NAGA PEMBUNUH
JILID 30
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
LAKI-LAKI ini tergetar. Ia pucat dan menggigil di depan kamarnya itu. Sekali lagi mengawasi tempat itu namun benar saja Golok Maut tak ada. Golok itu, senjata itu, benar-benar lenyap tak ada di tempatnya lagi. Ini pasti perbuatan muridnya. Dan ketika geraman pendek terdengar disusul lengkingan panjang, mirip raung atau pekik srigala lapar tiba-tiba lelaki itu membanting Yu Yin.

"Yu Yin, kau bocah keparat. Di mana Golok Maut itu... bruukkk!"

Gadis ini menjerit. Serasa dihantam ribuan gajah Yu Yin melesak dadanya, membal dan untung saja membalik hingga tak ada luka dalam. Sinkangnya masih cukup kuat untuk melindungi. Tapi karena bantingan itu dilakukan gurunya dan waktu itu Kedok Hitam dalam kemarahan besar, bantingan ini tidaklah main-main maka tetap saja gadis itu terhenyak dan untuk sekejap ia tak dapat berkata-kata. Dada yang menimpa lantai amatlah kerasnya. Hampir saja gadis ini pingsan. Namun karena ia masih sadar dan bentakan gurunya yang kedua kali dijawab dengan rintih dan kesakitan maka gadis itu menggeleng.

"Aku... aku tak tahu, suhu. Aku tak membawa golok itu..."

"Bohong! Kau pasti menyimpan. Hayo katakan, atau kugeledah tubuhmu!"

"Aku tak tahu, suhu boleh menggeledah..." belum habis ucapan ini tiba-tiba Kedok Hitam sudah menendang muridnya, disambar dan tangan-tangan kasar langsung menerobos sana-sini. Yu Yin terkejut karena tanpa sungkan-sungkan tangan gurunya itu juga menyelinap dibuah dadanya, meremas dan dicabut lagi untuk mencengkeram atau memeriksa yang lain. Seumur hidup, baru kali ini gadis itu diperlakukan gurunya. Sungguh tidak hormat! Dan ketika ia mengeluh dan sang guru merah padam, marah dan benci menjadi satu maka Kedok Hitam menggigil tak menemukan yang dicari, membanting lagi muridnya.

"Kau... kau harus mengaku. Atau kubunuh!"

"Bunuhlah..." gadis ini bersuara lemah, menangis dan terhina oleh sikap gurunya itu. "Kau boleh bunuh aku, suhu... aku benar-benar tak tahu golok itu. Kaubunuhlahaku...!" "Hm, tidak. Aku tak akan membunuhmu. Kau... kau akan kuperkosa!" "Suhu!" Yu Yin bagai disambar petir. Ia kaget bukan main karena gurunya itu tiba-tiba merobek pakaiannya. Tawa bagai silumangila meremangkan bulu kuduk. Laki-laki itu juga membuang bajunya! Tapi ketika Yu Yin tak kuat dan menjerit tertahan tiba-tiba ia pingsan dan saat itu berkelebat bayangan Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong. "Kedok Hitam, gadis baju putih itu lolos di luar pintu gerbang. Ia terlambat kami tangkap karena pengawal terlambat memberitahu!" "Apa?" "Gadis baju putih itu, sahabat muridmu ini. Dan, eh... apa yang mau kau lakukan!"

Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat terkejut. Mereka melihat laki-laki ini sudah bertelanjang dada sementara gadis cantik itu di lantai. Pakaiannya robek-robek dan sekali lihat tahulah dua orang ini apa yang hendak dilakukan. Lam-ciat, si tokoh sesat tiba-tiba tertawa bergelak. Tokoh yang biasa dengan segala maksiat ini tak merasa ngeri, lain dengan Pat-jiu Sian-ong yang meskipun jahat namun bukanlah orang yang pada dasarnya berwatak keji. Kakek ini sampai membantu si Kedok Hitam adalah karena sakit hatinya kepada Han Han, juga Beng Tan yang menjadi ketua Hek-yan-pang itu. Tapi ketika Lam-ciat terbahak dan Pat-jiu Sian-ong tertegun, Kedok Hitam berubah tiba-tiba laki-laki ini membentak dan tangannya diayun menghantam si Hantu Selatan.

"Lam-ciat, diam kau!"

Si Hantu Selatan mencelat, la menerima pukulan dan matanya mendelik. Kalau bukan karena ia sedang mencari kedudukan dan pahala barangkali ia akan membalas. Tapi karena Kedok Hitam adalah perantara bagi mencari kemuliaan, ia menahan marahnya maka kakek itu mendengus dan membalik, meloncat pergi.

"Kedok Hitam, jangan semena-mena kau. Aku rekanmu bukan musuh. Kalau tidak suka tentu aku pergi!"

"Hm," Pat-jiu Sian-ong juga berkelebat, tak mau mendapat marah. "Aku juga pergi, Kedok Hitam. Sebaiknya beresi dulu musuh-musuh kita dan jangan saling gigit!"

Laki-laki ini merah padam. Ia benar-benar marah tapi juga bingung oleh semuanya itu. Kemarahannya telah membuat marah Lam-ciat pula, yang sebenarnya biasa kalau ia berbuat jahat. Bagi tokoh sesat memperkosa atau mempermainkan wanita bukanlah hal aneh, biarpun yang diperkosa adalah murid sendiri! Tapi begitu ia sadar dan kata-kata Pat-jiu Sian-ong kena di hatinya, ia tak boleh memusuhi teman sendiri maka ia menendang muridnya dan mengunci kamar pribadinya itu, sang murid akan tertawan didalam.

"Pat-jui Sian-ong, kau benar. Tapi Golok Maut hilang!"

"Apa?"

"Golok Maut lenyap. Dan inilah yang membuat aku marah-marah!"

"Hm, kalau begitu mari dicari saja. Gadis itu melarikan diri lewat pintu selatan. Mari kau bantu kami dan barangkali dia yang membawa!"

Kedok Hitam mengangguk. Setelah agak jernih maka dia semakin sadar juga. Kemarahannya terhadap Yu Yin ditahan dan iapun cepat melesat ke selatan. Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong sudah mendahului ke sana. Tapi ketika ia tiba di sana ternyata gadis itu benar-benar telah menghilang.

"Kami tak dapat mengejar. Ia lolos dan meroboh-robohkan kami!"

"Benar, dan ia mengenakan pakaian pengawal. Kami kira pengawal dan teman sendiri!"

"Bodoh, goblok!" Pat-jiu Sian-ong membentak-bentak. "Pengawal atau bukan seharusnya kalian menangkapnya, tikus-tikus busuk. Bukan hanya bengong dan melihat saja ia meroboh-robohkan temanmu!"

"Ia terlalu lihai, kami tak dapat menghalangi..."

"Dasar tikus goblok. Kalau tadi kalian memanggil kami tentu tak mungkin lolos. Sudah, tutup pintu gerbang dan biar kami lihat di luar!" Pat-jiu Sian-ong berjungkir balik, turun dan melayang di luar sana tapi hanya kegelapan malam yang tampak. Lam-ciat dan Kedok Hitam juga berjungkir balik keluar namun gadis yang mereka cari tak ada. Dan karena tak mungkin gadis itu ditemukan lagi maka tiga orang ini kembali sementara Kedok Hitam menggigil dengan muka merah menahan marahnya yang meledak-ledak.

* * * * * * * *

Pagi itu di sebuah batu karang hitam besar. Seorang pemuda, yang khusuk dan tenggelam dalam samadhinya tampak tak bergerak-gerak dari tempat duduknya. Lekuk besar terdapat di permukaan batu itu dan di lekuk inilah pemuda itu meletakkan pantatnya, enak dan tampak pas benar.

Dan ketika ayam jantan berkokok namun pemuda itu tak bergerak juga, tubuhnya tak bergeming dan tegak kaku seperti arca maka orang tentu heran apakah pemuda yang duduk di batu ini masih hidup ataukah tidak. Tak kelihatan gerak dadanya ketika bernapas, tak kelihatan tanda-tanda bahwa dia masih hidup. Tapi kalau orang melihat sinar merah di atas kepalanya, yang bergerak dan membubung perlahan-lehan ke atas maka orang tentu tertegun.

Siapakah pemuda ini? Bukan lain Giam Liong adanya. Seperti kita ketahui, Giam Liong telah diikat janji oleh kekasihnya untuk menunggu di situ. Semalam pemuda ini khusuk bersamadhi namun tengah malam ia terguncang. Sebuah jeritan, lewat suara batin, menghantam dan memecah samadhinya. Ia terlonjak dan membuka mata. Secara batin ia melihat seorang gadis meronta-ronta di sana. Bajunya koyak-koyak sementara seorang lelaki bersapu tangan hitam berdiri dengan wajah beringas. Siap memperkosa. Tapi ketika dua bayangan berkelebat datang dan gadis itu pingsan, laki-laki ini pergi maka gadis itu selamat sementara Giam Liong sendiri bercucuran keringat dingin dan membuka matanya.

Mimpikah dia? Atau kejadian sungguh-sungguh? Dan ketika Giam Liong hampir meloncat turun dan batal samadhinya, gadis yang di sana itu adalah kekasihnya tiba-tiba bayangan ibunya berkelebat dan seorang laki-laki gagah juga muncul di mukanya. Seperti iblis!

"Liong-ji, tak usah takut. Aku dan ayahmu akan membantumu dari jauh. Tugasmu hampir tiba, nak. Ingat pesan ibu dan teruskanlah samadhimu!"

Giam Liong berdiri. Ia terbelalak dan kaget karena ibunya itu tiba-tiba menghilang lagi. Si lelaki gagah, yang tersenyum dan mengangguk kepadanya juga menghilang. Mereka datang dan pergi seperti siluman saja, sungguh pemuda ini kaget. Tapi ketika bau harum bunga menembus hidungnya dan itulah bunga yang dulu ditabur di makam ibunya, Giam Liong tertegun maka dia mendesah dan dua titik air mata tiba-tiba mengalir.

"Ibu, kau menjenguk anakmu? Kau memberi restu?"

Giam Liong menangis. Tiba-tiba ia teringat ibunya itu dan tersedulah pemuda ini. Untuk sejenak ia dilanda kepedihan. Tapi ketika sayup-sayup terdengar irama suling, lembut namun dari kejauhan sana maka tiba-tiba Giam Liong terhibur dan pemuda ini menghapus air matanya. Ia telah bertemu roh ibunya dan ibunya memberi restu. Katanya, tugasnya akan dimulai dan ia menggigit bibir. Memang benar, besok atau paling lambat matahari terbenam ia akan mencari Kedok Hitam. Besok ia akan mengadu jiwa.

Dan ketika suara suling lembut itu meninabobokkannya seakan suara dari surga, Giam Liong dim inta untuk meneruskan samadhinya lagi maka semalam penuh suling itu menghiburnya tak henti-henti. Giam Liong tak terasa mengikuti alunan suling ini dan antara sadar dan tidak ia seakan bertemu seorang laki-laki tua, bercakap dan bertutur kata lembut hingga tak terasa ia terbawa semakin dalam, jauh dan jauh sampai akhirnya mendadak suara suling itu berhenti.

Dan ketika pemuda ini tersentak karena laki-laki tua itu juga menghilang, kokok ayam jantan melengking di pagi itu maka Giam Liong terkejut ketika tiba-tiba warna lembayung jingga menyergap wajahnya. Pagi telah tiba. Dan begitu ia sadar dan kaget membuka mata, bayangan atau wajah ibunya dan yang lain-lain silih berganti maka seorang gadis tahu-tahu berdiri di depannya dan Giam Liong tertegun karena mengira dihampiri seorang dewi!

"Kau yang bernama Giam Liong?" Giam Liong tertegun, tak menjawab. "Hei, kau yang bernama Giam-Liong?"

"Maaf," Giam Liong tiba-tiba menunduk, menyembah. "Ampunkan aku, Dewi. Benar aku yang bernama Giam Liong. Dewi utusan siapakah dan ada perlu apa pagi-pagi begini menengok aku!"

"Hm, aku tak butuh menengokmu. Aku datang karena permintaan seseorang. Bangkitlah, aku Tang Siu, Giam Liong. Datang untuk menyerahkan Golok Maut... singgg!" sebuah sinar tiba-tiba berkeredep, datang menyilaukan mata dan Giam Liong mencelat kaget. Ini bukan dewi, melainkan gadis biasa, manusia biasa! Dan ketika ia terlonjak dan Golok Maut berbinar-binar di depan mukanya, berkeredep maka Giam Liong yang semula seolah berada di alam tak sadar itu seketika masuk dan kembali ke bumi, ke alam sadar.

"Ah, kau...ckau siapa?" Giam Liong tergagap, gadis ini tersenyum demikian cantiknya, meskipun senyum mengejek. "Kau dari mana, nona. Dan bagaimana membawa Golok Mautku!"

"Hm, aku sahabat Yu Yin, kekasihmu. Aku datang karena atas permintaan kekasihmu itu pula. Aku ingin menyerahkan golok ini sesuai amanatnya!"

"Kau... kau sahabat Yu Yin?"

"Benar..."

"Dan bagaimana gadis itu? Kenapa tak datang?"

"Semalam kami berjuang, Giam Liong. Dan kau ternyata enak-enak saja di sini. Huh, laki-laki macam apa ini. Bagaimana kau tak menyelamatkan kekasihmu!"

"Ada apa dengan dia? Di mana ia sekarang?"

"Aku tak tahu keadaannya, tapi yang jelas tentu tak menggembirakan. Semalam kami berjuang dan coba meloloskan diri tapi Yu Yin tak keluar juga. Aku tak tahu apa yang terjadi namun kemungkinan besar ia tertangkap lagi!"

"Tertangkap lagi? Jadi ia sudah tertangkap sebelumnya?"

"Benar.."

"Coba kauceritakan itu. Ah, siapa yang menangkapnya!" Giam Liong menggigil, menyambar dan tak sadar mencengkeram lengan gadis ini. Ia meremas terlalu keras, lawan menjerit. Dan ketika Giam Liong terkejut melepaskan pegangan, Tang Siu marah dan maju setindak maka pemuda itu langsung ditampar.

"Enak saja pegang-pegang lengan orang. Eh, kau mau kurang ajar, ya? Mau main gila! Keparat, kubunuh kau nanti, Giam Liong. Jangan kira aku takut meskipun nama besarmu seperti merobohkan dunia!"

“Maaf... maafkan aku," Giam Liong terhuyung, membiarkan tamparan itu. "Aku kaget dan cemas, nona. Aku tak bermaksud kurang ajar. Maafkan kalau tadi aku membuatmu kesakitan. Aku bukan pemuda hidung belang!"

"Hm, aku juga tahu. Kalau tidak tak mungkin aku ke sini. Tak sudi!" dan ketika Giam Liong membiarkan temannya bersungut-sungut, tadi ia memang terlalu sembrono maka Giam Liong menunduk dan minta gadis itu bicara. Tang Siu hilang marahnya dan setelah sejenak mengamati wajah yang gagah itu gadis ini terharu juga. Ada penderitaan disitu, penderitaan batin. Dan ketika Tang Siu tak mengomel lagi dan menceritakan keadaannya semalam maka ia menutup bahwa Coa-ongya hendak menikahkan puterinya itu dengan putera Cai-ciangkun.

"Untuk menghapus hubungannya dengan mu maka Coa-ongya memaksa puterinya menerima Cai-kongcu. Yu Yin menolak dan tentu saja marah-marah. Tapi karena ia berada ditengah-tengah orang berkepandaian tinggi dan di istana pula maka ia gagal tapi aku coba-coba menolongnya."

"Dan... dan ia ditangkap ayahnya itu?"

"Ayahnya tak perlu ditakuti, Giam Liong, tapi gurunya yang lihai dan jahat itu. Aku khawatir bahwa ia sekarang ditangkap gurunya itu.."

"Sama saja!" bentakan ini membuat Tang Siu terkejut, Giam Liong tiba-tiba berubah bagai seekor harimau ganas, matanya mencorong. "Gurunya atau ayahnya sama saja, Tang Siu. Bedebah Coa-ongya itu. Baik, kucari dan akan kubunuh dia!"

Dan begitu Golok Maut disambar dan Tang Siu terjengkang, Giam Liong menerjangnya maka gadis ini berteriak memaki-maki. Ia kaget dan gusar tapi juga ngeri melihat gerakan Giam Liong. Sekali melompat tahu-tahu telah turun dari batu hitam itu dan meluncur ke kota raja, kesetanan. Giam Liong seolah bayangan dan tepat pemuda itu melengking tiba-tiba dari dalam hutan terdengar teriakan dan panggilan.

Tang Siu menoleh dan terkejutlah gadis itu melihat ratusan orang bergerak dari balik pohon-pohon besar, berkuda, dipimpin seorang laki-laki tinggi besar dengan gendewa di tangan dan orang-orangitu memanggil Giam Liong. Gadis ini tertegun dan terbelalak melihat pasukan berkuda itu, yang bukan lain adalah pasukan Chu-goanswe di mana jenderal di atas kuda hitamnya itu berteriak-teriak memanggil Giam Liong. Tapi karena Giam Liong tak mau menoleh dan sekejap saja pemuda itu lenyap di depan, pasukan ini mengejar dan akhirnya melewati Tang Siu maka Chu-goanswe melambaikan tangannya dan berseru,

"Nona, mari kita gempur kota raja. Kau tentu orangnya yang mengembalikan Golok Maut!"

"Benar!"

Pasukan berkuda itu bersorak. "Mari ikut kami, nona. Bantu Giam-siauw-hiap dan hancurkan kaisar bodoh!"

