NAGA PEMBUNUH
JILID 17
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"MEREKA adalah bekas orang-orangnya Chu Wen. Malam nanti kita harus waspada dan satu di antara kalian mendapat tugas mencari puteri ongya!"

"Ah, puteri ongya? Siapa ini?"

"Yu Yin namanya, Mindra. Dan sekarang satu di antara kalian harus mencari dan membawanya kembali. Anak itu merat!"

"Hm-hm!" Sudra tiba-tiba bersinar dan bercahaya pandang matanya. "Bagaimana ciri-ciri bocah ini, Kedok Hitam? Apakah dia masih belasan tahun?"

"Ya, usianya tujuhbelas lebih sedikit, nakal dan suka menggoda orang. Cantik dan kadang-kadang suka berpakaian lelaki!"

"Hm, kalau begitu siapa yang harus mencari? Aku atau Mindra?"

"Terserah, pokoknya satu di antara kalian. Aku harus menjaga tempat ini!"

"Tapi kita akan disatroni musuh, masa harus pergi?" Mindra tiba-tiba mengerutkan keningnya. "Sebaiknya tunda dulu pekerjaan itu, Kedok Hitam. Biar kami berdua disini dan besok Sudra melaksanakan tugasnya."

Kedok Hitam berpikir. Bola matanya bergerak dua kali tapi akhirnya mengangguk. Rupanya kata-kata itu dapat diterima dan iapun setuju. Dan ketika ia berkata baiklah begitu maka Kedok Hitam berkelebat sementara dua kakek India ini berdebar ingin tahu siapa saja orang-orangnya Chu Wen itu, mendengar seruan kawan mereka.

"Mindra, tengah malam ini diperkirakan belasan orang akan menyelinap. Bunuh mereka dan jangan diberi ampun!"

Dua kakek itu saling pandang. Mereka mengangguk dan sama-sama tak menjawab. Rasa penasaran tapi juga kagum mereka masih belum lenyap. Kedok Hitam itu sungguh luar biasa. Tapi begitu lawan menghilang dan Kedok Hitam kembali ke istana maka dua kakek itupun melempar tubuh dan bersandar dengan sikap lunglai.

"Sial, si Kedok Hitam ini semakin pandai saja. Kita menjadi bukan apa-apa!"

"Ya, tapi sikapnya juga berobah, Mindra. Sekarang kita cukup dihargai meskipun kepandaian kita masih kalah olehnya!"

"Barangkali atas suruhan Coa-ongya. Sebenarnya lebih baik lagi kalau sikap ramahnya itu timbul dari hatinya sendiri, bukan perintah orang lain!"

"Sudahlah, kita mendapat perlakuan yang manis, Mindra. Betapapun Kedok Hitam itu tidak seperti dulu. Dia sudah tidak merendahkan kita lagi!"

"Hm-hm, baiklah. Kita harus tahu diri tapi penasaranku ini akan kutumpahkan kepada pendatang-pendatang yang malam nanti akan datang mengacau!"

"Ya, aku juga. Penasaran dan kemarahanku ini akan kuhabiskan kepada mereka-mereka itu. Mari beristirahat dan kita bersamadhi!"

Dua orang itu bersila. Mereka sudah memejamkan mata dan bersamadhi. Tenaga yang sudah dikuras untuk menghadapi si Kedok Hitam tadi kini harus dipulihkan. Maka begitu keduanya tidak bercakap-cakap lagi dan menarik perhatian kepada pengembalian tenaga maka mereka inipun sudah tidak bergerak dan duduk seperti patung.

* * * * * * * *

Kentongan tanda larut mulai dipukul orang. Lonceng berdentang sebelas kali dan gerimis tiba-tiba mengguyur. Istana, yang semula gemebyar tiba-tiba beberapa bagiannya dipadamkan. Itulah tanda penghuninya mulai masuk kamar dan beristirahat. Hanya lampu-lampu kecil dipasang dan lampu-lampu besar yang menyilaukan dibunuh. Malam tiba-tiba menjadi dingin dengan datangnya gerimis itu. Dan ketika angin mendesau dan tajam menyapu kulit, beberapa penjaga menguap oleh kantuk yang mengganggu maka beberapa bayangan berkelebatan di timur istana dengan topeng-topeng merah, meloncati tembok-tembok tinggi.

"Sst, hati-hati. Berpencar dan jangan membuat berisik, Pacul Sakti. Ingat dan patuhi kata-kataku tadi dengan anak buahmu. Kita semua tak boleh gegabah!"

"Baik, aku mengerti, Dewa Hitam. Kami akan melaksanakan tugas kami dengan penuh kecermatan. Kita berpencar dan sampai bertemu lagi dititik tengah!"

Satu di antara bayangan-bayangan hitam itu memisahkan diri. Dia seorang laki-laki tinggi tegap dengan sebuah pacul mencangklok di pundak. Mata paculnya berkilat tertimpa sinar lampu, tajam dan berkilauan. Mengerikan. Dan ketika Dewa Hitam, laki-laki tinggi besar yang ada di tengah memberi aba-aba kepada empat temannya yang lain, mereka ternyata berjumlah enam orang maka Dewa Hitam itu berbisik agar empat temannya ke kiri kanan.

"Kau," katanya kepada seseorang di sebelah kiri. "Pergi dan laksanakan tugasmu di bagian utara, Tombak Maut. Beri tanda anak buahmu begitu para penjaga berhasil kau lumpuhkan. Hati-hati, jangan berisik dan membuat suara!" lalu menuding lagi kepada tiga yang lain berturut-turut lelaki tinggi besar ini melepas perintah, "Kalian berdua menuju barat dan timur. Sedang Papan Besi bersama aku. Nah, masing-masing melaksanakan tugas dan cepat mulai!"

Bayangan-bayangan itu bergerak. Dua yang pertama sudah berkelebat ke barat dan timur, yang lain tadi sudah ke utara dan Papan Besi, bayangan pendek gempal yang bersama laki-laki tinggi besar ini bergerak ke tengah. Mereka berpencar dan sudah bergerak sendiri-sendiri. Dan ketika istana sudah didatangi dari segala penjuru sementara gerimis rata mengguyur bumi maka enam bayangan yang bergerak ke sana ke mari itu tiba-tiba sudah menyergap para penjaga yang terkantuk-kantuk berdiri di depan pos ronda.

Mereka itu tak menyangka adanya sergapan dan pisau atau golok tahu-tahu mengiris cepat, menguak leher membuat luka dan robohlah enam penjaga oleh masing-masing enam bayangan. Sebelum menjerit mulut mereka sudah ditutup dan bergelimpanganlah tubuh-tubuh tanpa nyawa. Luka menganga yang robek lebar itu sungguh mengerikan sekali, darah segera berceceran. Tapi karena gerimis mengguyur tempat itu dan enam penjaga yang roboh digorok sudah dilempar mayatnya ke dalam semak kerimbunan belukar, bayangan-bayangan ini terus bergerak dan maju ke tengah maka tiba-tiba belasan penjaga sudah dibunuh dan para pendatang bertopeng merah ini berhadapan dengan selapis penjaga lain yang lebih banyak.

"Heii, siapa itu!" Seorang penjaga melihat satu dari bayangan-bayangan ini. Dia berteriak dan tentu saja teman-temannya terkejut, menoleh dan terlihatlah pemandangan mengerikan ketika pisau bergerak ke leher penjaga, menggorok dan tergulinglah penjaga itu oleh satu sergapan cepat.

Dan ketika bayangan itu berkelebat menghilang namun gerakannya sudah diketahui tuan rumah maka gemparlah tempat itu oleh kejadian ini. Penjaga lapis kedua memanggil penjaga lapis pertama namun tak ada jawaban. Dan ketika di tempat lain juga terdengar seruan-seruan kaget di mana penjaga yang lain juga disergap dan bertemu dengan pendatang-pendatang malam ini, Dewa Hitam dan teman-temannya masuk kian ke dalam maka segera terdengar pekik atau bentakan-bentakan marah.

"Awas, musuh mendatangi kita. Kita disergap. Awas...!"

Bunyi aba-aba atau tanda bahaya dipukul. Malam yang larut dan sudah mendekati titik tengahnya tiba-tiba berobah gaduh dan ramai. Suasana yang semula sunyi mendadak riuh oleh jerit dan kemarahan ditahan. Enam bayangan berkelebatan ke sana-sini dan para penjaga roboh. Dan ketika para pengawal melihat bahwa itulah rombongan orang-orang bertopeng merah, sepak terjang mereka sungguh cepat dan nggegirisi maka di bagian utara sebatang cangkul membabat atau menyabet leher lawan dengan gerakan luar biasa.

"Hayo, kalian maju. Kubunuh kalian, anjing-anjing buduk. Mana majikan kalian dan biar kucangkul batang lehernya.... crat!" sebuah kepala mencelat dari tempatnya, dibabat atau dicangkul senjata mengerikan ini dan bergeraklah bayangan itu memutar tubuhnya. Dia menghadapi tiga pengeroyok namun dengan mudah dirobohkannya lawan-lawannya itu. Mula-mula sebuah kepala terlepas namun disusul oleh dua yang lain. Tiga penjaga roboh berturut-turut dalam waktu hampir bersamaan, cepat dan mengerikan karena begitu kepala menggelinding segera darah memuncrat dengan amat derasnya. Pacul atau senjata maut di tangan laki-laki itu sungguh menyeramkan sekali, tak kenal ampun. Dan ketika penjaga yang lain terbelalak dan mundur berteriak ketakutan, laki-laki ini tertawa dan mengejar maka di bagian lain sebatang tombak juga menari-nari menusuk atau mendodet perut penjaga.

"Ha-ha, mari maju. Kalian makanan empuk. Mari... mari nikmati tombakku.... cus-cuss!" usus terburai dari perut dua penjaga, yang berteriak dan seketika tewas dan gaduhlah tempat itu pula oleh sepak terjang si tombak maut ini. Dia tak kalah ganas atau berbahaya dengan si pembawa pacul di sana, bahkan barangkali lebih berbahaya karena gagang tombaknya juga dapat dipakai untuk mengemplang atau menyodok perut penjaga, yang ada dibelakang.

Dan ketika berturut-turut muncul pula seorang pendek gempal yang menumbuk-numbukkan badannya dan seorang laki-laki tinggi besar yang mengibas atau mendorong-dorong para penjaga hingga jatuh bangun maka istana atau tempat tinggal Coa-ongya ini geger.

Tigapuluh pengawal roboh binasa dan serbuan atau amukan enam orang ini sudah masuk ke dalam, cepat luar biasa mereka sudah meluruk ke dalam gedung dan tentu saja para penjaga kelabakan. Si pendek gempal itu, yang menumbuk-numbukkan badannya ternyata tak apa-apa dihajar golok atau tombak. Badannya seatos besi dan tombak atau golokpun patah-patah. Derai ketawanya selalu mengiringi patahnya senjata-senjata tajam yang bertemu tubuhnya.

Dan karena cara bertempurnya aneh karena suka menumbuk-numbukkan badan, bagai buldoser atau tank mini yang tak dapat dipukul mundur maka pengawal menjadi ngeri dan pucat oleh sepak terjangnya. Mereka dihajar dan tunggang-langgang, terus didesak dan apa boleh buat berteriak-teriak memanggil bala bantuan, penjaga lapis ketiga yang ada di atas, karena gedung Coa-ongya berlantai tiga.

Dan ketika bala bantuan datang dan tiga bayangan berkelebat hampir berbareng, meluncur dan tahu-tahu ada di tengah ruangan itu maka si Pacul Kilat, yang berada paling dekat dan berdiri di muka pintu tembusan mendadak berobah mukanya melihat dua kakek Thian-tok yang menggeram pada mereka.

"Mindra dan Sudra...!"

Dua kakek itu tertegun. Mereka memang Sudra dan Mindra adanya, dua kakek India yang baru saja menyelesaikan samadhinya. Mereka mendengar ribut-ribut di luar dan segera datang, hampir bersamaan dengan si Kedok Hitam yang meluncur di belakang. Dan ketika dua kakek itu terbelalak dan marah melihat semuanya bertopeng merah, menyembunyikan wajah di balik saputangan mendadak Pacul Kilat menerjangnya berseru pada teman-temannya.

"Awas, dua kakek India ada di sini, teman-teman. Rupanya Sudra dan Mindra ini kembali menjadi anjing Coa-ongya!"

Sudra berkelit. Dialah yang diserang tapi begitu dia berkelit mendadak pacul terus menyambar saudaranya, Mindra. Mindra juga berkelit namun selanjutnya pacul mengejar dan bertubi-tubi membabat, gerakannya kian berbahaya dan menyerang siapa saja, baik Mindra maupun Sudra. Tapi begitu dua kakek itu mendengus dan Mindra menggerakkan nenggala-nya maka terjadilah benturan keras di mana laki-laki itu terhuyung dan nyaris terpelanting.

"Crangg!"

Pacul Kilat mendelik. Dia menggeram dan membentak maju, Mindra akhirnya tahu bahwa lawan yang dihadapi dapat diatasi, karena benturan tadi menunjukkan sinkangnya lebih kuat daripada lawan. Maka begitu dia berseru pada Sudra agar pergi membantu yang lain, lawan berpacul ini tak usah ditakuti maka laki-laki itu menerjang dan membabi-buta menyabetkan senjatanya.

"Hm, aku serasa mengenalmu," Mindra berkelit ke sana ke mari. "Buka topengmu, manusia busuk. Atau kau mampus!"

"Bedebah tak tahu malu!" si Pacul Kilat memekik dan menerjang, semua serang annya berhasil dikelit. "Kau orang asing suka mencampuri urusan orang lain, Mindra. Pulanglah ke negerimu atau kau meninggalkan mayatmu disini!"

"Hm, jangan sombong. Paculmu tak kutakuti, manusia kerdil. Aku dapat memaksamu dan lihat ini... crang-crangg!" dan pacul yang terpental tiba-tiba bertemu nenggala mendadak disusul oleh gerakan tangan kiri Mindra yang melepas Hwi-seng-ciang.

Laki-laki itu terkejut dan mengelak namun tak keburu, apa boleh buat menangkis tapi dia malah terbanting. Dan ketika laki-laki itu berteriak kaget dan melempar tubuh bergulingan, menjauh, maka Mindra tertawa mengejek mengejar lawannya, ganti melakukan serangan-serangan dan terdesaklah Si Pacul Kilat itu oleh tekanan lawan. Hwi seng-ciang masih terus menyambar dan nyata dia tak mampu menandingi pukulan lawannya itu. Hawa panas dan percikan bintang-bintang api membakar tubuhnya, mula-mula pakaian hingga berlubang-lubang sampai akhirnya kulit tubuh yang menjadi matang biru. Si Pacul Kilat menderita. Namun ketika ia didesak dan terus diteter lawan, paculnya menangkis nenggala sementara tangan kirinya menghadapi pukulan-pukulan Bintang Api maka si Tombak Maut tiba-tiba berkelebat dan membantunya.

"Pacul Kilat, jangan takut. Aku membantumu!" dan tombak yang menyambar serta mendorong nenggala akhirnya membuat si Pacul Kilat bernapas lega dan dapat memperbaiki diri. Tombak Maut mencecar lawannya dan senjata yang jauh lebih panjang itu mula-mula mampu menekan nenggala. Tapi ketika kakek India itu berseru marah dan melepas Hwi-seng-ciangnya ke arah laki-laki ini maka Tombak Maut juga tergetar dan terhuyung mundur, tak mampu menahan.

"Kita harus mengeroyok. Kepung saja dari muka dan belakang!"

"Hm!" kakek itu tertawa. "Boleh saja, tikus-tikus cilik. Tapi sekarang aku ingat bahwa kau kiranya si Pacul Kilat, orang yang dulu pernah kuhajar dan lari terbirit-birit!"

Si Pacul Kilat marah, memekik dan menyerang lagi dan Mindra sekarang mengenalnya. Memang dulu dia pernah berhadapan dengan kakek ini dan terpaksa melarikan diri, bukan tandingannya. Tapi karena sekarang ada Tombak Maut di situ dan dia tak menyangka bahwa kakek ini ada disitu, kembali membantu Coa-ongya karena dulu kakek ini sudah dikabarkan pergi maka dia marah dan membentak membabatkan senjatanya. Lawan mengelak namun Tombak Maut menyerangnya dari samping kanan, tombak panjang menyambar dan kakek itu terpaksa menggerakkan nenggala ke belakang. Dan ketika tombak terpental namun dua orang itu sudah menyerang lagi maka kakek ini harus berhati-hati dan menggeram karena untuk beberapa jurus dia diteter.

Namun Mindra adalah kakek yang betul-betul hebat. Ditekan dan dicecar dari muka dan belakang ia tak kelihatan gugup. Sinkangnya masih lebih kuat daripada lawan dan setiap kali ia menangkis setiap kali itu pula lawan terhuyung ke belakang. Tombak Maut dan Pacul Kilat sama-sama terbelalak dan kagum tapi juga marah. Kakek Thian-tok ini lihai! Tapi begitu mereka menyerang lagi dan tak takut akan kelebihan lawan, Mindra menjadi geram dan ikut marah maka kakek itu teringat pada Hwi-seng-ciangnya lagi dan dikeluarkannyalah pukulan ini ke arah dua orang itu.

