NAGA PEMBUNUH
JILID 10
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
Jilid 10 "SIN HAUW! Ah, kau... kau melepaskan kakek-kakek jahanam itu? Kau tidak membunuhnya? Ah, benci aku kepadamu, Sin Hauw. Benci aku. Kau tak tahu penderitaanku selama ini... plak-plak!" dan Han Han yang ditampar serta mendapat marah-marah wanita itu tiba-tiba terhuyung tapi ditubruk lagi, dipeluk dan dirangkul dan tiba-tiba wanita itu menangis menciumi dirinya.

Han Han meremang namun entah kenapa dia tidak mengelak. Semua tamparan dan marah-marah itu dibiarkannya. Hatinya terharu dan teremas-remas melihat keadaan wanita ini. Han Han tiba-tiba bercucuran air mata pula, menangis! Tapi ketika wanita itu melihatnya dan tertegun, membelalakkan mata, tiba-tiba wanita ini terkekeh dan melepaskan pelukannya.

"Hauw-ko, kau menangis? Kau tiba-tiba berobah menjadi begini cengeng dan tak malu menangis? Ah, hi-hik. Lucu, Hauw-ko. Tak sepantasnya kau sebagai Si Golok Maut menangis. Atau mungkin kau menangis karena bahagia bertemu denganku lagi, ouhh...!" dan wanita itu yang tertawa dan menangis lagi, benar-benar gila, sudah menubruk dan menciumi Han Han.

Pemuda ini tersedak namun cepat mengelak ketika wanita itu mencium bibirnya. Dia dianggap si suami dan Han Han tentu saja jengah. Hampir ciuman itu mendarat di bibir! Dan ketika, Han Han sadar bahwa salah paham terjadi di sini, wanita itu menganggapnya Si Golok Maut maka dia melepaskan diri dan berkata, suaranya penuh haru,

"Bibi, kau lihatlah aku baik-baik. Aku bukan Si Golok Maut, suamimu. Aku adalah orang lain dan lihatlah aku bahwa aku bukan suamimu itu!"

Aneh, wanita itu tampak terkejut. Ia mengeluarkan suara kecewa ketika ciumannya di bibir dielak. Tapi ketika Han Han mendorongnya halus dan pemuda itu berhadap-hadapan dengannya tiba-tiba dia membanting kaki dan berseru, "Hauw-ko, apa-apaan kau ini? Kau masih juga mau mempermainkan aku? Ah, bertahun-tahun aku merindukanmu, Hauw-ko. Dan jangan permainkan aku seperti ini. Aku tak lupa wajahmu. Aku tak lupa akan sorot dan sinar matamu itu. Kau adalah Hauw-ko ku itu, kau suamiku. Jangan, berkata seperti itu karena hatiku teriris luka!" dan Han Han yang ditubruk serta dipeluk lagi, melihat wanita itu tersedu dan mengguguk akhirnya mendorong dan melepaskan diri lagi, berbisik lembut, mulai terpengaruh oleh penderitaan dan tekanan jiwa wanita ini.

"Bibi, aku adalah Han Han. Aku bukan suamimu. Aku dari Hek-yan-pang, putera ayahku Pek-jit-kiam Ju Beng Tan."

Luar biasa, wanita itu tiba-tiba mencelat. Han Han tersentak karena tiba-tiba wanita itu melengking. Suaranya menggetarkan bukit dan hampir Han Han menampar wanita itu ketika mencengkeramnya di waktu melayang turun. Tapi ketika sesuatu yang aneh terjadi karena bola mata wanita itu yang tadi bergerak-gerak liar sekonyong-konyong kini tampak sadar dan waras, hal yang membuat Han Han menahan tamparannya maka pundaknya sudah dicengkeram kuat-kuat dan bentakan atau suara yang penuh kaget bertanya kepadanya, ditahan-tahan.

"Kau.... kau dari Hek-yan-pang? Kau putera Beng Tan ketua Hek-yan-pang? Kau anak Swi Cu?"

"Benar," Han Han menggangguk, tiba-tiba perasaannya terguncang kuat, tergetar oleh debaran yang menekan jiwa. "Bibi kenal orang tuaku? Bibi tahu ayah ibuku?"

"Ahh!" lolong itu tiba-tiba berobah histeris, terganti tawa panjang. "Kalau begitu kau anakku, Han Han. Kau Giam Liong. Bukan Han Han, oohhhh...!" dan Han Han yang mengkirik dicengkeram dan ditubruk, mendengar tawa dan lengking itu tiba-tiba melihat wanita ini roboh dan pingsan.

Han Han tak tahu bahwa itulah ibunya, ibu kandungnya. Wi Hong terguncang kuat dan perasaan yang luar biasa bahagianya tak dapat diterima seketika itu juga oleh wanita ini. Getaran hebat mengguncang syarafnya. Kegilaan wanita ini tiba-tiba sembuh, seketika itu juga. Namun karena pukulan itu terlampau kuat dan Wi Hong tak tahan akhirnya wanita ini roboh dan pingsan. Han Han cepat menolong dan pemuda itu berdegupan kencang. Dia sebenarnya sudah tertarik bahwa wanita ini ternyata adalah isteri mendiang Si Golok Maut, padahal dia amat ingin tahu tentang kisah Si Golok Maut itu, yang caping dan kitab pusakanya ditemukan di sumur tua.

Maka begitu dia bertemu wanita ini dan kebetulan wanita itu adalah orang yang paling dekat dengan Si Golok Maut, berarti dia dapat menggali cerita dari wanita ini maka kegirangan Han Han diiringi pula oleh pengakuan wanita itu bahwa dia adalah anaknya! Han Han terguncang dan terpukul kuat. Sedetik darahnya tersirap tapi Han Han akhirnya sadar bahwa wanita yang sedang dihadapi ini adalah wanita yang tidak waras. Han Han tak tahu bahwa seketika itu juga ibunya sudah sembuh. Dan karena menganggap wanita itu masih gila, Han Han tak tahu dan menolong wanita ini maka alangkah heran dan tertegunnya Han Han ketika tiba-tiba wanita itu mengguguk dan menciumi mukanya, ketika siuman, tak menampakkan tanda-tanda gila atau tidak waras.

"Ah, Liong-ji..... Liong-ji... kau sudah begini besar dan mirip ayahmu? Kau demikian gagah dan dapat mengusir orang-orang macam Sudra dan Mindra itu? Oh, terkabul rencana ibumu, nak. Terkabul sekarang apa yang dulu pernah kuinginkan!"

Dan Han Han yang diciumi serta dibelai, tidak lagi melihat wanita itu menganggapnya sebagai Si Golok Maut melainkan sebagai putera sendiri, putera kandung maka Han Han tersentuh dan menitikkan air mata merasa getaran-getaran penuh kasih tersalur dari jari-jari wanita itu, getaran- getaran kasih yang belum pernah dirasakannya dari Swi Cu, ibunya! Tapi begitu teringat ibunya sedangkan wanita ini juga menganggapnya sebagai anak, hal yang dirasanya tak mungkin maka Han Han melepaskan diri dan berkata gemetar,

"Bibi, aku adalah anak Swi Cu. Aku putera Pek-jit-kiam Ju Beng Tan. Kau sadarlah dan jangan menganggapku seperti itu..."

"Oh, tidak tidak. Justeru kaulah yang tidak tahu, Liong-ji. Kau anakku!"

"Aku adalah Han Han, bukan Liong."

"Tidak!" wanita itu tiba-tiba mencengkeram Han Han. "Kau bukan Han Han, anakku. Kau adalah Giam Liong. Tepatnya Sin Giam Liong, putera Si Golok Maut Sin Hauw!"

Dan ketika Han Han terkejut dan meremang melihat sinar mata wanita itu, yang mengaku sebagai ibunya maka wanita ini menariknya duduk. "Dengarlah, aku mau bercerita!"

Dan ketika Han Han duduk dan mendengarkan, jantungnya semakin berdegup kencang maka wanita itu, Wi Hong, menangis dan menahan sedak dua kali.

"Aku tidak bohong kalau mengatakan bahwa kau adalah anakku. Dengar, kau bukan Han Han, anakku. Melainkan Giam Liong. Aku dulu menukarmu dengan anak yang dilahirkan Swi Cu. Kau adalah anak yang kulahirkan dulu. Kau adalah benih dari ayahmu Si Golok Maut. Dan kalau kau ingin bukti tentang ini maka perlihatkan pangkal pahamu karena di situ pasti ada dua goresan merah dari bekas kukuku dulu. Nah, betul atau tidak!"

Han Han terbelalak. Tiba-tiba saja ia menjadi pucat karena apa yang dikata wanita ini benar. Memang ada dua goresan merah di pangkal pahanya. Goresan itu tak dapat hilang dan diam-diam dia heran serta jengkel kenapa goresan itu berada di situ. Han Han merasa risih dan terganggu. Tapi karena itu adalah rahasia pribadinya dan tentu saja tak ada orang lain tahu, karena goresan itu di pangkal pahanya maka Han Han kaget sekali ketika melihat wanita ini tahu.

"Hayo!" Han Han pucat. "Tunjukkan kepada ibumu, nak. Atau biar aku merobeknya dan lihat apakah kau bukan anakku bret!" dan celana Han Han yang sudah dirobek dan direnggut cepat tiba-tiba membuat Han Han mengeluh dan hampir meloncat.

Pemuda ini berseru tertahan tapi entah kenapa tiba-tiba dia tak sanggup mencegah wanita itu. Han Han seketika yakin bahwa inilah ibunya. Dan karena ibunya yang merenggut maka dia mendiamkan saja ketika celananya sudah disingkap dan benar saja tampaklah dua goresan merah itu, bekas kuku yang dulu diguratkan Wi Hong sebagai tanda.

"Nah!" wanita itu berseru, menangis. "Apakah tanda ini tak cukup bagimu, anakku? Apakah aku bukan ibumu? Kau adalah puteraku. Kau adalah anak yang dulu kulahirkan itu!" dan ketika tangis dan sedu-sedan meledak di situ, Han Han terkesima, maka wanita ini sudah menubruknya dan merapatkan kembali pipa celana itu.

"Liong-ji.... Liong-ji, kau anakku. Akulah ibumu. Ah, bertahun-tahun aku memendam rindu, nak. Bertahun-tahun aku menjadi gila karena ulah orang-orang jahat. Ah, kita sudah bertemu lagi. Hayo sembahyang di makam ayahmu sebagai rasa syukur!"

"Nanti dulu!" Han Han tiba-tiba meloncat dan berseru, menggigil, seluruh mukanya merah padam. "Ceritakan dulu secara lengkap bagaimana semuanya ini bisa terjadi, ibu. Dan kalau begitu mana anak ibu Swi Cu!"

"Kau... kau sudah mempercayaiku sebagai ibumu?" Wi Hong berseri-seri, tak menghiraukan pertanyaan anaknya itu. "Ah. panggil sekali lagi seperti itu, Liong-ji. Panggil aku sebagai ibu karena betapa rinduku disebut seperti itu!"

"Ibu...!"

"Ooohhhhh....!" dan Wi Hong yang mengeluarkan keluhan panjang, mirip suara kucing yang bertemu anaknya tiba-tiba menubruk dan merangkul puteranya ini lagi, tertawa dan menangis dan Han Han berkali-kali diciumi. Wi Hong tak memperdulikan gerakan anaknya yang meronta, terus dipeluk dan dipeluk ketat. Dan ketika anaknya disuruh memanggilnya lagi, memanggilnya sebagai ibu berkali-kali maka Han Han roboh dan tersedu di pelukan ibunya itu.

"..... ibu, ohh. ibu!"

Anak dan ibu bertangisan. Han Han merasakan kebahagiaan yang luar biasa besarnya yang tak dapat ditahan lagi. Dia lemas dan roboh di pelukan ibunya itu. Pelukan dan ciuman ibunya begitu penuh kasih sayang, begitu menggetarkan. Tapi ketika ibunya menangis dan tertawa, khawatir bahwa ibunya akan kumat lagi, kambuh gilanya maka Han Han menekan semua gejolak hatinya itu dan cepat melepaskan diri, mendorong ibunya dengan lembut sementara sebuah kecupan masih juga diterimanya dikening!

"Liong-ji, kau anakku. Kau benar-benar anakku. Ah, hi-hik. Matipun seketika ini aku juga mau, nak. Ah, penderitaan ibumu yang bertahun-tahun tiba-tiba saja seolah lenyap begitu bertemu dirimu. Kita harus sembahyang dan mengucap syukur di makam ayahmu!"

"Hm, kita harus mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan," Han Han membetulkan, menarik napas dalam. "Aku harap kau tidak apa-apa lagi, ibu. Aku harap kau sehat lahir batin!"

"Eh!" sang ibu terkejut, seketika menghentikan tangis dan tawanya. "Kau maksudkan ibumu tidak waras? Gila, kau telah menyembuhkan aku, Liong-ji. Aku sudah tidak gila lagi. Lihat!" dan sang ibu yang mengibaskan rambut dan menyanggulnya kembali, cepat dan lincah akhirnya sudah berobah menjadi Wi Hong yang cantik dan jelita, waras dan anggun.

Han Han terpesona memandang wajah ibunya ini. Bola mata itu memang sudah tidak berputar-putar lagi dan ibunya betul-betul telah sembuh, tidak gila. Dan ketika Han Han tersenyum dan mengangguk, lega, maka ibunya bertanya apakah dia masih cantik.

"Lihat, pandang ibumu baik-baik, nak. Apakah aku masih cantik atau tidak. Kalau aku sudah begini kurasa tak ada orang gila yang memperhatikan atau merawat tubuhnya lagi. Tapi aku akan melakukan itu, semata menunjukkan kepadamu bahwa aku masih ibumu yang waras!"

Han Han terharu. "Ibu sungguh cantik," pemuda itu meraih. "Dan tak heran kalau ayah sampai jatuh cinta. Hm, aku tadi hanya khawatir saja, ibu, maafkan. Tapi aku percaya bahwa kau sudah tak apa-apa lagi. Bagaimana sekarang, dapatkah ibu menceritakan secara lengkap cerita ini?"

"Tentu, mari, Liong-ji. Duduk dan dengarkanlah!" dan ketika Han Han mulai terbiasa oleh sebutan itu, mula-mula memang merasa aneh dan janggal bahwa dia berganti nama dengan begitu cepat, hal yang tak disangkanya, maka Han Han sudah duduk dan mendengarkan kata-kata ibunya, dipegang dan diremas lembut oleh jari ibunya yang tak pernah melepaskannya barang sedetik pun juga.

"Nah, aku akan bercerita pada peristiwa atau kisah dua puluh tahun yang lalu. Barangkali kau tahu bahwa waktu itu aku menyerbu Hek-yan-pang!"

"Hm, ayah dan ibu Swi Cu, eh... bibi Swi Cu hanya bercerita secara samar-samar saja. Aku juga mendengarnya tapi kurang jelas."

"Baik, aku yang akan menjelaskannya, Liong-ji. Dan boleh kau tanya ini kepada Beng Tan, ayah keduamu itu!"

Lalu ketika Han Han mendengarkan dan sedikit berkerut kening, karena hubungannya dengan ayah atau ibunya di Hek-yan-pang terasa "mengganjal", karena dia sudah menemukan ibu kandungnya ini maka sang ibu lalu menceritakan peristiwa itu. Betapa Wi Hong menyerbu dan sengaja mencari gara-gara untuk menukarkan anaknya itu, karena Swi Cu juga mempunyai anak laki-laki dan dia berhasil. Dan ketika Hek-yan-pang geger karena anak Swi Cu diculik, Wi Hong melarikan diri ke hutan maka di situ wanita ini menukarkan anaknya.

"Nanti dulu," Han Han memotong. "Apakah maksud tujuan ibu memang hendak menukar anak. Apakah ibu waktu itu sudah mendengar bahwa bibi Swi Cu sudah mempunyai anak!"

"Hm, waktu itu belum," sang ibu mengangguk-angguk. "Semula aku datang untuk menyemprot sumoiku itu, Liong-ji. Karena Swi Cu adalah adik seperguruanku perempuan. Aku datang untuk menegur di samping karena perasaan rinduku kepadanya juga ada. Tapi ketika aku menyelinap dan memasuki kamarnya ternyata di situ aku melihat anaknya itu maka tiba-tiba timbul keinginanku untuk menukar bayi!"

"Hm, begitukah? Kenapa?"

"Ah, aku ingin membalas dendam ayahmu, Liong-ji. Karena itulah aku lakukan itu!"

"Aku belum mengerti," Han Han mengerutkan kening. "Apa maksudmu ini, ibu. Kenapa aku harus kau tukar."

"Bodoh!" Ibunya mendamprat. "Di dunia ini yang dapat menandingi Pek-jit-kiam Ju Beng Tan belum ada, Liong-ji. Kalau aku menaruhmu di sana dan Swi Cu serta suaminya menganggap dirimu sebagai anak mereka maka otomatis seluruh kepandaian laki-laki itu akan diturunkan kepadamu. Aku sendiri merasa tak sanggup menggemblengmu, kepandaianku masih rendah. Kau lihat sendiri betapa tadi aku dibuat jatuh bangun oleh dua kakek jahanam itu!"

"Hm!" Han Han terkejut. "Jadi itukah maksud ibu? Jadi ibu sengaja menaruhku di sana agar mewarisi kepandaian ayah Beng Tan?"

"Benar, karena hanya Beng Tan itulah yang dapat kuharap, Liong-ji. Dan sekarang rencanaku berhasil. Kau dapat mengalahkan dua kakek jahanam tadi dengan mudah!"

"Tapi di mana putera mereka sendiri? Dan kenapa ibu tak pernah menengokku di Hek-yan-pang?"

