NAGA PEMBUNUH
JILID 13
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"APAKAH teecu benar-benar tak memalukan, suhu?"

"Ha-ha, tidak, justeru kau mengagumkan. Lima belas tahun berlatih ternyata telah sanggup merobah dirimu seperti ini. Ah, pinto kagum, Han Han. Kau luar biasa dan hebat sekali!" dan ketika tosu itu berkelebat naik dan berdiri di depan muridnya maka Han Han tersenyum menjatuhkan diri berlutut.

"Ini berkat jerih payah suhu. Kalau suhu tidak mendidik atau menggemblengku tak mungkin aku bisa begini. Terima kasih, suhu. Ini semua berkat budimu!"

"Ah, bangunlah," sang guru berseri. "Tak ada budi atau jasa baik, Han Han. Semua ini adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa. Bangkitlah, dan pinto ingin berbicara sesuatu denganmu" lalu ketika muridnya bangkit berdiri dan berseri-seri, Im Yang Cinjin juga berseri dan gembira maka kakek itu memandang muridnya lagi.

"Beberapa hari ini kulihat kau sering memandang keluar. Apakah ada sesuatu yang sedang kau pikirkan, Han Han? Ayolah, aku menangkap sesuatu darimu!"

Han Han tiba-tiba berkerut kening. Dipandang dan ditanya seperti itu mendadak saja wajah kegembiraannya lenyap. Sang guru tersenyum lebar tapi sorot mata gurunva itu memancarkan yang lain, seolah ada sesuatu yang juga ingin dikatakan gurunya itu. Dan ketika Han Han tertegun tak segera menjawab, gurunya menarik napas tiba-tiba kakek itu melayang turun dan berseru.

"Mari masuk ke guha, kita bicara di dalam?"

Han Han terkejut. Melihat gurunya turun dan berkelebat di dalam guha tiba-tiba iapun mengikuti. Gurunya rupanya juga hendak berkata sesuatu sementara iapun juga memiliki ganjalan. Pucuk dicinta ulam tiba, gurunya hendak bicara! Maka ketika Han Han berkelebat dan turun memasuki guha, dua orang itu lenyap dari atas batu karang maka di sana Im Yang Cinjin sudah bersila menunggu muridnya, sikapnya tampak tenang namun sorot matanya serius, hal yang justeru membuat Han Han tergetar.

"Duduklah, dan kau katakan apa yang menjadi ganjalan,"

Han Han terkejut karena gurunya seolah telah lebih dulu tahu.

"Pinto melihat gerak-gerikmu yang aneh pada hari-hari belakangan ini, Han Han. Dan kebetulan pinto juga mau bicara padamu. Barangkali, pembicaraan kita sama!

"Hm," Han Han menunduk, duduk bersila di depan gurunya, kening berkernyit. "Kau rupanya tahu sebelum kuberi tahu, suhu. Agaknya tak perlu teecu bicara karena suhu sudah menangkap!"

"Tidak, jangan begitu," sang tosu mengebutkan lengan bajunya. "Pinto juga manusia biasa, Han Han, bisa keliru atau salah. Daripada mendahului yang belum tentu benar lebih baik kau bicara apa yang selama ini kau pikirkan. Kau selalu memandang keluar Guha Siluman!"

"Betul," Han Han tak menyembunyikan rahasianya lagi. "Teecu merasakan sesuatu yang lain daripada yang lain, suhu. Teecu seolah tertarik oleh sesuatu di luar yang selama ini belum teecu ketahui!"

"Maksudmu?"

"Maaf, Suhu. teecu tak berani bicara!"

"Hm, tak berani bicara bukan sikap yang selama ini kuajarkan, Han Han. Pinto tak pernah mengajarimu untuk menyimpan atau menyembunyikan rahasia. Kau harus jujur dan bicara benar, atau justeru pinto akan salah paham kepadamu dan menduga yang tidak-tidak!"

"Maafkan teecu..." Han Han tiba-tiba menarik napas dalam-dalam. "Teecu ingin bertanya sesuatu, suhu, tetapi khawatir suhu marah, tersinggung!"

"Siancai, pinto tak pernah marah untuk hal-hal yang benar. Kalau kau ingin bicara silahkan bicara, jangan dipendam!"

"Suhu tak akan marah?"

"Sudah kubilang tak akan marah untuk hal-hal yang benar, Han Han. Pinto juga akan bicara padamu akan sesuatu!"

"Baiklah, kalau begitu maaf. Teecu (murid) akan bicara." dan ketika Han Han membetulkan letak kakinya dan bersila tegak, muka menghadap gurunya maka pertanyaan yang pertama kali keluar adalah apakah gurunya itu menikah!

"Apa?"

"Maaf, teecu hanya bertanya saja, suhu. Apakah suhu pernah menikah dan punya anak!"

"Siancai, pertanyaanmu mencengangkan. Tapi tidak apa. Pinto jawab bahwa pinto belum pernah menikah karena pinto adalah pertapa! Kenapa kau tanyakan ini dan adakah itu kaitannya dengan perasaan yang mengganjal dihatimu?"

"Benar," Han Han berdebar, girang karena gurunya tak marah. "Teecu menanyakan ini karena ada rentetannya, suhu, yakni apakah benar kadang-kadang suhu menganggap teecu sebagai anak, di samping murid!"

"Hm!" sang tosu mengurut jenggot, bersinar-sinar, terkejut tapi juga heran akan pertanyaan muridnya itu. Tapi ketika Im Yang Cinjin tersenyum dan tertawa ramah, wajahnya benar-benar tidak menampakkan rasa marah maka dia justeru menegur muridnya itu. "Aneh," katanya. "Apa kaitannya semua itu dengan pertanyaanmu, Han Han. Dan apakah perlu pinto jawab?"

"Teecu merasa perlu, karena diam-diam teecu juga merasa aneh!"

"Siancai, aku yang seharusnya bicara aneh tapi kau malah yang merasakan serupa. Baiklah, apa keanehanmu itu, Han Han? Dan kenapa kau merasa aneh?"

"Suhu menyatakan tidak menikah tapi mempunyai anak seperti teecu. Suhu menganggap teecu sebagai murid tapi acap kali kasih sayang suhu seperti ayah terhadap anaknya. Apakah ini bukan aneh, suhu? Bagaimana teecu tidak akan merasa bingung jika suhu tak pernah beristeri tetapi mempunyai anak teecu?"

"Ha-ha!" tawa tosu itu meledak tak dapat ditahan, sekarang dia tahu apa tujuan dan kemana kata-kata Han Han ini. "Kau bingung karena memendamnya sendirian, Han Han. Kau merasa tak mengerti dan aneh karena selama ini kau tak pernah membicarakannya dengan aku. Baiklah, pinto katakan bahwa semua perasaanmu itu salah, bahwa kau benar-benar bukan anak pinto melainkan murid. Tapi karena pinto juga menyayangmu sebagai anak sendiri, seperti yang kau rasakan maka itu tidak aneh karena cinta atau kasih sayang dapat timbul di mana saja, untuk siapa saja!"

"Jadi teecu bukan anak?"

"Bukan, mana mungkin. Pinto adalah seorang pertapa, Han Han, selamanya belum pernah menikah. Dan kalau kau sudah bertanya tentang ini maka kebetulan pinto juga akan bicara yang serupa. Hm, dengarlah!" dan ketika si tosu duduk berseri dan memandang wajah muridnya itu, Han Han tampak serius dan mendengarkan baik-baik maka Im Yang Cinjin menarik napas dalam-dalam. "Keadaan ini memang harus kau ketahui, rahasia sudah sepatutnya dibuka. Dan karena kau sudah memulai pertanyaan itu maka pinto juga akan bicara tentang dirimu!"

Han Han berdebar, telinganya bergerak ke atas seperti kelinci yang siap mendengarkan sesuatu.

"Kau belum tahu siapa dirimu sebenarnya, bukan?"

Sang guru bertanya, dijawab gelengan kepala.

"Bagus, pinto juga tidak tahu, Han Han. Kau dan aku sebenarnya sama-sama tidak tahu siapa dan dari mana kau ini!"

"Apa?" Han Han kaget. "Suhu tak tahu siapa atau dari mana teecu ini? Apakah teecu muncul begitu saja di atas bumi?"

"Tidak, tentu saja tidak. Tapi kalau dikatakan pinto tak tahu sama sekali dari mana dirimu maka hal itu juga tidak benar, Han Han. Maksud pinto adalah pinto tidak tahu siapa ayah ibumu!"

"Kalau begitu bagaimana suhu dapat mengambil teecu, menemukan teecu?"

"Aku menemukan dirimu ketika dibuang seorang wanita berotak miring, dilempar di rumput kering ketika wanita itu hendak mencarikan makanan untukmu."

"Ah, siapa wanita ini, suhu?"

"Dengarlah, sabar dulu,"

Dan ketika Han Han berdebar mendengarkan, mukanya merah karena dia ternyata berasal dari seorang wanita berotak miring, hal yang menyakitkan maka tosu itu tampak menghela napas mengenang peristiwa dua-puluh tahun yang lalu, hampir duapuluh tahun.

"Ya, waktu itu pinto sedang bepergian. Kebetulan saja kalau pinto bertemu dengan wanita ini. Dialah yang membawa dirimu dan meninggalkanmu di tepi hutan. Kau menangis teus-terusan waktu itu, menarik perhatian pinto yang segera datang. Dan ketika pinto melihat bahwa kau di tangan wanita itu, yang menamparmu dan menyuruhmu diam maka wanita itu rupanya sadar bahwa kau lapar. Dan wanita itu lalu pergi, mencari pisang, makanan untukmu. Tapi karena kau menangis melengking-lengking dan semut rupanya menggigiti tubuhmu maka pinto tak tahan dan segera mengangkatmu. Dan tak lama kemudian wanita itu datang"

"Lalu bagaimana, suhu? Apakah dia wanita biasa atau orang persilatan?"

Im Yang Cinjin tersenyum. Pertanyaan muridnya itu amat bernafsu dan Han Han seketika sadar, malu. Tapi ketika tosu ini mengangguk dan menjentikkan kukunya mengusir seekor semut merah maka tosu itu berkata, "Dia bukan wanita sembarangan, melainkan seorang wanita lihai. Tapi karena saat itu agaknya dia terganggu jiwanya dan menderita tekanan batin berat maka pinto menyelamatkanmu dari tangannya."

"Siapa wanita ini, dari mana asalnya."

"Pinto tak tahu namanya, Han Han, tapi pinto tahu dari mana dia berasal."

"Dari mana dia!" Han Han bersemangat, lupa lagi. "Apakah kau tahu ilmu silatnya, suhu. Dan apakah wanita itu musuh orang tuaku.'"

"Aku tak tahu, kurang begitu jelas. Tapi karena dia membawamu dan mau mencarikan makanan untukmu tentunya wanita itu bukan musuh, meskipun entah bagaimana dia bisa gila dan tertawa-tawa sepanjang jalan."

"Kalau begitu siapa dia, coba suhu sebutkan!"

"Dia murid atau cucu murid Hek-yan Tai-bo..."

"Hek-yan Tai-bo? Siapa dia ini, suhu? Kenapa aku tak mendengar namanya?"

"Hm, nenek ini sudah meninggal, Han Han. Dan pinto memang belum pernah menceritakan nama ini kepadamu. Nama-nama lain barangkali sudah, tapi nama nenek ini memang belum. Dia adalah pewaris Hek-yan-pang, guru atau nenek guru dari ketua sekarang yang entah siapa."

"Ah, begitukah? Dan wanita gila itu?"

"Pinto tak tahu, kecuali bahwa dia murid atau cucu murid Hek-yan Tai-bo itu. Kalau kau ingin tahu tentu saja kau harus mencari atau menemukan wanita ini kalau hidup..."

"Hm, teecu akan mencarinya, suhu. Dan teecu akan menyelidiki ini bagaimana teecu sampai di tangannya. Tapi, kalau dia sudah tiada tentunya teecu akan ke Hek-yan-pang saja menyelidiki itu! Tahukah suhu di mana markas perkumpulan ini?"

lm Yang Cinjin tersenyum. "Tampaknya ini yang membuatmu akhir-akhir ini melamun. Hm, tentu saja pinto tahu dimana markas itu, Han Han. Dan justeru pinto memang akan menyuruhmu pergi untuk mencari tahu! Sudah waktunya kau meninggalkan Guha Siluman, sudah waktunya pula pinto melanjutkan tapa setelah bertahun-tahun terhenti untuk menggemblengmu. Apakah kau sudah siap untuk meninggalkan guha?"

Han Han terkejut. Tiba-tiba saja dia terbelalak memandang suhunya itu. Suhunya sudah berkata bahwa dia memang harus meninggalkan Guha Siluman, meninggalkan pula gurunya itu yang akan melanjutkan tapa setelah bertahun-tahun terhenti. Dan ketika Han Han tertegun dan sadar, mata tiba-tiba berair mendadak Han Han menjatuhkan diri berlutut dan menangis.

"Suhu, tidak kusangkal bahwa aku memang ingin meninggalkan tempat ini. Tidak kusangkal bahwa teecu ingin tahu tentang keadaan diri teecu. Tapi teecu tidak bermaksud untuk meninggalkanmu, suhu. Teecu bermaksud ingin pergi bersama-sama dengan suhu, bukan sendirian!"

"Hm, sudah tiba waktunya perpisahan," Im Yang Cinjin terharu dan mengusap-usap rambut muridnya itu, Han Han menangis ditahan-tahan. "Tak perlu mencucurkan air mata karena ada pertemuan pasti ada perpisahan, Han Han. Kalau kau menangis dan mengguguk seperti ini justeru pinto yang menjadi malu. Tenanglah, dan bersikaplah ksatria!"

Han Han hampir tak kuat. Setelah tangan gurunya itu menyentuh kepalanya maka seluruh getaran cinta kasih itu terasa benar, kuat dan mencekam dan Han Han menubruk dan memeluk suhunya itu. Dan ketika dia mengguguk dan tak menghiraukan kata-kata gurunya, menangis seperti anak kecil maka Im Yang Cinjin memejamkan mata karena dua titik air mata akhirnya runtuh juga! Namun tosu ini akhirnya melepaskan tangannya. Han Han diminta diam dan ditiuplah ubun-ubun muridnya itu untuk memberi kekuatan. Dan ketika Han Han mampu mengendalikan diri dan tangisnya tinggal isak-isak kecil maka Han Han menutupi muka tak berani memandang wajah gurunya itu.

"Teecu.... teecu lebih baik tak usah meninggalkan Guha Siluman. Teecu ingin tetap menemani suhu di sini!"

"Hm, bodoh!" Im Yang Cinjin tertawa, lebih dulu mampu menguasai hatinya. "Kau seperti anak ayam kehilangan induknya, Han Han, tak bakal dewasa dan mampu mandiri. Tidak, pinto justeru tak ingin lagi diganggu olehmu. Tugas pinto sudah selesai, semua ilmu-ilmu pinto telah kau warisi. Dan karena pinto ingin menyendiri dan bertapa lagi maka justeru pinto ingin memberi tahu padamu supaya meninggalkan Guha Siluman. Kau harus mengisi masa-masa mudamu dengan pengalaman. Dan pengalaman yang paling baik adalah keluar guha! Nah, tanpa pertanyaan ayah ibumu itupun pinto pasti akan menyuruhmu pergi, Han Han. Karena tak baik seorang anak muda tinggal di sini seumur hidup. Kau tak dapat melaksanakan tugas pendekar dengan terus berdiam disini. Kau tak dapat menolong si lemah dan kecil bila hanya mengurung diri, padahal semua ilmu dan nasihat-nasihat telah kuberikan padamu. Karena itu berangkat dan pergilah, Han Han. Sudah tiba waktunya untuk turun gunung!"

Han Han menangis dan menggigit bibir. Kalau gurunya sudah bicara seperti itu maka percuma saja permintaan atau bujukannya. Han Han sudah terbiasa hidup bertahun-tahun dengan gurunya ini. Sudah terbiasa berdua dan budi baik serta jasa gurunya itu besar sekali. Maka ketika gurunya berkata bahwa tanpa persoalan dirinyapun memang dia akan disuruh pergi, meninggalkan Guha Siluman dan gurunya ini tiba-tiba Han Han tersedak lagi dan mengguguk.

Namun Im Yang Cinjin menepuk-nepuk punggung muridnya itu. Untuk perasaan batin yang sedang bergolak begini memang Han Han belum pernah mengalami. Hal itupun juga belum pernah diajarkan. Tapi ketika Im Yang Cinjin menyalurkan hawa hangat dan hawa itu terus naik ke kepala, perasaan bingung atau gundah lenyap maka Han Han perlahan-lahan dapat menguasai dirinya lagi.

"Tak ada pertemuan tanpa perpisahan, tadi sudah pinto katakan. Nah, bersiap dan laksanakan tugasmu, Han Han. Ambil buntalanmu dan pergilah!"

