NAGA PEMBUNUH
JILID 18
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
GIAM LIONG menggeram. Dia sendiri sudah masuk dan berkelebat ke gedung Coa-ongya itu. Lawan melarikan diri sementara Sudra dan Mindra bergulingan meloncat bangun. Mereka itu pucat melihat kehebatan Giam Liong. Si Naga Pembunuh itu benar-benar mengerikan karena sekali mengeluarkan goloknya saja tiba-tiba merekapun terpelanting. Cambuk dan nenggala tak mampu lagi menghadapi golok di punggung pemuda itu. Bocah itu melebihi ayahnya!

Dan ketika orang-orang itu berteriak dan bersorak mengikuti Si Naga Pembunuh, para pengawal atau penjaga dibabat tanpa ampun maka dua kakek inipun diterjang dan menerima kemarahan mereka.

"Bunuh kakek-kakek siluman ini. Tabas batang kepalanya!"

Dua kakek itu terkejut. Mereka sudah kehilangan senjata dan orang-orang bersapu tangan itupun beringas sekali menyerang mereka. Golok dan tombak atau pedang silih berganti menyambar bagal hujan. Tapi karena mereka adalah kakek-kakek yang lihai dan dengan tangan atau kakinya dua kakek itu menghalau senjata maka semua terpental namun orang-orang itu berteriak memanggil Giam Liong.

"Naga Pembunuh, bantu kami dulu. Dua kakek ini melawan!"

Sudra dan temannya tergetar. Mereka paling jerih kalau menyebut-nyebut nama itu. Giam Liong merupakan pemuda mengerikan di mana mereka paling gentar kalau sudah berhadapan. Maka begitu membentak dan berjungkir balik mengibas orang-orang itu dua kakek ini lenyap melarikan diri tak mau bertemu Giam Liong.

"Kalian tikus-tikus busuk yang beraninya hanya mengandalkan pemuda itu. Baiklah, kami pergi namun kelak kami akan datang menghajar.... plak-plak-plak!"

Orang-orang itu menjerit bergulingan. Mereka terlempar roboh oleh kibasan atau dorongan pukulan dua kakek ini. Mindra dan Sudra memang masih terlalu lihai bagi mereka. Tapi begitu dua kakek itu lenyap melarikan diri dan mereka itu memasuki gedung, Sudra dan Mindra hendak mencari si Kedok Hitam yang tidak menampakkan batang hidungnya lagi maka orang-orang itu bangun mengejar dan berteriak-teriak, suasana menjadi gaduh.

"Kejar, bunuh kakek itu. Tangkap mereka!"

Namun Sudra dan Mindra menghilang di dalam. Mereka bergerak cepat dan tentu saja tak mau bertemu orang-orang bersaputangan ini. Mereka mendongkol namun terpaksa menahan marah. Kalau saja tak ada Si Naga Pembunuh tentu mereka membalik, menghajar atau merobohkan orang-orang itu. Tapi karena ada Si Naga Pembunuh dan nama itu menggetarkan hati mereka maka biarpun dimaki dan disoraki dari belakang tetap saja dua kakek ini lenyap dan tak mau melayani.

Mereka hendak mencari si Kedok Hitam dan memaki-maki tokoh itu kenapa tak mau keluar lagi. Mereka tertipu dan sekarang menyadari bahwa Kedok Hitam menyelamatkan dirinya sendiri. Dan karena itu membuat mereka marah dan geram maka dua kakek inipun mencaci-maki dan mengutuk habis-habisan si Kedok Hitam itu sendiri.

Giam Liong sendiri mengobrak-abrik tempat itu diikuti ibunya. Pemuda inipun marah dan geram karena setelah menyerangnya habis-habisan ternyata musuhnya itu melarikan diri. Begitu enaknya! Tapi setelah seluruh kamar ditendang dan dibuka ternyata Kedok Hitam tak ada di situ, entah ke mana laki-laki itu maka ibunya membanting kaki penuh sesal.

"Lihat, lihat kegoblokanmu. Kau ditipu mentah-mentah dan tak menuruti nasihat ibu, Liong-ji. Kalau saja kau tak sombong dan memberinya sepuluh jurus cuma-cuma tentu siluman yang licik itu dapat kita bunuh. Ah, kau tak tahu betapa sulitnya mencari laki-laki ini. Hayo cari saja Coa-ongya dan kita bekuk pangeran celaka itu!"

Giam Liong tak menjawab, merah padam. Memang sekarang dia menyesal kenapa sikapnya begitu lunak. Dia terlalu mengalah kepada musuh besarnya itu. Baru sekarang dia tahu bahwa si Kedok Hitam itu benar-benar manusia yang amat licik dan licin. Sepak terjangnya curang! Tapi ketika Coa-ongya pun tak dapat ditemukan dan ibunya gusar membanting-banting kaki maka seorang pelayan ditangkap dan diinjak lehernya.

"Katakan di mana majikanmu. Atau nanti kau kubunuh!"

"Am... ampun!" pelayan itu tentu saja tak tahu apa-apa. "Mu... mungkin di tempat kaisar, hujin. A... aku tidak tahu...!"

"Bohong!" Wi Hong membentak dan melepaskan marahnya. "Kaupun licik dan ingin menyelamatkan diri, tikus busuk. Kau persis majikanmu yang tidak tahu malu dan pengecut... krekk!" dan leher itu yang diinjak hancur akhirnya membuat pelayan terkulai dan Giam Liong sendiri terkejut dan berobah mukanya.

"Kau mau marah? Kau mau memprotes? Hayo, bunuh ibumu kalau tidak suka, Liong-ji. Aku akan membunuh siapa saja yang ada di sini!"

Dan Giam Liong yang tak jadi mendebat dan tertegun membelalakkan mata tiba-tiba melihat ibunya keluar dan berteriak-teriak mencari pelayan atau siapa saja orang-orangnya Coa-ongya. Ibunya mata gelap dan marah sekali oleh lolosnya Kedok Hitam itu. Tapi karena semua pelayan sudah melarikan diri dan gedung itu benar-benar kosong, tak ada orang-orangnya Coa-ongya maka meja kursi itulah yang menjadi korban dan isi gedung benar-benar porak-poranda dihajar nyonya ini. Wi Hong kalap dan puteranya tertegun membelalakkan mata. Dan ketika orang-orang bersaputangan juga muncul dan melihat kemarahan nyonya ini tiba-tiba merekapun bersorak-sorak dan menghancurkan pula segala perabot-perabot disitu.

"Bagus, kami bantu, hujin. Bagus, ha-ha...!"

Giam Liong tak tahan. Akhirnya ia membentak namun yang dibentak adalah orang-orang itu. Mereka dilarang ikut-ikutan namun celaka sekali ibunya justeru membentaknya agar membiarkan orang-orang itu. Dua perintah berlawanan membuat orang-orang ini tertegun tapi ketika Wi Hong berkelebat dan menghajar mereka mendadak saja orang-orang ini takut. Mereka panik dan mau tak mau harus menuruti kemauan nyonya itu, Giam Liong terlihat diam dan membiarkan saja orang-orang itu menghancurkan segala isi gedung. Dan ketika ibunya puas dan orang-orang itu juga mundur, membelalakkan mata maka berkelebatlah seorang tinggi besar membuka sapu tangannya.

"Siauw-hiap, hujin... terima kasih atas bantuan kalian. Kami adalah pejuang-pejuang setia yang memusuhi istana. Aku adalah Chu Kiang dan ini teman-temanku yang setia kepada mendiang Chu Wen. Kami akan memperkenalkan diri kepadamu!" dan ketika laki-laki itu berseru pada teman-temannya agar membuka tutup muka, memperlihatkan diri maka tampaklah wajah-wajah yang rata-rata gagah dan si tinggi besar itupun ternyata simpatik dengan wajahnya yang kemerah-merahan seperti Kwan Kong atau tokoh legendaris dari kisah Tiga Negeri.

"Siauw-hiap (pendekar muda) sungguh luar biasa sekali. Kepandaianmu benar-benar seperti ayahmu atau bahkan lebih!"

"Benar!" orang-orang itu berseru, hampir serempak. "Kami kagum kepadamu, siauw-hiap. Dan sungguh gembira kalau kami mendapat bantuan orang seperti dirimu ini. Kami mengharap siauw-hiap mau memimpin kami!"

Giam Liong tertegun. Tiba-tiba si tinggi besar berlutut dan mengajak teman-temannya menjatuhkan diri. Mereka telah diselamatkan pemuda ini dan pertolongan Giam Liong sungguh besar. Dan ketika kata-kata terakhir disetujui laki-laki gagah itu dan Chu Kiang, si tinggi besar mengangguk dan setuju tiba-tiba laki-laki itupun berseru nyaring,

"Benar, kami mengharap kau mau memimpin kami, siauw-hiap. Lanjutkan perjuangan ayah dan kakekmu yang gagal dibunuh musuh-musuhnya. Kami keturunan Chu tentu akan berhutang budi besar dan tak akan melupakan bantuanmu ini!"

"Kau keturunan keluarga Chu?" Wi Hong tiba-tiba berkelebat dan menangkap pundak laki-laki gagah itu, mencengkeramnya. "Kau apanya Chu Wen dan berapa pasukanmu hingga berani melabrak istana?"

"Uh!" si tinggi besar meringis dan mengerahkan tenaganya, cengkeraman itu serasa menembus tulang! "Lepaskan cengkeramanmu, hujin. Dan biarkan kami bicara menjawab pertanyaanmu," dan ketika Wi Hong melepaskan cengkeramannya dan laki-laki tinggi besar itu terbelalak kagum maka Chu Kiang, laki-laki ini, bercerita bahwa pasukannya sekitar limaratus orang.

"Kami tidak banyak, namun dengan limaratus orang tentu kami dapat membuat istana geger. Maaf, kami orang-orang bodoh yang hanya berbekal keberanian dan tekad baja, hujin. Meskipun kami bukan lawan si Kedok Hitam itu namun dengan keroyokan tentu kami dapat membunuhnya. Sial, kami tak tahu bahwa dua kakek India itu ada di sini pula. Perhitungan kami agak meleset!"

"Hm, tapi kalian benar-benar orang-orang gagah yang berani mati. Kalian telah berani datang ke sini!" Wi Hong mau tak mau kagum juga. "Kalian boleh, Chu Kiang. Tapi apa hubunganmu dengan mendiang Chu Wen!"

"Aku saudara lain ibu, hujin. Chu Wen adalah kakakku satu ayah, meskipun usia kami terpaut jauh!"

"Bagus, dan sekarang apa rencanamu?"

"Kami akan menyerang dan membunuh Coa-ongya. Dia inilah tulang punggung istana dan nasihat perang. Tapi karena dia dilindungi dan dibantu si Kedok Hitam maka tentunya Kedok Hitam inilah yang harus kami habisi. Kami siap berkorban asal dapat membunuhnya!"

"Benar," tiga di antaranya berseru nyaring. "Pacul Kilat dan Tombak iMaut telah menjadi korban, hujin. Dan kami yang lain-lain siap menyusul asal dapat membunuh si Kedok Hitam itu. Dia licik dan amat jahat. Dia pengganjal utama cita-cita!"

"Dan diapun telah membunuh suamimu," Chu Kiang bicara membakar lawan. "Orang seperti ini tak layak dibiarkan hidup, hujin. Kami dan kalian satu musuh satu keinginan. Biarlah kalian memimpin kami dan kami berdiri dibelakang kalian!"

"Cocok!" yang lain berseru dan mengangkat senjata. "Dipimpin puteramu selihai ini tentu kami dapat menumbangkan kaisar lalim, hujin. Ayo bunuh kaisar dan cari kembali Coa-ongya itu!,”

Namun, ketika orang-orang itu mulai ribut dan berteriak-teriak, Wi Hong mulai bersinar-sinar karena puteranya bertemu orang-orangnya Chu Wen tiba-tiba Giam Liong sendiri berkelebat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Pemuda itu berseru agar mereka semua jangan gaduh, ada sesuatu yang didengar. Dan ketika semua diam dan membelalakkan mata, suara yang didengar pemuda itu didengar juga oleh mereka maka terdengarlah bentakan dan derap kuda di luar gedung, jumlahnya ribuan!

"Chu Kiang, kau biang pemberontak. Berlutut dan menyerahlah baik-baik. Kami pasukan kerajaan mengepungmu!"

Orang-orang itu tiba-tiba terkejut. Mereka berlompatan namun Chu Kiang, laki-laki gagah itu tiba-tiba berseru agar teman-temannya berhenti, jangan bergerak sendiri-sendiri. Dan ketika bentakan dan derap kuda semakin dekat, dari mana-mana muncul obor yang ribuan jumlahnya maka gedung Coa-ongya mendadak menjadi terang-benderang sementara hujan di luar sudah reda.

"Kita telah mempunyai calon pemimpin di sini. Biarlah Sin-siauwhiap atau Sin-hujin memutuskan perintah. Dengar kata-kata mereka dan kita lakukan apa perintahnya!"

"Hi-hik!" Wi Hong tiba-tiba bangga. "Kau telah dipilihnya, Liong-ji. Kau pimpinan di sini dan biar ibu di sampingmu saja. Katakan, apa yang harus dilakukan dan mereka tentu akan menyerbu seperti laron kesetanan!"

"Apa?" Giam Liong justeru mengerutkan kening. "Aku menjadi pemimpin? Aku memimpin orang-orang ini? Ah, tidak. Aku tak tahu asal mula perjuangan, ibu. Aku datang untuk urusan ayah dan mereka ini urusan mereka sendiri. Aku hanya menyarankan untuk pergi dari sini karena si Kedok Hitam telah melarikan diri!"

"Kami akan mengikuti perintahmu!" Chu Kiang tiba-tiba berseru. "Tapi bagaimana dengan pasukan itu, siauw-hiap. Mereka berjumlah besar dan ribuan orang!"

"Hi-hik, kita bantai saja!" Wi Hong bergerak dan mau mendahului puteranya, namun ditangkap. "Kita tak usah takut kepada mereka, Chu Kiang. Ada puteraku di sini dan biar Golok Mautnya mencari darah!"

"Nanti dulu!" sang putera bergetar dan mengerutkan kening. "Aku tak ada urusan dengan mereka, ibu. Yang kucari adalah Kedok Hitam. Aku tak berurusan dengan pasukan kerajaan!"

"Bodoh! Kau kira apa mereka itu? Kau kira apa si Kedok Hitam yang licik dan curang itu? Pasukan ini datang atas kehendaknya, Liong-ji. Bunuh mereka dan sikat habis!"

"Benar," Chu Kiang tiba-tiba menimpali. "Pasukan ini dapat datang karena suruhan Kedok Hitam, siauw-hiap. Mereka tak tahu tentang kami kalau tidak diberi tahu. Aku akan menyambut dan siap menghirup darah bersama teman-temanku!"

"Dan kita berpesta," Wi Hong terkekeh. "Dulu mereka merajang ayahmu, Liong-ji. Ayo sekarang balas dan cincang mereka itu!"

"Dan bakar gedung Coa-ongya ini!" orang-orang itu tiba-tiba berteriak. "Kami akan membalaskan dendammu pula, siauw-hiap. Mari keluar dan perintahkan kami menyambut. Dengar, mereka berteriak-teriak dan menggonggong seperti anjing!"

Giam Liong bersinar-sinar. Wajahnya yang beku tiba-tiba menjadi dingin dan tak bergerak. Tak ada senyum atau perasaan di situ. Pemuda ini menggeram begitu ibunya menyebut-nyebut kematian ayahnya dulu. Dan ketika diluar terdengar bentakan atau seruan-seruan agar Chu Kiang dan teman-temannya menyerah, Giam Liong berkilat dan terbakar tiba-tiba darahnya mendidih ketika di luar terdengar pula namanya disebut-sebut.

"Heii, bocah yang mengaku keturunan Golok Maut. Kau juga keluar dan cepat berlutut menyerahkan diri. Atau kami akan membunuhmu dan mencincangmu seperti mendiang ayahmu dulu!"

Giam Liong mengeluarkan pekik menggetarkan. Tiba-tiba dengan kemarahan tak dapat ditahan lagi pemuda ini berkelebat dan mengayunkan tangannya. Tujuh sinar putih dilepas dan golok-golok kecil berkeredep menyambar seorang laki-laki di atas kudanya. Laki-laki itu adalah laki-laki yang menghina Giam Liong tadi dan dia adalah komandan pasukan itu, namanya Gouw-ciangkun (panglima Gouw). Dia inilah yang sesumbar menyebut-nyebut ayah pemuda itu dan mengeluarkan kata-kata yang membuat Giam Liong mendidih darahnya. Maka begitu pemuda itu berkelebat dan Gouw-ciangkun terbelalak melihat musuhnya, gerakan Giam Liong seperti burung menyambar tahu-tahu panglima ini menjerit dan roboh terjungkal dengan tujuh bagian tubuhnya yang putus dibabat giam-to, golok kecil-kecil itu.

