TAPAK TANGAN HANTU
JILID 17
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“HEH-HEH, apa yang akan kalian lakukan, ciangkun? Kenapa demikian gugup dan panik seperti kambing kebakaran jenggot? Aku senang duduk di sini, diamlah dan lanjutkan pesta.”

Akan tetapi mana mungkin komandan itu dapat tenang dan diam dalam saat seperti itu. Si banci yang ternyata pembunuh ini kiranya berada di situ di tempat pesta. Keberaniannya benar-benar luar biasa, orang lain tentu kagum. Tapi karena bagi Ui-ciangkun ini adalah penghinaan, ia seakan ditantang oleh kehadiran pemuda itu maka komandan yang sudah bergerak dan maju lagi itu membentak dan menyerang lawan. Ia penasaran oleh benturan tadi dan marah sekali.

Di situ banyak para tamu, terutama Gubernur yang tentu tak akan senang bila ia tak mampu menangkap penjahat. Tapi ketika ia menyerang dan menggerakkan lengannya dengan amat cepat, mencengkeram dan siap membanting lawannya itu mendadak si banci lenyap dan kursi yang menjadi sasaran hancur berantakan terkena cengkeramannya.

“Kratak!” Kursi roboh dan terguling. Ui-ciangkun terkejut dan saat itu terdengar tawa aneh dari atas. Ia tak tahu betapa dengan lebih cepat lagi si banci mencelat meninggalkan kursinya, tinggi hingga nyaris menyentuh langit-langit ruangan dan kini turun lagi ke bawah. Saat ia mencelat kursi itu hancur, saat ia turun Ui- ciangkun melengak. Maka ketika ia meluncur dan sang komandan kaget maka saat itulah ujung sepatunya menyambar dan tepat bagai disentak tangan raksasa dagu perwira ini tersentak oleh ujung sepatu lawan.

“Duk!”

Perwira itu berteriak dan terbanting roboh. Ujung sepatu yang menyentuh perlahan ternyata seakan lontaran palu martil, komandan ini menjerit dan terguling-guling. Tapi karena ia adalah komandan Pasukan Garuda dan betapapun cukup kuat, bangun dan terhuyung lalu berteriak memberi aba-aba maka pasukannya, yang berjumlah hampir seratus orang menerjang dan menyerbu pemuda itu.

“Hi-hik, tak tahu malu. Disuruh mundur malah maju. Eh, aku tak berniat buruk, tikus-tikus bau. Aku hanya ingin menikmati santap bersama dengan seorang pembesar. Minggirlah, dan biarkan aku di sini!”

Pemuda itu mendorong dan menggoyang-goyang kipasnya akan tetapi yang terjadi sungguh hebat. Pasukan Garuda tertiup dan terlempar, mereka bagai diserang angin ribut. Lalu ketika semua menjerit dan roboh satu demi satu, Ui-ciangkun terbelalak maka pemuda itu menarik kursi lain dan duduk sambil tersenyum ke arah Gubernur, menutup kipasnya membungkuk memberi salam.

“Paduka Gubernur, mari lanjutkan makan. Mudah-mudahan paduka tak memberi kesan jelek seperti tikus-tikus ini.”

Gubernur kagum. Akhirnya dia terkejut dan heran akan tetapi juga kagum akan kelihaian dan kehebatan pemuda itu. Jelas ia hanya menggoyang dan menggerak-gerakkan kipas namun semua Pasukan Garuda terlempar. Ui-ciangkun sendiri begitu mudahnya terbanting, itu untuk yang kedua kali. Tapi karena lawan adalah penjahat sementara Ui-ciangkun sebagai komandan keamanan menjadi marah luar biasa, pembantu We-taijin itu memekik dan mencabut senjatanya berupa golok sirip hiu maka perwira itu sudah menerjang dan kali ini berhati-hati terhadap lawan, anak buahnya sudah bangun lagi dan bergerak membantu. Golok sirip hiu bergagang panjang itu menderu dan mendesing menyambar pemuda itu.

“Ha-ha, tidak kapok. Baik, kau boleh serang aku sampai sepuluh jurus, Ui-ciangkun. Tapi setelah itu kau harus mundur atau mampus!” si banci mengelak dan tertawa dan semua serangan luput. Ia seakan main-main saja tetapi kata-kata terakhirnya tadi penuh ancaman. Sorot matanya juga lain ketika memandang perwira itu, berkilat dan penuh bahaya. Dan ketika pengawal juga bergerak dan maju lagi, terpaksa pemuda itu meninggalkan kursinya maka ia meloncat dan berpindah-pindah namun tetap melayani Ui-ciangkun.

“Suruh anak buahmu minggir, biar kau dan aku saja. Heh, jangan campuri urusan ini, tikus-tikus busuk. Minggir atau kalian mampus!”

Pasukan Garuda tak menghiraukan. Mereka melihat komandan mereka menyerang mati-matian dan tentu saja mereka tak mau mundur. Pemuda itu mengelak dan berpindah-pindah dari kursi satu ke kursi lain, terhadap mereka pemuda ini seolah takut. Tapi ketika mereka tetap menyerang dan pemuda itu menghitung jurus demi jurus yang dilancarkan Ui-ciangkun mendadak kipas itu dicabut lagi dan tepat pada jurus kesepuluh pemuda itu membentak menangkis senjata di tangan Ui-ciangkun, sekaligus juga senjata di tangan Pasukan Garuda.

“Cukup!”

Jerit dan senjata terlempar mengejutkan siapa saja. Pasukan Garuda, yang tadi menyerang dan tak menghiraukan seruan pemuda itu mendadak mencelat dan terbanting roboh. Senjata mereka bertemu dengan kipas di tangan pemuda itu dan bagai bertemu aliran listrik mereka berteriak kaget. Kipas di tangan pemuda, itu mengeluarkan getaran yang amat menyengat, tajam sampai menuju ketiak dan jantung. Dan karena getaran ini amat hebatnya dan rasa terbakar juga membuat semua mengaduh, terlempar dan terbanting maka dua puluh di antaranya langsung tewas dengan dada kebiruan!

Ui-ciangkun sendiri mengeluh dan terlempar akan tetapi perwira itu tidak tewas. Golok sirip hiunya, yang pipih dan bergagang panjang terdengar berkeratak bertemu kipas lebar itu, patah dihantam jari-jari kipas dan perwira ini kaget sekali akan rasa panas yang membakar telapak tangannya. Secepat itu juga ia melepas senjatanya dan selamat, terlempar tapi tidak tewas karena ia membuang goloknya itu. Dan ketika perwira ini melompat bangun dengan tubuh gemetar, pucat pasi maka pemuda itu tertawa menyimpan kipasnya.

“Nah, apa kubilang. Salah kalian sendiri. Kalau kalian tidak menyerangku tentu aku tak akan membalas kalian, Ui-ciangkun. Sekarang terserah apakah mau cukup di sini atau dilanjutkan.” Pemuda itu duduk lagi dengan sikap tenang, kipas dimasukkan ke saku baju sementara We-taijin dan lain-lain terbelalak.

Wajah walikota itu merah padam, marah dan malu tapi juga gentar menghadapi si banci itu. Perwira andalannya tak dapat diandalkan! Tapi ketika pemuda di samping Gubernur bergerak dan tahu-tahu melayang ke tempat pemuda ini, yang masih duduk dan mengebut-ngebutkan ujung bajunya maka pemuda baju putih itu membentak.

“Sobat, kau rupanya lihai sekali. Tapi jangan sombong, aku ada di sini dan mari kita main-main sebentar!”

Si banci mengangkat mukanya. Sejak tadi sesungguhnya ia memperhatikan pemuda ini, pemuda tampan gagah yang selalu tak jauh dari Gubernur. Melihat gerak-geriknya tentu pengawal pribadi dan hal itu memang benar. Pemuda ini adalah keponakan Gubernur sendiri, dua bersaudara bernama Sia Teng Bu dan Sia Teng Seng dimana satu di antara mereka menyelinap keluar ketika memasuki gedung We-taijin, yakni ketika mendengar bahwa di kota itu terdapat penjahat.

Maka ketika Teng Bu, pemuda ini ditinggal kakaknya untuk mengawal paman mereka, mereka adalah murid-murid Bu-tong yang sudah memiliki kepandaian tinggi maka pemuda itu diam-diam terkejut melihat kepandaian si banci yang amat luar biasa ini. Teng Bu sudah mengamati sejak tadi dan pemuda tampan berbaju putih ini merasa gatal. Dia melihat betapa Pasukan Garuda dirobohkan begitu mudah oleh si banci itu, termasuk akhirnya Ui-ciangkun yang menjadi komandannya. Dan ketika dia berbisik dan mendapat ijin pamannya, maju dan tak menunda waktu lagi maka murid Bu-tong yang gagah perkasa ini marah namun lawan justeru tersenyum dan berseri-seri menyambutnya.

Si banci itu bangkit dan wajah itu tampak lembut dan ayu seperti wanita, mata itu bersinar-sinar, mencorong, setengah redup! “Hi-hik, kongcu akhirnya maju juga. Bagus, sudah kutunggu! Eh, siapa namamu, kongcu yang mulia, dan bolehkah kutahu apa hubunganmu dengan Pasukan Garuda itu. Kuharap kau bukan satu di antara mereka dan jangan salahkan aku dengan semua akibat ini.”

Teng Bu merasa seram. Setelah dia berhadapan dan si banci itu terkekeh seperti wanita, wajah yang berbedak dan bergincu itu tampak cantik tapi juga tampan pemuda ini malah ngeri. Dia melihat sesuatu yang menyeramkan meskipun tawa dan pertanyaan lawan lembut, tidak, kasar apalagi menyakitkan. Namun karena semua pertanyaan itu diucapkan dengan sikap genit dan anting-anting dibawah telinga itu juga bergoyang digerak-gerakkan secara kemayu, dia muak namun juga marah maka pemuda ini menjawab dengan bentakan keras.

“Iblis kejam, kau telah membunuh anak buah We-taijin. Kau tak berperasaan. Menyerahlah atau kau mampus!” Lawan terkekeh. Teng Bu telah membarengi bentakannya itu dengan lompatan ke depan, tangan kiri bergerak sementara tangan kanan siap menyusul, kalau lawan mengelak atau menangkis. Dan ketika benar saja banci itu mengelak dan tangan Teng Bu luput, secepat kilat tangan kanan menyambar maka tinju atau kepalan lima jari mencegat dari luar ke dalam.

“Plak!”

Si banci menangkis dan Teng Bu terpental. Pemuda itu berteriak perlahan karena sama seperti Ui-ciangkun tadi ia pun menerima sengatan tajam, rasa panas membakar namun pemuda ini sudah membuang lengannya itu berputar setengah langkah. Lenyaplah sengatan tajam bertenaga panas itu. Dan ketika pemuda ini terbelalak namun menyerang lagi, kaki bergerak membantu sepasang lengan yang sudah naik turun menyambar-nyambar maka si banci itu tertawa dan ringan namun cepat ia mengelak dan maju mundur membuat serangan-serangan pemuda itu luput.

“Hi-hik, kurang cepat, kongcu, tapi cukup bertenaga. Aih, gaya pukulanmu seperti Hang-houw-ciang (Silat Penakluk Harimau). Ah, benar, gerakan kakimu menunjukkan bhesi (pasangan kuda-kuda) Bu-tong. Ha-ha, kiranya kau murid Bu-tong!” dan si banci yang berkelebat dan akhirnya lenyap dikejar Teng Bu membuat pemuda itu terkejut dan membelalakkan mata.

Teng Bu terkesiap bahwa demikian cepat lawan mengetahui asal-usul ilmu silatnya, ia kagum tapi juga kaget. Dan ketika ia memekik dan mempercepat gerakan namun lawan lenyap beterbangan di sekeliling dirinya maka pemuda gagah ini benar-benar mencelos karena tak satu pun serangannya menyentuh tubuh lawan. Jangankan tubuhnya, bajunya saja tidak!

“Keparat, kau jangan hanya menghindar saja. Tangkis dan balas pukulanku, iblis kejam. Atau aku menganggapmu pengecut!”

“Ha-ha, kau murid Bu-tong, dan aku tak pernah bermusuhan dengan Bu-tong. Eh, tak perlu aku membalasmu, kongcu. Sekali balas kau bakal roboh. Menyerahlah saja, atau aku akan membuatmu kehabisan napas!”

Teng Bu pucat. Akhirnya ia sadar bahwa lawan berada di atas tingkatnya. Sekarang lawan bergerak lebih cepat daripada ketika menghadapi Pasukan Garuda atau Ui-ciangkun tadi, berarti banci ini masih menyimpan kepandaiannya yang entah sampai di mana lagi. Dan ketika ia mempercepat gerakan namun kalah cepat, lawan selalu lenyap setiap dipukul maka tak ampun lagi napasnya memburu dan Teng Bu menjadi penasaran serta marah di samping gugup.

Ia adalah murid Hak Cin Hosiang tokoh nomor dua. Di Bu-tong, kepandaiannya sudah termasuk tinggi, untuk kalangan muda bahkan yang paling tinggi. Maka ketika disini ia seakan menjadi barang mainan lawan dan lawan terkekeh-kekeh setiap pukulannya luput maka hal yang lebih mengejutkan lagi terjadi pada dirinya. Si banci mulai mengusap dan mengelus pipinya!

“Hi-hik, sudahlah, kongcu. Kau tak akan menang melawanku. Kita bersahabat saja, berteman. Aku kagum kepadamu dan tak ingin menanam permusuhan pula dengan Bu-tong. Sudahlah, berhenti dan kita bersahabat.”

Teng Bu meremang. Aneh sekali nafsunya tiba-tiba bangkit diusap dan dielus seperti itu. Ada bau harum di jari-jari lawan ketika menyambar mukanya. Dan ketika ia merasa pening tak mampu mengejar lawan, usapan dan elusan itu kian sering menjamah dirinya maka bukan hanya muka atau wajah melainkan juga perut dan pundaknya. Dan terakhir adalah bawah pusarnya!

Teng Bu tak tahu bahwa bau memabokkan dilepas si banci itu. Bau itu adalah bubuk perangsang yang dikebutkan tipis-tipis, muncul dari dalam ujung lengan baju dan sedikit tetapi pasti membangkitkan gairah pemuda ini. Namun ketika Teng Bu mulai terhuyung-huyung dan bingung serta malu, entah bagaimana ia seakan digosok bisikan-bisikan mesra yang membuat tubuhnya panas dingin maka saat itulah muncul kakaknya yang berkelebat dengan sepasang golok di tangan.

“Bu-te (adik Bu), lawan kita ini berbahaya. Cabut golokmu dan mainkan. tong Siang-to (Sepasang Golok Bu-tong) untuk mengalahkannya!”

Si banci terkejut dan mengelak. Teng Bu hampir roboh ketika tiba-tiba muncul pemuda kedua, gagah dan juga tampan namun berwajah lebih keras. Pemuda yang baru muncul ini mengelebatkan sepasang goloknya dengan tusukan dan bacokan, dua gerakan yang berbeda satu sama lain. Dan ketika golok lewat dan membacok angin kosong, gerakan golok itu menghalau bau harum yang memabokkan Teng Bu maka bagai disiram air dingin pemuda ini meloncat jauh dan menarik napas dalam-dalam. Teng Seng, kakaknya telah menyerang hebat lawannya itu.

“Hm, apa yang kualami,” pemuda ini berpikir, wajahpun merah padam. “Kenapa tubuhku tiba-tiba panas dan bergairah seperti layaknya melihat wanita cantik. Keparat, kau rupanya melepas guna-guna, banci busuk. Kau membuat aku hanyut dalam pengaruh iblis!”

Teng Bu lalu menyerbu lagi membantu kakaknya. Keberaniannya bangkit lagi setelah kakaknya muncul, mencabut golok dan kini dengan senjata di tangan ia menyerang lawannya itu. Tapi ketika lawan mengelak dan luput, golok mengenai angin kosong maka si banci itu mengerling padanya, genit.

“Hi-hik, kalian rupanya bersaudara, jiwi kongcu. Bagus sekali dan menyenangkan. Aih, kalian gagah dan sama-sama hebat, tapi masih bukan tandinganku. Berhenti dan kita bersahabat!”

“Hidungmu!” Teng Bu memaki. “Iblis macam kau tak layak bersahabat dengan kami, keparat busuk. Kami Sia-hengte (dua bersaudara Sia) bukan orang-orang yang mudah bergaul dengan manusia siluman!”

“Aih, kalian Sia-hengte kiranya. Kalau begitu kalian yang berjuluk Sepasang Harimau Dari Kwang-tung. Bagus, aku akan memperlihatkan kepada kalian betapa lima jurus kalian roboh dan sebagai orang gagah kalian harus tahu diri!”

Teng Bu dan kakaknya marah. Teng Seng, sang kakak, sudah menyerang gencar lawan mereka ini namun si banci begitu mudah menghindar dan berkelit. Sepasang goloknya menusuk dan membacok akan tetapi semuanya itu mengenai angin kosong belaka, hal yang mengejutkan pemuda ini sementara sisa-sisa Pasukan Garuda dan pengawal Gubernur akan maju. Mereka mendapat isyarat dari Ui-ciangkun tapi Gubernur tiba-tiba mengangkat tangan.

