NAGA PEMBUNUH
JILID 32
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"GIAM LIONG...” sapaan Han Han lirih dan lembut. Pemuda ini memandang putera mendiang Golok Maut itu dan Giam Liong mengangguk. Tak ada pancaran kegembiraan di wajah Giam Liong. Si Naga Pembunuh ini muram. Dan ketika Tang Siu juga melihat Yu Yin dan gadis itu beringsut mendekati murid si Kedok Hitam ini maka Yu Yin tiba-tiba tersedu!

"Tang Siu, aku, aku terpukul oleh semuanya ini!"

"Tenanglah..." gadis itu memeluk, merangkul sahabatnya ini. "Semuanya telah terjadi, Yu Yin. Semuanya telah lewat. Aku turut bersedih tapi semua harus diterima dengan tabah”

"Aku tahu, tapi.... tapi ayah..."

"Ayahmu telah tiada, Yu Yin. Tak usah dipikirkan itu."

"Tidak... tidak, bukan itu. Aku... aku teringat kekejamannya, Tang Siu. Ooh, ia.... ia keji dan jahat benar. Aku tak dapat melupakan kekejamannya. Dan ia... ia ternyata guruku pula!"

Yu Yin mengguguk dan jatuh di pelukan sahabatnya. Ternyata ia tidak menyesali kematian ayahnya melainkan menyesali sepak terjang dan kejahatannya. Gadis itu mengalami pukulan berat karena guru yang ternyata ayahnya itu juga adalah seorang kejam dan tidak berperasaan. Dulu dia hendak melapor kepada ayahnya ketika gurunya membelejeti pakaiannya, tak tahunya gurunya itu adalah juga ayahnya. Dan betapa ayahnya juga memperkosa ibu Wi Hong dan belum kejahatan-kejahatan lain yang tak terhitung banyaknya, kecurangan dan kelicikan yang tak pantas dimiliki seorang bangsawan maka Yu Yin tersedu-sedu dan hancur serta terpukul berat.

Ayahnya ternyata adalah gurunya. Dan bahwa guru atau ayahnya itu juga memperkosa Thio Leng, murid Hek-yan-pang di mana Han Han dan ayahnya menolong gurunya itu maka kehancuran sekaligus kemarahan gadis ini tak tertahankan lagi. Dia serasa ingin mencekik dan membunuh ayah sekaligus gurunya itu. Yu Yin seakan ingin menghancurkan kepala ayahnya. Betapa jahat ayahnya itu!

Dan teringat bahwa guru sekaligus ayahnya ini amatlah jahat, tak heran kalau Giam Liong sampai mendendamnya sedemikian rupa tiba-tiba Yu Yin ingin mati saja kenapa dia dilahirkan dari benih laki-laki seperti itu. Kalau bisa, ia ingin kembali ke rahim ibunya dan minta dibatalkan. Kalau bisa ia tak perlu lahir! Dan ketika ia mengguguk dan tersedu-sedu menceritakan semuanya itu, melepas dan mengurangi himpitan batinnya maka Tang Siu juga meleleh air matanya dan murid Kim-sim Tojin ini tak dapat bicara. Namun untunglah, Ju-hujin bangkit berdiri dan mengelus gadis ini.

"Yu Yin, tak perlu lagi mengingat-ingat segala perbuatan ayahmu. Kami telah mengampuninya. Dia telah tiada. Biarkan arwahnya mencari ketenangan di sana dan jangan diganggu dengan kebencianmu itu. Jelek-jelek ia ayahmu, tak baik mengutuk atau mencaci. Diamlah dan lihat dua kakek ini hendak bicara kepadamu, juga Giam Liong."

Gadis itu mengangkat mukanya. Ia bertemu pandang dengan isteri ketua Hek-yan-pang ini dan Yu Yin menjerit. Pandang mata lembut dan penuh keharuan terdapat di situ, tak kuat ia. Dan ketika Yu Yin ganti menubruk dan tersedu-sedu di pelukan wanita ini maka Swi Cu menahan pula runtuhnya air mata.

"Sudahlah.... sudahlah, Yu Yin. Hapus air matamu itu dan mari dengarkan apa yang hendak dibicarakan dua orang tamu kita. Mereka menanti kesempatan. Han Han dan Tang Siu sekarang ada di sini."

Yu Yin masih tak mampu menahan dirinya. Ia masih juga tersedu-sedu dan mengguguk di pelukan nyonya itu dan barulah setelah Ju-taihiap batuk-batuk gadis ini reda tangisnya. Beng Tan berkata biarlah yang lewat tetaplah lewat, yang akan datang masih menunggu mereka dan ini harus disongsong. Dan ketika Yu Yin tertegun karena itu benar, masih ada hari esok buat mereka maka dia tinggal terisak-isak kecil ketika ditepuk-tepuk pendekar ini, yang juga bangkit dan mendekatinya.

"Sudahlah, simpan air matamu untuk hal lebih penting. Ji-wi totiang ini membawa sesuatu untuk kalian, Yu Yin. Lihat dan dengarkan mereka."

"Ji-wi locianpwe membawa apa?"

"Sesuatu yang penting. Dari Bu-beng Sian-su."

"Bu-beng Sian-su? Kakek dewa itu?"

"Benar," Yang Im Cinjin tersenyum, mendahului tuan rumah. "Ada yang kami bawa, anak baik. Tapi sebenarnya kami hanya bersifat pengantar. Kami membawa oleh-oleh dari kakek dewa itu."

Yu Yin menghentikan tangisnya dan otomatis terdiam. Sekarang dia sudah menguasai hatinya lagi dan perasaannya ringan.H iburan dan kata-kata sahabatnya di situ amatlah menyejukkan. Beruntung bahwa dia masih ditemani orang-orang gagah ini. Bagaimana kalau mereka mencapnya sebagai keturunan laki-laki jahat dan dianggap jahat pula. Tentu akan dijauhi! Ketika gadis itu merasa sejuk ada orang-orang yang masih mau mendekatinya, penuh sayang dan perhatian maka Yu Yin melepaskan ibu Han Han dan duduk lagi dengan baik. Kini ia diapit Tang Siu dan nyonya itu, Ju-taihiap telah kembali duduk ditempatnya.

"Kami datang atas dua hal," Yang Im Cinjin mulai bicara, menarik napas dalam. "Pertama adalah melihat murid-murid kami yang bertaut jodoh sedangkan yang kedua adalah mengantar sesuatu dari Bu-beng Sian-su, guru dari Ju-taihiap."

"Hm, Sian-su tak mau kuanggap guru," ketua Hek-yan-pang menggeleng dan membenarkan. "Kakek dewa itu menganggap setiap orang dapat menjadi guru bagi dirinya sendiri, totiang. Ia aneh dan tak mau kusebut suhu (guru)!"

"Benar, tapi kau telah mempelajari beberapa ilmu-ilmunya. Meskipun ia tak mau disebut guru tapi taihiap tentu akan tetap menganggapnya demikian. Orang yang rendah hati selamanya begitu!"

"Dan pinto baru kali itu pula bertemu dengannya. Aihh, ia hebat benar!" Kim sim Tojin, guru dari Tang Siu berseru kagum, menyambung. "Pinto ingin bertemu lagi, taihiap. Sayang, ia pergi dan kesempatan bicara belum pinto dapatkan lagi!"

"Hm, apa yang ia bawa," ketua Hek-yan-pang tertarik, wajahnya berseri. "Oleh-oleh apa yang hendak diberikan kepada kami, totiang. Bolehkah kami tahu!"

"Tentu, tapi sebenarnya ini khusus buat pemuda itu, juga gadis itu. Hanya kalian semua boleh tahu dan biarlah sekarang kubuka," Yang Im Cinjin merogoh saku bajunya, memandang ke arah Giam Liong dan Yu Yin karena dua orang itulah yang dimaksud, terutama Giam Liong. Dan karena Han Han kini juga beringsut dan duduk di dekat Giam Liong, menemani pemuda itu terharu oleh kebuntungannya maka Yang Im Cinjin menyerahkan secarik kertas kepada Giam Liong, diterima dengan tenang-tenang saja meskipun sebenarnya Giam Liong berdetak.

"Dari Sian-su, locianpwe? Untuk aku?"

"Begitu katanya, dan nanti dua tiga hari lagi kakek itu datang kepadamu."

"Terima kasih, surat apakah ini." Giam Liong membuka, menjentik dan tertegun karena surat yang diterimanya itu tidaklah berisi apa-apa. Isinya hanya tiga baris syair dan tentu saja dia berkerut kening. Isi syair itu bicara tentang dendam. Dia terkejut! Namun karena dia tidak mengerti apa arti pemberian ini dan ke mana kakek itu hendak membawanya, Giam Liong belum berjumpa si kakek dewa maka dia mengangkat mukanya memandang Yang Im Cinjin. Sorot matanya memancarkan keheranan. "Aku tak melihat apa-apa. Surat ini hanya berisi sebuah syair. Apa maksudnya dan apakah locianpwe tahu."

"Hm, inti ceritanya adalah dendam. Dan jelas yang dituju adalah kau. Pinto belum jelas ke mana kakek itu membawamu, Giam Liong. Dan agaknya kau harus berhadapan sendiri dengan kakek itu."

"Syair apakah," nyonya rumah tiba-tiba bertanya, teringat bahwa duapuluh tahun yang lalu Bu-beng Sian-su juga pernah memberi syair kepada mereka. "Bolehkah aku tahu dan apakah isinya!"

"Silahkan," Giam Liong mengangguk dan memberikan itu. Han Han sekilas telah membacanya. "Isinya menyeramkan aku, bibi. Aku tak mengerti tapi agaknya memang aku yang dituju."

"Hm," alis nyonya itu segera berkerut, matanya bersinar-sinar. "Sama seperti kita dulu, suamiku. Sebuah pelajaran yang tentu penting!"

"Apakah itu," Beng Tan tertarik dan bersinar-sinar pula. "Dapatkah kau baca dan biar kudengar."

"Aku agak ngeri. Biar Giam Liong saja yang membaca!"

"Atau aku saja," Yu Yin berseru dan tak tahan ingin tahu pula. "Tadinya katanya untuk aku dan Giam Liong, bibi. Biar kulihat dan kubaca!"

Swi Cu mengangguk. Ia menyerahkan dan membiarkan Yu Yin membaca. Dan ketika gadis itu membaca namun masih di dalam hati, belum bersuara maka Ju-tai-hiap berseru dan tak sabar. Semua kini telah melihat dan mengetahui.

"He, baca, Yu Yin. Bagaimana isinya!"

Yu Yin sadar. Akhirnya ia membeber kertas itu dan dengan wajah agak takut ia membaca. Dan begitu ia mengeluarkan suara maka Yang Im Cinjin maupun Kim-sim Tojin mengangguk-angguk:

Api memercik di sudut hati merayap cepat membakar bumi, musnahlah sudah kasih dan budi tinggallah jiwa yang penuh benci.

Dendam kesumat membawa laknat hancur periuk ditimpa genta, sudah kodrat datang menjerat celakalah badan rusak binasa.

Satu jalan melepaskan diri membuang racun lekatkan jari taruh di tengah, sang dewa cinta siap dan tenang menebus dosa!


"Hm, menyeramkan!" Ju-taihiap mengangguk-angguk, berdesir. "Benar katamu, Giam Liong. Syair itu menyimpan sesuatu yang menggetarkan hati. Aku juga merasa seram!"

Yu Yin menutup dan melipat kertas itu. Ia telah selesai membaca dan dua kakek di sana mengangguk-angguk. Mereka telah tahu itu karena sebelumnya memang telah membaca. Syair itu boleh diketahui semua orang karena memang untuk semua orang, meskipun Giam Liong lah yang dituju karena kebetulan pemuda itu sebagai pelaku yang menonjol, begitu agaknya. Dan ketika Beng Tan menarik napas dalam-dalam dan Han Han berkerut kening, dia juga merasa seram tapi tak jelas apa yang hendak dituju lebih lanjut oleh Bu-beng Sian-su maka pemuda inipun berkata,

"Isinya tentang kebencian dan dendam kesumat. Tapi apa arti dari bait ketiga!"

"Ya, aku juga belum tahu. Tapi tentu penting!" sang ayah menjawab.

"Hm, pinto dapat menangkap maksudnya, taihiap. Tapi pinto tak berani bicara dan biarlah kakek itu sendiri yang menjawab," kata Yang Im Cinjin.

"Aku juga dapat menangkap. Tapi kurang pantas rasanya kalau lancang mendahului!" Kim-sim Tojin juga mengangguk-angguk.

"Apakah ji-wi locianpwe tahu?"

"Kami pikir begitu, karena kami adalah orang-orang tua. Kami telah banyak makan asam garam dunia tapi biarlah Sian-su sendiri yang akan menerangkan."

Beng Tan mengangguk-angguk. Itu adalah etika dan sebagai sesama orang tua tentu saja Kim-sim Tojin maupun Yang Im Cinjin tak mau lancang. Dan karena dia diharuskan berpikir dan diapun sudah berpikir, puteranya dan lain-lain berkerut kening dan juga berpikir maka Yang Im Cinjin tertawa mengebutkan lengan. Minuman dan makanan kecil telah dihabiskan.

"Taihiap, urusan pinto telah selesai. Pinto telah membuktikan kepada Kim-sim totiang dan kini menyampaikan oleh-oleh itu kepada yang bersangkutan. Pinto hendak pergi dulu dan biarlah seminggu dua minggu lagi kita bertemu."

"Eh!" Beng Tan terkejut. "Locianpwe mau ke mana?" pembicaraan tentang syair tiba-tiba buyar. "Jangan tergesa-gesa, locianpwe. Kami masih ingin kau temani!"

"Ha-ha, pinto masih ada urusan sedikit. Dan di sini puteramu Han Han telah menemani. Biarlah pinto pergi dulu dan nanti seminggu dua minggu kita bertemu lagi!"

Bangkit berdiri tiba-tiba kakek itu tak menanti jawaban. Ia telah mengangguk kepada tuan rumah dan juga Kim-sim Tojin. Dan begitu ia mengangguk kepada yang lain dan berkelebat lenyap maka kakek itupun tak mau tinggal lagi.

"Han Han, aku pergi dulu. Dan kau Giam Liong, pinto turut prihatin atas semua yang menimpamu!"

Giam Liong dan Han Han membelalakkan mata. Mereka tak menyangka bahwa secepat itu kakek itu pergi. Tapi karena orang-orang sakti memang membawa adat sendiri-sendiri dan mereka itu biasanya tak dapat dikekang, nyonya rumah dan lain-lain juga terbelalak maka Han Han bangkit berseru pada gurunya, Giam Liong juga berdiri dan menghadap ke arah mana kakek itu berkelebat.

"Suhu, teecu masih ingin melepas kangen kepadamu. Jangan lama-lama!"

"Dan terima kasih atas pemberianmu, locianpwe. Aku juga ingin bertemu lagi dan bicara tentang pelajaran-pelajaran bijak!"

"Ha-ha!" kakek itu tahu-tahu sudah diluar pulau, cepat sekali. "Pelajaran bijak akan kau dapatkan dari Bu-beng Sian-su, Giam Liong. Aku tak mempunyai pelajaran apa-apa kecuali nasihat dan sekedar wa-was pandangan. Hati-hatilah menghadapi masa depanmu!"

Giam Liong tertegun. Kakek itu telah lenyap tapi suaranya terdengar jelas. Semua juga mendengar dan Giam Liong berubah. Tapi karena dia sudah ditempa kepahitan-kepahitan hidup dan apapun akan dihadapi dengan tabah maka dia duduk lagi dan acuh.

"Siancai, Yang Im toheng membuat orang lain tak enak saja. Hm, masa depan memang selalu penuh tantangan, anak muda. Jangan takut!"

"Aku tak takut," Giam Liong tertawa getir, tahu maksud kakek yang satu itu. "Aku cukup mengalami hal-hal pahit, lo-cianpwe. Tapi ada baiknya kata-kata Yang Im-locianpwe agar dapat membuatku waspada."

"Hm, syukurlah. Dan bagaimana aku sekarang." kakek itu juga bangkit berdiri. "Apakah kita di sini saja, Siu-ji. Apakah tidak pulang."

"Pulang?" Tang Siu terkejut, di sana Han Han berubah. "Terserah kepadamu, suhu, tapi bagaimana dengan sahabatku Yu Yin."

"Ha-ha, Yu Yin ataukah Han Han!" kakek itu tertawa bergelak. "Yu Yin sudah ada pasangannya, Tang Siu. Dan kita tentu harus pulang menunggu pinangan resmi dari Ju-taihiap!"

"Ah!" Ju-taihiap terkejut, bangkit berdiri. "Urusan anak-anak gampang dibicarakan, totiang. Tapi kuminta dengan hormat tinggallah di sini dua tiga hari menunggu Sian-su. Aku tentu akan melamar untuk puteraku tapi janganlah tergesa-gesa meninggalkan Hek-yan-pang. Kami masih ingin ditemani!"

"Benar," Yu Yin tiba-tiba berseru dan melirik sahabatnya, Yu Yin tampak bingung harus cepat-cepat berpisah dengan Han Han, kekasihnya. "Aku butuh sahabatku, locianpwe. Biarkan Tang Siu di sini menemaniku. Atau aku juga pergi dan biarlah kuikut ke Kun-lun!"

"Wah, kalian mendesakku? Ha-ha, pinto tak enak kepada Ju-taihiap. Merepotkan tuan rumah!"

"Tidak," Swi Cu tiba-tiba juga berseru, tahu lirikan dua muda-mudi itu dan ingin membahagiakan. "Kata-kata suamiku benar, totiang. Tinggallah di sini dua tiga hari menanti Sian-su. Tentu kita akan lebih gembira. Kami tak merasa repot!"

"Nah," kakek itu berseru, tertawa memandang muridnya. "Bagaimana kalau begini, Tang Siu? Apakah kita turuti?"

"Terserah suhu," gadis itu tetap menjawab, diam-diam mulai girang. "Kalau suhu mau pulang tentu teecu ikut, tapi kalau suhu masih di sini tentu teecu juga menurut. Terserah suhu!"

"Ha-ha, kalau begini pinto kalah. Eh!" kakek itu menoleh kepada Yu Yin. "Kau benar-benar butuh muridku ini, nona? Kau tidak berbasa-basi, bukan?"

"Aku masih ingin bicara banyak dengan murid locianpwe, aku butuh kehadirannya. Aku tidak berbasa-basi!"

"Bagus, kalau begitu kuterima. Ha-ha, jangan merasa repot kalau pinto di sini, Ju-taihiap. Harap kau tidak menyalahkan!"

"Kami tulus mengajak totiang. Justeru kami akan kecewa kalau totiang buru-buru pergi," Beng Tan tersenyum.

"Baik, kalau begitu pinto akan menunggu sampai kakek dewa itu datang dan terima kasih atas ajakan ini." Kim-sim Tojin tertawa mengangguk, di sana muridnya berseri dan mendapat kedipan Han Han dan Yu Yin tersenyum dan bahagia. Ia sengaja meminta karena di samping ia sendiri butuh teman untuk hiburan juga karena sebagai sama-sama orang muda ia tahu benar betapa kecewanya nanti gadis itu kalau buru-buru pulang mengikuti gurunya. Tang Siu baru saja mereguk nikmat dan bahagianya cinta bersama Han Han. Sungguh terasa berat kalau belum apa-apa sudah diharuskan pulang.

Dan karena Ju-taihiap maupun isterinya juga mengundang sungguh-sungguh, Yu Yin girang karena si kakek tak buru-buru kembali maka hari itu mereka bergembira dan bercakap-cakap. Sedikit gangguan dengan perginya Im Yang Cinjin tadi tak mengganjal lagi. Yu Yin sudah memeluk dan merangkul gadis ini lagi. Dan ketika di sana Giam Liong acuh dan tenang-tenang saja, menahan debaran hatinya akan syair Bu-beng Sian-su maka malamnya mereka semua beristirahat dan melepas lelah. Giam Liong diminta untuk tidur di kamar Han Han dan Yu Yin bersama Tang Siu.

Giam Liong mengerutkan kening dan mula-mula menolak. Tapi ketika Han Han berkata bahwa kamar itu dulunya juga kamar yang ditempati Giam Liong, ketika Giam Liong disangka sebagai putera kandung Ju-taihiap maka Giam Liong akhirnya tak menolak, apalagi karena paman dan bibinya, begitu sekarang Giam Liong menyebut, mengia-kan pula.

"Kau tak usah sungkan atau malu. Han Han benar. Kalian tidurlah di satu kamar karena kalian sudah bukan orang-orang lain lagi bagiku."

"Dan kau boleh tinggal selamanya di sini pula kalau kau suka," Swi Cu berkata, menyambung, pandang matanya penuh keharuan dan kasih, tidak seperti dulu lagi. "Aku boleh kau anggap sebagai ibumu, Giam Liong. Paling tidak bibimu asli karena mendiang ibumu adalah benar-benar kakak seperguruanku!"

"Terima kasih," Giam Liong menunduk, air matanya mengembang. "Terima kasih atas semua budi dan kebaikanmu, bibi. Aku..... aku hanya dapat berterima kasih. Tapi maaf, aku tak mungkin tinggal disini selamanya."

"Hm, kenapa begitu," sang paman kini menepuk-nepuk pundaknya. "Kau bertahun-tahun telah menjadi puteraku, Giam Liong. Dan sampai sekarangpun aku dapat menganggapmu sebagai puteraku. Tak usah ke mana-mana. Hek-yan-pang bahkan semakin kuat kalau ada kalian, dua orang muda disini!"

"Terima kasih, tapi... tapi aku harus pergi, paman. Aku ingin melupakan semua ini dengan merantau di tempat yang jauh."

"Hm, bagaimana dengan Yu Yin?"

"Ia akan ikut aku. Ia tak mau kembali ke kota raja."

"Kalau begitu aku harus meresmikan kalian dulu. Bersabarlah sebentar jangan buru-buru pergi. Kau dan Yu Yin biarlah melangsungkan pernikahan bersama-sama Han Han, kalau kami sudah meminang Tang Siu secara resmi!"

"Benar, dan pinto akan menjadi wali kekasihmu," Kim-sim Tojin tiba-tiba muncul, mendengar itu. "Tak baik berduaan tanpa tali ikatan, Giam Liong. Bersabarlah dan turut kata-kata pamanmu."

Giam Liong menahan runtuhnya air mata. Keluarga paman dan bibinya ini sungguh betul-betul menganggapnya anak sendiri, meskipun mereka telah menemukan Han Han sebagai anak kandungnya. Dan ketika ia mengangguk dan mengucap terima kasih, bibir gemetar menahan keharuan yang dalam maka di kamar ia tak kuat lagi dipeluk Han Han, menangis.

"Giam Liong, kau adalah saudaraku. Maafkan kalau aku pernah menentang dan menyakiti hatimu. Kita adalah sekeluarga, jangan tolak permintaan ayah dan tinggallah di sini saja bersamaaku."

"Tidak, terima kasih...!" Giam Liong hampir mengguguk. "Aku... aku harus ke Lembah Iblis, Han Han. Aku harus mengubur dan mengembalikan senjata itu di tempat asalnya. Justeru akulah yang harus minta maaf karena berkali-kali aku memusuhimu!"

"Sudahlah, yang dulu tak usah dibicarakan. Kita beristirahat, Giam Liong. Silahkan tidur."

Giam Liong tertegun. "Kau saja yang tidur, aku di kursi ini saja." kamar itu hanya mempunyai satu tempat tidur, tempat tidurnya dulu!

"Tidak, kau yang di sana, Giam Liong. Aku di sini!"

"Hm," Giam Liong menggeleng. "Kamar ini hanya mempunyai sebuah tempat tidur, Han Han, dan kau pemiliknya. Kau yang, disana dan aku disini!"

"Tapi itu adalah tempat tidurmu dulu. Aku hanya tinggal pakai dan menumpang!"

"Kalau begitu bagaimana? Kau tetap menyuruh aku?"

"Itu milikmu."

"Tidak, sekarang milikmu, Han Han. Tidurlah di situ dan aku dikursi!"

"Tidak, aku tak mau. Kalau begitu begini saja. Kita sama-sama tidur di situ. Atau aku juga di kursi dan biarkan tempat tidur itu kosong!"

"Han Han...!"