"Ah," Wi Hong tiba-tiba menangis. "Aku tak akan datang kalau kau belum dewasa, Liong-ji. Tapi sekali dua pernah juga aku ke sana tapi Hek-yan-pang sudah dijaga ketat. Ibu tak dapat masuk!"

"Hm, dan anak yang kau tukar itu?"

"Dia... dia dibawa seorang kakek sakti. Sejak itu aku menderita lagi dan terlunta-lunta sepanjang hidup!"

"Nasibmu menyedihkan," Han Han tiba-tiba memeluk ibunya ini. "Dan ceritakan padaku tentang ayahku itu, ibu. Bagaimana dia terbunuh dan siapa pembunuhnya!"

"Inilah yang kutunggu!" sang ibu melompat bangun, mata berapi-api. "Kau harus membalas kematian ayahmu itu, Liong- ji. Karena dia mati dengan cara yang mengerikan sekali. Pembunuhnya adalah si Kedok Hitam. Tapi aku tak tahu siapa orang ini kecuali kelihaiannya yang luar biasa!"

"Hm!" Han Han mulai terbakar. "Coba ibu ceritakan tentang ayahku itu. Bagaimana kematiannya."

"Dia dipotong-potong. Tubuhnya dirajam!"

"Apa?"

"Benar!" sang ibu tiba-tiba histeris. "Ayahmu dibunuh dengan cara yang keji sekali, Liong-ji. Kedok Hitam itu memotong-motong tubuhnya seperti anjing. Orang itu harus dibunuh melebihi anjing. Aku akan menghirup darahnya kelak kalau kau dapat membunuhnya!"

Han Han meremang. Dia melihat ibunya berteriak dan melengking tinggi, suaranya mirip lolong srigala dan berceritalah ibunya itu akan kebiadaban musuh. Dan ketika sang ibu menceritakan betapa pembunuhnya amat keji, tak kenal kasihan maka Han Han berdiri dan menghantam roboh sebuah batu di sisi kirinya, batu sebesar bukit.

"Sumpah demi ayah akan kucari dan kubunuh jahanam itu. Akan kubeset dan ku kuliti tubuhnya. Ah, aku tak mau hidup berdua dengannya di bumi ini, ibu. Sumpah demi para dewa bahwa hari ini aku hanya akan makan nasi dan air putih saja..... bress!"

Batu di samping Han Han itu mengeluarkan suara gemuruh, meledak dan hancur dan Han Han mengeluarkan sumpahnya untuk tidak menikmati daging atau sayur, begitu juga minuman kecuali air putih saja. Dan ketika langit mendadak gelap dan terdengar suara petir di sana, tanda sumpah Han Han disaksikan iblis atau para dewa maka Han Han terduduk dan ibunya menangis memeluk puteranya ini. Han Han telah mendengar kekejaman musuh terhadap ayahnya. Tubuh ayahnya itu katanya dipotong-potong dan dicacah. Dan ketika ibunya menangis tersedu-sedu dan mereka berdua terbakar oleh dendam mendadak Wi Hong meledakkan rambutnya dan rambut yang sudah disanggul itu tiba-tiba diurai lagi.

"Dan aku juga bersumpah!" wanita itu memekik. "Aku tak mau menyanggul rambutku sebelum dicuci dengan darah jahanam itu, anakku. Biarlah sumpahku ini didengar para dewa dan kita berdua sama-sama menuntut balas!"

"Dar!" di langit juga terdengar dua kali ledakan petir, Wi Hong terhuyung dan jatuh terduduk. Awan mendung tiba-tiba semakin tebal. Dan ketika ibu dan anak terkejut melihat itu sekonyong-konyong hujan turun dengan amat lebatnya.

"Ibu, kita harus berteduh. Sumpah kita telah didengar para dewa!"

"Tidak!" sang ibu meloncat bangun. "Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu, Liong-ji, peninggalan-peninggalan ayahmu. Mari ikut dan kita ke sana!" dan ketika Wi Hong menyambar anaknya dan diajak berkelebat, hujan segera membasahi mereka maka Han Han tertegun tapi tak menolak.

Mereka terus berlari dan menuju ke selatan. Aneh, hujan itu mengikuti mereka pula. Dan ketika ibunya mengajak masuk keluar hutan dan Han Han terpaksa menahan pertanyaannya tentang anak laki-laki yang ditukar ibunya, karena ibunya belum memberi tahu siapa kakek sakti itu maka dua hari dua malam mereka basah kuyup ditimpa air hujan. Baru setelah pada hari ketiga ibunya memasuki sebuah lembah dan mendaki tebing yang terjal maka hujan berhenti dan Han Han tertegun melihat rambut ibunya merah seperti darah!

"Ibu, rambutmu itu...!" sang anak terkejut, membelalakkan mata. "Kenapa merah seperti darah? Kau memakai getah apa?"

"Getah?" sang ibu juga tertegun, mengibaskan rambutnya ke muka. "Ah, aku tak memakai getah apa-apa, Liong-ji. Dan kau, he. rambutmu pun semerah darah!"

Han Han terkejut berseru tertahan. Dia meraba rambutnya itu dan tiba-tiba saja air hujan yang membasahi rambutnya sudah merah seperti darah. Diplurut dan dikeringkan tetap saja air itu berwarna merah. Dan ketika Han Han tertegun karena rambutnya juga semerah darah, persis rambut ibunya maka sang ibu mengeluh dan terhuyung bersandar tebing.

"Liong-ji, agaknya dosa atau kutukan Giam-to menyertai dirimu pula. Hati-hatilah, aku jadi takut!"

"Giam-to (Golok Maut)? Benda apakah itu, ibu? Senjata apakah?"

"Itulah senjata mendiang ayahmu. Aku ke sini karena hendak memberikan golok itu kepadamu. Tahukah kau dimana kita sekarang?"

"Tidak."

"Inilah Lembah Iblis. Di sinilah dulu ayahmu terbunuh!" dan ketika Han Han tertegun karena ibunya menangis lagi, lembah atau tebing itu menyeramkan sekali maka seekor gagak hitam tiba-tiba berkaok di udara.

"Gaok, gaok...!"

Han Han meremang. Tiba-tiba dia menoleh dan memandang ke segala penjuru. Dia telah diajak ibunya mendaki tebing ini dan tampaklah di bawah sana tanaman perdu dan rumput-rumput ilalang. Mereka sudah berada di tempat yang tinggi dan tiba-tiba Han Han terkejut melihat belasan tengkorak di balik batu hitam. Tadi dari bawah benda itu tak nampak tapi kini tiba-tiba kelihatan. Dan ketika Han Han terkejut karena di sekitar lembah ternyata terdapat ratusan atau ribuan tengkorak yang berserakan di sana-sini, seolah di tempat itu pernah terjadi pembantaian atau perang besar-besaran maka Han Han terbelalak.

"Ibu, tengkorak-tengkorak itu..." Han Han menuding. "Apakah penghuni Lembah Iblis?"

"Itulah korban-korban ayahmu," sang ibu menerangkan, tiba-tiba tersenyum dan tertawa dengan mata berseri. "Di sini ayahmu dikeroyok ribuan pasukan, Liong-ji. Tapi separoh dari mereka dibabat dan dibunuh. Tapi karena ayahmu sebelumnya sudah terluka dan musuh amat licik, tak tahu malu maka ayahmu akhirnya menjadi korban dan mereka mengiring roh ayahmu ke alam baka!"

"Itu pasukan kerajaan? Ayah yang membunuh?"

"Benar, ayahmu dikejar-kejar, anakku. Tapi ayahmu amat gagah dan luar biasa sekali. Kalau sebelumnya dia tidak terluka jangan harap Kedok Hitam mampu membunuhnya!"

"Hm, ceritakan itu di sini," Han Han tiba-tiba berkerotok, mengepal tinju. "Coba ceritakan kenapa ayah dikejar-kejar pasukan kerajaan, ibu. Dan kenapa Kedok Hitam memusuhinya. Apa yang terjadi di balik semuanya ini!"

"Kedok Hitam adalah antek Coa-ong-ya!"

"Ah, Coa-ongya?" Han Han terkejut, tertegun, teringat bahwa Ji-mo dan Twa-mo juga pernah menyebut-nyebut nama itu! "Siapa Coa-ongya ini, ibu? Dan kenapa memusuhi ayah?"

"Dia penipu dan pendusta. Dia adalah manusia yang tak dapat dipercaya di Seantero jagad!"

"Hm-hm, ceritakan ini. Ceritakanlah kepadaku dan kenapa ayah bermusuhan dengannya!"

"Kau tak ingin menengok makam ayahmu dulu? Kita sudah di sini, Liong-ji. Inilah tempat tinggal ayahmu dulu. Sebaiknya kita ke sana dan bersujudlah di depan makam ayahmu!"

"Ayah ada di sini?"

"Ya, berikut peninggalan-peninggalannya. Aku menyimpan kitab dan Golok Mautnya di sini. Sekarang untukmu!" dan ketika Han Han tertegun dan mengangguk, berdebar, maka ibunya sudah menariknya untuk diajak berkelebat lebih ke atas. Mereka memang belum tiba di puncak meskipun sudah di tempat ketinggian. Han Han merah mukanya mendengar cerita ibunya tadi, bahwa ayahnya dibunuh dan dirajam di sini. Dan ketika mereka tiba di atas tebing dan di situlah ibunya berhenti maka Han Han yang tergetar tiba di tempat ini segera melihat tiga gundukan tanah kuburan, heran dan kaget kenapa ada tiga!

"Ibu, mana makam ayah? Kenapa ada tiga?"

Namun sang ibu sudah mengguguk. Wi Hong menubruk dan menjatuhkan diri berlutut di makam yang paling kanan. Wanita itu naik sedu-sedannya dan menjeritlah Wi Hong di sini. Tiga makam itu sudah ditumbuhi rumput-rumput ilalang namun sekali betot saja makam yang ditubruknya itu sudah bersih. Dan ketika Han Han tertegun karena itulah rupanya makam ayahnya, karena ibunya menangis dan menggerung-gerung di sini maka ibunya berseru,

"Hauw-ko, inilah anak kita itu. Kubawa dia ke sini. Ah, semoga dendam kita terlaksana, Hauw-ko. Doakan kami berdua dapat membunuh orang yang membunuhmu!" lalu menangis memanggil puteranya Wi Hong menggapai, "Liong-ji, inilah makam ayahmu. Cepat berlutut dan beri hormat!"

Han Han menggigil. Tiba-tiba dia jatuh menekuk lutut dan sudah berada di samping ibunya. Makam itu penuh lumut tapi di batu nisannya ada bertuliskan huruf-huruf tebal yang menyatakan bahwa itulah makam Si Golok Maut Sin Hauw. Jadi dia adalah she (marga) Sin! Dan ketika Han Han bercucuran air mata melihat makam ini cukup merana, begitu bersahaja dan agaknya dibuat terburu-buru maka ibunya menuntut berbicara.

"Liong-ji, berkatalah bahwa kau telah menengok makam ayahmu. Katakan bahwa kau akan menuntut balas dan mencari pembunuh ayahmu, mencincang dan memotong-motongnya melebihi anjing. Katakan bahwa kau tak akan sudah sebelum menemukan si Kedok Hitam itu!"

Han Han tak dapat menahan dirinya lagi. Diingatkan dan disadarkan akan kematian ayahnya tiba-tiba muka pemuda ini menjadi merah dan Han Han pun berkeretuk. Dia lalu bersumpah dan menangis di makam ayahnya itu bahwa dia akan menuntut balas. Dendam dan kematian ayahnya tak akan dibiarkan saja. Dan ketika ibu dan anak sama-sama berlutut dan menyatakan sumpah, Han Han menggigil dengan gigi berkerot-kerot maka Wi Hong melompat bangun dan menyeringai.

"Bagus, kita sama-sama mencari pembunuh ayahmu, Liong-ji. Dan sekarang terimalah ini!" Wi Hong meloncat dan menarik sesuatu dari balik makam. Sebuah benda berkilat tiba-tiba mendesing dan menyilaukan mata.

Han Han terkejut karena tiba-tiba ibunya membabat kekiri, ada sebatang pohon di situ. Dan ketika pohon itu roboh padahal hanya terkena angin sambaran senjata itu, yang kiranya adalah sebuah golok maka berdebumlah pohon setelah lebih dahulu mengeluarkan suara ledakan.

"Hi-hik, inilah Golok Penghisap Darah, Liong-ji. Golok maut yang dipunyai ayahmu!"

Han Han tertegun. Dia tergetar dan mengkirik sekilas melihat sinar putih di golok itu. Sebagai putera seorang jago pedang ternama tentu saja Han Han segera tahu bahwa golok di tangan ibunya itu bukanlah golok sembarang golok. Melihat tajamnya, agaknya tak kalah ampuh dengan Pek-jit-kiam (Pedang Matahari) di tangan ayahnya, pedang yang mengangkat tinggi nama ayahnya hingga dimalui di dunia kang-ouw. Dan ketika Han Han kagum tapi belum mengerti jelas sampai di mana keampuhan golok itu, yang dibolang-balingkan ibunya dengan mata berseri-seri tiba-tiba Wi Hong meloncat ke belakang dan.... "ngik", seekor kelinci yang meloncat keluar dari kerimbunan rumput alang-alang tiba-tiba telah terpenggal tubuhnya dan putus menjadi dua.

"Hi-hik, lihat, anakku. Lihat betapa darah kelinci itu sama sekali tak membasahi badan golok ini. Lihatlah!"

Han Han terkejut. Baru dia tahu bahwa darah kelinci yang memuncrat keluar sama sekali tak mengotori golok ditangan ibunya itu, karena begitu melekat tiba-tiba terhisap kering, seolah disedot oleh roh di dalam golok, yang mengepul dan setelah itu lenyap! Dan ketika Han Han merinding dan terkejut, baru tahu kenapa mendiang ayahnya disebut sebagai Si Golok Maut, karena memiliki golok yang demikian menakutkan maka ibunya sudah membalik dan berkelebat ke dekatnya, mengangkat tinggi-tinggi golok itu dengan gagang diatas.

"Liong-ji, bersumpahlah bahwa dengan golok ini kau akan membunuh si Kedok Hitam. Jangan biarkan darahnya terhirup kering sebelum ibumu mencuci rambutnya dengan darah si jahanam!"

Han Han tertekuk jatuh. Di langit terdengar suara keras dan guntur atau petir meledak di atas kepala. Suaranya menggelegar karena Han Han diminta bersumpah untuk membunuh musuh dengan golok itu. Berarti, akan mengulangi sejarah ayahnya, mungkin lebih hebat lagi! Dan ketika Han Han menggigil dan berseru dengan suara lantang, menerima dan bersumpah sesuai kehendak ibunya maka terlihat pijaran api dua kali yang keluar dari Golok Maut itu.

"Klap-cess!"

Han Han dan ibunya terkejut. Kilatan api itu meluncur dari badan golok dan masuk ke tubuh Han Han. Pemuda ini seperti disengat listrik tapi ternyata tidak apa-apa, kecuali kulit tubuhnya tiba-tiba merah membara. Aneh! Dan ketika Wi Hong tertegun tapi tertawa girang, itulah adalah tanda bahwa Golok Maut menerima puteranya, bersatu dan telah memasukkan "roh"-nya ke tubuh si anak maka wanita itu berlutut dan menyembah keatas.

"Mo-bin-lo, terima kasih. Kau telah menerima puteraku. Bimbing dan tuntunlah dia agar dapat membunuh pembunuh ayahnya!"

"Ha-ha!" di langit tiba-tiba muncul bayangan hitam, tinggi besar dan seperti raksasa. "Aku paling cocok dengan laki-laki, hujin. Kalau puteramu menerima perintahmu maka golok itu tentu akan menghirup darah lawan....dar!" bayangan itu lenyap.

Wi Hong terpelanting dan Han Han terkejut berkelebat menyambar ibunya. Tapi ketika ibunya tak apa-apa dan tertawa berseri, menganggap kejadian tadi seperti berkah maka Han Han tertegun.

"Ibu, apa yang kau lakukan? Apa yang terjadi?"

"Hi-hik, Mo-bin-Io telah memberi restu, Liong-ji. Golok Maut telah bersatu denganmu. Kau pasti akan mampu membunuh si jahanam!"

"Mo-bin-lo? Siapa dia?"

"Pencipta atau pemilik pertama golok di tanganmu itu. Tokoh luar biasa yang kini hidup di alam lain!"

"Ah, banyak sekali ceritanya. Aku bingung, tapi semakin tertarik. Coba ibu ceritakah semuanya ini!" dan ketika Wi Hong terkekeh dan menyambar puteranya, duduk lagi di depan makam maka Han Han melihat dua gundukan tanah yang lain itu.

"Ibu," pemuda ini teringat. "Makam siapa lagi yang itu?"

"Ah, makam suhu dan subo mendiang ayahmu, suami isteri sakti Sin-liong Hap Bu Kok dan Cheng-giok Sian-li (Dewi Giok Hijau) yang gagah perkasa!"

"Mereka itu juga tewas di sini?"

"Ya, tewas bersama, Liong-ji. Sampyuh. Ah, aku harus menceritakan ini!" dan ketika Wi Hong bingung untuk mulai yang mana, mana yang perlu didahulukan maka ia melipat kakinya dan menyuruh anaknya itu mendengar baik-baik. Han Han terbelalak mendengar semuanya itu dan tampaknya memang bingung. Terlalu banyak cerita yang disimpan ibunya ini, mulai dari mendiang ayahnya sampai ke Golok Maut, atau Golok Penghisap Darah itu. Dan ketika masih juga ada cerita tentang suhu dan subo (ibu guru) mendiang ayahnya, Sin-liong Hap Bu Kok atau si Naga Sakti dan Dewi Giok Hijau maka Han Han terkejut mendengar tentang Mo-bin-Io segala, kisah atau cerita-cerita yang belum sama sekali didengar di Hek-yan-pang!

