TAPAK TANGAN HANTU
JILID 03
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
TAPI rupanya terlambat. Bhi Li, wanita cantik itu sudah gila menghadapi ratusan srigala di Hutan Iblis. Gonggong dan raung srigala-srigala itu membuat Keng Han pucat dan melepaskan diri dari lengan sutenya, berkata agar sutenya lari lebih dulu dan biarlah dia di belakang. Gonggong dan raung itu sudah dikenal benar oleh laki-laki gagah ini. Mereka masih dua tiga li lagi dari Hutan Iblis itu namun lengking dan jerit di depan terdengar jelas. Itulah suara Bhi Li bercampur dengan gonggong dan raung srigala, riuh dan menggetarkan hutan dan sang sute pucat membelalakan mata. Jerit isterinya memang terdengar. Dan ketika apa boleh buat dia mendahului suhengnya dan berkelebat meminta maaf, jerit dan pekik isterinya di sana sungguh menggetarkan hati maka laki-laki ini melesat dan mengerahkan semua ilmu lari cepatnya untuk tiba di hutan. Dan begitu tiba diapun melotot.

Isterinya, Bhi Li, jatuh bangun menghadapi ratusan srigala sambil berteriak-teriak. Pakaiannya robek-robek sementara pedang di tangan sudah patah-patah digigit anjing-anjing itu, luka dan gigitan atau cakaran binatang-binatang itu membuat isterinya histeris dan menjerit-jerit. Hutan tergetar oleh riuh atau gonggong srigala dan akhirnya isterinya roboh oleh terkaman seekor di antaranya yang paling besar, hitam bergaris putih dan rupanya inilah srigala yang amat hebat itu. Lima belas menit terlambat ternyata sudah membuat isterinya dalam keadaan bahaya. Dan ketika isterinya terjatuh sementara gigi putih mengkilap itu terbuka menggigit leher Bhi Li, srigala hitam itu menerkam dan amat buas maka laki-laki ini tak dapat menahan diri dan melompat dengan amat kuatnya menghantam srigala jantan itu.

“Bhi Li, aku datang dess!”

Srigala dan wanita itu sama-sama terlempar. Gigitan sudah mengenai leher wanita itu tapi pukulan juga menghantam tengkuk binatang ini. Melihat dahsyatnya tentu leher binatang itu remuk, paling tidak patah. Tapi ketika binatang itu terguling-guling dan melompat bangun lagi, menggeram maka laki-laki ini tertegun tapi dia cepat menyambar isterinya dan menolong. Sang isteri luka-luka dan robek-robek.

“Su-ko..!”

Dua orang itu berpelukan. Bhi Li, wanita ini sudah menangis tersedu-sedu dirangkul suaminya. Ia lelah dan roboh disamping ngeri. Tadi ia datang dan satu dua srigala mula-mula keluar, dihajar tapi kemudian yang lain-lain berdatangan. Ia memekik-mekik di mulut hutan itu dan inilah yang membuat srigala keluar, satu demi satu sampai akhirnya puluhan, cepat sekali. Dan ketika ia dikeroyok namun membacok dan menusuk, srigala sudah menjadi ratusan maka geram atau munculnya srigala pemimpin membuat wanita itu tersentak karena apa yang didengar ternyata betul.

Hadirnya srigala ini merobah segala-galanya. Tadi dia enak membabat dan merobohkan lawan-lawannya tapi begitu berhadapan dengan srigala hitam berpunggung putih ini ia terkejut. Pedangnya tak mampu melukai binatang itu dan setiap dibacok tentu mental. Ia berkelebatan namun binatang itu melompat-lompat, ringan dan cepat dan gerak kakinya seperti orang bersilat, mampu membayangi kemanapun ia pergi. Dan karena di situ banyak srigala-srigala lain yang menunggu dan mencari kesempatan maka ia mulai tergigit dan mula-mula ujung celananya yang robek, disusul kemudian oleh terkaman srigala hitam itu yang menggigit ujung bajunya. Ia mengelak dan membacok namun srigala itu tak bergeming sama sekali, menggereng dan memperlihatkan taringnya dan empat bacokan mental semua, ia pucat.

Dan ketika ia melengking-lengking namun kini di semua penjuru sudah penuh dengan srigala-srigala buas, yang melolong dan riuh-rendah maka iapun menjadi bising sekaligus bingung tak dapat keluar. Lawan amat banyak sementara ia sendirian saja. Dan ketika srigala hitam menubruk dan kali itu ia tak mungkin mengelak, membacok dan menyambut gigi srigala itu dengan pedangnya maka srigala ini menggigit dan mulut yang bertemu pedang mengatup dengan amat cepatnya dan pedangnya dirampas!

Dan terdengarlah suara peletak ketika pedangnya patah. Wanita ini terkejut dan lawan-lawan yang lain menyalak dengan amat riuhnya, menubruk dan maju berbareng seolah girang melihat wanita itu tak bersenjata dan robeklah kulitnya oleh cakar dan gigitan srigala-srigala itu. Ia mulai terluka. Rasa takut mulai datang! Dan ketika ia menyesal kenapa sendirian ke tempat itu, tak menunggu suaminya maka ia menjadi bulan-bulanan gigitan binatang dan hanya kaki tangannya yang dapat dipakai untuk membela diri. Dan ini membuat luka-lukanya semakin bertambah.

Bhi Li benar-benar kalut dan darah membasahi tubuhnya, memekik dan melengking-lengking namun ia sudah tak mungkin keluar. Musuh amatlah banyak dan ia di tengah-tengah, tentu saja menjadi korban empuk namun saat itu suaminya datang, membentak dan menendang srigala-srigala yang lain sementara srigala hitam dipukul tengkuknya, roboh terguling-guling. Dan ketika lawan terkejut dan mundur sejenak, menyalak dan melolong-lolong lagi maka pria ini gelisah melihat keadaan isterinya.

“Kau terluka, terlalu banyak darah mengalir. Pegang tanganku dan kita melayang di atas pohon itu!”

Su Tong, laki-laki ini, tak mau membuang tempo. Srigala hitam menyerang lagi dan srigala yang lain maju menerjang, ikut kalau pemimpinnya masih tegar. Tapi karena isterinya roboh di pelukannya dan tak mungkin dia melayani srigala-srigala itu, yang penting adalah menyelamatkan isterinya maka laki-laki ini menjejakkan kaki dan sekali mengayun tubuh diapun sudah terbang ke pohon paling dekat dan menyambar dahannya.

Namun celaka, dahan itu patah. Tak kuat menahan dua beban sekaligus dahan itupun berkeretak, patah dan tentu saja dua orang ini terpelanting ke bawah. Tapi ketika laki-laki itu berseru keras dan sang isteri di lempar ke dahan yang lebih tinggi, dia sendiri meluncur turun dan terpaksa menghadapi srigala-srigala di bawah maka dia membentak dan kakinya diputar empat kali ke segala penjuru.

“Des-des-dess!”

Srigala hitam dan teman-temannya terlempar. Mereka mencelat oleh sapuan ini dan laki-laki itu menyambar dahan yang patah, bergerak dan selanjutnya sudah menerjang sekelompok srigala itu dengan amat marahnya. Dia menghajar mereka dengan dahan kayu ini, bak-bik-buk dan seketika srigala-srigala itu tunggang-langgang. Tapi karena pemimpinnya bangkit berdiri dan melolong dengan mulut dibuka lebar-lebar, aba-aba bagi yang lain untuk maju dan tetap menyerang maka srigala itu meloncat dan menubruk laki-laki ini.

Sang isteri mengeluh di atas dan menjerit, laki-laki itu membalik dan menghantam srigala ini dengan dahan kayu itu. Dan ketika binatang itu terlempar namun bangun lagi, menggeram dan menerjang seperti tadi maka laki-laki ini terbelalak dan diapun sudah dikeroyok oleh ratusan srigala itu, berkelebat dan berlompatan namun srigala hitam paling berbahaya. Tujuh kali digebuk tujuh kali itu pula dapat melompat bangun. Dan ketika dia terbelalak sementara isterinya menonton dan merintih maka suhengnya datang dan dua laki-laki yang beringas dan marah ini menghajar binatang-binatang itu sementara sang suheng mempergunakan pedangnya. Pria gagah ini sudah bertanya di aman Bhi Li.

“Ia di atas, luka-luka. Aku menyelamatkan, suheng. Hati-hati dan awas dengan si hitam itu. Ia kebal!”

“Hm, di atas?” laki-laki ini mendongak. “Bagus, jaga dirimu, Li-moi. Aku akan membalas sakit hatiku dan membasmi binatang-binatang ini...crat!” pedang mengenai seekor srigala, tembus dan disusul tusukan ke kanan kiri di mana tiga ekor srigala lagi roboh. Keng Han dan sutenya sudah bergerak menghajar binatang-binatang itu. Tapi ketika tiba-tiba terdengar jerit Bhi Li dan dahan yang diduduki patah, aneh sekali, maka wanita itu terpelanting dan sang suami kaget untuk kedua kali.

“Su-ko, tolong...!”

Jerit ini membuat laki-laki itu menoleh. Mereka masih di tengah-tengah keroyokan srigala dan jatuh di tempat itu amatlah berbahaya. Bukan karena sekedar patah tulang melainkan serbuan hewan-hewan ganas itu. Dan ketika saja isterinya berdebuk dan para srigala menggonggong, lari dan membalik menyerang isterinya maka pria ini membentak dan dahan di tangannya disapukan amat kuat menghantam anjing-anjing liar itu.

“Bresss!”

Namun sang isteri roboh pingsan. Jatuh dan kaget disambut lawan-lawan buas membuat Su-hujin itu pucat. Ia sudah luka-luka dan keadaannya lemah sekali. Maka terbanting dan jatuh di tanah iapun tak kuat lagi dan pingsan, disambar sang suami dan kini memondong isterinya dengan satu tangan laki-laki itu menghadapi duaratus srigala. Yang lain menyerang suhengnya dan si hitam melompat lagi, ditampar tapi bangun lagi. Dan ketika di sana suhengnya mengamuk dan menghajar binatang-binatang itu maka sebutir batu hitam menyambar dari kiri dan tak, laki-laki itu terkejut dan pedangnya terlepas.

“Heii..!” Pria gagah ini menoleh. Dia melihat asal batu hitam menyambar dan mata setan itu dilihatnya, sedetik saja karena mata itupun menghilang lagi dan kawanan srigala menubruknya. Dan ketika dia terkejut dan hendak mengambil pedang, terbelalak karena pedangnya patah maka sebelas srigala menggigitnya dari kiri kanan dan laki-laki itu berteriak. Teriakan ini mengejutkan sutenya dan sang suheng bergulingan melepaskan diri, mencengkeram dan menghantam binatang-binatang itu dan lima di antaranya roboh. Tapi karena enam yang lain masih melekat dan ini berbahaya, sang sute terkejut dan membentak ke sini maka dia mengayunkan dahan kayunya dan srigala-srigala itu pecah kepalanya. Senjata di tangan langsung diberikan kepada sang suheng, diri sendiri mencabut pedang.

“Suheng, jangan lepaskan pedangmu. Kenapa dibuang!”

“Ah, siapa yang membuang,” sang suheng bergulingan meloncat bangun, pundak dan punggungnya berdarah, pakaianpun robek. “Aku diserang seseorang itu, sute. Si Mata Iblis. Dia datang dan menggangguku!”

“Ah, dia? Mana?”

“Tadi disebelah kiri, sekarang lenyap. Terima kasih dan awas lawanmu si hitam itu lagi... rrtt!” baju laki-laki itu robek, terkuak disambar srigala hitam dan laki-laki ini marah sekali. Dia memondong isterinya dan sekarang melindungi suhengnya pula. Kalau saja suhengnya sehat tentu tidak seberapa, tapi karena suhengnya baru sembuh dan belum pulih betul, ini yang berbahaya maka dia terkejut dan berpikir bagaimana baiknya, diserang dan mengelak sana-sini dan sekarang sepak terjangnya menjadi ganas.

Di tangannya terdapat sebuah pedang dan dengan pedang itulah dia menyambut dan menusuk lawan-lawannya. Satu demi satu roboh dan tak kurang tujuhpuluh srigala dibantai. Ini sudah cukup banyak! Tapi ketika dia terbelalak dan mencari sana-sini si Mata Setan itu, orang atau mahluk penghuni Hutan Iblis maka si hitam meraung dan membalik serta kembali menggigitnya. Dan laki-laki ini tiba-tiba marah. Dia merunduk dan menyelamatkan wajah dan mulut si buas ditikam.

Tapi ketika si hitam menangkis dan baru kali itu dia melihat gerakan ini, pedangnya melenceng maka cakar si hitam mengenai perutnya dan.... bret, bajunyapun robek. Cakar dari kaki bawah binatang itu hampir saja mengenai kulit perutnya. Dia terkejut, tapi juga gusar. Dan ketika dia membentak dan membalik mengejar lawannya ini, si hitam merunduk dan ganti berkelit maka hewan luar biasa ini sudah meloncat dan menerkamnya lagi, kawan-kawannya yang lain membantu.

“Keparat, srigala ini binatang siluman, suheng. Kalau aku tak membawa isteriku ingin rasanya aku memukul dengan Pek-lui-ciang (Tangan Petir)!”

“Tak akan mempan,” sang suheng berseru. “Srigala itu kebal secara gaib, sute. Agaknya dia diisi seseorang dengan ilmu hitam. Agaknya paling baik adalah menangkap atau menjeratnya!”

“Benar, dia pemimpin di sini. Tapi bagaimanakah caranya. Aku tak membawa tali!”

“Aku juga tidak. Tapi bajuku ini dapat kulepas, sute. Kau dekatlah ke sini dan kita bahu-membahu. Atau... augh!” sang suheng berteriak dan menghentikan kata-katanya. Sebutir batu hitam kembali menyambar dan dahan di tangannya kembali terlepas. Ibu jarinya dihantam dan kagetlah laki-laki itu oleh serangan gelap. Dan ketika sang sute terkejut dan menoleh maka para srigala melompat dan menerkam laki-laki itu, yang terhuyung dan melotot kekanan.

“Suheng, awas..!”

Sang suheng sadar. Dia mengelak namun tubrukan dari belakang tak dapat dikelit, mengaduh dan sang sute pun membentak dengan amat marah, melejit dan menusuk tiga srigala di punggung suhengnya itu. Tapi ketika si hitam mengejar dan melompat pula, menggigit dan menggeram maka laki-laki ini kaget karena lengan kanannya tak dapat dilepaskan. Pergelangan dan gagang pedang di cekam kuat-kuat.

“Augh!” laki-laki itu marah dan menendang.

Si hitam terangkat tapi mulutnya tetap menggigit, terayun dan menyalaklah srigala-srigala lain menyerang membantu si hitam. Dan karena gigitan itu amat kuat dan menyakitkan, laki-laki ini sudah mengerahkan sinkang namun terasa ngilu juga maka serbuan dari kanan kiri tak dapat dihindarkannya.

“Bret-brett!”

Baju dan celananya robek-robek. Si hitam menempel tak mau lepas dan apa boleh buat pria ini melepaskan isterinya dan menghantam binatang itu dengan tangan kiri. Pek-lui-ciang menyambar dan terdengarlah suara berdetak ketika pukulan mengenai kepala anjing liar itu. Tapi ketika srigala itu mencelat dan terlempar roboh, otomatis gigitannya lepas maka sang isteri menjadi rebutan srigala-srigala itu dan diseret atau dibawa lari.

“Bedebah!” laki-laki ini marah dan membalik. Dia tak dapat menahan diri lagi melihat semuanya itu, meloncat dan sekali tangannya diayun enam srigala pecah kepalanya, menguik. Tapi ketika dia mengamuk dan menyambar isterinya ternyata suhengnya berteriak dan mengeluh di sana, jatuh bangun dan laki-laki ini menjadi pucat karena sang suheng tak bersenjata lagi. Keadaan berbahaya, mereka rupanya harus mundur. Maka membentak dan berkelebat ke kiri ia membacok sembilan srigala dan berseru kepada suhengnya,

“Suheng, kita pergi. Kau dan isteriku luka-luka. Keluarlah dari kepungan dan biar kubuka jalan darah!”

Sang suheng mengangguk. Dalam keadaan seperti itu memang tak ada jalan lain kecuali pergi. Mereka menghadapi ratusan srigala sementara dua di antara mereka luka-luka. Dia kehilangan senjatanya setelah tadi sebutir batu hitam kembali menyambar. Benturan ditelapak tanggannya tadi terasa pedas dan sakit, pedang maupun dahan kayunya terlepas dan iapun sudah dikeroyok srigala-srigala jahanam itu. Maka ketika sutenya membuka jalan darah dan berseru agar mereka pergi, tak mungkin kuat bertahan lama pria inipun mengangguk dan setuju.

Sembilan ekor srigala telah roboh dibabat tapi ketika dia meloncat keluar mendadak mata iblis itu datang lagi, muncul di belakang sutenya dan ketika ia tertegun tiba-tiba sinar hijau menyambar. Ia berteriak dan mata setan itupun menghilang. Sang sute menoleh dan melihat apa yang dituding. Dan ketika sutenya membabat ternyata sehelai daun muda menghantam pedang sutenya itu.

