TAPAK TANGAN HANTU
JILID 15
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“PLAKK!”

Pendekar ini mengeluh bergulingan. Ia tak sempat mengelak tamparan itu dan juga tak sempat menangkis. Ia menerima pukulan dan merasa sekujur tubuhnya terbakar. Tapi ketika ia meloncat bangun dan mengerahkan sinkang, meniup dan menghembus seluruh tubuhnya maka hawa panas itu hilang dan rasa terbakar yang membuatnya terkejut lenyap sama sekali.

“Hm, cukup hebat, tapi tak mungkin dapat bertahan sekali dua. Ha-ha, kau majulah dan gunakan pedangmu lagi, Ju-taihiap. Lihat aku tak takut dan tak akan mengelak!”

Ju-taihiap terbelalak oleh kata-kata itu. Ia baru saja hilang kagetnya oleh kesaktian yang ditunjukkan lawannya ini. Pek-jit-kiam seakan menembus roh! Tapi ketika ia terbelalak dan kaget serta marah, para murid juga terhentak dan berseri mundur maka menantunya, Tang Siu, menjerit dan meloncat terbang.

“Lepaskan anakku!”

Laki-laki itu tertawa mengejek. Pedang yang menyambar di tangan Tang Siu tak dikelit, berdiri tegak dan tetap jumawa dengan sikapnya yang sombong. Dan ketika Tang Siu mendidih dan merasa girang, pedang di tangan menusuk leher maka..... cess, pedang itu tembus namun tak ada darah atau luka yang terjadi. Dan ketika nyonya ini terpekik dan menjerit keras maka tangan kanan laki-laki itu bergerak dan... dess. Nyonya ini terpelanting roboh. Pundaknya biru kehitam-hitaman!

“Jangan dekati dia, jangan gegabah!” Ju-taihiap bergerak dan menyambar menantunya itu. Ia kaget oleh kesembronoan ini dan nyonya muda itupun mengeluh berkunang-kunang. Jangankan dia, Ju-taihiap pun terpelanting dan kaget oleh kehebatannya lawannya ini. Dan ketika nyonya itu hampir pingsan namun Ju- taihiap meniup dan menghembuskan hawa sinkangnya, membuang rasa terbakar maka Tang Siu menggigil dan pucat meloncat bangun, terbelalak.

“Iblis, dia...dia seperti iblis. Pedangku tembus!”

“Hm, minggirlah. Ada pengaruh hitam. Minggir, Tang Siu, biarkan aku saja dan jaga anak-anak murid. Awas, lebarkan kepungan dan biar aku duluan!”

Nyonya itu mengangguk. Setelah dua kali dibanting dan merasakan kelihaian lelaki ini maka nyonya muda itu merasa pucat. Ia ngeri. Namun karena anaknya di cengkeraman lawan dan Giok Cheng terkulai lemas, entah mati atau hidup maka nyonya ini menjadi gusar dan nekat, tak gentar.

“Gak-hu, aku tak takut. Biar dia atau aku mati!”

“Ha-ha, majulah berdua. Ayo, boleh keroyok lagi. Ha-ha, aku sekarang bukan Majikan Hutan Iblis beberapa tahun yang lalu, Ju-taihiap. Boleh keroyok dan kerahkan semua anak buahmu. Ayo, maju dan keroyok aku!”

Akan tetapi pendekar itu mendorong dan mencegah menantunya. Tang Siu sudah menjerit dan hendak menerjang lagi. Giok Cheng itulah penyebabnya. Namun ketika pendekar ini mendorong dan mengerahkan tenaganya, nyonya itu dibuat mundur maka Ju-taihiap menyilangkan pedang dengan mata bersinar-sinar, maklum bahwa sesuatu telah merobah Majikan Hutan Iblis ini, sesuatu yang dahsyat, sesuatu berbau ilmu hitam!

“Manusia pengecut, tak usah sombong. Kau boleh hebat, boleh sakti, akan tetapi aku tak akan mundur selangkahpun. Kau memiliki ilmu aneh, ilmu iblis. Jangan kira aku gentar meskipun harus mati di pagi ini!”

“Ha-ha, bagus, kau tetap gagah. Kalau begitu majulah, Ju-taihiap, gerakkan pedangmu dan lihat betapa hari ini aku akan membunuhmu. Majulah!”

Pedang di tangan pendekar itu bergetar. Ia memusatkan perhatian pada kening lawan dan tiba-tiba tanpa banyak bicara lagi jago pedang ini melakukan bentakan nyaring. Pedang di tangannya menyambar ke atas lalu turun ke bawah, menyerang atau membacok ke kening dan lawan terkejut sedetik. Pedang itu bukan sekedar menyambar kening melainkan juga matanya, manik mata yang hitam kecoklatan itu. Dan ketika laki- laki ini tampak terkejut dan mengelak, ternyata ia tak berani menerima maka pedang mendesing tajam dan menyambar bawah tubuhnya.

“Brettt!” Kain itu robek. Laki-laki ini sudah mengelak dengan cepat namun pedang di tangan si jago pedang ternyata lebih cepat lagi. Baju bawah perutnya terkuak. Dan ketika ia terbelalak dan mengeluarkan gerengan marah, meloncat dan mengelak sana-sini maka Ju-taihiap sudah menyambar bagai garuda mematuk mangsa dan yang diincar adalah kening atau manik-manik mata lawan.

“Bagus, kau pintar. Akan tetapi jangan kira dapat merobohkan aku, Ju-taihiap. Lihat dan rasakan pukulanku.... plak-plak! lelaki itu menangkis dan ternyata tidak diam saja menerima serangan gencar. Betapapun Pek-jit-kiam ternyata berbahaya juga baginya, atau mungkin bagi kening dan manik-manik matanya itu. Dan karena Ju-taihiap adalah seorang jago pedang dan ketitisan (ketepatan) pendekar ini mengarahkan serangannya tentu tak perlu diragukan lagi maka laki-laki itu mengelak dan jadilah kedua tangannya menampar atau menghalau pedang di tangan si jago pedang yang selalu terpental dan membuat Ju-taihiap terhuyung!

Jago pedang itu terkejut sekali namun ia tidak menampakkan kekagetannya secara berlebihan. Justeru semakin ia terkejut jago pedang ini semakin tenang. Lawan jadi heran dan membelalakkan mata, kagum apakah pendekar itu tak terkejut oleh pukulannya. Dan karena Ju-taihiap melengking dan kini berkelebatan semakin cepat, tusukan ataupun bacokannya semakin gencar maka laki- laki itu tak meneruskan keheranannya karena bagian yang dituju selalu mata atau tengah keningnya!

“Hm!” laki-laki ini marah. “Kau harus dibalas, Ju-taihiap. Kau harus menerima pelajaran. Lihat balasanku dan betapa pedangmu akan leleh.... haiitttt!” lelaki itu mengeluarkan seruan keras dan kedua telapaknya yang sudah mengepulkan asap hitam itu ditamparkan kedepan. Bau busuk dan wangi menyambar berbareng, seberkas cahaya hitam juga melesat. Dan ketika Ju-taihiap terpekik karena pedangnya lenyap terbungkus uap hitam itu, meledak dan hangus tiba-tiba ia merasa tangannya ringan dan Pek-jit-kiam yang ampuh itu leleh. Dan saat itu tangan kiri lawan menyambar disusul tawa mengerikan.

“Awas, gak-hu!” Jerit atau teriakan Tang Siu ini menyadarkan Ju-taihiap. Pendekar yang sedang menyerang tapi dibalas dan menerima pukulan uap hitam itu terkejut sekali. Pek-jit-kiam, pedang yang ampuh itu hangus dan leleh. Tapi mendengar seruan menantunya tiba-tiba pendekar ini sadar dan secepat kilat mengelak dan membanting tubuh bergulingan.

“Bresss!” Tanah menghitam dan hancur. Ju-taihiap bergulingan melempar tubuh namun lawan berkelebat dan mengejar, kini bentakan dan tawanya disusul oleh gosokan kedua telapak tangannya itu, kian menghebat hingga menjadi merah tembaga, berkilau dan mengeluarkan api dan Ju-taihiap terkejut karena dari telapak itu kini menyembur lidah api! Dan ketika ia mengelak dan membanting tubuh ke sana-sini lagi, pucat dan ngeri maka pedang yang leleh menjadi ular ketika dibentak dan disambar pukulan lawannya itu.

“Ha-ha, pedangmu tak berguna. Pek-jit-kiam telah memusuhi dirimu sendiri. Buang dan lempar pedang itu, Ju-taihiap. Ia menjadi ular!”

Si jago pedang berteriak. Ia tiba-tiba melihat pedangnya menjadi ular dan ular itu kini mematuk tangannya. Tapi ketika otomatis ia melempar dan membuang ular itu maka pedang berkerontang dan pulih ujudnya lagi. Ternyata itu terpengaruh sihir!

“Gak-hu, kau tertipu. Pedangmu tidak apa-apa!”

Ju-taihiap terbelalak dan memandang pedangnya itu. Sambil bergulingan ia melotot lebar, memang mula-mula terkejut, dan heran setengah mati bagaimana pedang seampuh itu leleh. Dibakar tujuh hari tujuh malam pun Pek-jit-kiam tak akan membara, pedang itu terbuat dari baja dingin namun yang mengeluarkan cahaya menyilaukan seperti matahari.

Maka ketika mula-mula ia tertegun betapa pedangnya leleh, hangus dan menjadi ular jago pedang ini seakan tak percaya dan saat itu terpengaruh sihir. Hawa hitam dan pukulan uap merah serta lidah api yang menyambar dan mengejar dirinya membuat panik. Tangkisan dan tamparan lawan yang selalu membuatnya terhuyung menjadikannya kaget. Ia melihat perobahan luar biasa pada diri lawannya ini, kesaktian mengejutkan dibanding empat lima tahun lalu.

Maka ketika tanpa sadar ia masuk perangkap sihir, Pek-jit-kiam dihalau dan terpental ditangkis lawannya itu maka pendekar atau jago pedang ini sudah mengalami guncangan, terdorong dan selalu mengelak sampai akhirnya membuang pedangnya yang disangka menjadi ular. Ju-taihiap benar-benar terkejut dan tak sadar memasuki sihir. Ia baru tersentak ketika menantunya tadi berteriak, melihat dan sambil bergulingan ia tertegun karena pedangnya pulih lagi di sana. Ular itu lenyap!

Dan ketika ia sadar bahwa ia tertipu, lawan memiliki kekuatan yang menindih kekuatannya sendiri maka Tang Siu menyambar dan berkelebat menusuk punggung laki-laki itu. Para murid juga berteriak dan tiba-tiba menyerbu, melihat Ju-taihiap bengong dan Majikan Hutan Iblis menyerang pimpinan mereka.

“Awas, bantu pangcu kita!”

“Benar, dan kita bunuh jahanam ini!”

Pedang dan senjata tajam lain berhamburan. Tang Siu menjadi komandonya dan nyonya muda itu sendiri sudah tak tahan lagi, membentak dan menusuk pungung sementara Pek-Jit-kiam ditendang ke arah mertuanya. Saat itu Ju-taihiap bengong dan melompat bangun, terbelalak bagaimana itu seperti mimpi. Pek- jit-kiam masih utuh, ular atau apa namanya itu tak ada! Maka ketika Tang Siu menusuk sementara ia menjadi sadar, pedang melayang akan tetapi pada saat itu juga lawan menerkam dan tertawa parau, para murid juga berhamburan menyerang laki-laki ini maka Ju-taihiap berseru keras menggerakkan tangan ke depan, mendorong atau menangkis terkaman itu.

“Duk-plakk!”

Pendekar ini terjengkang dan Pek-jit-kiam tak sempat diambil. Ia terburu oleh serangan itu, terlempar dan bergulingan lagi dan saat itulah hujan senjata mengenai orang ini. Majikan Hutan Iblis terkekeh, pedang dan semuanya itu menusuk tubuhnya tapi tembus seakan menusuk jasad halus, hilang begitu saja. Dan ketika semua terkejut dan terpekik, laki-laki itu membalik maka serangkum angin pukulannya membuat Tang Siu dan anak murid terlempar dan menjerit.

“Bres-bres-bresss!”

Nyonya dan para muridnya itu mengeluh. Mereka terbanting dan bergulingan namun usaha utama berhasil. Pertolongan mereka terhadap Ju-taihiap tak gagal, pendekar itu selamat. Dan ketika di sana Ju- taihiap melompat bangun dan menyambar pedangnya, Pek-jit-kiam telah di tangan kembali maka pendekar itu membentak dan menerjang lagi, kini dibantu menantunya dan murid-murid lain, berkelebat dan menggerakkan tangan kiri membantu pedang di tangan kanan, mainkan Pek-jit Kiam-sut sementara Pek-lui-ciang atau Pukulan Kilat menyambar-nyambar. Dan karena lawan memiliki kekuatan sihir, Ju-taihiap melengking memperkuat tenaga batin maka dia menyuruh agar yang lain menusuk tengah kening atau bagian mata laki-laki itu.

“Jangan serang sembarangan, tusuk atau tikam manik-manik matanya. Jangan serang bagian lain!”

Para murid bergerak dan menyerang lagi. Akan tetapi karena lawan kini menampar atau mengibaskan lengan bajunya, bergerak dan naik turun mengimbangi Ju-taihiap maka para murid terdorong sebelum mampu mendekat, membentak dan menyerang lagi namun ternyata hanya dua orang saja yang dapat menyerang laki-laki ini, yakni Ju-taihiap dan menantunya sendiri. Para murid yang lain bahkan terpelanting dan mulai roboh ketika laki-laki itu menambah angin kebutannya, tertawa dan mengelak sana-sini dan Ju-hujin itu melengking-lengking.

Tang Siu mempergunakan pedang panjang namun tusukan atau tikamannya menembus jasad halus, hanya di bagian mata atau kening itulah laki-laki ini mengelak. Dan ketika semua terkejut dan Pek-jit-kiam ditangkis terpental, Pek-lui-ciang atau Pukulan Kilat menyambar kosong tubuh Majikan Hutan Iblis ini maka sama seperti senjata-senjata tajam lain pukulan itu menembus dan lewat begitu saja mengenai tubuh laki-laki itu.

“Ha-ha, tak ada yang mampu merobohkan aku. Hek-yan-pang sekarang dapat kuhancur-binasakan. Eh, lihat sekarang apa yang kulakukan, Ju-taihiap. Lihat kupanggil anak buahku dan biar mereka mendapat bagian!”

Lolong atau pekik srigala tiba-tiba pecah. Suara meraung keluar dari tenggorokan ini dan Ju-taihiap serta yang lain-lain pucat. Mereka tahu apa artinya itu. Dan ketika benar saja dari seberang terdengar lolong atau raung yang sama, puluhan atau bahkan ratusan anjing ganas meluncur dan masuk ke air telaga, berenang dan menuju tempat itu maka pagi itu Hek-yen-pang dibuat guncang dan Ju-taihiap membentak menyuruh murid-muridnya mundur.

“Biarkan kami berdua menghadapi manusia iblis ini. Cegat dan hajar binatang-binatang itu. Awas, jangan sampai masuk rumah!”

Para murid panik. Mereka telah terpelanting dan tak mampu mendekati lawan, dikibas atau dipukul dari jauh saja mereka telah roboh. Maka ketika anjing-anjing ganas datang menyerbu, air beriak dan moncong-moncong buas menyembul di situ maka para murid membalik dan berserabutan mencegat srigala- srigala ini, menyerang.

“Ha-ha, tak ada yang akan mampu menghadapi. Mereka semua telah kebal oleh ilmuku, Ju-taihiap, tak mempan dibacok atau ditusuk senjata tajam. Lihatlah, dan buktikan!”

Pendekar itu pucat. Benar saja tiga orang murid maju membabat namun tiga ekor srigala itu tak apa-apa, melolong dan menerkam para muridnya dan terdengar jeritan ngeri. Mereka roboh dan digigit, cabik dan sebentar kemudian pedang di tangan para murid terlepas. Bagai srigala kesetanan atau haus darah binatang-binatang itu memangsa korbannya, mengoyak dan menggigit sementara taring-taring itu telah berdarah. Segumpal daging copot dari pundak. Dan ketika dua yang lain juga sama beringas dan tak mengenal ampun, meraung dan membuat pedang terlepas maka tiga murid itu menjadi korban pertama dan tercabik-cabik. Pakaian dan daging sama-sama berserpihan.

“Ha-ha!'' Ju-taihiap menjadi ngeri. “Lihat itu, Ju-taihiap. Buktikan betapa anak buahku tak mempan ditusuk senjata tajam. Dan mereka sekarang memangsa murid-muridmu. Ha-ha, Hek-yan-pang akan kuhancur leburkan!”

Ju-taihiap pucat. Akhirnya ia melihat murid-murid yang lain berteriak dan roboh diterjang srigala-srigala itu, membacok dan bergulingan namun semua itu sia-sia. Dan ketika sebelas anak murid tercabik- cabik, potongan daging dan tulang mereka menjadi rebutan buas, lolong atau raung binatang itu menggetarkan telaga maka Ju-taihiap membentak dan mencoba membacok satu di antaranya, dengan Pek-jit- kiam.