"Aughhh...!" Jerit atau pekik kematian ini menggetarkan tempat itu. Gouw-ciangkun roboh sudah tidak berujud manusia lagi. Tangan dan kakinya putus sementara kepalanya sendiri terbang dari tubuhnya, menggelinding dan jatuh mencelat seperti bola. Darah menyembur bagai pancuran besar, begitu cepatnya. Dan ketika orang-orang berteriak dan Giam Liong berkelebatan di situ maka sinar putih yang lain bergerak naik turun dan terlemparlah kepala atau kaki yang sudah putus dari tempatnya. Giam Liong mengamuk dan sorakan anak buah Chu Kiang menggegap-gempita di tempat itu, disusul tubuh-tubuh mereka yang berloncatan menyerbu pasukan besar ini. Dan ketika Wi Hong juga terkekeh dan berkelebat di belakang puteranya, pedang menyambar dan menusuk maka tempat itu tiba-tiba menjadi pembantaian dan robohlah puluhan orang yang binasa dengan sekejap.

"Mundur.... semua mundur. Jauhkan diri dan serang dengan anak panah!"

Kegaduhan dan kepanikan terjadi di sini. Cong-ciangkun, wakil Gouw-ciangkun yang tewas berteriak memberi aba-aba sementara perwira itu sendiri sudah melempar tubuh dan bergulingan menjauh. Dia gentar oleh sinar maut ditangan Giam Liong karena sebentar saja belasan tubuh sudah roboh dengan cara mengerikan. Giam Liong teringat kematian ayahnya dan kini membalas orang-orang itu dengan kematian yang sama. Kepala dan kaki atau tangan menggelinding disusul pekik atau jerit pemiliknya. Darah berhamburan bagai kran bocor yang tidak tertutup lagi.

Dan ketika Cong-ciangkun menyelamatkan diri dan berteriak-teriak menyuruh pasukannya menjauh, pemuda itu bagai iblis haus darah yang tidak berhenti di satu tempat saja maka golok di tangan Giam Liong mengkilap dan menyilaukan mata karena tetap kering setiap dibasahi darah. Golok itu menghisap dan semakin bersinar setiap membabat korbannya, tak ada setetespun darah yang melekat di situ karena sudah disedot atau "dihirup" oleh kekuatan gaib yang memancar. Semakin banyak darah semakin golok itu bercahaya, sinarnya terang namun kemerah-merahan seperti layaknya darah yang memantul dan mengeluarkan bau amis. Dan karena sepak terjang Giam Liong memang tak ada yang menandingi dan pasukan berkuda porak-poranda maka Wi Hong terkekeh-kekeh bergerak di belakang puteranya itu, begitu juga Chu Kiang dan anak buahnya yang berpesta pora.

"Hi-hik, maju semua, tikus-tikus busuk. Mari rasakan pedangku dan menyingkirlah ke neraka... crat-crat!"sepak terjang nyonya ini juga menggiriskan. Pedangnya tak kenal ampun dan setiap membacok tentu mengenai sasaran. Wi Hong mainkan Ang-in Kiam-sutnya dan ilmu pedang Awan Merah itu bergerak naik turun meniup lawan. Siapa saja yang tersambar pasti roboh binasa, berteriak dan terjungkal dan akibatnya musuhpun mundur dengan gugup. Mereka pucat dan gentar oleh kelihaian nyonya ini. Dan karena Wi Hong maupun puteranya tak dapat dilawan maka pasukan besar itu morat-marit dan Cong-ciangkun kembali berteriak-teriak agar mundur dan melepaskan anak panah.

"Mundur... mundur. Lepaskan anak panah dan serang mereka itu dari jauh!"

Pasukan sadar. Dibabat dan dibantai seperti rumput kering begitu merekapun pucat dan menjauh. Kuda meringkik dan mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi dengan panik. Mereka itu bingung oleh perintah tuannya yang kacau, banyak yang saling bertabrakan dan karena itu semuanya ini membuat gaduh. Dan ketika gedung Coa-ongya juga mulai dibakar, orang-orangnya Chu Kiang itu bersorak-sorai melempar api maka pasukan kerajaan benar-benar semrawut dan hingar-bingar. Mereka jatuh disambar pedang atau teman sendiri, pingsan atau tewas diinjak-injak kuda yang demikian banyaknya.

Namun ketika pasukan itu mundur dan melepas panah-panahnya sesuai perintah Cong ciangkun maka satu dua anak-anak panah ini menyambar dan mengenai anak buah si Dewa Hitam Chu Kiang ini. Mereka roboh dan menjerit dan Chu Kiang si tinggi besar terkejut. Laki-laki ini juga mengamuk di belakang Wi Hong, membabat dan menggerakkan gendewanya yang lain serta melepas anak-anak panah itu. Kiranya Chu Kiang ini seorang ahli panah. Tapi karena musuh amatlah banyak sementara yang dapat menangkis atau menghalau hujan panah hanyalah Wi Hong bersama puteranya maka pejuang-pejuang ini-pun mulai berjatuhan dan sebuah teriakan tiba-tiba ditujukan kepada Giam Liong agar menyelamatkan si tinggi besar, keturunan dinasti Chu itu.

"Sin-siauwhiap, tolong lindungi dan bawa Chu-goanswe (jenderal Chu) dari sini. Dia satu-satunya keturunan Chu yang tak boleh habis!"

Giam Liong tertegun. Saat itu dia sedang berkelebatan dengan golok di tangannya, membabat atau menyambar-nyambar bagai rajawali menerkam mangsa. Hujan panah yang diarahkan kepadanya tak ada satupun yang berhasil. Kalau tidak rontok oleh goloknya tentu patah sendiri bertemu tubuhnya yang kebal. Pemuda itu telah mengerahkan sinkang dan melindungi diri hingga lawan terbelalak karena tak satupun anak panah yang mampu melukai. Namun ketika teriakan itu terdengar dan Giam Liong mendengar pula keluhan pendek, yang berseru itu roboh terhuyung-huyung maka pemuda ini terkejut karena itulah si Papan Besi, orang nomor dua setelah Chu Kiang, yang ternyata juga adalah Chu-goanswe!

"Cepat... " laki-laki itu terduduk, jatuh, dua batang panah menancap di pundak dan punggungnya. "Tolong dan selamatkan Chu-goanswe, siauw-hiap. Jangan biarkan keturunan dinasti Chu musnah!"

Giam Liong terbelalak. Dia meruntuhkan delapan anak panah yang kembali menyambar dari depan, mau bergerak tapi si Papan Besi tiba-tiba menjerit ketika sebatang panah kembali mengenai tubuhnya. Dan ketika Giam Liong membentak dan gusar oleh pemanah itu, melepaskan giam-to nya dan pemanah itu berteriak maka Chu-goanswe atau jenderal tinggi besar itu berseru keras ke arah temannya ini, yang sudah terguling.

"Tidak, kita roboh atau keluar bersama, Wan Mo. Jangan hanya memikirkan aku sementara kau binasa di sini!"

"Heii, awas...!" Wi Hong tiba-tiba berteriak dan melihat sebatang panah menyambar laki-laki itu. "Lempar tubuhmu, Chu-goanswe. Atau kau mampus!"

Chu-goanswe terkejut. Dia menoleh dan melihat datangnya anak panah itu, mengelak namun kalah cepat. Dan ketika panah menancap di pundaknya dan jenderal Itu mengerang maka Cong-ciangkun tiba-tiba berteriak agar menujukan serangan panah ke arah laki-laki ini, yang ternyata jenderal Chu.

"Bunuh dan serang dia. Itu ternyata Chu-goanswe!"

Wi Hong terkejut. Pasukan kerajaan tiba-tiba melepaskan panahnya ke arah jenderal ini. Chu-goanswe menggerakkan gendewanya namun sebatang panah kembali menancap, maklumlah, hujan panah memang demikian banyaknya. Dan karena laki-laki itu orang yang amat penting dan Wi Hong mendapatkan pikiran baik untuk masa depan anaknya kelak maka nyonya inipun berkelebat dan terbang menghalau hujan panah itu, pedangnya diputar secepat kitiran melindungi jenderal Chu.

"Heii, selamatkan Chu-goanswe. Kita harus pergi, dari sini, Liong-ji. Cukup dan bawa teman kita keluar!"

Giam Liong terkejut. Chu-goanswe atau Chu Kiang itu roboh terguling. Dia tadi menolong temannya tapi diri sendiri ternyata menjadi korban. Dan karena ibunya bergerak melindungi jenderal itu sementara hujan panah semakin gencar, tak mungkin ibunya bekerja sendirian maka Giam Liong mengeluarkan bentakan mengguntur yangnmembuat orang-orang di situ jatuhvterpelanting.

"Minggir, kalian enyahlah..!" dan Giam Liong yang bergerak mengayun tangannya ke kiri kanan tiba-tiba disusul jerit atau pekik ngeri dari pelepas-pelepas panah,l yang terjengkang dan tewas seketika karena hujan golok kecil menancap di tenggorokan mereka. Giam Liong menyapu tigapuluh pemanah di mana mereka itu tentu saja menerima kematian, teman-temannya yang lain pucat. Lalu ketika mereka terkejut dan mundur menjauh, Giam Liong telah mengibaskan lengannya ke sana-sini maka pemuda itu telah menyambar Chu-goanswe sementara ibunya disuruh membawa si pendek gempal, Papan Besi yang pingsan itu balik, lawan memberi jalan dan sekali dua melepas serangan tak berarti maka rombongan ini keluar dan meninggalkan tempat berdarah itu.

Giam Liong telah dikenal sebagai Naga Pembunuh dan pemuda yang berdiri di balik pejuang-pejuang itu sungguh hebat sekali. Wajah dan rambutnya yang kemerahan sungguh terasa lebih menyeramkan daripada mendiang ayahnya dulu. Pemuda itu seperti iblis haus darah yang ingin mencari korban. Dan karena Golok Maut juga ada di tangan pemuda itu dan tak satupun senjata yang sanggup menandingi akhirnya Giam Liong bersama pengikut-pengikut Chu-goanswe lolos dari istana. Mereka terus melarikan diri ke selatan dan Giam Liong membawa teman-temannya ke hutan. Mereka mandi keringat namun pengalaman itu sungguh menggembirakan. Orang-orang ini bersorak-sorai meluapkan kegembiraannya. Tapi ketika mereka memasuki hutan dan di situ Giam Liong berhenti, ibunya mengangkat tangan tinggi-tinggi keatas maka kelelahan atau rasa capai yang sangat tiba-tiba mengusik teman-teman Chu-goanswe ini.

"Berhenti, kita beristirahat di sini!"

Aneh, orang-orang itu mengeluh. Mereka gemetar dan menjatuhkan diri di rumput. Teman atau kawan yang tewas dan luka diletakkan di situ, hampir bersamaan dengan tubuh mereka sendiri yang roboh lunglai. Dan ketika Wi Hong meletakkan pula tubuh si Papan Besi sementara puteranya meletakkan Chu-goanswe maka ibu dan anak bekerja cekatan.

"Aku tidak membawa obat-obatan untuk sedemikian banyak orang. Kalian saling menolong saja dan yang ringan supaya menguatkan hati sedikit dan menolong yang lain!"

Orang-orang itu mengangguk. Mereka bangkit lagi karena Giam Liong maupun ibunya tidak beristirahat. Mereka malu hati dan tentu saja harus bergerak lagi. Dan ketika semua menolong dan merawat teman-teman sendiri, Giam Liong telah mencabut tiga batang panah yang menancap di tubuh jenderal itu maka di sana ibunya juga mencabut beberapa batang anak panah yang menancap di tubuh si pendek gempal. Giam Liong memberikan obat luka luar dan menempelkan lengannya di pundak jenderal itu, menyalurkan sinkang. Dan ketika jenderal itu lebih dulu siuman dari temannya maka jenderal ini tertegun tapi bersinar-sinar memandang Giam Liong.

"Aku di mana? Bagaimana dengan Wan Mo?"

"Hm, temanmu itu selamat, goanswe, ditolong ibuku. Tapi dia masih pingsan disana."

"Tidak mati?"

"Untung tidak, masih hidup..."

"Aku mau melihatnya!" namun ketika jenderal itu terguling dan mengaduh maka Giam Liong menekan bahunya karena luka yang diderita laki-laki itu cukup besar, meskipun tidak berat.

"Aku baru saja mencabut tiga batang anak panah yang menancap di tubuhmu, dan baru saja kulumuri obat. Harap goanswe tidak banyak bergerak dan tenang sajalah disini."

"Ah, terima kasih, siauw-hiap. Tapi bagaimana pula dengan teman-temanku yang lain?"

"Kami selamat di sini, goanswe. Tapi yang lain gugur..." sebuah suara terdengar serak.

Chu-goanswe menoleh dan tampaklah seorang laki-laki pucat bangkit terhuyung. Dia mengangguk kepada jenderal itu dan Chu-goanswe pun tertegun. Tapi ketika orang itu mendekat dan sang jenderal menangkap lengannya tiba-tiba Chu-goanswe menggigil.

"Ci Cak, berapa teman kita yang terbunuh? Berapa yang selamat?"

"Kalau tidak ada Sin-kongcu ini tentu kita semua terbunuh, goanswe. Tapi karena ada pemuda ini maka separoh dari kita selamat. Yang lain tewas..."

"Ah, usaha kita gagal. Tapi kita dapat mengulanginya lain kali!" dan ketika laki-laki itu mengangguk dan melepaskan tangannya.

Giam Liong diam tidak mencampuri maka ibunya memanggil karena si pendek gempal tiba-tiba mengeluh namun tubuhnya panas seperti dibakar.

"Dia seperti terserang racun. Coba kau periksa dan lihat lukanya!"

"Hm!" Giam Liong bergerak dan sudah menyambar laki-laki itu. "Luka di pundak kirinya bengkak, ibu. Panah yang menancap di sini ternyata mengandung racun. Kau benar, biar kusedot dan kuambil racunnya!" dan ketika Giam Liong mengerahkan sinkang dan menyedot luka itu, luka yang tiba-tiba hitam dan berbau busuk benar saja darah kehitaman tersedot di sini. Giam Liong mengerutkan kening tapi terus bekerja, tak lama kemudian rasa panas menghilang dan darah yang keluarpun merah. Dan ketika si pendek gempal membuka mata den sadar maka laki-laki itu mengeluh mengucap terima kasih.

"Tadi Kedok Hitam berkelebat di antara pasukan, menyambitkan panahnya itu. Tapi karena hujin dan siauw-hiap ada di dekat-dekat situ maka dia lenyap lagi dan menghadiahiku sebatang panah itu. Terima kasih, Giam-liong belum menghendaki nyawaku!" dan bergerak minta dibangunkan maka laki-laki itu bertanya bagaimana dengan Chu-goanswe.

"Aku boleh mati tapi Chu-goanswe harus hidup. Mana dia dan apakah selamat."

"Aku di sini," Chu-goanswe berkata haru dan bangkit duduk. "Hujin dan Sin-siauw-hiap ini telah menolong kita semua, Wan Mo. Aku masih hidup dan kau-pun selamat!"

"Ah, kau tak apa-apa, goanswe? Syukur, banyak terima kasih!" dan coba berdiri namun gagal, terhuyung dan jatuh tiba-tiba Giam Liong berkata agar laki-laki itu beristirahat.

"Kau baru saja terbebas dari maut, jangan banyak bergerak. Beristirahat dan tenang sajalah di sini." tapi Chu-goanswe yang menggeleng dan memaksa bangkit berdiri tiba-tiba berkata bahwa tempat itu kurang aman. "Di sini masih terlalu dekat kota raja. Sebaiknya kita menerobos lagi hutan yang lain dan di sana ada guha-guha perlindungan untuk teman-temanku semua. Apakah siauw-hiap sudi mengantar.?"

"Hm, di sinipun aku tak takut, goanswe. Tapi kalau kau menghendaki begitu tentu saja aku tak keberatan. Tapi bagaimana pendapat ibuku."

"Hi-hik, kita harus melindungi Chugoanswe, Liong-ji. Kalau dia minta diantar sebaiknya ikuti saja. Aku juga tidak takut tapi kita harus berhati-hati dengan si Kedok Hitam itu. Dia licik dan amat curang. Siapa tahu melakukan sesuatu di tempat begini dan kita tak bisa melindungi semua orang ini."

"Baiklah, mari, goanswe. Kita berangkat. Atau barangkali ada teman-temanmu yang kelelahan dan minta menunggu sebentar lagi."

"Tidak, kami cukup sehat, siauw-hiap. Kalau goanswe menghendaki ke hutan di luar sana kami masih sanggup berjalan. Memang di sana ada guha-guha persembunyian yang lebih baik!"

"Kalau begitu mari, kita berangkat!" dan Giam Liong yang menolong dan memapah jenderal ini akhirnya mengangguk melihat orang-orang itu mau meneruskan perjalanan lagi.

