TAPAK TANGAN HANTU
JILID 04
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“TAPI mereka bertindak sebagai orang gagah. Bhi Pui membela kebenaran dengan melawan kejahatan!”

“Kau tidak salah. Tapi ada waktu-waktu di mana kita tidak boleh bertindak ceroboh, Su Giok. Bahwa tak semua kejahatan harus dilawan secara langsung. Ada hal-hal tidak benar yang harus dilawan secara tidak langsung, mempersiapkan diri dulu. Bibimu itu umpamanya, dia tahu bahwa musuh terlalu lihai, berbahaya. Kenapa tidak menyusun kekuatan dulu dan baru maju? Aku sendiri kalau nekat dan melawan kekuatan yang lebih di atas kekuatanku tentu aku juga hancur. Bukannya takut, tapi mati secara konyol adalah tindakan sia-sia, bodoh!”

Gadis itu tertegun, mengerutkan kening.

“Kau umpamanya,” sang kakek melanjutkan, menarik napas dalam. “Kalau kubiarkan dan tidak melarikan diri tentu kematianmu juga sia-sia, Su Giok. Tak mungkin kelak membalas dendam. Kejahatan memang harus ditentang, dilawan. Tapi jangan sembrono dan harus melihat kekuatan sendiri. Orang yang bijak tentu tahu ini dan tidak main hantam kromo.”

Gadis itu mengangguk-angguk, mulai mengerti. Dan teringat betapa ayah ibunya tewas maka dia terisak lagi sambil mengepal tinju, menggigit bibir. “Kau benar, kong-kong. Aku tak akan sembrono dan mempersiapkan diri dulu. Tapi, mungkinkah aku membalas dendam?”

“Kematian ayah ibumu adalah soal lain, menentang kejahatan yang dilakukan pemilik Hutan Iblis adalah soal yang utama. Kalau kau tetap denganku tak mungkin terlaksana cita-citamu, Su Giok. Terus terang aku si tua bangka ini tak dapat membuatmu lihai. Kau harus mencari guru lagi!”

“Ah,” gadis ini terkejut. “Apa katamu, kong-kong? Mencari guru lagi? Kau..?”

“Benar,” sang kakek tertawa getir. “Kau lihat kepandaianku sendiri, Su Giok. Mampukah aku melawan laki-laki berjubah hitam itu. Aku tak dapat memberimu ilmu-ilmu lebih tinggi lagi, kepandaian utamaku hanya Pek-lui-ciang. Sedang ilmu itu tak dapat dipakai menghadapi pemilik Hutan Iblis. Apalagi kalau bukan mencari guru baru? Dan aku sudah merencanakan ini. Nanti di Hek-yan-pang aku akan minta kepada ketua yang terhormat agar mau mengambilmu murid, atau setidak-tidaknya diberi pelajaran lebih tinggi daripada kakekmu yang tiada guna ini!”

Su Giok berseru tertahan. Tiba-tiba ia meloncat karena dirinya hendak diserahkan kepada orang lain, kakeknya tampak sedih dan kecewa akan diri sendiri. Maka kaget dan menggeleng kuat ia berkata, “Tidak, kalau aku harus berpisah denganmu aku tak mau, kong-kong. Lebih baik begini tapi selalu bersamamu!”

“Berarti kau menanggalkan maksud balas dendammu? Kau tak jadi membela kematian ayah ibumu? Hm, jangan bodoh. Orang bijak selalu pandai melihat keadaan, Su Giok, pandai menguasai diri sendiri. Kalau kau ingin membalas dendam maka tiada jalan lain kecuali dengan berguru dan mendapatkan guru yang lebih baik dari kakekmu ini. Dan kupikir hanya ketua Hek-yan-pang itu yang pantas untukmu. Jangan seperti anak kecil!”

Gadis ini tersedu-sedu. Tiba-tiba dia menjadi bingung karena betapapun kata-kata kakeknya itu benar. Mereka sudah membuktikan bahwa laki-laki berjubah itu bukan tandingan mereka. Kakeknya harus melarikan diri dan lintang-pukang, padahal kakeknya itu sudah mendapat nama di daerah utara sana tapi tetap juga mengakui keunggulan lawan. Dan ketika dia menubruk dan mengguncang-guncang bahu kakeknya ini, betapapun tak dapat dia berpisah maka gadis ini berseru,

“Baiklah, kalau begitu boleh aku tinggal di Hek-yan-pang, kong-kong, tapi kaupun harus tinggal disana. Aku tak mau berpisah. Aku tak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali kau!”

“Hm, benar-benar masih anak kecil,” kakek ini tersenyum. “Masa aku harus selalu bersamamu, Su Giok. Kau sekarang sudah limabelas tahun, sudah besar. Tiga empat tahun lagi kau sudah menjadi gadis dewasa dan bagaimana kalau aku selalu mengawalmu. Marah pacarmu nanti!”

“Pacar? Ah, kong-kong main-main! Aku bicara serius, kong-kong, aku tak mau pacaran. Aku mau di Hek-yan-pang namun kau juga harus tinggal di sana!”

“Baiklah... baiklah...” kakek ini tertawa, diam-diam mempunyai rencana sendiri. “Kalau ketua Hek- yan-pang tak keberatan tentu saja aku tinggal di sana, Su Giok. Sekarang marilah kita berangkat dan apakah letihmu sudah hilang.”

Gadis ini girang, berseri. “Kong-kong tak akan meninggalkan aku?”

“Tentu saja, kau cucuku. Hayo berangkat kalau ingin menimba ilmu lebih tinggi lagi!” dan tertawa dicium sang cucu, gadis itu girang maka dia bergerak dan menyambar lengan kakeknya ini.

Orang tua itu memang seperti kakeknya sendiri selain sebagai guru, kakek guru. Mereka bertahun-tahun tinggal bersama di utara dan kalau kini tiba-tiba kakek itu hendak menyerahkannya kepada ketua Hek-yan-pang dan mereka berpisah tentu saja gadis ini tak mau. Boleh saja dia berguru kepada orang pandai tapi jangan berpisah dengan kakeknya ini. Satu-satunya keluarga adalah kakek itu yang masih tinggal. Su Giok memang masih terlalu anak-anak. Maka ketika dia merasa girang dan kata-kata kakeknya ini dipegang teguh segera orang tua itu berdiri dan mereka melanjutkan perjalanan keHek-yan-pang.

Sekarang gadis ini menaruh harapan. Di sepanjang jalan kakek itu menceritakan kehebatan ketua Hek-yan-pang ini, sifat dan sepak terjangnya yang selalu menjunjung kebenaran. Dan ketika perjalanan dilakukan tanpa berhenti karena kakek ini ingin cepat-cepat bertemu pria gagah itu maka tiga hari kemudian mereka sampai di markas Hek-yan-pang.

Sebuah perkampungan mungil mengelilingi markas perkumpulan itu yang terletak di tengah telaga. Su Giok dan kakeknya tentu saja dihadang penjaga, yakni murid-murid Hek-yan-pang laki-laki yang mendiami perkampungan di luar telaga itu. Dan ketika mereka berhenti dan ditanya maksudnya, siapa dan dari mana maka kakek yang menarik napas dalam dan ingin cepat-cepat ketemu ini bicara lembut,

“Aku dan cucuku Su Giok ingin menghadap ketua kalian. Sampaikan bahwa Pek-lui-kong dari utara ingin bertemu.”

“Ah, locianpwe si Dewa Halilintar?”

“Sudahlah, beritahukan kepada ketua kalian bahwa aku ingin bertemu.”

Dua murid penjaga itu mengangguk. Mereka sudah memutar tubuh sementara murid-murid yang lain berjaga, menyuruh kakek itu menunggu sebentar dan dua teman mereka itu sudah mengambil perahu dan mendayung ke tengah. Dan ketika perahu tiba di seberang dan pengemudinya melompat ke darat, lenyap dan tak lama kemudian muncul lagi maka perahu itu didayung lagi dan ternyata kakek dan cucunya ini dipersilahkan masuk.

“Jiwi diterima ketua, mari masuk dan kami antar!”

Kakek dan cucunya ini melompat ke perahu. Mereka sudah dibawa ke tengah telaga itu sementara Su Giok memegang lengan kakeknya erat-erat. Setelah berada di situ tiba-tiba gadis ini tegang. Dia teringat kata-kata kakeknya dan memandang kakeknya itu penuh khawatir. Apakah kakeknya ini menepati janji? Tapi ketika dia ditepuk-tepuk dan kakek itu tertawa menghibur, Pek-lui-kong berbisik bahwa gadis itu tak perlu takut maka Su Giok mencekal lebih erat lagi lengan kakeknya ini.

“Aku tidak takut, tapi... tapi tak mau ditinggal. Kau harus menepati janjimu, kong-kong, atau aku tak mau tinggal di sini dan pergi!”

“Ah, bodoh, tolol sekali. Kenapa masih juga picik pikiranmu itu, Su Giok? Jangan kekanak-kanakan, aku tentu saja di sini kecuali ingin mencari udara segar di luar. Sudahlah, kita sampai dan lihat itu dua suami isteri gagah itu!”

Ternyata ketua Hek-yan-pang dan isterinya sendiri menyambut. Su Giok menengok dan melihat wajah gagah dari seorang laki-laki berusia empatpuluh lima tahunan. Laki-laki itu didampingi seorang wanita cantik yang usianya lebih muda dua tiga tahun, gagah dan tajam pandangannya tapi begitu melihat mereka tiba-tiba saja sepasang mata itu berubah lembut, berseri dan ketika ia diajak melompat maka kakeknya buru-buru menjura dan menghormat pemilik telaga ini. Dan ketika tuan rumah bergerak dan Su Giok disuruh membungkuk maka kakeknya berseru gembira melihat suami isteri ini.

“Ah, selamat bertemu. Maafkan aku yang datang mengganggu, Hek-yan-pangcu. Aku datang bersama cucuku Su Giok. Kalian terlalu repot dengan menyambut kami sendiri di tepi telaga, kami jadi malu!”

“Ha-ha, siapa tidak gembira menerima tamu agung. Kami menerima laporan tentang kedatanganmu, Pek-lui-kong lo-enghiong, dan kami gembira serta mengucapkan selamat datang di telaga ini!”

“Ah, aku bukan tamu agung, justeru tamu yang hanya membuat repot tuan rumah. Ha-ha, kau masih tampak gagah dan muda, Ju-taihiap. Sungguh aku orang tua kagum!”

Mereka saling memberi hormat. Su Giok memandang dan mengamati laki-laki ini dan ia bergetar. Laki-laki itu benar gagah dengan sepasang matanya yang tajam mencorong. Dalam keadaan tertawapun mata itu membawa pengaruh dan amat kuat, mata yang membuat ia menunduk dan tak kuat lama-lama beradu. Dan ketika wanita di sebelah juga tersenyum dan gembira menyambut mereka maka Su Giok malu-malu diperkenalkan kakeknya.

“Ini cucuku, putera Su Tong. Kami datang karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan taihiap.”

“Ah-ah, masa terburu-buru. Mari kedalam dan kita bercakap-cakap disana, lo-enghiong. Sudah lama kita tak bertemu dan justeru aku ingin bertanya bagaimana kabar murid-muridmu saudara Keng Han dan Su Tong.”

“Kami...”

“Sudahlah, mari masuk!”

Kakek itu tak diberi kesempatan bicara. Tuan rumah tak ingin bercakap-cakap di luar dan setelah murid penjaga disuruh pergi iapun membawa tamunya ini masuk. Su Giok digandeng kakeknya dan gadis itu terisak. Pertanyaan tentang orang tuanya tadi mengingatkan kembali peristiwa buruk. Namun ketika kakeknya menowel bahunya menyuruh ia diam, jangan membuat tuan rumah terheran maka gadis itu masuk ke dalam namun sepasang suami isteri ini sudah menangkap isak lirih tadi, melirik namun diam saja dan diam-diam sepasang suami isteri ini heran. Mereka memang merasa aneh. Ada tamu menangis. Tapi ketika mereka menyuruh duduk tamu-tamu mereka ini, memanggil pelayan menyiapkan minuman maka kakek itu menerima pertanyaan gembira tentang kabar murid-muridnya, hal yang lagi-lagi membuat Su Giok terpukul dan menunduk. Mukanya tiba-tiba menjadi merah. Sedih!

“Tentu lo-enghiong (orang tua gagah) tahu bagaimana kabar dari saudara Keng Han dan Su Tong. Apa berita mereka, lo-enghiong, kenapa tidak sekalian ke mari? Aku kangen kepada sahabat-sahabat lama, sepuluh tahun lebih tak pernah bertemu!”

Su Giok tiba-tiba mengguguk. Pertanyaan ini tanpa sengaja untuk kedua kalinya lagi merobek-robek hatinya, ia tak kuat. Dan ketika ia tersedu dan menubruk kakeknya, membenamkan muka di situ maka Ju-taihiap yang bermaksud membuka percakapan dengan gembira tiba-tiba saja dibuat terkejut dan berubah.

“Ah, maaf. Apa yang terjadi, lo-enghiong? Pertanyaanku melukai perasaan cucumu?”

Kakek ini menarik napas dalam, menepuk-nepuk pundak cucunya. Dan karena ia lebih bisa menguasai diri daripada Su Giok maka ia mengangguk dan berkata, suaranya berat, datar. “Ju-taihiap, justeru kedatangan kami ini ada hubungannya dengan murid-muridku itu. Mereka... Keng Han dan Su Tong... mereka tewas, terbunuh!”

“Apa?” namun si jago pedang ini dapat mengendalikan dirinya lagi, sekejap sudah pulih. Matanya yang tadi terbelalak kini memancarkan keheranan tapi juga marah yang terkendali. “Maaf, kau tidak main-main, lo-enghiong? Keng Han dan sutenya terbunuh? Siapa yang membunuh?”

“Inilah masalahnya. Kami tahu siapa yang membunuh tapi kami tak dapat melawan si pembunuh itu. Kami datang untuk minta pertolonganmu. Kami...”

Kakek itu terpaksa berhenti bicara. Su Giok menjerit dan menerkam kakeknya ini dan kematian ayah ibunya kembali terpampang di depan mata, begitu jelas. Hati yang hendak ditekan-tekan ternyata tak kuat juga, gadis itu mengguguk. Dan ketika sang kakek menenangkan dan menghibur cucunya, suami isteri itu saling pandang maka Ju-hujin (nyonya Ju) tiba-tiba bangkit berdiri dan mengusap punggung Su Giok.

“Lo-enghiong, apakah boleh cucumu ini bersamaku kebelakang. Biar aku menghiburnya dan kau bicaralah bersama suamiku.”

Kakek itu mengangguk. Ju-hujin lebih luwes dan sebagai sesama wanita tentu saja nyonya ini lebih pandai. Su Giok juga lebih cocok. Dan ketika nyonya itu memeluknya lembut dan membawanya ke belakang, gadis ini tak menolak maka kakek itu mengusap air matanya yang jatuhmenitik. “Hm, kami benar-benar mengganggu. Maafkan cucuku, taihiap, dia tak dapat menahan dirinya.”

“Tak apa, aku maklum, lo-enghiong. Silakan bicara dan katakan apa yang terjadi. Bagaimana murid-muridmu terbunuh, dan... hm, mana ibu anak itu? Mana murid-murid mantumu?”

“Mereka juga tewas, taihiap, terbunuh. Dua keluarga habis terbunuh kecuali cucu perempuanku itu. Bahkan, aku sendiri juga nyaris terbunuh!”

“Hebat, apa yang terjadi. Siapa orang kejam itu!”

Sang pendekar terbelalak dan mengepal tinju. Setelah bertahun-tahun hidup tenteram dan tak ada pengacau maka tiba-tiba saja hari ini dia mendengar kabar buruk, siapa tidak marah. Namun ketika pelayan datang menyiapkan minuman dan pembicaraan berhenti sejenak maka pendekar itu minta dilanjutkan lagi setelah pelayan pergi. Kakek itu dipersilahkan menyegarkan tenggorokan.

“Mari, minumlah. Kita basahi tenggorokan kita dulu.”

Kakek itu mendesah. Tuan rumah telah mendahuluinya dan iapun menyambar cangkir di meja, meneguk isinya. Dan ketika minuman itu menyegarkan tenggorokannya, kakek ini menarik napas dalam-dalam maka mulailah dia bercerita. “Kejadiannya di Hutan Iblis, serentetan peristiwa mengerikan...”

“Nanti dulu, di mana Hutan Iblis itu, lo-enghiong? Aku belum pernah dengar!”

Di dekat kota Ci-bun, beberapa puluh li ke sana.”

“Hm, di sana tinggal Wo-taijin...”

“Benar, taihiap, tapi pembesar itu tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan dia mengadakan sayembara untuk membunuh srigala-srigala siluman di sana, tapi gagal.”

“Srigala siluman? Ah, lawanmu adalah binatang buas itu?”

“Tadinya begitu, taihiap, tapi sesungguhnya tidak. Coba taihiap dengar dulu,” si kakek lalu bercerita, urut dari awal di mana mula-mula muridnya Keng Han diajak isterinya ke sana. Suami isteri itu tergelitik oleh kabar di Ci-bun dan mereka menunda perjalanan sendiri ke rumah sute mereka, Su Tong. Tapi ketika di sana mereka menghadapi srigala-srigala buas, kejam dan kebal maka di sinilah mereka menemui kegagalan apalagi karena ada seorang berjubah hitam yang menjadi pemilik atau majikan Hutan Iblis.

