NAGA PEMBUNUH
JILID 24
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"GIAM LIONG, aku tak mungkin kalah!" Bentakan atau suara menggundur pemuda itu membuat orang-orang terpelanting. Pasukan Chu-goanswe tiba-tiba menjerit karena satu sama lain roboh mendekap telinga. Bahkan yang terdekat sudah roboh dengan kendangan pecah!

Han Han marah sekali dan memang ingin memberi pelajaran kepada lawannya itu, juga anak buah Chu-goanswe yang bersorak-sorak menghinanya. Dan ketika orang yang terdekat pingsan dengar pekik kesakitan, pasukan kerajaan mundur dan menjauh maka Han Han sudah menerima pukulan Giam Liong yang menyambar kepalanya.

"Desss!"

Debu dan pasir muncrat berhamburan. Adu pukulan yang amat dahsyat diantara dua pemuda itu sungguh seperti gunung meletus, suaranya menggelegar dan batu-batu disekitar terlempar dan mencelat ke kiri kanan, jatuh dan menimpa orang-orang disana dan berteriaklah pasukan kerajaan maupun pasukannya Chu-goanswe.

Mereka sudah menjauh namun tetap juga menjadi korban. Tujuh pohon disekitar dua pemuda itu roboh dan tumbang tak kuat menerima getaran adu pukulan ini. Dan ketika Giam Liong maupun Han Han sama-sama terbelalak, mereka dorong-mendorong dan seluruh kekuatan sinkang dikerahkan, Giam Liong sampai mengeluarkan uap putih dikepalanya maka Han Han juga lebih hebat karena seluruh tubuh pemuda ini sudah merah membara seperti api. Pengerahan tenaga Yang-kangnya dikerahkan sampai kepuncak!

"Han Han, kau mengajak mengadu jiwa!"

"Tak ada lain jalan," pemuda itu mendengus. "Kau juga memberi malu aku, Giam Liong. Kita adu kesaktian dan lihat siapa kalah siapa menang!"

Giam Liong terbakar. Dia tadi sudah mendesak dengan langkah-langkah saktinya Pek-poh-sin-kun ketika tiba-tiba lawannya ini menghentikan gerakan langkahnya dengan adu pukulan sinkang.

Han Han menerima dan menyambut pukulannya dan Pek-poh-sin-kun otomatis berhenti, Han Han tegak menyambut tangannya dan jadilah mereka dorong-mendorong. Ledakan yang amat dahsyat yang mengguncang keduanya membuat masing-masing tergetar, Giam Liong terdorong namun bertahan dan ganti mendorong lawannya.

Dan karena Han Han juga bertahan dan tetap menyerang, pemuda itupun tak mau kalah di hadapan sekian banyak orang maka Han Han yang mengerahkan sinkangnya tiba-tiba telah menjadi api karena seluruh tubuhnya mengeluarkan hawa panas membakar yang membuat pemuda itu menyala-nyala. Persis gumpalan bara yang menjilat-jilat!

Tapi Giam Liong sungguh mengagumkan. Mengerahkan tenaga saktinya yang didapat dari sumur tua pemuda ini melawan hawa panas dari lawan. Han Han yang sudah menjadi manusia api dan panas membakar mencengkeram telapaknya kuat-kuat. Orang lain pasti leleh dan sudah hangus diserang pemuda itu. Murid Im-yang Cinjin ini juga mengagumkan.

Tapi karena Giam Liong memiliki kesaktian tinggi dan pelajaran sinkang yang diperolehnya dari sumur tua juga dipergunakan disitu, keturunan Si Golok Maut ini melepas hawa dingin menahan hawa panas maka perlahan tetapi pasti tubuh pemuda itu tiba-tiba menjadi putih dan akhirnya beku seperti es. Giam Liong berobah ujud seperti manusia salju yang dingin membeku, atau semacam gunung mini di daerah kutub sana. Dan ketika lawan coba mencairkan tubuhnya namun api selalu gagal dan padam bertemu butir-butir es yang membeku maka Han Han terbelalak karena ia tak mampu menembus lawannya!

Giam Liong telah memejamkan mata dan kini dari belakang punggung pemuda itu muncul sebentuk asap putih yang naik ke atas. Asap itu membentuk seperti seorang raksasa dan Han Han terkejut karena tiba-tiba asap itu bergerak dan ikut menyerangnya. Dan ketika ia kaget dan tak tahu apakah ini, siluman atau hantu maka asap itu menubruk atau menyambar kepalanya.

"Slap!"

Han Han tersentak. Ia kaget mengelak namun asap putih itu menyambarnya lagi, kini membentuk golok dan tahu-tahu menyambar lehernya. Dan ketika ia kacau dan menganggap Giam Liong curang, mengeluarkan ilmu sihir maka Han Han melepaskan diri dan membanting tubuh bergulingan, membentak tapi anehnya ia tak dapat melepaskan diri dari tangan lawannya itu.

Giam Liong telah menjadi beku dan ikut pula terbanting bergulingan, masih dalam keadaan terpejam. Dan ketika Han Han pucat dan melengking ngeri, Giam Liong telah beku dan tak mampu dilepaskan olehnya maka asap putih ini mengganggu dan menyerangnya lagi dalam bentuk raksasa atau golok!

"Giam Liong, kau curang. Kau mempergunakan sihir!"

Giam Liong tak membuka mata dan masih kaku diajak bergulingan kesana-sini. Pemuda itu seperti kehilangan dirinya dan lawan berteriak-teriak pucat. Han Han telah coba melepaskan tangannya dari tangan pemuda itu namun jari-jari Giam Liong sudah beku dan kaku tak dapat direnggangkan. Hawa dingin yang dikerahkan pemuda itu sudah terlampau berlebihan dalam usahanya menangkal hawa panas. Giam Liong tak mau kalah. Tapi ketika lawan mengelak kesana-sini dan asap putih itu tiba-tiba bisa terkekeh-kekeh, Han Han meremang melihat seorang kakek tinggi besar maka pemuda itu tiba-tiba teringat gurunya dan dengan bibir berkemak-kemik menggigil ia memanggil gurunya, lewat kontak batin.

"Suhu, tolong. Teecu menghadapi bahaya. Giam Liong laki-laki curang!"

Ajaib, tiba-tiba terdengar ledakan dibelakang pemuda ini. Han Han yang mengelak dan ngeri oleh kakek tinggi besar itu tiba-tiba seperti ditepuk seseorang. Bayangan seorang tosu muncul. Dan ketika semua orang tertegun dan kaget serta terheran-heran, kejadian itu seperti sebuah mimpi saja maka tosu ini mengebutkan saputangan hitam ke muka kakek tinggi besar itu, saputangan yang menghamburkan harumnya bunga-bunga cempaka putih.

"Mo-bin-lo, jangan ganggu anak-anak kecil. Pulang dan kembalilah ke alam asalmu!"

Kakek itu berteriak. Asap dan bayangannya seketika buyar, Han Han dapat melepaskan diri lagi dari tangan Giam Long dan bersamaan itu pemuda inipun membuka matanya. Giam Liong seolah orang baru bangun tidur dari sebuah mimpi melelapkan. Dan ketika tubuhnya pun pulih kembali dan Han Han disana bergulingan meloncat bangun maka tosu itu lenyap dan Han Han mendengar kata-kata gurunya, Im Yang Cinjin yang tadi muncul.

"Han Han, kau tak dapat mengalahkannya. Pemuda itu dibantu Golok Mautnya ciptaan si iblis Mo-bin-lo. Pergi dan cari dulu Pedang Matahari untuk melawan kehebatan golok!"

Han Han tertegun. Ia bengong dan penasaran oleh apa yang baru dialaminya. Tadi gurunya juga berkata bahwa perbawa Golok Maut itulah yang bicara.

Giam Liong sendiri tak tahu akan bantuan itu. Dan ketika pemuda ini terkejut dan kecewa, Giam Liong dibantu perbawa Golok Maut maka ia memutar tubuh dan lenyap meninggalkan lawannya itu, tak melihat betapa Giam Liong bersinar-sinar kagum memandangnya. Kagum karena Giam Liong juga tak mampu "membunuh" Yang-kang yang dimiliki lawannya itu.

"Giam Liong, lain kali kita akan bertemu lagi. Kau licik karena dibantu orang lain!"

Giam Liong mengerutkan kening. Ia terkejut karena ia dituduh mendapat bantuan orang lain, padahal ia sama sekali tak merasa hal itu. Tapi ketika ia hendak mengejar dan pasukan kerajaan tiba-tiba ribut, mereka membalik dan melarikan diri maka Giam Liong mendengar seruan Chu-goanswe agar mencari ibunya.

"Siauw-hiap, musuhmu telah lari. Ingat ibumu dan syukur kau menang!"

Giam Liong sadar. Diingatkan ibunya begini mendadak ia mengangguk dan berkelebat. Pasukan kerajaan cerai-berai begitu Han Han meninggalkan pertempuran. Maklumlah, jago yang mereka andalkan telah pergi menelan kenyataan pahit. Kepandaian Giam Liong sesungguhnya berimbang namun campur tangannya Mo-bin-lo membuat pemuda itu marah. Ia seakan dikeroyok! Dan ketika Han Han pergi dan pasukan tentu saja terkejut, mereka tak mungkin menghadapi kaum pemberontak lagi maka mereka pun mundur dan membalikkan tubuh namun para pejuang mengejar dan berteriak-teriak mengancam mereka. Giam Liong sendiri berkelebat dan mengibaskan lengannya kekanan kiri.

"Kejar, bunuh anjing-anjing kaisar. Tangkap mereka!"

Pasukan kerajaan kalut. Mereka sudah tak ada yang memimpin lagi dan kibasan atau dorongan lengan sakti Giam Liong membuat mereka terpelanting dan jatuh bergulingan. Sekali kibas tigapuluhan mencelat! Dan ketika Giam Liong mendahului mereka dan Chu-goanswe menyusul atau mengejar dibelakang, membentak agar lawan menyerah atau dibunuh maka para pejuang meroboh-robohkan lawan mereka dengan mudah. Pasukan kerajaan jatuh mentalnya oleh kekalahan Han Han. Tadi mereka amat mengharap pemuda itu namun apa boleh buat penolong suka rela ini diganggu oleh perbawa Golok Maut.

Mo-bin-lo, pencipta golok itu tiba-tiba keluar sukmanya dan menyerang Han Han, karena sesungguhnya di dalam golok maut itu bersembunyi atau tersimpan roh si pencipta. Dan ketika kakek itu menampakkan diri dan Han Han dibuat kaget, untung gurunya datang dan menolong maka pemuda itu dinasihatkan untuk pergi dan para penonton menganggap Giam Liong menjadi pemenangnya, meski pun pemuda itu sendiri tak merasa begitu dan dia justeru heran kenapa Han Han meninggalkan pertempuran, padahal mereka belum selesai.

Dan ketika semua diobrak-abrik dan pasukan Chu-goanswe menghajar habis-habisan pasukan lawan, yang tak mau menyerah dibunuh sementara yang mau menyerah disuruh membuang senjatanya maka sebentar kemudian lawan yang ada dibelakang sendiri melempar senjata masing-masing dan seribu lebih menyatakan menyerah!

Chu-goanswe mengampuni mereka yang ini sementara yang di depan dikejar dan terus diserang. Tapi karena mereka melompati hutan dan akhirnya menunggang kuda, lari ke kota raja maka untuk yang ini Chu-goanswe harus puas merobohkan yang paling belakang. Panah jenderal itu menyambar-nyambar dan pasukan yang hendak balik ke pintu gerbang ini menjadi korbannya. Tiga ratus lebih menjadi sasaran empuk senjata di tangan jenderal ini. Dan ketika pintu gerbang ditutup dan kota raja menjadi gempar, Chu-goanswe berhenti dan berteriak-teriak di luar maka untuk pertama kalinya pasukan istana dipukul dan dibuat guncang!

"Kita kalah. Kita terpaksa melarikan diri. Si Naga Pembunuh sungguh luar biasa dan ia membantai kita seperti ayam!"

"Dan pemuda baju putih itu tak mampu menandinginya. Ah, sayang. Putera Pek jit-kiam itu meninggalkan lawannya!"

"Pengecut, pemuda itu tak pantas menjadi putera seorang gagah. Ia memalukan dan merendahkan kita!"

Han Han malah dibawa-bawa dan kini dimaki-maki pasukan kaisar itu. Mereka lupa bahwa Han Han bukanlah tangan kanan kaisar atau pula orang yang disuruh bergabung dengan mereka. Pemuda itu datang atas kemauannya sendiri dan tentu saja bebas untuk pergi atau datang. Dan ketika mereka juga lupa bahwa sebenarnya merekalah yang pengecut, lari tunggang-langgang menghadapi lawan yang lebih kuat maka Han Han disana menggigit bibir dan mengepalkan tinjunya dengan muka merah padam. Sementara Giam Liong, yang berkelebat dan mencari ibunya juga berketruk dan ingin menghancurkan kepala si Kedok Hitam yang licik dan curang itu!

* * * * * * * *

Marilah kita ikuti perjalanan Giam Liong. Seperti diketahui, pemuda ini mencari ibunya yang juga berarti mencari Kedok Hitam. Dia sudah tak akan memberi ampun lagi kepada musuhnya yang amat jahat itu, licik dan culas. Dia sudah akan mencincang tubuh musuhnya sampai hancur. Kemarahan dan kebencian Giam Liong meluap. Dan ketika dia ingat betapa ayahnya dicincang laki-laki ini, keji dan tak berperikemanusiaan maka Giam Liong telah memutuskan untuk melakukan hal yang sama, apalagi kalau ibunya diganggu!

"Aku akan merebus tubuhmu hidup-hidup," Giam Liong menggeram. "Dan aku akan memanggangmu di kwali yang panas, Kedok Hitam. Dan seluruh tubuhmu akanku kuliti!"

Orang akan meremang dan merasa seram mendengar ancaman ini. Giam Liong mendesis dan bertekad mencari lawannya ini sampai ketemu. Kalau perlu, dia akan menangkap kaisar dan menyuruh musuhnya itu keluar, atau kaisar akan dibunuh dan kepalanya dipenggal! Dan ketika Giam Liong bagai seekor harimau yang haus darah, ancamannya bakal terjadi kalau ibunya tak ditemukan maka saat itu berkelebatlah dua bayangan dan tiba-tiba secara tak sengaja ia bertemu dengan ibu dan ayah angkatnya itu. Beng Tan dan isterinya, Swi Cu.

"Ah, kau mau kemana, Giam Liong? Mencari ibumu?"

Giam Liong tertegun, berhenti. "Benar, dan ayah..." dia agak kaku, sang ibu angkat tampak keruh dan masam mukanya! "Kemana kau akan pergi, ayah. Dan bagaimana kau tahu bahwa aku mencari ibu!"

"Kedok Hitam membawanya. Jeritan ibumu membuatku datang!"

"Ah, dimana dia sekarang!" Giam Liong melompat, muka seketika beringas. "Bagaimana dengan ibuku, ayah. Dan mana jahanam licik itu. Bagaimana ia datang sebelum waktu yang ditentukan!"

"Maaf," Beng Tan tak enak. "Bukan aku bohong, Giam Liong, melainkan musuhmu itu memang licik. Aku sendiri sedang memantau gerak-geriknya dan kaget bahwa ia datang bersama limaribu pasukan. Ibumu selamat tapi..."

"Tapi dimana dia!" Giam Liong membentak, lupa dan bersikap agak kasar karena dia dilanda ketegangan mendengar berita ibunya ini. Giam Liong sampai tak dapat mengontroi diri begitu ayahnya berkata bahwa ibunya selamat, hal yang menggirangkan tapi sekaligus juga mendebarkan dia. Maklumlah, ibunya tak ada disitu!

Dan ketika dia membentak memutus omongan ayahnya dan Swi Cu mendelik serta meradang maka wanita itulah yang kini berseru dan berkelebat ke depan, membentak, "Giam Liong, suamiku bukan orang yang suka kau bentak-bentak. Sopan dan hormatlah sedikit di depan orang tua!"

"Maaf," Giam Liong terkejut, sadar. "Aku lupa diri, bibi. Aku dilanda ketegangan..."

"Sudahlah," Beng Tan tahu dan menarik isterinya bersabar, memaklumi keadaan pemuda itu. "Ibumu tadinya bersama kami, Giam Liong. Tapi kini dia pergi, entah kemana. Dan bagaimana sekarang dengan pasukan kerajaan yang menyerangmu itu."

"Ibu tak bersama ayah lagi?" Giam Liong kecewa, tiba-tiba mukanya kembali gelap, tak menjawab pertanyaan itu. "Kalau begitu biar kucari, ayah. Dan maaf aku harus segera pergi!"

"Heii..!" sang ayah berseru. "Ibumu tidak kesana, Giam Liong, melainkan ke selatan. Dia tidak menuju kotaraja!"

Giam Liong memutar, sudah berkelebat dan kembali ketika ayahnya ini berseru menuding. Memang dia akan ke kota raja karena disanalah biasanya si Kedok Hitam bersembunyi. Dia akan mencari dan membunuuh. Tapi begitu ayahnya berseru dan dia memutar tubuh, keselatan maka Giam Liong berkelebat dan menuju ke tempat yang ditunjuk ayahnya ini. "Terimakasih!" itu saja jawabannya, kaku dan tidak menyenangkan.

