NAGA PEMBUNUH
JILID 23
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"KEPARAT!" Giam Liong membentak dan menampar semua hui-to-hui-to itu, yang runtuh dan patah-patah. "Lepaskan ibuku, Kedok Hitam. Atau kau kubunuh... srat!"

Dan sinar putih yang berkelebat menyilaukan mata tiba-tiba menyambar Lam-ciat yang berteriak ngeri, kaget karena Giam Liong menerjang ke depan dan kakek itu melempar tubuh bergulingan, masih juga terlambat dan tergoreslah telinga kirinya oleh kedahsyatan golok di tangan pemuda itu, golok yang dicabut dan cepat sekali menyambar Lam-ciat, karena Lam-ciat nekat menghadang pemuda ini memberi kesempatan temannya pergi. Dan ketika Lam-ciat berteriak dan terbang semangatnya mengira telinganya buntung, darah menetes-netes dari luka goresan maka Giam Liong bergerak dan sudah memburu lawannya itu, berkelebat bagai setan haus darah.

"Kedok Hitam, berhenti. Atau kau mampus!"

Namun Kedok Hitam tertawa aneh. Ia menyelinap ke kiri dan bersuit nyaring, dari kiri dan kanan tiba-tiba muncul bayangan-bayangan hitam dan itulah para busu atau pengawal kerajaan. Dan ketika Giam Liong terkejut karena dari segala penjuru tiba-tiba muncul ribuan orang, hutan menjadi gegap-gempita oleh sorak atau bentakan musuh maka menyambarlah hujan panah ke pemuda ini.

"Ha-ha!" Kedok Hitam tertawa dari jauh. "Kejar dan coba kau tangkap aku, Giam Liong. Mari selamatkan ibumu tapi kau hadapi dulu pasukan kerajaan itu!"

Giam Liong merah terbakar, la sudah dihadang dan dicegat ratusan orang, hujan panah juga terus berhamburan tapi sekali dia memutar goloknya maka hujan panah itu rontok. Semua disapu dan crang-cring-crang-cring suara panah memekakkan telinga. Panah yang patah-patah banyak pula yang terpental dan menyambar orang-orang itu sendiri, menjerit dan roboh namun untung mereka memakai baju besi.

Giam Liong tertegun karena mereka itu dapat bangun berdiri lagi, anak-anak panah tak mampu menembus lapisan kuat yang melindungi pasukan kerajaan itu. Dan ketika mereka bangun dan berteriak-teriak lagi, buas, maka mereka sudah menerjang dan menghantam Giam Liong.

"Sikat pemuda ini. Bunuh!"

Giam Liong mencorong. Berhadapan dan tahu-tahu dicegat demikian banyak musuh segera dia sadar bahwa semuanya itu adalah atas kelicikan si Kedok Hitam. Lam-ciat rupanya menjadi tombak paling depan dan kini lawannya yang amat dibenci itu merobohkan dan merampas ibunya, bersembunyi di balik keganasan si Hantu Selatan itu. Dan begitu Giam Liong mendidih dan dikeroyok lawan, pasukan baju besi itu menghambur dengan bermacam-macam senjata maka Giam Liong mengeluarkan bentakan dahsyat di mana tiba-tiba suaranya mengguntur merobohkan gunung, golok di tangannya berkelebat dan menyambit puluhan atau ratusan senjata-senjata lawan.

"Kalian mencari mampus..., aurghh!"

Pohon dan seisi hutan terkoyak. Kemarahan dan gelegak darah yang mendidih yang membuat pemuda itu tak dapat menahan diri tiba-tiba diiring oleh pekik dan jerit di sana-sini. Giam Liong yang mengeluarkan suara saktinya hingga hutan tergetar tiba-tiba membuat orang-orang di depan terpelanting. Mereka itu tak kuat oleh khi-kang pemuda ini dan bersamaan dengan itu berkelebatiah cahaya panjang putih ke kiri kanan. Dan ketika cahaya putih itu disusul oleh muncratnya darah segar, golok di tangan pemuda itu menembus atau membelah baju besi pasukan kerajaan, maka empat puluh tubuh tiba-tiba bergelimpangan mandi darah.

Orang-orang itu berteriak dan yang di belakang mundur, terbelalak. Tapi karena Giam Liong sudah demikian marah dan ibunya lenyap dibawa si Kedok Hitam yang berlindung dan bersembunyi di balik pasukan besar ini maka pasukan itulah yang menjadi korban amukan golok mautnya. Giam Liong menerjang mereka karena Kedok Hitam lenyap di balik ratusan orang ini, membabat dan menusuk dan tak ada satu pun orang-orang itu yang selamat. Baju besi mereka ditembus golok maut dan berlubang serta menggeleparlah pemiliknya. Dan ketika yang lain menjadi gempar karena pemuda itu terus membabat dan maju dengan dengus-dengus pendek, hutan itu tiba-tiba sudah dipenuhi banyak orang maka pasukan kerajaan mawut dan cerai-berai.

"Minggir.... minggir.... Naga Pembunuh mencari korban. Awas golok mautnya!"

Perwira dan pemimpin berteriak-teriak. Mereka itulah yang paling ngeri dan pasukan tiba-tiba terbelah. Mereka yang tadinya mengumpul dan menghadang jalan mendadak menyibak ke kiri kanan, gentar oleh kilauan maut golok di tangan pemuda itu, karena Giam Liong memang membuka jalan darah. Dan ketika pemuda ini mengamuk sementara kaum pemberontak terkejut oleh kedatangan lawan, Kedok Hitam datang dengan ribuan orang maka Chu-goanswe yang semula bersembunyi! dan gentar oleh sepak terjang si Hantu Selatan mendadak keluar dan mengajak pasukannya lari menyambut.

"Awas, bantu Sin-siauwhiap dan bunuh antek-antek kaisar lalim. Mana kakek siluman pembawa celaka itu!"

Lam-ciat ternyata menghilang. Ngeri dan pucat oleh kehebatan Giam Liong tiba-tiba kakek ini ngacir. Dia lenyap meninggalkan tempat itu karena Kedok Hitam yang semula diharap bantuannya itu tiba-tiba juga pergi. Kakek itu tahu bahwa semuanya ini adalah karena kelihaian pemuda di depan itu, yang mengamuk dan membabat dengan golok penghisap darahnya. Dan ketika tubuh-tubuh bergelimpangan dan darah yang muncrat disedot kering oleh golok maut itu, yang kini bersinar kemerah-merahan itu maka Lam-ciat melarikan diri dan diam-diam mengutuk kecurangan si Kedok Hitam. Dia dibiarkan menghadang sementara telinganya hampir saja putus, padahal Kedok Hitam sudah lari dan menyuruh pasukan kerajaan menghadapi pemuda itu. Dan ketika kakek ini mengumpat-umpat.

Sementara Giam Liong mengamuk disana, membabat dan meroboh-robohkan lawannya untuk mencari Kedok Hitam maka laki-laki itu sendiri tertawa kejam dengan menekan tengkuk Wi Hong, yang ditotoknya.

"Hm, kau akan menjadi sandera paling penting, Sin-hujin. Aku akan menjebak puteramu di istana dan menukar nyawanya dengan nyawamu!"

"Keparat!" Wi Hong memaki-maki. "Lepaskan aku, Kedok Hitam, dan hadapi aku secara jantan. Kau tak tahu malu berbuat curang dan merobohkan aku secara gelap!”

"Ha-ha, tanpa curangpun tetap saja kau bukan lawanku. Aku hanya ingin mengacau perhatian puteramu agar dia bingung."

"Tapi kau akan dibunuhnya sekali tertangkap. Kau membawa ibunya yang berarti maut bagimu!"

"Ha-ha, kau justeru penolong yang amat berharga, Wi Hong. Dengan dirimu aku dapat memaksa anakmu menyerah. Sudahlah, kau diam saja dan, hmmm... tubuhmu masih menggairahkan sekali!" Kedok Hitam meremas buah dada wanita ini, Wi Hong menjerit dan tentu saja marah-marah. Tapi ketika lawan malah terbahak dan Wi Hong memaki-maki, jari-jemari lelaki itu menelusuri tubuhnya secara kurang ajar maka Wi Hong ngeri dan histeris.

"Kedok Hitam, jangan kurang ajar? Kubunuh kau nanti, ah... kubunuh kau nanti!"

"Ha-ha, semakin kau berteriak-teriak sematkin nafsuku bangkit. Wi Hong. Ah," kau benar-benar menggairahkan dan tubuhmu ini indah sekali. Hm, aku jadi tak tahan!"

Wi Hong meremang dan hampir menangis. Kedok Hitam yang menotok dan menggerayangi seluruh tubuhnya itu tiba tiba mencium mukanya. Dengus dan pandang mata laki-laki itu membuat wanita ini takut. Kedok Hitam mau berbuat kurang ajar! Dan ketika Wi Hong berteriak namun laki-laki itu terkekeh senang, berhenti dan mendadak mengusap pinggulnya maka laki-laki itu berkata,

"Wi Hong, aku tiba-tiba ingin mengambilmu sebagai isteri. Kau akan kujadikan pendampingku paling setia dan kita hentikan permusuhan anakmu itu!"

"Tidak... tidak !" Wi Hong meronta dan menggeliat-geliat, tentu saja gelisah. "Kau tak tahu malu, Kedok Hitam. Kau binatang jahanam!"

"Ha-ha, kalau begitu kau akan kupaksa meiayaniku, Wi Hong. Diminta baik-baik kau tak mau maka aku akan memintamu secara paksa.... bret!" laki-laki itu sudah merobek pakaian Wi Hong, langsung bajunya dan terbelalaklah laki-laki ini melihat buah dada Wi Hong. Janda Si Golok Maut yang lama sudah tidak disentuh laki-laki ini ternyata masih merangsang dan menggairahkan. Kulit dadanya itu putih halus dan bangkitlah nafsu jahat laki-laki ini. Dan ketika Wi Hong menjerit karena Kedok Hitam sudah menundukkan mukanya, membenamkan kepala di buah dadanya yang membangkitkan selera lelaki maka nyonya itu merintih dan tiba-tiba menangis sungguhan.

"Jangan.... jangan, Kedok Hitam. Oh, jangan tidak!"

"Hm, aku mencintaimu. Aku kasihan dan ingin melampiaskan hasratku, Sin-hujin. Kau benar-benar merangsang dan masih begini mempesona. Ah, tubuhmu cantik dan menggairahkan sekali. Kulit dadamu masih mulus!"

"Tidak...!" Wi Hong menjerit, meronta dan menendang-nendang. Kedok Hitam tiba-tiba melakukan sesuatu yang membuat darahnya tersirap. Laki-laki itu menyentuh pahanya! "Tidak... jangan, Kedok Hitam. Ah, jangan. Aku...aku tak mau menerima kebinatanganmu ini. Lepaskan aku... ah, lepaskan aku!"

"Hm," Kedok Hitam menyeringai dan mendengus menciumi wajah yang cantik namun ketakutan itu. "Baik-baik aku meminta namun kasar sekali kau menolak, Sin-hujin. Katakan apakah kau menerima cintaku atau tidak. Kalau mau, aku tak akan memperlakukanmu secara kasar. Aku mencintaimu!"

Wi Hong mengguguk. Ia melotot dan benci sekali memandang wajah di balik kedok ini. Jari-jemari laki-laki itu telah meraba dan meremas-remas bagian-bagian tubuhnya yang paling pribadi. Ah, ia takut tapi juga marah! Dan ketika ia mengguguk dan memaki-maki lelaki itu, Kedok Hitam dikata sebagai binatang jalang maka laki-laki itu mengerutkan keningnya dan tiba-tiba merobek pakaian nyonya ini, pakaian bawahnya.

"Baik, kau selalu memaki-maki aku, Wi Hong. Kalau begitu akan kututup dengan satu perbuatanku... bret!" pangkal paha wanita itu terkuak, lebar dan langsung memperlihatkan sesuatu yang semakin merangsang dan Wi Hong menjerit tinggi.

Wanita ini ketakutan hebat dan lawan terkekeh keji, menjilat paha wanita itu dan berteriaklah Wi Hong serasa pingsan. Ia mengkirik dan ngeri oleh perbuatan laki-laki ini. Kedok Hitam akan menggagahinya. Ia akan diperkosa! Dan ketika Wi Hong menjerit dan berteriak-teriak, lawan tertawa dan mencium bibirnya tiba-tiba Wi Hong tersedak dan mengeluh kehabisan tenaga.

"Tidak.., jangan, Kedok Hitam...jangan!"

"Hm, kau tak menerimaku baik-baik, Wi Hong. Dan aku terlanjur jatuh cinta kepadamu. Diamlah, aku akan memberikan sesuatu yang nikmat dan kau akan kubawa ke sorga!"

"Tidak... tidak!" Wi Hong menjerit, melihat laki-laki itu sudah menurunkan celananya. "Kau binatang keparat Kedok Hitam. Jangan lakukan itu. Bunuh saja aku!"

"Hm, wanita secantik dan semenggairahkan kau eman-eman kalau dibunuh, Wi Hong. Aku akan membunuhmu kalau sudah menikmatimu. Atau kau bersedia menjadi isteriku!"

Wi Hong menangis. Laki-laki itu sudah menindih tubuhnya dan akan terjadilah sesuatu yang bakal membuat aib seumur hidup. Dia akan menerima sesuatu yang amat menyakitkan dan Wi Hong tersentak ketika tiba-tiba sesuatu yang menjijikkan menyentuh tubuhnya. Kedok Hitam sudah kelihatan bernafsu dan wanita ini habis daya. Namun begitu teringat kata-kata lawan, bahwa dia tak akan dipaksa kalau mau menerima baik-baik tiba-tiba wanita ini merintih dan memohon air mata bercucuran.

"Kedok Hitam, jangan teruskan perbuatanmu. Aku.. aku menerima permintaanmu..."

Laki-laki itu tertegun, mata yang beringas tiba-tiba meredup. "Maksudmu?"

"Aku... aku mau menjadi isterimu, Kedok Hitam. Tapi jangan kau paksakan kehendakmu. Lepaskan aku dan jangan tindih tubuhku!"

"Ah, kau mau menjadi isteriku?. Mau membujuk puteramu agar tidak memusuhi aku?"

"Aku mau menjadi isterimu, Kedok Hitam, tapi membujuk puteraku tak dapat kulakukan. Giam Liong seperti ayahnya yang keras dan teguh kemauan!"

"Kalau begitu percuma kau terima. Aku menghendaki puteramu itu tunduk dan menyerah!"

"Lepaskan aku dulu, jangan tindih aku aku tak dapat bernapas!"

"Hm!" laki-laki itu mengangkat naik tubuhnya, Wi Hong memejamkan mata melihat sesuatu yang membuat ia ingin muntah, ngeri! "Aku tak mau kau tipu, Wi Hong. Menundukkan dirimu harus juga menundukkan puteramu itu. Ia pemuda berbahaya melebihi bapaknya!"

"Aku... aku tak dapat membujuknya, anakku itu amat keras dan berhati kaku!"

"Kalau begitu percuma kau menerima aku. Lebih baik kuperkosa dan setelah itu kau kupermainkan dengan perajurit-perajurit rendahan!"

"Oh, tidak... tidak, Kedok Hitam. Jangan! Aku... aku akan coba membujuk anakku itu. Lepaskan aku dan jangan seperti ini!" Wi Hong terkejut dan meronta-ronta, lawan tiba-tiba menerkam tubuhnya dan kembali ingin menggagahinya. Ia hampir pingsan mendapat perlakuan seperti itu. Kedok Hitam sungguh keji! Dan ketika laki-laki itu tertawa melepaskan dirinya, Wi Hong lagi-lagi memejamkan mata tak berani melihat tubuh lawannya ini, tubuh bagian bawah maka Kedok Hitam mendesis dengan kata-kata keji.

"Wi Hong, aku dapat melakukan apa saja yang aku suka. Kau tak usah mengulur-ulur waktu. Katakan, apakah kau mau menjadi isteriku dan membujuk anakmu itu atau kau kupermainkan di sini dan tetap saja menerima perlakuan kasar!"

"Kau binatang terkutuk, manusia rendah....!" Wi Hong mengguguk dengan air mata bercucuran. "Kau selalu memaksakan kehendakmu, Kedok Hitam. Kau persis Coa-ongya keparat itu. semua laki-laki sama!"

"Hm, tak perlu mengumpat caci. Aku tak mau membuang waktuku lagi. Katakan apakah kau dapat menerima permintaanku atau tidak. Kau dan puteramu itu harus membuang permusuhan ini!"

Wi Hong tersedu-sedu. la bingung dan gugup karena permintaan lawan amatlah berat. Dia, yang suaminya sudah dibunuh dan dicincang laki-laki ini mana mungkin harus menurut dan mandah menyerah? Seumur hidup tentu ia tak sudi! Apa yang dia katakan tadipun sesungguhnya hanyalah siasat saja, siasat mengulur-ulur waktu siapa tahu puteranya dapat segera menyusul. Wi Hong yakin bahwa Giam Liong tak akan membiarkannya begitu saja. Puteranya itu mengamuk dan kini pasti melakukan pengejaran. Dia benci dan marah ketika tadi dilihatnya ribuan pasukan memenuhi hutan. Ternyata ini semua adalah hasil kerja laki-laki ini.

