NAGA PEMBUNUH
JILID 26
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"APA itu!"' Gadis ini pucat. Ia tak seketika menjawab karena masih tertegun oleh bayangan gurunya di atas tadi. Gurunya muncul tapi sudah menutup kembali lubang sumur. Dan ketika ia terpekik karena Giam Liong mencengkeram pundaknya, keras dan seperti meremukkan tulang barulah gadis itu sadar akan pertanyaan Giam Liong.

"Semprotan belerang merah?"

"Belerang merah? Apa itu?"

"Oohh..!" gadis ini menangis. "Kita berdua akan celaka disini, Giam Liong. Kita berdua akan menyedot racun belerang merah. Kita akan pingsan!"

Giam Liong berubah. Tiba-tiba bau keras yang menyengat tajam tahu-tahu menusuk hidungnya, ia terbatuk dan Yu Yin pun di situ sudah berbersin-bersin. Gadis ini mengeluh dan terhuyung limbung. Dan ketika Giam Liong cepat menutup jalan pernapasannya dan seketika maklum bahwa itu belerang memabokkan, desisan semakin keras dan ruangan itu tiba-tiba sudah penuh oleh asap belerang maka Yu Yin roboh namun Giam Liong cepat menangkap gadis ini, roboh pula,terduduk.

"Bluk"

Giam Liong merasa pusing. Ia hampir kehilangan kesadarannya ketika tiba-tiba dengan cepat ia mematikan jalan pernapasannya. Semacam "ilmu bunuh diri", memencet nadi pergelangan dan menghentikan kerjanya jantung sudah dilakukan pemuda ini. Giam Liong mempergunakan ilmunya yang disebut Nui-kang, ilmu yang membuat tulang dan tubuhnya lemas seperti mati semu. Dan ketika pemuda itu roboh dan ia benar-benar tidak bernapas lagi, Giam Liong maklum akan ancaman bahaya maka pemuda ini mencengkeram temannya dan siapapun tak bakalan lagi dapat memisahkan dirinya dari Yu Yin. Pemuda itu telah lekat menjadi satu dengan puteri Coa-ongya ini!

"Keparat!" sebuah suara terdengar dari sisi dinding.

Giam Liong sudah tak ingat apa-apa lagi ketika dirinya roboh. Ruangan itu telah penuh asap dan iapun terguling. Dan ketika bentakan terdengar dari luar dan desis atau semprotan asap belerang itu seketika berhenti, sebuah pintu terkuak dari bawah sumur maka seseorang meloncat dan Giam Liong maupun Yu Yin disambar dibawa keluar. Giam Liong tak tahu apa yang selanjutnya terjadi tapi apa yang dia lakukan terhadap Yu Yin membuat orang itu menyumpah-nyumpah. Tubuh pemuda ini lekat dengan Yu Yin, tak dapat dipisahkan. Dan ketika sumpah atau kutuk dilepas berhamburan maka Giam Liong dibawa meloncat dan sekali orang itu menendang maka pintu bawah sumur pun menutup.

* * * * * * * *

"Bedebah, terkutuk!"

Giam Liong samar-samar mendengar sumpah serapah atau maki-makian ini. Ia masih merasa pusing dan berputaran oleh pengaruh asap belerang yang berat. Ia juga masih mempergunakan ilmunya mati semu namun perlahan-lahan otaknya bekerja. Ia tidak lagi di sumur gelap yang pengap dan penuh asap bius melainkan sudah di udara terbuka, bersih dan segar. Dan karena asap belerang tidak memenuhi paru-parunya karena sebelum mati semu ia telah ‘membunuh" jalan pernapasannya sendiri, Giam Liong tergolek dan lemas bagai tak bertenaga maka Yu Yin yang lekat di tubuhnya dan terhisap menjadi satu akhirnya diguyur air dingin dan disadarkan oleh orang yang membawa dua muda-mudi ini, yang bukan lain Kedok Hitam sendiri.

"Jahanam, bedebah terkutuk!"

Giam Liong lagi-lagi mendengar seruan atau maki-makian itu, Yu Yin bergerak dan mulai sadar di atas tubuhnya.

"Kau tak dapat kulepaskan, Yu Yin. Tubuhmu menjadi satu dengan pemuda ini. Keparat, apa yang terjadi!"

Yu Yin, yang bergerak dan membuka matanya tiba-tiba tersedu. Ia telah ditotok dan disadarkan gurunya, teringat akan apa yang terjadi dan gadis itu terkejut karena ia berada di atas tubuh Giam Liong, sementara pemuda itu tidak bergerak-gerak bagaikan orang mati. Dan ketika gurunya berdiri dan terbelalak memandang gadis ini, membetot atau menarik namun tetap saja tubuh gadis itu tak dapat dipisahkan dengan Giam Liong maka Yu Yin menjerit dan justeru merangkul erat-erat kekasihnya ini.

"Tidak... tidak!" gadis itu bagaikan gila. "Apa yang kau lakukan kepadanya, suhu. Apakah kau telah membunuhnya!"

"Hm, aku memang akan membunuhnya,tapi dia sudah mati. Bocah ini sudah tidak berdenyut jantungnya lagi ketika kuangkat dari dasar sumur.”

"Bohong!" Yu Yin berteriak. "Kau membunuhnya, suhu. Kau membinasakan kekasihku. Kau kejam!"

"Apa?" sang guru terkejut. "Kekasihmu? Kau...?"

"Benar!" Yu Yin membalik, tapi tubuh Giam Liong ikut terangkat. "Dia kekasihku suhu. Dia calon suamiku. Kau kejam telah membunuhnya.... plak!" gadis ini menjerit menghentikan teriakannya, ditampar dan sang guru marah bukan mai karena gadis itu berani memaki-makinya.

Yu Yin berteriak-teriak dan membuat ruangan itu gaduh. Mereka berada di sebuah kamar besar di mana dua bayangan tiba-tiba berkelebat dan muncul. Dan ketika kakek berkepala gundul dan Lam-ciat hadir di situ, dua orang ini tertegun namun tersenyum-senyum maka Lam-ciat terkekeh melihat Kedok Hitam dimusuhi muridnya.

"Ha-ha, guru dilawan murid. Eh, aku jadi terkejut melihat muridmu berteriak-teriak, Kedok Hitam. Kukira ada bahaya tapi ternyata tidak. Bagus, bagaimana dengan bocah itu. Apakah muridmu masih tetap tak dapat dipisahkan darinya!"

"Kalian keluar saja," Kedok Hitam merah padam. "Aku berurusan dengan muridku ini, Lam-ciat. Jaga pintu gerbang kalau Chu-goanswe dan para pemberontak itu datang. Di sini tak ada apa-apa!"

"Bagus, kalau begitu aku pergi lagi!" dan Lam-ciat yang menghilang disusul si kakek gundul, yang bukan lain Pat-jiu Sian-ong adanya maka Kedok Hitam sudah menghadapi muridnya lagi dan tampak betapa laki-laki itu gusar.

"Yu Yin," bentakan atau geram ini tak dapat disembunyikan. "Kau gila berhubungan asmara dengan pemuda ini? Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa bocah itu adalah pemberontak? Kau mau membuat malu aku dan ayahmu?"

"Aku tidak perduli. Aku mencintainya, suhu. Giam Liong adalah calon suamiku. Ia milikku, tapi kau telah membunuhnya!"

"Hm, aku tidak membunuhnya. Tapi aku pasti akan membunuhnya kalau ia masih hidup. Bocah ini aneh bagaimana bisa mati hanya karena asap belerang merah. Dan kau lengket pula di tubuhnya. Ayahmu bisa mati berdiri kalau melihat keadaan puterinya seperti ini. Kau memalukan!"

"Aku tidak perduli! Aku tidak tahu apa yang terjadi, suhu. Tapi aku senang lengket dengan Giam Liong. Mati hidup aku ingin tetap bersamanya!"

"Gila, kau tidak waras. Aku sebagai gurumu harus mencegah ini dan kau akan kupisahkan!"

Yu Yin menjerit. Gurunya, Kedok Hitam, tiba-tiba mencabut sesuatu dan sinar terang menyilaukan mata. Itulah Golok Maut dan gadis ini terpekik karena Golok Maut tahu-tahu telah berada di tangan gurunya, tentu ketika Giam Liong roboh di dasar sumur itu, merampasnya. Dan ketika laki-laki itu tertawa dingin dan Yu Yin pucat mukanya, golok menyambar dan membacok lengan Giam Liong maka gadis ini berlaku nekat dan tahu-tahu iapun menggulingkan tubuh melindungi tubuh Giam Liong itu.

"Crat!"

Golok Maut menghajar lantai karena Kedok Hitam berseru tertahan dan menyelewengkan goloknya ke kiri. Golok itu sudah siap menabas putus lengan Giam Liong yang erat menempel di perut gadis ini. Kedok Hitam akan membacoknya putus agar muridnya terbebas dari hisapan atau sedotan aneh yang keluar dari tubuh Giam Liong. Tapi karena muridnya berguling dan golok berganti menyambar muridnya itu, Yu Yin nekat dan memberikan tubuhnya maka Kedok Hitam mengeluarkan keringat dingin dan murid yang hampir celaka itu dibentak.

"Yu Yin, kau gila. Kau tidak waras!"

"Biar," gadis itu sesenggukan, menangis. "Aku tidak perduli gila atau tidak gila, suhu. Kalau kau mau mengganggu mayatnya maka akupun akan melawanmu dan membelanya mati-matian. Kau kejam. Kau tidak berperasaan. Sudah matipun masih juga hendak kau cincang!"

"Aku akan melepaskan tubuhmu."

"Aku tak mau dilepas! Aku ingin tetap bersamanya, suhu, mati atau hidup. Aku tak mau dipisahkan!"

"Dengan lengket seperti itu? Saling tindih dan tidak tahu malu?"

"Aku tak tahu apa yang menyebabkan tubuhku lengket, suhu. Tapi lengket atau tidak hatiku sudah tertambat olehnya. Giam Liong calon suamiku. Ia milikku?"

Kedok Hitam merah padam. Sang murid yang berteriak-teriak dan bersiteguh seperti itu benar-benar membuatnya marah. Tapi karena ia maklum bahwa muridnya selalu akan melawan, gigih dan keras kepala maka ia terpaksa mengalah, menahan marah.

"Yu Yin, kau tak tahu malu, tak tahu diri. Aku akan melaporkan ini kepada ayahmu."

"Laporkanlah. Justeru aku ingin bertemu ayah, suhu. Laporkan dan suruh ia ke mari!"

Kedok Hitam membanting kaki. Ia kesal dan apa boleh buat harus melaksanakan ancamannya. Laki-laki itu berkelebat dan tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki tua penuh wibawa. Dan ketika Yu Yin melihat laki-laki itu namun laki-laki ini mengerutkan kening, mukanya gelap maka gadis itu kena dampratan.

"Yu Yin, gurumu menceritakannya kepadaku. Bagaimana kau puteri seorang pangeran jatuh cinta kepada pemberontak!"

"Ayah...!" gadis itu tersedu-sedu. "Bagaimana kau malah memusuhi aku seperti suhu? Giam Liong diperlakukan kejam, ayah. Sudah menjadi mayatpun ia hendak dipotong. Tolonglah aku dan biarkan aku pergi dengan pemuda ini. Aku akan merawat jenasahnya!"

"Hm!" Coa-ongya, laki-laki ini, menggeleng, mukanya keruh. "Kau tak dapat pergi bersama mayat pemuda ini, Yu Yin. Tak baik dan tak pantas dipandang orang bahwa kau membawa-bawa mayat pemberontak. Mayat itu harus dibuang, dilempar keluar pintu gerbang. Itu pekerjaan pengawal!"

"Tidak... tidak!" gadis itu berteriak. "Giam Liong kekasihku, ayah. Giam Liong punyaku. Mati hidup akulah yang berhak!"

"Kau mau membuat malu ayahmu? Kau tidak punya otak untuk lengket dan ke mana-mana bersama pemberontak? Giam Liong sudah mati, Yu Yin. Kalau kau mau dengar nasihat ayahmu maka biarlah jenasah pemuda ini kau serahkan kepada gurumu. Atau, kalau kau ragu, boleh berikan kepada pengawal dan kau tinggal di sini, tak usah kemana-mana."

"Tapi aku tak mau dipisahkan. Mayat pemuda ini tak boleh dibacok!"

"Lalu bagaimana kau bisa pisah? Masa ke mana-mana harus membawa mayat?"

"Aku tak perduli, ayah. Tapi ini justeru menunjukkan cinta Giam Liong kepadaku. Lihat, sudah matipun ia tak mau lepas dari aku. Aku ingin bersamanya dan kalau perlu menyusulnya ke alam baka!"

"Yu Yin!”

Gadis itu tersedu-sedu. Ia mengguguk dan menangis keras ketika ayahnya membentaknya. Dewi cinta telah membelenggunya sedemikian erat hingga tak mungkin ia melepaskan Giam Liong, biarpun pemuda itu telah menjadi mayat. Dan teringat bahwa gurunya hendak membacok pemuda itu, menyakiti padahal sudah menjadi mayat maka gadis ini tak mau melepaskan dan ia bertekad biarlah pemuda itu tetap bersamanya. Sampai membusukpun!

"Aku tak mau kekasihku dilukai. Aku tak mau ia dirusak. Kalau mayat ini hendak dikuburkan biarlah aku yang menguburkannya, ayah, bukan suhu atau orang lain. Bebaskan aku dan biarkan aku pergi!"

"Kau tak dapat pergi dengan mayat pemberontak!" sang ayah gusar. "Kau harus tunduk kata-kataku, Yu Yin. Atau aku melemparmu ke lubang sumur.”

“Lemparlah, buanglah!" gadis itu tersedu-sedu, berteriak. "Kau selamanya tak pernah menyayang aku, ayah. Kau selamanya tak pernah menyenangkan aku. Bunuhlah aku dan lempar aku ke lubang sumur!"

Coa-ongya tertegun. Ditantang dan dibentak-bentak puterinya tiba-tiba iapun menarik napas dalam-dalam. Kalau sudah begini maka jalan kekerasan benar-benar terpampang di depan mata. Ia tak akan mampu membujuk puterinya. Maka sadar dan tertawa pahit, membungkuk, tiba-tiba lelaki tua ini menepuk pundak puterinya, air mata berkaca-kaca.

"Yu Yin, kau salah kalau menganggap ayahmu tak pernah sayang kepadamu. Kau salah kalau mengatakan aku tak pernah menyenangkan dirimu. Bukankah tinggal dan hidup mewah di istana adalah upaya diriku menyenangkan anakku satu-satunya? Kau mengingatkan aku akan ibumu, nak. Kau keras dan tak dapat ditekuk seperti mendiang ibumu. Dan kau juga menyusahkan aku seperti ibumu!"

Coa-Ongya tiba-tiba menangis, bercucuran air mata dan puterinya itu ganti tertegun. Selama hidup belum pernah gadis ini melihat ayahnya menangis. Yang ada ialah wajah kaku dan keras, dingin. Maka begitu melihat ayahnya menangis dan ayahnya itu tiba-tiba menutupi muka, tersedu, mendadak gadis ini menghentikan tangisnya sendiri dan la pun tiba-tiba gemetar memeluk ayahnya itu. Betapapun perasaan seorang anak tiba-tiba kambuh. Haru dan kasih sayangnya muncul.

"Ayah, kau... kau menangis?"

"Bagaimana tidak?" sang ayah mengguguk, pundak berguncang. "Kau mempertaruhkan muka ayahmu, Yu Yin. Kau menusuk-nusuk perasaanku. Apa kata orang dan sri baginda kalau tahu kau begini tergila-gila kepada Giam Liong. Bagaimana kedudukan ayahmu nanti kalau diketahui puterinya menjalin cinta dengan pemberontak."

"Maafkan aku," sang anak terisak, tak tahu betapa diam-diam tangan ayahnya bergerak ke perut Giam Liong, tangan yang kaku dan tiba-tiba seperti baja! "Aku dapat memaklumi perasaanmu, ayah. Tapi aku juga tak dapat membuang cinta yang ada di hati ini. Giam Liong.... Giam Liong telah menjadi pemuda pertama yang menjamah tubuhku. Ia calon suamiku!"

"Apa? Maksudmu...?"

"Tidak... tidak!" sang anak menggeleng, muka merah dan seketika jengah. "Aku tidak maksudkan ke situ, ayah. Aku masih utuh dan Giam Liong tidak melakukan itu. Tapi... tapi ia menyedot pahaku ketika harus mengobati panah beracun. Kami kami sudah bersatu hati!"

"Hm!" laki-laki tua itu lega, tersenyum. "Kalau begitu bukan malapetaka, anakku. Dan kau sekarang harus bebas darinya!"

"Maksud ayah?"

Yu Yin menjerit. Tiba-tiba tanpa ia ketahui jari-jari ayahnya itu sudah mencengkeram perut Giam Liong. Tangan yang sudah mendekat dan tegang bagai jari-jari baja ini mendadak merobek. Dan ketika Yu Yin mendengar suara memberebet dan tentu saja ia kaget, ayahnya mencengkeram perut kekasihnya maka Yu Yin menampar dan sang ayah terpelanting ketika harus menerima pukulan.

"Bret-plak!"

