TAPAK TANGAN HANTU
JILID 16
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“HEBAT sekali, seperti dongeng! Kalau tidak melihat kau bersungguh-sungguh tak mau aku percaya, Giam Liong. Siapakah mereka yang bertempur itu dan bagaimana gunung dan sungai-sungai sampai berbuih, apalagi Himalaya sampai menggelegar!”

“Benar, ayah, aku juga rasanya seperti mimpi. Tapi sumpah bahwa semuanya itu betul-betul terjadi. Aku sadar dan ingat baik-baik semua kejadian itu. Juga mahluk hitam tinggi besar yang akhirnya kukenal sebagai Mo-bin-jin (Manusia Muka Iblis) itu!”

“Mo-bin-jin?”

“Ya, kakek dahsyat itu. Konon ia masih saudara dari Mo-bin-lo, pencipta Golok Maut ini!”

Ju-taihiap terbelalak dan ngeri. Han Han dan isterinya yang juga mendengarkan itu tampak berdiri bulu kuduknya. Tiga orang ini merasa seram. Lalu ketika Giam Liong melanjutkan ceritanya betapa pertandingan itu menjadi seru dan lebih dahsyat maka Himalaya akhirnya meletus, disusul oleh gunung- gunung berapi lain.

“Pukulan-pukulan mereka saling sambar seperti petir. Api menyembur dari puncak gunung-gunung itu. Lalu ketika batu dan pasir-pasir panas memuncrat tinggi ke langit hitam maka angkasa menjadi merah membara dan konon tempat tinggal para dewa di kahyangan menjadi korban. Bumi di mana gunung-gunung itu berada justeru tak apa-apa, letusan itu menghantam tempat para dewa hingga di langit yang merah membara muncul ribuan mahluk berpakaian serba putih, pundak bersayap. Lalu ketika aku sadar bahwa itulah rupanya para dewa-dewi penghuni kahyangan maka Naga Berkabung yang menolongku itu berseru keras melempar seuntai tasbeh yang bijinya berhamburan menyambar lawannya itu. Sinar merah di langit membuat biji-biji tasbeh itu berkilauan, Mo-bin-jin tampak berteriak ketika satu dari biji-biji tasbeh itu mengenai matanya. Dan ketika ia meraung dan balas melempar sepotong kain hitam maka api seketika padam dan langit gelap gulita dan kakek penolongku itu terbanting dan jatuh ke bumi. Di sini aku tak tahu lagi apa yang terjadi karena pingsan. Namun ketika aku sadar dan membuka mataku maka kulihat guratan-guratan di tanah yang memberi tahu aku bahwa sebaiknya aku mencari Guci Penghisap Roh untuk memusnahkan ilmu hitam yang dimiliki Majikan Hutan Iblis!”

“Eh, apa hubungannya dengan kakek iblis Mo-bin-jin itu?”

“Erat hubungannya, ayah. Karena konon kakek itu menurunkan ilmunya kepada Majikan Hutan Iblis ini, lewat semacam ilmu hitam. Dan katanya masih ada seorang lagi yang berhubungan langsung dengan Majikan Hutan Iblis itu, seperguruan Mo-bin-jin!”

“Eh, jadi ada yang lain lagi?”

“Benar, tapi untuk yang ini aku belum tahu. Aku merasa semuanya itu seperti mimpi, mimpi buruk tapi amat dahsyat!”

Jago pedang ini meremang lagi. Ia benar-benar merasa seram oleh cerita Giam Liong itu dan sampai di sini Giam Liong berhenti. Pendekar ini memandang anak menantunya dan Han Han menarik napas dalam-dalam. Kengerian juga melanda pemuda itu. Namun ketika Han Han mendesis dan mengepal tinju, betapapun segala kejahatan tak boleh didiamkan saja maka pemuda itu berkata bahwa mereka tak perlu takut.

“Aku tak mengalami sendiri ceritamu itu, tapi aku percaya padamu. Sekarang ada empat tokoh yang kita kenal, Giam Liong, yakni Sian-eng-jin dan Hek-i Hong li serta Mo-bin-jin dan Naga Berkabung itu. Hm, mereka orang-orang luar biasa yang agaknya bukan tandingan kita. Tapi meskipun kita tak nempil melawan mereka bukan berarti kita harus takut. Aku teringat akan Guci Penghisap Roh itu, di mana dan bagaimana kita mencarinya? Apakah itu benar-benar dapat melumpuhkan ilmu hitam yang dimiliki Majikan Hutan Iblis? Bagaimana caranya?”

“Aku juga tak tahu, Han Han, tapi kakek Naga Berkabung itu menyuruhku begitu, dan aku percaya padanya. Hanya aku juga bingung di mana harus mencari!”

“Dan Majikan Hutan Iblis ternyata sudah demikian banyak. Hm, ilmu aneh apa yang kita hadapi ini, Giam Liong. Aku teringat akan kisah lama bahwa ada semacam ilmu hitam yang konon dapat merubah diri menjadi banyak. Barangkali semacam ilmu hitam itu yang dipakai lawan kita, dan kalau ini benar maka pusatnya yang harus dibunuh, bukan cadangan atau kembarannya!”

“Maksud ayah?”

“Ada semacam cerita lama yang dulu kuanggap dongeng, Giam Liong, yakni ilmu Merubah Ujud. Ilmu ini, Jin-seng-sut (Peniru Badan) namanya konon dapat menciptakan tubuh-tubuh baru sesuai pemiliknya yang asli. Dia dapat dipakai bukan untuk mencipta seorang dua saja melainkan belasan sampai puluhan orang. Kalau pemiliknya sudah sedemikian hebat maka ratusan bahkan ribuan orang dapat dicipta, persis dirinya. Dan kalau kau menghadapi demikian banyak Majikan Hutan Iblis maka aku curiga bahwa ilmu hitam Jin-seng-sut ini yang dipergunakan, dan alangkah jahatnya itu, karena orang baik-baikpun dapat dimasuki pengaruh dari ilmu ini hingga berubah seperti pencipta aslinya!”

Tang Siu mengeluarkan seruan ngeri. Nyonya itu pucat dan memeluk suaminya sementara Han Han dan Giam Liong mengangguk-angguk. Giam Liong dapat mempercayai itu. Dan ketika ia menarik napas dalam dan percaya, ia telah membuktikan sendiri maka si buntung ini berkata.

“Kalau begitu lawan yang kuhadapi adalah kembarannya, ayah. Pantas di mana-mana Majikan Hutan Iblis ada dan muncul lagi. Kalau begitu yang asli belum kutemukan, belum kubunuh. Dan alangkah hebatnya ia sekarang kalau kembarannya saja sudah seperti itu!”

“Ya, dan kita harus berhati-hati. Aku jadi tak tahu juga apakah lawan yang datang empat hari yang lalu adalah Majikan Hutan Iblis yang asli, atau jangan-jangan iapun hanya kembarannya saja!”

“Kalau begitu bagaimana usaha kita sekarang. Dan eh, aku tak melihat Giok Cheng di sini. Mana keponakanku itu!”

Giam Liong teringat dan heran memandang ke seluruh kamar. Setelah dia selesai bercerita dan ingat akan jumlah keluarga ini maka bertanyalah dia tentang Giok Cheng. Anak perempuan Han Han itu tak dilihatnya bersama ibunya, juga tidak bersama kakeknya. Tapi ketika Tang Siu terisak sementara Han Han menarik napas dalam maka saudaranya itu berkata bahwa Giok Cheng dibawa orang.

“Anak itu sudah tak ada di sini lagi, diserahkan isteriku. Sewaktu aku datang aku juga tak melihat anakku, Giam Liong, apalagi kau.”

“Dibawa orang? Diserahkan isterimu?”

“Benar,” Ju-taihiap menerangkan dan melirik menantunya itu. “Tang Siu menyerahkannya kepada nenek Hek-i Hong-li itu, Giam Liong, yakni ketika nenek itu dan Su Giok menolong kami dari kekejaman Majikan Hutan Iblis. Kami hampir binasa dan nenek itu meminta Giok Cheng.”

Giam Liong tertegun. Ju-taihiap tak menceritakan betapa menantunya itu memang sengaja ingin menyerahkan anaknya kepada nenek sakti itu, menandingi atau tak mau kalah dengan putera Giam Liong yang dibawa kakek sakti Sian-eng-jin. Tapi ketika Giam Liong mengangguk-angguk dan Tang Siu menunduk maka Han Han yang mengomel.

“Isteriku memberikannya tanpa sepengetahuanku, kalau tidak mungkin tak kuperbolehkan. Sudahlah kita tak usah bicara tentang Giok Cheng, Giam Liong. Aku ingin tahu bagaimana dengan kita sendiri, musuh kita yang semakin sakti itu!”

“Hm, saat itu kau di mana?” Giam Liong masih bicara soal Giok Cheng. “Apakah tak ada di rumah ketika Majikan Hutan Iblis ke sini?”

“Aku ke Lam-hai, menengok guruku. Dan ketika aku datang semuanya itu sudah terjadi.”

“Sudahlah tak perlu bicara itu lagi,” Ju-taihiap memotong dan menganggukkan kepalanya. “Apa yang dikata Han Han benar, Giam Liong, bagaimana sekarang kita menghadapi manusia iblis itu. Dan aku teringat bahwa kakek sakti Sian-eng-jin maupun nenek Hek-i Hong-li rupanya terikat sesuatu hingga tak boleh campur tangan secara langsung.”

“Benar,” Tang Siu tiba-tiba berseru. “Jahanam itu tak takut kepada siapapun, Giam Liong, berkata bahwa kakek itu terikat sumpah. Entahlah bohong atau tidak adanya!”

“Kupikir benar,” Ju-taihiap menganggukkan kepala. “Nenek Hek-i Hong-li itupun hanya menyuruh Su Giok dan tidak turun tangan sendiri.”

“Kalau begitu apa yang terjadi dengan orang-orang sakti itu. Rupanya kita jadi seperti hidup dalam alam dongeng!”

“Hm, kupikir satu yang dapat menolong kita, Han Han, yakni kakek dewa Bu-beng Sian-su. Bagaimana kalau kita mencari dia.”

“Benar, aku juga teringat Sian-su, ayah. Hanya dia yang dapat menolong kita!”

“Tapi kakek ini luar biasa, datang dan perginya tak ada yang tahu. Ah, bagaimana mencarinya, ayah? Sedangkan di tempat tinggalnya saja selalu kosong!”

“Hm, kau benar. Lembah Malaikat memang jarang didiami. Tapi kita wajib berusaha, Han Han, setidak-tidaknya dengan getaran batin. Marilah kita cari dia dengan cara kita dan mudah-mudahan dapat menolong!”

Han Han dan Giam Liong mengangguk-angguk. Kalau sudah demikian banyak orang-orang sakti muncul di luar kepandaian mereka maka hanya kakek itulah yang dapat ditoleh, dimintai tolong. Tapi karena kakek ini bukan manusia biasa dan pergi atau datangnya seperti dewa, belum tentu datang kalau diundang dan kadang-kadang muncul kalau tidak disangka maka Ju-taihiap yang pernah menjadi murid kakek itu meminta putera-puteranya mengadakan getaran kontak batin. Biasanya dengan begitu mereka dapat berhasil.

Maka ketika hari itu Giam Liong beristirahat di tempat ayah angkatnya ini, menyembuhkan luka sekaligus guncangan yang diterima maka Hek-yan-pang memasang kewaspadaan penuh dan diam-diam bertanya apa yang sesungguhnya terjadi pada orang-orang luar biasa yang sudah tidak terhitung sebagai manusia itu, orang-orang “super” yang layaknya seperti siluman atau iblis yang menakutkan!

* * * * * * * *

Kita tinggalkan sejenak kegalauan di tempat jago pedang dan putera-puteranya itu. Kita tengok di sebuah tempat di puncak gunung yang tinggi, Sian-thian-san (Gunung Para Dewa). Di tempat ini, jauh dari keramaian dunia seorang anak laki-laki sedang duduk bersila menghadap seorang kakek yang duduk di atas batu hitam. Anak laki-laki itu, yang usianya kurang lebih dua belas tahun tampak duduk dengan tenang tanpa baju.

Dia hanya mengenakan celana pendek putih sederhana, bertelanjang kaki dan tidak memakai apa-apa lagi dan orang akan terkejut melihat betapa tempat yang diduduki anak ini adalah sebongkah es besar yang beruap dan dingin membeku. Hawa di sekitar situ juga dingin luar biasa terbukti dengan kabut yang lewat di puncak gunung. Dari bawah kabut atau awan putih ini bergerak naik, perlahan dan berat sementara daun-daun atau pohon yang dilewati tiba-tiba mengeluarkan bunyi seperti es berdetak, langsung memutih dan beku seketika.

Dan ketika awan berat atau kabut dingin itu terus bergerak naik, pohon atau dedaunan masih beku memutih maka dapat dibayangkan betapa dinginnya uap atau kabut berat itu. Dan seekor kelinci hutan tiba-tiba berteriak kaget. Kelinci yang meloncat dan hendak bersembunyi memasuki semak-semak namun terlambat itu tiba-tiba disergap kabut ini. Hawa luar biasa dingin dan membekukan tulang rupanya membuat kelinci itu berat meloncat. Ia terbungkus dan melonjak-lonjak sejenak, roboh dan tiba-tiba kejang untuk akhirnya tewas ketika kabut meninggalkan dirinya, bergerak dan terus naik ke atas sementara kelinci itu telah beku.

Tubuh dan bulunya kaku mencuat bagai duri-duri dingin. Begitu hebatnya kabut atau awan dingin itu. Dan ketika kabut terus naik ke atas sementara yang di bawah masih juga menyusul, keadaan menjadi gelap oleh puluhan bahkan ratusan kabut putih ini maka anak di puncak gunung yang sama sekali tak berbaju dan bertelanjang kaki itu enak saja bersila menghadapi kakek di depannya yang duduk di batu hitam.

“Ha-ha, ujian pertama mulai. Pek-mo-in akan menyerangmu dan menutup puncak selama tiga hari tiga malam, Sin Gak. Inilah hari yang kutunggu-tunggu dan berhati-hatilah. Aku duduk di sini menunggumu dan kerahkan sinkangmu (hawa sakti) ke pusar. Awas, buka semua jalan darah dan biarkan mujijat Pek-mo-in menyerap masuk ke tubuhmu!”

Sin Gak, anak itu mengangguk tenang. Dia memandang kakek di depannya dengan mata bersinar-sinar sementara kabut di bawahnya terus bergerak naik. Kabut itu bersatu dengan kabut-kabut lain dan ketebalannya kini semakin menggila saja. Semakin tinggi semakin berat bertemu teman-temannya, menyatu dan membentuk gumpalan awan tebal yang dinginnya semakin luar biasa. Di bawah gunung mereka masih memiliki ketebalan seinci dua inci, semakin tinggi semakin berat dan memiliki ketebalan dua tiga kaki. Lalu ketika terus naik ke atas dan ketebalannya sudah enam atau tujuh meter, orang tak mungkin dapat bernapas dibungkus kabut ini maka mautlah ancamannya bagi siapa yang berani coba-coba!

Tapi anak itu masih tegak di situ, duduk tak bergeming. Awan semakin berat dan mengeluarkan ledakan-ledakan ketika membentur dinding gunung, sebagian pecah dan jatuh membentuk sebongkah es besar. Paling kecil sebesar kepala gajah! Dan ketika kabut raksasa itu sudah semakin dekat dan berat mendekati puncak, berarti juga anak laki-laki itu maka sebatang pohon tiba-tiba tumbang dihantam kabut tebal raksasa ini. Dan jarak dengan anak itu sudah tinggal beberapa meter saja!

“Ha-ha, awas, Gak-ji (anak Gak). Pek-mo-in datang!”

Anak itu menoleh. Rupanya terkejut oleh bunyi pohon tumbang iapun menggerakkan kepala ke belakang. Batu es yang didudukinya retak, tergetar oleh derak pohon roboh itu. Tapi ketika wajahnya malah berseri-seri dan anak ini berseru keras mendadak ia memutar tubuhnya membalik menyambut kabut tebal dingin itu, si raksasa berhawa maut.

“Pek-mo-in, kemarilah. Bungkuslah aku, satukan tubuhmu!”

Si kakek tertawa bergelak. Entah bagaimana mendadak ia lenyap, Sin Gak merentangkan tangan dan bergeraklah awan raksasa itu membungkus. Mula-mula ujungnya menyentuh jari-jari si bocah, Sin Gak tampak tergetar dan ujung tulang jarinya berkeratak. Jari itu seketika putih, beku. Lalu ketika Pek-mo-in menjalar dan membungkus lengan serta bagian depan wajah anak ini maka Sin Gak terbatuk dan seketika tak dapat bernapas. Uap beku memasuki kedua lubang hidungnya.

“Tahan napas, buka semua jalan darah. Biarkan mujijat Pek-mo-in memasuki tubuhmu!”

Anak ini tergetar. Jelas dia merasa kedinginan dan pucat namun tak mau menyerah begitu saja. Awan raksasa dingin tebal yang membekukan tulang diterima, jalan darahnya dibuka dan masuklah uap dingin itu ke segenap syarafnya. Dan ketika ia menjadi kaku namun sadar sepenuhnya, sang guru meneriakkan aba-aba untuk menghembus dan menahan napas maka tampaklah kejadian aneh yang indah namun mendebarkan.