Namun pemuda ini menarik tangan Giam Liong. Ia menyuruh Giam Liong tidur di situ dan barulah Han Han pun merebahkan dirinya di situ. Tempat tidur ini tidaklah besar namun bagi mereka berdua sesungguhnya cukup. Hanya karena kesungkanan Giam Liong itulah, pemuda buntung itu tak mau. Dan ketika Han Han berhasil memaksa dan mereka tidur sepembaringan, Giam Liong menahan tangisnya yang seakan meledak lagi maka pemuda ini mencengkeram Han Han dan berseru, gemetar.

"Han Han, pernahkah terbayang olehmu bahwa kita akan tidur sepembaringan? Terlintas di benakkah bahwa kita yang pernah bermusuhan dan bertanding begitu hebat suatu ketika dapat bersatu dan tidur seperti ini? Ah, aku merasa betapa baik dan mulia budimu, Han Han. Kau seperti ayahmu. Dan aku... aku pernah menjadi begitu ganas. Aku benar-benar pernah menjadi iblis!"

"Sudahlah," Han Han tersedak dan menahan runtuhnya air mata, cepat-cepat memadamkan lampu. "Aku tak pernah memikirkan semuanya itu, Giam Liong. Tapi kaupun tak salah sepenuhnya. Tidurlah, dan jangan bicara yang membuat aku serasa diremas-remas!"

"Oohh...!" Giam Liong menjauh dan melepaskan cengkeramannya. Han Han menangis! "Maafkan aku, Han Han, maafkan....!"

Dua pemuda itu tak bicara lagi. Mereka diam namun sesungguhnya jiwa mereka menjerit. Han Han dan Giam Liong sama-sama merasakan kebahagiaan dan keharuan yang luar biasa. Tidur sekamar dan sepembaringan seperti itu sungguh tak pernah mereka bayangkan. Seperti mimpi! Mereka yang pernah bermusuhan dan bertanding begitu hebat tiba-tiba saja malam itu tidur bersebelahan. Siapa tak tercekik dan ingin menjerit oleh keharuan dan kebahagiaan yang dalam?

Apalagi bagi Giam Liong, yang telah mendapat pertolongan dan perawatan dari keluarga itu. Dan teringat betapa tulus dan lembutnya paman dan bibinya meminta dia tinggal di situ, selamanya, bersama Han Han maka Giam Liong ingin memekik dan berteriak kegirangan. Suara bibinya yang begitu lembut dan penuh perhatian, suara yang tak akan dia lupakan seumur hidup membuat Giam Liong merasa berdosa atas tindak-tanduknya yang lalu, apalagi ketika dia pernah menyakiti dan menusuk perasaan keluarga itu dengan mengalahkan pamannya. Tentu sakit sekali perasaan pamannya waktu itu. Giam Liong memejamkan mata kuat-kuat. Dan teringat betapa dia tak pantas tinggal bersama paman dan bibinya ini, juga Han Han yang berwatak mulia dan amat lembut maka Giam Liong melihat betapa dia telengas dan kejam.

Dia khawatir bahwa bibit-bibit seperti ini hanya akan menyusahkan keluarga itu saja. Dia pendendam dan termasuk bertabiat panas, meskipun sekarang setelah dendamnya berhasil dilampiaskan dan ia membunuh Kedok Hitam segala keganasan atau watak kejamnya itu hilang. Siapa dapat menjamin diri sendiri kalau suatu ketika ada apa-apa lagi?

Lebih baik dia mundur, menjauh. Biarlah Han Han dan ayah ibunya hidup bahagia tanpa orang setelengas dia. Kebaikan dan budi baik keluarga itu tak usah dirusaknya dengan watak-watak keji. Dia adalah keturunan Golok Maut Sin Hauw yang sepak terjangnya juga pernah menggiriskan dunia kang-ouw. Ada semacam "darah hitam" yang diwarisinya dari keluarga. Itu tak boleh pecah di sini. Dan karena Giam Liong memutuskan tidak akan selamanya di situ, suatu hari dia harus pergi, maka di kamar lain, ketika dua pemuda saling tenggelam dipikiran masing-masing maka Tang Siu dan Yu Yin juga asyik berbisik-bisik, pengantar tidur.

"Sst, mereka tidur sekamar, dan sepembaringan lagi. Ih, bagaimana pendapatmu, Tang Siu? Apakah Han Han tak merasa jijik?"

"Hm, jijik? Kenapa? Kau dan akupun sama-sama tidur di pembaringan yang sama, Yu Yin. Dan aku tak merasa jijik atau apa kepadamu. Giam Liong pada dasarnya baik!"

"Kau tak ingat sepak terjangnya yang lalu?"

"Dia seperti harimau garang yang tak mungkin menerkam kalau tak disakiti atau diganggu. Giam Liong pemuda luar biasa yang hanya kejangkitan semacam penyakit. Mungkin dari hawa gaib Golok Penghisap Darah warisan ayahnya itu!"

"Penyakit?"

"Ya, begitu agaknya, Yu Yin. Tapi entahlah, aku juga tak tahu. Aku hanya ingat ketika golok itu pernah mengamuk dan marah-marah kepada kita. Seperti setan!"

"Hm, aku ngeri membayangkan golok itu. Tapi aku ingin mengucap terima kasih bahwa kau telah membantu aku menghalau pemberontak-pemberontak yang mengepung kota raja!"

"Ah, itu soal biasa, Yu Yin. Chu-goan-swe dan orang-orangnya itu harus diusir. Aku tak tega melihat rakyat jelata menjadi korban!"

"Dan sekarang mereka telah pergi. Tanpa Giam Liong tak mungkin mereka datang lagi!"

"Eh, bolehkah aku bertanya," Tang Siu tiba-tiba teringat. "Aneh bahwa kau tiba-tiba membantu istana setelah disakiti dan ditangkap orang-orang kerajaan. Bagaimana sebenarnya maumu ini, Yu Yin. Bolehkah aku tahu!"

"Hm, itu? Gampang saja. Aku ingin membalas budi. Jelek-jelek kaisar pernah memberiku kesenangan dan kemewahan. Aku adalah puteri bangsawan. Meskipun aku kini tak akan kembali dan tinggal di istana lagi tapi aku ingin berdarma bakti dan membalas budi baiknya. Apakah aneh?"

"Hm, begitukah?"

"Ya, di samping tak ingin rakyat jelata menjadi korban lebih jauh dari peperangan itu. Sudahlah, aku tak mau bicara lagi tentang ini, Tang Siu. Aku ingin menutup masa laluku tentang istana!"

Tang Siu menarik napas dalam. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan mereka bicara yang lain, kembali pada Han Han dan Giam Liong itu. Dan karena masing-masing adalah kekasih pemuda itu, tentu saja berkisar pada dua pemuda inilah pembicaraan mereka tertaut maka angin malam berkesiur lembut dan tiba-tiba mereka menguap.

"Tang Siu, aku mengantuk."

"Aku juga..."

"Marilah tidur dan semoga bermimpi indah!"

"Benar, marilah tidur, Yu Yin. Dan semoga bermimpi indah!"

Dan ketika keduanya kembali menguap berbareng dan lampu dipadamkan maka Yu Yin tiba-tiba sudah lelap dan Tang Siu menyusul. Hawa dingin dari angin yang segar membuat mereka menguap, malam telah larut. Dan ketika kentongan pukul satu terdengar dari tengah pulau, telaga berdesir dan beriak perlahan maka penghuni rumah itu lelap dan Ju-taihiap pun tertidur memeluk istennya.

* * * * * * * *

Entah apa yang terjadi tak ada yang tahu. Giam Liong, yang tertidur dan pulas bersama Han Han mendadak serasa diangkat. Mimpi yang mengejutkan membawa mereka. Giam Liong merasa digoyang dan tiba-tiba iapun bangun. Dan ketika Han Han juga bangun dan tersentak membuka mata, terbelalak, maka sesosok bayangan putih muncul di tengah-tengah mereka. Tempat tidur berguncang-guncang lembut.

"Hantu!" Giam Liong dan Han Han serentak berseru berbareng.

Mereka kaget sekali dan Han Han bergerak menyerang bayangan putih itu, yang melayang dan mengambang di tengah udara. Tapi ketika tawa yang lembut menyambut serangannya dan pemuda itu terjelungup kedepan, Giam Liong juga bergerak tapi ditangkap tangannya maka dua orang muda itu terkejut sekali karena sapaan halus dan enak didengar memasuki telinga mereka.

"Maaf, jangan bersuara keras-keras, anak-anak. Perahu nanti terguling!"

Han Han dan temannya tertegun. Mereka diusap lengan yang lembut dan tawa yang empuk itu sedap sekali didengar. Han Han membelalakkan mata. Tapi ketika ia mendengar jerit tertahan dan Tang Siu maupun Yu Yin ada disitu, dibelakang bayangan putih-putih ini maka mereka ternyata ada di perahu dan Yu Yin menuding.

"Giam Liong, sss. setan!"

Giam Liong terpaku. Ia melihat tempat tidur ada di situ, di atas perahu. Dan ketika ia ternganga karena gedung tempat tinggal Ju-taihiap juga ada di atas perahu ini, ajaib sekali maka ia terhuyung dan mengejap-ngejapkan mata.

"Han Han. apa yang kau lihat!"

"Aku... aku melihat tempat tidur kita .....! Dan... dan, eh.... gedung tempat kita tinggal ada di perahu ini! Itu kamar ayah, dan itu taman-taman bunga pula. Eh, bagaimana bisa menumpang dan berdiri di atas perahu. Kita memasuki alam gaib!"

"Benar, aku... aku merasa seram, Han Han. Dan bintang-bintang ini, aih... dekat sekali. Serasa belasan meter saja dari tempat kita. Cahayanya gemerlapan!"

"Dan itu bulan yang bundar amat indahnya. Kita serasa mimpi!"

"Benar, kita mimpi!"

"Dan ada setan!" Yu Yin tiba-tiba kembali berteriak. "Tolong, bawa aku ke tempatmu, Giam Liong. Aku tak dapat bergerak. Siapa kakek ini!"

"Benar, siapa dia," Han Han tiba-tiba juga terkejut, membalik. Ia juga tak dapat melompat atau menjangkau ke depan. Tadi ia tersungkur dan ditangkap jari lembut kakek itu.

Namun ketika kembali kakek itu tertawa dan tawanya yang lembut serta halus menyejukkan mereka, membuat mereka berani untuk memandang jelas maka semua tertegun karena wajah kakek itu ternyata tertutup halimun sementara dari kedua matanya menyorot cahaya lembut namun tajam. Itu saja. Dan selebihnya kakek ini tak menginjak tanah. Manusia roh!

"Kau..... kau siapa?"

"Duduklah," kakek itu menggerakkan tangan menyuruh duduk, tawanya masih lembut terdengar. "Aku adalah orang yang menitipkan syair kepada Yang Im Cinjin, anak-anak. Jangan takut karena aku tak mengganggu kalian."

"Sian-su?" Giam Liong dan Han Han berseru serentak, kaget. "Bu-bengSian-su?"

"Hm, itulah nama yang diberikan orang kepadaku. Aku sendiri tak bernama. Duduklah, dan harap tenang-tenang saja."

Han Han dan Giam Liong tiba-tiba terbelalak. Mereka sekarang dapat bergerak lagi sementara Tang Siu dan Yu Yin berseru tertahan. Begitu tadi kakek itu menggerakkan tangan maka sekarang mereka dapat melompat dan Yu Yin maupun Tang Siu langsung saja bersembunyi di belakang dua pemuda ini. Mereka merasa takut dan gentar. Kakek ini seperti siluman! Tapi ketika kakek itu benar-benar tak mengganggu mereka dan tawanya yang lembut kembali terdengar, menyuruh mereka tak usah takut maka Yu Yin maupun temannya tenang kembali, meskipun jantung mereka terasa berdebar kencang!

"Aku terpaksa membawa kalian ke sini, tak mau mengganggu yang lain. Dan karena kalianlah yang lebih berkepentingan maka aku hendak bercakap-cakap dengan kalian."

"Kau. kau hendak bicara apa?"

"Hm," kakek ini memandang Giam Liong, sorot matanya tajam menembus, Giam Liong tersentak mundur. "Ada kejadian berat yang akan kau alami lagi, anak muda. Aku hendak memberi pesan agar kau hati-hati dan jangan sekali-kali memiliki Golok Maut lagi. Rencanamu benar, kembalikan golok itu ke Lembah Iblis dan kuburlah dia di sana. Seumur hidup jangan dilihat lagi, jangan diambil. Atau malapetaka akan menimpamu dan seumur hidup kau bakal menderita!"

Giam Liong tergetar, terkejut. "Sian-su. Sian-su tahu ini?"

Han Han juga heran. Seingatnya baru kepada dia seoranglah Giam Liong memberitahukan rencananya itu. Maka melihat kakek ini tahu dan mengangguk, tertawa, maka Han Han lebih heran lagi mendengar kakek itu tahu apa yang mereka bicarakan dikamar.

"Aku tahu, dan aku merasa bahagia bahwa kalian dapat bersatu dan hidup berdampingan. Aku juga mendengar percakapan kalian di kamar."

Han Han tertegun.

"Tapi kau..." kakek ini tiba-tiba menoleh kepada Yu Yin. "Jangan sekali-kali ke kota raja dan pegang sumpahmu, nona. Sebaiknya tak usah kau menemui siapapun di sana dan tak usah dikunjungi siapapun dari sana. Mulailah hidup baru dan benar-benar lupakan kerabat ataupun sahabatmu dari istana."

Yu Yin mengangguk. "Aku memang tak akan kembali kesana," gadis ini berkata setengah marah. "Dan aku merasa tak mempunyai kepentingan lagi dengan istana!"

"Bagus, dan pegang teguh kata-katamu ini, nona. Atau nanti semua jadi terbalik!"

"Hm, Sian-su membuat kami berdebar," Han Han kini bicara, mulai tidak takut-takut lagi. "Dan bagaimana dengan aku, Sian-su. Apa yang harusku perhatikan!"

"Janganlah kau biarkan ayah ibumu meninggalkan Hek-yan-pang dalam waktu sepuluh tahun ini. Jagalah mereka dan sebaiknya kau kawal ayah ibumu kalau ingin bepergian lama."

"Apa? Mengawalnya seperti anak kecil?” Han Han terbelalak.

"Hm, akan ada gejolak di dunia kang-ouw. Kalau kau ingin bertanya nasihatku maka itulah yang harus kau lakukan, anak muda. Katakan agar dalam waktu sepuluh tahun ini sebaiknya ayah ibumu tak usah bepergian, tak usah meninggalkan Hek-yan pang jauh-jauh. Itu nasihatku."

Hari Han tertegun. Ia merasa heran tapi mengangguk-angguk mengucap terima kasih. Betapapun itulah nasihat untuknya dan dia akan memberitahukan ayah ibunya pula. Konon, dari kakek dewa ini pulalah ayahnya mewarisi kepandaian. Dan ketika kakek itu duduk dan berhadapan dengan mereka, Tang Siu dan lain-lain mulai berani maka gadis ini bertanya pula,

"Lalu aku bagaimana, Sian-su? Apa yang harus kuperhatikan?"

"Gurumu sebaiknya tak usah turun gunung. Dalam waktu sepuluh tahun ini, tahanlah keinginannya untuk tidak keluar-keluar, sama seperti Ju-taihiap."

"Hm, dan sekarang aku ingat akan syair pemberianmu itu," Han Han kini berseru, memotong kekasihnya. "Kata ayah maupun ibu, kau selalu memberikan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan, Sian-su. Dan bagaimana sekarang dengan syairmu itu!"

"Benar," Giam Liong juga mengangguk, merasa dialah yang lebih berkepentingan. "Aku dan Han Han sudah membaca berulang-ulang, Sian-su. Tapi tidak banyak yang kami dapat."

"Ha-ha, isinya jelas dan terang. Masa kalian tak mengerti!"

"Benar, tidak semuanya kami mengerti, Sian-su. Kami hanya tahu bahwa syairmu bicara tentang dendam. Itu intinya!"

"Hm, bukan itu saja. Tapi kelanjutan dari itu lebih penting lagi!"

"Pada bait ketiga?"

"Benar, kau cerdas."

"Tapi kami tak mampu mengupasnya. Apa yang kau maksud dengan kata-kata pada baris ketiga itu!"

"Sebaiknya dibaca saja semua,"

Tang Siu tiba-tiba berseru, perahu bergoyang dan mereka nyaman sekali diombang-ambing, ikan berkecipak dan hilir-mudik berenang di sekitar perahu. "Aku tak ingin tahu hanya sepenggal-sepenggal saja, Han Han. Kau boleh cerdas tapi kami ini masih bodoh!"

"Ha-ha, bukan bodoh, hanya belum mengerti. Orang yang bodoh adalah orang yang sudah tahu sesuatu tapi tak mampu mengerjakannya, nona. Bukan karena tak bisa melainkan karena otaknya bebal."

"Dan kami barangkali bebal, kami juga begitu."

"Tidak, dalam hal ini kalian memang belum mengerti, dan belum mengerti karena memang belum kuberi tahu. Hm, duduklah yang tenang dan mari kita lihat syair itu. Siapa yang membawa!"

Giam Liong mengeluarkan syair itu. Dialah yang membawa karena memang kepada dialah Im Yang Cinjin memberikan. Yu Yin di sampingnya dan kini tidak takut-takut lagi menghadapi kakek ini. Bahkan, ada rasa kagum dan takjub. Dan karena Tang Siu juga sudah di samping Han Han dan tidak bersembunyi di belakang punggung lagi, aneh bahwa semua sudah mengelilingi kakek itu maka Bu-beng Sian-su yang tersenyum dan bersila di tengah anak-anak muda ini memandang berseri dan sorot matanya yang lembut menyapu sejuk.

"Kau bacalah," kakek itu memerintah Giam Liong. "Dan perhatikan baik-baik apa yang hendak kuberitahukan kepada kalian."

Giam Liong berdebar. Setelah dia dapat menenangkan perasaannya kembali berhadapan dengan kakek ini mendadak sekarang ia merasa tegang dan menggigil menggenggam kertas itu. Aneh, ia seakan ketakutan, pucat. Tapi ketika pundaknya ditepuk halus dan lenyap sudah rasa gemetaran itu maka Giam Liong membaca, seperti ketika Yu Yin membaca syair itu:

Api memercik di sudut hati merayap cepat membakar bumi musnahlah sudah kasih dan budi tinggallah jiwa yang penuh benci.

Dendam kesumat membawa laknat hancur periuk ditimpa genta, sudah kodrat datang menjerat celakalah badan rusak binasa.

Satu jalan melepaskan diri membuang racun lekatkan jari taruh di tengah, sang dewa cinta siap dan tenang menebus dosa!


"Hm!" kakek itu mengangguk-angguk. "Cukup, anak muda. Terima kasih. Bagus!"

Giam Liong mengusap keringat. Membaca tiga bait syair itu saja tiba-tiba ia seakan mendapat tugas berat. Dahinya berkeringat padahal hawa udara malam masih berhembus dingin. Aneh! Tapi begitu ia selesai dan kakek itu mengangguk-angguk, pemuda ini meletakkan syairnya maka kakek itu berseri, matanya bersinar-sinar.

"Bagus, apa yang dapat kau tangkap, anak muda? Adakah yang sudah kau mengerti?"

"Hm, masalah dendam. Syair ini bicara masalah dendam. Tadi temanku Han Han juga sudah bicara begitu!"

"Ha-ha, aku tidak bertanya pendapat temanmu. Aku bertanya kepadamu sendiri, kau!"

"Aku juga begitu, Sian-su. Aku sependapat bahwa syairmu ini bicara tentang dendam," Giam Liong agak merah mukanya.

"Baik, dan kau pasti dengan pendapatmu itu?"

"Ya."

"Hm, apalagi yang kau tangkap!"

"Belum ada...." Giam Liong mengerutkan kening, sesungguhnya kurang suka bicara tentang ini. Perasaannya seperti tercabik-cabik. "Aku belum menemukan apa-apa lagi, Sian-su, kecuali itu."

"Hm, kau," kakek ini tiba-tiba menunjuk Han Han. "Coba kau kupas dan artikan syair itu, anak muda. Barangkali kau lebih tahu!"

"Aku seperti Giam Liong," Han Han tergagap. "Aku hanya tahu sebatas itu!"

"Hm, kalau begitu bagaimana kalian!" Bu-beng Sian-su menoleh pada Tang Siu maupun Yu Yin, yang dipandang segera berdesir! "Coba kalian baca dan artikan itu!"

"Kami.... kami tak tahu. Kami hanya tahu seperti apa yang mereka katakan!" Tang Siu menjawab dan memberanikan hati. Bicara dengan kakek ini ia serasa gentar dan meskipun tidak takut tapi perbawa dan wajah kakek itu mengerikannya. Ia merasa jerih! Dan ketika kakek itu tertawa dan mengangguk-angguk, menarik napas dalam maka dia berkata,

"Baiklah, syair ini sederhana sekali, anak-anak, tak ada yang sukar. Tapi harus kalian perhatikan baik-baik karena akibat dari ini bisa tak ada habisnya dan berkepanjangan kalau tidak segera diputuskan. Nah, dengarlah baik-baik!"

Empat orang muda itu mendengarkan. Mereka memasang telinga baik-baik dan Giam Liong agak gelisah. Dia tahu bahwa dialah nanti yang akan dituju dan kalau kakek ini bukan dikenal sebagai orang yang memberi manfaat kepada orang lain tentu dia enggan mendengar. Pembicaraan pasti akan menusuk-nusuk hatinya. Dia harus siap menerima pedih! Tapi karena tempaan demi tempaan sering dialaminya, Giam Liong tabah dan menjadi matang maka dia membiarkan saja kakek itu bicara. Dan Bu-beng Sian-su pun memang mulai bicara.

"Pertama, mari kita kupas bait pertama. Ada empat baris kata yang ada di situ. Dan pembukaannya adalah Api! Hm, kalian tahu apa itu api, anak-anak? Bisa kalian katakan sebentar?"

Han Han mengangguk. "Api adalah benda panas membakar, Sian-su. Dan ia sanggup menghanguskan apa saja!"

"Bagus, dan api ini adalah benda berbahaya. Api dari segala api yang paling berbahaya adalah kebencian. Kalian pernah benci?"

Semua melengak.

"Eh, kenapa melengak? Jangan pandang aku seperti itu, anak-anak. Jawablah pertanyaanku apakah kalian pernah benci!"

Han Han tiba-tiba tersenyum, dan tiga temannya tersipu. "Pernah," jawabnya.

"Dan apa yang kalian rasakan itu?"

"Rasa tidak suka atau marah kepada yang dibenci."

"Itu saja?"

"Ya, itu saja."

"Ha-ha, tidak lengkap. Coba kau jawab anak muda. Bagaimana rasanya benci!"

Giam Liong terkejut. Dialah yang ditanya dan dia pula yang diminta menjawab. Agaknya jawaban Han Han tadi kurang sempurna dan harus disempurnakan. Dan karena memang dialah yang paling tepat ditanya, Han Han terlalu lembut dan mulia seperti ayahnya maka Giam Liong mengepal tinju.

"Aku ingin membunuh dan mencincang musuhku. Aku ingin menamatkan riwayatnya!"

"Ha-ha, inilah benci. Benci yang sudah berkobar! Kau tepat, anak muda. Dan itulah api benci yang sudah merayap cepat dan membakar bumi. Tahukah kalian siapa yang kumaksud bumi disini? Ada yang dapat menjawab?"

Han Han bergidik. Jawaban Giam Liong dengan kepalan tinjunya tadi membuat ia was-was. Heran bahwa kakek dewa ini main-main dengan kata-kata yang bisa membuat temannya marah. Giam Liong bisa bangkit kebenciannya dan dapat kembali ganas. Pemuda itu bisa menjadi iblis lagi! Tapi ketika kakek itu tertawa dan bertanya kepada mereka, siapakah "bumi" yang dimaksud dalam bait pertama maka dia menggeleng, teman-temannya juga tak tahu.

"Mungkin bumi yang kami tinggali ini, tanah tempat berpijak. Tapi Sian-su tentu maksudkan lain."

"Ha-ha, benar. Bumi yang kumaksudkan di situ adalah tubuh kalian. Tubuh kalian ini yang dibakar dan dihanguskan Api Kebencian. Tanpa tubuh, tanpa wadag, kebencian tak dapat berbuat banyak karena ia tak mampu melampiaskan diri. Nah tubuh kalian inilah yang kumaksud bumi. Dan sekali api kebencian membakar dan merayap cepat maka tiadalah kasih dan budi di jiwa kalian lagi. Yang ada hanyalah benci yang kotor dan hitam!"

