TAPAK TANGAN HANTU
JILID 07
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“KI BI? Ah, telah tiada, siauwhiap, tewas. Ia terbunuh oleh majikan Hutan Iblis!”

“Majikan Hutan Iblis? Ia terbunuh?”

“Ah, apakah siauwhiap tidak diberi tahu pangcu? Apakah siauwhiap tidak tahu?"

“Hm, aku. eh, aku sudah tahu. Tapi tak diberi tahu bahwa bibi Ki Bi terbunuh juga. Pantas ia tak datang menyambutku ketika aku di sini. Kiranya terbunuh. Hm, ceritakan padaku bagaimana itu semua terjadi, Sut-gong. Ayah tak sampai hati menceritakan semuanya kepadaku!”

Giam Liong menekan debaran girangnya, mulai tahu siapa pembunuh itu yang disebut-sebut sebagai majikan Hutan Iblis. Dan karena ia harus berpura-pura seperti orang tahu, kecuali tentang bibi Ki Bi itu maka Giam Liong memancing anak murid Hek-yan-pang ini, bujangan belasan tahun yang memanggilnya siauwhiap sebagai tanda hormat. Giam Liong mengangguk-angguk dan sinar matanya tiba-tiba mencorong. Di malam gelap itu sepasang matanya mengeluarkan cahaya seperti harimau, berkilat dan menyorot dan anak murid Hek-yan-pang ini mengeluarkan seruan tertahan, mundur dengan takut. Tapi ketika Giam Liong sadar dan menarik kembali anak murid itu maka dia minta agar menceritakan tentang bibi Ki Bi itu.

“Eh, ke mari. Lanjutkan ceritamu!”

“Siauwhiap..... siauwhiap marah?”

“Bukan kepadamu, Sut-gong, tetapi kepada jahanam majikan Hutan Iblis itu. Tenanglah dan ceritakan selengkapnya!”

Anak murid ini menggigil. Ia tak pernah melihat mata manusia seperti itu, mata yang tiba-tiba mencorong bercahaya seperti kucing ganas. Atau, ini lebih tepat, harimau yang kelaparan! Tapi ketika Giam Liong menepuk-nepuk pundaknya kembali dan ia akhirnya tenang, sorot mata si buntung yang mencorong bukan ditujukan kepadanya maka ia menghela napas dan mulai bercerita, melanjutkan.

“Bibi Ki Bi tewas oleh manusia srigala ini, juga murid utama yang lain. Dan karena Ju-hujin marah besar lalu berkelebat pergi maka Ju-hujin juga tewas dan akhirnya malapetaka ini beruntun menimpa Hek-yan-pang. Majikan Hutan Iblis itu benar-benar hebat, siauwhiap, dan mengerikan. Pangcu sendiri hampir tak mampu menandinginya kalau tak dibantu siauw-hujin (nyonya muda)!”

“Ayah tak mampu menandingi? Jadi orang itu sudah ke sini?”

“Sudah, dan kami bertempur mati hidup. Para srigala itu buas seperti kesetanan dan majikannya juga tak seperti manusia, mirip anjing atau manusia anjing yang melolong-lolong dan menyalak mengendalikan anak buahnya!”

“Hm, ini aku tak tahu. Coba ceritakan itu. Ceritakan secara jelas!”

Sut-gong anak murid itu bersemangat. Ia merasa menjadi orang penting dan berceritalah dia akan segala yang dia ketahui. Dan karena ini memang masukan bagi Giam Liong, kisah berharga yang belum didengarnya sama sekali maka si bujang menutup dengan wajah membayangkan ketakutan.

“Majikan Hutan Iblis itu benar-benar bukan manusia. Ia siluman. Kalau siauwhujin tak ada di sini dan pergi bersama Han-kongcu pula tentu pangcu menjadi korban dan kami kehilangan ketua. Ah, ia benar-benar iblis dan harap siauwhiap membunuhnya tanpa ampun. Tapi hati-hati, Hek-mo-ciangnya luar biasa!”

“Hek-mo-ciang (Tapak Tangan Hantu)? Hm, akan kucari dan kucincang laki-laki ini, Sut-gong. Tapi bagaimana ayah tak mampu menandingi orang ini. Bukankah ia jago nomor satu di dunia!”

“Mungkin letih oleh teror yang di alami, siauwhiap, atau belum sembuh dari pukulan batin atas kematian Ju-hujin. Itu barangkali!”

“Baik, terimakasih. Sekarang kau tidurlah dan pergilah, Sut-gong. Aku sudah cukup!” Giam Liong mendorong dan merasa cukup. Sekarang ia mempunyai berita dan keterangan ini besa rartinya. Ternyata dugaannya benar, sang ayah bohong. Ayahnya tak mau memberitahu siapa pembunuh itu padahal tahu bahwa orang itu bukan lain majikan Hutan Iblis. Ia harus menegur! Dan ketika malam itu ia kembali ke kamarnya lagi dan tidak tidur, tak sabar melewatkan malam maka pagi itu juga ia menghadap ayahnya di ruangan depan. Ju-taihiap tampak menghirup kopi panas secara segar.

“Selamat pagi! Kau, Giam Liong... dari mana. Mari duduk dan eh, matamu merah. Agaknya semalam tidak tidur!” Ju-taihiap mendahului dan bangun menyambut putera angkatnya ini. Ia girang tapi segera berkerut melihat wajah dan mata si buntung ini. Ada kemarahan di sinar mata itu, kemarahan ditahan. Agaknya untuknya! Tapi ketika dia menekan debaran hatinya itu dan menyilakan Giam Liong duduk, sang pemuda berhadapan dengannya maka tanpa sembunyi-sembunyi lagi pemuda ini menuju persoalan pokok, menegur ayahnya.

“Ayah bohong. Aku ingin tahu tentang majikan Hutan Iblis dan dapatkah ayah menceritakan kepadaku. Tidak berdusta!”

Sang pendekar berubah. Sekali dengar cukuplah baginya bahwa anak angkatnya ini sudah tahu. Dan ia ditegur! Ia dianggap bohong, dusta! Tapi maklum bahwa kartu harus dibuka, pemuda ini adalah keturunan Si Golok Maut Sin Hauw yang tegas dan jujur maka Ju-taihiap membungkuk dan menghirup kopi panasnya lagi.

“Giam Liong, pagi masih dingin. Mari minum dulu secangkir kopi sebelum menuduh ayahmu dusta!” sang pendekar menuang kopi dari teko di atas mejanya, menyuruh sang putera minum dan sejenak Giam Liong berkerut, mau menolak. Tapi ketika cangkir disodorkan kepadanya dan ia menerima, sang ayah meneguk dan ia mengikuti maka Ju-taihiap batuk-batuk meletakkan cangkirnya lagi.

“Kartu harus dibuka,” begini pendekar itu bicara. “Semua agaknya tak perlu ditutupi lagi, Giam Liong. Tapi coba sebutkan dulu dari mana kau tahu tentang majikan Hutan Iblis!”

“Ayah tak usah tahu dari mana aku tahu, tapi yang jelas kebohongan pasti tak bertahan lama!”

“Hm, lagi-lagi menuduh bohong,” Ju-taihiap tak senang dan kini mendorong kursi, mata bersinar memandang pemuda buntung ini. “Kalau kau mencerna baik kata-kataku kemarin maka kau lihat bahwa tak sedikitpun aku melempar kebohongan, Giam Liong. Adalah kau yang bodoh menelan semua kata-kataku begitu saja. Baik, kau pasti mengetahui itu dari anak murid Hek-yan-pang!”

“Ayah tak keliru, dan sekarang buktikan bahwa ayah tidak bohong!”

“Hm, aku bohong tentang apa?”

“Ayah berkata tak tahu siapa pembunuh ibu, padahal jelas adalah si majikan Hutan Iblis!”

“Betul, dan kau tahu siapa laki-laki ini? Tahukah kau siapa orang di balik kedok itu?”

Giam Liong tertegun, agak berubah.

“Nah, inilah yang kumaksud, Giam Liong. Bahwa aku tak tahu siapa tokoh atau majikan Hutan Iblis itu. Aku memang tahu bahwa pembunuh ibumu adalah laki-laki itu, tapi aku tak tahu siapa dia karena ia manusia misterius yang selalu menutupi mukanya dengan kedok!”

“Jadi...”

“Benar, aku tak bohong. Sampai sekarangpun aku tak tahu siapa orang itu. Dan adalah Han Han yang sekarang menyelidiki dan mencari tahu siapa laki-laki itu!”

Giam Liong memerah. Tiba-tiba ia menarik napas dan menunduk, sadar bahwa dia kurang teliti. Dan ketika ia mengangkat mukanya lagi maka meluncur penyesalan berupa maaf. “Maaf, ayah, kalau begitu aku salah.” dan saat itu masuklah bayangan Tang Siu, mengejutkan Ju- taihiap.

“Dan kaupun dusta!” nyonya itu melengking. “Kau bohong dengan mengatakan akan ke istana, Giam Liong. Karena ternyata kau dan isterimu pergi mencari penculik anakmu. Kau tak pantas menegur ayah dusta!”

Ju-taihiap kaget, berdiri dari kursinya, “Apa? Giam Liong eh, kehilangan anaknya? Mencari penculik?”

“Benar, gak-hu. Kemarin Giam Liong juga bohong dengan berkata akan ke istana. Padahal kita semua tahu bahwa Yu Yin bersumpah tak mau ke istana lagi sejak kejadian dulu. Mereka kehilangan anaknya, mencari penculik. Sekarang tahulah siapa yang bohong dan dusta!”

Ju-taihiap bengong dan pucat. Ia tak menyangka bahwa pemuda ini sudah berputera, diculik dan karena mencari penculik itulah suami isteri muda ini lalu keluar. Ju-taihiap sama sekali tak menghiraukan kebohongan pemuda itu. Yang membuatnya terkejut adalah penculikan itu. Dan ketika pendekar ini berubah dan Giam Liong juga berubah, si buntung ini terbelalak maka tahulah Giam Liong bahwa isterinya telah bicara dengan sahabatnya ini. Dia menyesal tapi saat itu isterinya datang berkelebat. Yu Yin terkejut bahwa Tang Siu melanggar larangannya. Tapi ketika semua berada di situ dan Tang Siu ditarik ayah mertuanya, nyonya ini tak senang mendengar Giam Liong menegur Ju-taihiap maka pendekar itu buru-buru duduk kembali dan menarik kursi yang lain untuk dua wanita itu, kini memandang GiamLiong.

“Eh-eh, jadi kalian sudah berputera? Kau mencari penculik dan anakmu ini? Astaga, tak kau ceritakan ini kepadaku, Giam Liong. Siapa nama cucuku itu dan laki-laki atau perempuan! Dan kau, duduklah, Tang Siu. Tak usah marah-marah karena wajar Giam Liong menegurku. Aku sudah memberikan jawabanku dan Giam Liong tahu aku tak bohong. Duduk dan ceritakan itu kepadaku!”

Giam Liong merah mukanya. Ia menegur sang isteri dengan pandang mata dan Yu Yin ganti menegur Tang Siu dengan sinar matanya. Masing-masing menimpakan yang lain. Dan ketika Tang Siu sadar dan membuang cemberutnya maka ia berbisik kepada temannya,

“Maaf, Yu Yin. Aku marah kepada suamimu itu yang enak saja menegur ayah mertuaku!”

“Sudahlah,” Ju-taihiap tersenyum dan melerai. “Aku tak apa-apa ditegur Giam Liong, Tang Siu. Justeru ia benar karena menganggap aku bohong. Sekarang ingin kutanya Giam Liong bagaimana puteranya hilang, laki-laki atau perempuan, dan siapa pula namanya!”

“Namanya Sin Gak,” Giam Liong menjawab. “Anak kami laki-laki, ayah, dan tentang penculiknya, hmm.. ini karena kecerobohan kami belaka. Tapi kami tahu siapa penculiknya.”

“Begitukah? Siapa dia? Dan kenapa belum tertangkap?”

“Ia seorang banci berwatak sinting, kalau dihitung-hitung masih kerabat Yu Yin juga.”

“Eh, begitukah? Jadi orang istana?”

“Benar, namun tak ada yang menghiraukan karena otak miringnya itu. Ia bernama Siauw Hong dan celakanya Han Han melepaskan orang ini pergi ketika secara kebetulan menemukannya.”

Giam Liong lalu bercerita. Ia tak perlu berdusta lagi karena sudah diketahui, seperti halnya Ju-taihiap sendiri yang menjawab tuduhannya tadi. Dan ketika Ju-taihiap terbelalak dan mengangguk-angguk, mengerutkan kening maka Giam Liong menutup bahwa kebohongannya bukan untuk maksud jelek.

“Kemarin aku berbohong karena sesungguhnya tak enak melihat ayah yang sedang berkabung. Ini urusan pribadi kami yang tak ingin mengganggu ayah, agar ayah tak banyak pikir. Tapi karena sekarang sudah diketahui dan aku harus bercerita maka harap ayah maafkan kalau kemarin aku tak bicara jujur.”

“Hm-hm, tahu aku. Kau memang berwatak baik dan tahu menyimpan urusan, Giam Liong, tapi kepadaku tak perlu sebenarnya kau menyembunyikan itu. Aku adalah ayahmu, meskipun ayah angkat. Dan karena aku keluargamu juga maka tak perlu ada yang disembunyikan agar aku dapat membantumu seperti halnya kau membantuku kalau aku tertimpa musibah. Baik, sekarang bagaimana ciri-ciri orang itu? Siapa tahu aku bertemu dengannya dan pasti kutangkap!”

“Dia laki-laki bertubuh kecil, pesolek. Tingkahnya seperti wanita dan acap kali berpakaian seperti wanita pula!”

“Hm, begitu? Baik, akan kubekuk dia kalau ketemu, Giam Liong. Dan akan kuminta anakmu itu... eh, siapa namanya tadi? Siapa puteramu itu?”

“Sin Gak.”

“Ya-ya, Sin Gak. Akan kuminta dia dan kuselamatkan anakmu itu!”

Giam Liong berterima kasih. Akhirnya masing-masing menjadi jelas dan Tang Siu minta maaf telah bersikap kasar. Kini wanita itu tahu bahwa Giam Liong menutupi itu semata karena tak mau mengganggu mereka yang baru saja ditimpa malapetaka. Si Naga Pembunuh ini ternyata baik juga. Dan ketika masing- masing sama memaafkan dan percakapan dilanjutkan untuk urusan yang lain akhirnya Giam Liong minta diri untuk meninggalkan Hek-yan-pang. Matahari telah mulai naik tinggi membuat hawa udara panas.

“Eh, ada apa tergesa-gesa, Giam Liong. Bukankah baru semalam kalian menginap. Kau bilang mau tiga atau empat hari!”

“Maaf, aku hanya ingin menyelidiki si pembunuh itu, ayah, dan kini sudah kuperoleh.”

“Dengan menangkap seorang murid Hek-yan-pang?”

“Tidak, aku tidak menangkap...”

“Cerdik, kau pintar dan cerdik, Giam Liong. Tidak kuduga. Hm, dan sekarang tahukah kau mengapa kemarin aku juga tidak berterus terang bicara tentang majikan Hutan Iblis ini!” Ju-taihiap tiba-tiba mencengkeram lengan pemuda itu, menahan sejenak dan Giam Liong berkerut. Dan ketika pemuda itu menggeleng dan pendekar ini meneruskan maka dia berkata, mendesis, “Giam Liong, aku tak ingin kau bersikap kejam lagi kepada siapapun. Aku tak ingin kau bersikap sadis! Cukup dengan peristiwa yang lalu itu dan jangan ulangi. Paham?”

Pemuda ini menggigil. “Tapi, ibu... ibu dibunuh dengan kejam, ayah. Aku tak dapat tinggal diam!”

“Han Han yang mengurusnya!”

“Baik, tapi apakah hanya Han Han putera ayah seorang? Bukankah aku juga adalah puteramu? Kau sendiri bilang kita keluarga, ayah. Dan aku tentu tak dapat tinggal diam!” Giam Liong ganti memandang ayahnya dengan tajam. Mata itu kembali berkilat dan Ju-taihiap mundur melepaskan cengkeraman. Dia tergetar dan ngeri melihat sorot mata itu. Tapi menggeleng dan tegas menolak dia berkata,

“Giam Liong, kau benar. Urusan ini tak mungkin kau abaikan seperti juga aku tak mungkin membiarkan penculik anakmu berkeliaran seenaknya. Tapi aku tetap tidak suka melihat kau bersikap kejam, sadis. Kalau kau hendak membalas kematian ibumu maka bukan sebagai balas dendam melainkan semata sebagai seorang pendekar yang tak dapat membiarkan seorang penjahat berkeliaran berbuat sewenang- wenang. Sebab kalau tidak begitu maka kau tiada ubahnya dia, sama-sama jahat!”

“Hal itu tergantung nanti. Kalau penjahat itu tidak menggelapkan mataku tak mungkin aku bersikap kejam, ayah. Tapi kalau dia melakukan sesuatu yang di luar batas aku tak menjanjikan sesuatu yang enak!”

