NAGA PEMBUNUH
JILID 15
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"MUNGKIN saja dia temanku, aku serius. Aku bertanya sungguh-sungguh apakah kau pernah bertemu dengan wanita yang kumaksudkan ini, lihai tetapi gila, rambutnya riap-riapan."

"Hm, aku tak pernah bertemu dengan orang yang kau maksudkan ini, Han Han. Tapi kalau umpamanya ketemu apakah yang harus kulakukan."

"Kau bawa dia kepadaku, ada sesuatu yang amat penting dari wanita ini yang kuperlukan!"

"Baik, kalau begitu di mana kau tinggal? Bagaimana caranya aku membawa kepadamu kalau tidak tahu kau berada dimana?"

Han Han tertegun. Tiba-tiba dia sadar bahwa Tang Siu tak tahu di mana tempat tinggalnya. Bagaimana harus membawa wanita itu kalau ketemu umpamanya, padahal dia tak mau menyebutkan di mana dia tinggal. Dan karena dia sadar bahwa tak mungkin hal itu dilakukan, gurunya maupun dia sendiri tak menghendaki orang lain tahu maka Han Han menarik napas dalam-dalam ketika menjawab.

"Maaf, aku keliru bicara, Tang Siu. Barangkali yang kumaksudkan adalah cari saja aku kalau kau menemukan wanita itu. Aku akan di sekitar Hek-yan-pang untuk sementara waktu ini. Kalau kau menemukan wanita itu tolong kau cari aku disana."

"Kau murid Hek-yan-pang?"

"Bukan, tapi... hm, aku calon tamu Hek-yan-pang."

"Aneh!" gadis itu berseru. "Kau merahasiakan diri, Han Han. Gerak-gerikmu misterius sekali. Bagaimana kalau nanti kau tak ada di Hek-yan-pang juga? Apakah aku harus membawa-bawa wanita gila itu?"

"Hm, kalau begitu ya sudah saja. Tak usah terlalu merepotkan dirimu. Maaf, aku hendak melanjutkan perjalanan, Tang Siu. Aku berterima kasih kalau kau sudi membantuku. Tapi tak usah memaksa diri. Kalau kita bertemu lagi tentu kita dapat bercakap-cakap lagi. Selamat tinggal, kita rupanya harus berpisah!" namun ketika Han Han hendak bergerak dan meninggalkan gadis itu, Tang Siu tertegun dan berkelebat ke depan tiba-tiba gadis itu berseru,

"Nanti dulu. Tunggu, Han Han. Bolehkah aku tahu siapa nama wanita yang gila itu!"

"Aku tak tahu..." Han Han sedih. "Aku juga samar-samar, Tang Siu. Aku hanya hendak mencari wanita ini karena suruhan guruku."

"Hm, apamukah wanita itu? Dan apa yang hendak kau cari?"

"Aku hendak mencari ayah ibuku, dan wanita inilah yang tahu."

"Apa? Kau... kau tak tahu ayah ibumu sendiri? Kau seorang anak lola?"

"Semuanya gelap, Tang Siu. Aku tak tahu apakah aku lola atau bukan. Yang jelas, aku ingin mencari ayah ibuku dan si gila inilah yang tahu asal-usulku!"

"Ah, kasihan!" dan Tang Siu yang tertegun dan membelalakkan mata, berlinang, tiba-tiba mengejutkan Han Han karena gadis itu tampak terharu. "Han Han, aku ikut sedih. Tapi baiklah, aku akan menolongmu dan kalaunkutemukan wanita itu akan kucari dirimu. Aku juga hendak melanjutkan perjalanan. Silahkan kau ke Hek-yan-pang karena aku sendiri akan ke kotaraja!"

"Terima kasih," Han Han mengangguk dengan terharu pula. "Kau benar-benar baik, Tang Siu. Tapi sekali lagi tak usah memaksa diri kalau terlalu repot!"

Dan ketika gadis itu mundur dan Han Han tersenyum, dua mata beradu dengan detak yang aneh maka Han Han berkelebat dan melewati gadis itu. Selanjutnya Han Han bergerak seperti iblis karena tahu-tahu iapun telah lenyap dari tempat itu. Dan ketika Tang Siu tertegun dan kagum, apa yang diperlihatkan Han Han luar biasa sekali maka gadis itupun menarik napas dalam-dalam dan berkelebat pula melanjutkan perjalanannya.

* * * * * * *

Dua hari kemudian Han Han telah tiba di sekitar telaga itu. Inilah markas Hek-yan-pang yang dicari-carinya. Han Han berhenti dan tidak segera masuk. Ada perkampungan di luar telaga, rumah-rumah sederhana tetapi yang kokoh dan kuat. Dan ketika Han Han berhenti di situ mengamati ke dalam, markas perkumpulan itu katanya ada di tengah maka seseorang berkelebat disusul oleh beberapa orang lainnya lagi.

"Hei, anak muda. Apa maksudmu mengintai di sini dan apa yang kau kerjakan!"

Han Han terkejut. Asyik mengamati tempat itu, tak ada maksud untuk membuat ribut Han Han tiba-tiba telah dikepung oleh tujuh murid laki-laki Hek-yan-pang yang menjaga di sekitar situ. Sejak ditinggalkan ketuanya memang perkumpulan ini dijaga lebih ketat, ada yang bersembunyi di balik semak-semak belukar untuk mengintai orang asing. Han Han tak melihat itu karena mereka sudah ada di situ, melihat kedatangannya. Maka ketika pemuda itu tampak mengamati penuh perhatian, berkali-kali mengerutkan kening dan memandang ke dalam maka tujuh orang ini menjadi curiga dan saling memberi tanda.

Han Han tak tampak sebagai pemuda yang menakutkan karena tubuhnya biasa-biasa saja, sedang namun tegap dan kuat. Dan ketika pemuda itu tampak mengamati penuh perhatian, murid-murid tak tahu siapa pemuda ini maka mereka lalu keluar dan membentak. Dan Han Han tentu saja menoleh. Tapi begitu Han Han menoleh tiba-tiba saja tujuh orang itu berseru tertahan dan membelalakkan matanya.

"Aih, mirip pangcu (ketua)!"

Han Han terkejut. Tujuh orang itu men dadak saja bengong dan memandangnya tak berkedip, ada kesan kaget tapi juga heran, tertegun. Tapi ketika melihat bahwa pemuda ini bukanlah ketua mereka dan tujuh orang itu hilang kagetnya maka semua maju kembali dan mengurung pemuda itu.

"Siapa kau, dan ada apa mengintai rumah orang!"

"Maaf," Han Han merasa salah, membungkuk. "Aku sedang mengamati markas perkumpulan Hek-yan-pang, saudara-saudara. Ingin ke sana tetapi belum tahu jalan. Siapakah kalian dan apakah orang-orang Hek-yan-pang."

"Benar, kami anak murid Hek-yan-pang!" seorang di antara tujuh laki-laki itu menjawab, suaranya agak lunak karena betapapun Han Han dilihatnya sebagai pemuda yang lemah lembut. "Siapa kau, anak muda. Dan kenapa datang seperti maling!"

"Aku bukan maling," Han Han mendongkol juga. "Aku hanya tak ingin membuat kesalahan. Aku datang untuk mencari seorang wanita yang katanya ada hubungannya dengan Hek-yan-pang. Barangkali kalian tahu dan baiklah kukatakan!" dan ketika tujuh laki-laki itu menunggu dan membelalakkan matanya, diam-diam masih heran dan kagum bahwa pemuda ini benar-benar mirip ketua mereka, Beng Tan, maka Han Han menceritakan maksudnya bahwa dia mencari seorang wanita berambut riap-riapan yang gila. Tapi belum dia menceritakan lebih lanjut tahu-tahu tujuh murid Hek-yan-pang itu mencabut pedang dan seketika membentak.

"Kau ada hubunganapa dengan si gila itu. Apakah temannya!"

"Hm," Han Han terkejut, mengerutkan kening. "Barangkali betul, saudara-saudara. Apakah kalian tahu di mana wanita itu itu. Coba panggilkan untukku atau.... singg!" tujuh pedang tiba-tiba bergerak, menusuk dan membacok dan Han Han membelalakkan mata karena tiba-tiba tujuh laki-laki itu marah sekali.

Dia tak tahu bahwa yang dicarinya adalah Wi Hong, padahal Wi Hong telah menghajar murid-murid lelaki Hek-yan-pang ini, yang dibencinya. Maka begitu dia bicara tentang wanita itu dan tak ada lagi wanita gila kecuali Wi Hong, meskipun kini telah sembuh dan pergi bersama puteranya maka tujuh laki-laki yang kebetulan pernah dihajar Wi Hong tiba-tiba naik darah mendengar kata-kata Han Han, membentak dan menerjang dan seketika tujuh pedang serentak menyambar nyaris bersamaan. Mereka semua marah kepada Han Han, ingin dijadikan korban bagi pelampiasan kemarahan mereka kepada Wi Hong.

Tapi karena Han Han bukanlah pemuda lemah dan tujuh anak murid Hek-yan-pang yang mendadak marah-marah dan menyerangnya itu dilihatnya memiliki kepandaian biasa-biasa saja, pedang yang bergerak dinilai masih lamban maka Han Han berkelit dan tujuh laki-laki itu terkejut karena pemuda itu lolos begitu mudah, menyelinap atau menghindar dibalik sambaran tujuh pedang.

"Hei, kalian rupanya gila. Ada apa marah-marah dan menyerang aku!"

"Keparat, kau musuh kami kalau teman wanita itu, anak muda. Kau akan mendapatkannya nanti di akherat!"

"Apa?" Han Han mengerutkan kening, mengelak sana-sini. "Mendapatkannya di akherat? Maksud kalian wanita yang kucari itu tak ada? Sudah mati?"

"Mati atau tidak kami tak perduli, bocah siluman. Yang penting kau mampus dan menerima dosa atas hasil perbuatan wanita itu.... sing-sing-crat!" dan pedang yang menyerempet batu besar mengeluarkan bunga api tiba-tiba disusul jerit kaget laki-laki ini ketika Han Han berkelebat lenyap.

Enam temannya juga sama-sama berteriak keras karena sekonyong-konyong pedang mereka berbenturan sendiri, Han Han mengeluarkan kepandaiannya hingga tak diketahui oleh lawan. Dan ketika lawan terbelalak dan tertegun, tak tahu di mana pemuda itu berada sekonyong-konyong bayangan putih datang dan Han Han menjentik pedang di tangan mereka.

"Kalian orang-orang tak sopan. Belum selesai diajak bicara sudah menyerang orang lain. Baiklah, aku akan mencari ketua kalian, sobat-sobat. Dan terpaksa aku merobohkan kalian.... tring-tring-tringg!" dan pedang yang terlepas dari tangan pemiliknya tiba-tiba disusul oleh jerit atau pekik murid-murid Hek-yan-pang ini. Han Han menendang mereka memberi pelajaran, gemas juga. Dan ketika tujuh orang itu terpelanting dan mengaduh-aduh, kaki atau tangan mereka keselio maka Han Han berkelebat dan lenyap menuju telaga.

"Heii, awas. Kita kedatangan musuh!"

Bayangan-bayangan tiba-tiba berkelebatan dari balik hutan. Di luar telaga itu memang sebuah hutan kecil di mana gemerincingnya atau jatuhnya senjata-senjata tadi terdengar oleh anak-anak murid yang lain. Bentakan dan caci-maki anak-anak murid itu sudah memanggil teman-temannya untuk datang, itu merupakan tanda bagi mereka. Maka ketika Han Han merobohkan murid-murid ini dan terbang menuju telaga, yang berarti mendekati perkampungan di mana itu merupakan wilayah murid-murid lelaki, karena yang wanita ada di dalam atau di tengah telaga maka begitu Han Han bergerak dan memperlihatkan diri tahu-tahu seratus lebih anak-anak murid Walet Hitam mencegat didepan.

"Berhenti!" Han Han tertegun, melihat ketatnya penjagaan, berlapis-lapis. "Sebutkan maumu dan siapa kau, anak muda. Atau kami menyerang dan akan membunuhmu!"

Tapi begitu Han Han berhenti dan menunda larinya, terpaksa memenuhi bentakan ini tiba-tiba semua terpekik dan menyatakan bahwa pemuda itu mirip ketua mereka.

"Aih, pemuda ini mirip pangcu!"

Han Han terkejut untuk kedua kalinya. Di sinipun ia disangka mirip sang ketua sementara orang-orang itu menjublak, bengong. Tapi ketika Han Han tersenyum dan coba bersikap bersahabat, mau menerangkan bahwa ia mencari seseorang di situ mendadak dua dari tujuh murid yang terpincang-pincangdan mengejar Han Han berteriak bahwa pemuda itu teman Wi Hong, nama yang membuat pemuda ini berkerut kening.

"Dia antek si iblis wanita, Wi Hong. Datang untuk mengacau. Tangkap dan bunuh saja dia!"

Han Han terkejut. Seratus lebih murid laki-laki yang ada di situ tiba-tiba garang matanya. Sikap yang semula ragu-ragu dan agak lunak sekonyong-konyong berobah. Han Han tak tahu bahwa ini adalah juga anak-anak murid yang dihajar Wi Hong. Wanita itu tak menyukai adanya murid laki-laki di Hek-yan-pang, karena Hek-yan-pang semula adalah perkumpulan yang hanya dihuni wanita-wanita saja. Maka begitu nama Wi Hong disebut dan nama itu dibenci murid-murid lelaki, karena Wi Hong menghajar mereka maka mendadak saja seratus lebih murid-murid itu menerjang tanpa banyak cing-cong.

"Kalau begitu kau pengacau. Daripada hidup lebih baik kami bunuh... wut-wut!" dan senjata yang berhamburan menuju Han Han, bagai hujan, tiba-tiba tidak perlu dikomando untuk kedua kalinya lagi karena semua murid laki-laki itu memang menaruh kebencian kepada Wi Hong.

Han Han terkejut dan bersinar-sinar karena sekarang dia tahu bahwa wanita gila itu Wi Hong, setitik jalan terang ada di mukanya. Tapi karena semua orang-orang itu menyerangnya dan mereka juga seperti tujuh murid-murid pertama, beringas dan marah menerjangnya maka pemuda ini berkelit dan mengelak hujan senjata yang silih berganti. Han Han berseru agar orang-orang itu tidak menyerangnya dulu, dia ingin menemui ketua atau wakil ketua Hek-yan-pang. Tapi ketika orang-orang itu menjawabnya semakin ganas, panah juga mulai bercuitan menyambar-nyambar maka Han Han menjadi marah dan apa boleh buat mengeluarkan ilmunya meringankan tubuh yang istimewa.

Pemuda ini berkelebat dan tiba-tiba lenyap di antara hujan senjata, bayangan putih menyambar naik turun bagai garuda yang menerkam mangsa. Dan ketika jerit atau pekik terdengar di situ, disusul oleh jatuh atau patahnya senjata tajam maka murid-murid terbelalak dan ngeri serta gentar. Han Han merampas atau menangkis pedang dan panah. Para pemiliknya dibuat terkejut karena tahu-tahu pemuda itu sudah berkelebat di depan mata, cepat sekali. Dan ketika Han Han menampar atau menekuk patah senjata yang siap digerakkan pemiliknya maka gegerlah murid-murid Hek-yan-pang itu oleh sepak terjang pemuda ini.

"Iblis! Dia pemuda iblis, awas...!"

Han Han mendengus. Dia menjadi marah namun lawan sekarang cerai-berai, tak ada yang berani mendekat karena begitu dia mendekat pasti seorang atau dua terlempar roboh. Terakhir, Han Han mengibaskan lengan bajunya dan sebelas orang mencelat sekaligus, tentu saja membuat orang-orang itu semakin gempar. Dan ketika Han Han berkelebatan ke sana-sini dan orang-orang itu tunggang-langgang, tak satupun yang dapat menghadapi pemuda ini maka dari tengah pulau tiba-tiba terdengar suitan dan aba-aban yaring.

"Berhenti, biarkan pemuda itu ke mari!"

Murid laki-laki tertegun. Dari tengah pulau berkelebat bayangan hitam disusul bayangan-bayangan lain. Puluhan anak murid wanita keluar dan berjajar di seberang sana sementara yang berbaju hitam, cantik dan gagah, berseru lagi agar semua orang berhenti menyerang. Rupanya ribut-ribut itu telah terlihat dari pulau dan Han Han lega. Dia tak perlulagi meroboh-robohkan lawan-lawannya ini karena betapapun dia merasa tak enak kalau menghadapi ketuanya nanti. Han Han tentu saja tak tahu bahwa ketua Hek-yan-pang sedang pergi, melihat wanita cantik dan gagah di seberang sana itu dan mengira inilah ketuanya. Maka ketika semua melompat mundur dan yang dikibas atau terpelanting merintih-rintih kesakitan, satu dua di antaranya ada yang patah tulang maka Han Han diminta datang segera.

"Anak muda yang sombong, kami menunggumu di sini. Silahkan pakai sebuah perahu dan datanglah ke mari!"

