Gak tersenyum. Setelah ia mengeluarkan kepandaian khususnya itu ternyata gadis ini tak kuat, hawa dingin menyambar dan menggigit lawan. Tapi ketika gadis itu bergulingan meloncat bangun maka ia tiba-tiba melengking meledakkan kedua ujung lengan bajunya.

“Bocah sombong, kau jangan gembira dulu!”

Sin Gak bertahan. Ia tetap mengerahkan tenaga saktinya ini ketika deru angin menyambar. Ujung lengan baju gadis itu mengembang dan meniup bagai topan, cepat sekali menerjangnya. Dan ketika ia menangkis tapi terpental, bahkan terdorong dan jatuh terpelanting maka Sin Gak terkejut bukan main merasa dibalas.

“Desss!”

Pemuda ini bergulingan meloncat bangun. Sama seperti lawannya tadi ia terkejut dan berubah, lawan tiba-tiba mengeluarkan kepandaian khususnya pula. Dan ketika ia terbelalak namun gadis itu terkekeh, berkelebat dan kedua lengan baju sudah menyambar-nyambar lagi dengan amat hebatnya maka udara di situ seakan dilanda badai dan tosu yang baru muncul di balik batu karang menjerit terlempar.

“Bresss!”

Sin Gak benar-benar kaget. Ia bergerak ke kiri kanan mendorong Pek-mo-in-kang, mengelak dan menangkis, namun ujung lengan baju itu seakan tiada hentinya meniupkan angin dahsyat. Kian lama kian kuat hingga tosu di luar sana terbanting dan bergulingan berseru keras. Tosu ini baru saja datang ketika dua anak muda itu saling bentak, melihat keduanya bergerak sama cepat dan kakek tua terduduk di sana, terbelalak. Dan karena kakek itu selamat dan agaknya terheran-heran, sang tosu meloncat ke tempat Sin Gak maka tahu-tahu ia menjerit didorong angin kebutan ujung baju itu. Gadis ini mengeluarkan Kian-kun-siu alias Lengan Baju Sapu Jagad yang tak dikenal Sin Gak, ilmu khusus yang sebenarnya dimiliki Song-bun-liong si Naga Berkabung!

“Des-dess!”

Untuk kesekian kalinya lagi Sin Gak tergetar dan terhuyung. Ia menjadi pucat dan marah namun juga heran. Gadis lawannya ini ternyata benar-benar lihai! Maka ketika ia membentak dan menambah Pek-mo-in-kangnya lagi, hampir setengah bagian maka barulah dia dapat menahan hembusan angin kuat dari pukulan Sapu Jagad itu. Gadis ini tertegun. Ia terbelalak ketika dari lengan pemuda itu menyambar angin pukulan lebih dingin. Kian-kun-siu yang dilancarkannya mulai tertahan, perlahan tetapi pasti hembusan Sapu Jagadnya itu ditolak pemuda ini dan lawan mulai tak bergeming. Dan ketika Sin Gak kembali tersenyum dan percaya diri, marahlah gadis ini maka ia mengibaskan lengan bajunya di saat si tosu mencoba mendekati pertempuran lagi, mungkin mau mengeroyok.

“Jangan sombong dan mengejek dulu. Lihat pukulanku dan jaga baik-baik, bocah gunung. Kau akan mampus atau temanmu itu roboh!”

Benar saja, si tosu berteriak dan terlempar. Tidak seperti tadi ketika terbanting dan dapat bergulingan adalah kaliini tosu ini berdebuk tak mampu bangun. Sejenak ia menggeliat lalu roboh tengkurap, pingsan. Lalu ketika Sin Gak menjadi kaget dan marah melihat itu, gadis ini dianggapnya kejam maka serangan lebih dahsyat menghantam dirinya membuat kuda-kudanya hampir terangkat!

“Ahhhh!” Sin Gak mengeluarkan seruan keras melepas Ban-kin-kang (Tenaga Selaksa Kati). Tenaga ini membuat tubuhnya seberat gunung dan tak mampu digeser. Dan ketika gadis itu terkejut berkelebat ke depan, Sin Gak menamparkan tangan kanannya maka Pek-mo-in-kang mendarat di pundak gadis itu.

“Plak!”

Gadis ini tak bergeming. Sama seperti Sin Gak ia pun tak apa-apa menerima tamparan itu. Sin Gak merasa betapa telapaknya seakan menyentuh arca, kokoh dan kuat dan telapaknya pun terasa pedas. Dan ketika masing-masing sama terkejut dan kagum, gadis itu membentak dan menerjang lagi maka selanjutnya Pek-mo-in-kang seakan tepukan ringan di tubuh gadis itu, sementara kebutan atau serangan Sapu Jagad juga tak mampu menggoyahkan kedua kaki Sin Gak yang kokoh bagai gunung.

“Des-dess!”

Dua-duanya melotot dan penasaran. Sin Gak menjadi heran dan juga kaget bahwa ilmu yang dipuji-puji gurunya tak mempan menghadapi gadis ini. Ia tak tahu bahwa itulah Kim-kong-ciok (Ilmu Arca Emas) yang pukulan apapun tak bakal sanggup merobohkan. Jangankan roboh, goyang saja tidak! Tapi ketika gadis itu juga terkejut dan melengking-lengking, Kian-kun-siunya tak mampu menggeser kedudukan pemuda ini maka masing-masing pihak mulai menambah kepandaiannya dan tiba-tiba gadis itu sudah beterbangan seringan kapas tapi secepat halilintar ketika menyambar-nyambar.

“Bu-bian-kang (Ilmu Tanpa Bobot)!” Sin Gak terkejut. Tak terasa ia menyebut ini setelah gadis itu lenyap menyambar-nyambar. Gerakannya begitu cepat dan ringan tapi luar biasa sekali. begitu cepat hingga mata tak mampu mengikuti. Namun karena ia juga memiliki ilmu ini dan berkelebat mengeluarkan seruan keras, lenyap mengimbangi gadis itu maka gadis ini tersentak di antara bayangan Sin Gak.

“Kau kau juga memiliki Bu-bian-kang. Ah, kau pencuri!”

“Tidak, kaulah pencuri. He, dari mana kau dapat ilmu ini, gadis siluman. Serahkan padaku dan beritahukan asal-usulmu!”

“Kaulah yang harus menerangkan asal-usulmu. Kau pencuri... des-desss!” lalu ketika keduanya terpental dan berjungkir balik maka dua orang muda ini sudah bertanding lagi dengan sengit.

Sin Gak tak menduga sama sekali bahwa ia bertemu dengan pewaris si Naga Berkabung. Ia tak tahu bahwa inilah saudara seperguruannya dari lain pendidik. Gadis itu sesungguhnya adalah murid si Naga Berkabung, Bi Hong namanya. Maka ketika mereka bertanding sengit dan masing-masing mulai marah dan menambah kepandaiannya, Pek-mo-in-kang berhadapan dengan Kim-kong-ciok sementara pukulan-pukulan gadis itu juga tak mampu membuat Sin Gak bergeming dengan ilmunya Ban-kin-kang akhirnya gadis ini melengking tinggi menggetarkan kedua lengannya, rambut di kedua bahunya menegang kaku dan lurus bagai tombak.

“Kau atau aku yang roboh!”

Seruan ini mengejutkan Sin Gak. Ia juga siap-siap mengeluarkan ilmunya yang lain dalam usahanya merobohkan gadis ini. Tak disangkanya baru turun gunung sudah berhadapan dengan lawan demikian tangguh. Ia sungguh penasaran. Tapi ketika gadis itu mulai dulu dengan kedua lengan bergetar menegang, juga rambut di kedua bahu itu terangkat bagai tombak tiba-tiba saja senjata aneh ini bercuit dan menyambar matanya disusul bunyi berkeritik dari sepuluh kuku-kuku jari yang lentik runcing itu.

“Prat-dessss!”

Sin Gak terbanting dan kaget bukan main. Ia harus melempar tubuh oleh hebatnya serangan ini. Bunyi berkeritik dari sepuluh kuku jari yang lentik itu mengeluarkan sinar-sinar putih, sinar ini pecah dan membuatnya silau sementara rambut yang lurus kaku itu menusuk matanya. Kalau ia tidak melempar tubuh kemungkinan celaka besar sekali, pandangannya silau. Maka ketika ia melempar tubuh bergulingan dan gadis itu tampak girang, kali ini lawan dibuat terkejut maka ia mengejar namun saat itu si kakek tua berteriak-teriak, meloncat di tengah pertempuran.

“Heii, berhenti. Nona, kongcu... berhenti!”

Gadis ini terkejut. Si kakek tahu-tahu melompat dan masuk ke arena pertandingan, berteriak dan mengebut-ngebutkan ke dua tangannya melerai mereka. Dan karena saat itu ia sedang mengejar Sin Gak, pemuda ini bergulingan membanting tubuh maka terpaksa ia menarik serangannya dan sebagai gantinya ia melempar serangannya itu ke batu karang di sebelah mereka.

“Prattt!”

Batu itu bergoyang-goyang. Si kakek terbelalak karena batu ini tiba-tiba berkerasak, roboh dan gugur. Bagian dalamnya remuk seperti tepung. Dan ketika ia terguncang sementara Sin Gak sudah meloncat bangun di sana, matanya berkilat maka kakek ini tiba-tiba menubruk gadis itu menangis tersedu-sedu.

“Jangan... jangan bertempur. Jangan saling bunuh. Aku si tua sudah sehat dan obatmu benar-benar manjur, nona, demamku hilang. Kalian sudah sama-sama menolong aku dan jangan bertempur. Atau aku si tua mati di sini dan sia-sia pertolongan kalian!”

Sin Gak tertegun. Gadis yang disangkanya menculik dan mencelakai kakek ini ternyata menolong dan menyembuhkan kakek itu. Kakek ini tampak sehat dan memang sembuh, wajahnya tak pucat dan gemetaran lagi. Dan ketika ia terbelalak memandang gadis itu, yang dipeluk dan tak dilepaskan si kakek akhirnya gadis ini berkata tertawa mengejek Sin Gak.

“Baiklah, kami hanya main-main saja. Cucumu datang, orang tua. Lihat ia memanggil-manggilmu. Aku tak akan menyerang dia lagi, asal dia tahu diri!”

Sin Gak terbakar. Saat itu datang cucu kakek ini berlari-lari, jatuh bangun dan berurai air mata dan kakek ini tertegun. Si Lan, cucunya itu menangis tersedu-sedu memanggilnya. Gadis itu langsung menubruk dan menciumi kakeknya berulang-ulang, kejadian ini membuat semua tertegun dan haru. Sin Gak juga tersentuh. Tapi sementara kakek itu bertangisan dengan cucunya, gadis ini melepaskan diri mendadak ia berkelebat dan lenyap. Sin Gak melihat ini. Kakek dan cucunya itu tak tahu tapi ia mengikuti, membentak dan akan mengejar tapi tosu di sana itu mengeluh. Ia dipanggil. Dan ketika pemuda ini bingung harus mendahulukan yang mana maka gadis di sana itu sempat mencibirkan bibir tanda mengejek.

“Krekk!”

Sin Gak meremas hancur batu sekepalan tangan. Batu inipun menjadi bubuk tapi ia harus menahan marah. Tosu itu harus dilihatnya dulu. Maka ketika ia melompat dan memeriksa tosu ini, yang siuman dan baru sadar maka Sin Gak lega bahwa tosu itu tak terluka serius, hanya dahinya lecet terbarut batu.

“Mana.... mana gadis itu. Ia gadis siluman. Ah, bagaimana dengan kakek itu, anak muda. Apakah selamat!”

“Kau memikirkan orang lain,” Sin Gak kagum. “Dirimu sendiri babak-belur, totiang, tapi semuanya selamat. Kakek itu sehat, tak apa-apa. Bangunlah dan lihat kiri kanan.”

Tosu ini bangun, ditopang. Tapi ketika ia dapat berdiri sendiri dan meliuk-liukkan tubuh melemaskan tulang, maka ia lega dan melihat kakek dan cucunya itu, masih bertangis-tangisan. “Pinto ingin melihat mereka, sebaiknya disuruh pulang atau mencari pekerjaan lain.”

Sin Gak mengangguk. Ia setuju dan menahan langkahnya lagi mengejar gadis, berbaju hitam putih itu. Diam-diam mencatat ini, lawan tangguh yang membuatnya penasaran. Tapi ketika kakek dan cucunya itu melompat bangun, berlari dan berlutut di depan mereka maka kakek ini mendahului.

“Inkong, totiang, terima kasih untuk pertolongan kalian semua. Aku si tua tak dapat membalas kebaikan ini. Biarlah Tuhan membalas budi kalian dan kami kakek dan cucu yang malang mendoakan setiap hari!”

“Bangunlah,” tosu itu menepuk perlahan. “Kau agaknya tak perlu lagi kembali ke kota, lopek. Bekas majikanmu tentu masih mengancammu nanti. Carilah tempat lain dan bekerjalah di tempat lain pula. Kami tak mungkin melindungi kalian sehari-hari.”

“Benar, kami tahu. Tapi kami ingin mempersilakan kalian mampir sebentar di tempat kami, totiang, sekedar minum teh dan ketela rebus. Kami harap ji-wi (kalian berdua) tak menolak!”

“Hm, aku masih ada urusan,” tosu itu tersenyum. “Lain kali saja, lopek, terima kasih untuk undanganmu.”

“Kalau begitu siauw-inkong ini saja!”

“Aku juga ada perlu,” Sin Gak menolak. “Terima kasih untuk kebaikanmu, lopek, sekarang aku pergi dan hati-hati menjaga diri.”

“Eh, nanti dulu!” kakek itu berseru. “Aku ada sebuah permohonan, siauw-inkong. Entahlah kau mau mengabulkannya atau tidak!”