“Kerahkan sinkang, tiup dan dorong Pek-mo-in di lubang hidungmu. Bagus, sedot dan hembuslah kuat-kuat, Gak-ji. Tujukan perhatian pada kabut di depan mulut. Buka, hembus kuat-kuat!”

Awan berlubang tapi menutup lagi. Sin Gak memperhatikan aba-aba gurunya dan perhatian terpusat pada serangan kabut ini. Bagian yang paling berbahaya adalah di depan hidung dan mulut. Sekali lengah uap beku bisa menutup segala-galanya. Ia memperbolehkan Pek-mo-in memasuki tubuhnya tapi bukan hidung dan mulut. Dua bagian ini harus dicegah dan dilindungi. Paru-parunya tak boleh kemasukan kabut berbahaya itu. Maka ketika ia menghembus dan Pek-mo-in terdorong, datang dan dihembus lagi maka tubuh anak itu sudah tertutup rapat kecuali dua lubang di bagian mulut dan hidung ini.

“Ha-ha, bagus. Hembus dan sedot lagi. Bagus, hembus dan sedot lagi, Sin Gak. Dorong Pek-mo-in di depan hidung dan mulut sekuat tenaga. Serap kekuatan mujijat pengaruh gaib Pek-mo-in ke seluruh tubuhmu. Biarkan seluruh syarafmu menerimanya!”

Anak itu berjuang. Sin Gak mula-mula merasa mampu namun awan raksasa itu semakin tebal saja. Kabut yang semula tebalnya enam tujuh meter ini menjadi bertambah. Hal ini disebabkan kabut di bawahnya menyatu dan menggumpal, naik tapi tertahan di situ dan akibatnya anak ini merasa tekanan yang dahsyat. Pek-mo-in yang berkumpul dan menyatu di situ sudah setebal sepuluh meter. Lalu ketika perlahan-lahan semakin tebal dan berat, anak itu merasa ditindih beberapa ekor gajah maka kakek di luar yang tidak kelihatan itu berseru agar dia tidak kehilangan kesadaran.

“Awas, jaga bagian hidung dan mulut. Jangan biarkan dua tempat ini tertutup rapat, Sin Gak. Hembus dan dorong mereka kuat-kuat agar tak menutupi hidungmu!”

Anak itu pucat. Ia mulai gemetaran dan dingin luar dalam. Dari dalam ia diserang Pek-mo-in sementara dari luar oleh kabut yang kian tebal itu. Puncak gunung sekarang tertutup rapat dan ketebalan awan ini sudah lima belas meter. Dua lubang kecil yang dibuat Sin Gak tertutup dan berlubang berulang-ulang. Sin Gak harus menyedot udara dari luar sementara menghembus Pek-mo-in agar tidak menutupi jalan pernapasannya. Dan ketika ia megap-megap namun si kakek membentaknya agar bertahan sekuat tenaga, ia harus menerima mujijat positip dari Awan Iblis ini maka Pek-mo-in (Awan Iblis Putih) sudah membekukan puncak gunung dan satu demi satu pohon-pohonpun tumbang dihantam awan raksasa ini.

Sin Gak benar-benar berjuang mati hidup sementara gurunya berteriak-teriak. Awan yang semakin tebal dan membukit itu kian berat menindih. Simpul-simpul syaraf yang dimasuki Pek-mo-in ini juga mulai penuh, anak itu tergetar dan bergoyang-goyang. Dan ketika awan ini menggumpal dahsyat, lubang di depan hidung dan mulut Sin Gak lebih sering tertutup daripada terbuka maka kakek itu berseru dan tiba-tiba muncul menghantamkan tangannya ke depan.

“Sin Gak, anak tolol kau. Kalau kau mampus ditelan Pek-mo-in ini maka ibu atau ayahmupun tak dapat mengampunimu lagi. Heh, sadar, anak busuk. Tutup hidungmu rapat-rapat dan kini hembuslah Pek-mo-in dengan mulutmu kuat-kuat!”

Anak itu tersentak. Gurunya menghantam awan raksasa itu dan kabut di depan mukanya hancur. Ledakan membuat ia sadar. Dan ketika sejenak ia melihat gurunya di sana dengan mata melotot, awan menutup dan bergerak menggumpal lagi maka tiba-tiba ia berseru keras menyemburkan hawa dari mulutnya, kuat-kuat. “Suhu, aku masih ingin melihat ayah ibuku. Lihat Pek-mo-in kugempur dan aku ingin hidup!”

Awan di wajah anak ini membuyar. Semburan kuat dari mulut anak itu membuat si kakek tertawa bergelak. Hal itu menandakan bahwa simpul-simpul syaraf anak ini telah kemasukan Pek-mo-in-kang (Tenaga Awan Iblis), dahsyat menggetarkan dan robohlah awan di depan wajah itu. Dan ketika si kakek tampak kembali namun anak itu tetap duduk membeku, kaki dan tangannya tak dapat digerakkan maka kakek itu berseru agar semua kekuatan di simpul syaraf digerakkan ke daerah pusar.

“Kau telah menerima mujijat Pek-mo-in-kang, satukan ia di tan-tian (pusat). Heh, jangan biarkan mereka berlarian, Sin Gak. Kejadian begini belum tentu sepuluh tahun terjadi. Ayo, gerakkan siku dan kedua lututmu bersamaan.”

Anak itu terbelalak. Ia mencoba menggerakkan siku dan lututnya akan tetapi gagal, persendian dua tempat itu kaku. Seluruh tubuhnya sesungguhnya telah beku oleh sergapan Pek-mo-in itu. Tapi ketika si kakek tiba-tiba melancarkan totokan dan sinar merah menembus awan putih maka siku dan lutut anak itu dapat digerakkan.

“Heh, cepat dan jangan buang waktu lagi. Gerakkan lutut dan sikumu, Sin Gak. Atau nanti beku kembali dan kau tak dapat menyalurkan Pek-mo-in-kang!”

Anak itu girang. Akhirnya ia berseru bahwa lutut dan sikunya dapat digerakkan, simpul syaraf mengalir kencang di bagian ini, tempat itu telah terbuka. Lalu ketika tempat-tempat lain juga digerakkan dan tenaga dahsyat mengalir bagai air banjir, itulah Pek-mo-in-kang yang telah mengendap dan memenuhi ujung-ujung syarafnya maka kakek itu menghilang dan tertawa bergelak di luar kabut dingin.

“Bagus, sekarang tiuplah mulut kuat-kuat. Lihat betapa kabut di depanmu akan buyar, Sin Gak, mereka pasti berantakan dan hancur!”

Anak itu meniup. Hawa yang dahsyat tiba-tiba menghembus, tenaga dari Pek-mo-in-kang bekerja. Dan ketika kabut di depannya buyar dan pecah, bukan lagi lubang kecil sebesar tiupan mulutnya maka awan meledak dan terlemparlah bagian depan kabut dingin itu menghantam dinding.

“Blarrr!”

Sin Gak tercengang sendiri. Ia ternyata mampu mendorong mundur kabut raksasa itu, tertawa dan meniup lagi kuat-kuat. Lalu ketika kabut terpental dan meledak menghantam dinding gunung maka gurunya terbahak-bahak dan menyuruh ia menggerakkan tangan mendorong.

“Bagus, pergunakan tanganmu, Sin Gak. Sekarang pergunakan tanganmu, dorong dan pukul kuat-kuat!”

Anak itu mengangguk. Ia telah meniup dengan mulutnya dan kini bergerak melepas tangan ke depan. Angin tiba-tiba menyambar dan pecahlah kabut raksasa itu, meledak. Dan ketika awan tebal itu hancur berantakan, datang dan menyerang lagi maka berulang-ulang anak ini menggerakkan kaki tangannya mendorong dan menampar, menerima petunjuk-petunjuk dari gurunya dan tiba-tiba berdirilah anak itu menahan beban. Ia telah mengangkat tangan tinggi ke atas dan gumpalan kabut raksasa berada di telapaknya. Lalu ketika dia mendorong dan membentak nyaring maka kabut itu terlempar dan mencelat tinggi bagai sebongkah batu raksasa putih sebesar bukit, enam atau tujuh meter.

“Bagus, ha-ha, bagus. Terima dan lempar lagi, Sin Gak. Lempar lebih tinggi!”

Anak itu berseri. Ia mengangguk dan menerima kabut raksasa itu dan mendorongnya lagi, membentak. Kabut terlempar lagi lebih tinggi. Lalu ketika kabut itu jatuh diterima lagi, dilempar dan diterima maka anak ini seolah bermain-main dengan sebuah bola raksasa yang amat mentakjubkan. Kabut itu sudah setinggi bukit dan orang akan merasa kagum bukan main akan kehebatan anak ini. Pek-mo-in adalah gumpalan air yang siap pecah, awan beku itu bukanlah barang main-main. Dan ketika akhirnya benda raksasa itu meledak dan pecah, bongkahan es sebesar kerbau melayang jatuh maka Sin Gak tertimpa tapi benda itu malah hancur sendiri bertemu anak ini.

Dan kabut di bawah gunung melayang naik lagi, berkumpul dan menyatu untuk kemudian menyergap anak itu. Sin Gak telah menyerap Pek-mo-in-kang dan anak itu mendorong dan melempar lagi kabut ini tinggi-tinggi, meledak dan hancur untuk kemudian menerima yang lain lagi. Dan ketika kejadian itu terus berulang-ulang sampai tiga hari tiga malam, kakek di luar itu terbahak-bahak, maka awan tebal ini akhirnya habis dan sisanya yang lain tak berani mendekati puncak Sian-thian-san lagi, gentar terhadap anak itu, menyingkir dan lari menjauh meninggalkan si bocah sakti!

“Ha-ha, selesai. Kau telah berhasil menerima dan melatih Pek-mo-in-kang. Di dunia ini takkan ada tokoh-tokoh kelas satu yang mampu menandingimu, Sin Gak. Jago pedang Ju-taihiappun tak akan menang. Ha-ha, cukup. Selesai sudah!”

Sin Gak terduduk. Anak ini jatuh dan kelelahan namun wajah dan pandang matanya tetap berseri-seri. Ia telah mampu mendorong awan raksasa, awan bukan sembarang awan, karena itulah Awan Iblis yang membekukan tulang. Tersentuh sedikit saja orang dapat tewas. Maka ketika gurunya berseru dan ia terhuyung roboh, akhirnya kelelahan maka kakek itu menyambarnya dan mendudukkannya di batu hitam.

“Kau pantas bertahta di sini. Mulai sekarang Sian-thian-san adalah milikmu, Sin Gak. Sejak hari ini kau mulai belajar sendiri!”

Anak itu terbelalak, mengusap keringat. “Maksud suhu?”

“Aku sudah menggemblengmu cukup, tugas terakhir memberimu Tenaga Awan Iblis sudah selesai. Nah, kita duduk dan setelah itu aku pergi!”

“Suhu...!”

“Dengar. Sudah kuberitahukan kepadamu bahwa gurumu terikat sumpah, Sin Gak. Bahwa aku tak boleh mencampuri urusan dunia secara langsung. Nah, kaulah wakilku, dan akan kuceritakan padamu sebuah rahasia yang tak diketahui orang!”

Anak itu terkejut. Ia tiba-tiba mau menangis namun air mata yang siap runtuh mendadak beku. Pek-mo-in-kang, tenaga yang dimilikinya tiba-tiba bekerja secara otomatis. Begitu ia menguatkan hati begitu pula air mata itu membeku. Lalu ketika ia menarik napas dalam-dalam dan mencabut air mata itu, yang menempel di bulu matanya maka kakek di depannya kagum karena secepat itu anak ini mampu mengeraskan hatinya. Pandang matapun tiba-tiba dingin dan acuh!

“Baiklah, suhu boleh bercerita dan silakan pergi kalau memang begitu. Aku akan mendengarkan baik-baik tapi ceritakan kepadaku di mana ayah ibuku berada, anak siapa aku ini.”

“Hm, kau seperti bapakmu,” kakek itu kagum, teringat si Naga Pembunuh Giam Liong. “Kau adalah putera seorang gagah yang ditakuti banyak orang, Sin Gak. Ayahmu adalah Giam Liong, julukannya Naga Pembunuh. Kau dapat menemui ayahmu tapi sebaiknya jangan berterus terang dulu. Kau masih harus melakukan tugas yang hendak kupikulkan di pundakmu.”

“Hm, tugas apa?”

“Tugas berat, tugas yang berbahaya. Kau berani menerimanya?”

Mendadak anak itu mengedikkan kepala, matanya mencorong dan berkilat. “Percuma aku menjadi muridmu kalau tak berani menghadapi bahaya, suhu. Katakanlah tugas apa itu dan biar menerjang lautan apipun akan kulaksanakan!”

“Ha-ha, kau gagah, pemberani. Juga keras hati dan keras kemauan seperti bapakmu. Bagus, aku bangga kepadamu, Sin Gak, tapi kau belum cukup dewasa untuk mengetahui tipu daya manusia. Dengarlah, kau akan berhadapan dengan murid Te-gak Mo-ki (Si Bencong Dari Neraka) yang amat hebat itu. Kau harus melengkapi dirimu dengan sebuah benda untuk mengalahkannya, atau kau gagal dan tak akan menang meskipun telah mewarisi Pek-mo-in-kang!”

“Hm, Te-gak Mo-ki? Bukankah itu musuh suhu yang amat sakti?”

“Benar, bocah, tapi musuhku bukan ini saja. Ada satu lagi yang lain yang tak kalah berbahaya, dan sekarang aku akan bercerita!”

“Hm, ceritalah. Aku akan mendengar tapi suhu katakan dulu di mana aku dapat menemukan ayah ibuku tadi, Si Naga Pembunuh itu.”

Kakek itu tertawa. Ketika dia hendak bercerita yang lain tapi tiba-tiba kembali dan dipotong seperti itu maka iapun menjadi geli, mau tak mau mengangguk-angguk dan sadar bahwa anak ini tak dapat melupakan orang tuanya. Memang benar bahwa dia adalah Sin Gak putera Giam Liong, sementara kakek itu siapa lagi kalau bukan si kakek sakti Sian-eng jin. Dan ketika kakek itu mengurut-urut janggutnya dan menghentikan tawanya maka dia berkata bahwa ayah dari anak itu dapat dicari di dunia kang-ouw, terutama di Lembah Iblis.

“Kita di dunia lain yang tak pernah didatangi orang. Kalau kau ingin mencari ayahmu maka tentu saja kau harus turun gunung, Sin Gak, dan jauh lebih mudah mencari ayahmu itu daripada mencari tempat ini, Gunung Para Dewa. Aku akan memberimu petunjuk tapi setelah nanti kau mendengar ceritaku. Ada rahasia besar yang hendak kuberitahukan. Aku harus pergi dan sudah waktunya berpisah denganmu. Ingat, seminggu yang lalu aku sudah memberi tahu.”

“Baik,” anak itu menggigit bibir. “Kau boleh bercerita, suhu, baru setelah itu ayahku.”

Kakek ini kagum. Sin Gak ternyata mampu menahan diri menekan urusan pribadi, dingin dan acuh setelah diharuskan mendengar cerita yang lain dulu. Dan ketika anak itu memandangnya bersinar tapi kakek ini mendengar suara berkeruyuk tiba-tiba ia tertawa dan melempar sebungkus roti kering, juga sebotol arak. “Kau lapar, tak enak mendengar suara perutmu. Nih, makan dan isi perutmu, Sin Gak. Kenapa tak bilang bahwa kau lapar!”

Anak ini semburat. “Suhu mengajarkan bahwa kepentingan sendiri sebaiknya dikalahkan dengan kepentingan orang lain. Nah, aku ingin mendahulukan kepentingan suhu dan menahan kepentinganku sendiri. Aku siap mendengarkan suhu dan silakan bercerita, aku dapat menahan lapar!”

“Ha-ha, tidak. Bicara sambil mendengarkan perutmu bernyanyi membuat aku tak suka, Sin Gak. Makanlah dan biar aku bercerita sambil kau mengisi perutmu. Hayo, ambil roti itu!”

Anak ini menggigit roti kering itu. Setelah tiga hari tiga malam menghadapi Awan Iblis memang ia lapar dan haus juga, perasaan yang tak begitu ditonjolkan karena gurunya ada di situ. Bukan takut melainkan tak mau dikata sebagai anak tak tahan lapar. Derita seperti itu baginya kecil saja, karena ia pernah duduk samadhi tujuh hari tujuh malam di udara terbuka, menghisap sari-sari tenaga bumi yang lepas dari kulitnya. Tapi ketika gurunya sudah melemparkan roti itu dan juga arak pelepas haus maka ia pun meneguk arak ini dan mendorong sedikit saja roti yang telah memasuki kerongkongan.

“Bagus, kalau begini aku senang. Tak rugi mempunyai murid yang tahan banting, Sin Gak. Kau membanggakan gurumu!”

“Suhu berceritalah, aku siap mendengar,” anak itu menegur. “Aku mulai tertarik kepada ceritamu, suhu. Katakan siapa musuhmu yang lain itu. Kau sudah menyinggung-nyinggung tentang Te-gak Mo-ki ini tapi belum yang lain.”