Han Han berseri. Dia melihat sebuah perahu di tepian dan langsung saja dia melompat masuk. Han Han tak ingin menunjukkan kepandaiannya yang berlebihan dan bersikap sederhana. Kalau dia mau, tanpa perahu pun dia mampu ke tepian sana. Tapi karena Han Han tak suka menonjolkan diri dan sikapnya sederhana, lagi pula dia ke sini bermaksud "mertamu" (bertamu) maka begitu musuh berhenti dan wanita di seberang sana mengundangnya masuk tiba-tiba Han Han sudah menyambar dayung dan dengan dayung ini dia mengayuh perahu, mengerahkan tenaganya.

"Terimakasih. Aku memang tak bermaksud membuat keributan, kouwnio. Kalau anak buahmu tak menyerang aku lagi tentu dengan baik-baik aku akan ke situ dan minta maaf!"

"Hm!" Han Han mendengar dengus pendek itu. Dia melaju dan yakin bahwa wanita baju hitam itu pasti tokoh Hek-yan-pang. Kalau bukan ketua mungkin wakil ketua, itu cukup. Tapi ketika Han Han mengayuh dan mendayung perahunya dengan cepat, tak curiga, mendadak perahunya oleng dan miring ke kiri.

"Eiitt!" Han Han cepat menjaga keseimbangan. Dia tak tahu bahwa seseorang menarik perahunya itu dari bawah air. Dan ketika dia melaju dan hilang kagetnya, Han Han memang benar-benar hijau dalam pengalaman maka perahunya terbalik ke sebelah kanan dan sebuah tarikan amat kuat tiba-tiba membuat perahunya terguling!

"Hem..!" Han Han baru sadar akan sesuatu yang tidak beres. Seketika dia tahu bahwa oleng atau miringnya perahu itu bukan tanpa sebab. Seseorang ada di bawah dan dia hendak digulingkan! Maka begitu dia sadar dan perahu terbalik ke kanan, kuat sekali, tiba-tiba Han Han menjejak bagian kiri dan perahu membalik seperti semula, dengan satu hentakan kuat.

"Dukk!"

Seseorang berteriak di sana. Han Han menyesal tapi apa boleh buat, melihat sebuah kepala muncul tapi menyelam lagi. Dan ketika dia tersenyum dan meluncur lagi, dayung bergerak di kiri kanan maka empat punggung hitam tiba-tiba mengejar perahunya dari belakang. Han Han mendengar suara kecipakdan melihat punggung-punggung itu, meluncur seperti hiu ronggeng dan pemuda ini kagum karena orang-orang itu berusaha mengejar perahunya, cepat sekali. Dan karena dia tiba-tiba ingin menggoda dan main-main dengan empat orang itu, ahli selam yang baik dan kuat sekali maka pemuda ini memperlambat laju perahunya agar ditangkap.

Dan empat orang itu benar saja tiba-tiba mencengkeram perahunya. Dua yang pertama menghilang di bawah sementara dua yang lain bergerak di kiri dan kanan. Han Han tersenyum saja sementara wanita baju hitam dan murid-murid wanita Hek-yan-pang memandang. Mereka juga mengetahui itu dan justeru rupanya sengaja memerintahkan penyelam-penyelam itu untuk menggulingkan Han Han di air.

Mereka tak tahu bahwa Han Han juga pandai berenang karena hidupnya di Laut Selatan. Bertahun-tahun Han Han tinggal di sana dan menghadapi air tentu saja pemuda itu tidak takut. Han Han pun seorang penyelam atau perenang jempolan! Tapi karena saat itu Han Han tak mau berbasah-basah dan dia ingin tetap tinggal di perahunya, mengamati atau memperhatikan apa yang dilakukan empat laki-laki di bawah air ini maka tiba-tiba perahu terangkat dan Han Han dijunjung tinggi.

"Keluarlah!"

Han Han tersenyum. Sekarang dia tahu maksud lawan-lawannya ini. Rupanya dia hendak dilempar keluar perahu dan basah kuyup sebelum menemui wanita baju hitam itu. Han Han tertawa dan semua mata melihat betapa pemuda itu tiba-tiba terangkat perahunya, tinggi ke atas dan empat orang itu tiba-tiba berteriak satu sama lain untuk melempar perahu itu. Sekali terlempar tentu Han Han dan perahunya terbalik, tak mungkin dapat diselamatkan lagi. Tapi ketika Han Han tiba-tiba mengetukkan dayungnya dan Jing-kin-kang atau Tenaga Seribu Kati dikerahkan pemuda ini, perahu dan Han Han tiba-tiba menjadi berat luar biasa mendadak empat orang yang mengangkat tinggi-tinggi perahu itu terpekik kaget.

"Turunkan!"

Perahu anjlok ke bawah. Keras dan cepat tiba-tiba perahu menyentuh lagi permukaan air. Empat laki-laki itu tak dapat melempar dan mereka berteriak, bukan untuk bersatu tenaga melainkan justeru terkejut menyelamatkan diri masing-masing. Mereka seakan ditimpa potongan besi yang berat bukan main. Perahu tak dapat disangga lagi dan anjloklah ke bawah. Dan ketika empat laki-laki itu berteriak karena kepala mereka dihantam lantai perahu, yang turun dan jatuh dengan keras maka mereka terpelanting dan menjerit satu sama lain.

"Aduh!"

Han Han tertawa geli. Empat laki-laki itu lenyap terbenam dan Han Han mengira dapat menyelesaikan lawan-lawannya. Tapi ketika dia bergerak dan mengayuh lagi, menoleh, ternyata empat laki-laki itu mencengkeram dan terseret perahunya, melotot.

"Anak muda, kami akan melemparmu dari perahu. Keluar atau terjun secara paksa!"

Han Han terkejut. Perahu diguncang-guncang keras dan empat laki-laki itu berusaha keras untuk menggulingkannya. Mereka ternyata kuat dan sejenak saja kelenger oleh hantaman lantai perahu tadi. Dan ketika dia mengerutkan kening karena laju perahu tertahan, empat orang itu mengguncang-guncang kuat maka perahu miring ke kiri kanan siap terguling. Han Han bertahan tapi orang-orang itu nekat. Mereka marah dan melotot karena perahu tak segera terbalik, Han Han merenggangkan kaki menjaga keseimbangan. Dan ketika mereka membentak namun Han Han tersenyum, pemandangan itu disaksikan ratusan mata maka Han Han tiba-tiba berseru seraya menyentakkan perahunya.

"Baiklah, kita lihat siapa yang terlempar, sobat-sobat. Kalian atau aku. Maaf....!" dan perahu yang terangkat dan terbawa naik, mengejutkan, mendadak terbang dan tidak menyentuh air lagi. Han Han mengerahkan tenaganya membuat perahu melejit seperti burung bersayap, dua tiga kali dengan dayung memukul permukaan air, hebat sekali. Dan ketika empat orang itu juga terangkat dan menempel di bawah perahu, lucu sekali, maka tiba-tiba keempatnya tak dapat menahan diri lagi dibawa terbang.

"Byur-byur-byurrr!"

Air muncrat tinggi. Semua terbelalak melihat perbuatan Han Han ini. Empat laki-laki itu tak mampu mencengkeram perahu lagi yang terangkat tinggi-tinggi. Mereka dibawa terbang dan jatuh. Dan ketika empat orang itu berteriak dan kesakitan di air, Han Han sudah menjatuhkan perahu dan meluncur seperti biasa maka tiba-tiba ia pun sudah di seberang dan meloncat turun, perahu ditinggalkan begitu saja di tepi telaga.

"Maaf," Han Han sudah berhadapan dengan wanita baju hitam ini. "Aku ingin bertemu pangcu atau wakilnya, kouwnio. Apakah kau orangnya dan dapatkah kita bicara baik-baik."

"Siapa kau!" wanita itu tertegun, wajah Han Han diamati dengan tajam, penuh kagum tapi juga curiga.

Maklum, Han Han kembali membuat anak-anak murid di situ berseru tertahan melihat kemiripan wajahnya yang mirip dengan ketua Hek-yan-pang. Pemuda itu sendiri belum tahu dan wanita baju hitam ini, Ki Bi, tertegun dan sejak tadi juga kaget. Di samping Han Han mirip ketuanya juga pemuda itu lihai sekali. Merobohkan seratus orang di sana dan melumpuhkan empat penyelam di sini, padahal para penyelam itu juga bukan orang sembarangan dan ahli dalam bidangnya! Tapi ketika pemuda itu membungkuk hormat dan bertanya kepadanya, sikapnya halus dan tutur katanya sopan maka wanita ini tertarik namun pura-pura bersikap dingin, ketus.

"Kau siapa dan mau apa datang ke sini. Apa maksudmu dengan bersombong memperlihatkan kepandaian. Apakah hanya kau seorang saja yang hebat di dunia!"

"Maaf," Han Han kembali menjura. "Aku dipaksa orang-orangmu, kouwnio. Tak bermaksud memperlihatkan kepandaian yang bukan apa-apa itu. Kalau mereka tak mengganggu dan menerimaku secara baik-baik tentu aku juga tak akan merobohkan mereka dan menimbulkan semua keributan ini."

"Baik, siapa namamu. Dan apa maksudmu datang ke mari!"

"Aku Han Han, mencari seseorang bernama Wi Hong..."

"Apa? Han Han?"

Han Han terkejut. Tiba-tiba semua anak murid bersuara gaduh. Begitu dia menyebut namanya maka ributlah anak murid wanita memandang pemuda ini. Han Han tak tahu bahwa namanya telah menggemparkan perkumpulan Hek-yan-pang itu, yakni ketika Han Han yang lain alias Giam Liong datang bersama ibunya menemui Beng Tan, bertempur dan mengakibatkan pendekar itu luka parah dan Swi Cu juga nyaris celaka. Maka begitu dia menyebut namanya dan nama itu baru saja mengguncangkan hati maka semua ribut-ribut dan Ki Bi sendiri yang tidak menyangka pemuda ini bernama seperti itu tiba-tiba terkejut dan mundur, membelalakkan mata. Tapi ketika Han Han justeru bingung oleh kegaduhan itu dan murid-murid wanita berbisik-bisik seperti nyamuk maka Ki Bi memutar tubuhnya dan membentak.

"Diam, semua jangan ada yang bersuara!" dan menghadapi pemuda itu lagi wanita ini mengerutkan alisnya. "Anak muda, siapa namamu tadi? Han Han? Kau benar-benar bernama Han Han atau coba mempermainkan kami?"

"Aku memang bernama Han Han," Han Han malah heran. "Kenapa kalian tak percaya dan mengira aku main-main."

"Baik, kalau begitu kau dari mana!"

"Aku dari Lam-hai (Laut Selatan)..."

"Apa? Memangnya kau anak siluman?"

Han Han tersinggung. "Apa maksudmu?"

"Kau bilang bahwa kau berasal dari Lam-hai. Kalau begitu kau bukan manusia melainkan siluman. Katakan siapa guru atau orangtuamu!"

"Aku datang justeru hendak mencari ini. Aku mencari seorang anak murid Hek-yan-pang yang bernama Wi Hong. Dialah yang tahu asal-usulku."

"Hm, kalau begitu kau tak tahu siapa dirimu? Kalau begitu siapa gurumu? Kenapa menunjukmu ke tempat ini?"

"Aku tak dapat menyebut nama guruku, maaf. Tapi aku dipesan agar mencari seorang wanita gila yang akhirnya kutahu bernama Wi Hong. Nah, inilah maksudku dan tolong temukan aku dengan wanita itu."

Semua tertegun. Ki Bi yang memandang tajam pemuda ini tiba-tiba berdetak dan seorang sumoinya, yang berdiri di sebelahnya tiba-tiba berbisik-bisik dan menunjuk Han Han seperti orang bingung. Mereka terlibat pembicaraan lirih dan Han Han memasang telinganya untuk mendengar percakapan itu. Dan ketika dua wanita itu berbisik menyebut nama Wi Hong, juga beberapa nama lain seperti Giam Liong dan Swi Cu maka Han Han berseri karena dua wanita itu tiba-tiba tampak berobah sikapnya dan tidak memasang sikap bermusuhan. Tapi belum dia mendapat jawaban atau keterangan lagi tiba-tiba terdengar pekik dan jerit di seberang, disusul suara ribut-ribut baru.

"Hei, ketua sedang tak ada. Jangan nyelonong begitu saja.... byur-byurr!" lima tubuh terlempar ke air telaga, disusul oleh tubuh-tubuh yang lain dan tiba-tiba saja puluhan murid-murid lelaki di sana berteriak gaduh diserang empat orang pendatang. Semua menoleh dan otomatis terkejut.

Di luar telaga di perkampungan murid-murid lelaki itu muncul dua kakek pengemis dan seorang pemuda seorang seorang kakek gundul yang hebat dan marah-marah mencari ketua Hek-yan-pang. Mereka datang setelah Han Han tiba di pulau, jadi sepintas seolah kawan-kawan dari pemuda ini. Dan ketika di sana kekacauan itu tak terbendung murid-murid Hek-yan-pang, apalagi mereka telah dibuat gentar oleh sepak terjang Han Han tadi maka empat orang melempar lempar anak-anak murid Hek-yan-pang seolah orang melempar-lempar anak ayam, terutama kakek gundul yang matanya bulat dan bermuka merah itu.

"Hayo, mana Hek-yan-pangcu dan suruh menemui kami. Mana Han Han dan suruh keluar bocah itu!"

Han Han terkejut. Empat orang yang mengamuk di luar sana tiba-tiba menyebut namanya, aneh, padahal dia tak mengenal atau mengetahui siapa orang-orang ini. Dan ketika murid-murid lelaki dijatuh bangunkan dan Hek-yan-pang geger, empat orang itu bersikap kejam dengan membunuh atau paling ringan mematah-matahkan anak-anak murid yang melawan maka mereka sudah meloncat ke dalam perahu dan meluncur ke tengah pulau, setelah menjungkirbalikkan puluhan orang yang memang bukan tandingannya.

"Hayo, mana Pek-jit-kiam Ju Beng Taa Ini kami Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai yang datang memenuhi undangan. Panggil bocah bernama Han Han itu untuk menebus dosa!"

"Dan ini guruku Pat-jiu Sian-ong (Dewa Lengan Delapan). Keluarlah kalian untuk ditantang pibu (adu kepandaian)!"

Ki Bi dan lain-lain terkejut. Mereka siap membentak dan meluncur keluar pulau ketika tiba-tiba sudah didahului. Dua pengemis dan dua kakek serta pemuda itu sudah meluncur membelah telaga. Sepak terjang mereka cepat dan luar biasa sekali, anak-anak murid tahu-tahu sudah terlempar dan disapu bersih. Dan ketika sebentar kemudian empat orang itu sudah berlompatan dan turun ke pulau, kakek gundul itu bersinar-sinar dan mendengus-dengus maka Ki Bi berkelebat dan tiba-tiba disusul yang lain-lain, sejenak melupakan Han Han.

"Para pengacau dari mana ini. Berani membuat onar!"

"Ha-ha, kalian siapa?" pemuda itu, yang bergerak dan menyambut Ki Bi tiba-tiba mendahului tiga temannya, sombong dan mengandalkan teman-temannya, terutama gurunya itu, kakek gundul yang matanya berkilat-kilat, tanda sinkang yang hebat. "Mana Han Han dan ketua Hek-yan-pang yang terhormat? Aku Sing Kok, dan ini guruku Pat-jiu Sian-ong. Dulu kami dihina dan sekarang ingin menebus kekalahan!"

"Hm, kau Sing Kok?" Ki Bi tiba-tiba mengerutkan kening, teringat cerita ketuanya bahwa dulu pernah bertemu dengan anak muda ini, juga Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai yang sekarang diingat. Dan ketika ia memandang dua pengemis itu dan bentrok dengan pandang mata Pat-jiu Sian-ong, yang berkilat dan menyeramkan maka Ki Bi tergetar tapi tiba-tiba menjadi marah. "Bagus sekali, kiranya kau dan dua pengemis tua bangka ini adalah orang-orang yang sombong di tempat pesta Tek-wangwe itu. Apakah kalian datang ingin mencari mati? Ketua kami sedang keluar, tapi kami dapat melayani kalian dan mengantarkan ke akherat kalau mau!"

"Ha-ha, sombong sekali. Tapi sebutkan siapa kau dan apa kedudukanmu di sini!"

"Aku wakil ketua, pimpinan sementara di tempat ini!"

"Bagus, kalau begitu panggil Han Han dan suruh menghadapi aku!"

"Aku Han Han," Han Han tiba-tiba melangkah maju, heran dan merasa bingung kenapa namanya berkali-kali disebut. Dia tak tahu apa yang terjadi dan karena itu sejak tadi mendengarkan saja. Dan ketika pemuda bernama Sing Kok itu mencarinya padahal dia di situ, aneh sekali kenapa tak tahu maka Han Han maju den gatal telinganya. Tapi begitu dia maju dan menyebut namanya maka pemuda itu tertegun dan dua pengemis di sebelahnya juga mengerutkan kening.

"Kau siapa?" Sing Kok membentak. "Aku tidak mencari dirimu!"

"Tapi aku Han Han," pemuda ini menjawab tenang. "Kau berkali-kali menyebut aku. Nah, aku di sini dan kau mau apa!"

Sing Kok lagi-lagi tertegun. Tentu saja dia terheran dan terkejut bahwa Han Han, pemuda yang tak dikenal, maju menerima tantangannya. Yang dia maksudkan bukanlah pemuda ini melainkan yang lain, yakni Giam Liong. Tapi karena pemuda itu tak tahu perobahan di tempat ini dan betapa Han Han yang dicarinya itu sebenarnya adalah Giam Liong, keturunan Si Golok Maut maka diapun menjadi marah dan tiba-tiba mengibaskan lengannya.