Ayah dan anak sama-sama tertegun. Coa-ongya yang terbelalak dan kaget bahwa ia tak mampu merobek perut Giam Liong, hanya bajunya karena perut "mayat" itu liat tak dapat ditembus tiba-tiba juga harus menghadapi kemarahan puterinya yang baru saja tahu bahwa sang ayah hendak mencelakai Giam Liong. Yu Yin memang tidak tahu akan maksud atau tindakan ayahnya itu ketika diam-diam mengerahkan sinkang, mencengkeram dan bermaksud melepaskan tubuh puterinya dari mayat Giam Liong. Dan ketika ia gagal dan kini justeru puterinya marah besar, Giam Liong hendak dirusak mayatnya maka gadis itu mendelik dan seketika cinta atau kasih sayangnya lenyap, terganti benci dan gusar!

"Ayah, kau... kau mau merusak mayat Giam Liong? Kau juga hendak seperti suhu yang tidak tahu malu berbuat curang? Kau... dari mana kau berlatih sinkang?"

"Hm," Coa-ongya mundur, muka menyeringai dan sedikit malu, apa boleh buat harus bertebal muka dan tidak perduli. "Aku hanya ingin membebaskan dirimu dari pemuda ini, Yu Yin. Aku tak mau kau ke mana-mana harus bersama mayat!"

"Tapi... tapi kau menyerang Giam Liong. Kau memiliki sinkang!"

"Hm, dari gurumu. Bukankah Kedok Hitam dan aku dekat? Sedikit-sedikit aku juga harus dapat membela diri, Yu Yin. Berjaga-jaga kalau ada orang jahat menyerang!"

"Tapi kau menyerang Giam Liong. Kau seperti suhu yang suka berbuat curang!"

“Sudahlah, kau tampaknya demikian tergila-gila kepada Giam Liong. Kau memalukan ayahmu. Betapapun kau tak boleh bersama mayat!" dan membalik meloncat keluar, Yu Yin tertegun karena gerakan ayahnya amatlah cepat dan tahu-tahu menghilang di sana maka gadis ini mengguguk dan tiba-tiba meloncat berdiri, harus menahan "mayat" Giam Liong yang juga terbawa naik!

"Ayah, kau tak berperasaan. Siapapun yang coba mengganggu aku dengan mayat kekasihku maka dia akan kulabrak. Aku memang ingin mati. Aku ingin menyusul kekasihku ke alam baka!" dan menabrak atau menghantam pintu sampai jebol, marah bterkelebat keluar maka gadis ini sudah tak mau tinggal lagi di ruangan itu dan tentu saja menggegerkan pengawal di situ yang menjaga di luar. Coa-ongya sendiri terkejut dan menoleh tapi iapun mendengus dan lenyap di kamar sebelah. Dan ketika pengawal berteriak mencegah gadis itu pergi, atau lebih tepat tak boleh membiarkan Yu Yin membawa mayat Giam Liong maka gadis itu mengamuk dan kaki tangannya bergerak menendangi pengawal.

"Ayo, maju. Atau kalian mampus!"

Pengawal berteriak terlempar ke kiri kanan. Mereka menjerit dan tentu saja bukan lawan murid Kedok Hitam ini. Dan ketika Yu Yin lari dan meloncati tembok pagar, melayang bagai seekor burung maka dua kakek menyeramkan menghadangnya.

"Ha-ha, kuda binal melarikan diri. Eh, apa kata gurumu, nona. Mana gurumu dan kenapa kau membawa-bawa mayat pemuda itu. Berhenti, kami tak mendapat perintah untuk membiarkan siapapun keluar dari sini!"

"Bagus, kau kakek busuk, Lam-ciat. Hayo antarkan aku ke neraka atau kau mampus!"

Kakek ini tertawa. Ia berkelebat dengan Hoan-eng-sutnya dan lenyaplah si gimbal tak dapat diserang, Yu Yin mengamuk dan menerjang kakek satunya, si gundul Pat-jiu Sian-ong. Tapi ketika kakek inipun tertawa dingin dan mengelak serta mengibas, Yu Yin terpelanting maka Lam-ciat muncul lagi dan tepukannya yang perlahan di pundak gadis ini membuat Yu Yin berteriak untuk kedua kalinya.

"Ha-ha, tak melihat muka ayahmu tentu kau mendapat hajaran berat, nona. Tapi melihat ayahmu biarlah kau roboh dan jangan kemana-mana!"

"Benar!" Pat-jiu Sian-ong juga berseru. "Tak melihat muka gurumu tentu kami membunuhmu, nona. Tapi karena kau murid Kedok Hitam biarlah kami tangkap dan robohkan saja!"

Yu Yin kalang-kabut. Setelah dia berhadapan dengan orang-orang ini tentu saja berat baginya mempertahankan diri. Apalagi, Giam Liong juga melekat di tubuhnya. Ia harus berhati-hati menjaga kekasihnya itu dan berkali-kali jatuh bangun kalau mayat kekasihnya ini hendak menerima hajaran langsung. Sian-ong maupun Lam-ciat dua kali hendak melampiaskan dendam dengan menampar Giam Liong. Tapi ketika Yu Yin melindungi pemuda itu dan dua kali pula memberikan tubuhnya sebagai pengganti, Sian-ong dan Lam-ciat tentu saja harus menarik pukulannya maka berkelebatlah bayangan Kedok Hitam dan laki-laki itu membentak.

"Yu Yin, kau mempermalukan guru dan ayahmu. Baiklah, kau boleh bawa mayat pemuda itu namun setelah itu kau harus kembali!"

Lam-ciat dan Sian-ong terkejut. Kedok Hitam menangkis serangan mereka dan dua kakek ini terhuyung. Kedok Hitam melindungi muridnya. Dan ketika duakakek itu terbelalak namun Kedok Hitam menyuruh mundur,gadis ini sedang nekat maka Yu Yin dipersilahkan keluar tapi setelah itu harus kembali.

"Ayahmu memperbolehkan kau pergi. Tapi besok pagi sudah harus kembali!"

Yu Yin menangis. Ia mengguguk tapi meloncat memutar tubuhnya, suhunya sudah memerintahkan dua kakek itu melepaskan dirinya. Dan ketika ia berkelebat dan lari lagi, meninggalkan istana maka gadis ini tak tahu betapa secara diam diam Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat disuruh membuntuti.

"Awasi dia. Kalau terlalu jauh kalian giring agar tidak terlalu jauh!"

Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat mengangguk. Mereka tertawa dan tentu saja sudah bergerak mengikuti gadis itu. Dan ketika Yu Yin me layang dan meloncati gerbang kota raja, turun dan berlari cepat di sana maka gadis itu menerobos gelap secara nekat. Tak perduli kepada jurang di depan atau hutan yang pekat. Ia hendak mencari tempat yang enak dan melepas tangisnya yang menyesak dada. Ia ingin tetap selalu bersama Giam Liong. Kalau perlu hidup berdua dalam satu lubang pula.

Dan ketika gadis itu meluncur dan jauh meninggalkan istana, berhenti dan mengguguk di tempat sepi maka Yu Yin merangkul kekasihnya itu dan berulang-ulang menyesali kematian Giam Liong. Ia tak tahan namun akhirnya mengepal tinju. Dan ketika tiga jam kemudian gadis itu membuang air mata, Yu Yin meratap tiada habisnya maka gadis, ini menggerakkan tangan dan dengan tangan sebelah memeluk kekasihnya gadis itu membuat lubang.

"Giam Liong, aku ingin kita berdua mati di sini. Biarlah kubuat liang lahat dan kita sama-sama tidur!"

Benar saja, begitu lubang selesai Yu Yin pun terjun. Gila! Gadis ini tak mau banyak cakap lagi dan selesai menggali kubur iapun meletakkan Giam Liong di situ, diri sendiri telentang dan tetap memeluk mayat itu. Dan karena air matanya sudah habis dan tak ada lagi sisa dikeluarkan, gadis ini kecewa dan kesal bercampur-aduk maka iapun tidur bersama "mayat" itu sampai akhirnya matahari menghangati tubuh keduanya. Malam telah lewat!

"Yu Yin, bangun. Kita harus keluar!"

Bisikan atau kata-kata ini bagai sebuah mimpi. Yu Yin tentu saja tak tahu bahwa Giam Liong mempergunakan Nui-kangnya. Ilmu ini membuat Giam Liong mati semu dan semua itu berlangsung sampai pemuda ini memulihkan tenaganya lagi. Mati semu mengharuskan Giam Liong duabelas jam tanpa gerak, itupun sudah dilakukan pemuda ini dan semalam penuh Giam Liong benar-benar kehilangan tenaga, meskipun sinkang atau tenaga saktinya tetap melindungi dan itulah sebabnya Kedok Hitam tak mampu merobek perutnya, ketika laki-laki itu mencoba memisahkan muridnya dengan pemuda ini. Dan ketika pagi itu Giam Liong pulih lagi dan Nui-kang atau pelemas tulangnya berakhir, ilmu itu akan bekerja selama duabelas jam maka Giam Liong meloncat dan berbisik di telinga kekasihnya itu. Tentu saja tahu dan mendengar semua yang telah terjadi, termasuk pembelaan gadis itu yang melawan guru dan ayahnya sendiri!

Namun Yu Yin kelelahan. Gadis ini, seperti diketahui, telah menangis semalam suntuk dan tak mempunyai air mata lagi. Ia telah membuat lubang pula dan semalam penuh menemani "mayat" Giam Liong. Jadi ia terlelap dan seakan bermimpi. Maka ketika Giam Liong berbisik dan pemuda itu meloncat bangun, Nui-kang atau ilmu mati semunya telah berakhir maka Yu Yin justeru semakin merasa bermimpi ketika tubuhnya malah diguncang-guncang.

"Sst, bangun, Yu Y in... bangun!"

Gadis ini menggeliat. Saat itu dia benar-benar sedang bermimpi bersama Giam Liong. Sangkanya, ia berada di alam baka. Maka ketika tiga kali Giam Liong berbisik dan mengguncang tubuhnya,ia merasa heran bagaimana Giam Liong yang mati meremas pundaknya maka gadis ini membuka mata dan tanpa sadar ia menjerit melihat Giam Liong ada di situ. Mukanya bercahaya dan amat tampan.

"Giam Liong?"

Giam Liong terharu. Ia mengangguk dan seketika memeluk. Yu Yin sendiri sudah memeluk dan menubruk dirinya. Dan karena Yu Yin masih merasa mimpi sedangkan Giam Liong tidak mengira gadis itu dipengaruhi mimpinya, terharu dan menitikkan air mata maka gadis ini justeru mengguguk dan tersedu-sedu dipelukannya.

"Giam Liong, kita... kita di alam baka? Kita dapat bertemu di sini? Aduh, aku tak mau berpisah denganmu, Giam Liong. Biar di alam baka pun asal kita tetap berdua!"

"Hush, omongan apa ini? Siapa di alam baka? Kita di lubang kubur, Yu Yin. Dan kau pula yang membuat liang lahat ini Kita masih hidup!"

"Hidup? Di tempat sempit ini? Bohong. Kau bergurau, Giam Liong. Kau telah mati dan kini di alam baka. Aku juga di sini dan ternyata dapat menyusul. Aduh, aku tak mau kehilangan kau lagi!" dan Yu Yin yang menangis tapi girang dan bahagia benar-benar menganggap kekas ihnya bohong. Giam Liong telah mati dan tak mungkin hidup lagi. Kalaupun hidup maka tentu di alam baka. Maka ketika dia mengguguk tapi Giam Liong menepuk pundaknya, gadis ini tak percaya maka Giam Liong mencubit, sekarang tahu dan maklum bahwa kekasihnya memang seolah sedang bermimpi.

"Tidak, kita benar-benar hidup, Yu Yin, masih hidup. Coba kau rasakan apakah sakit atau tidak kalau kucubit. Orang mati tentunya tak akan merasa sakit!"

Yu Yin berteriak. Akhirnya ia menjerit ketika Giam Liong mencubitnya. Giam Liong hendak menyadarkan kekasihnya ini bahwa mereka benar-benar masih berada di dunia. Ia maklum dan dapat mengerti apa yang dialami kekasihnya itu. Maka begitu ia mencubit dan Yu Yin sadar, gadis itu terbelalak maka Giam Liong tersenyum dan berbisik, memeluk, penuh haru, "Nah, apa kataku, Yu Yin. Kita masih hidup dan benar-benar hidup. Kita di dunia, kita bukan di alam baka.”

"Tapi... tapi..." gadis ini bengong, bingung. "Kau telah tidak bernapas, Giam Liong. Kau telah mati. Jantungmu tidak berdenyut."

"Aku mati semu," pemuda itu menerangkan. "Dan aku tidak mati sungguh-sungguh. Aku mempunyai sebuah ilmu istimewa yang disebut Nui-kiang."

"Nui-kang? Kau... kau mati semu?"

"Benar, dan itu telah mengecoh gurumu, Yu Yin, dan juga ayahmu. Tapi ayahmu mencurigakan. Ia memiliki sinkang!"

"Kau tahu?"

"Tentu saja. Ia mencengkeram perutku, Yu Yin. Kalau sinkangku tidak otomatis melindungi maka tentu perutku robek. Itu luar biasa!"

Yu Yin menangis. Setelah Giam Liong bicara tentang ayahnya maka iapun mengguguk lagi, bukan girang dan bahagia seperti tadi melainkan sedih dan marah. Ayahnya memang terlalu. Giam Liong yang sudah menjadi "mayat" hendak dirusak juga tubuhnya. Tapi teringat apakah semuanya ini tidak bohong, benarkah Giam Liong baru saja mati semu dan pemuda itu masih hidup maka gadis ini meloncat dan berseru,

"Giam Liong, aku masih bingung oleh semuanya ini. Aku tidak percaya bahwa kau dan aku masih di dunia fana ini. Bolehkah kubuktikan dan apakah kau keberatan kalau setetes darahmu kulihat!"

"Hm, jangankan setetes. Semuanyapun siap kuberikan, Yu Yin. Cobalah dan gurat kulitku!"

Gadis ini bergerak. Ia memang masih ragu dan bimbang oleh semuanya ini. Benarkah ia dan Giam Liong masih berada di dunia fana. Maka begitu Giam Liong memberikan lengannya dan pemuda itu tentu saja melemaskan sinkangnya, Yu Yin menggurat dan mempergunakan kuku jarinya maka benar saja darah mengucur dan Yu Yin berseru tertahan.

"Benar, kau... kau masih hidup!"

"Tentu, dan kitapun bukan di alam mimpi, Yu Yin. Coba rasakan darahku dan yakinkan bahwa kau benar-benar tidak bermimpi!"

Yu Yin menangis. Akhirnya ia mencecap darah Giam Liong dan hilanglah keragu-raguannya bahwa ia dan Giam Liong berada di akherat. Mereka benar-benar masih hidup dan darah serta kata-kata Giam Liong terbukti. Dan begitu ia mengguguk dan menubruk pemuda ini lagi, mereka masih di liang lahat maka dua bayangan berkelebat dan itulah Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong yang mendengar tangis atau seruan-seruan Yu Yin.

"Heii..!" dua kakek itu terkejut. "Ada apa, Yu Yin? Bocah itu sudah... celaka!"

Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong menghentikan kata-katanya. Mereka pucat dan terbelalak melihat Giam Liong. Pemuda itu sudah di bawah lubang dan mendongak memandang mereka. Wajah di balik caping itu memerah dan mata seperti seekor naga mencorong berkobar-kobar. Dua kakek itu terkejut dan ternganga, melongo. Tapi ketika Giam Liong bergerak dan menyambit dua golok terbang, hui-to yang bercuit dan menyambar dua kakek itu maka Lamciat dan Pat-jiu Sian-ong terjungkal dan seketika menjerit.

"Aduh... iblis!"

Yu Yin terkejut. Ia tentu saja tak tahu bahwa dirinya sebenarnya dibuntuti. Gurunya telah memerintahkan dua orang ini agar selalu mengawasi gadis itu. Kalau terlalu jauh harap dihadang dan disuruh kembali. Maka begitu tertegun dan pucat melihat Giam Liong, pemuda yang disangka mati itu mendadak hidup lagi dan melempar hui-to terbang, mereka tak sempat mengelak dan menjerit bergulingan maka Giam Liong berkelebat dan melayang ke atas.

"Lam-ciat, Pat-jiu Sian-ong.., kalian manusia-manusia busuk. Mampuslah!"

Dua kakek itu terkejut. Mereka sungguh mati tak mengira bahwa Si Naga Pembunuh ini masih hidup. Bahkan, kini menyerang dan menikam mereka dengan dua golok terbang. Dan ketika mereka bergulingan dan tentu saja menjauh, pucat, maka Lam-ciat maupun Pat-jiu Sianong sama-sama berteriak bahwa mereka bertemu iblis.

"Setan, roh pemuda ini bangkit!"

"Benar, kita bertemu arwahnya, Sian-ong. Ini bukan jasadnya!"

'Tapi ia mampu menimpuk golok."

"Dan kita terkena... ah!" dan dua kakek itu yang pucat dan bergulingan menjauh akhirnya menjadi semakin kaget lagi karena Giam Liong mengejar. Pemuda itu berkelebat dan melepas pukulan jarak jauh. Dan ketika dua kakek itu menjerit dan kembali terlempar, Sian-ong malah mencelat dan terguling-guling maka Lamciat bunu-buru mengeluarkan Hoan-engsutnya dan meledakkan telapak tangan.

“Lari, kita pergi dulu!"

Namun Giam Liong tentu saja tidak memberi ampun. Ia tak mau melepas lawannya dan begitu Lan-ciat melarikan diri iapun mengejar. Tangan kirinya bergerak dan Pek-lui-kang atau pukulan Halilintar menyambar, meledak dan mengenai punggung kakek itu sebelum Lam-ciat benar-benar menghilang di balik Hoan-eng-sut nya. Dan ketika kakek itu mengeluh dan Giam Liong ganti menyambar Pat-jiu Sian-ong, yang berteriak dan terlempar bergulingan maka kakek gundul itupun menjerit dan lari tunggang-langgang.