“Ha-ha, kau tak sabar. Baiklah, Sin Gak. Kuceritakan padamu bahwa di atas dunia ini terdapat lima tokoh yang sekarang hanya boleh sebagai bayang-bayang!”

“Nanti dulu, apa maksud suhu dengan di atas dunia itu. Apakah selama ini aku dan suhu tak berada di dunia!” anak itu memotong.

“Ha-ha, benar, Sin Gak. Tapi terikat olehmu maka hari ini aku masih berada di bumi. Artinya sebelum ini aku berada di antara udara dan tanah seperti empat tokoh yang lain!”

“Hm, menarik sekali. Coba suhu lanjutkan.”

“Kau sudah mendengar tentang Hek-i Hong-li?”

“Nenek sakti sahabat suhu itu?”

“Uwah, aku tak pernah mengatakannya sebagai sahabat, Sin Gak. Nenek itu sering memusuhiku!”

“Tapi suhu mengatakannya sebagai rekan.”

“Benar, tapi bukan sahabat. Rekan dan sahabat adalah berbeda. Kami memang rekan tapi bukan sahabat!”

Anak itu mengangguk geli. “Baiklah,” katanya tak mau ambil pusing. “Ada apa dengan nenek ini dan apakah suhu akan bertanding dengannya.”

“Aku jarang bertanding, tapi sering cekcok mulut. Ha-ha, aku dan dia tak pernah akur, Sin Gak, tapi menghadapi satu hal kami sering bersatu hati. Dan itu adalah tentang musuh-musuh kami yang sama! Eh, kau sudah mendengar nama Mo-bin-jin?”

“Mo-bin-jin (Manusia Muka Iblis)? Hm, seram sekali. Suhu belum pernah bercerita.”

“Baik, dan Song-bun-liong?”

“Naga Berkabung? Ah, lagi-lagi juga belum, suhu. Semua ini baru kudengar!”

“Bagus, dan sekarang ketahuilah bahwa Mo-bin-jin dan lain-lain itu adalah lima tokoh di luar dunia yang kusebutkan itu. Kami berlima adalah orang-orang satu perguruan, begitu asalnya. Tapi ketika masing-masing berkembang dan berpisah satu sama lain maka akhirnya terjadi baku hantam dan kami pun pecah, saling membenci!”

“Hebat sekali. Kalau begitu suhu dan lain-lain itu tunggal guru? Tapi kenapa pecah dan akhirnya bermusuhan? Eh, aneh sekali mendengar ini, suhu. Kenapa kawan menjadi lawan!”

“Ceritanya panjang,” kakek itu menarik napas dalam, “tapi semua itu berawal dari tingkah laku buruk Mo-bin-jin dan Te-gak Mo-ki itu. Mereka dulu tak punya julukan seperti itu, Sin Gak, tapi setelah sepak terjang menentukan segalanya maka dua saudaraku itu berubah!”

“Apa yang terjadi,” anak itu tertarik. “Dapatkah suhu ceritakan kepadaku agar aku mengerti.”

“Memang akan kuceritakan, tapi mungkin ada yang tak kau mengerti, Sin Gak. Ini peristiwa panjang dari cinta dan nafsu!”

“Hm, apa itu,” anak ini memang kurang mengerti. “Nafsu dan cinta yang bagaimana, suhu. Bukankah cinta selalu baik dan menjadi sumber dari segala kehidupan. Kau sering mengatakan ini.”

“Benar, tapi cinta yang itu lain dengan cinta yang ini, Sin Gak. Ini adalah cinta antara lelaki dan perempuan. Ah, kau sebenarnya masih terlalu kecil mendengarkan ini!”

Anak itu berkerut kening. Bicara tentang cinta wanita dan pria memang dia belum tahu. Dia baru dua belas tahun, belum matang, apalagi sejak kecil sampai sekarang selalu berdekatan dengan gurunya ini, yang juga laki-laki. Maka ketika dia merasa heran dan bingung, cinta yang dikatakan gurunya itu berbeda dengan cinta sehari-hari yang sering didengar maka dia membelalakkan mata dan memandang gurunya itu.

“Suhu, selama ini kau bicara tentang cinta antara alam dengan manusia, antara alam dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Lalu cinta yang bagaimanakah cinta antara pria dan wanita itu? Apakah mereka juga seperti alam yang selalu memberi dan memberi?”

“Ha-ha, yang ini lain, Sin Gak. Cinta mereka itu bersifat menuntut dan meminta, bukan memberi. Bahkan kalau perlu memaksa. Dan karena cinta yang ini lain dengan cinta yang sering kukatakan, cinta alam kepada isinya maka cinta terakhir ini mengundang permusuhan, bahkan pembunuhan!”

“Hm, mengerikan sekali. Keji. Kalau begitu aku tak suka akan cinta yang seperti itu, suhu. Aku tak akan berhubungan dengan wanita!”

“Ha-ha, tak mungkin. Lelaki dan wanita sudah kodrat untuk bertemu!”

“Aku akan menghindar.”

“Bodoh, kalau begitu kau tak akan ada. Kalau semua laki-laki berpikiran seperti dirimu maka tak akan ada anak-anak lahir baru, Sin Gak, dan ayahmu juga tak akan bertemu ibumu!”

“Kenapa suhu tiba-tiba menyangkutpautkan ibuku? Apa hubungannya itu?”

“Eh, bukankah ibumu juga seorang wanita? Bicara tentang wanita berarti juga bicara tentang ibumu, Sin Gak, karena ibumu juga wanita!”

“Tapi ibuku tentunya juga tak mempunyai sifat cinta yang seperti itu, meminta dan bahkan menuntut!”

“Wah, sukar bicara tentang ini. Kau masih terlalu kanak-kanak, Sin Gak, aku tak dapat menjelaskannya lebih jauh. Pokoknya gara-gara cinta seperti ini maka kami lima tokoh pecah, bahkan bermusuhan!”

Anak itu tiba-tiba menjadi dingin. Ia mendadak tak senang mendengar itu karena teringat ayah ibunya. Masa ayah ibunya juga seperti itu. Dan ketika ia acuh mendengar kakek itu bercerita maka iapun seakan tak bernafsu mendengarkan lebih jauh.

“Kami berlima adalah empat laki-laki dan satu wanita, semuanya mula-mula berjalan biasa. Tapi ketika kami turun gunung dan menjalankan darma bakti sendiri-sendiri maka perubahan menyolok tiba-tiba muncul. Dan yang membuat ulah adalah Te-gak Mo-ki itu!”

“Apa yang dia lakukan?” Sin Gak tertarik juga, mengangkat muka.

“Saudara kami nomor tiga ini membuat kejutan. Ia berhubungan dan akrab dengan laki-laki, maksudku...”

“Ah, cocok itu. Betul!” Sin Gak tiba-tiba berseru, memotong. “Daripada berhubungan dengan wanita lebih baik dengan sesama lelaki, suhu. Kau tadi bilang bahwa cinta antara lelaki dan perempuan hanya menimbulkan permusuhan belaka. Itu betul!”

“Hush, apanya yang betul?” sang kakek melotot. “Justeru ini lebih tidak waras lagi, Sin Gak. Kalau begini semuanya dunia bakal kacau. Itu tidak betul!”

“Apanya yang tidak betul,” anak itu menukas, terbelalak. “Bukankah wanita dan laki-laki hanya menimbulkan keributan melulu, suhu. Kau tadi bilang begitu!”

“Bodoh, tolol goblok! Cinta sesama lelaki bukan cinta yang wajar, Sin Gak, itu melanggar hukum alam. Lelaki pasangannya wanita, bukan lelaki dengan lelaki. Kalau lelaki mencintai lelaki maka dunia ini tak akan berkembang!”

“Tapi suhu juga lelaki, dan suhu mencintai teecu (aku, murid) yang juga lelaki!”

“Wah, ini lain lagi, Sin Gak. Aku dan kau tak pernah mengadakan hubungan intim!”

“Hubungan intim? Hubungan apa itu?”

“Wah, repot kujelaskan. Tapi barangkali kau pernah melihat sepasang kelinci bermain cinta!”

“Maksud suhu sepasang kelinci betina dan jantan yang saling melompati punggung itu? Yang pejantannya nakal menggigit telinga dari atas?”

“Ya-ya, begitu, kurang lebih begitu. Empat hari yang lalu kau pernah bertanya tentang ini dan kujelaskan bahwa kelinci itu sedang bercinta. Jantan dan betina itu saling memadu kasih, Sin Gak, bercinta secara wajar. Tapi kalau jantan bercinta dengan jantan maka itu tidak wajar dan melanggar wet alam, dan ini tidak betul, karena yang ada hanya nafsu dan pelampiasan berahi!”

Anak laki-laki itu terbelalak. Ia belum mengerti karena memang belum dewasa, belum akil baliq. Maka ketika dia agak bingung dan gurunya juga sedikit repot, bicara dengan anak sekecil itu masih belum masanya maka kakek itu mendecakkan mulut dan berpikir keras bagaimana menerangkan yang pas.

“Wah, aku bingung. Bagaimana menjelaskannya kepadamu.”

“Aku juga, suhu. Bingung bagaimana menerima maksudmu.”

“Sudahlah, bingung ketemu bingung bisa jadi gila. Eh, kau waras atau tidak?”

“Menurut suhu bagaimana? Aku waras atau tidak?”

“Ha-ha, kau dan aku sama-sama waras, Sin Gak, tapi sekarang tiba-tiba tidak waras. Wah, bicara tentang cinta bisa membuat perutku pusing!”

“Nah, suhu tidak waras. Mana mungkin perut bisa pusing, yang pusing adalah kepala!”

“Ha-ha, benar. Ini karena kebingunganku tadi. Eh, kau yang membuat aku bingung bagaimana menjelaskan cinta antara pria dan wanita itu, Sin Gak. Kau masih pupuk bawang!”

“Kalau begitu tak usah diceritakan saja, aku juga tidak minta.”

“Wah, tidak bisa, Sin Gak. Kau harus mendengarkan ini. Kau akan dewasa dan kelak mengerti juga!”

"Tapi aku tak ingin bicara tentang wanita.”

“Salah, ibumu juga wanita. Eh, jangan memotong saja, anak bandel. Nanti aku lupa arah. Dengar dan sampai di mana tadi ceritaku!”

“Suhu bercerita tentang hubungan intim Te-gakMo-ki itu.”

“Ya-ya, benar. Hubungan itu bayangkan saja sebagai hubungan kotor seorang pria yang memaksa pria lain. Kau mau dikotori?”

Anak itu tertegun. “Tentu saja tidak.”

“Nah, kalau begitu kau mulai mengerti. Hubungan intim yang kumaksud itu adalah hubungan nafsu badani, nafsu rendah. Dan karena Te-gak Mo-ki adalah pria setengah wanita maka dia mempergunakan segala tipu daya untuk menjerat korbannya.”

“Nanti dulu! Pria setengah wanita itu bagaimana, suhu. Apakah mukanya laki-laki tubuhnya wanita!”

“Hm, repot. Pria seperti ini bisa macam-macam. Tubuhnya tetap laki-laki tapi sikap dan tutur katanya seperti perempuan, kemayu!”

“Genit?”

“Ya, genit, kemayu. Dan karena lenggang dan gayanya juga kewanita-wanitaan maka pria macam begini disebut bencong, banci! Kau pernah melihat banci?”

Anak itu menggeleng.

“Susah, bertahun-tahun ini aku tak pernah membawamu turun gunung, selalu menggembleng dengan ilmu silat. Baik, kelak kau akan tahu dan mengerti sendiri, Sin Gak. Sekarang cukup kuterangkan bahwa Te-gak Mo-ki itu adalah laki-laki tapi yang gerak-gerik dan tingkah lakunya menyerupai perempuan. Nah, dia memasang dirinya sedemikian rupa hingga laki-lakipun tertarik padanya. Tapi ketika dia bosan dan mendapat calon korban yang lain maka kekasihnya itu dibunuh!”

“Hm, ini kejam, tidak benar,” anak itu berkerut kening. “Kalau cinta tak seharusnya begitu, suhu. Berarti orang itu gila.”

“Ya, gila, tapi kegilaannya ini tak sembarang orang tahu. Nah, bukankah ini berbahaya, Sin Gak? Dan ketika kami tahu ternyata perbuatannya itu sudah lama terjadi. Artinya sebelum kami berpisah dan masing-masing turun gunung saudaraku itu sudah pernah membunuh pasangannya!”

“Hebat, kalau begitu dia cerdik sekali. Bagaimana suhu dan yang lain-lain tidak tahu.”

“Itulah, tapi seperti pepatah mengatakan serapat-rapatnya bangkai dibungkus tetap akan terbau juga, Sin Gak. Dan perbuatan Te-gak Mo-ki itu juga begitu. Kami akhirnya mulai menerima laporan!”

“Hm-hm, bagaimana itu. Siapa yang melapor.”

“Keluarga korban, yang lolos dan selamat dari tangan mautnya.”

“Suhu yang menemukan dulu?”

“Bukan, justeru saudara tertua si Naga Berkabung. Tapi celakanya dia ini diam-diam saja hingga kami semua tak tahu!”

“Suhu mau bercerita?”

“Kalau kau tertarik, benar-benar serius!”

“Ah, aku tiba-tiba ingin tahu sepak terjang paman guruku itu, suhu. Aku merasa aneh dan ganjil ada orang seperti ini!”

“Baik, kalau begitu aku akan mulai dari depan,” dan si kakek yang bersinar dan tiba-tiba mengepalkan tinju lalu mulai bercerita dari awal. Dan begitu ia bercerita mendadak Sin Gak yang tadi acuh dan agak dingin sekonyong-konyong bangkit nafsunya, nafsu mendengarkan!

* * * * * * * *

Tahun di mana matahari berada tepat di titik Bintang Timur adalah tahun yang disebut Tahun Bi-seng (Bintang Cantik). Tahun itu adalah tahun yang langka bagi umat manusia di bumi. Konon di tahun ini bintang dan segala isi langit berubah posisi. Hawa udara menjadi hangat sementara musim bunga atau semi menjadi lebih panjang. Lautan, dan juga sungai-sungai besar tak akan meluap. Segala tenang dan nyaman, damai.

Dan ketika puncak Himalaya juga kelihatan bersinar dan memantulkan cahaya sampai jauh ke ujung bumi, bagaimana mercusuar yang menerangi mayapada maka malam haripun langit tak segelap biasanya karena pantulan sinar atau cahaya dari puncak gunung tertinggi itu. Dan burung berkicau lebih riang. Hewan-hewan buas, seperti ular atau harimau yang biasanya bermusuhan pada tahun seperti ini tak memiliki nafsu saling balas. Mereka bahkan bersenda-gurau layaknya sahabat.

Harimau mempermainkan ekor ular sementara tubuh ular membelit dan bermain-main di tubuh harimau. Pada tahun Bi-seng tak ada permusuhan di antara mahluk apapun, termasuk manusia. Hal ini karena pada tahun itu udara benar-benar terasa hangat dan nyaman. Orang bahkan ingin duduk santai-santai menikmati musim bunga, atau memandang laut yang beriak kecil dengan burung-burung camar diatasnya.

Para nelayan, yang biasanya berburu ikan juga malas menyebar jala. Mereka duduk-duduk menikmati alam hening yang indah. Tak ada rasa permusuhan kepada siapapun, hati begitu adem ayem. Tapi karena tahun Bi-seng berjalan sesuai putaran roda Alam Raya, tak mungkin terus-menerus di atas bumi maka tahun itupun habis dan muncullah tahun Hek-seng (Bintang Buruk) sebagai penggantinya. Dan lautpun tiba-tiba mulai berbuih.

Ada derak di jantung setiap mahluk hidup. Ada semacam rasa gelisah yang tiba-tiba mencuat. Dan ketika gunung juga mulai menyemburkan asapnya dan bergemuruh, sinar di puncak Himalaya padam maka bumi tiba-tiba gelap dan malam yang datang menjadi pekat, panjang! Dan waktu itu turunlah lima orang di lima titik bumi: barat, timur, selatan da utara serta bagian pusat di tengah bumi yang disebut Bu-goan (Inti Gelang)!

Bu-goan atau Inti Gelang ini adalah daerah di mana titik pusat bumi berada. Biasanya, kalau di daerah ini muncul seorang berwatak mulia, maka segala di bumi terkena getarnya. Cahaya atau sinar warna-warni akan menyebar ke seluruh penjuru bumi menciptakan angin lembut cinta kasih. Tak ada perang atau kejahatan di situ. Tapi kalau daerah Bu-goan ini terinjak oleh orang berwatak keji maka kejahatan dan maut bakal ada di mana-mana. Dan kebetulan waktu itu daerah Inti Gelang ini diinjak Te-gak Mo-ki!

Seorang pemuda berpakaian sutera halus melenggang santai. Bajunya biru dengan pinggiran sabuk hitam, pantas dan serasi sekali dipakai tubuhnya. Dan karena usianya juga masih muda, tak lebih dari dua puluh dua tahun maka orang akan terpana dan kagum memandang pemuda perlente ini. Tangan kanannya memegang kipas sementara ikat pinggangnya yang panjang dibiarkan menjuntai, lepas di perut bagian depan. Tapi ketika orang memandang telinganya, melihat sepasang anting-anting dan betapa telinga itu ditindik, dilubangi sebagaimana layaknya wanita maka orang akan tertegun dan seram berhadapan dengan pemuda ini, apalagi melihat bedak dan sedikit gincu di mukanya!