"Aku bukan mencari kau, tetapi pemuda sombong yang lain, putera Hek-yan-pangcu. Minggirlah!"

Han Han tersenyum. Dia tidak mengelak ketika dikibas lawannya ini, diam saja tapi sinkang di tubuhnya bekerja, melindungi. Dan ketika pukulan itu mengenai tubuhnya dan hawa sakti di tubuh pemuda ini menolak, tak kelihatan, tiba-tiba Sing Kok menjerit karena terpelanting sendiri.

"Dess!"

Semua terkejut. Toa-sin-kai dan Ji-sinkai terbelalak karena mereka tak melihat pemuda itu menangkis. Sing Kok tahu-tahu terpelanting sendiri dan berteriak. Tapi ketika pemuda itu melompat bangun dan marah, mukanya merah maka Sing Kok tiba-tiba membentak dan menerjang lagi.

"Kau kira aku takut. Jangan sombong, kepadamupun aku tak gentar!" dan memukul serta melepas bacokan-bacokan berbahaya, dengan tangannya, murid Pat-jiu Sian-ong ini menyerang Han Han dengan sengit.

Tapi Han Han mengelak dan mengegos sana-sini. Pemuda itu tak menangkis karena sekali gebrakan itu saja membuat dia tahu bahwa dia menghadapi lawan yang masih rendah kepandaiannya, bukan tandingannya. Dan ketika Han Han mengelak sana-sini dan tak ada satupun pukulan itu yang mengenai dirinya, Han Han licin bagai belut maka Sing Kok menjadi marah sekali karena lawannya itu hanya mundur-mundur atau berkelit melulu.

"Hei, jangan bersikap pengecut. Sambut pukulanku dan jangan lari-lari!"

"Aku tak lari-lari," Han Han tenang menjawab. "Kepandaianmu saja yang masih rendah, Sing Kok. Kalau aku menyambuti pukulanmu jangan-jangan kau terbanting lagi!"

"Keparat, kau menghina? Ayo terima pukulanku kalau jantan... haitt!" dan Sing Kok yang marah menerjang kalap tiba-tiba melepas pukulan dengan kedua tangan berbareng. Tangan itu diputar cepat hingga membentuk delapan pasang lengan, mengurung atau menyambar Han Han dari segala penjuru.

Han Han kagum, tapi tidak terkejut. Dan karena lawan benar-benar menghendaki dia menangkis, dia sudah dikurung oleh serangan bertubi-tubi maka pemuda ini berseru perlahan menggerakkan tangan kirinya. "Baiklah, kau memaksa, Sing Kok. Dan ini barangkali pelajaran pertama... plak!"

Dan Sing Kok yang menjerit dan berteriak ngeri, terbanting oleh tangkisan Han Han tiba-tiba roboh dan terguling-guling dengan muka pucat, mengaduh-aduh dan Pat-jiu Sian-ong tentu saja terkejut berkelebat kedepan. Kakek gundul itu melihat muridnya tak dapat bangun berdiri dan mengaduh-aduh memegangi lengannya yang dikira patah. Rasa sakit yang luar biasa menyengat pemuda itu, sang kakek berseru dan menyambar muridnya. Tapi ketika kakek itu melihat dan mengurut, Sing Kok ternyata hanya terkilir saja maka pemuda itu sudah disembuhkan lagi sementara anak-anak murid Hek-yan-pang bersorak melihat begitu mudahnya Han Han merobohkan lawan.

"Keparat!" Pat-jiu Sian-ong berdiri dan marah kepada Han Han, lalu menoleh kepada dua pengemis di situ. "Kalian tak berbuat apa-apa, Sin-kai? Hanya menonton dan senang melihat muridku dipecundangi?"

"Maaf," Ji-sin-kai tiba-tiba bergerak dan mencabut tongkatnya. "Kita tak kenal pemuda ini, Sian-ong. Tapi tentu saja aku juga tak tinggal diam. Namun kita mencari Hek-yan-pangcu dan bukan orang lain!"

"Pangcu tak ada di sini," Ki Bi tiba-tiba berseru, betapapun merasa bahwa urusan itu adalah urusannya, bukan urusan Han Han. "Kalau kalian mau mencari keributan di sini kami akan menghadapimu, Sin-kai. Dan jangan anggap kami meminta pertolongan orang lain!" dan membalik menghadapi Han Han agar pemuda itu mundur, urusan diambil alih Hek-yan-pang maka Ki Bi mengucap terima kasih. "Kau telah menghajar pemuda ini, terima kasih. Tapi harap kau mundur agar orang tak menyangka Hek-yan-pang belum apa-apa sudah minta bantuan orang lain!"

Han Han menarik napas dalam. Dia mengangguk dan mundur dan melihat betapa wajah lawannya merah padam di sana. Sing Kok marah bukan main tetapi gentar. Apa yang diperlihatkanHan Han memang mengejutkan hatinya dan gurunya tadi berbisik bahwa lawannya itu bukanlah tandingannya. Biarlah gurunya yang menyelesaikan atau dua pengemis di sana itu. Dan ketika Sing Kok bangkit terhuyung dan marah namun tak berani melabrak lagi, Pat-jiu Sian-ong menggeram memandang Han Han maka kakek itu berkata bahwa pemuda itu boleh maju lagi mengeluarkan kepandaiannya.

"Kau menghina aku dan mencari penyakit. Majulah kalau ingin membantu Hek-yan-pang!"

"Tidak!" Ki Bi berseru lantang. "Dia tamuku, Pat-jiu Sian- ong, tak akan mencampuri urusan kita. Nah, siapa yang akan maju dan menghadapi aku!" dan mencabut pedangnya dengan gagah, tahu bahwa orang-orang didepannya ini tak mungkin dihadapi murid-murid biasa, Ki Bi telah maju dan memberi isyarat kepada dua sumoinya, adik seperguruan kedua dan ketiga maka tiga wakil Hek-yan-pang ini dengan gagah menghadapi tiga orang itu, karena Sing Kok tak mungkin maju karena masih kesakitan. Tangkisan Han Han tadi membuat kedua lengannya biru lebam!

"Hm, kalian benar-benar mewakili ketua kalian? Berani maju menghadapi kami?" Ji-sin-kai mengejek dan maju menyeringai, diam-diam heran dan kaget juga akan kepandaian Han Han, ragu dan lebih baik menghadapi wanita-wanita Hek-yan-pang ini. Maka ketika Ki Bi berseru bahwa pemuda yang aneh itu tak ikut-ikut, urusan adalah sepenuhnya urusan Hek-yan-pang maka kakek ini lega meskipun bukan berarti takut menghadapi Han Han, karena diri sendiri belum bergebrak. Dan begitu dia maju dan menghadapi tiga wanita yang berlompatan, mereka siap melawan seorang lawan seorang maka Ki Bi mengerutkan kening melihat Pat-jiu Sian-ong dan Toa-sin-kai tak maju.

"Kenapa hanya tua bangka ini saja. Kami bertiga, siap menghadapi kalian bertiga pula!"

"Hm, Ji-sin-kai ingin menghadapi kalian, siluman betina. Hadapi saja dia dan nanti kami maju kalau diperlukan!"

"Benar," Ji-sin-kai tertawa sombong. "Pat-jiu Sian-ong dan suhengku tak akan maju kalau aku masih hidup, tikus-tikus betina. Nah, kalian majulah saja dan aku boleh dikeroyok!"

"Sombong!" Ki Bi membentak marah. "Kami tak suka main keroyokan, Ji-sin-kai, kalau dikehendaki pertempuran satu lawan satu. Nah, biar kami berdua mundur dan sumoiku Ai Ling menghadapimu!"

Ji-sin-kai tertegun. Ki Bi dan sumoinya yang satu mundur, sementara wanita ketiga mendengus dan maju menghadapinya, sudah mencabut pedang. Dan ketika Ai Ling, wanita itu bergerak dan memasang pedang di ujung kening, siap menyerang maka kakek itu diminta untuk mulai menerima "pelajaran".

"Kalian adalah tamu, mulailah dulu. Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana cara menerima pelajaran dari tuan rumah!"

"Keparat!" kakek itu merah mukanya. "Kau hanya anak murid saja, tikus betina. Jangan bertingkah atau nanti mampus dihajar tongkatku. Kau wanita, aku laki-laki. Nah, mulailah dulu dan aku yang akan mengajarkan kepadamu bagaimana cara menyambut tamu yang baik!" dan melotot minta lawan menyerang dulu.

Ai Ling mendengus dan tidak banyak bicara tiba-tiba sudah bergerak dan pedangpun menyambar kedepan. "Baik, kau yang minta. Awas dan jaga lambungmu... singg!" dan pedang yang menusuk dan menyambar perut tiba-tiba dikelit dan sudah membalik menyambar leher, dikelit lagi tapi menukik menuju ulu hati. Ji-sin-kai terkejut karena pedang lawan bergerak begitu cepat. Dan karena dia dikejar dan tak mungkin mengelak terus-menerus maka tongkatpun bergerak dan kakek itu menangkis.

"Trangg!" Tongkat besi itu berpijar menyilaukan mata. Ai Ling tergetar tapi mampu menahan, tanda wanita itu memiliki sinkang kuat dan tenaganya tak kalah dengan laki-laki. Ji-sin- kai terkejut karena lawan ternyata hebat, tentu saja begitu karena Ai Ling adalah murid senior di perkumpulan Walet Hitam itu. Dan ketika wanita ini membentak dan berkelebatan cepat, pedang sudah naik turun menyambar-nyambar maka Ji-sin-kai dikurung dan dihujani serangan kombinasi, tusukan atau babatan-babatan miring.

"Trang-trangg!"

Semua terbelalak. Ji-sin-kai akhirnya marah karena Ang-in Kiam-sut (Silat Pedang Awan Merah) sudah naik turun dari segala penjuru menekannya. Pedang di tangan lawannya itu tak boleh dipandang, enteng karena sudah berubah menjadi segulung awan putih yang menyambar-nyambar membungkus dirinya. Pengemis ini sibuk dan tahu-tahu sudah terdesak, tongkat di tangannya tak dapat balas menyerang karena selalu dipakai menangkis. Ji-sin-kai memekik dan tentu saja gusar. Dan ketika gulungan pedang lawan kian merapat dan tak ada jalan keluar, kakek itu pucat dan merah berganti-ganti maka dia mengeluarkan seruan panjang di mana tongkat ditangannya tiba-tiba dengan berani mendobrak dan memecah gulungan pedang lawan, dengan satu resiko terserempet serangan.

"Crik-crangg!"

Benar saja kakek itu lolos. Membentak dan memutar tongkatnya mengikuti gulungan sinar putih, Ji-sin-kai harus bergerak cepat kalau tak mau ditindih dan dimatikan langkahnya maka pengemis itu melepas pukulan kiri mengiringi gerakan tongkat yang mendobrak serbuan lawan. Pedang bertemu tongkat tapi lengan kakek itu keserempet panjang, tidak berbahaya namun cukup membuat Ji-sin-kai meradang. Dia terlalu memandang rendah lawan yang dianggapnya hanya sebagai anak murid belaka, tak tahu bahwa lawan ternyata hebat karena memang merupakan murid senior, pilihan dan tentu saja ilmu kepandaiannya sudah tinggi! Dan ketika kakek itu marah dan nyaris terlambat, merendahkan lawan yang ternyata berhasil melukainya maka Ji-sin-kai menggereng dan tiba-tiba bergerak mainkan silat tongkatnya, Koai-tung atau Tongkat Gila.

"Sute, jangan ceroboh. Lawan ternyata cukup lihai!"

"Ya, aku salah. Tapi sekarang tak mungkin dia mendesakku, suheng. Aku akan membalas dan membuatnya jatuh bangun. trak-trak!" dan tongkat yang bergerak seperti kesetanan, memukul dan meliuk tiba-tiba membalas dan menahan serbuan pedang, naik turun dan mengikuti irama dan Ai Ling terkejut karena pedangnya terpental.

Ji-sin-kai menambah tenaganya dan bertempur dengan buas. Tongkat menderu dan menyambar bagai kesurupan. Dan ketika dia menangkis namun kembali terpental, kemarahan dan kegeraman lawan rupanya menjadikan tenaga kakek itu berlipat ganda maka Ang-in Kiam-sut tiba-tiba mati di jalan tak dapat berkembang, menangkis atau menghalau serangan tongkat yang gencar. Ji-sin-kai balas mendesak!

"Ha-ha, hayo mana kepandaianmu, tikus betina. Sekarang aku membalas dan menindihmu. Awas tongkat kalau tak ingin kepala pecah. dess!"

Semua terkesiap. Tongkat menyambar kepala padahal pedang baru saja terpental, bertemu dalam satu tangkisan kuat. Tapi ketika Ai Ling mampu melempar tubuh ke belakang dan bergulingan menjauh, selamat, maka tongkat menghajar tanah yang seketika berlubang. Selanjutnya Ji-sin-kai tertawa-tawa dan mengejar lawan, mengejek dan memburu dengan serangan-serangan tongkatnya yang gencar. Si kakek ternyata mampu merobah keadaan. Tapi ketika lawan melengking dan berseru panjang, marah, tiba-tiba Ki Bi membentak sumoinya agar mengeluarkan Silat Pedang Matahari (Pek-jitKiam-sut).

"Keluarkan Pek-jit Kiam-sut, tinggalkan Ang-in Kiam-sut dan mainkan gerakan-gerakan menyilang!"

Sang sumoi mengangguk. Memang Ai Ling sendiri tak mungkin membendung serangan lawan dengan ilmu pedang Awan Merah. Dia harus cepat mengganti atau nanti keadaannya terlanjur buruk, diteter lawan. Dan ketika sucinya menyuruh dan Ai Ling sendiri sudah memikirkan itu maka begitu dia menghindar satu serangan tongkat maka pedang di tangan tiba-tiba melakukan gerak menyilang seperti gunting.

"Crangg!"

Ji-sin-kai terbelalak. Tongkat tergetar dan tenaga lawan tiba-tiba menjadi berlipat ganda. Ai Ling juga marah dan karena itu memperoleh tenaganya berlipat-lipat, sama seperti dirinya tadi. Dan ketika wanita itu melengking dan memutar pedangnya, dalam gerak silang atau menggunting maka tongkat tertahan dan pertempuran kembali imbang, sama seperti tadi!

"Hayo pentang bacotmu!" Ai Ling mengejek. "Keluarkan semua kepandaianmu, Ji-sin-kai. Dan lihat nonamu akan memberimu pelajaran bermain pedang!"

"Keparat!" kakek itu mendelik. "Kau boleh juga, tikus betina. Tapi kita akan adu kuat siapa yang lebih tahan. trak-trak!" dan tongkat yang kembali bertemu pedang, imbang dan sama-sama terpental akhirnya membuat Ji-sin-kai melotot karena lawanpun dapat memperbaiki diri.

Pedang kembali bergerak naik turun dan gerakan-gerakan menggunting itu amat berbahaya sekali. Kalau dia tak hati-hati salah-salah tubuhnya bisa digunting, gerak pedang itu cepat sekali. Dan ketika kakek ini menggeram dan memaki lawannya, Ai Ling tertawa dan melakukan balasan maka keduanya bertanding seru dan belum ada yang kalah atau menang. Anak-anak murid bersorak dan Ki Bi serta yang lain-lain tersenyum gembira. Ai Ling mampu menandingi lawan dan itu cukup. Tapi ketika Ji-sin-kai mendesis dan mengerotokkan buku-buku jarinya, tangan kiri tiba-tiba menyambar dengan pukulan-pukulan sinkang maka Ai Ling harus memecah perhatiannya ke tangan kiri kakek itu pula.

"Plak-dess!"

Ai Ling terhuyung oleh satu tamparan miring. Dia lengah sekejap karena saat itu tongkat menderu dari kanan. Tapi ketika dia memekik dan mengayunkan pedangnya dalam jurus Matahari Memecah Bianglala, pedangnya bergerak di tiga penjuru mengecoh lawan maka satu guratan kecil juga mengenai pundak kakek itu.

"Bret!"

Sama-sama. Ji-sin-kai mendelik karena diapun menerima serempetan, meskipun dia tadi membuat lawan terhuyung dengan satu tamparan miring. Dan ketika masing-masing kembali bergerak dan serang-menyerang, tongkat menahan pedang maka Silat Pedang Matahari dimainkan baik oleh wanita ini namun sayang jurus-jurusnya kurang banyak. Ai Ling harus mengulang-ulang gerakannya dan itu dikenal lawan, akhirnya betapapun juga Ji-sin-kai hapal.

Dan ketika pengemis itu tertawa aneh dan mampu berkelit dari tusukan atau sambaran pedang, tongkatnya sendiri bergerak berubah-ubah maka di sini Ai Ling terdesak dan kalah pengalaman oleh lawan. Mula-mula memang mampu bertanding imbang namun akhirnya jurus-jurus yang tak lengkap membuat serangan-serangannya mampu dibaca lawan, ini kelemahan wanita itu. Dan ketika Ji-sin-kai tertawa bergelak dan girang melihat itu, Ki Bi dan lain-lain mulai khawatir karena Ai Ling terdesak perlahan-lahan maka Pek-jit Kiam-sut yang seharusnya hebat itu ternyata hanya setengah matang dimiliki wanita ini.

