TAPAK TANGAN HANTU
JILID 02
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
DUA orang itu terbang tak menginjak tanah lagi. Sang suami, yang sudah mendahului dan melepas tangan isterinya tiba-tiba melayang dan bergerak dengan amat cepatnya meninggalkan isterinya. Dia telah berkata untuk mengadu ilmu, tertawa dan melesat bagai seekor garuda meluncur di depan. Tapi ketika sang isteri mendengus dan berseru keras, tangan bergerak dan mengembang di kiri kanan tahu-tahu tubuhnyapun melesat dan meluncur bak anak panah menyusul suaminya itu. Dan sang suami tertawa dan menambah kecepatannya lagi, disusul sang isteri tak mau kalah dan sebentar kemudian mereka sudah hampir berendeng. Tapi ketika sang suami berseru keras mengembangkan kedua lengannya pula, berkelebat dan menyambar ke depan maka sang isteri yang hampir menyusul dan berada di sebelah kirinya tertinggal lagi.

“Ha-ha, kau kalah, Pui-moi. Sekarang kau tak dapat menyamaiku!”

“Licik!” sang isteri membentak dan melotot, “Aku kalah karena bau ketiakmu, Han-ko. Kau mengembangkan lengan tepat di depan hidungku!”

“Ha-ha, alasan bohong. Ketiakku tidak bau, Pui-moi. Aku mengembangkan lengan karena ilmu lari cepat ini memang mengharuskan begitu. Kau mempergunakan Siang-eng Gin-kang (Ginkang Sepasang Garuda), dan aku tak mau kalah dan mempergunakan ilmu lari cepat itu!”

“Tapi kau mengembangkan lengan tepat di depan hidung. Ihh, baunya menyengat!”

“Ha-ha, bukan ketiakku, tapi keringatku!” dan sang isteri yang akhirnya tertawa dan jengkel menyusul sudah membentak dan mengejar dengan penasaran, masih tak dapat juga mengejar tapi suaminya akhirnya memperlambat lari, berendeng dan mereka tertawa-tawa karena tadi sang suami memang “menyemprotkan” cairan keringat secara tak sengaja, yakni ketika membuka dan mengembangkan lengannya tadi.

Dan karena percikan keringat itu mengenal wanita ini, yang terkejut dan tentu saja mundur maka suaminya terus bergerak dan ia tentu saja tertinggal, marah tapi mereka kini berendeng dan laki-laki itu menyambar lengan isterinya. Mereka terus berlari cepat dan dari wajah kemerah-merahan isterinya ini dapat diketahui bahwa wanita itu memang sedikit di bawah suaminya, karena sang suami masih tampak segar-segar saja tidak seperti isterinya yang ngotot mengerahkan semua ilmu lari cepatnya itu. Dan ketika mereka bergandengan tangan sambil tertawa menuju Hutan Iblis maka dua jam kemudian sampailah pasangan ini di luar hutan itu di mana dari kejauhan tadi mereka telah melihat sebatang pohon raksasa di tengah hutan, pohon yang menjulang tinggi dan berada di tengah hutan gelap.

“Itu dia. Itu Hutan Iblis! Perlambat lari kita, niocu. Dan hati-hati!”

Sang isteri mengangguk. Ia memperlambat larinya dan pria itupun sudah hampir berhenti. Hutan Iblis di depan mereka dan bekas-bekas kerusakan sepanjang jalan telah pula mereka lihat. Pria ini mengerutkan alis. Dan ketika mereka benar-benar berhenti dan tertegun memandang mulut hutan yang gelap, dari situ menguar udara dingin dan berbau busuk maka wanita di sebelah pria ini menutup hidung.

“Bau bangkai. Terkutuk, tempat ini bau bangkai!”

“Benar, dan beranikah kau masuk, niocu. Atau kau tunggu diluar dan aku yang menyelidiki kedalam.”

“Aku tidak takut,” sang isteri melotot. “Tapi aku tak tahan bau bangkai ini!”

“Hm, kalau begitu coba kulihat dan kau di sini sebentar,” sang suami meremas pergelangan tangan isterinya, menyuruh sabar dan tiba-tiba diapun sudah meloncat masuk. Pria ini juga mencium bau busuk tapi sebagai laki-laki dia lebih tahan, tidak seperti isterinya itu. Dan ketika dia melompat dan hilang sekejap maka tak lama diapun keluar dan di tangannya terjinjing sebuah mayat yang ususnya cerai-berai, kepalanya hilang!

“Ada mayat ini, pantas baunya busuk. Ah, mengerikan sekali, niocu. Di dalam baunya semakin busuk!”

Wanita itu melebarkan mata. Ia terbelalak melihat mayat ini dan tiba-tiba muntah-muntah. Mayat yang ususnya cerai-berai itu sungguh menjijikan dan berbau. Tubuhnya sudah mulai dimakan ulat dan bukan main busuknya. Dan ketika ia meloncat mundur dan muntah-muntah, menggoyang dan meminta agar suami tidak semakin dekat lagi maka laki-laki itu berhenti dan menarik napas dalam-dalam. Dia tadi menemukan mayat ini di dekat sebuah pohon.

“Kalau begitu kau menyingkirlah sebentar. Aku akan menguburkan mayat ini. Sungguh kasihan kalau tidak diurus.”

Wanita itu menghilang. Ia sudah berkelebat dan tak mau melihat suaminya bekerja. Laki-laki itu mencabut pedang dan dengan pedang ini ia menusuk dan menggali lubang. Dan ketika tak lama kemudian lubang itu terbuat dan mayat ini diletakkan hati-hati maka pekerjaan pria ini selesai dan mayat itu sudah dikubur. Sang isteri dipanggil lagi dan muncul, masih menutupi hidung.

“Aku tak tahu apakah kau sanggup memasuki hutan. Didalam lebih busuk lagi, tentu banyak mayat-mayat. Bagaimana menurut pendapatmu apakah masuk atau tidak.”

“Di sana lebih busuk lagi? Kau melihat mayat-mayat lain?”

“Hm, belum kulihat, niocu, tapi baunya telah kucium. Aku yakin banyak mayat di sana dan mungkin keadaannya sama menyedihkan seperti mayat pertama tadi.”

“Maksudmu kepalanya hilang dan tubuhnya dipenuhi ulat?”

“Mungkin begitu, dan barangkali kau tak tahan.”

“Keparat, jahanam benar srigala-srigala hutan ini, Han-ko. Kalau begitu kau masuklah dulu dan aku di sini. Aku tak mungkin harus melihat mayat yang sudah berbau. Perutku masih mual-mual!”

“Baiklah, kau di sini dan biar aku masuk!” laki-laki itu berkelebat lagi, masuk dan meninggalkan isterinya dan sekarang mereka berpisah. Wanita ini menunggu di mulut hutan dan suaminya, laki-laki gagah itu telah lenyap di dalam. Dan ketika ia menunggu dan bersiap-siap dengan sikap waspada maka pria gagah itu terbelalak dan kaget sekali melihat keadaan di dalam.

Dari sinar matahari yang masuk dan menembus celah-celah dedaunan ternyata banyak sekali mayat-mayat di dalam mulut hutan ini. Tak kurang dari tigabelas mayat. Semuanya sudah membusuk dan sulit dikenali, sebagian besar terburai isi perutnya dan dari perut-perut mayat itu keluarlah belatung atau ulat-ulat menjijikkan. Bagi yang tidak tabah tentu muntah. Apalagi wanita, pasti menjerit dan lari keluar dengan perut seakan-akan diaduk-aduk. Mayat-mayat itu benar-benar menyedihkan dan satu diantaranya bahkan wanita, dengan leher hampir putus tapi kedua tangannya hilang. Pinggang ke bawah rusak berat dengan pakaian yang hancur tak keruan.

Laki-laki itu tertegun tapi berwatak baja, dapat menahan jijik dan muntahnya dan tiba-tiba dia bergerak menyambar mayat wanita itu, melompat dan membawanya keluar dan tak lama kemudian dia sudah ganti-berganti membawa mayat-mayat yang lain. Isterinya, yang tertegun dan melihat itu tiba-tiba mengeluh, nyaris muntah lagi namun sang suami berseru agar menjauh sedikit, membuatkan lubang dan akhirnya suami isteri itu bekerja keras. Sambil mengutuk dan menyumpah wanita itu membuat lubang, cukup untuk tigabelas mayat. Dan ketika lubang terbuat dan ia menyingkir tak tahan bau busuk, suaminya sendiri menutup hidung dengan sapu-tangan dan satu demi satu melempar mayat-mayat itu maka satu jam kemudian barulah tigabelas mayat itu dapat dikuburkan secara massal.

Pria ini mengusap keringat ketika pekerjaan selesai. Isterinya tersedu menahan rasa mual dan ini sebuah gundukan tanah terdapat di depan mereka. Dan ketika pria gagah itu menarik napas dalam-dalam dan mengebutkan bajunya yang penuh debu, pekerjaan ekstra itu membuat wajahnya kemerah-merahan maka sang isteri yang gemetar dan berketruk dicengkeramnya lembut.

“Sudahlah, tak perlu marah-marah. Sekitar tempat ini sudah bersih dan barangkali kau dapat masuk kedalam.”

“Di situ.... di sana.... tak ada mayat-mayat busuk lagi? Aku. aku tak tahan oleh baunya, Han-ko. Dan belatung-belatung itu, eh... perutku ingin muntah-muntah!”

“Di dalam sudah tak ada mayat-mayat lagi, tapi entah kalau di tengah. Aku akan masuk ke sana dan ingin melihat pohon raksasa di tengah hutan itu. Kau mau ikut?”

“Tentu, tapi jangan perlihatkan padaku mayat-mayat berbelatungan, suamiku. Kau di depan dan aku dibelakang saja. Tapi hutan ini rupanya gelap!”

“Kita dapat mempergunakan obor. Tapi di dalam tadi sinar matahari masih dapat memasuki celah-celah dedaunan.”

“Baiklah, aku ikut. Tapi..” sang isteri mengangkat muka, maksudnya memandang mulut hutan tapi alangkah kagetnya ia ketika sepasang mata berkilauan menyambarnya dari depan. Mata itu seperti iblis dan tentu saja ia berteriak dan menuding, sang suami terkejut dan cepat membalikkan badan tapi sepasang mata itu tak ada lagi, lenyap! Dan ketika wanita ini tertegun dan pucat mukanya, sungguh ia tak dapat melupakan itu maka suaminya bertanya, wajah berubah karena pria gagah ini tersentak oleh jerit dan tudingan isterinya tadi.

“Apa yang terjadi, ada apa. Apa yang kau lihat?”

“Iblis.... mata iblis! Aku.... aku melihat sepasang mata berkilauan menyeramkan, Han-ko, tepat dibelakangmu. Tapi begitu kau menoleh mata itupun hilang!”

“Iblis? Hilang?”

“Benar, mata itu hilang, Han-ko. Tapi aku melihatnya jelas. Mata itu mencorong dan menakutkan. Dia.... dia.... itu!” wanita ini tiba-tiba melengking, berteriak dan menuding ke kiri tapi secepat suaminya membalik tiba-tiba sepasang mata itupun lenyap. Wanita ini membentak dan menuju ke mata itu dengan pedang di tangan tapi mata itu tak ada lagi.

Dan ketika sang suami tersentak dan kaget membelalakkan mata maka isterinya berteriak lagi dan kali ini menuding ke kanan, berkelebat dan menyambar dengan cepat tapi mata itupun menghilang lagi. Empat kali wanita ini berteriak tapi empat kali itu pula mata iblis itu lenyap, padahal jelas dilihat dan mencorong berkilau-kilauan. Dan ketika wanita ini gemetar dan mendeprok di tanah, musuh yang dihadapi rupanya sejenis mahluk halus maka wanita ini mengeluh dan histeris.

“Han-ko, kita diganggu iblis. Keparat, aku diganggu iblis! Ooh... mata itu... dia dia mempermainkan aku!”

“Tenanglah,” sang suami menjadi bingung dan heran sendiri, setiap kali menoleh maka mata yang dituding isterinya itu tak pernah ada. Dia tak melihat apa-apa. “Agaknya pengaruh jahat dari hutan ini mengganggumu, niocu. Mari tinggalkan sebentar dan kita keluar.”

“Aku... aku... itu lagi!” sang isteri berteriak dan menjerit, suaranya tinggi dan secepat kilat ia membentak dan melempar pedangnya. Mata itu dilihatnya lagi tepat di belakang suami. Sudah lima kali mata itu di belakang suaminya. Ia selalu gagal karena secepat suaminya menoleh maka mata itupun lenyap. Kecepatannya mengejutkan, sekaligus mengerikan. Tapi karena kini ia tak memburu lagi dan pedang di tangannya itulah yang dilontar dan ditimpukkan secepat kilat, jauh melebihi kecepatan anak panah maka terdengar suara “bret” dan barulah suaminya melihat bayangan hitam di balik sebatang pohon. Bagai iblis!

“Jahanam keparat!” isterinya melengking-lengking dan memburu beringas. “Kau lihat itu, Han-ko. Itu iblis itu. Dia menghilang di balik pohon itu!”

“Sabar,” sang suami berseru dan berkelebat menyambar lengan isterinya. “Di balik pohon itu tak ada siapa-siapa, niocu. Pohon itu terlalu kurus untuk menyembunyikan tubuh seorang manusia!”

“Tapi... tapi ia..”

“Lihat,” suaminya menyeret dan bergerak ke belakang pohon itu, hati juga mulai mengkirik. Seram! “Tak ada siapa-siapa, niocu. Aku juga melihat bayangannya tapi rupanya iblis. Ia tadi masuk dan tembus memasuki pohon ini. Kita menghadapi roh jahat. Sebaiknya kembali dan....” pria gagah ini tergetar, menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba terdengar lolong dan raung srigala.

Suara yang panjang menyeramkan terdengar bergemuruh dan tiba-tiba seperti iblis-iblis dari kubur berlompatanlah bayang-bayang hitam mengepung mereka, jumlahnya tidak kurang dari duaratus ekor dan itulah srigala-srigala Hutan Iblis. Lolong mereka sambung-menyambung dan tergetarlah isi hutan oleh gelegar suara mereka. Dan ketika pasangan suami isteri ini terkejut dan membalik maka seekor srigala hitam, dengan warna putih dipunggung telah berada di depan mereka dengan giginya yang besar-besar dan tajam menyeringai.

“Grrr!”

Wanita itu pucat. Tadi mereka berdua terlalu dicekam oleh mata iblis yang lenyap dan muncul berkali-kali. Mereka terpusatkan pikiran kepada mata ini. Maka begitu bayang-bayang srigala berlompatan dari dalam hutan, mengepung dan kini melolong bersahut-sahutan maka Hutan Iblis menjadi menyeramkan karena bumi seolah diisi oleh raung atau suara srigala-srigala itu, yang juga menggeram dan mengais-ngaiskan kaki seolah siap melompat.

“Ambil pedangmu, awas. Ini binatang-binatang keparat yang kita cari itu!” sang suami, yang sadar dan marah lebih dulu lalu berseru kepada isterinya. Duaratus srigala mengepung mereka dan suaranya yang menggetarkan hutan minta ampun. Dengan suara itu saja seorang laki-laki paling beranipun bisa kuncup nyalinya. Salah-salah bisa mati kaku! Tapi ketika wanita itu teringat dan memandang pohon di mana tadi pedangnya menancap, pedang itu menyambar tapi luput mengenai si mata iblis maka nyonya ini tertegun melihat pedangnya tak ada lagi!

“Pedangku. pedangku lenyap! Ah, di mana pedangku tadi, Han-ko. Bukankah menancap disitu!”

“Lenyap?” sang suami terkejut, menoleh. “Benar... eh, di mana pedangmu tadi, niocu. Bukankah menancap di pohon ini. Kalau begitu bawa pedangku ini dan... awas!”

Pria gagah itu tak sempat melanjutkan kata-katanya lagi. Srigala hitam, yang paling besar dan amat menakutkan itu sudah meloncat dan menerkam isterinya. Gerakan ini disusul oleh lompatan-lompatan srigala lain di mana tiba-tiba mereka menyalak dan melolong berbareng. Suaranya menggetarkan hutan dan laki-laki itu terkejut. Dia baru saja hendak menyerahkan pedang kepada isterinya ketika srigala hitam itu sudah melompat. Dia membentak dan menusuk srigala ini, tentu saja melindungi isterinya. Tapi ketika pedangnya mental dan srigala lain menyambar dan menyergapnya maka pedang yang sedianya hendak diberikan si isteri itu tak sempat lagi diberikan. Duaratus srigala sudah menyerang mereka, riuh-rendah.

“Niocu, awas. Hati-hati menyambut mereka. Jangan sampai tergigit.... bret!” pria gagah itu sendiri tergigit, gugup dan kaget melayani serbuan dan dia harus mengelak dari moncong seekor srigala yang menyergap lehernya. Lompatlah srigala-srigala itu amat tingginya sehingga ada yang melampaui kepala. Dan ketika dia berhasil menyelamatkan lehernya tapi baju lehernya robek, memberebet di mulut srigala yang ganas maka dia sudah memutar pedangnya dan tangan kiri serta kedua kakinyapun bergerak ke sana ke mari, memukul atau menendang dengan cepat.