Pacul Kilat maupun Tombak Maut ternyata sama-sama tak tahan. Mereka silau oleh percikan bintang-bintang api itu dan selalu mengelak. Namun karena lawan terkekeh mengejar dan Pukulan Bintang Api ini memang a-mat mengganggu, menyengat dan membakar kulit tubuh maka di sini dua orang itu terdesak dan tombak panjang tak berguna banyak dipakai menyerang.

Tombak Maut sering mengelak kalau pukulan Bintang Api menyambar, di samping tak kuat hawa panasnya juga sengaja menghidar dari percikan bintang-bintang api itu. Pakaiannya juga berlubang-lubang dan ia melotot karena hal itu sama dengan rekannya, si Pacul Kilat. Dan karena ia sering menghindar dan tombak jadi tak berguna, sementara Pacul Kilat juga begitu karena Hwi-seng- ciang memang luar biasa maka begitu mereka mengelak kiri kanan dan lawan mengejar serta terus melepas pukulan-pukulan Bintang Apinya maka tiba-tiba dua orang ini terdesak dan mereka malah ditekan!

"Ha-ha!" kakek itu terbahak-bahak. "Ayo mana ilmu kepandaian kalian, Pacul Kilat. Mana itu kata-kata kalian yang ingin membunuh aku!"

"Keparat!" Pacul Kilat memekik. "Kau sombong namun kami belum roboh, Mindra. Gerakkan nenggalamu dan tunjukkan pula kepada kami bahwa kau sanggup membunuh kami!"

"Hm, hal itu pasti kulaksanakan. Dan sekarang akan kumulai, lihat...!" dan ketika kakek itu melepas Hwi-seng-ciangnya lagi hingga dua orang itu mundur.

Pacul Kilat membentak karena selalu ia terhuyung maka saat itulah nenggala bergerak mengejar dirinya, menusuk atau mematuk dan Pacul Kilat terkejut karena ia sedang buruk posisinya, belum sempat memperbaiki diri. Dan ketika nenggala tahu-tahu ada di depan hidung dan laki-laki ini berteriak keras maka apa boleh buat ia membabatkan paculnya dan nenggala itu dihantam kuat-kuat.

Namun laki-laki ini lupa. Mindra memiliki sinkang diatas dirinya dan tangkisan atau hantaman paculnya itu tak berakibat banyak. Nenggala tergetar sedikit dan senjata yang semula menuju hidung itu tiba-tiba turun ke bawah, tertekan oleh hantaman pacul. Dan karena senjata itu masih terus menusuk dan bergerak kuat maka perut laki-laki itu tergurat dan Pacul Kilat menjerit karena nyaris perutnya dibelah.

"Aughh..!" Jerit atau lengking panjang itu mengiringi robohnya laki-laki ini. Senjata di tangannya terlepas dan kakek India itu terkekeh kejam, membalik dan melepas Hwi-seng-ciangnya karena saat itu tombak panjang tiba-tiba berkesiur menyambar.

Tombak Maut melihat keadaan bahaya dan ingin menolong temannya, melepas tombak nya itu yang terbang menyambar dengan cepat. Tapi karena lawan mendengar kesiur anginnya dan Hwi-seng-ciang menampar tombak itu, yang patah dan hancur di tengah jalan maka nenggala tiba-tiba bergerak dan patahan tombak yang akan jatuh ke lantai tiba-tiba dijentik dan terbang menyambar ke arah Pacul Kilat, yang sedang roboh di sana.

"Cep!" Ujung atau patahan tombak itu amblas di dada laki-laki ini. Pacul Kilat yang sedang menggelepar oleh sakitnya di perut tiba-tiba roboh dan binasa seketika. Hanya keluhan tertahan sempat terdengar dan setelah itu laki-laki itu terguling. Mindra telah membunuhnya! Dan ketika Tombak Maut terbelalak dan pucat melihat itu, senjatanya dipakai untuk membunuh temannya sendiri tiba-tiba laki-laki ini berteriak dan histeris menerjang lawan.

"Tua bangka, kau keji dan terkutuk!"

"Heh-heh," nenggala kembali bergerak "Kaulah yang tak tahu diri, bocah. Mampus dan susullah temanmu di neraka.... cus!" dan nenggala yang tepat menyambut pukulan laki-laki ini, tembus di telapak tangan tiba-tiba membuat Tombak Maut berteriak dan kesakitan hebat, mau menarik tangannya tapi kaki kakek itu bergerak, tepat sekali mengenai selangkangannya.

Dan ketika Tombak Maut menjerit dan terpelanting roboh, alat kelaminnya pecah maka saat itu di tempat lain terdengar teriakan-teriakan dan puluhan bayangan hitam menyerbu dari luar. Seakan sepasukan iblis yang datang menggempur!

"Serbu! Cari Coa-ongya dan bunuh anjing-anjing pembantunya ini..!"

Mindra terkejut. Baru saja dia merobohkan dua orang lawannya tiba-tiba datang belasan bayangan hitam mengeroyoknya. Mereka berteriak marah melihat tewasnya Pacul Kilat dan Tombak Maut. Dan ketika kakek itu mengelak dan melepas pukulan-pukulan Hwi-seng-ciangnya, marah karena tiba-tiba tiga belas orang mengerubutnya maka di tempat lain juga saudaranya diserbu dan dikeroyok belasan orang, termasuk Kedok Hitam yang juga baru saja merobohkan dua orang kembar yang tinggi serta bentuk tubuhnya sama.

"Keparat!" kakek itu melengking. "Siapa kalian ini, tikus-tikus busuk. Dan kenapa datang mencari penyakit!"

"Mereka bekas orang-orangnya Chu Wen!" Kedok Hitam berseru dari jauh. "Inilah yang kukatakan kepadamu, Mindra. Bunuh dan basmi mereka kecuali pimpinannya. Cari dia itu!"

Kakek ini terbelalak. Tigabelas pengeroyok yang tiba-tiba menyerang dan begitu beringas menggerakkan senjata rata-rata ditutup saputangan merah menyembunyikan wajah. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berkepandaian cukup tinggi, sedikit di bawah Pacul Kilat atau pun Tombak Maut dan tentu saja kakek ini sibuk. Satu lawan tigabelas bukanlah pekerjaan mudah. Dan ketika dia menggeram dan melepas Hwi-seng-ciangnya, mengiringi nenggala yang sudah dipakai menangkis atau menghalau senjata-senjata lawan maka Sudra, saudaranya, juga kewalahan oleh serbuan begini banyaknya lawan, yang meluruk dan menerjang bagai harimau-harimau lapar yang kesetanan.

"Tar-tar!" cambuk meledak-ledak di udara. "Enyah kalian, tikus-tikus busuk. Pergi dan kuantar ke neraka!"

Dua orang roboh. Mereka terkena nenggala dan cambuk dari kakek India ini, Sudra dan Mindra memang lihai. Tapi ketika yang lain datang membantu dan jumlahnya kembali tetap, dua kakek itu marah maka di tempat Kedok Hitam terjadi keroyokan sengit yang bahkan dilakukan oleh hampir duapuluh orang.

"Ini Kedok Hitam, antek Coa-ongya paling lengket. Bunuh dan jangan biarkan ia hidup!"

Seorang laki-laki tinggi besar, gagah dan berperawakan tegap membentak pada teman-temannya untuk mengurung dan menyerang laki-laki itu. Laki-laki tinggi besar itu sendiri bersenjatakan gendewa besar dan dia telah membunuh belasan pengawal, hal yang membuat Kedok Hitam marah dan menyerangnya. Tapi ketika pendek gempal membantu dan dua laki-laki kembar juga bergerak dan mengeroyok Kedok Hitam ini, sayangnya mereka lalu tewas maka pendek gempal bersuit dan bersama temannya yang tinggi besar ini mereka memanggil bantuan di mana puluhan orang tiba-tiba muncul dan langsung meluruk ke situ, pecah dan mencari lawan masing-masing di mana akhirnya mengeroyok Sudra dan Mindra serta si Kedok Hitam ini.

Memang hanya tiga orang inilah yang terlihat paling lihai, mereka memukul mundur dan bahkan membunuh beberapa di antaranya. Dan ketika si tinggi besar mencabut gendewanya dan si pendek gempal mengeluarkan sepotong papan besi, dia tak sanggup menahan pukulan-pukulan lawan dengan tubuhnya, padahal tadi mampu menahan dan bahkan menolak senjata para pengawal kini tiba-tiba ganti-berganti dengan si tinggi besar sudah membalas dan menyerang si Kedok Hitam ini.

Namun karena Kedok Hitam terlalu lihai dan dorongan-dorongan pukulannya amatlah kuat, mereka sering terhuyung dan bahkan terpelanting maka apa boleh buat mereka memanggil bala bantuan dan bayangan-bayangan hitam yang bersembunyi dan sebenarnya ditugaskan untuk menghadang bantuan dari luar akhirnya ditarik dan membantu si pendek gempal dan si tinggi besar ini.

Kedok Hitam terbelalak. Dua orang lawan utamanya itu ganti-berganti memberi aba-aba. Mula-mula dia menyangka si tinggi besar ini yang menjadi pemimpin, karena dialah yang pertama berseru dan memberi perintah. Namun ketika si pendek gempal juga sama-sama memerintah dan tadi dua laki-laki kembar juga saling mengeluarkan perintah dan aba-aba maka Kedok Hitam bingung siapa sebenarnya pimpinan dari para penyerbu ini. Mereka tampaknya sama-sama setingkat, jadi masih ada orang lain dibelakang orang orang ini.

Dan ketika dia mulai marah dan berhasil membunuh dua laki-laki kembar, si pendek gempal dan si tinggi besar terkejut dan cepat memanggil bala bantuan maka meluruklah puluhan bayangan hitam itu ke gedung Coa-ongya. Mereka langsung membantu yang perlu dibantu. Kedok Hitam mendapat lawan paling banyak karena memang Kedok Hitam inilah yang paling lihai. Dan ketika serbuan datang bagai air bah, sisa yang lain memencar dan membabat para pengawal maka sebentar saja gedung Coa-ongya sudah dipenuhi orang-orang ini dan mereka berlalu-Ialang cepat mencari atau ingin menangkap Coa-ongya.

"Cari dan tangkap pangeran itu. Seret dia ke sini!"

Kedok Hitam menggeram. Tempatnya diobrak-abrik dan pengawal tiba-tiba lari cerai-berai tak kuat menahan serbuan itu. Jumlah lawan terlalu banyak! Dan karena hanya tiga orang ini yang mampu bertahan dan membendung lajunya lawan, Mindra dan Sudra bergerak cepat membalas serangan lawan maka hanya tiga orang inilah yang akhirnya menjadi perhatian dan pusat serbuan lawan.

"Bunuh mereka ini. Antar ke neraka!"

"Hm!" Sudra mendengus, cambuknya menjeletar-jeletar. "Kalian yang akan kuantar ke neraka, tikus-tikus busuk. Dan satu per satu boleh menikmati gigitan cambukku ini.!" "Aduh!" seorang pengeroyok berteriak, benar saja menerima "gigitan" cambuk dan terjengkang melepaskan senjatanya. Gigitan itu bukan gigitan biasa melainkan sentuhan menyakitkan yang membuat kulit luka terbakar.

Sudra mengerahkan sinkangnya dalam ujung cambuknya ini hingga setiap kali "menggigit" tentu lawan tak tahan menjerit, roboh dan terlepas senjatanya karena kulit maupun tubuh orang itu hangus. Inilah keistimewaan kakek itu dalam memainkan cambuknya, apalagi cambuk itu terbuat dari baja yang tanpa di"isi"-pun tentu sudah menyakitkan. Maka begitu lawan terjungkal dan tak mampu bangun lagi, pingsan dan roboh berteriak maka yang lain mendapat bagian lagi namun kakek ini juga menerima bacokan atau tusukan senjata tajam.

Namun Sudra melindungi tubuh hingga kebal. Sinkang kakek ini cukup kuat kalau hanya untuk menghadapi orang-orang yang di bawah kelasnya, biarpun dia dikeroyok. Namun ketika belasan orang itu mulai mengarahkan senjata mereka pada hidung atau mata, daerah yang tentu saja paling lemah maka serempetan sebuah pedang nyaris saja mengenai mata kiri kakek itu.

"Keparat!" kakek ini berseru. "Robohlah kau, tikus busuk. Terima lecutan cambukku tar!" orang itu menerima balasan, menjerit dan roboh dengan kepala berlubang karena ujung cambuk mengenai batok kepalanya.

Kakek ini marah dan menjeletarkan cambuknya di saat orang itu terhuyung, karena serangannya tak mengenai mata kakek ini. Dan ketika orang itu roboh dan dua lawan tewas seketika, yang lain terbelalak dan gentar maka di sana Mindra juga' merobohkan dua lawan lagi dengan nenggalanya.

Kakek ini, seperti juga Sudra, marah arena berkali-kali lawan-lawannyaitu mengarahkan senjata ke lubang hidung atau biji matanya. Sekali kesempatan telinganya juga tertusuk sebatang tombak bercagak, hampir saja tembus kalau dia tidak cepat melempar kepala membuang arah tusukan itu. Dan ketika dia membenlak dan melepas Hwi-seng-ciangnya, mendorong mundur yang lain-lain maka neng-gala bergerak menyambar pantat laki-laki yang menusuk lubang telinganya tadi.

"Aughh...!" laki-laki itu terputar, menjerit. "Tobat, kakek iblis. Tapi kaupun terimalah ini... wut!" dan tombak bercagak yang dilemparkan atau terbang menyambar Mindra tiba-tiba disambut dengusan pendek di mana kakek itu mengibas dan menampar hancur tombak itu, nenggala terus berputar mengikuti gerakan laki-laki itu dan tahu-tahu sudah tembus ke perut.

Laki-laki ini berteriak dan seketika menggelepar, hilang ingatannya karena seketika itupun nyawanya sudah terbang ke alam halus. Mindra melukai dan membunuh lawannyaitu dengan mata dingin. Lalu ketika yang lain marah dan berteriak menerjang, sudah mampu menguasai diri ketika dibuat terhuyung oleh tamparan Hwi-seng-ciang maka kakek ini membalik dan menghadapi lagi lawan-lawannya dengan gemas dan geram.

"Crang-crang-crangg!"

Orang-orang itupun terpelanting. Mereka kalah kuat dan cepat melempar tubuh bergulingan untuk menyelamatkan diri, bangun dan menerjang lagi karena mereka memang orang-orang nekat yang termasuk gagah berani. Dan ketika kakek itu menjadi gusar karena lawan tak mau sudah, tampaknya beberapa mayat yang ada di situ tak membuat mereka mundur, meskipun gentar, akhirnya kakek ini berkelebatan dan nenggala diputar cepat sambil tangan kiri terus melancarkan pukulan-pukulan Hwi-seng-ciang.

Orang-orang itu akhirnya pucat karena tamparan hawa panas menahan mereka. Namun karena jumlah masih banyak dan maju lagi untuk mengeroyok maka kakek ini benar-benar habis sabar dan Hwi-seng-ciang maupun nenggalanya menjadi senjata maut yang buas dan tak kenal ampun. Bacokan atau tusukan senjata tajam ditangkis atau diterima kakek ini, yang mental karena bertemu tubuhnya yang penuh tenaga sakti. Dan ketika Hwi-seng-ciang atau nenggala membalas, bergerak bagai petir di angkasa maka tujuh orang akhirnya roboh dan tewas, menjadi korban kemarahan kakek ini.

"Ayo ayo maju lagi. Biar kubunuh habis!"

Lawanpun ngeri. Akhirnya nenggala dan kakek itu beterbangan bagai burung menyambar-nyambar. Mindra mengeluarkan kesaktiannya dan bergeraklah senjata atau pukulannya itu menghajar lawan. Dan karena secara orang per orang lawan lawannya ini masih di bawah kakek itu, Mindra menampar atau menusuk maka lagi-lagi lima orang roboh terjungkal. Hal ini menciutkan nyali dan belasan orang itu mundur, mengepung dari jauh. Dan ketika di tempat lain juga terdengar jeritan-jeritan ngeri, orang-orang yang terkena cambuk atau pukulan Sudra maka di tempat Kedok Hitam justeru terdengar teriakan atau pekik tertahan yang lebih cepat lagi.

"Mundur...!" si pendek gempal akhirnya memberi aba-aba, pucat. "Mundur, kawan-kawan. Jauhi laki-laki ini dan keluarkan jala berduri!"

Dua puluh laki-laki yang mengeroyok Kedok Hitam tiba-tiba mundur. Mereka berloncatan menjauh karena Kedok Hitam tiba-tiba menjadi ganas. Laki-laki itu mengeluarkan pukulan jarak jauhnya yang hebat di mana sekali tampar atau kibas maka merekapun terdorong. Hawa panas menyertai pukulan itu dan mereka tak tahan. Apalagi, di samping panas juga tajam seperti bacokan pedang. Ini memang mengerikan!

Maka begitu mereka berloncatan mundur dan pendek gempal memberi aba-aba untuk menjauh, mengeluarkan jala berduri mendadak mereka semuanya bergerak dan sudah mencabut sebuah jala yang penuh kaitan baja. Itulah jala yang dimaksud! Dan begitu si pendek gempal berseru dan menerjang lagi maka jala di tangan masing-masing orang bergerak dan mengikuti si pendek gempal itu.

"Siut-siut-wherrr...!"

