NAGA PEMBUNUH
JILID 09
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"HA-HA, lihat, apa kubilang tadi," Twa-mo tertawa bergelak. "Gadis ini akan kendor dan kehabisan tenaga, Ji-te. Lihat dia sudah gemetar dan sebentar lagi roboh!" dan berseru pada si nona agar menyerah baik-baik, melempar pedangnya maka ketua nomor satu Ang-liong-pang itu membujuk, "Nona, menyerahlah. Kami memandang muka ayahmu. Kau tak perlu mendapat malu lebih jauh karena kami akan segera menghentikan serangan!"

"Tutup mulutmu!" gadis itu membentak, menggigit bibir. "Aku tak akan menyerah sebelum terbunuh, Twa-mo. Kau boleh omong besar dan aku tak perduli. Persetan dengan apa yang kalian katakan dan aku tak mengerti apa yang kau omongkan itu!"

"Hm, kau puteri Coa-ongya. Kami mendapat pesan ayahmu. Mengapa berpura-pura dan tidak mengaku?"

"Keparat, aku bukan gadis she Coa, Twa-mo. Aku orang lain dan sudah kubilang tadi. Ah, kalian cerewet dan membuat aku marah.... clap!" dan pedang yang berkelebat membuka diri tiba-tiba menusuk atau menikam leher si ketua, diiringi sebuah tendangan ke kanan di mana Kwan Bhe tiba-tiba berteriak. Wakil ketua Ang-liong-pang itu mencelat dan Twa-mo berseru kaget melempar tubuh ke belakang. Pedang terus bergerak dan berputar ke arah Ji-mo, ketua nomor dua. Dan karena gerakan pedang itu berbahaya sekali dan Han Han sebagai ahli pedang juga memuji dan berseru di sana maka Ji-mo melempar tubuh pula ke kiri dan terus bergulingan.

"Aku sekarang pergi!" Yu Yin tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Kiranya, setelah dia melakukan serangan ganas tadi dan yakin tak akan menang, karena tiga orang lawannya tadi hanya mengepung dan selalu menghindar, menguras tenaganya agar dia kelelahan maka gadis ini tak mau lagi melayani lawan. Dia yakin dirinya akan roboh sendiri kalau terus memutar pedang seperti kitiran, padahal lawan tak menyerang dan menunggu dia kelelahan.

Dan karena betul saja dia sudah lelah sementara tiga orang itu sewaktu-waktu siap merobohkannya, begitu dia jatuh kehabisan tenaga maka Yu Yin tak mau lagi meladeni dan melakukan jurus Siluman Terbang Membabat Teratai, satu jurus berbahaya di mana dia telah memaksa lawan-lawannya mundur. Dan begitu mereka bergulingan sementara si wakil ketua berteriak mendapat tendangannya, Yu Yin tertawa, maka gadis ini melesat dan meninggalkan pertempuran.

"Han Han, ayo kita pergi. Aku sudah muak melayani orang-orang yang licik ini!”

Han Han tertegun. Yu Yin yang semula tak mau didekati mendadak sekarang minta pergi bersama. Ini berarti gadis itu sudah mau berbaik tapi Han Han maklum bahwa itu semua karena si gadis ingin minta perlindungan, secara tak langsung. Wakil letua dan ketua-ketua Ang-liong-pang itu orang-orang yang cukup lihai, juga mereka cerdik. Terbukti ingin, menguras tenaga si gadis karena pedang hitamnya terlalu ampuh. Dan karena hal itu sudah dilakukan dan Yu Yin mati kutu, gemas dan marah kepada lawan namun tak mendapat perlawanan, karena mereka menghindar dan selalu mengelak apabila hendak berbenturan pedang maka Han Han tiba-tiba tersenyum dan mengangguk, merasa bahwa itu memang yang terbaik, apalagi sejak tadipun sebenarnya dia juga tak suka mengikat permusuhan.

"Baik," Han Han berkelebat. "Sudah kubilang tadi, Yu Yin. Tapi kau sendirilah yang mencari perkara."

"Eh, siapa mencari perkara?" gadis itu mendadak berhenti, melotot. "Jaga mulutmu baik-baik, Han Han. Atau aku akan menyerangmu dan boleh kau bela orang-orang itu!"

"Eh, maaf.... maaf. Aku tidak maksudkan begitu. Sudahlah, mari pergi dan kita tinggalkan orang-orang ini!"

Namun terlambat. Yu Yin yang marah-marah dan sejenak memaki Han Han tiba-tiba membuat kesempatan bagi ketua-ketua Ang-liong-pang itu. Twa-mo, yang marah dan melompat bangun sudah memberi aba-aba kepada semua anak buahnya. Mereka bergerak dan mengepung, jalan keluar sudah ditutup. 

Dan sementara dua muda-mudi itu bercekcok karena Yu Yin tak mau dikata mencari perkara, hal yang memang sebenarnya begitu maka ketua nomor satu ini sudah memberi aba-aba dan semua anak buahnya berloncatan menghadang.

Dan begitu mereka bergerak dan seratus lebih membuat lingkaran lebar, Yu Yin tak mungkin dapat lolos tanpa membuka kepungan itu maka Twa-mo sudah melompat maju dan bersama Ji-mo yang juga sudah melompat bangun tiba-tiba dua orang ketua ini melepas senjata-senjata rahasianya.

"Awas, jangan sampai gadis itu lari. Siapkan jala. dar-dar-dar!"

Yu Yin terkejut, membentak dan melempar tubuh bergulingan ketika pelor-pelor itu meledak ditangkisnya. Han Han sendiri hanya mengegos dan menangkap empat pelor hitam, yang tak meledak karena bertemu telapak tangan yang lunak. Dan ketika paku-paku tulang juga dielak dan sebagian ditiup runtuh, hal yang membuat dua ketua Naga Merah itu terbelalak maka Han Han melempar empat pelor itu kearah orang-orang Ang-liong-pang.

"Heii, awas!"

Tentu saja semua terkejut. Han Han yang melempar sembarangan tapi tahu-tahu sudah meledak di depan tiba-tiba membuat delapan anak buah Ang-liong-pang menjerit. Mereka terpental dan ledakan keras mengguncang tempat itu. Kepungan otomatis pecah dan ke sinilah Han Han bergerak. Karena begitu dia tersenyum dan menggerakkan kaki maka dia menyambar lengan Yu Yin untuk diajak pergi.

"Nah, sudah ada jalan. Ayo keluar!"

Yu Yin kagum. Dia sendiri sudah meloncat bangun ketika Han Han menyambar lengannya. Pelor-pelor itu ditangkap dan diterima Han Han, bukan main beraninya. Karena pelor-pelor itu dapat meledak kalau disambut dengan keras. Tapi karena Han Han rupanya dapat mengatur tenaga dari keras ke lunak, ini yang mengagumkan maka Yu Yin mendecak dan tertawa di samping pemuda itu.

"Bagus, terima kasih, Han Han. Tapi tak usah kita berpegangan!"

Han Han terkejut. Memang dia telah memegang tangan gadis itu untuk diajak pergi, bukan untuk apa-apa. Tapi karena gadis itu bicara begitu dan mau tak mau mukanya semburat maka Han Han melepaskan pegangannya dan mereka keluar kepungan.

Namun bentakan di kiri kanan tiba-tiba terdengar. Belasan benda-benda berkilap menyambar dari atas. Han Han dan Yu Yin terkejut karena itulah jaring-jaring berkerincing yang menakup kepala. Agaknya, para anggauta Naga Merah yang sudah diperintah ketuanya menyiapkan itu, menyerang dan berlompatan mengejar sementara dua jaring dari belakang menyambar paling hebat, cepat dan luar biasa karena itulah sepasang jaring yang digerakkan ketuanya sendiri, Twa-mo dan Ji-mo. Dan karena dua puluh jaring sudah di atas kepala dan musuh-musuh dikiri kanan tak membiarkan mereka pergi maka Yu Yin memutar pedangnya dan jaring di atas kepalanya terbabat putus.

"Cras-cras-cras!"

Yu Yin terhindar. Tapi lain gadis ini lain pula Han Han. Pemuda yang tak bersenjata atau yang saat itu tidak mengeluarkan senjata tiba-tiba menggerakkan dua jari tangannya, telunjuk dan jari tengah. Dan begitu Han Han bergerak dan menusuk atau merobek maka semua jala di atas kepalanya juga pecah dan terpotong seperti agar-agar teriris pisau dapur.

"Aih, pemuda siluman!" dua ketua Ang-liong-pang berteriak. Mereka itu terkejut karena jaring yang mereka pergunakan juga robek dikerat jari-jari pemuda itu. Tadi Han Han sudah menunjukkan kelihaiannya dengan menangkap pelor-pelor berbahaya, kini menunjukkan kepandaiannya yang lain di mana jari-jarinya itu sekeras dan setajam pisau belati, bahkan, agaknya, jauh lebih tajam lagi! Dan ketika mereka tertegun dan bengong membelalakkan mata maka dua muda-mudi itu sudah bergerak dan lari lagi.

"Kejar, tangkap mereka!" Twa-mo tiba-tiba berseru, gusar. "Dan bunuh si pemuda itu!"

Para anggauta Ang-liong-pang bergerak. Mereka mengejar dan berhamburan menyerang lagi. Twa-mo melepas lagi beberapa pelor ledaknya namun dengan ringan Han Han mengelak atau menangkap, tanpa menoleh, hanya mengandalkan pendengaran dan ketajaman telinganya saja. Dan ketika pemuda itu melempar balik dan pelor-pelor meledak melukai anggauta-anggauta Ang-liong-pang sendiri maka Twa-mo mencak-mencak dan tak berani melontarkan pelor-pelornya.

"Jahanam, pemuda itu ternyata lebih hebat daripada Coa-siocia!"

Twa-mo sekarang sadar, tadi merendahkan dan tak memandang mata tapi kini tiba-tiba terkejut dan kaget. Sungguh tak disangkanya bahwa pemuda yang bercaping dan tampak sederhana itu demikian lihai. Namun karena Coa-siocia harus ditangkap dan itu penting sekali maka ketua nomor satu dari Ang-liong-pangini berkelebat dan terbang mendahului, disusul saudaranya dan Kwan Bhe, wakilnya, juga mengikuti dan melampaui anggauta-anggauta mereka.

Para anggauta itu tak secepat mereka dan memang tiga orang tokoh inilah yang dapat mendahului, paling depan. Dan ketika Twa-mo sudah di belakang lawan-lawannya dan dua muda-mudi itu dibentak agar berhenti, tak mau, maka laki-laki ini menggerakkan ruyungnya dan menderu amat hebat menghantam Han Han.