“Tek!”

Namun tak apa-apa. Pek-jit-kiam, pedang pusaka itu mental dan srigala yang dibacok bahkan membalik dan meraung, taring dan giginya yang tajam berkilauan itu diperlihatkan. Lalu ketika ia meloncat dan menerkam pendekar ini maka Ju-taihiap berkelit dan kakinya bekerja.

“Buk!” srigala terlempar namun Majikan Hutan Iblis tertawa berkelebat. Ia tak mau pendekar itu mengganggu anaknya karena mereka tandingan para murid. Jago pedang itu harus menandinginya. Dan ketika Ju-taihiap membalik dan menangkis serangan itu, terpental dan dikejar serta mengelak sana-sini maka Tang Siu menolong namun teriakan dan jerit para murid mengguncang dua pimpinan ini, kacau dan sebuah tamparan akhirnya membuat si nyonya terpelanting.

Tang Siu meloncat bangun dan menyerang lagi namun bentakan aneh membuatnya berhenti. Ia dibentak bahwa pedang di tangannya adalah ular. Dan ketika nyonya itu terpekik namun lawan tertawa melepas totokan, It-yang-ci mengenai lehernya maka nyonya itu roboh dan tak sadarkan diri. Ju-taihiap tak berkawan lagi menghadapi lawannya yang luar biasa ini.

“Ha-ha, lihatlah, mengeroyokpun tak ada gunanya. Dulu kau boleh bangga, Ju-taihiap, tapi sekarang semuanya itu lenyap. Aku tak takut Pek-jit-kiam mu dan keroyokanmu bersama menantumu itu!”

Ju-taihiap melengking. Ia pucat melihat robohnya Tang Siu namun tak dapat berbuat apa-apa karena mengelak dan menangkis kebutan. Bau busuk dan wangi itu menyambar, satu di sebelah kiri namun yang lain di kanan. Dan ketika ia mengelak namun dicegat dari belakang, angin pukulan jubah berpusing dan menghantam di situ maka pendekar ini membalik dan pedang di tangan dibacokkan sekuat tenaga.

“Plak!”

Pedang mencelat dan terlepas. Ju-tai-hiap berteriak keras dan saat itu lawan menggerakkan telapak kirinya. Uap hitam menyambar dan kali ini bau busuk yang datang menyengat, hampir pendekar itu muntah- muntah. Tapi ketika lawan tertawa bergelak dan tak ada jalan bagi pendekar ini mengelak serangan, ia pasti roboh maka terdengar bentakan dan bayangan merah menyambar, cepat luar biasa.

“Manusia keji, belum waktumu membunuh orang baik-baik. Enyahlah dan serahkan anak itu kepadaku...plak-plak!”

Si iblis berteriak dan muncullah seorang gadis gagah perkasa menangkis serangannya. Pukulan uap hitam diterima dan lenyap bertemu telapak lunak halus itu, halus namun menenggelamkan pukulan lawan dan tiba-tiba keluar menghantam dirinya. Semua terjadi tiba-tiba dan tak di sangka. Dan ketika lelaki itu membanting diri ke kanan namun gadis itu mengejar dan mancengkeram pundaknya, Giok Cheng yang ada di situ disambar dan ditarik kuat maka laki-laki ini meloncat bangun dengan tawanannya berpindah tangan.

“Hm, begitu saja kepandaianmu, bagus! Tapi anak kecil tak boleh dibawa-bawa, iblis keji. Kau sekarang berhadapan dengan aku dan biar Ju-taihiap menolong murid-muridnya!”

Ju-taihiap tertegun. Seorang gadis berusia dua puluh satu atau dua puluh dua tahun berdiri berhadapan dengan Majikan Hutan Iblis itu, mengejek, membuat lawan melempar tubuh lebih jauh lagi namun Giok Cheng cucunya selamat. Gadis itu merampasnya. Dan ketika di sana laki-laki itu terbelalak dan meloncat bangun, Ju-taihiap lamat-lamat mengenal gadis ini maka gadis itu tertawa melempar Giok Cheng padanya, sekaligus menaburkan bubuk putih ke udara.

“Ju-taihiap, terimalah cucumu. Lihatlah menantumu itu dan halaulah binatang-binatang itu!”

Aneh, srigala-srigala tiba-tiba berbangkis. Mereka mencium sesuatu yang membuat hidung tersedak dan bubuk putih itu menyebar dengan cepat di seluruh pulau, Tak ada yang lewat disentuh bau harum memabokkan. Murid-murid Hek-yan-pang tiba-tiba juga berbangkis dan limbung, Ju-taihiap sendiri juga hampir berbangkis dan terkejut. Tapi ketika semua srigala tiba-tiba berbalik dan sempoyongan mundur, jatuh dan berlarian menuju telaga maka laki-laki berambut ekor kuda itu mendelik dan marah bukan main, gemetar.

“Kau. kau siapa? Kau memiliki Sian-tan Hong-li (Bubuk Bidadari)?”

“Hm, buka matamu baik-baik,” gadis itu mengejek, tertawa dingin. “Dulu kau mengejar-ngejar dan hampir membunuh aku, Majikan Hutan Iblis, tapi sekarang aku yang datang dan akan membunuhmu. Kau berhutang banyak jiwa, dan tak cukup dibayar dengan satu kali kematian!”

“Siapa kau!” laki-laki itu membentak. “Tak usah banyak cakap dan sebutkan namamu!”

“Aku Su Giok, puteri mendiang ayahku Su Tong. Nah, mungkin kau ingat ketika membunuh ayah dan ibuku serta juga kakek sekaligus guruku Pek-lui-kong dari utara. Lihat dan buka matamu baik-baik bahwa aku adalah gadis yang dulu kau kejar-kejar itu!”

“Ah, kau. kau benar Su Giok!” Ju-taihiap berseru dan mendahului ,terkejut dan seketika ingat. “Ah, kau benar gadis itu, Su Giok. Kau dulu pernah datang ke mari. Pantas aku serasa mengenalmu!”

“Hm, benar,” gadis itu menoleh, tertawa. “Tapi dulu terpaksa aku pulang, Ju-taihiap. Kau jual mahal tak mau mewariskan sedikit kepandaianmu. Sekarang aku sudah lebih tinggi darimu, tapi kebaikanmu dulu tetap kuingat. Minggirlah dan usir semua srigala-srigala memuakkan itu karena mereka masih terpengaruh tuannya. Biar aku hadapi iblis keji ini!”

Ju-taihiap berubah. Setelah dia mengenal dan teringat gadis ini maka dia terkejut sekaligus heran, juga tak senang. Su Giok yang dikenalnya dulu sekarang tinggi hati sekali, sombong dan angkuh. Namun karena orang telah menyelamatkan cucunya dan dia sendiri juga selamat berkat datangnya gadis ini, betapapun sombongnya dia harus tahu diri maka pendekar ini menarik napas dalam dan benar saja melihat srigala-srigala yang sudah berlarian ke tepi telaga itu tak jadi pergi karena memandang pada tuannya, takut namun lebih gentar menghadapi Majikan Hutan Iblis itu, yang berkilat dan tiba-tiba mencorong.

“Hm, kau Su Giok? Kau gadis yang dulu bersama-sama Pek-lui-kong itu? Ha-ha, kuingat sekarang. Bagus, kau masih hidup dan belum mampus, anak busuk, dan sekarang kau sombong sekali. Jangan kira bahwa dengan Sian-tan Hong-limu itu kau mampu menggertak anak-anakku. Heh. !” seruan ini ditujukan kepada ratusan srigala itu. “Serang, anak-anak. Maju dan bunuh semua ini... aungggg!”

Lolong atau raung itu kembali menggema. Suaranya menggetarkan dan Ju-taihiap terkejut. Ratusan anjing ganas itu tiba-tiba menyerbu kembali. Namun ketika gadis itu tertawa mengejek dan menyuruh dia menghalau, anjing-anjing itu tak kebal lagi maka Su Giok meloncat dan berkelebat menghadapi Majikan Hutan Iblis ini.

“Jangan takut, hajar dan bunuh mereka, taihiap. Kerahkan anak muridmu dan ketahuilah anjing-anjing itu tak memiliki kekebalan lagi!”

Ju-taihiap mencoba. Ia diserang tiga anjing liar dan Pek-jit-kiam menyambar, tepat membabat tiga ekor binatang itu dan muncratlah darah menyembur dari leher. Kepala tiga srigala itu putus. Dan ketika para murid bersorak dan menyambut musuh, mereka telah melihat gerakan Ju-taihiap tadi maka benar saja anjing-anjing itu terbabat dan hilanglah kekebalan akibat pengaruh hitam.

“Crat-crat-cratt!”

Tujuh srigala roboh dan menggelepar. Yang lain meraung namun murid-murid Hek-yan-pang menyerbu, mereka tidak lagi menunggu melainkan memapak dan mengejar binatang-binatang itu. Dan ketika sebentar kemudian belasan bahkan puluhan srigala tewas, dibacok atau ditusuk murid-murid Hek-yan-pang ini maka laki-laki bertopeng karet itu memekik dan menerjang gadis baju merah.

“Keparat, kau anak liar. Mampus dan terimalah pukulanku...wherrr-plakk!”

Gadis itu menangkis dan ternyata dapat menahan pukulan lawan, tak tergetar apalagi terdorong dan marahlah laki-laki itu menyerang lagi. Ia mengebutkan uap hitam namun si gadis menampar, uap buyar dan meraunglah laki-laki itu menerjang lagi.

Dan ketika empat pukulan berturut-turut ditangkis dan terpental, dua-duanya terdorong maka Majikan Hutan Iblis ini tak dapat menahan marahnya lagi dan rambut di belakang kepala yang dibentuk seperti ekor kuda itu menyambar, meledak namun dikelit dan selanjutnya kedua tangannya melakukan dorongan naik turun, diterima dan masing-masing terhuyung dan gusarlah laki-laki ini oleh kehebatan Cucu Pek-lui-kong yang dulu lemah dan rendah kepandaiannya itu telah menjadi sedemikian hebat dan luar biasa. Orang tak akan menyangka dan bakal tercengang.

Dan ketika gadis itu melengking dan berkelebatan lenyap, membalas dan melepas pukulan-pukulan panas maka laki-laki itu terbelalak dan mengeluarkan seruan-seruan heran.

“Toat-beng-liong-jiauw-kang (Kuku Naga Pencabut Nyawa)! Ah, ini Coan-po-ginkang (Ginkang Menerjang Ombak)!”

Gadis itu tertawa mengejek. Ia lebih mempercepat gerakannya lagi dan Toat-beng-liong-jiauw-kang yang dipunyai menyambar dan menyerang ganas, ganti berganti sepuluh kuku jarinya itu bergerak ke atas ke bawah. Dari ujung kuku itu mencuat sinar putih yang berkilau-kilauan, kian lama kian tajam hingga Majikan Hutan Iblis terdesak. Dan ketika laki-laki itu mengeluh dan mengelak serta menangkis, kalah cepat dan tergurat maka dia menggeram karena rasa panas membakar sekujur pundaknya.

“Kau. kau murid Hek-i Hong-li. Keparat, nenek itu melanggar janji!”

“Tutup mulutmu, tak usah bicara yang tidak-tidak. Guruku benar Hek-i Hong-li, manusia iblis, tapi kau tak berhak menyebutnya begitu saja. Mampus dan bayar jiwa orang tuaku atau terima ini danvpergilah.....des-plak!”

Laki-laki itu mengelak dan menangkis dan rambut di kepalanya menyambar leher lawan. Ia membalas dan tak diam saja dan kuku jari menancap di pangkal lengannya, menembus masuk dan laki-laki ini terkekeh. Ilmu roh, seperti yang tadi diperlihatkannya kepada Ju-taihiap dikeluarkan lagi. Gadis itu terkejut karena kukunya tembus ke dalam, masuk begitu saja namun lawan sama sekali tak terluka. Dan ketika ia terbelalak dan menarik tangannya maka laki-laki itu menendang dan ia terpelanting.

“Ha-ha, coba pukul lagi. Kau terlalu sombong, bocah. Ayo keluarkan Toat-beng-liong-jiauw-kangmu dan lihat seberapa hebat melukai aku!”

Su Giok berkelebat dan menyerang lagi. Ia penasaran dan kaget dan kini mencengkeram leher lawan, gerakannya begitu cepat hingga lawan tak sempat mengelit. Coan-po-ginkang itulah yang luar biasa. Tapi ketika gadis ini menjerit karena kukunya amblas begitu saja, lawan seakan benda halus maka kukunya ditarik lagi namun laki-laki itu menggerakkan rambutnya dan... plak-plak”

Su Giok terhuyung dan ganti menerima serangan. Majikan Hutan Iblis tertawa dan bertandinglah mereka seru. Su Giok menjadi marah namun ia sama sekali tak gentar. Toat-beng-liong-jiauw-kang terus menyambar-nyambar dan pukulan atau balasan lawan diterima dengan sinkangnya. Kini ia hanya tergetar atau paling banter terdorong setindak, maju dan membalas lagi dan ramailah mereka serang-menyerang. Dan ketika laki-laki bertopeng itu penasaran karena tak satupun pukulannya merobohkan gadis ini maka berkelebat bayangan hitam di atas Su Giok, cepat luar biasa.

“Siapa berani menghina Toat-beng-liong-jiauw-kangku. Serang dengan Touw-beng-tok-ciam, Su Giok. Hajar orang ini agar tahu adat!”

Su Giok berseru girang. Hek-i Hong-li, nenek sakti itu tiba-tiba terbang dan lenyap lagi. Ia hanya berkelebat diatas kepala muridnya tapi Majikan Hutan Iblis kaget setengah mati. Ia mengenal dan tentu saja tahu kehebatan nenek itu. Dan ketika Su Giok meraup dan melepas Touw-beng-tok-ciam (Jarum Beracun Penembus Roh) maka laki-laki itu berteriak dan tepat sekali jarum menancap di lehernya. Ilmu aneh seperti badan tak berwujud itu hilang.

“Aughh...!” Laki-laki itu bergulingan dan menjerit. Ia tak sanggup menahan jarum penangkal dan pemusnah ilmu hitamnya itu. Nenek sakti itulah penyebabnya. Su Giok menerima sebatang jarum ketika gurunya tadi lewat, meraih dan menyambitkannya ke lawannya itu dan Majikan Hutan Iblis meraung melempar tubuh. Jarum itu ternyata ampuh sekali, benar-benar penembus roh dan bergulinganlah laki-laki itu berteriak kesakitan. Dan ketika ia meloncat bangun dan gentar memandang Su Giok, takut gadis itu melempar jarumnya lagi maka laki-laki ini mengeluh dan berkelebat memutar tubuh melarikan diri.

“Kau pengecut, licik. Kau dibantu gurumu!”

Su Giok tertegun. Ia sebenarnya hanya memiliki satu jarum itu saja karena tadi ketika lewat gurunya memberikan jarum itu kepadanya. Majikan Hutan Iblis tak mengetahui ini dan mengira gadis itu memiliki simpanan jarum, padahal Touw-beng-tok-ciam hanya dimiliki nenek itu dan tak pernah diberikan siapapun, bahkan Su Giok sendiri. Maka ketika gadis itu tahu betapa ampuhnya jarum itu dan lawan dapat dibuat kesakitan, sayang hanya sebatang jarum itu saja maka gadis ini jadi ragu mengejar karena ia takut tanpa jarum itu ia menghadapi lagi ilmu aneh yang dimiliki lawan.

Dan saat itu terdengar jeritan dan lolong srigala. Sorak dan bentakan murid-murid Hek-yan-pang menyadarkan gadis ini, menoleh dan melihat betapa bangkai-bangkai srigala bergelimpangan di situ. Mereka tewas dan terbunuh murid-murid Ju-taihiap ini. Dan ketika ia sadar bergerak maju tiba-tiba terdengar jerit dan pekikan siauw-hujin.

“Heiii...!” Gadis itu terkejut. Siauw-hujin disambar bayangan hitam. namun ketika Su Giok hendak mengejar dan berkelebat memanggil tiba-tiba gadis ini tersenyum. Gurunya, Hek-i Hong-li tiba-tiba muncul dan menyambar Giok Cheng. Anak itu telah diberikan ibunya ketika Ju-taihiap menolong nyonya muda ini, menyambut dan menghalau srigala-srigala buas itu membantu para murid ketika gadis itu tadi menghadapi Majikan Hutan Iblis. Maka ketika kini Giok Cheng disambar bayangan hitam dan Tang Siu menjerit, kaget dan mengejar maka Ju-taihiap juga berkelebat namun Su Giok menyambar dan menghadang pendekar ini

“Tunggu, tak ada apa-apa. Harap taihiap biarkan enci Tang Siu bicara dengan guruku!”

Jago pedang itu tertegun. “Gurumu?”

“Benar, kami datang karena cucumu, taihiap. Kebetulan saja melihat lawanmu itu dan datang menolong. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan secara pribadi!”

“Hm,” jago pedang ini tertegun. “Kau sekarang hebat, Su Giok. Kalau itu gurumu biarlah aku di sini. Aku ingin mengucap terima kasih atas pertolonganmu tadi. Kau telah menyelamatkan kami semua!”

