NAGA PEMBUNUH
JILID 12
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"HATI-HATl, lawanmu akan membunuhmu, Liong-ji. Kalau kau sampai tewas maka aku juga akan mengadu jiwa dengannya!"

"Tenanglah," Giam Liong mendorong ibunya, lembut dan mengeraskan hati. "Ayah hendak bertanding mati-matian, ibu. Kalau dia menghalangi niatku dan ingin membunuhku boleh dia coba tapi aku pasti akan bertahan sekuat tenaga. Lebih baik mati di sini daripada gagal menuntut pembunuh ayahku!"

"Baik, hati-hati, anakku. Ibu siap di sampingmu dan akan membelamu dengan tetesan darah terakhir pula!"

Giam Liong terharu. Sikap dan kata-kata ibunya ini membangkitkan semangat dan ketetapan hatinya. Sudah bulat tekadnya untuk menandingi bekas ayahnya itu, bukan lagi dengan tangan kosong melainkan dengan senjata. Senjata bukan sembarang senjata melainkan senjata-senjata ampuh yang tajamnya menggiriskan. Golok Maut maupun Pedang Matahari sama-sama tajam luar biasa, masing-masing pernah diadu dan tak ada yang rusak ataupun patah.

Dulu mendiang Golok Maut Sin Hauw sudah pernah mengadu jiwa dengan ketua Hek-yan-pang ini. Dan ketika kini masing-masing berhadapan kembali tapi Golok Maut dipegang Giam Liong, keturunan Sin Hauw maka Beng Tan yang sudah bersiap dan berkilat memandang bekas puteranya itu segera membentuk pembukaan gaya serangan dengan mengangkat pedang di atas kening.

"Majulah," tantangan itu mengobarkan api. "Mati dan serahkan jiwamu kepadaku Giam Liong. Daripada membiarkan ancaman bahaya mengguncang dunia kang-ouw lebih baik kau binasa ditanganku!"

"Silahkan ayah yang mulai," Giam Liong merunduk, golok di tangan bergetar penuh hawa dingin. "Mati di tangan-mupun tak apa, ayah. Hitung-hitung pembalas budi yang pernah kau limpahkan!"

"Hm, tak ada budi atau hutang kebaikan. Ibumu telah memberi tahu bahwa semuanya itu impas!"

"Baik, majulah, ayah. Aku bertahan!" dan ketika Giam Liong menggoyang golok dan mengobat-abitkannya dua kali, gagang golok dipegang seperti gagang pedang maka Beng Tan menggeram melihat pemuda itu siap dengan jurus pembukaan Pek-jit Kiam-sut pula, Silat Pedang Matahari.

"Kau tak memiliki pembukaan lain? Kau ingin mengeluarkan kepandaian yang pernah kau pelajari dari aku?"

"Kelak tak akan kugunakan lagi, ayah, bila aku telah mewarisi ilmu silat golok dari mendiang orang tuaku laki-laki. Majulah, cukup kita bicara!"

Beng Tan membentak. Tubuh pendekar itu sekonyong-konyong berkelebat dan Pedang Matahari bergerak menyilaukan mata. Sinar putih berkeredep dan bagai harimau kelaparan, ketua Hek-yan-pang ini menerkam korbannya. Pedang menyambar dan tahu-tahu lurus menusuk tenggorokan, cepat dan luar biasa dan tahu-tahu pedang sudah menyentuh kulit!

Wi Hong berteriak melihat kecepatan pedang itu, kaget karena puteranya tak kelihatan menghindar, entah tak sempat atau memang sengaja menunggu. Tapi ketika dari sebelah kiri terdengar dengungan dan Golok Maut berkelebat menyilaukan mata, tak kalah dengan Pedang Matahari di tangan Beng Tan maka terdengar benturan nyaring disusul muncratnya bunga-bunga api ke udara.

"Cranggg...!"

Luar biasa dan hebat sekali adu senjata itu. Giam Liong dengan cepat dan amat mengagumkan tahu-tahu menangkis serangan ayahnya, cepat bagai kilat karena pemuda itu melakukan gerak yang disebut Matahari Menyambar Bianglala, tepat dan cepat membentur pedang ayahnya dan kedua-duanyapun terhuyung mundur.

Dan ketika Wi Hong menyumpal telinganya karena benturan itu amat nyaring, memekakkan telinga, maka Beng Tan berkelebat lagi dan membentak untuk menusuk atau membacok lawannya itu, cepat dan ganas dan segera Pedang Matahari bercuitan mencari darah. Lengah sekejap tentu lawannya terluka.

Tapi karena Giam Liong juga bergerak dan mengikuti bayangan ayahnya itu, yang naik turun dan bergulung-gulung untuk akhirnya lenyap berkelebatan mengandalkan ginkangnya maka pemuda inipun berseru nyaring dan mengimbangi gerakan sang ayah.

"Cring-crangg!"

Bunga api kembali berpijar. Golok dan pedang akhirnya sering bertemu karena keduanya adu cepat. Tusuk-menusuk dan bacok-membacok silih berganti hingga benturan-benturan kian nyaring memekakkan telinga. Lelatu bunga api juga memuncrat kian lebar hingga Wi Hong dan lain-lain harus menyingkir, dua orang itu sudah berkelebatan merupakan bayangan biru dan hitam. Dan ketika pertandingan meningkat cepat hingga tubuh keduanya tak nampak lagi, masing-masing saling belit dan gubat maka Wi Hong maupun Swi Cu tak dapat membedakan lagi mana pemuda itu dan mana Beng Tan.

"Hati-hati!" Wi Hong berseru memberi semangat. "Jangan lengah dan waspadalah, Liong-ji. Sekali kau mati ibumu pun menyusul!"

Giam Liong terbakar. Dia sudah mainkan Silat Pedang Matahari tapi bersenjatakan golok. Kitab-kitab ayahnya telah diberikan kepadanya namun belum sempat dipelajari. Dia sudah membaca selembar dua lembar namun itu tak cukup untuk menandingi ayah angkatnya ini. Pek-jit Kiam-sut yang dimainkan ayahnya harus diimbangi dengan Pek-jit Kiam-sut pula, meskipun dia bersenjata golok, bukan pedang. Dan karena golok di tangan lama-lama terasa biasa seperti mencekal pedang, Giam Liong mulai mengingat-ingat gambar atau jurus-jurus dari warisan kitab ayahnya maka aneh sekali tiba-tiba Pek-jit Kiam-sut yang dimainkan sudah bercampur dengan Im-kan To-hoat (Silat Golok Dari Akherat), meskipun masih sedikit-sedikit.

"Cring-crangg!"

Beng Tan terkejut. Pedangnya terpental dan ada semacam tenaga tolak besar dari golok Giam Liong. Pemuda itu menggetarkan golok dan meliuk-liukkannya dua kali, gaya atau serangan itu bukan dari jurus-jurus Pek-jit Kiam-sut dan Beng Tan tertegun. Tapi ketika dia menyerang lagi dan lawannya itu memainkan jurus-jurus aneh, setengah golok setengah pedang, maka sadarlah Beng Tan bahwa bekas puteranya itu sedang berlatih atau mencipta ilmu baru!

"Keparat!" Beng Tan melengking menggetarkan anak-anak murid di situ. "Mampus dan robohlah, Giam Liong. Terima pedang ini....singgg!" dan sebuah jurus dari silat Pedang Matahari yang disebut Toan-giok-hun-kim (Potong Kemala Patahkan Emas) tiba-tiba menyambar dan membabat Giam Liong dari atas ke bawah, ditekuk setengah jalan dan tiba-tiba mencuat dari bawah ke atas. Hebat dan ganasnya bukan main.

Giam Liong sampai terkejut. Namun karena pemuda itu mengenal jurus ini karena diapun juga mempelajari Silat Pedang Matahari maka dengan sedikit melempar pinggang ke kiri dan golok menyendok dari bawah tiba-tiba dia sudah menangkis sekaligus mematahkan gerakan pedang yang mencuat berbahaya.

"Cranggg!"

Beng Tan bengong. Dia melihat gerakan luar biasa tadi dan gerak "menyendok" yang diperlihatkan Giam Liong sungguh belum pernah dilihatnya dimainkan jago-jago pedang ataupun golok. Senjata di tangan Giam Liong akhirnya bergerak-gerak luar biasa dengan cara seperti menyendok atau menyapu, bahkan, juga mengiris atau mengedut. Dan ketika golok di tangan pemuda itu juga bergerak datar atau lurus seperti orang menyisir, Beng Tan kaget karena semua gerakan itu membuat dia bingung dan kacau maka tiba-tiba saja Pek-jit Kiam-sut yang dimainkannya pecah dan berantakan.

"Aiihhhh....!" Beng Tan tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Pendekar itu mengeluarkan suara panjang di samping untuk menunjukkan kekagetannya juga menunjukkan rasa penasarannya yang hebat. Pedang di tangannya "mati" di tengah jalan karena sering dicegat atau didahului gerakan-gerakan aneh yang diperlihatkan Giam Liong itu.

Pemuda itu kiranya sedang mengembangkan silat pedang dan golok dengan gabungan dari Pek-jit Kiam-sut serta sedikit ingatan tentang warisan mendiang ayahnya, Silat Golok Maut itu. Dan ketika semuanya ini membuat gerakan golok melengkung atau lurus, mengedut atau menyisir maka Beng Tan yang baru pertama kali ini seumur hidup menghadapi silat yang aneh akhirnya keteter dan terdesak, gulungan pedangnya menciut ditekan oleh gerakan-gerakan golok yang melengkung lebar!

"Keparat!" pendekar itu hampir berteriak. "Kau lihai dan luar biasa, Giam Liong. Tapi akupun juga mempunyai simpanan yang belum kukeluarkan!" dan ketua Hek-yan-pang ini yang membentak serta menerjang lagi lalu berusaha membobol lengkungan sinar golok.

"rang-cring-crang-cring" namun Giam Liong yang mulai menemukan "resep" baru untuk menundukkan Pek-jit Kiam-sut ternyata encer otaknya. Dengan jurus-jurus yang sama atau kadang tidak, merobah-robah gerakan hingga ayahnya bingung pemuda ini tetap menggencet gulungan pedang ayahnya. Golok masih tetap menyambar-nyambar dan gerakan menyisir atau menyendok itu kini bahkan bertambah lagi dengan gerakan menggarpu, yakni mencocoh-cocohkan golok seperti garpu mencocoh segumpal daging.

Beng Tan menjadi kacau dan akhirnya berteriak, pelipis kirinya berdarah, kena! Dan ketika pendekar itu terkejut tapi Giam Liong juga tertegun, serangannya berhasil maka Beng Tan tiba-tiba melengking dan dengan satu jurus Pek-jit-pek-cing (Pedang Matahari Mencabut Nyawa) yang merupakan serangan adu jiwa tiba-tiba pendekar itu menubruk dan pedang di tangan kanannya menusuk tenggorokan sementara tangan kiri tiba-tiba bergerak dan menghantam dengan pukulan Pek-lui-ciang, Pukulan Petir.

"Ayah...!" Giam Liong tak sempat lagi mengeluarkan seruan. Pekik kagetnya tadi sudah tak diperdulikan dan bekas ayahnya itu menerjang dengan amat hebatnya. Pedang menyambar tenggorokannya sementara pukulan tangan kiri menghantam dengan Pek-lui-ciang, hebatnya bukan ulah-ulah dan inilah serangan maut yang sifatnya mengadu jiwa.

Beng Tan tak perduli lagi karena pendekar itu penasaran dan bingung oleh ilmu silat Giam Liong, paduan antara silat pedang dan silat golok. Dan ketika pekikan itu dikeluarkan tapi Giam Liong tak sempat menghindar, semuanya berlangsung cepat dan kilat maka Wi Hong yang terbelalak dan menyaksikan pertandingan itu juga mengeluarkan teriakan kaget tapi Giam Liong sudah menancapkan kedua kaki kokoh di tanah sementara goloknya berkelebat menyambut pedang lawan, tangan kiri juga bergerak dan apa boleh buat menangkis dengan pukulan Petir pula.

"Crang-dess!"

Wi Hong dan Swi Cu terpelanting. Benturan pedang dengan golok luar biasa nyaring hingga dua wanita itu silau. Sedetik mereka kehilangan pandangan karena bunga api yang muncrat ke udara demikian banyaknya. Pijarannya memancarkan hawa panas hingga sejenak mata terasa buta. Demikiansilau dan terangnya pijaran bunga api itu. Tapi ketika benturan Pek-lui-ciang mengeluarkan suara dahsyat dan bumi seolah diguncang datangnya gajah, berderak dan menggelegar dengan amat dahsyatnya maka dua orang wanita itu terpelanting dan sama-sama berteriak keras.

Sisa anak murid yang menonton juga tak ada yang tahan dan benturan atau dentuman itu membuat mereka menjerit, roboh dan pingsan. Dan ketika semua berteriak karena klimaks dari pertandingan itu memang amat luar biasa, Beng Tan melakukan serangan mengadu jiwa maka golok dan pedang yang bertemu di udara tiba-tiba melekat sementara Giam Liong dengan bekas ayahnya telah melesak kedua kaki mereka dalam mengadu Pukulan Petir tadi!

"Bless!" ayah dan anak sama-sama terbelalak lebar. Pukulan Beng Tan telah diterima dan keduanya kini saling bertempelan lengan, senjata mereka juga saling melekat dan tampaklah adu tenaga yang menegangkan di sini. Giam Liong mengeluh karena pukulan ayahnya kuat luar biasa, dikerahkan sepenuh tenaga dan apa boleh buat dia juga harus mengerahkan segenap tenaganya. Dan ketika dari dua lengan mereka mengepul uap merah dan putih yang berbaur menjadi satu, masing-masing bertahan dan mendesak yang lain maka terdengar letupan-letupan ketika dua senjata itu mencoba menindih yang lain, Golok Maut dan Pedang Matahari tiba-tiba saling hisap dan tarik-menarik!

"Aahh!"

"Ohh!"

Dua-duanya tegang. Masing-masing bersitegang karena ketika pedang dan golok saling tarik-menarik tiba-tiba keduanya juga menjadi bingung. Mereka tadi saling mendorong tapi kini malah harus menjaga senjata masing-masing. Golok Maut dan Pedang Matahari berkutat sama kuat, pemiliknya merasa tenaga hisap yang amat luar biasa hingga dipaksa mengeluarkan tenaga ekstra, jangan sampai terebut yang lain. Dan karena tangan kiri mereka masih saling dorong-mendorong dengan tangan kiri lawan, dalam pengerahan tenaga Pek-lui-kang, maka wajah mereka tiba-tiba sama terbakar dan merah seperti dimasukkan tungku api!

"Ayah, aku tak dapat membunuhmu. Kau kendorkanlah tenagamu!"

"Tidak, kau atau aku yang mati, Giam Liong. Aku bukan menghadapimu sebagai bekas puteraku melainkan seolah dengan mendiang ayahmu sendiri. Kau Si Golok Maut!"

"Tapi... tapi aku tak ingin seperti ini. Kau sudah terluka!"

"Hm, luka di pelipis tak sepedih luka di hatiku, Giam Liong. Kalau kau mau menarik niatmu untuk membalas dendam, maka aku akan mengurangi tenagaku. Katakan, mau atau tidak!"

"Ah, kau mau mengurungkan niatku? Tidak, aku telah bersumpah, ayah. Daripada membatalkan mencari si pembunuh itu lebih baik aku mati!" dan ketika Giam Liong membentak dan merasakan desakan ayahnya, Beng Tan menambah dan mencuri kesempatan itu untuk mendesak lawan maka Giam Liong yang terdorong dan miring ke belakang tiba-tiba mengempos semangat dan menambah tenaganya cepat-cepat karena ayahnya sudah hampir mendesak.

Percakapan yang mereka pergunakan tadi sudah mengurangi sedikit tenaga pemuda ini. Maka begitu dia membentak dan marah memandang ayahnya maka Beng Tan menghadapi perlawanan tangguh lagi di mana desakannya tertahan dan pendekar itu tiba-tiba merasa dorongan yang amat kuat dilancarkan puteranya itu.

"Robohlah!"

Namun Giam Liong tak bergeming. Ayahnya membentak dan marah namun terkejut karena tangan kiri tiba-tiba serasa menembus sesuatu yang dingin. Pek-lui-kang yang sama-sama mereka keluarkan tiba-tiba diganti oleh Giam Liong, bukan lagi tenaga panas melainkan dingin dan mulailah Giam Liong mengeluarkan hawa sakti dari pelajaran kitab kecil. Im-kang atau tenaga Dingin dikerahkan dan hawa panas dari ayahnya diredam, mencair dan tiba-tiba membeku dan Beng Tan tersentak karena tangan kirinya mendadak kaku, menggigil. Dan ketika pendekar itu ingin menambah tenaga namun habis, seluruh kekuatan sudah dikerahkan maka hawa dingin menembus dan mulai menyusupi seluruh tubuhnya, hingga tulang-tulangnya berkerotok!

"Kau.... kau sudah mahir ilmu ayahmu, Giam Liong. Kau hebat dan mengagumkan sekali!"