Dia tak sempat lagi berteriak kepada isterinya karena sibuk melayani srigala-srigala itu. Pedangnya sudah merobohkan tujuh di antara mereka namun yang lain mengganti, menyalak dan menggigit dan mulut hutan gaduh oleh suara mereka. Tapi karena laki-laki ini bukan penduduk dusun, dia berkelebatan dan terbang menyambar-nyambar maka tujuh srigala lagi roboh oleh pedangnya, tiga yang lain kena tendangan kaki kanannya.

“Crak-des-dess!”

Duapuluh srigala sudah menjadi korban. Laki-laki ini ternyata hebat dengan permainan pedangnya. Dia membacok dan menusuk dan srigala-srigala itupun roboh berjengkangan. Tapi karena lawan masih banyak dan dia harus bergerak ke sana-sini tiada hentinya maka sang isteri, yang tak sempat mendapat pedangnya dan harus bertangan kosong berteriak dan menjerit. Wanita ini marah dan menendang atau memukul srigala-srigala itu tapi srigala hitam paling besar sungguh membuatnya terkejut.

Tadi srigala ini dibacok suaminya tapi tak apa-apa, menguik sebentar dan menggeliat lalu menyerangnya lagi. Dan karena sang suami sudah menghadapi lawan-lawan yang lain, srigala paling besar itu mengeluarkan lolong seakan aba-aba, suaranya dahsyat menggetarkan rimba maka srigala inilah yang paling membuat terkejut dan heran wanita ini, dipukul tapi dapat menangkis dan selanjutnya iapun membalas wanita itu. Giginya diperlihatkan dan taring-taring yang tajam itu membuat orang ngeri. Hewan ini luar biasa. Dan ketika wanita itu berloncatan ke sana-sini tapi lawan dapat mencegat dan memburunya pula, srigala-srigala yang lain menghadang dan gesit menyergap dan memotong maka ujung celananya tergigit dan wanita itu memekik.

“Han-ko, tolong!”

Pria gagah teringat. Dia menoleh tapi waktu sekejap ini dibayarnya mahal. Sang isteri, yang memekik dan kaget oleh serangan srigala hitam tiba-tiba dilihatnya terjatuh oleh terkaman hewan ganas ini. Tubuhnya yang paling besar di antara srigala-srigala lain membuat isterinya tak tahan ketika ditubruk, mengibas tapi tangannya dicengkeram dan saat itulah keduanya roboh terguling. Dan ketika dia pucat karena isterinya bergulingan dengan srigala hitam itu, diserbu dan digigit oleh srigala-srigala lain maka puluhan srigala yang mengeroyoknya juga menerkam dan pedang di tangannya digigit. Barulah pria ini sadar namun dia terlambat bergerak.

Lima srigala yang menerkam pedangnya itu rupanya cerdik dan mereka sudah menarik atau membetot, kawan-kawannya yang lain menubruk dan menggigit lengan atau kakinya. Bahkan, dua di antaranya melompat dan menyerang mukanya, begitu ganas. Dan ketika laki-laki ini mengelak dan berseru keras, menarik tapi kalah cepat, pergelangan tangannya tergigit maka pria yang terkejut dan menendang serta meronta ini melepaskan pedangnya yang dibawa kabur lima srigala itu.

“Keparat!” laki-laki ini menjadi marah sekali. “Terkutuk kalian, binatang-binatang busuk. Mana pedangku dan jangan lukai isteriku!” laki-laki itu mengibas dan mendorong mundur srigala-srigala yang lain. Dia pucat melihat isterinya yang masih bergulingan di sana sekaligus juga bingung oleh pedangnya yang dibawa lari lima srigala di depan. Mereka itu telah dihajarnya tapi berhasil membawa lari pedangnya. Dan karena isteri lebih penting daripada pedang, saat itu dia harus menyelamatkan isterinya dahulu daripada pedang yang dibawa lari maka laki-laki ini melepaskan diri dari kepungan dan sambil berjungkir balik ke arah isterinya dia menendang srigala paling besar itu, hewan yang berkutat dan bergumul dengan isterinya. Masing-masing tak mau kalah.

“Dess!”

Srigala hitam itu terlempar. Belasan temannya juga terlempar karena ketika menendang tadi pria gagah ini melepaskan pukulan jarak jauhnya, Pek-lui-kang atau Pukulan Kilat yang membuat hawa panas disusul sinar putih menyambar dari tangannya. Dan ketika dia menolong isterinya bangun sementara srigala raksasa menguik tertahan, bangun dan jatuh lagi bangun lagi maka wanita itu menangkis tapi pandang matanya memancarkan kemarahan yang sangat,berapi-api.

“Han-ko, pedangmu. mana pedangmu. Biar kubunuh jahanam keparat ini!”

“Hm, pedangku di sana,” pria itu terbelalak memandang srigala paling besar itu, teringat bahwa inilah agaknya srigala yang paling ditakuti, srigala yang kebal bacokan senjata tajam. “Kau ambil pedangku di sana, niocu. Biar ini menjadi bagianku.”

“Tidak,” sang isteri sudah menerjang, srigala itu menggeram dan melompat lagi, teman-temannya mengikuti. “Aku ingin membunuh srigala ini, Han-ko. Ambilkan pedang dan jaga jangan sampai aku diserang yang lain-lain!”

Pria gagah ini tertegun. Sebenarnya dia ingin bergerak dan menghadapi srigala hitam itu. Dia teringat bahwa tadi bacokannya tak mempan. Tapi karena sang isteri sudah berseru dan apa boleh buat dia harus menjaga maka dia membalik dan bermaksud mencari atau mengambil pedangnya itu. Tadi pedangnya itu dilihatnya masih dalam gigitan seekor srigala yang kemudian melepaskannya di atas tanah. Tapi bukan main kagetnya pria gagah ini. Pedangnya sudah tak dilihat dan ratusan srigala itu kembali menyergapnya.

Mereka menyalak dan melolong-lolong dan dia tak sempat lagi mencari-cari. Dia tak tahu bahwa sesosok bayangan hitam menyambar dan mengambil pedangnya ini, sosok tubuh laki-laki berjubah hitam dengan gambar kelelawar di punggung. Dan ketika apa boleh buat dia harus melayani serbuan itu dan berteriak agar isterinya tak terlalu jauh, dia mengibas dan melepas lagi pukulan-pukulan Kilatnya maka belasan srigala kembali roboh namun yang lain masih banyak.

“Celaka !” dia berseru. “Pedangku juga hilang, niocu. Aku tak mempunyai senjata lagi!”

“Apa?” isterinya berteriak. “Hilang? Kalau begitu bagaimana? Hewan ini tahan pukulan, Han-ko. Dia juga bisa membalas. Lihat, kaki dan tangannya seperti gerakan-gerakan silat. Tanpa senjata agaknya repot bagiku, kecuali dia tak dibantu teman-temannya!”

Laki-laki ini menengok. Dia berseru tertahan bahwa benar saja srigala paling besar itu mampu menangkis atau menghindar pukulan-pukulannya isterinya. Kaki depannya sering bergerak dan menampar sebagaimana layaknya orang menangkis. Dan ketika srigala itu juga mampu melompat dan maju mundur dengan kaki belakang berpindah-pindah, sungguh ini bukan srigala sembarangan maka teman-temannya yang menyalak dan mengeroyok isterinya membuat isterinya terdesak. Sudah banyak yang dipukul roboh tapi masih banyak yang belum. Dan ketika pria itu terbelalak karena terdengar raung atau lolong yang panjang, suaranya menggetarkan hutan maka dari mana-mana muncul srigala-srigala lain sebagai pendatang baru.

“Jahanam!” pria itu melotot. “Hutan Iblis gudangnya srigala-srigala kelaparan, niocu. Lihat seratus lebih mendatangi kita!”

“Benar, dan senjatamu. ah, kita sama-sama tak bersenjata, Han-ko. Bagaimana ini!”

“Mungkin kita harus menyingkir dulu, lawan terlalu beringas. Atau..... dess!” laki-laki itu menghentikan kata-katanya, membentak dan melempar seekor srigala dengan pukulan mautnya dan srigala itu menguik roboh. Kepalanya pecah kena pukulan Pek-lui-kang.

Dan ketika di sana isterinya juga berhenti bicara karena srigala hitam menubruk dan menyerangnya lagi, dibantu yang lain-lain maka seratus lebih srigala baru sudah tiba di situ. Dan langsung mereka itu menyerang dan mengeroyok.

“Niocu, lari saja. Kita pergi!” sang suami sekarang berubah, hanya dengan kaki tangan mendorong-dorong tapi srigala terlampau banyak. Dari mana-mana mereka menyerang dan dua kali bajunya robek tergigit.

Isterinya di sana juga mengeluh karena tiga kali ujung celananya tergigit. Kalau ia tidak menendang dan menghalau dengan bentakan keras mungkin sudah menjadi korban gigitan lain. Dan ketika pria itu sudah mulai berpikir untuk menyelamatkan diri, isterinya mulai pucat maka terjadi adegan tak disangka di mana srigala hitam besar mengaum dan menubruk isterinya dari depan.

“Han-ko..!” teriakan itu mengejutkan si lelaki gagah.

Dia menengok dan dilihatnya si hitam besar menubruk ganas. Mulut hewan itu terbuka dan ia tak perduli kepada pukulan isterinya. Dari kiri dan kanan serta belakang juga menubruk srigala-srigala lain, tapi yang paling berbahaya tentu saja srigala besar ini, yang menjadi pemimpinnya. Dan ketika isterinya menjerit namun melepas pukulan, disambut dan diterima mulut srigala hitam itu maka terdengarlah suara berkeretak ketika gigi srigala dan kulit isterinya sama-sama robek.

Dan saat itu srigala di kiri kanan serta belakang menerkam. Isterinya dan srigala besar sama-sama roboh tapi srigala itu tak melepas gigitan pada tangan isterinya. Srigala itu menyalak buas memandang isterinya, air liurnya mengenai luka di tangan dan saat itulah pria ini membentak meloncat ke depan. Gerakannya penuh tenaga dan amat kuat. Tapi ketika pukulannya menghantam punggung srigala, berdebuk dan mental tapi srigala itu tak melepaskan gigitan pada isterinya maka srigala-srigala lain sudah menerkam dan menggigit pula isterinya itu.

“Hauunnggg guk-guk-gukk!”

Sang isteri menjerit dan berteriak ngeri. Ia sudah berkutat dengan srigala hitam ini tapi srigala itu amatlah kuat dan gagahnya menancapkan taring. Binatang itu tak mau melepaskan gigitannya agar kawan-kawannya dapat menyerang wanita ini. Dan ketika benar saja kawan-kawannya dapat menggigit sementara wanita itu menjadi pucat, tangan kiri bergerak tapi disergap dan digigit srigala di kiri kanannya maka jeritan kepada suaminya membuat pria gagah itu terkesiap.

“Lepaskan! Jahanam!” Laki-laki itu melakukan tindakan nekat. Dia menerjang dan langsung menangkap punggung srigala hitam ini, ditarik dan dua jarinya menjepit kemaluan binatang itu. Dan ketika binatang itu berteriak dan otomatis melepaskan gigitannya, dia kesakitan dan nyeri maka laki-laki gagah itu sudah mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi dan membanting.

“Bukk!”

Srigala itu menggeliat. Seharusnya tubuhnya patah atau terlipat dua, paling tidak remuk punggungnya dicengkeram laki-laki gagah itu. Namun ketika ia mampu bangkit dan menggeram marah, melolong dan menyerbu lagi maka pria itu tak perduli kepadanya dan berkelebat menyambar isterinya dibawa lari. Tubuh isterinya sudah dicabik-cabik srigala.

“Niocu, aku harus menyelamatkanmu. Kita gagal!”

Sang isteri tak menjawab. Ia telah pingsan oleh pertarungan mati hidup itu, tak lupa kepada sepasang mata binatang ini yang begitu buas. Seumur hidup, baru kali itu ia menghadapi binatang kebal bacokan senjata. Dan ketika suaminya melompat dan lari jauh, srigala mengejar dan menyalak dengan gonggongan ramai maka srigala hitam yang marah dan mengaum di belakang laki-laki ini sempat menggigit dan menancapkan taring di tumit laki-laki itu, mencelat dan terlempar oleh sebuah tendangan kuat dan selanjutnya laki-laki itu terbang meninggalkan lawan-lawannya. Ilmu lari cepatnya amat luar biasa dan ratusan srigala tak mampu mengejar, begitupun srigala hitam yang menggigit tumitnya itu.

Dan ketika laki-laki ini meninggalkan Hutan Iblis dan memondong isterinya yang pucat pasi maka diapun merasa tumit belakangnya ngilu dan pedih, agak mengganggu larinya namun dia terus lari dan lari. Terbang dan meninggalkan tempat celaka itu adalah satu-satunya tujuan. Dan ketika dia sudah jauh dan naik turun bukit sebanyak enam kali akhirnya pria gagah itu roboh tepat di depan sebuah rumah kecil di tepi sebuah danau. Dan begitu dia mengeluh dan ambruk maka dua bayangan berkelebat dan muncullah suami isteri lain yang berseru tertahan.

“Thian Yang Maha Agung. Ini Han-su-heng dan Pui-cici!”

Begitu lelaki di depan berseru menyambar dan melihat. Di samping adalah wanita cantik berbaju biru, berkelebat dan sudah berjongkok melihat wanita baju merah itu, yang roboh di samping wanita gagah ini. Dan ketika wanita itu juga berseru dan menyambar sang korban, terbelalak dan pucat maka dua orang ini cepat bergerak dan membawa dua orang itu masuk.

“Celaka, gigitan apa ini. Seperti anjing!”

“Benar, dan enci Pui juga begitu, Suko. Tangan dan kakinya bekas cakaran-cakaran pula. Ah, apa yang telah terjadi!”

Suami isteri itu sibuk. Mereka mencari air hangat dan dengan air hangat ini lalu membasuh luka. Tapi melihat luka-luka di tubuh enci Pui, begitu mereka menyebut maka keduanya cemas dan khawatir. Wanita baju biru sibuk menotok sana-sini sementara pria gagah di sampingnya juga membantu. Luka yang amat parah adalah pada wanita baju merah itu, terutama tangan kanannya yang tembus digigit srigala hitam. Hewan sebesar anak lembu itu. Dan ketika beberapa butir obat-obatan juga dijejalkan tapi wanita itu tak siuman juga maka yang pria mendadak mengeluh dan membuka mata.

“Han-suheng sadar!” pria di samping wanita baju biru itu berseru. Dia girang melihat laki-laki ini sadar dan tentu saja isterinya menoleh. Dan ketika isterinya juga melompat dan menghampiri pria itu maka laki-laki yang tertegun dan membuka mata ini tampak gembira, namun kegembiraan itu segera lenyap teringat isterinya dan peristiwa di Hutan Iblis.

“Sute, mana isteriku. Aku... aku masih hidup...?”

“Ah, apa yang terjadi, suheng. Ada apa dengan Pui-cici!” pria bertubuh tegap dan agak pendek ini mencekal lengan laki-laki gagah itu.

Ternyata mereka adalah suheng dan sute dan rupanya memang rumah inilah yang dituju. Tapi begitu duduk dan melihat isterinya di pembaringan sebelah, maka laki-laki ini bangkit tapi segera dia mendesis oleh sakit yang sangat di tumit kirinya.

“Bedebah, srigala terkutuk! Augh... tumitku bengkak, sute. Tapi bagaimana keadaan isteriku!”

“Tenanglah... apa yang terjadi, suheng. Dan kenapa datang-datang seperti ini. Kalian rupanya digigit anjing gila. Syaraf otak dari Pui-cici terkena.”

“Ia tak sadar?”

“Sejak kau roboh di rumahku. Aih, apa yang terjadi, suheng. Katakan dan bagaimana bisa begini. Masa kalian orang-orang persilatan bertanding dengan anjing gila!”

“Kami dikeroyok ratusan srigala-srigala liar. Dan isteriku. ah, Bhi Pui, ia keras kepala tak mau kesini dulu. Kami kami bertemu sesuatu yang menakutkan!”

“Srigala? Menakutkan? Ah, bagaimana itu, suheng. Coba ceritakan!”

“Tidak,” si pria tegap pendek berkata. “Rupanya siapkan minuman dan bubur hangat, Li-moi. Biarkan suheng mengisi perutnya dulu dan baru bercerita.”

“Ah, benar. Kalau begitu tunggu sebentar!” dan wanita berbaju biru yang bergegas dan melompat ke belakang lalu menyiapkan minuman dan bubur panas. Ia bekerja dengan cepat sementara laki-laki gagah itu terpincang menghampiri isterinya. Dan ketika pria pendek tegap mengiringi dan laki-laki gagah itu melihat keadaan isterinya maka tiba-tiba dia meruntuhkan air mata, menggigil.

“Isteriku demam, ia....ia gawat !”

“Benar,” sang sute mengangguk. “Tapi sudah kami tolong, suheng, sekuat-kuatnya. Kau tak perlu khawatir dan mari duduk. Kau tak boleh banyak berdiri dulu!”

“Tapi.... tapi...”

“Sudahlah, duduk dulu, suheng. Kita bicara di sini,” tuan rumah menyambar sebuah kursi, memberikannya kepada laki-laki gagah itu dan duduklah laki-laki itu dengan gemetar.