Gadis itu tersenyum kecil. “Sudahlah, aku ke sini secara kebetulan saja. Aku hanya mengikuti kehendak subo. Terima kasih kembali dan biar kutengok seluruh pulau ini!” Su Giok berkelebat dan tiba-tiba lenyap.

Coan-po-ginkang yang dimilikinya membuat jago pedang itu kagum, Ju-taihiap mendesis namun segera menengok anak-anak murid lainnya. Dan ketika semua selamat namun Su Giok tak pernah kembali, gadis itu menghilang sejak ingin memeriksa telaga maka menantunya muncul dan menahan isak kecil. Giok Cheng tak ada bersamanya.

“Eh, mana cucuku Cheng-ji. Ada apa sendirian!”

“Maaf,” nyonya muda itu menunduk, mengusap air matanya. “Giok Cheng dibawa nenek itu, gak-hu. Aku... aku memberikannya.”

“Apa?”

“Benar, pikiranku terbaca. Nenek itu datang karena ingin membawa Giok Cheng. Anak itu mau dan aku tak dapat mencegahnya pula.”

“Eh!” pendekar itu berkelebat mencengkeram pergelangan menantunya ini. “Apa artinya itu, Tang Siu. Bagaimana kau tiba-tiba menyerahkannya begitu saja. Kenapa tidak menunggu suamimu Han Han dan melepaskannya sendirian!”

“Giok Cheng sudah lama merindukan nenek itu. Getaran keinginannya ditangkap. Dan karena nenek itu memang hebat dan Giok Cheng sendiri tak dapat kucegah maka kubiarkan mereka pergi, gak-hu. Aku akan mempertanggung jawabkan ini kepada Han Han!”

Jago pedang itu tertegun. Sungguh tak disangkanya bahwa cucunya tiba-tiba dibawa orang, begitu mudah dan cepat! Namun karena dia maklum bahwa sang ibu tak berbuat apa-apa, dia hanya sedikit menyesal kenapa Tang Siu tak menunggu Han Han maka pendekar itu menarik napas dalam dan sebagai orang berpengalaman dia menangkap kegembiraan di hati menantunya ini, biarpun Tang Siu menunjukkan muka sedih.

“Baiklah.” Katanya kemudian, “kau sudah melakukan itu, Tang Siu. Giok Cheng tak mungkin ditarik kembali kalau sudah dibawa nenek itu. Dan karena kau mempertanggungjawabkannya kepada suamimu biarlah Han Han mendengarnya sendiri darimu. Hanya harap diingat kalau sampai ada apa-apa dengan anakmu itu tentu aku sebagai kakeknya akan menegurmu keras!”

“Aku siap,” wanita itu tengadah. “Aku tahu semuanya ini, gak-hu, tapi aku percaya bahwa Giok Cheng akan selamat di bawah bimbingan nenek itu. Dia benar Hek-I Hong-li yang diceritakan Giam Liong!”

Hari itu jago pedang Ini tepekur. Anak-anak murid akhirnya mengurus yang luka-luka dan mengubur bangkai srigala-srigala yang tewas. Mereka masih terteguncang oleh peristiwa itu namun datangnya Su Giok membawa harapan baru. Gadis baju merah itu ternyata lihai sekali dan mereka teringat sekarang. Itulah cucu dari Pek-lui-kong yang dulu datang berkunjung. Lihai sekali!


“Hm, begitu? Dan dia berani datang mencari aku? Keparat, sudah lama tak ada beritanya, Pao-hwi, kini datang membuat kejutan. Tapi ayah dan isteriku di sini, tentu dia tak banyak berkutik!“

“Salah, Ju-taihiap tak mampu berbuat apa-apa. Kalau tak ada gadis baju merah cucu Pek-lui-kong itu tentu kami di sini semua binasa, kongcu. Manusia itu semakin hebat saja dan sakti. Tubuhnya tak dapat dilukai dan tembus seperti roh!”

“Benar, dan bayangkan, kongcu. Pek-jit-kiam milik ayahmu juga tak mampu berbuat apa-apa!”

“Tapi Cheng-siocia tak bersama ibunya lagi,” seseorang berbisik. “Kami tak tahu kemana dia, suheng. Temuilah ayahmu atau isterimu itu!”

Han Han berkelebat. Mendengar yang terakhir ini seketika wajahnya berubah. Dia kaget sekali oleh berita susul-menyusul itu. Tapi ketika dia bertemu ayahnya di serambi depan, duduk dan bangkit berdiri maka Han Han berhenti dan sang ayahpun tertegun.

“Kau, eh.... sudah datang? Bagus, ada kejutan, Han Han. Majikan Hutan Iblis menyatroni kita. Ia muncul lagi. Kami diserang dan...”

“Ayah tak usah bicara itu.” Han Han memotong dan gemetar, menangkap dan mencengkeram lengan ayahnya ini. “Aku ingin tahu tentang Giok Cheng, ayah, benarkah tak ada bersama ibunya lagi?”

“Hm, itu?” pendekar ini tiba-tiba menghela napas, duduk lagi. “Tanyalah isterimu, Han Han, tapi jangan emosi dan tenang-tenang sajalah.”

“Di mana Siu-moi.”

“Di kamar.”

Han Han berkelebat dan lenyap lagi. Tanpa menunggu ayahnya mengulang ia meloncat dan masuk ke dalam. Ju-taihiap tersenyum namun diam-diam tegang juga. Maka ketika puteranya menendang pintu kamar dan Tang Siu terkejut berseru tertahan, meloncat dari pembaringan maka pendekar itu mengintai dan mendengar pembicaraan, hati-hati.

“Kau, di mana anak kita Giok Cheng! Eh, aku mendengar datangnya manusia iblis itu, Siu-moi, tapi dimana anak kita kenapa tak bersamamu lagi. Siapa yang membawa!”

“Hm, Tang Siu tersenyum dan tiba-tiba tertawa lega, melepas pedangnya lagi. “Datang-datang membuat kejutan saja, Han-ko. Kau membuat kaget dan hampir menyerang. Kenapa mendobrak pintu kamar sampai terlepas sulamanku!”

“Aku bertanya Giok Cheng, benarkah tak ada di sini lagi!”

“Hm, duduklah. Ada banyak yang harus diceritakan, suamiku. Minumlah air dingin dan biarkan kepalamu tak panas dulu.”

“Tidak, aku ingin tahu tentang Giok Cheng. Di mana dia dan apa yang terjadi!”

“Anak kita selamat. Dibawa seseorang...”

“Kau membiarkannya pergi?”

“Duduklah, suamiku, jangan terlampau tegang begini. Aku akan bercerita tapi berjanjilah kau tak akan marah!”

“Hm,!” Han Han melihat isterinya tersenyum, wajah itu berseri-seri. “Kalau tak ada sesuatu tentu aku tak akan marah, Siu-moi. Ceritakan dan jangan aku berdebar tegang!”

“Aku tahu, tapi duduk dan bersabarlah,” lalu ketika Han Han duduk dan disuruh minum, menolak tapi sang isteri mengangkatnya dekat bibir maka pemuda itu meneguk dan gelisah meletakkan gelas itu.

“Cukup, sekarang katakan dan di mana Cheng-ji!”

“Hm, dibawa nenek sakti Hek-i Hong-li.”

“Apa?”

“Tenanglah, kau agaknya sudah mendengar datangnya manusia iblis itu, Han-ko, tapi tidak nenek ini yang telah membuat aku lega. Giok Cheng dimintanya sebagai murid, dan aku memberikannya karena Giok Cheng juga mau.”

“Nanti dulu, bagaimana nenek itu datang ketika manusia iblis itu mengacau. Masa demikian kebetulan!”

“Hm, agaknya begitu, Han-ko, dia datang bersama muridnya.”

“Murid?”

“Ya, gadis lihai cucu mendiang Pek-lui-kong itu ”

“Oh-oh, ya, aku sudah dengar. Lalu kenapa nenek itu datang mengambil Giok Cheng sebagai muridnya pula, bukankah sudah ada gadis itu!”

“Hm, aku tak tahu kenapa, Han-ko, tapi barangkali karena getaran pikiranku. Nenek itu datang dan menyatakan bahwa ia merasa dipanggil Giok Cheng.”

“Dipanggil Giok Cheng? Bagaimana ini? Aku bingung, Siu-moi, tapi ramalan suhu ternyata tepat. Majikan Hutan Iblis itu masih hidup dan datang ke mari. Ah, untung kalian tak apa-apa. Ceritakan sekarang apa maksudmu tadi, kenapa dengan Giok Cheng dan pikiranmu!”

“Giok Cheng merindukan nenek itu, setiap malam mengigau ingin menjadi murid.”

“Mengigau? Menjadi murid? Kalau begitu kau yang menceritakannya!”

“Benar, aku yang menceritakannya, Han-ko, dan terus terang aku juga ingin menyerahkan puteriku sebagai murid.”

“Kau gila, apa maksudmu itu. Bukankah ia sudah kugembleng dan ada kakeknya pula di sini!”

“Hm, kau maupun gak-hu agaknya tak dapat mengalahkan manusia iblis itu sekarang. Dia semakin lihai dan hebat, Han-ko, bukan tandingan kita. Dikeroyok duapun tak roboh. Pek-jit-kiam juga tak banyak berguna dan kita semua hampir mati dibunuhnya!”

Nyonya itu lalu menceritakan peristiwa di tepi telaga. Han Han sudah mendengar namun tak mau memotong. Cerita isterinya lebih lengkap. Dan ketika isterinya menutup bahwa berkat Su Giok mereka selamat maka dia gemetar mengepal tinju mendengar kata-kata terakhir isterinya.

“Su Giok yang baru empat lima tahun menjadi murid sudah sedemikian hebat dan luar biasa. Dan aku membayangkan betapa Giok Cheng bakal kalah jauh dibanding Sin Gak. Ingat bahwa anak kita harus lebih hebat daripada ayah atau pendahulunya, Han-ko. Kalau tidak nenek sakti itu siapa lagi yang mendidik. Aku rela, empat lima tahun lagi anak kita bakal melebihi kita. Aku tak mau kalah dengan Sin Gak kalau anak itu di bawah gemblengan seorang kakek sakti!”

“Jadi kau mau berlomba? Dan kau rela Giok Cheng harus berpisah dengan ayah dan kakeknya?”

“Demi masa depan anak itu aku rela, Han-ko. Kita yang tua harus mengalah dan memberinya kesempatan seluas-luasnya.”

“Tapi kau harus memberi tahu aku dulu!”

“Kau tentu tak akan melepaskan.”

“Ah, tentu saja, Siu-moi. Kita tidak tahu, bagaimana watak nenek itu. Dan suhu sedikit bercerita tentang Hek-i Hong-li. Nenek itu keras dan sombong pada masa mudanya!”

“Hm, aku tak perduli. Anak itu darah dagingmu, tak mungkin sombong atau bertingkah macam-macam kalau ayah ibunya baik. Aku sudah bertemu dan bercakap-cakap dengan nenek itu, Han-ko, dan nenek itu senang bahwa Giok Cheng menjadi muridnya. Ia pun mencari tandingan Sin Gak!”

“Ah, kau selalu bicara tentang Sin Gak. Kau mencari-cari tandingan. betapapun seharusnya kau harus menunggu aku, Siu-moi, aku ayahnya dan suamimu. Kau tak bisa bertindak sendiri!"

“Kalau begitu apa maumu, aku berbuat demi kebaikan anak!”

“Hm, kau sembrono. Aku harus menemui nenek itu atau kuminta anakku!”

Ju-taihiap tiba-tiba masuk. Suami isteri muda yang bersitegang dan rupanya mau tarik urat ini tiba-tiba dibuat terkejut. Batuk-batuk pendekar itu membuat mereka menoleh, menahan diri. Dan ketika pendekar itu berdehem dan mengurut jenggot pendeknya, Han Han tertegun maka pendekar ini berkata bahwa yang sudah terjadi tak perlu dirobah lagi.

"Sudahlah, sekarang aku tahu kenapa mantuku berubah girang. Ia dan gagasannya tidak salah, Han Han. Giok Cheng memang harus menjadi yang lebih hebat dibanding ayah atau kakeknya. Aku juga merasakan bahwa kepandaianku tak berarti banyak bagi lawanku yang hebat itu. Majikan Hutan Iblis sudah berobah luar biasa, kepandaiannya meningkat pesat. Daripada ribut-ribut padahal tak mungkin Giok Cheng kembali di sini lebih baik kau tenangkan pikiranmu dan keinginan dan cita-cita isterimu. Aku tahu penyebabnya. Mari di luar saja dan ceritakanlah hasil perjalananmu.”

Han Han sadar. Sang ayah memberi kedipan dan ia mengangguk, melirik sang isteri dan Tang Siu tampak lega. Isterinya itu sudah siap menantang dan beradu keras. Ada sesuatu yang menjadi dasar utama. Dan karena dia mengenal gerak-gerik ayahnya dan isyarat itu cukup, ayahnya hendak bicara sesuatu yang mendasar maka dia berkelebat dan meninggalkan isterinya. Tang Siu terisak dan melemaskan jari-jarinya. Ia tadi mengepal tinju!

“Hm,” sang ayah sudah duduk dan di serambi depan lagi. “Tak guna marah-marah atau memaki isterimu, Han Han. Kita harus melihatnya lebih jauh. Ia benar, meskipun salah tak menunggu dirimu. Dan karena aku dapat menangkap sebab-sebab utamanya maka dengarlah kata-kataku karena memang terjadi perobahan besar dengan musuh kita itu.”

“Apa yang ayah maksudkan, apakah kesaktian atau ilmu manusia iblis itu!”

“Bukan itu saja, tetapi kembali dan kita bicara tentang isterimu. Akhir-akhir ini sering kudengar ia menina-bobok puterimu, Han Han, berbisik dan mendongeng tentang Hek-i Hong-li itu. Tak kusangka bahwa ia menanamkan keinginan kuat agar Giok Cheng tergila-gila pada nenek itu. Isterimu menaruh dendam amat besar kepada Majikan Hutan Iblis. Ia terpukul oleh kematian Yu Yin, sahabatnya!”

“Tapi aku juga terpukul oleh kematian ibu!”

“Benar, tapi ia masih lebih lagi, Han Han. Ingat bahwa gurunya Kim-sim totiang juga binasa, dicincang. Dendam isterimu jauh lebih hebat daripada kau dan aku khawatir akan ini!”

“Hm!” Han Han tertegun. “Kau benar ayah. Kalau begitu bagaimana selanjutnya.”

“Diam-diam api dendamnya menumpuk, juga diam-diam agak kecewa kepada kita.”

“Apa?”

“Sst, dengar, anakku. Apa reaksinya ketika dulu kau bercerita tentang Hek-i Hong-li dan Sian-eng-jin itu. Tidakkah kau lihat betapa sepasang matanya bersinar-sinar aneh. Aku sekarang tahu apa artinya itu. Isterimu mulai membanding-bandingkan kita!”

“Hm, ia tak puas bahwa kepandaian kita begini-begini saja?”

“Bukan begitu, Han Han, melainkan bahwa ia melihat ada orang-orang yang kepandaiannya jauh di atas kita. Dan ia menaruh harapan!”

Han Han tertegun. Teringatlah ia ketika dulu isterinya begitu bersinar-sinar mendengarkan cerita, bahwa Giam Liong tak mampu menghadapi kakek sakti Sian-eng-jin dan nenek Hek-i Hong-li itu. Sin Gak akhirnya dibawa kakek itu sementara si nenek entah berada di mana. Mereka tak tahu bahwa Hek-i Hong-li akhirnya membawa Su Giok. Dan karena Giam Liong bersungguh-sungguh menceritakan kekalahannya, isterinya tertarik dan mereka sendiri sebenarnya juga hampir tak percaya maka cerita itu ternyata membekas dalam di hati isterinya sampai timbul keinginan menyerahkan Giok Cheng menjadi murid.

“Ini tidak aneh, wajar-wajar saja,” sang ayah melanjutkan. “Dan aku juga merasa semakin tua, Han Han, semakin lemah. Kalau Pek-jit-kiam di tanganku tak berarti banyak di hadapan iblis itu maka aku tak tahu lagi harus berbuat bagaimana!”

“Tapi ayah tak mencegah nenek itu?”

“Mencegah? Hm, aku sendiri tak tahu bagaimana wajah dan bentuk nenek itu, Han Han. Yang tahu dan melihat adalah isterimu. Aku hanya tahu bayangan hitam lewat dan selanjutnya lenyap!”

Han Han melebarkan mata. Sang ayah lalu menceritakan kejadian itu, betapa nenek itu muncul dan lenyap seperti siluman. Dan ketika ayahnya menyatakan kagum akan ginkang yang digunakan Su Giok, betapa itu adalah Coan-po-ginkang yang amat luar biasa maka ayahnya memuji bahwa Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Terbang Ke Langit) yang dimiliki Han Han masih kalah setingkat.