Bancikah pemuda ini? Atau tidak waras? Melihat sinar matanya yang hidup sebagaimana layaknya orang sehat maka anak muda ini jelas bukan orang setengah gila. Pandang matanya sesungguhnya lembut dan berseri-seri, hanya sesekali tampak berkilat dan mengeluarkan cahaya aneh apabila melihat pemuda-pemuda tampan. Layaknya wanita yang ingin diperhatikan pria ganteng maka pemuda di depan ini juga begitu. Lenggangnya yang kewanita-wanitaan menunjukkan itu, sesekali bibirnya tersenyum genit.

Dan ketika ia memasuki sebuah kota dan kontan semua orang menengok padanya, kagum tapi heran pada pemuda bersikap kewanita-wanitaan ini maka tak perduli pandang semua orang pemuda ini memasuki sebuah rumah makan. Dan para tamupun juga menoleh. Ada kagum melihat wajah yang sebenarnya tampan itu, halus dan bersikap seperti seorang siucai (pelajar). Tapi melihat bedak dan sedikit gincu di situ, juga anting-anting di sepasang telinga indah maka orangpun tersenyum geli.

Akan tetapi tak ada yang tertawa. Sikap seperti siucai yang halus dan hormat membuat orang enggan tertawa juga. Ada semacam rasa menghargai di situ, oleh sikap dan pandang mata pemuda ini. Lalu ketika dia duduk dan sengaja memilih di tengah, jadi leluasalah para tamu mengamatinya dari segala penjuru maka pelayan datang dan pemuda ini mengeluarkan suaranya yang merdu halus, benar-benar mirip wanita.

“Pelayan, sediakan bubur ayam dan sepoci arak hangat untukku, juga kuah sayur asin. Tolong sediakan garpu dan sendok makan, jangan sumpit.”

Pelayan terheran. Dia mengangguk dan tersenyum memutar tubuh melayani permintaan itu. Hanya orang-orang luar Tiong-goan yang biasanya makan dengan sendok garpu. Tapi karena tamu adalah raja dan tentu saja tak boleh dia berayal maka pelayanpun masuk dan tak lama kemudian sudah kembali dengan semangkok bubur ayam dan sepoci arak hangat, juga kuah sayur asin.

“Nona, eh kongcu rupanya tak biasa dengan sumpit. Ini sendok garpunya dan silakan makan!”

Para tamu geli. Akhirnya pelayan salah ucap juga melihat wajah dan sikap pemuda aneh itu, yang kewanita-wanitaan. Dan ketika pemuda itu melerok dan tersenyum genit, para tamu meledak maka seorang di antaranya berseru,

“Heii, jaga mulutmu, A-song. Kongcu itu bukan nona. Jangan keliru!”

“Maaf..... maaf.....“ sang pelayan surut, menahan tawa. “Aku salah, kongcu. Silakan makan dan panggil aku kalau butuh ini-itu lagi.”

Pemuda itu tak marah. Justeru ada tamu berteriak padanya ia menjadi senang, terbukti ia melerok pada laki-laki di sudut meja itu dengan senyum mengembang, hal yang membuat tamu itu tertawa bergelak dan geli. Tapi ketika dari luar masuk enam penunggang kuda, berhenti dan turun di halaman rumah makan itu maka para tamu pun tiba-tiba terkejut dan wajah mereka tampak berubah.

“Pengawal-pengawal We-taijin...!”

Semua tiba-tiba bergerak dari kursinya. Enam laki-laki berpakaian pengawal dengan topi besi sudah masuk kedalam. Mereka gagah dan rata-rata tinggi besar, sorot mata mereka tajam dan garang menyapu semua orang. Dan ketika pelayan dan pemilik restoran tergopoh-gopoh menyambut, jelas mereka merasa takut maka pengawal di depan yang goloknya berada di pinggang berseru,

“Heii, siapkan meja untuk We-taijin dan rombongan. Satu jam lagi kami akan memborong tempatmu, Lo-haiya. Suruh tamu-tamumu pergi dan biarkan kami bebas di sini!”

Pemilik restoran mengangguk-angguk. Ia terbata menjawab berulang-ulang sementara para tamu sudah menyingkir satu persatu. Rupanya mereka sudah hapal dengan gerak-gerik dan sikap para pengawal itu, jagoan We-taijin sang wali kota. Dan ketika semua menyingkir kecuali pemuda aneh itu, yang berdandan seperti wanita maka kepala pengawal tampak melotot dan tak senang, membentak pada pemilik rumah makan.

“Siapa dia itu. Kami akan mengatur tempat ini dan tak boleh seekor tikus pun berada di sini. We-taijin akan menyambut Gubernur Hong-sang!”

“Dia..... dia, ah...!” pemilik restoran terbata dan berlari-lari kecil menghadapi tamunya yang tinggal satu-satunya ini. “Harap pergi keluar, kongcu. Segala makan minummu tak usah bayar. We-taijin akan datang, rupanya menyambut tamu agung. Silakan pergi dan besok boleh kembali lagi!”

“Hm, aku di sini sejak tadi, makanpun belum habis. Kenapa diusir? Tidak, aku pergi kalau sudah selesai, loya. Biarpun anjing menggonggong tak sudi aku angkat kaki.”

Pemilik restoran pucat. Ia melihat kepala pengawal yang garang dan melotot itu tiba-tiba bergerak. Golok dipinggang sudah dicekal dan jelas mengancam, mulutpun mengeluarkan geraman. Lalu ketika laki-laki itu berada di depan pemuda ini dan membentak, marah tapi setengah geli mendengar suara kewanita-wanitaan tadi maka ia langsung menggebrak meja dengan tangan kirinya.

“Hei, banci! Apa kau bilang tadi. Berani kau mengatai anjing menggonggong. Siapa yang kau maksud dan beranikah kau menghina Pengawal Garuda dari We-taijin!”

“Hm,” pemuda itu tiba-tiba tertawa, akan tetapi sepasang matanya berkilat. “Aku mengatai kau yang menggonggong seperti anjing, laki-laki busuk. Biarpun kau Pengawal Garuda atau Pengawal Kecoa aku tidak takut. Kau menumpahkan kuah sayur asinku, ganti!”

Kepala pengawal itu terbelalak. Ia pemimpin teman-temannya tapi bukan komandan Pengawal Garuda, hanya merupakan orang ketiga dari barisan pengawal We-taijin itu. Tapi mendengar kata-kata ini dan rambut serta kumisnya tentu saja berdiri, bukan main marahnya, maka tiba-tiba kuah sayur asin di mangkok yang tadi terpental kena gebrak sekonyong-konyong menyambar mukanya dan tanpa ampun lagi menyiram wajahnya.

“Crott!” Pengawal itu berteriak. Ia kaget dan tak sempat mengelak saking cepatnya semua ini, juga siapa mengira pemuda itu berani menyiramnya dengan kuah, padahal ia adalah Pengawal Garuda yang ditakuti semua orang. Maka ketika dia menjerit dan mendekap mukanya, kuah panas dan asin itu mengenai mata dan hidung kontan saja ia kalang-kabut dan pemuda itu terkekeh merdu. Sayur yang ada di kuah menempel di pipi dan rambut.

“Hi-hik, kau lucu, tikus besar. Kalau begini bukan Pengawal Garuda lagi, kau Pengawal Gila, ha-ha!”

Kepala pengawal itu merenggut taplak meja di sebelah, memaki-maki dan membersihkan mukanya dengan ini. Ia bagai mendidih mendengar ejekan dan kata-kata itu, lima temannya sudah bergerak dan maju pula, mengancam. Tapi ketika ia mencabut golok dan menerjang pemuda di depan meja itu, yang masih duduk tenang tiba-tiba pemuda ini menjentikkan kuku jarinya dan tahu-tahu sebuah benda putih menyambar dan mendahului menuju dada kepala pengawal itu.

“Crep!” Garpu tiba-tiba menembus dan menancap dalam. Golok yang sudah diangkat tiba-tiba berhenti di tengah jalan, kepala pengawal itu melotot tapi mengeluh roboh. Dan ketika ia menimpa meja pemuda itu dan tewas dengan tubuh menelungkup, lima temannya kaget maka mereka itu berteriak dan tentu saja marah bukan main. Pemilik restoran berteriak dan lari menjerit-jerit.

“Kau banci jahanam. Keparat, kau membunuh pemimpin kami!”

“Hm,” pemuda itu tertawa, tak mengelak. “Kalianpun akan mati seperti itu, tikus-tikus busuk, kecuali satu harus hidup untuk memberi laporan... siutt-plak-plak-plak!” entah apa yang terjadi tahu-tahu empat dari lima orang itu menjerit, roboh dan dada berlubang sementara orang terakhir mencelat dan terbanting. Pemuda itu mempergunakan taplak meja dan mengebut, ujung taplak tiba-tiba menjadi lancip dan menghantam empat pengawal itu. Lalu ketika mereka roboh dan tentu saja tewas, gemparlah rumah makan itu maka pelayan berteriak dan berhamburan keluar.

“Tolong....toloong ada pembunuhan!”

Kota menjadi ribut. Mereka berlarian dan malah menjauhi rumah makan itu. Tapi ketika terdengar derap dan belasan kuda berhenti di depan rumah makan itu maka pengawal terakhir yang dibiarkan hidup dan tertatih keluar ruangan sudah disambar temannya. Tujuh belas Pengawal Garuda datang lagi di situ, belum melihat lima tubuh yang bergeletakan mandi darah, terhalang meja dan kursi.

“Apa yang terjadi. Siapa yang membunuh. Mana Gu-twako!”

“Dia....dia...” pengawal itu pucat. “Gu-twako tewas, ciangbu (kapten). Dia dibunuh pemuda kejam!”

“Mana pemuda itu!”

“Duduk di situ !” namun ketika ia menoleh dan tak melihat siapa-siapa, pemuda itu lenyap maka ciangbu atau sang kapten sudah meloncat ke tempat yang dituding anak buahnya ini. Dan di situ baru tamplaklah lima mayat itu, dada berlubang.

“Keji, keparat jahanam. Mana pemuda itu!”

Semua terbelalak. Mereka ngeri oleh garpu yang menancap itu dan juga luka di dada kiri. Tak ada yang tahu dengan apa luka di dada itu dibuat, tentu tak bakal menyangka bahwa itu hanya oleh sebuah ujung taplak meja. Dan ketika semua berlompatan dan mencari-cari, pemuda itu tak ada maka sang kapten membentak dan menyuruh mencari di luar. Dia sendiri dan dua pembantunya mengurus mayat-mayat itu.

“Cari di luar, awas! Jangan biarkan ia lari!”

Namun pemuda itu benar-benar menghilang. Entah dimana dan kapan ia pergi akan tetapi bayangannya benar-benar tak kelihatan lagi. Ia lenyap seperti siluman. Dan ketika sang kapten bertanya tentang ciri-ciri pemuda itu maka pengawal ini gemetaran.

“Dia... dia banci yang menghina Gu-twako. Kami menyuruhnya pergi tapi tiba-tiba ia menyerang Oh, ia lihai sekali, ciangbu. Hati-hati kalau ketemu!”

“Hm, siapa namanya, atau nama julukannya.”

“Kami tak tahu. Dia... dia kusangka banci biasa. Dia iblis!”

Sang kapten mendorong. Anak buahnya itu sudah ketakutan dan roboh dibentak, ia tak suka ada musuh terlalu dipuji-puji. Dan ketika ia sendiri meloncat dan keluar mencari, tak ada dan kembali ke markas maka We-taijin terkejut mendengar laporan itu.

“Rumah makan Lo-haiya ada penjahat? Gu Mo dan empat pembantunya tewas? Ah, siapa jahanam itu, Te-ciangbu, cari dan tangkap ia sampai dapat. Tapi bagaimana ini, Gubernur hampir datang!”

“Taijin tak usah panik. Kita dapat mencari rumah makan yang lain, tapi memang tak ada yang selengkap Lo-haiya. Bagaimana kalau seadanya dulu?”

“Bodoh. Menjamu Gubernur harus baik dan lengkap, ciangbu. Mana komandan. Ui, suruh ia datang!”

“Hamba sudah di sini,” seorang laki-laki tinggi kurus berkelebat dan masuk. Inilah Ui Kam komandan Pengawal Garuda. “Hamba sudah menyuruh mengepung dan menjaga seluruh kota, taijin, tapi tugas kita terpecah dengan akan datangnya Gubernur. Apa perintah taijin tapi hamba percaya akan menemukan penjahat itu.”

“Jamuan di Lo-haiya gagal, bagaimana ini. Dapatkah kau mencarikan yang lain tapi selengkap rumah makan itu!”

“Hamba akan menyiapkan di sana saja, restoran Lo-haiya paling baik. Tak mungkin penjahat berani datang kalau kami menyiapkan seluruh kekuatan.”

“Jadi tetap di sana saja?”

“Ya, dan Te-ciangbu biar memimpin duluan, taijin. Agaknya utusan sudah datang, Gubernur tiba!”

Sang wali kota benar-benar panik. Pengawal berlarian masuk dan memberi tahu bahwa kereta Gubernur datang. Tuan rumah tak seharusnya masih di dalam dan membiarkan Gubernur turun dari kereta. Maka ketika We-taijin tergopoh dan lari tersaruk-saruk, hampir terjatuh namun disambar Ui-ciangkun maka komandannya itulah yang membimbing dan menyambut Gubernur yang sudah memasuki regol. Dan wajah Gubernur tampak gelap melihat bawahannya menyambut terlambat.

We-taijin buru-buru mengucap maaf dan terbata menceritakan peristiwa buruk, tersandung dan hampir jatuh dan kesibukan luar biasa tampak di situ. Bayangan-bayangan hitam berkelebatan dan itulah pasukan Pengawal Garuda, berjaga dan melirik sana-sini mencari pemuda yang kewanita-wanitaan itu. Dan ketika akhirnya Gubernur dapat menerima dan mengangguk-angguk, dua pemuda gagah di sampingnya berbisik perlahan maka Gubernur masuk sementara satu di antara dua pemuda itu menyelinap dan menghilang di luar.

We-taijin bingung dan gugup. Ini adalah peninjauan rutin dari atasan, seharusnya semua yang serba baik ditonjolkan. Maka ketika tiba-tiba di tempatnya ada penjahat berseliweran, membunuh lima dari Pengawal Garuda yang andalan maka pembesar itu tak tenang namun Gubernur menepuk-nepuk pundaknya. Pemeriksaan ketata-pemerintahan dilakukan, We-taijin menunjukkan ini-itu yang layak diperlihatkannya, berkas atau bukti-bukti yang diminta atasan. Lalu ketika semua selesai dan tiba untuk jamuan maka Gubernur diajak untuk santap siang, Dan restoran Lo-haiya tentu saja menjadi satu-satunya pilihan karena itulah yang terbaik dan terlengkap.

Tapi apa yang terjadi? Hal yang membuat semua orang gempar. Karena ketika semua sudah duduk dan Gubernur didampingi We-taijin mendadak pengawal menuding bangku di belakang We-taijin yang diduduki pemuda pembunuh itu, si perlente yang tersenyum-senyum dan oleh semua Pengawal Garuda disangka rombongan Gubernur, sementara Gubernur sendiri menganggap pemuda itu sebagai rombongan We-taijin!

“He, itu dia. Itu pemuda itu! Dia si banci itu!”

Mencelatlah We-taijin dari tempat duduknya. Ia begitu kaget duduk di depan penjahat sementara yang berteriak adalah pengawal yang masih hidup. Ini adalah satu-satunya saksi mata yang tahu pemuda itu, disamping Lo-haiya dan para pelayannya yang ada di belakang. Pemilik restoran tentu saja tak berani berkeliaran di depan kalau We-taijin dan para pembesar duduk bersantap, begitu juga pelayannya yang memberikan makan minum lewat bagian dalam pintu, jadi tak melihat pemuda pesolek itu. Maka ketika pengawal berteriak dan menuding, semua bergerak ke arah si banci itu maka Ui-ciangkun yang duduk tak jauh dari atasannya cepat meloncat dan menyambar pemuda itu, membentak.

“Minggir, taijin. Penjahat ini rupanya di sini!”

Semua geger dan terkejut. Gubernur sendiri yang tak menyangka dan menoleh ke belakang melihat pemuda itu tertawa. Anting-anting di telinganya bergoyang. Dan ketika ia tertegun namun disambar pemuda di sampingnya, yang bukan lain pengawal pribadi maka Ui-ciangkun melayang dan menubruk pemuda itu.

“Dukk!”

Si pemuda menangkis dan Ui-ciangkun terbanting. Segebrakan itu saja pemuda ini sudah membuat kejutan, tangkisannya juga membuat komandan Pengawal Garuda itu berteriak. Dan ketika Ui-ciangkun bergulingan dan menendang We-taijin, menjauh dari pemuda itu maka semua pasukan bergerak tapi anehnya pemuda itu masih tetap senyum-senyum tenang di tempat duduknya, bahkan tertawa, merdu bagai wanita...

