NAGA PEMBUNUH
JILID 25
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"KEDOK HITAM, jangan lari. Mana kejantananmu!"

"Ha-ha," Kedok Hitam tertawa bergelak. "Justeru ini aku menunjukkan kejantananku, Giam Liong. Aku ingin bertanding di tempat yang sepi, tidak melibatkan orang lain. Hayo, kau kejar dan ikuti!"

"Aku pasti mengikutimu. Aku akan membunuhmu!" dan ketika Giam Liong membentak dan berseru keras, berkelebat dan mengayun kakinya maka Kedok Hitam tiba-tiba menyelinap dan keluar dari samping gedung.

Laki-laki yang licik itu membiarkan Giam Liong mengejar di belakang, masuk keluar lorong-lorong istana dan di belakang gedung tiba-tiba ia meloncat keluar. Dan ketika Giam Liong, membentak dan laki-laki itu disambarnya, lawan rupanya memperlambat atau membiarkan diri disergap maka laki-laki itu tiba-tiba menendang sesuatu dan seperti kuda menyepakkan kakinya sekonyong-konyong sebuah bola hijau menyambar Giam Liong.

"Plak!"

Giam Liong menangkis dan tentu saja marah memaki lawannya itu. la tidak tahu benda apa ini namun begitu ditangkis tiba-tiba bola itu meledak. Dari dalam keluar jarum-jarum hijau yang luar biasa banyaknya, tak kurang dari seribu! Dan ketika Giam Liong harus melempar tubuh ke belakang dan lawan tertawa bergelak maka laki-laki itu melanjutkan larinya lagi dan Giam Liong bergulingan melompat bangun. Lawan kembali jauh didepan.

"Kedok Hitam, kau licik, curang. Hayo berhenti dan kita bertanding di sini!'

"Ha-ha, aku ingin di sana. Ada bukit di taman istana, Giam Liong. Mari ke sana dan di situ kita bertanding!"

"Kau pengecut, hina!" dan Giam Liong yang mengejar dan melepas hui-to-hui-to terbang, golok kecil yang menyambar susul-menyusul maka lawan menangkis dan golok atau hui-to-hui-to itu runtuh. Kedok Hitam memang lihai.

"Ha-ha, tak usah mempergunakan senjata-senjata anak-kecil. Tanpa kau serangpun aku pasti berhenti disana....plak..plak..plak!"

Giam Liong gemas melihat lawan meruntuhkan golok-golok terbangnya, la memang melepas senjata-senjata rahasia itu agar lawan berhenti, setidaknya, menangkis dan berhenti. Tapi ketika golok-golok runtuh dan lawan meneruskan larinya berbelok dan akhirnya menuju kesebuah gundukan tanah tinggi yang merupakan bukit buatan maka Giam Liong menggeram dan ia mengejar dan berjungkir balik menghantam lawan, kali ini mempergunakan pukulan jarak jauh.

"Kedok Hitam, berhenti!”

Kedok Hitam terkejut, sudah hampir tiba di bukit kecil itu ketika tiba-tiba Giam Liong melayang dan berjungkir balik di belakangnya. Pukulan yang amat dahsyat menyambarnya bagai angin taupan, ia membalik dan apa boleh buat menangkis. Dan ketika dua lengan beradu dan Kedok Hitam mengeluh, terlempar dan menabrak bukit kecil itu maka laki-laki ini terbanting dan Giam Liong rupanya mengeluarkan sebagian besar tenaganya.

"Dess!"

Laki-laki itu bergulingan. Giam Liong terbelalak, karena lawan amatlah kuatnya, bangun dan masih dapat berlari lagi dan menyelinap di balik bukit kecil itu. Dan ketika ia membentak dan menyerang lagi, lawan amatlah pengecut maka belasan sinar hitam tiba-tiba kembali menyambar dan menyambut pukulannya itu.

"Plak-plak-plak!"

Giam Liong memukul runtuh jarum-jarum lawan. Sebenarnya ia menyerang lawan tapi lawan melepas jarum-jarum hitamnya itu, apa boleh buat harus ditangkis dan jatuhlah jarum-jarum halus ini. Dan ketika ia hendak menerjang lagi dan lawan bersembunyi di balik bukit itu, ia tak takut akan serangan gelap mendadak muncul bayangan-bayangan dari kiri kanan dan Lam-ciat, serta seorang kakek gundul menghantamnya dari samping.

"Bocah, kau mampuslah!"

Giam Liong terkejut, la tak menyangka bahwa di balik bukit kecil itu bersembunyi orang- orang lain. Tadinya ia tak melihat orang-orang ini, lima jumlahnya. Dan ketika ia menangkis pukulan-pukulan itu tapi tiga yang lain lagi bergerak dan menghantamnya dari belakang maka ia berpukul dan Giam Liong terhuyung cepat mengerahkan sinkang.

"Des-des-dess!"

Tiga tongkat menggebuk dirinya. Giam Liong mendelik karena tiba-tiba di situ muncul Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai. Dua kakek pengemis itu bersama seorang lagi yang samar-samar diingatbGiam Liong, seorang tosu dengan rambut kepala digelung tinggi. Dan ketika ia terhuyung dan tiga orang itu membentaknya lagi, menyerang dan menggerakkan tongkat maka pemuda ini meradang dan naik darah. Ji-sin-ikai dan Toa-sin-kai adalah orang-orang yang dulu dihajarnya di rumah hartawan Tek.

“Ji-sin-kai, kiranya kau telah menjadi anjing penjilat istana. Ah, bagus sekali kau datang!"

"Dan pinto tak dapat menerima sepak terjangmu!" tosu di sebelah itu balas membentak dan mendahului Giam Liong, tongkat di tangannya juga menyambar-nyambar. "Kau tentu ingat pinto, Naga Pembunuh. Tapi pinto bergerak sekedar sebagai patriot. Kau antek pemberontak!"

"Ah, kau Eng Sian Taijin. Bagus, sekarang aku ingat, tapi akupun akan menghajarmu.. plak-plak-plak!" dan Giam Liong yang menangkis dan menggerakkan tangan kirinya tiba-tiba telah menghalau tongkat yang datang susul-menyusul.

Tiga orang itu menyerangnya dengan gencar namun Giam Liong dapat mementalkan. Dan ketika ketiganya terkejut tapi Giam Liong mendengar tawa menyeramkan, mau membalas tiga orang itu namun Lam-ciat dan si kakek gundul menghantamnya dengan pukulan kuat maka ia menangkis dan Kedok Hitam tiba-tiba muncul, melepas pukulan pula.

"Bunuh pemuda ini!”

Giam Liong terkejut dan terkesiap, la baru saja mau membalas Ji-sin-kai dan kawan-kawannya ketika tiba-tiba saja Lam-ciat dan kakek gundul yang tak dikenal itu menghantamnya. Dan belum ia menangkis atau mengelak serangan ini tiba-tiba saja si Kedok Hitam muncul, keluar dan menghantamnya dari balik gunung gunungan dan tentu saja pemuda ini marah. Sadarlah ia bahwa Kedok Hitam membawanya ke tempat di mana kawan-kawannya ini bersembunyi, Giam Liong membentak dan mengeluarkan golok mautnya itu lagi, karena tadi ia menyimpan dan sengaja tidak mengeluarkan kalau belum dekat benar dengan lawannya ini. Dan ketika ia membentak dan semua serangan itu datang bagaikan hujan, susul-menyusul maka secepat kilat ia mencabut senjata mautnya dan begitu sinar berkeredep maka Kedok Hitam berteriak kepada kawan-kawannya namun tongkat Ji-sin-kai dan Eng Sian Taijin keburu putus, terbabat atau disambar sinar putih berkilauan ini.

"Awas... crak-crakk!"

Enam orang itu membanting tubuh bergulingan. Giam Liong yang marah dan tidak banyak bicara mencabut goloknya tiba-tiba telah membuat lawan-lawannya terpekik dan menjerit kaget. Ji-sin-kai, yang dulu sudah merasakan kelihaian dan kehebatan pemuda ini tanpa senjata di tangan sudah hampir saja dibabat pergelangannya. Giam Liong meneruskan gerakannya tadi dan untunglah pengemis ini melempar tubuh. Tongkat yang terbabat putus seketika dan tangan yang disambar terasa dingin terkena angin golok. Giam-to atau Golok Maut itu memang sungguh membuat bulu kuduk mengkirik. Hawanya benar-benar menyeramkan. Dan ketika enam orang itu bergulingan dan Eng Sian Taijin berteriak tertahan, baru sekarang ia tahu kehebatan Golok Maut maka tosu itu meloncat bangun dan gemetar di sana, lututnya berketrukan, persis orang diserang demam.

"Iblis, bocah ini luar biasa sekali!"

"Hm, yang luar biasa adalah golok mautnya," Kedok Hitam berseru, membangkitkan keberanian teman-temannya. "Jangan tangkis dan terima sambaran goloknya itu, Sin-kai. Hindari dan pergunakan taktik jarak jauh untuk menyerangnya secara bergantian!"

"Benar," Lam-ciat juga berseru, suara menggigil tapi mata bersinar-sinar. "Bocah iblis ini mengandalkan goloknya, Tai-jin. Tapi jangan takut karena kami akan merampasnya. Maju lagi, dan keroyok secara bersudut!"

"Pinto tidak takut!" sang tosu membentak, merah mukanya. "Pinto hanya memuji goloknya, Lam-ciat. Tapi pinto pun juga punya pedang yang bagus. Biar pinto cabut dan lihat apakah pedang pinto tak mampu menghadapi goloknya!" si tosu tak mau malu, ganti mencabut pedang dan menyerang kembali bersama teman-temannya.

Kedok Hitam sudah berseru namun ia merasa pedangnya pun baik, tak perlu takut kalau belum membuktikan. Dan ketika Lam-ciat dan lain-lain menghantam pemuda itu dan si tosu menyerang dari samping, Giam Liong tak sempat memperhatikan satu demi satu maka pemuda itupun memutar goloknya dan... pedang tosu itupun putus.

“Cranggg!!"

Golok Maut benar-benar hebat Eng Sian Taijin harus ditendang si Kedok Hitam karena bengong melihat pedangnya patah. Demikian mudah dan empuk saja di tangan pemuda itu memutuskan pedangnya, seolah pisau bertemu agar-agar dan tentu saja tosu itu terkejut. Dan ketika ia tertegun namun Kedok Hitam menendangnya untuk menghindar dari sapuan golok, yang menyambar dan atas ke bawah maka laki-laki itu membentak agar si tosu tidak takabur.

“Jangan sombong, dan percayalah kata-kata orang lain. Kalau kau tidak ingin mampus jangan coba-coba menghadapi Golok Maut itu dengan pedang burukmu!”

Eng Sian Taijin terpelanting dan roboh. la ditendang kawannya ini dan mukapun merah padam menahan malu. Sungguh tak ia sangka kalau kehebatan golok itu benar-benar luar biasa. Dan ketika ia percaya namun senjatapun sudah hilang, untung Kedok Hitam melemparkan pedang baru untuknya maka majulah kembali tosu itu dengan muka berubah-ubah, sebentar pucat dan merah. Giam Liong sendiri sudah menghadapi lawan-lawannya dan Ji-sin-kai pun mencabut tongkat cadangannya.

Hebat orang-orang itu menyerang namun lebih hebat lagi pemuda ini mempertahankan diri. Dan ketika sinar putih berkelebatan naik turun dan dari enam orang itu hanya Kedok Hitam dan Lam-ciat yang paling berbahaya, lalu si gundul yang tidak dikenal maka Giam Liong mendengus kepada Ji-sin-kai dan Toa-sin-kai agar mereka mundur, juga Eng Sian Taijin yang telah dua kali mendapat pelajaran itu.

"Aku tak bermusuhan dengan kalian, mundur atau nanti hancur!"

"Siancai!" Eng Sian Taijin tak mau kehilangan muka. "Pinto sudah maju, Naga Pembunuh. Dan pinto tentu tak mau mundur kalau belum menemui ajal. Kau jangan sombong dan tak perlu menggertak pinto. Kau pemberontak!"

“Benar," Ji-sin-kai juga berteriak dan memaki pemuda itu, merasa tertampar. "Kau bukan jagoan tanpa tanding, Giam Liong. Kau ternyata keturunan pemberontak Sin Hauw yang kejam itu. Ingat kematian ayahmu kalau tubuhmu tak ingin terbelah-belah!"

Giam Liong mengeluarkan kilatan api. Kata-kata Ji-sin-kai ini justeru membuat darahnya mendidih dan melengkinglah pemuda itu menyambut serangan-serangan lawan. Dan ketika semua mundur karena sinar putih menggunting dari kiri kanan, angin dingin dari golok berbahaya itu menabas putus daun-daun di sekitar maka Giam Liong melampiaskan kemarahannya kepada pengemis nomor dua ini.

"Baik, kau tak dapat diperingati, Ji,-sin-kai. Dan inilah awal ajalmu yang pertama. Awas, jaga kepalamu!"

Ji-sin-kai terbelalak. Ia baru saja mundur ketika tadi sinar golok berkelebat. Ia jerih dan sekarang tak berani menangkis, terlalu berbahaya itu. Tapi ketika Giam Liong membentak dan golok membelah di angkasa, sinar putihnya yang berkeredep membuat kakek itu ngeri maka ia berteriak dan menyuruh suhengnya melindungi, diri sendiri sudah meloncat dan bersembunyi di balik punggung Kedok Hitam.

"Heii..!" Kedok Hitam berseru keras. "Jangan ke sini, Sin-kai. Menjauhlah!" dan karena golok mengejar dan menuju pada laki-laki ini, yang berkelebat dan bersembunyi di belakang si kakek gundul maka kakek itulah yang berteriak dan ganti memaki teman-temannya.

"Jangan bersembunyi di belakangku!"

Namun sinar golok tetap meluncur cepat. Giam Liong telah mengancam Ji-sin-kai dan kini golok itu menyambar Kedok Hitam yang amat dibencinya, membelok dan menyambar si kakek gundul yang berteriak dan cepat melempar tubuh bergulingan. Golok Maut mendesing tanpa kompromi. Dan karena Kedok Hitam maupun kakek gundul menjejakkan kaki menjauhkan diri, mereka harus membuang tubuh kalau tak mau menghadapi golok maut maka Ji-sin-kai yang tadi terlindung dan di balik dua orang ini tiba-tiba terbuka kembali tubuhnya dan saudaranya berteriak agar membanting diri bergulingan.

"Awas!"

Namun pengemis ini lengah. Ia tadi sudah lega karena terlindung di balik punggung Kedok Hitam, ikut bergeser ketika laki-laki itu menyelinap ke belakang kakek gundul. Namun karena kakek gundul melempar tubuh ke belakang dan saat itu lapun terlihat lagi, menjerit dan pucat melihat sinar golok maka sebuah teriakan ngeri tiba-tiba terdengar disusul mencelatnya kepala kakek ini dari batang tubuhnya.

"Crat!"

Golok Maut mendapat korban. Giam Liong tertawa aneh dan Ji-sin-kai pun roboh, kepalanya menggelinding dan mendelik di sana, penuh kaget dan ketakutan. Agaknya, tak tahu bahwa nyawanya melayang! Dan ketika Giam Liong tertawa aneh dan suara tawanya mirip burung hantu mendapat mangsa, dingin dan menyeramkan maka Toa-sin-kai berteriak dan meratap melihat adiknya tewas.

"Ji-te...!"

Namun kakek itu tak mendapatkan saudaranya hidup lagi. Ji-sin-kai telah tewas dan tubuh kakek itupun menggeliat sejenak di tanah. Darah menyembur dari batang lehernya seperti pancuran deras, bumi seketika merah dan basah! Dan ketika Giam Liong membuat yang lain-lain terkejut dan membelalakkan mata, satu nyawa melayang sia-sia maka Kedok Hitam pucat dan berseru agar Lam-ciat mempergunakan Hoan-eng-sutnya.

"Sambar dia dengan Hoan-eng-sut. Aku akan memukulnya dengan Kim-kang-ciang!"

Lam-ciat mengangguk. Dalam saat-saat berbahaya seperti itu tak ada lain jalan kecuali mempergunakan ilmu gaibnya itu. Ia membentak dan meledakkan tangannya dan lenyaplah kakek itu di balik asap hitam. Dan ketika Lam-ciat menghilang dan mempergunakan Hoan-eng-sut, Sihir. Menukar Bayangan maka Kedok Hitam berseru keras dan sekonyong-konyng ia menggerakkan kedua tangannya ke depan,mendorong.

“Dess!"

Giam Liong tak bergeming, la telah mengerahkan sinkangnya dan Kedok Hitam terbelalak karena pemuda itu tak apa-apa, dipukul lagi tapi Giam Liong hanya terhuyung sedikit dan menggeram karena lawan di kiri kanan menyerang lagi. Kakek gundul itu membentak dan merobah gaya serangannya di mana kedua lengannya tiba-tiba bergerak dengan amat cepatnya seperti delapan lengan dewa. Dan ketika Giam Liong memutar goloknya dan pukulan Kedok Hitam kembali menyambar dari belakang, laki-laki itu memang licik dan curang maka bergeraklah bayangan kuning emas di mana Lam-ciat muncul dan menghantamnya dengan Kim-kang.

"Des-dess!"