“Majikan inilah yang sebenarnya merupakan bahaya utama. Dia hebat dan luar biasa sekali. Dialah pemelihara binatang-binatang itu dan beberapa di antaranya dijadikan kebal. Srigala yang kebal tak mempan dibacok senjata tajam dan jumlah mereka yang ratusan benar-benar membuat orang bergidik. Mereka merobek dan memakan daging manusia, termasuk muridku. Ah, ngeri sekali, taihiap. Dan ketika aku datang bersama cucuku ternyata Su Tong, bersama isterinya menemui ajal menyusul suheng dan kakak iparnya perempuan. Mereka dicabik-cabik!”

Sang pendekar tertegun dan berubah-ubah. Dia sama sekali belum mendengar berita itu dan karena tempatnya juga jauh maka tak ada apa-apa yang masuk. Kini kakek itu bercerita tentang Hutan Iblis dan penghuninya, dia merasa seram tapi juga marah. Dan ketika kakek itu melanjutkan kembali betapa dia dikejar dan bertarung mati hidup di rumah muridnya nomor dua, bersama cucu perempuannya di mana mereka hampir binasa maka kakek itu menutup bahwa orang berjubah hitam sekaligus berkedok karet itu amat luar biasa dan ilmu hitamnya kuat.

“Aku tak tahu siapa dia, tapi kepandaiannya benar-benar tinggi dan aku teringat akan Beng-jong-kwi-kang seperti dalam cerita dongeng Kera Sakti, yakni ilmu yang menguasai roh-roh binatang buas. Apakah taihiap pernah dengar?”

“Hm, ilmu hitam itu? Aku juga pernah mendengarnya, lo-enghiong. Tapi Beng-jong-kwi-kang lebih bersifat dongeng daripada dimiliki sungguh-sungguh oleh orang dunia persilatan.”

“Tapi sekarang aku si tua ini menyaksikannya. Ratusan srigala itu begitu penurut dan tunduk kepada tuannya, taihiap. Dan laki-laki itupun dapat menyalak seperti anak buahnya!”

“Ah, seperti anjing?”

“Benar, dan suaranya lebih menyeramkan kalau dia menggonggong atau menyalak memanggil anak buahnya itu. Aku juga baru kali ini melihat manusia seperti itu!”

“Apakah dia juga berjalan seperti anjing?”

“Tidak, taihiap, jalannya seperti manusia biasa. Tapi ilmunya itu, ah, pukulan-pukulan Petirku tak satupun mampu merobohkannya apalagi membunuh. Semua pukulanku tertolak. Dan ilmu hitamnya benar-benar jahat. Aku hendak minta pertolongan taihiap menghadapi laki-laki ini. Atau, kalau taihiap repot, sukalah putera taihiap membantuku dan biarlah bersamaku ke sana!”

“Hm, puteraku sedang bepergian. Di sini hanya aku dan isteriku, lo-enghiong, serta para murid yang berjaga. Aku tentu menolongmu dan coba kubicarakan dengan isteriku!”

“Terima kasih, taihiap, dan ada lagi satu permintaanku. Apakah taihiap kira-kira tidak keberatan.”

“Lo-enghiong mau minta apa?”

Kakek ini menelan ludah. “Begini, taihiap, tentang cucuku perempuan,Su Giok.”

“Ada apa dengan dia?”

“Maksudku, hmm apakah boleh dia tinggal di sini dan menjadi murid taihiap!”

“Ah!” sang pendekar terkejut. “Kau aneh, lo-enghiong. Bukankah kau dapat mendidiknya. Aku tak berani menerima. Aku tak mau merendahkanmu!”

“Bukan begitu. Sakit hati cucu perempuanku amat dalam, taihiap. Ayah ibunya tewas di Hutan Iblis. Dia ingin membalas dendam, tapi kalau hanya mendapat pelajaran silat dariku tentu tak sanggup. Aku si tua bangka ini harus mencarikannya guru pandai dan pilihanku jatuh kepadamu. Itulah sebenarnya!”

“Hm,” sang pendekar mengusap dagu. “Bagaimana ini? Untuk murid aku sudah memiliki banyak, lo-enghiong, agaknya sukar kuterima. Tapi kalau dia mau tinggal di sini dan tak ingin mengecewakanmu bolehlah sejurus dua dia belajar ilmu pedangku. Terus terang aku tak berani menerimanya sebagai murid karena aku sendiri sudah menurunkan semua kepandaianku kepada putera tunggalku. Kalau kau minta semua ilmuku diwariskan kepada cucumu tentu saja aku tak sanggup. Aku telah letih!”

Kekecewaan besar membayang di wajah kakek ini. Tiba-tiba dia menunduk dan menarik napas dalam-dalam. Dia lupa bahwa pendekar ini sudah berkeluarga, mempunyai putera dan tentu saja tak mungkin mengharap ilmunya diturunkan kepada cucunya. Mana mungkin orang lain diberikan begitu saja, apalagi ilmu simpanan. Maka terpukul dan mengangguk-angguk iapun menarik napas dalam-dalam sambil berkata, merintih,

“Maaf, taihiap, aku lupa. Kasih dan cintaku yang besar kepada cucuku satu-satunya itu membuat aku mengharapkannya berlebih kepada orang lain. Aku menyesal, aku keliru...”

Tuan rumah tiba-tiba bangkit berdiri. Pendekar yang tahu bahwa kakek itu sedang kecewa berat tiba-tiba menjura dan berkata, suaranya sungguh-sungguh dan dalam. “Lo-enghiong, kau tidak bersalah. Tapi tentu kau tahu bahwa tak mungkin aku diminta menurunkan semua kepandaiaanku seperti keinginanmu. Bukankah kau masih hidup dan ada bersamanya? Lagi pula meminta ilmuku untuk dipakai membalas dendam adalah lebih tidak mungkin lagi. Kejahatan memang harus ditentang. Kalau iblis itu benar-benar keji maka tidak melalui aku bisa saja keinginan hatimu terlaksana, iblis itu dibunuh orang lain. Bagaimana aku diminta untuk menurunkan ilmu buat membalas dendam? Jahanam itu memang harus dilawan, lo-enghiong. Dan aku tentu akan ke sana menghadapi orang keji itu. Tapi bukan untuk membalas dendam melainkan mencegah terjadinya kejahatan serupa dengan membasmi biang penyakitnya. Yang dimusuhi bukanlah orangnya, melainkan kejahatannya. Nah, kupikir cukup dan lo-enghiong mengerti.”

Kakek ini mengangkat muka. Dia mengangguk-angguk dan bangun berdiri membalas hormat orang, sadar dan tahu bahwa kata-kata itupun betul. Tapi karena dia terlanjur kecewa permintaannya tak terkabul, pendekar ini hanya mau menurunkan sejurus dua ilmunya saja maka kakek ini merencanakan untuk pergi dan kembali saja. Dia juga minta maaf dan berkata tak apa-apa, padahal di dalam hatinya dia terpukul dan kecewa berat. Dan ketika mereka bercakap-cakap lagi dan tuan rumah berusaha menghibur, saat itu nyonya rumah datang bersama Su Giok maka kakek ini bangkit berdiri dan menyambar lengan cucunya ini.

“Taihiap, kalau begitu cukup. Biarlah kami kembali dan aku minta maaf kalau kedatanganku ini benar-benar mengganggu.”

“Ah,” Beng Tan terkejut, berkerut kening. “Kenapa buru-buru, lo-enghiong? Ada isteriku di sini, kita dapat bercakap-cakap lagi!”

“Tidak, terima kasih, taihiap. Cucuku telah tenang dan biar dia kubawa pergi. Aku.... aku mungkin akan kembali ke utara.”

Bukan hanya Ju-hujin yang heran. Su Giok, sang cucu juga terkejut dan heran mendengar kata-kata kakeknya itu. Tak di sangkanya bahwa dia diajak kembali lagi, padahal mereka baru datang dan katanya ia hendak dijadikan murid Ju-taihiap. Tapi karena kakeknya sudah berkata dan tentu saja ia tak menolak, melihat isyarat kakeknya itu maka iapun mengangguk dan memendam rasa herannya itu. Sekali lagi kakek ini menjura dan tuan rumahpun tak dapat berkata apa-apa.

Beng Tan juga memberi isyarat kepada isterinya dan sang isteripun tertegun, maklum bahwa ada sesuatu yang telah mengecewakan kakek itu. Dan ketika kakek itu pergi dan Su Giok disendal kakeknya maka Beng Tan menarik napas dalam dan bermuka muram.

“Orang tua yang keras hati. Ah, ia kecewa tapi apa boleh buat!”

“Apa yang terjadi? Kalian bertengkarkah?”

“Tidak, ia hendak meninggalkan cucunya di sini, isteriku, tapi aku menolak. Dia hendak menyerahkan cucunya sebagai murid...”

“Eh, kenapa ditolak? Kalau hanya itu tak usah keberatan!” sang isteri memotong.

“Hm, kakek itu bermaksud supaya aku menurunkan semua ilmu kepadanya. Mana mungkin, apalagi kalau untuk membalas dendam!”

“Ah, begitukah? Lalu bagaimana?”

“Tidak bagaimana-mana, dia pergi, kecewa. Kalau hanya kuturunkan sejurus dua saja ilmu silat dianggapnya percuma. Diapun dapat mengajar cucunya. Sudahlah, aku juga tak enak akan ini, isteriku. Kulihat pandang mata kakek itu menyimpan sesuatu. Aku mau pergi!”

“Pergi? Pergi ke mana?” sang isteri terkejut. “Ah, jangan main-main, suamiku. Di sini tidak ada orang kecuali kau. Putera kita Han Han sedang pergi!”

“Hm, aku mau ke Hutan Iblis. Aku akan melihat majikan hutan itu dan membuktikan kata-kata Pek-lui-kong tadi.”

“Aku ikut! Kalau kau pergi akupun ikut!”

Sang pendekar mengerutkan kening. “Kau ikut? Untuk apa? Justeru kau harus menjaga rumah!”

“Tidak, tadi aku juga mendengar dari anak perempuan itu akan peristiwa yang dialami, suamiku, dan aku merasa betapa berbahayanya tempat itu. Aku juga ingin tahu dan menghajar penghuni Hutan Iblis itu!”

“Hm, tak ada yang berjaga di sini, bagaimana dengan Hek-yan-pang...”

“Ada Ki Bi, ada pembantu-pembantu kita yang lain!”

“Kau nekat?”

“Bukan, suamiku, melainkan aku tak ingin membiarkan kau sendirian ke tempat itu. Manusia srigala itu orang buas, mahluk kejam. Dan aku juga ingin tahu bagaimana rupanya!”

Ju-taihiap menghela napas. Kalau isterinya sudah ngotot begini tak ada jalan lain kecuali mengikuti. Ditinggalpun tentu menyusul, dia tahu benar watak isterinya ini. Maka ketika dia mengangguk dan sejenak mereka bicara lagi, sang isteri sudah tahu tentang Hutan Iblis dipanggillah pembantu-pembantu mereka untuk diserahi tugas mengurus Hek-yan-pang.

Ki Bi, murid terpandai tertegun dan membelalakkan mata. Datangnya Pek-lui-kong tadi juga disambut bisik-bisik karena dinilai aneh. Masa kenalan yang sudah lama tak bertemu begitu cepat kembali, tentu ada apa-apa, apalagi ketika tadi kakek itu memperlihatkan wajah murung ketika kembali. Dan ketika kini ketua mereka tiba-tiba hendak berangkat dan meninggalkan perkumpulan, hanya beberapa saat setelah tamu pergi maka Ki Bi memberanikan diri bertanya,

“Maaf, pangcu. Ada urusan penting apakah yang membuat jiwi (kalian berdua) tiba-tiba pergi secara mendadak? Apakah kakek tadi membuat persoalan? Ada barang hilang?”

“Hm, tidak. Kami hendak ke Hutan Iblis, Ki Bi, menghajar seseorang. Ada orang jahat di sana, membahayakan orang-orang lain. Kakek itu tak mampu menghadapi dan murid serta murid-menantunya tewas.”

“Ah, Keng-enghiong dan Su-enghiong terbunuh? Mereka tewas bersama isteri-isteri mereka?”

“Benar, Ki Bi, karena itu aku hendak ke sana dan isteriku ikut. Jagalah baik-baik tempat ini sampai kami kembali!”

“Nanti dulu!” Ki Bi tiba-tiba berseru, meloncat kedepan. “Ada aku di sini, pangcu. Ada murid-murid yang lain pula di sini. Pangcu tak usah turun tangan dulu kalau para murid masih ada. Kami dapat mewakili pangcu. Apa gunanya kami kalau sedikit-sedikit pangcu harus turun tangan sendiri!”

“Hm,” sang jago pedang tertegun. “Kau benar, Ki Bi. Tapi melihat laporan Pek-lui-kong tadi agaknya lawan benar-benar lihai. Aku ragu...”

“Tak perlu ragu, pangcu. Kalau musuh benar-benar lihai tunjuk saja beberapa orang di antara kami untuk membasmi musuh. Kami juga menganggur selama bertahun-tahun ini. Asal bukan Golok Maut atau Si Naga Pembunuh tentu dapat kami hadapi!”

Ju-taihiap tersenyum. Inilah semangat dan kegagahan yang ditunjukkan murid utamanya itu. Ki Bi memang gagah dan berani. Dan ketika dia melirik isterinya dan sang isteri tersenyum maka isterinya berkata,

“Ki Bi, kau betul. Ada adik-adikmu yang lain disini. Berangkatlah, biar suamiku tak usah terlalu merendahkan dirinya dengan menghajar manusia iblis itu!”

“Eh, kita tak jadi berangkat?”

“Ki Bi dapat mewakili kita, suamiku. Kita utus saja dia dan empat murid yang lain membasmi orang itu. Kita tunggu dan nantikan hasilnya.”

Sang pendekar menarik napas. Sebenarnya, kalau melihat perbandingan di sini maka dia dapat mengukur bahwa majikan Hutan Iblis itu benar-benar orang hebat. Pek-lui-kong adalah tokoh utara dan kepandaiannya cukup tinggi. Ki Bi barangkali seusap di bawah kakek itu, sendirian saja tentu mengkhawatirkan. Tapi karena empat murid lain dapat diutus dan ini cukup kuat, dia percaya maka disuruhlah murid utama itu mewakili mereka.

“Baiklah, kau boleh berangkat, Ki Bi. Tapi hati-hati, jangan membunuh kalau tidak perlu. Sebaiknya tangkap dan seret saja orang itu ke mari, biar aku melihat rupanya.”

Ki Bi mengangguk. Lain sang isteri lain pula sang suami. Kalau Ju-hujin jelas menyuruhnya untuk membasmi dan membunuh majikan Hutan Iblis itu adalah sang ketua menyuruhnya tangkap dan menyeretnya ke situ. Dia tak diperbolehkan membunuh kalau tidak perlu. Ketua Hek-yan-pang ini memang berhati lembut, siapa tidak tahu. Maka ketika dia tersenyum dan mundur penuh kepercayaan diri, empat adiknya dibawa keluar maka ketua dan nyonya ketua itu menunggu hasilnya.

Tapi sungguh mengejutkan. Belum genap seminggu datanglah berita berdarah itu. Ki Bi, dan empat sumoinya yang diutus ternyata datang dengan tubuh berlumuran darah. Tiga di antara mereka tewas di Hutan Iblis sementara yang satu tewas di tengah jalan. Ki Bi sendiri muncul dengan satu kaki putus, bersimpah darah. Dan ketika Hek-yan-pang geger karena wanita itu ambruk dan mengeluh di depan ketua maka hanya kata-kata pendek yang terdengar.

“Ampun, kami... kami gagal, pangcu... kami... kami semua tak mampu. Para sumoi roboh di tangan jahanam itu. Tiga tewas di sana, dan... dan Leng-sumoi meninggal di perjalanan. Ampunkan kami kami murid-murid bodoh.!”

Bukan main kagetnya Ju-taihiap. Ketua Hek-yan-pang ini sampai terkesima dan terbelalak lebar-lebar. Lima murid utamanya terbunuh. Dan ketika dia merasa menyesal mengapa dulu mengutus para murid ini, Ki Bi menghembuskan napasnya yang terakhir maka meledaklah isak tangis di murid-murid yang lain. Isterinya tertegun dan pucat. Wajah Ju-hujin yang berubah-ubah dan merah pucat berganti-ganti. Dialah yang menerima wanita itu namun karena luka-lukanya yang parah Ki Bi tak dapat ditolong lagi. Dapat kembali dan melapor ke Hek-yan-pang saja sudah termasuk hebat, daya tahan wanita ini mengagumkan. Tapi karena wanita itu tewas dan ju-hujin melengking maka tangannya menampar dan... brakk, dinding depan roboh!

Anak murid menyingkir namun sang ketua menyambar lengan isterinya ini, mencengkeram dan membawa masuk. Dan ketika mayat Ki Bi diurus dan Hek-yan-pang gempar maka tiga hari kemudian ketua turun tangan sendiri, ke Hutan Iblis!

“Sebaiknya kau yang di rumah, aku yang ke sana. Di sini tak ada siapa-siapa, isteriku. Biarlah aku sendiri dan kau jaga anak-anak.”