"Maaf," Giam Liong tak berani banyak menjawab. "Kaupun hebat, ayah. Tapi aku harus mengalahkanmu!" dan ketika tenaga dingin dirobah lagi menjadi panas, sang ayah belum sempat memperbaiki diri maka Beng Tan berteriak karena tubuhnya tiba-tiba serasa terbakar, disentak dan mendelik dan tiba-tiba hawa panas itu berobah lagi menjadi dingin, begitu berturut-turut.

Dan karena pendekar ini hanya memiliki tenaga Pek-lui-ciang karena Ang-in-kang masih di bawah Pek-lui-ciang, maka begitu dirobah-robah tiba-tiba wajah pendekar itu menjadi pucat dan merah berganti-ganti, bertahan namun pedang ditangan kanan pun mendadak juga diserang hawa sakti Im-kang (Dingin) itu, ditahan namun Giam Liong sudah menggantinya dengan tenaga Yang-kang (Panas). Dan ketika pendekar itu terkejut karena dua hawa sakti menggencet berganti-ganti maka tubuh tertunduK dan.... pendekar itu muntah darah.

"Huak!"

Pedang di tanganpun tak dapat ditahan. Beng Tan melesak semakin dalam dan Golok Maut tiba-tiba menghisap dan menarik lepas Pedang Mataharinya. Sang jago tua tak dapat mempertahankan diri dan roboh terduduk, mukanya pucat pasi. Dan ketika darah kembali terlontar karena Beng Tan tetap bertahan dan tak mau menyerah, ingin binasa dalam pukulan terakhir maka Swi Cu menjerit dan berkelebat menghantam Giam Liong.

"Jangan bunuh suamiku!"

Giam Liong terkejut. Saat itu dia harus menekan ayah angkatnya ini karena meskipun jatuh terduduk ayahnya itu masih melakukan perlawanan kuat. Sekali dia mengurangi tenaga tentu pukulan ayahnya akan menghantam, berikut pukulannya sendiri yang membalik. Maka ketika Swi Cu tiba-tiba menyerang sementara semua perhatiannya terpusat ke depan, bagian belakang tentu saja tak dijaga maka Swi Cu menghantamnya telak tapi pukulan itu justeru menambah kekuatannya untuk menghantam suaminya juga.

"Jangan...!"

Seruan itu terlambat. Beng Tan terbelalak melihat perbuatan isterinya itu. Dikira menolong tak tahunya malah mencelakakan dirinya sendiri. Dan ketika pukulan mendarat dan Giam Liong tersuruk, punggung dan sebagian pundaknya terpukul berat maka Beng Tan seketika roboh tapi Swi Cu sendiri juga terlempar karena tenaga sakti lawannya bergerak dan menjaga tuannya.

"Bress!" Nyonya itu jatuh pingsan. Swi Cu tak tahu bahwa perbuatannya betul-betul berbahaya. Giam Liong sebagai penerima pukulan justeru akan menyalurkan pukulan itu kepada Beng Tan, meskipun Giam Liong juga menderita karena pemuda itu melontakkan darah segar, terluka dan tak kuat juga karena betapapun segenap sin-kangnya sedang dipakai untuk menghadapi ayah angkatnya. Maka begitu ayahnya roboh dan Giam Liong juga ambruk kedepan, menimpa tubuh ayahnya maka golok di tangan terlepas dan dua senjata tajam itu jatuh berkerontang dalam posisi masih saling hisap!

"Keparat!" Wi Hong berteriak dan gusar. Wanita itu tak menyangka tindakan Swi Cu. Dia sendiri sedang mengamati jalannya pertandingan dengan jantung berdebar, mula-mula pucat dan khawatir karena dua orang itu sama kuat, bahkan, puteranya tampak terdesak tapi segera dapat memperbaiki diri lagi. Dan ketika puteranya balas mendesak dan Beng Tan pucat pasi, tak kuat bertahan, maka Wi Hong berseri-seri karena segera melihat bahwa pertandingan itu akan segera dimenangkan puteranya, meskipun lama.

Sedikit tetapi pasti puteranya di atas angin, apalagi setelah uap putih dan dingin menyelimuti wajah puteranya itu, bergeser dan membungkus pula tubuh Beng Tan. Dan ketika benar saja pendekar itu terduduk namun alot melakukan perlawanan, Wi Hong marah dan gemas melihat itu maka wanita ini kaget ketika Swi Cu tiba-tiba berteriak dan menyerang puteranya. Dalam keadaan seperti itu sesungguhnya amatlah berbahaya bila puteranya dibokong. Wi Hong tak menyangka bahwa Swi Cu akan melakukan itu. Dan ketika puteranya melontarkan darah dan jatuh menimpa ayah angkatnya, Wi Hong berkelebat dan berteriak gelisah maka wanita itu sudah menarik puteranya dan Ki Bi serta anak-anak murid yang lain guncang menolong Swi Cu dan Beng Tan.

"Keparat, jahanam terkutuk!" Wi Hong menyambar dan menolong puteranya itu. Giam Liong roboh lemas namun tidak pingsan, lain dengan Beng Tan yang terluka berat oleh pukulan dalam. Dan ketika wanita itu menotok dan memeluk puteranya, menangis dan bagaimana keadaan pemuda itu maka Giam Liong minta dibantu duduk untuk menolong dirinya.

"Aku tak apa-apa, ibu tak usah khawatir. Tapi.. tapi tolonglah ayah dan juga ibu Swi Cu."

"Apa? Kau minta aku menolong mereka itu? Bedebah, justeru aku akan membunuhnya, Liong-ji, terutama Swi Cu. Dia berbuat curang dan akan membunuhmu!" tapi ketika wanita itu bergerak dan akan meninggalkan Giam Liong, yang menyambar dan mencekal lengan ibunya maka Giam Liong menggigil berkata pada ibunya itu.

"Ibu tak perlu mengingat ini. Itu adalah bukti kecintaan ibu Swi Cu kepada suaminya. Pukulannya tak apa-apa bagiku, ibu, tenaga sinkangnya tak sekuat sin-kangku. Kau tolonglah dia atau ayah, aku akan menyembuhkan diriku dulu. Kalau ibu sampai membunuh mereka maka aku tak akan mau lagi bersamamu!"

"Giam Liong!"

Namun pemuda itu sudah memejamkan mata. Wi Hong terbelalak dan terhenyak mendengar kata-kata puteranya ini. Kalau saja dia tak diancam begitu barang-kali dia akan menghajar Swi Cu, bahkan, mungkin membunuhnya. Tapi ketika Giam Liong berkata bahwa pemuda itu tak akan mau bersamanya, kalau ibunya membunuh maka Wi Hong tertegun tapi akhirnya membanting kaki dengan marah.

"Baiklah, aku tak akan membunuh mereka, Liong-ji. Tapi aku juga tak mau menolong!" dan duduk menemani puteranya, yang bersila dan memejamkan mata. Wi Hong sudah menyambar atau memungut dua senjata ampuh di tanah itu. Golok Maut dan Pedang Matahari masih saling tempel dengan lekat, ditarik namun Wi Hong gagal. Terbelalaklah wanita itu karena dua senjata itu seolah suami isteri atau musuh bebuyutan, tak akan meninggalkan yang lain meskipun dibetot dengan keras. Dan ketika dia jengkel dan membanting dua senjata itu, nyaring ke tanah maka tiba-tiba Pedang Matahari dan Golok Maut lepas sendiri.

"Eh, sialan. Ditarik dan dibetot tak mau tiba-tiba dibanting malah mau! Macam apa kalian ini, senjata-senjata sialan? Memangnya minta kupukul-pukul ke tanah?"

Wi Hong menyambar dan memungut lagi dua senjata luar biasa itu. Dari Golok Maut memancar hawa dingin sementara dari Pedang Matahari memancar hawa panas, wanita itu berkerut kening. Tapi ketika tak lama kemudian puteranya membuka mata, selesai, maka Giam Liong bangkit berdiri memandang sekeliling, melihat kerumunan atau anak-anak murid Hek-yan-pang yang menolong ketua dan isterinya.

"Eh, ibu tak menolong mereka?"

"Kau sudah selesai?" sang ibu terbelalak, meloncat bangun, bukannya menjawab melainkan malah bertanya. "Bagus, kalau begitu bawa pedang dan golok ini, Liong-ji. Atau selesaikan musuhmu daripada kelak membuatmu dibuntuti pembalasan!"

Giam Liong tertegun. Bukannya menerima tiba-tiba dia berkelebat dan malah mendekati ayah ibu angkatnya itu. Ki Bi dan lain-lain menolong namun Beng Tan dan isterinya belum juga siuman, terutama Beng Tan, ketua Hek-yan-pang yang pucat dan kebiruan wajahnya itu. Dan ketika Giam Liong bergerak dan mendorong kerumunan orang-orang itu, berlutut, maka pemuda ini sudah memeriksa dan cepat mengeluarkan beberapa pil hijau.

"Berikan ini kepada ibu Swi Cu dan biarkan aku menolong ayahku ini!"

Ki Bi dan murid-murid tertua menyingkir. Tadinya mereka was-was dan khawatir jangan-jangan pemuda itu akan membunuh Beng Tan. Mereka bersiap-siap tapi Giam Liong ternyata benar-benar menolong ayah angkatnya itu, karena bersila dan sudah menyalurkan sinkangnya di punggung sang ayah. Dan ketika pemuda itu meramkan mata dan melakukan pengobatan, Ki Bi lega karena ketua mereka tak diganggu maka Swi Cu ditolong dan sudah dijejali obat pemberian Giam Liong. Dan tak lama kemudian wanita itupun sadar.

Luka yang diderita Swi Cu tak seberat suaminya. Beng Tan mengalami luka dalam parah dan keadaan pendekar itu benar-benar berbahaya. Paling tidak, kalau dia sembuh, mungkin pendekar itu perlu beristirahat setahun, tak mungkin kurang. Tapi begitu Swi Cu sadar dan membuka mata, kerumunan anak-anak murid membuatnya kaget maka nyonya itu teringat dan beringas meloncat bangun.

"Mana bocah setan itu?!"

Ki Bi terkejut. Isteri ketuanya itu membentak dan langsung mendorong mereka, melihat Giam Liong yang sedang bersila menolong ayah angkatnya. Dan ketika wanita itu tertegun namun Swi Cu melengking, marah melihat Giam Liong tiba-tiba dia menerjang dan mencabut pedangnya.

"Bocah siluman, jangan sentuh suamiku!" dan pedang yang bergerak serta menyambar punggung tiba-tiba meluncur bersamaan tubuh wanita itu. Swi Cu mendelik melihat Giam Liong, kemarahannya meledak sampai di ubun-ubun. Tapi ketika wanita itu berkelebat dan pedang menusuk Giam Liong, cepat dan marah maka berkelebat bayangan lain yang langsung menangkis serangannya itu.

"Swi Cu, jangan bermain curang!"

Sang nyonya terkejut. Dari samping menyambar secercah sinar putih yang berhawa dingin, menahan atau menangkis serangan pedangnya itu. Dan ketika terdengar suara nyaring dan pedangnya putus, Swi Cu terkejut dan melempar tubuh bergulingan maka sucinya sudah berdiri di situ dengan Golok Maut di tangan, mata berapi-api.

"Berani kau menyerang puteraku maka kau mampus. Majulah, kalau ingin ku cincang!"

Swi Cu tertegun. Nyonya ini terkejut karena Wi Hong, sucinya itu, sudah menghadang dengan golok di tangan, bukan golok sembarang golok melainkan Golok Maut, senjata yang ampuhnya menggila itu! Namun karena wanita ini bukan penakut dan dibentak atau diancam seperti itu dia menjadi semakin marah maka menyambar dan mencabut pedang seorang anak murid lain tiba-tiba nyonya itu melengking dan berseru keras, menerjang lagi.

"Boleh, mari kita bertanding seribu jurus, suci. Biarpun Golok Maut ada di tangan tapi aku tak gentar...singg-singgg!" dan pedang yang menusuk atau menikam akhirnya sudah berkelebatan menyambar-nyambar lawannya itu, disusul pukulan-pukulan Ang-in-kang dan Wi Hong mendengus melayani sumoinya.

Tapi karena sumoinya mainkan Pek-jit Kiam-sut dan Silat Pedang Matahari itu adalah andalan Beng Tan, si jago pedang, maka Wi Hong sibuk dan berkelebatan pula mengimbangi lawan. Golok Maut mendesing dan membabat namun Swi Cu tak mau beradu keras. Pedang di tangannya jelas akan kalah dan wanita itu mengandalkan kecepatan dan kepandaiannya untuk merobohkan lawan. Dan ketika Wi Hong terkejut karena sumoinya itu bukan lagi sumoinya yang dulu, Swi Cu sekarang adalah Swi Cu seorang isteri jago pedang maka senjata di tangan wanita itu bergerak naik turun dan bergulung-gulung mengelilingi lawan.

Wi Hong mengandalkan keampuhan golok dan ini menyelamatkannya. Swi Cu sering menarik pulang tusukan atau tikamannya yang bertubi-tubi kalau sudah dicegat golok di tangan sucinya. Dan karena masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri maka jadilah pertandingan itu suatu pertandingan yang cepat dan imbang.

Ki Bi dan lain-lain menonton dengan tegang. Sebenarnya, sulit bagi murid tertua Hek-yan-pang ini untuk membantu salah satu pihak. Wi Hong adalah ketua lama sedang Swi Cu adalah isteri ketua baru, di samping sumoi dari ketua lama itu. Dan karena masing-masing merupakan atasannya, atau bekas pimpinan yang tentu saja tetap berpengaruh maka Ki Bi tak berani bergerak dan mungkin akan maju kalau dipaksa. Dan anak-anak murid yang lainpun juga berdiri menjublak. Mereka melihat pertempuran sengit itu di mana pedang di tangan Swi Cu bergulung naik turun namun selalu ditarik pulang kalau berhadapan dengan Golok Maut.

Wi Hong coba membalas namun kepan daian sumoinya itu ternyata lebih tinggi, maklumlah, di samping ilmu-ilmu silat Hek-yan-pang wanita itu juga menerima kepandaian dari suaminya, silat Pedang Matahari atau Pek-jit Kiam-sut. Dan ketika golok berkali-kali mengenai angin kosong karena Swi Cu berkelit atau berjungkir balik tinggi maka Giam Liong yang tidak tahu dan memusatkan perhatiannya untuk menolong sang ayah sudah mencapai titik tingkat yang optimal.

Pemuda itu bercucuran keringatdan mandi peluh. Dia juga merasa lelah setelah pertarungannya yang mati-matian tadi. Ayah angkatnya memang luar biasa dan amat mengagumkan. Tapi ketika setengah dari sin-kang pemuda ini sudah memasuki tubuh ayahnya, wajah yang pucat dan kebiru-biruan itu mulai merah maka setengah jam kemudian Beng Tan sadar dan membuka matanya. Giam Liong merasa gerakan dan membuka mata pula. Dan ketika ayahnya bergerak dan duduk menggigil, terkejut, batuk-batuk, maka pendekar itu melihat Giam Liong yang mandi keringat.

"Kau. kau menolongku?"

Giam Liong mengangguk, tak menjawab. Pemuda itu tersenyum pahit dan sang ayah tertegun. Beng Tan merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit tapi sesak di daerah dada tak lagi mengganggu. Itulah berkat pertolongan anaknya ini, anak atau bekas anak yang tadi bertanding dan hendak dibunuhnya! Dan ketika pendekar itu bangkit dan gemetar, seluruh berkerotok dan Giam Liong juga berdiri maka pendekar itu mencengkeram dan membentak geram.

"Giam Liong, kenapa kau tidak membunuhku? Kenapa kau malah menolong aku?"

"Maaf, aku tak dapat membunuhmu, ayah. Dan akupun menyesal akan ini."

"Tapi aku bukan ayahmu, kau bukan keturunanku!"

"Benar, tapi kau telah mendidik dan membesarkan aku, ayah. Dan aku bukanlah seorang manusia tak tahu budi!"

Dan ketika Beng Tan tertegun dan bersinar-sinar, melihat bahwa pemuda ini bukanlah pemuda kejam maka Giam Liong melepaskan cengkeraman ayah angkatnya itu, menoleh.

"Lihat, ibuku dan ibu Swi Cu bertanding. Aku tak ingin mereka sama-sama terluka. Kalau ayah masih teringat janji aku akan melerainya dan setelah itu pergi. Terserah ayah apakah mau memberi tahu pembunuh ayah kandungku itu atau tidak!"

Beng Tan terkejut. Pemuda itu bergerak dan berkelebat ke tengah-tengah pertempuran. Wi Hong dan Swi Cu sama-sama naik pitam dan masing-masing bertanding semakin sengit saja. Saling maki dan tusuk sudah puluhan kali banyaknya. Tapi ketika Giam Liong bergerak dan membentak dua ibunya, tangan menampar dan mengibas dua senjata itu maka Wi Hong terhuyung sementara Swi Cu mencelat tapi pedang sempat menggores lengan pemuda itu.

"Mundur... cret!"

Swi Cu terlempar bergulingan meloncat bangun. Memang Giam Liong masih belum pulih seluruhnya dan sinkangnyapun tinggal separoh. Separoh yang lain diberikan kepada ayah angkatnya itu dan menangkis pedang Swi Cu dia masih juga tergurat, kekebalannya berkurang. Dan karena Wi Hong menarik goloknya dan sang putera tak sampai terluka, Giam Liong tak perduli kepada itu maka dua wanita ini sudah berhadapan kembali dan Swi Cu melotot, melengking dan siap menerjang lagi.