"Krakk!" Ruyung itu tiba-tiba patah. Twa-mo yang terpekik dan kaget oleh gebrakan ini tiba-tiba melihat Han Han membalik. Pemuda itu mendengus dan menggerakkan tangan kirinya, menampar. Dan ketika serangkum angin pukulan menyambar ketua itu, panas, maka Twa-mo menangkis tapi mencelat bergulingan.

"Dess!" Kaget atau pucatnya laki-laki ini tak dapat dikatakan lagi. Twa-mo terguling-guling sementara adiknya, Ji-mo, membentak dan menyerang Han Han pula. Dia menggerakkan golok lebarnya sementara paku-paku tulang juga berhamburan dari tangan kiri. Tapi ketika Han Han mengibas dan semua paku-paku tulang runtuh, sebagian ada yang menyambar kembali ke ketua Naga Merah itu maka Ji-mo juga terbanting dan mencelat bergulingan.

"Des-dess!"

Dua laki-laki itu sama-sama kaget. Kwan Bhe, sang wakil, mau menyerang dan mengikuti jejak ketuanya. Tapi begitu melihat kedahsyatan Han Han mendadak dia mundur dan menarik dayungnya.

"Keparat, pengecut jahanam!" Twa-mo meloncat bangun memaki wakilnya itu. "Serang dan bunuh pemuda itu, Kwan Bhe. Atau kau kutendang mencelat dan mampus di sini!"

Kwan Bhe terkejut. Dia didupak dan terhuyung ke depan. Ketuanya marah-marah dan saat itu para anggauta bergiliran tiba. Tadi Han Han tersusul karena Yu Yin sempoyongan. Kiranya gadis itu kelelahan dan sebab itulah dua muda-mudi ini terkejar. Han Han tak mau meninggalkan temannya dan terpaksa melindungi. Dan ketika mereka dikejar lagi sementara Ji-mo dan Twa-mo membentak melepas serangan, kini ditujukan kepada Yu Yin yang dinilai lemah maka Han Han terpaksa menangkis dan menolak semua serangan-serangan itu.

"Plak-plak-plak!"

Ji-mo dan suhengnya terhuyung. Golok lebar itu ditangkis begitu saja sementara ruyung yang tinggal separoh juga tertolak ke belakang. Kwan Bhe menyerang tapi si Naga Kuning itu bahkan terlempar, dayungnya patah menjadi empat. Dan ketika semua gentar namun tak mau kehilangan Yu Yin, karena gadis itu harus ditangkap karena mendatangkan untung besar bagi mereka maka tiga orang ini mengejar lagi dan tak mau sudah, menyerang dari jauh.

"Yu Yin, kau sempoyongan, lelah. Bagaimana kalau kau memegang tanganku dan kuajak berlari cepat? Kita akan selalu tersusul kalau begini, dan aku tentu sibuk kalau harus selalu melindungi dirimu!"

"Aku masih dapat menjaga diri!" gadis itu berseru. "Tak usah kau khawatir meskipun aku sempoyongan, Han Han. Kalau kau ingin meninggalkan aku boleh tinggalkan, dan aku juga tidak mengharap kau selalu menangkis serangan orang-orang itu untukku!"

"Hm, keras kepala," Han Han menarik napas. "Kalau begitu bagaimana jika kau lari saja dan kutahan mereka itu?"

"Apa? Kau mau menyuruhku lari sementara menahan mereka? Tidak, kalau mereka tidak curang dan mengeroyok begini tak perlu aku dibantu, Han Han. Daripada kau menghadapi mereka lebih baik aku saja!" dan si gadis yang berhenti dan membalik ke belakang tiba-tiba membentak dan menyerang Ji-mo.

Laki-laki itu berada tepat di belakangnya dan berkali-kali menyuruh dia berhenti. Paku-paku tulangnya menyambar tapi selalu disampok runtuh Han Han. Maka ketika Han Han menyuruhnya lari dan dia dianggap seolah tak kuat lagi, gadis itu marah, maka Yu Yin membalik dan meloncat menusuk Ji-mo.

"Heii!" sang ketua terkejut. Ji-mo tak menyangka tapi tentu saja girang. Gadis itu sudah kehabisan tenaga dan tinggal menunggunya roboh sendiri, kalau tak ada pemuda di sampingnya itu. Maka begitu si nona menyerang dan Ji-mo tahu kelemahan gadis ini maka laki-laki itu menggerakkan goloknya dan menangkis.

"Crang!"

Pedang si nona mencelat. Golok Ji-mo sendiri putus tapi Yu Yin terpelanting ke depan. Gadis itu terbawa oleh tenaga bacokannya dan karena golok putus dibabat maka diapun terjerumus. Ji-mo tertawa bergelak dan melompat ke kiri, mengirim tendangan dari samping. Dan ketika tendangan itu mengenai perut si nona dan Yu Yin berteriak maka gadis itu terlempar.

"Buk!"

Ji-mo menyambar bagai rajawali menerkam mangsa. Laki-laki ini kegirangan karena segera akan dapat menangkap lawannya. Pedang hitam itu tak ada lagi dan gadis ini sudah kehilangan senjatanya. Tapi ketika Ji-mo bergerak dan mau menubruk, menangkap atau menerkam lawan maka saat itu sebuah bayangan bergerak dan tahu-tahu laki-laki ini terlempar.

"Ji-mo, tikus busuk, enyahlah!"

Ketua Ang-liong-pangitu terpekik. Han Han, pemuda bercaping tiba-tiba menerkam tengkuknya. Dari samping pemuda itu bergerak amat cepat dan tahu-tahu ketua Ang-liong-pang ini diangkat naik. Dan ketika Ji-mo dilontarkan dan dilempar bagai layang-layang putus talinya maka laki-laki itu terbanting dan seketika berdebum dengan amat kerasnya.

"Brukk!"

Tokoh nomor dua dari Ang-liong-pang itu mengeluh. Laki-laki ini mendelik dan setengah pingsan. Anak buahnya berdatangan menolong dan Han Han saat itu sudah menyambar Twa-mo dan si Naga Kuning Kwan Bhe pula, menampar dan mendorong mereka hingga dua orang itu jungkir balik. Lalu ketika keduanya tunggang-langgang dan berteriak-teriak maka Han Han menyambar pedang hitam dan berkelebat membawa lari Yu Yin, yang tadi mengeluh dan mengaduh kena tendangan si ketua nomor dua.

"Yu Yin, sekarang tak perlu kau keras kepala lagi. Ayo menyingkir dan ikuti kata-kataku!"

Namun gadis itu menggigit lengan Han Han. Dalam marah dan lemahnya, Yu Yin teringat tendangan si ketua tiba-tiba gadis itu berteriak agar Han Han melepaskan dirinya. Han Han terkejut karena lengannya tiba-tiba berdarah, si gadis menggigit begitu kuat. Dan ketika pegangannya kendor dan Yu Yin meloncat turun maka sambil membentak gadis itu menyambar pedangnya lagi.

"Aku mau lari kalau sudah membalas tendangan Ji-mo tadi. Mana dia dan biar kubalas sakit hatiku dulu!" dan, tidak menghiraukan Han Han yang terkejut dan berseru keras tiba-tiba gadis itu lari ke arah Ji-mo yang ditolong pembantu-pembantunya.

Laki-laki itu masih tak dapat berdiri karena bantingan Han Han tadi amatlah kerasnya. Dan ketika Yu Yin menerjang dan membacok lawannya, yang terbaring pucat maka empat orang di situ yang melindungi si ketua dibuat menjerit terkena babatan pedangnya. Pedang di tangan si gadis memang hebat karena pedang itu adalah pedang yang ampuh. Sudah terbukti berkali-kali bahwa golok atau dayung akan terpapas kutung. Dan karena empat orang itu hanyalah anggauta-anggauta biasa dan Yu Yin tentu saja dengan mudah membabat lawannya maka pedang meluncur dan akhirnya membacok kepala Ji-mo.

"Hayaaa...!" si ketua memekik. Ji-mo terkejut melihat itu dan tiba-tiba saja timbul kenekatannya. Sebenarnya, berkali-kali ketua nomor dua dari Ang-liong-pang ini tak berani bersungguh-sungguh. Dalam serangan atau balasannya tadi selalu dia mengurangi tenaga, karena nama Coa-ongya masih terlalu disegani laki-laki ini. Tapi begitu Yu Yin membacoknya dengan pedang hitam dan gadis itu kalap tak mau sudah, padahal dia masih kesakitan oleh bantingan Han Han maka tiba-tiba laki-laki ini berteriak dan secepat kilat tujuh paku tulangnya dilepas ke depan sementara tubuh sendiri digulingkan menahan sakit.

"Crep-crep-crep!"

Yu Yin memang sudah lemah tenaganya. Gadis itu menang nekat dan menang keras kepala. Dia sebenarnya sudah lemah dan menghadapi orang seperti Ji-mo ini sebenarnya dia sudah harus istirahat. Dikeroyok dan diserang berkali-kali oleh tokoh-tokoh Ang-liong-pang sebenarnya gadis itu sudah kelelahan. Maka begitu Ji-mo melempar tubuh bergulingan sementara tujuh paku tulang dilepas dan dihamburkan ke mukanya, hal yang membuat gadis ini terkejut maka Yu Yin menangkis dan empat paku tulang terpental sementara tiga yang lain mengenai pundak dan lehernya, pedang di tangannya sendiri akhirnya membacok tanah kosong.

"Augh...!" gadis itu roboh. Yu Yin melotot tapi tiba-tiba terguling. Pundak dan lehernya kehitaman. Kiranya paku-paku tulang itu beracun! Dan ketika gadis ini pingsan sementara Ji-mo terhuyung di sana, ditolong suhengnya maka Han Han tertegun sementara yang lain-lain juga terkejut melihat ketua mereka hampir binasa.

"Tangkap gadis itu, ikat dia ke mari!"

Han Han tiba-tiba menggeram. Pemuda ini berkelebat dan sebelum orang-orang Ang-liong-pang mendekat tiba-tiba pemuda itu sudah berlutut di dekat temannya. Han Han terkejut melihat luka kehitaman itu, tahu bahwa racun yang ganas menyerang Yu Yin. Dan ketika dia melihat gerakan-gerakan di sekeliling dan tahu-tahu dirinya sudah dikepung, Twa-mo dan wakilnya ada di situ maka Han Han menyambar dan memondong gadis ini.