Dengan isyarat Gubernur itu mencegah mereka, tak memperbolehkan maju atau membantu dua bersaudara Sia. Dan ketika pertempuran berjalan semakin sengit sementara Teng Bu juga kian penasaran betapa goloknya tak mengenai tubuh lawan, bajupun tidak, maka sang kakak tiba-tiba melengking dan berseru keras melihat lawan berkelebat dan mendorongkan tangannya kewajah.

“Bu-te, lakukan Siang-houw-tiauw-wi (Sepasang Harimau Sabetkan Ekor). Lihat ekor di depan kepala!”

Si banci melengak. Saat itu dia terkekeh menyambarkan telapak ke muka lawan, mengebut dengan gerakan tak kentara bubuk putih berbau harum. Dan ketika dia disambut dan dipapak sepasang golok, heran mana mungkin ada ekor di depan kepala maka saat itu Teng Bu membabatnya dari belakang dengan gaya menyabet dengan satu kaki diangkat ke atas. Ini adalah jurus terlihai dari simpanan ilmu silat Bu-tong yang biasanya dimainkan berdua, kakak beradik Sia-hengte itu memang telah menguasainya.

Dan karena kata-kata itu memang merupakan kata-kata sandi (rahasia) maka saat itulah Teng Bu tak menyia-nyiakan kesempatan ketika kakaknya memapak telapak lawan yang mendorong ke depan. Teng Seng sang kakak pasti melanjutkan dengan tendangan cepat, sementara dia akan menyabetkan golok dengan kaki siap menendang pula. Dari belakang dia akan menghantam lutut lawan, biasanya kalau berhasil tentu lawan roboh, meskipun mungkin dapat mengelak dari sabetan goloknya. Tapi karena mereka tak tahu siapa lawan mereka ini, si banci tertawa aneh maka begitu golok memapak tangan secepat itu pula terjadi hentakan.

Teng Seng terkejut ketika telapak lawan yang dibacok goloknya mencengkeram cepat, tangan atau telapak itu tak apa-apa dan saat itu golok langsung dibetot. Golok ke dua patah bertemu punggung telapak lawan. Dan ketika ia meneruskan tendangan namun bau harum menyambar hidung, mendadak pemuda itu pening maka Teng Bu yang ada di belakang dan sedang menyabetkan golok tepat sekali menghajar punggung lawan namun golok di tangan patah-patah.

“Krak-krakk!”

Dua bersaudara ini kaget. Mereka berteriak dan sama-sama pucat namun lawan tertawa merampas golok Teng Seng. Golok ini adalah golok yang dicengkeram tadi, dibetot dan sudah berpindah tangan sementara bau harum menyambar hidung pemuda itu. Teng Seng pening dan ujung sepatu lawan menyentuh lututnya, roboh dan saat itu si banci membalik menotok Teng Bu. Golok diputar dan gagangnya menotok pundak pemuda itu. Dan ketika Teng Bu mengeluh dan roboh menyusul kakaknya, dua Sia-hengte itu roboh hampir berbareng maka selesailah pertandingan dan si banci tertawa membalik lagi gagang golok.

“Ha-ha, bagaimana, apakah kalian berdua tak mau menyerah. Lihat, aku dapat membunuh kalian berdua bila aku mau, jiwi-kongcu, tapi aku tak melakukan karena sesungguhnya aku tak berjiwa kejam. Hanya bila orang kelewatan kepadaku maka terpaksa aku bersikap bengis, tapi kalau orang tahu diri akupun bermurah hati dan tak mungkin kejam!”

Ui-ciangkun dan We-taijin terbelalak tapi Gubernur berseri mengangguk-angguk di sana. Gubernur tampak gembira melihat kelihaian si banci ini, tiba-tiba bertepuk tangan dan maju mengejutkan Pasukan Garuda, yang tentu saja cepat bergerak tapi dikibas Gubernur, disuruh minggir. Dan ketika semua orang tertegun dan amat khawatir, si banci menoleh maka Gubernur mengangkat tangan berseru nyaring.

“Sicu (orang gagah), kau mengagumkan. Hebat dan tinggi kepandaianmu. Ha-ha, kau benar, kau ternyata tidak berwatak kejam. Bebaskanlah keponakanku dan bagaimana jika sekarang kau menjadi pembantuku!”

“Heh-heh., taijin bicara apa?”

“Hm, aku ingin memberimu kedudukan tinggi, sicu. Menjadi pembantu nomor satuku dan apa saja yang kau minta bakal kuberikan. Kutawarkan sekarang juga maksud baikku ini dan apakah kau menerima!”

Si banci tertawa, melirik dua bersaudara gagah perkasa itu. “Taijin mau menyuruhku tinggal di gedung taijin? Berkumpul dengan Sia-hengte ini? Ah, janji yang menyenangkan, taijin, tentu saja kuterima. Tapi apakah mereka ini betul-betul mau tunduk kepadaku.”

“Siapapun akan tunduk kepadamu, termasuk dua keponakanku itu. Kau kuangkat menjadi pengawal nomor satu dan berhak membawahi siapapun!”

Banci itu tertawa. Ia berseri dan mengeluarkan sorot aneh memandang dua kakak beradik itu. Cahaya matanya lebih berbinar-binar. Dan ketika ia membebaskan dua bersaudara itu dan Teng Bu serta kakaknya meloncat bangun, tawaran diterima maka hari itu juga banci yang aneh namun amat lihai ini menjadi pembantu Gubernur.

Ui-ciangkun dan pasukannya segera menyibak setelah bekas lawan yang kini menjadi kawan itu diambil sendiri oleh Gubernur. We-taijin, sang bawahan tentu saja tak berani berkutik setelah atasannya mengangkat banci itu sebagai pengawal nomor satu. Kedudukannya bahkan jauh di atas walikota itu. Dan ketika perjamuan kembali dilanjutkan dan kini banci itu makan minum bersama Gubernur maka dia menyatakan bahwa dirinya bernama Mo Kiem, seorang pengembara atau perantau yang tak tetap arah tujuannya.

Gubernur mengangguk-angguk sementara Teng Bu mulai kagum. Kekalahan mereka yang demikian telak dan harus di akui membuat pemuda itu menaruh hormat, apalagi karena banci ini tak membunuh mereka, hal yang mulai menumbuhkan kesan baik dan hormat di hati pemuda itu. Dan ketika siang itu Gubernur langsung pulang dan meninggalkan walikota, berderap dengan keretanya maka si banci diperkenankan duduk dan bersama di dalam kereta. Satu penghormatan tinggi yang begitu cepatnya diperoleh Mo Kiem!

Akan tetapi banci itu pandai menjaga perasaan. Sia-hengte, dua bersaudara Teng Bu dan Teng Seng yang semula di dalam kereta dan kini memberikan tempat duduk bagi si banci ternyata diundang pula ke dalam. Mo Kiem menyatakan tak enak bila dua bersaudara itu harus di luar, sementara dia duduk bersama Gubernur di dalam kereta. Maka ketika dua bersaudara itu dipanggil dan diajak duduk bersama, Gubernur menjadi senang maka Sia-hengte menyatakan terima kasih sementara Teng Bu diam-diam semakin kagum dan hormat kepada bekas lawannya ini.

Di dalam kereta terjadi pembicaraan menyenangkan dimana si banci itu menunjukkan kelemahan-kelemahan mereka dalam hal silat. Dan karena hal ini tentu saja menggembirakan mereka, tak ada orang kang-ouw yang tak suka berbicara tentang ilmu kepandaian, maka sesampainya di tempat Gubernur pembicaraan itu menjadi kian hangat dan akhirnya si banci ini mulai memberi petunjuk-petunjuk.

“Kelemahanmu dalam hal tenaga, dan kau kecepatan ynng bertumpu pada sepasang kaki yang terlampau kaku menancap di tanah. Kalau kau menambah tenaga dan gerakan kakimu ringan menapak tentu tak mudah orang merobohkanmu, Teng Bu, kecuali tentu saja mereka yang kepandaiannya sudah jauh di atas kalian. Kalau kalian tak merasa malu aku senang menambah kepandaian kalian agar lebih lihai!”

Teng Bu dan kakaknya mengangguk-angguk. Diam-diam mereka kagum karena guru mereka juga pernah bicara begitu. Teng Bu pada kaki yang terlalu kaku sementara Teng Seng pada tenaga yang kurang. Kalau si banci ini mau memberi petunjuk dan tambahan ilmu, hal yang menyenangkan tentu saja mereka tak menolak, apalagi Teng Bu. Pemuda ini sudah semakin tertarik dan kagum kepada bekas lawan ini. Hanya kakaknya yang masih ragu dan enggan terlalu rapat.

Teng Seng, sang kakak masih tak dapat menghilangkan rasa tak sedapnya terhadap wajah kewanita-wanitaan itu. Ada semacam perasaan muak. Tapi karena banci ini telah mengalahkan mereka dan betapapun mereka harus tahu diri, Teng Seng menyimpan perasaannya itu maka pada hari-hari berikut adiknyalah yang dekat dan akrab dengan si banci. Dan Teng Bupun akhirnya terjerumus!

Empat hari saja setelah itu, setelah mereka berada ditempat Gubernur dan sama-sama bergaul satu sama lain maka pemuda ini tak dapat mengelak lagi dari rayuan si banci. Pagi itu Teng Bu sedang diberi petunjuk dengan langkah-langkah kaki yang benar, ringan dan hanya menapak tanah di mana tentu saja si banci harus memegang dan menyentuh kakinya. Lutut atau sendi-sendi yang dibengkokkan diberi contohnya. Dan ketika kebetulan Teng Bu harus dipegang pahanya, kaki pemuda itu diluruskan benar maka seperti tak sengaja siku si banci ini menyentuh bawah pusar Teng Bu.

“Lihat, kau lagi-lagi terlampau kaku. Pahamu jangan terlampau dikencangkan, Teng Bu, otot di bagian ini terlalu meregang. Kendorkan sedikit, dan tekuk sedikit lututmu ke bawah. Ih...!” siku itu menyentuh bagian rahasia dan Teng Bu semburat melihat si banci terkekeh. Gerakan itu seperti tak sengaja namun Teng Bu bagai disengat listrik. Dia tersentak, kaget. Dan ketika darahnya berdesir dan si banci meremas lengannya tiba-tiba banci itu berbisik,

“Teng Bu, kau rupanya harus belajar mengendorkan syaraf, pikiranmu terlalu tegang. Marilah kita ke kamarmu dan kutunjukkan kepadamu bagaimana mengendorkan syaraf.”

Aneh, Teng Bu mengangguk dan seperti tersihir. Sejak tersenggol tadi ia merasa gemetar, apalagi ketika lengannya diremas si banci itu. Jari-jari si banci demikian lembut dan hangat, persis jari wanita. Dan ketika ia dituntun dan diajak ke kamarnya, masuk dan bengong saja maka si banci tahu-tahu sudah membuka bajunya mengusap dada yang bidang.

“Nah, di sini aku akan mengajarimu mengendorkan syaraf. Buka baju dalammu Teng Bu, biar yang luar ini kukerjakan.”

Teng Bu menggigil. Bagai ular yang lincah jari-jari si banci itu sudah melepas kancingnya, satu demi satu dibuka dan ia jengah. Dan ketika si banci tertawa aneh mengusap puting dadanya, ia tersentak maka Teng Bu terkejut dan sadar, melompat mundur. “A... aku, eh, biar saja begini. Cukup baju luar itu saja, Kiem-ko, tak usah baju dalam. Aku malu!”

“Hi-hik, sama-sama lelaki kok malu. Bodoh, justeru kau menegangkan syarafmu, Teng Bu, padahal aku hendak mengendorkannya. Bukalah, aku akan mengusap dan memijit beberapa bagian dadamu agar terasa nikmat.”

“Tapi..... tapiaku.”

“Tunggu apalagi? Aku tak melakukan apa-apa, Teng Bu, hanya ingin mengendorkan syarafmu dalam rangka menambah kepandaian. Masa kau menolak!”

Teng Bu tersudut. Ia membuang malunya dan melepas baju dalam, perlahan-lahan tapi tak sabar ditarik si banci. Dan ketika si banci terkekeh kagum, sepasang matanya berbinar maka Teng Bu didorong dan jari-jari itu sudah mengusap dadanya, meremas dan memijat.

“Hm, kau memiliki dada yang bidang, jantan! Hi-hik, kau benar-benar tampan dan gagah, Teng Bu. Wanita mana tak akan jatuh cinta kepadamu. Lepaslah celanamu sekalian!”

“Apa?”

“Bodoh, lihat hasil pijatanku, Teng Bu. Tidakkah kau merasa segar dan nikmat sekarang. Syarafmu harus dikendorkan semua, bukan hanya bagian atas. Lepaslah celanamu dan biar kupijit juga!”

Teng Bu meremang. Ia mendengar tawa yang aneh dan decak-decak kagum. Jari yang memijat atau meremas dadanya menimbulkan nikmat-nikmat panjang, tak dapat ia sangkal. Dan ketika ia merinding namun rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tubuh, kepalanya seakan dimasuki hawa hangat mendadak tanpa sadar ia melepas celananya. Gerakan itu dibantu si banci dan akhirnya tinggallah pemuda ini mengenakan celana dalam saja, bagian yang lain telanjang. Dan ketika pijatan atau remasan melompat ke bawah, tepat mengenai pangkal pahanya muka Teng Bu terpekik ketika tiba-tiba saja si banci itu menerkam dan mencium bibirnya, penuh nafsu!

“Hi-hik, kau menggemaskan hatiku. Teng Bu. Kau gagah dan semakin jantan saja. Aih, sekarang pelajaran kedua untuk benar-benar mengendorkan syaraf!”

Teng Bu terkejut bukan main. Nikmat yang aneh menjalar namun segera hancur oleh ciuman dan terkaman itu. Seumur hidupnya belum pernah ia dicium laki-laki, lelaki dengan lelaki. Namun ketika si banci menotok dan menekan punggungnya, gairah itu membakar lagi maka Teng Bu tak kuasa melepaskan diri dilumat lawannya ini. Sekejap itu pemuda ini sudah memasuki alam yang aneh, terbang di tempat yang ganjil namun memabokkan. Dan pemuda itu akhirnya tenggelam oleh bisikan atau kata-kata panas membakar si banci.

“Anggap aku wanita, anggap aku kekasih yang pernah kau cintai. Aiihhh, kau tampan dan gagah. Teng Bu. Kau benar-benar pemuda jantan. Lihat aku akan membawamu ke sorga!”

Pemuda itu terlempar dalam dunia asing yang penuh nafsu dan memabokkan. Mula-mula ia merasa sukar menerima semuanya ini, tapi ketika ia teringat Hong Lan puteri Gubernur, betapa ia mencinta gadis itu namun tak mungkin menikahinya maka jadilah si banci ini dianggap gadis itu dan Teng Bu hanyut!

Pagi itu Teng Bu menerima kenangan yang tak mungkin dilupa seumur hidup. Ia dininabobokkan oleh si banci ini. Betapa pandai lawannya itu memabokkan dirinya. Dan ketika dua jam kemudian Teng Bu mendesah kelelahan, lawan tergolek dan terkekeh di sisinya maka Mo Kiem mencumbunya dan menutup dengan ciuman-ciuman kecil.

“Bagus, kau sekarang sudah dewasa. Hi-hik, kuat benar kau ini, Teng Bu. Kau jejaka tulen. Aihh, kewalahan aku melayanimu!”

Teng Bu tak malu-malu lagi. Setelah mereka berdua telanjang dan pelajaran cinta yang aneh diberikan si banci, ia terseret maka Teng Bu tak malu-malu mencium si banci ini. Ia sudah membalas dan si banci terkekeh. Dan ketika siang itu mereka sudah saling memberi dan menerima, Teng Bu merasa kepuasan luar biasa maka hari-hari berikut pemuda ini tak malu-malu menyambut lawannya. bahkan kalau perlu dia yang mulai dulu!

Akan tetapi hubungan ini tercium kakaknya. Teng Seng, yang melihat betapa adiknya intim luar biasa dengan si banci akhirnya menangkap juga ketidakwajaran itu. Teng Bu sering menggandeng dan memeluk erat si banci, bukan sebagai lelaki dengan lelaki melainkan seperti lelaki dengan perempuan. Dan ketika pemuda itu mengerutkan alis memanggil adiknya maka Teng Bu tertegun mendengarkan kata-kata kakaknya.

“Tak pantas runtang-runtung seperti itu. Kau dan Kiem-twako tampaknya terlibat dalam sesuatu yang tidak wajar, Bu-te, jauhi dan jangan bersikap seperti itu. Ingatlah bahwa kau adalah murid yang baik dari Hak Cin Hosiang. Apa kata suhu kalau mendengar laporan orang. Hati-hatilah, betapapun aku agak tak suka kepada Kiem-twako itu. Ia bukan manusia wajar!”

Teng Bu semburat merah. Ia tak menjawab maupun membantah kata-kata kakaknya itu. Sekilas ada kesadaran tinggi, jengah dan merasa betapa hubungannya dengan si banci itu tak wajar. Tapi ketika ia bertemu dan masuk lagi dalam cumbu rayu aneh, si banci pandai membangkitkan berahinya maka lupalah sudah pemuda ini. Teng Bu melanjutkan lagi dan sesekali menghindar jika bertemu kakaknya. Dan ketika sang kakak kembali mengerutkan kening dan memanggilnya, untuk kedua kali menegur maka pemuda itu berkata menjawab.