Tapi karena dia di bawah kekuasaan dan iapun harus pura-pura menerima, tak tahunya Kedok Hitam memaksa agar dia membujuk putranya pula, hal yang tak mungkir dilakukan maka janda Si Golok Maut ini gugup dan gelisah karena ancaman bakal diperkosa juga menanti di depannya. Ia lebih baik dibunuh daripada mengalami hinaan itu. Mati jauh lebih baik daripada dirusak! Tapi ketika ia ragu-ragu dan mata si Kedok Hitam menyata ganas, nafsu itu lagi-lagi timbul maka Wi Hong buru-buru berseru dan menggerakkan kepalanya. Kedok Hitam tak sabar menanti.

"Tunggu... tunggu dulu, Kedok Hitam. Aku memenuhi permintaanmu!"

"Ha-ha, kau sanggup membujuk anakmu itu?"

"Ya."

"Kalau gagal?"

"Aku., aku tak akan gagal, Kedok Hitam. Aku pasti berhasil!"

"Kalau ternyata tidak?"

Wi Hong tertegun.

"Hm, jangan main-main, Wi Hong. Jangan berpura-pura. Aku merasa tak sepenuhnya kau berjanji. Sinar matamu memain licik!"

"Keparat!" Wi Hong menjadi marah. "Kalau begitu kau bunuh aku, Kedok Hitam, tak usah bicara lagi!"

"Tentu, kalau kau menipu aku. Tapi sekarang biarlah kuanggap kau benar-benar berjanji. Hm, jadi benar kau mau menjadi isteriku? Kau tidak menolak cintaku?"

Wanita ini menggigit bibir, dadanya tiba-tiba menjadi sesak. Bukan oleh apa-apa melainkan oleh amarah yang amat sangat, amarah yang ditahan-tahan! Tapi ketika dia mengangguk dan menahan air mata yang tak kuasa membanjir, Wi Hong mengguguk maka wanita itu lemah bicara,

"Aku menerima cintamu, tapi kau tak boleh menggangguku sekarang...!"

"Bagus, kalau begitu sebagai tanda cinta kaucium dulu aku, Wi Hong. Buktikan kata-katamu bahwa kau tak bohong!"

"Apa?"

"Eh, kenapa melotot? Kita calon suami isteri, Wi Hong. Bukan hal aneh kalau calon isteri mencium calon suaminya. Hayo, lakukan itu atau nanti aku tak percaya!"

Wi Hong mengeluh. Ia benar-benar sakit hati dan dipermainkan laki-laki ini. Namun karena bayangan ancaman jauh lebih mengerikan dan Wi Hong mengharap kembali dapat mengulur-ulur waktu maka apa boleh buat wanita itu mencium si Kedok Hitam, tentu saja ciuman sembarang ciuman dan Kedok Hitam tertawa. Ia tahu perasaan wanita itu dan m inta agar Wi Hong mencium lagi. Dan ketika wanita itu terbelalak dan meledak marah maka Wi Hong tak tahan memaki,

"Kedok Hitam, kau laki-laki tak tahu malu. Bukankah aku sudah melaksanakan permintaanmu? Jangan menghina, atau aku menarik janjiku!"

"Hm, ciumanmu tidaklah mesra, sekedar menempel. Masa begitu ciuman seorang isteri. kepada suaminya? Aku minta yang lebih hangat, Wi Hong, yang mesra. Nah, cium lagi dan ikutilah dengan perasaan sayang!"

Wi Hong menangis. Ia terpaksa mencium lagi dan mengharap Kedok Hitam puas, laki-laki itu tertawa dan tiba-tiba menyambar tubuhnya. Dan ketika Wi Hong terkejut karena lawan ganti mencium dirinya, panas dan penuh nafsu maka Wi Hong mengingatkan bahwa Kedok Hitam tak boleh dulu mengganggu dirinya.

"Kenapa? Bukankah kau sudah menjadi calon isteriku??"

"Masih calon, Kedok Hitam, belum isteri sungguhan. Aku tak mau kau sentuh kalau kita belum resmi!"

"Ha-ha, itu sudah kupikirkan. Kita dapat meresmikannya sekarang juga dan kau tak boleh menolak!"

"Maksudmu?"

"Kita berlutut dan sembahyang di sini Lihat, aku sudah membawa hio dan bumi langit sebagai saksinya!"

Wi Hong tertegun. Ia terbelalak melihat laki-laki itu sudah mengeluarkan sebungkus hio dan alat-alat sembahyang. Heran juga bahwa laki-laki seperti iblis begini ingat akan Tuhan! Dan ketika ia terbelalak dan menggigil, bukan maksudnya untuk menjadi isteri sungguhan maka Kedok Hitam sudah menyalakan hionya dan memasang atau menancapkannya di atas tanah.

"Mari..." laki-laki itu tertawa, sekarang juga kita resmikan, Hong-moi. Bumi dan Langit akan menjadi saksi. Setelah itu tentu kau tak akan menolak lagi jika kusentuh."

Wi Hong meratap, la tak menyangka sama sekali bahwa akan sedemikian rupa jahanam itu mendesaknya, ia benar-benar dipojokkan dan habislah akalnya oleh perbuatan si Kedok Hitam ini. Dan ketika ia menangis keras-keras dan putus asa, lawan akan segera memilikinya secara sah tiba-tiba Wi Hong berteriak,

"Kedok Hitam, aku tak sudi kau sentuh. Mati hidup aku tetaplah milik suamiku. Pergilah kau ke neraka atau lemparkan aku ke akherat!"

"Eh," Kedok Hitam terkejut. “Kau menolak, Wi Hong? Kau melanggar janjimu?"

"Pergilah ke neraka, aku tak sudi menjadi isterimu atau apapun juga. Kau bunuhlah aku dan biarkan aku bertemu suamiku di alam baka!"

"Ha-ha, sudah kuduga!" si Kedok Hitam meloncat dan meniup padam dupa-dupanya. "Aku tahu bahwa kau berpura-pura saja, Wi Hong. Dan aku justeru akan membalasmu dengan siksaan lebih hebat. Baik, kau tak mau menerima dan akupun tak akan meminta. Sekarang berlaku hukum rimba siapa kuat dialah yang menang!" dan ketika laki-laki itu mencengkeram dan menyambar korbannya, tangan bergerak memotong dua kali maka Wi Hong tiba-tiba sudah telanjang bulat dan berdiri bugil di depan laki-laki itu.

"Kedok Hitam...!"

Namun Kedok Hitam sudah melampiaskan marahnya. Ia menerkam dan melempar tubuh Wi Hong, terbanting dan dikejar dan tiba-tiba Wi Hong pun menjerit karena laki-laki ini sudah menindih tubuhnya. Dan ketika Kedok Hitam terbahak-bahak dan suara tawanya amatlah mengerikan, Wi Hong berteriak dan tahu-tahu ditutup mulutnya maka laki-laki itu sudah melepaskan pakaiannya dan Wi Hong diajak bergumul untuk dipaksa melayani hasrat nafsu kotornya. Wi Hong menjerit dan meronta-ronta namun sebuah totokan membuatnya tak berdaya, lemas dan pucatlah wanita itu melihat kejalangan lawan.

Kedok Hitam mendengus-dengus dan menjadi buas tiada ubahnya seekor hewan kelaparan. Nafsu dan kemarahan telah menumpuk di otak laki-laki itu dan Wi Hong terguncang-guncang. Ia merasakan sesuatu yang hampir saja menembus dirinya. Dunia serasa gelap dan hampir saja wanita itu pingsan. Tapi ketika Kedok Hitam menggumul dirinya dan menciumi secara kasar, mata dan pandangan laki-laki ini sudah tiada ubahnya setan sendiri maka berkelebat dua bayangan dan Swi Cu serta Beng Tan muncul.

"Ongya, perilakumu seperti hewan!"

"Kedok Hitam, tingkah lakumu sungguh tak patut sekali!"

Kedok Hitam terkejut. Ia sedang dibakar nafsunya sendiri ketika tiba-tiba suami isteri itu muncul. Swi Cu membentak, dan mendahului suaminya melepas sebuah pukulan. Dan ketika tengkuk laki-laki itu terkena dan Kedok Hitam berteriak, kaget, maka laki-laki itu menyambar pakaiannya dan sambil bergulingan meloncat bangun ia sudah mengenakan pakaiannya itu, muka berubah.

"Ju-hujin, kau curang!"

"Keparat!" Swi Cu marah dan menerjang lagi. "Kaulah yang curang, Kedok Hitam. Kau tak malu-malu memperkosa wanita di tengah siang bolong. Ah, terkutuk dan keji sekali perbuatanmu!" dan sang nyonya yang menyerang dan marah melepas pukulan lalu membuat Kedok Hitam sibuk karena harus menangkis atau mengelak ke sana-sini, gugup dan terpelanting lagi karena ia sungguh tak menduga kedatangan suami isteri ini.

Beng Tan telah berkelebat dan menolong Wi Hong. Wanta itu mengguguk dan dibebaskan totokannya. Dan ketika Wi Hong meloncat dan mencabut pedangnya, menerjang, maka wanita ini kalap menyerang si jahanam itu, yang hampir saja merenggut kehormatannya. Lupa bahwa dia masih telanjang bulat!

"Kedok Hitam, kau benar-benar binatang jalang. Ah, kubunuh kau. Kuhisap kering darahmu nanti...sing-singg!"

Kedok Hitam terkejut.. Ia mengelak dan menangkis dan Wi Hong pun terpental, maju dan menyerang lagi dan Swi Cu tersipu merah melihat keadaan sucinya itu. Wi Hong terlampau marah hingga lupa kepada diri sendiri. Dan ketika wanita itu jengah karena Wi Hong menyerang lagi, sambil telanjang maka Swi Cu berteriak agar sucinya itu mengenakan pakaiannya dulu.

"Suci, jangan seperti itu. Kau belum berpakaian!"

Wi Hong terkejut. Ia menjerit ketika sadar bahwa ia masih telanjang bulat. Pakaiannya yang berserakan di sana segera mengingatkannya akan itu, berjungkir balik dan menyambar pakaiannya ini. Dan ketika dengan merah dan tergesa-gesa ia mengenakan pakaiannya itu, seadanya maka wanita ini muncul lagi dan kembali menerjang. Mata menyala bagai harimau betina haus darah.

"Kusedot sumsummu nanti. Ah, kucincang tubuhmu seperti perkedel!"

Kedok Hitam tertegun. Ia sudah dikeroyok dua wanita ini namun dengan mudah ia mampu menghalau dan menyelamatkan diri, bergerak dan maju mundur menangkis atau menolak serangan-serangan lawan. Dan ketika dua lawannya itu terpental dan Wi Hong berkali-kali memekik tinggi, penasaran, maka Kedok Hitam sadar akan bayangan Beng Tan, si jago pedang.

"Wi Hong, kau beruntung. Tapi aku tak ada nafsu lagi untuk bertanding melawan kalian. Biarlah aku pergi dan lain kali jumpa lagi. Terima kasih untuk semuanya tadi dan aku yakin kau akan rindu mencari aku, ha-ha!" laki-laki ini menampar dua batang pedang yang menyambar dari kiri kanan, mementalkannya dan dua wanita itupun menjerit karena terlempar ke belakang. Dan ketika laki-laki ini membalik dan berkelebat pergi, Beng Tan menjaga di situ maka iapun lari dan tak mau bertanding.

Namun Beng Tan tahu-tahu mendengus pendek. Pendekar pedang ini marah dan iapun membentak perlahan, berkelebat dan tahu-tahu sudah mencegat lawan di depan. Dan ketika Kedok Hitam terkejut karena pendekar itu menyuruhnya berhenti, ketua Hek-yan-pang ini merah padam maka Beng Tan berseru agar lawan mempertanggungjawabkan dulu omongannya.

"Bagaimana kau membawa-bawa pasukan segala. Mana janjimu bahwa kau akan bertempur secara ksatria!"

"Eh!" Kedok Hitam tersentak, menahan larinya. "Apa yang kau maksud, Ju taihiap. Omongan apa yang harus kupertanggungjawabkan!"

"Hm," Beng Tan bertolak pinggang, mata berapi-api. "Kau berjanji untuk datang dan tidak membawa teman, Kedok Hitam. Tapi nyatanya kau ke sini membawa-bawa pasukan. Mana janjimu untuk bertanding dengan Giam Liong satu lawan satu!"

"Ha-ha...!" laki-laki itu tertawa keras, menuding Beng Tan. "Kau yang salah tangkap, Beng Tan. Aku tidak melanggar janji dan sama sekali tidak melanggar janji karena janji itu baru pada hari ketiga, bukan sekarang!"

Beng Tan tertegun.

"Kau ingat perjanjiannya, bukan?" laki-laki itu bicara, kembali berseru menyambung. "Nah, ingat itu dan jangan salahkan aku kalau tiba-tiba aku di sini dan membawa pasukan. Minggir dan sekarang tentu kau tahu!"

Beng Tan didorong. Pendekar ini mau menahan namun tiba-tiba ia teringat. Benar, perjanjian adu kepandaian itu barulah pada hari ketiga, bukan sekarang. Dan karena ia tercengang karena lawan tidak keliru, ialah yang salah karena hari itu belum datang maka Beng Tan mundur ke belakang dan lawanpun lewat dengan cepat. Pendekar ini bengong.

"He!" Wi Hong yang tak tahan dan sudah berteriak marah, mengejar. "Jangan kau lari, Kedok Hitam. Kau dan aku masih punya urusan. Kita selesaikan dulu dan kau tunggu aku!" sang nyonya berjungkir balik melewati Beng Tan, marah kepada pendekar itu karena Beng Tan membiarkan lawan lari. Dan ketika ia turun dan Kedok Hitam terkejut, Wi Hong memlpergunakan kesempatan selagi ia tadi tertahan sejenak maka wanita itu sudah menusuknya dengan pedang di tangan.

"Plak!"

Namun laki-laki ini memang terilalu lihai bagi Wi Hong. Pedang yang ditangkis dan terpental menyambar Wi Hong membuat wanita itu terpekik dan melempar kepala kebelakang. Ia harus menyelamatkan dirinya dari tolakan si Kedok Hitam itu. Dan ketika ia selamat namun lawan melarikan diri, jauh dan sudah tiba di mulut hutan maka Wi Hong membentak dan mengejar lagi. Nekat oleh kemarahannya yang tidak terkendali.

"Kedok Hitam, tunggu. Kau atau aku yang mati!"

Beng Tan mengerutkan kening. Ia melihat Wi Hong sudah mengejar lawannya dan Kedok Hitam tertawa, membalik dan melepas jarum-jarum halus. Dan ketika Wi Hong menangkis dan berseru terkejut lawan lari lagi maka sebatang jarum menancap di dada kiri wanita itu.

"Ha-ha, selamat menikmati mimpi indah, Wi Hong. Tidak dengan aku boleh juga dengan laki-laki lain!"

Wi Hong terhuyung. Pedangnya tiba-tiba terlepas karena dada kirinya terasa gatal dan panas menggigit. Ia tak tahu apa arti kata-kata lawannya itu namun Beng Tan berkelebat dan tahu-tahu mengusap dada kirinya itu. Dan ketika Wi Hong berteriak dan roboh terguling, kaget, maka Beng Tan sudah berdiri dengan sebatang jarum terjepit di antara telunjuk dan jari tengah.

"Keparat, Kedok Hitam sungguh keji!"

Swi Cu berkelebat dan terbelalak memandang suaminya. Ia melihat suaminya mengusap buah dada Wi Hong dan tentu saja ia mula-mula kaget, panas, juga marah. Tapi begitu sang suami menjepit jarum itu dan bertanya apakah ia tahu maka nyonya ini tertegun, menggeleng.

"Ini jarum pemabok, berlubang dan diisi hawa birahi. Coba kau cium dan rasakan apa yang terjadi!"

Swi Cu mencium. Tiba-tiba ia merasa pusing dan mabok. Keharuman aneh merangsang birahinya dan tiba-tiba iapun terbakar. Cepat dan kuat sekali mendadak ia ingin memeluk dan mencium suaminya itu. Dan ketika benar saja ia terhuyung dan mendekap sang suami, mencium, maka Beng Tan mengelak dan menotok isterinya itu, di belakang telinga.

"Sadarlah, kau terpengaruh jarum pembius, niocu. Buang napas tiga kali dan tarik kuat-kuat udara bersih...plak!"

Swi Cu menerima tepukan suaminya, tepukan bukan sembarang tepukan melainkan totokan untuk memunahkan hawa merangsang. Sekali sedotan tadi telah membuat nyonya ini terbakar berahi! Dan ketika Swi Cu mengeluh dan sadar, ia jengah memandang suaminya maka Wi Hong terkekeh dan tertawa-tawa mendekati Beng Tan, langkah sempoyongan.

"Aduh, kau tampan, dan gagah sekali, Beng Tan. Ah, kau mengingatkan suamiku. Ke marilah, aku ingin bercumbu!"

Swi Cu terkejut. Kemarahan yang tadi ada tiba-tiba buyar. Sekarang tahulah dia kenapa suaminya mengusap dada kiri sucinya itu, bukan mengusap melainkan sebenarnya mengambil atau mencabut jarum birahi. Sucinya itu terkena jarum perangsang dan kinilah akibatnya tampak. Dan ketika sucinya memeluk namun suaminya mengelak, Wi Hong membelalakkan mata maka wanita itu berseru,

"Ih, jangan begitu, Beng Tan. Kau telah mengusap buah dadaku tadi. Ke marilah, akupun senang kepadamu!" namun ketika Beng Tan bergerak dan menepuk tengkuk Wi Hong, sama seperti kepada isterinya tadi maka pendekar itu berkata,

"Wi Hong, kau terkena jarum birahi. Buang napas tiga kali dan tarik kuat-kuat udara bersih!"