Han Han menggigit bibir kuat-kuat. Meskipun dia tak menangis lagi namun setitik dua masih juga air matanya jatuh. Perpisahan itu tiba-tiba dirasanya berat, berat sekali! Tapi ketika Han Han menguatkan hati dan memejamkan mata, perlahan-lahan sedu-sedannya ditekan turun maka Han Han bangkit terhuyung dan memasuki kamarnya, mengambil buntalan dan menyiapkan ini-itu lalu menghadap gurunya lagi. Ternyata apa yang hendak dibicarakan sama, yakni tentang persoalan dirinya tapi bertambah dengan perpisahan itu. Han Han sebenarnya hendak mengajak gurunya keluar bersama dan bukan pergi sendirian. Tapi ketika Han Han berlutut dan menggigil di depan gurunya, Im Yang Cinjin tampak tersenyum haru maka kakek itu diam-diam kagum karena muridnya sudah mampu menguatkan hati, dengan mengeraskan dagu.

"Kau sudah siap?"

"Sudah."

"Baiklah, berangkat dan hati-hatilah, muridku. Doaku beserta mu dan jangan lupa semua nasihatku. Ingat bahwa kau harus membantu yang lemah melawan yang kuat, kejam. Tugas pendekar terletak di pundakmu dan cari serta temukan siapa orang tuamu."

Han Han menggigit bibir. "Suhu belum memberi tahu bagaimana ciri-ciri wanita yang membawaku itu. Bagaimana rupanya dan apalagi lainnya."

"Ah, tak sukar. Dia cantik dan mengurai rambutnya, Han Han. Berpakaian merah dan membawa sebatang pedang. Ilmunya Ang-in Kiam-sut (Silat Pedang Awan Merah) cukup berbahaya meskipun tak perlu kau takuti."

"Terimakasih, dan selamat tinggal, suhu. Teecu harap akan segera dapat mencari orang tua teecu dan kembali ke sini."

"Baiklah, hati-hati, muridku. Pinto tak dapat mengantar karena pinto juga akan segera bersamadhi. Doa dan restu pinto bersamamu!"

Han Han mencium kaki gurunya. Ketika memberi hormat dan menyentuh gurunya itu hampir saja tangisnya meledak lagi. Untunglah, pemuda itu menguatkan batin dan menarik napas dalam-dalam. Ada suatu nasihat bahwa bila seseorang sedang diguncang sesuatu sebaiknya cepat-cepat menujukan perhatian pada napas. Hitung, satu-dua-tiga-empat. begitu seterusnya. Dan ketika Han Han sudah melakukan ini dan kedukaannya tertarik dalam, tak muncul di permukaan, maka gurunya mengangguk dan tiba-tiba mendorong, sang murid mencelat!

"Pergilah, sampai bertemu lagi, muridku. Jaga diri baik-baik dan panggil pinto dengan ilmu batin kalau kau benar-benar memerlukannya?”

Han Han terlempar dan berjungkir balik. Ketika gurunva mendorong dan mengibaskan lengan bajunya tadi maka serangkum angin maha kuat mengangkatnya naik, melempar dan membuat dia tahu-tahu sudah terlempar keluar guha. Tapi ketika Han Han berseru keras dan mengebutkan lengan bajunya pula maka pemuda ini terjatuh dengan Kedua kaki terlebih dahulu, tangan mengembang di kanan kiri tubuhnya, persis garuda yang akan terbang!

"Ha-ha, bagus, muridku. Pergunakan sekarang Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Sakti Terbang Ke Langit)!"

Han Han berseri. Lupa kepada perpisahan yang akan dialaminya itu tiba-tiba pemuda ini melengking dan melempar tubuh ke atas. Tidak seperti didorong atau dipukul gurunya tadi yang membuatnya mencelat adalah sekarang pemuda ini bergerak lurus dengan tangan terpentang lebar-lebar. Dia menjejak atau melempar tubuh sekali untuk akhirnya lurus naik ke atas seperti seekor burung yang terbang tinggi-tinggi, kaki merapat sementara lengan menekan atau menghantam ke bawah. Angin yang amat kuat mementalkannya balik dan itulah yang kini membuat pemuda itu meluncur ke atas, tinggi sekali.

Dan ketika Guha Siluman tahu-tahu sudah ada di bawah dan Han Han hinggap di tebing yang menjorok, sejenak saja maka pemuda itu sudah berseru keras dan menjejakkan kakinya lagi empat lima kali. Gerakan ini diulang-ulang hingga sebentar kemudian Han Han sudah semakin jauh saja di atas guha. Jejakan atau enjotan kakinya itu luar biasa enteng hingga sekali tekan mampu membuatnya mencelat sekitar sepuluh sampai duapuluh meter. Bukan main! Dan ketika lima kali enjotan tubuh sudah membuat pemuda itu hinggap di sana, jauh di atas tebing maka debur ombak selatan hampir tak terdengar lagi. Guha Siluman sudah tak kelihatan karena kecil di bawah, jauh sekali!

"Suhu, selamat tinggal. Sampai jumpa lagi!"

"Ha-ha, sampai jumpa lagi, Han Han. Ingat semua nasihatku dan lakukanlah tugas luhur di dunia kang-ouw!"

Han Han sudah berkelebat. Setelah sekarang dia di puncak tebing maka tempat tinggalnya sudah tidak kelihatan lagi. Gurunya juga tidak namun suara gurunya itu jelas benar terdengar di atas. Itulah demonstrasi khikang atau ilmu suara yang dipertunjukkan suhunya. Dia tadi juga mempergunakan ilmunya itu hingga suhunya dapat menangkap di bawah. Dan ketika Han Han berkelebat dan lari seperti burung, tangan mengembang di kiri kanan tubuh maka pemuda itu bergerak dan turun ke bawah.

Han Han telah mempergunakan Hui-thian-sin-tiauwnya atau Rajawali Sakti Terbang Ke Langit, sebuah ilmu meringankan tubuh yang dipunyai gurunya. Dan ketika pemuda itu meluncur dan meninggalkan Guha Siluman, tebing yang dihantam ombak lenyap dengan cepat maka pemuda itu sudah meninggalkan Laut Selatan untuk menuju ke barat. Han Han telah mendapat ancer-ancer agar dia mencari ke daerah Kwang-si. Di sana dekat dengan markas Hek-yan-pang dan mungkin dari situ penyelidikannya berhasil. Dan ketika Han Han meluncur dan terbang dengan ilmu lari cepatnya itu, Hui-thian-sin-tiauw yang amat luar biasa maka beberapa perampok yang dilewatinya di hutan-hutan melongo dan terkejut, terbengong-bengong.

"Setan! Ibliskah itu? Atau siluman terbang?"

Semua mata terbelalak. Han Han timbul kegembiraannya setelah di alam bebas. Dia bebas mempergunakan ilmunya setelah kini meninggalkan pertapaan, bebas melakukan apa saja yang dia suka. Dan ketika pemuda itu melihat perampok-perampok di hutan, sengaja menggoda dan ingin mempermainkan mereka maka pemuda ini lenyap dan muncul lagi di hutan sebelah, naik turun gunung seperti siluman terbang!

Namun ketika akhirnya malam tiba dan sehari penuh dia menguras tenaga, Han Han lupa makan lupa minum maka pemuda itu melihat sebuah kota yang gemerlapan. Han Han berhenti dan bertanya kepada seseorang. Ternyata dia memasuki kota Na-ning, sebuah kota yang ramai dan tak lama kemudian pemuda ini mencium bau masakan-masakan sedap yang keluar dari rumah-rumah makan. Dan ketika Han Han berkeruyuk dan teringat perutnya yang lapar, dua anak kecil terkekeh mendengar bunyi suara itu maka Han Han mendekati sebuah restoran sambil berkali-kali memainkan cuping hidungnya untuk menikmati dahulu bau masakan-masakan itu.

Tapi celaka, seorang pelayan memandangnya dengan mata melotot. Han Han lupa kepada pakaiannya yang kotor dan penuh debu, disangka pengemis. Maka ketika dia melongok dan memasuki rumah makan itu, pelayan mencegat dan membentaknya keluar tiba-tiba pemuda ini tertegun mendapat kata-kata kasar.

"Heii, pengemis tak boleh masuk. Keluar dan jangan mengotori tempat ini!"

"Aku bukan pengemis," Han Han terkejut dan menahan marah. "Aku pelancong yang kemalaman di jalan."

"Tapi.."

"Maaf," Han Han mengeluarkan sekeping uang emas, pemberian gurunya. "Aku mau masuk, twako. Beri jalan dan jangan menghina!" dan ketika pelayan itu didorong dan uang emas dilempar ke atas meja, menancap dan melesak di situ maka pelayan ini terkejut dan seketika sadar bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda kang-ouw, gugup dan gentar tapi bingung karena para tamu tiba-tiba menoleh, mengerutkan kening dan menutup hidung mereka karena bau pakaian Han Han yang berkeringat sungguh menusuk tajam.

Han Han tak sadar akan itu karena baru inilah dia memasuki sebuah rumah makan di kota besar. Biasanya, dia duduk dan makan-makan di warung sederhana kalau diajak gurunya keluar untuk sesuatu keperluan, membeli pakaian umpamanya. Duduk dan berkumpul dengan kaum tani atau orang-orang sederhana yang hidupnya bersahaja. Mereka itu biasanya sama-sama berpakaian kumal dan bau kecut atau keringat bukan masalah, karena mereka petani-petani yang biasanya baru membajak sawah mereka atau bercocok tanam.

Maka begitu Han Han memasuki rumah makan ini dan kebiasaan rumah makan di kota besar tentu saja lain dengan di kota-kota kecil, apalagi dusun dan kampung maka Han Han menjadi perhatian banyak orang tapi dengan tenang pemuda itu memilih sebuah meja dan duduk. Buntalannya diletakkan dan Han Han baru mengebutkan ujung bajunya untuk merontokkan debu-debu di situ.

"Celaka!" pelayan itu terburu-buru menghampiri, pucat dan gugup. "Maaf. kongcu (tuan muda), anda..... anda sebaiknya ke belakang dulu. Jangan duduk disini!"

"Kenapa?"

"Tamu... para tamu tiba-tiba menyingkir. Mereka tak tahan akan bau tubuhmu. Kongcu mandi dulu!"

"Hm, begitukah?" Han Han merah mukanya, mendengar suara cekikan dan segera menoleh ke kiri. Di situ ada seorang wanita cantik yang membawa payung. Wajahnya jelita dan entah kenapa tiba-tiba saja jantung Han Han berdegup kencang. Ada rasa malu dan gugup di situ, dia merasa ditertawakan! Dan ketika Han Han tertegun dan sang pelayan cepat-cepat menunjuk ke belakang, berkata bahwa di situ ada kamar mandi maka Han Han diminta ke sana.

"Mari, kongcu kuantar. Lima tail saja untuk sekali mandi!"

Han Han mengangguk. Akhirnya dia sadar bahwa bau keringatnya menjadi perhatian orang. Tamu-tamu yang ada di dekatnya memang tiba-tiba menyingkir dan beberapa di antaranya bahkan membayar rekening dan keluar, tanda terganggu makannya dan tak senang adanya Han Han di situ, pemuda yang berkesan pengemis! Dan ketika Han Han masuk dan membawa buntalannya pula, menyambar pakaiannya yang tertinggal di atas meja maka tak lama kemudian Han Han sudah keluar dan tampak gagah serta tampan dengan baju yang bersih, selesai mandi.

"Ih, tampan dan mengagumkan. Persis seperti yang kuduga!"

Han Han terkejut. Diakeluar dari kamar mandi ketika seruan itu terdengar nyaring, nyaring namun merdu. Dan ketika Han Han menoleh dan melihat bahwa itulah si cantik yang membawa payung, pelayan juga tertegun memandangnya maka wanita itu terkekeh dan mengedipkan sebelah matanya, tidak malu-malu.

"Mari.., mari, kongcu. Duduk dan semeja saja denganku. Aku yang mentraktir!”

Han Han semburat. Selama hidup belum pernah dia berdekatan dengan wanita karena sehari-harinya adalah dengan gurunya itu, seorang pertapa pula. Tapi ketika pelayan tertawa dan yakin bahwa pemuda ini betul-betul bukan pengemis, sikap dan wajahnya menunjukkan wajah seorang pemuda gagah maka pelayan itupun menggerakkan ibu jarinya menuding Han Han ke tempat si cantik.

"Ah, benar. Silahkan duduk dan makan di sana, kongcu. Nona itu rupanya juga ingin berkenalan denganmu. Sst...!" dia mengakhiri dengan bisikan. "Gadis itu adalah seorang wanita lihai. Tadi merobohkan dua pengemis yang datang mengganggu!"

Untuk pertanyaan selanjutnya mengenai Han Han tertegun. Dia jadi salah tingkah karena begitu keluar guha tiba-tiba saja berhadapan dengan wanita cantik. Ludahnya serasa sukar ditelan karena darah mudanya berdebur kencang. Betapapun, wanita cantik itu memang menggairahkan. Tubuhnya padat dan cukup berisi, dada dan pinggulnya kelihatan besar dari samping. Hm! Namun karena Han Han bukan pemuda pemogoran dan tawaran itu justeru membuatnya gugup, Han Han terpaku tak dapat bicara, mendadak saja si cantik itu melenggok dan bangkit berdiri menghampirinya. Langkahnya, ah... minta ampun.

Han Han berdesir melihat lenggang-lenggoknya yang aduhai, mirip ular yang meliak-liuk. Dada dan pinggul itu bergerak-gerak dan merupakan tonjolan yang merangsang. Wanita ini sexy sekali. Han Han melengos! Tapi ketika lengannya sudah disambar dan Han Han terkejut, si cantik sudah merangkul pundaknya maka Han Han panas dingin cepat melepaskan diri.

"Kongcu tak usah takut, akupun bukan harimau. Mari, kebetulan kita sendiri-sendiri. Duduk dan perkenalkan namaku Eng Hwa!"

Han Han benar-benar gugup bukan main. Dipeluk dan disambar seperti itu sungguh seumur hidup belum pernah dirasakannya. Ada sengatan yang tinggi menyetrom tubuhnya tapi Han Han sudah mundur menjauh, melepaskan diri. Dan ketika si cantik tersenyum dan tertawa lebar, tidak marah, maka Han Han segera membungkuk dan cepat-cepat ke bangkunya tadi, bangkunya sendiri.

"Maaf, aku... aku tak dapat menerima kehormatanmu, nona. Terima kasih tapi biarlah aku di bangkuku sana!" dan cepat-cepat meninggalkan wanita itu yang tiba-tiba mengerutkan kening, menghentikan tawanya, maka Han Han segera memesan makanan dan minuman, ala desa.

"Aku minta air putih dan sayur bening. Boleh dengan beberapa bak-pao!"

"Apa? Kongcu.... kongcu memesan sayur bening? Dan air putih?"

"Ya, itu kesukaanku, bung pelayan. Sediakan dan cepat karena perutku lapar!"

"Tapi ada arak atau anggur di sini, jauh lebih lezat daripada air putih! Dan kamipun memiliki macam-macam masakan istimewa seperti babi saos tomat atau ayam masak kecap!"

"Tidak, aku tak suka makanan berjiwa bung pelayan. Aku suka sayur bening dan air putih. Aku tak ingin bicara lagi!"

"Ba.. baik!" dan si pelayan yang melongo tapi ngeloyor pergi, sikap dan kata-kata Han Han menunjukkan kesederhanaannya yang luar biasa maka wanita cantik yang masih di situ tiba-tiba tersenyum dan melangkah menghampiri.

"Bolehkah aku duduk bersamamu?"

Han Han tertegun.

"Maaf, aku bukan srigala atau harimau yang galak, kongcu. Aku wanita biasa dan namaku Eng Hwa. Aku perlu duduk di sini karena perlu perlindunganmu. Lihat, di luar ada tujuh pengemis memandangku. Mereka melotot dan pasti akan menghajarku kalau nanti keluar!"

Han Han menengok. Benar saja di luar itu ada tujuh pengemis yang berdiri di depan pintu, sikapnya mengancam dan mata merekapun melotot memandang si cantik ini. Pelayan terkejut dan buru-buru menyingkir. Rupanya, akan ada kegaduhan! Dan ketika Han Han menerima masakannya dan wanita itu duduk di sampingnya, menghadap pintu maka wanita itu berbisik seraya merapatkan tubuh.

"Itu orang-orang Hek-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Dua di antara mereka tadi kuhajar karena datang mengganggu. Sekarang memanggil teman-temannya dan celaka aku nanti. Mereka bertujuh!"

Han Han terguncang. Bicara sambil merapat begitu membuat buah dada wanita ini menempel di pundaknya. Segumpal daging yang lunak lembut menggetarkan birahi, Han Han tersentak dan berdesir. Tapi karena dia adalah murid Im Yang Cinjin yang sakti dan berahi bukanlah kelemahannya, Han Han sudah menekan guncangan hatinya dengan mendorong halus tubuh wanita itu maka Han Han berkata agar wanita itu tak usah takut, diam-diam menarik napas dalam-dalam untuk mengusir rasa nikmat yang mengganggu, getaran aneh yang dirasakan.

"Nona tak usah khawatir, ada aku di sini. Kalau mereka mau berbuat curang tentu aku tak akan tinggal diam. Tapi kenapa dengan dua orang pengemis tadi?"

"Mereka menggangguku, kongcu, menyodor-nyodorkan piring sebelum makanku sendiri habis!"

"Hm, namaku Han Han, jangan panggil kongcu. Aku tentu melindungimu, nona. Jangan takut dan mari temani aku makan. Tapi maaf, pesananku amat sederhana!" Han Han mengambil sumpit, mulai menjepit beberapa sayuran di mangkoknya dan wanita di sebelahnya itu terbelalak.