Tapak Tangan Hantu Jilid 16

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 16
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“HEBAT sekali, seperti dongeng! Kalau tidak melihat kau bersungguh-sungguh tak mau aku percaya, Giam Liong. Siapakah mereka yang bertempur itu dan bagaimana gunung dan sungai-sungai sampai berbuih, apalagi Himalaya sampai menggelegar!”

“Benar, ayah, aku juga rasanya seperti mimpi. Tapi sumpah bahwa semuanya itu betul-betul terjadi. Aku sadar dan ingat baik-baik semua kejadian itu. Juga mahluk hitam tinggi besar yang akhirnya kukenal sebagai Mo-bin-jin (Manusia Muka Iblis) itu!”

“Mo-bin-jin?”

“Ya, kakek dahsyat itu. Konon ia masih saudara dari Mo-bin-lo, pencipta Golok Maut ini!”

Ju-taihiap terbelalak dan ngeri. Han Han dan isterinya yang juga mendengarkan itu tampak berdiri bulu kuduknya. Tiga orang ini merasa seram. Lalu ketika Giam Liong melanjutkan ceritanya betapa pertandingan itu menjadi seru dan lebih dahsyat maka Himalaya akhirnya meletus, disusul oleh gunung- gunung berapi lain.

“Pukulan-pukulan mereka saling sambar seperti petir. Api menyembur dari puncak gunung-gunung itu. Lalu ketika batu dan pasir-pasir panas memuncrat tinggi ke langit hitam maka angkasa menjadi merah membara dan konon tempat tinggal para dewa di kahyangan menjadi korban. Bumi di mana gunung-gunung itu berada justeru tak apa-apa, letusan itu menghantam tempat para dewa hingga di langit yang merah membara muncul ribuan mahluk berpakaian serba putih, pundak bersayap. Lalu ketika aku sadar bahwa itulah rupanya para dewa-dewi penghuni kahyangan maka Naga Berkabung yang menolongku itu berseru keras melempar seuntai tasbeh yang bijinya berhamburan menyambar lawannya itu. Sinar merah di langit membuat biji-biji tasbeh itu berkilauan, Mo-bin-jin tampak berteriak ketika satu dari biji-biji tasbeh itu mengenai matanya. Dan ketika ia meraung dan balas melempar sepotong kain hitam maka api seketika padam dan langit gelap gulita dan kakek penolongku itu terbanting dan jatuh ke bumi. Di sini aku tak tahu lagi apa yang terjadi karena pingsan. Namun ketika aku sadar dan membuka mataku maka kulihat guratan-guratan di tanah yang memberi tahu aku bahwa sebaiknya aku mencari Guci Penghisap Roh untuk memusnahkan ilmu hitam yang dimiliki Majikan Hutan Iblis!”

“Eh, apa hubungannya dengan kakek iblis Mo-bin-jin itu?”

“Erat hubungannya, ayah. Karena konon kakek itu menurunkan ilmunya kepada Majikan Hutan Iblis ini, lewat semacam ilmu hitam. Dan katanya masih ada seorang lagi yang berhubungan langsung dengan Majikan Hutan Iblis itu, seperguruan Mo-bin-jin!”

“Eh, jadi ada yang lain lagi?”

“Benar, tapi untuk yang ini aku belum tahu. Aku merasa semuanya itu seperti mimpi, mimpi buruk tapi amat dahsyat!”

Jago pedang ini meremang lagi. Ia benar-benar merasa seram oleh cerita Giam Liong itu dan sampai di sini Giam Liong berhenti. Pendekar ini memandang anak menantunya dan Han Han menarik napas dalam-dalam. Kengerian juga melanda pemuda itu. Namun ketika Han Han mendesis dan mengepal tinju, betapapun segala kejahatan tak boleh didiamkan saja maka pemuda itu berkata bahwa mereka tak perlu takut.

“Aku tak mengalami sendiri ceritamu itu, tapi aku percaya padamu. Sekarang ada empat tokoh yang kita kenal, Giam Liong, yakni Sian-eng-jin dan Hek-i Hong li serta Mo-bin-jin dan Naga Berkabung itu. Hm, mereka orang-orang luar biasa yang agaknya bukan tandingan kita. Tapi meskipun kita tak nempil melawan mereka bukan berarti kita harus takut. Aku teringat akan Guci Penghisap Roh itu, di mana dan bagaimana kita mencarinya? Apakah itu benar-benar dapat melumpuhkan ilmu hitam yang dimiliki Majikan Hutan Iblis? Bagaimana caranya?”

“Aku juga tak tahu, Han Han, tapi kakek Naga Berkabung itu menyuruhku begitu, dan aku percaya padanya. Hanya aku juga bingung di mana harus mencari!”

“Dan Majikan Hutan Iblis ternyata sudah demikian banyak. Hm, ilmu aneh apa yang kita hadapi ini, Giam Liong. Aku teringat akan kisah lama bahwa ada semacam ilmu hitam yang konon dapat merubah diri menjadi banyak. Barangkali semacam ilmu hitam itu yang dipakai lawan kita, dan kalau ini benar maka pusatnya yang harus dibunuh, bukan cadangan atau kembarannya!”

“Maksud ayah?”

“Ada semacam cerita lama yang dulu kuanggap dongeng, Giam Liong, yakni ilmu Merubah Ujud. Ilmu ini, Jin-seng-sut (Peniru Badan) namanya konon dapat menciptakan tubuh-tubuh baru sesuai pemiliknya yang asli. Dia dapat dipakai bukan untuk mencipta seorang dua saja melainkan belasan sampai puluhan orang. Kalau pemiliknya sudah sedemikian hebat maka ratusan bahkan ribuan orang dapat dicipta, persis dirinya. Dan kalau kau menghadapi demikian banyak Majikan Hutan Iblis maka aku curiga bahwa ilmu hitam Jin-seng-sut ini yang dipergunakan, dan alangkah jahatnya itu, karena orang baik-baikpun dapat dimasuki pengaruh dari ilmu ini hingga berubah seperti pencipta aslinya!”

Tang Siu mengeluarkan seruan ngeri. Nyonya itu pucat dan memeluk suaminya sementara Han Han dan Giam Liong mengangguk-angguk. Giam Liong dapat mempercayai itu. Dan ketika ia menarik napas dalam dan percaya, ia telah membuktikan sendiri maka si buntung ini berkata.

“Kalau begitu lawan yang kuhadapi adalah kembarannya, ayah. Pantas di mana-mana Majikan Hutan Iblis ada dan muncul lagi. Kalau begitu yang asli belum kutemukan, belum kubunuh. Dan alangkah hebatnya ia sekarang kalau kembarannya saja sudah seperti itu!”

“Ya, dan kita harus berhati-hati. Aku jadi tak tahu juga apakah lawan yang datang empat hari yang lalu adalah Majikan Hutan Iblis yang asli, atau jangan-jangan iapun hanya kembarannya saja!”

“Kalau begitu bagaimana usaha kita sekarang. Dan eh, aku tak melihat Giok Cheng di sini. Mana keponakanku itu!”

Giam Liong teringat dan heran memandang ke seluruh kamar. Setelah dia selesai bercerita dan ingat akan jumlah keluarga ini maka bertanyalah dia tentang Giok Cheng. Anak perempuan Han Han itu tak dilihatnya bersama ibunya, juga tidak bersama kakeknya. Tapi ketika Tang Siu terisak sementara Han Han menarik napas dalam maka saudaranya itu berkata bahwa Giok Cheng dibawa orang.

“Anak itu sudah tak ada di sini lagi, diserahkan isteriku. Sewaktu aku datang aku juga tak melihat anakku, Giam Liong, apalagi kau.”

“Dibawa orang? Diserahkan isterimu?”

“Benar,” Ju-taihiap menerangkan dan melirik menantunya itu. “Tang Siu menyerahkannya kepada nenek Hek-i Hong-li itu, Giam Liong, yakni ketika nenek itu dan Su Giok menolong kami dari kekejaman Majikan Hutan Iblis. Kami hampir binasa dan nenek itu meminta Giok Cheng.”

Giam Liong tertegun. Ju-taihiap tak menceritakan betapa menantunya itu memang sengaja ingin menyerahkan anaknya kepada nenek sakti itu, menandingi atau tak mau kalah dengan putera Giam Liong yang dibawa kakek sakti Sian-eng-jin. Tapi ketika Giam Liong mengangguk-angguk dan Tang Siu menunduk maka Han Han yang mengomel.

“Isteriku memberikannya tanpa sepengetahuanku, kalau tidak mungkin tak kuperbolehkan. Sudahlah kita tak usah bicara tentang Giok Cheng, Giam Liong. Aku ingin tahu bagaimana dengan kita sendiri, musuh kita yang semakin sakti itu!”

“Hm, saat itu kau di mana?” Giam Liong masih bicara soal Giok Cheng. “Apakah tak ada di rumah ketika Majikan Hutan Iblis ke sini?”

“Aku ke Lam-hai, menengok guruku. Dan ketika aku datang semuanya itu sudah terjadi.”

“Sudahlah tak perlu bicara itu lagi,” Ju-taihiap memotong dan menganggukkan kepalanya. “Apa yang dikata Han Han benar, Giam Liong, bagaimana sekarang kita menghadapi manusia iblis itu. Dan aku teringat bahwa kakek sakti Sian-eng-jin maupun nenek Hek-i Hong-li rupanya terikat sesuatu hingga tak boleh campur tangan secara langsung.”

“Benar,” Tang Siu tiba-tiba berseru. “Jahanam itu tak takut kepada siapapun, Giam Liong, berkata bahwa kakek itu terikat sumpah. Entahlah bohong atau tidak adanya!”

“Kupikir benar,” Ju-taihiap menganggukkan kepala. “Nenek Hek-i Hong-li itupun hanya menyuruh Su Giok dan tidak turun tangan sendiri.”

“Kalau begitu apa yang terjadi dengan orang-orang sakti itu. Rupanya kita jadi seperti hidup dalam alam dongeng!”

“Hm, kupikir satu yang dapat menolong kita, Han Han, yakni kakek dewa Bu-beng Sian-su. Bagaimana kalau kita mencari dia.”

“Benar, aku juga teringat Sian-su, ayah. Hanya dia yang dapat menolong kita!”

“Tapi kakek ini luar biasa, datang dan perginya tak ada yang tahu. Ah, bagaimana mencarinya, ayah? Sedangkan di tempat tinggalnya saja selalu kosong!”

“Hm, kau benar. Lembah Malaikat memang jarang didiami. Tapi kita wajib berusaha, Han Han, setidak-tidaknya dengan getaran batin. Marilah kita cari dia dengan cara kita dan mudah-mudahan dapat menolong!”

Han Han dan Giam Liong mengangguk-angguk. Kalau sudah demikian banyak orang-orang sakti muncul di luar kepandaian mereka maka hanya kakek itulah yang dapat ditoleh, dimintai tolong. Tapi karena kakek ini bukan manusia biasa dan pergi atau datangnya seperti dewa, belum tentu datang kalau diundang dan kadang-kadang muncul kalau tidak disangka maka Ju-taihiap yang pernah menjadi murid kakek itu meminta putera-puteranya mengadakan getaran kontak batin. Biasanya dengan begitu mereka dapat berhasil.

Maka ketika hari itu Giam Liong beristirahat di tempat ayah angkatnya ini, menyembuhkan luka sekaligus guncangan yang diterima maka Hek-yan-pang memasang kewaspadaan penuh dan diam-diam bertanya apa yang sesungguhnya terjadi pada orang-orang luar biasa yang sudah tidak terhitung sebagai manusia itu, orang-orang “super” yang layaknya seperti siluman atau iblis yang menakutkan!

* * * * * * * *

Kita tinggalkan sejenak kegalauan di tempat jago pedang dan putera-puteranya itu. Kita tengok di sebuah tempat di puncak gunung yang tinggi, Sian-thian-san (Gunung Para Dewa). Di tempat ini, jauh dari keramaian dunia seorang anak laki-laki sedang duduk bersila menghadap seorang kakek yang duduk di atas batu hitam. Anak laki-laki itu, yang usianya kurang lebih dua belas tahun tampak duduk dengan tenang tanpa baju.

Dia hanya mengenakan celana pendek putih sederhana, bertelanjang kaki dan tidak memakai apa-apa lagi dan orang akan terkejut melihat betapa tempat yang diduduki anak ini adalah sebongkah es besar yang beruap dan dingin membeku. Hawa di sekitar situ juga dingin luar biasa terbukti dengan kabut yang lewat di puncak gunung. Dari bawah kabut atau awan putih ini bergerak naik, perlahan dan berat sementara daun-daun atau pohon yang dilewati tiba-tiba mengeluarkan bunyi seperti es berdetak, langsung memutih dan beku seketika.

Dan ketika awan berat atau kabut dingin itu terus bergerak naik, pohon atau dedaunan masih beku memutih maka dapat dibayangkan betapa dinginnya uap atau kabut berat itu. Dan seekor kelinci hutan tiba-tiba berteriak kaget. Kelinci yang meloncat dan hendak bersembunyi memasuki semak-semak namun terlambat itu tiba-tiba disergap kabut ini. Hawa luar biasa dingin dan membekukan tulang rupanya membuat kelinci itu berat meloncat. Ia terbungkus dan melonjak-lonjak sejenak, roboh dan tiba-tiba kejang untuk akhirnya tewas ketika kabut meninggalkan dirinya, bergerak dan terus naik ke atas sementara kelinci itu telah beku.

Tubuh dan bulunya kaku mencuat bagai duri-duri dingin. Begitu hebatnya kabut atau awan dingin itu. Dan ketika kabut terus naik ke atas sementara yang di bawah masih juga menyusul, keadaan menjadi gelap oleh puluhan bahkan ratusan kabut putih ini maka anak di puncak gunung yang sama sekali tak berbaju dan bertelanjang kaki itu enak saja bersila menghadapi kakek di depannya yang duduk di batu hitam.

“Ha-ha, ujian pertama mulai. Pek-mo-in akan menyerangmu dan menutup puncak selama tiga hari tiga malam, Sin Gak. Inilah hari yang kutunggu-tunggu dan berhati-hatilah. Aku duduk di sini menunggumu dan kerahkan sinkangmu (hawa sakti) ke pusar. Awas, buka semua jalan darah dan biarkan mujijat Pek-mo-in menyerap masuk ke tubuhmu!”

Sin Gak, anak itu mengangguk tenang. Dia memandang kakek di depannya dengan mata bersinar-sinar sementara kabut di bawahnya terus bergerak naik. Kabut itu bersatu dengan kabut-kabut lain dan ketebalannya kini semakin menggila saja. Semakin tinggi semakin berat bertemu teman-temannya, menyatu dan membentuk gumpalan awan tebal yang dinginnya semakin luar biasa. Di bawah gunung mereka masih memiliki ketebalan seinci dua inci, semakin tinggi semakin berat dan memiliki ketebalan dua tiga kaki. Lalu ketika terus naik ke atas dan ketebalannya sudah enam atau tujuh meter, orang tak mungkin dapat bernapas dibungkus kabut ini maka mautlah ancamannya bagi siapa yang berani coba-coba!

Tapi anak itu masih tegak di situ, duduk tak bergeming. Awan semakin berat dan mengeluarkan ledakan-ledakan ketika membentur dinding gunung, sebagian pecah dan jatuh membentuk sebongkah es besar. Paling kecil sebesar kepala gajah! Dan ketika kabut raksasa itu sudah semakin dekat dan berat mendekati puncak, berarti juga anak laki-laki itu maka sebatang pohon tiba-tiba tumbang dihantam kabut tebal raksasa ini. Dan jarak dengan anak itu sudah tinggal beberapa meter saja!

“Ha-ha, awas, Gak-ji (anak Gak). Pek-mo-in datang!”

Anak itu menoleh. Rupanya terkejut oleh bunyi pohon tumbang iapun menggerakkan kepala ke belakang. Batu es yang didudukinya retak, tergetar oleh derak pohon roboh itu. Tapi ketika wajahnya malah berseri-seri dan anak ini berseru keras mendadak ia memutar tubuhnya membalik menyambut kabut tebal dingin itu, si raksasa berhawa maut.

“Pek-mo-in, kemarilah. Bungkuslah aku, satukan tubuhmu!”

Si kakek tertawa bergelak. Entah bagaimana mendadak ia lenyap, Sin Gak merentangkan tangan dan bergeraklah awan raksasa itu membungkus. Mula-mula ujungnya menyentuh jari-jari si bocah, Sin Gak tampak tergetar dan ujung tulang jarinya berkeratak. Jari itu seketika putih, beku. Lalu ketika Pek-mo-in menjalar dan membungkus lengan serta bagian depan wajah anak ini maka Sin Gak terbatuk dan seketika tak dapat bernapas. Uap beku memasuki kedua lubang hidungnya.

“Tahan napas, buka semua jalan darah. Biarkan mujijat Pek-mo-in memasuki tubuhmu!”

Anak ini tergetar. Jelas dia merasa kedinginan dan pucat namun tak mau menyerah begitu saja. Awan raksasa dingin tebal yang membekukan tulang diterima, jalan darahnya dibuka dan masuklah uap dingin itu ke segenap syarafnya. Dan ketika ia menjadi kaku namun sadar sepenuhnya, sang guru meneriakkan aba-aba untuk menghembus dan menahan napas maka tampaklah kejadian aneh yang indah namun mendebarkan.