"Baiklah, tolong ibu mulai. Sebaiknya urut saja dari ayah dahulu, baru setelah itu yang lain-lain!"

"Baik, dengarlah, Liong-ji. Kau tampaknya tak pernah diberi tahu oleh ayahmu Beng Tan atau ibumu Swi Cu!"

"Mereka memang tak pernah bercerita, semuanya hanya sekilas, samar-samar."

"Hm, tak apa. Aku tahu bahwa mereka tak suka kepadaku, juga kepada mendiang ayahmu!" dan ketika Wi Hong bersinar dan berapi-api, mulai bercerita tentang segala sesuatu maka diceritakanlah sebab-musabab kematian suaminya itu, dendam atau permusuhan yang berekor panjang. Betapa suaminya ditipu dan dijebak Coa-ongya. Betapa keluarga suaminya berantakan dan terbunuh satu demi satu gara-gara Coa-ongya. Dan ketika Han Han bertanya kenapa semuanya itu terjadi maka ibunya menerangkan.

"Kakekmu, ayah dari mendiang ayahmu adalah pembela Chu Wen, tokoh yang dianggap pemberontak oleh Coa-ongya dan kaisar sekarang. Tapi karena semua orang bebas berpendapat dan mendukung pimpinannya masing-masing maka saudara sepupu kakekmu, yang membantu Coa-ongya dan akhirnya menjadi jenderal berulang ulang membujuk namun gagal meraih kakekmu itu. Orang itu, Kwi-goanswe, diperalat dan menjadi begundal pangeran she Coa ini. Kakekmu tak mau. Keluarga Sin tahu bahwa Coa-ongya itu adalah seorang pangeran yang pendusta dan pembohong. Coa-ongya tak dapat dipercaya. Dan karena saudara sepupu kakekmu itu marah dan gagal, tak dapat membujuk kakekmu lagi maka dengan curang dia lalu membunuh saudaranya sendiri itu. Hanya karena dengki dan dendam!"

"Hm, jadi mulainya dari dukung-mendukung pimpinan," Han Han mengangguk. "Lalu bagaimana, ibu?"

"Kwi-goanswe berusaha membujuk isteri dan anak-anak keluarga Sin!"

"Ah, apakah mereka itu tak tahu bahwa kepala keluarganya dibunuh Kwi-goanswe?"

"Mula-mula tak tahu, karena isteri kakekmu itu tak memberi tahu. Sin-hujin atau nenekmu itu memegang teguh rahasia, karena hubungan kekeluargaan mereka sebenarnya dekat. Tapi ketika anak laki-lakinya tahu dan mulai dendam, karena Kwi-goanswe membunuh ayahnya maka Kwi-goanswe menjadi khawatir dan akhirnya mengejar-ngejar anak ini!"

"Dan anak itu pasti ayah!"

"Benar, cocok. Dan Kwi-goanswe semakin ketakutan setelah seorang kakek lihai menolong dan menyelamatkan ayahmu itu dari rencana pembunuhan Kwi-goanswe!"

"Dua orang suami isteri itu? Sin-liong Hap Bu Kok dan Cheng-giok Sian-li?"

"Bukan... bukan. Mereka itu guru-guru nomor dua dari ayahmu, Liong-ji. Guru pertama adalah Hwa-liong Lo-kai. Kakek ini sahabat Sin-liong Hap Bu Kok dan kebetulan mereka sama-sama pembela Chu Wen!"

"Hm, begitu. Lalu?"

"Lalu Kwi-goanswe gentar. Dia menghadapi orang-orang lihai dari pihak Chu Wen!"

"Tapi bagaimana ayah bisa menjadi murid suami isteri sakti itu?"

"Hwa-liong Lo-kai terbunuh, Liong-ji, dikeroyok dan diserang Kwi-goanswe dan ratusan pasukannya. Jenderal itu mengejar-ngejar ayahmu yang sudah menjadi murid kakek ini, khawatir ayahmu menuntut balas. Dan ketika Hwa-liong Lo-kai binasa tapi muncul suami isteri sakti itu, karena mereka adalah sahabat pengemis tua ini maka selanjutnya ayahmu diambil dan digembleng mereka, karena kakek itu akhirnya tewas!"

"Dibunuh Kwi-goanswe?"

"Ya, dan para pembantunya. Tapi suami isteri sakti ini tak ada yang dapat melawan dan mereka akhirnya membawa lari ayahmu!"

"Hm, dan ayah semakin lihai," Han Han bersinar-sinar. "Dan Kwi-goanswe semakin ketakutan. Bukankah begitu, ibu?"

"Kembali benar," sang ibu mengangguk. "Ayahmu bagaikan harimau tumbuh sayap, Liong-ji. Sin-liong Hap Bu Kok dan isterinya adalah orang-orang pilih tanding yang tak ada duanya di dunia kang-ouw. Sayang, karena mereka sering cekcok dan meninggalkan Chu Wen maka laki-laki itu terbunuh dan pengikutnya cerai berai!"

"Cekcok? Suami isteri cekcok?" Han Han heran, tak pernah melihat ayah ibunya di Hek-yan-pang cekcok. "Kenapa mereka itu, ibu? Kenapa harus cekcok?"

"Ibu tak tahu, tapi mungkin pengaruh Golok Maut itu!"

Han Han terkejut. Ibunya tiba-tiba ngeri dan seolah jerih memandang golok yang diterimanya itu. Han Han menyelipkannya di belakang punggung dan hanya gagang golok yang tampak, gagang yang mengkilat dan terbuat dari tulang harimau. Golok ini memang gagah dan indah bentuknya. Orang tak akan merasa seram sebelum golok dicabut, karena begitu dicabut akan keluarlah cahayanya yang menyeramkan itu, juga hawa dingin yang tiba-tiba memenuhi udara. Seolah golok itu setiap dicabut harus meminum darah! Dan ketika Han Han merasa heran kenapa ibunya bergidik, ngeri, maka ibunya sudah memberi tahu bahwa golok itu tak cocok untuk suami isteri.

"Ada kutukan di golok ini, yakni pemegangnya, tak boleh suami isteri. Maksudku... maksudku, golok ini ingin berteman laki-laki lajang, jejaka murni. Wanita atau gadis tak cocok dengan golok ini. Itulah sebabnya kenapa aku tak pernah membawa-bawanya karena golok itu seakan menolak jika dipakai atau dimiliki wanita!"

"Hm!" Han Han terheran-heran, masih kurang jelas. "Maksudmu golok ini tak suka berdekatan dengan wanita, ibu? Dia menghendaki hanya berteman dengan laki-laki?"

"Ya, jejaka murni. Sebab sekali tidak murni maka tuah golok itu akan bicara!"

"Tidak murni? Tidak murni bagaimana?"

"Kau akan tahu kelak, Liong-ji. Karena itu hati-hatilah. Aku tak dapat menerangkan banyak sebab kelak kau tahu sendiri!" Wi Hong semburat, kemerah-merahan mukanya karena bingung menerangkan itu. Dia hendak berkata bahwa golok itu pantang dipakai laki-laki yang sudah bersanggama dengan wanita. Itulah sebabnya dulu kenapa Sin Hauw terbunuh, karena kutuk atau sumpah golok itu dilanggar. Dan karena puteranya ini tampak jejaka sekali dan masih hijau, Wi Hong tak sanggup memberi tahu lebih jauh maka dia hanya berkata agar Han Han tak mendekati perempuan.

"Tapi ibupun wanita!" Han Han menyanggah. "Apakah aku tak boleh berdekatan dengan ibu pula?"

"Hm, eh... tidak, bukan begitu maksudku. Yang kumaksudkan adalah, ah... kelak kau mengerti sendiri, Liong- ji. Pokoknya jangan dekat-dekat wanita selain ibu!"

Han Han tertawa. "Ibu aneh," katanya "Kenapa begitu, ibu? Bukankah sama saja? Tapi, hmm... aku juga belum pernah berdekatan dengan wanita, setidak-tidaknya waktu aku di Hek-yan-pang dulu. Aku tak suka kepada wanita, aku merasa jijik. Kecuali, hmm...!" Han Han teringat Yu Yin, berhenti dan tidak meneruskan kata-katanya dan sang ibu terbelalak. Tapi ketika pemuda itu meneruskan bahwa kecuali dengan ibunya maka Wi Hong tertawa dan lega, tak tahu bahwa puteranya menyembunyikan rahasia hubungannya dengan Yu Yin!

"Bagus, kau memang sebaiknya hanya dengan ibu saja. Jangan dekati wanita lain, Liong-ji. Apalagi kalau kau sudah membawa Golok Maut itu. Bisa terkena malapetaka!"

"Dan kemudian?" Han Han bertanya. "Bagaimana selanjutnya, ibu? Bagaimana kisah ayah seterusnya itu? Apakah Kwi-goanswe tak berhasil dibunuh?"

"Hm, akhirnya jenderal itu bersama anaknya berhasil dibunuh. Tapi ayahmu mengalami malapetaka lain!"

"Maksud ibu?"

"Kwi-goanswe sebenarnya hanya diperalat saja oleh Coa-ongya itu, atau sebenarnya juga dengan Ci-ongya karena Coa-ongya dan Ci-ongya kakak beradik. Mereka sama-sama saudara kaisar yang sekarang dan karena mereka orang dekat dengan kaisar maka pengaruh atau kekuasaan mereka juga besar!"

"Hm!" Han Han mengangguk-angguk. "Dan ternyata pangeran ini yang kemudian menjadi dalang kematian ayah?"

"Pangeran itu memang biang penyakit, Liong-ji. Tapi pembunuh ayahmu adalah si Kedok Hitam!"

"Baik, dan aku pasti mencari laki-laki ini. Kemudian?"

"Kemudian terjadilah hal yang menggemaskan ini. Coa-ongya ganti mengejar-ngejar dan ingin merangkul ayahmu!"

"Eh, kenapa begitu?" Han Han terheran. "Bukankah mereka musuh?"

"Hm, pada dasarnya pangeran itu bekerja atas kepentingan negara, Liong-ji. Tak dapat disangkal bahwa pangeran itu sudah lama ingin merangkul dan membujuk bekas pengikut-pengikut Chu Wen. Para pengikutnya sendiri bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan para pengikut Chu Wen itu, yang lihai-lihai. Tapi karena para pengikut Chu Wen banyak tercerai-berai setelah Chu Wen tiada maka pangeran itu ingin memperkuat diri dengan merangkul dan membujuk bekas pengikut-pengikut Chu Wen itu."

"Dan satu di antaranya adalah ayah, karena ayah murid Sin-liong Hap Bu Kok yang hebat!"

"Benar, itulah. Memang begitu. Tapi masih ada maksud lain, Liong-ji. Coa-ongya ingin memiliki Golok Maut ini!"

"Hah, apakah dia bisa silat?"

"Tidak, pangeran itu orang lemah. Tapi karena dia tahu dan ingin memiliki senjata-senjata pusaka maka dia tertarik dengan golok peninggalan Hap Bu Kok ini, Liong-ji.Dan akhirnya merangkul atau membujuk ayahmu untuk bergabung, menjadi pembantunya!"

"Dan ayah mau?"

"Salah!" sang ibu menggeleng. "Waktu itu di sana ada Kwi-goanswe, anakku. Ayahmu tentu saja tak mau karena Kwi-goanswe itu telah membunuh ayahnya!"

"Hm, lalu?"

"Lalu Coa-ongya mempergunakan segala akal, dan ayahmu terjebak!" Wi Hong tiba-tiba berhenti, menangis tapi tiba-tiba mengepal tinju dan segera wanita itu menceritakan kelicikan Coa-ongya. Golok Maut ditipu dan ditangkap, senjatanya dirampas. Tapi karena Coa-ongya rupanya sadar bahwa golok itu tak boleh disimpan oleh orang yang sudah berkeluarga, karena Coa-ongya bukan laki-laki lajang maka senjata itu dikembalikan atau setengah dikembalikan ketika dirampas suaminya. Banyak penderitaan dan siksaan yang dialami ayahmu. Kalau Bu-beng Sian-su tidak muncul dan menyelamatkan ayahmu barangkali dari dulu-dulu ayahmu sudah binasa!"

"Bu-beng Sian-su?" Han Han tertegun, mengerutkan kening. "Siapa orang ini, ibu? Kenapa aku belum dengar namanya?"

"Hm, kakek itu kakek dewa yang amat luar biasa, Liong-ji. Kepandaian dan dirinya seperti dongeng. Aku sendiri belum pernah melihatnya dan memang kakek ini dikenal hanya sebagai tokoh dongeng!"

"Kalau begitu dia tidak ada?"

"Tidak, dia ada. Tapi sekarang barangkali sudah tidak ada. Kakek itu adalah kakek dewa dan berkat pertolongannyalah maka ayahmu dapat hidup dan membalas dendam, meskipun belum semua!"

"Hm, dan aku baru kali ini mendengar nama Bu-beng Sian-su. Apakah ayah Beng Tan tidak tahu, ibu?"

"Apa?" sang ibu tiba-tiba melonjak. "Pek-jit Kiam-sut yang dia punyai itu justeru dari kakek ini, Liong-ji. Kalau tidak, tak mungkin Beng Tan dapat menandingi ayahmu!"

Han Han terkejut. "Kalau begitu dia murid kakek dewa itu?"

"Benar, tapi Bu-beng Sian-su sendiri tak menganggapnya sebagai murid. Artinya, Beng Tan hanya mewarisi sebuah dua ilmunya saja tapi itu sudah membuat dia tanpa tanding di dunia kang-ouw, setingkat ayahmu!"

Han Han terkejut. Kalau ayahnya di Hek-yan-pang sudah seperti itu maka dapat dibayangkan betapa hebat dan saktinya kakek dewa Bu-beng Sian-su itu. Hanya dengan sebuah dua ilmunya saja ayahnya di Hek-yan-pang menjadi tanpa tanding. Tapi teringat bahwa ayahnya Si Golok Maut dikatakan dapat ditandingi Beng Tan, ayahnya di Hek-yan-pang maka Han Han ingin tahu siapakah sebenarnya di antara mereka yang lebih unggul.

"Tak ada yang unggul!" ibunya memberi tahu. "Dua-duanya sama hebat dan dua-duanya sama sakti. Kalau ayahmu menang dengan Golok Penghisap Darah ini maka ayahmu di Hek-yan-pang itu juga memiliki Pedang Matahari yang mampu menandingi Golok Maut. Keduanya pernah bertempur tiga hari tiga malam dan tak ada yang menang atau kalah. Seri!"

"Hm," Han Han berkilat matanya. "Kalau begitu mendiang ayah merupakan orang yang luar biasa, ibu. Dia jago tanpa tanding yang berdiri seimbang dengan ayah Beng Tan!"

"Memang benar, dua-duanya sama hebat. Tapi karena ayahmu luka-luka dikeroyok pengawal-pengawal istana tangguh, ketika membunuh Ci-ongya dan keluarganya maka dia melarikan diri dan dikejar-kejar di Lembah Iblis ini. Dan saat itu datang tantangan Beng Tan. Mereka sebenarnya hendak menentukan siapa jago yang sejati, karena dua-duanya juga sama-sama masih penasaran. Tapi ketika Beng Tan datang ke sini tiba-tiba saja meluruk barisan besar itu mengepung ayahmu, ada lima ribu orang!"

Han Han mengkirik. "Lima ribu orang? Hanya untuk menghadapi ayah seorang?"

"Benar, dan pihak istana amat licik, anakku. Mereka tahu bahwa ayahmu luka-luka dan tak memberi kesempatan untuk menyembuhkan diri. Dan yang penting, datang di saat menghadapi tantangan dengan ayahmu Beng Tan!"

"Dan ayah Beng Tan bisa disangka berbuat curang, mendatangkan pasukan kerajaan!"

"Memang begitu, tapi kami semua akhirnya tahu. Beng Tan sendiri akhirnya mengamuk dan marah-marah kepada orang-orang itu, namun terlambat. Ayahmu yang sudah kepayahan dan menderita luka-luka akhirnya terbunuh dan binasa di tangan Kedok Hitam!"

"Hm!" Han Han mencorong matanya, menggeram bagai seekor harimau terluka. "Aku akan membuat perhitungan dengan orang ini,ibu. Dan sumpah tak mau sudah kalau belum membunuhnya!"

"Benar, dan kita juga telah bersumpah. Aku tak akan menyanggul rambutku kalau belum mencuci dengan darahnya. Aku ingin keramas dengan darah si jahanam itu!"

"Dan di mana kita bisa mencari jejaknya? Dan siapa sebenarnya si Kedok Hitam ini?"

"Dia misterius, Liong-ji, ibu juga tak tahu. Tapi ada dua orang yang dapat dimintai keterangan!"

"Hm, siapa mereka?"

"Bukan lain Coa-ongya sendiri. Tapi, hmm, ibu ragu. Tak mungkin dia mau memberi tahu. Pergi ke sana bagiku terlalu berbahaya. Para pelindung atau pembantu pangeran itu terlalu kuat, jumlahnya juga banyak!"

"Aku tak takut!" Han Han berkilat, penuh keberanian. "Tapi siapa orang kedua itu, ibu?"

"Bukan lain ayahmu Beng Tan. Dialah yang dapat dimintai keterangan dan ini kupikir lebih mudah!"

"Ayah Beng Tan?" Han Han terbelalak, terkejut, tak menyangka bahwa ayahnya itulah yang dimaksud. Berarti, dia harus kembali ke Hek-yan-pang! Tapi ketika dia tertegun dan terkejut, ibunya tertawa, tiba-tiba ibunya itu sudah melompat bangun dan berseru,

"Ya, ayahmu Beng Tan itulah yang dapat dimintai jawabannya, Liong-ji. Dia tahu siapa si Kedok Hitam karena dulu mereka pernah bertempur. Hayo, kita ke sana dan tanya dia!"