Sin Gak mengerutkan kening. Ia sudah, akan memutar tubuh ketika kakek ini tiba-tiba menahannya. Si Lan gadis di sebelah itu memerah mukanya, menunduk. Lalu ketika ia bertanya apa permohonan kakek itu maka sedikit gugup kakek ini menunjuk cucunya.

“Aku..... aku ingin menyuruhnya mengabdi padamu, menjadi pelayanmu. Aku si tua merasa berat menjaga cucuku yang sudah mulai dewasa ini. Bagaimana kalau ia kuserahkan padamu, siauw-inkong, melayani segala kebutuhanmu. Ia pandai mencucikan pakaianmu dan masak. Ia rajin!”

“Hm!” Sin Gak semburat, wajahnya tiba-tiba juga memerah. “Aku pengelana yang biasa melayani kebutuhanku sendiri, lopek, lagi pula aku orang miskin. Aku tak dapat membayarnya.”

“Inkong tak perlu membayar, ia mengabdi cuma-cuma!”

“Tidak, aku tak dapat menerimanya, lopek, maaf. Tak mungkin ia harus mengikuti aku seorang pengelana, keluar masuk hutan.”

Kakek itu mendesah, kecewa. Sang cucu tampak terisak menahan tangis, gadis itupun kecewa. Tapi karena Sin Gak memang benar dan tak mungkin gadis itu ikut keluar masuk hutan, bagaimana jadinya, akhirnya kakek ini mengangkat muka ketika tiba-tiba Sin Gak berkelebat menghilang, mengusir malu.

“Aku pergi, maaf!”

Kakek itu tertegun. Terdengar jerit kecil dan Si Lan menubruk kakeknya. Sesungguhnya gadis ini mulai tertarik dan jatuh hati kepada Sin Gak. Ia suka. Tapi ketika Sin Gak berkelebat dan meninggalkan mereka mendadak tosu di depan itu berseru dan berkelebat mengejar pula.

“He, tunggu aku, anak muda. Pinto masih ingin bicara!”

Sin Gak memperlambat larinya. Ia masih tak mau berhenti karena tak ingin di ganggu kakek itu, sengaja mengurangi kecepatannya dan akhirnya si tosu menyusul. Kini mereka di luar bukit kapur itu, di hutan kecil. Dan ketika Sin Gak benar-benar berhenti dan tosu itu mengusap keringat, terengah maka ia menggelengkan kepala berseru kagum.

“Pinto harus mengejarmu setengah mati padahal kau perlahan-lahan saja berlari. Ah, kepandaianmu hebat sekali, anak muda, pinto kagum. Pinto ingin memperkenalkan diri dan berkenalan lebih jauh. Pinto adalah murid Kun-lun bernama Ke Ke Cinjin. Dan kau, siapakah kau, anak muda? Adakah sesuatu yang dapat pinto tolong?”

Sin Gak menarik napas. Kalau saja ia tak berhutang kepada tosu ini gara-gara lima puluh tail mungkin enggan ia bercakap-cakap. Tapi tosu ini ramah, apalagi dari Kun-lun. Dan kerena ia dengar tosu-tosu Kun-lun adalah para pendekar yang rata-rata berwatak baik maka ia menjawab memberitahukan nama, sekedarnya saja.

“Aku Sin Gak, kiranya totiang adalah murid Kun-lun. Hm, kalau kau ingin menolongku barangkali dapat sedikit memberi petunjuk, totiang. Di manakah letak Hek-yan-pang dan ke mana aku harus pergi.” Sin Gak teringat tujuannya dan gurunya dulu pernah memberitahu ini. Ia memang harus mulai bertanya dan tosu itu terkejut, memandangnya curiga dan aneh. Dan ketika pemuda ini merasa heran dan tak senang, sorot tosu ini seakan menyembunyikan prasangka maka tiba-tiba tosu itu balik bertanya.

“Kau mencari Hek-yan-pang? Bolehkah pinto tahu maksud kedatanganmu?”

Pemuda ini menahan tak senang. “Haruskah kuberi tahu maksud pribadiku? Apakah totiang perlu benar?”

“Maaf, pinto..... eh, Hek-yan-pang akhir-akhir ini dilanda peristiwa besar, anak muda. Dimusuhi seorang jahat yang amat keji. Pinto ingin tahu karena jelek-jelek Hek-yan-pang memiliki hubungan pula dengan Kun-lun. Seorang murid Kun-lun adalah menantu ketua Hek-yan-pang. Nah, barangkali tak ada jeleknya kalau pinto bertanya karena pinto juga merasa bertanggung jawab atas keselamatan Hek yan-pang!”

Barulah Sin Gak mengerti. Ia tentu saja tak tahu peristiwa besar yang mengobrak-abrik perkumpulan itu. Ia juga tak tahu bahwa seorang tokoh wanita Hek-yan-pang adalah murid perempuan Kun-lun. Maka ketika ia menjadi mengerti dan rasa tak senangnya lenyap, justeru ia merasa menaruh kepentingan maka ia mengangguk dan tersenyum. “Kiranya totiang khawatir kalau aku adalah musuh Hek-yan-pang. Tidak, aku bukan musuh, totiang, melainkan sahabat. Aku mencari seseorang di sana. Aku, hm... mencari ayah ibuku.”

Tosu ini terbelalak. “Mencari orang tua?”

“Ya, guruku mengatakan harus diawali dari Hek-yan-pang. Barangkali sekarang totiang dapat membantuku dimanakah letak Hek-yan-pang itu.”

Tosu ini menarik napas panjang, lega. “Kalau begitu pinto tidak perlu khawatir, namun bagaimana kalau kuantar.”

“Aku ingin sendiri.”

“Bersama pinto lebih cepat, Sin-hian-te, tak perlu khawatir!”

“Tidak, aku ingin sendiri. Aku tak ingin dengan siapapun atau aku dapat bertanya kepada orang lain!”

Kalahlah tosu ini. Ia melihat kekerasan hati yang luar biasa dari kata-kata anak muda ini. Kalau teman bicaranya sudah menolak apapun tak bakal mau diterima. Maka ketika ia menghela napas dan menggeleng kepala akhirnya ia memberi tahu, “Baiklah, Hek-yan-pang berada di selatan dari sini, mungkin dua hari perjalanan. Kau dapat menyusuri pegunungan Jing-san.”

“Baiklah, terima kasih.” Sin Gak menjadi gembira. “Dan rupanya sekarang kita harus berpisah, totiang. Mengenai uang lima puluh tail itu, hm...... akan kubayar kelak. Kalau perlu menemuimu di Kun-lun!”

“Tidak tidak, tak perlu dipikirkan itu. Pinto masih mempunyai lain, hiante, dan sebaiknya bawalah bekal roti kering ini di perjalanan. Kau perlu makan!”

Sin Gak tertegun. Sang tosu sudah mengeluarkan buntalan kecilnya memberikannya kepadanya, katanya roti kering. Dan karena tak enak menolak akhirnya pemuda ini menerima juga. Tosu itu berseri-seri. “Terima kasih. Tak kulupa budi baikmu, totiang, dua kali aku merepotkanmu.”

“Ha-ha, ini kewajiban pinto. Semua murid Kun-lun harus melakukan ini. Sudahlah, selamat berpisah, Sin-hiante, sampai jumpa lagi!”

Tosu itu mendahului dan memutar tubuhnya. Ia berkelebat meninggalkan Sin Gak sementara pemuda itu masih memegang buntalan kecil itu. Tapi ketika tosu itu lenyap dan Sin Gak menyimpan ini maka pemuda itupun bergerak dan mulai menuju selatan.

* * * * * * * *

Tak banyak yang dijumpai Sin Gak dalam perjalanannya, betapapun akhirnya ia sampai juga di Hek-yan-pang. Tapi karena tak mau diantar dan harus bertanya-tanya, barulah empat hari kemudian sampai maka keluar dari hutan menghadapi pulau kecil di tengah danau luas itu pemuda ini tertegun. Yang mula-mula dirasakan adalah kesunyian mencekam. Tak ada tanda-tanda kehidupan sebagaimana layaknya sebuah perkumpulan. Ia berdiri di tepi danau itu memandang ke depan.

Pulau di tengah itu sunyi. Bangunan dan beberapa rumah kecilnya seakan merana tak berpenghuni. Ia ragu. Dan ketika ia berdebar karena inilah tempat yang dicari, ia sudah berada di situ maka telinganya yang tajam mendengar suara berkeresek dan gerakan-gerakan mencurigakan. Sin Gak diam, pura-pura tak tahu. Kalau ada manusia di situ justeru kebetulan, ia dapat bertanya. Tapi ketika melompat belasan bayangan dan tiba-tiba menyerangnya maka pemuda ini terkejut juga.

“Pemuda iblis, kau datang lagi ke sini? Mampuslah!”

Sin Gak terkejut. Tak disangkanya kedatangannya di situ justeru disambut bacokan senjata tajam. Pedang dan tombak beronce menyambar. Tapi ketika ia berkelit dan menangkis semua ini, jerit wanita dan laki-laki bercampur aduk maka tusukan dan bacokan itu terpental semua, bahkan tiga di antaranya terlepas.

“Plak-plak-plak!”

Jerit ini disusul seruan heran. Mereka, delapan belas laki-laki dan perempuan melihat siapa lawan mereka ini. Sin Gak memutar tubuhnya dan telah menghadapi mereka ini. Lalu ketika semua orang itu menuding dan gemetar melempar senjata mendadak semuanya berlari dan menjatuhkan diri berlutut.

“Sin-siauwhiap (pendekar muda Sin)!”

Sin Gak tercengang. Ia heran dan kaget bagaimana wanita dan laki-laki itu. mengenal dirinya. Dan ketika ia tertegun maka mereka mengguguk dan memeluk kakinya.

“Aduh, kenapa baru sekarang kau datang, siauwhiap. Kenapa setelah tokoh-tokoh kami bepergian semua. Aduh, kami harus mengalami derita berturut-turut!”

“Bangunlah,” Sin Gak membangunkan seorang diantaranya. “Siapa kalian ini, bibi-bibi. Bagaimana mengenal aku bukankah baru pertama ini kita bertemu.”

“Eh!” wanita itu mengangkat mukanya. “Kita kita baru bertemu?”

“Benar!” satu di antara laki-laki itu berseru, mendadak melompat bangun. “Ia bukan si Naga Pembunuh, Pin-cici. Pemuda ini lengkap tangannya. Ia tidak buntung!”

Terkejutlah semua wanita dan laki-laki itu. Mereka tiba-tiba memandang Sin Gak dengan kaget dan melompat bangun. Tapi karena wajah Sin Gak bagai pinang dibelah dua dengan ayahnya, pemuda ini memang mirip benar maka satu di antaranya tiba-tiba menggigil dan menuding.

“Kongcu. kongcu apakah she Sin?”

“Benar, aku she Sin.”

“Kalau begitu kongcu putera Sin Giam Liong si Naga Pembunuh? Kongcu mencari ayah kongcu itu?”

Berdebarlah dada Sin Gak. Ia tak tahu tentang ayah ibunya kecuali bahwa semua keterangan itu akan didapat di Hek-yan-pang sini. Maka ketika tiba-tiba ia dituding dan ditanya apakah ia mencari ayahnya, berdetaklah pemuda ini maka ia mengangguk. “Benar.”

“Ohh!” wanita itu mengguguk, menubruknya lagi. “Kalau begitu kau adalah Sin Gak, kongcu, kau putera ayahmu Giam Liong. Wajahmu mirip benar dengannya, kau anak yang hilang itu!” lalu ketika Sin Gak tersentak dan menggigil maka berhamburanlah orang-orang itu lagi kepadanya, memeluk.

“Benar, kau tentu Sin Gak. Kau putera ayahmu Giam Liong. Kalian bagai pinang dibelah dua!”

Pemuda ini terguncang. Setelah semua menyebut namanya maka yakinlah dia bahwa kedatangannya di tempat yang tepat. Asal-usulnya memang di sini. Maka ketika ia tergetar dan menitikkan air mata, terbawa oleh tangis dan sedu-sedan wanita-wanita ini maka pemuda itu hanyut dan sejenak tak mampu menguasai diri. Dan saat itu tiba-tiba terdengar pekik dan gonggong srigala.

“Iblis itu datang!”

Berhamburanlah orang-orang memutar tubuh. Mereka yang tadi sesenggukan dan memeluk Sin Gak tiba-tiba meloncat dan berlari ketakutan. Wanita dan laki-laki itu menjerit-jerit. Namun ketika muncul gigi- gigi menyeringai dari dalam hutan, disusul salak dan loncatan-loncatan panjang maka puluhan srigala menubruk dan mengejar orang-orang ini.

“Aduh...bret-bret-brett!”

Sin Gak terkejut. Tiga di antara wanita-wanita itu terpelanting dan digigit anjing-anjing liar itu, berteriak dan berguling. namun mereka diserang yang lain. Ada tujuh ekor mengeroyok tiga wanita ini. Dan ketika ia tersirap karena pakaian wanita itu robek-robek, kulitnya yang putih tipis terkuak berdarah maka pemuda ini berkelebat dan tangannya langsung menampar kepala binatang-binatang itu.

“Pergilah!”

Tamparan Sin Gak adalah tamparan yang mengandung Pek-mo-in-kang. Jangankan anjing, kepala kerbaupun pasti pecah. Maka ketika tujuh binatang itu menjerit dan terkapar maka tiga wanita itu dapat bergulingan meloncat bangun namun tiba-tiba mereka terkekeh. Sin Gak tak menyadari ini. Ia telah berkelebat lagi menghajar binatang-binatang yang lain, gonggong dan salak riuh mereka menutup kekeh tiga wanita itu. Dan ketika berturut-turut ia merobohkan lagi belasan yang lain dan para murid Hek-yan-pang bersorak gembira, sekejap binatang itu tinggal separoh mendadak tiga wanita yang terbebas dari gigitan anjing-anjing liar ini menubruk Sin Gak dan menggigit lengan dan kaki pemuda itu.