Tapi ketika Beng Tan dan isterinya mengerutkan kening, mereka belum tahu bagaimana kabar pasukan kerajaan tiba-tiba Giam Liong berkelebat dan muncul kembali, kali ini wajahnya berseri-seri. Aneh!

"Ayah ada berita gembira untukmu. Aku lupa!"

"Apa itu?" sang pendekar tertegun, gerak-gerik Giam Liong mendebarkan.

"Han Han!" pemuda itu berseru. "Han Han anakmu telah datang, ayah. Tadi aku bertemu dengannya dan dia hebat bukan main!"

"Apa?" Swi Cu berkelebat, membentak dan langsung mencengkeram pemuda ini. "Han Han? Kau tidak main-main? Awas, jangan melukai hatiku, Giam Liong. Atau kubunuh kau kalau menghina kami berdua!"

"Aku tidak menghina, juga tidak mempermainkan," Giam Liong mundur dan melepaskan diri dari cengkeraman bibinya ini. "Aku sungguh-sungguh, bibi. Han Han anakmu telah muncul dan dia katanya baru dari Hek-yan-pang..."

"Ah, mana dia. Dan apakah kau betul!"

"Dia telah pergi, ke timur. Aku baru saja bertanding dan dia hebat bukan main!"

"Bertanding? Kau menghajar anakku itu? Keparat, kau sungguh sok jagoan, Giam Liong. Anak orang pun enak saja kau ajak berkelahi.... plak-plak!" dan Swi Cu yang melayangkan tamparan dua kali ke pipi pemuda ini tiba-tiba membuat pemuda itu terhuyung dan Giam Liong terkejut bengap! Swi Cu marah dan ia pun langsung digampar. Inilah kemarahan seorang ibu kalau anaknya diganggu!

Tapi ketika Beng Tan menarik isterinya dan lagi-lagi menyuruh isterinya mundur, wanita itu tegang dan melotot lebar maka pendekar ini yang juga tegang dan berdebar cemas tiba-tiba memegang dan menggenggam lengan pemuda itu, lembut. Suaranya bergetar ketika berkata, "Giam Liong, maafkan isteriku. Dia tak bisa menahan diri seperti halnya ibumu menemukan kau. Maklumilah ini dan pandanglah mukaku. Dimana anakku itu dan apakah ia selamat tak kau celakai!"

"Aku tidak mencelakai," Giam Liong tiba-tiba meramkan mata, terpukul dan sakit oleh sikap Beng Tan yang ditunjukkan kepada puteranya. Sikap seorang ayah yang penuh cinta kasih dan sayang, tidak seperti dia yang seumur hidup tak pernah bertemu dengan ayah kandungnya! "Aku tak mengapa-apakan puteramu itu, ayah. Kami bertanding karena ia berpihak dan membela pasukan kerajaan. Ia gagah dan amat lihai. Aku mengucapkan selamat bahwa puteramu kembali!"

"Ia sekarang dimana?"

"Pergi ke timur. Aku juga tak mengerti kenapa ia pergi setelah bertempur hebat denganku. Yang jelas, ilmu kepandaiannya tinggi. Dan harap ayah cari dia karena tentu belum begitu jauh dari sini. Maaf, aku harus pergi dan mencari ibuku!" dan berkelebat menarik lepas tangannya dari genggaman sang ayah tiba-tiba Giam Liong lenyap dan tidak memandang lagi ayah maupun ibu angkatnya ini. Ia terpukul dan sakit oleh sikap Beng Tan terhadap Han Han. Ayah angkatnya itu menggigil dan jelas menahan-nahan guncangan perasaan yang sangat.

Ada haru dan tegang tapi juga gembira! Dan karena ia tak kuat menyaksikan semuanya itu dan ia harus cepat-cepat pergi untuk mencari ibunya maka begitu berseru ia pun lenyap dan tidak menghiraukan panggilan ayahnya lagi. Beng Tan menyatakan terima kasihnya namun ia tak mau dengar. Giam Liong tertusuk oleh kebahagiaan pendekar itu mendengar tentang anak laki-lakinya. Begitulah bahagianya mempunyai ayah kandung! Dan ketika pemuda itu berkelebat dan lenyap meninggalkan ayah ibunya, ayah ibu angkat maka suami isteri itu menggigil dan Swi Cu tiba-tiba menubruk suaminya dan sesenggukan.

"Suamiku, Han Han... anak kita... kembali. Mari kita cari dan temukan dia. Ah aku ingin melihatnya seberapa besar ia sekarang. Aku harap Giam Liong tidak bohong, tidak mempermainkan kita!"

"Tak mungkin bohong, tak mungkin mempermainkan kita..." Beng Tan juga gemetar dan terharu, memeluk isterinya kuat-kuat. "Giam Liong bukan pemuda seperti itu, niocu. Ia tentu benar dan jujur. Mari kita cari dan temukan dia!"

"Mari, tapi tolong bantu aku. Jantungku berdebaran tak keruan. Aku tegang...!"

Dan ketika Beng Tan bergerak dan menyambar isterinya, dipanggul dan berkelebat maka Swi Cu terisak-isak dan menangisdi pundak suaminya itu. Sejenak tak mampu berbuat apa-apa namun akhirnya ia minta diturunkan. Sang suami-pun menggigil dan dua kali tersandung akar pohon, jatuh namun bangun kembali karena suaminya itupun tegang mendengar ini. Mereka sebenarnya sama-sama ingin menemukan anak mereka itu. Sama-sama berdebar dan bahagia! Dan ketika Swi Cu diturunkan dan Beng Tan mengajak isterinya ke timur, mereka bergandengan mengejar Han Han maka Giam Liong yang sudah memberi tahu ciri-ciri putera mereka itu sebagai pemuda yang berbaju putih maka benar saja mereka melihat ada seseorang duduk melamun di bawah pohon. Seorang pemuda baju putih!

"Itu dia...!" Swi Cu berbisik, air mata tiba-tiba bercucuran, tak dapat dibendung lagi. "Itu barangkali, suamiku. Ia, ah... ia tampan dan gagah. Ia persis dirimu. Ah, itu dirimu di waktu muda!" Swi Cu hampir menjerit dan memanggil pemuda ini. Ibu yang tampak girang dan bahagia luar biasa ini tiba-tiba seakan kehilangan kontrol diri begitu melihat pemuda baju putih itu.

Mereka telah keluar hutan dan menemukan pemuda baju putih ini. Ciri-ciri yang diberikan Giam Liong cocok sekali, pemuda itu gagah dan sebaya dengan Giam Liong. Dan ketika Swi Cu menuding dan menggigil bahwa pemuda itu mirip suaminya, begitu mirip bagai pinang dibelah dua maka Beng Tan sendiri yang tertegun dan pucat melihat dari jauh seketika berdetak jantungnya dan hampir melompat.

Pendekar ini melihat seorang pemuda tepekur dengan pandang mata kosong. Ia duduk di bawah pohon itu seperti orang susah, atau mungkin kecewa. Dan ketika pendekar itu hampir berteriak namun isterinya nyaris mendahului, gugup dan limbung di depan tiba-tiba pendekar ini mempunyai pikiran lain dan isteri yang terjelungup tiba-tiba ditotok dan disambar agar tidak menjerit.

Swi Cu mengeluh tertahan ketika suaminya tiba-tiba bergerak dan melesat ke kiri, membuka totokannya lagi dan berbisik agar dia tidak ribut. Dan ketika suaminya mengeluarkan dua helai saputangan dan memberikannya sebuah untuk penutup muka, wanita ini tertegun maka sang suami berkata gemetar,

"Kita tak tahu apakah betul dia putera kita. Dan Giam Liong berkata bahwa putera kita itu lihai bukan main. Lihat, orang yang lihai tak akan seperti itu, nio-cu. Ia seharusnya tahu kedatangan kita dan bukannya acuh atau tampak blo'on begitu. Aku jadi ragu dan ingin menguji kepandaiannya. Gunakan saputangan ini dan tutup muka kita!"

"Kau... kau mau apa?"

"Mau mencobanya. Kau bersembunyi dulu disini dan kutanya apakah betul dia Han Han!" dan sebelum isterinya membantah atau apa maka pendekar ini berkelebat dan langsung berjungkir balik di depan pemuda itu, yang tentu saja terkejut tapi acuh tidak bangkit berdiri.

Pemuda ini memang Han Han adanya dan dia melepas kecewa disitu. Kekalahannya terhadap Giam Liong membuatnya penasaran dan marah sekali. Ia marah karena Giam Liong dibantu roh Mo-bin-lo, pergi dan akhirnya membanting pantat disitu dengan kesal. Dan ketika ia terkejut karena seseorang tahu-tahu berkelebat di depannya dan berdiri menggigil, pemuda ini mengerutkan kening dan sebenarnya tahu bayangan dua orang itu, tidak perduli karena ia sedang kesal sendiri maka Han Han justeru menjadi heran ketika orang yang memakai saputangan ini mengganggunya dengan pertanyaan serak.

Beng Tan menyembunyikan kegirangannya karena pemuda di depannya ini benar-benar mirip dirinya, persis seperti Giam Liong yang mirip almarhum ayahnya. "Anak muda, kau yang bernama Han Han? Kau yang baru saja bertanding dengan si Naga Pembunuh Giam Liong?"

"Hm," Han Han bangkit dan waspada juga, tak tahu bahwa inilah ayahnya. "Siapa kau dan ada apa menggangguku? Kenapa menyembunyikan wajah danseperti maling kesiangan? Mana temanmu yang satu?"

Beng Tan kaget. "Kau tahu bahwa kami berdua?"

"Tentu saja, dan kalau tidak salah temanmu itu adalah wanita. Aku melihat bayangan kalian tadi tapi tak perduli karena aku tak berurusan dengan kalian!"

"Bagus!" Beng Tan malah girang, puteranya ini ternyata lihai! "Kau awas dan tajam pandangan, anak muda. Tapi aku adalah sahabat Giam Liong yang hendak menangkapmu. Awas dan hati-hati atau kau menyerah baik-baik.... wut!" dan Beng Tan yang berkelebat dan menyambar pemuda ini tahu-tahu telah mencengkeram pundak lawannya dan Han Han kaget karena secepat itu pula ia sudah dicengkeram!

Orang tak dikenal ini sungguh lihai dan ia terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa Giam Liong memiliki pembantu seperti ini, karena tadi ia telah mengobrak-abrik pasukan Chu-goanswe dan tak ada yang selihai ini, kecuali Giam Liong. Dan ketika ia terkejut dan berseru tertahan, tentu saja tak mau dicengkeram maka cepat ia mengerahkan sinkang dan Beng Tan ganti terkejut karena pundak lawan tiba-tiba licin, seperti belut!

"Bret!" Baju itu yang robek sedikit. Beng Tan terkesiap kaget karena puteranya ini demikian lihai. Pundak yang dicengkeram tiba-tiba lolos. Pundak itu selicin belut dan kagum serta gembiralah ia bahwa puteranya ini benar-benar berilmu tinggi. Dan karena ia memang hendak menguji dan gerakan itu justeru memancing gerakan berikutnya, ia mengejar dan menyerang Jagi maka Han Han terkejut karena tamparan dan pukulan cepat sudah menyambarnya bertubi-tubi, dua kali ia tertangkap tapi luput lagi!

"Ah, kau nekat!" pemuda ini berseru keras. "Buka topengmu, orang aneh. Atau aku akan merobohkanmu!"

"Ha-ha!" sang ayah tertawa bergelak. "Kau robohkan aku, Han Han. Atau aku yang akan menangkap dan merobohkanmu... plak-dukk!" dan Han Han yang menangkis serta heran dan kaget oleh tenaga lawan, Beng Tan mengerahkan sinkangnya dan sengaja ingin menjajal sinkang puteranya tiba-tiba terpental namun sudah maju menyerang lagi.

Pendekar ini girang dan bangga bukan main bahwa puteranya ini mampu berkelit dan mengelak cepat. Kalau tidak maka tamparan atau pukulannya itu ditangkis. Dan ketika ia tergetar namun puteranya juga dibuat mundur terbelalak, Han Han terdorong dan kaget oleh adu sinkang maka pemuda itu sudah berseru keras ketika ia tahu-tahu sudah dikurung atau dihujani pukulan-pukulan lawan. Bagai badai!

"Kau bukan sahabat Giam Liong!" Han Han membentak, akhirnya tak percaya. "Kau aneh dan mencurigakan, orang asing. Tapi aku akan menghajarmu dan awas aku membalas....duk-dukk!" dan Han Han yang membalas dan mengerahkan sinkangnya tiba-tiba membuat sang pendekar terkejut karena hawa panas keluar dan menyambar dari lengan pemuda itu.

Beng Tan harus menambah sinkangnya kalau tak mau terpental, ia bertahan dan lawan semakin membelalakkan mata karena orang berkedok itu amat lihai. Dan ketika Han Han mengeluarkan Im-yang-sin-kun nya dan pukulan-pukulan panas maupun dingin berganti-ganti menyerang Beng Tan maka pendekar ini terkejut karena puteranya itu ganti mengurungnya dengan pukulan menyambar-nyambar.

"Bagus, hebat sekali. Ini seperti gabungan Im dan Yang?"

Han Han terbelalak. Ia terkejut dan tergetar karena dalam beberapa jurus berikut saja lawan sudah dapat menebak pukulan-pukulannya. Hanya orang yang berkepandaian tinggi dan luas pengalaman saja yang tahu secepat itu, baru dalam gebrakan-gebrakan cepat ketika ia membalas. Dan ketika Beng Tan terdesak dan pendekar itu terkejut karena pukulan dingin dan panas berganti-ganti menyerangnya, itu mengingatkan pada ilmu silat Giam Liong yang hebat dan juga berubah-ubah maka apa boleh buat pendekar ini mengeluarkan Pek-lui-ciangnya dan Tangan Kilat itu menyambar dan meledak ketika menyambut Im-yang-sin-kun.

"Blar-blarr!"

Dua-duanya terkejut. Beng Tan terpelanting sementara lawan terhuyung-huyung mundur. Bukan maksud Han Han untuk mengadu jiwa. Tapi ketika ia diterjang dan lawan sudah berjungkir balik berseru marah, Beng Tan penasaran oleh adu sinkang ini maka pemuda itu dibuat berhati-hati karena Im-yang-sin-kunnya berhadapan dengan Tangan Kilat yang memekakkan telinga, meledak-ledak!

"Kau cukup lihai. Tapi aneh bahwa kau menyerangku mati-matian!"

"Ha-ha!" Beng Tan tertawa kegirangan, "Siapa gurumu, Han Han. Dan bagaimana kau dapat menjadi begini lihai. Kalau kau takut maka menyerahlah, aku akan membujuk Giam Liong untuk mengampunimu!"

"Giam Liong? Huh, kau mengada-ada, orang aneh. Aku tak percaya kau sahabat Giam Liong. Aku telah menghajar anak buah pemuda itu dan kau tak ada disana. Kau bohong, kau orang lain!"

"Ha-ha, orang lain atau bukan tapi kau terimalah pukulanku.... dar!" dan Pek-lui-ciang yang kembali meledak dan menghantam Han Han tiba-tiba dielak dan meledak disamping pemuda itu. Tanah seketika berlubang dan Han Han marah bahwa lawannya ini bersungguh-sungguh. Dan ketika ia membentak dan pukulan panasnya diganti pukulan dingin, Pek-lui-ciang disambut tenaga Im-kang maka Beng Tan tersentak ketika tiba-tiba pukulan petirnya bertemu telapak lawan yang sedingin gunung es, beku seperti salju di puncak Mahameru!

"Cress!"

Han Han ingin memberi pelajaran kepada lawannya ini. Ia menganggap percuma menghadapi Pek-lui-ciang yang beraliran panas dengan tenaga panasnya pula. Paling baik diadu dengan tenaga Im-kang dan keluarlah tenaga dingin itu ketika dibentak. Dan ketika pukulan itu menyambar dan Han Han meredamnya dengan pukulan dingin, Beng Tan tersentak karena Pek-lui-ciangnya bertemu tenaga Im-kang maka lekatlah tangannya tak dapat ditarik. Puteranya itu "membunuh" sekaligus menyedot pukulan Kilatnya.

"Aihhhh...!" Namun Beng Tan juga bukan tokoh kemarin sore. Begitu ia tersentak bahwa puteranya meredam Pek-lui-ciang, ia ditempel dan tak hendak dilepaskan tangannya maka tangan yang lain bergerak dan menghantam dengan Pek-lui-ciang. Jago ini tak mau kalah dengan gerakan lawannya tadi, menampar dan membuat lawan terkejut dan otomatis menggerakkan tangan yang lain untuk menerima pukulan itu. Tapi begitu lawan mengangkat tangannya dan Han Han hendak menempelnya lagi, Beng Tan membungkuk dan menendangkan kaki kanannya maka Han Han terbawa dan secepat itu pula ujung sepatunya menyambar dagu.

"Plak!" Han Han terkejut dan berseru kagum. Ia terpaksa mengelak dan ditangkislah ujung sepatu itu, terpental tapi tangan lawan pun terlepas. Dan ketika lawan mengayun kaki dan berjungkir balik menjauhkan diri, Beng Tan berhasil menghindar dari tempelan maka pendekar itu sudah maju lagi dengan pukulan-pukulan lain, lolos dan kembali membuat lawannya sibuk!