“Tidak mengecilkan hatimu. Tapi apa yang kulihat dari gadis itu memang mentakjubkan, Han Han. Ia mampu melesat dua kali lebih cepat daripada ilmu meringankan tubuhmu, padahal gadis itu baru empat atau lima tahun saja digembleng si nenek. Dapat kau bayangkan betapa hebatnya kalau nenek itu sendiri yang mempergunakan ilmunya. Aku sungguh bukan tandingannya!”

Han Han menarik napas dalam-dalam. Kalau ayahnya sudah memuji seperti itu maka si nenek benar-benar hebat bukan main. Muridnya saja sudah sedemikian lihai apalagi gurunya. Tapi mengerutkan kening teringat musuh utamanya dia bertanya, “Dan ayah tadi mengatakan bahwa dengan Pek-jit-kiam Majikan Hutan Iblis itu tak mampu dirobohkan. Kepandaian apakah yang digunakan hingga bisa seperti itu, ayah?”

“Aku tak tahu, yang jelas ilmu iblis seperti roh. Ia tembus ketika kutusuk!”

“Hm, dan ramalan suhu benar. Ia masih hidup, dan akan menyatroni tempat kita lagi. Ah, terlambat aku pulang, ayah. Tapi untung ada nenek itu dan Su Giok!”

“Ya, dan aku bersyukur. Namun laki-laki itu lenyap lagi dan menghilang!”

Han Han telah mendengar selengkapnya. Akhirnya ia tak mempersoalkan lagi sikap isterinya mengenai Giok Cheng. Anak itu telah dibawa Hek-i Hong-li, biarlah yang lewat tetaplah lewat. Dan ketika malam itu ia tepekur bersama ayahnya tiba-tiba keesokannya muncullah Giam Liong terbata-bata, datang menceritakan bahwa di segala penjuru muncul Majikan Hutan Iblis yang banyak dan kesemuanya lihai!

* * * * * * * *

Pagi itu, merenungi kepergian puterinya di tangan Hek-i Hong-li putera Ju-taihiap ini tak tampak gembira. Semalam sang ayah menasihati banyak-banyak dan menyuruh pemuda itu tawakal. Tang Siu akhirnya menyesal juga melihat kemurungan suaminya. Ia bersikap lunak. Namun ketika pagi itu suami isteri ini memandangi telaga, Tang Siu meletakkan teh panas di meja maka Han Han tiba-tiba berseru menuding ke depan. Seorang pemuda tertatih dan terhuyung-huyung jatuh bangun, terseok.

“Giam Liong...!”

Han Han berkelebat meninggalkan kursinya. Si buntung, yang muncul dan pagi itu tampak pucat kelihatan susah benar menuju tengah pulau. Giam Liong telah muncul di tikungan depan rumah dan roboh, bangkit dan terseok melangkah lagi sementara baju dan pakaiannya robek-robek. Beberapa luka tampak di pundak dan lengannya. Dan ketika Han Han berkelebat dan menyambar sahabatnya ini, Giam Liong mengeluh maka si buntung itu terguling dan merintih minta air.

“Haus..... aku haus. Aughh, tenggorokanku serasa kering, Han Han.Mana ayah?”

“Kau kenapa,” Han Han terkejut, merangkul dan memapah sahabatnya ini. “Lama tidak ke sini, Giam Liong. Sekarang datang dengan luka-luka. Siapa yang menyerangmu!”

“Jahanam keparat itu, Majikan Hutan Iblis. Aughh... jangan keras-keras menekan pundakku, Han Han. Aku sedang bingung!”

Han Han tak banyak bicara lagi. Ia meloncat dan membawa si buntung ini ke beranda rumah dan Giam Liong terguling di situ. Si Naga Pembunuh ini rupanya kelelahan, juga kesakitan. Dan ketika ia menotok sementara isterinya memberi tahu sang ayah, ayahnya berkelebat dan muncul di situ maka Giam Liong mengeluh dan menggigil.

“Ayah...!”

“Giam Liong!” Ju-taihiap memeluk dan menerkam putera angkatnya ini. Giam Liong megap-megap dan menahan cucuran air mata. Kepedihan dan kemarahan tampak disitu. Lalu ketika Ju-taihiap bertanya apa yang terjadi maka Han Han yang sudah memberinya minum menyuruhnya duduk.

“Aku.... aku diserang Majikan Hutan Iblis, berhasilkubunuh.Tapi tapi ia hidup lagi, ayah.Jahanam itu seperti bernyawa rangkap dan ada di mana-mana!” “Bagaimana bisa begitu,” Ju-taihiap merasa seram. “Beberapa hari yang lalu ia juga datang ke sini, Giam Liong. Dan hampir saja aku binasa!”

“Aku juga begitu, tapi seseorang menolongku. Golok Maut, ah senjata itu tembus seperti menusuk kabut!”

“Sama seperti di sini,” Ju-taihiap berseru. “Aku juga begitu, Giam Liong. Pek-jit-kiam yang ampuh tak mampu melukainya!”

“Tapi ia hidup lagi. Jahanam itu... manusia iblis itu, ah, ia menyeramkan, ayah. Aku jatuh bangun menghadapi lawanku yang berjumlah banyak. Aku... aku ngeri dan bingung!”

Naga Pembunuh yang terkenal dingin dan tabah ini tiba-tiba menangis. Giam Liong yang terkenal pemberani itu mendadak kelihatan ngeri, gentar. Tapi ketika ia menggeram dan menghapus air matanya maka Giam Liong tampak beringas dan penuh marah.

“Ceritakanlah kepada kami. Bagaimana itu bisa terjadi dan apa pengalaman yang menimpamu.”

Giam Liong lalu bercerita. Ia sejenak tersendat-sendat dan marah tapi juga gentar. Namun ketika Han Han menepuk pundaknya dan menenangkannya maka apa yang diceritakan si buntung ini benar-benar menyeramkan dan terasa lebih hebat lagi. “Aku bertahun-tahun mencarinya, tak kenal putus asa. Dan ketika suatu hari aku tiba di pegunungan Kui-san tiba-tiba saja aku bertemu musuhku itu!”

“Hm, dan tentu kau bertanding hebat!"

“Benar, ayah, tapi kali ini kejutan. Ia tak mempan Golok Mautku!”

“Ceritakanlah. Tentu seru pengalamanmu itu, Giam Liong. Aku juga merasakan bahwa manusia itu semakin luar biasa dan memiliki ilmu iblis!”

“Ya, benar. Tubuhnya seakan kabut, Ia tertawa menantangku dan golok di tangan kutusukkan. Tapi aku seakan menusuk asap, ayah, Golok Maut tembus begitu saja tak mengenai badan kasar!”

“Sama dengan pengalamanku. Pek-jit-kiam di tanganku juga begitu, Giam Liong. Entah ilmu setan apa yang digunakan hingga tak mampu dibacok!”

“Ya, tapi seseorang tiba-tiba membantuku. Aku tak tahu siapa namun laki-laki itu tiba-tiba berteriak. Dalam pertandingan yang sengit dan menegangkan mandadak dari belakang menyambar sinar biru seperti bintang. Sinar itu mengenai punggungnya dan segala ilmu hitam yang dipunyai lenyap. Golok Maut mencoblos jantungnya dan lawanku itu roboh binasa!”

“Tapi ia telah datang menyatroni aku,” Ju-taihiap terbelalak. “Baru empat hari yang lalu ia datang, Giam Liong, dan aku hampir celaka!”

“Benar, lawanku itu ternyata hidup lagi, ayah. Sebab setelah ia kubunuh dan aku hendak ke Lembah Iblis tiba-tiba ia menghadang dan muncul lagi!”

“Untuk apa ke Lembah Iblis?” Han Han bertanya.

“Untuk menyimpan golok ini, Han Han. Aku bermaksud menyimpannya lagi setelah musuhku itu mampus. Tapi.... tapi ia masih hidup. Aku tak tahu bagaimana namun jelas ia masih hidup. Dan Majikan Hutan Iblis rupanya bukan hanya seorang!”

“Hm, mengejutkan sekali. Coba ceritakan bagaimana itu, Giam Liong. Masa ada demikian banyak Majikan Hutan Iblis!"

“Ya!, aku mula-mula tak percaya. Tapi kenyataan membuktikan itu, ayah, atau mungkin ia hidup lagi disembuhkan seseorang!”

Ju-taihiap seram. Tang Siu mengeluarkan seruan tertahan sementara Han Han suaminya terbelalak pucat. Hebat cerita yang didengar ini. Tapi ketika ayahnya batuk-batuk dan meminta Giam Liong melanjutkan ceritanya lagi maka si buntung itu gemetar.

“Aku... aku sangsi. Yang kuhadapi itu manusia atau bukan. Jangan-jangan ia roh jahat yang menyebar kutuk di bumi ini!”

“Hm, tak ada roh yang seperti itu, Giam Liong. Yang ada ialah roh jahat yang memasuki tubuh seseorang. Lanjutkanlah dan bagaimana seterusnya.”

“Aku berhenti di mulut lembah, orang itu menghadangku di depan.”

“Hm, kau sudah tiba di Lembah Iblis?”

“Benar, dan aku siap naik ke atas, Han Han, ketika tiba-tiba lawanku itu muncul dan tertawa mengerikan!”

“Bagaimana selanjutnya, tentu kau menyerang dan mempergunakan Golok Mautmu.”

“Benar, kutusuk ia, kubacok. Tapi lagi-lagi pengalaman pertama membuat aku terkejut. Golokku menembus dan lewat begitu saja. Aku seperti menusuk segumpal asap!”

“Ah, kemudian bagaimana, Giam Liong. Apakah kau akhirnya roboh dan dikalahkan lawanmu itu!”

“Tidak, seseorang lagi-lagi membantuku, Han Han, sinar kebiruan seperti bintang itu menyambar, menghantam punggungnya. Dan setiap ledakan terdengar tentu lawanku menjerit dan ilmu hitamnya hancur. Golokku akhirnya menyambar dan menancap di dadanya. Kuhisap darahnya kering!”

Han Han ngeri. Ia memandang Golok Maut di punggung pemuda itu dan mengerutkan kening. Golok ini kalau sudah mencium darah manusia memang bisa menghisap dan mengeringkan tubuh manusia. Golok itu adalah golok iblis, siapapun sudah kenal. Tapi ketika ayahnya batuk-batuk dan bertanya bagaimana selanjutnya maka Giam Liong dengan mata berapi menjawab beringas,

“Kepalanya kupenggal, kubuang jauh-jauh. Tapi ketika empat hari lewat dan Golok Maut tak jadi kusimpan maka orang itu muncul lagi dan untuk ketiga kalinya aku bertanding hebat!”

“Hm-hm, nanti dulu. Apakah kau tidak melihat wajah di balik topeng karet itu, Giam Liong. Apakah setiap membunuh kau tidak memeriksanya cermat!”

“Aku sudah memeriksanya, tapi setiap kubuka maka yang kudapati adalah wajah yang tidak jelas!”

“Tidak jelas? Maksudmu bagaimana?”

“Wajah itu seperti wajah kanak-kanak, ayah, wajah yang buram dan sulit kukatakan seperti apa. Kulit itu terkelupas apabila tersentuh!”

“Hm, macam apalagi ini,” jago pedang itu merasa heran. “Bagaimana ada wajah seperti itu, Giam Liong. Jadi setiap kau buka maka kulit wajah itu akan tertarik berikut topengnya.”

“Benar, dan aku sulit mengenalinya. Tapi ketiga-tiganya sama seperti itu dan kalau kubuka topeng karetnya maka wajah itu hancur dan terbeset!”

“Jadi kau mengalahkannya lagi?"

“Sulit kujawab seperti itu, karena sesungguhnya bantuan seseorang itu masih berjalan dan menolong aku!”

“Hm, siapa ini?” Ju-taihiap mengerutkan kening. “Apakah bukan Hek-i Hong-li, Giam Liong, nenek yang pernah kau temui itu, atau barangkali Su Giok!”

“Su Giok?”

“Ya, cucu mendiang Pek-lui-kong itu. Ia sekarang lihai bukan main dan menjadi murid nenek baju hitam itu!”

Giam Liong tertegun. Tiba-tiba ia ingat gadis baju merah itu namun menggeleng. Kenangannya terhadap gadis itu tak enak. Dan karena ia tak melihat bayangan hitam atau merah, ia tak melihat apa-apa maka pemuda ini menarik napas dalam. “Aku tak tahu, semuanya berjalan secara misterius. Tapi yang paling mengguncangkan aku adalah peristiwa keempat kalinya, ayah. Di sini muncul sesuatu yang lain yang membuat aku tergetar dan seakan di alam lain!”

“Apa yang terjadi.”

“Peristiwa di sungai Huang-ho, cerita yang seperti mimpi. Waktu itu aku naik perahu dan empat Majikan Hutan Iblis muncul di atas air!”

“Empat Majikan Hutan Iblis?”

“Benar, ayah, empat Majikan Hutan Ibils. Mereka sama-sama bertopeng dan sebentuk serta sebangun. Tinggi dan potongannya sama, pendeknya empat manusia kembar!”

“Hm, baru kudengar ini. Lalu bagaimana?” Ju-taihiap tegang, membelalakkan mata.

“Aku berhenti, ayah, dan tentu saja terkejut. Mereka itu melangkah di atas air tanpa bantuan apapun, seperti mahluk halus!”

“Ihh, benar-benar siluman. Mengerikan! Apakah bukan karena ilmu meringankan tubuh yung luar biasa, Giam Liong. Masa ada orang dapat berjalan di atas air!” Tang Siu berseru dan nyonya muda itu tampak pucat.

“Hm, berjalan di atas air dengan ginkang yang sudah mencapai tingkat tinggi bukan hal aneh, Tang Siu. Aku atau Han Han dapat melakukannya. Tapi mereka itu mengambang dan benar-benar berjalan di atas air, tidak menyentuh riak atau gelombangnya!”

“Ilmu hitam. Tentu sejenis Mo-seng-sut atau apa!”

“Benar, ayah, aku juga menduga begitu. Tapi yang ini lebih hebat lagi karena dapat lenyap dan hilang di dalam air! Aku akhirnya menyerang dan menggerakkan golokku dan keempatnya tiba-tiba hilang ke dalam air. Lalu ketika aku celingukan dan mencari sana-sini tiba-tiba perahuku terbalik dan aku jatuh di atas air pula!”

“Hm!” Han Han ngeri. “Kau tentu harus berjungkir balik ke seberang, Giam Liong. Atau kau celaka bertempur tanpa papan peluncur.”

“Sama saja. Aku memang berjungkir balik dan mendarat di seberang. Tapi di sanapun mereka mengejar dan tidak menyentuh tanah sama sekali, mengambang. Dan ketika aku mengamuk dan menusuk atau membacok mereka maka ilmu roh yang dipunyai mereka itu membuatku sia-sia dan habislah harapanku ketika itu!”

“Apakah orang yang selalu membantumu itu tak datang?”

“Akhirnya datang juga, namun bersamaan dengan itu terdengar suara menggelegar dan bunyi keras di langit. Aku melihat bayang-bayang hitam tinggi besar menerkam dahsyat. Mahluk itu menampar sinar kebiruan yang dilontarkan penolongku, meledak dan empat Majikan Hutan Iblis itu mencelat dan terlempar tinggi ke langit. Selanjutnya ketika aku bengong, namun juga terlempar oleh ledakan dahsyat itu, mencelat masuk sungai maka aku terbawa hanyut dan di dalam perjalanan ini aku serasa mimpi saja, ditarik dan dibawa terbang seseorang!”

“Hm, seperti dongeng, tak masuk akal. Kau bukan pemuda biasa, Giam Liong. Kau adalah pemuda yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Masa begitu saja kau dibawa orang dan disambar terbang!”

“Benar, waktu itu aku terlempar dan mencelat ke sungai, ayah, aku terbanting dan kepalaku membentur benda keras. Aku pening. Dan ketika pening serta setengah sadar itulah aku tahu-tahu merasa dibawa terbang seseorang dan diajak meluncur tinggi sekali, menembus langit!”

“Kau rupanya terguncang otakmu,” sang ayah menggeleng-geleng kepala. “Ceritamu benar-benar tak masuk akal, Giam Liong. Agaknya guncangan demi guncangan yang kau terima membuatmu kacau!”

“Aku tidak merasa seperti itu,” Giam Liong menggeleng, marah. “Aku sadar dan tidak mengalami guncangan otak, ayah. Aku waras dan karena itulah kukatakan tadi bahwa ceritaku selanjutnya seperti mimpi. Aku melihat mahluk tinggi besar menyerang seorang kakek bermuka merah, yakni yang menyambar dan membawaku terbang itu. Lalu ketika keduanya bertanding hebat maka Huang-ho bergolak dan sungai di bawahku itu membuih dan bergelombang besar. Pukulan-pukulan mereka tak kuat ditahan sungai itu hingga seperti mendidih!”

“Hm, apakah kakek itu Sian-eng-jin.”

“Bukan, lain lagi, ayah. Mahluk tinggi besar itu menyebutnya sebagai Song-bun-liong (Si Naga Berkabung). Mereka bertanding hebat dan baru kali itu aku melihat pertempuran besar orang-orang sakti. Langit seketika gelap dan hujan serta api sambar-menyambar. Gunung-gunung berderak dan Himalaya di kejauhan sana menggelegar!”