Pendekar ini merasa kalah bicara. Berdebat dengan pemuda sekeras ini rasanya sia-sia. Giam Liong bukanlah Han Han, pemuda ini adalah keturunan Si Golok Maut Sin Hauw, keganasan atau ketelengasan ayahnya masih kuat di situ. Maka berkerut dan menarik napas di berkata, “Baiklah, betapapun kau harus berjanji untuk tidak mengulang kejadian dulu, Giam Liong. Lihat dan ingat kenapa lenganmu buntung. Jangan robek peristiwa lama dengan peristiwa baru!”

Pemuda itu tak menjawab. Dia melirik isterinya dan Yu Yin terisak. Isterinyalah yang membuntungi lengannya. Yu Yin itulah yang membacok putus lengannya (Baca: Naga Pembunuh). Namun ketika dia teringat sesuatu dan menghadapi ayahnya lagi maka dia bertanya, “Ayah, ada sesuatu yang ingin kumintakan kepastianmu.”

“Tentang apa?”

“Majikan Hutan Iblis itu. Benarkah dia lihai? Benarkah kau kalah olehnya?”

“Hm, iblis itu benar-benar lihai, Giam Liong. Tapi tentang kekalahanku, hmm.... aku masih ragu. Waktu itu Pek-jit-kiam tak ada di tanganku. Pedang itu dibawa Han Han. Dan dengan pedang biasa saja memang kuakui bahwa aku terdesak!”

“Kalau begitu dia benar-benar lihai.”

“Betul, dan kau harus berhati-hati.”

“Tapi apakah tanpa senjata pusaka ayah tak mampu menandingi? Bagaimana dengan Hek-mo-ciangnya itu?”

“Kau rupanya sudah mengorek keterangan cukup. Hek-mo-ciangnya hebat, Giam Liong, dan lebih lagi uap hitam dari mulutnya itu. Iblis ini mencampurkan ilmu silat dengan ilmu hitam! Kau.... hm, kau tak membawa Golok Mautmu lagi, bukan?”

Giam Liong tersenyum pahit. “Aku telah menguburnya di Lembah Iblis, ayah. Aku telah mengembalikan benda itu ke asalnya.”

“Bagus, kau masih muda, kau lebih bertenaga. Tentu kau lebih mampu menghadapi orang itu daripada aku, Giam Liong. Tapi betapapun tak boleh kau bersikap di luar batas!”

Giam Liong tak menjawab. Dua kali diperingatkan seperti ini membuatnya tak senang juga. Itu tergantung lawan. Kalau lawan tak keterlaluan tak mungkin dia seperti setan. Dia adalah laki-laki bertemperamen tinggi, semuanya tinggal pihak sana. Dan ketika dia merasa cukup dan meminta diri, sang isteri diberi tanda dan Yu Yin memeluk Tang Siu maka dua wanita itu berangkulan dan Tang Siu pun akhirnya tak dapat menahan runtuhnya air mata.

“Yu Yin, tak kusangka secepat ini suamimu mengajakmu pergi. Aku masih kangen. Baiklah, jaga diri baik-baik, Yu Yin. Gagal rencana kita berperahu mengelilingi telaga. Biarlah lain kali kita usahakan dan semoga anakmu cepat ditemukan. Maaf aku tak dapat membantu karena harus menjaga hek-yan-pang dan gak-hu.”

“Aku mengerti,” Yu Yin berbisik dan memeluk nyonya muda itu, balas mengusap air mata. “Lain kali kita bertemu lagi, Tang Siu. Dan jagalah baik-baik calon anakmu itu siapa tahu dia lahir perempuan.”

“Perempuan?”

“Sst, anakku laki-laki. Aku juga ingin anakku pertama laki-laki!”

“Kau dapat mengambil anakku, bukan? Masa harus laki-laki semua?”

“Maksudmu?”

“Bodoh! Kau artikan sendiri nanti, Tang Siu. Giam Liong sudah menunggu dan aku tak boleh berlama-lama!” Yu Yin melepaskan sahabatnya.

Sang nyonya muda terbelalak tapi wajahnya tiba-tiba bersemu dadu. Tang Siu berseri, muka seketika bercahaya. Tapi ketika Giam Liong membungkuk dan berkelebat, menarik tangan isterinya maka suami isteri itu pergi dan tahu-tahu telah meluncur di atas permukaan telaga. Kali ini Giam Liong bergerak dengan ilmu Seratus Langkah Saktinya yang luar biasa itu, ilmu yang mampu membuat si buntung melayang terbang di atas permukaan air!

“Ayah, Tang Siu. selamat tinggal. Sampai bertemu lagi!”

Ju-taihiap dan mantunya terbelalak. Si buntung itu meluncur dan tahu-tahu berjungkir balik di seberang, membalik melambaikan tangan lalu berkelebat lenyap di luar daratan sana. Begitu cepat seperti iblis! Dan ketika anak-anak murid ada yang melihat dan semua berseru takjub, Naga Pembunuh itu tidak mempergunakan perahu seperti datangnya maka ketika ia lenyap dan memasuki hutan di depan anak-anak murid menjadi kagum dan mendecak sayang.

“Pangcu, kenapa ia pergi. Kenapa cepat benar. Bukankah tenaganya amat kita harapan kalau musuh datang lagi!”

“Hm, ia mempunyai urusan sendiri,” Ju-taihiap menjawab dan beberapa anak murid tiba-tiba sudah berkelebatan di situ, merasa sayang kenapa Giam Liong pergi. “Anaknya diculik orang, Hoa-kin, dan ia berhak mencari penculik itu.”

“Ah, Sin-siauwhiap sudah berputera? Diculik?”

“Orang jahat berkeliaran lagi. Hati-hatilah kalian menjaga diri. Sudahlah tak perlu bertanya dan kembalilah kalian ke tempat masing-masing!”

Ju-taihiap mengibas dan menyuruh anak-anak murid kembali. Ia juga kagum oleh kepandaian putera angkatnya itu dan bangga bahwa ada orang-orang muda seperti itu. Han Han dan Giam Liong adalah anak-anak muda perwira, dia bangga bahwa keduanya adalah puteranya, meskipun yang satu akhirnya hanya anak angkat karena Giam Liong adalah putera kandung Si Golok Maut Sin Hauw, lawan yang dulu juga amat dikaguminya dan hanya terhadap mendiang Sin Hauw inilah dia mengakui mendapat lawan terberat.

Ayah dari anak itu sebenarnya juga adalah orang gagah. Hanya nasib buruklah yang membuat semuanya tak bersahabat tapi semua itu sudah lewat. Dan ketika dia sendiri berkelebat ke dalam dan memasuki rumahnya maka Giam Liong atau si Naga Pembunuh sudah lenyap meninggalkan Hek-yan-pang dan bersiap-siap untuk mencari dan menemukan majikan Hutan Iblis ini di samping mencari Siauw Hong penculik anak mereka.

* * * * * * * *

Seminggu sudah suami isteri muda ini mencari jejak. Giam Liong mulai jarang bicara dan kelihatan geram. Yu Yin, sang isteri, juga tak gembira dan berkali-kali mengepalkan tinju. Mereka telah kembali ke Hutan Iblis namun tak menemukan yang dicari. Tempat itu kosong. Giam Liong mengajak isterinya ketempat itu teringat perjumpaannya dulu dengan Han Han. Dan ketika kota demi kota mereka lewati untuk akhirnya berhenti di Ci-bun maka pagi itu Giam Liong yang hendak menangsel perut dan melihat sebuah kedai di tepi gerbang kota mengajak isterinya berhenti untuk sarapan.

“Dua hari kita tidak makan, perutku lapar. Aku tak tahan hanya makan buah-buahan dan mari kita beristirahat sambil mencari minum.”

Yu Yin tak menolak. Sesungguhnya ia juga lapar namun karena urusan belum selesai maka tak menghiraukan perut sendiri. Nasib anak merasa jauh lebih penting dari apapun. Tapi ketika Giam Liong mengajak ke kedai itu dan Yu Yin mengangguk, biarlah sambil beristirahat ternyata beberapa bayangan berkelebat di depan mereka dan dua orang tosu serta seorang hwesio dan tujuh orang lain mencegat jalan.

“Naga Pembunuh, berhenti. Kebetulan kau di sini dan pertanggungjawabkan dulu perbuatanmu!”

Giam Liong terkejut. Sepuluh orang tahu-tahu mengurung dan mereka itu rata-rata menunjukkan muka beringas. Pandang kemarahan itu tak ditahan-tahan lagi. Dan ketika ia berhenti dan sang isteri ikut terkejut, sepuluh orang itu mencabut senjata masing-masing maka dua orang tosu dan hwesio itu membentak,

“Hutang jiwa bayar jiwa. Ke mana kau lari dan hendak pergi!”

“Hm,” Giam Liong mengerutkan kening, wajah memerah. “Kalian ini orang-orang tak kukenal ada urusan apakah? Kenapa menghadang jalan dan bersikap kasar? Sehatkah kalian mencari perkara?”

“Tutup mulutmu. Tak perlu berpanjang lebar, Naga Pembunuh. Kaulah yang gila dan tidak waras. Kawan-kawan, serbu...!” dan tidak meberi kesempatan lagi untuk bertanya jawab dua orang tosu di depan menggerakkan pedang dan menusuk pemuda itu, disusul oleh hwesio di samping yang membentak melepas toya. Lalu ketika Giam Liong mengelak dan serangan luput tiba-tiba tujuh orang di belakang sudah berteriak dan menyerang seperti anjing-anjing ganas.

“Bunuh Si Naga Pembunuh ini. Cincang tubuhnya!”

“Dan robohkan isterinya itu pula. Tangkap!”

Sepuluh orang berkelebatan dengan senjata menyambar-nyambar. Giam Liong terkejut dan seketika menjadi marah. Namun belum dia membalas tiba-tiba isterinya melengking dan kedua tangan bergerak menyambar ke kiri kanan melepas Hek-tok-kang.

“Yu Yin, jangan membunuh!”

Giam Liong terbelalak dan kaget melihat pukulan isterinya itu. Hek-tok-kang adalah pukulan beracun dan sekali kena tentu lawan roboh, kalau tidak tewas minimal gosong. Dan ketika benar saja dua orang mencelat oleh tamparan isterinya itu, Yu Yin mengelak dan menyambar di antara hujan senjata maka Giam Liong yang mempergunakan Pek-poh-sin-kunnya (Seratus Langkah Sakti) menangkis dan mementalkan senjata-senjata lawan.

“Plak-plak-bress!”

Tosu dan hwesio itu saling bentur. Pedang dan toya bertemu keras dan mereka berteriak, terpelanting. Tapi ketika mereka bergulingan meloncat bangun dan yang lain marah melihat dua teman merintih dan kehitaman tubuhnya maka Yu Yin yang marah dan tak mau perduli ini berseru,

“Aku mengurangi tenagaku, Giam Liong. Mereka takkan mampus kecuali kesakitan belaka!” dan sang isteri yang menyambar dan berkelebatan kembali lalu tak mau sudah dengan menghajar lagi yang lain. Hwesio dan tosu sudah menyerang Giam Liong lagi dan si buntung penasaran. Entah apa salahnya hingga tiba-tiba diserang begitu. Dan ketika dua orang kembali menjerit dan tosu serta hwesio ini terkejut, Yu Yin merobohkan lagi lawannya sementara Giam Liong maju mundur mempergunakan langkah-langkah sakti maka tosu yang rupanya maklum tak akan menang berseru,

“Mundur, lain kali kita serang lagi!”

Tosu dan hwesio itu berlompatan ke belakang. Mereka membalik dan melarikan diri sementara masing-masing menyambar yang luka. Segebrakan itu saja mereka tahu bahwa suami isteri muda itu bukan tandingan. Naga Pembunuh terlalu hebat padahal belum membalas, yang membalas malah isterinya. Tapi ketika mereka berlompatan dan membalik melarikan diri maka Giam Liong tak tahan dan jari telunjuknya tiba-tiba menotok dari jauh, yang diincar adalah hwesio dan dua orang tosu itu.

“Tikus-tikus busuk, enak sekali kalian hendak pergi. Robohlah!”

Tosu dan hwesio itu berteriak kaget. Mereka merasa sambaran angin dari belakang, menangkis tapi toya maupun pedang tiba-tiba terlempar mencelat. Dan ketika mereka terkejut dan berseru tertahan maka tubuhpun roboh dan ambruk ke depan.

“Tuk!”

Tiga orang itu mengeluh. Giam Liong melancarkan totokan dari jauh dan mendahului isterinya melakukan It-yang-ci. Kalau isterinya yang merobohkan musuh tentu fatal. It-yang-ci akan menembus kulit daging. Dan ketika ia berkelebat dan tiba di depan tiga orang ini maka hwesio dan tosu itu tampak pucat.

“Naga Pembunuh, bunuhlah kami. Kami tak takut mampus!”

“Benar, dan tumpuk dosamu semakin banyak, bocah she Sin. Biar kami dan kawan-kawan menunggumu di neraka!”

“Hm, siapa kalian ini,” Giam Liong tak perduli, membiarkan orang mencaci maki. “Kenapa datang- datang menyerang dan menyebut aku berhutang jiwa. Siapa kalian dan apa artinya omongan kalian itu!”

“Tak usah banyak cakap. Bunuh dan habisi kami, Naga Pembunuh. Lakukan seperti kau melakukannya kepada teman-teman kami tapi percayalah bahwa dunia akan mengejarmu dan sampai di ujung nerakapun kau tetap dituntut!”

“Omongan busuk apa ini!” Yu Yin tiba-tiba membentak, berkelebat dan menendang pembicara itu, tosu berbibir tipis. “Kau minta dibunuh gampang saja, tosu tengik. Aku dapat melakukannya kalau suamiku tidak mau!” dan Yu Yin yang bergerak dan siap melepas tamparan maut tiba-tiba dicegah dan disambar GiamLiong.

“Tahan, nanti dulu!” dan mendorong isteri agar mundur ke belakang Giam Liong menghadapi kembali tiga orang itu, yang lain-lain sudah kabur menyelamatkan diri. “Kalian siapa, dari mana. Kenapa bicara seperti orang gila dan tidak memberiku kesempatan untuk tahu. Nah, bicara yang benar, totiang. Atau nanti aku memaksamu dan maaf kalau sekujur tubuhmu seperti digigit ribuan semut api!”

Giam Liong menjepit belakang leher orang itu hingga si tosu berjengit dan berteriak. Jepitan Giam Liong seakan biasa-biasa saja tapi tosu itu nyatanya menjerit. Ia seakan digigit ribuan semut api yang menyengat. Dan ketika Giam Liong melepaskan jarinya dan tertawa mengejek maka dia bertanya lagi siapa dan dari mana mereka itu, sikap yang membuat lawannya tertegun.

“Aku melihat kalian seperti orang-orang gila. Nah, katakan dan jangan suruh aku bersikap kasar!”

Tosu itu terbelalak. Ia melihat Giam Liong bersikap sopan dan anak muda itu bertanya baik-baik. Heran! Dan ketika ia terbelalak memandang dua temannya yang lain dan dua temannya itu juga terbelalak, heran maka dia mendesis dan membentak, “Naga Pembunuh, tak perlu berpura-pura. Kau telah membunuh dan membantai kami orang-orang dari Khong-tong. Dulu kau juga mencelakai Eng Sian Taijin. Nah, kenapa bertanya lagi dan kami justeru merasa heran!”

Giam Liong terkejut. “Membunuh? Berurusan dengan kalian orang-orang Khong-tong? Hm, jangan membual. Eng Sian Taijin pernah kukenal, totiang, tapi membunuh dan membantai seperti katamu tadi sungguh tak kulakukan. Miringkah otak kalian dengan menuduh secara serampangan!”

“Kau dusta. Kau membantai kami dengan Golok Mautmu itu!” tosu di sebelah, yang heran tapi marah memaki Giam Liong. Dia menganggap si buntung ini bohong, mempermainkan.

Tapi ketika Yu Yin bergerak dan menampar mulutnya maka nyonya muda itu berseru, ganti melampiaskan marah. “Diam mulutmu daripada mengeluarkan fitnah. Atau kupecahkan nanti dan ini sebagai pelajaran!”

Tosu itu menjerit. Mulutnya pecah dan darah seketika mengucur. Ia mendelik. Namun ketika Giam Liong memegang lengan isterinya dan membentak maka pemuda itu berseru agar urusan diserahkan kepadanya.

“Baik, kalian mengeluarkan tuduihan gila. Tapi kau...” ia menuding hwesio itu. “Dari mana kau, lo- suhu. Apakah aku juga membunuh dan membantai saudara-saudaramu!”

Hwesio ini tertegun. Dia kian terkejut dan terheran melihat sikap pemuda itu karena Giam Liong menunjukkan rasa penasaran. Aneh! Tapi mengangguk dan menjawab sengit ia berseru, “Benar, kau juga membunuh dan membantai saudara-saudaraku, Naga Pembunuh. Pinceng dari Lu-tong-pai menaruh dendam!”