"Ha-ha, kau tak mau menjadi korban, Han Han. Bagus sekali, otakmu encer. Tapi aku akan membuatmu kewalahan dan lihat serangan-seranganku berikut!"

Han Han menggeram. Ia benar-benar kena diakali dan tempelannya pun tadi buyar. Ia tak dapat lagi mengikat lawannya dan bergeraklah lawannya itu dengan pukulan cepat bertubi-tubi. Ia kaget dan mengerutkan kening karena lawan yang dihadapi benar-benar lihai, di samping cerdik. Dan marah kenapa ia menghadapi lawan demikian tangguh, setelah ia dibuat penasaran oleh Giam Liong maka Han Han tak mau bingung-bingung lagi mengelak atau menghindari serangan lawan karena setiap datang tentu ia sambut. Keras dengan keras dan pukulan panas disambut tenaga dingin.

"Plak-plak!"

Beng Tan kagum dan kaget serta girang. Empat kali ia menghantam puteranya namun empat kali itu pula ia tergetar dan terdorong. Puteranya tegak tak bergeming dan ini mengingatkannya akan sinkang yang dimiliki Giam Liong. Seperti itu pulalah kalau Giam Liong sudah marah, siap menghadapi keras dengan keras dan Pek-lui-ciangnya pun selalu amblas bertemu tenaga dingin. Dan karena lawan juga menguasai tenaga panas tapi tenaga dingin itulah yang dipakai dan dipergunakan untuk meredam Pek-lui-ciang-nya, Beng Tan kagum dan terbahak-bahak maka Han Han justeru terheran-heran dan mengerutkan kening kenapa lawannya itu malah demikian gembira!

"Kau gila!" pemuda itu membentak. "Kenapa tertawa demikian senang dan apa maumu menyerang orang yang tidak bersalah!"

"Ha-ha, kau tak usah tahu. Yang jelas aku ingin tahu dari mana kau mendapatkan kepandaianmu ini, Han Han. Aku sekarang mengingat-ingat siapa kira-kira orang yang menggemblengmu seperti ini. Kau, ah... kau murid Im Yang Cinjin!"

Han Han tersentak dan kaget. Ia berseru keras ketika lawan tiba-tiba dapat menebak gurunya, padahal, nama gurunya amatlah dirahasiakan dan jarang ada orang kang-ouw tahu. Maka begitu lawan dapat menebak dan ia meleng oleh pukulan yang menyambar, Han Han terkesiap oleh seruan lawannya tadi maka tak pelak ia terdongak dan wajahnya bertemu telapak lawan yang seperti lempengan baja.

"Dess!"

Han Han terhuyung. Ia hampir saja terpelanting oleh pukulan yang amat kuat ini, pandang matanya sejenak gelap tapi ia menarik napas dan mengerahkan sin-kang membuyarkan pengaruh pukulan itu. Dan ketika Beng Tan kagum karena puteranya tak apa-apa, sang isteri menjerit dan meloncat keluar, tak terasa, maka Han Han tertegun tapi merah mukanya mendapat pukulan itu.

"Kau mengenal guruku, bagus, kau tentu orang ternama. Awas aku membalasdan menghajarmu, kawan. Hati-hati karena aku akan mengeluarkan semua kepandaianku... slap!" dan Han Han yang lenyap mempergunakan Hui-thian-sin-tiauw-nya (Rajawali Sakti Terbang Ke Langit) tiba-tiba membuat Beng Tan berteriak karena pemuda itu beterbangan tak menginjak tanah lagi, sambar-menyambar dan mematuk dirinya dengan pukulan-pukulan cepat.

Beng Tan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya pula namun ternyata kalah cepat. Ia kalah napas oleh lawannya yang masih muda itu dan tahu-tahu sebuah tamparan meledak di sisi kepalanya. Dan ketika ia terbanting namun dapat bergulingan meloncat bangun, Swi Cu menjerit dan kembali mengeluarkan teriakan maka Han Han yang gemas dan marah kepada lawannya ini mengeluarkan segenap pukulan-pukulan Im-yang-sin-kun-nya dimana udara atau tempat di sekitar situ berubah-ubah menjadi panas dan dingin berganti-ganti. Tubuh pemuda itu pun mulai menyala dan mati hidup seperti lampu pijar!

"Bret-brett!"

Beng Tan dan isteri terkejut berseru tertahan. Mereka sudah disambar pukulan yang berubah-ubah itu. Swi Cu sebentar kedinginan dan sebentar kemudian kepanasan, keringat bercucuran tapi kemudian beku ketika disambar angin dingin. Dan ketika Beng Tan berteriak agar sang isteri menjauh, Swi Cu menjerit dan berteriak-teriak maka Beng Tan mencabut pedangnya dan sinar berkeredep tiba-tiba menyambar dan menangkis hawa panas dingin itu.

"Sing-singgg...!"

Han Han tertegun. Ia silau oleh cahaya pedang dan kagumlah pemuda itu ketika lawan yang berlindung dibalik pedangnya ini dapat menghalau atau bertahan dari serangan-serangan Im-yang-sin-kunnya. Bertanding dengan Giam Liong ia belum mengeluarkan Im-kang, baru Yang-kang karena Giam Liong ternyata mahir pula bermain Im-kang, terbukti pemuda itu dapat menjadi manusia es dan beku tak apa-apa dihantam pukulan Yang-kangnya. Dan ketika kini ia kagum akan gerakan pedang dimana sinar yang amat terang namun indah menangkis semua pukulan-pukulannya itu, Han Han kagum akan pedang ini maka Beng Tan tiba-tiba berseru apakah dia berani menghadapi silat pedang, diminta mencabut senjata.

"Aku akan bertahan dan menyerangmu dengan senjata. Cabutlah senjatamu dan apakah berani kau menghadapi pedangku!"

"Hm," Han Han berseru mengangguk. "Aku tak mempunyai senjata, kawan. Senjataku adalah kaki dan tanganku ini. Kalau kau mau pakai dan pergunakan pedangmu itu. Aku tak takut!"

"Pedangku bukan pedang biasa. Kau tak akan tahan!"

"Hm, melihat pamornya aku maklum, kawan. Tapi aku tak takut. Coba dan pergunakan pedangmu, atau aku menyerangmu dan lihat seberapa hebat ketajaman pedangmu itu!" dan Han Han yang bergerak dan membentak lawan tiba-tiba berseru mendahului dan melepas pukulan dingin. Ia mengerahkan Im-kang karena tahu bahwa lawan agaknya seorang ahli tenaga Yang-kang, terbukti dengan Pek-lui-ciangnya yang dahsyat tadi.

Dan ketika Beng Tan terkejut karena pukulan itu tahu-tahu sudah di depan mata, Han Han bergerak dan menyelinap dengan luar biasa cepatnya maka Hui-thian-sin-tiauw yang dimiliki dan dilakukan pemuda itu menyambar bagai seekor rajawali melesat.

"Awas!"

Namun Beng Tan mengangguk dan tahu ini. Ia tak sempat mengelak karena pukulan puteranya benar-benar secepat setan. Kelima jari pemuda itu tahu-tahu di depan hidung dan siap mengancam wajahnya. Dan karena ia tak mau celaka dan tentu saja bergerak menyambarkan pedang, ganti membentak agar pemuda itu hati-hati maka Han Han menangkis tapi pemuda itu berseru terkejut karena begitu pedang menyambar pinggir lengan bajunya pun robek.

"Bret!"

Pemuda itu menarik dan melempar tangan ke belakang. Beng Tan sudah memberitahunya hati-hati namun tak urung pemuda ini terkesiap juga. Hawa dingin pedang itu mengingatkannya akan hawa dingin Golok Maut, golok yang ada di tangan Giam Liong itu. Dan ketika selanjutnya pedang berputar dan Han Han digulung cahaya menyambar-nyambar, Beng Tan tertawa dan memerahkan telinga lawan maka Han Han kaget dan pucat karena lawan benar-benar amat tangguh. Pedangnya itu juga pedang luar biasa!

"Kau hebat, tapi kau dibantu pedangmu!"

"Ha-ha, itulah sebabnya kuberi tahu agar kau mencabut senjatamu pula, Han Han. Karena tanpa pedang ini agaknya aku tak mampu menghadapi Im-yang-sin-kun mu. Hayo, cabut pedangmu atau senjata apa saja yang kau punya!"

"Aku tak punya senjata. Tapi jangan harap kau dapat mengalahkan aku... plak-plak!" dan Han Han yang menampar atau mengebut dari jauh, mempergunakan Im-yang-sin-kunnya akhirnya berhasil menahan dan menyampok pedang agar tidak terlalu mendekat.

Beng Tan merasa bahwa sinkang yang dipunyai puteranya ini setingkat lebih unggul dibanding dirinya. Jadi, dapatlah pemuda itu bertahan dan Han Han lama-lama mengerutkan kening karena jurus demi jurus akhirnya mengingatkan dia akan sesuatu. Beng Tan telah mainkan Pek-jit-kiam-sutnya itu dan ilmu ini pernah dilihat Han Han dimainkan oleh Ki Bi dan sumoi-sumoinya di Hek-yan-pang, ketika pemuda itu datang kesana dan bertepatan pula dengan datangnya rombongan si gundul Pat-jiu Sian-ong, yang mengamuk dan mengobrak-abrik markas itu dikala Beng Tan dan isterinya ini tak ada.

Dan ketika Han Han terkejut karena jurus demi jurus akhirnya dikenal semakin baik, itulah ilmu silat Pek-jit Kiam-hoat maka pemuda ini membentak dan menampar demikian kerasnya sambaran pedang yang menuju lehernya.

"Tahan, ini Pek-jit Kiam-hoat dari Hek-yan-pang. Siapa kau dan buka sapu tanganmu!"

Beng Tan dan Swi Cu terkejut sekali. Mereka belum pernah bertemu dengan putera mereka ini tapi bagaimana putera mereka itu tiba-tiba tahu bahwa ilmu pedang yang dimainkan ini adalah Pek-jit Kiam-hoat. Seingat mereka Han Han belumlah mengenai Hek-yan-pang dan karena itu tentu juga belum mengenai ilmu-ilmu silat mereka. Tentu saja mereka tak tahu bahwa pemuda ini sudah ke Hek-yan-pang dan bertemu dengan Ki Bi dan lain-lain, bahkan melindungi perkumpulan itu di kala Pat-jiu Sian-ong dan kawan-kawannya mengamuk, datang dan menghalau orang-orang jahat itu sehingga Hek-yan-pang selamat.

Dan ketika Beng Tan terpental mundur dan hampir saja ia terpelanting, tamparan yang dilakukan puteranya itu demikian kuat dan kerasnya maka pendekar itu menggigil dan Swi Cu berteriak dan langsung menubruk pemuda ini, membuang sapu tangan yang tadi dipakai menutupi mukanya.

"Han Han, kami.... oh, kami adalah ayah ibumu. Kau, ah... kau puteraku yang hilang!"

Dan ketika Han Han tertegun dan melihat raut wajah seorang wanita cantik, berumur empat puluhan namun masih cantik dan gagah maka pemuda itu bengong ketika tahu-tahu sudah ditubruk dan Swi Cu menangis habis-habisan di dadanya, tak kuat lagi menahan haru dan semua perasaan bahagia yang meletup.

"Aku ibumu, dan itu ayahmu. Ah, ayahmu ingin menguji kepandaianmu, Han Han. Dia telah mendengar dari Giam Liong bahwa ilmu kepandaianmu tinggi. Kau benar kalau ilmu pedang yang dipakainya adalah Pek-jit Kiam-hoat, karena ia memang adalah ketua Hek-yan-pang!" dan ketika Swi Cu mengguguk dan meremas-remas puteranya ini, Han Han terkejut dan kaget maka disana lawannya itu sudah membuka kedoknya dan berjalan mendekati, terhuyung dan air mata bercucuran, pedang sudah disimpan lagi dibelakang punggung.

"Han Han, aku ayahmu. Maaf, nak..... ayah sengaja mengujimu. Kau... kau puteraku yang hilang!"

Han Han luluh dan lantak hatinya. Ia tiba-tiba mengguguk dan terharu bukan main begitu ayah ibunya muncul. Sudah lama ia mencari-cari dan kini tiba-tiba ia bertemu. Ah, ayah ibunya gagah. Mereka itu ternyata orang-orang tua yang hebat dan teringatlah ia akan kepandaian ayahnya ini, yang sanggup dan mampu bertahan dari pukulan-pukulan Im-yang-sin-kunnya, padahal orang lain pasti roboh dan sudah menyerah. Dan ketika ia menggigil dan ibunya mengguguk mengguncang-guncang tubuhnya, pemuda ini tersedak dan menangis pula maka tiga tubuh sudah berpelukan dan Han Han tak mampu menahan jerit atau kebahagiaannya dengan keluhan panjang.

"Ayah... ibuu...!"

Ketiga-tiganya sudah berangkulan amat mesranya. Beng Tan tak mampu juga membendung air matanya dan mengguguklah pendekar itu menemukan puteranya yang hilang. Perasaan haru dan bahagia serta perasaan bermacam-macam lagi mengaduk hatinya. Pendekar yang tak mampu menahan kegembiraan ini hampir saja menangkap dan melempar-lempar puteranya itu ke atas. Sejenak ia benar-benar diguncang perasaan meluap! Tapi ketika Beng Tan mampu menguasai hatinya lagi sementara isterinya masih mengguguk dan menciumi putera mereka itu, Han Han dikerubung dan "dikeroyok" ayah ibunya maka Beng Tan lebih dulu melepaskan diri.

"Syukur kepada Thian Yang Agung. Kami ibu dan ayah telah menemukan putera kami lagi. Ah, kita patut merayakan kegembiraan ini di Hek-yan-pang, Han Han. Mari kita pulang dan betapa rindu ayah ibumu!"

"Benar," Han Han dikecup dan dihisap air matanya oleh sang ibu. "Aku juga bahagia, ayah. Dan ibu, ah... aku rindu akan kalian juga. Sudah lama aku mencari-cari namun baru sekarang aku menemukan. Dan ayah hebat sekali!"

"Tentu saja!" sang ibu melengking, suaranya penuh tawa dan bahagia. "Kalau tidak masa aku mau menjadi isterinya, Han Han. Ayahmu memang hebat dan namanya tersohor diseluruh jagad!"

"Hm, tak perlu memuji diri. Dulu mungkin begitu, niocu. Tapi sekarang aku sudah tidak begitu lagi. Kehebatanku sudah digantikan anak-anak muda. Lihat putera kita dan Giam Liong ini, aku sudah tak mampu menandinginya!"

"Giam Liong dibantu Golok Mautnya!"

"Tidak, ia telah menggabungkan kepandaian ayahnya dan kepandaianku, niocu. Giam Liong memang hebat. Dan anak kita ini, ah, ia pun hebat. Aku terpaksa mencabut pedangku agar tidak cepat-cepat roboh."

Han Han tersenyum malu. Ayahnya telah tertawa bergelak dan sang ibu tampak berseri-seri begitu cantiknya. Han Han kagum ketika tiba-tiba ibunya ini seperti gadis remaja lagi, cantik jelita dan penuh pesona. Ia tak tahu bahwa kebahagiaan yang demikian besar itulah yang membuat wanita ini serasa muda lagi dan begitu gemilangnya seperti ketika berusia tujuh belasan tahun lalu. Dan ketika Han Han kagum namun sang ayah juga kagum, Beng Tan menyambar dan memeluk isterinya ini maka pendekar itu berkata bahwa mereka harus cepat-cepat pulang. Diam-diam tergetar dan ingin minta "jatah" kalau nanti dikamar!

"Kita sudah menemukan anak kita. Hayo kita pulang dan cepat-cepat rayakan pesta!"

"Benar," Swi Cu tak tahu keinginan suaminya yang terpendam. "Aku juga ingin merayakan pesta, suamiku. Dan Han Han akan kuperkenalkan kepada semua murid-murid Hek-yan-pang!"

"Aku sudah mengenalnya," Han Han tiba-tiba tersenyum. "Aku sudah kesana dan berkenalan dengan bibi Ki Bi dan lain-lain, ibu. Mereka semua sudah mengenalku dan justeru dari mereka itulah aku disuruh ke kota raja. Dan benar, aku menemukan kalian disini."

"He, kau sudah kesana? Sudah berkenalan dengan mereka-mereka itu?"

"Benar, dan karena itulah aku mengenal silat pedang ayahku, ibu. Aku sudah melihatnya ketika bibi Ki Bi dan lain-lain mainkan ilmu silat itu, meskipun tentu saja tak sehebat dan semahir ayah."

"Astaga, kalau begitu kau bertempur dengan mereka!"

"Tidak, justeru sebaliknya. Aku melindungi dan membela mereka ketika Pat-jiu Sian-ong dan kawan-kawannya datang."

"Pat-jiu Sian-ong?"

"Benar, ayah, kakek gundul itu. Katanya mencari ayah atau Han Han yang sebenarnya adalah Giam Liong. Hek-yan-pang diobrak-abrik!"

"Keparat, apa yang dilakukan Pat-jiu Sian-ong itu. Kenapa ia tak tahu malu menyerang rumah di kala pemiliknya tak ada!"