"Tapi aku pergi meninggalkan mereka!" Han Han tiba-tiba berseru, pucat, bangkit berdiri pula. "Aku telah dimusuhi mereka, ibu. Mereka mereka tak suka kepadaku!"

"Apa?" Wi Hong terbelalak. "Kau dimusuhi? Berani mereka berbuat kurang ajar seperti itu? Eh, justeru kuingin datang ke sana, Liong-ji. Biar kudamprat dan kusemprot mereka mentang-mentang kau bukan anak kandungnya! Apakah Swi Cu tahu kau bukan puteranya?"

"Tidak, belum.... tapi..." Han Han susah menjawab, masygul. "Aku tak ingin ke sana, ibu. Ayah dan ibu Swi Cu telah menyakiti hatiku."

"Apa yang terjadi, ceritakan! Biar kupertaruhkan nyawaku untukmu puteraku seorang!"

Han Han terharu. Tiba-tiba saja diamelihat ibunya ini seperti seekor induk ayam yang siap bertarung. Atau, barangkali seperti seekor harimau betina yang akan diganggu anaknya. Siap menerkam dan mengadu jiwa! Dan ketika Han Han terharu dan menitikkan air mata, sikap itu belum pernah diperlihatkan ibunya di Hek-yan-pang seperti ibu kandungnya ini maka Wi Hong memeluk dan sudah menyambar puteranya itu.

"Liong-ji, katakan kepada ibu. Apa yang mereka lakukan dan kenapa kau pergi dari sana. Apakah Beng Tan memakimu atau menghinamu di luar batas!"

"Tidak," Han Han tiba-tiba menangis, naik sedu-sedannya. "Ayah.... ayah baik-baik saja kepadaku, ibu. Tapi ibu Swi Cu.... dia... dia benci kepadaku!"

"Apa yang menjadi sebabnya?"

"Karena aku memakai caping ini, juga karena kebetulan aku menemukan sebuah kitab pelajaran sinkang yang jatuh di sumur tua."

Han Han lalu menceritakan persoalannya, didengar ibunya dan Wi Hong terbelalak memandang sang putera terkasih. Baru sekarang dia sadar akan caping yang dipakai puteranya itu dan baru sekarang dia mendusin bahwa caping ini memang mirip benar dengan caping suaminya. Han Han memang mirip mendiang Si Golok Maut, puteranya itu bagai pinang dibelah dua. Maklumlah, mereka ayah dan anak kandung! Dan ketika Han Han selesai bercerita sementara sang ibu melotot dan merah padam maka Wi Hong membanting kaki dan berseru gusar,

"Keparat si Swi Cu itu. Akan kuhajar dia. Baik, kita ke sana, Liong-ji. Dan akan kulabrak dia sebagai wanita tak tahu diri. Hayo, tak usah di sini lagi dan kita sikat mereka itu!"

"Nanti dulu," Han Han terkejut, menyambar dan mencekal lengan ibunya itu, "jangan terburu-buru, ibu. Sekarang aku tahu apa yang menjadi sebab. Agaknya, ibu Swi Cu telah tahu bahwa aku bukan putera kandungnya. Itulah sebabnya mengapa ia tak begitu kasih kepadaku. Ah, kita jangan gegabah karena betapapun mereka menggembleng dan telah melepas budi kepadaku!"

"Tak ada budi!" sang ibu membentak. "Mereka dapat tinggal di Hek-yan-pang atas kemalanganku, Liong-ji. Kalau aku tidak begini dan dulu tidak terguncang jiwaku tak mungkin mereka dapat menguasai Hek-yan-pang. Aku terpukul oleh kematian ayahmu. Sekarang aku sudah sadar dan akan merebut kekuasaan di sana. Hayo, kaulah yang berhak dan duduk sebagai ketua!"

"Tidak!” Han Han terpekik, melihat ibunya menyambar dan membawanya lari turun gunung. "Tunggu dulu, ibu. Dengarkan kata-kataku. Aku tak mau menjadi ketua, aku ingin bebas. Tunggu!" dan ketika Han Han melepaskan diri dan memberontak dari pegangan ibunya maka Wi Hong terhuyung dan melotot memandang puteranya itu, yang cepat-cepat menangkap dan mengeluh kembali. "Maaf.... maaf, ibu. Aku tak bermaksud kasar kepadamu. Aku ingin bicara," dan ketika Han Han duduk dan mengajak ibunya duduk pula, menahan gejolak hati, maka Han Han sudah menjelaskan bahwa tak usah sejauh itu mereka marah-marah kepada ayah ibunya di sana.

"Sekarang aku tahu kenapa ibu Swi Cu tak suka kepadaku. Wajahku mirip ayah, dan memang pernah kudengar mereka cekcok tentang aku. Ah, firasat ibu Swi Cu tajam dan benar. Agaknya dia tahu bahwa aku bukan anaknya, tak memiliki getaran tali kasih sebagaimana layaknya seorang putera dengan ibu kandungnya. Hm, ini menyakitkan hatiku, ibu. Tapi aku sekarang telah bertemu denganmu, ibu kandungku. Ayah dan ibu Swi Cu telah mendidik dan membesarkan aku. Kalau sekarang ibu marah-marah dan mau merebut kekuasaan di sana terus terang aku tak setuju. Tapi kalau ibu mau datang tentang pertanyaan si Kedok Hitam, musuh kita itu, aku setuju. Apakah ibu berjanji bahwa tak akan membuat ribut selain urusan ini?"

"Kau tak ingin menduduki kursi ketua disana?"

"Hm, meskipun ayah Beng Tan tahu aku bukan anak kandungnya pasti kedudukan itu diberikannya kepadaku juga, ibu. Kalau sudah waktunya. Tapi aku tak suka menerima tampuk pimpinan. Ayah Beng Tan sudah cukup bijaksana dan Hek-yan-pang di bawah pimpinannya sudah cukup maju dan disegani, aku tak ingin kedudukan. Kalau ibu mau bicara tentang itu terus terang aku tak suka."

"Tapi aku ketua Hek-yan-pang, aku ketua aslinya. Aku masih mempunyai hak, dapat kutuntut!"

"Itu dulu, ibu. Tapi setelah itu ibu tak pernah muncul lagi. Ibu dalam keadaan terguncang, gila. Kalau ibu Swi Cu tidak turun tangan dan cepat-cepat membenahi tentu Hek-yan-pang sudah bubar atau hancur."

"Jadi kau tak mau menjadi ketua?"

"Ah, aku tak suka itu, ibu. Hek-yan-pang di bawah pimpinan ayah Beng Tan tetap berwibawa dan bahkan maju. Aku tak suka menjadi ketua. Sudah cukup aku sebagai putera seorang ketua!"

"Tapi kau berhak akan kedudukan itu, sebagai puteraku!"

"Hm, sama saja, ibu. Sebagai puteramu atau putera ayah Beng Tan yang telah mendidik dan membesarkan aku maka kuanggap tak ada masalah. Sekarang aku hanya ingin bicara tentang si Kedok Hitam itu, bukan urusan ketua perkumpulan!"

"Baik, kalau begitu kita ke sana, Liongji. Sama saja bagiku!"

"Ibu berjanji?"

"Eh, kau mengikat ibumu dengan janji? Kalau mereka tak macam-macam tentu aku juga tak akan macam-macam, Liong-ji. Hayo berangkat dan kita temui mereka!"

"Nanti dulu!" Han Han menahan lengan ibunya. "Kita pamit dulu kepada ayah dan aku juga ingin bersembahyang di makam guru-guru ayahku itu!"

Dan ketika sang ibu tertegun dan sadar, Wi Hong tersenyum maka wanita itu mengangguk dan menahan langkah kakinya. Han Han sudah berlutut dan bersoja di depan makam ayahnya itu. Mulut puteranya komat-kamit dan Wi Hong mendengar janji atau sumpah ulangan puteranya. Dan ketika Han Han berdiri dan berlutut di makam yang lain, makam dari suami isteri Sin-liong Hap Bu Kok maka disini Han Han mohon doa restu.

"Aku mohon locianpwe memberikan restu di alam sana. Semoga aku dapat mencari dan membunuh pembunuh ayahku!"

"Bagus!" Wi Hong terkekeh. "Dan aku juga pamit kepada ayahmu, Liong-ji. Hayo berangkat dan sekarang kita bebas!"

Han Han disentak dan disambar. Sekarang dia membiarkan dan ibunya sudah terbang menuruni bukit. Han Han menarik napas dalam untuk menekan debaran hatinya ke Hek-yan-pang. Ayah dan ibunya di sana tentu bakal terkejut. Rahasia tentang dirinya sudah terbuka. Dia ternyata keturunan Si Golok Maut, pantas wajahnya begitu mirip! Dan ketika Han Han berdebar membayangkan bahwa ayah atau ibunya di sana bakal terkejut, entah apa yang terjadi maka ibu kandungnya ini terkekeh-kekeh dan justeru gembira.

Wi Hong mengalami kegembiraan luar biasa bertemu dengan anak kandungnya ini. Kehebatan dan kesaktian Han Han telah dilihatnya. Ah, siasatnya dulu berhasil. Anaknya ini telah mewarisi seluruh kepandaian Beng Tan. Dan teringat bahwa Han Han telah memegang Golok Maut, senjata warisan ayahnya maka Wi Hong girang bukan main karena hal itu membuat anaknya seolah harimau tumbuh sayap!

Han Han sendiri tak berpikiran sampai ke sini. Pemuda itu berkerut kening dan sering diam kalau tidak ditegur. Ibunya tak perduli dan tertawa-tawa, tak menghiraukan degup kencang jantung puteranya setelah mereka kian dekat saja dengan Hek-yan-pang. Maklumlah, mereka sudah meninggalkan Lembah Iblis dua hari dua malam, berarti mereka semakin dekat saja dengan tempat tujuan itu. Dan ketika tak lama kemudian mereka sampai juga ke sana, tepat di saat matahari terbenam maka Han Han mengajak ibunya beristirahat.

"Kenapa?" ibunya tertegun. "Jauh-jauh kita datang, Liong-ji. Dan mereka sudah di ambang mata!"

"Hm, aku tak suka malam-malam begini. Aku ingin kita datang secara gagah, bukan di malam gelap. Kalau ibu turut kata-kataku maka kita istirahat di hutan ini saja dan besok pagi-pagi baru ke sana."

"Ah, baiklah. Dan mari kutunjukkan guha di mana dulu aku menukar dirimu dengan bayi Swi Cu, hi-hik!" Wi Hong tak membantah, tertawa dan menuruti kata-kata puteranya dan Han Han mengerutkan kening. Ibunya berkelebat dan menuju ke tengah hutan, membelok dan akhirnya menguak sebuah tanaman perdu. Dan ketika di situ muncul sebuah lubang dan itulah guha di mana dulu ibunya menukar anak, antara dirinya dengan putera ayahnya Beng Tan maka Han Han atau yang sebenarnya bernama Giam Liong ini menyatukan alisnya yang tebal, tampak tak begitu gembira.

"Lihat, inilah guha itu, Liong-ji. Dan aku berhasil mengecoh mereka semua hingga terkibul. Hi-hik, kau telah mewarisi kepandaian si Pedang Matahari dan itu berarti kau lebih hebat dari mendiang ayahmu sendiri!"

"Hm, inikah kiranya?" Han Han menoleh ke sana-sini. "Tersembunyi dan rapat sekali, ibu. Meskipun aku sebenarnya tak memuji perbuatanmu itu."

"Eh, kau menyalahkan ibumu?"

"Maaf, aku tidak menyalahkan, tapi sekedar kurang suka saja. Aku jadi tak enak karena sudah mewarisi kepandaian ayahku Beng Tan!"

"Itu yang kuharap, aku tak dapat menggemblengmu sendiri. Kau menyesal, Liong-ji?"

Han Han terkejut. Ibunya tiba-tiba terisak dan kiranya dia telah melukai perasaan ibunya itu. Sang ibu akhirnya menangis dan berkata bahwa tanpa begitu tak mungkin mereka dapat membalas dendam. Si Kedok Hitam amatlah lihai dan setelah Golok Maut binasa maka Beng Tan itulah satu-satunya orang yang dapat mengalahkan. Dan ketika ibunya mengguguk dan berkata bahwa kepandaiannya sendiri amat rendah, hingga tak dapat dipakai mendidik sang putera maka Han Han sadar dan cepat memeluk ibunya itu.

"Aku menyesal, tapi bukan karena itu melainkan karena telah melukai perasaan ibu. Baiklah, aku minta maaf, ibu. Apa yang kau lakukan betapapun adalah untuk kepentingan diriku juga, maksud ibu untuk membalas dendam kematian ayah. Aku tak akan mengulangi kata-kata itu lagi dan harap ibu tidak berduka."

Wi Hong girang. Setelah Han Han tidak menyalahkannya dan dapat menerima apa yang dia lakukan maka mereka memasuki guna itu. Han Han menarik ibunya ketika sang ibu hendak masuk begitu saja, maklumlah, dia mendengar desis perlahan dari dua ekor ular yang sedang merayap hati-hati. Dan ketika Han Han menjentikkan kuku jarinya dan dua ekor ular itu jatuh, menggeliat dan roboh dengan kepala pecah maka Wi Hong terkejut karena itulah dua ekor ular merah yang amat beracun sekali.

"Ang-tok-coa (Ular Racun Merah)!" serunya.

"Benar, dan mungkin di dalam masih ada ular-ular yang lain, ibu. Biar kusapu mereka kalau ada.... wut!" Han Han mengibaskan ujung lengan bajunya, guha tiba-tiba mengeluarkan suara gemuruh karena seperti angin topan saja mendadak kibasan atau kebutan ujung lengan baju pemuda itu menyapu ke dalam. Dan ketika terdengar suara "tepak-tepok" dan puluhan ular jatuh, hancur dan binasa di dinding maka Han Han menyalakan obor dan Wi Hong ngeri melihat banyaknya ular-ular merah yang ada disitu!

"Luar biasa, untung ada kau!"

"Hm, aku mendengar gerak dan desis mereka, ibu. Kau tak mendengar karena rupanya sedang bersedih tadi."

"Ah, tapi betapapun kau lihai. Hanya dengan menggerakkan lengan baju saja maka puluhan ular rontok binasa!"

"Sudahlah, kita masuk, ibu. Dan beristirahat di dalam,"

Han Han masuk, obor di tangan sudah siap dan Wi Hong mengikuti puteranya itu dari belakang. Wanita ini meleletkan lidah karena kalau sampai dia dikeroyok puluhan ular-ular merah, yang beracun dan amat berbisa tentu berbahaya juga. Dia tadi tak mendengar karena betul sedang merasa sedih, kecewa oleh kata-kata puteranya tadi. Tapi begitu ular-ular sudah dibunuh dan Han Han mengibaskan lengannya lagi, bangkai-bangkai ular itu terbang keluar maka malam itu mereka beristirahat dengan tenang dan diam-diam Wi Hong kagum akan kepandaian puteranya ini.

Pagi itu dapat dibayangkan betapa kaget, heran serta tercengangnya anggauta-anggauta Hek-yan-pang. Perkumpulan yang dikelilingi danau dan menjadi semacam pusat pemerintahan kecil bagi markas Walet Hitam itu melihat kedatangan Han Han dan ibunya. Han Han berjalan tenang dan mula-mula mereka tentu saja harus melewati perkampungan murid-murid lelaki yang berjaga di luar. Perkampungan atau rumah-rumah di sekitar danau itu memang sebagai benteng atau tameng sebelum tamu memasuki pusat markasnya, yang berada di tengah pulau.

Han Han datang dengan sikapnya yang tenang dan wajahnya yang dingin serta beku seperti biasa itu mula-mula disambut gembira oleh anak murid Hek-yan-pang. Beberapa di antaranya menjatuhkan diri berlutut, karena jelek-jelek Han Han adalah putera ketua, jadi tentu saja pimpinan di situ. Tapi ketika mereka melihat kedatangan Wi Hong dan ibu serta anak yang sama-sama berambut kemerahan, seperti beroles darah maka semua tertegun dan ngeri. Apalagi Han Han tak menunjukkan senyumnya, dingin di balik bayang-bayang caping Si Golok Maut!

"Han-kongcu datang.... Han-kongcu datang...! Beri tahu kepada pangcu dan hu-jin (nyonya)!"

Semua tiba-tiba berlarian. Mereka menyambut tapi segera menyibak ketika Wi Hong mengibas. Wanita itu masih benci karena Hek-yan-pang sekarang sudah dipenuhi murid lelaki. Dan ketika mereka berpelantingan dan tentu saja berteriak, kaget, maka Han Han menahan lengan ibunya untuk tidak berbuat kejam.

"Kita tak perlu mengganggu mereka. Mari terus ke tengah pulau dan menghadap ayah!"

Anak-anak murid ribut. Han Han sudah menuju danau dan sebuah perahu tiba-tiba meluncur cepat, penumpangnya menoleh dan menggigil memandangnya. Itulah anak murid Hek-yan-pang yang akan memberi laporan. Mereka tentu kecut melihat ibunya bersamanya, karena dulu ibunya pernah menghajar murid-murid lelaki ini. Dan ketika Han Han menyambar dan melepaskan sebuah perahu, yang banyak tertambat di situ maka Han Han mengajak ibunya untuk meloncat naik.

"Mari, kita ke pulau. Dan ibu tak usah menunjukkan pedang itu!" Han Han membenamkan Golok Mautnya, tak ingin membuat geger tapi ibunya terkekeh dan malah memperlihatkan gagang pedang dibelakang punggung. Pamer. Sikapnya seperti orang yang bahkan menantang! Dan ketika Han Han tak dapat berbuat apa-apa dan mengayuh perahunya, cepat sekali, maka perahu tiba-tiba mencelat dan terbang membelah permukaan air danau...!