Giam Liong mengeluarkan seruan keras dan melempar tangan kirinya ke belakang dan samping kanan, la mengeluarkan Pek-lui-kang dan terpentallah dua orang itu sambil mengeluarkan teriakan tertahan. Dan ketika Giam Liong terhuyung karena lawan menyerang berbareng, Kedok Hitam dan Lam-ciat adalah lawan-lawan tangguh yang memiliki sinkang kuat maka si gundul berhasil menyelinap dan lengannya yang berobah menjadi delapan buah itu mendarat di pundaknya. Giam Liong mendesis namun si kakek terpekik merasa kaget, pundak pemuda itu seperti pundak baja.

Dan ketika berturut-turut Giam Liong menerima pukulan namun iapun mengejutkan lawan-lawannya karena kebal, Toa-sin-kai mengelak dan Eng Sian Taijin melempar tubuh dari bayangan golok maka Giam Liong menjadi sibuk oleh gangguan Lam-ciat yang muncul dan menghilang lagi di balik Hoan-eng-sutnya. Kedok Hitam juga mengeluarkan pukulan-pukulan sinkangnya namun selama ini Giam Liong mampu bertahan. Ia membalas dengan pukulan-pukulan Pek-lui-kang dan balasan tangan kirinya itu menahan si Kedok Hitam, golok terus berputar namun semua lawan tentu cepat menjauhkan diri begitu didekati sinar berkeredep.

Golok Maut memang pembawa gentar. Dan ketika G iam Liong menjadi gemas karena mereka menyerang dan mundur lagi berganti-ganti, semua takut menghadapi goloknya namun berani kalau ia membelakangi maka Giam Liong berseru kepada Eng Sian Taijin ataupun Toa-sin-kai agar mundur sekali lagi. Dua orang yang paling rendah, kepandaiannya ini dirasa mengganggu juga.

"Kalian mundur baik-baik, atau nanti golokku mencari korban!"

"Keparat!" Toa-sin-kai mendelik. "Kau telah membunuh saudaraku, Giam Liong. Dan aku tentu mengadu jiwa. Aku hendak menuntut balas!"

"Hm, dan pinto pun masih tak akan undur kalau hanya kau gertak. Pinto siap mempertaruhkan nyawa demi membela negara!"

"Bagus!" Giam Liong akhirnya tak sabar kepada dua orang ini, membiarkan diri terbuka untuk menerima pukulan atau hantaman Lam-ciat dan kakek gundul, juga Kedok Hitam. "Kalau kalian sudah bicara seperti itu maka akupun akan menuruti keinginan kalian, Toa-sin-kai. Baik-baik aku menyuruhmu pergi namun kau ingin menyusul adikmu. Awas, golokku akan menyambar kepalamu!"

Giam Liong melakukan gerakan berputar. Ia sudah menjadi marah dan memutuskan bahwa dua orang yang mengganggu ini akan dirobohkannya dahulu. Berkali-kali ia diserang kalau sedang menghadapi pukulan Kedok Hitam atau Lam-ciat. Bahkan kepalanya kena hantaman tongkat ketika tadi melayani si gundul. Giam Liong belum tahu siapa kakek ini namun ia lupa-lupa ingat akan gaya serangan kakek itu. Ia tak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan Pat-jiu-sian-ong (Dewa Lengan Delapan), guru dari Sing Kok di mana dulu pemuda itu mainkan ilmu silat Pat-sian-sin-kun di rumah hartawan Tek.

Jadi tak heran kalau ia lupa-lupa ingat akan gaya pukulan kakek itu karena dulu putera Sing-wangwe itu pernah dilayaninya. Dan ketika Toa-sin-kai maupun Eng Sian Taijin selalu mencuri kesempatan di waktu ia menghadapi tiga yang kuat, pengemis dan tosu itu memang termasuk yang paling lemah maka Giam Liong memutuskan untuk membunuh dulu tosu dan pengemis ini. Ia telah membunuh Ji-sin-kai dan kepalang tanggung kalau tidak membunuh pula Toa-sin-kai.

Nanti kakek itu mendendam dan di belakang hari ia bakal repot, meskipun tentu saja ia tak takut pembalasan kakek pengemis itu dan ketika ia memperingatkan dan lawan malah membentaknya marah, Toa-sin-kai gentar namun di situ ada empat temannya, ia coba-coba akan membalas kematian adiknya maka begitu Giam Liong membalik tiba-tiba kakek ini menghantamkan tongkatnya ke tengkuk Giam Liong. Eng Sian Taijin juga melihat kesempatan bagus dan tak menyangka bahwa itu adalah siasat Giam Liong.

Pemuda ini memang menghendaki agar lawan menyerang bagian belakang punggungnya,ia masih harus menghalau serangan Kedok Hitam dan si kakek gundul. Dan begitu ia menampar dan golok di tangan kanan dipakai membabat, tongkat dibiarkan menghantam tengkuk sementara pukulan Eng Sian Taijin menuju punggungnya tiba-tiba Giam Liong berseru keras dan tongkat yang mental bertemu tengkuknya sekonyong-konyong disambar golok ini dan sambaran itu terus meluncur menuju leher. Giam Liong membiarkan pukulan Eng Sian Taijin mendarat dipunggungnya.

"Awas!"

Toa-sin-kai terkesiap. Giam Liong yang tiba-tiba merunduk dan meneruskan babatan ke depan menjadi ke belakang tahu-tahu sudah memutar tubuhnya lagi menghadap belakang, jadi berhadapan dengan dia yang baru saja menghantam tengkuk. Pengemis ini terkejut karena tengkuk yang dihantam tak apa-apa tongkatnya malah patah. Dan ketika ia berjengit dan sinar golok berkeredep menyilaukan mata, Giam Liong telah memutuskan untuk membunuh kakek ini maka bersama jeritan tertahan tiba-tiba kepala kakek itu terlepas.

"Crat!"

Giam Liong memenuhi janjinya. Kepala Toa-sin-kai mencelat dan bersama dengan menyemprotnya darah segar, batok kepala itupun menggelinding di tanah. Batang tubuhnya sudah ambruk. Dan karena gerakan Giam Liong memang pancingan dan hal itu tak diduga pula oleh Eng Sian taijin maka ketika temannya roboh tosu itupun menjerit karena tahu-tahu lengannya tergores panjang.

"Bret!"

Tosu itu melempar tubuh bergulingan. Ia pucat dan ngeri karena sekejap saja sinar golok telah menyanbar rekannya. Bahkan ia masih juga keserempet tapi untung bukan leher. Kalau leher, tentu ia pun sudah roboh! Dan ketika tosu itu meloncat bangun dan Giam Liong di sana tertawa dingin, Kedok Hitam dan Lam-ciat serta Pat-jiu Sian-ong mempergunakan kesempatan, itu untuk menghantam pemuda ini maka Giam Liong tergetar dan terhuyung dua langkah mengerahkan sinkang, namun gempuran ketiga orang sekuat Kedok Hitam dan kawan-kawannya memang cukup hebat.

Ia tadi memusatkan perhatian Pada Toa sin-kai, berhasil namun iapun menerima pukulan dari ketiga orang lawannya. Namun karena Giam Liong memilki sinkang yang luar biasa dan tenaga saktinya inilah yang melindung dirinya, Lam-ciat dan lain-lain kagum membelalakkan mata maka Giam Liong terseru agar Eng Sian Taijin mundur, atau nanti mengalami nasib seperti Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai.

"Majulah, kalau kaupun ingin kupenggal!"

Eng Sian Taijin gentar. Setelah berkali-kali ia terancam dan kini lengannya nyaris putus, golok di tangan memang luar biasa sekali maka tosu itupun menggigil dan mundur dengan muka pucat. Ia kehilangan senjatanya dan tiga kali ia mendapat peringatan Giam Liong, itu lebih dari cukup. Dan ketika ia terbelalak dan mundur menjauh, tosu Khong-tong-pai ini jerih maka Kedok Hitam justeru marah-marah dan memaki tosu itu.

"Heii, mana nyalimu. Kalau kau pengecut tak usah membela negara, hidung kerbau. Mana kata-katamu tadi yang sekarang sudah kau jilat kembali!"

"Pinto... pinto tak menang...!" tosu itu mengaku, tak malu-malu. "Bocah ini hebat sekali, Kedok Hitam. Pinto mengaku kalah!"

"Mengaku kalah sebelum roboh? Pengecut. Kau tosu bau yang tak pantas menjadi murid Khong-tong, Eng Sian Taijin. Kalau begitu pergilah dan jangan membantu aku!"

Eng Sian Taijin merah padam. Ia bingung dan menjadi serba salah di sudut pertandingan. Tadi dengan lantang memang ia berkata sombong, kini tiba-tiba saja kesombongannya itu hancur dan jelas ia gentar melihat kepandaian Giam Lioa Si Naga Pembunuh ini terlalu hebat dan mau tak mau ia harus mengakui jerih. Tapi karena ia diusir dan apa boleh buat harus angkat kaki secepatnya, dari pada menanggung malu mendadak begitu tosu itu memutar tubuh dan hendak pergi sekonyong-konyong Kedok Hitam melemparkan sesuatu. Enam jarum hitam menyambar punggung dan kepala tosu itu dari belakang, sang tosu tak mengira. Dan ketika ia mendengar desir angin namun terlambat, enam jarum itu menancap di punggung dan batok kepalanya tiba-tiba tosu itu menjerit dan roboh.

"Aduh!" Eng Sian Taijin berkelojotan. Ia memaki dan mengerang namun sedetik kemudian iapun roboh tak bergerak-gerak. Enam jarum hitam yang disambitkan si Kedok Hitam adalah jarum-jarum beracun yang amat berbahaya. Racun itu segera mengikuti aliran darah begitu menembus kulit. Dan karena tosu itu memang dibawah si Kedok Hitam, ia tak mampu menahan racun dengan sinkangnya maka tewaslah tosu itu dengan muka kebiru-biruan.

Kedok Hitam tertawa dingin dan saat itu bayangan pengawal berkelebatan dari mana-mana. Betapapun Giam Liong masih di kompleks istana dan ia dikepung ketat Dan ketika Giam Liong tinggal melayani tiga orang lawannya karena Ji-sin-kai dan Toa-sin-kai serta Eng Sian Taijin tewas, yang terakhir justeru dibunuh si Kedok Hitam sendiri maka Kedok Hitam tiba-tiba bersuit nyaring dan menyuruh dua temannya mundur.

"Biarkan pemuda ini mengejar aku. Aku akan membawanya ke tempat yang lain!"

Lam-ciat dan si kakek gundul terbelalak. Mau tidak mau mereka ngeri juga melihat kehebatan pemuda ini. Sapuan tangan kirinya juga hebat sekali karena dari tangan kiri itu menyambar angin pukulan panas. Empat kali Lam-ciat bertemu tenaga dan empat kali itu pula kakek ini terpental. Kim-kangnya, atau Tenaga Emas, ternyata tak mampu menghadapi Pek lui-kang yang dipunyai pemuda itu. Ini adalah warisan si pendekar pedang Ju Beng Tan dan tentu saja hebat sekali karena pendekar itu mewarisinya dari si kakek dewa Bu-beng Sian-su, manusia super yang amat sakti. Dan ketika Pat-jiu Sian-ong juga terpelanting dan ilmu silatnya Pat-jiu-sur-kun tak berguna banyak, Giam Liong kebal dengan pukulan-pukulannya maka kakek ini teringat Han Han dan gentar membayangkan bahwa dua pemuda itu sama-sama hebat.

"Iblis, pemuda ini memang luar biasa!"

Kedok Hitam mendengus, la tak senang juga mendengar dua kawannya memuji Giam Liong. Kalau bukan karena kakek itu lebih hebat daripada Eng Sian taijin mungkin iapun akan memberi pelajaran kepada kakek gundul ini. Mungkin juga dengan jarumnya yang lihai itu. Namun karena ia membutuhkan teman dan betapapun Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat adalah orang yang bisa dipercaya mereka itu hanya gentar terhadap golok maut yang dibawa Giam Liong maka laki-laki ini berseru agar dua kawannya mundur, pasukan kerajaan sudah datang dan kini membantu melepas panah-panah dari jauh.

"Biarkan kalian mengaso. Kita bertemu di Bukit Naga Kuning!"

Giam Liong membentak. Kedok Hitam menghilang lebih dulu dengan berkelebat dan lenyap di sebelah kiri gunung-gunungan itu. Lam-ciat dan kakek gundul mengikuti hampir berbareng. Dan karena ia lebih berurusan dengan Kedok Hitam daripada Pat-jiu Sian-ong maupun si Hantu Selatan, Giam Liong selalu mendidih kalau pembunuh ayahnya itu melarikan diri maka tujuh golok terbang dilepas dan kembali menyambar laki-laki itu, golok diputar menghalau sambaran anak-anak panah yang datang mengganggu.

"Kedok Hitam, jangan lari. Di mana sikap ksatriamu yang tadi kautonjol-tonjolkan!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam menyampok dan sudah waspada akan serangan Giam Liong. "Aku menantangmu di tempat lain lagi, Giam Liong. Di sini sudah ramai dengan pasukan-pasukan istana. Mari ke depan dan ikuti aku!"

Tujuh hui-to dipukul runtuh. Hui-to atau golok terbang yang dilontarkan Giam Liong sesungguhnya tak gampang diruntuhkan begitu saja kalau lawan yang dihadapi berkepandaian biasa. Tapi karena Kedok Hitam memang bukan tokoh biasa dan ia memiliki sinkahg kuat, Giam Liong geram dan mengejar lawan maka gunung-gunungan itu ditabraknya dan gunung buatan itupun ambrol. Suara ledakan membuat bumi bergetar.

"Kedok Hitam, jangan lari. Hadapi aku secara jantan!"

Kedok Hitam tertawa gentar. Ia menoleh dan melihat gunung-gunungan itu jebol ditabrak Giam Liong. Pemuda itu hebat sekali. Tapi karena ia mempunyai rencana lain dan meneruskan larinya maka bergeraklah laki-laki itu ke timur istana. Ia melompat dinding tembok dan Giam Llong menyusul di belakang, tak mau kehilangan jejak. Tapi begitu Giam Liong melayang turun dan menginjak tanah sekonyong-konyong tanah itu terbuka dan lubang yang dalam menerima tubuh pemuda ini, persis lubang atau jebakan harimau.

“Ha.ha..ha...!"

Bresss! Giam Liong terkejut berseru keras. Untuk kedua kalinya ia terjeblos di lubang jebakan. Tadi di patung singa-singaan dan sekarang diatas tanah biasa. Ia tidak tahu bahwa ketika melewati tanah ini Kedok Hitam melempar sepotong kayu dan menggenjotkan tubuh diatas kayu ini, laki-laki itu hinggap di atas tanah seberang. Dan karena Giam Liong tidak tahu karena waktu itu ia sedang melayang turun dan naik keatas tembok, lawan melayang turun dan melakukan itu, maka terjebaklah Giam Liong oleh kelicikan lawan.

Namun Giam Liong bukanlah Giam Liong kalau begitu mudah masuk perangkap. Ia masih memegang goloknya dan goloknya itulah yang dipakai menusuk dinding, kuat dan tertahan dan untuk kedua kalinya pula ia sudah mengayun dan berjungkir balik ke atas. Puluhan sinar hitam menyambutnya di atas tapi Giam Liong sudah memutar goloknya ini. Dan ketika Kedok Hitam lagi-lagi gagal karena Giam Liong lolos dari maut, pemuda itu benar-benar berkepandaian tinggi maka Giam Liong sudah mengejar dan membentak lawannya ini lagi.

"Kedok Hitam, kau curang dan pengecut!”

"Ha-ha, itu bukan perbuatanku," laki-laki ini lari lagi, kini menuju ke sebuah rumah kecil di belakang istana. "Kau yang kurang hati-hati memasang kewaspadaanmu, Giam Liong. Tempat kaisar selamanya tak boleh dipermainkan orang seenaknya!"

"Bedebah, kau berhentilah dan jangan lari seperti anjing!"

"Hm!" Kedok Hitam merah mukanya, untuk pertama kali dimaki sebagai anjing! "Mulutmu busuk, Giam Liong. Tapi kaulah anjing pemberontak dan keturunan biangnya anjing pula. Kakek dan ayahmu adalah anjing-anjing pemberontak. Kubunuh kau nanti!"

"Keparat, mari bertanding dan lihat siapa yang akan terbunuh!"

Kedok Hitam tak menjawab. Giam Liong sudah dekat di belakangnya dan pemuda itu kembali melempar tujuh golok terbang. Kedok Hitam menoleh dan menangkis. Dan karena rupanya ia kalah cepat atau gentar melihat lawan tak pernah melepaskannya, wajah Giam Liong merah membesi maka sebatang hui-to menancap dan laki-laki itu menjerit.

"Aduh!"

Giam Liong girang, la melihat sebatang hui-to nya menancap di pundak laki-laki itu, Kedok Hitam terhuyung tapi lari lagi ke dalam, kini memasuki rumah kecil itu. Dan karena rumah itu ternyata tak memiliki kamar-kamar, ya hanya ruangan tengah itulah kamarnya maka Giam Liong girang karena lawan menabrak jalan buntu. Rumah kecil ini kiranya sebuah pesanggrahan atau pos jaga!

"Kedok Hitam, tamat riwayatmu!"