"Ampun, kembalilah ke neraka. Kau bocah iblis!"

Giam Liong menggeram. Dewa Lengan Delapan yang tidak memiliki ilmu menghilang tak dapat berbuat seperti Lam-ciat. Kakek itu jatuh bangun dikejar Giam Liong. Namun ketika Giam Liong mengejar dan terus melancarkan serangan bertubi-tubi, pemuda itu hendak membunuh lawannya tiba-tiba Yu Yin berkelebat dan menyambarlengannya.

"Giam Liong, sudah. Jangan dibawa ke kota raja!"

"Maksudmu?" Giam Liong terkejut.

"Kakek itu lari ke istana, Liong-ko. Kau akan celaka lagi di sana dan aku tak mau.”

"Apa?"

"Apa apa? Aku bilang kau tak usah mengejar mereka itu. Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong kembali ke istana!"

"Tidak, bukan itu. Aku ingin mendengar sekali lagi kata- katamu itu!"

"Kata-kata apa. Aku sudah jelas bicara!"

"Tidak, bukan itu. Aku ingin mendengar kau menyebutku lagi seperti tadi. Panggilanmu itu!"

"Panggilan apa?"

"Sebutan Liong-ko (kanda Liong). Ah, meremang bulu kudukku mendengar panggilanmu tadi, Yu Yin. Sebut sekali lagi dan aku tidak akan mengejar mereka!"

Yu Yin terkejut. Tiba-tiba ia menjadi merah dan panggilannya tadi yang dikeluarkan tanpa terasa kiranya telah membuat Giam Liong panas dingin. Ia jengah tapi tentu saja tak mau disuruh memanggil lagi. Dan ketika Giam Liong terbelalak karena gadis itu tak mau mengulang, Giam Liong bergerak dan kembali mengejar Pat-jiu Sian-ong maka Yu Yin membentak,

"Liong-ko!"

Giam Liong tertawa bergelak. Kemarahan dan kebenciannya terhadap Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat sekonyong-konyong berantakan oleh panggilan atau bentakan ini. Yu Yin boleh membentaknya tapi bentakan itu adalah bentakan cinta kasih. Di balik bentakan itu terkandung rasa cemas dan gelisah. Giam Liong seketika merasa bahagia! Dan ketika ia menghentikan larinya dan membalik menyambar gadis itu, memeluk dan mencium maka Si Naga Pembunuh yang tadi beringas dan sadis itu sudah menjadi lembut dan bercahaya. Mukanya berseri-seri.

"Ha-ha, alangkah bahagianya mendengar sebutan ini, Yu Yin. Ah, betapa bahagia dan besar hatiku. Aduh, kau kekasihku cantik. Kau sayangku... cup-cup!" dan Giam Liong yang mencium serta menghabiskan wajah kekasihnya untuk diciumi tiba-tiba membuat Yu Yin mengeluh dan panas dingin.

Gadis itu merasakan kebahagiaan yang luar biasa pula dan iapun roboh di pelukan Giam Liong. Dibiarkannya pemuda itu melumat bibir dan menciumi wajahnya. Namun ketika ia mendeprok lemas dan Giam Liong terkejut, mendorong dan melepaskan kekasihnya maka pemuda itu bertanya, heran, "Yu Yin, kau kenapa?"

Gadis itu menangis, tak menjawab.

"Eh, kau kenapa, moi-moi? Ada apa? Kenapa lemas dan tiba-tiba lunglai begini? Sakitkah?"

Gadis itu terbelalak. Giam Liong yang semula terkejut dan bertanya-tanya tiba-tiba dibuat kaget dan bingung karena tiba-tiba gadis itu tersenyum. Aneh, air mata masih berderai tapi kekasihnya tersenyum. Dan ketika ia menjublak dan bingung serta tak mengerti mendadak kekasihnya itu tertawa!

"Giam Liong, kau bilang apa tadi? Kau sebut apa kepadaku tadi?"

"Hm," pemuda ini tersipu, jengah. "Aku menyebutmu moi-moi, Yu Yin. Sama seperti kau menyebutku Liong-ko. Kenapa kau tertawa sementara tadi menangis dan lumpuh!"

"Hi-hik, aku... aku geli!"

"Geli? Kau menangis karena geli?"

"Tentu saja bukan. Aku menangis karena bahagia, Giam Liong. Dan ketawa karena geli. Aku geli karena kau menyebutku moi-moi. Ihh, mesra dan hangat sekali kata- katamu itu. Aku minta diulang!"

"Gila!"dan Giam Liong yang ketawa dan menyambar kekasihnya ini lalu mencium dan melumat bibirnya. Pusing-pusing ia memikirkan kekasihnya ternyata kekasihnya itu geli dan bahagia. Konyol, ia tadi menyangka sakit atau apa. Maka begitu ia mengerti dan mencubit serta mencium maka kekasihpun dibawa meloncat dan Giam Liong terbahak-bahak.

"Moi-moi, kau sungguh gila. Bingung-bingung aku memikirkanmu ternyata kau malah geli dan bahagia. Sialan, siapa mau memanjakanmu kalau begini? Hayo ke atas, awas kulempar!" dan Giam Liong yang melempar dan menerima kembali tubuh kekasihnya untuk dijadikan mainan akhirnya membuat Yu Yin terkekeh dan senang.

Gadis itu bahagia dan gembira sekali. Lupa sudah segala urusannya dengan sang ayah atau guru. Lupa sudah segala urusannya dengan istana. Tapi ketika Giam Liong melempar-lemparnya ke atas dan pemuda itu tertegun teringat sesuatu, ia berhenti dan meraba punggungnya maka pemuda ini berubah.

“Yu Y in, mana Golok Mautku!"

Yu Yin terkejut. Ia baru saja bersenang-senang dan merasakan bahagia. Ia baru saja merasakan nikmatnya cinta. Maka begitu sang kekasih menurunkannya dan Giam Wong bertanya tentang goloknya, senjata yang dirampas gurunya maka gadis itu sedih, seketika terisak. "Golokmu dibawa suhu, Giam Liong. Suhu merampasnya..."

"Gurumu...?"

"Benar."

"Kalau begitu aku harus ke sana!"

"Giam Liong!" Yu Yin membentak, berkelebat dan menghadang. "Kau mau mencari penyakit? Kau tidak mau mendengar kata-kataku?"

"Hm, senjata tiada ubahnya nyawa, Yu Yin. Aku akan merampasnya kembali dan tak boleh dibawa orang lain. Itu warisan ayahku.”

"Kau tak boleh ke sana, kalau kau benar-benar mencintai aku. Tunggu dan biar aku yang memintanya dari suhu. Atau, kalau ia tak mau memberikan biar kucuri!"

Giam Liong tertegun. Kekasihnya ini berdiri tegak dengan mata berapi-api. Mereka beradu pandang tapi Giam Liong akhirnya menarik napas, dalam-dalam. Dan ketika perasaannya kembali mendidih karena Golok Maut, senjatanya, dirampas Kedok Hitam maka ia mengangguk dan mengertakkan gigi.

"Baik, aku menuruti nasihatmu, Yu Yin. Tapi tiga hari kau tak kembali maka aku akan menyerbu istana. Tempat gurumu kuobrak-abrik!"

"Aku akan membantu sebisaku, tapi jangan terlalu singkat," gadis itu terisak.

"Maksudmu?"

"Jangan tiga hari, Giam Liong, tetapi berilah waktu tujuh hari..."

"Tidak, tiga hari sudah cukup. Yu Yin. Aku tak mau senjata warisan ayahku berlama-lama di tangan orang lain. Kau sanggup atau tidak!"

"Kalau tidak?"

"Aku akan pergi dan ke tempat gurumu sekarang. Aku tak perduli!"

Yu Yin membentak. Ia marah sekali melihat kekerasan kepala pemuda itu. Giam Liong benar-benar tak dapat ditekuk. Tapi mengangguk dan berkelebat memutar tubuhnya gadis itu menangis. "Baik, kau tunggu aku tiga hari, Giam Liong. Nyawapun siap kupertaruhkan untuk golokmu!"

Giam Liong tertegun. Ia menjublak dan membelalakkan mata. Yu Yin telah marah dan meninggalkannya. Padahal, baru saja mereka dimabok cinta. Dan geram oleh perbuatan si Kedok Hitam iapun membalikkan tubuh dan berseru, "Baik, tiga hari kita bertemu lagi, Yu Yin. Kutunggu kedatanganmu di tempat Chu-goanswe!"

Dua muda-mudi itu berpisah. Mereka sama-sama marah karena masing-masing merasa terganggu. Yu Yin dengan kekerasan kepala Giam Liong sementara pemuda itu dengan perbuatan si Kedok Hitam. Benci dan cinta silih berganti mempermainkan dua muda-mudi ini. Dan ketika Yu Yin lenyap di sana dan Giam Liong juga lenyap di sini, di hutan itu maka dua muda-muda itu saling menggigit bibir dan sama-sama mengepalkan tinju!

* * * * * * * *

"Heii... Sin-siauwhiap muncul. Heii, dia datang!"

Pekik atau sorakan orang-orangdi hutan menggegap-gempita. Mereka melihat Giam Liong yang memasuki hutan dan pemuda yang baru saja berkelebat dan marah-marah gara-gara Golok Mautnya disambut ramai. Chu-goanswe, yang diberi tahu anak buahnya dan menyeruak maju sudah pula melihat pemuda ini. Dan begitu ia melihat begitu pula ia menggigil, gemetar.

"Sin-siauwhiap, kau... kau ini?"

"Hm, mana ibu?" Giam Liong tak menjawab, justeru bertanya ibunya. "Di mana ibuku, goaaswe. Dan kenapa kalian tidak meneruskan serbuan!"

Sang jenderal tertegun. Ia melihat muka yang merah dan mata yang berkilat dari pemuda ini. Seketika jenderal itu maklum bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Pemuda itu sedang marah! Dan ketika ia mengerutkan kening tetapi menangkap lengan pemuda ini, meremas-remasnya maka jenderal itu bertanya, suaranya juga menggigil,

"Siauwhiap, kau masih hidup? Ini bukan rohmu yang gentayangan di muka bumi? Kau benar-benar masih Giam Liong putera Si Golok Maut?"

"Hm, kenapa kau tanyakan itu? Aku memang masih hidup, goanswe. Dan aku Giam Liong yang seperti dulu. Kenapa kau tanyakan ini!"

"Sst, tapi kau dikabarkan tewas. Kau terbunuh di lubang sumur rahasia. Kau dicelakai Kedok Hitam!"

"Itu betul, tapi Kedok Hitam tak mampu membunuhku. Aku masih sehat dan kini aku mencari ibu."

"Ibumu pergi, dia menyusulmu ke istana!"

"Hah?"

"Benar, ah, celaka, siauwhiap... celaka! Ini gara-gara berita yang kudengar dari istana. Mati-matian aku menutup rahasia ini agar tidak terdengar anak buahku. Ah, mari ke dalam dan duduk di kemahku!"

Chu-goanswe menarik dan menyambar lengan pemuda ini. Dia sudah mencengkeram dan mendapat bukti bahwa Giam Liong masih hidup. Ia merasakan tangan yang hangat dan dapat dipegang. Juga kaki pemuda itu menginjak tanah. Dan karena roh atau arwah halus tak mungkin dapat dipegang, juga kakinya tak menginjak bumi padahal pemuda ini tidak, berarti yang dihadapi bukanlah mahluk halus melainkan benar-benar pemuda itu maka Chu-goanswe gemetar dan membawa pemuda ini memasuki kemahnya. Bayangan-bayangan berkelebat dan itulah pembantu-pembantu Chu-goanswe. Namun ketika jenderal ini mengusir dengan tangannya dan bayangan-bayangan itu tertegun, keluar maka jenderal itu berkata bahwa siapa pun tak boleh masuk.

"Aku hendak bicara penting dengan Sin-siauwhiap. Kalian semua jaga di luar!"

Anak buah Chu-goanswe melongo. Mereka sebenarnya hendak mengelu-elukan datangnya pemuda itu karena pemuda itu di tunggu-tunggu hasilnya setelah mengejar musuh. Kedok Hitam dan kawannya lari ke istana dan pemuda itu memburu. Dan ketika tiba-tiba pemuda itu datang dan kemunculannya seperti iblis, mengejutkan tapi tentu saja menggirangkan maka mereka kecewa karena Chu-goanswe tak memperbolehkan mereka bicara.

"Apa yang hendak dibicarakan. Kami juga ingin bicara!"

"Hush, tahan mulutmu, Pang Kui. Goanswe tentu ingin bicara penting dan bukan hanya sekedar melihat Sin-siauwhiap. Musuh telah mendesak kita sampai kemari!"

"Tapi kita dapat membalas. Sin-siauwhiap sudah ada di sini!"

"Benar, itu sekarang. Tapi kemarin Sin-siauwhiap hilang. Musuh telah memperdayainya!"

"Sudahlah, aku juga ingin bicara dan biar nanti saja setelah keluar aku menemuinya. Aku juga ingin memegang-megang Sin-siauwhiap!"

Dua orang itu bertengkar sendiri. Mereka tiba-tiba ribut namun seorang komandan tiba-tiba membentak. Mereka disuruh diam dan segeralah dua orang itu diam, meskipun masing-masing saling melotot, marah! Dan ketika dua orang itu pergi dan masing-masing berpisah, mungkin mereka bisa bertengkar lagi kalau tetap bersama maka di kemahnya jenderal ini pucat dan bingung silih berganti, Giam Liong lagi-lagi menanya ibunya.

"Mana ibuku. Kenapa ia tak kelihatan!"

"Inilah," sang jenderal bicara. "Kemarin ibumu muncul, siauwhiap, mencari-carimu. Tapi karena kau sedang mengejar Kedok Hitam dan ibumu kuberi tahu maka ia marah-marah dan menyalahkan aku. Katanya kenapa aku membiarkanmu ke tempat musuh padahal ia sudah ada di sini!"

"Hm, lalu bagaimana?"

"Tentu saja kuterangkan bahwa mula-mula tidak begitu, siauwhiap. Bahwa ibumu diculik Kedok Hitam dan kau mengejarnya. Aku sendiri tak tahu bagaimana ia tiba-tiba muncul, selamat!"

"Ibu ditolong ayah angkatku, aku juga baru tahu."

"Ah, Pek-jit-kiam Ju-taihiap?"

"Benar, dan isterinya, goanswe. Dan aku telah bertemu mereka."

"Tapi kau tetap mengejar Kedok Hitam. Ibumu lalu menyusul!"

"Hm, aku memang ingin membunuh musuhku itu. Aku ingin menghirup darahnya!"

"Tapi ini membuat ibumu cemas. Ia menyangka kau tak tahu bahwa dirinya selamat, siauwhiap. Dan begitu ia datang begitu pula ia pergi lagi. Apalagi ketika didengarnya bahwa kau tewas di lubang jebakan!"

"Secepat itu ibu mendengar berita?"

"Kedok Hitam dan orang-orangnya Coa-ongya mengabarkan hal ini, siauwhiap. Dan aku sendiri mati-matian meredam berita. Aku takut anak buahku dengar dan perjuanganku gagal!"

"Hm, aku sekarang tak memikirkan yang lain. Aku memikirkan ibu. Kalau ibu ke istana berarti aku harus menyusulnya pula!"

"Benar, dan aku girang kau datang, siauwhiap. Aku dapat membalas musuh yang telah memukulku di pintu gerbang. Aku dan pasukanku terpaksa mundur setelah kami menghajar pasukan kerajaan. Aku juga siap membantu!"

Namun Giam Liong tiba-tiba tertegun. Ia teringat perjanjiannya dengan Yu Yin dan itu berarti memaksa dirinya harus menunggu. Bingung dan gelisahlah pemuda ini merasakan keadaannya. Dan ketika Chu-goanswe tertegun dan heran kenapa punggung pemuda itu kosong, golok yang biasa ada di situ sudah tak ada lagi maka jenderal ini bertanya,perlahan,

"Siauwhiap, mana Golok Mautmu? Hilang?"

"Hm," Giam Liong bangkit berdiri, mondar-mandir. "Ini yang membuat aku marah, goanswe. Aku baru saja bertengkar dengan Yu Yin gara-gara golok ini. Senjataku dirampas Kedok Hitam!"

"Yu Yin? Murid atau puteri Coa-ongya itu?"

"Benar, dia. Dan aku berjanji untuk bertemu lagi tiga hari, di sini. Ah, bagaimana ini!"

Chu-goanswe tertegun. Tiba-tiba iapun menjadi bingung oleh kata-kata ini, juga tak enak. Ia tahu hubungan apa yang ada di antara muda-mudi ini. Sebagai orang tua tentu saja ia menangkap apa yang telah terjadi. Namun karena urusan itu urusan pribadi dan tak enak rasanya mencampuriurusan anak-anak muda, dia tak berhak ikut campur maka jenderal ini akhirnya menarik napas panjang dan berseru,

"Kalau begitu bagaimana, siauwhiap? Aku hanya mengkhawatirkan ibumu. Aku bisa-bisa saja menunggu tiga hari lagi tapi jangan-jangan terjadi sesuatu dengan ibumu. Musuh amat licik dan kejam!"

"Aku juga berpikir begitu. Tapi bagaimana janjiku dengan Yu Yin. Ah, bagaimana semuanya ini jadi begini!"