Tapak Tangan Hantu Jilid 15

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 15
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“PLAKK!”

Pendekar ini mengeluh bergulingan. Ia tak sempat mengelak tamparan itu dan juga tak sempat menangkis. Ia menerima pukulan dan merasa sekujur tubuhnya terbakar. Tapi ketika ia meloncat bangun dan mengerahkan sinkang, meniup dan menghembus seluruh tubuhnya maka hawa panas itu hilang dan rasa terbakar yang membuatnya terkejut lenyap sama sekali.

“Hm, cukup hebat, tapi tak mungkin dapat bertahan sekali dua. Ha-ha, kau majulah dan gunakan pedangmu lagi, Ju-taihiap. Lihat aku tak takut dan tak akan mengelak!”

Ju-taihiap terbelalak oleh kata-kata itu. Ia baru saja hilang kagetnya oleh kesaktian yang ditunjukkan lawannya ini. Pek-jit-kiam seakan menembus roh! Tapi ketika ia terbelalak dan kaget serta marah, para murid juga terhentak dan berseri mundur maka menantunya, Tang Siu, menjerit dan meloncat terbang.

“Lepaskan anakku!”

Laki-laki itu tertawa mengejek. Pedang yang menyambar di tangan Tang Siu tak dikelit, berdiri tegak dan tetap jumawa dengan sikapnya yang sombong. Dan ketika Tang Siu mendidih dan merasa girang, pedang di tangan menusuk leher maka..... cess, pedang itu tembus namun tak ada darah atau luka yang terjadi. Dan ketika nyonya ini terpekik dan menjerit keras maka tangan kanan laki-laki itu bergerak dan... dess. Nyonya ini terpelanting roboh. Pundaknya biru kehitam-hitaman!

“Jangan dekati dia, jangan gegabah!” Ju-taihiap bergerak dan menyambar menantunya itu. Ia kaget oleh kesembronoan ini dan nyonya muda itupun mengeluh berkunang-kunang. Jangankan dia, Ju-taihiap pun terpelanting dan kaget oleh kehebatannya lawannya ini. Dan ketika nyonya itu hampir pingsan namun Ju- taihiap meniup dan menghembuskan hawa sinkangnya, membuang rasa terbakar maka Tang Siu menggigil dan pucat meloncat bangun, terbelalak.

“Iblis, dia...dia seperti iblis. Pedangku tembus!”

“Hm, minggirlah. Ada pengaruh hitam. Minggir, Tang Siu, biarkan aku saja dan jaga anak-anak murid. Awas, lebarkan kepungan dan biar aku duluan!”

Nyonya itu mengangguk. Setelah dua kali dibanting dan merasakan kelihaian lelaki ini maka nyonya muda itu merasa pucat. Ia ngeri. Namun karena anaknya di cengkeraman lawan dan Giok Cheng terkulai lemas, entah mati atau hidup maka nyonya ini menjadi gusar dan nekat, tak gentar.

“Gak-hu, aku tak takut. Biar dia atau aku mati!”

“Ha-ha, majulah berdua. Ayo, boleh keroyok lagi. Ha-ha, aku sekarang bukan Majikan Hutan Iblis beberapa tahun yang lalu, Ju-taihiap. Boleh keroyok dan kerahkan semua anak buahmu. Ayo, maju dan keroyok aku!”

Akan tetapi pendekar itu mendorong dan mencegah menantunya. Tang Siu sudah menjerit dan hendak menerjang lagi. Giok Cheng itulah penyebabnya. Namun ketika pendekar ini mendorong dan mengerahkan tenaganya, nyonya itu dibuat mundur maka Ju-taihiap menyilangkan pedang dengan mata bersinar-sinar, maklum bahwa sesuatu telah merobah Majikan Hutan Iblis ini, sesuatu yang dahsyat, sesuatu berbau ilmu hitam!

“Manusia pengecut, tak usah sombong. Kau boleh hebat, boleh sakti, akan tetapi aku tak akan mundur selangkahpun. Kau memiliki ilmu aneh, ilmu iblis. Jangan kira aku gentar meskipun harus mati di pagi ini!”

“Ha-ha, bagus, kau tetap gagah. Kalau begitu majulah, Ju-taihiap, gerakkan pedangmu dan lihat betapa hari ini aku akan membunuhmu. Majulah!”

Pedang di tangan pendekar itu bergetar. Ia memusatkan perhatian pada kening lawan dan tiba-tiba tanpa banyak bicara lagi jago pedang ini melakukan bentakan nyaring. Pedang di tangannya menyambar ke atas lalu turun ke bawah, menyerang atau membacok ke kening dan lawan terkejut sedetik. Pedang itu bukan sekedar menyambar kening melainkan juga matanya, manik mata yang hitam kecoklatan itu. Dan ketika laki- laki ini tampak terkejut dan mengelak, ternyata ia tak berani menerima maka pedang mendesing tajam dan menyambar bawah tubuhnya.

“Brettt!” Kain itu robek. Laki-laki ini sudah mengelak dengan cepat namun pedang di tangan si jago pedang ternyata lebih cepat lagi. Baju bawah perutnya terkuak. Dan ketika ia terbelalak dan mengeluarkan gerengan marah, meloncat dan mengelak sana-sini maka Ju-taihiap sudah menyambar bagai garuda mematuk mangsa dan yang diincar adalah kening atau manik-manik mata lawan.

“Bagus, kau pintar. Akan tetapi jangan kira dapat merobohkan aku, Ju-taihiap. Lihat dan rasakan pukulanku.... plak-plak! lelaki itu menangkis dan ternyata tidak diam saja menerima serangan gencar. Betapapun Pek-jit-kiam ternyata berbahaya juga baginya, atau mungkin bagi kening dan manik-manik matanya itu. Dan karena Ju-taihiap adalah seorang jago pedang dan ketitisan (ketepatan) pendekar ini mengarahkan serangannya tentu tak perlu diragukan lagi maka laki-laki itu mengelak dan jadilah kedua tangannya menampar atau menghalau pedang di tangan si jago pedang yang selalu terpental dan membuat Ju-taihiap terhuyung!

Jago pedang itu terkejut sekali namun ia tidak menampakkan kekagetannya secara berlebihan. Justeru semakin ia terkejut jago pedang ini semakin tenang. Lawan jadi heran dan membelalakkan mata, kagum apakah pendekar itu tak terkejut oleh pukulannya. Dan karena Ju-taihiap melengking dan kini berkelebatan semakin cepat, tusukan ataupun bacokannya semakin gencar maka laki- laki itu tak meneruskan keheranannya karena bagian yang dituju selalu mata atau tengah keningnya!

“Hm!” laki-laki ini marah. “Kau harus dibalas, Ju-taihiap. Kau harus menerima pelajaran. Lihat balasanku dan betapa pedangmu akan leleh.... haiitttt!” lelaki itu mengeluarkan seruan keras dan kedua telapaknya yang sudah mengepulkan asap hitam itu ditamparkan kedepan. Bau busuk dan wangi menyambar berbareng, seberkas cahaya hitam juga melesat. Dan ketika Ju-taihiap terpekik karena pedangnya lenyap terbungkus uap hitam itu, meledak dan hangus tiba-tiba ia merasa tangannya ringan dan Pek-jit-kiam yang ampuh itu leleh. Dan saat itu tangan kiri lawan menyambar disusul tawa mengerikan.

“Awas, gak-hu!” Jerit atau teriakan Tang Siu ini menyadarkan Ju-taihiap. Pendekar yang sedang menyerang tapi dibalas dan menerima pukulan uap hitam itu terkejut sekali. Pek-jit-kiam, pedang yang ampuh itu hangus dan leleh. Tapi mendengar seruan menantunya tiba-tiba pendekar ini sadar dan secepat kilat mengelak dan membanting tubuh bergulingan.

“Bresss!” Tanah menghitam dan hancur. Ju-taihiap bergulingan melempar tubuh namun lawan berkelebat dan mengejar, kini bentakan dan tawanya disusul oleh gosokan kedua telapak tangannya itu, kian menghebat hingga menjadi merah tembaga, berkilau dan mengeluarkan api dan Ju-taihiap terkejut karena dari telapak itu kini menyembur lidah api! Dan ketika ia mengelak dan membanting tubuh ke sana-sini lagi, pucat dan ngeri maka pedang yang leleh menjadi ular ketika dibentak dan disambar pukulan lawannya itu.

“Ha-ha, pedangmu tak berguna. Pek-jit-kiam telah memusuhi dirimu sendiri. Buang dan lempar pedang itu, Ju-taihiap. Ia menjadi ular!”

Si jago pedang berteriak. Ia tiba-tiba melihat pedangnya menjadi ular dan ular itu kini mematuk tangannya. Tapi ketika otomatis ia melempar dan membuang ular itu maka pedang berkerontang dan pulih ujudnya lagi. Ternyata itu terpengaruh sihir!

“Gak-hu, kau tertipu. Pedangmu tidak apa-apa!”

Ju-taihiap terbelalak dan memandang pedangnya itu. Sambil bergulingan ia melotot lebar, memang mula-mula terkejut, dan heran setengah mati bagaimana pedang seampuh itu leleh. Dibakar tujuh hari tujuh malam pun Pek-jit-kiam tak akan membara, pedang itu terbuat dari baja dingin namun yang mengeluarkan cahaya menyilaukan seperti matahari.

Maka ketika mula-mula ia tertegun betapa pedangnya leleh, hangus dan menjadi ular jago pedang ini seakan tak percaya dan saat itu terpengaruh sihir. Hawa hitam dan pukulan uap merah serta lidah api yang menyambar dan mengejar dirinya membuat panik. Tangkisan dan tamparan lawan yang selalu membuatnya terhuyung menjadikannya kaget. Ia melihat perobahan luar biasa pada diri lawannya ini, kesaktian mengejutkan dibanding empat lima tahun lalu.

Maka ketika tanpa sadar ia masuk perangkap sihir, Pek-jit-kiam dihalau dan terpental ditangkis lawannya itu maka pendekar atau jago pedang ini sudah mengalami guncangan, terdorong dan selalu mengelak sampai akhirnya membuang pedangnya yang disangka menjadi ular. Ju-taihiap benar-benar terkejut dan tak sadar memasuki sihir. Ia baru tersentak ketika menantunya tadi berteriak, melihat dan sambil bergulingan ia tertegun karena pedangnya pulih lagi di sana. Ular itu lenyap!

Dan ketika ia sadar bahwa ia tertipu, lawan memiliki kekuatan yang menindih kekuatannya sendiri maka Tang Siu menyambar dan berkelebat menusuk punggung laki-laki itu. Para murid juga berteriak dan tiba-tiba menyerbu, melihat Ju-taihiap bengong dan Majikan Hutan Iblis menyerang pimpinan mereka.

“Awas, bantu pangcu kita!”

“Benar, dan kita bunuh jahanam ini!”

Pedang dan senjata tajam lain berhamburan. Tang Siu menjadi komandonya dan nyonya muda itu sendiri sudah tak tahan lagi, membentak dan menusuk pungung sementara Pek-Jit-kiam ditendang ke arah mertuanya. Saat itu Ju-taihiap bengong dan melompat bangun, terbelalak bagaimana itu seperti mimpi. Pek- jit-kiam masih utuh, ular atau apa namanya itu tak ada! Maka ketika Tang Siu menusuk sementara ia menjadi sadar, pedang melayang akan tetapi pada saat itu juga lawan menerkam dan tertawa parau, para murid juga berhamburan menyerang laki-laki ini maka Ju-taihiap berseru keras menggerakkan tangan ke depan, mendorong atau menangkis terkaman itu.

“Duk-plakk!”

Pendekar ini terjengkang dan Pek-jit-kiam tak sempat diambil. Ia terburu oleh serangan itu, terlempar dan bergulingan lagi dan saat itulah hujan senjata mengenai orang ini. Majikan Hutan Iblis terkekeh, pedang dan semuanya itu menusuk tubuhnya tapi tembus seakan menusuk jasad halus, hilang begitu saja. Dan ketika semua terkejut dan terpekik, laki-laki itu membalik maka serangkum angin pukulannya membuat Tang Siu dan anak murid terlempar dan menjerit.

“Bres-bres-bresss!”

Nyonya dan para muridnya itu mengeluh. Mereka terbanting dan bergulingan namun usaha utama berhasil. Pertolongan mereka terhadap Ju-taihiap tak gagal, pendekar itu selamat. Dan ketika di sana Ju- taihiap melompat bangun dan menyambar pedangnya, Pek-jit-kiam telah di tangan kembali maka pendekar itu membentak dan menerjang lagi, kini dibantu menantunya dan murid-murid lain, berkelebat dan menggerakkan tangan kiri membantu pedang di tangan kanan, mainkan Pek-jit Kiam-sut sementara Pek-lui-ciang atau Pukulan Kilat menyambar-nyambar. Dan karena lawan memiliki kekuatan sihir, Ju-taihiap melengking memperkuat tenaga batin maka dia menyuruh agar yang lain menusuk tengah kening atau bagian mata laki-laki itu.

“Jangan serang sembarangan, tusuk atau tikam manik-manik matanya. Jangan serang bagian lain!”

Para murid bergerak dan menyerang lagi. Akan tetapi karena lawan kini menampar atau mengibaskan lengan bajunya, bergerak dan naik turun mengimbangi Ju-taihiap maka para murid terdorong sebelum mampu mendekat, membentak dan menyerang lagi namun ternyata hanya dua orang saja yang dapat menyerang laki-laki ini, yakni Ju-taihiap dan menantunya sendiri. Para murid yang lain bahkan terpelanting dan mulai roboh ketika laki-laki itu menambah angin kebutannya, tertawa dan mengelak sana-sini dan Ju-hujin itu melengking-lengking.

Tang Siu mempergunakan pedang panjang namun tusukan atau tikamannya menembus jasad halus, hanya di bagian mata atau kening itulah laki-laki ini mengelak. Dan ketika semua terkejut dan Pek-jit-kiam ditangkis terpental, Pek-lui-ciang atau Pukulan Kilat menyambar kosong tubuh Majikan Hutan Iblis ini maka sama seperti senjata-senjata tajam lain pukulan itu menembus dan lewat begitu saja mengenai tubuh laki-laki itu.

“Ha-ha, tak ada yang mampu merobohkan aku. Hek-yan-pang sekarang dapat kuhancur-binasakan. Eh, lihat sekarang apa yang kulakukan, Ju-taihiap. Lihat kupanggil anak buahku dan biar mereka mendapat bagian!”

Lolong atau pekik srigala tiba-tiba pecah. Suara meraung keluar dari tenggorokan ini dan Ju-taihiap serta yang lain-lain pucat. Mereka tahu apa artinya itu. Dan ketika benar saja dari seberang terdengar lolong atau raung yang sama, puluhan atau bahkan ratusan anjing ganas meluncur dan masuk ke air telaga, berenang dan menuju tempat itu maka pagi itu Hek-yen-pang dibuat guncang dan Ju-taihiap membentak menyuruh murid-muridnya mundur.

“Biarkan kami berdua menghadapi manusia iblis ini. Cegat dan hajar binatang-binatang itu. Awas, jangan sampai masuk rumah!”

Para murid panik. Mereka telah terpelanting dan tak mampu mendekati lawan, dikibas atau dipukul dari jauh saja mereka telah roboh. Maka ketika anjing-anjing ganas datang menyerbu, air beriak dan moncong-moncong buas menyembul di situ maka para murid membalik dan berserabutan mencegat srigala- srigala ini, menyerang.

“Ha-ha, tak ada yang akan mampu menghadapi. Mereka semua telah kebal oleh ilmuku, Ju-taihiap, tak mempan dibacok atau ditusuk senjata tajam. Lihatlah, dan buktikan!”

Pendekar itu pucat. Benar saja tiga orang murid maju membabat namun tiga ekor srigala itu tak apa-apa, melolong dan menerkam para muridnya dan terdengar jeritan ngeri. Mereka roboh dan digigit, cabik dan sebentar kemudian pedang di tangan para murid terlepas. Bagai srigala kesetanan atau haus darah binatang-binatang itu memangsa korbannya, mengoyak dan menggigit sementara taring-taring itu telah berdarah. Segumpal daging copot dari pundak. Dan ketika dua yang lain juga sama beringas dan tak mengenal ampun, meraung dan membuat pedang terlepas maka tiga murid itu menjadi korban pertama dan tercabik-cabik. Pakaian dan daging sama-sama berserpihan.

“Ha-ha!'' Ju-taihiap menjadi ngeri. “Lihat itu, Ju-taihiap. Buktikan betapa anak buahku tak mempan ditusuk senjata tajam. Dan mereka sekarang memangsa murid-muridmu. Ha-ha, Hek-yan-pang akan kuhancur leburkan!”

Ju-taihiap pucat. Akhirnya ia melihat murid-murid yang lain berteriak dan roboh diterjang srigala-srigala itu, membacok dan bergulingan namun semua itu sia-sia. Dan ketika sebelas anak murid tercabik- cabik, potongan daging dan tulang mereka menjadi rebutan buas, lolong atau raung binatang itu menggetarkan telaga maka Ju-taihiap membentak dan mencoba membacok satu di antaranya, dengan Pek-jit- kiam.