Kedok Hitam mengeluh. Ia rupanya pucat tak melihat pintu keluar. Yang ada hanyalah dua jendela di kiri kanan ruangan itu. G iam Liong tak melihat sinar mata girang di mata laki-laki ini, aneh, hal yang tentu akan membuatnya curiga karena kenapa laki-laki itu malah girang, seolah melihat sesuatu. Dan ketika Giam Liong sudah berkelebat memasuki rumah kecil ini dan Kedok Hitam tampak celingukan memilih jendela kiri atau kanan untuk melompat maka bersamaan itu terdengar teriakan atau jerit diluar.

“Giam Liong, jangan masuk!"

Namun Giam Liong sudah memasuki ruangan ini. Ia tak curiga apa-apa karena perasaannya sudah diliputi kegembiraan melihat lawan tak dapat lolos. Kedok Hitam terjebak di ruangan itu dan mau tidak mau mereka harus berhadapan. Inilah jalan buntu bagi lawan untuk tidak dapat melarikan diri. Tapi begitu Giam Liong masuk dan jeritan itu terdengar, Kedok Hitam menginjak sesuatu tiba-tiba lantai terbuka dan Giam Liong terjeblos di sini. Untuk ketiga kalinya masuk perangkap.

“Awas..!”

Giam Liong sungguh tak mengira. Ia benar-benar terkejut oleh tiga hal. Satu jeritan nyaring yang segera dikenalnya! sebagai suara Yu Yin. la benar-benar kaget bahwa di saat seperti itu tiba-tiba saja gadis itu muncul. Inilah murid si Kedok Hitam sendiri dan ia tergetar oleh jerit itu. Suara Yu Yin demikian penuh cemas dan ia tersentak. Tapi karena ia terkejut ketika lantai tiba-tiba terkuak, dan ini adalah kejutan nomor dua maka dari dalam lubang itu menyambar puluhan panah-panah berbisa dan Yu Yin tiba-tiba berkelebat dan masuk pula ke lubang itu, bersama-samanya. Kejutan nomor tiga!

"Kau bodoh memasuki ruangan ini. Mari kutemani dan biar kita mati bersama!"

Giam Liong benar-benar tersentak. Ia sampai lupa mempergunakan goloknya untuk menusuk atau mencoblos dinding. Tubuhnya meluncur ke dalam hampir bersamaan dengan tubuh Yu Yin yang melompat dan sengaja menjebloskan diri ke lubang. Mereka melayang turun dengan cepat tapi Giam Liong sempat menyampok atau memukul runtuh panah-panah itu. Dan ketika ia terbanting di bawah dan Yu Yin berdebuk menimpa tubuhnya, mengeluh, maka lantai itu menutup kembali dan keadaan menjadi gelap gulita!

"Aduh, aku terkilir!"

Giam Lieng terkejut. Sekarang ia terjebak dan bukan main marahnya kepada si Kedok Hitam itu. Tapi mendengar Yu Yin merintih dan gadis itu menangis? Giam Liong menggigil memeluk tubuh hangat maka ia berbisik kenapa gadis itu ada di situ. Bahkan, mencebloskan diri ke lubang.

“Aku... aku mendengar kau mengamuk. Kau mencari-cari suhu dan katanya hendak membalas dendam. Dan karena aku tahu kelicikan guruku maka aku menyusul kalian, Giam Liong. Dan benar saja, suhu… suhu berlaku curang?"

"Hm, gurumu memang curang, licik. Tapi kau, kenapa menyusul ke sini, Yu Yin? Dan kenapa pula kau menjebloskan diri ke lubang?"

"Aku memprotes guruku. Aku tak suka tindak-tanduknya yang curang. Dan kau...kau menggemaskan, Giam Liong. Seorang diri saja kau berani dan sombong memasuki istana. Kau tak tahu bahayanya jebakan-jebakan di sini. Lubang yang ada ini adalah bekas ayahmu dulu!"

"Bekas ayah? Maksudmu ayah pernah dijebak di sini pula?"

"Ya, aku... aku mendengar banyak tentang kelicikan guruku, Giam Liong. Aku menyesal bahwa aku menjadi muridnya. Tapi betapapun ia adalah guruku, orang yang memberiku kepandaian dan banyak budi!" dan ketika Giam Liong tertegun karena gadis itu segera mengguguk, menubruk dan sedih di dada pemuda ini maka Yu Yin tersedak bahwa ia diombang-ambing perasaan tak keruan. Benci dan marah tapi juga sayang menjadi satu.

"Aku kemarin bertengkar dengan suhu. Aku memprotes sepak terjangnya. Tapi aku... aku, ah... aku tak berdaya mencegah kelakuannya, Giam Liong. Aku benci tindak-tanduk guruku namun aku muridnya. Aku melapor ayah tapi ayah memarahiku. Katanya untuk membunuhmu segala jalan dihalalkan. Kau keturunan Golok Maut si pemberontak. Dan kau semakin berat lagi sebagai pemberontak setelah membantu Chu Kiang. Kalian berdua sama-sama tidak benar, ah...!"

Giam Liong tertegun. Sekarang gadis itu menangis lagi dan suaranya terdengar demikian menyayat. Yu Yin tersedu-sedu dan gadis itu memukul-mukul dada Giam Liong. Tapi ketika ia mengerang dan berjengit sejenak, Giam Liong teringat kaki gadis itu yang katanya terkilir maka Yu Yin terhuyung dan melepaskan dirinya, jatuh terduduk.

"Giam Liong, aku ingin mati kalau begini. Ah, aku ingin mati!"

Giam Liong meraba, lalu ditepis ketika ia menyentuh pundak gadis itu, tertegun dan bingung harus berbuat apa tapi tiba-tiba gadis itu mengeluarkan sebatang lilin. Dan ketika ia menyalakan dan Giam Liong mengerutkan kening maka ia terkejut karena di paha gadis itu menancap sebatang panah!

"Kau terluka!"

Yu Yin menutupi mukanya. Sesungguhnya ia merasa sakit sejak tadi. Apa yang dikatakan terkilir sesungguhnya adalah anak panah itu. Ketika melayang masuk ke lubang sumur sebatang anah panah menancap di pahanya. Yu yin menjerit tapi jeritan itu disangka Giam Liong karena terbanting ke dalam lubang ini. Dan ketika gadis itu berdebuk dan sesenggukan di dada Giam Liong, menumpahkan semua rasa kesal dan kecewanya maka rasa sakit ditahan tapi begitu pahanya menjadi panas dan gatal-gatal maka Yu Yin mengerang dan baru sekaranglah Giam Liong tahu bahwa gadis itu terluka dan luka itu adalah oleh sebatang panah beracun.

“Keparat gurumu, sungguh licik dan curang. Kau harus cepat ditolong, Yu Yin. Atau racun akan menjalar dan kau mati“

"Biarlah “gadis itu berseru. "Biar aku mati! Giam Liong di dunia ini tak ada orang yang menyayangku dan biar aku mati”

“Hm, kau tak boleh mati” Giam Liong tiba-tiba menggigit bibirnya. “Kau kesini adalah karena aku, Yu Yin, aku harus menolongmu atau nanti kakimu terpaksa dipotong.”

"Dipotong?” gadis itu terkejut. "Maksudmu aku harus menjadi orang cacat?”

“Benar, kalau kau tidak cepat-cepat ditolong Yu Yin. Karena itu kemarilah dan biarkan aku menolong."

“Tapi… aku ingin mati. Biarkan aku mati.”

"Hm, sebelum kau mati maka kau akan menderita sekali, Yu Yin. Anak panah itu mengandung racun ular merah yang membuat kakimu melepuh dan berbau busuk. Kau akan menderita sebelum mati. Kulitmu akan hancur perlahan-lahan dan keluar nanah hijau. Ini jenis racun yang amat berbahaya yang pernah kukenal.”

Gadis itu pucat. Yu Yin terbeliak dan menangis lagi karena sebagai murid Kedok Hitam, tentu saja iapun juga tahu racun di anak panah itu. Kulitnya sudah semakin gatal-gatal dan panas membakar. Ia tahu tak lama kemudian kulitnya melepuh dan bengkak. Dan ngeri bahwa kulitnya akan bernanah dan mengeluarkan bau busuk, apa yang dikata Giam Liong memang benar, maka gadis itu menjerit dan menubruk Giam Liong.

"Giam Liong, aku tak mau cacat, aku tak mau menjadi gadis menjijikkan. Kau bunuhlah aku dan biar aku mati!"

"Hm," Giam Liong terharu, tergetar. "Aku tak dapat membunuhmu, Yu Yin, dan aku juga tak dapat membunuhmu. Jelek-jelek kita pernah bersahabat, dan aku pasti menolongmu, maaf!" dan begitu Giam Liong menunduk dan mendorong gadis ini tiba-tiba ia telah mencabut anak panah itu dan menyedot luka yang berbau busuk.

"Giam Liong!" Yu Yin terkejut setengah mati. la tahu-tahu telah didudukkan dan pemuda itu menyedot lukanya. Bau amis dari nanah dan darah tiba-tiba menguar di situ, Yu Yin sendiri hampir muntah-muntah. Namun karena yang diobati adalah daerah paha dan ini tentu saja rawan bagi seorang gadis macam Yu Yin, yang perawan dan belum pernah disentuh lelaki maka gadis itu tiba-tiba membentak dan tengkuk Giam Liong dihantam kuat-kuat.

"Plak!"

Giam bioHg terpelanting dan mengeluh pendek. Tamparan itu amatlah kuat tapi untung tenaga sakti pemuda ini menahan. Kalau tidak, tentu Giam Liong kelengar! Dan ketika Giam Liong terhuyung bangun berdiri dan mulutnya berlepotan darah dan nanah, Yu Yin terbelalak maka pemuda itu berlutut dan memegang lagi paha gadis ini, tidak perduli.

"Yu Yin, aku akan mengobatimu. Racun itu harus disedot keluar. Kalau kau mau membunuhku silahkan dengan golokku itu tapi tunggulah setelah racun kusedot keluar!"

Yu Yin pucat pasi. Ia membelalakkan mata lebar-lebar ketika dengan berani namun tidak kurang ajar Giam Liong menghisap luka itu. Luka itu berada di pangkal paha dan tentu saja gadis ini merah padam. Rasa malu yang amat sangat membuat gadis itu menangis dan tiba-tiba iapun menyambar golok di punggung Giam Liong. Pemuda itu menyimpan lagi goloknya setelah jatuh di lubang sumur, tampaknya tidak perduli atau tidak tahu ketika Yu Yin mencabut goloknya. Dan ketika sinar terang berkeredep dan Yu Yin berteriakbsekuat tenaga, golok diayun dan dibacokkan ke bawah maka Giam Liong juga tidak bergeming dan tetap menyedot luka itu.

"Crak!"

Golok Maut menghajar lantai. Lelatu bunga api memuncrat di tengah-tengah ruangan itu dan Yu Yin pun terguling roboh. Gadis itu hendak memenggal kepala Giam Liong namun di tengah jalan tak jadi meneruskan niatnya. Kekaguman dan budi Giam Liong tiba-tiba memercik demikian besar. Ia ditolong dan Giam Liong benar-benar menolong, seperti dulu ketika ia dikeroyok orang-orang Ang-liong-pang. Dan karena Giam Liong berkali-kali menyelamatkannya dan sekarangpun pemuda itu berusaha menolong jiwanya, tak jijik akan darah atau nanah maka Yu Yin tak kuat dan membacok pinggir lantai melepas perasaannya yang campur aduk.

Gadis itu seketika pingsan oleh bermacam perasaan yang menghantam. Untuk pertama kalinya ia dijamah laki-laki, dan tidak tanggung-tanggung karena pahanyalah yang dipegang-pegang. Ini suatu penghinaan! Tapi karena Giam Liong tak bermaksud menghinanya dan perbuatan pemuda itu semata menolongnya, apa boleh buat karena panah kurang ajar itu menancap di situ maka Yu Yin pingsan dan tidak tahu apa-apa lagi setelah membacokkan golok.

Giam Liong sendiri tetap tenang dan tidak bergeming karena seluruh perhatiannya benar-benar untuk pengobatan itu. Mula-mula iapun merasa mengkirik dan ngeri melihat paha yang mulus putih, gempal dan padat dan seketika ia merasa berdesir. Namun karena Giam Liong bukan pemuda kurang ajar dan justeru ia benci akan pemaksaan terhadap wanita, ia memejamkan mata dan menindas perasaannya yang terguncang maka Giam Liong memusatkan perhatiannya ke luka dan benar-benar itulah yang dikerjakan. Lima belas menit ia menyedot luka beracun itu dan akhirnya darah merah yang keluar. Nanah dan darah hitam bersih dikeluarkan. Giam Liong mengusap mulut dan hidungnya yang berlepotan bau busuk. Dan ketika pemuda itu lega dan membuka matanya, mengerutkan kening melihat lantai rusak dihajar Golok Maut maka pemuda itu membungkuk dan menyadarkan temannya yang pingsan, tahu perasaan apa yang berkecamuk di hati murid si Kedok Hitam ini. Gurunya adalah musuh tapi murid perempuannya justeru sahabat!

"Yu Yin, maafkan aku. Tapi bangunlah, lukamu sudah tidak berbahaya."

Yu Yin mengeluh. Usapan lembut Giam Liong di belakang lehernya demikian menyejukkan dan segar, la siuman dan langsung membuka mata, Tapi begitu bentrok dengan mata Giam-Liong dan teringat apa yang terjadi tiba-tiba gadis itu meloncat bangun dan menampar pemuda ini.

"Giam Liong, kau pemuda kurang ajar!"

Empat tamparan diterima Giam Liong. Pemuda ini tergeleng ke kiri kanan ketika tamparan yang penuh kemarahan itu dilakukan kawannya. Giam Liong tidak mengelak atau menangkis karena ia memang menyadari kelancangannya, meskipun itu sebenarnya bukanlah kesalahannya mutlak. Dan ketika untuk tamparan yang keempat ia terpelanting dan terlempar ke sudut, bibir pemuda ini pecah berdarah maka dengan tenang Giam Liong bangkit duduk dah menunjuk Golok Maut.

“Yu Yin, tak usah marah-marah. Ambil golok itu dan kau tusukkan ke dadaku."

"kau... kau...l"

"Aku memang salah. Aku telah meraba bagian yang paling pribadi, Yu Yin. Aku tak akan melawan dan kau bunuhlah aku. Ambil golok itu."

Yu Yin gemetar. Setelah dua pasang mata beradu dan bentrok di udara maka gadis ini merah padam dan malu serta terbakar. la marah akan perbuatan Giam Liong tadi tapi sekaligus juga merasa berhutang budi oleh lukanya yang sudah diobati. Darah dan nanah berceceran dilantai, baunya menusuk hidung. Tapi melihat Giam Liong berkata seperti itu dan bibir pemuda itupun pecah ditampar, Yu Yin mengguguk dan menubruk ke depan tiba-tiba ia telah menangis dan sesenggukan di dada pemuda ini.

"Giam Liong, kau bunuhlah aku.. kau bunhlah aku. Aku tak mau menanggung aib dan malu ini!"

"Maafkan aku," Giam Liong tergetar matanya redup namun mesra memeluk gadis itu. "Akulah yang salah, Yu Yin. Akulah yang tak tahu malu. Kalau kau ingin menghilangkan aib maka bunuhlah aku. Tak ada orang lain tahu kejadian tadi.”

"Tidak...aku..tidak...!" gadis itu menggugu. "Kau menyelamatkan nyawaku Giam Liong. Kau menolongaku. Tapi, ah... aku malu akan perbuatanku itu!”

"Aku juga menyesal. Tapi gurumulah yang melepas panah-panah itu, Yu Yin. Dan aku hanya menolong karena tak ingin kau mati muda."

"Kenapa?" Yu Yin mengangkat mukanya, tengadah dan kembali mata mereka beradu. Yu Yin bertanya dan Giam Liong tertegun. Benar, kenapa? Tapi ketika Giam Liong tak tahu dan bingung kenapa ia menjawab seperti itu maka ia pun meng geleng den mendesah.

"Entahlah, aku tak tahu, Yu Yin. Tapi, tapi mungkin ada rasa sayang di hatiku."

“Oohhh... apa, Giam Liong? Rasa sayang?"

"Begitulah... rupanya begitu, Yu Yin dan itu yang membuat aku tak ingin kau mati muda.”

“Hanya itu saja?”

Giam Liong tertegun.

"Hanya sayang itu saja Giam Liong? Kau tidak punya perasaan lain lagi?”

Giam Liong gemetar. Tiba-tiba ia terkejut ketika bola mata yang bercucuran itu dipejamkan. Yu Yin seakan menahan sebuah gejolak maha dahsyat dan gadis itu menggigil di pelukannya. Yu Yin merintih dan tiba-tiba sadarlah Giam Liong akan sesuatu yang bergolak hatinya. Dan ketika ia berbisik bahwa masih ada perasaan lain lagi yang disimpan, yang selama ini membuatnya rindu dan gelisah akan gadis itu maka pemuda ini memeluk erat-erat, tubuhpun panas dingin oleh gejolak yang tak menentu.

“Tidak… tidak, aku juga mempunyai perasaan lain lagi, Yu Yin. Yakni cinta. Aku mencintaimu, aku menyayangmu, aku sering rindu kalau kau tak ada disampingku!" dan ketika Yu Yin mengguguk dan tersedak di pelukan pemuda itu, Giam Liong gemetar dan memeluk erat-erat maka murid Kedok Hitam inipun mencengkeram dan balas memeluk Giam Liong erat-erat.