Duapuluhjala berkembang dan menakup laki-laki di tengah ini. Kedok Hitam terkejut karena lawan hendak menyusahkannya dengan jala. Benda itu tak ditakutinya tapi kaitan-kaitan baja yang ada di dalam tentu bakal merepotkan, apalagi menggaet baju umpamanya. Tentu akan sobek dan dia telanjang! Maka membentak berseru keras tiba-tiba laki-laki ini berkelebat seraya mencabut sesuatu. Orang tidak tahu apa itu namun sebuah sinar putih tiba-tiba berkelebat. Cahayanya menyilaukan mata dan berteriaklah mereka ketika tiba-tiba tangan yang memegang jala mendadak serasa enteng. Dan ketika mereka terkejut dan berseru keras tahu-tahu terdengar suara crang-cring-crang-cring dan jala ditangan mereka terbabat kutung, putus oleh sinar atau cahaya putih itu.

"Mundur...!"

Seruan ini terlambat. Empat di antara mereka yang kaget dan bengong di tempat tiba-tiba disambar sinar atau cahaya putih menyilaukan itu. Mereka tersentak setelah cahaya itu dekat. Dan karena mengelak lagi sudah tak sempat maka sinar atau cahaya putih itu menyentuh leher mereka dan.... putuslah kepala empat orang ini oleh sebatang golok yang luar biasa tajam.

"Crat-crat-crat!"

Empat batang tubuh roboh bagai batang pisang. Tak ada jeritan atau keluhan di sini, tanda betapa cepat dan tajamnya golok maut itu. Dan ketika sinar putih ini berkelebat dan masih menyambar ke sana-sini, si pendek gempal terpekik karena pundaknya tergurat panjang maka yang memegang gendewa, si tinggi besar, juga mengeluh karena lengannya tersobek sejengkal.

"Augh!"

Orang-orang itu pucat. Mereka tersentak dan ngeri oleh kejadian ini. Kedok Hitam telah mencabut senjatanya, sekali dicabut ternyata empat nyawa melayang! Dan ketika mereka terbelalak dan gentar mundur menjauh, jala sudah terkulai bertumpuk-tumpuk maka Kedok Hitam tertawa berkelebat membalas.

"Sekarang giliran kalian menerima hajaran. Bersiaplah ke akherat!"

Duapuluh orang yang tinggal enambelas itu terpekik. Sinar atau cahaya putih itu menyambar dan tahu-tahu telah bergerak mengelilingi mereka, sinarnya lebar dan panjang seperti payung. Dan ketika beberapa menjadi gugup dan menangkis tapi patah maka sinar putih itu terus meluncur dan lima orang tiba-tiba terbabat.

"Aduh..!"

Kejadian itu lagi-lagi demikian cepatnya. Kedok Hitam tertawa dan sinar putihnya bergulung naik turun. Lima orang kembali roboh dan sisanya tentu saja menjadi gentar. Lawan sudah membunuh sembilan orang! Dan ketika mereka melempar tubuh dan yang tinggi besar berteriak menyelamatkan diri maka tiba-tiba si tinggi besar itu meraih anak panah dan tujuh panah sekaligus mendadak menyambar di saat laki-laki ini sedang bergulingan.

"Ser-ser-serr...!"

Kedok Hitam memuji. Memanah sambil bergulingan bukanlah hal mudah, apa lagi semua anak panah itu tepat menyambar tubuhnya. Tiga ke atas sedang empat yang lain ke bawah, semuanya jitu dan telak! Tapi ketika Kedok Hitam tertawa dan menangkis dengan putaran golok mautnya, sekali sapu membuat tujuh anak panah runtuh maka laki-laki itu mengejek bahwa hujan panah masih kurang banyak.

"Ha-ha, kau jago panah yang baik, tikus besar. Namun sayang tak berhasil. Ayo lepaskan lagi anak-anak panahmu lebih banyak dan biar kuhancurkan semuanya!"

Si tinggi besar pucat. Dia meloncat bangun dan kembali menjepretkan tujuh batang anak panahnya. Namun ketika semuanya runtuh dibabat sinar putih itu maka laki-laki ini mengeluh dan si pendek gempal tiba-tiba juga meraup anak panah dan melontarkannya seperti orang melontar lembing.

"Hujani dia dengan anak panah!"

Yang lain-lain teringat. Mencabut anak panah yang rupanya sudah disiapkan di kantong mendadak mereka menyambitkan anak-anak panah ke arah si Kedok Hitam. Laki-laki itu diserang dan dihujani anak panah, bukan belasan melainkan puluhan. Namun ketika sinar putih bergulung dan meruntuhkan anak-anak panah ini tiba-tiba patahan anak panah membalik dan mengenai orang-orang itu sendiri. Dan karena panah yang diluncurkan berjumlah banyak maka yang membalik juga banyak dan tujuh di antaranya roboh mengaduh.

"Crep-crep-crep!"

Si tinggi besar dan si pendek gempal terbelalak. Mereka kaget dan bingung karena diserang dengan cara apapun juga ternyata lawan mereka itu terlalu lihai. Tadi membabat jala berduri sekarang membabat anak-anak panah mereka. Jumlah yang semula duapuluh tiba-tiba sekarang tinggal empat orang. Celaka! Dan ketika mereka tertegun dan pucat serta marah, di samping gentar, maka Kedok Hitam berkelebat dan menuju pada mereka.

"Ha-ha, sekarang giliran kalian. Mampus dan pergilah ke neraka!"

Si pendek gempal menggerakkan papan besinya. Dia terkejut dan tentu saja tak mau menerima kematian dan karena itu cepat mengelak, mundur sambil menggerakkan papan besinya menangkis. Tapi ketika papan besinya, terbelah, laki-laki itu berteriak dan melempar tubuh bergulingan maka si tinggi besar, yang memegang gendewa juga mengeluh dan melempar tubuh dengan cepat karena gendewanya putus menjadi dua. Dua yang lain sudah tak sempat menghindar karena sinar putih itu berkelebat ke leher mereka, roboh dan tewas karena kepala merekapun sudah menggelinding di tanah. Namun ketika Kedok Hitam hendak mengejar dan membunuh dua yang terakhir ini, si pendek gempal dan si tinggi besar mendadak terdengar raungan atau pekik kaget dari dua kakek India disana.

"Aduh, tolong, Kedok Hitam. Ini bocah iblis yang kukatakan itu... tas-crak!" dan cambuk atau nenggala yang putus dibabat sinar menyilaukan tiba-tiba membuat Sudra dan Mindra berteriak dan melempar tubuh sambil mengaduh.

Dua pertandingan di sana tiba-tiba berobah ketika seorang pemuda tiba-tiba muncul, diiring kekeh atau tawa wanita di mana kakek-kakek berhidung bengkung itu terkesiap. Mereka sudah menguasai lawan-lawan mereka dan tinggal menamatkan dengan serangan terakhir, tak tahunya terdengar bentakan dan sesosok bayangan hitam berkelebat, menangkis dan mematahkan senjata mereka. Dan ketika cambuk dan neng gala putus dibabat, sebuah cahaya menyilaukan yang berhawa dingin menyambar senjata mereka itu maka sebuah dorongan kuat menampar pula dan dua kakek itu mencelat!

Sudra dan Mindra terguling-guling dan alangkah kagetnya mereka ketika melihat siapa yang datang. Kiranya pemuda yang dulu bertemu dengan mereka di luar hutan, yang membantu Wi Hong atau menyelamatkan bekas ketua Hek-yan-pang itu dari tangan mereka. Dan ketika kekeh atau tawa itu disusul orangnya, bayangan kedua, maka dua kakek ini pucat karena itulah si cantik gila yang dulu mereka ganggu itu.

Mereka tak tahu bahwa Wi Hong sekarang sembuh, masih mengira gila dan karena itu kembali perhatian mereka tertuju pada pemuda yang berpakaian hitam-hitam itu. Mereka terbelalak karena sekarang pemuda ini berambut kemerah-merahan, marong bagai api unggun. Tapi begitu pandangan mereka tertuju ke bawah, ke arah cahaya putih yang berhawa dingin maka tiba-tiba dua orang kakek ini serasa terbang semangatnya karena mengenal benda di tangan pemuda itu, ketika mereka meloncat bangun.

"Golok Maut!"

"Golok Penghisap Darah...!"

Dua kakek ini terguncang. Giam Liong, pemuda itu, sudah berdiri tegak dengan sikapnya yang dingin namun gagah. Golok di tangannya yang bergetar dan berkilauan itu tiba-tiba bergerak dan lenyap di belakang punggung. Giam Liong telah menolong orang-orang bersapu tangan merah ini dengan kilatan senjatanya tadi, cahaya atau kilatan yang lebih dingin dibanding kilatan di tangan Kedok Hitam, karena Kedok Hitam juga mempergunakan golok atau senjatanya yang amat tajam itu. Tapi begitu Giam Liong tak menyerang lagi dan tegak menghadapi dua kakek India itu, yang terkejut dan pucat serta tentu saja mengenal Golok Maut di tangannya maka ibunya, yang terkekeh dan melengking di sebelahnya tiba-tiba berkelebat dan menusuk Mindra, kakek yang terdekat dengannya.

"Hi-hik, ini Golok Maut puteraku. Hayo, kalian lagi-lagi di sini, tua bangka. Mampus dan bayar hutang kalian kepadaku dulu... singg! dan pedang bersinar merah yang meluncur dan menusuk tenggorokan kakek itu, cepat sekali, tahu-tahu telah menyentuh kulit dan Mindra yang masih bengong oleh hadirnya Giam Liong tiba-tiba terpekik dan cepat melempar kepala ke belakang.

Kakek itu terkesiap karena Wi Hong menyerangnya di saat ia tertegun. Kehadiran atau kedatangan pemuda itu memang mengejutkan, apalagi karena membawa Golok Maut atau Golok Penghisap Darah itu. Mindra dan Sudra tentu saja kenal dan tahu akan golok di tangan pemuda itu karena tak ada senjata betapapun tajamnya mampu mengeluarkan hawa sedingin Golok Maut. Golok itu adalah golok bertuah dan karenanya tak heran kalau cambuk atau nenggala mereka putus terbabat, seolah agar-agar atau tahu bagi golok sehebat itu. Maka begitu Wi Hong berkelebat dan kakek ini terkesiap, kedatangan Giam Liong masih belum menghilangkan kekagetannya maka kakek itu semakin terkejut saja karena Wi Hong dengan jurus Bianglala Menukik Ke Bumi masih terus mengejar dan menyerang tenggorokannya!

"Keparat.... plak-cring!" kakek itu membentak, menangkis atau menjentikkan kuku jarinya sambil memaki Wi Hong dan pedang seketika terpental bertemu kuku jarinya.

Wi Hong memang masih bukan lawan kakek ini namun berteriak marah justeru wanita itu berkelebat dan menyerang lagi. Dan karena kakek ini gentar oleh kedatangan Giam Liong dan hadirnya pemuda itu seolah siluman ganas yang akan menerkamnya maka begitu dia mengelak dan menjentikkan kuku jarinya lagi tiba-tiba kakek ini berkelebat dan lari ke arah si Kedok Hitam.

"Kedok Hitam, bantu aku. Bocah iblis itu ada di sini!"

Kedok Hitam masih tertegun. Dia menghentikan serangannya ketika jeritan pertama temannya tadi. Sinar menyilaukan yang lebih hebat dari sinar goloknya sendiri sudah membuat laki-laki itu terkejut. Dua lawannya mundur menjauh dan terbelalak menahan luka. Dan ketika dia melihat betapa pemuda itu amatlah tampannya namun berwajah dingin, persis si Golok Maut Sin Hauw yang dulu dibunuhnya tiba-tiba hati lelaki ini bergetar dan dia lupa kepada dua orang lawannya tadi, si pendek gempal dan si tinggi besar. Tapi begitu Mindra berkelebat ke arahnya dan berteriak, Wi Hong mengejar dan melihat dirinya tiba-tiba wanita itu melengking dan membelokkan larinya ke arah si Kedok Hitam ini.

"Keparat, kau ada di sini, Kedok Hitam? Kebetulan sekali, kau berhutang jiwa suamiku. Aku memang mencarimu dan kebetulan kau ada di sini... haiittt!" dan pedang yang membelok dan meluncur ke arah laki-laki ini akhirnya tidak mengejar Mindra melainkan menyerang lawan utamanya itu.

Kedok Hitam terkejut tapi mengeluarkan suara dari hidung. Dia tahu kepandaian wanita ini dan tangannya-pun bergerak menangkis, tangan yang lain masih memegang goloknya itu. Dan ketika pedang tertampar dan seketika patah, Wi Hong terpekik dan terbawa maju maka kaki laki-laki itu bergerak dan mencelatlah wanita ini oleh sebuah tendangan keras.

"Pergilah kau.... dess!"

Wi Hong terlempar dan jatuh terguling-guling. Wanita itu menjerit karena hanya dalam sekali gebrakan saja pedangnya sudah patah. Kedok Hitam memang luar biasa. Tapi ketika wanita itu meloncat bangun dan bayangan hitam berkelebat maka Giam Liong telah menolong ibunya mengangkat bangun.

"Ibu tak apa-apa?"

"Tidak... tidak, dia... dia, ohh!" Wi Hong tiba-tiba histeris. "Inilah pembunuh ayahmu, Giam Liong. Itu si Kedok Hitam yang kita cari-cari. Dia ada di sini, aku ditendangnya. Bunuh dan balaskan sakit hatiku!" dan mencengkeram serta meremas puteranya, mengguncang-guncang tiba-tiba Wi Hong bergerak dan mau merampas golok di punggung puteranya itu.

Giam Liong mengelak dan ibunya histeris membentak, memberi tahu bahwa pedangnya dipatahkan dan biarlah dengan Golok Maut dia membalas dendam. Namun ketika Giam Liong menampar dan mencengkeram tangan ibunya maka pemuda itu berkilat memandang lawan, mata mencorong mengeluarkan sinar pembunuhan. Ganas dan dingin!

"Ibu diamlah, biarlah aku yang bekerja. Ini si Kedok Hitam yang membunuh ayah? Ini laki-laki yang membuatmu menderita? Hm, jangan takut. Kau tenang dan berdiri di sini, ibu. Akan kudatangi dia dan lihat kulitnya akan kubeset!"

Semua meremang. Kedok Hitam yang baru saja menendang Wi Hong tiba-tiba dibuat terkejut ketika dengan perlahan namun dingin pemuda bermata naga itu menghampiri. Langkahnya tenang namun setiap hentakan tentu membuat getaran. Giam Liong mengayun kakinya bagai langkah seekor gajah, berderap dan bergetar karena tiba-tiba seluruh sinkang di tubuh pemuda itu hidup, pengaruhnya terasa sampai beberapa meter karena orang-orang bersapu tangan merah ada yang terhuyung dan mau jatuh. Tanah yang mereka injak seakan diguncang gempa dan tak satupun di antara mereka yang tidak berseru kaget.

Pemuda bermata naga ini telah menggetarkan jantung mereka dengan sikap dan kata-katanya yang dingin. Langkah kakinya terasa membetot sukma karena setiap menapak tanah tentu seolah sebuah kejadian mengerikan bakal terjadi. Ganas dan menyembunyikan rasa seram yang menakutkan! Dan ketika dia sudah berhadapan dengan si Kedok Hitam, mata yang berapi penuh cahaya pembunuhan itu tak henti-hentinya menatap wajah lawan, yang sayangnya ditutup kedok hitam maka pemuda itu bertanya, suaranya berat dan seakan godam dipukulkan berdetak-detak.

"Kedok Hitam, kau yang membunuh mendiang ayahku Sin Hauw? Bagaimana kau membunuhnya dan menghabisi nyawa ayahku? Benarkah kau merajang dan memotong-motongnya seperti anjing? Jawab, aku ingin mendengar pengakuanmu, manusia iblis. Dan setelah itu aku akan mencacah dan menguliti tubuhmu jauh lebih mengerikan daripada perlakuanmu kepada ayahku!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam tiba-tiba tertawa bergelak mengusir kengeriannya. "Kau bocah ingusanmau apa, anak tak tahu diri? Mendiang ayahmu ternyata menurunkan kau? Ah, ingat aku. Kau tentu bocah haram dari hasil hubungan gelap ayahmu dengan ibumu itu. Ha-ha, Wi Hong ternyata pelacur murahan yang memberikan tubuhnya kepada laki-laki semacam Sin Hauw. Ah, pantas kalau Hek-yan-pang tak mau menerimanya lagi dan sekarang dipimpin orang lain. Hm, kau benar, anak muda. Ayahmu akulah yang membunuhnya dan tak perlu aku mungkir. Kejadian itu sudah lewat dan aku melaksanakannya atas perintah kerajaan. Kau mau apa dan apakah ingin mampus seperti ayahmu dulu. Aku tidak takut!"

"Kau merajang dan memotong-motong tubuh ayahku seperti hewan?"

"Benar, ha-ha...!"

"Dan kematian macam apa yang sekarang kau inginkan?"

"Ha-ha, sombong! Kau belum menunjukkan kepandaianmu kepadaku, bocah. Sebutkan dulu namamu dan kutiup nanti menghadap ayahmu ke akherat!"

"Aku Giam Liong, Sin Giam Liong."

"Wah, Giam Liong. Berarti Naga Pembunuh, atau Naga Maut!"

"Ya, aku Naga Pembunuh, dan aku akan mulai membunuhmu... klap!" dan sinar putih yang berkelebat menyilaukan mata tiba-tiba mencuat dan bergerak dari punggung pemuda ini, langsung menyambar leher lawan dan Kedok Hitam terkejut karena gerakan itu amatlah cepatnya. Dia mengelak namun sinar itu tetap mengejar. Dan ketika dia menggerakkan goloknya pula, tak ada kesempatan untuk menghindarkan diri tiba-tiba terdengar suara nyaring dan....golok di tangan laki-laki itu putus, terbabat bagai agar-agar.