"Ha-ha, keluarkan semua kepandaianmu, tikus betina. Dan perlihatkan Pek-jit Kiam-sut yang hebat itu!"

Ai Ling menggigil. Kalau saja silat pedangnya sudah sempurna, Pek-jit Kiam-sut dimiliki secara matang tentu dia dapat melancarkan serangan yang bervariasi. Beng Tan memang tak memberikan semua kepandaiannya kepada murid-muridnya. Yang memiliki Ilmu Pedang Matahari pun terbatas pada Ki Bi dan adik-adik seperguruannya ini. Dan karena itupun juga tak semuanya karena ilmu silat itu hanya sebagai pendamping Ilmu Pedang Awan Merah, ilmu silat yang memang asli milik perkumpulan wanita ini maka Ai Ling akhirnya kebingungan karena kurang matangnya Pek-jit Kiam- sut itu diketahui lawan, yang terbahak-bahak dan menghalau serangan pedangnya sebelum datang.

Ji-sin-kai memang pengemis yang cerdik dan awas pandangan, mampu melihat kelemahan kecil itu setelah mereka bertanding puluhan jurus. Dan ketika tongkatnya menderu-deru dan gerakan tongkat sering berubah-ubah, menyodok atau menusuk dan tak jarang pula mengemplang atau menghantam maka satu tipuan tongkat akhirnya mengenai paha wanita itu.

"Dess!"

Ai Ling terpelanting. Dia terpekik dan bergulingan diburu lawan, mendapat pukulan atau serangan tongkat bertubi-tubi. Ji-sin-kai tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik ini untuk merobohkan lawannya, secepatnya. Dan ketika pedang diputar bingung dan trang-trang-trang bertemu lawan maka tiba-tiba kaki pengemis itu bergerak pula menendang.

"Dess!"

Ai Ling mengeluh terlempar lagi. Lawan bervariasi melancarkan serangan, ia tak menduga dan bergulingan lagi. Namun karena kakek itu tetap mengejar dan kesempatan ini betul-betul tak akan dilewatkan, lawan sudah di bawah tak dapat meloncat bangun maka ganti pukulan tangan kiri pengemis itu mengenai dada Ai Ling. Akhirnya wanita ini melontakkan darah dan pucatlah murid-murid yang menonton. Keadaan sungguh buruk.

Ji-sin-kai bukannya mengalah melainkan semakin ganas. Tongkatnya kembali menggebuk dan mengenai punggung lawannya itu, terasa kejam. Dan ketika Ji-sin-kai tertawa bergelak dan benar-benar di atas angin, Ai Ling sudah terluka namun tetap bertahan, gagah sekali wanita itu maka Ji-sin-kai mengeluarkan satu jurus berbahaya di mana tongkatnya tiba-tiba ditimpukkan dengan keji.

"Telengas!" Seruan itu muncul dari mulut Ki Bi. Ki Bi tak dapat melihat lagi sumoinya menjadi bulan-bulanan pukulan. Tongkat dan kaki silih berganti menghantam adiknya, juga serangan-serangan tangan kiri di mana pukulan itu tak kalah dahsyat dengan tongkat. Dan ketika tongkat meluncur dan siap menghabisi nyawa sumoinya, ditimpuk ke arah dada maka Ki Bi me lengking dan berkelebat ke depan. Pedang di tangan wanita ini bergerak dan meluncur ke arah tongkat, terbang menyambar. Tapi ketika wanita itu meluncurkan pedangnya dan berteriak marah, Ji-sin-kai berseri-seri melihat bakal kemenangannya tiba-tiba menyambar sebuah benda hitam lain yang meluncur lebih cepat dari pedang Ki Bi.

"Tak!"

Tongkat hancur berkeping-keping. Pedang milik Ki Bi sendiri akhirnya meluncur dan menancap di pohon, tongkat itu sudah hilang. Dan ketika wanita ini tertegun dan Ji-sin-kai juga terbelalak, kaget, maka Pat-jiu Sian-ong tiba-tiba berkelebat dan berdiri di depan Han Han.

"Kau curang, membantu lawan?"

Ki Bi terkejut. Sebenarnya tak ada yang tahu siapa atau apa benda hitam yang menyambar tadi. Itulah batu kecil yang memang diluncurkan Han Han. Pemuda ini meraih dan menjentikkan batu itu karena melihat bahwa tak mungkin Ai Ling selamat. Wanita itu kalah karena Pek-jit Kiam-sutnya yang kurang matang, padahal dengan Silat Pedang Awan Merah hasilnya seri tapi Ji-sin-kai memiliki variasi pukulan atau serangan. Jadi Ai Ling juga tak mungkin hanya mengandalkan Silat Pedang Awan Merahnya itu.

Maka begitu wanita itu kebingungan karena dengan Pek-jit Kiam-sut dia hanya mampu bertahan empat puluh jurus, silat inipun tak lengkap atau tak matang maka ketika dia didesak dan diteter bergulingan, empat lima kali menerima hantaman tongkat maka Ai Ling benar-benar di ambang bahaya ketika Ji-sin-kai tiba-tiba ingin mengakhiri pertandingan dengan menimpukkan tongkatnya. Senjata itu diluncurkan dari jarak dekat dan siapapun terkejut melihat kekejian itu. Sin-kai tak mengampuni lawannya dan Ai Ling pasti tewas.

Tapi ketika batu hitam itu mendahului pedang dan tongkat hancur berkeping-keping, kini Pat-jiu Sian-ong berkelebat dan menghadapi Han Han maka semua mata terbelalak dan memandang pemuda ini. Ki Bi juga baru tahu bahwa kiranya pemuda inilah yang menyelamatkan sumoinya. Ai Ling sudah meloncat bangun dan gemetar di sana, merintih. Dan ketika semua memperhatikan Han Han dan Ji-sin-kai melotot, tiba-tiba marah maka Han Han menarik napas dalam-dalam menghadapi kakek tinggi besar berkepala gundul ini, sikapnya tenang, mengagumkan.

"Hm, kau awas dan tajam pandangan, Sian-ong. Tapi kau tak dapat menyebutku curang. Aku hanya menolong wanita itu, tidak membokong Ji-sin-kai. Siapa curang dan kenapa harus disalahkan? Pertandingan ini katanya bersifat pibu. Tapi pihakmu ternyata ingin membunuh. Kalau kau menyalahkan aku maka ini tidak benar karena aku hanya membantu yang lemah, berpijak pada keadilan!"

Sian-ong mendelik. "Kau terang-terangan membela Hek-yan-pang?"

"Aku hanya tak suka kepada orang-orang yang berwatak kejam. Kalau kau menganggap pihakmu benar tentunya kau tak memperbolehkan Ji-sin-kai menimpukkan tongkatnya."

"Keparat, kau lancang, anak muda. Kalau tidak diberi pelajaran tentu kau akan semakin bertingkah!" dan Sian-ong yang menggerakkan lengannya mendorong tiba-tiba sudah menyerang Han Han dengan pukulan dahsyat. Kakek itu marah dan geram karena dua kali Han Han membuat ulah. Tadi merobohkan muridnya sekarang menghancurkan tongkat Ji-sin-kai. Tapi ketika dia bergerak dan melepas sinkang, gigi berkerot tiba-tiba Han Han menyambut dan tidak mengelak, kali ini ingin memberi pelajaran.

"Sian-ong, kau rupanya terlalu jumawa, menganggap rendah orang lain. Biarlah kusambut pukulanmu dan setelah itu jangan membuat ribut. dess!"

Sian-ong terkejut. Pukulannya diterima Han Han dan serangkum angin kuat menahan dorongannya itu. Dia terbelalak dan menambah tenaga tapi tetap saja Han Han tak bergeming. Dan ketika dia membentak dan menjejakkan kaki maka tiba-tiba dia terdorong dan terhuyung mundur!

"Maaf, Sian-ong," Han Han berseru. "Pergi dan tinggalkan tempat ini secara baik-baik. Aku tak ingin bermusuhan denganmu dan kita berdamai saja!"

"Keparat!" kakek itu menggereng, berkelebat dan menggerakkan kedua tangannya lagi. "Kau mampu mendorong aku, anak muda. Tapi coba lagi yang ini dan terimalah!"

Han Han mengerutkan kening. Si kakek murka dan wajahnya membesi, urat-urat di dahi menonjol dan menakutkan sekali sikap Dewa Berlengan Delapan ini. Dan ketika Han Han mengelak tapi anak-anak murid menjerit, terlempar oleh angin pukulan yang terus menyambar maka Sian-ong mengejar dan bertubi-tubi melepas pukulan. Han Han terkejut dan sadar bahwa di belakangnya banyak terdapat anak-anak murid perempuan, mereka itu menjadi korban pukulan Sian-ong dan tentu saja dia selanjutnya tak berani mengelak, khawatir atau takut pukulan itu menyambar anak-anak murid yang tak berdosa. Dan ketika Han Han menangkis dan Sian-ong terpental, untuk kedua kalinya dibuat kaget oleh sinkang pemuda ini maka Dewa Lengan Delapan itu tiba-tiba mengeluarkan suara dahsyat yang menggetarkan isi pulau.

"Anak muda, aku akan membunuhmu!"

Han Han tak dapat berbuat lain. Tiba-tiba dia sudah didesak dan dirangsek kakek tinggi besar ini. Sian-ong naik pitam dan tangannya tiba-tiba berobah menjadi delapan pasang, semuanya menyambar dan menghantam dari kiri kanan muka belakang, hebat sekali. Dan ketika kakek itu tak mau sudah setiap ditangkis, terpental tapi menyerang lagi maka Toa-sin-kai memekik dan tiba-tiba menyerang Ki Bi.

"Dan kaupun harus menerima hajaran kami... wut!"

Ki Bi terkejut, tongkat menderu dan kakek itu meloncat mengayun senjatanya. Dia mengelak tapi dikejar. Dan ketika Ki Bi menangkis tapi pedang tergetar, kalah kuat maka Toa-sin-kai menyerang dan mengelilinginya dengan putaran-putaran tongkat yang cepat.

"Des-des-dess!"

Tiga kali tongkat menghajar tanah. Ki Bi melengking dan kakek itu seperti orang kesetanan, mengejar dan menyerangnya lagi bertubi-tubi di mana ia cepat menangkis namun kalah tenaga, tertolak dan terhuyung dan Ji-sin-kai pun sudah maju dengan seruan marah, mengobrak-abrik siapa saja yang ada di situ dan sudah merampas sebatang pedang. Dan ketika kakek itu mainkan pedang dengan ilmu silat tongkat, lucu namun hebat sekali maka tiga anak murid terbabat roboh dan terjungkal mandi darah!

"Heii..!" Han Han terkejut. "Jangan membabi-buta, Sin-kai. Aku akan merobohkanmu kalau berani membunuh lagi!"

"Jangan banyak cakap!" Pat-jiu Sian-ong membentak. "Kau dan aku ada di sini, bocah. Hadapi aku dulu dan lihat pukulanku.... des-dess!" si kakek menekuk kesepuluh jarinya, menghantam dan melepas pukulan dahsyat di mana Han Han lalu mengerahkan sinkang menyambut pukulan lawan.

Lawan tiba-tiba mengamuk dan anak-anak murid Hek-yan-pang kacau balau. Ki Bi menahan Toa-sin-kai namun si pengemis terlalu lihai, mampu mementalkan pedangnya dan mengikuti gerakan pedang yang dimainkan, hapal atau sudah kenal karena tadi telah memperhatikan atau mempelajari pertandingan sutenya dengan Ai Ling. Maka begitu si kakek bertambah garang dan tongkat menyambar-nyambar, Ki Bi kewalahan dan kaget serta marah maka sumoinya nomor dua, Lin Siu, tiba-tiba menerjang dan membantu dirinya.

"Jangan hiraukan aku. Aku masih dapat menghadapi kakek ini. Tahan dan hadapi Ji-sin-kai, sumoi. Jangan biarkan ia membunuh-bunuhi murid-murid kita!"

"Tapi kau didesak pengemis tua bangka ini, kita harus merobohkannya dulu. Apakah tidak sebaiknya kita mengeroyok kakek ini dan Ji-sin-kai menghadapi anak-anak murid kita, suci? Aku khawatir kau celaka, tak ada pimpinan di sini selain dirimu!"

"Tidak, aku masih dapat bertahan. Biarpun aku terdesak tak mudah tua bangka ini merobohkan aku. Hadapilah Ji-sin- kai itu, sumoi. Jangan biarkan murid-murid yang lain menjadi makanan empuk!"

"Baiklah, kalau begitu aku ke sana. Hati-hati!" namun ketika Lin Siu bergerak dan mau menghadapi Ji-sin-kai, marah dan geram tiba-tiba terjadi hal aneh.

Ji-sin-kai berteriak tanpa sebab ketika menerjang anak-anak murid Walet Hitam, pedang menyambar atau menderu bagai tongkat. Dan ketika kakek itu terhuyung sana-sini dan pedang di tangan tiba-tiba terlepas, anak murid berteriak dan balas menyerangnya maka kakek itu tertusuk dan tak dapat menggerakkan tubuh dengan cepat. Lin Siu terheran-heran karena mendadak Ji-sin-kai seperti orang mabok. Kaki dan tangannya kaku. Dan ketika dia terbelalak tapi tentu saja girang, kakek itu telah melukai banyak anak murid Hek-yan-pang maka dia menggerakkan tubuh dan pedang di tangannya berkelebat membacok leher.

"Kau mampuslah!"

Namun wanita ini terkejut. Pedang yang menuju leher tiba-tiba melenceng. Sebutir batu mengenainya dan Sin-kai yang terkejut melihat serangannya juga tiba-tiba roboh terguling, belakang lutut kakek itu juga disambar sebutir batu lain di mana akhirnya menotok jalan darah, membuat Ji-sin-kai terguling dan ancaman pedang Lin Siu mengenai bahunya saja. Dan ketika dua orang itu sama-sama terkejut sementara Lin Siu marah dan penasaran siapa yang melepas batu hitam, si kakek mengeluh dan bergulingan meloncat bangun maka wanita ini tertegun mendengar seruan Han Han.

"Jangan menumpahkan darah, jangan saling bunuh. Biarkan dua orang pengemis itu ke sini dan bergabung dengan Pat-jiu Sian-ong ini!"

Ajaib, Toa-kai dan Ji-kai tiba-tiba terhuyung-huyung ke arah Han Han. Mereka itu tersedot sesuatu dan tampaklah bahwa Han Han menggerak-gerakkan tangan kirinya ke arah dua pengemis itu. Ki Bi yang sedang didesak Toa-kai tiba-tiba merasa ditolak tenaga gaib, lawan mendesaknya bertubi-tubi namun Toa-sin-kai sekonyong-konyong terbelalak, mengeluh dan berteriak kaget karena tubuhnya mendadak ditarik sesuatu, menjauhi lawannya. Dan ketika sutenya juga mengalami hal yang sama dan mereka ternyata disedot Han Han, yang bertanding dengan sebelah lengannya yang lain melayani Sian-ong maka kakek tinggi besar berkepala gundul itu juga terkejut.

Han Han memang menunjukkan kepandaiannya. Tadi, setelah Ji-sin-kai dengan tak kenal ampun menghajar dan mau membunuh Ai Ling pemuda ini segera tahu bahwa murid-murid Hek-yan-pang masih bukan tandingan pengemis itu, padahal di situ masih ada Pat-jiu Sian-ong yang tampaknya lebih hebat daripada kawan-kawannya. Kakek itu bersikap memimpin dan semuanya tunduk.

Dan ketika hanya kakek gundul ini pula yang tahu akan bantuannya terhadap Ai Ling, lemparan batu hitam tadi maka Han Han tak ingin lagi bersikap menunggu. Dia melihat par apendatang ini merupakan orang-orang bengis. Dia tak tahu apa yang pernah terjadi dengan dua pengemis itu di rumah Tek-wangwe, karena yang berhadapan waktu itu memang bukan dia melainkan Giam Liong.

Tapi karena Han Han tertarik mendengar namanya disebut-sebut, orang-orang ini kiranya hendak membalas dendam terhadap ketua Hek-yan-pang dan puteranya yang juga bernama Han Han, hal yang aneh maka Han Han lalu menyedot dua kakek itu dengan tenaga sinkangnya. Pat-jiu Sian-ong masih dilayaninya dengan baik tapi matanya melihat pula sepak terjang Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai, di mana wanita baju hitam yang gagah itu didesak. Dan karena dia sudah mengukur bahwa para pendatang ini lebih lihai daripada lawan-lawannya, padahal dia punya persoalan dengan Hek-yan-pang masalah wanita bernama Wi Hong itu maka Han Han memutuskan untuk membantu anak-anak murid Hek-yan-pang ini.

Pat-jiu Sian-ong dan kawan-kawan dinilai tak beraturan karena tuan rumah jelas sedang pergi, jadi tak seharusnya menyerang murid-murid yang tak ada persoalan dengannya. Maka begitu dia bergerak dan ingin mencegah banjir darah, Toa-kai dan Ji-kai disedotnya dengan sinkang istimewa maka Han Han bergerak mengimbangi Pat-jiu Sian-ong yang murka besar...