“Akupun.. ahh akupun juga begitu Giam Liong. Aku mau terjun ke lubang itu bersama-sama karena akupun rindu dan gelisah memikirimu. Aku., akupun mencintaimu!"

Dua muda-mudi itu berpelukan. Yu Yin bercucuran air mata dan Giam Liong tiba-tiba menghisap dan mengecup air mata ini. Giam Liong terbawa perasaan yang selangit dan kegembiraan serta kebahagiaan besar terpancar di situ. Ia telah melepaskan ganjalan berbongkah yang amat berat. Ia telah menyatakan cintanya. Dan karena gadis itupun menyatakan cintanya dan ia tidak bertepuk sebelah tangan! Giam Liong gemetar dan bahagia sekali mendadak ia menunduk dan... tanpa di ajari lagi tiba-tiba iapun sudah mencium mulut kekasihnya itu. Hangat dan berkobar-kobar.

"Yu Yin, aku mencintaimu!"

Yu Yin mengeluh dan roboh. Setelah Giam Liong mencium dan melumat mulutnya tiba-tiba gadis inipun terbang semangatnya dan lemas. Ia ambruk begitu saja namun tangan yang kuat dari pemuda itu menahannya. Yu Yin mabok dan tersedu-sedu. Tapi ketika ia tersedak dan tak dapat bernapas, Giam Liong bernafsu dibakar birahinya mendadak gadis ini melepaskan diri dan teringat sesuatu, mendorong pemuda itu kuat-kuat.

"Tidak... jangan, Giam Liong., jangan lebih. Golok Maut itu bertuah. Ingat nasib ayahmu!"

Giam Liong terkejut, la terbelalak dan kaget memandang kekasihnya, heran dan tak mengerti apa yang dimaksud kekasihnya itu, apalagi menyebut-nyebut mendiang ayahnya! Dan ketika ia tertegun namun gadis itu terisak, kebahagiaan dan kekhawatirah menjadi satu maka Yu Yin menunjuk benda berkeredep di atas lantai itu.

"Jangan berbuat lebih, golok ini akan membalas kita!"

"Maksudmu?"

"Golok Maut tak boleh dikotori begituan, Giam Liong. Aku takut la akan meminta nyawa satu di antara kita!"

"Begituan? Begituan bagaimana?"

Yu Yin merah padam, jengah. “Kau tak tahu? Atau pura-pura tak tahu.”

"Aku tak tahu," Giam Liong mengerutkan keningnya, bersungguh-sungguh. “Aku tak mengerti apa yang kau maksud dan aku benar-benar tak tahu!”

"Kau tak pernah diberi tahu ibumu akan kutuk atau tuah golok ini?"

"Tidak. Tentang apakah...?”

"Golok Maut hanya boleh dipegang oleh seorang yang masih bujang. Sekali bujang itu telah tidak jejaka lagi maka ia akan menuntut darah dan bujang atau kekasihnya itu yang harus mati!”

"Ah!" Giam Liong memang tak tahu. "Begitukah? Kenapa ibu tak pernah bercerita? Tapi, eh... kau terlalu kalau menduga aku sejauh itu, Yu Yin. Sekarang aku mengerti apa yang hendak kau maksudkan. Aku masih dapat mengendalikan diri dan tak mungkin melakukan yang berlebih!”

“Tapi..”

"Tapi apa?"

"Kau tadi mendengus-dengus, Giam Liong. Kau tersengal-sengal. Aku takut!"

Giam Liong semburat. Tiba-tiba iapun jengah karena memang harus diakuinya bahwa ketika ia mencium dan melumat kekasihnya itu memang ia mendengus-dengus. Berahinya terbakar tapi sesungguhnya ia dapat mengendalikan diri. Mana mungkin, seorang pemuda mencium tanpa dibakar birahi? Dan karena ia juga begitu dan tubuh mereka yang berdekatan membuat Yu Yin merasakan sesuatu yang "lain",' dengus kencang dan otot yang menegang dari pemuda ini maka Giam Lion tersipu merah dan tiba-tiba menyambar lengan kekasihnya itu.

"Yu Yin, maafkan aku. Selama hidup baru kali ini aku mencium seorang dara dan keteganganku tak dapat kukendalikan, meskipun sesungguhnya tak akan terlampau jauh!"

"Aku juga! Seumur hidup baru kali iru dicium lelaki, Giam Liong. Dan itu adalah kau, Akupun tegang.”

Giam Liong tertawa. Tiba-tiba ia merasa geli dan dibisikkannya bahwa ia amatlah bahagia. Sang kekasih dipeluk dan Yu Yin agak merasa tenang karena sekarang pemuda itu tidaklah "seganas" tadi. Giam Liong benar-benar mampu mengendalikan dirinya. Dan ketika Giam Liong bertanya bagaimana dengan tuah Golok Maut itu, bagaimana dengan orang tuanya maka pemuda yang tertarik dan tertuju perhatiannya ke sini lalu menanyakan itu.

"Aku tak tahu apa-apa akan tuah atau kutuk golok ini. Kau rupanya malah tahu. Coba-ceritakan dan apa yang sesungguhnya terjadi."

"Golok Maut tak boleh dipegang laki-laki yang tidak bersih..."

"Hm, maksudmu yang sudah tidak jejaka lagi?"

"Benar, golok ini akan marah dan melepas kutuknya apabila laki-laki itu melanggar kesuciannya, Giam Liong. Dan karena ayahmu dulu telah melanggar pantangannya maka terjadilah hal yang seperti itu."

"Ibu tak pernah bercerita apa-apa," Giam Liong mengerutkan kening. "Coba kauceritakan bagaimana jelasnya dan bagaimana dengan ayahku dulu."

"Kau benar-benar tak tahu?"

"Benar..."

"Tapi... tapi ini aib ibumu, Giam Liong. Tak enak juga rasanya kalau aku menceritakan!"

"Justeru aku terangsang. Ibu tak pernah bercerita apa-apa. Ceritakan saja kepadaku dan tak usah kikuk!"

"Hm..." Yu Y in terbelalak, tersipu merah. "Kau benar-benar tak merasa tersinggung?"

"Ah, kau kekasihku, Yu Yin. Kau dan aku satu. Ceritakan saja dan tak mungkin aku tersinggung. Justeru aku ingin tahu agar aku berhati-hati!"

"Baik!" gadis itu mengangguk berkata, rupanya harus bercerita juga. "Kau benar kalau cerita ini harus membuatmu berhati-hati, Giam Liong. Dan kuambil saja intinya bahwa ayahmu menggauli ibumu sebelum nikah. Nah, ini yang membuat ayahmu dikutuk karena Golok Maut merasa terhina!"

"Begitukah?"

"Ya."

"Jadi ibu hamil sebelum sah menjadi isteri ayah?"

"Begitulah, Giam Liong. Dan aku tak suka kalau aku menjadi seperti ibumu juga. Aku tak mau kau mengulang kesalahan ayahmu. Ini inti ceritanya!"

"Hm!" Giam Liong mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia merasa perih bahwa ia anak di luar nikah. Ayah dan ibunya kiranya telah melanggar dan inilah yang rupanya dimaksud Yu Yin. Gadis itu tak ingin ia mengulangi kesalahannya tapi diam-diam Giam Liong tertawa getir bahwa tak mungkin ia sejauh itu. Pemuda ini belum tahu bahayanya berdekatan dengan lawan jenis, apalagi kalau itu kekasih dan justeru orang yang disayang. Iblis biasanya menggoda dan gampang meruntuhkan pasangan-pasangan macam ini.

Ia tak tahu akan kisah ayahnya dulu dan betapa ibu serta ayahnya terlibat pertikaian dan cinta yang sengit. Mereka berkejar-kejaran untuk akhirnya berkumpul kembali, berkelahi dan akhirnya akur lagi. Dan karena peristiwa itu mendorong seorang manusia untuk tenggelam dan timbul dalam berbagai gejolak perasaan tak menentu, benci dan cinta silih berganti maka seseorang biasanya akan mudah roboh kalau sudah berkali-kali dihanyutkan perasaan yang bermacam-macam ini.

Ia tak sadar bahwa sesungguhnya iapun mendekati kisah ayah ibunya itu, bermusuhan dan baik kembali dengan Yu Yin satelah melewati berbagai cobaan dan ujian. Masa-masa depan masih akan diguncangkan lagi oleh gejolak-gejolak baru. Giam Liong tak melihat ini. Namun begitu Yu Yin berhenti bicara dan Giam Liong mengangguk-angguk, mengerti, maka pemuda itu memandang Golok Maut dan tiba-tiba sepasang matanya bercahaya mengeluarkan sinar aneh.

"Hm, aku akan menanyakannya kepada ibu. Tapi bagaimana selanjutnya, apakah kau tahu juga."

"Semua orang tahu, ayahmu akhirnya tewas!"

"Benar," Giam Liong tiba-tiba bangkit berdiri. "Dan yang membunuh adalah gurumu Yu Yin. Kau tinggal pilih membela gurumu atau aku!"

"Giam Liong!" Yu Yin tersentak. “Guruku melakukan itu atas perintah kerajaan. Ia hanya menjalankan perintah dan kau tak sepenuhnya dapat menyalahkannya."

“Hm, lalu harus menyalahkan siapa? Kaisar dan para pembantunya? Dan membiarkan orang yang membunuh ayahku bebas berkeliaran? Tidak, aku telah bersumpah untuk melenyapkan musuh orang tua ku Yu Yin. Dan ibu serta aku akan keramas dengan darahnya. Sumpahku telah didengar semua iblis dan dewa di angkasa.”

"Aku tahu... aku dapat merasakannya” gadis itu menggigil, menangis. “Dan aku juga menyesal atas kejadian ini, Giam Liong. Tapi guruku melakukan itu atas perintah istana. Kuminta kau dapat memisahkan ini atas tugas seorang pengawal dan pribadi. Aku juga tak setuju atas sepak terjang guruku tapi semuanya itu adalah karena ia pengawal di sini!”

"Aku tak mau tahu. Pokoknya aku ingin membunuh dan menghirup darahnya!"

Yu Yin tersedu-sedu. Akhirnya ia bangkit berdiri pula dan dihadapinya Giam Liong dengan mata berapi-api. Kata-kata Giam Liong yang demikian keras terhadap gurunya membuat gadis itu sakit hati juga, Yu Yin tersinggung! Dan ketika ia berdiri dan menantang pemuda itu, Yu Yin penuh benci maka gadis itu serak berseru,

"Giam Liong, aku tak dapat memilih salah satu. Tapi bagaimana kalau nyawa guruku kutukar dengan nyawaku. Nah, aku siap dibunuh dan sudahi permusuhan ini karena betapapun juga tak dapat aku meninggalkan guruku!"

Giam Liong tertegun.

"Kau mau membalas kematian ayahmu, bukan? Nah, bunuhlah aku dan lakukan apa yang ingin kau lakukan, Giam Liong. Aku menyerahkan nyawaku sebagai penukar guruku. Kau harus tahu bahwa guruku hanyalah sekedar bertindak. Ia petugas istana!"

"Hm," Giam Liong mundur, Golok Maut tiba-tiba disimpan. "Kau jangan coba-coba mempengaruhiku, Yu Yin. Kalau kau bersikeras bahwa gurumu hanyalah menjalankan perintah maka bagaimana kalau yang menjalankan perintah itu kubunuh!"

“Kau mau mengancam kaisar? Kau tak takut kena kutuk dan kemarahan rakyat?"

"Hm, yang kubunuh bukanlah kaisar, Yu Yin, melainkan orang yang memberikan perintah."

"Sama saja!” gadis itu memotong. “Guruku menjalankan titah kaisar!"

"Bukan!" bentakan Giam Liong tiba-tiba membuat gadis itu terlonjak. "Yang memberikan perintah adalah ayahmu, Yu Yin. Jahanam Coa-ongya itulah yang memberi perintah. Nah, mana yang kau pilih. Ayahmu itu atau gurumu yang kubunuh!”

Yu Yin menjerit. Mendengar Giam Liong memakai ayahnya sebagai "jahanam Coa-ongya" tiba-tiba ia memekik dan menampar. Yu Yin berkelebat dan dua kali ia menggaplok. Dan ketika Giam Liong terhuyung namun tegak berdiri lagi, gadis itu pucat dan merah berganti-ganti maka Giam Liong tertawa mengejek dan berseru,

"Yu Yin, kau berkali-kali menekankan bahwa gurumu hanyalah petugas, orang yang melaksanakan perintah. Baiklah, kuikuti omonganmu ini, Yu Yin. Tapi bagaimana kalau sekarang aku membunuh ayahmu. Dialah yang menyuruh gurumu membunuh ayahku. Dan karena dialah yang memberi perintah maka seharusnya kau bersikap adil untuk memberi kesempatan kepadaku melenyapkan orang yang memberi perintah ini!"

Yu Yin pucat pasi. Ia tiba-tiba mengeluh dan terhuyung dan sekarang ia malah mengguguk tak dapat menahan diri. Kalau tadi Giam Liong mengancam gurunya adalah sekarang pemuda itu mengancam ayahnya. Mana lebih baik? Dua-duanya sama-sama tidak baik! Membunuh gurunya atau ayahnya sama saja. Giam Liong akan meninggalkan sebuah luka yang dalam di hatinya. Gadis itu jatuh terduduk! Dan ketika Yu Yin tersedu-sedu dan dua muda-mudi yang baru saja tenggelam dalam asmara ini sekarang sudah saling bermusuhan, hal itu pernah pula dialami Wi Hong dan mendiang Golok Maut Sin Hauw, maka Yu Yin meringkuk di sudut sambil menyembunyikan kepala di bawah lutut.

Giam Liong berdiri dan memandang dengan wajah beku. Pemuda itupun hilang kasih sayangnya. Aneh, cinta kok bisa demikian membingungkan orang! Namun ketika Giam Liong menunggu dan gadis itu ditanya lagi, Giam Liong minta jawaban maka Yu Yin tiba-tiba melompat dan secepat kilat ia menyambar golok di punggung pemuda itu.

"Giam Liong, aku tak mau mendengar semua kata-katamu ini. Lebih baik aku bunuh diri dan uruslah pertikaianmu dengan guru atau ayahku!"

Giam Liong terkejut. Ia tak menyangka gerakan itu namun begitu Yu Yin bicara tentang bunuh diri mendadak ia mengelak. Golok di punggung diselamatkan namun gadis itu mengejar sambil berteriak-teriak lagi. Yu Yin kalap! Dan ketika gadis itu menyerang dan pukulan serta tendangan silih berganti. Giam Liong mengerutkan kening maka apa boleh buat dia menampar dan gadis itu ditangkisnya roboh.

"Yu Yin, jangan seperti harimau kelaparan. Berhenti dan tenanglah di sudut... plak!" gadis itu menjerit, terjengkang dan mau meloncat bangun namun Giam Liong mendahului. Pemuda ini melepas totokan dan sebelum gadis itu berusaha mengelak ia pun sudah terguling. Dan ketika Giam Liong mengusap keringat dan berdiri dengan muka merah, Yu Yin memaki-maki maka dari atas. tiba-tiba datang secercah sinar dan seruan nyaring terdengar menggema,

"Yu Yin, kau tak apa-apa?"

Giam Liong tertegun. Lantai di atas sumur, yang tinggi dan belasan meter mendadak dibuka orang. Seseorang melongok dan itulah Kedok Hitam. Giam Liong berkelebat dan secepat kilat ia mendaki dinding, merayap dan hendak ke atas sebelum pintu ditutup kembali. Namun begitu ia mencengkeram dan menempel tembok, seperti cecak mendadak ia melorot lagi dan tergelincir ke bawah. Tembok itu ternyata dilapisi minyak!

"Ha-ha!" tawa itu membuat pemuda ini mendidih. "Kau tak dapat naik ke atas, Giam Liong. Biarpun kau memiliki Pek-houw-yu-chong (Ilmu Merayap) kau tak mungkin naik!"

"Keparat!" Giam Liong memaki, secepat kilat melempar lima golok terbang, mencuit ke atas. "Kau memang pengecut dan culas, Kedok Hitam. Turunlah dan mari bertanding seribu, jurus!"

"Ha-ha, kau seperti katak di dalam lubang. Boleh bercuap-cuap tapi tak dapat berbuat apa-apa cep-cep-cep!" dan lima golok terbang yang disambar dan dijepit laki-laki ini, tangkas dan tepat akhirnya disusul suara keras ketika lantai di atas lubang ditutup kembali.

Giam Liong telah berusaha memanjat namun dinding sumur benar-benar penuh minyak. Ia melorot dan jatuh lagi setiap mencoba. Dan ketika Giam Liong menggigil dan hendak menancapkan goloknya, dari situ ia akan naik dan memanjat ke atas ternyata lubang ditutup dan keadaan kembali gelap.

"Lihat," Giam Liong melepas geramnya. "Betapa licik dan jahatnya gurumu. Apakah iblis seperti itu masih pantas kau bela, Yu Yin? Apakah kau masih memberatkan jahanam keparat itu?”

Yu Yin menghentikan tangisnya. Ia terbelalak ketika tadi lubang dibuka dari atas, mengerutkan kening dan melihat wajah gurunya di sana. Tapi begitu lubang menutup dan Giam Liong marah-marah, ia tak menjawab dan diam saja tiba-tiba dari sisi-sisi lubang terdengar suara mendesis-desis.