"Cranggg...!"

Kedok Hitam melempar tubuh bergulingan. Bukan main kagetnya laki-laki ini karena begitu bergerak tiba-tiba Giam Liong mencabut Golok Mautnya. Tadi senjata itu sudah disimpan dan kini tiba-tiba mencuat bagai kilat menyambar. Gerakannya bukan main hebatnya dan ada jurus-jurus pedang di situ. Giam Liong memang mempergunakan gerakan Pek-jit Kiam-sut ketika melakukan serangan pertamanya ini, silat pedang meskipun yang dipakainya adalah golok. Dan karena golok atau pedang baginya sama saja, pemuda ini telah mewarisi Pek-jit Kiam-sut dari ayah angkatnya maka tak heran kalau Kedok Hitam tiba-tiba tersentak dan kaget sekali melihat gerakan golok yang aneh. Golok tidak menyambar sebagaimana layaknya golok melainkan menyambar sebagaimana gaya atau ilmu silat pedang.

Hal ini mengejutkan sekaligus membuat darahnya tersirap. Dulu mendiang Si Golok Maut tak mempunyai gaya seperti ini dan tiba-tiba saja sekarang puteranya memakai golok seperti pedang. Hebatnya sama saja dan dia yang lupa bahwa senjata di tangan pemuda itu adalah Golok Penghisap Darah, golok maut yang amat berbahaya tiba-tiba harus menerima akibat dengan putusnya senjata di tangan. Golok yang tadi dipakai membunuh atau membabat kepala orang-orang bersaputangan merah tiba-tiba kini seperti agar-agar bertemu dengan Golok Maut itu, dia lupa dan kaget bukan main. Maka begitu golok masih terus menyambar dan laki-laki iniberteriak keras, melempar atau membanting tubuh bergulingan maka Wi Hong, yang menonton atau menyaksikan di sana tiba-tiba berjingkrak dan bersorak.

"Bagus.... bagus. Kejar dan terus serang jahanam itu, Liong-ji. Bunuh dia, hi-hik!"

Kedok Hitam berobah. Dalam gebrakan ini saja nyaris dia kehilangan segala-galanya. Pertama senjatanya dan kedua adalah hinaan atau ejekan yang diterima. Dia adalah tokoh utama dan dimalui orang. Kawan ataupun lawan segan kepadanya karena dialah yang membunuh Golok Maut. Hanya Pek-jit Kiam-hiap Ju Beng Tan itulah yang ditakutinya, lain-lain adalah bukan apa-apa baginya. Maka begitu sekali gebrak dia dibuat malu dan terbang semangatnya, bocah yang dihadapi itu ternyata lihai luar biasa maka mendadak laki-laki ini berteriak dan menyambar golok lain.

Kedok Hitam sudah meloncat bangun dan Giam Liong, yang berkilat-kilat dan tidak mengejar lawan ternyata berhenti sampai di situ saja. Dia telah menjatuhkan mental lawan dalam sekali gebrak itu. Minimal, Kedok Hitam tak akan tersombong lagi. Dia telah memberi pelajaran! Dan ketika benar saja lawan terbelalak dan pucat di sana, kaget dan geram serta bermacam perasaan lain yang tak dapat dikatakan lagi maka Giam Liong menunggu dan Golok Penghisap Darah atau Golok Maut telah lenyap kembali di punggungnya. Satu pameran untuk merontokkan nyali lawan!

"Kedok Hitam, majulah dan mari main-main lagi. Aku telah melihat kepandaianmu dan kupikir tak perlu membunuhmu dulu dengan senjataku. Gerakkan golokmu dan mulailah menyerang. Aku memberimu kesempatan sebanyak sepuluh jurus!"

Kedok Hitam memekik. Diejek dan diperlakukan seperti itu tiba-tiba kemarahannya menggelegak. Dia, tokoh yang telah membunuh Golok Maut tiba-tiba saja diperlakukan begitu hina oleh pemuda ini. Giam Liong telah berkata bahwa kepandaiannya telah diketahui, padahal seharusnya dialah yang berkata begitu karena kepandaian Giam Liong telah dirasakan dan luar biasa lihainya. Golok Maut yang dipegang pemuda itu benar-benar ditunjang dengan kepandaiannya yang menggiriskan. Barangkali, pemuda ini justeru lebih hebat daripada mendiang ayahnya sendiri.

Dulu Golok Maut hanya menggerakkan goloknya dengan gaya atau ilmu silat golok, tidak seperti pemuda ini yang dapat mainkan golok seperti pedang, hingga gerakannya membingungkan dan karena itu dia jatuh bangun dalam gebrakan pertama tadi. Namun karena dia juga memiliki ilmu silat golok dan bagi yang pernah menyaksikan pertandingan Golok Maut Sin Hauw dengan laki-laki itu melihat persamaan antara silat golok Kedok Hitam ini dengan mendiang Sin Hauw maka begitu membentak dan melengking mengerahkan khikangnya tiba-tiba laki-laki itu berkelebat dan golok pengganti yang ada di tangannya tiba-tiba menyambar dan mendesing bagai ribuan lebah yang siap menyengat korban.

"Kuhajar kau...!" golok bergerak menyilaukan mata, langsung berkelebat ke tenggorokan Giam Liong dan pemuda ini berkerut kening melihat gerakan laki-laki itu. Golok digenggam dengan empat jari merapat sementara ibu jari ditekuk ke dalam. Itulah gaya atau cara memegang golok yang hebat. Dengan begini senjata akan lekat seperti menyatu dan kekuatan atau daya genggam itu luar biasa lengketnya. Dipegang orang seperti si Kedok Hitam ini maka golok tak akan lepas kalau jari-jari itu tidak dipapas buntung. Dan ketika gerakan menyambar dari atas ke bawah itu membentuk lengkungan panjang seperti bianglala, Giam Liong terbelalak karena itulah jurus Bianglala Siluman Menyergap Bulan, satu dari jurus pembukaan Im-kan To-hoat (Silat Golok Dari Akherat) atau yang lazim disebut Silat Golok Maut, warisan ayahnya, tiba-tiba tersentak dan kaget lagi ketika dia mengelak mendadak golok mematah di tengah jalan dan terus menukik ke bawah menuju arah kemaluannya.

"Golok Iblis Menyambar Bola Bumi!" Giam Liong tak tahan untuk tidak berseru keras. Tentu saja dia mengenal dua jurus serangan ini karena itulah jurus-jurus dari Im-kan To-hoat. Dia sendiri telah mewarisi kitab-kitab almarhum ayahnya, ketika ibunya di Lembah Iblis menyerahkan kitab-kitab ayahnya itu, disamping kitab kecil yang dia peroleh dari sumur tua di Hek-yan-pang. Maka begitu lawan mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat Golok Maut dan jurus-jurus itu dikenal, Giam Liong berkelit namun dikejar dan terus dikejar akhirnya apa boleh buat pemuda ini menggerakkan tangannya menangkis dan serangkum angin pukulan membuat Kedok Hitam terpekik karena golok di tangan menyeleweng.

"Crat!" Ranting pohon di belakang Giam Liong roboh terbabat. Sebenarnya yang dituju adalah telinga pemuda ini namun dengan cepat pemuda ini mengibas. Sinkang yang dipelajari dari sumur tua dipergunakan dan Kedok Hitam terhuyung. Itulah sinkang yang dimiliki mendiang Sin Hauw dulu, ayah pemuda ini. Dan ketika laki-laki itu terbelalak namun menggeram dan menerjang maju lagi, dua jurus lewat dengan sama-sama mengejutkan masing-masing pihak maka untuk selanjutnya Giam Liong semakin melebarkan mata karena itulah jurus-jurus Ilmu Silat Golok Maut yang dipunyai ayahnya.

"Pencuri hina. Keji!" Giam Liong membentak dan terbakar. "Ini Im-kan To-hoat milik mendiang ayahku, Kedok Hitam. Kau mempergunakannya dan ternyata memilikinya. Kau pencuri!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam tertawa bergelak. "Im-kan To-hoat atau Im-jin To-hoat aku tak mau tahu, bocah. Yang jelas inilah ilmuku dan kalau ayahmu memiliki ilmu yang sama jangan-jangan dialah yang mencuri dan mendapatkannya secara gelap dari guru-guruku!"

"Siapa kau. Buka kedokmu itu!"

"Ha-ha, kau ingin tahu? Nanti saja, setelah kuantar ke akherat.... singgg!" dan golok yang menyambar cepat dari kiri ke kanan tiba-tiba meliuk dan turun ke bawah.

Lawan mempergunakan jurus Menabas Hati Memapas Kaki, gerakan yang akan dilanjutkan lagi dengan gerakan mencuat dari bawah ke atas. Kalau sudah begini maka tujuh tusukan bertubi-tubi akan susul-menyusul. Giam Liong tahu bahayanya ini dan cepat menjejakkan kaki berjungkir balik. Dan ketika benar saja tujuh tusukan menyusul berturut-turut, cepat, maka Giam Liong sudah membebaskan dirinya dan terbelalak oleh ilmu silat lawan. Selanjutnya pemuda itu berkelebatan ke sana ke mari menghitung jurus-jurus berikut. Dia tak boleh membalas karena sudah berjanji untuk memberi "keringanan".

Untung ilmu silat itu dikenal hingga tak begitu merepotkannya. Tapi ketika pada jurus ke delapan Kedok Hitam mengeluarkan seruan panjang, golok berubah bentuk seperti gumpalan awan maka pemuda itu tertegun karena lawan sudah merobah gerakan dan tidak mempergunakan Im-kan To-hoat lagi. Jurus-jurus berikut ciptaan laki-laki itu sendiri karena gerakan golok segera diiringi pukulan tangan kiri. Angin menyambar dingin dan pukulan tiba-tiba berobah menjadi totokan. Dua jari Kedok Hitam melejit di balik bayang-bayang golok. Giam Liong dicegat dari segala penjuru. Dan ketika pemuda itu dipaksa menangkis dan apa boleh buat mengerahkan sinkang menerima totokan maka begitu mengelak dari sambaran golok Giam Liong pun menotok sekaligus mencoba kulit tubuh laki-laki ini.

"Tuk!"

Dua-duanya tergetar dan terkejut. Giam Liong menerima totokan sekaligus "membayarnya" dengan totokan pula. Kedok Hitam mendesis namun jari pemuda itu mental, Giam Liong serasa bertemu gelembung hawa yang aneh yang membuat jarinya tertolak, sementara lawan mendesis sakit karena jarinya bertemu kulit Giam Liong yang sekeras besi! Pemuda ini telah mengerahkan sinkangnya hingga tubuhnya atos. Dan ketika kedua-duanya terbelalak dan Giam Liong serasa mengenal daya tolak lawannya tadi, yang membuat jarinya mental maka ibunya, yang melengking-lengking dan berteriak di luar berseru agar pemuda itu mencabut Golok Mautnya lagi.

"Bodoh, sombong dan pongah. Kau melebihi ayahmu, Giam Liong. Lawan seperti itu tak perlu diberi kesempatan sebanyak sepuluh jurus. Dua atau tiga saja cukup. Hayo cabut golokmu dan bunuh dia!"

"Hm..!" Kedok Hitam sudah menyerang pemuda itu lagi, kembali mainkan golok dan tangan kirinya.

"Aku terlanjur berjanji, ibu. Aku akan menepati janjiku. Tinggal dua jurus lagi dan setelah itu aku akan membunuhnya!"

"Goblok, sombong!" sang ibu membanting-banting kaki. "Sekarang dia mengeluarkan ilmu-ilmunya yang lain, Liong-ji. Kau tidak kenal. Lawanmu itu jahat dan cerdik sekali. Akalnya melebihi siluman. Hayo cepat cabut golokmu atau kau mampus..... bret!" Giam Liong tiba-tiba berseru kaget, pecah perhatiannya oleh makian atau teriakan ibunya tadi.

Pada jurus ke sembilan Kedok Hitam memang melancarkan pukulan baru. Golok tiba-tiba bergetar di tangan dan tidak bergerak, yang bergerak adalah tangan kirinya itu yang menampar atau melecut, gaya serangannya mirip ekor ular atau naga. Dan karena dia memperhatikan itu dan tidak waspada akan golok mendadak senjata itu menyambar dan tahu-tahu tanpa suara sudah menuju ke batang lehernya. Ibunya menjerit namun golok sudah benar-benar dekat, Giam Liong melempar kepala namun pada jurus ke sepuluh laki-laki itu terkekeh dan melepaskan senjatanya. Golok itu terbang seperti bernyawa!

Dan ketika Giam Liong tersentak dan kaget, tangan kiri lawan mencengkeram dan bertemu tangan kirinya sendiri, yang ditarik dan ditahan maka pemuda ini tak dapat melepaskan diri dan apa boleh buat harus menerima sambaran golok itu dengan batang lehernya. Giam Liong terkesiap namun cepat ia mengerahkan sinkang. Batang lehernya tiba-tiba menggembung terisi tenaga sakti penuh. Dan ketika golok merobek leher bajunya, masuk dan menusuk batang lehernya, namun tertahan oleh gelembung sinkang yang sudah melindungi pemuda itu maka golok patah dan Giam Liong cepat menarik tangannya seraya melepas tendangan berputar.

"Dess!" Kedok Hitam terpelanting dan terkejut. Pangkal pahanya bertemu tendangan kuat dan kalau bukan dia tentu tulang-tulangnya hancur.

Giam Liong berhasil membebaskan diri dan ibunya berkelebat, melengking dan menyambar anaknya itu karena Giam Liong terhuyung dua tindak dan pucat. Dia juga merasakan kokohnya paha lawan ketika ditendang. Paha Kedok Hitam itu bagai batang besi yang kokoh di samudera, tanda bahwa lawan memang memiliki sinkang luar biasa meskipun akhirnya dibuat terpelanting, hal yang bukan semata kekuatan Giam Liong sendiri melainkan juga karena disebabkan tertegunnya Kedok Hitam itu melihat golok terbangnya patah bertemu leher si pemuda.

Laki-laki itu terbelalak karena Giam Liong ternyata luar biasa sekali. Di samping hebat ilmu kepandaiannya juga hebat pula sinkangnya. Golok itu patah menjadi dua, padahal kalau orang lain tentu akan terkapar dan tembus dihajar lontarannya tadi, biarpun Mindra atau Sudra sendiri. Dan ketika laki-laki itu meloncat bangun melihat Wi Hong melengking-lengking mencengkeram puteranya, marah dan cemas karena gebrakan terakhir ini memang sungguh berbahaya sekali maka laki-laki itu tiba-tiba berkedip dan berbisik pada dua kakek India itu, rekannya yang juga tertegun dan takjub melihat kehebatan Giam Liong, melalui ilmu mengirim suara.

"Mindra, Sudra, aku kehilangan senjataku dua kali. Kalian tahan dulu pemuda ini sementara aku akan mengambil pusakaku!"

Dua kakek itu terkejut. Kedok Hitam tiba-tiba berkelebat dan meninggalkan pertempuran. Giam Liong yang sedang dicaci maki ibunya berkali-kali ditepuk pundaknya, tanda betapa gemas dan marah wanita itu karena Giam Liong terlalu mengalah. Tapi begitu Kedok Hitam lenyap dan Giam Liong melihat ini, ibunya membelakangi dan karena itu tak melihat perginya Kedok Hitam tiba-tiba pemuda itu berseru keras mendorong ibunya.

"Heiii...!" Giam Liong berkelebat membuat ibunya terpelanting. "Pengecut kau, Kedok Hitam. Jangan lari!"

Namun dua kakek India itu tiba-tiba menghadang. Mereka mengira Kedok Hitam benar-benar akan mengambil senjata pusakanya, karena itu pasti kembali. Maka begitu Giam Liong membentak dan akan mengejar laki-laki itu, pemuda ini marah karena lawan melarikan diri mendadak dua kakek itu melompat dan berseru keras. Sudra menggerakkan sisa cambuknya sementara Mindra juga menggerakkan sisa nenggalanya. Dua kakek itu sama-sama mempergunakan sisa senjata mereka. Tapi begitu Giam Liong membentak dan menggerakkan tangan ke punggung, sinar atau cahaya putih berkelebat menyilaukan mata mendadak dua kakek itu menjerit karena tahu-tahu nenggala atau cambuk di tangan mereka putus sebatas pergelangan tangan.

"Kalian minggirlah.... tas-crakk!" Giam Liong tak menghiraukan kakek-kakek itu, bergerak dan sudah mengelebatkan goloknya yang kembali lenyap ke punggung. Senjata itu hanya digerakkan sekali saja namun itu saja sudah cukup. Cambuk dan nenggala dua kakek itu putus, nyaris membabat pergelangan tangan mereka sendiri yang tentu bakal buntung! Dan ketika Giam Liong berkelebat dan mengejar lawannya lagi, dua kakek itu berteriak melempar tubuh bergulingan maka Wi Hong melengking dan menyusul puteranya itu, juga orang-orang bersaputangan hitam yang tiba-tiba bersorak dan mengejar si Kedok Hitam.

"Horee.... tangkap dan seret si Kedok Hitam itu, Naga Pembunuh. Biarkan kami ikut mencincangnya...!"