“Tidak, tidak! Justeru aku yang ingin ke sana, suamiku. Aku seorang diri cukup. Kaulah yang di sini dan biar kubunuh si binatang majikan Hutan Iblis itu!” Ju-hujin mengamuk dan marah-marah. Ju-taihiap berkata namun dia menolak. Dan ketika sang isteri meloncat dan menyambar pedang, berkelebat ke telaga maka sang pendekar terkejut dan menyambar lengan isterinya itu.

“Niocu, kau tak boleh begitu. Kau yang jaga rumah, kau wanita!”

“Tidak, aku atau dia yang mati, suamiku. Sakit hati ini tak boleh dibiarkan dan biar aku atau dia yang mampus!”

Terpaksa, pendekar ini menahan perahu. Sang isteri yang sudah melompat masuk dan siap menyeberang dicegah dulu dengan kata-kata menyabarkan. Dia harus ikut kalau begitu. Dan ketika anak-anak murid dipanggil dan yang tertua diminta menjaga perkumpulan, pendekar ini memberi pesan-pesan maka berangkatlah mereka meninggalkan Hek-yan-pang.

Ju-taihiap tentu saja tak mungkin membiarkan isterinya sendirian. Kalau isterinya tak dapat dibujuk dan ingin seorang diri ke Hutan Iblis baiklah dia mendampingi. Dari tewasnya Ki Bi dan empat sumoinya dapat diketahui bahwa majikan Hutan Iblis benar-benar berbahaya. Agaknya memang dia harus turun tangan. Kalau ada puteranya di situ tentu puteranya itulah yang akan diutus. Mengutus puteranya jauh lebih mantap daripada mengutus isterinya ini. Terlalu berbahaya. Maka ketika dia menyertai dan Ju-taihiap mengayuh perahunya maka perahu melesat meninggalkan telaga untuk sekejap kemudian sudah tiba di seberang.

Di sini anak-anak murid juga menyambut dan menyampaikan selamat jalan. Beberapa di antara mereka menangis dan menyuruh sang ketua berhati-hati. Tak ada yang berani memandang Ju-hujin karena wanita itu tampak marah dan beringas. Sapuan matanya membuat murid-murid bergidik. Ju-hujun sedang murka! Dan ketika mereka melepaskan keberangkatan dua orang itu dengan wajah cemas maka Ju-taihiap sendiri sudah menarik tangan isterinya berkelebat meninggalkan anak-anak muridnya. Dan begitu pendekar ini memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa maka diapun lenyap bersama isterinya di luar hutan.

* * * * * * * *

Hari itu pendekar pedang ini tiba di kota Ma-ciang. Sehari semalam mereka berlari cepat dan melihat wajah isterinya pendekar ini menjadi khawatir. Napas isterinya terengah-engah namun tak mau kalau diajak berhenti. Dan ketika pagi itu mereka memasuki Ma-ciang dan kesempatan ini dipergunakan baik-baik Ju-taihiap mengajak isterinya mencari rumah makan dulu.

“Aku penat, juga lapar. Aku ingin sarapan dulu, isteriku. Berhentilah sebentar dan lihat restoran itu.”

Sang isteri berwajah gelap. “Makan? Lapar? Kau bohong, suamiku. Orang seperti kau tak mungkin lapar atau letih. Kau sengaja ingin berhenti agar aku mengaso dulu. Aku tidak lapar, tidak lelah. Aku masih kuat meneruskan perjalanan!”

“Hm, baiklah. Tapi tak ada jeleknya untuk mengisi perut, niocu. Dari sini ke Ci-bun hanya tinggal beberapa saat lagi. Hitung-hitung cari berita dan siapa tahu mendapat keterangan. Ayolah, aku juga ingin cuci muka dan ganti pakaian. Tubuh kita penuh debu. Lihat wajahmu jelek, masa isteri ketua Hek-yan-pang tidak mandi!”

Swi Cu cemberut. Sang suami mencoba berkelakar tapi ia betul-betul tak mau tertawa. Selama perjalanan mulutnya terkunci rapat dan kalau bicara hanya seperlunya saja. Tapi karena mukanya penuh dengan debu dan benar saja kecantikannya buram, wanita mana mau berwajah jelek maka ia mengikuti saja suaminya ini memasuki rumah makan yang ditunjuk.

Rumah makan itu besar dan dua suami isteri yang memasuki restoran ini meminta pelayan untuk menyiapkan air hangat. Mereka perlu cuci muka dan membasuh tangan. Dan ketika mereka juga minta bubur ayam, panas-panas maka restoran yang masih sepi dari pembeli membuat suami isteri ini leluasa menikmati hidangannya. Swi Cu membasuh mukanya dulu dan baru sang suami. Wajah yang semula hitam kini segar kemerah-merahan. Debu dan kotoran sudah tak ada lagi. Dan ketika mereka duduk menikmati hidangan, bubur panas itu mata Ju-taihiap melirik bahwa hanya ada tiga orang di ruangan itu.

“Hm, sepi, masih terlalu pagi,” katanya. Sang isteri diam saja. “Eh, kau lihat tiga orang di sudut itu, niocu? Satu di antaranya serasa kukenal!”

“Hm, aku tak mau perduli dengan orang lain. Mari cepat habiskan makanan ini, suamiku, dan kita lanjutkan perjalanan!”

“Tapi aneh ada hwesio memasuki rumah makan. Dan lihat, dia ke sini!”

Swi Cu atau Ju-hujin ini mengangkat mukanya. Dia terpaksa memandang karena hwesio yang dimaksud suaminya itu bangkit berdiri dan benar saja melangkah lebar menghampiri dirinya. Wajah itu tersenyum-senyum, namun mata itu memancarkan cahaya yang aneh. Dan ketika hwesio ini berhenti di meja mereka dan menjura, sikapnya hormat maka dia berkata kepada suami isteri itu,

“Selamat pagi, agaknya Ju-taihiap di sini. Ah, kebetulan kita bertemu, taihiap. Ada sahabat pinceng yang ingin bertemu. Tak disangka kita sama-sama di sini. Taihiap rupanya lupa kepada pinceng.”

“Hm, siapa lo-suhu?” jago pedang ini bangkit dan membalas hormat orang, lupa-lupa ingat. “Aku serasa pernah mengenalmu, lo-suhu. Tapi terus terang lupa!”

“Ha-ha, tak aneh, kita jarang bertemu. Tapi taihiap mungkin ingat bahwa pinceng adalah Tiong Liang Hwesio, sahabat Eng Sian Taijin!”

Ju-taihiap terkejut. Tiba-tiba dia ingat bahwa hwesio ini dulu pernah bertemu di rumah Tek-wangwe. Ada sedikit keributan di situ dan mereka pernah bertanding, hwesio ini kalah. Maka tersenyum dan ingat siapa hwesio ini, dulu mereka tak menanam permusuhan maka pendekar ini berkata membalas kata-kata orang,

“Oh, lo-suhu kiranya. Ya, ya... aku ingat. Sekarang aku ingat. Selamat bertemu, lo-suhu. Dan agaknya bukan kebetulan kalau lo-suhu di sini.”

“Pinceng memang akan mengantar kawan, bertandang kerumah taihiap. Tak disangka ketemu di sini dan kebetulan sekali. Maaf, taihiap mau ke mana? Akan pulang atau pergi?”

“Hm, mari lo-suhu duduk. Aku akan pergi, lo-suhu, ada keperluan sebentar. Ada apa lo-suhu mencariku dan dapatkah kita bicara di sini.”

“Ha-ha, tentu saja dapat, malah kebetulan. Eh...!” hwesio itu menggapai dua kawannya di sini, orang-orang yang sejak tadi memandang dan mengamati penuh perhatian, dua laki-laki bermata tajam bagai elang menyambar-nyambar. Pakaian mereka biasa-biasa saja tapi gagang pedang di belakang punggung mereka itu jelas menunjukkan seorang ahli silat.

“Kemari, Gan-siang-enghiong (dua orang gagah Gan). Ini Ju-taihiap dan kebetulan kita bertemu di sini!”

Dua laki-laki itu bangkit berdiri. Mereka sebenarnya sudah sangat memperhatikan pasangan suami isteri itu ketika Ju-taihiap memasuki restoran. Tapi karena suami isteri itu gelap dengan urusannya sendiri, sang isteri bahkan tak menoleh atau melihat mereka maka ketika Tiong Liang Hwesio bisik-bisik dan memberitahukan tamu yang baru masuk itu dua laki-laki ini bersinar dan gatal-gatal tangan. Mereka adalah ahli-ahli pedang dari Nam-tung, dua jago timur yang bersahabat baik dengan hwesio ini. Maka ketika kekalahan hwesio itu diceritakan dan Ju-taihiap terkenal sebagai ahli pedang jempolan, mereka ingin menguji maka setelah menentukan harinya mereka lalu bersama dan bermaksud mencari pendekar itu untuk diajak “kenalan”.

Kini mereka bangkit dan berjalan mendekati meja suami isteri itu. Langkah mereka ringan dan gagah dan sekali lihat Ju-taihiap tahu bahwa dua laki-laki ini orang-orang yang memiliki kepandaian cukup tinggi. Pedang di belakang punggung itu agak mengesankan kejumawaan, pendekar ini tersenyum. Dan ketika mereka tiba di dekat mereka dan langsung mereka membungkuk maka Ju-taihiap bangkit membalas hormat dan sikap Ju-taihiap yang bersahaja dan ada kesan merendah menimbulkan kesombongan dua orang itu.

“Kami Nam-tung Siang-kiam (Sepasang Pedang Dari Nam-tung) sudah lama mendengar nama besar taihiap, hari ini kebetulan bertemu, sungguh beruntung. Kenalkan, aku Gan Po, taihiap dan ini adikku Gan Ciok. Kami sudah lama mengagumi ilmu pedang taihiap dan terus terang saja kami ingin membuka mata meluaskan pengalaman. Apakah taihiap dapat memberi kami petunjuk-petunjuk berharga?”

Inilah tantangan langsung yang tidak basa-basi lagi. Dua orang itu sudah menjura namun dari sepasang tangan mereka itu menyambar angin pukulan kuat. Mereka ingin menguji pendekar itu! Tapi Ju-taihiap yang tenang dan berwatak lembut ini menyambut kalem.

“Jiwi enghiong (dua tuan gagah), kalian berwatak jujur, senang bertemu kalian. Tapi maaf, aku lagi enggan beradu kepandaian karena sedang pepat (susah hati) memikirkan sesuatu.” Pendekar itu menyambut pukulan lawan, tentu saja tahu deru angin menyambar namun dengan sinkangnya dia menahan.

Lawan tertegun dan terbelalak karena pukulan mereka terhenti di tengah jalan, ditambah namun tiba-tiba mereka terhuyung mundur. Kalah! Dan ketika mereka berseru tertahan namun Ju-taihiap buru-buru mengebut, menarik kursi yang lain maka pendekar itu mempersilahkan dua tamunya duduk.

“Mari, silahkan. Kami akan memesan makanan untuk sam-wi.”

Dua orang itu terbelalak. Dari adu pukulan tadi mereka merasa dorongan angin lembut namun kuat menahan pukulan mereka tadi, menambah namun malah terhuyung. Dan ketika mereka kagum namun penasaran akan ini, Ju-taihiap bersikap merendah maka sikap yang dianggap penakut ini membuat dua orang itu tak tahu diri.

“Ju-taihiap, kau hebat. Tapi keistimewaan kami bukan pada ilmu pukulan melainkan ilmu pedang!”

“Ah,” sang pendekar mengerutkan kening, “aku lagi tak bernafsu, jiwi enghiong. Maafkan dan jangan mendesak. Kami sedang menerima persoalan.”

“Apakah taihiap takut?”

“Tak tahu diri!” sang nyonya tiba-tiba membentak dan marah sekali. “Kalian orang-orang she Gan rupanya ingin di hajar, tikus-tikus busuk. Kalau begitu marilah bersamaku dan jangan sombong dengan pedang buruk di belakang punggung itu!”

“Ah,” sang suami terkejut, menyambar dan menyuruh isterinya duduk. “Jangan kasar, niocu. Tak perlu ribut-ribut. Kita di rumah makan. Kalau Gan-siang-enghiong ini ingin mengadu kepandaian biar kita terima di lain hari. Sekarang tak ada waktu dan kita sedang mempersiapkan diri untuk urusan lain.”

Dua laki-laki itu merah. Tak mereka sangka bahwa Ju-hujin demikian galak dan beringas. Mereka tak tahu bahwa wanita ini sedang menahan sakit hati, sesuatu yang mengganggu sedikit tentu bakal membuatnya mendidih. Maka ketika dia bersikap kasar dan langsung memaki dua laki-laki itu, Nam-tung Siang-kiam terkejut dan gusar merekapun tak dapat mengendalikan diri dan orang kedua sudah membentak.

“Bagus, kami memang ingin menjajal kepandaian ketua Hek-yan-pang, hujin. Kalau kau dapat mewakili dan menerima tantangan kami tentu saja kami gembira. Majulah, pedang burukku akan coba-coba membeset kulitmu!”

“Tahan, nanti dulu!” sang pendekar menolak dan menggeleng kepala, sikapnya lagi-lagi dianggap takut, jerih. Dua laki-laki itu bertambah sombong. “Pagi-pagi tak baik bertempur, Gan-enghiong. Kami benar-benar tak mau menerima tantanganmu karena kami sibuk akan sesuatu yang lebih penting. Biarlah kami pergi kalau kalian mendesak!”

Pendekar ini menarik dan menyambar lengan isterinya diajak pergi. Beng Tan tak mau ribut-ribut karena majikan Hutan Iblis menanti mereka. Itulah musuh sesungguhnya dan tak perlu membuang-buang tenaga disitu. Tapi sikapnya yang justeru diterima salah, disangka takut membuat dua laki-laki itu terbahak dan mengejek, kata-katanya ditujukan kepada Tiong Liang Hwesio namun jelas sebenarnya ditujukan untuk si jago pedang itu.

“Ha-ha, mana bukti omonganmu, Tiong Liang lo-suhu. Mana itu kegagahan dan kejantanan Ju-taihiap. Lihat sekarang ia menyingkir dan buru-buru pergi melihat kami berdua. Ah, rugi kami jauh-jauh datang kesini. Kami salah menghargai lawan!”

Ju-taihiap terkejut. Dia bukan terkejut oleh omongan laki-laki itu melainkan terkejut oleh bentakan isterinya. Isterinya meronta dan tahu-tahu menyambar ke depan. Sebuah sinar hitam berkeredep menyambar mulut orang she Gan itu. Dan ketika sinar ini amat cepat dan laki-laki itu terkejut mengelak, kalah cepat maka ia membanting tubuh bergulingan namun ujung hidungnya kena terbabat.

“Crat!” Sedikit saja darah keluar dari ujung hidung laki-laki itu. Dia adalah Gan Ciok atau orang kedua, adik dari Gan Po. Dan ketika laki-laki itu bergulingan meloncat bangun sementara yang lain-lain kaget oleh kecepatan nyonya ini bergerak maka Ju-taihiap tak berbuat apa-apa lagi karena api sudah disulut!

“Tiong Liang suhu, kau membawa penyakit!”

Hwesio itu pucat. Dia telah merasakan kepandaian jago pedang ini namun belum isterinya. Kini melihat temannya dibabat dan sekali sambar Ju-hujin membuat luka, beringas maka hwesio ini mundur dan pandang mata tajam dari pendekar itu membuatnya jerih. Tapi Gan Ciok laki-laki itu sudah melompat bangun. Kakaknya berkelebat dan memeriksa luka adiknya itu, memberi obat luar dan tampaklah betapa marah kakak beradik ini. Dan ketika mereka membalik dan menghadapi nyonya itu, yang ganas dengan pedang di tangan maka pedang hitam bergetar dan ujungnya mengental oleh sedikit darah.

“Orang she Gan, majulah. Kalian berdua boleh maju. Ayo, kutantang kalian dan jangan suruh suamiku dulu!’

Gan Ciok tak dapat menahan diri. Ia amat marah sekali oleh serangan cepat si nyonya tadi. Ia terkejut bukan main oleh gerak sambaran pedang itu. Kalau ia kurang cepat berkelit bukan hanya ujung hidungnya saja yang hilang melainkan mukanya mungkin terbacok! Laki-laki ini gusar bukan main. Maka ketika nyonya itu berdiri menantang sementara suaminya mundur menjauh, Ju-taihiap akhirnya melihat bahwa dua orang ini harus diberi pelajaran maka begitu ia maju begitu pula si nyonya menyambut.

“Bagus, berani sekali kau melukai aku. Kalau tidak memenggal kepalamu tak mungkin aku mau sudah... crang!” dan bunga api yang berpijar oleh dua pedang yang beradu segera membuat keduanya bertanding dan Gan Ciok terkejut. Laki-laki itu merasa bahwa tenaga si nyonya cukup besar, mampu menahan pedangnya dan membuat pedangnya terpental. Tapi karena itu bukan akhiran melainan awal dari sebuah pertandingan maut maka laki-laki ini menggunakan daya pental pedangnya untuk membabat dan membacok dari samping.