Dia hampir tak kuat dan tertolong oleh kursi ini. Tumit yang digigit srigala hitam itu ngilu dan sakit, nyeri. Lalu ketika dia mengepal tinju dan menghapus keringat, nyonya rumah datang maka semangkok bubur diberikan kepadanya berikut minuman panas.

“Harap Han-suheng nikmati ini dulu, perlahamn-lahan. Lalu kita bisa mendengarkan bagaimana ceritamu.”

Laki-laki itu gemetar. Kejadian di Hutan Iblis membayang lagi dan teringat ini dia memejamkan mata, gemetaran. Tapi menarik napas dalam-dalam akhirnya dia membuka kembali matanya itu, wajah masih kelihatan pucat dan letih. Kakinya sudah dibalut. “Aku... kami... datang ke Hutan Iblis. Di sana ada srigala siluman yang telah menghancurkan penduduk. Kami bermaksud menolong tapi.... tapi inilah jadinya...”

“Hm, di mana itu Hutan Iblis, suheng? Kenapa kami belum pernah dengar?”

“Hutan itu beberapa kilometer dari dusun Lam-chung yang kini tak berpenghuni, dan beberapa puluh li dari kota Ci-bun.”

“Ci-bun? Ah, ada komandan keamanan Cai-ciangkun disana!”

“Benar, tapi komandan itu dan walikotanya tak berani bertindak, sute. Bahkan mengadakan sayembara hadiah bagi yang dapat membunuh hewan-hewan ganas di Hutan Iblis itu. Dan banyak sudah yang menjadi korban!”

“Coba kau ceritakan kepada kami, yang lengkap,” tuan rumah berseru, tertarik. “Baru kali ini aku mendengar tentang ini, suheng. Dan juga bahwa kau dan Pui-cici yang sampai celaka!”

Laki-laki gagah itu menggangguk. Memang dia harus bercerita dan bicara panjang lebar. Dan karena mereka duduk sambil menunggu isterinya sadar maka mulailah laki-laki gagah ini memulai kisahnya. Dia bercerita betapa isterinya mengajak dulu ke hutan itu, tidak ke rumah ini karena ingin tahu dan menghajar srigala siluman itu. Dan ketika mereka sampai tetapi yang didapat adalah mayat-mayat berserakan, malang-melintang dan tak keruan di dalam hutan maka nyonya rumah yang mendengar betapa mayat itu rata-rata sudah membusuk dan berbelatung hampir muntah-muntah.

“Aku terpaksa sendirian mengambil mayat-mayat itu, isteriku tak tahan. Tapi ketika kami selesai mengubur semua mayat itu mendadak sepasang mata setan dilihat isteriku!”

“Mata setan?”

“Ya, mata setan. Aku sendiri juga baru sekali melihatnya tapi setelah itu srigala-srigala itu datang, sute. Dan kami bertarung mati hidup!”

“Tapi kalian bersenjata!”

“Itulah yang mengejutkan. Pedang kami suami isteri hilang, sute. Dan aku tak tahu bagaimana itu. Kapan hilangnya!”

“Hilang?”

“Ya, sewaktu mata iblis itu mengganggu isteriku maka sewaktu isteriku melontarkan pedangnya maka pedang itu menancap di pohon di mana ia hampir saja mengenai korbannya. Tapi saat itu srigala-srigala kelaparan itu datang dan menggonggong, dan kami lupa kepada pedang ini tapi ketika ingat maka pedang itu sudah tak ada di tempatnya lagi!”

“Aneh, ada kejadian begini luar biasa? Lalu bagaimana selanjutnya, suheng?”

“Aku hendak memberikan pedangku. Tapi belum sempat kulontar tiba-tiba aku sudah diserbu hewan-hewan ganas itu dan isteriku juga. Kami bertempur habis-habisan, banyak yang kami bunuh. Tapi ketika isteriku menjerit oleh srigala pemimpinnya maka saat itulah pedangku digigit lima srigala lain di mana tiba-tiba terlepas dan ketika aku melompat menolong isteriku maka pedangku itu juga sudah tak ada lagi!”

Suami isteri itu terkejut membelalakan mata. Suheng mereka ini segera bercerita bahwa ada keanehan-keanehan yang terjadi, tak dapat dituturkan tapi telah mereka alami. Dan karena pedang sama-sama lenyap dan apa boleh buat harus melawan dengan tangan kosong maka isterinya terluka dan dia harus melarikan diri menyelamatkan isterinya itu.

“Aku tak tahu bagaimana jadinya kalau tak dapat meninggalkan tempat itu. Yang jelas, Hutan Iblis benar-benar menyeraman dan aku menyesal bahwa isteriku tak mau kuajak ke sini dulu untuk bergabung dengan kalian dan baru setelah itu ke sana bersama-sama!”

“Nanti dulu. Kau tadi bicara tentang srigala hitam berpunggung putih itu, suheng. Apakah benar dia tahan bacokan senjata tajam!”

“Sudah kubuktikan,” lelaki ini mengangguk. “Hal itu benar, sute. Jadi meskipun kami bersenjata agaknya percuma, hewan itu kebal. Tapi dengan senjata setidak-tidaknya kita dapat melindungi diri.”

“Hm,” sang sute mengangguk-angguk. “Aku jadi tertarik untuk ke sana, suheng. Dan mudah-mudahan kita semua dapat ke sana bersama!”

“Ya, tapi isteriku.”

Semua menoleh ke pembaringan itu. Setelah pembicaraan selesai dan semua teringat si sakit maka laki-laki gagah itu menengok pada isterinya, tangan meraba dan tiba-tiba diapun terkejut. Hanya beberapa menit saja ternyata demam nyonya itu meninggi, begitu tinggi sampai tangan rasanya terbakar! Dan ketika pria gagah itu terkejut dan nyonya serta tuan rumah juga terkejut maka wanita itu tiba-tiba diserang kejang-kejang!

“Ah, isteriku, sute. Panasnya meninggi!”

“Tenang tenang, suheng. Biar kami kompres!” tuan dan nyonya rumah jadi sibuk. Mereka berlari kesana ke mari sementara pria gagah itu juga menotok sana-sini. Tapi karena dia juga belum sembuh dan usahanya sia-sia maka dia menjadi panik karena muka si isteri menjadi kehijau-hijauan.

“Sute, isteriku terkena racun!”

Laki-laki pendek tegap berubah. Si korban kehijau-hijauan dan sebentar kemudian hitam dan merah. Keadaan dibarengi dengan kejang-kejang menghebat. Dan ketika terdengar keluhan panjang dan wanita itu mengeluh maka dari mulut dan hidungnya keluar cairan putih kental. Cairan ini seperti liur srigala-srigala itu dan pucatlah pria gagah melihat itu. Dia berteriak dan bangkit dari kursinya. Tapi ketika dia terjatuh dan roboh terguling maka isterinya menggeliat dan. tiba-tiba ambruk dengan tubuh kaku. Sekejap wanita itu mendelik tapi kemudian roboh tak bergerak-gerak lagi. Dan ketika nyonya rumah menjerit dan memeriksa detak nadinya ternyata korban telah tewas dan napasnya putus.

“Cici...!” Pekik itu menggetarkan isi rumah.

Pria gagah terbeliak dan seakan tak percaya. Tapi ketika dia bangun dan ditolong sutenya, memeriksa, maka pria inipun roboh dan terguling. Pingsan. Kejadian berubah menjadi tangis dan wanita baju biru tersedu-sedu. Saudaranya tewas. Tapi begitu teringat siapa yang menjadi sebab sekonyong-konyong ia melompat bangun dan pedang di dinding disambar, meloncat keluar.

“Binatang keparat, kubunuh kau!” Wanita ini terbang meninggalkan rumah. Ia tak berpamit kepada suaminya lagi dan sang suami tentu saja kaget bukan main. Saat itu dia sedang menolong suhengnya dan kini tahu-tahu sang isteri melompat bagai gila dengan pedang di tangan. Mau ke mana lagi kalau bukan ke Hutan Iblis. Maka membentak dan berkelebat keluar tiba-tiba laki-laki pendek tegap itu berseru,

“Li-moi, jangan gila. Tunggu, berhenti sebentar!”

Namun wanita itu tak memperdulikan. Ia melengking dan bahkan mempercepat larinya. Dan ketika sang suami terbelalak karena di rumah masih ada yang harus dirawat, juga yang mati belum diurus maka isterinya itu menjawab, nyaring melengking.

“Aku hendak membalas kematian enciku, Su-ko. Akan kubantai srigala-srigala jahanam itu. Bantu aku atau urus dulu yang ada di rumah!”

“Gila!” laki-laki ini bingung. “Tempat itu berbahaya, Li-moi. Tunggu sebentar dan jangan sendiri. Atau...” laki-laki ini tertegun, di belakangnya berkelebat bayangan suhengnya, jatuh tapi lari mengejarnya lagi, jatuh dan lari lagi. Dan karena otomatis dia harus berhenti karena suhengnya ada di situ, belum sembuh betul maka laki-laki ini membalik dan menyambar pria gagah itu. “Suheng, kaupun kenapa ikut-ikutan keluar. Aih, masuk dan istirahat dulu!”

“Tidak aku juga akan membalaskan kematian isteriku, sute. Kalau isteri sampai tewas biarlah aku mampus di sana!”

Sibuklah laki-laki ini mencegah dan mencengkeram. Sekarang dia bingung mana yang harus didahulukan. Isterinya sudah lenyap di depan sementara saudaranya ini juga mau mencari penyakit. Dan karena saudaranya lebih penting karena dia akan membujuk dan menahannya dulu di rumah, setelah itu menyusul dan mengejar isterinya maka laki-laki ini menarik dan membawa suhengnya itu kembali. Dengan susah payah dia berkata biarlah jenazah di rumah diurus dulu, baru setelah itu mereka pergi. Dan karena bujukan ini masuk akal sementara wanita baju biru sudah lenyap terbang meninggalkan rumah maka Bhi Li, wanita itu, meluncur dengan amat cepatnya menuju Hutan Iblis.

Siapakah sebenarnya pasangan suami isteri-suami isteri ini? Bagi pembaca yang sudah mengikuti cerita di Golok Maut tentu kenal pasangan pria wanita ini. Mereka adalah Keng Han dan Su Tong murid-murid Pek-lui-kong (Dewa Halilintar) dari utara.

Dulu, belasan tahun yang lalu Keng Han maupun Su Tong ini mencari Golok Maut Sin Hauw, ayah dari Si Naga Pembunuh Giam Liong. Dua orang muda ini tak senang dengan sepak terjang Si Golok Maut Sin Hauw yang ganas, maksudnya hendak menegur dan kalau perlu bertempur dengan Si Golok Maut itu. Tapi ketika dalam perjalanan mereka malah diganggu tokoh-tokoh sesat dan justeru Golok Maut menolong mereka maka dua pemuda ini tersipu-sipu dan malu kepada orang yang hendak mereka musuhi itu.

Keganasan atau kekejaman Golok Maut ada sebabnya. Ternyata tokoh yang hendak mereka tegur itu adalah seorang yang sedang menderita pukulan jiwa hebat, gara-gara perbuatan atau sepak terjang keji Coa-ongya. Dan ketika mereka mulai tahu sebabnya dan tentu saja mundur, kepandaian mereka juga tak sebanding dengan Golok Maut itu maka dalam kisah berikutnya mereka bertemu dengan dua kakak beradik Bhi Pui dan Bhi Li, yang juga pernah ditolong Golok Maut dan dari perkenalan mereka ini akhirnya timbul bibit-bibit cinta di mana akhirnya mereka menikah. Bhi Pui mendapat Keng Han sementara Bhi Li mendapat Su Tong.

Dan karena mereka akhirnya jarang memperlihatkan diri di dunia kang-ouw lagi, dunia begitu jahat maka dulu hanya sejenak saja dua orang itu melihat keturunan Golok Maut Sin Hauw, yakni Si Naga Pembunuh Giam Liong. Dua pasangan ini lalu hidup sendiri-sendiri di mana Keng Han belum mempunyai anak, lain dengan sutenya di mana Su Tong mempunyai seorang anak perempuan yang saat itu dibawa gurunya ke utara.

Hari itu Su Tong mengundang suhengnya suami isteri untuk berkumpul di tempatnya karena guru mereka Pek-lui-kong, jago tua utara akan datang berkunjung membawa Su Giok, puteri mereka yang sudah berusia lima belas tahun. Tapi ketika Keng Han berkunjung namun ada urusan itu, peristiwa Hutan Iblis yang mengguncang orang-orang sekitar maka perjalanannya dibelokkan tapi tak tahunya malah membawa celaka bagi mereka sendiri. Bhi Pui atau isterinya tewas oleh keroyokan srigala yang buas dan ganas.

Bhi Li, sang adik, tentu saja berduka dan marah. Wanita ini beradat keras seperti encinya pula, meskipun sang enci sebetulnya lebih keras dan galak dibanding dirinya. Tapi karena kematian encinya itu sungguh merupakan pukulan berat, Bhi Li atau wanita baju biru ini tak mau menunggu lagi maka kemarahan dan kedukaannya membuat ia menerjang masuk ke Hutan Iblis. Tapi di tengah jalan tiba-tiba wanita ini melihat berkelebatnya sesosok bayangan dari samping. Ia menoleh namun bayangan itu bersembunyi dan berlindung di balik sebatang pohon, meneruskan larinya namun bayangan itu bergerak dan mengejar lagi. Dan ketika ia menoleh namun bayangan itu kembali melompat bersembunyi, wanita ini tertegun dan menjadi marah akhirnya ketika berada di sebuah kuil tua itupun melompat masuk dan menunggu bayangan itu datang. Ingin tahu siapa gerangan dan kenapa mengutitnya.

“Hm, keparat jahanam. Lagi-lagi pengganggu. Awas, kubunuh dan kubuntungi ke dua kakimu nanti!” Bhi Li lenyap dan memasuki kuil ini. Tempat itu kosong dan kebetulan enak dipakai sembunyi. Kalau tadi musuh yang melompat bersembunyi maka sekarang ialah yang bersembunyi. Ia ingin melihat siapa bayangan laki-laki itu, yang mengejar tapi selalu menyembunyikan diri kalau ditengok. Dan ketika tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki berlari-lari, ringan dan melompat memasuki kuil itu maka wanita baju biru ini tertegun karena itu kiranya adalah Pang-kauwsu, guru silat Pang! Dan begitu melihat guru silat ini seketika wajahnyapun merah terbakar!

Dua tiga bulan yang lalu, ia secara kebetulan bertemu dengan guru silat Pang ini. Entah mengapa guru itu tergila-gila kepadanya, menyatakan cinta dan dalam sekali pertemuan itu coba-coba mengganggunya. Ia tentu saja marah dan berkata bahwa ia bukan wanita lajang, sudah bersuami dan mempunyai anak pula. Tapi karena penampilannya memang cantik dan awet muda, Bhi Li memang masih menggiurkan maka guru silat yang tak perduli dan menyatakan sudah tahu itu malah berkata bahwa suami dan anak bukan halangan.

“Aku mencintaimu bukan mencintai suamimu atau anakmu. Mereka dapat dilupakan. Cinta tak berhubungan dengan yang lain-lain. Aku tahu kau sudah berumah tangga, Su-hujin (nyonya Su), tapi entahlah hati ini tak dapat diberi tahu. Kalau kau tak dapat meninggalkan anak dan suamimu biarkanlah kau berikan aku seteguk air dahaga sebagai pelepas rasa cintaku ini. Aku tak dapat tidur siang malam, kau kasihanilah aku dan biarlah setelah itu aku tak bakal menggamggumu. Turutilah hasrat jiwa ini dan biarlah setelah itu aku mati!”

Pang-kauwsu berlutut dan mengiba-iba, tangannya langsung saja memegang kaki nyonya itu dan Bhi Li tentu saja berteriak. Ia menendang dan laki-laki itu terlempar. Tapi ketika Pang-kauwsu berlutut dan mengiba-iba lagi, Bhi Li terbelalak maka wanita ini menjadi ngeri dan gelisah karena dari situ ia tahu bahwa guru silat ini cukup berkepandaian dan tidak merasakan sakit oleh tendangannya tadi.

“Kau tak tahu malu. Kau laki-laki hidung belang. Cih, kembalilah, Pang-kauwsu atau kulaporkan kepada suamiku dan kau akan dihajarnya!”

“Aku tak takut,” laki-laki itu tertawa, kembali meraba dan coba memegang-megang paha nyonya itu tapi wanita ini berkelit.

Bhi Li terbelalak dan seram. Ia seakan menghadapi laki-laki gila. Dan ketika ia mencabut pedangnya dan membentak serta mengancam, Pang-kauwsu ganda ketawa dan bangkit berdiri maka akhirnya ia menyerang dan terjadi pertempuran hebat di sini. Pang-kauwsu terbahak dan ternyata dia hebat, mencabut golok dan mampu mengimbangi lawannya ini. Dan ketika dia membalas dan dua kali hampir saja merobek pundak lawan, Bhi Li melempar tubuh bergulingan maka selanjutnya nyonya ini mendapat tekanan dan guru silat itu setingkat lebih tinggi darinya. Pantas berani mengganggu dan agaknya suaminya Su Tong yang dapat menghadapi. Bhi Li akhirnya berteriak dan melepas jarum-jarumnya, ditangkis tapi saat itu dipergunakan untuk melompat mundur, lari dan membalik menuju rumahnya dan di sini guru silat itu tak mengejar.