"Katanya ingin membalas dendam, ibu. Tapi aku kurang tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tentunya ayah lebih tahu." dan ketika Han Han memandang ayahnya dan sang ayah menarik napas dalam-dalam, teringat kejadian di rumah hartawan Tek maka pendekar itu mengangguk dan berkata muram,

"Tidak salah, Pat-jiu Sian-ong ingin membalaskan kekalahan muridnya. Hm! tapi kurang ajar juga kalau kakek itu marah-marah disaat aku tidak ada. Kami tentu akan mencarinya!"

"Dan ibu..., benarkah keluar untuk mencari aku?"

"Tentu saja. Berbulan-bulan aku mencarimu, Han Han. Dan berbulan-bulan itu pula aku menderita. Ah, ini karena perbuatan bibimu Wi Hong. Ia yang menjadi biang keladi semuanya ini!"

"Sudahlah," Beng Tan tak mau mengungkit-ungkit lagi masa silam. "Han Han sudah kita temukan, niocu, dan sedikit banyak karena jasa Giam Liong pula. Kalau dia tidak memberi tahu belum tentu kita dapat menemukan anak kita sekarang. Eh, bagaimana pendapatmu, Han Han. Benarkah kau telah bertanding dengan Giam Liong?"

"Hm, justeru karena itu aku duduk tepekur di bawah pohon. Aku kecewa dikalahkannya. Ia mengeroyok!"

"Mengeroyok?" sang ayah mengerutkan kening, tak percaya. "Giam Liong adalah pemuda gagah, Han Han. Seingatku tak pernah ia mengeroyok!"

"Benar, tapi Mo-bin-lo muncul membantunya, ayah. Dan roh kakek iblis itu yang menggangguku di kala bertempur. Aku penasaran!"

"Hm, kiranya begitu. Dan aneh kalau sukma kakek itu keluar. Barangkali ada apa-apa yang membuat ia sewot. Tapi Giam Liong tentunya tak tahu akan ini. Golok Maut hanya dapat ditandingi Pedang Matahari!"

"Benar, guruku juga berkata begitu, ayah. Dan kalau tidak salah tentunya pedang itu..."

"Memang inilah Pek-jit-kiam," sang ayah tersenyum, memotong. "Tapi kau tampaknya tak pandai bersilat pedang, Han Han. Kau lebih mengandalkan kaki tanganmu dengan Im-yang-sin-kun. Hebat sekali ilmu silatmu itu tapi untuk menandingi Golok Maut kau harus belajar silat pedang, dengan Pedang Matahari ini!"

"Dan kau pasti dapat mengalahkan Giam Liong!" sang ibu berkata, sengit. "Ayahmu telah dipecundanginya, Han Han Balaskan sakit hati ini dan hadapi bocah itu!"

"Hm, ibu tampak benci sekali kepada Giam Liong."

"Tentu saja. Aku juga membenci mendiang ayahnya. Gara-gara Si Golok Maut itulah suciku sampai tidak karuan dan kini mengobrak-abrik rumah tanggaku!"

"Sudahlah, sudah..." Beng Tan tak mau isterinya semakin naik pitam. "Urusan yang sudah-sudah tak perlu dibicarakan lagi, niocu. Putera kita telah ditemukan dan anggap saja semua peristiwa yang lalu untuk menggembleng kita. Mari kita pulang dan aku ingin menurunkan ilmu silat pedang kepada Han Han!"

Swi Cu teredam. Disambar dan dipeluk suaminya membuat wanita ini tak marah-marah lagi apalagi karena puteranya Han Han memandangnya begitu lembut. Pandang mata puteranya itu penuh kerinduan dan ia pun ingin menumpahkan rindu kepada putera satu-satunya ini. Ia ingin membuat pesta besar-besaran di rumah dan biarlah keluarga besar Hek-yan-pang bergembira. Dan ketika suaminya berkata agar mereka cepat pulang, urusan lain tak usah dihiraukan maka Beng Tan berkelebat dan isteri serta puteranya diajak pulang.

Tak mau atau pura-pura tak tahu lagi akan adanya perang besar yang mengancam pintu gerbang. Beng Tan sudah muak dengan semuanya itu dan begitu dia pergi maka dilain tempat terjadi kegemparan. Karena begitu Han Han maupun ayah ibunya kembali ke Hek-yan-pang maka di kota raja atau tepatnya di istana Giam Liong mengamuk!

* * * * * * * *

Seperti telah diceritakan di depan, Giam Liong meninggalkan ayah dan ibu angkatnya untuk mencari atau menemukan kembali ibu kandungnya. Dia sekarang tahu bagaimana nasib ibunya itu, bahwa ibunya telah selamat ditolong ibu dan ayah angkatnya. Tapi karena musuh besarnya si Kedok Hitam juga masih berkeliaran dan lolos disana, dia mengerotokkan gerahamnya penuh kemarahan maka Giam Liong langsung ke kota raja mencari musuh yang amat dibencinya itu.

Dia sudah lebih tenang begitu ibunya terlepas dari tangan si Kedok Hitam. Dia akan mencari dan menemukan musuhnya itu bukan karena ibunya melainkan melepas sakit hati dan dendam yang sangat, makin dia mengenal musuhnya itu semakin diketahui betapa jahat dan liciknya musuhnya itu. Lihat saja peristiwa sekarang. Siapa yang begitu curang dan licik menyerbu dirinya?

Bukankah sudah diadakan perjanjian bahwa pertemuan itu pada hari ketiga? Tapi belum hari yang ditentukan habis tiba-tiba saja Kedok Hitam telah menyerang pasukan Chu-goanswe dan yang lebih jahat lagi adalah mengirim Lam-ciat untuk membunuh dan kemudian mengeroyoknya!

Giam Liong mengeratakkan gigi. Ia akan membunuh dan mencincang musuhnya itu. Akan disedot dan diminumnya darah musuhnya itu. Dan teringat bahwa selama ini Kedok Hitam selalu berlindung di istana, rupanya kaisar juga merestui dan melindungi si Kedok Hitam itu maka sasaran kemarahannya adalah istana! Dia akan datang dan mengobrak-abrik disana. Semua pembantu atau orang-orang kepercayaan kaisar akan dibabatnya. Kalau perlu, kaisar sendiri akan dia bunuh!

Dan ketika Giam Liong berkelebat dan terus menuju kota raja, pasukan Chu-goanswe menyusul dan bersorak-sorai dibelakang maka pemuda ini dengan amat ringannya telah menyambar dan melayang naik ke tembok kota yang tinggi. Bagi Giam Liong pekerjaan ini tidaklah sukar. Ia mengenjot tubuhnya dan sekali melayang ia pun telah tiba di atas. Tapi karena saat itu kota raja sedang guncang dan penjagaan tentu saja dilakukan dengan amat ketat, munculnya Giam Liong di atas tembok otomatis diketahui maka berteriak-teriaklah para penjaga yang seketika melepas panah atau senjata-senjata jarak jauh. Caping di atas kepalanya itu segera dikenal sebagai keturunan mendiang Si Golok Maut!

"Heii, itu Si Naga Pembunuh. Awas.... awas... ia datang. Serang dan suruh dia turun!"

Giam Liong segera dihujani panah dan tombak. Pemuda ini mendengus dan tiba-tiba tangan kanannya bergerak kesana kemari. Ia mengepret dan semua panah atau tombak-tombak itu patah. Dan ketika penjaga berteriak pucat, pemuda ini berkelebat dan melayang turun maka ia sudah masuk ke dalam dan pasukan di bawah ketakutan, gentar!

"Celaka, ia masuk. Awas, ia datang!"

Giam Liong tidak menggubris kurcaci-kurcaci ini. Baginya para penjaga itu bukanlah lawan setimpal. Ia akan merobohkan mereka kalau mereka berani mendekat. Dan ketika ia diserang namun anak-anak panah kembali runtuh, kini ia membiarkan saja anak-anak panah itu mengenai tubuhnya yang kebal maka pasukan menjadi ngeri dan mereka tunggang-langgang melarikan diri. Belum apa-apa sudah cerai-berai!

"Aku mencari Kedok Hitam. Mana lawanku itu dan suruh dia keluar!"

Geram atau bentakan Giam Liong during oleh gerakan tubuhnya yang berkelebat maju. Ia ingin ke istana dan barulah disana ia akan memberi pelajaran. Para penjaga disini terlalu kecil artinya dan mereka bukanlah tandingannya. Dan ketika benar saja dengan mudah ia mengibas atau melempar-lempar mereka, yang terlalu dekat dan kurang cepat berlari maka Giam Liong Si Naga Pembunuh ini tak dapat dihalangi ketika terus maju dan bergerak ke istana.

Namun istana bukanlah tempat remeh yang boleh diganggu begitu saja. Kaisar, dan para panglimanya, tentu saja tak boleh membiarkan orang berbuat seenaknya. Mereka telah bersiap dan sesungguhnya berjaga-jaga di tempat-tempat gelap, bukan untuk menghadapi pemuda ini melainkan sebenarnya lebih ditujukan untuk menghadapi pasukan Chu-goanswe, kalau jenderal itu bersama pengikutnya berhasil mendobrak pintu gerbang.

Jadi mereka ini bersifat sebagai cadangan dan telah disiapkan dimana-mana. Maka begitu Giam Liong muncul dan kedatangannya yang seorang diri ini mengejutkan semuanya, hal ini tak disangka maka otomatis pasukan itu bergerak dan belum sampai di istana Giam Liong sudah menghadapi ribuan orang yang berlapis-lapis.

"Cegat Si Naga Pembunuh. Awas jangan biarkan ia masuk! Serang..!!"

Giam Liong tertegun membelalakkan matanya. Ia tahu-tahu sudah dikepung atau dikurung ribuan orang yang buas-buas. Mereka itu berteriak-teriak namun bukan sekedar untuk menakut-nakuti Giam Liong melainkan juga untuk menenangkan diri sendiri yang gentar! Pasukan kerajaan itu ribut-ribut dan suaranya tumpang-tindih mengatasi yang lain.

Giam Liong telah dikenal kehebatannya dengan golok mautnya itu! Dan ketika anak-anak panah menyambar bagai hujan dan golok atau tombak juga berdesingan menyambar pemuda ini, Giam Liong dicegat jalanmajunya maka keturunan Sin Hauw yang gagah perkasa ini membentak dan melengking nyaring, sinar putih keluar dari punggungnya disusul gemerlap atau pijar bunga-bunga api.

"Kalian tikus-tikus busuk yang tak tahu diri!"

Tombak atau golok patah-patah. Giam Liong mengeluarkan golok mautnya itu dan begitu ia memutar maka hujan senjata mencelat berhamburan kesana-sini. Lawan yang menyerang tiba-tiba balik menjerit ketika panah atau tombak-tombak yang patah menghantam mereka sendiri. Dan ketika duapuluh orang roboh di depan dan mereka itu berteriak mengaduh, ada yang menjerit dan pingsan karena patahan golok menancap dan amblas di biji mata, terjungkal dan memuncratkan darah segar maka Giam Liong mengamuk dan membabatkan goloknya menerjang pasukan yang membentengi istana.

"Aku mencari Kedok Hitam, tapi kalau kalian ingin mampus tentu saja kuantar ke neraka.... crat-crat!" dan batok kepala yang bergelindingan dan putus dibabat Golok Maut, yang datang dan menyambar-nyambar tiba-tiba membuat pasukan berteriak dan merasa seram!

Mereka itu melihat betapa teman-teman mereka roboh binasa, cepat dan mengerikan karena tak ada satu pun senjata yang mampu menghadapi golok yang luar biasa tajam itu. Dan ketika Giam Liong berkelebatan diantara mereka dan pasukan otomatis buyar, pecah, maka yang lain membalik dan melempar tubuh bergulingan menyelamatkan diri.

"Golok Maut mengamuk. Celaka, pemuda ini lebih hebat dari ayahnya!"

Giam Liong tak perduli. Ia sudah merah terbakar oleh kemarahannya yang sangat. Ia menggeram-geram membuka jalan darah dan pasukan cerai-berai melarikan diri. Mereka gentar dan pucat oleh kelebatan sinar putih di tangan pemuda itu. Begitu menyambar begitu pula sebuah kepala mencelat! Dan ketika pasukan kalang-kabut dan jalan terbuka bagi pemuda ini maka Giam Liong maju dan lagi-lagi mendekati istana.

Namun terdengar seruan atau aba-aba di depan. Sesosok bayangan hitam berkelebat dan berkilat-kilatlah mata Giam Liong melihat siapa itu. Kedok Hitam, musuh yang dicari-cari, tiba-tiba muncul dan ada disana, di balik pasukan besar. Dan ketika Kedok Hitam berseru berulang-ulang agar orang-orang itu mundur, Giam Liong bebas memasuki istana maka tepat di pintu gerbang Giam Liong telah berhadapan dengan lawan yang amat dibencinya ini.

"Kedok Hitam, aku ingin menghirup darahmu!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam tertawa bergelak, tubuhnya bergoyang-goyang di atas kepala patung singa. Ia meloncat dan berdiri disini, bertolak pinggang. "Kau luar biasa dan pemberani sekali, Giam Liong. Kau seperti bapakmu. Ah, aku kagum bahwa kau datang dan ingin mempersembahkan batang kepala ini kalau kau bisa. Ayo, hentikan amukanmu dan lawanlah aku!" lalu berjungkir balik dan meloncat ke patung singa yang lain, yang lebih tinggi maka berturut-turut laki-laki ini melewati sebelas patung singa di pintu gerbang istana.

Giam Liong tentu saja menggeram dan begitu lawan menantang ia pun sudah berkelebat dan memburu. Patung pertama diinjak dan akan menuju ke patung nomor dua. Tapi begitu ia menginjakkan kaki di patung pertama dan akan meloncat ke patung yang nomor dua mendadak terdengar ledakan keras dan patung yang diinjak amblong!

"Blarr!"

Giam Liong tak menyangka ini. Ia terjeblos dan otomatis jatuh ke bawah. Patung singa-singaan itu kiranya perangkap! Namun karena Giam Liong bukanlah pemuda biasa dan begitu ia terjeblos begitu pula ia membacokkan goloknya, dinding singa batu itu dicoblos atau ditusuk kuat maka ia sudah tertahan disini dan sekali ia mengayun kaki maka ia pun sudah keluar dan selamat disana, membuat lawan dan orang-orang lain kagum!

"Kau licik dan selamanya curang!" golok di tangan pemuda ini mendahului tubuhnya yang terbang keatas. Giam Liong melindungi dirinya dengan senjatanya yang ampuh itu dan benar saja beberapa benda-benda hitam dipukul runtuh.

Kedok Hitam kiranya sudah menduga dan menyambitkan senjata-senjata rahasia ke patung batu yang bobol itu. Dan ketika Giam Liong selamat dan tegak kembali dengan mata bersinar-sinar, golok di tangannya berkeredep haus darah maka Giam Liong melihat lawan sudah ada diwuwungan paling tinggi diantara bangunan-bangunan kaisar.

"Ha-ha, mari, Giam Liong. Kita mencari tempat yang enak untuk bertanding!"

Giam Liong terbakar. Ia benar-benar marah dan nyaris celaka di tangan lawannya. Kedok Hitam sungguh licik dan curang. Tapi tak takut dan justeru waspada akan kejadian tadi maka Giam Liong membentak dan ia menyusul bukan melalui undak-undakan patung singa melainkan berkelebat ke kiri dan berlarian cepat di atas genteng, karena sebentar saja ia sudah terbang dan menyambar seperti burung. Lagi-lagi membuat orang takjub!

"Kau akan kukejar, kemanapun kau bersembunyi!"

Kedok Hitam terkejut. Ia tak menyangka Giam Liong mengejarnya lewat genting-genting istana. Di situ tak ada apa-apa namun laki-laki ini tiba-tiba tertawa Dan ketika Giam Liong mendekatinya dan mata pemuda itu bagaikan api, mendidih dan membakar maka Kedok Hitam meloncat dan... turun kembali ke tanah.

"Ha-ha, di bawah lebih enak, Giam Liong. Mari turun dan ikuti aku!"

Giam Liong melotot. Ia gusar dipermainkan lawan tapi berseru keras tiba-tiba ia meloncat turun dan menubruk. Gerakannya seperti garuda menyambar dan Kedok Hitam terkejut karena tahu-tahu pemuda itu sudah semeter dibelakangnya. Giam Liong mencegat dan memotong jalan! Tapi karena ia bukan laki-laki sembarangan dan Kedok Hitam adalah lawan tangguh yang pernah dijumpai mendiang Golok Maut, juga Beng Tan yang beberapa kali bertempur dengan laki-laki ini maka begitu diserang secepat itu pula laki-laki ini menggerakkan tangannya kebelakang.

"Dukk!"

Kedok Hitam mencelat. Ia terlempar dan terbanting bergulingan disana tapi tertawa gembira meloncat bangun lagi, lari dan menyelinap diantara lorong-lorong istana. Dan ketika Giam Liong melotot karena terhuyung, lawan masih juga lolos darinya maka ia membentak dan mengejar lagi. Pasukan dikiri kanan dipukul mundur.

"Minggir, atau kalian mampus!"