Han Han dan dua lainnya mengangguk-angguk, Giam Liong diam saja.

"Lalu apa yang terjadi?" kakek itu melanjutkan. "Tubuh kalian dipakai oleh api yang namanya benci untuk melampiaskan diri. Dan selama ia belum terlampiaskan maka tak ada akhir dari benci ini. Padahal benci membuat manusia ringkih dan keropos bagai tulang-tulang tua dimakan tanah!"

"Keropos? Ringkih?" Han Han heran.. "Giam Liong justeru tampak semakin mengerikan dan dahsyat, Sian-su. Ia seakan mahluk kuat yang luar biasa menakutkannya. Ia tegar dan gagah perkasa!"

"Ha-ha, bukan itu. Keropos dan ringkih yang kumaksud adalah miskinnya dari sumber kehidupan. Itu yang membuatnya ringkih. Tahukah kau apa sumber kehidupan itu? Bukan lain adalah cinta kasih. Benci bukanlah sumber kehidupan,vkarena benci bersifat merusak dan menghancurkan. Dan karena orang yang diamuk benci adalah orang yang jauh dari sumber kehidupan ini maka ia sesungguhnya keropos dan ringkih dari cinta kasih. Orang yang sudah tahu akibat dari benci tak akan berani menenggelamkan diri. Benci itu ibarat telaga berapi yang siap menghanguskan dan merusak diri sendiri!"

Han Han tertegun.

"Lihat temanmu ini, lihat anak muda ini. Bukankah gara-gara benci ia sekarang kehilangan sebelah lengannya. Kalau ia menyadari dan mengerti benar tentang benci tentu ia akan berpikir seribu kali untuk hanyut dan tenggelam dalam api kebencian itu!"

Han Han mengangguk-angguk, tapi Giam Liong tiba-tiba mengangkat kepala, sinar matanya mencorong, persis seekor naga yang mau murka, kata-katanya dingin. "Sian-su, apakah kau hendak maksudkan bahwa orang tak boleh membenci? Bahwa biarlah kepala kita diinjak-injak dan dihina orang lain dengan patokan tidak boleh membenci itu?"

"Ha-ha, kau terpancing emosi. Tapi ini berarti jiwamu hidup, memberontak! Bagus, tapi sayang aku tidak maksudkan begitu. Kau salah!"

"Jadi bagaimana? Sian-su setuju bahwa kita juga boleh membenci?"

"Itu juga tidak, melainkan sesuatu yang lain. Aku hendak maksudkan di sini bahwa kita mengamati benci itu sebagai 'benda' yang asing dan selidiki atau cari dari mana dia berasal. Kalau sudah ketemu maka kita tak akan terjebak dan dibawa ke liku-liku yang rumit. Benci sesungguhnya berasal dari ego yang diganggu, rasa ke-aku-an. Dan karena rasa ke-aku-an ini berasal dari pikiran, bukan hati, maka kita harus waspada tapi celakanya banyak yang terjebak!"

"Hm, aku bingung. Apa itu si-aku!"

"Aku adalah ego, rasa kemilikan. Semakin tebal seseorang memupuk ke-aku-annya maka semakin jauh dia dari cinta kasih. Contohnya adalah ini....." kakek itu tiba-tiba memandang Yu Yin. "Siapakah gadis ini? Salahkah kalau kusebut bahwa dia adalah kekasihmu? Dan siapakah Ju-taihiap suami isteri? Salahkah kalau kusebut sebagai ayah ibu temanmu Han Han? Nah, mereka ini adalah orang-orang milik kalian, anak muda. Dan kalian tentu menyebutnya sebagai kekasih atau ayah ibuku. Lihat, kata ,ku' di situ adalah ego. Ia menunjukkan kemilikan. Dan kalau kalian sudah jelas ini tentu kita akan lebih lancar lagi bicara."

Han Han dan Giam Liong bersinar-sinar. Hal begini baru kali itu mereka dengar dan karena merasa tertarik mereka mengangguk-angguk. Begitu pula Tang Siu maupun Yu Yin. Tapi belum kakek itu bicara lagi Giam Liong sudah memotong.

"Kalau begitu apa salahnya rasa ego ini, Sian-su. Bukankah rasa ke-aku-an itu wajar dan tidak salah. Apakah kau hendak menghendaki agar kita tidak memiliki lagi rasa itu. Ingat, kau bersandar dan menghubungkan rasa kebencian itu dengan aku, ego!"

"Ha-ha, benar. Dan kau tampak bersemangat sekali. Bagus, jiwamu hidup, anak muda. Kau cocok sebagai figur yang meletup. Tapi nanti dulu, aku tidak berkata bahwa ego atau rasa ke-aku-an itu harus dibuang. Aku, atau ego, sudah ada di dalam diri setiap manusia. Aku atau ego itu sudah ada seperti juga jantung atau hati di dalam tubuh. Ia sudah menjadi bagian dari ujud utuh manusia. Ia tak dapat dihilangkan dan tak mungkin pula dihilangkan. Tapi kalau ego sudah nyasar ke tempat lain seperti halnya otak tiba-tiba berpindah ke jantung atau jantung berpindah ke otak maka kehidupan manusia menjadi kacau-balau. Dan inilah yang terjadi!"

"Hm, bagaimana itu.?"

"Nanti dulu, jangan tergesa memotong. Dengarkan. Kalau jantung kutaruh di kepala dan otak kutaruh di jantung bagaimana jadinya. Bukankah semuanya serba kacau. Nah, begitu pula dengan ego atau aku ini, masing-masing sebenarnya sudah ada di tempatnya sendiri-sendiri tapi oleh manusia lalu dipindah-pindah seenaknya. Contohnya adalah kau ini. Gara-gara ego kau pindah ke tempat lain maka semuanya berantakan dan kaupun akhirnya menderita!"

"Aku tidak mengerti."

"Aku akan membuatmu mengerti," kakek itu menyergap, tangkas. "Dengar dulu dan ingat apa yang kukatakan tadi, anak muda. Bahwa kita harus mengamati benci sebagai 'benda asing' di tubuh kita. Lihat, bagaimana ia datang. Dari mana. Dan karena benci berasal dari ego yang diganggu, dan ego berasal dari pikiran maka inilah yang merusakmu dan itulah yang tidak kau waspadai!"

"Nanti dulu, apa yang merusak dan tidak ku waspadai, Sian-su. Aku tidak merasa apa-apa!"

"Ha-ha, inilah tololnya manusia. Sudah digeragoti dan dimakan apa yang namanya api benci masih juga bilang tidak merasa apa-apa. Eh, jawab pertanyaanku, anak muda. Bagaimana dan dari mana dendam itu berasal ketika kau membunuh Kedok Hitam!"

Giam Liong terkejut, dibentak. Tiba-tiba ia merasa marah dan sinar matanya beringas menatap kakek dewa itu. Watak Si Naga Pembunuh muncul, ia tak takut! Dan ketika dua pasang mata beradu di udara dan Yu Yin menjerit melihat sinar mata Giam Liong yang merah membakar, mata itu seperti Giam Liong yang penuh benci dan dendam maka pemuda inipun berkata, lantang.

"Sian-su, aku membunuh Kedok Hitam karena ia membunuh dan mencelakai ayah ibuku. Darah harus dibayar darah. Tak ada anak yang dapat membiarkan itu kecuali anak yang tidak berbakti!"

"Ha-ha, bagus. Coba ulang sekali lagi. Siapa yang dibunuh Kedok Hitam hingga kau sekarang ganti membunuhnya."

"Ayah ibuku!"

"Siapa?"

"Ayah ibuku!" Giam Liong melompat, membentak keras sekali tapi kakek dewa itu justeru tergelak-gelak. Giam Liong berdiri dan merah terbakar tapi anehnya kakek itu tak perduli. Han Han terkejut dan cepat menangkap temannya ini, menenangkan. Dan ketika Giam Liong tertegun karena suara lembut kini mengganti tawa bergelak-gelak itu, sinar mata berwibawa menyorot menembus sinar matanya yang beringas maka kakek itu berkata,

"Nah, lihat dan dengarkan sendiri kata-katamu tadi. Yang diganggu adalah milikmu, anak muda. Yang dirusak adalah milikmu. Siapa itu Sin Hauw dan mendiang Wi Hong. Kau mengatakannya sebagai ayah dan ibu-ku. Nah, bukankah 'ku' atau ego muncul di sini? Dan ayahmu maupun mendiang ibumu juga sama saja. Mereka membenci dan memusuhi Kedok Hitam karena Kedok Hitam mengganggu atau merusak rasa aku-nya tadi. Ibumu karena suaminya dibunuh sedang ayahmu karena ayah dari ayahmu itu dibunuh pula oleh Kedok Hitam. Masing-masing terlibat dan terjebak rasa aku-nya itu. Ibumu menganggap ayahmu sebagai 'suami-ku'itu sedang almarhum kakekmu adalah 'ayahku' bagi ayahmu itu. Betapa jelas dan gamblang bahwa kau dan semua orang terjungkir balik oleh ke-aku-an yang dipindah tempatnya ini. Betapa gamblang dan nyata bahwa kebencian akhirnya merusak diri sendiri. Lihat bagaimana ketika kekas ihmu itu hendak membunuhmu dalam beberapa hari yang lalu. Lalu apa jadinya kalau semua sudah balas-membalas dan menjadi seperti binatang yang ganas dan jalang begini. Bukankah kehidupan jadi kacau dan mengerikan sekali. Dunia menjadi tak tenteram dan panas ditinggali!"

"Hm...!" Han Han yang mengangguk-angguk, Giam Liong masih diam dan tertegun. "Aku mulai dapat menangkap wejanganmu ini, Sian-su. Tapi bagaimana kalau tidak begitu. Bukankah rasa marah atau dendam sesungguhnya ada juga di hati setiap orang, seperti halnya jantung atau hati yang Sian-su katakan tadi."

"Betul, tapi seperti kataku tadi, anakmuda. Kalau kebencian atau dendam itu muncul, lihat dan amatilah dia sebagai 'benda asing' yang datang. Lihat dari mana dia berasal. Dan karena dia pasti berhubungan dengan ego atau 'aku’ maka waspadalah agar tidak terjebak dan sampai hanyut apalagi tenggelam oleh 'benda asing' ini. Jelas?"

"Jelas, tapi juga tidak jelas," Han Han berkerut kening, pikirannya bekerja keras. "Apakah Sian-su hendak maksudkan bahwa dengan begini kita tak boleh mendendam, benci!"

"Nanti dulu, benci atau dendam tetap ada di hati semua orang. Dia tetap tinggal di situ, seperti halnya darah atau daging di tubuh kita. Tapi karena ada yang tidak cocok dalam pengetrapannya, jalan keluarnya maka kita terjebak dan terseret di sini. Coba katakan dulu apakah sesungguhnya kita ini punya hak milik!"

"Tentu," Han Han tak ragu. "Aku mempunyai ayah ibuku, Sian-su. Seperti juga Giam Liong ini pernah mempunyai ayah ibunya. Dan kupikir setiap manusia punya hak milik!"

"Ha-ha, itu semu, hanya secara lahiriah. Sebetulnya manusia ini tak mempunyai apa-apa dan tak berhak milik. Yang ada dapat lewat dan lenyap. Kau salah!"

"Salah?"

"Bagus, kutanya lagi, jangan potong dulu," kakek ini berseri, kabut di mukanya bergerak membuka. "Coba jawab dari semua hak milik yang dipunyai manusia apakah yang dinilai paling berharga, anak muda. Tunjukkan kepadaku dan mari kita berdebat!"

"Hm, keluarga dan orang tua kupikir adalah hak milik paling berharga," Han Han menjawab.

"Dan kalian?" kakek itu memandang Yu Yin dan lain-lain. "Bagaimana jawabannya?"

"Kami pikir juga begitu," Tang Siu mengangguk, sependapat. "Keluarga dan orang tua adalah hak milik paling berharga, Sian-su. Dan justeru karena yang paling berharga inilah yang dicabut Kedok Hitam maka Giam Liong mengamuk!"

"Ha-ha, kalian hanya bicara tentang yang diluar. Ah, di luar melulu. Alangkah bodohnya! Bagaimanakah kalau seandainya semua itu ada tapi kalian sendiri tak ada!"

"Maksud Sian-su?"

"Jelas. Bagaimana kalau semua itu ada tapi kalian sendiri tak ada, tak pernah lahir. Apakah bukan justeru yang ada di dalam diri kalian itulah yang paling berharga, nyawa kalian!"

Han Han dan Tang Siu terkejut.

"Lihat," kakek itu melanjutkan. "Nyawa adalah milik kalian yang paling berharga, anak-anak. Karena nyawa inilah yang membuat kalian hidup. Bukankah karena ini maka kalian dapat menikmati hak-hak lain seperti keluarga dan lain-lainnya itu. Tapi ternyata yang paling berharga inipun ternyata bukan milik kalian, ha-ha!"

"Eh!" Han Han terkejut, berseru menyergah. "Bagaimana bisa begitu, Sian-su. Masa nyawa ini bukan milik kami sendiri!"

"Ha-ha, betul. Tapi coba jawab dulu apakah jawaban ini tidak betul. Bahwa hak milik kalian yang paling berharga sesungguhnya adalah nyawa kalian itu, yang membuat kalian hidup!"

"Kau benar," Han Han akhirnya mengangguk. "Nyawa kami adalah harta milik kami yang paling berharga, Sian-su. Tapi kenapa inipun kau sanggah sebagai bukan milik kami!"

"Gampang, kalau itu milikmu dapatkah kau mempertahankannya di kala kematian menjemput datang? Dapatkah kau berkata kepada Malaikat Elmaut bahwa itu milikmu dan karena itu jangan diambil? Coba, jawab, anak muda. Dapatkah kau mempertahankannya kalau itu milikmu!"

Han Han berubah. Semua yang lain tiba-tiba juga berubah dan tawa kakek itu amatlah mengejutkan mereka berempat. Kakek itu berkata dan tertawa begitu benar. Tak dapat dibantah! Dan ketika mereka bagai melihat barang baru dan Han Han maupun teman-temannya tak mampu menjawab, ada sesuatu yang lebih tinggi dan jauh di atas kekuasaan mereka maka pemuda ini dan tiga temannya tertegun. Dan kakek itu menyergap.

"Ayo, bagaimana, anak muda. Apakah inipun tidak benar!"

"Benar, tapi... tapi..." Han Han bingung. "Bukankah kami memilikinya juga, Sian-su. Bukankah ini ada pada kami!"

"Itupun benar, tapi ketahuilah bahwa hak milik yang kalian miliki sesungguhnya adalah hak milik semu. Hak milik sejati tak pernah ada dimiliki manusia. Manusia hanya memiliki hak manfaat, itu saja. Dan kalau yang berharga saja bukan milik kalian apalagi milik orang lain. Biarpun itu ibu atau ayah kandung!"

Giam Liong tergetar. Sampai di sini ia pucat, terbelalak dan wajah yang tadi merah terbakar perlahan-lahan surut, putih dan tiba-tiba pemuda itu mengeluh. Dan ketika ia menutupi mukanya sementara Han Han dan lain-lain terkejut, mata mereka seakan dibuka lebar-lebar maka empat anak muda itu terhentak oleh pikiran masing-masing. Han Han sekarang melihat bahwa sesungguhnya manusia tak memiliki apa-apa. Kalaupun ada rasa milik itu maka semuanya bersifat lahiriah, semu.

Dan ketika ia mengangguk-angguk sementara dua gadis di sebelahnya mendelong dengan sikap bengong maka Tang Siu teringat bahwa kakek itu masih belum menerangkan tentang hubungan kebencian dengan aku, dalam pertanyaan kenapa orang tak boleh membenci, dendam.

"Maaf, Sian-su," gadis ini maju bicara. "Aku sekarang mengerti apa yang telah kau uraikan ini. Tapi bagaimana selanjutnya dengan wejanganmu berikut. Kau agaknya hendak memberitahukan kami bahwa benci dan dendam sebaiknya tak perlu dipupuk. Kenapa dengan ini, dan mungkinkah pula bagi kami, manusia, menghapus begitu saja segala benci dan dendam, apalagi kalau sudah merasuk ke sumsum tulang!"

"Bagus, pertanyaanmu mengajak kembali," kakek itu mengangguk-angguk, tersenyum. "Kalian sekarang sudah mengerti bahwa rasa ke-aku-an mengajak manusia untuk menikmati secara semu, anak baik. Padahal yang semu ini bukanlah yang sejati. Yang sejati bukanlah milik kita, milik siapapun. la ada dan hanya milik Yang Tunggal, Yang Maha Kuasa. Dan kalau kita ngotot dan bersitegang untuk membela yang semu ini, yang bukan apa-apa maka sesungguhnya kita telah memboros-boroskan tenaga dan pikiran untuk akhirnya malah menjadi celaka sendiri. Aku hendak memberi tahu kepada kalian bahwa kalau kebencian atau dendam itu datang, lihat dan amatilah dia sebagai benda asing. Selidiki dan cari dari mana dia berasal. Dan karena kebencian ini selalu dan pasti berhubungan dengan aku, ego, maka waspadalah karena sesungguhnya aku atau ego itu juga bukan milik kalian. Kalau itu bukan milik kalian lalu apa gunanya dibela dan dipertahankan mati-matian? Bukankah hanya membenamkan diri ke dalam lumpur kotor dan hitam? Kalian akan semakin keruh saja, hilang kejernihan. Dan kalau sudah begini maka berlakulah seperti apa yang telah dilakukan Si Naga Pembunuh itu!"

"Kalau begitu Giam Liong tak boleh membalas dendam? Kalau begitu ia tak boleh mencari musuhnya?"

"Kedok Hitam jelas jahat, dan siapa saja boleh menghadapinya. Tapi kalau kalian menghadapinya didasari motif dendam maka inilah yang tidak sehat karena seharusnya kalian tidak bersikap begitu. Sebagai seorang pendekar maka jiwa kalian harus dilandasi keadilan, cinta kasih. Bukan kebencian atau dendam. Lihat ini..."

Kakek itu memberi contoh. "Ada sebuah keluarga yang anaknya digigit ular berbisa. Sang ayah marah-marah dan sang ibu menjerit habis-habisan. Anak kesayangnya mati. Lalu apa yang diperbuat? Ayah itu lalu mencari dan membunuh ular itu, dicincangnya penuh dendam. Padahal ketika kulihat ternyata keluarga itu tinggal di tepi sebuah rawa dan rawa itu memang banyak ularnya. Dan salahnya lagi, ia tak memagari rumahnya itu hingga ular berbisa dapat masuk dan menggigit tewas anaknya, yang celakanya lagi dibiarkannya bermain-main di tepi rawa oleh keteledoran ayah ibunya sendiri! Nah, siapa yang salah?"

Tang Siu tertegun. Ia jadi semakin membelalakkan matanya lagi dengan perumpamaan ini. Tapi masih penasaran ia bertanya, "Jadi seharusnya bagaimana?"

"Ayah atau keluarga itu harus waspada. Ia harus melihat bahwa tempat itu berbahaya bagi anak-anaknya. Dan karena kewaspadaan pasti membuat manusia berjaga-jaga maka tak mungkin ia membiarkan rumahnya tanpa pagar dan begitu saja membiarkan anaknya bermain di tepi rawa!"

"Hm, aku sekarang mengerti," Han Han kini juga mengangguk-angguk. "Wejanganmu dapat kami terima, Sian-su. Tapi bagaimana dengan Giam Liong ini. Kewaspadaan bagaimana yang harus ia lihat. Bagaimana ia harus bersikap!"

"Pertama rasa ke-aku-annya harus di-netralisir. Ingatlah bahwa ibuku ayahku atau apapun juga 'ku-ku' yang lain itu bukanlah miliknya sejati. Sedang nyawa sendiripun bukan milik sendiri, apalagi orang-orang lain dan yang di luar kita. Lalu ia harus waspada dan mengamati kenapa Kedok Hitam membunuh ayahnya, seperti juga ayahnya dulu harus mengamati dan waspada kenapa ayahnya itu dibunuh. Kakek atau ayah dari ayah Giam Liong ini sudah lama merupakan pembantu Chu Wen. Kedok Hitam dan kelompoknya tak berhasil membujuk. Dan karena mereka sama-sama bermusuhan dan satu sama lain membela kepentingan sendiri-sendiri maka adalah lumrah kalau kematian atau hal-hal keji sewaktu-waktu dapat masuk. Kebencian atau kemarahan yang bersumber dari diganggunya rasa ego atau aku ini memang bisa bermacam-macam akibatnya, bisa berkembang luas. Dan karena manusia saling sikat untuk mempertahankan ke-aku-annya ini maka waspadalah kalian untuk tidak terjebak dan kelak susah sendiri terlibat rantai setan yang tak ada habisnya. Kedok Hitam memang jahat, korban dari kepicikan pikirannya sendiri. Tapi kalau Giam Liong lalu menghadapi dia dengan berlandaskan dendam dan sakit hati maka ini bukanlah watak pendekar karena nanti keluarga atau anak keturunan orang itu akan mencarinya dan kelak membalasnya juga. Jadi, tak ada habis-habisnya. Daripada begitu putuskanlah rantai dendam itu dan hadapilah lawan kalian berlandaskan keadilan, cinta kasih. Karena gerakan atau tindakan kalian ini sungguh jauh berbeda dengan kalau kalian menghadapi musuh kalian berdasarkan dendam atau sakit hati. Jelas!"

Han Han dan teman-temannya mengangguk-angguk. Mereka tentu saja dapat melihat dan merasakan itu dan mampu pula menerimanya. Sekarang jelaslah bahwa kejahatan bukan lalu dihadapi dengan dendam dan sakit hati. Kejahatan harus dihadapi dengan keadilan dan cinta kasih. Dan karena perwujudan ini tentu lain dengan sepak terjang Giam Liong, yang bengis dan sadis maka Han Han maupun teman-temannya dapat membedakan itu. Benar, ini pelajaran yang baik. Tapi bagaimana kelanjutannya? Kakek itu tampaknya baru setengah bicara.

"Kami mulai paham," Han Han berkata lagi, kini tiba-tiba semakin tertarik. "Tapi bagaimana selanjutnya, Sian-su. Mohon kau menjelaskan lagi dengan contoh Giam Liong."

"Ha-ha, pemuda itu harus menetralisir ke-aku-annya. Lihatlah bahwa 'ku-ku' yang dipunyai ini hanyalah bersifat lahiriah, semu. Lalu kalau sudah lihatlah jauh ke belakang bagaimana ayah ataupun kakeknya dibunuh musuh. Pertikaian atau permusuhan antar golongan memang begitu. Di mana-mana resikonya sama, sewaktu-waktu diancam kematian. Kalau tidak mau menderita ya harus pandai-pandai menjaga diri, atau nanti seperti ayah yang kehilangan anaknya itu, tewas tergigit ular berbisa karena tak melindungi rumahnya dengan pagar dan celakanya lengah menjaga putera sendiri bermain-main di rawa!"

"Hm, begitukah?"

"Ya, begitu, sederhana sekali. Kalau tak ingin digigit ular berbisa ya jangan mendirikan rumah di tepi rawa, yang sudah jelas banyak ularnya. Ataupun kalau terpaksa mendirikan rumah di situ ya haruslah diberi pagar dan diusahakan sedemikian rupa agar tidak dimasuki ular. Tapi kalau ini semua sudah dilakukan sang ayah tetap juga teledor menjaga anaknya ya jangan lalu mengamuk dan dendam kepada ular itu. Kita harus mengerti ini, tak perlu dipelajari. Sama seperti halnya rumah yang terlalu dekat dengan telaga itu. Kalau telaga sewaktu-waktu meluap dan rumahnya kebanjiran ya jangan mengeluh. Itu resikonya. Kalau tak mau ambil resiko ya jangan dekat-dekat telaga atau sungai yang bisa menimbulkan bahaya, ha-ha!"

Han Han kagum. Ia tersenyum dan akhirnya tertawa juga ketika kakek itu menuding sebuah tempat tinggal anggauta Hek-yan-pang yang terlalu dekat telaga. Kakek ini seakan berseloroh, meskipun sebenarnya kata-katanya amatlah tepat dan tajam, penuh mengandung pengertian yang dalam. Dan ketika ia mengangguk-angguk sementara temannya yang lain juga sependapat dan sepengertian maka ia melihat kakek itu tiba-tiba bangkit berdiri.