Naga Pembunuh Jilid 17

NAGA PEMBUNUH
JILID 17
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"MEREKA adalah bekas orang-orangnya Chu Wen. Malam nanti kita harus waspada dan satu di antara kalian mendapat tugas mencari puteri ongya!"

"Ah, puteri ongya? Siapa ini?"

"Yu Yin namanya, Mindra. Dan sekarang satu di antara kalian harus mencari dan membawanya kembali. Anak itu merat!"

"Hm-hm!" Sudra tiba-tiba bersinar dan bercahaya pandang matanya. "Bagaimana ciri-ciri bocah ini, Kedok Hitam? Apakah dia masih belasan tahun?"

"Ya, usianya tujuhbelas lebih sedikit, nakal dan suka menggoda orang. Cantik dan kadang-kadang suka berpakaian lelaki!"

"Hm, kalau begitu siapa yang harus mencari? Aku atau Mindra?"

"Terserah, pokoknya satu di antara kalian. Aku harus menjaga tempat ini!"

"Tapi kita akan disatroni musuh, masa harus pergi?" Mindra tiba-tiba mengerutkan keningnya. "Sebaiknya tunda dulu pekerjaan itu, Kedok Hitam. Biar kami berdua disini dan besok Sudra melaksanakan tugasnya."

Kedok Hitam berpikir. Bola matanya bergerak dua kali tapi akhirnya mengangguk. Rupanya kata-kata itu dapat diterima dan iapun setuju. Dan ketika ia berkata baiklah begitu maka Kedok Hitam berkelebat sementara dua kakek India ini berdebar ingin tahu siapa saja orang-orangnya Chu Wen itu, mendengar seruan kawan mereka.

"Mindra, tengah malam ini diperkirakan belasan orang akan menyelinap. Bunuh mereka dan jangan diberi ampun!"

Dua kakek itu saling pandang. Mereka mengangguk dan sama-sama tak menjawab. Rasa penasaran tapi juga kagum mereka masih belum lenyap. Kedok Hitam itu sungguh luar biasa. Tapi begitu lawan menghilang dan Kedok Hitam kembali ke istana maka dua kakek itupun melempar tubuh dan bersandar dengan sikap lunglai.

"Sial, si Kedok Hitam ini semakin pandai saja. Kita menjadi bukan apa-apa!"

"Ya, tapi sikapnya juga berobah, Mindra. Sekarang kita cukup dihargai meskipun kepandaian kita masih kalah olehnya!"

"Barangkali atas suruhan Coa-ongya. Sebenarnya lebih baik lagi kalau sikap ramahnya itu timbul dari hatinya sendiri, bukan perintah orang lain!"

"Sudahlah, kita mendapat perlakuan yang manis, Mindra. Betapapun Kedok Hitam itu tidak seperti dulu. Dia sudah tidak merendahkan kita lagi!"

"Hm-hm, baiklah. Kita harus tahu diri tapi penasaranku ini akan kutumpahkan kepada pendatang-pendatang yang malam nanti akan datang mengacau!"

"Ya, aku juga. Penasaran dan kemarahanku ini akan kuhabiskan kepada mereka-mereka itu. Mari beristirahat dan kita bersamadhi!"

Dua orang itu bersila. Mereka sudah memejamkan mata dan bersamadhi. Tenaga yang sudah dikuras untuk menghadapi si Kedok Hitam tadi kini harus dipulihkan. Maka begitu keduanya tidak bercakap-cakap lagi dan menarik perhatian kepada pengembalian tenaga maka mereka inipun sudah tidak bergerak dan duduk seperti patung.

* * * * * * * *

Kentongan tanda larut mulai dipukul orang. Lonceng berdentang sebelas kali dan gerimis tiba-tiba mengguyur. Istana, yang semula gemebyar tiba-tiba beberapa bagiannya dipadamkan. Itulah tanda penghuninya mulai masuk kamar dan beristirahat. Hanya lampu-lampu kecil dipasang dan lampu-lampu besar yang menyilaukan dibunuh. Malam tiba-tiba menjadi dingin dengan datangnya gerimis itu. Dan ketika angin mendesau dan tajam menyapu kulit, beberapa penjaga menguap oleh kantuk yang mengganggu maka beberapa bayangan berkelebatan di timur istana dengan topeng-topeng merah, meloncati tembok-tembok tinggi.

"Sst, hati-hati. Berpencar dan jangan membuat berisik, Pacul Sakti. Ingat dan patuhi kata-kataku tadi dengan anak buahmu. Kita semua tak boleh gegabah!"

"Baik, aku mengerti, Dewa Hitam. Kami akan melaksanakan tugas kami dengan penuh kecermatan. Kita berpencar dan sampai bertemu lagi dititik tengah!"

Satu di antara bayangan-bayangan hitam itu memisahkan diri. Dia seorang laki-laki tinggi tegap dengan sebuah pacul mencangklok di pundak. Mata paculnya berkilat tertimpa sinar lampu, tajam dan berkilauan. Mengerikan. Dan ketika Dewa Hitam, laki-laki tinggi besar yang ada di tengah memberi aba-aba kepada empat temannya yang lain, mereka ternyata berjumlah enam orang maka Dewa Hitam itu berbisik agar empat temannya ke kiri kanan.

"Kau," katanya kepada seseorang di sebelah kiri. "Pergi dan laksanakan tugasmu di bagian utara, Tombak Maut. Beri tanda anak buahmu begitu para penjaga berhasil kau lumpuhkan. Hati-hati, jangan berisik dan membuat suara!" lalu menuding lagi kepada tiga yang lain berturut-turut lelaki tinggi besar ini melepas perintah, "Kalian berdua menuju barat dan timur. Sedang Papan Besi bersama aku. Nah, masing-masing melaksanakan tugas dan cepat mulai!"

Bayangan-bayangan itu bergerak. Dua yang pertama sudah berkelebat ke barat dan timur, yang lain tadi sudah ke utara dan Papan Besi, bayangan pendek gempal yang bersama laki-laki tinggi besar ini bergerak ke tengah. Mereka berpencar dan sudah bergerak sendiri-sendiri. Dan ketika istana sudah didatangi dari segala penjuru sementara gerimis rata mengguyur bumi maka enam bayangan yang bergerak ke sana ke mari itu tiba-tiba sudah menyergap para penjaga yang terkantuk-kantuk berdiri di depan pos ronda.

Mereka itu tak menyangka adanya sergapan dan pisau atau golok tahu-tahu mengiris cepat, menguak leher membuat luka dan robohlah enam penjaga oleh masing-masing enam bayangan. Sebelum menjerit mulut mereka sudah ditutup dan bergelimpanganlah tubuh-tubuh tanpa nyawa. Luka menganga yang robek lebar itu sungguh mengerikan sekali, darah segera berceceran. Tapi karena gerimis mengguyur tempat itu dan enam penjaga yang roboh digorok sudah dilempar mayatnya ke dalam semak kerimbunan belukar, bayangan-bayangan ini terus bergerak dan maju ke tengah maka tiba-tiba belasan penjaga sudah dibunuh dan para pendatang bertopeng merah ini berhadapan dengan selapis penjaga lain yang lebih banyak.

"Heii, siapa itu!" Seorang penjaga melihat satu dari bayangan-bayangan ini. Dia berteriak dan tentu saja teman-temannya terkejut, menoleh dan terlihatlah pemandangan mengerikan ketika pisau bergerak ke leher penjaga, menggorok dan tergulinglah penjaga itu oleh satu sergapan cepat.

Dan ketika bayangan itu berkelebat menghilang namun gerakannya sudah diketahui tuan rumah maka gemparlah tempat itu oleh kejadian ini. Penjaga lapis kedua memanggil penjaga lapis pertama namun tak ada jawaban. Dan ketika di tempat lain juga terdengar seruan-seruan kaget di mana penjaga yang lain juga disergap dan bertemu dengan pendatang-pendatang malam ini, Dewa Hitam dan teman-temannya masuk kian ke dalam maka segera terdengar pekik atau bentakan-bentakan marah.

"Awas, musuh mendatangi kita. Kita disergap. Awas...!"

Bunyi aba-aba atau tanda bahaya dipukul. Malam yang larut dan sudah mendekati titik tengahnya tiba-tiba berobah gaduh dan ramai. Suasana yang semula sunyi mendadak riuh oleh jerit dan kemarahan ditahan. Enam bayangan berkelebatan ke sana-sini dan para penjaga roboh. Dan ketika para pengawal melihat bahwa itulah rombongan orang-orang bertopeng merah, sepak terjang mereka sungguh cepat dan nggegirisi maka di bagian utara sebatang cangkul membabat atau menyabet leher lawan dengan gerakan luar biasa.

"Hayo, kalian maju. Kubunuh kalian, anjing-anjing buduk. Mana majikan kalian dan biar kucangkul batang lehernya.... crat!" sebuah kepala mencelat dari tempatnya, dibabat atau dicangkul senjata mengerikan ini dan bergeraklah bayangan itu memutar tubuhnya. Dia menghadapi tiga pengeroyok namun dengan mudah dirobohkannya lawan-lawannya itu. Mula-mula sebuah kepala terlepas namun disusul oleh dua yang lain. Tiga penjaga roboh berturut-turut dalam waktu hampir bersamaan, cepat dan mengerikan karena begitu kepala menggelinding segera darah memuncrat dengan amat derasnya. Pacul atau senjata maut di tangan laki-laki itu sungguh menyeramkan sekali, tak kenal ampun. Dan ketika penjaga yang lain terbelalak dan mundur berteriak ketakutan, laki-laki ini tertawa dan mengejar maka di bagian lain sebatang tombak juga menari-nari menusuk atau mendodet perut penjaga.

"Ha-ha, mari maju. Kalian makanan empuk. Mari... mari nikmati tombakku.... cus-cuss!" usus terburai dari perut dua penjaga, yang berteriak dan seketika tewas dan gaduhlah tempat itu pula oleh sepak terjang si tombak maut ini. Dia tak kalah ganas atau berbahaya dengan si pembawa pacul di sana, bahkan barangkali lebih berbahaya karena gagang tombaknya juga dapat dipakai untuk mengemplang atau menyodok perut penjaga, yang ada dibelakang.

Dan ketika berturut-turut muncul pula seorang pendek gempal yang menumbuk-numbukkan badannya dan seorang laki-laki tinggi besar yang mengibas atau mendorong-dorong para penjaga hingga jatuh bangun maka istana atau tempat tinggal Coa-ongya ini geger.

Tigapuluh pengawal roboh binasa dan serbuan atau amukan enam orang ini sudah masuk ke dalam, cepat luar biasa mereka sudah meluruk ke dalam gedung dan tentu saja para penjaga kelabakan. Si pendek gempal itu, yang menumbuk-numbukkan badannya ternyata tak apa-apa dihajar golok atau tombak. Badannya seatos besi dan tombak atau golokpun patah-patah. Derai ketawanya selalu mengiringi patahnya senjata-senjata tajam yang bertemu tubuhnya.

Dan karena cara bertempurnya aneh karena suka menumbuk-numbukkan badan, bagai buldoser atau tank mini yang tak dapat dipukul mundur maka pengawal menjadi ngeri dan pucat oleh sepak terjangnya. Mereka dihajar dan tunggang-langgang, terus didesak dan apa boleh buat berteriak-teriak memanggil bala bantuan, penjaga lapis ketiga yang ada di atas, karena gedung Coa-ongya berlantai tiga.

Dan ketika bala bantuan datang dan tiga bayangan berkelebat hampir berbareng, meluncur dan tahu-tahu ada di tengah ruangan itu maka si Pacul Kilat, yang berada paling dekat dan berdiri di muka pintu tembusan mendadak berobah mukanya melihat dua kakek Thian-tok yang menggeram pada mereka.

"Mindra dan Sudra...!"

Dua kakek itu tertegun. Mereka memang Sudra dan Mindra adanya, dua kakek India yang baru saja menyelesaikan samadhinya. Mereka mendengar ribut-ribut di luar dan segera datang, hampir bersamaan dengan si Kedok Hitam yang meluncur di belakang. Dan ketika dua kakek itu terbelalak dan marah melihat semuanya bertopeng merah, menyembunyikan wajah di balik saputangan mendadak Pacul Kilat menerjangnya berseru pada teman-temannya.

"Awas, dua kakek India ada di sini, teman-teman. Rupanya Sudra dan Mindra ini kembali menjadi anjing Coa-ongya!"

Sudra berkelit. Dialah yang diserang tapi begitu dia berkelit mendadak pacul terus menyambar saudaranya, Mindra. Mindra juga berkelit namun selanjutnya pacul mengejar dan bertubi-tubi membabat, gerakannya kian berbahaya dan menyerang siapa saja, baik Mindra maupun Sudra. Tapi begitu dua kakek itu mendengus dan Mindra menggerakkan nenggala-nya maka terjadilah benturan keras di mana laki-laki itu terhuyung dan nyaris terpelanting.

"Crangg!"

Pacul Kilat mendelik. Dia menggeram dan membentak maju, Mindra akhirnya tahu bahwa lawan yang dihadapi dapat diatasi, karena benturan tadi menunjukkan sinkangnya lebih kuat daripada lawan. Maka begitu dia berseru pada Sudra agar pergi membantu yang lain, lawan berpacul ini tak usah ditakuti maka laki-laki itu menerjang dan membabi-buta menyabetkan senjatanya.

"Hm, aku serasa mengenalmu," Mindra berkelit ke sana ke mari. "Buka topengmu, manusia busuk. Atau kau mampus!"

"Bedebah tak tahu malu!" si Pacul Kilat memekik dan menerjang, semua serang annya berhasil dikelit. "Kau orang asing suka mencampuri urusan orang lain, Mindra. Pulanglah ke negerimu atau kau meninggalkan mayatmu disini!"

"Hm, jangan sombong. Paculmu tak kutakuti, manusia kerdil. Aku dapat memaksamu dan lihat ini... crang-crangg!" dan pacul yang terpental tiba-tiba bertemu nenggala mendadak disusul oleh gerakan tangan kiri Mindra yang melepas Hwi-seng-ciang.

Laki-laki itu terkejut dan mengelak namun tak keburu, apa boleh buat menangkis tapi dia malah terbanting. Dan ketika laki-laki itu berteriak kaget dan melempar tubuh bergulingan, menjauh, maka Mindra tertawa mengejek mengejar lawannya, ganti melakukan serangan-serangan dan terdesaklah Si Pacul Kilat itu oleh tekanan lawan. Hwi seng-ciang masih terus menyambar dan nyata dia tak mampu menandingi pukulan lawannya itu. Hawa panas dan percikan bintang-bintang api membakar tubuhnya, mula-mula pakaian hingga berlubang-lubang sampai akhirnya kulit tubuh yang menjadi matang biru. Si Pacul Kilat menderita. Namun ketika ia didesak dan terus diteter lawan, paculnya menangkis nenggala sementara tangan kirinya menghadapi pukulan-pukulan Bintang Api maka si Tombak Maut tiba-tiba berkelebat dan membantunya.

"Pacul Kilat, jangan takut. Aku membantumu!" dan tombak yang menyambar serta mendorong nenggala akhirnya membuat si Pacul Kilat bernapas lega dan dapat memperbaiki diri. Tombak Maut mencecar lawannya dan senjata yang jauh lebih panjang itu mula-mula mampu menekan nenggala. Tapi ketika kakek India itu berseru marah dan melepas Hwi-seng-ciangnya ke arah laki-laki ini maka Tombak Maut juga tergetar dan terhuyung mundur, tak mampu menahan.

"Kita harus mengeroyok. Kepung saja dari muka dan belakang!"

"Hm!" kakek itu tertawa. "Boleh saja, tikus-tikus cilik. Tapi sekarang aku ingat bahwa kau kiranya si Pacul Kilat, orang yang dulu pernah kuhajar dan lari terbirit-birit!"

Si Pacul Kilat marah, memekik dan menyerang lagi dan Mindra sekarang mengenalnya. Memang dulu dia pernah berhadapan dengan kakek ini dan terpaksa melarikan diri, bukan tandingannya. Tapi karena sekarang ada Tombak Maut di situ dan dia tak menyangka bahwa kakek ini ada disitu, kembali membantu Coa-ongya karena dulu kakek ini sudah dikabarkan pergi maka dia marah dan membentak membabatkan senjatanya. Lawan mengelak namun Tombak Maut menyerangnya dari samping kanan, tombak panjang menyambar dan kakek itu terpaksa menggerakkan nenggala ke belakang. Dan ketika tombak terpental namun dua orang itu sudah menyerang lagi maka kakek ini harus berhati-hati dan menggeram karena untuk beberapa jurus dia diteter.

Namun Mindra adalah kakek yang betul-betul hebat. Ditekan dan dicecar dari muka dan belakang ia tak kelihatan gugup. Sinkangnya masih lebih kuat daripada lawan dan setiap kali ia menangkis setiap kali itu pula lawan terhuyung ke belakang. Tombak Maut dan Pacul Kilat sama-sama terbelalak dan kagum tapi juga marah. Kakek Thian-tok ini lihai! Tapi begitu mereka menyerang lagi dan tak takut akan kelebihan lawan, Mindra menjadi geram dan ikut marah maka kakek itu teringat pada Hwi-seng-ciangnya lagi dan dikeluarkannyalah pukulan ini ke arah dua orang itu.