“Hm-hmm Lu-tong-pai. Kalau begitu kau murid Ceng Tong Hwesio yang sebenarnya tidak pernah ada urusan denganku. Baik, semua tuduhan ini kuterima, lo-suhu. Tapi ketahuilah bahwa sama sekali aku tidak melakukan itu. Jangankan ke Lu-tong, atau Khong-tong, ke tempat-tempat lain saja aku tidak pernah karena aku sibuk mencari penculik anakku. Kalian melempar omongan busuk, ini fitnah. Tapi kalau aku benar melakukan itu tentu sekarang juga kalian kubunuh. Nah, lihat apa yang kulakukan sekarang. Kalian bebas dan pergilah!”

Giam Liong mengerakkan jari dan membebaskan totokan tiga orang itu, membuat tosu dan dua hwesio itu terbelalak dan mereka seketika meloncat bangun. Mereka tak percaya pada apa yang mereka alami tapi Si Naga Pembunuh itu benar-benar membebaskan mereka. Dan ketika mereka mengibaskan baju dan memungut senjata kembali, girang tapi juga was-was maka Giam Liong menyuruh mereka pergi.

“Enyahlah, sekarang kalian buktikan apakah aku bohong atau tidak!”

Tiga orang itu meloncat. Mereka ternyata anak-anak murid Khong-tong dan Lu-tong dan tentu saja kesempatan ini tak disia-siakan. Lawan membebaskan mereka dan hampir mereka tak percaya. Tapi begitu meloncat dan membalikkan tubuh ketiganya berkelebat dan menjadi girang. Lolos dari maut!

“Naga Pembunuh, kau aneh. Tapi terima kasih dan akan kami laporkan kepada ketua tentang semua ini!”

“Hm, tak tahu malu. Kalau suamiku tidak melarang tentu kalian kupotong telinga atau kakinya, tikus-tikus busuk. Bilang pada ketua kalian bahwa semua itu fitnah!” Yu Yin, yang jengkel dan gemas oleh semuanya ini berseru marah. Ia mau melepas pukulan jarak jauh namun suaminya mencegah.

Giam Liong menangkap dan menahan tangan isterinya itu. Dan ketika tiga orang itu lenyap dan Giam Liong menarik napas maka dia mengajak isterinya kembali ke kedai untuk makan dan minum. Namun Giam Liong sudah tidak selera. Beberapa orang di kedai bahkan menyingkir melihat si buntung ini, pemiliknya juga ketakutan. Mereka tadi telah melihat dari jauh dan ini membuat Yu Yin geram. Dan ketika ia juga menghabiskan semangkok bubur untuk akhirnya setengah membanting mangkok itu di atas meja maka ia bangkit mengajak Giam Liong cepat pergi.

“Banyak kecoa-kecoa memuakkan. Agaknya persoalan kita bertambah lagi! Ayo, kita berangkat, Giam Liong. Kita masuki Ci-bun!”

Giam Liong bangkit dan membayar makanan. Ia memanggil pemilik kedai tapi pemilik menggoyang-goyang lengan. Buru-buru si tua itu menolak. Namun ketika Giam Liong menancapkan uang peraknya di meja dan pergi dengan gemas maka isterinya sudah berkelebat dan mendahului memasuki gerbang kota.

“Giam Liong, kita cari keterangan di sana. Siapa tahu penculik dan pembunuh bibi Swi Cu dapat ditemukan!”

“Baik, tapi jangan terburu-buru, Yu Yin. Lihat kau mencengangkan banyak orang!” Giam Liong berkelebat dan menyusul isterinya itu.

Yu Yin mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan akibatnya penjaga atau pengawal pintu gerbang terbelalak. Bayangan nyonya itu berkelebat dan lenyap. Lalu ketika Giam Liong juga menyusul dan lenyap seperti iblis maka suami isteri ini membuat penjaga menggosok-gosok kedua matanya.

“Eh, silumankah? Atau hantu kesiangan? Heii... apa yang tadi kalian lihat, kawan-kawan. Apakah mataku berubah!”

“Aku juga. Tadi ada suami isteri muda di sana. Yang laki-laki buntung. Eh, mereka lenyap dan barangkali itu tadi!”

“Dan mereka memasuki kota. Celaka, jangan-jangan geger! Siapakah mereka?”

Giam Liong dan isterinya sudah lenyap di dalam. Mereka tak menghiraukan teriakan atau seruan di pintu gerbang karena Giam Liong menyambar dan mencekal lengan isterinya ini. Kalau tidak dijaga Yu Yin bisa mengamuk. Dan ketika pemuda itu berhasil menangkap isterinya dan menyuruh isterinya perlahan maka Giam Liong bertanya mau ke mana isterinya itu.

“Aku mau menemui Ta-ciangkun. Kita langsung kerumahnya dan tanya tentang musuh-musuh kita ini!”

“Ta-ciangkun?”

“Ya, komandan itu, Giam Liong. Dia kenal aku dan kita cari keterangan di sana!”

Giam Liong berkelebat dan menurut saja dibawa isterinya. Mereka mengejutkan orang yang berlalu lalang karena tanpa mengurangi kecepatan isterinya ini menyelinap di antara banyaknya orang, berkelebat dan lenyap melewati jalanan umum. Tapi ketika akhirnya sebuah gedung bertembok tinggi dilompati dan mereka melayang turun maka Yu Yin berkelebat memasuki gedung dan tahu-tahu berada di sebuah ruangan dalam di mana seorang laki-laki tinggi besar berpakaian perwira tampak duduk bercakap-cakap dengan dua orang bawahannya.

“Eh!” perwira itu terkejut dan langsung berhadapan dengan Yu Yin, kaget. “Siapa kau, nona. Kau.... eh, Coa-siocia!”

Dua yang lain menengok dan memutar kursi. Perwira itu langsung melihat Yu Yin karena nyonya muda ini berkelebat memasuki pintu ruangannya. Ruangan itu tak ditutup dan segera si perwira bangkit berdiri. Ia meloncat dan siap mencabut golok sambil bertanya. Tapi ketika ia mengenal dan memanggil Yu Yin, menyebutnya Coa-siocia (nona Coa) dan Yu Yin tampak gelap maka nyonya itu berseru,

“Ta-ciangkun, aku Sin-hujin, bukan nona lagi. Aku datang ada perlu denganmu!”

“Ah, maaf. Mari duduk!” si perwira membungkuk dan cepat-cepat memberi kursi, menyuruh dua bawahannya minggir dan dua pembantu Ta-ciangkun itu terbelalak. Mereka melihat pasangan muda ini muncul seperti iblis, tahu-tahu berada di situ tanpa mereka ketahui. Tapi melihat betapa Ta-ciangkun menyebut wanita muda itu Coa-siocia, berubah dan hormat bukan main maka mereka ikut membungkuk dan percakapan sendiri jadi terputus.

“Ini puteri Coa-ongya, masa kalian tidak tahu. He, berikan kursi kalian, Ma-coangbu. Kalian ambil kursi yang lain dan cepat minggir!”

Dua orang itu terkejut. Mereka mundur dan memberikan kursi sendiri sementara Ta-ciangkun menyeringai lebar. Kedatangan tamu ini mengejutkannya, girang tapi juga was-was. Namun ketika Yu Yin bertolak pinggang dan menolak kursi itu, tak mau duduk maka wanita ini berkata, suaranya tinggi, melengking.

“Ta-ciangkun, tidak tahukah kau bahwa aku tak ingin dikait-kaitkan dengan istana lagi? Butakah matamu bahwa selama bertahun-tahun ini aku hidup di luar? Aku datang bukan sebagai kerabat istana, ciangkun, melainkan sebagai orang biasa isteri suamiku ini. Nah, jangan sebut aku seperti dulu karena aku sekarang adalah Sin-hujin. Ini suamiku Giam Liong yang tentu sudah kau dengar namanya. Mending ayahku tak usah disebut-sebut pula!”

Perwira itu mengkeret. Dia beradu pandang dengan wanita itu lalu Giam Liong yang berdiri di belakang isterinya. Si buntung ini memang bersifat mengawal. Dan ketika dia melihat mata si pemuda yang berkilat mencorong maka tergetarlah perwira ini dan buru-buru ia menunduk sambil membungkuk lagi. Siapa tidak kenal si buntung yang hebat itu. Naga Pembunuh!

“Ah, Sin-siauwhiap kiranya juga datang. Dan.... dan siauw-hujin (nyonya muda) rupanya ada keperluan penting. Duduklah... duduklah di kursi itu, siauwhiap. Aku orang she Ta siap membantu dan menolong kalau diperlukan. Ini dua pembantuku Ma-ciangbu dan So-ciangbu. Kami baru saja bicara tentang keamanan menjaga kota. Bagaimana kalian dapat datang tanpa pengawal memberitahuku.Duduklah... duduklah, siauw-hujin. Sudah lama kita tidak bertemu dan apakah jiwi baik-baik saja selama ini!”

“Hm, aku tak ingin banyak mengganggu. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan, ciangkun. Tapi sebaiknya dua pembantumu ini tak disini dulu!” Yu Yin berkata setengah memerintah. Ia berada dirumah Ta-ciangkun mengerutkan kening tapi mengangguk, dua pembantunya itu di suruh keluar maka ia berkata agar dua orang itu menunggu dulu di luar, diam-diam memberikan isyarat untuk berjaga!

“Kalian keluarlah dahulu kutemui Sin-hujin di sini. Hujin rupanya ingin bicara empat mata.”

Dua orang itu membungkuk. Sebagai bawahan Ta-ciangkun tentu saja mereka menurut. Tapi melihat sikap Yu Yin yang melebihi tuan rumah mendongkol juga dua orang itu. Namun karena mereka sudah mendengar tentang wanita muda ini, apalagi Si Naga Pembunuh Giam Liong maka mereka keluar namun berbareng itu mengepung rapat gedung dengan seratus pengawal atas isyarat Ta-ciangkun!

“Duduklah, mari kita bicara. Kepentingan apa yang membuatmu demikian serius, siauw-hujin, dan mari kubantu kalau bisa.”

“Aku hendak bertanya tentang Siauw Hong,” Yu Yin langsung saja ke titik persoalan. “Kau tahu si banci ini, ciangkun? Bukankah dulu kau pernah menjadi bekerja di kota raja dan mengenal kerabat kaisar?”

“Siauw Hong? Hm, yang mana, hujin? Ada banyak orang di istana!”

“Itu, si banci! Paman kecil Yauw-ongya yang miring otaknya!”

“Hm, dia?” si perwira mengangguk-angguk, mulai teringat laki-laki ini. “Benar, hujin. Tapi ada apa dengan dia? Bukankah semestinya di istana!”

“Dia mengambil anakku, menculik! Aku mengejar dia dan kuharap kau membantuku karena aku kehilangan jejaknya!”

“Menculik? Mengambil anakmu? Ah, jiwi sudah berputera, hujin? Selamat, membahagiakan sekali. Kalau ayahmu tahu tentu...”

“Tak usah bicara tentang ayah. Yang tiada tak usah disebut-sebut, ciangkun. Aku sudah memperingatkan itu. Sekarang bicara tentang Siauw Hong dan dapatkah kau membantuku!”

“Hm, maaf...” si perwira terkejut, berubah. “Aku lupa, hujin. Tapi bagaimana aku menolongmu tentang ini. Dan kenapa ia menculik anakmu.”

“Si gila itu tak kuketahui maksudnya, tapi karena ia tak ada di mana-mana maka tentu kembali ke istana dan kaulah yang ingin kumintai tolong menangkap si banci itu!”

“Ah, aku ke istana? Kenapa tidak dirimu saja? Bukankah lebih mudah dan dipercaya?”

“Hm, aku tak mau menginjak istana lagi untuk tidak mengenang peristiwa lama, ciangkun. Kau tentu tahu dan paham maksudku ini. Dan karena aku teringat padamu maka aku datang ingin minta tolong!”

“Tapi ada Sin-siauwhiap disini!”

“Kalau ia masuk tentu istana geger!”

“Ada hujin mendamping.”

“Hm, kenapa kau banyak cakap? Tugasmu adalah ke istana dan mencari si banci ini, ciangkun, bukan menanyaiku macam-macam karena sudah kubilang aku tak suka ke istana!”

“Tapi aku ditugaskan di sini.”

“Kau dapat mewakilkan tugasmu kepada pembantumu!”

“Ah, tanpa perintah atasan tentu tak mungkin, hujin. Kau tahu cara militer!”

“Aku yang akan memberi tahu atasanmu. Siapa atasanmu, apakah masih jenderal Gong!”

“Tidak, Gong-goanswe sudah pensiun. Sekarang digantikan Kiang-goanswe. Aku tentu harus melapor dulu kalau akan meninggalkan tugas!”

“Kau terlalu berbelit-belit. Nanti kubilang pada atasanmu, Ta-ciangkun, tak usah khawatir!”

“Hujin, bukannya aku tidak mau. Tapi bagaimana aku meninggalkan tugasku untuk melaksanakan tugas yang kau berikan ini. Bagaimana kalau diberikan saja kepada dua pembantuku tadi? Ma-ciangbu dan So-ciangbu kukira bisa. Siauw Hong itu hanya seorang sinting yang mudah dibekuk!”

“Kau jangan memandang rendah. Orang ini berkepandaian, ciangkun. Segala pembantumu kelas kambing begitu mana mungkin menangkap? Kau sendiri tak mungkin mampu. Aku hanya hendak menyuruhmu memancingnya keluar dan di pintu gerbang kota raja aku sendiri yang membereskannya!”

Sang perwira terbelalak. Ia terkejut bahwa si banci yang dikenalnya sebagai orang miring otak itu berkepandaian. Seingatnya, Siauw Hong ini laki-laki lemah, kewanita-wanitaan dan banyak kali menjadi bahan godaan kerabat istana yang lain. Tapi karena yang bicara begitu adalah puteri Coa-ongya dan tak mungkin wanita ini bohong maka dia tertegun tapi menggeleng tak bisa meninggalkan tugas.

“Apalagi begitu. Kalau hanya untuk memancing dan menyuruhnya keluar dua pembantuku dapat melakukannya dengan baik, hujin. Kukira tak ada persoalan.”

“Kau yakin si banci itu bisa dibujuk? Eh, dua pembantumu tak dikenal si banci ini, Ta-ciangkun, dan dengan orang yang tidak dikenal tak mungkin Siauw Hong keluar. Kau sudah mengenalnya dan karena inilah kau paling tepat. Dia akan menurut dan aku yang akan membekuknya di luar kota raja!”

“Tapi...”

“Banyak cakap!” Yu Yin membentak dan menjadi marah. “Mau atau tidak kau melakukan pekerjaan ini, ciangkun, tak usah berputar-putar!”

Ta-ciangkun terpekik. Yu Yin bergerak dan tahu-tahu jarinya mencengkeram pundak si perwira. Jari itu menekan kuat serasa menembus kulit daging, sakit bukan main. Dan ketika ia melihat nyonya itu tertawa dingin sementara Giam Liong tak acuh memandangnya, ia maklum bahwa tak mungkin menandingi wanita lihai ini maka ia mengeluh dan menggigil.

“Hujin, kau harus bertanggung jawab kepada Kiang-goanswe. Aku mau melakukan perintahmu tapi beri tahulah Kiang-goanswe dahulu kalau sama-sama ke kota raja!”

“Aku tidak akan menemui jenderal itu, tapi aku akan bertanggung jawab tentang ini. Nah, kau kutawan saja dan biar anak buahmu melapor kepada Kiang-goanswe dan kau dapat bekerja aman!” Yu Yin tiba-tiba menotok dan merobohkan perwira itu.

Ta-ciangkun terkejut tapi tak berdaya. Ia seketika mendeprok. Dan ketika Yu Yin melempar perwira tinggi besar itu kepada suaminya, Giam Liong mengangguk dan tertawa dingin maka pemuda itu bicara, menekan leher belakang perwira ini,

“Ciangkun, apa yang dikatakan isteriku benar. Kau kutawan saja, biar anak buahmu melapor dan di kota raja kau dapat bekerja sesuai perintah kami. Kalau aku atau isteriku mau ke istana tentu tak perlu kami memakai tenagamu. Nah, jangan banyak cakap dan sekarang kita pergi!”

Giam Liong menyusul isterinya berkelebat keluar. Mereka tak menyangka bahwa seratus pengawal telah mengurung gedung itu. Maka ketika Yu Yin meloncat dan hendak meninggalkan ruangan belakang tiba-tiba saja belasan orang memergokinya dan mereka terkejut melihat Ta-ciangkun dikempit suaminya.

“He, itu Ta-ciangkun...!”

“Ia diculik! He, rampas pimpinan kita ini, kawan-kawan. Beri tahu Ma-ciangbu atau So-ciangbu!” belasan orang itu tiba-tiba berteriak dan menyerbu ke depan. Mereka sudah membentak dan membunyikan kelenengan besi yang seketika membuat berisik.

Yu Yin yang keluar dari ruang dalam kepergok pengawal- pengawal ini. Dan ketika nyonya itu tertegun tapi mendengus marah, menyambut dan mematahkan tombak atau golok maka tangannya mengibas dan belasan orang itu terjengkang. “Ta-ciangkun bukan kami culik. Ia kami pinjam, minggir bres-bress!”