"Ang-liong-pangcu, minggir dan menyibaklah kalian secara baik-baik. Berikan obat penawar racun atau aku akan membunuh kalian semua!"

"Hm!" Twa-mo, yang gentar tapi kembali berani karena bersama banyak orang mendelik dan balas membentak Han Han. Dia berkata bahwa pemuda itulah yang harus menyerahkan Yu Yin dan pergi baik-baik, kalau tak ingin dibunuh. Dan ketika Han Han berkilat dan Twa-mo marah, karena pemuda itu membuat saudaranya kesakitan maka ketua Ang-liong-pang ini menutup. "Aku tak menghendaki nyawa anjingmu. Kami semua tak kenal padamu. Serahkan gadis itu dan pergilah secara baik-baik, anak muda. Atau kami akan membunuhmu dan kau tak dapat pulang menemui ibumu!"

"Hm!" Han Han mendengus. "Begitukah? Baiklah, kau sendiri yang mencari penyakit, Ang-liong-pangcu. Kalau begitu aku akan membasmi kalian dan jangan salahkan aku!"

Han Han menyambar pedang hitam, mata berkilat berbahaya dan Twa-mo terkejut melihat pedang itu. Han Han masih memondong Yu Yin dan dengan tangan kiri saja pemuda itu memegang pedang hitamnya. Tapi karena pemuda ini sudah menunjukkan kelihaiannya dan pedang di tangannya itu juga bukan pedang sembarangan maka begitu Han Han mempersiapkan diri mendadak ketua ini melempar empat pelor ledak dan menubruk pemuda itu.

"Serang, bunuh pemuda ini!"

Han Han berkelebat. Melihat sang ketua menyerang tanpa memberi peringatan terlebih dahulu tiba-tiba Han Han menjadi marah. Dia sudah melihat gerakan pundak ketua itu dan cepat mengelak ketika pelor-pelor berbahaya menyambarnya. Dan karena ia tak mau menangkis karena dapat membahayakan Yu Yin yang dipondongnya, maka begitu berkelebat dan membiarkan pelor lewat maka Han Han menusuk dan menyambar ketua Ang-liong-pang itu.

"Cret!" Sang ketua terkejut. Dalam satu gebrakan itu saja tahu-tahu Han Han telah melukai pelipisnya. Pedang sebenarnya mau menukik lagi namun Kwan Bhe dan para anggauta Ang-liong-pang sudah menyerangnya. Mereka itu melindungi sang ketua dan Twa-mo sendiri memekik melempar tubuh bergulingan. Dan ketika laki-laki itu melompat bangun dan Han Han berkelebatan melayani lawan-lawannya, dengan pedang di tangan kiri maka tiga kepala tiba-tiba terpenggal dari tubuhnya, jatuh menggelinding disusul pekik kaget dan jerit yang lain.

"Aihhh. crat-crat-crat!"

Han Han tersenyum dingin. Pemuda itu berkelebatan dan pedang di tangannya sudah mencium darah segar. Pemuda ini tak mau memberi ampun dan keganasan serta kekejamannya tampak jelas. Tiga anggauta yang sudah roboh tanpa kepala disusul lagi oleh lima tubuh yang lain. Delapan anggauta, Ang-liong-pang tiba-tiba saja sudah binasa begitu cepat. Dan ketika pemuda itu terus berkelebatan semakin cepat dan Kwan Bhe menjerit karena lengannya putus, terbabat oleh pedang hitam maka selanjutnya Han Han seperti seekor naga haus darah yang membabati dan meroboh-robohkan lawannya.

"Awas, mundur. Awas, kita bertemu pemuda yang telengas!"

Han Han tertawa dingin. Belasan anak buah Ang-liong-pang tiba-tiba saja sudah berjatuhan tak diberi ampun. Han Han adalah putera seorang ahli pedang yang ternama. Ayahnya, Pek-jit Kiam-hiap Ju Beng Tan adalah seorang jago tanpa tanding. Maka begitu lawan mengeroyoknya dan Han Han mengeluarkan kepandaiannya ini, kepandaian bermain pedang maka bayangan hitam sudah bergulung-gulung naik turun bagai naga sakti menyambar mangsa. Han Han marah dan timbul kebengisannya. Yu Yin yang pingsan dan luka, oleh paku beracun membuat pemuda itu kejam. Watak dinginnya muncul dan kalau sudah begini maka Han Han bukan lagi putera Pek-jit-kiam Ju Beng Tan melainkan lebih tepat sebagai putera si Golok Maut, karena memang itulah ayah kandungnya, ayah yang mengalirkan darah dan watak yang bak pinang dibelah dua, dingin dan sama-sama ganas.

Dan ketika belasan anggauta Ang-liong-pang bergelimpangan mandi darah, rata-rata kutung kepalanya dibabat Han Han maka Twa-mo dan Ji-mo yang terbelalak di luar ngeri hatinya. Dua orang ketua Ang-liong-pang ini marah sekali. Ji-mo, yang sudah dapat berdiri dan tegak ditolong suhengnya melotot bagai ikan emas. Tokoh nomor dua dari Ang-liong- pang ini hampir tak percaya pada apa yang dilihat. Belasan orang anak buahnya, ah tidak puluhan orang anak buahnya sudah bergelimpangan dibabat Han Han. Tak kurang empat puluh lebih yang kini dibantai pedang hitam itu.

Han Han bergerak dan berkelebatan bagai rajawali menyambar-nyambar. Setiap kali pedang bergerak setiap kali itu pula darah memuncrat. Kepala yang menggelinding sungguh tak terhitung lagi karena berceceran di tanah. Bahkan, Kwan Bhe akhirnya terpenggal dan kepala si Naga Kuning itu mencelat ditendang Han Han. jatuh dan tepat berhenti di dekat dua orang ketuanya. Dan ketika Ji-mo memekik sementara enam puluhan anggautanya pucat dan berteriak-teriak, mengepung tapi menyerang dari jauh maka ketua nomor dua dari perkumpulan Naga Merah ini membentak menerjang maju.

"Jangan...!" Twa-mo berseru, kalah cepat. "Kembali, Ji-te. Jangan dekat-dekat!"

Namun sang adik sudah naik pitam. Ji-mo tak perduli lagi dan kemarahannya melihat anak buahnya dibantai membuat dia tak memperdulikan kepandaian lawan. Goloknya yang baru sudah dicabut lagi dan tangan kirinyapun bergerak melepas belasan paku-paku tulang, semuanya bercuitan tapi Han Han mendengus dan memutar pedang di depan tubuh, melindungi Yu Yin yang ada di pondongannya. Dan ketika paku tulang terpental berhamburan ke sana kemari, menyambar Ji-mo dan anak buahnya sendiri maka tiga belas orang roboh terkena paku-paku tulang itu, yang ditangkis Han Han.

“Aduhh...!“

Ji-mo semakin mata gelap. Dia menggerakkan goloknya menangkis empat paku tulang yang membalik menyambar dirinya, meruntuhkan dan setelah itu bergerak lagi kearah Han Han. Dan karena tokoh nomor dua ini sudah mata gelap dan membacok Han Han sekuat tenaga, Han Han membalik dan menggerakkan pedang hitam maka golok di tangan laki-laki itu putus menjadi dua.

"Crangg!"

Ji-mo melempar tubuh bergulingan. Han Han membalasnya namun lawan menyelamatkan diri, anak buah Ang-liong-pang bergerak dan Twa-mo sendiri mencelat membantu adiknya. Ruyung di tangan ketua nomor satu itu menderu menghantam Han Han, dari belakang. Dan ketika Han Han memutar pedang namun ruyung ditarik cepat, tak berani diadu maka Han Han sudah dikeroyok dan menghadapi lagi dua orang ketua Ang-liong-pang ini, yang dibantu puluhan anak buahnya.

Namun Han Han terlalu hebat. Pek-jitKiam-sut (Silat Pedang Matahari) yang dimainkan begitu hebat telah membungkus pemuda ini dan temannya. Yu Yin yang berkali-kali diincar untuk dibunuh atau dimaksudkan untuk mengacau perhatian pemuda itu ternyata tak dapat disentuh. Si pemuda menggerakkan pedangnya secepat kitiran. Dan karena pedang hitam itu memang hebat dan Han Han berkelebatan bagai rajawali menerkam mangsa, tidak tinggal diam di tempatnya maka lain pemuda ini lain pula Yu Yin. Gadis itu tadi hanya memutar pedang dan menunggu serangan, jadi berhenti ditempat dan kewalahan oleh tiga tokoh Ang-liong-pang.

Tapi Han Han yang bergerak dan membalas, sering melancarkan serangan tak terduga-duga membuat lawan-lawannya kerepotan dan sering terkejut apalagi kalau pedang sudah menyambar di depan hidung! Twa-mo sendiri sampai harus melempar tubuh cepat-cepat sambil berteriak meminta tolong. Adiknya bergerak dan membokong Han Han. Tapi ketika Han Han memutar pedangnya lagi dan membabat golok di tangan Ji-mo maka laki-laki itulah yang harus menyelamatkan diri dan bergulingan seperti kakaknya.

"Keparat!" dua orang itu gemetar. "Pemuda ini hebat sekali, suheng. Agaknya, kita harus mengalah dan pergi!"

"Hm, tak mungkin pergi!" Han Han sudah marah, menjawab dan tertawa dingin mendengar omongan itu. "Kalau kalian mau pergi maka kepala kalian harus ditinggalkan di sini dulu, Ji-mo. Baru setelah itu boleh kalian pergi!"

Ji-mo dan Twa-mo gusar. Mereka membentak dan menyerang lagi namun pedang hitam menyambut. Mereka berteriak dan memaki lawan bahwa Han Han terlalu mengandalkan senjata pusaka, padahal pedang itu bukanlah miliknya. Dan ketika Han Han mendengus dingin dan menyimpan pedang, hal yang mengherankan dua orang itu maka Han Han bergerak dengan tangan kosong melayani lawan.

"Baiklah, lihat kepandaianku, Ji-mo. Tanpa pedang pun aku mampu membunuh kalian berdua!"

Dua orang itu girang. Mereka membelalakkan mata namun menerjang lagi. Sisa anak buah dikerahkan dan anggauta-anggauta Ang-liong-pang berseri. Han Han menyimpan pedang dan itu berarti si pemuda mencari mati. Tapi ketika semua berhamburan dan menyerang berteriak-teriak, bangkit semangatnya, tiba-tiba mereka memekik karena tangan pemuda itupun ternyata mampu memotong atau menerima senjata-senjata tajam mereka, tak kalah dengan pedang.