Pacul Kilat maupun Tombak Maut ternyata sama-sama tak tahan. Mereka silau oleh percikan bintang-bintang api itu dan selalu mengelak. Namun karena lawan terkekeh mengejar dan Pukulan Bintang Api ini memang a-mat mengganggu, menyengat dan membakar kulit tubuh maka di sini dua orang itu terdesak dan tombak panjang tak berguna banyak dipakai menyerang.

Tombak Maut sering mengelak kalau pukulan Bintang Api menyambar, di samping tak kuat hawa panasnya juga sengaja menghidar dari percikan bintang-bintang api itu. Pakaiannya juga berlubang-lubang dan ia melotot karena hal itu sama dengan rekannya, si Pacul Kilat. Dan karena ia sering menghindar dan tombak jadi tak berguna, sementara Pacul Kilat juga begitu karena Hwi-seng- ciang memang luar biasa maka begitu mereka mengelak kiri kanan dan lawan mengejar serta terus melepas pukulan-pukulan Bintang Apinya maka tiba-tiba dua orang ini terdesak dan mereka malah ditekan!

"Ha-ha!" kakek itu terbahak-bahak. "Ayo mana ilmu kepandaian kalian, Pacul Kilat. Mana itu kata-kata kalian yang ingin membunuh aku!"

"Keparat!" Pacul Kilat memekik. "Kau sombong namun kami belum roboh, Mindra. Gerakkan nenggalamu dan tunjukkan pula kepada kami bahwa kau sanggup membunuh kami!"

"Hm, hal itu pasti kulaksanakan. Dan sekarang akan kumulai, lihat...!" dan ketika kakek itu melepas Hwi-seng-ciangnya lagi hingga dua orang itu mundur.

Pacul Kilat membentak karena selalu ia terhuyung maka saat itulah nenggala bergerak mengejar dirinya, menusuk atau mematuk dan Pacul Kilat terkejut karena ia sedang buruk posisinya, belum sempat memperbaiki diri. Dan ketika nenggala tahu-tahu ada di depan hidung dan laki-laki ini berteriak keras maka apa boleh buat ia membabatkan paculnya dan nenggala itu dihantam kuat-kuat.

Namun laki-laki ini lupa. Mindra memiliki sinkang diatas dirinya dan tangkisan atau hantaman paculnya itu tak berakibat banyak. Nenggala tergetar sedikit dan senjata yang semula menuju hidung itu tiba-tiba turun ke bawah, tertekan oleh hantaman pacul. Dan karena senjata itu masih terus menusuk dan bergerak kuat maka perut laki-laki itu tergurat dan Pacul Kilat menjerit karena nyaris perutnya dibelah.

"Aughh..!" Jerit atau lengking panjang itu mengiringi robohnya laki-laki ini. Senjata di tangannya terlepas dan kakek India itu terkekeh kejam, membalik dan melepas Hwi-seng-ciangnya karena saat itu tombak panjang tiba-tiba berkesiur menyambar.

Tombak Maut melihat keadaan bahaya dan ingin menolong temannya, melepas tombak nya itu yang terbang menyambar dengan cepat. Tapi karena lawan mendengar kesiur anginnya dan Hwi-seng-ciang menampar tombak itu, yang patah dan hancur di tengah jalan maka nenggala tiba-tiba bergerak dan patahan tombak yang akan jatuh ke lantai tiba-tiba dijentik dan terbang menyambar ke arah Pacul Kilat, yang sedang roboh di sana.

"Cep!" Ujung atau patahan tombak itu amblas di dada laki-laki ini. Pacul Kilat yang sedang menggelepar oleh sakitnya di perut tiba-tiba roboh dan binasa seketika. Hanya keluhan tertahan sempat terdengar dan setelah itu laki-laki itu terguling. Mindra telah membunuhnya! Dan ketika Tombak Maut terbelalak dan pucat melihat itu, senjatanya dipakai untuk membunuh temannya sendiri tiba-tiba laki-laki ini berteriak dan histeris menerjang lawan.

"Tua bangka, kau keji dan terkutuk!"

"Heh-heh," nenggala kembali bergerak "Kaulah yang tak tahu diri, bocah. Mampus dan susullah temanmu di neraka.... cus!" dan nenggala yang tepat menyambut pukulan laki-laki ini, tembus di telapak tangan tiba-tiba membuat Tombak Maut berteriak dan kesakitan hebat, mau menarik tangannya tapi kaki kakek itu bergerak, tepat sekali mengenai selangkangannya.

Dan ketika Tombak Maut menjerit dan terpelanting roboh, alat kelaminnya pecah maka saat itu di tempat lain terdengar teriakan-teriakan dan puluhan bayangan hitam menyerbu dari luar. Seakan sepasukan iblis yang datang menggempur!

"Serbu! Cari Coa-ongya dan bunuh anjing-anjing pembantunya ini..!"

Mindra terkejut. Baru saja dia merobohkan dua orang lawannya tiba-tiba datang belasan bayangan hitam mengeroyoknya. Mereka berteriak marah melihat tewasnya Pacul Kilat dan Tombak Maut. Dan ketika kakek itu mengelak dan melepas pukulan-pukulan Hwi-seng-ciangnya, marah karena tiba-tiba tiga belas orang mengerubutnya maka di tempat lain juga saudaranya diserbu dan dikeroyok belasan orang, termasuk Kedok Hitam yang juga baru saja merobohkan dua orang kembar yang tinggi serta bentuk tubuhnya sama.

"Keparat!" kakek itu melengking. "Siapa kalian ini, tikus-tikus busuk. Dan kenapa datang mencari penyakit!"

"Mereka bekas orang-orangnya Chu Wen!" Kedok Hitam berseru dari jauh. "Inilah yang kukatakan kepadamu, Mindra. Bunuh dan basmi mereka kecuali pimpinannya. Cari dia itu!"

Kakek ini terbelalak. Tigabelas pengeroyok yang tiba-tiba menyerang dan begitu beringas menggerakkan senjata rata-rata ditutup saputangan merah menyembunyikan wajah. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berkepandaian cukup tinggi, sedikit di bawah Pacul Kilat atau pun Tombak Maut dan tentu saja kakek ini sibuk. Satu lawan tigabelas bukanlah pekerjaan mudah. Dan ketika dia menggeram dan melepas Hwi-seng-ciangnya, mengiringi nenggala yang sudah dipakai menangkis atau menghalau senjata-senjata lawan maka Sudra, saudaranya, juga kewalahan oleh serbuan begini banyaknya lawan, yang meluruk dan menerjang bagai harimau-harimau lapar yang kesetanan.

"Tar-tar!" cambuk meledak-ledak di udara. "Enyah kalian, tikus-tikus busuk. Pergi dan kuantar ke neraka!"

Dua orang roboh. Mereka terkena nenggala dan cambuk dari kakek India ini, Sudra dan Mindra memang lihai. Tapi ketika yang lain datang membantu dan jumlahnya kembali tetap, dua kakek itu marah maka di tempat Kedok Hitam terjadi keroyokan sengit yang bahkan dilakukan oleh hampir duapuluh orang.

"Ini Kedok Hitam, antek Coa-ongya paling lengket. Bunuh dan jangan biarkan ia hidup!"

Seorang laki-laki tinggi besar, gagah dan berperawakan tegap membentak pada teman-temannya untuk mengurung dan menyerang laki-laki itu. Laki-laki tinggi besar itu sendiri bersenjatakan gendewa besar dan dia telah membunuh belasan pengawal, hal yang membuat Kedok Hitam marah dan menyerangnya. Tapi ketika pendek gempal membantu dan dua laki-laki kembar juga bergerak dan mengeroyok Kedok Hitam ini, sayangnya mereka lalu tewas maka pendek gempal bersuit dan bersama temannya yang tinggi besar ini mereka memanggil bantuan di mana puluhan orang tiba-tiba muncul dan langsung meluruk ke situ, pecah dan mencari lawan masing-masing di mana akhirnya mengeroyok Sudra dan Mindra serta si Kedok Hitam ini.

Memang hanya tiga orang inilah yang terlihat paling lihai, mereka memukul mundur dan bahkan membunuh beberapa di antaranya. Dan ketika si tinggi besar mencabut gendewanya dan si pendek gempal mengeluarkan sepotong papan besi, dia tak sanggup menahan pukulan-pukulan lawan dengan tubuhnya, padahal tadi mampu menahan dan bahkan menolak senjata para pengawal kini tiba-tiba ganti-berganti dengan si tinggi besar sudah membalas dan menyerang si Kedok Hitam ini.

Namun karena Kedok Hitam terlalu lihai dan dorongan-dorongan pukulannya amatlah kuat, mereka sering terhuyung dan bahkan terpelanting maka apa boleh buat mereka memanggil bala bantuan dan bayangan-bayangan hitam yang bersembunyi dan sebenarnya ditugaskan untuk menghadang bantuan dari luar akhirnya ditarik dan membantu si pendek gempal dan si tinggi besar ini.

Kedok Hitam terbelalak. Dua orang lawan utamanya itu ganti-berganti memberi aba-aba. Mula-mula dia menyangka si tinggi besar ini yang menjadi pemimpin, karena dialah yang pertama berseru dan memberi perintah. Namun ketika si pendek gempal juga sama-sama memerintah dan tadi dua laki-laki kembar juga saling mengeluarkan perintah dan aba-aba maka Kedok Hitam bingung siapa sebenarnya pimpinan dari para penyerbu ini. Mereka tampaknya sama-sama setingkat, jadi masih ada orang lain dibelakang orang orang ini.

Dan ketika dia mulai marah dan berhasil membunuh dua laki-laki kembar, si pendek gempal dan si tinggi besar terkejut dan cepat memanggil bala bantuan maka meluruklah puluhan bayangan hitam itu ke gedung Coa-ongya. Mereka langsung membantu yang perlu dibantu. Kedok Hitam mendapat lawan paling banyak karena memang Kedok Hitam inilah yang paling lihai. Dan ketika serbuan datang bagai air bah, sisa yang lain memencar dan membabat para pengawal maka sebentar saja gedung Coa-ongya sudah dipenuhi orang-orang ini dan mereka berlalu-Ialang cepat mencari atau ingin menangkap Coa-ongya.

"Cari dan tangkap pangeran itu. Seret dia ke sini!"

Kedok Hitam menggeram. Tempatnya diobrak-abrik dan pengawal tiba-tiba lari cerai-berai tak kuat menahan serbuan itu. Jumlah lawan terlalu banyak! Dan karena hanya tiga orang ini yang mampu bertahan dan membendung lajunya lawan, Mindra dan Sudra bergerak cepat membalas serangan lawan maka hanya tiga orang inilah yang akhirnya menjadi perhatian dan pusat serbuan lawan.

"Bunuh mereka ini. Antar ke neraka!"

"Hm!" Sudra mendengus, cambuknya menjeletar-jeletar. "Kalian yang akan kuantar ke neraka, tikus-tikus busuk. Dan satu per satu boleh menikmati gigitan cambukku ini.!" "Aduh!" seorang pengeroyok berteriak, benar saja menerima "gigitan" cambuk dan terjengkang melepaskan senjatanya. Gigitan itu bukan gigitan biasa melainkan sentuhan menyakitkan yang membuat kulit luka terbakar.

Sudra mengerahkan sinkangnya dalam ujung cambuknya ini hingga setiap kali "menggigit" tentu lawan tak tahan menjerit, roboh dan terlepas senjatanya karena kulit maupun tubuh orang itu hangus. Inilah keistimewaan kakek itu dalam memainkan cambuknya, apalagi cambuk itu terbuat dari baja yang tanpa di"isi"-pun tentu sudah menyakitkan. Maka begitu lawan terjungkal dan tak mampu bangun lagi, pingsan dan roboh berteriak maka yang lain mendapat bagian lagi namun kakek ini juga menerima bacokan atau tusukan senjata tajam.

Namun Sudra melindungi tubuh hingga kebal. Sinkang kakek ini cukup kuat kalau hanya untuk menghadapi orang-orang yang di bawah kelasnya, biarpun dia dikeroyok. Namun ketika belasan orang itu mulai mengarahkan senjata mereka pada hidung atau mata, daerah yang tentu saja paling lemah maka serempetan sebuah pedang nyaris saja mengenai mata kiri kakek itu.

"Keparat!" kakek ini berseru. "Robohlah kau, tikus busuk. Terima lecutan cambukku tar!" orang itu menerima balasan, menjerit dan roboh dengan kepala berlubang karena ujung cambuk mengenai batok kepalanya.

Kakek ini marah dan menjeletarkan cambuknya di saat orang itu terhuyung, karena serangannya tak mengenai mata kakek ini. Dan ketika orang itu roboh dan dua lawan tewas seketika, yang lain terbelalak dan gentar maka di sana Mindra juga' merobohkan dua lawan lagi dengan nenggalanya.

Kakek ini, seperti juga Sudra, marah arena berkali-kali lawan-lawannyaitu mengarahkan senjata ke lubang hidung atau biji matanya. Sekali kesempatan telinganya juga tertusuk sebatang tombak bercagak, hampir saja tembus kalau dia tidak cepat melempar kepala membuang arah tusukan itu. Dan ketika dia membenlak dan melepas Hwi-seng-ciangnya, mendorong mundur yang lain-lain maka neng-gala bergerak menyambar pantat laki-laki yang menusuk lubang telinganya tadi.

"Aughh...!" laki-laki itu terputar, menjerit. "Tobat, kakek iblis. Tapi kaupun terimalah ini... wut!" dan tombak bercagak yang dilemparkan atau terbang menyambar Mindra tiba-tiba disambut dengusan pendek di mana kakek itu mengibas dan menampar hancur tombak itu, nenggala terus berputar mengikuti gerakan laki-laki itu dan tahu-tahu sudah tembus ke perut.

Laki-laki ini berteriak dan seketika menggelepar, hilang ingatannya karena seketika itupun nyawanya sudah terbang ke alam halus. Mindra melukai dan membunuh lawannyaitu dengan mata dingin. Lalu ketika yang lain marah dan berteriak menerjang, sudah mampu menguasai diri ketika dibuat terhuyung oleh tamparan Hwi-seng-ciang maka kakek ini membalik dan menghadapi lagi lawan-lawannya dengan gemas dan geram.

"Crang-crang-crangg!"

Orang-orang itupun terpelanting. Mereka kalah kuat dan cepat melempar tubuh bergulingan untuk menyelamatkan diri, bangun dan menerjang lagi karena mereka memang orang-orang nekat yang termasuk gagah berani. Dan ketika kakek itu menjadi gusar karena lawan tak mau sudah, tampaknya beberapa mayat yang ada di situ tak membuat mereka mundur, meskipun gentar, akhirnya kakek ini berkelebatan dan nenggala diputar cepat sambil tangan kiri terus melancarkan pukulan-pukulan Hwi-seng-ciang.

Orang-orang itu akhirnya pucat karena tamparan hawa panas menahan mereka. Namun karena jumlah masih banyak dan maju lagi untuk mengeroyok maka kakek ini benar-benar habis sabar dan Hwi-seng-ciang maupun nenggalanya menjadi senjata maut yang buas dan tak kenal ampun. Bacokan atau tusukan senjata tajam ditangkis atau diterima kakek ini, yang mental karena bertemu tubuhnya yang penuh tenaga sakti. Dan ketika Hwi-seng-ciang atau nenggala membalas, bergerak bagai petir di angkasa maka tujuh orang akhirnya roboh dan tewas, menjadi korban kemarahan kakek ini.

"Ayo ayo maju lagi. Biar kubunuh habis!"

Lawanpun ngeri. Akhirnya nenggala dan kakek itu beterbangan bagai burung menyambar-nyambar. Mindra mengeluarkan kesaktiannya dan bergeraklah senjata atau pukulannya itu menghajar lawan. Dan karena secara orang per orang lawan lawannya ini masih di bawah kakek itu, Mindra menampar atau menusuk maka lagi-lagi lima orang roboh terjungkal. Hal ini menciutkan nyali dan belasan orang itu mundur, mengepung dari jauh. Dan ketika di tempat lain juga terdengar jeritan-jeritan ngeri, orang-orang yang terkena cambuk atau pukulan Sudra maka di tempat Kedok Hitam justeru terdengar teriakan atau pekik tertahan yang lebih cepat lagi.

"Mundur...!" si pendek gempal akhirnya memberi aba-aba, pucat. "Mundur, kawan-kawan. Jauhi laki-laki ini dan keluarkan jala berduri!"

Dua puluh laki-laki yang mengeroyok Kedok Hitam tiba-tiba mundur. Mereka berloncatan menjauh karena Kedok Hitam tiba-tiba menjadi ganas. Laki-laki itu mengeluarkan pukulan jarak jauhnya yang hebat di mana sekali tampar atau kibas maka merekapun terdorong. Hawa panas menyertai pukulan itu dan mereka tak tahan. Apalagi, di samping panas juga tajam seperti bacokan pedang. Ini memang mengerikan!

Maka begitu mereka berloncatan mundur dan pendek gempal memberi aba-aba untuk menjauh, mengeluarkan jala berduri mendadak mereka semuanya bergerak dan sudah mencabut sebuah jala yang penuh kaitan baja. Itulah jala yang dimaksud! Dan begitu si pendek gempal berseru dan menerjang lagi maka jala di tangan masing-masing orang bergerak dan mengikuti si pendek gempal itu.

"Siut-siut-wherrr...!"