Wi Hong terhuyung. Ia berteriak ketika ditampar pendekar ini, tersedak dan otomatis membuang napas seperti yang dikata pendekar itu. Dan ketika ia menarik napas kuat-kuat dan udara bersih memenuhi paru-parunya, hawa birahi lenyap maka Wi Hong pun tertegun dan memegangi kepalanya dengan bingung, sisa pusing masih ada. "Ap... apa yang terjadi. Kenapa dengan aku tadi!"

"Kau diserang jarum birahi," Swi Cu berkelebat dan menggenggam lengan sucinya ini. "Kedok Hitam menyerangmu dengan jarum memalukan, suci. Tapi kau selamat dan aku lega bahwa kau terbebas dari ancamannya!"

"Keparat, jarum birahi? Ah, pantas. Kedok Hitam sungguh kurang ajar!" tapi teringat bahwa dia bermusuhan dengan Swi Cu, mereka sebenarnya tak berbaik satu sama lain tiba-tiba wanita ini mengipatkan tangannya dan menangis pergi. "Swi Cu, aku hutang sebuah kebaikan kepadamu. Biarlah lain kali aku balas tapi tak usah kita bertemu!"

"Hm," Beng Tan menyambar dan tahu-tahu sudah berada didekat isterinya, sang isteri tertegun. "Tak usah kecewa akan sikapnya, niocu. Lebih baik begitu daripada kita berkelahi. Marilah, ke mana kita pergi dan apa yang sekarang hendak kita lakukan."

"Aku... aku ingin menghajar Kedok Hitam. Sungguh keparat dan tak tahu malu pangeran jahanam itu. Ia berwatak rendah dan benar-benar kotor!"

"Tak usah menyebut-nyebut kedudukannya," sang suami menegur dan berkerut kening, wajahpun masih merah teringat watak rendah laki-laki berkedok itu. "Kalau ia terjun di dunia kang-ouw maka ia adalah Kedok Hitam, isteriku, bukan orang lain atau siapapun. Baiklah, kita kejar dia tapi apakah tak sebaiknya melihat atau mengetahui nasib pasukan kerajaan."

"Cih, untuk apa melihat mereka? Giam Liong membantainya, suamiku. Biarkan saja dan biar mereka itu mampus. Kalau takut tentu mundur. Tapi kalau mau mencari mati biarkan saja mereka menghadapi Giam Liong. Aku tak mau bertemu suci!"

"Hm, begitukah? Baiklah, mari ke istana dan aku hendak menegur si Kedok Hitam ku. Ia licik dan sungguh culas sekali”

"Akupun ingin memaki-makinya. Tak pantas bagi seorang pangeran melakukan perbuatan sekeji itu!"

"Sudahlah... sudahlah. Tak usah menyebut-nyebut kedudukannya dan mari kita pergi!" dan begitu Beng Tan berkelebat menyendal lengan isterinya, muram dan tak senang maka di hutan itu terjadi sesuatu yang bakal membuat suami isteri ini kecewa berat!

Waktu itu, mengamuk dan membuka jalan darah Giam Liong benar-benar beringas membabat pasukan kerajaan. Dia marah sekali karena mati satu maju sepuluh, roboh sepuluh maju seratus! Dan ketika hutan itu penuh oleh jerit dan bentakan manusia, di mana-mana pasukan kerajaan mengepung dan menghalang-halangi Giam Liong maka pemuda yang seharusnya sudah dapat mengejar si Kedok Hitam itu menjadi terganggu karena ia tak dibiarkan keluar atau menerobos begitu saja.

Para perwira atau panglima kerajaan berseru berulang-ulang agar menahan amukan pemuda itu. Panah dan tombak atau apa saja diluncurkan ke arah pemuda ini. Namun karena Giam Liong memutar goloknya dan semuanya patah-patah bertemu golok di tangan pemuda itu, yang berkelebat dan menyambar ke kanan kiri maka ganti berteriaklah orang-orang itu tersambar goloknya. Setiap darah muncrat tentu kering. Golok menjadi semakin berkilau-kilauan "dijamas" darah pasukan kerajaan ini. Sudah tiga ratus lebih terbunuh oleh Giam Liong dan akhirnya orang-orang itupun gentar. Baju besi yang mereka kenakan tetap saja tembus dan robek, golok terus menyambar dan berteriaklah mereka ketika dada atau kepala mereka terpisah. Dan ketika sorak-sorai terdengar dari belakang dan orang-orangnya Chu-goanswe muncul dan menerjang, membantu pemuda ini maka pasukan kerajaan kalut dan kacau.

"Serbu, bunuh mereka. Bantu Sin-siauw hiap!"

Para pemberontak atau pejuang berhamburan dari kiri kanan. Mereka tadi menunggu aba-aba dan kini Chu-goanswe muncul, gendewa di tangannya terpentang dan menyambarlah panah-panah besar yang mendesing berat. Dan ketika tubuh-tubuh terpelanting oleh panah si jenderal ini, tembus dan langsung binasa maka pengikut Chu-goanswe bersorak-sorai menerjang ganas.

Pasukan kerajaan menjadi terkejut dan merekapun pucat. Menghadapi keturunan Si Golok Maut itu saja mereka sudah kalang-kabut, apalagi kini ditambah oleh muncul dan menyerbunya pasukan pemberontak itu. Dan ketika mereka ngeri dan gentar oleh tandang yang amat menggiriskan, kaum pemberontak itu rata-rata adalah ahli-ahli silat dari dunia kang-ouw maka baju besi yang mereka pakaipun ada yang pecah!

"Crat-bluk!"

Panah Chu-goanswe menembus dan merobohkan seorang lagi. Baju besi itu tak tahan dan sambaran anak panah inipun amatlah kuatnya. Tenaga Chu-goanswe yang besar dan bidikannya yang tepat membuat lawannya itu terguling, roboh dan tewas dengan jantung tertikam. Anak panah itu masih sempat bergoyang-goyang untuk akhirnya diam setelah si perajurit tak bergerak-gerak. Dan ketika yang lain juga menjadi korban dan satu demi satu anak-anak panah Chu-goanswe ini mengenai telak, jenderal itu sungguh seorang ahli panah ulung maka pasukan kerajaan cerai berai dan berantakan.

"Mundur mundur, semua menjauh!”

Namun ini justeru membuat para pejuang berkobar semangat tempurnya. Mereka semakin beringas mengejar lawan yang mundur, berkelebat dan membacok dan banyak lagi yang roboh. Dan ketika orang-orang itu kalut namun kepungan terhadap Giam Liong tetap dipertahankan, mereka itu mengepung dan menyerang dan jauh maka Giam Liong menggeram dan kini menyerbu dengan tidak menangkis semua senjata-senjata lawan, membiarkan semua panah atau tombak runtuh bertemu tubuhnya, yang kebal dan menggelembung penuh tenaga sakti.

"Hayo, kalian maju dan kubunuh satu demi satu. Lindungi si Kedok Hitam itu dan kalian menjadi pengiringnya dineraka!"

Pasukan itu kewalahan. Mereda mundur dan terus mundur namun yang menjengkelkan adalah tetapnya kepungan lebar itu. Para panglima berseru berulang-ulang agar tidak membiarkan pemuda itu menerobos, hal yang membuat Giam Liong menjadi marah. Dan ketika seratus tubuh kembali malang-melintang dan Golok Penghisap Darah berkilau-kilauan terang maka Giam Liong berkelebat dan menuju ke arah dua panglima yang paling getol berteriak-teriak memberi aba-aba.

"Kalian sumber penyakit paling busuk. Sekarang terima kematian kalian dan coba kulihat apakah mulut kalian dapat berteriak-teriak lagi!"

Dua panglima itu terkejut. Giam Liong berkelebat dengan amat cepatnya dan tahu-tahu menyambar seperti siluman. Bayangannya tidak tampak tapi yang kelihatan hanya sinar putih golok mautnya itu. Dan ketika mereka coba menghindar namun Giam Liong lebih cepat, pemuda ini geram kepada dua panglima itu maka terdengar jerit tertahan ketika dua batang kepala mencelat dari tubuhnya.

"Crat!" Darah menyembur dan dua panglima itupun roboh. Giam Liong telah membinasakan mereka dan golok maut di tangannya semakin bercahaya. Golok ini semakin terang setiap mendapatkan korbannya. Tambah banyak tambah segar. Mentakjubkan, tapi sekaligus juga mengerikan! Dan ketika Giam Liong bergerak dan menerjang ke kiri, pasukan kalut melihat tewasnya pimpinan maka di sini pemuda itu merobohkan lagi tujuh orang yang paling dekat, kacau dan kepunganpun buyar didekati golok mautnya. Jalan kini mulai terbuka dan Giam Liong gemas mendorong dengan tangan kirinya. Dan ketika angin pukulan menyambar ke depan dan duapuluh orang terlempar sambil menjerit maka pemuda itu berkelebat dan keluar.

"Awas... awas... jangan sampai dia lolos. Jangan biarkah ia mengejar Kedok Hitam!" seorang perwira lain, yang terkejut dan pucat melihat lolosnya pemuda itu berteriak-teriak dari jauh. Ia telah melihat robohnya dua temannya tadi namun Giam Liong mendengus melempar sebuah hui-to kecil. Dan ketika golok terbang ini menyambar dan mengenai perwira itu, yang terguling dan menjerit maka satu pimpinan lagi dibinasakan.

"Mari, kalian boleh kepung aku lagi. Dan darah kalian akan kering kuhisap!"

Orang-orang gentar. Mereka sekarang mundur dan Giam Liong tidak mendapatkan lawannya. Panah dan tombak yang patah-patah bertemu tubuhnya diraup dan rontok begitu saja. Pemuda ini benar-benar menggiriskan. Namun ketika Giam Liong sudah keluar dan lolos dari kepungan, ratusan tubuh malang-melintang di kiri kanan mendadak terdengar jerit dan teriakan Chu-goanswe, begitu juga anak buahnya.

"Heii, siapa pemuda ini, siauw-hiap. Lihat ia meroboh-robohkan anak buahku!"

Giam Liong terkejut. Ia sudah akan mengejar Kedok Hitam yang menawan ibunya itu ketika tiba-tiba dari belakang terdengar seruan dan suara bak-bik-buk. Ia membalik dan melihat sesosok bayangan putih menyambar-nyambar dari satu tempat ke tempat lain, persis garuda yang beterbangan sambil mengibas atau menampar-namparkan sayapnya. Dan ketika para pejuang berteriak berpelantingan dan panah Chu-goanswe pun runtuh dipukul bayangan putih itu, yang entah datang dari mana maka bayangan itu berseru kepada Giam Liong agar berhenti. Dia muncul dari belakang meroboh-robohkan orang-orangnya Chu-goanswe itu.

"Hei, sobat di depan. Berhenti dan jangan pergi dulu, sobat. Tunggu aku dan betapa ganasnya golok maut ditanganmu itu!"

Giam Liong berhenti. Tentu saja ia terkejut dan mengerutkan kening melihat sepak terjang bayangan putih ini. Matanya yang tajam segera melihat bahwa bayangan itu adalah seorang pemuda berpakaian putih yang gagah dan tampan. Gerakannya luar biasa cepat namun ia masih dapat menangkap, tertegun dan menunggu dan orang-orangnya Chu-goanswe pun terlempar ke kiri kanan. Dan ketika semua mundur dan otomatis menyibak, bayangan itu berkelebat dan memanggil Giam Liong maka iapun sudah berdiri di situ dan tiba-tiba dua orang pemuda yang sama-sama gagah dan tampan sudah saling berdiri berhadapan.

"Kau ganas dan telengas sekali. Golok di tanganmu bau darah!"

"Siapa kau!" Giam Liong terkejut dan membentak, pemuda itu memiliki ilmu ginkang yang hebat sekali. Sekali bergerak telah merobohkan orang-orangnya Chu goanswe dan tiba di depannya. "Ada apa kau memanggilku, sobat. Dan apakah kau antek kerajaan pula!"

"Hm, aku Han Han," pemuda itu bersinar-sinar, pandang matanya tiba-tiba tajam dan menusuk. Getaran sinkang langsung memancar dan Giam Liong terkejut, merasakan adanya perbawa dan sinar mata yang kuat, mencorong! "Aku memanggilmu karena aku tak mau kau pergi, sobat. Kau terlalu ganas dan kejam membunuh-bunuhi orang-orang ini. Apakah kau yang bernama Giam Liong itu dan dijuluki Si Naga Pembunuh!"

"Aku tak perduli kepada julukan yang diberikan orang kepadaku. Namun benar bahwa akulah Giam Liong. Kau mau apa dan kenapa menghentikan aku kalau bukan antek kerajaan!"

"Aku tak suka sepak terjangmu. Kau pembunuh berdarah dingin!"

"Hm!" Giam Liong mendengus, mundur dan mengemati-amati wajah lawan dengan jelas, terkejut karena tiba-tiba ia melihat persamaan wajah dengan ayah angkatnya Beng Tan. Dan ketika ia tergetar dan membelalakkan mata, bertanya sekali lagi siapa lawannya itu maka pemuda baju putih ini menjawab,

"Aku adalah Han Han, sudah kusebut namaku. Nah, kenapa kau demikian keji membunuh-bunuhi orang!"

"Han Han? Kau dari mana? Siapa ayah ibumu?"

Pemuda itu mengerutkan kening, heran, tapi juga tak senang. "Ayah ibuku tak usah ikut campur, Giam Liong. Kita berhadapan sebagai lelaki dengan lelaki. Aku tak perlu membawa-bawa nama orang tua."

"Kau... kau apakah Han Han putera ayahku Beng Tan? Anak yang hilang itu?"

Han Han, pemuda ini terkejut. Tentu saja ia terkejut karena ialah yang sudah diduga sebagai putera ketua Hek-yan-pang. Mencari dan meninggalkan Hek-yan-pang untuk menemukan ibunya. Maka begitu Giam Liong menyebut-nyebut nama itu lagi dan ia tergetar karena jejak ayah ibunya rupanya semakin kuat, untuk kesekian kalinya lagi ia disebut sebagai keturunan ketua Hek-yan-pang maka pemuda itu mundur dan balik memandang Giam Liong dengan wajah tertegun.

"Kau sudah tahu tentang siapa aku? Kau Sin Giam Liong yang dulu tinggal bersama ketua Hek-yan-pang?"

"Hm," Giam Liong tiba-tiba girang, sinar matanya yang ganas dan dingin bersinar-sinar, tiba-tiba berubah. "Kalau benar kau Han Han yang kucari maka adalah kebetulan sekali, sobat. Sudah lama aku dan ibuku mencari-cari dirimu. Wajah dan sikapmu seperti ayahmu itu. Di mana saja kau selama ini dan kenapa sekarang baru muncul!"

Chu-goanswe, yang mendengar dan tertegun oleh semua percakapan itu tiba-tiba mendengar bisik-bisik disana-sini. Pasukan kerajaan yang juga menonton dan berdiri dari jauh ikut melihat dan mendengarkan, begitu juga pengikut-pengikut Chu-goanswe yang mengharap pertandingan dua pemuda itu. Tapi begitu suasana berubah dan Giam Liong menunjukkan sikap persahabatan, dua pemuda itu saling pandang dan Giam Liong melangkah maju tiba-tiba pemuda ini sudah memeluk dan menitikkan air matanya.

"Benar, kau pasti Han Han anak ayah angkatku itu, Han Han. Kau dicari-cari dan selama ini menghilang. Ah, hutang ibuku akan lunas dan kau dapat menggantikanaku!"

Han Han, pemuda baju putih ini tertegun. Ia tadi muncul dari belakang kaum pejuang dan kebetulan saja melihat keramaian hutan, gaduhnya suasana perang dan sepak terjang Giam Liong yang nggegirisi. Dan ketika ia tak tahan dan harus turun tangan, sayang terhalang anak buah Chu-goanswe yang tebal dan berlapis-lapis maka ia harus meroboh-robohkan dulu orang-orangnya Chu-goanswe itu sebelum mendekati Giam Liong. Ia membuat kaget para pemberontak karena tiba-tiba muncul begitu saja. Tapi karena ia bukanlah Giam Liong dan murid Im Yang Cin-jin ini pada dasarnya juga seorang pemuda lemah lembut, yang tak dapat bersikap kejam dan keras maka ia hanya meroboh-robohkan saja pengikut Chu-goanswe itu tanpa mencederai mereka.

Namun ini membuat para pemberontak atau pejuang itu berani. Mereka dapat bangun lagi dan kembali menyerang pemuda itu. Dan ketika Han Han harus menurunkan tangan lebih keras, orang-orang itu terpenting menerima pukulan Im-yang-sin-kunnya maka barulah orang-orang itu kaget dan Chu-goanswe sendiri berteriak tertahan ketika dengan satu kibasan ujung baju anak panahnya yang besar dan berat dipukul runtuh, patah menjadi delapan potong!

"Ah, pemuda yang amat lihai!" jenderal itu berseru dan cepat-cepat memanggil Giam Liong, la paling gentar kalau menyaksikan kelihaian anak-anak muda seperti Giam Liong. Dan karena sekali pandang ia maklum bahwa hanya Giam Liong saja yang dapat menandingi, orang-orangnya sudah roboh dan merintih-rintih di sana maka jenderal ini malah bengong ketika Giam Liong dan pemuda itu kini berpeluk-pelukan!

“Ah, kau benar anak yang hilang itu, Han Han. Kau mirip ayahmu yang gagah dan lihai. Dan kaupun mengagumkan!"