Sang nyonya mengelak dan selanjutnya membalas cepat. Dan ketika pedang di tangan keduanya sudah naik turun menyambar-nyambar, masing-masing mengeluarkan ilmu kepandaiannya maka Ang-in Kiam-sut atau Ilmu Pedang Awan Merah dikeluarkan nyonya ini untuk menandingi lawan, yang sudah bergerak dan menyambar-nyambar dengan pedang bersinar putih di tangan. Gan Ciok atau laki-laki itu ternyata mahir memainkan pedang. Ia mampu membacok dan menusuk dengan gerakan-gerakan tak terduga, bahkan pedangnya juga sering menyendok atau menggarpu, yakni gerakan membabat atau menusuk dari bawah atau depan. Namun karena lawan adalah isteri seorang jago pedang ternama, Ju-hujin bukanlah wanita main-main maka ia mampu mengimbangi permainan lawan dengan sapuan atau bacokannya yang tak kalah cepat.

Tadi Gan Ciok terbabat karena tak menyangka. Si nyonya langsung melengking dan mencabut pedangnya itu, hidung menjadi korban. Namun setelah ia berhati-hati dan kini gulungan sinar pedangnya mencoba untuk membungkus dan melenyapkan si nyonya, Ju-hujin terkurung namun sinar pedangnya mampu menguak lawan maka maksud laki-laki itu gagal dan marahlah jago dari Nam-tung ini karena ia tak dapat mendesak.

Bahkan, setelah pertandingan berjalan limapuluh jurus malah pedangnya yang terbungkus oleh pedang di tangan nyonya itu. Adu tenaga dan adu kecepatan ternyata masih dimenangkan nyonya ini. Dan ketika satu gulungan sinar pedang disusul oleh pecahnya tiga cahaya hitam menyambar muka dan tenggorokan lawan, laki-laki ini menangkis tapi pedang terpental ke bawah menusuk ulu hatinya maka dia membanting tubuh bergulingan namun kancing baju di ulu hatinya copot.

“Bret!”

Kejadian ini membuat si laki-laki pucat. Si nyonya demikian lihai dan ilmu pedangnya ganas sekali, sedikit dia terlambat tentu perutnya tercoblos! Dan ketika ia bergulingan meloncat bangun sementara lawan tertawa mengejek, mengejar dan menyerangnya lagi maka jago dari Nam-tung ini tertekan dan terdesak! Saudaranya terbelalak dan Gan Po atau laki-laki pertama berubah mukanya. Sama sekali tak disangkanya bahwa Ju-hujin itu demikian hebat. Ia tak tahu bahwa nyonya ini sudah jauh lebih lihai daripada lima sepuluh tahun yang lalu, sewaktu masih gadis remaja dan belum menikah. Karena semenjak nyonya ini menjadi isteri Ju-taihiap maka ilmu pedang Awan Merah itu disempurnakan dan jago pedang Ju-taihiap sendiri yang menggembleng isterinya itu.

Akibatnya Ju-hujin ini tentu saja menjadi lihai beberapa kali lipat dari mendiang Hek-yan Tai-bo sendiri tak mungkin menang melawan cucu muridnya ini. Ju-hujin ini sudah bukan lagi Swi Cu yang dulu, Swi Cu yang masih gadis dan dulu bersama mendiang sucinya (kakak seperguruan perempuan) sering dikalahkan orang. Dengan kepandaiannya yang sekarang nyonya ini dapat mengalahkan jago-jago kelas satu. Hanya beberapa orang terlihai saja mampu mengalahkannya, seperti suamiya itu sendiri atau puteranya Han Han, juga Si Naga Pembunuh Giam Liong.

Maka ketika orang she Gan ini bicara sombong dan si nyonya yang sedang marah dibuat naik pitam, orang ini harus diberi pelajaran maka begitu dia bertanding segera lawan dibuat terkejut oleh kehebatan dan kecepatannya bergerak. Ang-in Kiam-sut terus menekan dan mendesak dan lagi satu kancing baju putus. Lawan bergulingan dengan amat kaget dan gentar. Dan ketika Ju-hujin masih juga mengejar dan satu bacokan pedangnya membabat leher lawan maka Ju-taihiap berseru keras untuk mencegah membunuh. Namun saat itu Gan Po atau laki-laki pertama bergerak. Tepat di saat Ju-taihiap berseru pada isterinya tiba-tiba laki-laki itu membentak dan menerjang maju. Ju-taihiap tak jadi bergerak dan kembali mundur. Dan ketika pedang membacok leher Gan Ciok maka Gan Po atau laki-laki pertama ini menangkis.

“Cranggg...!”

Ju-hujin terhuyung mundur dan terkejut. Ia merah mukanya tapi lawan juga tergetar dan berseru keras. Gan Po juga merasai hebatnya tenaga wanita ini. Tapi karena ia sudah maju menolong adiknya dan sementara adiknya meloncat bangun ia sudah membentak dan menerjang lagi, pedang menyambar dan menusuk dada wanita itu maka Swi Cu menangkis dan mereka sudah bertempur hebat.

“Bagus, kalian boleh maju berdua, orang she Gan. Hayo keroyoklah aku dan lihat kepandaian nyonyamu!”

Laki-laki ini marah. Ia tergetar dan terhuyung lagi begitu pedang saling bentur. Isteri jago pedang ini memang hebat. Namun karena ia juga menganggap diri sendiri ahli pedang dan sebagai ahli pedang tentu saja penasaran oleh kepandaian jago lain maka ia menyerang lagi dan Gan Ciok yang pucat mendengar seruan nyonya itu membentak dan benar-benar mengeroyok. Ju-taihiap berkerut kening namun ia mampu melihat keadaan. Seorang lawan seorang isteri dapat mengalahkan. Kini melihat dua orang itu maju bersama dan Siang-kiam atau Sepasang Pedang di tangan dua laki-laki itu sudah saling bungkus dan bantu-membantu maka isterinya yang terlanjur minta dikeroyok tiba-tiba menghadapi lawan berat.

Tapi pendekar ini tidak khawatir. Isterinya tertekan tapi bukan terdesak. Dua batang pedang di tangan dua laki-laki itu ternyata dapat bekerja sama dan masing-masing melindungi dan menyerang. Setelah mereka berpasangan tampaklah bahwa dua orang ini memang orang-orang tangguh. Kalau Gan Ciok membuka lubang maka kakaknya inilah menutup, kalau sang kakak membuka lubang adiknya itulah yang menutup. Dan karena lubang-lubang pertahanan ini selalu dijaga dan mulailah isterinya tertangkis bertemu satu di antara dua batang pedang itu, entah Gan Ciok atau Gan Po maka dua tenaga berganti-ganti dari dua orang ini membuat isterinya mandi keringat.

Kecepatan gerak isterinya dapat dilawan pertahanan rapat dua orang itu, masing-masing bantu-membantu dan inilah yang menyulitkan. Dan karena serangan selalu tertangkis sementara isterinya harus berjuang mempertahankan dan menyerang sekaligus, lawan hanya bertahan atau menyerang saja maka isterinya mulai lelah karena serangan-serangannya tak membawa hasil. Dan sekarang Ju-hujin itu terdesak.

“Ha-ha, sekarang kesombonganmu lenyap, Ju-hujin. Mana kepandaian dan kehebatanmu. Ayo, robohkan kami, atau kau yang roboh!”

“Tak usah banyak mulut!” si nyonya membentak dan mempertahankan diri. “Kalian belum melihat kepandaianku yang lain, tikus-tikus busuk. Kalau sekarang kalian mendesak aku maka biarlah kusembah kaki kalian... singgg!” sinar pedang tiba-tiba berobah, tajam menyilang kiri kanan dan sekonyong-konyong dari bunyi desing itu keluar kilat menyambar menyilaukan mata.

Dua laki-laki terkejut karena mendadak mereka melihat adanya perobahan besar. Si nyonya tidak mengandalkan kecepatan geraknya melainkan jurus-jurus aneh, yang berat dan mengeluarkan hawa panas dan dari hawa panas inilah muncul serangan luar biasa yang membuat mereka terkejut. Cahaya menyilaukan dari pedang hitam itu memantulkan sinar putih. Aneh, pedang hitam dapat memantulkan cahaya perak. Dan ketika mereka silau dan cahaya ini mengganggu maka saat itulah mereka tak dapat melihat baik dan desing pedang di tangan si nyonya tahu-tahu menusuk atau menikam bawah tubuh mereka.

“Pek-jit Kiam-sut (Ilmu Pedang Matahari)!”

Inilah seruan Tiong Liang Hwesio yang pernah melihat kehebatan ilmu pedang itu. Dua saudara Gan baru kali itu merasakan dan mata mereka yang silau oleh pedang hitam membuat mereka kaget sekali karena tak dapat melihat serangan. Bagaimana bisa melihat kalau cahaya terang dari pedang di tangan nyonya itu menyilaukan mata. Mereka berkejap sejenak dan itu awal celaka. Dan ketika pedang mendesing dan mereka melempar tubuh dengan kaget maka suara memberebet terdengar dua kali dan paha mereka tergores.

“Niocu, jangan membunuh!” Ini suara Ju-taihiap.

Tadi dua saudara Gan merasa sombong dapat menekan nyonya itu. Mereka tak tahu bahwa Pek-jit Kiam-sut atau Ilmu Pedang Matahari belum dikeluarkan nyonya ini. Ju-hujin masih bertahan dengan pedang Awan Merahnya itu. Maka ketika dia terdesak dan itulah saatnya mengeluarkan ilmu simpanan, dua laki-laki ini harus diajar adat maka dikeluarkan Pek-jit Kiam-sut itu dan pedang hitam yang tiba-tiba berobah dan mengeluarkan cahaya menyilaukan tentu saja membuat kaget lawan yang silau pandangan. Jago pedang dari Nam-tung ini kaget bercampur gentar karena kalau mereka selalu berkejap tentu lawan mudah menyerang.

Dan ketika benar saja mereka harus sering berkejap dan tikaman atau tusukan menghujani mereka, gaya bertahan dan menyerang dari mereka hancur dan pecah maka Gan-siang-enghiong ini menjadi kalang kabut dan mereka seolah bergerak sendiri-sendiri lagi seperti semula. Padahal seorang lawan seorang jelas mereka masih bukan tandingan nyonya ini, yang memang lihai. Dan begitu mereka bergulingan dan pedang terus menusuk dan menikam, mengejar maka Silat Pedang Matahari tak dapat mereka lawan dan tujuh luka “menggigit” dua jago pedang itu.

Ju-hujin rupanya masih ingin terus menghajar lawan sampai benar-benar roboh. Paha dan lengan luka-luka oleh tusukan pedangnya yang meskipun tidak dalam namun cukup membuat darah mengucur. Dan ketika dua orang itu mengeluh dan bergulingan ke sana ke mari, menangkis namun akhirnya pedang terlepas dari tangan maka ujung pedang si nyonya tahu-tahu telah berhenti di leher Gan Po, bergetar!

“Nah, menyerah tidak!”

Laki-laki itu pucat. Gan Ciok, saudaranya, mengerang dan rebah di sana. Ada luka memanjang di bahu adiknya itu. Tapi melihat bahwa dia kalah, sang nyonya bengis menekan kulit lehernya maka laki-laki ini mengangguk. “Kami.... kami menyerah. Hujin benar-benar hebat!”

“Kalian masih berani coba-coba lagi? Masih berani kurang ajar?”

“Tidak, maafkan kami, hujin. Kami kalah. Kami mengakui kelihaianmu.”

“Hm, kalau begitu jangan menghina suamiku pula atau nanti pedangku menebas putus leher kalian!”

Laki-laki itu merintih. Sang nyonya sudah menarik ujung pedangnya dan kulit yang teriris sedikit terasa perih. Ju-hujin telah memberinya pelajaran. Dan ketika ia meminta pertolongan Tiong Liang Hwesio yang sudah menolong adiknya maka hwesio itu pucat dan merah berganti-ganti dipandang nyonya ini. Lebih takut terhadap Ju-hujin daripada Ju-taihiap. Maklum, sang isteri tampaknya lebih galak!

“Kau!” nyonya ini menuding. “Jangan membuat ulah lagi, hwesio bau. Sekali kau melanggar maka ulu hatimu kutembus pedang!”

“Maaf, kami salah... maaf...!” sang hwesio menunduk dan membungkuk-bungkuk. “Pinceng hanya mengantar kawan-kawan pinceng ini, hujin. Bukankah biasa kalau orang-orang persilatan mengajak pibu..”

“Tapi kau tak tahu waktu. Bukankah suamiku sudah menolak dan meminta lain kali saja!”

“Maaf, hujin, kami memang salah. Baiklah pinceng menyingkir dan pinceng tak akan mengganggu kalian lagi...” hwesio itu memapah teman-temannya dan mau melangkah pergi. Tapi baru dia ngeloyor dua tindak maka si nyonya berkelebat dan ujung pedang menodong dadanya.

“Kau enak saja menyuruh kami membayar makan minum disini? Kau menyuruh kami membayar kerugian kepada pemilik restoran?”

“Ah, maaf...!” hwesio ini terkejut, sadar. “Pinceng lupa, hujin... lupa..! baiklah, biar pinceng bayar dan jangan khawatir pinceng tak akan membuat rugi pemilik rumah makan!” lalu melepaskan dan menyuruh teman-temannya berhenti sejenak hwesio ini buru-buru membayar ke kasir.

Pemilik restoran ngumpet bersembunyi dan pelayan-pelayannyapun lari berserabutan. Mereka tahu bahwa keributan di antara orang-orang kang-ouw tak boleh dicampuri, atau mereka akan menjadi korban. Tapi ketika sang hwesio mengeluarkan koceknya dan pemilik tentu saja muncul di meja kasir, menyeringai dan menerima uang maka pemilik berseri-seri menghadap suami isteri itu. Sang hwesio sekarang ngeloyor pergi.

“Tak kami sangka bahwa kami kedatangan ketua Hek-yan-pang dan isteri. Ah, terima kasih atas kemurahan kalian, taihiap. Kami tak jadi menanggung kerugian dan sekali lagi terima kasih...!”

Swi Cu tak menggubris kata-kata ini. Ia sudah menyimpan pedangnya dan hwesio itu bersama dua temannya lenyap di luar. Dan ketika sang suami memegang lengannya dan menarik napas panjang maka pasangan suami isteri itu melangkah keluar dan tidak menengok lagi kepada pemilik rumah makan. Mereka baru berhenti ketika pemilik mengejar dan berteriak dari belakang, tepat ketika mereka sudah di luar pintu pagar. Dan ketika dari samping muncul dua ekor kuda hitam dituntun pelayan maka pemilik rumah makan itu, seorang laki-laki gendut berwajah ramah sudah menjura dan berulang-ulang membungkuk di depan mereka.

“Taihiap dan lihiap katanya sedang melakukan perjalanan. Biarlah sebagai rasa terima kasih kami dua ekor kuda ini untuk meringankan beban jiwi berdua. Taihiap boleh mengambil atau meminjamnya!”

“Hm, kau menghadiahkan kuda ini untuk kami?” sang pendekar mendapat pikiran baik. “Bagus, kuterima, saudara. Tapi jangan sebagai hadiah Cuma-Cuma. Nih, sekedar pengganti harga kuda!”

“Ah, tidak, tak usah!” pemilik restoran menolak uang yang dikeluarkan. “Kehormatan bagi kami dapat memberimu sesuatu, taihiap. Siapa tidak kenal taihiap dan nama besar taihiap. Ambillah, kami tidak butuh!”

“Kau sudah kaya?” sang pendekar tertawa. “Kalau begitu berikan pelayan-pelayanmu, wangwe (hartawan). Pokoknya aku tak mau cuma-Cuma dan terserah!” uang dilemparkan ke tembok pagar rendah, disusul oleh bayangan pendekar itu yang tahu-tahu sudah menaiki kuda di sebelah kiri. Lalu ketika dia menyendal dan menarik tali kekang kuda lain maka pendekar itu berderap dan sudah menyuruh isterinya naik.

Swi Cu mengerutkan kening dan mau menolak. Ia merasa heran kenapa suaminya menunggang kuda, bukankah ilmu lari cepat mereka lebih cepat ketimbang kuda. Namun karena sang suami sudah berderap dan uang di atas pagar dipandang terbelalak oleh pelayan dan pemilik restoran, sang nyonya meloncat dan melarikan kudanya maka terjadi pemandangan menggelikan ketika majikan dan pelayannya sama-sama menyambar uang itu.

“He, itu punyaku. Berikan!”

“Tidak, Ju-taihiap memberikannya untuk kami, loya. Kau tadi menolaknya!”

“Eh, minta kupecat? Baik, kau tak boleh bekerja di sini lagi, A-sam. Kalian boleh habiskan uang itu dan nanti kelaparan merengek di rumah makanku!”

Dua pelayan itu tertegun. Akhirnya mereka bersungut dan mundur membiarkan uang itu diambil majikan mereka. Diam-diam mereka mendongkol. Ternyata majikan ini hijau juga matanya oleh lima keping uang emas itu. Dan ketika di sana Ju-taihiap mendengar ini dan tertawa maka dia sudah mengajak isterinya meninggalkan Ma-ciang. Orang kalau sudah melihat duit tetap saja kelihatan watak aslinya. Rakus! Namun ketika sang isteri cemberut dan diam di sampingnya maka pendekar ini memperlambat lari kudanya dan menoleh.

“Kau sudah puas menghajar orang-orang tadi di sana?”

“Hm, kalau kau tidak mencegahku tentu aku lebih puas lagi kalau membunuh, suamiku. Mereka itu orang-orang tidak tahu adat yang sombong!”

“Ah, sudahlah, tak perlu dipikir. Mari kita larikan kuda kita dan lihat siapa lebih dulu tiba di Hutan Iblis...!”

