TAPAK TANGAN HANTU
JILID 01
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
RAUNG dan lolong srigala pecah lagi di hutan itu. Hutan Iblis, demikian orang menamainnya, sudah seminggu ini penuh dengan lolongan dan raungan srigala. Suaranya menggeletar menguak isi hutan, panjang dan bersahut-sahutan bagai nyanyian maut di tempat iblis. Tapi ketika terlihat cahaya kilat berkelebat dan meledak di tengah hutan itu, suaranya juga menggelegar maka raung atau lolong srigala padam, bagai api disiram air. Aneh, apa yang terjadi?

Orang tak tahu. Yang jelas, tujuh hari berturut-turut ini di dalam Hutan Iblis terdengar suara-suara menyeramkan yang membuat bulu tengkuk berdiri. Sebelum lolong atau raung srigala itu mulai, menjelang tengah malam, biasanya terdengah dulu rintihan-rintihan atau suara mirip orang mengerang. Lalu disusul oleh jerit atau tawa-tawa liar. Kemudian oleh bentakan-bentakan yang kesemuanya itu tidak tampak dari luar hutan.

Kalaupun ada orang menyelidiki, di dalam hutan ini tidak ada apa-apanya, artinya tak ada penghuni atau manusia yang tinggal. Tapi karena di hutan itu memang dikenal sebagai Hutan Iblis, hutan angker yang menyeramkan yang ditinggali oleh sebangsa demit atau roh-roh jahat yang sedang menjalani siksaannya, di tengah hutan ini terdapat sebuah pohon raksasa yang puncaknya menjulang tinggi, terlihat dari luar hutan maka pohon atau tengah hutan ini dipercaya oleh penduduk sekitar sebagai biang atau tempat tinggal iblis, kerajaan para setan dan dedemit!

Dan keangkeran atau keseraman hutan ini ditambah lagi dengan hilangnya tujuh orang dusun yang tadinya penasaran dan ingin menyelidiki suara-suara di dalam hutan itu. Perbuatan yang diakhiri dengan tidak kembalinya orang-orang dusun itu, para lelaki muda yang memiliki sedikit keberanian!

Dusun Lam-chung, yang berada tiga kilometer di sebelah timur Hutan Iblis memiliki tujuh lelaki muda yang tergolong berani. Mereka ini merasa penasaran dan marah oleh suara-suara itu, begitu asal mulanya. Tapi ketika mereka hendak berangkat dan menyelidiki, telinga mereka tak tahan oleh suara yang amat mengganggu itu maka kepala dusun, Lam-chungcu, berusaha mencegah mereka.

“Tak usah kalian marah-marah pada semua suara di Hutan Iblis itu. Mereka sedang merayakan pestanya sendiri, biarlah.”

“Tapi kita terganggu, Lam-lopek (paman Lam). Setiap malam telinga kita diganggu suara-suara ini. Dan anak serta wanita-wanita tak dapat tidur. Mereka ketakutan!”

“Hm, aku tahu. Tapi hutan itu sudah lama kita kenal sebagai hutan angker. Jangan hiraukan suara- suara itu. Kalau terganggu, sumpallah telinga dan tutup rapat-rapat dengan selimut. Lolong itu sebagai tanda dimulainya kengerian. Jangan dipusingkan toh mereka tak pernah mendatangi kita.”

“Tapi kita tak tahan, anak-anak menangis!”

“Benar, dan ayah ibuku juga gemetaran sepanjang malam, lopek. Kami hanya dapat menikmati tidur beberapa jam saja setelah itu terganggu sampai pagi!”

“Hm, kalian mau tetap ke sana?”

“Kami ingin menyelidiki, paling tidak mengusir atau membunuh srigala-srigala itu. Raung atau lolong mereka mengganggu!”

“Terserahlah,” kepala dusun akhirnya menghela napas menyerah. “Kalian anak-anak muda memang berjiwa muda dan masih penuh petualangan. Hanya pesanku, jangan terlampau jauh memasuki hutan dan cukup agak di pinggiran saja.” Tujuh anak-anak muda itu berderap. Mereka sudah mengangguk dan malam itu mereka menuju Hutan Iblis. Bertujuh dan mengumpulkan keberanian begini cukup merupakan modal juga. Meskipun bulu kuduk meremang namun mereka hendak berbuat sesuatu, dan harus berbuat sesuatu. Dan ketika malam itu mereka sampai di Hutan Iblis, raung dan lolong itu belum terdengar maka yang mereka dengar adalah rintih atau erangan-erangan itu. Hal yang juga membuat tengkuk meremang!

“Sst, seperti orang kesakitan, atau sekarat...!”

“Benar, dan aku jadi ingin tahu, Tek San. Tapi letaknya jauh di dalam!”

“Dan chungcu (kepala kampung) telah memesan kita untuk tidak terlalu dalam. Bagaimana baiknya.”

Tiga pemuda, yang di depan dan paling pemberani saling berbisik sendiri. Mereka itu berindap dan melotot ke dalam namun kepekatan hutan sukar ditembus. Cahaya bintang membantu mereka namun sinarnya amatlah lemah. Bulan yang muncul sepotong juga tak banyak membantu dan kalau ingin tahu haruslah masuk ke dalam. Tapi karena chungcu atau kepala kampung telah mewanti mereka, jangan ke dalam padahal suara itu jauh di sana maka mereka tertegun dan satu sama lain bertanya,

“Kita masuk saja,sedikit ke dalam.”

“Tidakkah berbahaya?”

“Sedikit saja, Tek San tidak jauh-jauh...”

“Dan kita nyalakan obor,” seorang tiba-tiba berseru. “Tanpa penerangan tak mungkin kita masuk, Tek San. Terlalu gelap!”

“Benar, terlalu gelap. Dan hawa semakin dingin. Eh, jangan meraba-raba kakiku, A-ceng. Tanganmu dingin!”

“Siapa yang meraba kakimu. Aku di sini...”

“He, jangan membelit kakiku!” seseorang lagi tiba-tiba marah. “Kakimu dingin, Sam Pek. Jangan menambah-nambahi rasa seram!”

“Siapa yang membelit kakimu,” orang yang ditegur juga marah. “Aku di sini, A-yang, jangan menuduh!”

“Sudahlah,” Tek San, pemuda pertama melerai. “Kita tak usah bertengkar sendiri, kawan-kawan. Kita bergabung dan ada di sini karena satu tujuan, bukan untuk bertikai. Mana obor, kita gunakan obor,” pemuda itu mencari kepada temannya dan tiga orang di antara mereka tiba-tiba saling memberikan obornya.

Tujuh pemuda ini membawa tiga buah obor tapi selama perjalanan belum dipasang. Mereka masih dapat melihat jelas ketika belum memasui hutan, bantuan dari cahaya bintang atau bulan yang sepotong itu. Tapi karena mereka sekarang hendak masuk dan hutan di dalam amatlah gelap, tanpa obor tentu berbahaya maka begitu diminta tiba-tiba masing-masing sudah menyalakan obor. Tapi begitu dipasang mendadak semuanya menjerit.

“Ular!”

Tek San dan enam temannya kaget bukan main. Di dekat mereka, merayap perlahan dengan lidah keluar masuk ternyata terdapat seekor ular hijau yang mencari persembunyian. Ular ini tadi menyentuh A-yang dan seorang lagi yang dikira rabaan atau belitan temannya, karena mereka menyangka teman-teman sedang menggoda dan mungkin menakut-nakuti. Maka begitu ular dilihat dan oborpun menyala, ular itu kaget maka spontan ia mendesis dan mulutpun mematuk orang yang berada paling dekat.

“Aduh!”

Satu di antara mereka roboh, Tek San, yang mendengar jerit ini tiba-tiba berhenti. Ia pun meloncat seperti teman-temannya melarikan diri, bukan untuk pulang melainkan menyelamankan diri dari bahaya. Lima temannya yang lain juga berteriak dan tunggang-langgang. Tapi begitu jeritan ini terdengar dan mereka juga berhenti, menoleh, maka obor yang lepas disambar lagi dan mereka melihat teman mereka itu menindih ular yang baru menggigit. Rupanya ular itu tertimpa lawannya dan tergencet, menggeliat dan mematuk dan berteriak-teriaklah korbannya itu dengan kesakitan. Tapi ketika Tek San meloncat dan menghantam kepala ular dengan api obor, tepat di sasarannya maka ular itu menggeliat dan retak tengkoraknya, mati.

“Angkat A-yang, ia pingsan.”

Enam pemuda menjadi panik. Mereka melihat teman mereka itu pucat dan kebiruan mukanya. Ular ditarik dan satu diantara mereka membacok lehernya, putus dan dibuang. Dan ketika mereka sibuk menolong teman mereka itu, A-yang yang pingsan maka erangan atau rintihan di dalam hutan juga lenyap. Rupanya jeritan atau teriakan anak-anak muda ini terdengar ke dalam. Mereka tak tahu itu dan sibuk menolong. Tiga buah obor yang kini dipeganggi di atas kepala untuk menerangi A-yang dipergunakan untuk membantu keadaan.

Tek San membebat bekas gigitan ular dengan sigap, tak tahu betapa bola-bola mata mencorong mendadak bermunculan dari dalam hutan, terpantul dan berkilat oleh cahaya obor, juga gigi-gigi menyeringai yang menunjukkan kebuasan keji. Dan ketika bola-bola mencorong itu bertambah banyak, puluhan srigala muncul dan mengepung mereka maka satu di antara mereka tiba-tiba menginjak seekor katak yang kontan menjerit.

“Teoottt...!”

Pemuda ini keblingsatan. Ia ikut menjerit dan meloncat dan teman-temannya melonjak. Dalam keadaan seperti itu sedikit kejutan saja cukup membuat jantung terloncat, biarpun hanya oleh suara katak yang terinjak kaget. Dan ketika pemuda itu memaki-maki, mengusap keringat dingin dan menendang kodok yang sudah penyet itu maka dua temannya dan teman-teman lain melihat kilauan cahaya terpantul api obor, tersentak dan kaget.

“Tek San, apa itu?”

“Benar, apa itu?”

Pemuda ini menoleh dan memandang. Sekarang dia berdiri dan selesai menolong A-yang, masih berpikir apa yang akan dilakukan selanjutnya ketika tiba-tiba semua temannya menuding. Dan ketika yang menginjak kodok juga tersentak dan melihat bola-bola mata itu, mencorong dan berkilau-kilauan oleh sinar obor di atas kepala maka terdengarlah lolong atau raung berkepanjangan. Hutan Iblis pun tiba-tiba tergetar!

“Srigala!”

Baru habis ucapan ini diserukan mendadak segerombolan srigala sudah berloncatan dan menyerang mereka. Anjing liar yang buas dan pemakan daging ini tiba-tiba sudah saling menyalak dengan riuhnya. Enam pemuda kampung diserbu. Dan ketika Tek San serta lima orang kawannya terkejut, mereka membawa golok dan tentu saja membentak maka gerombolan anjing liar itu disambut tapi celaka sekali jumlah mereka amatlah banyak dan yang amat mengerikan adalah srigala-srigala ini tak takut manusia. Jumlahnya ada dua ratus lebih!

“Tek San, toloong...!”

“Tek San, bantu aku!”

“Aduh, aku tergigit!”

Riuh dan pekik pemuda bercampur dengan lolong dan salak binatang-binatang jahat ini. Lima teman Tek San jatuh bangun dan mereka itu berteriak-teriak panik. Sungguh tak disangka bahwa sebesar itu gerombolan srigala di Hutan Iblis. Pantas lolong atau raungan terdengar berkilo-kilo meter. Dan ketika para pemuda ini menjerit sementara golok di tangan menyambet atau menusuk, yang luka segera melengking dan menguik kesakitan maka tiga di antara mereka terguling-guling dengan muka ketakutan, pucat dan berteriak-teriak tapi gerombolan anjing ganas itu menyerbu tak kenal ampun.

Darah yang berceceran seolah mengundang gairah yang lebih tinggi. Mereka menyalak dan tertutuplah jeritan tiga pemuda itu oleh riuh suara anjing-anjing ini. Dan ketika Tek San dan dua temannya melihat bahaya mengancam, membentak dan melarikan diri akhirnya musuh yang hendak mereka bantai itu telah mengalahkan mereka. Tek San dan dua temannya tunggang-langgang namun pemuda yang paling pemberani ini tidak lari jauh, melainkan memanjat pohon dan dia berteriak pada teman-temannya agar melakukan hal yang sama.

Dan ketika dua temannya juga melakukan hal yang sama dan masing-masing memanjat pohon, obor menyala di rerumputan kering maka dengan ngeri dan mata melotot pemuda itu melihat betapa tiga temannya yang berteriak sudah menjadi santapan hewan-hewan ganas itu. Mereka dikoyak dan jantung serta usus berhamburan. Srigala-srigala buas itu melahap daging teman mereka seperti iblis-iblis kelaparan. Satu mayat untuk puluhan ekor! Dan ketika Tek San mengeluh dan satu di antara temannya tak kuat, roboh dan pingsan maka... bluk, jatuhlah temannya itu dari pohon yang tinggi.

“Chi Meng!”

Seruan ini disambut salak dan gonggong anjing-anjing itu. Begitu ada tubuh jatuh dari pohon maka srigala-srigala ini berlompatan. Mereka riuh mengeluarkan suaranya masing-masing dan Tek San menutup mata dengan ngeri. Mulut dan moncong berdarah dari ratusan srigala itu sudah disusul oleh serbuan buas binatang-binatang ini. Mereka berhamburan dan berebut menerkam Chi Meng.

Dan ketika pemuda dusun itu terkoyak-koyak dan hancur pakaiannya, tercabik dan menjadi mangsa anjing-anjing ganas ini maka tubuh yang tadi utuh itu sudah tidak berujud lagi. Daging diseluruh tubuhnya berhamburan di moncong binatang-binatang jahat itu, usus dan jeroannya jangan ditanya lagi. Dan Tek San yang tak tahan memandang ini akhirnya mengguguk dan temannya di sana juga pucat pasi memeluk batang pohon erat-erat. Nyawa seakan terbang meninggalkan raga.

Satu jam lebih binatang itu berpesta-pora dan dua pemuda yang tersisa di atas pohon ini menahan ngeri dan takut yang sangat. Tek San, yang paling pemberani, akhirnya mengalami shock dan hampir saja dua kali terjatuh dari pohon. Temannya di sana sudah pingsan tapi untung tertahan di cabang yang besar dan kuat. Dan ketika lima mayat itu habis tinggal tulang belulangnya, mulut menjilat-jilat dan ratusan srigala ini tampak puas, lolong di antara mereka tak terdengar lagi kecuali geram-geram pendek maka Tek San tak tahu lagi apa yang terjadi karena iapun sudah tengkurap seperti temannya.

Pemuda ini pingsan dan malam itu benar-benar menjadi malam mengerikan baginya. Namun ketika hawa malam yang dingin menusuk tulang dan bulan yang sepotong naik tinggi di atas, bintang juga lebih terang dan berbinar di langit hitam maka pemuda ini siuman dan bersamaan itu temannya di sana juga membuka mata. Namun begitu membuka mata begitu pula mereka berteriak.

Seekor ular, yang amat besar, membelit tubuh mereka dan perlahan-lahan terbungkus kencang. Mula-mula kedua kaki mereka dililit menjadi satu dengan cabang pohon di mana mereka tengkurap. Tek San merasa dingin dan sakit-sakit oleh belitan kuat ini, tak tahu betapa tubuhnya dililit ular karena begitu membuka mata yang dilihat adalah temannya. Mereka berseberangan pohon dan masing-masing sama melihat ular itu, tak tahu bahwa merekapun dibelit kencang. Dan ketika masing-masing sama menuding dan berteriak, Tek San menunjuk temannya sementara temannya menunjuk dirinya maka hampir berbareng dua pemuda itu berseru,

“Tek San, ular!”

“An Ip, ular...!”

Dua-duanya sama menuding. Mereka tak sadar bahwa diri sendiri sebenarnya dililit ular. Tapi begitu masing-masing sama menunjuk dan mereka melihat maka barulah keduanya terkejut bukan main karena muka ular sudah di depan wajah mereka, ular phyton yang amat dahsyat!

“Ugh...”

“Mati aku!”