Naga Pembunuh Jilid 25

NAGA PEMBUNUH
JILID 25
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"KEDOK HITAM, jangan lari. Mana kejantananmu!"

"Ha-ha," Kedok Hitam tertawa bergelak. "Justeru ini aku menunjukkan kejantananku, Giam Liong. Aku ingin bertanding di tempat yang sepi, tidak melibatkan orang lain. Hayo, kau kejar dan ikuti!"

"Aku pasti mengikutimu. Aku akan membunuhmu!" dan ketika Giam Liong membentak dan berseru keras, berkelebat dan mengayun kakinya maka Kedok Hitam tiba-tiba menyelinap dan keluar dari samping gedung.

Laki-laki yang licik itu membiarkan Giam Liong mengejar di belakang, masuk keluar lorong-lorong istana dan di belakang gedung tiba-tiba ia meloncat keluar. Dan ketika Giam Liong, membentak dan laki-laki itu disambarnya, lawan rupanya memperlambat atau membiarkan diri disergap maka laki-laki itu tiba-tiba menendang sesuatu dan seperti kuda menyepakkan kakinya sekonyong-konyong sebuah bola hijau menyambar Giam Liong.

"Plak!"

Giam Liong menangkis dan tentu saja marah memaki lawannya itu. la tidak tahu benda apa ini namun begitu ditangkis tiba-tiba bola itu meledak. Dari dalam keluar jarum-jarum hijau yang luar biasa banyaknya, tak kurang dari seribu! Dan ketika Giam Liong harus melempar tubuh ke belakang dan lawan tertawa bergelak maka laki-laki itu melanjutkan larinya lagi dan Giam Liong bergulingan melompat bangun. Lawan kembali jauh didepan.

"Kedok Hitam, kau licik, curang. Hayo berhenti dan kita bertanding di sini!'

"Ha-ha, aku ingin di sana. Ada bukit di taman istana, Giam Liong. Mari ke sana dan di situ kita bertanding!"

"Kau pengecut, hina!" dan Giam Liong yang mengejar dan melepas hui-to-hui-to terbang, golok kecil yang menyambar susul-menyusul maka lawan menangkis dan golok atau hui-to-hui-to itu runtuh. Kedok Hitam memang lihai.

"Ha-ha, tak usah mempergunakan senjata-senjata anak-kecil. Tanpa kau serangpun aku pasti berhenti disana....plak..plak..plak!"

Giam Liong gemas melihat lawan meruntuhkan golok-golok terbangnya, la memang melepas senjata-senjata rahasia itu agar lawan berhenti, setidaknya, menangkis dan berhenti. Tapi ketika golok-golok runtuh dan lawan meneruskan larinya berbelok dan akhirnya menuju kesebuah gundukan tanah tinggi yang merupakan bukit buatan maka Giam Liong menggeram dan ia mengejar dan berjungkir balik menghantam lawan, kali ini mempergunakan pukulan jarak jauh.

"Kedok Hitam, berhenti!”

Kedok Hitam terkejut, sudah hampir tiba di bukit kecil itu ketika tiba-tiba Giam Liong melayang dan berjungkir balik di belakangnya. Pukulan yang amat dahsyat menyambarnya bagai angin taupan, ia membalik dan apa boleh buat menangkis. Dan ketika dua lengan beradu dan Kedok Hitam mengeluh, terlempar dan menabrak bukit kecil itu maka laki-laki ini terbanting dan Giam Liong rupanya mengeluarkan sebagian besar tenaganya.

"Dess!"

Laki-laki itu bergulingan. Giam Liong terbelalak, karena lawan amatlah kuatnya, bangun dan masih dapat berlari lagi dan menyelinap di balik bukit kecil itu. Dan ketika ia membentak dan menyerang lagi, lawan amatlah pengecut maka belasan sinar hitam tiba-tiba kembali menyambar dan menyambut pukulannya itu.

"Plak-plak-plak!"

Giam Liong memukul runtuh jarum-jarum lawan. Sebenarnya ia menyerang lawan tapi lawan melepas jarum-jarum hitamnya itu, apa boleh buat harus ditangkis dan jatuhlah jarum-jarum halus ini. Dan ketika ia hendak menerjang lagi dan lawan bersembunyi di balik bukit itu, ia tak takut akan serangan gelap mendadak muncul bayangan-bayangan dari kiri kanan dan Lam-ciat, serta seorang kakek gundul menghantamnya dari samping.

"Bocah, kau mampuslah!"

Giam Liong terkejut, la tak menyangka bahwa di balik bukit kecil itu bersembunyi orang- orang lain. Tadinya ia tak melihat orang-orang ini, lima jumlahnya. Dan ketika ia menangkis pukulan-pukulan itu tapi tiga yang lain lagi bergerak dan menghantamnya dari belakang maka ia berpukul dan Giam Liong terhuyung cepat mengerahkan sinkang.

"Des-des-dess!"

Tiga tongkat menggebuk dirinya. Giam Liong mendelik karena tiba-tiba di situ muncul Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai. Dua kakek pengemis itu bersama seorang lagi yang samar-samar diingatbGiam Liong, seorang tosu dengan rambut kepala digelung tinggi. Dan ketika ia terhuyung dan tiga orang itu membentaknya lagi, menyerang dan menggerakkan tongkat maka pemuda ini meradang dan naik darah. Ji-sin-ikai dan Toa-sin-kai adalah orang-orang yang dulu dihajarnya di rumah hartawan Tek.

“Ji-sin-kai, kiranya kau telah menjadi anjing penjilat istana. Ah, bagus sekali kau datang!"

"Dan pinto tak dapat menerima sepak terjangmu!" tosu di sebelah itu balas membentak dan mendahului Giam Liong, tongkat di tangannya juga menyambar-nyambar. "Kau tentu ingat pinto, Naga Pembunuh. Tapi pinto bergerak sekedar sebagai patriot. Kau antek pemberontak!"

"Ah, kau Eng Sian Taijin. Bagus, sekarang aku ingat, tapi akupun akan menghajarmu.. plak-plak-plak!" dan Giam Liong yang menangkis dan menggerakkan tangan kirinya tiba-tiba telah menghalau tongkat yang datang susul-menyusul.

Tiga orang itu menyerangnya dengan gencar namun Giam Liong dapat mementalkan. Dan ketika ketiganya terkejut tapi Giam Liong mendengar tawa menyeramkan, mau membalas tiga orang itu namun Lam-ciat dan si kakek gundul menghantamnya dengan pukulan kuat maka ia menangkis dan Kedok Hitam tiba-tiba muncul, melepas pukulan pula.

"Bunuh pemuda ini!”

Giam Liong terkejut dan terkesiap, la baru saja mau membalas Ji-sin-kai dan kawan-kawannya ketika tiba-tiba saja Lam-ciat dan kakek gundul yang tak dikenal itu menghantamnya. Dan belum ia menangkis atau mengelak serangan ini tiba-tiba saja si Kedok Hitam muncul, keluar dan menghantamnya dari balik gunung gunungan dan tentu saja pemuda ini marah. Sadarlah ia bahwa Kedok Hitam membawanya ke tempat di mana kawan-kawannya ini bersembunyi, Giam Liong membentak dan mengeluarkan golok mautnya itu lagi, karena tadi ia menyimpan dan sengaja tidak mengeluarkan kalau belum dekat benar dengan lawannya ini. Dan ketika ia membentak dan semua serangan itu datang bagaikan hujan, susul-menyusul maka secepat kilat ia mencabut senjata mautnya dan begitu sinar berkeredep maka Kedok Hitam berteriak kepada kawan-kawannya namun tongkat Ji-sin-kai dan Eng Sian Taijin keburu putus, terbabat atau disambar sinar putih berkilauan ini.

"Awas... crak-crakk!"

Enam orang itu membanting tubuh bergulingan. Giam Liong yang marah dan tidak banyak bicara mencabut goloknya tiba-tiba telah membuat lawan-lawannya terpekik dan menjerit kaget. Ji-sin-kai, yang dulu sudah merasakan kelihaian dan kehebatan pemuda ini tanpa senjata di tangan sudah hampir saja dibabat pergelangannya. Giam Liong meneruskan gerakannya tadi dan untunglah pengemis ini melempar tubuh. Tongkat yang terbabat putus seketika dan tangan yang disambar terasa dingin terkena angin golok. Giam-to atau Golok Maut itu memang sungguh membuat bulu kuduk mengkirik. Hawanya benar-benar menyeramkan. Dan ketika enam orang itu bergulingan dan Eng Sian Taijin berteriak tertahan, baru sekarang ia tahu kehebatan Golok Maut maka tosu itu meloncat bangun dan gemetar di sana, lututnya berketrukan, persis orang diserang demam.

"Iblis, bocah ini luar biasa sekali!"

"Hm, yang luar biasa adalah golok mautnya," Kedok Hitam berseru, membangkitkan keberanian teman-temannya. "Jangan tangkis dan terima sambaran goloknya itu, Sin-kai. Hindari dan pergunakan taktik jarak jauh untuk menyerangnya secara bergantian!"

"Benar," Lam-ciat juga berseru, suara menggigil tapi mata bersinar-sinar. "Bocah iblis ini mengandalkan goloknya, Tai-jin. Tapi jangan takut karena kami akan merampasnya. Maju lagi, dan keroyok secara bersudut!"

"Pinto tidak takut!" sang tosu membentak, merah mukanya. "Pinto hanya memuji goloknya, Lam-ciat. Tapi pinto pun juga punya pedang yang bagus. Biar pinto cabut dan lihat apakah pedang pinto tak mampu menghadapi goloknya!" si tosu tak mau malu, ganti mencabut pedang dan menyerang kembali bersama teman-temannya.

Kedok Hitam sudah berseru namun ia merasa pedangnya pun baik, tak perlu takut kalau belum membuktikan. Dan ketika Lam-ciat dan lain-lain menghantam pemuda itu dan si tosu menyerang dari samping, Giam Liong tak sempat memperhatikan satu demi satu maka pemuda itupun memutar goloknya dan... pedang tosu itupun putus.

“Cranggg!!"

Golok Maut benar-benar hebat Eng Sian Taijin harus ditendang si Kedok Hitam karena bengong melihat pedangnya patah. Demikian mudah dan empuk saja di tangan pemuda itu memutuskan pedangnya, seolah pisau bertemu agar-agar dan tentu saja tosu itu terkejut. Dan ketika ia tertegun namun Kedok Hitam menendangnya untuk menghindar dari sapuan golok, yang menyambar dan atas ke bawah maka laki-laki itu membentak agar si tosu tidak takabur.

“Jangan sombong, dan percayalah kata-kata orang lain. Kalau kau tidak ingin mampus jangan coba-coba menghadapi Golok Maut itu dengan pedang burukmu!”

Eng Sian Taijin terpelanting dan roboh. la ditendang kawannya ini dan mukapun merah padam menahan malu. Sungguh tak ia sangka kalau kehebatan golok itu benar-benar luar biasa. Dan ketika ia percaya namun senjatapun sudah hilang, untung Kedok Hitam melemparkan pedang baru untuknya maka majulah kembali tosu itu dengan muka berubah-ubah, sebentar pucat dan merah. Giam Liong sendiri sudah menghadapi lawan-lawannya dan Ji-sin-kai pun mencabut tongkat cadangannya.

Hebat orang-orang itu menyerang namun lebih hebat lagi pemuda ini mempertahankan diri. Dan ketika sinar putih berkelebatan naik turun dan dari enam orang itu hanya Kedok Hitam dan Lam-ciat yang paling berbahaya, lalu si gundul yang tidak dikenal maka Giam Liong mendengus kepada Ji-sin-kai dan Toa-sin-kai agar mereka mundur, juga Eng Sian Taijin yang telah dua kali mendapat pelajaran itu.

"Aku tak bermusuhan dengan kalian, mundur atau nanti hancur!"

"Siancai!" Eng Sian Taijin tak mau kehilangan muka. "Pinto sudah maju, Naga Pembunuh. Dan pinto tentu tak mau mundur kalau belum menemui ajal. Kau jangan sombong dan tak perlu menggertak pinto. Kau pemberontak!"

“Benar," Ji-sin-kai juga berteriak dan memaki pemuda itu, merasa tertampar. "Kau bukan jagoan tanpa tanding, Giam Liong. Kau ternyata keturunan pemberontak Sin Hauw yang kejam itu. Ingat kematian ayahmu kalau tubuhmu tak ingin terbelah-belah!"

Giam Liong mengeluarkan kilatan api. Kata-kata Ji-sin-kai ini justeru membuat darahnya mendidih dan melengkinglah pemuda itu menyambut serangan-serangan lawan. Dan ketika semua mundur karena sinar putih menggunting dari kiri kanan, angin dingin dari golok berbahaya itu menabas putus daun-daun di sekitar maka Giam Liong melampiaskan kemarahannya kepada pengemis nomor dua ini.

"Baik, kau tak dapat diperingati, Ji,-sin-kai. Dan inilah awal ajalmu yang pertama. Awas, jaga kepalamu!"

Ji-sin-kai terbelalak. Ia baru saja mundur ketika tadi sinar golok berkelebat. Ia jerih dan sekarang tak berani menangkis, terlalu berbahaya itu. Tapi ketika Giam Liong membentak dan golok membelah di angkasa, sinar putihnya yang berkeredep membuat kakek itu ngeri maka ia berteriak dan menyuruh suhengnya melindungi, diri sendiri sudah meloncat dan bersembunyi di balik punggung Kedok Hitam.

"Heii..!" Kedok Hitam berseru keras. "Jangan ke sini, Sin-kai. Menjauhlah!" dan karena golok mengejar dan menuju pada laki-laki ini, yang berkelebat dan bersembunyi di belakang si kakek gundul maka kakek itulah yang berteriak dan ganti memaki teman-temannya.

"Jangan bersembunyi di belakangku!"

Namun sinar golok tetap meluncur cepat. Giam Liong telah mengancam Ji-sin-kai dan kini golok itu menyambar Kedok Hitam yang amat dibencinya, membelok dan menyambar si kakek gundul yang berteriak dan cepat melempar tubuh bergulingan. Golok Maut mendesing tanpa kompromi. Dan karena Kedok Hitam maupun kakek gundul menjejakkan kaki menjauhkan diri, mereka harus membuang tubuh kalau tak mau menghadapi golok maut maka Ji-sin-kai yang tadi terlindung dan di balik dua orang ini tiba-tiba terbuka kembali tubuhnya dan saudaranya berteriak agar membanting diri bergulingan.

"Awas!"

Namun pengemis ini lengah. Ia tadi sudah lega karena terlindung di balik punggung Kedok Hitam, ikut bergeser ketika laki-laki itu menyelinap ke belakang kakek gundul. Namun karena kakek gundul melempar tubuh ke belakang dan saat itu lapun terlihat lagi, menjerit dan pucat melihat sinar golok maka sebuah teriakan ngeri tiba-tiba terdengar disusul mencelatnya kepala kakek ini dari batang tubuhnya.

"Crat!"

Golok Maut mendapat korban. Giam Liong tertawa aneh dan Ji-sin-kai pun roboh, kepalanya menggelinding dan mendelik di sana, penuh kaget dan ketakutan. Agaknya, tak tahu bahwa nyawanya melayang! Dan ketika Giam Liong tertawa aneh dan suara tawanya mirip burung hantu mendapat mangsa, dingin dan menyeramkan maka Toa-sin-kai berteriak dan meratap melihat adiknya tewas.

"Ji-te...!"

Namun kakek itu tak mendapatkan saudaranya hidup lagi. Ji-sin-kai telah tewas dan tubuh kakek itupun menggeliat sejenak di tanah. Darah menyembur dari batang lehernya seperti pancuran deras, bumi seketika merah dan basah! Dan ketika Giam Liong membuat yang lain-lain terkejut dan membelalakkan mata, satu nyawa melayang sia-sia maka Kedok Hitam pucat dan berseru agar Lam-ciat mempergunakan Hoan-eng-sutnya.

"Sambar dia dengan Hoan-eng-sut. Aku akan memukulnya dengan Kim-kang-ciang!"

Lam-ciat mengangguk. Dalam saat-saat berbahaya seperti itu tak ada lain jalan kecuali mempergunakan ilmu gaibnya itu. Ia membentak dan meledakkan tangannya dan lenyaplah kakek itu di balik asap hitam. Dan ketika Lam-ciat menghilang dan mempergunakan Hoan-eng-sut, Sihir. Menukar Bayangan maka Kedok Hitam berseru keras dan sekonyong-konyng ia menggerakkan kedua tangannya ke depan,mendorong.

“Dess!"

Giam Liong tak bergeming, la telah mengerahkan sinkangnya dan Kedok Hitam terbelalak karena pemuda itu tak apa-apa, dipukul lagi tapi Giam Liong hanya terhuyung sedikit dan menggeram karena lawan di kiri kanan menyerang lagi. Kakek gundul itu membentak dan merobah gaya serangannya di mana kedua lengannya tiba-tiba bergerak dengan amat cepatnya seperti delapan lengan dewa. Dan ketika Giam Liong memutar goloknya dan pukulan Kedok Hitam kembali menyambar dari belakang, laki-laki itu memang licik dan curang maka bergeraklah bayangan kuning emas di mana Lam-ciat muncul dan menghantamnya dengan Kim-kang.

"Des-dess!"