Tapak Tangan Hantu Jilid 04

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 04
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“TAPI mereka bertindak sebagai orang gagah. Bhi Pui membela kebenaran dengan melawan kejahatan!”

“Kau tidak salah. Tapi ada waktu-waktu di mana kita tidak boleh bertindak ceroboh, Su Giok. Bahwa tak semua kejahatan harus dilawan secara langsung. Ada hal-hal tidak benar yang harus dilawan secara tidak langsung, mempersiapkan diri dulu. Bibimu itu umpamanya, dia tahu bahwa musuh terlalu lihai, berbahaya. Kenapa tidak menyusun kekuatan dulu dan baru maju? Aku sendiri kalau nekat dan melawan kekuatan yang lebih di atas kekuatanku tentu aku juga hancur. Bukannya takut, tapi mati secara konyol adalah tindakan sia-sia, bodoh!”

Gadis itu tertegun, mengerutkan kening.

“Kau umpamanya,” sang kakek melanjutkan, menarik napas dalam. “Kalau kubiarkan dan tidak melarikan diri tentu kematianmu juga sia-sia, Su Giok. Tak mungkin kelak membalas dendam. Kejahatan memang harus ditentang, dilawan. Tapi jangan sembrono dan harus melihat kekuatan sendiri. Orang yang bijak tentu tahu ini dan tidak main hantam kromo.”

Gadis itu mengangguk-angguk, mulai mengerti. Dan teringat betapa ayah ibunya tewas maka dia terisak lagi sambil mengepal tinju, menggigit bibir. “Kau benar, kong-kong. Aku tak akan sembrono dan mempersiapkan diri dulu. Tapi, mungkinkah aku membalas dendam?”

“Kematian ayah ibumu adalah soal lain, menentang kejahatan yang dilakukan pemilik Hutan Iblis adalah soal yang utama. Kalau kau tetap denganku tak mungkin terlaksana cita-citamu, Su Giok. Terus terang aku si tua bangka ini tak dapat membuatmu lihai. Kau harus mencari guru lagi!”

“Ah,” gadis ini terkejut. “Apa katamu, kong-kong? Mencari guru lagi? Kau..?”

“Benar,” sang kakek tertawa getir. “Kau lihat kepandaianku sendiri, Su Giok. Mampukah aku melawan laki-laki berjubah hitam itu. Aku tak dapat memberimu ilmu-ilmu lebih tinggi lagi, kepandaian utamaku hanya Pek-lui-ciang. Sedang ilmu itu tak dapat dipakai menghadapi pemilik Hutan Iblis. Apalagi kalau bukan mencari guru baru? Dan aku sudah merencanakan ini. Nanti di Hek-yan-pang aku akan minta kepada ketua yang terhormat agar mau mengambilmu murid, atau setidak-tidaknya diberi pelajaran lebih tinggi daripada kakekmu yang tiada guna ini!”

Su Giok berseru tertahan. Tiba-tiba ia meloncat karena dirinya hendak diserahkan kepada orang lain, kakeknya tampak sedih dan kecewa akan diri sendiri. Maka kaget dan menggeleng kuat ia berkata, “Tidak, kalau aku harus berpisah denganmu aku tak mau, kong-kong. Lebih baik begini tapi selalu bersamamu!”

“Berarti kau menanggalkan maksud balas dendammu? Kau tak jadi membela kematian ayah ibumu? Hm, jangan bodoh. Orang bijak selalu pandai melihat keadaan, Su Giok, pandai menguasai diri sendiri. Kalau kau ingin membalas dendam maka tiada jalan lain kecuali dengan berguru dan mendapatkan guru yang lebih baik dari kakekmu ini. Dan kupikir hanya ketua Hek-yan-pang itu yang pantas untukmu. Jangan seperti anak kecil!”

Gadis ini tersedu-sedu. Tiba-tiba dia menjadi bingung karena betapapun kata-kata kakeknya itu benar. Mereka sudah membuktikan bahwa laki-laki berjubah itu bukan tandingan mereka. Kakeknya harus melarikan diri dan lintang-pukang, padahal kakeknya itu sudah mendapat nama di daerah utara sana tapi tetap juga mengakui keunggulan lawan. Dan ketika dia menubruk dan mengguncang-guncang bahu kakeknya ini, betapapun tak dapat dia berpisah maka gadis ini berseru,

“Baiklah, kalau begitu boleh aku tinggal di Hek-yan-pang, kong-kong, tapi kaupun harus tinggal disana. Aku tak mau berpisah. Aku tak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali kau!”

“Hm, benar-benar masih anak kecil,” kakek ini tersenyum. “Masa aku harus selalu bersamamu, Su Giok. Kau sekarang sudah limabelas tahun, sudah besar. Tiga empat tahun lagi kau sudah menjadi gadis dewasa dan bagaimana kalau aku selalu mengawalmu. Marah pacarmu nanti!”

“Pacar? Ah, kong-kong main-main! Aku bicara serius, kong-kong, aku tak mau pacaran. Aku mau di Hek-yan-pang namun kau juga harus tinggal di sana!”

“Baiklah... baiklah...” kakek ini tertawa, diam-diam mempunyai rencana sendiri. “Kalau ketua Hek- yan-pang tak keberatan tentu saja aku tinggal di sana, Su Giok. Sekarang marilah kita berangkat dan apakah letihmu sudah hilang.”

Gadis ini girang, berseri. “Kong-kong tak akan meninggalkan aku?”

“Tentu saja, kau cucuku. Hayo berangkat kalau ingin menimba ilmu lebih tinggi lagi!” dan tertawa dicium sang cucu, gadis itu girang maka dia bergerak dan menyambar lengan kakeknya ini.

Orang tua itu memang seperti kakeknya sendiri selain sebagai guru, kakek guru. Mereka bertahun-tahun tinggal bersama di utara dan kalau kini tiba-tiba kakek itu hendak menyerahkannya kepada ketua Hek-yan-pang dan mereka berpisah tentu saja gadis ini tak mau. Boleh saja dia berguru kepada orang pandai tapi jangan berpisah dengan kakeknya ini. Satu-satunya keluarga adalah kakek itu yang masih tinggal. Su Giok memang masih terlalu anak-anak. Maka ketika dia merasa girang dan kata-kata kakeknya ini dipegang teguh segera orang tua itu berdiri dan mereka melanjutkan perjalanan keHek-yan-pang.

Sekarang gadis ini menaruh harapan. Di sepanjang jalan kakek itu menceritakan kehebatan ketua Hek-yan-pang ini, sifat dan sepak terjangnya yang selalu menjunjung kebenaran. Dan ketika perjalanan dilakukan tanpa berhenti karena kakek ini ingin cepat-cepat bertemu pria gagah itu maka tiga hari kemudian mereka sampai di markas Hek-yan-pang.

Sebuah perkampungan mungil mengelilingi markas perkumpulan itu yang terletak di tengah telaga. Su Giok dan kakeknya tentu saja dihadang penjaga, yakni murid-murid Hek-yan-pang laki-laki yang mendiami perkampungan di luar telaga itu. Dan ketika mereka berhenti dan ditanya maksudnya, siapa dan dari mana maka kakek yang menarik napas dalam dan ingin cepat-cepat ketemu ini bicara lembut,

“Aku dan cucuku Su Giok ingin menghadap ketua kalian. Sampaikan bahwa Pek-lui-kong dari utara ingin bertemu.”

“Ah, locianpwe si Dewa Halilintar?”

“Sudahlah, beritahukan kepada ketua kalian bahwa aku ingin bertemu.”

Dua murid penjaga itu mengangguk. Mereka sudah memutar tubuh sementara murid-murid yang lain berjaga, menyuruh kakek itu menunggu sebentar dan dua teman mereka itu sudah mengambil perahu dan mendayung ke tengah. Dan ketika perahu tiba di seberang dan pengemudinya melompat ke darat, lenyap dan tak lama kemudian muncul lagi maka perahu itu didayung lagi dan ternyata kakek dan cucunya ini dipersilahkan masuk.

“Jiwi diterima ketua, mari masuk dan kami antar!”

Kakek dan cucunya ini melompat ke perahu. Mereka sudah dibawa ke tengah telaga itu sementara Su Giok memegang lengan kakeknya erat-erat. Setelah berada di situ tiba-tiba gadis ini tegang. Dia teringat kata-kata kakeknya dan memandang kakeknya itu penuh khawatir. Apakah kakeknya ini menepati janji? Tapi ketika dia ditepuk-tepuk dan kakek itu tertawa menghibur, Pek-lui-kong berbisik bahwa gadis itu tak perlu takut maka Su Giok mencekal lebih erat lagi lengan kakeknya ini.

“Aku tidak takut, tapi... tapi tak mau ditinggal. Kau harus menepati janjimu, kong-kong, atau aku tak mau tinggal di sini dan pergi!”

“Ah, bodoh, tolol sekali. Kenapa masih juga picik pikiranmu itu, Su Giok? Jangan kekanak-kanakan, aku tentu saja di sini kecuali ingin mencari udara segar di luar. Sudahlah, kita sampai dan lihat itu dua suami isteri gagah itu!”

Ternyata ketua Hek-yan-pang dan isterinya sendiri menyambut. Su Giok menengok dan melihat wajah gagah dari seorang laki-laki berusia empatpuluh lima tahunan. Laki-laki itu didampingi seorang wanita cantik yang usianya lebih muda dua tiga tahun, gagah dan tajam pandangannya tapi begitu melihat mereka tiba-tiba saja sepasang mata itu berubah lembut, berseri dan ketika ia diajak melompat maka kakeknya buru-buru menjura dan menghormat pemilik telaga ini. Dan ketika tuan rumah bergerak dan Su Giok disuruh membungkuk maka kakeknya berseru gembira melihat suami isteri ini.

“Ah, selamat bertemu. Maafkan aku yang datang mengganggu, Hek-yan-pangcu. Aku datang bersama cucuku Su Giok. Kalian terlalu repot dengan menyambut kami sendiri di tepi telaga, kami jadi malu!”

“Ha-ha, siapa tidak gembira menerima tamu agung. Kami menerima laporan tentang kedatanganmu, Pek-lui-kong lo-enghiong, dan kami gembira serta mengucapkan selamat datang di telaga ini!”

“Ah, aku bukan tamu agung, justeru tamu yang hanya membuat repot tuan rumah. Ha-ha, kau masih tampak gagah dan muda, Ju-taihiap. Sungguh aku orang tua kagum!”

Mereka saling memberi hormat. Su Giok memandang dan mengamati laki-laki ini dan ia bergetar. Laki-laki itu benar gagah dengan sepasang matanya yang tajam mencorong. Dalam keadaan tertawapun mata itu membawa pengaruh dan amat kuat, mata yang membuat ia menunduk dan tak kuat lama-lama beradu. Dan ketika wanita di sebelah juga tersenyum dan gembira menyambut mereka maka Su Giok malu-malu diperkenalkan kakeknya.

“Ini cucuku, putera Su Tong. Kami datang karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan taihiap.”

“Ah-ah, masa terburu-buru. Mari kedalam dan kita bercakap-cakap disana, lo-enghiong. Sudah lama kita tak bertemu dan justeru aku ingin bertanya bagaimana kabar murid-muridmu saudara Keng Han dan Su Tong.”

“Kami...”

“Sudahlah, mari masuk!”

Kakek itu tak diberi kesempatan bicara. Tuan rumah tak ingin bercakap-cakap di luar dan setelah murid penjaga disuruh pergi iapun membawa tamunya ini masuk. Su Giok digandeng kakeknya dan gadis itu terisak. Pertanyaan tentang orang tuanya tadi mengingatkan kembali peristiwa buruk. Namun ketika kakeknya menowel bahunya menyuruh ia diam, jangan membuat tuan rumah terheran maka gadis itu masuk ke dalam namun sepasang suami isteri ini sudah menangkap isak lirih tadi, melirik namun diam saja dan diam-diam sepasang suami isteri ini heran. Mereka memang merasa aneh. Ada tamu menangis. Tapi ketika mereka menyuruh duduk tamu-tamu mereka ini, memanggil pelayan menyiapkan minuman maka kakek itu menerima pertanyaan gembira tentang kabar murid-muridnya, hal yang lagi-lagi membuat Su Giok terpukul dan menunduk. Mukanya tiba-tiba menjadi merah. Sedih!

“Tentu lo-enghiong (orang tua gagah) tahu bagaimana kabar dari saudara Keng Han dan Su Tong. Apa berita mereka, lo-enghiong, kenapa tidak sekalian ke mari? Aku kangen kepada sahabat-sahabat lama, sepuluh tahun lebih tak pernah bertemu!”

Su Giok tiba-tiba mengguguk. Pertanyaan ini tanpa sengaja untuk kedua kalinya lagi merobek-robek hatinya, ia tak kuat. Dan ketika ia tersedu dan menubruk kakeknya, membenamkan muka di situ maka Ju-taihiap yang bermaksud membuka percakapan dengan gembira tiba-tiba saja dibuat terkejut dan berubah.

“Ah, maaf. Apa yang terjadi, lo-enghiong? Pertanyaanku melukai perasaan cucumu?”

Kakek ini menarik napas dalam, menepuk-nepuk pundak cucunya. Dan karena ia lebih bisa menguasai diri daripada Su Giok maka ia mengangguk dan berkata, suaranya berat, datar. “Ju-taihiap, justeru kedatangan kami ini ada hubungannya dengan murid-muridku itu. Mereka... Keng Han dan Su Tong... mereka tewas, terbunuh!”

“Apa?” namun si jago pedang ini dapat mengendalikan dirinya lagi, sekejap sudah pulih. Matanya yang tadi terbelalak kini memancarkan keheranan tapi juga marah yang terkendali. “Maaf, kau tidak main-main, lo-enghiong? Keng Han dan sutenya terbunuh? Siapa yang membunuh?”

“Inilah masalahnya. Kami tahu siapa yang membunuh tapi kami tak dapat melawan si pembunuh itu. Kami datang untuk minta pertolonganmu. Kami...”

Kakek itu terpaksa berhenti bicara. Su Giok menjerit dan menerkam kakeknya ini dan kematian ayah ibunya kembali terpampang di depan mata, begitu jelas. Hati yang hendak ditekan-tekan ternyata tak kuat juga, gadis itu mengguguk. Dan ketika sang kakek menenangkan dan menghibur cucunya, suami isteri itu saling pandang maka Ju-hujin (nyonya Ju) tiba-tiba bangkit berdiri dan mengusap punggung Su Giok.

“Lo-enghiong, apakah boleh cucumu ini bersamaku kebelakang. Biar aku menghiburnya dan kau bicaralah bersama suamiku.”

Kakek itu mengangguk. Ju-hujin lebih luwes dan sebagai sesama wanita tentu saja nyonya ini lebih pandai. Su Giok juga lebih cocok. Dan ketika nyonya itu memeluknya lembut dan membawanya ke belakang, gadis ini tak menolak maka kakek itu mengusap air matanya yang jatuhmenitik. “Hm, kami benar-benar mengganggu. Maafkan cucuku, taihiap, dia tak dapat menahan dirinya.”

“Tak apa, aku maklum, lo-enghiong. Silakan bicara dan katakan apa yang terjadi. Bagaimana murid-muridmu terbunuh, dan... hm, mana ibu anak itu? Mana murid-murid mantumu?”

“Mereka juga tewas, taihiap, terbunuh. Dua keluarga habis terbunuh kecuali cucu perempuanku itu. Bahkan, aku sendiri juga nyaris terbunuh!”

“Hebat, apa yang terjadi. Siapa orang kejam itu!”

Sang pendekar terbelalak dan mengepal tinju. Setelah bertahun-tahun hidup tenteram dan tak ada pengacau maka tiba-tiba saja hari ini dia mendengar kabar buruk, siapa tidak marah. Namun ketika pelayan datang menyiapkan minuman dan pembicaraan berhenti sejenak maka pendekar itu minta dilanjutkan lagi setelah pelayan pergi. Kakek itu dipersilahkan menyegarkan tenggorokan.

“Mari, minumlah. Kita basahi tenggorokan kita dulu.”

Kakek itu mendesah. Tuan rumah telah mendahuluinya dan iapun menyambar cangkir di meja, meneguk isinya. Dan ketika minuman itu menyegarkan tenggorokannya, kakek ini menarik napas dalam-dalam maka mulailah dia bercerita. “Kejadiannya di Hutan Iblis, serentetan peristiwa mengerikan...”

“Nanti dulu, di mana Hutan Iblis itu, lo-enghiong? Aku belum pernah dengar!”

Di dekat kota Ci-bun, beberapa puluh li ke sana.”

“Hm, di sana tinggal Wo-taijin...”

“Benar, taihiap, tapi pembesar itu tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan dia mengadakan sayembara untuk membunuh srigala-srigala siluman di sana, tapi gagal.”

“Srigala siluman? Ah, lawanmu adalah binatang buas itu?”

“Tadinya begitu, taihiap, tapi sesungguhnya tidak. Coba taihiap dengar dulu,” si kakek lalu bercerita, urut dari awal di mana mula-mula muridnya Keng Han diajak isterinya ke sana. Suami isteri itu tergelitik oleh kabar di Ci-bun dan mereka menunda perjalanan sendiri ke rumah sute mereka, Su Tong. Tapi ketika di sana mereka menghadapi srigala-srigala buas, kejam dan kebal maka di sinilah mereka menemui kegagalan apalagi karena ada seorang berjubah hitam yang menjadi pemilik atau majikan Hutan Iblis.