Dua pemuda itu terpekik. Baru sekarang mereka tahu ancaman bahaya dan lepas dari srigala-srigala ganas sekarang memasuki mulut ular. Dua-duanya pucat dan dua-duanya berontak. Namun karena kaki dan dada mereka sudah terbelit, gerakan itu membuat lilitan semakin kencang maka dua pemuda ini berteriak-teriak dan akhirnya mereka melawan dan bergulat mencengkeram ular itu.

Namun ular inipun juga bereaksi. Ia mengelak dan mematuk dan sekarang belitannya bertambah kencang. Badanya yang licik luput dicengkeram dua pemuda itu, menggeliat dan membelit dan Tek San maupun temannya melotot. Mereka sesak napas. Dan ketika jeritan atau pekikan mereka tertahan di dada, lilitan itu bertambah kencang maka kretek tulang iga anak-anak muda itu patah. Ular membelit kencang lagi dan..... krek, tulang dada anak-anak muda itupun hancur.

Dan ketika keduanya sudah tidak dapat bergerak dan leher ular sudah sama dengan lebar pemuda-pemuda itu maka Tek San maupun temannya tewas di mulut bahaya yang lain. Keadaan pemuda ini menyedihkan karena menjadi mangsa binatang buas yang lain. Lolos dari srigala-srigala jahanam kini memasuki mulut ular. Dan ketika ular besar itu membuka mulutnya, mencaplok kepala Tek San maka perlahan-lahan belitan mengendor bersamaan dengan masuknya kepala pemuda itu ke mulut yang lebar dan kemerah-merahan ini, didorong dan masuk dan akhirnya dengan sedikit susah tubuh pemuda itu didorong terus ke dalam.

Tubuh ular mulai menggelembung dan sedikit tetapi pasti ular besar ini menelan mangsanya. Tek San, manusia dewasa, akhirnya hilang pula ditelan mulut lebar itu. Dan ketika keesokannya orang-orang dusun mencari tujuh anak-anak muda ini, di tepi hutan, maka mereka terpekik melihat ceceran darah dan sisa-sisa kengerian semalam. Lam-chungcu pucat dan menarik napas dalam-dalam. Mereka semalam telah mendengar lolong dan riuh srigala-srigala itu. Mengira bahwa anak-anak muda mereka mengusir atau berhasil menghalau anjing-anjing liar ini.

Tapi karena sampai pagi anak-anak itu tak kembali dan menjadi kewajiban mereka untuk mencari tahu maka di luar hutan itu mereka melihat bekas-bekas perkelahian dan mereka tak tahu dimanakah anak-anak muda itu. Bangkai dan darah srigala bercampur aduk di situ. Mereka tak dapat memastikan apakah darah yang berceceran di situ juga darah dari anak-anak muda mereka, begitu juga serpihan-serpihan tulang yang tampak di sana-sini. Dan karena mayat para pemuda itu tak ditemukan karena sudah masuk ke perut srigala, dua di antaranya memasuki perut ular maka Lam-chungcu dan orang-orangnya kembali.

Hutan Iblis menjadi sesuatu yang menyeramkan dan penduduk dusun tak berani lagi mengusik-usik itu. Lolongan dan raung srigala yang kembali terdengar pada malam-malam berikut dibiaran saja. Wanita dan anak-anak hanya menggigil pucat dan menutupi telinga mereka rapat-rapat. Tapi ketika sebulan kemudian lolong itu terdengar mendekati perkampungan, kian hari kian bertambah dekat maka dusun Lam-chungcu dibuat kaget bukan main ketika untuk pertama kalinya dusun mereka diserang!

Ratusan srigala lapar, yang sudah menikmati darah manusia tiba-tiba bergerak pada malam bulan purnama menyerang kampung itu. Lolong dan salak mereka demikian riuh sampai ibu-ibu roboh pingsan. Jangan ditanya lagi anak-anak, mereka ini menjerit dan berteriak-teriak histeris di dalam rumah. Dan ketika beberapa laki-laki mencoba mengusir dan menghalau mereka, satu di antaranya adalah putera Lam-chungcu sendiri maka kejadian malam pertama itu menjadi trauma berat semua orang.

Dua ratus srigala lapar, yang dulu sudah menikmati lima pemuda dusun menyalak dengan garang. Mereka itu berlarian dalam empat kelompok di mana masing-masing menuju keempat penjuru kampung. Rumah-rumah penduduk yang ditutup rapat dicakar-cakar, bahkan ada yang menabrak-nabrakkan tubunya menjebol pintu. Dan ketika semua riuh dan kegaduhan itu mencapai klimaksnya, ada sebuah jendela yang berhasil dibuka maka puluhan srigala ini menyerbu masuk dengan amat beraninya.

Mereka menerjang ke dalam dan dapat dibayangkan betapa kagetnya pemilik rumah. Sepasang kakek nenek, yang menghuni rumah ini panik diserbu binatang-binatang itu. Mereka adalah Can-lopek dan isterinya. Dan karena rumah ini dekat dengan rumah Lam-chungcu di mana jerit atau teriakan kakek nenek itu memecah keributan malam, suami isteri itu keluar menjerit-jerit maka srigala-srigala lapar yang memburu mereka ini menyergap dari belakang.

“Tolong.....tolong !”

Itu adalah kejadian pertama dari lolosnya seorang penduduk. Lam Kong, putera Lam-chungcu melihat ini. Ia dan ayahnya menutup rapat semua pintu jendela dan gonggong atau salak anjing-anjing itu mereka lihat dari dalam. Tentu saja mereka juga memegang senjata berupa pentungan atau golok. Tadi pemuda itu mau keluar tapi ayahnya mencegah. Lima puluh ekor anjing-anjing liar yang ganas ini dapat membahayakan jiwa mereka. Kentong titir tak sempat lagi dibunyikan. Kalaupun ada, kemungkinan besar tertutup riuhnya gonggong dan salak hewan-hewan liar itu. Dan ketika Can-lopek serta isterinya berhamburan keluar, diikuti oleh binatang-binatang jalang itu maka Lam Kong terkesiap melihat nenek Can terjelungup dan roboh diterkam dari belakang.

“Suamiku, toloong...augh!”

Can-lopek menoleh. Ia sendiri memegang kayu panjang namun puluhan srigala liar tak sanggup ditandinginya. Kakek tua macam dia seharusnya malah dilindungi. Maka ketika ia mendengar jeritan isterinya namun saat itu juga sebelas ekor hewan kelaparan itu menubruknya pula, dari belakang maka kakek ini terjatuh dan kayu panjang di tangannya tak banyak berguna. Kakek dan nenek itu hendak menuju ke rumah Lam-chungcu namun kalah cepat.

Jangankan orang tua macam mereka, anak muda yang gesit larinya saja tak mungkin menang dengan hewan-hewan berkaki panjang ini. Lompatan seekor srigala dapat mencapai empat meter lebih, jauh di atas ketangkasan manusia biasa. Maka begitu kakek itu roboh dan sebelas srigala menggigitnya, di sana isterinya berteriak namun kemudian terkulai, pingsan oleh kerubutan srigala-srigala ini maka Can-lopek menjadi korban berikutnya dan tubuh kakek nenek itu cabik-cabik.

“Jahanam!” Lam Kong berseru keras dan melompat keluar. Golok di tangannya nampak buas dibolang-balingkan dan ayahnya berseru kaget. Lam-chungcu cepat mengejar dan melompat pula, pintu ditutup dan dibanting kuat. Dan ketika pemuda itu berteriak dan menyerbu ke tempat kakek nenek ini, Can-lopek dan isterinya ternyata tewas, jantung di dadanya bolong maka pemuda itu mengamuk dan srigala di depan dibabat dan dibacoknya.

“Mampus kalian. crak-crakk!”

Srigala yang menjadi korban roboh. Namun yang lain tidaklah takut, mereka terkejut sejenak dan mundur tapi kemudian menyerang pemuda ini. Salak dan gonggong mereka memanggil yang lain-lain. Dan ketika dua ekor srigala kembali roboh namun puluhan yang lain datang ke situ, Lam Kong mengamuk maka ayahnya pucat berseru memanggil.

“Lam Kong, kembali. Hewan-hewan itu bertambah banyak!”

Pemuda ini terkejut. Ia tak mengira bahwa di empat penjuru tiba-tiba muncul hewan-hewan kelaparan itu. Moncong mereka penuh darah dan tiga ekor ayam berkeok-keok di mulut tiga ekor srigala. Dan ketika suara mengembik dan meong-meong juga terdengar di situ, gaduh dan riuh maka putera Lam-chungcu ini melihat bahwa bukan hanya manusia saja yang di mangsa melainkan juga ternak dan peliharaan rumah.

“Cepat, masuk kedalam! Cepat !”

Lam Kong bertindak lambat. Ayahnya memutar pentungan dan lima srigala di depan dihalau, satu malah kena gebuk. Tapi karena di situ muncul puluhan yang lain dan dua ratus srigala sudah menyalak riuh, pemuda itu terkepung maka ayahnya pucat dan menyerbu masuk. Namun baru tiga empat gebukan mendadak terdengar jerit di dalam rumah. Puteranya terkecil, menjerit dan berteria-teriak bersama isterinya. Dua srigala melompat tangga rumah melihat celah pintu terbuka. Itulah nyonya rumah yang mengintai dengan pucat. Dan ketika dua ekor srigala melihat ini, melompat dan menyerbu masuk maka nyonya itu menjerit dan puteranya terkecil yang bersembunyi di punggungnya menjadi kaget.

“Tolong.....tolong !”

Lam-chungcu bergerak cepat. Ia berlari dan melompat ke dalam rumahnya dan pintu itu cepat ditutup kembali. Srigala-srigala itu mengejar namun terlambat. Dan ketika di dalam rumah kepala dusun ini menghantam dua srigala itu, yang menggigit dan melukai anak isterinya maka satu di antaranya kelengar dan berputar, digebuk dan dihantam lagi dan robohlah srigala itu. Satunya lagi meloncat dan melarikan diri. Ternyata kalau sendirian saja hewan ini menjadi penakut.

Namun karena pintu sudah dipalang dan tak mungkin dia keluar, Lam-chungcu mengejar maka terjadilah kejar-mengejar di antara dua orang, eh.., dua mahluk ini. Srigala itu akhirnya menjadi marah karena dipepet, beringas dan timbul keberaniaannya dan serulah mereka kejar-mengejar. Dan karena srigala itu juga menggigit dan berhasil melukai Lam-chungcu, kaki dan tangan kepala dusun itu berdarah tapi sebaliknya laki-laki ini juga berhasil menggebuk dan menghantam lawannya akhirnya dalam pertarungan menegangkan lelaki yang berusia limapuluh tahun ini merobohkan lawannya itu. Tongkat di tangannya menimpa kepala hewan keparat itu.

“Prakk!”

Srigala ini roboh dan pecah kepalanya. Lam-chungcu menggigil dan merah padam namun di saat itu terdengar jeritan panjang di luar rumah. Isteri dan anak bungsunya, yang pingsan dan roboh oleh serbuan hewan ganas tadi tergeletak di lantai. Lam-chungcu mau melihat anak isterinya ini ketika tiba-tiba di luar terdengar jeritan itu. Dan ketika kakek ini teringat puteranya dan membuka pintu, meloncat, maka tiba-tiba saja matanya membelalak dan melihat puteranya tertua itu sudah roboh, mandi darah.

“Lam Kong!”

Namun saat itu sebuah tangan kuat menariknya. Lam Hin, adiknya laki-laki sudah keluar dan menariknya masuk. Jerit atau pekik kepala dusun ini mengundang mata srigala-srigala itu. Mereka menengok dan berlompatan, buas. Tapi karena kepala dusun itu sudah ditarik kedalam dan pintu rumah cepat-cepat ditutup, kakek ini jatuh terduduk maka meledaklah tangis dan raung kemarahannya.

“Ooh, keparat.... Lam Kong.... dia....dia itu. ooohh, dia menjadi korban, Lam Hin. Jahanam keparat srigala-srigala kelaparan itu. Iblis mereka iblis!”

“Sudahlah, diam.... jaga dan lihat keselamatan isteri dan anak bungsumu, twako. Dengar srigala-srigala itu menyalak dan riuh di luar.”

“Aku... aku hendak membunuh mereka!”

“Dan kau akan mengorbankan isteri dan anakmu di sini pula. Tidak, mereka tak terlawan, twako. Kita harus mengurung diri di rumah. Tiga penduduk di sebelah timur dan selatan juga menjadi korban. Kita tak boleh keluar!”

Kepala dusun ini akhirnya sadar. Ia melihat keadaan anak isterinya itu, yang begitu siuman langsung saja menjerit-jerit. Dan ketika suasana di dalam rumah riuh rendah tak kalah dengan yang di luar, srigala-srigala itu menyalak dan berlarian kesana-sini mencari korban maka kegagalan mereka tak mampu memasuki rumah ini dilampiaskan dengan ke kandang-kandang ayam atau kambing. Bahkan, kerbau atau sapi yang bertubuh besar juga mereka serang. Dusun itu porak-poranda oleh amukan binatang jahat ini. Dan ketika semalam mereka membuat kacau dan geger seisi dusun, pergi setelah matahari menampakan sinarnya maka penduduk bertangis-tangisan dan korban segera dihitung.

Ternyata sembilan nyawa hilang. Ayam dan kambing jangan ditanya lagi, ludas. Puluhan kerbau dan sapi yang tadinya di dalam kandang juga cerai-berai tak keruan. Belasan di antaranya menggeletak di jalan-jalan, tinggal kepala atau tulang-belulangnya saja. Dan ketika hari itu dusun ini berkabung dan Lam-chungsu serta semua penduduknya bercucuran air mata, isteri kepala dusun masih menjerit dan melolong-lolong kehilangan putera tertuanya maka tak ada mayat yang dikubur karena semua habis dilalap hewan-hewan liar itu.

“Tempat ini berbahaya, aku ingin pindah!” seorang penduduk tiba-tiba berkata.

“Benar,” yang lain tiba-tiba menyahut. “Aku juga ingin pindah, A-kiu. Aku ingin menyelamatkan anak isteriku!”

“Aku juga.”

“Aku juga!”

“Hm!” Lam-chungcu mengerutkan alisnya. “Kalau kita pindah mau pindah kemana? Kalau mau pindah maka harus ke kota, saudara-saudara. Tapi kita harus memberi tahu dulu pejabat yang bersangkutan dan melapor. Nanti tak ada tempat untuk kita!”

“Aku mau ke tempat saudaraku di dusun Bhe-chung. Nanti kalau aman baru kembali.”

“Dan aku juga ke dusun Kek-hwa-chung. Di sana ada seorang pamanku yang tinggal sendiri!”

“Hm, tidak ke kota?”

“Tidak, kami masih memiliki saudara-saudara di desa, chungcu. Masuk ke kotapun jangan-jangan hanya akan disambut sinis dan congkaknya mereka. Nanti kita dianggap mengganggu!”

“Baiklah,” sang kepala kampung tak dapat menolak, “Tapi apakah kita tidak berusaha untuk mempertahankan kampung halaman ini kalau binatang-binatang itu datang lagi. Dengan bersatu dan berkumpul di satu tempat barangkali kita dapat membunuh srigala-srigala itu.”

“Hewan-hewan itu terlampau beringas, ia tak takut manusia,” orang pertama menggeleng, ngeri. “Aku lebih baik pindah saja, chungcu. Mencari tempat aman dan tenang di tempat lain. Hewan-hewan itu seperti iblis!”

“Benar,” yang kedua menyahut. “Aku juga ngeri, chungcu. Lebih baik pindah dan aman di tempat lain. Anak isteriku tak mau aku menjadi korban!”

Sebagian besar mengangguk. Mereka rata-rata berkata begitu dan kepala kampung tak dapat berbuat apa-apa. Baginya, lebih baik menghadapi srigala-srigala itu dengan bersatu-padu. Semalam mereka tak ada di satu tempat dan inilah kekalahan mereka. Kalau semua berkumpul di satu tempat dan sama-sama menghalau binatang itu kemungkinan tak akan terjadi musibah ini. Tapi karena mereka tak mau dan pilih angkat kaki, ternyata separuh dari jumlah penduduk memilih “hengkang” maka hari itu juga Lam-chungcu memandangi kepergian penduduknya dengan mata muram.