Giam Liong mengeluarkan seruan keras dan melempar tangan kirinya ke belakang dan samping kanan, la mengeluarkan Pek-lui-kang dan terpentallah dua orang itu sambil mengeluarkan teriakan tertahan. Dan ketika Giam Liong terhuyung karena lawan menyerang berbareng, Kedok Hitam dan Lam-ciat adalah lawan-lawan tangguh yang memiliki sinkang kuat maka si gundul berhasil menyelinap dan lengannya yang berobah menjadi delapan buah itu mendarat di pundaknya. Giam Liong mendesis namun si kakek terpekik merasa kaget, pundak pemuda itu seperti pundak baja.

Dan ketika berturut-turut Giam Liong menerima pukulan namun iapun mengejutkan lawan-lawannya karena kebal, Toa-sin-kai mengelak dan Eng Sian Taijin melempar tubuh dari bayangan golok maka Giam Liong menjadi sibuk oleh gangguan Lam-ciat yang muncul dan menghilang lagi di balik Hoan-eng-sutnya. Kedok Hitam juga mengeluarkan pukulan-pukulan sinkangnya namun selama ini Giam Liong mampu bertahan. Ia membalas dengan pukulan-pukulan Pek-lui-kang dan balasan tangan kirinya itu menahan si Kedok Hitam, golok terus berputar namun semua lawan tentu cepat menjauhkan diri begitu didekati sinar berkeredep.

Golok Maut memang pembawa gentar. Dan ketika G iam Liong menjadi gemas karena mereka menyerang dan mundur lagi berganti-ganti, semua takut menghadapi goloknya namun berani kalau ia membelakangi maka Giam Liong berseru kepada Eng Sian Taijin ataupun Toa-sin-kai agar mundur sekali lagi. Dua orang yang paling rendah, kepandaiannya ini dirasa mengganggu juga.

"Kalian mundur baik-baik, atau nanti golokku mencari korban!"

"Keparat!" Toa-sin-kai mendelik. "Kau telah membunuh saudaraku, Giam Liong. Dan aku tentu mengadu jiwa. Aku hendak menuntut balas!"

"Hm, dan pinto pun masih tak akan undur kalau hanya kau gertak. Pinto siap mempertaruhkan nyawa demi membela negara!"

"Bagus!" Giam Liong akhirnya tak sabar kepada dua orang ini, membiarkan diri terbuka untuk menerima pukulan atau hantaman Lam-ciat dan kakek gundul, juga Kedok Hitam. "Kalau kalian sudah bicara seperti itu maka akupun akan menuruti keinginan kalian, Toa-sin-kai. Baik-baik aku menyuruhmu pergi namun kau ingin menyusul adikmu. Awas, golokku akan menyambar kepalamu!"

Giam Liong melakukan gerakan berputar. Ia sudah menjadi marah dan memutuskan bahwa dua orang yang mengganggu ini akan dirobohkannya dahulu. Berkali-kali ia diserang kalau sedang menghadapi pukulan Kedok Hitam atau Lam-ciat. Bahkan kepalanya kena hantaman tongkat ketika tadi melayani si gundul. Giam Liong belum tahu siapa kakek ini namun ia lupa-lupa ingat akan gaya serangan kakek itu. Ia tak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan Pat-jiu-sian-ong (Dewa Lengan Delapan), guru dari Sing Kok di mana dulu pemuda itu mainkan ilmu silat Pat-sian-sin-kun di rumah hartawan Tek.

Jadi tak heran kalau ia lupa-lupa ingat akan gaya pukulan kakek itu karena dulu putera Sing-wangwe itu pernah dilayaninya. Dan ketika Toa-sin-kai maupun Eng Sian Taijin selalu mencuri kesempatan di waktu ia menghadapi tiga yang kuat, pengemis dan tosu itu memang termasuk yang paling lemah maka Giam Liong memutuskan untuk membunuh dulu tosu dan pengemis ini. Ia telah membunuh Ji-sin-kai dan kepalang tanggung kalau tidak membunuh pula Toa-sin-kai.

Nanti kakek itu mendendam dan di belakang hari ia bakal repot, meskipun tentu saja ia tak takut pembalasan kakek pengemis itu dan ketika ia memperingatkan dan lawan malah membentaknya marah, Toa-sin-kai gentar namun di situ ada empat temannya, ia coba-coba akan membalas kematian adiknya maka begitu Giam Liong membalik tiba-tiba kakek ini menghantamkan tongkatnya ke tengkuk Giam Liong. Eng Sian Taijin juga melihat kesempatan bagus dan tak menyangka bahwa itu adalah siasat Giam Liong.

Pemuda ini memang menghendaki agar lawan menyerang bagian belakang punggungnya,ia masih harus menghalau serangan Kedok Hitam dan si kakek gundul. Dan begitu ia menampar dan golok di tangan kanan dipakai membabat, tongkat dibiarkan menghantam tengkuk sementara pukulan Eng Sian Taijin menuju punggungnya tiba-tiba Giam Liong berseru keras dan tongkat yang mental bertemu tengkuknya sekonyong-konyong disambar golok ini dan sambaran itu terus meluncur menuju leher. Giam Liong membiarkan pukulan Eng Sian Taijin mendarat dipunggungnya.

"Awas!"

Toa-sin-kai terkesiap. Giam Liong yang tiba-tiba merunduk dan meneruskan babatan ke depan menjadi ke belakang tahu-tahu sudah memutar tubuhnya lagi menghadap belakang, jadi berhadapan dengan dia yang baru saja menghantam tengkuk. Pengemis ini terkejut karena tengkuk yang dihantam tak apa-apa tongkatnya malah patah. Dan ketika ia berjengit dan sinar golok berkeredep menyilaukan mata, Giam Liong telah memutuskan untuk membunuh kakek ini maka bersama jeritan tertahan tiba-tiba kepala kakek itu terlepas.

"Crat!"

Giam Liong memenuhi janjinya. Kepala Toa-sin-kai mencelat dan bersama dengan menyemprotnya darah segar, batok kepala itupun menggelinding di tanah. Batang tubuhnya sudah ambruk. Dan karena gerakan Giam Liong memang pancingan dan hal itu tak diduga pula oleh Eng Sian taijin maka ketika temannya roboh tosu itupun menjerit karena tahu-tahu lengannya tergores panjang.

"Bret!"

Tosu itu melempar tubuh bergulingan. Ia pucat dan ngeri karena sekejap saja sinar golok telah menyanbar rekannya. Bahkan ia masih juga keserempet tapi untung bukan leher. Kalau leher, tentu ia pun sudah roboh! Dan ketika tosu itu meloncat bangun dan Giam Liong di sana tertawa dingin, Kedok Hitam dan Lam-ciat serta Pat-jiu Sian-ong mempergunakan kesempatan, itu untuk menghantam pemuda ini maka Giam Liong tergetar dan terhuyung dua langkah mengerahkan sinkang, namun gempuran ketiga orang sekuat Kedok Hitam dan kawan-kawannya memang cukup hebat.

Ia tadi memusatkan perhatian Pada Toa sin-kai, berhasil namun iapun menerima pukulan dari ketiga orang lawannya. Namun karena Giam Liong memilki sinkang yang luar biasa dan tenaga saktinya inilah yang melindung dirinya, Lam-ciat dan lain-lain kagum membelalakkan mata maka Giam Liong terseru agar Eng Sian Taijin mundur, atau nanti mengalami nasib seperti Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai.

"Majulah, kalau kaupun ingin kupenggal!"

Eng Sian Taijin gentar. Setelah berkali-kali ia terancam dan kini lengannya nyaris putus, golok di tangan memang luar biasa sekali maka tosu itupun menggigil dan mundur dengan muka pucat. Ia kehilangan senjatanya dan tiga kali ia mendapat peringatan Giam Liong, itu lebih dari cukup. Dan ketika ia terbelalak dan mundur menjauh, tosu Khong-tong-pai ini jerih maka Kedok Hitam justeru marah-marah dan memaki tosu itu.

"Heii, mana nyalimu. Kalau kau pengecut tak usah membela negara, hidung kerbau. Mana kata-katamu tadi yang sekarang sudah kau jilat kembali!"

"Pinto... pinto tak menang...!" tosu itu mengaku, tak malu-malu. "Bocah ini hebat sekali, Kedok Hitam. Pinto mengaku kalah!"

"Mengaku kalah sebelum roboh? Pengecut. Kau tosu bau yang tak pantas menjadi murid Khong-tong, Eng Sian Taijin. Kalau begitu pergilah dan jangan membantu aku!"

Eng Sian Taijin merah padam. Ia bingung dan menjadi serba salah di sudut pertandingan. Tadi dengan lantang memang ia berkata sombong, kini tiba-tiba saja kesombongannya itu hancur dan jelas ia gentar melihat kepandaian Giam Lioa Si Naga Pembunuh ini terlalu hebat dan mau tak mau ia harus mengakui jerih. Tapi karena ia diusir dan apa boleh buat harus angkat kaki secepatnya, dari pada menanggung malu mendadak begitu tosu itu memutar tubuh dan hendak pergi sekonyong-konyong Kedok Hitam melemparkan sesuatu. Enam jarum hitam menyambar punggung dan kepala tosu itu dari belakang, sang tosu tak mengira. Dan ketika ia mendengar desir angin namun terlambat, enam jarum itu menancap di punggung dan batok kepalanya tiba-tiba tosu itu menjerit dan roboh.

"Aduh!" Eng Sian Taijin berkelojotan. Ia memaki dan mengerang namun sedetik kemudian iapun roboh tak bergerak-gerak. Enam jarum hitam yang disambitkan si Kedok Hitam adalah jarum-jarum beracun yang amat berbahaya. Racun itu segera mengikuti aliran darah begitu menembus kulit. Dan karena tosu itu memang dibawah si Kedok Hitam, ia tak mampu menahan racun dengan sinkangnya maka tewaslah tosu itu dengan muka kebiru-biruan.

Kedok Hitam tertawa dingin dan saat itu bayangan pengawal berkelebatan dari mana-mana. Betapapun Giam Liong masih di kompleks istana dan ia dikepung ketat Dan ketika Giam Liong tinggal melayani tiga orang lawannya karena Ji-sin-kai dan Toa-sin-kai serta Eng Sian Taijin tewas, yang terakhir justeru dibunuh si Kedok Hitam sendiri maka Kedok Hitam tiba-tiba bersuit nyaring dan menyuruh dua temannya mundur.

"Biarkan pemuda ini mengejar aku. Aku akan membawanya ke tempat yang lain!"

Lam-ciat dan si kakek gundul terbelalak. Mau tidak mau mereka ngeri juga melihat kehebatan pemuda ini. Sapuan tangan kirinya juga hebat sekali karena dari tangan kiri itu menyambar angin pukulan panas. Empat kali Lam-ciat bertemu tenaga dan empat kali itu pula kakek ini terpental. Kim-kangnya, atau Tenaga Emas, ternyata tak mampu menghadapi Pek lui-kang yang dipunyai pemuda itu. Ini adalah warisan si pendekar pedang Ju Beng Tan dan tentu saja hebat sekali karena pendekar itu mewarisinya dari si kakek dewa Bu-beng Sian-su, manusia super yang amat sakti. Dan ketika Pat-jiu Sian-ong juga terpelanting dan ilmu silatnya Pat-jiu-sur-kun tak berguna banyak, Giam Liong kebal dengan pukulan-pukulannya maka kakek ini teringat Han Han dan gentar membayangkan bahwa dua pemuda itu sama-sama hebat.

"Iblis, pemuda ini memang luar biasa!"

Kedok Hitam mendengus, la tak senang juga mendengar dua kawannya memuji Giam Liong. Kalau bukan karena kakek itu lebih hebat daripada Eng Sian taijin mungkin iapun akan memberi pelajaran kepada kakek gundul ini. Mungkin juga dengan jarumnya yang lihai itu. Namun karena ia membutuhkan teman dan betapapun Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat adalah orang yang bisa dipercaya mereka itu hanya gentar terhadap golok maut yang dibawa Giam Liong maka laki-laki ini berseru agar dua kawannya mundur, pasukan kerajaan sudah datang dan kini membantu melepas panah-panah dari jauh.

"Biarkan kalian mengaso. Kita bertemu di Bukit Naga Kuning!"

Giam Liong membentak. Kedok Hitam menghilang lebih dulu dengan berkelebat dan lenyap di sebelah kiri gunung-gunungan itu. Lam-ciat dan kakek gundul mengikuti hampir berbareng. Dan karena ia lebih berurusan dengan Kedok Hitam daripada Pat-jiu Sian-ong maupun si Hantu Selatan, Giam Liong selalu mendidih kalau pembunuh ayahnya itu melarikan diri maka tujuh golok terbang dilepas dan kembali menyambar laki-laki itu, golok diputar menghalau sambaran anak-anak panah yang datang mengganggu.

"Kedok Hitam, jangan lari. Di mana sikap ksatriamu yang tadi kautonjol-tonjolkan!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam menyampok dan sudah waspada akan serangan Giam Liong. "Aku menantangmu di tempat lain lagi, Giam Liong. Di sini sudah ramai dengan pasukan-pasukan istana. Mari ke depan dan ikuti aku!"

Tujuh hui-to dipukul runtuh. Hui-to atau golok terbang yang dilontarkan Giam Liong sesungguhnya tak gampang diruntuhkan begitu saja kalau lawan yang dihadapi berkepandaian biasa. Tapi karena Kedok Hitam memang bukan tokoh biasa dan ia memiliki sinkahg kuat, Giam Liong geram dan mengejar lawan maka gunung-gunungan itu ditabraknya dan gunung buatan itupun ambrol. Suara ledakan membuat bumi bergetar.

"Kedok Hitam, jangan lari. Hadapi aku secara jantan!"

Kedok Hitam tertawa gentar. Ia menoleh dan melihat gunung-gunungan itu jebol ditabrak Giam Liong. Pemuda itu hebat sekali. Tapi karena ia mempunyai rencana lain dan meneruskan larinya maka bergeraklah laki-laki itu ke timur istana. Ia melompat dinding tembok dan Giam Llong menyusul di belakang, tak mau kehilangan jejak. Tapi begitu Giam Liong melayang turun dan menginjak tanah sekonyong-konyong tanah itu terbuka dan lubang yang dalam menerima tubuh pemuda ini, persis lubang atau jebakan harimau.

“Ha.ha..ha...!"

Bresss! Giam Liong terkejut berseru keras. Untuk kedua kalinya ia terjeblos di lubang jebakan. Tadi di patung singa-singaan dan sekarang diatas tanah biasa. Ia tidak tahu bahwa ketika melewati tanah ini Kedok Hitam melempar sepotong kayu dan menggenjotkan tubuh diatas kayu ini, laki-laki itu hinggap di atas tanah seberang. Dan karena Giam Liong tidak tahu karena waktu itu ia sedang melayang turun dan naik keatas tembok, lawan melayang turun dan melakukan itu, maka terjebaklah Giam Liong oleh kelicikan lawan.

Namun Giam Liong bukanlah Giam Liong kalau begitu mudah masuk perangkap. Ia masih memegang goloknya dan goloknya itulah yang dipakai menusuk dinding, kuat dan tertahan dan untuk kedua kalinya pula ia sudah mengayun dan berjungkir balik ke atas. Puluhan sinar hitam menyambutnya di atas tapi Giam Liong sudah memutar goloknya ini. Dan ketika Kedok Hitam lagi-lagi gagal karena Giam Liong lolos dari maut, pemuda itu benar-benar berkepandaian tinggi maka Giam Liong sudah mengejar dan membentak lawannya ini lagi.

"Kedok Hitam, kau curang dan pengecut!”

"Ha-ha, itu bukan perbuatanku," laki-laki ini lari lagi, kini menuju ke sebuah rumah kecil di belakang istana. "Kau yang kurang hati-hati memasang kewaspadaanmu, Giam Liong. Tempat kaisar selamanya tak boleh dipermainkan orang seenaknya!"

"Bedebah, kau berhentilah dan jangan lari seperti anjing!"

"Hm!" Kedok Hitam merah mukanya, untuk pertama kali dimaki sebagai anjing! "Mulutmu busuk, Giam Liong. Tapi kaulah anjing pemberontak dan keturunan biangnya anjing pula. Kakek dan ayahmu adalah anjing-anjing pemberontak. Kubunuh kau nanti!"

"Keparat, mari bertanding dan lihat siapa yang akan terbunuh!"

Kedok Hitam tak menjawab. Giam Liong sudah dekat di belakangnya dan pemuda itu kembali melempar tujuh golok terbang. Kedok Hitam menoleh dan menangkis. Dan karena rupanya ia kalah cepat atau gentar melihat lawan tak pernah melepaskannya, wajah Giam Liong merah membesi maka sebatang hui-to menancap dan laki-laki itu menjerit.

"Aduh!"

Giam Liong girang, la melihat sebatang hui-to nya menancap di pundak laki-laki itu, Kedok Hitam terhuyung tapi lari lagi ke dalam, kini memasuki rumah kecil itu. Dan karena rumah itu ternyata tak memiliki kamar-kamar, ya hanya ruangan tengah itulah kamarnya maka Giam Liong girang karena lawan menabrak jalan buntu. Rumah kecil ini kiranya sebuah pesanggrahan atau pos jaga!

"Kedok Hitam, tamat riwayatmu!"