Duapuluhjala berkembang dan menakup laki-laki di tengah ini. Kedok Hitam terkejut karena lawan hendak menyusahkannya dengan jala. Benda itu tak ditakutinya tapi kaitan-kaitan baja yang ada di dalam tentu bakal merepotkan, apalagi menggaet baju umpamanya. Tentu akan sobek dan dia telanjang! Maka membentak berseru keras tiba-tiba laki-laki ini berkelebat seraya mencabut sesuatu. Orang tidak tahu apa itu namun sebuah sinar putih tiba-tiba berkelebat. Cahayanya menyilaukan mata dan berteriaklah mereka ketika tiba-tiba tangan yang memegang jala mendadak serasa enteng. Dan ketika mereka terkejut dan berseru keras tahu-tahu terdengar suara crang-cring-crang-cring dan jala ditangan mereka terbabat kutung, putus oleh sinar atau cahaya putih itu.

"Mundur...!"

Seruan ini terlambat. Empat di antara mereka yang kaget dan bengong di tempat tiba-tiba disambar sinar atau cahaya putih menyilaukan itu. Mereka tersentak setelah cahaya itu dekat. Dan karena mengelak lagi sudah tak sempat maka sinar atau cahaya putih itu menyentuh leher mereka dan.... putuslah kepala empat orang ini oleh sebatang golok yang luar biasa tajam.

"Crat-crat-crat!"

Empat batang tubuh roboh bagai batang pisang. Tak ada jeritan atau keluhan di sini, tanda betapa cepat dan tajamnya golok maut itu. Dan ketika sinar putih ini berkelebat dan masih menyambar ke sana-sini, si pendek gempal terpekik karena pundaknya tergurat panjang maka yang memegang gendewa, si tinggi besar, juga mengeluh karena lengannya tersobek sejengkal.

"Augh!"

Orang-orang itu pucat. Mereka tersentak dan ngeri oleh kejadian ini. Kedok Hitam telah mencabut senjatanya, sekali dicabut ternyata empat nyawa melayang! Dan ketika mereka terbelalak dan gentar mundur menjauh, jala sudah terkulai bertumpuk-tumpuk maka Kedok Hitam tertawa berkelebat membalas.

"Sekarang giliran kalian menerima hajaran. Bersiaplah ke akherat!"

Duapuluh orang yang tinggal enambelas itu terpekik. Sinar atau cahaya putih itu menyambar dan tahu-tahu telah bergerak mengelilingi mereka, sinarnya lebar dan panjang seperti payung. Dan ketika beberapa menjadi gugup dan menangkis tapi patah maka sinar putih itu terus meluncur dan lima orang tiba-tiba terbabat.

"Aduh..!"

Kejadian itu lagi-lagi demikian cepatnya. Kedok Hitam tertawa dan sinar putihnya bergulung naik turun. Lima orang kembali roboh dan sisanya tentu saja menjadi gentar. Lawan sudah membunuh sembilan orang! Dan ketika mereka melempar tubuh dan yang tinggi besar berteriak menyelamatkan diri maka tiba-tiba si tinggi besar itu meraih anak panah dan tujuh panah sekaligus mendadak menyambar di saat laki-laki ini sedang bergulingan.

"Ser-ser-serr...!"

Kedok Hitam memuji. Memanah sambil bergulingan bukanlah hal mudah, apa lagi semua anak panah itu tepat menyambar tubuhnya. Tiga ke atas sedang empat yang lain ke bawah, semuanya jitu dan telak! Tapi ketika Kedok Hitam tertawa dan menangkis dengan putaran golok mautnya, sekali sapu membuat tujuh anak panah runtuh maka laki-laki itu mengejek bahwa hujan panah masih kurang banyak.

"Ha-ha, kau jago panah yang baik, tikus besar. Namun sayang tak berhasil. Ayo lepaskan lagi anak-anak panahmu lebih banyak dan biar kuhancurkan semuanya!"

Si tinggi besar pucat. Dia meloncat bangun dan kembali menjepretkan tujuh batang anak panahnya. Namun ketika semuanya runtuh dibabat sinar putih itu maka laki-laki ini mengeluh dan si pendek gempal tiba-tiba juga meraup anak panah dan melontarkannya seperti orang melontar lembing.

"Hujani dia dengan anak panah!"

Yang lain-lain teringat. Mencabut anak panah yang rupanya sudah disiapkan di kantong mendadak mereka menyambitkan anak-anak panah ke arah si Kedok Hitam. Laki-laki itu diserang dan dihujani anak panah, bukan belasan melainkan puluhan. Namun ketika sinar putih bergulung dan meruntuhkan anak-anak panah ini tiba-tiba patahan anak panah membalik dan mengenai orang-orang itu sendiri. Dan karena panah yang diluncurkan berjumlah banyak maka yang membalik juga banyak dan tujuh di antaranya roboh mengaduh.

"Crep-crep-crep!"

Si tinggi besar dan si pendek gempal terbelalak. Mereka kaget dan bingung karena diserang dengan cara apapun juga ternyata lawan mereka itu terlalu lihai. Tadi membabat jala berduri sekarang membabat anak-anak panah mereka. Jumlah yang semula duapuluh tiba-tiba sekarang tinggal empat orang. Celaka! Dan ketika mereka tertegun dan pucat serta marah, di samping gentar, maka Kedok Hitam berkelebat dan menuju pada mereka.

"Ha-ha, sekarang giliran kalian. Mampus dan pergilah ke neraka!"

Si pendek gempal menggerakkan papan besinya. Dia terkejut dan tentu saja tak mau menerima kematian dan karena itu cepat mengelak, mundur sambil menggerakkan papan besinya menangkis. Tapi ketika papan besinya, terbelah, laki-laki itu berteriak dan melempar tubuh bergulingan maka si tinggi besar, yang memegang gendewa juga mengeluh dan melempar tubuh dengan cepat karena gendewanya putus menjadi dua. Dua yang lain sudah tak sempat menghindar karena sinar putih itu berkelebat ke leher mereka, roboh dan tewas karena kepala merekapun sudah menggelinding di tanah. Namun ketika Kedok Hitam hendak mengejar dan membunuh dua yang terakhir ini, si pendek gempal dan si tinggi besar mendadak terdengar raungan atau pekik kaget dari dua kakek India disana.

"Aduh, tolong, Kedok Hitam. Ini bocah iblis yang kukatakan itu... tas-crak!" dan cambuk atau nenggala yang putus dibabat sinar menyilaukan tiba-tiba membuat Sudra dan Mindra berteriak dan melempar tubuh sambil mengaduh.

Dua pertandingan di sana tiba-tiba berobah ketika seorang pemuda tiba-tiba muncul, diiring kekeh atau tawa wanita di mana kakek-kakek berhidung bengkung itu terkesiap. Mereka sudah menguasai lawan-lawan mereka dan tinggal menamatkan dengan serangan terakhir, tak tahunya terdengar bentakan dan sesosok bayangan hitam berkelebat, menangkis dan mematahkan senjata mereka. Dan ketika cambuk dan neng gala putus dibabat, sebuah cahaya menyilaukan yang berhawa dingin menyambar senjata mereka itu maka sebuah dorongan kuat menampar pula dan dua kakek itu mencelat!

Sudra dan Mindra terguling-guling dan alangkah kagetnya mereka ketika melihat siapa yang datang. Kiranya pemuda yang dulu bertemu dengan mereka di luar hutan, yang membantu Wi Hong atau menyelamatkan bekas ketua Hek-yan-pang itu dari tangan mereka. Dan ketika kekeh atau tawa itu disusul orangnya, bayangan kedua, maka dua kakek ini pucat karena itulah si cantik gila yang dulu mereka ganggu itu.

Mereka tak tahu bahwa Wi Hong sekarang sembuh, masih mengira gila dan karena itu kembali perhatian mereka tertuju pada pemuda yang berpakaian hitam-hitam itu. Mereka terbelalak karena sekarang pemuda ini berambut kemerah-merahan, marong bagai api unggun. Tapi begitu pandangan mereka tertuju ke bawah, ke arah cahaya putih yang berhawa dingin maka tiba-tiba dua orang kakek ini serasa terbang semangatnya karena mengenal benda di tangan pemuda itu, ketika mereka meloncat bangun.

"Golok Maut!"

"Golok Penghisap Darah...!"

Dua kakek ini terguncang. Giam Liong, pemuda itu, sudah berdiri tegak dengan sikapnya yang dingin namun gagah. Golok di tangannya yang bergetar dan berkilauan itu tiba-tiba bergerak dan lenyap di belakang punggung. Giam Liong telah menolong orang-orang bersapu tangan merah ini dengan kilatan senjatanya tadi, cahaya atau kilatan yang lebih dingin dibanding kilatan di tangan Kedok Hitam, karena Kedok Hitam juga mempergunakan golok atau senjatanya yang amat tajam itu. Tapi begitu Giam Liong tak menyerang lagi dan tegak menghadapi dua kakek India itu, yang terkejut dan pucat serta tentu saja mengenal Golok Maut di tangannya maka ibunya, yang terkekeh dan melengking di sebelahnya tiba-tiba berkelebat dan menusuk Mindra, kakek yang terdekat dengannya.

"Hi-hik, ini Golok Maut puteraku. Hayo, kalian lagi-lagi di sini, tua bangka. Mampus dan bayar hutang kalian kepadaku dulu... singg! dan pedang bersinar merah yang meluncur dan menusuk tenggorokan kakek itu, cepat sekali, tahu-tahu telah menyentuh kulit dan Mindra yang masih bengong oleh hadirnya Giam Liong tiba-tiba terpekik dan cepat melempar kepala ke belakang.

Kakek itu terkesiap karena Wi Hong menyerangnya di saat ia tertegun. Kehadiran atau kedatangan pemuda itu memang mengejutkan, apalagi karena membawa Golok Maut atau Golok Penghisap Darah itu. Mindra dan Sudra tentu saja kenal dan tahu akan golok di tangan pemuda itu karena tak ada senjata betapapun tajamnya mampu mengeluarkan hawa sedingin Golok Maut. Golok itu adalah golok bertuah dan karenanya tak heran kalau cambuk atau nenggala mereka putus terbabat, seolah agar-agar atau tahu bagi golok sehebat itu. Maka begitu Wi Hong berkelebat dan kakek ini terkesiap, kedatangan Giam Liong masih belum menghilangkan kekagetannya maka kakek itu semakin terkejut saja karena Wi Hong dengan jurus Bianglala Menukik Ke Bumi masih terus mengejar dan menyerang tenggorokannya!

"Keparat.... plak-cring!" kakek itu membentak, menangkis atau menjentikkan kuku jarinya sambil memaki Wi Hong dan pedang seketika terpental bertemu kuku jarinya.

Wi Hong memang masih bukan lawan kakek ini namun berteriak marah justeru wanita itu berkelebat dan menyerang lagi. Dan karena kakek ini gentar oleh kedatangan Giam Liong dan hadirnya pemuda itu seolah siluman ganas yang akan menerkamnya maka begitu dia mengelak dan menjentikkan kuku jarinya lagi tiba-tiba kakek ini berkelebat dan lari ke arah si Kedok Hitam.

"Kedok Hitam, bantu aku. Bocah iblis itu ada di sini!"

Kedok Hitam masih tertegun. Dia menghentikan serangannya ketika jeritan pertama temannya tadi. Sinar menyilaukan yang lebih hebat dari sinar goloknya sendiri sudah membuat laki-laki itu terkejut. Dua lawannya mundur menjauh dan terbelalak menahan luka. Dan ketika dia melihat betapa pemuda itu amatlah tampannya namun berwajah dingin, persis si Golok Maut Sin Hauw yang dulu dibunuhnya tiba-tiba hati lelaki ini bergetar dan dia lupa kepada dua orang lawannya tadi, si pendek gempal dan si tinggi besar. Tapi begitu Mindra berkelebat ke arahnya dan berteriak, Wi Hong mengejar dan melihat dirinya tiba-tiba wanita itu melengking dan membelokkan larinya ke arah si Kedok Hitam ini.

"Keparat, kau ada di sini, Kedok Hitam? Kebetulan sekali, kau berhutang jiwa suamiku. Aku memang mencarimu dan kebetulan kau ada di sini... haiittt!" dan pedang yang membelok dan meluncur ke arah laki-laki ini akhirnya tidak mengejar Mindra melainkan menyerang lawan utamanya itu.

Kedok Hitam terkejut tapi mengeluarkan suara dari hidung. Dia tahu kepandaian wanita ini dan tangannya-pun bergerak menangkis, tangan yang lain masih memegang goloknya itu. Dan ketika pedang tertampar dan seketika patah, Wi Hong terpekik dan terbawa maju maka kaki laki-laki itu bergerak dan mencelatlah wanita ini oleh sebuah tendangan keras.

"Pergilah kau.... dess!"

Wi Hong terlempar dan jatuh terguling-guling. Wanita itu menjerit karena hanya dalam sekali gebrakan saja pedangnya sudah patah. Kedok Hitam memang luar biasa. Tapi ketika wanita itu meloncat bangun dan bayangan hitam berkelebat maka Giam Liong telah menolong ibunya mengangkat bangun.

"Ibu tak apa-apa?"

"Tidak... tidak, dia... dia, ohh!" Wi Hong tiba-tiba histeris. "Inilah pembunuh ayahmu, Giam Liong. Itu si Kedok Hitam yang kita cari-cari. Dia ada di sini, aku ditendangnya. Bunuh dan balaskan sakit hatiku!" dan mencengkeram serta meremas puteranya, mengguncang-guncang tiba-tiba Wi Hong bergerak dan mau merampas golok di punggung puteranya itu.

Giam Liong mengelak dan ibunya histeris membentak, memberi tahu bahwa pedangnya dipatahkan dan biarlah dengan Golok Maut dia membalas dendam. Namun ketika Giam Liong menampar dan mencengkeram tangan ibunya maka pemuda itu berkilat memandang lawan, mata mencorong mengeluarkan sinar pembunuhan. Ganas dan dingin!

"Ibu diamlah, biarlah aku yang bekerja. Ini si Kedok Hitam yang membunuh ayah? Ini laki-laki yang membuatmu menderita? Hm, jangan takut. Kau tenang dan berdiri di sini, ibu. Akan kudatangi dia dan lihat kulitnya akan kubeset!"

Semua meremang. Kedok Hitam yang baru saja menendang Wi Hong tiba-tiba dibuat terkejut ketika dengan perlahan namun dingin pemuda bermata naga itu menghampiri. Langkahnya tenang namun setiap hentakan tentu membuat getaran. Giam Liong mengayun kakinya bagai langkah seekor gajah, berderap dan bergetar karena tiba-tiba seluruh sinkang di tubuh pemuda itu hidup, pengaruhnya terasa sampai beberapa meter karena orang-orang bersapu tangan merah ada yang terhuyung dan mau jatuh. Tanah yang mereka injak seakan diguncang gempa dan tak satupun di antara mereka yang tidak berseru kaget.

Pemuda bermata naga ini telah menggetarkan jantung mereka dengan sikap dan kata-katanya yang dingin. Langkah kakinya terasa membetot sukma karena setiap menapak tanah tentu seolah sebuah kejadian mengerikan bakal terjadi. Ganas dan menyembunyikan rasa seram yang menakutkan! Dan ketika dia sudah berhadapan dengan si Kedok Hitam, mata yang berapi penuh cahaya pembunuhan itu tak henti-hentinya menatap wajah lawan, yang sayangnya ditutup kedok hitam maka pemuda itu bertanya, suaranya berat dan seakan godam dipukulkan berdetak-detak.

"Kedok Hitam, kau yang membunuh mendiang ayahku Sin Hauw? Bagaimana kau membunuhnya dan menghabisi nyawa ayahku? Benarkah kau merajang dan memotong-motongnya seperti anjing? Jawab, aku ingin mendengar pengakuanmu, manusia iblis. Dan setelah itu aku akan mencacah dan menguliti tubuhmu jauh lebih mengerikan daripada perlakuanmu kepada ayahku!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam tiba-tiba tertawa bergelak mengusir kengeriannya. "Kau bocah ingusanmau apa, anak tak tahu diri? Mendiang ayahmu ternyata menurunkan kau? Ah, ingat aku. Kau tentu bocah haram dari hasil hubungan gelap ayahmu dengan ibumu itu. Ha-ha, Wi Hong ternyata pelacur murahan yang memberikan tubuhnya kepada laki-laki semacam Sin Hauw. Ah, pantas kalau Hek-yan-pang tak mau menerimanya lagi dan sekarang dipimpin orang lain. Hm, kau benar, anak muda. Ayahmu akulah yang membunuhnya dan tak perlu aku mungkir. Kejadian itu sudah lewat dan aku melaksanakannya atas perintah kerajaan. Kau mau apa dan apakah ingin mampus seperti ayahmu dulu. Aku tidak takut!"

"Kau merajang dan memotong-motong tubuh ayahku seperti hewan?"

"Benar, ha-ha...!"

"Dan kematian macam apa yang sekarang kau inginkan?"

"Ha-ha, sombong! Kau belum menunjukkan kepandaianmu kepadaku, bocah. Sebutkan dulu namamu dan kutiup nanti menghadap ayahmu ke akherat!"

"Aku Giam Liong, Sin Giam Liong."

"Wah, Giam Liong. Berarti Naga Pembunuh, atau Naga Maut!"