Dia sendiri tak ikut karena tak mempunyai saudara di tempat lain. Ada juga saudaranya tapi jauh dari situ, padahal dia adalah kepala dusun. Dan ketika yang pergi berkata bahwa mereka akan kembali kalau keadaan benar-benar tenang, di kiri kanan mereka terdapat dusun-dusun Bhe-chung dan Kek-hwa-chung serta beberapa dusun lagi maka berangkatlah mereka itu dengan tangis dan air mata yang masih bercucuran.

Malam itu tak ada apa-apa di tempat ini sampai keesokan harinya. Lam-chungcu telah mengerahkan sisa-sisa penduduknya untuk berkumpul di sekitar rumahnya di malam hari. Kalau hewan-hewan liar itu datang lagi maka mereka sembilanpuluh delapan laki-laki akan bergerak dan menghadapi. Hal begini dirasa memadai. Tapi ketika keesokannya para pengungsi yang kemarin pergi mendadak datang lagi, bertangis-tangisan bersuara riuh maka kaget dan tertegunlah Lam-chungcu mendengar apa yang terjadi, bahwa dusun-dusun sekitar juga diserang gerombolan srigala-srigala itu, juga berjatuhan korban!

“Celaka, saudaraku di Bhe-chung tewas. Ia diserang srigala-srigala liar itu. Aku tak dapat tinggal di rumahnya!”

“Dan aku juga. Pamanku di Kek-hwa-chung menjadi korban, chungcu. Ia diterkam dan dicabik-cabik binatang itu. Tubuhnya tak utuh manusia!”

Kepala dusun tertegun. Orang-orang yang kemarin berpergian muncul satu per satu. Semua bercerita bahwa di dusun-dusun lainpun nasibnya sama. Pada malam itu ratusan anjing ganas menyerbu mereka. Bhe-chung dan Kek-hwa-chung porak-poranda dan korban manusia berjatuhan. Dan ketika mereka mengguguk dan tersedu-sedu menceritakan kematian saudara atau paman mereka, satu demi satu kembali dengan wajah sembab maka Lam-chungcu menarik napas dalam-dalam dan tak ada jalan lain kecuali mengajak warganya ini tinggal.

“Sudahlah, kemarin sudah kuberi tahu agar tak usah meninggalkan dusun. Tinggal di sini saja dan kita berkumpul lagi seperti biasa. Semalam tak ada apa-apa, tempat ini rupanya aman.”

“Tapi aku takut...” orang pertama itu gemetaran. “Hewan-hewan itu ganas sekali, chungcu. Bagaimana kalau tiba-tiba ia datang lagi!”

“Kau tinggal saja di rumahku. Biar kami yang lain menghalau.”

“Tapi sawah dan kebunku tak berani kutengok,” orang lain berkata. “Aku jadi takut kalau-kalau diserang mereka!”

“Siang hari tak mungkin srigala-srigala itu keluar. Ia semalam telah kekenyangan.”

“Atau kita lakukan saja semua pekerjaan secara bersama-sama.” Seseorang tiba-tiba berseru, gemas. “Kemanapun seorang pergi ke situ pula yang lain ikut, A-kiang. Kau tak perlu khawatir dan tinggal saja seperti biasa!”

“Nah, kau dengar itu,” Lam-chungcu mengangguk-angguk. “Sekarang tak perlu takut, A-kiang. Tinggal dan tetaplah bersama kami.”

Orang itu berbinar. Yang lain yang merasa lega lalu mengangguk. Kalau ke mana-mana selalu bersama berarti keamanan mereka terjamin. Ini lebih baik. Dan ketika hari itu mereka kembali dan berkumpul bersama, Lam-chungcu sibuk mengatur rakyatnya maka masing-masing yang tak mau berjauhan tiba-tiba ingin tinggal di tempat Lam-chungcu yang tentu saja menjadi penuh sesak. Kepala dusun ini menarik napas dalam-dalam tapi hal-hal menjengkelkan mulai terjadi, khususnya pada penduduknya yang berjiwa penakut ini.

Karena ketika mereka mulai ingin ini-itu, mandi misalnya, maka yang lain harus mengantar dan menunggui. Begitu juga kalau mereka ingin ke sungai untuk buang hajat. Bahkan, ingin kencingpun harus ditunggui. Semua harus bergerak mengantar! Dan ketika semua itu membuat gemas tapi juga geli yang lain, Lam-chungcu geleng-geleng maka malam itu tak terjadi apa-apa begitu pula dengan malam berikut dan berikutnya lagi. Tiga malam berturut-turut dusun ini tenang dan rakyatpun mulai lega.

Kalau begini untuk seterusnya maka amanlah mereka. Apalagi selama tiga malam ini pula di Hutan Iblis tak terdengar raung atau lolong srigala itu, aneh. Namun ketika pada malam keempat mereka mulai berani dan satu dua keluar sendirian, untuk kencing atau keperluan lain mendadak terdengar jeritan tinggi ketika tiba-tiba raung atau salak itu bergemuruh di luar rumah.

“Guk-gukk... auunggg...guk-gukk... auunggg!”

Panik dan gemparlah rakyat Lam-chungcu. Mereka yang telah tiga malam tak mendengar suara-suara ini lagi mendadak pucat dan seketika menjerit. Dua orang yang keluar rumah tiba-tiba berteriak di muka pintu, lari dan masuk tapi dua ekor srigala menggigit kakinya. Orang ini sampai tak tahu bahwa iapun masuk berikut srigala-srigala itu, yang menggigit dan tak melepaskan kakinya. Dan ketika semua menjadi gempar di luar itu riuh sekali, pintu yang lupa ditutup menjadi serbuan binatang-binatang ini maka Lam-chungcu berubah melihat hewan-hewan itu, tak terbendung.

“Ambil senjata! Tutup pintunya. Tutup! Awas, serang!”

Anak-anak dan wanita menjadi histeris. Mereka inilah yang pertama kali menjerit dan memekik-mekik. Para ibu yang tadi menidurkan anaknya tiba-tiba menelungkup dan melindungi. Rumah Lam-chungcu yang sudah sesak menjadi sesak. Hewan itu melompat di mana saja yang dapat dilompati. Lemari dan tempat tidur bukan menjadi halangan dan tiba-tiba ratusan srigala sudah riuh di dalam rumah. Mereka beringas dan menyerang siapa saja. Tua muda digigit. Wanita dan anak-anak juga digigit. Dan ketika bayi-bayi merah juga disambar dan dibawa lari, sang ibu menjerit dan berteriak-teriak kalap maka ibu yang timbul marah dan keberaniaannya ini mengejar.

Ruangan yang penuh sesak membuat binatang itu tak dapat berlari jauh, menyelinap dan bersembunyi di kolong meja tapi sang ibu menerkam dan akhirnya bergumullah dua mahluk itu dengan serunya. Sang ibu menggigit dan mencakar-cakar pula. Dan ketika pertarungan itu menjadi pertarungan mati hidup antara manusia dan srigala, sang ibu cabik-cabik tapi sang srigala juga kena pukulan bertubi-tubi maka ibu yang sudah menyambar alat pemukul ini menghantam lawannya dengan beringas.

Di sana Lam-chungcu dan anak buahnya yang lain juga bertarung mati hidup. Srigala-srigala ini seperti mahluk kesetanan dan mencium bau darah mereka menjadi semakin jahat saja. Tapi perlawanan segenap penduduk menjadikan srigala-srigala ini kewalahan, mereka tak dapat lagi mengeroyok melainkan seorang berhadapan seorang maka dua ratus srigala menghadapi juga dua ratus penduduk. Dan bukan main ramainya hiruk-pikuk di rumah Lam-chungcu ini.

Jerit dan raung jatuhnya korban sama-sama mendirikan bulu roma. Lam-chungcu dan rakyatnya menjadi ngeri dengan keberanian hewan-hewan ini. Mereka bergerak bagai sekumpulan anjing gila menyerang manusia. Kalau belum roboh masih juga melakukan perlawanan, membalas! Namun karena Lam-chungcu dan penduduknya mempunyai senjata, pentungan dan golok atau alat apa saja digunakan untuk menyerang hewan-hewan itu maka srigala roboh satu demi satu dan ketika separuh lebih terkapar menjadi mayat tiba-tiba terdengar raung panjang yang bergema dahsyat di luar rumah.

Raung itu menggetarkan dinding namun anehnya binatang-binatang ini tiba-tiba berloncatan. Mereka berlarian keluar meninggalkan korban-korbannya. Dan ketika Lam-chungcu jatuh terduduk sementara kaki tangannya luka-luka, sebagian besar penduduknya juga begitu maka srigala lenyap dan ngerilah kepala dusun ini melihat apa yang ditinggalkan.

Seratus bangkai bercampur aduk dengan puluhan mayat di situ, terutama anak-anak dan beberapa orang-orang tua mereka. Ibu yang pertama kali bergumul di kolong meja mandi darah meskipun selamat, anaknya yang masih merah tak tertolong karena sudah tewas digigit srigala musuhnya itu, yang kini juga menjadi bangkai dengan kepala pecah. Dan ketika di sana-sini darah dan ceceran daging membuat orang serasa muntah, perut dikocok oleh rasa mual yang sangat maka ibu-ibu menjerit dan bertangisan melihat anak atau suami mereka menjadi korban.

Malam itu benar-benar malam petaka tapi Lam-chungcu, cepat bekerja membersihkan tempat itu. Penduduk yang telah bertarung mati hidup membantunya. Dan ketika semalam tak dapat tidur karena tangis dan teriakan melengking di sini, mereka yang kematian anak atau suaminya histeris semalam suntuk maka Lam-chungcu memutuskan bahwa besok dia akan membawa penduduknya pindah.

Di sana ada kota Ci-bun dengan Wo-taijin sebagai kepala daerahnya. Di sinilah dia akan berlindung sekaligus melapor. Laki-laki di situ mengangguk dan setuju. Tapi ketika keesokannya geram dan salak-salak pendek terdengar di luar, semua terkejut dan melihat keluar ternyata sisa-sisa srigala semalam ada di situ, mengurung atau mengepung rumah itu. Mata mereka juga beringas memandang ke dalam.

“Keparat, hewan-hewan terkutuk! Kita bunuh mereka!”

Namun hewan-hewan itu tak takut. Justeru ketika seseorang menyambar dan mengamang-amangkan senjatanya mereka yang semula berputar-putar sekonyong-konyong berhenti, tegak dan marah memandang orang itu dengan gigi menyeringai. Tantangan ternyata disambut tantangan! Dan ketika orang itu tertegun sementara Lam-chungcu cepat mencengkeram lengannya, mencegah, maka Lam-chungcu berkata bahwa biarlah sementara ini mereka tak usah keluar. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup rapat-rapat.

“Kita masih lelah, perlu istirahat. Biarkan mereka di sana dan jangan hiraukan!”

Sehari itu mereka saling intai. Lam-chungcu memang lelah dan dia harus menenangkan juga para wanita yang histeris. Semalam mereka kebobolan karena dua di antara mereka membuka pintu. Dan ketika jendela dan pintu ditutup rapat-rapat, tak mungkin hewan-hewan itu masuk maka semua di dalam rumah meskipun hati selalu was-was dan malam itu lewat tanpa kejadian sesuatu.

Hari kedua juga tak ada apa-apa seperti pada hari ketiga dan keempat. Srigala-srigala itu masih tetap di sana, tapi seseorang yang melihat betapa srigala-srigala ini bertambah banyak, jumlahnya kian meningkat mendadak pucat. Ia menuding dan memberi tahu chungcu tentang hal ini. Dan ketika Lam-chungcu menghitung dan memperhatikan maka wajah kepala dusun ini juga berubah karena perlahan tetapi pasti jumlah anjing-anjing ganas itu bertambah.

“Tiga ratus ekor! Astaga tiga ratus ekor!”

Semua tersentak. Anjing-anjing liar yang tahan berjaga-jaga itu ternyata sedikit demi sedikit memanggil teman-temannya. Raung atau lolong mereka yang sekali-sekali ternyata merupakan isyarat bagi semuanya itu. Dan ketika di balik sepatang pohon muncul seekor srigala berbulu hitam, dengan garis putih di punggung maka semua tergetar melihat betapa besarnya srigala ini. Seekor srigala jantan yang tingginya sebesar anak lembu!

“Ggrrr!” hewan itu mengeluarkan suaranya ketika diamati Lam-changcu dan orang-orangnya itu. Dia balas memandang dan memperlihatkan taringnya dan siapapun ngeri bertatap pandang. Ada semacam kewibawaan dan juga kegagahan pada hewan yang satu ini. Pandang matanya jauh lebih tajam dibanding yang lain-lain, juga lebih cerdik. Dan ketika geraman itu disusul oleh geraman srigala-srigala lain, yang berdiri dan tegak di samping srigala raksasa ini maka para ibu menjerit dan menutupi mukanya.

“Kita akan mati, ah, kita akan mati!”

“Tenang.” Lam-chungcu menekan debaran jantungnya sendiri. “Mereka tak dapat menyerang kita, ibu-ibu. Tak usah kalian melihat dan berlindung di dalam saja. Kami akan mencari akal,” dan menghadapi kaum lelakinya kepala dusun ini bertanya. “Apa yang harus kita lakukan. Bagaimana baiknya.”

“Kita terjang mereka, bunuh!”

“Tidak, biar di sini saja, chungcu. Biarkanlah mereka di sana sampai pergi sendiri!”

“Mana mungkin!” orang pertama berseru. “Mereka bisa terus bertambah banyak, A-kiang. Dan kita nanti tak dapat mengatasinya lagi. Lebih baik sekarang dan bertarung mati hidup!”

“Tapi... tapi...”

“Tapi kau penakut. Bisamu sembunyi melulu dan membiarkan kami berjuang mati-matian. Mana setia kawanmu dan bantuanmu kepada kami!”

“Sudahlah, sudah..” Lam-chungcu mulai melihat pertikaian ini. “Tak baik bermusuhan antar kita sendiri, Hek Bu. Pendapatmu kuterima tapi bagaimana dengan yang lain-lain.”

“Kami setuju,” yang lain mengangguk, di samping melihat benarnya kata-kata Hek Bu juga tak mau disemprot sebagai orang penakut, tak bersetia kawan. “Kami melihat benarnya kata-kata Hek Bu, chungcu. Dan kami tak mau hewan-hewan itu bertambah jumlahnya. Kami siap menyerang sekarang!”

“Benar, tapi bagaimana dengan wanita dan anak-anak yang masih tinggal. Apakah tak perlu dipikirkan juga mereka itu,” seseorang tiba-tiba berkata.

“Maksudmu!”

“Sudah kita putuskan bahwa kita akan ke kota. Sekalian menyerang sekalian kita bawa wanita dan anak-anak itu. Mereka bisa dimasukkan gerobak atau pedati dan ditarik oleh empat atau lima orang di antara kita!”

Lam-chungcu tertegun. Orang ini segera berkata bahwa tak baik berlama-lama tinggal di situ. Ternak atau hewan-hewan piaraan mereka sudah cerai-berai dan biarlah wanita dan anak-anak dimasukkan gerobak. Empat atau lima laki-laki menjadi penariknya dan begitu bergerak begitu mereka pergi. Hari masih siang dan jauh lebih baik menyerang sekarang daripada malam nanti. Dan ketika semua mengangguk-angguk dan setuju dengan pendapat ini maka semua laki-laki mencabut senjatanya dan membagi tugas.

“Enam gerobak ada di belakang rumah Tu King. Kita ambil dan lindungi gerobak itu sampai ke sini. Yang lain menyerang dan membunuh binatang-binatang itu!”

“Baik,” Lam-chungcu mengusap goloknya, bersinar-sinar. “Sekarang mari keluar, saudara-saudara. Tutup pintunya lagi dan kita bergerak!”

Wanita dan anak-anak disuruh tenang. Mereka dikumpulkan di ruang dalam dan hujan tangis kembali datang. Keluarnya kaum laki-laki berarti keluarnya menyambut maut. Tapi karena tak ada jalan lain dan itu adalah jalan terakhir maka Lam-chungcu melompat dan sekali ia bersama pembantunya membuka pintu maka berhamburlah para lelaki ini menerjang kelompok srigala. Hek Bu telah berteriak bahwa ia akan menghadapi si hitam. Laki-laki tinggi besar ini membawa dendam kesumat yang besar. Dan begitu orang-orang itu menyerbu maka segerombolan srigala terkejut. Tapi mereka menyalak dan menyambut pula.