Mereka sebenarnya kelelahan namun berani mengeraskan hati. Itu semua untuk keselamatan mereka sendiri. Dan ketika rombongan ini kembali bergerak dan yang luka-luka dipondong temannya maka Chu-goanswe telah menunjuk tempat itu dan memang ini merupakan persembunyian yang baik untuk memulihkan diri mereka dari luka-luka selama mengadu jiwa di gedung Coa-ongya.

* * * * * * * *

Istana benar-benar gempar. Keesokannya setelah terang tanah maka kaisar mendapat laporan tentang kejadian ini. Bukan main marahnya sri baginda. Tujuh ratus orang tewas sementara ratusan yang lain luka-luka. Coa-ongya, yang semalam entah ke mana tiba-tiba pagi itu muncul dengan muka merah padam. Dia harus memberi laporan dan tentu saja laporannya diputar balik. Dia mengatakan bahwa pengikut-pengikut Chu Wen kini muncul lagi, dipimpin saudaranya yang bernama Chu Kiang. Namun ketika kaisar bertanya apakah jumlah para pemberontak itu ribuan banyaknya hingga pasukan kerajaan hancur dan porak-poranda maka dengan sedikit tertegun pangeran itu berkata bahwa jumlah pemberontak hanya sekitar seratus lima puluh orang saja.

"Seratus lima puluh orang? Dan tak dapat dibunuh oleh ribuan pasukan kita dan menimbulkan begitu banyak korban?"

"Maaf, sri baginda. Orang-orang itu sendiri tidaklah berarti bagi kita. Mereka sebenarnya dapat ditumpas. Namun karena ada keturunan Golok Maut di situ maka pasukan kita hancur dan porak-poranda."

"Golok Maut? Manusia itu ada lagi?"

"Bukan Golok Maut, sri baginda, melainkan keturunannya. Ada seorang pemuda lihai yang tak dapat kami lawan..."

"Tapi kau memiliki Kedok Hitam. Pengawalmu yang tangguh itu biasanya amat kau andalkan!"

"Kedok Hitam terluka, sri baginda. Sebelumnya ada cekcok dengan dua kakek India Sudra dan Mindra. Bocah itu datang ketika Kedok Hitam baru saja bertanding dengan dua kakek itu dan kehabisan tenaga..."

"Terkutuk, keparat! Kau selalu mempunyai pengawal-pengawal pribadi yang tak pernah akur. Heh, aku sebal mendengar ini, adik Coa. Aku tak mau tahu itu dan lihat berapa kerugian yang kita derita. Ini lagi-lagi persoalanmu dulu. Sudah kubilang agar kau menghabisi Golok Maut itu dan kekasihnya. Kenapa sekarang ada keturannya itu dan melanjutkan sepak terjang bapaknya. Kau sungguh sial, bekerja hanya setengah-setengah!"

Pangeran Coa merah padam. Dia tak dapat bercerita kepada kaisar bahwa dulu ada Ju Beng Tan yang menghalangi sebagian pekerjaannya. Bahwa waktu itu Wi Hong atau kekasih Si Golok Maut dilindungi pendekar itu, karena pendekar itu harus juga membela kekasihnya yang kini menjadi isterinya itu karena Swi Cu, nyonya itu, tak mungkin membiarkan sucinya dibunuh (baca: Golok Maut)⁰.

Swi Cu dan Beng Tan sendiri marah-marah oleh perbuatannya yang mengirim lima ribu pasukan ke Lembah Iblis, karena pendekar itu sendiri sebenarnya akan menyelesaikan pekerjaannya dengan menghadapi Si Golok Maut itu, berdepan, satu lawan satu dan bukannya keroyokan atau tindakan tidak ksatria yang amat memalukan itu. Lima ribu pasukan mengeroyok satu orang saja! Dan ketika pangeran itu tertegun dan diam, tak dapat menjawab maka kaisar bersungut-sungut agar mencari dan menumpas para pemberontak itu, juga bocah keturunan Si Golok Maut itu.

"Aku tak dapat lagi membiarkan ini. Urusan sudah bercampur dengan masalah pribadimu. Bagaimana bocah itu dapat datang dan berkawan dengan para pengikut Chu Wen!"

"Chu Kiang dan kawan-kawannya itu semula datang sendiri-sendiri, sri baginda. Tapi keturunan Golok Maut itu datang dan menolong belakangan."

"Dan bocah itu membawa Chu Kiang?"

"Benar."

"Dan Kedok Hitammu itu tak berguna. Ah, pengawal pribadimu itu gentong kosong belaka!"

"Maaf, bocah itu membawa Golok Maut, sri baginda. Dan di tempat ini tak ada senjata pusaka yang dapat menandinginya. Sri baginda jangan terlalu menyalahkan karena pembantu hamba tak memiliki senjata tandingan!"

"Golok Maut? Bocah itu membawa Golok Penghisap Darah?"

"Benar, sri baginda. Dan paduka tahu bahwa tak ada senjata lain yang dapat menandingi senjata itu, kecuali paduka memiliki senjata ampuh yang dapat menghadapi kehebatan senjata itu!"

"Hm, ada," sri baginda tiba-tiba berseri, wajahnya menunjukkan kegirangan. "Ada senjata lain yang mampu menghadapi Golok Penghisap Darah itu, adik Coa. Dan kau tentunya tahu akan ini!"

"Tapi paduka mengatakan tak ada senjata Istimewa di gudang senjata!"

"Bukan... bukan di gudang senjata, melainkan di luar!"

"Di luar? Maksud paduka..."

"Bodoh! Kau tentu ingat pembantuku paling lihai, adik Coa. Pengawal pribadiku yang sayang tak mau bekerja lagi di sini. Dia itulah yang kumaksud. Panggil saja dia kemari dan beritahukan undanganku. Agaknya hanya dia lagi yang dapat mengatasi kesulitan ini!"

"Pek-jit-kiam Ju Beng Tan?" Coa-ongya tiba-tiba tertegun. "Ketua Hek-yan-pang itu?"

"Ha-ha, benar. Siapa lagi? Panggil dan undang kemari bekas pengawalku itu, adik Coa. Suruh dia menghadap dan katakan maksudku. Atau, kalau dia tidak mau, pinjam saja Pedang Mataharinya dan berikan kepada si Kedok Hitam!"

"Mana mungkin itu," sang pangeran terkejut. "Pek-jit-kiam tak mungkin boleh dipinjam, sri baginda. Beng Tan laki-laki gagah yang menyamakan senjata dengan nyawanya. Hilang senjata berarti hilang pula nyawa. Pedang itu tak mungkin dipinjam!"

"Kalau begitu panggil dia ke mari. Suruh saja menghadap dan berikan undangan ini, dariku pribadi!" dan ketika kaisar memberikan surat pribadi, hal yang amat langka dan jarang terjadi maka pangeran Coa tertegun dan membungkuk serta menerima surat itu. Dia harus memanggil pendekar yang amat lihai itu dan ini akan menorehkan getah pahit di mukanya. Pendekar itu belum tentu mau. Ada sesuatu antara dirinya dengan Pek-jit-kum Ju Beng Tan, hal yang amat pribadi, juga rahasia! Tapi karena perintah sudah diterima dan surat itu mau tidak mau harus disampaikan, tak boleh dia menolak maka pangeran inipun mohon diri tapi sri baginda tiba-tiba bertanya tentang puterinya.

"Mana anak perempuanmu, kenapa tidak kelihatan!"

"Dia... dia pergi, sri baginda. Sudah enam bulan ini," Coa-ongya agak tertegun.

"Hm, anak perempuan tak selayaknya dibiarkan sendiri, adik Coa. Puterimu itu rupanya berani dan bandel. Atau barangkali Yu Yin tak kerasan diistana!"

"Hamba tak tahu, tapi dia memang nakal. Terima kasih atas perhatian paduka," dan ketika pangeran itu mengundurkan diri sementara kaisar berbalik dan juga ke dalam maka hari itu pangeran ini tertegun di gedung yang lain, mengamati gedungnya yang hancur dan roboh di mana puluhan orang bekerja menyingkirkan puing-puing itu.

Kebakaran yang terjadi di tempatnya cukup hebat karena jago merah melahap habis tempat tinggalnya. Tak ada sisa sedikitpun yang cukup berharga. Dan ketika mata pangeran ini tiba-tiba mencorong dan menakutkan, hawa yang aneh keluar dari tubuhnya maka tanpa sadar pangeran itu meremas sebuah batu yang hancur dan remuk. Aneh! Orang akan terkejut dan terheran-heran melihat kejadian ini. Coa-ong-ya, yang diketahui tak memiliki ilmu silat dan lemah tiba-tiba saja meremas hancur sebuah batu hitam. Kekuatan silumankah itu? Kejadian ajaib yang amat kebetulan? Tapi ketika batu itu luruh dan bertaburan di tanah, sang pangeran membuka telapaknya maka berkelebat sebuah bayangan langsing yang berseru tertahan.

"Ayah...!"

Coa-ongya terkejut. Untuk kedua kalinya dia tertegun dan menoleh ke kiri.Bayangan itu memanggilnya dan tahu-tahu berdirilah seorang gadis cantik di depannya, gadis yang berpakaian seperti laki-laki. Dan ketika pangeran itu agak tercengang karena gadis ini menyembunyikan rambutnya, digulung atau diikat di balik tutup kepala tiba-tiba wajah pangeran itu berseridan berserulah dia menyambut, tangan langsung merentang.

"Yu Yin...!"

Gadis itu tahu-tahu sudah dipeluk. Sang ayah kegirangan dan menubruk atau menyambar puterinya ini. Yu Yin, gadis itu terisak dan menyambut, menangis dan sesenggukan dan segera meremas-remas ayahnya dengan sedu-sedan mengguncang tubuh. Tapi ketika gadis itu teringat sesuatu dan melepaskan diri, mendorong ayahnya maka gadis ini memandang tangan ayahnya yang tadi meremas hancur sebuah batu hitam.

"Ayah, kau... kau memiliki sinkang mengejutkan? Kau meremas hancur batu hitam itu?"

"Ah, siapa bilang? Aku meremas hancur batu yang sebelumnya sudah retak itu, Yu Yin. Tapi bagaimana kau datang dan baru sekarang kembali. Lihat, ayahmu mendapat cobaan dan tempat tinggal kita dibakar orang. Ada orang jahat hendak membunuh ayahmu!" dan ketika pangeran itu cepat-cepat menegur puterinya mengalihkan perhatian, menuding orang-orang yang bekerja di sana maka gadis itu tertegun dan lupa kepada kesaktian ayahnya yang mampu meremas hancur sebuah batu hitam.

"Apa yang terjadi. Aku mendengar berita-berita dijalanan akan datangnya para pengacau di tempat ayah. Siapa mereka itu dan bagaimana gedung kita habis dibakar!"

"Hm, pemberontak-pemberontak hina datang mengacau kita, Yu Yin. Mereka orang-orangnya Chu Wen!"

"Chu Wen? Bukankah sudah meninggal?"

"Benar, tapi saudaranya masih hidup. Semalam Chu Kiang mengacau di sini dan anak buahnya membakar gedung kita!"

"Tapi ada paman Kedok Hitam di sini!" sang puteri menukas, terkejut dan terheran-heran. "Bukankah pembantumu itu paling lihai, ayah? Apakah dia tak ada dan para pengacau itu dapat berbuat sekehendak hatinya sendiri?"

"Mereka berjumlah banyak, seratus limapuluh orang..."

"Tapi istana juga memiliki pasukan, jumlahnya ribuan!"

"Hm, itu betul, Yu Yin. Tapi ada sesuatu yang tidak kita duga.."

"Apa itu, katakan. Biar kucari mereka dan kuhancurkan satu per satu!"

Coa-ongya kagum. Dia berseri dan gembira melihat puterinya ini dan tiba-tiba tertawalah pangeran itu. Yu Yin yang gagah dan tak kenal takut tiba-tiba diraih dan dipeluknya. Tapi ketika anaknya itu memberontak dan melepaskan diri, marah oleh cerita ayahnya yang belum selesai maka gadis itu mengedikkan kepala bersinar-sinar, merah padam.

"Ayah, orang telah menghancurkan tempat tinggal kita. Aku tak bisa tertawa dan jangan tertawa. Apa yang tidak kau duga itu dan kenapa tempat ini bisa hancur!"

"Hm, keturunan Golok Maut mencariku, Yu Yin. Dan bocah inilah yang tidak kita duga. Dia datang menolong atau membantu para pemberontak itu. Bocah itu luar biasa dan lihai hingga kami semua tak ada yang dapat melawan!"

"Keturunan Golok Maut? Datang kesini? Hm, ceritakan kepadaku, ayah. Aku juga sudah mendengar itu tapi kurang jelas. Coba kau ceritakan dan siapa pemuda itu. Kurang ajar benar dia berani mengacau!"

"Namanya Giam Liong."

"Ya-ya, aku juga mendengar begitu. Katanya berjuluk Si Naga Pembunuh! Hm keparat dan kurang ajar. Awas, kubunuh dia nanti. Lalu bagaimana!" dan ketika Coa-ongya menarik napas dalam-dalam dan puterinya memandang dengan mata berapi-api, Yu Yin tentu saja tak tahu bahwa pemuda bernama Giam Liong itu adalah Han Han yang dulu ditemuinya, pemuda itu sekarang sudah berubah nama lalu mendengarkan ayahnya bercerita akan kejadian semalam.

Betapa mula-mula datang kaum pemberontak yang dipimpin Chu Kiang, dihadapi dan hampir dibasmi tapi tiba-tiba muncul keturunan Si Golok Maut Sin Hauw itu. Dan ketika pemuda ini mengobrak-abrik tempat itu dan tak ada seorangpun yang mampu menandingi maka Yu Yin berseru memutus dengan muka keheran-heranan.

"Aneh, masa begitu saja tak dapat dilawan, ayah? Bukankah di sini ada paman Kedok Hitam? Kemana dia itu dan apakah membiarkan saja musuh berbuat seenaknya?"

"Bocah itu terlalu lihai, pamanmu Kedok Hitam sendiri merasa tak sanggup.."

"Apa? Paman Kedok Hitam kalah? Bocah itu memangnya iblis?"

"Hm, dia memiliki sesuatu yang saat ini tak ada bandingannya, Yu Yin. Pemuda itu membawa Golok Maut, senjata ayahnya dulu. Dan karena tak ada senjata yang dapat dipakai melawan senjata itu maka pamanmu mundur dan aku memanggil pasukan besar untuk mengepung pemuda itu."

"Nanti dulu, katanya ada seorang wanita lagi yang datang!"

"Benar, dia itu ibunya..."

"Dan mereka berhasil meloloskan diri? Ayah benar-benar tak sanggup?"

"Hm," Coa-ongya merah mukanya. "Pemuda itu lihai dan luar biasa, Yu Yin. Kalau saja tak membawa Golok Maut barangkali pamanmu dapat mengatasi. Tapi bocah Iblis itu dibantu senjatanya. Tak ada satupun yang mampu melawan!"

"Aku tidak takut, aku akan mencoba!" gadis itu tiba-tiba berseru, wajahnya terbakar seperti menyala. "Kita telah dihina dan dipermalukan seperti ini, ayah. Tunjukkan di mana pemuda itu dan biar kucari dia!"

"Kau jangan gegabah," Coa-ongya menyambar dan mencengkeram puterinya ini. "Tak ada satupun yang dapat melawan kalau pemuda itu masih menyimpan goloknya, Yu Yin. Aku sudah menghadap kaisar dan sri baginda telah menitahkan sesuatu. Dengar, aku mendapat pikiran baik dan ada dua jalan merobohkan pemuda itu. Kau mau membantu ayahmu?"

"Tentu saja!" gadis itu mengangguk, tak melihat kilatan aneh di pandang mata ayahnya. "Urusanmu urusanku juga, ayah. Perintahkan apa yang harus kulakukan!"

"Kau cari dan rayu pemuda itu. Pergunakan kecantikanmu untuk mencuri Golok Mautnya!"

"Apa?" Yu Yin terlonjak, memberontak dan melepaskan diri. "Merayu? Menipu dan mencuri goloknya?"

"Sabar," sang ayah melihat muka anak gadisnya yang merah padam. "Ini hanya taktik belaka, Yu Yin, jangan salah paham. Aku hendak minta tolong padamu dan hanya kaulah yang dapat melakukan ini. Laki-laki biasanya tunduk kepada wajah cantik, kau..."

"Tidak!" bentakan itu terdengar melengking dan penuh marah, penuh sakit hati. "Kau menghina aku, ayah. Kau merendahkan aku. Tak sudi aku merayu pemuda untuk melakukan tipu muslihat itu. Ah, kau selalu menyakitkan aku. Kita selamanya tak pernah ada kecocokan. Biar aku pergi!" dan Yu Yin yang membalik dan meninggalkan ayahnya tiba-tiba terbang dan tidak mau menghadapi ayahnya itu lagi, menangis dan terhina dan sang ayah kaget sekali.