Tang Siu bergerak. Tiba-tiba ia melayang turun dan mengikuti pasukan berkuda itu, bukan untuk membantu mereka melainkan lebih tepat untuk melihat Yu Yin. Semalam ia telah menunggu namun gadis itu tak muncul juga. Tang Siu khawatir dan akhirnya mencari Giam Liong, ketemu namun Si Naga Pembunuh itu kini terbang ke kota raja untuk mengamuk. Golok berdarah telah berada ditangannya dan tentu tandang pemuda itu bakal hebat bukan main.

Tang Siu telah mendengar cerita Yu Yin tentang pemuda ini, dendam dan kemarahannya yang bertumpuk-tumpuk yang kini meledak dalam satu letusan besar. Pemuda itu bak gunung berapi yang sudah mencapai puncaknya. Terlalu lama perut gunung itu bergolak. Kawah panas bakal menerjang kota raja. Dan ketika Tang Siu berkelebat dan menyusul jenderal di atas kuda hitamnya itu, Chu-goanswe, melesat dan sebentar kemudian sudah melewati anak buah jenderal itu maka pasukan berkuda bersorak kagum dan semua membelalakkan mata, senjata diacung-acungkan ke atas.

"Hei, kejar dia kawan-kawan. Mari balap dia. Wah, ilmu meringankan tubuhnya melampaui kecepatan kuda!"

"Benar, dan kita tersusul. Aih, ia sudah di dekat Chu-goanswe!"

Jenderal ini menoleh. Ia mendengar sorak-sorai pasukannya dan juga keciur angin di belakang kuda. Dan ketika dilihatnya gadis baju putih itu berendeng dan sudah di sampingnya maka jenderal ini kagum menjeletarkan cemeti, gagah perkasa.

"Hei, siapakau, nona. Sahabat dari mana. Aku Chu-goanswe pemimpin pasukan ini!"

“Hm aku Tang Siu, sahabat Yu Yin. Aku sudah dapat menduga kau siapa dan mari berlomba ke kota raja. Yu Yin tertangkap gurunya. Suruh pasukanmu cepat menjalankan kuda dan jangan lambanbbegini”

“Ha..ha ilmu lari cepatmu luar biasa nona, bukan kami yang lamban. Tapi baiklah aku akan menyuruh pasukanku mempercepat larinya. Heiii…” jenderal itu berteriak dan menoleh kebelakang. “Larikan kuda kalian kencang-kencang, pasukan. Kita kejar nona Tang dan bantu Giam-siauwhiap menolong kekasihnya. Hayo, Cepat…”

Tombak dan gagang senjata dipakai memukul pantat kuda. Tang Siu melejit dan kini mendahului kuda tunggan Chu-goanswe, cepat luar biasa hingga tahu-tahu iapun sudah puluhan meter di depan. Dan ketika sang jenderal terbelalak dan kagum bukan main, gembira seorang lihai membantu perjuangannya maka jenderal itupun mengeprak kudanya dan memukul-mukul kedua sisi perut kuda dengan kakinya.

"Hayo... hayo kejar gadis itu. Masa kita kalah!"

Kuda hitam meringkik. Chu-goanswe menyuruh ia mempercepat larinya dan kuda inipun melonjak. Tubuhnya tiba-tiba melesat secepat anak panah dan pasukan tertinggal. Namun karena di sana gadis baju putih itu juga tancap gas dan tak mau dikejar, Chu-goanswe terbelalak dan membentak-bentak maka kuda hitam menderu napasnya disuruh lari kencang. Ia sudah berusaha sekuat-kuatnya namun tetap juga gagal. Jarak yang semula diperpendek tiba-tiba memanjang lagi. Kuda hitam ini mandi keringat. Dan ketika kuda-kuda yang lain juga begitu dan napasnya keluar masuk dengan amat cepat, mereka benar-benar dipacu untuk mengejar Tang Siu maka gadis ini menoleh dan tersenyum, gerbang kota raja mulai tampak.

"Chu-goanswe, kudamu dan semua kuda yang ada di sini tak mungkin menang. Sudahlah, siapkan mereka untuk mendobrak pintu gerbang dan menyerbu masuk. Kita sudah mendekati musuh.... blangg!" Tang Siu terkejut dan menoleh, menghentikan kata-katanya karena pintu gerbang yang dimaksud tiba-tiba roboh. Suaranya menggetarkan bumi dan hiruk-pikuk di depan disusul oleh teriakan atau pekik-pekik ngeri.

Sesosok bayangan bercaping menumbuk daun pintu baja ini hingga tumbang. Palang pintu hancur dan engsel-engselnya copot, luar biasa. Dan ketika bayangan itu bergerak naik turun bagai rajawali menyambar-nyambar, lengkingan atau pekiknya yang dahsyat juga mengguncangkan bumi maka puluhan tubuh terlempar atau mencelat oleh amuknya yang tak terbendung.

"Mana Kedok Hitam, mana musuhku itu. Suruh dia keluar atau kalian kubunuh semua.... crat-crat-cratl" sebelas kepala beterbangan cepat, lepas dari tubuhnya dan itulah Giam Liong yang tak dapat menahan diri lagi. Sudah beberapa hari ini ia menahan-nahan kemarahannya. Sudah beberapa hari ini ia memendam dendam kesumatnya yang menggelegak. Maka begitu sumbu itu disulut dan bom ini meledak, Giam Liong marah mendengar Yu Yin tertangkap, maka mengamuklah dia di pintu gerbang selatan. Pintu baja yang tebal itu ditumbuknya, ambrol dan tentu saja semua panik.

Dan ketika Giam Liong berkelebatan karena dua ribu orang berjaga di sini, ia sengaja mendobrak pintu gerbang agar pasukan Chu-goanswe dapat masuk maka gegerlah pasukan kerajaan karena sepak terjang Giam Liong ini sungguh tak diduga. Biasanya pemuda itu akan naik ke atas tembok yang tinggi, di sini sudah berjaga ratusan orang yang akan menghadapi dan merintanginya, juga jala-jala rahasia yang akan menebar dan menakup dari segala penjuru. Maka ketika pemuda itu justeru masuk dengan mendobrak pintu gerbang, yang roboh dan tak kuat dihantam pundaknya maka yang di atas kecelik dan yang di bawah justeru kelabakan diterjang pemuda ini.

Giam Liong telah tahu panggilan Chu-goanswe tadi namun sengaja tak mau menjawab. Ia akan memberi jalan kepada pasukan Chu-goanswe itu dan hajaran terhadap pasukan kerajaan. Ia akan mengamuk. Pemuda ini telah menjadi banteng ketaton (terluka). Maka begitu ia membuat duaribu pasang mata ternganga oleh ulahnya, pintu gerbang ambruk maka menyerbulah pemuda itu dengan golok di tangan. Giam Liong tak mau lagi bersungkan-sungkan menghabisi lawan, la bergerak bagai rajawali menerkam mangsa, ke mana ia pergi ke situ pula lawan roboh. Dan ketika Golok Maut di tangannya itu dikenal musuh, lawan berteriak-teriak dan pucat maka mereka berlarian dan saling dorong-mendorong dengan kawan-kawan yang ada dibelakang.

"Golok Maut... Golok Maut.... pemuda itu membawa Golok Maut!"

Semua geger. Mereka heran dan kaget bagaimana Golok Maut tiba-tiba ada di tangan pemuda itu, padahal sudah dirampas pembantu Coa-ongya paling lihai, yakni si Kedok Hitam. Dan bahwa pemuda ini masih hidup padahal sudah dikabarkan tewas, mereka mengira ini adalah rohnya yang menuntut balas maka pasukan kerajaan cerai-berai dan mereka hancur sebelum bertanding.

"Berhenti, jangan mundur! Siapa takut menghadapi pemuda itu!"

Delapan perwira, yang membentak dan marah melihat kocar-kacirnya pasukan tiba-tiba muncul menerjang kedepan. Mereka itu tadi di belakang dan menerima kabar, terkejut dan dentum robohnya pintu gerbang sampai di telinga. Betapa hebatnya pintu baja itu roboh dapat dilihat dari duapuluh orang yang tergencet di bawah, tewas dan seketika gepeng dengan bentuk mengerikan. Dan ketika mereka datang dan tak percaya bahwa itu adalah Giam Liong, karena belum matinya pemuda ini memang dirahasiakan maka tertegunlah delapan perwira melihat pemuda itu, juga Golok Mautnya yang berkeredepan menyilaukan mata. Namun mereka terlanjur maju dan tentu saja tak mungkin mundur, apalagi barisan orang kang-ouw juga muncul dari kiri kanan maka delapan perwira ini membentak dan mereka menyerangdengan menusukkan senjata masing-masing.

"Bocah she Sin, kau ternyata masih hidup. Mampuslah, kami datang untuk membunuhmu!"

Giam Liong menoleh sekejap. Dia sendiri menusuk pertahanan lawan dengan sepak terjangnya yang gila. Dua ribu pasukan itu morat-marit dan golok di tangannya benar-benar ditakuti. Luar biasa golok ini. Semakin banyak dia mereguk darah maka semakin mengkilap dan bercahayalah tubuhnya, bak gadis yang baru mandi dan indah berkilau-kilau. Namun karena golok ini adalah senjata pembunuh dan di tangan Giam Liong ia benar-benar merupakan dewa maut maka delapan perwira yang membentak dan menerjang Giam Liong disambut dengus dingin.

Giam Liong tidak mengelak ketika hujan delapan senjata menyambar tubuhnya, dibiarkan dan justeru delapan perwira itu berteriak kaget karena senjata mereka terpental semua. Pedang dan tombak bertemu kekebalan pemuda itu. Dan ketika mereka terkejut namun Giam Liong tak memberi kesempatan ia benar-benar hendak menjadi malaikat maut di situ maka sekali dia membalik sinar putih dari goloknya itu menabas.

"Semua antek Kedok Hitam harus mampus.” Hanya itu saja seruan Giam Liong. Kata-kata pendek ini menyusul gerakan sinar putih golok itu, menabas dan delapan jeritan ngeri tiba-tiba terdengar. Dan ketika delapan batang tubuh roboh bergelimpangan, darah muncrat dari leher yang putus maka Giam Liong telah membunuh delapan perwira ini, tak lebih dari sedetik.

"Ayo maju, siapa yang ingin menyusul!"

Pasukan kerajaan gempar. Saat itu sesosok bayangan putih juga berkelebat masuk, menggerakkan kaki tangannya dan belasan orang roboh berpelantingan pula. Dan ketika di belakang bayangan putih ini berderap pasukan Chu-goanswe, itulah Tang Siu yang disusul barisan pejuang maka sorak-sorai benar-benar meruntuhkan kota raja.

"Serbu! Serang anjing-anjing kaisar. Bunuh mereka...!"

Pagi yang tenang tiba-tiba berubah. Pekik dan kengerian pecah di sana-sini. Giam Liong yang membabat dan terus maju ke depan akhirnya sudah di tengah kota, mengamuk dan siapapun dibabat Golok Mautnya itu. Chu-goanswe menerjang dan mengikuti di belakangnya, menumpang atau melajui jalan yang telah dibuat pemuda ini. Dan karena pasukan jenderal Chu itu juga melakukan pembantaian, pintu gerbang dibobol maka rakyat panik dan lintang-pukang menyembunyikan diri. Rumah-rumah ditutup dan Chu-goanswe berseru agar tak mengganggu penduduk, ini sesuai keinginan Giam Liong yang juga tak ingin menyeret rakyat kecil. Musuh mereka adalah kerajaan, perajurit atau balatentara musuh. Dan karena terhadap musuh inilah Chu-goanswe dan pasukannya mengamuk, Giam Liong membuka jalan darah di depan maka istana gempar karena pemuda itu dikabarkan sudah tak jauh lagi di pusat pemerintahan.

"Naga Pembunuh datang. Naga Pembunuh mengamuk. Lari... lari... ia membawa Golok Maut!"

Pasukan kalang-kabut. Majunya Giam Liong tak dapat dicegah, juga pasukan Chu-goanswe yang terus menerjang dan menyerbu. Kaum pejuang ini bagai angin taufan yang mengamuk, menghantam atau menggilas apa saja yang di depan. Tapi ketika Giam Liong sudah mendekati istana dan Chu-goanswe dan pasukannya bersorak-riuh, gegap menggetarkan istanamaka tiga bayangan berkelebat dan limaribu orang mencegat jalan. Istana dikepung rapat.

"Jangan biarkan pemuda itu masuk. Serang, lepaskan panah-panah berapi!"

Hujan panah berapi tiba-tiba menghambur. Giam Liong, yang menghadapi berlapis penjagaan tebal terbelalak di sini. Ia telah membunuh ratusan orang dan pakaiannyapun penuh darah. Bahkan wajah dan lengan atau kakinya juga penuh bercak-bercak darah segar. Ia tak mirip manusia lagi melainkan iblis, iblis yang haus darah. Dan ketika berulang-ulang ia melengking mencari Kedok Hitam, lawan tak keluar juga maka di depan istana itu ia menghadapi limaribu orang yang mengepung ketat.

Namun pemuda ini tak gentar. Hujan panah dibiarkannya saja, golok bergerak dan terus menyongsong ke depan. Panah patah-patah tapi api yang ada di ujung mengenai bajunya, berkobar dan Giam Liong mengeluarkan pekik dahsyat di mana getaran suaranya membuat pasukan yang ada di depan roboh. Mereka menjerit tak kuasa menahan getaran suara dahsyat itu. Giam Liong mengerahkan Sai-cu Ho-kangnya, ilmu memekik yang membuat gunungpun bisa roboh berguguran. Dan ketika pemuda ini berkelebat kedepan dan memadamkan api yang berkobar di pakaiannya, menyambar dan melemparkan kembali panah-panah berapi ke arah lawan maka lima ribu pasukan berteriak karena ganti terbakar.

"Aduh, pakaianku kena!"

"Tolong, rambutku terbakar..!"

Pasukan menjadi ribut. Alih-alih mau mencelakai Giam Liong tak tahunya mereka sendiri yang berbalik menjadi korban. Ratusan panah disambitkan kembali dan ratusan hujan api menyambar orang-orang itu. Giam Liong tidak hanya melempar lawan-lawannya saja melainkan melontar dahsyat panah-panah berapi ke atap istana. Tenaganya sungguh mengagumkan karena panah-panah berapi itu melesat jauh melewati limaribu orang, jatuh dan menimpa untuk akhirnya membakar istana. Dan ketika kebakaran melanda tempat itu dan istana menjadi ajang permainan api, Giam Liong berbalik mengacaukan mereka maka ribuan orang geger dan bingung karena harus pula menyelamatkan istana, memadamkan api.

"Hei, gedung sebelah barat terbakar. Hei, padamkan itu dan ambil air!"

"Tidak, gedung sebelah kiri juga dimakan api. Lihat, gudang ransum kebakaran!"

"Dan dapur istana juga. Ah, balairung juga kena. Awas.... awas.... jangan lempar panah-panah berapi lagi. Serang pemuda itu dengan tombak atau senjata-senjata panjang!"

Semua gugup. Giam Liong sungguh gagah perkasa di depan ribuan orang itu. Ia berulang-ulang mengebut bajunya kalau tersambar panah-panah api. Tapi karena lawan terus menyerangnya hingga tak mungkin menyelamatkan baju, Giam Liong merobek dan membuang bajunya itu maka sambil bertelanjang dada pemuda ini mengamuk dan menerjang ke depan, sebelumnya ia sudah mencebur ke kolam agar seluruh tubuhnya basah kuyup. Api tak lagi dapat membakar celananya.

"Kedok Hitam, keluarlah kau. Keluar atau nanti kubunuh semua orang-orangmu ini!"

Semua mata terbelalak. Giam Liong bertelanjang dada menerjang ke depan, golok tetap bergerak dan duapuluh orang berteriak ngeri. Mereka terlempar dan tumbang oleh sabetan goloknya yang gilang-gemilang, tak pernah basah oleh darah karena setiap terciprat tentu golok itu sudah menghisapnya kering. Semakin sering semakin bercahaya. Dan karena pemuda itu berulang-ulang memanggil Kedok Hitam dan pasukan di depan roboh tersapu, tak ada satupun yang kuat, akhirnya, tiga bayangan yang tadi bergerak di belakang sekarang tiba-tiba maju.

"Giam Liong, inilah aku. Hentikan sepak terjangmu!"

Giam Liong beringas. Ia membuat mundur limaribu orang itu, seperlima di antaranya sudah luka-luka atau tewas. Dan ketika bentakan itu menyuruh Giam Liong berhenti dan pasukan dipakai menyambut Chu-goanswe maka Kedok Hitam dan Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat sudah berhadapan dengan pemuda yang kesetanan ini.

"Bagus" Giam Liong bagai mendapat makanan segar. "Untung kau datang, Kedok Hitam. Kalau tidak tentu pasukanmu kubantai dan kuhancurkan. Majulah, dan kita selesaikan hutang jiwa ini. Mana Yu Yin!"

"Hm, tak usah kau bertanya tentang dia. Gara-gara bergaul denganmu maka dia menjadi rusak. Terimalah, kau harus menebus dosamu!" Kedok Hitam mengeluarkan sesuatu, juga sebatang golok tapi Giam Liong cepat menangkis. Dan. ketika golok bertemu golok tapi golok di tangan laki-laki itu putus, kutung ujungnya maka Giam Liong tertawa dan berkelebat membalas lawannya itu, menyeramkan.

"Singgg...!"

Golok Penghisap Darah luput. Kedok Hitam tahu diri dan mengelak mundur, dikejar namun Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat bergerak, tentu saja tak membiarkan Giam Liong menyerang temannya. Dan ketika dua pukulan dilepas menghantam Giam Liong, dari kiri dan kanan maka Giam Liong membalik dan membabatkan goloknya itu.

"Wherrr...!"