“Crat!”

Daun itu menempel dan lekat di mata pedang. Tidak putus melainkan menancap dan bagaikan sepasang jepitan baja, sang sute tergetar dan terhuyung dua tindak. Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga lontaran itu. Dan ketika dua laki-laki itu terkejut dan tertegun membelalakkan mata maka srigala hitam menubruk dan menerkam laki-laki ini.

“Awas..!”

Sang sute sadar. Dia membalik dan menyambut terkaman ini dengan sabetan kuat, terpental tapi hewan itupun berdebuk dan gagal menyerang lawannya. Dan ketika dia meloncat bangun dan menyerang lagi, mengaum dengan amat dahsyat sementara kawan-kawannya menubruk dan menerjang mereka maka dua laki-laki gagah ini menjadi kewalahan dan terkepung lagi, tak dapat keluar.

“Keparat!” laki-laki itu membentak. “Kau harus cepat keluar dari sini, suheng, jangan perhatikan yang lain-lain. Ayo, keluar dan kubuat jalan darah lagi crat-crat!” pedang membacok dan menusuk tujuh srigala di kiri kanan, roboh dan selanjutnya diputar lagi membuka kepungan. Para srigala itu mundur sejenak dan ini kesempatan mereka. Tapi ketika sang suheng meloncat dan keluar dari kepungan ternyata menyambar lagi sinar hijau itu ke arah sang sute.

“Sute, awas!”

Laki-laki ini bergerak. Dia membalik dan untuk kedua kalinya melihat serangan gelap itu. Sang suheng tak jadi lari dan berhenti di situ. Dan ketika dia membacok dan berteriak keras, maklum bahwa serangan inipun tentu hebat maka daun itu terpental tapi menyambar isterinya.

“Crep!”

Kejadian itu demikian cepatnya. Laki-laki ini terkejut karena sang isteri yang masih berada di pondongan tentu saja tak dapat mengelak. Isterinya pingsan dan dialah yang berjuang keras menyelamatkan isterinya ini. Maka begitu daun terpental dan menancap di tengkuk, amblas setengahnya maka sang isteri menggeliat dan roboh tewas seketika itu juga, tak bergerak-gerak lagi.

“Jahanam!” laki-laki itu melengking dan menjadi buas. “Kubunuh kau, Mata Iblis. Kubunuh kau dan anak-anak buahmu ini. Keluarlah!” dan bentakan serta seruan dahsyat yang menggetarkan hutan itu sudah disusul oleh loncatannya dan tikamannya ke gerombolan srigala.

Sang suheng terkejut karena sang sute kini justeru menyerbu ke dalam. Tadi barisan srigala sudah dibuat mundur tapi kini sutenya itu mengamuk dan menerjang, pedang berkelebatan memburu binatang-binatang itu dan tigabelas terbacok kepalanya, putus dan mengamuklah sutenya itu membabat srigala-srigala yang lain. Dan karena tentu saja tak mungkin dia pergi kalau sutenya mengamuk di situ, menyerbu dan menyikat binatang-binatang itu maka apa boleh buat Keng Han, laki-laki ini, masuk dan membantu sutenya menghajar binatang-binatang itu, tak jadi keluar.

“Sute kau terpancing. Kita akan terkepung lagi!”

“Biarlah, aku ingin membalaskan sakit hati isteriku, suheng. Aku ingin bertemu si Mata Iblis. Kau pergilah dan biarkan aku sendiri!”

“Tidak. Kau gila, sute? Kalau kau di sini akupun juga akan di sini. Baik, mari kita robohkan mereka dan biar kugunakan batu-batu ini menghajar mereka!” Keng Han menendang dan menyambit binatang-binatang itu dengan batu apa saja, menghantam kepala srigala-srigala itu dan hasilnya boleh juga. Belasan srigala roboh dan pecah kepalanya. Ternyata laki-laki ini masih gagah juga. Tapi ketika srigala hitam menubruk dan menggeram kepadanya, disambit tapi tak apa-apa maka dia terjengkang ditubruk dan diterkam.

“Augh!”

Suara itu membuat sang sute menoleh. Suhengnya terjatuh dan pucat menahan gigitan si hitam. Srigala amat besar itu membuka mulut lebar-lebar dan menggerakkan kepalanya ke kiri kanan untuk menggigit dengan buas. Mereka bergulingan dan masing-masing menyerang dan bertahan. Dan ketika suhengnya tak mampu mempertahankan diri, srigala lain berdatangan dan meloncat untuk menubruk pula maka jeritan tinggi terdengar ketika leher suhengnya itu tergigit, amat kuatnya.

“Bret!”

Sang suheng sudah menghantam dan memukul kepala binatang ini. Si hitam tak bergeming dan ditendang tapi terangkat sedikit saja, turun dan memperkuat gigitannya sementara teman-temannya ramai menggonggong menggigit sana-sini pula. Dan ketika suhengnya menggeliat dan tak kuasa menghadapi sekian banyak srigala, pria itu kehabisan tenaga maka daging pundaknya tercabut dan darah segar menyemprot.

“Suheng!”

Bentakan itu disusul loncatan jauh dari laki-laki ini. Gumpalan daging tercabut lagi dan suhengnya roboh menjadi korban, digigit dan dicabik-cabik dan si hitam sudah mengerat leher suhengnya hampir putus. Taring dari srigala hitam itu amat kautnya hingga sang suheng terkulai lemas, roboh dan rupanya tewas oleh gigitan sekian banyak srigala. Dan ketika laki-laki itu memekik dan mengayun pedangnya, si hitam terlempar sementara yang lain-lain roboh dan putus menjadi dua maka laki-laki itu terbelalak karena tubuh suhengnya sudah tidak keruan, perut dan daging serta kulitnya berlubang-lubang, persis bangkai membusuk yang digerogoti harimau-harimau lapar.

Tentu saja dia menjadi marah dan dendam serta sedih. Maka ketika pekikan kembali terdengar dan laki-laki itu meloncat dan mengamuk lagi, menjadi gila maka semua srigala ditusuk dan ditikam. Setiap pedang berkelebat tentu dua atau tiga srigala roboh. Hanya srigala hitam yang kebal dan kuat itu yang mampu bertahan, bangkit dan menyerang lagi dan hewan ini tak kenal takut. Diapun mengeram-geram melihat kawan-kawanya dibantai. Dan karena memang hanya srigala inilah yang tak dapat dirobohkan, kuat dan kebal terhadap bacokan senjata tajam maka terhadap binatang yang satu ini laki-laki itu tak dapat berbuat banyak, menusuk dan menikam sampai akhirnya pedangnya patah.

Seratus srigala telah menjadi bangkai dan mayat mereka yang bertumpuk-tumpuk disusul bau anyir darah yang amis. Tenaga laki-laki itu mulai habis. Akhirnya diapun mulai menjadi lelah, terhuyung dan roboh sementara isterinya juga terlepas dari pegangan. Rasa letih yang sangat membuat laki-laki itu gemetar. Tapi ketika srigala hitam mengaum dan melompat, lolongnya mengetarkan hutan maka saat itulah berkelebat dua bayangan lain di mana mulut si hitam yang terbuka lebar disambar benda putih berkilau yang tepat sekali menghantam langit-langit rongga mulutnya, mengenai sebiji besi pipih yang menempel di telak binatang itu.

“Dar!”

Si hitam tersentak dan roboh. Kepalanya pecah dan binatang yang kebal itu tiba-tiba ambruk. Hal ini mengejutkan dan laki-laki itu terbelalak. Tapi begitu dua orang berkelebat di dekatnya dan seorang kakek gagah bersama seorang gadis berusia limabelasan tahun berdiri di situ, laki-laki ini tertegun dan gadis itu menjerit maka ia menubruk dan langsung mengguguk di dada laki-laki ini.

“Ayah...!”

“Suhu...”

Dua seruan hampir berbareng keluar dari dua mulut. Laki-laki itu terkejut memandang kakek gagah di depannya sementara gadis cantik itu menubruk dan memanggil namanya. Inilah Pek-lui-kong dan cucu muridnya, Su Giok, puteri dari laki-laki gagah itu bersama isterinya yang tewas. Tapi begitu ayah dan anak bertangisan sementara kakek itu bersinar dan merobohkan si hitam mendadak terdengar gelegar dahsyat dan sisa-sisa srigala melompat, berhamburan.

“Awas...!” kakek itu membalik dan menampar tujuh sinar hitam. Dari dalam hutan terdengar raung atau lolong menyayat. Gelegar dahsyat itu disusul oleh dentuman memekakkan yang membuat hutan dan isinya seakan roboh. Pohon-pohon berderak dan tiga di antaranya tumbang. Dan ketika asap hitam mengebul dan hutan seisinya guncang, saat itulah menyambar tujuh sinar hitam itu maka si kakek yang menangkis dan menampar tiba-tiba terpelanting dan berseru keras.

“Tak-tak-tak!”

Tujuh batu sebesar kepalan diruntuhkan. Kakek itu melempar tubuh karena kaget dan berubah. Tujuh batu yang ditamparnya itu tidak pecah, melainkan mental dan menyambar tubuhnya lagi. Dan karena hanya dengan melempar tubuh saja dia akan selamat maka kakek itu meloncat bangun tapi dua di antara tiga pohon yang tumbang menimpa murid dan cucu muridnya.

“Su Giok, awas!”

Gadis itu menengok. Dia masih menangisi keadaan ayah dan ibunya ini, terutama ibunya yang telah menjadi mayat dan kaku di situ. Tapi begitu kakek itu berteriak dan pohon yang menimpanya berkerasak dengan amat dahsyat maka dia meloncat dan plak, pohon itu diterimanya dengan tangan kiri, kedua kaki sudah tegak memasang kuda-kuda dan pohon yang satu lagi diterima dengan tangannya yang lain, ditahan lalu dilontarkan ke kiri dan berdebumlah pohon-pohon itu dengan amat kuatnya. Dan ketika ia meloncat dan membersihkan pakaiannya, mengebut dan menyelamatkan kedua orang tuanya maka Su Tong, laki-laki itu, terbelalak dan kagum.

Namun tak banyak kesempatan bagi mereka untuk berdiam dan berbicara. Sinar-sinar hitam kembali menyambar dan kakek gagah itu menangkis dan mengebutkan lengannya berulang-ulang. Debu kian tebal dan asap hitampun kian pekat. Raung atau lolong di dalam hutan itu kian mendirikan bulu roma. Dan karena kakek ini selalu terdorong dan mundur terhuyung-huyung, sinar-sinar hitam yang berhamburan tak dapat ditahannya dengan kuat akhirnya ia berteriak dan menyambar muridnya.

“Su Giok, bawa mayat ibumu. Biar aku membawa ayahmu!” dan berjungkir balik menjauhkan diri dari sinar-sinar hitam kakek itu pergi dan berkelebat meninggalkan Hutan Iblis. Suara bergemuruh dan suara-suara lain terdengar seolah kiamat. Pohon-pohon berjatuhan dan menimpa lagi. Dan karena hutan menjadi gelap-gulita sementara mereka harus menyelamatkan dua orang di situ, Su Tong dan mayat Bhi Li maka kakek ini terbang dan Su Giok menangis menyambar mayat ibunya. Belasan sinar hitam sudah ditangkis tapi kakek gagah itu selalu terpental, tanda betapa hebatnya orang di dalam hutan itu.

Dan ketika Su Giok meluncur dan mengikuti kakek gurunya maka raung atau lolong di dalam hutan itu melemah sampai akhirnya lenyap tak terdengar lagi. Gadis ini mengguguk sementara ayahnya dipondong gurunya. Dan ketika mereka terbang dan terus ke timur, membelok dan kembali kerumah di tepi sungai kecil itu maka gadis ini tersedu-sedu dan roboh pingsan, tak kuat melihat kematian ibunya. Dan begitu kakek itu berhenti dan meletakkan muridnya maka kakek itupun menarik napas dalam dan tampak berkerut-kerut.

Malam itu keluarga ini berkabung. Bhi Li, wanita itu telah dimakamkan sementara Su Tong kehabisan daya di pembaringan. Laki-laki gagah ini terserang demam dan luka-lukanya bernanah. Gigitan dan serangan srigala sungguh hebat. Sekujur tubuh laki-laki ini luka dan yang membuat kakek itu berkerut adalah liur beracun yang merembes masuk ke dalam kulit. Racun ini membuat wajah Su Tong kebiru-biruan dan anak gadisnya menangis tiada henti. Kakek itu khawatir. Dan ketika ia mengerahkan sinkang dan mengusir racun dengan cara ini, sudah menjejalkan beberapa obat namun kurang membantu maka menjelang tengah malam terdengar suara-suara aneh di luar rumah. Kakek itu tertegun dan menoleh.

“Coba kau lihat suara-suara apa itu.”

Su Giok, yang mendampingi ayahnya ini mengangguk. Ia berdiri dan mengusap air mata dan juga mendengar suara-suara itu. Seperti daun berkeresekan atau orang menginjak daun kering. Tapi karena suara itu lenyap dan timbul lagi, kini terdengar dan gurunya berkerut maka ia berdiri dan juga merasa terganggu, marah. Tapi belum ia keluar pintu mendadak tiga moncong srigala menyembul dan menggeram!

“Suhu...!”

Jerit dan teriakan tertahan ini membuat sang suhu menengok. Su Giok, gadis itu kaget bukan main. Itulah srigala-srigala dari Hutan Iblis! Tapi ketika gurunya menoleh mendadak tiga ekor srigala ini menghilang dan melompat keluar. Su Giok berdetak. Pek-lui-kong, jago tua ini, juga berdesir dan bangkit berdiri. Konsentrasinya pecah dan tentu saja tak mungkin menyalurkan sinkang. Srigala Hutan Iblis mendatangi mereka. Dan kaget serta heran bagaimana srigala itu tahu rumah muridnya, kakek ini berkelebat dan keluar maka di dalam kamar tiba-tiba terdengar jerit dan teriakan muridnya lagi.

“Suhu...!”

Pek-lui-kong berkelebat masuk. Ia baru saja menyambar keluar ketika tiba-tiba muridnya menjerit. Jerit itu lebih hebat daripada tadi. Dan ketika ia masuk dan memandang mendadak jantung kakek ini berdetak karena Su Tong, muridnya, tak ada!

“Ayah.... ayah lenyap. Tadi... tadi aku hendak melompat keluar ketika tiba-tiba terdengar desir dan suara angin. Dan...dan ketika aku menoleh ayah sudah tak ada lagi. Ooh, mana ayah, sukong mana ayah!”

Terdengar gonggong dan raung srigala. Sebagai jawaban dari pertanyaan gadis itu mendadak di luar rumah riuh-rendah oleh lolong dan salak binatang-binatang jahanam itu. Sang kakek terkejut dan melompatlah dia menyambar sang cucu. Kakek ini melayang melalui jendela dan tiba-tiba saja Su Giok maupun kakek gurunya tersirap. Di luar rumah sudah ada ratusan srigala, bukan tiga atau empat melainkan tigaratus lebih! Dan ketika kakek itu tertegun sementara Su Giok menjerit tertahan, beringas dan menyambut pedang maka suara tawa sumbang terdengar di belakang mereka, tawa yang menusuk dingin dan tajam, mengiris jantung. Dan ketika gadis itu membentak dan melompat ke sini tiba-tiba sebuah benda besar menyambarnya dan kontan ia menusuk.

“Jangan!” sang kakek berseru dan menahan tangan muridnya. Gadis itu hampir menusuk ketika tiba-tiba kakek gurunya sudah mencekal pergelangannya, menotok dan melumpuhkan tangan gadis itu sekejap sementara tangan yang lain menyambut dan menerima benda besar ini. Dan ketika terdengar suara bluk dan itulah tubuh Su Tong, ayah Su Giok maka gadis itu menjerit dan kakek ini terhuyung serta jatuh terduduk.

“Thian Yang Maha Agung ah, hebat sekali lawan kita ini!” Sang kakek berdiri dan tak perduli kepada gonggong dan raung srigala. Ia cepat menerima benda besar itu karena menyambarnya seperti benda mati, bukan srigala atau semacam itu karena benda ini jelas dilontarkan orang. Dan ketika itulah tubuh muridnya dan Su Giok menjerit memanggil ayahnya, menubruk dan memeluk ayahnya, ternyata ayahnya itu sudah membujur kaku dengan leher bekas dicekik!

“Ayah.... ayah!”

Sang kakek tergetar dan membelalakkan mata. Wajah yang semula biasa dan tenang itu mendadak menjadi merah, senyum di bibir sudah berubah menjadi kemarahan dan kakek ini membentak ke arah sebatang pohon di samping rumah. Dan ketika ia berkelebat tapi tujuh srigala menggonggong dan menyambutnya maka kakek ini mengibas dan srigala-srigala itupun roboh dengan kepala pecah.