"Apakah kau yakin aku putera ayahku itu?" Han Han menggigil, tiba-tiba tersedak.

"Pasti, wajah dan sikapmu bagai pinang dibelah dua, Han Han. Tapi kau tampaknya lebih hebat!"

"Dari mana kau tahu?"

"Sepak terjangmu sekilas tadi. Kau memiliki pukulan ampuh yang membuat orang-orangnya Chu-goanswe terlempar!"

"Hm, dan kau juga hebat. Tapi kau ganas, Giam Liong. Kau membunuh-bunuhi pasukan kerajaan seperti orang membunuh-bunuhi ayam. Aku tak suka!"

"Benar!" pasukan kerajaan tiba-tiba berteriak.

Han Han melepaskan diri dan sudah dapat menekan guncangan hatinya tadi. Ia benar-benar putera ketua Hek-yan pang. Beberapa kali wajahnya disebut benar-benar mirip ketua Hek-yan-pang itu, baik ketika ia di Hek-yan-pang maupun di sini.

"Ia kejam dan telengas, kongcu. Dan kalau kau putera ketua Hek-yan-pang maka sudah semestinya kau membantu kami. Ayahmu adalah bekas orang kepercayaan kaisar!"

"Hm," Giam Liong membalik, tangannya tiba-tiba bergerak melepas hui-to kecil, orang yang berteriak itu roboh dan seketika berteriak. "Anjing-anjing kaisar tak perlu kau percaya mulutnya, Han Han. Dulu adalah dulu dan sekarang adalah sekarang!"

Pasukan kerajaan ngeri. Giam Liong telah membunuh orang yang berteriak itu dan kini pemuda itu menghadapi kawan barunya ini, mendengus dan menyuruh Han Han tak usah mendengarkan kata-kata itu. Tapi ketika Han Han bergerak dan merah padam, ia tadi terlambat mencegah sebuah pembunuhan maka pemuda itu marah memandang Giam Liong.

"Kau kejam dan tak berperasaan. Begini mudahkah kau membunuh orang seperti itu? Hm, hentikan kekejamanmu, Giam Liong. Atau aku tak mengingat persahabatan dan hubunganmu dengan ayahku, kalau ketua Hek-yan-pang benar-benar ayahku!"

"Kau benar-benar putera ayah angkatku Beng Tan. Tapi aku tak perduli apakah kau suka atau tidak akan sepak terjangku. Mereka yang datang dan lebih dulu mencari permusuhan, Han Han. Tanya mereka dan siapa yang salah!"

“Bocah itu tulang Punggung pemberontak, Giam Liong adalah keturunan pemberontak!” seorang perWira lagi yang berteriak dan bersembunyi di balik pasukannya berkata nyaring. Ia memberanikan diri karena ada Han Han di situ. Tapi begitu Giam Liong menjentik dan golok terbangnya melesat maka perwira itupun menjerit dan roboh. Tenggorokannya tertancap tembus.

"Lihat," Giam Liong menantang, sikap dinginnya timbul. "Aku tak perduli kau di sini Han Han. Putera ayahku atau bukan kalau kau mengambil sikap bermusuhan maka aku akan menganggapmu musuh. Lihat, anjing kaisar itupun kubungkam."

Han Han terkejut. Untuk kedua kalinya lagi ia kalah cepat karena Giam Liong menjentikkan golok terbang itu dari balik saku bajunya. Gerakannya tak Kentara karena Han Han mengira lain. Dan ketika perwira itu roboh dan pasukan kembali gempar, Giam kali membunuh lawannya maka Han Han membentak dan tiba-tiba berkelebat di depan pemuda itu, di tengah-tengah antara Giam Liong dengan pasukan kerajaan.

"Giam Liong, jangan kurang ajar. Hentikan kekejamanmu atau aku akan memberimu pelajaran!"

"Hm," Giam Liong teringat ibunya, tiba-tiba berkelebat dan lewat di samping pemuda ini. "Aku akan menolong ibuku dulu, Han Han. Setelah itu kita bicara lagi dan boleh kita main- main!"

"Kejar, serang dia...!" beberapa panglima tiba-tiba berseru, pucat melihat Giam Liong keluar hutan, mengejar Kedok Hitam. "Jangan biarkan ia mendapatkan ibunya, anak-anak. Coa-ongya nanti marah kepada kita!"

Giam Liong segera dihujani anak panah. Mereka yang gentar menghadapi pemuda ini segera melepas panah dan jauh dan Chu-goanswe serta yang lain-lain terkejut. Mereka marah karena lawan tiba-tiba bergerak kembali,menyerang Giam Liong. Tapi ketika Giam Liong mengebutkan lengannya dan semua anak-anak panah membalik, balas menyerang orang-orang itu maka orang-orang itu berteriak dan roboh terjungkal. Giam Liong berseru agar Chu-goanswe menghajar pasukan kerajaan itu.

"Baik!" Chu-goanswe girang dan berseru keras, anak panahnya dilepas menyambar orang-orang itu. "Kami akan menghajar anjing-anjing kerajaan ini, siauwhiap. Dan cepat kembali kalau kami belum menyusul!"

Giam Liong mengangguk. Ia tak menghiraukan orang-orang itu lagi ketika pikirannya teringat akan sang ibu. Cukup lama ia tertinggal Kedok Hitam dan jangan-jangan ada apa-apa dengan ibunya nanti. Maka begitu ia mengibas dari pasukan kerajaan rontok nyalinya, mereka sudah berteriak-teriak mundur dan Chu-goanswe maju bersama pengikutnya maka pasukan kerajaan dihantam dan dipukul jenderal tinggi besar ini.

Tapi Han Han bergerak dan membentak orang-orangnya Chu-goanswe itu. Ia tiba-tiba tak senang dan marah melihat keganasan Giam Liong. Kening dan alisnya berkerut-kerut dalam. Dan ketika ia berkelebat dan dua tangannya menampar ke kiri kanan, orang-orangnya Chu-goanswe dipukul berpelantingan maka Han Han berseru kepada Giam Liong agar tidak me«inggalkan kawan-kawannya, atau Chu-goanswe dan orang-orangnya itu akan dirobohkan semua.

"Giam Liong, kembali kau. Atau aku akan menghajar teman-temanmu ini seperti kau menghajar pasukan kerajaan.. bres..bress!" tujuh dari sebelas pengikut-pengikut Chu-goanswe berteriak dan terlempar bagai layang-layang putus, terbanting dan terguling-guling di sana dan Chu-goanswe membentak berseru marah.

Han Han telah berkelebat ke orang-orangnya yang lain dan tiga empat kali pemuda itu kembali merobohkan pengikutnya. Dan ketika semua menjadi gempar karena sekejap kemudian Han Han telah merobohkan lima puluh orang, pasukan kerajaan bersorak dan balik mengejar pengikut Chu-goanswe maka jenderal tinggi besar itu berteriak marah melepas tujuh anak panahnya ke arah Han Han.

“Sin-siauwhiap, jangan pergi dulu. Pemuda ini mengamuk!"

Han Han tak menoleh dan melakukan seperti apa yang dilakukan Giam Liong. Ia menamparkan tangannya ke belakang dan tujuh panah itu terpental balik, menyambar dan kembali menyerang pemiliknya. Dan ketika Chu-goanswe harus melempar tubuh bergulingan namun sebatang anak panah masih juga menancap di bahunya, jepderal itu bergulingan maka Chu-goanswe melompat bangun dan pucat memandang pemuda baju putih ini. Dan pasukan kerajaanpun semakin bersorak-sorai.

"Bagus, ha-ha... tangkap dan bunuh Chu-goanswe itu, Han-kongcu. Ialah biang keladi keributan ini dan otak pemberontakan!"

Han Han bersinar marah. Ia marah kepada Giam Liong dan kini ingin melampiaskan kemarahannya kepada jenderal tinggi besar itu. Giam Liong meninggalkannya dan ia merasa direndahkan. Ia ingin menangkap jenderal itu sebagai rasa marahnya kepada Giam Liong. Ia ingin memberi pelajaran. Giam Liong dianggapnya sombong dan tentu saja ia tak tahu bahwa kepergian Giam Liong adalah untuk menolong ibunya, yang dibawa si Kedok Hitam.

Dan ketika Han Han menjadi panas karena Giam Liong dianggap merendahkannya, jenderal she Chu itu juga menyerangnya dengan tujuh panah berturut-turut maka pemuda ini membalas dan anak-anak panah itupun dipentalkannya kepada Chu-goanswe, satu di antaranya menancap dan kini jenderal itu bergulingan meloncat bangun. Han Han tak menunggu waktu lagi dan tiba-tiba ia berkelebat ke arah jenderal ini. la akan menangkap otaknya dan menghentikan pembunuhan masal itu.

Tapi begitu ia bergerak dan jari-jarinyapun sudah mendekati leher Chu-goanswe, yang baru saja meloncat, bangun maka Giam Liong tiba-tiba berkelebat dan sinar putih yang panjang langsung menyambar jari-jari pemuda ini.

“Han Han, jangan main-main dengan Chu-goanswe!"

Han Han terkejut. Ia mendengar dan melihat sinar panjang itu, dingin menyeramkan dan tentu saja ia tak mau menjadi korban. Dan ketika apa boleh buat ia menarik serangannya kepada Chu-goanswe dan sinar putih itu lewat di depannya, ia menjepret dan menampar badan golok maka Han Han tergetar ketika jari-jari tangannya bertemu benda dingin yang kaku keras.

"Plak!"

Chu-goanswe selamat sementara Giam Liong telah berdiri di situ. Sinar putih lenyap karena sudah kembali dipunggung pemuda ini. Golek maut, Golok Penghisap Darah, telah disarungkan lagi di belakang tubuh Giam Liong. Dan ketika Han Han terhuyung dan pucat memandang lawannya, Giam Liong telah tegak dengan sikap dingin maka pemuda ini membentak,

"Giam Liong, jangan sombong dengan golok mautmu. Keluarkan, dan aku tak takut!"

"Hm, sekali dikeluarkan seharusnya meminum darah, Han Han. Tapi kepada dirimu aku menahan diri. Pergilah, cari ayah ibumu atau nanti kau celaka di sini!"

Han Han marah terbakar. Ia merasa direndahkan dan tak dipandang sebelah mata. Pasukan kerajaan bersorak-sorak sementara pengikut Chu-goanswe juga berteriak menyuruh Giam Liong menghajar pemuda itu. Masing-masing pihak menjagoi jagonya dan kata-kata memanaskan segera terdengar di sana-sini. Dan ketika Giam Liong tegak menantang sementara pemuda baju putih itu merah mukanya, Han Han bergetar dan menggigil mengerahkan sinkang tiba-tiba pemuda itu membentak,

"Giam Liong, majulah. Lihat siapa yang akan diberi pelajaran kau ataukah aku!"

"Hm, kau sudah mencampuri urusan. Majulah, Han Han. Aku memberi kesempatan lebih dulu kepadamu karena aku adalah tuan rumah."

"Begitukah? Baik!" dan Han Han yang tidak dapat menahan diri lagi disoraki lawan tiba-tiba berkelebat dan lenyap menampar Giam Liong. Jari-jari pemuda ini sudah berkerotok dan tangan kiri maupun kanannya kemerah-merahan. Itulah hawa sakti Yang-kang (panas) yang sudah dikerahkan pemuda ini. Dan ketika Giam Liong terkejut karena hawa panas mendahului menyambar, ia mengelak namun lawan mengejar maka Giam Liong menangkis dan untuk pertama kalinya dua pemuda itu sudah mengadu tenaga.

"Dukk!"

Dua-duanya sama terpental. Giam Liong terkejut karena sinkang atau tenaga sakti Han Han ternyata hebat sekali. Apa yang sudah diduga ternyata benar. Dan ketika Han Han berkelebat dan kembali menyerang, orang-orang yang menonton tertegun karena pemuda baju putih itu sudah menyambar seperti seekor rajawali sakti yang beterbangan mengelilingi Si Naga Pembunuh maka Giam Liong juga terkesiap karena tahu-tahu ia sudah dihujani pukulan atau tamparan bertubi-tubi, cepat dan panasnya menjadi-jadi hingga sebentar kemudian iapun berkeringat. Dan ketika Giam Liong mengelak namun selalu dikejar, menangkis dan membalas maka dua pemuda itu tiba-tiba sudah bertanding dan satu sama lain mengitari lawan, sambar-menyambar!

"Bagus, hebat, Han Han. Pukulan-pukulanmu cepat dan luar biasa sekali!"

"Hm," Han Han juga kagum, tak mau banyak bicara. "Kaupun hebat, Giam Liong. Tak bohong kalau orang memuji-muji dirimu!"

Dan keduanya yang sudah bertempur dan saling dahulu-mendahului akhirnya mulai membuka mata masing-masing bahwa lawan yang dihadapi betul-betul hebat. Han Han mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Sakti Terbang Ke Langit). Dan ketika pasukan kerajaan bersorak karena tubuhnya benar-benar terbang menyambar-nyambar, kaki pemuda itu tak menginjak tanah lagi saking cepatnya ia bergerak maka Chu-goanswe dan para pengikutnya menjadi berdebar karena Giam Liong kalah cepat dan berkali-kali harus menangkis pukulan lawan.

"Duk-dukk!"

Giam Liong tergetar sementara Han Han terpental mengelilingi dirinya lagi. Han Han juga kagum dan penasaran oleh kehebatan lawannya ini. Pukulan-pukulan Yang-kang yang dilancarkannya ternyata dapat ditangkis dan diterima Giam Liong, padahal pemuda itu sudah berkeringat dan mangar-mangar. Giam Liong memang diserang hawa panas yang semakin menjadi dari pukulan lawannya itu. Tapi karena pemuda ini juga memiliki daya tahan mengagumkan, sinkang di tubuhnya bekerja dan melindungi maka Giam Liong diam diam melawan hawa panas itu dengan sinkang yang dipelajarinya dari kitab kecil peninggalan ayah kandungnya. Dengan sinkang itu akhirnya perlahan-lahan hawa panas dapat dilawan. Keringat yang semula mengucur akhirnya dibuat dingin, beku. Dan ketika Giam Liong akhirnya tidak berkeringat sama sekali dan Han Han tertegun, pukulan Yang-kangnya dihadapi hawa dingin yang keluar dari tubuh lawan maka pemuda itu berseru kagum,

"Giam Liong, kau hebat sekali. Kau mengagumkan!"

"Hm, kaulah yang mengagumkan, Han Han. Kau dapat membuat aku bekerja keras!"

"Tapi kau dapat menandingi pukulan-pukulan Yang-kangku. Kau hebat!"

"Hm, tak usah banyak bicara. Pertandingan belum berakhir, Han Han. Awas jaga balasanku dan jangan lengah!" Giam Liong bergerak dan tiba-tiba mengeluarkan pekikan nyaring, dahsyat menggetarkan isi hutan dan Han Han terkejut karena ia terdorong. Dan ketika ia terhuyung sementara pasukan kerajaan maupun pengikut Chu-goanswe terpelanting oleh pekik dahsyat itu, Giam Liong hendak menjaga kewibawaannya di depan orang-orang lain maka pemuda itu berkelebat dan sudah melancarkan pukulan-pukulan cepat dari ilmu silat barunya yang disebut Pek-poh-sin-kun (Pukulan Sakti Seratus Langkah)!

"Aih, hebat. Cepat sekali!" Han Han terkejut dan berseru kagum. Ia sudah diserang dengan amat cepatnya dan Hui-thian-sin-tiauwnya mendapat tandingan. Lawan ganti-berganti melepas pukulan sementara kakinyapun berpindah-pindah dengan langkah luar biasa. Dan ketika Han Han beterbangan namun selalu dicegat dan dihadang langkah-langkah kaki Giam Liong, ia tak sempat berkelit atau mengelak maka Han Han menangkis dan letupan seperti bunga es memuncrat dari lengan keduanya,

"Duk-plak!"

Han Han tiba-tiba terdesak. Ia yang tadi telah membuat Giam Liong kewalahan dan sibuk menangkis sana-sini tiba-tiba sekarang berbalik keadaan. Ilmu sakti Seratus Langkah yang dilakukan lawannya itu benar-benar mampu mendesak dan membuatnya terkejut. Hui-thian-sin-tiauw nya bertemu tandingan setimpal dan terbelalaklah Han Han oleh kehebatan lawannya ini. Dan ketika ia terdesak dan pukulan-pukulan Yang-kang kembali bertemu lengan dingin lawannya, bunga-bunga es berpercikan ke sana ke mari maka Giam Liong menekan tanpa ampun dan Cho-goanswe bersama para pengikutnya tiba-tiba ganti bersorak. Jago mereka unggul!

"Hidup Sin-siauwhiap! Hidup Si Naga Pembunuh! Ha-ha, tekan dan terus rangsek lawanmu itu, siauwhiap. Beri dia pelajaran agar tidak menghina diriku!"

"Benar, dan lempar ia ke anjing-anjing kerajaan itu, siauwhiap. Atau cabut golokmu dan tabas kepalanya!"

Han Han pucat. Ia tiba-tiba didesak hebat dan sudah tinggal sebagai pihak bertahan saja. Tapi karena Han Han juga bukan pemuda sembarangan dan ia adalah murid Im Yang Cinjin yang sakti, bergerak dan tak mau kalah tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan bentakan seperti Giam Liong yang menggetarkan hutan, pekikan Sai-cu-ho-kang ajaran gurunya. Hebat dan dahsyat...!