Belasan pengawal mencelat dan terbanting mengaduh-aduh. Yu Yin tidak menurunkan tangan kejam hanya merobohkan saja, maklum, mereka itu adalah anak buah Ta-ciangkun sekaligus pasukan kerajaan, yang ditaruh di Ci-bun. Tapi ketika mereka bangkit berdiri dan berteriak-teriak, mengejar dan memanggil teman-teman yang lain maka dari mana-mana muncul pengawal itu yang memang sebelumnya sudah disiapkan ta-ciangkun, melalui Ma-ciangbu atau So-ciangbu juga muncul, kaget dan membentak dua orang itu maka Yu Yin melengking menerobos mereka. Giam Liong diminta membantu.

“Hajar mereka, robohkan!”

Nyonya itu berjungkir balik di atas kepala lawan. Giam Liong mengangguk dan sudah menggerakkan tangan kanannya dan sekali mengibas pemuda buntung ini membuat So-ciangbu dan Ma-ciangbu mencelat. Dua pembantu Ta-ciangkun itu kaget bukan main. Dan ketika Giam Liong bergerak di depan dan sang isteri berhasil mendekati tembok maka pemuda itu menjejakkan kakinya dan melayang naik pula ke tembok yang tinggi.

“Kami tidak menculik pimpinan kalian, hanya meminjamnya sebentar. Minggir, tikus-tikus busuk, atau kalian kulempar kalau tidak mau mundur!”

Giam Liong mengibas dan angin kibasannya ke bawah membuat para pengejar terpelanting. Mereka mau meloncat naik namun si buntung sudah mendahului. Tujuh di antara mereka terbanting keras. Dan ketika mereka itu mengaduh dan yang lain pucat, Giam Liong telah melayang dan turun di luar tembok sana maka mereka akhirnya sadar lagi dan buru-buru membuka pintu halaman depan, sebagian ada yang melempar tali untuk akhirnya naik dan turun melewati dinding tembok yang tinggi.

“Kejar...kejar Ta-ciangkun dibawa Naga Pembunuh!”

“Ta-caingkun diculik!”

“Kejar dan tangkap mereka, kawan-kawan. Atau laporkan ke Kiang-goanswe dan kejar dua orang itu!”

Namun Giam Liong dan isterinya sudah jauh meninggalkan gedung. Yu Yin tertawa mengejek sementara Ta-ciangkun pucat dan gemetar. Suami isteri muda ini betul-betul hebat, tak mungkin anak buahnya menang. Tapi karena dia aman tak diapa-apakan, mereka hanya membawanya untuk mencari dan menemukan Siauw Hong maka perwira ini tenang sementara Giam Liong sudah meluncur dan berkelebat melewati tembok kota sebelah utara untuk menuju ke kota raja.

Namun halangan baru mengganggu suami isteri ini. Ketika mereka sudah jauh meninggalkan gedung dan berkelebat, melewati penjagaan di pintu kota sebelah utara, membuat para penjaga kaget dan berseru tertahan, mengucek mata dan memandang ke depan maka dari dalam kota tiba-tiba mengejar bayangan-bayangan lain yang membuat para penjaga jadi semakin kaget lagi. Giam Liong disusul belasan bayangan yang bergerak cepat melebihi panah meluncur.

“Heii Naga Pembunuh! Berhenti dan lepaskan dulu tawananmu!”

Giam Liong terkejut. Dia sudah mendekati hutan dan siap masuk untuk kemudian keluar ke sana. Seruan atau bentakan di belakang membuat dia menoleh dan tercekatlah dia melihat sembilan bayangan meluncur cepat dengan kepandaian tinggi. Mereka juga terdiri dari para tosu dan hwesio, yang lain orang- orang biasa namun ilmu lari cepat mereka hebat bukan main, terbukti mampu mendekati hutan dengan cepat dan sebentar kemudian sudah sampai. Dan karena dia bukan manusia pengecut yang harus lari ketakutan, lagi pula bawaannya cukup berat maka Giam Liong berhenti dan tepat sedetik kemudian sembilan orang itupun sudah tiba di depannya. Sang isteri menengok dan ikut berhenti pula.

“Siapa kalian. Ada apa menyuruh kami berhenti!” nyonya itu membentak dan marah. Yu Yin memang wanita pemberang dan ditambah kejengkelannya akan ulah Siauw Hong membuat dia cepat naik darah.

Giam Liong menjawil lengannya namun nyonya ini tak perduli. Maka begitu dia membentak dan suami isteri ini menghadapi sembilan orang itu, dua tosu dan dua hwesio serta lima orang- orang aneh berpakaian macam-macam maka hwesio dan tosu di depan itu menancapkan toyanya.

“Omitohud, siauw-hujin masih galak. Kami adalah orang-orang yang berurusan dengan suamimu dan pinceng Ceng Ting Hwesio, dari Lu-tong-pai. Harap hujin minggir karena kami tak berurusan denganmu!”

“Dan pinto adalah Kwan Tek Sianjin, wakil Khong-tong. Kami datang untuk menuntut tanggung jawab seperti halnya lima saudara ini!”

Yu Yin terbelalak marah. Tapi sebelum dia mendamprat maka Giam Liong maju ke depan dan mengeluarkan kata-kata dingin. “Hm, kiranya sahabat-sahabat dari Khong-tong dan Lu-tong. Bagus, ada perlu apa kalian mencariku? Apakah juga tuduhan bahwa aku membantai anak-anak murid kalian?”

“Omitohud, sudah mengaku! Baik sekali kau mendahului ini, Sin Giam Liong, dan pinceng menuntut agar kau menyerahkan diri dan diadili di Lu-tong!”

“Hm, dan Khong-tong juga ingin mengadilimu. Serahkan dirimu secara baik-baik, Naga Pembunuh. Atau pinceng bersama kawan-kawan menangkap dan membunuhmu di sini!”

Giam Liong tertawa mengejek. “Beberapa jam yang lalu anak murid Khong-tong dan Lu-tong juga menemuiku, mereka sudah kuhajar, tapi kubebaskan. Apakah kalian tidak bertemu dan mendapat keterangan dari mereka? Kalau aku hendak diadili maka buka dan perhatikan baik-baik mata dan telinga kalian, Kwan Tek Sianjin. Aku tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan dan jangan ngawur!"

“Bagus, kau maksudkan tiga orang ini?” Kwan Tek dan Ceng Ting tiba-tiba serentak berseru. Mereka ada membawa bungkusan besar dan sejak tadi Giam Liong merasa aneh. Entah apa yang dibawa itu. Tapi begitu mereka melempar dan membuka bungkusan ini maka tiga mayat terlempar dan itu adalah dua tosu serta hwesio yang dibebaskan. Anak-anak murid Khong-tong dan Lu-tong, tewas dengan leher hampir putus!

“Ah!” Giam Liong terkejut. “Ini... apa artinya ini? Bukankah mereka adalah orang-orang tadi?”

Pertanyaan ini lebih ditujukan kepada sang isteri daripada kepada tosu atau orang-orang lain itu. Tapi Kwan Tek Sianjin dang Ceng Ting Hwesio yang tak dapat menahan marah sudah membentak, “Bagus, kau sudah mengaku, bocah she Sin. Dan sekarang serahkan dirimu untuk kami tangkap!”

“Dan kami juga orang-orang yang saudara kami kau bunuh. Menyerahlah dan jangan melawan, Naga Pembunuh. Kau harus diadili dan jangan bersikap blo’on untuk perbuatanmu yang telengas!”

Tosu dan para hwesio serta lima orang itu maju serentak. Mereka mau menangkap dan mengikat Giam Liong sementara senjata di tangan bergetar siap menyerang. Toya sudah dicabut dan hwesio dari Lu-tong itu bergerak mengerotokkan buku-buku jarinya. Tampak betapa uap putih keluar dari telapak hwesio ini. Dan ketika mereka bergerak sama cepat dan masing-masing ingin menotok atau merobohkan Giam Liong, hal yang tentu saja tak dibiarkan pemuda ini maka Giam Liong mempergunakan langkah saktinya dan tahu-tahu sudah menyelinap mundur. Sembilan orang itu hampir bertabrakan.

“Heiii...!” Yu Yin melengking dan marah. Nyonya ini sejak tadi mendengarkan dan terbelalak gusar. Dia kaget melihat betapa dua tosu dan hwesio yang dibebaskan Giam Liong tiba-tiba sudah menjadi mayat, padahal baru beberapa jam mereka itu bertemu. Maka begitu dia sadar dan sembilan orang menubruk suaminya, luput karena suaminya mempergunakan Pek-poh-sin-kun maka wanita ini membentak dan tiba-tiba maju berkelebat, tangan menampar dan kakipun menendang. Padahal sang suami justeru menjauh dan meloncat mundur. “Jahanam keparat, kalian kiranya pengacau-pengacau dan pemfitnah. Mampuslah!”

Gerak nyonya ini cepat dan kuat. Ditambah kemarahannya maka pukulan atau tendangannya bakal melemparkan orang-orang itu. Tapi ketika Kwan Tek Sianjin mengelak dan Ceng Ting Hwesio menangkis, dua lengan bertemu maka nyonya muda itu terpental dan Yu Yin kaget sekali.

“Dukk!”

Sang nyonya berjungkir balik membuang sisa tenaga lemparan. Tak dia sangka bahwa hwesio ini lihai, jauh lebih lihai daripada hwesio yang tewas itu. Tapi teringat bahwa lawan adalah sute Ceng Ting Hwesio, wakil atau tokoh Lu-tong maka nyonya itu mencabut pedangnya namun Giam Liong tiba-tiba berkelebat dan menarik isterinya ini, mata merah.

“Yu Yin, kita pergi. Agaknya ada seorang yang mengacau namaku!”

Nyonya itu terkejut. Dia melengking dan menolak namun cengkeraman sang suami amatlah kuat. Dan ketika Giam Liong membalik dan membawanya terbang maka pemuda itu meninggalkan lawan dan memasuki hutan untuk cepat-cepat keluar. Namun Kwan Tek Sianjin dan Ceng Ting Hwesio tak mau melepaskan. Dua orang itu membentak dan begitu Giam Liong pergi merekapun mengejar. Dan ketika tujuh teman yang lain juga berseru dan berkelebat mengejar maka sembilan orang itu susul-menyusul tak mau melepaskan Giam Liong. Perginya pemuda itu justeru menguatkan dugaan bahwa Giam Liong lari dari tanggung jawab.

“Naga Pembunuh, berhenti. Kau serahkan dirimu dulu atau mampus di tangan kami!”

Yu Yin juga uring-uringan. Nyonya ini menendang dan meronta namun cengkeraman semakin kuat. Ada sesuatu di pikiran pemuda itu. Dan ketika mereka sudah melewati hutan dengan cepat sementara wanita itu memaki dan tetap meronta-ronta maka Yu Yin memekik gusar kepada suaminya itu.

“Giam Liong, lepaskan aku. Lepaskan. Kau dianggap pengecut dan justeru akan memperkuat dugaan saja. Berhentilah dan hadapi mereka, Giam Liong, jangan lari. Biarku hajar orang-orang itu dan kukatakan bahwa semua itu fitnah!”

“Hm, aku ingin ke Lembah Iblis. Tiga orang itu tewas oleh Golok Maut, Yu Yin. Lihat betapa luka dileher mereka kering dan tak berdarah!”

“Kau.. ke Lembah Iblis? Gila, aku ingin ke kota raja, Giam Liong. Mencari dan menemukan dulu puteraku. Untuk apa pulang!”

“Hm, kita tunda perjalanan ke kota raja. Dan orang she Ta ini... ah, ia merepotkan saja, Yu Yin. Biar ia kulepas dan kita pulang dulu!” Giam Liong melempar dan membuang Ta-ciangkun itu.

Si perwira yang tadi ditangkap tiba-tiba begitu mudah kini dilepaskan. Giam Liong ingin kembali ke Lembah Iblis sementara isterinya bermaksud ke kota raja. Yu Yin masih tak mengerti apa yang dikehendaki suaminya ini. Baginya sang anak lebih penting daripada yang lain-lain. Dia tak tahu bahwa Giam Liong hendak melihat apakah Golok Maut yang ditanam dan disembunyikan di makam kakek gurunya masih ada di sana.

Giam Liong terkejut bahwa tosu dan hwesio dari Lu-tong itu tewas dengan leher mengering. Hanya Golok.Penghisap Darah atau Golok Maut itulah yang bisa melakukan itu. Orang yang terluka oleh golok ini akan berciri seperti itu, kulit dan daging yang tersayat segera kering dan mampat. Hawa golok maut itu menghisap darahnya. Maka ketika Giam Liong terkejut bahwa tosu dan hwesio itu tewas dengan ciri seperti disambar Golok Maut, padahal golok itu telah dikubur dan ditanam di Lembah Iblis maka pemuda yang bermaksud untuk menyelidiki dan mengetahui apakah golok itu tetap di sana ingin segera ke Lembah Iblis dan menggalinya.

Giam Liong bergetar membayangkan sesuatu yang mengerikan, bahwa golok itu mungkin dicuri orang. Tapi sang isteri yang ternyata tak mengerti dan lebih berat anak daripada golok meronta dan menendang-nendang sepanjang jalan. Dia sendiri sudah melempar Ta-ciangkun dan perwira itu bergulingan di sana, mengeluh namun sudah terbebas dan bangkit terhuyung. Dan ketika perwira itu melihat bayangan-banyangan berkelebat di depan mukanya, itulah para tosu dan hwesio dari Lu-tong maka Giam Liong yang diganggu isterinya jadi terhambat dan terkejar.

“Biar.... biar! Tak usah lari dan tak perlu pulang. Aku tak mau ke Lembah Iblis, Giam Liong. Aku ingin menemukan anakku Sin Gak dulu. Berhenti dan hajar orang-orang itu!”

Giam Liong susah. Kalau saja yang dipegangnya ini bukanlah isteri tentu dia akan menampar dan merobohkannya pingsan. Tapi Yu Yin adalah isterinya, wanita yang dia cinta. Dan ketika Yu Yin menendang dan tetap meronta-ronta menghambat larinya maka sembilan orang di belakang menyusul dan toya menyambar punggung pemuda itu, disusul oleh pedang yang mendesing menuju telinganya. Ceng Ting dan Kwan Tek Sianjin telah menyerang.

“Naga Pembunuh, berhenti dan benar kata isterimu. Jangan lari kalau tidak bersalah dan hadapi kami secara jantan.... wut-singg!”

Giam Liong mengelak dan melepaskan isterinya. Apa boleh buat dia harus berhenti dan kini pemuda itu membalik. Serangan-serangan lain datang seperti hujan setelah toya dan pedang itu mengenai angin. Dan ketika tujuh yang lain menghantam dan sudah melepas pukulan jarak jauh maka si buntung ini siap dan dengan geram pendek ia menyambut, Kim-kang-ciang atau Pukulan Tangan Emas dilepas.

“Wut-dess-blarrr !”

Tujuh orang itu terpelanting dan terbanting. Giam Liong mengerahkan kesaktiannya dan si buntung yang berkilat-kilat ini marah. Dia membuat lawan terlempar dan berteriak kaget. Dan ketika tujuh orang itu bergulingan meloncat bangun dan pemuda ini berdiri tegak maka Giam Liong membentak.

“Kwan Tek Sianjin, Ceng Ting Hwesio, kuberitahukan kepada kalian bahwa aku sama sekali tidak melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Aku tak tahu apa-apa tentang ini dan percayalah bahwa itu bukan perbuatanku. Pergilah dan katakan kepada ketua kalian bahwa seseorang sengaja meminjam namaku, merusak. Aku tak ada waktu dan silakan kalian pergi!”

“Keparat!” hwesio dan tosu serta lima orang itu memaki. “Luka yang ditimbulkan golokmu berciri khas, Naga Pembunuh. Dan di dunia ini hanya kau seorang yang memiliki senjata ampuh itu. Tak usah banyak cakap atau kau menyerah baik-baik!” sembilan orang itu berkelebat dan menyerang lagi.

Giam Liong mengatur tenaganya sedemikian rupa agar tak sampai mencelakai. Tapi ketika ia diserang lagi sementara isterinya membentak dan marah besar maka Yu Yin berkelebat dan pedang hitam di tangannya mendesing menyambar orang-orang itu.

“Percuma bicara. Babat dan robohkan mereka ini, Giam Liong. Dan setelah itu kita ke kota raja!”

Sembilan orang itu menangkis serangan pedang si nyonya. Kwan Tek dan Ceng Ting telah beradu tenaga dan pedang serta toya mereka menyambut. Dan ketika Yu Yin terpental dan berjungkir balik tinggi maka Giam Liong marah dan membantu isterinya itu, maju dengan langkah Pek-poh-sin-kun.

“Yu Yin, biar aku saja yang merobohkan cecunguk-cecunguk ini. Kau minggirlah dan biar mereka merasakan kelihaianku. plak-dukk!” lengan atau ujung lengan baju si buntung ini membentur pedang dan toya, bersentuhan dengan tubuh mereka dan Kwan Tek maupun Ceng Ting Hwesio berteriak kaget. Tenaga Tangan Emas itu dipergunakan lagi dan mereka terlempar. Namun ketika semua bergulingan bangun dan langkah sakti Giam Liong yang mengejutkan itu membuat mereka terbelalak maka Kwan Tek berseru agar semua menyatukan diri.