Tombak dan golok yang menyambar mereka disambut gigitan dan cakaran buas. Si hitam, yang beringas dan gagah di tempat dan tiba-tiba mengeluarkan raungnya yang dahsyat. Kiranya binatang inilah yang beberapa malam yang lalu memanggil teman-temannya. Dan begitu ia melompat dan menerjang ke depan maka ia menggigit dan menyerang pula Lam-chungcu dan kawan-kawannya.

Terjadilah pertarungan mati hidup. Lam-chungcu berteriak-teriak agar yang mendapat tugas menggambil gerobak dapat melaksanakan pekerjaannya. Kepala dusun itu sendiri sudah membabat dan membacokkan goloknya dengan beringas. Tapi karena perlawanan para srigala juga tak kalah sengit dan buas, moncong mereka menyerbu dan masuk di sela-sela pertempuran maka pembantu kakek ini ada yang roboh dan terguling. Dan inilah yang mengerikan. Srigala-srigala itu menggigit dan mencabik-cabik mangsanya, digebuk tapi yang lain datang lagi. Dan ketika semua menjadi riuh dan kacau, bentakan diiringi raungan maka Hek Bu berhadapan dengan srigala hitam besar itu.

Laki-laki ini sengaja mencari lawannya dan tombak ditangannya menusuk. Tapi ketika si hitam itu berkelit dan pandai mengelak, ditusuk dan mengelak lagi maka laki-laki ini terkejut karena secepat kilat lawan sudah menerkam dan menyerangnya. Lompatannya bagai seekor harimau kelaparan yang kuat dan cepat.

“Brett!”

Baju dan daging pundak laki-laki itu terobek. Hek Bu berteriak tapi si hitam sudah membalik, taringnya diperlihatkan dan melompat lagi dengan buasnya. Dan ketika laki-laki itu menusuk tapi kaki depan binatang ini menampar, tombak meleset maka Hek Bu kaget bukan main karena si hitam ternyata hewan terlatih yang dapat bertempur! Selanjutnya laki-laki itu kaget dan berteriak berulang-ulang karena kalah cepat. Tergigit dan luka lagi dan laki-laki ini panik. Dan ketika tombak menusuk tapi ditangkap, ya si hitam itu dapat menangkap dan berayun di batang tombaknya maka Hek Bu melolong ketika pipi kanannya tergigit.

“Aughh!” Jeritan itu disusul robohnya laki-laki ini. Hek Bu melepaskan tombaknya karena badan binatang yang hinggap di batang tombaknya tadi tak kuat dipikul. Si hitam melompat dan sudah menyerang mukanya. Dan ketika laki-laki itu bergulingan dan lawan menggigit dan mengejar, sebentar kemudian laki-laki ini berteriak dan menjerit-jerit maka Hek Bu adalah korban pertama dari srigala tinggi besar ini. Laki-laki itu menutupi mukanya tapi perut kemudian robek, menutupi perut tapi leher kemudian robek. Dan ketika Hek Bu mengelepar dan menjadi kesakitan, si hitam menerkam dan menggigit lehernya untuk yang kedua kali maka.... krek, putuslah leher itu oleh taring sekuat baja.

Si hitam menyambar kepala laki-laki ini dan selanjutnya ia menerjang Lam-chungcu dan kawan-kawannya, menggigit dan menyambar lagi kepala itu untuk ditunjukkan kepada lawan-lawannya. Dan ketika Lam-chungcu tersentak dan yang lain pucat, serbuan srigala tinggi besar ini menggetarkan nyali mereka maka Lam-chungcu dan anak buahnya panik dan saat itu robohlah satu demi satu mereka ini oleh kegarangan dan keganasan binatang itu.

Apalagi ketika golok atau tombak tak dapat melukai binatang ini. Semua senjata yang mengenai tubuhnya terpental. Binatang itu ternyata kebal! Dan ketika Lam-chungcu pucat dan anak buahnya bergelimpangan maka enam gerobak datang dan kepala dusun ini berteriak agar kaum wanita dan anak-anak cepat meloncat masuk.

“Cepat! Masuk... masuk! Lari... lari dari sini!”

Wanita dan anak-anak menjerit. Lam-chungcu dan belasan orang kawannya mencegah srigala-srigala itu. Golok dan tombak di tangan mereka bekerja terus-menerus. Tapi karena si hitam adalah yang paling berbahaya dan kebal terhadap semua bacokan senjata tajam, hewan itu juga terlatih dan dapat bertempur seperti manusia maka terhadap hewan inilah Lam-chungcu memusatkan perhatiannya. Ia menubruk dan menerkam dan mati-matian menahan.

Gerobak pertama lewat dan lolos. Disusul oleh gerobak kedua dan ketiga. Para penariknya jatuh bangun berteriak-teriak. Roda pedati diseret dan berdetak menemui batu-batu. Tapi ketika pada gerobak keempat kakek ini tak dapat menahan, si hitam mengeluarkan raung dahsyat yang membuat wanita dan anak-anak pingsan maka srigala tinggi besar itu menerkam dan menubruk Lam-chungcu. Kakek ini mengelak tapi kena terkam, golok membacok tapi mental. Dan ketika mulut srigala itu menyambar lehernya, menggigit dan menarik maka Lam-chungcu roboh dengan kepala putus. Darah seketika menyemprot bagai pancuran!

“Crat!”

Bagai diterkam mulut buaya saja kepala kakek itu terpenggal. Si hitam meraung dan melempar kepala ini kepada teman-temannya, menyerang dan menubruk lima penarik gerobak. Dan ketika mereka pontang-panting dan melepas pegangan, gerobak berhenti dan wanita serta anak-anak terlempar keluar, gerobak itu miring menyentuh tanah maka jerit dan teriakan menjadi satu dengan raung dan pekik girang srigala-srigala kelaparan itu. Mereka menyerbu dan menggigit dan celakalah wanita serta anak-anak di sini. Isi gerobak ini berjatuhan.

Dan ketika gerobak kelima dan keenam juga diserbu, srigala hitam yang tinggi besar itulah pemimpinnya maka semua tunggang-langgang dan menyelamatkan diri sendiri-sendiri. Para penariknya lintang-pukang dan mereka ngeri melihat kehebatan si hitam ini, srigala tahan bacok dan buas, juga yang pandai menangkis serta menampar senjata-senjata tajam, tak ubahnya manusia-manusia yang pandai bertempur. Dan ketika semua tunggang-langgang namun srigala yang lain mengejar, menggigit dan menyerang maka dusun Lam-chung benar-benar mengalami musibah dan tiga gerobak ini isinya direncak.

Darah dan daging berceceran. Ratusan srigala itu menyalak-nyalak dan mereka masih juga mengejar tiga gerobak pertama. Dua di antaranya kembali jatuh. Hal ini karena para penariknya tunggang-langgang. Dan ketika hanya gerobak paling depan saja yang selamat, itupun karena mereka sudah paling jauh maka geger di dusun Lam-chung menjadi berita di kota Ci-bun.

Wanita dan anak-anak yang selamat ini langsung pingsan. Lima penariknya, yang mandi keringat dan robek menerjang onak atau duri juga roboh di gedung Wo-taijin, hanya satu saja yang sempat bercerita lalu roboh. Di samping ngeri juga karena capainya. Seluruh tenaga terasa habis dipakai melarikan diri ini. Dan ketika semua gempar dan ngeri oleh kisah di dusun itu, terutama oleh adanya srigala hitam tinggi besar yang kebal bacokan senjata tajam maka orang-orang Ci-bunpun menjadi takut dan komandan keamanan tak berani menolong!

Komandan ini berkata tak masalah sia-sia mengantarkan nyawa. Yang tewas di sana tak mungkin diselamatkan lagi. Wanita dan anak-anak yang sudah datang di situ biarlah menjadi tanggungan mereka. Dan ketika anak buahnya juga mengangguk dan tak berhasrat menjadi petualang, kisah ini cukup mendirikan bulu roma maka kejadian di dusun Lam-chung tak dihiraukan pejabat dan dibiarkan saja!

* * * * * * * *

Pagi itu pembicaraan hangat tentang peristiwa di dusun Lam-chung masih menjadi bahan pembicaraan orang. Seminggu sudah peristiwa itu berlalu dan ada yang pro atau kontra dengan sikap yang diambil komandan keamanan ini. Yang kontra tentu saja yang menganggap komandan itu pengecut dan tidak bertanggung-jawab. Rakyat menjadi korban namun didiamkan saja. Sedangkan yang pro, yang ngeri oleh kejadian itu adalah orang-orang kebanyakan yang celakanya didukung oleh sebagian besar penduduk Ci-bun. Cai-ciangkun, komandan itu, terang-terangan menyuruh yang kontra menggantikan pengawalnya untuk menghadapi srigala dari Hutan Iblis. Siapa yang dapat membasmi diberi hadiah seribu tail emas, berikut sebuah rumah bagus di Ci-bun.

Dan ketika orang-orang yang kontra ini coba meraih hadiah dan pergi tapi tidak kembali lagi, kengerian cerita itu semakin bertambah maka tujuh hari ini kisah srigala hitam yang tahan bacokan senjata tajam menjadi buah bibir. Cai-ciangkun menjanjikan pangkat kedudukan lagi bagi yang dapat menangkap atau membunuh srigala kebal itu. Tapi karena cerita sudah tersiar sedemikian rupa, srigala itu adalah penjelmaan iblis dan tak mungkin ditangkap apalagi dibunuh maka rumah-rumah makan dan toko-toko di Ci-bun penuh dengan cerita ini.

Dan hari itu datanglah sepasang pria dan wanita gagah di Ci-bun. Pria ini membawa pedang di punggungnya dan jelas dia adalah seorang ahli silat. Sementara wanita itu, yang cantik dan rambut digelung tinggi diajaknya memasuki rumah makan Lo-lo-ha. Dengan halus dan mesra pria ini mempersilahkan temannya duduk di kursi kosong, di meja yang telah mereka pilih. Lalu ketika iapun duduk dan memesan makanan, pelayan datang dengan wajah berbinar maka pria dan wanita itu menunggu pesanan mereka. Dan di sinilah mereka mendengar kejadian di dusun Lam-chung.

Si pria berkerut kening sementara wanitanya menjadi merah. Percakapan para tamu didengar secara tak sengaja tapi itu cukup membuat mereka bereaksi. Karena ketika pelayan datang mengantarkan makanan, dengan penampan penuh masakan maka si wanita mendahului dan bertanya,

“Bung pelayan, di manakah dusun Lam-chung itu? Dan benarkah cerita tentang srigala kebal itu?”

“Ah, hujin pendatang baru? Pantas, aku sudah menduga. Dusun Lam-chung berada sekitar tujuh puluh li dari sini, hujin. Dan cerita tentang srigala iblis itu memang benar. Beberapa orang dari kami sudah ke sana dan coba membunuh penjelmaan iblis itu tapi malah tak kembali, tewas dimangsa srigala siluman itu!”

“Hm, tujuh puluh li? Arah barat atau timur?” si pria kini bertanya.

“Arah selatan, taihiap. Dan barangkali taihiap mau coba-coba meraih hadiah Cai-ciangkun!”

“Hadiah apa itu,” si pria belum mendengar ini. “Kenapa pakai hadiah segala.”

“Ah, Cai-ciangkun dan pasukannya tak berani menangani kasus ini. Srigala-srigala itu bukan binatang-binatang biasa, melainkan mahluk jejadian. Kalau ada di antara orang gagah yang bisa menangkap atau membunuh srigala itu, terutama pemimpinnya maka Cai-ciangkun menjanjikan rumah dan seribu tail emas, juga kedudukan!”

“Hm, kami tak memburu hadiah!” kini si wanita mendesis dan sebal. “Terima kasih, bung pelayan. Pergilah dan jangan ganggu kami lagi!”

Pelayan itu meleletkan lidah. Sebagai orang yang banyak menerima tamu tentu saja pelayan ini tahu bahwa tamunya kali ini bukanlah tamu biasa. Ci-bun meskipun tidak begitu besar namun sekali dua dilewati juga oleh orang-orang gagah macam suami isteri ini, untuk dipakai meneruskan perjalanan bagi orang-orang kang-ouw itu. Maka ketika ia mundur dan pasangan ini bercakap-cakap, yang wanita bersinar dan tampak marah maka nyonya ini mengepalkan tinju.

“Agaknya perjalanan kita dibelokkan dulu. Bagaimana kalau kita melihat Hutan Iblis itu dan menghajar binatang-binatang keparat itu!”

“Benar, aku juga begitu, niocu. Tapi apakah tidak terlalu lama ditunggu Li-moi (adik perempuan Li). Jangan-jangan adikmu itu sudah tak sabar menunggu kita!”

“Hm, tujuhpuluh li saja tidak jauh. Satu dua jam sampai.”

“Tapi pagi ini kita ditunggu mereka,” sang suami memotong. “Bagaimana kalau terlambat. Apakah tidak ke sana dulu dan nanti bersama Su Tong kita ke Hutan Iblis ini.”

“Eh, kau takut?” sang isteri terbelalak. “Kenapa mengajak orang lain segala?”

“Hm, bukan takut,” pria gagah ini tersenyum, tidak marah. “Melainkan sekedar mengajak saudaraku ikut mengalami petualangan, niocu. Tentu dia senang diajak ke situ.”

“Aku ingin ke sana dulu, melihat srigala siluman itu!”

“Kalau begitu akupun tidak memaksa. Mari, kita berangkat,” pria ini meletakkan cawan minumannya, selesai menghabiskan hidangan di atas meja dan dalam bercakap-cakap itu mereka tidak sampai kedengaran yang lain. Agaknya pasangan ini orang-orang yang tak suka kesombongan dan mereka orang-orang rendah hati. Dan ketika pelayan dipanggil dan diminta menghitung rekeningnya maka pelayan bertanya apakah mereka mau ke Hutan Iblis.

“Ah, taihiap dan hujin tampaknya tergesa-gesa. Agaknya ke tempat itu!”

“Hm, kami masih banyak urusan,” si pria menggeleng dan tak mau diketahui urusannya. “Hitung berapa rekening kami, pelayan. Dan terima kasih untuk pelayanmu.”

Pelayan itu menyeringai. Ia menghitung suatu jumlah dan laki-laki ini melempar dua keping perak, diterima dan pelayan berseri-seri mengucap terima kasih, mengantar dan menyimpan kelebihan uang itu untuknya. Namun ketika sang tamu mengibaskan lengannya dan pelayan ini terdorong kembali, tak mau diantar maka pelayan itu berteriak kaget karena dua tamunya ini tiba-tiba berkelebat dan lenyap.

“Heii... ah! Ke arah selatan, jiwi enghiong. Hutan Iblis di sebelah selatan!”

Para tamu menengok. Tadi mereka juga melihat suami isteri gagah itu namun tidak menghiraukan lagi. Kini tiba-tiba pelayan berteriak dan terjengkang. Dan ketika mereka terkejut tetapi geli, pelayan itu bangun dan berlari-lari ke depan maka ia berteriak-teriak bahwa Hutan Iblis letaknya di selatan. Dan orang-orangpun terbelalak, kaget. Lalu ketika mereka bertanya apa yang dimaksud pelayan itu maka pelayan ini menuding.

“Dua orang gagah itu akan membunuh srigala siluman. Tadi mereka bertanya-tanya kepadaku tentang tempat dan kejadiaannya!”

“Hm, begitu! Mudah-mudahan selamat!” seorang tamu lain berseru.

“Dan sayang kalau tidak, isterinya masih cantik meskipun sudah agak berumur. Ah, mereka mencari penyakit!” kata yang di tengah.

Dan pembicaraanpun tiba-tiba berkisar pada suami isteri ini. Mereka yang tadi mengetahui wajah pasangan ini segera menduga-duga siapa gerangan pria dan wanita gagah ini. Mereka tak pernah melihat dan heran sendiri, meskipun merasa kagum dan memuji. Dan ketika mereka bicara sendiri tentang pria dan wanita itu maka yang bersangkutan sudah tertawa dan meluncur meninggalkan Ci-bun dengan ilmu lari cepat mereka, ke arah selatan.

“Ha-ha, kita akan mendapat petualangan baru. Baru kali ini aku mendengar binatang yang kebal bacokan senjata tajam!”

“Tapi aku sebal dengan pelayan di rumah makan itu. Ia membongkar rahasia perjalanan kita, Han-ko. Orang lain jadi tahu!”

“Ha-ha, biarlah. Yang penting kita sudah kenyang dan kini akan mencari binatang aneh itu. Ayo, berlomba cepat...!”