Han Han bersikap demikian tenang dan penuh kepercayaan diri. Dia segera berkata bahwa pengemis-pengemis Hek-i Kai-pang bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka terdiri dari pengemis-pengemis lihai dan tingkatan mereka ditentukan oleh tongkat di tangan mereka itu, semakin pendek berarti semakin berbahaya! Dan karena tujuh pengemis di luar rata-rata memegang tongkat yang hanya sedepa saja, mereka itu mungkin tingkat tiga atau empat maka Eng Hwa tampak khawatir memandang Han Han.

"Kau tidak tahu, yang datang ini adalah anak-anak murid yang tinggi kepandaiannya. Tongkat mereka hanya sedepa saja, mungkin tingkat tiga atau empat!"

"Aku tak takut," Han Han tersenyum tenang, terus menyumpit. "Mari makan, nona. Dan sementara ini biarkanlah saja. Nanti aku yang menemui mereka dan memberi penjelasan..."

"Namaku Eng Hwa, jangan sebut nona!" wanita itu rupanya tak mau kalah. "Kalau kau menyuruhku menyebut Han Han biarlah kau panggil namaku pula, Han Han. Jangan berkongcu atau ber-nona agar aku tak kikuk pula!"

"Baiklah, aku menyebutmu cici. Kau tampaknya lebih tua dariku. Hm, makanlah, Hwa-cici. Nanti sayur ini keburu dingin. Orang-orang itu tak akan mengganggu kita!" dan ketika Han Han makan lagi karena perutnya memang lapar, sejak tadi berkeruyuk maka santapan itu dinikmatinya dan Han Han menawarkan beberapa bakpao di atas meja. Air putih itu tak disentuh karena hanya segelas, Eng Hwa ditawari benda bulat putih ini. Dan ketika Eng Hwa tertegun dan berseri memandang Han Han, kagum akan sikapnya yang begitu tenang dan percaya diri maka wanita ini tertawa.

"Ah, kau rupanya bukan pemuda sembarangan, Han Han. Entah siapa gurumu hingga kau tak takut kepada orang-orang Hek-i Kai-pang!"

"Aku tak takut kepada siapa pun, asal di jalan benar. Mari makan dan nanti kita temui mereka, Hwa-cici. Minumlah kalau kaupun haus!"

"Ah, hi-hik, kau hebat!" dan ketika EngHwa menyambar bak-pao dan mengunyahnya di mulut, diam-diam menaksir dan menduga siapa sebenarnya pemuda ini maka tujuh pengemis di luar tetap berjaga dengan sikap mengancam.

Mereka mengamati dua orang itu dengan tajam dan pandangan marah mereka jelas tertuju kepada Eng Hwa, meskipun sesekali sorot mereka juga memancarkan ketidaksenangan terhadap Han Han. Kasak-kusuk atau bicara di dalam itu tak mereka dengar dengan jelas, kecuali tawa atau kekeh nyaring Eng Hwa di akhir pembicaraan. Dan ketika wanita itu menghabiskan sebutir bak-pao dan meneguk sedikit air putih sisa Han Han, tak malu-malu, maka Han Han bangkit berdiri dan diam-diam sedikit jengah oleh sikap teman barunya ini.

"Hitung berapa yang kuhabiskan. Nih, uang pembayarannya!"

Namun Eng Hwa terkekeh dan mendahului. Pelayan yang dipanggil cepat-cepat diberi sekepal uang perak, uang Han Han sendiri dikembalikan. Dan ketika Han Han terkejut karena pembayarannya ditolak, Eng Hwa berkata bahwa pembelaan dan perlindungan Han Han jauh dari sekedar hidangan di atas meja tadi maka Han Han tersenyum tak berdaya.

"Aku tak dapat merepotkanmu untuk urusan sekecil ini. Pembelaan dan perlindunganmu jauh dari sekedar harga makanan. Lihat, mereka sudah bersiap-siap menyambut kita, Han Han. Mari temui dan aku jadi berbesar hati setelah berdekatan denganmu!"

Han Han mengangguk. Pelayan mundur dan menjauh ketika tujuh pengemis itu kelihatan bergerak. Mereka tak memasuki restoran karena rupanya memang tak mau mengganggu pemilik. Setiap bulan mereka sudah mendapat semacam "upeti" dari rumah-rumah makan seperti ini. Dan ketika Han Han dan temannya bergerak keluar, para tamu tiba-tiba menyingkir dan beberapa di antaranya bersembunyi menyaksikan kejadian itu, di luar tentu terjadi keributan maka dengan langkah tenang dan meyakinkan Han Han sudah tiba di pintu luar, membungkuk.

"Sobat-sobat agaknya menunggu kami. Baiklah, ada keperluan apa dan bolehkah aku bicara? Apakah kalian dari Hek-i Kai-pang?"

"Tutup mulutmu!" seorang pengemis tiba-tiba membentak, berkelebat dan sudah berkacak pinggang di depan pemuda ini, gerakannya ringan dan mengejutkan, tanda bahwa dia benar-benar seorang pengemis lihai! "Kami tidak ada keperluan denganmu, anak muda. Yang kami perlukan adalah si sundal betina ini. Minggir, dan berikan dia kepada kami!"

Eng Hwa tampak ketakutan. "Tolong ..." katanya. "Mereka pengemis-pengemis galak, Han Han. Ah, mati aku kalau dibentak-bentak begini!"

Han Han mengerutkan kening. Melihat gerak dan sikap lawan di depannya ini segera dia tahu bahwa pengemis itu memang memiliki kepandaian cukup. Gerak dan loncatan kakinya tadi ringan. Namun karena itu belum apa-apa bila dibanding Hui-thian-sin-tiauwnya, ginkang yang diwarisi dari sang guru maka Han Han tersenyum dan menjura, sekali lagi memberi hormat.

"Maaf, lo-kai. Agaknya setiap urusan dapat dibicarakan dan diselesaikan baik-baik. Kalau kalian ingin berurusan dengan Hwa-cici ini tentu saja boleh, tapi harap kalian tidak mengeroyok seorang wanita. Tujuh laki-laki mengancam seorang wanita kukira kurang patut, harap kalian tidak marah dan bersabar menahan diri."

"Cerewet!"pengemis itu tiba-tiba bergerak, tangannya menyambar dan membanting Han Han. "Kusuruh minggir harap minggir, anak muda. Tak perlu banyak omong atau kau mampus... aduh!" teriakan ini mengejutkan teman-temannya, pengemis itu sudah menyambar dan menangkap Han Han, namun tiba-tiba dia sendiri yang terbanting.

Tadi dengan kecepatan kilat Han Han menggerakkan kakinya dan menggaet kaki si pengemis itu, cepat dan luar biasa hingga tak satupun yang melihat. Bahkan Eng Hwa yang ada di belakangnya juga tidak tahu. Dan ketika semua terkejut dan Eng Hwa membelalakkan mata, tak tahu apa yang terjadi tapi merasa geli karena mungkin pengemis itu tersandung, lucu sekali, maka Eng Hwa terkekeh-kekeh dan terpingkal.

"Hi-hik, lucu dan menggelikan. Kalau tidak bisa menyerang lebih baik jangan menyerang. Eh, minggir, Han Han. Biar orang-orang ini kuhadapi karena kalau hanya sekian saja barangkali aku mampu!" dan Eng Hwa yang bergerak dan meloncat ke depan, ingin menunjukkan kepandaian dan pamer di depan Han Han tiba-tiba membentak dan menusuk seorang pengemis.

Pengemis-pengemis itu sedang terkejut oleh terbantingnya teman mereka ini, tiga yang lain menolong sementara tiga yang lainnya lagi tertegun, melihat teman mereka itu. Maka begitu Eng Hwa terkekeh dan menyerang mereka, jari menusuk dan mencolok mata tahu-tahu pengemis yang diserang ini berteriak kaget dan cepat melempar tubuh bergulingan, tongkatnya menangkis.

"Tak!" Tongkat itu terpental. Si pemilik terkejut tapi sudah berteriak melompat bangun, mukanya merah padam. Dan ketika dia membentak dan teman-temannya melotot, Eng Hwa menyerang di saat mereka tak waspada maka teman mereka itu sudah mengemplang dan menggerakkan tongkatnya bertubi-tubi, di elak dan ditangkis dan segera tubuh wanita itu berkelebatan mengikuti lawan. Eng Hwa diserang gencar namun wanita itu lincah berkelit, belum satu pun kemplangan mampir di tubuhnya. Dan ketika Eng Hwa terkekeh dan berkelebatan ke. sana-sini maka satu ketika kakinya bergerak mengenai pengemis itu.

"Buk!" Pengemis itu terjungkal. Selanjutnya Eng Hwa balas menyerang dan lawannya ini bergulingan menjauh, berteriak dan kaget karena segera kaki si cantik itu bak-bik-buk menendang tubuhnya. Nyata, Eng Hwa lebih tinggi. Namun ketika Eng Hwa terus mendesak dan Han Han tersenyum melihat sepak terjang kawannya itu maka enam pengemis lain bergerak dan menerjang Eng Hwa.

"Wanita busuk, biarlah kami menggebukimu sampai mampus.... wut-wut-wut!" dan enam tongkat yang susul menyusul bergerak ke arah Eng Hwa akhirnya ganti membahayakan wanita itu karena Eng Hwa segera dikepung dari segala penjuru. Tongkat di tangan tujuh pengemis itu berkelebatan naik turun hingga wanita ini kewalahan, satu kemplangan akhirnya mengenai pundaknya. Dan ketika Eng Hwa menjerit karena sakit, pukulan itu berat bagi seorang wanita maka Han Han siap membentak ketika wanita itu bergerak dan mencabut payungnya, yang tadi disisipkan di pinggang.

"Kalian pengecut, mengeroyok seorang wanita. Baiklah, aku akan menghajar kalian dan lihat payungku ini... slap!" dan payung yang membuka-menutup tiba-tiba mengejutkan tujuh pengemis itu karena pandangan mereka tiba-tiba terhalang. Payung hitam di tangan wanita itu bergerak cepat naik turun pula dan tahu-tahu terdengar jeritan dua kali di sebelah kiri, Eng Hwa telah mulai beraksi. Dan ketika yang lain terkejut dan Eng Hwa tertawa, tangan kirinya bergerak di balik payung hitam maka lima sinar merah bertuiut-turut menyambar lima pengemis itu yang seketika terjungkal dan roboh.

"Aduh...!"

Han Han terkejut. Pertandingan selesai dan tujuh laki-laki pengemis itu terkapar di tanah, mata mendelik dan tubuh berkelojotan untuk akhirnya diam, tewas. Dan ketika Eng Hwa menyimpan payungnya dan tertawa, giginya yang putih bersih memperlihatkan gairah yang merangsang maka Han Han terbelalak dan berseru kaget.

"Hwa-cici, kau membunuh mereka. Kenapa kau lakukan ini? Kau bersikap demikian kejam?"

"Ah," Han Han dibuat bengong oleh tawa wanita ini, tawa yang aneh dan membangkitkan berahi. "Kau tahu sendiri siapa yang kejam dan siapa yang tidak, Han Han. Tujuh laki-laki mengeroyok wanita apakah pantas? Kalau aku tidak membunuh tentu aku yang dibunuh. Itu jamak. Aku tidak kejam melainkan sekedar membela diri dan agar jangan lagi orang-orang Hek-i Kai-pang menghinaaku!"

"Tapi.... tapi..." Han Han masih tergetar, kaget dan marah. "Tujuh jiwa bukanlah main-main. Kau serampangan dan ganas!"

"Hm," Eng Hwa membalik, melipat payungnya. "Kau rupanya baru turun gunung Han Han, tak tahu siapa yang ganas dan siapa yang tidak. Kalau aku membiarkan diri saja apakah mereka-mereka ini tidak menggangguku? Kalau aku tidak cepat-cepat merobohkan mereka apakah mereka tak akan semakin kurang ajar? Lihat ketika tadi kau bicara baik-baik, Han Han. Apa jadinya ketika kau diserang dan mau dibanting. Dan ketika juga ketika kau bicara lagi, mereka-mereka ini tak ada yang menggubris dan langsung menyerang aku! Pantaskah orang-orang semacam ini diberi ampun? Pantaskah laki-laki yang mengeroyok wanita dibiarkan hidup? Kalau mereka diampuni atau dibiarkan hidup maka mereka akan semakin berani, Han Han, mungkin memanggil kawan-kawannya dan aku repot. Kalau tertangkap tentu dibunuh dan diperkosa. Dan itu adalah watak orang-orang Hek-iKai-pang!"

Han Han tertegun. Mendengar bahwa Hek-i Kai-pang suka membunuh atau memperkosa wanita, hal yang seketika membuat alisnya berkerut maka pemuda ini diam tak bicara. Dia memang sudah membuktikan kekasaran orang-orang ini. Dan lagi, awal pertikaian adalah dari orang-orang Hek-iKai-pang itu sendiri. Mereka datang mengganggu Eng Hwa, yang sedang makan. Dan heran bagaimana seorang pengemis berani memaksa seorang tamu, untuk minta makan dengan cara paksaan maka Han Han akhirnya diam saja tak membantah kata-kata temannya itu, meskipun tetap saja dia merasa tak puas dan kaget bagaimana Eng Hwa demikian gampang main bunuh. Dia melihat sinar-sinar merah tadi dan terkejut karena itulah jarum-jarum berbahaya, mungkin malah beracun. Dan ketika dia membungkuk dan memeriksa mayat seorang pengemis, mencabut dan merasakan hawa panas di tubuh jarum maka Han Han seketika tak senang karena benar saja jarum itu beracun!

"Kau seperti orang sesat!" Han Han memandang penuh selidik, mukanya merah. "Kau memiliki jarum beracun, cici. Dan ini tak pantas dipunyai orang baik-baik. Kau rupanya wanita jahat!"

Eng Hwa terbelalak. Melihat Han Han marah dan menegurnya kasar tiba-tiba ia pun menjadi marah. Tapi begitu beradu pandang dan wajah Han Han yang tampan gagah membuat kemarahannya lenyap tiba-tiba wanita ini terisak dan berkelebat pergi.

"Han Han, kau kasar dan tidak menghiraukan sekali perasaan wanita. Kalau aku jahat biarlah tak usah kaudekati aku lagi. Aku akan menghadapi orang-orang Hek-i Kai-pang yang tentu akan mencari aku!" dan lenyap meninggalkan pemuda itu, juga tujuh mayat pengemis yang tentu saja membuat geger rumah makan maka Han Han terkejut dan sadar.

Dia segera mendengar teriakan dan seruan kaget di sana-sini, yakni di sekitar rumah makan itu. Tapi karena dia juga jadi ragu akan dugaannya sendiri, orang-orang Hek-i Ka i- pang itu mungkin lebih jahat daripada Eng Hwa maka begitu Eng Hwa menangis dan meninggalkannya tiba-tiba Han Han merasa tak enak dan bersalah, berkelebat mengejar.

"Hwa-cici, tunggu!"

Namun Eng Hwa tak mau dengar. Wanita itu berlari cepat dan Han Han dibiarkan mengejar, berkelebat dan akhirnya melayang ke wuwungan sebuah rumah. Dan ketika wanita itu bergerak seperti terbang dari rumah yang satu ke rumah yang lain, diam-diam menguji Han Han apakah pemuda itu pandai dan mampu menyusul dirinya maka cepat bagai siluman wanita ini sudah tiba di pintu kota sebelah timur. Eng Hwa tak mendengar gerakan dan menoleh, dikiranya Han Han jauh tertinggal di belakang, hal yang mulai membuat wanita itu kecewa dan marah, diam-diam akan kembali dan mencari pemuda itu untuk dihajar. Tapi ketika Han Han ada di dekatnya dan pemuda itu kebingungan tak memanggil-manggil lagi, hanya mengikuti dan mengintil seperti bayangan maka Eng Hwa terkejut sekali karena pemuda itu dekat sekali dengannya, tak lebih dari semeter!

"Aih, mau apa mengejar aku?" wanita itu terkejut dan terpekik. "Pergi kau, Han Han. Pergi dan enyahlah. wut!" dan sebuah pukulan yang dilepas untuk menghantam Han Han, menguji sekaligus mengetahui sampai di mana kepandaian pemuda itu tiba-tiba digagalkan oleh Han Han yang berkelit ke kiri, tak menangkis.

"Cici, aku barangkali salah, maafkan. Tapi tak layak kau meninggalkan tujuh mayat pengemis-pengemis itu di rumah makan!"

"Apa perdulimu?" wanita itu membentak dan melepas pukulan lagi, lalu berjungkir balik melewati pintu kota yang tinggi. "Aku tak perduli mereka-mereka itu, Han Han. Ada pemilik rumah makan dan lain-lain di sana. Kalau kau mau menahan aku silahkan kalau mampu!" dan Eng Hwa yang berkelebat dan terbang lagi, meluncur dan menuju hutan di depan tiba-tiba ingin mengetahui apakah Han Han mampu menandinginya. Tadi mungkin kebetulan saja pemuda itu di belakang, karena beberapa kali dia memang agak memperlambat larinya, harus membelok atau melompati wuwungan rumah-rumah umpamanya. Dan ketika kini mereka di alam bebas dan Eng Hwa mengerahkan semua ilmu meringankan tubuhnya, terbang dan meluncur seperti kijang betina maka wanita itu mengharap Han Han tak mampu mendekati.