“Orang gagah berhati kejam, keluarlah. Aku Pek-lui-kong bukan kanak-kanak yang dapat kau takut-takuti.....des-dess!” dan tujuh srigala mencelat ditendang kakek ini akhirnya terlempar dan membuat riuh srigala-srigala lain yang tak mau ditimpa teman-temannya. Kakek itu sendiri sudah tiba di balik pohon besar itu tapi lawan yang di cari tak ada, lenyap, seperti iblis. Dan ketika ia tertegun dan menjadi marah, wajah semakin merah padam maka terdengarlah lolong panjang merintih yang tiba-tiba menggerakkan semua srigala untuk bergerak dan menyerang mereka.

“Su Giok, awas!”

Gadis itu terkejut. Ia sedang menangisi kematian ayahnya ketika tiba-tiba puluhan srigala menyerbunya. Mereka menggonggong dan menyalak-nyalak namun ia justeru menyambutnya dengan beringas. Pedang di tangan membacok dan sekali ia mengayun robohlah tigabelas srigala dengan tubuh terbelah. Dan ketika di sana kakek gurunya juga menampar dan mengebutkan lengan bajunya, puluhan srigala terlempar dan jungkir balik maka cucu dan kakeknya ini bergerak dan menghajar binatang-binatang itu. Lain kakek ini lain pula cucu muridnya. Ia hanya menghalau dan membuat srigala-srigala itu jatuh bangun dengan tamparan atau kebutan ujung bajunya.

Tapi sang cucu murid yang bergerak dan menebas sana-sini, menusuk atau membacok yang mengakibatkan srigala-srigala itu roboh dengan kepala putus membuat tempat itu sebentar saja sudah digenangi darah dan amis. Sang kakek mengerutkan kening tapi tidak mencegah. Ia tahu kemarahan muridnya itu atas kematian orang tuanya. Ayah dan ibunya sekaligus tewas terbunuh, hal yang memang membuat darah bergolak. Tapi ketika sinar-sinar hitam mulai menyambar dan beberapa di antaranya menuju gadis itu maka kakek ini berseru agar muridnya berhati-hati.

“Su Giok, awas. Seseorang menyerang kita dengan senjata gelap...tik-tak!” kakek itu meruntuhkan lima batu hitam, terdorong dan pucat karena kesekian kalinya lagi ia kalah kuat. Orang dibalik bayang-bayang hitam itu benar-benar lihai. Dan ketika ia melihat bayangan itu kembali berkelebat di belakang pohon, membungkuk dan menjentikkan lagi sinar-sinar hitam maka kakek ini berseru keras dan secepat kilat ia menendang seekor srigala yang mencelat ke arah orang itu.

“Dess!”

Orang itu terkejut dan mengelak. Sepasang mata tajam berkilat di bawah bayangan bintang dan Pek-lui-kong, kakek gagah ini, tersentak. Ia seakan bertemu dengan mata iblis dan tiba-tiba terdorong. Wibawa atau pengaruh dari mata itu kuat sekali. Ia tak tahan! Dan ketika ia mengeluh dan kembali menampar atau menendang binatang-binatang itu maka orang itu menghilang lagi tapi tiba-tiba di sana muridnya menjerit.

“Aduh!”

Kiranya Su Giok terlepas pedangnya. Gadis itu menjerit ketika tiba-tiba sebuah batu hitam menyambar pergelangannya, berdetak dan ia merasa seakan remuk. Dan ketika pedangnya terlepas dan srigala-srigala itu menubruknya, ia melempar tubuh bergulingan maka kakek gurunya bergerak dan melompat ke tempat ini.

“Berlindung di balik lengan bajuku, jangan berpencar. Tangkap dan bawa lagi pedangmu, Su Giok. Awas, jangan sampai terlepas!”

Kakek itu mengebut dan menyambar pedang di atas tanah. Ujung bajunya menyambar dan pedang tahu-tahu terlilit di sini, dibetot dan sekali ayun telah menuju ke cucu muridnya itu. Dan ketika Su Giok menerima dan menangkap pedangnya, tergetar maka gadis itu bertanya siapakah kiranya penyerang gelap itu.

“Aku juga tak tahu, tapi jelas ia lihai. Hm, agaknya semua binatang ini harus dimusnahkan, Su Giok. Baru setelah itu tuannya muncul... krak-dess!” kakek inipun menendang dan menambah tenaganya. Dia tidak lagi sekedar menghalau atau menghajar binatang-binatang itu melainkan sudah mulai membunuh. Sekali kebut tujuh delapan ekor srigala roboh, pecah kepalanya. Dan ketika cucu muridnya bergerak dan berkelebatan kembali, mereka sambar-menyambar tapi selalu dalam lingkup yang dekat maka sebentar kemudian duaratus srigala terbunuh.

“Ggrr!” Terdengar geram atau aum dahsyat ini. Srigala tiba-tiba mundur dan menyalak menggonggong-gonggong. Sejenak mereka tak menyerang tapi lari berputaran. Namun begitu dua orang itu juga berhenti dan berputaran mengikuti mereka mendadak mereka menerjang lagi dan kali ini yang dituju adalah gadis cantik itu.

“Awas!”

Su Giok mengangguk. Ia tak tahu bahwa dua ekor srigala coklat masuk dalam barisan ini. Mereka adalah pendatang baru dan tiba-tiba menyerang gadis itu dari depan. Dan ketika Su Giok menyambut sementara kakinya menendang menghajar yang lain maka pedangnya terpental bertemu dua srigala ini.

“Tak-tak!”

Gadis itu terkejut dan berteriak tertahan. Dua ekor srigala ini menyeringai sekejap namun sudah maju lagi, menubruk dan tubrukan mereka amat cepat, lain dari yang lain-lain. Dan ketika gadis itu mengelak namun kalah cepat, bajunya robek maka gadis itu melempar tubuh bergulingan dan kakek gurunya terbelalak.

“Brett!”

Dua srigala itu menyerang lagi. Mereka membalik dan sudah mengejar gadis ini dan Su Giok menjadi marah. Ia masih memegang pedangnya tapi begitu membacok tiba-tiba pedangnyapun patah! Dan ketika ia menjerit dan kakeknya terkejut maka dua srigala itu menggigitnya dari kiri kanan.

“Terkutuk!” kakek ini membentak dan menghantam. “Srigala-srigala itu diisi ilmu hitam, Su Giok. Cari benda runcing dan tusuk rongga atas mulutnya....des-dess!” pukulan kakek itu menghantam srigala coklat, melempar dan membuat mereka mencelat jauh namun dua ekor srigala itu bangun lagi. Mereka tak apa-apa, kebal!

Dan ketika gadis itu terbeliak dan menyambar patahan pedangnya, yang runcing dipergunakan menusuk maka terdengar lolong pendek di mana srigala coklat itu menubruk dan tidak lagi membuka mulutnya.

“Keparat!” kakek ini geram dan berkelebat ke kiri.

Lolong pendek itu adalah isyarat bagi srigala coklat untuk tidak menyerang dengan menggigit. Muridnya sudah menusuk srigala itu lagi tapi karena yang kena bukan “telak”-nya maka tak apa-apa dan bangkit menyerang lagi, disusul oleh srigala-srigala lain di mana mereka ini menggonggong dan menyalak riuh rendah. Gadis ini sebenarnya mengagumkan karena ia sama sekali tak bergeming oleh salak dan riuh gonggongan itu. Yang membuatnya tergetar hanyalah srigala kebal itu, lain tidak.

Dan karena kini srigala itu tak mau membuka mulutnya dan menyerang atau menggigit selalu ke bawah, berarti Su Giok tak dapat menusuk rongga mulut binatang itu maka gadis ini terpaksa berkelebatan ke sana-sini menghindar dan menyerang. Ia dapat merobohkan srigala-srigala biasa tapi bukan srigala coklat itu, gadis ini menjadi gemas, juga gugup. Dan ketika ia menusuk tapi sebutir batu hitam kembali mengenai pergelangannya, bengkak dan salah urat akhirnya gadis itu berteriak dan pedang patahpun terlepas. Su Giok melempar tubuh bergulingan dari serbuan srigala-srigala buas.

“Hm!” Pek-lui-kong si kakek gagah menyala. Ia membantu muridnya melepas pukulan sinar putih dan tiba-tiba sepuluh srigala menjerit kaget. Mereka disengat pukulan Petir dan hawa panas membuat tubuh mereka gosong. Dan ketika kakek itu berseru dan melepas pukulannya lagi ke kiri kanan, muridnya meloncat bangun dan disuruh mempergunakan Pek-lui-ciang maka kakek ini membalik dan bayang-bayang hitam di balik dinding rumah disambar. Sekarang orang atau pemilik srigala itu ada di sana.

“Blarr!”

Kakek ini terguncang dan terhuyung mundur. Ia telah menghantam laki-laki itu dengan tigaperempat bagian tenaganya namun lawan tak apa-apa, bahkan dia yang tertolak mundur, hampir terjengkang! Namun ketika ia berhasil memperbaiki posisi tubuhnya dan berdiri tegak, laki-laki itu berada di depannya maka di bawah cahaya bintang buram kakek ini melihat seorang laki-laki berjubah hitam dengan rambut diikat model ekor kuda.

“Kau siapa!” kakek itu membentak, mengamati wajah orang yang amat aneh, kaku dan tak bergerak. Wajah topeng! “Apa maksudmu mengganggu kami, iblis keji. Dan kenapa kau membawa srigala-srigalamu ke sini!”

“Hm, aku ingin membunuh,” suara itu terdengar dingin dan beku, tak berperasaan. “Murid dan cucu muridmu telah membunuh-bunuhi hewan piaraanku, tua bangka. Bersiaplah untuk mampus dan biarkan gadis itu menghadapi anak-anakku.”

“Kau siapa?”

“Dewa Maut!”

“Sombong, jangan kira aku takut... wut!” dan si kakek yang menyambar dan berkelebat ke depan tiba-tiba menjadi marah mendengar omongan ini. Ia melepas lagi pukulan Pek-lui-ciangnya tapi lawan mendengus. Dan ketika pukulan kakek itu diterima dengan tangan kiri, berdetak dan mengeluarkan suara keras maka kakek itu terlempar dan terbanting.

“Duk!”

Kakek ini kaget bukan main. Pukulan Petirnya membalik dan ia harus bergulingan membuang tenaga tolakannya sendiri. Dadanya sesak dan bukan main pucatnya kakek itu. Dan ketika ia bergulingan meloncat bangun sementara cucunya berkelebatan naik turun menghadapi srigala coklat dan teman-temannya maka kakek itu tergetar dan lawan tertawa di balik topeng karetnya, tawa yang aneh, dingin dan tak berperasaan.

“Bagaimana, orang tua? Kau masih mengandalkan Pek-lui-ciangmu itu? Hm, Petirpun sanggup kuterima, apalagi hanya tanganmu yang kurus dan ringkih!”

Kakek ini mundur. Dia membentak dan menerjang lagi dan jari tangannya menusuk, dielak dan mengejar tapi lawan bergerak ke kanan kiri mengelak semua serangannya itu. Namun ketika si kakek menggerakkan kaki dan melepas tendangan mencuat dari bawah tiba-tiba laki-laki itupun menyambut dan kaki bertemu dengan kaki.

“Duk!”

Tulang kering kakek itu seakan pecah. Jago tua ini berteriak dan terlempar bergulingan, tadi seakan menendang sebongkah beton dan hampir dia menangis. Kaki itu amat hebat! Tapi ketika ia meloncat bangun, terhuyung dan terpincang maka kakek ini mencabut tongkat dan maklum bahwa kaki tangannya tak mampu menghadapi orang aneh ini.

“Bagus, kau boleh cabut senjatamu. Aku akan menghadapi semua pukulanmu tanpa membalas, tua bangka, selama tujuh jurus. Tapi setelah itu hati-hatilah karena aku akan membalas!”

Kakek ini membentak. Ia marah sekali namun juga gelisah. Di sana cucunya melengking-lengking dan rupanya terdesak. Dua srigala kebal itulah yang membuatnya kewalahan dan empat kali Su Giok hampir tergigit. Ia tak bersenjata lagi kecuali mempergunakan kaki tangannya itu, melepas Pek-lui-ciang tapi dua srigala itu melompat bangun lagi, menggeram dan menyerang dan inilah yang membuat repot.

Kalau saja dua binatang itu dapat dipukul roboh tentu yang lain-lain akan takut. Su Giok menjadi ngeri dan bingung juga, gelisah. Tapi karena ia diserang lagi dan kini hanya dengan kaki tangan ia tak dapat merobohkan srigala-srigala itu, yang coklat ini selalu melindungi dan membentengi teman-temannya maka Su Giok menjadi pucat dan ketika ia menghantam dengan Pek-lui-ciangnya binatang itu malah tidak bergeming, rupanya menjadi tahan dan lama-lama semakin kuat.

“Dess!”

Binatang itu menyeringai dan memperlihatkan gigi-giginya yang mengkilap tajam. Gadis ini terhuyung dan mengeluh, lama-lama ia menjadi takut juga. Dan ketika srigala itu melompat dan mengelak, diserbu pula oleh srigala yang lain-lain maka ia keserimpet dan jatuh terjengkang.

“Sukong...!”

Sang kakek terkejut. Kakek ini sudah bergerak menyerang lawan dan tongkat serta pukulan-pukulan di tangan kiri menderu. Ia marah sekali karena lawan berkelit dan mengelak sana-sini, mudah dan berkesan meremehkan dan tentu saja ia tersinggung. Tapi ketika tujuh serangannya luput, lawan benar-benar menepati janji untuk tidak membalas maka ketika cucunya berteriak saat itulah tujuh jurusnya habis. Kakek ini menengok tapi lawan tiba-tiba berkelebat maju, tertawa dan satu pukulan tangan kiri menghantam. Telapak laki-laki itu membuka dan kakek ini terkesiap. Namun karena mengelak sudah tak mungkin dan apa boleh buat dia membentak mengerahkan sinkang maka pukulan itu mendarat dan terlemparlah kakek ini dengan keluhan pendek.

“Dess!” Pek-lui-kong si kakek gagah terjengkang. Kakek itu terdorong dan bagai dihantam martil besar, terlempar dan sesak napas seakan tercekik. Dan ketika sejenak ia bergulingan dan mendekati sang cucu, melompat namun jatuh lagi maka Su Giok pucat melihat keadaan kakek gurunya itu, bergulingan mengelak sana-sini dari tubrukan srigala coklat.

“Kakek, tolong...!”

Kakek ini terbelalak. Sang cucu bergulingan sana-sini diserang puluhan srigala. Yang paling berbahaya adalah dua srigala coklat itu, yang kebal dan tahan bacokan senjata tajam. Tapi karena ia harus bertindak karena cucunya tak dapat meloncat bangun, mulai memberebet baju dan celananya maka kakek ini membentak dan tongkat menyambar dua srigala itu.

“Plak!”

Kakek ini terkejut. Tongkatnya berhenti di tengah jalan karena laki-laki berjubah hitam itu, lawannya, tahu-tahu ada di situ dan menahan tongkat. Tawa aneh terdengar di situ dan tongkatpun tak dapat digerakkan, berhenti setengah jalan. Dan ketika kakek itu terkejut namun lawan tertawa dingin, mendorong dan mengibas maka kakek ini mencelat dan roboh terlempar lagi.

“Tua bangka, lawanmu adalah aku, anak dengan anak. Kalau kau ingin menolong harus melewati aku dulu dan biar cucumu menjadi santapan anak-anakku.”

“Tidak.... ouhh!” kakek itu bergulingan meloncat bangun, sesak napasnya semakin bertambah. “kau boleh bunuh aku, manusia iblis. Tapi jangan cucuku!” dan si kakek yang melepas pukulan jarak jauh, menghantam tapi dikelit akhirnya menjadi bingung karena cucunya masih terus bergulingan di sana, belum dapat melompat bangun. Dan ketika suara bret-bret kembali terdengar dan Su Giok menjerit maka kakek ini menerjang tapi sekali ditangkis dan dielak iapun roboh terpental kembali.

“Des-dess!”

Si kakek gagah pucat. Ia mengeluh dan bergulingan dan Su Giok masih berteriak-teriak di sana. Gadis ini bingung menghadapi kekebalan binatang itu. Tapi ketika ia melihat keadaan kakeknya dan berkali-kali kakeknya tak dapat membantu, ia ingat petunjuk kakeknya tadi maka ketika srigala menerkam iapun memberikan tangannya namun secepat itu ia mencabut tusuk sanggulnya di belakang kepala.

“Mampuslah!” Bentakan dan kemarahan ini menggetarkan tempat itu. Si coklat yang girang dan menubruk sana-sini melihat lawan bergulingan akhirnya lengah. Tangan yang diberikan itu digigit, langsung dibuka dan rongga mulut yang kemerahan tampak. Su Giok berdebar dan girang melihat ini. Ia memberikan lengannya tapi tentu saja mengerahkan sinkang, membuat lengannya keras dan saat itulah tangannya yang lain bergerak, menusuk dengan tusuk rambutnya itu dan secepat kilat langit-langit mulut dicoblos. Ia melihat semacam kepingan besi dan itulah yang dituju, dan begitu tusuk rambutnya mengenai ini tiba-tiba srigala itu meraung dan roboh, kepalanya meledak.

“Dar!”