Tapak Tangan Hantu Jilid 07

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 07
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“KI BI? Ah, telah tiada, siauwhiap, tewas. Ia terbunuh oleh majikan Hutan Iblis!”

“Majikan Hutan Iblis? Ia terbunuh?”

“Ah, apakah siauwhiap tidak diberi tahu pangcu? Apakah siauwhiap tidak tahu?"

“Hm, aku. eh, aku sudah tahu. Tapi tak diberi tahu bahwa bibi Ki Bi terbunuh juga. Pantas ia tak datang menyambutku ketika aku di sini. Kiranya terbunuh. Hm, ceritakan padaku bagaimana itu semua terjadi, Sut-gong. Ayah tak sampai hati menceritakan semuanya kepadaku!”

Giam Liong menekan debaran girangnya, mulai tahu siapa pembunuh itu yang disebut-sebut sebagai majikan Hutan Iblis. Dan karena ia harus berpura-pura seperti orang tahu, kecuali tentang bibi Ki Bi itu maka Giam Liong memancing anak murid Hek-yan-pang ini, bujangan belasan tahun yang memanggilnya siauwhiap sebagai tanda hormat. Giam Liong mengangguk-angguk dan sinar matanya tiba-tiba mencorong. Di malam gelap itu sepasang matanya mengeluarkan cahaya seperti harimau, berkilat dan menyorot dan anak murid Hek-yan-pang ini mengeluarkan seruan tertahan, mundur dengan takut. Tapi ketika Giam Liong sadar dan menarik kembali anak murid itu maka dia minta agar menceritakan tentang bibi Ki Bi itu.

“Eh, ke mari. Lanjutkan ceritamu!”

“Siauwhiap..... siauwhiap marah?”

“Bukan kepadamu, Sut-gong, tetapi kepada jahanam majikan Hutan Iblis itu. Tenanglah dan ceritakan selengkapnya!”

Anak murid ini menggigil. Ia tak pernah melihat mata manusia seperti itu, mata yang tiba-tiba mencorong bercahaya seperti kucing ganas. Atau, ini lebih tepat, harimau yang kelaparan! Tapi ketika Giam Liong menepuk-nepuk pundaknya kembali dan ia akhirnya tenang, sorot mata si buntung yang mencorong bukan ditujukan kepadanya maka ia menghela napas dan mulai bercerita, melanjutkan.

“Bibi Ki Bi tewas oleh manusia srigala ini, juga murid utama yang lain. Dan karena Ju-hujin marah besar lalu berkelebat pergi maka Ju-hujin juga tewas dan akhirnya malapetaka ini beruntun menimpa Hek-yan-pang. Majikan Hutan Iblis itu benar-benar hebat, siauwhiap, dan mengerikan. Pangcu sendiri hampir tak mampu menandinginya kalau tak dibantu siauw-hujin (nyonya muda)!”

“Ayah tak mampu menandingi? Jadi orang itu sudah ke sini?”

“Sudah, dan kami bertempur mati hidup. Para srigala itu buas seperti kesetanan dan majikannya juga tak seperti manusia, mirip anjing atau manusia anjing yang melolong-lolong dan menyalak mengendalikan anak buahnya!”

“Hm, ini aku tak tahu. Coba ceritakan itu. Ceritakan secara jelas!”

Sut-gong anak murid itu bersemangat. Ia merasa menjadi orang penting dan berceritalah dia akan segala yang dia ketahui. Dan karena ini memang masukan bagi Giam Liong, kisah berharga yang belum didengarnya sama sekali maka si bujang menutup dengan wajah membayangkan ketakutan.

“Majikan Hutan Iblis itu benar-benar bukan manusia. Ia siluman. Kalau siauwhujin tak ada di sini dan pergi bersama Han-kongcu pula tentu pangcu menjadi korban dan kami kehilangan ketua. Ah, ia benar-benar iblis dan harap siauwhiap membunuhnya tanpa ampun. Tapi hati-hati, Hek-mo-ciangnya luar biasa!”

“Hek-mo-ciang (Tapak Tangan Hantu)? Hm, akan kucari dan kucincang laki-laki ini, Sut-gong. Tapi bagaimana ayah tak mampu menandingi orang ini. Bukankah ia jago nomor satu di dunia!”

“Mungkin letih oleh teror yang di alami, siauwhiap, atau belum sembuh dari pukulan batin atas kematian Ju-hujin. Itu barangkali!”

“Baik, terimakasih. Sekarang kau tidurlah dan pergilah, Sut-gong. Aku sudah cukup!” Giam Liong mendorong dan merasa cukup. Sekarang ia mempunyai berita dan keterangan ini besa rartinya. Ternyata dugaannya benar, sang ayah bohong. Ayahnya tak mau memberitahu siapa pembunuh itu padahal tahu bahwa orang itu bukan lain majikan Hutan Iblis. Ia harus menegur! Dan ketika malam itu ia kembali ke kamarnya lagi dan tidak tidur, tak sabar melewatkan malam maka pagi itu juga ia menghadap ayahnya di ruangan depan. Ju-taihiap tampak menghirup kopi panas secara segar.

“Selamat pagi! Kau, Giam Liong... dari mana. Mari duduk dan eh, matamu merah. Agaknya semalam tidak tidur!” Ju-taihiap mendahului dan bangun menyambut putera angkatnya ini. Ia girang tapi segera berkerut melihat wajah dan mata si buntung ini. Ada kemarahan di sinar mata itu, kemarahan ditahan. Agaknya untuknya! Tapi ketika dia menekan debaran hatinya itu dan menyilakan Giam Liong duduk, sang pemuda berhadapan dengannya maka tanpa sembunyi-sembunyi lagi pemuda ini menuju persoalan pokok, menegur ayahnya.

“Ayah bohong. Aku ingin tahu tentang majikan Hutan Iblis dan dapatkah ayah menceritakan kepadaku. Tidak berdusta!”

Sang pendekar berubah. Sekali dengar cukuplah baginya bahwa anak angkatnya ini sudah tahu. Dan ia ditegur! Ia dianggap bohong, dusta! Tapi maklum bahwa kartu harus dibuka, pemuda ini adalah keturunan Si Golok Maut Sin Hauw yang tegas dan jujur maka Ju-taihiap membungkuk dan menghirup kopi panasnya lagi.

“Giam Liong, pagi masih dingin. Mari minum dulu secangkir kopi sebelum menuduh ayahmu dusta!” sang pendekar menuang kopi dari teko di atas mejanya, menyuruh sang putera minum dan sejenak Giam Liong berkerut, mau menolak. Tapi ketika cangkir disodorkan kepadanya dan ia menerima, sang ayah meneguk dan ia mengikuti maka Ju-taihiap batuk-batuk meletakkan cangkirnya lagi.

“Kartu harus dibuka,” begini pendekar itu bicara. “Semua agaknya tak perlu ditutupi lagi, Giam Liong. Tapi coba sebutkan dulu dari mana kau tahu tentang majikan Hutan Iblis!”

“Ayah tak usah tahu dari mana aku tahu, tapi yang jelas kebohongan pasti tak bertahan lama!”

“Hm, lagi-lagi menuduh bohong,” Ju-taihiap tak senang dan kini mendorong kursi, mata bersinar memandang pemuda buntung ini. “Kalau kau mencerna baik kata-kataku kemarin maka kau lihat bahwa tak sedikitpun aku melempar kebohongan, Giam Liong. Adalah kau yang bodoh menelan semua kata-kataku begitu saja. Baik, kau pasti mengetahui itu dari anak murid Hek-yan-pang!”

“Ayah tak keliru, dan sekarang buktikan bahwa ayah tidak bohong!”

“Hm, aku bohong tentang apa?”

“Ayah berkata tak tahu siapa pembunuh ibu, padahal jelas adalah si majikan Hutan Iblis!”

“Betul, dan kau tahu siapa laki-laki ini? Tahukah kau siapa orang di balik kedok itu?”

Giam Liong tertegun, agak berubah.

“Nah, inilah yang kumaksud, Giam Liong. Bahwa aku tak tahu siapa tokoh atau majikan Hutan Iblis itu. Aku memang tahu bahwa pembunuh ibumu adalah laki-laki itu, tapi aku tak tahu siapa dia karena ia manusia misterius yang selalu menutupi mukanya dengan kedok!”

“Jadi...”

“Benar, aku tak bohong. Sampai sekarangpun aku tak tahu siapa orang itu. Dan adalah Han Han yang sekarang menyelidiki dan mencari tahu siapa laki-laki itu!”

Giam Liong memerah. Tiba-tiba ia menarik napas dan menunduk, sadar bahwa dia kurang teliti. Dan ketika ia mengangkat mukanya lagi maka meluncur penyesalan berupa maaf. “Maaf, ayah, kalau begitu aku salah.” dan saat itu masuklah bayangan Tang Siu, mengejutkan Ju- taihiap.

“Dan kaupun dusta!” nyonya itu melengking. “Kau bohong dengan mengatakan akan ke istana, Giam Liong. Karena ternyata kau dan isterimu pergi mencari penculik anakmu. Kau tak pantas menegur ayah dusta!”

Ju-taihiap kaget, berdiri dari kursinya, “Apa? Giam Liong eh, kehilangan anaknya? Mencari penculik?”

“Benar, gak-hu. Kemarin Giam Liong juga bohong dengan berkata akan ke istana. Padahal kita semua tahu bahwa Yu Yin bersumpah tak mau ke istana lagi sejak kejadian dulu. Mereka kehilangan anaknya, mencari penculik. Sekarang tahulah siapa yang bohong dan dusta!”

Ju-taihiap bengong dan pucat. Ia tak menyangka bahwa pemuda ini sudah berputera, diculik dan karena mencari penculik itulah suami isteri muda ini lalu keluar. Ju-taihiap sama sekali tak menghiraukan kebohongan pemuda itu. Yang membuatnya terkejut adalah penculikan itu. Dan ketika pendekar ini berubah dan Giam Liong juga berubah, si buntung ini terbelalak maka tahulah Giam Liong bahwa isterinya telah bicara dengan sahabatnya ini. Dia menyesal tapi saat itu isterinya datang berkelebat. Yu Yin terkejut bahwa Tang Siu melanggar larangannya. Tapi ketika semua berada di situ dan Tang Siu ditarik ayah mertuanya, nyonya ini tak senang mendengar Giam Liong menegur Ju-taihiap maka pendekar itu buru-buru duduk kembali dan menarik kursi yang lain untuk dua wanita itu, kini memandang GiamLiong.

“Eh-eh, jadi kalian sudah berputera? Kau mencari penculik dan anakmu ini? Astaga, tak kau ceritakan ini kepadaku, Giam Liong. Siapa nama cucuku itu dan laki-laki atau perempuan! Dan kau, duduklah, Tang Siu. Tak usah marah-marah karena wajar Giam Liong menegurku. Aku sudah memberikan jawabanku dan Giam Liong tahu aku tak bohong. Duduk dan ceritakan itu kepadaku!”

Giam Liong merah mukanya. Ia menegur sang isteri dengan pandang mata dan Yu Yin ganti menegur Tang Siu dengan sinar matanya. Masing-masing menimpakan yang lain. Dan ketika Tang Siu sadar dan membuang cemberutnya maka ia berbisik kepada temannya,

“Maaf, Yu Yin. Aku marah kepada suamimu itu yang enak saja menegur ayah mertuaku!”

“Sudahlah,” Ju-taihiap tersenyum dan melerai. “Aku tak apa-apa ditegur Giam Liong, Tang Siu. Justeru ia benar karena menganggap aku bohong. Sekarang ingin kutanya Giam Liong bagaimana puteranya hilang, laki-laki atau perempuan, dan siapa pula namanya!”

“Namanya Sin Gak,” Giam Liong menjawab. “Anak kami laki-laki, ayah, dan tentang penculiknya, hmm.. ini karena kecerobohan kami belaka. Tapi kami tahu siapa penculiknya.”

“Begitukah? Siapa dia? Dan kenapa belum tertangkap?”

“Ia seorang banci berwatak sinting, kalau dihitung-hitung masih kerabat Yu Yin juga.”

“Eh, begitukah? Jadi orang istana?”

“Benar, namun tak ada yang menghiraukan karena otak miringnya itu. Ia bernama Siauw Hong dan celakanya Han Han melepaskan orang ini pergi ketika secara kebetulan menemukannya.”

Giam Liong lalu bercerita. Ia tak perlu berdusta lagi karena sudah diketahui, seperti halnya Ju-taihiap sendiri yang menjawab tuduhannya tadi. Dan ketika Ju-taihiap terbelalak dan mengangguk-angguk, mengerutkan kening maka Giam Liong menutup bahwa kebohongannya bukan untuk maksud jelek.

“Kemarin aku berbohong karena sesungguhnya tak enak melihat ayah yang sedang berkabung. Ini urusan pribadi kami yang tak ingin mengganggu ayah, agar ayah tak banyak pikir. Tapi karena sekarang sudah diketahui dan aku harus bercerita maka harap ayah maafkan kalau kemarin aku tak bicara jujur.”

“Hm-hm, tahu aku. Kau memang berwatak baik dan tahu menyimpan urusan, Giam Liong, tapi kepadaku tak perlu sebenarnya kau menyembunyikan itu. Aku adalah ayahmu, meskipun ayah angkat. Dan karena aku keluargamu juga maka tak perlu ada yang disembunyikan agar aku dapat membantumu seperti halnya kau membantuku kalau aku tertimpa musibah. Baik, sekarang bagaimana ciri-ciri orang itu? Siapa tahu aku bertemu dengannya dan pasti kutangkap!”

“Dia laki-laki bertubuh kecil, pesolek. Tingkahnya seperti wanita dan acap kali berpakaian seperti wanita pula!”

“Hm, begitu? Baik, akan kubekuk dia kalau ketemu, Giam Liong. Dan akan kuminta anakmu itu... eh, siapa namanya tadi? Siapa puteramu itu?”

“Sin Gak.”

“Ya-ya, Sin Gak. Akan kuminta dia dan kuselamatkan anakmu itu!”

Giam Liong berterima kasih. Akhirnya masing-masing menjadi jelas dan Tang Siu minta maaf telah bersikap kasar. Kini wanita itu tahu bahwa Giam Liong menutupi itu semata karena tak mau mengganggu mereka yang baru saja ditimpa malapetaka. Si Naga Pembunuh ini ternyata baik juga. Dan ketika masing- masing sama memaafkan dan percakapan dilanjutkan untuk urusan yang lain akhirnya Giam Liong minta diri untuk meninggalkan Hek-yan-pang. Matahari telah mulai naik tinggi membuat hawa udara panas.

“Eh, ada apa tergesa-gesa, Giam Liong. Bukankah baru semalam kalian menginap. Kau bilang mau tiga atau empat hari!”

“Maaf, aku hanya ingin menyelidiki si pembunuh itu, ayah, dan kini sudah kuperoleh.”

“Dengan menangkap seorang murid Hek-yan-pang?”

“Tidak, aku tidak menangkap...”

“Cerdik, kau pintar dan cerdik, Giam Liong. Tidak kuduga. Hm, dan sekarang tahukah kau mengapa kemarin aku juga tidak berterus terang bicara tentang majikan Hutan Iblis ini!” Ju-taihiap tiba-tiba mencengkeram lengan pemuda itu, menahan sejenak dan Giam Liong berkerut. Dan ketika pemuda itu menggeleng dan pendekar ini meneruskan maka dia berkata, mendesis, “Giam Liong, aku tak ingin kau bersikap kejam lagi kepada siapapun. Aku tak ingin kau bersikap sadis! Cukup dengan peristiwa yang lalu itu dan jangan ulangi. Paham?”

Pemuda ini menggigil. “Tapi, ibu... ibu dibunuh dengan kejam, ayah. Aku tak dapat tinggal diam!”

“Han Han yang mengurusnya!”

“Baik, tapi apakah hanya Han Han putera ayah seorang? Bukankah aku juga adalah puteramu? Kau sendiri bilang kita keluarga, ayah. Dan aku tentu tak dapat tinggal diam!” Giam Liong ganti memandang ayahnya dengan tajam. Mata itu kembali berkilat dan Ju-taihiap mundur melepaskan cengkeraman. Dia tergetar dan ngeri melihat sorot mata itu. Tapi menggeleng dan tegas menolak dia berkata,

“Giam Liong, kau benar. Urusan ini tak mungkin kau abaikan seperti juga aku tak mungkin membiarkan penculik anakmu berkeliaran seenaknya. Tapi aku tetap tidak suka melihat kau bersikap kejam, sadis. Kalau kau hendak membalas kematian ibumu maka bukan sebagai balas dendam melainkan semata sebagai seorang pendekar yang tak dapat membiarkan seorang penjahat berkeliaran berbuat sewenang- wenang. Sebab kalau tidak begitu maka kau tiada ubahnya dia, sama-sama jahat!”

“Hal itu tergantung nanti. Kalau penjahat itu tidak menggelapkan mataku tak mungkin aku bersikap kejam, ayah. Tapi kalau dia melakukan sesuatu yang di luar batas aku tak menjanjikan sesuatu yang enak!”