Naga Pembunuh Jilid 10

NAGA PEMBUNUH
JILID 10
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
Jilid 10 "SIN HAUW! Ah, kau... kau melepaskan kakek-kakek jahanam itu? Kau tidak membunuhnya? Ah, benci aku kepadamu, Sin Hauw. Benci aku. Kau tak tahu penderitaanku selama ini... plak-plak!" dan Han Han yang ditampar serta mendapat marah-marah wanita itu tiba-tiba terhuyung tapi ditubruk lagi, dipeluk dan dirangkul dan tiba-tiba wanita itu menangis menciumi dirinya.

Han Han meremang namun entah kenapa dia tidak mengelak. Semua tamparan dan marah-marah itu dibiarkannya. Hatinya terharu dan teremas-remas melihat keadaan wanita ini. Han Han tiba-tiba bercucuran air mata pula, menangis! Tapi ketika wanita itu melihatnya dan tertegun, membelalakkan mata, tiba-tiba wanita ini terkekeh dan melepaskan pelukannya.

"Hauw-ko, kau menangis? Kau tiba-tiba berobah menjadi begini cengeng dan tak malu menangis? Ah, hi-hik. Lucu, Hauw-ko. Tak sepantasnya kau sebagai Si Golok Maut menangis. Atau mungkin kau menangis karena bahagia bertemu denganku lagi, ouhh...!" dan wanita itu yang tertawa dan menangis lagi, benar-benar gila, sudah menubruk dan menciumi Han Han.

Pemuda ini tersedak namun cepat mengelak ketika wanita itu mencium bibirnya. Dia dianggap si suami dan Han Han tentu saja jengah. Hampir ciuman itu mendarat di bibir! Dan ketika, Han Han sadar bahwa salah paham terjadi di sini, wanita itu menganggapnya Si Golok Maut maka dia melepaskan diri dan berkata, suaranya penuh haru,

"Bibi, kau lihatlah aku baik-baik. Aku bukan Si Golok Maut, suamimu. Aku adalah orang lain dan lihatlah aku bahwa aku bukan suamimu itu!"

Aneh, wanita itu tampak terkejut. Ia mengeluarkan suara kecewa ketika ciumannya di bibir dielak. Tapi ketika Han Han mendorongnya halus dan pemuda itu berhadap-hadapan dengannya tiba-tiba dia membanting kaki dan berseru, "Hauw-ko, apa-apaan kau ini? Kau masih juga mau mempermainkan aku? Ah, bertahun-tahun aku merindukanmu, Hauw-ko. Dan jangan permainkan aku seperti ini. Aku tak lupa wajahmu. Aku tak lupa akan sorot dan sinar matamu itu. Kau adalah Hauw-ko ku itu, kau suamiku. Jangan, berkata seperti itu karena hatiku teriris luka!" dan Han Han yang ditubruk serta dipeluk lagi, melihat wanita itu tersedu dan mengguguk akhirnya mendorong dan melepaskan diri lagi, berbisik lembut, mulai terpengaruh oleh penderitaan dan tekanan jiwa wanita ini.

"Bibi, aku adalah Han Han. Aku bukan suamimu. Aku dari Hek-yan-pang, putera ayahku Pek-jit-kiam Ju Beng Tan."

Luar biasa, wanita itu tiba-tiba mencelat. Han Han tersentak karena tiba-tiba wanita itu melengking. Suaranya menggetarkan bukit dan hampir Han Han menampar wanita itu ketika mencengkeramnya di waktu melayang turun. Tapi ketika sesuatu yang aneh terjadi karena bola mata wanita itu yang tadi bergerak-gerak liar sekonyong-konyong kini tampak sadar dan waras, hal yang membuat Han Han menahan tamparannya maka pundaknya sudah dicengkeram kuat-kuat dan bentakan atau suara yang penuh kaget bertanya kepadanya, ditahan-tahan.

"Kau.... kau dari Hek-yan-pang? Kau putera Beng Tan ketua Hek-yan-pang? Kau anak Swi Cu?"

"Benar," Han Han menggangguk, tiba-tiba perasaannya terguncang kuat, tergetar oleh debaran yang menekan jiwa. "Bibi kenal orang tuaku? Bibi tahu ayah ibuku?"

"Ahh!" lolong itu tiba-tiba berobah histeris, terganti tawa panjang. "Kalau begitu kau anakku, Han Han. Kau Giam Liong. Bukan Han Han, oohhhh...!" dan Han Han yang mengkirik dicengkeram dan ditubruk, mendengar tawa dan lengking itu tiba-tiba melihat wanita ini roboh dan pingsan.

Han Han tak tahu bahwa itulah ibunya, ibu kandungnya. Wi Hong terguncang kuat dan perasaan yang luar biasa bahagianya tak dapat diterima seketika itu juga oleh wanita ini. Getaran hebat mengguncang syarafnya. Kegilaan wanita ini tiba-tiba sembuh, seketika itu juga. Namun karena pukulan itu terlampau kuat dan Wi Hong tak tahan akhirnya wanita ini roboh dan pingsan. Han Han cepat menolong dan pemuda itu berdegupan kencang. Dia sebenarnya sudah tertarik bahwa wanita ini ternyata adalah isteri mendiang Si Golok Maut, padahal dia amat ingin tahu tentang kisah Si Golok Maut itu, yang caping dan kitab pusakanya ditemukan di sumur tua.

Maka begitu dia bertemu wanita ini dan kebetulan wanita itu adalah orang yang paling dekat dengan Si Golok Maut, berarti dia dapat menggali cerita dari wanita ini maka kegirangan Han Han diiringi pula oleh pengakuan wanita itu bahwa dia adalah anaknya! Han Han terguncang dan terpukul kuat. Sedetik darahnya tersirap tapi Han Han akhirnya sadar bahwa wanita yang sedang dihadapi ini adalah wanita yang tidak waras. Han Han tak tahu bahwa seketika itu juga ibunya sudah sembuh. Dan karena menganggap wanita itu masih gila, Han Han tak tahu dan menolong wanita ini maka alangkah heran dan tertegunnya Han Han ketika tiba-tiba wanita itu mengguguk dan menciumi mukanya, ketika siuman, tak menampakkan tanda-tanda gila atau tidak waras.

"Ah, Liong-ji..... Liong-ji... kau sudah begini besar dan mirip ayahmu? Kau demikian gagah dan dapat mengusir orang-orang macam Sudra dan Mindra itu? Oh, terkabul rencana ibumu, nak. Terkabul sekarang apa yang dulu pernah kuinginkan!"

Dan Han Han yang diciumi serta dibelai, tidak lagi melihat wanita itu menganggapnya sebagai Si Golok Maut melainkan sebagai putera sendiri, putera kandung maka Han Han tersentuh dan menitikkan air mata merasa getaran-getaran penuh kasih tersalur dari jari-jari wanita itu, getaran- getaran kasih yang belum pernah dirasakannya dari Swi Cu, ibunya! Tapi begitu teringat ibunya sedangkan wanita ini juga menganggapnya sebagai anak, hal yang dirasanya tak mungkin maka Han Han melepaskan diri dan berkata gemetar,

"Bibi, aku adalah anak Swi Cu. Aku putera Pek-jit-kiam Ju Beng Tan. Kau sadarlah dan jangan menganggapku seperti itu..."

"Oh, tidak tidak. Justeru kaulah yang tidak tahu, Liong-ji. Kau anakku!"

"Aku adalah Han Han, bukan Liong."

"Tidak!" wanita itu tiba-tiba mencengkeram Han Han. "Kau bukan Han Han, anakku. Kau adalah Giam Liong. Tepatnya Sin Giam Liong, putera Si Golok Maut Sin Hauw!"

Dan ketika Han Han terkejut dan meremang melihat sinar mata wanita itu, yang mengaku sebagai ibunya maka wanita ini menariknya duduk. "Dengarlah, aku mau bercerita!"

Dan ketika Han Han duduk dan mendengarkan, jantungnya semakin berdegup kencang maka wanita itu, Wi Hong, menangis dan menahan sedak dua kali.

"Aku tidak bohong kalau mengatakan bahwa kau adalah anakku. Dengar, kau bukan Han Han, anakku. Melainkan Giam Liong. Aku dulu menukarmu dengan anak yang dilahirkan Swi Cu. Kau adalah anak yang kulahirkan dulu. Kau adalah benih dari ayahmu Si Golok Maut. Dan kalau kau ingin bukti tentang ini maka perlihatkan pangkal pahamu karena di situ pasti ada dua goresan merah dari bekas kukuku dulu. Nah, betul atau tidak!"

Han Han terbelalak. Tiba-tiba saja ia menjadi pucat karena apa yang dikata wanita ini benar. Memang ada dua goresan merah di pangkal pahanya. Goresan itu tak dapat hilang dan diam-diam dia heran serta jengkel kenapa goresan itu berada di situ. Han Han merasa risih dan terganggu. Tapi karena itu adalah rahasia pribadinya dan tentu saja tak ada orang lain tahu, karena goresan itu di pangkal pahanya maka Han Han kaget sekali ketika melihat wanita ini tahu.

"Hayo!" Han Han pucat. "Tunjukkan kepada ibumu, nak. Atau biar aku merobeknya dan lihat apakah kau bukan anakku bret!" dan celana Han Han yang sudah dirobek dan direnggut cepat tiba-tiba membuat Han Han mengeluh dan hampir meloncat.

Pemuda ini berseru tertahan tapi entah kenapa tiba-tiba dia tak sanggup mencegah wanita itu. Han Han seketika yakin bahwa inilah ibunya. Dan karena ibunya yang merenggut maka dia mendiamkan saja ketika celananya sudah disingkap dan benar saja tampaklah dua goresan merah itu, bekas kuku yang dulu diguratkan Wi Hong sebagai tanda.

"Nah!" wanita itu berseru, menangis. "Apakah tanda ini tak cukup bagimu, anakku? Apakah aku bukan ibumu? Kau adalah puteraku. Kau adalah anak yang dulu kulahirkan itu!" dan ketika tangis dan sedu-sedan meledak di situ, Han Han terkesima, maka wanita ini sudah menubruknya dan merapatkan kembali pipa celana itu.

"Liong-ji.... Liong-ji, kau anakku. Akulah ibumu. Ah, bertahun-tahun aku memendam rindu, nak. Bertahun-tahun aku menjadi gila karena ulah orang-orang jahat. Ah, kita sudah bertemu lagi. Hayo sembahyang di makam ayahmu sebagai rasa syukur!"

"Nanti dulu!" Han Han tiba-tiba meloncat dan berseru, menggigil, seluruh mukanya merah padam. "Ceritakan dulu secara lengkap bagaimana semuanya ini bisa terjadi, ibu. Dan kalau begitu mana anak ibu Swi Cu!"

"Kau... kau sudah mempercayaiku sebagai ibumu?" Wi Hong berseri-seri, tak menghiraukan pertanyaan anaknya itu. "Ah. panggil sekali lagi seperti itu, Liong-ji. Panggil aku sebagai ibu karena betapa rinduku disebut seperti itu!"

"Ibu...!"

"Ooohhhhh....!" dan Wi Hong yang mengeluarkan keluhan panjang, mirip suara kucing yang bertemu anaknya tiba-tiba menubruk dan merangkul puteranya ini lagi, tertawa dan menangis dan Han Han berkali-kali diciumi. Wi Hong tak memperdulikan gerakan anaknya yang meronta, terus dipeluk dan dipeluk ketat. Dan ketika anaknya disuruh memanggilnya lagi, memanggilnya sebagai ibu berkali-kali maka Han Han roboh dan tersedu di pelukan ibunya itu.

"..... ibu, ohh. ibu!"

Anak dan ibu bertangisan. Han Han merasakan kebahagiaan yang luar biasa besarnya yang tak dapat ditahan lagi. Dia lemas dan roboh di pelukan ibunya itu. Pelukan dan ciuman ibunya begitu penuh kasih sayang, begitu menggetarkan. Tapi ketika ibunya menangis dan tertawa, khawatir bahwa ibunya akan kumat lagi, kambuh gilanya maka Han Han menekan semua gejolak hatinya itu dan cepat melepaskan diri, mendorong ibunya dengan lembut sementara sebuah kecupan masih juga diterimanya dikening!

"Liong-ji, kau anakku. Kau benar-benar anakku. Ah, hi-hik. Matipun seketika ini aku juga mau, nak. Ah, penderitaan ibumu yang bertahun-tahun tiba-tiba saja seolah lenyap begitu bertemu dirimu. Kita harus sembahyang dan mengucap syukur di makam ayahmu!"

"Hm, kita harus mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan," Han Han membetulkan, menarik napas dalam. "Aku harap kau tidak apa-apa lagi, ibu. Aku harap kau sehat lahir batin!"

"Eh!" sang ibu terkejut, seketika menghentikan tangis dan tawanya. "Kau maksudkan ibumu tidak waras? Gila, kau telah menyembuhkan aku, Liong-ji. Aku sudah tidak gila lagi. Lihat!" dan sang ibu yang mengibaskan rambut dan menyanggulnya kembali, cepat dan lincah akhirnya sudah berobah menjadi Wi Hong yang cantik dan jelita, waras dan anggun.

Han Han terpesona memandang wajah ibunya ini. Bola mata itu memang sudah tidak berputar-putar lagi dan ibunya betul-betul telah sembuh, tidak gila. Dan ketika Han Han tersenyum dan mengangguk, lega, maka ibunya bertanya apakah dia masih cantik.

"Lihat, pandang ibumu baik-baik, nak. Apakah aku masih cantik atau tidak. Kalau aku sudah begini kurasa tak ada orang gila yang memperhatikan atau merawat tubuhnya lagi. Tapi aku akan melakukan itu, semata menunjukkan kepadamu bahwa aku masih ibumu yang waras!"

Han Han terharu. "Ibu sungguh cantik," pemuda itu meraih. "Dan tak heran kalau ayah sampai jatuh cinta. Hm, aku tadi hanya khawatir saja, ibu, maafkan. Tapi aku percaya bahwa kau sudah tak apa-apa lagi. Bagaimana sekarang, dapatkah ibu menceritakan secara lengkap cerita ini?"

"Tentu, mari, Liong-ji. Duduk dan dengarkanlah!" dan ketika Han Han mulai terbiasa oleh sebutan itu, mula-mula memang merasa aneh dan janggal bahwa dia berganti nama dengan begitu cepat, hal yang tak disangkanya, maka Han Han sudah duduk dan mendengarkan kata-kata ibunya, dipegang dan diremas lembut oleh jari ibunya yang tak pernah melepaskannya barang sedetik pun juga.

"Nah, aku akan bercerita pada peristiwa atau kisah dua puluh tahun yang lalu. Barangkali kau tahu bahwa waktu itu aku menyerbu Hek-yan-pang!"

"Hm, ayah dan ibu Swi Cu, eh... bibi Swi Cu hanya bercerita secara samar-samar saja. Aku juga mendengarnya tapi kurang jelas."

"Baik, aku yang akan menjelaskannya, Liong-ji. Dan boleh kau tanya ini kepada Beng Tan, ayah keduamu itu!"

Lalu ketika Han Han mendengarkan dan sedikit berkerut kening, karena hubungannya dengan ayah atau ibunya di Hek-yan-pang terasa "mengganjal", karena dia sudah menemukan ibu kandungnya ini maka sang ibu lalu menceritakan peristiwa itu. Betapa Wi Hong menyerbu dan sengaja mencari gara-gara untuk menukarkan anaknya itu, karena Swi Cu juga mempunyai anak laki-laki dan dia berhasil. Dan ketika Hek-yan-pang geger karena anak Swi Cu diculik, Wi Hong melarikan diri ke hutan maka di situ wanita ini menukarkan anaknya.

"Nanti dulu," Han Han memotong. "Apakah maksud tujuan ibu memang hendak menukar anak. Apakah ibu waktu itu sudah mendengar bahwa bibi Swi Cu sudah mempunyai anak!"

"Hm, waktu itu belum," sang ibu mengangguk-angguk. "Semula aku datang untuk menyemprot sumoiku itu, Liong-ji. Karena Swi Cu adalah adik seperguruanku perempuan. Aku datang untuk menegur di samping karena perasaan rinduku kepadanya juga ada. Tapi ketika aku menyelinap dan memasuki kamarnya ternyata di situ aku melihat anaknya itu maka tiba-tiba timbul keinginanku untuk menukar bayi!"

"Hm, begitukah? Kenapa?"

"Ah, aku ingin membalas dendam ayahmu, Liong-ji. Karena itulah aku lakukan itu!"

"Aku belum mengerti," Han Han mengerutkan kening. "Apa maksudmu ini, ibu. Kenapa aku harus kau tukar."

"Bodoh!" Ibunya mendamprat. "Di dunia ini yang dapat menandingi Pek-jit-kiam Ju Beng Tan belum ada, Liong-ji. Kalau aku menaruhmu di sana dan Swi Cu serta suaminya menganggap dirimu sebagai anak mereka maka otomatis seluruh kepandaian laki-laki itu akan diturunkan kepadamu. Aku sendiri merasa tak sanggup menggemblengmu, kepandaianku masih rendah. Kau lihat sendiri betapa tadi aku dibuat jatuh bangun oleh dua kakek jahanam itu!"

"Hm!" Han Han terkejut. "Jadi itukah maksud ibu? Jadi ibu sengaja menaruhku di sana agar mewarisi kepandaian ayah Beng Tan?"

"Benar, karena hanya Beng Tan itulah yang dapat kuharap, Liong-ji. Dan sekarang rencanaku berhasil. Kau dapat mengalahkan dua kakek jahanam tadi dengan mudah!"

"Tapi di mana putera mereka sendiri? Dan kenapa ibu tak pernah menengokku di Hek-yan-pang?"