“Majikan inilah yang sebenarnya merupakan bahaya utama. Dia hebat dan luar biasa sekali. Dialah pemelihara binatang-binatang itu dan beberapa di antaranya dijadikan kebal. Srigala yang kebal tak mempan dibacok senjata tajam dan jumlah mereka yang ratusan benar-benar membuat orang bergidik. Mereka merobek dan memakan daging manusia, termasuk muridku. Ah, ngeri sekali, taihiap. Dan ketika aku datang bersama cucuku ternyata Su Tong, bersama isterinya menemui ajal menyusul suheng dan kakak iparnya perempuan. Mereka dicabik-cabik!”

Sang pendekar tertegun dan berubah-ubah. Dia sama sekali belum mendengar berita itu dan karena tempatnya juga jauh maka tak ada apa-apa yang masuk. Kini kakek itu bercerita tentang Hutan Iblis dan penghuninya, dia merasa seram tapi juga marah. Dan ketika kakek itu melanjutkan kembali betapa dia dikejar dan bertarung mati hidup di rumah muridnya nomor dua, bersama cucu perempuannya di mana mereka hampir binasa maka kakek itu menutup bahwa orang berjubah hitam sekaligus berkedok karet itu amat luar biasa dan ilmu hitamnya kuat.

“Aku tak tahu siapa dia, tapi kepandaiannya benar-benar tinggi dan aku teringat akan Beng-jong-kwi-kang seperti dalam cerita dongeng Kera Sakti, yakni ilmu yang menguasai roh-roh binatang buas. Apakah taihiap pernah dengar?”

“Hm, ilmu hitam itu? Aku juga pernah mendengarnya, lo-enghiong. Tapi Beng-jong-kwi-kang lebih bersifat dongeng daripada dimiliki sungguh-sungguh oleh orang dunia persilatan.”

“Tapi sekarang aku si tua ini menyaksikannya. Ratusan srigala itu begitu penurut dan tunduk kepada tuannya, taihiap. Dan laki-laki itupun dapat menyalak seperti anak buahnya!”

“Ah, seperti anjing?”

“Benar, dan suaranya lebih menyeramkan kalau dia menggonggong atau menyalak memanggil anak buahnya itu. Aku juga baru kali ini melihat manusia seperti itu!”

“Apakah dia juga berjalan seperti anjing?”

“Tidak, taihiap, jalannya seperti manusia biasa. Tapi ilmunya itu, ah, pukulan-pukulan Petirku tak satupun mampu merobohkannya apalagi membunuh. Semua pukulanku tertolak. Dan ilmu hitamnya benar-benar jahat. Aku hendak minta pertolongan taihiap menghadapi laki-laki ini. Atau, kalau taihiap repot, sukalah putera taihiap membantuku dan biarlah bersamaku ke sana!”

“Hm, puteraku sedang bepergian. Di sini hanya aku dan isteriku, lo-enghiong, serta para murid yang berjaga. Aku tentu menolongmu dan coba kubicarakan dengan isteriku!”

“Terima kasih, taihiap, dan ada lagi satu permintaanku. Apakah taihiap kira-kira tidak keberatan.”

“Lo-enghiong mau minta apa?”

Kakek ini menelan ludah. “Begini, taihiap, tentang cucuku perempuan,Su Giok.”

“Ada apa dengan dia?”

“Maksudku, hmm apakah boleh dia tinggal di sini dan menjadi murid taihiap!”

“Ah!” sang pendekar terkejut. “Kau aneh, lo-enghiong. Bukankah kau dapat mendidiknya. Aku tak berani menerima. Aku tak mau merendahkanmu!”

“Bukan begitu. Sakit hati cucu perempuanku amat dalam, taihiap. Ayah ibunya tewas di Hutan Iblis. Dia ingin membalas dendam, tapi kalau hanya mendapat pelajaran silat dariku tentu tak sanggup. Aku si tua bangka ini harus mencarikannya guru pandai dan pilihanku jatuh kepadamu. Itulah sebenarnya!”

“Hm,” sang pendekar mengusap dagu. “Bagaimana ini? Untuk murid aku sudah memiliki banyak, lo-enghiong, agaknya sukar kuterima. Tapi kalau dia mau tinggal di sini dan tak ingin mengecewakanmu bolehlah sejurus dua dia belajar ilmu pedangku. Terus terang aku tak berani menerimanya sebagai murid karena aku sendiri sudah menurunkan semua kepandaianku kepada putera tunggalku. Kalau kau minta semua ilmuku diwariskan kepada cucumu tentu saja aku tak sanggup. Aku telah letih!”

Kekecewaan besar membayang di wajah kakek ini. Tiba-tiba dia menunduk dan menarik napas dalam-dalam. Dia lupa bahwa pendekar ini sudah berkeluarga, mempunyai putera dan tentu saja tak mungkin mengharap ilmunya diturunkan kepada cucunya. Mana mungkin orang lain diberikan begitu saja, apalagi ilmu simpanan. Maka terpukul dan mengangguk-angguk iapun menarik napas dalam-dalam sambil berkata, merintih,

“Maaf, taihiap, aku lupa. Kasih dan cintaku yang besar kepada cucuku satu-satunya itu membuat aku mengharapkannya berlebih kepada orang lain. Aku menyesal, aku keliru...”

Tuan rumah tiba-tiba bangkit berdiri. Pendekar yang tahu bahwa kakek itu sedang kecewa berat tiba-tiba menjura dan berkata, suaranya sungguh-sungguh dan dalam. “Lo-enghiong, kau tidak bersalah. Tapi tentu kau tahu bahwa tak mungkin aku diminta menurunkan semua kepandaiaanku seperti keinginanmu. Bukankah kau masih hidup dan ada bersamanya? Lagi pula meminta ilmuku untuk dipakai membalas dendam adalah lebih tidak mungkin lagi. Kejahatan memang harus ditentang. Kalau iblis itu benar-benar keji maka tidak melalui aku bisa saja keinginan hatimu terlaksana, iblis itu dibunuh orang lain. Bagaimana aku diminta untuk menurunkan ilmu buat membalas dendam? Jahanam itu memang harus dilawan, lo-enghiong. Dan aku tentu akan ke sana menghadapi orang keji itu. Tapi bukan untuk membalas dendam melainkan mencegah terjadinya kejahatan serupa dengan membasmi biang penyakitnya. Yang dimusuhi bukanlah orangnya, melainkan kejahatannya. Nah, kupikir cukup dan lo-enghiong mengerti.”

Kakek ini mengangkat muka. Dia mengangguk-angguk dan bangun berdiri membalas hormat orang, sadar dan tahu bahwa kata-kata itupun betul. Tapi karena dia terlanjur kecewa permintaannya tak terkabul, pendekar ini hanya mau menurunkan sejurus dua ilmunya saja maka kakek ini merencanakan untuk pergi dan kembali saja. Dia juga minta maaf dan berkata tak apa-apa, padahal di dalam hatinya dia terpukul dan kecewa berat. Dan ketika mereka bercakap-cakap lagi dan tuan rumah berusaha menghibur, saat itu nyonya rumah datang bersama Su Giok maka kakek ini bangkit berdiri dan menyambar lengan cucunya ini.

“Taihiap, kalau begitu cukup. Biarlah kami kembali dan aku minta maaf kalau kedatanganku ini benar-benar mengganggu.”

“Ah,” Beng Tan terkejut, berkerut kening. “Kenapa buru-buru, lo-enghiong? Ada isteriku di sini, kita dapat bercakap-cakap lagi!”

“Tidak, terima kasih, taihiap. Cucuku telah tenang dan biar dia kubawa pergi. Aku.... aku mungkin akan kembali ke utara.”

Bukan hanya Ju-hujin yang heran. Su Giok, sang cucu juga terkejut dan heran mendengar kata-kata kakeknya itu. Tak di sangkanya bahwa dia diajak kembali lagi, padahal mereka baru datang dan katanya ia hendak dijadikan murid Ju-taihiap. Tapi karena kakeknya sudah berkata dan tentu saja ia tak menolak, melihat isyarat kakeknya itu maka iapun mengangguk dan memendam rasa herannya itu. Sekali lagi kakek ini menjura dan tuan rumahpun tak dapat berkata apa-apa.

Beng Tan juga memberi isyarat kepada isterinya dan sang isteripun tertegun, maklum bahwa ada sesuatu yang telah mengecewakan kakek itu. Dan ketika kakek itu pergi dan Su Giok disendal kakeknya maka Beng Tan menarik napas dalam dan bermuka muram.

“Orang tua yang keras hati. Ah, ia kecewa tapi apa boleh buat!”

“Apa yang terjadi? Kalian bertengkarkah?”

“Tidak, ia hendak meninggalkan cucunya di sini, isteriku, tapi aku menolak. Dia hendak menyerahkan cucunya sebagai murid...”

“Eh, kenapa ditolak? Kalau hanya itu tak usah keberatan!” sang isteri memotong.

“Hm, kakek itu bermaksud supaya aku menurunkan semua ilmu kepadanya. Mana mungkin, apalagi kalau untuk membalas dendam!”

“Ah, begitukah? Lalu bagaimana?”

“Tidak bagaimana-mana, dia pergi, kecewa. Kalau hanya kuturunkan sejurus dua saja ilmu silat dianggapnya percuma. Diapun dapat mengajar cucunya. Sudahlah, aku juga tak enak akan ini, isteriku. Kulihat pandang mata kakek itu menyimpan sesuatu. Aku mau pergi!”

“Pergi? Pergi ke mana?” sang isteri terkejut. “Ah, jangan main-main, suamiku. Di sini tidak ada orang kecuali kau. Putera kita Han Han sedang pergi!”

“Hm, aku mau ke Hutan Iblis. Aku akan melihat majikan hutan itu dan membuktikan kata-kata Pek-lui-kong tadi.”

“Aku ikut! Kalau kau pergi akupun ikut!”

Sang pendekar mengerutkan kening. “Kau ikut? Untuk apa? Justeru kau harus menjaga rumah!”

“Tidak, tadi aku juga mendengar dari anak perempuan itu akan peristiwa yang dialami, suamiku, dan aku merasa betapa berbahayanya tempat itu. Aku juga ingin tahu dan menghajar penghuni Hutan Iblis itu!”

“Hm, tak ada yang berjaga di sini, bagaimana dengan Hek-yan-pang...”

“Ada Ki Bi, ada pembantu-pembantu kita yang lain!”

“Kau nekat?”

“Bukan, suamiku, melainkan aku tak ingin membiarkan kau sendirian ke tempat itu. Manusia srigala itu orang buas, mahluk kejam. Dan aku juga ingin tahu bagaimana rupanya!”

Ju-taihiap menghela napas. Kalau isterinya sudah ngotot begini tak ada jalan lain kecuali mengikuti. Ditinggalpun tentu menyusul, dia tahu benar watak isterinya ini. Maka ketika dia mengangguk dan sejenak mereka bicara lagi, sang isteri sudah tahu tentang Hutan Iblis dipanggillah pembantu-pembantu mereka untuk diserahi tugas mengurus Hek-yan-pang.

Ki Bi, murid terpandai tertegun dan membelalakkan mata. Datangnya Pek-lui-kong tadi juga disambut bisik-bisik karena dinilai aneh. Masa kenalan yang sudah lama tak bertemu begitu cepat kembali, tentu ada apa-apa, apalagi ketika tadi kakek itu memperlihatkan wajah murung ketika kembali. Dan ketika kini ketua mereka tiba-tiba hendak berangkat dan meninggalkan perkumpulan, hanya beberapa saat setelah tamu pergi maka Ki Bi memberanikan diri bertanya,

“Maaf, pangcu. Ada urusan penting apakah yang membuat jiwi (kalian berdua) tiba-tiba pergi secara mendadak? Apakah kakek tadi membuat persoalan? Ada barang hilang?”

“Hm, tidak. Kami hendak ke Hutan Iblis, Ki Bi, menghajar seseorang. Ada orang jahat di sana, membahayakan orang-orang lain. Kakek itu tak mampu menghadapi dan murid serta murid-menantunya tewas.”

“Ah, Keng-enghiong dan Su-enghiong terbunuh? Mereka tewas bersama isteri-isteri mereka?”

“Benar, Ki Bi, karena itu aku hendak ke sana dan isteriku ikut. Jagalah baik-baik tempat ini sampai kami kembali!”

“Nanti dulu!” Ki Bi tiba-tiba berseru, meloncat kedepan. “Ada aku di sini, pangcu. Ada murid-murid yang lain pula di sini. Pangcu tak usah turun tangan dulu kalau para murid masih ada. Kami dapat mewakili pangcu. Apa gunanya kami kalau sedikit-sedikit pangcu harus turun tangan sendiri!”

“Hm,” sang jago pedang tertegun. “Kau benar, Ki Bi. Tapi melihat laporan Pek-lui-kong tadi agaknya lawan benar-benar lihai. Aku ragu...”

“Tak perlu ragu, pangcu. Kalau musuh benar-benar lihai tunjuk saja beberapa orang di antara kami untuk membasmi musuh. Kami juga menganggur selama bertahun-tahun ini. Asal bukan Golok Maut atau Si Naga Pembunuh tentu dapat kami hadapi!”

Ju-taihiap tersenyum. Inilah semangat dan kegagahan yang ditunjukkan murid utamanya itu. Ki Bi memang gagah dan berani. Dan ketika dia melirik isterinya dan sang isteri tersenyum maka isterinya berkata,

“Ki Bi, kau betul. Ada adik-adikmu yang lain disini. Berangkatlah, biar suamiku tak usah terlalu merendahkan dirinya dengan menghajar manusia iblis itu!”

“Eh, kita tak jadi berangkat?”

“Ki Bi dapat mewakili kita, suamiku. Kita utus saja dia dan empat murid yang lain membasmi orang itu. Kita tunggu dan nantikan hasilnya.”

Sang pendekar menarik napas. Sebenarnya, kalau melihat perbandingan di sini maka dia dapat mengukur bahwa majikan Hutan Iblis itu benar-benar orang hebat. Pek-lui-kong adalah tokoh utara dan kepandaiannya cukup tinggi. Ki Bi barangkali seusap di bawah kakek itu, sendirian saja tentu mengkhawatirkan. Tapi karena empat murid lain dapat diutus dan ini cukup kuat, dia percaya maka disuruhlah murid utama itu mewakili mereka.

“Baiklah, kau boleh berangkat, Ki Bi. Tapi hati-hati, jangan membunuh kalau tidak perlu. Sebaiknya tangkap dan seret saja orang itu ke mari, biar aku melihat rupanya.”

Ki Bi mengangguk. Lain sang isteri lain pula sang suami. Kalau Ju-hujin jelas menyuruhnya untuk membasmi dan membunuh majikan Hutan Iblis itu adalah sang ketua menyuruhnya tangkap dan menyeretnya ke situ. Dia tak diperbolehkan membunuh kalau tidak perlu. Ketua Hek-yan-pang ini memang berhati lembut, siapa tidak tahu. Maka ketika dia tersenyum dan mundur penuh kepercayaan diri, empat adiknya dibawa keluar maka ketua dan nyonya ketua itu menunggu hasilnya.

Tapi sungguh mengejutkan. Belum genap seminggu datanglah berita berdarah itu. Ki Bi, dan empat sumoinya yang diutus ternyata datang dengan tubuh berlumuran darah. Tiga di antara mereka tewas di Hutan Iblis sementara yang satu tewas di tengah jalan. Ki Bi sendiri muncul dengan satu kaki putus, bersimpah darah. Dan ketika Hek-yan-pang geger karena wanita itu ambruk dan mengeluh di depan ketua maka hanya kata-kata pendek yang terdengar.

“Ampun, kami... kami gagal, pangcu... kami... kami semua tak mampu. Para sumoi roboh di tangan jahanam itu. Tiga tewas di sana, dan... dan Leng-sumoi meninggal di perjalanan. Ampunkan kami kami murid-murid bodoh.!”

Bukan main kagetnya Ju-taihiap. Ketua Hek-yan-pang ini sampai terkesima dan terbelalak lebar-lebar. Lima murid utamanya terbunuh. Dan ketika dia merasa menyesal mengapa dulu mengutus para murid ini, Ki Bi menghembuskan napasnya yang terakhir maka meledaklah isak tangis di murid-murid yang lain. Isterinya tertegun dan pucat. Wajah Ju-hujin yang berubah-ubah dan merah pucat berganti-ganti. Dialah yang menerima wanita itu namun karena luka-lukanya yang parah Ki Bi tak dapat ditolong lagi. Dapat kembali dan melapor ke Hek-yan-pang saja sudah termasuk hebat, daya tahan wanita ini mengagumkan. Tapi karena wanita itu tewas dan ju-hujin melengking maka tangannya menampar dan... brakk, dinding depan roboh!

Anak murid menyingkir namun sang ketua menyambar lengan isterinya ini, mencengkeram dan membawa masuk. Dan ketika mayat Ki Bi diurus dan Hek-yan-pang gempar maka tiga hari kemudian ketua turun tangan sendiri, ke Hutan Iblis!

“Sebaiknya kau yang di rumah, aku yang ke sana. Di sini tak ada siapa-siapa, isteriku. Biarlah aku sendiri dan kau jaga anak-anak.”