Pendekar ini merasa kalah bicara. Berdebat dengan pemuda sekeras ini rasanya sia-sia. Giam Liong bukanlah Han Han, pemuda ini adalah keturunan Si Golok Maut Sin Hauw, keganasan atau ketelengasan ayahnya masih kuat di situ. Maka berkerut dan menarik napas di berkata, “Baiklah, betapapun kau harus berjanji untuk tidak mengulang kejadian dulu, Giam Liong. Lihat dan ingat kenapa lenganmu buntung. Jangan robek peristiwa lama dengan peristiwa baru!”

Pemuda itu tak menjawab. Dia melirik isterinya dan Yu Yin terisak. Isterinyalah yang membuntungi lengannya. Yu Yin itulah yang membacok putus lengannya (Baca: Naga Pembunuh). Namun ketika dia teringat sesuatu dan menghadapi ayahnya lagi maka dia bertanya, “Ayah, ada sesuatu yang ingin kumintakan kepastianmu.”

“Tentang apa?”

“Majikan Hutan Iblis itu. Benarkah dia lihai? Benarkah kau kalah olehnya?”

“Hm, iblis itu benar-benar lihai, Giam Liong. Tapi tentang kekalahanku, hmm.... aku masih ragu. Waktu itu Pek-jit-kiam tak ada di tanganku. Pedang itu dibawa Han Han. Dan dengan pedang biasa saja memang kuakui bahwa aku terdesak!”

“Kalau begitu dia benar-benar lihai.”

“Betul, dan kau harus berhati-hati.”

“Tapi apakah tanpa senjata pusaka ayah tak mampu menandingi? Bagaimana dengan Hek-mo-ciangnya itu?”

“Kau rupanya sudah mengorek keterangan cukup. Hek-mo-ciangnya hebat, Giam Liong, dan lebih lagi uap hitam dari mulutnya itu. Iblis ini mencampurkan ilmu silat dengan ilmu hitam! Kau.... hm, kau tak membawa Golok Mautmu lagi, bukan?”

Giam Liong tersenyum pahit. “Aku telah menguburnya di Lembah Iblis, ayah. Aku telah mengembalikan benda itu ke asalnya.”

“Bagus, kau masih muda, kau lebih bertenaga. Tentu kau lebih mampu menghadapi orang itu daripada aku, Giam Liong. Tapi betapapun tak boleh kau bersikap di luar batas!”

Giam Liong tak menjawab. Dua kali diperingatkan seperti ini membuatnya tak senang juga. Itu tergantung lawan. Kalau lawan tak keterlaluan tak mungkin dia seperti setan. Dia adalah laki-laki bertemperamen tinggi, semuanya tinggal pihak sana. Dan ketika dia merasa cukup dan meminta diri, sang isteri diberi tanda dan Yu Yin memeluk Tang Siu maka dua wanita itu berangkulan dan Tang Siu pun akhirnya tak dapat menahan runtuhnya air mata.

“Yu Yin, tak kusangka secepat ini suamimu mengajakmu pergi. Aku masih kangen. Baiklah, jaga diri baik-baik, Yu Yin. Gagal rencana kita berperahu mengelilingi telaga. Biarlah lain kali kita usahakan dan semoga anakmu cepat ditemukan. Maaf aku tak dapat membantu karena harus menjaga hek-yan-pang dan gak-hu.”

“Aku mengerti,” Yu Yin berbisik dan memeluk nyonya muda itu, balas mengusap air mata. “Lain kali kita bertemu lagi, Tang Siu. Dan jagalah baik-baik calon anakmu itu siapa tahu dia lahir perempuan.”

“Perempuan?”

“Sst, anakku laki-laki. Aku juga ingin anakku pertama laki-laki!”

“Kau dapat mengambil anakku, bukan? Masa harus laki-laki semua?”

“Maksudmu?”

“Bodoh! Kau artikan sendiri nanti, Tang Siu. Giam Liong sudah menunggu dan aku tak boleh berlama-lama!” Yu Yin melepaskan sahabatnya.

Sang nyonya muda terbelalak tapi wajahnya tiba-tiba bersemu dadu. Tang Siu berseri, muka seketika bercahaya. Tapi ketika Giam Liong membungkuk dan berkelebat, menarik tangan isterinya maka suami isteri itu pergi dan tahu-tahu telah meluncur di atas permukaan telaga. Kali ini Giam Liong bergerak dengan ilmu Seratus Langkah Saktinya yang luar biasa itu, ilmu yang mampu membuat si buntung melayang terbang di atas permukaan air!

“Ayah, Tang Siu. selamat tinggal. Sampai bertemu lagi!”

Ju-taihiap dan mantunya terbelalak. Si buntung itu meluncur dan tahu-tahu berjungkir balik di seberang, membalik melambaikan tangan lalu berkelebat lenyap di luar daratan sana. Begitu cepat seperti iblis! Dan ketika anak-anak murid ada yang melihat dan semua berseru takjub, Naga Pembunuh itu tidak mempergunakan perahu seperti datangnya maka ketika ia lenyap dan memasuki hutan di depan anak-anak murid menjadi kagum dan mendecak sayang.

“Pangcu, kenapa ia pergi. Kenapa cepat benar. Bukankah tenaganya amat kita harapan kalau musuh datang lagi!”

“Hm, ia mempunyai urusan sendiri,” Ju-taihiap menjawab dan beberapa anak murid tiba-tiba sudah berkelebatan di situ, merasa sayang kenapa Giam Liong pergi. “Anaknya diculik orang, Hoa-kin, dan ia berhak mencari penculik itu.”

“Ah, Sin-siauwhiap sudah berputera? Diculik?”

“Orang jahat berkeliaran lagi. Hati-hatilah kalian menjaga diri. Sudahlah tak perlu bertanya dan kembalilah kalian ke tempat masing-masing!”

Ju-taihiap mengibas dan menyuruh anak-anak murid kembali. Ia juga kagum oleh kepandaian putera angkatnya itu dan bangga bahwa ada orang-orang muda seperti itu. Han Han dan Giam Liong adalah anak-anak muda perwira, dia bangga bahwa keduanya adalah puteranya, meskipun yang satu akhirnya hanya anak angkat karena Giam Liong adalah putera kandung Si Golok Maut Sin Hauw, lawan yang dulu juga amat dikaguminya dan hanya terhadap mendiang Sin Hauw inilah dia mengakui mendapat lawan terberat.

Ayah dari anak itu sebenarnya juga adalah orang gagah. Hanya nasib buruklah yang membuat semuanya tak bersahabat tapi semua itu sudah lewat. Dan ketika dia sendiri berkelebat ke dalam dan memasuki rumahnya maka Giam Liong atau si Naga Pembunuh sudah lenyap meninggalkan Hek-yan-pang dan bersiap-siap untuk mencari dan menemukan majikan Hutan Iblis ini di samping mencari Siauw Hong penculik anak mereka.

* * * * * * * *

Seminggu sudah suami isteri muda ini mencari jejak. Giam Liong mulai jarang bicara dan kelihatan geram. Yu Yin, sang isteri, juga tak gembira dan berkali-kali mengepalkan tinju. Mereka telah kembali ke Hutan Iblis namun tak menemukan yang dicari. Tempat itu kosong. Giam Liong mengajak isterinya ketempat itu teringat perjumpaannya dulu dengan Han Han. Dan ketika kota demi kota mereka lewati untuk akhirnya berhenti di Ci-bun maka pagi itu Giam Liong yang hendak menangsel perut dan melihat sebuah kedai di tepi gerbang kota mengajak isterinya berhenti untuk sarapan.

“Dua hari kita tidak makan, perutku lapar. Aku tak tahan hanya makan buah-buahan dan mari kita beristirahat sambil mencari minum.”

Yu Yin tak menolak. Sesungguhnya ia juga lapar namun karena urusan belum selesai maka tak menghiraukan perut sendiri. Nasib anak merasa jauh lebih penting dari apapun. Tapi ketika Giam Liong mengajak ke kedai itu dan Yu Yin mengangguk, biarlah sambil beristirahat ternyata beberapa bayangan berkelebat di depan mereka dan dua orang tosu serta seorang hwesio dan tujuh orang lain mencegat jalan.

“Naga Pembunuh, berhenti. Kebetulan kau di sini dan pertanggungjawabkan dulu perbuatanmu!”

Giam Liong terkejut. Sepuluh orang tahu-tahu mengurung dan mereka itu rata-rata menunjukkan muka beringas. Pandang kemarahan itu tak ditahan-tahan lagi. Dan ketika ia berhenti dan sang isteri ikut terkejut, sepuluh orang itu mencabut senjata masing-masing maka dua orang tosu dan hwesio itu membentak,

“Hutang jiwa bayar jiwa. Ke mana kau lari dan hendak pergi!”

“Hm,” Giam Liong mengerutkan kening, wajah memerah. “Kalian ini orang-orang tak kukenal ada urusan apakah? Kenapa menghadang jalan dan bersikap kasar? Sehatkah kalian mencari perkara?”

“Tutup mulutmu. Tak perlu berpanjang lebar, Naga Pembunuh. Kaulah yang gila dan tidak waras. Kawan-kawan, serbu...!” dan tidak meberi kesempatan lagi untuk bertanya jawab dua orang tosu di depan menggerakkan pedang dan menusuk pemuda itu, disusul oleh hwesio di samping yang membentak melepas toya. Lalu ketika Giam Liong mengelak dan serangan luput tiba-tiba tujuh orang di belakang sudah berteriak dan menyerang seperti anjing-anjing ganas.

“Bunuh Si Naga Pembunuh ini. Cincang tubuhnya!”

“Dan robohkan isterinya itu pula. Tangkap!”

Sepuluh orang berkelebatan dengan senjata menyambar-nyambar. Giam Liong terkejut dan seketika menjadi marah. Namun belum dia membalas tiba-tiba isterinya melengking dan kedua tangan bergerak menyambar ke kiri kanan melepas Hek-tok-kang.

“Yu Yin, jangan membunuh!”

Giam Liong terbelalak dan kaget melihat pukulan isterinya itu. Hek-tok-kang adalah pukulan beracun dan sekali kena tentu lawan roboh, kalau tidak tewas minimal gosong. Dan ketika benar saja dua orang mencelat oleh tamparan isterinya itu, Yu Yin mengelak dan menyambar di antara hujan senjata maka Giam Liong yang mempergunakan Pek-poh-sin-kunnya (Seratus Langkah Sakti) menangkis dan mementalkan senjata-senjata lawan.

“Plak-plak-bress!”

Tosu dan hwesio itu saling bentur. Pedang dan toya bertemu keras dan mereka berteriak, terpelanting. Tapi ketika mereka bergulingan meloncat bangun dan yang lain marah melihat dua teman merintih dan kehitaman tubuhnya maka Yu Yin yang marah dan tak mau perduli ini berseru,

“Aku mengurangi tenagaku, Giam Liong. Mereka takkan mampus kecuali kesakitan belaka!” dan sang isteri yang menyambar dan berkelebatan kembali lalu tak mau sudah dengan menghajar lagi yang lain. Hwesio dan tosu sudah menyerang Giam Liong lagi dan si buntung penasaran. Entah apa salahnya hingga tiba-tiba diserang begitu. Dan ketika dua orang kembali menjerit dan tosu serta hwesio ini terkejut, Yu Yin merobohkan lagi lawannya sementara Giam Liong maju mundur mempergunakan langkah-langkah sakti maka tosu yang rupanya maklum tak akan menang berseru,

“Mundur, lain kali kita serang lagi!”

Tosu dan hwesio itu berlompatan ke belakang. Mereka membalik dan melarikan diri sementara masing-masing menyambar yang luka. Segebrakan itu saja mereka tahu bahwa suami isteri muda itu bukan tandingan. Naga Pembunuh terlalu hebat padahal belum membalas, yang membalas malah isterinya. Tapi ketika mereka berlompatan dan membalik melarikan diri maka Giam Liong tak tahan dan jari telunjuknya tiba-tiba menotok dari jauh, yang diincar adalah hwesio dan dua orang tosu itu.

“Tikus-tikus busuk, enak sekali kalian hendak pergi. Robohlah!”

Tosu dan hwesio itu berteriak kaget. Mereka merasa sambaran angin dari belakang, menangkis tapi toya maupun pedang tiba-tiba terlempar mencelat. Dan ketika mereka terkejut dan berseru tertahan maka tubuhpun roboh dan ambruk ke depan.

“Tuk!”

Tiga orang itu mengeluh. Giam Liong melancarkan totokan dari jauh dan mendahului isterinya melakukan It-yang-ci. Kalau isterinya yang merobohkan musuh tentu fatal. It-yang-ci akan menembus kulit daging. Dan ketika ia berkelebat dan tiba di depan tiga orang ini maka hwesio dan tosu itu tampak pucat.

“Naga Pembunuh, bunuhlah kami. Kami tak takut mampus!”

“Benar, dan tumpuk dosamu semakin banyak, bocah she Sin. Biar kami dan kawan-kawan menunggumu di neraka!”

“Hm, siapa kalian ini,” Giam Liong tak perduli, membiarkan orang mencaci maki. “Kenapa datang- datang menyerang dan menyebut aku berhutang jiwa. Siapa kalian dan apa artinya omongan kalian itu!”

“Tak usah banyak cakap. Bunuh dan habisi kami, Naga Pembunuh. Lakukan seperti kau melakukannya kepada teman-teman kami tapi percayalah bahwa dunia akan mengejarmu dan sampai di ujung nerakapun kau tetap dituntut!”

“Omongan busuk apa ini!” Yu Yin tiba-tiba membentak, berkelebat dan menendang pembicara itu, tosu berbibir tipis. “Kau minta dibunuh gampang saja, tosu tengik. Aku dapat melakukannya kalau suamiku tidak mau!” dan Yu Yin yang bergerak dan siap melepas tamparan maut tiba-tiba dicegah dan disambar GiamLiong.

“Tahan, nanti dulu!” dan mendorong isteri agar mundur ke belakang Giam Liong menghadapi kembali tiga orang itu, yang lain-lain sudah kabur menyelamatkan diri. “Kalian siapa, dari mana. Kenapa bicara seperti orang gila dan tidak memberiku kesempatan untuk tahu. Nah, bicara yang benar, totiang. Atau nanti aku memaksamu dan maaf kalau sekujur tubuhmu seperti digigit ribuan semut api!”

Giam Liong menjepit belakang leher orang itu hingga si tosu berjengit dan berteriak. Jepitan Giam Liong seakan biasa-biasa saja tapi tosu itu nyatanya menjerit. Ia seakan digigit ribuan semut api yang menyengat. Dan ketika Giam Liong melepaskan jarinya dan tertawa mengejek maka dia bertanya lagi siapa dan dari mana mereka itu, sikap yang membuat lawannya tertegun.

“Aku melihat kalian seperti orang-orang gila. Nah, katakan dan jangan suruh aku bersikap kasar!”

Tosu itu terbelalak. Ia melihat Giam Liong bersikap sopan dan anak muda itu bertanya baik-baik. Heran! Dan ketika ia terbelalak memandang dua temannya yang lain dan dua temannya itu juga terbelalak, heran maka dia mendesis dan membentak, “Naga Pembunuh, tak perlu berpura-pura. Kau telah membunuh dan membantai kami orang-orang dari Khong-tong. Dulu kau juga mencelakai Eng Sian Taijin. Nah, kenapa bertanya lagi dan kami justeru merasa heran!”

Giam Liong terkejut. “Membunuh? Berurusan dengan kalian orang-orang Khong-tong? Hm, jangan membual. Eng Sian Taijin pernah kukenal, totiang, tapi membunuh dan membantai seperti katamu tadi sungguh tak kulakukan. Miringkah otak kalian dengan menuduh secara serampangan!”

“Kau dusta. Kau membantai kami dengan Golok Mautmu itu!” tosu di sebelah, yang heran tapi marah memaki Giam Liong. Dia menganggap si buntung ini bohong, mempermainkan.

Tapi ketika Yu Yin bergerak dan menampar mulutnya maka nyonya muda itu berseru, ganti melampiaskan marah. “Diam mulutmu daripada mengeluarkan fitnah. Atau kupecahkan nanti dan ini sebagai pelajaran!”

Tosu itu menjerit. Mulutnya pecah dan darah seketika mengucur. Ia mendelik. Namun ketika Giam Liong memegang lengan isterinya dan membentak maka pemuda itu berseru agar urusan diserahkan kepadanya.

“Baik, kalian mengeluarkan tuduihan gila. Tapi kau...” ia menuding hwesio itu. “Dari mana kau, lo- suhu. Apakah aku juga membunuh dan membantai saudara-saudaramu!”

Hwesio ini tertegun. Dia kian terkejut dan terheran melihat sikap pemuda itu karena Giam Liong menunjukkan rasa penasaran. Aneh! Tapi mengangguk dan menjawab sengit ia berseru, “Benar, kau juga membunuh dan membantai saudara-saudaraku, Naga Pembunuh. Pinceng dari Lu-tong-pai menaruh dendam!”