Orang-orang menyibak. Kedok Hitam telah berseru kepada mereka agar membiarkan pemuda itu mengejarnya. Giam Liong melihat lawan meliak-liuk diantara lorong-lorong tajam. Dan ketika ia marah karena lawan amatlah pengecut, lari sebelum bertanding maka pemuda itu membentak...,

Naga Pembunuh Jilid 24

NAGA PEMBUNUH
JILID 24
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"GIAM LIONG, aku tak mungkin kalah!" Bentakan atau suara menggundur pemuda itu membuat orang-orang terpelanting. Pasukan Chu-goanswe tiba-tiba menjerit karena satu sama lain roboh mendekap telinga. Bahkan yang terdekat sudah roboh dengan kendangan pecah!

Han Han marah sekali dan memang ingin memberi pelajaran kepada lawannya itu, juga anak buah Chu-goanswe yang bersorak-sorak menghinanya. Dan ketika orang yang terdekat pingsan dengar pekik kesakitan, pasukan kerajaan mundur dan menjauh maka Han Han sudah menerima pukulan Giam Liong yang menyambar kepalanya.

"Desss!"

Debu dan pasir muncrat berhamburan. Adu pukulan yang amat dahsyat diantara dua pemuda itu sungguh seperti gunung meletus, suaranya menggelegar dan batu-batu disekitar terlempar dan mencelat ke kiri kanan, jatuh dan menimpa orang-orang disana dan berteriaklah pasukan kerajaan maupun pasukannya Chu-goanswe.

Mereka sudah menjauh namun tetap juga menjadi korban. Tujuh pohon disekitar dua pemuda itu roboh dan tumbang tak kuat menerima getaran adu pukulan ini. Dan ketika Giam Liong maupun Han Han sama-sama terbelalak, mereka dorong-mendorong dan seluruh kekuatan sinkang dikerahkan, Giam Liong sampai mengeluarkan uap putih dikepalanya maka Han Han juga lebih hebat karena seluruh tubuh pemuda ini sudah merah membara seperti api. Pengerahan tenaga Yang-kangnya dikerahkan sampai kepuncak!

"Han Han, kau mengajak mengadu jiwa!"

"Tak ada lain jalan," pemuda itu mendengus. "Kau juga memberi malu aku, Giam Liong. Kita adu kesaktian dan lihat siapa kalah siapa menang!"

Giam Liong terbakar. Dia tadi sudah mendesak dengan langkah-langkah saktinya Pek-poh-sin-kun ketika tiba-tiba lawannya ini menghentikan gerakan langkahnya dengan adu pukulan sinkang.

Han Han menerima dan menyambut pukulannya dan Pek-poh-sin-kun otomatis berhenti, Han Han tegak menyambut tangannya dan jadilah mereka dorong-mendorong. Ledakan yang amat dahsyat yang mengguncang keduanya membuat masing-masing tergetar, Giam Liong terdorong namun bertahan dan ganti mendorong lawannya.

Dan karena Han Han juga bertahan dan tetap menyerang, pemuda itupun tak mau kalah di hadapan sekian banyak orang maka Han Han yang mengerahkan sinkangnya tiba-tiba telah menjadi api karena seluruh tubuhnya mengeluarkan hawa panas membakar yang membuat pemuda itu menyala-nyala. Persis gumpalan bara yang menjilat-jilat!

Tapi Giam Liong sungguh mengagumkan. Mengerahkan tenaga saktinya yang didapat dari sumur tua pemuda ini melawan hawa panas dari lawan. Han Han yang sudah menjadi manusia api dan panas membakar mencengkeram telapaknya kuat-kuat. Orang lain pasti leleh dan sudah hangus diserang pemuda itu. Murid Im-yang Cinjin ini juga mengagumkan.

Tapi karena Giam Liong memiliki kesaktian tinggi dan pelajaran sinkang yang diperolehnya dari sumur tua juga dipergunakan disitu, keturunan Si Golok Maut ini melepas hawa dingin menahan hawa panas maka perlahan tetapi pasti tubuh pemuda itu tiba-tiba menjadi putih dan akhirnya beku seperti es. Giam Liong berobah ujud seperti manusia salju yang dingin membeku, atau semacam gunung mini di daerah kutub sana. Dan ketika lawan coba mencairkan tubuhnya namun api selalu gagal dan padam bertemu butir-butir es yang membeku maka Han Han terbelalak karena ia tak mampu menembus lawannya!

Giam Liong telah memejamkan mata dan kini dari belakang punggung pemuda itu muncul sebentuk asap putih yang naik ke atas. Asap itu membentuk seperti seorang raksasa dan Han Han terkejut karena tiba-tiba asap itu bergerak dan ikut menyerangnya. Dan ketika ia kaget dan tak tahu apakah ini, siluman atau hantu maka asap itu menubruk atau menyambar kepalanya.

"Slap!"

Han Han tersentak. Ia kaget mengelak namun asap putih itu menyambarnya lagi, kini membentuk golok dan tahu-tahu menyambar lehernya. Dan ketika ia kacau dan menganggap Giam Liong curang, mengeluarkan ilmu sihir maka Han Han melepaskan diri dan membanting tubuh bergulingan, membentak tapi anehnya ia tak dapat melepaskan diri dari tangan lawannya itu.

Giam Liong telah menjadi beku dan ikut pula terbanting bergulingan, masih dalam keadaan terpejam. Dan ketika Han Han pucat dan melengking ngeri, Giam Liong telah beku dan tak mampu dilepaskan olehnya maka asap putih ini mengganggu dan menyerangnya lagi dalam bentuk raksasa atau golok!

"Giam Liong, kau curang. Kau mempergunakan sihir!"

Giam Liong tak membuka mata dan masih kaku diajak bergulingan kesana-sini. Pemuda itu seperti kehilangan dirinya dan lawan berteriak-teriak pucat. Han Han telah coba melepaskan tangannya dari tangan pemuda itu namun jari-jari Giam Liong sudah beku dan kaku tak dapat direnggangkan. Hawa dingin yang dikerahkan pemuda itu sudah terlampau berlebihan dalam usahanya menangkal hawa panas. Giam Liong tak mau kalah. Tapi ketika lawan mengelak kesana-sini dan asap putih itu tiba-tiba bisa terkekeh-kekeh, Han Han meremang melihat seorang kakek tinggi besar maka pemuda itu tiba-tiba teringat gurunya dan dengan bibir berkemak-kemik menggigil ia memanggil gurunya, lewat kontak batin.

"Suhu, tolong. Teecu menghadapi bahaya. Giam Liong laki-laki curang!"

Ajaib, tiba-tiba terdengar ledakan dibelakang pemuda ini. Han Han yang mengelak dan ngeri oleh kakek tinggi besar itu tiba-tiba seperti ditepuk seseorang. Bayangan seorang tosu muncul. Dan ketika semua orang tertegun dan kaget serta terheran-heran, kejadian itu seperti sebuah mimpi saja maka tosu ini mengebutkan saputangan hitam ke muka kakek tinggi besar itu, saputangan yang menghamburkan harumnya bunga-bunga cempaka putih.

"Mo-bin-lo, jangan ganggu anak-anak kecil. Pulang dan kembalilah ke alam asalmu!"

Kakek itu berteriak. Asap dan bayangannya seketika buyar, Han Han dapat melepaskan diri lagi dari tangan Giam Long dan bersamaan itu pemuda inipun membuka matanya. Giam Liong seolah orang baru bangun tidur dari sebuah mimpi melelapkan. Dan ketika tubuhnya pun pulih kembali dan Han Han disana bergulingan meloncat bangun maka tosu itu lenyap dan Han Han mendengar kata-kata gurunya, Im Yang Cinjin yang tadi muncul.

"Han Han, kau tak dapat mengalahkannya. Pemuda itu dibantu Golok Mautnya ciptaan si iblis Mo-bin-lo. Pergi dan cari dulu Pedang Matahari untuk melawan kehebatan golok!"

Han Han tertegun. Ia bengong dan penasaran oleh apa yang baru dialaminya. Tadi gurunya juga berkata bahwa perbawa Golok Maut itulah yang bicara.

Giam Liong sendiri tak tahu akan bantuan itu. Dan ketika pemuda ini terkejut dan kecewa, Giam Liong dibantu perbawa Golok Maut maka ia memutar tubuh dan lenyap meninggalkan lawannya itu, tak melihat betapa Giam Liong bersinar-sinar kagum memandangnya. Kagum karena Giam Liong juga tak mampu "membunuh" Yang-kang yang dimiliki lawannya itu.

"Giam Liong, lain kali kita akan bertemu lagi. Kau licik karena dibantu orang lain!"

Giam Liong mengerutkan kening. Ia terkejut karena ia dituduh mendapat bantuan orang lain, padahal ia sama sekali tak merasa hal itu. Tapi ketika ia hendak mengejar dan pasukan kerajaan tiba-tiba ribut, mereka membalik dan melarikan diri maka Giam Liong mendengar seruan Chu-goanswe agar mencari ibunya.

"Siauw-hiap, musuhmu telah lari. Ingat ibumu dan syukur kau menang!"

Giam Liong sadar. Diingatkan ibunya begini mendadak ia mengangguk dan berkelebat. Pasukan kerajaan cerai-berai begitu Han Han meninggalkan pertempuran. Maklumlah, jago yang mereka andalkan telah pergi menelan kenyataan pahit. Kepandaian Giam Liong sesungguhnya berimbang namun campur tangannya Mo-bin-lo membuat pemuda itu marah. Ia seakan dikeroyok! Dan ketika Han Han pergi dan pasukan tentu saja terkejut, mereka tak mungkin menghadapi kaum pemberontak lagi maka mereka pun mundur dan membalikkan tubuh namun para pejuang mengejar dan berteriak-teriak mengancam mereka. Giam Liong sendiri berkelebat dan mengibaskan lengannya kekanan kiri.

"Kejar, bunuh anjing-anjing kaisar. Tangkap mereka!"

Pasukan kerajaan kalut. Mereka sudah tak ada yang memimpin lagi dan kibasan atau dorongan lengan sakti Giam Liong membuat mereka terpelanting dan jatuh bergulingan. Sekali kibas tigapuluhan mencelat! Dan ketika Giam Liong mendahului mereka dan Chu-goanswe menyusul atau mengejar dibelakang, membentak agar lawan menyerah atau dibunuh maka para pejuang meroboh-robohkan lawan mereka dengan mudah. Pasukan kerajaan jatuh mentalnya oleh kekalahan Han Han. Tadi mereka amat mengharap pemuda itu namun apa boleh buat penolong suka rela ini diganggu oleh perbawa Golok Maut.

Mo-bin-lo, pencipta golok itu tiba-tiba keluar sukmanya dan menyerang Han Han, karena sesungguhnya di dalam golok maut itu bersembunyi atau tersimpan roh si pencipta. Dan ketika kakek itu menampakkan diri dan Han Han dibuat kaget, untung gurunya datang dan menolong maka pemuda itu dinasihatkan untuk pergi dan para penonton menganggap Giam Liong menjadi pemenangnya, meski pun pemuda itu sendiri tak merasa begitu dan dia justeru heran kenapa Han Han meninggalkan pertempuran, padahal mereka belum selesai.

Dan ketika semua diobrak-abrik dan pasukan Chu-goanswe menghajar habis-habisan pasukan lawan, yang tak mau menyerah dibunuh sementara yang mau menyerah disuruh membuang senjatanya maka sebentar kemudian lawan yang ada dibelakang sendiri melempar senjata masing-masing dan seribu lebih menyatakan menyerah!

Chu-goanswe mengampuni mereka yang ini sementara yang di depan dikejar dan terus diserang. Tapi karena mereka melompati hutan dan akhirnya menunggang kuda, lari ke kota raja maka untuk yang ini Chu-goanswe harus puas merobohkan yang paling belakang. Panah jenderal itu menyambar-nyambar dan pasukan yang hendak balik ke pintu gerbang ini menjadi korbannya. Tiga ratus lebih menjadi sasaran empuk senjata di tangan jenderal ini. Dan ketika pintu gerbang ditutup dan kota raja menjadi gempar, Chu-goanswe berhenti dan berteriak-teriak di luar maka untuk pertama kalinya pasukan istana dipukul dan dibuat guncang!

"Kita kalah. Kita terpaksa melarikan diri. Si Naga Pembunuh sungguh luar biasa dan ia membantai kita seperti ayam!"

"Dan pemuda baju putih itu tak mampu menandinginya. Ah, sayang. Putera Pek jit-kiam itu meninggalkan lawannya!"

"Pengecut, pemuda itu tak pantas menjadi putera seorang gagah. Ia memalukan dan merendahkan kita!"

Han Han malah dibawa-bawa dan kini dimaki-maki pasukan kaisar itu. Mereka lupa bahwa Han Han bukanlah tangan kanan kaisar atau pula orang yang disuruh bergabung dengan mereka. Pemuda itu datang atas kemauannya sendiri dan tentu saja bebas untuk pergi atau datang. Dan ketika mereka juga lupa bahwa sebenarnya merekalah yang pengecut, lari tunggang-langgang menghadapi lawan yang lebih kuat maka Han Han disana menggigit bibir dan mengepalkan tinjunya dengan muka merah padam. Sementara Giam Liong, yang berkelebat dan mencari ibunya juga berketruk dan ingin menghancurkan kepala si Kedok Hitam yang licik dan curang itu!

* * * * * * * *

Marilah kita ikuti perjalanan Giam Liong. Seperti diketahui, pemuda ini mencari ibunya yang juga berarti mencari Kedok Hitam. Dia sudah tak akan memberi ampun lagi kepada musuhnya yang amat jahat itu, licik dan culas. Dia sudah akan mencincang tubuh musuhnya sampai hancur. Kemarahan dan kebencian Giam Liong meluap. Dan ketika dia ingat betapa ayahnya dicincang laki-laki ini, keji dan tak berperikemanusiaan maka Giam Liong telah memutuskan untuk melakukan hal yang sama, apalagi kalau ibunya diganggu!

"Aku akan merebus tubuhmu hidup-hidup," Giam Liong menggeram. "Dan aku akan memanggangmu di kwali yang panas, Kedok Hitam. Dan seluruh tubuhmu akanku kuliti!"

Orang akan meremang dan merasa seram mendengar ancaman ini. Giam Liong mendesis dan bertekad mencari lawannya ini sampai ketemu. Kalau perlu, dia akan menangkap kaisar dan menyuruh musuhnya itu keluar, atau kaisar akan dibunuh dan kepalanya dipenggal! Dan ketika Giam Liong bagai seekor harimau yang haus darah, ancamannya bakal terjadi kalau ibunya tak ditemukan maka saat itu berkelebatlah dua bayangan dan tiba-tiba secara tak sengaja ia bertemu dengan ibu dan ayah angkatnya itu. Beng Tan dan isterinya, Swi Cu.

"Ah, kau mau kemana, Giam Liong? Mencari ibumu?"

Giam Liong tertegun, berhenti. "Benar, dan ayah..." dia agak kaku, sang ibu angkat tampak keruh dan masam mukanya! "Kemana kau akan pergi, ayah. Dan bagaimana kau tahu bahwa aku mencari ibu!"

"Kedok Hitam membawanya. Jeritan ibumu membuatku datang!"

"Ah, dimana dia sekarang!" Giam Liong melompat, muka seketika beringas. "Bagaimana dengan ibuku, ayah. Dan mana jahanam licik itu. Bagaimana ia datang sebelum waktu yang ditentukan!"

"Maaf," Beng Tan tak enak. "Bukan aku bohong, Giam Liong, melainkan musuhmu itu memang licik. Aku sendiri sedang memantau gerak-geriknya dan kaget bahwa ia datang bersama limaribu pasukan. Ibumu selamat tapi..."

"Tapi dimana dia!" Giam Liong membentak, lupa dan bersikap agak kasar karena dia dilanda ketegangan mendengar berita ibunya ini. Giam Liong sampai tak dapat mengontroi diri begitu ayahnya berkata bahwa ibunya selamat, hal yang menggirangkan tapi sekaligus juga mendebarkan dia. Maklumlah, ibunya tak ada disitu!

Dan ketika dia membentak memutus omongan ayahnya dan Swi Cu mendelik serta meradang maka wanita itulah yang kini berseru dan berkelebat ke depan, membentak, "Giam Liong, suamiku bukan orang yang suka kau bentak-bentak. Sopan dan hormatlah sedikit di depan orang tua!"

"Maaf," Giam Liong terkejut, sadar. "Aku lupa diri, bibi. Aku dilanda ketegangan..."

"Sudahlah," Beng Tan tahu dan menarik isterinya bersabar, memaklumi keadaan pemuda itu. "Ibumu tadinya bersama kami, Giam Liong. Tapi kini dia pergi, entah kemana. Dan bagaimana sekarang dengan pasukan kerajaan yang menyerangmu itu."

"Ibu tak bersama ayah lagi?" Giam Liong kecewa, tiba-tiba mukanya kembali gelap, tak menjawab pertanyaan itu. "Kalau begitu biar kucari, ayah. Dan maaf aku harus segera pergi!"

"Heii..!" sang ayah berseru. "Ibumu tidak kesana, Giam Liong, melainkan ke selatan. Dia tidak menuju kotaraja!"

Giam Liong memutar, sudah berkelebat dan kembali ketika ayahnya ini berseru menuding. Memang dia akan ke kota raja karena disanalah biasanya si Kedok Hitam bersembunyi. Dia akan mencari dan membunuuh. Tapi begitu ayahnya berseru dan dia memutar tubuh, keselatan maka Giam Liong berkelebat dan menuju ke tempat yang ditunjuk ayahnya ini. "Terimakasih!" itu saja jawabannya, kaku dan tidak menyenangkan.