"Tahan!" pemuda itu berseru. "Kami akan segera meninggalkan tempat ini, ibu. Tak usah saling serang dan bantu suamimu!"

"Aku bukan ibumu!" Swi Cu memekik. "Aku tak punya anak seperti kau, Giam Liong. Kau bunuhpun aku tak apa!"

Namun Beng Tan yang bergerak dan menangkap isterinya, mencegahi dan menggigil menyuruh isterinya bersabar tiba-tiba sudah berdiri di depan isterinya itu. "Dia benar," pendekar ini berkata. "Urusan ini tak perlu diperpanjang, niocu. Aku sudah kalah dan kita harus tahu diri!"

"Bagus!" Wi Hong tertawa, berkelebat dan berdiri pula di depan puteranya. "Kalau begitu sebutkan siapa pembunuh suamiku itu, Beng Tan. Di mana dia berada dan siapa itu si Kedok Hitam!"


"Eh, kau ingkar janji?"

"Aku tidak ingkar, Wi Hong!" Beng Tan membentak. "Tadi sudah kukatakan bahwa aku tak mau menerangkan siapa laki-laki itu. Aku hanya mau menerangkan di mana kira-kira ia berada!"

"Benar," Giam Liong mengangguk, mendahului ibunya. "Inipun cukup, ibu. Kalau ayah tak mau menerangkan siapa dia, tentu ada sesuatu yang menyulitkan ayah bicara. Aku sudah cukup puas kalau mengetahui di mana kira-kira si Kedok Hitam itu berada, asal ayah tidak menghubunginya dan menyuruh dia menyingkir!"

"Aku bukan komplotan!" Beng Tan membentak, marah mendengar kata-kata Giam Liong itu. "Jangan menuduh aku seperti itu, Giam Liong. Aku tak serendah untuk bergaul dengan orang jahat!"

"Bagus, kalau begitu sebutkan di mana dia!" Wi Hong, yang terkekeh dan senang melihat kemarahan lawan tiba-tiba mendahului puteranya, tak mau didahului. "Kami ingin segera mencari dan menangkapnya, Beng Tan. Sebutkan di mana dia dan hati-hati kalau kau bohong!"

"Aku hanya dapat mengira-ngira dia ada di mana, yakni ada di kota raja. Kalau kalian ingin mencari dan mendapatkannya maka temuilah disana."

"Di kota raja? Di bagian mana?" Wi Hong tertegun, menatap sang pendekar dengan pandangan terbelalak, tajam.

"Aku hanya dapat menerangkan begitu saja, tepatnya di istana. Nah, bohong atau tidak terserah kalian. Mudah-mudahan orang yang kalian cari masih tetap ada di sana!" Beng Tan balas memandang, dingin dan tak acuh dan tiba-tiba dia menekan dada yang hendak batuk-batuk. Terlalu banyak bicara membuat pendekar itu tak kuat, maklumlah, luka dalamnya belumlah sembuh dan dia sudah merasa pusing-pusing lagi.

Giam Liong tahu itu dan menarik ibunya. Dan karena keterangan sudah didapat dan si Kedok Hitam ternyata ada di kota raja, di istana, maka Giam Liong membungkuk dan berkata, "Baiklah, terima kasih, ayah. Dan maaf atas semua yang terjadi ini. Aku tak bermaksud untuk menyakiti hatimu."

"Dan kalian tak memberi tahu di mana anak kandungku?" Swi Cu melengking, gusar dan mau maju lagi tapi ditahan suaminya yang batuk-batuk. Swi Cu marah dan terpaksa menahan diri karena suaminya tiba-tiba limbung. Dan ketika Giam Liong tertegun dan mengerutkan kening, tak tahu di mana adanya pemuda itu selain dibawa Yang Im Cinjin tiba-tiba ibunya sudah berseru, terkekeh,

"Swi Cu, tadi sudah dikatakan bahwa pihak yang kalah harus tunduk kepada yang menang. Dan kami tentunya tak perlu memberi tahu di mana anakmu itu. Bukankah kalian kalah dan tak perlu banyak menuntut? Diberi hiduppun kalian masih untung, tak usah bertanya-tanya!"

"Tapi kau sudah mendapatkan anakmu, kau licik!"

"Hm, dan kaupun mendapatkan kedudukan di sini, Swi Cu. Kita sudah adil dengan kejadian ini. Aku dan Giam Liong tak akan mendepak kalian untuk memimpin partai!"

"Aku tak perduli kedudukan. Puteraku jauh lebih berharga daripada kedudukan. Serahkan atau kau mampus!" dan Swi Cu yang menerjang dan melepaskan suaminya tiba-tiba marah besar karena sucinya bicara begitu enak. Darah dagingnya tak dapat ditukar dengan apapun, biarpun kedudukan tinggi. Tapi ketika Wi Hong mengelak dan menangkis, Golok Maut membentur pedang di tangan sumoinya itu maka Swi Cu melempar tubuh bergulingan tapi sudah menyambar pedang yang lain lagi karena pedangnya itu putus. Namun sebelum wanita ini menerjang tiba-tiba Giam Liong berkelebat dan berdiri menghadang.

"Ibu. "

"Aku bukan ibumu!"

"Baiklah, dengar, bibi. Aku tak ingin kalian saling serang lagi untuk urusan ini. Han Han, puteramu, akan kubawa kemari sebagai pengganti dan obat kecewamu. Aku tahu bahwa dia dibawa seseorang dan akan kucari orang itu. Kau tak perlu lagi marah-marah."

"Enak saja kau bicara? Ibumu menukar dan menculik anak harus kudiamkan dan tak boleh marah-marah? Eh, matipun menghadapimu aku tak takut, Giam Liong. Meskipun kau sudah lihai dan pintar sekarang!"

"Tunggu...!" namun Giam Liong yang mengelak dan diserang lawannya tiba-tiba mendengar ibunya terkekeh dan berkelebat, menghadapi Swi Cu.

"Tak usah panjang lebar. Serahkan dia kepadaku, Liong-ji. Dan kau mundurlah!"

Namun Giam Liong yang membentak dan menyambar ibunya tiba-tiba menotok dan merampas Golok Maut, yang hampir saja mengenai leher Swi Cu! "Ibu tak usah ikut campur dan diam sajalah di situ. Biar aku yang membereskan.... dess!"

Dan Wi Hong yang roboh tapi Swi Cu juga mencelat tiba-tiba sudah membuat Giam Liong berdiri dengan muka merah, berhadapan dengan ayah angkatnya yang terbelalak dan mengeluh lemah memanggil-manggil isterinya itu.

"Ayah, apakah bibi tak dapat kau beri tahu? Apakah kau tak dapat membujuknya agar tidak menyerang lagi? Aku berjanji akan mengembalikan dan membawa puteramu kemari, ayah. Dan ini sudah di luar pertaruhan!"

Beng Tan batuk-batuk. Melihat dan mendengar kata-kata Giam Liong memang dia harus meredakan kemarahan isterinya itu. Dia juga tahu bahwa mana mungkin seorang ibu bisa menahan marah diperlakukan seperti itu, anaknya diculik dan kini malah dibawa orang lain pula, orang yang tak mereka ketahui siapa! Namun karena Giam Liong tampil sebagai pemenang dan pihaknya sebagai yang kalah, pendekar itu adalah seorang gagah yang tak mungkin menjilat janji maka dia sudah terbungkuk dan menyambar isterinya itu, mencengkeram.

"Niocu, jangan buat aku malu. Kalau kau ingin menyerangnya lagi lebih baik bunuhlah aku dulu, tikam dadaku ini!" kemudian, ketika isterinya menangis dan gemetar tak berbuat apa-apa pendekar ini menghadapi Giam Liong kembali, berkata, suaranya penuh sesal dan berat, "Lihat, aku sudah mengendalikan isteriku, Giam Liong. Dan kami tak akan menyerangmu lagi. Terima kasih kalau kau berjanji untuk membawa dan mengembalikan puteraku. Tapi bolehkah kutanya berapa lama janji yang kau berikan itu!"

Giam Liong tertegun. "Kira-kira enam bulan," katanya. "Tapi paling lama satu tahun. Bagus, aku lega melihat bibi tak bersikap nekat lagi, ayah. Dan terima kasih pemberitahuanmu tentang musuh besarku itu. Aku akan pergi, dan maaf untuk semua kejadian tak menyenangkan ini!" tapi ketika Giam Liong membalik dan melihat Pedang Matahari, karena pedang itu di tangan ibunya setelah Golok Maut dirampas tiba-tiba pemuda ini tertegun namun cepat melangkah menghampiri ibunya itu, mengulurkan lengan.

"Ibu, pedang ini bukan punya kita. Berikan dan biarkan kita kembalikan kepada ayah!"

Namun sang ibu mengelak, membentak. Dan ketika Giam Liong tertegun melihat ibunya berdiri tegak maka ibunya itu berkata, "Liong-ji, musuh yang kalah adalah taklukan kita. Pedang ini juga menjadi pedang kita, tak usah diserahkan dan biar untukmu!"

"Hm, tidak," sang putera menggeleng, tak dapat menerima permintaan ibunya. "Musuh ini bukan musuh kita, ibu. Jelek-jelek dia adalah ayahku Beng Tan. Tidak, berikan kepadaku dan biar kukembalikan kepada pemiliknya!" dan ketika Giam Liong berkelebat dan menyambar pedang itu, dielak tapi jari sudah menotok pergelangan tangan maka Wi Hong tak dapat mempertahankan miliknya lagi, berteriak dan pedang sudah di tangan anaknya.

"Jangan diberikan!" wanita itu menjerit, marah dan penasaran. "Kalau kau yang kalah tak mungkin Golok Maut tak dirampasnya, Giam Liong. Serahkan kepada ibu dan jangan diberikan kepada musuhmu itu!"

Namun Giam Liong tak perduli. Ibunya bergerak dan hendak merebut lagi namun pemuda ini sudah menotoknya roboh. Apa boleh buat ibunya terpaksa dilumpuhkan. Dan ketika Wi Hong memekik dan marah-marah dengan umpatannya yang pedas maka pemuda itu sudah bergerak ke arah ayah angkatnya dan menyerahkan Pedang Matahari.

"Ini bukan milik kami, kukembalikan kepada ayah. Semoga ayah menerimanya dan sekarang kami pergi!"

Lalu, ketika Beng Tan mendelong dan menerima pedang, perasaannya campur aduk maka Giam Liong memutar tubuhnya dan menyambar ibunya itu. Di situ wanita ini memaki-maki namun Giam Liong tak membebaskan totokannya. Kalau dibebaskan tentu ibunya mengamuk, minimal akan menyerang Beng Tan dan merebut kembali Pedang Matahari itu. Dan ketika pemuda ini melangkah lebar dan meninggalkan orang tua angkatnya, dipandang seluruh anak-anak murid Hek-yan-pang dengan gentar dan kagum maka Giam Liong sudah tiba di tepi pulau dan menendang sepotong papan.

Papan ini terlempar masuk ke telaga, Giam Liong berjungkir balik dan melayang turun di atas papan itu, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi. Dan ketika pemuda itu menggerakkan tangan kiri karena tangan kanan masih dipakai untuk memanggul ibunya, Wi Hong berteriak-teriak tak diperdulikan maka pemuda itu sudah meluncur dan menyeberangi telaga dengan cepat dan luar biasa, seolah berjalan di air!

"Anak yang hebat, pemuda yang mengagumkan!" Beng Tan tak terasa mengeluarkan suara memuji, mengikuti dan membelalakkan mata melihat semua gerak-gerik bekas anak angkatnya itu.

Dan ketika murid-murid yang lain juga mengangguk-angguk dan kagum, mereka memandang dengan sorot mata takjub maka Giam Liong lenyap dan sudah menghilang di seberang sana. Tapi begitu pemuda itu menghilang dan lenyap, tak ada anak-anak murid yang menghalangi tiba-tiba Beng Tan batuk-batuk dan roboh pingsan. Pendekar itu terpukul oleh kenyataan pahit yang harus diterimanya. Dia kalah oleh bekas anak didiknya sendiri, dalam sebuah pertarungan mati hidup. Tapi karena bekas anak didiknya itu adalah keturunan Si Golok Maut, lawan paling lihai sebelum dia berhadapan dengan pemuda itu maka Beng Tan tak kuat dan roboh terguling.

Ada duahal yang menyebabkan pendekar ini begini. Pertama adalah luka dalamnya itu, yang untung cepat-cepat diobati dan ditolong Giam Liong, bekas musuhnya itu. Dan karena dia belum sembuh betul karena pertolongan itu masih harus dilanjutkan dengan pengobatan sendiri, padahal dia terguncang bahwa Giam Liong bukan anak kandungnya maka Beng Tan tak dapat menahan lagi ketika dadanya mendadak sesak. Tadi ketika bicara dan marah-marah kepada Giam Liong dia belum merasakan itu.

Tapi begitu si pemuda lenyap dan meninggalkan pulau mendadak saja dadanya sesak karena kekecewaan dan penyesalan hebat melanda dirinya. Dia telah mewariskan dan menurunkan ilmu-ilmunya kepada keturunan Si Golok Maut. Dan ketika kenyataan itu membuat Beng Tan tak kuat, roboh dan mengeluh maka pendekar ini terguling dan seketika itu pingsan.

Swi Cu menjerit dan memekik menyambar suaminya ini. Tapi ketika melihat wajah yang pucat dan suaminya sukar bernapas, guncangan batin itu mengganggu hebat maka wanita ini melolong dan cepat menolong suaminya itu. Ki Bi dan lain-lain terkejut dan cepat pula bergerak. Mereka membantu dan membawa masuk ketua mereka ini. Dan ketika di kamar Beng Tan mendapat perawatan intensip, Swi Cu dan Ki Bi atau yang lain-lain menyalurkan sinkang dan memberi pertolongan maka Beng Tan sadar tapi wajah pendekar itu masih pucat, gemetar dan menggigil.

"Kalian pergilah, biarkan isteriku sendiri!" Beng Tan mengusir dan menyuruh murid-muridnya keluar. Dia tak enak melihat Ki Bi dan murid-murid wanita yang lain ada di situ, teringat kejadian lama. Dan ketika Ki Bi menyingkir dengan muka merah, diam-diam tertusuk maka Beng Tan bersandar dan minta didudukkan yang tegak. "Aku hanya ingin menerima sinkang darimu. Yang lain, tak usah sajalah!"

"Tapi lukamu berat, suamiku. Semakin banyak sinkang memasuki tubuhmu jadinya tentu semakin baik!"

"Tapi mereka murid-murid wanita semua, mana aku mau? Tidak, hanya kau yang boleh, Cu-moi. Selebihnya, biar di luar dan menjaga!"

Swi Cu menangis. Dia sendiri tak ingat akan itu dan tak apa-apa. Tapi mendengar suaminya bicara seperti ini mendadak saja dia merasa terharu dan memeluk suaminya itu, menciumi. "Baiklah, aku akan membantumu, suamiku. Biarlah kita sama duduk berhadapan tapi sinkangku tentu tak sebanyak seperti yang kau inginkan. Pertolonganku tentu lama!"

"Tak apa. Suruh murid-murid kita mencari ramuan obat dan menggodoknya. Lukaku memang berat, paling tidak enam sampai dua belas bulan baru sembuh betul. Sudahlah, kita mulai, niocu. Aku tak berani banyak bicara... uhh!" dan ketika Beng Tan batuk dan menyeringai kesakitan, Swi Cu menutup mulut dan tak berani bicara lagi maka suami isteri itu sudah bersila dan saling berhadapan.

Swi Cu memberi sinkangnya tapi wanita inipun tak bisa berkonsentrasi baik, sering tersendat-sendat dan macet karena dia menggigit bibir dan menahan tangis. Kemarahan dan sakit hati Swi Cu belum reda. Dia masih membenci dan dendam akan perbuatan sucinya, juga Giam Liong, karena pemuda itu ternyata keturunan Si Golok Maut Sin Hauw, tokoh yang ganas dan dulu pernah membuat Hek-yan-pang diobrak-abrik. Kalau tidak ada suaminya ini barangkali dulu-dulu Hek-yan-pang sudah bubar, barangkali, malah hancur!

Tapi ketika dia menguatkan hati dan sang suami berbisik mengingatkan, bahwa pikiran tak boleh melantur ke mana-mana maka nyonya itu menarik perhatiannya untuk mengobati suami tercinta. Beng Tan menelan obat-obatan pula di samping masuknya sinkang itu.

Anak-anak murid berjaga dan nama Giam Liong tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan dan bisik-bisik yang menarik. Pemuda itu bukan lagi sebagai bekas putera pangcu mereka melainkan memiliki "nilai lebih", yakni sebagai putera atau keturunan Si Golok Maut. Dan karena Golok Maut sudah dikenal namanya dan kegemparan yang dibuatpun juga mengguncang dunia kang-ouw maka diam-diam anak murid Hek-yan-pang mempunyai bayangan ngeri tentang pemuda itu.