Naga Pembunuh Jilid 23

NAGA PEMBUNUH
JILID 23
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"KEPARAT!" Giam Liong membentak dan menampar semua hui-to-hui-to itu, yang runtuh dan patah-patah. "Lepaskan ibuku, Kedok Hitam. Atau kau kubunuh... srat!"

Dan sinar putih yang berkelebat menyilaukan mata tiba-tiba menyambar Lam-ciat yang berteriak ngeri, kaget karena Giam Liong menerjang ke depan dan kakek itu melempar tubuh bergulingan, masih juga terlambat dan tergoreslah telinga kirinya oleh kedahsyatan golok di tangan pemuda itu, golok yang dicabut dan cepat sekali menyambar Lam-ciat, karena Lam-ciat nekat menghadang pemuda ini memberi kesempatan temannya pergi. Dan ketika Lam-ciat berteriak dan terbang semangatnya mengira telinganya buntung, darah menetes-netes dari luka goresan maka Giam Liong bergerak dan sudah memburu lawannya itu, berkelebat bagai setan haus darah.

"Kedok Hitam, berhenti. Atau kau mampus!"

Namun Kedok Hitam tertawa aneh. Ia menyelinap ke kiri dan bersuit nyaring, dari kiri dan kanan tiba-tiba muncul bayangan-bayangan hitam dan itulah para busu atau pengawal kerajaan. Dan ketika Giam Liong terkejut karena dari segala penjuru tiba-tiba muncul ribuan orang, hutan menjadi gegap-gempita oleh sorak atau bentakan musuh maka menyambarlah hujan panah ke pemuda ini.

"Ha-ha!" Kedok Hitam tertawa dari jauh. "Kejar dan coba kau tangkap aku, Giam Liong. Mari selamatkan ibumu tapi kau hadapi dulu pasukan kerajaan itu!"

Giam Liong merah terbakar, la sudah dihadang dan dicegat ratusan orang, hujan panah juga terus berhamburan tapi sekali dia memutar goloknya maka hujan panah itu rontok. Semua disapu dan crang-cring-crang-cring suara panah memekakkan telinga. Panah yang patah-patah banyak pula yang terpental dan menyambar orang-orang itu sendiri, menjerit dan roboh namun untung mereka memakai baju besi.

Giam Liong tertegun karena mereka itu dapat bangun berdiri lagi, anak-anak panah tak mampu menembus lapisan kuat yang melindungi pasukan kerajaan itu. Dan ketika mereka bangun dan berteriak-teriak lagi, buas, maka mereka sudah menerjang dan menghantam Giam Liong.

"Sikat pemuda ini. Bunuh!"

Giam Liong mencorong. Berhadapan dan tahu-tahu dicegat demikian banyak musuh segera dia sadar bahwa semuanya itu adalah atas kelicikan si Kedok Hitam. Lam-ciat rupanya menjadi tombak paling depan dan kini lawannya yang amat dibenci itu merobohkan dan merampas ibunya, bersembunyi di balik keganasan si Hantu Selatan itu. Dan begitu Giam Liong mendidih dan dikeroyok lawan, pasukan baju besi itu menghambur dengan bermacam-macam senjata maka Giam Liong mengeluarkan bentakan dahsyat di mana tiba-tiba suaranya mengguntur merobohkan gunung, golok di tangannya berkelebat dan menyambit puluhan atau ratusan senjata-senjata lawan.

"Kalian mencari mampus..., aurghh!"

Pohon dan seisi hutan terkoyak. Kemarahan dan gelegak darah yang mendidih yang membuat pemuda itu tak dapat menahan diri tiba-tiba diiring oleh pekik dan jerit di sana-sini. Giam Liong yang mengeluarkan suara saktinya hingga hutan tergetar tiba-tiba membuat orang-orang di depan terpelanting. Mereka itu tak kuat oleh khi-kang pemuda ini dan bersamaan dengan itu berkelebatiah cahaya panjang putih ke kiri kanan. Dan ketika cahaya putih itu disusul oleh muncratnya darah segar, golok di tangan pemuda itu menembus atau membelah baju besi pasukan kerajaan, maka empat puluh tubuh tiba-tiba bergelimpangan mandi darah.

Orang-orang itu berteriak dan yang di belakang mundur, terbelalak. Tapi karena Giam Liong sudah demikian marah dan ibunya lenyap dibawa si Kedok Hitam yang berlindung dan bersembunyi di balik pasukan besar ini maka pasukan itulah yang menjadi korban amukan golok mautnya. Giam Liong menerjang mereka karena Kedok Hitam lenyap di balik ratusan orang ini, membabat dan menusuk dan tak ada satu pun orang-orang itu yang selamat. Baju besi mereka ditembus golok maut dan berlubang serta menggeleparlah pemiliknya. Dan ketika yang lain menjadi gempar karena pemuda itu terus membabat dan maju dengan dengus-dengus pendek, hutan itu tiba-tiba sudah dipenuhi banyak orang maka pasukan kerajaan mawut dan cerai-berai.

"Minggir.... minggir.... Naga Pembunuh mencari korban. Awas golok mautnya!"

Perwira dan pemimpin berteriak-teriak. Mereka itulah yang paling ngeri dan pasukan tiba-tiba terbelah. Mereka yang tadinya mengumpul dan menghadang jalan mendadak menyibak ke kiri kanan, gentar oleh kilauan maut golok di tangan pemuda itu, karena Giam Liong memang membuka jalan darah. Dan ketika pemuda ini mengamuk sementara kaum pemberontak terkejut oleh kedatangan lawan, Kedok Hitam datang dengan ribuan orang maka Chu-goanswe yang semula bersembunyi! dan gentar oleh sepak terjang si Hantu Selatan mendadak keluar dan mengajak pasukannya lari menyambut.

"Awas, bantu Sin-siauwhiap dan bunuh antek-antek kaisar lalim. Mana kakek siluman pembawa celaka itu!"

Lam-ciat ternyata menghilang. Ngeri dan pucat oleh kehebatan Giam Liong tiba-tiba kakek ini ngacir. Dia lenyap meninggalkan tempat itu karena Kedok Hitam yang semula diharap bantuannya itu tiba-tiba juga pergi. Kakek itu tahu bahwa semuanya ini adalah karena kelihaian pemuda di depan itu, yang mengamuk dan membabat dengan golok penghisap darahnya. Dan ketika tubuh-tubuh bergelimpangan dan darah yang muncrat disedot kering oleh golok maut itu, yang kini bersinar kemerah-merahan itu maka Lam-ciat melarikan diri dan diam-diam mengutuk kecurangan si Kedok Hitam. Dia dibiarkan menghadang sementara telinganya hampir saja putus, padahal Kedok Hitam sudah lari dan menyuruh pasukan kerajaan menghadapi pemuda itu. Dan ketika kakek ini mengumpat-umpat.

Sementara Giam Liong mengamuk disana, membabat dan meroboh-robohkan lawannya untuk mencari Kedok Hitam maka laki-laki itu sendiri tertawa kejam dengan menekan tengkuk Wi Hong, yang ditotoknya.

"Hm, kau akan menjadi sandera paling penting, Sin-hujin. Aku akan menjebak puteramu di istana dan menukar nyawanya dengan nyawamu!"

"Keparat!" Wi Hong memaki-maki. "Lepaskan aku, Kedok Hitam, dan hadapi aku secara jantan. Kau tak tahu malu berbuat curang dan merobohkan aku secara gelap!”

"Ha-ha, tanpa curangpun tetap saja kau bukan lawanku. Aku hanya ingin mengacau perhatian puteramu agar dia bingung."

"Tapi kau akan dibunuhnya sekali tertangkap. Kau membawa ibunya yang berarti maut bagimu!"

"Ha-ha, kau justeru penolong yang amat berharga, Wi Hong. Dengan dirimu aku dapat memaksa anakmu menyerah. Sudahlah, kau diam saja dan, hmmm... tubuhmu masih menggairahkan sekali!" Kedok Hitam meremas buah dada wanita ini, Wi Hong menjerit dan tentu saja marah-marah. Tapi ketika lawan malah terbahak dan Wi Hong memaki-maki, jari-jemari lelaki itu menelusuri tubuhnya secara kurang ajar maka Wi Hong ngeri dan histeris.

"Kedok Hitam, jangan kurang ajar? Kubunuh kau nanti, ah... kubunuh kau nanti!"

"Ha-ha, semakin kau berteriak-teriak sematkin nafsuku bangkit. Wi Hong. Ah," kau benar-benar menggairahkan dan tubuhmu ini indah sekali. Hm, aku jadi tak tahan!"

Wi Hong meremang dan hampir menangis. Kedok Hitam yang menotok dan menggerayangi seluruh tubuhnya itu tiba tiba mencium mukanya. Dengus dan pandang mata laki-laki itu membuat wanita ini takut. Kedok Hitam mau berbuat kurang ajar! Dan ketika Wi Hong berteriak namun laki-laki itu terkekeh senang, berhenti dan mendadak mengusap pinggulnya maka laki-laki itu berkata,

"Wi Hong, aku tiba-tiba ingin mengambilmu sebagai isteri. Kau akan kujadikan pendampingku paling setia dan kita hentikan permusuhan anakmu itu!"

"Tidak... tidak !" Wi Hong meronta dan menggeliat-geliat, tentu saja gelisah. "Kau tak tahu malu, Kedok Hitam. Kau binatang jahanam!"

"Ha-ha, kalau begitu kau akan kupaksa meiayaniku, Wi Hong. Diminta baik-baik kau tak mau maka aku akan memintamu secara paksa.... bret!" laki-laki itu sudah merobek pakaian Wi Hong, langsung bajunya dan terbelalaklah laki-laki ini melihat buah dada Wi Hong. Janda Si Golok Maut yang lama sudah tidak disentuh laki-laki ini ternyata masih merangsang dan menggairahkan. Kulit dadanya itu putih halus dan bangkitlah nafsu jahat laki-laki ini. Dan ketika Wi Hong menjerit karena Kedok Hitam sudah menundukkan mukanya, membenamkan kepala di buah dadanya yang membangkitkan selera lelaki maka nyonya itu merintih dan tiba-tiba menangis sungguhan.

"Jangan.... jangan, Kedok Hitam. Oh, jangan tidak!"

"Hm, aku mencintaimu. Aku kasihan dan ingin melampiaskan hasratku, Sin-hujin. Kau benar-benar merangsang dan masih begini mempesona. Ah, tubuhmu cantik dan menggairahkan sekali. Kulit dadamu masih mulus!"

"Tidak...!" Wi Hong menjerit, meronta dan menendang-nendang. Kedok Hitam tiba-tiba melakukan sesuatu yang membuat darahnya tersirap. Laki-laki itu menyentuh pahanya! "Tidak... jangan, Kedok Hitam. Ah, jangan. Aku...aku tak mau menerima kebinatanganmu ini. Lepaskan aku... ah, lepaskan aku!"

"Hm," Kedok Hitam menyeringai dan mendengus menciumi wajah yang cantik namun ketakutan itu. "Baik-baik aku meminta namun kasar sekali kau menolak, Sin-hujin. Katakan apakah kau menerima cintaku atau tidak. Kalau mau, aku tak akan memperlakukanmu secara kasar. Aku mencintaimu!"

Wi Hong mengguguk. Ia melotot dan benci sekali memandang wajah di balik kedok ini. Jari-jemari laki-laki itu telah meraba dan meremas-remas bagian-bagian tubuhnya yang paling pribadi. Ah, ia takut tapi juga marah! Dan ketika ia mengguguk dan memaki-maki lelaki itu, Kedok Hitam dikata sebagai binatang jalang maka laki-laki itu mengerutkan keningnya dan tiba-tiba merobek pakaian nyonya ini, pakaian bawahnya.

"Baik, kau selalu memaki-maki aku, Wi Hong. Kalau begitu akan kututup dengan satu perbuatanku... bret!" pangkal paha wanita itu terkuak, lebar dan langsung memperlihatkan sesuatu yang semakin merangsang dan Wi Hong menjerit tinggi.

Wanita ini ketakutan hebat dan lawan terkekeh keji, menjilat paha wanita itu dan berteriaklah Wi Hong serasa pingsan. Ia mengkirik dan ngeri oleh perbuatan laki-laki ini. Kedok Hitam akan menggagahinya. Ia akan diperkosa! Dan ketika Wi Hong menjerit dan berteriak-teriak, lawan tertawa dan mencium bibirnya tiba-tiba Wi Hong tersedak dan mengeluh kehabisan tenaga.

"Tidak.., jangan, Kedok Hitam...jangan!"

"Hm, kau tak menerimaku baik-baik, Wi Hong. Dan aku terlanjur jatuh cinta kepadamu. Diamlah, aku akan memberikan sesuatu yang nikmat dan kau akan kubawa ke sorga!"

"Tidak... tidak!" Wi Hong menjerit, melihat laki-laki itu sudah menurunkan celananya. "Kau binatang keparat Kedok Hitam. Jangan lakukan itu. Bunuh saja aku!"

"Hm, wanita secantik dan semenggairahkan kau eman-eman kalau dibunuh, Wi Hong. Aku akan membunuhmu kalau sudah menikmatimu. Atau kau bersedia menjadi isteriku!"

Wi Hong menangis. Laki-laki itu sudah menindih tubuhnya dan akan terjadilah sesuatu yang bakal membuat aib seumur hidup. Dia akan menerima sesuatu yang amat menyakitkan dan Wi Hong tersentak ketika tiba-tiba sesuatu yang menjijikkan menyentuh tubuhnya. Kedok Hitam sudah kelihatan bernafsu dan wanita ini habis daya. Namun begitu teringat kata-kata lawan, bahwa dia tak akan dipaksa kalau mau menerima baik-baik tiba-tiba wanita ini merintih dan memohon air mata bercucuran.

"Kedok Hitam, jangan teruskan perbuatanmu. Aku.. aku menerima permintaanmu..."

Laki-laki itu tertegun, mata yang beringas tiba-tiba meredup. "Maksudmu?"

"Aku... aku mau menjadi isterimu, Kedok Hitam. Tapi jangan kau paksakan kehendakmu. Lepaskan aku dan jangan tindih tubuhku!"

"Ah, kau mau menjadi isteriku?. Mau membujuk puteramu agar tidak memusuhi aku?"

"Aku mau menjadi isterimu, Kedok Hitam, tapi membujuk puteraku tak dapat kulakukan. Giam Liong seperti ayahnya yang keras dan teguh kemauan!"

"Kalau begitu percuma kau terima. Aku menghendaki puteramu itu tunduk dan menyerah!"

"Lepaskan aku dulu, jangan tindih aku aku tak dapat bernapas!"

"Hm!" laki-laki itu mengangkat naik tubuhnya, Wi Hong memejamkan mata melihat sesuatu yang membuat ia ingin muntah, ngeri! "Aku tak mau kau tipu, Wi Hong. Menundukkan dirimu harus juga menundukkan puteramu itu. Ia pemuda berbahaya melebihi bapaknya!"

"Aku... aku tak dapat membujuknya, anakku itu amat keras dan berhati kaku!"

"Kalau begitu percuma kau menerima aku. Lebih baik kuperkosa dan setelah itu kau kupermainkan dengan perajurit-perajurit rendahan!"

"Oh, tidak... tidak, Kedok Hitam. Jangan! Aku... aku akan coba membujuk anakku itu. Lepaskan aku dan jangan seperti ini!" Wi Hong terkejut dan meronta-ronta, lawan tiba-tiba menerkam tubuhnya dan kembali ingin menggagahinya. Ia hampir pingsan mendapat perlakuan seperti itu. Kedok Hitam sungguh keji! Dan ketika laki-laki itu tertawa melepaskan dirinya, Wi Hong lagi-lagi memejamkan mata tak berani melihat tubuh lawannya ini, tubuh bagian bawah maka Kedok Hitam mendesis dengan kata-kata keji.

"Wi Hong, aku dapat melakukan apa saja yang aku suka. Kau tak usah mengulur-ulur waktu. Katakan, apakah kau mau menjadi isteriku dan membujuk anakmu itu atau kau kupermainkan di sini dan tetap saja menerima perlakuan kasar!"

"Kau binatang terkutuk, manusia rendah....!" Wi Hong mengguguk dengan air mata bercucuran. "Kau selalu memaksakan kehendakmu, Kedok Hitam. Kau persis Coa-ongya keparat itu. semua laki-laki sama!"

"Hm, tak perlu mengumpat caci. Aku tak mau membuang waktuku lagi. Katakan apakah kau dapat menerima permintaanku atau tidak. Kau dan puteramu itu harus membuang permusuhan ini!"

Wi Hong tersedu-sedu. la bingung dan gugup karena permintaan lawan amatlah berat. Dia, yang suaminya sudah dibunuh dan dicincang laki-laki ini mana mungkin harus menurut dan mandah menyerah? Seumur hidup tentu ia tak sudi! Apa yang dia katakan tadipun sesungguhnya hanyalah siasat saja, siasat mengulur-ulur waktu siapa tahu puteranya dapat segera menyusul. Wi Hong yakin bahwa Giam Liong tak akan membiarkannya begitu saja. Puteranya itu mengamuk dan kini pasti melakukan pengejaran. Dia benci dan marah ketika tadi dilihatnya ribuan pasukan memenuhi hutan. Ternyata ini semua adalah hasil kerja laki-laki ini.