“Tidak, tidak! Justeru aku yang ingin ke sana, suamiku. Aku seorang diri cukup. Kaulah yang di sini dan biar kubunuh si binatang majikan Hutan Iblis itu!” Ju-hujin mengamuk dan marah-marah. Ju-taihiap berkata namun dia menolak. Dan ketika sang isteri meloncat dan menyambar pedang, berkelebat ke telaga maka sang pendekar terkejut dan menyambar lengan isterinya itu.

“Niocu, kau tak boleh begitu. Kau yang jaga rumah, kau wanita!”

“Tidak, aku atau dia yang mati, suamiku. Sakit hati ini tak boleh dibiarkan dan biar aku atau dia yang mampus!”

Terpaksa, pendekar ini menahan perahu. Sang isteri yang sudah melompat masuk dan siap menyeberang dicegah dulu dengan kata-kata menyabarkan. Dia harus ikut kalau begitu. Dan ketika anak-anak murid dipanggil dan yang tertua diminta menjaga perkumpulan, pendekar ini memberi pesan-pesan maka berangkatlah mereka meninggalkan Hek-yan-pang.

Ju-taihiap tentu saja tak mungkin membiarkan isterinya sendirian. Kalau isterinya tak dapat dibujuk dan ingin seorang diri ke Hutan Iblis baiklah dia mendampingi. Dari tewasnya Ki Bi dan empat sumoinya dapat diketahui bahwa majikan Hutan Iblis benar-benar berbahaya. Agaknya memang dia harus turun tangan. Kalau ada puteranya di situ tentu puteranya itulah yang akan diutus. Mengutus puteranya jauh lebih mantap daripada mengutus isterinya ini. Terlalu berbahaya. Maka ketika dia menyertai dan Ju-taihiap mengayuh perahunya maka perahu melesat meninggalkan telaga untuk sekejap kemudian sudah tiba di seberang.

Di sini anak-anak murid juga menyambut dan menyampaikan selamat jalan. Beberapa di antara mereka menangis dan menyuruh sang ketua berhati-hati. Tak ada yang berani memandang Ju-hujin karena wanita itu tampak marah dan beringas. Sapuan matanya membuat murid-murid bergidik. Ju-hujun sedang murka! Dan ketika mereka melepaskan keberangkatan dua orang itu dengan wajah cemas maka Ju-taihiap sendiri sudah menarik tangan isterinya berkelebat meninggalkan anak-anak muridnya. Dan begitu pendekar ini memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa maka diapun lenyap bersama isterinya di luar hutan.

* * * * * * * *

Hari itu pendekar pedang ini tiba di kota Ma-ciang. Sehari semalam mereka berlari cepat dan melihat wajah isterinya pendekar ini menjadi khawatir. Napas isterinya terengah-engah namun tak mau kalau diajak berhenti. Dan ketika pagi itu mereka memasuki Ma-ciang dan kesempatan ini dipergunakan baik-baik Ju-taihiap mengajak isterinya mencari rumah makan dulu.

“Aku penat, juga lapar. Aku ingin sarapan dulu, isteriku. Berhentilah sebentar dan lihat restoran itu.”

Sang isteri berwajah gelap. “Makan? Lapar? Kau bohong, suamiku. Orang seperti kau tak mungkin lapar atau letih. Kau sengaja ingin berhenti agar aku mengaso dulu. Aku tidak lapar, tidak lelah. Aku masih kuat meneruskan perjalanan!”

“Hm, baiklah. Tapi tak ada jeleknya untuk mengisi perut, niocu. Dari sini ke Ci-bun hanya tinggal beberapa saat lagi. Hitung-hitung cari berita dan siapa tahu mendapat keterangan. Ayolah, aku juga ingin cuci muka dan ganti pakaian. Tubuh kita penuh debu. Lihat wajahmu jelek, masa isteri ketua Hek-yan-pang tidak mandi!”

Swi Cu cemberut. Sang suami mencoba berkelakar tapi ia betul-betul tak mau tertawa. Selama perjalanan mulutnya terkunci rapat dan kalau bicara hanya seperlunya saja. Tapi karena mukanya penuh dengan debu dan benar saja kecantikannya buram, wanita mana mau berwajah jelek maka ia mengikuti saja suaminya ini memasuki rumah makan yang ditunjuk.

Rumah makan itu besar dan dua suami isteri yang memasuki restoran ini meminta pelayan untuk menyiapkan air hangat. Mereka perlu cuci muka dan membasuh tangan. Dan ketika mereka juga minta bubur ayam, panas-panas maka restoran yang masih sepi dari pembeli membuat suami isteri ini leluasa menikmati hidangannya. Swi Cu membasuh mukanya dulu dan baru sang suami. Wajah yang semula hitam kini segar kemerah-merahan. Debu dan kotoran sudah tak ada lagi. Dan ketika mereka duduk menikmati hidangan, bubur panas itu mata Ju-taihiap melirik bahwa hanya ada tiga orang di ruangan itu.

“Hm, sepi, masih terlalu pagi,” katanya. Sang isteri diam saja. “Eh, kau lihat tiga orang di sudut itu, niocu? Satu di antaranya serasa kukenal!”

“Hm, aku tak mau perduli dengan orang lain. Mari cepat habiskan makanan ini, suamiku, dan kita lanjutkan perjalanan!”

“Tapi aneh ada hwesio memasuki rumah makan. Dan lihat, dia ke sini!”

Swi Cu atau Ju-hujin ini mengangkat mukanya. Dia terpaksa memandang karena hwesio yang dimaksud suaminya itu bangkit berdiri dan benar saja melangkah lebar menghampiri dirinya. Wajah itu tersenyum-senyum, namun mata itu memancarkan cahaya yang aneh. Dan ketika hwesio ini berhenti di meja mereka dan menjura, sikapnya hormat maka dia berkata kepada suami isteri itu,

“Selamat pagi, agaknya Ju-taihiap di sini. Ah, kebetulan kita bertemu, taihiap. Ada sahabat pinceng yang ingin bertemu. Tak disangka kita sama-sama di sini. Taihiap rupanya lupa kepada pinceng.”

“Hm, siapa lo-suhu?” jago pedang ini bangkit dan membalas hormat orang, lupa-lupa ingat. “Aku serasa pernah mengenalmu, lo-suhu. Tapi terus terang lupa!”

“Ha-ha, tak aneh, kita jarang bertemu. Tapi taihiap mungkin ingat bahwa pinceng adalah Tiong Liang Hwesio, sahabat Eng Sian Taijin!”

Ju-taihiap terkejut. Tiba-tiba dia ingat bahwa hwesio ini dulu pernah bertemu di rumah Tek-wangwe. Ada sedikit keributan di situ dan mereka pernah bertanding, hwesio ini kalah. Maka tersenyum dan ingat siapa hwesio ini, dulu mereka tak menanam permusuhan maka pendekar ini berkata membalas kata-kata orang,

“Oh, lo-suhu kiranya. Ya, ya... aku ingat. Sekarang aku ingat. Selamat bertemu, lo-suhu. Dan agaknya bukan kebetulan kalau lo-suhu di sini.”

“Pinceng memang akan mengantar kawan, bertandang kerumah taihiap. Tak disangka ketemu di sini dan kebetulan sekali. Maaf, taihiap mau ke mana? Akan pulang atau pergi?”

“Hm, mari lo-suhu duduk. Aku akan pergi, lo-suhu, ada keperluan sebentar. Ada apa lo-suhu mencariku dan dapatkah kita bicara di sini.”

“Ha-ha, tentu saja dapat, malah kebetulan. Eh...!” hwesio itu menggapai dua kawannya di sini, orang-orang yang sejak tadi memandang dan mengamati penuh perhatian, dua laki-laki bermata tajam bagai elang menyambar-nyambar. Pakaian mereka biasa-biasa saja tapi gagang pedang di belakang punggung mereka itu jelas menunjukkan seorang ahli silat.

“Kemari, Gan-siang-enghiong (dua orang gagah Gan). Ini Ju-taihiap dan kebetulan kita bertemu di sini!”

Dua laki-laki itu bangkit berdiri. Mereka sebenarnya sudah sangat memperhatikan pasangan suami isteri itu ketika Ju-taihiap memasuki restoran. Tapi karena suami isteri itu gelap dengan urusannya sendiri, sang isteri bahkan tak menoleh atau melihat mereka maka ketika Tiong Liang Hwesio bisik-bisik dan memberitahukan tamu yang baru masuk itu dua laki-laki ini bersinar dan gatal-gatal tangan. Mereka adalah ahli-ahli pedang dari Nam-tung, dua jago timur yang bersahabat baik dengan hwesio ini. Maka ketika kekalahan hwesio itu diceritakan dan Ju-taihiap terkenal sebagai ahli pedang jempolan, mereka ingin menguji maka setelah menentukan harinya mereka lalu bersama dan bermaksud mencari pendekar itu untuk diajak “kenalan”.

Kini mereka bangkit dan berjalan mendekati meja suami isteri itu. Langkah mereka ringan dan gagah dan sekali lihat Ju-taihiap tahu bahwa dua laki-laki ini orang-orang yang memiliki kepandaian cukup tinggi. Pedang di belakang punggung itu agak mengesankan kejumawaan, pendekar ini tersenyum. Dan ketika mereka tiba di dekat mereka dan langsung mereka membungkuk maka Ju-taihiap bangkit membalas hormat dan sikap Ju-taihiap yang bersahaja dan ada kesan merendah menimbulkan kesombongan dua orang itu.

“Kami Nam-tung Siang-kiam (Sepasang Pedang Dari Nam-tung) sudah lama mendengar nama besar taihiap, hari ini kebetulan bertemu, sungguh beruntung. Kenalkan, aku Gan Po, taihiap dan ini adikku Gan Ciok. Kami sudah lama mengagumi ilmu pedang taihiap dan terus terang saja kami ingin membuka mata meluaskan pengalaman. Apakah taihiap dapat memberi kami petunjuk-petunjuk berharga?”

Inilah tantangan langsung yang tidak basa-basi lagi. Dua orang itu sudah menjura namun dari sepasang tangan mereka itu menyambar angin pukulan kuat. Mereka ingin menguji pendekar itu! Tapi Ju-taihiap yang tenang dan berwatak lembut ini menyambut kalem.

“Jiwi enghiong (dua tuan gagah), kalian berwatak jujur, senang bertemu kalian. Tapi maaf, aku lagi enggan beradu kepandaian karena sedang pepat (susah hati) memikirkan sesuatu.” Pendekar itu menyambut pukulan lawan, tentu saja tahu deru angin menyambar namun dengan sinkangnya dia menahan.

Lawan tertegun dan terbelalak karena pukulan mereka terhenti di tengah jalan, ditambah namun tiba-tiba mereka terhuyung mundur. Kalah! Dan ketika mereka berseru tertahan namun Ju-taihiap buru-buru mengebut, menarik kursi yang lain maka pendekar itu mempersilahkan dua tamunya duduk.

“Mari, silahkan. Kami akan memesan makanan untuk sam-wi.”

Dua orang itu terbelalak. Dari adu pukulan tadi mereka merasa dorongan angin lembut namun kuat menahan pukulan mereka tadi, menambah namun malah terhuyung. Dan ketika mereka kagum namun penasaran akan ini, Ju-taihiap bersikap merendah maka sikap yang dianggap penakut ini membuat dua orang itu tak tahu diri.

“Ju-taihiap, kau hebat. Tapi keistimewaan kami bukan pada ilmu pukulan melainkan ilmu pedang!”

“Ah,” sang pendekar mengerutkan kening, “aku lagi tak bernafsu, jiwi enghiong. Maafkan dan jangan mendesak. Kami sedang menerima persoalan.”

“Apakah taihiap takut?”

“Tak tahu diri!” sang nyonya tiba-tiba membentak dan marah sekali. “Kalian orang-orang she Gan rupanya ingin di hajar, tikus-tikus busuk. Kalau begitu marilah bersamaku dan jangan sombong dengan pedang buruk di belakang punggung itu!”

“Ah,” sang suami terkejut, menyambar dan menyuruh isterinya duduk. “Jangan kasar, niocu. Tak perlu ribut-ribut. Kita di rumah makan. Kalau Gan-siang-enghiong ini ingin mengadu kepandaian biar kita terima di lain hari. Sekarang tak ada waktu dan kita sedang mempersiapkan diri untuk urusan lain.”

Dua laki-laki itu merah. Tak mereka sangka bahwa Ju-hujin demikian galak dan beringas. Mereka tak tahu bahwa wanita ini sedang menahan sakit hati, sesuatu yang mengganggu sedikit tentu bakal membuatnya mendidih. Maka ketika dia bersikap kasar dan langsung memaki dua laki-laki itu, Nam-tung Siang-kiam terkejut dan gusar merekapun tak dapat mengendalikan diri dan orang kedua sudah membentak.

“Bagus, kami memang ingin menjajal kepandaian ketua Hek-yan-pang, hujin. Kalau kau dapat mewakili dan menerima tantangan kami tentu saja kami gembira. Majulah, pedang burukku akan coba-coba membeset kulitmu!”

“Tahan, nanti dulu!” sang pendekar menolak dan menggeleng kepala, sikapnya lagi-lagi dianggap takut, jerih. Dua laki-laki itu bertambah sombong. “Pagi-pagi tak baik bertempur, Gan-enghiong. Kami benar-benar tak mau menerima tantanganmu karena kami sibuk akan sesuatu yang lebih penting. Biarlah kami pergi kalau kalian mendesak!”

Pendekar ini menarik dan menyambar lengan isterinya diajak pergi. Beng Tan tak mau ribut-ribut karena majikan Hutan Iblis menanti mereka. Itulah musuh sesungguhnya dan tak perlu membuang-buang tenaga disitu. Tapi sikapnya yang justeru diterima salah, disangka takut membuat dua laki-laki itu terbahak dan mengejek, kata-katanya ditujukan kepada Tiong Liang Hwesio namun jelas sebenarnya ditujukan untuk si jago pedang itu.

“Ha-ha, mana bukti omonganmu, Tiong Liang lo-suhu. Mana itu kegagahan dan kejantanan Ju-taihiap. Lihat sekarang ia menyingkir dan buru-buru pergi melihat kami berdua. Ah, rugi kami jauh-jauh datang kesini. Kami salah menghargai lawan!”

Ju-taihiap terkejut. Dia bukan terkejut oleh omongan laki-laki itu melainkan terkejut oleh bentakan isterinya. Isterinya meronta dan tahu-tahu menyambar ke depan. Sebuah sinar hitam berkeredep menyambar mulut orang she Gan itu. Dan ketika sinar ini amat cepat dan laki-laki itu terkejut mengelak, kalah cepat maka ia membanting tubuh bergulingan namun ujung hidungnya kena terbabat.

“Crat!” Sedikit saja darah keluar dari ujung hidung laki-laki itu. Dia adalah Gan Ciok atau orang kedua, adik dari Gan Po. Dan ketika laki-laki itu bergulingan meloncat bangun sementara yang lain-lain kaget oleh kecepatan nyonya ini bergerak maka Ju-taihiap tak berbuat apa-apa lagi karena api sudah disulut!

“Tiong Liang suhu, kau membawa penyakit!”

Hwesio itu pucat. Dia telah merasakan kepandaian jago pedang ini namun belum isterinya. Kini melihat temannya dibabat dan sekali sambar Ju-hujin membuat luka, beringas maka hwesio ini mundur dan pandang mata tajam dari pendekar itu membuatnya jerih. Tapi Gan Ciok laki-laki itu sudah melompat bangun. Kakaknya berkelebat dan memeriksa luka adiknya itu, memberi obat luar dan tampaklah betapa marah kakak beradik ini. Dan ketika mereka membalik dan menghadapi nyonya itu, yang ganas dengan pedang di tangan maka pedang hitam bergetar dan ujungnya mengental oleh sedikit darah.

“Orang she Gan, majulah. Kalian berdua boleh maju. Ayo, kutantang kalian dan jangan suruh suamiku dulu!’

Gan Ciok tak dapat menahan diri. Ia amat marah sekali oleh serangan cepat si nyonya tadi. Ia terkejut bukan main oleh gerak sambaran pedang itu. Kalau ia kurang cepat berkelit bukan hanya ujung hidungnya saja yang hilang melainkan mukanya mungkin terbacok! Laki-laki ini gusar bukan main. Maka ketika nyonya itu berdiri menantang sementara suaminya mundur menjauh, Ju-taihiap akhirnya melihat bahwa dua orang ini harus diberi pelajaran maka begitu ia maju begitu pula si nyonya menyambut.

“Bagus, berani sekali kau melukai aku. Kalau tidak memenggal kepalamu tak mungkin aku mau sudah... crang!” dan bunga api yang berpijar oleh dua pedang yang beradu segera membuat keduanya bertanding dan Gan Ciok terkejut. Laki-laki itu merasa bahwa tenaga si nyonya cukup besar, mampu menahan pedangnya dan membuat pedangnya terpental. Tapi karena itu bukan akhiran melainan awal dari sebuah pertandingan maut maka laki-laki ini menggunakan daya pental pedangnya untuk membabat dan membacok dari samping.