Naga Pembunuh Jilid 15

NAGA PEMBUNUH
JILID 15
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"MUNGKIN saja dia temanku, aku serius. Aku bertanya sungguh-sungguh apakah kau pernah bertemu dengan wanita yang kumaksudkan ini, lihai tetapi gila, rambutnya riap-riapan."

"Hm, aku tak pernah bertemu dengan orang yang kau maksudkan ini, Han Han. Tapi kalau umpamanya ketemu apakah yang harus kulakukan."

"Kau bawa dia kepadaku, ada sesuatu yang amat penting dari wanita ini yang kuperlukan!"

"Baik, kalau begitu di mana kau tinggal? Bagaimana caranya aku membawa kepadamu kalau tidak tahu kau berada dimana?"

Han Han tertegun. Tiba-tiba dia sadar bahwa Tang Siu tak tahu di mana tempat tinggalnya. Bagaimana harus membawa wanita itu kalau ketemu umpamanya, padahal dia tak mau menyebutkan di mana dia tinggal. Dan karena dia sadar bahwa tak mungkin hal itu dilakukan, gurunya maupun dia sendiri tak menghendaki orang lain tahu maka Han Han menarik napas dalam-dalam ketika menjawab.

"Maaf, aku keliru bicara, Tang Siu. Barangkali yang kumaksudkan adalah cari saja aku kalau kau menemukan wanita itu. Aku akan di sekitar Hek-yan-pang untuk sementara waktu ini. Kalau kau menemukan wanita itu tolong kau cari aku disana."

"Kau murid Hek-yan-pang?"

"Bukan, tapi... hm, aku calon tamu Hek-yan-pang."

"Aneh!" gadis itu berseru. "Kau merahasiakan diri, Han Han. Gerak-gerikmu misterius sekali. Bagaimana kalau nanti kau tak ada di Hek-yan-pang juga? Apakah aku harus membawa-bawa wanita gila itu?"

"Hm, kalau begitu ya sudah saja. Tak usah terlalu merepotkan dirimu. Maaf, aku hendak melanjutkan perjalanan, Tang Siu. Aku berterima kasih kalau kau sudi membantuku. Tapi tak usah memaksa diri. Kalau kita bertemu lagi tentu kita dapat bercakap-cakap lagi. Selamat tinggal, kita rupanya harus berpisah!" namun ketika Han Han hendak bergerak dan meninggalkan gadis itu, Tang Siu tertegun dan berkelebat ke depan tiba-tiba gadis itu berseru,

"Nanti dulu. Tunggu, Han Han. Bolehkah aku tahu siapa nama wanita yang gila itu!"

"Aku tak tahu..." Han Han sedih. "Aku juga samar-samar, Tang Siu. Aku hanya hendak mencari wanita ini karena suruhan guruku."

"Hm, apamukah wanita itu? Dan apa yang hendak kau cari?"

"Aku hendak mencari ayah ibuku, dan wanita inilah yang tahu."

"Apa? Kau... kau tak tahu ayah ibumu sendiri? Kau seorang anak lola?"

"Semuanya gelap, Tang Siu. Aku tak tahu apakah aku lola atau bukan. Yang jelas, aku ingin mencari ayah ibuku dan si gila inilah yang tahu asal-usulku!"

"Ah, kasihan!" dan Tang Siu yang tertegun dan membelalakkan mata, berlinang, tiba-tiba mengejutkan Han Han karena gadis itu tampak terharu. "Han Han, aku ikut sedih. Tapi baiklah, aku akan menolongmu dan kalaunkutemukan wanita itu akan kucari dirimu. Aku juga hendak melanjutkan perjalanan. Silahkan kau ke Hek-yan-pang karena aku sendiri akan ke kotaraja!"

"Terima kasih," Han Han mengangguk dengan terharu pula. "Kau benar-benar baik, Tang Siu. Tapi sekali lagi tak usah memaksa diri kalau terlalu repot!"

Dan ketika gadis itu mundur dan Han Han tersenyum, dua mata beradu dengan detak yang aneh maka Han Han berkelebat dan melewati gadis itu. Selanjutnya Han Han bergerak seperti iblis karena tahu-tahu iapun telah lenyap dari tempat itu. Dan ketika Tang Siu tertegun dan kagum, apa yang diperlihatkan Han Han luar biasa sekali maka gadis itupun menarik napas dalam-dalam dan berkelebat pula melanjutkan perjalanannya.

* * * * * * *

Dua hari kemudian Han Han telah tiba di sekitar telaga itu. Inilah markas Hek-yan-pang yang dicari-carinya. Han Han berhenti dan tidak segera masuk. Ada perkampungan di luar telaga, rumah-rumah sederhana tetapi yang kokoh dan kuat. Dan ketika Han Han berhenti di situ mengamati ke dalam, markas perkumpulan itu katanya ada di tengah maka seseorang berkelebat disusul oleh beberapa orang lainnya lagi.

"Hei, anak muda. Apa maksudmu mengintai di sini dan apa yang kau kerjakan!"

Han Han terkejut. Asyik mengamati tempat itu, tak ada maksud untuk membuat ribut Han Han tiba-tiba telah dikepung oleh tujuh murid laki-laki Hek-yan-pang yang menjaga di sekitar situ. Sejak ditinggalkan ketuanya memang perkumpulan ini dijaga lebih ketat, ada yang bersembunyi di balik semak-semak belukar untuk mengintai orang asing. Han Han tak melihat itu karena mereka sudah ada di situ, melihat kedatangannya. Maka ketika pemuda itu tampak mengamati penuh perhatian, berkali-kali mengerutkan kening dan memandang ke dalam maka tujuh orang ini menjadi curiga dan saling memberi tanda.

Han Han tak tampak sebagai pemuda yang menakutkan karena tubuhnya biasa-biasa saja, sedang namun tegap dan kuat. Dan ketika pemuda itu tampak mengamati penuh perhatian, murid-murid tak tahu siapa pemuda ini maka mereka lalu keluar dan membentak. Dan Han Han tentu saja menoleh. Tapi begitu Han Han menoleh tiba-tiba saja tujuh orang itu berseru tertahan dan membelalakkan matanya.

"Aih, mirip pangcu (ketua)!"

Han Han terkejut. Tujuh orang itu men dadak saja bengong dan memandangnya tak berkedip, ada kesan kaget tapi juga heran, tertegun. Tapi ketika melihat bahwa pemuda ini bukanlah ketua mereka dan tujuh orang itu hilang kagetnya maka semua maju kembali dan mengurung pemuda itu.

"Siapa kau, dan ada apa mengintai rumah orang!"

"Maaf," Han Han merasa salah, membungkuk. "Aku sedang mengamati markas perkumpulan Hek-yan-pang, saudara-saudara. Ingin ke sana tetapi belum tahu jalan. Siapakah kalian dan apakah orang-orang Hek-yan-pang."

"Benar, kami anak murid Hek-yan-pang!" seorang di antara tujuh laki-laki itu menjawab, suaranya agak lunak karena betapapun Han Han dilihatnya sebagai pemuda yang lemah lembut. "Siapa kau, anak muda. Dan kenapa datang seperti maling!"

"Aku bukan maling," Han Han mendongkol juga. "Aku hanya tak ingin membuat kesalahan. Aku datang untuk mencari seorang wanita yang katanya ada hubungannya dengan Hek-yan-pang. Barangkali kalian tahu dan baiklah kukatakan!" dan ketika tujuh laki-laki itu menunggu dan membelalakkan matanya, diam-diam masih heran dan kagum bahwa pemuda ini benar-benar mirip ketua mereka, Beng Tan, maka Han Han menceritakan maksudnya bahwa dia mencari seorang wanita berambut riap-riapan yang gila. Tapi belum dia menceritakan lebih lanjut tahu-tahu tujuh murid Hek-yan-pang itu mencabut pedang dan seketika membentak.

"Kau ada hubunganapa dengan si gila itu. Apakah temannya!"

"Hm," Han Han terkejut, mengerutkan kening. "Barangkali betul, saudara-saudara. Apakah kalian tahu di mana wanita itu itu. Coba panggilkan untukku atau.... singg!" tujuh pedang tiba-tiba bergerak, menusuk dan membacok dan Han Han membelalakkan mata karena tiba-tiba tujuh laki-laki itu marah sekali.

Dia tak tahu bahwa yang dicarinya adalah Wi Hong, padahal Wi Hong telah menghajar murid-murid lelaki Hek-yan-pang ini, yang dibencinya. Maka begitu dia bicara tentang wanita itu dan tak ada lagi wanita gila kecuali Wi Hong, meskipun kini telah sembuh dan pergi bersama puteranya maka tujuh laki-laki yang kebetulan pernah dihajar Wi Hong tiba-tiba naik darah mendengar kata-kata Han Han, membentak dan menerjang dan seketika tujuh pedang serentak menyambar nyaris bersamaan. Mereka semua marah kepada Han Han, ingin dijadikan korban bagi pelampiasan kemarahan mereka kepada Wi Hong.

Tapi karena Han Han bukanlah pemuda lemah dan tujuh anak murid Hek-yan-pang yang mendadak marah-marah dan menyerangnya itu dilihatnya memiliki kepandaian biasa-biasa saja, pedang yang bergerak dinilai masih lamban maka Han Han berkelit dan tujuh laki-laki itu terkejut karena pemuda itu lolos begitu mudah, menyelinap atau menghindar dibalik sambaran tujuh pedang.

"Hei, kalian rupanya gila. Ada apa marah-marah dan menyerang aku!"

"Keparat, kau musuh kami kalau teman wanita itu, anak muda. Kau akan mendapatkannya nanti di akherat!"

"Apa?" Han Han mengerutkan kening, mengelak sana-sini. "Mendapatkannya di akherat? Maksud kalian wanita yang kucari itu tak ada? Sudah mati?"

"Mati atau tidak kami tak perduli, bocah siluman. Yang penting kau mampus dan menerima dosa atas hasil perbuatan wanita itu.... sing-sing-crat!" dan pedang yang menyerempet batu besar mengeluarkan bunga api tiba-tiba disusul jerit kaget laki-laki ini ketika Han Han berkelebat lenyap.

Enam temannya juga sama-sama berteriak keras karena sekonyong-konyong pedang mereka berbenturan sendiri, Han Han mengeluarkan kepandaiannya hingga tak diketahui oleh lawan. Dan ketika lawan terbelalak dan tertegun, tak tahu di mana pemuda itu berada sekonyong-konyong bayangan putih datang dan Han Han menjentik pedang di tangan mereka.

"Kalian orang-orang tak sopan. Belum selesai diajak bicara sudah menyerang orang lain. Baiklah, aku akan mencari ketua kalian, sobat-sobat. Dan terpaksa aku merobohkan kalian.... tring-tring-tringg!" dan pedang yang terlepas dari tangan pemiliknya tiba-tiba disusul oleh jerit atau pekik murid-murid Hek-yan-pang ini. Han Han menendang mereka memberi pelajaran, gemas juga. Dan ketika tujuh orang itu terpelanting dan mengaduh-aduh, kaki atau tangan mereka keselio maka Han Han berkelebat dan lenyap menuju telaga.

"Heii, awas. Kita kedatangan musuh!"

Bayangan-bayangan tiba-tiba berkelebatan dari balik hutan. Di luar telaga itu memang sebuah hutan kecil di mana gemerincingnya atau jatuhnya senjata-senjata tadi terdengar oleh anak-anak murid yang lain. Bentakan dan caci-maki anak-anak murid itu sudah memanggil teman-temannya untuk datang, itu merupakan tanda bagi mereka. Maka ketika Han Han merobohkan murid-murid ini dan terbang menuju telaga, yang berarti mendekati perkampungan di mana itu merupakan wilayah murid-murid lelaki, karena yang wanita ada di dalam atau di tengah telaga maka begitu Han Han bergerak dan memperlihatkan diri tahu-tahu seratus lebih anak-anak murid Walet Hitam mencegat didepan.

"Berhenti!" Han Han tertegun, melihat ketatnya penjagaan, berlapis-lapis. "Sebutkan maumu dan siapa kau, anak muda. Atau kami menyerang dan akan membunuhmu!"

Tapi begitu Han Han berhenti dan menunda larinya, terpaksa memenuhi bentakan ini tiba-tiba semua terpekik dan menyatakan bahwa pemuda itu mirip ketua mereka.

"Aih, pemuda ini mirip pangcu!"

Han Han terkejut untuk kedua kalinya. Di sinipun ia disangka mirip sang ketua sementara orang-orang itu menjublak, bengong. Tapi ketika Han Han tersenyum dan coba bersikap bersahabat, mau menerangkan bahwa ia mencari seseorang di situ mendadak dua dari tujuh murid yang terpincang-pincangdan mengejar Han Han berteriak bahwa pemuda itu teman Wi Hong, nama yang membuat pemuda ini berkerut kening.

"Dia antek si iblis wanita, Wi Hong. Datang untuk mengacau. Tangkap dan bunuh saja dia!"

Han Han terkejut. Seratus lebih murid laki-laki yang ada di situ tiba-tiba garang matanya. Sikap yang semula ragu-ragu dan agak lunak sekonyong-konyong berobah. Han Han tak tahu bahwa ini adalah juga anak-anak murid yang dihajar Wi Hong. Wanita itu tak menyukai adanya murid laki-laki di Hek-yan-pang, karena Hek-yan-pang semula adalah perkumpulan yang hanya dihuni wanita-wanita saja. Maka begitu nama Wi Hong disebut dan nama itu dibenci murid-murid lelaki, karena Wi Hong menghajar mereka maka mendadak saja seratus lebih murid-murid itu menerjang tanpa banyak cing-cong.

"Kalau begitu kau pengacau. Daripada hidup lebih baik kami bunuh... wut-wut!" dan senjata yang berhamburan menuju Han Han, bagai hujan, tiba-tiba tidak perlu dikomando untuk kedua kalinya lagi karena semua murid laki-laki itu memang menaruh kebencian kepada Wi Hong.

Han Han terkejut dan bersinar-sinar karena sekarang dia tahu bahwa wanita gila itu Wi Hong, setitik jalan terang ada di mukanya. Tapi karena semua orang-orang itu menyerangnya dan mereka juga seperti tujuh murid-murid pertama, beringas dan marah menerjangnya maka pemuda ini berkelit dan mengelak hujan senjata yang silih berganti. Han Han berseru agar orang-orang itu tidak menyerangnya dulu, dia ingin menemui ketua atau wakil ketua Hek-yan-pang. Tapi ketika orang-orang itu menjawabnya semakin ganas, panah juga mulai bercuitan menyambar-nyambar maka Han Han menjadi marah dan apa boleh buat mengeluarkan ilmunya meringankan tubuh yang istimewa.

Pemuda ini berkelebat dan tiba-tiba lenyap di antara hujan senjata, bayangan putih menyambar naik turun bagai garuda yang menerkam mangsa. Dan ketika jerit atau pekik terdengar di situ, disusul oleh jatuh atau patahnya senjata tajam maka murid-murid terbelalak dan ngeri serta gentar. Han Han merampas atau menangkis pedang dan panah. Para pemiliknya dibuat terkejut karena tahu-tahu pemuda itu sudah berkelebat di depan mata, cepat sekali. Dan ketika Han Han menampar atau menekuk patah senjata yang siap digerakkan pemiliknya maka gegerlah murid-murid Hek-yan-pang itu oleh sepak terjang pemuda ini.

"Iblis! Dia pemuda iblis, awas...!"

Han Han mendengus. Dia menjadi marah namun lawan sekarang cerai-berai, tak ada yang berani mendekat karena begitu dia mendekat pasti seorang atau dua terlempar roboh. Terakhir, Han Han mengibaskan lengan bajunya dan sebelas orang mencelat sekaligus, tentu saja membuat orang-orang itu semakin gempar. Dan ketika Han Han berkelebatan ke sana-sini dan orang-orang itu tunggang-langgang, tak satupun yang dapat menghadapi pemuda ini maka dari tengah pulau tiba-tiba terdengar suitan dan aba-aban yaring.

"Berhenti, biarkan pemuda itu ke mari!"

Murid laki-laki tertegun. Dari tengah pulau berkelebat bayangan hitam disusul bayangan-bayangan lain. Puluhan anak murid wanita keluar dan berjajar di seberang sana sementara yang berbaju hitam, cantik dan gagah, berseru lagi agar semua orang berhenti menyerang. Rupanya ribut-ribut itu telah terlihat dari pulau dan Han Han lega. Dia tak perlulagi meroboh-robohkan lawan-lawannya ini karena betapapun dia merasa tak enak kalau menghadapi ketuanya nanti. Han Han tentu saja tak tahu bahwa ketua Hek-yan-pang sedang pergi, melihat wanita cantik dan gagah di seberang sana itu dan mengira inilah ketuanya. Maka ketika semua melompat mundur dan yang dikibas atau terpelanting merintih-rintih kesakitan, satu dua di antaranya ada yang patah tulang maka Han Han diminta datang segera.

"Anak muda yang sombong, kami menunggumu di sini. Silahkan pakai sebuah perahu dan datanglah ke mari!"