Tapi karena dia di bawah kekuasaan dan iapun harus pura-pura menerima, tak tahunya Kedok Hitam memaksa agar dia membujuk putranya pula, hal yang tak mungkir dilakukan maka janda Si Golok Maut ini gugup dan gelisah karena ancaman bakal diperkosa juga menanti di depannya. Ia lebih baik dibunuh daripada mengalami hinaan itu. Mati jauh lebih baik daripada dirusak! Tapi ketika ia ragu-ragu dan mata si Kedok Hitam menyata ganas, nafsu itu lagi-lagi timbul maka Wi Hong buru-buru berseru dan menggerakkan kepalanya. Kedok Hitam tak sabar menanti.

"Tunggu... tunggu dulu, Kedok Hitam. Aku memenuhi permintaanmu!"

"Ha-ha, kau sanggup membujuk anakmu itu?"

"Ya."

"Kalau gagal?"

"Aku., aku tak akan gagal, Kedok Hitam. Aku pasti berhasil!"

"Kalau ternyata tidak?"

Wi Hong tertegun.

"Hm, jangan main-main, Wi Hong. Jangan berpura-pura. Aku merasa tak sepenuhnya kau berjanji. Sinar matamu memain licik!"

"Keparat!" Wi Hong menjadi marah. "Kalau begitu kau bunuh aku, Kedok Hitam, tak usah bicara lagi!"

"Tentu, kalau kau menipu aku. Tapi sekarang biarlah kuanggap kau benar-benar berjanji. Hm, jadi benar kau mau menjadi isteriku? Kau tidak menolak cintaku?"

Wanita ini menggigit bibir, dadanya tiba-tiba menjadi sesak. Bukan oleh apa-apa melainkan oleh amarah yang amat sangat, amarah yang ditahan-tahan! Tapi ketika dia mengangguk dan menahan air mata yang tak kuasa membanjir, Wi Hong mengguguk maka wanita itu lemah bicara,

"Aku menerima cintamu, tapi kau tak boleh menggangguku sekarang...!"

"Bagus, kalau begitu sebagai tanda cinta kaucium dulu aku, Wi Hong. Buktikan kata-katamu bahwa kau tak bohong!"

"Apa?"

"Eh, kenapa melotot? Kita calon suami isteri, Wi Hong. Bukan hal aneh kalau calon isteri mencium calon suaminya. Hayo, lakukan itu atau nanti aku tak percaya!"

Wi Hong mengeluh. Ia benar-benar sakit hati dan dipermainkan laki-laki ini. Namun karena bayangan ancaman jauh lebih mengerikan dan Wi Hong mengharap kembali dapat mengulur-ulur waktu maka apa boleh buat wanita itu mencium si Kedok Hitam, tentu saja ciuman sembarang ciuman dan Kedok Hitam tertawa. Ia tahu perasaan wanita itu dan m inta agar Wi Hong mencium lagi. Dan ketika wanita itu terbelalak dan meledak marah maka Wi Hong tak tahan memaki,

"Kedok Hitam, kau laki-laki tak tahu malu. Bukankah aku sudah melaksanakan permintaanmu? Jangan menghina, atau aku menarik janjiku!"

"Hm, ciumanmu tidaklah mesra, sekedar menempel. Masa begitu ciuman seorang isteri. kepada suaminya? Aku minta yang lebih hangat, Wi Hong, yang mesra. Nah, cium lagi dan ikutilah dengan perasaan sayang!"

Wi Hong menangis. Ia terpaksa mencium lagi dan mengharap Kedok Hitam puas, laki-laki itu tertawa dan tiba-tiba menyambar tubuhnya. Dan ketika Wi Hong terkejut karena lawan ganti mencium dirinya, panas dan penuh nafsu maka Wi Hong mengingatkan bahwa Kedok Hitam tak boleh dulu mengganggu dirinya.

"Kenapa? Bukankah kau sudah menjadi calon isteriku??"

"Masih calon, Kedok Hitam, belum isteri sungguhan. Aku tak mau kau sentuh kalau kita belum resmi!"

"Ha-ha, itu sudah kupikirkan. Kita dapat meresmikannya sekarang juga dan kau tak boleh menolak!"

"Maksudmu?"

"Kita berlutut dan sembahyang di sini Lihat, aku sudah membawa hio dan bumi langit sebagai saksinya!"

Wi Hong tertegun. Ia terbelalak melihat laki-laki itu sudah mengeluarkan sebungkus hio dan alat-alat sembahyang. Heran juga bahwa laki-laki seperti iblis begini ingat akan Tuhan! Dan ketika ia terbelalak dan menggigil, bukan maksudnya untuk menjadi isteri sungguhan maka Kedok Hitam sudah menyalakan hionya dan memasang atau menancapkannya di atas tanah.

"Mari..." laki-laki itu tertawa, sekarang juga kita resmikan, Hong-moi. Bumi dan Langit akan menjadi saksi. Setelah itu tentu kau tak akan menolak lagi jika kusentuh."

Wi Hong meratap, la tak menyangka sama sekali bahwa akan sedemikian rupa jahanam itu mendesaknya, ia benar-benar dipojokkan dan habislah akalnya oleh perbuatan si Kedok Hitam ini. Dan ketika ia menangis keras-keras dan putus asa, lawan akan segera memilikinya secara sah tiba-tiba Wi Hong berteriak,

"Kedok Hitam, aku tak sudi kau sentuh. Mati hidup aku tetaplah milik suamiku. Pergilah kau ke neraka atau lemparkan aku ke akherat!"

"Eh," Kedok Hitam terkejut. “Kau menolak, Wi Hong? Kau melanggar janjimu?"

"Pergilah ke neraka, aku tak sudi menjadi isterimu atau apapun juga. Kau bunuhlah aku dan biarkan aku bertemu suamiku di alam baka!"

"Ha-ha, sudah kuduga!" si Kedok Hitam meloncat dan meniup padam dupa-dupanya. "Aku tahu bahwa kau berpura-pura saja, Wi Hong. Dan aku justeru akan membalasmu dengan siksaan lebih hebat. Baik, kau tak mau menerima dan akupun tak akan meminta. Sekarang berlaku hukum rimba siapa kuat dialah yang menang!" dan ketika laki-laki itu mencengkeram dan menyambar korbannya, tangan bergerak memotong dua kali maka Wi Hong tiba-tiba sudah telanjang bulat dan berdiri bugil di depan laki-laki itu.

"Kedok Hitam...!"

Namun Kedok Hitam sudah melampiaskan marahnya. Ia menerkam dan melempar tubuh Wi Hong, terbanting dan dikejar dan tiba-tiba Wi Hong pun menjerit karena laki-laki ini sudah menindih tubuhnya. Dan ketika Kedok Hitam terbahak-bahak dan suara tawanya amatlah mengerikan, Wi Hong berteriak dan tahu-tahu ditutup mulutnya maka laki-laki itu sudah melepaskan pakaiannya dan Wi Hong diajak bergumul untuk dipaksa melayani hasrat nafsu kotornya. Wi Hong menjerit dan meronta-ronta namun sebuah totokan membuatnya tak berdaya, lemas dan pucatlah wanita itu melihat kejalangan lawan.

Kedok Hitam mendengus-dengus dan menjadi buas tiada ubahnya seekor hewan kelaparan. Nafsu dan kemarahan telah menumpuk di otak laki-laki itu dan Wi Hong terguncang-guncang. Ia merasakan sesuatu yang hampir saja menembus dirinya. Dunia serasa gelap dan hampir saja wanita itu pingsan. Tapi ketika Kedok Hitam menggumul dirinya dan menciumi secara kasar, mata dan pandangan laki-laki ini sudah tiada ubahnya setan sendiri maka berkelebat dua bayangan dan Swi Cu serta Beng Tan muncul.

"Ongya, perilakumu seperti hewan!"

"Kedok Hitam, tingkah lakumu sungguh tak patut sekali!"

Kedok Hitam terkejut. Ia sedang dibakar nafsunya sendiri ketika tiba-tiba suami isteri itu muncul. Swi Cu membentak, dan mendahului suaminya melepas sebuah pukulan. Dan ketika tengkuk laki-laki itu terkena dan Kedok Hitam berteriak, kaget, maka laki-laki itu menyambar pakaiannya dan sambil bergulingan meloncat bangun ia sudah mengenakan pakaiannya itu, muka berubah.

"Ju-hujin, kau curang!"

"Keparat!" Swi Cu marah dan menerjang lagi. "Kaulah yang curang, Kedok Hitam. Kau tak malu-malu memperkosa wanita di tengah siang bolong. Ah, terkutuk dan keji sekali perbuatanmu!" dan sang nyonya yang menyerang dan marah melepas pukulan lalu membuat Kedok Hitam sibuk karena harus menangkis atau mengelak ke sana-sini, gugup dan terpelanting lagi karena ia sungguh tak menduga kedatangan suami isteri ini.

Beng Tan telah berkelebat dan menolong Wi Hong. Wanta itu mengguguk dan dibebaskan totokannya. Dan ketika Wi Hong meloncat dan mencabut pedangnya, menerjang, maka wanita ini kalap menyerang si jahanam itu, yang hampir saja merenggut kehormatannya. Lupa bahwa dia masih telanjang bulat!

"Kedok Hitam, kau benar-benar binatang jalang. Ah, kubunuh kau. Kuhisap kering darahmu nanti...sing-singg!"

Kedok Hitam terkejut.. Ia mengelak dan menangkis dan Wi Hong pun terpental, maju dan menyerang lagi dan Swi Cu tersipu merah melihat keadaan sucinya itu. Wi Hong terlampau marah hingga lupa kepada diri sendiri. Dan ketika wanita itu jengah karena Wi Hong menyerang lagi, sambil telanjang maka Swi Cu berteriak agar sucinya itu mengenakan pakaiannya dulu.

"Suci, jangan seperti itu. Kau belum berpakaian!"

Wi Hong terkejut. Ia menjerit ketika sadar bahwa ia masih telanjang bulat. Pakaiannya yang berserakan di sana segera mengingatkannya akan itu, berjungkir balik dan menyambar pakaiannya ini. Dan ketika dengan merah dan tergesa-gesa ia mengenakan pakaiannya itu, seadanya maka wanita ini muncul lagi dan kembali menerjang. Mata menyala bagai harimau betina haus darah.

"Kusedot sumsummu nanti. Ah, kucincang tubuhmu seperti perkedel!"

Kedok Hitam tertegun. Ia sudah dikeroyok dua wanita ini namun dengan mudah ia mampu menghalau dan menyelamatkan diri, bergerak dan maju mundur menangkis atau menolak serangan-serangan lawan. Dan ketika dua lawannya itu terpental dan Wi Hong berkali-kali memekik tinggi, penasaran, maka Kedok Hitam sadar akan bayangan Beng Tan, si jago pedang.

"Wi Hong, kau beruntung. Tapi aku tak ada nafsu lagi untuk bertanding melawan kalian. Biarlah aku pergi dan lain kali jumpa lagi. Terima kasih untuk semuanya tadi dan aku yakin kau akan rindu mencari aku, ha-ha!" laki-laki ini menampar dua batang pedang yang menyambar dari kiri kanan, mementalkannya dan dua wanita itupun menjerit karena terlempar ke belakang. Dan ketika laki-laki ini membalik dan berkelebat pergi, Beng Tan menjaga di situ maka iapun lari dan tak mau bertanding.

Namun Beng Tan tahu-tahu mendengus pendek. Pendekar pedang ini marah dan iapun membentak perlahan, berkelebat dan tahu-tahu sudah mencegat lawan di depan. Dan ketika Kedok Hitam terkejut karena pendekar itu menyuruhnya berhenti, ketua Hek-yan-pang ini merah padam maka Beng Tan berseru agar lawan mempertanggungjawabkan dulu omongannya.

"Bagaimana kau membawa-bawa pasukan segala. Mana janjimu bahwa kau akan bertempur secara ksatria!"

"Eh!" Kedok Hitam tersentak, menahan larinya. "Apa yang kau maksud, Ju taihiap. Omongan apa yang harus kupertanggungjawabkan!"

"Hm," Beng Tan bertolak pinggang, mata berapi-api. "Kau berjanji untuk datang dan tidak membawa teman, Kedok Hitam. Tapi nyatanya kau ke sini membawa-bawa pasukan. Mana janjimu untuk bertanding dengan Giam Liong satu lawan satu!"

"Ha-ha...!" laki-laki itu tertawa keras, menuding Beng Tan. "Kau yang salah tangkap, Beng Tan. Aku tidak melanggar janji dan sama sekali tidak melanggar janji karena janji itu baru pada hari ketiga, bukan sekarang!"

Beng Tan tertegun.

"Kau ingat perjanjiannya, bukan?" laki-laki itu bicara, kembali berseru menyambung. "Nah, ingat itu dan jangan salahkan aku kalau tiba-tiba aku di sini dan membawa pasukan. Minggir dan sekarang tentu kau tahu!"

Beng Tan didorong. Pendekar ini mau menahan namun tiba-tiba ia teringat. Benar, perjanjian adu kepandaian itu barulah pada hari ketiga, bukan sekarang. Dan karena ia tercengang karena lawan tidak keliru, ialah yang salah karena hari itu belum datang maka Beng Tan mundur ke belakang dan lawanpun lewat dengan cepat. Pendekar ini bengong.

"He!" Wi Hong yang tak tahan dan sudah berteriak marah, mengejar. "Jangan kau lari, Kedok Hitam. Kau dan aku masih punya urusan. Kita selesaikan dulu dan kau tunggu aku!" sang nyonya berjungkir balik melewati Beng Tan, marah kepada pendekar itu karena Beng Tan membiarkan lawan lari. Dan ketika ia turun dan Kedok Hitam terkejut, Wi Hong memlpergunakan kesempatan selagi ia tadi tertahan sejenak maka wanita itu sudah menusuknya dengan pedang di tangan.

"Plak!"

Namun laki-laki ini memang terilalu lihai bagi Wi Hong. Pedang yang ditangkis dan terpental menyambar Wi Hong membuat wanita itu terpekik dan melempar kepala kebelakang. Ia harus menyelamatkan dirinya dari tolakan si Kedok Hitam itu. Dan ketika ia selamat namun lawan melarikan diri, jauh dan sudah tiba di mulut hutan maka Wi Hong membentak dan mengejar lagi. Nekat oleh kemarahannya yang tidak terkendali.

"Kedok Hitam, tunggu. Kau atau aku yang mati!"

Beng Tan mengerutkan kening. Ia melihat Wi Hong sudah mengejar lawannya dan Kedok Hitam tertawa, membalik dan melepas jarum-jarum halus. Dan ketika Wi Hong menangkis dan berseru terkejut lawan lari lagi maka sebatang jarum menancap di dada kiri wanita itu.

"Ha-ha, selamat menikmati mimpi indah, Wi Hong. Tidak dengan aku boleh juga dengan laki-laki lain!"

Wi Hong terhuyung. Pedangnya tiba-tiba terlepas karena dada kirinya terasa gatal dan panas menggigit. Ia tak tahu apa arti kata-kata lawannya itu namun Beng Tan berkelebat dan tahu-tahu mengusap dada kirinya itu. Dan ketika Wi Hong berteriak dan roboh terguling, kaget, maka Beng Tan sudah berdiri dengan sebatang jarum terjepit di antara telunjuk dan jari tengah.

"Keparat, Kedok Hitam sungguh keji!"

Swi Cu berkelebat dan terbelalak memandang suaminya. Ia melihat suaminya mengusap buah dada Wi Hong dan tentu saja ia mula-mula kaget, panas, juga marah. Tapi begitu sang suami menjepit jarum itu dan bertanya apakah ia tahu maka nyonya ini tertegun, menggeleng.

"Ini jarum pemabok, berlubang dan diisi hawa birahi. Coba kau cium dan rasakan apa yang terjadi!"

Swi Cu mencium. Tiba-tiba ia merasa pusing dan mabok. Keharuman aneh merangsang birahinya dan tiba-tiba iapun terbakar. Cepat dan kuat sekali mendadak ia ingin memeluk dan mencium suaminya itu. Dan ketika benar saja ia terhuyung dan mendekap sang suami, mencium, maka Beng Tan mengelak dan menotok isterinya itu, di belakang telinga.

"Sadarlah, kau terpengaruh jarum pembius, niocu. Buang napas tiga kali dan tarik kuat-kuat udara bersih...plak!"

Swi Cu menerima tepukan suaminya, tepukan bukan sembarang tepukan melainkan totokan untuk memunahkan hawa merangsang. Sekali sedotan tadi telah membuat nyonya ini terbakar berahi! Dan ketika Swi Cu mengeluh dan sadar, ia jengah memandang suaminya maka Wi Hong terkekeh dan tertawa-tawa mendekati Beng Tan, langkah sempoyongan.

"Aduh, kau tampan, dan gagah sekali, Beng Tan. Ah, kau mengingatkan suamiku. Ke marilah, aku ingin bercumbu!"

Swi Cu terkejut. Kemarahan yang tadi ada tiba-tiba buyar. Sekarang tahulah dia kenapa suaminya mengusap dada kiri sucinya itu, bukan mengusap melainkan sebenarnya mengambil atau mencabut jarum birahi. Sucinya itu terkena jarum perangsang dan kinilah akibatnya tampak. Dan ketika sucinya memeluk namun suaminya mengelak, Wi Hong membelalakkan mata maka wanita itu berseru,

"Ih, jangan begitu, Beng Tan. Kau telah mengusap buah dadaku tadi. Ke marilah, akupun senang kepadamu!" namun ketika Beng Tan bergerak dan menepuk tengkuk Wi Hong, sama seperti kepada isterinya tadi maka pendekar itu berkata,

"Wi Hong, kau terkena jarum birahi. Buang napas tiga kali dan tarik kuat-kuat udara bersih!"