“Heii!” Sin Gak terkejut. Ia telah dikerubut dan digigit kaki dan lengannya. Wanita-wanita itu tiba-tiba saja seolah menjadi srigala-srigala buas. Sin Gak tak tahu bahwa gigitan itu telah menyebarkan racun jahat ke tubuh korban, menyalurkan atau menularkan hawa jahat dari sebuah ilmu hitam. Maka ketika ia digigit namun untunglah Pek-mo-in-kang melindunginya, hawa dingin tenaga sakti itu membuat gigi para wanita itu berkerutuk maka mereka menjerit dan roboh terbanting.

“Kres-kres-kres!”

Tiga wanita ini menggigil dan menggeliat-geliat. Mereka terkejut bertemu kulit dingin seperti es, racun jahat tiba-tiba hancur dan lenyap. Dan ketika sisa srigala lari ketakutan memasuki hutan maka murid- murid Hek-yan-pang yang selamat ditolong pemuda ini sudah menolong rekan mereka yang pucat dan masih kedinginan.

“Kenapa kau menyerangku,” Sin Gak mernbentak. “Apakah kalian gila dan tidak tahu siapa lawan siapa kawan!”

“Ampun.....!” tiga wanita itu berlutut, sadar kembali, menangis. “Kami tak tahu apa yang kami lakukan, kongcu. Kami terkena gigitan binatang-binatang terkutuk itu. Kami kemasukan racun jahat!”

“Mereka tertular liur jahat srigala-srigala itu,” seorang yang lain buru-buru menerangkan. “Kami semua didera penderitaan panjang, kongcu. Ampunkan mereka karena sesungguhnya mereka tak tahu apa yang mereka lakukan!”

“Hm, apa yang terjadi,” Sin Gak terkejut. ”Mana pula ketua Hek-yan-pang karena bukankah kudengar Ju-taihiap memimpin perkumpulan ini.”

“Taihiap dan tuan muda sama-sama pergi, kami menunggu. Peristiwanya panjang dan marilah kongcu kami antar ke tengah pulau itu. Di sana sajalah kita bicara dan awas musuh kembali datang.”

Semua mengangguk. Beramai-ramai mereka mengajak Sin Gak dan daya tangkal pemuda ini terhadap liur srigala membangkitkan harapan. Kiranya Pek-mo-in-kang mampu melenyapkan pengaruh hitam racun jahat itu. Dan ketika Sin Gak mengangguk dan menuju pulau maka segera orang-orang ini mengambil perahu yang disembunyikan di balik semak-semak belukar, meluncur dan tak kurang empat perahu beriringan cepat. Sekali-sekali mereka masih menoleh ke belakang, gonggongan itu rupanya masih ditakuti. Dan ketika mereka. sampai di seberang dan meloncat turun maka Sin Gak merasa adanya hawa seram yang menyelubungi tempat itu.

“Nanti dulu,” pemuda ini mencari sesuatu. “Siapa di antara kalian yang memiliki benang dan jarum kecil, bibi. Aku butuh sepuluh jarum dan semeter benang."

“Aku punya,” satu di antaranya berseru, melepas ikat pinggang. “Tapi jarumnya hanya dua, kongcu. Untuk apa dan apakah cukup!”

“Tak apa,” Sin Gak menerima dan menyuruh mundur. “Tempat ini berbau amis seperti genangan darah, kurasa ada hawa hitam di sini. Biar kubersihkan dulu dan minggirlah!”

Sin Gak adalah murid Sian-eng-jin si Bayangan Dewa. Di samping ilmu silat dan kepandaian lain maka diapun diajar mengenal ilmu-ilmu hitam dan menangkalnya. Tanda-tanda ilmu hitam diberitahukan pemuda ini dan Sin Gak pun mencium. Bau amis seperti genangan darah itu tak enak, lagi pula hawa menyeramkan di atas Hek-yan-pang itu seakan mengurung dan mengepung dari segala penjuru.

Maka ketika ia harus membersihkan ini dan menenangkan murid-murid yang lain, ia mencium hawa jahat di situ tiba-tiba pemuda ini melemparkan benang dan jarum ke barat dan timur pulau. Orang hanya melihat cahaya berkelebat dan tahu-tahu terdapat semacam pagar cahaya di situ. Jarum itu sebagai tiang pancangnya. Lalu ketika Sin Gak tersenyum dan menarik napas lega ia pun menggerakkan tangan ke atas mengebut sisa-sisa hawa hitam di atas kepala.

“Pergilah!”

Pria dan wanita terbelalak. Mereka mendengar ledakan dan bau amis hilang. Sebagai gantinya bertiuplah hawa segar di situ. Lalu ketika pemuda ini mengangguk dan berjalan kembali maka ia berkata bahwa siapapun tak dapat masuk atau keluar tanpa kehendaknya.

“Sebaiknya kalian di sini saja semua. Aku telah memasang pagar. Jangan coba-coba keluar kalau tidak meminta ijin.”

Tercenganglah semua orang. Mereka menjadi kagum namun dua di antaranya tiba-tiba saling mengedip, ingin menguji. Maka ketika mereka bergerak ke kiri kanan menuju perahu tiba-tiba mereka menjerit karena di tepi pulau kaki mereka tersengat jala cahaya bagai setrom tegangan tinggi.

“Aduh!”

Terkejutlah semua orang. Mereka yang mengantar Sin Gak menoleh, dua rekan mereka itu meronta-ronta namun aneh tak ada apa-apa yang melilit. Mereka ini seakan terjebak kawat berduri saja. Tapi ketika Sin Gak berseru perlahan mengibaskan lengannya maka dua orang itu meloncat bangun lagi dan dapat berdiri bebas.

“Am...... ampun. Kami hanya ingin menguji kesaktianmu, kongcu, ternyata benar. Kami tak dapat keluar.”

“Dan yang di luarpun tak dapat masuk,” Sin Gak berkata dingin. “Sebaiknya jangan coba-coba melanggar larangan, paman, atau aku membiarkan kalian.”

Gentarlah semua orang. Sekarang mereka percaya dan kekaguman pun semakin meningkat. Dua kali pemuda ini menunjukkan kepandaiannya. Dan ketika semua berjalan lagi dan menuju rumah paling besar, tempat tinggal Ju-taihiap maka di sini semua orang berlutut.

“Mati hidup kami di tangan kongcu, biarlah hari ini kongcu memimpin kami sambil menunggu datangnya ketua!”

“Hm, bangunlah,” Sin Gak tak enak juga. “Aku datang bukan untuk melindungi siapapun, bibi, melainkan mencari ayahku. Sekarang ceritakanlah tentang ini dan mana ayahku.”

Semua orang menangis. Begitu masuk dan bersimpuh dirumah besar ini segera sedu-sedan dan tangis mengguguk pecah. Rumah itu tak terawat lagi dan penuh sarang laba-laba. Sudah lima tahun ini rumah besar ini tak berpenghuni. Maka ketika Sin Gak tertegun dan membiarkan tangis duka itu, maklum bahwa sesuatu yang hebat terjadi maka sejenak kemudian Cu Pin, wanita tertua dari para murid ini bercerita.

Kiranya telah terjadi sesuatu yang mengguncangkan Hek-yan-pang. Teror demi teror dialami perkumpulan ini, mulai dari datangnya Majikan Hutan Iblis itu sampai hilangnya Giok Cheng. Lalu ketika si Naga Pembunuh datang berlumuran darah, luka-luka maka kejadian demi kejadian menghancurkan keberanian anak-anak murid ini.

“Ketua kami Ju-taihiap terpaksa menyingkir, puteranya Han Han juga pergi. Dan karena teror demi teror mengguncang kami maka Hek-yan-pang porak-poranda, kongcu. Tak ada yang mampu melawan Majikan Hutan Iblis itu karena ia benar-benar sakti. Tak dapat dibunuh!”

“Hm, ceritakan secara urut, bagaimana itu. Biar kudengar dan harap kalian tenang. Dan bagaimana pula dengan ayahku.”

Wanita itu bercerita. Sejak terakhir kali Naga Pembunuh datang luka-luka, maka Ju-taihiap maupun puteranya berdebar-debar. Kisah Giam Liong yang begitu mencekam membuat dua tokoh ini gelisah, bukan takut melainkan cemas bagaimana di dunia ini ada mahluk seganas itu. Sepak terjangnya tak tertahankan dan tokoh-tokoh kang-ouw roboh satu per satu. Mereka terkena Beng-jong-kwi-kang (Tenaga Setan Penembus Roh) yang amat jahat itu, tunduk dan mengabdi Majikan Hutan Iblis ini. Dan karena lelaki itu memiliki kepandaian luar biasa, sihir dan ilmu hitam maka di sini ketua Hek-yan-pang mati kutu dan kehabisan akal.

“Di sini hujin (nyonya) sendiri binasa, kami tak dapat berbuat apa-apa. Dan karena iblis itu terus melakukan sepak terjangnya tak dapat dihalang-halangi maka Ju-taihiap meninggalkan kami menuju Lembah Malaikat.”

“Hm, di mana Lembah Malaikat itu, tempat siapa?”

“Konon katanya tempat tinggal manusia dewa Bu-beng Sian-su. Ketua kami hendak meminta petunjuk, kongcu, atau pertolongan.”

“Dan ibuku?” Sin Gak menahan perasaannya. Sejak tadi kau tak pernah menyebut-nyebut ibuku, bibi. Di mana dia apakah bersama ayah.”

“Ah, Sin-hujin telah meninggal, dibunuh jahanam keparat ini. Ibumu pun menjadi korban kebiadaban iblis ini, kongcu. Banyak di antara kita yang tewas terbunuh!”

Sin Gak memejamkan mata. Untunglah karena tak begitu kenal maka berita kematian ibunya ini sebentar saja membuat perasaannya terkoyak, setelah itu Sin Gak tenang lagi. Namun ketika matanya berkilat dan wajah itu memerah maka wanita ini pucat melanjutkan, gentar. Mata itu mencorong bagai naga yang siap murka, menakutkan!

“Lalu bagaimana?” Sin Gak bertanya lagi, dingin. “Kenapa kau tak melanjutkan?”

“Maaf,” wanita ini gemetar. “Apakah boleh kuteruskan, kongcu? Kau...kau tampaknya marah!”

“Aku tidak marah kepada kalian, aku marah kepada iblis itu. Teruskanlah dan tenang-tenang sajalah.”

Wanita itu mengangguk, menelan ludah. “Selebihnya adalah peristiwa menggegerkan, menantu Ju-taihiap tak kembali kesini.“

“Hm, bibi Tang Siu?”

“Benar, kongcu, sahabat dekat mendiang ibumu pula. Ia... ia mencari anaknya Giok Cheng!”

“Jadi Ju-taihiap mempunyai cucu perempuan?”

“Benar, dan kau dijodohkan kepadanya. Ah, betapa gembira kalau mereka mengetahui kau di sini, kongcu, apalagi Giok Cheng di sini pula. Tentu ramai!”

Sin Gak terkejut. Untuk ini ia menjadi merah karena malu. Baru mengetahui sekelumit dirinya tiba-tiba terdengar juga berita perjodohan itu. Ia jengah. Tapi teringat gadis baju hitam putih mendadak ia berdebar dan membayangkan sesuatu yang aneh. Manakah lebih cantik antara gadis itu dengan Giok Cheng? Pantaskah Giok Cheng menjadi jodohnya? Jangan-jangan ilmu kepandaiannya rendah sekali, kalah jauh dengan gadis baju hitam putih itu!

Sin Gak semburat. Ternyata di samping penasarannya yang belum terpuaskan sesungguhnya ia menaruh kagum kepada gadis itu. Apalagi setelah mengetahui bahwa gadis yang disangkanya mencelakai kakek tua itu ternyata malah mengobati. Ia merasa simpatik. Tapi karena mereka bermusuhan dan betapapun ia merasa gadis itu sombong, apalagi bibir yang berjebi mengejek itu masih tak dapat dilupakannya maka masih merasa panas dan marah. Akan diulangnya lagi pertandingan di antara mereka kelak!

“Kongcu berpikir apa?” tiba-tiba wanita itu bertanya. “Apakah mengenai cantik tidaknya calon jodohmu? Ah, jangan khawatir, ia cantik dan gagah perkasa, kongcu. Konon katanya diambil murid oleh nenek sakti Hek-i Hong-li!”

“Apa?” Sin Gak terkejut. “Hek-i Hong li?”

“Benar, begitu yang kami dengar. Dulu nenek ini datang dan meminta gadis itu menjadi muridnya. Apakah kongcu kenal!”

Sin Gak tertegun. Kenal? Ah, tentu saja ia tahu nama itu. Nenek itu adalah sumoi gurunya sendiri, jadi masih bibi gurunya. Jadi kalau Giok Cheng menjadi murid wanita itu maka masih termasuk sumoinya sendiri. Tentu lihai! Dan ketika pemuda ini berdebar namun masih tertegun maka wanita itu meneruskan ceritanya bahwa Hek-yan-pang terpaksa ditinggalkan pimpinannya setelah teror demi teror dari Majikan Hutan Iblis itu.

“Dulu nenek sakti Hek-i Hong-li membuat gentar Majikan Hutan Iblis itu. Tapi entahlah, nenek itu tak mau bertindak lanjut membunuh keparat ini. Ia masih berkeliaran. Dan sayangnya nona Giok Cheng juga belum pernah datang sejak di ambil murid...!”

Tapak Tangan Hantu Jilid 24

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 24
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“SUHU!”