"Ya, aku Naga Pembunuh, dan aku akan mulai membunuhmu... klap!" dan sinar putih yang berkelebat menyilaukan mata tiba-tiba mencuat dan bergerak dari punggung pemuda ini, langsung menyambar leher lawan dan Kedok Hitam terkejut karena gerakan itu amatlah cepatnya. Dia mengelak namun sinar itu tetap mengejar. Dan ketika dia menggerakkan goloknya pula, tak ada kesempatan untuk menghindarkan diri tiba-tiba terdengar suara nyaring dan....golok di tangan laki-laki itu putus, terbabat bagai agar-agar.

"Cranggg...!"

Kedok Hitam melempar tubuh bergulingan. Bukan main kagetnya laki-laki ini karena begitu bergerak tiba-tiba Giam Liong mencabut Golok Mautnya. Tadi senjata itu sudah disimpan dan kini tiba-tiba mencuat bagai kilat menyambar. Gerakannya bukan main hebatnya dan ada jurus-jurus pedang di situ. Giam Liong memang mempergunakan gerakan Pek-jit Kiam-sut ketika melakukan serangan pertamanya ini, silat pedang meskipun yang dipakainya adalah golok. Dan karena golok atau pedang baginya sama saja, pemuda ini telah mewarisi Pek-jit Kiam-sut dari ayah angkatnya maka tak heran kalau Kedok Hitam tiba-tiba tersentak dan kaget sekali melihat gerakan golok yang aneh. Golok tidak menyambar sebagaimana layaknya golok melainkan menyambar sebagaimana gaya atau ilmu silat pedang.

Hal ini mengejutkan sekaligus membuat darahnya tersirap. Dulu mendiang Si Golok Maut tak mempunyai gaya seperti ini dan tiba-tiba saja sekarang puteranya memakai golok seperti pedang. Hebatnya sama saja dan dia yang lupa bahwa senjata di tangan pemuda itu adalah Golok Penghisap Darah, golok maut yang amat berbahaya tiba-tiba harus menerima akibat dengan putusnya senjata di tangan. Golok yang tadi dipakai membunuh atau membabat kepala orang-orang bersaputangan merah tiba-tiba kini seperti agar-agar bertemu dengan Golok Maut itu, dia lupa dan kaget bukan main. Maka begitu golok masih terus menyambar dan laki-laki iniberteriak keras, melempar atau membanting tubuh bergulingan maka Wi Hong, yang menonton atau menyaksikan di sana tiba-tiba berjingkrak dan bersorak.

"Bagus.... bagus. Kejar dan terus serang jahanam itu, Liong-ji. Bunuh dia, hi-hik!"

Kedok Hitam berobah. Dalam gebrakan ini saja nyaris dia kehilangan segala-galanya. Pertama senjatanya dan kedua adalah hinaan atau ejekan yang diterima. Dia adalah tokoh utama dan dimalui orang. Kawan ataupun lawan segan kepadanya karena dialah yang membunuh Golok Maut. Hanya Pek-jit Kiam-hiap Ju Beng Tan itulah yang ditakutinya, lain-lain adalah bukan apa-apa baginya. Maka begitu sekali gebrak dia dibuat malu dan terbang semangatnya, bocah yang dihadapi itu ternyata lihai luar biasa maka mendadak laki-laki ini berteriak dan menyambar golok lain.

Kedok Hitam sudah meloncat bangun dan Giam Liong, yang berkilat-kilat dan tidak mengejar lawan ternyata berhenti sampai di situ saja. Dia telah menjatuhkan mental lawan dalam sekali gebrak itu. Minimal, Kedok Hitam tak akan tersombong lagi. Dia telah memberi pelajaran! Dan ketika benar saja lawan terbelalak dan pucat di sana, kaget dan geram serta bermacam perasaan lain yang tak dapat dikatakan lagi maka Giam Liong menunggu dan Golok Penghisap Darah atau Golok Maut telah lenyap kembali di punggungnya. Satu pameran untuk merontokkan nyali lawan!

"Kedok Hitam, majulah dan mari main-main lagi. Aku telah melihat kepandaianmu dan kupikir tak perlu membunuhmu dulu dengan senjataku. Gerakkan golokmu dan mulailah menyerang. Aku memberimu kesempatan sebanyak sepuluh jurus!"

Kedok Hitam memekik. Diejek dan diperlakukan seperti itu tiba-tiba kemarahannya menggelegak. Dia, tokoh yang telah membunuh Golok Maut tiba-tiba saja diperlakukan begitu hina oleh pemuda ini. Giam Liong telah berkata bahwa kepandaiannya telah diketahui, padahal seharusnya dialah yang berkata begitu karena kepandaian Giam Liong telah dirasakan dan luar biasa lihainya. Golok Maut yang dipegang pemuda itu benar-benar ditunjang dengan kepandaiannya yang menggiriskan. Barangkali, pemuda ini justeru lebih hebat daripada mendiang ayahnya sendiri.

Dulu Golok Maut hanya menggerakkan goloknya dengan gaya atau ilmu silat golok, tidak seperti pemuda ini yang dapat mainkan golok seperti pedang, hingga gerakannya membingungkan dan karena itu dia jatuh bangun dalam gebrakan pertama tadi. Namun karena dia juga memiliki ilmu silat golok dan bagi yang pernah menyaksikan pertandingan Golok Maut Sin Hauw dengan laki-laki itu melihat persamaan antara silat golok Kedok Hitam ini dengan mendiang Sin Hauw maka begitu membentak dan melengking mengerahkan khikangnya tiba-tiba laki-laki itu berkelebat dan golok pengganti yang ada di tangannya tiba-tiba menyambar dan mendesing bagai ribuan lebah yang siap menyengat korban.

"Kuhajar kau...!" golok bergerak menyilaukan mata, langsung berkelebat ke tenggorokan Giam Liong dan pemuda ini berkerut kening melihat gerakan laki-laki itu. Golok digenggam dengan empat jari merapat sementara ibu jari ditekuk ke dalam. Itulah gaya atau cara memegang golok yang hebat. Dengan begini senjata akan lekat seperti menyatu dan kekuatan atau daya genggam itu luar biasa lengketnya. Dipegang orang seperti si Kedok Hitam ini maka golok tak akan lepas kalau jari-jari itu tidak dipapas buntung. Dan ketika gerakan menyambar dari atas ke bawah itu membentuk lengkungan panjang seperti bianglala, Giam Liong terbelalak karena itulah jurus Bianglala Siluman Menyergap Bulan, satu dari jurus pembukaan Im-kan To-hoat (Silat Golok Dari Akherat) atau yang lazim disebut Silat Golok Maut, warisan ayahnya, tiba-tiba tersentak dan kaget lagi ketika dia mengelak mendadak golok mematah di tengah jalan dan terus menukik ke bawah menuju arah kemaluannya.

"Golok Iblis Menyambar Bola Bumi!" Giam Liong tak tahan untuk tidak berseru keras. Tentu saja dia mengenal dua jurus serangan ini karena itulah jurus-jurus dari Im-kan To-hoat. Dia sendiri telah mewarisi kitab-kitab almarhum ayahnya, ketika ibunya di Lembah Iblis menyerahkan kitab-kitab ayahnya itu, disamping kitab kecil yang dia peroleh dari sumur tua di Hek-yan-pang. Maka begitu lawan mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat Golok Maut dan jurus-jurus itu dikenal, Giam Liong berkelit namun dikejar dan terus dikejar akhirnya apa boleh buat pemuda ini menggerakkan tangannya menangkis dan serangkum angin pukulan membuat Kedok Hitam terpekik karena golok di tangan menyeleweng.

"Crat!" Ranting pohon di belakang Giam Liong roboh terbabat. Sebenarnya yang dituju adalah telinga pemuda ini namun dengan cepat pemuda ini mengibas. Sinkang yang dipelajari dari sumur tua dipergunakan dan Kedok Hitam terhuyung. Itulah sinkang yang dimiliki mendiang Sin Hauw dulu, ayah pemuda ini. Dan ketika laki-laki itu terbelalak namun menggeram dan menerjang maju lagi, dua jurus lewat dengan sama-sama mengejutkan masing-masing pihak maka untuk selanjutnya Giam Liong semakin melebarkan mata karena itulah jurus-jurus Ilmu Silat Golok Maut yang dipunyai ayahnya.

"Pencuri hina. Keji!" Giam Liong membentak dan terbakar. "Ini Im-kan To-hoat milik mendiang ayahku, Kedok Hitam. Kau mempergunakannya dan ternyata memilikinya. Kau pencuri!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam tertawa bergelak. "Im-kan To-hoat atau Im-jin To-hoat aku tak mau tahu, bocah. Yang jelas inilah ilmuku dan kalau ayahmu memiliki ilmu yang sama jangan-jangan dialah yang mencuri dan mendapatkannya secara gelap dari guru-guruku!"

"Siapa kau. Buka kedokmu itu!"

"Ha-ha, kau ingin tahu? Nanti saja, setelah kuantar ke akherat.... singgg!" dan golok yang menyambar cepat dari kiri ke kanan tiba-tiba meliuk dan turun ke bawah.

Lawan mempergunakan jurus Menabas Hati Memapas Kaki, gerakan yang akan dilanjutkan lagi dengan gerakan mencuat dari bawah ke atas. Kalau sudah begini maka tujuh tusukan bertubi-tubi akan susul-menyusul. Giam Liong tahu bahayanya ini dan cepat menjejakkan kaki berjungkir balik. Dan ketika benar saja tujuh tusukan menyusul berturut-turut, cepat, maka Giam Liong sudah membebaskan dirinya dan terbelalak oleh ilmu silat lawan. Selanjutnya pemuda itu berkelebatan ke sana ke mari menghitung jurus-jurus berikut. Dia tak boleh membalas karena sudah berjanji untuk memberi "keringanan".

Untung ilmu silat itu dikenal hingga tak begitu merepotkannya. Tapi ketika pada jurus ke delapan Kedok Hitam mengeluarkan seruan panjang, golok berubah bentuk seperti gumpalan awan maka pemuda itu tertegun karena lawan sudah merobah gerakan dan tidak mempergunakan Im-kan To-hoat lagi. Jurus-jurus berikut ciptaan laki-laki itu sendiri karena gerakan golok segera diiringi pukulan tangan kiri. Angin menyambar dingin dan pukulan tiba-tiba berobah menjadi totokan. Dua jari Kedok Hitam melejit di balik bayang-bayang golok. Giam Liong dicegat dari segala penjuru. Dan ketika pemuda itu dipaksa menangkis dan apa boleh buat mengerahkan sinkang menerima totokan maka begitu mengelak dari sambaran golok Giam Liong pun menotok sekaligus mencoba kulit tubuh laki-laki ini.

"Tuk!"

Dua-duanya tergetar dan terkejut. Giam Liong menerima totokan sekaligus "membayarnya" dengan totokan pula. Kedok Hitam mendesis namun jari pemuda itu mental, Giam Liong serasa bertemu gelembung hawa yang aneh yang membuat jarinya tertolak, sementara lawan mendesis sakit karena jarinya bertemu kulit Giam Liong yang sekeras besi! Pemuda ini telah mengerahkan sinkangnya hingga tubuhnya atos. Dan ketika kedua-duanya terbelalak dan Giam Liong serasa mengenal daya tolak lawannya tadi, yang membuat jarinya mental maka ibunya, yang melengking-lengking dan berteriak di luar berseru agar pemuda itu mencabut Golok Mautnya lagi.

"Bodoh, sombong dan pongah. Kau melebihi ayahmu, Giam Liong. Lawan seperti itu tak perlu diberi kesempatan sebanyak sepuluh jurus. Dua atau tiga saja cukup. Hayo cabut golokmu dan bunuh dia!"

"Hm..!" Kedok Hitam sudah menyerang pemuda itu lagi, kembali mainkan golok dan tangan kirinya.

"Aku terlanjur berjanji, ibu. Aku akan menepati janjiku. Tinggal dua jurus lagi dan setelah itu aku akan membunuhnya!"

"Goblok, sombong!" sang ibu membanting-banting kaki. "Sekarang dia mengeluarkan ilmu-ilmunya yang lain, Liong-ji. Kau tidak kenal. Lawanmu itu jahat dan cerdik sekali. Akalnya melebihi siluman. Hayo cepat cabut golokmu atau kau mampus..... bret!" Giam Liong tiba-tiba berseru kaget, pecah perhatiannya oleh makian atau teriakan ibunya tadi.

Pada jurus ke sembilan Kedok Hitam memang melancarkan pukulan baru. Golok tiba-tiba bergetar di tangan dan tidak bergerak, yang bergerak adalah tangan kirinya itu yang menampar atau melecut, gaya serangannya mirip ekor ular atau naga. Dan karena dia memperhatikan itu dan tidak waspada akan golok mendadak senjata itu menyambar dan tahu-tahu tanpa suara sudah menuju ke batang lehernya. Ibunya menjerit namun golok sudah benar-benar dekat, Giam Liong melempar kepala namun pada jurus ke sepuluh laki-laki itu terkekeh dan melepaskan senjatanya. Golok itu terbang seperti bernyawa!

Dan ketika Giam Liong tersentak dan kaget, tangan kiri lawan mencengkeram dan bertemu tangan kirinya sendiri, yang ditarik dan ditahan maka pemuda ini tak dapat melepaskan diri dan apa boleh buat harus menerima sambaran golok itu dengan batang lehernya. Giam Liong terkesiap namun cepat ia mengerahkan sinkang. Batang lehernya tiba-tiba menggembung terisi tenaga sakti penuh. Dan ketika golok merobek leher bajunya, masuk dan menusuk batang lehernya, namun tertahan oleh gelembung sinkang yang sudah melindungi pemuda itu maka golok patah dan Giam Liong cepat menarik tangannya seraya melepas tendangan berputar.

"Dess!" Kedok Hitam terpelanting dan terkejut. Pangkal pahanya bertemu tendangan kuat dan kalau bukan dia tentu tulang-tulangnya hancur.

Giam Liong berhasil membebaskan diri dan ibunya berkelebat, melengking dan menyambar anaknya itu karena Giam Liong terhuyung dua tindak dan pucat. Dia juga merasakan kokohnya paha lawan ketika ditendang. Paha Kedok Hitam itu bagai batang besi yang kokoh di samudera, tanda bahwa lawan memang memiliki sinkang luar biasa meskipun akhirnya dibuat terpelanting, hal yang bukan semata kekuatan Giam Liong sendiri melainkan juga karena disebabkan tertegunnya Kedok Hitam itu melihat golok terbangnya patah bertemu leher si pemuda.

Laki-laki itu terbelalak karena Giam Liong ternyata luar biasa sekali. Di samping hebat ilmu kepandaiannya juga hebat pula sinkangnya. Golok itu patah menjadi dua, padahal kalau orang lain tentu akan terkapar dan tembus dihajar lontarannya tadi, biarpun Mindra atau Sudra sendiri. Dan ketika laki-laki itu meloncat bangun melihat Wi Hong melengking-lengking mencengkeram puteranya, marah dan cemas karena gebrakan terakhir ini memang sungguh berbahaya sekali maka laki-laki itu tiba-tiba berkedip dan berbisik pada dua kakek India itu, rekannya yang juga tertegun dan takjub melihat kehebatan Giam Liong, melalui ilmu mengirim suara.

"Mindra, Sudra, aku kehilangan senjataku dua kali. Kalian tahan dulu pemuda ini sementara aku akan mengambil pusakaku!"

Dua kakek itu terkejut. Kedok Hitam tiba-tiba berkelebat dan meninggalkan pertempuran. Giam Liong yang sedang dicaci maki ibunya berkali-kali ditepuk pundaknya, tanda betapa gemas dan marah wanita itu karena Giam Liong terlalu mengalah. Tapi begitu Kedok Hitam lenyap dan Giam Liong melihat ini, ibunya membelakangi dan karena itu tak melihat perginya Kedok Hitam tiba-tiba pemuda itu berseru keras mendorong ibunya.

"Heiii...!" Giam Liong berkelebat membuat ibunya terpelanting. "Pengecut kau, Kedok Hitam. Jangan lari!"

Namun dua kakek India itu tiba-tiba menghadang. Mereka mengira Kedok Hitam benar-benar akan mengambil senjata pusakanya, karena itu pasti kembali. Maka begitu Giam Liong membentak dan akan mengejar laki-laki itu, pemuda ini marah karena lawan melarikan diri mendadak dua kakek itu melompat dan berseru keras. Sudra menggerakkan sisa cambuknya sementara Mindra juga menggerakkan sisa nenggalanya. Dua kakek itu sama-sama mempergunakan sisa senjata mereka. Tapi begitu Giam Liong membentak dan menggerakkan tangan ke punggung, sinar atau cahaya putih berkelebat menyilaukan mata mendadak dua kakek itu menjerit karena tahu-tahu nenggala atau cambuk di tangan mereka putus sebatas pergelangan tangan.

"Kalian minggirlah.... tas-crakk!" Giam Liong tak menghiraukan kakek-kakek itu, bergerak dan sudah mengelebatkan goloknya yang kembali lenyap ke punggung. Senjata itu hanya digerakkan sekali saja namun itu saja sudah cukup. Cambuk dan nenggala dua kakek itu putus, nyaris membabat pergelangan tangan mereka sendiri yang tentu bakal buntung! Dan ketika Giam Liong berkelebat dan mengejar lawannya lagi, dua kakek itu berteriak melempar tubuh bergulingan maka Wi Hong melengking dan menyusul puteranya itu, juga orang-orang bersaputangan hitam yang tiba-tiba bersorak dan mengejar si Kedok Hitam.

"Horee.... tangkap dan seret si Kedok Hitam itu, Naga Pembunuh. Biarkan kami ikut mencincangnya...!"