“Aku dan Kiem-twako tak ada apa-apa, biasa-biasa saja. Kau yang agaknya terlalu curiga, Seng-ko. Kami berdua akrab karena ia mengajari aku meningkatkan ilmu silat. Kau sendiri tahu itu!”

“Hm, tapi tidak menggandeng atau merangkulnya demikian mesra. Akhir-akhir ini aku melihat hubunganmu tidak beres, Bu-te, dan kemarin sehari penuh kau di kamar bersamanya. Apa yang kau lakukan!”

“Aku. aku berlatih samadhi!”

“Tapi aku mendengar desah-desah Kau bohong!”

Teng Bu pucat. Dibentak dan dipandang kakaknya seperti itu iapun menjadi kecut juga. Akhirnya ia sadar bahwa dirinya terlalu menyolok. Dan ketika kakaknya mulai marah dan berang memandangnya maka iapun memutar tubuh dan melompat pergi. Bingung dan gugup membuat ia marah juga.

“Seng-ko, kau tak layak mencampuri urusan pribadiku terlalu dalam. Aku bukan anak kecil lagi. Tak usah kau menasihati aku karena aku dapat mengatur jalan hidupku sendiri!”

Sang kakak terbelalak. Adiknya kini mulai membantah dan berani padanya. Tapi karena urusan menyangkut si banci itu, betapapun pemuda ini harus berhati-hati maka Teng Seng tak memanggil adiknya lagi dan mencari akal bagaimana menyadarkan adiknya itu. Kalau perlu dia akan ke Bu-tong dan melapor gurunya! Akan tetapi sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Teng Seng tak menduga bahwa adiknya bakal melapor kejadian itu kepada si banci. Teng Bu, yang merasa bingung dan gugup oleh teguran kakaknya suatu malam bicara dengan si banci ini. Maksud pemuda itu adalah agar Mo Kiem mengendalikan perasaannya pula, terutama bila bertemu kakaknya itu. Tapi ketika malam itu si banci malah terkekeh dan mengangguk-angguk maka Teng Bu terkejut mendengar jawabannya.

“Begitu? Hm, jangan khawatir. Bagaimana kalau aku merobohkan kakakmu pula, Teng Bu, bertiga menikmati cinta indah ini!”

“Apa?”

“Tak ada jalan lain. Ia harus diseret ke sini pula dan biarkan ia menjadi kekasihku!”

“Tidak, gila itu!” Teng Bu berteriak. “Masa kami harus bergaul seperti itu, Kiem-ko. Jangan, aku tak setuju!”

“Kalau begitu bagaimana lagi, apakah ada jalan lain.”

Teng Bu tertegun. Ia tersentak oleh pernyataan lawan bahwa kakaknyapun akan digulung di situ, dijadikan kekasih. Dan ketika ia merasa betapa ide ini benar-benar gila, masa kakak beradik sama-sama mencintai seorang banci maka pemuda itu tak dapat menjawab ketika ditanya. Dan banci itu terkekeh.

“Teng Bu, tak usah cemburu. Kau dan aku sama-sama menerima dan memberi, kita bukan mencinta seperti layaknya orang-orang lain. Kalau kau bingung oleh ulah kakakmu dan aku ingin membantu dengan caraku masa kau berpikiran yang tidak-tidak? Cinta adalah sesuatu yang indah, Teng Bu, cinta menyatukan manusia. Kalau aku menyatukan kakakmu dan kita bertiga berkumpul menjadi satu maka itu tak ada salahnya.”

“Tapi.... tapi...” pemuda ini merasa seram, kata-kata itu tak dapat diterimanya juga, hati nuraninya memberontak. “Masa aku harus melayani kakakku juga, Kiem-ko, menjadikannya sebagai kekasih. Apa kata orang nanti!”

“Ah, kenapa mendengarkan kata orang? Menuruti pembicaraan orang membuat kita sendiri bingung, Teng Bu, salah-salah gila. Kata orang tak usah diperdulikan!”

“Tapi aku dan kakakku.”

“Apa salahnya? Aku dapat melayani kalian berdua, Teng Bu, tak perlu kau melayani kakakmu. Biarlah aku wanitanya dan kalian berdua pejantan-pejantan yang baik. Atau, heh-heh..... bunuh saja kakakmu itu agar tak menyebalkan telingamu!”

Teng Bu bagai disambar petir. Ia terbelalak dan pucat tapi jari-jari kekasihnya menyelinap lembut. Jari itu mengusap perutnya lalu ke bawah, merayap dan menuju ke tempat yang membuat dia paling meremang. Dan ketika banci itu menunduk dan mengecup pusarnya, ia menggelinjang maka Teng Bu terbakar berahinya tak dapat konsentrasi diri lagi. Kekasihnya ini merayunya dengan tawa merdu.

“Teng Bu, aku hanya ingin menolongmu. Aku hanya ingin memberimu jalan keluar. Kalau kau tak tega membunuh kakakmu itu maka biarkanlah aku merobohkannya. Kita tak perlu bertiga dulu, biarlah masing-masing di kamarnya dan aku ke sini kalau bagianmu datang.”

Pemuda ini mengerang. Diusap dan di pijat seperti itu membuat Teng Bu hilang sadar. Ia mengangguk saja ketika si banci bertindak lebih jauh. Dan ketika pakaian pemuda itu dilepas dan si banci menerkam terkekeh, dibalas dan saling tindih maka Teng Bu tak ingat apa-apa lagi dan tak memikirkan kakaknya itu. Berahi telah disulut dan ia terbakar. Ada semacam cinta aneh terhadap si banci ini. Dan ketika malam itu mereka memuaskan diri dan Teng Bu tak mau bicara tentang kakaknya, semua diserahkan si banci maka keesokannya si banci meminta barang-barang aneh seperti bulu ayam jago dan darah anjing.

“Siapkan itu dan letakkan di piring bersih. Aku akan menyuruh kakakmu datang dan tidak mengganggumu lagi, Teng Bu. Kau boleh lihat kalau mau, tapi awas, jangan cemburu!”

“Kau... kau tak menyakitinya, bukan?"

“Bodoh, mana mungkin itu, Teng Bu. Aku tahu kau mencintai kakakmu. Sudahlah siapkan itu dan lihat pagi ini kakakmu akan tunduk!”

Teng Bu gemetar keluar kamar. Ia mencari bulu ayam jago tapi agak bingung mencari darah anjing. Anjing siapa yang harus ditangkap? Tapi ketika ia berkelebat dan suara menguik terdengar sebentar, lenyap dan pemuda itu kembali maka Teng Bu telah membunuh seekor anjing pamannya yang kebetulan lewat!

Dan pagi itu si banci telah duduk di tengah kamarnya dengan senyum ganjil. Sesungguhnya kamarnya dengan kamar Teng Bu tidak berjauhan karena masing-masing mendapat kamar di belakang. Hanya kamar Teng Seng yang di depan, jauh dan memang disengaja agar tidak berdekatan dengan mereka, mengganggu. Dan ketika Teng Bu meletakkan darah anjing dan bulu ayam jago itu, si banci terkekeh maka pemuda itu disilahkan keluar kalau takut atau bersembunyi di belakang tempat tidur jika ingin menonton.

“Aku tak akan mencelakai kakakmu, bahkan memberinya kesenangan. Tonton dan bersembunyilah di situ, Teng Bu, atau keluar jika kau takut.”

Teng Bu berkejap sejenak. Ia memandang meja kecil didepan si banci itu, berkerut kening. Tapi ketika ia ragu untuk pergi atau tidak tiba-tiba ia menarik napas dalam dan melompat keluar. “Baiklah, aku di luar saja, Kiem-ko. Hanya tepatilah janjimu dan jangan menyakiti kakakku. Betapapun aku mencintainya, cinta saudara!”

“Hi-hik, jangan khawatir. Kau lihat saja, Teng Bu, tapi jangan cemburu!”

Pemuda itu lenyap. Teng Bu berkelebat tapi memutar kamar, berindap dan akhirnya mengintai di jendela. Dan ketika Teng Bu mencium asap dupa dan melihat kekasihnya tertawa maka darah anjing dan bulu ayam jago yang diletakkan di meja itu bergerak-gerak bersama piringnya. Dan si banci tiba-tiba bersikap serius dan berkemak-kemik.

Aneh, sebuah benda tiba-tiba berkelinting, jatuh memasuki piring dan tenggelam dalam darah anjing. Dan ketika Teng Bu terbelalak menajamkan pandangan, bulu ayam jago meloncat dan menari-nari maka luar biasa sekali terdengar semacam bunyi tak-tik-tak-tik di mana bunyi itu tiba-tiba bergerak dan keluar pintu kamar. Teng Bu melihat segumpal asap keluar dari dalam piring, bersatu dan menyebar bersama asap dupa lalu melayang-layang di sekeliling kamar. Lalu ketika asap itu berhembus dan melewati lubang kunci maka pintupun terbuka dan tak lama kemudian datanglah kakaknya terhuyung-huyung.

“Heh-heh, bagus heh-heh, kesinilah. Ah, kau patuh dan anak yang baik Teng Seng. Berlutut dan jawablah pertanyaan-pertanyaanku!”

Teng Bu terkejut. Kakaknya datang dan tiba-tiba memasuki kamar dengan mata setengah terpejam, terhuyung dan jatuh berlutut di depan meja kecil itu, meja di mana darah anjing dan bulu ayam jago menari- nari, bergerak dan terus berputar sementara suara tak-tik-tak-tik masih terus terdengar. Suara itu ternyata berasal dari dalam di mana benda di dalam piring berbunyi terus-menerus, menghantam atau berloncatan menimbulkan bunyi yang aneh itu. Dan ketika kakaknya berlutut dan si banci menyambar bulu ayam mendadak bulu itu dicelupkan ke dalam darah anjing dan dicipratkan ke dahi kakaknya.

“Heh, jawablah pertanyaanku, dan katakan dengan benar. Siapakah yang kau hadapi sekarang ini, Teng Seng. Dan benarkah kau memarahi adikmu tentang hubungannya dengan Mo Kiem!”

“Aku.... aku berhadapan dengan seorang Dewi. Ampun, aku.... aku tak mengerti ke mana maksud tujuanmu, Dewi. Dan kenapa tiba-tiba kau membawaku ke sini.”

“Kau tak usah tahu. Jawab pertanyaanku benarkah kau memarahi adikmu, Teng Seng, dan kenapa kau tak suka kepada Mo Kiem, saudaraku!”

Pemuda itu terkejut. Ia mengangkat mukanya namun sebuah cahaya menyambar dari telapak lawan. Cahaya itu menyilaukan dan ia mengeluh. Dalam pandangan Teng Seng yang ada di depannya ini adalah seorang dewi, wanita cantik luar biasa yang membuatnya bingung dan gugup serta gentar. Ia dibawa oleh asap dupa dan sihir yang disangkanya kuda terbang. Berkali-kali ia harus memegang kendali dengan kuat, takut jatuh. Dan ketika ia merasa melayang-layang dan berada di tempat ketinggian, tertegun bertemu dewi itu maka ia berdetak bahwa dewi ini adalah saudara Mo Kiem. Dan ia tak dapat menjawab karena cahaya yang menyambar dari telapak lawannya itu tiba-tiba membuat ia pening dan gemetar panas dingin disusul bau harum yang membuat ia terbakar berahinya.

“Hi-hik, bagaimana, Teng Seng. Beranikah kau mengganggu saudaraku dan saudaramu sendiri. Tidakkah kau lihat bahwa mereka saling cinta dan suka satu sama lain. Maukah kau menghancurkan kebahagiaan adikmu sendiri!”

“Aku... aku tidak bermaksud begitu.”

“Kalau begitu biarkan mereka berdua dan aku akan memberimu kehangatan cinta!”

Teng Seng tersentak. Sang dewi, yang menunduk dan tertawa senang mendaratkan ciuman. Bau harum semakin memabokkan dan robohlah pemuda itu di terkam sepasang tangan lembut. Lalu ketika pemuda ini berada dalam keadaan ingat dan tidak mendadak ledakan terjadi di kamar itu dan Teng Bu terkejut. Pemuda yang mengintai di luar ini tak melihat apa-apa lagi karena seluruh kamar penuh asap tebal. Sekilas ia melihat kakaknya terguling.

Tapi ketika asap menipis dan penglihatannya terang lagi maka Teng Bu tertegun melihat betapa kakaknya telah bergulingan dengan “sang dewi” itu, mendesah dan mendengus dan selanjutnya ia memejamkan mata. Ada rasa berontak dan ingin menerjang masuk mendobrak pintu kamar itu. Ada rasa tak rela. Ada rasa sakit! Tapi ketika yang di lakukan pemuda itu adalah melompat pergi dan menekan perasaan dalam-dalam maka di sana murid Hak Cin Hosiang satunya itu telah terperangkap dalam kekuatan keji dari sebuah ilmu hitam.

Ilmu yang amat dahsyat yang membuat jiwa dan semangatnya terbang di tangan sang pemilik, tak sadar dan tak tahu apa yang terjadi sampai akhirnya siang itu si pemuda terhempas kelelahan. Teng Seng tertidur dan berada di kamar ini sampai malam. Dan ketika tengah malam ia terbangun kaget, sepasang lengan lembut melingkar di lehernya maka pemuda itu meloncat bangun dan alangkah pucatnya ia melihat Mo Kiem berada dalam satu pembaringan dan masing-masing tak berpakaian sama sekali!

“Ah, apa... apa ini. Ah, apa yang kita lakukan, Kiem-twako. Mana dewi itu!”

“Hm, enciku telah kembali. Kau diserahkannya kepadaku. Duduklah, Seng-te. Kita telah diresmikan sebagai pasangan baru!”

Pemuda itu melotot dan menyambar pakaiannya. Tentu saja ia merasa malu hebat tapi lawan terkekeh genit, bergerak dan tahu-tahu menotok tengkuknya. Dan ketika ia terkulai dan menjadi lemas, si banci mencium pipinya maka tanpa malu-malu lawan berkata bahwa mereka telah melewatkan malam pengantin yang indah. Indah dan penuh kesan.

“Kau telah berjanji untuk tunduk dan patuh kepadaku. Aku adalah atasanmu pula. Jangan berbuat yang macam-macam, Seng-te. Kau dan aku telah terikat dalam cinta yang sejati dan lupakanlah yang serba buruk!”

Pemuda itu memaki. Ia lemas tapi dapat mengumpat-caci dan segala sumpah serapah segera berhamburan. Ia sekarang merasa tertipu dan tentu saja malu dan marah bukan main. Tapi ketika lawan menekan dan menotok urat gagunya, si banci berkilat maka laki-laki itu menjadi marah dan berseru.

“Teng Seng, yang sudah terjadi tak mungkin ditarik lagi. Kau telah menikmati kesenangan dariku, tak mungkin kau bayar. Tunduk dan patuh kepadaku atau benakmu kupecahkan!”

“Jangan...!” Teng Bu tiba-tiba berkelebat, muncul. “Jangan bunuh dia, Kiem-ko. Jangan bunuh kakakku, ingat janjimu!”

“Hm, bagus, kau datang,” si banci berseri dan tertawa. “Mudah bagiku untuk membunuh kakakmu, Teng Bu, tapi makian dan sumpah serapahnya tadi harus dibayar. Aku tak ingin mendengarnya lagi. Minumkan darah anjing itu dan buat sampai habis!”

Teng Bu terkejut. Kakaknya berapi-api namun ia tak dapat berbuat lain. Banci ini amat lihai dan yang lebih penting lagi adalah bahwa dia telah jatuh cinta! Tak akan didapatnya wanita yang mampu memabokkan dirinya seperti si banci ini. Maka ketika ia menyambar darah anjing di atas piring itu, tanpa banyak bicara mencekokkan ke mulut kakaknya maka cairan itu habis dan sebuah kancing baju tampak di dalam piring ini. Kiranya benda yang jatuh dan berkelitikan di dalam piring itu adalah kancing baju ini, milik kakaknya!

Dan selanjutnya Teng Bu melihat suatu yang luar biasa sekali. Wajah kakaknya tampak pucat namun sinar mata yang semula ganas dan berapi-api itu redup, kian lama kian kehilangan sinarnya dan mata itu kuyu! Lalu ketika kakaknya seperti patung hidup, mengangguk dan mengiyakan semua kata-kata si banci maka hari-hari berikut merupakan pukulan bagi Teng Bu. Betapa tidak. Sang kakak telah menjadi robot dan dipermainkan sesukanya. Mo Kiem si banci terkekeh-kekeh dan mencekoki obat perangsang kalau kakaknya tak bangkit gairahnya. Dan ketika kian hari tubuh kakaknya kian kurus, tak bergairah ataupun memiliki semangat hidup lagi maka Teng Bu akhirnya mengepal tinju meminta agar kesehatan kakaknya dipulihkan.

“Aku tak dapat melihat keadaan kakakku seperti itu. Maaf, kau harus menyembuhkannya kembali, Kiem-ko, atau biar aku yang menggantikannya dan kau hidupkanlah dia!”

“Hi-hik, aneh. Kakakmu ini tidak seperti dirimu, Teng Bu, keras dan diam-diam membuat aku heran. Kalau dia disembuhkan lagi maka dia bakal menyusahkan kita, terutama kau. Untuk apa disembuhkan dan biarkan begitu.”

“Tidak, aku tak dapat menerimanya, Kiem-ko. Sembuhkan atau kau bunuh aku!”