Menyeramkan melihat itu. Sesosok arwah, begitu kira-kira patut disebut melayang lurus ke langit biru. Arwah atau mahluk halus ini jelas Sian-eng-jin yang memperlihatkan diri. Kakek itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Tapi ketika Sin Gak tertegun dengan mata terbelalak lebar, bulu tubuhnya berdiri mendadak sosok putih atau arwah ini melesat cepat, lenyap.

“Suhu...!”

Hilanglah kakek itu. Sian-eng-jin telah membawa raganya bersama-sama. Kakek itu moksa. Lalu ketika Sin Gak sadar mendengar suara hiruk-pikuk, gemuruh, maka puncak Awan Iblis mendadak runtuh. Bergeraklah pemuda ini menyelamatkan diri. Batu-batu berguguran dan pohon-pohon roboh. Seakan berbela sungkawa atas kepergian kakek itu, maka puncak gunung bergetar. Aum dan jerit binatang hutan silih berganti. Untuk beberapa saat Sin Gak dicekam ketegangan, ia tak tahu apa artinya itu. Tapi ketika suara-suara itu akhirnya lenyap dan sama sekali diam, Sin Gak memandang menggigil maka puncak biasa lagi dan sebagai gantinya terdapatlah suasana damai nan tenang.

Teringatlah Sin Gak. Dulu gurunya itu pernah berkata bahwa di atas bumi segala mahluk selalu berhubungan. Hanya karena masing-masing cara berkomunikasi sendiri maka manusia tak banyak menangkap. Ini harus dimengerti dengan bahasa batin, bahasa kasih sayang. Maka ketika ia tertegun dan berdiri mematung, batinnya bekerja maka segera ia mengerti bahwa Sian-thian-san atau Gunung Dewa sedang menyatakan selamat tinggalnya kepada gurunya itu.

“Tahukah kau bahwa tumbuh-tumbuhan dan batupun dapat saling berbicara. Mereka berkomunikasi dengan caranya sendiri, Sin Gak, cara aneh yang bagi kita asing. Tumbuh-tumbuhan misalnya, saling berbicara lewat akar-akarnya. Sedang batu atau benda-benda mati lainnya umumnya bicara lewat warna yang ada di tubuh mereka. Kita manusia tak dapat menangkapnya kecuali dengan bahasa batin, bahasa kasih sayang. Dan kau belajarlah secara perlahan-lahan menangkap semua peristiwa ini. Bumi sesungguhnya indah!”

Sin Gak mengangguk-angguk. Setelah ia menangkap isyarat suara-suara gemuruh itu maka iapun mengerti. Tempat yang ditinggali gurunya ini menyatakan kesedihannya dengan cara aneh, bahasa mereka. Lalu menarik napas dalam dan maklum tak mungkin gurunya kembali maka pemuda inipun berlutut dan mencium bekas gurunya tinggal. Penghormatan terakhir.

“Baiklah, selamat jalan, suhu. Restuilah teecu dan mohon pamit.”

Tak ada lagi yang dilakukan di situ. Setelah gurunya meninggalkan Sian-thian-san dan ia harus mencari orang tuanya, pemuda inipun tak mau diam. Sudah lama ia memiliki keinginan itu, ada rindu dan rintih batin. Maka ketika Sin Gak berkemas dan menyambar buntalannya tiba-tiba pemuda inipun meloncat pergi.

Gerakannya begitu cepat hingga dengan beberapa lompatan saja sudah di bawah gunung. Jurang lebar dilalui begitu mudah. Lalu ketika Sin Gak mengerahkan kepandaiannya dan terbang seperti siluman, maka bayang-bayang tubuhnya tak dapat diikuti lagi karena lenyap seperti iblis menyambar!

* * * * * * * *

Turun ke dunia ramai membuat Sin Gak terbengong-bengong. Bertahun-tahun hidup di gunung dan sepi dari pergaulan membuat pemuda ini begitu gembira melihat hilir-mudik manusia dan keramaian lalu lintas. Pertama-tama ia tiba di kota Ceng-kiang, sebuah kota pelabuhan. Dan ketika ia berhenti melihat perahu hilir-mudik di sungai yang lebar, menghubungkan seberang sana dengan sebuah kota lain maka di sini pemuda itu berhenti. Beberapa lamanya ia terkagum-kagum.

Perahu besar dan para hartawan kaya membuat ia bengong. Mereka berpakaian indah-indah dan sutera mahal yang menempel itu membuat pemiliknya semakin gemerlap dan tampak “wah”. Dari kejauhan seakan penuh suka-cita dan serba gembira. Inilah kota pelabuhan yang sibuk oleh kaum pedagang, jual beli ikan atau barter sutera-sutera mahal. Dan ketika tanpa terasa Sin Gak mendekati tempat ini, berhenti dan berdiri di tepi sungai mendadak apa yang tidak tampak dari kejauhan sekonyong-konyong muncul.

Mula-mula adalah kuli panggul yang terseok naik turun dari perahu satu ke perahu lain. Karung berat di atas pundak mereka itu sarat hasil bumi. Lalu ketika keranjang-keranjang ikan juga dipikul dan masuk keluar perahu maka di sisi lain orang-orang yang berpakaian indah itu tunjuk sana tunjuk sini diiring bentakan-bentakan. Para majikan ini rata-rata dikelilingi empat lima orang pembantunya yang bersikap sebagai anjing penjaga, sekaligus tukang pukul.

Sin Gak mengerutkan kening. Hal-hal begini masih baru baginya dan ia merasa sesuatu yang timpang. Betapa beratnya para kuli-kuli panggul itu sementara sang majikan enak saja main perintah, Telunjuk tak henti-hentinya menuding sementara yang bekerja mandi keringat. Tapi ketika seorang laki-laki tua kena cambuk dan jeritan pecah di sini, Sin Gak menoleh maka ia terkejut karena di perahu yang lain seorang manusia sedang mendera manusia lainnya.

“Anjing, manusia sampah! Bangun dan pikul lagi karung itu, tua bangka. Hutangmu belum lunas meskipun hari ini kau bekerja penuh. Ayo, bangun dan pikul lagi atau cambukku menghajarmu... tar-tar!”

Sin Gak menjadi sakit. Seorang kakek tua, terseok dan merintih-rintih dicambuk seorang tukang pukul yang berdiri garang. Sebuah karung besar terguling di dekatnya dan kakek ini megap-megap. Ia rupanya sakit, terbukti mukanya pucat sementara tubuh itupun menggigil. Sekali lihat Sin Gak tahu bahwa kakek ini terserang demam. Maka ketika ia terkejut kakek itu didera lagi, menjerit dan roboh tahu-tahu ia bergerak dan telah menangkap ujung cambuk itu.

“Jangan siksa orang tua atau aku menghajarmu. Lepaskan dan biarkan ia berdiri!"

Tukang pukul ini terkejut. Ia akan menghajar lagi ketika ujung cambuk tahu-tahu tertangkap, pemuda itu telah berada di belakangnya bagai iblis. Tapi membalik dan menjadi marah, sadar tiba-tiba tukang pukul ini membentak menyodokkan sikunya ke ulu hati Sin Gak.

“Serahkan cambukku atau kau mampus!”

Sin Gak mendengus. Ia sudah merasa tak senang kepada tukang pukul yang dianggapnya kejam ini, mendahului dan tahu-tahu mencengkeram dan mengangkat laki-laki itu. Lalu ketika ia melempar lawannya ke kiri maka terdengar teriakan dan pekik kaget.

“Heiiiiiii... byuurrrrr!”

Semua menoleh. Kejadian itu menarik perhatian kuli panggul dan para pedagang. Tukang pukul itu terbanting dan masuk sungai, basah kuyup. Lalu ketika ia memaki-maki namun Sin Gak tak perduli, menolong dan sudah mengangkat bangun kakek itu maka pemuda ini menyuruh kakek itu beristirahat.

“Kau sakit, tak seharusnya bekerja. Jangan memaksa diri dan biarlah kuselesaikan pekerjaanmu. Di mana karung ini harus kuletakkan.”

Kakek itu terbelalak. la batuk-batuk dan memang terserang demam, hanya karena terpaksa saja ia bekerja. Hutangnya telah banyak. Tapi ketika tukang pukul itu berenang menepi dan meloncat ke darat, mencabut golok maka ia gemetar menuding belakang. “Dia dia datang lagi. Awas, megang senjata tajam!”

Sin Gak tak menoleh. Ia mendengar kesiur angin di belakang, tukang pukul itu membentak dan menyerangnya lagi dengan cepat. Tapi ketika ia menggerakkan cambuk ke belakang dan terdengar ledakan keras maka lelaki itu menjerit dan goloknya terlepas, jarinya berdarah.

“Aduh!”

Sin Gak sudah menyentuh kakek ini lagi. Untuk kedua kalinya ia menyuruh beristirahat, kakek itu terbelalak dan takjub. Tapi ketika berkelebat tiga laki-laki lain dan itulah kawan dari tukang pukul pertama, yang masih mengaduh dan bergulingan memegangi jarinya yang berdarah maka kakek ini kembali berseru,

“Anak muda, awas belakangmu!”

Sin Gak menjadi tak sabar. Ia membalik dan secepat itu mengayun cambuk rampasan, tiga lawannya terkejut dan menangkis tapi golok mencelat. Lima jari mereka tersabet pecah. Lalu ketika mereka terjungkal dan masuk sungai maka ke tiga-tiganya tercebur. Gerakan Sin Gak begitu cepat.

Sadarlah kakek ini bahwa pemuda di depannya bukan orang sembarangan. Saat itu terdengar jerit seorang perempuan dan gadis manis berpakaian sederhana berlarian datang. Ia cucu kakek ini. Lalu menubruk dan menjerit di pundak kakek ini gadis itu berteriak,

“Kong-kong, kau dihajar orang-orangnya Khe-wangwe lagi? Mereka tak mau tahu keadaanmu yang sakit? Ah, kejam mereka itu, kong-kong. Biarlah kugantikan pekerjaanmu dan kau pulang!”

Kakek ini terhuyung diguncang-guncang. Gadis itu rupanya tak tahu kehadiran Sin Gak atau mungkin tak melihat pemuda ini. Dia berlari dan langsung menubruk kakeknya. Tapi ketika kakek tersenyum dan percaya kepada Sin Gak, keberaniannya bangkit maka ia mendorong cucunya itu berkata serak,

“Anak muda ini menolongku. Dialah yang melempar-lempar tukang pukul Khe-wangwe. Minggir dan biar kuucapkan terima kasih dulu, Si Lan. Tanpa dia kakekmu sudah mampus!”

Gadis ini sadar. Ia melepaskan diri membalik memandang Sin Gak. Pemuda itu tenang-tenang saja memandang kakeknya, wajahnya agak dingin sementara bibir itu tersenyum mengejek. Sebuah kebiasaan bagi Sin Gak kalau ia mulai marah. Dan ketika kakek itu menjura mengucap terima kasih, empat tukang pukul di sana sudah meloncat dan menyambar senjatanya kembali maka Sin Gak membuang cambuk rampasan waspada akan bahaya di belakang. Kakek itu juga seakan tak perduli kepada tukang-tukang pukul itu yang sudah bergerak dan mengangkat goloknya.

“Kongcu, kau agaknya seorang lihai yang suka membantu aku si tua ini. Terima kasih untuk bantuanmu ini tapi pergilah karena orang-orangnya Khe-wangwe berjumlah banyak. Aku tak ingin kau celaka, betapapun kau orang luar.”

“Hm, aku bertanya di mana karung ini kutempatkan, lopek. Kau tak mungkin mengangkatnya lagi karena sakit. Sebaiknya kaulah yang pergi dan jangan berhubungan lagi dengan orang-orang kejam itu.”

“Aku masih berhutang, sudah kuambil uangnya.”

Sin Gak mengerutkan kening. Saat itu empat tukang pukul maju kembali, tidak mengeluarkan bentakan karena kali ini menyerang secara diam-diam. Sin Gak tak menghiraukan itu karena tertegun teringat kantungnya sendiri yang kosong. Selama hidup dengan gurunya tak pernah ia berkenalan dengan uang. Maka ketika kakek itu berkata kesulitannya dan ia tak dapat menjawab, saat itulah tukang-tukang pukul itu menusuk dan membacokkan goloknya dari belakang maka tiba-tiba cucu kakek itu menjerit namun secepat kilat pemuda ini menggerakkan ujung bajunya ke belakang. Benda ini sudah menegang kaku seperti lempengan baja.

“Kongcu, awas!”

Terdengar empat kali benturan nyaring. Empat golok di tangan tukang-tukang pukul itu patah, pemiliknya berteriak tapi patahan golok membalik dan menyambar tuannya, menancap dan membuat mereka terbanting karena patahan golok mengenai pundak dan paha, bahkan sebatang tembus di pipi. Dan ketika empat orang itu roboh bergulingan menjerit keras, yang terakhir seketika pingsan maka gegerlah tempat itu oleh kepandaian Sin Gak.

Namun saat itu berkelebat bayangan-bayangan lain. Kakek ini tiba-tiba pucat teringat sesuatu. Di tepi sungai itu banyak terdapat tukang-tukang pukul lain yang marah menyaksikan rekannya dirobohkan seorang pemuda. Mereka ini memiliki kesetiakawanan yang kuat. Maka ketika belasan bayangan meloncat maju dan kakek ini berubah tiba-tiba ia menarik lengan Sin Gak dan cucunya.

“Si Lan, celaka. Kongcu ini akan dibunuh!”

Gadis itu menangis. Ia tersedu ditarik kakeknya, berlari dan memegang lengan Sin Gak tanpa sadar. Tiba-tiba iapun mengkhawatirkan nasib pemuda ini. Sekarang semua orang memandang mereka, ada yang khawatir namun ada juga yang mengejek. Sin Gak adalah pemuda asing di situ. Tapi ketika Sin Gak melepaskan dirinya dan mendorong kakek itu, berseru agar kakek itu pergi maka pemuda ini sudah membalik dan menyambut belasan orang tukang pukul itu. Rata-rata bertubuh tinggi tegap dengan kumis terpilin.