Namun dugaan wanita ini keliru. Eng Hwa sudah hampir tiba di tepi hutan itu ketika tiba-tiba dia ingin menoleh ke belakang, tak mendengar gerakan Han Han. Dan ketika dia menoleh ternyata Han Han tak ada, wanita itu tersenyum mengejek maka dia sudah siap mentertawakan pemuda itu sesampainya di hutan. Namun alangkah kaget wanita ini. Begitu dia membalik dan meneruskan larinya ke hutan, siap terkekeh nyaring tiba-tiba Han Han sudah ada di sana. Pemuda itu tegak di mulut hutan, berdiri, menantinya. Dilihat sepintas, pemuda itu sudah lama di situ dan Eng Hwa tentu saja terpekik. Dan ketika, dia berjungkir balik dan melayang turun, Han Han tersenyum memandangnya tiba-tiba Eng Hwa membentak dan menghantam pemuda ini.

"Jahanam keparat, kau jangan mentertawakan aku.... dess!" dan Han Han yang bergerak secepat kilat mengelak pukulan itu, menghilang, tiba-tiba membuat pukulan Eng Hwa mengenai tanah, hancur dan berlubang dan Eng Hwa berseru tertahan. Han Han tak kelihatan batang hidungnya dan kagetlah wanita itu celingukan ke sana ke mari. Tapi ketika di belakangnya terdengar suara berdehem dan Han Han ada di situ, menegurnya kenapa dia menyerang maka Eng Hwa terlonjak dan secepat kilat membalik dan menghantam pemuda itu lagi.

"Terkutuk, jangan mempermainkan aku Han Han. Kalau kau berani terimalah!" namun Han Han yang lenyap dan berada di tempat lain lagi akhirnya membuat lawan berulang-ulang melakukan serangan sia-sia, mengamuk dan membalik sana-sini namun Han Han selalu menghilang lebih dulu. Han Han mempergunakan Hui-thian-sin-tiauwnya itu hingga tak mungkin Eng Hwa menemukannya.

Akibatnya, wanita itu seperti berhadapan dengan iblis, atau siluman! Dan ketika Eng Hwa pucat berteriak-teriak dan semua pukulannya selalu gagal, Han Han selalu menghilang dan lenyap lebih dulu maka wanita itu menjerit dan melepas satu pukulan lagi yang membuat sebatang pohon roboh.

"Han Han, jangan permainkan aku. Muncullah, dan hadapi aku secara jantan... brukk!" dan pohon besar itu yang tumbang dengan suara gemuruh akhirnya ditutup oleh kehadiran Han Han yang tidak mempergunakan Hui-thian-sin-tiauw nya lagi.

"Aku di sini, tak akan ke mana-mana. Asal kau tidak menyerangku tentu aku tak akan menghilang. Lihat, kau membuat suara hiruk-pikuk di tempat ini, Hwa-cici. Dan banyak orang rupanya datang mendengar keributan ini!"

Eng Hwa tertegun. "Orang? Banyak orang?"

"Ya, aku mendengar langkah kaki mereka. Masih jauh, tapi semuanya ke sini!"

"Keparat!" Eng Hwa merasa dipermainkan, tak mendengar atau melihat apa-apa. "Kau sombong dengan ilmumu yang tinggi, Han Han. Namun aku tidak takut dan mari hadapi secara jantan... siutt!" dan payung hitam yang bergerak ditarik tiba-tiba mengembang dan sudah menutup pandangan Han Han, selanjutnya menusuk dan menyodok namun Han Han bukanlah pengemis-pengemis dari Hek-i Kai-pang tadi.

Pemuda ini dengan mudah bergeser sana-sini dan sesekali tangannya mendorong. Payung tertahan dan akibatnya serangan berikut gagal. Dan ketika Eng Hwa terkejut tapi juga merasa kagum, Han Han tidak menghilang dan menghadapi serangannya maka aneh sekali wanita ini tiba-tiba terkekeh, gembira.

"Bagus, begini baru memuaskan, Han Han. Tapi aku akan mengeluarkan semua kepandaianku dan hati-hatilah!"

"Tak apa," Han Han tersenyum. "Aku tahu maksudmu, Hwa-cici. Kau ingin tahu kepandaianku dan menguji. Keluarkanlah semua ilmumu dan juga jarum-jarummu itu!"

"Kau menantang? Awas!" dan Eng Hwa yang merasa panas dan marah tiba-tiba mengembang-tutup payung di tangannya, bermaksud membingungkan Han Han karena siapa tahu pemuda itu akan gugup. Payung menusuk dan membabat seperti pedang, kalau membuka tiba-tiba menyambar seperti bendera. Tapi Han Han yang tenang dan tertawa saja tiba-tiba mengebutkan ujung lengan bajunya hingga satu saat wanita itu terpelanting!

"Hati-hati, kaulah yang harus waspada, cici. Tapi betapapun ilmu payungmu tidak buruk.... brett!" dan payung yang sobek ujungnya akhirnya membuat pemiliknya bergulingan dan Eng Hwa tiba-tiba berteriak marah. Enam sinar merah menyambar dari tangannya dan Han Han tidak mengelak. Dibiarkannya sinar-sinar merah itu mengenai tubuhnya dan runtuh. Dan ketika Eng Hwa terkejut melompat bangun, beberapa bayangan hitam kini dilihat wanita itu maka Han Han minta agar tidak usah serang-menyerang lagi.

"Itulah mereka, lihat. Agaknya, orang-orang dari Hek-i Kai-pang!"

Benar saja, beberapa bayangan hitam muncul dan tahu-tahu sudah mengurung. Eng Hwa sudah tidak menyerang lagi dan tertegun di situ. Bukan memandang bayangan-bayangan hitam ini melainkan memandang Han Han. Wajahnya penuh takjub dan gembira, bola matanya berseri-seri. Dan ketika muncul semacam erangan lirih, mirip kucing merintih maka Han Han mengerutkan kening tapi mendengar bentakan orang-orang itu, seorang laki-laki tinggi kurus dengan tongkat yang hanya sekepal panjangnya.

"Siluman betina, apakah kau yang membunuh murid-murid Hek-i Kai-pang. Dan siapa dirimu!"

Eng Hwa terkejut, tiba-tiba tertawa. "Aih," katanya, sadar. "Apakah kalian dari Hek-i Kai-pang? Ada apa mencari-cari dan memburuku ke sini? Ah, benar aku yang tadi membereskan tujuh murid-murid Hek-i Kai-pang itu. Dan kau, hmm... barangkali kau adalah Hek-i Sin-lo-kai (Pengemis Sakti Baju Hitam)!"

Eng Hwa tidak takut dan memandang pengemis tinggi kurus ini. Dia bertemu dengan sepasang mata berkilat yang mencorong di malam gelap itu, belum lagi kilatan mata dari banyak orang-orang Hek-i Kai-pang yang lain. Dan ketika laki-laki tinggi kurus itu, Hek-i Kai-pangcu (ketua Hek-i Kai-pang) atau Hek-i Sin-lo-kai belum menjawab maka seorang pengemis lain yang bertongkat lebih panjang sedikit maju mewakili.

"Siluman betina, kami belum tahu dirimu, tapi kau sudah berani membunuh anak-anak murid Hek-i Kai-pang. Sebutkan siapa kau dan kenapa kau membunuh murid-murid kami!"

"Hm, kau tentu Ji-lokai (Pengemis Kedua), wakil Hek-i Kai- pang yang katanya pandai mainkan silat Kaw-tung (Tongkat Anjing). Apakah nama besarku belum kau ketahui? Aku Eng Hwa, julukanku Sian-li-toan-kaw (Dewi Penyembelih Anjing). Kalau kau macam-macam dan ingin mencari perkara denganku jangan salahkan aku kalau lehermu kutabas!"

"Wanita sombong!" Ji-lokai, pengemis itu tiba-tiba marah bukan main. "Kau besar mulut dan besar nyali, bocah. Kalau suaramu menggelegar coba buktikan dengan kepandaian....wut!" dan tongkat yang bergerak dan menyambar Eng Hwa, menyusul lompatan panjang pengemis ini tiba-tiba sudah diiringi suara menderu yang menggetarkan hati.

Eng Hwa memang sombong dan congkak karena adanya Han Han di situ. Dia sudah menguji dan menyaksikan kepandaian pemuda ini, yang jauh beberapa tingkat di atasnya! Maka ketika dia bicara merendahkan dan ketua atau wakil ketua Hek-i Kai-pang itu dihinanya, sengaja mengeluarkan kata-kata yang membakar agar dia diserang, Han Han tentu akan membantu kalau dia terdesak nanti maka Eng Hwa berkelit dan tertawa tapi Ji-lokai memburu, tetap membayangi dan tongkat tiba-tiba berubah tajam menyambar dahi. Sekali kena tentu celaka. Paling tidak, tulang dahi bisa retak! Dan karena Eng Hwa tahu ini dan berseru kaget, payung dikelebatkan dan menangkis ke atas maka benturan senjata tak dapat dihindarkan lagi tapi wanita itu terpelanting.

"Trak!"

Eng Hwa kaget bergulingan meloncat bangun. Nyata dia kalah tenaga dengan wakil ketua itu, melihat lawan berhenti dan tertawa mengejek. Sekali gebrakan itu menyatakan si pengemis di pihak unggul. Tapi karena itu belum memastikan dan Eng Hwa melengking marah, maju dan membentak lagi maka dia ganti menyerang duluan dan payungnya berkelebat tiga kali menusuk atau membabat.

"Trak-trak-trak!"

Eng Hwa tak mau keras lawan keras. Dia tahu bahwa Ji-lokai memiliki kelebihan tenaga, mungkin karena pengemis itu laki-laki sementara dia perempuan. Maka begitu payung terpental membalik ke diri sendiri, Eng Hwa meliuk atau menggeser kaki maka payung sudah dibuat lagi menyerang lawan, tiga kali berturut-turut dan Ji-lokai memuji juga. Betapapun wanita itu memang hebat, cerdik.

Dan ketika kemudian Eng Hwa mengerahkan gin-kang dan berkelebatan menyambar-nyambar, coba mendahului lawan dengan kecepatan tubuhnya maka Ji-lokai sibuk menangkis dan menghindarsana-sini. Eng Hwa mempercepat gerakannya namun lawan tiba-tiba juga berkelebatan mengimbangi. Dua orang itu tiba-tiba sudah bertanding dengan cepat. Tapi ketika Eng Hwa menang cepat dan payung di tangannya menusuk atau membacok, hebat sekali, maka Ji-lokai sebagai pihak bertahan dan menggeram diserang bertubi-tubi.

Namun Hek-i Sin-lo-kai tiba-tiba berseru keras. Dia menyuruh wakil ketuanya itu mengeluarkan Hek-tung Sin-ciang nya (Tangan Sakti Tongkat Hitam) untuk mengiringi gerakan-gerakan Hek-tung-sin-hoat (Silat Tongkat Hitam), yakni ilmu silat yang tadi diejek Eng Hwa sebagai silat anjing. Dan ketika Ji-lokai mengangguk dan membentak menggerakkan tangan kirinya, yang menderu dan tiba-tiba lurus seperti tongkat hitam tiba-tiba payung di tangan Eng Hwa berani ditangkisnya.

"Plak!" Payung itupun terpental. Sekarang Eng Hwa kaget dan mulailah tangan kiri lawannya itu bergerak-gerak mengikuti gerakan tongkat. Eng Hwa seperti diserang dua senjata karena lengan lawannya itupun seolah kayu hitam yang keras sekali, tak lentur dipukul payungnya. Dan ketika Eng Hwa terkejut dan berobah mukanya, Ji-lokai terkekeh dan mendesak payungnya maka sebentar kemudian Eng Hwa keteter dan gerak payungnya menciut dikurung tongkat dan Hek-tung Sin-ciang lawannya itu.

"Ha-ha!" si pengemis terbahak. "Mampus kau, bocah. Tahu diri sekarang. Hayo berkaok-kaok dan bermulut besarlah lagi!"

Eng Hwa pucat. Didesak dan dikurung pukulan-pukulan lawannya itu tiba-tiba saja ruang geraknya mengecil. Satu-satunya jalan ialah menangkis namun sinkang si pengemis lebih kuat. Tiga kali dia mencoba tapi tiga kali itu pula dia terhuyung, bahkan, nyaris terpelanting! Dan ketika Eng Hwa pucat namun masih tak mau kalah, dia masih memiliki senjata rahasia berupa jarum-jarum merah itu maka tanganpun merogoh dan sekali lempar tiba-tiba belasan jarum menyambar lawan, berkeredep bagai kunang-kunang berbahaya yang akan merobohkan lawan.

"Hayaa!" si pengemis membentak dan menangkis dengan tongkatnya. Belasan jarum dipukul runtuh dan beberapa anggauta yang lain berseru marah. Ji-lokai tak berani mempergunakan tangan kirinya ketika menangkis tadi, terkejut dan memaki karena segera dia tahu bahwa itulah senjata-senjata yang membunuh tujuh murid-murid Hek-i Kai-pang. Dan ketika pengemis itu melengking dan merangsek lagi, Eng Hwa mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri maka Hek-i Sin-lo-kai menggeram melihat jarum-jarum beracun itu.

"Sebaiknya tangkap wanita ini, bekuk dia hidup-hidup. Kalian maju dan bantu Ji-lokai!"

Eng Hwa terkejut. Empat pengemis tiba-tiba mengangguk dan berloncatan maju. Mereka adalah murid-murid tertua karena panjang tongkat di tangan mereka menunjukkan itu. Tongkat di tangan empat pengemis ini sedikit lebih panjang dari sang wakil ketua, berarti murid-murid utama dan Hek-i Kai-pangcu berseru agar wakilnya tak membunuh, melainkan menangkap hidup-hidup. Dan ketika empat pengemis itu maju ke depan dan tongkat menderu mengancam Eng Hwa, wanita itu berteriak meminta bantuan Han Han, merasa dirinya tak kuat melayani karena Ji-lokai seorang sudah merupakan lawan berat maka Eng Hwa melempar tubuh bergulingan sementara tangan kirinya bergerak lagi melempar jarum-jarum beracun.

"Licik, curang. Kalian tak tahu malu!"

Namun empat pengemis itu sama lihainya dengan sang wakil ketua. Mereka juga mempergunakan tongkat dan meruntuhkan jarum-jarum merah. Eng Hwa di sana bergulingan meloncat bangun. Dan setelah jarum-jarum diruntuhkan dan mereka membentak lagi, maju menyerang maka Eng Hwa kelabakan dan satu pukulan tongkat akhirnya mengenai pundaknya.

"Dess!" Wanita itu terjungkal. Selanjutnya Eng Hwa diserang dan dikejar lagi, melepas jarum-jarumnya namun lawan-lawannya merontokkan senjata-senjata rahasianya itu. Dan ketika Eng Hwa terdesak dan kembali berteriak kepada Han Han, keadaan benar-benar berbahaya untuknya maka Han Han yang sejak mula menonton jalannya pertandingan, berkerut kening dan tidak setuju atas jarum-jarum Eng Hwa akhirnya bergerak dan apa boleh buat terpaksa menolong temannya itu, karena dia juga tidak setuju dengan keroyokan orang-orang Hek-i Kai-pang ini.

"Tahan, berhenti semua.... plak-plak-plak!" dan Han Han yang berkelebat mengebutkan ujung bajunya tiba-tiba membuat tongkat di tangan lima pengemis itu patah-patah dan pemiliknya berteriak kaget melempar tubuh bergulingan, tak menyangka dan pucat dan saat itupun Eng Hwa melompat bangun.

Wanita ini robek-robek payungnya dan marah tapi girang melihat Han Han menolongnya di saat kritis. Pemuda itu akhirnya datang juga membantu! Dan ketika Eng Hwa terkekeh dan bangkit kegembiraannya, percaya kepada kelihaian pemuda ini maka wanita itu berseru menantang lawan-lawannya. "Hayo, kalian laki-laki curang. Maju dan kalahkan kekasihku ini!"

Han Han terkejut. Semua mata tiba-tiba menoleh dan memandangnya, Eng Hwa terkekeh dan tak perduli. Dan ketika dia malu namun tak sempat menjawab, Hek-i Kai-pangcu dan murid-muridnya melotot padanya maka Eng Hwa membakar api.

"Kalian tikus-tikus busuk yang beraninya hanya menyerang wanita saja. Hayo, tandingi temanku ini. Kalau kalian dapat memenangkannya sepuluh jurus saja biarlah aku menyerah dan membuang payungku. Kaki kalian kucium!"

Ji-lokai dan murid-murid yang lain mendelik. Wakil ketua ini masih terguncang oleh bayangan Han Han tadi, kebutan ujung bajunya yang tiba-tiba mematahkan semua tongkat. Tapi ketika ketuanya maju sendiri dan menghadapi Han Han, jari berkerotok menahan marah maka ketua Hek-i Kai-pang itu bertanya, suaranya berat dan penuh ancaman, dingin.

"Anak muda, kau kekasih siluman betina ini? Kau akan maju dan membelanya? Baik, hadapi kami. Kau rupanya cukup hebat karena mampu mematahkan tongkat-tongkat muridku tadi. Namun seranganmu tak diduga mereka, aku ingin menguji. Cabut senjatamu dan mari kita main-main sejenak. Kalau sepuluh jurus aku tak mampu mendesakmu biarlah kuanggap aku yang kalah. Awas...!"