"Crak-crak-crak!"

Han Han membacok dengan sisi telapak tangannya. Pemuda ini memang telah memiliki sinkang demikian hebat hingga dengan telapak tangannyapun dia mampu beradu senjata tajam. Jari-jari atau sisi telapak tangannya itu telah berobah sekeras baja, berkat sinkang atau tenaga sakti yang dilatihnya bertahun-tahun. Dan ketika golok atau tombak patah-patah, tak kuat bertemu tangan pemuda ini maka golok di tangan Ji-mo juga meletak dan pecah tiga potong.

"Aiihhhh...!" laki-laki itu seperti bertemu setan. Tangan Han Han yang masih bergerak dan terus menyambar lehernya tak dapat ditangkis lagi, goloknya sudah terlepas. Dan ketika dia coba mengelak namun kalah cepat, sisi telapak tangan Han Han membacok bagai golok maka leher laki-laki itu terbabat dan putus.

"Crasss!"

Semua merinding berseru tertahan. Ji-mo roboh dengan tubuh tanpa kepala, ambruk dan tumbang seperti batang pisang yang baru dikelewang. Dan ketika semua mundur sementara Twa-mo mendelik tak percaya, kaget tapi juga ngeri maka Han Han berkelebat dan menyambar kearahnya.

"Sekarang giliranmu!" sinar putih keluar dari tangan pemuda ini. Han Han mengerahkan Kiam-ciang atau Tangan Pedang di mana tenaga yang dipakai adalah tenaga dari kitab kecil yang ditemukan di sumur tua. Itu adalah sinkang ajaran ayahnya sendiri, Si Golok Maut, Dan karena Han Han menggabung kepandaian dari ayah angkat dan ayah kandung, hebatnya tentu saja bukan main maka Twa-mo tak dapat mengelak dan ruyung di tangan itulah yang dipakai menangkis, berteriak, mengerahkan segenap tenaga tapi ruyung itu juga hancur berkeping-keping. Bandul besinya mencelat dan menimpa seorang anak buah Ang-liong-pang, yang menjerit dan roboh menggelepar. Dan ketika tangan Han Han masih terus bergerak dan membabat leher lawan, seperti yang sudah-sudah maka tulang laki-laki ini berkeratak dan kepala itupun terpenggal seperti dibacok senjata tajam.

"Krakk!"

Han Han tak memberi ampun. Tangan pemuda ini sudah berlepotan darah segar namun Han Han seolah orang kehausan yang mendapat minum anggur. Semakin banyak darah dicipratkan semakin bersemangat dia. Dan ketika Twa-mo roboh dan tewas tanpa kepala lagi maka Han Han berkelebatan dan dengan tangan kirinya itu dia membabat sisa-sisa anggauta Ang-liong-pang yang tiba-tiba kocar-kacir, menjerit-jerit.

"Ampun.... jangan kami dibunuh, augh!"

Han Han tak memberi kesempatan orang itu minta ampun, ditebas dan kepalanyapun mencelat menyusul sang ketua. Semua panik dan tunggang-langgang. Dan ketika hanya beberapa saja yang berhasil menyelamatkan diri dan hampir seratus orang tergelimpang, mandi darah, anak buah perkumpulan Naga Merah itu nyaris habis maka Han Han berhenti bergerak dan tegak mengusap keringat, juga darah yang membasahi tangannya.

"Aduh.... ah, Han Han di mana kau?"

Han Han terkejut sadar. Yu Yin, temannya itu, siuman dan memanggil namanya, lemah namun dapat terdengar. Dan ketika gadis itu membuka mata dan mengeluh oleh racun di tubuhnya maka Han Han menurunkan dan meletakkan gadis ini di rumput yang tebal. Dan Yu Yin tiba-tiba tersentak melihat tubuh yang bergelimpangan itu.

"Han Han, kau. kau membunuh orang orang ini?"

"Hm, betul," Han Han mengangguk, sinar matanya tidak ganas lagi, mencorong lembut. "Mereka minta mati, Yu Yin. Dan aku mengantar mereka ke neraka sesuai permintaannya."

Yu Yin meremang, mendengar kata-kata yang diucapkan dingin itu, tak, berperasaan. "Kau membunuh-bunuhi mereka? Kau tidak kenal kasihan?"

"Untuk apa kasihan?" jawaban inipun dingin, beku. "Aku menyuruh mereka minggir, Yu Yin. Tapi mereka tetap membandel dan tidak mau dengar. Dan aku tak suka dengan orang-orang semacam ini. Kau minta diobati atau tidak?"

"Ah!" gadis itu terisak, merasa ngeri tapi juga kasihan kepada anggauta-anggauta Ang-liong-pang itu. "Kau kejam, Han Han. Kau telengas. Mereka hanya anak-anak buah yang tak sepatutnya dibunuh!"

"Hm, kau mau bicara tentang mayat-mayat itu atau dirimu sendiri? Kalau kaupun tak mau kubantu aku juga tak akan di sini, Yu Yin. Terserah kau mau menganggap aku apa!"

"Plak!" Yu Yin tiba-tiba menampar. "Kau. menghina aku, Han Han. Kau merendahkan aku. Kalau kau tak mau menolong aku boleh kau pergi dan biarkan aku mampus. Aku juga tak butuh pertolonganmu... auhh!" namun si gadis yang mengeluh dan berteriak kesakitan tiba-tiba terguling dan pingsan lagi. Yu Yin marah oleh sikap dan kata-kata temannya tadi.

Han Han terlalu beku dan kejam, tak berperasaan. Pemuda itu sampai hati bicara seperti itu kepadanya. Maka ketika rasa sakit tiba-tiba menusuk dan racun di tubuh membuat gadis itu berteriak maka dia terguling pingsan dan Han Han yang tertegun di situ tiba-tiba menotok dan menolong gadis ini. Han Han bergerak ke mayat Ji-mo. Yu Yin terluka oleh paku-paku tulang laki-laki ini, paku yang mengandung racun. Dan karena Ji-mo tentu mempunyai obat penawar dan Han Han sudah menggeledah mayat laki-laki itu, menemukan sebungkus obat maka Han Han memberikan obat ini kepada temannya.

Dan benar saja, tak lama kemudian Yu Yin siuman lagi. Wajah gadis itu mulai memerah dan Han Han menunggu sejenak. Dan ketika gadis itu membuka mata dan melompat bangun, mengherankan sekali, maka Yu Yin yang sudah sembuh tanpa sadar ini membentak,

"Kau, mengapa masih ada di sini? Bukankah katamu tak akan menolongku? Nah, pergilah, Han Han. Aku tak butuh pertolonganmu!"

Han Han bersinar.Segera dia tahu bahwa gadis ini memang sudah sembuh. Gerakan Yu Yin ketika meloncat tadi merupakan bukti. Dan bangkit menarik napas dalam tiba-tiba Han Han memutar tubuh dan melangkah pergi sambil membenamkan capingnya.

"Baiklah," pemuda itu tertawa tawar. "Kalau kau menghendaki aku pergi aku juga akan pergi, Yu Yin. Selamat tinggal, dan hati-hatilah menjaga diri..."

Yu Yin tertegun. Seketika dia sadar bahwa dia sudah sembuh. Rasa sakit itu tak ada lagi dan tiga bekas luka menghitam juga lenyap. Rasa terbakar atau nyeri benar-benar hilang. Dan ketika dia melihat bungkusan obat dan sadar bahwa itu adalah pertolongan Han Han, yang dikira belum menolongnya maka gadis ini tertegun, berseru tertahan.

"Han Han!" Yu Yin berkelebat. "Kau sudah menolongku? Bungkusan obat itu kau yang memberikannya?"

"Hm," Han Han melejit dan menghindar dari hadangan gadis ini. "Tak ada yang menolongmu, Yu Yin. Yang menyelamatkanmu adalah bungkusan obat dari Ji-mo itu. Tanya saja mayatnya dan coba kau hubungi dia!"

"Han Han!" Yu Yin menjerit. "Kau menghina dan mempermainkan aku seperti ini? Kau menyuruh aku bicara dengan mayat? Ah, mentang-mentang kau berkepandaian tinggi maka kau bersikap sombong, Han Han. Kalau begitu terima ini dan jangan kau lari dulu... singg!" pedang hitam yang menggeletak di tanah disambar gadis ini, ditusukkan ke arah Han Han tapi pemuda itu tertawa dingin. Yu Y in yang marah-marah kepadanya justeru membuat perasaan Han Han tiba-tiba beku kembali, dia merasa tak senang. Maka ketika Yu Yin menjerit dan menyerangnya, mengejar sambil menusuk lagi maka Han Han menepis dan berseru,

"Kita sudah tak ada urusan lagi. Maaf kalau selama ini aku menguntitmu karena ingin menyelamatkanmu.... plak!" dan pedang yang mencelat dari tangan si gadis, jatuh berkerontang akhirnya membuat Yu Yin terkejut dan menangis, ikut terpelanting.

Gadis itu berteriak dan memaki-maki Han Han bahwa pemuda itu kejam dan sombong. Yu Yin menantang-nantang lawannya agar Han Han kembali dan bertempur seribu jurus. Tapi ketika Han Han tertawa di kejauhan dan tawa itu terdengar sumbang dan dingin maka Han Han lenyap dan tak kelihatan bentuk tubuhnya lagi. Gadis ini menangis dan entah kenapa tiba-tiba kecewa. Dia yang semula marah-marah, seolah tak mau didekati Han Han mendadak saja kini ingin didekati, bersama. Yu Yin merasa bahwa Han Han tak bermaksud buruk kepadanya, terbukti karena beberapa kali pemuda itu menolongnya, mengalah. Dan karena Han Han akhirnya benar-benar pergi dan aneh sekali gadis itu merasa kecewa, rindu, maka Yu Yin lah yang kini bergerak dan mengejar-ngejar Han Han!

Gadis ini memanggil-manggil Han Han namun Han Han lenyap entah ke mana. Dan ketika merasa bahwa dia terikat, ada sesuatu yang mengganggu dan mengguncang perasaannya akhirnya Yu Yin jatuh bangun mencari Han Han. Meninggalkan sungai dan masuk keluar hutan sambil menangis dengan air mata bercucuran. Dan begitu gadis ini memanggil-manggil dan menyusul Han Han, yang entah ke mana maka mayat tokoh-tokoh Ang-liong-pang itu menggegerkan dunia kang-ouw ketika ditemukan.