“Kerahkan sinkang, tiup dan dorong Pek-mo-in di lubang hidungmu. Bagus, sedot dan hembuslah kuat-kuat, Gak-ji. Tujukan perhatian pada kabut di depan mulut. Buka, hembus kuat-kuat!”

Awan berlubang tapi menutup lagi. Sin Gak memperhatikan aba-aba gurunya dan perhatian terpusat pada serangan kabut ini. Bagian yang paling berbahaya adalah di depan hidung dan mulut. Sekali lengah uap beku bisa menutup segala-galanya. Ia memperbolehkan Pek-mo-in memasuki tubuhnya tapi bukan hidung dan mulut. Dua bagian ini harus dicegah dan dilindungi. Paru-parunya tak boleh kemasukan kabut berbahaya itu. Maka ketika ia menghembus dan Pek-mo-in terdorong, datang dan dihembus lagi maka tubuh anak itu sudah tertutup rapat kecuali dua lubang di bagian mulut dan hidung ini.

“Ha-ha, bagus. Hembus dan sedot lagi. Bagus, hembus dan sedot lagi, Sin Gak. Dorong Pek-mo-in di depan hidung dan mulut sekuat tenaga. Serap kekuatan mujijat pengaruh gaib Pek-mo-in ke seluruh tubuhmu. Biarkan seluruh syarafmu menerimanya!”

Anak itu berjuang. Sin Gak mula-mula merasa mampu namun awan raksasa itu semakin tebal saja. Kabut yang semula tebalnya enam tujuh meter ini menjadi bertambah. Hal ini disebabkan kabut di bawahnya menyatu dan menggumpal, naik tapi tertahan di situ dan akibatnya anak ini merasa tekanan yang dahsyat. Pek-mo-in yang berkumpul dan menyatu di situ sudah setebal sepuluh meter. Lalu ketika perlahan-lahan semakin tebal dan berat, anak itu merasa ditindih beberapa ekor gajah maka kakek di luar yang tidak kelihatan itu berseru agar dia tidak kehilangan kesadaran.

“Awas, jaga bagian hidung dan mulut. Jangan biarkan dua tempat ini tertutup rapat, Sin Gak. Hembus dan dorong mereka kuat-kuat agar tak menutupi hidungmu!”

Anak itu pucat. Ia mulai gemetaran dan dingin luar dalam. Dari dalam ia diserang Pek-mo-in sementara dari luar oleh kabut yang kian tebal itu. Puncak gunung sekarang tertutup rapat dan ketebalan awan ini sudah lima belas meter. Dua lubang kecil yang dibuat Sin Gak tertutup dan berlubang berulang-ulang. Sin Gak harus menyedot udara dari luar sementara menghembus Pek-mo-in agar tidak menutupi jalan pernapasannya. Dan ketika ia megap-megap namun si kakek membentaknya agar bertahan sekuat tenaga, ia harus menerima mujijat positip dari Awan Iblis ini maka Pek-mo-in (Awan Iblis Putih) sudah membekukan puncak gunung dan satu demi satu pohon-pohonpun tumbang dihantam awan raksasa ini.

Sin Gak benar-benar berjuang mati hidup sementara gurunya berteriak-teriak. Awan yang semakin tebal dan membukit itu kian berat menindih. Simpul-simpul syaraf yang dimasuki Pek-mo-in ini juga mulai penuh, anak itu tergetar dan bergoyang-goyang. Dan ketika awan ini menggumpal dahsyat, lubang di depan hidung dan mulut Sin Gak lebih sering tertutup daripada terbuka maka kakek itu berseru dan tiba-tiba muncul menghantamkan tangannya ke depan.

“Sin Gak, anak tolol kau. Kalau kau mampus ditelan Pek-mo-in ini maka ibu atau ayahmupun tak dapat mengampunimu lagi. Heh, sadar, anak busuk. Tutup hidungmu rapat-rapat dan kini hembuslah Pek-mo-in dengan mulutmu kuat-kuat!”

Anak itu tersentak. Gurunya menghantam awan raksasa itu dan kabut di depan mukanya hancur. Ledakan membuat ia sadar. Dan ketika sejenak ia melihat gurunya di sana dengan mata melotot, awan menutup dan bergerak menggumpal lagi maka tiba-tiba ia berseru keras menyemburkan hawa dari mulutnya, kuat-kuat. “Suhu, aku masih ingin melihat ayah ibuku. Lihat Pek-mo-in kugempur dan aku ingin hidup!”

Awan di wajah anak ini membuyar. Semburan kuat dari mulut anak itu membuat si kakek tertawa bergelak. Hal itu menandakan bahwa simpul-simpul syaraf anak ini telah kemasukan Pek-mo-in-kang (Tenaga Awan Iblis), dahsyat menggetarkan dan robohlah awan di depan wajah itu. Dan ketika si kakek tampak kembali namun anak itu tetap duduk membeku, kaki dan tangannya tak dapat digerakkan maka kakek itu berseru agar semua kekuatan di simpul syaraf digerakkan ke daerah pusar.

“Kau telah menerima mujijat Pek-mo-in-kang, satukan ia di tan-tian (pusat). Heh, jangan biarkan mereka berlarian, Sin Gak. Kejadian begini belum tentu sepuluh tahun terjadi. Ayo, gerakkan siku dan kedua lututmu bersamaan.”

Anak itu terbelalak. Ia mencoba menggerakkan siku dan lututnya akan tetapi gagal, persendian dua tempat itu kaku. Seluruh tubuhnya sesungguhnya telah beku oleh sergapan Pek-mo-in itu. Tapi ketika si kakek tiba-tiba melancarkan totokan dan sinar merah menembus awan putih maka siku dan lutut anak itu dapat digerakkan.

“Heh, cepat dan jangan buang waktu lagi. Gerakkan lutut dan sikumu, Sin Gak. Atau nanti beku kembali dan kau tak dapat menyalurkan Pek-mo-in-kang!”

Anak itu girang. Akhirnya ia berseru bahwa lutut dan sikunya dapat digerakkan, simpul syaraf mengalir kencang di bagian ini, tempat itu telah terbuka. Lalu ketika tempat-tempat lain juga digerakkan dan tenaga dahsyat mengalir bagai air banjir, itulah Pek-mo-in-kang yang telah mengendap dan memenuhi ujung-ujung syarafnya maka kakek itu menghilang dan tertawa bergelak di luar kabut dingin.

“Bagus, sekarang tiuplah mulut kuat-kuat. Lihat betapa kabut di depanmu akan buyar, Sin Gak, mereka pasti berantakan dan hancur!”

Anak itu meniup. Hawa yang dahsyat tiba-tiba menghembus, tenaga dari Pek-mo-in-kang bekerja. Dan ketika kabut di depannya buyar dan pecah, bukan lagi lubang kecil sebesar tiupan mulutnya maka awan meledak dan terlemparlah bagian depan kabut dingin itu menghantam dinding.

“Blarrr!”

Sin Gak tercengang sendiri. Ia ternyata mampu mendorong mundur kabut raksasa itu, tertawa dan meniup lagi kuat-kuat. Lalu ketika kabut terpental dan meledak menghantam dinding gunung maka gurunya terbahak-bahak dan menyuruh ia menggerakkan tangan mendorong.

“Bagus, pergunakan tanganmu, Sin Gak. Sekarang pergunakan tanganmu, dorong dan pukul kuat-kuat!”

Anak itu mengangguk. Ia telah meniup dengan mulutnya dan kini bergerak melepas tangan ke depan. Angin tiba-tiba menyambar dan pecahlah kabut raksasa itu, meledak. Dan ketika awan tebal itu hancur berantakan, datang dan menyerang lagi maka berulang-ulang anak ini menggerakkan kaki tangannya mendorong dan menampar, menerima petunjuk-petunjuk dari gurunya dan tiba-tiba berdirilah anak itu menahan beban. Ia telah mengangkat tangan tinggi ke atas dan gumpalan kabut raksasa berada di telapaknya. Lalu ketika dia mendorong dan membentak nyaring maka kabut itu terlempar dan mencelat tinggi bagai sebongkah batu raksasa putih sebesar bukit, enam atau tujuh meter.

“Bagus, ha-ha, bagus. Terima dan lempar lagi, Sin Gak. Lempar lebih tinggi!”

Anak itu berseri. Ia mengangguk dan menerima kabut raksasa itu dan mendorongnya lagi, membentak. Kabut terlempar lagi lebih tinggi. Lalu ketika kabut itu jatuh diterima lagi, dilempar dan diterima maka anak ini seolah bermain-main dengan sebuah bola raksasa yang amat mentakjubkan. Kabut itu sudah setinggi bukit dan orang akan merasa kagum bukan main akan kehebatan anak ini. Pek-mo-in adalah gumpalan air yang siap pecah, awan beku itu bukanlah barang main-main. Dan ketika akhirnya benda raksasa itu meledak dan pecah, bongkahan es sebesar kerbau melayang jatuh maka Sin Gak tertimpa tapi benda itu malah hancur sendiri bertemu anak ini.

Dan kabut di bawah gunung melayang naik lagi, berkumpul dan menyatu untuk kemudian menyergap anak itu. Sin Gak telah menyerap Pek-mo-in-kang dan anak itu mendorong dan melempar lagi kabut ini tinggi-tinggi, meledak dan hancur untuk kemudian menerima yang lain lagi. Dan ketika kejadian itu terus berulang-ulang sampai tiga hari tiga malam, kakek di luar itu terbahak-bahak, maka awan tebal ini akhirnya habis dan sisanya yang lain tak berani mendekati puncak Sian-thian-san lagi, gentar terhadap anak itu, menyingkir dan lari menjauh meninggalkan si bocah sakti!

“Ha-ha, selesai. Kau telah berhasil menerima dan melatih Pek-mo-in-kang. Di dunia ini takkan ada tokoh-tokoh kelas satu yang mampu menandingimu, Sin Gak. Jago pedang Ju-taihiappun tak akan menang. Ha-ha, cukup. Selesai sudah!”

Sin Gak terduduk. Anak ini jatuh dan kelelahan namun wajah dan pandang matanya tetap berseri-seri. Ia telah mampu mendorong awan raksasa, awan bukan sembarang awan, karena itulah Awan Iblis yang membekukan tulang. Tersentuh sedikit saja orang dapat tewas. Maka ketika gurunya berseru dan ia terhuyung roboh, akhirnya kelelahan maka kakek itu menyambarnya dan mendudukkannya di batu hitam.

“Kau pantas bertahta di sini. Mulai sekarang Sian-thian-san adalah milikmu, Sin Gak. Sejak hari ini kau mulai belajar sendiri!”

Anak itu terbelalak, mengusap keringat. “Maksud suhu?”

“Aku sudah menggemblengmu cukup, tugas terakhir memberimu Tenaga Awan Iblis sudah selesai. Nah, kita duduk dan setelah itu aku pergi!”

“Suhu...!”

“Dengar. Sudah kuberitahukan kepadamu bahwa gurumu terikat sumpah, Sin Gak. Bahwa aku tak boleh mencampuri urusan dunia secara langsung. Nah, kaulah wakilku, dan akan kuceritakan padamu sebuah rahasia yang tak diketahui orang!”

Anak itu terkejut. Ia tiba-tiba mau menangis namun air mata yang siap runtuh mendadak beku. Pek-mo-in-kang, tenaga yang dimilikinya tiba-tiba bekerja secara otomatis. Begitu ia menguatkan hati begitu pula air mata itu membeku. Lalu ketika ia menarik napas dalam-dalam dan mencabut air mata itu, yang menempel di bulu matanya maka kakek di depannya kagum karena secepat itu anak ini mampu mengeraskan hatinya. Pandang matapun tiba-tiba dingin dan acuh!

“Baiklah, suhu boleh bercerita dan silakan pergi kalau memang begitu. Aku akan mendengarkan baik-baik tapi ceritakan kepadaku di mana ayah ibuku berada, anak siapa aku ini.”

“Hm, kau seperti bapakmu,” kakek itu kagum, teringat si Naga Pembunuh Giam Liong. “Kau adalah putera seorang gagah yang ditakuti banyak orang, Sin Gak. Ayahmu adalah Giam Liong, julukannya Naga Pembunuh. Kau dapat menemui ayahmu tapi sebaiknya jangan berterus terang dulu. Kau masih harus melakukan tugas yang hendak kupikulkan di pundakmu.”

“Hm, tugas apa?”

“Tugas berat, tugas yang berbahaya. Kau berani menerimanya?”

Mendadak anak itu mengedikkan kepala, matanya mencorong dan berkilat. “Percuma aku menjadi muridmu kalau tak berani menghadapi bahaya, suhu. Katakanlah tugas apa itu dan biar menerjang lautan apipun akan kulaksanakan!”

“Ha-ha, kau gagah, pemberani. Juga keras hati dan keras kemauan seperti bapakmu. Bagus, aku bangga kepadamu, Sin Gak, tapi kau belum cukup dewasa untuk mengetahui tipu daya manusia. Dengarlah, kau akan berhadapan dengan murid Te-gak Mo-ki (Si Bencong Dari Neraka) yang amat hebat itu. Kau harus melengkapi dirimu dengan sebuah benda untuk mengalahkannya, atau kau gagal dan tak akan menang meskipun telah mewarisi Pek-mo-in-kang!”

“Hm, Te-gak Mo-ki? Bukankah itu musuh suhu yang amat sakti?”

“Benar, bocah, tapi musuhku bukan ini saja. Ada satu lagi yang lain yang tak kalah berbahaya, dan sekarang aku akan bercerita!”

“Hm, ceritalah. Aku akan mendengar tapi suhu katakan dulu di mana aku dapat menemukan ayah ibuku tadi, Si Naga Pembunuh itu.”

Kakek itu tertawa. Ketika dia hendak bercerita yang lain tapi tiba-tiba kembali dan dipotong seperti itu maka iapun menjadi geli, mau tak mau mengangguk-angguk dan sadar bahwa anak ini tak dapat melupakan orang tuanya. Memang benar bahwa dia adalah Sin Gak putera Giam Liong, sementara kakek itu siapa lagi kalau bukan si kakek sakti Sian-eng jin. Dan ketika kakek itu mengurut-urut janggutnya dan menghentikan tawanya maka dia berkata bahwa ayah dari anak itu dapat dicari di dunia kang-ouw, terutama di Lembah Iblis.

“Kita di dunia lain yang tak pernah didatangi orang. Kalau kau ingin mencari ayahmu maka tentu saja kau harus turun gunung, Sin Gak, dan jauh lebih mudah mencari ayahmu itu daripada mencari tempat ini, Gunung Para Dewa. Aku akan memberimu petunjuk tapi setelah nanti kau mendengar ceritaku. Ada rahasia besar yang hendak kuberitahukan. Aku harus pergi dan sudah waktunya berpisah denganmu. Ingat, seminggu yang lalu aku sudah memberi tahu.”

“Baik,” anak itu menggigit bibir. “Kau boleh bercerita, suhu, baru setelah itu ayahku.”

Kakek ini kagum. Sin Gak ternyata mampu menahan diri menekan urusan pribadi, dingin dan acuh setelah diharuskan mendengar cerita yang lain dulu. Dan ketika anak itu memandangnya bersinar tapi kakek ini mendengar suara berkeruyuk tiba-tiba ia tertawa dan melempar sebungkus roti kering, juga sebotol arak. “Kau lapar, tak enak mendengar suara perutmu. Nih, makan dan isi perutmu, Sin Gak. Kenapa tak bilang bahwa kau lapar!”

Anak ini semburat. “Suhu mengajarkan bahwa kepentingan sendiri sebaiknya dikalahkan dengan kepentingan orang lain. Nah, aku ingin mendahulukan kepentingan suhu dan menahan kepentinganku sendiri. Aku siap mendengarkan suhu dan silakan bercerita, aku dapat menahan lapar!”

“Ha-ha, tidak. Bicara sambil mendengarkan perutmu bernyanyi membuat aku tak suka, Sin Gak. Makanlah dan biar aku bercerita sambil kau mengisi perutmu. Hayo, ambil roti itu!”

Anak ini menggigit roti kering itu. Setelah tiga hari tiga malam menghadapi Awan Iblis memang ia lapar dan haus juga, perasaan yang tak begitu ditonjolkan karena gurunya ada di situ. Bukan takut melainkan tak mau dikata sebagai anak tak tahan lapar. Derita seperti itu baginya kecil saja, karena ia pernah duduk samadhi tujuh hari tujuh malam di udara terbuka, menghisap sari-sari tenaga bumi yang lepas dari kulitnya. Tapi ketika gurunya sudah melemparkan roti itu dan juga arak pelepas haus maka ia pun meneguk arak ini dan mendorong sedikit saja roti yang telah memasuki kerongkongan.

“Bagus, kalau begini aku senang. Tak rugi mempunyai murid yang tahan banting, Sin Gak. Kau membanggakan gurumu!”

“Suhu berceritalah, aku siap mendengar,” anak itu menegur. “Aku mulai tertarik kepada ceritamu, suhu. Katakan siapa musuhmu yang lain itu. Kau sudah menyinggung-nyinggung tentang Te-gak Mo-ki ini tapi belum yang lain.”