Apa yang dibicarakan belum selesai ketika mendadak puterinya itu marah-marah. Mereka baru saja bertemu dan sekarang tiba-tiba harus berpisah. Tapi ketika pangeran itu bergerak dan melejit seperti ular, cepat luar biasa tahu-tahu menangkap lengan puterinya maka Yu Yin terpekik dan sudah disambar ayahnya itu, tertegun dan terkesiap!

"Yu Yin, Jangan pergi dulu. Dengar kata-kata ayahmu yang belum habis bicara!"

"Kau... kau.." gadis itu pucat. "Kau juga memiliki ilmu ginkang, ayah? Kau dapat mengejar aku?"

"Ah, kebetulan saja. Aku memotong larimu, Yu Yin, jangan pikirkan ini. Aku hendak bicara!" dan ketika anak gadisnya tertegun dan menjublak maka orang tua ini membujuk dengan suara rendah, "Kau jangan buru-buru marah dulu. Itu tadi hanya taktik, siasat. Aku tidak menyuruhmu untuk terlalu jauh dan cukup merobohkan pemuda itu saja. Kalau hatinya tertekuk, menyerah, maka kau ambil goloknya dan bawa ke mari. Selanjutnya kita tak perlu takut dan selesailah tugasmu."

"Ini... ini tak dapat kulakukan!" gadis itu tiba-tiba berseru dan kembali melepaskan diri, pandang matanya masih penuh kaget dan heran oleh kecepatan ayahnya. "Kau... kau penuh rahasia, ayah. Kau banyak menyembunyikan sesuatu!"

"Hm, omongan apa ini. Apa yang kusembunyikan!"

"Kau... kau rupanya bukan laki-laki lemah seperti kebanyakan orang menyangka. Kau memiliki sinkang dan ginkang yang mengejutkan!"

"Hm, semuanya itu sedikit benar, Yu Yin. Kau tahu bahwa sedikit-sedikit aku memang bisa silat, tapi tak selihai seperti yang kau sangka. Aku masih kalah jauh denganmu, apalagi dengan pamanmu si Kedok Hitam."

"Kalau begitu coba ayah kejar aku lagi. Aku mau pergi!" dan ketika gadis itu membalik dan meninggalkan ayahnya maka sang ayah tampak tertegun dan bingung, mau mengejar tapi kata-kata anaknya tadi akan membuka rahasianya.

Orang tua ini serba salah. Dan karena dia harus membuktikan omongannya dan tentu saja tak berani mengejar, anak gadisnya lenyap dan menoleh sebelum menghilang maka Yu Yin berseru bahwa pemuda yang membuat onar itu akan dicarinya.

"Aku akan membantu ayah, tapi bukan dengan cara seperti yang ayah nyatakan. Ayah tunggu saja di situ dan aku akan coba membekuk pemuda itu!"

Coa-ongya tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya mengerotkan gigi dan mengepal tinju, gemas. Tapi begitu puterinya menghilang dan diapun masuk ke dalam maka sebuah bayangan lain tiba-tiba keluar dari belakang gedung dan itulah si Kedok Hitam!

* * * * * * * *

Yu Yin marah dan malu sekali ketika mendengar permintaan ayahnya itu. Dia, gadis baik-baik, disuruh merayu dan menjatuhkan seorang pemuda. Cih, permintaan apa itu? Memangnya dia gadis genit yang murahan dan seperti pelacur? Sungguh terlalu ayahnya itu. Kalau saja yang bicara begitu bukan ayahnya tentu dia sudah menampar dan memaki habis-habisan. Dia disuruh mempermainkan dan merayu seorang pemuda. Ah, kalau bukan ayahnya yang bicara seperti itu tentu dia akan mencabut pedang dan menerjang. Terlalu, dia disuruh merayu!

Tapi menahan marah dan gemasnya akhirnya gadis ini melupakan itu dan terbang keluar istana untuk mencari pemuda yang menghina ayahnya itu. Dia akan mencari dan menuntut balas. Pemuda itu telah mengacau istana dan membakar gedung ayahnya pula, hal yang tak akan di ampuni. Dan karena sedikit banyak dia telah mendengar ke mana pemuda itu lari, bersama rombongannya, maka gadis ini langsung ke hutan di mana pertama kali Giam Liong membawa teman-temannya itu.

Di sini Yu Yin berhenti tapi tentu saja rombongan Chu-goanswe itu tak ada. Jenderal itu telah pergi ke hutan di lain tempat, hutan yang penuh guha-guha persembunyian dan karena itu gadis ini lalu meneruskan pencariannya dengan melacak jejak. Dia melihat tetesan-tetesan darah yang ada di situ, darah di atas rumput di mana dari sinilah gadis itu menelusuri jejak musuhnya. Dan ketika dia keluar di seberang dan melihat hutan lain yang gelap dan rimbun, hutan yang lebih lebat maka gadis ini tertegun karena jejak itu berhenti di situ, di hutan yang gelap itu.

"Mereka ada di sana. Hm, kiranya di sini tikus-tikus busuk itu bersembunyi!" Yu Yin tak bergerak sejenak, mata berpikir tapi tiba-tiba iapun berkelebat dan memasuki hutan itu. Dan karena ia harus berhati-hati dan tak mau gegabah maka dia mencabut pedangnya dan pedang hitam yang dipunyainya itu siap di tangan dengan gerakan penuh waspada.

Yu Yin bergerak dan menyelinap dan tiba-tiba ia merasa seram berada di tengah hutan itu. Hutan ini dingin dan menyeramkan. Tapi karena ia mencari musuh dan musuh itu adalah musuh ayahnya, juga musuh negara karena telah mengacau istana maka mengeretakkan gigi iapun bergerak dan menyelinap dengan hati-hati, sampai akhirnya tiba-tiba sebuah tepukan mengenai pundaknya. Dan ketika gadis itu terpekik dan seketika membalik, pedang hitam menyambar namun membabat angin kosong maka gadis itu berseru tertahan.

"Siluman!"

"Bukan, bukan siluman.." sebuah suara tiba-tiba terdengar. "Ini aku, Yu Yin. Ada apa kau di tempat ini dan membawa-bawa pedang!"

Yu Yin terkejut. Diam embalik dan menoleh lagi karena sesosok bayangan tiba-tiba muncul di balik sebatang pohon besar. Dia siap menggerakkan pedang hitamnya ketika tiba-tiba gadis ini tertegun. Dan ketika laki-laki itu menampakkan diri sepenuhnya dan Yu Yin melihat siapa ini tiba-tiba gadis itu terpekik dan menubruk ke depan, melepaskan pedangnya.

"Han Han..!"

Giam Liong, pemuda ini tersenyum. Dia memang menjaga hutan itu melindungi teman-temannya. Tidak semua temannya sembuh karena Chu-goanswe sendiri juga masih harus beristirahat sehari dua lagi, setelah itu baru akan meneruskan perjalanan, karena betapapun tempat itu masih cukup dekat dengan kota raja. Maka begitu dia melihat bayangan gadis ini dan terkejut serta heran, ada apa Yu Yin muncul dan masuk seperti musuh maka dia menegur dan tadi menepuk pundak gadis itu untuk akhirnya lenyap ketika si gadis menyerang.

"Ya, aku..." Giam Liong, pemuda ini tersenyum karena Yu Yin memanggilnya dengan nama Han Han. Memang itulah dulu namanya sebelum dia mengetahui rahasia dirinya, bahwa dia ternyata adalah keturunan mendiang Si Golok Maut dan bukannya putera Pek-jit-kiam Ju Beng Tan. Tapi ketika Yu Yin menubruk dan memeluknya, gadis ini girang bukan main bertemu sahabat lama, maka Giam Liong jengah dan mendorong perlahan pundak gadis itu, bertanya,

"Ada apa kau di sini, mencari apa."

"Ah," Yu Yin juga sadar, tersipu jengah. "Aku mencari musuh besarku, Han Han. Bocah bernama Giam Liong!"

"Giam Liong?"

"Ya, bocah keparat itu. Dia telah mengacau dan merusak istana. Aku ingin mencarinya dan bagaimana kau ada di sini pula. Sedang berbuat apa! Dan, eh kenapa rambutmu itu? Kenapa merah marong seperti api menyala? Kau mengecatnya?"

Giam Liong tertegun. Diberondong dan ditanyai bertubi-tubi begini membuat ia tak dapat segera menjawab. Giam Liong mundur terhenyak. Yu Yin hendak mencarinya, bukan sebagai Han Han melainkan sebagai Giam Liong. Dan karena nada bicara gadis itu jelas menyatakan permusuhan, Giam Liong tertegun dan curiga maka pemuda ini mengerutkan kening dan sadar ketika gadis itu menegurnya.

"Ada apa? Kenapa kau terkejut?"

"Tidak, tidak apa-apa," pemuda ini segera dapat menguasai dirinya lagi. "Aku heran dengan sikapmu, Yu Yin. Kenapa kau marah-marah dan hendak mencari pemuda itu. Apakah dia juga memusuhimu!"

"Hm," gadis inipun mengerutkan kening, curiga. "Kau aneh dan lucu sekali, Han Han. Masa tidak tahu akan sepak terjang pemuda itu di istana. Dia mengacau dan menimbulkan huru-hara!"

"Lalu apa maksudmu? Apa maumu?"

"Aku hendak membunuh pemuda itu, minimal menangkapnya!"

"Hm, kau serius, Yu Yin? Kau tidak main-main?"

"Siapa main-main? Kau aneh dan mengherankan sekali. Kau ini yang main-main!"

"Baik, kalau begitu apa hubunganmu dengan itu? Kenapa kau membela istana?"

Yu Yin. tertegun. Dia heran oleh sikap temannya ini yang rupanya tidak mendukung dirinya. Han Han seolah dingin-dingin saja dan tak acuh, hal yang membuat dia curiga! Dan ketika dua pasang mata mereka bertemu dan Yu Yin tak jadi menyatakan bahwa dia puteri Coa-ongya, tentu saja erat hubungannya maka gadis ini memancing. "Aku merasa terlibat karena itu adalah pemberontakan. Giam Liong dan teman-temannya itu pemberontak, dan karena mereka pemberontak maka seluruh rakyat tentu saja harus memusuhi mereka. Kau tentunya juga harus bersikap seperti ini, membantu istana dan membunuh pemuda itu!"

"Hm!" Giam Liong tertawa dingin. "Urusan ini kupikir lain, Yu Yin. Justeru aku setuju dengan sepak terjang pemuda itu. Dia dan teman-temannya bukan pemberontak, melainkan pejuang. Dan karena kau tak tahu siapa pemberontak siapa pejuang baiklah kita tak usah bicara tentang ini. Barangkali kita akan berbeda pendapat!"

"Kau membela pemberontak-pemberontak itu?"

"Bukan pemberontak, melainkan pejuang..."

"Ah, mereka pengikut Chu Wen, Han Han. Mereka itu pemberontak!"

"Hm, sebaiknya tak usah bicara tentang ini. Kita bukan musuh, dan kaupun ternyata bukan antek istana. Kau hanya ikut-ikutan saja, Yu Yin, terbawa oleh rasa patriotmu. Bagus, aku kagum. Tapi jangan keras-keras atau teman-temanku nanti mendengar..."

Namun baru saja Glam Liong menutup kata-katanya mendadak berkelebat sebuah bayangan wanita. "Liong-Ji, siapa ini?" dan ketika Yu Yin terkejut karena temannya dipanggil "Liong-ji" (anak Liong) maka bersamaan itu pula berkelebatan bayangan-bayangan lain dan berturut-turut muncul orang-orang gagah berpakaian hitam-hitam.

"Siauw-hiap, siapa gadis ini?"

Giam Liong terkejut. Dia sudah khawatir bahwa jangan-jangan suara keras yang dikeluarkan temannya itu terdengar oleh ibu atau teman-temannya. Mereka memang tak jauh di situ dan diapun terlambat mencegah gadis ini. Dan ketika Chu-goanswe dan teman-temannya muncul, mereka terbelalak melihat kedatangan Yu Yin maka Yu Yin sendiri tertegun melihat orang-orang itu. Curiga!

"Siapa mereka ini?"

Giam Liong menarik napas panjang. Agaknya, dia tak dapat menyembunyikan diri lagi. Yu Yin, yang mengenalnya sebagai Han Han akan segera mengenalnya sebagai Giam Liong, tokoh "pemberontak" itu. Tapi karena masing-masing pihak bertanya dan ibu serta Chu-goanswe juga harus dijawab maka cepat dia memegang bahu gadis itu dan memperkenalkan.

"Dia ini adalah sahabatku, kebetulan saja datang. Namanya Yu Yin. Harap kalian tidak salah paham dan curiga yang bukan-bukan."

"Hi-hik, kapan kau berkenalan dengan gadis, Liong-ji? Kenapa tidak pernah memberitahu ibumu?"

"Maaf," pemuda itu tersipu merah. "Gadis ini kukenal secara kebetulan, ibu. Dia adalah Jing-ci-touw yang amat lihai, Yu Yin yang pemberani dan dulu suka mengganggu orang."

"Jing-ci-touw (Copet Seribu Jari)? Kerjanya mencopet?"

Giam Liong tersenyum masam. Dia terpaksa memberi tahu bahwa pekerjaan mencopet bukanlah mata pencarian gadis itu. Gadis ini hanya melampiaskan watak nakalnya saja dengan menggoda atau mengganggu orang, karena banyak hasil copetan diberikan kepada fakir miskin dan tak dipakai untuk diri sendiri. Dan ketika Wi Hong terkekeh dan mengangguk-angguk, mengerti, maka nyonya itu bersinar memandang Yu Yin.

"Kau mengagumkan, gagah dan cantik. Sudah lama berkenalan dengan puteraku?"

Yu Yin tertegun. "Hujin adalah ibu Han Han?"

"Ya, aku ibunya. Tapi namanya yang benar bukan Han Han. Dia Giam Liong, Sin Giam Liong...!"

"Apa?" Yu Yin terpekik, mencelat kaget. "Giam Liong? Jadi... jadi..."

"Benar," Giam Liong tersenyum, menyambar dan menangkap lengan temannya itu lagi. "Akulah orang yang kau cari-cari, Yu Yin. Kau salah paham dan agaknya sekarang harus dijelaskan.... heiii!" dan Giam Liong yang terkejut dan melonjak bagai disengat lebah tiba-tiba melihat sinar hitam menabas tangannya. Dia sedang menyambar lengan gadis itu untuk ditangkap secara bersahabat, sama sekali tak menduga bahwa Yu Yin mencabut pedang hitamnya dan langsung menyerang. Dan karena dia tak menduga tapi secepat itu pula dia mengerahkan sinkang menerima bacokan maka ujung bajunya memberebet tapi pedang terpental bertemu jari-jari Giam Liong yang kebal.

"Aihhh... tak-brett!"

Yu Yin berjungkir balik dengan muka pucat. Gadis itu gagal dan terhuyung oleh sinkang Giam Liong, matanya berapi-api, muka tiba-tiba merah padam bagai dibakar. Dan ketika Giam Liong tertegun sementara ibunya dan semua orang terkejut, gadis itu memandang penuh nafsu membunuh maka Yu Yin berteriak,

"Giam Liong, aku musuh besarmu. Aku akan membunuhmu. Ah, tak kusangka kalau kau adalah keturunan Si Golok Maut Sin Hauw. Mampuslah...!" dan pedang yang menerjang lagi diikuti bayangan si gadis tiba-tiba bergulung naik turun menyambar-nyambar Giam Liong.

Giam Liong terkejut dan tentu saja terheran-heran, mengelak dan menangkis dan pedangpun terpental bertemu kuku jarinya. Dan ketika gadis itu melengking-lengking dan menyerang semakin hebat maka Giam Liong mengebutkan lengan bajunya menggubat pedang hitam itu, yang saat itu mendesing membacok kepalanya.

"Kau aneh, kau seperti setan kelaparan. Hentikan seranganmu dan kenapa kau marah-marah, Yu Yin. Kenapa kau menganggap aku musuh besarmu yang harus kau bunuh!" dan ketika pedang ditangkis dan tergubat, Giam Liong menarik dan gadis itu tak tahan maka Yu Yin terpelanting dan marah karena pedangnya terampas.

"Serahkan pedangku, atau kau boleh bunuh aku!"

"Hm!" Wi Hong tiba-tiba berkelebat, marah oleh sikap gadis ini. "Kau kiranya liar dan tak tahu aturan, bocah. Roboh dan tutup mulutmu!" namun ketika jari nyonya itu terpental menotok, Wi Hong ingin merobohkan tetapi gagal maka Yu Yin sudah bergulingan meloncat bangun dengan wajah kehitam-hitaman. Marah besar...!