Naga Pembunuh Jilid 13

NAGA PEMBUNUH
JILID 13
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"APAKAH teecu benar-benar tak memalukan, suhu?"

"Ha-ha, tidak, justeru kau mengagumkan. Lima belas tahun berlatih ternyata telah sanggup merobah dirimu seperti ini. Ah, pinto kagum, Han Han. Kau luar biasa dan hebat sekali!" dan ketika tosu itu berkelebat naik dan berdiri di depan muridnya maka Han Han tersenyum menjatuhkan diri berlutut.

"Ini berkat jerih payah suhu. Kalau suhu tidak mendidik atau menggemblengku tak mungkin aku bisa begini. Terima kasih, suhu. Ini semua berkat budimu!"

"Ah, bangunlah," sang guru berseri. "Tak ada budi atau jasa baik, Han Han. Semua ini adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa. Bangkitlah, dan pinto ingin berbicara sesuatu denganmu" lalu ketika muridnya bangkit berdiri dan berseri-seri, Im Yang Cinjin juga berseri dan gembira maka kakek itu memandang muridnya lagi.

"Beberapa hari ini kulihat kau sering memandang keluar. Apakah ada sesuatu yang sedang kau pikirkan, Han Han? Ayolah, aku menangkap sesuatu darimu!"

Han Han tiba-tiba berkerut kening. Dipandang dan ditanya seperti itu mendadak saja wajah kegembiraannya lenyap. Sang guru tersenyum lebar tapi sorot mata gurunva itu memancarkan yang lain, seolah ada sesuatu yang juga ingin dikatakan gurunya itu. Dan ketika Han Han tertegun tak segera menjawab, gurunya menarik napas tiba-tiba kakek itu melayang turun dan berseru.

"Mari masuk ke guha, kita bicara di dalam?"

Han Han terkejut. Melihat gurunya turun dan berkelebat di dalam guha tiba-tiba iapun mengikuti. Gurunya rupanya juga hendak berkata sesuatu sementara iapun juga memiliki ganjalan. Pucuk dicinta ulam tiba, gurunya hendak bicara! Maka ketika Han Han berkelebat dan turun memasuki guha, dua orang itu lenyap dari atas batu karang maka di sana Im Yang Cinjin sudah bersila menunggu muridnya, sikapnya tampak tenang namun sorot matanya serius, hal yang justeru membuat Han Han tergetar.

"Duduklah, dan kau katakan apa yang menjadi ganjalan,"

Han Han terkejut karena gurunya seolah telah lebih dulu tahu.

"Pinto melihat gerak-gerikmu yang aneh pada hari-hari belakangan ini, Han Han. Dan kebetulan pinto juga mau bicara padamu. Barangkali, pembicaraan kita sama!

"Hm," Han Han menunduk, duduk bersila di depan gurunya, kening berkernyit. "Kau rupanya tahu sebelum kuberi tahu, suhu. Agaknya tak perlu teecu bicara karena suhu sudah menangkap!"

"Tidak, jangan begitu," sang tosu mengebutkan lengan bajunya. "Pinto juga manusia biasa, Han Han, bisa keliru atau salah. Daripada mendahului yang belum tentu benar lebih baik kau bicara apa yang selama ini kau pikirkan. Kau selalu memandang keluar Guha Siluman!"

"Betul," Han Han tak menyembunyikan rahasianya lagi. "Teecu merasakan sesuatu yang lain daripada yang lain, suhu. Teecu seolah tertarik oleh sesuatu di luar yang selama ini belum teecu ketahui!"

"Maksudmu?"

"Maaf, Suhu. teecu tak berani bicara!"

"Hm, tak berani bicara bukan sikap yang selama ini kuajarkan, Han Han. Pinto tak pernah mengajarimu untuk menyimpan atau menyembunyikan rahasia. Kau harus jujur dan bicara benar, atau justeru pinto akan salah paham kepadamu dan menduga yang tidak-tidak!"

"Maafkan teecu..." Han Han tiba-tiba menarik napas dalam-dalam. "Teecu ingin bertanya sesuatu, suhu, tetapi khawatir suhu marah, tersinggung!"

"Siancai, pinto tak pernah marah untuk hal-hal yang benar. Kalau kau ingin bicara silahkan bicara, jangan dipendam!"

"Suhu tak akan marah?"

"Sudah kubilang tak akan marah untuk hal-hal yang benar, Han Han. Pinto juga akan bicara padamu akan sesuatu!"

"Baiklah, kalau begitu maaf. Teecu (murid) akan bicara." dan ketika Han Han membetulkan letak kakinya dan bersila tegak, muka menghadap gurunya maka pertanyaan yang pertama kali keluar adalah apakah gurunya itu menikah!

"Apa?"

"Maaf, teecu hanya bertanya saja, suhu. Apakah suhu pernah menikah dan punya anak!"

"Siancai, pertanyaanmu mencengangkan. Tapi tidak apa. Pinto jawab bahwa pinto belum pernah menikah karena pinto adalah pertapa! Kenapa kau tanyakan ini dan adakah itu kaitannya dengan perasaan yang mengganjal dihatimu?"

"Benar," Han Han berdebar, girang karena gurunya tak marah. "Teecu menanyakan ini karena ada rentetannya, suhu, yakni apakah benar kadang-kadang suhu menganggap teecu sebagai anak, di samping murid!"

"Hm!" sang tosu mengurut jenggot, bersinar-sinar, terkejut tapi juga heran akan pertanyaan muridnya itu. Tapi ketika Im Yang Cinjin tersenyum dan tertawa ramah, wajahnya benar-benar tidak menampakkan rasa marah maka dia justeru menegur muridnya itu. "Aneh," katanya. "Apa kaitannya semua itu dengan pertanyaanmu, Han Han. Dan apakah perlu pinto jawab?"

"Teecu merasa perlu, karena diam-diam teecu juga merasa aneh!"

"Siancai, aku yang seharusnya bicara aneh tapi kau malah yang merasakan serupa. Baiklah, apa keanehanmu itu, Han Han? Dan kenapa kau merasa aneh?"

"Suhu menyatakan tidak menikah tapi mempunyai anak seperti teecu. Suhu menganggap teecu sebagai murid tapi acap kali kasih sayang suhu seperti ayah terhadap anaknya. Apakah ini bukan aneh, suhu? Bagaimana teecu tidak akan merasa bingung jika suhu tak pernah beristeri tetapi mempunyai anak teecu?"

"Ha-ha!" tawa tosu itu meledak tak dapat ditahan, sekarang dia tahu apa tujuan dan kemana kata-kata Han Han ini. "Kau bingung karena memendamnya sendirian, Han Han. Kau merasa tak mengerti dan aneh karena selama ini kau tak pernah membicarakannya dengan aku. Baiklah, pinto katakan bahwa semua perasaanmu itu salah, bahwa kau benar-benar bukan anak pinto melainkan murid. Tapi karena pinto juga menyayangmu sebagai anak sendiri, seperti yang kau rasakan maka itu tidak aneh karena cinta atau kasih sayang dapat timbul di mana saja, untuk siapa saja!"

"Jadi teecu bukan anak?"

"Bukan, mana mungkin. Pinto adalah seorang pertapa, Han Han, selamanya belum pernah menikah. Dan kalau kau sudah bertanya tentang ini maka kebetulan pinto juga akan bicara yang serupa. Hm, dengarlah!" dan ketika si tosu duduk berseri dan memandang wajah muridnya itu, Han Han tampak serius dan mendengarkan baik-baik maka Im Yang Cinjin menarik napas dalam-dalam. "Keadaan ini memang harus kau ketahui, rahasia sudah sepatutnya dibuka. Dan karena kau sudah memulai pertanyaan itu maka pinto juga akan bicara tentang dirimu!"

Han Han berdebar, telinganya bergerak ke atas seperti kelinci yang siap mendengarkan sesuatu.

"Kau belum tahu siapa dirimu sebenarnya, bukan?"

Sang guru bertanya, dijawab gelengan kepala.

"Bagus, pinto juga tidak tahu, Han Han. Kau dan aku sebenarnya sama-sama tidak tahu siapa dan dari mana kau ini!"

"Apa?" Han Han kaget. "Suhu tak tahu siapa atau dari mana teecu ini? Apakah teecu muncul begitu saja di atas bumi?"

"Tidak, tentu saja tidak. Tapi kalau dikatakan pinto tak tahu sama sekali dari mana dirimu maka hal itu juga tidak benar, Han Han. Maksud pinto adalah pinto tidak tahu siapa ayah ibumu!"

"Kalau begitu bagaimana suhu dapat mengambil teecu, menemukan teecu?"

"Aku menemukan dirimu ketika dibuang seorang wanita berotak miring, dilempar di rumput kering ketika wanita itu hendak mencarikan makanan untukmu."

"Ah, siapa wanita ini, suhu?"

"Dengarlah, sabar dulu,"

Dan ketika Han Han berdebar mendengarkan, mukanya merah karena dia ternyata berasal dari seorang wanita berotak miring, hal yang menyakitkan maka tosu itu tampak menghela napas mengenang peristiwa dua-puluh tahun yang lalu, hampir duapuluh tahun.

"Ya, waktu itu pinto sedang bepergian. Kebetulan saja kalau pinto bertemu dengan wanita ini. Dialah yang membawa dirimu dan meninggalkanmu di tepi hutan. Kau menangis teus-terusan waktu itu, menarik perhatian pinto yang segera datang. Dan ketika pinto melihat bahwa kau di tangan wanita itu, yang menamparmu dan menyuruhmu diam maka wanita itu rupanya sadar bahwa kau lapar. Dan wanita itu lalu pergi, mencari pisang, makanan untukmu. Tapi karena kau menangis melengking-lengking dan semut rupanya menggigiti tubuhmu maka pinto tak tahan dan segera mengangkatmu. Dan tak lama kemudian wanita itu datang"

"Lalu bagaimana, suhu? Apakah dia wanita biasa atau orang persilatan?"

Im Yang Cinjin tersenyum. Pertanyaan muridnya itu amat bernafsu dan Han Han seketika sadar, malu. Tapi ketika tosu ini mengangguk dan menjentikkan kukunya mengusir seekor semut merah maka tosu itu berkata, "Dia bukan wanita sembarangan, melainkan seorang wanita lihai. Tapi karena saat itu agaknya dia terganggu jiwanya dan menderita tekanan batin berat maka pinto menyelamatkanmu dari tangannya."

"Siapa wanita ini, dari mana asalnya."

"Pinto tak tahu namanya, Han Han, tapi pinto tahu dari mana dia berasal."

"Dari mana dia!" Han Han bersemangat, lupa lagi. "Apakah kau tahu ilmu silatnya, suhu. Dan apakah wanita itu musuh orang tuaku.'"

"Aku tak tahu, kurang begitu jelas. Tapi karena dia membawamu dan mau mencarikan makanan untukmu tentunya wanita itu bukan musuh, meskipun entah bagaimana dia bisa gila dan tertawa-tawa sepanjang jalan."

"Kalau begitu siapa dia, coba suhu sebutkan!"

"Dia murid atau cucu murid Hek-yan Tai-bo..."

"Hek-yan Tai-bo? Siapa dia ini, suhu? Kenapa aku tak mendengar namanya?"

"Hm, nenek ini sudah meninggal, Han Han. Dan pinto memang belum pernah menceritakan nama ini kepadamu. Nama-nama lain barangkali sudah, tapi nama nenek ini memang belum. Dia adalah pewaris Hek-yan-pang, guru atau nenek guru dari ketua sekarang yang entah siapa."

"Ah, begitukah? Dan wanita gila itu?"

"Pinto tak tahu, kecuali bahwa dia murid atau cucu murid Hek-yan Tai-bo itu. Kalau kau ingin tahu tentu saja kau harus mencari atau menemukan wanita ini kalau hidup..."

"Hm, teecu akan mencarinya, suhu. Dan teecu akan menyelidiki ini bagaimana teecu sampai di tangannya. Tapi, kalau dia sudah tiada tentunya teecu akan ke Hek-yan-pang saja menyelidiki itu! Tahukah suhu di mana markas perkumpulan ini?"

lm Yang Cinjin tersenyum. "Tampaknya ini yang membuatmu akhir-akhir ini melamun. Hm, tentu saja pinto tahu dimana markas itu, Han Han. Dan justeru pinto memang akan menyuruhmu pergi untuk mencari tahu! Sudah waktunya kau meninggalkan Guha Siluman, sudah waktunya pula pinto melanjutkan tapa setelah bertahun-tahun terhenti untuk menggemblengmu. Apakah kau sudah siap untuk meninggalkan guha?"

Han Han terkejut. Tiba-tiba saja dia terbelalak memandang suhunya itu. Suhunya sudah berkata bahwa dia memang harus meninggalkan Guha Siluman, meninggalkan pula gurunya itu yang akan melanjutkan tapa setelah bertahun-tahun terhenti. Dan ketika Han Han tertegun dan sadar, mata tiba-tiba berair mendadak Han Han menjatuhkan diri berlutut dan menangis.

"Suhu, tidak kusangkal bahwa aku memang ingin meninggalkan tempat ini. Tidak kusangkal bahwa teecu ingin tahu tentang keadaan diri teecu. Tapi teecu tidak bermaksud untuk meninggalkanmu, suhu. Teecu bermaksud ingin pergi bersama-sama dengan suhu, bukan sendirian!"

"Hm, sudah tiba waktunya perpisahan," Im Yang Cinjin terharu dan mengusap-usap rambut muridnya itu, Han Han menangis ditahan-tahan. "Tak perlu mencucurkan air mata karena ada pertemuan pasti ada perpisahan, Han Han. Kalau kau menangis dan mengguguk seperti ini justeru pinto yang menjadi malu. Tenanglah, dan bersikaplah ksatria!"

Han Han hampir tak kuat. Setelah tangan gurunya itu menyentuh kepalanya maka seluruh getaran cinta kasih itu terasa benar, kuat dan mencekam dan Han Han menubruk dan memeluk suhunya itu. Dan ketika dia mengguguk dan tak menghiraukan kata-kata gurunya, menangis seperti anak kecil maka Im Yang Cinjin memejamkan mata karena dua titik air mata akhirnya runtuh juga! Namun tosu ini akhirnya melepaskan tangannya. Han Han diminta diam dan ditiuplah ubun-ubun muridnya itu untuk memberi kekuatan. Dan ketika Han Han mampu mengendalikan diri dan tangisnya tinggal isak-isak kecil maka Han Han menutupi muka tak berani memandang wajah gurunya itu.

"Teecu.... teecu lebih baik tak usah meninggalkan Guha Siluman. Teecu ingin tetap menemani suhu di sini!"

"Hm, bodoh!" Im Yang Cinjin tertawa, lebih dulu mampu menguasai hatinya. "Kau seperti anak ayam kehilangan induknya, Han Han, tak bakal dewasa dan mampu mandiri. Tidak, pinto justeru tak ingin lagi diganggu olehmu. Tugas pinto sudah selesai, semua ilmu-ilmu pinto telah kau warisi. Dan karena pinto ingin menyendiri dan bertapa lagi maka justeru pinto ingin memberi tahu padamu supaya meninggalkan Guha Siluman. Kau harus mengisi masa-masa mudamu dengan pengalaman. Dan pengalaman yang paling baik adalah keluar guha! Nah, tanpa pertanyaan ayah ibumu itupun pinto pasti akan menyuruhmu pergi, Han Han. Karena tak baik seorang anak muda tinggal di sini seumur hidup. Kau tak dapat melaksanakan tugas pendekar dengan terus berdiam disini. Kau tak dapat menolong si lemah dan kecil bila hanya mengurung diri, padahal semua ilmu dan nasihat-nasihat telah kuberikan padamu. Karena itu berangkat dan pergilah, Han Han. Sudah tiba waktunya untuk turun gunung!"

Han Han menangis dan menggigit bibir. Kalau gurunya sudah bicara seperti itu maka percuma saja permintaan atau bujukannya. Han Han sudah terbiasa hidup bertahun-tahun dengan gurunya ini. Sudah terbiasa berdua dan budi baik serta jasa gurunya itu besar sekali. Maka ketika gurunya berkata bahwa tanpa persoalan dirinyapun memang dia akan disuruh pergi, meninggalkan Guha Siluman dan gurunya ini tiba-tiba Han Han tersedak lagi dan mengguguk.

Namun Im Yang Cinjin menepuk-nepuk punggung muridnya itu. Untuk perasaan batin yang sedang bergolak begini memang Han Han belum pernah mengalami. Hal itupun juga belum pernah diajarkan. Tapi ketika Im Yang Cinjin menyalurkan hawa hangat dan hawa itu terus naik ke kepala, perasaan bingung atau gundah lenyap maka Han Han perlahan-lahan dapat menguasai dirinya lagi.

"Tak ada pertemuan tanpa perpisahan, tadi sudah pinto katakan. Nah, bersiap dan laksanakan tugasmu, Han Han. Ambil buntalanmu dan pergilah!"