“Hm, serius,” si banci menyeringai, menyipitkan matanya. “Kau tampaknya sungguh-sungguh, Teng Bu, baiklah tapi tunggu tiga hari lagi.”

“Tiga hari lagi?”

“Ya, biarkan pengaruh gaib darah anjing lenyap. Nanti setelah tiga hari aku akan memulihkan semuanya.”

“Terima kasih!”

“Tunggu...!” Teng Bu sudah melompat. “Jangan tergesa-gesa dulu, Teng Bu. Bagaimana pertanggungjawabanmu kalau nanti kakakmu meliar!”

“Ini, hmm...!” pemuda itu tertegun. “Biarlah aku bicara baik-baik padanya, Kiem-ko. Aku akan menyadarkannya.”

“Kalau gagal?”

Pemuda itu pucat.

“Kau atau aku yang membunuhnya, Teng Bu. Aku tak suka kita diganggu hanya gara-gara ini!”

Pemuda itu berkelebat. Teng Bu memutar tubuhnya dan tak menjawab sementara si banci mengeluarkan tawa aneh. Tawa itu telah memberi tanda kepada Teng Bu agar berhati-hati, ancaman itu tak main-main. Tapi ketika pada hari ke dua Teng Bu menunggu pulihnya sang kakak, besok baru berakhir mendadak seorang gadis gagah berkelebat di depannya. Gadis cantik berpedang di punggung yang kontan mengejutkan pemuda ini.

“Teng Bu, mana Seng-ko (kanda Seng). Kenapa hampir sebulan tak pernah menengokku!”

“Kau....?” pemuda ini meloncat bangun, berubah. “Ah, kakakku ada di sini, Cui Ling.Tapi....tapi...”

Gadis itu berdiri tegak, bersinar-sinar. Teng Bu tak melanjutkan kata-katanya dan kelihatan bingung sementara gadis itu kian tajam menatap wajahnya. Cui Ling, gadis ini adalah kekasih Teng Seng dan dia adalah murid Hoa-san yang menjalin cinta dengan pemuda itu. Kedua guru merekapun tahu dan masing- masing memberi restu. Dan karena si pemuda biasanya menengok kekasihnya seminggu sekali, kini sudah lebih dari empat minggu Teng Seng tak berkunjung kepadanya maka tentu saja gadis itu datang dan ingin mengetahui sebabnya. Dan Teng Bu tiba-tiba menampakkan wajah mencurigakan seperti orang bingung atau apa.

“Hm, mana kakakmu, Teng Bu. Ada apa kau gugup. Kalau dia ada di sini antarkan aku kepadanya!”

“Tidak.... tidak bisa. Dia, eh...!” pemuda itu gelisah, bingung dan semakin gugup saja karena kakaknya ada di kamar si banci. Kalau dia membawa gadis itu ke sana tentu bakal terjadi keributan, apalagi kalau gadis ini melihat perubahan besar pada kakaknya, wajah dan tubuh yang kurus! Dan ketika pemuda itu bingung untuk meneruskan kata maka Cui Ling mencabut pedang membentak marah.

“Teng Bu, aku ingin menengok kekasihku sendiri, ada apa kau menyembunyikan. Apakah ada yang tak beres dan betulkah kudengar bahwa ada siluman di tempat ini. Seorang banci gila!”

“Cui Ling!”

“Tidak, tak perlu sembunyi-sembunyi, Teng Bu. Kakakmu pernah bercerita kepadaku dan tunjukkan di mana dia sekarang. Kau katanya kena pengaruh jahatnya!”

Pemuda ini pucat. Setelah si gadis membentak dan marah-marah seperti itu maka dia khawatir suaranya terdengar si banci. Alangkah berbahayanya kalau si banci itu marah, dia tentu tak dapat berbuat apa-apa. Tapi teringat bahwa dua tiga hari lagi kakaknya disembuhkan, ia harus mencegah gadis ini maka Teng Bu menyambar lengan gadis itu dan berkata sambil mendesis.

“Cui Ling, jangan kau macam-macam di sini. Kakakku selamat, tak ada apa-apa. Kau kembalilah beberapa hari lagi dan akan kupertemukan dia denganmu!”

“Hm, aneh. Ganjil benar!” gadis itu tertawa mengejek. “Sudah di sini kenapa disuruh kembali lagi, Teng Bu. Kalau kakakmu pergi tentu aku mau, tapi tidak, kakakmu di sini. Kenapa harus pulang dan kembali beberapa hari lagi? Kau menyembunyikan rahasia, Teng Bu. Aku justeru curiga. Aku akan ke kamarnya atau mencari di kamar lain!”

“Cui Ling!”

Gadis itu berkelebat. Ia sudah meninggalkan Teng Bu dan pemuda ini pucat melihat gadis itu menuju ke kamar kakaknya. Memang gadis ini sudah sering mendatangi tempat Gubernur. Tapi ketika Teng Bu berkelebat dan berjungkir balik di depan, menghadang maka gadis itu tertegun berhenti dengan muka merah.

“Jangan, dengar dan patuhi kata-kataku. Aku tak melarangmu menengok kakakku, Cui Ling, tapi jangan sekarang. Kembalilah tiga empat hari lagi atau aku mengusirmu!”

“Kau. kau berani mengusir aku? Kau berani bicara seperti itu? Eh, aku tak takut padamu, Teng Bu. Boleh kau mengusir tapi lihat kau mampu atau tidak, wut..!” gadis ini berkelebat, menyambar di sebelah kiri lawan dan tahu-tahu meluncur lagi. Ia sudah meninggalkan pemuda itu sementara gagang pedang dicekal erat-erat. Kalau Teng Bu mengejar tentu akan disabet, dia menjadi marah. Dan ketika benar saja pemuda itu berkelebat dan menyusulnya, membentak maka Teng Bu berjungkir balik melewati kepalanya dan gadis Hoa-san ini tak ragu-ragu mencabut pedang dan langsung menyabet pemuda itu.

“Cui Ling, kau tak boleh masuk ke sana!”

Akan tetapi pedang sudah bicara dan mendesing. Gadis ini membentak dan lawan yang baru turun sudah dibabat pinggangnya, Teng Bu mengelak dan selanjutnya diserang lagi. Dan ketika pemuda itu bergerak ke kiri kanan dan tertegun bahwa semua serangan-serangan itu dapat dielaknya dengan mudah, padahal gadis ini dulu setingkat dengannya maka Teng Bu merasa girang karena itulah kemajuannya yang diperoleh dari Mo Kiem, kekasihnya.

Dan Cui Ling gadis Hoa-san itupun juga terkejut. Dulu mereka sama- sama setingkat dan Teng Bu tak mungkin berani melayaninya dengan tangan kosong begitu. Hanya Teng Seng yang sedikit lebih tinggi. Maka ketika kini semua serangannya begitu mudah dielakkan lawan dan betapa Teng Bu memiliki gerakan yang jauh lebih cepat, itulah berkat petunjuk-petunjuk si banci maka gadis ini terbelalak dan berseru nyaring memperhebat serangannya.

“Teng Bu, kiranya kau sudah memiliki kemajuan juga, pantas kalau kau sombong Tapi jangan kira aku takut dan lihat Hoa-san Kiam-sut yang kumainkan ini haiittt!” Cui Ling mempercepat gerakannya dan tiba-tiba tubuhnya lenyap beterbangan. Bagai walet menyambar-nyambar ia sudah menyerang lawannya itu, pedang menusuk dan membacok diselingi bentakan-bentakan tinggi. Dan ketika Teng Bu kewalahan dan harus menangkis, apa boleh buat harus menundukkan gadis ini maka pedang terpental bertemu telapak pemuda itu.

“Plak!”

Cui Ling terkejut. Pedangnya terpukul miring dan hampir menyambar dirinya sendiri. Teng Bu juga terkejut tapi girang oleh hasil sampokannya ini. Dulu ia dan Cui Ling pasti sama-sama terhuyung. Dan ketika gadis itu terhuyung sementara dia tidak, ini menunjukkan bahwa ia benar-benar sudah memiliki kemajuan berarti maka gadis itu memekik dan mulai menangkis. Cui Ling kesal dan penasaran.

“Teng Bu, aku akan membunuhmu. Kau sombong, ah... aku akan membunuhmu!”

Tapi semua itu hanya ancaman kosong belaka. Teng Bu bergerak dan menampar dan semua serangan pedang terpental. Pemuda itu menambah tenaga hingga gadis Hoa-san itu terpelanting. Dan ketika semua serangan tak ada artinya padahal pemuda itu belum mengeluarkan senjatanya, gadis ini melengking akhirnya Cui Ling memutar tubuhnya dan berkelebat pergi, menangis.

“Teng Bu, kau jahat dan menipu aku. Awas, beberapa hari lagi aku datang dan jangan harap kesombonganmu tetap ada!”

Pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Setelah Cui Ling pergi dan tak memaksa kakaknya maka pemuda ini lega. Kalau empat lima hari lagi gadis itu datang maka kakaknya sudah sembuh, tidak seperti patung hidup begitu. Dan ketika ia masuk dan termenung di kamarnya, hari itu pemuda ini tak gembira mendadak keesokannya gadis itu muncul. Dan kedatangannyapun bersama seorang tosu pendek gemuk yang matanya bagai harimau tua!

Waktu itu Teng Bu sedang duduk di kamarnya. Ia murung dan masih sedih, maklum kejadian semalam itu membuatnya tak enak juga. Dia tak berpikir bahwa Cui Ling bakal datang bersama orang lain, mengira gadis itu datang sendiri. Maka ketika tiba-tiba ia mendengar gerakan orang dan pintu kamarnya dibuka, gadis itu muncul maka Teng Bu yang sejenak tertegun dan heran ini segera berubah kaget melihat betapa di belakang gadis itu berdiri seorang tosu gemuk yang bukan lain adalah Bun Tek Tojin, guru gadis itu!

“Hm, maaf mengganggu. Kebetulan saja aku ke sini, Teng Bu, mengantar muridku untuk bertemu kakakmu. Siancai, bolehkah kami masuk dan bicara baik-baik.”

Teng Bu melompat bangun. Ia melihat senyum mengejek di mulut Cui Ling, tersentak oleh kedatangan tosu itu. Dan ketika ia meninggalkan tempat duduknya dan buru-buru menghampiri tosu ini, tosu itu setingkat gurunya maka Teng Bu pucat memberi hormat, gugup dan bingung.

“Ah-ah, Bun Tek locianpwe kiranya. Mari masuk, silakan duduk. Aku, eh... Cui Ling semalam telah menemuiku, locianpwe, dan kami ribut-ribut sedikit. Tapi tak ada ganjalan di hati. Kakakku, eh, dia sebenarnya sakit. Aku ,eh mari masuk dan silakan duduk dulu!”

Teng Bu benar-benar gugup dan pucat melihat kedatangan tosu itu. Ia tak merasa gentar terhadap Cui Ling namun kalau gurunya datang tentu saja keadaan menjadi lain. Ia tak boleh main-main terhadap tosu ini, gurunyapun bisa marah kalau ia bersikap kurang ajar. Maka ketika cepat-cepat ia mempersilakan tamunya dan tosu itu tersenyum, masuk dan menutup pintu kamar maka Teng Bu dag-dig-dug tak keruan karena kamar si banci sesungguhnya tak jauh di situ, hanya selisih satu tikungan ruang dalam!

Dan gerak-gerik serta ketenangan tosu ini justeru membuat Teng Bu panik. Ia gugup bukan main, terbata-bata. Tapi ketika tosu itu tertawa dan menepuk-nepuk pundaknya, senyum mengejek Cui Ling membuat Teng Bu sadar maka ia menetapkan hatinya dan menindas semua perasaan takut. Dan tamupun segera bicara tentang kakaknya.

“Hm, aku mewakili muridku bertanya tentang kakakmu. Pagi tadi kebetulan aku menemui muridku, Cui Ling menceritakan tentang keributan kalian. Maaf, bolehkah pinto tahu kenapa kau menyembunyikan kakakmu, Teng Bu. Bukankah Cui Ling berhak menemuinya karena mereka calon suami isteri. Heran bahwa hampir sebulan kakakmu tak pernah menengoknya, dan kaupun tak memberi tahu!”

“Ini, eh..... kakakku sakit, locianpwe. Seng-ko masih dalam taraf pengobatan. Aku.... aku tak memperbolehkan Cui Ling karena biar kakakku sembuh dulu!”

“Aneh, justeru kalau begitu kami ingin menengok. Eh, sakit apakah kakakmu itu, Teng Bu. Kenapa kau diam-diam saja dan justeru menyembunyikan. Apakah pinto tak boleh melihatnya atau harus melapor pada gurumu.”

“Jangan!Seng-ko,eh. Seng-ko tak apa-apa, locianpwe, hanya sedikit meriang. Ia tak enak badan tapi beberapa hari lagi sembuh. Aku, eh.... aku mohon kalian tak usah menengoknya dulu agar tidak mengganggu!”

“Heh-heh, luar biasa sekali. Ganjil! Hm, ada apa semuanya ini, Teng Bu. Kenapa kau begitu gugup dan takut kalau sekarang juga kami ingin menengok kakakmu. Katakan, apa sebabnya kau begitu gugup dan ketakutan seperti ini!”

Teng Bu tersentak. Sepasang mata kakek itu memandangnya bersinar-sinar dan pandang mata itu menembus ulu hatinya sampai ke yang paling dalam. Ia seakan ditusuk dan dikorek mata itu, mata seorang tua yang tak dapat dibohongi. Dan ketika ia menunduk dan tak mampu menjawab, bingung maka tosu itu tiba-tiba bergerak dan mencengkeram pundaknya.

“Teng Bu, pinto melihat sesuatu yang ganjil menguasai dirimu. Gerak-gerikmu tidak wajar. Benarkah kau telah bercintaan dengan seorang banci dan menjadi kekasihnya!”

“Locianpwe!”

“Dengar, dan tunggu dulu. Kau adalah murid sahabat pinto Hak Cin Hosiang, Teng Bu. Ada apa-apa yang mengganggu dirimu tentu pinto harus menolong. Nah, benarkah berita itu dan sehebat itukah si banci hingga ia menguasai dirimu!”

Pemuda ini menggigil. Ia pucat dan terbelalak memandang tosu itu dan kalau bukan tosu ini tentu sudah dihantam dan diserangnya. Ia begitu kaget dan marah oleh todongan kata-kata ini. Tapi karena Bun Tek Tojin adalah sahabat gurunya dan tentu saja ia tak berani gegabah, persoalan bisa bertambah panjang mendadak terdengar kekeh dan tawa merdu, tawa genit.

“Teng Bu, untuk apa takut menghadapi seekor keledai tua. Aih, dengan kepandaianmu sekarang kau sudah mampu menandinginya, Teng Bu. Pergunakan Hek-be-kang dan lepaskan dirimu!”

Teng Bu terkesiap. Hek-be-kang adalah Tenaga Belut Hitam yang telah diajarkan si banci kepadanya. Kini ia dicengkeram pundaknya dan tiba-tiba otomatis ia mengerahkan tenaga itu, bergerak dan tiba-tiba pundaknya menjadi licin hingga terlepas dari tangan si tosu. Dan ketika Bun Tek Tojin terkejut karena Teng Bu menarik diri demikian mudah, ia terbelalak maka Teng Bu tak dapat berpura-pura lagi dan berseru,

“Locianpwe, untuk kebaikan bersama janganlah kau terlalu mendesakku. Pergilah, dan empat lima hari lagi silakan kalian kemari!”

“Heh-heh, itu kekasihmu?” si tosu hilang kagetnya, tertawa tapi sepasang matanya berkilat. “Bagus, benar kata Cui Ling bahwa kepandaianmu meningkat pesat, Teng Bu, kiranya kau telah belajar ilmu lain lagi. Pinto justeru ingin bertemu kekasihmu itu dan biar pinto datang, wut!”

Si tosu berkelebat dan lenyap meninggalkan kamar, disusul oleh Cui Ling dan pemuda ini pucat melihat kedua tamunya menuju asal suara. Di tikungan kamar itu Bun Tek Tojin mendengar asal tawa. Dan ketika tosu ini tiba dan menendang pintu kamar, seseorang berada disitu maka Bun Tek terkejut melihat Teng Seng di atas pembaringan dengan tubuh kurus dan pucat, membuka mata memandang langit-langit kamar dan bagaikan seorang kehilangan semangat. “Teng Seng!”

Pemuda itu tak menoleh. Cui Ling berkelebat masuk dan terlihatlah kekasihnya itu. Dan ketika ia menjerit dan otomatis menghambur tiba-tiba orang di dalam kamar dan memberikan punggungnya itu menggerakkan tangan ke belakang dan... bress, gadis Hoa-san itu mencelat dan menabrak dinding.

Kagetlah Bun Tek Tojin. Ia tak melihat siapa orang ini namun dapat menduga bahwa dialah yang tertawa tadi. Tawanya merdu, nyaring. Dan karena rambutnya juga sebatas pundak dan hampir dia mengira bahwa orang ini wanita, terbukti sepasang anting-anting itu juga melekat di telinganya maka Cui Ling yang cemburu dan juga mengira seperti gurunya sudah meloncat dan hendak menerjang akan tetapi orang itu mengibas dan gadis ini mencelat menabrak dinding. Dan Bun Tek Tojin tentu saja buru-buru menolong muridnya.

“Aduh..... dadaku, ouh..... sesak, suhu. Jahanam itu.... siluman betina itu. dia kejam!”