Han Han berseri. Dia melihat sebuah perahu di tepian dan langsung saja dia melompat masuk. Han Han tak ingin menunjukkan kepandaiannya yang berlebihan dan bersikap sederhana. Kalau dia mau, tanpa perahu pun dia mampu ke tepian sana. Tapi karena Han Han tak suka menonjolkan diri dan sikapnya sederhana, lagi pula dia ke sini bermaksud "mertamu" (bertamu) maka begitu musuh berhenti dan wanita di seberang sana mengundangnya masuk tiba-tiba Han Han sudah menyambar dayung dan dengan dayung ini dia mengayuh perahu, mengerahkan tenaganya.

"Terimakasih. Aku memang tak bermaksud membuat keributan, kouwnio. Kalau anak buahmu tak menyerang aku lagi tentu dengan baik-baik aku akan ke situ dan minta maaf!"

"Hm!" Han Han mendengar dengus pendek itu. Dia melaju dan yakin bahwa wanita baju hitam itu pasti tokoh Hek-yan-pang. Kalau bukan ketua mungkin wakil ketua, itu cukup. Tapi ketika Han Han mengayuh dan mendayung perahunya dengan cepat, tak curiga, mendadak perahunya oleng dan miring ke kiri.

"Eiitt!" Han Han cepat menjaga keseimbangan. Dia tak tahu bahwa seseorang menarik perahunya itu dari bawah air. Dan ketika dia melaju dan hilang kagetnya, Han Han memang benar-benar hijau dalam pengalaman maka perahunya terbalik ke sebelah kanan dan sebuah tarikan amat kuat tiba-tiba membuat perahunya terguling!

"Hem..!" Han Han baru sadar akan sesuatu yang tidak beres. Seketika dia tahu bahwa oleng atau miringnya perahu itu bukan tanpa sebab. Seseorang ada di bawah dan dia hendak digulingkan! Maka begitu dia sadar dan perahu terbalik ke kanan, kuat sekali, tiba-tiba Han Han menjejak bagian kiri dan perahu membalik seperti semula, dengan satu hentakan kuat.

"Dukk!"

Seseorang berteriak di sana. Han Han menyesal tapi apa boleh buat, melihat sebuah kepala muncul tapi menyelam lagi. Dan ketika dia tersenyum dan meluncur lagi, dayung bergerak di kiri kanan maka empat punggung hitam tiba-tiba mengejar perahunya dari belakang. Han Han mendengar suara kecipakdan melihat punggung-punggung itu, meluncur seperti hiu ronggeng dan pemuda ini kagum karena orang-orang itu berusaha mengejar perahunya, cepat sekali. Dan karena dia tiba-tiba ingin menggoda dan main-main dengan empat orang itu, ahli selam yang baik dan kuat sekali maka pemuda ini memperlambat laju perahunya agar ditangkap.

Dan empat orang itu benar saja tiba-tiba mencengkeram perahunya. Dua yang pertama menghilang di bawah sementara dua yang lain bergerak di kiri dan kanan. Han Han tersenyum saja sementara wanita baju hitam dan murid-murid wanita Hek-yan-pang memandang. Mereka juga mengetahui itu dan justeru rupanya sengaja memerintahkan penyelam-penyelam itu untuk menggulingkan Han Han di air.

Mereka tak tahu bahwa Han Han juga pandai berenang karena hidupnya di Laut Selatan. Bertahun-tahun Han Han tinggal di sana dan menghadapi air tentu saja pemuda itu tidak takut. Han Han pun seorang penyelam atau perenang jempolan! Tapi karena saat itu Han Han tak mau berbasah-basah dan dia ingin tetap tinggal di perahunya, mengamati atau memperhatikan apa yang dilakukan empat laki-laki di bawah air ini maka tiba-tiba perahu terangkat dan Han Han dijunjung tinggi.

"Keluarlah!"

Han Han tersenyum. Sekarang dia tahu maksud lawan-lawannya ini. Rupanya dia hendak dilempar keluar perahu dan basah kuyup sebelum menemui wanita baju hitam itu. Han Han tertawa dan semua mata melihat betapa pemuda itu tiba-tiba terangkat perahunya, tinggi ke atas dan empat orang itu tiba-tiba berteriak satu sama lain untuk melempar perahu itu. Sekali terlempar tentu Han Han dan perahunya terbalik, tak mungkin dapat diselamatkan lagi. Tapi ketika Han Han tiba-tiba mengetukkan dayungnya dan Jing-kin-kang atau Tenaga Seribu Kati dikerahkan pemuda ini, perahu dan Han Han tiba-tiba menjadi berat luar biasa mendadak empat orang yang mengangkat tinggi-tinggi perahu itu terpekik kaget.

"Turunkan!"

Perahu anjlok ke bawah. Keras dan cepat tiba-tiba perahu menyentuh lagi permukaan air. Empat laki-laki itu tak dapat melempar dan mereka berteriak, bukan untuk bersatu tenaga melainkan justeru terkejut menyelamatkan diri masing-masing. Mereka seakan ditimpa potongan besi yang berat bukan main. Perahu tak dapat disangga lagi dan anjloklah ke bawah. Dan ketika empat laki-laki itu berteriak karena kepala mereka dihantam lantai perahu, yang turun dan jatuh dengan keras maka mereka terpelanting dan menjerit satu sama lain.

"Aduh!"

Han Han tertawa geli. Empat laki-laki itu lenyap terbenam dan Han Han mengira dapat menyelesaikan lawan-lawannya. Tapi ketika dia bergerak dan mengayuh lagi, menoleh, ternyata empat laki-laki itu mencengkeram dan terseret perahunya, melotot.

"Anak muda, kami akan melemparmu dari perahu. Keluar atau terjun secara paksa!"

Han Han terkejut. Perahu diguncang-guncang keras dan empat laki-laki itu berusaha keras untuk menggulingkannya. Mereka ternyata kuat dan sejenak saja kelenger oleh hantaman lantai perahu tadi. Dan ketika dia mengerutkan kening karena laju perahu tertahan, empat orang itu mengguncang-guncang kuat maka perahu miring ke kiri kanan siap terguling. Han Han bertahan tapi orang-orang itu nekat. Mereka marah dan melotot karena perahu tak segera terbalik, Han Han merenggangkan kaki menjaga keseimbangan. Dan ketika mereka membentak namun Han Han tersenyum, pemandangan itu disaksikan ratusan mata maka Han Han tiba-tiba berseru seraya menyentakkan perahunya.

"Baiklah, kita lihat siapa yang terlempar, sobat-sobat. Kalian atau aku. Maaf....!" dan perahu yang terangkat dan terbawa naik, mengejutkan, mendadak terbang dan tidak menyentuh air lagi. Han Han mengerahkan tenaganya membuat perahu melejit seperti burung bersayap, dua tiga kali dengan dayung memukul permukaan air, hebat sekali. Dan ketika empat orang itu juga terangkat dan menempel di bawah perahu, lucu sekali, maka tiba-tiba keempatnya tak dapat menahan diri lagi dibawa terbang.

"Byur-byur-byurrr!"

Air muncrat tinggi. Semua terbelalak melihat perbuatan Han Han ini. Empat laki-laki itu tak mampu mencengkeram perahu lagi yang terangkat tinggi-tinggi. Mereka dibawa terbang dan jatuh. Dan ketika empat orang itu berteriak dan kesakitan di air, Han Han sudah menjatuhkan perahu dan meluncur seperti biasa maka tiba-tiba ia pun sudah di seberang dan meloncat turun, perahu ditinggalkan begitu saja di tepi telaga.

"Maaf," Han Han sudah berhadapan dengan wanita baju hitam ini. "Aku ingin bertemu pangcu atau wakilnya, kouwnio. Apakah kau orangnya dan dapatkah kita bicara baik-baik."

"Siapa kau!" wanita itu tertegun, wajah Han Han diamati dengan tajam, penuh kagum tapi juga curiga.

Maklum, Han Han kembali membuat anak-anak murid di situ berseru tertahan melihat kemiripan wajahnya yang mirip dengan ketua Hek-yan-pang. Pemuda itu sendiri belum tahu dan wanita baju hitam ini, Ki Bi, tertegun dan sejak tadi juga kaget. Di samping Han Han mirip ketuanya juga pemuda itu lihai sekali. Merobohkan seratus orang di sana dan melumpuhkan empat penyelam di sini, padahal para penyelam itu juga bukan orang sembarangan dan ahli dalam bidangnya! Tapi ketika pemuda itu membungkuk hormat dan bertanya kepadanya, sikapnya halus dan tutur katanya sopan maka wanita ini tertarik namun pura-pura bersikap dingin, ketus.

"Kau siapa dan mau apa datang ke sini. Apa maksudmu dengan bersombong memperlihatkan kepandaian. Apakah hanya kau seorang saja yang hebat di dunia!"

"Maaf," Han Han kembali menjura. "Aku dipaksa orang-orangmu, kouwnio. Tak bermaksud memperlihatkan kepandaian yang bukan apa-apa itu. Kalau mereka tak mengganggu dan menerimaku secara baik-baik tentu aku juga tak akan merobohkan mereka dan menimbulkan semua keributan ini."

"Baik, siapa namamu. Dan apa maksudmu datang ke mari!"

"Aku Han Han, mencari seseorang bernama Wi Hong..."

"Apa? Han Han?"

Han Han terkejut. Tiba-tiba semua anak murid bersuara gaduh. Begitu dia menyebut namanya maka ributlah anak murid wanita memandang pemuda ini. Han Han tak tahu bahwa namanya telah menggemparkan perkumpulan Hek-yan-pang itu, yakni ketika Han Han yang lain alias Giam Liong datang bersama ibunya menemui Beng Tan, bertempur dan mengakibatkan pendekar itu luka parah dan Swi Cu juga nyaris celaka. Maka begitu dia menyebut namanya dan nama itu baru saja mengguncangkan hati maka semua ribut-ribut dan Ki Bi sendiri yang tidak menyangka pemuda ini bernama seperti itu tiba-tiba terkejut dan mundur, membelalakkan mata. Tapi ketika Han Han justeru bingung oleh kegaduhan itu dan murid-murid wanita berbisik-bisik seperti nyamuk maka Ki Bi memutar tubuhnya dan membentak.

"Diam, semua jangan ada yang bersuara!" dan menghadapi pemuda itu lagi wanita ini mengerutkan alisnya. "Anak muda, siapa namamu tadi? Han Han? Kau benar-benar bernama Han Han atau coba mempermainkan kami?"

"Aku memang bernama Han Han," Han Han malah heran. "Kenapa kalian tak percaya dan mengira aku main-main."

"Baik, kalau begitu kau dari mana!"

"Aku dari Lam-hai (Laut Selatan)..."

"Apa? Memangnya kau anak siluman?"

Han Han tersinggung. "Apa maksudmu?"

"Kau bilang bahwa kau berasal dari Lam-hai. Kalau begitu kau bukan manusia melainkan siluman. Katakan siapa guru atau orangtuamu!"

"Aku datang justeru hendak mencari ini. Aku mencari seorang anak murid Hek-yan-pang yang bernama Wi Hong. Dialah yang tahu asal-usulku."

"Hm, kalau begitu kau tak tahu siapa dirimu? Kalau begitu siapa gurumu? Kenapa menunjukmu ke tempat ini?"

"Aku tak dapat menyebut nama guruku, maaf. Tapi aku dipesan agar mencari seorang wanita gila yang akhirnya kutahu bernama Wi Hong. Nah, inilah maksudku dan tolong temukan aku dengan wanita itu."

Semua tertegun. Ki Bi yang memandang tajam pemuda ini tiba-tiba berdetak dan seorang sumoinya, yang berdiri di sebelahnya tiba-tiba berbisik-bisik dan menunjuk Han Han seperti orang bingung. Mereka terlibat pembicaraan lirih dan Han Han memasang telinganya untuk mendengar percakapan itu. Dan ketika dua wanita itu berbisik menyebut nama Wi Hong, juga beberapa nama lain seperti Giam Liong dan Swi Cu maka Han Han berseri karena dua wanita itu tiba-tiba tampak berobah sikapnya dan tidak memasang sikap bermusuhan. Tapi belum dia mendapat jawaban atau keterangan lagi tiba-tiba terdengar pekik dan jerit di seberang, disusul suara ribut-ribut baru.

"Hei, ketua sedang tak ada. Jangan nyelonong begitu saja.... byur-byurr!" lima tubuh terlempar ke air telaga, disusul oleh tubuh-tubuh yang lain dan tiba-tiba saja puluhan murid-murid lelaki di sana berteriak gaduh diserang empat orang pendatang. Semua menoleh dan otomatis terkejut.

Di luar telaga di perkampungan murid-murid lelaki itu muncul dua kakek pengemis dan seorang pemuda seorang seorang kakek gundul yang hebat dan marah-marah mencari ketua Hek-yan-pang. Mereka datang setelah Han Han tiba di pulau, jadi sepintas seolah kawan-kawan dari pemuda ini. Dan ketika di sana kekacauan itu tak terbendung murid-murid Hek-yan-pang, apalagi mereka telah dibuat gentar oleh sepak terjang Han Han tadi maka empat orang melempar lempar anak-anak murid Hek-yan-pang seolah orang melempar-lempar anak ayam, terutama kakek gundul yang matanya bulat dan bermuka merah itu.

"Hayo, mana Hek-yan-pangcu dan suruh menemui kami. Mana Han Han dan suruh keluar bocah itu!"

Han Han terkejut. Empat orang yang mengamuk di luar sana tiba-tiba menyebut namanya, aneh, padahal dia tak mengenal atau mengetahui siapa orang-orang ini. Dan ketika murid-murid lelaki dijatuh bangunkan dan Hek-yan-pang geger, empat orang itu bersikap kejam dengan membunuh atau paling ringan mematah-matahkan anak-anak murid yang melawan maka mereka sudah meloncat ke dalam perahu dan meluncur ke tengah pulau, setelah menjungkirbalikkan puluhan orang yang memang bukan tandingannya.

"Hayo, mana Pek-jit-kiam Ju Beng Taa Ini kami Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai yang datang memenuhi undangan. Panggil bocah bernama Han Han itu untuk menebus dosa!"

"Dan ini guruku Pat-jiu Sian-ong (Dewa Lengan Delapan). Keluarlah kalian untuk ditantang pibu (adu kepandaian)!"

Ki Bi dan lain-lain terkejut. Mereka siap membentak dan meluncur keluar pulau ketika tiba-tiba sudah didahului. Dua pengemis dan dua kakek serta pemuda itu sudah meluncur membelah telaga. Sepak terjang mereka cepat dan luar biasa sekali, anak-anak murid tahu-tahu sudah terlempar dan disapu bersih. Dan ketika sebentar kemudian empat orang itu sudah berlompatan dan turun ke pulau, kakek gundul itu bersinar-sinar dan mendengus-dengus maka Ki Bi berkelebat dan tiba-tiba disusul yang lain-lain, sejenak melupakan Han Han.

"Para pengacau dari mana ini. Berani membuat onar!"

"Ha-ha, kalian siapa?" pemuda itu, yang bergerak dan menyambut Ki Bi tiba-tiba mendahului tiga temannya, sombong dan mengandalkan teman-temannya, terutama gurunya itu, kakek gundul yang matanya berkilat-kilat, tanda sinkang yang hebat. "Mana Han Han dan ketua Hek-yan-pang yang terhormat? Aku Sing Kok, dan ini guruku Pat-jiu Sian-ong. Dulu kami dihina dan sekarang ingin menebus kekalahan!"

"Hm, kau Sing Kok?" Ki Bi tiba-tiba mengerutkan kening, teringat cerita ketuanya bahwa dulu pernah bertemu dengan anak muda ini, juga Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai yang sekarang diingat. Dan ketika ia memandang dua pengemis itu dan bentrok dengan pandang mata Pat-jiu Sian-ong, yang berkilat dan menyeramkan maka Ki Bi tergetar tapi tiba-tiba menjadi marah. "Bagus sekali, kiranya kau dan dua pengemis tua bangka ini adalah orang-orang yang sombong di tempat pesta Tek-wangwe itu. Apakah kalian datang ingin mencari mati? Ketua kami sedang keluar, tapi kami dapat melayani kalian dan mengantarkan ke akherat kalau mau!"

"Ha-ha, sombong sekali. Tapi sebutkan siapa kau dan apa kedudukanmu di sini!"

"Aku wakil ketua, pimpinan sementara di tempat ini!"

"Bagus, kalau begitu panggil Han Han dan suruh menghadapi aku!"

"Aku Han Han," Han Han tiba-tiba melangkah maju, heran dan merasa bingung kenapa namanya berkali-kali disebut. Dia tak tahu apa yang terjadi dan karena itu sejak tadi mendengarkan saja. Dan ketika pemuda bernama Sing Kok itu mencarinya padahal dia di situ, aneh sekali kenapa tak tahu maka Han Han maju den gatal telinganya. Tapi begitu dia maju dan menyebut namanya maka pemuda itu tertegun dan dua pengemis di sebelahnya juga mengerutkan kening.

"Kau siapa?" Sing Kok membentak. "Aku tidak mencari dirimu!"

"Tapi aku Han Han," pemuda ini menjawab tenang. "Kau berkali-kali menyebut aku. Nah, aku di sini dan kau mau apa!"

Sing Kok lagi-lagi tertegun. Tentu saja dia terheran dan terkejut bahwa Han Han, pemuda yang tak dikenal, maju menerima tantangannya. Yang dia maksudkan bukanlah pemuda ini melainkan yang lain, yakni Giam Liong. Tapi karena pemuda itu tak tahu perobahan di tempat ini dan betapa Han Han yang dicarinya itu sebenarnya adalah Giam Liong, keturunan Si Golok Maut maka diapun menjadi marah dan tiba-tiba mengibaskan lengannya.