Han Han menggigit bibir kuat-kuat. Meskipun dia tak menangis lagi namun setitik dua masih juga air matanya jatuh. Perpisahan itu tiba-tiba dirasanya berat, berat sekali! Tapi ketika Han Han menguatkan hati dan memejamkan mata, perlahan-lahan sedu-sedannya ditekan turun maka Han Han bangkit terhuyung dan memasuki kamarnya, mengambil buntalan dan menyiapkan ini-itu lalu menghadap gurunya lagi. Ternyata apa yang hendak dibicarakan sama, yakni tentang persoalan dirinya tapi bertambah dengan perpisahan itu. Han Han sebenarnya hendak mengajak gurunya keluar bersama dan bukan pergi sendirian. Tapi ketika Han Han berlutut dan menggigil di depan gurunya, Im Yang Cinjin tampak tersenyum haru maka kakek itu diam-diam kagum karena muridnya sudah mampu menguatkan hati, dengan mengeraskan dagu.

"Kau sudah siap?"

"Sudah."

"Baiklah, berangkat dan hati-hatilah, muridku. Doaku beserta mu dan jangan lupa semua nasihatku. Ingat bahwa kau harus membantu yang lemah melawan yang kuat, kejam. Tugas pendekar terletak di pundakmu dan cari serta temukan siapa orang tuamu."

Han Han menggigit bibir. "Suhu belum memberi tahu bagaimana ciri-ciri wanita yang membawaku itu. Bagaimana rupanya dan apalagi lainnya."

"Ah, tak sukar. Dia cantik dan mengurai rambutnya, Han Han. Berpakaian merah dan membawa sebatang pedang. Ilmunya Ang-in Kiam-sut (Silat Pedang Awan Merah) cukup berbahaya meskipun tak perlu kau takuti."

"Terimakasih, dan selamat tinggal, suhu. Teecu harap akan segera dapat mencari orang tua teecu dan kembali ke sini."

"Baiklah, hati-hati, muridku. Pinto tak dapat mengantar karena pinto juga akan segera bersamadhi. Doa dan restu pinto bersamamu!"

Han Han mencium kaki gurunya. Ketika memberi hormat dan menyentuh gurunya itu hampir saja tangisnya meledak lagi. Untunglah, pemuda itu menguatkan batin dan menarik napas dalam-dalam. Ada suatu nasihat bahwa bila seseorang sedang diguncang sesuatu sebaiknya cepat-cepat menujukan perhatian pada napas. Hitung, satu-dua-tiga-empat. begitu seterusnya. Dan ketika Han Han sudah melakukan ini dan kedukaannya tertarik dalam, tak muncul di permukaan, maka gurunya mengangguk dan tiba-tiba mendorong, sang murid mencelat!

"Pergilah, sampai bertemu lagi, muridku. Jaga diri baik-baik dan panggil pinto dengan ilmu batin kalau kau benar-benar memerlukannya?”

Han Han terlempar dan berjungkir balik. Ketika gurunva mendorong dan mengibaskan lengan bajunya tadi maka serangkum angin maha kuat mengangkatnya naik, melempar dan membuat dia tahu-tahu sudah terlempar keluar guha. Tapi ketika Han Han berseru keras dan mengebutkan lengan bajunya pula maka pemuda ini terjatuh dengan Kedua kaki terlebih dahulu, tangan mengembang di kanan kiri tubuhnya, persis garuda yang akan terbang!

"Ha-ha, bagus, muridku. Pergunakan sekarang Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Sakti Terbang Ke Langit)!"

Han Han berseri. Lupa kepada perpisahan yang akan dialaminya itu tiba-tiba pemuda ini melengking dan melempar tubuh ke atas. Tidak seperti didorong atau dipukul gurunya tadi yang membuatnya mencelat adalah sekarang pemuda ini bergerak lurus dengan tangan terpentang lebar-lebar. Dia menjejak atau melempar tubuh sekali untuk akhirnya lurus naik ke atas seperti seekor burung yang terbang tinggi-tinggi, kaki merapat sementara lengan menekan atau menghantam ke bawah. Angin yang amat kuat mementalkannya balik dan itulah yang kini membuat pemuda itu meluncur ke atas, tinggi sekali.

Dan ketika Guha Siluman tahu-tahu sudah ada di bawah dan Han Han hinggap di tebing yang menjorok, sejenak saja maka pemuda itu sudah berseru keras dan menjejakkan kakinya lagi empat lima kali. Gerakan ini diulang-ulang hingga sebentar kemudian Han Han sudah semakin jauh saja di atas guha. Jejakan atau enjotan kakinya itu luar biasa enteng hingga sekali tekan mampu membuatnya mencelat sekitar sepuluh sampai duapuluh meter. Bukan main! Dan ketika lima kali enjotan tubuh sudah membuat pemuda itu hinggap di sana, jauh di atas tebing maka debur ombak selatan hampir tak terdengar lagi. Guha Siluman sudah tak kelihatan karena kecil di bawah, jauh sekali!

"Suhu, selamat tinggal. Sampai jumpa lagi!"

"Ha-ha, sampai jumpa lagi, Han Han. Ingat semua nasihatku dan lakukanlah tugas luhur di dunia kang-ouw!"

Han Han sudah berkelebat. Setelah sekarang dia di puncak tebing maka tempat tinggalnya sudah tidak kelihatan lagi. Gurunya juga tidak namun suara gurunya itu jelas benar terdengar di atas. Itulah demonstrasi khikang atau ilmu suara yang dipertunjukkan suhunya. Dia tadi juga mempergunakan ilmunya itu hingga suhunya dapat menangkap di bawah. Dan ketika Han Han berkelebat dan lari seperti burung, tangan mengembang di kiri kanan tubuh maka pemuda itu bergerak dan turun ke bawah.

Han Han telah mempergunakan Hui-thian-sin-tiauwnya atau Rajawali Sakti Terbang Ke Langit, sebuah ilmu meringankan tubuh yang dipunyai gurunya. Dan ketika pemuda itu meluncur dan meninggalkan Guha Siluman, tebing yang dihantam ombak lenyap dengan cepat maka pemuda itu sudah meninggalkan Laut Selatan untuk menuju ke barat. Han Han telah mendapat ancer-ancer agar dia mencari ke daerah Kwang-si. Di sana dekat dengan markas Hek-yan-pang dan mungkin dari situ penyelidikannya berhasil. Dan ketika Han Han meluncur dan terbang dengan ilmu lari cepatnya itu, Hui-thian-sin-tiauw yang amat luar biasa maka beberapa perampok yang dilewatinya di hutan-hutan melongo dan terkejut, terbengong-bengong.

"Setan! Ibliskah itu? Atau siluman terbang?"

Semua mata terbelalak. Han Han timbul kegembiraannya setelah di alam bebas. Dia bebas mempergunakan ilmunya setelah kini meninggalkan pertapaan, bebas melakukan apa saja yang dia suka. Dan ketika pemuda itu melihat perampok-perampok di hutan, sengaja menggoda dan ingin mempermainkan mereka maka pemuda ini lenyap dan muncul lagi di hutan sebelah, naik turun gunung seperti siluman terbang!

Namun ketika akhirnya malam tiba dan sehari penuh dia menguras tenaga, Han Han lupa makan lupa minum maka pemuda itu melihat sebuah kota yang gemerlapan. Han Han berhenti dan bertanya kepada seseorang. Ternyata dia memasuki kota Na-ning, sebuah kota yang ramai dan tak lama kemudian pemuda ini mencium bau masakan-masakan sedap yang keluar dari rumah-rumah makan. Dan ketika Han Han berkeruyuk dan teringat perutnya yang lapar, dua anak kecil terkekeh mendengar bunyi suara itu maka Han Han mendekati sebuah restoran sambil berkali-kali memainkan cuping hidungnya untuk menikmati dahulu bau masakan-masakan itu.

Tapi celaka, seorang pelayan memandangnya dengan mata melotot. Han Han lupa kepada pakaiannya yang kotor dan penuh debu, disangka pengemis. Maka ketika dia melongok dan memasuki rumah makan itu, pelayan mencegat dan membentaknya keluar tiba-tiba pemuda ini tertegun mendapat kata-kata kasar.

"Heii, pengemis tak boleh masuk. Keluar dan jangan mengotori tempat ini!"

"Aku bukan pengemis," Han Han terkejut dan menahan marah. "Aku pelancong yang kemalaman di jalan."

"Tapi.."

"Maaf," Han Han mengeluarkan sekeping uang emas, pemberian gurunya. "Aku mau masuk, twako. Beri jalan dan jangan menghina!" dan ketika pelayan itu didorong dan uang emas dilempar ke atas meja, menancap dan melesak di situ maka pelayan ini terkejut dan seketika sadar bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda kang-ouw, gugup dan gentar tapi bingung karena para tamu tiba-tiba menoleh, mengerutkan kening dan menutup hidung mereka karena bau pakaian Han Han yang berkeringat sungguh menusuk tajam.

Han Han tak sadar akan itu karena baru inilah dia memasuki sebuah rumah makan di kota besar. Biasanya, dia duduk dan makan-makan di warung sederhana kalau diajak gurunya keluar untuk sesuatu keperluan, membeli pakaian umpamanya. Duduk dan berkumpul dengan kaum tani atau orang-orang sederhana yang hidupnya bersahaja. Mereka itu biasanya sama-sama berpakaian kumal dan bau kecut atau keringat bukan masalah, karena mereka petani-petani yang biasanya baru membajak sawah mereka atau bercocok tanam.

Maka begitu Han Han memasuki rumah makan ini dan kebiasaan rumah makan di kota besar tentu saja lain dengan di kota-kota kecil, apalagi dusun dan kampung maka Han Han menjadi perhatian banyak orang tapi dengan tenang pemuda itu memilih sebuah meja dan duduk. Buntalannya diletakkan dan Han Han baru mengebutkan ujung bajunya untuk merontokkan debu-debu di situ.

"Celaka!" pelayan itu terburu-buru menghampiri, pucat dan gugup. "Maaf. kongcu (tuan muda), anda..... anda sebaiknya ke belakang dulu. Jangan duduk disini!"

"Kenapa?"

"Tamu... para tamu tiba-tiba menyingkir. Mereka tak tahan akan bau tubuhmu. Kongcu mandi dulu!"

"Hm, begitukah?" Han Han merah mukanya, mendengar suara cekikan dan segera menoleh ke kiri. Di situ ada seorang wanita cantik yang membawa payung. Wajahnya jelita dan entah kenapa tiba-tiba saja jantung Han Han berdegup kencang. Ada rasa malu dan gugup di situ, dia merasa ditertawakan! Dan ketika Han Han tertegun dan sang pelayan cepat-cepat menunjuk ke belakang, berkata bahwa di situ ada kamar mandi maka Han Han diminta ke sana.

"Mari, kongcu kuantar. Lima tail saja untuk sekali mandi!"

Han Han mengangguk. Akhirnya dia sadar bahwa bau keringatnya menjadi perhatian orang. Tamu-tamu yang ada di dekatnya memang tiba-tiba menyingkir dan beberapa di antaranya bahkan membayar rekening dan keluar, tanda terganggu makannya dan tak senang adanya Han Han di situ, pemuda yang berkesan pengemis! Dan ketika Han Han masuk dan membawa buntalannya pula, menyambar pakaiannya yang tertinggal di atas meja maka tak lama kemudian Han Han sudah keluar dan tampak gagah serta tampan dengan baju yang bersih, selesai mandi.

"Ih, tampan dan mengagumkan. Persis seperti yang kuduga!"

Han Han terkejut. Diakeluar dari kamar mandi ketika seruan itu terdengar nyaring, nyaring namun merdu. Dan ketika Han Han menoleh dan melihat bahwa itulah si cantik yang membawa payung, pelayan juga tertegun memandangnya maka wanita itu terkekeh dan mengedipkan sebelah matanya, tidak malu-malu.

"Mari.., mari, kongcu. Duduk dan semeja saja denganku. Aku yang mentraktir!”

Han Han semburat. Selama hidup belum pernah dia berdekatan dengan wanita karena sehari-harinya adalah dengan gurunya itu, seorang pertapa pula. Tapi ketika pelayan tertawa dan yakin bahwa pemuda ini betul-betul bukan pengemis, sikap dan wajahnya menunjukkan wajah seorang pemuda gagah maka pelayan itupun menggerakkan ibu jarinya menuding Han Han ke tempat si cantik.

"Ah, benar. Silahkan duduk dan makan di sana, kongcu. Nona itu rupanya juga ingin berkenalan denganmu. Sst...!" dia mengakhiri dengan bisikan. "Gadis itu adalah seorang wanita lihai. Tadi merobohkan dua pengemis yang datang mengganggu!"

Untuk pertanyaan selanjutnya mengenai Han Han tertegun. Dia jadi salah tingkah karena begitu keluar guha tiba-tiba saja berhadapan dengan wanita cantik. Ludahnya serasa sukar ditelan karena darah mudanya berdebur kencang. Betapapun, wanita cantik itu memang menggairahkan. Tubuhnya padat dan cukup berisi, dada dan pinggulnya kelihatan besar dari samping. Hm! Namun karena Han Han bukan pemuda pemogoran dan tawaran itu justeru membuatnya gugup, Han Han terpaku tak dapat bicara, mendadak saja si cantik itu melenggok dan bangkit berdiri menghampirinya. Langkahnya, ah... minta ampun.

Han Han berdesir melihat lenggang-lenggoknya yang aduhai, mirip ular yang meliak-liuk. Dada dan pinggul itu bergerak-gerak dan merupakan tonjolan yang merangsang. Wanita ini sexy sekali. Han Han melengos! Tapi ketika lengannya sudah disambar dan Han Han terkejut, si cantik sudah merangkul pundaknya maka Han Han panas dingin cepat melepaskan diri.

"Kongcu tak usah takut, akupun bukan harimau. Mari, kebetulan kita sendiri-sendiri. Duduk dan perkenalkan namaku Eng Hwa!"

Han Han benar-benar gugup bukan main. Dipeluk dan disambar seperti itu sungguh seumur hidup belum pernah dirasakannya. Ada sengatan yang tinggi menyetrom tubuhnya tapi Han Han sudah mundur menjauh, melepaskan diri. Dan ketika si cantik tersenyum dan tertawa lebar, tidak marah, maka Han Han segera membungkuk dan cepat-cepat ke bangkunya tadi, bangkunya sendiri.

"Maaf, aku... aku tak dapat menerima kehormatanmu, nona. Terima kasih tapi biarlah aku di bangkuku sana!" dan cepat-cepat meninggalkan wanita itu yang tiba-tiba mengerutkan kening, menghentikan tawanya, maka Han Han segera memesan makanan dan minuman, ala desa.

"Aku minta air putih dan sayur bening. Boleh dengan beberapa bak-pao!"

"Apa? Kongcu.... kongcu memesan sayur bening? Dan air putih?"

"Ya, itu kesukaanku, bung pelayan. Sediakan dan cepat karena perutku lapar!"

"Tapi ada arak atau anggur di sini, jauh lebih lezat daripada air putih! Dan kamipun memiliki macam-macam masakan istimewa seperti babi saos tomat atau ayam masak kecap!"

"Tidak, aku tak suka makanan berjiwa bung pelayan. Aku suka sayur bening dan air putih. Aku tak ingin bicara lagi!"

"Ba.. baik!" dan si pelayan yang melongo tapi ngeloyor pergi, sikap dan kata-kata Han Han menunjukkan kesederhanaannya yang luar biasa maka wanita cantik yang masih di situ tiba-tiba tersenyum dan melangkah menghampiri.

"Bolehkah aku duduk bersamamu?"

Han Han tertegun.

"Maaf, aku bukan srigala atau harimau yang galak, kongcu. Aku wanita biasa dan namaku Eng Hwa. Aku perlu duduk di sini karena perlu perlindunganmu. Lihat, di luar ada tujuh pengemis memandangku. Mereka melotot dan pasti akan menghajarku kalau nanti keluar!"

Han Han menengok. Benar saja di luar itu ada tujuh pengemis yang berdiri di depan pintu, sikapnya mengancam dan mata merekapun melotot memandang si cantik ini. Pelayan terkejut dan buru-buru menyingkir. Rupanya, akan ada kegaduhan! Dan ketika Han Han menerima masakannya dan wanita itu duduk di sampingnya, menghadap pintu maka wanita itu berbisik seraya merapatkan tubuh.

"Itu orang-orang Hek-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Dua di antara mereka tadi kuhajar karena datang mengganggu. Sekarang memanggil teman-temannya dan celaka aku nanti. Mereka bertujuh!"

Han Han terguncang. Bicara sambil merapat begitu membuat buah dada wanita ini menempel di pundaknya. Segumpal daging yang lunak lembut menggetarkan birahi, Han Han tersentak dan berdesir. Tapi karena dia adalah murid Im Yang Cinjin yang sakti dan berahi bukanlah kelemahannya, Han Han sudah menekan guncangan hatinya dengan mendorong halus tubuh wanita itu maka Han Han berkata agar wanita itu tak usah takut, diam-diam menarik napas dalam-dalam untuk mengusir rasa nikmat yang mengganggu, getaran aneh yang dirasakan.

"Nona tak usah khawatir, ada aku di sini. Kalau mereka mau berbuat curang tentu aku tak akan tinggal diam. Tapi kenapa dengan dua orang pengemis tadi?"

"Mereka menggangguku, kongcu, menyodor-nyodorkan piring sebelum makanku sendiri habis!"

"Hm, namaku Han Han, jangan panggil kongcu. Aku tentu melindungimu, nona. Jangan takut dan mari temani aku makan. Tapi maaf, pesananku amat sederhana!" Han Han mengambil sumpit, mulai menjepit beberapa sayuran di mangkoknya dan wanita di sebelahnya itu terbelalak.