Tapak Tangan Hantu Jilid 17

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 17
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“HEH-HEH, apa yang akan kalian lakukan, ciangkun? Kenapa demikian gugup dan panik seperti kambing kebakaran jenggot? Aku senang duduk di sini, diamlah dan lanjutkan pesta.”

Akan tetapi mana mungkin komandan itu dapat tenang dan diam dalam saat seperti itu. Si banci yang ternyata pembunuh ini kiranya berada di situ di tempat pesta. Keberaniannya benar-benar luar biasa, orang lain tentu kagum. Tapi karena bagi Ui-ciangkun ini adalah penghinaan, ia seakan ditantang oleh kehadiran pemuda itu maka komandan yang sudah bergerak dan maju lagi itu membentak dan menyerang lawan. Ia penasaran oleh benturan tadi dan marah sekali.

Di situ banyak para tamu, terutama Gubernur yang tentu tak akan senang bila ia tak mampu menangkap penjahat. Tapi ketika ia menyerang dan menggerakkan lengannya dengan amat cepat, mencengkeram dan siap membanting lawannya itu mendadak si banci lenyap dan kursi yang menjadi sasaran hancur berantakan terkena cengkeramannya.

“Kratak!” Kursi roboh dan terguling. Ui-ciangkun terkejut dan saat itu terdengar tawa aneh dari atas. Ia tak tahu betapa dengan lebih cepat lagi si banci mencelat meninggalkan kursinya, tinggi hingga nyaris menyentuh langit-langit ruangan dan kini turun lagi ke bawah. Saat ia mencelat kursi itu hancur, saat ia turun Ui- ciangkun melengak. Maka ketika ia meluncur dan sang komandan kaget maka saat itulah ujung sepatunya menyambar dan tepat bagai disentak tangan raksasa dagu perwira ini tersentak oleh ujung sepatu lawan.

“Duk!”

Perwira itu berteriak dan terbanting roboh. Ujung sepatu yang menyentuh perlahan ternyata seakan lontaran palu martil, komandan ini menjerit dan terguling-guling. Tapi karena ia adalah komandan Pasukan Garuda dan betapapun cukup kuat, bangun dan terhuyung lalu berteriak memberi aba-aba maka pasukannya, yang berjumlah hampir seratus orang menerjang dan menyerbu pemuda itu.

“Hi-hik, tak tahu malu. Disuruh mundur malah maju. Eh, aku tak berniat buruk, tikus-tikus bau. Aku hanya ingin menikmati santap bersama dengan seorang pembesar. Minggirlah, dan biarkan aku di sini!”

Pemuda itu mendorong dan menggoyang-goyang kipasnya akan tetapi yang terjadi sungguh hebat. Pasukan Garuda tertiup dan terlempar, mereka bagai diserang angin ribut. Lalu ketika semua menjerit dan roboh satu demi satu, Ui-ciangkun terbelalak maka pemuda itu menarik kursi lain dan duduk sambil tersenyum ke arah Gubernur, menutup kipasnya membungkuk memberi salam.

“Paduka Gubernur, mari lanjutkan makan. Mudah-mudahan paduka tak memberi kesan jelek seperti tikus-tikus ini.”

Gubernur kagum. Akhirnya dia terkejut dan heran akan tetapi juga kagum akan kelihaian dan kehebatan pemuda itu. Jelas ia hanya menggoyang dan menggerak-gerakkan kipas namun semua Pasukan Garuda terlempar. Ui-ciangkun sendiri begitu mudahnya terbanting, itu untuk yang kedua kali. Tapi karena lawan adalah penjahat sementara Ui-ciangkun sebagai komandan keamanan menjadi marah luar biasa, pembantu We-taijin itu memekik dan mencabut senjatanya berupa golok sirip hiu maka perwira itu sudah menerjang dan kali ini berhati-hati terhadap lawan, anak buahnya sudah bangun lagi dan bergerak membantu. Golok sirip hiu bergagang panjang itu menderu dan mendesing menyambar pemuda itu.

“Ha-ha, tidak kapok. Baik, kau boleh serang aku sampai sepuluh jurus, Ui-ciangkun. Tapi setelah itu kau harus mundur atau mampus!” si banci mengelak dan tertawa dan semua serangan luput. Ia seakan main-main saja tetapi kata-kata terakhirnya tadi penuh ancaman. Sorot matanya juga lain ketika memandang perwira itu, berkilat dan penuh bahaya. Dan ketika pengawal juga bergerak dan maju lagi, terpaksa pemuda itu meninggalkan kursinya maka ia meloncat dan berpindah-pindah namun tetap melayani Ui-ciangkun.

“Suruh anak buahmu minggir, biar kau dan aku saja. Heh, jangan campuri urusan ini, tikus-tikus busuk. Minggir atau kalian mampus!”

Pasukan Garuda tak menghiraukan. Mereka melihat komandan mereka menyerang mati-matian dan tentu saja mereka tak mau mundur. Pemuda itu mengelak dan berpindah-pindah dari kursi satu ke kursi lain, terhadap mereka pemuda ini seolah takut. Tapi ketika mereka tetap menyerang dan pemuda itu menghitung jurus demi jurus yang dilancarkan Ui-ciangkun mendadak kipas itu dicabut lagi dan tepat pada jurus kesepuluh pemuda itu membentak menangkis senjata di tangan Ui-ciangkun, sekaligus juga senjata di tangan Pasukan Garuda.

“Cukup!”

Jerit dan senjata terlempar mengejutkan siapa saja. Pasukan Garuda, yang tadi menyerang dan tak menghiraukan seruan pemuda itu mendadak mencelat dan terbanting roboh. Senjata mereka bertemu dengan kipas di tangan pemuda itu dan bagai bertemu aliran listrik mereka berteriak kaget. Kipas di tangan pemuda, itu mengeluarkan getaran yang amat menyengat, tajam sampai menuju ketiak dan jantung. Dan karena getaran ini amat hebatnya dan rasa terbakar juga membuat semua mengaduh, terlempar dan terbanting maka dua puluh di antaranya langsung tewas dengan dada kebiruan!

Ui-ciangkun sendiri mengeluh dan terlempar akan tetapi perwira itu tidak tewas. Golok sirip hiunya, yang pipih dan bergagang panjang terdengar berkeratak bertemu kipas lebar itu, patah dihantam jari-jari kipas dan perwira ini kaget sekali akan rasa panas yang membakar telapak tangannya. Secepat itu juga ia melepas senjatanya dan selamat, terlempar tapi tidak tewas karena ia membuang goloknya itu. Dan ketika perwira ini melompat bangun dengan tubuh gemetar, pucat pasi maka pemuda itu tertawa menyimpan kipasnya.

“Nah, apa kubilang. Salah kalian sendiri. Kalau kalian tidak menyerangku tentu aku tak akan membalas kalian, Ui-ciangkun. Sekarang terserah apakah mau cukup di sini atau dilanjutkan.” Pemuda itu duduk lagi dengan sikap tenang, kipas dimasukkan ke saku baju sementara We-taijin dan lain-lain terbelalak.

Wajah walikota itu merah padam, marah dan malu tapi juga gentar menghadapi si banci itu. Perwira andalannya tak dapat diandalkan! Tapi ketika pemuda di samping Gubernur bergerak dan tahu-tahu melayang ke tempat pemuda ini, yang masih duduk dan mengebut-ngebutkan ujung bajunya maka pemuda baju putih itu membentak.

“Sobat, kau rupanya lihai sekali. Tapi jangan sombong, aku ada di sini dan mari kita main-main sebentar!”

Si banci mengangkat mukanya. Sejak tadi sesungguhnya ia memperhatikan pemuda ini, pemuda tampan gagah yang selalu tak jauh dari Gubernur. Melihat gerak-geriknya tentu pengawal pribadi dan hal itu memang benar. Pemuda ini adalah keponakan Gubernur sendiri, dua bersaudara bernama Sia Teng Bu dan Sia Teng Seng dimana satu di antara mereka menyelinap keluar ketika memasuki gedung We-taijin, yakni ketika mendengar bahwa di kota itu terdapat penjahat.

Maka ketika Teng Bu, pemuda ini ditinggal kakaknya untuk mengawal paman mereka, mereka adalah murid-murid Bu-tong yang sudah memiliki kepandaian tinggi maka pemuda itu diam-diam terkejut melihat kepandaian si banci yang amat luar biasa ini. Teng Bu sudah mengamati sejak tadi dan pemuda tampan berbaju putih ini merasa gatal. Dia melihat betapa Pasukan Garuda dirobohkan begitu mudah oleh si banci itu, termasuk akhirnya Ui-ciangkun yang menjadi komandannya. Dan ketika dia berbisik dan mendapat ijin pamannya, maju dan tak menunda waktu lagi maka murid Bu-tong yang gagah perkasa ini marah namun lawan justeru tersenyum dan berseri-seri menyambutnya.

Si banci itu bangkit dan wajah itu tampak lembut dan ayu seperti wanita, mata itu bersinar-sinar, mencorong, setengah redup! “Hi-hik, kongcu akhirnya maju juga. Bagus, sudah kutunggu! Eh, siapa namamu, kongcu yang mulia, dan bolehkah kutahu apa hubunganmu dengan Pasukan Garuda itu. Kuharap kau bukan satu di antara mereka dan jangan salahkan aku dengan semua akibat ini.”

Teng Bu merasa seram. Setelah dia berhadapan dan si banci itu terkekeh seperti wanita, wajah yang berbedak dan bergincu itu tampak cantik tapi juga tampan pemuda ini malah ngeri. Dia melihat sesuatu yang menyeramkan meskipun tawa dan pertanyaan lawan lembut, tidak, kasar apalagi menyakitkan. Namun karena semua pertanyaan itu diucapkan dengan sikap genit dan anting-anting dibawah telinga itu juga bergoyang digerak-gerakkan secara kemayu, dia muak namun juga marah maka pemuda ini menjawab dengan bentakan keras.

“Iblis kejam, kau telah membunuh anak buah We-taijin. Kau tak berperasaan. Menyerahlah atau kau mampus!” Lawan terkekeh. Teng Bu telah membarengi bentakannya itu dengan lompatan ke depan, tangan kiri bergerak sementara tangan kanan siap menyusul, kalau lawan mengelak atau menangkis. Dan ketika benar saja banci itu mengelak dan tangan Teng Bu luput, secepat kilat tangan kanan menyambar maka tinju atau kepalan lima jari mencegat dari luar ke dalam.

“Plak!”

Si banci menangkis dan Teng Bu terpental. Pemuda itu berteriak perlahan karena sama seperti Ui-ciangkun tadi ia pun menerima sengatan tajam, rasa panas membakar namun pemuda ini sudah membuang lengannya itu berputar setengah langkah. Lenyaplah sengatan tajam bertenaga panas itu. Dan ketika pemuda ini terbelalak namun menyerang lagi, kaki bergerak membantu sepasang lengan yang sudah naik turun menyambar-nyambar maka si banci itu tertawa dan ringan namun cepat ia mengelak dan maju mundur membuat serangan-serangan pemuda itu luput.

“Hi-hik, kurang cepat, kongcu, tapi cukup bertenaga. Aih, gaya pukulanmu seperti Hang-houw-ciang (Silat Penakluk Harimau). Ah, benar, gerakan kakimu menunjukkan bhesi (pasangan kuda-kuda) Bu-tong. Ha-ha, kiranya kau murid Bu-tong!” dan si banci yang berkelebat dan akhirnya lenyap dikejar Teng Bu membuat pemuda itu terkejut dan membelalakkan mata.

Teng Bu terkesiap bahwa demikian cepat lawan mengetahui asal-usul ilmu silatnya, ia kagum tapi juga kaget. Dan ketika ia memekik dan mempercepat gerakan namun lawan lenyap beterbangan di sekeliling dirinya maka pemuda gagah ini benar-benar mencelos karena tak satu pun serangannya menyentuh tubuh lawan. Jangankan tubuhnya, bajunya saja tidak!

“Keparat, kau jangan hanya menghindar saja. Tangkis dan balas pukulanku, iblis kejam. Atau aku menganggapmu pengecut!”

“Ha-ha, kau murid Bu-tong, dan aku tak pernah bermusuhan dengan Bu-tong. Eh, tak perlu aku membalasmu, kongcu. Sekali balas kau bakal roboh. Menyerahlah saja, atau aku akan membuatmu kehabisan napas!”

Teng Bu pucat. Akhirnya ia sadar bahwa lawan berada di atas tingkatnya. Sekarang lawan bergerak lebih cepat daripada ketika menghadapi Pasukan Garuda atau Ui-ciangkun tadi, berarti banci ini masih menyimpan kepandaiannya yang entah sampai di mana lagi. Dan ketika ia mempercepat gerakan namun kalah cepat, lawan selalu lenyap setiap dipukul maka tak ampun lagi napasnya memburu dan Teng Bu menjadi penasaran serta marah di samping gugup.

Ia adalah murid Hak Cin Hosiang tokoh nomor dua. Di Bu-tong, kepandaiannya sudah termasuk tinggi, untuk kalangan muda bahkan yang paling tinggi. Maka ketika disini ia seakan menjadi barang mainan lawan dan lawan terkekeh-kekeh setiap pukulannya luput maka hal yang lebih mengejutkan lagi terjadi pada dirinya. Si banci mulai mengusap dan mengelus pipinya!

“Hi-hik, sudahlah, kongcu. Kau tak akan menang melawanku. Kita bersahabat saja, berteman. Aku kagum kepadamu dan tak ingin menanam permusuhan pula dengan Bu-tong. Sudahlah, berhenti dan kita bersahabat.”

Teng Bu meremang. Aneh sekali nafsunya tiba-tiba bangkit diusap dan dielus seperti itu. Ada bau harum di jari-jari lawan ketika menyambar mukanya. Dan ketika ia merasa pening tak mampu mengejar lawan, usapan dan elusan itu kian sering menjamah dirinya maka bukan hanya muka atau wajah melainkan juga perut dan pundaknya. Dan terakhir adalah bawah pusarnya!

Teng Bu tak tahu bahwa bau memabokkan dilepas si banci itu. Bau itu adalah bubuk perangsang yang dikebutkan tipis-tipis, muncul dari dalam ujung lengan baju dan sedikit tetapi pasti membangkitkan gairah pemuda ini. Namun ketika Teng Bu mulai terhuyung-huyung dan bingung serta malu, entah bagaimana ia seakan digosok bisikan-bisikan mesra yang membuat tubuhnya panas dingin maka saat itulah muncul kakaknya yang berkelebat dengan sepasang golok di tangan.

“Bu-te (adik Bu), lawan kita ini berbahaya. Cabut golokmu dan mainkan. tong Siang-to (Sepasang Golok Bu-tong) untuk mengalahkannya!”

Si banci terkejut dan mengelak. Teng Bu hampir roboh ketika tiba-tiba muncul pemuda kedua, gagah dan juga tampan namun berwajah lebih keras. Pemuda yang baru muncul ini mengelebatkan sepasang goloknya dengan tusukan dan bacokan, dua gerakan yang berbeda satu sama lain. Dan ketika golok lewat dan membacok angin kosong, gerakan golok itu menghalau bau harum yang memabokkan Teng Bu maka bagai disiram air dingin pemuda ini meloncat jauh dan menarik napas dalam-dalam. Teng Seng, kakaknya telah menyerang hebat lawannya itu.

“Hm, apa yang kualami,” pemuda ini berpikir, wajahpun merah padam. “Kenapa tubuhku tiba-tiba panas dan bergairah seperti layaknya melihat wanita cantik. Keparat, kau rupanya melepas guna-guna, banci busuk. Kau membuat aku hanyut dalam pengaruh iblis!”

Teng Bu lalu menyerbu lagi membantu kakaknya. Keberaniannya bangkit lagi setelah kakaknya muncul, mencabut golok dan kini dengan senjata di tangan ia menyerang lawannya itu. Tapi ketika lawan mengelak dan luput, golok mengenai angin kosong maka si banci itu mengerling padanya, genit.

“Hi-hik, kalian rupanya bersaudara, jiwi kongcu. Bagus sekali dan menyenangkan. Aih, kalian gagah dan sama-sama hebat, tapi masih bukan tandinganku. Berhenti dan kita bersahabat!”

“Hidungmu!” Teng Bu memaki. “Iblis macam kau tak layak bersahabat dengan kami, keparat busuk. Kami Sia-hengte (dua bersaudara Sia) bukan orang-orang yang mudah bergaul dengan manusia siluman!”

“Aih, kalian Sia-hengte kiranya. Kalau begitu kalian yang berjuluk Sepasang Harimau Dari Kwang-tung. Bagus, aku akan memperlihatkan kepada kalian betapa lima jurus kalian roboh dan sebagai orang gagah kalian harus tahu diri!”

Teng Bu dan kakaknya marah. Teng Seng, sang kakak, sudah menyerang gencar lawan mereka ini namun si banci begitu mudah menghindar dan berkelit. Sepasang goloknya menusuk dan membacok akan tetapi semuanya itu mengenai angin kosong belaka, hal yang mengejutkan pemuda ini sementara sisa-sisa Pasukan Garuda dan pengawal Gubernur akan maju. Mereka mendapat isyarat dari Ui-ciangkun tapi Gubernur tiba-tiba mengangkat tangan.