Wi Hong terhuyung. Ia berteriak ketika ditampar pendekar ini, tersedak dan otomatis membuang napas seperti yang dikata pendekar itu. Dan ketika ia menarik napas kuat-kuat dan udara bersih memenuhi paru-parunya, hawa birahi lenyap maka Wi Hong pun tertegun dan memegangi kepalanya dengan bingung, sisa pusing masih ada. "Ap... apa yang terjadi. Kenapa dengan aku tadi!"

"Kau diserang jarum birahi," Swi Cu berkelebat dan menggenggam lengan sucinya ini. "Kedok Hitam menyerangmu dengan jarum memalukan, suci. Tapi kau selamat dan aku lega bahwa kau terbebas dari ancamannya!"

"Keparat, jarum birahi? Ah, pantas. Kedok Hitam sungguh kurang ajar!" tapi teringat bahwa dia bermusuhan dengan Swi Cu, mereka sebenarnya tak berbaik satu sama lain tiba-tiba wanita ini mengipatkan tangannya dan menangis pergi. "Swi Cu, aku hutang sebuah kebaikan kepadamu. Biarlah lain kali aku balas tapi tak usah kita bertemu!"

"Hm," Beng Tan menyambar dan tahu-tahu sudah berada didekat isterinya, sang isteri tertegun. "Tak usah kecewa akan sikapnya, niocu. Lebih baik begitu daripada kita berkelahi. Marilah, ke mana kita pergi dan apa yang sekarang hendak kita lakukan."

"Aku... aku ingin menghajar Kedok Hitam. Sungguh keparat dan tak tahu malu pangeran jahanam itu. Ia berwatak rendah dan benar-benar kotor!"

"Tak usah menyebut-nyebut kedudukannya," sang suami menegur dan berkerut kening, wajahpun masih merah teringat watak rendah laki-laki berkedok itu. "Kalau ia terjun di dunia kang-ouw maka ia adalah Kedok Hitam, isteriku, bukan orang lain atau siapapun. Baiklah, kita kejar dia tapi apakah tak sebaiknya melihat atau mengetahui nasib pasukan kerajaan."

"Cih, untuk apa melihat mereka? Giam Liong membantainya, suamiku. Biarkan saja dan biar mereka itu mampus. Kalau takut tentu mundur. Tapi kalau mau mencari mati biarkan saja mereka menghadapi Giam Liong. Aku tak mau bertemu suci!"

"Hm, begitukah? Baiklah, mari ke istana dan aku hendak menegur si Kedok Hitam ku. Ia licik dan sungguh culas sekali”

"Akupun ingin memaki-makinya. Tak pantas bagi seorang pangeran melakukan perbuatan sekeji itu!"

"Sudahlah... sudahlah. Tak usah menyebut-nyebut kedudukannya dan mari kita pergi!" dan begitu Beng Tan berkelebat menyendal lengan isterinya, muram dan tak senang maka di hutan itu terjadi sesuatu yang bakal membuat suami isteri ini kecewa berat!

Waktu itu, mengamuk dan membuka jalan darah Giam Liong benar-benar beringas membabat pasukan kerajaan. Dia marah sekali karena mati satu maju sepuluh, roboh sepuluh maju seratus! Dan ketika hutan itu penuh oleh jerit dan bentakan manusia, di mana-mana pasukan kerajaan mengepung dan menghalang-halangi Giam Liong maka pemuda yang seharusnya sudah dapat mengejar si Kedok Hitam itu menjadi terganggu karena ia tak dibiarkan keluar atau menerobos begitu saja.

Para perwira atau panglima kerajaan berseru berulang-ulang agar menahan amukan pemuda itu. Panah dan tombak atau apa saja diluncurkan ke arah pemuda ini. Namun karena Giam Liong memutar goloknya dan semuanya patah-patah bertemu golok di tangan pemuda itu, yang berkelebat dan menyambar ke kanan kiri maka ganti berteriaklah orang-orang itu tersambar goloknya. Setiap darah muncrat tentu kering. Golok menjadi semakin berkilau-kilauan "dijamas" darah pasukan kerajaan ini. Sudah tiga ratus lebih terbunuh oleh Giam Liong dan akhirnya orang-orang itupun gentar. Baju besi yang mereka kenakan tetap saja tembus dan robek, golok terus menyambar dan berteriaklah mereka ketika dada atau kepala mereka terpisah. Dan ketika sorak-sorai terdengar dari belakang dan orang-orangnya Chu-goanswe muncul dan menerjang, membantu pemuda ini maka pasukan kerajaan kalut dan kacau.

"Serbu, bunuh mereka. Bantu Sin-siauw hiap!"

Para pemberontak atau pejuang berhamburan dari kiri kanan. Mereka tadi menunggu aba-aba dan kini Chu-goanswe muncul, gendewa di tangannya terpentang dan menyambarlah panah-panah besar yang mendesing berat. Dan ketika tubuh-tubuh terpelanting oleh panah si jenderal ini, tembus dan langsung binasa maka pengikut Chu-goanswe bersorak-sorai menerjang ganas.

Pasukan kerajaan menjadi terkejut dan merekapun pucat. Menghadapi keturunan Si Golok Maut itu saja mereka sudah kalang-kabut, apalagi kini ditambah oleh muncul dan menyerbunya pasukan pemberontak itu. Dan ketika mereka ngeri dan gentar oleh tandang yang amat menggiriskan, kaum pemberontak itu rata-rata adalah ahli-ahli silat dari dunia kang-ouw maka baju besi yang mereka pakaipun ada yang pecah!

"Crat-bluk!"

Panah Chu-goanswe menembus dan merobohkan seorang lagi. Baju besi itu tak tahan dan sambaran anak panah inipun amatlah kuatnya. Tenaga Chu-goanswe yang besar dan bidikannya yang tepat membuat lawannya itu terguling, roboh dan tewas dengan jantung tertikam. Anak panah itu masih sempat bergoyang-goyang untuk akhirnya diam setelah si perajurit tak bergerak-gerak. Dan ketika yang lain juga menjadi korban dan satu demi satu anak-anak panah Chu-goanswe ini mengenai telak, jenderal itu sungguh seorang ahli panah ulung maka pasukan kerajaan cerai berai dan berantakan.

"Mundur mundur, semua menjauh!”

Namun ini justeru membuat para pejuang berkobar semangat tempurnya. Mereka semakin beringas mengejar lawan yang mundur, berkelebat dan membacok dan banyak lagi yang roboh. Dan ketika orang-orang itu kalut namun kepungan terhadap Giam Liong tetap dipertahankan, mereka itu mengepung dan menyerang dan jauh maka Giam Liong menggeram dan kini menyerbu dengan tidak menangkis semua senjata-senjata lawan, membiarkan semua panah atau tombak runtuh bertemu tubuhnya, yang kebal dan menggelembung penuh tenaga sakti.

"Hayo, kalian maju dan kubunuh satu demi satu. Lindungi si Kedok Hitam itu dan kalian menjadi pengiringnya dineraka!"

Pasukan itu kewalahan. Mereda mundur dan terus mundur namun yang menjengkelkan adalah tetapnya kepungan lebar itu. Para panglima berseru berulang-ulang agar tidak membiarkan pemuda itu menerobos, hal yang membuat Giam Liong menjadi marah. Dan ketika seratus tubuh kembali malang-melintang dan Golok Penghisap Darah berkilau-kilauan terang maka Giam Liong berkelebat dan menuju ke arah dua panglima yang paling getol berteriak-teriak memberi aba-aba.

"Kalian sumber penyakit paling busuk. Sekarang terima kematian kalian dan coba kulihat apakah mulut kalian dapat berteriak-teriak lagi!"

Dua panglima itu terkejut. Giam Liong berkelebat dengan amat cepatnya dan tahu-tahu menyambar seperti siluman. Bayangannya tidak tampak tapi yang kelihatan hanya sinar putih golok mautnya itu. Dan ketika mereka coba menghindar namun Giam Liong lebih cepat, pemuda ini geram kepada dua panglima itu maka terdengar jerit tertahan ketika dua batang kepala mencelat dari tubuhnya.

"Crat!" Darah menyembur dan dua panglima itupun roboh. Giam Liong telah membinasakan mereka dan golok maut di tangannya semakin bercahaya. Golok ini semakin terang setiap mendapatkan korbannya. Tambah banyak tambah segar. Mentakjubkan, tapi sekaligus juga mengerikan! Dan ketika Giam Liong bergerak dan menerjang ke kiri, pasukan kalut melihat tewasnya pimpinan maka di sini pemuda itu merobohkan lagi tujuh orang yang paling dekat, kacau dan kepunganpun buyar didekati golok mautnya. Jalan kini mulai terbuka dan Giam Liong gemas mendorong dengan tangan kirinya. Dan ketika angin pukulan menyambar ke depan dan duapuluh orang terlempar sambil menjerit maka pemuda itu berkelebat dan keluar.

"Awas... awas... jangan sampai dia lolos. Jangan biarkah ia mengejar Kedok Hitam!" seorang perwira lain, yang terkejut dan pucat melihat lolosnya pemuda itu berteriak-teriak dari jauh. Ia telah melihat robohnya dua temannya tadi namun Giam Liong mendengus melempar sebuah hui-to kecil. Dan ketika golok terbang ini menyambar dan mengenai perwira itu, yang terguling dan menjerit maka satu pimpinan lagi dibinasakan.

"Mari, kalian boleh kepung aku lagi. Dan darah kalian akan kering kuhisap!"

Orang-orang gentar. Mereka sekarang mundur dan Giam Liong tidak mendapatkan lawannya. Panah dan tombak yang patah-patah bertemu tubuhnya diraup dan rontok begitu saja. Pemuda ini benar-benar menggiriskan. Namun ketika Giam Liong sudah keluar dan lolos dari kepungan, ratusan tubuh malang-melintang di kiri kanan mendadak terdengar jerit dan teriakan Chu-goanswe, begitu juga anak buahnya.

"Heii, siapa pemuda ini, siauw-hiap. Lihat ia meroboh-robohkan anak buahku!"

Giam Liong terkejut. Ia sudah akan mengejar Kedok Hitam yang menawan ibunya itu ketika tiba-tiba dari belakang terdengar seruan dan suara bak-bik-buk. Ia membalik dan melihat sesosok bayangan putih menyambar-nyambar dari satu tempat ke tempat lain, persis garuda yang beterbangan sambil mengibas atau menampar-namparkan sayapnya. Dan ketika para pejuang berteriak berpelantingan dan panah Chu-goanswe pun runtuh dipukul bayangan putih itu, yang entah datang dari mana maka bayangan itu berseru kepada Giam Liong agar berhenti. Dia muncul dari belakang meroboh-robohkan orang-orangnya Chu-goanswe itu.

"Hei, sobat di depan. Berhenti dan jangan pergi dulu, sobat. Tunggu aku dan betapa ganasnya golok maut ditanganmu itu!"

Giam Liong berhenti. Tentu saja ia terkejut dan mengerutkan kening melihat sepak terjang bayangan putih ini. Matanya yang tajam segera melihat bahwa bayangan itu adalah seorang pemuda berpakaian putih yang gagah dan tampan. Gerakannya luar biasa cepat namun ia masih dapat menangkap, tertegun dan menunggu dan orang-orangnya Chu-goanswe pun terlempar ke kiri kanan. Dan ketika semua mundur dan otomatis menyibak, bayangan itu berkelebat dan memanggil Giam Liong maka iapun sudah berdiri di situ dan tiba-tiba dua orang pemuda yang sama-sama gagah dan tampan sudah saling berdiri berhadapan.

"Kau ganas dan telengas sekali. Golok di tanganmu bau darah!"

"Siapa kau!" Giam Liong terkejut dan membentak, pemuda itu memiliki ilmu ginkang yang hebat sekali. Sekali bergerak telah merobohkan orang-orangnya Chu goanswe dan tiba di depannya. "Ada apa kau memanggilku, sobat. Dan apakah kau antek kerajaan pula!"

"Hm, aku Han Han," pemuda itu bersinar-sinar, pandang matanya tiba-tiba tajam dan menusuk. Getaran sinkang langsung memancar dan Giam Liong terkejut, merasakan adanya perbawa dan sinar mata yang kuat, mencorong! "Aku memanggilmu karena aku tak mau kau pergi, sobat. Kau terlalu ganas dan kejam membunuh-bunuhi orang-orang ini. Apakah kau yang bernama Giam Liong itu dan dijuluki Si Naga Pembunuh!"

"Aku tak perduli kepada julukan yang diberikan orang kepadaku. Namun benar bahwa akulah Giam Liong. Kau mau apa dan kenapa menghentikan aku kalau bukan antek kerajaan!"

"Aku tak suka sepak terjangmu. Kau pembunuh berdarah dingin!"

"Hm!" Giam Liong mendengus, mundur dan mengemati-amati wajah lawan dengan jelas, terkejut karena tiba-tiba ia melihat persamaan wajah dengan ayah angkatnya Beng Tan. Dan ketika ia tergetar dan membelalakkan mata, bertanya sekali lagi siapa lawannya itu maka pemuda baju putih ini menjawab,

"Aku adalah Han Han, sudah kusebut namaku. Nah, kenapa kau demikian keji membunuh-bunuhi orang!"

"Han Han? Kau dari mana? Siapa ayah ibumu?"

Pemuda itu mengerutkan kening, heran, tapi juga tak senang. "Ayah ibuku tak usah ikut campur, Giam Liong. Kita berhadapan sebagai lelaki dengan lelaki. Aku tak perlu membawa-bawa nama orang tua."

"Kau... kau apakah Han Han putera ayahku Beng Tan? Anak yang hilang itu?"

Han Han, pemuda ini terkejut. Tentu saja ia terkejut karena ialah yang sudah diduga sebagai putera ketua Hek-yan-pang. Mencari dan meninggalkan Hek-yan-pang untuk menemukan ibunya. Maka begitu Giam Liong menyebut-nyebut nama itu lagi dan ia tergetar karena jejak ayah ibunya rupanya semakin kuat, untuk kesekian kalinya lagi ia disebut sebagai keturunan ketua Hek-yan-pang maka pemuda itu mundur dan balik memandang Giam Liong dengan wajah tertegun.

"Kau sudah tahu tentang siapa aku? Kau Sin Giam Liong yang dulu tinggal bersama ketua Hek-yan-pang?"

"Hm," Giam Liong tiba-tiba girang, sinar matanya yang ganas dan dingin bersinar-sinar, tiba-tiba berubah. "Kalau benar kau Han Han yang kucari maka adalah kebetulan sekali, sobat. Sudah lama aku dan ibuku mencari-cari dirimu. Wajah dan sikapmu seperti ayahmu itu. Di mana saja kau selama ini dan kenapa sekarang baru muncul!"

Chu-goanswe, yang mendengar dan tertegun oleh semua percakapan itu tiba-tiba mendengar bisik-bisik disana-sini. Pasukan kerajaan yang juga menonton dan berdiri dari jauh ikut melihat dan mendengarkan, begitu juga pengikut-pengikut Chu-goanswe yang mengharap pertandingan dua pemuda itu. Tapi begitu suasana berubah dan Giam Liong menunjukkan sikap persahabatan, dua pemuda itu saling pandang dan Giam Liong melangkah maju tiba-tiba pemuda ini sudah memeluk dan menitikkan air matanya.

"Benar, kau pasti Han Han anak ayah angkatku itu, Han Han. Kau dicari-cari dan selama ini menghilang. Ah, hutang ibuku akan lunas dan kau dapat menggantikanaku!"

Han Han, pemuda baju putih ini tertegun. Ia tadi muncul dari belakang kaum pejuang dan kebetulan saja melihat keramaian hutan, gaduhnya suasana perang dan sepak terjang Giam Liong yang nggegirisi. Dan ketika ia tak tahan dan harus turun tangan, sayang terhalang anak buah Chu-goanswe yang tebal dan berlapis-lapis maka ia harus meroboh-robohkan dulu orang-orangnya Chu-goanswe itu sebelum mendekati Giam Liong. Ia membuat kaget para pemberontak karena tiba-tiba muncul begitu saja. Tapi karena ia bukanlah Giam Liong dan murid Im Yang Cin-jin ini pada dasarnya juga seorang pemuda lemah lembut, yang tak dapat bersikap kejam dan keras maka ia hanya meroboh-robohkan saja pengikut Chu-goanswe itu tanpa mencederai mereka.

Namun ini membuat para pemberontak atau pejuang itu berani. Mereka dapat bangun lagi dan kembali menyerang pemuda itu. Dan ketika Han Han harus menurunkan tangan lebih keras, orang-orang itu terpenting menerima pukulan Im-yang-sin-kunnya maka barulah orang-orang itu kaget dan Chu-goanswe sendiri berteriak tertahan ketika dengan satu kibasan ujung baju anak panahnya yang besar dan berat dipukul runtuh, patah menjadi delapan potong!

"Ah, pemuda yang amat lihai!" jenderal itu berseru dan cepat-cepat memanggil Giam Liong, la paling gentar kalau menyaksikan kelihaian anak-anak muda seperti Giam Liong. Dan karena sekali pandang ia maklum bahwa hanya Giam Liong saja yang dapat menandingi, orang-orangnya sudah roboh dan merintih-rintih di sana maka jenderal ini malah bengong ketika Giam Liong dan pemuda itu kini berpeluk-pelukan!

“Ah, kau benar anak yang hilang itu, Han Han. Kau mirip ayahmu yang gagah dan lihai. Dan kaupun mengagumkan!"