“Tek!”

Namun tak apa-apa. Pek-jit-kiam, pedang pusaka itu mental dan srigala yang dibacok bahkan membalik dan meraung, taring dan giginya yang tajam berkilauan itu diperlihatkan. Lalu ketika ia meloncat dan menerkam pendekar ini maka Ju-taihiap berkelit dan kakinya bekerja.

“Buk!” srigala terlempar namun Majikan Hutan Iblis tertawa berkelebat. Ia tak mau pendekar itu mengganggu anaknya karena mereka tandingan para murid. Jago pedang itu harus menandinginya. Dan ketika Ju-taihiap membalik dan menangkis serangan itu, terpental dan dikejar serta mengelak sana-sini maka Tang Siu menolong namun teriakan dan jerit para murid mengguncang dua pimpinan ini, kacau dan sebuah tamparan akhirnya membuat si nyonya terpelanting.

Tang Siu meloncat bangun dan menyerang lagi namun bentakan aneh membuatnya berhenti. Ia dibentak bahwa pedang di tangannya adalah ular. Dan ketika nyonya itu terpekik namun lawan tertawa melepas totokan, It-yang-ci mengenai lehernya maka nyonya itu roboh dan tak sadarkan diri. Ju-taihiap tak berkawan lagi menghadapi lawannya yang luar biasa ini.

“Ha-ha, lihatlah, mengeroyokpun tak ada gunanya. Dulu kau boleh bangga, Ju-taihiap, tapi sekarang semuanya itu lenyap. Aku tak takut Pek-jit-kiam mu dan keroyokanmu bersama menantumu itu!”

Ju-taihiap melengking. Ia pucat melihat robohnya Tang Siu namun tak dapat berbuat apa-apa karena mengelak dan menangkis kebutan. Bau busuk dan wangi itu menyambar, satu di sebelah kiri namun yang lain di kanan. Dan ketika ia mengelak namun dicegat dari belakang, angin pukulan jubah berpusing dan menghantam di situ maka pendekar ini membalik dan pedang di tangan dibacokkan sekuat tenaga.

“Plak!”

Pedang mencelat dan terlepas. Ju-tai-hiap berteriak keras dan saat itu lawan menggerakkan telapak kirinya. Uap hitam menyambar dan kali ini bau busuk yang datang menyengat, hampir pendekar itu muntah- muntah. Tapi ketika lawan tertawa bergelak dan tak ada jalan bagi pendekar ini mengelak serangan, ia pasti roboh maka terdengar bentakan dan bayangan merah menyambar, cepat luar biasa.

“Manusia keji, belum waktumu membunuh orang baik-baik. Enyahlah dan serahkan anak itu kepadaku...plak-plak!”

Si iblis berteriak dan muncullah seorang gadis gagah perkasa menangkis serangannya. Pukulan uap hitam diterima dan lenyap bertemu telapak lunak halus itu, halus namun menenggelamkan pukulan lawan dan tiba-tiba keluar menghantam dirinya. Semua terjadi tiba-tiba dan tak di sangka. Dan ketika lelaki itu membanting diri ke kanan namun gadis itu mengejar dan mancengkeram pundaknya, Giok Cheng yang ada di situ disambar dan ditarik kuat maka laki-laki ini meloncat bangun dengan tawanannya berpindah tangan.

“Hm, begitu saja kepandaianmu, bagus! Tapi anak kecil tak boleh dibawa-bawa, iblis keji. Kau sekarang berhadapan dengan aku dan biar Ju-taihiap menolong murid-muridnya!”

Ju-taihiap tertegun. Seorang gadis berusia dua puluh satu atau dua puluh dua tahun berdiri berhadapan dengan Majikan Hutan Iblis itu, mengejek, membuat lawan melempar tubuh lebih jauh lagi namun Giok Cheng cucunya selamat. Gadis itu merampasnya. Dan ketika di sana laki-laki itu terbelalak dan meloncat bangun, Ju-taihiap lamat-lamat mengenal gadis ini maka gadis itu tertawa melempar Giok Cheng padanya, sekaligus menaburkan bubuk putih ke udara.

“Ju-taihiap, terimalah cucumu. Lihatlah menantumu itu dan halaulah binatang-binatang itu!”

Aneh, srigala-srigala tiba-tiba berbangkis. Mereka mencium sesuatu yang membuat hidung tersedak dan bubuk putih itu menyebar dengan cepat di seluruh pulau, Tak ada yang lewat disentuh bau harum memabokkan. Murid-murid Hek-yan-pang tiba-tiba juga berbangkis dan limbung, Ju-taihiap sendiri juga hampir berbangkis dan terkejut. Tapi ketika semua srigala tiba-tiba berbalik dan sempoyongan mundur, jatuh dan berlarian menuju telaga maka laki-laki berambut ekor kuda itu mendelik dan marah bukan main, gemetar.

“Kau. kau siapa? Kau memiliki Sian-tan Hong-li (Bubuk Bidadari)?”

“Hm, buka matamu baik-baik,” gadis itu mengejek, tertawa dingin. “Dulu kau mengejar-ngejar dan hampir membunuh aku, Majikan Hutan Iblis, tapi sekarang aku yang datang dan akan membunuhmu. Kau berhutang banyak jiwa, dan tak cukup dibayar dengan satu kali kematian!”

“Siapa kau!” laki-laki itu membentak. “Tak usah banyak cakap dan sebutkan namamu!”

“Aku Su Giok, puteri mendiang ayahku Su Tong. Nah, mungkin kau ingat ketika membunuh ayah dan ibuku serta juga kakek sekaligus guruku Pek-lui-kong dari utara. Lihat dan buka matamu baik-baik bahwa aku adalah gadis yang dulu kau kejar-kejar itu!”

“Ah, kau. kau benar Su Giok!” Ju-taihiap berseru dan mendahului ,terkejut dan seketika ingat. “Ah, kau benar gadis itu, Su Giok. Kau dulu pernah datang ke mari. Pantas aku serasa mengenalmu!”

“Hm, benar,” gadis itu menoleh, tertawa. “Tapi dulu terpaksa aku pulang, Ju-taihiap. Kau jual mahal tak mau mewariskan sedikit kepandaianmu. Sekarang aku sudah lebih tinggi darimu, tapi kebaikanmu dulu tetap kuingat. Minggirlah dan usir semua srigala-srigala memuakkan itu karena mereka masih terpengaruh tuannya. Biar aku hadapi iblis keji ini!”

Ju-taihiap berubah. Setelah dia mengenal dan teringat gadis ini maka dia terkejut sekaligus heran, juga tak senang. Su Giok yang dikenalnya dulu sekarang tinggi hati sekali, sombong dan angkuh. Namun karena orang telah menyelamatkan cucunya dan dia sendiri juga selamat berkat datangnya gadis ini, betapapun sombongnya dia harus tahu diri maka pendekar ini menarik napas dalam dan benar saja melihat srigala-srigala yang sudah berlarian ke tepi telaga itu tak jadi pergi karena memandang pada tuannya, takut namun lebih gentar menghadapi Majikan Hutan Iblis itu, yang berkilat dan tiba-tiba mencorong.

“Hm, kau Su Giok? Kau gadis yang dulu bersama-sama Pek-lui-kong itu? Ha-ha, kuingat sekarang. Bagus, kau masih hidup dan belum mampus, anak busuk, dan sekarang kau sombong sekali. Jangan kira bahwa dengan Sian-tan Hong-limu itu kau mampu menggertak anak-anakku. Heh. !” seruan ini ditujukan kepada ratusan srigala itu. “Serang, anak-anak. Maju dan bunuh semua ini... aungggg!”

Lolong atau raung itu kembali menggema. Suaranya menggetarkan dan Ju-taihiap terkejut. Ratusan anjing ganas itu tiba-tiba menyerbu kembali. Namun ketika gadis itu tertawa mengejek dan menyuruh dia menghalau, anjing-anjing itu tak kebal lagi maka Su Giok meloncat dan berkelebat menghadapi Majikan Hutan Iblis ini.

“Jangan takut, hajar dan bunuh mereka, taihiap. Kerahkan anak muridmu dan ketahuilah anjing-anjing itu tak memiliki kekebalan lagi!”

Ju-taihiap mencoba. Ia diserang tiga anjing liar dan Pek-jit-kiam menyambar, tepat membabat tiga ekor binatang itu dan muncratlah darah menyembur dari leher. Kepala tiga srigala itu putus. Dan ketika para murid bersorak dan menyambut musuh, mereka telah melihat gerakan Ju-taihiap tadi maka benar saja anjing-anjing itu terbabat dan hilanglah kekebalan akibat pengaruh hitam.

“Crat-crat-cratt!”

Tujuh srigala roboh dan menggelepar. Yang lain meraung namun murid-murid Hek-yan-pang menyerbu, mereka tidak lagi menunggu melainkan memapak dan mengejar binatang-binatang itu. Dan ketika sebentar kemudian belasan bahkan puluhan srigala tewas, dibacok atau ditusuk murid-murid Hek-yan-pang ini maka laki-laki bertopeng karet itu memekik dan menerjang gadis baju merah.

“Keparat, kau anak liar. Mampus dan terimalah pukulanku...wherrr-plakk!”

Gadis itu menangkis dan ternyata dapat menahan pukulan lawan, tak tergetar apalagi terdorong dan marahlah laki-laki itu menyerang lagi. Ia mengebutkan uap hitam namun si gadis menampar, uap buyar dan meraunglah laki-laki itu menerjang lagi.

Dan ketika empat pukulan berturut-turut ditangkis dan terpental, dua-duanya terdorong maka Majikan Hutan Iblis ini tak dapat menahan marahnya lagi dan rambut di belakang kepala yang dibentuk seperti ekor kuda itu menyambar, meledak namun dikelit dan selanjutnya kedua tangannya melakukan dorongan naik turun, diterima dan masing-masing terhuyung dan gusarlah laki-laki ini oleh kehebatan Cucu Pek-lui-kong yang dulu lemah dan rendah kepandaiannya itu telah menjadi sedemikian hebat dan luar biasa. Orang tak akan menyangka dan bakal tercengang.

Dan ketika gadis itu melengking dan berkelebatan lenyap, membalas dan melepas pukulan-pukulan panas maka laki-laki itu terbelalak dan mengeluarkan seruan-seruan heran.

“Toat-beng-liong-jiauw-kang (Kuku Naga Pencabut Nyawa)! Ah, ini Coan-po-ginkang (Ginkang Menerjang Ombak)!”

Gadis itu tertawa mengejek. Ia lebih mempercepat gerakannya lagi dan Toat-beng-liong-jiauw-kang yang dipunyai menyambar dan menyerang ganas, ganti berganti sepuluh kuku jarinya itu bergerak ke atas ke bawah. Dari ujung kuku itu mencuat sinar putih yang berkilau-kilauan, kian lama kian tajam hingga Majikan Hutan Iblis terdesak. Dan ketika laki-laki itu mengeluh dan mengelak serta menangkis, kalah cepat dan tergurat maka dia menggeram karena rasa panas membakar sekujur pundaknya.

“Kau. kau murid Hek-i Hong-li. Keparat, nenek itu melanggar janji!”

“Tutup mulutmu, tak usah bicara yang tidak-tidak. Guruku benar Hek-i Hong-li, manusia iblis, tapi kau tak berhak menyebutnya begitu saja. Mampus dan bayar jiwa orang tuaku atau terima ini danvpergilah.....des-plak!”

Laki-laki itu mengelak dan menangkis dan rambut di kepalanya menyambar leher lawan. Ia membalas dan tak diam saja dan kuku jari menancap di pangkal lengannya, menembus masuk dan laki-laki ini terkekeh. Ilmu roh, seperti yang tadi diperlihatkannya kepada Ju-taihiap dikeluarkan lagi. Gadis itu terkejut karena kukunya tembus ke dalam, masuk begitu saja namun lawan sama sekali tak terluka. Dan ketika ia terbelalak dan menarik tangannya maka laki-laki itu menendang dan ia terpelanting.

“Ha-ha, coba pukul lagi. Kau terlalu sombong, bocah. Ayo keluarkan Toat-beng-liong-jiauw-kangmu dan lihat seberapa hebat melukai aku!”

Su Giok berkelebat dan menyerang lagi. Ia penasaran dan kaget dan kini mencengkeram leher lawan, gerakannya begitu cepat hingga lawan tak sempat mengelit. Coan-po-ginkang itulah yang luar biasa. Tapi ketika gadis ini menjerit karena kukunya amblas begitu saja, lawan seakan benda halus maka kukunya ditarik lagi namun laki-laki itu menggerakkan rambutnya dan... plak-plak”

Su Giok terhuyung dan ganti menerima serangan. Majikan Hutan Iblis tertawa dan bertandinglah mereka seru. Su Giok menjadi marah namun ia sama sekali tak gentar. Toat-beng-liong-jiauw-kang terus menyambar-nyambar dan pukulan atau balasan lawan diterima dengan sinkangnya. Kini ia hanya tergetar atau paling banter terdorong setindak, maju dan membalas lagi dan ramailah mereka serang-menyerang. Dan ketika laki-laki bertopeng itu penasaran karena tak satupun pukulannya merobohkan gadis ini maka berkelebat bayangan hitam di atas Su Giok, cepat luar biasa.

“Siapa berani menghina Toat-beng-liong-jiauw-kangku. Serang dengan Touw-beng-tok-ciam, Su Giok. Hajar orang ini agar tahu adat!”

Su Giok berseru girang. Hek-i Hong-li, nenek sakti itu tiba-tiba terbang dan lenyap lagi. Ia hanya berkelebat diatas kepala muridnya tapi Majikan Hutan Iblis kaget setengah mati. Ia mengenal dan tentu saja tahu kehebatan nenek itu. Dan ketika Su Giok meraup dan melepas Touw-beng-tok-ciam (Jarum Beracun Penembus Roh) maka laki-laki itu berteriak dan tepat sekali jarum menancap di lehernya. Ilmu aneh seperti badan tak berwujud itu hilang.

“Aughh...!” Laki-laki itu bergulingan dan menjerit. Ia tak sanggup menahan jarum penangkal dan pemusnah ilmu hitamnya itu. Nenek sakti itulah penyebabnya. Su Giok menerima sebatang jarum ketika gurunya tadi lewat, meraih dan menyambitkannya ke lawannya itu dan Majikan Hutan Iblis meraung melempar tubuh. Jarum itu ternyata ampuh sekali, benar-benar penembus roh dan bergulinganlah laki-laki itu berteriak kesakitan. Dan ketika ia meloncat bangun dan gentar memandang Su Giok, takut gadis itu melempar jarumnya lagi maka laki-laki ini mengeluh dan berkelebat memutar tubuh melarikan diri.

“Kau pengecut, licik. Kau dibantu gurumu!”

Su Giok tertegun. Ia sebenarnya hanya memiliki satu jarum itu saja karena tadi ketika lewat gurunya memberikan jarum itu kepadanya. Majikan Hutan Iblis tak mengetahui ini dan mengira gadis itu memiliki simpanan jarum, padahal Touw-beng-tok-ciam hanya dimiliki nenek itu dan tak pernah diberikan siapapun, bahkan Su Giok sendiri. Maka ketika gadis itu tahu betapa ampuhnya jarum itu dan lawan dapat dibuat kesakitan, sayang hanya sebatang jarum itu saja maka gadis ini jadi ragu mengejar karena ia takut tanpa jarum itu ia menghadapi lagi ilmu aneh yang dimiliki lawan.

Dan saat itu terdengar jeritan dan lolong srigala. Sorak dan bentakan murid-murid Hek-yan-pang menyadarkan gadis ini, menoleh dan melihat betapa bangkai-bangkai srigala bergelimpangan di situ. Mereka tewas dan terbunuh murid-murid Ju-taihiap ini. Dan ketika ia sadar bergerak maju tiba-tiba terdengar jerit dan pekikan siauw-hujin.

“Heiii...!” Gadis itu terkejut. Siauw-hujin disambar bayangan hitam. namun ketika Su Giok hendak mengejar dan berkelebat memanggil tiba-tiba gadis ini tersenyum. Gurunya, Hek-i Hong-li tiba-tiba muncul dan menyambar Giok Cheng. Anak itu telah diberikan ibunya ketika Ju-taihiap menolong nyonya muda ini, menyambut dan menghalau srigala-srigala buas itu membantu para murid ketika gadis itu tadi menghadapi Majikan Hutan Iblis. Maka ketika kini Giok Cheng disambar bayangan hitam dan Tang Siu menjerit, kaget dan mengejar maka Ju-taihiap juga berkelebat namun Su Giok menyambar dan menghadang pendekar ini

“Tunggu, tak ada apa-apa. Harap taihiap biarkan enci Tang Siu bicara dengan guruku!”

Jago pedang itu tertegun. “Gurumu?”

“Benar, kami datang karena cucumu, taihiap. Kebetulan saja melihat lawanmu itu dan datang menolong. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan secara pribadi!”

“Hm,” jago pedang ini tertegun. “Kau sekarang hebat, Su Giok. Kalau itu gurumu biarlah aku di sini. Aku ingin mengucap terima kasih atas pertolonganmu tadi. Kau telah menyelamatkan kami semua!”