Dua orang ini tahu bahaya. Lam-ciat langsung mengeluarkan Hoan-eng-sutnya dan langsung menghilang, sementara Pat-jiu Sian-ong melempar tubuh menjauhi sinar maut itu. Golok Maut lagi-lagi mengenai tempat kosong. Tapi ketika Giam Liong sudah mendapat serangan dari Kedok Hitam dan selanjutnya Lam-ciat muncul lagi melepas pukulannya, disusul Pat-jiu Sian-ong yang juga mainkan ilmu silat Dewa Lengan Delapan (Pat-sian Sin-kun) maka Giam Liong bergerak dan berkelebatan mengelak dan membalas. Kedok Hitam mengejar namun ia ganti mengelak kalau Golok Maut bicara, desing atau sambaran angin golok itu cukup merontokkan daun-daundi sekitar.

Dan ketika tiga orang itu sudah mengeroyok sementara pasukan kerajaan bertemu dan bertempur dengan pasukan Chu-goanswe, maka sorak dan bentakan silih berganti meramaikan keadaan. Giam Liong tak mau main-main lagi sementara Chu-goanswe dan pasukannya juga bertempur dengan penuh semangat. Maklumlah, di situ ada Si Naga Pembunuh yang dahsyat, belum lagi gadis baju putih yang tadi juga membantu mereka membobol kepungan. Dan ketika semua ini merupakan modal yang amat besar bagi mereka, limaribu pasukan kerajaan bekerja keras menahan gelombang gempuran maka Tang Siu atau gadis baju putih memisahkan diri dari Giam Liong maupun Chu-goanswe.

Dia hendak mencari Yu Yin dan itulah tujuan satu-satunya. Urusan pertandingan bukanlah urusannya dan biarlah diselesaikan masing-masing pihak. Dan ketika Giam Liong di sana mengamuk dan menghadapi keroyokan lawan, Kedok Hitam juga mulai mengeluarkan senjata-senjata rahasia untuk merobohkan Giam Liong, juga Lam-ciat yang memuntahkan jarum-jarum halus untuk membunuh pemuda ini maka Tang Siu berkelebat dan langsung ke tempat di mana semalam dia berpisah dengan Yu Yin, yakni di kamar pribadi Kedok Hitam di belakang gedung Coa-ongya.

Ternyata semua tempat penuh penjagaan. Hampir di empat sudut penjuru istana penuh perajurit, termasuk di gedung Coa-ongya ini. Dan ketika Tang Siu harus merobohkan dulu seorang pengawal untuk diambil pakaiannya, menyamar sebagai pengawal maka barulah dia agak bebas mendekati gedung Coa-ongya itu. Ia harus berhati-hati dan untung semua mata sedang tegang menyambut musuh, tak melihat gerak-gerik atau curiga kepada pengawal gadungan ini. Dan ketika setapak demi setapak ia berhasil melewati belakang gedung, melompat dan masuk ke pagar kawat berduri maka gadis ini tertegun karena ada belasan pengawal berjaga. Palang pintu kamar tampak tertutup rapat.

"Kasihan Coa-siocia," begitu Tang Siu mendengar sebuah percakapan. "Kalau saja ia tak melawan gurunya tentu tak akan ditawan di dalam. Eh, bagaimana pendapatmu tentang gadis ini, Sam-twako. Apakah belum waktunya diberi makan!"

"Hm, urusan itu ditangani sendiri oleh gurunya. Kita hanya diperintahkan berjaga. Kalau kita melanggar jangan-jangan kita kena damprat!"

"Tapi gadis ini merintih sepanjang malam. Aku iba..."

"Aku juga begitu, tapi bagaimana lagi. Eh, siapa ini, Keng Ke... ada orang suruhan rupanya?" sang pemimpin berhenti bicara.

Tang Siu telah tiba di situ dan kehadirannya yang tiba-tiba amat mengejutkan yang menjaga. Gadis itu mengenakan pakaian pengawal dan disangka pengawal. Tapi begitu Tang Siu mendekat dan semua tertegun, kaget bagaimana ada pengawal datang tanpa diketahui maka Tang Siu berputar dan sekali tumitnya bicara tujuh orangpun terpelanting.

"Aku datang untuk membebaskan puteri Coa-ongya. Kalian semua minggir des-des-dess!"

Yang lain berteriak. Tang Siu telah merobohkan tujuh teman mereka tapi gadis ini juga tak mau membuang tempo. Begitu ia berkelebat dan melihat yang lain mencabut senjata sekonyong-konyong ia membentak, lenyap ke depan dan berturut-turut duabelas orang itu ditendangnya mencelat. Dan ketika semua terlempar dan gadis ini lega, tak satupun yang dapat berdiri maka ia mencabut pedangnya dan sekali bacok palang pintu itu dipatahkannya, pintu ditendang terbuka.

"Yu Yin!"

Tang Siu tertegun. Yu Yin, sahabatnya, terikat di situ. Gadis ini robek-robek pakaiannya dan nyaris telanjang, terisak dan mengguguk ditahan tak mau didengar tangisnya oleh pengawal. Tapi begitu Tang Siu datang dan pintu kamar terbuka, sembilan belas pengawal roboh malang-melintang maka gadis ini menjerit namun tiba-tiba tersedu ketika Tang Siu melompat dan membebaskan ikatannya.

"Tidak... tidak. Aku sudah kotor, Tang Siu. Aku barangkali sudah kotor. Guruku, ia... ia menghinaaku!"

"Menghina bagaimana, apa yang terjadi," gadis ini terkejut, membelalakkan mata. "Gurumu sekarang sudah berhadapan dengan Giam Liong, Yu Yin. Dan mari keluar dari tempat ini. Kita harus menyelamatkan diri!"

"Aku tak mau. Aku ingin bertemu ayah!"

"Hm, untuk apa?" Tang Siu semakin terkejut, temannya ini berteriak-teriak, histeris. "Tempat ini berbahaya, Yu Yin. Kita harus secepatnya keluar.”

“Tidak…tidak. Aku ingin secepatnya menghadap ayah. Aku ingin melaporkan perbuatan guruku yang tidak tahu malu!"

“Apa yang ia lakukan? Kau diapakan?”

“Aku… aku oohhh!" Yu Yin mengguguk. “Aku.. hendak diperkosanya, Tang Siu. Entah sudah atau belum. Aku... aku ingin menghadap ayah. Aku akan melaporkannya.”

Tang Siu terkejut. "Diperkosa?"

Yu Yin tak menjawab. Gadis ini mengguguk dan menubruk temannya dan tiba-tiba menangis sejadinya di situ. Kejadian semalam membuat shock berat dan puteri Coa-ongya ini nyaris pingsan. Ia berkali-kali menerima pukulan batin itu setiap teringat perbuatan gurunya. Betapa dengan enak, dan tak tahu malu memegang-megang semua tubuhnya untuk mencari Golok Maut, padahal tak mungkin golok itu disembunyikan di pakaian dalam. Kalaupun tersembunyi tentu ada bagian-bagian lain yang menonjol, padahal gurunya sudah tahu bahwa ia tak membawa golok itu.

Dan ketika gadis ini terpukul dan menderitas tress berat, perlakuan gurunya sungguh menghina maka Tang Siu tertegun dan hampir tak percaya mendengar ini. Tapi ia melihat pakaian Yu Yin yang robek-robek, terus memandang ke bawah dan gadis Kun-lun ini berdesir melihat celana Yu Yin yang terkuak. Adakah malapetaka itu terjadi? Adakah aib itu benar-benar menimpa temannya? Tapi ketika Tang Siu tak melihat bekas-bekas mencurigakan dan ia agak tenang maka ia memeluk dan gemetar menghibur temannya ini. Tak nyana bahwa Kedok Hitam sungguh keji.

"Yu Yin, kau boleh mencari ayahmu. Tapi apakah hal itu tepat. Bukankah sekarang ini sedang terjadi pertempuran di luar."

"Aku tak perduli. Aku akan melapor kepada ayah! Akan kuberitahukan sepak terjang guruku itu, Tang Siu. Biar ayah memecatnya dan menghukumnya. Suhu sungguh terlalu!"

"Baiklah," gadis ini tak melihat jalan lain. "Aku mengantarmu, Yu Yin. Mari pergi dan kita cari ayahmu itu!"

"Kau ikut?"

“Tentu saja, aku harus menjaga keselamatanmu.”

"Ohh" dan Yu Yin mendekap dan memeluk sahabatnya ini lalu berguncang-guncang mengucap terima kasih. Belum pernah ada seorang sahabat yang demikian hebat pertolongannya. Belum ada seorang sahabat yang siap mempertaruhkan nyawa dan keselamatan diri sendiri untuknya. Dan ketika Yu Yin tersedak dan berulang-ulang mengucap terima kasih, Tang Siu terharu dan mereka saling cium maka Tang siu tak mau lama-lama lagi disitu, mengajak temannya.

“Sudahlah, kita berangkat, Yu Yin. Di luar ada perang dan kerusuhan. Kota raja guncang. Giam Liong mengamuk."

"Baik, terima kasih, Tang Siu. Seumur hidup aku tak akan melupakan budi baikmu ini”

“Ah, itu tak usah dibesar-besarkan. Ayo keluar dan cari ayahmu!" gadis ini tak mau bicara tentang budi, menyendal dan membawa temannya keluar tapi Yu Yin teringat pakaiannya yang robek-robek. Berseru agar perlahan dulu dan menyambar pakaian seorang pengawal, mengenakannya dengan tergesa dan baru melanjutkan perjalanan lagi. Dan ketika mereka masuk keluar gedung itu, menyelidiki kamar-kamar dan beberapa dayang atau pelayan menjerit, roboh ditotok dua orang ini maka Yu Yin sampai pada kamar utama ayahnya, di mana biasanya ayahnya berada.

"Tunggu, kau di luar saja. Aku masuk sendirian!"

Tang Siu mengangguk. Beberapa pengawal yang memergoki mereka juga mereka robohkan. Yu Yin mencari tempat-tempat sepi hingga tak banyak mereka menemui pengawal. Gadis itu tahu tempat itu karena itulah tempat tinggalnya sendiri. Dan ketika Tang Siu berjaga dan waspada di pintu depan, Yu Yin mendorong dan berkelebat memasuki kamar ayahnya maka gadis ini tertegun karena kamar itu kosong.

"Di mana ayah.." gadis ini bergerak ke kiri, membuka sebuah pintu kecil namun ayahnya juga tak ada. Dan ketika ia bergerak ke kanan membuka pintu yang lain, pintu yang menuju ke taman maka gadius itu tertegun karena empat saputangan hitam bergelantungan di situ dikisi-kisi bambu di antara tanaman anggrek.

“Milik Suhu….” gadis ini tertegun. Yu Yin tiba-tiba terkejut karena segera dia mengira suhunya baru saja bertemu dengan ayahnya, lupa atau mungkin ketinggalan kedok hitamnya itu. Ia tentu saja mengenal saputangan hitam milik gurunya itu saputangan yang berciri khusus dengan dua lubang membentuk segi tiga di sudut mata. Itulah milik gurunya. Dan kaget tapi bagaimana suhunya sampai sejauh itu memasuki kamar pribadi ayahnya, hal ini menunjukkan keluarbiasaan maka Yu Yin menutup Pintu lagi me loncat keluar. Ia tak menemukan ayahnya dan bingung menentukan di mana ayahnya berada. Dan ketika ia berkelebat dan bertemu lagi dengan temannya, Tang Siu masih berjaga di situ maka Yu Yin menggeleng menyatakan tak berhasil.

“Tak ada, barangkali di tempat kaisar…”

"Kau mau ke sana?"

"Tidak, percuma, Tang Siu. Dan lagi amat berbahaya, terutama untukmu. Di kamar kaisar banyak terdapat jebakan-jebakan rahasia yang tak kukenal. Kalau aku tertangkap tentu tidak apa-apa, tapi kalau kau... ah, tentu bahaya. Tidak, kupikir kita keluar saja, Tang Siu. Aku barangkali ingin membantu Giam Liong melawan guruku itu. Kita kesana!"

"Ayahmu benar-benar tak ada di sini?"

"Kosong, tak apa nanti saja kembali atau waktu yang lain. Mari, sekarang kita keluar, Tang Siu. Tapi tetap hati-hati terhadap serangan-serangan gelap!"

"Baik, mari Yu Yin, aku juga ingin tahu bagaimana Giam Liong menghadapi gurumu!"

Dua gadis itu berkelebat. Yu Yin akhirnya tak mencari lagi ayahnya. Mereka bergerak dan membaur dengan pengawal-pengawal. Untung, karena di luar sedang terjadi kekacauan dengan serbuan Chu-goanswe maka Yu Yin maupun Tang Siu pandai menempatkan diri. Mereka bergerak dan hati-hati sekali memasuki pertempuran. Dan karena mereka sekarang keluar gedung tidak memasukinya, hal yang tidak mencurigakan pengawal maka justeru dua orang ini dapat dengan mudah menyusup di antara pasukan kerajaan.

Tapi begitu mereka masuk begitu pula mereka kaget. Teriakan dan jerit pengawal terdengar di sana-sini, sementara derap pasukan berkuda Chu-goanswe terdengar menyeramkan disertai bentakan-bentakannva yang ramai. Pasukan pejuang adalah pasukan yang bercampur dengan orang-orang persilatan, jadi tentu saja mereka itu memiliki ketrampilan lebih dibanding pasukan kerajaan. Dan karena kaum pejuang bertempur dengan penuh semangat dan gagah berani, karena di sana ada Giam Liong yang menghadapi Kedok Hitam tokoh istana paling lihai maka Pat-jiu Sian-ong yang dikatakan membantu Kedok Hitam ternyata tewas dan roboh.

"Hidup Sin-siauwhiap. Hidup Si Naga Pembunuh. Sikat dua sisanya itu!"

Sorak dan pekik riuh memecah di antara pertempuran itu. Yu Yin dan Tang Siu menoleh namun mereka tertutup ribuan orang, yang sedang mengadu jiwa, terhalang pandangannya. Tapi ketika mereka bertanya apa yang telah terjadi, pusat sorak-sorai itu menarik perhatian maka sekali lagi mereka mendengar kabar tentang tewasnya Pat-jiu Sian-ong.

"Kakek gundul itu roboh. Kepalanya mencelat dibabat Golok Maut. Pemuda itu mengerikan!"

"Bagaimana dengan Kedok Hitam dan temannya?"

"Ah," mereka terdesak. “Hantu Selatan berkali-kali menyelamatkan diri dengan ilmunya menghilang itu!"

"Hm, coba kita ke sana," Yu Yin mendorong dan bergerak dengan susah ribuan pasukan yang memagari istana. "Kita lihat keadaan mereka, Tang Siu. Dan bagaimana dengan Giam Liong!"

"Heii..!" pengawal itu berteriak. "Jangan mencari penyakit, kawan. Mundur dan sebaiknya menjauh!"

Namun dua gadis itu tentu saja mendengus. Mereka tetap maju dan perajurit yang diajak bicara ini bengong. Namun ketika ia memperhatikan dan melihat ujung rambut dibalik topi, tertegun dan kaget maka sadarlah dia bahwa itu kiranya dua pengawal gadungan. Puteri Coa-ongya dan sahabatnya itu.

"Hei... heii... itu mereka. Tangkap! Itu mereka!"

Perajurit yang lain menoleh. "Siapa yang mau ditangkap? Kau menunjuk siapa?”

“Itu... itu gadis baju putih itu dan Coa-socia dia lolos menyamar seperti kita.”

"Hm, kita sedang menghadapi serbuan pemberontak. Nyawa kita sedang terancam. jangan berteriak-teriak dan biarkan saja!"

"Apa?"

"Memangnya kau mampu menangkap dua orang itu? Eh, menyelamatkan sendiri nyawa kita belum mampu, kawan, boro-boro dua gadis itu. Biarkan saja dan nanti dicari. Lihat dan dengar bahwa Si Naga Pembunuh telah membunuh Pat-jiu Sian-ong!"

Perajurit itu sadar. Akhirnya ia pucat karena kata-kata temannva benar. Keadaan sedang kacau, diri sendiri sewaktu-waktu siap terancam maut. Dan mengangguk menghadapi serbuan pemberontak, membalik dan mengurusi diri sendiri akhirnya perajurit ini menganggap benar. Dia akhirnya tak perduli lagi kepada dua pengawal gadungan itu. Suasana sedang kalut dan penuh maut. Dan ketika ia menahan gelombang serbuan lawan sementara Yu Yin dan Tang Siu mendesak maju ke depan, mereka ingin melihat pertandingan di sana maka Giam Liong ternyata benar telah merobohkan dan membunuh Pat-jiu Sian-ong.

Kakek gundul itu orang pertama dari tiga orang ini yang menjadi korban. Giam Liong mainkan Im-kan-to-hoatnya di samping pukulan-pukulan Kim-kang-ciang, pukulan sinar emas yang amat dahsyat tak kalah dengan sambaran Golok Maut itu sendiri. Dan ketika Giam Liong mengeluarkan pula ilmu seratus langkah saktinya, Pek-poh-sin-kun untuk mengejar atau memburu ke manapun tiga lawannya pergi maka menghadapi Pek-poh-sin-kun ini Kedok Hitam maupun Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong terkejut.

Pek-poh-sin-kun, gerak seratus langkah sakti itu benar-benar luar biasa. Ilmu ini membuat kaki Giam Liong bagaikan karet, maju mundur dengan cepat dan loncatan-loncatannya amat mengejutkan. Dan karena Giam Liong juga mampu menggeser-geserkan kakinya dengan langkah-langkah mentakjubkan, ke manapun lawan bergerak ke situ pula ia selalu menempel, Pat-jiu Sian-ong pucat dan berubah mukanya maka kakek gundul ini berseru keras ketika tiba-tiba Giam Liong telah mampu menyusul dan mengejarnya ketika satu pukulannya membuat kakek itu terpental.