“Lopek, kau pulang saja ke rumahmu. Agaknya tikus-tikus busuk ini tak mau sudah kalau belum kuhajar!”

Belum habis suara ini tiba-tiba pemuda itu lenyap berkelebat ke depan. Sin Gak mulai marah dan sepasang matanya yang mencorong menggetarkan siapapun. Enam belas orang mengepungnya dan siap menyerang, tahu-tahu terpekik dan berteriak keras karena pemuda itu menyambar mereka. Bayangan putih berkelebat ke kiri kanan, menampar dan mengebutkan ujung bajunyn dan tiba-tiba semua terlempar. Dan ketika sekejap kemudian pemuda itu sudah berdiri lagi, berkacak pinggang maka enam belas tukang pukul itu berdebuk di sekelilingnya menggeliat-geliat. Senjata mereka mencelat ke kiri kanan patah-patah!

Pucatlah semua orang memandang kejadian cepat ini. Para hartawan, kaum pedagang itu tiba-tiba terbelalak dengan muka takjub. Begitu lihainya Sin Gak merobohkan semua tukang pukul. Tapi ketika seorang di antaranya berlari dan terkekeh-kekeh, yang lain terkejut maka Sin Gak sudah berhadapan dengan hartawan berpakaian mewah ini, membungkuk-bungkuk.

“Heh-heh, siauwhiap (pendekar muda) kiranya seorang pemuda yang benar-benar lihai. Aha, aku kagum kepadamu, anak muda. Kau hebat dan luar biasa sekali. Aih, aku Koan-wangwe ingin menerimamu sebagai pembantuku terpercaya. Bagaimana kalau kau tinggal di gedungku dan sebulan seratus tail. Cocok untukmu yang gagah perkasa ini!”

“Tidak!” seorang yang lain tiba-tiba meloncat dan berlari menghampiri, kantung uangnya diayun- ayunkan. “Ikut aku saja, anak muda. Seratus lima puluh tail sebulan. Aku Gun-wangwe dapat menghargaimu lebih tinggi!”

“Aku dua ratus tail!” orang ketiga meloncat dan terkekeh-kekeh, mukanya gemuk bulat. “Aku Bu-wangwe akan memberimu di atas mereka, anak muda. Berikut pelayan cantik yang melayani segala keperluanmu!”

Riuhlah tempat itu oleh tawar-menawar. Kiranya tiga hartawan ini berebut mendapatkan Sin Gak dengan saling memberikan imbalan menarik. Yang pertama tentu saja melotot karena dua saingannya tinggal menumpang melulu, yang terakhir malah memberikan dua kali lipat daripada yang ia tawarkan. Tapi ketika Sin Gak menggeleng dan tiga orang itu terkejut maka pemuda ini mendorong dan berkata,

“Aku tak ingin menjadi tukang pukul kalian, aku tak mau menghamba. Pergilah dan semua kutolak.”

Tertegunlah tiga orang itu. Sin Gak keluar mendorong hartawan-hartawan ini menghampiri si kakek tua. Kakek itu masih di situ bersama cucunya. Lalu ketika tiba-tiba kakek itu berlutut dan menangis maka ia berkata bahwa kesulitannya masih belum habis.

“Aku tak dapat bekerja hari ini, tapi hutangku belum terbayar. Aku tak dapat pergi kalau kau juga pergi, inkong. Majikanku tentu marah dan nanti aku didera lagi.”

“Siapa majikanmu,” Sin Gak membangunkan kakek ini. “Beritahukan kepadaku dan kuselesaikan sekarang.”

“Itulah...“ kakek ini menunjuk disana. “Dialah Ek-wangwe, inkong, yang memberiku hutang lima puluh tail!”

Hartawan ini menyelinap di balik kepala perahu. Dia adalah seorang laki-laki berkumis panjang dengan mata sipit yang cepat menyembunyikan diri begitu ditunjuk. Sin Gak memandangnya dan ia gentar, pucat. Tapi ketika Sin Gak berkelebat dan tak ada tukang pukulnya yang maju melindungi, semua sudah jerih terhadap kelihaian pemuda ini maka juragan itu terbata-bata ketika ditangkap.

“Am... ampun. Aku tak akan mengganggu Lauw-lopek kalau kau menghendaki. Lep...lepaskan aku, anak muda. Hutangnya kubebaskan!”

Sin Gak lega, memang itulah maksudnya. Tapi sebelurn dia bicara tiba-tiba berkelebat bayangan langsing yang tertawa mengejek. “Apa artinya ini kalau semua orang di bebaskan begitu mudah. Heh, uang didapat bukan dengan cara yang gampang, anak muda. Kalau kau berwatak adil bayar saja dengan uangmu, jangan memaksa orang lain!”

Sin Gak mengerutkan kening. Di depannya telah berdiri seorang gadis cantik berpakaian hitam putih, rambutnya dikepang dan sepasang alis yang terangkat itu membuat mukanya yang lonjong menjadi memanjang. Pipinya kemerah-merahan sementara bola matanya dilindungi bulu mata yang hitam lentik, rambutnyapun tebal dan lebat, diikat hiasan manik-manik yang membuat wajahnya menjadi begitu cantik manis. Dan ketika ia tertegun tak mampu bicara, mata itu mengejeknya dengan tajam maka gadis itu bicara lagi dengan lebih nyaring.

“Heh, aku bicara kepadamu, kenapa diam saja. Kalau kau memaksa Ek-wangwe membebaskan hutangnya maka kau bersikap tak adil. Semua kuli panggul di sini bisa dengan mudah minta dibebaskan pula. Nah, kalau ingin bersikap pendekar berbuatlah yang benar, bayar dengan uangmu dan jangan memaksa orang lain. Itu gagah namanya!”

“Heh-heh, benar,” tiga hartawan serentak berlari maju, kembali melihat kesempatan. “Kalau kau seorang pendekar memang seharusnya begitu, siauwhiap. Kalau tidak maka perbuatanmu sama jahatnya. Kaupun memaksa orang lain!”

“Dan aku siap memberikan lima puluh tailku kepadarnu, asal kau ikut aku!”

“Atau aku dua ratus kubayar di muka. He, gadis ini benar, anak muda. Kau harus bersikap adil dan mengeluarkan kocekmu. Nih, bayarkan Ek-wangwe!”

Tiga orang itu berebut memberikan uangnya kepada Sin Gak. Cepat dan amat tangkas masing-masing sudah mendahului yang lain, berebut tapi yang ketiga menang dulu. Kantung uangnya diberikan Sin Gak, semua! Lalu ketika pemuda itu tertegun sementara si kakek terbeliak melebarkan mata, begitu mudahnya pemuda itu mendapatkan begitu banyak uang maka Ek-wangwe tiba-tiba timbul keberaniannya merasa dibela.

“Mereka semua ini benar, uangku adalah hasil jerih payah. Kalau kau mau mengganti rugi biarlah kakek itu kubebaskan!”

Uang telah merobah sikap. Ek-wangwe yang tadinya ketakutan dan membebaskan begitu saja mendadak mencabut lagi keputusannya sendiri begitu melihat kantung uang di tangan Sin Gak. Pemuda itu telah menerima ratusan tail dari Koan-wangwe dan kawan-kawan, matanya tiba-tiba hijau kembali. Dan ketika Sin Gak bingung mendengar itu, mata gadis cantik ini membangkitkan harga dirinya tiba-tiba pemuda ini berada di persimpangan jalan dan bimbang.

Haruskah dia menerima uang itu? Tentu, kalau ingin menolong si kakek. Tapi kalau menerima ini berarti harus menjadi pembantu seorang di antara majikan-majikan ini, tukang pukul! Tapi untunglah ketika dia dalam kesulitan mendadak muncul seorang tosu bermuka ramah.

“Hiante (saudara muda), sebaiknya kembalikan saja semua uang itu kepada pemiliknya. Kau tak mungkin harus menjadi tukang pukul juragan-juragan ini, jatuh martabatmu nanti. Biarlah pinto menolongmu meminjamkan lima puluh tail dan kelak kapan-kapan dapat kau bayar kembali. Bukankah enak?”

Tosu itu sudah mengeluarkan uangnya dan Sin Gak girang. Ini jalan tengah penolong dirinya, iapun menerima itu dan melempar kembali kantung-kantung uang kepada tiga hartawan itu. Lalu ketika ia menghadapi Ek-wangwe dan lepas dari kesulitan maka ia menyerahkan uang tosu itu sambil berkata,

“Aku telah membayar uangmu lunas, jangan ganggu kakek itu atau aku menghajarmu nanti. Nah, terimalah dan urusan ini selesai!”

Ek-wangwe berseri mukanya. Ia menerima itu dan ngeloyor pergi, cepat menghilang setelah mendapatkan kembali uangnya. Dan ketika tiga hartawan tertegun dan melotot kepada si tosu, lagi-lagivrencana mereka gagal maka tosu ini tenang-tenang saja berkata kepada Sin Gak.

“Sekarang urusannya selesai, marilah kita pergi dan sumpek rasanya di tengah-tengah kerumuman banyak orang begini.”

Sin Gak mengangguk. Ia tertarik dan berterima kasih kepada tosu bermuka ramah ini, diam-diam berhutang sebuah kebaikan. Tapi ketika ia melangkah pergi mengikuti tosu itu tiba-tiba terdengar jerit dan pekik kaget.

“Heiiii !”

Kiranya gadis baju hitam menyambar dan membawa lari kakek ini. Si Lan menjerit memanggil kakeknya tapi gadis itu terkekeh lenyap. Gerakannya begitu cepat dan orang di kiri kanannya terpelanting. Tapi ketika tosu itu berkelebat dan Sin Gak juga menjadi marah, di siang bolong ada orang menculik orang maka pemuda itu juga berkelebat dan membentak.

“Apa yang kau lakukan ini!”

Gadis itu meluncur terus. Ginkangnya (ilmu meringankan tubuh) ternyata hebat bukan main dan tosu dibelakangnya terkejut, baru sekejap saja ia sudah tertinggal ratusan meter. Dan ketika tosu ini membentak mempercepat larinya, Sin Gak tahu-tahu menyambar lewat dan melewati dirinya maka tosu itu semakin kaget karena dua anak muda itu kiranya, melampaui kepandaiannya. Sama-sama lenyap seperti iblis!

“Heiii!”

Sin Gak tak menoleh. Pemuda inipun terkejut oleh ginkang gadis di depan itu, mengerahkan kepandaiannya dan melesat menyambar ke depan, sekejap sudah meninggalkan Ceng-kiang dan pemuda ini melihat lawannya menuju bukit kapur. Banyak batu-batu besar disitu dan sejenak gadis ini menoleh, terkekeh dan berjungkir balik lalu lenyap di batu-batu karang itu. Lalu ketika Sin Gak tertegun dan berhenti, ada puluhan batu di situ maka ia mengepal tinju tak tahu lawan bersembunyi dimana. Dan saat itu muncullah si tosu bermandi keringat, basah kuyup.

“Mana gadis siluman itu. Hebat benar ilmu lari cepatnya hingga pinto tak mampu mengejar!”

“Ia bersembunyi di sini,” Sin Gak berkata. “Coba kau kitari sebelah kiri, totiang, aku sebelah kanan.”

“Ia masih di sini?”

“Benar, di balik batu-batu karang itu. Awas rupanya bukan gadis baik-baik dan mari putari tempat ini!” Sin Gak berkelebat tak mau banyak bicara lagi. Pada dasarnya pemuda ini memang pendiam dan tak aneh karena ayah maupun mendiang kakeknya juga bukan orang yang banyak bicara. Mereka adalah orang-orang serius dibesarkan dalam suasana serius pula, ketegangan demi ketegangan selalu mewarnai hidup mereka. Maka ketika Sin Gak melompat ke kanan sementara tosu itu melompat ke kiri maka di sepasang batu kembar yang tingginya hampir sama mendadak gadis itu muncul dan langsung menyerang.

“Aku di sini!”

Sin Gak mengelak. Ia telah mendengar angin sambaran pukulan dan waspada, meloncat ke kiri. Tapi ketika gadis itu mengejar dan tangan yang lain menotok lehernya maka pemuda ini terkejut karena bunyi mencicit menyertai serangan itu.

“Plak-dess!”

Gadis itu terpental namun berjungkir balik melayang turun. Sin Gak terhuyung dan diam-diam berdesir, ada rasa panas pada ujung jari lawan ketika menotok. Tapi ketika ia bersiap lagi berdiri tegak, gadis itu terkekeh maka ia sudah melompat dan menyerang lagi, menyambar bagai burung srikatan.

“Bagus, tak heran kalau kau sombong. Kau rupanya berkepandaian cukup, bocah, sebutkan namamu agar kutahu lawan yang akan kurobohkan!”

“Aku tak ingin memperkenalkan diri, dan juga tak ingin tahu siapa kau. Aku datang untuk mencari kakek itu, gadis siluman. Di mana kau sembunyikan dan serahkan padaku!” Sin Gak terkejut, lawan lenyap berkelebatan sementara kakek tua tak ada di situ. Gadis ini sudah menyembunyikannya entah di mana dan tentu saja dia marah. Lalu ketika ia mengelak dan menangkis serta membalas serangan maka pemuda inipun mengeluarkan ginkangnya berkelebatan cepat. Dua bayangan putih dan hitam saling kejar menyilaukan mata.

“Duk-plakk!”

Sin Gak tergetar dan untuk kesekian kalinya terkejut. Dalam adu pukulan dengan gadis ini selalu masing-masing. terpental. Sinkang atau tenaga sakti gadis itu hebat juga. Dan ketika ia menjadi penasaran dan mengerahkan Pek-mo-in-kangnya, Tenaga Awan Iblis, maka gadis itu terpekik karena sekarang terpelanting.