Sepak terjang pemuda ini tentu akan lebih hebat daripada ayahnya. Dan mengingat ketua mereka kalah di tangan pemuda itu, yang telah mewarisi pula kitab-kitab mendiang ayah kandungnya, maka murid-murid Hek-yan-pang bergidik dan kagum serta ngeri membayangkan Giam Liong. Ketua mereka terkenal sebagai pendekar kelas wahid, tak ada yang menandingi. Tapi bahwa hari itu dipecundangi dan kalah oleh Giam Liong maka mereka bergidik dan ngeri teringat pemuda ini. Apalagi karena pemuda itu membawa Golok Penghisap Darah, Golok Maut! Dan ketika mereka gentar dan saling berbisik satu sama lain maka Beng Tan yang sudah seminggu mendapat pengobatan tiba-tiba berkata pada isterinya bahwa ingin pergi.

"Apa? Kau gila? Dalam keadaan belum sembuh benar?"

"Hm, aku cukup sehat. Asal tidak bertanding lagi dengan pemuda itu tentu aku kuat untuk bepergian seperti biasa. Kau tinggallah di sini, niocu, aku mau pergi mendinginkan hati, juga untuk sesuatu keperluan."

"Kau mau ke mana? Keperluan apa?"

"Mencari anak kita itu. Aku juga ingin menemukannya sendiri," dan ketika Beng Tan menarik napas dan kelihatan masygul, wajahnya muram maka sang isteri bergerak dan mencengkeram bahunya.

"Aku ikut?" seruan ini mengejutkan suami. "Aku juga tak mau tinggal di sini kalau kau pergi!"

"Ikut? Ah!" Beng Tan melepaskan bahunya, menggeleng. "Jangan, niocu. Kau harus menjaga di sini mewakili aku!"

"Ada Ki Bi di sini!" sang isteri berseru, mengingatkan. "Dan ada adik-adik seperguruannya pula yang dapat mewakili kita. Kalau kau pergi aku juga pergi, tak mau sendiri!"

Beng Tan tertegun. Isterinya sudah berkata lantang dan kalau sudah begitu maka tak mungkin dia mendebat lagi. Semakin didebat tentu isterinya semakin berang, salah-salah mereka bisa saling cek-cok sendiri! Dan ketika Beng Tan mengangguk dan menghela napas, apa boleh buat harus menerima itu maka dia berdiri dan masuk ke kamar.

"Baiklah, kita siapkan buntalan kita. Mari pergi."

Ganti anak-anak murid terkejut. Ki Bi tertegun ketika dipanggil dan mendengar keinginan pangcunya, bengong tapi segera mengangguk menerima perintah. Dan ketika hari itu juga Beng Tan meninggalkan markas, berkata ingin mencari anaknya yang hilang maka suami isteri itu sudah berangkat dengan Beng Tan agak terhuyung sedikit jalannya, betapapun belum sembuh luka-lukanya.

"Harap pangcu hati-hati. Maafkan kami hanya dapat mengantar sampai di luar telaga."

"Tak apa, inipun cukup, Ki Bi. Pulanglah, dan urus pekerjaan sehari-hari seperti biasa."

Dan begitu Beng Tan bergerak dan menyambar isterinya, berkelebat, maka Ki Bi dan anak-anak murid yang lain terpaku dan sejenak tak mampu berkata-kata. Mereka tahu kesedihan dan wajah murung ketuanya itu. Mereka tahu akan kekecewaan dan perasaan yang bergolak di hati ketuanya itu. Tapi begitu sang ketua lenyap dan Ki Bi bersama anak murid kembali maka Swi Cu di sana bertanya kepada suaminya ke mana suaminya itu menuju.

"Tak ada lain, kita cari di kota raja. Sekalian melihat atau mendengar sepak terjang Giam Liong!"

"Ke kota raja? Mencari... mencari Kedok Hitam itu?"

"Bukan dia, isteriku. Tapi barangkali melalui dia kita dapat menemukan anak kandung kita itu. Marilah!" dan ketika Beng Tan mempercepat langkahnya dan sang isteri tertegun, pucat, maka mereka sudah terbang dan keluar masuk hutan, menyelinap atau melompati jurang-jurang curam untuk akhirnya bergerak seperti siluman.

Dilihat sepintas, jago pedang ini seolah sembuh betul, tak ada yang tahu bahwa beberapa kali dia menahan sakit kalau terpaksa mengeluarkan tenaga berlebihan, mendaki atau berlari kelewat cepat umpamanya. Dan ketika suami isteri itu bergerak dan terbang menuju utara, ke kota raja, maka Giam Liong dan ibunya mungkin sudah membuat gempar di istana!

* * * * * * *

Marilah kita tengok dahulu suatu tempat di Laut Selatan (Lam-hai). Kita tinggalkan dahulu masalah Giam Liong maupun Beng Tan dan isterinya itu. Mari kita kunjungi suatu ceruk atau guha-guha di bawah dinding terjal Laut Selatan. Jauh di sini, jauh dari keramaian dunia tampak sederetan guha-guha yang angker dan gelap di bawah dinding terjal pantai selatan. Dilihat dari atas tak akan ada yang tahu bahwa banyak terdapat sekumpulan guha di situ.

Hanya kalau orang turun dan berani merayap ke bawah, dari ketinggian beratus-ratus meter orang akan tahu adanya deretan guha-guha hitam ini. Tak ada jalan masuk ke situ kecuali melalui dinding terjal itu, dinding yang bahkan berlumut dan tampaknya tak pernah dijarah manusia. Dan karena sederetan guha-guha hitam ini kelihatan sunyi dan angker, hanya burung atau walet yang beterbangan saja yang rupanya tahu maka pantas kalau orang menyebut tempat ini sebagai Guha Siluman.

Tak ada gerakan atau kehidupan di situ. Ombak yang menderu dan menghantam dinding karang, berdebur dan merencak-rencak memang tampaknya tak mungkin ditinggali manusia. Tempat itu pantas disebut sebagai tempat siluman karena agaknya hanya mahluk-mahluk halus atau siluman sajalah yang dapat tinggal di situ. Guha-guha hitam yang gelap dan berderet berjajar-jajar tampaknya memang pas untuk tempat tinggal siluman atau mahluk-mahluk halus. Tapi ketika sesosok bayangan putih muncul dan keluar dari salah satu guha-guha itu, guha yang hitam dan gelap maka orang akan tertegun melihat bayangan ini.

Silumankah dia? Hantu yang sedang mencari hawa segar di tempat terbuka? Tampaknya begitu, kalau seorang nelayan atau penakut yang sudah biasa dijejali cerita-cerita menyeramkan. Tapi kalau orang mau melihat dekat dan memberanikan diri untuk melihat ini, tanpa takut atau seram maka justeru orang akan tertegun melihat siapa bayangan putih ini, yang ternyata seorang berwajah tampan dengan baju atau pakaian sederhana, dari bahan blacu yang dijahit tangan, amat bersahaja!

Siapakah dia? Inilah Han Han, putera atau murid Im Yang Cinjin yang sakti! Pagi itu dia muncul untuk mulai berlatih. Kedua jari tangannya digerak-gerakkan ke bawah dan jari-jari yang berkerotok tiba-tiba mengeluarkan dua sinar berbeda. Satu putih sedang yang lain kebiruan. Han Han sedang melemaskan diri dengan pukulan Im-yang-sin-kun (Pukulan Sakti Im Yang). Dan ketika jari-jari tangannya semakin berkerotok dan sinar kebiruan serta putih di kedua lengannya itu semakin terang, melebar dan menyilaukan mata mendadak pemuda ini bergerak dan terjun ke bawah, menyambut debur ombak yang saat itu menghantam dinding karang.

"Haiiiitttt...!" Pekik atau teriakan panjang ini menggetarkan seluruh pantai samodera. Dinding karang serasa berderak dan kedua lengan Han Han menyambar ke bawah, menyambut atau menampar gulungan ombak yang menghajar karang, tingginya hampir serumah. Dan ketika Han Han terjun dan menampar ke bawah, sinar biru dan putih itu bercuitan dahsyat, menggelegar menghantam ombak maka ombak setinggi rumah yang menghajar dinding karang tiba-tiba tertahan dan ambyar berantakan, tertolak balik.

"Byarrr!"

Han Han berjungkir balik turun di tempat yang kosong. Air tak sampai ke sini karena pukulan Han Han tadi menghajar bukit ombak setinggi rumah, meluncur dan turun dengan tenang. Tapi karena ombak yang belakang ganti menyusul dan menyambar lagi, Han Han melejit dan meloncat tinggi ke atas maka pemuda itu kembali menggerakkan kedua tangannya untuk menghantam ombak.

"Byar-byarr!"

Han Han akhirnya berkelebatan. Pemuda ini mulai berlatih karena ombak-ombak yang dihajar terpental balik, tertolak tapi temannya di belakang mendorong dan menyerang lagi. Dinding karang itu memang setiap hari pasti dipukul ombak. Gulungan air yang setinggi bukit atau gunung sudah biasa menghantam dinding-dinding karang ini. Dan karena Han Han harus menahan atau mementalkan mereka, tempat yang diinjak tak boleh basah maka jadilah pemuda itu melengking dan memukul-mukul ke depan, menghalau atau menghajar bukit-bukit ombak yang tampaknya kian ganas saja. Mereka itu rupanya juga marah karena pekerjaan mereka diganggu pemuda ini.

Han Han diserang dan pemuda itu berkelebatan sambil memukul-mukulkan kedua lengannya. Dan ketika sinar biru dan putih berkeredepan menyilaukan mata dan tubuh pemuda itu kini tak menginjak tanah lagi, mendahului dan menghantam bukit ombak maka muncullah sesosok bayangan lain di muka guha, seorang tosu berpakaian putih-putih yang berseri dan tertawa-tawa melihat perbuatan pemuda itu.

"Bagus, hebat dan bagus pukulanmu, Han Han. Tapi sekarang kerahkan tenaga Im-kang dan bekukan bukit ombak itu!"

Han Han menoleh. Dia tidak terkejut mendengar dan melihat seruan kakek ini. Itulah gurunya Im Yang Cinjin atau Yang Im Cinjin, kakek sakti yang sudah muncul melihat latihannya. Dan ketika kakek itu berseru sementara sebuah bukit ombak kembali menyerangnya, menggulung dan hendak membungkus tubuhnya tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan bentakan dahsyat di mana kedua lengannya tiba-tiba memutih berkilauan, bagai salju.

"Klap!" Guntur serasa memekakkan telinga. Ledakan yang amat dahsyat keluar dari tangan pemuda itu, menyambar atau menyambut ombak setinggi bukit ini. Dan ketika hawa dingin menyambar dan ombak yang setinggi bukit itu tertahan, aneh sekali, maka tiba-tiba mereka tidak lagi ambyar melainkan beku seperti bukit es!

"Bagus!" Yang Im Cinjin terkekeh-kekeh. "Lakukan lagi, Han Han. Pukul dan buat yang lain-lain juga begitu!"

Han Han membentak lagi. Gulungan ombak di belakang bukit es yang sudah dibuat beku itu mengamuk marah. Pemuda itu berkelebat dan kembali dua sinar putih meluncur dari tangannya. Hawa dingin membekukan tulang menyambut atau menghantam gulungan ombak itu, ombak yang lain. Dan ketika ledakan dahsyat memekakkan tempat itu dan sinar putih bertemu ombak setinggi gunung maka ombak inipun beku dan "berdiri" seperti bukit es.

Han Han berkelebatan dan menerima lagi ombak-ombak yang lain, membentak dan mengeluarkan pukulan Im-nya yang dahsyat itu. Dan ketika gunung-gunung atau bukit es muncul lagi di sana-sini, susul-menyusul maka cepat dan luar biasa Han Han telah mencipta puluhan ombak-ombak Laut Selatan menjadi gunung atau bukit es yang baru!

"Ha-ha, bagus. Luar biasa sekali. Buatlah seratus gunung di sekitar tempat ini, muridku. Bentengi dinding karang ini dengan gunung-gunung es!"

Han Han tak berhenti dan terus bergerak. Pemuda itu menyambar atau berkelebatan dari satu gunung es ke gunung es yang lain, menghantam atau menyambut ombak-ombak setinggi bukit untuk dibekukan. Dan ketika tak lama kemudian seratus gunung telah dibuat dan tempat itu penuh dengan bukit-bukit beku, Han Han telah merobah air menjadi batu maka Yang Im Cinjin tertawa bergelak melihat kehebatan muridnya, yang kini berhenti dan berdiri gagah di sebuah bukit es bagai seekor rajawali sakti!

"Luar biasa!" kakek itu berseru. "Kepandaianku benar-benar telah kau warisi dengan baik, Han Han. Tapi coba cairkan bukit-bukit itu dan kembalikan mereka kepada asalnya!"

"Baik," Han Han berkelebat turun, kedua lengannya tiba-tiba berkerotok dan berobah merah marong, bagai api. "Aku akan mengeluarkan tenaga Yang (panas), suhu. Dan coba lihat apakah inipun sudah sempurna.... blarr!"

Pemuda itu membalik dan menghantam bukit di depannya, air samodera yang beku. Dan begitu sinar merah menyambar dan mengeluarkan ledakan dahsyat, bagai petir, maka tiba-tiba bukit es itu ambyar dan rontok berguguran. Selanjutnya Han Han berkelebatan lagi dan menyambar-nyambarlah pemuda itu dari satu gunung es ke gunung yang lain, menghantam atau menyentuhkan kedua lengannya yang merah marong itu kepada bukit-bukit ciptaan. Dan ketika bukit-bukit itu berguguran dan air yang beku mencair lagi, samodera kembali bergolak maka bukit-bukit itu lenyap dan Han Han beterbangan di atas permukaan Laut Selatan.

"Ha-ha, menakjubkan dan luar biasa!" Yang Im Cinjin memuji dan bertepuk tangan. "Pukulan panasmu pun sudah nyaris menyamai aku, Han Han. Ah, luar biasa dan menakjubkan!" dan ketika debur atau hantaman ombak kembali terdengar, Han Han telah memecahkan gunung-gunung es itu maka pemuda ini bergerak naik turun di antara bukit-bukit ombak yang menyerangnya. Laut Selatan kembali bergolak setelah tadi sejenak didiamkan pemuda ini.

Han Han telah "menjinakkan" mereka dengan merobahnya sebagai bukit-bukit es. Itulah pukulan Im-kang atau Dingin yang luar biasa, kini menunjukkan pukulan Yang-kang atau Panas yang tak kalah hebatnya pula. Dan ketika Laut Selatan mengamuk namun Han Han berseliweran naik turun maka Yang Im Cinjin berkelebat dan turun tangan menghadapi muridnya sendiri.

"Bagus, sekarang pinto (aku) yang maju. Awas, tahan pukulan!"

Han Han terkejut. Gurunya menyambar bagai siluman dan tahu-tahu sudah bergerak di atas lautan pula, tidak menginjak air me lainkan beterbangan seperti bersayap, menyerang dan menyambarnya bagai garuda mematuk-matuk. Gurunya itu telah mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi di mana dengan beterbangan seperti burung gurunya itu telah melakukan tamparan-tamparan dahsyat. Dingin dan Panas silih berganti hingga ombak lautpun sering berubah-ubah, sebentar beku sebentar cair! Dan ketika Han Han terkejut tapi tentu saja girang, mengelak dan menangkis maka guru dan murid sudah bertanding di atas lautan.

"Ha-ha, bagus, Han Han. Balas pinto dan coba terima ini.... dess!"

Han Han berjungkir balik, gurunya melakukan dorongan dahsyat dan dia menerima, jatuh tapi menahan dengan pukulan dingin pula. Dan ketika gurunya terdorong tapi dia terpental, ombak membeku dan dijadikan tempat berpijak maka Yang Im Cinjin sudah merobah pukulannya dan menyerang kembali.

"Yang ini..... blarr!"

Han Han dipaksa bergerak cepat, membentak dan menangkis pukulan gurunya itu dan ledakan bagai halilintar memecahkan anak telinga. Yang Im Cinjin sudah bergerak dan menyerang lagi, cepat dan bertubi-tubi dan dentuman atau suara menggelegar silih berganti pula mengisi hiruk-pikuk Laut Selatan. Dan ketika dua bayangan putih saling sambar dan masing-masing saling desak atau dorong maka tampaklah bahwa Han Han mampu mengimbangi gurunya, meskipun tak mampu mendesak karena gurunya juga mampu bertahan!

"Bagus.... bagus...!" gurunya terkekeh-kekeh. "Cepat dan luar biasa sekali kemajuanmu, Han Han. Ah, pinto sekarang mulai lelah.... des-dess!" sang tosu tampak terdorong, kalah muda dan kalah usia tapi tiba-tiba dia membalas dengan sebuah sapuan kaki.

Han Han tak menduga dan roboh terlempar. Dan ketika mereka kembali bertanding dan Yang Im Cin jin berseri-seri, tertawa dan memuji-muji muridnya maka tak terasa tiga jam lebih mereka bertanding, sang tosu sudah mandi keringat.

"Cukup!" akhirnya seruan itu menghentikan keduanya. "Pinto sudah puas melihat kemajuanmu, Han Han. Kepandaianmu sudah benar-benar menyamai pinto!"

Dan ketika tosu itu berjungkir balik dan hinggap di guha-guha hitam, mengebut dan mengusap tubuhnya yang mandi keringat maka Han Han juga meloncat berjungkir balik dan berdiri gagah di batu karang di atas gurunya, mandi peluh dan merasa gembira tapi tak selelah gurunya...