"Mampus kau!"

Pat-jiu Sian-ong terbelalak. Ia melihat Kim-kang-ciang dari tangan kiri Giam Liong menyambar, dikelit namun tetap mengejar. Dan ketika kakek itu menangkis namun ia terpelanting, Giam Liong mempergunakan tenaga sinkang warisan kitab di sumur tua maka gerakan Pek-poh-sin-kun membuat pemuda itu tahu-tahu mendekat dan kali ini golok di tangan kanannya bekerja. Gerakan ini tak mungkin dielak dan Pat-jiu Sian-ong ngeri. Ia berteriak pada temannya namun Lam-ciat maupun Kedok Hitam tak sempat menolong. Dua orang ini baru saja juga tergetar oleh tangkisan Giam Liong, apalagi Golok Mautnya itu benar-benar ditakuti lawan karena dapat bergerak tak terduga seperti yang dialami kakek gundul itu. Dan ketika Pat-jiu Sian-ong tak mampu berkelit dan golok menyambar lehernya maka kakek ini tiba-tiba roboh dan kepalanya terlepas dari batang tubuh.

"Crat!"

Golok menjadi hidup bersinar-sinar. Kali ini yang menjadi korban adalah seorang tokoh, bukan perajurit biasa seperti yang tadi dibabat Giam Liong. Dan ketika kakek itu roboh dan tepuk riuh di pihak pemberontak menggetarkan istana, Pat-jiu Sian-ong tewas maka Lam-ciat maupun Kedok Hitam menjadi pucat. Mereka ngeri dan gentar oleh kehebatan pemuda ini. Giam Liong bersimbah peluh namun dadanya yang bidang itu serasa makin kokoh, berkilat-kilat dan tampak begitu jantan. Sungguh mirip seekor banteng!

Dan karena Giam Liong telah membuang bajunya yang robek-robek terbakar panah api, pemuda ini bertelanjang dada mainkan golok dengan gerak langkah Pek-poh-sin-kun itu maka tandangnya benar-benar garang dan siapapun yang coba-coba maju mendekat pasti terkibas dan roboh oleh sinar maut goloknya. Kedok Hitam telah dua kali menyuruh orang-orangnya mengacau entah dengan tombak atau panah mereka. Tapi ketika semua ttu terpental dan malah menyambar Kedok Hitam sendiri, laki-laki ini menyumpah maka dia benar-benar berdua menghadapi pemuda ini. Giam Liong tak kenal lelah dan nafasnya hebat.

Dan karena pemuda itu juga bertanding penuh semangat balas dendam, maka Kedok Hltam dan Hantu Selatan yang termasuk tokoh-tokoh tua harus mengakui daya tahan sendiri yang tak sekuat anak muda itu. Perlahan-lahan Kedok Hitam dikejar napasnya dan Lam-ciat pun memburu. Kakek itu terengah cepat maka mulai gemetaran. Kim-kangnya, Pukulan Emas yang didapat dari sinar bulan purnama tak mampu menghadapi Kim-kang-ciang dan Giam Liong. Meskipun sama-sama bersinar kuning namun pukulan pemuda ini lebih mantap.

Hal itu karena hawa murni pemuda ini jauh lebih baik daripada lawannya, yang memperoleh Kim-kang dengan cara mengumbar birahi. Dan karena Lam-ciat sering terhuyung bahkan terpelanting bertemu pukulan pemuda itu, berkali-kali melemparkan tubuh kalau tak ingin dicium Golok Maut, maka kakek ini akhirnya mulai mundur-mundur dan sedikit tetapi pasti ia mulai menjauhkan diri dari pertempuran.

“Hei..!!” Kedok Hitam membentak tentu saja melihat gelagat temannya yang tak beres. "Jangan menjauhkan diri, Lam ciat. Keparat kau. Bantu aku dan jangan mundur.”

“Hm.." kakek ini terkekeh, menyeringai. “aku tidak mundur, Kedok Hitam, melainkan mencari kesempatan untuk merobohkan bocah ini. Kau biar didepan saja dan aku di belakang.”

“Pengecut” Kedok Hitam marah. “Tak usah macam-macam Lam-ciat. Kau dikanan aku dikiri, tak usah depan belakang. Keluarkan Hoan-eng-sut mu dan robohkan dia!"

Kakek ini menggerundel. Di mulut ia mengangguk namun kenyataannya tetap saja ia memasang jarak. Hoan-eng-sut telah dikeluarkan namun tetap saja gagal. Setiap ia menyambar di belakang maka pemuda itu pasti membalik dan Golok Mautpun menyambut, begitu setiap kali ia menyerang. Dan karena akhirnya ia malah dikejar dan menerima tusukan-tusukan cepat, dengan Pek-poh-sin-kun pemuda itu mampu mengikuti ke manapun ia pergi maka Lam-ciat jerih dan tiba-tiba ia mendapat pukulan di tengkuk, bukan dari Giam Liong melainkan justeru dari Kedok Hitam, rekannya sendiri! Dan ketika kakek itu berteriak dan tentu saja terkejut, terbanting bergulingan maka Lam-ciat marah karena mendapat bentakan, sekaligus juga makian.

"Lam-ciat, jangan macam-macam disini. Jangan bertingkah. Kalau kau tidak mau membantuku maka aku akan membunuhmu!"

"Keparat!" kakek ini memaki, balas melontar marah. "Kau tak usah marah-marah kepadaku kalau tak mampu menandingi pemuda ini, Kedok Hitam. Yang dicari pemuda itu adalah kau juga sebenarnya, bukan aku. Aku enggan apalagi setelah kau bersikap kasar begini, mentang-mentang berkedudukan!"

"Eh, kau tak mau membantu aku? Kau meninggalkan istana?”

“Hm, kupikir cukup sudah bantuanku ini, Kedok Hitam. Tapi urusan pribadimu sebaiknya tak usah kucampuri. Aku tetap membantu istana, dan sebagai buktinya lihat aku menghajar pemberontak-pemberontak itu!"

Lam-ciat tiba-tiba meninggalkan pertempuran, tidak membantu Kedok Hitam melainkan membantu pasukan kerajaan, menghajar dan melepas pukulan-pukulan ke arah pasukan Chu-goan-swe itu. Dan ketika Kedok Hitam harus berhadapan sendiri melawan Giam Liong, pucat dan kaget maka Lam-ciat beterbangan dan terbahak muncul dan lenyap lagi di balik Hoan-eng-sut.

"Ha-ha, lihat ini, Kedok Hitam. Aku tetap membantu istana dan menghajar pemberontak. Lihat... lihat aku membunuh mereka... bres-bress!" kakek itu menggerakkan tangannya ke kiri kanan, melepas atau melancarkan pukulan-pukulan mautnya dan pasukan Chu-goanswe tentu saja berteriak roboh. Mereka terlempar dan jatuh bangun dihajar kakek ini. Dan ketika kakek ini benar-benar tak memperdulikan Kedok Hitam karena lebih senang menghadapi pemberontak, gentar atau jerih menghadapi Giam Liong maka Giam Liong tertawa dingin melihat ketakutan lawannya wajah yang gelisah dan merah pucat berganti-ganti.

“Hm, itulah hadiah untukmu. Orang sesat mendapatkan teman yang jahat, Kedok Hitam. Dan kau sekarang ditinggalkan kawanmu. Bagus, kita sekarang berdua dan lihat aku membunuhmu seperti dulu kau membunuh ayahku. Kaki dan tanganmu akan kupotong-potong. Dan benda jijik yang kau pakai untuk memperkosa ibuku akan kurajang seperti cabai!"

“Arghhh...!” laki-laki ini berteriak menggetarkan dinding tebal. "Kubunuh kau, Giam Liong. Kubunuh kau... siut-siut-serr…” dan belasan hui-to kecil yang tiba-tiba berhamburan dari tangannya mendadak menyambar Giam Liong bagaikan hujan.

Giam Liong terbelalak tapi tidak kaget. Ia telah melihat gerakan tangan yang mencurigakan, yakni ketika tangan itu merogoh kantung baju. Dan ketika dengan langkah-langkah Pek-poh-sin-kunia mengelak dan menggerakkan goloknya pula, mementalkan atau meruntuhkan golok-golok terbang itu maka iapun membalas dan sekali tangan kirinya terayun maka Giam Liong-pun melepas tujuh belas senjata hui-to kearah musuhnya.

"Jangan kira kau saja yang bisa. Akupun dapat ser-serr!"

Tujuh belas golok terbang dibabat golok kutung di tangan Kedok Hitam. Laki-laki itu masih cekatan dan Giam Liong pun kagum, meskipun kemarahannya tentu saja juga bertambah baik. Dan ketika ia mengejar lawannya dan Pek-poh-sin-kun benar-benar membuat lawan terkesiap, Kedok Hitam sudah didekati maka laki-laki itu kembali melepas golok terbangnya dan Giam Liong terpaksa menangkis. Lemparan hui-to ini bukan sembarang lemparan karena dikerahkan dengan tenaga sakti. Cuitan sambarannya mengerikan telinga. Tapi karena Giam Liong berhasil menangkis semuanya itu, golok kecil-kecil itu runtuh dan patah-patah, sebagian menyambar tuannya sendiri maka Kedok Hitam menggeram dan melempar tubuh bergulingan untuk menghindar serangan goloknya ini.

Laki-laki itu mengutuk dan melepas lagi hui-to-hui-tonya, ditangkis dan patah-patah lagi namun untuk yang terakhir ia membentak dan melempar tujuh hui-to beronce, bukan ke arah Giam Liong melainkan ke arah Lam-ciat, yang saat itu tertawa bergelak melihat laki-laki ini didesak Giam Liong. Hantu Selatan menghajar pasukan Chu-goanswe dan perhatiannya masih dilekatkan ke Kedok Hitam. Tokoh-tokoh sesat memang keji. Maka ketika Lam-ciat terkejut karena tujuh golok terbang menyambar ke arahnya, yang sedang enak-enak membabat musuh maka kakek itu berteriak menyelamatkan diri. Hoan-eng-sutnya tak dipakai dan kebetulan disimpan.

Menghadapi para pemberontak ini tak perlu dia takut seperti menghadapi Giam Liong umpamanya. Maka begitu diserang dan tak menduga perbuatan si Kedok Hitam, mengelak tapi tujuh golok berikut menyambarnya lagi, semua berkecepatan kilat dan diluncurkan oleh orang macam laki-laki ini maka Lam-ciat tak sempat mengeluarkan Hoan-eng-sutnya dan kakek itu menjerit ketika sebatang hui-to menancap ditenggorokannya.

Lam-ciat tersentak dan Giam Liong sendiri kaget. Kedok Hitam rupanya mata gelap! Tapi begitu kakek itu sadar dan berteriak dahsyat, pekikannya bagai gorila kesakitan maka hui-to dicabut dan kakek itu melemparkannya lagi ke arah Kedok Hitam, disusul oleh terjangan tubuhnya yang menubruk bagai seekor kerbau jantan.

"Kedok Hitam, kau bangsat keparat. Aughh, berani benar kau menyerang aku..."

Kedok Hitam mendengus, la marah sekali terhadap si Hantu Selatan ini, yang meninggalkannya dan membiarkannya sendirian menghadapi Giam Liong, padahal pemuda itu terlalu lihai dan amat berbahaya. Dan karena kakek itu juga menertawakannya di kala terdesak, tidak membantu melainkan malah mengejek maka ia melepas dua kali tujuh golok terbang berturut-turut. Akibatnya si kakek berteriak dan mendelik. Apa yang dilakukannya ini benar-benar tak disangka, baik oleh kakek itu sendiri maupun oleh Giam Liong, yang sejenak tertegun dan berhenti.

Dan ketika kakek itu menyeruduk dan lemparan hui-tonya dielak ke kiri, luput dan menyambar seorang perajurit maka perajurit itu berteriak, tapi dengan gerak mengagumkan si Kedok Hitam ini mengayunkan kakinya dan serudukan si kakek yang juga luput malah terus didorong dan menumbuk Giam Liong.

"Hm!" Giam Liong mengeluarkan tawa dingin. Akhirnya ia sadar dan tentu saja bergerak. Lam-ciat yang terluka tenggorokannya itu menggeram bagai babi disembelih. Kedok Hitam yang dituju tapi Giam Liong yang malah dihadapi. Kedok Hitam dengan licik menendang pantatnya, mendorong dan kontan kakek itu menubruk si pemuda.

Dan karena Giam Liong tidak mengelak seperti Kedok Hitam itu, melainkan menyambut dan menggerakkan Golok Mautnya maka kakek ini terbeliak melihat kilatan sinar putih panjang. Alih-alih hendak menerjang srigala tak tahunya bertemu harimau. Yang ini lebih ganas. Dan karena tak mungkin lagi kakek itu mengelak dan cara serudukannya justeru seperti seekor kerbau menyerahkan kepala, sinar maut itu memapak gerakannya maka terdengar suara ngorok ditahan ketika kepala kakek itu putus.

"Crat!"

Kakek ini tewas dengan mengerikan. Kepalanya seketika terlempar dan darahpun memuncrat seperti pancuran. Batang tubuh itu tumbang dan sejenak dua belah pihak tertegun. Pasukan kerajaan maupun pasukan pemberontak sama-sama bengong. Tapi begitu kakek itu tewas dan sorak gegap-gempita meledak dari pihak Chu-goanswe, mereka berteriak dan riuh rendah maka lawan pucat mukanya dan Kedok Hitam tiba-tiba melarikan diri.

"Berhenti!" Giam Liong membentak dan melihat gerakan itu. "Selesaikan urusan kita, Kedok Hitam. Jangan lari!"

Kedok Hitam berkeringat dingin. Ia coba menyelinap dan lari dibalik pasukannya namun ternyata Giam Liong melihat. Pemuda itu hanya sekejap dikecoh dengan gerakan Lam-ciat, mata tetap melirik lawan dan akhirnya tahu ketika si kedok Hitam melarikan diri. Dan ketika Giam Liong berkelebat dan Pek-poh-sin-kun nya bekerja dengan cara mengejutkan, melekat dan tak jauh dari lawan, maka Giam Liong mengeluarkan golok-golok terbangnya dan sama seperti lawannya tadi ia menyambit.

“Cit-cit-cit...”

Kedok Hitam tahu bahaya. Tanpa menoleh ia menggerakkan tangannya ke belakang, menangkis dan meruntuhkan senjata-senjata itu. Namun karena Giam Liong tetap mengejar dan belasan hui-to kembali menyibukkan lawan, laki-laki ini pucat dan gentar kakinya ia berlari berbelok-belok dan masuk istana, berteriak kepada pengawl-pengawal agar menyerang atau menghalangi pemuda itu.

"Tahan dia. Serang, bunuh..!"

Namun Giam Liong bergerak dengan Golok mautnya itu. Lawan diterjang dan siapapun cerai-berai. Golok Maut tak banyak bicara dan akibatnya pasukan mundur berteriak-teriak. Mereka terjengkang dan saling dorong-mendorong dengan sesama rekan, gentar menyaksikan golok yang haus darah itu. Dan karena semua menyibak dan Giam Liong tentu saja mudah melakukan pengejaran, tak ada yang berani meng hadang maka laki-laki ini semakin pucat dan ngeri. Semangatnya di ujung rambut.

"Heii, tahan. Tahan dia. Jangan biarkan masuk istana!"

Namun tak ada yang menggubris. Laki-laki itu menyuruh orang menghadang Si Naga Pembunuh sementara dia sendiri lari terbirit-birit, siapa mau dengar! Dan ketika Giam Liong tertawa mengejek dan tetap menempel di belakang, Kedok Hitam menoleh dan pucat seperti kertas maka pemuda itu mengeluarkan seruan, dingin dan serasa membekukan darah.

"Kedok Hitam, sekarang ajalmu tiba. Menyerahlah, dan berhenti!"

Laki-laki ini gemetar. Ia coba mengandalkan pasukan namun tak ada satu pun yang berani, apalagi di situ pasukan Chu-goanswe bersorak dan menerjang pasukannya, kalut dan cerai berai dan semua ini membuat keadaan semakin ramai. Kaum pemberontak girang bukan main karena untuk kesekian kalinya lagi Giam Liong mengejar si Kedok Hitam.

Kini laki-laki ini tidak dapat mengandalkan tenaga istana untuk melindungi dirinya. Lagi pula Pat-jiu sian-ong dan Lam-ciat juga binasa. Dan ketika kemanapun ia lari Giam Liong menempel di belakang, sebatang hui-to akhirnya menancap di pundak laki-laki ini, maka Kedok Hitam mencapai puncak ketakutannya dan menjerit.

“Sri baginda, tolonglah hamba!”

Giam Liong mendengus. Lawan sudah memasuki istana namun ia tetap di belakang. Giam Liong sudah berkali-kali memasuki istana dan membuatnya waspada akan jebakan-jebakan. Cukup kenyang dia akan semuanya itu. Dan ketika benar saja beberapa jebakan dipakai lawan, tapi semuanya itu dapat dihindarkan, jarak dengan Kedok Hitam semakin dekat maka laki-laki ini melengking dan putus asa, keluar lagi dan berkelebat di atas gedung-gedung, keluar kota raja.

"Giam Liong, kau bocah jahanam keparat. Lepaskan aku, harta dan kedudukan akan kuberikan kepadamu!"

“Hm, aku tak butuh semuanya itu. Aku butuh kulit dan dagingmu, Kedok Hitam, juga jantungmu yang hitam itu. Berhentilah, dan lihat aku merajang kulitmu termasuk benda yang kau pakai untuk memperkosa ibuku itu!"