Tapak Tangan Hantu Jilid 01

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 01
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
RAUNG dan lolong srigala pecah lagi di hutan itu. Hutan Iblis, demikian orang menamainnya, sudah seminggu ini penuh dengan lolongan dan raungan srigala. Suaranya menggeletar menguak isi hutan, panjang dan bersahut-sahutan bagai nyanyian maut di tempat iblis. Tapi ketika terlihat cahaya kilat berkelebat dan meledak di tengah hutan itu, suaranya juga menggelegar maka raung atau lolong srigala padam, bagai api disiram air. Aneh, apa yang terjadi?

Orang tak tahu. Yang jelas, tujuh hari berturut-turut ini di dalam Hutan Iblis terdengar suara-suara menyeramkan yang membuat bulu tengkuk berdiri. Sebelum lolong atau raung srigala itu mulai, menjelang tengah malam, biasanya terdengah dulu rintihan-rintihan atau suara mirip orang mengerang. Lalu disusul oleh jerit atau tawa-tawa liar. Kemudian oleh bentakan-bentakan yang kesemuanya itu tidak tampak dari luar hutan.

Kalaupun ada orang menyelidiki, di dalam hutan ini tidak ada apa-apanya, artinya tak ada penghuni atau manusia yang tinggal. Tapi karena di hutan itu memang dikenal sebagai Hutan Iblis, hutan angker yang menyeramkan yang ditinggali oleh sebangsa demit atau roh-roh jahat yang sedang menjalani siksaannya, di tengah hutan ini terdapat sebuah pohon raksasa yang puncaknya menjulang tinggi, terlihat dari luar hutan maka pohon atau tengah hutan ini dipercaya oleh penduduk sekitar sebagai biang atau tempat tinggal iblis, kerajaan para setan dan dedemit!

Dan keangkeran atau keseraman hutan ini ditambah lagi dengan hilangnya tujuh orang dusun yang tadinya penasaran dan ingin menyelidiki suara-suara di dalam hutan itu. Perbuatan yang diakhiri dengan tidak kembalinya orang-orang dusun itu, para lelaki muda yang memiliki sedikit keberanian!

Dusun Lam-chung, yang berada tiga kilometer di sebelah timur Hutan Iblis memiliki tujuh lelaki muda yang tergolong berani. Mereka ini merasa penasaran dan marah oleh suara-suara itu, begitu asal mulanya. Tapi ketika mereka hendak berangkat dan menyelidiki, telinga mereka tak tahan oleh suara yang amat mengganggu itu maka kepala dusun, Lam-chungcu, berusaha mencegah mereka.

“Tak usah kalian marah-marah pada semua suara di Hutan Iblis itu. Mereka sedang merayakan pestanya sendiri, biarlah.”

“Tapi kita terganggu, Lam-lopek (paman Lam). Setiap malam telinga kita diganggu suara-suara ini. Dan anak serta wanita-wanita tak dapat tidur. Mereka ketakutan!”

“Hm, aku tahu. Tapi hutan itu sudah lama kita kenal sebagai hutan angker. Jangan hiraukan suara- suara itu. Kalau terganggu, sumpallah telinga dan tutup rapat-rapat dengan selimut. Lolong itu sebagai tanda dimulainya kengerian. Jangan dipusingkan toh mereka tak pernah mendatangi kita.”

“Tapi kita tak tahan, anak-anak menangis!”

“Benar, dan ayah ibuku juga gemetaran sepanjang malam, lopek. Kami hanya dapat menikmati tidur beberapa jam saja setelah itu terganggu sampai pagi!”

“Hm, kalian mau tetap ke sana?”

“Kami ingin menyelidiki, paling tidak mengusir atau membunuh srigala-srigala itu. Raung atau lolong mereka mengganggu!”

“Terserahlah,” kepala dusun akhirnya menghela napas menyerah. “Kalian anak-anak muda memang berjiwa muda dan masih penuh petualangan. Hanya pesanku, jangan terlampau jauh memasuki hutan dan cukup agak di pinggiran saja.” Tujuh anak-anak muda itu berderap. Mereka sudah mengangguk dan malam itu mereka menuju Hutan Iblis. Bertujuh dan mengumpulkan keberanian begini cukup merupakan modal juga. Meskipun bulu kuduk meremang namun mereka hendak berbuat sesuatu, dan harus berbuat sesuatu. Dan ketika malam itu mereka sampai di Hutan Iblis, raung dan lolong itu belum terdengar maka yang mereka dengar adalah rintih atau erangan-erangan itu. Hal yang juga membuat tengkuk meremang!

“Sst, seperti orang kesakitan, atau sekarat...!”

“Benar, dan aku jadi ingin tahu, Tek San. Tapi letaknya jauh di dalam!”

“Dan chungcu (kepala kampung) telah memesan kita untuk tidak terlalu dalam. Bagaimana baiknya.”

Tiga pemuda, yang di depan dan paling pemberani saling berbisik sendiri. Mereka itu berindap dan melotot ke dalam namun kepekatan hutan sukar ditembus. Cahaya bintang membantu mereka namun sinarnya amatlah lemah. Bulan yang muncul sepotong juga tak banyak membantu dan kalau ingin tahu haruslah masuk ke dalam. Tapi karena chungcu atau kepala kampung telah mewanti mereka, jangan ke dalam padahal suara itu jauh di sana maka mereka tertegun dan satu sama lain bertanya,

“Kita masuk saja,sedikit ke dalam.”

“Tidakkah berbahaya?”

“Sedikit saja, Tek San tidak jauh-jauh...”

“Dan kita nyalakan obor,” seorang tiba-tiba berseru. “Tanpa penerangan tak mungkin kita masuk, Tek San. Terlalu gelap!”

“Benar, terlalu gelap. Dan hawa semakin dingin. Eh, jangan meraba-raba kakiku, A-ceng. Tanganmu dingin!”

“Siapa yang meraba kakimu. Aku di sini...”

“He, jangan membelit kakiku!” seseorang lagi tiba-tiba marah. “Kakimu dingin, Sam Pek. Jangan menambah-nambahi rasa seram!”

“Siapa yang membelit kakimu,” orang yang ditegur juga marah. “Aku di sini, A-yang, jangan menuduh!”

“Sudahlah,” Tek San, pemuda pertama melerai. “Kita tak usah bertengkar sendiri, kawan-kawan. Kita bergabung dan ada di sini karena satu tujuan, bukan untuk bertikai. Mana obor, kita gunakan obor,” pemuda itu mencari kepada temannya dan tiga orang di antara mereka tiba-tiba saling memberikan obornya.

Tujuh pemuda ini membawa tiga buah obor tapi selama perjalanan belum dipasang. Mereka masih dapat melihat jelas ketika belum memasui hutan, bantuan dari cahaya bintang atau bulan yang sepotong itu. Tapi karena mereka sekarang hendak masuk dan hutan di dalam amatlah gelap, tanpa obor tentu berbahaya maka begitu diminta tiba-tiba masing-masing sudah menyalakan obor. Tapi begitu dipasang mendadak semuanya menjerit.

“Ular!”

Tek San dan enam temannya kaget bukan main. Di dekat mereka, merayap perlahan dengan lidah keluar masuk ternyata terdapat seekor ular hijau yang mencari persembunyian. Ular ini tadi menyentuh A-yang dan seorang lagi yang dikira rabaan atau belitan temannya, karena mereka menyangka teman-teman sedang menggoda dan mungkin menakut-nakuti. Maka begitu ular dilihat dan oborpun menyala, ular itu kaget maka spontan ia mendesis dan mulutpun mematuk orang yang berada paling dekat.

“Aduh!”

Satu di antara mereka roboh, Tek San, yang mendengar jerit ini tiba-tiba berhenti. Ia pun meloncat seperti teman-temannya melarikan diri, bukan untuk pulang melainkan menyelamankan diri dari bahaya. Lima temannya yang lain juga berteriak dan tunggang-langgang. Tapi begitu jeritan ini terdengar dan mereka juga berhenti, menoleh, maka obor yang lepas disambar lagi dan mereka melihat teman mereka itu menindih ular yang baru menggigit. Rupanya ular itu tertimpa lawannya dan tergencet, menggeliat dan mematuk dan berteriak-teriaklah korbannya itu dengan kesakitan. Tapi ketika Tek San meloncat dan menghantam kepala ular dengan api obor, tepat di sasarannya maka ular itu menggeliat dan retak tengkoraknya, mati.

“Angkat A-yang, ia pingsan.”

Enam pemuda menjadi panik. Mereka melihat teman mereka itu pucat dan kebiruan mukanya. Ular ditarik dan satu diantara mereka membacok lehernya, putus dan dibuang. Dan ketika mereka sibuk menolong teman mereka itu, A-yang yang pingsan maka erangan atau rintihan di dalam hutan juga lenyap. Rupanya jeritan atau teriakan anak-anak muda ini terdengar ke dalam. Mereka tak tahu itu dan sibuk menolong. Tiga buah obor yang kini dipeganggi di atas kepala untuk menerangi A-yang dipergunakan untuk membantu keadaan.

Tek San membebat bekas gigitan ular dengan sigap, tak tahu betapa bola-bola mata mencorong mendadak bermunculan dari dalam hutan, terpantul dan berkilat oleh cahaya obor, juga gigi-gigi menyeringai yang menunjukkan kebuasan keji. Dan ketika bola-bola mencorong itu bertambah banyak, puluhan srigala muncul dan mengepung mereka maka satu di antara mereka tiba-tiba menginjak seekor katak yang kontan menjerit.

“Teoottt...!”

Pemuda ini keblingsatan. Ia ikut menjerit dan meloncat dan teman-temannya melonjak. Dalam keadaan seperti itu sedikit kejutan saja cukup membuat jantung terloncat, biarpun hanya oleh suara katak yang terinjak kaget. Dan ketika pemuda itu memaki-maki, mengusap keringat dingin dan menendang kodok yang sudah penyet itu maka dua temannya dan teman-teman lain melihat kilauan cahaya terpantul api obor, tersentak dan kaget.

“Tek San, apa itu?”

“Benar, apa itu?”

Pemuda ini menoleh dan memandang. Sekarang dia berdiri dan selesai menolong A-yang, masih berpikir apa yang akan dilakukan selanjutnya ketika tiba-tiba semua temannya menuding. Dan ketika yang menginjak kodok juga tersentak dan melihat bola-bola mata itu, mencorong dan berkilau-kilauan oleh sinar obor di atas kepala maka terdengarlah lolong atau raung berkepanjangan. Hutan Iblis pun tiba-tiba tergetar!

“Srigala!”

Baru habis ucapan ini diserukan mendadak segerombolan srigala sudah berloncatan dan menyerang mereka. Anjing liar yang buas dan pemakan daging ini tiba-tiba sudah saling menyalak dengan riuhnya. Enam pemuda kampung diserbu. Dan ketika Tek San serta lima orang kawannya terkejut, mereka membawa golok dan tentu saja membentak maka gerombolan anjing liar itu disambut tapi celaka sekali jumlah mereka amatlah banyak dan yang amat mengerikan adalah srigala-srigala ini tak takut manusia. Jumlahnya ada dua ratus lebih!

“Tek San, toloong...!”

“Tek San, bantu aku!”

“Aduh, aku tergigit!”

Riuh dan pekik pemuda bercampur dengan lolong dan salak binatang-binatang jahat ini. Lima teman Tek San jatuh bangun dan mereka itu berteriak-teriak panik. Sungguh tak disangka bahwa sebesar itu gerombolan srigala di Hutan Iblis. Pantas lolong atau raungan terdengar berkilo-kilo meter. Dan ketika para pemuda ini menjerit sementara golok di tangan menyambet atau menusuk, yang luka segera melengking dan menguik kesakitan maka tiga di antara mereka terguling-guling dengan muka ketakutan, pucat dan berteriak-teriak tapi gerombolan anjing ganas itu menyerbu tak kenal ampun.

Darah yang berceceran seolah mengundang gairah yang lebih tinggi. Mereka menyalak dan tertutuplah jeritan tiga pemuda itu oleh riuh suara anjing-anjing ini. Dan ketika Tek San dan dua temannya melihat bahaya mengancam, membentak dan melarikan diri akhirnya musuh yang hendak mereka bantai itu telah mengalahkan mereka. Tek San dan dua temannya tunggang-langgang namun pemuda yang paling pemberani ini tidak lari jauh, melainkan memanjat pohon dan dia berteriak pada teman-temannya agar melakukan hal yang sama.

Dan ketika dua temannya juga melakukan hal yang sama dan masing-masing memanjat pohon, obor menyala di rerumputan kering maka dengan ngeri dan mata melotot pemuda itu melihat betapa tiga temannya yang berteriak sudah menjadi santapan hewan-hewan ganas itu. Mereka dikoyak dan jantung serta usus berhamburan. Srigala-srigala buas itu melahap daging teman mereka seperti iblis-iblis kelaparan. Satu mayat untuk puluhan ekor! Dan ketika Tek San mengeluh dan satu di antara temannya tak kuat, roboh dan pingsan maka... bluk, jatuhlah temannya itu dari pohon yang tinggi.

“Chi Meng!”

Seruan ini disambut salak dan gonggong anjing-anjing itu. Begitu ada tubuh jatuh dari pohon maka srigala-srigala ini berlompatan. Mereka riuh mengeluarkan suaranya masing-masing dan Tek San menutup mata dengan ngeri. Mulut dan moncong berdarah dari ratusan srigala itu sudah disusul oleh serbuan buas binatang-binatang ini. Mereka berhamburan dan berebut menerkam Chi Meng.

Dan ketika pemuda dusun itu terkoyak-koyak dan hancur pakaiannya, tercabik dan menjadi mangsa anjing-anjing ganas ini maka tubuh yang tadi utuh itu sudah tidak berujud lagi. Daging diseluruh tubuhnya berhamburan di moncong binatang-binatang jahat itu, usus dan jeroannya jangan ditanya lagi. Dan Tek San yang tak tahan memandang ini akhirnya mengguguk dan temannya di sana juga pucat pasi memeluk batang pohon erat-erat. Nyawa seakan terbang meninggalkan raga.

Satu jam lebih binatang itu berpesta-pora dan dua pemuda yang tersisa di atas pohon ini menahan ngeri dan takut yang sangat. Tek San, yang paling pemberani, akhirnya mengalami shock dan hampir saja dua kali terjatuh dari pohon. Temannya di sana sudah pingsan tapi untung tertahan di cabang yang besar dan kuat. Dan ketika lima mayat itu habis tinggal tulang belulangnya, mulut menjilat-jilat dan ratusan srigala ini tampak puas, lolong di antara mereka tak terdengar lagi kecuali geram-geram pendek maka Tek San tak tahu lagi apa yang terjadi karena iapun sudah tengkurap seperti temannya.

Pemuda ini pingsan dan malam itu benar-benar menjadi malam mengerikan baginya. Namun ketika hawa malam yang dingin menusuk tulang dan bulan yang sepotong naik tinggi di atas, bintang juga lebih terang dan berbinar di langit hitam maka pemuda ini siuman dan bersamaan itu temannya di sana juga membuka mata. Namun begitu membuka mata begitu pula mereka berteriak.

Seekor ular, yang amat besar, membelit tubuh mereka dan perlahan-lahan terbungkus kencang. Mula-mula kedua kaki mereka dililit menjadi satu dengan cabang pohon di mana mereka tengkurap. Tek San merasa dingin dan sakit-sakit oleh belitan kuat ini, tak tahu betapa tubuhnya dililit ular karena begitu membuka mata yang dilihat adalah temannya. Mereka berseberangan pohon dan masing-masing sama melihat ular itu, tak tahu bahwa merekapun dibelit kencang. Dan ketika masing-masing sama menuding dan berteriak, Tek San menunjuk temannya sementara temannya menunjuk dirinya maka hampir berbareng dua pemuda itu berseru,

“Tek San, ular!”

“An Ip, ular...!”

Dua-duanya sama menuding. Mereka tak sadar bahwa diri sendiri sebenarnya dililit ular. Tapi begitu masing-masing sama menunjuk dan mereka melihat maka barulah keduanya terkejut bukan main karena muka ular sudah di depan wajah mereka, ular phyton yang amat dahsyat!

“Ugh...”

“Mati aku!”