Naga Pembunuh Jilid 18

NAGA PEMBUNUH
JILID 18
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
GIAM LIONG menggeram. Dia sendiri sudah masuk dan berkelebat ke gedung Coa-ongya itu. Lawan melarikan diri sementara Sudra dan Mindra bergulingan meloncat bangun. Mereka itu pucat melihat kehebatan Giam Liong. Si Naga Pembunuh itu benar-benar mengerikan karena sekali mengeluarkan goloknya saja tiba-tiba merekapun terpelanting. Cambuk dan nenggala tak mampu lagi menghadapi golok di punggung pemuda itu. Bocah itu melebihi ayahnya!

Dan ketika orang-orang itu berteriak dan bersorak mengikuti Si Naga Pembunuh, para pengawal atau penjaga dibabat tanpa ampun maka dua kakek inipun diterjang dan menerima kemarahan mereka.

"Bunuh kakek-kakek siluman ini. Tabas batang kepalanya!"

Dua kakek itu terkejut. Mereka sudah kehilangan senjata dan orang-orang bersapu tangan itupun beringas sekali menyerang mereka. Golok dan tombak atau pedang silih berganti menyambar bagal hujan. Tapi karena mereka adalah kakek-kakek yang lihai dan dengan tangan atau kakinya dua kakek itu menghalau senjata maka semua terpental namun orang-orang itu berteriak memanggil Giam Liong.

"Naga Pembunuh, bantu kami dulu. Dua kakek ini melawan!"

Sudra dan temannya tergetar. Mereka paling jerih kalau menyebut-nyebut nama itu. Giam Liong merupakan pemuda mengerikan di mana mereka paling gentar kalau sudah berhadapan. Maka begitu membentak dan berjungkir balik mengibas orang-orang itu dua kakek ini lenyap melarikan diri tak mau bertemu Giam Liong.

"Kalian tikus-tikus busuk yang beraninya hanya mengandalkan pemuda itu. Baiklah, kami pergi namun kelak kami akan datang menghajar.... plak-plak-plak!"

Orang-orang itu menjerit bergulingan. Mereka terlempar roboh oleh kibasan atau dorongan pukulan dua kakek ini. Mindra dan Sudra memang masih terlalu lihai bagi mereka. Tapi begitu dua kakek itu lenyap melarikan diri dan mereka itu memasuki gedung, Sudra dan Mindra hendak mencari si Kedok Hitam yang tidak menampakkan batang hidungnya lagi maka orang-orang itu bangun mengejar dan berteriak-teriak, suasana menjadi gaduh.

"Kejar, bunuh kakek itu. Tangkap mereka!"

Namun Sudra dan Mindra menghilang di dalam. Mereka bergerak cepat dan tentu saja tak mau bertemu orang-orang bersaputangan ini. Mereka mendongkol namun terpaksa menahan marah. Kalau saja tak ada Si Naga Pembunuh tentu mereka membalik, menghajar atau merobohkan orang-orang itu. Tapi karena ada Si Naga Pembunuh dan nama itu menggetarkan hati mereka maka biarpun dimaki dan disoraki dari belakang tetap saja dua kakek ini lenyap dan tak mau melayani.

Mereka hendak mencari si Kedok Hitam dan memaki-maki tokoh itu kenapa tak mau keluar lagi. Mereka tertipu dan sekarang menyadari bahwa Kedok Hitam menyelamatkan dirinya sendiri. Dan karena itu membuat mereka marah dan geram maka dua kakek inipun mencaci-maki dan mengutuk habis-habisan si Kedok Hitam itu sendiri.

Giam Liong sendiri mengobrak-abrik tempat itu diikuti ibunya. Pemuda inipun marah dan geram karena setelah menyerangnya habis-habisan ternyata musuhnya itu melarikan diri. Begitu enaknya! Tapi setelah seluruh kamar ditendang dan dibuka ternyata Kedok Hitam tak ada di situ, entah ke mana laki-laki itu maka ibunya membanting kaki penuh sesal.

"Lihat, lihat kegoblokanmu. Kau ditipu mentah-mentah dan tak menuruti nasihat ibu, Liong-ji. Kalau saja kau tak sombong dan memberinya sepuluh jurus cuma-cuma tentu siluman yang licik itu dapat kita bunuh. Ah, kau tak tahu betapa sulitnya mencari laki-laki ini. Hayo cari saja Coa-ongya dan kita bekuk pangeran celaka itu!"

Giam Liong tak menjawab, merah padam. Memang sekarang dia menyesal kenapa sikapnya begitu lunak. Dia terlalu mengalah kepada musuh besarnya itu. Baru sekarang dia tahu bahwa si Kedok Hitam itu benar-benar manusia yang amat licik dan licin. Sepak terjangnya curang! Tapi ketika Coa-ongya pun tak dapat ditemukan dan ibunya gusar membanting-banting kaki maka seorang pelayan ditangkap dan diinjak lehernya.

"Katakan di mana majikanmu. Atau nanti kau kubunuh!"

"Am... ampun!" pelayan itu tentu saja tak tahu apa-apa. "Mu... mungkin di tempat kaisar, hujin. A... aku tidak tahu...!"

"Bohong!" Wi Hong membentak dan melepaskan marahnya. "Kaupun licik dan ingin menyelamatkan diri, tikus busuk. Kau persis majikanmu yang tidak tahu malu dan pengecut... krekk!" dan leher itu yang diinjak hancur akhirnya membuat pelayan terkulai dan Giam Liong sendiri terkejut dan berobah mukanya.

"Kau mau marah? Kau mau memprotes? Hayo, bunuh ibumu kalau tidak suka, Liong-ji. Aku akan membunuh siapa saja yang ada di sini!"

Dan Giam Liong yang tak jadi mendebat dan tertegun membelalakkan mata tiba-tiba melihat ibunya keluar dan berteriak-teriak mencari pelayan atau siapa saja orang-orangnya Coa-ongya. Ibunya mata gelap dan marah sekali oleh lolosnya Kedok Hitam itu. Tapi karena semua pelayan sudah melarikan diri dan gedung itu benar-benar kosong, tak ada orang-orangnya Coa-ongya maka meja kursi itulah yang menjadi korban dan isi gedung benar-benar porak-poranda dihajar nyonya ini. Wi Hong kalap dan puteranya tertegun membelalakkan mata. Dan ketika orang-orang bersaputangan juga muncul dan melihat kemarahan nyonya ini tiba-tiba merekapun bersorak-sorak dan menghancurkan pula segala perabot-perabot disitu.

"Bagus, kami bantu, hujin. Bagus, ha-ha...!"

Giam Liong tak tahan. Akhirnya ia membentak namun yang dibentak adalah orang-orang itu. Mereka dilarang ikut-ikutan namun celaka sekali ibunya justeru membentaknya agar membiarkan orang-orang itu. Dua perintah berlawanan membuat orang-orang ini tertegun tapi ketika Wi Hong berkelebat dan menghajar mereka mendadak saja orang-orang ini takut. Mereka panik dan mau tak mau harus menuruti kemauan nyonya itu, Giam Liong terlihat diam dan membiarkan saja orang-orang itu menghancurkan segala isi gedung. Dan ketika ibunya puas dan orang-orang itu juga mundur, membelalakkan mata maka berkelebatlah seorang tinggi besar membuka sapu tangannya.

"Siauw-hiap, hujin... terima kasih atas bantuan kalian. Kami adalah pejuang-pejuang setia yang memusuhi istana. Aku adalah Chu Kiang dan ini teman-temanku yang setia kepada mendiang Chu Wen. Kami akan memperkenalkan diri kepadamu!" dan ketika laki-laki itu berseru pada teman-temannya agar membuka tutup muka, memperlihatkan diri maka tampaklah wajah-wajah yang rata-rata gagah dan si tinggi besar itupun ternyata simpatik dengan wajahnya yang kemerah-merahan seperti Kwan Kong atau tokoh legendaris dari kisah Tiga Negeri.

"Siauw-hiap (pendekar muda) sungguh luar biasa sekali. Kepandaianmu benar-benar seperti ayahmu atau bahkan lebih!"

"Benar!" orang-orang itu berseru, hampir serempak. "Kami kagum kepadamu, siauw-hiap. Dan sungguh gembira kalau kami mendapat bantuan orang seperti dirimu ini. Kami mengharap siauw-hiap mau memimpin kami!"

Giam Liong tertegun. Tiba-tiba si tinggi besar berlutut dan mengajak teman-temannya menjatuhkan diri. Mereka telah diselamatkan pemuda ini dan pertolongan Giam Liong sungguh besar. Dan ketika kata-kata terakhir disetujui laki-laki gagah itu dan Chu Kiang, si tinggi besar mengangguk dan setuju tiba-tiba laki-laki itupun berseru nyaring,

"Benar, kami mengharap kau mau memimpin kami, siauw-hiap. Lanjutkan perjuangan ayah dan kakekmu yang gagal dibunuh musuh-musuhnya. Kami keturunan Chu tentu akan berhutang budi besar dan tak akan melupakan bantuanmu ini!"

"Kau keturunan keluarga Chu?" Wi Hong tiba-tiba berkelebat dan menangkap pundak laki-laki gagah itu, mencengkeramnya. "Kau apanya Chu Wen dan berapa pasukanmu hingga berani melabrak istana?"

"Uh!" si tinggi besar meringis dan mengerahkan tenaganya, cengkeraman itu serasa menembus tulang! "Lepaskan cengkeramanmu, hujin. Dan biarkan kami bicara menjawab pertanyaanmu," dan ketika Wi Hong melepaskan cengkeramannya dan laki-laki tinggi besar itu terbelalak kagum maka Chu Kiang, laki-laki ini, bercerita bahwa pasukannya sekitar limaratus orang.

"Kami tidak banyak, namun dengan limaratus orang tentu kami dapat membuat istana geger. Maaf, kami orang-orang bodoh yang hanya berbekal keberanian dan tekad baja, hujin. Meskipun kami bukan lawan si Kedok Hitam itu namun dengan keroyokan tentu kami dapat membunuhnya. Sial, kami tak tahu bahwa dua kakek India itu ada di sini pula. Perhitungan kami agak meleset!"

"Hm, tapi kalian benar-benar orang-orang gagah yang berani mati. Kalian telah berani datang ke sini!" Wi Hong mau tak mau kagum juga. "Kalian boleh, Chu Kiang. Tapi apa hubunganmu dengan mendiang Chu Wen!"

"Aku saudara lain ibu, hujin. Chu Wen adalah kakakku satu ayah, meskipun usia kami terpaut jauh!"

"Bagus, dan sekarang apa rencanamu?"

"Kami akan menyerang dan membunuh Coa-ongya. Dia inilah tulang punggung istana dan nasihat perang. Tapi karena dia dilindungi dan dibantu si Kedok Hitam maka tentunya Kedok Hitam inilah yang harus kami habisi. Kami siap berkorban asal dapat membunuhnya!"

"Benar," tiga di antaranya berseru nyaring. "Pacul Kilat dan Tombak iMaut telah menjadi korban, hujin. Dan kami yang lain-lain siap menyusul asal dapat membunuh si Kedok Hitam itu. Dia licik dan amat jahat. Dia pengganjal utama cita-cita!"

"Dan diapun telah membunuh suamimu," Chu Kiang bicara membakar lawan. "Orang seperti ini tak layak dibiarkan hidup, hujin. Kami dan kalian satu musuh satu keinginan. Biarlah kalian memimpin kami dan kami berdiri dibelakang kalian!"

"Cocok!" yang lain berseru dan mengangkat senjata. "Dipimpin puteramu selihai ini tentu kami dapat menumbangkan kaisar lalim, hujin. Ayo bunuh kaisar dan cari kembali Coa-ongya itu!,”

Namun, ketika orang-orang itu mulai ribut dan berteriak-teriak, Wi Hong mulai bersinar-sinar karena puteranya bertemu orang-orangnya Chu Wen tiba-tiba Giam Liong sendiri berkelebat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Pemuda itu berseru agar mereka semua jangan gaduh, ada sesuatu yang didengar. Dan ketika semua diam dan membelalakkan mata, suara yang didengar pemuda itu didengar juga oleh mereka maka terdengarlah bentakan dan derap kuda di luar gedung, jumlahnya ribuan!

"Chu Kiang, kau biang pemberontak. Berlutut dan menyerahlah baik-baik. Kami pasukan kerajaan mengepungmu!"

Orang-orang itu tiba-tiba terkejut. Mereka berlompatan namun Chu Kiang, laki-laki gagah itu tiba-tiba berseru agar teman-temannya berhenti, jangan bergerak sendiri-sendiri. Dan ketika bentakan dan derap kuda semakin dekat, dari mana-mana muncul obor yang ribuan jumlahnya maka gedung Coa-ongya mendadak menjadi terang-benderang sementara hujan di luar sudah reda.

"Kita telah mempunyai calon pemimpin di sini. Biarlah Sin-siauwhiap atau Sin-hujin memutuskan perintah. Dengar kata-kata mereka dan kita lakukan apa perintahnya!"

"Hi-hik!" Wi Hong tiba-tiba bangga. "Kau telah dipilihnya, Liong-ji. Kau pimpinan di sini dan biar ibu di sampingmu saja. Katakan, apa yang harus dilakukan dan mereka tentu akan menyerbu seperti laron kesetanan!"

"Apa?" Giam Liong justeru mengerutkan kening. "Aku menjadi pemimpin? Aku memimpin orang-orang ini? Ah, tidak. Aku tak tahu asal mula perjuangan, ibu. Aku datang untuk urusan ayah dan mereka ini urusan mereka sendiri. Aku hanya menyarankan untuk pergi dari sini karena si Kedok Hitam telah melarikan diri!"

"Kami akan mengikuti perintahmu!" Chu Kiang tiba-tiba berseru. "Tapi bagaimana dengan pasukan itu, siauw-hiap. Mereka berjumlah besar dan ribuan orang!"

"Hi-hik, kita bantai saja!" Wi Hong bergerak dan mau mendahului puteranya, namun ditangkap. "Kita tak usah takut kepada mereka, Chu Kiang. Ada puteraku di sini dan biar Golok Mautnya mencari darah!"

"Nanti dulu!" sang putera bergetar dan mengerutkan kening. "Aku tak ada urusan dengan mereka, ibu. Yang kucari adalah Kedok Hitam. Aku tak berurusan dengan pasukan kerajaan!"

"Bodoh! Kau kira apa mereka itu? Kau kira apa si Kedok Hitam yang licik dan curang itu? Pasukan ini datang atas kehendaknya, Liong-ji. Bunuh mereka dan sikat habis!"

"Benar," Chu Kiang tiba-tiba menimpali. "Pasukan ini dapat datang karena suruhan Kedok Hitam, siauw-hiap. Mereka tak tahu tentang kami kalau tidak diberi tahu. Aku akan menyambut dan siap menghirup darah bersama teman-temanku!"

"Dan kita berpesta," Wi Hong terkekeh. "Dulu mereka merajang ayahmu, Liong-ji. Ayo sekarang balas dan cincang mereka itu!"

"Dan bakar gedung Coa-ongya ini!" orang-orang itu tiba-tiba berteriak. "Kami akan membalaskan dendammu pula, siauw-hiap. Mari keluar dan perintahkan kami menyambut. Dengar, mereka berteriak-teriak dan menggonggong seperti anjing!"

Giam Liong bersinar-sinar. Wajahnya yang beku tiba-tiba menjadi dingin dan tak bergerak. Tak ada senyum atau perasaan di situ. Pemuda ini menggeram begitu ibunya menyebut-nyebut kematian ayahnya dulu. Dan ketika diluar terdengar bentakan atau seruan-seruan agar Chu Kiang dan teman-temannya menyerah, Giam Liong berkilat dan terbakar tiba-tiba darahnya mendidih ketika di luar terdengar pula namanya disebut-sebut.

"Heii, bocah yang mengaku keturunan Golok Maut. Kau juga keluar dan cepat berlutut menyerahkan diri. Atau kami akan membunuhmu dan mencincangmu seperti mendiang ayahmu dulu!"

Giam Liong mengeluarkan pekik menggetarkan. Tiba-tiba dengan kemarahan tak dapat ditahan lagi pemuda ini berkelebat dan mengayunkan tangannya. Tujuh sinar putih dilepas dan golok-golok kecil berkeredep menyambar seorang laki-laki di atas kudanya. Laki-laki itu adalah laki-laki yang menghina Giam Liong tadi dan dia adalah komandan pasukan itu, namanya Gouw-ciangkun (panglima Gouw). Dia inilah yang sesumbar menyebut-nyebut ayah pemuda itu dan mengeluarkan kata-kata yang membuat Giam Liong mendidih darahnya. Maka begitu pemuda itu berkelebat dan Gouw-ciangkun terbelalak melihat musuhnya, gerakan Giam Liong seperti burung menyambar tahu-tahu panglima ini menjerit dan roboh terjungkal dengan tujuh bagian tubuhnya yang putus dibabat giam-to, golok kecil-kecil itu.