Rupanya ia takut juga harus berhadapan dengan sang suami, mungkin takut dikeroyok. Dan Bhi Li yang pulang menahan gelisah dan air mata akhirnya melapor dan suaminya lalu mencari tapi guru silat itu menghilang. Sebulan dua bulan lewat tapi guru silat itu tiba-tiba muncul lagi, di tengah jalan. Dan ketika dia menjerit dan memanggil suaminya, guru silat itu pergi lagi maka Su Tong geram dan suami ini membanting-banting kaki.

“Orang macam apakah Pang-kauwsu itu. Dan di mana dia tinggal!”

“Aku tak tahu. Dia harus diberi pelajaran berat, suamiku. Atau nanti menggangguku lagi. Aku tak takut tapi kepandaiannya setingkat di atasku!”

“Hm, kalau begitu mari bersama-sama menyelidiki. Di sana ada kota An-wei dan kita tanya-tanya!”

Suami isteri itu lalu menyelidik. Ternyata Pang-kauwsu memang pernah tinggal di An-wei namun ini guru silat itu berpetualang. Dia berpindah-pindah tempat dan hidupnya sebagai duda memang suka mengganggu wanita, terutama yang berumah tangga. Guru silat ini tak senang melihat kebahagiaan orang lain dan siapapun rumah tangga yang bahagia akan diganggunya. Ini karena sakit hatinya terhadap rumah tangganya sendiri yang berantakan, cerai ditinggal isteri dan sebagai pelampiasannya diapun lalu mengganggu rumah tangga lain. Siapapun yang dilihatnya bahagia akan diganggu isterinya, menghilang dan mengganggu di tempat lain, begitu berulang-ulang.

Dan karena dia main paksa dan banyak ibu-ibu rumah tangga dihancurkan nasibnya, banyak yang membenci guru silat ini namun kepandaiannya membuat para suami tak berani melawan guru silat itu maka akhirnya Pang-kauwsu ini malang-melintang di sekitar An-wei dan suatu hari dia melihat rumah tangga Su-hujin ini. Dia mencegat dan menghadang dan seperti biasa dia mulai merayu. Kalau tidak berhasil dia siap dengan kepandaiannya, itu yang sudah biasa dilakukannya bertahun-tahun. Tapi karena Bhi Li adalah wanita gagah dan wanita itu melawan, Pang-kauwsu terkejut dan kagum maka duda keparat yang justeru semakin tergila-gila dan jatuh hati kepada nyonya ini tak habis-habisnya memuji.

Dia tahu siapa keluarga itu tapi yang ingin dimilikinya hanya sang nyonya ini. Asal Su-hujin membalas cintanya sekali saja dia merasa cukup, begitu pintanya. Tapi Bhi Li yang tentu saja marah dan gusar lalu menyerang dan memaki-maki. Dan akhirnya guru silat itu menghadapi dan dia ternyata setingkat lebih tinggi dibanding lawannya, membuat Su-hujin terkejut dan jalan paling selamat adalah lari pulang. Pang-kauwsu tak berani mengejar dan bekas anak murid Bu-tong yang diusir ini menunggu saat lain, sabar dan mencari wanita lain lalu ketika saatnya tepat diapun muncul lagi. Pergi dan menghilang ketika suami nyonya itu berkelebat, tak mau menghadapi dua lawan karena tentu dia kalah.

Dari kepandaian nyonya itu saja dia tahu bahwa sendiri menghadapi keroyokan tentu tak sanggup. Maka menyingkir dan mencari kesempatan lain segera dia pergi dan hari itu tiba-tiba saja dia melihat Su-hujin itu berlarian sendiri saja. Dia masih ragu dan menguntit dan diam-diam mencari bayangan suami. Kalau Su-tong ada di situ tentu dia harus menyingkir, bersabar lagi. Tapi ketika sampai beberapa puluh li dia tak melihat siapapun juga kecuali nyonya itu, kegirangannya memuncak maka dia tahu ketika sang nyonya berkelebat dan bersembunyi di kuil tua. Sekarang Bhi Li pucat kenapa dia lupa akan bahaya dari Pang-kauwsu ini.

“Ha-ha,” begitu guru silat itu tertawa bergelak. “Kau ternyata menungguku di kuil ini, Su-hujin. Ini artinya kau menyambut cintaku. Kenapa tidak dari dulu-dulu bilang. Ha-ha, aku lega kau akhirnya menerima cintaku, hujin, syukur kalau selamanya!”

Pang-kauwsu itu berkelebat dan masuk. Dia sekarang tak perlu menyembunyikan diri lagi setelah yakin bahwa nyonya itu betul-betul sendirian saja. Dia tak tahu kenapa nyonya itu berlarian dengan pedang di tangan tapi perkiraannya bahwa sedang terjadi keributan dengan sang suami membuatnya girang. Biasanya begitulah akhir dari sebuah rumah tangga yang diganggunya. Sang suami mudah cemburu dan marah-marah. Dan menganggap Su-hujin itu perang mulut dengan suaminya, pergi dan meninggalkan rumah maka dia masuk dan memanggil nyonya itu. Hatinya gembira, hasrat dan nafsunya berkobar.

“Guru silat keparat!” tapi begitu bentakan diterima. “Kalau laki-laki tak tahu malu dan perusak rumah tangga, Pang-kauwsu. Siapa menunggumu dan menyambut cintamu. Inilah pedangku, terimalah!” nyonya itu berkelebat dan keluar, pedangnya menusuk dan Pang-kauwsu tentu saja mengelak. Betapapun dia cukup hati-hati. Tapi ketika sang nyonya mengejar dan dia melihat kemarahan yang sangat, Su-hujin tak main-main maka apa boleh buat dia mencabut goloknya dan dengan golok di tangan dia menangkis lagi sambaran pedang nyonya itu.

“Ehh. crang!”

Pang-kauwsu menang tenaga. Memang selama ini dia unggul setingkat tapi begitu lawan memekik dan menerjangnya lagi maka diapun kerepotan. Dia tak tahu bahwa Bhi Li atau Su-hujin ini sedang dilanda kecewa dan marahnya oleh kematian sang enci. Dia mengira nyonya itu bertengkar dengan suaminya sendiri. Maka ketika pedang bergulung-gulung dan nyonya itu menerjangnya sengit, segala kepandaian dan tipu serangan dikeluarkan maka laki-laki inipun kewalahan dan mundur menangkis sana-sini.

“Crang-crangg!”

Sejenak dia terdesak tapi sudah mampu menguasai diri lagi. Tadi, guru silat ini agak ragu mengira sang nyonya tak bersungguh-sungguh. Wanita yang sudah bertengkar dengan suami biasanya sudah goyah dan kalau ada lelaki datang mendekat biasanya akan disambut, meskipun satu dua diantaranya akan pura-pura galak dahulu sekedar jaga diri, agar harganya tak melorot jatuh dan lelaki sewenang-wenang kepadanya. Tapi ketika nyonya itu jelas menusuk dan menikam dengan serangan maut, membentak dan melengking maka Pang-kauwsu ini sadar bahwa Su-hujin ini tidak sekedar habis bertengkar dengan suaminya. Malah naga-naganya ada sesuatu yang telah mengguncangkan jiwanya dan membuatnya seperti kesurupan!

Nyonya itu melengking-lengking dan pedangpun menyambar tiada henti. Namun karena dia mulai kenal gerak dan gaya permainan pedang ini, sekali dua mereka sudah bergebrak maka Pang-kauwsu yang mainkan silat goloknya dengan baik akhirnya membendung dan perlahan tetapi pasti dia balas menekan dan menghalau serangan lawan.

“Ha-ha, sudah dua tiga kali kita bergebrak, hujin, dan kau tahu bahwa kau tak dapat mengalahkan aku. Jangan mulai kehangatan cinta dengan perang tanding sia-sia!”

“Cinta apa! Kehangantan apa! Jaga mulutmu dan jangan asal bercuap, orang she Pang. Aku akan membunuhmu atau kau boleh membunuhku!”

“Ha-ha, aku tak akan membunuhmu. Aku jatuh cinta padamu. Masa demikian ketus sambutanmu, Su-hujin. Kau sudah meninggalkan rumah dan suamimu untuk menantiku di sini. Masa dugaanku salah dan kau pura-pura..... singg-plak!” sang kauwsu terpaksa menghentian kata-katanya, mengelak dan menangkis dan golokpun bertemu pedang. Tapi karena dia masih bicara maka gagang goloknya yang kena dan hampir saja Pang-kauwsu ini terbabat. Dia terbelalak dan menjadi marah karena ternyata lawannya bersungguh-sungguh.

Su-hujin itu memakinya kalang-kabut dan mulailah dia merasa bahwa sia-sia segala bujuk rayunya. Wanita ini harus ditundukkan dengan kekerasan dan diapun membentak dan bersikap kasar. Dan ketika pedang kembali mendesing dan dia mengerahkan tangannya maka golok membabat pedang dan nyonya itu berteriak karena pedangnya hampir saja terlepas. Pang-kauwsu tertawa panjang dan diapun mengejar, ganti memerangsek dan Su-hujin pucat melihat tekanan. Dan ketika apa boleh buat ia harus mengelak dan berlompat ke sana ke mari, lari dan berputaran diruangan itu maka meja kursi yang ada di situ ditendang pula untuk menghadang jalan maju laki-laki ini.

Namun Pang-kauwsu tertawa bergelak dan semua benda-benda itu dibacoknya putus. Dia marah tapi juga naik berahinya melihat sikap pantang menyerah dari lawannya ini. Semakin gagah semakin dia suka! Dan ketika Bhi Li harus keluar masuk ruangan lain dan melengking-lengking, wanita ini menyesal kenapa tak bersama suaminya maka dia berteriak dan memaki-maki guru silat itu dengan suara sekeras-kerasnya. Bhi Li bermaksud agar semua kegaduhan itu didengar suaminya. Dia yakin bahwa suaminya pasti datang. Maka ketika ia coba menggertak lawan dan berseru agar guru silat itu menyingkir, atau sebentar lagi suaminya datang ternyata guru silat ini terbahak-bahak.

“Ha-ha, suamimu datang? Tak mungkin? Kau meninggalkan rumah dengan marah-marah, Su-hujin, kau pasti habis bertengkar dengan suamimu. Tentu perkara aku. Bagus, aku senang! Kalau kau sudah berpisah dengan suamimu dan kita menjadi suami isteri maka jangan khawatir karena akupun tak kalah dengan suamimu itu. Aku akan lebih mencintai dirimu, marilah dan kita bersenang-senang. Kuil ini sunyi, tak ada orang tahu!”

Bhi Li merah padam, laki-laki ini seperti gila membujuknya terus-terusan, tak tahu malu dan kata-katanyapun mulai kotor, marah ia. Tapi karena guru silat itu memang hebat dan ia mulai merasa telapaknya pedas, setiap tangkisan tentu lawan menambah tenaganya maka Bhi Li keluar lagi dan kini bermaksud kembali pulang. Agaknya ia harus memanggil suaminya dulu. Tapi begitu ia melompat dan menerjang pintu tengah ternyata laki-laki itu menggerakkan goloknya dan kakinyapun diganjal.

“Trangg-bluk!”

Bhi Li terbanting dan roboh melempar tubuh bergulingan. Ia memekik karena ganjalan itu tak disangka-sangka. Lawan sungguh licik. Tapi ketika ia meraup jarum-jarumnya dan dengan senjata rahasia ini ia menghambat laju lawan maka ketika Pang-kauwsu itu menangkis jarum-jarumnya iapun meloncat dan berlari keluar.

Tapi Pang-kauwsu tertawa bergelak. Laki-laki ini sudah yakin sebentar lagi dia akan mendapatkan lawannya. Su-hujin yang gagah itu semakin menarik hatinya, dia benar-benar tergila-gila. Maka ketika dia mengejar dan belasan jarum yang tadi ditangkis ada diraupnya cepat, dikembalikan dan menyambar nyonya itu maka Su-hujin terkejut ketika jarum-jarumnya dikembalikan lawan.

“Aku tak suka jarum-jarummu, terimalah, kukembalikan... wut-wut!”

Bhi Li melengking dan menangkis jarum-jarumnya sendiri. Ia marah tapi tak mungkin mengelak dan harus menangkis jarum-jarumnya sendiri. Dan ketika kesempatan itu dipergunakan lawan untuk meloncat dan mendekati dirinya, golok Pang-kauwsu bergerak dan akan menyelesaikan pertandingan maka saat itulah guru silat ini melihat bayangan di depan pintu dan tepat ia mengangkat goloknya maka saat itu sebutir batu hitam menyambar dan menotok pergelangan tangannya.

“Tak!” Guru silat ini terbelalak. Pergelangan tangannya lumpuh dan otomatis golokpun turun ke bawah. Seorang laki-laki pendek tegap memandangnya di pintu itu dengan mata bersinar-sinar. Su-ya (tuan Su)! Dan ketika dia terkejut karena itulah suami wanita ini maka Bhi Li yang baru saja menangkis runtuh semua jarumnya kini tiba-tiba membentak dan menusukkan pedangnya ke dada Pang-kauwsu itu, orang berada dekat dengannya.

“Orang she Pang, kini kau mampuslah!” pedang menyambar dan menusuk dada laki-laki itu. Bhi Li tak tahu bahwa suaminya sudah di belakangnya, baru saja membantu dan melumpuhkan pergelangan tangan lawan. Maka begitu pedangnya menusuk dan dada yang empuk menjadi korban maka.... crep. Pang-kauwsu pun roboh dan mendelik menuding-nuding suami wanita itu.

“Kau. kaucurang!”

Bhi Li terkejut dan menoleh. Ia tak tahu siapa yang dituding tapi begitu menengok maka dilihatnya suaminya itu. Kontan ia berseru girang dan lawanpun ditendang mencelat. Ia telah mencabut pedangnya dan laki-laki itu roboh dengan darah menyemprot. Pang-kauwsu tewas! Dan ketika Su Tong berkelebat dan memasuki ruangan itu maka suami inipun menyesali juga sikap isterinya yang kejam.

“Tak perlu dibunuh, seharusnya ditabas atau dikutungi saja daun telinganya. Ah, dia binasa, Li-moi. Kau telah membunuh!”

“Eh, kau menyalahkan aku? Tidak melihat betapa meja kursi berantakan? Dia pengganggu wanita baik-baik, Su-ko, sudah sepantasnya dibunuh. Kalau kau tidak cepat datang entah apa jadinya denganku. Mungkin dia memperkosa isterimu ini!”

“Sudahlah, sudah.... aku mendengar bentakan dan teriakanmu dan untung aku datang. Han-suheng menyusul dan lihat dia terengah-engah!”

Sang nyonya menoleh dan mengibaskan rambutnya. Ia masih berdiri dengan pedang berlumuran darah dan saat itu datanglah pria gagah itu. Keng Han, laki-laki ini, tak dapat menyusul sutenya karena masih belum sembuh dari sakitnya. Tapi begitu dia datang dan melihat ribut-ribut itu, juga mayat Pang-kauwsu yang membujur kaku maka diapun tertegun dan berdiri menjublak.

“Siapa dia, perampok dari manakah.”

“Bukan rampok,” sang nyonya membanting dan melepas jengkelnya. “Dia ini lebih keji daripada perampok, Han-suheng. Dia perenggut kesucian seorang wanita. Ini Pang-kauwsu yang telah tiga bulan ini mengejar-ngejar aku!”

“Ah, seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga)? Tapi kenapa jabatannya guru silat?”

“Jabatan tak menunjukkan kepribadiannya, suheng. Banyak yang lebih terhormat tapi sifatnya lebih bejat. Ini anjing hina-dina dan aku telah membunuhnya!”

“Hm-hmm !” sang suheng mengangguk-angguk, maklum akan semua itu. “Kau benar, Li-moi. Tapi bagaimana sekarang. Dia sudah terbunuh.”

“Aku akan melanjutkan perjalananku. Masalah mayat ini, hm...biar saja dimakan anjing!” lalu melompat dan keluar dari ruangan itu. Su-hujin inipun berkelebat dan melanjutkan perjalanannya. Ia tak mau mengurus mayat itu tapi suaminya bergerak dan menyeret mayat ini.

Sang suheng memandang dan akhirnya membantu juga, dan ketika di luar kuil itu mereka mengubur guru silat ini maka Su Tong mengajak suhengnya berangkat. “Isteriku terlalau gegabah, selalu ingin mendahului. Mari kita susul, suheng. Dan maaf biar kau berpegangan tanganku.”

“Baik, dan aku juga ingin kembali ke Hutan Iblis itu, sute. Aku ingin membunuh lawan-lawanku disana dan kau membantuku!”

“Mari...!” dan begitu dua laki-laki ini bergerak maka merekapun sudah menyusul Bhi Li yang mendahului didepan.

Jarak di antara mereka ada limabelas menit dan diam-diam sang suami ini khawatir. Kalau saja suhengnya sehat dan tak apa-apa tentu dia berdua dapat menyusul cepat. Tapi karena suhengnya sakit dan pengejaran inipun dipaksakan, maka dia tak enak membiarkan isterinya di sana. Bagaimanakah rupanya Hutan Iblis itu? Seseram namanyakah? Pria ini menekan debaran hatinya. Kalau benar begitu dia harus cepat menyusul. Maka menyendal dan menarik suhengnya lebih kuat laki-laki inipun terbang mengejar ke depan.