“Hm-hmm Lu-tong-pai. Kalau begitu kau murid Ceng Tong Hwesio yang sebenarnya tidak pernah ada urusan denganku. Baik, semua tuduhan ini kuterima, lo-suhu. Tapi ketahuilah bahwa sama sekali aku tidak melakukan itu. Jangankan ke Lu-tong, atau Khong-tong, ke tempat-tempat lain saja aku tidak pernah karena aku sibuk mencari penculik anakku. Kalian melempar omongan busuk, ini fitnah. Tapi kalau aku benar melakukan itu tentu sekarang juga kalian kubunuh. Nah, lihat apa yang kulakukan sekarang. Kalian bebas dan pergilah!”

Giam Liong mengerakkan jari dan membebaskan totokan tiga orang itu, membuat tosu dan dua hwesio itu terbelalak dan mereka seketika meloncat bangun. Mereka tak percaya pada apa yang mereka alami tapi Si Naga Pembunuh itu benar-benar membebaskan mereka. Dan ketika mereka mengibaskan baju dan memungut senjata kembali, girang tapi juga was-was maka Giam Liong menyuruh mereka pergi.

“Enyahlah, sekarang kalian buktikan apakah aku bohong atau tidak!”

Tiga orang itu meloncat. Mereka ternyata anak-anak murid Khong-tong dan Lu-tong dan tentu saja kesempatan ini tak disia-siakan. Lawan membebaskan mereka dan hampir mereka tak percaya. Tapi begitu meloncat dan membalikkan tubuh ketiganya berkelebat dan menjadi girang. Lolos dari maut!

“Naga Pembunuh, kau aneh. Tapi terima kasih dan akan kami laporkan kepada ketua tentang semua ini!”

“Hm, tak tahu malu. Kalau suamiku tidak melarang tentu kalian kupotong telinga atau kakinya, tikus-tikus busuk. Bilang pada ketua kalian bahwa semua itu fitnah!” Yu Yin, yang jengkel dan gemas oleh semuanya ini berseru marah. Ia mau melepas pukulan jarak jauh namun suaminya mencegah.

Giam Liong menangkap dan menahan tangan isterinya itu. Dan ketika tiga orang itu lenyap dan Giam Liong menarik napas maka dia mengajak isterinya kembali ke kedai untuk makan dan minum. Namun Giam Liong sudah tidak selera. Beberapa orang di kedai bahkan menyingkir melihat si buntung ini, pemiliknya juga ketakutan. Mereka tadi telah melihat dari jauh dan ini membuat Yu Yin geram. Dan ketika ia juga menghabiskan semangkok bubur untuk akhirnya setengah membanting mangkok itu di atas meja maka ia bangkit mengajak Giam Liong cepat pergi.

“Banyak kecoa-kecoa memuakkan. Agaknya persoalan kita bertambah lagi! Ayo, kita berangkat, Giam Liong. Kita masuki Ci-bun!”

Giam Liong bangkit dan membayar makanan. Ia memanggil pemilik kedai tapi pemilik menggoyang-goyang lengan. Buru-buru si tua itu menolak. Namun ketika Giam Liong menancapkan uang peraknya di meja dan pergi dengan gemas maka isterinya sudah berkelebat dan mendahului memasuki gerbang kota.

“Giam Liong, kita cari keterangan di sana. Siapa tahu penculik dan pembunuh bibi Swi Cu dapat ditemukan!”

“Baik, tapi jangan terburu-buru, Yu Yin. Lihat kau mencengangkan banyak orang!” Giam Liong berkelebat dan menyusul isterinya itu.

Yu Yin mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan akibatnya penjaga atau pengawal pintu gerbang terbelalak. Bayangan nyonya itu berkelebat dan lenyap. Lalu ketika Giam Liong juga menyusul dan lenyap seperti iblis maka suami isteri ini membuat penjaga menggosok-gosok kedua matanya.

“Eh, silumankah? Atau hantu kesiangan? Heii... apa yang tadi kalian lihat, kawan-kawan. Apakah mataku berubah!”

“Aku juga. Tadi ada suami isteri muda di sana. Yang laki-laki buntung. Eh, mereka lenyap dan barangkali itu tadi!”

“Dan mereka memasuki kota. Celaka, jangan-jangan geger! Siapakah mereka?”

Giam Liong dan isterinya sudah lenyap di dalam. Mereka tak menghiraukan teriakan atau seruan di pintu gerbang karena Giam Liong menyambar dan mencekal lengan isterinya ini. Kalau tidak dijaga Yu Yin bisa mengamuk. Dan ketika pemuda itu berhasil menangkap isterinya dan menyuruh isterinya perlahan maka Giam Liong bertanya mau ke mana isterinya itu.

“Aku mau menemui Ta-ciangkun. Kita langsung kerumahnya dan tanya tentang musuh-musuh kita ini!”

“Ta-ciangkun?”

“Ya, komandan itu, Giam Liong. Dia kenal aku dan kita cari keterangan di sana!”

Giam Liong berkelebat dan menurut saja dibawa isterinya. Mereka mengejutkan orang yang berlalu lalang karena tanpa mengurangi kecepatan isterinya ini menyelinap di antara banyaknya orang, berkelebat dan lenyap melewati jalanan umum. Tapi ketika akhirnya sebuah gedung bertembok tinggi dilompati dan mereka melayang turun maka Yu Yin berkelebat memasuki gedung dan tahu-tahu berada di sebuah ruangan dalam di mana seorang laki-laki tinggi besar berpakaian perwira tampak duduk bercakap-cakap dengan dua orang bawahannya.

“Eh!” perwira itu terkejut dan langsung berhadapan dengan Yu Yin, kaget. “Siapa kau, nona. Kau.... eh, Coa-siocia!”

Dua yang lain menengok dan memutar kursi. Perwira itu langsung melihat Yu Yin karena nyonya muda ini berkelebat memasuki pintu ruangannya. Ruangan itu tak ditutup dan segera si perwira bangkit berdiri. Ia meloncat dan siap mencabut golok sambil bertanya. Tapi ketika ia mengenal dan memanggil Yu Yin, menyebutnya Coa-siocia (nona Coa) dan Yu Yin tampak gelap maka nyonya itu berseru,

“Ta-ciangkun, aku Sin-hujin, bukan nona lagi. Aku datang ada perlu denganmu!”

“Ah, maaf. Mari duduk!” si perwira membungkuk dan cepat-cepat memberi kursi, menyuruh dua bawahannya minggir dan dua pembantu Ta-ciangkun itu terbelalak. Mereka melihat pasangan muda ini muncul seperti iblis, tahu-tahu berada di situ tanpa mereka ketahui. Tapi melihat betapa Ta-ciangkun menyebut wanita muda itu Coa-siocia, berubah dan hormat bukan main maka mereka ikut membungkuk dan percakapan sendiri jadi terputus.

“Ini puteri Coa-ongya, masa kalian tidak tahu. He, berikan kursi kalian, Ma-coangbu. Kalian ambil kursi yang lain dan cepat minggir!”

Dua orang itu terkejut. Mereka mundur dan memberikan kursi sendiri sementara Ta-ciangkun menyeringai lebar. Kedatangan tamu ini mengejutkannya, girang tapi juga was-was. Namun ketika Yu Yin bertolak pinggang dan menolak kursi itu, tak mau duduk maka wanita ini berkata, suaranya tinggi, melengking.

“Ta-ciangkun, tidak tahukah kau bahwa aku tak ingin dikait-kaitkan dengan istana lagi? Butakah matamu bahwa selama bertahun-tahun ini aku hidup di luar? Aku datang bukan sebagai kerabat istana, ciangkun, melainkan sebagai orang biasa isteri suamiku ini. Nah, jangan sebut aku seperti dulu karena aku sekarang adalah Sin-hujin. Ini suamiku Giam Liong yang tentu sudah kau dengar namanya. Mending ayahku tak usah disebut-sebut pula!”

Perwira itu mengkeret. Dia beradu pandang dengan wanita itu lalu Giam Liong yang berdiri di belakang isterinya. Si buntung ini memang bersifat mengawal. Dan ketika dia melihat mata si pemuda yang berkilat mencorong maka tergetarlah perwira ini dan buru-buru ia menunduk sambil membungkuk lagi. Siapa tidak kenal si buntung yang hebat itu. Naga Pembunuh!

“Ah, Sin-siauwhiap kiranya juga datang. Dan.... dan siauw-hujin (nyonya muda) rupanya ada keperluan penting. Duduklah... duduklah di kursi itu, siauwhiap. Aku orang she Ta siap membantu dan menolong kalau diperlukan. Ini dua pembantuku Ma-ciangbu dan So-ciangbu. Kami baru saja bicara tentang keamanan menjaga kota. Bagaimana kalian dapat datang tanpa pengawal memberitahuku.Duduklah... duduklah, siauw-hujin. Sudah lama kita tidak bertemu dan apakah jiwi baik-baik saja selama ini!”

“Hm, aku tak ingin banyak mengganggu. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan, ciangkun. Tapi sebaiknya dua pembantumu ini tak disini dulu!” Yu Yin berkata setengah memerintah. Ia berada dirumah Ta-ciangkun mengerutkan kening tapi mengangguk, dua pembantunya itu di suruh keluar maka ia berkata agar dua orang itu menunggu dulu di luar, diam-diam memberikan isyarat untuk berjaga!

“Kalian keluarlah dahulu kutemui Sin-hujin di sini. Hujin rupanya ingin bicara empat mata.”

Dua orang itu membungkuk. Sebagai bawahan Ta-ciangkun tentu saja mereka menurut. Tapi melihat sikap Yu Yin yang melebihi tuan rumah mendongkol juga dua orang itu. Namun karena mereka sudah mendengar tentang wanita muda ini, apalagi Si Naga Pembunuh Giam Liong maka mereka keluar namun berbareng itu mengepung rapat gedung dengan seratus pengawal atas isyarat Ta-ciangkun!

“Duduklah, mari kita bicara. Kepentingan apa yang membuatmu demikian serius, siauw-hujin, dan mari kubantu kalau bisa.”

“Aku hendak bertanya tentang Siauw Hong,” Yu Yin langsung saja ke titik persoalan. “Kau tahu si banci ini, ciangkun? Bukankah dulu kau pernah menjadi bekerja di kota raja dan mengenal kerabat kaisar?”

“Siauw Hong? Hm, yang mana, hujin? Ada banyak orang di istana!”

“Itu, si banci! Paman kecil Yauw-ongya yang miring otaknya!”

“Hm, dia?” si perwira mengangguk-angguk, mulai teringat laki-laki ini. “Benar, hujin. Tapi ada apa dengan dia? Bukankah semestinya di istana!”

“Dia mengambil anakku, menculik! Aku mengejar dia dan kuharap kau membantuku karena aku kehilangan jejaknya!”

“Menculik? Mengambil anakmu? Ah, jiwi sudah berputera, hujin? Selamat, membahagiakan sekali. Kalau ayahmu tahu tentu...”

“Tak usah bicara tentang ayah. Yang tiada tak usah disebut-sebut, ciangkun. Aku sudah memperingatkan itu. Sekarang bicara tentang Siauw Hong dan dapatkah kau membantuku!”

“Hm, maaf...” si perwira terkejut, berubah. “Aku lupa, hujin. Tapi bagaimana aku menolongmu tentang ini. Dan kenapa ia menculik anakmu.”

“Si gila itu tak kuketahui maksudnya, tapi karena ia tak ada di mana-mana maka tentu kembali ke istana dan kaulah yang ingin kumintai tolong menangkap si banci itu!”

“Ah, aku ke istana? Kenapa tidak dirimu saja? Bukankah lebih mudah dan dipercaya?”

“Hm, aku tak mau menginjak istana lagi untuk tidak mengenang peristiwa lama, ciangkun. Kau tentu tahu dan paham maksudku ini. Dan karena aku teringat padamu maka aku datang ingin minta tolong!”

“Tapi ada Sin-siauwhiap disini!”

“Kalau ia masuk tentu istana geger!”

“Ada hujin mendamping.”

“Hm, kenapa kau banyak cakap? Tugasmu adalah ke istana dan mencari si banci ini, ciangkun, bukan menanyaiku macam-macam karena sudah kubilang aku tak suka ke istana!”

“Tapi aku ditugaskan di sini.”

“Kau dapat mewakilkan tugasmu kepada pembantumu!”

“Ah, tanpa perintah atasan tentu tak mungkin, hujin. Kau tahu cara militer!”

“Aku yang akan memberi tahu atasanmu. Siapa atasanmu, apakah masih jenderal Gong!”

“Tidak, Gong-goanswe sudah pensiun. Sekarang digantikan Kiang-goanswe. Aku tentu harus melapor dulu kalau akan meninggalkan tugas!”

“Kau terlalu berbelit-belit. Nanti kubilang pada atasanmu, Ta-ciangkun, tak usah khawatir!”

“Hujin, bukannya aku tidak mau. Tapi bagaimana aku meninggalkan tugasku untuk melaksanakan tugas yang kau berikan ini. Bagaimana kalau diberikan saja kepada dua pembantuku tadi? Ma-ciangbu dan So-ciangbu kukira bisa. Siauw Hong itu hanya seorang sinting yang mudah dibekuk!”

“Kau jangan memandang rendah. Orang ini berkepandaian, ciangkun. Segala pembantumu kelas kambing begitu mana mungkin menangkap? Kau sendiri tak mungkin mampu. Aku hanya hendak menyuruhmu memancingnya keluar dan di pintu gerbang kota raja aku sendiri yang membereskannya!”

Sang perwira terbelalak. Ia terkejut bahwa si banci yang dikenalnya sebagai orang miring otak itu berkepandaian. Seingatnya, Siauw Hong ini laki-laki lemah, kewanita-wanitaan dan banyak kali menjadi bahan godaan kerabat istana yang lain. Tapi karena yang bicara begitu adalah puteri Coa-ongya dan tak mungkin wanita ini bohong maka dia tertegun tapi menggeleng tak bisa meninggalkan tugas.

“Apalagi begitu. Kalau hanya untuk memancing dan menyuruhnya keluar dua pembantuku dapat melakukannya dengan baik, hujin. Kukira tak ada persoalan.”

“Kau yakin si banci itu bisa dibujuk? Eh, dua pembantumu tak dikenal si banci ini, Ta-ciangkun, dan dengan orang yang tidak dikenal tak mungkin Siauw Hong keluar. Kau sudah mengenalnya dan karena inilah kau paling tepat. Dia akan menurut dan aku yang akan membekuknya di luar kota raja!”

“Tapi...”

“Banyak cakap!” Yu Yin membentak dan menjadi marah. “Mau atau tidak kau melakukan pekerjaan ini, ciangkun, tak usah berputar-putar!”

Ta-ciangkun terpekik. Yu Yin bergerak dan tahu-tahu jarinya mencengkeram pundak si perwira. Jari itu menekan kuat serasa menembus kulit daging, sakit bukan main. Dan ketika ia melihat nyonya itu tertawa dingin sementara Giam Liong tak acuh memandangnya, ia maklum bahwa tak mungkin menandingi wanita lihai ini maka ia mengeluh dan menggigil.

“Hujin, kau harus bertanggung jawab kepada Kiang-goanswe. Aku mau melakukan perintahmu tapi beri tahulah Kiang-goanswe dahulu kalau sama-sama ke kota raja!”

“Aku tidak akan menemui jenderal itu, tapi aku akan bertanggung jawab tentang ini. Nah, kau kutawan saja dan biar anak buahmu melapor kepada Kiang-goanswe dan kau dapat bekerja aman!” Yu Yin tiba-tiba menotok dan merobohkan perwira itu.

Ta-ciangkun terkejut tapi tak berdaya. Ia seketika mendeprok. Dan ketika Yu Yin melempar perwira tinggi besar itu kepada suaminya, Giam Liong mengangguk dan tertawa dingin maka pemuda itu bicara, menekan leher belakang perwira ini,

“Ciangkun, apa yang dikatakan isteriku benar. Kau kutawan saja, biar anak buahmu melapor dan di kota raja kau dapat bekerja sesuai perintah kami. Kalau aku atau isteriku mau ke istana tentu tak perlu kami memakai tenagamu. Nah, jangan banyak cakap dan sekarang kita pergi!”

Giam Liong menyusul isterinya berkelebat keluar. Mereka tak menyangka bahwa seratus pengawal telah mengurung gedung itu. Maka ketika Yu Yin meloncat dan hendak meninggalkan ruangan belakang tiba-tiba saja belasan orang memergokinya dan mereka terkejut melihat Ta-ciangkun dikempit suaminya.

“He, itu Ta-ciangkun...!”

“Ia diculik! He, rampas pimpinan kita ini, kawan-kawan. Beri tahu Ma-ciangbu atau So-ciangbu!” belasan orang itu tiba-tiba berteriak dan menyerbu ke depan. Mereka sudah membentak dan membunyikan kelenengan besi yang seketika membuat berisik.

Yu Yin yang keluar dari ruang dalam kepergok pengawal- pengawal ini. Dan ketika nyonya itu tertegun tapi mendengus marah, menyambut dan mematahkan tombak atau golok maka tangannya mengibas dan belasan orang itu terjengkang. “Ta-ciangkun bukan kami culik. Ia kami pinjam, minggir bres-bress!”