"Kalau aku sebaiknya kita serbu dan masuk. Tapi semuanya terserah dirimu."

"Aku tak dapat menarik ludahku, goanswe. Bagi seorang gagah lebih baik mati daripada menjilat ludah kembali!"

"Aku tahu. Ah, terserah siauwhiap sajalah," dan Chu-goanswe yang mengangguk dan diam-diam kagum akan kegagahan Giam Liong memegang janji lalu mempersalahkan pemuda itu beristirahat dan keluar menemui anak buahnya. Diam-diam kecewa tak dapat menyerbu saat itu juga namun ia dapat memahami kekesatriaan putera Si Golok Maut ini. Giam Liong memang pemuda gagah. Keturunan Si Golok Maut itu memang lelaki jantan. Dan ketika jenderal itu juga terpaksa menahan hatinya sementara ia mulai mempersiapkan pasukan untuk menyerang tiga hari lagi waktu yang dirasa terlalu lama maka Giam Liong atau Si Naga Pembunuh mondar-mandir di dalam kamarnya.

Giam Liong gelisah dan bingung mendengar ibunya ke istana. Ia menyesal bahwa terlanjur berjanji dengan Yu Yin untuk menunggu tiga hari lagi. Tapi karena janji tetaplah janji dan ia harus menepati, Giam Liong mengertak gigi membayangkan keselamatan ibunya maka di lain tempat memang terjadi apa yang dikhawatirkan Chu-goanswe. Roboh dan tertangkapnya wanita ini!

* * * * * * * *

Hari itu, ketika Wi Hong atau Kim-hujin ini dibebaskan dari cengkeraman si Kedok Hitam maka wanita itu kembali ke tempat Chu-goanswe. Namun hutan di mana jenderal itu dan pasukannya berperang ternyata sudah berpindah. Gerakan atau serbuan pasukan pejuang sudah maju di depan mengejar musuh. Sepak terjang Giam Liong yang membuat Kedok Hitam melarikan diri sementara Lam-ciat maupun Pat-jiu Sian-ong harus menyingkir membuat pasukan kerajaan jerih dan gentar. Mereka melihat tandang yang mengerikan dari pemuda bercaping itu. Melihat Giam Liong mengingatkan orang akan mendiang ayahnya, sungguh mirip dan sama-sama menggiriskan.

Namun karena pemuda ini lebih hebat lagi karena ia mampu menghalau Kedok Hitam, juga kawan-kawannya yang lain maka orang lebih ngeri melihat golok mautnya yang berseliweran naik turun. Di tangan pemuda ini tampaknya Golok Maut lebih hidup dan haus darah. Sekali berkelebat tujuh sampai sepuluh kepala putus, mencelat dan menggelinding dari tempatnya karena sudah terbabat oleh keredep sinar putih itu, yang hanya tampak seperti kilat menyambar. Dan karena lawan tentu saja gentar dan pasukan kerajaan mundur tak berani menghalangi pemuda ini, yang bergerak dan membuka jalan darah untuk mengejar Kedok Hitam maka pasukan Chu-goanswe memperoleh kemenangan dan menghajar musuh dengan berani.

Namun pasukan itu tertahan di pintu gerbang. Musuh sudah lenyap memasuki kota dan di sini Chu-goanswe menunggu. Wi Hong atau Kim-hujin itu sendiri masih di belakang karena mengejar di hutan pertama. Dan ketika Chu-goanswe gemas karena lawan menutup diri, pintu dipertahankan rapat dan anak-anak panah juga dilepas dari tembok tinggi, jenderal ini tak mau pasukannya menjadi korban maka apa boleh buat dia harus menunggu tapi alangkah kagetnya dia ketika tengah malam terdengar sorak-sorai gemuruh yang menyatakan bahwa Giam Liong atau Si Naga Pembunuh tertangkap, tewas.

"Horee... Si Naga Pembunuh tertangkap. Horee... ia terbunuh!"

Chu-goanswe dan pasukannya kaget. Dibalik pintu gerbang terdengar sorai dan pekik gegap-gempita. Musuh mengabarkan kematian Giam Liong dan jenderal itu tentu saja berubah. Kalau ini benar maka celakalah dia. Pasukannya bisa terpukul! Dan ketika benar saja pintu gerbang dibuka dan dua orang yang amat ditakuti muncul, Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat maka jenderal ini terkejut dan tersentak.

"Ha-ha, bocah she Sin itu telah kami bunuh. Kalian tak perlu ditakuti lagi!"

Chu-goanswe dan pasukannya diserang. Tengah malam itu musuh benar-benar garang dan mereka tak takut lagi membuka pintu gerbang. Dua kakek hebat, Pat-jiu Sian-ong dan Hantu Selatan berkelebatan. Dan ketika mereka tertawa-tawa dan Chu-goanswe digempur, jenderal itu masih tertegun dan terkejut maka Chu-goanswe yang sadar dan tak mau percaya begitu membentak meminta bukti.

"Kalian bohong, tak mungkin Sin-siauwhiap binasa. Mana buktinya dan mana mayat atau kepalanya!"

Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat tertegun. Memang tertangkapnya Giam Liong di sumur jebakan disebarluaskan untuk membangkitkan kembali semangat pasukan kerajaan yang patah. Mereka terpukul oleh kehebatan pemuda ini yang lihai dan amat luar biasa, di mana semuanya itu dimanfaatkan Chu-goanswe dan pasukannya untuk menghantam mereka. Maka begitu Giam Liong terjeblos dan pihak kerajaan menyebarluaskan hal ini agar pasukan Chu-goanswe terkejut, dipukul mentalnya maka pintu gerbang dibuka dan Chu-goanswe yang kaget serta terheran-heran lalu diserbu dan dua kakek itulah yang mengobrak-abrik pasukannya.

Kedok Hitam sendiri sudah terlalu lelah karena harus mengurusi Giam Liong. Pemuda luar biasa itu benar-benar menghabiskan tenaganya. Dan ketika Chu-goanswe diserbu dan anak buahnya terkejut, termakan dan percaya berita ini maka Chu-goanswe yang cerdik dan banyak pengalamannya segera membangkitkan semangat pasukannya untuk minta bukti dan kepala Giam Liong. Dan bentakannya atau seruannya yang keras ini memang mempengaruhi juga anak buahnya.

"Benar, mana bukti kepala Sin-siauwhiap. Mana mayatnya!"

Pasukan kerajaan marah. Mereka tentu saja tak dapat memberikan bukti karena pemuda itu sedang terjeblos di sumur dalam. Kalau diminta mayat atau kepalanya mana mungkin mereka dapat? Maka ketika seruan atau bentakan Chu-goaswe ini diikuti pasukannya, semua minta bukti dan kepala Giam Liong maka lawan menjadi gusar dan menyerang dengan marah.

"Bukti bahwa kami membuka pintu gerbang sudah cukup. Mau bukti apa lagi!"

Namun Chu-goanswe tertawa mengejek. Bukti yang ini bukanlah bukti. Jenderal itu menahan Pat-jiu Sian-ong dan Lamciat bersama pasukannya, sayang terdesak dan apa boleh buat mundur mempertahankan diri. Dan ketika dua kakek itu mengamuk karena para pejuang tak termakan, berita itu masih diragukan maka Pat-jiu Siap-ong maupun Hantu Selatan menjadi marah karena semangat lawan yang mau dipukul ternyata kembali lagi. Ini berkat Chu-guanswe itu.

"Keparat, bunuh jenderal ini, Pat-jiu Sian-ong. Tarik dan betot jantungnya. Lidahnya beracun!"

Namun Chu-goanswe dilindungi banyak orangnya. Jenderal itu tentu saja bersembunyi dan dari jauh ia melancarkan serangannya. Anak-anak panahnya menyambar dan berkat kekebalan sinkangnya saja maka Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat dapat menolak. Tapi karena dua kakek itu memang hebat dan pasukan kerajaan juga menyerbu dengan penuh nafsu sekali, mereka ingin membalas dan membunuh musuh sebanyak-banyaknya maka Chu-goanswe terdesak dan bersama pasukannya ia harus terus mundur dan mundur. Malam yang gelap memberinya keuntungan juga.

"Mundur... mundur...!"

Pasukan pejuang tahu diri. Tanpa Giam Liong memang berat bagi mereka. Keragu-raguan timbul juga. Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Si Naga Pembunuh itu? Betulkah ia tewas? Kalau tewas kenapa musuh tak dapat menunjukkan mayatnya? Kalau tidak kenapa musuh berani membuka pintu gerbang? Dan karena semua ini membuat bingung pasukan pejuang dan hadirnya dua kakek seperti Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat itu juga terlampau berat, mereka memang bukan tandingan maka para pejuang ini mundur dan membiarkan musuh merangsek mereka.

Chu-goanswe membawa pasukannya ke hutan-hutan di kiri kanan kota raja dan di situlah mereka akhirnya menyembunyikan diri. Hal ini menyulitkan pasukan kerajaan karena mereka tak dapat bekerja dengan baik. Satu demi satu musuh menyelinap dan memasuki gerumbul semak-semak. Malam yang gelap membuat mereka repot juga. Dan ketika lawan tak dapat diburu karena menyembunyikan diri di hutan-hutan, pasukan Chu-goanswe memang terbiasa dengan cara seperti itu maka pasukan kerajaan tak dapat memuaskan hatinya dan hanya seratus lebih pasukan lawan yang dapat dibantai. Mereka sendiri juga jatuh korban.

"Keparat, kurang ajar!"

Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat hanya memaki-maki. Mereka inipun tak dapat membunuh Chu-goanswe karena buru-buru jenderal itu diselamatkan pasukannya. Mereka bukanlah ahli perang melainkan ahli silat. Maka begitu Chu-goanswe menyelinap dan berlindung di balik pasukannya, para pembantunya sudah membantu jenderal ini menyembunyikan diri di hutan kiri kanan kota raja maka lawan gigit jari karena pentolan pemberontak masih hidup. Selanjutnya mereka pulang dan melaporkan keadaan. Dan ketika Chu-goanswe bersama pasukannya bersembunyi di hutan, kasak-kusuk sendiri maka sejam kemudian sebuah bayangan berkelebat dan itulah Wi Hong atau Kim-hujin.

"Mana Chu-goanswe. Mana puteraku Giam Liong!"

Seorang pejuang memberi tahu. Ialah yang bertemu dengan nyonya ini dan langsung saja ia bercerita bahwa Giam Liong dikabarkan tewas. Mereka diserang pasukan kerajaan dan pejuang itu pucat terbata-bata. Dan ketika Wi Hong melengking dan lengkingannya itu didengar semua orang, serentak Chu-goanswe dan lain-lain muncul maka jenderal itu terkejut melihat Kim-hujin ini.

"Mana puteraku, benarkah ia tewas!”

Jenderal Chu tersentak. Wi Hong menyambar dan tahu-tahu iapun sudah dicengkeram. Jenderal ini sedang cemas dan bingung oleh keadaannya, juga lelah karena ia didesak musuh. Tapi begitu disambar dan dicengkeram leher bajunya, ia sadar dan dapat menenangkan diri maka jenderal ini mendesis,

"Hujin, kami tak tahu apa yang terjadi. Tapi sabarlah, aku tidak percaya bahwa puteramu tewas."

"Tapi ia tak ada di sini. Pasukan kerajaan memukul mundur kalian!"

"Benar, tapi kami juga tak percaya berita itu, hujin. Kami tak mau menelan mentah-mentah. Sabar dan tenanglah dan dengar kata-kataku..."

Namun si nyonya membanting kaki. Wi Hong berteriak bahwa ia tak mau sabar atau tenang lagi. Puteranya di tangan musuh. Dan ketika sekali lagi ia bertanya apakah benar Giam Liong tak ada di situ, Chu-goanswe mengangguk dan mau menerangkan tapi ia berkelebat dan mendorong jenderal itu sampai terjengkang maka Wi Hong berkelebat dan berseru marah,

"Goanswe, aku meminta pertanggung jawabanmu kalau ada apa-apa dengan anakku. Awas, aku tak terima!"

"Heii..!" Chu-goanswe berteriak, tak digubris. "Tunggu dulu, hujin. Tunggu. Jangan ke sana karena terlampau amat berbahaya!"

"Aku tak perduli. Demi anak aku sanggup menerjang bahaya!" dan sang nyonya yang sudah meluncur dan terbang keluar hutan tiba-tiba membuat Chu-goanswe terkesiap.

Jenderal itu hendak menerangkan bahwa jangan-jangan semua itu hanya kabar kosong belaka. Musuh mempergunakan perang syaraf untuk meruntuhkan mereka. Tapi karena sang nyonya sudah berkelebat dan jenderal ini heran bagaimana nyonya itu tahu-tahu ada di situ, padahal sebelumnya sudah diculik dan dibawa Kedok Hitam maka jenderal ini mendelong dan mengawasi saja kepergian orang dengan mata terbukalebar-lebar. Diam-diam ia mengeluh kenapa nyonya itu justeru mengancamnya. Bukankah mati hidup adalah resiko perjuangan. Tapi ketika nyonya itu lenyap dan anak buahnya juga terbelalak bagaimana Kim-hujin itu tiba-tiba muncul, lepas dari tangan Kedok Hitam maka Wi Hong sendiri sudah menuju ke kota raja dan mengamuk.

Nyonya ini, dalam khawatir dan cemasnya tak lagi mau mendengarkan apapun. Ia ingin berkumpul dengan puteranya itu lagi ketika tahu-tahu didengarnya cerita bahwa puteranya tewas. Susah-susah ia mencari puteranya tahu-tahu puteranya itu dikakbrkan mati. Siapa tidak mendidih! Maka begitu mendorong Chu-goanswe dan tidak perduli sang jenderal terjengkang, nyonya ini marah maka Wi Hong terbang dan meluncur ke kota raja. Dan pertama-tama yang dilihat adalah sisa-sisa pasukan yang berjaga-jaga, yakni pasukan yang merawat atau mengurusi yang luka-luka atau terbunuh.

"Mana anakku Giam Liong. Siapa yang membunuh!"

Pasukan terkejut. Mereka itu tahu-tahu disambar bayangan seorang wanita dan seketika itu juga terlempar. Mereka ditendang dan dibanting. Dan ketika Wi Hong mengamuk di sini dan menanya di mana anaknya, siapa yang membunuh maka seratus pasukan yang ada di situ tunggang-langgang dihajar.

"Hayo, mana anakku Giam Liong. Siapa yang membunuh!"

Pasukan menjerit dan kocar-kacir. Mereka tidak menyangka kedatangan wanita ini dan Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat juga telah kembali ke kota raja. Dua kakek itu juga berpikir bahwa tak mungkin ada musuh menyerbu. Chu-goanswe baru saja dihajar. Maka begitu seorang wanita berkelebat dan tahu-tahu mengangkat atau melempar tujuh orang perajurit, yang berteriak dan mengaduh maka Wi Hong mengejar dan menginjak-injak tujuh orang ini, yang lain ditampar dan dipukul dengan hawa saktinya.

"Hayo, mana puteraku Giam Liong. Siapa yang membunuh!"

Para perajurit pucat, Tujuh teman mereka yang diinjak dan dibentak-bentak itu tiba-tiba berkeratak tulang punggungnya. Sebelum menjawab mereka itu sudah mati. Perut mereka pecah! Dan ketika Wi Hong marah karena tujuh perajurit ini tak menjawab, tentu saja tak dapat menjawab karena tewas maka ia meloncat dan pedang pun dicabut untuk membabat lawanlawan lain yang ada disitu.

"Baik, tak ada di antara kalian yang menjawab. Aku akan membunuh dan kalian sebut nama nenek moyangmu... crat-crat!" lima perajurit berteriak ngeri, roboh dan terjungkal karena belum apa-apa mereka itu disambar pedang. Gerakan Wi Hong amatlah cepatnya karena jelek-jelek ia mempergunakan Im-kan-to-hoatnya, silat golok yang dimainkan pedang. Dan ketika lima tubuh menggelepar di bawah, mandi darah maka nyonya ini bergerak dan sudah berkelebatan mencari korban-korban yang lain.

"Mari... mari, aku akan membunuh semua orang di sini!"

Pedangpun menyambar-nyambar bagai siluman haus darah. Lawanpun berteriak dan melempar tubuh ke sana ke mari namun pedang menyambar juga. Wi Hong tahu-tahu telah membunuh tigapuluh orang lebih. Dan ketika yang lain menjadi kalut dan komandan juga menerima getahnya, laki-laki tinggi besar itu terbacok dan putus lengannya maka Wi Hong mengejar dan pedangpun dengan buas menyambar leher.

"Siapa yang mencari penyakit boleh mampus di sini. Mari, kuantar ke neraka... crat!" kepala komandan itu menggelinding, sama buas dan sadis seperti kalau Giam Liong membunuh musuhnya. Dan ketika Wi Hong mengejar yang lain namun sisa dari orang-orang ini melarikan diri, masuk pintu gerbang maka Wi Hong menerobos dan dengan pedang berlepotan darah ia mengamuk.

"Heii, siapa yang membunuh puteraku. Mana puteraku!"

Orang-orang mawut. Penjaga yang terbeliak dan memberikan jalan bagi teman, temannya yang masuk tahu-tahu juga disambar pedang wanita itu. Mereka menjerit ngeri dan roboh. Dan ketika ribut-ribut itu didengar istana sementara Wi Hong terus mengamuk dan menyerbu ke dalam maka Pat-jiu Sian-ong si kakek gundul muncul.