Dua pemuda itu terpekik. Baru sekarang mereka tahu ancaman bahaya dan lepas dari srigala-srigala ganas sekarang memasuki mulut ular. Dua-duanya pucat dan dua-duanya berontak. Namun karena kaki dan dada mereka sudah terbelit, gerakan itu membuat lilitan semakin kencang maka dua pemuda ini berteriak-teriak dan akhirnya mereka melawan dan bergulat mencengkeram ular itu.

Namun ular inipun juga bereaksi. Ia mengelak dan mematuk dan sekarang belitannya bertambah kencang. Badanya yang licik luput dicengkeram dua pemuda itu, menggeliat dan membelit dan Tek San maupun temannya melotot. Mereka sesak napas. Dan ketika jeritan atau pekikan mereka tertahan di dada, lilitan itu bertambah kencang maka kretek tulang iga anak-anak muda itu patah. Ular membelit kencang lagi dan..... krek, tulang dada anak-anak muda itupun hancur.

Dan ketika keduanya sudah tidak dapat bergerak dan leher ular sudah sama dengan lebar pemuda-pemuda itu maka Tek San maupun temannya tewas di mulut bahaya yang lain. Keadaan pemuda ini menyedihkan karena menjadi mangsa binatang buas yang lain. Lolos dari srigala-srigala jahanam kini memasuki mulut ular. Dan ketika ular besar itu membuka mulutnya, mencaplok kepala Tek San maka perlahan-lahan belitan mengendor bersamaan dengan masuknya kepala pemuda itu ke mulut yang lebar dan kemerah-merahan ini, didorong dan masuk dan akhirnya dengan sedikit susah tubuh pemuda itu didorong terus ke dalam.

Tubuh ular mulai menggelembung dan sedikit tetapi pasti ular besar ini menelan mangsanya. Tek San, manusia dewasa, akhirnya hilang pula ditelan mulut lebar itu. Dan ketika keesokannya orang-orang dusun mencari tujuh anak-anak muda ini, di tepi hutan, maka mereka terpekik melihat ceceran darah dan sisa-sisa kengerian semalam. Lam-chungcu pucat dan menarik napas dalam-dalam. Mereka semalam telah mendengar lolong dan riuh srigala-srigala itu. Mengira bahwa anak-anak muda mereka mengusir atau berhasil menghalau anjing-anjing liar ini.

Tapi karena sampai pagi anak-anak itu tak kembali dan menjadi kewajiban mereka untuk mencari tahu maka di luar hutan itu mereka melihat bekas-bekas perkelahian dan mereka tak tahu dimanakah anak-anak muda itu. Bangkai dan darah srigala bercampur aduk di situ. Mereka tak dapat memastikan apakah darah yang berceceran di situ juga darah dari anak-anak muda mereka, begitu juga serpihan-serpihan tulang yang tampak di sana-sini. Dan karena mayat para pemuda itu tak ditemukan karena sudah masuk ke perut srigala, dua di antaranya memasuki perut ular maka Lam-chungcu dan orang-orangnya kembali.

Hutan Iblis menjadi sesuatu yang menyeramkan dan penduduk dusun tak berani lagi mengusik-usik itu. Lolongan dan raung srigala yang kembali terdengar pada malam-malam berikut dibiaran saja. Wanita dan anak-anak hanya menggigil pucat dan menutupi telinga mereka rapat-rapat. Tapi ketika sebulan kemudian lolong itu terdengar mendekati perkampungan, kian hari kian bertambah dekat maka dusun Lam-chungcu dibuat kaget bukan main ketika untuk pertama kalinya dusun mereka diserang!

Ratusan srigala lapar, yang sudah menikmati darah manusia tiba-tiba bergerak pada malam bulan purnama menyerang kampung itu. Lolong dan salak mereka demikian riuh sampai ibu-ibu roboh pingsan. Jangan ditanya lagi anak-anak, mereka ini menjerit dan berteriak-teriak histeris di dalam rumah. Dan ketika beberapa laki-laki mencoba mengusir dan menghalau mereka, satu di antaranya adalah putera Lam-chungcu sendiri maka kejadian malam pertama itu menjadi trauma berat semua orang.

Dua ratus srigala lapar, yang dulu sudah menikmati lima pemuda dusun menyalak dengan garang. Mereka itu berlarian dalam empat kelompok di mana masing-masing menuju keempat penjuru kampung. Rumah-rumah penduduk yang ditutup rapat dicakar-cakar, bahkan ada yang menabrak-nabrakkan tubunya menjebol pintu. Dan ketika semua riuh dan kegaduhan itu mencapai klimaksnya, ada sebuah jendela yang berhasil dibuka maka puluhan srigala ini menyerbu masuk dengan amat beraninya.

Mereka menerjang ke dalam dan dapat dibayangkan betapa kagetnya pemilik rumah. Sepasang kakek nenek, yang menghuni rumah ini panik diserbu binatang-binatang itu. Mereka adalah Can-lopek dan isterinya. Dan karena rumah ini dekat dengan rumah Lam-chungcu di mana jerit atau teriakan kakek nenek itu memecah keributan malam, suami isteri itu keluar menjerit-jerit maka srigala-srigala lapar yang memburu mereka ini menyergap dari belakang.

“Tolong.....tolong !”

Itu adalah kejadian pertama dari lolosnya seorang penduduk. Lam Kong, putera Lam-chungcu melihat ini. Ia dan ayahnya menutup rapat semua pintu jendela dan gonggong atau salak anjing-anjing itu mereka lihat dari dalam. Tentu saja mereka juga memegang senjata berupa pentungan atau golok. Tadi pemuda itu mau keluar tapi ayahnya mencegah. Lima puluh ekor anjing-anjing liar yang ganas ini dapat membahayakan jiwa mereka. Kentong titir tak sempat lagi dibunyikan. Kalaupun ada, kemungkinan besar tertutup riuhnya gonggong dan salak hewan-hewan liar itu. Dan ketika Can-lopek serta isterinya berhamburan keluar, diikuti oleh binatang-binatang jalang itu maka Lam Kong terkesiap melihat nenek Can terjelungup dan roboh diterkam dari belakang.

“Suamiku, toloong...augh!”

Can-lopek menoleh. Ia sendiri memegang kayu panjang namun puluhan srigala liar tak sanggup ditandinginya. Kakek tua macam dia seharusnya malah dilindungi. Maka ketika ia mendengar jeritan isterinya namun saat itu juga sebelas ekor hewan kelaparan itu menubruknya pula, dari belakang maka kakek ini terjatuh dan kayu panjang di tangannya tak banyak berguna. Kakek dan nenek itu hendak menuju ke rumah Lam-chungcu namun kalah cepat.

Jangankan orang tua macam mereka, anak muda yang gesit larinya saja tak mungkin menang dengan hewan-hewan berkaki panjang ini. Lompatan seekor srigala dapat mencapai empat meter lebih, jauh di atas ketangkasan manusia biasa. Maka begitu kakek itu roboh dan sebelas srigala menggigitnya, di sana isterinya berteriak namun kemudian terkulai, pingsan oleh kerubutan srigala-srigala ini maka Can-lopek menjadi korban berikutnya dan tubuh kakek nenek itu cabik-cabik.

“Jahanam!” Lam Kong berseru keras dan melompat keluar. Golok di tangannya nampak buas dibolang-balingkan dan ayahnya berseru kaget. Lam-chungcu cepat mengejar dan melompat pula, pintu ditutup dan dibanting kuat. Dan ketika pemuda itu berteriak dan menyerbu ke tempat kakek nenek ini, Can-lopek dan isterinya ternyata tewas, jantung di dadanya bolong maka pemuda itu mengamuk dan srigala di depan dibabat dan dibacoknya.

“Mampus kalian. crak-crakk!”

Srigala yang menjadi korban roboh. Namun yang lain tidaklah takut, mereka terkejut sejenak dan mundur tapi kemudian menyerang pemuda ini. Salak dan gonggong mereka memanggil yang lain-lain. Dan ketika dua ekor srigala kembali roboh namun puluhan yang lain datang ke situ, Lam Kong mengamuk maka ayahnya pucat berseru memanggil.

“Lam Kong, kembali. Hewan-hewan itu bertambah banyak!”

Pemuda ini terkejut. Ia tak mengira bahwa di empat penjuru tiba-tiba muncul hewan-hewan kelaparan itu. Moncong mereka penuh darah dan tiga ekor ayam berkeok-keok di mulut tiga ekor srigala. Dan ketika suara mengembik dan meong-meong juga terdengar di situ, gaduh dan riuh maka putera Lam-chungcu ini melihat bahwa bukan hanya manusia saja yang di mangsa melainkan juga ternak dan peliharaan rumah.

“Cepat, masuk kedalam! Cepat !”

Lam Kong bertindak lambat. Ayahnya memutar pentungan dan lima srigala di depan dihalau, satu malah kena gebuk. Tapi karena di situ muncul puluhan yang lain dan dua ratus srigala sudah menyalak riuh, pemuda itu terkepung maka ayahnya pucat dan menyerbu masuk. Namun baru tiga empat gebukan mendadak terdengar jerit di dalam rumah. Puteranya terkecil, menjerit dan berteria-teriak bersama isterinya. Dua srigala melompat tangga rumah melihat celah pintu terbuka. Itulah nyonya rumah yang mengintai dengan pucat. Dan ketika dua ekor srigala melihat ini, melompat dan menyerbu masuk maka nyonya itu menjerit dan puteranya terkecil yang bersembunyi di punggungnya menjadi kaget.

“Tolong.....tolong !”

Lam-chungcu bergerak cepat. Ia berlari dan melompat ke dalam rumahnya dan pintu itu cepat ditutup kembali. Srigala-srigala itu mengejar namun terlambat. Dan ketika di dalam rumah kepala dusun ini menghantam dua srigala itu, yang menggigit dan melukai anak isterinya maka satu di antaranya kelengar dan berputar, digebuk dan dihantam lagi dan robohlah srigala itu. Satunya lagi meloncat dan melarikan diri. Ternyata kalau sendirian saja hewan ini menjadi penakut.

Namun karena pintu sudah dipalang dan tak mungkin dia keluar, Lam-chungcu mengejar maka terjadilah kejar-mengejar di antara dua orang, eh.., dua mahluk ini. Srigala itu akhirnya menjadi marah karena dipepet, beringas dan timbul keberaniaannya dan serulah mereka kejar-mengejar. Dan karena srigala itu juga menggigit dan berhasil melukai Lam-chungcu, kaki dan tangan kepala dusun itu berdarah tapi sebaliknya laki-laki ini juga berhasil menggebuk dan menghantam lawannya akhirnya dalam pertarungan menegangkan lelaki yang berusia limapuluh tahun ini merobohkan lawannya itu. Tongkat di tangannya menimpa kepala hewan keparat itu.

“Prakk!”

Srigala ini roboh dan pecah kepalanya. Lam-chungcu menggigil dan merah padam namun di saat itu terdengar jeritan panjang di luar rumah. Isteri dan anak bungsunya, yang pingsan dan roboh oleh serbuan hewan ganas tadi tergeletak di lantai. Lam-chungcu mau melihat anak isterinya ini ketika tiba-tiba di luar terdengar jeritan itu. Dan ketika kakek ini teringat puteranya dan membuka pintu, meloncat, maka tiba-tiba saja matanya membelalak dan melihat puteranya tertua itu sudah roboh, mandi darah.

“Lam Kong!”

Namun saat itu sebuah tangan kuat menariknya. Lam Hin, adiknya laki-laki sudah keluar dan menariknya masuk. Jerit atau pekik kepala dusun ini mengundang mata srigala-srigala itu. Mereka menengok dan berlompatan, buas. Tapi karena kepala dusun itu sudah ditarik kedalam dan pintu rumah cepat-cepat ditutup, kakek ini jatuh terduduk maka meledaklah tangis dan raung kemarahannya.

“Ooh, keparat.... Lam Kong.... dia....dia itu. ooohh, dia menjadi korban, Lam Hin. Jahanam keparat srigala-srigala kelaparan itu. Iblis mereka iblis!”

“Sudahlah, diam.... jaga dan lihat keselamatan isteri dan anak bungsumu, twako. Dengar srigala-srigala itu menyalak dan riuh di luar.”

“Aku... aku hendak membunuh mereka!”

“Dan kau akan mengorbankan isteri dan anakmu di sini pula. Tidak, mereka tak terlawan, twako. Kita harus mengurung diri di rumah. Tiga penduduk di sebelah timur dan selatan juga menjadi korban. Kita tak boleh keluar!”

Kepala dusun ini akhirnya sadar. Ia melihat keadaan anak isterinya itu, yang begitu siuman langsung saja menjerit-jerit. Dan ketika suasana di dalam rumah riuh rendah tak kalah dengan yang di luar, srigala-srigala itu menyalak dan berlarian kesana-sini mencari korban maka kegagalan mereka tak mampu memasuki rumah ini dilampiaskan dengan ke kandang-kandang ayam atau kambing. Bahkan, kerbau atau sapi yang bertubuh besar juga mereka serang. Dusun itu porak-poranda oleh amukan binatang jahat ini. Dan ketika semalam mereka membuat kacau dan geger seisi dusun, pergi setelah matahari menampakan sinarnya maka penduduk bertangis-tangisan dan korban segera dihitung.

Ternyata sembilan nyawa hilang. Ayam dan kambing jangan ditanya lagi, ludas. Puluhan kerbau dan sapi yang tadinya di dalam kandang juga cerai-berai tak keruan. Belasan di antaranya menggeletak di jalan-jalan, tinggal kepala atau tulang-belulangnya saja. Dan ketika hari itu dusun ini berkabung dan Lam-chungsu serta semua penduduknya bercucuran air mata, isteri kepala dusun masih menjerit dan melolong-lolong kehilangan putera tertuanya maka tak ada mayat yang dikubur karena semua habis dilalap hewan-hewan liar itu.

“Tempat ini berbahaya, aku ingin pindah!” seorang penduduk tiba-tiba berkata.

“Benar,” yang lain tiba-tiba menyahut. “Aku juga ingin pindah, A-kiu. Aku ingin menyelamatkan anak isteriku!”

“Aku juga.”

“Aku juga!”

“Hm!” Lam-chungcu mengerutkan alisnya. “Kalau kita pindah mau pindah kemana? Kalau mau pindah maka harus ke kota, saudara-saudara. Tapi kita harus memberi tahu dulu pejabat yang bersangkutan dan melapor. Nanti tak ada tempat untuk kita!”

“Aku mau ke tempat saudaraku di dusun Bhe-chung. Nanti kalau aman baru kembali.”

“Dan aku juga ke dusun Kek-hwa-chung. Di sana ada seorang pamanku yang tinggal sendiri!”

“Hm, tidak ke kota?”

“Tidak, kami masih memiliki saudara-saudara di desa, chungcu. Masuk ke kotapun jangan-jangan hanya akan disambut sinis dan congkaknya mereka. Nanti kita dianggap mengganggu!”

“Baiklah,” sang kepala kampung tak dapat menolak, “Tapi apakah kita tidak berusaha untuk mempertahankan kampung halaman ini kalau binatang-binatang itu datang lagi. Dengan bersatu dan berkumpul di satu tempat barangkali kita dapat membunuh srigala-srigala itu.”

“Hewan-hewan itu terlampau beringas, ia tak takut manusia,” orang pertama menggeleng, ngeri. “Aku lebih baik pindah saja, chungcu. Mencari tempat aman dan tenang di tempat lain. Hewan-hewan itu seperti iblis!”

“Benar,” yang kedua menyahut. “Aku juga ngeri, chungcu. Lebih baik pindah dan aman di tempat lain. Anak isteriku tak mau aku menjadi korban!”

Sebagian besar mengangguk. Mereka rata-rata berkata begitu dan kepala kampung tak dapat berbuat apa-apa. Baginya, lebih baik menghadapi srigala-srigala itu dengan bersatu-padu. Semalam mereka tak ada di satu tempat dan inilah kekalahan mereka. Kalau semua berkumpul di satu tempat dan sama-sama menghalau binatang itu kemungkinan tak akan terjadi musibah ini. Tapi karena mereka tak mau dan pilih angkat kaki, ternyata separuh dari jumlah penduduk memilih “hengkang” maka hari itu juga Lam-chungcu memandangi kepergian penduduknya dengan mata muram.