"Maaf, perahu akan terbalik....prat!" gelombang telaga tiba-tiba menderu, perahu miring dan sekonyong-konyong Yu Yin maupun Tang Siu menjerit. Begitu kakek itu berdiri tiba-tiba perahu miring, seakan kehilangan keseimbangan. Dan baru saja kakek itu selesai bicara tiba-tiba perahu terbalik dan empat anak muda itu terguling.

"Byuurrr...!"

Han Han dan teman-temannya tercebur. Entah bagaimana asal mulanya tiba-tiba mereka semua gelagapan. Tadi mereka begitu asyik hingga tak tahu bahwa terjadi perobahan angin. Hanya karena kakek itu berada di tengah maka perahu tetap seimbang, padahal ombak mulai membuih diterpa angin dingin yang kuat. Malam menjelang pagi dan perubahan udara inilah yang membuat riak telaga juga berubah. Empat anak muda itu tak tahu dan tiba-tiba terguling. Tapi ketika Han Han menyambar Tang Siu dan Giam Liong juga menyambar Yu Yin, dua pemuda itu menendang perahu agar berdiri lagi maka Bu-beng Sian-su terkekeh-kekeh di tengah lagi, melihat dua pemuda ini melompat dan melayang naik dari dalam telaga. Pakaian mereka tentu saja basah kuyup!

"Ha-ha, inilah resikonya tinggal di perahu, anak-anak. Sewaktu-waktu dapat terbalik kalau diserang ombak. Hidup memang selalu begini. Kepanasan kalau di gurun tapi kedinginan kalau di laut. Ah, pelajaran apa yang kalian dapat!?"

Han Han terbelalak. "Sian-su... Sian-su tak basah?"

"Aku telah waspada dibanding kalian, melompat ketika perahu tadi terbalik. Kalian kurang cepat dan keburu terlempar."

"Hm!" putera Ju-taihiap ini berputar matanya, aneh, merasa ganjil. "Agaknya ada lagi pelajaran yang harus kami cari, Sian-su. Entah apa itu!"

"Ha-ha, pelajaran ada di mana-mana. Cari dan temukan itu. Kalau kalian mengerti tentu kalian semakin cerdas. Barangkali omong-omong ini cukup."

"Eh, nanti dulu!" Han Han berseru, kakek itu mau berkelebat. "Masih ada yang belum selesai, Sian-su. Bagaimana dengan bait kedua dan ketiga!"

"Hm, itu? Gampang saja, satu di antara yang bermusuhan akan menjadi periuk atau gentanya. Yang lebih kuat menimpa dan menghancurkan yang lain."

"Maksud Sian-su?"

"Ha-ha, memupuk kebencian sama halnya menyimpan racun di periuk atau genta, anak muda. Yang kecil akan ditimpa yang besar dan yang kuat akan menghancurkan yang lemah!"

"Kami tak jelas..."

"Kelak akan lebih jelas lagi. Yang jelas anak muda ini sudah menjadi genta namun mungkin kelak dia menjadi periuknya. Ha-ha, dendam kesumat itu harus kalian hindari saja. Ingat akan semua nasihatku tadi. Dan tentang bait ketiga, ah, apalagi yang harus dilakukan temanmu kecuali pasrah dan menebus dosa? Api dan dendamnya telah mengecil, anak muda. Tapi tidak padam. Dan kalau dia tidak membuang racun itu maka lingkaran setan akan membelitnya lagi dan akan dibalas atau membalas!"

"Kami masih belum mengerti."

"Ah, lihatlah perumpamaan dengan keluarga di tepi rawa itu. Kalau sudah tahu banyak ular lebih baik menyingkir. Kalau tetap ingin tinggal maka hati-hatilah dan pasanglah pagar. Atau kalian akan menghadapi ular-ular lain dan tak habisnya sepanjang hari mencari dan dicari musuh!"

"Jadi Giam Liong seperti ayah dari keluarga ini?"

"Kau cerdas. Dan beruntung bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi. Nah, pergilah dan jangan berhubungan dengan kota raja lagi. Atau ular-ular lain akan berdatangan mengganggunya dan karena itulah ku nasihatkan agar cepat-cepat mengubur Golok Maut karena golok itu membawa pengaruh jahat!"

"Dan aku.... aku boleh mendampinginya bukan, Sian-su? Atau ada sesuatu yang khusus hendak kau pesankan?" Yu Yin tiba-tiba berseru, bangkit berdiri.

"Hm, sudah kukatakan agar kau tetap memegang sumpahmu, nona. Jangan pergi dan berhubungan dengan istana lagi. Dan sebaiknya awasi suamimu untuk tidak melihat atau mengambil lagi golok warisan ayahnya itu!"

Yu Yin mencengkeram erat kekasihnya. Giam Liong gemetar dan menahan sesuatu golakan, matanya berkejap-kejap. Tapi ketika kakek itu menepuk pundaknya dan ia tenang maka kakek ini berkata sekali lagi agar pemuda itu melepaskan sisa-sisa api kemarahannya dan jangan mendendam kepada siapapun, baik sekarang maupun kelak kemudian hari. Dan ketika kakek itu berkata agar racun dendam benar-benar dilenyapkan, apapun yang terjadi, pemuda itu harus tenang dan tabah menghadapi semuanya maka kakek ini mengingatkan akan ego atau rasa ke-aku-an itu.

"Ingat, tak ada hak milik. Yang ada hanya hak manfaat. Ego atau aku hanya diperlukan untuk membedakan punyamu dan punyanya orang lain, dalam usaha menjaga ketenteraman dan ketenangan dalam hidup kebersamaan. Kalau ego atau aku sudah memasuki hal-hal yang bersifat non-lahiriah, tidak proposionil, maka semuanya bakal kacau dan untuk menghadapi lawanmu jangan dilandasi dendam atau kebencian melainkan hadapilah berdasarkan keadilan dan cinta kasih. Barangkali kau agak pening tapi seirama dengan kematangan jiwamu kau akan tahu ini. Nah, kembalilah dan selamat tinggal!"

Empat anak muda itu terbelalak. Kakek itu mengebutkan lengan bajunya dan tiba-tiba terdengar ledakan. Segumpal asap putih pecah di udara dan bersamaan dengan itu kakek itupun lenyap. Dan ketika cahaya berwarna-warni menyilaukan mereka di langit yang berbintang, bulan dan segalanya tiba-tiba menjauh mendadak Yu Yin dan Tang Siu menjerit karena mereka terlempar membentur tembok. Dan begitu dua gadis itu berteriak dan Han Han maupun Giam Liong merasa diangkat oleh sesuatu yang kuat, mencelat dan terlempar maka dua anak muda itu terkejut sekali karena mereka tiba-tiba jatuh dari pembaringan. Perahu dan segalanya yang mereka rasakan di tengah telaga tadi hilang! Hancur!

"Eihh!" Giam Liong terkejut dan terbelalak. "Apa yang terjadi, Han Han. Mana kakek itu!"

"Benar, mana kakek itu. Mana Sian-su!" Han Han juga bingung, terbelalak. "Dan kita, eh.... kita berada dikamar sendiri, Giam Liong. Kita bermimpi!"

Dua pemuda ini menjublak. Mereka ternyata ada di kamar sendiri dan bantal guling mereka jatuh di lantai. Serasa terjun dari alam gaib saja dua pemuda ini melotot. Mereka tak tahu dan tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi ketika di sana terdengar jeritan Tang Siu dan ayam jantan berkokok, Giam Liong dan Han Han berkelebat menuju kamar gadis itu maka terlihatlah bahwa Tang Siu maupun Yu Yin sama-sama terjatuh dari tempat tidur dan bantal atau guling mereka juga berantakan, ada dilantai.

"Kami.... kami bertemu Sian-su. Kami bermimpi. Mana kakek itu?!"

"Benar," Yu Yin juga kebingungan dan tiba-tiba ngeri. "Kami bercakap-cakap dengannya, Giam Liong. Dan kalian ada pula di sana. Tapi bagaimana tahu-tahu kami ada di sini, di kamar kami kembali!"

"Bersama kami?" Han Han terbelalak.

"Ya, bersama kalian, Han Han. Kita berempat berada diperahu dan bercakap-cakap dengan kakek dewa itu. Kakek itu bicara tentang aku dan dendam. Ia mengupas syairnya!"

"Hm...!" Han Han menoleh kepada Giam Liong. "Aneh sekali, Giam Liong. Kita bermimpi tapi seolah tidak bermimpi. Tapi kalau tidak bermimpi nyatanya kita seperti mimpi. Coba kau jelaskan lagi apa yang terjadi!"

Pertanyaan terakhir ini ditujukan kepada Tang Siu. Han Han minta gadis itu menceritakan bagaimana Tang Siu bertemu dan bicara dengan Sian-su, apa yang terjadi dan bagaimana akhirnya. Dan ketika semua "mimpi" itu tepat sekali dengan apa yang mereka lihat dan rasakan, bahwa Han Han maupun Giam Liong juga sama-sama merasa berhadapan dan bicara dengan kakek itu di tengah telaga, berempat dengan Tang Siu dan Yu Yin maka empat anak muda ini saling pandang dan muka mereka menunjukkan keheranan sekaligus ketakjuban. Bulu tengkuk meremang!

"Aku melihat bulan dan bintang-bintang begitu dekat diatas kepala kita, hanya belasan meter saja. Tapi ketika kakek itu selesai bicara dan mengebutkan lengan bajunya tiba-tiba terdengar ledakan dan kami semua terlempar kemari!"

"Dan aku merasa ganjil bagaimana rumah dan taman-taman di sini ada di atas perahu itu. Aneh sekali!"

"Tentu kita mimpi, sama-sama ke alam gaib!"

"Hm," Han Han menggeleng. "Kalau mimpi tak mungkin pakaianmu basah kuyup, Tang Siu. Kita tidak sedang bermimpi!"

"Benar," Giam Liong juga menggeleng. "Kita tidak sedang bermimpi, Tang Siu. Lihat bahwa Yu Yin maupun Han Han dan aku sendiri basah kuyup. Kita tadi tercebur ditelaga!"

"Mentakjubkan... luar biasa. Kalau begitu apa namanya ini!"

"Aku juga tak tahu, tak mengerti. Tapi itulah kenangan kita yang indah!"

Pada saat itu berkesiur dua bayangan tubuh. Empat anak muda yang sedang bercakap-cakap dan merasa senang tapi juga seram ini tak habis-habisnya merasa heran. Seumur hidup baru kali itulah mereka merasa sesuatu yang ganjil, aneh luar biasa. Tapi begitu dua bayangan berkelebat di kamar mereka dan Ju-taihiap suami isteri terkejut melihat sepasang muda-muda ini, mendengar ribut-ribut dan melihat pakaian mereka yang basah kuyup maka kontan saja pendekar itu berseru,

"Eh, apa yang terjadi. Apa yang kalian perbincangkan. Dan kenapa semuanya seakan habis mencebur di telaga?"

Han Han maju bicara. Dialah yang menyambut dan memberitahukan ayah ibunya perihal keanehan yang mereka alami ini. Ayam jantan kembali berkokok dan ternyata hari telah terang tanah. Dan ketika suami isteri itu tertegun dan seakan tak percaya, cerita anaknya ini seperti dongeng saja maka muncullah Kim-sim Tojin yang juga berkelebat datang.

"Siancai, itulah Siau-hun-hwe-sing-sut (Ilmu Menembus Badan Mengeluarkan Roh) Aih, hanya kakek dewa seperti Bu-beng Sian-su saja yang mampu melakukan itu. Kalian beruntung, telah dibawa ke alam gaib!"

Beng Tan dan isterinya mengangguk-angguk. Akhirnya mereka sendiri juga teringat peristiwa yang mereka alami dulu betapa mereka juga seakan-akan dibawa terbang dan menembus alam roh. Kini putera mereka dan tiga yang lain juga mengalami hal serupa. Dan karena Beng Tan maklum betapa kakek itu amatlah saktinya, apa saja dapat dilakukan tanpa sesuatu yang sukar maka pendekar ini menarik napas dalam-dalam dan diam-diam kecewa kenapa dia tidak diikut sertakan.

"Hm, beruntung sekali. Luar biasa. Tapi kenapa kakek itu hanya mengajak kalian berempat dan tidak bersama kami-kami ini."

"Entahlah," Han Han juga tak mengerti. "Tapi kami telah mendapat pelajaran bagus dari wejangan kakek itu, ayah. Sian-su mengupas tentang ego dan rasa milik!"

"Apa saja katanya," sang ayah bersinar-sinar. "Sayang bahwa kami tak tahu."

"Ego atau rasa ke-aku-an sering dipindah-pindahkan tempatnya oleh manusia. Yang seharusnya hati dimasuki ego dan ego sendiri merambah hampir ke segenap penjuru permasalahan!" Han Han mencoba menerangkan.

"Wah-wah, apa ini. Coba yang urut!" Kim-sim Tojin tertawa, berseru karena Han Han masih baru dan agaknya bingung bagaimana harus mulai. Tapi ketika Tang Siu membantu bahwa ego atau aku harus ditempatkan secara proposionil, jangan memasuki urusan hati kalau hati yang sedang bicara maka pemuda ini mengangguk-angguk.

"Ya-ya, begitu... begitu. Ego atau aku telah begitu serakah merambah ke tempat yang bukan tempatnya dan ia menjungkirbalikkan manusia sehingga manusia jadi terjebak dan terseret ke dalam nafsunya. Ego mengajarkan rasa milik, sedangkan kita ini sesungguhnya tak punya hak milik!"

"Hm, hak milik? Tak punya? Lalu kalau begitu manusia mempunyai hak apa?"

"Hak manfaat, suhu. Manusia hanya memiliki hak manfaat, itu saja. Hak milik hanya dimiliki oleh Yang Maha Tunggal alias Yang Mahakuasa. Semua rasa milik yang kita miliki adalah semu, baik itu keluarga atau apapun saja!"

"Wah, aku jadi ingin mendengar. Coba kau ulang lagi!" Kim-sim Tojin berseru.

"Dan hak milik atau rasa kemilikan menjerumuskan manusia ke dalam permusuhan dan pertikaian. Mereka terjebak oleh ke-aku-annya yang tinggi. Padahal manusia sesungguhnya tak mempunyai apa-apa!"

"Ha-ha, ceritakan kepadaku, anak muda. Aih, sayang benar pinto tak berhadapan sendiri dengan kakek itu. Wah, pinto kecele!"

Han Han tersenyum. Ia dan Tang Siu lalu silih berganti mengoper apa yang mereka dengar dari Bu-beng Sian-su. Yu Yin juga ikut menyambung dan hanya Giam Liong yang tidak ikut bicara dan diam saja. Dan ketika semua orang duduk mendengar dan tenggelam dalam keasyikan itu, Giam Liong bergerak dan keluar secara diam-diam maka pemuda buntung ini sudah duduk di tepi telaga tepekur memperhatikan tempat di mana semalam ia seakan bermimpi bercakap-cakap dengan kakek dewa itu disana.

Air telaga beriak tenang dan Giam Liong menarik napas dalam-dalam. Tempat di mana semalam mereka berbincang dengan Bu-beng Sian-su ternyata biasa-biasa saja. Tempat itu damai dan hening. Kecipak lembut dari riak telaga membawa daun-daun kering yang hanyut secara berirama, naik turun perlahan-lahan dan tampak ada sesuatu benda putih terbawa pula oleh riak telaga ini, melekat atau "nangkring" di sehelai daun kering menuju ke arah Giam Liong. Dan karena Giam Liong tertuju pandangannya kesini dengan mata mengamati, mula-mula kosong dan tak acuh mendadak ia kaget mengira benda putih yang disangkanya sebagai sampah biasa itu adalah sebuah surat!

Ia tertegun dan tak percaya. Benda putih di atas daun kering yang terbawa riak telaga ini kian mendekat, dekat dan dekat dan... Giam Liong akhirnya melompat dan menyambar surat itu, kertas putih yang dilipat manis sebagaimana layaknya sebuah surat yang baik, meskipun sedikit basah. Dan ketika Giam Liong tertegun karena surat itu diperintahkan untuk diserahkan kepada Yang Im Cinjin ataupun Kim-sim Tojin, dua kakek lihai dari Kun-lun dan Laut Selatan maka Giam Liong terkesima dan mengamati sampul surat itu:

Berikan kepada Yang Im Cinjin ataupun Kim-sim Tojin. Sian-su

Giam Liong bengong. Sekarang ia yang menjadi perantara padahal beberapa hari yang lalu dua kakek itulah yang mendapat surat dan disuruh menyerahkannya kepadanya. Aneh sekali sepak terjang kakek ini, penuh rahasia. Tapi ketika ia mau membalik dan kembali ke dalam ternyata berkelebat bayangan-bayangan kakek itu dan teman-temannya.

"Giam Liong, apa yang kau pegang itu. Kenapa menyendiri!"

"Hm," Giam Liong merasa kebetulan. "Ada surat untuk Kim-sim totiang, Yu Yin. Aku mendapat ini dari Sian-su."

"Surat?"

"Ya, silahkan totiang terima dan baru-saja kudapat!" Giam Liong langsung memberikan itu kepada Kim-sim Tojin, kakek ini sudah di depan dan langsung saja surat itu diterima.

Dan ketika ia terkejut tapi cepat membukanya, entah apa isinya mendadak kakek ini tertawa bergelak. "Ha-ha, syair lagi, anak-anak. Kelanjutan dari ini. Aih, aku dan Yang Im Cinjin ditantang untuk menjawab debat kami dulu. Ha-ha, kakek dewa itu luar biasa. Ia akan mengakhiri pembicaraan yang belum lengkap. Ia akan bicara tentang Kebenaran!"

"Kebenaran? Surat itu hanya terisi syair?" Tang Siu terbelalak.

"Ya, lihat dan bacalah. Pantas Cinjin tak mau di sini karena mungkin khawatir bertemu kakek itu. Atau mungkin ada sebab-sebab lain. Ha-ha, kami telah menantang untuk bicara tentang Kebenaran!"

Tang Siu menyambar dan membaca surat ini. Ternyata isinya memang syair dan teman-temannya mendekat. Han Han dan lain-lain menjadi penasaran dan merekapun membaca. Dan ketika sebuah syair kembali terlihat tapi kali ini lebih hebat, pening dan puyeng untuk mencerna isinya maka Han Han menarik napas dalam-dalam dan mundur menarik diri. Ia merasa tak dapat mengupas dan ayah ibunya juga begitu. Syair untuk Giam Liong agak mudah tapi syair baru ini lebih sukar. Penuh teka-teki, misterius. Namun ketika Kim-sim Tojin justeru berseri-seri dan penuh kegembiraan, teringat perjumpaannya dulu dengan kakek dewa itu bersama guru Han Han maka kakek ini berkata,

"Aku telah menantangnya untuk bicara tentang Kebenaran. Dan kakek itu kini menjawab dengan syairnya. Hm, akan kuberikan Cinjin dan kuberitahukan kepadanya. Kami tak mau kalah!"

"Apa yang suhu lakukan?"

"Kami orang-orang tua menantangnya berdebat, Tang Siu. Dan Bu-beng Sian-su menjawabnya. Ha-ha, pinto ingin bertemu dengannya dan mengupas rahasia ini. Siapa yang menang!"

Ju-taihiap bersinar-sinar. Ia telah membaca dan mengingat-ingat isi syair itu. Ia juga ingin mengupas. Tapi ketika Kim-sim Tojin memandang kepada muridnya dan lalu kepadanya maka kakek itu berseru,

"Taihiap, pinto kecele menunggu Bu-beng Sian-su. Kakek itu telah menemui anak-anak dan rupanya sengaja tak mau diganggu. Tentu sekarang pinto harus pulang dan biarlah urusan anak-anak pinto tunggu kelanjutannya dari kebijaksanaanmu. Pinto harus kembali dan biarlah sekarang juga pinto pergi!"

"Eh, totiang terburu-buru?"

"Ha-ha, tak ada lagi yang dinanti, taihiap. Muridku kubawa dan biarlah sekalian Yu Yin juga ikut pinto. Kau datanglah ke Kun-lun dan pinto menjadi wali bagi gadis-gadis ini menerima pinanganmu di sana. Mereka akan kusiapkan untuk dua pemuda itu kalau kau sudah datang!"

Yu Yin terkejut. Ia tiba-tiba merasa girang tapi juga tak enak berpisah dengan Giam Liong. Mereka berdua ternyata hendak "dipingit" dulu sambil menantikan lamaran itu, jadi kakek ini langsung menjadi walinya. Dan ketika ia mendapat cubitan Tang Siu dan tahulah ia bahwa temannya inilah yang mengatur semuanya itu, Yu Yin terharu dan terisak mengucap terima kasih maka Beng Tan mengangguk-angguk dan tertawa berkata,

"Baiklah, totiang. Aku akan mengurus pernikahan dua anak muda ini secepatnya. Terima kasih bahwa kau mau menjadi wali Yu Yin. Dan aku tentu saja akan mewakili putera-puteraku ini menjodohkan mereka. Pergilah, selamat jalan!"

Kakek itu tertawa bergelak. Yu Yin dan Tang Siu telah disambar dan belum habis dua gadis itu melambaikan tangan tahu-tahu sudah diangkat dan diajak terbang ke perahu. Anak-anak murid Hek-yan pang bermunculan dan saat itu semua memandang, terbelalak dan tertegun melihat kakek ini sudah mengayuh perahunya dengan cepat meninggalkan pulau. Dan ketika ia juga melompat dan mengajak dua gadis itu mendarat, mereka telah tiba di seberang maka si kakek seolah tak mau tahu ketika dua gadis ini menoleh dan berteriak ke belakang,

"Giam Liong, kutunggu kau!"

"Han Han, cepat datang ke Kun-lun!"

Dua pemuda di seberang melambaikan tangan. Han Han dan Giam Liong tentu saja membalas, Han Han tampak gembira dan berseri-seri. Tapi ketika Giam Liong menunduk dan tampak kesedihannya, entah apa yang dipikir maka Beng Tan menjawil isterinya untuk mengajak dua pemuda itu ke dalam. Urusan telah selesai dan pagi itu burung-burung berkicau riang. Seperti biasanya air telagapun berdesir lebih kuat ketika berhembus angin segar. Suami isteri ini menghibur Giam Liong untuk tidak bersedih. Mereka berjanji bahwa seminggu lagi pinangan itu disampaikan.

Dan ketika benar saja seminggu kemudian mereka ke Kun-lun dan sebulan setelah itu pesta pernikahan dilangsungkan, dua muda-mudi ini berkumpul kembali maka beberapa hari setelah itu Giam Liong minta pamit. Si buntung ini tak mau tinggal di situ karena ia akan ke Lembah Iblis. Golok Maut akan dikubur dan di sanalah tempatnya semula. Dan karena pemuda itu tak mungkin dicegah dan pasangan muda ini meminta diri, Tang Siu dan Yu Yin bertangis-tangisan maka mereka saling lepas dengan keharuan yang besar.

"Kami akan merantau, mencari tempat tinggal baru. Kelak kami akan berkunjung ke sini lagi jika sudah menemukan tempat itu."

"Baik, pergilah, Giam Liong. Dan ingat, kalian berdua tak ubahnya putera-putera kami sendiri. Jangan lupakan kami, orang-orang tuamu ini."

Giam Liong memeluk pendekar itu. Air matanya basah dan pemuda ini berbisik menyatakan maaf. Dan ketika ia melepaskan orang tua ini dan Han Han ganti memeluknya, dua pemuda yang pernah bertanding hebat itu kini tampak bercucuran air mata maka Han Han mengingatkan agar Giam Liong datang dan tidur lagi sekamar, sepembaringan.

"Tempat tidur itu tak akan kuperbolehkan dipakai siapapun, bahkan isteriku sendiri. Datang dan tengoklah aku, Giam Liong. Aku ingin merasakan kehangatan dan hubungan cinta kasih persaudaraan ini. Hati-hati dan buanglah semua keganasanmu dulu."

Giam Liong mengangguk, la melepaskan diri dan sekali lagi menguatkan hati. Yu Yin tersedu-sedu dan semua anak murid bengong. Dan ketika pemuda itu membalik dan menjejakkan kakinya kuat-kuat maka si buntung inipun sudah menyambar isterinya dan jerit atau panggilan ditepi telaga hanya dibalas lambaian tangan. Lalu begitu keduanya lenyap meluncur keluar hutan maka Ju-taihiap dan lain-lain mengusap air mata mereka. Tang Siu terhuyung dan pingsan di pelukan Han Han!