Dengan isyarat Gubernur itu mencegah mereka, tak memperbolehkan maju atau membantu dua bersaudara Sia. Dan ketika pertempuran berjalan semakin sengit sementara Teng Bu juga kian penasaran betapa goloknya tak mengenai tubuh lawan, bajupun tidak, maka sang kakak tiba-tiba melengking dan berseru keras melihat lawan berkelebat dan mendorongkan tangannya kewajah.

“Bu-te, lakukan Siang-houw-tiauw-wi (Sepasang Harimau Sabetkan Ekor). Lihat ekor di depan kepala!”

Si banci melengak. Saat itu dia terkekeh menyambarkan telapak ke muka lawan, mengebut dengan gerakan tak kentara bubuk putih berbau harum. Dan ketika dia disambut dan dipapak sepasang golok, heran mana mungkin ada ekor di depan kepala maka saat itu Teng Bu membabatnya dari belakang dengan gaya menyabet dengan satu kaki diangkat ke atas. Ini adalah jurus terlihai dari simpanan ilmu silat Bu-tong yang biasanya dimainkan berdua, kakak beradik Sia-hengte itu memang telah menguasainya.

Dan karena kata-kata itu memang merupakan kata-kata sandi (rahasia) maka saat itulah Teng Bu tak menyia-nyiakan kesempatan ketika kakaknya memapak telapak lawan yang mendorong ke depan. Teng Seng sang kakak pasti melanjutkan dengan tendangan cepat, sementara dia akan menyabetkan golok dengan kaki siap menendang pula. Dari belakang dia akan menghantam lutut lawan, biasanya kalau berhasil tentu lawan roboh, meskipun mungkin dapat mengelak dari sabetan goloknya. Tapi karena mereka tak tahu siapa lawan mereka ini, si banci tertawa aneh maka begitu golok memapak tangan secepat itu pula terjadi hentakan.

Teng Seng terkejut ketika telapak lawan yang dibacok goloknya mencengkeram cepat, tangan atau telapak itu tak apa-apa dan saat itu golok langsung dibetot. Golok ke dua patah bertemu punggung telapak lawan. Dan ketika ia meneruskan tendangan namun bau harum menyambar hidung, mendadak pemuda itu pening maka Teng Bu yang ada di belakang dan sedang menyabetkan golok tepat sekali menghajar punggung lawan namun golok di tangan patah-patah.

“Krak-krakk!”

Dua bersaudara ini kaget. Mereka berteriak dan sama-sama pucat namun lawan tertawa merampas golok Teng Seng. Golok ini adalah golok yang dicengkeram tadi, dibetot dan sudah berpindah tangan sementara bau harum menyambar hidung pemuda itu. Teng Seng pening dan ujung sepatu lawan menyentuh lututnya, roboh dan saat itu si banci membalik menotok Teng Bu. Golok diputar dan gagangnya menotok pundak pemuda itu. Dan ketika Teng Bu mengeluh dan roboh menyusul kakaknya, dua Sia-hengte itu roboh hampir berbareng maka selesailah pertandingan dan si banci tertawa membalik lagi gagang golok.

“Ha-ha, bagaimana, apakah kalian berdua tak mau menyerah. Lihat, aku dapat membunuh kalian berdua bila aku mau, jiwi-kongcu, tapi aku tak melakukan karena sesungguhnya aku tak berjiwa kejam. Hanya bila orang kelewatan kepadaku maka terpaksa aku bersikap bengis, tapi kalau orang tahu diri akupun bermurah hati dan tak mungkin kejam!”

Ui-ciangkun dan We-taijin terbelalak tapi Gubernur berseri mengangguk-angguk di sana. Gubernur tampak gembira melihat kelihaian si banci ini, tiba-tiba bertepuk tangan dan maju mengejutkan Pasukan Garuda, yang tentu saja cepat bergerak tapi dikibas Gubernur, disuruh minggir. Dan ketika semua orang tertegun dan amat khawatir, si banci menoleh maka Gubernur mengangkat tangan berseru nyaring.

“Sicu (orang gagah), kau mengagumkan. Hebat dan tinggi kepandaianmu. Ha-ha, kau benar, kau ternyata tidak berwatak kejam. Bebaskanlah keponakanku dan bagaimana jika sekarang kau menjadi pembantuku!”

“Heh-heh., taijin bicara apa?”

“Hm, aku ingin memberimu kedudukan tinggi, sicu. Menjadi pembantu nomor satuku dan apa saja yang kau minta bakal kuberikan. Kutawarkan sekarang juga maksud baikku ini dan apakah kau menerima!”

Si banci tertawa, melirik dua bersaudara gagah perkasa itu. “Taijin mau menyuruhku tinggal di gedung taijin? Berkumpul dengan Sia-hengte ini? Ah, janji yang menyenangkan, taijin, tentu saja kuterima. Tapi apakah mereka ini betul-betul mau tunduk kepadaku.”

“Siapapun akan tunduk kepadamu, termasuk dua keponakanku itu. Kau kuangkat menjadi pengawal nomor satu dan berhak membawahi siapapun!”

Banci itu tertawa. Ia berseri dan mengeluarkan sorot aneh memandang dua kakak beradik itu. Cahaya matanya lebih berbinar-binar. Dan ketika ia membebaskan dua bersaudara itu dan Teng Bu serta kakaknya meloncat bangun, tawaran diterima maka hari itu juga banci yang aneh namun amat lihai ini menjadi pembantu Gubernur.

Ui-ciangkun dan pasukannya segera menyibak setelah bekas lawan yang kini menjadi kawan itu diambil sendiri oleh Gubernur. We-taijin, sang bawahan tentu saja tak berani berkutik setelah atasannya mengangkat banci itu sebagai pengawal nomor satu. Kedudukannya bahkan jauh di atas walikota itu. Dan ketika perjamuan kembali dilanjutkan dan kini banci itu makan minum bersama Gubernur maka dia menyatakan bahwa dirinya bernama Mo Kiem, seorang pengembara atau perantau yang tak tetap arah tujuannya.

Gubernur mengangguk-angguk sementara Teng Bu mulai kagum. Kekalahan mereka yang demikian telak dan harus di akui membuat pemuda itu menaruh hormat, apalagi karena banci ini tak membunuh mereka, hal yang mulai menumbuhkan kesan baik dan hormat di hati pemuda itu. Dan ketika siang itu Gubernur langsung pulang dan meninggalkan walikota, berderap dengan keretanya maka si banci diperkenankan duduk dan bersama di dalam kereta. Satu penghormatan tinggi yang begitu cepatnya diperoleh Mo Kiem!

Akan tetapi banci itu pandai menjaga perasaan. Sia-hengte, dua bersaudara Teng Bu dan Teng Seng yang semula di dalam kereta dan kini memberikan tempat duduk bagi si banci ternyata diundang pula ke dalam. Mo Kiem menyatakan tak enak bila dua bersaudara itu harus di luar, sementara dia duduk bersama Gubernur di dalam kereta. Maka ketika dua bersaudara itu dipanggil dan diajak duduk bersama, Gubernur menjadi senang maka Sia-hengte menyatakan terima kasih sementara Teng Bu diam-diam semakin kagum dan hormat kepada bekas lawannya ini.

Di dalam kereta terjadi pembicaraan menyenangkan dimana si banci itu menunjukkan kelemahan-kelemahan mereka dalam hal silat. Dan karena hal ini tentu saja menggembirakan mereka, tak ada orang kang-ouw yang tak suka berbicara tentang ilmu kepandaian, maka sesampainya di tempat Gubernur pembicaraan itu menjadi kian hangat dan akhirnya si banci ini mulai memberi petunjuk-petunjuk.

“Kelemahanmu dalam hal tenaga, dan kau kecepatan ynng bertumpu pada sepasang kaki yang terlampau kaku menancap di tanah. Kalau kau menambah tenaga dan gerakan kakimu ringan menapak tentu tak mudah orang merobohkanmu, Teng Bu, kecuali tentu saja mereka yang kepandaiannya sudah jauh di atas kalian. Kalau kalian tak merasa malu aku senang menambah kepandaian kalian agar lebih lihai!”

Teng Bu dan kakaknya mengangguk-angguk. Diam-diam mereka kagum karena guru mereka juga pernah bicara begitu. Teng Bu pada kaki yang terlalu kaku sementara Teng Seng pada tenaga yang kurang. Kalau si banci ini mau memberi petunjuk dan tambahan ilmu, hal yang menyenangkan tentu saja mereka tak menolak, apalagi Teng Bu. Pemuda ini sudah semakin tertarik dan kagum kepada bekas lawan ini. Hanya kakaknya yang masih ragu dan enggan terlalu rapat.

Teng Seng, sang kakak masih tak dapat menghilangkan rasa tak sedapnya terhadap wajah kewanita-wanitaan itu. Ada semacam perasaan muak. Tapi karena banci ini telah mengalahkan mereka dan betapapun mereka harus tahu diri, Teng Seng menyimpan perasaannya itu maka pada hari-hari berikut adiknyalah yang dekat dan akrab dengan si banci. Dan Teng Bupun akhirnya terjerumus!

Empat hari saja setelah itu, setelah mereka berada ditempat Gubernur dan sama-sama bergaul satu sama lain maka pemuda ini tak dapat mengelak lagi dari rayuan si banci. Pagi itu Teng Bu sedang diberi petunjuk dengan langkah-langkah kaki yang benar, ringan dan hanya menapak tanah di mana tentu saja si banci harus memegang dan menyentuh kakinya. Lutut atau sendi-sendi yang dibengkokkan diberi contohnya. Dan ketika kebetulan Teng Bu harus dipegang pahanya, kaki pemuda itu diluruskan benar maka seperti tak sengaja siku si banci ini menyentuh bawah pusar Teng Bu.

“Lihat, kau lagi-lagi terlampau kaku. Pahamu jangan terlampau dikencangkan, Teng Bu, otot di bagian ini terlalu meregang. Kendorkan sedikit, dan tekuk sedikit lututmu ke bawah. Ih...!” siku itu menyentuh bagian rahasia dan Teng Bu semburat melihat si banci terkekeh. Gerakan itu seperti tak sengaja namun Teng Bu bagai disengat listrik. Dia tersentak, kaget. Dan ketika darahnya berdesir dan si banci meremas lengannya tiba-tiba banci itu berbisik,

“Teng Bu, kau rupanya harus belajar mengendorkan syaraf, pikiranmu terlalu tegang. Marilah kita ke kamarmu dan kutunjukkan kepadamu bagaimana mengendorkan syaraf.”

Aneh, Teng Bu mengangguk dan seperti tersihir. Sejak tersenggol tadi ia merasa gemetar, apalagi ketika lengannya diremas si banci itu. Jari-jari si banci demikian lembut dan hangat, persis jari wanita. Dan ketika ia dituntun dan diajak ke kamarnya, masuk dan bengong saja maka si banci tahu-tahu sudah membuka bajunya mengusap dada yang bidang.

“Nah, di sini aku akan mengajarimu mengendorkan syaraf. Buka baju dalammu Teng Bu, biar yang luar ini kukerjakan.”

Teng Bu menggigil. Bagai ular yang lincah jari-jari si banci itu sudah melepas kancingnya, satu demi satu dibuka dan ia jengah. Dan ketika si banci tertawa aneh mengusap puting dadanya, ia tersentak maka Teng Bu terkejut dan sadar, melompat mundur. “A... aku, eh, biar saja begini. Cukup baju luar itu saja, Kiem-ko, tak usah baju dalam. Aku malu!”

“Hi-hik, sama-sama lelaki kok malu. Bodoh, justeru kau menegangkan syarafmu, Teng Bu, padahal aku hendak mengendorkannya. Bukalah, aku akan mengusap dan memijit beberapa bagian dadamu agar terasa nikmat.”

“Tapi..... tapiaku.”

“Tunggu apalagi? Aku tak melakukan apa-apa, Teng Bu, hanya ingin mengendorkan syarafmu dalam rangka menambah kepandaian. Masa kau menolak!”

Teng Bu tersudut. Ia membuang malunya dan melepas baju dalam, perlahan-lahan tapi tak sabar ditarik si banci. Dan ketika si banci terkekeh kagum, sepasang matanya berbinar maka Teng Bu didorong dan jari-jari itu sudah mengusap dadanya, meremas dan memijat.

“Hm, kau memiliki dada yang bidang, jantan! Hi-hik, kau benar-benar tampan dan gagah, Teng Bu. Wanita mana tak akan jatuh cinta kepadamu. Lepaslah celanamu sekalian!”

“Apa?”

“Bodoh, lihat hasil pijatanku, Teng Bu. Tidakkah kau merasa segar dan nikmat sekarang. Syarafmu harus dikendorkan semua, bukan hanya bagian atas. Lepaslah celanamu dan biar kupijit juga!”

Teng Bu meremang. Ia mendengar tawa yang aneh dan decak-decak kagum. Jari yang memijat atau meremas dadanya menimbulkan nikmat-nikmat panjang, tak dapat ia sangkal. Dan ketika ia merinding namun rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tubuh, kepalanya seakan dimasuki hawa hangat mendadak tanpa sadar ia melepas celananya. Gerakan itu dibantu si banci dan akhirnya tinggallah pemuda ini mengenakan celana dalam saja, bagian yang lain telanjang. Dan ketika pijatan atau remasan melompat ke bawah, tepat mengenai pangkal pahanya muka Teng Bu terpekik ketika tiba-tiba saja si banci itu menerkam dan mencium bibirnya, penuh nafsu!

“Hi-hik, kau menggemaskan hatiku. Teng Bu. Kau gagah dan semakin jantan saja. Aih, sekarang pelajaran kedua untuk benar-benar mengendorkan syaraf!”

Teng Bu terkejut bukan main. Nikmat yang aneh menjalar namun segera hancur oleh ciuman dan terkaman itu. Seumur hidupnya belum pernah ia dicium laki-laki, lelaki dengan lelaki. Namun ketika si banci menotok dan menekan punggungnya, gairah itu membakar lagi maka Teng Bu tak kuasa melepaskan diri dilumat lawannya ini. Sekejap itu pemuda ini sudah memasuki alam yang aneh, terbang di tempat yang ganjil namun memabokkan. Dan pemuda itu akhirnya tenggelam oleh bisikan atau kata-kata panas membakar si banci.

“Anggap aku wanita, anggap aku kekasih yang pernah kau cintai. Aiihhh, kau tampan dan gagah. Teng Bu. Kau benar-benar pemuda jantan. Lihat aku akan membawamu ke sorga!”

Pemuda itu terlempar dalam dunia asing yang penuh nafsu dan memabokkan. Mula-mula ia merasa sukar menerima semuanya ini, tapi ketika ia teringat Hong Lan puteri Gubernur, betapa ia mencinta gadis itu namun tak mungkin menikahinya maka jadilah si banci ini dianggap gadis itu dan Teng Bu hanyut!

Pagi itu Teng Bu menerima kenangan yang tak mungkin dilupa seumur hidup. Ia dininabobokkan oleh si banci ini. Betapa pandai lawannya itu memabokkan dirinya. Dan ketika dua jam kemudian Teng Bu mendesah kelelahan, lawan tergolek dan terkekeh di sisinya maka Mo Kiem mencumbunya dan menutup dengan ciuman-ciuman kecil.

“Bagus, kau sekarang sudah dewasa. Hi-hik, kuat benar kau ini, Teng Bu. Kau jejaka tulen. Aihh, kewalahan aku melayanimu!”

Teng Bu tak malu-malu lagi. Setelah mereka berdua telanjang dan pelajaran cinta yang aneh diberikan si banci, ia terseret maka Teng Bu tak malu-malu mencium si banci ini. Ia sudah membalas dan si banci terkekeh. Dan ketika siang itu mereka sudah saling memberi dan menerima, Teng Bu merasa kepuasan luar biasa maka hari-hari berikut pemuda ini tak malu-malu menyambut lawannya. bahkan kalau perlu dia yang mulai dulu!

Akan tetapi hubungan ini tercium kakaknya. Teng Seng, yang melihat betapa adiknya intim luar biasa dengan si banci akhirnya menangkap juga ketidakwajaran itu. Teng Bu sering menggandeng dan memeluk erat si banci, bukan sebagai lelaki dengan lelaki melainkan seperti lelaki dengan perempuan. Dan ketika pemuda itu mengerutkan alis memanggil adiknya maka Teng Bu tertegun mendengarkan kata-kata kakaknya.

“Tak pantas runtang-runtung seperti itu. Kau dan Kiem-twako tampaknya terlibat dalam sesuatu yang tidak wajar, Bu-te, jauhi dan jangan bersikap seperti itu. Ingatlah bahwa kau adalah murid yang baik dari Hak Cin Hosiang. Apa kata suhu kalau mendengar laporan orang. Hati-hatilah, betapapun aku agak tak suka kepada Kiem-twako itu. Ia bukan manusia wajar!”

Teng Bu semburat merah. Ia tak menjawab maupun membantah kata-kata kakaknya itu. Sekilas ada kesadaran tinggi, jengah dan merasa betapa hubungannya dengan si banci itu tak wajar. Tapi ketika ia bertemu dan masuk lagi dalam cumbu rayu aneh, si banci pandai membangkitkan berahinya maka lupalah sudah pemuda ini. Teng Bu melanjutkan lagi dan sesekali menghindar jika bertemu kakaknya. Dan ketika sang kakak kembali mengerutkan kening dan memanggilnya, untuk kedua kali menegur maka pemuda itu berkata menjawab.