"Aughhh...!" Jerit atau pekik kematian ini menggetarkan tempat itu. Gouw-ciangkun roboh sudah tidak berujud manusia lagi. Tangan dan kakinya putus sementara kepalanya sendiri terbang dari tubuhnya, menggelinding dan jatuh mencelat seperti bola. Darah menyembur bagai pancuran besar, begitu cepatnya. Dan ketika orang-orang berteriak dan Giam Liong berkelebatan di situ maka sinar putih yang lain bergerak naik turun dan terlemparlah kepala atau kaki yang sudah putus dari tempatnya. Giam Liong mengamuk dan sorakan anak buah Chu Kiang menggegap-gempita di tempat itu, disusul tubuh-tubuh mereka yang berloncatan menyerbu pasukan besar ini. Dan ketika Wi Hong juga terkekeh dan berkelebat di belakang puteranya, pedang menyambar dan menusuk maka tempat itu tiba-tiba menjadi pembantaian dan robohlah puluhan orang yang binasa dengan sekejap.

"Mundur.... semua mundur. Jauhkan diri dan serang dengan anak panah!"

Kegaduhan dan kepanikan terjadi di sini. Cong-ciangkun, wakil Gouw-ciangkun yang tewas berteriak memberi aba-aba sementara perwira itu sendiri sudah melempar tubuh dan bergulingan menjauh. Dia gentar oleh sinar maut ditangan Giam Liong karena sebentar saja belasan tubuh sudah roboh dengan cara mengerikan. Giam Liong teringat kematian ayahnya dan kini membalas orang-orang itu dengan kematian yang sama. Kepala dan kaki atau tangan menggelinding disusul pekik atau jerit pemiliknya. Darah berhamburan bagai kran bocor yang tidak tertutup lagi.

Dan ketika Cong-ciangkun menyelamatkan diri dan berteriak-teriak menyuruh pasukannya menjauh, pemuda itu bagai iblis haus darah yang tidak berhenti di satu tempat saja maka golok di tangan Giam Liong mengkilap dan menyilaukan mata karena tetap kering setiap dibasahi darah. Golok itu menghisap dan semakin bersinar setiap membabat korbannya, tak ada setetespun darah yang melekat di situ karena sudah disedot atau "dihirup" oleh kekuatan gaib yang memancar. Semakin banyak darah semakin golok itu bercahaya, sinarnya terang namun kemerah-merahan seperti layaknya darah yang memantul dan mengeluarkan bau amis. Dan karena sepak terjang Giam Liong memang tak ada yang menandingi dan pasukan berkuda porak-poranda maka Wi Hong terkekeh-kekeh bergerak di belakang puteranya itu, begitu juga Chu Kiang dan anak buahnya yang berpesta pora.

"Hi-hik, maju semua, tikus-tikus busuk. Mari rasakan pedangku dan menyingkirlah ke neraka... crat-crat!"sepak terjang nyonya ini juga menggiriskan. Pedangnya tak kenal ampun dan setiap membacok tentu mengenai sasaran. Wi Hong mainkan Ang-in Kiam-sutnya dan ilmu pedang Awan Merah itu bergerak naik turun meniup lawan. Siapa saja yang tersambar pasti roboh binasa, berteriak dan terjungkal dan akibatnya musuhpun mundur dengan gugup. Mereka pucat dan gentar oleh kelihaian nyonya ini. Dan karena Wi Hong maupun puteranya tak dapat dilawan maka pasukan besar itu morat-marit dan Cong-ciangkun kembali berteriak-teriak agar mundur dan melepaskan anak panah.

"Mundur... mundur. Lepaskan anak panah dan serang mereka itu dari jauh!"

Pasukan sadar. Dibabat dan dibantai seperti rumput kering begitu merekapun pucat dan menjauh. Kuda meringkik dan mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi dengan panik. Mereka itu bingung oleh perintah tuannya yang kacau, banyak yang saling bertabrakan dan karena itu semuanya ini membuat gaduh. Dan ketika gedung Coa-ongya juga mulai dibakar, orang-orangnya Chu Kiang itu bersorak-sorai melempar api maka pasukan kerajaan benar-benar semrawut dan hingar-bingar. Mereka jatuh disambar pedang atau teman sendiri, pingsan atau tewas diinjak-injak kuda yang demikian banyaknya.

Namun ketika pasukan itu mundur dan melepas panah-panahnya sesuai perintah Cong ciangkun maka satu dua anak-anak panah ini menyambar dan mengenai anak buah si Dewa Hitam Chu Kiang ini. Mereka roboh dan menjerit dan Chu Kiang si tinggi besar terkejut. Laki-laki ini juga mengamuk di belakang Wi Hong, membabat dan menggerakkan gendewanya yang lain serta melepas anak-anak panah itu. Kiranya Chu Kiang ini seorang ahli panah. Tapi karena musuh amatlah banyak sementara yang dapat menangkis atau menghalau hujan panah hanyalah Wi Hong bersama puteranya maka pejuang-pejuang ini-pun mulai berjatuhan dan sebuah teriakan tiba-tiba ditujukan kepada Giam Liong agar menyelamatkan si tinggi besar, keturunan dinasti Chu itu.

"Sin-siauwhiap, tolong lindungi dan bawa Chu-goanswe (jenderal Chu) dari sini. Dia satu-satunya keturunan Chu yang tak boleh habis!"

Giam Liong tertegun. Saat itu dia sedang berkelebatan dengan golok di tangannya, membabat atau menyambar-nyambar bagai rajawali menerkam mangsa. Hujan panah yang diarahkan kepadanya tak ada satupun yang berhasil. Kalau tidak rontok oleh goloknya tentu patah sendiri bertemu tubuhnya yang kebal. Pemuda itu telah mengerahkan sinkang dan melindungi diri hingga lawan terbelalak karena tak satupun anak panah yang mampu melukai. Namun ketika teriakan itu terdengar dan Giam Liong mendengar pula keluhan pendek, yang berseru itu roboh terhuyung-huyung maka pemuda ini terkejut karena itulah si Papan Besi, orang nomor dua setelah Chu Kiang, yang ternyata juga adalah Chu-goanswe!

"Cepat... " laki-laki itu terduduk, jatuh, dua batang panah menancap di pundak dan punggungnya. "Tolong dan selamatkan Chu-goanswe, siauw-hiap. Jangan biarkan keturunan dinasti Chu musnah!"

Giam Liong terbelalak. Dia meruntuhkan delapan anak panah yang kembali menyambar dari depan, mau bergerak tapi si Papan Besi tiba-tiba menjerit ketika sebatang panah kembali mengenai tubuhnya. Dan ketika Giam Liong membentak dan gusar oleh pemanah itu, melepaskan giam-to nya dan pemanah itu berteriak maka Chu-goanswe atau jenderal tinggi besar itu berseru keras ke arah temannya ini, yang sudah terguling.

"Tidak, kita roboh atau keluar bersama, Wan Mo. Jangan hanya memikirkan aku sementara kau binasa di sini!"

"Heii, awas...!" Wi Hong tiba-tiba berteriak dan melihat sebatang panah menyambar laki-laki itu. "Lempar tubuhmu, Chu-goanswe. Atau kau mampus!"

Chu-goanswe terkejut. Dia menoleh dan melihat datangnya anak panah itu, mengelak namun kalah cepat. Dan ketika panah menancap di pundaknya dan jenderal Itu mengerang maka Cong-ciangkun tiba-tiba berteriak agar menujukan serangan panah ke arah laki-laki ini, yang ternyata jenderal Chu.

"Bunuh dan serang dia. Itu ternyata Chu-goanswe!"

Wi Hong terkejut. Pasukan kerajaan tiba-tiba melepaskan panahnya ke arah jenderal ini. Chu-goanswe menggerakkan gendewanya namun sebatang panah kembali menancap, maklumlah, hujan panah memang demikian banyaknya. Dan karena laki-laki itu orang yang amat penting dan Wi Hong mendapatkan pikiran baik untuk masa depan anaknya kelak maka nyonya inipun berkelebat dan terbang menghalau hujan panah itu, pedangnya diputar secepat kitiran melindungi jenderal Chu.

"Heii, selamatkan Chu-goanswe. Kita harus pergi, dari sini, Liong-ji. Cukup dan bawa teman kita keluar!"

Giam Liong terkejut. Chu-goanswe atau Chu Kiang itu roboh terguling. Dia tadi menolong temannya tapi diri sendiri ternyata menjadi korban. Dan karena ibunya bergerak melindungi jenderal itu sementara hujan panah semakin gencar, tak mungkin ibunya bekerja sendirian maka Giam Liong mengeluarkan bentakan mengguntur yangnmembuat orang-orang di situ jatuhvterpelanting.

"Minggir, kalian enyahlah..!" dan Giam Liong yang bergerak mengayun tangannya ke kiri kanan tiba-tiba disusul jerit atau pekik ngeri dari pelepas-pelepas panah,l yang terjengkang dan tewas seketika karena hujan golok kecil menancap di tenggorokan mereka. Giam Liong menyapu tigapuluh pemanah di mana mereka itu tentu saja menerima kematian, teman-temannya yang lain pucat. Lalu ketika mereka terkejut dan mundur menjauh, Giam Liong telah mengibaskan lengannya ke sana-sini maka pemuda itu telah menyambar Chu-goanswe sementara ibunya disuruh membawa si pendek gempal, Papan Besi yang pingsan itu balik, lawan memberi jalan dan sekali dua melepas serangan tak berarti maka rombongan ini keluar dan meninggalkan tempat berdarah itu.

Giam Liong telah dikenal sebagai Naga Pembunuh dan pemuda yang berdiri di balik pejuang-pejuang itu sungguh hebat sekali. Wajah dan rambutnya yang kemerahan sungguh terasa lebih menyeramkan daripada mendiang ayahnya dulu. Pemuda itu seperti iblis haus darah yang ingin mencari korban. Dan karena Golok Maut juga ada di tangan pemuda itu dan tak satupun senjata yang sanggup menandingi akhirnya Giam Liong bersama pengikut-pengikut Chu-goanswe lolos dari istana. Mereka terus melarikan diri ke selatan dan Giam Liong membawa teman-temannya ke hutan. Mereka mandi keringat namun pengalaman itu sungguh menggembirakan. Orang-orang ini bersorak-sorai meluapkan kegembiraannya. Tapi ketika mereka memasuki hutan dan di situ Giam Liong berhenti, ibunya mengangkat tangan tinggi-tinggi keatas maka kelelahan atau rasa capai yang sangat tiba-tiba mengusik teman-teman Chu-goanswe ini.

"Berhenti, kita beristirahat di sini!"

Aneh, orang-orang itu mengeluh. Mereka gemetar dan menjatuhkan diri di rumput. Teman atau kawan yang tewas dan luka diletakkan di situ, hampir bersamaan dengan tubuh mereka sendiri yang roboh lunglai. Dan ketika Wi Hong meletakkan pula tubuh si Papan Besi sementara puteranya meletakkan Chu-goanswe maka ibu dan anak bekerja cekatan.

"Aku tidak membawa obat-obatan untuk sedemikian banyak orang. Kalian saling menolong saja dan yang ringan supaya menguatkan hati sedikit dan menolong yang lain!"

Orang-orang itu mengangguk. Mereka bangkit lagi karena Giam Liong maupun ibunya tidak beristirahat. Mereka malu hati dan tentu saja harus bergerak lagi. Dan ketika semua menolong dan merawat teman-teman sendiri, Giam Liong telah mencabut tiga batang panah yang menancap di tubuh jenderal itu maka di sana ibunya juga mencabut beberapa batang anak panah yang menancap di tubuh si pendek gempal. Giam Liong memberikan obat luka luar dan menempelkan lengannya di pundak jenderal itu, menyalurkan sinkang. Dan ketika jenderal itu lebih dulu siuman dari temannya maka jenderal ini tertegun tapi bersinar-sinar memandang Giam Liong.

"Aku di mana? Bagaimana dengan Wan Mo?"

"Hm, temanmu itu selamat, goanswe, ditolong ibuku. Tapi dia masih pingsan disana."

"Tidak mati?"

"Untung tidak, masih hidup..."

"Aku mau melihatnya!" namun ketika jenderal itu terguling dan mengaduh maka Giam Liong menekan bahunya karena luka yang diderita laki-laki itu cukup besar, meskipun tidak berat.

"Aku baru saja mencabut tiga batang anak panah yang menancap di tubuhmu, dan baru saja kulumuri obat. Harap goanswe tidak banyak bergerak dan tenang sajalah disini."

"Ah, terima kasih, siauw-hiap. Tapi bagaimana pula dengan teman-temanku yang lain?"

"Kami selamat di sini, goanswe. Tapi yang lain gugur..." sebuah suara terdengar serak.

Chu-goanswe menoleh dan tampaklah seorang laki-laki pucat bangkit terhuyung. Dia mengangguk kepada jenderal itu dan Chu-goanswe pun tertegun. Tapi ketika orang itu mendekat dan sang jenderal menangkap lengannya tiba-tiba Chu-goanswe menggigil.

"Ci Cak, berapa teman kita yang terbunuh? Berapa yang selamat?"

"Kalau tidak ada Sin-kongcu ini tentu kita semua terbunuh, goanswe. Tapi karena ada pemuda ini maka separoh dari kita selamat. Yang lain tewas..."

"Ah, usaha kita gagal. Tapi kita dapat mengulanginya lain kali!" dan ketika laki-laki itu mengangguk dan melepaskan tangannya.

Giam Liong diam tidak mencampuri maka ibunya memanggil karena si pendek gempal tiba-tiba mengeluh namun tubuhnya panas seperti dibakar.

"Dia seperti terserang racun. Coba kau periksa dan lihat lukanya!"

"Hm!" Giam Liong bergerak dan sudah menyambar laki-laki itu. "Luka di pundak kirinya bengkak, ibu. Panah yang menancap di sini ternyata mengandung racun. Kau benar, biar kusedot dan kuambil racunnya!" dan ketika Giam Liong mengerahkan sinkang dan menyedot luka itu, luka yang tiba-tiba hitam dan berbau busuk benar saja darah kehitaman tersedot di sini. Giam Liong mengerutkan kening tapi terus bekerja, tak lama kemudian rasa panas menghilang dan darah yang keluarpun merah. Dan ketika si pendek gempal membuka mata den sadar maka laki-laki itu mengeluh mengucap terima kasih.

"Tadi Kedok Hitam berkelebat di antara pasukan, menyambitkan panahnya itu. Tapi karena hujin dan siauw-hiap ada di dekat-dekat situ maka dia lenyap lagi dan menghadiahiku sebatang panah itu. Terima kasih, Giam-liong belum menghendaki nyawaku!" dan bergerak minta dibangunkan maka laki-laki itu bertanya bagaimana dengan Chu-goanswe.

"Aku boleh mati tapi Chu-goanswe harus hidup. Mana dia dan apakah selamat."

"Aku di sini," Chu-goanswe berkata haru dan bangkit duduk. "Hujin dan Sin-siauw-hiap ini telah menolong kita semua, Wan Mo. Aku masih hidup dan kau-pun selamat!"

"Ah, kau tak apa-apa, goanswe? Syukur, banyak terima kasih!" dan coba berdiri namun gagal, terhuyung dan jatuh tiba-tiba Giam Liong berkata agar laki-laki itu beristirahat.

"Kau baru saja terbebas dari maut, jangan banyak bergerak. Beristirahat dan tenang sajalah di sini." tapi Chu-goanswe yang menggeleng dan memaksa bangkit berdiri tiba-tiba berkata bahwa tempat itu kurang aman. "Di sini masih terlalu dekat kota raja. Sebaiknya kita menerobos lagi hutan yang lain dan di sana ada guha-guha perlindungan untuk teman-temanku semua. Apakah siauw-hiap sudi mengantar.?"

"Hm, di sinipun aku tak takut, goanswe. Tapi kalau kau menghendaki begitu tentu saja aku tak keberatan. Tapi bagaimana pendapat ibuku."

"Hi-hik, kita harus melindungi Chugoanswe, Liong-ji. Kalau dia minta diantar sebaiknya ikuti saja. Aku juga tidak takut tapi kita harus berhati-hati dengan si Kedok Hitam itu. Dia licik dan amat curang. Siapa tahu melakukan sesuatu di tempat begini dan kita tak bisa melindungi semua orang ini."

"Baiklah, mari, goanswe. Kita berangkat. Atau barangkali ada teman-temanmu yang kelelahan dan minta menunggu sebentar lagi."

"Tidak, kami cukup sehat, siauw-hiap. Kalau goanswe menghendaki ke hutan di luar sana kami masih sanggup berjalan. Memang di sana ada guha-guha persembunyian yang lebih baik!"

"Kalau begitu mari, kita berangkat!" dan Giam Liong yang menolong dan memapah jenderal ini akhirnya mengangguk melihat orang-orang itu mau meneruskan perjalanan lagi.