Naga Pembunuh Jilid 26

NAGA PEMBUNUH
JILID 26
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"APA itu!"' Gadis ini pucat. Ia tak seketika menjawab karena masih tertegun oleh bayangan gurunya di atas tadi. Gurunya muncul tapi sudah menutup kembali lubang sumur. Dan ketika ia terpekik karena Giam Liong mencengkeram pundaknya, keras dan seperti meremukkan tulang barulah gadis itu sadar akan pertanyaan Giam Liong.

"Semprotan belerang merah?"

"Belerang merah? Apa itu?"

"Oohh..!" gadis ini menangis. "Kita berdua akan celaka disini, Giam Liong. Kita berdua akan menyedot racun belerang merah. Kita akan pingsan!"

Giam Liong berubah. Tiba-tiba bau keras yang menyengat tajam tahu-tahu menusuk hidungnya, ia terbatuk dan Yu Yin pun di situ sudah berbersin-bersin. Gadis ini mengeluh dan terhuyung limbung. Dan ketika Giam Liong cepat menutup jalan pernapasannya dan seketika maklum bahwa itu belerang memabokkan, desisan semakin keras dan ruangan itu tiba-tiba sudah penuh oleh asap belerang maka Yu Yin roboh namun Giam Liong cepat menangkap gadis ini, roboh pula,terduduk.

"Bluk"

Giam Liong merasa pusing. Ia hampir kehilangan kesadarannya ketika tiba-tiba dengan cepat ia mematikan jalan pernapasannya. Semacam "ilmu bunuh diri", memencet nadi pergelangan dan menghentikan kerjanya jantung sudah dilakukan pemuda ini. Giam Liong mempergunakan ilmunya yang disebut Nui-kang, ilmu yang membuat tulang dan tubuhnya lemas seperti mati semu. Dan ketika pemuda itu roboh dan ia benar-benar tidak bernapas lagi, Giam Liong maklum akan ancaman bahaya maka pemuda ini mencengkeram temannya dan siapapun tak bakalan lagi dapat memisahkan dirinya dari Yu Yin. Pemuda itu telah lekat menjadi satu dengan puteri Coa-ongya ini!

"Keparat!" sebuah suara terdengar dari sisi dinding.

Giam Liong sudah tak ingat apa-apa lagi ketika dirinya roboh. Ruangan itu telah penuh asap dan iapun terguling. Dan ketika bentakan terdengar dari luar dan desis atau semprotan asap belerang itu seketika berhenti, sebuah pintu terkuak dari bawah sumur maka seseorang meloncat dan Giam Liong maupun Yu Yin disambar dibawa keluar. Giam Liong tak tahu apa yang selanjutnya terjadi tapi apa yang dia lakukan terhadap Yu Yin membuat orang itu menyumpah-nyumpah. Tubuh pemuda ini lekat dengan Yu Yin, tak dapat dipisahkan. Dan ketika sumpah atau kutuk dilepas berhamburan maka Giam Liong dibawa meloncat dan sekali orang itu menendang maka pintu bawah sumur pun menutup.

* * * * * * * *

"Bedebah, terkutuk!"

Giam Liong samar-samar mendengar sumpah serapah atau maki-makian ini. Ia masih merasa pusing dan berputaran oleh pengaruh asap belerang yang berat. Ia juga masih mempergunakan ilmunya mati semu namun perlahan-lahan otaknya bekerja. Ia tidak lagi di sumur gelap yang pengap dan penuh asap bius melainkan sudah di udara terbuka, bersih dan segar. Dan karena asap belerang tidak memenuhi paru-parunya karena sebelum mati semu ia telah ‘membunuh" jalan pernapasannya sendiri, Giam Liong tergolek dan lemas bagai tak bertenaga maka Yu Yin yang lekat di tubuhnya dan terhisap menjadi satu akhirnya diguyur air dingin dan disadarkan oleh orang yang membawa dua muda-mudi ini, yang bukan lain Kedok Hitam sendiri.

"Jahanam, bedebah terkutuk!"

Giam Liong lagi-lagi mendengar seruan atau maki-makian itu, Yu Yin bergerak dan mulai sadar di atas tubuhnya.

"Kau tak dapat kulepaskan, Yu Yin. Tubuhmu menjadi satu dengan pemuda ini. Keparat, apa yang terjadi!"

Yu Yin, yang bergerak dan membuka matanya tiba-tiba tersedu. Ia telah ditotok dan disadarkan gurunya, teringat akan apa yang terjadi dan gadis itu terkejut karena ia berada di atas tubuh Giam Liong, sementara pemuda itu tidak bergerak-gerak bagaikan orang mati. Dan ketika gurunya berdiri dan terbelalak memandang gadis ini, membetot atau menarik namun tetap saja tubuh gadis itu tak dapat dipisahkan dengan Giam Liong maka Yu Yin menjerit dan justeru merangkul erat-erat kekasihnya ini.

"Tidak... tidak!" gadis itu bagaikan gila. "Apa yang kau lakukan kepadanya, suhu. Apakah kau telah membunuhnya!"

"Hm, aku memang akan membunuhnya,tapi dia sudah mati. Bocah ini sudah tidak berdenyut jantungnya lagi ketika kuangkat dari dasar sumur.”

"Bohong!" Yu Yin berteriak. "Kau membunuhnya, suhu. Kau membinasakan kekasihku. Kau kejam!"

"Apa?" sang guru terkejut. "Kekasihmu? Kau...?"

"Benar!" Yu Yin membalik, tapi tubuh Giam Liong ikut terangkat. "Dia kekasihku suhu. Dia calon suamiku. Kau kejam telah membunuhnya.... plak!" gadis ini menjerit menghentikan teriakannya, ditampar dan sang guru marah bukan mai karena gadis itu berani memaki-makinya.

Yu Yin berteriak-teriak dan membuat ruangan itu gaduh. Mereka berada di sebuah kamar besar di mana dua bayangan tiba-tiba berkelebat dan muncul. Dan ketika kakek berkepala gundul dan Lam-ciat hadir di situ, dua orang ini tertegun namun tersenyum-senyum maka Lam-ciat terkekeh melihat Kedok Hitam dimusuhi muridnya.

"Ha-ha, guru dilawan murid. Eh, aku jadi terkejut melihat muridmu berteriak-teriak, Kedok Hitam. Kukira ada bahaya tapi ternyata tidak. Bagus, bagaimana dengan bocah itu. Apakah muridmu masih tetap tak dapat dipisahkan darinya!"

"Kalian keluar saja," Kedok Hitam merah padam. "Aku berurusan dengan muridku ini, Lam-ciat. Jaga pintu gerbang kalau Chu-goanswe dan para pemberontak itu datang. Di sini tak ada apa-apa!"

"Bagus, kalau begitu aku pergi lagi!" dan Lam-ciat yang menghilang disusul si kakek gundul, yang bukan lain Pat-jiu Sian-ong adanya maka Kedok Hitam sudah menghadapi muridnya lagi dan tampak betapa laki-laki itu gusar.

"Yu Yin," bentakan atau geram ini tak dapat disembunyikan. "Kau gila berhubungan asmara dengan pemuda ini? Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa bocah itu adalah pemberontak? Kau mau membuat malu aku dan ayahmu?"

"Aku tidak perduli. Aku mencintainya, suhu. Giam Liong adalah calon suamiku. Ia milikku, tapi kau telah membunuhnya!"

"Hm, aku tidak membunuhnya. Tapi aku pasti akan membunuhnya kalau ia masih hidup. Bocah ini aneh bagaimana bisa mati hanya karena asap belerang merah. Dan kau lengket pula di tubuhnya. Ayahmu bisa mati berdiri kalau melihat keadaan puterinya seperti ini. Kau memalukan!"

"Aku tidak perduli! Aku tidak tahu apa yang terjadi, suhu. Tapi aku senang lengket dengan Giam Liong. Mati hidup aku ingin tetap bersamanya!"

"Gila, kau tidak waras. Aku sebagai gurumu harus mencegah ini dan kau akan kupisahkan!"

Yu Yin menjerit. Gurunya, Kedok Hitam, tiba-tiba mencabut sesuatu dan sinar terang menyilaukan mata. Itulah Golok Maut dan gadis ini terpekik karena Golok Maut tahu-tahu telah berada di tangan gurunya, tentu ketika Giam Liong roboh di dasar sumur itu, merampasnya. Dan ketika laki-laki itu tertawa dingin dan Yu Yin pucat mukanya, golok menyambar dan membacok lengan Giam Liong maka gadis ini berlaku nekat dan tahu-tahu iapun menggulingkan tubuh melindungi tubuh Giam Liong itu.

"Crat!"

Golok Maut menghajar lantai karena Kedok Hitam berseru tertahan dan menyelewengkan goloknya ke kiri. Golok itu sudah siap menabas putus lengan Giam Liong yang erat menempel di perut gadis ini. Kedok Hitam akan membacoknya putus agar muridnya terbebas dari hisapan atau sedotan aneh yang keluar dari tubuh Giam Liong. Tapi karena muridnya berguling dan golok berganti menyambar muridnya itu, Yu Yin nekat dan memberikan tubuhnya maka Kedok Hitam mengeluarkan keringat dingin dan murid yang hampir celaka itu dibentak.

"Yu Yin, kau gila. Kau tidak waras!"

"Biar," gadis itu sesenggukan, menangis. "Aku tidak perduli gila atau tidak gila, suhu. Kalau kau mau mengganggu mayatnya maka akupun akan melawanmu dan membelanya mati-matian. Kau kejam. Kau tidak berperasaan. Sudah matipun masih juga hendak kau cincang!"

"Aku akan melepaskan tubuhmu."

"Aku tak mau dilepas! Aku ingin tetap bersamanya, suhu, mati atau hidup. Aku tak mau dipisahkan!"

"Dengan lengket seperti itu? Saling tindih dan tidak tahu malu?"

"Aku tak tahu apa yang menyebabkan tubuhku lengket, suhu. Tapi lengket atau tidak hatiku sudah tertambat olehnya. Giam Liong calon suamiku. Ia milikku?"

Kedok Hitam merah padam. Sang murid yang berteriak-teriak dan bersiteguh seperti itu benar-benar membuatnya marah. Tapi karena ia maklum bahwa muridnya selalu akan melawan, gigih dan keras kepala maka ia terpaksa mengalah, menahan marah.

"Yu Yin, kau tak tahu malu, tak tahu diri. Aku akan melaporkan ini kepada ayahmu."

"Laporkanlah. Justeru aku ingin bertemu ayah, suhu. Laporkan dan suruh ia ke mari!"

Kedok Hitam membanting kaki. Ia kesal dan apa boleh buat harus melaksanakan ancamannya. Laki-laki itu berkelebat dan tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki tua penuh wibawa. Dan ketika Yu Yin melihat laki-laki itu namun laki-laki ini mengerutkan kening, mukanya gelap maka gadis itu kena dampratan.

"Yu Yin, gurumu menceritakannya kepadaku. Bagaimana kau puteri seorang pangeran jatuh cinta kepada pemberontak!"

"Ayah...!" gadis itu tersedu-sedu. "Bagaimana kau malah memusuhi aku seperti suhu? Giam Liong diperlakukan kejam, ayah. Sudah menjadi mayatpun ia hendak dipotong. Tolonglah aku dan biarkan aku pergi dengan pemuda ini. Aku akan merawat jenasahnya!"

"Hm!" Coa-ongya, laki-laki ini, menggeleng, mukanya keruh. "Kau tak dapat pergi bersama mayat pemuda ini, Yu Yin. Tak baik dan tak pantas dipandang orang bahwa kau membawa-bawa mayat pemberontak. Mayat itu harus dibuang, dilempar keluar pintu gerbang. Itu pekerjaan pengawal!"

"Tidak... tidak!" gadis itu berteriak. "Giam Liong kekasihku, ayah. Giam Liong punyaku. Mati hidup akulah yang berhak!"

"Kau mau membuat malu ayahmu? Kau tidak punya otak untuk lengket dan ke mana-mana bersama pemberontak? Giam Liong sudah mati, Yu Yin. Kalau kau mau dengar nasihat ayahmu maka biarlah jenasah pemuda ini kau serahkan kepada gurumu. Atau, kalau kau ragu, boleh berikan kepada pengawal dan kau tinggal di sini, tak usah kemana-mana."

"Tapi aku tak mau dipisahkan. Mayat pemuda ini tak boleh dibacok!"

"Lalu bagaimana kau bisa pisah? Masa ke mana-mana harus membawa mayat?"

"Aku tak perduli, ayah. Tapi ini justeru menunjukkan cinta Giam Liong kepadaku. Lihat, sudah matipun ia tak mau lepas dari aku. Aku ingin bersamanya dan kalau perlu menyusulnya ke alam baka!"

"Yu Yin!”

Gadis itu tersedu-sedu. Ia mengguguk dan menangis keras ketika ayahnya membentaknya. Dewi cinta telah membelenggunya sedemikian erat hingga tak mungkin ia melepaskan Giam Liong, biarpun pemuda itu telah menjadi mayat. Dan teringat bahwa gurunya hendak membacok pemuda itu, menyakiti padahal sudah menjadi mayat maka gadis ini tak mau melepaskan dan ia bertekad biarlah pemuda itu tetap bersamanya. Sampai membusukpun!

"Aku tak mau kekasihku dilukai. Aku tak mau ia dirusak. Kalau mayat ini hendak dikuburkan biarlah aku yang menguburkannya, ayah, bukan suhu atau orang lain. Bebaskan aku dan biarkan aku pergi!"

"Kau tak dapat pergi dengan mayat pemberontak!" sang ayah gusar. "Kau harus tunduk kata-kataku, Yu Yin. Atau aku melemparmu ke lubang sumur.”

“Lemparlah, buanglah!" gadis itu tersedu-sedu, berteriak. "Kau selamanya tak pernah menyayang aku, ayah. Kau selamanya tak pernah menyenangkan aku. Bunuhlah aku dan lempar aku ke lubang sumur!"

Coa-ongya tertegun. Ditantang dan dibentak-bentak puterinya tiba-tiba iapun menarik napas dalam-dalam. Kalau sudah begini maka jalan kekerasan benar-benar terpampang di depan mata. Ia tak akan mampu membujuk puterinya. Maka sadar dan tertawa pahit, membungkuk, tiba-tiba lelaki tua ini menepuk pundak puterinya, air mata berkaca-kaca.

"Yu Yin, kau salah kalau menganggap ayahmu tak pernah sayang kepadamu. Kau salah kalau mengatakan aku tak pernah menyenangkan dirimu. Bukankah tinggal dan hidup mewah di istana adalah upaya diriku menyenangkan anakku satu-satunya? Kau mengingatkan aku akan ibumu, nak. Kau keras dan tak dapat ditekuk seperti mendiang ibumu. Dan kau juga menyusahkan aku seperti ibumu!"

Coa-Ongya tiba-tiba menangis, bercucuran air mata dan puterinya itu ganti tertegun. Selama hidup belum pernah gadis ini melihat ayahnya menangis. Yang ada ialah wajah kaku dan keras, dingin. Maka begitu melihat ayahnya menangis dan ayahnya itu tiba-tiba menutupi muka, tersedu, mendadak gadis ini menghentikan tangisnya sendiri dan la pun tiba-tiba gemetar memeluk ayahnya itu. Betapapun perasaan seorang anak tiba-tiba kambuh. Haru dan kasih sayangnya muncul.

"Ayah, kau... kau menangis?"

"Bagaimana tidak?" sang ayah mengguguk, pundak berguncang. "Kau mempertaruhkan muka ayahmu, Yu Yin. Kau menusuk-nusuk perasaanku. Apa kata orang dan sri baginda kalau tahu kau begini tergila-gila kepada Giam Liong. Bagaimana kedudukan ayahmu nanti kalau diketahui puterinya menjalin cinta dengan pemberontak."

"Maafkan aku," sang anak terisak, tak tahu betapa diam-diam tangan ayahnya bergerak ke perut Giam Liong, tangan yang kaku dan tiba-tiba seperti baja! "Aku dapat memaklumi perasaanmu, ayah. Tapi aku juga tak dapat membuang cinta yang ada di hati ini. Giam Liong.... Giam Liong telah menjadi pemuda pertama yang menjamah tubuhku. Ia calon suamiku!"

"Apa? Maksudmu...?"

"Tidak... tidak!" sang anak menggeleng, muka merah dan seketika jengah. "Aku tidak maksudkan ke situ, ayah. Aku masih utuh dan Giam Liong tidak melakukan itu. Tapi... tapi ia menyedot pahaku ketika harus mengobati panah beracun. Kami kami sudah bersatu hati!"

"Hm!" laki-laki tua itu lega, tersenyum. "Kalau begitu bukan malapetaka, anakku. Dan kau sekarang harus bebas darinya!"

"Maksud ayah?"

Yu Yin menjerit. Tiba-tiba tanpa ia ketahui jari-jari ayahnya itu sudah mencengkeram perut Giam Liong. Tangan yang sudah mendekat dan tegang bagai jari-jari baja ini mendadak merobek. Dan ketika Yu Yin mendengar suara memberebet dan tentu saja ia kaget, ayahnya mencengkeram perut kekasihnya maka Yu Yin menampar dan sang ayah terpelanting ketika harus menerima pukulan.

"Bret-plak!"