"Aku bukan mencari kau, tetapi pemuda sombong yang lain, putera Hek-yan-pangcu. Minggirlah!"

Han Han tersenyum. Dia tidak mengelak ketika dikibas lawannya ini, diam saja tapi sinkang di tubuhnya bekerja, melindungi. Dan ketika pukulan itu mengenai tubuhnya dan hawa sakti di tubuh pemuda ini menolak, tak kelihatan, tiba-tiba Sing Kok menjerit karena terpelanting sendiri.

"Dess!"

Semua terkejut. Toa-sin-kai dan Ji-sinkai terbelalak karena mereka tak melihat pemuda itu menangkis. Sing Kok tahu-tahu terpelanting sendiri dan berteriak. Tapi ketika pemuda itu melompat bangun dan marah, mukanya merah maka Sing Kok tiba-tiba membentak dan menerjang lagi.

"Kau kira aku takut. Jangan sombong, kepadamupun aku tak gentar!" dan memukul serta melepas bacokan-bacokan berbahaya, dengan tangannya, murid Pat-jiu Sian-ong ini menyerang Han Han dengan sengit.

Tapi Han Han mengelak dan mengegos sana-sini. Pemuda itu tak menangkis karena sekali gebrakan itu saja membuat dia tahu bahwa dia menghadapi lawan yang masih rendah kepandaiannya, bukan tandingannya. Dan ketika Han Han mengelak sana-sini dan tak ada satupun pukulan itu yang mengenai dirinya, Han Han licin bagai belut maka Sing Kok menjadi marah sekali karena lawannya itu hanya mundur-mundur atau berkelit melulu.

"Hei, jangan bersikap pengecut. Sambut pukulanku dan jangan lari-lari!"

"Aku tak lari-lari," Han Han tenang menjawab. "Kepandaianmu saja yang masih rendah, Sing Kok. Kalau aku menyambuti pukulanmu jangan-jangan kau terbanting lagi!"

"Keparat, kau menghina? Ayo terima pukulanku kalau jantan... haitt!" dan Sing Kok yang marah menerjang kalap tiba-tiba melepas pukulan dengan kedua tangan berbareng. Tangan itu diputar cepat hingga membentuk delapan pasang lengan, mengurung atau menyambar Han Han dari segala penjuru.

Han Han kagum, tapi tidak terkejut. Dan karena lawan benar-benar menghendaki dia menangkis, dia sudah dikurung oleh serangan bertubi-tubi maka pemuda ini berseru perlahan menggerakkan tangan kirinya. "Baiklah, kau memaksa, Sing Kok. Dan ini barangkali pelajaran pertama... plak!"

Dan Sing Kok yang menjerit dan berteriak ngeri, terbanting oleh tangkisan Han Han tiba-tiba roboh dan terguling-guling dengan muka pucat, mengaduh-aduh dan Pat-jiu Sian-ong tentu saja terkejut berkelebat kedepan. Kakek gundul itu melihat muridnya tak dapat bangun berdiri dan mengaduh-aduh memegangi lengannya yang dikira patah. Rasa sakit yang luar biasa menyengat pemuda itu, sang kakek berseru dan menyambar muridnya. Tapi ketika kakek itu melihat dan mengurut, Sing Kok ternyata hanya terkilir saja maka pemuda itu sudah disembuhkan lagi sementara anak-anak murid Hek-yan-pang bersorak melihat begitu mudahnya Han Han merobohkan lawan.

"Keparat!" Pat-jiu Sian-ong berdiri dan marah kepada Han Han, lalu menoleh kepada dua pengemis di situ. "Kalian tak berbuat apa-apa, Sin-kai? Hanya menonton dan senang melihat muridku dipecundangi?"

"Maaf," Ji-sin-kai tiba-tiba bergerak dan mencabut tongkatnya. "Kita tak kenal pemuda ini, Sian-ong. Tapi tentu saja aku juga tak tinggal diam. Namun kita mencari Hek-yan-pangcu dan bukan orang lain!"

"Pangcu tak ada di sini," Ki Bi tiba-tiba berseru, betapapun merasa bahwa urusan itu adalah urusannya, bukan urusan Han Han. "Kalau kalian mau mencari keributan di sini kami akan menghadapimu, Sin-kai. Dan jangan anggap kami meminta pertolongan orang lain!" dan membalik menghadapi Han Han agar pemuda itu mundur, urusan diambil alih Hek-yan-pang maka Ki Bi mengucap terima kasih. "Kau telah menghajar pemuda ini, terima kasih. Tapi harap kau mundur agar orang tak menyangka Hek-yan-pang belum apa-apa sudah minta bantuan orang lain!"

Han Han menarik napas dalam. Dia mengangguk dan mundur dan melihat betapa wajah lawannya merah padam di sana. Sing Kok marah bukan main tetapi gentar. Apa yang diperlihatkanHan Han memang mengejutkan hatinya dan gurunya tadi berbisik bahwa lawannya itu bukanlah tandingannya. Biarlah gurunya yang menyelesaikan atau dua pengemis di sana itu. Dan ketika Sing Kok bangkit terhuyung dan marah namun tak berani melabrak lagi, Pat-jiu Sian-ong menggeram memandang Han Han maka kakek itu berkata bahwa pemuda itu boleh maju lagi mengeluarkan kepandaiannya.

"Kau menghina aku dan mencari penyakit. Majulah kalau ingin membantu Hek-yan-pang!"

"Tidak!" Ki Bi berseru lantang. "Dia tamuku, Pat-jiu Sian- ong, tak akan mencampuri urusan kita. Nah, siapa yang akan maju dan menghadapi aku!" dan mencabut pedangnya dengan gagah, tahu bahwa orang-orang didepannya ini tak mungkin dihadapi murid-murid biasa, Ki Bi telah maju dan memberi isyarat kepada dua sumoinya, adik seperguruan kedua dan ketiga maka tiga wakil Hek-yan-pang ini dengan gagah menghadapi tiga orang itu, karena Sing Kok tak mungkin maju karena masih kesakitan. Tangkisan Han Han tadi membuat kedua lengannya biru lebam!

"Hm, kalian benar-benar mewakili ketua kalian? Berani maju menghadapi kami?" Ji-sin-kai mengejek dan maju menyeringai, diam-diam heran dan kaget juga akan kepandaian Han Han, ragu dan lebih baik menghadapi wanita-wanita Hek-yan-pang ini. Maka ketika Ki Bi berseru bahwa pemuda yang aneh itu tak ikut-ikut, urusan adalah sepenuhnya urusan Hek-yan-pang maka kakek ini lega meskipun bukan berarti takut menghadapi Han Han, karena diri sendiri belum bergebrak. Dan begitu dia maju dan menghadapi tiga wanita yang berlompatan, mereka siap melawan seorang lawan seorang maka Ki Bi mengerutkan kening melihat Pat-jiu Sian-ong dan Toa-sin-kai tak maju.

"Kenapa hanya tua bangka ini saja. Kami bertiga, siap menghadapi kalian bertiga pula!"

"Hm, Ji-sin-kai ingin menghadapi kalian, siluman betina. Hadapi saja dia dan nanti kami maju kalau diperlukan!"

"Benar," Ji-sin-kai tertawa sombong. "Pat-jiu Sian-ong dan suhengku tak akan maju kalau aku masih hidup, tikus-tikus betina. Nah, kalian majulah saja dan aku boleh dikeroyok!"

"Sombong!" Ki Bi membentak marah. "Kami tak suka main keroyokan, Ji-sin-kai, kalau dikehendaki pertempuran satu lawan satu. Nah, biar kami berdua mundur dan sumoiku Ai Ling menghadapimu!"

Ji-sin-kai tertegun. Ki Bi dan sumoinya yang satu mundur, sementara wanita ketiga mendengus dan maju menghadapinya, sudah mencabut pedang. Dan ketika Ai Ling, wanita itu bergerak dan memasang pedang di ujung kening, siap menyerang maka kakek itu diminta untuk mulai menerima "pelajaran".

"Kalian adalah tamu, mulailah dulu. Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana cara menerima pelajaran dari tuan rumah!"

"Keparat!" kakek itu merah mukanya. "Kau hanya anak murid saja, tikus betina. Jangan bertingkah atau nanti mampus dihajar tongkatku. Kau wanita, aku laki-laki. Nah, mulailah dulu dan aku yang akan mengajarkan kepadamu bagaimana cara menyambut tamu yang baik!" dan melotot minta lawan menyerang dulu.

Ai Ling mendengus dan tidak banyak bicara tiba-tiba sudah bergerak dan pedangpun menyambar kedepan. "Baik, kau yang minta. Awas dan jaga lambungmu... singg!" dan pedang yang menusuk dan menyambar perut tiba-tiba dikelit dan sudah membalik menyambar leher, dikelit lagi tapi menukik menuju ulu hati. Ji-sin-kai terkejut karena pedang lawan bergerak begitu cepat. Dan karena dia dikejar dan tak mungkin mengelak terus-menerus maka tongkatpun bergerak dan kakek itu menangkis.

"Trangg!" Tongkat besi itu berpijar menyilaukan mata. Ai Ling tergetar tapi mampu menahan, tanda wanita itu memiliki sinkang kuat dan tenaganya tak kalah dengan laki-laki. Ji-sin- kai terkejut karena lawan ternyata hebat, tentu saja begitu karena Ai Ling adalah murid senior di perkumpulan Walet Hitam itu. Dan ketika wanita ini membentak dan berkelebatan cepat, pedang sudah naik turun menyambar-nyambar maka Ji-sin-kai dikurung dan dihujani serangan kombinasi, tusukan atau babatan-babatan miring.

"Trang-trangg!"

Semua terbelalak. Ji-sin-kai akhirnya marah karena Ang-in Kiam-sut (Silat Pedang Awan Merah) sudah naik turun dari segala penjuru menekannya. Pedang di tangan lawannya itu tak boleh dipandang, enteng karena sudah berubah menjadi segulung awan putih yang menyambar-nyambar membungkus dirinya. Pengemis ini sibuk dan tahu-tahu sudah terdesak, tongkat di tangannya tak dapat balas menyerang karena selalu dipakai menangkis. Ji-sin-kai memekik dan tentu saja gusar. Dan ketika gulungan pedang lawan kian merapat dan tak ada jalan keluar, kakek itu pucat dan merah berganti-ganti maka dia mengeluarkan seruan panjang di mana tongkat ditangannya tiba-tiba dengan berani mendobrak dan memecah gulungan pedang lawan, dengan satu resiko terserempet serangan.

"Crik-crangg!"

Benar saja kakek itu lolos. Membentak dan memutar tongkatnya mengikuti gulungan sinar putih, Ji-sin-kai harus bergerak cepat kalau tak mau ditindih dan dimatikan langkahnya maka pengemis itu melepas pukulan kiri mengiringi gerakan tongkat yang mendobrak serbuan lawan. Pedang bertemu tongkat tapi lengan kakek itu keserempet panjang, tidak berbahaya namun cukup membuat Ji-sin-kai meradang. Dia terlalu memandang rendah lawan yang dianggapnya hanya sebagai anak murid belaka, tak tahu bahwa lawan ternyata hebat karena memang merupakan murid senior, pilihan dan tentu saja ilmu kepandaiannya sudah tinggi! Dan ketika kakek itu marah dan nyaris terlambat, merendahkan lawan yang ternyata berhasil melukainya maka Ji-sin-kai menggereng dan tiba-tiba bergerak mainkan silat tongkatnya, Koai-tung atau Tongkat Gila.

"Sute, jangan ceroboh. Lawan ternyata cukup lihai!"

"Ya, aku salah. Tapi sekarang tak mungkin dia mendesakku, suheng. Aku akan membalas dan membuatnya jatuh bangun. trak-trak!" dan tongkat yang bergerak seperti kesetanan, memukul dan meliuk tiba-tiba membalas dan menahan serbuan pedang, naik turun dan mengikuti irama dan Ai Ling terkejut karena pedangnya terpental.

Ji-sin-kai menambah tenaganya dan bertempur dengan buas. Tongkat menderu dan menyambar bagai kesurupan. Dan ketika dia menangkis namun kembali terpental, kemarahan dan kegeraman lawan rupanya menjadikan tenaga kakek itu berlipat ganda maka Ang-in Kiam-sut tiba-tiba mati di jalan tak dapat berkembang, menangkis atau menghalau serangan tongkat yang gencar. Ji-sin-kai balas mendesak!

"Ha-ha, hayo mana kepandaianmu, tikus betina. Sekarang aku membalas dan menindihmu. Awas tongkat kalau tak ingin kepala pecah. dess!"

Semua terkesiap. Tongkat menyambar kepala padahal pedang baru saja terpental, bertemu dalam satu tangkisan kuat. Tapi ketika Ai Ling mampu melempar tubuh ke belakang dan bergulingan menjauh, selamat, maka tongkat menghajar tanah yang seketika berlubang. Selanjutnya Ji-sin-kai tertawa-tawa dan mengejar lawan, mengejek dan memburu dengan serangan-serangan tongkatnya yang gencar. Si kakek ternyata mampu merobah keadaan. Tapi ketika lawan melengking dan berseru panjang, marah, tiba-tiba Ki Bi membentak sumoinya agar mengeluarkan Silat Pedang Matahari (Pek-jitKiam-sut).

"Keluarkan Pek-jit Kiam-sut, tinggalkan Ang-in Kiam-sut dan mainkan gerakan-gerakan menyilang!"

Sang sumoi mengangguk. Memang Ai Ling sendiri tak mungkin membendung serangan lawan dengan ilmu pedang Awan Merah. Dia harus cepat mengganti atau nanti keadaannya terlanjur buruk, diteter lawan. Dan ketika sucinya menyuruh dan Ai Ling sendiri sudah memikirkan itu maka begitu dia menghindar satu serangan tongkat maka pedang di tangan tiba-tiba melakukan gerak menyilang seperti gunting.

"Crangg!"

Ji-sin-kai terbelalak. Tongkat tergetar dan tenaga lawan tiba-tiba menjadi berlipat ganda. Ai Ling juga marah dan karena itu memperoleh tenaganya berlipat-lipat, sama seperti dirinya tadi. Dan ketika wanita itu melengking dan memutar pedangnya, dalam gerak silang atau menggunting maka tongkat tertahan dan pertempuran kembali imbang, sama seperti tadi!

"Hayo pentang bacotmu!" Ai Ling mengejek. "Keluarkan semua kepandaianmu, Ji-sin-kai. Dan lihat nonamu akan memberimu pelajaran bermain pedang!"

"Keparat!" kakek itu mendelik. "Kau boleh juga, tikus betina. Tapi kita akan adu kuat siapa yang lebih tahan. trak-trak!" dan tongkat yang kembali bertemu pedang, imbang dan sama-sama terpental akhirnya membuat Ji-sin-kai melotot karena lawanpun dapat memperbaiki diri.

Pedang kembali bergerak naik turun dan gerakan-gerakan menggunting itu amat berbahaya sekali. Kalau dia tak hati-hati salah-salah tubuhnya bisa digunting, gerak pedang itu cepat sekali. Dan ketika kakek ini menggeram dan memaki lawannya, Ai Ling tertawa dan melakukan balasan maka keduanya bertanding seru dan belum ada yang kalah atau menang. Anak-anak murid bersorak dan Ki Bi serta yang lain-lain tersenyum gembira. Ai Ling mampu menandingi lawan dan itu cukup. Tapi ketika Ji-sin-kai mendesis dan mengerotokkan buku-buku jarinya, tangan kiri tiba-tiba menyambar dengan pukulan-pukulan sinkang maka Ai Ling harus memecah perhatiannya ke tangan kiri kakek itu pula.

"Plak-dess!"

Ai Ling terhuyung oleh satu tamparan miring. Dia lengah sekejap karena saat itu tongkat menderu dari kanan. Tapi ketika dia memekik dan mengayunkan pedangnya dalam jurus Matahari Memecah Bianglala, pedangnya bergerak di tiga penjuru mengecoh lawan maka satu guratan kecil juga mengenai pundak kakek itu.

"Bret!"

Sama-sama. Ji-sin-kai mendelik karena diapun menerima serempetan, meskipun dia tadi membuat lawan terhuyung dengan satu tamparan miring. Dan ketika masing-masing kembali bergerak dan serang-menyerang, tongkat menahan pedang maka Silat Pedang Matahari dimainkan baik oleh wanita ini namun sayang jurus-jurusnya kurang banyak. Ai Ling harus mengulang-ulang gerakannya dan itu dikenal lawan, akhirnya betapapun juga Ji-sin-kai hapal.

Dan ketika pengemis itu tertawa aneh dan mampu berkelit dari tusukan atau sambaran pedang, tongkatnya sendiri bergerak berubah-ubah maka di sini Ai Ling terdesak dan kalah pengalaman oleh lawan. Mula-mula memang mampu bertanding imbang namun akhirnya jurus-jurus yang tak lengkap membuat serangan-serangannya mampu dibaca lawan, ini kelemahan wanita itu. Dan ketika Ji-sin-kai tertawa bergelak dan girang melihat itu, Ki Bi dan lain-lain mulai khawatir karena Ai Ling terdesak perlahan-lahan maka Pek-jit Kiam-sut yang seharusnya hebat itu ternyata hanya setengah matang dimiliki wanita ini.