Han Han bersikap demikian tenang dan penuh kepercayaan diri. Dia segera berkata bahwa pengemis-pengemis Hek-i Kai-pang bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka terdiri dari pengemis-pengemis lihai dan tingkatan mereka ditentukan oleh tongkat di tangan mereka itu, semakin pendek berarti semakin berbahaya! Dan karena tujuh pengemis di luar rata-rata memegang tongkat yang hanya sedepa saja, mereka itu mungkin tingkat tiga atau empat maka Eng Hwa tampak khawatir memandang Han Han.

"Kau tidak tahu, yang datang ini adalah anak-anak murid yang tinggi kepandaiannya. Tongkat mereka hanya sedepa saja, mungkin tingkat tiga atau empat!"

"Aku tak takut," Han Han tersenyum tenang, terus menyumpit. "Mari makan, nona. Dan sementara ini biarkanlah saja. Nanti aku yang menemui mereka dan memberi penjelasan..."

"Namaku Eng Hwa, jangan sebut nona!" wanita itu rupanya tak mau kalah. "Kalau kau menyuruhku menyebut Han Han biarlah kau panggil namaku pula, Han Han. Jangan berkongcu atau ber-nona agar aku tak kikuk pula!"

"Baiklah, aku menyebutmu cici. Kau tampaknya lebih tua dariku. Hm, makanlah, Hwa-cici. Nanti sayur ini keburu dingin. Orang-orang itu tak akan mengganggu kita!" dan ketika Han Han makan lagi karena perutnya memang lapar, sejak tadi berkeruyuk maka santapan itu dinikmatinya dan Han Han menawarkan beberapa bakpao di atas meja. Air putih itu tak disentuh karena hanya segelas, Eng Hwa ditawari benda bulat putih ini. Dan ketika Eng Hwa tertegun dan berseri memandang Han Han, kagum akan sikapnya yang begitu tenang dan percaya diri maka wanita ini tertawa.

"Ah, kau rupanya bukan pemuda sembarangan, Han Han. Entah siapa gurumu hingga kau tak takut kepada orang-orang Hek-i Kai-pang!"

"Aku tak takut kepada siapa pun, asal di jalan benar. Mari makan dan nanti kita temui mereka, Hwa-cici. Minumlah kalau kaupun haus!"

"Ah, hi-hik, kau hebat!" dan ketika EngHwa menyambar bak-pao dan mengunyahnya di mulut, diam-diam menaksir dan menduga siapa sebenarnya pemuda ini maka tujuh pengemis di luar tetap berjaga dengan sikap mengancam.

Mereka mengamati dua orang itu dengan tajam dan pandangan marah mereka jelas tertuju kepada Eng Hwa, meskipun sesekali sorot mereka juga memancarkan ketidaksenangan terhadap Han Han. Kasak-kusuk atau bicara di dalam itu tak mereka dengar dengan jelas, kecuali tawa atau kekeh nyaring Eng Hwa di akhir pembicaraan. Dan ketika wanita itu menghabiskan sebutir bak-pao dan meneguk sedikit air putih sisa Han Han, tak malu-malu, maka Han Han bangkit berdiri dan diam-diam sedikit jengah oleh sikap teman barunya ini.

"Hitung berapa yang kuhabiskan. Nih, uang pembayarannya!"

Namun Eng Hwa terkekeh dan mendahului. Pelayan yang dipanggil cepat-cepat diberi sekepal uang perak, uang Han Han sendiri dikembalikan. Dan ketika Han Han terkejut karena pembayarannya ditolak, Eng Hwa berkata bahwa pembelaan dan perlindungan Han Han jauh dari sekedar hidangan di atas meja tadi maka Han Han tersenyum tak berdaya.

"Aku tak dapat merepotkanmu untuk urusan sekecil ini. Pembelaan dan perlindunganmu jauh dari sekedar harga makanan. Lihat, mereka sudah bersiap-siap menyambut kita, Han Han. Mari temui dan aku jadi berbesar hati setelah berdekatan denganmu!"

Han Han mengangguk. Pelayan mundur dan menjauh ketika tujuh pengemis itu kelihatan bergerak. Mereka tak memasuki restoran karena rupanya memang tak mau mengganggu pemilik. Setiap bulan mereka sudah mendapat semacam "upeti" dari rumah-rumah makan seperti ini. Dan ketika Han Han dan temannya bergerak keluar, para tamu tiba-tiba menyingkir dan beberapa di antaranya bersembunyi menyaksikan kejadian itu, di luar tentu terjadi keributan maka dengan langkah tenang dan meyakinkan Han Han sudah tiba di pintu luar, membungkuk.

"Sobat-sobat agaknya menunggu kami. Baiklah, ada keperluan apa dan bolehkah aku bicara? Apakah kalian dari Hek-i Kai-pang?"

"Tutup mulutmu!" seorang pengemis tiba-tiba membentak, berkelebat dan sudah berkacak pinggang di depan pemuda ini, gerakannya ringan dan mengejutkan, tanda bahwa dia benar-benar seorang pengemis lihai! "Kami tidak ada keperluan denganmu, anak muda. Yang kami perlukan adalah si sundal betina ini. Minggir, dan berikan dia kepada kami!"

Eng Hwa tampak ketakutan. "Tolong ..." katanya. "Mereka pengemis-pengemis galak, Han Han. Ah, mati aku kalau dibentak-bentak begini!"

Han Han mengerutkan kening. Melihat gerak dan sikap lawan di depannya ini segera dia tahu bahwa pengemis itu memang memiliki kepandaian cukup. Gerak dan loncatan kakinya tadi ringan. Namun karena itu belum apa-apa bila dibanding Hui-thian-sin-tiauwnya, ginkang yang diwarisi dari sang guru maka Han Han tersenyum dan menjura, sekali lagi memberi hormat.

"Maaf, lo-kai. Agaknya setiap urusan dapat dibicarakan dan diselesaikan baik-baik. Kalau kalian ingin berurusan dengan Hwa-cici ini tentu saja boleh, tapi harap kalian tidak mengeroyok seorang wanita. Tujuh laki-laki mengancam seorang wanita kukira kurang patut, harap kalian tidak marah dan bersabar menahan diri."

"Cerewet!"pengemis itu tiba-tiba bergerak, tangannya menyambar dan membanting Han Han. "Kusuruh minggir harap minggir, anak muda. Tak perlu banyak omong atau kau mampus... aduh!" teriakan ini mengejutkan teman-temannya, pengemis itu sudah menyambar dan menangkap Han Han, namun tiba-tiba dia sendiri yang terbanting.

Tadi dengan kecepatan kilat Han Han menggerakkan kakinya dan menggaet kaki si pengemis itu, cepat dan luar biasa hingga tak satupun yang melihat. Bahkan Eng Hwa yang ada di belakangnya juga tidak tahu. Dan ketika semua terkejut dan Eng Hwa membelalakkan mata, tak tahu apa yang terjadi tapi merasa geli karena mungkin pengemis itu tersandung, lucu sekali, maka Eng Hwa terkekeh-kekeh dan terpingkal.

"Hi-hik, lucu dan menggelikan. Kalau tidak bisa menyerang lebih baik jangan menyerang. Eh, minggir, Han Han. Biar orang-orang ini kuhadapi karena kalau hanya sekian saja barangkali aku mampu!" dan Eng Hwa yang bergerak dan meloncat ke depan, ingin menunjukkan kepandaian dan pamer di depan Han Han tiba-tiba membentak dan menusuk seorang pengemis.

Pengemis-pengemis itu sedang terkejut oleh terbantingnya teman mereka ini, tiga yang lain menolong sementara tiga yang lainnya lagi tertegun, melihat teman mereka itu. Maka begitu Eng Hwa terkekeh dan menyerang mereka, jari menusuk dan mencolok mata tahu-tahu pengemis yang diserang ini berteriak kaget dan cepat melempar tubuh bergulingan, tongkatnya menangkis.

"Tak!" Tongkat itu terpental. Si pemilik terkejut tapi sudah berteriak melompat bangun, mukanya merah padam. Dan ketika dia membentak dan teman-temannya melotot, Eng Hwa menyerang di saat mereka tak waspada maka teman mereka itu sudah mengemplang dan menggerakkan tongkatnya bertubi-tubi, di elak dan ditangkis dan segera tubuh wanita itu berkelebatan mengikuti lawan. Eng Hwa diserang gencar namun wanita itu lincah berkelit, belum satu pun kemplangan mampir di tubuhnya. Dan ketika Eng Hwa terkekeh dan berkelebatan ke. sana-sini maka satu ketika kakinya bergerak mengenai pengemis itu.

"Buk!" Pengemis itu terjungkal. Selanjutnya Eng Hwa balas menyerang dan lawannya ini bergulingan menjauh, berteriak dan kaget karena segera kaki si cantik itu bak-bik-buk menendang tubuhnya. Nyata, Eng Hwa lebih tinggi. Namun ketika Eng Hwa terus mendesak dan Han Han tersenyum melihat sepak terjang kawannya itu maka enam pengemis lain bergerak dan menerjang Eng Hwa.

"Wanita busuk, biarlah kami menggebukimu sampai mampus.... wut-wut-wut!" dan enam tongkat yang susul menyusul bergerak ke arah Eng Hwa akhirnya ganti membahayakan wanita itu karena Eng Hwa segera dikepung dari segala penjuru. Tongkat di tangan tujuh pengemis itu berkelebatan naik turun hingga wanita ini kewalahan, satu kemplangan akhirnya mengenai pundaknya. Dan ketika Eng Hwa menjerit karena sakit, pukulan itu berat bagi seorang wanita maka Han Han siap membentak ketika wanita itu bergerak dan mencabut payungnya, yang tadi disisipkan di pinggang.

"Kalian pengecut, mengeroyok seorang wanita. Baiklah, aku akan menghajar kalian dan lihat payungku ini... slap!" dan payung yang membuka-menutup tiba-tiba mengejutkan tujuh pengemis itu karena pandangan mereka tiba-tiba terhalang. Payung hitam di tangan wanita itu bergerak cepat naik turun pula dan tahu-tahu terdengar jeritan dua kali di sebelah kiri, Eng Hwa telah mulai beraksi. Dan ketika yang lain terkejut dan Eng Hwa tertawa, tangan kirinya bergerak di balik payung hitam maka lima sinar merah bertuiut-turut menyambar lima pengemis itu yang seketika terjungkal dan roboh.

"Aduh...!"

Han Han terkejut. Pertandingan selesai dan tujuh laki-laki pengemis itu terkapar di tanah, mata mendelik dan tubuh berkelojotan untuk akhirnya diam, tewas. Dan ketika Eng Hwa menyimpan payungnya dan tertawa, giginya yang putih bersih memperlihatkan gairah yang merangsang maka Han Han terbelalak dan berseru kaget.

"Hwa-cici, kau membunuh mereka. Kenapa kau lakukan ini? Kau bersikap demikian kejam?"

"Ah," Han Han dibuat bengong oleh tawa wanita ini, tawa yang aneh dan membangkitkan berahi. "Kau tahu sendiri siapa yang kejam dan siapa yang tidak, Han Han. Tujuh laki-laki mengeroyok wanita apakah pantas? Kalau aku tidak membunuh tentu aku yang dibunuh. Itu jamak. Aku tidak kejam melainkan sekedar membela diri dan agar jangan lagi orang-orang Hek-i Kai-pang menghinaaku!"

"Tapi.... tapi..." Han Han masih tergetar, kaget dan marah. "Tujuh jiwa bukanlah main-main. Kau serampangan dan ganas!"

"Hm," Eng Hwa membalik, melipat payungnya. "Kau rupanya baru turun gunung Han Han, tak tahu siapa yang ganas dan siapa yang tidak. Kalau aku membiarkan diri saja apakah mereka-mereka ini tidak menggangguku? Kalau aku tidak cepat-cepat merobohkan mereka apakah mereka tak akan semakin kurang ajar? Lihat ketika tadi kau bicara baik-baik, Han Han. Apa jadinya ketika kau diserang dan mau dibanting. Dan ketika juga ketika kau bicara lagi, mereka-mereka ini tak ada yang menggubris dan langsung menyerang aku! Pantaskah orang-orang semacam ini diberi ampun? Pantaskah laki-laki yang mengeroyok wanita dibiarkan hidup? Kalau mereka diampuni atau dibiarkan hidup maka mereka akan semakin berani, Han Han, mungkin memanggil kawan-kawannya dan aku repot. Kalau tertangkap tentu dibunuh dan diperkosa. Dan itu adalah watak orang-orang Hek-iKai-pang!"

Han Han tertegun. Mendengar bahwa Hek-i Kai-pang suka membunuh atau memperkosa wanita, hal yang seketika membuat alisnya berkerut maka pemuda ini diam tak bicara. Dia memang sudah membuktikan kekasaran orang-orang ini. Dan lagi, awal pertikaian adalah dari orang-orang Hek-iKai-pang itu sendiri. Mereka datang mengganggu Eng Hwa, yang sedang makan. Dan heran bagaimana seorang pengemis berani memaksa seorang tamu, untuk minta makan dengan cara paksaan maka Han Han akhirnya diam saja tak membantah kata-kata temannya itu, meskipun tetap saja dia merasa tak puas dan kaget bagaimana Eng Hwa demikian gampang main bunuh. Dia melihat sinar-sinar merah tadi dan terkejut karena itulah jarum-jarum berbahaya, mungkin malah beracun. Dan ketika dia membungkuk dan memeriksa mayat seorang pengemis, mencabut dan merasakan hawa panas di tubuh jarum maka Han Han seketika tak senang karena benar saja jarum itu beracun!

"Kau seperti orang sesat!" Han Han memandang penuh selidik, mukanya merah. "Kau memiliki jarum beracun, cici. Dan ini tak pantas dipunyai orang baik-baik. Kau rupanya wanita jahat!"

Eng Hwa terbelalak. Melihat Han Han marah dan menegurnya kasar tiba-tiba ia pun menjadi marah. Tapi begitu beradu pandang dan wajah Han Han yang tampan gagah membuat kemarahannya lenyap tiba-tiba wanita ini terisak dan berkelebat pergi.

"Han Han, kau kasar dan tidak menghiraukan sekali perasaan wanita. Kalau aku jahat biarlah tak usah kaudekati aku lagi. Aku akan menghadapi orang-orang Hek-i Kai-pang yang tentu akan mencari aku!" dan lenyap meninggalkan pemuda itu, juga tujuh mayat pengemis yang tentu saja membuat geger rumah makan maka Han Han terkejut dan sadar.

Dia segera mendengar teriakan dan seruan kaget di sana-sini, yakni di sekitar rumah makan itu. Tapi karena dia juga jadi ragu akan dugaannya sendiri, orang-orang Hek-i Ka i- pang itu mungkin lebih jahat daripada Eng Hwa maka begitu Eng Hwa menangis dan meninggalkannya tiba-tiba Han Han merasa tak enak dan bersalah, berkelebat mengejar.

"Hwa-cici, tunggu!"

Namun Eng Hwa tak mau dengar. Wanita itu berlari cepat dan Han Han dibiarkan mengejar, berkelebat dan akhirnya melayang ke wuwungan sebuah rumah. Dan ketika wanita itu bergerak seperti terbang dari rumah yang satu ke rumah yang lain, diam-diam menguji Han Han apakah pemuda itu pandai dan mampu menyusul dirinya maka cepat bagai siluman wanita ini sudah tiba di pintu kota sebelah timur. Eng Hwa tak mendengar gerakan dan menoleh, dikiranya Han Han jauh tertinggal di belakang, hal yang mulai membuat wanita itu kecewa dan marah, diam-diam akan kembali dan mencari pemuda itu untuk dihajar. Tapi ketika Han Han ada di dekatnya dan pemuda itu kebingungan tak memanggil-manggil lagi, hanya mengikuti dan mengintil seperti bayangan maka Eng Hwa terkejut sekali karena pemuda itu dekat sekali dengannya, tak lebih dari semeter!

"Aih, mau apa mengejar aku?" wanita itu terkejut dan terpekik. "Pergi kau, Han Han. Pergi dan enyahlah. wut!" dan sebuah pukulan yang dilepas untuk menghantam Han Han, menguji sekaligus mengetahui sampai di mana kepandaian pemuda itu tiba-tiba digagalkan oleh Han Han yang berkelit ke kiri, tak menangkis.

"Cici, aku barangkali salah, maafkan. Tapi tak layak kau meninggalkan tujuh mayat pengemis-pengemis itu di rumah makan!"

"Apa perdulimu?" wanita itu membentak dan melepas pukulan lagi, lalu berjungkir balik melewati pintu kota yang tinggi. "Aku tak perduli mereka-mereka itu, Han Han. Ada pemilik rumah makan dan lain-lain di sana. Kalau kau mau menahan aku silahkan kalau mampu!" dan Eng Hwa yang berkelebat dan terbang lagi, meluncur dan menuju hutan di depan tiba-tiba ingin mengetahui apakah Han Han mampu menandinginya. Tadi mungkin kebetulan saja pemuda itu di belakang, karena beberapa kali dia memang agak memperlambat larinya, harus membelok atau melompati wuwungan rumah-rumah umpamanya. Dan ketika kini mereka di alam bebas dan Eng Hwa mengerahkan semua ilmu meringankan tubuhnya, terbang dan meluncur seperti kijang betina maka wanita itu mengharap Han Han tak mampu mendekati.