Dia sendiri tak ikut karena tak mempunyai saudara di tempat lain. Ada juga saudaranya tapi jauh dari situ, padahal dia adalah kepala dusun. Dan ketika yang pergi berkata bahwa mereka akan kembali kalau keadaan benar-benar tenang, di kiri kanan mereka terdapat dusun-dusun Bhe-chung dan Kek-hwa-chung serta beberapa dusun lagi maka berangkatlah mereka itu dengan tangis dan air mata yang masih bercucuran.

Malam itu tak ada apa-apa di tempat ini sampai keesokan harinya. Lam-chungcu telah mengerahkan sisa-sisa penduduknya untuk berkumpul di sekitar rumahnya di malam hari. Kalau hewan-hewan liar itu datang lagi maka mereka sembilanpuluh delapan laki-laki akan bergerak dan menghadapi. Hal begini dirasa memadai. Tapi ketika keesokannya para pengungsi yang kemarin pergi mendadak datang lagi, bertangis-tangisan bersuara riuh maka kaget dan tertegunlah Lam-chungcu mendengar apa yang terjadi, bahwa dusun-dusun sekitar juga diserang gerombolan srigala-srigala itu, juga berjatuhan korban!

“Celaka, saudaraku di Bhe-chung tewas. Ia diserang srigala-srigala liar itu. Aku tak dapat tinggal di rumahnya!”

“Dan aku juga. Pamanku di Kek-hwa-chung menjadi korban, chungcu. Ia diterkam dan dicabik-cabik binatang itu. Tubuhnya tak utuh manusia!”

Kepala dusun tertegun. Orang-orang yang kemarin berpergian muncul satu per satu. Semua bercerita bahwa di dusun-dusun lainpun nasibnya sama. Pada malam itu ratusan anjing ganas menyerbu mereka. Bhe-chung dan Kek-hwa-chung porak-poranda dan korban manusia berjatuhan. Dan ketika mereka mengguguk dan tersedu-sedu menceritakan kematian saudara atau paman mereka, satu demi satu kembali dengan wajah sembab maka Lam-chungcu menarik napas dalam-dalam dan tak ada jalan lain kecuali mengajak warganya ini tinggal.

“Sudahlah, kemarin sudah kuberi tahu agar tak usah meninggalkan dusun. Tinggal di sini saja dan kita berkumpul lagi seperti biasa. Semalam tak ada apa-apa, tempat ini rupanya aman.”

“Tapi aku takut...” orang pertama itu gemetaran. “Hewan-hewan itu ganas sekali, chungcu. Bagaimana kalau tiba-tiba ia datang lagi!”

“Kau tinggal saja di rumahku. Biar kami yang lain menghalau.”

“Tapi sawah dan kebunku tak berani kutengok,” orang lain berkata. “Aku jadi takut kalau-kalau diserang mereka!”

“Siang hari tak mungkin srigala-srigala itu keluar. Ia semalam telah kekenyangan.”

“Atau kita lakukan saja semua pekerjaan secara bersama-sama.” Seseorang tiba-tiba berseru, gemas. “Kemanapun seorang pergi ke situ pula yang lain ikut, A-kiang. Kau tak perlu khawatir dan tinggal saja seperti biasa!”

“Nah, kau dengar itu,” Lam-chungcu mengangguk-angguk. “Sekarang tak perlu takut, A-kiang. Tinggal dan tetaplah bersama kami.”

Orang itu berbinar. Yang lain yang merasa lega lalu mengangguk. Kalau ke mana-mana selalu bersama berarti keamanan mereka terjamin. Ini lebih baik. Dan ketika hari itu mereka kembali dan berkumpul bersama, Lam-chungcu sibuk mengatur rakyatnya maka masing-masing yang tak mau berjauhan tiba-tiba ingin tinggal di tempat Lam-chungcu yang tentu saja menjadi penuh sesak. Kepala dusun ini menarik napas dalam-dalam tapi hal-hal menjengkelkan mulai terjadi, khususnya pada penduduknya yang berjiwa penakut ini.

Karena ketika mereka mulai ingin ini-itu, mandi misalnya, maka yang lain harus mengantar dan menunggui. Begitu juga kalau mereka ingin ke sungai untuk buang hajat. Bahkan, ingin kencingpun harus ditunggui. Semua harus bergerak mengantar! Dan ketika semua itu membuat gemas tapi juga geli yang lain, Lam-chungcu geleng-geleng maka malam itu tak terjadi apa-apa begitu pula dengan malam berikut dan berikutnya lagi. Tiga malam berturut-turut dusun ini tenang dan rakyatpun mulai lega.

Kalau begini untuk seterusnya maka amanlah mereka. Apalagi selama tiga malam ini pula di Hutan Iblis tak terdengar raung atau lolong srigala itu, aneh. Namun ketika pada malam keempat mereka mulai berani dan satu dua keluar sendirian, untuk kencing atau keperluan lain mendadak terdengar jeritan tinggi ketika tiba-tiba raung atau salak itu bergemuruh di luar rumah.

“Guk-gukk... auunggg...guk-gukk... auunggg!”

Panik dan gemparlah rakyat Lam-chungcu. Mereka yang telah tiga malam tak mendengar suara-suara ini lagi mendadak pucat dan seketika menjerit. Dua orang yang keluar rumah tiba-tiba berteriak di muka pintu, lari dan masuk tapi dua ekor srigala menggigit kakinya. Orang ini sampai tak tahu bahwa iapun masuk berikut srigala-srigala itu, yang menggigit dan tak melepaskan kakinya. Dan ketika semua menjadi gempar di luar itu riuh sekali, pintu yang lupa ditutup menjadi serbuan binatang-binatang ini maka Lam-chungcu berubah melihat hewan-hewan itu, tak terbendung.

“Ambil senjata! Tutup pintunya. Tutup! Awas, serang!”

Anak-anak dan wanita menjadi histeris. Mereka inilah yang pertama kali menjerit dan memekik-mekik. Para ibu yang tadi menidurkan anaknya tiba-tiba menelungkup dan melindungi. Rumah Lam-chungcu yang sudah sesak menjadi sesak. Hewan itu melompat di mana saja yang dapat dilompati. Lemari dan tempat tidur bukan menjadi halangan dan tiba-tiba ratusan srigala sudah riuh di dalam rumah. Mereka beringas dan menyerang siapa saja. Tua muda digigit. Wanita dan anak-anak juga digigit. Dan ketika bayi-bayi merah juga disambar dan dibawa lari, sang ibu menjerit dan berteriak-teriak kalap maka ibu yang timbul marah dan keberaniaannya ini mengejar.

Ruangan yang penuh sesak membuat binatang itu tak dapat berlari jauh, menyelinap dan bersembunyi di kolong meja tapi sang ibu menerkam dan akhirnya bergumullah dua mahluk itu dengan serunya. Sang ibu menggigit dan mencakar-cakar pula. Dan ketika pertarungan itu menjadi pertarungan mati hidup antara manusia dan srigala, sang ibu cabik-cabik tapi sang srigala juga kena pukulan bertubi-tubi maka ibu yang sudah menyambar alat pemukul ini menghantam lawannya dengan beringas.

Di sana Lam-chungcu dan anak buahnya yang lain juga bertarung mati hidup. Srigala-srigala ini seperti mahluk kesetanan dan mencium bau darah mereka menjadi semakin jahat saja. Tapi perlawanan segenap penduduk menjadikan srigala-srigala ini kewalahan, mereka tak dapat lagi mengeroyok melainkan seorang berhadapan seorang maka dua ratus srigala menghadapi juga dua ratus penduduk. Dan bukan main ramainya hiruk-pikuk di rumah Lam-chungcu ini.

Jerit dan raung jatuhnya korban sama-sama mendirikan bulu roma. Lam-chungcu dan rakyatnya menjadi ngeri dengan keberanian hewan-hewan ini. Mereka bergerak bagai sekumpulan anjing gila menyerang manusia. Kalau belum roboh masih juga melakukan perlawanan, membalas! Namun karena Lam-chungcu dan penduduknya mempunyai senjata, pentungan dan golok atau alat apa saja digunakan untuk menyerang hewan-hewan itu maka srigala roboh satu demi satu dan ketika separuh lebih terkapar menjadi mayat tiba-tiba terdengar raung panjang yang bergema dahsyat di luar rumah.

Raung itu menggetarkan dinding namun anehnya binatang-binatang ini tiba-tiba berloncatan. Mereka berlarian keluar meninggalkan korban-korbannya. Dan ketika Lam-chungcu jatuh terduduk sementara kaki tangannya luka-luka, sebagian besar penduduknya juga begitu maka srigala lenyap dan ngerilah kepala dusun ini melihat apa yang ditinggalkan.

Seratus bangkai bercampur aduk dengan puluhan mayat di situ, terutama anak-anak dan beberapa orang-orang tua mereka. Ibu yang pertama kali bergumul di kolong meja mandi darah meskipun selamat, anaknya yang masih merah tak tertolong karena sudah tewas digigit srigala musuhnya itu, yang kini juga menjadi bangkai dengan kepala pecah. Dan ketika di sana-sini darah dan ceceran daging membuat orang serasa muntah, perut dikocok oleh rasa mual yang sangat maka ibu-ibu menjerit dan bertangisan melihat anak atau suami mereka menjadi korban.

Malam itu benar-benar malam petaka tapi Lam-chungcu, cepat bekerja membersihkan tempat itu. Penduduk yang telah bertarung mati hidup membantunya. Dan ketika semalam tak dapat tidur karena tangis dan teriakan melengking di sini, mereka yang kematian anak atau suaminya histeris semalam suntuk maka Lam-chungcu memutuskan bahwa besok dia akan membawa penduduknya pindah.

Di sana ada kota Ci-bun dengan Wo-taijin sebagai kepala daerahnya. Di sinilah dia akan berlindung sekaligus melapor. Laki-laki di situ mengangguk dan setuju. Tapi ketika keesokannya geram dan salak-salak pendek terdengar di luar, semua terkejut dan melihat keluar ternyata sisa-sisa srigala semalam ada di situ, mengurung atau mengepung rumah itu. Mata mereka juga beringas memandang ke dalam.

“Keparat, hewan-hewan terkutuk! Kita bunuh mereka!”

Namun hewan-hewan itu tak takut. Justeru ketika seseorang menyambar dan mengamang-amangkan senjatanya mereka yang semula berputar-putar sekonyong-konyong berhenti, tegak dan marah memandang orang itu dengan gigi menyeringai. Tantangan ternyata disambut tantangan! Dan ketika orang itu tertegun sementara Lam-chungcu cepat mencengkeram lengannya, mencegah, maka Lam-chungcu berkata bahwa biarlah sementara ini mereka tak usah keluar. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup rapat-rapat.

“Kita masih lelah, perlu istirahat. Biarkan mereka di sana dan jangan hiraukan!”

Sehari itu mereka saling intai. Lam-chungcu memang lelah dan dia harus menenangkan juga para wanita yang histeris. Semalam mereka kebobolan karena dua di antara mereka membuka pintu. Dan ketika jendela dan pintu ditutup rapat-rapat, tak mungkin hewan-hewan itu masuk maka semua di dalam rumah meskipun hati selalu was-was dan malam itu lewat tanpa kejadian sesuatu.

Hari kedua juga tak ada apa-apa seperti pada hari ketiga dan keempat. Srigala-srigala itu masih tetap di sana, tapi seseorang yang melihat betapa srigala-srigala ini bertambah banyak, jumlahnya kian meningkat mendadak pucat. Ia menuding dan memberi tahu chungcu tentang hal ini. Dan ketika Lam-chungcu menghitung dan memperhatikan maka wajah kepala dusun ini juga berubah karena perlahan tetapi pasti jumlah anjing-anjing ganas itu bertambah.

“Tiga ratus ekor! Astaga tiga ratus ekor!”

Semua tersentak. Anjing-anjing liar yang tahan berjaga-jaga itu ternyata sedikit demi sedikit memanggil teman-temannya. Raung atau lolong mereka yang sekali-sekali ternyata merupakan isyarat bagi semuanya itu. Dan ketika di balik sepatang pohon muncul seekor srigala berbulu hitam, dengan garis putih di punggung maka semua tergetar melihat betapa besarnya srigala ini. Seekor srigala jantan yang tingginya sebesar anak lembu!

“Ggrrr!” hewan itu mengeluarkan suaranya ketika diamati Lam-changcu dan orang-orangnya itu. Dia balas memandang dan memperlihatkan taringnya dan siapapun ngeri bertatap pandang. Ada semacam kewibawaan dan juga kegagahan pada hewan yang satu ini. Pandang matanya jauh lebih tajam dibanding yang lain-lain, juga lebih cerdik. Dan ketika geraman itu disusul oleh geraman srigala-srigala lain, yang berdiri dan tegak di samping srigala raksasa ini maka para ibu menjerit dan menutupi mukanya.

“Kita akan mati, ah, kita akan mati!”

“Tenang.” Lam-chungcu menekan debaran jantungnya sendiri. “Mereka tak dapat menyerang kita, ibu-ibu. Tak usah kalian melihat dan berlindung di dalam saja. Kami akan mencari akal,” dan menghadapi kaum lelakinya kepala dusun ini bertanya. “Apa yang harus kita lakukan. Bagaimana baiknya.”

“Kita terjang mereka, bunuh!”

“Tidak, biar di sini saja, chungcu. Biarkanlah mereka di sana sampai pergi sendiri!”

“Mana mungkin!” orang pertama berseru. “Mereka bisa terus bertambah banyak, A-kiang. Dan kita nanti tak dapat mengatasinya lagi. Lebih baik sekarang dan bertarung mati hidup!”

“Tapi... tapi...”

“Tapi kau penakut. Bisamu sembunyi melulu dan membiarkan kami berjuang mati-matian. Mana setia kawanmu dan bantuanmu kepada kami!”

“Sudahlah, sudah..” Lam-chungcu mulai melihat pertikaian ini. “Tak baik bermusuhan antar kita sendiri, Hek Bu. Pendapatmu kuterima tapi bagaimana dengan yang lain-lain.”

“Kami setuju,” yang lain mengangguk, di samping melihat benarnya kata-kata Hek Bu juga tak mau disemprot sebagai orang penakut, tak bersetia kawan. “Kami melihat benarnya kata-kata Hek Bu, chungcu. Dan kami tak mau hewan-hewan itu bertambah jumlahnya. Kami siap menyerang sekarang!”

“Benar, tapi bagaimana dengan wanita dan anak-anak yang masih tinggal. Apakah tak perlu dipikirkan juga mereka itu,” seseorang tiba-tiba berkata.

“Maksudmu!”

“Sudah kita putuskan bahwa kita akan ke kota. Sekalian menyerang sekalian kita bawa wanita dan anak-anak itu. Mereka bisa dimasukkan gerobak atau pedati dan ditarik oleh empat atau lima orang di antara kita!”

Lam-chungcu tertegun. Orang ini segera berkata bahwa tak baik berlama-lama tinggal di situ. Ternak atau hewan-hewan piaraan mereka sudah cerai-berai dan biarlah wanita dan anak-anak dimasukkan gerobak. Empat atau lima laki-laki menjadi penariknya dan begitu bergerak begitu mereka pergi. Hari masih siang dan jauh lebih baik menyerang sekarang daripada malam nanti. Dan ketika semua mengangguk-angguk dan setuju dengan pendapat ini maka semua laki-laki mencabut senjatanya dan membagi tugas.

“Enam gerobak ada di belakang rumah Tu King. Kita ambil dan lindungi gerobak itu sampai ke sini. Yang lain menyerang dan membunuh binatang-binatang itu!”

“Baik,” Lam-chungcu mengusap goloknya, bersinar-sinar. “Sekarang mari keluar, saudara-saudara. Tutup pintunya lagi dan kita bergerak!”

Wanita dan anak-anak disuruh tenang. Mereka dikumpulkan di ruang dalam dan hujan tangis kembali datang. Keluarnya kaum laki-laki berarti keluarnya menyambut maut. Tapi karena tak ada jalan lain dan itu adalah jalan terakhir maka Lam-chungcu melompat dan sekali ia bersama pembantunya membuka pintu maka berhamburlah para lelaki ini menerjang kelompok srigala. Hek Bu telah berteriak bahwa ia akan menghadapi si hitam. Laki-laki tinggi besar ini membawa dendam kesumat yang besar. Dan begitu orang-orang itu menyerbu maka segerombolan srigala terkejut. Tapi mereka menyalak dan menyambut pula.