Asap hitam dan getaran kuat terjadi di situ. Srigala satunya, yang kebal dan teman srigala yang roboh ini tersentak. Ia juga menggigit dan mulutpun di buka lebar. Tapi begitu temannya roboh dan Su Giok tak menyia-nyiakan kesempatan, mencabut dan melontarkan tusuk rambutnya itu pada mulut si binatang tiba-tiba terdengar ledakan lagi dan srigala itupun terjerembab.

“Dar!”

Suara ini mengguncangkan si jubah hitam. Dia yang sedang menghadapi serangan si kakek tiba-tiba mengeluh dan terhuyung. Ledakan atau tepatnya robohnya srigala itu membuatnya kehilangan tenaga. Ada sinar hitam keluar dari tubuhnya dan saat itulah si kakek meloncat bangun. Kakek ini baru saja disambut tangkisan lawan dan terpelanting, roboh bergulingan menyelamatkan tongkatnya yang patah. Akhirnya kakek gagah ini ngeri karena setiap lawan menangkis tentu dia terlempar, jatuh dan bangun lagi dan lawan siap membunuh dengan pandang matanya yang menyeramkan. Tapi ketika terdengar ledakan itu dan cucunya menewaskan srigala kebal, srigala yang sudah diisi ilmu hitam dan kini pemiliknya terhuyung menutupi muka maka saat itulah kakek ini menyambar cucunya melompat bangun. Ledakan dan asap hitam membubung disitu.

“Kita lari, pergi! Pegang tanganku kuat-kuat Su Giok. Jangan layani srigala-srigala itu mumpung pemiliknya limbung!”

“Ah,” si gadis terkejut. “Kenapa lari, sukong. Justeru ini kesempatan bagus. Kita dapat menyerangnya!”

“Tidak, laki-laki itu memiliki perbawa hitam, Su Giok. Ia penuh hawa siluman. Pergi, kita selamatkan diri!”

“Tapi ayah.”

“Kelak kita kembali lagi. Ikut perintahku atau nanti tak ada kesempatan lagi byurr!” dan si kakek membawa cucunya meloncati sungai akhirnya tercebur dan Su Giok berseru tertahan, gelagapan namun kakek itu berenang menarik cucu muridnya. Mereka harus jauh-jauh meninggalkan tempat itu atau nanti tertangkap. Pekik dan lolong srigala menggetarkan jantung. Dan ketika kakek itu tiba di seberang dan meloncat keluar, gemetar dan basah kuyup maka sang cucu dibawa lari dan Su Giok menangis, terseok-seok.

“Percepat langkahmu, jangan menangis. Diam dan kerahkan Siang-eng Gin-kang!”

Gadis itu mengguguk. Akhirnya ia diseret dan mau tak mau dibawa terbang. Kakek itu mengerahkan ilmu lari cepatnya dan bagai seekor garuda menyambar ia meluncur naik turun masuk keluar hutan. Tepian sungai sudah ditinggalkan dan Su Giok tak mendengarkan lagi riuh atau gonggong srigala-srigala itu. Dan ketika kakeknya terbang keselatan dan mereka tak tahu betapa api berkobar dirumah mereka, laki-laki berjubah hitam itu mengamuk dan membakar rumah itu maka Su Tong, murid kakek gagah Pek-lui-kong ini tambus di dalam api.

Malam itu srigala melolong riuh-rendah, bukan di Hutan Iblis melainkan di tempat tinggal murid kakek ini. Dan ketika laki-laki jubah hitam menendang dan melempar-lempar srigala yang tewas, menggeram dan melolong-lolong pula maka orang akan terkejut melihat betapa sambil menggonggong iapun menggigit dan menghajar srigala-srigala yang masih hidup, cerai-berai dan akhirnya srigala-srigala itu lintang-pukang kembali ke Hutan Iblis. Laki-laki ini berkelebat dan mencari kakek dan cucunya itu tapi Pek-lui-kong sudah lenyap.

Tadi ketika Su Giok membunuh dua srigala gaib tiba-tiba lelaki itu bagai disambar petir, tersentak dan menegang dan sebenarnya bagus sekali bagi kakek gagah itu kalau menyerangnya. Ada semacam kelumpuhan sedetik ketika Su Giok membunuh srigala coklat, ledakan yang menyambar kepala laki-laki itu hingga membuatnya terhuyung, kaget. Tapi begitu asap hitam membubung dan dia membuang ludah tiga kali, menggedruk dan pulih maka laki-laki ini kehilangan lawannya sementara srigala kesayangannya itu disambar dan dicucup otaknya.

Selanjutnya laki-laki ini tampak tegar dan kuat lagi. Ia melempar bangkai srigala itu dan suara mirip rintihan terdengar dari kerongkongannya. Suara itu pendek-pendek namun akhirnya lenyap. Bau amis tiba-tiba menguar. Dan ketika ia menyulut obor dan membakar rumah itu maka si jago merah mengamuk dan laki-laki itupun melempar mayat Su Tong ke tengah tumpukan api. Dia mengeluarkan tawa aneh lalu menyalak, persis anjing atau srigala liar. Tapi ketika ia meloncat dan hilang di kegelapan malam maka laki-laki itupun lenyap dan peristiwa aneh tapi menyeramkan ini menjadi bahan pembicaraan ramai di dusun-dusun sekitar.

* * * * * * * *

“Kita berhenti disini!”

Su Giok roboh dan jatuh dipelukan kakeknya. “Kita beristirahat disini, Su Giok. Aku lelah dan ingin memulihkan tenaga dulu. Kau jangan menangis dan hapus air matamu itu.”

“Ayah.....ayah.”

“Aku tahu. Sudahlah, Su Giok. Ayahmu telah tewas dan betapapun tak mungkin kita selamatkan. Aku., aku masih ngeri oleh lawan itu. Dia manusia siluman, iblis!”

“Dan aku akan membalas dendam!” gadis itu mengguguk, mengepal tinju. “Aku akan membunuhnya, sukong. Aku akan mencari dan kelak membalasnya. Aku bersumpah!”

“Hm, kau bukan tandingan. Kita bukan lawannya. Orang itu dipenuhi ilmu hitam dan dia dapat menciptakan srigala-srigala kebal yang tahan bacokan senjata tajam. Sebaiknya kita mencari bantuan. Hm, siapa dia?”

kakek itu berkerut-kerut, ngeri dan gemetar tapi juga marah. Dia gemetar mengusap keringat dan bayangan semalam membuat tengkuk merinding. Dia pernah mendengar sesuatu tentang ini, ilmu jahat amat aneh, yakni Beng-jong-kwi-kang (Tenaga Setan Penembus Roh) yang biasanya dipergunakan untuk menembus dan mempengaruhi roh-roh binatang. Sukma atau jiwa dari binatang itu ditembus dan mereka biasanya dipergunakan untuk maksud-maksud keji, seperti misalnya menyerang orang dari jauh dengan menyuruh hewan atau binatang yang ditembus rohnya ini, diperalat dan tentu saja amat berbahaya karena binatang yang disuruh menyerang manusia ini akan menjadi binatang kesetanan.

Ilmu itu muncul pada jaman dongeng Kera Sakti, di mana waktu itu ada seekor kera jahat yang ingin menguasai manusia dan menaklukan dunia. Kera ini bernama Kera Siluman dan dia amat sakti, turun dari awan kegelapan menyerang manusia. Ingin menundukkan manusia dan menganggap dirinya sebagai cikal bakal manusia dan karena itu manusia harus tunduk. Tapi karena hewan itu tentu saja dianggap pengacau, seorang gagah muncul dan bertanding dengan kera ini maka Jin Sian, manusia turunan dewa ini bertempur dan membela manusia.

Kera Siluman kalah dan melarikan diri. Jin Sian, laki-laki ini ternyata adalah titisan Bu Siang, Dewa Tak Berujud yang menguasai langit bumi. Tapi karena Kera Siluman juga tak dapat dibunuh dan hanya melarikan diri, ia telah ditakdirkan untuk hidup sepanjang jagat maka kera itu membalas kekalahannya dengan berpindah-pindah dari satu binatang ke binatang yang lain, menyerang keluarga laki-laki gagah itu dan juga manusia-manusia lain. Ia tak dapat ditangkap dan sering berganti rupa.

Jin Sian, manusia gagah itu akhirnya marah dan menjebaknya dengan kerangkeng sakti. Gunung dan lembah-lembah hijau akhirnya ditaruh di telapak tangannya dan dijadikan satu. Segala binatang terpaksa berkumpul di sini, karena makanan mereka tak ada ditempat lain. Dan ketika Kera Sakti juga masuk ke sini dan menyelinap di tubuh seekor belalang, ganas menyerang hewan-hewan lain karena tak mau makanan itu dibagi-bagi akhirnya tertangkap dan ekornya dijepit pada dua batu gunung yang mengakibatkan Kera Sakti tak dapat bepergian lagi.

Belalang itu sendiri mati dan Kera Sakti muncul seperti aslinya, dibekuk dan dikerangkeng dalam kurungan sapu lidi yang kuatnya melebihi baja. Kurungan sapu lidi itu bukan sembarang kurungan karena telah diusap dengan kesaktian Jin Sian, liat melebihi baja-baja pilihan dan tak dapat patah. Ekor Kera Siluman dijepit batu gunung sementara tubuhnya di dalam kerangkeng itu, seumur hidup kera ini tak dapat keluar.

Dan karena cerita ini lebih mirip dongeng daripada sesungguhnya maka Pek-lui-kong si kakek gagah terkejut dan tertegun melihat ilmu semacam itu dimiliki pemilik Hutan Iblis. Yang dipergunakan adalah hewan-hewan srigala dan kemarin ketika dia menolong muridnya secara kebetulan dia melihat besi pipih di rongga mulut atas binatang itu. Kakek ini terkejut dan seketika tahu bahwa itulah pengapesan binatang itu, dicoba dan ternyata benar dan tentu saja dia girang. Tapi ketika pemilik Hutan Iblis mencipta srigala-srigala kebal lain, tadi cucunya bertarung dan jatuh bangun berjuang mati hidup maka kakek ini ngeri dan amat gelisah.

Menghancurkan gerombolan srigala itu adalah sia-sia selama pemiliknya masih ada. Satu-satunya jalan untuk melenyapkan semua itu adalah membasmi si jubah hitam, manusia berkedok karet itu. Tapi teringat betapa hebatnya laki-laki itu, Pek-lui-ciangnya mental dan setiap dipukul tentu membalik maka kakek ini gemetar dan terbelalak.

Siapa sanggup menghadapi pemilik Hutan Iblis itu? Dia tak kuat, jujur saja. Dia akan celaka kalau sampai bertemu lagi. Tapi karena murid dan murid-menantunya binasa, tentu saja dia tak akan membiarkan ini maka kakek itu teringat tiga orang gagah di dunia ini. Pertama adalah Pek-jit-kiam Ju-taihiap, jago pedang amat hebat ketua Hek-yan-pang. Seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh lima tahun yang dulu bertanding hebat dengan mendiang Si Golok Maut. Lalu puteranya yang amat gagah dan juga luar biasa, Han Han pemuda murid Im Yang Cinjin yang dapat merobah laut menjadi es. Dahsyat dengan ilmunya Im-yang-sin-kun yang dapat menjungkirbalikkan dunia.

Sedangkan ketiga.... hm, siapa lagi kalau bukan Si Naga Pembunuh Giam Liong? Pemuda ini adalah putera mendiang Si Golok Maut Sin Hauw, gagah dengan ilmu-ilmunya yang hebat dan dari itu dua pemuda ini konon tak ada yang kalah atau menang. Pemuda itu memiliki ilmu-ilmu dahsyat warisan mendiang ayahnya, digabung dengan warisan ayah angkatnya dan terciptalah ilmu-ilmu aneh macam Pek-poh-sin-kun (Silat Sakti Seratus Langkah). Lalu Im-kan-to-hoatnya atau Silat Golok Maut yang kehebatannya amat mengerikan, juga Nui-kang atau Ilmu Mati Semu. Gara-gara ilmu inilah mendiang Kedok Hitam terkecoh, menyangka lawannya itu tewas padahal tidak. Dan ketika kakek itu menarik napas dalam-dalam membandingkan orang-orang gagah itu, diri sendiri terasa tidak berarti dan berguna maka ke situlah sebenarnya dia hendak menuju.

Cucu muridnya, Su Giok, sungguh menyedihkan nasibnya. Hari itu sebenarnya adalah hari ulang tahun kelimabelas bagi cucu muridnya ini dan karena itulah dia menyuruh dua muridnya laki-laki, Keng Han dan Su Tong datang menyambut. Dia sudah berjanji untuk berkumpul di rumah ayah gadis ini dan minta agar dua keluarga itu bertemu. Su Tong mengundang kakak seperguruannya tapi Bhi Pui yang mendengar tentang keganasan Hutan Iblis membelokkan perjalanannya. Wanita itu ke sana dan suamipun terpaksa mengikuti. Akibatnya wanita itu tewas sementara suaminya luka-luka.

Dan ketika mereka datang di tempat adik seperguruan tapi Bhi Li akhirnya mengamuk di Hutan Iblis maka sute dan suheng terpaksa turun tangan membantu, kalah dan akibatnya terlihat didepan. Keng Han akhirnya tewas sementara Su Tong jatuh bangun. Dan di saat pria gagah itu di ambang pintu kematian maka datanglah kakek ini dan tentu saja mereka terkejut dan Su Giok yang melihat kematian ibunya mengamuk dan menghajar binatang-binatang itu.

Tapi pemilik Hutan Iblis campur tangan. Laki-laki berjubah dan berkedok karet itu bukan lawan mereka. Mereka terpaksa melarikan diri tapi dikejar. Dan teringat betapa ratusan srigala tahu-tahu sudah mengepung rumah mereka, kakek ini bergidik maka isak tangis cucunya menyadarkannya. Lamunannya buyar.

“Sukong, hendak mancari siapa?”

“Satu di antara tiga orang gagah. Aku hendak ke Hek-yan-pang.”

“Hek-yan-pang? Tempat Si Naga Pembunuh?”

“Tidak, Hek-yan-pang sudah tidak menjadi tempat tinggal laki-laki ini, Su Giok. Si Naga Pembunuh tidak berada di Hek-yan-pang. Yang ada adalah ketuanya dan puteranya yang gagah perkasa.”

“Tapi Si Naga Pembunuh itu adalah anak angkat ketua Hek-yan-pang.”

“Benar, tapi sejak anak kandungnya sendiri ditemukan maka pemuda itu tak mau berkumpul dengan ayah angkatnya lagi dan hidup merantau. Yang ada di sana adalah jago pedang Pek-jit-kiam Ju Beng Tan dan puteranya, Han Han!”

“Dan sukong akan ke sini? Meminta bantuan dua orang itu?”

“Benar, Su Giok, tapi kupikir tak mungkin kedua-duanya, Mungkin hanya puteranya atau sang ayah, salah satu. Atau kalau di tengah jalan kita bersua Si Naga Pembunuh Giam Liong tentu kita minta bantuannya dan pemuda inipun cukup hebat untuk menghadapi pemilik Hutan Iblis!”

“Sukong pernah bertemu?”

“Dengan siapa?”

“Ketiga-tiganya itu, apakah sukong pernah bertemu!”

“Hm, belum. Yang pernah kujumpai adalah Ju-taihiap itu, Si Pedang Matahari yang luar biasa. Sedangkan anak-anak muda itu, ah... aku sama sekali belum pernah bertemu.”

“Tapi sukong mengetahui kepandaian mereka!”

“Hm, ini kata orang, Su Giok, tapi aku percaya. Si jago pedang, Ju-taihiap itu amat lihai dan hebat ilmu pedangnya. Dulu hanya mendiang Si Golok Maut yang mampu menandingi. Dan putera-putera mereka, ah, siapa meragukan lagi? Keturunan jago-jago tanpa tanding itu hebat semua, Su Giok. Entah siapa yang lebih hebat antara Si Naga Pembunuh itu dan Han Han. Dua pemuda itu sama-sama berkepandaian tinggi!”

“Dan sukong baru mendengar nama dan sepak terjang mereka saja.”

“Benar, karena peristiwa kota raja sudah didengar orang di seluruh jagad. Hm, aku selama ini memang tak pernah turun gunung lagi setelah ayah ibumu menikah. Dulu, ketika mereka belum menikahpun aku jarang keluar. Aku malas dan enggan berhubungan dengan orang-orang kang-ouw. Mereka biasanya selalu menciptakan keributan. Dan aku, si tua bangka ini apakah harus ikut-ikutan dan berbaur dengan mereka? Tidak, aku ingin menikmati masa tuaku, Su Giok. Aku ingin ketenangan. Itulah sebabnya ayah ibumupun kusuruh tinggal tenang di tempat mereka, tak usah masuk ke dunia kang-ouw. Tapi bibimu Bhi Pui rupanya melanggar dan ibumupun terseret. Hm, dunia sungguh jahat, penuh kekacauan!”

Gadis ini terbelalak. “Sukong menyalahkan mereka?”

“Benar, Su Giok. Kalau tidak begitu tak mungkin terjadi semuanya ini. Lihat ayah dan ibumu terbunuh. Bukankah terbukti kata-kataku bahwa masuk ke dunia kang-ouw hanya pertikaian dan bunuh-membunuh belaka yang ada!”