“Aku dan Kiem-twako tak ada apa-apa, biasa-biasa saja. Kau yang agaknya terlalu curiga, Seng-ko. Kami berdua akrab karena ia mengajari aku meningkatkan ilmu silat. Kau sendiri tahu itu!”

“Hm, tapi tidak menggandeng atau merangkulnya demikian mesra. Akhir-akhir ini aku melihat hubunganmu tidak beres, Bu-te, dan kemarin sehari penuh kau di kamar bersamanya. Apa yang kau lakukan!”

“Aku. aku berlatih samadhi!”

“Tapi aku mendengar desah-desah Kau bohong!”

Teng Bu pucat. Dibentak dan dipandang kakaknya seperti itu iapun menjadi kecut juga. Akhirnya ia sadar bahwa dirinya terlalu menyolok. Dan ketika kakaknya mulai marah dan berang memandangnya maka iapun memutar tubuh dan melompat pergi. Bingung dan gugup membuat ia marah juga.

“Seng-ko, kau tak layak mencampuri urusan pribadiku terlalu dalam. Aku bukan anak kecil lagi. Tak usah kau menasihati aku karena aku dapat mengatur jalan hidupku sendiri!”

Sang kakak terbelalak. Adiknya kini mulai membantah dan berani padanya. Tapi karena urusan menyangkut si banci itu, betapapun pemuda ini harus berhati-hati maka Teng Seng tak memanggil adiknya lagi dan mencari akal bagaimana menyadarkan adiknya itu. Kalau perlu dia akan ke Bu-tong dan melapor gurunya! Akan tetapi sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Teng Seng tak menduga bahwa adiknya bakal melapor kejadian itu kepada si banci. Teng Bu, yang merasa bingung dan gugup oleh teguran kakaknya suatu malam bicara dengan si banci ini. Maksud pemuda itu adalah agar Mo Kiem mengendalikan perasaannya pula, terutama bila bertemu kakaknya itu. Tapi ketika malam itu si banci malah terkekeh dan mengangguk-angguk maka Teng Bu terkejut mendengar jawabannya.

“Begitu? Hm, jangan khawatir. Bagaimana kalau aku merobohkan kakakmu pula, Teng Bu, bertiga menikmati cinta indah ini!”

“Apa?”

“Tak ada jalan lain. Ia harus diseret ke sini pula dan biarkan ia menjadi kekasihku!”

“Tidak, gila itu!” Teng Bu berteriak. “Masa kami harus bergaul seperti itu, Kiem-ko. Jangan, aku tak setuju!”

“Kalau begitu bagaimana lagi, apakah ada jalan lain.”

Teng Bu tertegun. Ia tersentak oleh pernyataan lawan bahwa kakaknyapun akan digulung di situ, dijadikan kekasih. Dan ketika ia merasa betapa ide ini benar-benar gila, masa kakak beradik sama-sama mencintai seorang banci maka pemuda itu tak dapat menjawab ketika ditanya. Dan banci itu terkekeh.

“Teng Bu, tak usah cemburu. Kau dan aku sama-sama menerima dan memberi, kita bukan mencinta seperti layaknya orang-orang lain. Kalau kau bingung oleh ulah kakakmu dan aku ingin membantu dengan caraku masa kau berpikiran yang tidak-tidak? Cinta adalah sesuatu yang indah, Teng Bu, cinta menyatukan manusia. Kalau aku menyatukan kakakmu dan kita bertiga berkumpul menjadi satu maka itu tak ada salahnya.”

“Tapi.... tapi...” pemuda ini merasa seram, kata-kata itu tak dapat diterimanya juga, hati nuraninya memberontak. “Masa aku harus melayani kakakku juga, Kiem-ko, menjadikannya sebagai kekasih. Apa kata orang nanti!”

“Ah, kenapa mendengarkan kata orang? Menuruti pembicaraan orang membuat kita sendiri bingung, Teng Bu, salah-salah gila. Kata orang tak usah diperdulikan!”

“Tapi aku dan kakakku.”

“Apa salahnya? Aku dapat melayani kalian berdua, Teng Bu, tak perlu kau melayani kakakmu. Biarlah aku wanitanya dan kalian berdua pejantan-pejantan yang baik. Atau, heh-heh..... bunuh saja kakakmu itu agar tak menyebalkan telingamu!”

Teng Bu bagai disambar petir. Ia terbelalak dan pucat tapi jari-jari kekasihnya menyelinap lembut. Jari itu mengusap perutnya lalu ke bawah, merayap dan menuju ke tempat yang membuat dia paling meremang. Dan ketika banci itu menunduk dan mengecup pusarnya, ia menggelinjang maka Teng Bu terbakar berahinya tak dapat konsentrasi diri lagi. Kekasihnya ini merayunya dengan tawa merdu.

“Teng Bu, aku hanya ingin menolongmu. Aku hanya ingin memberimu jalan keluar. Kalau kau tak tega membunuh kakakmu itu maka biarkanlah aku merobohkannya. Kita tak perlu bertiga dulu, biarlah masing-masing di kamarnya dan aku ke sini kalau bagianmu datang.”

Pemuda ini mengerang. Diusap dan di pijat seperti itu membuat Teng Bu hilang sadar. Ia mengangguk saja ketika si banci bertindak lebih jauh. Dan ketika pakaian pemuda itu dilepas dan si banci menerkam terkekeh, dibalas dan saling tindih maka Teng Bu tak ingat apa-apa lagi dan tak memikirkan kakaknya itu. Berahi telah disulut dan ia terbakar. Ada semacam cinta aneh terhadap si banci ini. Dan ketika malam itu mereka memuaskan diri dan Teng Bu tak mau bicara tentang kakaknya, semua diserahkan si banci maka keesokannya si banci meminta barang-barang aneh seperti bulu ayam jago dan darah anjing.

“Siapkan itu dan letakkan di piring bersih. Aku akan menyuruh kakakmu datang dan tidak mengganggumu lagi, Teng Bu. Kau boleh lihat kalau mau, tapi awas, jangan cemburu!”

“Kau... kau tak menyakitinya, bukan?"

“Bodoh, mana mungkin itu, Teng Bu. Aku tahu kau mencintai kakakmu. Sudahlah siapkan itu dan lihat pagi ini kakakmu akan tunduk!”

Teng Bu gemetar keluar kamar. Ia mencari bulu ayam jago tapi agak bingung mencari darah anjing. Anjing siapa yang harus ditangkap? Tapi ketika ia berkelebat dan suara menguik terdengar sebentar, lenyap dan pemuda itu kembali maka Teng Bu telah membunuh seekor anjing pamannya yang kebetulan lewat!

Dan pagi itu si banci telah duduk di tengah kamarnya dengan senyum ganjil. Sesungguhnya kamarnya dengan kamar Teng Bu tidak berjauhan karena masing-masing mendapat kamar di belakang. Hanya kamar Teng Seng yang di depan, jauh dan memang disengaja agar tidak berdekatan dengan mereka, mengganggu. Dan ketika Teng Bu meletakkan darah anjing dan bulu ayam jago itu, si banci terkekeh maka pemuda itu disilahkan keluar kalau takut atau bersembunyi di belakang tempat tidur jika ingin menonton.

“Aku tak akan mencelakai kakakmu, bahkan memberinya kesenangan. Tonton dan bersembunyilah di situ, Teng Bu, atau keluar jika kau takut.”

Teng Bu berkejap sejenak. Ia memandang meja kecil didepan si banci itu, berkerut kening. Tapi ketika ia ragu untuk pergi atau tidak tiba-tiba ia menarik napas dalam dan melompat keluar. “Baiklah, aku di luar saja, Kiem-ko. Hanya tepatilah janjimu dan jangan menyakiti kakakku. Betapapun aku mencintainya, cinta saudara!”

“Hi-hik, jangan khawatir. Kau lihat saja, Teng Bu, tapi jangan cemburu!”

Pemuda itu lenyap. Teng Bu berkelebat tapi memutar kamar, berindap dan akhirnya mengintai di jendela. Dan ketika Teng Bu mencium asap dupa dan melihat kekasihnya tertawa maka darah anjing dan bulu ayam jago yang diletakkan di meja itu bergerak-gerak bersama piringnya. Dan si banci tiba-tiba bersikap serius dan berkemak-kemik.

Aneh, sebuah benda tiba-tiba berkelinting, jatuh memasuki piring dan tenggelam dalam darah anjing. Dan ketika Teng Bu terbelalak menajamkan pandangan, bulu ayam jago meloncat dan menari-nari maka luar biasa sekali terdengar semacam bunyi tak-tik-tak-tik di mana bunyi itu tiba-tiba bergerak dan keluar pintu kamar. Teng Bu melihat segumpal asap keluar dari dalam piring, bersatu dan menyebar bersama asap dupa lalu melayang-layang di sekeliling kamar. Lalu ketika asap itu berhembus dan melewati lubang kunci maka pintupun terbuka dan tak lama kemudian datanglah kakaknya terhuyung-huyung.

“Heh-heh, bagus heh-heh, kesinilah. Ah, kau patuh dan anak yang baik Teng Seng. Berlutut dan jawablah pertanyaan-pertanyaanku!”

Teng Bu terkejut. Kakaknya datang dan tiba-tiba memasuki kamar dengan mata setengah terpejam, terhuyung dan jatuh berlutut di depan meja kecil itu, meja di mana darah anjing dan bulu ayam jago menari- nari, bergerak dan terus berputar sementara suara tak-tik-tak-tik masih terus terdengar. Suara itu ternyata berasal dari dalam di mana benda di dalam piring berbunyi terus-menerus, menghantam atau berloncatan menimbulkan bunyi yang aneh itu. Dan ketika kakaknya berlutut dan si banci menyambar bulu ayam mendadak bulu itu dicelupkan ke dalam darah anjing dan dicipratkan ke dahi kakaknya.

“Heh, jawablah pertanyaanku, dan katakan dengan benar. Siapakah yang kau hadapi sekarang ini, Teng Seng. Dan benarkah kau memarahi adikmu tentang hubungannya dengan Mo Kiem!”

“Aku.... aku berhadapan dengan seorang Dewi. Ampun, aku.... aku tak mengerti ke mana maksud tujuanmu, Dewi. Dan kenapa tiba-tiba kau membawaku ke sini.”

“Kau tak usah tahu. Jawab pertanyaanku benarkah kau memarahi adikmu, Teng Seng, dan kenapa kau tak suka kepada Mo Kiem, saudaraku!”

Pemuda itu terkejut. Ia mengangkat mukanya namun sebuah cahaya menyambar dari telapak lawan. Cahaya itu menyilaukan dan ia mengeluh. Dalam pandangan Teng Seng yang ada di depannya ini adalah seorang dewi, wanita cantik luar biasa yang membuatnya bingung dan gugup serta gentar. Ia dibawa oleh asap dupa dan sihir yang disangkanya kuda terbang. Berkali-kali ia harus memegang kendali dengan kuat, takut jatuh. Dan ketika ia merasa melayang-layang dan berada di tempat ketinggian, tertegun bertemu dewi itu maka ia berdetak bahwa dewi ini adalah saudara Mo Kiem. Dan ia tak dapat menjawab karena cahaya yang menyambar dari telapak lawannya itu tiba-tiba membuat ia pening dan gemetar panas dingin disusul bau harum yang membuat ia terbakar berahinya.

“Hi-hik, bagaimana, Teng Seng. Beranikah kau mengganggu saudaraku dan saudaramu sendiri. Tidakkah kau lihat bahwa mereka saling cinta dan suka satu sama lain. Maukah kau menghancurkan kebahagiaan adikmu sendiri!”

“Aku... aku tidak bermaksud begitu.”

“Kalau begitu biarkan mereka berdua dan aku akan memberimu kehangatan cinta!”

Teng Seng tersentak. Sang dewi, yang menunduk dan tertawa senang mendaratkan ciuman. Bau harum semakin memabokkan dan robohlah pemuda itu di terkam sepasang tangan lembut. Lalu ketika pemuda ini berada dalam keadaan ingat dan tidak mendadak ledakan terjadi di kamar itu dan Teng Bu terkejut. Pemuda yang mengintai di luar ini tak melihat apa-apa lagi karena seluruh kamar penuh asap tebal. Sekilas ia melihat kakaknya terguling.

Tapi ketika asap menipis dan penglihatannya terang lagi maka Teng Bu tertegun melihat betapa kakaknya telah bergulingan dengan “sang dewi” itu, mendesah dan mendengus dan selanjutnya ia memejamkan mata. Ada rasa berontak dan ingin menerjang masuk mendobrak pintu kamar itu. Ada rasa tak rela. Ada rasa sakit! Tapi ketika yang di lakukan pemuda itu adalah melompat pergi dan menekan perasaan dalam-dalam maka di sana murid Hak Cin Hosiang satunya itu telah terperangkap dalam kekuatan keji dari sebuah ilmu hitam.

Ilmu yang amat dahsyat yang membuat jiwa dan semangatnya terbang di tangan sang pemilik, tak sadar dan tak tahu apa yang terjadi sampai akhirnya siang itu si pemuda terhempas kelelahan. Teng Seng tertidur dan berada di kamar ini sampai malam. Dan ketika tengah malam ia terbangun kaget, sepasang lengan lembut melingkar di lehernya maka pemuda itu meloncat bangun dan alangkah pucatnya ia melihat Mo Kiem berada dalam satu pembaringan dan masing-masing tak berpakaian sama sekali!

“Ah, apa... apa ini. Ah, apa yang kita lakukan, Kiem-twako. Mana dewi itu!”

“Hm, enciku telah kembali. Kau diserahkannya kepadaku. Duduklah, Seng-te. Kita telah diresmikan sebagai pasangan baru!”

Pemuda itu melotot dan menyambar pakaiannya. Tentu saja ia merasa malu hebat tapi lawan terkekeh genit, bergerak dan tahu-tahu menotok tengkuknya. Dan ketika ia terkulai dan menjadi lemas, si banci mencium pipinya maka tanpa malu-malu lawan berkata bahwa mereka telah melewatkan malam pengantin yang indah. Indah dan penuh kesan.

“Kau telah berjanji untuk tunduk dan patuh kepadaku. Aku adalah atasanmu pula. Jangan berbuat yang macam-macam, Seng-te. Kau dan aku telah terikat dalam cinta yang sejati dan lupakanlah yang serba buruk!”

Pemuda itu memaki. Ia lemas tapi dapat mengumpat-caci dan segala sumpah serapah segera berhamburan. Ia sekarang merasa tertipu dan tentu saja malu dan marah bukan main. Tapi ketika lawan menekan dan menotok urat gagunya, si banci berkilat maka laki-laki itu menjadi marah dan berseru.

“Teng Seng, yang sudah terjadi tak mungkin ditarik lagi. Kau telah menikmati kesenangan dariku, tak mungkin kau bayar. Tunduk dan patuh kepadaku atau benakmu kupecahkan!”

“Jangan...!” Teng Bu tiba-tiba berkelebat, muncul. “Jangan bunuh dia, Kiem-ko. Jangan bunuh kakakku, ingat janjimu!”

“Hm, bagus, kau datang,” si banci berseri dan tertawa. “Mudah bagiku untuk membunuh kakakmu, Teng Bu, tapi makian dan sumpah serapahnya tadi harus dibayar. Aku tak ingin mendengarnya lagi. Minumkan darah anjing itu dan buat sampai habis!”

Teng Bu terkejut. Kakaknya berapi-api namun ia tak dapat berbuat lain. Banci ini amat lihai dan yang lebih penting lagi adalah bahwa dia telah jatuh cinta! Tak akan didapatnya wanita yang mampu memabokkan dirinya seperti si banci ini. Maka ketika ia menyambar darah anjing di atas piring itu, tanpa banyak bicara mencekokkan ke mulut kakaknya maka cairan itu habis dan sebuah kancing baju tampak di dalam piring ini. Kiranya benda yang jatuh dan berkelitikan di dalam piring itu adalah kancing baju ini, milik kakaknya!

Dan selanjutnya Teng Bu melihat suatu yang luar biasa sekali. Wajah kakaknya tampak pucat namun sinar mata yang semula ganas dan berapi-api itu redup, kian lama kian kehilangan sinarnya dan mata itu kuyu! Lalu ketika kakaknya seperti patung hidup, mengangguk dan mengiyakan semua kata-kata si banci maka hari-hari berikut merupakan pukulan bagi Teng Bu. Betapa tidak. Sang kakak telah menjadi robot dan dipermainkan sesukanya. Mo Kiem si banci terkekeh-kekeh dan mencekoki obat perangsang kalau kakaknya tak bangkit gairahnya. Dan ketika kian hari tubuh kakaknya kian kurus, tak bergairah ataupun memiliki semangat hidup lagi maka Teng Bu akhirnya mengepal tinju meminta agar kesehatan kakaknya dipulihkan.

“Aku tak dapat melihat keadaan kakakku seperti itu. Maaf, kau harus menyembuhkannya kembali, Kiem-ko, atau biar aku yang menggantikannya dan kau hidupkanlah dia!”

“Hi-hik, aneh. Kakakmu ini tidak seperti dirimu, Teng Bu, keras dan diam-diam membuat aku heran. Kalau dia disembuhkan lagi maka dia bakal menyusahkan kita, terutama kau. Untuk apa disembuhkan dan biarkan begitu.”

“Tidak, aku tak dapat menerimanya, Kiem-ko. Sembuhkan atau kau bunuh aku!”