TAMAT


Naga Pembunuh Jilid 32

NAGA PEMBUNUH
JILID 32
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"GIAM LIONG...” sapaan Han Han lirih dan lembut. Pemuda ini memandang putera mendiang Golok Maut itu dan Giam Liong mengangguk. Tak ada pancaran kegembiraan di wajah Giam Liong. Si Naga Pembunuh ini muram. Dan ketika Tang Siu juga melihat Yu Yin dan gadis itu beringsut mendekati murid si Kedok Hitam ini maka Yu Yin tiba-tiba tersedu!

"Tang Siu, aku, aku terpukul oleh semuanya ini!"

"Tenanglah..." gadis itu memeluk, merangkul sahabatnya ini. "Semuanya telah terjadi, Yu Yin. Semuanya telah lewat. Aku turut bersedih tapi semua harus diterima dengan tabah”

"Aku tahu, tapi.... tapi ayah..."

"Ayahmu telah tiada, Yu Yin. Tak usah dipikirkan itu."

"Tidak... tidak, bukan itu. Aku... aku teringat kekejamannya, Tang Siu. Ooh, ia.... ia keji dan jahat benar. Aku tak dapat melupakan kekejamannya. Dan ia... ia ternyata guruku pula!"

Yu Yin mengguguk dan jatuh di pelukan sahabatnya. Ternyata ia tidak menyesali kematian ayahnya melainkan menyesali sepak terjang dan kejahatannya. Gadis itu mengalami pukulan berat karena guru yang ternyata ayahnya itu juga adalah seorang kejam dan tidak berperasaan. Dulu dia hendak melapor kepada ayahnya ketika gurunya membelejeti pakaiannya, tak tahunya gurunya itu adalah juga ayahnya. Dan betapa ayahnya juga memperkosa ibu Wi Hong dan belum kejahatan-kejahatan lain yang tak terhitung banyaknya, kecurangan dan kelicikan yang tak pantas dimiliki seorang bangsawan maka Yu Yin tersedu-sedu dan hancur serta terpukul berat.

Ayahnya ternyata adalah gurunya. Dan bahwa guru atau ayahnya itu juga memperkosa Thio Leng, murid Hek-yan-pang di mana Han Han dan ayahnya menolong gurunya itu maka kehancuran sekaligus kemarahan gadis ini tak tertahankan lagi. Dia serasa ingin mencekik dan membunuh ayah sekaligus gurunya itu. Yu Yin seakan ingin menghancurkan kepala ayahnya. Betapa jahat ayahnya itu!

Dan teringat bahwa guru sekaligus ayahnya ini amatlah jahat, tak heran kalau Giam Liong sampai mendendamnya sedemikian rupa tiba-tiba Yu Yin ingin mati saja kenapa dia dilahirkan dari benih laki-laki seperti itu. Kalau bisa, ia ingin kembali ke rahim ibunya dan minta dibatalkan. Kalau bisa ia tak perlu lahir! Dan ketika ia mengguguk dan tersedu-sedu menceritakan semuanya itu, melepas dan mengurangi himpitan batinnya maka Tang Siu juga meleleh air matanya dan murid Kim-sim Tojin ini tak dapat bicara. Namun untunglah, Ju-hujin bangkit berdiri dan mengelus gadis ini.

"Yu Yin, tak perlu lagi mengingat-ingat segala perbuatan ayahmu. Kami telah mengampuninya. Dia telah tiada. Biarkan arwahnya mencari ketenangan di sana dan jangan diganggu dengan kebencianmu itu. Jelek-jelek ia ayahmu, tak baik mengutuk atau mencaci. Diamlah dan lihat dua kakek ini hendak bicara kepadamu, juga Giam Liong."

Gadis itu mengangkat mukanya. Ia bertemu pandang dengan isteri ketua Hek-yan-pang ini dan Yu Yin menjerit. Pandang mata lembut dan penuh keharuan terdapat di situ, tak kuat ia. Dan ketika Yu Yin ganti menubruk dan tersedu-sedu di pelukan wanita ini maka Swi Cu menahan pula runtuhnya air mata.

"Sudahlah.... sudahlah, Yu Yin. Hapus air matamu itu dan mari dengarkan apa yang hendak dibicarakan dua orang tamu kita. Mereka menanti kesempatan. Han Han dan Tang Siu sekarang ada di sini."

Yu Yin masih tak mampu menahan dirinya. Ia masih juga tersedu-sedu dan mengguguk di pelukan nyonya itu dan barulah setelah Ju-taihiap batuk-batuk gadis ini reda tangisnya. Beng Tan berkata biarlah yang lewat tetaplah lewat, yang akan datang masih menunggu mereka dan ini harus disongsong. Dan ketika Yu Yin tertegun karena itu benar, masih ada hari esok buat mereka maka dia tinggal terisak-isak kecil ketika ditepuk-tepuk pendekar ini, yang juga bangkit dan mendekatinya.

"Sudahlah, simpan air matamu untuk hal lebih penting. Ji-wi totiang ini membawa sesuatu untuk kalian, Yu Yin. Lihat dan dengarkan mereka."

"Ji-wi locianpwe membawa apa?"

"Sesuatu yang penting. Dari Bu-beng Sian-su."

"Bu-beng Sian-su? Kakek dewa itu?"

"Benar," Yang Im Cinjin tersenyum, mendahului tuan rumah. "Ada yang kami bawa, anak baik. Tapi sebenarnya kami hanya bersifat pengantar. Kami membawa oleh-oleh dari kakek dewa itu."

Yu Yin menghentikan tangisnya dan otomatis terdiam. Sekarang dia sudah menguasai hatinya lagi dan perasaannya ringan.H iburan dan kata-kata sahabatnya di situ amatlah menyejukkan. Beruntung bahwa dia masih ditemani orang-orang gagah ini. Bagaimana kalau mereka mencapnya sebagai keturunan laki-laki jahat dan dianggap jahat pula. Tentu akan dijauhi! Ketika gadis itu merasa sejuk ada orang-orang yang masih mau mendekatinya, penuh sayang dan perhatian maka Yu Yin melepaskan ibu Han Han dan duduk lagi dengan baik. Kini ia diapit Tang Siu dan nyonya itu, Ju-taihiap telah kembali duduk ditempatnya.

"Kami datang atas dua hal," Yang Im Cinjin mulai bicara, menarik napas dalam. "Pertama adalah melihat murid-murid kami yang bertaut jodoh sedangkan yang kedua adalah mengantar sesuatu dari Bu-beng Sian-su, guru dari Ju-taihiap."

"Hm, Sian-su tak mau kuanggap guru," ketua Hek-yan-pang menggeleng dan membenarkan. "Kakek dewa itu menganggap setiap orang dapat menjadi guru bagi dirinya sendiri, totiang. Ia aneh dan tak mau kusebut suhu (guru)!"

"Benar, tapi kau telah mempelajari beberapa ilmu-ilmunya. Meskipun ia tak mau disebut guru tapi taihiap tentu akan tetap menganggapnya demikian. Orang yang rendah hati selamanya begitu!"

"Dan pinto baru kali itu pula bertemu dengannya. Aihh, ia hebat benar!" Kim sim Tojin, guru dari Tang Siu berseru kagum, menyambung. "Pinto ingin bertemu lagi, taihiap. Sayang, ia pergi dan kesempatan bicara belum pinto dapatkan lagi!"

"Hm, apa yang ia bawa," ketua Hek-yan-pang tertarik, wajahnya berseri. "Oleh-oleh apa yang hendak diberikan kepada kami, totiang. Bolehkah kami tahu!"

"Tentu, tapi sebenarnya ini khusus buat pemuda itu, juga gadis itu. Hanya kalian semua boleh tahu dan biarlah sekarang kubuka," Yang Im Cinjin merogoh saku bajunya, memandang ke arah Giam Liong dan Yu Yin karena dua orang itulah yang dimaksud, terutama Giam Liong. Dan karena Han Han kini juga beringsut dan duduk di dekat Giam Liong, menemani pemuda itu terharu oleh kebuntungannya maka Yang Im Cinjin menyerahkan secarik kertas kepada Giam Liong, diterima dengan tenang-tenang saja meskipun sebenarnya Giam Liong berdetak.

"Dari Sian-su, locianpwe? Untuk aku?"

"Begitu katanya, dan nanti dua tiga hari lagi kakek itu datang kepadamu."

"Terima kasih, surat apakah ini." Giam Liong membuka, menjentik dan tertegun karena surat yang diterimanya itu tidaklah berisi apa-apa. Isinya hanya tiga baris syair dan tentu saja dia berkerut kening. Isi syair itu bicara tentang dendam. Dia terkejut! Namun karena dia tidak mengerti apa arti pemberian ini dan ke mana kakek itu hendak membawanya, Giam Liong belum berjumpa si kakek dewa maka dia mengangkat mukanya memandang Yang Im Cinjin. Sorot matanya memancarkan keheranan. "Aku tak melihat apa-apa. Surat ini hanya berisi sebuah syair. Apa maksudnya dan apakah locianpwe tahu."

"Hm, inti ceritanya adalah dendam. Dan jelas yang dituju adalah kau. Pinto belum jelas ke mana kakek itu membawamu, Giam Liong. Dan agaknya kau harus berhadapan sendiri dengan kakek itu."

"Syair apakah," nyonya rumah tiba-tiba bertanya, teringat bahwa duapuluh tahun yang lalu Bu-beng Sian-su juga pernah memberi syair kepada mereka. "Bolehkah aku tahu dan apakah isinya!"

"Silahkan," Giam Liong mengangguk dan memberikan itu. Han Han sekilas telah membacanya. "Isinya menyeramkan aku, bibi. Aku tak mengerti tapi agaknya memang aku yang dituju."

"Hm," alis nyonya itu segera berkerut, matanya bersinar-sinar. "Sama seperti kita dulu, suamiku. Sebuah pelajaran yang tentu penting!"

"Apakah itu," Beng Tan tertarik dan bersinar-sinar pula. "Dapatkah kau baca dan biar kudengar."

"Aku agak ngeri. Biar Giam Liong saja yang membaca!"

"Atau aku saja," Yu Yin berseru dan tak tahan ingin tahu pula. "Tadinya katanya untuk aku dan Giam Liong, bibi. Biar kulihat dan kubaca!"

Swi Cu mengangguk. Ia menyerahkan dan membiarkan Yu Yin membaca. Dan ketika gadis itu membaca namun masih di dalam hati, belum bersuara maka Ju-tai-hiap berseru dan tak sabar. Semua kini telah melihat dan mengetahui.

"He, baca, Yu Yin. Bagaimana isinya!"

Yu Yin sadar. Akhirnya ia membeber kertas itu dan dengan wajah agak takut ia membaca. Dan begitu ia mengeluarkan suara maka Yang Im Cinjin maupun Kim-sim Tojin mengangguk-angguk:

Api memercik di sudut hati merayap cepat membakar bumi, musnahlah sudah kasih dan budi tinggallah jiwa yang penuh benci.

Dendam kesumat membawa laknat hancur periuk ditimpa genta, sudah kodrat datang menjerat celakalah badan rusak binasa.

Satu jalan melepaskan diri membuang racun lekatkan jari taruh di tengah, sang dewa cinta siap dan tenang menebus dosa!


"Hm, menyeramkan!" Ju-taihiap mengangguk-angguk, berdesir. "Benar katamu, Giam Liong. Syair itu menyimpan sesuatu yang menggetarkan hati. Aku juga merasa seram!"

Yu Yin menutup dan melipat kertas itu. Ia telah selesai membaca dan dua kakek di sana mengangguk-angguk. Mereka telah tahu itu karena sebelumnya memang telah membaca. Syair itu boleh diketahui semua orang karena memang untuk semua orang, meskipun Giam Liong lah yang dituju karena kebetulan pemuda itu sebagai pelaku yang menonjol, begitu agaknya. Dan ketika Beng Tan menarik napas dalam-dalam dan Han Han berkerut kening, dia juga merasa seram tapi tak jelas apa yang hendak dituju lebih lanjut oleh Bu-beng Sian-su maka pemuda inipun berkata,

"Isinya tentang kebencian dan dendam kesumat. Tapi apa arti dari bait ketiga!"

"Ya, aku juga belum tahu. Tapi tentu penting!" sang ayah menjawab.

"Hm, pinto dapat menangkap maksudnya, taihiap. Tapi pinto tak berani bicara dan biarlah kakek itu sendiri yang menjawab," kata Yang Im Cinjin.

"Aku juga dapat menangkap. Tapi kurang pantas rasanya kalau lancang mendahului!" Kim-sim Tojin juga mengangguk-angguk.

"Apakah ji-wi locianpwe tahu?"

"Kami pikir begitu, karena kami adalah orang-orang tua. Kami telah banyak makan asam garam dunia tapi biarlah Sian-su sendiri yang akan menerangkan."

Beng Tan mengangguk-angguk. Itu adalah etika dan sebagai sesama orang tua tentu saja Kim-sim Tojin maupun Yang Im Cinjin tak mau lancang. Dan karena dia diharuskan berpikir dan diapun sudah berpikir, puteranya dan lain-lain berkerut kening dan juga berpikir maka Yang Im Cinjin tertawa mengebutkan lengan. Minuman dan makanan kecil telah dihabiskan.

"Taihiap, urusan pinto telah selesai. Pinto telah membuktikan kepada Kim-sim totiang dan kini menyampaikan oleh-oleh itu kepada yang bersangkutan. Pinto hendak pergi dulu dan biarlah seminggu dua minggu lagi kita bertemu."

"Eh!" Beng Tan terkejut. "Locianpwe mau ke mana?" pembicaraan tentang syair tiba-tiba buyar. "Jangan tergesa-gesa, locianpwe. Kami masih ingin kau temani!"

"Ha-ha, pinto masih ada urusan sedikit. Dan di sini puteramu Han Han telah menemani. Biarlah pinto pergi dulu dan nanti seminggu dua minggu kita bertemu lagi!"

Bangkit berdiri tiba-tiba kakek itu tak menanti jawaban. Ia telah mengangguk kepada tuan rumah dan juga Kim-sim Tojin. Dan begitu ia mengangguk kepada yang lain dan berkelebat lenyap maka kakek itupun tak mau tinggal lagi.

"Han Han, aku pergi dulu. Dan kau Giam Liong, pinto turut prihatin atas semua yang menimpamu!"

Giam Liong dan Han Han membelalakkan mata. Mereka tak menyangka bahwa secepat itu kakek itu pergi. Tapi karena orang-orang sakti memang membawa adat sendiri-sendiri dan mereka itu biasanya tak dapat dikekang, nyonya rumah dan lain-lain juga terbelalak maka Han Han bangkit berseru pada gurunya, Giam Liong juga berdiri dan menghadap ke arah mana kakek itu berkelebat.

"Suhu, teecu masih ingin melepas kangen kepadamu. Jangan lama-lama!"

"Dan terima kasih atas pemberianmu, locianpwe. Aku juga ingin bertemu lagi dan bicara tentang pelajaran-pelajaran bijak!"

"Ha-ha!" kakek itu tahu-tahu sudah diluar pulau, cepat sekali. "Pelajaran bijak akan kau dapatkan dari Bu-beng Sian-su, Giam Liong. Aku tak mempunyai pelajaran apa-apa kecuali nasihat dan sekedar wa-was pandangan. Hati-hatilah menghadapi masa depanmu!"

Giam Liong tertegun. Kakek itu telah lenyap tapi suaranya terdengar jelas. Semua juga mendengar dan Giam Liong berubah. Tapi karena dia sudah ditempa kepahitan-kepahitan hidup dan apapun akan dihadapi dengan tabah maka dia duduk lagi dan acuh.

"Siancai, Yang Im toheng membuat orang lain tak enak saja. Hm, masa depan memang selalu penuh tantangan, anak muda. Jangan takut!"

"Aku tak takut," Giam Liong tertawa getir, tahu maksud kakek yang satu itu. "Aku cukup mengalami hal-hal pahit, lo-cianpwe. Tapi ada baiknya kata-kata Yang Im-locianpwe agar dapat membuatku waspada."

"Hm, syukurlah. Dan bagaimana aku sekarang." kakek itu juga bangkit berdiri. "Apakah kita di sini saja, Siu-ji. Apakah tidak pulang."

"Pulang?" Tang Siu terkejut, di sana Han Han berubah. "Terserah kepadamu, suhu, tapi bagaimana dengan sahabatku Yu Yin."

"Ha-ha, Yu Yin ataukah Han Han!" kakek itu tertawa bergelak. "Yu Yin sudah ada pasangannya, Tang Siu. Dan kita tentu harus pulang menunggu pinangan resmi dari Ju-taihiap!"

"Ah!" Ju-taihiap terkejut, bangkit berdiri. "Urusan anak-anak gampang dibicarakan, totiang. Tapi kuminta dengan hormat tinggallah di sini dua tiga hari menunggu Sian-su. Aku tentu akan melamar untuk puteraku tapi janganlah tergesa-gesa meninggalkan Hek-yan-pang. Kami masih ingin ditemani!"

"Benar," Yu Yin tiba-tiba berseru dan melirik sahabatnya, Yu Yin tampak bingung harus cepat-cepat berpisah dengan Han Han, kekasihnya. "Aku butuh sahabatku, locianpwe. Biarkan Tang Siu di sini menemaniku. Atau aku juga pergi dan biarlah kuikut ke Kun-lun!"

"Wah, kalian mendesakku? Ha-ha, pinto tak enak kepada Ju-taihiap. Merepotkan tuan rumah!"

"Tidak," Swi Cu tiba-tiba juga berseru, tahu lirikan dua muda-mudi itu dan ingin membahagiakan. "Kata-kata suamiku benar, totiang. Tinggallah di sini dua tiga hari menanti Sian-su. Tentu kita akan lebih gembira. Kami tak merasa repot!"

"Nah," kakek itu berseru, tertawa memandang muridnya. "Bagaimana kalau begini, Tang Siu? Apakah kita turuti?"

"Terserah suhu," gadis itu tetap menjawab, diam-diam mulai girang. "Kalau suhu mau pulang tentu teecu ikut, tapi kalau suhu masih di sini tentu teecu juga menurut. Terserah suhu!"

"Ha-ha, kalau begini pinto kalah. Eh!" kakek itu menoleh kepada Yu Yin. "Kau benar-benar butuh muridku ini, nona? Kau tidak berbasa-basi, bukan?"

"Aku masih ingin bicara banyak dengan murid locianpwe, aku butuh kehadirannya. Aku tidak berbasa-basi!"

"Bagus, kalau begitu kuterima. Ha-ha, jangan merasa repot kalau pinto di sini, Ju-taihiap. Harap kau tidak menyalahkan!"

"Kami tulus mengajak totiang. Justeru kami akan kecewa kalau totiang buru-buru pergi," Beng Tan tersenyum.

"Baik, kalau begitu pinto akan menunggu sampai kakek dewa itu datang dan terima kasih atas ajakan ini." Kim-sim Tojin tertawa mengangguk, di sana muridnya berseri dan mendapat kedipan Han Han dan Yu Yin tersenyum dan bahagia. Ia sengaja meminta karena di samping ia sendiri butuh teman untuk hiburan juga karena sebagai sama-sama orang muda ia tahu benar betapa kecewanya nanti gadis itu kalau buru-buru pulang mengikuti gurunya. Tang Siu baru saja mereguk nikmat dan bahagianya cinta bersama Han Han. Sungguh terasa berat kalau belum apa-apa sudah diharuskan pulang.

Dan karena Ju-taihiap maupun isterinya juga mengundang sungguh-sungguh, Yu Yin girang karena si kakek tak buru-buru kembali maka hari itu mereka bergembira dan bercakap-cakap. Sedikit gangguan dengan perginya Im Yang Cinjin tadi tak mengganjal lagi. Yu Yin sudah memeluk dan merangkul gadis ini lagi. Dan ketika di sana Giam Liong acuh dan tenang-tenang saja, menahan debaran hatinya akan syair Bu-beng Sian-su maka malamnya mereka semua beristirahat dan melepas lelah. Giam Liong diminta untuk tidur di kamar Han Han dan Yu Yin bersama Tang Siu.

Giam Liong mengerutkan kening dan mula-mula menolak. Tapi ketika Han Han berkata bahwa kamar itu dulunya juga kamar yang ditempati Giam Liong, ketika Giam Liong disangka sebagai putera kandung Ju-taihiap maka Giam Liong akhirnya tak menolak, apalagi karena paman dan bibinya, begitu sekarang Giam Liong menyebut, mengia-kan pula.

"Kau tak usah sungkan atau malu. Han Han benar. Kalian tidurlah di satu kamar karena kalian sudah bukan orang-orang lain lagi bagiku."

"Dan kau boleh tinggal selamanya di sini pula kalau kau suka," Swi Cu berkata, menyambung, pandang matanya penuh keharuan dan kasih, tidak seperti dulu lagi. "Aku boleh kau anggap sebagai ibumu, Giam Liong. Paling tidak bibimu asli karena mendiang ibumu adalah benar-benar kakak seperguruanku!"

"Terima kasih," Giam Liong menunduk, air matanya mengembang. "Terima kasih atas semua budi dan kebaikanmu, bibi. Aku..... aku hanya dapat berterima kasih. Tapi maaf, aku tak mungkin tinggal disini selamanya."

"Hm, kenapa begitu," sang paman kini menepuk-nepuk pundaknya. "Kau bertahun-tahun telah menjadi puteraku, Giam Liong. Dan sampai sekarangpun aku dapat menganggapmu sebagai puteraku. Tak usah ke mana-mana. Hek-yan-pang bahkan semakin kuat kalau ada kalian, dua orang muda disini!"

"Terima kasih, tapi... tapi aku harus pergi, paman. Aku ingin melupakan semua ini dengan merantau di tempat yang jauh."

"Hm, bagaimana dengan Yu Yin?"

"Ia akan ikut aku. Ia tak mau kembali ke kota raja."

"Kalau begitu aku harus meresmikan kalian dulu. Bersabarlah sebentar jangan buru-buru pergi. Kau dan Yu Yin biarlah melangsungkan pernikahan bersama-sama Han Han, kalau kami sudah meminang Tang Siu secara resmi!"

"Benar, dan pinto akan menjadi wali kekasihmu," Kim-sim Tojin tiba-tiba muncul, mendengar itu. "Tak baik berduaan tanpa tali ikatan, Giam Liong. Bersabarlah dan turut kata-kata pamanmu."

Giam Liong menahan runtuhnya air mata. Keluarga paman dan bibinya ini sungguh betul-betul menganggapnya anak sendiri, meskipun mereka telah menemukan Han Han sebagai anak kandungnya. Dan ketika ia mengangguk dan mengucap terima kasih, bibir gemetar menahan keharuan yang dalam maka di kamar ia tak kuat lagi dipeluk Han Han, menangis.

"Giam Liong, kau adalah saudaraku. Maafkan kalau aku pernah menentang dan menyakiti hatimu. Kita adalah sekeluarga, jangan tolak permintaan ayah dan tinggallah di sini saja bersamaaku."

"Tidak, terima kasih...!" Giam Liong hampir mengguguk. "Aku... aku harus ke Lembah Iblis, Han Han. Aku harus mengubur dan mengembalikan senjata itu di tempat asalnya. Justeru akulah yang harus minta maaf karena berkali-kali aku memusuhimu!"

"Sudahlah, yang dulu tak usah dibicarakan. Kita beristirahat, Giam Liong. Silahkan tidur."

Giam Liong tertegun. "Kau saja yang tidur, aku di kursi ini saja." kamar itu hanya mempunyai satu tempat tidur, tempat tidurnya dulu!

"Tidak, kau yang di sana, Giam Liong. Aku di sini!"

"Hm," Giam Liong menggeleng. "Kamar ini hanya mempunyai sebuah tempat tidur, Han Han, dan kau pemiliknya. Kau yang, disana dan aku disini!"

"Tapi itu adalah tempat tidurmu dulu. Aku hanya tinggal pakai dan menumpang!"

"Kalau begitu bagaimana? Kau tetap menyuruh aku?"

"Itu milikmu."

"Tidak, sekarang milikmu, Han Han. Tidurlah di situ dan aku dikursi!"

"Tidak, aku tak mau. Kalau begitu begini saja. Kita sama-sama tidur di situ. Atau aku juga di kursi dan biarkan tempat tidur itu kosong!"

"Han Han...!"