Tapak Tangan Hantu Jilid 03

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 03
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
TAPI rupanya terlambat. Bhi Li, wanita cantik itu sudah gila menghadapi ratusan srigala di Hutan Iblis. Gonggong dan raung srigala-srigala itu membuat Keng Han pucat dan melepaskan diri dari lengan sutenya, berkata agar sutenya lari lebih dulu dan biarlah dia di belakang. Gonggong dan raung itu sudah dikenal benar oleh laki-laki gagah ini. Mereka masih dua tiga li lagi dari Hutan Iblis itu namun lengking dan jerit di depan terdengar jelas. Itulah suara Bhi Li bercampur dengan gonggong dan raung srigala, riuh dan menggetarkan hutan dan sang sute pucat membelalakan mata. Jerit isterinya memang terdengar. Dan ketika apa boleh buat dia mendahului suhengnya dan berkelebat meminta maaf, jerit dan pekik isterinya di sana sungguh menggetarkan hati maka laki-laki ini melesat dan mengerahkan semua ilmu lari cepatnya untuk tiba di hutan. Dan begitu tiba diapun melotot.

Isterinya, Bhi Li, jatuh bangun menghadapi ratusan srigala sambil berteriak-teriak. Pakaiannya robek-robek sementara pedang di tangan sudah patah-patah digigit anjing-anjing itu, luka dan gigitan atau cakaran binatang-binatang itu membuat isterinya histeris dan menjerit-jerit. Hutan tergetar oleh riuh atau gonggong srigala dan akhirnya isterinya roboh oleh terkaman seekor di antaranya yang paling besar, hitam bergaris putih dan rupanya inilah srigala yang amat hebat itu. Lima belas menit terlambat ternyata sudah membuat isterinya dalam keadaan bahaya. Dan ketika isterinya terjatuh sementara gigi putih mengkilap itu terbuka menggigit leher Bhi Li, srigala hitam itu menerkam dan amat buas maka laki-laki ini tak dapat menahan diri dan melompat dengan amat kuatnya menghantam srigala jantan itu.

“Bhi Li, aku datang dess!”

Srigala dan wanita itu sama-sama terlempar. Gigitan sudah mengenai leher wanita itu tapi pukulan juga menghantam tengkuk binatang ini. Melihat dahsyatnya tentu leher binatang itu remuk, paling tidak patah. Tapi ketika binatang itu terguling-guling dan melompat bangun lagi, menggeram maka laki-laki ini tertegun tapi dia cepat menyambar isterinya dan menolong. Sang isteri luka-luka dan robek-robek.

“Su-ko..!”

Dua orang itu berpelukan. Bhi Li, wanita ini sudah menangis tersedu-sedu dirangkul suaminya. Ia lelah dan roboh disamping ngeri. Tadi ia datang dan satu dua srigala mula-mula keluar, dihajar tapi kemudian yang lain-lain berdatangan. Ia memekik-mekik di mulut hutan itu dan inilah yang membuat srigala keluar, satu demi satu sampai akhirnya puluhan, cepat sekali. Dan ketika ia dikeroyok namun membacok dan menusuk, srigala sudah menjadi ratusan maka geram atau munculnya srigala pemimpin membuat wanita itu tersentak karena apa yang didengar ternyata betul.

Hadirnya srigala ini merobah segala-galanya. Tadi dia enak membabat dan merobohkan lawan-lawannya tapi begitu berhadapan dengan srigala hitam berpunggung putih ini ia terkejut. Pedangnya tak mampu melukai binatang itu dan setiap dibacok tentu mental. Ia berkelebatan namun binatang itu melompat-lompat, ringan dan cepat dan gerak kakinya seperti orang bersilat, mampu membayangi kemanapun ia pergi. Dan karena di situ banyak srigala-srigala lain yang menunggu dan mencari kesempatan maka ia mulai tergigit dan mula-mula ujung celananya yang robek, disusul kemudian oleh terkaman srigala hitam itu yang menggigit ujung bajunya. Ia mengelak dan membacok namun srigala itu tak bergeming sama sekali, menggereng dan memperlihatkan taringnya dan empat bacokan mental semua, ia pucat.

Dan ketika ia melengking-lengking namun kini di semua penjuru sudah penuh dengan srigala-srigala buas, yang melolong dan riuh-rendah maka iapun menjadi bising sekaligus bingung tak dapat keluar. Lawan amat banyak sementara ia sendirian saja. Dan ketika srigala hitam menubruk dan kali itu ia tak mungkin mengelak, membacok dan menyambut gigi srigala itu dengan pedangnya maka srigala ini menggigit dan mulut yang bertemu pedang mengatup dengan amat cepatnya dan pedangnya dirampas!

Dan terdengarlah suara peletak ketika pedangnya patah. Wanita ini terkejut dan lawan-lawan yang lain menyalak dengan amat riuhnya, menubruk dan maju berbareng seolah girang melihat wanita itu tak bersenjata dan robeklah kulitnya oleh cakar dan gigitan srigala-srigala itu. Ia mulai terluka. Rasa takut mulai datang! Dan ketika ia menyesal kenapa sendirian ke tempat itu, tak menunggu suaminya maka ia menjadi bulan-bulanan gigitan binatang dan hanya kaki tangannya yang dapat dipakai untuk membela diri. Dan ini membuat luka-lukanya semakin bertambah.

Bhi Li benar-benar kalut dan darah membasahi tubuhnya, memekik dan melengking-lengking namun ia sudah tak mungkin keluar. Musuh amatlah banyak dan ia di tengah-tengah, tentu saja menjadi korban empuk namun saat itu suaminya datang, membentak dan menendang srigala-srigala yang lain sementara srigala hitam dipukul tengkuknya, roboh terguling-guling. Dan ketika lawan terkejut dan mundur sejenak, menyalak dan melolong-lolong lagi maka pria ini gelisah melihat keadaan isterinya.

“Kau terluka, terlalu banyak darah mengalir. Pegang tanganku dan kita melayang di atas pohon itu!”

Su Tong, laki-laki ini, tak mau membuang tempo. Srigala hitam menyerang lagi dan srigala yang lain maju menerjang, ikut kalau pemimpinnya masih tegar. Tapi karena isterinya roboh di pelukannya dan tak mungkin dia melayani srigala-srigala itu, yang penting adalah menyelamatkan isterinya maka laki-laki ini menjejakkan kaki dan sekali mengayun tubuh diapun sudah terbang ke pohon paling dekat dan menyambar dahannya.

Namun celaka, dahan itu patah. Tak kuat menahan dua beban sekaligus dahan itupun berkeretak, patah dan tentu saja dua orang ini terpelanting ke bawah. Tapi ketika laki-laki itu berseru keras dan sang isteri di lempar ke dahan yang lebih tinggi, dia sendiri meluncur turun dan terpaksa menghadapi srigala-srigala di bawah maka dia membentak dan kakinya diputar empat kali ke segala penjuru.

“Des-des-dess!”

Srigala hitam dan teman-temannya terlempar. Mereka mencelat oleh sapuan ini dan laki-laki itu menyambar dahan yang patah, bergerak dan selanjutnya sudah menerjang sekelompok srigala itu dengan amat marahnya. Dia menghajar mereka dengan dahan kayu ini, bak-bik-buk dan seketika srigala-srigala itu tunggang-langgang. Tapi karena pemimpinnya bangkit berdiri dan melolong dengan mulut dibuka lebar-lebar, aba-aba bagi yang lain untuk maju dan tetap menyerang maka srigala itu meloncat dan menubruk laki-laki ini.

Sang isteri mengeluh di atas dan menjerit, laki-laki itu membalik dan menghantam srigala ini dengan dahan kayu itu. Dan ketika binatang itu terlempar namun bangun lagi, menggeram dan menerjang seperti tadi maka laki-laki ini terbelalak dan diapun sudah dikeroyok oleh ratusan srigala itu, berkelebat dan berlompatan namun srigala hitam paling berbahaya. Tujuh kali digebuk tujuh kali itu pula dapat melompat bangun. Dan ketika dia terbelalak sementara isterinya menonton dan merintih maka suhengnya datang dan dua laki-laki yang beringas dan marah ini menghajar binatang-binatang itu sementara sang suheng mempergunakan pedangnya. Pria gagah ini sudah bertanya di aman Bhi Li.

“Ia di atas, luka-luka. Aku menyelamatkan, suheng. Hati-hati dan awas dengan si hitam itu. Ia kebal!”

“Hm, di atas?” laki-laki ini mendongak. “Bagus, jaga dirimu, Li-moi. Aku akan membalas sakit hatiku dan membasmi binatang-binatang ini...crat!” pedang mengenai seekor srigala, tembus dan disusul tusukan ke kanan kiri di mana tiga ekor srigala lagi roboh. Keng Han dan sutenya sudah bergerak menghajar binatang-binatang itu. Tapi ketika tiba-tiba terdengar jerit Bhi Li dan dahan yang diduduki patah, aneh sekali, maka wanita itu terpelanting dan sang suami kaget untuk kedua kali.

“Su-ko, tolong...!”

Jerit ini membuat laki-laki itu menoleh. Mereka masih di tengah-tengah keroyokan srigala dan jatuh di tempat itu amatlah berbahaya. Bukan karena sekedar patah tulang melainkan serbuan hewan-hewan ganas itu. Dan ketika saja isterinya berdebuk dan para srigala menggonggong, lari dan membalik menyerang isterinya maka pria ini membentak dan dahan di tangannya disapukan amat kuat menghantam anjing-anjing liar itu.

“Bresss!”

Namun sang isteri roboh pingsan. Jatuh dan kaget disambut lawan-lawan buas membuat Su-hujin itu pucat. Ia sudah luka-luka dan keadaannya lemah sekali. Maka terbanting dan jatuh di tanah iapun tak kuat lagi dan pingsan, disambar sang suami dan kini memondong isterinya dengan satu tangan laki-laki itu menghadapi duaratus srigala. Yang lain menyerang suhengnya dan si hitam melompat lagi, ditampar tapi bangun lagi. Dan ketika di sana suhengnya mengamuk dan menghajar binatang-binatang itu maka sebutir batu hitam menyambar dari kiri dan tak, laki-laki itu terkejut dan pedangnya terlepas.

“Heii..!” Pria gagah ini menoleh. Dia melihat asal batu hitam menyambar dan mata setan itu dilihatnya, sedetik saja karena mata itupun menghilang lagi dan kawanan srigala menubruknya. Dan ketika dia terkejut dan hendak mengambil pedang, terbelalak karena pedangnya patah maka sebelas srigala menggigitnya dari kiri kanan dan laki-laki itu berteriak. Teriakan ini mengejutkan sutenya dan sang suheng bergulingan melepaskan diri, mencengkeram dan menghantam binatang-binatang itu dan lima di antaranya roboh. Tapi karena enam yang lain masih melekat dan ini berbahaya, sang sute terkejut dan membentak ke sini maka dia mengayunkan dahan kayunya dan srigala-srigala itu pecah kepalanya. Senjata di tangan langsung diberikan kepada sang suheng, diri sendiri mencabut pedang.

“Suheng, jangan lepaskan pedangmu. Kenapa dibuang!”

“Ah, siapa yang membuang,” sang suheng bergulingan meloncat bangun, pundak dan punggungnya berdarah, pakaianpun robek. “Aku diserang seseorang itu, sute. Si Mata Iblis. Dia datang dan menggangguku!”

“Ah, dia? Mana?”

“Tadi disebelah kiri, sekarang lenyap. Terima kasih dan awas lawanmu si hitam itu lagi... rrtt!” baju laki-laki itu robek, terkuak disambar srigala hitam dan laki-laki ini marah sekali. Dia memondong isterinya dan sekarang melindungi suhengnya pula. Kalau saja suhengnya sehat tentu tidak seberapa, tapi karena suhengnya baru sembuh dan belum pulih betul, ini yang berbahaya maka dia terkejut dan berpikir bagaimana baiknya, diserang dan mengelak sana-sini dan sekarang sepak terjangnya menjadi ganas.

Di tangannya terdapat sebuah pedang dan dengan pedang itulah dia menyambut dan menusuk lawan-lawannya. Satu demi satu roboh dan tak kurang tujuhpuluh srigala dibantai. Ini sudah cukup banyak! Tapi ketika dia terbelalak dan mencari sana-sini si Mata Setan itu, orang atau mahluk penghuni Hutan Iblis maka si hitam meraung dan membalik serta kembali menggigitnya. Dan laki-laki ini tiba-tiba marah. Dia merunduk dan menyelamatkan wajah dan mulut si buas ditikam.

Tapi ketika si hitam menangkis dan baru kali itu dia melihat gerakan ini, pedangnya melenceng maka cakar si hitam mengenai perutnya dan.... bret, bajunyapun robek. Cakar dari kaki bawah binatang itu hampir saja mengenai kulit perutnya. Dia terkejut, tapi juga gusar. Dan ketika dia membentak dan membalik mengejar lawannya ini, si hitam merunduk dan ganti berkelit maka hewan luar biasa ini sudah meloncat dan menerkamnya lagi, kawan-kawannya yang lain membantu.

“Keparat, srigala ini binatang siluman, suheng. Kalau aku tak membawa isteriku ingin rasanya aku memukul dengan Pek-lui-ciang (Tangan Petir)!”

“Tak akan mempan,” sang suheng berseru. “Srigala itu kebal secara gaib, sute. Agaknya dia diisi seseorang dengan ilmu hitam. Agaknya paling baik adalah menangkap atau menjeratnya!”

“Benar, dia pemimpin di sini. Tapi bagaimanakah caranya. Aku tak membawa tali!”

“Aku juga tidak. Tapi bajuku ini dapat kulepas, sute. Kau dekatlah ke sini dan kita bahu-membahu. Atau... augh!” sang suheng berteriak dan menghentikan kata-katanya. Sebutir batu hitam kembali menyambar dan dahan di tangannya kembali terlepas. Ibu jarinya dihantam dan kagetlah laki-laki itu oleh serangan gelap. Dan ketika sang sute terkejut dan menoleh maka para srigala melompat dan menerkam laki-laki itu, yang terhuyung dan melotot kekanan.

“Suheng, awas..!”

Sang suheng sadar. Dia mengelak namun tubrukan dari belakang tak dapat dikelit, mengaduh dan sang sute pun membentak dengan amat marah, melejit dan menusuk tiga srigala di punggung suhengnya itu. Tapi ketika si hitam mengejar dan melompat pula, menggigit dan menggeram maka laki-laki ini kaget karena lengan kanannya tak dapat dilepaskan. Pergelangan dan gagang pedang di cekam kuat-kuat.

“Augh!” laki-laki itu marah dan menendang.

Si hitam terangkat tapi mulutnya tetap menggigit, terayun dan menyalaklah srigala-srigala lain menyerang membantu si hitam. Dan karena gigitan itu amat kuat dan menyakitkan, laki-laki ini sudah mengerahkan sinkang namun terasa ngilu juga maka serbuan dari kanan kiri tak dapat dihindarkannya.

“Bret-brett!”

Baju dan celananya robek-robek. Si hitam menempel tak mau lepas dan apa boleh buat pria ini melepaskan isterinya dan menghantam binatang itu dengan tangan kiri. Pek-lui-ciang menyambar dan terdengarlah suara berdetak ketika pukulan mengenai kepala anjing liar itu. Tapi ketika srigala itu mencelat dan terlempar roboh, otomatis gigitannya lepas maka sang isteri menjadi rebutan srigala-srigala itu dan diseret atau dibawa lari.

“Bedebah!” laki-laki ini marah dan membalik. Dia tak dapat menahan diri lagi melihat semuanya itu, meloncat dan sekali tangannya diayun enam srigala pecah kepalanya, menguik. Tapi ketika dia mengamuk dan menyambar isterinya ternyata suhengnya berteriak dan mengeluh di sana, jatuh bangun dan laki-laki ini menjadi pucat karena sang suheng tak bersenjata lagi. Keadaan berbahaya, mereka rupanya harus mundur. Maka membentak dan berkelebat ke kiri ia membacok sembilan srigala dan berseru kepada suhengnya,

“Suheng, kita pergi. Kau dan isteriku luka-luka. Keluarlah dari kepungan dan biar kubuka jalan darah!”

Sang suheng mengangguk. Dalam keadaan seperti itu memang tak ada jalan lain kecuali pergi. Mereka menghadapi ratusan srigala sementara dua di antara mereka luka-luka. Dia kehilangan senjatanya setelah tadi sebutir batu hitam kembali menyambar. Benturan ditelapak tanggannya tadi terasa pedas dan sakit, pedang maupun dahan kayunya terlepas dan iapun sudah dikeroyok srigala-srigala jahanam itu. Maka ketika sutenya membuka jalan darah dan berseru agar mereka pergi, tak mungkin kuat bertahan lama pria inipun mengangguk dan setuju.

Sembilan ekor srigala telah roboh dibabat tapi ketika dia meloncat keluar mendadak mata iblis itu datang lagi, muncul di belakang sutenya dan ketika ia tertegun tiba-tiba sinar hijau menyambar. Ia berteriak dan mata setan itupun menghilang. Sang sute menoleh dan melihat apa yang dituding. Dan ketika sutenya membabat ternyata sehelai daun muda menghantam pedang sutenya itu.