Gadis itu tersenyum kecil. “Sudahlah, aku ke sini secara kebetulan saja. Aku hanya mengikuti kehendak subo. Terima kasih kembali dan biar kutengok seluruh pulau ini!” Su Giok berkelebat dan tiba-tiba lenyap.

Coan-po-ginkang yang dimilikinya membuat jago pedang itu kagum, Ju-taihiap mendesis namun segera menengok anak-anak murid lainnya. Dan ketika semua selamat namun Su Giok tak pernah kembali, gadis itu menghilang sejak ingin memeriksa telaga maka menantunya muncul dan menahan isak kecil. Giok Cheng tak ada bersamanya.

“Eh, mana cucuku Cheng-ji. Ada apa sendirian!”

“Maaf,” nyonya muda itu menunduk, mengusap air matanya. “Giok Cheng dibawa nenek itu, gak-hu. Aku... aku memberikannya.”

“Apa?”

“Benar, pikiranku terbaca. Nenek itu datang karena ingin membawa Giok Cheng. Anak itu mau dan aku tak dapat mencegahnya pula.”

“Eh!” pendekar itu berkelebat mencengkeram pergelangan menantunya ini. “Apa artinya itu, Tang Siu. Bagaimana kau tiba-tiba menyerahkannya begitu saja. Kenapa tidak menunggu suamimu Han Han dan melepaskannya sendirian!”

“Giok Cheng sudah lama merindukan nenek itu. Getaran keinginannya ditangkap. Dan karena nenek itu memang hebat dan Giok Cheng sendiri tak dapat kucegah maka kubiarkan mereka pergi, gak-hu. Aku akan mempertanggung jawabkan ini kepada Han Han!”

Jago pedang itu tertegun. Sungguh tak disangkanya bahwa cucunya tiba-tiba dibawa orang, begitu mudah dan cepat! Namun karena dia maklum bahwa sang ibu tak berbuat apa-apa, dia hanya sedikit menyesal kenapa Tang Siu tak menunggu Han Han maka pendekar itu menarik napas dalam dan sebagai orang berpengalaman dia menangkap kegembiraan di hati menantunya ini, biarpun Tang Siu menunjukkan muka sedih.

“Baiklah.” Katanya kemudian, “kau sudah melakukan itu, Tang Siu. Giok Cheng tak mungkin ditarik kembali kalau sudah dibawa nenek itu. Dan karena kau mempertanggungjawabkannya kepada suamimu biarlah Han Han mendengarnya sendiri darimu. Hanya harap diingat kalau sampai ada apa-apa dengan anakmu itu tentu aku sebagai kakeknya akan menegurmu keras!”

“Aku siap,” wanita itu tengadah. “Aku tahu semuanya ini, gak-hu, tapi aku percaya bahwa Giok Cheng akan selamat di bawah bimbingan nenek itu. Dia benar Hek-I Hong-li yang diceritakan Giam Liong!”

Hari itu jago pedang Ini tepekur. Anak-anak murid akhirnya mengurus yang luka-luka dan mengubur bangkai srigala-srigala yang tewas. Mereka masih terteguncang oleh peristiwa itu namun datangnya Su Giok membawa harapan baru. Gadis baju merah itu ternyata lihai sekali dan mereka teringat sekarang. Itulah cucu dari Pek-lui-kong yang dulu datang berkunjung. Lihai sekali!


“Hm, begitu? Dan dia berani datang mencari aku? Keparat, sudah lama tak ada beritanya, Pao-hwi, kini datang membuat kejutan. Tapi ayah dan isteriku di sini, tentu dia tak banyak berkutik!“

“Salah, Ju-taihiap tak mampu berbuat apa-apa. Kalau tak ada gadis baju merah cucu Pek-lui-kong itu tentu kami di sini semua binasa, kongcu. Manusia itu semakin hebat saja dan sakti. Tubuhnya tak dapat dilukai dan tembus seperti roh!”

“Benar, dan bayangkan, kongcu. Pek-jit-kiam milik ayahmu juga tak mampu berbuat apa-apa!”

“Tapi Cheng-siocia tak bersama ibunya lagi,” seseorang berbisik. “Kami tak tahu kemana dia, suheng. Temuilah ayahmu atau isterimu itu!”

Han Han berkelebat. Mendengar yang terakhir ini seketika wajahnya berubah. Dia kaget sekali oleh berita susul-menyusul itu. Tapi ketika dia bertemu ayahnya di serambi depan, duduk dan bangkit berdiri maka Han Han berhenti dan sang ayahpun tertegun.

“Kau, eh.... sudah datang? Bagus, ada kejutan, Han Han. Majikan Hutan Iblis menyatroni kita. Ia muncul lagi. Kami diserang dan...”

“Ayah tak usah bicara itu.” Han Han memotong dan gemetar, menangkap dan mencengkeram lengan ayahnya ini. “Aku ingin tahu tentang Giok Cheng, ayah, benarkah tak ada bersama ibunya lagi?”

“Hm, itu?” pendekar ini tiba-tiba menghela napas, duduk lagi. “Tanyalah isterimu, Han Han, tapi jangan emosi dan tenang-tenang sajalah.”

“Di mana Siu-moi.”

“Di kamar.”

Han Han berkelebat dan lenyap lagi. Tanpa menunggu ayahnya mengulang ia meloncat dan masuk ke dalam. Ju-taihiap tersenyum namun diam-diam tegang juga. Maka ketika puteranya menendang pintu kamar dan Tang Siu terkejut berseru tertahan, meloncat dari pembaringan maka pendekar itu mengintai dan mendengar pembicaraan, hati-hati.

“Kau, di mana anak kita Giok Cheng! Eh, aku mendengar datangnya manusia iblis itu, Siu-moi, tapi dimana anak kita kenapa tak bersamamu lagi. Siapa yang membawa!”

“Hm, Tang Siu tersenyum dan tiba-tiba tertawa lega, melepas pedangnya lagi. “Datang-datang membuat kejutan saja, Han-ko. Kau membuat kaget dan hampir menyerang. Kenapa mendobrak pintu kamar sampai terlepas sulamanku!”

“Aku bertanya Giok Cheng, benarkah tak ada di sini lagi!”

“Hm, duduklah. Ada banyak yang harus diceritakan, suamiku. Minumlah air dingin dan biarkan kepalamu tak panas dulu.”

“Tidak, aku ingin tahu tentang Giok Cheng. Di mana dia dan apa yang terjadi!”

“Anak kita selamat. Dibawa seseorang...”

“Kau membiarkannya pergi?”

“Duduklah, suamiku, jangan terlampau tegang begini. Aku akan bercerita tapi berjanjilah kau tak akan marah!”

“Hm,!” Han Han melihat isterinya tersenyum, wajah itu berseri-seri. “Kalau tak ada sesuatu tentu aku tak akan marah, Siu-moi. Ceritakan dan jangan aku berdebar tegang!”

“Aku tahu, tapi duduk dan bersabarlah,” lalu ketika Han Han duduk dan disuruh minum, menolak tapi sang isteri mengangkatnya dekat bibir maka pemuda itu meneguk dan gelisah meletakkan gelas itu.

“Cukup, sekarang katakan dan di mana Cheng-ji!”

“Hm, dibawa nenek sakti Hek-i Hong-li.”

“Apa?”

“Tenanglah, kau agaknya sudah mendengar datangnya manusia iblis itu, Han-ko, tapi tidak nenek ini yang telah membuat aku lega. Giok Cheng dimintanya sebagai murid, dan aku memberikannya karena Giok Cheng juga mau.”

“Nanti dulu, bagaimana nenek itu datang ketika manusia iblis itu mengacau. Masa demikian kebetulan!”

“Hm, agaknya begitu, Han-ko, dia datang bersama muridnya.”

“Murid?”

“Ya, gadis lihai cucu mendiang Pek-lui-kong itu ”

“Oh-oh, ya, aku sudah dengar. Lalu kenapa nenek itu datang mengambil Giok Cheng sebagai muridnya pula, bukankah sudah ada gadis itu!”

“Hm, aku tak tahu kenapa, Han-ko, tapi barangkali karena getaran pikiranku. Nenek itu datang dan menyatakan bahwa ia merasa dipanggil Giok Cheng.”

“Dipanggil Giok Cheng? Bagaimana ini? Aku bingung, Siu-moi, tapi ramalan suhu ternyata tepat. Majikan Hutan Iblis itu masih hidup dan datang ke mari. Ah, untung kalian tak apa-apa. Ceritakan sekarang apa maksudmu tadi, kenapa dengan Giok Cheng dan pikiranmu!”

“Giok Cheng merindukan nenek itu, setiap malam mengigau ingin menjadi murid.”

“Mengigau? Menjadi murid? Kalau begitu kau yang menceritakannya!”

“Benar, aku yang menceritakannya, Han-ko, dan terus terang aku juga ingin menyerahkan puteriku sebagai murid.”

“Kau gila, apa maksudmu itu. Bukankah ia sudah kugembleng dan ada kakeknya pula di sini!”

“Hm, kau maupun gak-hu agaknya tak dapat mengalahkan manusia iblis itu sekarang. Dia semakin lihai dan hebat, Han-ko, bukan tandingan kita. Dikeroyok duapun tak roboh. Pek-jit-kiam juga tak banyak berguna dan kita semua hampir mati dibunuhnya!”

Nyonya itu lalu menceritakan peristiwa di tepi telaga. Han Han sudah mendengar namun tak mau memotong. Cerita isterinya lebih lengkap. Dan ketika isterinya menutup bahwa berkat Su Giok mereka selamat maka dia gemetar mengepal tinju mendengar kata-kata terakhir isterinya.

“Su Giok yang baru empat lima tahun menjadi murid sudah sedemikian hebat dan luar biasa. Dan aku membayangkan betapa Giok Cheng bakal kalah jauh dibanding Sin Gak. Ingat bahwa anak kita harus lebih hebat daripada ayah atau pendahulunya, Han-ko. Kalau tidak nenek sakti itu siapa lagi yang mendidik. Aku rela, empat lima tahun lagi anak kita bakal melebihi kita. Aku tak mau kalah dengan Sin Gak kalau anak itu di bawah gemblengan seorang kakek sakti!”

“Jadi kau mau berlomba? Dan kau rela Giok Cheng harus berpisah dengan ayah dan kakeknya?”

“Demi masa depan anak itu aku rela, Han-ko. Kita yang tua harus mengalah dan memberinya kesempatan seluas-luasnya.”

“Tapi kau harus memberi tahu aku dulu!”

“Kau tentu tak akan melepaskan.”

“Ah, tentu saja, Siu-moi. Kita tidak tahu, bagaimana watak nenek itu. Dan suhu sedikit bercerita tentang Hek-i Hong-li. Nenek itu keras dan sombong pada masa mudanya!”

“Hm, aku tak perduli. Anak itu darah dagingmu, tak mungkin sombong atau bertingkah macam-macam kalau ayah ibunya baik. Aku sudah bertemu dan bercakap-cakap dengan nenek itu, Han-ko, dan nenek itu senang bahwa Giok Cheng menjadi muridnya. Ia pun mencari tandingan Sin Gak!”

“Ah, kau selalu bicara tentang Sin Gak. Kau mencari-cari tandingan. betapapun seharusnya kau harus menunggu aku, Siu-moi, aku ayahnya dan suamimu. Kau tak bisa bertindak sendiri!"

“Kalau begitu apa maumu, aku berbuat demi kebaikan anak!”

“Hm, kau sembrono. Aku harus menemui nenek itu atau kuminta anakku!”

Ju-taihiap tiba-tiba masuk. Suami isteri muda yang bersitegang dan rupanya mau tarik urat ini tiba-tiba dibuat terkejut. Batuk-batuk pendekar itu membuat mereka menoleh, menahan diri. Dan ketika pendekar itu berdehem dan mengurut jenggot pendeknya, Han Han tertegun maka pendekar ini berkata bahwa yang sudah terjadi tak perlu dirobah lagi.

"Sudahlah, sekarang aku tahu kenapa mantuku berubah girang. Ia dan gagasannya tidak salah, Han Han. Giok Cheng memang harus menjadi yang lebih hebat dibanding ayah atau kakeknya. Aku juga merasakan bahwa kepandaianku tak berarti banyak bagi lawanku yang hebat itu. Majikan Hutan Iblis sudah berobah luar biasa, kepandaiannya meningkat pesat. Daripada ribut-ribut padahal tak mungkin Giok Cheng kembali di sini lebih baik kau tenangkan pikiranmu dan keinginan dan cita-cita isterimu. Aku tahu penyebabnya. Mari di luar saja dan ceritakanlah hasil perjalananmu.”

Han Han sadar. Sang ayah memberi kedipan dan ia mengangguk, melirik sang isteri dan Tang Siu tampak lega. Isterinya itu sudah siap menantang dan beradu keras. Ada sesuatu yang menjadi dasar utama. Dan karena dia mengenal gerak-gerik ayahnya dan isyarat itu cukup, ayahnya hendak bicara sesuatu yang mendasar maka dia berkelebat dan meninggalkan isterinya. Tang Siu terisak dan melemaskan jari-jarinya. Ia tadi mengepal tinju!

“Hm,” sang ayah sudah duduk dan di serambi depan lagi. “Tak guna marah-marah atau memaki isterimu, Han Han. Kita harus melihatnya lebih jauh. Ia benar, meskipun salah tak menunggu dirimu. Dan karena aku dapat menangkap sebab-sebab utamanya maka dengarlah kata-kataku karena memang terjadi perobahan besar dengan musuh kita itu.”

“Apa yang ayah maksudkan, apakah kesaktian atau ilmu manusia iblis itu!”

“Bukan itu saja, tetapi kembali dan kita bicara tentang isterimu. Akhir-akhir ini sering kudengar ia menina-bobok puterimu, Han Han, berbisik dan mendongeng tentang Hek-i Hong-li itu. Tak kusangka bahwa ia menanamkan keinginan kuat agar Giok Cheng tergila-gila pada nenek itu. Isterimu menaruh dendam amat besar kepada Majikan Hutan Iblis. Ia terpukul oleh kematian Yu Yin, sahabatnya!”

“Tapi aku juga terpukul oleh kematian ibu!”

“Benar, tapi ia masih lebih lagi, Han Han. Ingat bahwa gurunya Kim-sim totiang juga binasa, dicincang. Dendam isterimu jauh lebih hebat daripada kau dan aku khawatir akan ini!”

“Hm!” Han Han tertegun. “Kau benar ayah. Kalau begitu bagaimana selanjutnya.”

“Diam-diam api dendamnya menumpuk, juga diam-diam agak kecewa kepada kita.”

“Apa?”

“Sst, dengar, anakku. Apa reaksinya ketika dulu kau bercerita tentang Hek-i Hong-li dan Sian-eng-jin itu. Tidakkah kau lihat betapa sepasang matanya bersinar-sinar aneh. Aku sekarang tahu apa artinya itu. Isterimu mulai membanding-bandingkan kita!”

“Hm, ia tak puas bahwa kepandaian kita begini-begini saja?”

“Bukan begitu, Han Han, melainkan bahwa ia melihat ada orang-orang yang kepandaiannya jauh di atas kita. Dan ia menaruh harapan!”

Han Han tertegun. Teringatlah ia ketika dulu isterinya begitu bersinar-sinar mendengarkan cerita, bahwa Giam Liong tak mampu menghadapi kakek sakti Sian-eng-jin dan nenek Hek-i Hong-li itu. Sin Gak akhirnya dibawa kakek itu sementara si nenek entah berada di mana. Mereka tak tahu bahwa Hek-i Hong-li akhirnya membawa Su Giok. Dan karena Giam Liong bersungguh-sungguh menceritakan kekalahannya, isterinya tertarik dan mereka sendiri sebenarnya juga hampir tak percaya maka cerita itu ternyata membekas dalam di hati isterinya sampai timbul keinginan menyerahkan Giok Cheng menjadi murid.

“Ini tidak aneh, wajar-wajar saja,” sang ayah melanjutkan. “Dan aku juga merasa semakin tua, Han Han, semakin lemah. Kalau Pek-jit-kiam di tanganku tak berarti banyak di hadapan iblis itu maka aku tak tahu lagi harus berbuat bagaimana!”

“Tapi ayah tak mencegah nenek itu?”

“Mencegah? Hm, aku sendiri tak tahu bagaimana wajah dan bentuk nenek itu, Han Han. Yang tahu dan melihat adalah isterimu. Aku hanya tahu bayangan hitam lewat dan selanjutnya lenyap!”

Han Han melebarkan mata. Sang ayah lalu menceritakan kejadian itu, betapa nenek itu muncul dan lenyap seperti siluman. Dan ketika ayahnya menyatakan kagum akan ginkang yang digunakan Su Giok, betapa itu adalah Coan-po-ginkang yang amat luar biasa maka ayahnya memuji bahwa Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Terbang Ke Langit) yang dimiliki Han Han masih kalah setingkat.