“Hm, serius,” si banci menyeringai, menyipitkan matanya. “Kau tampaknya sungguh-sungguh, Teng Bu, baiklah tapi tunggu tiga hari lagi.”

“Tiga hari lagi?”

“Ya, biarkan pengaruh gaib darah anjing lenyap. Nanti setelah tiga hari aku akan memulihkan semuanya.”

“Terima kasih!”

“Tunggu...!” Teng Bu sudah melompat. “Jangan tergesa-gesa dulu, Teng Bu. Bagaimana pertanggungjawabanmu kalau nanti kakakmu meliar!”

“Ini, hmm...!” pemuda itu tertegun. “Biarlah aku bicara baik-baik padanya, Kiem-ko. Aku akan menyadarkannya.”

“Kalau gagal?”

Pemuda itu pucat.

“Kau atau aku yang membunuhnya, Teng Bu. Aku tak suka kita diganggu hanya gara-gara ini!”

Pemuda itu berkelebat. Teng Bu memutar tubuhnya dan tak menjawab sementara si banci mengeluarkan tawa aneh. Tawa itu telah memberi tanda kepada Teng Bu agar berhati-hati, ancaman itu tak main-main. Tapi ketika pada hari ke dua Teng Bu menunggu pulihnya sang kakak, besok baru berakhir mendadak seorang gadis gagah berkelebat di depannya. Gadis cantik berpedang di punggung yang kontan mengejutkan pemuda ini.

“Teng Bu, mana Seng-ko (kanda Seng). Kenapa hampir sebulan tak pernah menengokku!”

“Kau....?” pemuda ini meloncat bangun, berubah. “Ah, kakakku ada di sini, Cui Ling.Tapi....tapi...”

Gadis itu berdiri tegak, bersinar-sinar. Teng Bu tak melanjutkan kata-katanya dan kelihatan bingung sementara gadis itu kian tajam menatap wajahnya. Cui Ling, gadis ini adalah kekasih Teng Seng dan dia adalah murid Hoa-san yang menjalin cinta dengan pemuda itu. Kedua guru merekapun tahu dan masing- masing memberi restu. Dan karena si pemuda biasanya menengok kekasihnya seminggu sekali, kini sudah lebih dari empat minggu Teng Seng tak berkunjung kepadanya maka tentu saja gadis itu datang dan ingin mengetahui sebabnya. Dan Teng Bu tiba-tiba menampakkan wajah mencurigakan seperti orang bingung atau apa.

“Hm, mana kakakmu, Teng Bu. Ada apa kau gugup. Kalau dia ada di sini antarkan aku kepadanya!”

“Tidak.... tidak bisa. Dia, eh...!” pemuda itu gelisah, bingung dan semakin gugup saja karena kakaknya ada di kamar si banci. Kalau dia membawa gadis itu ke sana tentu bakal terjadi keributan, apalagi kalau gadis ini melihat perubahan besar pada kakaknya, wajah dan tubuh yang kurus! Dan ketika pemuda itu bingung untuk meneruskan kata maka Cui Ling mencabut pedang membentak marah.

“Teng Bu, aku ingin menengok kekasihku sendiri, ada apa kau menyembunyikan. Apakah ada yang tak beres dan betulkah kudengar bahwa ada siluman di tempat ini. Seorang banci gila!”

“Cui Ling!”

“Tidak, tak perlu sembunyi-sembunyi, Teng Bu. Kakakmu pernah bercerita kepadaku dan tunjukkan di mana dia sekarang. Kau katanya kena pengaruh jahatnya!”

Pemuda ini pucat. Setelah si gadis membentak dan marah-marah seperti itu maka dia khawatir suaranya terdengar si banci. Alangkah berbahayanya kalau si banci itu marah, dia tentu tak dapat berbuat apa-apa. Tapi teringat bahwa dua tiga hari lagi kakaknya disembuhkan, ia harus mencegah gadis ini maka Teng Bu menyambar lengan gadis itu dan berkata sambil mendesis.

“Cui Ling, jangan kau macam-macam di sini. Kakakku selamat, tak ada apa-apa. Kau kembalilah beberapa hari lagi dan akan kupertemukan dia denganmu!”

“Hm, aneh. Ganjil benar!” gadis itu tertawa mengejek. “Sudah di sini kenapa disuruh kembali lagi, Teng Bu. Kalau kakakmu pergi tentu aku mau, tapi tidak, kakakmu di sini. Kenapa harus pulang dan kembali beberapa hari lagi? Kau menyembunyikan rahasia, Teng Bu. Aku justeru curiga. Aku akan ke kamarnya atau mencari di kamar lain!”

“Cui Ling!”

Gadis itu berkelebat. Ia sudah meninggalkan Teng Bu dan pemuda ini pucat melihat gadis itu menuju ke kamar kakaknya. Memang gadis ini sudah sering mendatangi tempat Gubernur. Tapi ketika Teng Bu berkelebat dan berjungkir balik di depan, menghadang maka gadis itu tertegun berhenti dengan muka merah.

“Jangan, dengar dan patuhi kata-kataku. Aku tak melarangmu menengok kakakku, Cui Ling, tapi jangan sekarang. Kembalilah tiga empat hari lagi atau aku mengusirmu!”

“Kau. kau berani mengusir aku? Kau berani bicara seperti itu? Eh, aku tak takut padamu, Teng Bu. Boleh kau mengusir tapi lihat kau mampu atau tidak, wut..!” gadis ini berkelebat, menyambar di sebelah kiri lawan dan tahu-tahu meluncur lagi. Ia sudah meninggalkan pemuda itu sementara gagang pedang dicekal erat-erat. Kalau Teng Bu mengejar tentu akan disabet, dia menjadi marah. Dan ketika benar saja pemuda itu berkelebat dan menyusulnya, membentak maka Teng Bu berjungkir balik melewati kepalanya dan gadis Hoa-san ini tak ragu-ragu mencabut pedang dan langsung menyabet pemuda itu.

“Cui Ling, kau tak boleh masuk ke sana!”

Akan tetapi pedang sudah bicara dan mendesing. Gadis ini membentak dan lawan yang baru turun sudah dibabat pinggangnya, Teng Bu mengelak dan selanjutnya diserang lagi. Dan ketika pemuda itu bergerak ke kiri kanan dan tertegun bahwa semua serangan-serangan itu dapat dielaknya dengan mudah, padahal gadis ini dulu setingkat dengannya maka Teng Bu merasa girang karena itulah kemajuannya yang diperoleh dari Mo Kiem, kekasihnya.

Dan Cui Ling gadis Hoa-san itupun juga terkejut. Dulu mereka sama- sama setingkat dan Teng Bu tak mungkin berani melayaninya dengan tangan kosong begitu. Hanya Teng Seng yang sedikit lebih tinggi. Maka ketika kini semua serangannya begitu mudah dielakkan lawan dan betapa Teng Bu memiliki gerakan yang jauh lebih cepat, itulah berkat petunjuk-petunjuk si banci maka gadis ini terbelalak dan berseru nyaring memperhebat serangannya.

“Teng Bu, kiranya kau sudah memiliki kemajuan juga, pantas kalau kau sombong Tapi jangan kira aku takut dan lihat Hoa-san Kiam-sut yang kumainkan ini haiittt!” Cui Ling mempercepat gerakannya dan tiba-tiba tubuhnya lenyap beterbangan. Bagai walet menyambar-nyambar ia sudah menyerang lawannya itu, pedang menusuk dan membacok diselingi bentakan-bentakan tinggi. Dan ketika Teng Bu kewalahan dan harus menangkis, apa boleh buat harus menundukkan gadis ini maka pedang terpental bertemu telapak pemuda itu.

“Plak!”

Cui Ling terkejut. Pedangnya terpukul miring dan hampir menyambar dirinya sendiri. Teng Bu juga terkejut tapi girang oleh hasil sampokannya ini. Dulu ia dan Cui Ling pasti sama-sama terhuyung. Dan ketika gadis itu terhuyung sementara dia tidak, ini menunjukkan bahwa ia benar-benar sudah memiliki kemajuan berarti maka gadis itu memekik dan mulai menangkis. Cui Ling kesal dan penasaran.

“Teng Bu, aku akan membunuhmu. Kau sombong, ah... aku akan membunuhmu!”

Tapi semua itu hanya ancaman kosong belaka. Teng Bu bergerak dan menampar dan semua serangan pedang terpental. Pemuda itu menambah tenaga hingga gadis Hoa-san itu terpelanting. Dan ketika semua serangan tak ada artinya padahal pemuda itu belum mengeluarkan senjatanya, gadis ini melengking akhirnya Cui Ling memutar tubuhnya dan berkelebat pergi, menangis.

“Teng Bu, kau jahat dan menipu aku. Awas, beberapa hari lagi aku datang dan jangan harap kesombonganmu tetap ada!”

Pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Setelah Cui Ling pergi dan tak memaksa kakaknya maka pemuda ini lega. Kalau empat lima hari lagi gadis itu datang maka kakaknya sudah sembuh, tidak seperti patung hidup begitu. Dan ketika ia masuk dan termenung di kamarnya, hari itu pemuda ini tak gembira mendadak keesokannya gadis itu muncul. Dan kedatangannyapun bersama seorang tosu pendek gemuk yang matanya bagai harimau tua!

Waktu itu Teng Bu sedang duduk di kamarnya. Ia murung dan masih sedih, maklum kejadian semalam itu membuatnya tak enak juga. Dia tak berpikir bahwa Cui Ling bakal datang bersama orang lain, mengira gadis itu datang sendiri. Maka ketika tiba-tiba ia mendengar gerakan orang dan pintu kamarnya dibuka, gadis itu muncul maka Teng Bu yang sejenak tertegun dan heran ini segera berubah kaget melihat betapa di belakang gadis itu berdiri seorang tosu gemuk yang bukan lain adalah Bun Tek Tojin, guru gadis itu!

“Hm, maaf mengganggu. Kebetulan saja aku ke sini, Teng Bu, mengantar muridku untuk bertemu kakakmu. Siancai, bolehkah kami masuk dan bicara baik-baik.”

Teng Bu melompat bangun. Ia melihat senyum mengejek di mulut Cui Ling, tersentak oleh kedatangan tosu itu. Dan ketika ia meninggalkan tempat duduknya dan buru-buru menghampiri tosu ini, tosu itu setingkat gurunya maka Teng Bu pucat memberi hormat, gugup dan bingung.

“Ah-ah, Bun Tek locianpwe kiranya. Mari masuk, silakan duduk. Aku, eh... Cui Ling semalam telah menemuiku, locianpwe, dan kami ribut-ribut sedikit. Tapi tak ada ganjalan di hati. Kakakku, eh, dia sebenarnya sakit. Aku ,eh mari masuk dan silakan duduk dulu!”

Teng Bu benar-benar gugup dan pucat melihat kedatangan tosu itu. Ia tak merasa gentar terhadap Cui Ling namun kalau gurunya datang tentu saja keadaan menjadi lain. Ia tak boleh main-main terhadap tosu ini, gurunyapun bisa marah kalau ia bersikap kurang ajar. Maka ketika cepat-cepat ia mempersilakan tamunya dan tosu itu tersenyum, masuk dan menutup pintu kamar maka Teng Bu dag-dig-dug tak keruan karena kamar si banci sesungguhnya tak jauh di situ, hanya selisih satu tikungan ruang dalam!

Dan gerak-gerik serta ketenangan tosu ini justeru membuat Teng Bu panik. Ia gugup bukan main, terbata-bata. Tapi ketika tosu itu tertawa dan menepuk-nepuk pundaknya, senyum mengejek Cui Ling membuat Teng Bu sadar maka ia menetapkan hatinya dan menindas semua perasaan takut. Dan tamupun segera bicara tentang kakaknya.

“Hm, aku mewakili muridku bertanya tentang kakakmu. Pagi tadi kebetulan aku menemui muridku, Cui Ling menceritakan tentang keributan kalian. Maaf, bolehkah pinto tahu kenapa kau menyembunyikan kakakmu, Teng Bu. Bukankah Cui Ling berhak menemuinya karena mereka calon suami isteri. Heran bahwa hampir sebulan kakakmu tak pernah menengoknya, dan kaupun tak memberi tahu!”

“Ini, eh..... kakakku sakit, locianpwe. Seng-ko masih dalam taraf pengobatan. Aku.... aku tak memperbolehkan Cui Ling karena biar kakakku sembuh dulu!”

“Aneh, justeru kalau begitu kami ingin menengok. Eh, sakit apakah kakakmu itu, Teng Bu. Kenapa kau diam-diam saja dan justeru menyembunyikan. Apakah pinto tak boleh melihatnya atau harus melapor pada gurumu.”

“Jangan!Seng-ko,eh. Seng-ko tak apa-apa, locianpwe, hanya sedikit meriang. Ia tak enak badan tapi beberapa hari lagi sembuh. Aku, eh.... aku mohon kalian tak usah menengoknya dulu agar tidak mengganggu!”

“Heh-heh, luar biasa sekali. Ganjil! Hm, ada apa semuanya ini, Teng Bu. Kenapa kau begitu gugup dan takut kalau sekarang juga kami ingin menengok kakakmu. Katakan, apa sebabnya kau begitu gugup dan ketakutan seperti ini!”

Teng Bu tersentak. Sepasang mata kakek itu memandangnya bersinar-sinar dan pandang mata itu menembus ulu hatinya sampai ke yang paling dalam. Ia seakan ditusuk dan dikorek mata itu, mata seorang tua yang tak dapat dibohongi. Dan ketika ia menunduk dan tak mampu menjawab, bingung maka tosu itu tiba-tiba bergerak dan mencengkeram pundaknya.

“Teng Bu, pinto melihat sesuatu yang ganjil menguasai dirimu. Gerak-gerikmu tidak wajar. Benarkah kau telah bercintaan dengan seorang banci dan menjadi kekasihnya!”

“Locianpwe!”

“Dengar, dan tunggu dulu. Kau adalah murid sahabat pinto Hak Cin Hosiang, Teng Bu. Ada apa-apa yang mengganggu dirimu tentu pinto harus menolong. Nah, benarkah berita itu dan sehebat itukah si banci hingga ia menguasai dirimu!”

Pemuda ini menggigil. Ia pucat dan terbelalak memandang tosu itu dan kalau bukan tosu ini tentu sudah dihantam dan diserangnya. Ia begitu kaget dan marah oleh todongan kata-kata ini. Tapi karena Bun Tek Tojin adalah sahabat gurunya dan tentu saja ia tak berani gegabah, persoalan bisa bertambah panjang mendadak terdengar kekeh dan tawa merdu, tawa genit.

“Teng Bu, untuk apa takut menghadapi seekor keledai tua. Aih, dengan kepandaianmu sekarang kau sudah mampu menandinginya, Teng Bu. Pergunakan Hek-be-kang dan lepaskan dirimu!”

Teng Bu terkesiap. Hek-be-kang adalah Tenaga Belut Hitam yang telah diajarkan si banci kepadanya. Kini ia dicengkeram pundaknya dan tiba-tiba otomatis ia mengerahkan tenaga itu, bergerak dan tiba-tiba pundaknya menjadi licin hingga terlepas dari tangan si tosu. Dan ketika Bun Tek Tojin terkejut karena Teng Bu menarik diri demikian mudah, ia terbelalak maka Teng Bu tak dapat berpura-pura lagi dan berseru,

“Locianpwe, untuk kebaikan bersama janganlah kau terlalu mendesakku. Pergilah, dan empat lima hari lagi silakan kalian kemari!”

“Heh-heh, itu kekasihmu?” si tosu hilang kagetnya, tertawa tapi sepasang matanya berkilat. “Bagus, benar kata Cui Ling bahwa kepandaianmu meningkat pesat, Teng Bu, kiranya kau telah belajar ilmu lain lagi. Pinto justeru ingin bertemu kekasihmu itu dan biar pinto datang, wut!”

Si tosu berkelebat dan lenyap meninggalkan kamar, disusul oleh Cui Ling dan pemuda ini pucat melihat kedua tamunya menuju asal suara. Di tikungan kamar itu Bun Tek Tojin mendengar asal tawa. Dan ketika tosu ini tiba dan menendang pintu kamar, seseorang berada disitu maka Bun Tek terkejut melihat Teng Seng di atas pembaringan dengan tubuh kurus dan pucat, membuka mata memandang langit-langit kamar dan bagaikan seorang kehilangan semangat. “Teng Seng!”

Pemuda itu tak menoleh. Cui Ling berkelebat masuk dan terlihatlah kekasihnya itu. Dan ketika ia menjerit dan otomatis menghambur tiba-tiba orang di dalam kamar dan memberikan punggungnya itu menggerakkan tangan ke belakang dan... bress, gadis Hoa-san itu mencelat dan menabrak dinding.

Kagetlah Bun Tek Tojin. Ia tak melihat siapa orang ini namun dapat menduga bahwa dialah yang tertawa tadi. Tawanya merdu, nyaring. Dan karena rambutnya juga sebatas pundak dan hampir dia mengira bahwa orang ini wanita, terbukti sepasang anting-anting itu juga melekat di telinganya maka Cui Ling yang cemburu dan juga mengira seperti gurunya sudah meloncat dan hendak menerjang akan tetapi orang itu mengibas dan gadis ini mencelat menabrak dinding. Dan Bun Tek Tojin tentu saja buru-buru menolong muridnya.

“Aduh..... dadaku, ouh..... sesak, suhu. Jahanam itu.... siluman betina itu. dia kejam!”