Ayah dan anak sama-sama tertegun. Coa-ongya yang terbelalak dan kaget bahwa ia tak mampu merobek perut Giam Liong, hanya bajunya karena perut "mayat" itu liat tak dapat ditembus tiba-tiba juga harus menghadapi kemarahan puterinya yang baru saja tahu bahwa sang ayah hendak mencelakai Giam Liong. Yu Yin memang tidak tahu akan maksud atau tindakan ayahnya itu ketika diam-diam mengerahkan sinkang, mencengkeram dan bermaksud melepaskan tubuh puterinya dari mayat Giam Liong. Dan ketika ia gagal dan kini justeru puterinya marah besar, Giam Liong hendak dirusak mayatnya maka gadis itu mendelik dan seketika cinta atau kasih sayangnya lenyap, terganti benci dan gusar!

"Ayah, kau... kau mau merusak mayat Giam Liong? Kau juga hendak seperti suhu yang tidak tahu malu berbuat curang? Kau... dari mana kau berlatih sinkang?"

"Hm," Coa-ongya mundur, muka menyeringai dan sedikit malu, apa boleh buat harus bertebal muka dan tidak perduli. "Aku hanya ingin membebaskan dirimu dari pemuda ini, Yu Yin. Aku tak mau kau ke mana-mana harus bersama mayat!"

"Tapi... tapi kau menyerang Giam Liong. Kau memiliki sinkang!"

"Hm, dari gurumu. Bukankah Kedok Hitam dan aku dekat? Sedikit-sedikit aku juga harus dapat membela diri, Yu Yin. Berjaga-jaga kalau ada orang jahat menyerang!"

"Tapi kau menyerang Giam Liong. Kau seperti suhu yang suka berbuat curang!"

“Sudahlah, kau tampaknya demikian tergila-gila kepada Giam Liong. Kau memalukan ayahmu. Betapapun kau tak boleh bersama mayat!" dan membalik meloncat keluar, Yu Yin tertegun karena gerakan ayahnya amatlah cepat dan tahu-tahu menghilang di sana maka gadis ini mengguguk dan tiba-tiba meloncat berdiri, harus menahan "mayat" Giam Liong yang juga terbawa naik!

"Ayah, kau tak berperasaan. Siapapun yang coba mengganggu aku dengan mayat kekasihku maka dia akan kulabrak. Aku memang ingin mati. Aku ingin menyusul kekasihku ke alam baka!" dan menabrak atau menghantam pintu sampai jebol, marah bterkelebat keluar maka gadis ini sudah tak mau tinggal lagi di ruangan itu dan tentu saja menggegerkan pengawal di situ yang menjaga di luar. Coa-ongya sendiri terkejut dan menoleh tapi iapun mendengus dan lenyap di kamar sebelah. Dan ketika pengawal berteriak mencegah gadis itu pergi, atau lebih tepat tak boleh membiarkan Yu Yin membawa mayat Giam Liong maka gadis itu mengamuk dan kaki tangannya bergerak menendangi pengawal.

"Ayo, maju. Atau kalian mampus!"

Pengawal berteriak terlempar ke kiri kanan. Mereka menjerit dan tentu saja bukan lawan murid Kedok Hitam ini. Dan ketika Yu Yin lari dan meloncati tembok pagar, melayang bagai seekor burung maka dua kakek menyeramkan menghadangnya.

"Ha-ha, kuda binal melarikan diri. Eh, apa kata gurumu, nona. Mana gurumu dan kenapa kau membawa-bawa mayat pemuda itu. Berhenti, kami tak mendapat perintah untuk membiarkan siapapun keluar dari sini!"

"Bagus, kau kakek busuk, Lam-ciat. Hayo antarkan aku ke neraka atau kau mampus!"

Kakek ini tertawa. Ia berkelebat dengan Hoan-eng-sutnya dan lenyaplah si gimbal tak dapat diserang, Yu Yin mengamuk dan menerjang kakek satunya, si gundul Pat-jiu Sian-ong. Tapi ketika kakek inipun tertawa dingin dan mengelak serta mengibas, Yu Yin terpelanting maka Lam-ciat muncul lagi dan tepukannya yang perlahan di pundak gadis ini membuat Yu Yin berteriak untuk kedua kalinya.

"Ha-ha, tak melihat muka ayahmu tentu kau mendapat hajaran berat, nona. Tapi melihat ayahmu biarlah kau roboh dan jangan kemana-mana!"

"Benar!" Pat-jiu Sian-ong juga berseru. "Tak melihat muka gurumu tentu kami membunuhmu, nona. Tapi karena kau murid Kedok Hitam biarlah kami tangkap dan robohkan saja!"

Yu Yin kalang-kabut. Setelah dia berhadapan dengan orang-orang ini tentu saja berat baginya mempertahankan diri. Apalagi, Giam Liong juga melekat di tubuhnya. Ia harus berhati-hati menjaga kekasihnya itu dan berkali-kali jatuh bangun kalau mayat kekasihnya ini hendak menerima hajaran langsung. Sian-ong maupun Lam-ciat dua kali hendak melampiaskan dendam dengan menampar Giam Liong. Tapi ketika Yu Yin melindungi pemuda itu dan dua kali pula memberikan tubuhnya sebagai pengganti, Sian-ong dan Lam-ciat tentu saja harus menarik pukulannya maka berkelebatlah bayangan Kedok Hitam dan laki-laki itu membentak.

"Yu Yin, kau mempermalukan guru dan ayahmu. Baiklah, kau boleh bawa mayat pemuda itu namun setelah itu kau harus kembali!"

Lam-ciat dan Sian-ong terkejut. Kedok Hitam menangkis serangan mereka dan dua kakek ini terhuyung. Kedok Hitam melindungi muridnya. Dan ketika duakakek itu terbelalak namun Kedok Hitam menyuruh mundur,gadis ini sedang nekat maka Yu Yin dipersilahkan keluar tapi setelah itu harus kembali.

"Ayahmu memperbolehkan kau pergi. Tapi besok pagi sudah harus kembali!"

Yu Yin menangis. Ia mengguguk tapi meloncat memutar tubuhnya, suhunya sudah memerintahkan dua kakek itu melepaskan dirinya. Dan ketika ia berkelebat dan lari lagi, meninggalkan istana maka gadis ini tak tahu betapa secara diam diam Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat disuruh membuntuti.

"Awasi dia. Kalau terlalu jauh kalian giring agar tidak terlalu jauh!"

Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat mengangguk. Mereka tertawa dan tentu saja sudah bergerak mengikuti gadis itu. Dan ketika Yu Yin me layang dan meloncati gerbang kota raja, turun dan berlari cepat di sana maka gadis itu menerobos gelap secara nekat. Tak perduli kepada jurang di depan atau hutan yang pekat. Ia hendak mencari tempat yang enak dan melepas tangisnya yang menyesak dada. Ia ingin tetap selalu bersama Giam Liong. Kalau perlu hidup berdua dalam satu lubang pula.

Dan ketika gadis itu meluncur dan jauh meninggalkan istana, berhenti dan mengguguk di tempat sepi maka Yu Yin merangkul kekasihnya itu dan berulang-ulang menyesali kematian Giam Liong. Ia tak tahan namun akhirnya mengepal tinju. Dan ketika tiga jam kemudian gadis itu membuang air mata, Yu Yin meratap tiada habisnya maka gadis, ini menggerakkan tangan dan dengan tangan sebelah memeluk kekasihnya gadis itu membuat lubang.

"Giam Liong, aku ingin kita berdua mati di sini. Biarlah kubuat liang lahat dan kita sama-sama tidur!"

Benar saja, begitu lubang selesai Yu Yin pun terjun. Gila! Gadis ini tak mau banyak cakap lagi dan selesai menggali kubur iapun meletakkan Giam Liong di situ, diri sendiri telentang dan tetap memeluk mayat itu. Dan karena air matanya sudah habis dan tak ada lagi sisa dikeluarkan, gadis ini kecewa dan kesal bercampur-aduk maka iapun tidur bersama "mayat" itu sampai akhirnya matahari menghangati tubuh keduanya. Malam telah lewat!

"Yu Yin, bangun. Kita harus keluar!"

Bisikan atau kata-kata ini bagai sebuah mimpi. Yu Yin tentu saja tak tahu bahwa Giam Liong mempergunakan Nui-kangnya. Ilmu ini membuat Giam Liong mati semu dan semua itu berlangsung sampai pemuda ini memulihkan tenaganya lagi. Mati semu mengharuskan Giam Liong duabelas jam tanpa gerak, itupun sudah dilakukan pemuda ini dan semalam penuh Giam Liong benar-benar kehilangan tenaga, meskipun sinkang atau tenaga saktinya tetap melindungi dan itulah sebabnya Kedok Hitam tak mampu merobek perutnya, ketika laki-laki itu mencoba memisahkan muridnya dengan pemuda ini. Dan ketika pagi itu Giam Liong pulih lagi dan Nui-kang atau pelemas tulangnya berakhir, ilmu itu akan bekerja selama duabelas jam maka Giam Liong meloncat dan berbisik di telinga kekasihnya itu. Tentu saja tahu dan mendengar semua yang telah terjadi, termasuk pembelaan gadis itu yang melawan guru dan ayahnya sendiri!

Namun Yu Yin kelelahan. Gadis ini, seperti diketahui, telah menangis semalam suntuk dan tak mempunyai air mata lagi. Ia telah membuat lubang pula dan semalam penuh menemani "mayat" Giam Liong. Jadi ia terlelap dan seakan bermimpi. Maka ketika Giam Liong berbisik dan pemuda itu meloncat bangun, Nui-kang atau ilmu mati semunya telah berakhir maka Yu Yin justeru semakin merasa bermimpi ketika tubuhnya malah diguncang-guncang.

"Sst, bangun, Yu Y in... bangun!"

Gadis ini menggeliat. Saat itu dia benar-benar sedang bermimpi bersama Giam Liong. Sangkanya, ia berada di alam baka. Maka ketika tiga kali Giam Liong berbisik dan mengguncang tubuhnya,ia merasa heran bagaimana Giam Liong yang mati meremas pundaknya maka gadis ini membuka mata dan tanpa sadar ia menjerit melihat Giam Liong ada di situ. Mukanya bercahaya dan amat tampan.

"Giam Liong?"

Giam Liong terharu. Ia mengangguk dan seketika memeluk. Yu Yin sendiri sudah memeluk dan menubruk dirinya. Dan karena Yu Yin masih merasa mimpi sedangkan Giam Liong tidak mengira gadis itu dipengaruhi mimpinya, terharu dan menitikkan air mata maka gadis ini justeru mengguguk dan tersedu-sedu dipelukannya.

"Giam Liong, kita... kita di alam baka? Kita dapat bertemu di sini? Aduh, aku tak mau berpisah denganmu, Giam Liong. Biar di alam baka pun asal kita tetap berdua!"

"Hush, omongan apa ini? Siapa di alam baka? Kita di lubang kubur, Yu Yin. Dan kau pula yang membuat liang lahat ini Kita masih hidup!"

"Hidup? Di tempat sempit ini? Bohong. Kau bergurau, Giam Liong. Kau telah mati dan kini di alam baka. Aku juga di sini dan ternyata dapat menyusul. Aduh, aku tak mau kehilangan kau lagi!" dan Yu Yin yang menangis tapi girang dan bahagia benar-benar menganggap kekas ihnya bohong. Giam Liong telah mati dan tak mungkin hidup lagi. Kalaupun hidup maka tentu di alam baka. Maka ketika dia mengguguk tapi Giam Liong menepuk pundaknya, gadis ini tak percaya maka Giam Liong mencubit, sekarang tahu dan maklum bahwa kekasihnya memang seolah sedang bermimpi.

"Tidak, kita benar-benar hidup, Yu Yin, masih hidup. Coba kau rasakan apakah sakit atau tidak kalau kucubit. Orang mati tentunya tak akan merasa sakit!"

Yu Yin berteriak. Akhirnya ia menjerit ketika Giam Liong mencubitnya. Giam Liong hendak menyadarkan kekasihnya ini bahwa mereka benar-benar masih berada di dunia. Ia maklum dan dapat mengerti apa yang dialami kekasihnya itu. Maka begitu ia mencubit dan Yu Yin sadar, gadis itu terbelalak maka Giam Liong tersenyum dan berbisik, memeluk, penuh haru, "Nah, apa kataku, Yu Yin. Kita masih hidup dan benar-benar hidup. Kita di dunia, kita bukan di alam baka.”

"Tapi... tapi..." gadis ini bengong, bingung. "Kau telah tidak bernapas, Giam Liong. Kau telah mati. Jantungmu tidak berdenyut."

"Aku mati semu," pemuda itu menerangkan. "Dan aku tidak mati sungguh-sungguh. Aku mempunyai sebuah ilmu istimewa yang disebut Nui-kiang."

"Nui-kang? Kau... kau mati semu?"

"Benar, dan itu telah mengecoh gurumu, Yu Yin, dan juga ayahmu. Tapi ayahmu mencurigakan. Ia memiliki sinkang!"

"Kau tahu?"

"Tentu saja. Ia mencengkeram perutku, Yu Yin. Kalau sinkangku tidak otomatis melindungi maka tentu perutku robek. Itu luar biasa!"

Yu Yin menangis. Setelah Giam Liong bicara tentang ayahnya maka iapun mengguguk lagi, bukan girang dan bahagia seperti tadi melainkan sedih dan marah. Ayahnya memang terlalu. Giam Liong yang sudah menjadi "mayat" hendak dirusak juga tubuhnya. Tapi teringat apakah semuanya ini tidak bohong, benarkah Giam Liong baru saja mati semu dan pemuda itu masih hidup maka gadis ini meloncat dan berseru,

"Giam Liong, aku masih bingung oleh semuanya ini. Aku tidak percaya bahwa kau dan aku masih di dunia fana ini. Bolehkah kubuktikan dan apakah kau keberatan kalau setetes darahmu kulihat!"

"Hm, jangankan setetes. Semuanyapun siap kuberikan, Yu Yin. Cobalah dan gurat kulitku!"

Gadis ini bergerak. Ia memang masih ragu dan bimbang oleh semuanya ini. Benarkah ia dan Giam Liong masih berada di dunia fana. Maka begitu Giam Liong memberikan lengannya dan pemuda itu tentu saja melemaskan sinkangnya, Yu Yin menggurat dan mempergunakan kuku jarinya maka benar saja darah mengucur dan Yu Yin berseru tertahan.

"Benar, kau... kau masih hidup!"

"Tentu, dan kitapun bukan di alam mimpi, Yu Yin. Coba rasakan darahku dan yakinkan bahwa kau benar-benar tidak bermimpi!"

Yu Yin menangis. Akhirnya ia mencecap darah Giam Liong dan hilanglah keragu-raguannya bahwa ia dan Giam Liong berada di akherat. Mereka benar-benar masih hidup dan darah serta kata-kata Giam Liong terbukti. Dan begitu ia mengguguk dan menubruk pemuda ini lagi, mereka masih di liang lahat maka dua bayangan berkelebat dan itulah Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong yang mendengar tangis atau seruan-seruan Yu Yin.

"Heii..!" dua kakek itu terkejut. "Ada apa, Yu Yin? Bocah itu sudah... celaka!"

Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong menghentikan kata-katanya. Mereka pucat dan terbelalak melihat Giam Liong. Pemuda itu sudah di bawah lubang dan mendongak memandang mereka. Wajah di balik caping itu memerah dan mata seperti seekor naga mencorong berkobar-kobar. Dua kakek itu terkejut dan ternganga, melongo. Tapi ketika Giam Liong bergerak dan menyambit dua golok terbang, hui-to yang bercuit dan menyambar dua kakek itu maka Lamciat dan Pat-jiu Sian-ong terjungkal dan seketika menjerit.

"Aduh... iblis!"

Yu Yin terkejut. Ia tentu saja tak tahu bahwa dirinya sebenarnya dibuntuti. Gurunya telah memerintahkan dua orang ini agar selalu mengawasi gadis itu. Kalau terlalu jauh harap dihadang dan disuruh kembali. Maka begitu tertegun dan pucat melihat Giam Liong, pemuda yang disangka mati itu mendadak hidup lagi dan melempar hui-to terbang, mereka tak sempat mengelak dan menjerit bergulingan maka Giam Liong berkelebat dan melayang ke atas.

"Lam-ciat, Pat-jiu Sian-ong.., kalian manusia-manusia busuk. Mampuslah!"

Dua kakek itu terkejut. Mereka sungguh mati tak mengira bahwa Si Naga Pembunuh ini masih hidup. Bahkan, kini menyerang dan menikam mereka dengan dua golok terbang. Dan ketika mereka bergulingan dan tentu saja menjauh, pucat, maka Lam-ciat maupun Pat-jiu Sianong sama-sama berteriak bahwa mereka bertemu iblis.

"Setan, roh pemuda ini bangkit!"

"Benar, kita bertemu arwahnya, Sian-ong. Ini bukan jasadnya!"

'Tapi ia mampu menimpuk golok."

"Dan kita terkena... ah!" dan dua kakek itu yang pucat dan bergulingan menjauh akhirnya menjadi semakin kaget lagi karena Giam Liong mengejar. Pemuda itu berkelebat dan melepas pukulan jarak jauh. Dan ketika dua kakek itu menjerit dan kembali terlempar, Sian-ong malah mencelat dan terguling-guling maka Lamciat bunu-buru mengeluarkan Hoan-engsutnya dan meledakkan telapak tangan.

“Lari, kita pergi dulu!"