Naga Pembunuh Jilid 30

NAGA PEMBUNUH
JILID 30
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
LAKI-LAKI ini tergetar. Ia pucat dan menggigil di depan kamarnya itu. Sekali lagi mengawasi tempat itu namun benar saja Golok Maut tak ada. Golok itu, senjata itu, benar-benar lenyap tak ada di tempatnya lagi. Ini pasti perbuatan muridnya. Dan ketika geraman pendek terdengar disusul lengkingan panjang, mirip raung atau pekik srigala lapar tiba-tiba lelaki itu membanting Yu Yin.

"Yu Yin, kau bocah keparat. Di mana Golok Maut itu... bruukkk!"

Gadis ini menjerit. Serasa dihantam ribuan gajah Yu Yin melesak dadanya, membal dan untung saja membalik hingga tak ada luka dalam. Sinkangnya masih cukup kuat untuk melindungi. Tapi karena bantingan itu dilakukan gurunya dan waktu itu Kedok Hitam dalam kemarahan besar, bantingan ini tidaklah main-main maka tetap saja gadis itu terhenyak dan untuk sekejap ia tak dapat berkata-kata. Dada yang menimpa lantai amatlah kerasnya. Hampir saja gadis ini pingsan. Namun karena ia masih sadar dan bentakan gurunya yang kedua kali dijawab dengan rintih dan kesakitan maka gadis itu menggeleng.

"Aku... aku tak tahu, suhu. Aku tak membawa golok itu..."

"Bohong! Kau pasti menyimpan. Hayo katakan, atau kugeledah tubuhmu!"

"Aku tak tahu, suhu boleh menggeledah..." belum habis ucapan ini tiba-tiba Kedok Hitam sudah menendang muridnya, disambar dan tangan-tangan kasar langsung menerobos sana-sini. Yu Yin terkejut karena tanpa sungkan-sungkan tangan gurunya itu juga menyelinap dibuah dadanya, meremas dan dicabut lagi untuk mencengkeram atau memeriksa yang lain. Seumur hidup, baru kali ini gadis itu diperlakukan gurunya. Sungguh tidak hormat! Dan ketika ia mengeluh dan sang guru merah padam, marah dan benci menjadi satu maka Kedok Hitam menggigil tak menemukan yang dicari, membanting lagi muridnya.

"Kau... kau harus mengaku. Atau kubunuh!"

"Bunuhlah..." gadis ini bersuara lemah, menangis dan terhina oleh sikap gurunya itu. "Kau boleh bunuh aku, suhu... aku benar-benar tak tahu golok itu. Kaubunuhlahaku...!" "Hm, tidak. Aku tak akan membunuhmu. Kau... kau akan kuperkosa!" "Suhu!" Yu Yin bagai disambar petir. Ia kaget bukan main karena gurunya itu tiba-tiba merobek pakaiannya. Tawa bagai silumangila meremangkan bulu kuduk. Laki-laki itu juga membuang bajunya! Tapi ketika Yu Yin tak kuat dan menjerit tertahan tiba-tiba ia pingsan dan saat itu berkelebat bayangan Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong. "Kedok Hitam, gadis baju putih itu lolos di luar pintu gerbang. Ia terlambat kami tangkap karena pengawal terlambat memberitahu!" "Apa?" "Gadis baju putih itu, sahabat muridmu ini. Dan, eh... apa yang mau kau lakukan!"

Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat terkejut. Mereka melihat laki-laki ini sudah bertelanjang dada sementara gadis cantik itu di lantai. Pakaiannya robek-robek dan sekali lihat tahulah dua orang ini apa yang hendak dilakukan. Lam-ciat, si tokoh sesat tiba-tiba tertawa bergelak. Tokoh yang biasa dengan segala maksiat ini tak merasa ngeri, lain dengan Pat-jiu Sian-ong yang meskipun jahat namun bukanlah orang yang pada dasarnya berwatak keji. Kakek ini sampai membantu si Kedok Hitam adalah karena sakit hatinya kepada Han Han, juga Beng Tan yang menjadi ketua Hek-yan-pang itu. Tapi ketika Lam-ciat terbahak dan Pat-jiu Sian-ong tertegun, Kedok Hitam berubah tiba-tiba laki-laki ini membentak dan tangannya diayun menghantam si Hantu Selatan.

"Lam-ciat, diam kau!"

Si Hantu Selatan mencelat, la menerima pukulan dan matanya mendelik. Kalau bukan karena ia sedang mencari kedudukan dan pahala barangkali ia akan membalas. Tapi karena Kedok Hitam adalah perantara bagi mencari kemuliaan, ia menahan marahnya maka kakek itu mendengus dan membalik, meloncat pergi.

"Kedok Hitam, jangan semena-mena kau. Aku rekanmu bukan musuh. Kalau tidak suka tentu aku pergi!"

"Hm," Pat-jiu Sian-ong juga berkelebat, tak mau mendapat marah. "Aku juga pergi, Kedok Hitam. Sebaiknya beresi dulu musuh-musuh kita dan jangan saling gigit!"

Laki-laki ini merah padam. Ia benar-benar marah tapi juga bingung oleh semuanya itu. Kemarahannya telah membuat marah Lam-ciat pula, yang sebenarnya biasa kalau ia berbuat jahat. Bagi tokoh sesat memperkosa atau mempermainkan wanita bukanlah hal aneh, biarpun yang diperkosa adalah murid sendiri! Tapi begitu ia sadar dan kata-kata Pat-jiu Sian-ong kena di hatinya, ia tak boleh memusuhi teman sendiri maka ia menendang muridnya dan mengunci kamar pribadinya itu, sang murid akan tertawan didalam.

"Pat-jui Sian-ong, kau benar. Tapi Golok Maut hilang!"

"Apa?"

"Golok Maut lenyap. Dan inilah yang membuat aku marah-marah!"

"Hm, kalau begitu mari dicari saja. Gadis itu melarikan diri lewat pintu selatan. Mari kau bantu kami dan barangkali dia yang membawa!"

Kedok Hitam mengangguk. Setelah agak jernih maka dia semakin sadar juga. Kemarahannya terhadap Yu Yin ditahan dan iapun cepat melesat ke selatan. Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong sudah mendahului ke sana. Tapi ketika ia tiba di sana ternyata gadis itu benar-benar telah menghilang.

"Kami tak dapat mengejar. Ia lolos dan meroboh-robohkan kami!"

"Benar, dan ia mengenakan pakaian pengawal. Kami kira pengawal dan teman sendiri!"

"Bodoh, goblok!" Pat-jiu Sian-ong membentak-bentak. "Pengawal atau bukan seharusnya kalian menangkapnya, tikus-tikus busuk. Bukan hanya bengong dan melihat saja ia meroboh-robohkan temanmu!"

"Ia terlalu lihai, kami tak dapat menghalangi..."

"Dasar tikus goblok. Kalau tadi kalian memanggil kami tentu tak mungkin lolos. Sudah, tutup pintu gerbang dan biar kami lihat di luar!" Pat-jiu Sian-ong berjungkir balik, turun dan melayang di luar sana tapi hanya kegelapan malam yang tampak. Lam-ciat dan Kedok Hitam juga berjungkir balik keluar namun gadis yang mereka cari tak ada. Dan karena tak mungkin gadis itu ditemukan lagi maka tiga orang ini kembali sementara Kedok Hitam menggigil dengan muka merah menahan marahnya yang meledak-ledak.

* * * * * * * *

Pagi itu di sebuah batu karang hitam besar. Seorang pemuda, yang khusuk dan tenggelam dalam samadhinya tampak tak bergerak-gerak dari tempat duduknya. Lekuk besar terdapat di permukaan batu itu dan di lekuk inilah pemuda itu meletakkan pantatnya, enak dan tampak pas benar.

Dan ketika ayam jantan berkokok namun pemuda itu tak bergerak juga, tubuhnya tak bergeming dan tegak kaku seperti arca maka orang tentu heran apakah pemuda yang duduk di batu ini masih hidup ataukah tidak. Tak kelihatan gerak dadanya ketika bernapas, tak kelihatan tanda-tanda bahwa dia masih hidup. Tapi kalau orang melihat sinar merah di atas kepalanya, yang bergerak dan membubung perlahan-lehan ke atas maka orang tentu tertegun.

Siapakah pemuda ini? Bukan lain Giam Liong adanya. Seperti kita ketahui, Giam Liong telah diikat janji oleh kekasihnya untuk menunggu di situ. Semalam pemuda ini khusuk bersamadhi namun tengah malam ia terguncang. Sebuah jeritan, lewat suara batin, menghantam dan memecah samadhinya. Ia terlonjak dan membuka mata. Secara batin ia melihat seorang gadis meronta-ronta di sana. Bajunya koyak-koyak sementara seorang lelaki bersapu tangan hitam berdiri dengan wajah beringas. Siap memperkosa. Tapi ketika dua bayangan berkelebat datang dan gadis itu pingsan, laki-laki ini pergi maka gadis itu selamat sementara Giam Liong sendiri bercucuran keringat dingin dan membuka matanya.

Mimpikah dia? Atau kejadian sungguh-sungguh? Dan ketika Giam Liong hampir meloncat turun dan batal samadhinya, gadis yang di sana itu adalah kekasihnya tiba-tiba bayangan ibunya berkelebat dan seorang laki-laki gagah juga muncul di mukanya. Seperti iblis!

"Liong-ji, tak usah takut. Aku dan ayahmu akan membantumu dari jauh. Tugasmu hampir tiba, nak. Ingat pesan ibu dan teruskanlah samadhimu!"

Giam Liong berdiri. Ia terbelalak dan kaget karena ibunya itu tiba-tiba menghilang lagi. Si lelaki gagah, yang tersenyum dan mengangguk kepadanya juga menghilang. Mereka datang dan pergi seperti siluman saja, sungguh pemuda ini kaget. Tapi ketika bau harum bunga menembus hidungnya dan itulah bunga yang dulu ditabur di makam ibunya, Giam Liong tertegun maka dia mendesah dan dua titik air mata tiba-tiba mengalir.

"Ibu, kau menjenguk anakmu? Kau memberi restu?"

Giam Liong menangis. Tiba-tiba ia teringat ibunya itu dan tersedulah pemuda ini. Untuk sejenak ia dilanda kepedihan. Tapi ketika sayup-sayup terdengar irama suling, lembut namun dari kejauhan sana maka tiba-tiba Giam Liong terhibur dan pemuda ini menghapus air matanya. Ia telah bertemu roh ibunya dan ibunya memberi restu. Katanya, tugasnya akan dimulai dan ia menggigit bibir. Memang benar, besok atau paling lambat matahari terbenam ia akan mencari Kedok Hitam. Besok ia akan mengadu jiwa.

Dan ketika suara suling lembut itu meninabobokkannya seakan suara dari surga, Giam Liong dim inta untuk meneruskan samadhinya lagi maka semalam penuh suling itu menghiburnya tak henti-henti. Giam Liong tak terasa mengikuti alunan suling ini dan antara sadar dan tidak ia seakan bertemu seorang laki-laki tua, bercakap dan bertutur kata lembut hingga tak terasa ia terbawa semakin dalam, jauh dan jauh sampai akhirnya mendadak suara suling itu berhenti.

Dan ketika pemuda ini tersentak karena laki-laki tua itu juga menghilang, kokok ayam jantan melengking di pagi itu maka Giam Liong terkejut ketika tiba-tiba warna lembayung jingga menyergap wajahnya. Pagi telah tiba. Dan begitu ia sadar dan kaget membuka mata, bayangan atau wajah ibunya dan yang lain-lain silih berganti maka seorang gadis tahu-tahu berdiri di depannya dan Giam Liong tertegun karena mengira dihampiri seorang dewi!

"Kau yang bernama Giam Liong?" Giam Liong tertegun, tak menjawab. "Hei, kau yang bernama Giam-Liong?"

"Maaf," Giam Liong tiba-tiba menunduk, menyembah. "Ampunkan aku, Dewi. Benar aku yang bernama Giam Liong. Dewi utusan siapakah dan ada perlu apa pagi-pagi begini menengok aku!"

"Hm, aku tak butuh menengokmu. Aku datang karena permintaan seseorang. Bangkitlah, aku Tang Siu, Giam Liong. Datang untuk menyerahkan Golok Maut... singgg!" sebuah sinar tiba-tiba berkeredep, datang menyilaukan mata dan Giam Liong mencelat kaget. Ini bukan dewi, melainkan gadis biasa, manusia biasa! Dan ketika ia terlonjak dan Golok Maut berbinar-binar di depan mukanya, berkeredep maka Giam Liong yang semula seolah berada di alam tak sadar itu seketika masuk dan kembali ke bumi, ke alam sadar.

"Ah, kau...ckau siapa?" Giam Liong tergagap, gadis ini tersenyum demikian cantiknya, meskipun senyum mengejek. "Kau dari mana, nona. Dan bagaimana membawa Golok Mautku!"

"Hm, aku sahabat Yu Yin, kekasihmu. Aku datang karena atas permintaan kekasihmu itu pula. Aku ingin menyerahkan golok ini sesuai amanatnya!"

"Kau... kau sahabat Yu Yin?"

"Benar..."

"Dan bagaimana gadis itu? Kenapa tak datang?"

"Semalam kami berjuang, Giam Liong. Dan kau ternyata enak-enak saja di sini. Huh, laki-laki macam apa ini. Bagaimana kau tak menyelamatkan kekasihmu!"

"Ada apa dengan dia? Di mana ia sekarang?"

"Aku tak tahu keadaannya, tapi yang jelas tentu tak menggembirakan. Semalam kami berjuang dan coba meloloskan diri tapi Yu Yin tak keluar juga. Aku tak tahu apa yang terjadi namun kemungkinan besar ia tertangkap lagi!"

"Tertangkap lagi? Jadi ia sudah tertangkap sebelumnya?"

"Benar.."

"Coba kauceritakan itu. Ah, siapa yang menangkapnya!" Giam Liong menggigil, menyambar dan tak sadar mencengkeram lengan gadis ini. Ia meremas terlalu keras, lawan menjerit. Dan ketika Giam Liong terkejut melepaskan pegangan, Tang Siu marah dan maju setindak maka pemuda itu langsung ditampar.

"Enak saja pegang-pegang lengan orang. Eh, kau mau kurang ajar, ya? Mau main gila! Keparat, kubunuh kau nanti, Giam Liong. Jangan kira aku takut meskipun nama besarmu seperti merobohkan dunia!"

“Maaf... maafkan aku," Giam Liong terhuyung, membiarkan tamparan itu. "Aku kaget dan cemas, nona. Aku tak bermaksud kurang ajar. Maafkan kalau tadi aku membuatmu kesakitan. Aku bukan pemuda hidung belang!"

"Hm, aku juga tahu. Kalau tidak tak mungkin aku ke sini. Tak sudi!" dan ketika Giam Liong membiarkan temannya bersungut-sungut, tadi ia memang terlalu sembrono maka Giam Liong menunduk dan minta gadis itu bicara. Tang Siu hilang marahnya dan setelah sejenak mengamati wajah yang gagah itu gadis ini terharu juga. Ada penderitaan disitu, penderitaan batin. Dan ketika Tang Siu tak mengomel lagi dan menceritakan keadaannya semalam maka ia menutup bahwa Coa-ongya hendak menikahkan puterinya itu dengan putera Cai-ciangkun.

"Untuk menghapus hubungannya dengan mu maka Coa-ongya memaksa puterinya menerima Cai-kongcu. Yu Yin menolak dan tentu saja marah-marah. Tapi karena ia berada ditengah-tengah orang berkepandaian tinggi dan di istana pula maka ia gagal tapi aku coba-coba menolongnya."

"Dan... dan ia ditangkap ayahnya itu?"

"Ayahnya tak perlu ditakuti, Giam Liong, tapi gurunya yang lihai dan jahat itu. Aku khawatir bahwa ia sekarang ditangkap gurunya itu.."

"Sama saja!" bentakan ini membuat Tang Siu terkejut, Giam Liong tiba-tiba berubah bagai seekor harimau ganas, matanya mencorong. "Gurunya atau ayahnya sama saja, Tang Siu. Bedebah Coa-ongya itu. Baik, kucari dan akan kubunuh dia!"

Dan begitu Golok Maut disambar dan Tang Siu terjengkang, Giam Liong menerjangnya maka gadis ini berteriak memaki-maki. Ia kaget dan gusar tapi juga ngeri melihat gerakan Giam Liong. Sekali melompat tahu-tahu telah turun dari batu hitam itu dan meluncur ke kota raja, kesetanan. Giam Liong seolah bayangan dan tepat pemuda itu melengking tiba-tiba dari dalam hutan terdengar teriakan dan panggilan.

Tang Siu menoleh dan terkejutlah gadis itu melihat ratusan orang bergerak dari balik pohon-pohon besar, berkuda, dipimpin seorang laki-laki tinggi besar dengan gendewa di tangan dan orang-orangitu memanggil Giam Liong. Gadis ini tertegun dan terbelalak melihat pasukan berkuda itu, yang bukan lain adalah pasukan Chu-goanswe di mana jenderal di atas kuda hitamnya itu berteriak-teriak memanggil Giam Liong. Tapi karena Giam Liong tak mau menoleh dan sekejap saja pemuda itu lenyap di depan, pasukan ini mengejar dan akhirnya melewati Tang Siu maka Chu-goanswe melambaikan tangannya dan berseru,

"Nona, mari kita gempur kota raja. Kau tentu orangnya yang mengembalikan Golok Maut!"

"Benar!"

Pasukan berkuda itu bersorak. "Mari ikut kami, nona. Bantu Giam-siauw-hiap dan hancurkan kaisar bodoh!"