"Apakah kau yakin aku putera ayahku itu?" Han Han menggigil, tiba-tiba tersedak.

"Pasti, wajah dan sikapmu bagai pinang dibelah dua, Han Han. Tapi kau tampaknya lebih hebat!"

"Dari mana kau tahu?"

"Sepak terjangmu sekilas tadi. Kau memiliki pukulan ampuh yang membuat orang-orangnya Chu-goanswe terlempar!"

"Hm, dan kau juga hebat. Tapi kau ganas, Giam Liong. Kau membunuh-bunuhi pasukan kerajaan seperti orang membunuh-bunuhi ayam. Aku tak suka!"

"Benar!" pasukan kerajaan tiba-tiba berteriak.

Han Han melepaskan diri dan sudah dapat menekan guncangan hatinya tadi. Ia benar-benar putera ketua Hek-yan pang. Beberapa kali wajahnya disebut benar-benar mirip ketua Hek-yan-pang itu, baik ketika ia di Hek-yan-pang maupun di sini.

"Ia kejam dan telengas, kongcu. Dan kalau kau putera ketua Hek-yan-pang maka sudah semestinya kau membantu kami. Ayahmu adalah bekas orang kepercayaan kaisar!"

"Hm," Giam Liong membalik, tangannya tiba-tiba bergerak melepas hui-to kecil, orang yang berteriak itu roboh dan seketika berteriak. "Anjing-anjing kaisar tak perlu kau percaya mulutnya, Han Han. Dulu adalah dulu dan sekarang adalah sekarang!"

Pasukan kerajaan ngeri. Giam Liong telah membunuh orang yang berteriak itu dan kini pemuda itu menghadapi kawan barunya ini, mendengus dan menyuruh Han Han tak usah mendengarkan kata-kata itu. Tapi ketika Han Han bergerak dan merah padam, ia tadi terlambat mencegah sebuah pembunuhan maka pemuda itu marah memandang Giam Liong.

"Kau kejam dan tak berperasaan. Begini mudahkah kau membunuh orang seperti itu? Hm, hentikan kekejamanmu, Giam Liong. Atau aku tak mengingat persahabatan dan hubunganmu dengan ayahku, kalau ketua Hek-yan-pang benar-benar ayahku!"

"Kau benar-benar putera ayah angkatku Beng Tan. Tapi aku tak perduli apakah kau suka atau tidak akan sepak terjangku. Mereka yang datang dan lebih dulu mencari permusuhan, Han Han. Tanya mereka dan siapa yang salah!"

“Bocah itu tulang Punggung pemberontak, Giam Liong adalah keturunan pemberontak!” seorang perWira lagi yang berteriak dan bersembunyi di balik pasukannya berkata nyaring. Ia memberanikan diri karena ada Han Han di situ. Tapi begitu Giam Liong menjentik dan golok terbangnya melesat maka perwira itupun menjerit dan roboh. Tenggorokannya tertancap tembus.

"Lihat," Giam Liong menantang, sikap dinginnya timbul. "Aku tak perduli kau di sini Han Han. Putera ayahku atau bukan kalau kau mengambil sikap bermusuhan maka aku akan menganggapmu musuh. Lihat, anjing kaisar itupun kubungkam."

Han Han terkejut. Untuk kedua kalinya lagi ia kalah cepat karena Giam Liong menjentikkan golok terbang itu dari balik saku bajunya. Gerakannya tak Kentara karena Han Han mengira lain. Dan ketika perwira itu roboh dan pasukan kembali gempar, Giam kali membunuh lawannya maka Han Han membentak dan tiba-tiba berkelebat di depan pemuda itu, di tengah-tengah antara Giam Liong dengan pasukan kerajaan.

"Giam Liong, jangan kurang ajar. Hentikan kekejamanmu atau aku akan memberimu pelajaran!"

"Hm," Giam Liong teringat ibunya, tiba-tiba berkelebat dan lewat di samping pemuda ini. "Aku akan menolong ibuku dulu, Han Han. Setelah itu kita bicara lagi dan boleh kita main- main!"

"Kejar, serang dia...!" beberapa panglima tiba-tiba berseru, pucat melihat Giam Liong keluar hutan, mengejar Kedok Hitam. "Jangan biarkan ia mendapatkan ibunya, anak-anak. Coa-ongya nanti marah kepada kita!"

Giam Liong segera dihujani anak panah. Mereka yang gentar menghadapi pemuda ini segera melepas panah dan jauh dan Chu-goanswe serta yang lain-lain terkejut. Mereka marah karena lawan tiba-tiba bergerak kembali,menyerang Giam Liong. Tapi ketika Giam Liong mengebutkan lengannya dan semua anak-anak panah membalik, balas menyerang orang-orang itu maka orang-orang itu berteriak dan roboh terjungkal. Giam Liong berseru agar Chu-goanswe menghajar pasukan kerajaan itu.

"Baik!" Chu-goanswe girang dan berseru keras, anak panahnya dilepas menyambar orang-orang itu. "Kami akan menghajar anjing-anjing kerajaan ini, siauwhiap. Dan cepat kembali kalau kami belum menyusul!"

Giam Liong mengangguk. Ia tak menghiraukan orang-orang itu lagi ketika pikirannya teringat akan sang ibu. Cukup lama ia tertinggal Kedok Hitam dan jangan-jangan ada apa-apa dengan ibunya nanti. Maka begitu ia mengibas dari pasukan kerajaan rontok nyalinya, mereka sudah berteriak-teriak mundur dan Chu-goanswe maju bersama pengikutnya maka pasukan kerajaan dihantam dan dipukul jenderal tinggi besar ini.

Tapi Han Han bergerak dan membentak orang-orangnya Chu-goanswe itu. Ia tiba-tiba tak senang dan marah melihat keganasan Giam Liong. Kening dan alisnya berkerut-kerut dalam. Dan ketika ia berkelebat dan dua tangannya menampar ke kiri kanan, orang-orangnya Chu-goanswe dipukul berpelantingan maka Han Han berseru kepada Giam Liong agar tidak me«inggalkan kawan-kawannya, atau Chu-goanswe dan orang-orangnya itu akan dirobohkan semua.

"Giam Liong, kembali kau. Atau aku akan menghajar teman-temanmu ini seperti kau menghajar pasukan kerajaan.. bres..bress!" tujuh dari sebelas pengikut-pengikut Chu-goanswe berteriak dan terlempar bagai layang-layang putus, terbanting dan terguling-guling di sana dan Chu-goanswe membentak berseru marah.

Han Han telah berkelebat ke orang-orangnya yang lain dan tiga empat kali pemuda itu kembali merobohkan pengikutnya. Dan ketika semua menjadi gempar karena sekejap kemudian Han Han telah merobohkan lima puluh orang, pasukan kerajaan bersorak dan balik mengejar pengikut Chu-goanswe maka jenderal tinggi besar itu berteriak marah melepas tujuh anak panahnya ke arah Han Han.

“Sin-siauwhiap, jangan pergi dulu. Pemuda ini mengamuk!"

Han Han tak menoleh dan melakukan seperti apa yang dilakukan Giam Liong. Ia menamparkan tangannya ke belakang dan tujuh panah itu terpental balik, menyambar dan kembali menyerang pemiliknya. Dan ketika Chu-goanswe harus melempar tubuh bergulingan namun sebatang anak panah masih juga menancap di bahunya, jepderal itu bergulingan maka Chu-goanswe melompat bangun dan pucat memandang pemuda baju putih ini. Dan pasukan kerajaanpun semakin bersorak-sorai.

"Bagus, ha-ha... tangkap dan bunuh Chu-goanswe itu, Han-kongcu. Ialah biang keladi keributan ini dan otak pemberontakan!"

Han Han bersinar marah. Ia marah kepada Giam Liong dan kini ingin melampiaskan kemarahannya kepada jenderal tinggi besar itu. Giam Liong meninggalkannya dan ia merasa direndahkan. Ia ingin menangkap jenderal itu sebagai rasa marahnya kepada Giam Liong. Ia ingin memberi pelajaran. Giam Liong dianggapnya sombong dan tentu saja ia tak tahu bahwa kepergian Giam Liong adalah untuk menolong ibunya, yang dibawa si Kedok Hitam.

Dan ketika Han Han menjadi panas karena Giam Liong dianggap merendahkannya, jenderal she Chu itu juga menyerangnya dengan tujuh panah berturut-turut maka pemuda ini membalas dan anak-anak panah itupun dipentalkannya kepada Chu-goanswe, satu di antaranya menancap dan kini jenderal itu bergulingan meloncat bangun. Han Han tak menunggu waktu lagi dan tiba-tiba ia berkelebat ke arah jenderal ini. la akan menangkap otaknya dan menghentikan pembunuhan masal itu.

Tapi begitu ia bergerak dan jari-jarinyapun sudah mendekati leher Chu-goanswe, yang baru saja meloncat, bangun maka Giam Liong tiba-tiba berkelebat dan sinar putih yang panjang langsung menyambar jari-jari pemuda ini.

“Han Han, jangan main-main dengan Chu-goanswe!"

Han Han terkejut. Ia mendengar dan melihat sinar panjang itu, dingin menyeramkan dan tentu saja ia tak mau menjadi korban. Dan ketika apa boleh buat ia menarik serangannya kepada Chu-goanswe dan sinar putih itu lewat di depannya, ia menjepret dan menampar badan golok maka Han Han tergetar ketika jari-jari tangannya bertemu benda dingin yang kaku keras.

"Plak!"

Chu-goanswe selamat sementara Giam Liong telah berdiri di situ. Sinar putih lenyap karena sudah kembali dipunggung pemuda ini. Golek maut, Golok Penghisap Darah, telah disarungkan lagi di belakang tubuh Giam Liong. Dan ketika Han Han terhuyung dan pucat memandang lawannya, Giam Liong telah tegak dengan sikap dingin maka pemuda ini membentak,

"Giam Liong, jangan sombong dengan golok mautmu. Keluarkan, dan aku tak takut!"

"Hm, sekali dikeluarkan seharusnya meminum darah, Han Han. Tapi kepada dirimu aku menahan diri. Pergilah, cari ayah ibumu atau nanti kau celaka di sini!"

Han Han marah terbakar. Ia merasa direndahkan dan tak dipandang sebelah mata. Pasukan kerajaan bersorak-sorak sementara pengikut Chu-goanswe juga berteriak menyuruh Giam Liong menghajar pemuda itu. Masing-masing pihak menjagoi jagonya dan kata-kata memanaskan segera terdengar di sana-sini. Dan ketika Giam Liong tegak menantang sementara pemuda baju putih itu merah mukanya, Han Han bergetar dan menggigil mengerahkan sinkang tiba-tiba pemuda itu membentak,

"Giam Liong, majulah. Lihat siapa yang akan diberi pelajaran kau ataukah aku!"

"Hm, kau sudah mencampuri urusan. Majulah, Han Han. Aku memberi kesempatan lebih dulu kepadamu karena aku adalah tuan rumah."

"Begitukah? Baik!" dan Han Han yang tidak dapat menahan diri lagi disoraki lawan tiba-tiba berkelebat dan lenyap menampar Giam Liong. Jari-jari pemuda ini sudah berkerotok dan tangan kiri maupun kanannya kemerah-merahan. Itulah hawa sakti Yang-kang (panas) yang sudah dikerahkan pemuda ini. Dan ketika Giam Liong terkejut karena hawa panas mendahului menyambar, ia mengelak namun lawan mengejar maka Giam Liong menangkis dan untuk pertama kalinya dua pemuda itu sudah mengadu tenaga.

"Dukk!"

Dua-duanya sama terpental. Giam Liong terkejut karena sinkang atau tenaga sakti Han Han ternyata hebat sekali. Apa yang sudah diduga ternyata benar. Dan ketika Han Han berkelebat dan kembali menyerang, orang-orang yang menonton tertegun karena pemuda baju putih itu sudah menyambar seperti seekor rajawali sakti yang beterbangan mengelilingi Si Naga Pembunuh maka Giam Liong juga terkesiap karena tahu-tahu ia sudah dihujani pukulan atau tamparan bertubi-tubi, cepat dan panasnya menjadi-jadi hingga sebentar kemudian iapun berkeringat. Dan ketika Giam Liong mengelak namun selalu dikejar, menangkis dan membalas maka dua pemuda itu tiba-tiba sudah bertanding dan satu sama lain mengitari lawan, sambar-menyambar!

"Bagus, hebat, Han Han. Pukulan-pukulanmu cepat dan luar biasa sekali!"

"Hm," Han Han juga kagum, tak mau banyak bicara. "Kaupun hebat, Giam Liong. Tak bohong kalau orang memuji-muji dirimu!"

Dan keduanya yang sudah bertempur dan saling dahulu-mendahului akhirnya mulai membuka mata masing-masing bahwa lawan yang dihadapi betul-betul hebat. Han Han mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Sakti Terbang Ke Langit). Dan ketika pasukan kerajaan bersorak karena tubuhnya benar-benar terbang menyambar-nyambar, kaki pemuda itu tak menginjak tanah lagi saking cepatnya ia bergerak maka Chu-goanswe dan para pengikutnya menjadi berdebar karena Giam Liong kalah cepat dan berkali-kali harus menangkis pukulan lawan.

"Duk-dukk!"

Giam Liong tergetar sementara Han Han terpental mengelilingi dirinya lagi. Han Han juga kagum dan penasaran oleh kehebatan lawannya ini. Pukulan-pukulan Yang-kang yang dilancarkannya ternyata dapat ditangkis dan diterima Giam Liong, padahal pemuda itu sudah berkeringat dan mangar-mangar. Giam Liong memang diserang hawa panas yang semakin menjadi dari pukulan lawannya itu. Tapi karena pemuda ini juga memiliki daya tahan mengagumkan, sinkang di tubuhnya bekerja dan melindungi maka Giam Liong diam diam melawan hawa panas itu dengan sinkang yang dipelajarinya dari kitab kecil peninggalan ayah kandungnya. Dengan sinkang itu akhirnya perlahan-lahan hawa panas dapat dilawan. Keringat yang semula mengucur akhirnya dibuat dingin, beku. Dan ketika Giam Liong akhirnya tidak berkeringat sama sekali dan Han Han tertegun, pukulan Yang-kangnya dihadapi hawa dingin yang keluar dari tubuh lawan maka pemuda itu berseru kagum,

"Giam Liong, kau hebat sekali. Kau mengagumkan!"

"Hm, kaulah yang mengagumkan, Han Han. Kau dapat membuat aku bekerja keras!"

"Tapi kau dapat menandingi pukulan-pukulan Yang-kangku. Kau hebat!"

"Hm, tak usah banyak bicara. Pertandingan belum berakhir, Han Han. Awas jaga balasanku dan jangan lengah!" Giam Liong bergerak dan tiba-tiba mengeluarkan pekikan nyaring, dahsyat menggetarkan isi hutan dan Han Han terkejut karena ia terdorong. Dan ketika ia terhuyung sementara pasukan kerajaan maupun pengikut Chu-goanswe terpelanting oleh pekik dahsyat itu, Giam Liong hendak menjaga kewibawaannya di depan orang-orang lain maka pemuda itu berkelebat dan sudah melancarkan pukulan-pukulan cepat dari ilmu silat barunya yang disebut Pek-poh-sin-kun (Pukulan Sakti Seratus Langkah)!

"Aih, hebat. Cepat sekali!" Han Han terkejut dan berseru kagum. Ia sudah diserang dengan amat cepatnya dan Hui-thian-sin-tiauwnya mendapat tandingan. Lawan ganti-berganti melepas pukulan sementara kakinyapun berpindah-pindah dengan langkah luar biasa. Dan ketika Han Han beterbangan namun selalu dicegat dan dihadang langkah-langkah kaki Giam Liong, ia tak sempat berkelit atau mengelak maka Han Han menangkis dan letupan seperti bunga es memuncrat dari lengan keduanya,

"Duk-plak!"

Han Han tiba-tiba terdesak. Ia yang tadi telah membuat Giam Liong kewalahan dan sibuk menangkis sana-sini tiba-tiba sekarang berbalik keadaan. Ilmu sakti Seratus Langkah yang dilakukan lawannya itu benar-benar mampu mendesak dan membuatnya terkejut. Hui-thian-sin-tiauw nya bertemu tandingan setimpal dan terbelalaklah Han Han oleh kehebatan lawannya ini. Dan ketika ia terdesak dan pukulan-pukulan Yang-kang kembali bertemu lengan dingin lawannya, bunga-bunga es berpercikan ke sana ke mari maka Giam Liong menekan tanpa ampun dan Cho-goanswe bersama para pengikutnya tiba-tiba ganti bersorak. Jago mereka unggul!

"Hidup Sin-siauwhiap! Hidup Si Naga Pembunuh! Ha-ha, tekan dan terus rangsek lawanmu itu, siauwhiap. Beri dia pelajaran agar tidak menghina diriku!"

"Benar, dan lempar ia ke anjing-anjing kerajaan itu, siauwhiap. Atau cabut golokmu dan tabas kepalanya!"

Han Han pucat. Ia tiba-tiba didesak hebat dan sudah tinggal sebagai pihak bertahan saja. Tapi karena Han Han juga bukan pemuda sembarangan dan ia adalah murid Im Yang Cinjin yang sakti, bergerak dan tak mau kalah tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan bentakan seperti Giam Liong yang menggetarkan hutan, pekikan Sai-cu-ho-kang ajaran gurunya. Hebat dan dahsyat...!