Namun Giam Liong tentu saja tidak memberi ampun. Ia tak mau melepas lawannya dan begitu Lan-ciat melarikan diri iapun mengejar. Tangan kirinya bergerak dan Pek-lui-kang atau pukulan Halilintar menyambar, meledak dan mengenai punggung kakek itu sebelum Lam-ciat benar-benar menghilang di balik Hoan-eng-sut nya. Dan ketika kakek itu mengeluh dan Giam Liong ganti menyambar Pat-jiu Sian-ong, yang berteriak dan terlempar bergulingan maka kakek gundul itupun menjerit dan lari tunggang-langgang.

"Ampun, kembalilah ke neraka. Kau bocah iblis!"

Giam Liong menggeram. Dewa Lengan Delapan yang tidak memiliki ilmu menghilang tak dapat berbuat seperti Lam-ciat. Kakek itu jatuh bangun dikejar Giam Liong. Namun ketika Giam Liong mengejar dan terus melancarkan serangan bertubi-tubi, pemuda itu hendak membunuh lawannya tiba-tiba Yu Yin berkelebat dan menyambarlengannya.

"Giam Liong, sudah. Jangan dibawa ke kota raja!"

"Maksudmu?" Giam Liong terkejut.

"Kakek itu lari ke istana, Liong-ko. Kau akan celaka lagi di sana dan aku tak mau.”

"Apa?"

"Apa apa? Aku bilang kau tak usah mengejar mereka itu. Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong kembali ke istana!"

"Tidak, bukan itu. Aku ingin mendengar sekali lagi kata- katamu itu!"

"Kata-kata apa. Aku sudah jelas bicara!"

"Tidak, bukan itu. Aku ingin mendengar kau menyebutku lagi seperti tadi. Panggilanmu itu!"

"Panggilan apa?"

"Sebutan Liong-ko (kanda Liong). Ah, meremang bulu kudukku mendengar panggilanmu tadi, Yu Yin. Sebut sekali lagi dan aku tidak akan mengejar mereka!"

Yu Yin terkejut. Tiba-tiba ia menjadi merah dan panggilannya tadi yang dikeluarkan tanpa terasa kiranya telah membuat Giam Liong panas dingin. Ia jengah tapi tentu saja tak mau disuruh memanggil lagi. Dan ketika Giam Liong terbelalak karena gadis itu tak mau mengulang, Giam Liong bergerak dan kembali mengejar Pat-jiu Sian-ong maka Yu Yin membentak,

"Liong-ko!"

Giam Liong tertawa bergelak. Kemarahan dan kebenciannya terhadap Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat sekonyong-konyong berantakan oleh panggilan atau bentakan ini. Yu Yin boleh membentaknya tapi bentakan itu adalah bentakan cinta kasih. Di balik bentakan itu terkandung rasa cemas dan gelisah. Giam Liong seketika merasa bahagia! Dan ketika ia menghentikan larinya dan membalik menyambar gadis itu, memeluk dan mencium maka Si Naga Pembunuh yang tadi beringas dan sadis itu sudah menjadi lembut dan bercahaya. Mukanya berseri-seri.

"Ha-ha, alangkah bahagianya mendengar sebutan ini, Yu Yin. Ah, betapa bahagia dan besar hatiku. Aduh, kau kekasihku cantik. Kau sayangku... cup-cup!" dan Giam Liong yang mencium serta menghabiskan wajah kekasihnya untuk diciumi tiba-tiba membuat Yu Yin mengeluh dan panas dingin.

Gadis itu merasakan kebahagiaan yang luar biasa pula dan iapun roboh di pelukan Giam Liong. Dibiarkannya pemuda itu melumat bibir dan menciumi wajahnya. Namun ketika ia mendeprok lemas dan Giam Liong terkejut, mendorong dan melepaskan kekasihnya maka pemuda itu bertanya, heran, "Yu Yin, kau kenapa?"

Gadis itu menangis, tak menjawab.

"Eh, kau kenapa, moi-moi? Ada apa? Kenapa lemas dan tiba-tiba lunglai begini? Sakitkah?"

Gadis itu terbelalak. Giam Liong yang semula terkejut dan bertanya-tanya tiba-tiba dibuat kaget dan bingung karena tiba-tiba gadis itu tersenyum. Aneh, air mata masih berderai tapi kekasihnya tersenyum. Dan ketika ia menjublak dan bingung serta tak mengerti mendadak kekasihnya itu tertawa!

"Giam Liong, kau bilang apa tadi? Kau sebut apa kepadaku tadi?"

"Hm," pemuda ini tersipu, jengah. "Aku menyebutmu moi-moi, Yu Yin. Sama seperti kau menyebutku Liong-ko. Kenapa kau tertawa sementara tadi menangis dan lumpuh!"

"Hi-hik, aku... aku geli!"

"Geli? Kau menangis karena geli?"

"Tentu saja bukan. Aku menangis karena bahagia, Giam Liong. Dan ketawa karena geli. Aku geli karena kau menyebutku moi-moi. Ihh, mesra dan hangat sekali kata- katamu itu. Aku minta diulang!"

"Gila!"dan Giam Liong yang ketawa dan menyambar kekasihnya ini lalu mencium dan melumat bibirnya. Pusing-pusing ia memikirkan kekasihnya ternyata kekasihnya itu geli dan bahagia. Konyol, ia tadi menyangka sakit atau apa. Maka begitu ia mengerti dan mencubit serta mencium maka kekasihpun dibawa meloncat dan Giam Liong terbahak-bahak.

"Moi-moi, kau sungguh gila. Bingung-bingung aku memikirkanmu ternyata kau malah geli dan bahagia. Sialan, siapa mau memanjakanmu kalau begini? Hayo ke atas, awas kulempar!" dan Giam Liong yang melempar dan menerima kembali tubuh kekasihnya untuk dijadikan mainan akhirnya membuat Yu Yin terkekeh dan senang.

Gadis itu bahagia dan gembira sekali. Lupa sudah segala urusannya dengan sang ayah atau guru. Lupa sudah segala urusannya dengan istana. Tapi ketika Giam Liong melempar-lemparnya ke atas dan pemuda itu tertegun teringat sesuatu, ia berhenti dan meraba punggungnya maka pemuda ini berubah.

“Yu Y in, mana Golok Mautku!"

Yu Yin terkejut. Ia baru saja bersenang-senang dan merasakan bahagia. Ia baru saja merasakan nikmatnya cinta. Maka begitu sang kekasih menurunkannya dan Giam Wong bertanya tentang goloknya, senjata yang dirampas gurunya maka gadis itu sedih, seketika terisak. "Golokmu dibawa suhu, Giam Liong. Suhu merampasnya..."

"Gurumu...?"

"Benar."

"Kalau begitu aku harus ke sana!"

"Giam Liong!" Yu Yin membentak, berkelebat dan menghadang. "Kau mau mencari penyakit? Kau tidak mau mendengar kata-kataku?"

"Hm, senjata tiada ubahnya nyawa, Yu Yin. Aku akan merampasnya kembali dan tak boleh dibawa orang lain. Itu warisan ayahku.”

"Kau tak boleh ke sana, kalau kau benar-benar mencintai aku. Tunggu dan biar aku yang memintanya dari suhu. Atau, kalau ia tak mau memberikan biar kucuri!"

Giam Liong tertegun. Kekasihnya ini berdiri tegak dengan mata berapi-api. Mereka beradu pandang tapi Giam Liong akhirnya menarik napas, dalam-dalam. Dan ketika perasaannya kembali mendidih karena Golok Maut, senjatanya, dirampas Kedok Hitam maka ia mengangguk dan mengertakkan gigi.

"Baik, aku menuruti nasihatmu, Yu Yin. Tapi tiga hari kau tak kembali maka aku akan menyerbu istana. Tempat gurumu kuobrak-abrik!"

"Aku akan membantu sebisaku, tapi jangan terlalu singkat," gadis itu terisak.

"Maksudmu?"

"Jangan tiga hari, Giam Liong, tetapi berilah waktu tujuh hari..."

"Tidak, tiga hari sudah cukup. Yu Yin. Aku tak mau senjata warisan ayahku berlama-lama di tangan orang lain. Kau sanggup atau tidak!"

"Kalau tidak?"

"Aku akan pergi dan ke tempat gurumu sekarang. Aku tak perduli!"

Yu Yin membentak. Ia marah sekali melihat kekerasan kepala pemuda itu. Giam Liong benar-benar tak dapat ditekuk. Tapi mengangguk dan berkelebat memutar tubuhnya gadis itu menangis. "Baik, kau tunggu aku tiga hari, Giam Liong. Nyawapun siap kupertaruhkan untuk golokmu!"

Giam Liong tertegun. Ia menjublak dan membelalakkan mata. Yu Yin telah marah dan meninggalkannya. Padahal, baru saja mereka dimabok cinta. Dan geram oleh perbuatan si Kedok Hitam iapun membalikkan tubuh dan berseru, "Baik, tiga hari kita bertemu lagi, Yu Yin. Kutunggu kedatanganmu di tempat Chu-goanswe!"

Dua muda-mudi itu berpisah. Mereka sama-sama marah karena masing-masing merasa terganggu. Yu Yin dengan kekerasan kepala Giam Liong sementara pemuda itu dengan perbuatan si Kedok Hitam. Benci dan cinta silih berganti mempermainkan dua muda-mudi ini. Dan ketika Yu Yin lenyap di sana dan Giam Liong juga lenyap di sini, di hutan itu maka dua muda-muda itu saling menggigit bibir dan sama-sama mengepalkan tinju!

* * * * * * * *

"Heii... Sin-siauwhiap muncul. Heii, dia datang!"

Pekik atau sorakan orang-orangdi hutan menggegap-gempita. Mereka melihat Giam Liong yang memasuki hutan dan pemuda yang baru saja berkelebat dan marah-marah gara-gara Golok Mautnya disambut ramai. Chu-goanswe, yang diberi tahu anak buahnya dan menyeruak maju sudah pula melihat pemuda ini. Dan begitu ia melihat begitu pula ia menggigil, gemetar.

"Sin-siauwhiap, kau... kau ini?"

"Hm, mana ibu?" Giam Liong tak menjawab, justeru bertanya ibunya. "Di mana ibuku, goaaswe. Dan kenapa kalian tidak meneruskan serbuan!"

Sang jenderal tertegun. Ia melihat muka yang merah dan mata yang berkilat dari pemuda ini. Seketika jenderal itu maklum bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Pemuda itu sedang marah! Dan ketika ia mengerutkan kening tetapi menangkap lengan pemuda ini, meremas-remasnya maka jenderal itu bertanya, suaranya juga menggigil,

"Siauwhiap, kau masih hidup? Ini bukan rohmu yang gentayangan di muka bumi? Kau benar-benar masih Giam Liong putera Si Golok Maut?"

"Hm, kenapa kau tanyakan itu? Aku memang masih hidup, goanswe. Dan aku Giam Liong yang seperti dulu. Kenapa kau tanyakan ini!"

"Sst, tapi kau dikabarkan tewas. Kau terbunuh di lubang sumur rahasia. Kau dicelakai Kedok Hitam!"

"Itu betul, tapi Kedok Hitam tak mampu membunuhku. Aku masih sehat dan kini aku mencari ibu."

"Ibumu pergi, dia menyusulmu ke istana!"

"Hah?"

"Benar, ah, celaka, siauwhiap... celaka! Ini gara-gara berita yang kudengar dari istana. Mati-matian aku menutup rahasia ini agar tidak terdengar anak buahku. Ah, mari ke dalam dan duduk di kemahku!"

Chu-goanswe menarik dan menyambar lengan pemuda ini. Dia sudah mencengkeram dan mendapat bukti bahwa Giam Liong masih hidup. Ia merasakan tangan yang hangat dan dapat dipegang. Juga kaki pemuda itu menginjak tanah. Dan karena roh atau arwah halus tak mungkin dapat dipegang, juga kakinya tak menginjak bumi padahal pemuda ini tidak, berarti yang dihadapi bukanlah mahluk halus melainkan benar-benar pemuda itu maka Chu-goanswe gemetar dan membawa pemuda ini memasuki kemahnya. Bayangan-bayangan berkelebat dan itulah pembantu-pembantu Chu-goanswe. Namun ketika jenderal ini mengusir dengan tangannya dan bayangan-bayangan itu tertegun, keluar maka jenderal itu berkata bahwa siapa pun tak boleh masuk.

"Aku hendak bicara penting dengan Sin-siauwhiap. Kalian semua jaga di luar!"

Anak buah Chu-goanswe melongo. Mereka sebenarnya hendak mengelu-elukan datangnya pemuda itu karena pemuda itu di tunggu-tunggu hasilnya setelah mengejar musuh. Kedok Hitam dan kawannya lari ke istana dan pemuda itu memburu. Dan ketika tiba-tiba pemuda itu datang dan kemunculannya seperti iblis, mengejutkan tapi tentu saja menggirangkan maka mereka kecewa karena Chu-goanswe tak memperbolehkan mereka bicara.

"Apa yang hendak dibicarakan. Kami juga ingin bicara!"

"Hush, tahan mulutmu, Pang Kui. Goanswe tentu ingin bicara penting dan bukan hanya sekedar melihat Sin-siauwhiap. Musuh telah mendesak kita sampai kemari!"

"Tapi kita dapat membalas. Sin-siauwhiap sudah ada di sini!"

"Benar, itu sekarang. Tapi kemarin Sin-siauwhiap hilang. Musuh telah memperdayainya!"

"Sudahlah, aku juga ingin bicara dan biar nanti saja setelah keluar aku menemuinya. Aku juga ingin memegang-megang Sin-siauwhiap!"

Dua orang itu bertengkar sendiri. Mereka tiba-tiba ribut namun seorang komandan tiba-tiba membentak. Mereka disuruh diam dan segeralah dua orang itu diam, meskipun masing-masing saling melotot, marah! Dan ketika dua orang itu pergi dan masing-masing berpisah, mungkin mereka bisa bertengkar lagi kalau tetap bersama maka di kemahnya jenderal ini pucat dan bingung silih berganti, Giam Liong lagi-lagi menanya ibunya.

"Mana ibuku. Kenapa ia tak kelihatan!"

"Inilah," sang jenderal bicara. "Kemarin ibumu muncul, siauwhiap, mencari-carimu. Tapi karena kau sedang mengejar Kedok Hitam dan ibumu kuberi tahu maka ia marah-marah dan menyalahkan aku. Katanya kenapa aku membiarkanmu ke tempat musuh padahal ia sudah ada di sini!"

"Hm, lalu bagaimana?"

"Tentu saja kuterangkan bahwa mula-mula tidak begitu, siauwhiap. Bahwa ibumu diculik Kedok Hitam dan kau mengejarnya. Aku sendiri tak tahu bagaimana ia tiba-tiba muncul, selamat!"

"Ibu ditolong ayah angkatku, aku juga baru tahu."

"Ah, Pek-jit-kiam Ju-taihiap?"

"Benar, dan isterinya, goanswe. Dan aku telah bertemu mereka."

"Tapi kau tetap mengejar Kedok Hitam. Ibumu lalu menyusul!"

"Hm, aku memang ingin membunuh musuhku itu. Aku ingin menghirup darahnya!"

"Tapi ini membuat ibumu cemas. Ia menyangka kau tak tahu bahwa dirinya selamat, siauwhiap. Dan begitu ia datang begitu pula ia pergi lagi. Apalagi ketika didengarnya bahwa kau tewas di lubang jebakan!"

"Secepat itu ibu mendengar berita?"

"Kedok Hitam dan orang-orangnya Coa-ongya mengabarkan hal ini, siauwhiap. Dan aku sendiri mati-matian meredam berita. Aku takut anak buahku dengar dan perjuanganku gagal!"

"Hm, aku sekarang tak memikirkan yang lain. Aku memikirkan ibu. Kalau ibu ke istana berarti aku harus menyusulnya pula!"

"Benar, dan aku girang kau datang, siauwhiap. Aku dapat membalas musuh yang telah memukulku di pintu gerbang. Aku dan pasukanku terpaksa mundur setelah kami menghajar pasukan kerajaan. Aku juga siap membantu!"

Namun Giam Liong tiba-tiba tertegun. Ia teringat perjanjiannya dengan Yu Yin dan itu berarti memaksa dirinya harus menunggu. Bingung dan gelisahlah pemuda ini merasakan keadaannya. Dan ketika Chu-goanswe tertegun dan heran kenapa punggung pemuda itu kosong, golok yang biasa ada di situ sudah tak ada lagi maka jenderal ini bertanya,perlahan,

"Siauwhiap, mana Golok Mautmu? Hilang?"

"Hm," Giam Liong bangkit berdiri, mondar-mandir. "Ini yang membuat aku marah, goanswe. Aku baru saja bertengkar dengan Yu Yin gara-gara golok ini. Senjataku dirampas Kedok Hitam!"

"Yu Yin? Murid atau puteri Coa-ongya itu?"

"Benar, dia. Dan aku berjanji untuk bertemu lagi tiga hari, di sini. Ah, bagaimana ini!"

Chu-goanswe tertegun. Tiba-tiba iapun menjadi bingung oleh kata-kata ini, juga tak enak. Ia tahu hubungan apa yang ada di antara muda-mudi ini. Sebagai orang tua tentu saja ia menangkap apa yang telah terjadi. Namun karena urusan itu urusan pribadi dan tak enak rasanya mencampuriurusan anak-anak muda, dia tak berhak ikut campur maka jenderal ini akhirnya menarik napas panjang dan berseru,

"Kalau begitu bagaimana, siauwhiap? Aku hanya mengkhawatirkan ibumu. Aku bisa-bisa saja menunggu tiga hari lagi tapi jangan-jangan terjadi sesuatu dengan ibumu. Musuh amat licik dan kejam!"