Tapi ketika Beng Tan dan isterinya mengerutkan kening, mereka belum tahu bagaimana kabar pasukan kerajaan tiba-tiba Giam Liong berkelebat dan muncul kembali, kali ini wajahnya berseri-seri. Aneh!

"Ayah ada berita gembira untukmu. Aku lupa!"

"Apa itu?" sang pendekar tertegun, gerak-gerik Giam Liong mendebarkan.

"Han Han!" pemuda itu berseru. "Han Han anakmu telah datang, ayah. Tadi aku bertemu dengannya dan dia hebat bukan main!"

"Apa?" Swi Cu berkelebat, membentak dan langsung mencengkeram pemuda ini. "Han Han? Kau tidak main-main? Awas, jangan melukai hatiku, Giam Liong. Atau kubunuh kau kalau menghina kami berdua!"

"Aku tidak menghina, juga tidak mempermainkan," Giam Liong mundur dan melepaskan diri dari cengkeraman bibinya ini. "Aku sungguh-sungguh, bibi. Han Han anakmu telah muncul dan dia katanya baru dari Hek-yan-pang..."

"Ah, mana dia. Dan apakah kau betul!"

"Dia telah pergi, ke timur. Aku baru saja bertanding dan dia hebat bukan main!"

"Bertanding? Kau menghajar anakku itu? Keparat, kau sungguh sok jagoan, Giam Liong. Anak orang pun enak saja kau ajak berkelahi.... plak-plak!" dan Swi Cu yang melayangkan tamparan dua kali ke pipi pemuda ini tiba-tiba membuat pemuda itu terhuyung dan Giam Liong terkejut bengap! Swi Cu marah dan ia pun langsung digampar. Inilah kemarahan seorang ibu kalau anaknya diganggu!

Tapi ketika Beng Tan menarik isterinya dan lagi-lagi menyuruh isterinya mundur, wanita itu tegang dan melotot lebar maka pendekar ini yang juga tegang dan berdebar cemas tiba-tiba memegang dan menggenggam lengan pemuda itu, lembut. Suaranya bergetar ketika berkata, "Giam Liong, maafkan isteriku. Dia tak bisa menahan diri seperti halnya ibumu menemukan kau. Maklumilah ini dan pandanglah mukaku. Dimana anakku itu dan apakah ia selamat tak kau celakai!"

"Aku tidak mencelakai," Giam Liong tiba-tiba meramkan mata, terpukul dan sakit oleh sikap Beng Tan yang ditunjukkan kepada puteranya. Sikap seorang ayah yang penuh cinta kasih dan sayang, tidak seperti dia yang seumur hidup tak pernah bertemu dengan ayah kandungnya! "Aku tak mengapa-apakan puteramu itu, ayah. Kami bertanding karena ia berpihak dan membela pasukan kerajaan. Ia gagah dan amat lihai. Aku mengucapkan selamat bahwa puteramu kembali!"

"Ia sekarang dimana?"

"Pergi ke timur. Aku juga tak mengerti kenapa ia pergi setelah bertempur hebat denganku. Yang jelas, ilmu kepandaiannya tinggi. Dan harap ayah cari dia karena tentu belum begitu jauh dari sini. Maaf, aku harus pergi dan mencari ibuku!" dan berkelebat menarik lepas tangannya dari genggaman sang ayah tiba-tiba Giam Liong lenyap dan tidak memandang lagi ayah maupun ibu angkatnya ini. Ia terpukul dan sakit oleh sikap Beng Tan terhadap Han Han. Ayah angkatnya itu menggigil dan jelas menahan-nahan guncangan perasaan yang sangat.

Ada haru dan tegang tapi juga gembira! Dan karena ia tak kuat menyaksikan semuanya itu dan ia harus cepat-cepat pergi untuk mencari ibunya maka begitu berseru ia pun lenyap dan tidak menghiraukan panggilan ayahnya lagi. Beng Tan menyatakan terima kasihnya namun ia tak mau dengar. Giam Liong tertusuk oleh kebahagiaan pendekar itu mendengar tentang anak laki-lakinya. Begitulah bahagianya mempunyai ayah kandung! Dan ketika pemuda itu berkelebat dan lenyap meninggalkan ayah ibunya, ayah ibu angkat maka suami isteri itu menggigil dan Swi Cu tiba-tiba menubruk suaminya dan sesenggukan.

"Suamiku, Han Han... anak kita... kembali. Mari kita cari dan temukan dia. Ah aku ingin melihatnya seberapa besar ia sekarang. Aku harap Giam Liong tidak bohong, tidak mempermainkan kita!"

"Tak mungkin bohong, tak mungkin mempermainkan kita..." Beng Tan juga gemetar dan terharu, memeluk isterinya kuat-kuat. "Giam Liong bukan pemuda seperti itu, niocu. Ia tentu benar dan jujur. Mari kita cari dan temukan dia!"

"Mari, tapi tolong bantu aku. Jantungku berdebaran tak keruan. Aku tegang...!"

Dan ketika Beng Tan bergerak dan menyambar isterinya, dipanggul dan berkelebat maka Swi Cu terisak-isak dan menangisdi pundak suaminya itu. Sejenak tak mampu berbuat apa-apa namun akhirnya ia minta diturunkan. Sang suami-pun menggigil dan dua kali tersandung akar pohon, jatuh namun bangun kembali karena suaminya itupun tegang mendengar ini. Mereka sebenarnya sama-sama ingin menemukan anak mereka itu. Sama-sama berdebar dan bahagia! Dan ketika Swi Cu diturunkan dan Beng Tan mengajak isterinya ke timur, mereka bergandengan mengejar Han Han maka Giam Liong yang sudah memberi tahu ciri-ciri putera mereka itu sebagai pemuda yang berbaju putih maka benar saja mereka melihat ada seseorang duduk melamun di bawah pohon. Seorang pemuda baju putih!

"Itu dia...!" Swi Cu berbisik, air mata tiba-tiba bercucuran, tak dapat dibendung lagi. "Itu barangkali, suamiku. Ia, ah... ia tampan dan gagah. Ia persis dirimu. Ah, itu dirimu di waktu muda!" Swi Cu hampir menjerit dan memanggil pemuda ini. Ibu yang tampak girang dan bahagia luar biasa ini tiba-tiba seakan kehilangan kontrol diri begitu melihat pemuda baju putih itu.

Mereka telah keluar hutan dan menemukan pemuda baju putih ini. Ciri-ciri yang diberikan Giam Liong cocok sekali, pemuda itu gagah dan sebaya dengan Giam Liong. Dan ketika Swi Cu menuding dan menggigil bahwa pemuda itu mirip suaminya, begitu mirip bagai pinang dibelah dua maka Beng Tan sendiri yang tertegun dan pucat melihat dari jauh seketika berdetak jantungnya dan hampir melompat.

Pendekar ini melihat seorang pemuda tepekur dengan pandang mata kosong. Ia duduk di bawah pohon itu seperti orang susah, atau mungkin kecewa. Dan ketika pendekar itu hampir berteriak namun isterinya nyaris mendahului, gugup dan limbung di depan tiba-tiba pendekar ini mempunyai pikiran lain dan isteri yang terjelungup tiba-tiba ditotok dan disambar agar tidak menjerit.

Swi Cu mengeluh tertahan ketika suaminya tiba-tiba bergerak dan melesat ke kiri, membuka totokannya lagi dan berbisik agar dia tidak ribut. Dan ketika suaminya mengeluarkan dua helai saputangan dan memberikannya sebuah untuk penutup muka, wanita ini tertegun maka sang suami berkata gemetar,

"Kita tak tahu apakah betul dia putera kita. Dan Giam Liong berkata bahwa putera kita itu lihai bukan main. Lihat, orang yang lihai tak akan seperti itu, nio-cu. Ia seharusnya tahu kedatangan kita dan bukannya acuh atau tampak blo'on begitu. Aku jadi ragu dan ingin menguji kepandaiannya. Gunakan saputangan ini dan tutup muka kita!"

"Kau... kau mau apa?"

"Mau mencobanya. Kau bersembunyi dulu disini dan kutanya apakah betul dia Han Han!" dan sebelum isterinya membantah atau apa maka pendekar ini berkelebat dan langsung berjungkir balik di depan pemuda itu, yang tentu saja terkejut tapi acuh tidak bangkit berdiri.

Pemuda ini memang Han Han adanya dan dia melepas kecewa disitu. Kekalahannya terhadap Giam Liong membuatnya penasaran dan marah sekali. Ia marah karena Giam Liong dibantu roh Mo-bin-lo, pergi dan akhirnya membanting pantat disitu dengan kesal. Dan ketika ia terkejut karena seseorang tahu-tahu berkelebat di depannya dan berdiri menggigil, pemuda ini mengerutkan kening dan sebenarnya tahu bayangan dua orang itu, tidak perduli karena ia sedang kesal sendiri maka Han Han justeru menjadi heran ketika orang yang memakai saputangan ini mengganggunya dengan pertanyaan serak.

Beng Tan menyembunyikan kegirangannya karena pemuda di depannya ini benar-benar mirip dirinya, persis seperti Giam Liong yang mirip almarhum ayahnya. "Anak muda, kau yang bernama Han Han? Kau yang baru saja bertanding dengan si Naga Pembunuh Giam Liong?"

"Hm," Han Han bangkit dan waspada juga, tak tahu bahwa inilah ayahnya. "Siapa kau dan ada apa menggangguku? Kenapa menyembunyikan wajah danseperti maling kesiangan? Mana temanmu yang satu?"

Beng Tan kaget. "Kau tahu bahwa kami berdua?"

"Tentu saja, dan kalau tidak salah temanmu itu adalah wanita. Aku melihat bayangan kalian tadi tapi tak perduli karena aku tak berurusan dengan kalian!"

"Bagus!" Beng Tan malah girang, puteranya ini ternyata lihai! "Kau awas dan tajam pandangan, anak muda. Tapi aku adalah sahabat Giam Liong yang hendak menangkapmu. Awas dan hati-hati atau kau menyerah baik-baik.... wut!" dan Beng Tan yang berkelebat dan menyambar pemuda ini tahu-tahu telah mencengkeram pundak lawannya dan Han Han kaget karena secepat itu pula ia sudah dicengkeram!

Orang tak dikenal ini sungguh lihai dan ia terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa Giam Liong memiliki pembantu seperti ini, karena tadi ia telah mengobrak-abrik pasukan Chu-goanswe dan tak ada yang selihai ini, kecuali Giam Liong. Dan ketika ia terkejut dan berseru tertahan, tentu saja tak mau dicengkeram maka cepat ia mengerahkan sinkang dan Beng Tan ganti terkejut karena pundak lawan tiba-tiba licin, seperti belut!

"Bret!" Baju itu yang robek sedikit. Beng Tan terkesiap kaget karena puteranya ini demikian lihai. Pundak yang dicengkeram tiba-tiba lolos. Pundak itu selicin belut dan kagum serta gembiralah ia bahwa puteranya ini benar-benar berilmu tinggi. Dan karena ia memang hendak menguji dan gerakan itu justeru memancing gerakan berikutnya, ia mengejar dan menyerang Jagi maka Han Han terkejut karena tamparan dan pukulan cepat sudah menyambarnya bertubi-tubi, dua kali ia tertangkap tapi luput lagi!

"Ah, kau nekat!" pemuda ini berseru keras. "Buka topengmu, orang aneh. Atau aku akan merobohkanmu!"

"Ha-ha!" sang ayah tertawa bergelak. "Kau robohkan aku, Han Han. Atau aku yang akan menangkap dan merobohkanmu... plak-dukk!" dan Han Han yang menangkis serta heran dan kaget oleh tenaga lawan, Beng Tan mengerahkan sinkangnya dan sengaja ingin menjajal sinkang puteranya tiba-tiba terpental namun sudah maju menyerang lagi.

Pendekar ini girang dan bangga bukan main bahwa puteranya ini mampu berkelit dan mengelak cepat. Kalau tidak maka tamparan atau pukulannya itu ditangkis. Dan ketika ia tergetar namun puteranya juga dibuat mundur terbelalak, Han Han terdorong dan kaget oleh adu sinkang maka pemuda itu sudah berseru keras ketika ia tahu-tahu sudah dikurung atau dihujani pukulan-pukulan lawan. Bagai badai!

"Kau bukan sahabat Giam Liong!" Han Han membentak, akhirnya tak percaya. "Kau aneh dan mencurigakan, orang asing. Tapi aku akan menghajarmu dan awas aku membalas....duk-dukk!" dan Han Han yang membalas dan mengerahkan sinkangnya tiba-tiba membuat sang pendekar terkejut karena hawa panas keluar dan menyambar dari lengan pemuda itu.

Beng Tan harus menambah sinkangnya kalau tak mau terpental, ia bertahan dan lawan semakin membelalakkan mata karena orang berkedok itu amat lihai. Dan ketika Han Han mengeluarkan Im-yang-sin-kun nya dan pukulan-pukulan panas maupun dingin berganti-ganti menyerang Beng Tan maka pendekar ini terkejut karena puteranya itu ganti mengurungnya dengan pukulan menyambar-nyambar.

"Bagus, hebat sekali. Ini seperti gabungan Im dan Yang?"

Han Han terbelalak. Ia terkejut dan tergetar karena dalam beberapa jurus berikut saja lawan sudah dapat menebak pukulan-pukulannya. Hanya orang yang berkepandaian tinggi dan luas pengalaman saja yang tahu secepat itu, baru dalam gebrakan-gebrakan cepat ketika ia membalas. Dan ketika Beng Tan terdesak dan pendekar itu terkejut karena pukulan dingin dan panas berganti-ganti menyerangnya, itu mengingatkan pada ilmu silat Giam Liong yang hebat dan juga berubah-ubah maka apa boleh buat pendekar ini mengeluarkan Pek-lui-ciangnya dan Tangan Kilat itu menyambar dan meledak ketika menyambut Im-yang-sin-kun.

"Blar-blarr!"

Dua-duanya terkejut. Beng Tan terpelanting sementara lawan terhuyung-huyung mundur. Bukan maksud Han Han untuk mengadu jiwa. Tapi ketika ia diterjang dan lawan sudah berjungkir balik berseru marah, Beng Tan penasaran oleh adu sinkang ini maka pemuda itu dibuat berhati-hati karena Im-yang-sin-kunnya berhadapan dengan Tangan Kilat yang memekakkan telinga, meledak-ledak!

"Kau cukup lihai. Tapi aneh bahwa kau menyerangku mati-matian!"

"Ha-ha!" Beng Tan tertawa kegirangan, "Siapa gurumu, Han Han. Dan bagaimana kau dapat menjadi begini lihai. Kalau kau takut maka menyerahlah, aku akan membujuk Giam Liong untuk mengampunimu!"

"Giam Liong? Huh, kau mengada-ada, orang aneh. Aku tak percaya kau sahabat Giam Liong. Aku telah menghajar anak buah pemuda itu dan kau tak ada disana. Kau bohong, kau orang lain!"

"Ha-ha, orang lain atau bukan tapi kau terimalah pukulanku.... dar!" dan Pek-lui-ciang yang kembali meledak dan menghantam Han Han tiba-tiba dielak dan meledak disamping pemuda itu. Tanah seketika berlubang dan Han Han marah bahwa lawannya ini bersungguh-sungguh. Dan ketika ia membentak dan pukulan panasnya diganti pukulan dingin, Pek-lui-ciang disambut tenaga Im-kang maka Beng Tan tersentak ketika tiba-tiba pukulan petirnya bertemu telapak lawan yang sedingin gunung es, beku seperti salju di puncak Mahameru!

"Cress!"

Han Han ingin memberi pelajaran kepada lawannya ini. Ia menganggap percuma menghadapi Pek-lui-ciang yang beraliran panas dengan tenaga panasnya pula. Paling baik diadu dengan tenaga Im-kang dan keluarlah tenaga dingin itu ketika dibentak. Dan ketika pukulan itu menyambar dan Han Han meredamnya dengan pukulan dingin, Beng Tan tersentak karena Pek-lui-ciangnya bertemu tenaga Im-kang maka lekatlah tangannya tak dapat ditarik. Puteranya itu "membunuh" sekaligus menyedot pukulan Kilatnya.

"Aihhhh...!" Namun Beng Tan juga bukan tokoh kemarin sore. Begitu ia tersentak bahwa puteranya meredam Pek-lui-ciang, ia ditempel dan tak hendak dilepaskan tangannya maka tangan yang lain bergerak dan menghantam dengan Pek-lui-ciang. Jago ini tak mau kalah dengan gerakan lawannya tadi, menampar dan membuat lawan terkejut dan otomatis menggerakkan tangan yang lain untuk menerima pukulan itu. Tapi begitu lawan mengangkat tangannya dan Han Han hendak menempelnya lagi, Beng Tan membungkuk dan menendangkan kaki kanannya maka Han Han terbawa dan secepat itu pula ujung sepatunya menyambar dagu.

"Plak!" Han Han terkejut dan berseru kagum. Ia terpaksa mengelak dan ditangkislah ujung sepatu itu, terpental tapi tangan lawan pun terlepas. Dan ketika lawan mengayun kaki dan berjungkir balik menjauhkan diri, Beng Tan berhasil menghindar dari tempelan maka pendekar itu sudah maju lagi dengan pukulan-pukulan lain, lolos dan kembali membuat lawannya sibuk!