Naga Pembunuh Jilid 12

NAGA PEMBUNUH
JILID 12
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"HATI-HATl, lawanmu akan membunuhmu, Liong-ji. Kalau kau sampai tewas maka aku juga akan mengadu jiwa dengannya!"

"Tenanglah," Giam Liong mendorong ibunya, lembut dan mengeraskan hati. "Ayah hendak bertanding mati-matian, ibu. Kalau dia menghalangi niatku dan ingin membunuhku boleh dia coba tapi aku pasti akan bertahan sekuat tenaga. Lebih baik mati di sini daripada gagal menuntut pembunuh ayahku!"

"Baik, hati-hati, anakku. Ibu siap di sampingmu dan akan membelamu dengan tetesan darah terakhir pula!"

Giam Liong terharu. Sikap dan kata-kata ibunya ini membangkitkan semangat dan ketetapan hatinya. Sudah bulat tekadnya untuk menandingi bekas ayahnya itu, bukan lagi dengan tangan kosong melainkan dengan senjata. Senjata bukan sembarang senjata melainkan senjata-senjata ampuh yang tajamnya menggiriskan. Golok Maut maupun Pedang Matahari sama-sama tajam luar biasa, masing-masing pernah diadu dan tak ada yang rusak ataupun patah.

Dulu mendiang Golok Maut Sin Hauw sudah pernah mengadu jiwa dengan ketua Hek-yan-pang ini. Dan ketika kini masing-masing berhadapan kembali tapi Golok Maut dipegang Giam Liong, keturunan Sin Hauw maka Beng Tan yang sudah bersiap dan berkilat memandang bekas puteranya itu segera membentuk pembukaan gaya serangan dengan mengangkat pedang di atas kening.

"Majulah," tantangan itu mengobarkan api. "Mati dan serahkan jiwamu kepadaku Giam Liong. Daripada membiarkan ancaman bahaya mengguncang dunia kang-ouw lebih baik kau binasa ditanganku!"

"Silahkan ayah yang mulai," Giam Liong merunduk, golok di tangan bergetar penuh hawa dingin. "Mati di tangan-mupun tak apa, ayah. Hitung-hitung pembalas budi yang pernah kau limpahkan!"

"Hm, tak ada budi atau hutang kebaikan. Ibumu telah memberi tahu bahwa semuanya itu impas!"

"Baik, majulah, ayah. Aku bertahan!" dan ketika Giam Liong menggoyang golok dan mengobat-abitkannya dua kali, gagang golok dipegang seperti gagang pedang maka Beng Tan menggeram melihat pemuda itu siap dengan jurus pembukaan Pek-jit Kiam-sut pula, Silat Pedang Matahari.

"Kau tak memiliki pembukaan lain? Kau ingin mengeluarkan kepandaian yang pernah kau pelajari dari aku?"

"Kelak tak akan kugunakan lagi, ayah, bila aku telah mewarisi ilmu silat golok dari mendiang orang tuaku laki-laki. Majulah, cukup kita bicara!"

Beng Tan membentak. Tubuh pendekar itu sekonyong-konyong berkelebat dan Pedang Matahari bergerak menyilaukan mata. Sinar putih berkeredep dan bagai harimau kelaparan, ketua Hek-yan-pang ini menerkam korbannya. Pedang menyambar dan tahu-tahu lurus menusuk tenggorokan, cepat dan luar biasa dan tahu-tahu pedang sudah menyentuh kulit!

Wi Hong berteriak melihat kecepatan pedang itu, kaget karena puteranya tak kelihatan menghindar, entah tak sempat atau memang sengaja menunggu. Tapi ketika dari sebelah kiri terdengar dengungan dan Golok Maut berkelebat menyilaukan mata, tak kalah dengan Pedang Matahari di tangan Beng Tan maka terdengar benturan nyaring disusul muncratnya bunga-bunga api ke udara.

"Cranggg...!"

Luar biasa dan hebat sekali adu senjata itu. Giam Liong dengan cepat dan amat mengagumkan tahu-tahu menangkis serangan ayahnya, cepat bagai kilat karena pemuda itu melakukan gerak yang disebut Matahari Menyambar Bianglala, tepat dan cepat membentur pedang ayahnya dan kedua-duanyapun terhuyung mundur.

Dan ketika Wi Hong menyumpal telinganya karena benturan itu amat nyaring, memekakkan telinga, maka Beng Tan berkelebat lagi dan membentak untuk menusuk atau membacok lawannya itu, cepat dan ganas dan segera Pedang Matahari bercuitan mencari darah. Lengah sekejap tentu lawannya terluka.

Tapi karena Giam Liong juga bergerak dan mengikuti bayangan ayahnya itu, yang naik turun dan bergulung-gulung untuk akhirnya lenyap berkelebatan mengandalkan ginkangnya maka pemuda inipun berseru nyaring dan mengimbangi gerakan sang ayah.

"Cring-crangg!"

Bunga api kembali berpijar. Golok dan pedang akhirnya sering bertemu karena keduanya adu cepat. Tusuk-menusuk dan bacok-membacok silih berganti hingga benturan-benturan kian nyaring memekakkan telinga. Lelatu bunga api juga memuncrat kian lebar hingga Wi Hong dan lain-lain harus menyingkir, dua orang itu sudah berkelebatan merupakan bayangan biru dan hitam. Dan ketika pertandingan meningkat cepat hingga tubuh keduanya tak nampak lagi, masing-masing saling belit dan gubat maka Wi Hong maupun Swi Cu tak dapat membedakan lagi mana pemuda itu dan mana Beng Tan.

"Hati-hati!" Wi Hong berseru memberi semangat. "Jangan lengah dan waspadalah, Liong-ji. Sekali kau mati ibumu pun menyusul!"

Giam Liong terbakar. Dia sudah mainkan Silat Pedang Matahari tapi bersenjatakan golok. Kitab-kitab ayahnya telah diberikan kepadanya namun belum sempat dipelajari. Dia sudah membaca selembar dua lembar namun itu tak cukup untuk menandingi ayah angkatnya ini. Pek-jit Kiam-sut yang dimainkan ayahnya harus diimbangi dengan Pek-jit Kiam-sut pula, meskipun dia bersenjata golok, bukan pedang. Dan karena golok di tangan lama-lama terasa biasa seperti mencekal pedang, Giam Liong mulai mengingat-ingat gambar atau jurus-jurus dari warisan kitab ayahnya maka aneh sekali tiba-tiba Pek-jit Kiam-sut yang dimainkan sudah bercampur dengan Im-kan To-hoat (Silat Golok Dari Akherat), meskipun masih sedikit-sedikit.

"Cring-crangg!"

Beng Tan terkejut. Pedangnya terpental dan ada semacam tenaga tolak besar dari golok Giam Liong. Pemuda itu menggetarkan golok dan meliuk-liukkannya dua kali, gaya atau serangan itu bukan dari jurus-jurus Pek-jit Kiam-sut dan Beng Tan tertegun. Tapi ketika dia menyerang lagi dan lawannya itu memainkan jurus-jurus aneh, setengah golok setengah pedang, maka sadarlah Beng Tan bahwa bekas puteranya itu sedang berlatih atau mencipta ilmu baru!

"Keparat!" Beng Tan melengking menggetarkan anak-anak murid di situ. "Mampus dan robohlah, Giam Liong. Terima pedang ini....singgg!" dan sebuah jurus dari silat Pedang Matahari yang disebut Toan-giok-hun-kim (Potong Kemala Patahkan Emas) tiba-tiba menyambar dan membabat Giam Liong dari atas ke bawah, ditekuk setengah jalan dan tiba-tiba mencuat dari bawah ke atas. Hebat dan ganasnya bukan main.

Giam Liong sampai terkejut. Namun karena pemuda itu mengenal jurus ini karena diapun juga mempelajari Silat Pedang Matahari maka dengan sedikit melempar pinggang ke kiri dan golok menyendok dari bawah tiba-tiba dia sudah menangkis sekaligus mematahkan gerakan pedang yang mencuat berbahaya.

"Cranggg!"

Beng Tan bengong. Dia melihat gerakan luar biasa tadi dan gerak "menyendok" yang diperlihatkan Giam Liong sungguh belum pernah dilihatnya dimainkan jago-jago pedang ataupun golok. Senjata di tangan Giam Liong akhirnya bergerak-gerak luar biasa dengan cara seperti menyendok atau menyapu, bahkan, juga mengiris atau mengedut. Dan ketika golok di tangan pemuda itu juga bergerak datar atau lurus seperti orang menyisir, Beng Tan kaget karena semua gerakan itu membuat dia bingung dan kacau maka tiba-tiba saja Pek-jit Kiam-sut yang dimainkannya pecah dan berantakan.

"Aiihhhh....!" Beng Tan tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Pendekar itu mengeluarkan suara panjang di samping untuk menunjukkan kekagetannya juga menunjukkan rasa penasarannya yang hebat. Pedang di tangannya "mati" di tengah jalan karena sering dicegat atau didahului gerakan-gerakan aneh yang diperlihatkan Giam Liong itu.

Pemuda itu kiranya sedang mengembangkan silat pedang dan golok dengan gabungan dari Pek-jit Kiam-sut serta sedikit ingatan tentang warisan mendiang ayahnya, Silat Golok Maut itu. Dan ketika semuanya ini membuat gerakan golok melengkung atau lurus, mengedut atau menyisir maka Beng Tan yang baru pertama kali ini seumur hidup menghadapi silat yang aneh akhirnya keteter dan terdesak, gulungan pedangnya menciut ditekan oleh gerakan-gerakan golok yang melengkung lebar!

"Keparat!" pendekar itu hampir berteriak. "Kau lihai dan luar biasa, Giam Liong. Tapi akupun juga mempunyai simpanan yang belum kukeluarkan!" dan ketua Hek-yan-pang ini yang membentak serta menerjang lagi lalu berusaha membobol lengkungan sinar golok.

"rang-cring-crang-cring" namun Giam Liong yang mulai menemukan "resep" baru untuk menundukkan Pek-jit Kiam-sut ternyata encer otaknya. Dengan jurus-jurus yang sama atau kadang tidak, merobah-robah gerakan hingga ayahnya bingung pemuda ini tetap menggencet gulungan pedang ayahnya. Golok masih tetap menyambar-nyambar dan gerakan menyisir atau menyendok itu kini bahkan bertambah lagi dengan gerakan menggarpu, yakni mencocoh-cocohkan golok seperti garpu mencocoh segumpal daging.

Beng Tan menjadi kacau dan akhirnya berteriak, pelipis kirinya berdarah, kena! Dan ketika pendekar itu terkejut tapi Giam Liong juga tertegun, serangannya berhasil maka Beng Tan tiba-tiba melengking dan dengan satu jurus Pek-jit-pek-cing (Pedang Matahari Mencabut Nyawa) yang merupakan serangan adu jiwa tiba-tiba pendekar itu menubruk dan pedang di tangan kanannya menusuk tenggorokan sementara tangan kiri tiba-tiba bergerak dan menghantam dengan pukulan Pek-lui-ciang, Pukulan Petir.

"Ayah...!" Giam Liong tak sempat lagi mengeluarkan seruan. Pekik kagetnya tadi sudah tak diperdulikan dan bekas ayahnya itu menerjang dengan amat hebatnya. Pedang menyambar tenggorokannya sementara pukulan tangan kiri menghantam dengan Pek-lui-ciang, hebatnya bukan ulah-ulah dan inilah serangan maut yang sifatnya mengadu jiwa.

Beng Tan tak perduli lagi karena pendekar itu penasaran dan bingung oleh ilmu silat Giam Liong, paduan antara silat pedang dan silat golok. Dan ketika pekikan itu dikeluarkan tapi Giam Liong tak sempat menghindar, semuanya berlangsung cepat dan kilat maka Wi Hong yang terbelalak dan menyaksikan pertandingan itu juga mengeluarkan teriakan kaget tapi Giam Liong sudah menancapkan kedua kaki kokoh di tanah sementara goloknya berkelebat menyambut pedang lawan, tangan kiri juga bergerak dan apa boleh buat menangkis dengan pukulan Petir pula.

"Crang-dess!"

Wi Hong dan Swi Cu terpelanting. Benturan pedang dengan golok luar biasa nyaring hingga dua wanita itu silau. Sedetik mereka kehilangan pandangan karena bunga api yang muncrat ke udara demikian banyaknya. Pijarannya memancarkan hawa panas hingga sejenak mata terasa buta. Demikiansilau dan terangnya pijaran bunga api itu. Tapi ketika benturan Pek-lui-ciang mengeluarkan suara dahsyat dan bumi seolah diguncang datangnya gajah, berderak dan menggelegar dengan amat dahsyatnya maka dua orang wanita itu terpelanting dan sama-sama berteriak keras.

Sisa anak murid yang menonton juga tak ada yang tahan dan benturan atau dentuman itu membuat mereka menjerit, roboh dan pingsan. Dan ketika semua berteriak karena klimaks dari pertandingan itu memang amat luar biasa, Beng Tan melakukan serangan mengadu jiwa maka golok dan pedang yang bertemu di udara tiba-tiba melekat sementara Giam Liong dengan bekas ayahnya telah melesak kedua kaki mereka dalam mengadu Pukulan Petir tadi!

"Bless!" ayah dan anak sama-sama terbelalak lebar. Pukulan Beng Tan telah diterima dan keduanya kini saling bertempelan lengan, senjata mereka juga saling melekat dan tampaklah adu tenaga yang menegangkan di sini. Giam Liong mengeluh karena pukulan ayahnya kuat luar biasa, dikerahkan sepenuh tenaga dan apa boleh buat dia juga harus mengerahkan segenap tenaganya. Dan ketika dari dua lengan mereka mengepul uap merah dan putih yang berbaur menjadi satu, masing-masing bertahan dan mendesak yang lain maka terdengar letupan-letupan ketika dua senjata itu mencoba menindih yang lain, Golok Maut dan Pedang Matahari tiba-tiba saling hisap dan tarik-menarik!

"Aahh!"

"Ohh!"

Dua-duanya tegang. Masing-masing bersitegang karena ketika pedang dan golok saling tarik-menarik tiba-tiba keduanya juga menjadi bingung. Mereka tadi saling mendorong tapi kini malah harus menjaga senjata masing-masing. Golok Maut dan Pedang Matahari berkutat sama kuat, pemiliknya merasa tenaga hisap yang amat luar biasa hingga dipaksa mengeluarkan tenaga ekstra, jangan sampai terebut yang lain. Dan karena tangan kiri mereka masih saling dorong-mendorong dengan tangan kiri lawan, dalam pengerahan tenaga Pek-lui-kang, maka wajah mereka tiba-tiba sama terbakar dan merah seperti dimasukkan tungku api!

"Ayah, aku tak dapat membunuhmu. Kau kendorkanlah tenagamu!"

"Tidak, kau atau aku yang mati, Giam Liong. Aku bukan menghadapimu sebagai bekas puteraku melainkan seolah dengan mendiang ayahmu sendiri. Kau Si Golok Maut!"

"Tapi... tapi aku tak ingin seperti ini. Kau sudah terluka!"

"Hm, luka di pelipis tak sepedih luka di hatiku, Giam Liong. Kalau kau mau menarik niatmu untuk membalas dendam, maka aku akan mengurangi tenagaku. Katakan, mau atau tidak!"

"Ah, kau mau mengurungkan niatku? Tidak, aku telah bersumpah, ayah. Daripada membatalkan mencari si pembunuh itu lebih baik aku mati!" dan ketika Giam Liong membentak dan merasakan desakan ayahnya, Beng Tan menambah dan mencuri kesempatan itu untuk mendesak lawan maka Giam Liong yang terdorong dan miring ke belakang tiba-tiba mengempos semangat dan menambah tenaganya cepat-cepat karena ayahnya sudah hampir mendesak.

Percakapan yang mereka pergunakan tadi sudah mengurangi sedikit tenaga pemuda ini. Maka begitu dia membentak dan marah memandang ayahnya maka Beng Tan menghadapi perlawanan tangguh lagi di mana desakannya tertahan dan pendekar itu tiba-tiba merasa dorongan yang amat kuat dilancarkan puteranya itu.

"Robohlah!"

Namun Giam Liong tak bergeming. Ayahnya membentak dan marah namun terkejut karena tangan kiri tiba-tiba serasa menembus sesuatu yang dingin. Pek-lui-kang yang sama-sama mereka keluarkan tiba-tiba diganti oleh Giam Liong, bukan lagi tenaga panas melainkan dingin dan mulailah Giam Liong mengeluarkan hawa sakti dari pelajaran kitab kecil. Im-kang atau tenaga Dingin dikerahkan dan hawa panas dari ayahnya diredam, mencair dan tiba-tiba membeku dan Beng Tan tersentak karena tangan kirinya mendadak kaku, menggigil. Dan ketika pendekar itu ingin menambah tenaga namun habis, seluruh kekuatan sudah dikerahkan maka hawa dingin menembus dan mulai menyusupi seluruh tubuhnya, hingga tulang-tulangnya berkerotok!

"Kau.... kau sudah mahir ilmu ayahmu, Giam Liong. Kau hebat dan mengagumkan sekali!"