Beberapa anak murid yang berhasil meloloskan diri segera menceritakan ini. Seorang pemuda bercaping bambu, dingin dan menyeramkan segera dikabarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Pemuda itu amat lihai dan ilmu pedangnya amat luar biasa. Dan karena cerita dari mulut ke mulut selalu dibumbui semakin sedap, Han Han dikabarkan seperti naga yang beterbangan dengan pedangnya itu maka Han Han dikenal sebagai Naga Pembunuh!

Han Han tak tahu akan itu dan julukan itu sendiri belum didengarnya. Pemuda ini memang pantas disebut sebagai pemuda berdarah dingin. Baru saja muncul di dunia kang-ouw sudah melakukan pembantaian seperti itu, puluhan anak-anak buah Ang-liong-pang yang tidak pernah bermusuhan dengannya, hanya karena ikut-ikutan atau patuh terhadap sang ketua. Dan begitu pemuda ini dikenal sebagai Naga Pembunuh, naga yang ganas dan tak kenal ampun maka dunia kang-ouw mulai guncang dan was-was. Maklumlah, siapa tahu bertemu dengan pemuda ini yang belum dikenal jelas!

* * * * * * *

Seorang wanita tertawa atau terkekeh sendirian. Rambutnya riap-riarpan, panjang sampai ke pinggul dan wajahnya yang cantik namun kusut, tak terawat, masih merupakan daya tarik yang besar. Wanita itu menendang-nendang batu di jalan sambil sesekali menyebut-nyebut nama Kedok Hitam. Melihat tingkahnya, jelas dia wanita tidak waras, gila, atau mungkin setengah gila. Tapi ketika dua orang laki-laki muncul di tikungan dan berhenti menghadangnya, duduk di atas dua ekor keledai yang selalu bemaklinting maka wanita itu tertegun dan tiba-tiba batu yang ditendangnya ditangkap dan diremas hancur oleh satu di antara dua laki-laki ini, dua laki-laki berhidung mancung.

"Hm, kau Wi Hong bekas ketua Hek-yan-pang, bukan?"

Pertanyaan itu, yang dilancarkan dengan suara sengau dan agak parau membuat si wanita terkejut. Dia tersentak dan sikap gilanya hilang. Sorot mata yang semula berputaran itu mendadak bercahaya, berkilat dan tiba-tiba kekeh tawa yang terhenti muncul lagi, terdengar dikeluarkan dengan lebih menyeramkan, mirip ringkik kuda. Dan ketika wanita itu bergerak dan tahu-tahu berdiri menghadang dengan tangan kiri bertolak pinggang, yang kanan menuding dan menunjuk laki-laki yang berkata maka dia berseru,

"Heh, kau ini adalah Mindra, bukan? Kakek tua bangka dari Thian-tok (India)?"

"Hm, benar. Itulah aku," si kakek, laki-laki di sebelah kiri tersenyum, mengangguk bersinar. "Dan kau adalah Wi Hong, bukan?"

"Keparat, aku Sin-hujin (nyonya Sin), kakek tua bangka. Hormati suamiku atau kau mampus kubunuh!"

"Ha-ha, sudah berobah, "kakek ini tertawa, berpaling kepada temannya. "Bagaimana pendapatmu, Sudra? Apakah bekas ketua Hek-yan-pang ini tidak seperti dulu lagi?"

"Ya, dia sudah berobah," kakek di sebelah kanan mengangguk, bersinar pula matanya. "Sin-hujin ini agak terganggu jiwanya, Mindra. Lihat sorot matanya yang mulai berputaran liar itu!"

Wi Hong, wanita ini, memekik. Memang bola matanya sudah berputaran lagi dan sikapnya yang waras tadi hanya sejenak saja tertampak, setelah itu dia terkekeh-kekeh dan mencungkil-cungkil tanah dengan kakinya. Tapi ketika belasan kerikil tajam mencelat dan menyambar dua kakek ini, yang duduk terkejut maka keduanya berseru mengebutkan ujung lengan baju.

"Heh, awas. Tidak waras tetapi berbahaya!" belasan kerikil disampok runtuh, hancur menjadi tepung tapi wanita itu tiba-tiba bergerak dan berkelebat kebelakang. Dan ketika dua ekor keledai berteriak karena ditarik buntutnya, sampai berodol maka dua kakek itu tersentak karena binatang tunggangan mereka mendadak lari dan kabur dengan kesakitan.

"Hi-hik, rasakan. Boleh kalian jatuh bangun disitu!"

Dua kakek ini membentak keras. Mereka marah karena keledai yang ditunggangi sekonyong-konyong liar. Mereka mencongklang dan lari ke kiri kanan, masing-masing seperti kesetanan. Tapi ketika mereka bergerak dan menepuk tunggangan mereka, keras sekali, maka dua ekor keledai itu berhenti namun tiba-tiba roboh.

”Keparat!" terpaksa dua orang ini berjungkir balik melayang turun. Mereka heran dan juga kaget kenapa keledai yang ditarik buntutnya sekonyong-konyong bisa begitu, roboh setelah dihentikan. Tapi ketika mereka memeriksa dan melihat sebatang jarum menancap dipinggul, tepat di pangkal ekor maka dua kakek itu gusar karena jarum beracun telah membinasakan dua ekor binatang ini.

"Heh, tak tahu diri!" Mindra, kakek pertama membentak geram. "Baik-baik kami menanyaimu tapi kau menyerang kami, bocah. Kalau begitu kau perlu dihajar dan harus mengganti kerugian.... wut!" kakek ini berkelebat, tangan kirinya bergerak mengeluarkan cahaya merah dan angin panaspun menyambar.

Wi Hong, wanita itu, terkekeh-kekeh dan menangkis, tidak berkelit. Tapi ketika dia terpelanting dan ujung lengan bajunya hangus, itulah Hwi-seng-ciang atau Pukulan Bintang Api maka wanita ini berteriak dan terkejut.

"Aiihhh, tua bangka yang cukup lihai!" Wi Hong bergulingan memadamkan sisa api dan meloncat bangun sambil mencabut pedang. "Heh, kau mau main-main dengan aku, Mindra? Kau berani menyerangku?"

"Hm!" Mindra si kakek gusar mendengus marah. "Kaulah yang mengganggu aku, Wi Hong. Kalau tidak tentu juga tidak. Kau sudah tidak waras, kami hanya menegurmu karena mendengar kau menyebut-nyebut si Kedok Hitam!"

"Kedok Hitam? Ah, dia memang musuhku. Dan kalianpun musuhku karena dulu kalian juga pernah galang-gulung dengannya. Haiittt!" dan pedang yang bergerak mendahului lawan tiba-tiba menusuk dan menikam dengan amat cepatnya.

Wi Hong marah karena nama itu tiba-tiba disebut lagi. Si kakek mengelak namun pedang mengikuti, bergerak merupakan bayangan. Dan ketika hampir saja tenggorokan kakek itu disambar dan cepat kakek ini menangkis, dengan Hwi-seng-ciang-nya maka wanita itu terhuyung tapi melengking dan menerjang lebih dahsyat.

"Mindra, aku akan membunuhmu!" dan pedang yang bergerak lebih cepat menusuk dan menikam akhirnya diiringi pula pukulan-pukulan tangan kiri yang mempergunakan Ang-in-kang (PukulanAwan Merah), menampar dan mendorong dan sebentar saja kakek itu mundur-mundur.

Mindra kewalahan tapi kakek ini akhirnya bergerak gesit, mengelak dan menampar dan balas memukul lawannya. Dan ketika tangan kiri bertemu Hwi-seng-ciang dan meledak, kalah kuat, maka Wi Hong terhuyung jatuh namun sudah menyerang lagi. Pedang di tangannya bergerak naik turun dan lawan dipaksa tak berani mendekat. Wi Hong mainkan silat pedang yang hebat dan bersifat mengadu jiwa. Namun karena kakek ini bukanlah kakek biasa karena dia adalah jago dari Thian-tok yang dulu pernah dipakai Coa-ongya untuk menghadapi Si Golok Maut maka kakek ini dapat bertahan dan pukulan-pukulan Awan Merah dapat ditolak baik dan Wi Hong mulai sering jatuh.

"Keparat, kau boleh bunuh aku, Mindra. Tapi tak boleh menghina!"

"Hm, aku tak akan membunuhmu!" si kakek berseru, gusar tapi merasa kasihan, wanita itu tidak waras. "Kau sudah tidak sehat jiwamu Wi Hong. Kalau kau dulu menyusul Si Golok Maut tentu bagus. Sayang, kau masih hidup dan sekarang gila!"

"Gila? Hi-hik, kaulah yang gila, tua bangka. Kau yang tidak waras dan mengatakan aku gila. Aih, aku hidup karena ingin membalaskan kematian suamiku. Dan kau dulu pernah mengeroyok di Lembah Iblis. Mampuslah, pedangku masih haus darahmu.... wut!" dan pedang yang menyambar bergerak dari samping tiba-tiba membabat dan membacok pinggang si kakek. Mindra menangkis tapi pedang ditarik kembali, cepat sekali. Dan ketika si kakek tertegun dan kaget, heran, maka pedang membalik dan tahu-tahu membacok kepalanya.

"Haiihh, ganas. Tapi tak dapat membunuh aku!" dan si kakek yang mengelak dan menampar ke atas, menghalau pedang sekonyong-konyong melihat pedang ditarik lagi untuk diganti dengan serangan lain, kali ini tusukan ke ulu hati dan berturut-turut wanita itu merobah atau mengganti serangannya di tengah jalan.

Rupanya, dia memang akan mengecoh kakek ini agar tak mengetahui serangan mana yang sesungguhnya nanti dilancarkan. Si kakek berkali-kali mementalkan pedangnya dengan tangkisan Hwi-seng-ciang, sementara pukulannya Ang-in-kang selalu terpental atau tertolak balik bertemu Hwi seng-ciang. Maka ketika delapan kali berturut-turut Wi Hong merobah serangannya dan terakhir sekali pedang menusuk mata, cepat luar biasa maka pedang tiba-tiba dilepaskan dan meluncur tanpa kendali.

"Aiihhh...!" si kakek sudah terlebih dulu dibuat sulit menduga. Tujuh kali berturut-turut menangkis dan menampar cukup membuat kakek ini marah. Dia juga bingung karena tak mau menurunkan tangan keras, paling-paling dia membuat pedang terpental atau pukulan tangan kiri tertolak. Maka begitu serangan yang kedelapan dilakukan dengan melepas pedang, yang meluncur menyambar mata maka kakek yang baru saja berdiri tegak mengibaskan lengan ke kiri ini sekonyong-konyong menjadi pucat namun saat itu merupakan detik-detik paling kritis bagi si kakek lihai untuk menunjukkan kepandaiannya. Dia sudah tak sempat mengelak lagi dan satu-satunya jalan ialah meniup. Karena begitu pipi si kakek menggembung dan ditiup kuat, penuh hawa sakti maka pedang terbentur dan patah di tengah jalan.