“Tidak mengecilkan hatimu. Tapi apa yang kulihat dari gadis itu memang mentakjubkan, Han Han. Ia mampu melesat dua kali lebih cepat daripada ilmu meringankan tubuhmu, padahal gadis itu baru empat atau lima tahun saja digembleng si nenek. Dapat kau bayangkan betapa hebatnya kalau nenek itu sendiri yang mempergunakan ilmunya. Aku sungguh bukan tandingannya!”

Han Han menarik napas dalam-dalam. Kalau ayahnya sudah memuji seperti itu maka si nenek benar-benar hebat bukan main. Muridnya saja sudah sedemikian lihai apalagi gurunya. Tapi mengerutkan kening teringat musuh utamanya dia bertanya, “Dan ayah tadi mengatakan bahwa dengan Pek-jit-kiam Majikan Hutan Iblis itu tak mampu dirobohkan. Kepandaian apakah yang digunakan hingga bisa seperti itu, ayah?”

“Aku tak tahu, yang jelas ilmu iblis seperti roh. Ia tembus ketika kutusuk!”

“Hm, dan ramalan suhu benar. Ia masih hidup, dan akan menyatroni tempat kita lagi. Ah, terlambat aku pulang, ayah. Tapi untung ada nenek itu dan Su Giok!”

“Ya, dan aku bersyukur. Namun laki-laki itu lenyap lagi dan menghilang!”

Han Han telah mendengar selengkapnya. Akhirnya ia tak mempersoalkan lagi sikap isterinya mengenai Giok Cheng. Anak itu telah dibawa Hek-i Hong-li, biarlah yang lewat tetaplah lewat. Dan ketika malam itu ia tepekur bersama ayahnya tiba-tiba keesokannya muncullah Giam Liong terbata-bata, datang menceritakan bahwa di segala penjuru muncul Majikan Hutan Iblis yang banyak dan kesemuanya lihai!

* * * * * * * *

Pagi itu, merenungi kepergian puterinya di tangan Hek-i Hong-li putera Ju-taihiap ini tak tampak gembira. Semalam sang ayah menasihati banyak-banyak dan menyuruh pemuda itu tawakal. Tang Siu akhirnya menyesal juga melihat kemurungan suaminya. Ia bersikap lunak. Namun ketika pagi itu suami isteri ini memandangi telaga, Tang Siu meletakkan teh panas di meja maka Han Han tiba-tiba berseru menuding ke depan. Seorang pemuda tertatih dan terhuyung-huyung jatuh bangun, terseok.

“Giam Liong...!”

Han Han berkelebat meninggalkan kursinya. Si buntung, yang muncul dan pagi itu tampak pucat kelihatan susah benar menuju tengah pulau. Giam Liong telah muncul di tikungan depan rumah dan roboh, bangkit dan terseok melangkah lagi sementara baju dan pakaiannya robek-robek. Beberapa luka tampak di pundak dan lengannya. Dan ketika Han Han berkelebat dan menyambar sahabatnya ini, Giam Liong mengeluh maka si buntung itu terguling dan merintih minta air.

“Haus..... aku haus. Aughh, tenggorokanku serasa kering, Han Han.Mana ayah?”

“Kau kenapa,” Han Han terkejut, merangkul dan memapah sahabatnya ini. “Lama tidak ke sini, Giam Liong. Sekarang datang dengan luka-luka. Siapa yang menyerangmu!”

“Jahanam keparat itu, Majikan Hutan Iblis. Aughh... jangan keras-keras menekan pundakku, Han Han. Aku sedang bingung!”

Han Han tak banyak bicara lagi. Ia meloncat dan membawa si buntung ini ke beranda rumah dan Giam Liong terguling di situ. Si Naga Pembunuh ini rupanya kelelahan, juga kesakitan. Dan ketika ia menotok sementara isterinya memberi tahu sang ayah, ayahnya berkelebat dan muncul di situ maka Giam Liong mengeluh dan menggigil.

“Ayah...!”

“Giam Liong!” Ju-taihiap memeluk dan menerkam putera angkatnya ini. Giam Liong megap-megap dan menahan cucuran air mata. Kepedihan dan kemarahan tampak disitu. Lalu ketika Ju-taihiap bertanya apa yang terjadi maka Han Han yang sudah memberinya minum menyuruhnya duduk.

“Aku.... aku diserang Majikan Hutan Iblis, berhasilkubunuh.Tapi tapi ia hidup lagi, ayah.Jahanam itu seperti bernyawa rangkap dan ada di mana-mana!” “Bagaimana bisa begitu,” Ju-taihiap merasa seram. “Beberapa hari yang lalu ia juga datang ke sini, Giam Liong. Dan hampir saja aku binasa!”

“Aku juga begitu, tapi seseorang menolongku. Golok Maut, ah senjata itu tembus seperti menusuk kabut!”

“Sama seperti di sini,” Ju-taihiap berseru. “Aku juga begitu, Giam Liong. Pek-jit-kiam yang ampuh tak mampu melukainya!”

“Tapi ia hidup lagi. Jahanam itu... manusia iblis itu, ah, ia menyeramkan, ayah. Aku jatuh bangun menghadapi lawanku yang berjumlah banyak. Aku... aku ngeri dan bingung!”

Naga Pembunuh yang terkenal dingin dan tabah ini tiba-tiba menangis. Giam Liong yang terkenal pemberani itu mendadak kelihatan ngeri, gentar. Tapi ketika ia menggeram dan menghapus air matanya maka Giam Liong tampak beringas dan penuh marah.

“Ceritakanlah kepada kami. Bagaimana itu bisa terjadi dan apa pengalaman yang menimpamu.”

Giam Liong lalu bercerita. Ia sejenak tersendat-sendat dan marah tapi juga gentar. Namun ketika Han Han menepuk pundaknya dan menenangkannya maka apa yang diceritakan si buntung ini benar-benar menyeramkan dan terasa lebih hebat lagi. “Aku bertahun-tahun mencarinya, tak kenal putus asa. Dan ketika suatu hari aku tiba di pegunungan Kui-san tiba-tiba saja aku bertemu musuhku itu!”

“Hm, dan tentu kau bertanding hebat!"

“Benar, ayah, tapi kali ini kejutan. Ia tak mempan Golok Mautku!”

“Ceritakanlah. Tentu seru pengalamanmu itu, Giam Liong. Aku juga merasakan bahwa manusia itu semakin luar biasa dan memiliki ilmu iblis!”

“Ya, benar. Tubuhnya seakan kabut, Ia tertawa menantangku dan golok di tangan kutusukkan. Tapi aku seakan menusuk asap, ayah, Golok Maut tembus begitu saja tak mengenai badan kasar!”

“Sama dengan pengalamanku. Pek-jit-kiam di tanganku juga begitu, Giam Liong. Entah ilmu setan apa yang digunakan hingga tak mampu dibacok!”

“Ya, tapi seseorang tiba-tiba membantuku. Aku tak tahu siapa namun laki-laki itu tiba-tiba berteriak. Dalam pertandingan yang sengit dan menegangkan mandadak dari belakang menyambar sinar biru seperti bintang. Sinar itu mengenai punggungnya dan segala ilmu hitam yang dipunyai lenyap. Golok Maut mencoblos jantungnya dan lawanku itu roboh binasa!”

“Tapi ia telah datang menyatroni aku,” Ju-taihiap terbelalak. “Baru empat hari yang lalu ia datang, Giam Liong, dan aku hampir celaka!”

“Benar, lawanku itu ternyata hidup lagi, ayah. Sebab setelah ia kubunuh dan aku hendak ke Lembah Iblis tiba-tiba ia menghadang dan muncul lagi!”

“Untuk apa ke Lembah Iblis?” Han Han bertanya.

“Untuk menyimpan golok ini, Han Han. Aku bermaksud menyimpannya lagi setelah musuhku itu mampus. Tapi.... tapi ia masih hidup. Aku tak tahu bagaimana namun jelas ia masih hidup. Dan Majikan Hutan Iblis rupanya bukan hanya seorang!”

“Hm, mengejutkan sekali. Coba ceritakan bagaimana itu, Giam Liong. Masa ada demikian banyak Majikan Hutan Iblis!"

“Ya!, aku mula-mula tak percaya. Tapi kenyataan membuktikan itu, ayah, atau mungkin ia hidup lagi disembuhkan seseorang!”

Ju-taihiap seram. Tang Siu mengeluarkan seruan tertahan sementara Han Han suaminya terbelalak pucat. Hebat cerita yang didengar ini. Tapi ketika ayahnya batuk-batuk dan meminta Giam Liong melanjutkan ceritanya lagi maka si buntung itu gemetar.

“Aku... aku sangsi. Yang kuhadapi itu manusia atau bukan. Jangan-jangan ia roh jahat yang menyebar kutuk di bumi ini!”

“Hm, tak ada roh yang seperti itu, Giam Liong. Yang ada ialah roh jahat yang memasuki tubuh seseorang. Lanjutkanlah dan bagaimana seterusnya.”

“Aku berhenti di mulut lembah, orang itu menghadangku di depan.”

“Hm, kau sudah tiba di Lembah Iblis?”

“Benar, dan aku siap naik ke atas, Han Han, ketika tiba-tiba lawanku itu muncul dan tertawa mengerikan!”

“Bagaimana selanjutnya, tentu kau menyerang dan mempergunakan Golok Mautmu.”

“Benar, kutusuk ia, kubacok. Tapi lagi-lagi pengalaman pertama membuat aku terkejut. Golokku menembus dan lewat begitu saja. Aku seperti menusuk segumpal asap!”

“Ah, kemudian bagaimana, Giam Liong. Apakah kau akhirnya roboh dan dikalahkan lawanmu itu!”

“Tidak, seseorang lagi-lagi membantuku, Han Han, sinar kebiruan seperti bintang itu menyambar, menghantam punggungnya. Dan setiap ledakan terdengar tentu lawanku menjerit dan ilmu hitamnya hancur. Golokku akhirnya menyambar dan menancap di dadanya. Kuhisap darahnya kering!”

Han Han ngeri. Ia memandang Golok Maut di punggung pemuda itu dan mengerutkan kening. Golok ini kalau sudah mencium darah manusia memang bisa menghisap dan mengeringkan tubuh manusia. Golok itu adalah golok iblis, siapapun sudah kenal. Tapi ketika ayahnya batuk-batuk dan bertanya bagaimana selanjutnya maka Giam Liong dengan mata berapi menjawab beringas,

“Kepalanya kupenggal, kubuang jauh-jauh. Tapi ketika empat hari lewat dan Golok Maut tak jadi kusimpan maka orang itu muncul lagi dan untuk ketiga kalinya aku bertanding hebat!”

“Hm-hm, nanti dulu. Apakah kau tidak melihat wajah di balik topeng karet itu, Giam Liong. Apakah setiap membunuh kau tidak memeriksanya cermat!”

“Aku sudah memeriksanya, tapi setiap kubuka maka yang kudapati adalah wajah yang tidak jelas!”

“Tidak jelas? Maksudmu bagaimana?”

“Wajah itu seperti wajah kanak-kanak, ayah, wajah yang buram dan sulit kukatakan seperti apa. Kulit itu terkelupas apabila tersentuh!”

“Hm, macam apalagi ini,” jago pedang itu merasa heran. “Bagaimana ada wajah seperti itu, Giam Liong. Jadi setiap kau buka maka kulit wajah itu akan tertarik berikut topengnya.”

“Benar, dan aku sulit mengenalinya. Tapi ketiga-tiganya sama seperti itu dan kalau kubuka topeng karetnya maka wajah itu hancur dan terbeset!”

“Jadi kau mengalahkannya lagi?"

“Sulit kujawab seperti itu, karena sesungguhnya bantuan seseorang itu masih berjalan dan menolong aku!”

“Hm, siapa ini?” Ju-taihiap mengerutkan kening. “Apakah bukan Hek-i Hong-li, Giam Liong, nenek yang pernah kau temui itu, atau barangkali Su Giok!”

“Su Giok?”

“Ya, cucu mendiang Pek-lui-kong itu. Ia sekarang lihai bukan main dan menjadi murid nenek baju hitam itu!”

Giam Liong tertegun. Tiba-tiba ia ingat gadis baju merah itu namun menggeleng. Kenangannya terhadap gadis itu tak enak. Dan karena ia tak melihat bayangan hitam atau merah, ia tak melihat apa-apa maka pemuda ini menarik napas dalam. “Aku tak tahu, semuanya berjalan secara misterius. Tapi yang paling mengguncangkan aku adalah peristiwa keempat kalinya, ayah. Di sini muncul sesuatu yang lain yang membuat aku tergetar dan seakan di alam lain!”

“Apa yang terjadi.”

“Peristiwa di sungai Huang-ho, cerita yang seperti mimpi. Waktu itu aku naik perahu dan empat Majikan Hutan Iblis muncul di atas air!”

“Empat Majikan Hutan Iblis?”

“Benar, ayah, empat Majikan Hutan Ibils. Mereka sama-sama bertopeng dan sebentuk serta sebangun. Tinggi dan potongannya sama, pendeknya empat manusia kembar!”

“Hm, baru kudengar ini. Lalu bagaimana?” Ju-taihiap tegang, membelalakkan mata.

“Aku berhenti, ayah, dan tentu saja terkejut. Mereka itu melangkah di atas air tanpa bantuan apapun, seperti mahluk halus!”

“Ihh, benar-benar siluman. Mengerikan! Apakah bukan karena ilmu meringankan tubuh yung luar biasa, Giam Liong. Masa ada orang dapat berjalan di atas air!” Tang Siu berseru dan nyonya muda itu tampak pucat.

“Hm, berjalan di atas air dengan ginkang yang sudah mencapai tingkat tinggi bukan hal aneh, Tang Siu. Aku atau Han Han dapat melakukannya. Tapi mereka itu mengambang dan benar-benar berjalan di atas air, tidak menyentuh riak atau gelombangnya!”

“Ilmu hitam. Tentu sejenis Mo-seng-sut atau apa!”

“Benar, ayah, aku juga menduga begitu. Tapi yang ini lebih hebat lagi karena dapat lenyap dan hilang di dalam air! Aku akhirnya menyerang dan menggerakkan golokku dan keempatnya tiba-tiba hilang ke dalam air. Lalu ketika aku celingukan dan mencari sana-sini tiba-tiba perahuku terbalik dan aku jatuh di atas air pula!”

“Hm!” Han Han ngeri. “Kau tentu harus berjungkir balik ke seberang, Giam Liong. Atau kau celaka bertempur tanpa papan peluncur.”

“Sama saja. Aku memang berjungkir balik dan mendarat di seberang. Tapi di sanapun mereka mengejar dan tidak menyentuh tanah sama sekali, mengambang. Dan ketika aku mengamuk dan menusuk atau membacok mereka maka ilmu roh yang dipunyai mereka itu membuatku sia-sia dan habislah harapanku ketika itu!”

“Apakah orang yang selalu membantumu itu tak datang?”

“Akhirnya datang juga, namun bersamaan dengan itu terdengar suara menggelegar dan bunyi keras di langit. Aku melihat bayang-bayang hitam tinggi besar menerkam dahsyat. Mahluk itu menampar sinar kebiruan yang dilontarkan penolongku, meledak dan empat Majikan Hutan Iblis itu mencelat dan terlempar tinggi ke langit. Selanjutnya ketika aku bengong, namun juga terlempar oleh ledakan dahsyat itu, mencelat masuk sungai maka aku terbawa hanyut dan di dalam perjalanan ini aku serasa mimpi saja, ditarik dan dibawa terbang seseorang!”

“Hm, seperti dongeng, tak masuk akal. Kau bukan pemuda biasa, Giam Liong. Kau adalah pemuda yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Masa begitu saja kau dibawa orang dan disambar terbang!”

“Benar, waktu itu aku terlempar dan mencelat ke sungai, ayah, aku terbanting dan kepalaku membentur benda keras. Aku pening. Dan ketika pening serta setengah sadar itulah aku tahu-tahu merasa dibawa terbang seseorang dan diajak meluncur tinggi sekali, menembus langit!”

“Kau rupanya terguncang otakmu,” sang ayah menggeleng-geleng kepala. “Ceritamu benar-benar tak masuk akal, Giam Liong. Agaknya guncangan demi guncangan yang kau terima membuatmu kacau!”

“Aku tidak merasa seperti itu,” Giam Liong menggeleng, marah. “Aku sadar dan tidak mengalami guncangan otak, ayah. Aku waras dan karena itulah kukatakan tadi bahwa ceritaku selanjutnya seperti mimpi. Aku melihat mahluk tinggi besar menyerang seorang kakek bermuka merah, yakni yang menyambar dan membawaku terbang itu. Lalu ketika keduanya bertanding hebat maka Huang-ho bergolak dan sungai di bawahku itu membuih dan bergelombang besar. Pukulan-pukulan mereka tak kuat ditahan sungai itu hingga seperti mendidih!”

“Hm, apakah kakek itu Sian-eng-jin.”

“Bukan, lain lagi, ayah. Mahluk tinggi besar itu menyebutnya sebagai Song-bun-liong (Si Naga Berkabung). Mereka bertanding hebat dan baru kali itu aku melihat pertempuran besar orang-orang sakti. Langit seketika gelap dan hujan serta api sambar-menyambar. Gunung-gunung berderak dan Himalaya di kejauhan sana menggelegar!”