Mereka sebenarnya kelelahan namun berani mengeraskan hati. Itu semua untuk keselamatan mereka sendiri. Dan ketika rombongan ini kembali bergerak dan yang luka-luka dipondong temannya maka Chu-goanswe telah menunjuk tempat itu dan memang ini merupakan persembunyian yang baik untuk memulihkan diri mereka dari luka-luka selama mengadu jiwa di gedung Coa-ongya.

* * * * * * * *

Istana benar-benar gempar. Keesokannya setelah terang tanah maka kaisar mendapat laporan tentang kejadian ini. Bukan main marahnya sri baginda. Tujuh ratus orang tewas sementara ratusan yang lain luka-luka. Coa-ongya, yang semalam entah ke mana tiba-tiba pagi itu muncul dengan muka merah padam. Dia harus memberi laporan dan tentu saja laporannya diputar balik. Dia mengatakan bahwa pengikut-pengikut Chu Wen kini muncul lagi, dipimpin saudaranya yang bernama Chu Kiang. Namun ketika kaisar bertanya apakah jumlah para pemberontak itu ribuan banyaknya hingga pasukan kerajaan hancur dan porak-poranda maka dengan sedikit tertegun pangeran itu berkata bahwa jumlah pemberontak hanya sekitar seratus lima puluh orang saja.

"Seratus lima puluh orang? Dan tak dapat dibunuh oleh ribuan pasukan kita dan menimbulkan begitu banyak korban?"

"Maaf, sri baginda. Orang-orang itu sendiri tidaklah berarti bagi kita. Mereka sebenarnya dapat ditumpas. Namun karena ada keturunan Golok Maut di situ maka pasukan kita hancur dan porak-poranda."

"Golok Maut? Manusia itu ada lagi?"

"Bukan Golok Maut, sri baginda, melainkan keturunannya. Ada seorang pemuda lihai yang tak dapat kami lawan..."

"Tapi kau memiliki Kedok Hitam. Pengawalmu yang tangguh itu biasanya amat kau andalkan!"

"Kedok Hitam terluka, sri baginda. Sebelumnya ada cekcok dengan dua kakek India Sudra dan Mindra. Bocah itu datang ketika Kedok Hitam baru saja bertanding dengan dua kakek itu dan kehabisan tenaga..."

"Terkutuk, keparat! Kau selalu mempunyai pengawal-pengawal pribadi yang tak pernah akur. Heh, aku sebal mendengar ini, adik Coa. Aku tak mau tahu itu dan lihat berapa kerugian yang kita derita. Ini lagi-lagi persoalanmu dulu. Sudah kubilang agar kau menghabisi Golok Maut itu dan kekasihnya. Kenapa sekarang ada keturannya itu dan melanjutkan sepak terjang bapaknya. Kau sungguh sial, bekerja hanya setengah-setengah!"

Pangeran Coa merah padam. Dia tak dapat bercerita kepada kaisar bahwa dulu ada Ju Beng Tan yang menghalangi sebagian pekerjaannya. Bahwa waktu itu Wi Hong atau kekasih Si Golok Maut dilindungi pendekar itu, karena pendekar itu harus juga membela kekasihnya yang kini menjadi isterinya itu karena Swi Cu, nyonya itu, tak mungkin membiarkan sucinya dibunuh (baca: Golok Maut)⁰.

Swi Cu dan Beng Tan sendiri marah-marah oleh perbuatannya yang mengirim lima ribu pasukan ke Lembah Iblis, karena pendekar itu sendiri sebenarnya akan menyelesaikan pekerjaannya dengan menghadapi Si Golok Maut itu, berdepan, satu lawan satu dan bukannya keroyokan atau tindakan tidak ksatria yang amat memalukan itu. Lima ribu pasukan mengeroyok satu orang saja! Dan ketika pangeran itu tertegun dan diam, tak dapat menjawab maka kaisar bersungut-sungut agar mencari dan menumpas para pemberontak itu, juga bocah keturunan Si Golok Maut itu.

"Aku tak dapat lagi membiarkan ini. Urusan sudah bercampur dengan masalah pribadimu. Bagaimana bocah itu dapat datang dan berkawan dengan para pengikut Chu Wen!"

"Chu Kiang dan kawan-kawannya itu semula datang sendiri-sendiri, sri baginda. Tapi keturunan Golok Maut itu datang dan menolong belakangan."

"Dan bocah itu membawa Chu Kiang?"

"Benar."

"Dan Kedok Hitammu itu tak berguna. Ah, pengawal pribadimu itu gentong kosong belaka!"

"Maaf, bocah itu membawa Golok Maut, sri baginda. Dan di tempat ini tak ada senjata pusaka yang dapat menandinginya. Sri baginda jangan terlalu menyalahkan karena pembantu hamba tak memiliki senjata tandingan!"

"Golok Maut? Bocah itu membawa Golok Penghisap Darah?"

"Benar, sri baginda. Dan paduka tahu bahwa tak ada senjata lain yang dapat menandingi senjata itu, kecuali paduka memiliki senjata ampuh yang dapat menghadapi kehebatan senjata itu!"

"Hm, ada," sri baginda tiba-tiba berseri, wajahnya menunjukkan kegirangan. "Ada senjata lain yang mampu menghadapi Golok Penghisap Darah itu, adik Coa. Dan kau tentunya tahu akan ini!"

"Tapi paduka mengatakan tak ada senjata Istimewa di gudang senjata!"

"Bukan... bukan di gudang senjata, melainkan di luar!"

"Di luar? Maksud paduka..."

"Bodoh! Kau tentu ingat pembantuku paling lihai, adik Coa. Pengawal pribadiku yang sayang tak mau bekerja lagi di sini. Dia itulah yang kumaksud. Panggil saja dia kemari dan beritahukan undanganku. Agaknya hanya dia lagi yang dapat mengatasi kesulitan ini!"

"Pek-jit-kiam Ju Beng Tan?" Coa-ongya tiba-tiba tertegun. "Ketua Hek-yan-pang itu?"

"Ha-ha, benar. Siapa lagi? Panggil dan undang kemari bekas pengawalku itu, adik Coa. Suruh dia menghadap dan katakan maksudku. Atau, kalau dia tidak mau, pinjam saja Pedang Mataharinya dan berikan kepada si Kedok Hitam!"

"Mana mungkin itu," sang pangeran terkejut. "Pek-jit-kiam tak mungkin boleh dipinjam, sri baginda. Beng Tan laki-laki gagah yang menyamakan senjata dengan nyawanya. Hilang senjata berarti hilang pula nyawa. Pedang itu tak mungkin dipinjam!"

"Kalau begitu panggil dia ke mari. Suruh saja menghadap dan berikan undangan ini, dariku pribadi!" dan ketika kaisar memberikan surat pribadi, hal yang amat langka dan jarang terjadi maka pangeran Coa tertegun dan membungkuk serta menerima surat itu. Dia harus memanggil pendekar yang amat lihai itu dan ini akan menorehkan getah pahit di mukanya. Pendekar itu belum tentu mau. Ada sesuatu antara dirinya dengan Pek-jit-kum Ju Beng Tan, hal yang amat pribadi, juga rahasia! Tapi karena perintah sudah diterima dan surat itu mau tidak mau harus disampaikan, tak boleh dia menolak maka pangeran inipun mohon diri tapi sri baginda tiba-tiba bertanya tentang puterinya.

"Mana anak perempuanmu, kenapa tidak kelihatan!"

"Dia... dia pergi, sri baginda. Sudah enam bulan ini," Coa-ongya agak tertegun.

"Hm, anak perempuan tak selayaknya dibiarkan sendiri, adik Coa. Puterimu itu rupanya berani dan bandel. Atau barangkali Yu Yin tak kerasan diistana!"

"Hamba tak tahu, tapi dia memang nakal. Terima kasih atas perhatian paduka," dan ketika pangeran itu mengundurkan diri sementara kaisar berbalik dan juga ke dalam maka hari itu pangeran ini tertegun di gedung yang lain, mengamati gedungnya yang hancur dan roboh di mana puluhan orang bekerja menyingkirkan puing-puing itu.

Kebakaran yang terjadi di tempatnya cukup hebat karena jago merah melahap habis tempat tinggalnya. Tak ada sisa sedikitpun yang cukup berharga. Dan ketika mata pangeran ini tiba-tiba mencorong dan menakutkan, hawa yang aneh keluar dari tubuhnya maka tanpa sadar pangeran itu meremas sebuah batu yang hancur dan remuk. Aneh! Orang akan terkejut dan terheran-heran melihat kejadian ini. Coa-ong-ya, yang diketahui tak memiliki ilmu silat dan lemah tiba-tiba saja meremas hancur sebuah batu hitam. Kekuatan silumankah itu? Kejadian ajaib yang amat kebetulan? Tapi ketika batu itu luruh dan bertaburan di tanah, sang pangeran membuka telapaknya maka berkelebat sebuah bayangan langsing yang berseru tertahan.

"Ayah...!"

Coa-ongya terkejut. Untuk kedua kalinya dia tertegun dan menoleh ke kiri.Bayangan itu memanggilnya dan tahu-tahu berdirilah seorang gadis cantik di depannya, gadis yang berpakaian seperti laki-laki. Dan ketika pangeran itu agak tercengang karena gadis ini menyembunyikan rambutnya, digulung atau diikat di balik tutup kepala tiba-tiba wajah pangeran itu berseridan berserulah dia menyambut, tangan langsung merentang.

"Yu Yin...!"

Gadis itu tahu-tahu sudah dipeluk. Sang ayah kegirangan dan menubruk atau menyambar puterinya ini. Yu Yin, gadis itu terisak dan menyambut, menangis dan sesenggukan dan segera meremas-remas ayahnya dengan sedu-sedan mengguncang tubuh. Tapi ketika gadis itu teringat sesuatu dan melepaskan diri, mendorong ayahnya maka gadis ini memandang tangan ayahnya yang tadi meremas hancur sebuah batu hitam.

"Ayah, kau... kau memiliki sinkang mengejutkan? Kau meremas hancur batu hitam itu?"

"Ah, siapa bilang? Aku meremas hancur batu yang sebelumnya sudah retak itu, Yu Yin. Tapi bagaimana kau datang dan baru sekarang kembali. Lihat, ayahmu mendapat cobaan dan tempat tinggal kita dibakar orang. Ada orang jahat hendak membunuh ayahmu!" dan ketika pangeran itu cepat-cepat menegur puterinya mengalihkan perhatian, menuding orang-orang yang bekerja di sana maka gadis itu tertegun dan lupa kepada kesaktian ayahnya yang mampu meremas hancur sebuah batu hitam.

"Apa yang terjadi. Aku mendengar berita-berita dijalanan akan datangnya para pengacau di tempat ayah. Siapa mereka itu dan bagaimana gedung kita habis dibakar!"

"Hm, pemberontak-pemberontak hina datang mengacau kita, Yu Yin. Mereka orang-orangnya Chu Wen!"

"Chu Wen? Bukankah sudah meninggal?"

"Benar, tapi saudaranya masih hidup. Semalam Chu Kiang mengacau di sini dan anak buahnya membakar gedung kita!"

"Tapi ada paman Kedok Hitam di sini!" sang puteri menukas, terkejut dan terheran-heran. "Bukankah pembantumu itu paling lihai, ayah? Apakah dia tak ada dan para pengacau itu dapat berbuat sekehendak hatinya sendiri?"

"Mereka berjumlah banyak, seratus limapuluh orang..."

"Tapi istana juga memiliki pasukan, jumlahnya ribuan!"

"Hm, itu betul, Yu Yin. Tapi ada sesuatu yang tidak kita duga.."

"Apa itu, katakan. Biar kucari mereka dan kuhancurkan satu per satu!"

Coa-ongya kagum. Dia berseri dan gembira melihat puterinya ini dan tiba-tiba tertawalah pangeran itu. Yu Yin yang gagah dan tak kenal takut tiba-tiba diraih dan dipeluknya. Tapi ketika anaknya itu memberontak dan melepaskan diri, marah oleh cerita ayahnya yang belum selesai maka gadis itu mengedikkan kepala bersinar-sinar, merah padam.

"Ayah, orang telah menghancurkan tempat tinggal kita. Aku tak bisa tertawa dan jangan tertawa. Apa yang tidak kau duga itu dan kenapa tempat ini bisa hancur!"

"Hm, keturunan Golok Maut mencariku, Yu Yin. Dan bocah inilah yang tidak kita duga. Dia datang menolong atau membantu para pemberontak itu. Bocah itu luar biasa dan lihai hingga kami semua tak ada yang dapat melawan!"

"Keturunan Golok Maut? Datang kesini? Hm, ceritakan kepadaku, ayah. Aku juga sudah mendengar itu tapi kurang jelas. Coba kau ceritakan dan siapa pemuda itu. Kurang ajar benar dia berani mengacau!"

"Namanya Giam Liong."

"Ya-ya, aku juga mendengar begitu. Katanya berjuluk Si Naga Pembunuh! Hm keparat dan kurang ajar. Awas, kubunuh dia nanti. Lalu bagaimana!" dan ketika Coa-ongya menarik napas dalam-dalam dan puterinya memandang dengan mata berapi-api, Yu Yin tentu saja tak tahu bahwa pemuda bernama Giam Liong itu adalah Han Han yang dulu ditemuinya, pemuda itu sekarang sudah berubah nama lalu mendengarkan ayahnya bercerita akan kejadian semalam.

Betapa mula-mula datang kaum pemberontak yang dipimpin Chu Kiang, dihadapi dan hampir dibasmi tapi tiba-tiba muncul keturunan Si Golok Maut Sin Hauw itu. Dan ketika pemuda ini mengobrak-abrik tempat itu dan tak ada seorangpun yang mampu menandingi maka Yu Yin berseru memutus dengan muka keheran-heranan.

"Aneh, masa begitu saja tak dapat dilawan, ayah? Bukankah di sini ada paman Kedok Hitam? Kemana dia itu dan apakah membiarkan saja musuh berbuat seenaknya?"

"Bocah itu terlalu lihai, pamanmu Kedok Hitam sendiri merasa tak sanggup.."

"Apa? Paman Kedok Hitam kalah? Bocah itu memangnya iblis?"

"Hm, dia memiliki sesuatu yang saat ini tak ada bandingannya, Yu Yin. Pemuda itu membawa Golok Maut, senjata ayahnya dulu. Dan karena tak ada senjata yang dapat dipakai melawan senjata itu maka pamanmu mundur dan aku memanggil pasukan besar untuk mengepung pemuda itu."

"Nanti dulu, katanya ada seorang wanita lagi yang datang!"

"Benar, dia itu ibunya..."

"Dan mereka berhasil meloloskan diri? Ayah benar-benar tak sanggup?"

"Hm," Coa-ongya merah mukanya. "Pemuda itu lihai dan luar biasa, Yu Yin. Kalau saja tak membawa Golok Maut barangkali pamanmu dapat mengatasi. Tapi bocah Iblis itu dibantu senjatanya. Tak ada satupun yang mampu melawan!"

"Aku tidak takut, aku akan mencoba!" gadis itu tiba-tiba berseru, wajahnya terbakar seperti menyala. "Kita telah dihina dan dipermalukan seperti ini, ayah. Tunjukkan di mana pemuda itu dan biar kucari dia!"

"Kau jangan gegabah," Coa-ongya menyambar dan mencengkeram puterinya ini. "Tak ada satupun yang dapat melawan kalau pemuda itu masih menyimpan goloknya, Yu Yin. Aku sudah menghadap kaisar dan sri baginda telah menitahkan sesuatu. Dengar, aku mendapat pikiran baik dan ada dua jalan merobohkan pemuda itu. Kau mau membantu ayahmu?"

"Tentu saja!" gadis itu mengangguk, tak melihat kilatan aneh di pandang mata ayahnya. "Urusanmu urusanku juga, ayah. Perintahkan apa yang harus kulakukan!"

"Kau cari dan rayu pemuda itu. Pergunakan kecantikanmu untuk mencuri Golok Mautnya!"

"Apa?" Yu Yin terlonjak, memberontak dan melepaskan diri. "Merayu? Menipu dan mencuri goloknya?"

"Sabar," sang ayah melihat muka anak gadisnya yang merah padam. "Ini hanya taktik belaka, Yu Yin, jangan salah paham. Aku hendak minta tolong padamu dan hanya kaulah yang dapat melakukan ini. Laki-laki biasanya tunduk kepada wajah cantik, kau..."

"Tidak!" bentakan itu terdengar melengking dan penuh marah, penuh sakit hati. "Kau menghina aku, ayah. Kau merendahkan aku. Tak sudi aku merayu pemuda untuk melakukan tipu muslihat itu. Ah, kau selalu menyakitkan aku. Kita selamanya tak pernah ada kecocokan. Biar aku pergi!" dan Yu Yin yang membalik dan meninggalkan ayahnya tiba-tiba terbang dan tidak mau menghadapi ayahnya itu lagi, menangis dan terhina dan sang ayah kaget sekali.