“Ha-ha, kau tak sabar. Baiklah, Sin Gak. Kuceritakan padamu bahwa di atas dunia ini terdapat lima tokoh yang sekarang hanya boleh sebagai bayang-bayang!”

“Nanti dulu, apa maksud suhu dengan di atas dunia itu. Apakah selama ini aku dan suhu tak berada di dunia!” anak itu memotong.

“Ha-ha, benar, Sin Gak. Tapi terikat olehmu maka hari ini aku masih berada di bumi. Artinya sebelum ini aku berada di antara udara dan tanah seperti empat tokoh yang lain!”

“Hm, menarik sekali. Coba suhu lanjutkan.”

“Kau sudah mendengar tentang Hek-i Hong-li?”

“Nenek sakti sahabat suhu itu?”

“Uwah, aku tak pernah mengatakannya sebagai sahabat, Sin Gak. Nenek itu sering memusuhiku!”

“Tapi suhu mengatakannya sebagai rekan.”

“Benar, tapi bukan sahabat. Rekan dan sahabat adalah berbeda. Kami memang rekan tapi bukan sahabat!”

Anak itu mengangguk geli. “Baiklah,” katanya tak mau ambil pusing. “Ada apa dengan nenek ini dan apakah suhu akan bertanding dengannya.”

“Aku jarang bertanding, tapi sering cekcok mulut. Ha-ha, aku dan dia tak pernah akur, Sin Gak, tapi menghadapi satu hal kami sering bersatu hati. Dan itu adalah tentang musuh-musuh kami yang sama! Eh, kau sudah mendengar nama Mo-bin-jin?”

“Mo-bin-jin (Manusia Muka Iblis)? Hm, seram sekali. Suhu belum pernah bercerita.”

“Baik, dan Song-bun-liong?”

“Naga Berkabung? Ah, lagi-lagi juga belum, suhu. Semua ini baru kudengar!”

“Bagus, dan sekarang ketahuilah bahwa Mo-bin-jin dan lain-lain itu adalah lima tokoh di luar dunia yang kusebutkan itu. Kami berlima adalah orang-orang satu perguruan, begitu asalnya. Tapi ketika masing-masing berkembang dan berpisah satu sama lain maka akhirnya terjadi baku hantam dan kami pun pecah, saling membenci!”

“Hebat sekali. Kalau begitu suhu dan lain-lain itu tunggal guru? Tapi kenapa pecah dan akhirnya bermusuhan? Eh, aneh sekali mendengar ini, suhu. Kenapa kawan menjadi lawan!”

“Ceritanya panjang,” kakek itu menarik napas dalam, “tapi semua itu berawal dari tingkah laku buruk Mo-bin-jin dan Te-gak Mo-ki itu. Mereka dulu tak punya julukan seperti itu, Sin Gak, tapi setelah sepak terjang menentukan segalanya maka dua saudaraku itu berubah!”

“Apa yang terjadi,” anak itu tertarik. “Dapatkah suhu ceritakan kepadaku agar aku mengerti.”

“Memang akan kuceritakan, tapi mungkin ada yang tak kau mengerti, Sin Gak. Ini peristiwa panjang dari cinta dan nafsu!”

“Hm, apa itu,” anak ini memang kurang mengerti. “Nafsu dan cinta yang bagaimana, suhu. Bukankah cinta selalu baik dan menjadi sumber dari segala kehidupan. Kau sering mengatakan ini.”

“Benar, tapi cinta yang itu lain dengan cinta yang ini, Sin Gak. Ini adalah cinta antara lelaki dan perempuan. Ah, kau sebenarnya masih terlalu kecil mendengarkan ini!”

Anak itu berkerut kening. Bicara tentang cinta wanita dan pria memang dia belum tahu. Dia baru dua belas tahun, belum matang, apalagi sejak kecil sampai sekarang selalu berdekatan dengan gurunya ini, yang juga laki-laki. Maka ketika dia merasa heran dan bingung, cinta yang dikatakan gurunya itu berbeda dengan cinta sehari-hari yang sering didengar maka dia membelalakkan mata dan memandang gurunya itu.

“Suhu, selama ini kau bicara tentang cinta antara alam dengan manusia, antara alam dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Lalu cinta yang bagaimanakah cinta antara pria dan wanita itu? Apakah mereka juga seperti alam yang selalu memberi dan memberi?”

“Ha-ha, yang ini lain, Sin Gak. Cinta mereka itu bersifat menuntut dan meminta, bukan memberi. Bahkan kalau perlu memaksa. Dan karena cinta yang ini lain dengan cinta yang sering kukatakan, cinta alam kepada isinya maka cinta terakhir ini mengundang permusuhan, bahkan pembunuhan!”

“Hm, mengerikan sekali. Keji. Kalau begitu aku tak suka akan cinta yang seperti itu, suhu. Aku tak akan berhubungan dengan wanita!”

“Ha-ha, tak mungkin. Lelaki dan wanita sudah kodrat untuk bertemu!”

“Aku akan menghindar.”

“Bodoh, kalau begitu kau tak akan ada. Kalau semua laki-laki berpikiran seperti dirimu maka tak akan ada anak-anak lahir baru, Sin Gak, dan ayahmu juga tak akan bertemu ibumu!”

“Kenapa suhu tiba-tiba menyangkutpautkan ibuku? Apa hubungannya itu?”

“Eh, bukankah ibumu juga seorang wanita? Bicara tentang wanita berarti juga bicara tentang ibumu, Sin Gak, karena ibumu juga wanita!”

“Tapi ibuku tentunya juga tak mempunyai sifat cinta yang seperti itu, meminta dan bahkan menuntut!”

“Wah, sukar bicara tentang ini. Kau masih terlalu kanak-kanak, Sin Gak, aku tak dapat menjelaskannya lebih jauh. Pokoknya gara-gara cinta seperti ini maka kami lima tokoh pecah, bahkan bermusuhan!”

Anak itu tiba-tiba menjadi dingin. Ia mendadak tak senang mendengar itu karena teringat ayah ibunya. Masa ayah ibunya juga seperti itu. Dan ketika ia acuh mendengar kakek itu bercerita maka iapun seakan tak bernafsu mendengarkan lebih jauh.

“Kami berlima adalah empat laki-laki dan satu wanita, semuanya mula-mula berjalan biasa. Tapi ketika kami turun gunung dan menjalankan darma bakti sendiri-sendiri maka perubahan menyolok tiba-tiba muncul. Dan yang membuat ulah adalah Te-gak Mo-ki itu!”

“Apa yang dia lakukan?” Sin Gak tertarik juga, mengangkat muka.

“Saudara kami nomor tiga ini membuat kejutan. Ia berhubungan dan akrab dengan laki-laki, maksudku...”

“Ah, cocok itu. Betul!” Sin Gak tiba-tiba berseru, memotong. “Daripada berhubungan dengan wanita lebih baik dengan sesama lelaki, suhu. Kau tadi bilang bahwa cinta antara lelaki dan perempuan hanya menimbulkan permusuhan belaka. Itu betul!”

“Hush, apanya yang betul?” sang kakek melotot. “Justeru ini lebih tidak waras lagi, Sin Gak. Kalau begini semuanya dunia bakal kacau. Itu tidak betul!”

“Apanya yang tidak betul,” anak itu menukas, terbelalak. “Bukankah wanita dan laki-laki hanya menimbulkan keributan melulu, suhu. Kau tadi bilang begitu!”

“Bodoh, tolol goblok! Cinta sesama lelaki bukan cinta yang wajar, Sin Gak, itu melanggar hukum alam. Lelaki pasangannya wanita, bukan lelaki dengan lelaki. Kalau lelaki mencintai lelaki maka dunia ini tak akan berkembang!”

“Tapi suhu juga lelaki, dan suhu mencintai teecu (aku, murid) yang juga lelaki!”

“Wah, ini lain lagi, Sin Gak. Aku dan kau tak pernah mengadakan hubungan intim!”

“Hubungan intim? Hubungan apa itu?”

“Wah, repot kujelaskan. Tapi barangkali kau pernah melihat sepasang kelinci bermain cinta!”

“Maksud suhu sepasang kelinci betina dan jantan yang saling melompati punggung itu? Yang pejantannya nakal menggigit telinga dari atas?”

“Ya-ya, begitu, kurang lebih begitu. Empat hari yang lalu kau pernah bertanya tentang ini dan kujelaskan bahwa kelinci itu sedang bercinta. Jantan dan betina itu saling memadu kasih, Sin Gak, bercinta secara wajar. Tapi kalau jantan bercinta dengan jantan maka itu tidak wajar dan melanggar wet alam, dan ini tidak betul, karena yang ada hanya nafsu dan pelampiasan berahi!”

Anak laki-laki itu terbelalak. Ia belum mengerti karena memang belum dewasa, belum akil baliq. Maka ketika dia agak bingung dan gurunya juga sedikit repot, bicara dengan anak sekecil itu masih belum masanya maka kakek itu mendecakkan mulut dan berpikir keras bagaimana menerangkan yang pas.

“Wah, aku bingung. Bagaimana menjelaskannya kepadamu.”

“Aku juga, suhu. Bingung bagaimana menerima maksudmu.”

“Sudahlah, bingung ketemu bingung bisa jadi gila. Eh, kau waras atau tidak?”

“Menurut suhu bagaimana? Aku waras atau tidak?”

“Ha-ha, kau dan aku sama-sama waras, Sin Gak, tapi sekarang tiba-tiba tidak waras. Wah, bicara tentang cinta bisa membuat perutku pusing!”

“Nah, suhu tidak waras. Mana mungkin perut bisa pusing, yang pusing adalah kepala!”

“Ha-ha, benar. Ini karena kebingunganku tadi. Eh, kau yang membuat aku bingung bagaimana menjelaskan cinta antara pria dan wanita itu, Sin Gak. Kau masih pupuk bawang!”

“Kalau begitu tak usah diceritakan saja, aku juga tidak minta.”

“Wah, tidak bisa, Sin Gak. Kau harus mendengarkan ini. Kau akan dewasa dan kelak mengerti juga!”

"Tapi aku tak ingin bicara tentang wanita.”

“Salah, ibumu juga wanita. Eh, jangan memotong saja, anak bandel. Nanti aku lupa arah. Dengar dan sampai di mana tadi ceritaku!”

“Suhu bercerita tentang hubungan intim Te-gakMo-ki itu.”

“Ya-ya, benar. Hubungan itu bayangkan saja sebagai hubungan kotor seorang pria yang memaksa pria lain. Kau mau dikotori?”

Anak itu tertegun. “Tentu saja tidak.”

“Nah, kalau begitu kau mulai mengerti. Hubungan intim yang kumaksud itu adalah hubungan nafsu badani, nafsu rendah. Dan karena Te-gak Mo-ki adalah pria setengah wanita maka dia mempergunakan segala tipu daya untuk menjerat korbannya.”

“Nanti dulu! Pria setengah wanita itu bagaimana, suhu. Apakah mukanya laki-laki tubuhnya wanita!”

“Hm, repot. Pria seperti ini bisa macam-macam. Tubuhnya tetap laki-laki tapi sikap dan tutur katanya seperti perempuan, kemayu!”

“Genit?”

“Ya, genit, kemayu. Dan karena lenggang dan gayanya juga kewanita-wanitaan maka pria macam begini disebut bencong, banci! Kau pernah melihat banci?”

Anak itu menggeleng.

“Susah, bertahun-tahun ini aku tak pernah membawamu turun gunung, selalu menggembleng dengan ilmu silat. Baik, kelak kau akan tahu dan mengerti sendiri, Sin Gak. Sekarang cukup kuterangkan bahwa Te-gak Mo-ki itu adalah laki-laki tapi yang gerak-gerik dan tingkah lakunya menyerupai perempuan. Nah, dia memasang dirinya sedemikian rupa hingga laki-lakipun tertarik padanya. Tapi ketika dia bosan dan mendapat calon korban yang lain maka kekasihnya itu dibunuh!”

“Hm, ini kejam, tidak benar,” anak itu berkerut kening. “Kalau cinta tak seharusnya begitu, suhu. Berarti orang itu gila.”

“Ya, gila, tapi kegilaannya ini tak sembarang orang tahu. Nah, bukankah ini berbahaya, Sin Gak? Dan ketika kami tahu ternyata perbuatannya itu sudah lama terjadi. Artinya sebelum kami berpisah dan masing-masing turun gunung saudaraku itu sudah pernah membunuh pasangannya!”

“Hebat, kalau begitu dia cerdik sekali. Bagaimana suhu dan yang lain-lain tidak tahu.”

“Itulah, tapi seperti pepatah mengatakan serapat-rapatnya bangkai dibungkus tetap akan terbau juga, Sin Gak. Dan perbuatan Te-gak Mo-ki itu juga begitu. Kami akhirnya mulai menerima laporan!”

“Hm-hm, bagaimana itu. Siapa yang melapor.”

“Keluarga korban, yang lolos dan selamat dari tangan mautnya.”

“Suhu yang menemukan dulu?”

“Bukan, justeru saudara tertua si Naga Berkabung. Tapi celakanya dia ini diam-diam saja hingga kami semua tak tahu!”

“Suhu mau bercerita?”

“Kalau kau tertarik, benar-benar serius!”

“Ah, aku tiba-tiba ingin tahu sepak terjang paman guruku itu, suhu. Aku merasa aneh dan ganjil ada orang seperti ini!”

“Baik, kalau begitu aku akan mulai dari depan,” dan si kakek yang bersinar dan tiba-tiba mengepalkan tinju lalu mulai bercerita dari awal. Dan begitu ia bercerita mendadak Sin Gak yang tadi acuh dan agak dingin sekonyong-konyong bangkit nafsunya, nafsu mendengarkan!

* * * * * * * *

Tahun di mana matahari berada tepat di titik Bintang Timur adalah tahun yang disebut Tahun Bi-seng (Bintang Cantik). Tahun itu adalah tahun yang langka bagi umat manusia di bumi. Konon di tahun ini bintang dan segala isi langit berubah posisi. Hawa udara menjadi hangat sementara musim bunga atau semi menjadi lebih panjang. Lautan, dan juga sungai-sungai besar tak akan meluap. Segala tenang dan nyaman, damai.

Dan ketika puncak Himalaya juga kelihatan bersinar dan memantulkan cahaya sampai jauh ke ujung bumi, bagaimana mercusuar yang menerangi mayapada maka malam haripun langit tak segelap biasanya karena pantulan sinar atau cahaya dari puncak gunung tertinggi itu. Dan burung berkicau lebih riang. Hewan-hewan buas, seperti ular atau harimau yang biasanya bermusuhan pada tahun seperti ini tak memiliki nafsu saling balas. Mereka bahkan bersenda-gurau layaknya sahabat.

Harimau mempermainkan ekor ular sementara tubuh ular membelit dan bermain-main di tubuh harimau. Pada tahun Bi-seng tak ada permusuhan di antara mahluk apapun, termasuk manusia. Hal ini karena pada tahun itu udara benar-benar terasa hangat dan nyaman. Orang bahkan ingin duduk santai-santai menikmati musim bunga, atau memandang laut yang beriak kecil dengan burung-burung camar diatasnya.

Para nelayan, yang biasanya berburu ikan juga malas menyebar jala. Mereka duduk-duduk menikmati alam hening yang indah. Tak ada rasa permusuhan kepada siapapun, hati begitu adem ayem. Tapi karena tahun Bi-seng berjalan sesuai putaran roda Alam Raya, tak mungkin terus-menerus di atas bumi maka tahun itupun habis dan muncullah tahun Hek-seng (Bintang Buruk) sebagai penggantinya. Dan lautpun tiba-tiba mulai berbuih.

Ada derak di jantung setiap mahluk hidup. Ada semacam rasa gelisah yang tiba-tiba mencuat. Dan ketika gunung juga mulai menyemburkan asapnya dan bergemuruh, sinar di puncak Himalaya padam maka bumi tiba-tiba gelap dan malam yang datang menjadi pekat, panjang! Dan waktu itu turunlah lima orang di lima titik bumi: barat, timur, selatan da utara serta bagian pusat di tengah bumi yang disebut Bu-goan (Inti Gelang)!

Bu-goan atau Inti Gelang ini adalah daerah di mana titik pusat bumi berada. Biasanya, kalau di daerah ini muncul seorang berwatak mulia, maka segala di bumi terkena getarnya. Cahaya atau sinar warna-warni akan menyebar ke seluruh penjuru bumi menciptakan angin lembut cinta kasih. Tak ada perang atau kejahatan di situ. Tapi kalau daerah Bu-goan ini terinjak oleh orang berwatak keji maka kejahatan dan maut bakal ada di mana-mana. Dan kebetulan waktu itu daerah Inti Gelang ini diinjak Te-gak Mo-ki!

Seorang pemuda berpakaian sutera halus melenggang santai. Bajunya biru dengan pinggiran sabuk hitam, pantas dan serasi sekali dipakai tubuhnya. Dan karena usianya juga masih muda, tak lebih dari dua puluh dua tahun maka orang akan terpana dan kagum memandang pemuda perlente ini. Tangan kanannya memegang kipas sementara ikat pinggangnya yang panjang dibiarkan menjuntai, lepas di perut bagian depan. Tapi ketika orang memandang telinganya, melihat sepasang anting-anting dan betapa telinga itu ditindik, dilubangi sebagaimana layaknya wanita maka orang akan tertegun dan seram berhadapan dengan pemuda ini, apalagi melihat bedak dan sedikit gincu di mukanya!