Tapak Tangan Hantu Jilid 02

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 02
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
DUA orang itu terbang tak menginjak tanah lagi. Sang suami, yang sudah mendahului dan melepas tangan isterinya tiba-tiba melayang dan bergerak dengan amat cepatnya meninggalkan isterinya. Dia telah berkata untuk mengadu ilmu, tertawa dan melesat bagai seekor garuda meluncur di depan. Tapi ketika sang isteri mendengus dan berseru keras, tangan bergerak dan mengembang di kiri kanan tahu-tahu tubuhnyapun melesat dan meluncur bak anak panah menyusul suaminya itu. Dan sang suami tertawa dan menambah kecepatannya lagi, disusul sang isteri tak mau kalah dan sebentar kemudian mereka sudah hampir berendeng. Tapi ketika sang suami berseru keras mengembangkan kedua lengannya pula, berkelebat dan menyambar ke depan maka sang isteri yang hampir menyusul dan berada di sebelah kirinya tertinggal lagi.

“Ha-ha, kau kalah, Pui-moi. Sekarang kau tak dapat menyamaiku!”

“Licik!” sang isteri membentak dan melotot, “Aku kalah karena bau ketiakmu, Han-ko. Kau mengembangkan lengan tepat di depan hidungku!”

“Ha-ha, alasan bohong. Ketiakku tidak bau, Pui-moi. Aku mengembangkan lengan karena ilmu lari cepat ini memang mengharuskan begitu. Kau mempergunakan Siang-eng Gin-kang (Ginkang Sepasang Garuda), dan aku tak mau kalah dan mempergunakan ilmu lari cepat itu!”

“Tapi kau mengembangkan lengan tepat di depan hidung. Ihh, baunya menyengat!”

“Ha-ha, bukan ketiakku, tapi keringatku!” dan sang isteri yang akhirnya tertawa dan jengkel menyusul sudah membentak dan mengejar dengan penasaran, masih tak dapat juga mengejar tapi suaminya akhirnya memperlambat lari, berendeng dan mereka tertawa-tawa karena tadi sang suami memang “menyemprotkan” cairan keringat secara tak sengaja, yakni ketika membuka dan mengembangkan lengannya tadi.

Dan karena percikan keringat itu mengenal wanita ini, yang terkejut dan tentu saja mundur maka suaminya terus bergerak dan ia tentu saja tertinggal, marah tapi mereka kini berendeng dan laki-laki itu menyambar lengan isterinya. Mereka terus berlari cepat dan dari wajah kemerah-merahan isterinya ini dapat diketahui bahwa wanita itu memang sedikit di bawah suaminya, karena sang suami masih tampak segar-segar saja tidak seperti isterinya yang ngotot mengerahkan semua ilmu lari cepatnya itu. Dan ketika mereka bergandengan tangan sambil tertawa menuju Hutan Iblis maka dua jam kemudian sampailah pasangan ini di luar hutan itu di mana dari kejauhan tadi mereka telah melihat sebatang pohon raksasa di tengah hutan, pohon yang menjulang tinggi dan berada di tengah hutan gelap.

“Itu dia. Itu Hutan Iblis! Perlambat lari kita, niocu. Dan hati-hati!”

Sang isteri mengangguk. Ia memperlambat larinya dan pria itupun sudah hampir berhenti. Hutan Iblis di depan mereka dan bekas-bekas kerusakan sepanjang jalan telah pula mereka lihat. Pria ini mengerutkan alis. Dan ketika mereka benar-benar berhenti dan tertegun memandang mulut hutan yang gelap, dari situ menguar udara dingin dan berbau busuk maka wanita di sebelah pria ini menutup hidung.

“Bau bangkai. Terkutuk, tempat ini bau bangkai!”

“Benar, dan beranikah kau masuk, niocu. Atau kau tunggu diluar dan aku yang menyelidiki kedalam.”

“Aku tidak takut,” sang isteri melotot. “Tapi aku tak tahan bau bangkai ini!”

“Hm, kalau begitu coba kulihat dan kau di sini sebentar,” sang suami meremas pergelangan tangan isterinya, menyuruh sabar dan tiba-tiba diapun sudah meloncat masuk. Pria ini juga mencium bau busuk tapi sebagai laki-laki dia lebih tahan, tidak seperti isterinya itu. Dan ketika dia melompat dan hilang sekejap maka tak lama diapun keluar dan di tangannya terjinjing sebuah mayat yang ususnya cerai-berai, kepalanya hilang!

“Ada mayat ini, pantas baunya busuk. Ah, mengerikan sekali, niocu. Di dalam baunya semakin busuk!”

Wanita itu melebarkan mata. Ia terbelalak melihat mayat ini dan tiba-tiba muntah-muntah. Mayat yang ususnya cerai-berai itu sungguh menjijikan dan berbau. Tubuhnya sudah mulai dimakan ulat dan bukan main busuknya. Dan ketika ia meloncat mundur dan muntah-muntah, menggoyang dan meminta agar suami tidak semakin dekat lagi maka laki-laki itu berhenti dan menarik napas dalam-dalam. Dia tadi menemukan mayat ini di dekat sebuah pohon.

“Kalau begitu kau menyingkirlah sebentar. Aku akan menguburkan mayat ini. Sungguh kasihan kalau tidak diurus.”

Wanita itu menghilang. Ia sudah berkelebat dan tak mau melihat suaminya bekerja. Laki-laki itu mencabut pedang dan dengan pedang ini ia menusuk dan menggali lubang. Dan ketika tak lama kemudian lubang itu terbuat dan mayat ini diletakkan hati-hati maka pekerjaan pria ini selesai dan mayat itu sudah dikubur. Sang isteri dipanggil lagi dan muncul, masih menutupi hidung.

“Aku tak tahu apakah kau sanggup memasuki hutan. Didalam lebih busuk lagi, tentu banyak mayat-mayat. Bagaimana menurut pendapatmu apakah masuk atau tidak.”

“Di sana lebih busuk lagi? Kau melihat mayat-mayat lain?”

“Hm, belum kulihat, niocu, tapi baunya telah kucium. Aku yakin banyak mayat di sana dan mungkin keadaannya sama menyedihkan seperti mayat pertama tadi.”

“Maksudmu kepalanya hilang dan tubuhnya dipenuhi ulat?”

“Mungkin begitu, dan barangkali kau tak tahan.”

“Keparat, jahanam benar srigala-srigala hutan ini, Han-ko. Kalau begitu kau masuklah dulu dan aku di sini. Aku tak mungkin harus melihat mayat yang sudah berbau. Perutku masih mual-mual!”

“Baiklah, kau di sini dan biar aku masuk!” laki-laki itu berkelebat lagi, masuk dan meninggalkan isterinya dan sekarang mereka berpisah. Wanita ini menunggu di mulut hutan dan suaminya, laki-laki gagah itu telah lenyap di dalam. Dan ketika ia menunggu dan bersiap-siap dengan sikap waspada maka pria gagah itu terbelalak dan kaget sekali melihat keadaan di dalam.

Dari sinar matahari yang masuk dan menembus celah-celah dedaunan ternyata banyak sekali mayat-mayat di dalam mulut hutan ini. Tak kurang dari tigabelas mayat. Semuanya sudah membusuk dan sulit dikenali, sebagian besar terburai isi perutnya dan dari perut-perut mayat itu keluarlah belatung atau ulat-ulat menjijikkan. Bagi yang tidak tabah tentu muntah. Apalagi wanita, pasti menjerit dan lari keluar dengan perut seakan-akan diaduk-aduk. Mayat-mayat itu benar-benar menyedihkan dan satu diantaranya bahkan wanita, dengan leher hampir putus tapi kedua tangannya hilang. Pinggang ke bawah rusak berat dengan pakaian yang hancur tak keruan.

Laki-laki itu tertegun tapi berwatak baja, dapat menahan jijik dan muntahnya dan tiba-tiba dia bergerak menyambar mayat wanita itu, melompat dan membawanya keluar dan tak lama kemudian dia sudah ganti-berganti membawa mayat-mayat yang lain. Isterinya, yang tertegun dan melihat itu tiba-tiba mengeluh, nyaris muntah lagi namun sang suami berseru agar menjauh sedikit, membuatkan lubang dan akhirnya suami isteri itu bekerja keras. Sambil mengutuk dan menyumpah wanita itu membuat lubang, cukup untuk tigabelas mayat. Dan ketika lubang terbuat dan ia menyingkir tak tahan bau busuk, suaminya sendiri menutup hidung dengan sapu-tangan dan satu demi satu melempar mayat-mayat itu maka satu jam kemudian barulah tigabelas mayat itu dapat dikuburkan secara massal.

Pria ini mengusap keringat ketika pekerjaan selesai. Isterinya tersedu menahan rasa mual dan ini sebuah gundukan tanah terdapat di depan mereka. Dan ketika pria gagah itu menarik napas dalam-dalam dan mengebutkan bajunya yang penuh debu, pekerjaan ekstra itu membuat wajahnya kemerah-merahan maka sang isteri yang gemetar dan berketruk dicengkeramnya lembut.

“Sudahlah, tak perlu marah-marah. Sekitar tempat ini sudah bersih dan barangkali kau dapat masuk kedalam.”

“Di situ.... di sana.... tak ada mayat-mayat busuk lagi? Aku. aku tak tahan oleh baunya, Han-ko. Dan belatung-belatung itu, eh... perutku ingin muntah-muntah!”

“Di dalam sudah tak ada mayat-mayat lagi, tapi entah kalau di tengah. Aku akan masuk ke sana dan ingin melihat pohon raksasa di tengah hutan itu. Kau mau ikut?”

“Tentu, tapi jangan perlihatkan padaku mayat-mayat berbelatungan, suamiku. Kau di depan dan aku dibelakang saja. Tapi hutan ini rupanya gelap!”

“Kita dapat mempergunakan obor. Tapi di dalam tadi sinar matahari masih dapat memasuki celah-celah dedaunan.”

“Baiklah, aku ikut. Tapi..” sang isteri mengangkat muka, maksudnya memandang mulut hutan tapi alangkah kagetnya ia ketika sepasang mata berkilauan menyambarnya dari depan. Mata itu seperti iblis dan tentu saja ia berteriak dan menuding, sang suami terkejut dan cepat membalikkan badan tapi sepasang mata itu tak ada lagi, lenyap! Dan ketika wanita ini tertegun dan pucat mukanya, sungguh ia tak dapat melupakan itu maka suaminya bertanya, wajah berubah karena pria gagah ini tersentak oleh jerit dan tudingan isterinya tadi.

“Apa yang terjadi, ada apa. Apa yang kau lihat?”

“Iblis.... mata iblis! Aku.... aku melihat sepasang mata berkilauan menyeramkan, Han-ko, tepat dibelakangmu. Tapi begitu kau menoleh mata itupun hilang!”

“Iblis? Hilang?”

“Benar, mata itu hilang, Han-ko. Tapi aku melihatnya jelas. Mata itu mencorong dan menakutkan. Dia.... dia.... itu!” wanita ini tiba-tiba melengking, berteriak dan menuding ke kiri tapi secepat suaminya membalik tiba-tiba sepasang mata itupun lenyap. Wanita ini membentak dan menuju ke mata itu dengan pedang di tangan tapi mata itu tak ada lagi.

Dan ketika sang suami tersentak dan kaget membelalakkan mata maka isterinya berteriak lagi dan kali ini menuding ke kanan, berkelebat dan menyambar dengan cepat tapi mata itupun menghilang lagi. Empat kali wanita ini berteriak tapi empat kali itu pula mata iblis itu lenyap, padahal jelas dilihat dan mencorong berkilau-kilauan. Dan ketika wanita ini gemetar dan mendeprok di tanah, musuh yang dihadapi rupanya sejenis mahluk halus maka wanita ini mengeluh dan histeris.

“Han-ko, kita diganggu iblis. Keparat, aku diganggu iblis! Ooh... mata itu... dia dia mempermainkan aku!”

“Tenanglah,” sang suami menjadi bingung dan heran sendiri, setiap kali menoleh maka mata yang dituding isterinya itu tak pernah ada. Dia tak melihat apa-apa. “Agaknya pengaruh jahat dari hutan ini mengganggumu, niocu. Mari tinggalkan sebentar dan kita keluar.”

“Aku... aku... itu lagi!” sang isteri berteriak dan menjerit, suaranya tinggi dan secepat kilat ia membentak dan melempar pedangnya. Mata itu dilihatnya lagi tepat di belakang suami. Sudah lima kali mata itu di belakang suaminya. Ia selalu gagal karena secepat suaminya menoleh maka mata itupun lenyap. Kecepatannya mengejutkan, sekaligus mengerikan. Tapi karena kini ia tak memburu lagi dan pedang di tangannya itulah yang dilontar dan ditimpukkan secepat kilat, jauh melebihi kecepatan anak panah maka terdengar suara “bret” dan barulah suaminya melihat bayangan hitam di balik sebatang pohon. Bagai iblis!

“Jahanam keparat!” isterinya melengking-lengking dan memburu beringas. “Kau lihat itu, Han-ko. Itu iblis itu. Dia menghilang di balik pohon itu!”

“Sabar,” sang suami berseru dan berkelebat menyambar lengan isterinya. “Di balik pohon itu tak ada siapa-siapa, niocu. Pohon itu terlalu kurus untuk menyembunyikan tubuh seorang manusia!”

“Tapi... tapi ia..”

“Lihat,” suaminya menyeret dan bergerak ke belakang pohon itu, hati juga mulai mengkirik. Seram! “Tak ada siapa-siapa, niocu. Aku juga melihat bayangannya tapi rupanya iblis. Ia tadi masuk dan tembus memasuki pohon ini. Kita menghadapi roh jahat. Sebaiknya kembali dan....” pria gagah ini tergetar, menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba terdengar lolong dan raung srigala.

Suara yang panjang menyeramkan terdengar bergemuruh dan tiba-tiba seperti iblis-iblis dari kubur berlompatanlah bayang-bayang hitam mengepung mereka, jumlahnya tidak kurang dari duaratus ekor dan itulah srigala-srigala Hutan Iblis. Lolong mereka sambung-menyambung dan tergetarlah isi hutan oleh gelegar suara mereka. Dan ketika pasangan suami isteri ini terkejut dan membalik maka seekor srigala hitam, dengan warna putih dipunggung telah berada di depan mereka dengan giginya yang besar-besar dan tajam menyeringai.

“Grrr!”

Wanita itu pucat. Tadi mereka berdua terlalu dicekam oleh mata iblis yang lenyap dan muncul berkali-kali. Mereka terpusatkan pikiran kepada mata ini. Maka begitu bayang-bayang srigala berlompatan dari dalam hutan, mengepung dan kini melolong bersahut-sahutan maka Hutan Iblis menjadi menyeramkan karena bumi seolah diisi oleh raung atau suara srigala-srigala itu, yang juga menggeram dan mengais-ngaiskan kaki seolah siap melompat.

“Ambil pedangmu, awas. Ini binatang-binatang keparat yang kita cari itu!” sang suami, yang sadar dan marah lebih dulu lalu berseru kepada isterinya. Duaratus srigala mengepung mereka dan suaranya yang menggetarkan hutan minta ampun. Dengan suara itu saja seorang laki-laki paling beranipun bisa kuncup nyalinya. Salah-salah bisa mati kaku! Tapi ketika wanita itu teringat dan memandang pohon di mana tadi pedangnya menancap, pedang itu menyambar tapi luput mengenai si mata iblis maka nyonya ini tertegun melihat pedangnya tak ada lagi!

“Pedangku. pedangku lenyap! Ah, di mana pedangku tadi, Han-ko. Bukankah menancap disitu!”

“Lenyap?” sang suami terkejut, menoleh. “Benar... eh, di mana pedangmu tadi, niocu. Bukankah menancap di pohon ini. Kalau begitu bawa pedangku ini dan... awas!”

Pria gagah itu tak sempat melanjutkan kata-katanya lagi. Srigala hitam, yang paling besar dan amat menakutkan itu sudah meloncat dan menerkam isterinya. Gerakan ini disusul oleh lompatan-lompatan srigala lain di mana tiba-tiba mereka menyalak dan melolong berbareng. Suaranya menggetarkan hutan dan laki-laki itu terkejut. Dia baru saja hendak menyerahkan pedang kepada isterinya ketika srigala hitam itu sudah melompat. Dia membentak dan menusuk srigala ini, tentu saja melindungi isterinya. Tapi ketika pedangnya mental dan srigala lain menyambar dan menyergapnya maka pedang yang sedianya hendak diberikan si isteri itu tak sempat lagi diberikan. Duaratus srigala sudah menyerang mereka, riuh-rendah.

“Niocu, awas. Hati-hati menyambut mereka. Jangan sampai tergigit.... bret!” pria gagah itu sendiri tergigit, gugup dan kaget melayani serbuan dan dia harus mengelak dari moncong seekor srigala yang menyergap lehernya. Lompatlah srigala-srigala itu amat tingginya sehingga ada yang melampaui kepala. Dan ketika dia berhasil menyelamatkan lehernya tapi baju lehernya robek, memberebet di mulut srigala yang ganas maka dia sudah memutar pedangnya dan tangan kiri serta kedua kakinyapun bergerak ke sana ke mari, memukul atau menendang dengan cepat.