“Crat!”

Daun itu menempel dan lekat di mata pedang. Tidak putus melainkan menancap dan bagaikan sepasang jepitan baja, sang sute tergetar dan terhuyung dua tindak. Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga lontaran itu. Dan ketika dua laki-laki itu terkejut dan tertegun membelalakkan mata maka srigala hitam menubruk dan menerkam laki-laki ini.

“Awas..!”

Sang sute sadar. Dia membalik dan menyambut terkaman ini dengan sabetan kuat, terpental tapi hewan itupun berdebuk dan gagal menyerang lawannya. Dan ketika dia meloncat bangun dan menyerang lagi, mengaum dengan amat dahsyat sementara kawan-kawannya menubruk dan menerjang mereka maka dua laki-laki gagah ini menjadi kewalahan dan terkepung lagi, tak dapat keluar.

“Keparat!” laki-laki itu membentak. “Kau harus cepat keluar dari sini, suheng, jangan perhatikan yang lain-lain. Ayo, keluar dan kubuat jalan darah lagi crat-crat!” pedang membacok dan menusuk tujuh srigala di kiri kanan, roboh dan selanjutnya diputar lagi membuka kepungan. Para srigala itu mundur sejenak dan ini kesempatan mereka. Tapi ketika sang suheng meloncat dan keluar dari kepungan ternyata menyambar lagi sinar hijau itu ke arah sang sute.

“Sute, awas!”

Laki-laki ini bergerak. Dia membalik dan untuk kedua kalinya melihat serangan gelap itu. Sang suheng tak jadi lari dan berhenti di situ. Dan ketika dia membacok dan berteriak keras, maklum bahwa serangan inipun tentu hebat maka daun itu terpental tapi menyambar isterinya.

“Crep!”

Kejadian itu demikian cepatnya. Laki-laki ini terkejut karena sang isteri yang masih berada di pondongan tentu saja tak dapat mengelak. Isterinya pingsan dan dialah yang berjuang keras menyelamatkan isterinya ini. Maka begitu daun terpental dan menancap di tengkuk, amblas setengahnya maka sang isteri menggeliat dan roboh tewas seketika itu juga, tak bergerak-gerak lagi.

“Jahanam!” laki-laki itu melengking dan menjadi buas. “Kubunuh kau, Mata Iblis. Kubunuh kau dan anak-anak buahmu ini. Keluarlah!” dan bentakan serta seruan dahsyat yang menggetarkan hutan itu sudah disusul oleh loncatannya dan tikamannya ke gerombolan srigala.

Sang suheng terkejut karena sang sute kini justeru menyerbu ke dalam. Tadi barisan srigala sudah dibuat mundur tapi kini sutenya itu mengamuk dan menerjang, pedang berkelebatan memburu binatang-binatang itu dan tigabelas terbacok kepalanya, putus dan mengamuklah sutenya itu membabat srigala-srigala yang lain. Dan karena tentu saja tak mungkin dia pergi kalau sutenya mengamuk di situ, menyerbu dan menyikat binatang-binatang itu maka apa boleh buat Keng Han, laki-laki ini, masuk dan membantu sutenya menghajar binatang-binatang itu, tak jadi keluar.

“Sute kau terpancing. Kita akan terkepung lagi!”

“Biarlah, aku ingin membalaskan sakit hati isteriku, suheng. Aku ingin bertemu si Mata Iblis. Kau pergilah dan biarkan aku sendiri!”

“Tidak. Kau gila, sute? Kalau kau di sini akupun juga akan di sini. Baik, mari kita robohkan mereka dan biar kugunakan batu-batu ini menghajar mereka!” Keng Han menendang dan menyambit binatang-binatang itu dengan batu apa saja, menghantam kepala srigala-srigala itu dan hasilnya boleh juga. Belasan srigala roboh dan pecah kepalanya. Ternyata laki-laki ini masih gagah juga. Tapi ketika srigala hitam menubruk dan menggeram kepadanya, disambit tapi tak apa-apa maka dia terjengkang ditubruk dan diterkam.

“Augh!”

Suara itu membuat sang sute menoleh. Suhengnya terjatuh dan pucat menahan gigitan si hitam. Srigala amat besar itu membuka mulut lebar-lebar dan menggerakkan kepalanya ke kiri kanan untuk menggigit dengan buas. Mereka bergulingan dan masing-masing menyerang dan bertahan. Dan ketika suhengnya tak mampu mempertahankan diri, srigala lain berdatangan dan meloncat untuk menubruk pula maka jeritan tinggi terdengar ketika leher suhengnya itu tergigit, amat kuatnya.

“Bret!”

Sang suheng sudah menghantam dan memukul kepala binatang ini. Si hitam tak bergeming dan ditendang tapi terangkat sedikit saja, turun dan memperkuat gigitannya sementara teman-temannya ramai menggonggong menggigit sana-sini pula. Dan ketika suhengnya menggeliat dan tak kuasa menghadapi sekian banyak srigala, pria itu kehabisan tenaga maka daging pundaknya tercabut dan darah segar menyemprot.

“Suheng!”

Bentakan itu disusul loncatan jauh dari laki-laki ini. Gumpalan daging tercabut lagi dan suhengnya roboh menjadi korban, digigit dan dicabik-cabik dan si hitam sudah mengerat leher suhengnya hampir putus. Taring dari srigala hitam itu amat kautnya hingga sang suheng terkulai lemas, roboh dan rupanya tewas oleh gigitan sekian banyak srigala. Dan ketika laki-laki itu memekik dan mengayun pedangnya, si hitam terlempar sementara yang lain-lain roboh dan putus menjadi dua maka laki-laki itu terbelalak karena tubuh suhengnya sudah tidak keruan, perut dan daging serta kulitnya berlubang-lubang, persis bangkai membusuk yang digerogoti harimau-harimau lapar.

Tentu saja dia menjadi marah dan dendam serta sedih. Maka ketika pekikan kembali terdengar dan laki-laki itu meloncat dan mengamuk lagi, menjadi gila maka semua srigala ditusuk dan ditikam. Setiap pedang berkelebat tentu dua atau tiga srigala roboh. Hanya srigala hitam yang kebal dan kuat itu yang mampu bertahan, bangkit dan menyerang lagi dan hewan ini tak kenal takut. Diapun mengeram-geram melihat kawan-kawanya dibantai. Dan karena memang hanya srigala inilah yang tak dapat dirobohkan, kuat dan kebal terhadap bacokan senjata tajam maka terhadap binatang yang satu ini laki-laki itu tak dapat berbuat banyak, menusuk dan menikam sampai akhirnya pedangnya patah.

Seratus srigala telah menjadi bangkai dan mayat mereka yang bertumpuk-tumpuk disusul bau anyir darah yang amis. Tenaga laki-laki itu mulai habis. Akhirnya diapun mulai menjadi lelah, terhuyung dan roboh sementara isterinya juga terlepas dari pegangan. Rasa letih yang sangat membuat laki-laki itu gemetar. Tapi ketika srigala hitam mengaum dan melompat, lolongnya mengetarkan hutan maka saat itulah berkelebat dua bayangan lain di mana mulut si hitam yang terbuka lebar disambar benda putih berkilau yang tepat sekali menghantam langit-langit rongga mulutnya, mengenai sebiji besi pipih yang menempel di telak binatang itu.

“Dar!”

Si hitam tersentak dan roboh. Kepalanya pecah dan binatang yang kebal itu tiba-tiba ambruk. Hal ini mengejutkan dan laki-laki itu terbelalak. Tapi begitu dua orang berkelebat di dekatnya dan seorang kakek gagah bersama seorang gadis berusia limabelasan tahun berdiri di situ, laki-laki ini tertegun dan gadis itu menjerit maka ia menubruk dan langsung mengguguk di dada laki-laki ini.

“Ayah...!”

“Suhu...”

Dua seruan hampir berbareng keluar dari dua mulut. Laki-laki itu terkejut memandang kakek gagah di depannya sementara gadis cantik itu menubruk dan memanggil namanya. Inilah Pek-lui-kong dan cucu muridnya, Su Giok, puteri dari laki-laki gagah itu bersama isterinya yang tewas. Tapi begitu ayah dan anak bertangisan sementara kakek itu bersinar dan merobohkan si hitam mendadak terdengar gelegar dahsyat dan sisa-sisa srigala melompat, berhamburan.

“Awas...!” kakek itu membalik dan menampar tujuh sinar hitam. Dari dalam hutan terdengar raung atau lolong menyayat. Gelegar dahsyat itu disusul oleh dentuman memekakkan yang membuat hutan dan isinya seakan roboh. Pohon-pohon berderak dan tiga di antaranya tumbang. Dan ketika asap hitam mengebul dan hutan seisinya guncang, saat itulah menyambar tujuh sinar hitam itu maka si kakek yang menangkis dan menampar tiba-tiba terpelanting dan berseru keras.

“Tak-tak-tak!”

Tujuh batu sebesar kepalan diruntuhkan. Kakek itu melempar tubuh karena kaget dan berubah. Tujuh batu yang ditamparnya itu tidak pecah, melainkan mental dan menyambar tubuhnya lagi. Dan karena hanya dengan melempar tubuh saja dia akan selamat maka kakek itu meloncat bangun tapi dua di antara tiga pohon yang tumbang menimpa murid dan cucu muridnya.

“Su Giok, awas!”

Gadis itu menengok. Dia masih menangisi keadaan ayah dan ibunya ini, terutama ibunya yang telah menjadi mayat dan kaku di situ. Tapi begitu kakek itu berteriak dan pohon yang menimpanya berkerasak dengan amat dahsyat maka dia meloncat dan plak, pohon itu diterimanya dengan tangan kiri, kedua kaki sudah tegak memasang kuda-kuda dan pohon yang satu lagi diterima dengan tangannya yang lain, ditahan lalu dilontarkan ke kiri dan berdebumlah pohon-pohon itu dengan amat kuatnya. Dan ketika ia meloncat dan membersihkan pakaiannya, mengebut dan menyelamatkan kedua orang tuanya maka Su Tong, laki-laki itu, terbelalak dan kagum.

Namun tak banyak kesempatan bagi mereka untuk berdiam dan berbicara. Sinar-sinar hitam kembali menyambar dan kakek gagah itu menangkis dan mengebutkan lengannya berulang-ulang. Debu kian tebal dan asap hitampun kian pekat. Raung atau lolong di dalam hutan itu kian mendirikan bulu roma. Dan karena kakek ini selalu terdorong dan mundur terhuyung-huyung, sinar-sinar hitam yang berhamburan tak dapat ditahannya dengan kuat akhirnya ia berteriak dan menyambar muridnya.

“Su Giok, bawa mayat ibumu. Biar aku membawa ayahmu!” dan berjungkir balik menjauhkan diri dari sinar-sinar hitam kakek itu pergi dan berkelebat meninggalkan Hutan Iblis. Suara bergemuruh dan suara-suara lain terdengar seolah kiamat. Pohon-pohon berjatuhan dan menimpa lagi. Dan karena hutan menjadi gelap-gulita sementara mereka harus menyelamatkan dua orang di situ, Su Tong dan mayat Bhi Li maka kakek ini terbang dan Su Giok menangis menyambar mayat ibunya. Belasan sinar hitam sudah ditangkis tapi kakek gagah itu selalu terpental, tanda betapa hebatnya orang di dalam hutan itu.

Dan ketika Su Giok meluncur dan mengikuti kakek gurunya maka raung atau lolong di dalam hutan itu melemah sampai akhirnya lenyap tak terdengar lagi. Gadis ini mengguguk sementara ayahnya dipondong gurunya. Dan ketika mereka terbang dan terus ke timur, membelok dan kembali kerumah di tepi sungai kecil itu maka gadis ini tersedu-sedu dan roboh pingsan, tak kuat melihat kematian ibunya. Dan begitu kakek itu berhenti dan meletakkan muridnya maka kakek itupun menarik napas dalam dan tampak berkerut-kerut.

Malam itu keluarga ini berkabung. Bhi Li, wanita itu telah dimakamkan sementara Su Tong kehabisan daya di pembaringan. Laki-laki gagah ini terserang demam dan luka-lukanya bernanah. Gigitan dan serangan srigala sungguh hebat. Sekujur tubuh laki-laki ini luka dan yang membuat kakek itu berkerut adalah liur beracun yang merembes masuk ke dalam kulit. Racun ini membuat wajah Su Tong kebiru-biruan dan anak gadisnya menangis tiada henti. Kakek itu khawatir. Dan ketika ia mengerahkan sinkang dan mengusir racun dengan cara ini, sudah menjejalkan beberapa obat namun kurang membantu maka menjelang tengah malam terdengar suara-suara aneh di luar rumah. Kakek itu tertegun dan menoleh.

“Coba kau lihat suara-suara apa itu.”

Su Giok, yang mendampingi ayahnya ini mengangguk. Ia berdiri dan mengusap air mata dan juga mendengar suara-suara itu. Seperti daun berkeresekan atau orang menginjak daun kering. Tapi karena suara itu lenyap dan timbul lagi, kini terdengar dan gurunya berkerut maka ia berdiri dan juga merasa terganggu, marah. Tapi belum ia keluar pintu mendadak tiga moncong srigala menyembul dan menggeram!

“Suhu...!”

Jerit dan teriakan tertahan ini membuat sang suhu menengok. Su Giok, gadis itu kaget bukan main. Itulah srigala-srigala dari Hutan Iblis! Tapi ketika gurunya menoleh mendadak tiga ekor srigala ini menghilang dan melompat keluar. Su Giok berdetak. Pek-lui-kong, jago tua ini, juga berdesir dan bangkit berdiri. Konsentrasinya pecah dan tentu saja tak mungkin menyalurkan sinkang. Srigala Hutan Iblis mendatangi mereka. Dan kaget serta heran bagaimana srigala itu tahu rumah muridnya, kakek ini berkelebat dan keluar maka di dalam kamar tiba-tiba terdengar jerit dan teriakan muridnya lagi.

“Suhu...!”

Pek-lui-kong berkelebat masuk. Ia baru saja menyambar keluar ketika tiba-tiba muridnya menjerit. Jerit itu lebih hebat daripada tadi. Dan ketika ia masuk dan memandang mendadak jantung kakek ini berdetak karena Su Tong, muridnya, tak ada!

“Ayah.... ayah lenyap. Tadi... tadi aku hendak melompat keluar ketika tiba-tiba terdengar desir dan suara angin. Dan...dan ketika aku menoleh ayah sudah tak ada lagi. Ooh, mana ayah, sukong mana ayah!”

Terdengar gonggong dan raung srigala. Sebagai jawaban dari pertanyaan gadis itu mendadak di luar rumah riuh-rendah oleh lolong dan salak binatang-binatang jahanam itu. Sang kakek terkejut dan melompatlah dia menyambar sang cucu. Kakek ini melayang melalui jendela dan tiba-tiba saja Su Giok maupun kakek gurunya tersirap. Di luar rumah sudah ada ratusan srigala, bukan tiga atau empat melainkan tigaratus lebih! Dan ketika kakek itu tertegun sementara Su Giok menjerit tertahan, beringas dan menyambut pedang maka suara tawa sumbang terdengar di belakang mereka, tawa yang menusuk dingin dan tajam, mengiris jantung. Dan ketika gadis itu membentak dan melompat ke sini tiba-tiba sebuah benda besar menyambarnya dan kontan ia menusuk.

“Jangan!” sang kakek berseru dan menahan tangan muridnya. Gadis itu hampir menusuk ketika tiba-tiba kakek gurunya sudah mencekal pergelangannya, menotok dan melumpuhkan tangan gadis itu sekejap sementara tangan yang lain menyambut dan menerima benda besar ini. Dan ketika terdengar suara bluk dan itulah tubuh Su Tong, ayah Su Giok maka gadis itu menjerit dan kakek ini terhuyung serta jatuh terduduk.

“Thian Yang Maha Agung ah, hebat sekali lawan kita ini!” Sang kakek berdiri dan tak perduli kepada gonggong dan raung srigala. Ia cepat menerima benda besar itu karena menyambarnya seperti benda mati, bukan srigala atau semacam itu karena benda ini jelas dilontarkan orang. Dan ketika itulah tubuh muridnya dan Su Giok menjerit memanggil ayahnya, menubruk dan memeluk ayahnya, ternyata ayahnya itu sudah membujur kaku dengan leher bekas dicekik!

“Ayah.... ayah!”

Sang kakek tergetar dan membelalakkan mata. Wajah yang semula biasa dan tenang itu mendadak menjadi merah, senyum di bibir sudah berubah menjadi kemarahan dan kakek ini membentak ke arah sebatang pohon di samping rumah. Dan ketika ia berkelebat tapi tujuh srigala menggonggong dan menyambutnya maka kakek ini mengibas dan srigala-srigala itupun roboh dengan kepala pecah.