Namun pemuda ini menarik tangan Giam Liong. Ia menyuruh Giam Liong tidur di situ dan barulah Han Han pun merebahkan dirinya di situ. Tempat tidur ini tidaklah besar namun bagi mereka berdua sesungguhnya cukup. Hanya karena kesungkanan Giam Liong itulah, pemuda buntung itu tak mau. Dan ketika Han Han berhasil memaksa dan mereka tidur sepembaringan, Giam Liong menahan tangisnya yang seakan meledak lagi maka pemuda ini mencengkeram Han Han dan berseru, gemetar.

"Han Han, pernahkah terbayang olehmu bahwa kita akan tidur sepembaringan? Terlintas di benakkah bahwa kita yang pernah bermusuhan dan bertanding begitu hebat suatu ketika dapat bersatu dan tidur seperti ini? Ah, aku merasa betapa baik dan mulia budimu, Han Han. Kau seperti ayahmu. Dan aku... aku pernah menjadi begitu ganas. Aku benar-benar pernah menjadi iblis!"

"Sudahlah," Han Han tersedak dan menahan runtuhnya air mata, cepat-cepat memadamkan lampu. "Aku tak pernah memikirkan semuanya itu, Giam Liong. Tapi kaupun tak salah sepenuhnya. Tidurlah, dan jangan bicara yang membuat aku serasa diremas-remas!"

"Oohh...!" Giam Liong menjauh dan melepaskan cengkeramannya. Han Han menangis! "Maafkan aku, Han Han, maafkan....!"

Dua pemuda itu tak bicara lagi. Mereka diam namun sesungguhnya jiwa mereka menjerit. Han Han dan Giam Liong sama-sama merasakan kebahagiaan dan keharuan yang luar biasa. Tidur sekamar dan sepembaringan seperti itu sungguh tak pernah mereka bayangkan. Seperti mimpi! Mereka yang pernah bermusuhan dan bertanding begitu hebat tiba-tiba saja malam itu tidur bersebelahan. Siapa tak tercekik dan ingin menjerit oleh keharuan dan kebahagiaan yang dalam?

Apalagi bagi Giam Liong, yang telah mendapat pertolongan dan perawatan dari keluarga itu. Dan teringat betapa tulus dan lembutnya paman dan bibinya meminta dia tinggal di situ, selamanya, bersama Han Han maka Giam Liong ingin memekik dan berteriak kegirangan. Suara bibinya yang begitu lembut dan penuh perhatian, suara yang tak akan dia lupakan seumur hidup membuat Giam Liong merasa berdosa atas tindak-tanduknya yang lalu, apalagi ketika dia pernah menyakiti dan menusuk perasaan keluarga itu dengan mengalahkan pamannya. Tentu sakit sekali perasaan pamannya waktu itu. Giam Liong memejamkan mata kuat-kuat. Dan teringat betapa dia tak pantas tinggal bersama paman dan bibinya ini, juga Han Han yang berwatak mulia dan amat lembut maka Giam Liong melihat betapa dia telengas dan kejam.

Dia khawatir bahwa bibit-bibit seperti ini hanya akan menyusahkan keluarga itu saja. Dia pendendam dan termasuk bertabiat panas, meskipun sekarang setelah dendamnya berhasil dilampiaskan dan ia membunuh Kedok Hitam segala keganasan atau watak kejamnya itu hilang. Siapa dapat menjamin diri sendiri kalau suatu ketika ada apa-apa lagi?

Lebih baik dia mundur, menjauh. Biarlah Han Han dan ayah ibunya hidup bahagia tanpa orang setelengas dia. Kebaikan dan budi baik keluarga itu tak usah dirusaknya dengan watak-watak keji. Dia adalah keturunan Golok Maut Sin Hauw yang sepak terjangnya juga pernah menggiriskan dunia kang-ouw. Ada semacam "darah hitam" yang diwarisinya dari keluarga. Itu tak boleh pecah di sini. Dan karena Giam Liong memutuskan tidak akan selamanya di situ, suatu hari dia harus pergi, maka di kamar lain, ketika dua pemuda saling tenggelam dipikiran masing-masing maka Tang Siu dan Yu Yin juga asyik berbisik-bisik, pengantar tidur.

"Sst, mereka tidur sekamar, dan sepembaringan lagi. Ih, bagaimana pendapatmu, Tang Siu? Apakah Han Han tak merasa jijik?"

"Hm, jijik? Kenapa? Kau dan akupun sama-sama tidur di pembaringan yang sama, Yu Yin. Dan aku tak merasa jijik atau apa kepadamu. Giam Liong pada dasarnya baik!"

"Kau tak ingat sepak terjangnya yang lalu?"

"Dia seperti harimau garang yang tak mungkin menerkam kalau tak disakiti atau diganggu. Giam Liong pemuda luar biasa yang hanya kejangkitan semacam penyakit. Mungkin dari hawa gaib Golok Penghisap Darah warisan ayahnya itu!"

"Penyakit?"

"Ya, begitu agaknya, Yu Yin. Tapi entahlah, aku juga tak tahu. Aku hanya ingat ketika golok itu pernah mengamuk dan marah-marah kepada kita. Seperti setan!"

"Hm, aku ngeri membayangkan golok itu. Tapi aku ingin mengucap terima kasih bahwa kau telah membantu aku menghalau pemberontak-pemberontak yang mengepung kota raja!"

"Ah, itu soal biasa, Yu Yin. Chu-goan-swe dan orang-orangnya itu harus diusir. Aku tak tega melihat rakyat jelata menjadi korban!"

"Dan sekarang mereka telah pergi. Tanpa Giam Liong tak mungkin mereka datang lagi!"

"Eh, bolehkah aku bertanya," Tang Siu tiba-tiba teringat. "Aneh bahwa kau tiba-tiba membantu istana setelah disakiti dan ditangkap orang-orang kerajaan. Bagaimana sebenarnya maumu ini, Yu Yin. Bolehkah aku tahu!"

"Hm, itu? Gampang saja. Aku ingin membalas budi. Jelek-jelek kaisar pernah memberiku kesenangan dan kemewahan. Aku adalah puteri bangsawan. Meskipun aku kini tak akan kembali dan tinggal di istana lagi tapi aku ingin berdarma bakti dan membalas budi baiknya. Apakah aneh?"

"Hm, begitukah?"

"Ya, di samping tak ingin rakyat jelata menjadi korban lebih jauh dari peperangan itu. Sudahlah, aku tak mau bicara lagi tentang ini, Tang Siu. Aku ingin menutup masa laluku tentang istana!"

Tang Siu menarik napas dalam. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan mereka bicara yang lain, kembali pada Han Han dan Giam Liong itu. Dan karena masing-masing adalah kekasih pemuda itu, tentu saja berkisar pada dua pemuda inilah pembicaraan mereka tertaut maka angin malam berkesiur lembut dan tiba-tiba mereka menguap.

"Tang Siu, aku mengantuk."

"Aku juga..."

"Marilah tidur dan semoga bermimpi indah!"

"Benar, marilah tidur, Yu Yin. Dan semoga bermimpi indah!"

Dan ketika keduanya kembali menguap berbareng dan lampu dipadamkan maka Yu Yin tiba-tiba sudah lelap dan Tang Siu menyusul. Hawa dingin dari angin yang segar membuat mereka menguap, malam telah larut. Dan ketika kentongan pukul satu terdengar dari tengah pulau, telaga berdesir dan beriak perlahan maka penghuni rumah itu lelap dan Ju-taihiap pun tertidur memeluk istennya.

* * * * * * * *

Entah apa yang terjadi tak ada yang tahu. Giam Liong, yang tertidur dan pulas bersama Han Han mendadak serasa diangkat. Mimpi yang mengejutkan membawa mereka. Giam Liong merasa digoyang dan tiba-tiba iapun bangun. Dan ketika Han Han juga bangun dan tersentak membuka mata, terbelalak, maka sesosok bayangan putih muncul di tengah-tengah mereka. Tempat tidur berguncang-guncang lembut.

"Hantu!" Giam Liong dan Han Han serentak berseru berbareng.

Mereka kaget sekali dan Han Han bergerak menyerang bayangan putih itu, yang melayang dan mengambang di tengah udara. Tapi ketika tawa yang lembut menyambut serangannya dan pemuda itu terjelungup kedepan, Giam Liong juga bergerak tapi ditangkap tangannya maka dua orang muda itu terkejut sekali karena sapaan halus dan enak didengar memasuki telinga mereka.

"Maaf, jangan bersuara keras-keras, anak-anak. Perahu nanti terguling!"

Han Han dan temannya tertegun. Mereka diusap lengan yang lembut dan tawa yang empuk itu sedap sekali didengar. Han Han membelalakkan mata. Tapi ketika ia mendengar jerit tertahan dan Tang Siu maupun Yu Yin ada disitu, dibelakang bayangan putih-putih ini maka mereka ternyata ada di perahu dan Yu Yin menuding.

"Giam Liong, sss. setan!"

Giam Liong terpaku. Ia melihat tempat tidur ada di situ, di atas perahu. Dan ketika ia ternganga karena gedung tempat tinggal Ju-taihiap juga ada di atas perahu ini, ajaib sekali maka ia terhuyung dan mengejap-ngejapkan mata.

"Han Han. apa yang kau lihat!"

"Aku... aku melihat tempat tidur kita .....! Dan... dan, eh.... gedung tempat kita tinggal ada di perahu ini! Itu kamar ayah, dan itu taman-taman bunga pula. Eh, bagaimana bisa menumpang dan berdiri di atas perahu. Kita memasuki alam gaib!"

"Benar, aku... aku merasa seram, Han Han. Dan bintang-bintang ini, aih... dekat sekali. Serasa belasan meter saja dari tempat kita. Cahayanya gemerlapan!"

"Dan itu bulan yang bundar amat indahnya. Kita serasa mimpi!"

"Benar, kita mimpi!"

"Dan ada setan!" Yu Yin tiba-tiba kembali berteriak. "Tolong, bawa aku ke tempatmu, Giam Liong. Aku tak dapat bergerak. Siapa kakek ini!"

"Benar, siapa dia," Han Han tiba-tiba juga terkejut, membalik. Ia juga tak dapat melompat atau menjangkau ke depan. Tadi ia tersungkur dan ditangkap jari lembut kakek itu.

Namun ketika kembali kakek itu tertawa dan tawanya yang lembut serta halus menyejukkan mereka, membuat mereka berani untuk memandang jelas maka semua tertegun karena wajah kakek itu ternyata tertutup halimun sementara dari kedua matanya menyorot cahaya lembut namun tajam. Itu saja. Dan selebihnya kakek ini tak menginjak tanah. Manusia roh!

"Kau..... kau siapa?"

"Duduklah," kakek itu menggerakkan tangan menyuruh duduk, tawanya masih lembut terdengar. "Aku adalah orang yang menitipkan syair kepada Yang Im Cinjin, anak-anak. Jangan takut karena aku tak mengganggu kalian."

"Sian-su?" Giam Liong dan Han Han berseru serentak, kaget. "Bu-bengSian-su?"

"Hm, itulah nama yang diberikan orang kepadaku. Aku sendiri tak bernama. Duduklah, dan harap tenang-tenang saja."

Han Han dan Giam Liong tiba-tiba terbelalak. Mereka sekarang dapat bergerak lagi sementara Tang Siu dan Yu Yin berseru tertahan. Begitu tadi kakek itu menggerakkan tangan maka sekarang mereka dapat melompat dan Yu Yin maupun Tang Siu langsung saja bersembunyi di belakang dua pemuda ini. Mereka merasa takut dan gentar. Kakek ini seperti siluman! Tapi ketika kakek itu benar-benar tak mengganggu mereka dan tawanya yang lembut kembali terdengar, menyuruh mereka tak usah takut maka Yu Yin maupun temannya tenang kembali, meskipun jantung mereka terasa berdebar kencang!

"Aku terpaksa membawa kalian ke sini, tak mau mengganggu yang lain. Dan karena kalianlah yang lebih berkepentingan maka aku hendak bercakap-cakap dengan kalian."

"Kau. kau hendak bicara apa?"

"Hm," kakek ini memandang Giam Liong, sorot matanya tajam menembus, Giam Liong tersentak mundur. "Ada kejadian berat yang akan kau alami lagi, anak muda. Aku hendak memberi pesan agar kau hati-hati dan jangan sekali-kali memiliki Golok Maut lagi. Rencanamu benar, kembalikan golok itu ke Lembah Iblis dan kuburlah dia di sana. Seumur hidup jangan dilihat lagi, jangan diambil. Atau malapetaka akan menimpamu dan seumur hidup kau bakal menderita!"

Giam Liong tergetar, terkejut. "Sian-su. Sian-su tahu ini?"

Han Han juga heran. Seingatnya baru kepada dia seoranglah Giam Liong memberitahukan rencananya itu. Maka melihat kakek ini tahu dan mengangguk, tertawa, maka Han Han lebih heran lagi mendengar kakek itu tahu apa yang mereka bicarakan dikamar.

"Aku tahu, dan aku merasa bahagia bahwa kalian dapat bersatu dan hidup berdampingan. Aku juga mendengar percakapan kalian di kamar."

Han Han tertegun.

"Tapi kau..." kakek ini tiba-tiba menoleh kepada Yu Yin. "Jangan sekali-kali ke kota raja dan pegang sumpahmu, nona. Sebaiknya tak usah kau menemui siapapun di sana dan tak usah dikunjungi siapapun dari sana. Mulailah hidup baru dan benar-benar lupakan kerabat ataupun sahabatmu dari istana."

Yu Yin mengangguk. "Aku memang tak akan kembali kesana," gadis ini berkata setengah marah. "Dan aku merasa tak mempunyai kepentingan lagi dengan istana!"

"Bagus, dan pegang teguh kata-katamu ini, nona. Atau nanti semua jadi terbalik!"

"Hm, Sian-su membuat kami berdebar," Han Han kini bicara, mulai tidak takut-takut lagi. "Dan bagaimana dengan aku, Sian-su. Apa yang harusku perhatikan!"

"Janganlah kau biarkan ayah ibumu meninggalkan Hek-yan-pang dalam waktu sepuluh tahun ini. Jagalah mereka dan sebaiknya kau kawal ayah ibumu kalau ingin bepergian lama."

"Apa? Mengawalnya seperti anak kecil?” Han Han terbelalak.

"Hm, akan ada gejolak di dunia kang-ouw. Kalau kau ingin bertanya nasihatku maka itulah yang harus kau lakukan, anak muda. Katakan agar dalam waktu sepuluh tahun ini sebaiknya ayah ibumu tak usah bepergian, tak usah meninggalkan Hek-yan pang jauh-jauh. Itu nasihatku."

Hari Han tertegun. Ia merasa heran tapi mengangguk-angguk mengucap terima kasih. Betapapun itulah nasihat untuknya dan dia akan memberitahukan ayah ibunya pula. Konon, dari kakek dewa ini pulalah ayahnya mewarisi kepandaian. Dan ketika kakek itu duduk dan berhadapan dengan mereka, Tang Siu dan lain-lain mulai berani maka gadis ini bertanya pula,

"Lalu aku bagaimana, Sian-su? Apa yang harus kuperhatikan?"

"Gurumu sebaiknya tak usah turun gunung. Dalam waktu sepuluh tahun ini, tahanlah keinginannya untuk tidak keluar-keluar, sama seperti Ju-taihiap."

"Hm, dan sekarang aku ingat akan syair pemberianmu itu," Han Han kini berseru, memotong kekasihnya. "Kata ayah maupun ibu, kau selalu memberikan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan, Sian-su. Dan bagaimana sekarang dengan syairmu itu!"

"Benar," Giam Liong juga mengangguk, merasa dialah yang lebih berkepentingan. "Aku dan Han Han sudah membaca berulang-ulang, Sian-su. Tapi tidak banyak yang kami dapat."

"Ha-ha, isinya jelas dan terang. Masa kalian tak mengerti!"

"Benar, tidak semuanya kami mengerti, Sian-su. Kami hanya tahu bahwa syairmu bicara tentang dendam. Itu intinya!"

"Hm, bukan itu saja. Tapi kelanjutan dari itu lebih penting lagi!"

"Pada bait ketiga?"

"Benar, kau cerdas."

"Tapi kami tak mampu mengupasnya. Apa yang kau maksud dengan kata-kata pada baris ketiga itu!"

"Sebaiknya dibaca saja semua,"

Tang Siu tiba-tiba berseru, perahu bergoyang dan mereka nyaman sekali diombang-ambing, ikan berkecipak dan hilir-mudik berenang di sekitar perahu. "Aku tak ingin tahu hanya sepenggal-sepenggal saja, Han Han. Kau boleh cerdas tapi kami ini masih bodoh!"

"Ha-ha, bukan bodoh, hanya belum mengerti. Orang yang bodoh adalah orang yang sudah tahu sesuatu tapi tak mampu mengerjakannya, nona. Bukan karena tak bisa melainkan karena otaknya bebal."

"Dan kami barangkali bebal, kami juga begitu."

"Tidak, dalam hal ini kalian memang belum mengerti, dan belum mengerti karena memang belum kuberi tahu. Hm, duduklah yang tenang dan mari kita lihat syair itu. Siapa yang membawa!"

Giam Liong mengeluarkan syair itu. Dialah yang membawa karena memang kepada dialah Im Yang Cinjin memberikan. Yu Yin di sampingnya dan kini tidak takut-takut lagi menghadapi kakek ini. Bahkan, ada rasa kagum dan takjub. Dan karena Tang Siu juga sudah di samping Han Han dan tidak bersembunyi di belakang punggung lagi, aneh bahwa semua sudah mengelilingi kakek itu maka Bu-beng Sian-su yang tersenyum dan bersila di tengah anak-anak muda ini memandang berseri dan sorot matanya yang lembut menyapu sejuk.

"Kau bacalah," kakek itu memerintah Giam Liong. "Dan perhatikan baik-baik apa yang hendak kuberitahukan kepada kalian."

Giam Liong berdebar. Setelah dia dapat menenangkan perasaannya kembali berhadapan dengan kakek ini mendadak sekarang ia merasa tegang dan menggigil menggenggam kertas itu. Aneh, ia seakan ketakutan, pucat. Tapi ketika pundaknya ditepuk halus dan lenyap sudah rasa gemetaran itu maka Giam Liong membaca, seperti ketika Yu Yin membaca syair itu:

Api memercik di sudut hati merayap cepat membakar bumi musnahlah sudah kasih dan budi tinggallah jiwa yang penuh benci.

Dendam kesumat membawa laknat hancur periuk ditimpa genta, sudah kodrat datang menjerat celakalah badan rusak binasa.

Satu jalan melepaskan diri membuang racun lekatkan jari taruh di tengah, sang dewa cinta siap dan tenang menebus dosa!


"Hm!" kakek itu mengangguk-angguk. "Cukup, anak muda. Terima kasih. Bagus!"

Giam Liong mengusap keringat. Membaca tiga bait syair itu saja tiba-tiba ia seakan mendapat tugas berat. Dahinya berkeringat padahal hawa udara malam masih berhembus dingin. Aneh! Tapi begitu ia selesai dan kakek itu mengangguk-angguk, pemuda ini meletakkan syairnya maka kakek itu berseri, matanya bersinar-sinar.

"Bagus, apa yang dapat kau tangkap, anak muda? Adakah yang sudah kau mengerti?"

"Hm, masalah dendam. Syair ini bicara masalah dendam. Tadi temanku Han Han juga sudah bicara begitu!"

"Ha-ha, aku tidak bertanya pendapat temanmu. Aku bertanya kepadamu sendiri, kau!"

"Aku juga begitu, Sian-su. Aku sependapat bahwa syairmu ini bicara tentang dendam," Giam Liong agak merah mukanya.

"Baik, dan kau pasti dengan pendapatmu itu?"

"Ya."

"Hm, apalagi yang kau tangkap!"

"Belum ada...." Giam Liong mengerutkan kening, sesungguhnya kurang suka bicara tentang ini. Perasaannya seperti tercabik-cabik. "Aku belum menemukan apa-apa lagi, Sian-su, kecuali itu."

"Hm, kau," kakek ini tiba-tiba menunjuk Han Han. "Coba kau kupas dan artikan syair itu, anak muda. Barangkali kau lebih tahu!"

"Aku seperti Giam Liong," Han Han tergagap. "Aku hanya tahu sebatas itu!"

"Hm, kalau begitu bagaimana kalian!" Bu-beng Sian-su menoleh pada Tang Siu maupun Yu Yin, yang dipandang segera berdesir! "Coba kalian baca dan artikan itu!"

"Kami.... kami tak tahu. Kami hanya tahu seperti apa yang mereka katakan!" Tang Siu menjawab dan memberanikan hati. Bicara dengan kakek ini ia serasa gentar dan meskipun tidak takut tapi perbawa dan wajah kakek itu mengerikannya. Ia merasa jerih! Dan ketika kakek itu tertawa dan mengangguk-angguk, menarik napas dalam maka dia berkata,

"Baiklah, syair ini sederhana sekali, anak-anak, tak ada yang sukar. Tapi harus kalian perhatikan baik-baik karena akibat dari ini bisa tak ada habisnya dan berkepanjangan kalau tidak segera diputuskan. Nah, dengarlah baik-baik!"

Empat orang muda itu mendengarkan. Mereka memasang telinga baik-baik dan Giam Liong agak gelisah. Dia tahu bahwa dialah nanti yang akan dituju dan kalau kakek ini bukan dikenal sebagai orang yang memberi manfaat kepada orang lain tentu dia enggan mendengar. Pembicaraan pasti akan menusuk-nusuk hatinya. Dia harus siap menerima pedih! Tapi karena tempaan demi tempaan sering dialaminya, Giam Liong tabah dan menjadi matang maka dia membiarkan saja kakek itu bicara. Dan Bu-beng Sian-su pun memang mulai bicara.

"Pertama, mari kita kupas bait pertama. Ada empat baris kata yang ada di situ. Dan pembukaannya adalah Api! Hm, kalian tahu apa itu api, anak-anak? Bisa kalian katakan sebentar?"

Han Han mengangguk. "Api adalah benda panas membakar, Sian-su. Dan ia sanggup menghanguskan apa saja!"

"Bagus, dan api ini adalah benda berbahaya. Api dari segala api yang paling berbahaya adalah kebencian. Kalian pernah benci?"

Semua melengak.

"Eh, kenapa melengak? Jangan pandang aku seperti itu, anak-anak. Jawablah pertanyaanku apakah kalian pernah benci!"

Han Han tiba-tiba tersenyum, dan tiga temannya tersipu. "Pernah," jawabnya.

"Dan apa yang kalian rasakan itu?"

"Rasa tidak suka atau marah kepada yang dibenci."

"Itu saja?"

"Ya, itu saja."

"Ha-ha, tidak lengkap. Coba kau jawab anak muda. Bagaimana rasanya benci!"

Giam Liong terkejut. Dialah yang ditanya dan dia pula yang diminta menjawab. Agaknya jawaban Han Han tadi kurang sempurna dan harus disempurnakan. Dan karena memang dialah yang paling tepat ditanya, Han Han terlalu lembut dan mulia seperti ayahnya maka Giam Liong mengepal tinju.

"Aku ingin membunuh dan mencincang musuhku. Aku ingin menamatkan riwayatnya!"

"Ha-ha, inilah benci. Benci yang sudah berkobar! Kau tepat, anak muda. Dan itulah api benci yang sudah merayap cepat dan membakar bumi. Tahukah kalian siapa yang kumaksud bumi disini? Ada yang dapat menjawab?"

Han Han bergidik. Jawaban Giam Liong dengan kepalan tinjunya tadi membuat ia was-was. Heran bahwa kakek dewa ini main-main dengan kata-kata yang bisa membuat temannya marah. Giam Liong bisa bangkit kebenciannya dan dapat kembali ganas. Pemuda itu bisa menjadi iblis lagi! Tapi ketika kakek itu tertawa dan bertanya kepada mereka, siapakah "bumi" yang dimaksud dalam bait pertama maka dia menggeleng, teman-temannya juga tak tahu.

"Mungkin bumi yang kami tinggali ini, tanah tempat berpijak. Tapi Sian-su tentu maksudkan lain."

"Ha-ha, benar. Bumi yang kumaksudkan di situ adalah tubuh kalian. Tubuh kalian ini yang dibakar dan dihanguskan Api Kebencian. Tanpa tubuh, tanpa wadag, kebencian tak dapat berbuat banyak karena ia tak mampu melampiaskan diri. Nah tubuh kalian inilah yang kumaksud bumi. Dan sekali api kebencian membakar dan merayap cepat maka tiadalah kasih dan budi di jiwa kalian lagi. Yang ada hanyalah benci yang kotor dan hitam!"