"Ha-ha, kau tak mau menjadi korban, Han Han. Bagus sekali, otakmu encer. Tapi aku akan membuatmu kewalahan dan lihat serangan-seranganku berikut!"

Han Han menggeram. Ia benar-benar kena diakali dan tempelannya pun tadi buyar. Ia tak dapat lagi mengikat lawannya dan bergeraklah lawannya itu dengan pukulan cepat bertubi-tubi. Ia kaget dan mengerutkan kening karena lawan yang dihadapi benar-benar lihai, di samping cerdik. Dan marah kenapa ia menghadapi lawan demikian tangguh, setelah ia dibuat penasaran oleh Giam Liong maka Han Han tak mau bingung-bingung lagi mengelak atau menghindari serangan lawan karena setiap datang tentu ia sambut. Keras dengan keras dan pukulan panas disambut tenaga dingin.

"Plak-plak!"

Beng Tan kagum dan kaget serta girang. Empat kali ia menghantam puteranya namun empat kali itu pula ia tergetar dan terdorong. Puteranya tegak tak bergeming dan ini mengingatkannya akan sinkang yang dimiliki Giam Liong. Seperti itu pulalah kalau Giam Liong sudah marah, siap menghadapi keras dengan keras dan Pek-lui-ciangnya pun selalu amblas bertemu tenaga dingin. Dan karena lawan juga menguasai tenaga panas tapi tenaga dingin itulah yang dipakai dan dipergunakan untuk meredam Pek-lui-ciang-nya, Beng Tan kagum dan terbahak-bahak maka Han Han justeru terheran-heran dan mengerutkan kening kenapa lawannya itu malah demikian gembira!

"Kau gila!" pemuda itu membentak. "Kenapa tertawa demikian senang dan apa maumu menyerang orang yang tidak bersalah!"

"Ha-ha, kau tak usah tahu. Yang jelas aku ingin tahu dari mana kau mendapatkan kepandaianmu ini, Han Han. Aku sekarang mengingat-ingat siapa kira-kira orang yang menggemblengmu seperti ini. Kau, ah... kau murid Im Yang Cinjin!"

Han Han tersentak dan kaget. Ia berseru keras ketika lawan tiba-tiba dapat menebak gurunya, padahal, nama gurunya amatlah dirahasiakan dan jarang ada orang kang-ouw tahu. Maka begitu lawan dapat menebak dan ia meleng oleh pukulan yang menyambar, Han Han terkesiap oleh seruan lawannya tadi maka tak pelak ia terdongak dan wajahnya bertemu telapak lawan yang seperti lempengan baja.

"Dess!"

Han Han terhuyung. Ia hampir saja terpelanting oleh pukulan yang amat kuat ini, pandang matanya sejenak gelap tapi ia menarik napas dan mengerahkan sin-kang membuyarkan pengaruh pukulan itu. Dan ketika Beng Tan kagum karena puteranya tak apa-apa, sang isteri menjerit dan meloncat keluar, tak terasa, maka Han Han tertegun tapi merah mukanya mendapat pukulan itu.

"Kau mengenal guruku, bagus, kau tentu orang ternama. Awas aku membalasdan menghajarmu, kawan. Hati-hati karena aku akan mengeluarkan semua kepandaianku... slap!" dan Han Han yang lenyap mempergunakan Hui-thian-sin-tiauw-nya (Rajawali Sakti Terbang Ke Langit) tiba-tiba membuat Beng Tan berteriak karena pemuda itu beterbangan tak menginjak tanah lagi, sambar-menyambar dan mematuk dirinya dengan pukulan-pukulan cepat.

Beng Tan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya pula namun ternyata kalah cepat. Ia kalah napas oleh lawannya yang masih muda itu dan tahu-tahu sebuah tamparan meledak di sisi kepalanya. Dan ketika ia terbanting namun dapat bergulingan meloncat bangun, Swi Cu menjerit dan kembali mengeluarkan teriakan maka Han Han yang gemas dan marah kepada lawannya ini mengeluarkan segenap pukulan-pukulan Im-yang-sin-kun-nya dimana udara atau tempat di sekitar situ berubah-ubah menjadi panas dan dingin berganti-ganti. Tubuh pemuda itu pun mulai menyala dan mati hidup seperti lampu pijar!

"Bret-brett!"

Beng Tan dan isteri terkejut berseru tertahan. Mereka sudah disambar pukulan yang berubah-ubah itu. Swi Cu sebentar kedinginan dan sebentar kemudian kepanasan, keringat bercucuran tapi kemudian beku ketika disambar angin dingin. Dan ketika Beng Tan berteriak agar sang isteri menjauh, Swi Cu menjerit dan berteriak-teriak maka Beng Tan mencabut pedangnya dan sinar berkeredep tiba-tiba menyambar dan menangkis hawa panas dingin itu.

"Sing-singgg...!"

Han Han tertegun. Ia silau oleh cahaya pedang dan kagumlah pemuda itu ketika lawan yang berlindung dibalik pedangnya ini dapat menghalau atau bertahan dari serangan-serangan Im-yang-sin-kunnya. Bertanding dengan Giam Liong ia belum mengeluarkan Im-kang, baru Yang-kang karena Giam Liong ternyata mahir pula bermain Im-kang, terbukti pemuda itu dapat menjadi manusia es dan beku tak apa-apa dihantam pukulan Yang-kangnya. Dan ketika kini ia kagum akan gerakan pedang dimana sinar yang amat terang namun indah menangkis semua pukulan-pukulannya itu, Han Han kagum akan pedang ini maka Beng Tan tiba-tiba berseru apakah dia berani menghadapi silat pedang, diminta mencabut senjata.

"Aku akan bertahan dan menyerangmu dengan senjata. Cabutlah senjatamu dan apakah berani kau menghadapi pedangku!"

"Hm," Han Han berseru mengangguk. "Aku tak mempunyai senjata, kawan. Senjataku adalah kaki dan tanganku ini. Kalau kau mau pakai dan pergunakan pedangmu itu. Aku tak takut!"

"Pedangku bukan pedang biasa. Kau tak akan tahan!"

"Hm, melihat pamornya aku maklum, kawan. Tapi aku tak takut. Coba dan pergunakan pedangmu, atau aku menyerangmu dan lihat seberapa hebat ketajaman pedangmu itu!" dan Han Han yang bergerak dan membentak lawan tiba-tiba berseru mendahului dan melepas pukulan dingin. Ia mengerahkan Im-kang karena tahu bahwa lawan agaknya seorang ahli tenaga Yang-kang, terbukti dengan Pek-lui-ciangnya yang dahsyat tadi.

Dan ketika Beng Tan terkejut karena pukulan itu tahu-tahu sudah di depan mata, Han Han bergerak dan menyelinap dengan luar biasa cepatnya maka Hui-thian-sin-tiauw yang dimiliki dan dilakukan pemuda itu menyambar bagai seekor rajawali melesat.

"Awas!"

Namun Beng Tan mengangguk dan tahu ini. Ia tak sempat mengelak karena pukulan puteranya benar-benar secepat setan. Kelima jari pemuda itu tahu-tahu di depan hidung dan siap mengancam wajahnya. Dan karena ia tak mau celaka dan tentu saja bergerak menyambarkan pedang, ganti membentak agar pemuda itu hati-hati maka Han Han menangkis tapi pemuda itu berseru terkejut karena begitu pedang menyambar pinggir lengan bajunya pun robek.

"Bret!"

Pemuda itu menarik dan melempar tangan ke belakang. Beng Tan sudah memberitahunya hati-hati namun tak urung pemuda ini terkesiap juga. Hawa dingin pedang itu mengingatkannya akan hawa dingin Golok Maut, golok yang ada di tangan Giam Liong itu. Dan ketika selanjutnya pedang berputar dan Han Han digulung cahaya menyambar-nyambar, Beng Tan tertawa dan memerahkan telinga lawan maka Han Han kaget dan pucat karena lawan benar-benar amat tangguh. Pedangnya itu juga pedang luar biasa!

"Kau hebat, tapi kau dibantu pedangmu!"

"Ha-ha, itulah sebabnya kuberi tahu agar kau mencabut senjatamu pula, Han Han. Karena tanpa pedang ini agaknya aku tak mampu menghadapi Im-yang-sin-kun mu. Hayo, cabut pedangmu atau senjata apa saja yang kau punya!"

"Aku tak punya senjata. Tapi jangan harap kau dapat mengalahkan aku... plak-plak!" dan Han Han yang menampar atau mengebut dari jauh, mempergunakan Im-yang-sin-kunnya akhirnya berhasil menahan dan menyampok pedang agar tidak terlalu mendekat.

Beng Tan merasa bahwa sinkang yang dipunyai puteranya ini setingkat lebih unggul dibanding dirinya. Jadi, dapatlah pemuda itu bertahan dan Han Han lama-lama mengerutkan kening karena jurus demi jurus akhirnya mengingatkan dia akan sesuatu. Beng Tan telah mainkan Pek-jit-kiam-sutnya itu dan ilmu ini pernah dilihat Han Han dimainkan oleh Ki Bi dan sumoi-sumoinya di Hek-yan-pang, ketika pemuda itu datang kesana dan bertepatan pula dengan datangnya rombongan si gundul Pat-jiu Sian-ong, yang mengamuk dan mengobrak-abrik markas itu dikala Beng Tan dan isterinya ini tak ada.

Dan ketika Han Han terkejut karena jurus demi jurus akhirnya dikenal semakin baik, itulah ilmu silat Pek-jit Kiam-hoat maka pemuda ini membentak dan menampar demikian kerasnya sambaran pedang yang menuju lehernya.

"Tahan, ini Pek-jit Kiam-hoat dari Hek-yan-pang. Siapa kau dan buka sapu tanganmu!"

Beng Tan dan Swi Cu terkejut sekali. Mereka belum pernah bertemu dengan putera mereka ini tapi bagaimana putera mereka itu tiba-tiba tahu bahwa ilmu pedang yang dimainkan ini adalah Pek-jit Kiam-hoat. Seingat mereka Han Han belumlah mengenai Hek-yan-pang dan karena itu tentu juga belum mengenai ilmu-ilmu silat mereka. Tentu saja mereka tak tahu bahwa pemuda ini sudah ke Hek-yan-pang dan bertemu dengan Ki Bi dan lain-lain, bahkan melindungi perkumpulan itu di kala Pat-jiu Sian-ong dan kawan-kawannya mengamuk, datang dan menghalau orang-orang jahat itu sehingga Hek-yan-pang selamat.

Dan ketika Beng Tan terpental mundur dan hampir saja ia terpelanting, tamparan yang dilakukan puteranya itu demikian kuat dan kerasnya maka pendekar itu menggigil dan Swi Cu berteriak dan langsung menubruk pemuda ini, membuang sapu tangan yang tadi dipakai menutupi mukanya.

"Han Han, kami.... oh, kami adalah ayah ibumu. Kau, ah... kau puteraku yang hilang!"

Dan ketika Han Han tertegun dan melihat raut wajah seorang wanita cantik, berumur empat puluhan namun masih cantik dan gagah maka pemuda itu bengong ketika tahu-tahu sudah ditubruk dan Swi Cu menangis habis-habisan di dadanya, tak kuat lagi menahan haru dan semua perasaan bahagia yang meletup.

"Aku ibumu, dan itu ayahmu. Ah, ayahmu ingin menguji kepandaianmu, Han Han. Dia telah mendengar dari Giam Liong bahwa ilmu kepandaianmu tinggi. Kau benar kalau ilmu pedang yang dipakainya adalah Pek-jit Kiam-hoat, karena ia memang adalah ketua Hek-yan-pang!" dan ketika Swi Cu mengguguk dan meremas-remas puteranya ini, Han Han terkejut dan kaget maka disana lawannya itu sudah membuka kedoknya dan berjalan mendekati, terhuyung dan air mata bercucuran, pedang sudah disimpan lagi dibelakang punggung.

"Han Han, aku ayahmu. Maaf, nak..... ayah sengaja mengujimu. Kau... kau puteraku yang hilang!"

Han Han luluh dan lantak hatinya. Ia tiba-tiba mengguguk dan terharu bukan main begitu ayah ibunya muncul. Sudah lama ia mencari-cari dan kini tiba-tiba ia bertemu. Ah, ayah ibunya gagah. Mereka itu ternyata orang-orang tua yang hebat dan teringatlah ia akan kepandaian ayahnya ini, yang sanggup dan mampu bertahan dari pukulan-pukulan Im-yang-sin-kunnya, padahal orang lain pasti roboh dan sudah menyerah. Dan ketika ia menggigil dan ibunya mengguguk mengguncang-guncang tubuhnya, pemuda ini tersedak dan menangis pula maka tiga tubuh sudah berpelukan dan Han Han tak mampu menahan jerit atau kebahagiaannya dengan keluhan panjang.

"Ayah... ibuu...!"

Ketiga-tiganya sudah berangkulan amat mesranya. Beng Tan tak mampu juga membendung air matanya dan mengguguklah pendekar itu menemukan puteranya yang hilang. Perasaan haru dan bahagia serta perasaan bermacam-macam lagi mengaduk hatinya. Pendekar yang tak mampu menahan kegembiraan ini hampir saja menangkap dan melempar-lempar puteranya itu ke atas. Sejenak ia benar-benar diguncang perasaan meluap! Tapi ketika Beng Tan mampu menguasai hatinya lagi sementara isterinya masih mengguguk dan menciumi putera mereka itu, Han Han dikerubung dan "dikeroyok" ayah ibunya maka Beng Tan lebih dulu melepaskan diri.

"Syukur kepada Thian Yang Agung. Kami ibu dan ayah telah menemukan putera kami lagi. Ah, kita patut merayakan kegembiraan ini di Hek-yan-pang, Han Han. Mari kita pulang dan betapa rindu ayah ibumu!"

"Benar," Han Han dikecup dan dihisap air matanya oleh sang ibu. "Aku juga bahagia, ayah. Dan ibu, ah... aku rindu akan kalian juga. Sudah lama aku mencari-cari namun baru sekarang aku menemukan. Dan ayah hebat sekali!"

"Tentu saja!" sang ibu melengking, suaranya penuh tawa dan bahagia. "Kalau tidak masa aku mau menjadi isterinya, Han Han. Ayahmu memang hebat dan namanya tersohor diseluruh jagad!"

"Hm, tak perlu memuji diri. Dulu mungkin begitu, niocu. Tapi sekarang aku sudah tidak begitu lagi. Kehebatanku sudah digantikan anak-anak muda. Lihat putera kita dan Giam Liong ini, aku sudah tak mampu menandinginya!"

"Giam Liong dibantu Golok Mautnya!"

"Tidak, ia telah menggabungkan kepandaian ayahnya dan kepandaianku, niocu. Giam Liong memang hebat. Dan anak kita ini, ah, ia pun hebat. Aku terpaksa mencabut pedangku agar tidak cepat-cepat roboh."

Han Han tersenyum malu. Ayahnya telah tertawa bergelak dan sang ibu tampak berseri-seri begitu cantiknya. Han Han kagum ketika tiba-tiba ibunya ini seperti gadis remaja lagi, cantik jelita dan penuh pesona. Ia tak tahu bahwa kebahagiaan yang demikian besar itulah yang membuat wanita ini serasa muda lagi dan begitu gemilangnya seperti ketika berusia tujuh belasan tahun lalu. Dan ketika Han Han kagum namun sang ayah juga kagum, Beng Tan menyambar dan memeluk isterinya ini maka pendekar itu berkata bahwa mereka harus cepat-cepat pulang. Diam-diam tergetar dan ingin minta "jatah" kalau nanti dikamar!

"Kita sudah menemukan anak kita. Hayo kita pulang dan cepat-cepat rayakan pesta!"

"Benar," Swi Cu tak tahu keinginan suaminya yang terpendam. "Aku juga ingin merayakan pesta, suamiku. Dan Han Han akan kuperkenalkan kepada semua murid-murid Hek-yan-pang!"

"Aku sudah mengenalnya," Han Han tiba-tiba tersenyum. "Aku sudah kesana dan berkenalan dengan bibi Ki Bi dan lain-lain, ibu. Mereka semua sudah mengenalku dan justeru dari mereka itulah aku disuruh ke kota raja. Dan benar, aku menemukan kalian disini."

"He, kau sudah kesana? Sudah berkenalan dengan mereka-mereka itu?"

"Benar, dan karena itulah aku mengenal silat pedang ayahku, ibu. Aku sudah melihatnya ketika bibi Ki Bi dan lain-lain mainkan ilmu silat itu, meskipun tentu saja tak sehebat dan semahir ayah."

"Astaga, kalau begitu kau bertempur dengan mereka!"

"Tidak, justeru sebaliknya. Aku melindungi dan membela mereka ketika Pat-jiu Sian-ong dan kawan-kawannya datang."

"Pat-jiu Sian-ong?"

"Benar, ayah, kakek gundul itu. Katanya mencari ayah atau Han Han yang sebenarnya adalah Giam Liong. Hek-yan-pang diobrak-abrik!"

"Keparat, apa yang dilakukan Pat-jiu Sian-ong itu. Kenapa ia tak tahu malu menyerang rumah di kala pemiliknya tak ada!"