Namun dugaan wanita ini keliru. Eng Hwa sudah hampir tiba di tepi hutan itu ketika tiba-tiba dia ingin menoleh ke belakang, tak mendengar gerakan Han Han. Dan ketika dia menoleh ternyata Han Han tak ada, wanita itu tersenyum mengejek maka dia sudah siap mentertawakan pemuda itu sesampainya di hutan. Namun alangkah kaget wanita ini. Begitu dia membalik dan meneruskan larinya ke hutan, siap terkekeh nyaring tiba-tiba Han Han sudah ada di sana. Pemuda itu tegak di mulut hutan, berdiri, menantinya. Dilihat sepintas, pemuda itu sudah lama di situ dan Eng Hwa tentu saja terpekik. Dan ketika, dia berjungkir balik dan melayang turun, Han Han tersenyum memandangnya tiba-tiba Eng Hwa membentak dan menghantam pemuda ini.

"Jahanam keparat, kau jangan mentertawakan aku.... dess!" dan Han Han yang bergerak secepat kilat mengelak pukulan itu, menghilang, tiba-tiba membuat pukulan Eng Hwa mengenai tanah, hancur dan berlubang dan Eng Hwa berseru tertahan. Han Han tak kelihatan batang hidungnya dan kagetlah wanita itu celingukan ke sana ke mari. Tapi ketika di belakangnya terdengar suara berdehem dan Han Han ada di situ, menegurnya kenapa dia menyerang maka Eng Hwa terlonjak dan secepat kilat membalik dan menghantam pemuda itu lagi.

"Terkutuk, jangan mempermainkan aku Han Han. Kalau kau berani terimalah!" namun Han Han yang lenyap dan berada di tempat lain lagi akhirnya membuat lawan berulang-ulang melakukan serangan sia-sia, mengamuk dan membalik sana-sini namun Han Han selalu menghilang lebih dulu. Han Han mempergunakan Hui-thian-sin-tiauwnya itu hingga tak mungkin Eng Hwa menemukannya.

Akibatnya, wanita itu seperti berhadapan dengan iblis, atau siluman! Dan ketika Eng Hwa pucat berteriak-teriak dan semua pukulannya selalu gagal, Han Han selalu menghilang dan lenyap lebih dulu maka wanita itu menjerit dan melepas satu pukulan lagi yang membuat sebatang pohon roboh.

"Han Han, jangan permainkan aku. Muncullah, dan hadapi aku secara jantan... brukk!" dan pohon besar itu yang tumbang dengan suara gemuruh akhirnya ditutup oleh kehadiran Han Han yang tidak mempergunakan Hui-thian-sin-tiauw nya lagi.

"Aku di sini, tak akan ke mana-mana. Asal kau tidak menyerangku tentu aku tak akan menghilang. Lihat, kau membuat suara hiruk-pikuk di tempat ini, Hwa-cici. Dan banyak orang rupanya datang mendengar keributan ini!"

Eng Hwa tertegun. "Orang? Banyak orang?"

"Ya, aku mendengar langkah kaki mereka. Masih jauh, tapi semuanya ke sini!"

"Keparat!" Eng Hwa merasa dipermainkan, tak mendengar atau melihat apa-apa. "Kau sombong dengan ilmumu yang tinggi, Han Han. Namun aku tidak takut dan mari hadapi secara jantan... siutt!" dan payung hitam yang bergerak ditarik tiba-tiba mengembang dan sudah menutup pandangan Han Han, selanjutnya menusuk dan menyodok namun Han Han bukanlah pengemis-pengemis dari Hek-i Kai-pang tadi.

Pemuda ini dengan mudah bergeser sana-sini dan sesekali tangannya mendorong. Payung tertahan dan akibatnya serangan berikut gagal. Dan ketika Eng Hwa terkejut tapi juga merasa kagum, Han Han tidak menghilang dan menghadapi serangannya maka aneh sekali wanita ini tiba-tiba terkekeh, gembira.

"Bagus, begini baru memuaskan, Han Han. Tapi aku akan mengeluarkan semua kepandaianku dan hati-hatilah!"

"Tak apa," Han Han tersenyum. "Aku tahu maksudmu, Hwa-cici. Kau ingin tahu kepandaianku dan menguji. Keluarkanlah semua ilmumu dan juga jarum-jarummu itu!"

"Kau menantang? Awas!" dan Eng Hwa yang merasa panas dan marah tiba-tiba mengembang-tutup payung di tangannya, bermaksud membingungkan Han Han karena siapa tahu pemuda itu akan gugup. Payung menusuk dan membabat seperti pedang, kalau membuka tiba-tiba menyambar seperti bendera. Tapi Han Han yang tenang dan tertawa saja tiba-tiba mengebutkan ujung lengan bajunya hingga satu saat wanita itu terpelanting!

"Hati-hati, kaulah yang harus waspada, cici. Tapi betapapun ilmu payungmu tidak buruk.... brett!" dan payung yang sobek ujungnya akhirnya membuat pemiliknya bergulingan dan Eng Hwa tiba-tiba berteriak marah. Enam sinar merah menyambar dari tangannya dan Han Han tidak mengelak. Dibiarkannya sinar-sinar merah itu mengenai tubuhnya dan runtuh. Dan ketika Eng Hwa terkejut melompat bangun, beberapa bayangan hitam kini dilihat wanita itu maka Han Han minta agar tidak usah serang-menyerang lagi.

"Itulah mereka, lihat. Agaknya, orang-orang dari Hek-i Kai-pang!"

Benar saja, beberapa bayangan hitam muncul dan tahu-tahu sudah mengurung. Eng Hwa sudah tidak menyerang lagi dan tertegun di situ. Bukan memandang bayangan-bayangan hitam ini melainkan memandang Han Han. Wajahnya penuh takjub dan gembira, bola matanya berseri-seri. Dan ketika muncul semacam erangan lirih, mirip kucing merintih maka Han Han mengerutkan kening tapi mendengar bentakan orang-orang itu, seorang laki-laki tinggi kurus dengan tongkat yang hanya sekepal panjangnya.

"Siluman betina, apakah kau yang membunuh murid-murid Hek-i Kai-pang. Dan siapa dirimu!"

Eng Hwa terkejut, tiba-tiba tertawa. "Aih," katanya, sadar. "Apakah kalian dari Hek-i Kai-pang? Ada apa mencari-cari dan memburuku ke sini? Ah, benar aku yang tadi membereskan tujuh murid-murid Hek-i Kai-pang itu. Dan kau, hmm... barangkali kau adalah Hek-i Sin-lo-kai (Pengemis Sakti Baju Hitam)!"

Eng Hwa tidak takut dan memandang pengemis tinggi kurus ini. Dia bertemu dengan sepasang mata berkilat yang mencorong di malam gelap itu, belum lagi kilatan mata dari banyak orang-orang Hek-i Kai-pang yang lain. Dan ketika laki-laki tinggi kurus itu, Hek-i Kai-pangcu (ketua Hek-i Kai-pang) atau Hek-i Sin-lo-kai belum menjawab maka seorang pengemis lain yang bertongkat lebih panjang sedikit maju mewakili.

"Siluman betina, kami belum tahu dirimu, tapi kau sudah berani membunuh anak-anak murid Hek-i Kai-pang. Sebutkan siapa kau dan kenapa kau membunuh murid-murid kami!"

"Hm, kau tentu Ji-lokai (Pengemis Kedua), wakil Hek-i Kai- pang yang katanya pandai mainkan silat Kaw-tung (Tongkat Anjing). Apakah nama besarku belum kau ketahui? Aku Eng Hwa, julukanku Sian-li-toan-kaw (Dewi Penyembelih Anjing). Kalau kau macam-macam dan ingin mencari perkara denganku jangan salahkan aku kalau lehermu kutabas!"

"Wanita sombong!" Ji-lokai, pengemis itu tiba-tiba marah bukan main. "Kau besar mulut dan besar nyali, bocah. Kalau suaramu menggelegar coba buktikan dengan kepandaian....wut!" dan tongkat yang bergerak dan menyambar Eng Hwa, menyusul lompatan panjang pengemis ini tiba-tiba sudah diiringi suara menderu yang menggetarkan hati.

Eng Hwa memang sombong dan congkak karena adanya Han Han di situ. Dia sudah menguji dan menyaksikan kepandaian pemuda ini, yang jauh beberapa tingkat di atasnya! Maka ketika dia bicara merendahkan dan ketua atau wakil ketua Hek-i Kai-pang itu dihinanya, sengaja mengeluarkan kata-kata yang membakar agar dia diserang, Han Han tentu akan membantu kalau dia terdesak nanti maka Eng Hwa berkelit dan tertawa tapi Ji-lokai memburu, tetap membayangi dan tongkat tiba-tiba berubah tajam menyambar dahi. Sekali kena tentu celaka. Paling tidak, tulang dahi bisa retak! Dan karena Eng Hwa tahu ini dan berseru kaget, payung dikelebatkan dan menangkis ke atas maka benturan senjata tak dapat dihindarkan lagi tapi wanita itu terpelanting.

"Trak!"

Eng Hwa kaget bergulingan meloncat bangun. Nyata dia kalah tenaga dengan wakil ketua itu, melihat lawan berhenti dan tertawa mengejek. Sekali gebrakan itu menyatakan si pengemis di pihak unggul. Tapi karena itu belum memastikan dan Eng Hwa melengking marah, maju dan membentak lagi maka dia ganti menyerang duluan dan payungnya berkelebat tiga kali menusuk atau membabat.

"Trak-trak-trak!"

Eng Hwa tak mau keras lawan keras. Dia tahu bahwa Ji-lokai memiliki kelebihan tenaga, mungkin karena pengemis itu laki-laki sementara dia perempuan. Maka begitu payung terpental membalik ke diri sendiri, Eng Hwa meliuk atau menggeser kaki maka payung sudah dibuat lagi menyerang lawan, tiga kali berturut-turut dan Ji-lokai memuji juga. Betapapun wanita itu memang hebat, cerdik.

Dan ketika kemudian Eng Hwa mengerahkan gin-kang dan berkelebatan menyambar-nyambar, coba mendahului lawan dengan kecepatan tubuhnya maka Ji-lokai sibuk menangkis dan menghindarsana-sini. Eng Hwa mempercepat gerakannya namun lawan tiba-tiba juga berkelebatan mengimbangi. Dua orang itu tiba-tiba sudah bertanding dengan cepat. Tapi ketika Eng Hwa menang cepat dan payung di tangannya menusuk atau membacok, hebat sekali, maka Ji-lokai sebagai pihak bertahan dan menggeram diserang bertubi-tubi.

Namun Hek-i Sin-lo-kai tiba-tiba berseru keras. Dia menyuruh wakil ketuanya itu mengeluarkan Hek-tung Sin-ciang nya (Tangan Sakti Tongkat Hitam) untuk mengiringi gerakan-gerakan Hek-tung-sin-hoat (Silat Tongkat Hitam), yakni ilmu silat yang tadi diejek Eng Hwa sebagai silat anjing. Dan ketika Ji-lokai mengangguk dan membentak menggerakkan tangan kirinya, yang menderu dan tiba-tiba lurus seperti tongkat hitam tiba-tiba payung di tangan Eng Hwa berani ditangkisnya.

"Plak!" Payung itupun terpental. Sekarang Eng Hwa kaget dan mulailah tangan kiri lawannya itu bergerak-gerak mengikuti gerakan tongkat. Eng Hwa seperti diserang dua senjata karena lengan lawannya itupun seolah kayu hitam yang keras sekali, tak lentur dipukul payungnya. Dan ketika Eng Hwa terkejut dan berobah mukanya, Ji-lokai terkekeh dan mendesak payungnya maka sebentar kemudian Eng Hwa keteter dan gerak payungnya menciut dikurung tongkat dan Hek-tung Sin-ciang lawannya itu.

"Ha-ha!" si pengemis terbahak. "Mampus kau, bocah. Tahu diri sekarang. Hayo berkaok-kaok dan bermulut besarlah lagi!"

Eng Hwa pucat. Didesak dan dikurung pukulan-pukulan lawannya itu tiba-tiba saja ruang geraknya mengecil. Satu-satunya jalan ialah menangkis namun sinkang si pengemis lebih kuat. Tiga kali dia mencoba tapi tiga kali itu pula dia terhuyung, bahkan, nyaris terpelanting! Dan ketika Eng Hwa pucat namun masih tak mau kalah, dia masih memiliki senjata rahasia berupa jarum-jarum merah itu maka tanganpun merogoh dan sekali lempar tiba-tiba belasan jarum menyambar lawan, berkeredep bagai kunang-kunang berbahaya yang akan merobohkan lawan.

"Hayaa!" si pengemis membentak dan menangkis dengan tongkatnya. Belasan jarum dipukul runtuh dan beberapa anggauta yang lain berseru marah. Ji-lokai tak berani mempergunakan tangan kirinya ketika menangkis tadi, terkejut dan memaki karena segera dia tahu bahwa itulah senjata-senjata yang membunuh tujuh murid-murid Hek-i Kai-pang. Dan ketika pengemis itu melengking dan merangsek lagi, Eng Hwa mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri maka Hek-i Sin-lo-kai menggeram melihat jarum-jarum beracun itu.

"Sebaiknya tangkap wanita ini, bekuk dia hidup-hidup. Kalian maju dan bantu Ji-lokai!"

Eng Hwa terkejut. Empat pengemis tiba-tiba mengangguk dan berloncatan maju. Mereka adalah murid-murid tertua karena panjang tongkat di tangan mereka menunjukkan itu. Tongkat di tangan empat pengemis ini sedikit lebih panjang dari sang wakil ketua, berarti murid-murid utama dan Hek-i Kai-pangcu berseru agar wakilnya tak membunuh, melainkan menangkap hidup-hidup. Dan ketika empat pengemis itu maju ke depan dan tongkat menderu mengancam Eng Hwa, wanita itu berteriak meminta bantuan Han Han, merasa dirinya tak kuat melayani karena Ji-lokai seorang sudah merupakan lawan berat maka Eng Hwa melempar tubuh bergulingan sementara tangan kirinya bergerak lagi melempar jarum-jarum beracun.

"Licik, curang. Kalian tak tahu malu!"

Namun empat pengemis itu sama lihainya dengan sang wakil ketua. Mereka juga mempergunakan tongkat dan meruntuhkan jarum-jarum merah. Eng Hwa di sana bergulingan meloncat bangun. Dan setelah jarum-jarum diruntuhkan dan mereka membentak lagi, maju menyerang maka Eng Hwa kelabakan dan satu pukulan tongkat akhirnya mengenai pundaknya.

"Dess!" Wanita itu terjungkal. Selanjutnya Eng Hwa diserang dan dikejar lagi, melepas jarum-jarumnya namun lawan-lawannya merontokkan senjata-senjata rahasianya itu. Dan ketika Eng Hwa terdesak dan kembali berteriak kepada Han Han, keadaan benar-benar berbahaya untuknya maka Han Han yang sejak mula menonton jalannya pertandingan, berkerut kening dan tidak setuju atas jarum-jarum Eng Hwa akhirnya bergerak dan apa boleh buat terpaksa menolong temannya itu, karena dia juga tidak setuju dengan keroyokan orang-orang Hek-i Kai-pang ini.

"Tahan, berhenti semua.... plak-plak-plak!" dan Han Han yang berkelebat mengebutkan ujung bajunya tiba-tiba membuat tongkat di tangan lima pengemis itu patah-patah dan pemiliknya berteriak kaget melempar tubuh bergulingan, tak menyangka dan pucat dan saat itupun Eng Hwa melompat bangun.

Wanita ini robek-robek payungnya dan marah tapi girang melihat Han Han menolongnya di saat kritis. Pemuda itu akhirnya datang juga membantu! Dan ketika Eng Hwa terkekeh dan bangkit kegembiraannya, percaya kepada kelihaian pemuda ini maka wanita itu berseru menantang lawan-lawannya. "Hayo, kalian laki-laki curang. Maju dan kalahkan kekasihku ini!"

Han Han terkejut. Semua mata tiba-tiba menoleh dan memandangnya, Eng Hwa terkekeh dan tak perduli. Dan ketika dia malu namun tak sempat menjawab, Hek-i Kai-pangcu dan murid-muridnya melotot padanya maka Eng Hwa membakar api.

"Kalian tikus-tikus busuk yang beraninya hanya menyerang wanita saja. Hayo, tandingi temanku ini. Kalau kalian dapat memenangkannya sepuluh jurus saja biarlah aku menyerah dan membuang payungku. Kaki kalian kucium!"

Ji-lokai dan murid-murid yang lain mendelik. Wakil ketua ini masih terguncang oleh bayangan Han Han tadi, kebutan ujung bajunya yang tiba-tiba mematahkan semua tongkat. Tapi ketika ketuanya maju sendiri dan menghadapi Han Han, jari berkerotok menahan marah maka ketua Hek-i Kai-pang itu bertanya, suaranya berat dan penuh ancaman, dingin.

"Anak muda, kau kekasih siluman betina ini? Kau akan maju dan membelanya? Baik, hadapi kami. Kau rupanya cukup hebat karena mampu mematahkan tongkat-tongkat muridku tadi. Namun seranganmu tak diduga mereka, aku ingin menguji. Cabut senjatamu dan mari kita main-main sejenak. Kalau sepuluh jurus aku tak mampu mendesakmu biarlah kuanggap aku yang kalah. Awas...!"