"Ah," Wi Hong tiba-tiba menangis. "Aku tak akan datang kalau kau belum dewasa, Liong-ji. Tapi sekali dua pernah juga aku ke sana tapi Hek-yan-pang sudah dijaga ketat. Ibu tak dapat masuk!"

"Hm, dan anak yang kau tukar itu?"

"Dia... dia dibawa seorang kakek sakti. Sejak itu aku menderita lagi dan terlunta-lunta sepanjang hidup!"

"Nasibmu menyedihkan," Han Han tiba-tiba memeluk ibunya ini. "Dan ceritakan padaku tentang ayahku itu, ibu. Bagaimana dia terbunuh dan siapa pembunuhnya!"

"Inilah yang kutunggu!" sang ibu melompat bangun, mata berapi-api. "Kau harus membalas kematian ayahmu itu, Liong- ji. Karena dia mati dengan cara yang mengerikan sekali. Pembunuhnya adalah si Kedok Hitam. Tapi aku tak tahu siapa orang ini kecuali kelihaiannya yang luar biasa!"

"Hm!" Han Han mulai terbakar. "Coba ibu ceritakan tentang ayahku itu. Bagaimana kematiannya."

"Dia dipotong-potong. Tubuhnya dirajam!"

"Apa?"

"Benar!" sang ibu tiba-tiba histeris. "Ayahmu dibunuh dengan cara yang keji sekali, Liong-ji. Kedok Hitam itu memotong-motong tubuhnya seperti anjing. Orang itu harus dibunuh melebihi anjing. Aku akan menghirup darahnya kelak kalau kau dapat membunuhnya!"

Han Han meremang. Dia melihat ibunya berteriak dan melengking tinggi, suaranya mirip lolong srigala dan berceritalah ibunya itu akan kebiadaban musuh. Dan ketika sang ibu menceritakan betapa pembunuhnya amat keji, tak kenal kasihan maka Han Han berdiri dan menghantam roboh sebuah batu di sisi kirinya, batu sebesar bukit.

"Sumpah demi ayah akan kucari dan kubunuh jahanam itu. Akan kubeset dan ku kuliti tubuhnya. Ah, aku tak mau hidup berdua dengannya di bumi ini, ibu. Sumpah demi para dewa bahwa hari ini aku hanya akan makan nasi dan air putih saja..... bress!"

Batu di samping Han Han itu mengeluarkan suara gemuruh, meledak dan hancur dan Han Han mengeluarkan sumpahnya untuk tidak menikmati daging atau sayur, begitu juga minuman kecuali air putih saja. Dan ketika langit mendadak gelap dan terdengar suara petir di sana, tanda sumpah Han Han disaksikan iblis atau para dewa maka Han Han terduduk dan ibunya menangis memeluk puteranya ini. Han Han telah mendengar kekejaman musuh terhadap ayahnya. Tubuh ayahnya itu katanya dipotong-potong dan dicacah. Dan ketika ibunya menangis tersedu-sedu dan mereka berdua terbakar oleh dendam mendadak Wi Hong meledakkan rambutnya dan rambut yang sudah disanggul itu tiba-tiba diurai lagi.

"Dan aku juga bersumpah!" wanita itu memekik. "Aku tak mau menyanggul rambutku sebelum dicuci dengan darah jahanam itu, anakku. Biarlah sumpahku ini didengar para dewa dan kita berdua sama-sama menuntut balas!"

"Dar!" di langit juga terdengar dua kali ledakan petir, Wi Hong terhuyung dan jatuh terduduk. Awan mendung tiba-tiba semakin tebal. Dan ketika ibu dan anak terkejut melihat itu sekonyong-konyong hujan turun dengan amat lebatnya.

"Ibu, kita harus berteduh. Sumpah kita telah didengar para dewa!"

"Tidak!" sang ibu meloncat bangun. "Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu, Liong-ji, peninggalan-peninggalan ayahmu. Mari ikut dan kita ke sana!" dan ketika Wi Hong menyambar anaknya dan diajak berkelebat, hujan segera membasahi mereka maka Han Han tertegun tapi tak menolak.

Mereka terus berlari dan menuju ke selatan. Aneh, hujan itu mengikuti mereka pula. Dan ketika ibunya mengajak masuk keluar hutan dan Han Han terpaksa menahan pertanyaannya tentang anak laki-laki yang ditukar ibunya, karena ibunya belum memberi tahu siapa kakek sakti itu maka dua hari dua malam mereka basah kuyup ditimpa air hujan. Baru setelah pada hari ketiga ibunya memasuki sebuah lembah dan mendaki tebing yang terjal maka hujan berhenti dan Han Han tertegun melihat rambut ibunya merah seperti darah!

"Ibu, rambutmu itu...!" sang anak terkejut, membelalakkan mata. "Kenapa merah seperti darah? Kau memakai getah apa?"

"Getah?" sang ibu juga tertegun, mengibaskan rambutnya ke muka. "Ah, aku tak memakai getah apa-apa, Liong-ji. Dan kau, he. rambutmu pun semerah darah!"

Han Han terkejut berseru tertahan. Dia meraba rambutnya itu dan tiba-tiba saja air hujan yang membasahi rambutnya sudah merah seperti darah. Diplurut dan dikeringkan tetap saja air itu berwarna merah. Dan ketika Han Han tertegun karena rambutnya juga semerah darah, persis rambut ibunya maka sang ibu mengeluh dan terhuyung bersandar tebing.

"Liong-ji, agaknya dosa atau kutukan Giam-to menyertai dirimu pula. Hati-hatilah, aku jadi takut!"

"Giam-to (Golok Maut)? Benda apakah itu, ibu? Senjata apakah?"

"Itulah senjata mendiang ayahmu. Aku ke sini karena hendak memberikan golok itu kepadamu. Tahukah kau dimana kita sekarang?"

"Tidak."

"Inilah Lembah Iblis. Di sinilah dulu ayahmu terbunuh!" dan ketika Han Han tertegun karena ibunya menangis lagi, lembah atau tebing itu menyeramkan sekali maka seekor gagak hitam tiba-tiba berkaok di udara.

"Gaok, gaok...!"

Han Han meremang. Tiba-tiba dia menoleh dan memandang ke segala penjuru. Dia telah diajak ibunya mendaki tebing ini dan tampaklah di bawah sana tanaman perdu dan rumput-rumput ilalang. Mereka sudah berada di tempat yang tinggi dan tiba-tiba Han Han terkejut melihat belasan tengkorak di balik batu hitam. Tadi dari bawah benda itu tak nampak tapi kini tiba-tiba kelihatan. Dan ketika Han Han terkejut karena di sekitar lembah ternyata terdapat ratusan atau ribuan tengkorak yang berserakan di sana-sini, seolah di tempat itu pernah terjadi pembantaian atau perang besar-besaran maka Han Han terbelalak.

"Ibu, tengkorak-tengkorak itu..." Han Han menuding. "Apakah penghuni Lembah Iblis?"

"Itulah korban-korban ayahmu," sang ibu menerangkan, tiba-tiba tersenyum dan tertawa dengan mata berseri. "Di sini ayahmu dikeroyok ribuan pasukan, Liong-ji. Tapi separoh dari mereka dibabat dan dibunuh. Tapi karena ayahmu sebelumnya sudah terluka dan musuh amat licik, tak tahu malu maka ayahmu akhirnya menjadi korban dan mereka mengiring roh ayahmu ke alam baka!"

"Itu pasukan kerajaan? Ayah yang membunuh?"

"Benar, ayahmu dikejar-kejar, anakku. Tapi ayahmu amat gagah dan luar biasa sekali. Kalau sebelumnya dia tidak terluka jangan harap Kedok Hitam mampu membunuhnya!"

"Hm, ceritakan itu di sini," Han Han tiba-tiba berkerotok, mengepal tinju. "Coba ceritakan kenapa ayah dikejar-kejar pasukan kerajaan, ibu. Dan kenapa Kedok Hitam memusuhinya. Apa yang terjadi di balik semuanya ini!"

"Kedok Hitam adalah antek Coa-ong-ya!"

"Ah, Coa-ongya?" Han Han terkejut, tertegun, teringat bahwa Ji-mo dan Twa-mo juga pernah menyebut-nyebut nama itu! "Siapa Coa-ongya ini, ibu? Dan kenapa memusuhi ayah?"

"Dia penipu dan pendusta. Dia adalah manusia yang tak dapat dipercaya di Seantero jagad!"

"Hm-hm, ceritakan ini. Ceritakanlah kepadaku dan kenapa ayah bermusuhan dengannya!"

"Kau tak ingin menengok makam ayahmu dulu? Kita sudah di sini, Liong-ji. Inilah tempat tinggal ayahmu dulu. Sebaiknya kita ke sana dan bersujudlah di depan makam ayahmu!"

"Ayah ada di sini?"

"Ya, berikut peninggalan-peninggalannya. Aku menyimpan kitab dan Golok Mautnya di sini. Sekarang untukmu!" dan ketika Han Han tertegun dan mengangguk, berdebar, maka ibunya sudah menariknya untuk diajak berkelebat lebih ke atas. Mereka memang belum tiba di puncak meskipun sudah di tempat ketinggian. Han Han merah mukanya mendengar cerita ibunya tadi, bahwa ayahnya dibunuh dan dirajam di sini. Dan ketika mereka tiba di atas tebing dan di situlah ibunya berhenti maka Han Han yang tergetar tiba di tempat ini segera melihat tiga gundukan tanah kuburan, heran dan kaget kenapa ada tiga!

"Ibu, mana makam ayah? Kenapa ada tiga?"

Namun sang ibu sudah mengguguk. Wi Hong menubruk dan menjatuhkan diri berlutut di makam yang paling kanan. Wanita itu naik sedu-sedannya dan menjeritlah Wi Hong di sini. Tiga makam itu sudah ditumbuhi rumput-rumput ilalang namun sekali betot saja makam yang ditubruknya itu sudah bersih. Dan ketika Han Han tertegun karena itulah rupanya makam ayahnya, karena ibunya menangis dan menggerung-gerung di sini maka ibunya berseru,

"Hauw-ko, inilah anak kita itu. Kubawa dia ke sini. Ah, semoga dendam kita terlaksana, Hauw-ko. Doakan kami berdua dapat membunuh orang yang membunuhmu!" lalu menangis memanggil puteranya Wi Hong menggapai, "Liong-ji, inilah makam ayahmu. Cepat berlutut dan beri hormat!"

Han Han menggigil. Tiba-tiba dia jatuh menekuk lutut dan sudah berada di samping ibunya. Makam itu penuh lumut tapi di batu nisannya ada bertuliskan huruf-huruf tebal yang menyatakan bahwa itulah makam Si Golok Maut Sin Hauw. Jadi dia adalah she (marga) Sin! Dan ketika Han Han bercucuran air mata melihat makam ini cukup merana, begitu bersahaja dan agaknya dibuat terburu-buru maka ibunya menuntut berbicara.

"Liong-ji, berkatalah bahwa kau telah menengok makam ayahmu. Katakan bahwa kau akan menuntut balas dan mencari pembunuh ayahmu, mencincang dan memotong-motongnya melebihi anjing. Katakan bahwa kau tak akan sudah sebelum menemukan si Kedok Hitam itu!"

Han Han tak dapat menahan dirinya lagi. Diingatkan dan disadarkan akan kematian ayahnya tiba-tiba muka pemuda ini menjadi merah dan Han Han pun berkeretuk. Dia lalu bersumpah dan menangis di makam ayahnya itu bahwa dia akan menuntut balas. Dendam dan kematian ayahnya tak akan dibiarkan saja. Dan ketika ibu dan anak sama-sama berlutut dan menyatakan sumpah, Han Han menggigil dengan gigi berkerot-kerot maka Wi Hong melompat bangun dan menyeringai.

"Bagus, kita sama-sama mencari pembunuh ayahmu, Liong-ji. Dan sekarang terimalah ini!" Wi Hong meloncat dan menarik sesuatu dari balik makam. Sebuah benda berkilat tiba-tiba mendesing dan menyilaukan mata.

Han Han terkejut karena tiba-tiba ibunya membabat kekiri, ada sebatang pohon di situ. Dan ketika pohon itu roboh padahal hanya terkena angin sambaran senjata itu, yang kiranya adalah sebuah golok maka berdebumlah pohon setelah lebih dahulu mengeluarkan suara ledakan.

"Hi-hik, inilah Golok Penghisap Darah, Liong-ji. Golok maut yang dipunyai ayahmu!"

Han Han tertegun. Dia tergetar dan mengkirik sekilas melihat sinar putih di golok itu. Sebagai putera seorang jago pedang ternama tentu saja Han Han segera tahu bahwa golok di tangan ibunya itu bukanlah golok sembarang golok. Melihat tajamnya, agaknya tak kalah ampuh dengan Pek-jit-kiam (Pedang Matahari) di tangan ayahnya, pedang yang mengangkat tinggi nama ayahnya hingga dimalui di dunia kang-ouw. Dan ketika Han Han kagum tapi belum mengerti jelas sampai di mana keampuhan golok itu, yang dibolang-balingkan ibunya dengan mata berseri-seri tiba-tiba Wi Hong meloncat ke belakang dan.... "ngik", seekor kelinci yang meloncat keluar dari kerimbunan rumput alang-alang tiba-tiba telah terpenggal tubuhnya dan putus menjadi dua.

"Hi-hik, lihat, anakku. Lihat betapa darah kelinci itu sama sekali tak membasahi badan golok ini. Lihatlah!"

Han Han terkejut. Baru dia tahu bahwa darah kelinci yang memuncrat keluar sama sekali tak mengotori golok ditangan ibunya itu, karena begitu melekat tiba-tiba terhisap kering, seolah disedot oleh roh di dalam golok, yang mengepul dan setelah itu lenyap! Dan ketika Han Han merinding dan terkejut, baru tahu kenapa mendiang ayahnya disebut sebagai Si Golok Maut, karena memiliki golok yang demikian menakutkan maka ibunya sudah membalik dan berkelebat ke dekatnya, mengangkat tinggi-tinggi golok itu dengan gagang diatas.

"Liong-ji, bersumpahlah bahwa dengan golok ini kau akan membunuh si Kedok Hitam. Jangan biarkan darahnya terhirup kering sebelum ibumu mencuci rambutnya dengan darah si jahanam!"

Han Han tertekuk jatuh. Di langit terdengar suara keras dan guntur atau petir meledak di atas kepala. Suaranya menggelegar karena Han Han diminta bersumpah untuk membunuh musuh dengan golok itu. Berarti, akan mengulangi sejarah ayahnya, mungkin lebih hebat lagi! Dan ketika Han Han menggigil dan berseru dengan suara lantang, menerima dan bersumpah sesuai kehendak ibunya maka terlihat pijaran api dua kali yang keluar dari Golok Maut itu.

"Klap-cess!"

Han Han dan ibunya terkejut. Kilatan api itu meluncur dari badan golok dan masuk ke tubuh Han Han. Pemuda ini seperti disengat listrik tapi ternyata tidak apa-apa, kecuali kulit tubuhnya tiba-tiba merah membara. Aneh! Dan ketika Wi Hong tertegun tapi tertawa girang, itulah adalah tanda bahwa Golok Maut menerima puteranya, bersatu dan telah memasukkan "roh"-nya ke tubuh si anak maka wanita itu berlutut dan menyembah keatas.

"Mo-bin-lo, terima kasih. Kau telah menerima puteraku. Bimbing dan tuntunlah dia agar dapat membunuh pembunuh ayahnya!"

"Ha-ha!" di langit tiba-tiba muncul bayangan hitam, tinggi besar dan seperti raksasa. "Aku paling cocok dengan laki-laki, hujin. Kalau puteramu menerima perintahmu maka golok itu tentu akan menghirup darah lawan....dar!" bayangan itu lenyap.

Wi Hong terpelanting dan Han Han terkejut berkelebat menyambar ibunya. Tapi ketika ibunya tak apa-apa dan tertawa berseri, menganggap kejadian tadi seperti berkah maka Han Han tertegun.

"Ibu, apa yang kau lakukan? Apa yang terjadi?"

"Hi-hik, Mo-bin-Io telah memberi restu, Liong-ji. Golok Maut telah bersatu denganmu. Kau pasti akan mampu membunuh si jahanam!"

"Mo-bin-lo? Siapa dia?"

"Pencipta atau pemilik pertama golok di tanganmu itu. Tokoh luar biasa yang kini hidup di alam lain!"

"Ah, banyak sekali ceritanya. Aku bingung, tapi semakin tertarik. Coba ibu ceritakah semuanya ini!" dan ketika Wi Hong terkekeh dan menyambar puteranya, duduk lagi di depan makam maka Han Han melihat dua gundukan tanah yang lain itu.

"Ibu," pemuda ini teringat. "Makam siapa lagi yang itu?"

"Ah, makam suhu dan subo mendiang ayahmu, suami isteri sakti Sin-liong Hap Bu Kok dan Cheng-giok Sian-li (Dewi Giok Hijau) yang gagah perkasa!"

"Mereka itu juga tewas di sini?"

"Ya, tewas bersama, Liong-ji. Sampyuh. Ah, aku harus menceritakan ini!" dan ketika Wi Hong bingung untuk mulai yang mana, mana yang perlu didahulukan maka ia melipat kakinya dan menyuruh anaknya itu mendengar baik-baik. Han Han terbelalak mendengar semuanya itu dan tampaknya memang bingung. Terlalu banyak cerita yang disimpan ibunya ini, mulai dari mendiang ayahnya sampai ke Golok Maut, atau Golok Penghisap Darah itu. Dan ketika masih juga ada cerita tentang suhu dan subo (ibu guru) mendiang ayahnya, Sin-liong Hap Bu Kok atau si Naga Sakti dan Dewi Giok Hijau maka Han Han terkejut mendengar tentang Mo-bin-Io segala, kisah atau cerita-cerita yang belum sama sekali didengar di Hek-yan-pang!