Tang Siu bergerak. Tiba-tiba ia melayang turun dan mengikuti pasukan berkuda itu, bukan untuk membantu mereka melainkan lebih tepat untuk melihat Yu Yin. Semalam ia telah menunggu namun gadis itu tak muncul juga. Tang Siu khawatir dan akhirnya mencari Giam Liong, ketemu namun Si Naga Pembunuh itu kini terbang ke kota raja untuk mengamuk. Golok berdarah telah berada ditangannya dan tentu tandang pemuda itu bakal hebat bukan main.

Tang Siu telah mendengar cerita Yu Yin tentang pemuda ini, dendam dan kemarahannya yang bertumpuk-tumpuk yang kini meledak dalam satu letusan besar. Pemuda itu bak gunung berapi yang sudah mencapai puncaknya. Terlalu lama perut gunung itu bergolak. Kawah panas bakal menerjang kota raja. Dan ketika Tang Siu berkelebat dan menyusul jenderal di atas kuda hitamnya itu, Chu-goanswe, melesat dan sebentar kemudian sudah melewati anak buah jenderal itu maka pasukan berkuda bersorak kagum dan semua membelalakkan mata, senjata diacung-acungkan ke atas.

"Hei, kejar dia kawan-kawan. Mari balap dia. Wah, ilmu meringankan tubuhnya melampaui kecepatan kuda!"

"Benar, dan kita tersusul. Aih, ia sudah di dekat Chu-goanswe!"

Jenderal ini menoleh. Ia mendengar sorak-sorai pasukannya dan juga keciur angin di belakang kuda. Dan ketika dilihatnya gadis baju putih itu berendeng dan sudah di sampingnya maka jenderal ini kagum menjeletarkan cemeti, gagah perkasa.

"Hei, siapakau, nona. Sahabat dari mana. Aku Chu-goanswe pemimpin pasukan ini!"

“Hm aku Tang Siu, sahabat Yu Yin. Aku sudah dapat menduga kau siapa dan mari berlomba ke kota raja. Yu Yin tertangkap gurunya. Suruh pasukanmu cepat menjalankan kuda dan jangan lambanbbegini”

“Ha..ha ilmu lari cepatmu luar biasa nona, bukan kami yang lamban. Tapi baiklah aku akan menyuruh pasukanku mempercepat larinya. Heiii…” jenderal itu berteriak dan menoleh kebelakang. “Larikan kuda kalian kencang-kencang, pasukan. Kita kejar nona Tang dan bantu Giam-siauwhiap menolong kekasihnya. Hayo, Cepat…”

Tombak dan gagang senjata dipakai memukul pantat kuda. Tang Siu melejit dan kini mendahului kuda tunggan Chu-goanswe, cepat luar biasa hingga tahu-tahu iapun sudah puluhan meter di depan. Dan ketika sang jenderal terbelalak dan kagum bukan main, gembira seorang lihai membantu perjuangannya maka jenderal itupun mengeprak kudanya dan memukul-mukul kedua sisi perut kuda dengan kakinya.

"Hayo... hayo kejar gadis itu. Masa kita kalah!"

Kuda hitam meringkik. Chu-goanswe menyuruh ia mempercepat larinya dan kuda inipun melonjak. Tubuhnya tiba-tiba melesat secepat anak panah dan pasukan tertinggal. Namun karena di sana gadis baju putih itu juga tancap gas dan tak mau dikejar, Chu-goanswe terbelalak dan membentak-bentak maka kuda hitam menderu napasnya disuruh lari kencang. Ia sudah berusaha sekuat-kuatnya namun tetap juga gagal. Jarak yang semula diperpendek tiba-tiba memanjang lagi. Kuda hitam ini mandi keringat. Dan ketika kuda-kuda yang lain juga begitu dan napasnya keluar masuk dengan amat cepat, mereka benar-benar dipacu untuk mengejar Tang Siu maka gadis ini menoleh dan tersenyum, gerbang kota raja mulai tampak.

"Chu-goanswe, kudamu dan semua kuda yang ada di sini tak mungkin menang. Sudahlah, siapkan mereka untuk mendobrak pintu gerbang dan menyerbu masuk. Kita sudah mendekati musuh.... blangg!" Tang Siu terkejut dan menoleh, menghentikan kata-katanya karena pintu gerbang yang dimaksud tiba-tiba roboh. Suaranya menggetarkan bumi dan hiruk-pikuk di depan disusul oleh teriakan atau pekik-pekik ngeri.

Sesosok bayangan bercaping menumbuk daun pintu baja ini hingga tumbang. Palang pintu hancur dan engsel-engselnya copot, luar biasa. Dan ketika bayangan itu bergerak naik turun bagai rajawali menyambar-nyambar, lengkingan atau pekiknya yang dahsyat juga mengguncangkan bumi maka puluhan tubuh terlempar atau mencelat oleh amuknya yang tak terbendung.

"Mana Kedok Hitam, mana musuhku itu. Suruh dia keluar atau kalian kubunuh semua.... crat-crat-cratl" sebelas kepala beterbangan cepat, lepas dari tubuhnya dan itulah Giam Liong yang tak dapat menahan diri lagi. Sudah beberapa hari ini ia menahan-nahan kemarahannya. Sudah beberapa hari ini ia memendam dendam kesumatnya yang menggelegak. Maka begitu sumbu itu disulut dan bom ini meledak, Giam Liong marah mendengar Yu Yin tertangkap, maka mengamuklah dia di pintu gerbang selatan. Pintu baja yang tebal itu ditumbuknya, ambrol dan tentu saja semua panik.

Dan ketika Giam Liong berkelebatan karena dua ribu orang berjaga di sini, ia sengaja mendobrak pintu gerbang agar pasukan Chu-goanswe dapat masuk maka gegerlah pasukan kerajaan karena sepak terjang Giam Liong ini sungguh tak diduga. Biasanya pemuda itu akan naik ke atas tembok yang tinggi, di sini sudah berjaga ratusan orang yang akan menghadapi dan merintanginya, juga jala-jala rahasia yang akan menebar dan menakup dari segala penjuru. Maka ketika pemuda itu justeru masuk dengan mendobrak pintu gerbang, yang roboh dan tak kuat dihantam pundaknya maka yang di atas kecelik dan yang di bawah justeru kelabakan diterjang pemuda ini.

Giam Liong telah tahu panggilan Chu-goanswe tadi namun sengaja tak mau menjawab. Ia akan memberi jalan kepada pasukan Chu-goanswe itu dan hajaran terhadap pasukan kerajaan. Ia akan mengamuk. Pemuda ini telah menjadi banteng ketaton (terluka). Maka begitu ia membuat duaribu pasang mata ternganga oleh ulahnya, pintu gerbang ambruk maka menyerbulah pemuda itu dengan golok di tangan. Giam Liong tak mau lagi bersungkan-sungkan menghabisi lawan, la bergerak bagai rajawali menerkam mangsa, ke mana ia pergi ke situ pula lawan roboh. Dan ketika Golok Maut di tangannya itu dikenal musuh, lawan berteriak-teriak dan pucat maka mereka berlarian dan saling dorong-mendorong dengan kawan-kawan yang ada dibelakang.

"Golok Maut... Golok Maut.... pemuda itu membawa Golok Maut!"

Semua geger. Mereka heran dan kaget bagaimana Golok Maut tiba-tiba ada di tangan pemuda itu, padahal sudah dirampas pembantu Coa-ongya paling lihai, yakni si Kedok Hitam. Dan bahwa pemuda ini masih hidup padahal sudah dikabarkan tewas, mereka mengira ini adalah rohnya yang menuntut balas maka pasukan kerajaan cerai-berai dan mereka hancur sebelum bertanding.

"Berhenti, jangan mundur! Siapa takut menghadapi pemuda itu!"

Delapan perwira, yang membentak dan marah melihat kocar-kacirnya pasukan tiba-tiba muncul menerjang kedepan. Mereka itu tadi di belakang dan menerima kabar, terkejut dan dentum robohnya pintu gerbang sampai di telinga. Betapa hebatnya pintu baja itu roboh dapat dilihat dari duapuluh orang yang tergencet di bawah, tewas dan seketika gepeng dengan bentuk mengerikan. Dan ketika mereka datang dan tak percaya bahwa itu adalah Giam Liong, karena belum matinya pemuda ini memang dirahasiakan maka tertegunlah delapan perwira melihat pemuda itu, juga Golok Mautnya yang berkeredepan menyilaukan mata. Namun mereka terlanjur maju dan tentu saja tak mungkin mundur, apalagi barisan orang kang-ouw juga muncul dari kiri kanan maka delapan perwira ini membentak dan mereka menyerangdengan menusukkan senjata masing-masing.

"Bocah she Sin, kau ternyata masih hidup. Mampuslah, kami datang untuk membunuhmu!"

Giam Liong menoleh sekejap. Dia sendiri menusuk pertahanan lawan dengan sepak terjangnya yang gila. Dua ribu pasukan itu morat-marit dan golok di tangannya benar-benar ditakuti. Luar biasa golok ini. Semakin banyak dia mereguk darah maka semakin mengkilap dan bercahayalah tubuhnya, bak gadis yang baru mandi dan indah berkilau-kilau. Namun karena golok ini adalah senjata pembunuh dan di tangan Giam Liong ia benar-benar merupakan dewa maut maka delapan perwira yang membentak dan menerjang Giam Liong disambut dengus dingin.

Giam Liong tidak mengelak ketika hujan delapan senjata menyambar tubuhnya, dibiarkan dan justeru delapan perwira itu berteriak kaget karena senjata mereka terpental semua. Pedang dan tombak bertemu kekebalan pemuda itu. Dan ketika mereka terkejut namun Giam Liong tak memberi kesempatan ia benar-benar hendak menjadi malaikat maut di situ maka sekali dia membalik sinar putih dari goloknya itu menabas.

"Semua antek Kedok Hitam harus mampus.” Hanya itu saja seruan Giam Liong. Kata-kata pendek ini menyusul gerakan sinar putih golok itu, menabas dan delapan jeritan ngeri tiba-tiba terdengar. Dan ketika delapan batang tubuh roboh bergelimpangan, darah muncrat dari leher yang putus maka Giam Liong telah membunuh delapan perwira ini, tak lebih dari sedetik.

"Ayo maju, siapa yang ingin menyusul!"

Pasukan kerajaan gempar. Saat itu sesosok bayangan putih juga berkelebat masuk, menggerakkan kaki tangannya dan belasan orang roboh berpelantingan pula. Dan ketika di belakang bayangan putih ini berderap pasukan Chu-goanswe, itulah Tang Siu yang disusul barisan pejuang maka sorak-sorai benar-benar meruntuhkan kota raja.

"Serbu! Serang anjing-anjing kaisar. Bunuh mereka...!"

Pagi yang tenang tiba-tiba berubah. Pekik dan kengerian pecah di sana-sini. Giam Liong yang membabat dan terus maju ke depan akhirnya sudah di tengah kota, mengamuk dan siapapun dibabat Golok Mautnya itu. Chu-goanswe menerjang dan mengikuti di belakangnya, menumpang atau melajui jalan yang telah dibuat pemuda ini. Dan karena pasukan jenderal Chu itu juga melakukan pembantaian, pintu gerbang dibobol maka rakyat panik dan lintang-pukang menyembunyikan diri. Rumah-rumah ditutup dan Chu-goanswe berseru agar tak mengganggu penduduk, ini sesuai keinginan Giam Liong yang juga tak ingin menyeret rakyat kecil. Musuh mereka adalah kerajaan, perajurit atau balatentara musuh. Dan karena terhadap musuh inilah Chu-goanswe dan pasukannya mengamuk, Giam Liong membuka jalan darah di depan maka istana gempar karena pemuda itu dikabarkan sudah tak jauh lagi di pusat pemerintahan.

"Naga Pembunuh datang. Naga Pembunuh mengamuk. Lari... lari... ia membawa Golok Maut!"

Pasukan kalang-kabut. Majunya Giam Liong tak dapat dicegah, juga pasukan Chu-goanswe yang terus menerjang dan menyerbu. Kaum pejuang ini bagai angin taufan yang mengamuk, menghantam atau menggilas apa saja yang di depan. Tapi ketika Giam Liong sudah mendekati istana dan Chu-goanswe dan pasukannya bersorak-riuh, gegap menggetarkan istanamaka tiga bayangan berkelebat dan limaribu orang mencegat jalan. Istana dikepung rapat.

"Jangan biarkan pemuda itu masuk. Serang, lepaskan panah-panah berapi!"

Hujan panah berapi tiba-tiba menghambur. Giam Liong, yang menghadapi berlapis penjagaan tebal terbelalak di sini. Ia telah membunuh ratusan orang dan pakaiannyapun penuh darah. Bahkan wajah dan lengan atau kakinya juga penuh bercak-bercak darah segar. Ia tak mirip manusia lagi melainkan iblis, iblis yang haus darah. Dan ketika berulang-ulang ia melengking mencari Kedok Hitam, lawan tak keluar juga maka di depan istana itu ia menghadapi limaribu orang yang mengepung ketat.

Namun pemuda ini tak gentar. Hujan panah dibiarkannya saja, golok bergerak dan terus menyongsong ke depan. Panah patah-patah tapi api yang ada di ujung mengenai bajunya, berkobar dan Giam Liong mengeluarkan pekik dahsyat di mana getaran suaranya membuat pasukan yang ada di depan roboh. Mereka menjerit tak kuasa menahan getaran suara dahsyat itu. Giam Liong mengerahkan Sai-cu Ho-kangnya, ilmu memekik yang membuat gunungpun bisa roboh berguguran. Dan ketika pemuda ini berkelebat kedepan dan memadamkan api yang berkobar di pakaiannya, menyambar dan melemparkan kembali panah-panah berapi ke arah lawan maka lima ribu pasukan berteriak karena ganti terbakar.

"Aduh, pakaianku kena!"

"Tolong, rambutku terbakar..!"

Pasukan menjadi ribut. Alih-alih mau mencelakai Giam Liong tak tahunya mereka sendiri yang berbalik menjadi korban. Ratusan panah disambitkan kembali dan ratusan hujan api menyambar orang-orang itu. Giam Liong tidak hanya melempar lawan-lawannya saja melainkan melontar dahsyat panah-panah berapi ke atap istana. Tenaganya sungguh mengagumkan karena panah-panah berapi itu melesat jauh melewati limaribu orang, jatuh dan menimpa untuk akhirnya membakar istana. Dan ketika kebakaran melanda tempat itu dan istana menjadi ajang permainan api, Giam Liong berbalik mengacaukan mereka maka ribuan orang geger dan bingung karena harus pula menyelamatkan istana, memadamkan api.

"Hei, gedung sebelah barat terbakar. Hei, padamkan itu dan ambil air!"

"Tidak, gedung sebelah kiri juga dimakan api. Lihat, gudang ransum kebakaran!"

"Dan dapur istana juga. Ah, balairung juga kena. Awas.... awas.... jangan lempar panah-panah berapi lagi. Serang pemuda itu dengan tombak atau senjata-senjata panjang!"

Semua gugup. Giam Liong sungguh gagah perkasa di depan ribuan orang itu. Ia berulang-ulang mengebut bajunya kalau tersambar panah-panah api. Tapi karena lawan terus menyerangnya hingga tak mungkin menyelamatkan baju, Giam Liong merobek dan membuang bajunya itu maka sambil bertelanjang dada pemuda ini mengamuk dan menerjang ke depan, sebelumnya ia sudah mencebur ke kolam agar seluruh tubuhnya basah kuyup. Api tak lagi dapat membakar celananya.

"Kedok Hitam, keluarlah kau. Keluar atau nanti kubunuh semua orang-orangmu ini!"

Semua mata terbelalak. Giam Liong bertelanjang dada menerjang ke depan, golok tetap bergerak dan duapuluh orang berteriak ngeri. Mereka terlempar dan tumbang oleh sabetan goloknya yang gilang-gemilang, tak pernah basah oleh darah karena setiap terciprat tentu golok itu sudah menghisapnya kering. Semakin sering semakin bercahaya. Dan karena pemuda itu berulang-ulang memanggil Kedok Hitam dan pasukan di depan roboh tersapu, tak ada satupun yang kuat, akhirnya, tiga bayangan yang tadi bergerak di belakang sekarang tiba-tiba maju.

"Giam Liong, inilah aku. Hentikan sepak terjangmu!"

Giam Liong beringas. Ia membuat mundur limaribu orang itu, seperlima di antaranya sudah luka-luka atau tewas. Dan ketika bentakan itu menyuruh Giam Liong berhenti dan pasukan dipakai menyambut Chu-goanswe maka Kedok Hitam dan Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat sudah berhadapan dengan pemuda yang kesetanan ini.

"Bagus" Giam Liong bagai mendapat makanan segar. "Untung kau datang, Kedok Hitam. Kalau tidak tentu pasukanmu kubantai dan kuhancurkan. Majulah, dan kita selesaikan hutang jiwa ini. Mana Yu Yin!"

"Hm, tak usah kau bertanya tentang dia. Gara-gara bergaul denganmu maka dia menjadi rusak. Terimalah, kau harus menebus dosamu!" Kedok Hitam mengeluarkan sesuatu, juga sebatang golok tapi Giam Liong cepat menangkis. Dan. ketika golok bertemu golok tapi golok di tangan laki-laki itu putus, kutung ujungnya maka Giam Liong tertawa dan berkelebat membalas lawannya itu, menyeramkan.

"Singgg...!"

Golok Penghisap Darah luput. Kedok Hitam tahu diri dan mengelak mundur, dikejar namun Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat bergerak, tentu saja tak membiarkan Giam Liong menyerang temannya. Dan ketika dua pukulan dilepas menghantam Giam Liong, dari kiri dan kanan maka Giam Liong membalik dan membabatkan goloknya itu.

"Wherrr...!"