“Orang gagah berhati kejam, keluarlah. Aku Pek-lui-kong bukan kanak-kanak yang dapat kau takut-takuti.....des-dess!” dan tujuh srigala mencelat ditendang kakek ini akhirnya terlempar dan membuat riuh srigala-srigala lain yang tak mau ditimpa teman-temannya. Kakek itu sendiri sudah tiba di balik pohon besar itu tapi lawan yang di cari tak ada, lenyap, seperti iblis. Dan ketika ia tertegun dan menjadi marah, wajah semakin merah padam maka terdengarlah lolong panjang merintih yang tiba-tiba menggerakkan semua srigala untuk bergerak dan menyerang mereka.

“Su Giok, awas!”

Gadis itu terkejut. Ia sedang menangisi kematian ayahnya ketika tiba-tiba puluhan srigala menyerbunya. Mereka menggonggong dan menyalak-nyalak namun ia justeru menyambutnya dengan beringas. Pedang di tangan membacok dan sekali ia mengayun robohlah tigabelas srigala dengan tubuh terbelah. Dan ketika di sana kakek gurunya juga menampar dan mengebutkan lengan bajunya, puluhan srigala terlempar dan jungkir balik maka cucu dan kakeknya ini bergerak dan menghajar binatang-binatang itu. Lain kakek ini lain pula cucu muridnya. Ia hanya menghalau dan membuat srigala-srigala itu jatuh bangun dengan tamparan atau kebutan ujung bajunya.

Tapi sang cucu murid yang bergerak dan menebas sana-sini, menusuk atau membacok yang mengakibatkan srigala-srigala itu roboh dengan kepala putus membuat tempat itu sebentar saja sudah digenangi darah dan amis. Sang kakek mengerutkan kening tapi tidak mencegah. Ia tahu kemarahan muridnya itu atas kematian orang tuanya. Ayah dan ibunya sekaligus tewas terbunuh, hal yang memang membuat darah bergolak. Tapi ketika sinar-sinar hitam mulai menyambar dan beberapa di antaranya menuju gadis itu maka kakek ini berseru agar muridnya berhati-hati.

“Su Giok, awas. Seseorang menyerang kita dengan senjata gelap...tik-tak!” kakek itu meruntuhkan lima batu hitam, terdorong dan pucat karena kesekian kalinya lagi ia kalah kuat. Orang dibalik bayang-bayang hitam itu benar-benar lihai. Dan ketika ia melihat bayangan itu kembali berkelebat di belakang pohon, membungkuk dan menjentikkan lagi sinar-sinar hitam maka kakek ini berseru keras dan secepat kilat ia menendang seekor srigala yang mencelat ke arah orang itu.

“Dess!”

Orang itu terkejut dan mengelak. Sepasang mata tajam berkilat di bawah bayangan bintang dan Pek-lui-kong, kakek gagah ini, tersentak. Ia seakan bertemu dengan mata iblis dan tiba-tiba terdorong. Wibawa atau pengaruh dari mata itu kuat sekali. Ia tak tahan! Dan ketika ia mengeluh dan kembali menampar atau menendang binatang-binatang itu maka orang itu menghilang lagi tapi tiba-tiba di sana muridnya menjerit.

“Aduh!”

Kiranya Su Giok terlepas pedangnya. Gadis itu menjerit ketika tiba-tiba sebuah batu hitam menyambar pergelangannya, berdetak dan ia merasa seakan remuk. Dan ketika pedangnya terlepas dan srigala-srigala itu menubruknya, ia melempar tubuh bergulingan maka kakek gurunya bergerak dan melompat ke tempat ini.

“Berlindung di balik lengan bajuku, jangan berpencar. Tangkap dan bawa lagi pedangmu, Su Giok. Awas, jangan sampai terlepas!”

Kakek itu mengebut dan menyambar pedang di atas tanah. Ujung bajunya menyambar dan pedang tahu-tahu terlilit di sini, dibetot dan sekali ayun telah menuju ke cucu muridnya itu. Dan ketika Su Giok menerima dan menangkap pedangnya, tergetar maka gadis itu bertanya siapakah kiranya penyerang gelap itu.

“Aku juga tak tahu, tapi jelas ia lihai. Hm, agaknya semua binatang ini harus dimusnahkan, Su Giok. Baru setelah itu tuannya muncul... krak-dess!” kakek inipun menendang dan menambah tenaganya. Dia tidak lagi sekedar menghalau atau menghajar binatang-binatang itu melainkan sudah mulai membunuh. Sekali kebut tujuh delapan ekor srigala roboh, pecah kepalanya. Dan ketika cucu muridnya bergerak dan berkelebatan kembali, mereka sambar-menyambar tapi selalu dalam lingkup yang dekat maka sebentar kemudian duaratus srigala terbunuh.

“Ggrr!” Terdengar geram atau aum dahsyat ini. Srigala tiba-tiba mundur dan menyalak menggonggong-gonggong. Sejenak mereka tak menyerang tapi lari berputaran. Namun begitu dua orang itu juga berhenti dan berputaran mengikuti mereka mendadak mereka menerjang lagi dan kali ini yang dituju adalah gadis cantik itu.

“Awas!”

Su Giok mengangguk. Ia tak tahu bahwa dua ekor srigala coklat masuk dalam barisan ini. Mereka adalah pendatang baru dan tiba-tiba menyerang gadis itu dari depan. Dan ketika Su Giok menyambut sementara kakinya menendang menghajar yang lain maka pedangnya terpental bertemu dua srigala ini.

“Tak-tak!”

Gadis itu terkejut dan berteriak tertahan. Dua ekor srigala ini menyeringai sekejap namun sudah maju lagi, menubruk dan tubrukan mereka amat cepat, lain dari yang lain-lain. Dan ketika gadis itu mengelak namun kalah cepat, bajunya robek maka gadis itu melempar tubuh bergulingan dan kakek gurunya terbelalak.

“Brett!”

Dua srigala itu menyerang lagi. Mereka membalik dan sudah mengejar gadis ini dan Su Giok menjadi marah. Ia masih memegang pedangnya tapi begitu membacok tiba-tiba pedangnyapun patah! Dan ketika ia menjerit dan kakeknya terkejut maka dua srigala itu menggigitnya dari kiri kanan.

“Terkutuk!” kakek ini membentak dan menghantam. “Srigala-srigala itu diisi ilmu hitam, Su Giok. Cari benda runcing dan tusuk rongga atas mulutnya....des-dess!” pukulan kakek itu menghantam srigala coklat, melempar dan membuat mereka mencelat jauh namun dua ekor srigala itu bangun lagi. Mereka tak apa-apa, kebal!

Dan ketika gadis itu terbeliak dan menyambar patahan pedangnya, yang runcing dipergunakan menusuk maka terdengar lolong pendek di mana srigala coklat itu menubruk dan tidak lagi membuka mulutnya.

“Keparat!” kakek ini geram dan berkelebat ke kiri.

Lolong pendek itu adalah isyarat bagi srigala coklat untuk tidak menyerang dengan menggigit. Muridnya sudah menusuk srigala itu lagi tapi karena yang kena bukan “telak”-nya maka tak apa-apa dan bangkit menyerang lagi, disusul oleh srigala-srigala lain di mana mereka ini menggonggong dan menyalak riuh rendah. Gadis ini sebenarnya mengagumkan karena ia sama sekali tak bergeming oleh salak dan riuh gonggongan itu. Yang membuatnya tergetar hanyalah srigala kebal itu, lain tidak.

Dan karena kini srigala itu tak mau membuka mulutnya dan menyerang atau menggigit selalu ke bawah, berarti Su Giok tak dapat menusuk rongga mulut binatang itu maka gadis ini terpaksa berkelebatan ke sana-sini menghindar dan menyerang. Ia dapat merobohkan srigala-srigala biasa tapi bukan srigala coklat itu, gadis ini menjadi gemas, juga gugup. Dan ketika ia menusuk tapi sebutir batu hitam kembali mengenai pergelangannya, bengkak dan salah urat akhirnya gadis itu berteriak dan pedang patahpun terlepas. Su Giok melempar tubuh bergulingan dari serbuan srigala-srigala buas.

“Hm!” Pek-lui-kong si kakek gagah menyala. Ia membantu muridnya melepas pukulan sinar putih dan tiba-tiba sepuluh srigala menjerit kaget. Mereka disengat pukulan Petir dan hawa panas membuat tubuh mereka gosong. Dan ketika kakek itu berseru dan melepas pukulannya lagi ke kiri kanan, muridnya meloncat bangun dan disuruh mempergunakan Pek-lui-ciang maka kakek ini membalik dan bayang-bayang hitam di balik dinding rumah disambar. Sekarang orang atau pemilik srigala itu ada di sana.

“Blarr!”

Kakek ini terguncang dan terhuyung mundur. Ia telah menghantam laki-laki itu dengan tigaperempat bagian tenaganya namun lawan tak apa-apa, bahkan dia yang tertolak mundur, hampir terjengkang! Namun ketika ia berhasil memperbaiki posisi tubuhnya dan berdiri tegak, laki-laki itu berada di depannya maka di bawah cahaya bintang buram kakek ini melihat seorang laki-laki berjubah hitam dengan rambut diikat model ekor kuda.

“Kau siapa!” kakek itu membentak, mengamati wajah orang yang amat aneh, kaku dan tak bergerak. Wajah topeng! “Apa maksudmu mengganggu kami, iblis keji. Dan kenapa kau membawa srigala-srigalamu ke sini!”

“Hm, aku ingin membunuh,” suara itu terdengar dingin dan beku, tak berperasaan. “Murid dan cucu muridmu telah membunuh-bunuhi hewan piaraanku, tua bangka. Bersiaplah untuk mampus dan biarkan gadis itu menghadapi anak-anakku.”

“Kau siapa?”

“Dewa Maut!”

“Sombong, jangan kira aku takut... wut!” dan si kakek yang menyambar dan berkelebat ke depan tiba-tiba menjadi marah mendengar omongan ini. Ia melepas lagi pukulan Pek-lui-ciangnya tapi lawan mendengus. Dan ketika pukulan kakek itu diterima dengan tangan kiri, berdetak dan mengeluarkan suara keras maka kakek itu terlempar dan terbanting.

“Duk!”

Kakek ini kaget bukan main. Pukulan Petirnya membalik dan ia harus bergulingan membuang tenaga tolakannya sendiri. Dadanya sesak dan bukan main pucatnya kakek itu. Dan ketika ia bergulingan meloncat bangun sementara cucunya berkelebatan naik turun menghadapi srigala coklat dan teman-temannya maka kakek itu tergetar dan lawan tertawa di balik topeng karetnya, tawa yang aneh, dingin dan tak berperasaan.

“Bagaimana, orang tua? Kau masih mengandalkan Pek-lui-ciangmu itu? Hm, Petirpun sanggup kuterima, apalagi hanya tanganmu yang kurus dan ringkih!”

Kakek ini mundur. Dia membentak dan menerjang lagi dan jari tangannya menusuk, dielak dan mengejar tapi lawan bergerak ke kanan kiri mengelak semua serangannya itu. Namun ketika si kakek menggerakkan kaki dan melepas tendangan mencuat dari bawah tiba-tiba laki-laki itupun menyambut dan kaki bertemu dengan kaki.

“Duk!”

Tulang kering kakek itu seakan pecah. Jago tua ini berteriak dan terlempar bergulingan, tadi seakan menendang sebongkah beton dan hampir dia menangis. Kaki itu amat hebat! Tapi ketika ia meloncat bangun, terhuyung dan terpincang maka kakek ini mencabut tongkat dan maklum bahwa kaki tangannya tak mampu menghadapi orang aneh ini.

“Bagus, kau boleh cabut senjatamu. Aku akan menghadapi semua pukulanmu tanpa membalas, tua bangka, selama tujuh jurus. Tapi setelah itu hati-hatilah karena aku akan membalas!”

Kakek ini membentak. Ia marah sekali namun juga gelisah. Di sana cucunya melengking-lengking dan rupanya terdesak. Dua srigala kebal itulah yang membuatnya kewalahan dan empat kali Su Giok hampir tergigit. Ia tak bersenjata lagi kecuali mempergunakan kaki tangannya itu, melepas Pek-lui-ciang tapi dua srigala itu melompat bangun lagi, menggeram dan menyerang dan inilah yang membuat repot.

Kalau saja dua binatang itu dapat dipukul roboh tentu yang lain-lain akan takut. Su Giok menjadi ngeri dan bingung juga, gelisah. Tapi karena ia diserang lagi dan kini hanya dengan kaki tangan ia tak dapat merobohkan srigala-srigala itu, yang coklat ini selalu melindungi dan membentengi teman-temannya maka Su Giok menjadi pucat dan ketika ia menghantam dengan Pek-lui-ciangnya binatang itu malah tidak bergeming, rupanya menjadi tahan dan lama-lama semakin kuat.

“Dess!”

Binatang itu menyeringai dan memperlihatkan gigi-giginya yang mengkilap tajam. Gadis ini terhuyung dan mengeluh, lama-lama ia menjadi takut juga. Dan ketika srigala itu melompat dan mengelak, diserbu pula oleh srigala yang lain-lain maka ia keserimpet dan jatuh terjengkang.

“Sukong...!”

Sang kakek terkejut. Kakek ini sudah bergerak menyerang lawan dan tongkat serta pukulan-pukulan di tangan kiri menderu. Ia marah sekali karena lawan berkelit dan mengelak sana-sini, mudah dan berkesan meremehkan dan tentu saja ia tersinggung. Tapi ketika tujuh serangannya luput, lawan benar-benar menepati janji untuk tidak membalas maka ketika cucunya berteriak saat itulah tujuh jurusnya habis. Kakek ini menengok tapi lawan tiba-tiba berkelebat maju, tertawa dan satu pukulan tangan kiri menghantam. Telapak laki-laki itu membuka dan kakek ini terkesiap. Namun karena mengelak sudah tak mungkin dan apa boleh buat dia membentak mengerahkan sinkang maka pukulan itu mendarat dan terlemparlah kakek ini dengan keluhan pendek.

“Dess!” Pek-lui-kong si kakek gagah terjengkang. Kakek itu terdorong dan bagai dihantam martil besar, terlempar dan sesak napas seakan tercekik. Dan ketika sejenak ia bergulingan dan mendekati sang cucu, melompat namun jatuh lagi maka Su Giok pucat melihat keadaan kakek gurunya itu, bergulingan mengelak sana-sini dari tubrukan srigala coklat.

“Kakek, tolong...!”

Kakek ini terbelalak. Sang cucu bergulingan sana-sini diserang puluhan srigala. Yang paling berbahaya adalah dua srigala coklat itu, yang kebal dan tahan bacokan senjata tajam. Tapi karena ia harus bertindak karena cucunya tak dapat meloncat bangun, mulai memberebet baju dan celananya maka kakek ini membentak dan tongkat menyambar dua srigala itu.

“Plak!”

Kakek ini terkejut. Tongkatnya berhenti di tengah jalan karena laki-laki berjubah hitam itu, lawannya, tahu-tahu ada di situ dan menahan tongkat. Tawa aneh terdengar di situ dan tongkatpun tak dapat digerakkan, berhenti setengah jalan. Dan ketika kakek itu terkejut namun lawan tertawa dingin, mendorong dan mengibas maka kakek ini mencelat dan roboh terlempar lagi.

“Tua bangka, lawanmu adalah aku, anak dengan anak. Kalau kau ingin menolong harus melewati aku dulu dan biar cucumu menjadi santapan anak-anakku.”

“Tidak.... ouhh!” kakek itu bergulingan meloncat bangun, sesak napasnya semakin bertambah. “kau boleh bunuh aku, manusia iblis. Tapi jangan cucuku!” dan si kakek yang melepas pukulan jarak jauh, menghantam tapi dikelit akhirnya menjadi bingung karena cucunya masih terus bergulingan di sana, belum dapat melompat bangun. Dan ketika suara bret-bret kembali terdengar dan Su Giok menjerit maka kakek ini menerjang tapi sekali ditangkis dan dielak iapun roboh terpental kembali.

“Des-dess!”

Si kakek gagah pucat. Ia mengeluh dan bergulingan dan Su Giok masih berteriak-teriak di sana. Gadis ini bingung menghadapi kekebalan binatang itu. Tapi ketika ia melihat keadaan kakeknya dan berkali-kali kakeknya tak dapat membantu, ia ingat petunjuk kakeknya tadi maka ketika srigala menerkam iapun memberikan tangannya namun secepat itu ia mencabut tusuk sanggulnya di belakang kepala.

“Mampuslah!” Bentakan dan kemarahan ini menggetarkan tempat itu. Si coklat yang girang dan menubruk sana-sini melihat lawan bergulingan akhirnya lengah. Tangan yang diberikan itu digigit, langsung dibuka dan rongga mulut yang kemerahan tampak. Su Giok berdebar dan girang melihat ini. Ia memberikan lengannya tapi tentu saja mengerahkan sinkang, membuat lengannya keras dan saat itulah tangannya yang lain bergerak, menusuk dengan tusuk rambutnya itu dan secepat kilat langit-langit mulut dicoblos. Ia melihat semacam kepingan besi dan itulah yang dituju, dan begitu tusuk rambutnya mengenai ini tiba-tiba srigala itu meraung dan roboh, kepalanya meledak.

“Dar!”