"Baiklah, tolong ibu mulai. Sebaiknya urut saja dari ayah dahulu, baru setelah itu yang lain-lain!"

"Baik, dengarlah, Liong-ji. Kau tampaknya tak pernah diberi tahu oleh ayahmu Beng Tan atau ibumu Swi Cu!"

"Mereka memang tak pernah bercerita, semuanya hanya sekilas, samar-samar."

"Hm, tak apa. Aku tahu bahwa mereka tak suka kepadaku, juga kepada mendiang ayahmu!" dan ketika Wi Hong bersinar dan berapi-api, mulai bercerita tentang segala sesuatu maka diceritakanlah sebab-musabab kematian suaminya itu, dendam atau permusuhan yang berekor panjang. Betapa suaminya ditipu dan dijebak Coa-ongya. Betapa keluarga suaminya berantakan dan terbunuh satu demi satu gara-gara Coa-ongya. Dan ketika Han Han bertanya kenapa semuanya itu terjadi maka ibunya menerangkan.

"Kakekmu, ayah dari mendiang ayahmu adalah pembela Chu Wen, tokoh yang dianggap pemberontak oleh Coa-ongya dan kaisar sekarang. Tapi karena semua orang bebas berpendapat dan mendukung pimpinannya masing-masing maka saudara sepupu kakekmu, yang membantu Coa-ongya dan akhirnya menjadi jenderal berulang ulang membujuk namun gagal meraih kakekmu itu. Orang itu, Kwi-goanswe, diperalat dan menjadi begundal pangeran she Coa ini. Kakekmu tak mau. Keluarga Sin tahu bahwa Coa-ongya itu adalah seorang pangeran yang pendusta dan pembohong. Coa-ongya tak dapat dipercaya. Dan karena saudara sepupu kakekmu itu marah dan gagal, tak dapat membujuk kakekmu lagi maka dengan curang dia lalu membunuh saudaranya sendiri itu. Hanya karena dengki dan dendam!"

"Hm, jadi mulainya dari dukung-mendukung pimpinan," Han Han mengangguk. "Lalu bagaimana, ibu?"

"Kwi-goanswe berusaha membujuk isteri dan anak-anak keluarga Sin!"

"Ah, apakah mereka itu tak tahu bahwa kepala keluarganya dibunuh Kwi-goanswe?"

"Mula-mula tak tahu, karena isteri kakekmu itu tak memberi tahu. Sin-hujin atau nenekmu itu memegang teguh rahasia, karena hubungan kekeluargaan mereka sebenarnya dekat. Tapi ketika anak laki-lakinya tahu dan mulai dendam, karena Kwi-goanswe membunuh ayahnya maka Kwi-goanswe menjadi khawatir dan akhirnya mengejar-ngejar anak ini!"

"Dan anak itu pasti ayah!"

"Benar, cocok. Dan Kwi-goanswe semakin ketakutan setelah seorang kakek lihai menolong dan menyelamatkan ayahmu itu dari rencana pembunuhan Kwi-goanswe!"

"Dua orang suami isteri itu? Sin-liong Hap Bu Kok dan Cheng-giok Sian-li?"

"Bukan... bukan. Mereka itu guru-guru nomor dua dari ayahmu, Liong-ji. Guru pertama adalah Hwa-liong Lo-kai. Kakek ini sahabat Sin-liong Hap Bu Kok dan kebetulan mereka sama-sama pembela Chu Wen!"

"Hm, begitu. Lalu?"

"Lalu Kwi-goanswe gentar. Dia menghadapi orang-orang lihai dari pihak Chu Wen!"

"Tapi bagaimana ayah bisa menjadi murid suami isteri sakti itu?"

"Hwa-liong Lo-kai terbunuh, Liong-ji, dikeroyok dan diserang Kwi-goanswe dan ratusan pasukannya. Jenderal itu mengejar-ngejar ayahmu yang sudah menjadi murid kakek ini, khawatir ayahmu menuntut balas. Dan ketika Hwa-liong Lo-kai binasa tapi muncul suami isteri sakti itu, karena mereka adalah sahabat pengemis tua ini maka selanjutnya ayahmu diambil dan digembleng mereka, karena kakek itu akhirnya tewas!"

"Dibunuh Kwi-goanswe?"

"Ya, dan para pembantunya. Tapi suami isteri sakti ini tak ada yang dapat melawan dan mereka akhirnya membawa lari ayahmu!"

"Hm, dan ayah semakin lihai," Han Han bersinar-sinar. "Dan Kwi-goanswe semakin ketakutan. Bukankah begitu, ibu?"

"Kembali benar," sang ibu mengangguk. "Ayahmu bagaikan harimau tumbuh sayap, Liong-ji. Sin-liong Hap Bu Kok dan isterinya adalah orang-orang pilih tanding yang tak ada duanya di dunia kang-ouw. Sayang, karena mereka sering cekcok dan meninggalkan Chu Wen maka laki-laki itu terbunuh dan pengikutnya cerai berai!"

"Cekcok? Suami isteri cekcok?" Han Han heran, tak pernah melihat ayah ibunya di Hek-yan-pang cekcok. "Kenapa mereka itu, ibu? Kenapa harus cekcok?"

"Ibu tak tahu, tapi mungkin pengaruh Golok Maut itu!"

Han Han terkejut. Ibunya tiba-tiba ngeri dan seolah jerih memandang golok yang diterimanya itu. Han Han menyelipkannya di belakang punggung dan hanya gagang golok yang tampak, gagang yang mengkilat dan terbuat dari tulang harimau. Golok ini memang gagah dan indah bentuknya. Orang tak akan merasa seram sebelum golok dicabut, karena begitu dicabut akan keluarlah cahayanya yang menyeramkan itu, juga hawa dingin yang tiba-tiba memenuhi udara. Seolah golok itu setiap dicabut harus meminum darah! Dan ketika Han Han merasa heran kenapa ibunya bergidik, ngeri, maka ibunya sudah memberi tahu bahwa golok itu tak cocok untuk suami isteri.

"Ada kutukan di golok ini, yakni pemegangnya, tak boleh suami isteri. Maksudku... maksudku, golok ini ingin berteman laki-laki lajang, jejaka murni. Wanita atau gadis tak cocok dengan golok ini. Itulah sebabnya kenapa aku tak pernah membawa-bawanya karena golok itu seakan menolak jika dipakai atau dimiliki wanita!"

"Hm!" Han Han terheran-heran, masih kurang jelas. "Maksudmu golok ini tak suka berdekatan dengan wanita, ibu? Dia menghendaki hanya berteman dengan laki-laki?"

"Ya, jejaka murni. Sebab sekali tidak murni maka tuah golok itu akan bicara!"

"Tidak murni? Tidak murni bagaimana?"

"Kau akan tahu kelak, Liong-ji. Karena itu hati-hatilah. Aku tak dapat menerangkan banyak sebab kelak kau tahu sendiri!" Wi Hong semburat, kemerah-merahan mukanya karena bingung menerangkan itu. Dia hendak berkata bahwa golok itu pantang dipakai laki-laki yang sudah bersanggama dengan wanita. Itulah sebabnya dulu kenapa Sin Hauw terbunuh, karena kutuk atau sumpah golok itu dilanggar. Dan karena puteranya ini tampak jejaka sekali dan masih hijau, Wi Hong tak sanggup memberi tahu lebih jauh maka dia hanya berkata agar Han Han tak mendekati perempuan.

"Tapi ibupun wanita!" Han Han menyanggah. "Apakah aku tak boleh berdekatan dengan ibu pula?"

"Hm, eh... tidak, bukan begitu maksudku. Yang kumaksudkan adalah, ah... kelak kau mengerti sendiri, Liong- ji. Pokoknya jangan dekat-dekat wanita selain ibu!"

Han Han tertawa. "Ibu aneh," katanya "Kenapa begitu, ibu? Bukankah sama saja? Tapi, hmm... aku juga belum pernah berdekatan dengan wanita, setidak-tidaknya waktu aku di Hek-yan-pang dulu. Aku tak suka kepada wanita, aku merasa jijik. Kecuali, hmm...!" Han Han teringat Yu Yin, berhenti dan tidak meneruskan kata-katanya dan sang ibu terbelalak. Tapi ketika pemuda itu meneruskan bahwa kecuali dengan ibunya maka Wi Hong tertawa dan lega, tak tahu bahwa puteranya menyembunyikan rahasia hubungannya dengan Yu Yin!

"Bagus, kau memang sebaiknya hanya dengan ibu saja. Jangan dekati wanita lain, Liong-ji. Apalagi kalau kau sudah membawa Golok Maut itu. Bisa terkena malapetaka!"

"Dan kemudian?" Han Han bertanya. "Bagaimana selanjutnya, ibu? Bagaimana kisah ayah seterusnya itu? Apakah Kwi-goanswe tak berhasil dibunuh?"

"Hm, akhirnya jenderal itu bersama anaknya berhasil dibunuh. Tapi ayahmu mengalami malapetaka lain!"

"Maksud ibu?"

"Kwi-goanswe sebenarnya hanya diperalat saja oleh Coa-ongya itu, atau sebenarnya juga dengan Ci-ongya karena Coa-ongya dan Ci-ongya kakak beradik. Mereka sama-sama saudara kaisar yang sekarang dan karena mereka orang dekat dengan kaisar maka pengaruh atau kekuasaan mereka juga besar!"

"Hm!" Han Han mengangguk-angguk. "Dan ternyata pangeran ini yang kemudian menjadi dalang kematian ayah?"

"Pangeran itu memang biang penyakit, Liong-ji. Tapi pembunuh ayahmu adalah si Kedok Hitam!"

"Baik, dan aku pasti mencari laki-laki ini. Kemudian?"

"Kemudian terjadilah hal yang menggemaskan ini. Coa-ongya ganti mengejar-ngejar dan ingin merangkul ayahmu!"

"Eh, kenapa begitu?" Han Han terheran. "Bukankah mereka musuh?"

"Hm, pada dasarnya pangeran itu bekerja atas kepentingan negara, Liong-ji. Tak dapat disangkal bahwa pangeran itu sudah lama ingin merangkul dan membujuk bekas pengikut-pengikut Chu Wen. Para pengikutnya sendiri bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan para pengikut Chu Wen itu, yang lihai-lihai. Tapi karena para pengikut Chu Wen banyak tercerai-berai setelah Chu Wen tiada maka pangeran itu ingin memperkuat diri dengan merangkul dan membujuk bekas pengikut-pengikut Chu Wen itu."

"Dan satu di antaranya adalah ayah, karena ayah murid Sin-liong Hap Bu Kok yang hebat!"

"Benar, itulah. Memang begitu. Tapi masih ada maksud lain, Liong-ji. Coa-ongya ingin memiliki Golok Maut ini!"

"Hah, apakah dia bisa silat?"

"Tidak, pangeran itu orang lemah. Tapi karena dia tahu dan ingin memiliki senjata-senjata pusaka maka dia tertarik dengan golok peninggalan Hap Bu Kok ini, Liong-ji.Dan akhirnya merangkul atau membujuk ayahmu untuk bergabung, menjadi pembantunya!"

"Dan ayah mau?"

"Salah!" sang ibu menggeleng. "Waktu itu di sana ada Kwi-goanswe, anakku. Ayahmu tentu saja tak mau karena Kwi-goanswe itu telah membunuh ayahnya!"

"Hm, lalu?"

"Lalu Coa-ongya mempergunakan segala akal, dan ayahmu terjebak!" Wi Hong tiba-tiba berhenti, menangis tapi tiba-tiba mengepal tinju dan segera wanita itu menceritakan kelicikan Coa-ongya. Golok Maut ditipu dan ditangkap, senjatanya dirampas. Tapi karena Coa-ongya rupanya sadar bahwa golok itu tak boleh disimpan oleh orang yang sudah berkeluarga, karena Coa-ongya bukan laki-laki lajang maka senjata itu dikembalikan atau setengah dikembalikan ketika dirampas suaminya. Banyak penderitaan dan siksaan yang dialami ayahmu. Kalau Bu-beng Sian-su tidak muncul dan menyelamatkan ayahmu barangkali dari dulu-dulu ayahmu sudah binasa!"

"Bu-beng Sian-su?" Han Han tertegun, mengerutkan kening. "Siapa orang ini, ibu? Kenapa aku belum dengar namanya?"

"Hm, kakek itu kakek dewa yang amat luar biasa, Liong-ji. Kepandaian dan dirinya seperti dongeng. Aku sendiri belum pernah melihatnya dan memang kakek ini dikenal hanya sebagai tokoh dongeng!"

"Kalau begitu dia tidak ada?"

"Tidak, dia ada. Tapi sekarang barangkali sudah tidak ada. Kakek itu adalah kakek dewa dan berkat pertolongannyalah maka ayahmu dapat hidup dan membalas dendam, meskipun belum semua!"

"Hm, dan aku baru kali ini mendengar nama Bu-beng Sian-su. Apakah ayah Beng Tan tidak tahu, ibu?"

"Apa?" sang ibu tiba-tiba melonjak. "Pek-jit Kiam-sut yang dia punyai itu justeru dari kakek ini, Liong-ji. Kalau tidak, tak mungkin Beng Tan dapat menandingi ayahmu!"

Han Han terkejut. "Kalau begitu dia murid kakek dewa itu?"

"Benar, tapi Bu-beng Sian-su sendiri tak menganggapnya sebagai murid. Artinya, Beng Tan hanya mewarisi sebuah dua ilmunya saja tapi itu sudah membuat dia tanpa tanding di dunia kang-ouw, setingkat ayahmu!"

Han Han terkejut. Kalau ayahnya di Hek-yan-pang sudah seperti itu maka dapat dibayangkan betapa hebat dan saktinya kakek dewa Bu-beng Sian-su itu. Hanya dengan sebuah dua ilmunya saja ayahnya di Hek-yan-pang menjadi tanpa tanding. Tapi teringat bahwa ayahnya Si Golok Maut dikatakan dapat ditandingi Beng Tan, ayahnya di Hek-yan-pang maka Han Han ingin tahu siapakah sebenarnya di antara mereka yang lebih unggul.

"Tak ada yang unggul!" ibunya memberi tahu. "Dua-duanya sama hebat dan dua-duanya sama sakti. Kalau ayahmu menang dengan Golok Penghisap Darah ini maka ayahmu di Hek-yan-pang itu juga memiliki Pedang Matahari yang mampu menandingi Golok Maut. Keduanya pernah bertempur tiga hari tiga malam dan tak ada yang menang atau kalah. Seri!"

"Hm," Han Han berkilat matanya. "Kalau begitu mendiang ayah merupakan orang yang luar biasa, ibu. Dia jago tanpa tanding yang berdiri seimbang dengan ayah Beng Tan!"

"Memang benar, dua-duanya sama hebat. Tapi karena ayahmu luka-luka dikeroyok pengawal-pengawal istana tangguh, ketika membunuh Ci-ongya dan keluarganya maka dia melarikan diri dan dikejar-kejar di Lembah Iblis ini. Dan saat itu datang tantangan Beng Tan. Mereka sebenarnya hendak menentukan siapa jago yang sejati, karena dua-duanya juga sama-sama masih penasaran. Tapi ketika Beng Tan datang ke sini tiba-tiba saja meluruk barisan besar itu mengepung ayahmu, ada lima ribu orang!"

Han Han mengkirik. "Lima ribu orang? Hanya untuk menghadapi ayah seorang?"

"Benar, dan pihak istana amat licik, anakku. Mereka tahu bahwa ayahmu luka-luka dan tak memberi kesempatan untuk menyembuhkan diri. Dan yang penting, datang di saat menghadapi tantangan dengan ayahmu Beng Tan!"

"Dan ayah Beng Tan bisa disangka berbuat curang, mendatangkan pasukan kerajaan!"

"Memang begitu, tapi kami semua akhirnya tahu. Beng Tan sendiri akhirnya mengamuk dan marah-marah kepada orang-orang itu, namun terlambat. Ayahmu yang sudah kepayahan dan menderita luka-luka akhirnya terbunuh dan binasa di tangan Kedok Hitam!"

"Hm!" Han Han mencorong matanya, menggeram bagai seekor harimau terluka. "Aku akan membuat perhitungan dengan orang ini,ibu. Dan sumpah tak mau sudah kalau belum membunuhnya!"

"Benar, dan kita juga telah bersumpah. Aku tak akan menyanggul rambutku kalau belum mencuci dengan darahnya. Aku ingin keramas dengan darah si jahanam itu!"

"Dan di mana kita bisa mencari jejaknya? Dan siapa sebenarnya si Kedok Hitam ini?"

"Dia misterius, Liong-ji, ibu juga tak tahu. Tapi ada dua orang yang dapat dimintai keterangan!"

"Hm, siapa mereka?"

"Bukan lain Coa-ongya sendiri. Tapi, hmm, ibu ragu. Tak mungkin dia mau memberi tahu. Pergi ke sana bagiku terlalu berbahaya. Para pelindung atau pembantu pangeran itu terlalu kuat, jumlahnya juga banyak!"

"Aku tak takut!" Han Han berkilat, penuh keberanian. "Tapi siapa orang kedua itu, ibu?"

"Bukan lain ayahmu Beng Tan. Dialah yang dapat dimintai keterangan dan ini kupikir lebih mudah!"

"Ayah Beng Tan?" Han Han terbelalak, terkejut, tak menyangka bahwa ayahnya itulah yang dimaksud. Berarti, dia harus kembali ke Hek-yan-pang! Tapi ketika dia tertegun dan terkejut, ibunya tertawa, tiba-tiba ibunya itu sudah melompat bangun dan berseru,

"Ya, ayahmu Beng Tan itulah yang dapat dimintai jawabannya, Liong-ji. Dia tahu siapa si Kedok Hitam karena dulu mereka pernah bertempur. Hayo, kita ke sana dan tanya dia!"