"Aku juga berpikir begitu. Tapi bagaimana janjiku dengan Yu Yin. Ah, bagaimana semuanya ini jadi begini!"

"Kalau aku sebaiknya kita serbu dan masuk. Tapi semuanya terserah dirimu."

"Aku tak dapat menarik ludahku, goanswe. Bagi seorang gagah lebih baik mati daripada menjilat ludah kembali!"

"Aku tahu. Ah, terserah siauwhiap sajalah," dan Chu-goanswe yang mengangguk dan diam-diam kagum akan kegagahan Giam Liong memegang janji lalu mempersalahkan pemuda itu beristirahat dan keluar menemui anak buahnya. Diam-diam kecewa tak dapat menyerbu saat itu juga namun ia dapat memahami kekesatriaan putera Si Golok Maut ini. Giam Liong memang pemuda gagah. Keturunan Si Golok Maut itu memang lelaki jantan. Dan ketika jenderal itu juga terpaksa menahan hatinya sementara ia mulai mempersiapkan pasukan untuk menyerang tiga hari lagi waktu yang dirasa terlalu lama maka Giam Liong atau Si Naga Pembunuh mondar-mandir di dalam kamarnya.

Giam Liong gelisah dan bingung mendengar ibunya ke istana. Ia menyesal bahwa terlanjur berjanji dengan Yu Yin untuk menunggu tiga hari lagi. Tapi karena janji tetaplah janji dan ia harus menepati, Giam Liong mengertak gigi membayangkan keselamatan ibunya maka di lain tempat memang terjadi apa yang dikhawatirkan Chu-goanswe. Roboh dan tertangkapnya wanita ini!

* * * * * * * *

Hari itu, ketika Wi Hong atau Kim-hujin ini dibebaskan dari cengkeraman si Kedok Hitam maka wanita itu kembali ke tempat Chu-goanswe. Namun hutan di mana jenderal itu dan pasukannya berperang ternyata sudah berpindah. Gerakan atau serbuan pasukan pejuang sudah maju di depan mengejar musuh. Sepak terjang Giam Liong yang membuat Kedok Hitam melarikan diri sementara Lam-ciat maupun Pat-jiu Sian-ong harus menyingkir membuat pasukan kerajaan jerih dan gentar. Mereka melihat tandang yang mengerikan dari pemuda bercaping itu. Melihat Giam Liong mengingatkan orang akan mendiang ayahnya, sungguh mirip dan sama-sama menggiriskan.

Namun karena pemuda ini lebih hebat lagi karena ia mampu menghalau Kedok Hitam, juga kawan-kawannya yang lain maka orang lebih ngeri melihat golok mautnya yang berseliweran naik turun. Di tangan pemuda ini tampaknya Golok Maut lebih hidup dan haus darah. Sekali berkelebat tujuh sampai sepuluh kepala putus, mencelat dan menggelinding dari tempatnya karena sudah terbabat oleh keredep sinar putih itu, yang hanya tampak seperti kilat menyambar. Dan karena lawan tentu saja gentar dan pasukan kerajaan mundur tak berani menghalangi pemuda ini, yang bergerak dan membuka jalan darah untuk mengejar Kedok Hitam maka pasukan Chu-goanswe memperoleh kemenangan dan menghajar musuh dengan berani.

Namun pasukan itu tertahan di pintu gerbang. Musuh sudah lenyap memasuki kota dan di sini Chu-goanswe menunggu. Wi Hong atau Kim-hujin itu sendiri masih di belakang karena mengejar di hutan pertama. Dan ketika Chu-goanswe gemas karena lawan menutup diri, pintu dipertahankan rapat dan anak-anak panah juga dilepas dari tembok tinggi, jenderal ini tak mau pasukannya menjadi korban maka apa boleh buat dia harus menunggu tapi alangkah kagetnya dia ketika tengah malam terdengar sorak-sorai gemuruh yang menyatakan bahwa Giam Liong atau Si Naga Pembunuh tertangkap, tewas.

"Horee... Si Naga Pembunuh tertangkap. Horee... ia terbunuh!"

Chu-goanswe dan pasukannya kaget. Dibalik pintu gerbang terdengar sorai dan pekik gegap-gempita. Musuh mengabarkan kematian Giam Liong dan jenderal itu tentu saja berubah. Kalau ini benar maka celakalah dia. Pasukannya bisa terpukul! Dan ketika benar saja pintu gerbang dibuka dan dua orang yang amat ditakuti muncul, Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat maka jenderal ini terkejut dan tersentak.

"Ha-ha, bocah she Sin itu telah kami bunuh. Kalian tak perlu ditakuti lagi!"

Chu-goanswe dan pasukannya diserang. Tengah malam itu musuh benar-benar garang dan mereka tak takut lagi membuka pintu gerbang. Dua kakek hebat, Pat-jiu Sian-ong dan Hantu Selatan berkelebatan. Dan ketika mereka tertawa-tawa dan Chu-goanswe digempur, jenderal itu masih tertegun dan terkejut maka Chu-goanswe yang sadar dan tak mau percaya begitu membentak meminta bukti.

"Kalian bohong, tak mungkin Sin-siauwhiap binasa. Mana buktinya dan mana mayat atau kepalanya!"

Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat tertegun. Memang tertangkapnya Giam Liong di sumur jebakan disebarluaskan untuk membangkitkan kembali semangat pasukan kerajaan yang patah. Mereka terpukul oleh kehebatan pemuda ini yang lihai dan amat luar biasa, di mana semuanya itu dimanfaatkan Chu-goanswe dan pasukannya untuk menghantam mereka. Maka begitu Giam Liong terjeblos dan pihak kerajaan menyebarluaskan hal ini agar pasukan Chu-goanswe terkejut, dipukul mentalnya maka pintu gerbang dibuka dan Chu-goanswe yang kaget serta terheran-heran lalu diserbu dan dua kakek itulah yang mengobrak-abrik pasukannya.

Kedok Hitam sendiri sudah terlalu lelah karena harus mengurusi Giam Liong. Pemuda luar biasa itu benar-benar menghabiskan tenaganya. Dan ketika Chu-goanswe diserbu dan anak buahnya terkejut, termakan dan percaya berita ini maka Chu-goanswe yang cerdik dan banyak pengalamannya segera membangkitkan semangat pasukannya untuk minta bukti dan kepala Giam Liong. Dan bentakannya atau seruannya yang keras ini memang mempengaruhi juga anak buahnya.

"Benar, mana bukti kepala Sin-siauwhiap. Mana mayatnya!"

Pasukan kerajaan marah. Mereka tentu saja tak dapat memberikan bukti karena pemuda itu sedang terjeblos di sumur dalam. Kalau diminta mayat atau kepalanya mana mungkin mereka dapat? Maka ketika seruan atau bentakan Chu-goaswe ini diikuti pasukannya, semua minta bukti dan kepala Giam Liong maka lawan menjadi gusar dan menyerang dengan marah.

"Bukti bahwa kami membuka pintu gerbang sudah cukup. Mau bukti apa lagi!"

Namun Chu-goanswe tertawa mengejek. Bukti yang ini bukanlah bukti. Jenderal itu menahan Pat-jiu Sian-ong dan Lamciat bersama pasukannya, sayang terdesak dan apa boleh buat mundur mempertahankan diri. Dan ketika dua kakek itu mengamuk karena para pejuang tak termakan, berita itu masih diragukan maka Pat-jiu Siap-ong maupun Hantu Selatan menjadi marah karena semangat lawan yang mau dipukul ternyata kembali lagi. Ini berkat Chu-guanswe itu.

"Keparat, bunuh jenderal ini, Pat-jiu Sian-ong. Tarik dan betot jantungnya. Lidahnya beracun!"

Namun Chu-goanswe dilindungi banyak orangnya. Jenderal itu tentu saja bersembunyi dan dari jauh ia melancarkan serangannya. Anak-anak panahnya menyambar dan berkat kekebalan sinkangnya saja maka Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat dapat menolak. Tapi karena dua kakek itu memang hebat dan pasukan kerajaan juga menyerbu dengan penuh nafsu sekali, mereka ingin membalas dan membunuh musuh sebanyak-banyaknya maka Chu-goanswe terdesak dan bersama pasukannya ia harus terus mundur dan mundur. Malam yang gelap memberinya keuntungan juga.

"Mundur... mundur...!"

Pasukan pejuang tahu diri. Tanpa Giam Liong memang berat bagi mereka. Keragu-raguan timbul juga. Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Si Naga Pembunuh itu? Betulkah ia tewas? Kalau tewas kenapa musuh tak dapat menunjukkan mayatnya? Kalau tidak kenapa musuh berani membuka pintu gerbang? Dan karena semua ini membuat bingung pasukan pejuang dan hadirnya dua kakek seperti Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat itu juga terlampau berat, mereka memang bukan tandingan maka para pejuang ini mundur dan membiarkan musuh merangsek mereka.

Chu-goanswe membawa pasukannya ke hutan-hutan di kiri kanan kota raja dan di situlah mereka akhirnya menyembunyikan diri. Hal ini menyulitkan pasukan kerajaan karena mereka tak dapat bekerja dengan baik. Satu demi satu musuh menyelinap dan memasuki gerumbul semak-semak. Malam yang gelap membuat mereka repot juga. Dan ketika lawan tak dapat diburu karena menyembunyikan diri di hutan-hutan, pasukan Chu-goanswe memang terbiasa dengan cara seperti itu maka pasukan kerajaan tak dapat memuaskan hatinya dan hanya seratus lebih pasukan lawan yang dapat dibantai. Mereka sendiri juga jatuh korban.

"Keparat, kurang ajar!"

Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat hanya memaki-maki. Mereka inipun tak dapat membunuh Chu-goanswe karena buru-buru jenderal itu diselamatkan pasukannya. Mereka bukanlah ahli perang melainkan ahli silat. Maka begitu Chu-goanswe menyelinap dan berlindung di balik pasukannya, para pembantunya sudah membantu jenderal ini menyembunyikan diri di hutan kiri kanan kota raja maka lawan gigit jari karena pentolan pemberontak masih hidup. Selanjutnya mereka pulang dan melaporkan keadaan. Dan ketika Chu-goanswe bersama pasukannya bersembunyi di hutan, kasak-kusuk sendiri maka sejam kemudian sebuah bayangan berkelebat dan itulah Wi Hong atau Kim-hujin.

"Mana Chu-goanswe. Mana puteraku Giam Liong!"

Seorang pejuang memberi tahu. Ialah yang bertemu dengan nyonya ini dan langsung saja ia bercerita bahwa Giam Liong dikabarkan tewas. Mereka diserang pasukan kerajaan dan pejuang itu pucat terbata-bata. Dan ketika Wi Hong melengking dan lengkingannya itu didengar semua orang, serentak Chu-goanswe dan lain-lain muncul maka jenderal itu terkejut melihat Kim-hujin ini.

"Mana puteraku, benarkah ia tewas!”

Jenderal Chu tersentak. Wi Hong menyambar dan tahu-tahu iapun sudah dicengkeram. Jenderal ini sedang cemas dan bingung oleh keadaannya, juga lelah karena ia didesak musuh. Tapi begitu disambar dan dicengkeram leher bajunya, ia sadar dan dapat menenangkan diri maka jenderal ini mendesis,

"Hujin, kami tak tahu apa yang terjadi. Tapi sabarlah, aku tidak percaya bahwa puteramu tewas."

"Tapi ia tak ada di sini. Pasukan kerajaan memukul mundur kalian!"

"Benar, tapi kami juga tak percaya berita itu, hujin. Kami tak mau menelan mentah-mentah. Sabar dan tenanglah dan dengar kata-kataku..."

Namun si nyonya membanting kaki. Wi Hong berteriak bahwa ia tak mau sabar atau tenang lagi. Puteranya di tangan musuh. Dan ketika sekali lagi ia bertanya apakah benar Giam Liong tak ada di situ, Chu-goanswe mengangguk dan mau menerangkan tapi ia berkelebat dan mendorong jenderal itu sampai terjengkang maka Wi Hong berkelebat dan berseru marah,

"Goanswe, aku meminta pertanggung jawabanmu kalau ada apa-apa dengan anakku. Awas, aku tak terima!"

"Heii..!" Chu-goanswe berteriak, tak digubris. "Tunggu dulu, hujin. Tunggu. Jangan ke sana karena terlampau amat berbahaya!"

"Aku tak perduli. Demi anak aku sanggup menerjang bahaya!" dan sang nyonya yang sudah meluncur dan terbang keluar hutan tiba-tiba membuat Chu-goanswe terkesiap.

Jenderal itu hendak menerangkan bahwa jangan-jangan semua itu hanya kabar kosong belaka. Musuh mempergunakan perang syaraf untuk meruntuhkan mereka. Tapi karena sang nyonya sudah berkelebat dan jenderal ini heran bagaimana nyonya itu tahu-tahu ada di situ, padahal sebelumnya sudah diculik dan dibawa Kedok Hitam maka jenderal ini mendelong dan mengawasi saja kepergian orang dengan mata terbukalebar-lebar. Diam-diam ia mengeluh kenapa nyonya itu justeru mengancamnya. Bukankah mati hidup adalah resiko perjuangan. Tapi ketika nyonya itu lenyap dan anak buahnya juga terbelalak bagaimana Kim-hujin itu tiba-tiba muncul, lepas dari tangan Kedok Hitam maka Wi Hong sendiri sudah menuju ke kota raja dan mengamuk.

Nyonya ini, dalam khawatir dan cemasnya tak lagi mau mendengarkan apapun. Ia ingin berkumpul dengan puteranya itu lagi ketika tahu-tahu didengarnya cerita bahwa puteranya tewas. Susah-susah ia mencari puteranya tahu-tahu puteranya itu dikakbrkan mati. Siapa tidak mendidih! Maka begitu mendorong Chu-goanswe dan tidak perduli sang jenderal terjengkang, nyonya ini marah maka Wi Hong terbang dan meluncur ke kota raja. Dan pertama-tama yang dilihat adalah sisa-sisa pasukan yang berjaga-jaga, yakni pasukan yang merawat atau mengurusi yang luka-luka atau terbunuh.

"Mana anakku Giam Liong. Siapa yang membunuh!"

Pasukan terkejut. Mereka itu tahu-tahu disambar bayangan seorang wanita dan seketika itu juga terlempar. Mereka ditendang dan dibanting. Dan ketika Wi Hong mengamuk di sini dan menanya di mana anaknya, siapa yang membunuh maka seratus pasukan yang ada di situ tunggang-langgang dihajar.

"Hayo, mana anakku Giam Liong. Siapa yang membunuh!"

Pasukan menjerit dan kocar-kacir. Mereka tidak menyangka kedatangan wanita ini dan Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat juga telah kembali ke kota raja. Dua kakek itu juga berpikir bahwa tak mungkin ada musuh menyerbu. Chu-goanswe baru saja dihajar. Maka begitu seorang wanita berkelebat dan tahu-tahu mengangkat atau melempar tujuh orang perajurit, yang berteriak dan mengaduh maka Wi Hong mengejar dan menginjak-injak tujuh orang ini, yang lain ditampar dan dipukul dengan hawa saktinya.

"Hayo, mana puteraku Giam Liong. Siapa yang membunuh!"

Para perajurit pucat, Tujuh teman mereka yang diinjak dan dibentak-bentak itu tiba-tiba berkeratak tulang punggungnya. Sebelum menjawab mereka itu sudah mati. Perut mereka pecah! Dan ketika Wi Hong marah karena tujuh perajurit ini tak menjawab, tentu saja tak dapat menjawab karena tewas maka ia meloncat dan pedang pun dicabut untuk membabat lawanlawan lain yang ada disitu.

"Baik, tak ada di antara kalian yang menjawab. Aku akan membunuh dan kalian sebut nama nenek moyangmu... crat-crat!" lima perajurit berteriak ngeri, roboh dan terjungkal karena belum apa-apa mereka itu disambar pedang. Gerakan Wi Hong amatlah cepatnya karena jelek-jelek ia mempergunakan Im-kan-to-hoatnya, silat golok yang dimainkan pedang. Dan ketika lima tubuh menggelepar di bawah, mandi darah maka nyonya ini bergerak dan sudah berkelebatan mencari korban-korban yang lain.

"Mari... mari, aku akan membunuh semua orang di sini!"

Pedangpun menyambar-nyambar bagai siluman haus darah. Lawanpun berteriak dan melempar tubuh ke sana ke mari namun pedang menyambar juga. Wi Hong tahu-tahu telah membunuh tigapuluh orang lebih. Dan ketika yang lain menjadi kalut dan komandan juga menerima getahnya, laki-laki tinggi besar itu terbacok dan putus lengannya maka Wi Hong mengejar dan pedangpun dengan buas menyambar leher.

"Siapa yang mencari penyakit boleh mampus di sini. Mari, kuantar ke neraka... crat!" kepala komandan itu menggelinding, sama buas dan sadis seperti kalau Giam Liong membunuh musuhnya. Dan ketika Wi Hong mengejar yang lain namun sisa dari orang-orang ini melarikan diri, masuk pintu gerbang maka Wi Hong menerobos dan dengan pedang berlepotan darah ia mengamuk.

"Heii, siapa yang membunuh puteraku. Mana puteraku!"

Orang-orang mawut. Penjaga yang terbeliak dan memberikan jalan bagi teman, temannya yang masuk tahu-tahu juga disambar pedang wanita itu. Mereka menjerit ngeri dan roboh. Dan ketika ribut-ribut itu didengar istana sementara Wi Hong terus mengamuk dan menyerbu ke dalam maka Pat-jiu Sian-ong si kakek gundul muncul.