Dua orang ini tahu bahaya. Lam-ciat langsung mengeluarkan Hoan-eng-sutnya dan langsung menghilang, sementara Pat-jiu Sian-ong melempar tubuh menjauhi sinar maut itu. Golok Maut lagi-lagi mengenai tempat kosong. Tapi ketika Giam Liong sudah mendapat serangan dari Kedok Hitam dan selanjutnya Lam-ciat muncul lagi melepas pukulannya, disusul Pat-jiu Sian-ong yang juga mainkan ilmu silat Dewa Lengan Delapan (Pat-sian Sin-kun) maka Giam Liong bergerak dan berkelebatan mengelak dan membalas. Kedok Hitam mengejar namun ia ganti mengelak kalau Golok Maut bicara, desing atau sambaran angin golok itu cukup merontokkan daun-daundi sekitar.

Dan ketika tiga orang itu sudah mengeroyok sementara pasukan kerajaan bertemu dan bertempur dengan pasukan Chu-goanswe, maka sorak dan bentakan silih berganti meramaikan keadaan. Giam Liong tak mau main-main lagi sementara Chu-goanswe dan pasukannya juga bertempur dengan penuh semangat. Maklumlah, di situ ada Si Naga Pembunuh yang dahsyat, belum lagi gadis baju putih yang tadi juga membantu mereka membobol kepungan. Dan ketika semua ini merupakan modal yang amat besar bagi mereka, limaribu pasukan kerajaan bekerja keras menahan gelombang gempuran maka Tang Siu atau gadis baju putih memisahkan diri dari Giam Liong maupun Chu-goanswe.

Dia hendak mencari Yu Yin dan itulah tujuan satu-satunya. Urusan pertandingan bukanlah urusannya dan biarlah diselesaikan masing-masing pihak. Dan ketika Giam Liong di sana mengamuk dan menghadapi keroyokan lawan, Kedok Hitam juga mulai mengeluarkan senjata-senjata rahasia untuk merobohkan Giam Liong, juga Lam-ciat yang memuntahkan jarum-jarum halus untuk membunuh pemuda ini maka Tang Siu berkelebat dan langsung ke tempat di mana semalam dia berpisah dengan Yu Yin, yakni di kamar pribadi Kedok Hitam di belakang gedung Coa-ongya.

Ternyata semua tempat penuh penjagaan. Hampir di empat sudut penjuru istana penuh perajurit, termasuk di gedung Coa-ongya ini. Dan ketika Tang Siu harus merobohkan dulu seorang pengawal untuk diambil pakaiannya, menyamar sebagai pengawal maka barulah dia agak bebas mendekati gedung Coa-ongya itu. Ia harus berhati-hati dan untung semua mata sedang tegang menyambut musuh, tak melihat gerak-gerik atau curiga kepada pengawal gadungan ini. Dan ketika setapak demi setapak ia berhasil melewati belakang gedung, melompat dan masuk ke pagar kawat berduri maka gadis ini tertegun karena ada belasan pengawal berjaga. Palang pintu kamar tampak tertutup rapat.

"Kasihan Coa-siocia," begitu Tang Siu mendengar sebuah percakapan. "Kalau saja ia tak melawan gurunya tentu tak akan ditawan di dalam. Eh, bagaimana pendapatmu tentang gadis ini, Sam-twako. Apakah belum waktunya diberi makan!"

"Hm, urusan itu ditangani sendiri oleh gurunya. Kita hanya diperintahkan berjaga. Kalau kita melanggar jangan-jangan kita kena damprat!"

"Tapi gadis ini merintih sepanjang malam. Aku iba..."

"Aku juga begitu, tapi bagaimana lagi. Eh, siapa ini, Keng Ke... ada orang suruhan rupanya?" sang pemimpin berhenti bicara.

Tang Siu telah tiba di situ dan kehadirannya yang tiba-tiba amat mengejutkan yang menjaga. Gadis itu mengenakan pakaian pengawal dan disangka pengawal. Tapi begitu Tang Siu mendekat dan semua tertegun, kaget bagaimana ada pengawal datang tanpa diketahui maka Tang Siu berputar dan sekali tumitnya bicara tujuh orangpun terpelanting.

"Aku datang untuk membebaskan puteri Coa-ongya. Kalian semua minggir des-des-dess!"

Yang lain berteriak. Tang Siu telah merobohkan tujuh teman mereka tapi gadis ini juga tak mau membuang tempo. Begitu ia berkelebat dan melihat yang lain mencabut senjata sekonyong-konyong ia membentak, lenyap ke depan dan berturut-turut duabelas orang itu ditendangnya mencelat. Dan ketika semua terlempar dan gadis ini lega, tak satupun yang dapat berdiri maka ia mencabut pedangnya dan sekali bacok palang pintu itu dipatahkannya, pintu ditendang terbuka.

"Yu Yin!"

Tang Siu tertegun. Yu Yin, sahabatnya, terikat di situ. Gadis ini robek-robek pakaiannya dan nyaris telanjang, terisak dan mengguguk ditahan tak mau didengar tangisnya oleh pengawal. Tapi begitu Tang Siu datang dan pintu kamar terbuka, sembilan belas pengawal roboh malang-melintang maka gadis ini menjerit namun tiba-tiba tersedu ketika Tang Siu melompat dan membebaskan ikatannya.

"Tidak... tidak. Aku sudah kotor, Tang Siu. Aku barangkali sudah kotor. Guruku, ia... ia menghinaaku!"

"Menghina bagaimana, apa yang terjadi," gadis ini terkejut, membelalakkan mata. "Gurumu sekarang sudah berhadapan dengan Giam Liong, Yu Yin. Dan mari keluar dari tempat ini. Kita harus menyelamatkan diri!"

"Aku tak mau. Aku ingin bertemu ayah!"

"Hm, untuk apa?" Tang Siu semakin terkejut, temannya ini berteriak-teriak, histeris. "Tempat ini berbahaya, Yu Yin. Kita harus secepatnya keluar.”

“Tidak…tidak. Aku ingin secepatnya menghadap ayah. Aku ingin melaporkan perbuatan guruku yang tidak tahu malu!"

“Apa yang ia lakukan? Kau diapakan?”

“Aku… aku oohhh!" Yu Yin mengguguk. “Aku.. hendak diperkosanya, Tang Siu. Entah sudah atau belum. Aku... aku ingin menghadap ayah. Aku akan melaporkannya.”

Tang Siu terkejut. "Diperkosa?"

Yu Yin tak menjawab. Gadis ini mengguguk dan menubruk temannya dan tiba-tiba menangis sejadinya di situ. Kejadian semalam membuat shock berat dan puteri Coa-ongya ini nyaris pingsan. Ia berkali-kali menerima pukulan batin itu setiap teringat perbuatan gurunya. Betapa dengan enak, dan tak tahu malu memegang-megang semua tubuhnya untuk mencari Golok Maut, padahal tak mungkin golok itu disembunyikan di pakaian dalam. Kalaupun tersembunyi tentu ada bagian-bagian lain yang menonjol, padahal gurunya sudah tahu bahwa ia tak membawa golok itu.

Dan ketika gadis ini terpukul dan menderitas tress berat, perlakuan gurunya sungguh menghina maka Tang Siu tertegun dan hampir tak percaya mendengar ini. Tapi ia melihat pakaian Yu Yin yang robek-robek, terus memandang ke bawah dan gadis Kun-lun ini berdesir melihat celana Yu Yin yang terkuak. Adakah malapetaka itu terjadi? Adakah aib itu benar-benar menimpa temannya? Tapi ketika Tang Siu tak melihat bekas-bekas mencurigakan dan ia agak tenang maka ia memeluk dan gemetar menghibur temannya ini. Tak nyana bahwa Kedok Hitam sungguh keji.

"Yu Yin, kau boleh mencari ayahmu. Tapi apakah hal itu tepat. Bukankah sekarang ini sedang terjadi pertempuran di luar."

"Aku tak perduli. Aku akan melapor kepada ayah! Akan kuberitahukan sepak terjang guruku itu, Tang Siu. Biar ayah memecatnya dan menghukumnya. Suhu sungguh terlalu!"

"Baiklah," gadis ini tak melihat jalan lain. "Aku mengantarmu, Yu Yin. Mari pergi dan kita cari ayahmu itu!"

"Kau ikut?"

“Tentu saja, aku harus menjaga keselamatanmu.”

"Ohh" dan Yu Yin mendekap dan memeluk sahabatnya ini lalu berguncang-guncang mengucap terima kasih. Belum pernah ada seorang sahabat yang demikian hebat pertolongannya. Belum ada seorang sahabat yang siap mempertaruhkan nyawa dan keselamatan diri sendiri untuknya. Dan ketika Yu Yin tersedak dan berulang-ulang mengucap terima kasih, Tang Siu terharu dan mereka saling cium maka Tang siu tak mau lama-lama lagi disitu, mengajak temannya.

“Sudahlah, kita berangkat, Yu Yin. Di luar ada perang dan kerusuhan. Kota raja guncang. Giam Liong mengamuk."

"Baik, terima kasih, Tang Siu. Seumur hidup aku tak akan melupakan budi baikmu ini”

“Ah, itu tak usah dibesar-besarkan. Ayo keluar dan cari ayahmu!" gadis ini tak mau bicara tentang budi, menyendal dan membawa temannya keluar tapi Yu Yin teringat pakaiannya yang robek-robek. Berseru agar perlahan dulu dan menyambar pakaian seorang pengawal, mengenakannya dengan tergesa dan baru melanjutkan perjalanan lagi. Dan ketika mereka masuk keluar gedung itu, menyelidiki kamar-kamar dan beberapa dayang atau pelayan menjerit, roboh ditotok dua orang ini maka Yu Yin sampai pada kamar utama ayahnya, di mana biasanya ayahnya berada.

"Tunggu, kau di luar saja. Aku masuk sendirian!"

Tang Siu mengangguk. Beberapa pengawal yang memergoki mereka juga mereka robohkan. Yu Yin mencari tempat-tempat sepi hingga tak banyak mereka menemui pengawal. Gadis itu tahu tempat itu karena itulah tempat tinggalnya sendiri. Dan ketika Tang Siu berjaga dan waspada di pintu depan, Yu Yin mendorong dan berkelebat memasuki kamar ayahnya maka gadis ini tertegun karena kamar itu kosong.

"Di mana ayah.." gadis ini bergerak ke kiri, membuka sebuah pintu kecil namun ayahnya juga tak ada. Dan ketika ia bergerak ke kanan membuka pintu yang lain, pintu yang menuju ke taman maka gadius itu tertegun karena empat saputangan hitam bergelantungan di situ dikisi-kisi bambu di antara tanaman anggrek.

“Milik Suhu….” gadis ini tertegun. Yu Yin tiba-tiba terkejut karena segera dia mengira suhunya baru saja bertemu dengan ayahnya, lupa atau mungkin ketinggalan kedok hitamnya itu. Ia tentu saja mengenal saputangan hitam milik gurunya itu saputangan yang berciri khusus dengan dua lubang membentuk segi tiga di sudut mata. Itulah milik gurunya. Dan kaget tapi bagaimana suhunya sampai sejauh itu memasuki kamar pribadi ayahnya, hal ini menunjukkan keluarbiasaan maka Yu Yin menutup Pintu lagi me loncat keluar. Ia tak menemukan ayahnya dan bingung menentukan di mana ayahnya berada. Dan ketika ia berkelebat dan bertemu lagi dengan temannya, Tang Siu masih berjaga di situ maka Yu Yin menggeleng menyatakan tak berhasil.

“Tak ada, barangkali di tempat kaisar…”

"Kau mau ke sana?"

"Tidak, percuma, Tang Siu. Dan lagi amat berbahaya, terutama untukmu. Di kamar kaisar banyak terdapat jebakan-jebakan rahasia yang tak kukenal. Kalau aku tertangkap tentu tidak apa-apa, tapi kalau kau... ah, tentu bahaya. Tidak, kupikir kita keluar saja, Tang Siu. Aku barangkali ingin membantu Giam Liong melawan guruku itu. Kita kesana!"

"Ayahmu benar-benar tak ada di sini?"

"Kosong, tak apa nanti saja kembali atau waktu yang lain. Mari, sekarang kita keluar, Tang Siu. Tapi tetap hati-hati terhadap serangan-serangan gelap!"

"Baik, mari Yu Yin, aku juga ingin tahu bagaimana Giam Liong menghadapi gurumu!"

Dua gadis itu berkelebat. Yu Yin akhirnya tak mencari lagi ayahnya. Mereka bergerak dan membaur dengan pengawal-pengawal. Untung, karena di luar sedang terjadi kekacauan dengan serbuan Chu-goanswe maka Yu Yin maupun Tang Siu pandai menempatkan diri. Mereka bergerak dan hati-hati sekali memasuki pertempuran. Dan karena mereka sekarang keluar gedung tidak memasukinya, hal yang tidak mencurigakan pengawal maka justeru dua orang ini dapat dengan mudah menyusup di antara pasukan kerajaan.

Tapi begitu mereka masuk begitu pula mereka kaget. Teriakan dan jerit pengawal terdengar di sana-sini, sementara derap pasukan berkuda Chu-goanswe terdengar menyeramkan disertai bentakan-bentakannva yang ramai. Pasukan pejuang adalah pasukan yang bercampur dengan orang-orang persilatan, jadi tentu saja mereka itu memiliki ketrampilan lebih dibanding pasukan kerajaan. Dan karena kaum pejuang bertempur dengan penuh semangat dan gagah berani, karena di sana ada Giam Liong yang menghadapi Kedok Hitam tokoh istana paling lihai maka Pat-jiu Sian-ong yang dikatakan membantu Kedok Hitam ternyata tewas dan roboh.

"Hidup Sin-siauwhiap. Hidup Si Naga Pembunuh. Sikat dua sisanya itu!"

Sorak dan pekik riuh memecah di antara pertempuran itu. Yu Yin dan Tang Siu menoleh namun mereka tertutup ribuan orang, yang sedang mengadu jiwa, terhalang pandangannya. Tapi ketika mereka bertanya apa yang telah terjadi, pusat sorak-sorai itu menarik perhatian maka sekali lagi mereka mendengar kabar tentang tewasnya Pat-jiu Sian-ong.

"Kakek gundul itu roboh. Kepalanya mencelat dibabat Golok Maut. Pemuda itu mengerikan!"

"Bagaimana dengan Kedok Hitam dan temannya?"

"Ah," mereka terdesak. “Hantu Selatan berkali-kali menyelamatkan diri dengan ilmunya menghilang itu!"

"Hm, coba kita ke sana," Yu Yin mendorong dan bergerak dengan susah ribuan pasukan yang memagari istana. "Kita lihat keadaan mereka, Tang Siu. Dan bagaimana dengan Giam Liong!"

"Heii..!" pengawal itu berteriak. "Jangan mencari penyakit, kawan. Mundur dan sebaiknya menjauh!"

Namun dua gadis itu tentu saja mendengus. Mereka tetap maju dan perajurit yang diajak bicara ini bengong. Namun ketika ia memperhatikan dan melihat ujung rambut dibalik topi, tertegun dan kaget maka sadarlah dia bahwa itu kiranya dua pengawal gadungan. Puteri Coa-ongya dan sahabatnya itu.

"Hei... heii... itu mereka. Tangkap! Itu mereka!"

Perajurit yang lain menoleh. "Siapa yang mau ditangkap? Kau menunjuk siapa?”

“Itu... itu gadis baju putih itu dan Coa-socia dia lolos menyamar seperti kita.”

"Hm, kita sedang menghadapi serbuan pemberontak. Nyawa kita sedang terancam. jangan berteriak-teriak dan biarkan saja!"

"Apa?"

"Memangnya kau mampu menangkap dua orang itu? Eh, menyelamatkan sendiri nyawa kita belum mampu, kawan, boro-boro dua gadis itu. Biarkan saja dan nanti dicari. Lihat dan dengar bahwa Si Naga Pembunuh telah membunuh Pat-jiu Sian-ong!"

Perajurit itu sadar. Akhirnya ia pucat karena kata-kata temannva benar. Keadaan sedang kacau, diri sendiri sewaktu-waktu siap terancam maut. Dan mengangguk menghadapi serbuan pemberontak, membalik dan mengurusi diri sendiri akhirnya perajurit ini menganggap benar. Dia akhirnya tak perduli lagi kepada dua pengawal gadungan itu. Suasana sedang kalut dan penuh maut. Dan ketika ia menahan gelombang serbuan lawan sementara Yu Yin dan Tang Siu mendesak maju ke depan, mereka ingin melihat pertandingan di sana maka Giam Liong ternyata benar telah merobohkan dan membunuh Pat-jiu Sian-ong.

Kakek gundul itu orang pertama dari tiga orang ini yang menjadi korban. Giam Liong mainkan Im-kan-to-hoatnya di samping pukulan-pukulan Kim-kang-ciang, pukulan sinar emas yang amat dahsyat tak kalah dengan sambaran Golok Maut itu sendiri. Dan ketika Giam Liong mengeluarkan pula ilmu seratus langkah saktinya, Pek-poh-sin-kun untuk mengejar atau memburu ke manapun tiga lawannya pergi maka menghadapi Pek-poh-sin-kun ini Kedok Hitam maupun Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong terkejut.

Pek-poh-sin-kun, gerak seratus langkah sakti itu benar-benar luar biasa. Ilmu ini membuat kaki Giam Liong bagaikan karet, maju mundur dengan cepat dan loncatan-loncatannya amat mengejutkan. Dan karena Giam Liong juga mampu menggeser-geserkan kakinya dengan langkah-langkah mentakjubkan, ke manapun lawan bergerak ke situ pula ia selalu menempel, Pat-jiu Sian-ong pucat dan berubah mukanya maka kakek gundul ini berseru keras ketika tiba-tiba Giam Liong telah mampu menyusul dan mengejarnya ketika satu pukulannya membuat kakek itu terpental.