"Maaf," Giam Liong tak berani banyak menjawab. "Kaupun hebat, ayah. Tapi aku harus mengalahkanmu!" dan ketika tenaga dingin dirobah lagi menjadi panas, sang ayah belum sempat memperbaiki diri maka Beng Tan berteriak karena tubuhnya tiba-tiba serasa terbakar, disentak dan mendelik dan tiba-tiba hawa panas itu berobah lagi menjadi dingin, begitu berturut-turut.

Dan karena pendekar ini hanya memiliki tenaga Pek-lui-ciang karena Ang-in-kang masih di bawah Pek-lui-ciang, maka begitu dirobah-robah tiba-tiba wajah pendekar itu menjadi pucat dan merah berganti-ganti, bertahan namun pedang ditangan kanan pun mendadak juga diserang hawa sakti Im-kang (Dingin) itu, ditahan namun Giam Liong sudah menggantinya dengan tenaga Yang-kang (Panas). Dan ketika pendekar itu terkejut karena dua hawa sakti menggencet berganti-ganti maka tubuh tertunduK dan.... pendekar itu muntah darah.

"Huak!"

Pedang di tanganpun tak dapat ditahan. Beng Tan melesak semakin dalam dan Golok Maut tiba-tiba menghisap dan menarik lepas Pedang Mataharinya. Sang jago tua tak dapat mempertahankan diri dan roboh terduduk, mukanya pucat pasi. Dan ketika darah kembali terlontar karena Beng Tan tetap bertahan dan tak mau menyerah, ingin binasa dalam pukulan terakhir maka Swi Cu menjerit dan berkelebat menghantam Giam Liong.

"Jangan bunuh suamiku!"

Giam Liong terkejut. Saat itu dia harus menekan ayah angkatnya ini karena meskipun jatuh terduduk ayahnya itu masih melakukan perlawanan kuat. Sekali dia mengurangi tenaga tentu pukulan ayahnya akan menghantam, berikut pukulannya sendiri yang membalik. Maka ketika Swi Cu tiba-tiba menyerang sementara semua perhatiannya terpusat ke depan, bagian belakang tentu saja tak dijaga maka Swi Cu menghantamnya telak tapi pukulan itu justeru menambah kekuatannya untuk menghantam suaminya juga.

"Jangan...!"

Seruan itu terlambat. Beng Tan terbelalak melihat perbuatan isterinya itu. Dikira menolong tak tahunya malah mencelakakan dirinya sendiri. Dan ketika pukulan mendarat dan Giam Liong tersuruk, punggung dan sebagian pundaknya terpukul berat maka Beng Tan seketika roboh tapi Swi Cu sendiri juga terlempar karena tenaga sakti lawannya bergerak dan menjaga tuannya.

"Bress!" Nyonya itu jatuh pingsan. Swi Cu tak tahu bahwa perbuatannya betul-betul berbahaya. Giam Liong sebagai penerima pukulan justeru akan menyalurkan pukulan itu kepada Beng Tan, meskipun Giam Liong juga menderita karena pemuda itu melontakkan darah segar, terluka dan tak kuat juga karena betapapun segenap sin-kangnya sedang dipakai untuk menghadapi ayah angkatnya. Maka begitu ayahnya roboh dan Giam Liong juga ambruk kedepan, menimpa tubuh ayahnya maka golok di tangan terlepas dan dua senjata tajam itu jatuh berkerontang dalam posisi masih saling hisap!

"Keparat!" Wi Hong berteriak dan gusar. Wanita itu tak menyangka tindakan Swi Cu. Dia sendiri sedang mengamati jalannya pertandingan dengan jantung berdebar, mula-mula pucat dan khawatir karena dua orang itu sama kuat, bahkan, puteranya tampak terdesak tapi segera dapat memperbaiki diri lagi. Dan ketika puteranya balas mendesak dan Beng Tan pucat pasi, tak kuat bertahan, maka Wi Hong berseri-seri karena segera melihat bahwa pertandingan itu akan segera dimenangkan puteranya, meskipun lama.

Sedikit tetapi pasti puteranya di atas angin, apalagi setelah uap putih dan dingin menyelimuti wajah puteranya itu, bergeser dan membungkus pula tubuh Beng Tan. Dan ketika benar saja pendekar itu terduduk namun alot melakukan perlawanan, Wi Hong marah dan gemas melihat itu maka wanita ini kaget ketika Swi Cu tiba-tiba berteriak dan menyerang puteranya. Dalam keadaan seperti itu sesungguhnya amatlah berbahaya bila puteranya dibokong. Wi Hong tak menyangka bahwa Swi Cu akan melakukan itu. Dan ketika puteranya melontarkan darah dan jatuh menimpa ayah angkatnya, Wi Hong berkelebat dan berteriak gelisah maka wanita itu sudah menarik puteranya dan Ki Bi serta anak-anak murid yang lain guncang menolong Swi Cu dan Beng Tan.

"Keparat, jahanam terkutuk!" Wi Hong menyambar dan menolong puteranya itu. Giam Liong roboh lemas namun tidak pingsan, lain dengan Beng Tan yang terluka berat oleh pukulan dalam. Dan ketika wanita itu menotok dan memeluk puteranya, menangis dan bagaimana keadaan pemuda itu maka Giam Liong minta dibantu duduk untuk menolong dirinya.

"Aku tak apa-apa, ibu tak usah khawatir. Tapi.. tapi tolonglah ayah dan juga ibu Swi Cu."

"Apa? Kau minta aku menolong mereka itu? Bedebah, justeru aku akan membunuhnya, Liong-ji, terutama Swi Cu. Dia berbuat curang dan akan membunuhmu!" tapi ketika wanita itu bergerak dan akan meninggalkan Giam Liong, yang menyambar dan mencekal lengan ibunya maka Giam Liong menggigil berkata pada ibunya itu.

"Ibu tak perlu mengingat ini. Itu adalah bukti kecintaan ibu Swi Cu kepada suaminya. Pukulannya tak apa-apa bagiku, ibu, tenaga sinkangnya tak sekuat sin-kangku. Kau tolonglah dia atau ayah, aku akan menyembuhkan diriku dulu. Kalau ibu sampai membunuh mereka maka aku tak akan mau lagi bersamamu!"

"Giam Liong!"

Namun pemuda itu sudah memejamkan mata. Wi Hong terbelalak dan terhenyak mendengar kata-kata puteranya ini. Kalau saja dia tak diancam begitu barang-kali dia akan menghajar Swi Cu, bahkan, mungkin membunuhnya. Tapi ketika Giam Liong berkata bahwa pemuda itu tak akan mau bersamanya, kalau ibunya membunuh maka Wi Hong tertegun tapi akhirnya membanting kaki dengan marah.

"Baiklah, aku tak akan membunuh mereka, Liong-ji. Tapi aku juga tak mau menolong!" dan duduk menemani puteranya, yang bersila dan memejamkan mata. Wi Hong sudah menyambar atau memungut dua senjata ampuh di tanah itu. Golok Maut dan Pedang Matahari masih saling tempel dengan lekat, ditarik namun Wi Hong gagal. Terbelalaklah wanita itu karena dua senjata itu seolah suami isteri atau musuh bebuyutan, tak akan meninggalkan yang lain meskipun dibetot dengan keras. Dan ketika dia jengkel dan membanting dua senjata itu, nyaring ke tanah maka tiba-tiba Pedang Matahari dan Golok Maut lepas sendiri.

"Eh, sialan. Ditarik dan dibetot tak mau tiba-tiba dibanting malah mau! Macam apa kalian ini, senjata-senjata sialan? Memangnya minta kupukul-pukul ke tanah?"

Wi Hong menyambar dan memungut lagi dua senjata luar biasa itu. Dari Golok Maut memancar hawa dingin sementara dari Pedang Matahari memancar hawa panas, wanita itu berkerut kening. Tapi ketika tak lama kemudian puteranya membuka mata, selesai, maka Giam Liong bangkit berdiri memandang sekeliling, melihat kerumunan atau anak-anak murid Hek-yan-pang yang menolong ketua dan isterinya.

"Eh, ibu tak menolong mereka?"

"Kau sudah selesai?" sang ibu terbelalak, meloncat bangun, bukannya menjawab melainkan malah bertanya. "Bagus, kalau begitu bawa pedang dan golok ini, Liong-ji. Atau selesaikan musuhmu daripada kelak membuatmu dibuntuti pembalasan!"

Giam Liong tertegun. Bukannya menerima tiba-tiba dia berkelebat dan malah mendekati ayah ibu angkatnya itu. Ki Bi dan lain-lain menolong namun Beng Tan dan isterinya belum juga siuman, terutama Beng Tan, ketua Hek-yan-pang yang pucat dan kebiruan wajahnya itu. Dan ketika Giam Liong bergerak dan mendorong kerumunan orang-orang itu, berlutut, maka pemuda ini sudah memeriksa dan cepat mengeluarkan beberapa pil hijau.

"Berikan ini kepada ibu Swi Cu dan biarkan aku menolong ayahku ini!"

Ki Bi dan murid-murid tertua menyingkir. Tadinya mereka was-was dan khawatir jangan-jangan pemuda itu akan membunuh Beng Tan. Mereka bersiap-siap tapi Giam Liong ternyata benar-benar menolong ayah angkatnya itu, karena bersila dan sudah menyalurkan sinkangnya di punggung sang ayah. Dan ketika pemuda itu meramkan mata dan melakukan pengobatan, Ki Bi lega karena ketua mereka tak diganggu maka Swi Cu ditolong dan sudah dijejali obat pemberian Giam Liong. Dan tak lama kemudian wanita itupun sadar.

Luka yang diderita Swi Cu tak seberat suaminya. Beng Tan mengalami luka dalam parah dan keadaan pendekar itu benar-benar berbahaya. Paling tidak, kalau dia sembuh, mungkin pendekar itu perlu beristirahat setahun, tak mungkin kurang. Tapi begitu Swi Cu sadar dan membuka mata, kerumunan anak-anak murid membuatnya kaget maka nyonya itu teringat dan beringas meloncat bangun.

"Mana bocah setan itu?!"

Ki Bi terkejut. Isteri ketuanya itu membentak dan langsung mendorong mereka, melihat Giam Liong yang sedang bersila menolong ayah angkatnya. Dan ketika wanita itu tertegun namun Swi Cu melengking, marah melihat Giam Liong tiba-tiba dia menerjang dan mencabut pedangnya.

"Bocah siluman, jangan sentuh suamiku!" dan pedang yang bergerak serta menyambar punggung tiba-tiba meluncur bersamaan tubuh wanita itu. Swi Cu mendelik melihat Giam Liong, kemarahannya meledak sampai di ubun-ubun. Tapi ketika wanita itu berkelebat dan pedang menusuk Giam Liong, cepat dan marah maka berkelebat bayangan lain yang langsung menangkis serangannya itu.

"Swi Cu, jangan bermain curang!"

Sang nyonya terkejut. Dari samping menyambar secercah sinar putih yang berhawa dingin, menahan atau menangkis serangan pedangnya itu. Dan ketika terdengar suara nyaring dan pedangnya putus, Swi Cu terkejut dan melempar tubuh bergulingan maka sucinya sudah berdiri di situ dengan Golok Maut di tangan, mata berapi-api.

"Berani kau menyerang puteraku maka kau mampus. Majulah, kalau ingin ku cincang!"

Swi Cu tertegun. Nyonya ini terkejut karena Wi Hong, sucinya itu, sudah menghadang dengan golok di tangan, bukan golok sembarang golok melainkan Golok Maut, senjata yang ampuhnya menggila itu! Namun karena wanita ini bukan penakut dan dibentak atau diancam seperti itu dia menjadi semakin marah maka menyambar dan mencabut pedang seorang anak murid lain tiba-tiba nyonya itu melengking dan berseru keras, menerjang lagi.

"Boleh, mari kita bertanding seribu jurus, suci. Biarpun Golok Maut ada di tangan tapi aku tak gentar...singg-singgg!" dan pedang yang menusuk atau menikam akhirnya sudah berkelebatan menyambar-nyambar lawannya itu, disusul pukulan-pukulan Ang-in-kang dan Wi Hong mendengus melayani sumoinya.

Tapi karena sumoinya mainkan Pek-jit Kiam-sut dan Silat Pedang Matahari itu adalah andalan Beng Tan, si jago pedang, maka Wi Hong sibuk dan berkelebatan pula mengimbangi lawan. Golok Maut mendesing dan membabat namun Swi Cu tak mau beradu keras. Pedang di tangannya jelas akan kalah dan wanita itu mengandalkan kecepatan dan kepandaiannya untuk merobohkan lawan. Dan ketika Wi Hong terkejut karena sumoinya itu bukan lagi sumoinya yang dulu, Swi Cu sekarang adalah Swi Cu seorang isteri jago pedang maka senjata di tangan wanita itu bergerak naik turun dan bergulung-gulung mengelilingi lawan.

Wi Hong mengandalkan keampuhan golok dan ini menyelamatkannya. Swi Cu sering menarik pulang tusukan atau tikamannya yang bertubi-tubi kalau sudah dicegat golok di tangan sucinya. Dan karena masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri maka jadilah pertandingan itu suatu pertandingan yang cepat dan imbang.

Ki Bi dan lain-lain menonton dengan tegang. Sebenarnya, sulit bagi murid tertua Hek-yan-pang ini untuk membantu salah satu pihak. Wi Hong adalah ketua lama sedang Swi Cu adalah isteri ketua baru, di samping sumoi dari ketua lama itu. Dan karena masing-masing merupakan atasannya, atau bekas pimpinan yang tentu saja tetap berpengaruh maka Ki Bi tak berani bergerak dan mungkin akan maju kalau dipaksa. Dan anak-anak murid yang lainpun juga berdiri menjublak. Mereka melihat pertempuran sengit itu di mana pedang di tangan Swi Cu bergulung naik turun namun selalu ditarik pulang kalau berhadapan dengan Golok Maut.

Wi Hong coba membalas namun kepan daian sumoinya itu ternyata lebih tinggi, maklumlah, di samping ilmu-ilmu silat Hek-yan-pang wanita itu juga menerima kepandaian dari suaminya, silat Pedang Matahari atau Pek-jit Kiam-sut. Dan ketika golok berkali-kali mengenai angin kosong karena Swi Cu berkelit atau berjungkir balik tinggi maka Giam Liong yang tidak tahu dan memusatkan perhatiannya untuk menolong sang ayah sudah mencapai titik tingkat yang optimal.

Pemuda itu bercucuran keringatdan mandi peluh. Dia juga merasa lelah setelah pertarungannya yang mati-matian tadi. Ayah angkatnya memang luar biasa dan amat mengagumkan. Tapi ketika setengah dari sin-kang pemuda ini sudah memasuki tubuh ayahnya, wajah yang pucat dan kebiru-biruan itu mulai merah maka setengah jam kemudian Beng Tan sadar dan membuka matanya. Giam Liong merasa gerakan dan membuka mata pula. Dan ketika ayahnya bergerak dan duduk menggigil, terkejut, batuk-batuk, maka pendekar itu melihat Giam Liong yang mandi keringat.

"Kau. kau menolongku?"

Giam Liong mengangguk, tak menjawab. Pemuda itu tersenyum pahit dan sang ayah tertegun. Beng Tan merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit tapi sesak di daerah dada tak lagi mengganggu. Itulah berkat pertolongan anaknya ini, anak atau bekas anak yang tadi bertanding dan hendak dibunuhnya! Dan ketika pendekar itu bangkit dan gemetar, seluruh berkerotok dan Giam Liong juga berdiri maka pendekar itu mencengkeram dan membentak geram.

"Giam Liong, kenapa kau tidak membunuhku? Kenapa kau malah menolong aku?"

"Maaf, aku tak dapat membunuhmu, ayah. Dan akupun menyesal akan ini."

"Tapi aku bukan ayahmu, kau bukan keturunanku!"

"Benar, tapi kau telah mendidik dan membesarkan aku, ayah. Dan aku bukanlah seorang manusia tak tahu budi!"

Dan ketika Beng Tan tertegun dan bersinar-sinar, melihat bahwa pemuda ini bukanlah pemuda kejam maka Giam Liong melepaskan cengkeraman ayah angkatnya itu, menoleh.

"Lihat, ibuku dan ibu Swi Cu bertanding. Aku tak ingin mereka sama-sama terluka. Kalau ayah masih teringat janji aku akan melerainya dan setelah itu pergi. Terserah ayah apakah mau memberi tahu pembunuh ayah kandungku itu atau tidak!"

Beng Tan terkejut. Pemuda itu bergerak dan berkelebat ke tengah-tengah pertempuran. Wi Hong dan Swi Cu sama-sama naik pitam dan masing-masing bertanding semakin sengit saja. Saling maki dan tusuk sudah puluhan kali banyaknya. Tapi ketika Giam Liong bergerak dan membentak dua ibunya, tangan menampar dan mengibas dua senjata itu maka Wi Hong terhuyung sementara Swi Cu mencelat tapi pedang sempat menggores lengan pemuda itu.

"Mundur... cret!"

Swi Cu terlempar bergulingan meloncat bangun. Memang Giam Liong masih belum pulih seluruhnya dan sinkangnyapun tinggal separoh. Separoh yang lain diberikan kepada ayah angkatnya itu dan menangkis pedang Swi Cu dia masih juga tergurat, kekebalannya berkurang. Dan karena Wi Hong menarik goloknya dan sang putera tak sampai terluka, Giam Liong tak perduli kepada itu maka dua wanita ini sudah berhadapan kembali dan Swi Cu melotot, melengking dan siap menerjang lagi.