Han Han dan dua lainnya mengangguk-angguk, Giam Liong diam saja.

"Lalu apa yang terjadi?" kakek itu melanjutkan. "Tubuh kalian dipakai oleh api yang namanya benci untuk melampiaskan diri. Dan selama ia belum terlampiaskan maka tak ada akhir dari benci ini. Padahal benci membuat manusia ringkih dan keropos bagai tulang-tulang tua dimakan tanah!"

"Keropos? Ringkih?" Han Han heran.. "Giam Liong justeru tampak semakin mengerikan dan dahsyat, Sian-su. Ia seakan mahluk kuat yang luar biasa menakutkannya. Ia tegar dan gagah perkasa!"

"Ha-ha, bukan itu. Keropos dan ringkih yang kumaksud adalah miskinnya dari sumber kehidupan. Itu yang membuatnya ringkih. Tahukah kau apa sumber kehidupan itu? Bukan lain adalah cinta kasih. Benci bukanlah sumber kehidupan,vkarena benci bersifat merusak dan menghancurkan. Dan karena orang yang diamuk benci adalah orang yang jauh dari sumber kehidupan ini maka ia sesungguhnya keropos dan ringkih dari cinta kasih. Orang yang sudah tahu akibat dari benci tak akan berani menenggelamkan diri. Benci itu ibarat telaga berapi yang siap menghanguskan dan merusak diri sendiri!"

Han Han tertegun.

"Lihat temanmu ini, lihat anak muda ini. Bukankah gara-gara benci ia sekarang kehilangan sebelah lengannya. Kalau ia menyadari dan mengerti benar tentang benci tentu ia akan berpikir seribu kali untuk hanyut dan tenggelam dalam api kebencian itu!"

Han Han mengangguk-angguk, tapi Giam Liong tiba-tiba mengangkat kepala, sinar matanya mencorong, persis seekor naga yang mau murka, kata-katanya dingin. "Sian-su, apakah kau hendak maksudkan bahwa orang tak boleh membenci? Bahwa biarlah kepala kita diinjak-injak dan dihina orang lain dengan patokan tidak boleh membenci itu?"

"Ha-ha, kau terpancing emosi. Tapi ini berarti jiwamu hidup, memberontak! Bagus, tapi sayang aku tidak maksudkan begitu. Kau salah!"

"Jadi bagaimana? Sian-su setuju bahwa kita juga boleh membenci?"

"Itu juga tidak, melainkan sesuatu yang lain. Aku hendak maksudkan di sini bahwa kita mengamati benci itu sebagai 'benda' yang asing dan selidiki atau cari dari mana dia berasal. Kalau sudah ketemu maka kita tak akan terjebak dan dibawa ke liku-liku yang rumit. Benci sesungguhnya berasal dari ego yang diganggu, rasa ke-aku-an. Dan karena rasa ke-aku-an ini berasal dari pikiran, bukan hati, maka kita harus waspada tapi celakanya banyak yang terjebak!"

"Hm, aku bingung. Apa itu si-aku!"

"Aku adalah ego, rasa kemilikan. Semakin tebal seseorang memupuk ke-aku-annya maka semakin jauh dia dari cinta kasih. Contohnya adalah ini....." kakek itu tiba-tiba memandang Yu Yin. "Siapakah gadis ini? Salahkah kalau kusebut bahwa dia adalah kekasihmu? Dan siapakah Ju-taihiap suami isteri? Salahkah kalau kusebut sebagai ayah ibu temanmu Han Han? Nah, mereka ini adalah orang-orang milik kalian, anak muda. Dan kalian tentu menyebutnya sebagai kekasih atau ayah ibuku. Lihat, kata ,ku' di situ adalah ego. Ia menunjukkan kemilikan. Dan kalau kalian sudah jelas ini tentu kita akan lebih lancar lagi bicara."

Han Han dan Giam Liong bersinar-sinar. Hal begini baru kali itu mereka dengar dan karena merasa tertarik mereka mengangguk-angguk. Begitu pula Tang Siu maupun Yu Yin. Tapi belum kakek itu bicara lagi Giam Liong sudah memotong.

"Kalau begitu apa salahnya rasa ego ini, Sian-su. Bukankah rasa ke-aku-an itu wajar dan tidak salah. Apakah kau hendak menghendaki agar kita tidak memiliki lagi rasa itu. Ingat, kau bersandar dan menghubungkan rasa kebencian itu dengan aku, ego!"

"Ha-ha, benar. Dan kau tampak bersemangat sekali. Bagus, jiwamu hidup, anak muda. Kau cocok sebagai figur yang meletup. Tapi nanti dulu, aku tidak berkata bahwa ego atau rasa ke-aku-an itu harus dibuang. Aku, atau ego, sudah ada di dalam diri setiap manusia. Aku atau ego itu sudah ada seperti juga jantung atau hati di dalam tubuh. Ia sudah menjadi bagian dari ujud utuh manusia. Ia tak dapat dihilangkan dan tak mungkin pula dihilangkan. Tapi kalau ego sudah nyasar ke tempat lain seperti halnya otak tiba-tiba berpindah ke jantung atau jantung berpindah ke otak maka kehidupan manusia menjadi kacau-balau. Dan inilah yang terjadi!"

"Hm, bagaimana itu.?"

"Nanti dulu, jangan tergesa memotong. Dengarkan. Kalau jantung kutaruh di kepala dan otak kutaruh di jantung bagaimana jadinya. Bukankah semuanya serba kacau. Nah, begitu pula dengan ego atau aku ini, masing-masing sebenarnya sudah ada di tempatnya sendiri-sendiri tapi oleh manusia lalu dipindah-pindah seenaknya. Contohnya adalah kau ini. Gara-gara ego kau pindah ke tempat lain maka semuanya berantakan dan kaupun akhirnya menderita!"

"Aku tidak mengerti."

"Aku akan membuatmu mengerti," kakek itu menyergap, tangkas. "Dengar dulu dan ingat apa yang kukatakan tadi, anak muda. Bahwa kita harus mengamati benci sebagai 'benda asing' di tubuh kita. Lihat, bagaimana ia datang. Dari mana. Dan karena benci berasal dari ego yang diganggu, dan ego berasal dari pikiran maka inilah yang merusakmu dan itulah yang tidak kau waspadai!"

"Nanti dulu, apa yang merusak dan tidak ku waspadai, Sian-su. Aku tidak merasa apa-apa!"

"Ha-ha, inilah tololnya manusia. Sudah digeragoti dan dimakan apa yang namanya api benci masih juga bilang tidak merasa apa-apa. Eh, jawab pertanyaanku, anak muda. Bagaimana dan dari mana dendam itu berasal ketika kau membunuh Kedok Hitam!"

Giam Liong terkejut, dibentak. Tiba-tiba ia merasa marah dan sinar matanya beringas menatap kakek dewa itu. Watak Si Naga Pembunuh muncul, ia tak takut! Dan ketika dua pasang mata beradu di udara dan Yu Yin menjerit melihat sinar mata Giam Liong yang merah membakar, mata itu seperti Giam Liong yang penuh benci dan dendam maka pemuda inipun berkata, lantang.

"Sian-su, aku membunuh Kedok Hitam karena ia membunuh dan mencelakai ayah ibuku. Darah harus dibayar darah. Tak ada anak yang dapat membiarkan itu kecuali anak yang tidak berbakti!"

"Ha-ha, bagus. Coba ulang sekali lagi. Siapa yang dibunuh Kedok Hitam hingga kau sekarang ganti membunuhnya."

"Ayah ibuku!"

"Siapa?"

"Ayah ibuku!" Giam Liong melompat, membentak keras sekali tapi kakek dewa itu justeru tergelak-gelak. Giam Liong berdiri dan merah terbakar tapi anehnya kakek itu tak perduli. Han Han terkejut dan cepat menangkap temannya ini, menenangkan. Dan ketika Giam Liong tertegun karena suara lembut kini mengganti tawa bergelak-gelak itu, sinar mata berwibawa menyorot menembus sinar matanya yang beringas maka kakek itu berkata,

"Nah, lihat dan dengarkan sendiri kata-katamu tadi. Yang diganggu adalah milikmu, anak muda. Yang dirusak adalah milikmu. Siapa itu Sin Hauw dan mendiang Wi Hong. Kau mengatakannya sebagai ayah dan ibu-ku. Nah, bukankah 'ku' atau ego muncul di sini? Dan ayahmu maupun mendiang ibumu juga sama saja. Mereka membenci dan memusuhi Kedok Hitam karena Kedok Hitam mengganggu atau merusak rasa aku-nya tadi. Ibumu karena suaminya dibunuh sedang ayahmu karena ayah dari ayahmu itu dibunuh pula oleh Kedok Hitam. Masing-masing terlibat dan terjebak rasa aku-nya itu. Ibumu menganggap ayahmu sebagai 'suami-ku'itu sedang almarhum kakekmu adalah 'ayahku' bagi ayahmu itu. Betapa jelas dan gamblang bahwa kau dan semua orang terjungkir balik oleh ke-aku-an yang dipindah tempatnya ini. Betapa gamblang dan nyata bahwa kebencian akhirnya merusak diri sendiri. Lihat bagaimana ketika kekas ihmu itu hendak membunuhmu dalam beberapa hari yang lalu. Lalu apa jadinya kalau semua sudah balas-membalas dan menjadi seperti binatang yang ganas dan jalang begini. Bukankah kehidupan jadi kacau dan mengerikan sekali. Dunia menjadi tak tenteram dan panas ditinggali!"

"Hm...!" Han Han yang mengangguk-angguk, Giam Liong masih diam dan tertegun. "Aku mulai dapat menangkap wejanganmu ini, Sian-su. Tapi bagaimana kalau tidak begitu. Bukankah rasa marah atau dendam sesungguhnya ada juga di hati setiap orang, seperti halnya jantung atau hati yang Sian-su katakan tadi."

"Betul, tapi seperti kataku tadi, anakmuda. Kalau kebencian atau dendam itu muncul, lihat dan amatilah dia sebagai 'benda asing' yang datang. Lihat dari mana dia berasal. Dan karena dia pasti berhubungan dengan ego atau 'aku’ maka waspadalah agar tidak terjebak dan sampai hanyut apalagi tenggelam oleh 'benda asing' ini. Jelas?"

"Jelas, tapi juga tidak jelas," Han Han berkerut kening, pikirannya bekerja keras. "Apakah Sian-su hendak maksudkan bahwa dengan begini kita tak boleh mendendam, benci!"

"Nanti dulu, benci atau dendam tetap ada di hati semua orang. Dia tetap tinggal di situ, seperti halnya darah atau daging di tubuh kita. Tapi karena ada yang tidak cocok dalam pengetrapannya, jalan keluarnya maka kita terjebak dan terseret di sini. Coba katakan dulu apakah sesungguhnya kita ini punya hak milik!"

"Tentu," Han Han tak ragu. "Aku mempunyai ayah ibuku, Sian-su. Seperti juga Giam Liong ini pernah mempunyai ayah ibunya. Dan kupikir setiap manusia punya hak milik!"

"Ha-ha, itu semu, hanya secara lahiriah. Sebetulnya manusia ini tak mempunyai apa-apa dan tak berhak milik. Yang ada dapat lewat dan lenyap. Kau salah!"

"Salah?"

"Bagus, kutanya lagi, jangan potong dulu," kakek ini berseri, kabut di mukanya bergerak membuka. "Coba jawab dari semua hak milik yang dipunyai manusia apakah yang dinilai paling berharga, anak muda. Tunjukkan kepadaku dan mari kita berdebat!"

"Hm, keluarga dan orang tua kupikir adalah hak milik paling berharga," Han Han menjawab.

"Dan kalian?" kakek itu memandang Yu Yin dan lain-lain. "Bagaimana jawabannya?"

"Kami pikir juga begitu," Tang Siu mengangguk, sependapat. "Keluarga dan orang tua adalah hak milik paling berharga, Sian-su. Dan justeru karena yang paling berharga inilah yang dicabut Kedok Hitam maka Giam Liong mengamuk!"

"Ha-ha, kalian hanya bicara tentang yang diluar. Ah, di luar melulu. Alangkah bodohnya! Bagaimanakah kalau seandainya semua itu ada tapi kalian sendiri tak ada!"

"Maksud Sian-su?"

"Jelas. Bagaimana kalau semua itu ada tapi kalian sendiri tak ada, tak pernah lahir. Apakah bukan justeru yang ada di dalam diri kalian itulah yang paling berharga, nyawa kalian!"

Han Han dan Tang Siu terkejut.

"Lihat," kakek itu melanjutkan. "Nyawa adalah milik kalian yang paling berharga, anak-anak. Karena nyawa inilah yang membuat kalian hidup. Bukankah karena ini maka kalian dapat menikmati hak-hak lain seperti keluarga dan lain-lainnya itu. Tapi ternyata yang paling berharga inipun ternyata bukan milik kalian, ha-ha!"

"Eh!" Han Han terkejut, berseru menyergah. "Bagaimana bisa begitu, Sian-su. Masa nyawa ini bukan milik kami sendiri!"

"Ha-ha, betul. Tapi coba jawab dulu apakah jawaban ini tidak betul. Bahwa hak milik kalian yang paling berharga sesungguhnya adalah nyawa kalian itu, yang membuat kalian hidup!"

"Kau benar," Han Han akhirnya mengangguk. "Nyawa kami adalah harta milik kami yang paling berharga, Sian-su. Tapi kenapa inipun kau sanggah sebagai bukan milik kami!"

"Gampang, kalau itu milikmu dapatkah kau mempertahankannya di kala kematian menjemput datang? Dapatkah kau berkata kepada Malaikat Elmaut bahwa itu milikmu dan karena itu jangan diambil? Coba, jawab, anak muda. Dapatkah kau mempertahankannya kalau itu milikmu!"

Han Han berubah. Semua yang lain tiba-tiba juga berubah dan tawa kakek itu amatlah mengejutkan mereka berempat. Kakek itu berkata dan tertawa begitu benar. Tak dapat dibantah! Dan ketika mereka bagai melihat barang baru dan Han Han maupun teman-temannya tak mampu menjawab, ada sesuatu yang lebih tinggi dan jauh di atas kekuasaan mereka maka pemuda ini dan tiga temannya tertegun. Dan kakek itu menyergap.

"Ayo, bagaimana, anak muda. Apakah inipun tidak benar!"

"Benar, tapi... tapi..." Han Han bingung. "Bukankah kami memilikinya juga, Sian-su. Bukankah ini ada pada kami!"

"Itupun benar, tapi ketahuilah bahwa hak milik yang kalian miliki sesungguhnya adalah hak milik semu. Hak milik sejati tak pernah ada dimiliki manusia. Manusia hanya memiliki hak manfaat, itu saja. Dan kalau yang berharga saja bukan milik kalian apalagi milik orang lain. Biarpun itu ibu atau ayah kandung!"

Giam Liong tergetar. Sampai di sini ia pucat, terbelalak dan wajah yang tadi merah terbakar perlahan-lahan surut, putih dan tiba-tiba pemuda itu mengeluh. Dan ketika ia menutupi mukanya sementara Han Han dan lain-lain terkejut, mata mereka seakan dibuka lebar-lebar maka empat anak muda itu terhentak oleh pikiran masing-masing. Han Han sekarang melihat bahwa sesungguhnya manusia tak memiliki apa-apa. Kalaupun ada rasa milik itu maka semuanya bersifat lahiriah, semu.

Dan ketika ia mengangguk-angguk sementara dua gadis di sebelahnya mendelong dengan sikap bengong maka Tang Siu teringat bahwa kakek itu masih belum menerangkan tentang hubungan kebencian dengan aku, dalam pertanyaan kenapa orang tak boleh membenci, dendam.

"Maaf, Sian-su," gadis ini maju bicara. "Aku sekarang mengerti apa yang telah kau uraikan ini. Tapi bagaimana selanjutnya dengan wejanganmu berikut. Kau agaknya hendak memberitahukan kami bahwa benci dan dendam sebaiknya tak perlu dipupuk. Kenapa dengan ini, dan mungkinkah pula bagi kami, manusia, menghapus begitu saja segala benci dan dendam, apalagi kalau sudah merasuk ke sumsum tulang!"

"Bagus, pertanyaanmu mengajak kembali," kakek itu mengangguk-angguk, tersenyum. "Kalian sekarang sudah mengerti bahwa rasa ke-aku-an mengajak manusia untuk menikmati secara semu, anak baik. Padahal yang semu ini bukanlah yang sejati. Yang sejati bukanlah milik kita, milik siapapun. la ada dan hanya milik Yang Tunggal, Yang Maha Kuasa. Dan kalau kita ngotot dan bersitegang untuk membela yang semu ini, yang bukan apa-apa maka sesungguhnya kita telah memboros-boroskan tenaga dan pikiran untuk akhirnya malah menjadi celaka sendiri. Aku hendak memberi tahu kepada kalian bahwa kalau kebencian atau dendam itu datang, lihat dan amatilah dia sebagai benda asing. Selidiki dan cari dari mana dia berasal. Dan karena kebencian ini selalu dan pasti berhubungan dengan aku, ego, maka waspadalah karena sesungguhnya aku atau ego itu juga bukan milik kalian. Kalau itu bukan milik kalian lalu apa gunanya dibela dan dipertahankan mati-matian? Bukankah hanya membenamkan diri ke dalam lumpur kotor dan hitam? Kalian akan semakin keruh saja, hilang kejernihan. Dan kalau sudah begini maka berlakulah seperti apa yang telah dilakukan Si Naga Pembunuh itu!"

"Kalau begitu Giam Liong tak boleh membalas dendam? Kalau begitu ia tak boleh mencari musuhnya?"

"Kedok Hitam jelas jahat, dan siapa saja boleh menghadapinya. Tapi kalau kalian menghadapinya didasari motif dendam maka inilah yang tidak sehat karena seharusnya kalian tidak bersikap begitu. Sebagai seorang pendekar maka jiwa kalian harus dilandasi keadilan, cinta kasih. Bukan kebencian atau dendam. Lihat ini..."

Kakek itu memberi contoh. "Ada sebuah keluarga yang anaknya digigit ular berbisa. Sang ayah marah-marah dan sang ibu menjerit habis-habisan. Anak kesayangnya mati. Lalu apa yang diperbuat? Ayah itu lalu mencari dan membunuh ular itu, dicincangnya penuh dendam. Padahal ketika kulihat ternyata keluarga itu tinggal di tepi sebuah rawa dan rawa itu memang banyak ularnya. Dan salahnya lagi, ia tak memagari rumahnya itu hingga ular berbisa dapat masuk dan menggigit tewas anaknya, yang celakanya lagi dibiarkannya bermain-main di tepi rawa oleh keteledoran ayah ibunya sendiri! Nah, siapa yang salah?"

Tang Siu tertegun. Ia jadi semakin membelalakkan matanya lagi dengan perumpamaan ini. Tapi masih penasaran ia bertanya, "Jadi seharusnya bagaimana?"

"Ayah atau keluarga itu harus waspada. Ia harus melihat bahwa tempat itu berbahaya bagi anak-anaknya. Dan karena kewaspadaan pasti membuat manusia berjaga-jaga maka tak mungkin ia membiarkan rumahnya tanpa pagar dan begitu saja membiarkan anaknya bermain di tepi rawa!"

"Hm, aku sekarang mengerti," Han Han kini juga mengangguk-angguk. "Wejanganmu dapat kami terima, Sian-su. Tapi bagaimana dengan Giam Liong ini. Kewaspadaan bagaimana yang harus ia lihat. Bagaimana ia harus bersikap!"

"Pertama rasa ke-aku-annya harus di-netralisir. Ingatlah bahwa ibuku ayahku atau apapun juga 'ku-ku' yang lain itu bukanlah miliknya sejati. Sedang nyawa sendiripun bukan milik sendiri, apalagi orang-orang lain dan yang di luar kita. Lalu ia harus waspada dan mengamati kenapa Kedok Hitam membunuh ayahnya, seperti juga ayahnya dulu harus mengamati dan waspada kenapa ayahnya itu dibunuh. Kakek atau ayah dari ayah Giam Liong ini sudah lama merupakan pembantu Chu Wen. Kedok Hitam dan kelompoknya tak berhasil membujuk. Dan karena mereka sama-sama bermusuhan dan satu sama lain membela kepentingan sendiri-sendiri maka adalah lumrah kalau kematian atau hal-hal keji sewaktu-waktu dapat masuk. Kebencian atau kemarahan yang bersumber dari diganggunya rasa ego atau aku ini memang bisa bermacam-macam akibatnya, bisa berkembang luas. Dan karena manusia saling sikat untuk mempertahankan ke-aku-annya ini maka waspadalah kalian untuk tidak terjebak dan kelak susah sendiri terlibat rantai setan yang tak ada habisnya. Kedok Hitam memang jahat, korban dari kepicikan pikirannya sendiri. Tapi kalau Giam Liong lalu menghadapi dia dengan berlandaskan dendam dan sakit hati maka ini bukanlah watak pendekar karena nanti keluarga atau anak keturunan orang itu akan mencarinya dan kelak membalasnya juga. Jadi, tak ada habis-habisnya. Daripada begitu putuskanlah rantai dendam itu dan hadapilah lawan kalian berlandaskan keadilan, cinta kasih. Karena gerakan atau tindakan kalian ini sungguh jauh berbeda dengan kalau kalian menghadapi musuh kalian berdasarkan dendam atau sakit hati. Jelas!"

Han Han dan teman-temannya mengangguk-angguk. Mereka tentu saja dapat melihat dan merasakan itu dan mampu pula menerimanya. Sekarang jelaslah bahwa kejahatan bukan lalu dihadapi dengan dendam dan sakit hati. Kejahatan harus dihadapi dengan keadilan dan cinta kasih. Dan karena perwujudan ini tentu lain dengan sepak terjang Giam Liong, yang bengis dan sadis maka Han Han maupun teman-temannya dapat membedakan itu. Benar, ini pelajaran yang baik. Tapi bagaimana kelanjutannya? Kakek itu tampaknya baru setengah bicara.

"Kami mulai paham," Han Han berkata lagi, kini tiba-tiba semakin tertarik. "Tapi bagaimana selanjutnya, Sian-su. Mohon kau menjelaskan lagi dengan contoh Giam Liong."

"Ha-ha, pemuda itu harus menetralisir ke-aku-annya. Lihatlah bahwa 'ku-ku' yang dipunyai ini hanyalah bersifat lahiriah, semu. Lalu kalau sudah lihatlah jauh ke belakang bagaimana ayah ataupun kakeknya dibunuh musuh. Pertikaian atau permusuhan antar golongan memang begitu. Di mana-mana resikonya sama, sewaktu-waktu diancam kematian. Kalau tidak mau menderita ya harus pandai-pandai menjaga diri, atau nanti seperti ayah yang kehilangan anaknya itu, tewas tergigit ular berbisa karena tak melindungi rumahnya dengan pagar dan celakanya lengah menjaga putera sendiri bermain-main di rawa!"

"Hm, begitukah?"

"Ya, begitu, sederhana sekali. Kalau tak ingin digigit ular berbisa ya jangan mendirikan rumah di tepi rawa, yang sudah jelas banyak ularnya. Ataupun kalau terpaksa mendirikan rumah di situ ya haruslah diberi pagar dan diusahakan sedemikian rupa agar tidak dimasuki ular. Tapi kalau ini semua sudah dilakukan sang ayah tetap juga teledor menjaga anaknya ya jangan lalu mengamuk dan dendam kepada ular itu. Kita harus mengerti ini, tak perlu dipelajari. Sama seperti halnya rumah yang terlalu dekat dengan telaga itu. Kalau telaga sewaktu-waktu meluap dan rumahnya kebanjiran ya jangan mengeluh. Itu resikonya. Kalau tak mau ambil resiko ya jangan dekat-dekat telaga atau sungai yang bisa menimbulkan bahaya, ha-ha!"

Han Han kagum. Ia tersenyum dan akhirnya tertawa juga ketika kakek itu menuding sebuah tempat tinggal anggauta Hek-yan-pang yang terlalu dekat telaga. Kakek ini seakan berseloroh, meskipun sebenarnya kata-katanya amatlah tepat dan tajam, penuh mengandung pengertian yang dalam. Dan ketika ia mengangguk-angguk sementara temannya yang lain juga sependapat dan sepengertian maka ia melihat kakek itu tiba-tiba bangkit berdiri.