"Pletak!"

Wi Hong mengeluh pucat. Dia tadi melakukan jurus yang disebut Menimpuk Bunga Mengetam Padi, satu jurus berbahaya dan termasuk nekat, karena dia melepas senjata dan tinggal bertangan kosong lagi. Kalau gagal tentu celaka karena lawan akan marah, padahal dia sudah tak bersenjata. Dan ketika benar saja serangannya gagal dan pedang bahkan patah di tiup si kakek, hal yang mengagumkan maka Mindra yang gusar dan berkelebat ke depan tiba-tiba menggerakkan tangan menampar kepala wanita itu.

"Tak pantas kau diberi ampun. Mampuslah!"

Wi Hong berkelit. Dia terkejut ketika hawa panas mendahului tamparan si kakek, mengelak namun kalah cepat. Tapi ketika tamparan siap mendarat di kepala wanita itu, yang berarti Wi Hong akan tewas mendadak berkelebat bayangan putih dan tamparan atau pukulan ini ditangkis seseorang.

"Kakek kejam, tak perlu membunuh wanita!" dan benturan keras yang membuat si kakek terpelanting dan berteriak kaget, terguling-guling, sudah membuat Wi Hong maupun lawan terkejut karena di situ muncul seorang pemuda gagah bercaping bambu.

"Sin Hauw!"

"Golok Maut...!"

Dua seruan itu hampir berbareng meluncur dari mulut si kakek maupun Wi Hong. Sudra, kakek yang lain juga berteriak dan kaget berseru tertahan. Itulah Han Han yang datang tepat pada waktunya, melihat pertandingan dan marahnya kakek berhidung mancung ini. Dan karena Mindra akan membunuh lawannya sementara Han Han telah melihat dan menyaksikan dari dekat, diam-diam tergetar dan kasihan kepada wanita yang rambutnya riap-riapan ini, yang agaknya setengah gila maka Han Han bergerak dan tak mau wanita yang harus dikasihani, itu dibunuh. Han Han menangkis dan langsung mengerahkan Pek-lui-kang-nya, bertemu dengan Hwi-seng-ciang dan meledaklah suara keras seperti petir itu.

Tapi ketika dua mulut berseru berlainan, satu menyebutnya sebagai Sin Hauw dan yang satu sebagai Si Golok Maut, padahal tokoh itu telah tiada maka Han Han tertegun dan tiba-tiba terkejut ketika wanita setengah gila yang rambutnya riap-riapan ini terkekeh dan menubruknya.

"Aih, kau kiranya, Hauw-ko (kanda Hauw). Kau datang tepat pada waktunya dan telah menyelamatkan aku. Ah, terima kasih. Kau ternyata masih hidup!" dan Han Han yang langsung dipeluk dan diciumi, terkejut, tiba-tiba melihat wanita itu terisak dan menangis tersedu-sedu.

Dan saat itu kakek berhidung mancung yang ditangkis pukulannya tiba-tiba mencabut nenggala dan membentak, disusul temannya yang juga mencabut cambuk baja dan meledakkannya diudara.

"Golok Maut, rohmu kiranya masih berkeliaran di bumi. Mampuslah.... dar!" dan cambuk yang menyambar serta meledak menuju lehernya, menjirat, sekonyong-konyong disusul gerakan nenggala yang menusuk lambung.

"Minggir!" Han Han terkejut dan berseru keras. Dia masih tak mengerti omongan orang ketika tiba-tiba dua senjata itu menyerangnya begitu hebat. Nenggala mengaum dan suaranya mirip topan menderu, cambuk di atas kepala sudah meledak dan siap menyambar lehernya. Kalau dia lengah sedikit barangkali lehernya bisa terbabat putus. Dua senjata itu sama-sama berbahaya. Dan karena wanita itu memeluknya dan Han Han sejenak tertegun karena tangis dan pelukan wanita itu membuat bulu romanya berdiri, meremang, ada sesuatu yang tiba-tiba seakan menyentaknya dari alam halus maka Han Han bergerak dan cepat mendorong wanita itu serta melempar tubuh sambil melakukan tendangan dari bawah.

"Des-des-tarr!"

Bumi yang diinjak seketika hangus. Han Han meloncat bangun dan terbelalak melihat itu. Dua kakek itu tiba-tiba saja garang dan beringas. Mereka menyebutnya sebagai Si Golok Maut dan dia disangka rohnya, Han Han tertegun. Tapi ketika dua kakek itu juga terbelalak dan tertegun sejenak, kaget melihat Han Han mampu menghindar dan menendang cambuk maka dua-duanya sudah membentak dan menerjang lagi.

"Heii, kalian gila!" Han Han berteriak, melihat nenggala dan cambuk kembali menjeletar menyerang berbahaya.

Dia sebenarnya hendak melerai saja dan menyelamatkan wanita setengah gila itu. Entah kenapa Han Han iba dan kasihan terhadap wanita ini. Tak tahu bahwa itulah ibunya, ibu kandung! Maka ketika dua kakek itu menyerang ganas dan tak perduli teriakannya, Mindra dan saudaranya pucat merangsek semakin hebat maka apa boleh buat, Han Han lalu berlompatan dan mengelak ke sana-sini, didesak dan terus dicecar dan akhirnya pemuda ini menggerakkan tangan menangkis. 

Pek-lui-kang kembali menampar tapi bertemu nenggala tiba-tiba lengan Han Han tergetar. Itulah tanda bahwa lawan memiliki sinkang kuat dan dua kakek-kakek ini bukan orang sembarangan. Han Han kagum tapi juga marah. Dan ketika satu saat nenggala kembali menusuk dan cambuk menjeletar di atas kepala, bagai guruh menggelegar maka Han Han mencabut pedangnya dan secepat kilat dia bergerak miring sambil membabatkan pedangnya itu, dari kanan kekiri.

"Crat-tass!"

Nenggala dan cambuk sama-sama buntung. Dua kakek itu berteriak kaget dan melompat mundur, mereka terbelalak memandang senjata masing-masing, tapi ketika tertegun bahwa Han Han tak memegang golok, sebagai ciri-ciri Si Golok Maut maka dua kakek itu tertegun dan bertanya, suaranya jelas gentar karena gerakan pedang Han Han tadi membuktikan anak muda itu memiliki sinkang yang amat kuat, yang masih di atas mereka.

"Kau, siapa anak muda"? Dari mana dan kenapa mengganggu kami? Kau mencari permusuhan!"

"Hi-hik, tak usah dijawab!" si wanita rambut riap-riapan tiba-tiba melengking dan menusuk dua orang kakek ini, mempergunakan kukunya. "Mereka ini orang-orang yang dulu mengeroyokmu, Hauw-ko! Hayo hajar dan bunuh. Bantu aku dan jangan digubris!"

Namun dua kakek itu mengebutkan lengan. Wi Hong terpental dan jatuh terguling-guling, wanita ini berteriak dan minta agar Han Han tak berpangku tangan. Dan ketika dia meloncat bangun dan menerjang lagi! Berani karena "suaminya" ada di situ maka Mindra dan Sudra gemas menghantam wanita ini.

"Kau tak tahu diri, enyahlah... des-dess!"

Wi Hong terkena sapuan miring, terlempar dan jatuh terguling-guling dan menjerit menangis di sana. Wanita itu marah tapi juga gentar menghadapi lawannya. Han Han tak segera menolongnya. Tapi ketika Han Han bergerak dan menyambarnya, mengangkat bangun, maka Han Han disemprot dan dimaki-maki.

"Kau tak setia kepada isteri. Kau membiarkan saja aku jatuh bangun. Aih, bertahun-tahun aku menderita untukmu, Hauw-ko. Ayo balas dan sekarang bunuh mereka ini. Atau aku tak mau tidur lagi bersamamu dan biar kau mati kedinginan!"

Han Han merah padam. Wanita ini berkata soal hubungan suami isteri cepat dia menotok dan membungkam mulut wanita itu. Dan ketika wanita itu mengeluh dan roboh terguling, Han Han sudah menghadapi dua kakek India itu maka Mindra dan Sudra sadar bahwa mereka salah menyangka, meskipun mereka terkejut dan tersirap karena sikap dan gerak-gerik lawannya ini benar-benar mirip Si Golok Maut, bahkan juga wajahnya, kecuali pedang itu!

"Anak muda, kau siapa? Kenapa mengganggu dan menyerang kami? Bukankah kita tak saling bermusuhan?"

"Dan maaf kalau aku menyangkamu sebagai Si Golok Maut. Kedatanganmu yang amat tiba-tiba dan mengejutkan ini membuat kami salah faham," Sudra, kakek di sebelah juga berkata.

Sekarang mereka saling mengedip dan diam-diam mencekal erat senjata di tangan. Anak muda itu jelas lihai dan senjata mereka buntung dibabat sekali saja, padahal mereka bukanlah orang lemah! Tapi ketika Han Han menghadapi mereka dan dingin memandang, sinar matanya tajam menusuk maka dua kakek itu meremang karena sikap inipun persis Si Golok Maut!

"Aku Han Han, entah kalian siapa. Kalau aku datang kemari adalah sekedar menyelamatkan wanita ini. Kalian menghadapi orang yang tidak waras, kenapa telengas dan tidak kenal kasihan? Bukankah sebagai kakek-kakek kalian harus tahu perasaan? Hm, aku tak bermaksud mengganggu kalian, kakek-kakek kejam. Kalau kalian mau melepaskan wanita ini tentu aku juga tak akan melanjutkan urusan. Terserah kalian mau apa sekarang!"

Dua kakek itu bergidik. Mereka melihat dan mendengar kata-kata ini begitu dingin dan beku. Anak muda itu bersikap hormat tapi juga mengejek. Mereka seakan tak dipandang sebelah mata. Dan ketika Mindra maupun Sudra saling melirik pandang, masing-masing bertanya dengan bahasa isyarat maka Mindra yang penasaran dan masih tak puas akan pertandingan tadi berkata,

"Anak muda, kami adalah dua tua bangka dari Thian-tok. Aku adalah Mindra dan itu saudaraku Sudra. Barangkali kau pernah dengar nama-nama kami atau guru serta orang tuamu memberi tahu. Apakah kau tahu?"