"Tahan!" pemuda itu berseru. "Kami akan segera meninggalkan tempat ini, ibu. Tak usah saling serang dan bantu suamimu!"

"Aku bukan ibumu!" Swi Cu memekik. "Aku tak punya anak seperti kau, Giam Liong. Kau bunuhpun aku tak apa!"

Namun Beng Tan yang bergerak dan menangkap isterinya, mencegahi dan menggigil menyuruh isterinya bersabar tiba-tiba sudah berdiri di depan isterinya itu. "Dia benar," pendekar ini berkata. "Urusan ini tak perlu diperpanjang, niocu. Aku sudah kalah dan kita harus tahu diri!"

"Bagus!" Wi Hong tertawa, berkelebat dan berdiri pula di depan puteranya. "Kalau begitu sebutkan siapa pembunuh suamiku itu, Beng Tan. Di mana dia berada dan siapa itu si Kedok Hitam!"


"Eh, kau ingkar janji?"

"Aku tidak ingkar, Wi Hong!" Beng Tan membentak. "Tadi sudah kukatakan bahwa aku tak mau menerangkan siapa laki-laki itu. Aku hanya mau menerangkan di mana kira-kira ia berada!"

"Benar," Giam Liong mengangguk, mendahului ibunya. "Inipun cukup, ibu. Kalau ayah tak mau menerangkan siapa dia, tentu ada sesuatu yang menyulitkan ayah bicara. Aku sudah cukup puas kalau mengetahui di mana kira-kira si Kedok Hitam itu berada, asal ayah tidak menghubunginya dan menyuruh dia menyingkir!"

"Aku bukan komplotan!" Beng Tan membentak, marah mendengar kata-kata Giam Liong itu. "Jangan menuduh aku seperti itu, Giam Liong. Aku tak serendah untuk bergaul dengan orang jahat!"

"Bagus, kalau begitu sebutkan di mana dia!" Wi Hong, yang terkekeh dan senang melihat kemarahan lawan tiba-tiba mendahului puteranya, tak mau didahului. "Kami ingin segera mencari dan menangkapnya, Beng Tan. Sebutkan di mana dia dan hati-hati kalau kau bohong!"

"Aku hanya dapat mengira-ngira dia ada di mana, yakni ada di kota raja. Kalau kalian ingin mencari dan mendapatkannya maka temuilah disana."

"Di kota raja? Di bagian mana?" Wi Hong tertegun, menatap sang pendekar dengan pandangan terbelalak, tajam.

"Aku hanya dapat menerangkan begitu saja, tepatnya di istana. Nah, bohong atau tidak terserah kalian. Mudah-mudahan orang yang kalian cari masih tetap ada di sana!" Beng Tan balas memandang, dingin dan tak acuh dan tiba-tiba dia menekan dada yang hendak batuk-batuk. Terlalu banyak bicara membuat pendekar itu tak kuat, maklumlah, luka dalamnya belumlah sembuh dan dia sudah merasa pusing-pusing lagi.

Giam Liong tahu itu dan menarik ibunya. Dan karena keterangan sudah didapat dan si Kedok Hitam ternyata ada di kota raja, di istana, maka Giam Liong membungkuk dan berkata, "Baiklah, terima kasih, ayah. Dan maaf atas semua yang terjadi ini. Aku tak bermaksud untuk menyakiti hatimu."

"Dan kalian tak memberi tahu di mana anak kandungku?" Swi Cu melengking, gusar dan mau maju lagi tapi ditahan suaminya yang batuk-batuk. Swi Cu marah dan terpaksa menahan diri karena suaminya tiba-tiba limbung. Dan ketika Giam Liong tertegun dan mengerutkan kening, tak tahu di mana adanya pemuda itu selain dibawa Yang Im Cinjin tiba-tiba ibunya sudah berseru, terkekeh,

"Swi Cu, tadi sudah dikatakan bahwa pihak yang kalah harus tunduk kepada yang menang. Dan kami tentunya tak perlu memberi tahu di mana anakmu itu. Bukankah kalian kalah dan tak perlu banyak menuntut? Diberi hiduppun kalian masih untung, tak usah bertanya-tanya!"

"Tapi kau sudah mendapatkan anakmu, kau licik!"

"Hm, dan kaupun mendapatkan kedudukan di sini, Swi Cu. Kita sudah adil dengan kejadian ini. Aku dan Giam Liong tak akan mendepak kalian untuk memimpin partai!"

"Aku tak perduli kedudukan. Puteraku jauh lebih berharga daripada kedudukan. Serahkan atau kau mampus!" dan Swi Cu yang menerjang dan melepaskan suaminya tiba-tiba marah besar karena sucinya bicara begitu enak. Darah dagingnya tak dapat ditukar dengan apapun, biarpun kedudukan tinggi. Tapi ketika Wi Hong mengelak dan menangkis, Golok Maut membentur pedang di tangan sumoinya itu maka Swi Cu melempar tubuh bergulingan tapi sudah menyambar pedang yang lain lagi karena pedangnya itu putus. Namun sebelum wanita ini menerjang tiba-tiba Giam Liong berkelebat dan berdiri menghadang.

"Ibu. "

"Aku bukan ibumu!"

"Baiklah, dengar, bibi. Aku tak ingin kalian saling serang lagi untuk urusan ini. Han Han, puteramu, akan kubawa kemari sebagai pengganti dan obat kecewamu. Aku tahu bahwa dia dibawa seseorang dan akan kucari orang itu. Kau tak perlu lagi marah-marah."

"Enak saja kau bicara? Ibumu menukar dan menculik anak harus kudiamkan dan tak boleh marah-marah? Eh, matipun menghadapimu aku tak takut, Giam Liong. Meskipun kau sudah lihai dan pintar sekarang!"

"Tunggu...!" namun Giam Liong yang mengelak dan diserang lawannya tiba-tiba mendengar ibunya terkekeh dan berkelebat, menghadapi Swi Cu.

"Tak usah panjang lebar. Serahkan dia kepadaku, Liong-ji. Dan kau mundurlah!"

Namun Giam Liong yang membentak dan menyambar ibunya tiba-tiba menotok dan merampas Golok Maut, yang hampir saja mengenai leher Swi Cu! "Ibu tak usah ikut campur dan diam sajalah di situ. Biar aku yang membereskan.... dess!"

Dan Wi Hong yang roboh tapi Swi Cu juga mencelat tiba-tiba sudah membuat Giam Liong berdiri dengan muka merah, berhadapan dengan ayah angkatnya yang terbelalak dan mengeluh lemah memanggil-manggil isterinya itu.

"Ayah, apakah bibi tak dapat kau beri tahu? Apakah kau tak dapat membujuknya agar tidak menyerang lagi? Aku berjanji akan mengembalikan dan membawa puteramu kemari, ayah. Dan ini sudah di luar pertaruhan!"

Beng Tan batuk-batuk. Melihat dan mendengar kata-kata Giam Liong memang dia harus meredakan kemarahan isterinya itu. Dia juga tahu bahwa mana mungkin seorang ibu bisa menahan marah diperlakukan seperti itu, anaknya diculik dan kini malah dibawa orang lain pula, orang yang tak mereka ketahui siapa! Namun karena Giam Liong tampil sebagai pemenang dan pihaknya sebagai yang kalah, pendekar itu adalah seorang gagah yang tak mungkin menjilat janji maka dia sudah terbungkuk dan menyambar isterinya itu, mencengkeram.

"Niocu, jangan buat aku malu. Kalau kau ingin menyerangnya lagi lebih baik bunuhlah aku dulu, tikam dadaku ini!" kemudian, ketika isterinya menangis dan gemetar tak berbuat apa-apa pendekar ini menghadapi Giam Liong kembali, berkata, suaranya penuh sesal dan berat, "Lihat, aku sudah mengendalikan isteriku, Giam Liong. Dan kami tak akan menyerangmu lagi. Terima kasih kalau kau berjanji untuk membawa dan mengembalikan puteraku. Tapi bolehkah kutanya berapa lama janji yang kau berikan itu!"

Giam Liong tertegun. "Kira-kira enam bulan," katanya. "Tapi paling lama satu tahun. Bagus, aku lega melihat bibi tak bersikap nekat lagi, ayah. Dan terima kasih pemberitahuanmu tentang musuh besarku itu. Aku akan pergi, dan maaf untuk semua kejadian tak menyenangkan ini!" tapi ketika Giam Liong membalik dan melihat Pedang Matahari, karena pedang itu di tangan ibunya setelah Golok Maut dirampas tiba-tiba pemuda ini tertegun namun cepat melangkah menghampiri ibunya itu, mengulurkan lengan.

"Ibu, pedang ini bukan punya kita. Berikan dan biarkan kita kembalikan kepada ayah!"

Namun sang ibu mengelak, membentak. Dan ketika Giam Liong tertegun melihat ibunya berdiri tegak maka ibunya itu berkata, "Liong-ji, musuh yang kalah adalah taklukan kita. Pedang ini juga menjadi pedang kita, tak usah diserahkan dan biar untukmu!"

"Hm, tidak," sang putera menggeleng, tak dapat menerima permintaan ibunya. "Musuh ini bukan musuh kita, ibu. Jelek-jelek dia adalah ayahku Beng Tan. Tidak, berikan kepadaku dan biar kukembalikan kepada pemiliknya!" dan ketika Giam Liong berkelebat dan menyambar pedang itu, dielak tapi jari sudah menotok pergelangan tangan maka Wi Hong tak dapat mempertahankan miliknya lagi, berteriak dan pedang sudah di tangan anaknya.

"Jangan diberikan!" wanita itu menjerit, marah dan penasaran. "Kalau kau yang kalah tak mungkin Golok Maut tak dirampasnya, Giam Liong. Serahkan kepada ibu dan jangan diberikan kepada musuhmu itu!"

Namun Giam Liong tak perduli. Ibunya bergerak dan hendak merebut lagi namun pemuda ini sudah menotoknya roboh. Apa boleh buat ibunya terpaksa dilumpuhkan. Dan ketika Wi Hong memekik dan marah-marah dengan umpatannya yang pedas maka pemuda itu sudah bergerak ke arah ayah angkatnya dan menyerahkan Pedang Matahari.

"Ini bukan milik kami, kukembalikan kepada ayah. Semoga ayah menerimanya dan sekarang kami pergi!"

Lalu, ketika Beng Tan mendelong dan menerima pedang, perasaannya campur aduk maka Giam Liong memutar tubuhnya dan menyambar ibunya itu. Di situ wanita ini memaki-maki namun Giam Liong tak membebaskan totokannya. Kalau dibebaskan tentu ibunya mengamuk, minimal akan menyerang Beng Tan dan merebut kembali Pedang Matahari itu. Dan ketika pemuda ini melangkah lebar dan meninggalkan orang tua angkatnya, dipandang seluruh anak-anak murid Hek-yan-pang dengan gentar dan kagum maka Giam Liong sudah tiba di tepi pulau dan menendang sepotong papan.

Papan ini terlempar masuk ke telaga, Giam Liong berjungkir balik dan melayang turun di atas papan itu, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi. Dan ketika pemuda itu menggerakkan tangan kiri karena tangan kanan masih dipakai untuk memanggul ibunya, Wi Hong berteriak-teriak tak diperdulikan maka pemuda itu sudah meluncur dan menyeberangi telaga dengan cepat dan luar biasa, seolah berjalan di air!

"Anak yang hebat, pemuda yang mengagumkan!" Beng Tan tak terasa mengeluarkan suara memuji, mengikuti dan membelalakkan mata melihat semua gerak-gerik bekas anak angkatnya itu.

Dan ketika murid-murid yang lain juga mengangguk-angguk dan kagum, mereka memandang dengan sorot mata takjub maka Giam Liong lenyap dan sudah menghilang di seberang sana. Tapi begitu pemuda itu menghilang dan lenyap, tak ada anak-anak murid yang menghalangi tiba-tiba Beng Tan batuk-batuk dan roboh pingsan. Pendekar itu terpukul oleh kenyataan pahit yang harus diterimanya. Dia kalah oleh bekas anak didiknya sendiri, dalam sebuah pertarungan mati hidup. Tapi karena bekas anak didiknya itu adalah keturunan Si Golok Maut, lawan paling lihai sebelum dia berhadapan dengan pemuda itu maka Beng Tan tak kuat dan roboh terguling.

Ada duahal yang menyebabkan pendekar ini begini. Pertama adalah luka dalamnya itu, yang untung cepat-cepat diobati dan ditolong Giam Liong, bekas musuhnya itu. Dan karena dia belum sembuh betul karena pertolongan itu masih harus dilanjutkan dengan pengobatan sendiri, padahal dia terguncang bahwa Giam Liong bukan anak kandungnya maka Beng Tan tak dapat menahan lagi ketika dadanya mendadak sesak. Tadi ketika bicara dan marah-marah kepada Giam Liong dia belum merasakan itu.

Tapi begitu si pemuda lenyap dan meninggalkan pulau mendadak saja dadanya sesak karena kekecewaan dan penyesalan hebat melanda dirinya. Dia telah mewariskan dan menurunkan ilmu-ilmunya kepada keturunan Si Golok Maut. Dan ketika kenyataan itu membuat Beng Tan tak kuat, roboh dan mengeluh maka pendekar ini terguling dan seketika itu pingsan.

Swi Cu menjerit dan memekik menyambar suaminya ini. Tapi ketika melihat wajah yang pucat dan suaminya sukar bernapas, guncangan batin itu mengganggu hebat maka wanita ini melolong dan cepat menolong suaminya itu. Ki Bi dan lain-lain terkejut dan cepat pula bergerak. Mereka membantu dan membawa masuk ketua mereka ini. Dan ketika di kamar Beng Tan mendapat perawatan intensip, Swi Cu dan Ki Bi atau yang lain-lain menyalurkan sinkang dan memberi pertolongan maka Beng Tan sadar tapi wajah pendekar itu masih pucat, gemetar dan menggigil.

"Kalian pergilah, biarkan isteriku sendiri!" Beng Tan mengusir dan menyuruh murid-muridnya keluar. Dia tak enak melihat Ki Bi dan murid-murid wanita yang lain ada di situ, teringat kejadian lama. Dan ketika Ki Bi menyingkir dengan muka merah, diam-diam tertusuk maka Beng Tan bersandar dan minta didudukkan yang tegak. "Aku hanya ingin menerima sinkang darimu. Yang lain, tak usah sajalah!"

"Tapi lukamu berat, suamiku. Semakin banyak sinkang memasuki tubuhmu jadinya tentu semakin baik!"

"Tapi mereka murid-murid wanita semua, mana aku mau? Tidak, hanya kau yang boleh, Cu-moi. Selebihnya, biar di luar dan menjaga!"

Swi Cu menangis. Dia sendiri tak ingat akan itu dan tak apa-apa. Tapi mendengar suaminya bicara seperti ini mendadak saja dia merasa terharu dan memeluk suaminya itu, menciumi. "Baiklah, aku akan membantumu, suamiku. Biarlah kita sama duduk berhadapan tapi sinkangku tentu tak sebanyak seperti yang kau inginkan. Pertolonganku tentu lama!"

"Tak apa. Suruh murid-murid kita mencari ramuan obat dan menggodoknya. Lukaku memang berat, paling tidak enam sampai dua belas bulan baru sembuh betul. Sudahlah, kita mulai, niocu. Aku tak berani banyak bicara... uhh!" dan ketika Beng Tan batuk dan menyeringai kesakitan, Swi Cu menutup mulut dan tak berani bicara lagi maka suami isteri itu sudah bersila dan saling berhadapan.

Swi Cu memberi sinkangnya tapi wanita inipun tak bisa berkonsentrasi baik, sering tersendat-sendat dan macet karena dia menggigit bibir dan menahan tangis. Kemarahan dan sakit hati Swi Cu belum reda. Dia masih membenci dan dendam akan perbuatan sucinya, juga Giam Liong, karena pemuda itu ternyata keturunan Si Golok Maut Sin Hauw, tokoh yang ganas dan dulu pernah membuat Hek-yan-pang diobrak-abrik. Kalau tidak ada suaminya ini barangkali dulu-dulu Hek-yan-pang sudah bubar, barangkali, malah hancur!

Tapi ketika dia menguatkan hati dan sang suami berbisik mengingatkan, bahwa pikiran tak boleh melantur ke mana-mana maka nyonya itu menarik perhatiannya untuk mengobati suami tercinta. Beng Tan menelan obat-obatan pula di samping masuknya sinkang itu.

Anak-anak murid berjaga dan nama Giam Liong tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan dan bisik-bisik yang menarik. Pemuda itu bukan lagi sebagai bekas putera pangcu mereka melainkan memiliki "nilai lebih", yakni sebagai putera atau keturunan Si Golok Maut. Dan karena Golok Maut sudah dikenal namanya dan kegemparan yang dibuatpun juga mengguncang dunia kang-ouw maka diam-diam anak murid Hek-yan-pang mempunyai bayangan ngeri tentang pemuda itu.