“Dukk!”

Sin Gak tersenyum. Setelah ia mengeluarkan kepandaian khususnya itu ternyata gadis ini tak kuat, hawa dingin menyambar dan menggigit lawan. Tapi ketika gadis itu bergulingan meloncat bangun maka ia tiba-tiba melengking meledakkan kedua ujung lengan bajunya.

“Bocah sombong, kau jangan gembira dulu!”

Sin Gak bertahan. Ia tetap mengerahkan tenaga saktinya ini ketika deru angin menyambar. Ujung lengan baju gadis itu mengembang dan meniup bagai topan, cepat sekali menerjangnya. Dan ketika ia menangkis tapi terpental, bahkan terdorong dan jatuh terpelanting maka Sin Gak terkejut bukan main merasa dibalas.

“Desss!”

Pemuda ini bergulingan meloncat bangun. Sama seperti lawannya tadi ia terkejut dan berubah, lawan tiba-tiba mengeluarkan kepandaian khususnya pula. Dan ketika ia terbelalak namun gadis itu terkekeh, berkelebat dan kedua lengan baju sudah menyambar-nyambar lagi dengan amat hebatnya maka udara di situ seakan dilanda badai dan tosu yang baru muncul di balik batu karang menjerit terlempar.

“Bresss!”

Sin Gak benar-benar kaget. Ia bergerak ke kiri kanan mendorong Pek-mo-in-kang, mengelak dan menangkis, namun ujung lengan baju itu seakan tiada hentinya meniupkan angin dahsyat. Kian lama kian kuat hingga tosu di luar sana terbanting dan bergulingan berseru keras. Tosu ini baru saja datang ketika dua anak muda itu saling bentak, melihat keduanya bergerak sama cepat dan kakek tua terduduk di sana, terbelalak. Dan karena kakek itu selamat dan agaknya terheran-heran, sang tosu meloncat ke tempat Sin Gak maka tahu-tahu ia menjerit didorong angin kebutan ujung baju itu. Gadis ini mengeluarkan Kian-kun-siu alias Lengan Baju Sapu Jagad yang tak dikenal Sin Gak, ilmu khusus yang sebenarnya dimiliki Song-bun-liong si Naga Berkabung!

“Des-dess!”

Untuk kesekian kalinya lagi Sin Gak tergetar dan terhuyung. Ia menjadi pucat dan marah namun juga heran. Gadis lawannya ini ternyata benar-benar lihai! Maka ketika ia membentak dan menambah Pek-mo-in-kangnya lagi, hampir setengah bagian maka barulah dia dapat menahan hembusan angin kuat dari pukulan Sapu Jagad itu. Gadis ini tertegun. Ia terbelalak ketika dari lengan pemuda itu menyambar angin pukulan lebih dingin. Kian-kun-siu yang dilancarkannya mulai tertahan, perlahan tetapi pasti hembusan Sapu Jagadnya itu ditolak pemuda ini dan lawan mulai tak bergeming. Dan ketika Sin Gak kembali tersenyum dan percaya diri, marahlah gadis ini maka ia mengibaskan lengan bajunya di saat si tosu mencoba mendekati pertempuran lagi, mungkin mau mengeroyok.

“Jangan sombong dan mengejek dulu. Lihat pukulanku dan jaga baik-baik, bocah gunung. Kau akan mampus atau temanmu itu roboh!”

Benar saja, si tosu berteriak dan terlempar. Tidak seperti tadi ketika terbanting dan dapat bergulingan adalah kaliini tosu ini berdebuk tak mampu bangun. Sejenak ia menggeliat lalu roboh tengkurap, pingsan. Lalu ketika Sin Gak menjadi kaget dan marah melihat itu, gadis ini dianggapnya kejam maka serangan lebih dahsyat menghantam dirinya membuat kuda-kudanya hampir terangkat!

“Ahhhh!” Sin Gak mengeluarkan seruan keras melepas Ban-kin-kang (Tenaga Selaksa Kati). Tenaga ini membuat tubuhnya seberat gunung dan tak mampu digeser. Dan ketika gadis itu terkejut berkelebat ke depan, Sin Gak menamparkan tangan kanannya maka Pek-mo-in-kang mendarat di pundak gadis itu.

“Plak!”

Gadis ini tak bergeming. Sama seperti Sin Gak ia pun tak apa-apa menerima tamparan itu. Sin Gak merasa betapa telapaknya seakan menyentuh arca, kokoh dan kuat dan telapaknya pun terasa pedas. Dan ketika masing-masing sama terkejut dan kagum, gadis itu membentak dan menerjang lagi maka selanjutnya Pek-mo-in-kang seakan tepukan ringan di tubuh gadis itu, sementara kebutan atau serangan Sapu Jagad juga tak mampu menggoyahkan kedua kaki Sin Gak yang kokoh bagai gunung.

“Des-dess!”

Dua-duanya melotot dan penasaran. Sin Gak menjadi heran dan juga kaget bahwa ilmu yang dipuji-puji gurunya tak mempan menghadapi gadis ini. Ia tak tahu bahwa itulah Kim-kong-ciok (Ilmu Arca Emas) yang pukulan apapun tak bakal sanggup merobohkan. Jangankan roboh, goyang saja tidak! Tapi ketika gadis itu juga terkejut dan melengking-lengking, Kian-kun-siunya tak mampu menggeser kedudukan pemuda ini maka masing-masing pihak mulai menambah kepandaiannya dan tiba-tiba gadis itu sudah beterbangan seringan kapas tapi secepat halilintar ketika menyambar-nyambar.

“Bu-bian-kang (Ilmu Tanpa Bobot)!” Sin Gak terkejut. Tak terasa ia menyebut ini setelah gadis itu lenyap menyambar-nyambar. Gerakannya begitu cepat dan ringan tapi luar biasa sekali. begitu cepat hingga mata tak mampu mengikuti. Namun karena ia juga memiliki ilmu ini dan berkelebat mengeluarkan seruan keras, lenyap mengimbangi gadis itu maka gadis ini tersentak di antara bayangan Sin Gak.

“Kau kau juga memiliki Bu-bian-kang. Ah, kau pencuri!”

“Tidak, kaulah pencuri. He, dari mana kau dapat ilmu ini, gadis siluman. Serahkan padaku dan beritahukan asal-usulmu!”

“Kaulah yang harus menerangkan asal-usulmu. Kau pencuri... des-desss!” lalu ketika keduanya terpental dan berjungkir balik maka dua orang muda ini sudah bertanding lagi dengan sengit.

Sin Gak tak menduga sama sekali bahwa ia bertemu dengan pewaris si Naga Berkabung. Ia tak tahu bahwa inilah saudara seperguruannya dari lain pendidik. Gadis itu sesungguhnya adalah murid si Naga Berkabung, Bi Hong namanya. Maka ketika mereka bertanding sengit dan masing-masing mulai marah dan menambah kepandaiannya, Pek-mo-in-kang berhadapan dengan Kim-kong-ciok sementara pukulan-pukulan gadis itu juga tak mampu membuat Sin Gak bergeming dengan ilmunya Ban-kin-kang akhirnya gadis ini melengking tinggi menggetarkan kedua lengannya, rambut di kedua bahunya menegang kaku dan lurus bagai tombak.

“Kau atau aku yang roboh!”

Seruan ini mengejutkan Sin Gak. Ia juga siap-siap mengeluarkan ilmunya yang lain dalam usahanya merobohkan gadis ini. Tak disangkanya baru turun gunung sudah berhadapan dengan lawan demikian tangguh. Ia sungguh penasaran. Tapi ketika gadis itu mulai dulu dengan kedua lengan bergetar menegang, juga rambut di kedua bahu itu terangkat bagai tombak tiba-tiba saja senjata aneh ini bercuit dan menyambar matanya disusul bunyi berkeritik dari sepuluh kuku-kuku jari yang lentik runcing itu.

“Prat-dessss!”

Sin Gak terbanting dan kaget bukan main. Ia harus melempar tubuh oleh hebatnya serangan ini. Bunyi berkeritik dari sepuluh kuku jari yang lentik itu mengeluarkan sinar-sinar putih, sinar ini pecah dan membuatnya silau sementara rambut yang lurus kaku itu menusuk matanya. Kalau ia tidak melempar tubuh kemungkinan celaka besar sekali, pandangannya silau. Maka ketika ia melempar tubuh bergulingan dan gadis itu tampak girang, kali ini lawan dibuat terkejut maka ia mengejar namun saat itu si kakek tua berteriak-teriak, meloncat di tengah pertempuran.

“Heii, berhenti. Nona, kongcu... berhenti!”

Gadis ini terkejut. Si kakek tahu-tahu melompat dan masuk ke arena pertandingan, berteriak dan mengebut-ngebutkan ke dua tangannya melerai mereka. Dan karena saat itu ia sedang mengejar Sin Gak, pemuda ini bergulingan membanting tubuh maka terpaksa ia menarik serangannya dan sebagai gantinya ia melempar serangannya itu ke batu karang di sebelah mereka.

“Prattt!”

Batu itu bergoyang-goyang. Si kakek terbelalak karena batu ini tiba-tiba berkerasak, roboh dan gugur. Bagian dalamnya remuk seperti tepung. Dan ketika ia terguncang sementara Sin Gak sudah meloncat bangun di sana, matanya berkilat maka kakek ini tiba-tiba menubruk gadis itu menangis tersedu-sedu.

“Jangan... jangan bertempur. Jangan saling bunuh. Aku si tua sudah sehat dan obatmu benar-benar manjur, nona, demamku hilang. Kalian sudah sama-sama menolong aku dan jangan bertempur. Atau aku si tua mati di sini dan sia-sia pertolongan kalian!”

Sin Gak tertegun. Gadis yang disangkanya menculik dan mencelakai kakek ini ternyata menolong dan menyembuhkan kakek itu. Kakek ini tampak sehat dan memang sembuh, wajahnya tak pucat dan gemetaran lagi. Dan ketika ia terbelalak memandang gadis itu, yang dipeluk dan tak dilepaskan si kakek akhirnya gadis ini berkata tertawa mengejek Sin Gak.

“Baiklah, kami hanya main-main saja. Cucumu datang, orang tua. Lihat ia memanggil-manggilmu. Aku tak akan menyerang dia lagi, asal dia tahu diri!”

Sin Gak terbakar. Saat itu datang cucu kakek ini berlari-lari, jatuh bangun dan berurai air mata dan kakek ini tertegun. Si Lan, cucunya itu menangis tersedu-sedu memanggilnya. Gadis itu langsung menubruk dan menciumi kakeknya berulang-ulang, kejadian ini membuat semua tertegun dan haru. Sin Gak juga tersentuh. Tapi sementara kakek itu bertangisan dengan cucunya, gadis ini melepaskan diri mendadak ia berkelebat dan lenyap. Sin Gak melihat ini. Kakek dan cucunya itu tak tahu tapi ia mengikuti, membentak dan akan mengejar tapi tosu di sana itu mengeluh. Ia dipanggil. Dan ketika pemuda ini bingung harus mendahulukan yang mana maka gadis di sana itu sempat mencibirkan bibir tanda mengejek.

“Krekk!”

Sin Gak meremas hancur batu sekepalan tangan. Batu inipun menjadi bubuk tapi ia harus menahan marah. Tosu itu harus dilihatnya dulu. Maka ketika ia melompat dan memeriksa tosu ini, yang siuman dan baru sadar maka Sin Gak lega bahwa tosu itu tak terluka serius, hanya dahinya lecet terbarut batu.

“Mana.... mana gadis itu. Ia gadis siluman. Ah, bagaimana dengan kakek itu, anak muda. Apakah selamat!”

“Kau memikirkan orang lain,” Sin Gak kagum. “Dirimu sendiri babak-belur, totiang, tapi semuanya selamat. Kakek itu sehat, tak apa-apa. Bangunlah dan lihat kiri kanan.”

Tosu ini bangun, ditopang. Tapi ketika ia dapat berdiri sendiri dan meliuk-liukkan tubuh melemaskan tulang, maka ia lega dan melihat kakek dan cucunya itu, masih bertangis-tangisan. “Pinto ingin melihat mereka, sebaiknya disuruh pulang atau mencari pekerjaan lain.”

Sin Gak mengangguk. Ia setuju dan menahan langkahnya lagi mengejar gadis, berbaju hitam putih itu. Diam-diam mencatat ini, lawan tangguh yang membuatnya penasaran. Tapi ketika kakek dan cucunya itu melompat bangun, berlari dan berlutut di depan mereka maka kakek ini mendahului.

“Inkong, totiang, terima kasih untuk pertolongan kalian semua. Aku si tua tak dapat membalas kebaikan ini. Biarlah Tuhan membalas budi kalian dan kami kakek dan cucu yang malang mendoakan setiap hari!”

“Bangunlah,” tosu itu menepuk perlahan. “Kau agaknya tak perlu lagi kembali ke kota, lopek. Bekas majikanmu tentu masih mengancammu nanti. Carilah tempat lain dan bekerjalah di tempat lain pula. Kami tak mungkin melindungi kalian sehari-hari.”

“Benar, kami tahu. Tapi kami ingin mempersilakan kalian mampir sebentar di tempat kami, totiang, sekedar minum teh dan ketela rebus. Kami harap ji-wi (kalian berdua) tak menolak!”

“Hm, aku masih ada urusan,” tosu itu tersenyum. “Lain kali saja, lopek, terima kasih untuk undanganmu.”

“Kalau begitu siauw-inkong ini saja!”

“Aku juga ada perlu,” Sin Gak menolak. “Terima kasih untuk kebaikanmu, lopek, sekarang aku pergi dan hati-hati menjaga diri.”