"Tapi aku pergi meninggalkan mereka!" Han Han tiba-tiba berseru, pucat, bangkit berdiri pula. "Aku telah dimusuhi mereka, ibu. Mereka mereka tak suka kepadaku!"

"Apa?" Wi Hong terbelalak. "Kau dimusuhi? Berani mereka berbuat kurang ajar seperti itu? Eh, justeru kuingin datang ke sana, Liong-ji. Biar kudamprat dan kusemprot mereka mentang-mentang kau bukan anak kandungnya! Apakah Swi Cu tahu kau bukan puteranya?"

"Tidak, belum.... tapi..." Han Han susah menjawab, masygul. "Aku tak ingin ke sana, ibu. Ayah dan ibu Swi Cu telah menyakiti hatiku."

"Apa yang terjadi, ceritakan! Biar kupertaruhkan nyawaku untukmu puteraku seorang!"

Han Han terharu. Tiba-tiba saja diamelihat ibunya ini seperti seekor induk ayam yang siap bertarung. Atau, barangkali seperti seekor harimau betina yang akan diganggu anaknya. Siap menerkam dan mengadu jiwa! Dan ketika Han Han terharu dan menitikkan air mata, sikap itu belum pernah diperlihatkan ibunya di Hek-yan-pang seperti ibu kandungnya ini maka Wi Hong memeluk dan sudah menyambar puteranya itu.

"Liong-ji, katakan kepada ibu. Apa yang mereka lakukan dan kenapa kau pergi dari sana. Apakah Beng Tan memakimu atau menghinamu di luar batas!"

"Tidak," Han Han tiba-tiba menangis, naik sedu-sedannya. "Ayah.... ayah baik-baik saja kepadaku, ibu. Tapi ibu Swi Cu.... dia... dia benci kepadaku!"

"Apa yang menjadi sebabnya?"

"Karena aku memakai caping ini, juga karena kebetulan aku menemukan sebuah kitab pelajaran sinkang yang jatuh di sumur tua."

Han Han lalu menceritakan persoalannya, didengar ibunya dan Wi Hong terbelalak memandang sang putera terkasih. Baru sekarang dia sadar akan caping yang dipakai puteranya itu dan baru sekarang dia mendusin bahwa caping ini memang mirip benar dengan caping suaminya. Han Han memang mirip mendiang Si Golok Maut, puteranya itu bagai pinang dibelah dua. Maklumlah, mereka ayah dan anak kandung! Dan ketika Han Han selesai bercerita sementara sang ibu melotot dan merah padam maka Wi Hong membanting kaki dan berseru gusar,

"Keparat si Swi Cu itu. Akan kuhajar dia. Baik, kita ke sana, Liong-ji. Dan akan kulabrak dia sebagai wanita tak tahu diri. Hayo, tak usah di sini lagi dan kita sikat mereka itu!"

"Nanti dulu," Han Han terkejut, menyambar dan mencekal lengan ibunya itu, "jangan terburu-buru, ibu. Sekarang aku tahu apa yang menjadi sebab. Agaknya, ibu Swi Cu telah tahu bahwa aku bukan putera kandungnya. Itulah sebabnya mengapa ia tak begitu kasih kepadaku. Ah, kita jangan gegabah karena betapapun mereka menggembleng dan telah melepas budi kepadaku!"

"Tak ada budi!" sang ibu membentak. "Mereka dapat tinggal di Hek-yan-pang atas kemalanganku, Liong-ji. Kalau aku tidak begini dan dulu tidak terguncang jiwaku tak mungkin mereka dapat menguasai Hek-yan-pang. Aku terpukul oleh kematian ayahmu. Sekarang aku sudah sadar dan akan merebut kekuasaan di sana. Hayo, kaulah yang berhak dan duduk sebagai ketua!"

"Tidak!” Han Han terpekik, melihat ibunya menyambar dan membawanya lari turun gunung. "Tunggu dulu, ibu. Dengarkan kata-kataku. Aku tak mau menjadi ketua, aku ingin bebas. Tunggu!" dan ketika Han Han melepaskan diri dan memberontak dari pegangan ibunya maka Wi Hong terhuyung dan melotot memandang puteranya itu, yang cepat-cepat menangkap dan mengeluh kembali. "Maaf.... maaf, ibu. Aku tak bermaksud kasar kepadamu. Aku ingin bicara," dan ketika Han Han duduk dan mengajak ibunya duduk pula, menahan gejolak hati, maka Han Han sudah menjelaskan bahwa tak usah sejauh itu mereka marah-marah kepada ayah ibunya di sana.

"Sekarang aku tahu kenapa ibu Swi Cu tak suka kepadaku. Wajahku mirip ayah, dan memang pernah kudengar mereka cekcok tentang aku. Ah, firasat ibu Swi Cu tajam dan benar. Agaknya dia tahu bahwa aku bukan anaknya, tak memiliki getaran tali kasih sebagaimana layaknya seorang putera dengan ibu kandungnya. Hm, ini menyakitkan hatiku, ibu. Tapi aku sekarang telah bertemu denganmu, ibu kandungku. Ayah dan ibu Swi Cu telah mendidik dan membesarkan aku. Kalau sekarang ibu marah-marah dan mau merebut kekuasaan di sana terus terang aku tak setuju. Tapi kalau ibu mau datang tentang pertanyaan si Kedok Hitam, musuh kita itu, aku setuju. Apakah ibu berjanji bahwa tak akan membuat ribut selain urusan ini?"

"Kau tak ingin menduduki kursi ketua disana?"

"Hm, meskipun ayah Beng Tan tahu aku bukan anak kandungnya pasti kedudukan itu diberikannya kepadaku juga, ibu. Kalau sudah waktunya. Tapi aku tak suka menerima tampuk pimpinan. Ayah Beng Tan sudah cukup bijaksana dan Hek-yan-pang di bawah pimpinannya sudah cukup maju dan disegani, aku tak ingin kedudukan. Kalau ibu mau bicara tentang itu terus terang aku tak suka."

"Tapi aku ketua Hek-yan-pang, aku ketua aslinya. Aku masih mempunyai hak, dapat kutuntut!"

"Itu dulu, ibu. Tapi setelah itu ibu tak pernah muncul lagi. Ibu dalam keadaan terguncang, gila. Kalau ibu Swi Cu tidak turun tangan dan cepat-cepat membenahi tentu Hek-yan-pang sudah bubar atau hancur."

"Jadi kau tak mau menjadi ketua?"

"Ah, aku tak suka itu, ibu. Hek-yan-pang di bawah pimpinan ayah Beng Tan tetap berwibawa dan bahkan maju. Aku tak suka menjadi ketua. Sudah cukup aku sebagai putera seorang ketua!"

"Tapi kau berhak akan kedudukan itu, sebagai puteraku!"

"Hm, sama saja, ibu. Sebagai puteramu atau putera ayah Beng Tan yang telah mendidik dan membesarkan aku maka kuanggap tak ada masalah. Sekarang aku hanya ingin bicara tentang si Kedok Hitam itu, bukan urusan ketua perkumpulan!"

"Baik, kalau begitu kita ke sana, Liongji. Sama saja bagiku!"

"Ibu berjanji?"

"Eh, kau mengikat ibumu dengan janji? Kalau mereka tak macam-macam tentu aku juga tak akan macam-macam, Liong-ji. Hayo berangkat dan kita temui mereka!"

"Nanti dulu!" Han Han menahan lengan ibunya. "Kita pamit dulu kepada ayah dan aku juga ingin bersembahyang di makam guru-guru ayahku itu!"

Dan ketika sang ibu tertegun dan sadar, Wi Hong tersenyum maka wanita itu mengangguk dan menahan langkah kakinya. Han Han sudah berlutut dan bersoja di depan makam ayahnya itu. Mulut puteranya komat-kamit dan Wi Hong mendengar janji atau sumpah ulangan puteranya. Dan ketika Han Han berdiri dan berlutut di makam yang lain, makam dari suami isteri Sin-liong Hap Bu Kok maka disini Han Han mohon doa restu.

"Aku mohon locianpwe memberikan restu di alam sana. Semoga aku dapat mencari dan membunuh pembunuh ayahku!"

"Bagus!" Wi Hong terkekeh. "Dan aku juga pamit kepada ayahmu, Liong-ji. Hayo berangkat dan sekarang kita bebas!"

Han Han disentak dan disambar. Sekarang dia membiarkan dan ibunya sudah terbang menuruni bukit. Han Han menarik napas dalam untuk menekan debaran hatinya ke Hek-yan-pang. Ayah dan ibunya di sana tentu bakal terkejut. Rahasia tentang dirinya sudah terbuka. Dia ternyata keturunan Si Golok Maut, pantas wajahnya begitu mirip! Dan ketika Han Han berdebar membayangkan bahwa ayah atau ibunya di sana bakal terkejut, entah apa yang terjadi maka ibu kandungnya ini terkekeh-kekeh dan justeru gembira.

Wi Hong mengalami kegembiraan luar biasa bertemu dengan anak kandungnya ini. Kehebatan dan kesaktian Han Han telah dilihatnya. Ah, siasatnya dulu berhasil. Anaknya ini telah mewarisi seluruh kepandaian Beng Tan. Dan teringat bahwa Han Han telah memegang Golok Maut, senjata warisan ayahnya maka Wi Hong girang bukan main karena hal itu membuat anaknya seolah harimau tumbuh sayap!

Han Han sendiri tak berpikiran sampai ke sini. Pemuda itu berkerut kening dan sering diam kalau tidak ditegur. Ibunya tak perduli dan tertawa-tawa, tak menghiraukan degup kencang jantung puteranya setelah mereka kian dekat saja dengan Hek-yan-pang. Maklumlah, mereka sudah meninggalkan Lembah Iblis dua hari dua malam, berarti mereka semakin dekat saja dengan tempat tujuan itu. Dan ketika tak lama kemudian mereka sampai juga ke sana, tepat di saat matahari terbenam maka Han Han mengajak ibunya beristirahat.

"Kenapa?" ibunya tertegun. "Jauh-jauh kita datang, Liong-ji. Dan mereka sudah di ambang mata!"

"Hm, aku tak suka malam-malam begini. Aku ingin kita datang secara gagah, bukan di malam gelap. Kalau ibu turut kata-kataku maka kita istirahat di hutan ini saja dan besok pagi-pagi baru ke sana."

"Ah, baiklah. Dan mari kutunjukkan guha di mana dulu aku menukar dirimu dengan bayi Swi Cu, hi-hik!" Wi Hong tak membantah, tertawa dan menuruti kata-kata puteranya dan Han Han mengerutkan kening. Ibunya berkelebat dan menuju ke tengah hutan, membelok dan akhirnya menguak sebuah tanaman perdu. Dan ketika di situ muncul sebuah lubang dan itulah guha di mana dulu ibunya menukar anak, antara dirinya dengan putera ayahnya Beng Tan maka Han Han atau yang sebenarnya bernama Giam Liong ini menyatukan alisnya yang tebal, tampak tak begitu gembira.

"Lihat, inilah guha itu, Liong-ji. Dan aku berhasil mengecoh mereka semua hingga terkibul. Hi-hik, kau telah mewarisi kepandaian si Pedang Matahari dan itu berarti kau lebih hebat dari mendiang ayahmu sendiri!"

"Hm, inikah kiranya?" Han Han menoleh ke sana-sini. "Tersembunyi dan rapat sekali, ibu. Meskipun aku sebenarnya tak memuji perbuatanmu itu."

"Eh, kau menyalahkan ibumu?"

"Maaf, aku tidak menyalahkan, tapi sekedar kurang suka saja. Aku jadi tak enak karena sudah mewarisi kepandaian ayahku Beng Tan!"

"Itu yang kuharap, aku tak dapat menggemblengmu sendiri. Kau menyesal, Liong-ji?"

Han Han terkejut. Ibunya tiba-tiba terisak dan kiranya dia telah melukai perasaan ibunya itu. Sang ibu akhirnya menangis dan berkata bahwa tanpa begitu tak mungkin mereka dapat membalas dendam. Si Kedok Hitam amatlah lihai dan setelah Golok Maut binasa maka Beng Tan itulah satu-satunya orang yang dapat mengalahkan. Dan ketika ibunya mengguguk dan berkata bahwa kepandaiannya sendiri amat rendah, hingga tak dapat dipakai mendidik sang putera maka Han Han sadar dan cepat memeluk ibunya itu.

"Aku menyesal, tapi bukan karena itu melainkan karena telah melukai perasaan ibu. Baiklah, aku minta maaf, ibu. Apa yang kau lakukan betapapun adalah untuk kepentingan diriku juga, maksud ibu untuk membalas dendam kematian ayah. Aku tak akan mengulangi kata-kata itu lagi dan harap ibu tidak berduka."

Wi Hong girang. Setelah Han Han tidak menyalahkannya dan dapat menerima apa yang dia lakukan maka mereka memasuki guna itu. Han Han menarik ibunya ketika sang ibu hendak masuk begitu saja, maklumlah, dia mendengar desis perlahan dari dua ekor ular yang sedang merayap hati-hati. Dan ketika Han Han menjentikkan kuku jarinya dan dua ekor ular itu jatuh, menggeliat dan roboh dengan kepala pecah maka Wi Hong terkejut karena itulah dua ekor ular merah yang amat beracun sekali.

"Ang-tok-coa (Ular Racun Merah)!" serunya.

"Benar, dan mungkin di dalam masih ada ular-ular yang lain, ibu. Biar kusapu mereka kalau ada.... wut!" Han Han mengibaskan ujung lengan bajunya, guha tiba-tiba mengeluarkan suara gemuruh karena seperti angin topan saja mendadak kibasan atau kebutan ujung lengan baju pemuda itu menyapu ke dalam. Dan ketika terdengar suara "tepak-tepok" dan puluhan ular jatuh, hancur dan binasa di dinding maka Han Han menyalakan obor dan Wi Hong ngeri melihat banyaknya ular-ular merah yang ada disitu!

"Luar biasa, untung ada kau!"

"Hm, aku mendengar gerak dan desis mereka, ibu. Kau tak mendengar karena rupanya sedang bersedih tadi."

"Ah, tapi betapapun kau lihai. Hanya dengan menggerakkan lengan baju saja maka puluhan ular rontok binasa!"

"Sudahlah, kita masuk, ibu. Dan beristirahat di dalam,"

Han Han masuk, obor di tangan sudah siap dan Wi Hong mengikuti puteranya itu dari belakang. Wanita ini meleletkan lidah karena kalau sampai dia dikeroyok puluhan ular-ular merah, yang beracun dan amat berbisa tentu berbahaya juga. Dia tadi tak mendengar karena betul sedang merasa sedih, kecewa oleh kata-kata puteranya tadi. Tapi begitu ular-ular sudah dibunuh dan Han Han mengibaskan lengannya lagi, bangkai-bangkai ular itu terbang keluar maka malam itu mereka beristirahat dengan tenang dan diam-diam Wi Hong kagum akan kepandaian puteranya ini.

Pagi itu dapat dibayangkan betapa kaget, heran serta tercengangnya anggauta-anggauta Hek-yan-pang. Perkumpulan yang dikelilingi danau dan menjadi semacam pusat pemerintahan kecil bagi markas Walet Hitam itu melihat kedatangan Han Han dan ibunya. Han Han berjalan tenang dan mula-mula mereka tentu saja harus melewati perkampungan murid-murid lelaki yang berjaga di luar. Perkampungan atau rumah-rumah di sekitar danau itu memang sebagai benteng atau tameng sebelum tamu memasuki pusat markasnya, yang berada di tengah pulau.

Han Han datang dengan sikapnya yang tenang dan wajahnya yang dingin serta beku seperti biasa itu mula-mula disambut gembira oleh anak murid Hek-yan-pang. Beberapa di antaranya menjatuhkan diri berlutut, karena jelek-jelek Han Han adalah putera ketua, jadi tentu saja pimpinan di situ. Tapi ketika mereka melihat kedatangan Wi Hong dan ibu serta anak yang sama-sama berambut kemerahan, seperti beroles darah maka semua tertegun dan ngeri. Apalagi Han Han tak menunjukkan senyumnya, dingin di balik bayang-bayang caping Si Golok Maut!

"Han-kongcu datang.... Han-kongcu datang...! Beri tahu kepada pangcu dan hu-jin (nyonya)!"

Semua tiba-tiba berlarian. Mereka menyambut tapi segera menyibak ketika Wi Hong mengibas. Wanita itu masih benci karena Hek-yan-pang sekarang sudah dipenuhi murid lelaki. Dan ketika mereka berpelantingan dan tentu saja berteriak, kaget, maka Han Han menahan lengan ibunya untuk tidak berbuat kejam.

"Kita tak perlu mengganggu mereka. Mari terus ke tengah pulau dan menghadap ayah!"

Anak-anak murid ribut. Han Han sudah menuju danau dan sebuah perahu tiba-tiba meluncur cepat, penumpangnya menoleh dan menggigil memandangnya. Itulah anak murid Hek-yan-pang yang akan memberi laporan. Mereka tentu kecut melihat ibunya bersamanya, karena dulu ibunya pernah menghajar murid-murid lelaki ini. Dan ketika Han Han menyambar dan melepaskan sebuah perahu, yang banyak tertambat di situ maka Han Han mengajak ibunya untuk meloncat naik.

"Mari, kita ke pulau. Dan ibu tak usah menunjukkan pedang itu!" Han Han membenamkan Golok Mautnya, tak ingin membuat geger tapi ibunya terkekeh dan malah memperlihatkan gagang pedang dibelakang punggung. Pamer. Sikapnya seperti orang yang bahkan menantang! Dan ketika Han Han tak dapat berbuat apa-apa dan mengayuh perahunya, cepat sekali, maka perahu tiba-tiba mencelat dan terbang membelah permukaan air danau...!