"Katanya ingin membalas dendam, ibu. Tapi aku kurang tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tentunya ayah lebih tahu." dan ketika Han Han memandang ayahnya dan sang ayah menarik napas dalam-dalam, teringat kejadian di rumah hartawan Tek maka pendekar itu mengangguk dan berkata muram,

"Tidak salah, Pat-jiu Sian-ong ingin membalaskan kekalahan muridnya. Hm! tapi kurang ajar juga kalau kakek itu marah-marah disaat aku tidak ada. Kami tentu akan mencarinya!"

"Dan ibu..., benarkah keluar untuk mencari aku?"

"Tentu saja. Berbulan-bulan aku mencarimu, Han Han. Dan berbulan-bulan itu pula aku menderita. Ah, ini karena perbuatan bibimu Wi Hong. Ia yang menjadi biang keladi semuanya ini!"

"Sudahlah," Beng Tan tak mau mengungkit-ungkit lagi masa silam. "Han Han sudah kita temukan, niocu, dan sedikit banyak karena jasa Giam Liong pula. Kalau dia tidak memberi tahu belum tentu kita dapat menemukan anak kita sekarang. Eh, bagaimana pendapatmu, Han Han. Benarkah kau telah bertanding dengan Giam Liong?"

"Hm, justeru karena itu aku duduk tepekur di bawah pohon. Aku kecewa dikalahkannya. Ia mengeroyok!"

"Mengeroyok?" sang ayah mengerutkan kening, tak percaya. "Giam Liong adalah pemuda gagah, Han Han. Seingatku tak pernah ia mengeroyok!"

"Benar, tapi Mo-bin-lo muncul membantunya, ayah. Dan roh kakek iblis itu yang menggangguku di kala bertempur. Aku penasaran!"

"Hm, kiranya begitu. Dan aneh kalau sukma kakek itu keluar. Barangkali ada apa-apa yang membuat ia sewot. Tapi Giam Liong tentunya tak tahu akan ini. Golok Maut hanya dapat ditandingi Pedang Matahari!"

"Benar, guruku juga berkata begitu, ayah. Dan kalau tidak salah tentunya pedang itu..."

"Memang inilah Pek-jit-kiam," sang ayah tersenyum, memotong. "Tapi kau tampaknya tak pandai bersilat pedang, Han Han. Kau lebih mengandalkan kaki tanganmu dengan Im-yang-sin-kun. Hebat sekali ilmu silatmu itu tapi untuk menandingi Golok Maut kau harus belajar silat pedang, dengan Pedang Matahari ini!"

"Dan kau pasti dapat mengalahkan Giam Liong!" sang ibu berkata, sengit. "Ayahmu telah dipecundanginya, Han Han Balaskan sakit hati ini dan hadapi bocah itu!"

"Hm, ibu tampak benci sekali kepada Giam Liong."

"Tentu saja. Aku juga membenci mendiang ayahnya. Gara-gara Si Golok Maut itulah suciku sampai tidak karuan dan kini mengobrak-abrik rumah tanggaku!"

"Sudahlah, sudah..." Beng Tan tak mau isterinya semakin naik pitam. "Urusan yang sudah-sudah tak perlu dibicarakan lagi, niocu. Putera kita telah ditemukan dan anggap saja semua peristiwa yang lalu untuk menggembleng kita. Mari kita pulang dan aku ingin menurunkan ilmu silat pedang kepada Han Han!"

Swi Cu teredam. Disambar dan dipeluk suaminya membuat wanita ini tak marah-marah lagi apalagi karena puteranya Han Han memandangnya begitu lembut. Pandang mata puteranya itu penuh kerinduan dan ia pun ingin menumpahkan rindu kepada putera satu-satunya ini. Ia ingin membuat pesta besar-besaran di rumah dan biarlah keluarga besar Hek-yan-pang bergembira. Dan ketika suaminya berkata agar mereka cepat pulang, urusan lain tak usah dihiraukan maka Beng Tan berkelebat dan isteri serta puteranya diajak pulang.

Tak mau atau pura-pura tak tahu lagi akan adanya perang besar yang mengancam pintu gerbang. Beng Tan sudah muak dengan semuanya itu dan begitu dia pergi maka dilain tempat terjadi kegemparan. Karena begitu Han Han maupun ayah ibunya kembali ke Hek-yan-pang maka di kota raja atau tepatnya di istana Giam Liong mengamuk!

* * * * * * * *

Seperti telah diceritakan di depan, Giam Liong meninggalkan ayah dan ibu angkatnya untuk mencari atau menemukan kembali ibu kandungnya. Dia sekarang tahu bagaimana nasib ibunya itu, bahwa ibunya telah selamat ditolong ibu dan ayah angkatnya. Tapi karena musuh besarnya si Kedok Hitam juga masih berkeliaran dan lolos disana, dia mengerotokkan gerahamnya penuh kemarahan maka Giam Liong langsung ke kota raja mencari musuh yang amat dibencinya itu.

Dia sudah lebih tenang begitu ibunya terlepas dari tangan si Kedok Hitam. Dia akan mencari dan menemukan musuhnya itu bukan karena ibunya melainkan melepas sakit hati dan dendam yang sangat, makin dia mengenal musuhnya itu semakin diketahui betapa jahat dan liciknya musuhnya itu. Lihat saja peristiwa sekarang. Siapa yang begitu curang dan licik menyerbu dirinya?

Bukankah sudah diadakan perjanjian bahwa pertemuan itu pada hari ketiga? Tapi belum hari yang ditentukan habis tiba-tiba saja Kedok Hitam telah menyerang pasukan Chu-goanswe dan yang lebih jahat lagi adalah mengirim Lam-ciat untuk membunuh dan kemudian mengeroyoknya!

Giam Liong mengeratakkan gigi. Ia akan membunuh dan mencincang musuhnya itu. Akan disedot dan diminumnya darah musuhnya itu. Dan teringat bahwa selama ini Kedok Hitam selalu berlindung di istana, rupanya kaisar juga merestui dan melindungi si Kedok Hitam itu maka sasaran kemarahannya adalah istana! Dia akan datang dan mengobrak-abrik disana. Semua pembantu atau orang-orang kepercayaan kaisar akan dibabatnya. Kalau perlu, kaisar sendiri akan dia bunuh!

Dan ketika Giam Liong berkelebat dan terus menuju kota raja, pasukan Chu-goanswe menyusul dan bersorak-sorai dibelakang maka pemuda ini dengan amat ringannya telah menyambar dan melayang naik ke tembok kota yang tinggi. Bagi Giam Liong pekerjaan ini tidaklah sukar. Ia mengenjot tubuhnya dan sekali melayang ia pun telah tiba di atas. Tapi karena saat itu kota raja sedang guncang dan penjagaan tentu saja dilakukan dengan amat ketat, munculnya Giam Liong di atas tembok otomatis diketahui maka berteriak-teriaklah para penjaga yang seketika melepas panah atau senjata-senjata jarak jauh. Caping di atas kepalanya itu segera dikenal sebagai keturunan mendiang Si Golok Maut!

"Heii, itu Si Naga Pembunuh. Awas.... awas... ia datang. Serang dan suruh dia turun!"

Giam Liong segera dihujani panah dan tombak. Pemuda ini mendengus dan tiba-tiba tangan kanannya bergerak kesana kemari. Ia mengepret dan semua panah atau tombak-tombak itu patah. Dan ketika penjaga berteriak pucat, pemuda ini berkelebat dan melayang turun maka ia sudah masuk ke dalam dan pasukan di bawah ketakutan, gentar!

"Celaka, ia masuk. Awas, ia datang!"

Giam Liong tidak menggubris kurcaci-kurcaci ini. Baginya para penjaga itu bukanlah lawan setimpal. Ia akan merobohkan mereka kalau mereka berani mendekat. Dan ketika ia diserang namun anak-anak panah kembali runtuh, kini ia membiarkan saja anak-anak panah itu mengenai tubuhnya yang kebal maka pasukan menjadi ngeri dan mereka tunggang-langgang melarikan diri. Belum apa-apa sudah cerai-berai!

"Aku mencari Kedok Hitam. Mana lawanku itu dan suruh dia keluar!"

Geram atau bentakan Giam Liong during oleh gerakan tubuhnya yang berkelebat maju. Ia ingin ke istana dan barulah disana ia akan memberi pelajaran. Para penjaga disini terlalu kecil artinya dan mereka bukanlah tandingannya. Dan ketika benar saja dengan mudah ia mengibas atau melempar-lempar mereka, yang terlalu dekat dan kurang cepat berlari maka Giam Liong Si Naga Pembunuh ini tak dapat dihalangi ketika terus maju dan bergerak ke istana.

Namun istana bukanlah tempat remeh yang boleh diganggu begitu saja. Kaisar, dan para panglimanya, tentu saja tak boleh membiarkan orang berbuat seenaknya. Mereka telah bersiap dan sesungguhnya berjaga-jaga di tempat-tempat gelap, bukan untuk menghadapi pemuda ini melainkan sebenarnya lebih ditujukan untuk menghadapi pasukan Chu-goanswe, kalau jenderal itu bersama pengikutnya berhasil mendobrak pintu gerbang.

Jadi mereka ini bersifat sebagai cadangan dan telah disiapkan dimana-mana. Maka begitu Giam Liong muncul dan kedatangannya yang seorang diri ini mengejutkan semuanya, hal ini tak disangka maka otomatis pasukan itu bergerak dan belum sampai di istana Giam Liong sudah menghadapi ribuan orang yang berlapis-lapis.

"Cegat Si Naga Pembunuh. Awas jangan biarkan ia masuk! Serang..!!"

Giam Liong tertegun membelalakkan matanya. Ia tahu-tahu sudah dikepung atau dikurung ribuan orang yang buas-buas. Mereka itu berteriak-teriak namun bukan sekedar untuk menakut-nakuti Giam Liong melainkan juga untuk menenangkan diri sendiri yang gentar! Pasukan kerajaan itu ribut-ribut dan suaranya tumpang-tindih mengatasi yang lain.

Giam Liong telah dikenal kehebatannya dengan golok mautnya itu! Dan ketika anak-anak panah menyambar bagai hujan dan golok atau tombak juga berdesingan menyambar pemuda ini, Giam Liong dicegat jalanmajunya maka keturunan Sin Hauw yang gagah perkasa ini membentak dan melengking nyaring, sinar putih keluar dari punggungnya disusul gemerlap atau pijar bunga-bunga api.

"Kalian tikus-tikus busuk yang tak tahu diri!"

Tombak atau golok patah-patah. Giam Liong mengeluarkan golok mautnya itu dan begitu ia memutar maka hujan senjata mencelat berhamburan kesana-sini. Lawan yang menyerang tiba-tiba balik menjerit ketika panah atau tombak-tombak yang patah menghantam mereka sendiri. Dan ketika duapuluh orang roboh di depan dan mereka itu berteriak mengaduh, ada yang menjerit dan pingsan karena patahan golok menancap dan amblas di biji mata, terjungkal dan memuncratkan darah segar maka Giam Liong mengamuk dan membabatkan goloknya menerjang pasukan yang membentengi istana.

"Aku mencari Kedok Hitam, tapi kalau kalian ingin mampus tentu saja kuantar ke neraka.... crat-crat!" dan batok kepala yang bergelindingan dan putus dibabat Golok Maut, yang datang dan menyambar-nyambar tiba-tiba membuat pasukan berteriak dan merasa seram!

Mereka itu melihat betapa teman-teman mereka roboh binasa, cepat dan mengerikan karena tak ada satu pun senjata yang mampu menghadapi golok yang luar biasa tajam itu. Dan ketika Giam Liong berkelebatan diantara mereka dan pasukan otomatis buyar, pecah, maka yang lain membalik dan melempar tubuh bergulingan menyelamatkan diri.

"Golok Maut mengamuk. Celaka, pemuda ini lebih hebat dari ayahnya!"

Giam Liong tak perduli. Ia sudah merah terbakar oleh kemarahannya yang sangat. Ia menggeram-geram membuka jalan darah dan pasukan cerai-berai melarikan diri. Mereka gentar dan pucat oleh kelebatan sinar putih di tangan pemuda itu. Begitu menyambar begitu pula sebuah kepala mencelat! Dan ketika pasukan kalang-kabut dan jalan terbuka bagi pemuda ini maka Giam Liong maju dan lagi-lagi mendekati istana.

Namun terdengar seruan atau aba-aba di depan. Sesosok bayangan hitam berkelebat dan berkilat-kilatlah mata Giam Liong melihat siapa itu. Kedok Hitam, musuh yang dicari-cari, tiba-tiba muncul dan ada disana, di balik pasukan besar. Dan ketika Kedok Hitam berseru berulang-ulang agar orang-orang itu mundur, Giam Liong bebas memasuki istana maka tepat di pintu gerbang Giam Liong telah berhadapan dengan lawan yang amat dibencinya ini.

"Kedok Hitam, aku ingin menghirup darahmu!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam tertawa bergelak, tubuhnya bergoyang-goyang di atas kepala patung singa. Ia meloncat dan berdiri disini, bertolak pinggang. "Kau luar biasa dan pemberani sekali, Giam Liong. Kau seperti bapakmu. Ah, aku kagum bahwa kau datang dan ingin mempersembahkan batang kepala ini kalau kau bisa. Ayo, hentikan amukanmu dan lawanlah aku!" lalu berjungkir balik dan meloncat ke patung singa yang lain, yang lebih tinggi maka berturut-turut laki-laki ini melewati sebelas patung singa di pintu gerbang istana.

Giam Liong tentu saja menggeram dan begitu lawan menantang ia pun sudah berkelebat dan memburu. Patung pertama diinjak dan akan menuju ke patung nomor dua. Tapi begitu ia menginjakkan kaki di patung pertama dan akan meloncat ke patung yang nomor dua mendadak terdengar ledakan keras dan patung yang diinjak amblong!

"Blarr!"

Giam Liong tak menyangka ini. Ia terjeblos dan otomatis jatuh ke bawah. Patung singa-singaan itu kiranya perangkap! Namun karena Giam Liong bukanlah pemuda biasa dan begitu ia terjeblos begitu pula ia membacokkan goloknya, dinding singa batu itu dicoblos atau ditusuk kuat maka ia sudah tertahan disini dan sekali ia mengayun kaki maka ia pun sudah keluar dan selamat disana, membuat lawan dan orang-orang lain kagum!

"Kau licik dan selamanya curang!" golok di tangan pemuda ini mendahului tubuhnya yang terbang keatas. Giam Liong melindungi dirinya dengan senjatanya yang ampuh itu dan benar saja beberapa benda-benda hitam dipukul runtuh.

Kedok Hitam kiranya sudah menduga dan menyambitkan senjata-senjata rahasia ke patung batu yang bobol itu. Dan ketika Giam Liong selamat dan tegak kembali dengan mata bersinar-sinar, golok di tangannya berkeredep haus darah maka Giam Liong melihat lawan sudah ada diwuwungan paling tinggi diantara bangunan-bangunan kaisar.

"Ha-ha, mari, Giam Liong. Kita mencari tempat yang enak untuk bertanding!"

Giam Liong terbakar. Ia benar-benar marah dan nyaris celaka di tangan lawannya. Kedok Hitam sungguh licik dan curang. Tapi tak takut dan justeru waspada akan kejadian tadi maka Giam Liong membentak dan ia menyusul bukan melalui undak-undakan patung singa melainkan berkelebat ke kiri dan berlarian cepat di atas genteng, karena sebentar saja ia sudah terbang dan menyambar seperti burung. Lagi-lagi membuat orang takjub!

"Kau akan kukejar, kemanapun kau bersembunyi!"

Kedok Hitam terkejut. Ia tak menyangka Giam Liong mengejarnya lewat genting-genting istana. Di situ tak ada apa-apa namun laki-laki ini tiba-tiba tertawa Dan ketika Giam Liong mendekatinya dan mata pemuda itu bagaikan api, mendidih dan membakar maka Kedok Hitam meloncat dan... turun kembali ke tanah.

"Ha-ha, di bawah lebih enak, Giam Liong. Mari turun dan ikuti aku!"

Giam Liong melotot. Ia gusar dipermainkan lawan tapi berseru keras tiba-tiba ia meloncat turun dan menubruk. Gerakannya seperti garuda menyambar dan Kedok Hitam terkejut karena tahu-tahu pemuda itu sudah semeter dibelakangnya. Giam Liong mencegat dan memotong jalan! Tapi karena ia bukan laki-laki sembarangan dan Kedok Hitam adalah lawan tangguh yang pernah dijumpai mendiang Golok Maut, juga Beng Tan yang beberapa kali bertempur dengan laki-laki ini maka begitu diserang secepat itu pula laki-laki ini menggerakkan tangannya kebelakang.

"Dukk!"

Kedok Hitam mencelat. Ia terlempar dan terbanting bergulingan disana tapi tertawa gembira meloncat bangun lagi, lari dan menyelinap diantara lorong-lorong istana. Dan ketika Giam Liong melotot karena terhuyung, lawan masih juga lolos darinya maka ia membentak dan mengejar lagi. Pasukan dikiri kanan dipukul mundur.

"Minggir, atau kalian mampus!"

Orang-orang menyibak. Kedok Hitam telah berseru kepada mereka agar membiarkan pemuda itu mengejarnya. Giam Liong melihat lawan meliak-liuk diantara lorong-lorong tajam. Dan ketika ia marah karena lawan amatlah pengecut, lari sebelum bertanding maka pemuda itu membentak...,