“Eh, nanti dulu!” kakek itu berseru. “Aku ada sebuah permohonan, siauw-inkong. Entahlah kau mau mengabulkannya atau tidak!”

Sin Gak mengerutkan kening. Ia sudah, akan memutar tubuh ketika kakek ini tiba-tiba menahannya. Si Lan gadis di sebelah itu memerah mukanya, menunduk. Lalu ketika ia bertanya apa permohonan kakek itu maka sedikit gugup kakek ini menunjuk cucunya.

“Aku..... aku ingin menyuruhnya mengabdi padamu, menjadi pelayanmu. Aku si tua merasa berat menjaga cucuku yang sudah mulai dewasa ini. Bagaimana kalau ia kuserahkan padamu, siauw-inkong, melayani segala kebutuhanmu. Ia pandai mencucikan pakaianmu dan masak. Ia rajin!”

“Hm!” Sin Gak semburat, wajahnya tiba-tiba juga memerah. “Aku pengelana yang biasa melayani kebutuhanku sendiri, lopek, lagi pula aku orang miskin. Aku tak dapat membayarnya.”

“Inkong tak perlu membayar, ia mengabdi cuma-cuma!”

“Tidak, aku tak dapat menerimanya, lopek, maaf. Tak mungkin ia harus mengikuti aku seorang pengelana, keluar masuk hutan.”

Kakek itu mendesah, kecewa. Sang cucu tampak terisak menahan tangis, gadis itupun kecewa. Tapi karena Sin Gak memang benar dan tak mungkin gadis itu ikut keluar masuk hutan, bagaimana jadinya, akhirnya kakek ini mengangkat muka ketika tiba-tiba Sin Gak berkelebat menghilang, mengusir malu.

“Aku pergi, maaf!”

Kakek itu tertegun. Terdengar jerit kecil dan Si Lan menubruk kakeknya. Sesungguhnya gadis ini mulai tertarik dan jatuh hati kepada Sin Gak. Ia suka. Tapi ketika Sin Gak berkelebat dan meninggalkan mereka mendadak tosu di depan itu berseru dan berkelebat mengejar pula.

“He, tunggu aku, anak muda. Pinto masih ingin bicara!”

Sin Gak memperlambat larinya. Ia masih tak mau berhenti karena tak ingin di ganggu kakek itu, sengaja mengurangi kecepatannya dan akhirnya si tosu menyusul. Kini mereka di luar bukit kapur itu, di hutan kecil. Dan ketika Sin Gak benar-benar berhenti dan tosu itu mengusap keringat, terengah maka ia menggelengkan kepala berseru kagum.

“Pinto harus mengejarmu setengah mati padahal kau perlahan-lahan saja berlari. Ah, kepandaianmu hebat sekali, anak muda, pinto kagum. Pinto ingin memperkenalkan diri dan berkenalan lebih jauh. Pinto adalah murid Kun-lun bernama Ke Ke Cinjin. Dan kau, siapakah kau, anak muda? Adakah sesuatu yang dapat pinto tolong?”

Sin Gak menarik napas. Kalau saja ia tak berhutang kepada tosu ini gara-gara lima puluh tail mungkin enggan ia bercakap-cakap. Tapi tosu ini ramah, apalagi dari Kun-lun. Dan kerena ia dengar tosu-tosu Kun-lun adalah para pendekar yang rata-rata berwatak baik maka ia menjawab memberitahukan nama, sekedarnya saja.

“Aku Sin Gak, kiranya totiang adalah murid Kun-lun. Hm, kalau kau ingin menolongku barangkali dapat sedikit memberi petunjuk, totiang. Di manakah letak Hek-yan-pang dan ke mana aku harus pergi.” Sin Gak teringat tujuannya dan gurunya dulu pernah memberitahu ini. Ia memang harus mulai bertanya dan tosu itu terkejut, memandangnya curiga dan aneh. Dan ketika pemuda ini merasa heran dan tak senang, sorot tosu ini seakan menyembunyikan prasangka maka tiba-tiba tosu itu balik bertanya.

“Kau mencari Hek-yan-pang? Bolehkah pinto tahu maksud kedatanganmu?”

Pemuda ini menahan tak senang. “Haruskah kuberi tahu maksud pribadiku? Apakah totiang perlu benar?”

“Maaf, pinto..... eh, Hek-yan-pang akhir-akhir ini dilanda peristiwa besar, anak muda. Dimusuhi seorang jahat yang amat keji. Pinto ingin tahu karena jelek-jelek Hek-yan-pang memiliki hubungan pula dengan Kun-lun. Seorang murid Kun-lun adalah menantu ketua Hek-yan-pang. Nah, barangkali tak ada jeleknya kalau pinto bertanya karena pinto juga merasa bertanggung jawab atas keselamatan Hek yan-pang!”

Barulah Sin Gak mengerti. Ia tentu saja tak tahu peristiwa besar yang mengobrak-abrik perkumpulan itu. Ia juga tak tahu bahwa seorang tokoh wanita Hek-yan-pang adalah murid perempuan Kun-lun. Maka ketika ia menjadi mengerti dan rasa tak senangnya lenyap, justeru ia merasa menaruh kepentingan maka ia mengangguk dan tersenyum. “Kiranya totiang khawatir kalau aku adalah musuh Hek-yan-pang. Tidak, aku bukan musuh, totiang, melainkan sahabat. Aku mencari seseorang di sana. Aku, hm... mencari ayah ibuku.”

Tosu ini terbelalak. “Mencari orang tua?”

“Ya, guruku mengatakan harus diawali dari Hek-yan-pang. Barangkali sekarang totiang dapat membantuku dimanakah letak Hek-yan-pang itu.”

Tosu ini menarik napas panjang, lega. “Kalau begitu pinto tidak perlu khawatir, namun bagaimana kalau kuantar.”

“Aku ingin sendiri.”

“Bersama pinto lebih cepat, Sin-hian-te, tak perlu khawatir!”

“Tidak, aku ingin sendiri. Aku tak ingin dengan siapapun atau aku dapat bertanya kepada orang lain!”

Kalahlah tosu ini. Ia melihat kekerasan hati yang luar biasa dari kata-kata anak muda ini. Kalau teman bicaranya sudah menolak apapun tak bakal mau diterima. Maka ketika ia menghela napas dan menggeleng kepala akhirnya ia memberi tahu, “Baiklah, Hek-yan-pang berada di selatan dari sini, mungkin dua hari perjalanan. Kau dapat menyusuri pegunungan Jing-san.”

“Baiklah, terima kasih.” Sin Gak menjadi gembira. “Dan rupanya sekarang kita harus berpisah, totiang. Mengenai uang lima puluh tail itu, hm...... akan kubayar kelak. Kalau perlu menemuimu di Kun-lun!”

“Tidak tidak, tak perlu dipikirkan itu. Pinto masih mempunyai lain, hiante, dan sebaiknya bawalah bekal roti kering ini di perjalanan. Kau perlu makan!”

Sin Gak tertegun. Sang tosu sudah mengeluarkan buntalan kecilnya memberikannya kepadanya, katanya roti kering. Dan karena tak enak menolak akhirnya pemuda ini menerima juga. Tosu itu berseri-seri. “Terima kasih. Tak kulupa budi baikmu, totiang, dua kali aku merepotkanmu.”

“Ha-ha, ini kewajiban pinto. Semua murid Kun-lun harus melakukan ini. Sudahlah, selamat berpisah, Sin-hiante, sampai jumpa lagi!”

Tosu itu mendahului dan memutar tubuhnya. Ia berkelebat meninggalkan Sin Gak sementara pemuda itu masih memegang buntalan kecil itu. Tapi ketika tosu itu lenyap dan Sin Gak menyimpan ini maka pemuda itupun bergerak dan mulai menuju selatan.

* * * * * * * *

Tak banyak yang dijumpai Sin Gak dalam perjalanannya, betapapun akhirnya ia sampai juga di Hek-yan-pang. Tapi karena tak mau diantar dan harus bertanya-tanya, barulah empat hari kemudian sampai maka keluar dari hutan menghadapi pulau kecil di tengah danau luas itu pemuda ini tertegun. Yang mula-mula dirasakan adalah kesunyian mencekam. Tak ada tanda-tanda kehidupan sebagaimana layaknya sebuah perkumpulan. Ia berdiri di tepi danau itu memandang ke depan.

Pulau di tengah itu sunyi. Bangunan dan beberapa rumah kecilnya seakan merana tak berpenghuni. Ia ragu. Dan ketika ia berdebar karena inilah tempat yang dicari, ia sudah berada di situ maka telinganya yang tajam mendengar suara berkeresek dan gerakan-gerakan mencurigakan. Sin Gak diam, pura-pura tak tahu. Kalau ada manusia di situ justeru kebetulan, ia dapat bertanya. Tapi ketika melompat belasan bayangan dan tiba-tiba menyerangnya maka pemuda ini terkejut juga.

“Pemuda iblis, kau datang lagi ke sini? Mampuslah!”

Sin Gak terkejut. Tak disangkanya kedatangannya di situ justeru disambut bacokan senjata tajam. Pedang dan tombak beronce menyambar. Tapi ketika ia berkelit dan menangkis semua ini, jerit wanita dan laki-laki bercampur aduk maka tusukan dan bacokan itu terpental semua, bahkan tiga di antaranya terlepas.

“Plak-plak-plak!”

Jerit ini disusul seruan heran. Mereka, delapan belas laki-laki dan perempuan melihat siapa lawan mereka ini. Sin Gak memutar tubuhnya dan telah menghadapi mereka ini. Lalu ketika semua orang itu menuding dan gemetar melempar senjata mendadak semuanya berlari dan menjatuhkan diri berlutut.

“Sin-siauwhiap (pendekar muda Sin)!”

Sin Gak tercengang. Ia heran dan kaget bagaimana wanita dan laki-laki itu. mengenal dirinya. Dan ketika ia tertegun maka mereka mengguguk dan memeluk kakinya.

“Aduh, kenapa baru sekarang kau datang, siauwhiap. Kenapa setelah tokoh-tokoh kami bepergian semua. Aduh, kami harus mengalami derita berturut-turut!”

“Bangunlah,” Sin Gak membangunkan seorang diantaranya. “Siapa kalian ini, bibi-bibi. Bagaimana mengenal aku bukankah baru pertama ini kita bertemu.”

“Eh!” wanita itu mengangkat mukanya. “Kita kita baru bertemu?”

“Benar!” satu di antara laki-laki itu berseru, mendadak melompat bangun. “Ia bukan si Naga Pembunuh, Pin-cici. Pemuda ini lengkap tangannya. Ia tidak buntung!”

Terkejutlah semua wanita dan laki-laki itu. Mereka tiba-tiba memandang Sin Gak dengan kaget dan melompat bangun. Tapi karena wajah Sin Gak bagai pinang dibelah dua dengan ayahnya, pemuda ini memang mirip benar maka satu di antaranya tiba-tiba menggigil dan menuding.

“Kongcu. kongcu apakah she Sin?”

“Benar, aku she Sin.”

“Kalau begitu kongcu putera Sin Giam Liong si Naga Pembunuh? Kongcu mencari ayah kongcu itu?”

Berdebarlah dada Sin Gak. Ia tak tahu tentang ayah ibunya kecuali bahwa semua keterangan itu akan didapat di Hek-yan-pang sini. Maka ketika tiba-tiba ia dituding dan ditanya apakah ia mencari ayahnya, berdetaklah pemuda ini maka ia mengangguk. “Benar.”

“Ohh!” wanita itu mengguguk, menubruknya lagi. “Kalau begitu kau adalah Sin Gak, kongcu, kau putera ayahmu Giam Liong. Wajahmu mirip benar dengannya, kau anak yang hilang itu!” lalu ketika Sin Gak tersentak dan menggigil maka berhamburanlah orang-orang itu lagi kepadanya, memeluk.

“Benar, kau tentu Sin Gak. Kau putera ayahmu Giam Liong. Kalian bagai pinang dibelah dua!”

Pemuda ini terguncang. Setelah semua menyebut namanya maka yakinlah dia bahwa kedatangannya di tempat yang tepat. Asal-usulnya memang di sini. Maka ketika ia tergetar dan menitikkan air mata, terbawa oleh tangis dan sedu-sedan wanita-wanita ini maka pemuda itu hanyut dan sejenak tak mampu menguasai diri. Dan saat itu tiba-tiba terdengar pekik dan gonggong srigala.

“Iblis itu datang!”

Berhamburanlah orang-orang memutar tubuh. Mereka yang tadi sesenggukan dan memeluk Sin Gak tiba-tiba meloncat dan berlari ketakutan. Wanita dan laki-laki itu menjerit-jerit. Namun ketika muncul gigi- gigi menyeringai dari dalam hutan, disusul salak dan loncatan-loncatan panjang maka puluhan srigala menubruk dan mengejar orang-orang ini.

“Aduh...bret-bret-brett!”

Sin Gak terkejut. Tiga di antara wanita-wanita itu terpelanting dan digigit anjing-anjing liar itu, berteriak dan berguling. namun mereka diserang yang lain. Ada tujuh ekor mengeroyok tiga wanita ini. Dan ketika ia tersirap karena pakaian wanita itu robek-robek, kulitnya yang putih tipis terkuak berdarah maka pemuda ini berkelebat dan tangannya langsung menampar kepala binatang-binatang itu.

“Pergilah!”

Tamparan Sin Gak adalah tamparan yang mengandung Pek-mo-in-kang. Jangankan anjing, kepala kerbaupun pasti pecah. Maka ketika tujuh binatang itu menjerit dan terkapar maka tiga wanita itu dapat bergulingan meloncat bangun namun tiba-tiba mereka terkekeh. Sin Gak tak menyadari ini. Ia telah berkelebat lagi menghajar binatang-binatang yang lain, gonggong dan salak riuh mereka menutup kekeh tiga wanita itu. Dan ketika berturut-turut ia merobohkan lagi belasan yang lain dan para murid Hek-yan-pang bersorak gembira, sekejap binatang itu tinggal separoh mendadak tiga wanita yang terbebas dari gigitan anjing-anjing liar ini menubruk Sin Gak dan menggigit lengan dan kaki pemuda itu.