"Maaf, perahu akan terbalik....prat!" gelombang telaga tiba-tiba menderu, perahu miring dan sekonyong-konyong Yu Yin maupun Tang Siu menjerit. Begitu kakek itu berdiri tiba-tiba perahu miring, seakan kehilangan keseimbangan. Dan baru saja kakek itu selesai bicara tiba-tiba perahu terbalik dan empat anak muda itu terguling.

"Byuurrr...!"

Han Han dan teman-temannya tercebur. Entah bagaimana asal mulanya tiba-tiba mereka semua gelagapan. Tadi mereka begitu asyik hingga tak tahu bahwa terjadi perobahan angin. Hanya karena kakek itu berada di tengah maka perahu tetap seimbang, padahal ombak mulai membuih diterpa angin dingin yang kuat. Malam menjelang pagi dan perubahan udara inilah yang membuat riak telaga juga berubah. Empat anak muda itu tak tahu dan tiba-tiba terguling. Tapi ketika Han Han menyambar Tang Siu dan Giam Liong juga menyambar Yu Yin, dua pemuda itu menendang perahu agar berdiri lagi maka Bu-beng Sian-su terkekeh-kekeh di tengah lagi, melihat dua pemuda ini melompat dan melayang naik dari dalam telaga. Pakaian mereka tentu saja basah kuyup!

"Ha-ha, inilah resikonya tinggal di perahu, anak-anak. Sewaktu-waktu dapat terbalik kalau diserang ombak. Hidup memang selalu begini. Kepanasan kalau di gurun tapi kedinginan kalau di laut. Ah, pelajaran apa yang kalian dapat!?"

Han Han terbelalak. "Sian-su... Sian-su tak basah?"

"Aku telah waspada dibanding kalian, melompat ketika perahu tadi terbalik. Kalian kurang cepat dan keburu terlempar."

"Hm!" putera Ju-taihiap ini berputar matanya, aneh, merasa ganjil. "Agaknya ada lagi pelajaran yang harus kami cari, Sian-su. Entah apa itu!"

"Ha-ha, pelajaran ada di mana-mana. Cari dan temukan itu. Kalau kalian mengerti tentu kalian semakin cerdas. Barangkali omong-omong ini cukup."

"Eh, nanti dulu!" Han Han berseru, kakek itu mau berkelebat. "Masih ada yang belum selesai, Sian-su. Bagaimana dengan bait kedua dan ketiga!"

"Hm, itu? Gampang saja, satu di antara yang bermusuhan akan menjadi periuk atau gentanya. Yang lebih kuat menimpa dan menghancurkan yang lain."

"Maksud Sian-su?"

"Ha-ha, memupuk kebencian sama halnya menyimpan racun di periuk atau genta, anak muda. Yang kecil akan ditimpa yang besar dan yang kuat akan menghancurkan yang lemah!"

"Kami tak jelas..."

"Kelak akan lebih jelas lagi. Yang jelas anak muda ini sudah menjadi genta namun mungkin kelak dia menjadi periuknya. Ha-ha, dendam kesumat itu harus kalian hindari saja. Ingat akan semua nasihatku tadi. Dan tentang bait ketiga, ah, apalagi yang harus dilakukan temanmu kecuali pasrah dan menebus dosa? Api dan dendamnya telah mengecil, anak muda. Tapi tidak padam. Dan kalau dia tidak membuang racun itu maka lingkaran setan akan membelitnya lagi dan akan dibalas atau membalas!"

"Kami masih belum mengerti."

"Ah, lihatlah perumpamaan dengan keluarga di tepi rawa itu. Kalau sudah tahu banyak ular lebih baik menyingkir. Kalau tetap ingin tinggal maka hati-hatilah dan pasanglah pagar. Atau kalian akan menghadapi ular-ular lain dan tak habisnya sepanjang hari mencari dan dicari musuh!"

"Jadi Giam Liong seperti ayah dari keluarga ini?"

"Kau cerdas. Dan beruntung bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi. Nah, pergilah dan jangan berhubungan dengan kota raja lagi. Atau ular-ular lain akan berdatangan mengganggunya dan karena itulah ku nasihatkan agar cepat-cepat mengubur Golok Maut karena golok itu membawa pengaruh jahat!"

"Dan aku.... aku boleh mendampinginya bukan, Sian-su? Atau ada sesuatu yang khusus hendak kau pesankan?" Yu Yin tiba-tiba berseru, bangkit berdiri.

"Hm, sudah kukatakan agar kau tetap memegang sumpahmu, nona. Jangan pergi dan berhubungan dengan istana lagi. Dan sebaiknya awasi suamimu untuk tidak melihat atau mengambil lagi golok warisan ayahnya itu!"

Yu Yin mencengkeram erat kekasihnya. Giam Liong gemetar dan menahan sesuatu golakan, matanya berkejap-kejap. Tapi ketika kakek itu menepuk pundaknya dan ia tenang maka kakek ini berkata sekali lagi agar pemuda itu melepaskan sisa-sisa api kemarahannya dan jangan mendendam kepada siapapun, baik sekarang maupun kelak kemudian hari. Dan ketika kakek itu berkata agar racun dendam benar-benar dilenyapkan, apapun yang terjadi, pemuda itu harus tenang dan tabah menghadapi semuanya maka kakek ini mengingatkan akan ego atau rasa ke-aku-an itu.

"Ingat, tak ada hak milik. Yang ada hanya hak manfaat. Ego atau aku hanya diperlukan untuk membedakan punyamu dan punyanya orang lain, dalam usaha menjaga ketenteraman dan ketenangan dalam hidup kebersamaan. Kalau ego atau aku sudah memasuki hal-hal yang bersifat non-lahiriah, tidak proposionil, maka semuanya bakal kacau dan untuk menghadapi lawanmu jangan dilandasi dendam atau kebencian melainkan hadapilah berdasarkan keadilan dan cinta kasih. Barangkali kau agak pening tapi seirama dengan kematangan jiwamu kau akan tahu ini. Nah, kembalilah dan selamat tinggal!"

Empat anak muda itu terbelalak. Kakek itu mengebutkan lengan bajunya dan tiba-tiba terdengar ledakan. Segumpal asap putih pecah di udara dan bersamaan dengan itu kakek itupun lenyap. Dan ketika cahaya berwarna-warni menyilaukan mereka di langit yang berbintang, bulan dan segalanya tiba-tiba menjauh mendadak Yu Yin dan Tang Siu menjerit karena mereka terlempar membentur tembok. Dan begitu dua gadis itu berteriak dan Han Han maupun Giam Liong merasa diangkat oleh sesuatu yang kuat, mencelat dan terlempar maka dua anak muda itu terkejut sekali karena mereka tiba-tiba jatuh dari pembaringan. Perahu dan segalanya yang mereka rasakan di tengah telaga tadi hilang! Hancur!

"Eihh!" Giam Liong terkejut dan terbelalak. "Apa yang terjadi, Han Han. Mana kakek itu!"

"Benar, mana kakek itu. Mana Sian-su!" Han Han juga bingung, terbelalak. "Dan kita, eh.... kita berada dikamar sendiri, Giam Liong. Kita bermimpi!"

Dua pemuda ini menjublak. Mereka ternyata ada di kamar sendiri dan bantal guling mereka jatuh di lantai. Serasa terjun dari alam gaib saja dua pemuda ini melotot. Mereka tak tahu dan tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi ketika di sana terdengar jeritan Tang Siu dan ayam jantan berkokok, Giam Liong dan Han Han berkelebat menuju kamar gadis itu maka terlihatlah bahwa Tang Siu maupun Yu Yin sama-sama terjatuh dari tempat tidur dan bantal atau guling mereka juga berantakan, ada dilantai.

"Kami.... kami bertemu Sian-su. Kami bermimpi. Mana kakek itu?!"

"Benar," Yu Yin juga kebingungan dan tiba-tiba ngeri. "Kami bercakap-cakap dengannya, Giam Liong. Dan kalian ada pula di sana. Tapi bagaimana tahu-tahu kami ada di sini, di kamar kami kembali!"

"Bersama kami?" Han Han terbelalak.

"Ya, bersama kalian, Han Han. Kita berempat berada diperahu dan bercakap-cakap dengan kakek dewa itu. Kakek itu bicara tentang aku dan dendam. Ia mengupas syairnya!"

"Hm...!" Han Han menoleh kepada Giam Liong. "Aneh sekali, Giam Liong. Kita bermimpi tapi seolah tidak bermimpi. Tapi kalau tidak bermimpi nyatanya kita seperti mimpi. Coba kau jelaskan lagi apa yang terjadi!"

Pertanyaan terakhir ini ditujukan kepada Tang Siu. Han Han minta gadis itu menceritakan bagaimana Tang Siu bertemu dan bicara dengan Sian-su, apa yang terjadi dan bagaimana akhirnya. Dan ketika semua "mimpi" itu tepat sekali dengan apa yang mereka lihat dan rasakan, bahwa Han Han maupun Giam Liong juga sama-sama merasa berhadapan dan bicara dengan kakek itu di tengah telaga, berempat dengan Tang Siu dan Yu Yin maka empat anak muda ini saling pandang dan muka mereka menunjukkan keheranan sekaligus ketakjuban. Bulu tengkuk meremang!

"Aku melihat bulan dan bintang-bintang begitu dekat diatas kepala kita, hanya belasan meter saja. Tapi ketika kakek itu selesai bicara dan mengebutkan lengan bajunya tiba-tiba terdengar ledakan dan kami semua terlempar kemari!"

"Dan aku merasa ganjil bagaimana rumah dan taman-taman di sini ada di atas perahu itu. Aneh sekali!"

"Tentu kita mimpi, sama-sama ke alam gaib!"

"Hm," Han Han menggeleng. "Kalau mimpi tak mungkin pakaianmu basah kuyup, Tang Siu. Kita tidak sedang bermimpi!"

"Benar," Giam Liong juga menggeleng. "Kita tidak sedang bermimpi, Tang Siu. Lihat bahwa Yu Yin maupun Han Han dan aku sendiri basah kuyup. Kita tadi tercebur ditelaga!"

"Mentakjubkan... luar biasa. Kalau begitu apa namanya ini!"

"Aku juga tak tahu, tak mengerti. Tapi itulah kenangan kita yang indah!"

Pada saat itu berkesiur dua bayangan tubuh. Empat anak muda yang sedang bercakap-cakap dan merasa senang tapi juga seram ini tak habis-habisnya merasa heran. Seumur hidup baru kali itulah mereka merasa sesuatu yang ganjil, aneh luar biasa. Tapi begitu dua bayangan berkelebat di kamar mereka dan Ju-taihiap suami isteri terkejut melihat sepasang muda-muda ini, mendengar ribut-ribut dan melihat pakaian mereka yang basah kuyup maka kontan saja pendekar itu berseru,

"Eh, apa yang terjadi. Apa yang kalian perbincangkan. Dan kenapa semuanya seakan habis mencebur di telaga?"

Han Han maju bicara. Dialah yang menyambut dan memberitahukan ayah ibunya perihal keanehan yang mereka alami ini. Ayam jantan kembali berkokok dan ternyata hari telah terang tanah. Dan ketika suami isteri itu tertegun dan seakan tak percaya, cerita anaknya ini seperti dongeng saja maka muncullah Kim-sim Tojin yang juga berkelebat datang.

"Siancai, itulah Siau-hun-hwe-sing-sut (Ilmu Menembus Badan Mengeluarkan Roh) Aih, hanya kakek dewa seperti Bu-beng Sian-su saja yang mampu melakukan itu. Kalian beruntung, telah dibawa ke alam gaib!"

Beng Tan dan isterinya mengangguk-angguk. Akhirnya mereka sendiri juga teringat peristiwa yang mereka alami dulu betapa mereka juga seakan-akan dibawa terbang dan menembus alam roh. Kini putera mereka dan tiga yang lain juga mengalami hal serupa. Dan karena Beng Tan maklum betapa kakek itu amatlah saktinya, apa saja dapat dilakukan tanpa sesuatu yang sukar maka pendekar ini menarik napas dalam-dalam dan diam-diam kecewa kenapa dia tidak diikut sertakan.

"Hm, beruntung sekali. Luar biasa. Tapi kenapa kakek itu hanya mengajak kalian berempat dan tidak bersama kami-kami ini."

"Entahlah," Han Han juga tak mengerti. "Tapi kami telah mendapat pelajaran bagus dari wejangan kakek itu, ayah. Sian-su mengupas tentang ego dan rasa milik!"

"Apa saja katanya," sang ayah bersinar-sinar. "Sayang bahwa kami tak tahu."

"Ego atau rasa ke-aku-an sering dipindah-pindahkan tempatnya oleh manusia. Yang seharusnya hati dimasuki ego dan ego sendiri merambah hampir ke segenap penjuru permasalahan!" Han Han mencoba menerangkan.

"Wah-wah, apa ini. Coba yang urut!" Kim-sim Tojin tertawa, berseru karena Han Han masih baru dan agaknya bingung bagaimana harus mulai. Tapi ketika Tang Siu membantu bahwa ego atau aku harus ditempatkan secara proposionil, jangan memasuki urusan hati kalau hati yang sedang bicara maka pemuda ini mengangguk-angguk.

"Ya-ya, begitu... begitu. Ego atau aku telah begitu serakah merambah ke tempat yang bukan tempatnya dan ia menjungkirbalikkan manusia sehingga manusia jadi terjebak dan terseret ke dalam nafsunya. Ego mengajarkan rasa milik, sedangkan kita ini sesungguhnya tak punya hak milik!"

"Hm, hak milik? Tak punya? Lalu kalau begitu manusia mempunyai hak apa?"

"Hak manfaat, suhu. Manusia hanya memiliki hak manfaat, itu saja. Hak milik hanya dimiliki oleh Yang Maha Tunggal alias Yang Mahakuasa. Semua rasa milik yang kita miliki adalah semu, baik itu keluarga atau apapun saja!"

"Wah, aku jadi ingin mendengar. Coba kau ulang lagi!" Kim-sim Tojin berseru.

"Dan hak milik atau rasa kemilikan menjerumuskan manusia ke dalam permusuhan dan pertikaian. Mereka terjebak oleh ke-aku-annya yang tinggi. Padahal manusia sesungguhnya tak mempunyai apa-apa!"

"Ha-ha, ceritakan kepadaku, anak muda. Aih, sayang benar pinto tak berhadapan sendiri dengan kakek itu. Wah, pinto kecele!"

Han Han tersenyum. Ia dan Tang Siu lalu silih berganti mengoper apa yang mereka dengar dari Bu-beng Sian-su. Yu Yin juga ikut menyambung dan hanya Giam Liong yang tidak ikut bicara dan diam saja. Dan ketika semua orang duduk mendengar dan tenggelam dalam keasyikan itu, Giam Liong bergerak dan keluar secara diam-diam maka pemuda buntung ini sudah duduk di tepi telaga tepekur memperhatikan tempat di mana semalam ia seakan bermimpi bercakap-cakap dengan kakek dewa itu disana.

Air telaga beriak tenang dan Giam Liong menarik napas dalam-dalam. Tempat di mana semalam mereka berbincang dengan Bu-beng Sian-su ternyata biasa-biasa saja. Tempat itu damai dan hening. Kecipak lembut dari riak telaga membawa daun-daun kering yang hanyut secara berirama, naik turun perlahan-lahan dan tampak ada sesuatu benda putih terbawa pula oleh riak telaga ini, melekat atau "nangkring" di sehelai daun kering menuju ke arah Giam Liong. Dan karena Giam Liong tertuju pandangannya kesini dengan mata mengamati, mula-mula kosong dan tak acuh mendadak ia kaget mengira benda putih yang disangkanya sebagai sampah biasa itu adalah sebuah surat!

Ia tertegun dan tak percaya. Benda putih di atas daun kering yang terbawa riak telaga ini kian mendekat, dekat dan dekat dan... Giam Liong akhirnya melompat dan menyambar surat itu, kertas putih yang dilipat manis sebagaimana layaknya sebuah surat yang baik, meskipun sedikit basah. Dan ketika Giam Liong tertegun karena surat itu diperintahkan untuk diserahkan kepada Yang Im Cinjin ataupun Kim-sim Tojin, dua kakek lihai dari Kun-lun dan Laut Selatan maka Giam Liong terkesima dan mengamati sampul surat itu:

Berikan kepada Yang Im Cinjin ataupun Kim-sim Tojin. Sian-su

Giam Liong bengong. Sekarang ia yang menjadi perantara padahal beberapa hari yang lalu dua kakek itulah yang mendapat surat dan disuruh menyerahkannya kepadanya. Aneh sekali sepak terjang kakek ini, penuh rahasia. Tapi ketika ia mau membalik dan kembali ke dalam ternyata berkelebat bayangan-bayangan kakek itu dan teman-temannya.

"Giam Liong, apa yang kau pegang itu. Kenapa menyendiri!"

"Hm," Giam Liong merasa kebetulan. "Ada surat untuk Kim-sim totiang, Yu Yin. Aku mendapat ini dari Sian-su."

"Surat?"

"Ya, silahkan totiang terima dan baru-saja kudapat!" Giam Liong langsung memberikan itu kepada Kim-sim Tojin, kakek ini sudah di depan dan langsung saja surat itu diterima.

Dan ketika ia terkejut tapi cepat membukanya, entah apa isinya mendadak kakek ini tertawa bergelak. "Ha-ha, syair lagi, anak-anak. Kelanjutan dari ini. Aih, aku dan Yang Im Cinjin ditantang untuk menjawab debat kami dulu. Ha-ha, kakek dewa itu luar biasa. Ia akan mengakhiri pembicaraan yang belum lengkap. Ia akan bicara tentang Kebenaran!"

"Kebenaran? Surat itu hanya terisi syair?" Tang Siu terbelalak.

"Ya, lihat dan bacalah. Pantas Cinjin tak mau di sini karena mungkin khawatir bertemu kakek itu. Atau mungkin ada sebab-sebab lain. Ha-ha, kami telah menantang untuk bicara tentang Kebenaran!"

Tang Siu menyambar dan membaca surat ini. Ternyata isinya memang syair dan teman-temannya mendekat. Han Han dan lain-lain menjadi penasaran dan merekapun membaca. Dan ketika sebuah syair kembali terlihat tapi kali ini lebih hebat, pening dan puyeng untuk mencerna isinya maka Han Han menarik napas dalam-dalam dan mundur menarik diri. Ia merasa tak dapat mengupas dan ayah ibunya juga begitu. Syair untuk Giam Liong agak mudah tapi syair baru ini lebih sukar. Penuh teka-teki, misterius. Namun ketika Kim-sim Tojin justeru berseri-seri dan penuh kegembiraan, teringat perjumpaannya dulu dengan kakek dewa itu bersama guru Han Han maka kakek ini berkata,

"Aku telah menantangnya untuk bicara tentang Kebenaran. Dan kakek itu kini menjawab dengan syairnya. Hm, akan kuberikan Cinjin dan kuberitahukan kepadanya. Kami tak mau kalah!"

"Apa yang suhu lakukan?"

"Kami orang-orang tua menantangnya berdebat, Tang Siu. Dan Bu-beng Sian-su menjawabnya. Ha-ha, pinto ingin bertemu dengannya dan mengupas rahasia ini. Siapa yang menang!"

Ju-taihiap bersinar-sinar. Ia telah membaca dan mengingat-ingat isi syair itu. Ia juga ingin mengupas. Tapi ketika Kim-sim Tojin memandang kepada muridnya dan lalu kepadanya maka kakek itu berseru,

"Taihiap, pinto kecele menunggu Bu-beng Sian-su. Kakek itu telah menemui anak-anak dan rupanya sengaja tak mau diganggu. Tentu sekarang pinto harus pulang dan biarlah urusan anak-anak pinto tunggu kelanjutannya dari kebijaksanaanmu. Pinto harus kembali dan biarlah sekarang juga pinto pergi!"

"Eh, totiang terburu-buru?"

"Ha-ha, tak ada lagi yang dinanti, taihiap. Muridku kubawa dan biarlah sekalian Yu Yin juga ikut pinto. Kau datanglah ke Kun-lun dan pinto menjadi wali bagi gadis-gadis ini menerima pinanganmu di sana. Mereka akan kusiapkan untuk dua pemuda itu kalau kau sudah datang!"

Yu Yin terkejut. Ia tiba-tiba merasa girang tapi juga tak enak berpisah dengan Giam Liong. Mereka berdua ternyata hendak "dipingit" dulu sambil menantikan lamaran itu, jadi kakek ini langsung menjadi walinya. Dan ketika ia mendapat cubitan Tang Siu dan tahulah ia bahwa temannya inilah yang mengatur semuanya itu, Yu Yin terharu dan terisak mengucap terima kasih maka Beng Tan mengangguk-angguk dan tertawa berkata,

"Baiklah, totiang. Aku akan mengurus pernikahan dua anak muda ini secepatnya. Terima kasih bahwa kau mau menjadi wali Yu Yin. Dan aku tentu saja akan mewakili putera-puteraku ini menjodohkan mereka. Pergilah, selamat jalan!"

Kakek itu tertawa bergelak. Yu Yin dan Tang Siu telah disambar dan belum habis dua gadis itu melambaikan tangan tahu-tahu sudah diangkat dan diajak terbang ke perahu. Anak-anak murid Hek-yan pang bermunculan dan saat itu semua memandang, terbelalak dan tertegun melihat kakek ini sudah mengayuh perahunya dengan cepat meninggalkan pulau. Dan ketika ia juga melompat dan mengajak dua gadis itu mendarat, mereka telah tiba di seberang maka si kakek seolah tak mau tahu ketika dua gadis ini menoleh dan berteriak ke belakang,

"Giam Liong, kutunggu kau!"

"Han Han, cepat datang ke Kun-lun!"

Dua pemuda di seberang melambaikan tangan. Han Han dan Giam Liong tentu saja membalas, Han Han tampak gembira dan berseri-seri. Tapi ketika Giam Liong menunduk dan tampak kesedihannya, entah apa yang dipikir maka Beng Tan menjawil isterinya untuk mengajak dua pemuda itu ke dalam. Urusan telah selesai dan pagi itu burung-burung berkicau riang. Seperti biasanya air telagapun berdesir lebih kuat ketika berhembus angin segar. Suami isteri ini menghibur Giam Liong untuk tidak bersedih. Mereka berjanji bahwa seminggu lagi pinangan itu disampaikan.

Dan ketika benar saja seminggu kemudian mereka ke Kun-lun dan sebulan setelah itu pesta pernikahan dilangsungkan, dua muda-mudi ini berkumpul kembali maka beberapa hari setelah itu Giam Liong minta pamit. Si buntung ini tak mau tinggal di situ karena ia akan ke Lembah Iblis. Golok Maut akan dikubur dan di sanalah tempatnya semula. Dan karena pemuda itu tak mungkin dicegah dan pasangan muda ini meminta diri, Tang Siu dan Yu Yin bertangis-tangisan maka mereka saling lepas dengan keharuan yang besar.

"Kami akan merantau, mencari tempat tinggal baru. Kelak kami akan berkunjung ke sini lagi jika sudah menemukan tempat itu."

"Baik, pergilah, Giam Liong. Dan ingat, kalian berdua tak ubahnya putera-putera kami sendiri. Jangan lupakan kami, orang-orang tuamu ini."

Giam Liong memeluk pendekar itu. Air matanya basah dan pemuda ini berbisik menyatakan maaf. Dan ketika ia melepaskan orang tua ini dan Han Han ganti memeluknya, dua pemuda yang pernah bertanding hebat itu kini tampak bercucuran air mata maka Han Han mengingatkan agar Giam Liong datang dan tidur lagi sekamar, sepembaringan.

"Tempat tidur itu tak akan kuperbolehkan dipakai siapapun, bahkan isteriku sendiri. Datang dan tengoklah aku, Giam Liong. Aku ingin merasakan kehangatan dan hubungan cinta kasih persaudaraan ini. Hati-hati dan buanglah semua keganasanmu dulu."

Giam Liong mengangguk, la melepaskan diri dan sekali lagi menguatkan hati. Yu Yin tersedu-sedu dan semua anak murid bengong. Dan ketika pemuda itu membalik dan menjejakkan kakinya kuat-kuat maka si buntung inipun sudah menyambar isterinya dan jerit atau panggilan ditepi telaga hanya dibalas lambaian tangan. Lalu begitu keduanya lenyap meluncur keluar hutan maka Ju-taihiap dan lain-lain mengusap air mata mereka. Tang Siu terhuyung dan pingsan di pelukan Han Han!

TAMAT