Han Han menggeleng. "Aku tak pernah dengar," katanya, sungguh-sungguh. "Tapi biarpun dari Thian-tok atau Tee-tok aku tak pernah takut. Kalian sebaiknya pergi dan biarkan wanita ini."

"Keparat!" Mindra tiba-tiba mendelik, tak kuat menahan diri lagi. "Kau sombong dan pongah, anak muda. Kalau begitu coba rasakan ini dan buktikan kata-katamu!" nenggala menyambar, dahsyat men deru dan Han Han berkelit ringan.

Mindra marah sekali karena si pemuda tak memandang sebelah mata, padahal dia adalah orang yang dimalui dunia kang-ow. Istana sendiri hormat terhadap mereka tapi pemuda ini malah setengah menantang, mengejek. Maka begitu Han Han mengelak dan nenggala dahsyat menghantam tanah, yang berlubang dan berhamburan kerikilnya maka si kakek sudah berkelebatan dan menyerang lagi. Han Han mengerutkan kening tapi mulai menggerakkan tangan. Nenggala ditolak dan ditangkisnya.

Dan ketika dia tergetar namun lawan terhuyung, si kakek penasaran dan menyerang semakin hebat lagi maka Han Han menyimpan pedangnya dan dengan pukulan-pukulan perlahan dia mendorong atau mementalkan senjata lawan, menambah tenaganya. Mindra berteriak dan tangan kirinya tiba-tiba bergerak. Hwi-seng-ciang, Pukulan Bintang Api, meledak dan menyambar pemuda itu. Dan ketika hawa panas membuat Han Han terdorong dan terkejut, mengerutkan kening, maka kakek itu berteriak bahwa pemuda itu akan roboh.

"Kau sombong dan bermulut besar. Nah, coba buktikan kata-katamu dan ingin kulihat apakah kau tidak bertekuk lutut menyatakan menyerah!"

"Hm!" Han Han berkilat matanya. "Aku menyerah tunggu dulu, kakek kasar. Kalau kau mengira dapat mengalahkan aku maka kau keliru. Lihat, aku akan merobohkanmu sebelum tiga puluh jurus... slap!" dan Han Han yang lenyap mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya tiba-tiba bergerak luar biasa cepat mengelilingi kakek itu, berputaran dan membuat Mindra berseru keras karena kakek itu kehilangan lawannya.

Han Han mengeluarkan segenap kecepatannya hingga si kakek berkunang-kunang. Dan ketika Han Han melakukan tamparan-tamparan dan sinkang yang dipelajari dari sumur tua dikeluarkan di sini maka kakek itu menjerit ketika pundaknya tertampar, jatuh terpelanting dan selanjutnya kakek itu memutar nenggala dengan cepat. Dia berusaha melindungi diri namun Han Han mengeluarkan tawa mengejek. Dia sudah beterbangan mengelilingi kakek itu, nenggala diputar di bagian atas untuk melindungi pinggang dan muka. Dan ketika Han Han menggerakkan kaki untuk menendang lutut, karena bagian bawah itu tak terjaga maka kakek ini terjerembab dan roboh.

"Nah," Han Han berseru., "Dua puluh tiga jurus, kakek sombong. Siapa yang roboh dan siapa yang menyerah!"

Kakek itu kaget bukan main. Dia tak dapat mempertahankan dirinya ketika lututnya ditendang. Lawan bukan sembarang menendang melainkan menyentuh jalan darah tu-hi-hiat, persis di tempurung lututnya. Tapi ketika kakek ini terguling dan roboh mengeluh, mengusap lututnya, maka Mindra sudah meloncat bangun dan bebas dari totokan, terhuyung.

"Anak muda!" Han Han tertegun. "Aku masih belum kalah. Aku masih dapat berdiri. Nah, mari mulai lagi dan kita bertanding seribu jurus!"

Han Han kagum. Mau tak mau dia memuji juga bahwa lawannya ini hebat. Tendangan atau totokannya dengan ujung kaki tadi sebenarnya tak gampang disembuhkan. Orang-orang dengan tingkat kepandaian biasa saja pasti akan terguling dan roboh dua jam lebih. Tapi ketika kakek ini dapat mengusap lututnya dan menyembuhkan dari pengaruh totokan, tanda bahwa kakek itu bukan orang sembarangan membuat Han Han memuji namun berbareng juga merasa marah karena kakek itu tak tahu diri. Han Han berkilat dan tiba-tiba ingin bekerja cepat. Dia tak mau lagi kakek itu banyak tingkah. Maka begitu lawan menerjang dan nenggala menyambar leher, beringas, tiba-tiba Han Han mencabut pedangnya dan begitu sinar putih berkelebat tiba-tiba lawannya menjerit.

"Aduh... crang-dess?"

Mindra terlempar. Kakek itu berteriak karena nenggalanya putus terbabat. Sebagian jarinya terpapas pula dan kulitnya robek terkupas. Untung tidak putus! Dan ketika kakek itu mengaduh karena Han Han menendang lebih keras, si kakek, mencelat dan roboh maka Mindra tak dapat bangun lagi karena seluruh tubuhnya terasa nyeri.

"Ah!" Sudra, kakek yang satu tiba-tiba bergerak dan berkelebat. Cambuk menjeletar untuk mencegah Han Han maju menyerang. Kakek itu berteriak dan menolong temannya. Dan ketika Mindra dipapah bangun dan ngeri memandang ke depan, gebrakan terakhir itu menyelesaikan segalanya maka kakek itu gemetar dan menuding.

"Itu... itu tadi... bukankah itu gerakan dari jurus Bianglala Memangkas Matahari? Bukankah anak muda ini mainkan Pek-jit Kiam-sut (Silat Pedang Matahari)?"

"Benar," temannya mengangguk. "Aku juga melihatnya begitu, Mindra. Kalau begitu anak muda ini adalah murid Pek-jit-kiam Ju Beng Tan!" dan membalik serta menghadapi Han Han, yang terkejut dan mengerutkan kening maka Sudra, kakek itu, berseru sambil membelalakkan mata.

"Anak muda, kau ada hubungan apa dengan Pendekar Pedang Matahari Ju Beng Tan? Apakah muridnya?"

"Hm, benar," Han Han tak ingin memperkenalkan diri sebagai putera ayahnya. "Aku memang muridnya. Kalau kalian mengenal guruku maka itu adalah bagus. Apakah kalian pernah dihajar olehnya?"

"Ah!" dua orang itu pucat. "Kalau begitu pantas saja, kau begitu sombong! Baiklah, kami tak mau ribut dengan gurumu, anak muda. Tapi beritahukan padanya bahwa peristiwa belasan tahun yang lalu tetap tak kami lupakan. Lain hari kami akan meminta petunjuk gurumuitu dan biarlah wanita itu kami bebaskan!" dan bergerak meninggalkan Han Han, memutar tubuhnya tiba-tiba dua kakek itu berkelebat dan pergi dengan cepat.

Mindra si kakek yang terluka masih kelihatan terhuyung. Langkahnya sempoyongan. Tapi begitu temannya menarik dan menyendal maka kakek itu dapat bergerak cepat dan terbang meninggalkan tempat itu, lenyap di luar hutan. Han Han sendiri tersenyum mengejek dan sudah membalik menghadapi Wi Hong, membebaskan dan mengangkat bangun wanita berambut riap-riapan itu. Tapi begitu bergerak dan diangkat, tiba-tiba wanita ini mengguguk dan menubruknya...

Naga Pembunuh Jilid 09

NAGA PEMBUNUH
JILID 09
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"HA-HA, lihat, apa kubilang tadi," Twa-mo tertawa bergelak. "Gadis ini akan kendor dan kehabisan tenaga, Ji-te. Lihat dia sudah gemetar dan sebentar lagi roboh!" dan berseru pada si nona agar menyerah baik-baik, melempar pedangnya maka ketua nomor satu Ang-liong-pang itu membujuk, "Nona, menyerahlah. Kami memandang muka ayahmu. Kau tak perlu mendapat malu lebih jauh karena kami akan segera menghentikan serangan!"

"Tutup mulutmu!" gadis itu membentak, menggigit bibir. "Aku tak akan menyerah sebelum terbunuh, Twa-mo. Kau boleh omong besar dan aku tak perduli. Persetan dengan apa yang kalian katakan dan aku tak mengerti apa yang kau omongkan itu!"

"Hm, kau puteri Coa-ongya. Kami mendapat pesan ayahmu. Mengapa berpura-pura dan tidak mengaku?"

"Keparat, aku bukan gadis she Coa, Twa-mo. Aku orang lain dan sudah kubilang tadi. Ah, kalian cerewet dan membuat aku marah.... clap!" dan pedang yang berkelebat membuka diri tiba-tiba menusuk atau menikam leher si ketua, diiringi sebuah tendangan ke kanan di mana Kwan Bhe tiba-tiba berteriak. Wakil ketua Ang-liong-pang itu mencelat dan Twa-mo berseru kaget melempar tubuh ke belakang. Pedang terus bergerak dan berputar ke arah Ji-mo, ketua nomor dua. Dan karena gerakan pedang itu berbahaya sekali dan Han Han sebagai ahli pedang juga memuji dan berseru di sana maka Ji-mo melempar tubuh pula ke kiri dan terus bergulingan.

"Aku sekarang pergi!" Yu Yin tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Kiranya, setelah dia melakukan serangan ganas tadi dan yakin tak akan menang, karena tiga orang lawannya tadi hanya mengepung dan selalu menghindar, menguras tenaganya agar dia kelelahan maka gadis ini tak mau lagi melayani lawan. Dia yakin dirinya akan roboh sendiri kalau terus memutar pedang seperti kitiran, padahal lawan tak menyerang dan menunggu dia kelelahan.

Dan karena betul saja dia sudah lelah sementara tiga orang itu sewaktu-waktu siap merobohkannya, begitu dia jatuh kehabisan tenaga maka Yu Yin tak mau lagi meladeni dan melakukan jurus Siluman Terbang Membabat Teratai, satu jurus berbahaya di mana dia telah memaksa lawan-lawannya mundur. Dan begitu mereka bergulingan sementara si wakil ketua berteriak mendapat tendangannya, Yu Yin tertawa, maka gadis ini melesat dan meninggalkan pertempuran.

"Han Han, ayo kita pergi. Aku sudah muak melayani orang-orang yang licik ini!”