“Heii!” Sin Gak terkejut. Ia telah dikerubut dan digigit kaki dan lengannya. Wanita-wanita itu tiba-tiba saja seolah menjadi srigala-srigala buas. Sin Gak tak tahu bahwa gigitan itu telah menyebarkan racun jahat ke tubuh korban, menyalurkan atau menularkan hawa jahat dari sebuah ilmu hitam. Maka ketika ia digigit namun untunglah Pek-mo-in-kang melindunginya, hawa dingin tenaga sakti itu membuat gigi para wanita itu berkerutuk maka mereka menjerit dan roboh terbanting.

“Kres-kres-kres!”

Tiga wanita ini menggigil dan menggeliat-geliat. Mereka terkejut bertemu kulit dingin seperti es, racun jahat tiba-tiba hancur dan lenyap. Dan ketika sisa srigala lari ketakutan memasuki hutan maka murid- murid Hek-yan-pang yang selamat ditolong pemuda ini sudah menolong rekan mereka yang pucat dan masih kedinginan.

“Kenapa kau menyerangku,” Sin Gak mernbentak. “Apakah kalian gila dan tidak tahu siapa lawan siapa kawan!”

“Ampun.....!” tiga wanita itu berlutut, sadar kembali, menangis. “Kami tak tahu apa yang kami lakukan, kongcu. Kami terkena gigitan binatang-binatang terkutuk itu. Kami kemasukan racun jahat!”

“Mereka tertular liur jahat srigala-srigala itu,” seorang yang lain buru-buru menerangkan. “Kami semua didera penderitaan panjang, kongcu. Ampunkan mereka karena sesungguhnya mereka tak tahu apa yang mereka lakukan!”

“Hm, apa yang terjadi,” Sin Gak terkejut. ”Mana pula ketua Hek-yan-pang karena bukankah kudengar Ju-taihiap memimpin perkumpulan ini.”

“Taihiap dan tuan muda sama-sama pergi, kami menunggu. Peristiwanya panjang dan marilah kongcu kami antar ke tengah pulau itu. Di sana sajalah kita bicara dan awas musuh kembali datang.”

Semua mengangguk. Beramai-ramai mereka mengajak Sin Gak dan daya tangkal pemuda ini terhadap liur srigala membangkitkan harapan. Kiranya Pek-mo-in-kang mampu melenyapkan pengaruh hitam racun jahat itu. Dan ketika Sin Gak mengangguk dan menuju pulau maka segera orang-orang ini mengambil perahu yang disembunyikan di balik semak-semak belukar, meluncur dan tak kurang empat perahu beriringan cepat. Sekali-sekali mereka masih menoleh ke belakang, gonggongan itu rupanya masih ditakuti. Dan ketika mereka. sampai di seberang dan meloncat turun maka Sin Gak merasa adanya hawa seram yang menyelubungi tempat itu.

“Nanti dulu,” pemuda ini mencari sesuatu. “Siapa di antara kalian yang memiliki benang dan jarum kecil, bibi. Aku butuh sepuluh jarum dan semeter benang."

“Aku punya,” satu di antaranya berseru, melepas ikat pinggang. “Tapi jarumnya hanya dua, kongcu. Untuk apa dan apakah cukup!”

“Tak apa,” Sin Gak menerima dan menyuruh mundur. “Tempat ini berbau amis seperti genangan darah, kurasa ada hawa hitam di sini. Biar kubersihkan dulu dan minggirlah!”

Sin Gak adalah murid Sian-eng-jin si Bayangan Dewa. Di samping ilmu silat dan kepandaian lain maka diapun diajar mengenal ilmu-ilmu hitam dan menangkalnya. Tanda-tanda ilmu hitam diberitahukan pemuda ini dan Sin Gak pun mencium. Bau amis seperti genangan darah itu tak enak, lagi pula hawa menyeramkan di atas Hek-yan-pang itu seakan mengurung dan mengepung dari segala penjuru.

Maka ketika ia harus membersihkan ini dan menenangkan murid-murid yang lain, ia mencium hawa jahat di situ tiba-tiba pemuda ini melemparkan benang dan jarum ke barat dan timur pulau. Orang hanya melihat cahaya berkelebat dan tahu-tahu terdapat semacam pagar cahaya di situ. Jarum itu sebagai tiang pancangnya. Lalu ketika Sin Gak tersenyum dan menarik napas lega ia pun menggerakkan tangan ke atas mengebut sisa-sisa hawa hitam di atas kepala.

“Pergilah!”

Pria dan wanita terbelalak. Mereka mendengar ledakan dan bau amis hilang. Sebagai gantinya bertiuplah hawa segar di situ. Lalu ketika pemuda ini mengangguk dan berjalan kembali maka ia berkata bahwa siapapun tak dapat masuk atau keluar tanpa kehendaknya.

“Sebaiknya kalian di sini saja semua. Aku telah memasang pagar. Jangan coba-coba keluar kalau tidak meminta ijin.”

Tercenganglah semua orang. Mereka menjadi kagum namun dua di antaranya tiba-tiba saling mengedip, ingin menguji. Maka ketika mereka bergerak ke kiri kanan menuju perahu tiba-tiba mereka menjerit karena di tepi pulau kaki mereka tersengat jala cahaya bagai setrom tegangan tinggi.

“Aduh!”

Terkejutlah semua orang. Mereka yang mengantar Sin Gak menoleh, dua rekan mereka itu meronta-ronta namun aneh tak ada apa-apa yang melilit. Mereka ini seakan terjebak kawat berduri saja. Tapi ketika Sin Gak berseru perlahan mengibaskan lengannya maka dua orang itu meloncat bangun lagi dan dapat berdiri bebas.

“Am...... ampun. Kami hanya ingin menguji kesaktianmu, kongcu, ternyata benar. Kami tak dapat keluar.”

“Dan yang di luarpun tak dapat masuk,” Sin Gak berkata dingin. “Sebaiknya jangan coba-coba melanggar larangan, paman, atau aku membiarkan kalian.”

Gentarlah semua orang. Sekarang mereka percaya dan kekaguman pun semakin meningkat. Dua kali pemuda ini menunjukkan kepandaiannya. Dan ketika semua berjalan lagi dan menuju rumah paling besar, tempat tinggal Ju-taihiap maka di sini semua orang berlutut.

“Mati hidup kami di tangan kongcu, biarlah hari ini kongcu memimpin kami sambil menunggu datangnya ketua!”

“Hm, bangunlah,” Sin Gak tak enak juga. “Aku datang bukan untuk melindungi siapapun, bibi, melainkan mencari ayahku. Sekarang ceritakanlah tentang ini dan mana ayahku.”

Semua orang menangis. Begitu masuk dan bersimpuh dirumah besar ini segera sedu-sedan dan tangis mengguguk pecah. Rumah itu tak terawat lagi dan penuh sarang laba-laba. Sudah lima tahun ini rumah besar ini tak berpenghuni. Maka ketika Sin Gak tertegun dan membiarkan tangis duka itu, maklum bahwa sesuatu yang hebat terjadi maka sejenak kemudian Cu Pin, wanita tertua dari para murid ini bercerita.

Kiranya telah terjadi sesuatu yang mengguncangkan Hek-yan-pang. Teror demi teror dialami perkumpulan ini, mulai dari datangnya Majikan Hutan Iblis itu sampai hilangnya Giok Cheng. Lalu ketika si Naga Pembunuh datang berlumuran darah, luka-luka maka kejadian demi kejadian menghancurkan keberanian anak-anak murid ini.

“Ketua kami Ju-taihiap terpaksa menyingkir, puteranya Han Han juga pergi. Dan karena teror demi teror mengguncang kami maka Hek-yan-pang porak-poranda, kongcu. Tak ada yang mampu melawan Majikan Hutan Iblis itu karena ia benar-benar sakti. Tak dapat dibunuh!”

“Hm, ceritakan secara urut, bagaimana itu. Biar kudengar dan harap kalian tenang. Dan bagaimana pula dengan ayahku.”

Wanita itu bercerita. Sejak terakhir kali Naga Pembunuh datang luka-luka, maka Ju-taihiap maupun puteranya berdebar-debar. Kisah Giam Liong yang begitu mencekam membuat dua tokoh ini gelisah, bukan takut melainkan cemas bagaimana di dunia ini ada mahluk seganas itu. Sepak terjangnya tak tertahankan dan tokoh-tokoh kang-ouw roboh satu per satu. Mereka terkena Beng-jong-kwi-kang (Tenaga Setan Penembus Roh) yang amat jahat itu, tunduk dan mengabdi Majikan Hutan Iblis ini. Dan karena lelaki itu memiliki kepandaian luar biasa, sihir dan ilmu hitam maka di sini ketua Hek-yan-pang mati kutu dan kehabisan akal.

“Di sini hujin (nyonya) sendiri binasa, kami tak dapat berbuat apa-apa. Dan karena iblis itu terus melakukan sepak terjangnya tak dapat dihalang-halangi maka Ju-taihiap meninggalkan kami menuju Lembah Malaikat.”

“Hm, di mana Lembah Malaikat itu, tempat siapa?”

“Konon katanya tempat tinggal manusia dewa Bu-beng Sian-su. Ketua kami hendak meminta petunjuk, kongcu, atau pertolongan.”

“Dan ibuku?” Sin Gak menahan perasaannya. Sejak tadi kau tak pernah menyebut-nyebut ibuku, bibi. Di mana dia apakah bersama ayah.”

“Ah, Sin-hujin telah meninggal, dibunuh jahanam keparat ini. Ibumu pun menjadi korban kebiadaban iblis ini, kongcu. Banyak di antara kita yang tewas terbunuh!”

Sin Gak memejamkan mata. Untunglah karena tak begitu kenal maka berita kematian ibunya ini sebentar saja membuat perasaannya terkoyak, setelah itu Sin Gak tenang lagi. Namun ketika matanya berkilat dan wajah itu memerah maka wanita ini pucat melanjutkan, gentar. Mata itu mencorong bagai naga yang siap murka, menakutkan!

“Lalu bagaimana?” Sin Gak bertanya lagi, dingin. “Kenapa kau tak melanjutkan?”

“Maaf,” wanita ini gemetar. “Apakah boleh kuteruskan, kongcu? Kau...kau tampaknya marah!”

“Aku tidak marah kepada kalian, aku marah kepada iblis itu. Teruskanlah dan tenang-tenang sajalah.”

Wanita itu mengangguk, menelan ludah. “Selebihnya adalah peristiwa menggegerkan, menantu Ju-taihiap tak kembali kesini.“

“Hm, bibi Tang Siu?”

“Benar, kongcu, sahabat dekat mendiang ibumu pula. Ia... ia mencari anaknya Giok Cheng!”

“Jadi Ju-taihiap mempunyai cucu perempuan?”

“Benar, dan kau dijodohkan kepadanya. Ah, betapa gembira kalau mereka mengetahui kau di sini, kongcu, apalagi Giok Cheng di sini pula. Tentu ramai!”

Sin Gak terkejut. Untuk ini ia menjadi merah karena malu. Baru mengetahui sekelumit dirinya tiba-tiba terdengar juga berita perjodohan itu. Ia jengah. Tapi teringat gadis baju hitam putih mendadak ia berdebar dan membayangkan sesuatu yang aneh. Manakah lebih cantik antara gadis itu dengan Giok Cheng? Pantaskah Giok Cheng menjadi jodohnya? Jangan-jangan ilmu kepandaiannya rendah sekali, kalah jauh dengan gadis baju hitam putih itu!

Sin Gak semburat. Ternyata di samping penasarannya yang belum terpuaskan sesungguhnya ia menaruh kagum kepada gadis itu. Apalagi setelah mengetahui bahwa gadis yang disangkanya mencelakai kakek tua itu ternyata malah mengobati. Ia merasa simpatik. Tapi karena mereka bermusuhan dan betapapun ia merasa gadis itu sombong, apalagi bibir yang berjebi mengejek itu masih tak dapat dilupakannya maka masih merasa panas dan marah. Akan diulangnya lagi pertandingan di antara mereka kelak!

“Kongcu berpikir apa?” tiba-tiba wanita itu bertanya. “Apakah mengenai cantik tidaknya calon jodohmu? Ah, jangan khawatir, ia cantik dan gagah perkasa, kongcu. Konon katanya diambil murid oleh nenek sakti Hek-i Hong-li!”

“Apa?” Sin Gak terkejut. “Hek-i Hong li?”

“Benar, begitu yang kami dengar. Dulu nenek ini datang dan meminta gadis itu menjadi muridnya. Apakah kongcu kenal!”

Sin Gak tertegun. Kenal? Ah, tentu saja ia tahu nama itu. Nenek itu adalah sumoi gurunya sendiri, jadi masih bibi gurunya. Jadi kalau Giok Cheng menjadi murid wanita itu maka masih termasuk sumoinya sendiri. Tentu lihai! Dan ketika pemuda ini berdebar namun masih tertegun maka wanita itu meneruskan ceritanya bahwa Hek-yan-pang terpaksa ditinggalkan pimpinannya setelah teror demi teror dari Majikan Hutan Iblis itu.

“Dulu nenek sakti Hek-i Hong-li membuat gentar Majikan Hutan Iblis itu. Tapi entahlah, nenek itu tak mau bertindak lanjut membunuh keparat ini. Ia masih berkeliaran. Dan sayangnya nona Giok Cheng juga belum pernah datang sejak di ambil murid...!”