Dia tak sempat lagi berteriak kepada isterinya karena sibuk melayani srigala-srigala itu. Pedangnya sudah merobohkan tujuh di antara mereka namun yang lain mengganti, menyalak dan menggigit dan mulut hutan gaduh oleh suara mereka. Tapi karena laki-laki ini bukan penduduk dusun, dia berkelebatan dan terbang menyambar-nyambar maka tujuh srigala lagi roboh oleh pedangnya, tiga yang lain kena tendangan kaki kanannya.

“Crak-des-dess!”

Duapuluh srigala sudah menjadi korban. Laki-laki ini ternyata hebat dengan permainan pedangnya. Dia membacok dan menusuk dan srigala-srigala itupun roboh berjengkangan. Tapi karena lawan masih banyak dan dia harus bergerak ke sana-sini tiada hentinya maka sang isteri, yang tak sempat mendapat pedangnya dan harus bertangan kosong berteriak dan menjerit. Wanita ini marah dan menendang atau memukul srigala-srigala itu tapi srigala hitam paling besar sungguh membuatnya terkejut.

Tadi srigala ini dibacok suaminya tapi tak apa-apa, menguik sebentar dan menggeliat lalu menyerangnya lagi. Dan karena sang suami sudah menghadapi lawan-lawan yang lain, srigala paling besar itu mengeluarkan lolong seakan aba-aba, suaranya dahsyat menggetarkan rimba maka srigala inilah yang paling membuat terkejut dan heran wanita ini, dipukul tapi dapat menangkis dan selanjutnya iapun membalas wanita itu. Giginya diperlihatkan dan taring-taring yang tajam itu membuat orang ngeri. Hewan ini luar biasa. Dan ketika wanita itu berloncatan ke sana-sini tapi lawan dapat mencegat dan memburunya pula, srigala-srigala yang lain menghadang dan gesit menyergap dan memotong maka ujung celananya tergigit dan wanita itu memekik.

“Han-ko, tolong!”

Pria gagah teringat. Dia menoleh tapi waktu sekejap ini dibayarnya mahal. Sang isteri, yang memekik dan kaget oleh serangan srigala hitam tiba-tiba dilihatnya terjatuh oleh terkaman hewan ganas ini. Tubuhnya yang paling besar di antara srigala-srigala lain membuat isterinya tak tahan ketika ditubruk, mengibas tapi tangannya dicengkeram dan saat itulah keduanya roboh terguling. Dan ketika dia pucat karena isterinya bergulingan dengan srigala hitam itu, diserbu dan digigit oleh srigala-srigala lain maka puluhan srigala yang mengeroyoknya juga menerkam dan pedang di tangannya digigit. Barulah pria ini sadar namun dia terlambat bergerak.

Lima srigala yang menerkam pedangnya itu rupanya cerdik dan mereka sudah menarik atau membetot, kawan-kawannya yang lain menubruk dan menggigit lengan atau kakinya. Bahkan, dua di antaranya melompat dan menyerang mukanya, begitu ganas. Dan ketika laki-laki ini mengelak dan berseru keras, menarik tapi kalah cepat, pergelangan tangannya tergigit maka pria yang terkejut dan menendang serta meronta ini melepaskan pedangnya yang dibawa kabur lima srigala itu.

“Keparat!” laki-laki ini menjadi marah sekali. “Terkutuk kalian, binatang-binatang busuk. Mana pedangku dan jangan lukai isteriku!” laki-laki itu mengibas dan mendorong mundur srigala-srigala yang lain. Dia pucat melihat isterinya yang masih bergulingan di sana sekaligus juga bingung oleh pedangnya yang dibawa lari lima srigala di depan. Mereka itu telah dihajarnya tapi berhasil membawa lari pedangnya. Dan karena isteri lebih penting daripada pedang, saat itu dia harus menyelamatkan isterinya dahulu daripada pedang yang dibawa lari maka laki-laki ini melepaskan diri dari kepungan dan sambil berjungkir balik ke arah isterinya dia menendang srigala paling besar itu, hewan yang berkutat dan bergumul dengan isterinya. Masing-masing tak mau kalah.

“Dess!”

Srigala hitam itu terlempar. Belasan temannya juga terlempar karena ketika menendang tadi pria gagah ini melepaskan pukulan jarak jauhnya, Pek-lui-kang atau Pukulan Kilat yang membuat hawa panas disusul sinar putih menyambar dari tangannya. Dan ketika dia menolong isterinya bangun sementara srigala raksasa menguik tertahan, bangun dan jatuh lagi bangun lagi maka wanita itu menangkis tapi pandang matanya memancarkan kemarahan yang sangat,berapi-api.

“Han-ko, pedangmu. mana pedangmu. Biar kubunuh jahanam keparat ini!”

“Hm, pedangku di sana,” pria itu terbelalak memandang srigala paling besar itu, teringat bahwa inilah agaknya srigala yang paling ditakuti, srigala yang kebal bacokan senjata tajam. “Kau ambil pedangku di sana, niocu. Biar ini menjadi bagianku.”

“Tidak,” sang isteri sudah menerjang, srigala itu menggeram dan melompat lagi, teman-temannya mengikuti. “Aku ingin membunuh srigala ini, Han-ko. Ambilkan pedang dan jaga jangan sampai aku diserang yang lain-lain!”

Pria gagah ini tertegun. Sebenarnya dia ingin bergerak dan menghadapi srigala hitam itu. Dia teringat bahwa tadi bacokannya tak mempan. Tapi karena sang isteri sudah berseru dan apa boleh buat dia harus menjaga maka dia membalik dan bermaksud mencari atau mengambil pedangnya itu. Tadi pedangnya itu dilihatnya masih dalam gigitan seekor srigala yang kemudian melepaskannya di atas tanah. Tapi bukan main kagetnya pria gagah ini. Pedangnya sudah tak dilihat dan ratusan srigala itu kembali menyergapnya.

Mereka menyalak dan melolong-lolong dan dia tak sempat lagi mencari-cari. Dia tak tahu bahwa sesosok bayangan hitam menyambar dan mengambil pedangnya ini, sosok tubuh laki-laki berjubah hitam dengan gambar kelelawar di punggung. Dan ketika apa boleh buat dia harus melayani serbuan itu dan berteriak agar isterinya tak terlalu jauh, dia mengibas dan melepas lagi pukulan-pukulan Kilatnya maka belasan srigala kembali roboh namun yang lain masih banyak.

“Celaka !” dia berseru. “Pedangku juga hilang, niocu. Aku tak mempunyai senjata lagi!”

“Apa?” isterinya berteriak. “Hilang? Kalau begitu bagaimana? Hewan ini tahan pukulan, Han-ko. Dia juga bisa membalas. Lihat, kaki dan tangannya seperti gerakan-gerakan silat. Tanpa senjata agaknya repot bagiku, kecuali dia tak dibantu teman-temannya!”

Laki-laki ini menengok. Dia berseru tertahan bahwa benar saja srigala paling besar itu mampu menangkis atau menghindar pukulan-pukulannya isterinya. Kaki depannya sering bergerak dan menampar sebagaimana layaknya orang menangkis. Dan ketika srigala itu juga mampu melompat dan maju mundur dengan kaki belakang berpindah-pindah, sungguh ini bukan srigala sembarangan maka teman-temannya yang menyalak dan mengeroyok isterinya membuat isterinya terdesak. Sudah banyak yang dipukul roboh tapi masih banyak yang belum. Dan ketika pria itu terbelalak karena terdengar raung atau lolong yang panjang, suaranya menggetarkan hutan maka dari mana-mana muncul srigala-srigala lain sebagai pendatang baru.

“Jahanam!” pria itu melotot. “Hutan Iblis gudangnya srigala-srigala kelaparan, niocu. Lihat seratus lebih mendatangi kita!”

“Benar, dan senjatamu. ah, kita sama-sama tak bersenjata, Han-ko. Bagaimana ini!”

“Mungkin kita harus menyingkir dulu, lawan terlalu beringas. Atau..... dess!” laki-laki itu menghentikan kata-katanya, membentak dan melempar seekor srigala dengan pukulan mautnya dan srigala itu menguik roboh. Kepalanya pecah kena pukulan Pek-lui-kang.

Dan ketika di sana isterinya juga berhenti bicara karena srigala hitam menubruk dan menyerangnya lagi, dibantu yang lain-lain maka seratus lebih srigala baru sudah tiba di situ. Dan langsung mereka itu menyerang dan mengeroyok.

“Niocu, lari saja. Kita pergi!” sang suami sekarang berubah, hanya dengan kaki tangan mendorong-dorong tapi srigala terlampau banyak. Dari mana-mana mereka menyerang dan dua kali bajunya robek tergigit.

Isterinya di sana juga mengeluh karena tiga kali ujung celananya tergigit. Kalau ia tidak menendang dan menghalau dengan bentakan keras mungkin sudah menjadi korban gigitan lain. Dan ketika pria itu sudah mulai berpikir untuk menyelamatkan diri, isterinya mulai pucat maka terjadi adegan tak disangka di mana srigala hitam besar mengaum dan menubruk isterinya dari depan.

“Han-ko..!” teriakan itu mengejutkan si lelaki gagah.

Dia menengok dan dilihatnya si hitam besar menubruk ganas. Mulut hewan itu terbuka dan ia tak perduli kepada pukulan isterinya. Dari kiri dan kanan serta belakang juga menubruk srigala-srigala lain, tapi yang paling berbahaya tentu saja srigala besar ini, yang menjadi pemimpinnya. Dan ketika isterinya menjerit namun melepas pukulan, disambut dan diterima mulut srigala hitam itu maka terdengarlah suara berkeretak ketika gigi srigala dan kulit isterinya sama-sama robek.

Dan saat itu srigala di kiri kanan serta belakang menerkam. Isterinya dan srigala besar sama-sama roboh tapi srigala itu tak melepas gigitan pada tangan isterinya. Srigala itu menyalak buas memandang isterinya, air liurnya mengenai luka di tangan dan saat itulah pria ini membentak meloncat ke depan. Gerakannya penuh tenaga dan amat kuat. Tapi ketika pukulannya menghantam punggung srigala, berdebuk dan mental tapi srigala itu tak melepaskan gigitan pada isterinya maka srigala-srigala lain sudah menerkam dan menggigit pula isterinya itu.

“Hauunnggg guk-guk-gukk!”

Sang isteri menjerit dan berteriak ngeri. Ia sudah berkutat dengan srigala hitam ini tapi srigala itu amatlah kuat dan gagahnya menancapkan taring. Binatang itu tak mau melepaskan gigitannya agar kawan-kawannya dapat menyerang wanita ini. Dan ketika benar saja kawan-kawannya dapat menggigit sementara wanita itu menjadi pucat, tangan kiri bergerak tapi disergap dan digigit srigala di kiri kanannya maka jeritan kepada suaminya membuat pria gagah itu terkesiap.

“Lepaskan! Jahanam!” Laki-laki itu melakukan tindakan nekat. Dia menerjang dan langsung menangkap punggung srigala hitam ini, ditarik dan dua jarinya menjepit kemaluan binatang itu. Dan ketika binatang itu berteriak dan otomatis melepaskan gigitannya, dia kesakitan dan nyeri maka laki-laki gagah itu sudah mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi dan membanting.

“Bukk!”

Srigala itu menggeliat. Seharusnya tubuhnya patah atau terlipat dua, paling tidak remuk punggungnya dicengkeram laki-laki gagah itu. Namun ketika ia mampu bangkit dan menggeram marah, melolong dan menyerbu lagi maka pria itu tak perduli kepadanya dan berkelebat menyambar isterinya dibawa lari. Tubuh isterinya sudah dicabik-cabik srigala.

“Niocu, aku harus menyelamatkanmu. Kita gagal!”

Sang isteri tak menjawab. Ia telah pingsan oleh pertarungan mati hidup itu, tak lupa kepada sepasang mata binatang ini yang begitu buas. Seumur hidup, baru kali itu ia menghadapi binatang kebal bacokan senjata. Dan ketika suaminya melompat dan lari jauh, srigala mengejar dan menyalak dengan gonggongan ramai maka srigala hitam yang marah dan mengaum di belakang laki-laki ini sempat menggigit dan menancapkan taring di tumit laki-laki itu, mencelat dan terlempar oleh sebuah tendangan kuat dan selanjutnya laki-laki itu terbang meninggalkan lawan-lawannya. Ilmu lari cepatnya amat luar biasa dan ratusan srigala tak mampu mengejar, begitupun srigala hitam yang menggigit tumitnya itu.

Dan ketika laki-laki ini meninggalkan Hutan Iblis dan memondong isterinya yang pucat pasi maka diapun merasa tumit belakangnya ngilu dan pedih, agak mengganggu larinya namun dia terus lari dan lari. Terbang dan meninggalkan tempat celaka itu adalah satu-satunya tujuan. Dan ketika dia sudah jauh dan naik turun bukit sebanyak enam kali akhirnya pria gagah itu roboh tepat di depan sebuah rumah kecil di tepi sebuah danau. Dan begitu dia mengeluh dan ambruk maka dua bayangan berkelebat dan muncullah suami isteri lain yang berseru tertahan.

“Thian Yang Maha Agung. Ini Han-su-heng dan Pui-cici!”

Begitu lelaki di depan berseru menyambar dan melihat. Di samping adalah wanita cantik berbaju biru, berkelebat dan sudah berjongkok melihat wanita baju merah itu, yang roboh di samping wanita gagah ini. Dan ketika wanita itu juga berseru dan menyambar sang korban, terbelalak dan pucat maka dua orang ini cepat bergerak dan membawa dua orang itu masuk.

“Celaka, gigitan apa ini. Seperti anjing!”

“Benar, dan enci Pui juga begitu, Suko. Tangan dan kakinya bekas cakaran-cakaran pula. Ah, apa yang telah terjadi!”

Suami isteri itu sibuk. Mereka mencari air hangat dan dengan air hangat ini lalu membasuh luka. Tapi melihat luka-luka di tubuh enci Pui, begitu mereka menyebut maka keduanya cemas dan khawatir. Wanita baju biru sibuk menotok sana-sini sementara pria gagah di sampingnya juga membantu. Luka yang amat parah adalah pada wanita baju merah itu, terutama tangan kanannya yang tembus digigit srigala hitam. Hewan sebesar anak lembu itu. Dan ketika beberapa butir obat-obatan juga dijejalkan tapi wanita itu tak siuman juga maka yang pria mendadak mengeluh dan membuka mata.

“Han-suheng sadar!” pria di samping wanita baju biru itu berseru. Dia girang melihat laki-laki ini sadar dan tentu saja isterinya menoleh. Dan ketika isterinya juga melompat dan menghampiri pria itu maka laki-laki yang tertegun dan membuka mata ini tampak gembira, namun kegembiraan itu segera lenyap teringat isterinya dan peristiwa di Hutan Iblis.

“Sute, mana isteriku. Aku... aku masih hidup...?”

“Ah, apa yang terjadi, suheng. Ada apa dengan Pui-cici!” pria bertubuh tegap dan agak pendek ini mencekal lengan laki-laki gagah itu.

Ternyata mereka adalah suheng dan sute dan rupanya memang rumah inilah yang dituju. Tapi begitu duduk dan melihat isterinya di pembaringan sebelah, maka laki-laki ini bangkit tapi segera dia mendesis oleh sakit yang sangat di tumit kirinya.

“Bedebah, srigala terkutuk! Augh... tumitku bengkak, sute. Tapi bagaimana keadaan isteriku!”

“Tenanglah... apa yang terjadi, suheng. Dan kenapa datang-datang seperti ini. Kalian rupanya digigit anjing gila. Syaraf otak dari Pui-cici terkena.”

“Ia tak sadar?”

“Sejak kau roboh di rumahku. Aih, apa yang terjadi, suheng. Katakan dan bagaimana bisa begini. Masa kalian orang-orang persilatan bertanding dengan anjing gila!”

“Kami dikeroyok ratusan srigala-srigala liar. Dan isteriku. ah, Bhi Pui, ia keras kepala tak mau kesini dulu. Kami kami bertemu sesuatu yang menakutkan!”

“Srigala? Menakutkan? Ah, bagaimana itu, suheng. Coba ceritakan!”

“Tidak,” si pria tegap pendek berkata. “Rupanya siapkan minuman dan bubur hangat, Li-moi. Biarkan suheng mengisi perutnya dulu dan baru bercerita.”

“Ah, benar. Kalau begitu tunggu sebentar!” dan wanita berbaju biru yang bergegas dan melompat ke belakang lalu menyiapkan minuman dan bubur panas. Ia bekerja dengan cepat sementara laki-laki gagah itu terpincang menghampiri isterinya. Dan ketika pria pendek tegap mengiringi dan laki-laki gagah itu melihat keadaan isterinya maka tiba-tiba dia meruntuhkan air mata, menggigil.

“Isteriku demam, ia....ia gawat !”

“Benar,” sang sute mengangguk. “Tapi sudah kami tolong, suheng, sekuat-kuatnya. Kau tak perlu khawatir dan mari duduk. Kau tak boleh banyak berdiri dulu!”

“Tapi.... tapi...”

“Sudahlah, duduk dulu, suheng. Kita bicara di sini,” tuan rumah menyambar sebuah kursi, memberikannya kepada laki-laki gagah itu dan duduklah laki-laki itu dengan gemetar.