"Ha-ha, keluarkan semua kepandaianmu, tikus betina. Dan perlihatkan Pek-jit Kiam-sut yang hebat itu!"

Ai Ling menggigil. Kalau saja silat pedangnya sudah sempurna, Pek-jit Kiam-sut dimiliki secara matang tentu dia dapat melancarkan serangan yang bervariasi. Beng Tan memang tak memberikan semua kepandaiannya kepada murid-muridnya. Yang memiliki Ilmu Pedang Matahari pun terbatas pada Ki Bi dan adik-adik seperguruannya ini. Dan karena itupun juga tak semuanya karena ilmu silat itu hanya sebagai pendamping Ilmu Pedang Awan Merah, ilmu silat yang memang asli milik perkumpulan wanita ini maka Ai Ling akhirnya kebingungan karena kurang matangnya Pek-jit Kiam- sut itu diketahui lawan, yang terbahak-bahak dan menghalau serangan pedangnya sebelum datang.

Ji-sin-kai memang pengemis yang cerdik dan awas pandangan, mampu melihat kelemahan kecil itu setelah mereka bertanding puluhan jurus. Dan ketika tongkatnya menderu-deru dan gerakan tongkat sering berubah-ubah, menyodok atau menusuk dan tak jarang pula mengemplang atau menghantam maka satu tipuan tongkat akhirnya mengenai paha wanita itu.

"Dess!"

Ai Ling terpelanting. Dia terpekik dan bergulingan diburu lawan, mendapat pukulan atau serangan tongkat bertubi-tubi. Ji-sin-kai tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik ini untuk merobohkan lawannya, secepatnya. Dan ketika pedang diputar bingung dan trang-trang-trang bertemu lawan maka tiba-tiba kaki pengemis itu bergerak pula menendang.

"Dess!"

Ai Ling mengeluh terlempar lagi. Lawan bervariasi melancarkan serangan, ia tak menduga dan bergulingan lagi. Namun karena kakek itu tetap mengejar dan kesempatan ini betul-betul tak akan dilewatkan, lawan sudah di bawah tak dapat meloncat bangun maka ganti pukulan tangan kiri pengemis itu mengenai dada Ai Ling. Akhirnya wanita ini melontakkan darah dan pucatlah murid-murid yang menonton. Keadaan sungguh buruk.

Ji-sin-kai bukannya mengalah melainkan semakin ganas. Tongkatnya kembali menggebuk dan mengenai punggung lawannya itu, terasa kejam. Dan ketika Ji-sin-kai tertawa bergelak dan benar-benar di atas angin, Ai Ling sudah terluka namun tetap bertahan, gagah sekali wanita itu maka Ji-sin-kai mengeluarkan satu jurus berbahaya di mana tongkatnya tiba-tiba ditimpukkan dengan keji.

"Telengas!" Seruan itu muncul dari mulut Ki Bi. Ki Bi tak dapat melihat lagi sumoinya menjadi bulan-bulanan pukulan. Tongkat dan kaki silih berganti menghantam adiknya, juga serangan-serangan tangan kiri di mana pukulan itu tak kalah dahsyat dengan tongkat. Dan ketika tongkat meluncur dan siap menghabisi nyawa sumoinya, ditimpuk ke arah dada maka Ki Bi me lengking dan berkelebat ke depan. Pedang di tangan wanita ini bergerak dan meluncur ke arah tongkat, terbang menyambar. Tapi ketika wanita itu meluncurkan pedangnya dan berteriak marah, Ji-sin-kai berseri-seri melihat bakal kemenangannya tiba-tiba menyambar sebuah benda hitam lain yang meluncur lebih cepat dari pedang Ki Bi.

"Tak!"

Tongkat hancur berkeping-keping. Pedang milik Ki Bi sendiri akhirnya meluncur dan menancap di pohon, tongkat itu sudah hilang. Dan ketika wanita ini tertegun dan Ji-sin-kai juga terbelalak, kaget, maka Pat-jiu Sian-ong tiba-tiba berkelebat dan berdiri di depan Han Han.

"Kau curang, membantu lawan?"

Ki Bi terkejut. Sebenarnya tak ada yang tahu siapa atau apa benda hitam yang menyambar tadi. Itulah batu kecil yang memang diluncurkan Han Han. Pemuda ini meraih dan menjentikkan batu itu karena melihat bahwa tak mungkin Ai Ling selamat. Wanita itu kalah karena Pek-jit Kiam-sutnya yang kurang matang, padahal dengan Silat Pedang Awan Merah hasilnya seri tapi Ji-sin-kai memiliki variasi pukulan atau serangan. Jadi Ai Ling juga tak mungkin hanya mengandalkan Silat Pedang Awan Merahnya itu.

Maka begitu wanita itu kebingungan karena dengan Pek-jit Kiam-sut dia hanya mampu bertahan empat puluh jurus, silat inipun tak lengkap atau tak matang maka ketika dia didesak dan diteter bergulingan, empat lima kali menerima hantaman tongkat maka Ai Ling benar-benar di ambang bahaya ketika Ji-sin-kai tiba-tiba ingin mengakhiri pertandingan dengan menimpukkan tongkatnya. Senjata itu diluncurkan dari jarak dekat dan siapapun terkejut melihat kekejian itu. Sin-kai tak mengampuni lawannya dan Ai Ling pasti tewas.

Tapi ketika batu hitam itu mendahului pedang dan tongkat hancur berkeping-keping, kini Pat-jiu Sian-ong berkelebat dan menghadapi Han Han maka semua mata terbelalak dan memandang pemuda ini. Ki Bi juga baru tahu bahwa kiranya pemuda inilah yang menyelamatkan sumoinya. Ai Ling sudah meloncat bangun dan gemetar di sana, merintih. Dan ketika semua memperhatikan Han Han dan Ji-sin-kai melotot, tiba-tiba marah maka Han Han menarik napas dalam-dalam menghadapi kakek tinggi besar berkepala gundul ini, sikapnya tenang, mengagumkan.

"Hm, kau awas dan tajam pandangan, Sian-ong. Tapi kau tak dapat menyebutku curang. Aku hanya menolong wanita itu, tidak membokong Ji-sin-kai. Siapa curang dan kenapa harus disalahkan? Pertandingan ini katanya bersifat pibu. Tapi pihakmu ternyata ingin membunuh. Kalau kau menyalahkan aku maka ini tidak benar karena aku hanya membantu yang lemah, berpijak pada keadilan!"

Sian-ong mendelik. "Kau terang-terangan membela Hek-yan-pang?"

"Aku hanya tak suka kepada orang-orang yang berwatak kejam. Kalau kau menganggap pihakmu benar tentunya kau tak memperbolehkan Ji-sin-kai menimpukkan tongkatnya."

"Keparat, kau lancang, anak muda. Kalau tidak diberi pelajaran tentu kau akan semakin bertingkah!" dan Sian-ong yang menggerakkan lengannya mendorong tiba-tiba sudah menyerang Han Han dengan pukulan dahsyat. Kakek itu marah dan geram karena dua kali Han Han membuat ulah. Tadi merobohkan muridnya sekarang menghancurkan tongkat Ji-sin-kai. Tapi ketika dia bergerak dan melepas sinkang, gigi berkerot tiba-tiba Han Han menyambut dan tidak mengelak, kali ini ingin memberi pelajaran.

"Sian-ong, kau rupanya terlalu jumawa, menganggap rendah orang lain. Biarlah kusambut pukulanmu dan setelah itu jangan membuat ribut. dess!"

Sian-ong terkejut. Pukulannya diterima Han Han dan serangkum angin kuat menahan dorongannya itu. Dia terbelalak dan menambah tenaga tapi tetap saja Han Han tak bergeming. Dan ketika dia membentak dan menjejakkan kaki maka tiba-tiba dia terdorong dan terhuyung mundur!

"Maaf, Sian-ong," Han Han berseru. "Pergi dan tinggalkan tempat ini secara baik-baik. Aku tak ingin bermusuhan denganmu dan kita berdamai saja!"

"Keparat!" kakek itu menggereng, berkelebat dan menggerakkan kedua tangannya lagi. "Kau mampu mendorong aku, anak muda. Tapi coba lagi yang ini dan terimalah!"

Han Han mengerutkan kening. Si kakek murka dan wajahnya membesi, urat-urat di dahi menonjol dan menakutkan sekali sikap Dewa Berlengan Delapan ini. Dan ketika Han Han mengelak tapi anak-anak murid menjerit, terlempar oleh angin pukulan yang terus menyambar maka Sian-ong mengejar dan bertubi-tubi melepas pukulan. Han Han terkejut dan sadar bahwa di belakangnya banyak terdapat anak-anak murid perempuan, mereka itu menjadi korban pukulan Sian-ong dan tentu saja dia selanjutnya tak berani mengelak, khawatir atau takut pukulan itu menyambar anak-anak murid yang tak berdosa. Dan ketika Han Han menangkis dan Sian-ong terpental, untuk kedua kalinya dibuat kaget oleh sinkang pemuda ini maka Dewa Lengan Delapan itu tiba-tiba mengeluarkan suara dahsyat yang menggetarkan isi pulau.

"Anak muda, aku akan membunuhmu!"

Han Han tak dapat berbuat lain. Tiba-tiba dia sudah didesak dan dirangsek kakek tinggi besar ini. Sian-ong naik pitam dan tangannya tiba-tiba berobah menjadi delapan pasang, semuanya menyambar dan menghantam dari kiri kanan muka belakang, hebat sekali. Dan ketika kakek itu tak mau sudah setiap ditangkis, terpental tapi menyerang lagi maka Toa-sin-kai memekik dan tiba-tiba menyerang Ki Bi.

"Dan kaupun harus menerima hajaran kami... wut!"

Ki Bi terkejut, tongkat menderu dan kakek itu meloncat mengayun senjatanya. Dia mengelak tapi dikejar. Dan ketika Ki Bi menangkis tapi pedang tergetar, kalah kuat maka Toa-sin-kai menyerang dan mengelilinginya dengan putaran-putaran tongkat yang cepat.

"Des-des-dess!"

Tiga kali tongkat menghajar tanah. Ki Bi melengking dan kakek itu seperti orang kesetanan, mengejar dan menyerangnya lagi bertubi-tubi di mana ia cepat menangkis namun kalah tenaga, tertolak dan terhuyung dan Ji-sin-kai pun sudah maju dengan seruan marah, mengobrak-abrik siapa saja yang ada di situ dan sudah merampas sebatang pedang. Dan ketika kakek itu mainkan pedang dengan ilmu silat tongkat, lucu namun hebat sekali maka tiga anak murid terbabat roboh dan terjungkal mandi darah!

"Heii..!" Han Han terkejut. "Jangan membabi-buta, Sin-kai. Aku akan merobohkanmu kalau berani membunuh lagi!"

"Jangan banyak cakap!" Pat-jiu Sian-ong membentak. "Kau dan aku ada di sini, bocah. Hadapi aku dulu dan lihat pukulanku.... des-dess!" si kakek menekuk kesepuluh jarinya, menghantam dan melepas pukulan dahsyat di mana Han Han lalu mengerahkan sinkang menyambut pukulan lawan.

Lawan tiba-tiba mengamuk dan anak-anak murid Hek-yan-pang kacau balau. Ki Bi menahan Toa-sin-kai namun si pengemis terlalu lihai, mampu mementalkan pedangnya dan mengikuti gerakan pedang yang dimainkan, hapal atau sudah kenal karena tadi telah memperhatikan atau mempelajari pertandingan sutenya dengan Ai Ling. Maka begitu si kakek bertambah garang dan tongkat menyambar-nyambar, Ki Bi kewalahan dan kaget serta marah maka sumoinya nomor dua, Lin Siu, tiba-tiba menerjang dan membantu dirinya.

"Jangan hiraukan aku. Aku masih dapat menghadapi kakek ini. Tahan dan hadapi Ji-sin-kai, sumoi. Jangan biarkan ia membunuh-bunuhi murid-murid kita!"

"Tapi kau didesak pengemis tua bangka ini, kita harus merobohkannya dulu. Apakah tidak sebaiknya kita mengeroyok kakek ini dan Ji-sin-kai menghadapi anak-anak murid kita, suci? Aku khawatir kau celaka, tak ada pimpinan di sini selain dirimu!"

"Tidak, aku masih dapat bertahan. Biarpun aku terdesak tak mudah tua bangka ini merobohkan aku. Hadapilah Ji-sin- kai itu, sumoi. Jangan biarkan murid-murid yang lain menjadi makanan empuk!"

"Baiklah, kalau begitu aku ke sana. Hati-hati!" namun ketika Lin Siu bergerak dan mau menghadapi Ji-sin-kai, marah dan geram tiba-tiba terjadi hal aneh.

Ji-sin-kai berteriak tanpa sebab ketika menerjang anak-anak murid Walet Hitam, pedang menyambar atau menderu bagai tongkat. Dan ketika kakek itu terhuyung sana-sini dan pedang di tangan tiba-tiba terlepas, anak murid berteriak dan balas menyerangnya maka kakek itu tertusuk dan tak dapat menggerakkan tubuh dengan cepat. Lin Siu terheran-heran karena mendadak Ji-sin-kai seperti orang mabok. Kaki dan tangannya kaku. Dan ketika dia terbelalak tapi tentu saja girang, kakek itu telah melukai banyak anak murid Hek-yan-pang maka dia menggerakkan tubuh dan pedang di tangannya berkelebat membacok leher.

"Kau mampuslah!"

Namun wanita ini terkejut. Pedang yang menuju leher tiba-tiba melenceng. Sebutir batu mengenainya dan Sin-kai yang terkejut melihat serangannya juga tiba-tiba roboh terguling, belakang lutut kakek itu juga disambar sebutir batu lain di mana akhirnya menotok jalan darah, membuat Ji-sin-kai terguling dan ancaman pedang Lin Siu mengenai bahunya saja. Dan ketika dua orang itu sama-sama terkejut sementara Lin Siu marah dan penasaran siapa yang melepas batu hitam, si kakek mengeluh dan bergulingan meloncat bangun maka wanita ini tertegun mendengar seruan Han Han.

"Jangan menumpahkan darah, jangan saling bunuh. Biarkan dua orang pengemis itu ke sini dan bergabung dengan Pat-jiu Sian-ong ini!"

Ajaib, Toa-kai dan Ji-kai tiba-tiba terhuyung-huyung ke arah Han Han. Mereka itu tersedot sesuatu dan tampaklah bahwa Han Han menggerak-gerakkan tangan kirinya ke arah dua pengemis itu. Ki Bi yang sedang didesak Toa-kai tiba-tiba merasa ditolak tenaga gaib, lawan mendesaknya bertubi-tubi namun Toa-sin-kai sekonyong-konyong terbelalak, mengeluh dan berteriak kaget karena tubuhnya mendadak ditarik sesuatu, menjauhi lawannya. Dan ketika sutenya juga mengalami hal yang sama dan mereka ternyata disedot Han Han, yang bertanding dengan sebelah lengannya yang lain melayani Sian-ong maka kakek tinggi besar berkepala gundul itu juga terkejut.

Han Han memang menunjukkan kepandaiannya. Tadi, setelah Ji-sin-kai dengan tak kenal ampun menghajar dan mau membunuh Ai Ling pemuda ini segera tahu bahwa murid-murid Hek-yan-pang masih bukan tandingan pengemis itu, padahal di situ masih ada Pat-jiu Sian-ong yang tampaknya lebih hebat daripada kawan-kawannya. Kakek itu bersikap memimpin dan semuanya tunduk.

Dan ketika hanya kakek gundul ini pula yang tahu akan bantuannya terhadap Ai Ling, lemparan batu hitam tadi maka Han Han tak ingin lagi bersikap menunggu. Dia melihat par apendatang ini merupakan orang-orang bengis. Dia tak tahu apa yang pernah terjadi dengan dua pengemis itu di rumah Tek-wangwe, karena yang berhadapan waktu itu memang bukan dia melainkan Giam Liong.

Tapi karena Han Han tertarik mendengar namanya disebut-sebut, orang-orang ini kiranya hendak membalas dendam terhadap ketua Hek-yan-pang dan puteranya yang juga bernama Han Han, hal yang aneh maka Han Han lalu menyedot dua kakek itu dengan tenaga sinkangnya. Pat-jiu Sian-ong masih dilayaninya dengan baik tapi matanya melihat pula sepak terjang Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai, di mana wanita baju hitam yang gagah itu didesak. Dan karena dia sudah mengukur bahwa para pendatang ini lebih lihai daripada lawan-lawannya, padahal dia punya persoalan dengan Hek-yan-pang masalah wanita bernama Wi Hong itu maka Han Han memutuskan untuk membantu anak-anak murid Hek-yan-pang ini.

Pat-jiu Sian-ong dan kawan-kawan dinilai tak beraturan karena tuan rumah jelas sedang pergi, jadi tak seharusnya menyerang murid-murid yang tak ada persoalan dengannya. Maka begitu dia bergerak dan ingin mencegah banjir darah, Toa-kai dan Ji-kai disedotnya dengan sinkang istimewa maka Han Han bergerak mengimbangi Pat-jiu Sian-ong yang murka besar...