Sepak terjang pemuda ini tentu akan lebih hebat daripada ayahnya. Dan mengingat ketua mereka kalah di tangan pemuda itu, yang telah mewarisi pula kitab-kitab mendiang ayah kandungnya, maka murid-murid Hek-yan-pang bergidik dan kagum serta ngeri membayangkan Giam Liong. Ketua mereka terkenal sebagai pendekar kelas wahid, tak ada yang menandingi. Tapi bahwa hari itu dipecundangi dan kalah oleh Giam Liong maka mereka bergidik dan ngeri teringat pemuda ini. Apalagi karena pemuda itu membawa Golok Penghisap Darah, Golok Maut! Dan ketika mereka gentar dan saling berbisik satu sama lain maka Beng Tan yang sudah seminggu mendapat pengobatan tiba-tiba berkata pada isterinya bahwa ingin pergi.

"Apa? Kau gila? Dalam keadaan belum sembuh benar?"

"Hm, aku cukup sehat. Asal tidak bertanding lagi dengan pemuda itu tentu aku kuat untuk bepergian seperti biasa. Kau tinggallah di sini, niocu, aku mau pergi mendinginkan hati, juga untuk sesuatu keperluan."

"Kau mau ke mana? Keperluan apa?"

"Mencari anak kita itu. Aku juga ingin menemukannya sendiri," dan ketika Beng Tan menarik napas dan kelihatan masygul, wajahnya muram maka sang isteri bergerak dan mencengkeram bahunya.

"Aku ikut?" seruan ini mengejutkan suami. "Aku juga tak mau tinggal di sini kalau kau pergi!"

"Ikut? Ah!" Beng Tan melepaskan bahunya, menggeleng. "Jangan, niocu. Kau harus menjaga di sini mewakili aku!"

"Ada Ki Bi di sini!" sang isteri berseru, mengingatkan. "Dan ada adik-adik seperguruannya pula yang dapat mewakili kita. Kalau kau pergi aku juga pergi, tak mau sendiri!"

Beng Tan tertegun. Isterinya sudah berkata lantang dan kalau sudah begitu maka tak mungkin dia mendebat lagi. Semakin didebat tentu isterinya semakin berang, salah-salah mereka bisa saling cek-cok sendiri! Dan ketika Beng Tan mengangguk dan menghela napas, apa boleh buat harus menerima itu maka dia berdiri dan masuk ke kamar.

"Baiklah, kita siapkan buntalan kita. Mari pergi."

Ganti anak-anak murid terkejut. Ki Bi tertegun ketika dipanggil dan mendengar keinginan pangcunya, bengong tapi segera mengangguk menerima perintah. Dan ketika hari itu juga Beng Tan meninggalkan markas, berkata ingin mencari anaknya yang hilang maka suami isteri itu sudah berangkat dengan Beng Tan agak terhuyung sedikit jalannya, betapapun belum sembuh luka-lukanya.

"Harap pangcu hati-hati. Maafkan kami hanya dapat mengantar sampai di luar telaga."

"Tak apa, inipun cukup, Ki Bi. Pulanglah, dan urus pekerjaan sehari-hari seperti biasa."

Dan begitu Beng Tan bergerak dan menyambar isterinya, berkelebat, maka Ki Bi dan anak-anak murid yang lain terpaku dan sejenak tak mampu berkata-kata. Mereka tahu kesedihan dan wajah murung ketuanya itu. Mereka tahu akan kekecewaan dan perasaan yang bergolak di hati ketuanya itu. Tapi begitu sang ketua lenyap dan Ki Bi bersama anak murid kembali maka Swi Cu di sana bertanya kepada suaminya ke mana suaminya itu menuju.

"Tak ada lain, kita cari di kota raja. Sekalian melihat atau mendengar sepak terjang Giam Liong!"

"Ke kota raja? Mencari... mencari Kedok Hitam itu?"

"Bukan dia, isteriku. Tapi barangkali melalui dia kita dapat menemukan anak kandung kita itu. Marilah!" dan ketika Beng Tan mempercepat langkahnya dan sang isteri tertegun, pucat, maka mereka sudah terbang dan keluar masuk hutan, menyelinap atau melompati jurang-jurang curam untuk akhirnya bergerak seperti siluman.

Dilihat sepintas, jago pedang ini seolah sembuh betul, tak ada yang tahu bahwa beberapa kali dia menahan sakit kalau terpaksa mengeluarkan tenaga berlebihan, mendaki atau berlari kelewat cepat umpamanya. Dan ketika suami isteri itu bergerak dan terbang menuju utara, ke kota raja, maka Giam Liong dan ibunya mungkin sudah membuat gempar di istana!

* * * * * * *

Marilah kita tengok dahulu suatu tempat di Laut Selatan (Lam-hai). Kita tinggalkan dahulu masalah Giam Liong maupun Beng Tan dan isterinya itu. Mari kita kunjungi suatu ceruk atau guha-guha di bawah dinding terjal Laut Selatan. Jauh di sini, jauh dari keramaian dunia tampak sederetan guha-guha yang angker dan gelap di bawah dinding terjal pantai selatan. Dilihat dari atas tak akan ada yang tahu bahwa banyak terdapat sekumpulan guha di situ.

Hanya kalau orang turun dan berani merayap ke bawah, dari ketinggian beratus-ratus meter orang akan tahu adanya deretan guha-guha hitam ini. Tak ada jalan masuk ke situ kecuali melalui dinding terjal itu, dinding yang bahkan berlumut dan tampaknya tak pernah dijarah manusia. Dan karena sederetan guha-guha hitam ini kelihatan sunyi dan angker, hanya burung atau walet yang beterbangan saja yang rupanya tahu maka pantas kalau orang menyebut tempat ini sebagai Guha Siluman.

Tak ada gerakan atau kehidupan di situ. Ombak yang menderu dan menghantam dinding karang, berdebur dan merencak-rencak memang tampaknya tak mungkin ditinggali manusia. Tempat itu pantas disebut sebagai tempat siluman karena agaknya hanya mahluk-mahluk halus atau siluman sajalah yang dapat tinggal di situ. Guha-guha hitam yang gelap dan berderet berjajar-jajar tampaknya memang pas untuk tempat tinggal siluman atau mahluk-mahluk halus. Tapi ketika sesosok bayangan putih muncul dan keluar dari salah satu guha-guha itu, guha yang hitam dan gelap maka orang akan tertegun melihat bayangan ini.

Silumankah dia? Hantu yang sedang mencari hawa segar di tempat terbuka? Tampaknya begitu, kalau seorang nelayan atau penakut yang sudah biasa dijejali cerita-cerita menyeramkan. Tapi kalau orang mau melihat dekat dan memberanikan diri untuk melihat ini, tanpa takut atau seram maka justeru orang akan tertegun melihat siapa bayangan putih ini, yang ternyata seorang berwajah tampan dengan baju atau pakaian sederhana, dari bahan blacu yang dijahit tangan, amat bersahaja!

Siapakah dia? Inilah Han Han, putera atau murid Im Yang Cinjin yang sakti! Pagi itu dia muncul untuk mulai berlatih. Kedua jari tangannya digerak-gerakkan ke bawah dan jari-jari yang berkerotok tiba-tiba mengeluarkan dua sinar berbeda. Satu putih sedang yang lain kebiruan. Han Han sedang melemaskan diri dengan pukulan Im-yang-sin-kun (Pukulan Sakti Im Yang). Dan ketika jari-jari tangannya semakin berkerotok dan sinar kebiruan serta putih di kedua lengannya itu semakin terang, melebar dan menyilaukan mata mendadak pemuda ini bergerak dan terjun ke bawah, menyambut debur ombak yang saat itu menghantam dinding karang.

"Haiiiitttt...!" Pekik atau teriakan panjang ini menggetarkan seluruh pantai samodera. Dinding karang serasa berderak dan kedua lengan Han Han menyambar ke bawah, menyambut atau menampar gulungan ombak yang menghajar karang, tingginya hampir serumah. Dan ketika Han Han terjun dan menampar ke bawah, sinar biru dan putih itu bercuitan dahsyat, menggelegar menghantam ombak maka ombak setinggi rumah yang menghajar dinding karang tiba-tiba tertahan dan ambyar berantakan, tertolak balik.

"Byarrr!"

Han Han berjungkir balik turun di tempat yang kosong. Air tak sampai ke sini karena pukulan Han Han tadi menghajar bukit ombak setinggi rumah, meluncur dan turun dengan tenang. Tapi karena ombak yang belakang ganti menyusul dan menyambar lagi, Han Han melejit dan meloncat tinggi ke atas maka pemuda itu kembali menggerakkan kedua tangannya untuk menghantam ombak.

"Byar-byarr!"

Han Han akhirnya berkelebatan. Pemuda ini mulai berlatih karena ombak-ombak yang dihajar terpental balik, tertolak tapi temannya di belakang mendorong dan menyerang lagi. Dinding karang itu memang setiap hari pasti dipukul ombak. Gulungan air yang setinggi bukit atau gunung sudah biasa menghantam dinding-dinding karang ini. Dan karena Han Han harus menahan atau mementalkan mereka, tempat yang diinjak tak boleh basah maka jadilah pemuda itu melengking dan memukul-mukul ke depan, menghalau atau menghajar bukit-bukit ombak yang tampaknya kian ganas saja. Mereka itu rupanya juga marah karena pekerjaan mereka diganggu pemuda ini.

Han Han diserang dan pemuda itu berkelebatan sambil memukul-mukulkan kedua lengannya. Dan ketika sinar biru dan putih berkeredepan menyilaukan mata dan tubuh pemuda itu kini tak menginjak tanah lagi, mendahului dan menghantam bukit ombak maka muncullah sesosok bayangan lain di muka guha, seorang tosu berpakaian putih-putih yang berseri dan tertawa-tawa melihat perbuatan pemuda itu.

"Bagus, hebat dan bagus pukulanmu, Han Han. Tapi sekarang kerahkan tenaga Im-kang dan bekukan bukit ombak itu!"

Han Han menoleh. Dia tidak terkejut mendengar dan melihat seruan kakek ini. Itulah gurunya Im Yang Cinjin atau Yang Im Cinjin, kakek sakti yang sudah muncul melihat latihannya. Dan ketika kakek itu berseru sementara sebuah bukit ombak kembali menyerangnya, menggulung dan hendak membungkus tubuhnya tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan bentakan dahsyat di mana kedua lengannya tiba-tiba memutih berkilauan, bagai salju.

"Klap!" Guntur serasa memekakkan telinga. Ledakan yang amat dahsyat keluar dari tangan pemuda itu, menyambar atau menyambut ombak setinggi bukit ini. Dan ketika hawa dingin menyambar dan ombak yang setinggi bukit itu tertahan, aneh sekali, maka tiba-tiba mereka tidak lagi ambyar melainkan beku seperti bukit es!

"Bagus!" Yang Im Cinjin terkekeh-kekeh. "Lakukan lagi, Han Han. Pukul dan buat yang lain-lain juga begitu!"

Han Han membentak lagi. Gulungan ombak di belakang bukit es yang sudah dibuat beku itu mengamuk marah. Pemuda itu berkelebat dan kembali dua sinar putih meluncur dari tangannya. Hawa dingin membekukan tulang menyambut atau menghantam gulungan ombak itu, ombak yang lain. Dan ketika ledakan dahsyat memekakkan tempat itu dan sinar putih bertemu ombak setinggi gunung maka ombak inipun beku dan "berdiri" seperti bukit es.

Han Han berkelebatan dan menerima lagi ombak-ombak yang lain, membentak dan mengeluarkan pukulan Im-nya yang dahsyat itu. Dan ketika gunung-gunung atau bukit es muncul lagi di sana-sini, susul-menyusul maka cepat dan luar biasa Han Han telah mencipta puluhan ombak-ombak Laut Selatan menjadi gunung atau bukit es yang baru!

"Ha-ha, bagus. Luar biasa sekali. Buatlah seratus gunung di sekitar tempat ini, muridku. Bentengi dinding karang ini dengan gunung-gunung es!"

Han Han tak berhenti dan terus bergerak. Pemuda itu menyambar atau berkelebatan dari satu gunung es ke gunung es yang lain, menghantam atau menyambut ombak-ombak setinggi bukit untuk dibekukan. Dan ketika tak lama kemudian seratus gunung telah dibuat dan tempat itu penuh dengan bukit-bukit beku, Han Han telah merobah air menjadi batu maka Yang Im Cinjin tertawa bergelak melihat kehebatan muridnya, yang kini berhenti dan berdiri gagah di sebuah bukit es bagai seekor rajawali sakti!

"Luar biasa!" kakek itu berseru. "Kepandaianku benar-benar telah kau warisi dengan baik, Han Han. Tapi coba cairkan bukit-bukit itu dan kembalikan mereka kepada asalnya!"

"Baik," Han Han berkelebat turun, kedua lengannya tiba-tiba berkerotok dan berobah merah marong, bagai api. "Aku akan mengeluarkan tenaga Yang (panas), suhu. Dan coba lihat apakah inipun sudah sempurna.... blarr!"

Pemuda itu membalik dan menghantam bukit di depannya, air samodera yang beku. Dan begitu sinar merah menyambar dan mengeluarkan ledakan dahsyat, bagai petir, maka tiba-tiba bukit es itu ambyar dan rontok berguguran. Selanjutnya Han Han berkelebatan lagi dan menyambar-nyambarlah pemuda itu dari satu gunung es ke gunung yang lain, menghantam atau menyentuhkan kedua lengannya yang merah marong itu kepada bukit-bukit ciptaan. Dan ketika bukit-bukit itu berguguran dan air yang beku mencair lagi, samodera kembali bergolak maka bukit-bukit itu lenyap dan Han Han beterbangan di atas permukaan Laut Selatan.

"Ha-ha, menakjubkan dan luar biasa!" Yang Im Cinjin memuji dan bertepuk tangan. "Pukulan panasmu pun sudah nyaris menyamai aku, Han Han. Ah, luar biasa dan menakjubkan!" dan ketika debur atau hantaman ombak kembali terdengar, Han Han telah memecahkan gunung-gunung es itu maka pemuda ini bergerak naik turun di antara bukit-bukit ombak yang menyerangnya. Laut Selatan kembali bergolak setelah tadi sejenak didiamkan pemuda ini.

Han Han telah "menjinakkan" mereka dengan merobahnya sebagai bukit-bukit es. Itulah pukulan Im-kang atau Dingin yang luar biasa, kini menunjukkan pukulan Yang-kang atau Panas yang tak kalah hebatnya pula. Dan ketika Laut Selatan mengamuk namun Han Han berseliweran naik turun maka Yang Im Cinjin berkelebat dan turun tangan menghadapi muridnya sendiri.

"Bagus, sekarang pinto (aku) yang maju. Awas, tahan pukulan!"

Han Han terkejut. Gurunya menyambar bagai siluman dan tahu-tahu sudah bergerak di atas lautan pula, tidak menginjak air me lainkan beterbangan seperti bersayap, menyerang dan menyambarnya bagai garuda mematuk-matuk. Gurunya itu telah mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi di mana dengan beterbangan seperti burung gurunya itu telah melakukan tamparan-tamparan dahsyat. Dingin dan Panas silih berganti hingga ombak lautpun sering berubah-ubah, sebentar beku sebentar cair! Dan ketika Han Han terkejut tapi tentu saja girang, mengelak dan menangkis maka guru dan murid sudah bertanding di atas lautan.

"Ha-ha, bagus, Han Han. Balas pinto dan coba terima ini.... dess!"

Han Han berjungkir balik, gurunya melakukan dorongan dahsyat dan dia menerima, jatuh tapi menahan dengan pukulan dingin pula. Dan ketika gurunya terdorong tapi dia terpental, ombak membeku dan dijadikan tempat berpijak maka Yang Im Cinjin sudah merobah pukulannya dan menyerang kembali.

"Yang ini..... blarr!"

Han Han dipaksa bergerak cepat, membentak dan menangkis pukulan gurunya itu dan ledakan bagai halilintar memecahkan anak telinga. Yang Im Cinjin sudah bergerak dan menyerang lagi, cepat dan bertubi-tubi dan dentuman atau suara menggelegar silih berganti pula mengisi hiruk-pikuk Laut Selatan. Dan ketika dua bayangan putih saling sambar dan masing-masing saling desak atau dorong maka tampaklah bahwa Han Han mampu mengimbangi gurunya, meskipun tak mampu mendesak karena gurunya juga mampu bertahan!

"Bagus.... bagus...!" gurunya terkekeh-kekeh. "Cepat dan luar biasa sekali kemajuanmu, Han Han. Ah, pinto sekarang mulai lelah.... des-dess!" sang tosu tampak terdorong, kalah muda dan kalah usia tapi tiba-tiba dia membalas dengan sebuah sapuan kaki.

Han Han tak menduga dan roboh terlempar. Dan ketika mereka kembali bertanding dan Yang Im Cin jin berseri-seri, tertawa dan memuji-muji muridnya maka tak terasa tiga jam lebih mereka bertanding, sang tosu sudah mandi keringat.

"Cukup!" akhirnya seruan itu menghentikan keduanya. "Pinto sudah puas melihat kemajuanmu, Han Han. Kepandaianmu sudah benar-benar menyamai pinto!"

Dan ketika tosu itu berjungkir balik dan hinggap di guha-guha hitam, mengebut dan mengusap tubuhnya yang mandi keringat maka Han Han juga meloncat berjungkir balik dan berdiri gagah di batu karang di atas gurunya, mandi peluh dan merasa gembira tapi tak selelah gurunya...