Asap hitam dan getaran kuat terjadi di situ. Srigala satunya, yang kebal dan teman srigala yang roboh ini tersentak. Ia juga menggigit dan mulutpun di buka lebar. Tapi begitu temannya roboh dan Su Giok tak menyia-nyiakan kesempatan, mencabut dan melontarkan tusuk rambutnya itu pada mulut si binatang tiba-tiba terdengar ledakan lagi dan srigala itupun terjerembab.

“Dar!”

Suara ini mengguncangkan si jubah hitam. Dia yang sedang menghadapi serangan si kakek tiba-tiba mengeluh dan terhuyung. Ledakan atau tepatnya robohnya srigala itu membuatnya kehilangan tenaga. Ada sinar hitam keluar dari tubuhnya dan saat itulah si kakek meloncat bangun. Kakek ini baru saja disambut tangkisan lawan dan terpelanting, roboh bergulingan menyelamatkan tongkatnya yang patah. Akhirnya kakek gagah ini ngeri karena setiap lawan menangkis tentu dia terlempar, jatuh dan bangun lagi dan lawan siap membunuh dengan pandang matanya yang menyeramkan. Tapi ketika terdengar ledakan itu dan cucunya menewaskan srigala kebal, srigala yang sudah diisi ilmu hitam dan kini pemiliknya terhuyung menutupi muka maka saat itulah kakek ini menyambar cucunya melompat bangun. Ledakan dan asap hitam membubung disitu.

“Kita lari, pergi! Pegang tanganku kuat-kuat Su Giok. Jangan layani srigala-srigala itu mumpung pemiliknya limbung!”

“Ah,” si gadis terkejut. “Kenapa lari, sukong. Justeru ini kesempatan bagus. Kita dapat menyerangnya!”

“Tidak, laki-laki itu memiliki perbawa hitam, Su Giok. Ia penuh hawa siluman. Pergi, kita selamatkan diri!”

“Tapi ayah.”

“Kelak kita kembali lagi. Ikut perintahku atau nanti tak ada kesempatan lagi byurr!” dan si kakek membawa cucunya meloncati sungai akhirnya tercebur dan Su Giok berseru tertahan, gelagapan namun kakek itu berenang menarik cucu muridnya. Mereka harus jauh-jauh meninggalkan tempat itu atau nanti tertangkap. Pekik dan lolong srigala menggetarkan jantung. Dan ketika kakek itu tiba di seberang dan meloncat keluar, gemetar dan basah kuyup maka sang cucu dibawa lari dan Su Giok menangis, terseok-seok.

“Percepat langkahmu, jangan menangis. Diam dan kerahkan Siang-eng Gin-kang!”

Gadis itu mengguguk. Akhirnya ia diseret dan mau tak mau dibawa terbang. Kakek itu mengerahkan ilmu lari cepatnya dan bagai seekor garuda menyambar ia meluncur naik turun masuk keluar hutan. Tepian sungai sudah ditinggalkan dan Su Giok tak mendengarkan lagi riuh atau gonggong srigala-srigala itu. Dan ketika kakeknya terbang keselatan dan mereka tak tahu betapa api berkobar dirumah mereka, laki-laki berjubah hitam itu mengamuk dan membakar rumah itu maka Su Tong, murid kakek gagah Pek-lui-kong ini tambus di dalam api.

Malam itu srigala melolong riuh-rendah, bukan di Hutan Iblis melainkan di tempat tinggal murid kakek ini. Dan ketika laki-laki jubah hitam menendang dan melempar-lempar srigala yang tewas, menggeram dan melolong-lolong pula maka orang akan terkejut melihat betapa sambil menggonggong iapun menggigit dan menghajar srigala-srigala yang masih hidup, cerai-berai dan akhirnya srigala-srigala itu lintang-pukang kembali ke Hutan Iblis. Laki-laki ini berkelebat dan mencari kakek dan cucunya itu tapi Pek-lui-kong sudah lenyap.

Tadi ketika Su Giok membunuh dua srigala gaib tiba-tiba lelaki itu bagai disambar petir, tersentak dan menegang dan sebenarnya bagus sekali bagi kakek gagah itu kalau menyerangnya. Ada semacam kelumpuhan sedetik ketika Su Giok membunuh srigala coklat, ledakan yang menyambar kepala laki-laki itu hingga membuatnya terhuyung, kaget. Tapi begitu asap hitam membubung dan dia membuang ludah tiga kali, menggedruk dan pulih maka laki-laki ini kehilangan lawannya sementara srigala kesayangannya itu disambar dan dicucup otaknya.

Selanjutnya laki-laki ini tampak tegar dan kuat lagi. Ia melempar bangkai srigala itu dan suara mirip rintihan terdengar dari kerongkongannya. Suara itu pendek-pendek namun akhirnya lenyap. Bau amis tiba-tiba menguar. Dan ketika ia menyulut obor dan membakar rumah itu maka si jago merah mengamuk dan laki-laki itupun melempar mayat Su Tong ke tengah tumpukan api. Dia mengeluarkan tawa aneh lalu menyalak, persis anjing atau srigala liar. Tapi ketika ia meloncat dan hilang di kegelapan malam maka laki-laki itupun lenyap dan peristiwa aneh tapi menyeramkan ini menjadi bahan pembicaraan ramai di dusun-dusun sekitar.

* * * * * * * *

“Kita berhenti disini!”

Su Giok roboh dan jatuh dipelukan kakeknya. “Kita beristirahat disini, Su Giok. Aku lelah dan ingin memulihkan tenaga dulu. Kau jangan menangis dan hapus air matamu itu.”

“Ayah.....ayah.”

“Aku tahu. Sudahlah, Su Giok. Ayahmu telah tewas dan betapapun tak mungkin kita selamatkan. Aku., aku masih ngeri oleh lawan itu. Dia manusia siluman, iblis!”

“Dan aku akan membalas dendam!” gadis itu mengguguk, mengepal tinju. “Aku akan membunuhnya, sukong. Aku akan mencari dan kelak membalasnya. Aku bersumpah!”

“Hm, kau bukan tandingan. Kita bukan lawannya. Orang itu dipenuhi ilmu hitam dan dia dapat menciptakan srigala-srigala kebal yang tahan bacokan senjata tajam. Sebaiknya kita mencari bantuan. Hm, siapa dia?”

kakek itu berkerut-kerut, ngeri dan gemetar tapi juga marah. Dia gemetar mengusap keringat dan bayangan semalam membuat tengkuk merinding. Dia pernah mendengar sesuatu tentang ini, ilmu jahat amat aneh, yakni Beng-jong-kwi-kang (Tenaga Setan Penembus Roh) yang biasanya dipergunakan untuk menembus dan mempengaruhi roh-roh binatang. Sukma atau jiwa dari binatang itu ditembus dan mereka biasanya dipergunakan untuk maksud-maksud keji, seperti misalnya menyerang orang dari jauh dengan menyuruh hewan atau binatang yang ditembus rohnya ini, diperalat dan tentu saja amat berbahaya karena binatang yang disuruh menyerang manusia ini akan menjadi binatang kesetanan.

Ilmu itu muncul pada jaman dongeng Kera Sakti, di mana waktu itu ada seekor kera jahat yang ingin menguasai manusia dan menaklukan dunia. Kera ini bernama Kera Siluman dan dia amat sakti, turun dari awan kegelapan menyerang manusia. Ingin menundukkan manusia dan menganggap dirinya sebagai cikal bakal manusia dan karena itu manusia harus tunduk. Tapi karena hewan itu tentu saja dianggap pengacau, seorang gagah muncul dan bertanding dengan kera ini maka Jin Sian, manusia turunan dewa ini bertempur dan membela manusia.

Kera Siluman kalah dan melarikan diri. Jin Sian, laki-laki ini ternyata adalah titisan Bu Siang, Dewa Tak Berujud yang menguasai langit bumi. Tapi karena Kera Siluman juga tak dapat dibunuh dan hanya melarikan diri, ia telah ditakdirkan untuk hidup sepanjang jagat maka kera itu membalas kekalahannya dengan berpindah-pindah dari satu binatang ke binatang yang lain, menyerang keluarga laki-laki gagah itu dan juga manusia-manusia lain. Ia tak dapat ditangkap dan sering berganti rupa.

Jin Sian, manusia gagah itu akhirnya marah dan menjebaknya dengan kerangkeng sakti. Gunung dan lembah-lembah hijau akhirnya ditaruh di telapak tangannya dan dijadikan satu. Segala binatang terpaksa berkumpul di sini, karena makanan mereka tak ada ditempat lain. Dan ketika Kera Sakti juga masuk ke sini dan menyelinap di tubuh seekor belalang, ganas menyerang hewan-hewan lain karena tak mau makanan itu dibagi-bagi akhirnya tertangkap dan ekornya dijepit pada dua batu gunung yang mengakibatkan Kera Sakti tak dapat bepergian lagi.

Belalang itu sendiri mati dan Kera Sakti muncul seperti aslinya, dibekuk dan dikerangkeng dalam kurungan sapu lidi yang kuatnya melebihi baja. Kurungan sapu lidi itu bukan sembarang kurungan karena telah diusap dengan kesaktian Jin Sian, liat melebihi baja-baja pilihan dan tak dapat patah. Ekor Kera Siluman dijepit batu gunung sementara tubuhnya di dalam kerangkeng itu, seumur hidup kera ini tak dapat keluar.

Dan karena cerita ini lebih mirip dongeng daripada sesungguhnya maka Pek-lui-kong si kakek gagah terkejut dan tertegun melihat ilmu semacam itu dimiliki pemilik Hutan Iblis. Yang dipergunakan adalah hewan-hewan srigala dan kemarin ketika dia menolong muridnya secara kebetulan dia melihat besi pipih di rongga mulut atas binatang itu. Kakek ini terkejut dan seketika tahu bahwa itulah pengapesan binatang itu, dicoba dan ternyata benar dan tentu saja dia girang. Tapi ketika pemilik Hutan Iblis mencipta srigala-srigala kebal lain, tadi cucunya bertarung dan jatuh bangun berjuang mati hidup maka kakek ini ngeri dan amat gelisah.

Menghancurkan gerombolan srigala itu adalah sia-sia selama pemiliknya masih ada. Satu-satunya jalan untuk melenyapkan semua itu adalah membasmi si jubah hitam, manusia berkedok karet itu. Tapi teringat betapa hebatnya laki-laki itu, Pek-lui-ciangnya mental dan setiap dipukul tentu membalik maka kakek ini gemetar dan terbelalak.

Siapa sanggup menghadapi pemilik Hutan Iblis itu? Dia tak kuat, jujur saja. Dia akan celaka kalau sampai bertemu lagi. Tapi karena murid dan murid-menantunya binasa, tentu saja dia tak akan membiarkan ini maka kakek itu teringat tiga orang gagah di dunia ini. Pertama adalah Pek-jit-kiam Ju-taihiap, jago pedang amat hebat ketua Hek-yan-pang. Seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh lima tahun yang dulu bertanding hebat dengan mendiang Si Golok Maut. Lalu puteranya yang amat gagah dan juga luar biasa, Han Han pemuda murid Im Yang Cinjin yang dapat merobah laut menjadi es. Dahsyat dengan ilmunya Im-yang-sin-kun yang dapat menjungkirbalikkan dunia.

Sedangkan ketiga.... hm, siapa lagi kalau bukan Si Naga Pembunuh Giam Liong? Pemuda ini adalah putera mendiang Si Golok Maut Sin Hauw, gagah dengan ilmu-ilmunya yang hebat dan dari itu dua pemuda ini konon tak ada yang kalah atau menang. Pemuda itu memiliki ilmu-ilmu dahsyat warisan mendiang ayahnya, digabung dengan warisan ayah angkatnya dan terciptalah ilmu-ilmu aneh macam Pek-poh-sin-kun (Silat Sakti Seratus Langkah). Lalu Im-kan-to-hoatnya atau Silat Golok Maut yang kehebatannya amat mengerikan, juga Nui-kang atau Ilmu Mati Semu. Gara-gara ilmu inilah mendiang Kedok Hitam terkecoh, menyangka lawannya itu tewas padahal tidak. Dan ketika kakek itu menarik napas dalam-dalam membandingkan orang-orang gagah itu, diri sendiri terasa tidak berarti dan berguna maka ke situlah sebenarnya dia hendak menuju.

Cucu muridnya, Su Giok, sungguh menyedihkan nasibnya. Hari itu sebenarnya adalah hari ulang tahun kelimabelas bagi cucu muridnya ini dan karena itulah dia menyuruh dua muridnya laki-laki, Keng Han dan Su Tong datang menyambut. Dia sudah berjanji untuk berkumpul di rumah ayah gadis ini dan minta agar dua keluarga itu bertemu. Su Tong mengundang kakak seperguruannya tapi Bhi Pui yang mendengar tentang keganasan Hutan Iblis membelokkan perjalanannya. Wanita itu ke sana dan suamipun terpaksa mengikuti. Akibatnya wanita itu tewas sementara suaminya luka-luka.

Dan ketika mereka datang di tempat adik seperguruan tapi Bhi Li akhirnya mengamuk di Hutan Iblis maka sute dan suheng terpaksa turun tangan membantu, kalah dan akibatnya terlihat didepan. Keng Han akhirnya tewas sementara Su Tong jatuh bangun. Dan di saat pria gagah itu di ambang pintu kematian maka datanglah kakek ini dan tentu saja mereka terkejut dan Su Giok yang melihat kematian ibunya mengamuk dan menghajar binatang-binatang itu.

Tapi pemilik Hutan Iblis campur tangan. Laki-laki berjubah dan berkedok karet itu bukan lawan mereka. Mereka terpaksa melarikan diri tapi dikejar. Dan teringat betapa ratusan srigala tahu-tahu sudah mengepung rumah mereka, kakek ini bergidik maka isak tangis cucunya menyadarkannya. Lamunannya buyar.

“Sukong, hendak mancari siapa?”

“Satu di antara tiga orang gagah. Aku hendak ke Hek-yan-pang.”

“Hek-yan-pang? Tempat Si Naga Pembunuh?”

“Tidak, Hek-yan-pang sudah tidak menjadi tempat tinggal laki-laki ini, Su Giok. Si Naga Pembunuh tidak berada di Hek-yan-pang. Yang ada adalah ketuanya dan puteranya yang gagah perkasa.”

“Tapi Si Naga Pembunuh itu adalah anak angkat ketua Hek-yan-pang.”

“Benar, tapi sejak anak kandungnya sendiri ditemukan maka pemuda itu tak mau berkumpul dengan ayah angkatnya lagi dan hidup merantau. Yang ada di sana adalah jago pedang Pek-jit-kiam Ju Beng Tan dan puteranya, Han Han!”

“Dan sukong akan ke sini? Meminta bantuan dua orang itu?”

“Benar, Su Giok, tapi kupikir tak mungkin kedua-duanya, Mungkin hanya puteranya atau sang ayah, salah satu. Atau kalau di tengah jalan kita bersua Si Naga Pembunuh Giam Liong tentu kita minta bantuannya dan pemuda inipun cukup hebat untuk menghadapi pemilik Hutan Iblis!”

“Sukong pernah bertemu?”

“Dengan siapa?”

“Ketiga-tiganya itu, apakah sukong pernah bertemu!”

“Hm, belum. Yang pernah kujumpai adalah Ju-taihiap itu, Si Pedang Matahari yang luar biasa. Sedangkan anak-anak muda itu, ah... aku sama sekali belum pernah bertemu.”

“Tapi sukong mengetahui kepandaian mereka!”

“Hm, ini kata orang, Su Giok, tapi aku percaya. Si jago pedang, Ju-taihiap itu amat lihai dan hebat ilmu pedangnya. Dulu hanya mendiang Si Golok Maut yang mampu menandingi. Dan putera-putera mereka, ah, siapa meragukan lagi? Keturunan jago-jago tanpa tanding itu hebat semua, Su Giok. Entah siapa yang lebih hebat antara Si Naga Pembunuh itu dan Han Han. Dua pemuda itu sama-sama berkepandaian tinggi!”

“Dan sukong baru mendengar nama dan sepak terjang mereka saja.”

“Benar, karena peristiwa kota raja sudah didengar orang di seluruh jagad. Hm, aku selama ini memang tak pernah turun gunung lagi setelah ayah ibumu menikah. Dulu, ketika mereka belum menikahpun aku jarang keluar. Aku malas dan enggan berhubungan dengan orang-orang kang-ouw. Mereka biasanya selalu menciptakan keributan. Dan aku, si tua bangka ini apakah harus ikut-ikutan dan berbaur dengan mereka? Tidak, aku ingin menikmati masa tuaku, Su Giok. Aku ingin ketenangan. Itulah sebabnya ayah ibumupun kusuruh tinggal tenang di tempat mereka, tak usah masuk ke dunia kang-ouw. Tapi bibimu Bhi Pui rupanya melanggar dan ibumupun terseret. Hm, dunia sungguh jahat, penuh kekacauan!”

Gadis ini terbelalak. “Sukong menyalahkan mereka?”

“Benar, Su Giok. Kalau tidak begitu tak mungkin terjadi semuanya ini. Lihat ayah dan ibumu terbunuh. Bukankah terbukti kata-kataku bahwa masuk ke dunia kang-ouw hanya pertikaian dan bunuh-membunuh belaka yang ada!”