Apa yang dibicarakan belum selesai ketika mendadak puterinya itu marah-marah. Mereka baru saja bertemu dan sekarang tiba-tiba harus berpisah. Tapi ketika pangeran itu bergerak dan melejit seperti ular, cepat luar biasa tahu-tahu menangkap lengan puterinya maka Yu Yin terpekik dan sudah disambar ayahnya itu, tertegun dan terkesiap!

"Yu Yin, Jangan pergi dulu. Dengar kata-kata ayahmu yang belum habis bicara!"

"Kau... kau.." gadis itu pucat. "Kau juga memiliki ilmu ginkang, ayah? Kau dapat mengejar aku?"

"Ah, kebetulan saja. Aku memotong larimu, Yu Yin, jangan pikirkan ini. Aku hendak bicara!" dan ketika anak gadisnya tertegun dan menjublak maka orang tua ini membujuk dengan suara rendah, "Kau jangan buru-buru marah dulu. Itu tadi hanya taktik, siasat. Aku tidak menyuruhmu untuk terlalu jauh dan cukup merobohkan pemuda itu saja. Kalau hatinya tertekuk, menyerah, maka kau ambil goloknya dan bawa ke mari. Selanjutnya kita tak perlu takut dan selesailah tugasmu."

"Ini... ini tak dapat kulakukan!" gadis itu tiba-tiba berseru dan kembali melepaskan diri, pandang matanya masih penuh kaget dan heran oleh kecepatan ayahnya. "Kau... kau penuh rahasia, ayah. Kau banyak menyembunyikan sesuatu!"

"Hm, omongan apa ini. Apa yang kusembunyikan!"

"Kau... kau rupanya bukan laki-laki lemah seperti kebanyakan orang menyangka. Kau memiliki sinkang dan ginkang yang mengejutkan!"

"Hm, semuanya itu sedikit benar, Yu Yin. Kau tahu bahwa sedikit-sedikit aku memang bisa silat, tapi tak selihai seperti yang kau sangka. Aku masih kalah jauh denganmu, apalagi dengan pamanmu si Kedok Hitam."

"Kalau begitu coba ayah kejar aku lagi. Aku mau pergi!" dan ketika gadis itu membalik dan meninggalkan ayahnya maka sang ayah tampak tertegun dan bingung, mau mengejar tapi kata-kata anaknya tadi akan membuka rahasianya.

Orang tua ini serba salah. Dan karena dia harus membuktikan omongannya dan tentu saja tak berani mengejar, anak gadisnya lenyap dan menoleh sebelum menghilang maka Yu Yin berseru bahwa pemuda yang membuat onar itu akan dicarinya.

"Aku akan membantu ayah, tapi bukan dengan cara seperti yang ayah nyatakan. Ayah tunggu saja di situ dan aku akan coba membekuk pemuda itu!"

Coa-ongya tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya mengerotkan gigi dan mengepal tinju, gemas. Tapi begitu puterinya menghilang dan diapun masuk ke dalam maka sebuah bayangan lain tiba-tiba keluar dari belakang gedung dan itulah si Kedok Hitam!

* * * * * * * *

Yu Yin marah dan malu sekali ketika mendengar permintaan ayahnya itu. Dia, gadis baik-baik, disuruh merayu dan menjatuhkan seorang pemuda. Cih, permintaan apa itu? Memangnya dia gadis genit yang murahan dan seperti pelacur? Sungguh terlalu ayahnya itu. Kalau saja yang bicara begitu bukan ayahnya tentu dia sudah menampar dan memaki habis-habisan. Dia disuruh mempermainkan dan merayu seorang pemuda. Ah, kalau bukan ayahnya yang bicara seperti itu tentu dia akan mencabut pedang dan menerjang. Terlalu, dia disuruh merayu!

Tapi menahan marah dan gemasnya akhirnya gadis ini melupakan itu dan terbang keluar istana untuk mencari pemuda yang menghina ayahnya itu. Dia akan mencari dan menuntut balas. Pemuda itu telah mengacau istana dan membakar gedung ayahnya pula, hal yang tak akan di ampuni. Dan karena sedikit banyak dia telah mendengar ke mana pemuda itu lari, bersama rombongannya, maka gadis ini langsung ke hutan di mana pertama kali Giam Liong membawa teman-temannya itu.

Di sini Yu Yin berhenti tapi tentu saja rombongan Chu-goanswe itu tak ada. Jenderal itu telah pergi ke hutan di lain tempat, hutan yang penuh guha-guha persembunyian dan karena itu gadis ini lalu meneruskan pencariannya dengan melacak jejak. Dia melihat tetesan-tetesan darah yang ada di situ, darah di atas rumput di mana dari sinilah gadis itu menelusuri jejak musuhnya. Dan ketika dia keluar di seberang dan melihat hutan lain yang gelap dan rimbun, hutan yang lebih lebat maka gadis ini tertegun karena jejak itu berhenti di situ, di hutan yang gelap itu.

"Mereka ada di sana. Hm, kiranya di sini tikus-tikus busuk itu bersembunyi!" Yu Yin tak bergerak sejenak, mata berpikir tapi tiba-tiba iapun berkelebat dan memasuki hutan itu. Dan karena ia harus berhati-hati dan tak mau gegabah maka dia mencabut pedangnya dan pedang hitam yang dipunyainya itu siap di tangan dengan gerakan penuh waspada.

Yu Yin bergerak dan menyelinap dan tiba-tiba ia merasa seram berada di tengah hutan itu. Hutan ini dingin dan menyeramkan. Tapi karena ia mencari musuh dan musuh itu adalah musuh ayahnya, juga musuh negara karena telah mengacau istana maka mengeretakkan gigi iapun bergerak dan menyelinap dengan hati-hati, sampai akhirnya tiba-tiba sebuah tepukan mengenai pundaknya. Dan ketika gadis itu terpekik dan seketika membalik, pedang hitam menyambar namun membabat angin kosong maka gadis itu berseru tertahan.

"Siluman!"

"Bukan, bukan siluman.." sebuah suara tiba-tiba terdengar. "Ini aku, Yu Yin. Ada apa kau di tempat ini dan membawa-bawa pedang!"

Yu Yin terkejut. Diam embalik dan menoleh lagi karena sesosok bayangan tiba-tiba muncul di balik sebatang pohon besar. Dia siap menggerakkan pedang hitamnya ketika tiba-tiba gadis ini tertegun. Dan ketika laki-laki itu menampakkan diri sepenuhnya dan Yu Yin melihat siapa ini tiba-tiba gadis itu terpekik dan menubruk ke depan, melepaskan pedangnya.

"Han Han..!"

Giam Liong, pemuda ini tersenyum. Dia memang menjaga hutan itu melindungi teman-temannya. Tidak semua temannya sembuh karena Chu-goanswe sendiri juga masih harus beristirahat sehari dua lagi, setelah itu baru akan meneruskan perjalanan, karena betapapun tempat itu masih cukup dekat dengan kota raja. Maka begitu dia melihat bayangan gadis ini dan terkejut serta heran, ada apa Yu Yin muncul dan masuk seperti musuh maka dia menegur dan tadi menepuk pundak gadis itu untuk akhirnya lenyap ketika si gadis menyerang.

"Ya, aku..." Giam Liong, pemuda ini tersenyum karena Yu Yin memanggilnya dengan nama Han Han. Memang itulah dulu namanya sebelum dia mengetahui rahasia dirinya, bahwa dia ternyata adalah keturunan mendiang Si Golok Maut dan bukannya putera Pek-jit-kiam Ju Beng Tan. Tapi ketika Yu Yin menubruk dan memeluknya, gadis ini girang bukan main bertemu sahabat lama, maka Giam Liong jengah dan mendorong perlahan pundak gadis itu, bertanya,

"Ada apa kau di sini, mencari apa."

"Ah," Yu Yin juga sadar, tersipu jengah. "Aku mencari musuh besarku, Han Han. Bocah bernama Giam Liong!"

"Giam Liong?"

"Ya, bocah keparat itu. Dia telah mengacau dan merusak istana. Aku ingin mencarinya dan bagaimana kau ada di sini pula. Sedang berbuat apa! Dan, eh kenapa rambutmu itu? Kenapa merah marong seperti api menyala? Kau mengecatnya?"

Giam Liong tertegun. Diberondong dan ditanyai bertubi-tubi begini membuat ia tak dapat segera menjawab. Giam Liong mundur terhenyak. Yu Yin hendak mencarinya, bukan sebagai Han Han melainkan sebagai Giam Liong. Dan karena nada bicara gadis itu jelas menyatakan permusuhan, Giam Liong tertegun dan curiga maka pemuda ini mengerutkan kening dan sadar ketika gadis itu menegurnya.

"Ada apa? Kenapa kau terkejut?"

"Tidak, tidak apa-apa," pemuda ini segera dapat menguasai dirinya lagi. "Aku heran dengan sikapmu, Yu Yin. Kenapa kau marah-marah dan hendak mencari pemuda itu. Apakah dia juga memusuhimu!"

"Hm," gadis inipun mengerutkan kening, curiga. "Kau aneh dan lucu sekali, Han Han. Masa tidak tahu akan sepak terjang pemuda itu di istana. Dia mengacau dan menimbulkan huru-hara!"

"Lalu apa maksudmu? Apa maumu?"

"Aku hendak membunuh pemuda itu, minimal menangkapnya!"

"Hm, kau serius, Yu Yin? Kau tidak main-main?"

"Siapa main-main? Kau aneh dan mengherankan sekali. Kau ini yang main-main!"

"Baik, kalau begitu apa hubunganmu dengan itu? Kenapa kau membela istana?"

Yu Yin. tertegun. Dia heran oleh sikap temannya ini yang rupanya tidak mendukung dirinya. Han Han seolah dingin-dingin saja dan tak acuh, hal yang membuat dia curiga! Dan ketika dua pasang mata mereka bertemu dan Yu Yin tak jadi menyatakan bahwa dia puteri Coa-ongya, tentu saja erat hubungannya maka gadis ini memancing. "Aku merasa terlibat karena itu adalah pemberontakan. Giam Liong dan teman-temannya itu pemberontak, dan karena mereka pemberontak maka seluruh rakyat tentu saja harus memusuhi mereka. Kau tentunya juga harus bersikap seperti ini, membantu istana dan membunuh pemuda itu!"

"Hm!" Giam Liong tertawa dingin. "Urusan ini kupikir lain, Yu Yin. Justeru aku setuju dengan sepak terjang pemuda itu. Dia dan teman-temannya bukan pemberontak, melainkan pejuang. Dan karena kau tak tahu siapa pemberontak siapa pejuang baiklah kita tak usah bicara tentang ini. Barangkali kita akan berbeda pendapat!"

"Kau membela pemberontak-pemberontak itu?"

"Bukan pemberontak, melainkan pejuang..."

"Ah, mereka pengikut Chu Wen, Han Han. Mereka itu pemberontak!"

"Hm, sebaiknya tak usah bicara tentang ini. Kita bukan musuh, dan kaupun ternyata bukan antek istana. Kau hanya ikut-ikutan saja, Yu Yin, terbawa oleh rasa patriotmu. Bagus, aku kagum. Tapi jangan keras-keras atau teman-temanku nanti mendengar..."

Namun baru saja Glam Liong menutup kata-katanya mendadak berkelebat sebuah bayangan wanita. "Liong-Ji, siapa ini?" dan ketika Yu Yin terkejut karena temannya dipanggil "Liong-ji" (anak Liong) maka bersamaan itu pula berkelebatan bayangan-bayangan lain dan berturut-turut muncul orang-orang gagah berpakaian hitam-hitam.

"Siauw-hiap, siapa gadis ini?"

Giam Liong terkejut. Dia sudah khawatir bahwa jangan-jangan suara keras yang dikeluarkan temannya itu terdengar oleh ibu atau teman-temannya. Mereka memang tak jauh di situ dan diapun terlambat mencegah gadis ini. Dan ketika Chu-goanswe dan teman-temannya muncul, mereka terbelalak melihat kedatangan Yu Yin maka Yu Yin sendiri tertegun melihat orang-orang itu. Curiga!

"Siapa mereka ini?"

Giam Liong menarik napas panjang. Agaknya, dia tak dapat menyembunyikan diri lagi. Yu Yin, yang mengenalnya sebagai Han Han akan segera mengenalnya sebagai Giam Liong, tokoh "pemberontak" itu. Tapi karena masing-masing pihak bertanya dan ibu serta Chu-goanswe juga harus dijawab maka cepat dia memegang bahu gadis itu dan memperkenalkan.

"Dia ini adalah sahabatku, kebetulan saja datang. Namanya Yu Yin. Harap kalian tidak salah paham dan curiga yang bukan-bukan."

"Hi-hik, kapan kau berkenalan dengan gadis, Liong-ji? Kenapa tidak pernah memberitahu ibumu?"

"Maaf," pemuda itu tersipu merah. "Gadis ini kukenal secara kebetulan, ibu. Dia adalah Jing-ci-touw yang amat lihai, Yu Yin yang pemberani dan dulu suka mengganggu orang."

"Jing-ci-touw (Copet Seribu Jari)? Kerjanya mencopet?"

Giam Liong tersenyum masam. Dia terpaksa memberi tahu bahwa pekerjaan mencopet bukanlah mata pencarian gadis itu. Gadis ini hanya melampiaskan watak nakalnya saja dengan menggoda atau mengganggu orang, karena banyak hasil copetan diberikan kepada fakir miskin dan tak dipakai untuk diri sendiri. Dan ketika Wi Hong terkekeh dan mengangguk-angguk, mengerti, maka nyonya itu bersinar memandang Yu Yin.

"Kau mengagumkan, gagah dan cantik. Sudah lama berkenalan dengan puteraku?"

Yu Yin tertegun. "Hujin adalah ibu Han Han?"

"Ya, aku ibunya. Tapi namanya yang benar bukan Han Han. Dia Giam Liong, Sin Giam Liong...!"

"Apa?" Yu Yin terpekik, mencelat kaget. "Giam Liong? Jadi... jadi..."

"Benar," Giam Liong tersenyum, menyambar dan menangkap lengan temannya itu lagi. "Akulah orang yang kau cari-cari, Yu Yin. Kau salah paham dan agaknya sekarang harus dijelaskan.... heiii!" dan Giam Liong yang terkejut dan melonjak bagai disengat lebah tiba-tiba melihat sinar hitam menabas tangannya. Dia sedang menyambar lengan gadis itu untuk ditangkap secara bersahabat, sama sekali tak menduga bahwa Yu Yin mencabut pedang hitamnya dan langsung menyerang. Dan karena dia tak menduga tapi secepat itu pula dia mengerahkan sinkang menerima bacokan maka ujung bajunya memberebet tapi pedang terpental bertemu jari-jari Giam Liong yang kebal.

"Aihhh... tak-brett!"

Yu Yin berjungkir balik dengan muka pucat. Gadis itu gagal dan terhuyung oleh sinkang Giam Liong, matanya berapi-api, muka tiba-tiba merah padam bagai dibakar. Dan ketika Giam Liong tertegun sementara ibunya dan semua orang terkejut, gadis itu memandang penuh nafsu membunuh maka Yu Yin berteriak,

"Giam Liong, aku musuh besarmu. Aku akan membunuhmu. Ah, tak kusangka kalau kau adalah keturunan Si Golok Maut Sin Hauw. Mampuslah...!" dan pedang yang menerjang lagi diikuti bayangan si gadis tiba-tiba bergulung naik turun menyambar-nyambar Giam Liong.

Giam Liong terkejut dan tentu saja terheran-heran, mengelak dan menangkis dan pedangpun terpental bertemu kuku jarinya. Dan ketika gadis itu melengking-lengking dan menyerang semakin hebat maka Giam Liong mengebutkan lengan bajunya menggubat pedang hitam itu, yang saat itu mendesing membacok kepalanya.

"Kau aneh, kau seperti setan kelaparan. Hentikan seranganmu dan kenapa kau marah-marah, Yu Yin. Kenapa kau menganggap aku musuh besarmu yang harus kau bunuh!" dan ketika pedang ditangkis dan tergubat, Giam Liong menarik dan gadis itu tak tahan maka Yu Yin terpelanting dan marah karena pedangnya terampas.

"Serahkan pedangku, atau kau boleh bunuh aku!"

"Hm!" Wi Hong tiba-tiba berkelebat, marah oleh sikap gadis ini. "Kau kiranya liar dan tak tahu aturan, bocah. Roboh dan tutup mulutmu!" namun ketika jari nyonya itu terpental menotok, Wi Hong ingin merobohkan tetapi gagal maka Yu Yin sudah bergulingan meloncat bangun dengan wajah kehitam-hitaman. Marah besar...!