Tombak dan golok yang menyambar mereka disambut gigitan dan cakaran buas. Si hitam, yang beringas dan gagah di tempat dan tiba-tiba mengeluarkan raungnya yang dahsyat. Kiranya binatang inilah yang beberapa malam yang lalu memanggil teman-temannya. Dan begitu ia melompat dan menerjang ke depan maka ia menggigit dan menyerang pula Lam-chungcu dan kawan-kawannya.

Terjadilah pertarungan mati hidup. Lam-chungcu berteriak-teriak agar yang mendapat tugas menggambil gerobak dapat melaksanakan pekerjaannya. Kepala dusun itu sendiri sudah membabat dan membacokkan goloknya dengan beringas. Tapi karena perlawanan para srigala juga tak kalah sengit dan buas, moncong mereka menyerbu dan masuk di sela-sela pertempuran maka pembantu kakek ini ada yang roboh dan terguling. Dan inilah yang mengerikan. Srigala-srigala itu menggigit dan mencabik-cabik mangsanya, digebuk tapi yang lain datang lagi. Dan ketika semua menjadi riuh dan kacau, bentakan diiringi raungan maka Hek Bu berhadapan dengan srigala hitam besar itu.

Laki-laki ini sengaja mencari lawannya dan tombak ditangannya menusuk. Tapi ketika si hitam itu berkelit dan pandai mengelak, ditusuk dan mengelak lagi maka laki-laki ini terkejut karena secepat kilat lawan sudah menerkam dan menyerangnya. Lompatannya bagai seekor harimau kelaparan yang kuat dan cepat.

“Brett!”

Baju dan daging pundak laki-laki itu terobek. Hek Bu berteriak tapi si hitam sudah membalik, taringnya diperlihatkan dan melompat lagi dengan buasnya. Dan ketika laki-laki itu menusuk tapi kaki depan binatang ini menampar, tombak meleset maka Hek Bu kaget bukan main karena si hitam ternyata hewan terlatih yang dapat bertempur! Selanjutnya laki-laki itu kaget dan berteriak berulang-ulang karena kalah cepat. Tergigit dan luka lagi dan laki-laki ini panik. Dan ketika tombak menusuk tapi ditangkap, ya si hitam itu dapat menangkap dan berayun di batang tombaknya maka Hek Bu melolong ketika pipi kanannya tergigit.

“Aughh!” Jeritan itu disusul robohnya laki-laki ini. Hek Bu melepaskan tombaknya karena badan binatang yang hinggap di batang tombaknya tadi tak kuat dipikul. Si hitam melompat dan sudah menyerang mukanya. Dan ketika laki-laki itu bergulingan dan lawan menggigit dan mengejar, sebentar kemudian laki-laki ini berteriak dan menjerit-jerit maka Hek Bu adalah korban pertama dari srigala tinggi besar ini. Laki-laki itu menutupi mukanya tapi perut kemudian robek, menutupi perut tapi leher kemudian robek. Dan ketika Hek Bu mengelepar dan menjadi kesakitan, si hitam menerkam dan menggigit lehernya untuk yang kedua kali maka.... krek, putuslah leher itu oleh taring sekuat baja.

Si hitam menyambar kepala laki-laki ini dan selanjutnya ia menerjang Lam-chungcu dan kawan-kawannya, menggigit dan menyambar lagi kepala itu untuk ditunjukkan kepada lawan-lawannya. Dan ketika Lam-chungcu tersentak dan yang lain pucat, serbuan srigala tinggi besar ini menggetarkan nyali mereka maka Lam-chungcu dan anak buahnya panik dan saat itu robohlah satu demi satu mereka ini oleh kegarangan dan keganasan binatang itu.

Apalagi ketika golok atau tombak tak dapat melukai binatang ini. Semua senjata yang mengenai tubuhnya terpental. Binatang itu ternyata kebal! Dan ketika Lam-chungcu pucat dan anak buahnya bergelimpangan maka enam gerobak datang dan kepala dusun ini berteriak agar kaum wanita dan anak-anak cepat meloncat masuk.

“Cepat! Masuk... masuk! Lari... lari dari sini!”

Wanita dan anak-anak menjerit. Lam-chungcu dan belasan orang kawannya mencegah srigala-srigala itu. Golok dan tombak di tangan mereka bekerja terus-menerus. Tapi karena si hitam adalah yang paling berbahaya dan kebal terhadap semua bacokan senjata tajam, hewan itu juga terlatih dan dapat bertempur seperti manusia maka terhadap hewan inilah Lam-chungcu memusatkan perhatiannya. Ia menubruk dan menerkam dan mati-matian menahan.

Gerobak pertama lewat dan lolos. Disusul oleh gerobak kedua dan ketiga. Para penariknya jatuh bangun berteriak-teriak. Roda pedati diseret dan berdetak menemui batu-batu. Tapi ketika pada gerobak keempat kakek ini tak dapat menahan, si hitam mengeluarkan raung dahsyat yang membuat wanita dan anak-anak pingsan maka srigala tinggi besar itu menerkam dan menubruk Lam-chungcu. Kakek ini mengelak tapi kena terkam, golok membacok tapi mental. Dan ketika mulut srigala itu menyambar lehernya, menggigit dan menarik maka Lam-chungcu roboh dengan kepala putus. Darah seketika menyemprot bagai pancuran!

“Crat!”

Bagai diterkam mulut buaya saja kepala kakek itu terpenggal. Si hitam meraung dan melempar kepala ini kepada teman-temannya, menyerang dan menubruk lima penarik gerobak. Dan ketika mereka pontang-panting dan melepas pegangan, gerobak berhenti dan wanita serta anak-anak terlempar keluar, gerobak itu miring menyentuh tanah maka jerit dan teriakan menjadi satu dengan raung dan pekik girang srigala-srigala kelaparan itu. Mereka menyerbu dan menggigit dan celakalah wanita serta anak-anak di sini. Isi gerobak ini berjatuhan.

Dan ketika gerobak kelima dan keenam juga diserbu, srigala hitam yang tinggi besar itulah pemimpinnya maka semua tunggang-langgang dan menyelamatkan diri sendiri-sendiri. Para penariknya lintang-pukang dan mereka ngeri melihat kehebatan si hitam ini, srigala tahan bacok dan buas, juga yang pandai menangkis serta menampar senjata-senjata tajam, tak ubahnya manusia-manusia yang pandai bertempur. Dan ketika semua tunggang-langgang namun srigala yang lain mengejar, menggigit dan menyerang maka dusun Lam-chung benar-benar mengalami musibah dan tiga gerobak ini isinya direncak.

Darah dan daging berceceran. Ratusan srigala itu menyalak-nyalak dan mereka masih juga mengejar tiga gerobak pertama. Dua di antaranya kembali jatuh. Hal ini karena para penariknya tunggang-langgang. Dan ketika hanya gerobak paling depan saja yang selamat, itupun karena mereka sudah paling jauh maka geger di dusun Lam-chung menjadi berita di kota Ci-bun.

Wanita dan anak-anak yang selamat ini langsung pingsan. Lima penariknya, yang mandi keringat dan robek menerjang onak atau duri juga roboh di gedung Wo-taijin, hanya satu saja yang sempat bercerita lalu roboh. Di samping ngeri juga karena capainya. Seluruh tenaga terasa habis dipakai melarikan diri ini. Dan ketika semua gempar dan ngeri oleh kisah di dusun itu, terutama oleh adanya srigala hitam tinggi besar yang kebal bacokan senjata tajam maka orang-orang Ci-bunpun menjadi takut dan komandan keamanan tak berani menolong!

Komandan ini berkata tak masalah sia-sia mengantarkan nyawa. Yang tewas di sana tak mungkin diselamatkan lagi. Wanita dan anak-anak yang sudah datang di situ biarlah menjadi tanggungan mereka. Dan ketika anak buahnya juga mengangguk dan tak berhasrat menjadi petualang, kisah ini cukup mendirikan bulu roma maka kejadian di dusun Lam-chung tak dihiraukan pejabat dan dibiarkan saja!

* * * * * * * *

Pagi itu pembicaraan hangat tentang peristiwa di dusun Lam-chung masih menjadi bahan pembicaraan orang. Seminggu sudah peristiwa itu berlalu dan ada yang pro atau kontra dengan sikap yang diambil komandan keamanan ini. Yang kontra tentu saja yang menganggap komandan itu pengecut dan tidak bertanggung-jawab. Rakyat menjadi korban namun didiamkan saja. Sedangkan yang pro, yang ngeri oleh kejadian itu adalah orang-orang kebanyakan yang celakanya didukung oleh sebagian besar penduduk Ci-bun. Cai-ciangkun, komandan itu, terang-terangan menyuruh yang kontra menggantikan pengawalnya untuk menghadapi srigala dari Hutan Iblis. Siapa yang dapat membasmi diberi hadiah seribu tail emas, berikut sebuah rumah bagus di Ci-bun.

Dan ketika orang-orang yang kontra ini coba meraih hadiah dan pergi tapi tidak kembali lagi, kengerian cerita itu semakin bertambah maka tujuh hari ini kisah srigala hitam yang tahan bacokan senjata tajam menjadi buah bibir. Cai-ciangkun menjanjikan pangkat kedudukan lagi bagi yang dapat menangkap atau membunuh srigala kebal itu. Tapi karena cerita sudah tersiar sedemikian rupa, srigala itu adalah penjelmaan iblis dan tak mungkin ditangkap apalagi dibunuh maka rumah-rumah makan dan toko-toko di Ci-bun penuh dengan cerita ini.

Dan hari itu datanglah sepasang pria dan wanita gagah di Ci-bun. Pria ini membawa pedang di punggungnya dan jelas dia adalah seorang ahli silat. Sementara wanita itu, yang cantik dan rambut digelung tinggi diajaknya memasuki rumah makan Lo-lo-ha. Dengan halus dan mesra pria ini mempersilahkan temannya duduk di kursi kosong, di meja yang telah mereka pilih. Lalu ketika iapun duduk dan memesan makanan, pelayan datang dengan wajah berbinar maka pria dan wanita itu menunggu pesanan mereka. Dan di sinilah mereka mendengar kejadian di dusun Lam-chung.

Si pria berkerut kening sementara wanitanya menjadi merah. Percakapan para tamu didengar secara tak sengaja tapi itu cukup membuat mereka bereaksi. Karena ketika pelayan datang mengantarkan makanan, dengan penampan penuh masakan maka si wanita mendahului dan bertanya,

“Bung pelayan, di manakah dusun Lam-chung itu? Dan benarkah cerita tentang srigala kebal itu?”

“Ah, hujin pendatang baru? Pantas, aku sudah menduga. Dusun Lam-chung berada sekitar tujuh puluh li dari sini, hujin. Dan cerita tentang srigala iblis itu memang benar. Beberapa orang dari kami sudah ke sana dan coba membunuh penjelmaan iblis itu tapi malah tak kembali, tewas dimangsa srigala siluman itu!”

“Hm, tujuh puluh li? Arah barat atau timur?” si pria kini bertanya.

“Arah selatan, taihiap. Dan barangkali taihiap mau coba-coba meraih hadiah Cai-ciangkun!”

“Hadiah apa itu,” si pria belum mendengar ini. “Kenapa pakai hadiah segala.”

“Ah, Cai-ciangkun dan pasukannya tak berani menangani kasus ini. Srigala-srigala itu bukan binatang-binatang biasa, melainkan mahluk jejadian. Kalau ada di antara orang gagah yang bisa menangkap atau membunuh srigala itu, terutama pemimpinnya maka Cai-ciangkun menjanjikan rumah dan seribu tail emas, juga kedudukan!”

“Hm, kami tak memburu hadiah!” kini si wanita mendesis dan sebal. “Terima kasih, bung pelayan. Pergilah dan jangan ganggu kami lagi!”

Pelayan itu meleletkan lidah. Sebagai orang yang banyak menerima tamu tentu saja pelayan ini tahu bahwa tamunya kali ini bukanlah tamu biasa. Ci-bun meskipun tidak begitu besar namun sekali dua dilewati juga oleh orang-orang gagah macam suami isteri ini, untuk dipakai meneruskan perjalanan bagi orang-orang kang-ouw itu. Maka ketika ia mundur dan pasangan ini bercakap-cakap, yang wanita bersinar dan tampak marah maka nyonya ini mengepalkan tinju.

“Agaknya perjalanan kita dibelokkan dulu. Bagaimana kalau kita melihat Hutan Iblis itu dan menghajar binatang-binatang keparat itu!”

“Benar, aku juga begitu, niocu. Tapi apakah tidak terlalu lama ditunggu Li-moi (adik perempuan Li). Jangan-jangan adikmu itu sudah tak sabar menunggu kita!”

“Hm, tujuhpuluh li saja tidak jauh. Satu dua jam sampai.”

“Tapi pagi ini kita ditunggu mereka,” sang suami memotong. “Bagaimana kalau terlambat. Apakah tidak ke sana dulu dan nanti bersama Su Tong kita ke Hutan Iblis ini.”

“Eh, kau takut?” sang isteri terbelalak. “Kenapa mengajak orang lain segala?”

“Hm, bukan takut,” pria gagah ini tersenyum, tidak marah. “Melainkan sekedar mengajak saudaraku ikut mengalami petualangan, niocu. Tentu dia senang diajak ke situ.”

“Aku ingin ke sana dulu, melihat srigala siluman itu!”

“Kalau begitu akupun tidak memaksa. Mari, kita berangkat,” pria ini meletakkan cawan minumannya, selesai menghabiskan hidangan di atas meja dan dalam bercakap-cakap itu mereka tidak sampai kedengaran yang lain. Agaknya pasangan ini orang-orang yang tak suka kesombongan dan mereka orang-orang rendah hati. Dan ketika pelayan dipanggil dan diminta menghitung rekeningnya maka pelayan bertanya apakah mereka mau ke Hutan Iblis.

“Ah, taihiap dan hujin tampaknya tergesa-gesa. Agaknya ke tempat itu!”

“Hm, kami masih banyak urusan,” si pria menggeleng dan tak mau diketahui urusannya. “Hitung berapa rekening kami, pelayan. Dan terima kasih untuk pelayanmu.”

Pelayan itu menyeringai. Ia menghitung suatu jumlah dan laki-laki ini melempar dua keping perak, diterima dan pelayan berseri-seri mengucap terima kasih, mengantar dan menyimpan kelebihan uang itu untuknya. Namun ketika sang tamu mengibaskan lengannya dan pelayan ini terdorong kembali, tak mau diantar maka pelayan itu berteriak kaget karena dua tamunya ini tiba-tiba berkelebat dan lenyap.

“Heii... ah! Ke arah selatan, jiwi enghiong. Hutan Iblis di sebelah selatan!”

Para tamu menengok. Tadi mereka juga melihat suami isteri gagah itu namun tidak menghiraukan lagi. Kini tiba-tiba pelayan berteriak dan terjengkang. Dan ketika mereka terkejut tetapi geli, pelayan itu bangun dan berlari-lari ke depan maka ia berteriak-teriak bahwa Hutan Iblis letaknya di selatan. Dan orang-orangpun terbelalak, kaget. Lalu ketika mereka bertanya apa yang dimaksud pelayan itu maka pelayan ini menuding.

“Dua orang gagah itu akan membunuh srigala siluman. Tadi mereka bertanya-tanya kepadaku tentang tempat dan kejadiaannya!”

“Hm, begitu! Mudah-mudahan selamat!” seorang tamu lain berseru.

“Dan sayang kalau tidak, isterinya masih cantik meskipun sudah agak berumur. Ah, mereka mencari penyakit!” kata yang di tengah.

Dan pembicaraanpun tiba-tiba berkisar pada suami isteri ini. Mereka yang tadi mengetahui wajah pasangan ini segera menduga-duga siapa gerangan pria dan wanita gagah ini. Mereka tak pernah melihat dan heran sendiri, meskipun merasa kagum dan memuji. Dan ketika mereka bicara sendiri tentang pria dan wanita itu maka yang bersangkutan sudah tertawa dan meluncur meninggalkan Ci-bun dengan ilmu lari cepat mereka, ke arah selatan.

“Ha-ha, kita akan mendapat petualangan baru. Baru kali ini aku mendengar binatang yang kebal bacokan senjata tajam!”

“Tapi aku sebal dengan pelayan di rumah makan itu. Ia membongkar rahasia perjalanan kita, Han-ko. Orang lain jadi tahu!”

“Ha-ha, biarlah. Yang penting kita sudah kenyang dan kini akan mencari binatang aneh itu. Ayo, berlomba cepat...!”