Kedok Hitam mengeluh. Ia rupanya pucat tak melihat pintu keluar. Yang ada hanyalah dua jendela di kiri kanan ruangan itu. G iam Liong tak melihat sinar mata girang di mata laki-laki ini, aneh, hal yang tentu akan membuatnya curiga karena kenapa laki-laki itu malah girang, seolah melihat sesuatu. Dan ketika Giam Liong sudah berkelebat memasuki rumah kecil ini dan Kedok Hitam tampak celingukan memilih jendela kiri atau kanan untuk melompat maka bersamaan itu terdengar teriakan atau jerit diluar.

“Giam Liong, jangan masuk!"

Namun Giam Liong sudah memasuki ruangan ini. Ia tak curiga apa-apa karena perasaannya sudah diliputi kegembiraan melihat lawan tak dapat lolos. Kedok Hitam terjebak di ruangan itu dan mau tidak mau mereka harus berhadapan. Inilah jalan buntu bagi lawan untuk tidak dapat melarikan diri. Tapi begitu Giam Liong masuk dan jeritan itu terdengar, Kedok Hitam menginjak sesuatu tiba-tiba lantai terbuka dan Giam Liong terjeblos di sini. Untuk ketiga kalinya masuk perangkap.

“Awas..!”

Giam Liong sungguh tak mengira. Ia benar-benar terkejut oleh tiga hal. Satu jeritan nyaring yang segera dikenalnya! sebagai suara Yu Yin. la benar-benar kaget bahwa di saat seperti itu tiba-tiba saja gadis itu muncul. Inilah murid si Kedok Hitam sendiri dan ia tergetar oleh jerit itu. Suara Yu Yin demikian penuh cemas dan ia tersentak. Tapi karena ia terkejut ketika lantai tiba-tiba terkuak, dan ini adalah kejutan nomor dua maka dari dalam lubang itu menyambar puluhan panah-panah berbisa dan Yu Yin tiba-tiba berkelebat dan masuk pula ke lubang itu, bersama-samanya. Kejutan nomor tiga!

"Kau bodoh memasuki ruangan ini. Mari kutemani dan biar kita mati bersama!"

Giam Liong benar-benar tersentak. Ia sampai lupa mempergunakan goloknya untuk menusuk atau mencoblos dinding. Tubuhnya meluncur ke dalam hampir bersamaan dengan tubuh Yu Yin yang melompat dan sengaja menjebloskan diri ke lubang. Mereka melayang turun dengan cepat tapi Giam Liong sempat menyampok atau memukul runtuh panah-panah itu. Dan ketika ia terbanting di bawah dan Yu Yin berdebuk menimpa tubuhnya, mengeluh, maka lantai itu menutup kembali dan keadaan menjadi gelap gulita!

"Aduh, aku terkilir!"

Giam Lieng terkejut. Sekarang ia terjebak dan bukan main marahnya kepada si Kedok Hitam itu. Tapi mendengar Yu Yin merintih dan gadis itu menangis? Giam Liong menggigil memeluk tubuh hangat maka ia berbisik kenapa gadis itu ada di situ. Bahkan, mencebloskan diri ke lubang.

“Aku... aku mendengar kau mengamuk. Kau mencari-cari suhu dan katanya hendak membalas dendam. Dan karena aku tahu kelicikan guruku maka aku menyusul kalian, Giam Liong. Dan benar saja, suhu… suhu berlaku curang?"

"Hm, gurumu memang curang, licik. Tapi kau, kenapa menyusul ke sini, Yu Yin? Dan kenapa pula kau menjebloskan diri ke lubang?"

"Aku memprotes guruku. Aku tak suka tindak-tanduknya yang curang. Dan kau...kau menggemaskan, Giam Liong. Seorang diri saja kau berani dan sombong memasuki istana. Kau tak tahu bahayanya jebakan-jebakan di sini. Lubang yang ada ini adalah bekas ayahmu dulu!"

"Bekas ayah? Maksudmu ayah pernah dijebak di sini pula?"

"Ya, aku... aku mendengar banyak tentang kelicikan guruku, Giam Liong. Aku menyesal bahwa aku menjadi muridnya. Tapi betapapun ia adalah guruku, orang yang memberiku kepandaian dan banyak budi!" dan ketika Giam Liong tertegun karena gadis itu segera mengguguk, menubruk dan sedih di dada pemuda ini maka Yu Yin tersedak bahwa ia diombang-ambing perasaan tak keruan. Benci dan marah tapi juga sayang menjadi satu.

"Aku kemarin bertengkar dengan suhu. Aku memprotes sepak terjangnya. Tapi aku... aku, ah... aku tak berdaya mencegah kelakuannya, Giam Liong. Aku benci tindak-tanduk guruku namun aku muridnya. Aku melapor ayah tapi ayah memarahiku. Katanya untuk membunuhmu segala jalan dihalalkan. Kau keturunan Golok Maut si pemberontak. Dan kau semakin berat lagi sebagai pemberontak setelah membantu Chu Kiang. Kalian berdua sama-sama tidak benar, ah...!"

Giam Liong tertegun. Sekarang gadis itu menangis lagi dan suaranya terdengar demikian menyayat. Yu Yin tersedu-sedu dan gadis itu memukul-mukul dada Giam Liong. Tapi ketika ia mengerang dan berjengit sejenak, Giam Liong teringat kaki gadis itu yang katanya terkilir maka Yu Yin terhuyung dan melepaskan dirinya, jatuh terduduk.

"Giam Liong, aku ingin mati kalau begini. Ah, aku ingin mati!"

Giam Liong meraba, lalu ditepis ketika ia menyentuh pundak gadis itu, tertegun dan bingung harus berbuat apa tapi tiba-tiba gadis itu mengeluarkan sebatang lilin. Dan ketika ia menyalakan dan Giam Liong mengerutkan kening maka ia terkejut karena di paha gadis itu menancap sebatang panah!

"Kau terluka!"

Yu Yin menutupi mukanya. Sesungguhnya ia merasa sakit sejak tadi. Apa yang dikatakan terkilir sesungguhnya adalah anak panah itu. Ketika melayang masuk ke lubang sumur sebatang anah panah menancap di pahanya. Yu yin menjerit tapi jeritan itu disangka Giam Liong karena terbanting ke dalam lubang ini. Dan ketika gadis itu berdebuk dan sesenggukan di dada Giam Liong, menumpahkan semua rasa kesal dan kecewanya maka rasa sakit ditahan tapi begitu pahanya menjadi panas dan gatal-gatal maka Yu Yin mengerang dan baru sekaranglah Giam Liong tahu bahwa gadis itu terluka dan luka itu adalah oleh sebatang panah beracun.

“Keparat gurumu, sungguh licik dan curang. Kau harus cepat ditolong, Yu Yin. Atau racun akan menjalar dan kau mati“

"Biarlah “gadis itu berseru. "Biar aku mati! Giam Liong di dunia ini tak ada orang yang menyayangku dan biar aku mati”

“Hm, kau tak boleh mati” Giam Liong tiba-tiba menggigit bibirnya. “Kau kesini adalah karena aku, Yu Yin, aku harus menolongmu atau nanti kakimu terpaksa dipotong.”

"Dipotong?” gadis itu terkejut. "Maksudmu aku harus menjadi orang cacat?”

“Benar, kalau kau tidak cepat-cepat ditolong Yu Yin. Karena itu kemarilah dan biarkan aku menolong."

“Tapi… aku ingin mati. Biarkan aku mati.”

"Hm, sebelum kau mati maka kau akan menderita sekali, Yu Yin. Anak panah itu mengandung racun ular merah yang membuat kakimu melepuh dan berbau busuk. Kau akan menderita sebelum mati. Kulitmu akan hancur perlahan-lahan dan keluar nanah hijau. Ini jenis racun yang amat berbahaya yang pernah kukenal.”

Gadis itu pucat. Yu Yin terbeliak dan menangis lagi karena sebagai murid Kedok Hitam, tentu saja iapun juga tahu racun di anak panah itu. Kulitnya sudah semakin gatal-gatal dan panas membakar. Ia tahu tak lama kemudian kulitnya melepuh dan bengkak. Dan ngeri bahwa kulitnya akan bernanah dan mengeluarkan bau busuk, apa yang dikata Giam Liong memang benar, maka gadis itu menjerit dan menubruk Giam Liong.

"Giam Liong, aku tak mau cacat, aku tak mau menjadi gadis menjijikkan. Kau bunuhlah aku dan biar aku mati!"

"Hm," Giam Liong terharu, tergetar. "Aku tak dapat membunuhmu, Yu Yin, dan aku juga tak dapat membunuhmu. Jelek-jelek kita pernah bersahabat, dan aku pasti menolongmu, maaf!" dan begitu Giam Liong menunduk dan mendorong gadis ini tiba-tiba ia telah mencabut anak panah itu dan menyedot luka yang berbau busuk.

"Giam Liong!" Yu Yin terkejut setengah mati. la tahu-tahu telah didudukkan dan pemuda itu menyedot lukanya. Bau amis dari nanah dan darah tiba-tiba menguar di situ, Yu Yin sendiri hampir muntah-muntah. Namun karena yang diobati adalah daerah paha dan ini tentu saja rawan bagi seorang gadis macam Yu Yin, yang perawan dan belum pernah disentuh lelaki maka gadis itu tiba-tiba membentak dan tengkuk Giam Liong dihantam kuat-kuat.

"Plak!"

Giam bioHg terpelanting dan mengeluh pendek. Tamparan itu amatlah kuat tapi untung tenaga sakti pemuda ini menahan. Kalau tidak, tentu Giam Liong kelengar! Dan ketika Giam Liong terhuyung bangun berdiri dan mulutnya berlepotan darah dan nanah, Yu Yin terbelalak maka pemuda itu berlutut dan memegang lagi paha gadis ini, tidak perduli.

"Yu Yin, aku akan mengobatimu. Racun itu harus disedot keluar. Kalau kau mau membunuhku silahkan dengan golokku itu tapi tunggulah setelah racun kusedot keluar!"

Yu Yin pucat pasi. Ia membelalakkan mata lebar-lebar ketika dengan berani namun tidak kurang ajar Giam Liong menghisap luka itu. Luka itu berada di pangkal paha dan tentu saja gadis ini merah padam. Rasa malu yang amat sangat membuat gadis itu menangis dan tiba-tiba iapun menyambar golok di punggung Giam Liong. Pemuda itu menyimpan lagi goloknya setelah jatuh di lubang sumur, tampaknya tidak perduli atau tidak tahu ketika Yu Yin mencabut goloknya. Dan ketika sinar terang berkeredep dan Yu Yin berteriakbsekuat tenaga, golok diayun dan dibacokkan ke bawah maka Giam Liong juga tidak bergeming dan tetap menyedot luka itu.

"Crak!"

Golok Maut menghajar lantai. Lelatu bunga api memuncrat di tengah-tengah ruangan itu dan Yu Yin pun terguling roboh. Gadis itu hendak memenggal kepala Giam Liong namun di tengah jalan tak jadi meneruskan niatnya. Kekaguman dan budi Giam Liong tiba-tiba memercik demikian besar. Ia ditolong dan Giam Liong benar-benar menolong, seperti dulu ketika ia dikeroyok orang-orang Ang-liong-pang. Dan karena Giam Liong berkali-kali menyelamatkannya dan sekarangpun pemuda itu berusaha menolong jiwanya, tak jijik akan darah atau nanah maka Yu Yin tak kuat dan membacok pinggir lantai melepas perasaannya yang campur aduk.

Gadis itu seketika pingsan oleh bermacam perasaan yang menghantam. Untuk pertama kalinya ia dijamah laki-laki, dan tidak tanggung-tanggung karena pahanyalah yang dipegang-pegang. Ini suatu penghinaan! Tapi karena Giam Liong tak bermaksud menghinanya dan perbuatan pemuda itu semata menolongnya, apa boleh buat karena panah kurang ajar itu menancap di situ maka Yu Yin pingsan dan tidak tahu apa-apa lagi setelah membacokkan golok.

Giam Liong sendiri tetap tenang dan tidak bergeming karena seluruh perhatiannya benar-benar untuk pengobatan itu. Mula-mula iapun merasa mengkirik dan ngeri melihat paha yang mulus putih, gempal dan padat dan seketika ia merasa berdesir. Namun karena Giam Liong bukan pemuda kurang ajar dan justeru ia benci akan pemaksaan terhadap wanita, ia memejamkan mata dan menindas perasaannya yang terguncang maka Giam Liong memusatkan perhatiannya ke luka dan benar-benar itulah yang dikerjakan. Lima belas menit ia menyedot luka beracun itu dan akhirnya darah merah yang keluar. Nanah dan darah hitam bersih dikeluarkan. Giam Liong mengusap mulut dan hidungnya yang berlepotan bau busuk. Dan ketika pemuda itu lega dan membuka matanya, mengerutkan kening melihat lantai rusak dihajar Golok Maut maka pemuda itu membungkuk dan menyadarkan temannya yang pingsan, tahu perasaan apa yang berkecamuk di hati murid si Kedok Hitam ini. Gurunya adalah musuh tapi murid perempuannya justeru sahabat!

"Yu Yin, maafkan aku. Tapi bangunlah, lukamu sudah tidak berbahaya."

Yu Yin mengeluh. Usapan lembut Giam Liong di belakang lehernya demikian menyejukkan dan segar, la siuman dan langsung membuka mata, Tapi begitu bentrok dengan mata Giam-Liong dan teringat apa yang terjadi tiba-tiba gadis itu meloncat bangun dan menampar pemuda ini.

"Giam Liong, kau pemuda kurang ajar!"

Empat tamparan diterima Giam Liong. Pemuda ini tergeleng ke kiri kanan ketika tamparan yang penuh kemarahan itu dilakukan kawannya. Giam Liong tidak mengelak atau menangkis karena ia memang menyadari kelancangannya, meskipun itu sebenarnya bukanlah kesalahannya mutlak. Dan ketika untuk tamparan yang keempat ia terpelanting dan terlempar ke sudut, bibir pemuda ini pecah berdarah maka dengan tenang Giam Liong bangkit duduk dah menunjuk Golok Maut.

“Yu Yin, tak usah marah-marah. Ambil golok itu dan kau tusukkan ke dadaku."

"kau... kau...l"

"Aku memang salah. Aku telah meraba bagian yang paling pribadi, Yu Yin. Aku tak akan melawan dan kau bunuhlah aku. Ambil golok itu."

Yu Yin gemetar. Setelah dua pasang mata beradu dan bentrok di udara maka gadis ini merah padam dan malu serta terbakar. la marah akan perbuatan Giam Liong tadi tapi sekaligus juga merasa berhutang budi oleh lukanya yang sudah diobati. Darah dan nanah berceceran dilantai, baunya menusuk hidung. Tapi melihat Giam Liong berkata seperti itu dan bibir pemuda itupun pecah ditampar, Yu Yin mengguguk dan menubruk ke depan tiba-tiba ia telah menangis dan sesenggukan di dada pemuda ini.

"Giam Liong, kau bunuhlah aku.. kau bunhlah aku. Aku tak mau menanggung aib dan malu ini!"

"Maafkan aku," Giam Liong tergetar matanya redup namun mesra memeluk gadis itu. "Akulah yang salah, Yu Yin. Akulah yang tak tahu malu. Kalau kau ingin menghilangkan aib maka bunuhlah aku. Tak ada orang lain tahu kejadian tadi.”

"Tidak...aku..tidak...!" gadis itu menggugu. "Kau menyelamatkan nyawaku Giam Liong. Kau menolongaku. Tapi, ah... aku malu akan perbuatanku itu!”

"Aku juga menyesal. Tapi gurumulah yang melepas panah-panah itu, Yu Yin. Dan aku hanya menolong karena tak ingin kau mati muda."

"Kenapa?" Yu Yin mengangkat mukanya, tengadah dan kembali mata mereka beradu. Yu Yin bertanya dan Giam Liong tertegun. Benar, kenapa? Tapi ketika Giam Liong tak tahu dan bingung kenapa ia menjawab seperti itu maka ia pun meng geleng den mendesah.

"Entahlah, aku tak tahu, Yu Yin. Tapi, tapi mungkin ada rasa sayang di hatiku."

“Oohhh... apa, Giam Liong? Rasa sayang?"

"Begitulah... rupanya begitu, Yu Yin dan itu yang membuat aku tak ingin kau mati muda.”

“Hanya itu saja?”

Giam Liong tertegun.

"Hanya sayang itu saja Giam Liong? Kau tidak punya perasaan lain lagi?”

Giam Liong gemetar. Tiba-tiba ia terkejut ketika bola mata yang bercucuran itu dipejamkan. Yu Yin seakan menahan sebuah gejolak maha dahsyat dan gadis itu menggigil di pelukannya. Yu Yin merintih dan tiba-tiba sadarlah Giam Liong akan sesuatu yang bergolak hatinya. Dan ketika ia berbisik bahwa masih ada perasaan lain lagi yang disimpan, yang selama ini membuatnya rindu dan gelisah akan gadis itu maka pemuda ini memeluk erat-erat, tubuhpun panas dingin oleh gejolak yang tak menentu.

“Tidak… tidak, aku juga mempunyai perasaan lain lagi, Yu Yin. Yakni cinta. Aku mencintaimu, aku menyayangmu, aku sering rindu kalau kau tak ada disampingku!" dan ketika Yu Yin mengguguk dan tersedak di pelukan pemuda itu, Giam Liong gemetar dan memeluk erat-erat maka murid Kedok Hitam inipun mencengkeram dan balas memeluk Giam Liong erat-erat.