Dia hampir tak kuat dan tertolong oleh kursi ini. Tumit yang digigit srigala hitam itu ngilu dan sakit, nyeri. Lalu ketika dia mengepal tinju dan menghapus keringat, nyonya rumah datang maka semangkok bubur diberikan kepadanya berikut minuman panas.

“Harap Han-suheng nikmati ini dulu, perlahamn-lahan. Lalu kita bisa mendengarkan bagaimana ceritamu.”

Laki-laki itu gemetar. Kejadian di Hutan Iblis membayang lagi dan teringat ini dia memejamkan mata, gemetaran. Tapi menarik napas dalam-dalam akhirnya dia membuka kembali matanya itu, wajah masih kelihatan pucat dan letih. Kakinya sudah dibalut. “Aku... kami... datang ke Hutan Iblis. Di sana ada srigala siluman yang telah menghancurkan penduduk. Kami bermaksud menolong tapi.... tapi inilah jadinya...”

“Hm, di mana itu Hutan Iblis, suheng? Kenapa kami belum pernah dengar?”

“Hutan itu beberapa kilometer dari dusun Lam-chung yang kini tak berpenghuni, dan beberapa puluh li dari kota Ci-bun.”

“Ci-bun? Ah, ada komandan keamanan Cai-ciangkun disana!”

“Benar, tapi komandan itu dan walikotanya tak berani bertindak, sute. Bahkan mengadakan sayembara hadiah bagi yang dapat membunuh hewan-hewan ganas di Hutan Iblis itu. Dan banyak sudah yang menjadi korban!”

“Coba kau ceritakan kepada kami, yang lengkap,” tuan rumah berseru, tertarik. “Baru kali ini aku mendengar tentang ini, suheng. Dan juga bahwa kau dan Pui-cici yang sampai celaka!”

Laki-laki gagah itu menggangguk. Memang dia harus bercerita dan bicara panjang lebar. Dan karena mereka duduk sambil menunggu isterinya sadar maka mulailah laki-laki gagah ini memulai kisahnya. Dia bercerita betapa isterinya mengajak dulu ke hutan itu, tidak ke rumah ini karena ingin tahu dan menghajar srigala siluman itu. Dan ketika mereka sampai tetapi yang didapat adalah mayat-mayat berserakan, malang-melintang dan tak keruan di dalam hutan maka nyonya rumah yang mendengar betapa mayat itu rata-rata sudah membusuk dan berbelatung hampir muntah-muntah.

“Aku terpaksa sendirian mengambil mayat-mayat itu, isteriku tak tahan. Tapi ketika kami selesai mengubur semua mayat itu mendadak sepasang mata setan dilihat isteriku!”

“Mata setan?”

“Ya, mata setan. Aku sendiri juga baru sekali melihatnya tapi setelah itu srigala-srigala itu datang, sute. Dan kami bertarung mati hidup!”

“Tapi kalian bersenjata!”

“Itulah yang mengejutkan. Pedang kami suami isteri hilang, sute. Dan aku tak tahu bagaimana itu. Kapan hilangnya!”

“Hilang?”

“Ya, sewaktu mata iblis itu mengganggu isteriku maka sewaktu isteriku melontarkan pedangnya maka pedang itu menancap di pohon di mana ia hampir saja mengenai korbannya. Tapi saat itu srigala-srigala kelaparan itu datang dan menggonggong, dan kami lupa kepada pedang ini tapi ketika ingat maka pedang itu sudah tak ada di tempatnya lagi!”

“Aneh, ada kejadian begini luar biasa? Lalu bagaimana selanjutnya, suheng?”

“Aku hendak memberikan pedangku. Tapi belum sempat kulontar tiba-tiba aku sudah diserbu hewan-hewan ganas itu dan isteriku juga. Kami bertempur habis-habisan, banyak yang kami bunuh. Tapi ketika isteriku menjerit oleh srigala pemimpinnya maka saat itulah pedangku digigit lima srigala lain di mana tiba-tiba terlepas dan ketika aku melompat menolong isteriku maka pedangku itu juga sudah tak ada lagi!”

Suami isteri itu terkejut membelalakan mata. Suheng mereka ini segera bercerita bahwa ada keanehan-keanehan yang terjadi, tak dapat dituturkan tapi telah mereka alami. Dan karena pedang sama-sama lenyap dan apa boleh buat harus melawan dengan tangan kosong maka isterinya terluka dan dia harus melarikan diri menyelamatkan isterinya itu.

“Aku tak tahu bagaimana jadinya kalau tak dapat meninggalkan tempat itu. Yang jelas, Hutan Iblis benar-benar menyeraman dan aku menyesal bahwa isteriku tak mau kuajak ke sini dulu untuk bergabung dengan kalian dan baru setelah itu ke sana bersama-sama!”

“Nanti dulu. Kau tadi bicara tentang srigala hitam berpunggung putih itu, suheng. Apakah benar dia tahan bacokan senjata tajam!”

“Sudah kubuktikan,” lelaki ini mengangguk. “Hal itu benar, sute. Jadi meskipun kami bersenjata agaknya percuma, hewan itu kebal. Tapi dengan senjata setidak-tidaknya kita dapat melindungi diri.”

“Hm,” sang sute mengangguk-angguk. “Aku jadi tertarik untuk ke sana, suheng. Dan mudah-mudahan kita semua dapat ke sana bersama!”

“Ya, tapi isteriku.”

Semua menoleh ke pembaringan itu. Setelah pembicaraan selesai dan semua teringat si sakit maka laki-laki gagah itu menengok pada isterinya, tangan meraba dan tiba-tiba diapun terkejut. Hanya beberapa menit saja ternyata demam nyonya itu meninggi, begitu tinggi sampai tangan rasanya terbakar! Dan ketika pria gagah itu terkejut dan nyonya serta tuan rumah juga terkejut maka wanita itu tiba-tiba diserang kejang-kejang!

“Ah, isteriku, sute. Panasnya meninggi!”

“Tenang tenang, suheng. Biar kami kompres!” tuan dan nyonya rumah jadi sibuk. Mereka berlari kesana ke mari sementara pria gagah itu juga menotok sana-sini. Tapi karena dia juga belum sembuh dan usahanya sia-sia maka dia menjadi panik karena muka si isteri menjadi kehijau-hijauan.

“Sute, isteriku terkena racun!”

Laki-laki pendek tegap berubah. Si korban kehijau-hijauan dan sebentar kemudian hitam dan merah. Keadaan dibarengi dengan kejang-kejang menghebat. Dan ketika terdengar keluhan panjang dan wanita itu mengeluh maka dari mulut dan hidungnya keluar cairan putih kental. Cairan ini seperti liur srigala-srigala itu dan pucatlah pria gagah melihat itu. Dia berteriak dan bangkit dari kursinya. Tapi ketika dia terjatuh dan roboh terguling maka isterinya menggeliat dan. tiba-tiba ambruk dengan tubuh kaku. Sekejap wanita itu mendelik tapi kemudian roboh tak bergerak-gerak lagi. Dan ketika nyonya rumah menjerit dan memeriksa detak nadinya ternyata korban telah tewas dan napasnya putus.

“Cici...!” Pekik itu menggetarkan isi rumah.

Pria gagah terbeliak dan seakan tak percaya. Tapi ketika dia bangun dan ditolong sutenya, memeriksa, maka pria inipun roboh dan terguling. Pingsan. Kejadian berubah menjadi tangis dan wanita baju biru tersedu-sedu. Saudaranya tewas. Tapi begitu teringat siapa yang menjadi sebab sekonyong-konyong ia melompat bangun dan pedang di dinding disambar, meloncat keluar.

“Binatang keparat, kubunuh kau!” Wanita ini terbang meninggalkan rumah. Ia tak berpamit kepada suaminya lagi dan sang suami tentu saja kaget bukan main. Saat itu dia sedang menolong suhengnya dan kini tahu-tahu sang isteri melompat bagai gila dengan pedang di tangan. Mau ke mana lagi kalau bukan ke Hutan Iblis. Maka membentak dan berkelebat keluar tiba-tiba laki-laki pendek tegap itu berseru,

“Li-moi, jangan gila. Tunggu, berhenti sebentar!”

Namun wanita itu tak memperdulikan. Ia melengking dan bahkan mempercepat larinya. Dan ketika sang suami terbelalak karena di rumah masih ada yang harus dirawat, juga yang mati belum diurus maka isterinya itu menjawab, nyaring melengking.

“Aku hendak membalas kematian enciku, Su-ko. Akan kubantai srigala-srigala jahanam itu. Bantu aku atau urus dulu yang ada di rumah!”

“Gila!” laki-laki ini bingung. “Tempat itu berbahaya, Li-moi. Tunggu sebentar dan jangan sendiri. Atau...” laki-laki ini tertegun, di belakangnya berkelebat bayangan suhengnya, jatuh tapi lari mengejarnya lagi, jatuh dan lari lagi. Dan karena otomatis dia harus berhenti karena suhengnya ada di situ, belum sembuh betul maka laki-laki ini membalik dan menyambar pria gagah itu. “Suheng, kaupun kenapa ikut-ikutan keluar. Aih, masuk dan istirahat dulu!”

“Tidak aku juga akan membalaskan kematian isteriku, sute. Kalau isteri sampai tewas biarlah aku mampus di sana!”

Sibuklah laki-laki ini mencegah dan mencengkeram. Sekarang dia bingung mana yang harus didahulukan. Isterinya sudah lenyap di depan sementara saudaranya ini juga mau mencari penyakit. Dan karena saudaranya lebih penting karena dia akan membujuk dan menahannya dulu di rumah, setelah itu menyusul dan mengejar isterinya maka laki-laki ini menarik dan membawa suhengnya itu kembali. Dengan susah payah dia berkata biarlah jenazah di rumah diurus dulu, baru setelah itu mereka pergi. Dan karena bujukan ini masuk akal sementara wanita baju biru sudah lenyap terbang meninggalkan rumah maka Bhi Li, wanita itu, meluncur dengan amat cepatnya menuju Hutan Iblis.

Siapakah sebenarnya pasangan suami isteri-suami isteri ini? Bagi pembaca yang sudah mengikuti cerita di Golok Maut tentu kenal pasangan pria wanita ini. Mereka adalah Keng Han dan Su Tong murid-murid Pek-lui-kong (Dewa Halilintar) dari utara.

Dulu, belasan tahun yang lalu Keng Han maupun Su Tong ini mencari Golok Maut Sin Hauw, ayah dari Si Naga Pembunuh Giam Liong. Dua orang muda ini tak senang dengan sepak terjang Si Golok Maut Sin Hauw yang ganas, maksudnya hendak menegur dan kalau perlu bertempur dengan Si Golok Maut itu. Tapi ketika dalam perjalanan mereka malah diganggu tokoh-tokoh sesat dan justeru Golok Maut menolong mereka maka dua pemuda ini tersipu-sipu dan malu kepada orang yang hendak mereka musuhi itu.

Keganasan atau kekejaman Golok Maut ada sebabnya. Ternyata tokoh yang hendak mereka tegur itu adalah seorang yang sedang menderita pukulan jiwa hebat, gara-gara perbuatan atau sepak terjang keji Coa-ongya. Dan ketika mereka mulai tahu sebabnya dan tentu saja mundur, kepandaian mereka juga tak sebanding dengan Golok Maut itu maka dalam kisah berikutnya mereka bertemu dengan dua kakak beradik Bhi Pui dan Bhi Li, yang juga pernah ditolong Golok Maut dan dari perkenalan mereka ini akhirnya timbul bibit-bibit cinta di mana akhirnya mereka menikah. Bhi Pui mendapat Keng Han sementara Bhi Li mendapat Su Tong.

Dan karena mereka akhirnya jarang memperlihatkan diri di dunia kang-ouw lagi, dunia begitu jahat maka dulu hanya sejenak saja dua orang itu melihat keturunan Golok Maut Sin Hauw, yakni Si Naga Pembunuh Giam Liong. Dua pasangan ini lalu hidup sendiri-sendiri di mana Keng Han belum mempunyai anak, lain dengan sutenya di mana Su Tong mempunyai seorang anak perempuan yang saat itu dibawa gurunya ke utara.

Hari itu Su Tong mengundang suhengnya suami isteri untuk berkumpul di tempatnya karena guru mereka Pek-lui-kong, jago tua utara akan datang berkunjung membawa Su Giok, puteri mereka yang sudah berusia lima belas tahun. Tapi ketika Keng Han berkunjung namun ada urusan itu, peristiwa Hutan Iblis yang mengguncang orang-orang sekitar maka perjalanannya dibelokkan tapi tak tahunya malah membawa celaka bagi mereka sendiri. Bhi Pui atau isterinya tewas oleh keroyokan srigala yang buas dan ganas.

Bhi Li, sang adik, tentu saja berduka dan marah. Wanita ini beradat keras seperti encinya pula, meskipun sang enci sebetulnya lebih keras dan galak dibanding dirinya. Tapi karena kematian encinya itu sungguh merupakan pukulan berat, Bhi Li atau wanita baju biru ini tak mau menunggu lagi maka kemarahan dan kedukaannya membuat ia menerjang masuk ke Hutan Iblis. Tapi di tengah jalan tiba-tiba wanita ini melihat berkelebatnya sesosok bayangan dari samping. Ia menoleh namun bayangan itu bersembunyi dan berlindung di balik sebatang pohon, meneruskan larinya namun bayangan itu bergerak dan mengejar lagi. Dan ketika ia menoleh namun bayangan itu kembali melompat bersembunyi, wanita ini tertegun dan menjadi marah akhirnya ketika berada di sebuah kuil tua itupun melompat masuk dan menunggu bayangan itu datang. Ingin tahu siapa gerangan dan kenapa mengutitnya.

“Hm, keparat jahanam. Lagi-lagi pengganggu. Awas, kubunuh dan kubuntungi ke dua kakimu nanti!” Bhi Li lenyap dan memasuki kuil ini. Tempat itu kosong dan kebetulan enak dipakai sembunyi. Kalau tadi musuh yang melompat bersembunyi maka sekarang ialah yang bersembunyi. Ia ingin melihat siapa bayangan laki-laki itu, yang mengejar tapi selalu menyembunyikan diri kalau ditengok. Dan ketika tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki berlari-lari, ringan dan melompat memasuki kuil itu maka wanita baju biru ini tertegun karena itu kiranya adalah Pang-kauwsu, guru silat Pang! Dan begitu melihat guru silat ini seketika wajahnyapun merah terbakar!

Dua tiga bulan yang lalu, ia secara kebetulan bertemu dengan guru silat Pang ini. Entah mengapa guru itu tergila-gila kepadanya, menyatakan cinta dan dalam sekali pertemuan itu coba-coba mengganggunya. Ia tentu saja marah dan berkata bahwa ia bukan wanita lajang, sudah bersuami dan mempunyai anak pula. Tapi karena penampilannya memang cantik dan awet muda, Bhi Li memang masih menggiurkan maka guru silat yang tak perduli dan menyatakan sudah tahu itu malah berkata bahwa suami dan anak bukan halangan.

“Aku mencintaimu bukan mencintai suamimu atau anakmu. Mereka dapat dilupakan. Cinta tak berhubungan dengan yang lain-lain. Aku tahu kau sudah berumah tangga, Su-hujin (nyonya Su), tapi entahlah hati ini tak dapat diberi tahu. Kalau kau tak dapat meninggalkan anak dan suamimu biarkanlah kau berikan aku seteguk air dahaga sebagai pelepas rasa cintaku ini. Aku tak dapat tidur siang malam, kau kasihanilah aku dan biarlah setelah itu aku tak bakal menggamggumu. Turutilah hasrat jiwa ini dan biarlah setelah itu aku mati!”

Pang-kauwsu berlutut dan mengiba-iba, tangannya langsung saja memegang kaki nyonya itu dan Bhi Li tentu saja berteriak. Ia menendang dan laki-laki itu terlempar. Tapi ketika Pang-kauwsu berlutut dan mengiba-iba lagi, Bhi Li terbelalak maka wanita ini menjadi ngeri dan gelisah karena dari situ ia tahu bahwa guru silat ini cukup berkepandaian dan tidak merasakan sakit oleh tendangannya tadi.

“Kau tak tahu malu. Kau laki-laki hidung belang. Cih, kembalilah, Pang-kauwsu atau kulaporkan kepada suamiku dan kau akan dihajarnya!”

“Aku tak takut,” laki-laki itu tertawa, kembali meraba dan coba memegang-megang paha nyonya itu tapi wanita ini berkelit.

Bhi Li terbelalak dan seram. Ia seakan menghadapi laki-laki gila. Dan ketika ia mencabut pedangnya dan membentak serta mengancam, Pang-kauwsu ganda ketawa dan bangkit berdiri maka akhirnya ia menyerang dan terjadi pertempuran hebat di sini. Pang-kauwsu terbahak dan ternyata dia hebat, mencabut golok dan mampu mengimbangi lawannya ini. Dan ketika dia membalas dan dua kali hampir saja merobek pundak lawan, Bhi Li melempar tubuh bergulingan maka selanjutnya nyonya ini mendapat tekanan dan guru silat itu setingkat lebih tinggi darinya. Pantas berani mengganggu dan agaknya suaminya Su Tong yang dapat menghadapi. Bhi Li akhirnya berteriak dan melepas jarum-jarumnya, ditangkis tapi saat itu dipergunakan untuk melompat mundur, lari dan membalik menuju rumahnya dan di sini guru silat itu tak mengejar.