Belasan pengawal mencelat dan terbanting mengaduh-aduh. Yu Yin tidak menurunkan tangan kejam hanya merobohkan saja, maklum, mereka itu adalah anak buah Ta-ciangkun sekaligus pasukan kerajaan, yang ditaruh di Ci-bun. Tapi ketika mereka bangkit berdiri dan berteriak-teriak, mengejar dan memanggil teman-teman yang lain maka dari mana-mana muncul pengawal itu yang memang sebelumnya sudah disiapkan ta-ciangkun, melalui Ma-ciangbu atau So-ciangbu juga muncul, kaget dan membentak dua orang itu maka Yu Yin melengking menerobos mereka. Giam Liong diminta membantu.

“Hajar mereka, robohkan!”

Nyonya itu berjungkir balik di atas kepala lawan. Giam Liong mengangguk dan sudah menggerakkan tangan kanannya dan sekali mengibas pemuda buntung ini membuat So-ciangbu dan Ma-ciangbu mencelat. Dua pembantu Ta-ciangkun itu kaget bukan main. Dan ketika Giam Liong bergerak di depan dan sang isteri berhasil mendekati tembok maka pemuda itu menjejakkan kakinya dan melayang naik pula ke tembok yang tinggi.

“Kami tidak menculik pimpinan kalian, hanya meminjamnya sebentar. Minggir, tikus-tikus busuk, atau kalian kulempar kalau tidak mau mundur!”

Giam Liong mengibas dan angin kibasannya ke bawah membuat para pengejar terpelanting. Mereka mau meloncat naik namun si buntung sudah mendahului. Tujuh di antara mereka terbanting keras. Dan ketika mereka itu mengaduh dan yang lain pucat, Giam Liong telah melayang dan turun di luar tembok sana maka mereka akhirnya sadar lagi dan buru-buru membuka pintu halaman depan, sebagian ada yang melempar tali untuk akhirnya naik dan turun melewati dinding tembok yang tinggi.

“Kejar...kejar Ta-ciangkun dibawa Naga Pembunuh!”

“Ta-caingkun diculik!”

“Kejar dan tangkap mereka, kawan-kawan. Atau laporkan ke Kiang-goanswe dan kejar dua orang itu!”

Namun Giam Liong dan isterinya sudah jauh meninggalkan gedung. Yu Yin tertawa mengejek sementara Ta-ciangkun pucat dan gemetar. Suami isteri muda ini betul-betul hebat, tak mungkin anak buahnya menang. Tapi karena dia aman tak diapa-apakan, mereka hanya membawanya untuk mencari dan menemukan Siauw Hong maka perwira ini tenang sementara Giam Liong sudah meluncur dan berkelebat melewati tembok kota sebelah utara untuk menuju ke kota raja.

Namun halangan baru mengganggu suami isteri ini. Ketika mereka sudah jauh meninggalkan gedung dan berkelebat, melewati penjagaan di pintu kota sebelah utara, membuat para penjaga kaget dan berseru tertahan, mengucek mata dan memandang ke depan maka dari dalam kota tiba-tiba mengejar bayangan-bayangan lain yang membuat para penjaga jadi semakin kaget lagi. Giam Liong disusul belasan bayangan yang bergerak cepat melebihi panah meluncur.

“Heii Naga Pembunuh! Berhenti dan lepaskan dulu tawananmu!”

Giam Liong terkejut. Dia sudah mendekati hutan dan siap masuk untuk kemudian keluar ke sana. Seruan atau bentakan di belakang membuat dia menoleh dan tercekatlah dia melihat sembilan bayangan meluncur cepat dengan kepandaian tinggi. Mereka juga terdiri dari para tosu dan hwesio, yang lain orang- orang biasa namun ilmu lari cepat mereka hebat bukan main, terbukti mampu mendekati hutan dengan cepat dan sebentar kemudian sudah sampai. Dan karena dia bukan manusia pengecut yang harus lari ketakutan, lagi pula bawaannya cukup berat maka Giam Liong berhenti dan tepat sedetik kemudian sembilan orang itupun sudah tiba di depannya. Sang isteri menengok dan ikut berhenti pula.

“Siapa kalian. Ada apa menyuruh kami berhenti!” nyonya itu membentak dan marah. Yu Yin memang wanita pemberang dan ditambah kejengkelannya akan ulah Siauw Hong membuat dia cepat naik darah.

Giam Liong menjawil lengannya namun nyonya ini tak perduli. Maka begitu dia membentak dan suami isteri ini menghadapi sembilan orang itu, dua tosu dan dua hwesio serta lima orang- orang aneh berpakaian macam-macam maka hwesio dan tosu di depan itu menancapkan toyanya.

“Omitohud, siauw-hujin masih galak. Kami adalah orang-orang yang berurusan dengan suamimu dan pinceng Ceng Ting Hwesio, dari Lu-tong-pai. Harap hujin minggir karena kami tak berurusan denganmu!”

“Dan pinto adalah Kwan Tek Sianjin, wakil Khong-tong. Kami datang untuk menuntut tanggung jawab seperti halnya lima saudara ini!”

Yu Yin terbelalak marah. Tapi sebelum dia mendamprat maka Giam Liong maju ke depan dan mengeluarkan kata-kata dingin. “Hm, kiranya sahabat-sahabat dari Khong-tong dan Lu-tong. Bagus, ada perlu apa kalian mencariku? Apakah juga tuduhan bahwa aku membantai anak-anak murid kalian?”

“Omitohud, sudah mengaku! Baik sekali kau mendahului ini, Sin Giam Liong, dan pinceng menuntut agar kau menyerahkan diri dan diadili di Lu-tong!”

“Hm, dan Khong-tong juga ingin mengadilimu. Serahkan dirimu secara baik-baik, Naga Pembunuh. Atau pinceng bersama kawan-kawan menangkap dan membunuhmu di sini!”

Giam Liong tertawa mengejek. “Beberapa jam yang lalu anak murid Khong-tong dan Lu-tong juga menemuiku, mereka sudah kuhajar, tapi kubebaskan. Apakah kalian tidak bertemu dan mendapat keterangan dari mereka? Kalau aku hendak diadili maka buka dan perhatikan baik-baik mata dan telinga kalian, Kwan Tek Sianjin. Aku tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan dan jangan ngawur!"

“Bagus, kau maksudkan tiga orang ini?” Kwan Tek dan Ceng Ting tiba-tiba serentak berseru. Mereka ada membawa bungkusan besar dan sejak tadi Giam Liong merasa aneh. Entah apa yang dibawa itu. Tapi begitu mereka melempar dan membuka bungkusan ini maka tiga mayat terlempar dan itu adalah dua tosu serta hwesio yang dibebaskan. Anak-anak murid Khong-tong dan Lu-tong, tewas dengan leher hampir putus!

“Ah!” Giam Liong terkejut. “Ini... apa artinya ini? Bukankah mereka adalah orang-orang tadi?”

Pertanyaan ini lebih ditujukan kepada sang isteri daripada kepada tosu atau orang-orang lain itu. Tapi Kwan Tek Sianjin dang Ceng Ting Hwesio yang tak dapat menahan marah sudah membentak, “Bagus, kau sudah mengaku, bocah she Sin. Dan sekarang serahkan dirimu untuk kami tangkap!”

“Dan kami juga orang-orang yang saudara kami kau bunuh. Menyerahlah dan jangan melawan, Naga Pembunuh. Kau harus diadili dan jangan bersikap blo’on untuk perbuatanmu yang telengas!”

Tosu dan para hwesio serta lima orang itu maju serentak. Mereka mau menangkap dan mengikat Giam Liong sementara senjata di tangan bergetar siap menyerang. Toya sudah dicabut dan hwesio dari Lu-tong itu bergerak mengerotokkan buku-buku jarinya. Tampak betapa uap putih keluar dari telapak hwesio ini. Dan ketika mereka bergerak sama cepat dan masing-masing ingin menotok atau merobohkan Giam Liong, hal yang tentu saja tak dibiarkan pemuda ini maka Giam Liong mempergunakan langkah saktinya dan tahu-tahu sudah menyelinap mundur. Sembilan orang itu hampir bertabrakan.

“Heiii...!” Yu Yin melengking dan marah. Nyonya ini sejak tadi mendengarkan dan terbelalak gusar. Dia kaget melihat betapa dua tosu dan hwesio yang dibebaskan Giam Liong tiba-tiba sudah menjadi mayat, padahal baru beberapa jam mereka itu bertemu. Maka begitu dia sadar dan sembilan orang menubruk suaminya, luput karena suaminya mempergunakan Pek-poh-sin-kun maka wanita ini membentak dan tiba-tiba maju berkelebat, tangan menampar dan kakipun menendang. Padahal sang suami justeru menjauh dan meloncat mundur. “Jahanam keparat, kalian kiranya pengacau-pengacau dan pemfitnah. Mampuslah!”

Gerak nyonya ini cepat dan kuat. Ditambah kemarahannya maka pukulan atau tendangannya bakal melemparkan orang-orang itu. Tapi ketika Kwan Tek Sianjin mengelak dan Ceng Ting Hwesio menangkis, dua lengan bertemu maka nyonya muda itu terpental dan Yu Yin kaget sekali.

“Dukk!”

Sang nyonya berjungkir balik membuang sisa tenaga lemparan. Tak dia sangka bahwa hwesio ini lihai, jauh lebih lihai daripada hwesio yang tewas itu. Tapi teringat bahwa lawan adalah sute Ceng Ting Hwesio, wakil atau tokoh Lu-tong maka nyonya itu mencabut pedangnya namun Giam Liong tiba-tiba berkelebat dan menarik isterinya ini, mata merah.

“Yu Yin, kita pergi. Agaknya ada seorang yang mengacau namaku!”

Nyonya itu terkejut. Dia melengking dan menolak namun cengkeraman sang suami amatlah kuat. Dan ketika Giam Liong membalik dan membawanya terbang maka pemuda itu meninggalkan lawan dan memasuki hutan untuk cepat-cepat keluar. Namun Kwan Tek Sianjin dan Ceng Ting Hwesio tak mau melepaskan. Dua orang itu membentak dan begitu Giam Liong pergi merekapun mengejar. Dan ketika tujuh teman yang lain juga berseru dan berkelebat mengejar maka sembilan orang itu susul-menyusul tak mau melepaskan Giam Liong. Perginya pemuda itu justeru menguatkan dugaan bahwa Giam Liong lari dari tanggung jawab.

“Naga Pembunuh, berhenti. Kau serahkan dirimu dulu atau mampus di tangan kami!”

Yu Yin juga uring-uringan. Nyonya ini menendang dan meronta namun cengkeraman semakin kuat. Ada sesuatu di pikiran pemuda itu. Dan ketika mereka sudah melewati hutan dengan cepat sementara wanita itu memaki dan tetap meronta-ronta maka Yu Yin memekik gusar kepada suaminya itu.

“Giam Liong, lepaskan aku. Lepaskan. Kau dianggap pengecut dan justeru akan memperkuat dugaan saja. Berhentilah dan hadapi mereka, Giam Liong, jangan lari. Biarku hajar orang-orang itu dan kukatakan bahwa semua itu fitnah!”

“Hm, aku ingin ke Lembah Iblis. Tiga orang itu tewas oleh Golok Maut, Yu Yin. Lihat betapa luka dileher mereka kering dan tak berdarah!”

“Kau.. ke Lembah Iblis? Gila, aku ingin ke kota raja, Giam Liong. Mencari dan menemukan dulu puteraku. Untuk apa pulang!”

“Hm, kita tunda perjalanan ke kota raja. Dan orang she Ta ini... ah, ia merepotkan saja, Yu Yin. Biar ia kulepas dan kita pulang dulu!” Giam Liong melempar dan membuang Ta-ciangkun itu.

Si perwira yang tadi ditangkap tiba-tiba begitu mudah kini dilepaskan. Giam Liong ingin kembali ke Lembah Iblis sementara isterinya bermaksud ke kota raja. Yu Yin masih tak mengerti apa yang dikehendaki suaminya ini. Baginya sang anak lebih penting daripada yang lain-lain. Dia tak tahu bahwa Giam Liong hendak melihat apakah Golok Maut yang ditanam dan disembunyikan di makam kakek gurunya masih ada di sana.

Giam Liong terkejut bahwa tosu dan hwesio dari Lu-tong itu tewas dengan leher mengering. Hanya Golok.Penghisap Darah atau Golok Maut itulah yang bisa melakukan itu. Orang yang terluka oleh golok ini akan berciri seperti itu, kulit dan daging yang tersayat segera kering dan mampat. Hawa golok maut itu menghisap darahnya. Maka ketika Giam Liong terkejut bahwa tosu dan hwesio itu tewas dengan ciri seperti disambar Golok Maut, padahal golok itu telah dikubur dan ditanam di Lembah Iblis maka pemuda yang bermaksud untuk menyelidiki dan mengetahui apakah golok itu tetap di sana ingin segera ke Lembah Iblis dan menggalinya.

Giam Liong bergetar membayangkan sesuatu yang mengerikan, bahwa golok itu mungkin dicuri orang. Tapi sang isteri yang ternyata tak mengerti dan lebih berat anak daripada golok meronta dan menendang-nendang sepanjang jalan. Dia sendiri sudah melempar Ta-ciangkun dan perwira itu bergulingan di sana, mengeluh namun sudah terbebas dan bangkit terhuyung. Dan ketika perwira itu melihat bayangan-banyangan berkelebat di depan mukanya, itulah para tosu dan hwesio dari Lu-tong maka Giam Liong yang diganggu isterinya jadi terhambat dan terkejar.

“Biar.... biar! Tak usah lari dan tak perlu pulang. Aku tak mau ke Lembah Iblis, Giam Liong. Aku ingin menemukan anakku Sin Gak dulu. Berhenti dan hajar orang-orang itu!”

Giam Liong susah. Kalau saja yang dipegangnya ini bukanlah isteri tentu dia akan menampar dan merobohkannya pingsan. Tapi Yu Yin adalah isterinya, wanita yang dia cinta. Dan ketika Yu Yin menendang dan tetap meronta-ronta menghambat larinya maka sembilan orang di belakang menyusul dan toya menyambar punggung pemuda itu, disusul oleh pedang yang mendesing menuju telinganya. Ceng Ting dan Kwan Tek Sianjin telah menyerang.

“Naga Pembunuh, berhenti dan benar kata isterimu. Jangan lari kalau tidak bersalah dan hadapi kami secara jantan.... wut-singg!”

Giam Liong mengelak dan melepaskan isterinya. Apa boleh buat dia harus berhenti dan kini pemuda itu membalik. Serangan-serangan lain datang seperti hujan setelah toya dan pedang itu mengenai angin. Dan ketika tujuh yang lain menghantam dan sudah melepas pukulan jarak jauh maka si buntung ini siap dan dengan geram pendek ia menyambut, Kim-kang-ciang atau Pukulan Tangan Emas dilepas.

“Wut-dess-blarrr !”

Tujuh orang itu terpelanting dan terbanting. Giam Liong mengerahkan kesaktiannya dan si buntung yang berkilat-kilat ini marah. Dia membuat lawan terlempar dan berteriak kaget. Dan ketika tujuh orang itu bergulingan meloncat bangun dan pemuda ini berdiri tegak maka Giam Liong membentak.

“Kwan Tek Sianjin, Ceng Ting Hwesio, kuberitahukan kepada kalian bahwa aku sama sekali tidak melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Aku tak tahu apa-apa tentang ini dan percayalah bahwa itu bukan perbuatanku. Pergilah dan katakan kepada ketua kalian bahwa seseorang sengaja meminjam namaku, merusak. Aku tak ada waktu dan silakan kalian pergi!”

“Keparat!” hwesio dan tosu serta lima orang itu memaki. “Luka yang ditimbulkan golokmu berciri khas, Naga Pembunuh. Dan di dunia ini hanya kau seorang yang memiliki senjata ampuh itu. Tak usah banyak cakap atau kau menyerah baik-baik!” sembilan orang itu berkelebat dan menyerang lagi.

Giam Liong mengatur tenaganya sedemikian rupa agar tak sampai mencelakai. Tapi ketika ia diserang lagi sementara isterinya membentak dan marah besar maka Yu Yin berkelebat dan pedang hitam di tangannya mendesing menyambar orang-orang itu.

“Percuma bicara. Babat dan robohkan mereka ini, Giam Liong. Dan setelah itu kita ke kota raja!”

Sembilan orang itu menangkis serangan pedang si nyonya. Kwan Tek dan Ceng Ting telah beradu tenaga dan pedang serta toya mereka menyambut. Dan ketika Yu Yin terpental dan berjungkir balik tinggi maka Giam Liong marah dan membantu isterinya itu, maju dengan langkah Pek-poh-sin-kun.

“Yu Yin, biar aku saja yang merobohkan cecunguk-cecunguk ini. Kau minggirlah dan biar mereka merasakan kelihaianku. plak-dukk!” lengan atau ujung lengan baju si buntung ini membentur pedang dan toya, bersentuhan dengan tubuh mereka dan Kwan Tek maupun Ceng Ting Hwesio berteriak kaget. Tenaga Tangan Emas itu dipergunakan lagi dan mereka terlempar. Namun ketika semua bergulingan bangun dan langkah sakti Giam Liong yang mengejutkan itu membuat mereka terbelalak maka Kwan Tek berseru agar semua menyatukan diri.