“Akupun.. ahh akupun juga begitu Giam Liong. Aku mau terjun ke lubang itu bersama-sama karena akupun rindu dan gelisah memikirimu. Aku., akupun mencintaimu!"

Dua muda-mudi itu berpelukan. Yu Yin bercucuran air mata dan Giam Liong tiba-tiba menghisap dan mengecup air mata ini. Giam Liong terbawa perasaan yang selangit dan kegembiraan serta kebahagiaan besar terpancar di situ. Ia telah melepaskan ganjalan berbongkah yang amat berat. Ia telah menyatakan cintanya. Dan karena gadis itupun menyatakan cintanya dan ia tidak bertepuk sebelah tangan! Giam Liong gemetar dan bahagia sekali mendadak ia menunduk dan... tanpa di ajari lagi tiba-tiba iapun sudah mencium mulut kekasihnya itu. Hangat dan berkobar-kobar.

"Yu Yin, aku mencintaimu!"

Yu Yin mengeluh dan roboh. Setelah Giam Liong mencium dan melumat mulutnya tiba-tiba gadis inipun terbang semangatnya dan lemas. Ia ambruk begitu saja namun tangan yang kuat dari pemuda itu menahannya. Yu Yin mabok dan tersedu-sedu. Tapi ketika ia tersedak dan tak dapat bernapas, Giam Liong bernafsu dibakar birahinya mendadak gadis ini melepaskan diri dan teringat sesuatu, mendorong pemuda itu kuat-kuat.

"Tidak... jangan, Giam Liong., jangan lebih. Golok Maut itu bertuah. Ingat nasib ayahmu!"

Giam Liong terkejut, la terbelalak dan kaget memandang kekasihnya, heran dan tak mengerti apa yang dimaksud kekasihnya itu, apalagi menyebut-nyebut mendiang ayahnya! Dan ketika ia tertegun namun gadis itu terisak, kebahagiaan dan kekhawatirah menjadi satu maka Yu Yin menunjuk benda berkeredep di atas lantai itu.

"Jangan berbuat lebih, golok ini akan membalas kita!"

"Maksudmu?"

"Golok Maut tak boleh dikotori begituan, Giam Liong. Aku takut la akan meminta nyawa satu di antara kita!"

"Begituan? Begituan bagaimana?"

Yu Yin merah padam, jengah. “Kau tak tahu? Atau pura-pura tak tahu.”

"Aku tak tahu," Giam Liong mengerutkan keningnya, bersungguh-sungguh. “Aku tak mengerti apa yang kau maksud dan aku benar-benar tak tahu!”

"Kau tak pernah diberi tahu ibumu akan kutuk atau tuah golok ini?"

"Tidak. Tentang apakah...?”

"Golok Maut hanya boleh dipegang oleh seorang yang masih bujang. Sekali bujang itu telah tidak jejaka lagi maka ia akan menuntut darah dan bujang atau kekasihnya itu yang harus mati!”

"Ah!" Giam Liong memang tak tahu. "Begitukah? Kenapa ibu tak pernah bercerita? Tapi, eh... kau terlalu kalau menduga aku sejauh itu, Yu Yin. Sekarang aku mengerti apa yang hendak kau maksudkan. Aku masih dapat mengendalikan diri dan tak mungkin melakukan yang berlebih!”

“Tapi..”

"Tapi apa?"

"Kau tadi mendengus-dengus, Giam Liong. Kau tersengal-sengal. Aku takut!"

Giam Liong semburat. Tiba-tiba iapun jengah karena memang harus diakuinya bahwa ketika ia mencium dan melumat kekasihnya itu memang ia mendengus-dengus. Berahinya terbakar tapi sesungguhnya ia dapat mengendalikan diri. Mana mungkin, seorang pemuda mencium tanpa dibakar birahi? Dan karena ia juga begitu dan tubuh mereka yang berdekatan membuat Yu Yin merasakan sesuatu yang "lain",' dengus kencang dan otot yang menegang dari pemuda ini maka Giam Lion tersipu merah dan tiba-tiba menyambar lengan kekasihnya itu.

"Yu Yin, maafkan aku. Selama hidup baru kali ini aku mencium seorang dara dan keteganganku tak dapat kukendalikan, meskipun sesungguhnya tak akan terlampau jauh!"

"Aku juga! Seumur hidup baru kali iru dicium lelaki, Giam Liong. Dan itu adalah kau, Akupun tegang.”

Giam Liong tertawa. Tiba-tiba ia merasa geli dan dibisikkannya bahwa ia amatlah bahagia. Sang kekasih dipeluk dan Yu Yin agak merasa tenang karena sekarang pemuda itu tidaklah "seganas" tadi. Giam Liong benar-benar mampu mengendalikan dirinya. Dan ketika Giam Liong bertanya bagaimana dengan tuah Golok Maut itu, bagaimana dengan orang tuanya maka pemuda yang tertarik dan tertuju perhatiannya ke sini lalu menanyakan itu.

"Aku tak tahu apa-apa akan tuah atau kutuk golok ini. Kau rupanya malah tahu. Coba-ceritakan dan apa yang sesungguhnya terjadi."

"Golok Maut tak boleh dipegang laki-laki yang tidak bersih..."

"Hm, maksudmu yang sudah tidak jejaka lagi?"

"Benar, golok ini akan marah dan melepas kutuknya apabila laki-laki itu melanggar kesuciannya, Giam Liong. Dan karena ayahmu dulu telah melanggar pantangannya maka terjadilah hal yang seperti itu."

"Ibu tak pernah bercerita apa-apa," Giam Liong mengerutkan kening. "Coba kauceritakan bagaimana jelasnya dan bagaimana dengan ayahku dulu."

"Kau benar-benar tak tahu?"

"Benar..."

"Tapi... tapi ini aib ibumu, Giam Liong. Tak enak juga rasanya kalau aku menceritakan!"

"Justeru aku terangsang. Ibu tak pernah bercerita apa-apa. Ceritakan saja kepadaku dan tak usah kikuk!"

"Hm..." Yu Y in terbelalak, tersipu merah. "Kau benar-benar tak merasa tersinggung?"

"Ah, kau kekasihku, Yu Yin. Kau dan aku satu. Ceritakan saja dan tak mungkin aku tersinggung. Justeru aku ingin tahu agar aku berhati-hati!"

"Baik!" gadis itu mengangguk berkata, rupanya harus bercerita juga. "Kau benar kalau cerita ini harus membuatmu berhati-hati, Giam Liong. Dan kuambil saja intinya bahwa ayahmu menggauli ibumu sebelum nikah. Nah, ini yang membuat ayahmu dikutuk karena Golok Maut merasa terhina!"

"Begitukah?"

"Ya."

"Jadi ibu hamil sebelum sah menjadi isteri ayah?"

"Begitulah, Giam Liong. Dan aku tak suka kalau aku menjadi seperti ibumu juga. Aku tak mau kau mengulang kesalahan ayahmu. Ini inti ceritanya!"

"Hm!" Giam Liong mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia merasa perih bahwa ia anak di luar nikah. Ayah dan ibunya kiranya telah melanggar dan inilah yang rupanya dimaksud Yu Yin. Gadis itu tak ingin ia mengulangi kesalahannya tapi diam-diam Giam Liong tertawa getir bahwa tak mungkin ia sejauh itu. Pemuda ini belum tahu bahayanya berdekatan dengan lawan jenis, apalagi kalau itu kekasih dan justeru orang yang disayang. Iblis biasanya menggoda dan gampang meruntuhkan pasangan-pasangan macam ini.

Ia tak tahu akan kisah ayahnya dulu dan betapa ibu serta ayahnya terlibat pertikaian dan cinta yang sengit. Mereka berkejar-kejaran untuk akhirnya berkumpul kembali, berkelahi dan akhirnya akur lagi. Dan karena peristiwa itu mendorong seorang manusia untuk tenggelam dan timbul dalam berbagai gejolak perasaan tak menentu, benci dan cinta silih berganti maka seseorang biasanya akan mudah roboh kalau sudah berkali-kali dihanyutkan perasaan yang bermacam-macam ini.

Ia tak sadar bahwa sesungguhnya iapun mendekati kisah ayah ibunya itu, bermusuhan dan baik kembali dengan Yu Yin satelah melewati berbagai cobaan dan ujian. Masa-masa depan masih akan diguncangkan lagi oleh gejolak-gejolak baru. Giam Liong tak melihat ini. Namun begitu Yu Yin berhenti bicara dan Giam Liong mengangguk-angguk, mengerti, maka pemuda itu memandang Golok Maut dan tiba-tiba sepasang matanya bercahaya mengeluarkan sinar aneh.

"Hm, aku akan menanyakannya kepada ibu. Tapi bagaimana selanjutnya, apakah kau tahu juga."

"Semua orang tahu, ayahmu akhirnya tewas!"

"Benar," Giam Liong tiba-tiba bangkit berdiri. "Dan yang membunuh adalah gurumu Yu Yin. Kau tinggal pilih membela gurumu atau aku!"

"Giam Liong!" Yu Yin tersentak. “Guruku melakukan itu atas perintah kerajaan. Ia hanya menjalankan perintah dan kau tak sepenuhnya dapat menyalahkannya."

“Hm, lalu harus menyalahkan siapa? Kaisar dan para pembantunya? Dan membiarkan orang yang membunuh ayahku bebas berkeliaran? Tidak, aku telah bersumpah untuk melenyapkan musuh orang tua ku Yu Yin. Dan ibu serta aku akan keramas dengan darahnya. Sumpahku telah didengar semua iblis dan dewa di angkasa.”

"Aku tahu... aku dapat merasakannya” gadis itu menggigil, menangis. “Dan aku juga menyesal atas kejadian ini, Giam Liong. Tapi guruku melakukan itu atas perintah istana. Kuminta kau dapat memisahkan ini atas tugas seorang pengawal dan pribadi. Aku juga tak setuju atas sepak terjang guruku tapi semuanya itu adalah karena ia pengawal di sini!”

"Aku tak mau tahu. Pokoknya aku ingin membunuh dan menghirup darahnya!"

Yu Yin tersedu-sedu. Akhirnya ia bangkit berdiri pula dan dihadapinya Giam Liong dengan mata berapi-api. Kata-kata Giam Liong yang demikian keras terhadap gurunya membuat gadis itu sakit hati juga, Yu Yin tersinggung! Dan ketika ia berdiri dan menantang pemuda itu, Yu Yin penuh benci maka gadis itu serak berseru,

"Giam Liong, aku tak dapat memilih salah satu. Tapi bagaimana kalau nyawa guruku kutukar dengan nyawaku. Nah, aku siap dibunuh dan sudahi permusuhan ini karena betapapun juga tak dapat aku meninggalkan guruku!"

Giam Liong tertegun.

"Kau mau membalas kematian ayahmu, bukan? Nah, bunuhlah aku dan lakukan apa yang ingin kau lakukan, Giam Liong. Aku menyerahkan nyawaku sebagai penukar guruku. Kau harus tahu bahwa guruku hanyalah sekedar bertindak. Ia petugas istana!"

"Hm," Giam Liong mundur, Golok Maut tiba-tiba disimpan. "Kau jangan coba-coba mempengaruhiku, Yu Yin. Kalau kau bersikeras bahwa gurumu hanyalah menjalankan perintah maka bagaimana kalau yang menjalankan perintah itu kubunuh!"

“Kau mau mengancam kaisar? Kau tak takut kena kutuk dan kemarahan rakyat?"

"Hm, yang kubunuh bukanlah kaisar, Yu Yin, melainkan orang yang memberikan perintah."

"Sama saja!” gadis itu memotong. “Guruku menjalankan titah kaisar!"

"Bukan!" bentakan Giam Liong tiba-tiba membuat gadis itu terlonjak. "Yang memberikan perintah adalah ayahmu, Yu Yin. Jahanam Coa-ongya itulah yang memberi perintah. Nah, mana yang kau pilih. Ayahmu itu atau gurumu yang kubunuh!”

Yu Yin menjerit. Mendengar Giam Liong memakai ayahnya sebagai "jahanam Coa-ongya" tiba-tiba ia memekik dan menampar. Yu Yin berkelebat dan dua kali ia menggaplok. Dan ketika Giam Liong terhuyung namun tegak berdiri lagi, gadis itu pucat dan merah berganti-ganti maka Giam Liong tertawa mengejek dan berseru,

"Yu Yin, kau berkali-kali menekankan bahwa gurumu hanyalah petugas, orang yang melaksanakan perintah. Baiklah, kuikuti omonganmu ini, Yu Yin. Tapi bagaimana kalau sekarang aku membunuh ayahmu. Dialah yang menyuruh gurumu membunuh ayahku. Dan karena dialah yang memberi perintah maka seharusnya kau bersikap adil untuk memberi kesempatan kepadaku melenyapkan orang yang memberi perintah ini!"

Yu Yin pucat pasi. Ia tiba-tiba mengeluh dan terhuyung dan sekarang ia malah mengguguk tak dapat menahan diri. Kalau tadi Giam Liong mengancam gurunya adalah sekarang pemuda itu mengancam ayahnya. Mana lebih baik? Dua-duanya sama-sama tidak baik! Membunuh gurunya atau ayahnya sama saja. Giam Liong akan meninggalkan sebuah luka yang dalam di hatinya. Gadis itu jatuh terduduk! Dan ketika Yu Yin tersedu-sedu dan dua muda-mudi yang baru saja tenggelam dalam asmara ini sekarang sudah saling bermusuhan, hal itu pernah pula dialami Wi Hong dan mendiang Golok Maut Sin Hauw, maka Yu Yin meringkuk di sudut sambil menyembunyikan kepala di bawah lutut.

Giam Liong berdiri dan memandang dengan wajah beku. Pemuda itupun hilang kasih sayangnya. Aneh, cinta kok bisa demikian membingungkan orang! Namun ketika Giam Liong menunggu dan gadis itu ditanya lagi, Giam Liong minta jawaban maka Yu Yin tiba-tiba melompat dan secepat kilat ia menyambar golok di punggung pemuda itu.

"Giam Liong, aku tak mau mendengar semua kata-katamu ini. Lebih baik aku bunuh diri dan uruslah pertikaianmu dengan guru atau ayahku!"

Giam Liong terkejut. Ia tak menyangka gerakan itu namun begitu Yu Yin bicara tentang bunuh diri mendadak ia mengelak. Golok di punggung diselamatkan namun gadis itu mengejar sambil berteriak-teriak lagi. Yu Yin kalap! Dan ketika gadis itu menyerang dan pukulan serta tendangan silih berganti. Giam Liong mengerutkan kening maka apa boleh buat dia menampar dan gadis itu ditangkisnya roboh.

"Yu Yin, jangan seperti harimau kelaparan. Berhenti dan tenanglah di sudut... plak!" gadis itu menjerit, terjengkang dan mau meloncat bangun namun Giam Liong mendahului. Pemuda ini melepas totokan dan sebelum gadis itu berusaha mengelak ia pun sudah terguling. Dan ketika Giam Liong mengusap keringat dan berdiri dengan muka merah, Yu Yin memaki-maki maka dari atas. tiba-tiba datang secercah sinar dan seruan nyaring terdengar menggema,

"Yu Yin, kau tak apa-apa?"

Giam Liong tertegun. Lantai di atas sumur, yang tinggi dan belasan meter mendadak dibuka orang. Seseorang melongok dan itulah Kedok Hitam. Giam Liong berkelebat dan secepat kilat ia mendaki dinding, merayap dan hendak ke atas sebelum pintu ditutup kembali. Namun begitu ia mencengkeram dan menempel tembok, seperti cecak mendadak ia melorot lagi dan tergelincir ke bawah. Tembok itu ternyata dilapisi minyak!

"Ha-ha!" tawa itu membuat pemuda ini mendidih. "Kau tak dapat naik ke atas, Giam Liong. Biarpun kau memiliki Pek-houw-yu-chong (Ilmu Merayap) kau tak mungkin naik!"

"Keparat!" Giam Liong memaki, secepat kilat melempar lima golok terbang, mencuit ke atas. "Kau memang pengecut dan culas, Kedok Hitam. Turunlah dan mari bertanding seribu, jurus!"

"Ha-ha, kau seperti katak di dalam lubang. Boleh bercuap-cuap tapi tak dapat berbuat apa-apa cep-cep-cep!" dan lima golok terbang yang disambar dan dijepit laki-laki ini, tangkas dan tepat akhirnya disusul suara keras ketika lantai di atas lubang ditutup kembali.

Giam Liong telah berusaha memanjat namun dinding sumur benar-benar penuh minyak. Ia melorot dan jatuh lagi setiap mencoba. Dan ketika Giam Liong menggigil dan hendak menancapkan goloknya, dari situ ia akan naik dan memanjat ke atas ternyata lubang ditutup dan keadaan kembali gelap.

"Lihat," Giam Liong melepas geramnya. "Betapa licik dan jahatnya gurumu. Apakah iblis seperti itu masih pantas kau bela, Yu Yin? Apakah kau masih memberatkan jahanam keparat itu?”

Yu Yin menghentikan tangisnya. Ia terbelalak ketika tadi lubang dibuka dari atas, mengerutkan kening dan melihat wajah gurunya di sana. Tapi begitu lubang menutup dan Giam Liong marah-marah, ia tak menjawab dan diam saja tiba-tiba dari sisi-sisi lubang terdengar suara mendesis-desis.