Rupanya ia takut juga harus berhadapan dengan sang suami, mungkin takut dikeroyok. Dan Bhi Li yang pulang menahan gelisah dan air mata akhirnya melapor dan suaminya lalu mencari tapi guru silat itu menghilang. Sebulan dua bulan lewat tapi guru silat itu tiba-tiba muncul lagi, di tengah jalan. Dan ketika dia menjerit dan memanggil suaminya, guru silat itu pergi lagi maka Su Tong geram dan suami ini membanting-banting kaki.

“Orang macam apakah Pang-kauwsu itu. Dan di mana dia tinggal!”

“Aku tak tahu. Dia harus diberi pelajaran berat, suamiku. Atau nanti menggangguku lagi. Aku tak takut tapi kepandaiannya setingkat di atasku!”

“Hm, kalau begitu mari bersama-sama menyelidiki. Di sana ada kota An-wei dan kita tanya-tanya!”

Suami isteri itu lalu menyelidik. Ternyata Pang-kauwsu memang pernah tinggal di An-wei namun ini guru silat itu berpetualang. Dia berpindah-pindah tempat dan hidupnya sebagai duda memang suka mengganggu wanita, terutama yang berumah tangga. Guru silat ini tak senang melihat kebahagiaan orang lain dan siapapun rumah tangga yang bahagia akan diganggunya. Ini karena sakit hatinya terhadap rumah tangganya sendiri yang berantakan, cerai ditinggal isteri dan sebagai pelampiasannya diapun lalu mengganggu rumah tangga lain. Siapapun yang dilihatnya bahagia akan diganggu isterinya, menghilang dan mengganggu di tempat lain, begitu berulang-ulang.

Dan karena dia main paksa dan banyak ibu-ibu rumah tangga dihancurkan nasibnya, banyak yang membenci guru silat ini namun kepandaiannya membuat para suami tak berani melawan guru silat itu maka akhirnya Pang-kauwsu ini malang-melintang di sekitar An-wei dan suatu hari dia melihat rumah tangga Su-hujin ini. Dia mencegat dan menghadang dan seperti biasa dia mulai merayu. Kalau tidak berhasil dia siap dengan kepandaiannya, itu yang sudah biasa dilakukannya bertahun-tahun. Tapi karena Bhi Li adalah wanita gagah dan wanita itu melawan, Pang-kauwsu terkejut dan kagum maka duda keparat yang justeru semakin tergila-gila dan jatuh hati kepada nyonya ini tak habis-habisnya memuji.

Dia tahu siapa keluarga itu tapi yang ingin dimilikinya hanya sang nyonya ini. Asal Su-hujin membalas cintanya sekali saja dia merasa cukup, begitu pintanya. Tapi Bhi Li yang tentu saja marah dan gusar lalu menyerang dan memaki-maki. Dan akhirnya guru silat itu menghadapi dan dia ternyata setingkat lebih tinggi dibanding lawannya, membuat Su-hujin terkejut dan jalan paling selamat adalah lari pulang. Pang-kauwsu tak berani mengejar dan bekas anak murid Bu-tong yang diusir ini menunggu saat lain, sabar dan mencari wanita lain lalu ketika saatnya tepat diapun muncul lagi. Pergi dan menghilang ketika suami nyonya itu berkelebat, tak mau menghadapi dua lawan karena tentu dia kalah.

Dari kepandaian nyonya itu saja dia tahu bahwa sendiri menghadapi keroyokan tentu tak sanggup. Maka menyingkir dan mencari kesempatan lain segera dia pergi dan hari itu tiba-tiba saja dia melihat Su-hujin itu berlarian sendiri saja. Dia masih ragu dan menguntit dan diam-diam mencari bayangan suami. Kalau Su-tong ada di situ tentu dia harus menyingkir, bersabar lagi. Tapi ketika sampai beberapa puluh li dia tak melihat siapapun juga kecuali nyonya itu, kegirangannya memuncak maka dia tahu ketika sang nyonya berkelebat dan bersembunyi di kuil tua. Sekarang Bhi Li pucat kenapa dia lupa akan bahaya dari Pang-kauwsu ini.

“Ha-ha,” begitu guru silat itu tertawa bergelak. “Kau ternyata menungguku di kuil ini, Su-hujin. Ini artinya kau menyambut cintaku. Kenapa tidak dari dulu-dulu bilang. Ha-ha, aku lega kau akhirnya menerima cintaku, hujin, syukur kalau selamanya!”

Pang-kauwsu itu berkelebat dan masuk. Dia sekarang tak perlu menyembunyikan diri lagi setelah yakin bahwa nyonya itu betul-betul sendirian saja. Dia tak tahu kenapa nyonya itu berlarian dengan pedang di tangan tapi perkiraannya bahwa sedang terjadi keributan dengan sang suami membuatnya girang. Biasanya begitulah akhir dari sebuah rumah tangga yang diganggunya. Sang suami mudah cemburu dan marah-marah. Dan menganggap Su-hujin itu perang mulut dengan suaminya, pergi dan meninggalkan rumah maka dia masuk dan memanggil nyonya itu. Hatinya gembira, hasrat dan nafsunya berkobar.

“Guru silat keparat!” tapi begitu bentakan diterima. “Kalau laki-laki tak tahu malu dan perusak rumah tangga, Pang-kauwsu. Siapa menunggumu dan menyambut cintamu. Inilah pedangku, terimalah!” nyonya itu berkelebat dan keluar, pedangnya menusuk dan Pang-kauwsu tentu saja mengelak. Betapapun dia cukup hati-hati. Tapi ketika sang nyonya mengejar dan dia melihat kemarahan yang sangat, Su-hujin tak main-main maka apa boleh buat dia mencabut goloknya dan dengan golok di tangan dia menangkis lagi sambaran pedang nyonya itu.

“Ehh. crang!”

Pang-kauwsu menang tenaga. Memang selama ini dia unggul setingkat tapi begitu lawan memekik dan menerjangnya lagi maka diapun kerepotan. Dia tak tahu bahwa Bhi Li atau Su-hujin ini sedang dilanda kecewa dan marahnya oleh kematian sang enci. Dia mengira nyonya itu bertengkar dengan suaminya sendiri. Maka ketika pedang bergulung-gulung dan nyonya itu menerjangnya sengit, segala kepandaian dan tipu serangan dikeluarkan maka laki-laki inipun kewalahan dan mundur menangkis sana-sini.

“Crang-crangg!”

Sejenak dia terdesak tapi sudah mampu menguasai diri lagi. Tadi, guru silat ini agak ragu mengira sang nyonya tak bersungguh-sungguh. Wanita yang sudah bertengkar dengan suami biasanya sudah goyah dan kalau ada lelaki datang mendekat biasanya akan disambut, meskipun satu dua diantaranya akan pura-pura galak dahulu sekedar jaga diri, agar harganya tak melorot jatuh dan lelaki sewenang-wenang kepadanya. Tapi ketika nyonya itu jelas menusuk dan menikam dengan serangan maut, membentak dan melengking maka Pang-kauwsu ini sadar bahwa Su-hujin ini tidak sekedar habis bertengkar dengan suaminya. Malah naga-naganya ada sesuatu yang telah mengguncangkan jiwanya dan membuatnya seperti kesurupan!

Nyonya itu melengking-lengking dan pedangpun menyambar tiada henti. Namun karena dia mulai kenal gerak dan gaya permainan pedang ini, sekali dua mereka sudah bergebrak maka Pang-kauwsu yang mainkan silat goloknya dengan baik akhirnya membendung dan perlahan tetapi pasti dia balas menekan dan menghalau serangan lawan.

“Ha-ha, sudah dua tiga kali kita bergebrak, hujin, dan kau tahu bahwa kau tak dapat mengalahkan aku. Jangan mulai kehangatan cinta dengan perang tanding sia-sia!”

“Cinta apa! Kehangantan apa! Jaga mulutmu dan jangan asal bercuap, orang she Pang. Aku akan membunuhmu atau kau boleh membunuhku!”

“Ha-ha, aku tak akan membunuhmu. Aku jatuh cinta padamu. Masa demikian ketus sambutanmu, Su-hujin. Kau sudah meninggalkan rumah dan suamimu untuk menantiku di sini. Masa dugaanku salah dan kau pura-pura..... singg-plak!” sang kauwsu terpaksa menghentian kata-katanya, mengelak dan menangkis dan golokpun bertemu pedang. Tapi karena dia masih bicara maka gagang goloknya yang kena dan hampir saja Pang-kauwsu ini terbabat. Dia terbelalak dan menjadi marah karena ternyata lawannya bersungguh-sungguh.

Su-hujin itu memakinya kalang-kabut dan mulailah dia merasa bahwa sia-sia segala bujuk rayunya. Wanita ini harus ditundukkan dengan kekerasan dan diapun membentak dan bersikap kasar. Dan ketika pedang kembali mendesing dan dia mengerahkan tangannya maka golok membabat pedang dan nyonya itu berteriak karena pedangnya hampir saja terlepas. Pang-kauwsu tertawa panjang dan diapun mengejar, ganti memerangsek dan Su-hujin pucat melihat tekanan. Dan ketika apa boleh buat ia harus mengelak dan berlompat ke sana ke mari, lari dan berputaran diruangan itu maka meja kursi yang ada di situ ditendang pula untuk menghadang jalan maju laki-laki ini.

Namun Pang-kauwsu tertawa bergelak dan semua benda-benda itu dibacoknya putus. Dia marah tapi juga naik berahinya melihat sikap pantang menyerah dari lawannya ini. Semakin gagah semakin dia suka! Dan ketika Bhi Li harus keluar masuk ruangan lain dan melengking-lengking, wanita ini menyesal kenapa tak bersama suaminya maka dia berteriak dan memaki-maki guru silat itu dengan suara sekeras-kerasnya. Bhi Li bermaksud agar semua kegaduhan itu didengar suaminya. Dia yakin bahwa suaminya pasti datang. Maka ketika ia coba menggertak lawan dan berseru agar guru silat itu menyingkir, atau sebentar lagi suaminya datang ternyata guru silat ini terbahak-bahak.

“Ha-ha, suamimu datang? Tak mungkin? Kau meninggalkan rumah dengan marah-marah, Su-hujin, kau pasti habis bertengkar dengan suamimu. Tentu perkara aku. Bagus, aku senang! Kalau kau sudah berpisah dengan suamimu dan kita menjadi suami isteri maka jangan khawatir karena akupun tak kalah dengan suamimu itu. Aku akan lebih mencintai dirimu, marilah dan kita bersenang-senang. Kuil ini sunyi, tak ada orang tahu!”

Bhi Li merah padam, laki-laki ini seperti gila membujuknya terus-terusan, tak tahu malu dan kata-katanyapun mulai kotor, marah ia. Tapi karena guru silat itu memang hebat dan ia mulai merasa telapaknya pedas, setiap tangkisan tentu lawan menambah tenaganya maka Bhi Li keluar lagi dan kini bermaksud kembali pulang. Agaknya ia harus memanggil suaminya dulu. Tapi begitu ia melompat dan menerjang pintu tengah ternyata laki-laki itu menggerakkan goloknya dan kakinyapun diganjal.

“Trangg-bluk!”

Bhi Li terbanting dan roboh melempar tubuh bergulingan. Ia memekik karena ganjalan itu tak disangka-sangka. Lawan sungguh licik. Tapi ketika ia meraup jarum-jarumnya dan dengan senjata rahasia ini ia menghambat laju lawan maka ketika Pang-kauwsu itu menangkis jarum-jarumnya iapun meloncat dan berlari keluar.

Tapi Pang-kauwsu tertawa bergelak. Laki-laki ini sudah yakin sebentar lagi dia akan mendapatkan lawannya. Su-hujin yang gagah itu semakin menarik hatinya, dia benar-benar tergila-gila. Maka ketika dia mengejar dan belasan jarum yang tadi ditangkis ada diraupnya cepat, dikembalikan dan menyambar nyonya itu maka Su-hujin terkejut ketika jarum-jarumnya dikembalikan lawan.

“Aku tak suka jarum-jarummu, terimalah, kukembalikan... wut-wut!”

Bhi Li melengking dan menangkis jarum-jarumnya sendiri. Ia marah tapi tak mungkin mengelak dan harus menangkis jarum-jarumnya sendiri. Dan ketika kesempatan itu dipergunakan lawan untuk meloncat dan mendekati dirinya, golok Pang-kauwsu bergerak dan akan menyelesaikan pertandingan maka saat itulah guru silat ini melihat bayangan di depan pintu dan tepat ia mengangkat goloknya maka saat itu sebutir batu hitam menyambar dan menotok pergelangan tangannya.

“Tak!” Guru silat ini terbelalak. Pergelangan tangannya lumpuh dan otomatis golokpun turun ke bawah. Seorang laki-laki pendek tegap memandangnya di pintu itu dengan mata bersinar-sinar. Su-ya (tuan Su)! Dan ketika dia terkejut karena itulah suami wanita ini maka Bhi Li yang baru saja menangkis runtuh semua jarumnya kini tiba-tiba membentak dan menusukkan pedangnya ke dada Pang-kauwsu itu, orang berada dekat dengannya.

“Orang she Pang, kini kau mampuslah!” pedang menyambar dan menusuk dada laki-laki itu. Bhi Li tak tahu bahwa suaminya sudah di belakangnya, baru saja membantu dan melumpuhkan pergelangan tangan lawan. Maka begitu pedangnya menusuk dan dada yang empuk menjadi korban maka.... crep. Pang-kauwsu pun roboh dan mendelik menuding-nuding suami wanita itu.

“Kau. kaucurang!”

Bhi Li terkejut dan menoleh. Ia tak tahu siapa yang dituding tapi begitu menengok maka dilihatnya suaminya itu. Kontan ia berseru girang dan lawanpun ditendang mencelat. Ia telah mencabut pedangnya dan laki-laki itu roboh dengan darah menyemprot. Pang-kauwsu tewas! Dan ketika Su Tong berkelebat dan memasuki ruangan itu maka suami inipun menyesali juga sikap isterinya yang kejam.

“Tak perlu dibunuh, seharusnya ditabas atau dikutungi saja daun telinganya. Ah, dia binasa, Li-moi. Kau telah membunuh!”

“Eh, kau menyalahkan aku? Tidak melihat betapa meja kursi berantakan? Dia pengganggu wanita baik-baik, Su-ko, sudah sepantasnya dibunuh. Kalau kau tidak cepat datang entah apa jadinya denganku. Mungkin dia memperkosa isterimu ini!”

“Sudahlah, sudah.... aku mendengar bentakan dan teriakanmu dan untung aku datang. Han-suheng menyusul dan lihat dia terengah-engah!”

Sang nyonya menoleh dan mengibaskan rambutnya. Ia masih berdiri dengan pedang berlumuran darah dan saat itu datanglah pria gagah itu. Keng Han, laki-laki ini, tak dapat menyusul sutenya karena masih belum sembuh dari sakitnya. Tapi begitu dia datang dan melihat ribut-ribut itu, juga mayat Pang-kauwsu yang membujur kaku maka diapun tertegun dan berdiri menjublak.

“Siapa dia, perampok dari manakah.”

“Bukan rampok,” sang nyonya membanting dan melepas jengkelnya. “Dia ini lebih keji daripada perampok, Han-suheng. Dia perenggut kesucian seorang wanita. Ini Pang-kauwsu yang telah tiga bulan ini mengejar-ngejar aku!”

“Ah, seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga)? Tapi kenapa jabatannya guru silat?”

“Jabatan tak menunjukkan kepribadiannya, suheng. Banyak yang lebih terhormat tapi sifatnya lebih bejat. Ini anjing hina-dina dan aku telah membunuhnya!”

“Hm-hmm !” sang suheng mengangguk-angguk, maklum akan semua itu. “Kau benar, Li-moi. Tapi bagaimana sekarang. Dia sudah terbunuh.”

“Aku akan melanjutkan perjalananku. Masalah mayat ini, hm...biar saja dimakan anjing!” lalu melompat dan keluar dari ruangan itu. Su-hujin inipun berkelebat dan melanjutkan perjalanannya. Ia tak mau mengurus mayat itu tapi suaminya bergerak dan menyeret mayat ini.

Sang suheng memandang dan akhirnya membantu juga, dan ketika di luar kuil itu mereka mengubur guru silat ini maka Su Tong mengajak suhengnya berangkat. “Isteriku terlalau gegabah, selalu ingin mendahului. Mari kita susul, suheng. Dan maaf biar kau berpegangan tanganku.”

“Baik, dan aku juga ingin kembali ke Hutan Iblis itu, sute. Aku ingin membunuh lawan-lawanku disana dan kau membantuku!”

“Mari...!” dan begitu dua laki-laki ini bergerak maka merekapun sudah menyusul Bhi Li yang mendahului didepan.

Jarak di antara mereka ada limabelas menit dan diam-diam sang suami ini khawatir. Kalau saja suhengnya sehat dan tak apa-apa tentu dia berdua dapat menyusul cepat. Tapi karena suhengnya sakit dan pengejaran inipun dipaksakan, maka dia tak enak membiarkan isterinya di sana. Bagaimanakah rupanya Hutan Iblis itu? Seseram namanyakah? Pria ini menekan debaran hatinya. Kalau benar begitu dia harus cepat menyusul. Maka menyendal dan menarik suhengnya lebih kuat laki-laki inipun terbang mengejar ke depan.