Sang nyonya mengelak dan selanjutnya membalas cepat. Dan ketika pedang di tangan keduanya sudah naik turun menyambar-nyambar, masing-masing mengeluarkan ilmu kepandaiannya maka Ang-in Kiam-sut atau Ilmu Pedang Awan Merah dikeluarkan nyonya ini untuk menandingi lawan, yang sudah bergerak dan menyambar-nyambar dengan pedang bersinar putih di tangan. Gan Ciok atau laki-laki itu ternyata mahir memainkan pedang. Ia mampu membacok dan menusuk dengan gerakan-gerakan tak terduga, bahkan pedangnya juga sering menyendok atau menggarpu, yakni gerakan membabat atau menusuk dari bawah atau depan. Namun karena lawan adalah isteri seorang jago pedang ternama, Ju-hujin bukanlah wanita main-main maka ia mampu mengimbangi permainan lawan dengan sapuan atau bacokannya yang tak kalah cepat.

Tadi Gan Ciok terbabat karena tak menyangka. Si nyonya langsung melengking dan mencabut pedangnya itu, hidung menjadi korban. Namun setelah ia berhati-hati dan kini gulungan sinar pedangnya mencoba untuk membungkus dan melenyapkan si nyonya, Ju-hujin terkurung namun sinar pedangnya mampu menguak lawan maka maksud laki-laki itu gagal dan marahlah jago dari Nam-tung ini karena ia tak dapat mendesak.

Bahkan, setelah pertandingan berjalan limapuluh jurus malah pedangnya yang terbungkus oleh pedang di tangan nyonya itu. Adu tenaga dan adu kecepatan ternyata masih dimenangkan nyonya ini. Dan ketika satu gulungan sinar pedang disusul oleh pecahnya tiga cahaya hitam menyambar muka dan tenggorokan lawan, laki-laki ini menangkis tapi pedang terpental ke bawah menusuk ulu hatinya maka dia membanting tubuh bergulingan namun kancing baju di ulu hatinya copot.

“Bret!”

Kejadian ini membuat si laki-laki pucat. Si nyonya demikian lihai dan ilmu pedangnya ganas sekali, sedikit dia terlambat tentu perutnya tercoblos! Dan ketika ia bergulingan meloncat bangun sementara lawan tertawa mengejek, mengejar dan menyerangnya lagi maka jago dari Nam-tung ini tertekan dan terdesak! Saudaranya terbelalak dan Gan Po atau laki-laki pertama berubah mukanya. Sama sekali tak disangkanya bahwa Ju-hujin itu demikian hebat. Ia tak tahu bahwa nyonya ini sudah jauh lebih lihai daripada lima sepuluh tahun yang lalu, sewaktu masih gadis remaja dan belum menikah. Karena semenjak nyonya ini menjadi isteri Ju-taihiap maka ilmu pedang Awan Merah itu disempurnakan dan jago pedang Ju-taihiap sendiri yang menggembleng isterinya itu.

Akibatnya Ju-hujin ini tentu saja menjadi lihai beberapa kali lipat dari mendiang Hek-yan Tai-bo sendiri tak mungkin menang melawan cucu muridnya ini. Ju-hujin ini sudah bukan lagi Swi Cu yang dulu, Swi Cu yang masih gadis dan dulu bersama mendiang sucinya (kakak seperguruan perempuan) sering dikalahkan orang. Dengan kepandaiannya yang sekarang nyonya ini dapat mengalahkan jago-jago kelas satu. Hanya beberapa orang terlihai saja mampu mengalahkannya, seperti suamiya itu sendiri atau puteranya Han Han, juga Si Naga Pembunuh Giam Liong.

Maka ketika orang she Gan ini bicara sombong dan si nyonya yang sedang marah dibuat naik pitam, orang ini harus diberi pelajaran maka begitu dia bertanding segera lawan dibuat terkejut oleh kehebatan dan kecepatannya bergerak. Ang-in Kiam-sut terus menekan dan mendesak dan lagi satu kancing baju putus. Lawan bergulingan dengan amat kaget dan gentar. Dan ketika Ju-hujin masih juga mengejar dan satu bacokan pedangnya membabat leher lawan maka Ju-taihiap berseru keras untuk mencegah membunuh. Namun saat itu Gan Po atau laki-laki pertama bergerak. Tepat di saat Ju-taihiap berseru pada isterinya tiba-tiba laki-laki itu membentak dan menerjang maju. Ju-taihiap tak jadi bergerak dan kembali mundur. Dan ketika pedang membacok leher Gan Ciok maka Gan Po atau laki-laki pertama ini menangkis.

“Cranggg...!”

Ju-hujin terhuyung mundur dan terkejut. Ia merah mukanya tapi lawan juga tergetar dan berseru keras. Gan Po juga merasai hebatnya tenaga wanita ini. Tapi karena ia sudah maju menolong adiknya dan sementara adiknya meloncat bangun ia sudah membentak dan menerjang lagi, pedang menyambar dan menusuk dada wanita itu maka Swi Cu menangkis dan mereka sudah bertempur hebat.

“Bagus, kalian boleh maju berdua, orang she Gan. Hayo keroyoklah aku dan lihat kepandaian nyonyamu!”

Laki-laki ini marah. Ia tergetar dan terhuyung lagi begitu pedang saling bentur. Isteri jago pedang ini memang hebat. Namun karena ia juga menganggap diri sendiri ahli pedang dan sebagai ahli pedang tentu saja penasaran oleh kepandaian jago lain maka ia menyerang lagi dan Gan Ciok yang pucat mendengar seruan nyonya itu membentak dan benar-benar mengeroyok. Ju-taihiap berkerut kening namun ia mampu melihat keadaan. Seorang lawan seorang isteri dapat mengalahkan. Kini melihat dua orang itu maju bersama dan Siang-kiam atau Sepasang Pedang di tangan dua laki-laki itu sudah saling bungkus dan bantu-membantu maka isterinya yang terlanjur minta dikeroyok tiba-tiba menghadapi lawan berat.

Tapi pendekar ini tidak khawatir. Isterinya tertekan tapi bukan terdesak. Dua batang pedang di tangan dua laki-laki itu ternyata dapat bekerja sama dan masing-masing melindungi dan menyerang. Setelah mereka berpasangan tampaklah bahwa dua orang ini memang orang-orang tangguh. Kalau Gan Ciok membuka lubang maka kakaknya inilah menutup, kalau sang kakak membuka lubang adiknya itulah yang menutup. Dan karena lubang-lubang pertahanan ini selalu dijaga dan mulailah isterinya tertangkis bertemu satu di antara dua batang pedang itu, entah Gan Ciok atau Gan Po maka dua tenaga berganti-ganti dari dua orang ini membuat isterinya mandi keringat.

Kecepatan gerak isterinya dapat dilawan pertahanan rapat dua orang itu, masing-masing bantu-membantu dan inilah yang menyulitkan. Dan karena serangan selalu tertangkis sementara isterinya harus berjuang mempertahankan dan menyerang sekaligus, lawan hanya bertahan atau menyerang saja maka isterinya mulai lelah karena serangan-serangannya tak membawa hasil. Dan sekarang Ju-hujin itu terdesak.

“Ha-ha, sekarang kesombonganmu lenyap, Ju-hujin. Mana kepandaian dan kehebatanmu. Ayo, robohkan kami, atau kau yang roboh!”

“Tak usah banyak mulut!” si nyonya membentak dan mempertahankan diri. “Kalian belum melihat kepandaianku yang lain, tikus-tikus busuk. Kalau sekarang kalian mendesak aku maka biarlah kusembah kaki kalian... singgg!” sinar pedang tiba-tiba berobah, tajam menyilang kiri kanan dan sekonyong-konyong dari bunyi desing itu keluar kilat menyambar menyilaukan mata.

Dua laki-laki terkejut karena mendadak mereka melihat adanya perobahan besar. Si nyonya tidak mengandalkan kecepatan geraknya melainkan jurus-jurus aneh, yang berat dan mengeluarkan hawa panas dan dari hawa panas inilah muncul serangan luar biasa yang membuat mereka terkejut. Cahaya menyilaukan dari pedang hitam itu memantulkan sinar putih. Aneh, pedang hitam dapat memantulkan cahaya perak. Dan ketika mereka silau dan cahaya ini mengganggu maka saat itulah mereka tak dapat melihat baik dan desing pedang di tangan si nyonya tahu-tahu menusuk atau menikam bawah tubuh mereka.

“Pek-jit Kiam-sut (Ilmu Pedang Matahari)!”

Inilah seruan Tiong Liang Hwesio yang pernah melihat kehebatan ilmu pedang itu. Dua saudara Gan baru kali itu merasakan dan mata mereka yang silau oleh pedang hitam membuat mereka kaget sekali karena tak dapat melihat serangan. Bagaimana bisa melihat kalau cahaya terang dari pedang di tangan nyonya itu menyilaukan mata. Mereka berkejap sejenak dan itu awal celaka. Dan ketika pedang mendesing dan mereka melempar tubuh dengan kaget maka suara memberebet terdengar dua kali dan paha mereka tergores.

“Niocu, jangan membunuh!” Ini suara Ju-taihiap.

Tadi dua saudara Gan merasa sombong dapat menekan nyonya itu. Mereka tak tahu bahwa Pek-jit Kiam-sut atau Ilmu Pedang Matahari belum dikeluarkan nyonya ini. Ju-hujin masih bertahan dengan pedang Awan Merahnya itu. Maka ketika dia terdesak dan itulah saatnya mengeluarkan ilmu simpanan, dua laki-laki ini harus diajar adat maka dikeluarkan Pek-jit Kiam-sut itu dan pedang hitam yang tiba-tiba berobah dan mengeluarkan cahaya menyilaukan tentu saja membuat kaget lawan yang silau pandangan. Jago pedang dari Nam-tung ini kaget bercampur gentar karena kalau mereka selalu berkejap tentu lawan mudah menyerang.

Dan ketika benar saja mereka harus sering berkejap dan tikaman atau tusukan menghujani mereka, gaya bertahan dan menyerang dari mereka hancur dan pecah maka Gan-siang-enghiong ini menjadi kalang kabut dan mereka seolah bergerak sendiri-sendiri lagi seperti semula. Padahal seorang lawan seorang jelas mereka masih bukan tandingan nyonya ini, yang memang lihai. Dan begitu mereka bergulingan dan pedang terus menusuk dan menikam, mengejar maka Silat Pedang Matahari tak dapat mereka lawan dan tujuh luka “menggigit” dua jago pedang itu.

Ju-hujin rupanya masih ingin terus menghajar lawan sampai benar-benar roboh. Paha dan lengan luka-luka oleh tusukan pedangnya yang meskipun tidak dalam namun cukup membuat darah mengucur. Dan ketika dua orang itu mengeluh dan bergulingan ke sana ke mari, menangkis namun akhirnya pedang terlepas dari tangan maka ujung pedang si nyonya tahu-tahu telah berhenti di leher Gan Po, bergetar!

“Nah, menyerah tidak!”

Laki-laki itu pucat. Gan Ciok, saudaranya, mengerang dan rebah di sana. Ada luka memanjang di bahu adiknya itu. Tapi melihat bahwa dia kalah, sang nyonya bengis menekan kulit lehernya maka laki-laki ini mengangguk. “Kami.... kami menyerah. Hujin benar-benar hebat!”

“Kalian masih berani coba-coba lagi? Masih berani kurang ajar?”

“Tidak, maafkan kami, hujin. Kami kalah. Kami mengakui kelihaianmu.”

“Hm, kalau begitu jangan menghina suamiku pula atau nanti pedangku menebas putus leher kalian!”

Laki-laki itu merintih. Sang nyonya sudah menarik ujung pedangnya dan kulit yang teriris sedikit terasa perih. Ju-hujin telah memberinya pelajaran. Dan ketika ia meminta pertolongan Tiong Liang Hwesio yang sudah menolong adiknya maka hwesio itu pucat dan merah berganti-ganti dipandang nyonya ini. Lebih takut terhadap Ju-hujin daripada Ju-taihiap. Maklum, sang isteri tampaknya lebih galak!

“Kau!” nyonya ini menuding. “Jangan membuat ulah lagi, hwesio bau. Sekali kau melanggar maka ulu hatimu kutembus pedang!”

“Maaf, kami salah... maaf...!” sang hwesio menunduk dan membungkuk-bungkuk. “Pinceng hanya mengantar kawan-kawan pinceng ini, hujin. Bukankah biasa kalau orang-orang persilatan mengajak pibu..”

“Tapi kau tak tahu waktu. Bukankah suamiku sudah menolak dan meminta lain kali saja!”

“Maaf, hujin, kami memang salah. Baiklah pinceng menyingkir dan pinceng tak akan mengganggu kalian lagi...” hwesio itu memapah teman-temannya dan mau melangkah pergi. Tapi baru dia ngeloyor dua tindak maka si nyonya berkelebat dan ujung pedang menodong dadanya.

“Kau enak saja menyuruh kami membayar makan minum disini? Kau menyuruh kami membayar kerugian kepada pemilik restoran?”

“Ah, maaf...!” hwesio ini terkejut, sadar. “Pinceng lupa, hujin... lupa..! baiklah, biar pinceng bayar dan jangan khawatir pinceng tak akan membuat rugi pemilik rumah makan!” lalu melepaskan dan menyuruh teman-temannya berhenti sejenak hwesio ini buru-buru membayar ke kasir.

Pemilik restoran ngumpet bersembunyi dan pelayan-pelayannyapun lari berserabutan. Mereka tahu bahwa keributan di antara orang-orang kang-ouw tak boleh dicampuri, atau mereka akan menjadi korban. Tapi ketika sang hwesio mengeluarkan koceknya dan pemilik tentu saja muncul di meja kasir, menyeringai dan menerima uang maka pemilik berseri-seri menghadap suami isteri itu. Sang hwesio sekarang ngeloyor pergi.

“Tak kami sangka bahwa kami kedatangan ketua Hek-yan-pang dan isteri. Ah, terima kasih atas kemurahan kalian, taihiap. Kami tak jadi menanggung kerugian dan sekali lagi terima kasih...!”

Swi Cu tak menggubris kata-kata ini. Ia sudah menyimpan pedangnya dan hwesio itu bersama dua temannya lenyap di luar. Dan ketika sang suami memegang lengannya dan menarik napas panjang maka pasangan suami isteri itu melangkah keluar dan tidak menengok lagi kepada pemilik rumah makan. Mereka baru berhenti ketika pemilik mengejar dan berteriak dari belakang, tepat ketika mereka sudah di luar pintu pagar. Dan ketika dari samping muncul dua ekor kuda hitam dituntun pelayan maka pemilik rumah makan itu, seorang laki-laki gendut berwajah ramah sudah menjura dan berulang-ulang membungkuk di depan mereka.

“Taihiap dan lihiap katanya sedang melakukan perjalanan. Biarlah sebagai rasa terima kasih kami dua ekor kuda ini untuk meringankan beban jiwi berdua. Taihiap boleh mengambil atau meminjamnya!”

“Hm, kau menghadiahkan kuda ini untuk kami?” sang pendekar mendapat pikiran baik. “Bagus, kuterima, saudara. Tapi jangan sebagai hadiah Cuma-Cuma. Nih, sekedar pengganti harga kuda!”

“Ah, tidak, tak usah!” pemilik restoran menolak uang yang dikeluarkan. “Kehormatan bagi kami dapat memberimu sesuatu, taihiap. Siapa tidak kenal taihiap dan nama besar taihiap. Ambillah, kami tidak butuh!”

“Kau sudah kaya?” sang pendekar tertawa. “Kalau begitu berikan pelayan-pelayanmu, wangwe (hartawan). Pokoknya aku tak mau cuma-Cuma dan terserah!” uang dilemparkan ke tembok pagar rendah, disusul oleh bayangan pendekar itu yang tahu-tahu sudah menaiki kuda di sebelah kiri. Lalu ketika dia menyendal dan menarik tali kekang kuda lain maka pendekar itu berderap dan sudah menyuruh isterinya naik.

Swi Cu mengerutkan kening dan mau menolak. Ia merasa heran kenapa suaminya menunggang kuda, bukankah ilmu lari cepat mereka lebih cepat ketimbang kuda. Namun karena sang suami sudah berderap dan uang di atas pagar dipandang terbelalak oleh pelayan dan pemilik restoran, sang nyonya meloncat dan melarikan kudanya maka terjadi pemandangan menggelikan ketika majikan dan pelayannya sama-sama menyambar uang itu.

“He, itu punyaku. Berikan!”

“Tidak, Ju-taihiap memberikannya untuk kami, loya. Kau tadi menolaknya!”

“Eh, minta kupecat? Baik, kau tak boleh bekerja di sini lagi, A-sam. Kalian boleh habiskan uang itu dan nanti kelaparan merengek di rumah makanku!”

Dua pelayan itu tertegun. Akhirnya mereka bersungut dan mundur membiarkan uang itu diambil majikan mereka. Diam-diam mereka mendongkol. Ternyata majikan ini hijau juga matanya oleh lima keping uang emas itu. Dan ketika di sana Ju-taihiap mendengar ini dan tertawa maka dia sudah mengajak isterinya meninggalkan Ma-ciang. Orang kalau sudah melihat duit tetap saja kelihatan watak aslinya. Rakus! Namun ketika sang isteri cemberut dan diam di sampingnya maka pendekar ini memperlambat lari kudanya dan menoleh.

“Kau sudah puas menghajar orang-orang tadi di sana?”

“Hm, kalau kau tidak mencegahku tentu aku lebih puas lagi kalau membunuh, suamiku. Mereka itu orang-orang tidak tahu adat yang sombong!”

“Ah, sudahlah, tak perlu dipikir. Mari kita larikan kuda kita dan lihat siapa lebih dulu tiba di Hutan Iblis...!”