"Mampus kau!"

Pat-jiu Sian-ong terbelalak. Ia melihat Kim-kang-ciang dari tangan kiri Giam Liong menyambar, dikelit namun tetap mengejar. Dan ketika kakek itu menangkis namun ia terpelanting, Giam Liong mempergunakan tenaga sinkang warisan kitab di sumur tua maka gerakan Pek-poh-sin-kun membuat pemuda itu tahu-tahu mendekat dan kali ini golok di tangan kanannya bekerja. Gerakan ini tak mungkin dielak dan Pat-jiu Sian-ong ngeri. Ia berteriak pada temannya namun Lam-ciat maupun Kedok Hitam tak sempat menolong. Dua orang ini baru saja juga tergetar oleh tangkisan Giam Liong, apalagi Golok Mautnya itu benar-benar ditakuti lawan karena dapat bergerak tak terduga seperti yang dialami kakek gundul itu. Dan ketika Pat-jiu Sian-ong tak mampu berkelit dan golok menyambar lehernya maka kakek ini tiba-tiba roboh dan kepalanya terlepas dari batang tubuh.

"Crat!"

Golok menjadi hidup bersinar-sinar. Kali ini yang menjadi korban adalah seorang tokoh, bukan perajurit biasa seperti yang tadi dibabat Giam Liong. Dan ketika kakek itu roboh dan tepuk riuh di pihak pemberontak menggetarkan istana, Pat-jiu Sian-ong tewas maka Lam-ciat maupun Kedok Hitam menjadi pucat. Mereka ngeri dan gentar oleh kehebatan pemuda ini. Giam Liong bersimbah peluh namun dadanya yang bidang itu serasa makin kokoh, berkilat-kilat dan tampak begitu jantan. Sungguh mirip seekor banteng!

Dan karena Giam Liong telah membuang bajunya yang robek-robek terbakar panah api, pemuda ini bertelanjang dada mainkan golok dengan gerak langkah Pek-poh-sin-kun itu maka tandangnya benar-benar garang dan siapapun yang coba-coba maju mendekat pasti terkibas dan roboh oleh sinar maut goloknya. Kedok Hitam telah dua kali menyuruh orang-orangnya mengacau entah dengan tombak atau panah mereka. Tapi ketika semua ttu terpental dan malah menyambar Kedok Hitam sendiri, laki-laki ini menyumpah maka dia benar-benar berdua menghadapi pemuda ini. Giam Liong tak kenal lelah dan nafasnya hebat.

Dan karena pemuda itu juga bertanding penuh semangat balas dendam, maka Kedok Hltam dan Hantu Selatan yang termasuk tokoh-tokoh tua harus mengakui daya tahan sendiri yang tak sekuat anak muda itu. Perlahan-lahan Kedok Hitam dikejar napasnya dan Lam-ciat pun memburu. Kakek itu terengah cepat maka mulai gemetaran. Kim-kangnya, Pukulan Emas yang didapat dari sinar bulan purnama tak mampu menghadapi Kim-kang-ciang dan Giam Liong. Meskipun sama-sama bersinar kuning namun pukulan pemuda ini lebih mantap.

Hal itu karena hawa murni pemuda ini jauh lebih baik daripada lawannya, yang memperoleh Kim-kang dengan cara mengumbar birahi. Dan karena Lam-ciat sering terhuyung bahkan terpelanting bertemu pukulan pemuda itu, berkali-kali melemparkan tubuh kalau tak ingin dicium Golok Maut, maka kakek ini akhirnya mulai mundur-mundur dan sedikit tetapi pasti ia mulai menjauhkan diri dari pertempuran.

“Hei..!!” Kedok Hitam membentak tentu saja melihat gelagat temannya yang tak beres. "Jangan menjauhkan diri, Lam ciat. Keparat kau. Bantu aku dan jangan mundur.”

“Hm.." kakek ini terkekeh, menyeringai. “aku tidak mundur, Kedok Hitam, melainkan mencari kesempatan untuk merobohkan bocah ini. Kau biar didepan saja dan aku di belakang.”

“Pengecut” Kedok Hitam marah. “Tak usah macam-macam Lam-ciat. Kau dikanan aku dikiri, tak usah depan belakang. Keluarkan Hoan-eng-sut mu dan robohkan dia!"

Kakek ini menggerundel. Di mulut ia mengangguk namun kenyataannya tetap saja ia memasang jarak. Hoan-eng-sut telah dikeluarkan namun tetap saja gagal. Setiap ia menyambar di belakang maka pemuda itu pasti membalik dan Golok Mautpun menyambut, begitu setiap kali ia menyerang. Dan karena akhirnya ia malah dikejar dan menerima tusukan-tusukan cepat, dengan Pek-poh-sin-kun pemuda itu mampu mengikuti ke manapun ia pergi maka Lam-ciat jerih dan tiba-tiba ia mendapat pukulan di tengkuk, bukan dari Giam Liong melainkan justeru dari Kedok Hitam, rekannya sendiri! Dan ketika kakek itu berteriak dan tentu saja terkejut, terbanting bergulingan maka Lam-ciat marah karena mendapat bentakan, sekaligus juga makian.

"Lam-ciat, jangan macam-macam disini. Jangan bertingkah. Kalau kau tidak mau membantuku maka aku akan membunuhmu!"

"Keparat!" kakek ini memaki, balas melontar marah. "Kau tak usah marah-marah kepadaku kalau tak mampu menandingi pemuda ini, Kedok Hitam. Yang dicari pemuda itu adalah kau juga sebenarnya, bukan aku. Aku enggan apalagi setelah kau bersikap kasar begini, mentang-mentang berkedudukan!"

"Eh, kau tak mau membantu aku? Kau meninggalkan istana?”

“Hm, kupikir cukup sudah bantuanku ini, Kedok Hitam. Tapi urusan pribadimu sebaiknya tak usah kucampuri. Aku tetap membantu istana, dan sebagai buktinya lihat aku menghajar pemberontak-pemberontak itu!"

Lam-ciat tiba-tiba meninggalkan pertempuran, tidak membantu Kedok Hitam melainkan membantu pasukan kerajaan, menghajar dan melepas pukulan-pukulan ke arah pasukan Chu-goan-swe itu. Dan ketika Kedok Hitam harus berhadapan sendiri melawan Giam Liong, pucat dan kaget maka Lam-ciat beterbangan dan terbahak muncul dan lenyap lagi di balik Hoan-eng-sut.

"Ha-ha, lihat ini, Kedok Hitam. Aku tetap membantu istana dan menghajar pemberontak. Lihat... lihat aku membunuh mereka... bres-bress!" kakek itu menggerakkan tangannya ke kiri kanan, melepas atau melancarkan pukulan-pukulan mautnya dan pasukan Chu-goanswe tentu saja berteriak roboh. Mereka terlempar dan jatuh bangun dihajar kakek ini. Dan ketika kakek ini benar-benar tak memperdulikan Kedok Hitam karena lebih senang menghadapi pemberontak, gentar atau jerih menghadapi Giam Liong maka Giam Liong tertawa dingin melihat ketakutan lawannya wajah yang gelisah dan merah pucat berganti-ganti.

“Hm, itulah hadiah untukmu. Orang sesat mendapatkan teman yang jahat, Kedok Hitam. Dan kau sekarang ditinggalkan kawanmu. Bagus, kita sekarang berdua dan lihat aku membunuhmu seperti dulu kau membunuh ayahku. Kaki dan tanganmu akan kupotong-potong. Dan benda jijik yang kau pakai untuk memperkosa ibuku akan kurajang seperti cabai!"

“Arghhh...!” laki-laki ini berteriak menggetarkan dinding tebal. "Kubunuh kau, Giam Liong. Kubunuh kau... siut-siut-serr…” dan belasan hui-to kecil yang tiba-tiba berhamburan dari tangannya mendadak menyambar Giam Liong bagaikan hujan.

Giam Liong terbelalak tapi tidak kaget. Ia telah melihat gerakan tangan yang mencurigakan, yakni ketika tangan itu merogoh kantung baju. Dan ketika dengan langkah-langkah Pek-poh-sin-kunia mengelak dan menggerakkan goloknya pula, mementalkan atau meruntuhkan golok-golok terbang itu maka iapun membalas dan sekali tangan kirinya terayun maka Giam Liong-pun melepas tujuh belas senjata hui-to kearah musuhnya.

"Jangan kira kau saja yang bisa. Akupun dapat ser-serr!"

Tujuh belas golok terbang dibabat golok kutung di tangan Kedok Hitam. Laki-laki itu masih cekatan dan Giam Liong pun kagum, meskipun kemarahannya tentu saja juga bertambah baik. Dan ketika ia mengejar lawannya dan Pek-poh-sin-kun benar-benar membuat lawan terkesiap, Kedok Hitam sudah didekati maka laki-laki itu kembali melepas golok terbangnya dan Giam Liong terpaksa menangkis. Lemparan hui-to ini bukan sembarang lemparan karena dikerahkan dengan tenaga sakti. Cuitan sambarannya mengerikan telinga. Tapi karena Giam Liong berhasil menangkis semuanya itu, golok kecil-kecil itu runtuh dan patah-patah, sebagian menyambar tuannya sendiri maka Kedok Hitam menggeram dan melempar tubuh bergulingan untuk menghindar serangan goloknya ini.

Laki-laki itu mengutuk dan melepas lagi hui-to-hui-tonya, ditangkis dan patah-patah lagi namun untuk yang terakhir ia membentak dan melempar tujuh hui-to beronce, bukan ke arah Giam Liong melainkan ke arah Lam-ciat, yang saat itu tertawa bergelak melihat laki-laki ini didesak Giam Liong. Hantu Selatan menghajar pasukan Chu-goanswe dan perhatiannya masih dilekatkan ke Kedok Hitam. Tokoh-tokoh sesat memang keji. Maka ketika Lam-ciat terkejut karena tujuh golok terbang menyambar ke arahnya, yang sedang enak-enak membabat musuh maka kakek itu berteriak menyelamatkan diri. Hoan-eng-sutnya tak dipakai dan kebetulan disimpan.

Menghadapi para pemberontak ini tak perlu dia takut seperti menghadapi Giam Liong umpamanya. Maka begitu diserang dan tak menduga perbuatan si Kedok Hitam, mengelak tapi tujuh golok berikut menyambarnya lagi, semua berkecepatan kilat dan diluncurkan oleh orang macam laki-laki ini maka Lam-ciat tak sempat mengeluarkan Hoan-eng-sutnya dan kakek itu menjerit ketika sebatang hui-to menancap ditenggorokannya.

Lam-ciat tersentak dan Giam Liong sendiri kaget. Kedok Hitam rupanya mata gelap! Tapi begitu kakek itu sadar dan berteriak dahsyat, pekikannya bagai gorila kesakitan maka hui-to dicabut dan kakek itu melemparkannya lagi ke arah Kedok Hitam, disusul oleh terjangan tubuhnya yang menubruk bagai seekor kerbau jantan.

"Kedok Hitam, kau bangsat keparat. Aughh, berani benar kau menyerang aku..."

Kedok Hitam mendengus, la marah sekali terhadap si Hantu Selatan ini, yang meninggalkannya dan membiarkannya sendirian menghadapi Giam Liong, padahal pemuda itu terlalu lihai dan amat berbahaya. Dan karena kakek itu juga menertawakannya di kala terdesak, tidak membantu melainkan malah mengejek maka ia melepas dua kali tujuh golok terbang berturut-turut. Akibatnya si kakek berteriak dan mendelik. Apa yang dilakukannya ini benar-benar tak disangka, baik oleh kakek itu sendiri maupun oleh Giam Liong, yang sejenak tertegun dan berhenti.

Dan ketika kakek itu menyeruduk dan lemparan hui-tonya dielak ke kiri, luput dan menyambar seorang perajurit maka perajurit itu berteriak, tapi dengan gerak mengagumkan si Kedok Hitam ini mengayunkan kakinya dan serudukan si kakek yang juga luput malah terus didorong dan menumbuk Giam Liong.

"Hm!" Giam Liong mengeluarkan tawa dingin. Akhirnya ia sadar dan tentu saja bergerak. Lam-ciat yang terluka tenggorokannya itu menggeram bagai babi disembelih. Kedok Hitam yang dituju tapi Giam Liong yang malah dihadapi. Kedok Hitam dengan licik menendang pantatnya, mendorong dan kontan kakek itu menubruk si pemuda.

Dan karena Giam Liong tidak mengelak seperti Kedok Hitam itu, melainkan menyambut dan menggerakkan Golok Mautnya maka kakek ini terbeliak melihat kilatan sinar putih panjang. Alih-alih hendak menerjang srigala tak tahunya bertemu harimau. Yang ini lebih ganas. Dan karena tak mungkin lagi kakek itu mengelak dan cara serudukannya justeru seperti seekor kerbau menyerahkan kepala, sinar maut itu memapak gerakannya maka terdengar suara ngorok ditahan ketika kepala kakek itu putus.

"Crat!"

Kakek ini tewas dengan mengerikan. Kepalanya seketika terlempar dan darahpun memuncrat seperti pancuran. Batang tubuh itu tumbang dan sejenak dua belah pihak tertegun. Pasukan kerajaan maupun pasukan pemberontak sama-sama bengong. Tapi begitu kakek itu tewas dan sorak gegap-gempita meledak dari pihak Chu-goanswe, mereka berteriak dan riuh rendah maka lawan pucat mukanya dan Kedok Hitam tiba-tiba melarikan diri.

"Berhenti!" Giam Liong membentak dan melihat gerakan itu. "Selesaikan urusan kita, Kedok Hitam. Jangan lari!"

Kedok Hitam berkeringat dingin. Ia coba menyelinap dan lari dibalik pasukannya namun ternyata Giam Liong melihat. Pemuda itu hanya sekejap dikecoh dengan gerakan Lam-ciat, mata tetap melirik lawan dan akhirnya tahu ketika si kedok Hitam melarikan diri. Dan ketika Giam Liong berkelebat dan Pek-poh-sin-kun nya bekerja dengan cara mengejutkan, melekat dan tak jauh dari lawan, maka Giam Liong mengeluarkan golok-golok terbangnya dan sama seperti lawannya tadi ia menyambit.

“Cit-cit-cit...”

Kedok Hitam tahu bahaya. Tanpa menoleh ia menggerakkan tangannya ke belakang, menangkis dan meruntuhkan senjata-senjata itu. Namun karena Giam Liong tetap mengejar dan belasan hui-to kembali menyibukkan lawan, laki-laki ini pucat dan gentar kakinya ia berlari berbelok-belok dan masuk istana, berteriak kepada pengawl-pengawal agar menyerang atau menghalangi pemuda itu.

"Tahan dia. Serang, bunuh..!"

Namun Giam Liong bergerak dengan Golok mautnya itu. Lawan diterjang dan siapapun cerai-berai. Golok Maut tak banyak bicara dan akibatnya pasukan mundur berteriak-teriak. Mereka terjengkang dan saling dorong-mendorong dengan sesama rekan, gentar menyaksikan golok yang haus darah itu. Dan karena semua menyibak dan Giam Liong tentu saja mudah melakukan pengejaran, tak ada yang berani meng hadang maka laki-laki ini semakin pucat dan ngeri. Semangatnya di ujung rambut.

"Heii, tahan. Tahan dia. Jangan biarkan masuk istana!"

Namun tak ada yang menggubris. Laki-laki itu menyuruh orang menghadang Si Naga Pembunuh sementara dia sendiri lari terbirit-birit, siapa mau dengar! Dan ketika Giam Liong tertawa mengejek dan tetap menempel di belakang, Kedok Hitam menoleh dan pucat seperti kertas maka pemuda itu mengeluarkan seruan, dingin dan serasa membekukan darah.

"Kedok Hitam, sekarang ajalmu tiba. Menyerahlah, dan berhenti!"

Laki-laki ini gemetar. Ia coba mengandalkan pasukan namun tak ada satu pun yang berani, apalagi di situ pasukan Chu-goanswe bersorak dan menerjang pasukannya, kalut dan cerai berai dan semua ini membuat keadaan semakin ramai. Kaum pemberontak girang bukan main karena untuk kesekian kalinya lagi Giam Liong mengejar si Kedok Hitam.

Kini laki-laki ini tidak dapat mengandalkan tenaga istana untuk melindungi dirinya. Lagi pula Pat-jiu sian-ong dan Lam-ciat juga binasa. Dan ketika kemanapun ia lari Giam Liong menempel di belakang, sebatang hui-to akhirnya menancap di pundak laki-laki ini, maka Kedok Hitam mencapai puncak ketakutannya dan menjerit.

“Sri baginda, tolonglah hamba!”

Giam Liong mendengus. Lawan sudah memasuki istana namun ia tetap di belakang. Giam Liong sudah berkali-kali memasuki istana dan membuatnya waspada akan jebakan-jebakan. Cukup kenyang dia akan semuanya itu. Dan ketika benar saja beberapa jebakan dipakai lawan, tapi semuanya itu dapat dihindarkan, jarak dengan Kedok Hitam semakin dekat maka laki-laki ini melengking dan putus asa, keluar lagi dan berkelebat di atas gedung-gedung, keluar kota raja.

"Giam Liong, kau bocah jahanam keparat. Lepaskan aku, harta dan kedudukan akan kuberikan kepadamu!"

“Hm, aku tak butuh semuanya itu. Aku butuh kulit dan dagingmu, Kedok Hitam, juga jantungmu yang hitam itu. Berhentilah, dan lihat aku merajang kulitmu termasuk benda yang kau pakai untuk memperkosa ibuku itu!"