Bancikah pemuda ini? Atau tidak waras? Melihat sinar matanya yang hidup sebagaimana layaknya orang sehat maka anak muda ini jelas bukan orang setengah gila. Pandang matanya sesungguhnya lembut dan berseri-seri, hanya sesekali tampak berkilat dan mengeluarkan cahaya aneh apabila melihat pemuda-pemuda tampan. Layaknya wanita yang ingin diperhatikan pria ganteng maka pemuda di depan ini juga begitu. Lenggangnya yang kewanita-wanitaan menunjukkan itu, sesekali bibirnya tersenyum genit.

Dan ketika ia memasuki sebuah kota dan kontan semua orang menengok padanya, kagum tapi heran pada pemuda bersikap kewanita-wanitaan ini maka tak perduli pandang semua orang pemuda ini memasuki sebuah rumah makan. Dan para tamupun juga menoleh. Ada kagum melihat wajah yang sebenarnya tampan itu, halus dan bersikap seperti seorang siucai (pelajar). Tapi melihat bedak dan sedikit gincu di situ, juga anting-anting di sepasang telinga indah maka orangpun tersenyum geli.

Akan tetapi tak ada yang tertawa. Sikap seperti siucai yang halus dan hormat membuat orang enggan tertawa juga. Ada semacam rasa menghargai di situ, oleh sikap dan pandang mata pemuda ini. Lalu ketika dia duduk dan sengaja memilih di tengah, jadi leluasalah para tamu mengamatinya dari segala penjuru maka pelayan datang dan pemuda ini mengeluarkan suaranya yang merdu halus, benar-benar mirip wanita.

“Pelayan, sediakan bubur ayam dan sepoci arak hangat untukku, juga kuah sayur asin. Tolong sediakan garpu dan sendok makan, jangan sumpit.”

Pelayan terheran. Dia mengangguk dan tersenyum memutar tubuh melayani permintaan itu. Hanya orang-orang luar Tiong-goan yang biasanya makan dengan sendok garpu. Tapi karena tamu adalah raja dan tentu saja tak boleh dia berayal maka pelayanpun masuk dan tak lama kemudian sudah kembali dengan semangkok bubur ayam dan sepoci arak hangat, juga kuah sayur asin.

“Nona, eh kongcu rupanya tak biasa dengan sumpit. Ini sendok garpunya dan silakan makan!”

Para tamu geli. Akhirnya pelayan salah ucap juga melihat wajah dan sikap pemuda aneh itu, yang kewanita-wanitaan. Dan ketika pemuda itu melerok dan tersenyum genit, para tamu meledak maka seorang di antaranya berseru,

“Heii, jaga mulutmu, A-song. Kongcu itu bukan nona. Jangan keliru!”

“Maaf..... maaf.....“ sang pelayan surut, menahan tawa. “Aku salah, kongcu. Silakan makan dan panggil aku kalau butuh ini-itu lagi.”

Pemuda itu tak marah. Justeru ada tamu berteriak padanya ia menjadi senang, terbukti ia melerok pada laki-laki di sudut meja itu dengan senyum mengembang, hal yang membuat tamu itu tertawa bergelak dan geli. Tapi ketika dari luar masuk enam penunggang kuda, berhenti dan turun di halaman rumah makan itu maka para tamu pun tiba-tiba terkejut dan wajah mereka tampak berubah.

“Pengawal-pengawal We-taijin...!”

Semua tiba-tiba bergerak dari kursinya. Enam laki-laki berpakaian pengawal dengan topi besi sudah masuk kedalam. Mereka gagah dan rata-rata tinggi besar, sorot mata mereka tajam dan garang menyapu semua orang. Dan ketika pelayan dan pemilik restoran tergopoh-gopoh menyambut, jelas mereka merasa takut maka pengawal di depan yang goloknya berada di pinggang berseru,

“Heii, siapkan meja untuk We-taijin dan rombongan. Satu jam lagi kami akan memborong tempatmu, Lo-haiya. Suruh tamu-tamumu pergi dan biarkan kami bebas di sini!”

Pemilik restoran mengangguk-angguk. Ia terbata menjawab berulang-ulang sementara para tamu sudah menyingkir satu persatu. Rupanya mereka sudah hapal dengan gerak-gerik dan sikap para pengawal itu, jagoan We-taijin sang wali kota. Dan ketika semua menyingkir kecuali pemuda aneh itu, yang berdandan seperti wanita maka kepala pengawal tampak melotot dan tak senang, membentak pada pemilik rumah makan.

“Siapa dia itu. Kami akan mengatur tempat ini dan tak boleh seekor tikus pun berada di sini. We-taijin akan menyambut Gubernur Hong-sang!”

“Dia..... dia, ah...!” pemilik restoran terbata dan berlari-lari kecil menghadapi tamunya yang tinggal satu-satunya ini. “Harap pergi keluar, kongcu. Segala makan minummu tak usah bayar. We-taijin akan datang, rupanya menyambut tamu agung. Silakan pergi dan besok boleh kembali lagi!”

“Hm, aku di sini sejak tadi, makanpun belum habis. Kenapa diusir? Tidak, aku pergi kalau sudah selesai, loya. Biarpun anjing menggonggong tak sudi aku angkat kaki.”

Pemilik restoran pucat. Ia melihat kepala pengawal yang garang dan melotot itu tiba-tiba bergerak. Golok dipinggang sudah dicekal dan jelas mengancam, mulutpun mengeluarkan geraman. Lalu ketika laki-laki itu berada di depan pemuda ini dan membentak, marah tapi setengah geli mendengar suara kewanita-wanitaan tadi maka ia langsung menggebrak meja dengan tangan kirinya.

“Hei, banci! Apa kau bilang tadi. Berani kau mengatai anjing menggonggong. Siapa yang kau maksud dan beranikah kau menghina Pengawal Garuda dari We-taijin!”

“Hm,” pemuda itu tiba-tiba tertawa, akan tetapi sepasang matanya berkilat. “Aku mengatai kau yang menggonggong seperti anjing, laki-laki busuk. Biarpun kau Pengawal Garuda atau Pengawal Kecoa aku tidak takut. Kau menumpahkan kuah sayur asinku, ganti!”

Kepala pengawal itu terbelalak. Ia pemimpin teman-temannya tapi bukan komandan Pengawal Garuda, hanya merupakan orang ketiga dari barisan pengawal We-taijin itu. Tapi mendengar kata-kata ini dan rambut serta kumisnya tentu saja berdiri, bukan main marahnya, maka tiba-tiba kuah sayur asin di mangkok yang tadi terpental kena gebrak sekonyong-konyong menyambar mukanya dan tanpa ampun lagi menyiram wajahnya.

“Crott!” Pengawal itu berteriak. Ia kaget dan tak sempat mengelak saking cepatnya semua ini, juga siapa mengira pemuda itu berani menyiramnya dengan kuah, padahal ia adalah Pengawal Garuda yang ditakuti semua orang. Maka ketika dia menjerit dan mendekap mukanya, kuah panas dan asin itu mengenai mata dan hidung kontan saja ia kalang-kabut dan pemuda itu terkekeh merdu. Sayur yang ada di kuah menempel di pipi dan rambut.

“Hi-hik, kau lucu, tikus besar. Kalau begini bukan Pengawal Garuda lagi, kau Pengawal Gila, ha-ha!”

Kepala pengawal itu merenggut taplak meja di sebelah, memaki-maki dan membersihkan mukanya dengan ini. Ia bagai mendidih mendengar ejekan dan kata-kata itu, lima temannya sudah bergerak dan maju pula, mengancam. Tapi ketika ia mencabut golok dan menerjang pemuda di depan meja itu, yang masih duduk tenang tiba-tiba pemuda ini menjentikkan kuku jarinya dan tahu-tahu sebuah benda putih menyambar dan mendahului menuju dada kepala pengawal itu.

“Crep!” Garpu tiba-tiba menembus dan menancap dalam. Golok yang sudah diangkat tiba-tiba berhenti di tengah jalan, kepala pengawal itu melotot tapi mengeluh roboh. Dan ketika ia menimpa meja pemuda itu dan tewas dengan tubuh menelungkup, lima temannya kaget maka mereka itu berteriak dan tentu saja marah bukan main. Pemilik restoran berteriak dan lari menjerit-jerit.

“Kau banci jahanam. Keparat, kau membunuh pemimpin kami!”

“Hm,” pemuda itu tertawa, tak mengelak. “Kalianpun akan mati seperti itu, tikus-tikus busuk, kecuali satu harus hidup untuk memberi laporan... siutt-plak-plak-plak!” entah apa yang terjadi tahu-tahu empat dari lima orang itu menjerit, roboh dan dada berlubang sementara orang terakhir mencelat dan terbanting. Pemuda itu mempergunakan taplak meja dan mengebut, ujung taplak tiba-tiba menjadi lancip dan menghantam empat pengawal itu. Lalu ketika mereka roboh dan tentu saja tewas, gemparlah rumah makan itu maka pelayan berteriak dan berhamburan keluar.

“Tolong....toloong ada pembunuhan!”

Kota menjadi ribut. Mereka berlarian dan malah menjauhi rumah makan itu. Tapi ketika terdengar derap dan belasan kuda berhenti di depan rumah makan itu maka pengawal terakhir yang dibiarkan hidup dan tertatih keluar ruangan sudah disambar temannya. Tujuh belas Pengawal Garuda datang lagi di situ, belum melihat lima tubuh yang bergeletakan mandi darah, terhalang meja dan kursi.

“Apa yang terjadi. Siapa yang membunuh. Mana Gu-twako!”

“Dia....dia...” pengawal itu pucat. “Gu-twako tewas, ciangbu (kapten). Dia dibunuh pemuda kejam!”

“Mana pemuda itu!”

“Duduk di situ !” namun ketika ia menoleh dan tak melihat siapa-siapa, pemuda itu lenyap maka ciangbu atau sang kapten sudah meloncat ke tempat yang dituding anak buahnya ini. Dan di situ baru tamplaklah lima mayat itu, dada berlubang.

“Keji, keparat jahanam. Mana pemuda itu!”

Semua terbelalak. Mereka ngeri oleh garpu yang menancap itu dan juga luka di dada kiri. Tak ada yang tahu dengan apa luka di dada itu dibuat, tentu tak bakal menyangka bahwa itu hanya oleh sebuah ujung taplak meja. Dan ketika semua berlompatan dan mencari-cari, pemuda itu tak ada maka sang kapten membentak dan menyuruh mencari di luar. Dia sendiri dan dua pembantunya mengurus mayat-mayat itu.

“Cari di luar, awas! Jangan biarkan ia lari!”

Namun pemuda itu benar-benar menghilang. Entah dimana dan kapan ia pergi akan tetapi bayangannya benar-benar tak kelihatan lagi. Ia lenyap seperti siluman. Dan ketika sang kapten bertanya tentang ciri-ciri pemuda itu maka pengawal ini gemetaran.

“Dia... dia banci yang menghina Gu-twako. Kami menyuruhnya pergi tapi tiba-tiba ia menyerang Oh, ia lihai sekali, ciangbu. Hati-hati kalau ketemu!”

“Hm, siapa namanya, atau nama julukannya.”

“Kami tak tahu. Dia... dia kusangka banci biasa. Dia iblis!”

Sang kapten mendorong. Anak buahnya itu sudah ketakutan dan roboh dibentak, ia tak suka ada musuh terlalu dipuji-puji. Dan ketika ia sendiri meloncat dan keluar mencari, tak ada dan kembali ke markas maka We-taijin terkejut mendengar laporan itu.

“Rumah makan Lo-haiya ada penjahat? Gu Mo dan empat pembantunya tewas? Ah, siapa jahanam itu, Te-ciangbu, cari dan tangkap ia sampai dapat. Tapi bagaimana ini, Gubernur hampir datang!”

“Taijin tak usah panik. Kita dapat mencari rumah makan yang lain, tapi memang tak ada yang selengkap Lo-haiya. Bagaimana kalau seadanya dulu?”

“Bodoh. Menjamu Gubernur harus baik dan lengkap, ciangbu. Mana komandan. Ui, suruh ia datang!”

“Hamba sudah di sini,” seorang laki-laki tinggi kurus berkelebat dan masuk. Inilah Ui Kam komandan Pengawal Garuda. “Hamba sudah menyuruh mengepung dan menjaga seluruh kota, taijin, tapi tugas kita terpecah dengan akan datangnya Gubernur. Apa perintah taijin tapi hamba percaya akan menemukan penjahat itu.”

“Jamuan di Lo-haiya gagal, bagaimana ini. Dapatkah kau mencarikan yang lain tapi selengkap rumah makan itu!”

“Hamba akan menyiapkan di sana saja, restoran Lo-haiya paling baik. Tak mungkin penjahat berani datang kalau kami menyiapkan seluruh kekuatan.”

“Jadi tetap di sana saja?”

“Ya, dan Te-ciangbu biar memimpin duluan, taijin. Agaknya utusan sudah datang, Gubernur tiba!”

Sang wali kota benar-benar panik. Pengawal berlarian masuk dan memberi tahu bahwa kereta Gubernur datang. Tuan rumah tak seharusnya masih di dalam dan membiarkan Gubernur turun dari kereta. Maka ketika We-taijin tergopoh dan lari tersaruk-saruk, hampir terjatuh namun disambar Ui-ciangkun maka komandannya itulah yang membimbing dan menyambut Gubernur yang sudah memasuki regol. Dan wajah Gubernur tampak gelap melihat bawahannya menyambut terlambat.

We-taijin buru-buru mengucap maaf dan terbata menceritakan peristiwa buruk, tersandung dan hampir jatuh dan kesibukan luar biasa tampak di situ. Bayangan-bayangan hitam berkelebatan dan itulah pasukan Pengawal Garuda, berjaga dan melirik sana-sini mencari pemuda yang kewanita-wanitaan itu. Dan ketika akhirnya Gubernur dapat menerima dan mengangguk-angguk, dua pemuda gagah di sampingnya berbisik perlahan maka Gubernur masuk sementara satu di antara dua pemuda itu menyelinap dan menghilang di luar.

We-taijin bingung dan gugup. Ini adalah peninjauan rutin dari atasan, seharusnya semua yang serba baik ditonjolkan. Maka ketika tiba-tiba di tempatnya ada penjahat berseliweran, membunuh lima dari Pengawal Garuda yang andalan maka pembesar itu tak tenang namun Gubernur menepuk-nepuk pundaknya. Pemeriksaan ketata-pemerintahan dilakukan, We-taijin menunjukkan ini-itu yang layak diperlihatkannya, berkas atau bukti-bukti yang diminta atasan. Lalu ketika semua selesai dan tiba untuk jamuan maka Gubernur diajak untuk santap siang, Dan restoran Lo-haiya tentu saja menjadi satu-satunya pilihan karena itulah yang terbaik dan terlengkap.

Tapi apa yang terjadi? Hal yang membuat semua orang gempar. Karena ketika semua sudah duduk dan Gubernur didampingi We-taijin mendadak pengawal menuding bangku di belakang We-taijin yang diduduki pemuda pembunuh itu, si perlente yang tersenyum-senyum dan oleh semua Pengawal Garuda disangka rombongan Gubernur, sementara Gubernur sendiri menganggap pemuda itu sebagai rombongan We-taijin!

“He, itu dia. Itu pemuda itu! Dia si banci itu!”

Mencelatlah We-taijin dari tempat duduknya. Ia begitu kaget duduk di depan penjahat sementara yang berteriak adalah pengawal yang masih hidup. Ini adalah satu-satunya saksi mata yang tahu pemuda itu, disamping Lo-haiya dan para pelayannya yang ada di belakang. Pemilik restoran tentu saja tak berani berkeliaran di depan kalau We-taijin dan para pembesar duduk bersantap, begitu juga pelayannya yang memberikan makan minum lewat bagian dalam pintu, jadi tak melihat pemuda pesolek itu. Maka ketika pengawal berteriak dan menuding, semua bergerak ke arah si banci itu maka Ui-ciangkun yang duduk tak jauh dari atasannya cepat meloncat dan menyambar pemuda itu, membentak.

“Minggir, taijin. Penjahat ini rupanya di sini!”

Semua geger dan terkejut. Gubernur sendiri yang tak menyangka dan menoleh ke belakang melihat pemuda itu tertawa. Anting-anting di telinganya bergoyang. Dan ketika ia tertegun namun disambar pemuda di sampingnya, yang bukan lain pengawal pribadi maka Ui-ciangkun melayang dan menubruk pemuda itu.

“Dukk!”

Si pemuda menangkis dan Ui-ciangkun terbanting. Segebrakan itu saja pemuda ini sudah membuat kejutan, tangkisannya juga membuat komandan Pengawal Garuda itu berteriak. Dan ketika Ui-ciangkun bergulingan dan menendang We-taijin, menjauh dari pemuda itu maka semua pasukan bergerak tapi anehnya pemuda itu masih tetap senyum-senyum tenang di tempat duduknya, bahkan tertawa, merdu bagai wanita...