Han Han tertegun. Yu Yin yang semula tak mau didekati mendadak sekarang minta pergi bersama. Ini berarti gadis itu sudah mau berbaik tapi Han Han maklum bahwa itu semua karena si gadis ingin minta perlindungan, secara tak langsung. Wakil letua dan ketua-ketua Ang-liong-pang itu orang-orang yang cukup lihai, juga mereka cerdik. Terbukti ingin, menguras tenaga si gadis karena pedang hitamnya terlalu ampuh. Dan karena hal itu sudah dilakukan dan Yu Yin mati kutu, gemas dan marah kepada lawan namun tak mendapat perlawanan, karena mereka menghindar dan selalu mengelak apabila hendak berbenturan pedang maka Han Han tiba-tiba tersenyum dan mengangguk, merasa bahwa itu memang yang terbaik, apalagi sejak tadipun sebenarnya dia juga tak suka mengikat permusuhan.

"Baik," Han Han berkelebat. "Sudah kubilang tadi, Yu Yin. Tapi kau sendirilah yang mencari perkara."

"Eh, siapa mencari perkara?" gadis itu mendadak berhenti, melotot. "Jaga mulutmu baik-baik, Han Han. Atau aku akan menyerangmu dan boleh kau bela orang-orang itu!"

"Eh, maaf.... maaf. Aku tidak maksudkan begitu. Sudahlah, mari pergi dan kita tinggalkan orang-orang ini!"

Namun terlambat. Yu Yin yang marah-marah dan sejenak memaki Han Han tiba-tiba membuat kesempatan bagi ketua-ketua Ang-liong-pang itu. Twa-mo, yang marah dan melompat bangun sudah memberi aba-aba kepada semua anak buahnya. Mereka bergerak dan mengepung, jalan keluar sudah ditutup. 

Dan sementara dua muda-mudi itu bercekcok karena Yu Yin tak mau dikata mencari perkara, hal yang memang sebenarnya begitu maka ketua nomor satu ini sudah memberi aba-aba dan semua anak buahnya berloncatan menghadang.

Dan begitu mereka bergerak dan seratus lebih membuat lingkaran lebar, Yu Yin tak mungkin dapat lolos tanpa membuka kepungan itu maka Twa-mo sudah melompat maju dan bersama Ji-mo yang juga sudah melompat bangun tiba-tiba dua orang ketua ini melepas senjata-senjata rahasianya.

"Awas, jangan sampai gadis itu lari. Siapkan jala. dar-dar-dar!"

Yu Yin terkejut, membentak dan melempar tubuh bergulingan ketika pelor-pelor itu meledak ditangkisnya. Han Han sendiri hanya mengegos dan menangkap empat pelor hitam, yang tak meledak karena bertemu telapak tangan yang lunak. Dan ketika paku-paku tulang juga dielak dan sebagian ditiup runtuh, hal yang membuat dua ketua Naga Merah itu terbelalak maka Han Han melempar empat pelor itu kearah orang-orang Ang-liong-pang.

"Heii, awas!"

Tentu saja semua terkejut. Han Han yang melempar sembarangan tapi tahu-tahu sudah meledak di depan tiba-tiba membuat delapan anak buah Ang-liong-pang menjerit. Mereka terpental dan ledakan keras mengguncang tempat itu. Kepungan otomatis pecah dan ke sinilah Han Han bergerak. Karena begitu dia tersenyum dan menggerakkan kaki maka dia menyambar lengan Yu Yin untuk diajak pergi.

"Nah, sudah ada jalan. Ayo keluar!"

Yu Yin kagum. Dia sendiri sudah meloncat bangun ketika Han Han menyambar lengannya. Pelor-pelor itu ditangkap dan diterima Han Han, bukan main beraninya. Karena pelor-pelor itu dapat meledak kalau disambut dengan keras. Tapi karena Han Han rupanya dapat mengatur tenaga dari keras ke lunak, ini yang mengagumkan maka Yu Yin mendecak dan tertawa di samping pemuda itu.

"Bagus, terima kasih, Han Han. Tapi tak usah kita berpegangan!"

Han Han terkejut. Memang dia telah memegang tangan gadis itu untuk diajak pergi, bukan untuk apa-apa. Tapi karena gadis itu bicara begitu dan mau tak mau mukanya semburat maka Han Han melepaskan pegangannya dan mereka keluar kepungan.

Namun bentakan di kiri kanan tiba-tiba terdengar. Belasan benda-benda berkilap menyambar dari atas. Han Han dan Yu Yin terkejut karena itulah jaring-jaring berkerincing yang menakup kepala. Agaknya, para anggauta Naga Merah yang sudah diperintah ketuanya menyiapkan itu, menyerang dan berlompatan mengejar sementara dua jaring dari belakang menyambar paling hebat, cepat dan luar biasa karena itulah sepasang jaring yang digerakkan ketuanya sendiri, Twa-mo dan Ji-mo. Dan karena dua puluh jaring sudah di atas kepala dan musuh-musuh dikiri kanan tak membiarkan mereka pergi maka Yu Yin memutar pedangnya dan jaring di atas kepalanya terbabat putus.

"Cras-cras-cras!"

Yu Yin terhindar. Tapi lain gadis ini lain pula Han Han. Pemuda yang tak bersenjata atau yang saat itu tidak mengeluarkan senjata tiba-tiba menggerakkan dua jari tangannya, telunjuk dan jari tengah. Dan begitu Han Han bergerak dan menusuk atau merobek maka semua jala di atas kepalanya juga pecah dan terpotong seperti agar-agar teriris pisau dapur.

"Aih, pemuda siluman!" dua ketua Ang-liong-pang berteriak. Mereka itu terkejut karena jaring yang mereka pergunakan juga robek dikerat jari-jari pemuda itu. Tadi Han Han sudah menunjukkan kelihaiannya dengan menangkap pelor-pelor berbahaya, kini menunjukkan kepandaiannya yang lain di mana jari-jarinya itu sekeras dan setajam pisau belati, bahkan, agaknya, jauh lebih tajam lagi! Dan ketika mereka tertegun dan bengong membelalakkan mata maka dua muda-mudi itu sudah bergerak dan lari lagi.

"Kejar, tangkap mereka!" Twa-mo tiba-tiba berseru, gusar. "Dan bunuh si pemuda itu!"

Para anggauta Ang-liong-pang bergerak. Mereka mengejar dan berhamburan menyerang lagi. Twa-mo melepas lagi beberapa pelor ledaknya namun dengan ringan Han Han mengelak atau menangkap, tanpa menoleh, hanya mengandalkan pendengaran dan ketajaman telinganya saja. Dan ketika pemuda itu melempar balik dan pelor-pelor meledak melukai anggauta-anggauta Ang-liong-pang sendiri maka Twa-mo mencak-mencak dan tak berani melontarkan pelor-pelornya.

"Jahanam, pemuda itu ternyata lebih hebat daripada Coa-siocia!"

Twa-mo sekarang sadar, tadi merendahkan dan tak memandang mata tapi kini tiba-tiba terkejut dan kaget. Sungguh tak disangkanya bahwa pemuda yang bercaping dan tampak sederhana itu demikian lihai. Namun karena Coa-siocia harus ditangkap dan itu penting sekali maka ketua nomor satu dari Ang-liong-pangini berkelebat dan terbang mendahului, disusul saudaranya dan Kwan Bhe, wakilnya, juga mengikuti dan melampaui anggauta-anggauta mereka.

Para anggauta itu tak secepat mereka dan memang tiga orang tokoh inilah yang dapat mendahului, paling depan. Dan ketika Twa-mo sudah di belakang lawan-lawannya dan dua muda-mudi itu dibentak agar berhenti, tak mau, maka laki-laki ini menggerakkan ruyungnya dan menderu amat hebat menghantam Han Han.

"Krakk!" Ruyung itu tiba-tiba patah. Twa-mo yang terpekik dan kaget oleh gebrakan ini tiba-tiba melihat Han Han membalik. Pemuda itu mendengus dan menggerakkan tangan kirinya, menampar. Dan ketika serangkum angin pukulan menyambar ketua itu, panas, maka Twa-mo menangkis tapi mencelat bergulingan.

"Dess!" Kaget atau pucatnya laki-laki ini tak dapat dikatakan lagi. Twa-mo terguling-guling sementara adiknya, Ji-mo, membentak dan menyerang Han Han pula. Dia menggerakkan golok lebarnya sementara paku-paku tulang juga berhamburan dari tangan kiri. Tapi ketika Han Han mengibas dan semua paku-paku tulang runtuh, sebagian ada yang menyambar kembali ke ketua Naga Merah itu maka Ji-mo juga terbanting dan mencelat bergulingan.

"Des-dess!"

Dua laki-laki itu sama-sama kaget. Kwan Bhe, sang wakil, mau menyerang dan mengikuti jejak ketuanya. Tapi begitu melihat kedahsyatan Han Han mendadak dia mundur dan menarik dayungnya.

"Keparat, pengecut jahanam!" Twa-mo meloncat bangun memaki wakilnya itu. "Serang dan bunuh pemuda itu, Kwan Bhe. Atau kau kutendang mencelat dan mampus di sini!"

Kwan Bhe terkejut. Dia didupak dan terhuyung ke depan. Ketuanya marah-marah dan saat itu para anggauta bergiliran tiba. Tadi Han Han tersusul karena Yu Yin sempoyongan. Kiranya gadis itu kelelahan dan sebab itulah dua muda-mudi ini terkejar. Han Han tak mau meninggalkan temannya dan terpaksa melindungi. Dan ketika mereka dikejar lagi sementara Ji-mo dan Twa-mo membentak melepas serangan, kini ditujukan kepada Yu Yin yang dinilai lemah maka Han Han terpaksa menangkis dan menolak semua serangan-serangan itu.

"Plak-plak-plak!"

Ji-mo dan suhengnya terhuyung. Golok lebar itu ditangkis begitu saja sementara ruyung yang tinggal separoh juga tertolak ke belakang. Kwan Bhe menyerang tapi si Naga Kuning itu bahkan terlempar, dayungnya patah menjadi empat. Dan ketika semua gentar namun tak mau kehilangan Yu Yin, karena gadis itu harus ditangkap karena mendatangkan untung besar bagi mereka maka tiga orang ini mengejar lagi dan tak mau sudah, menyerang dari jauh.

"Yu Yin, kau sempoyongan, lelah. Bagaimana kalau kau memegang tanganku dan kuajak berlari cepat? Kita akan selalu tersusul kalau begini, dan aku tentu sibuk kalau harus selalu melindungi dirimu!"

"Aku masih dapat menjaga diri!" gadis itu berseru. "Tak usah kau khawatir meskipun aku sempoyongan, Han Han. Kalau kau ingin meninggalkan aku boleh tinggalkan, dan aku juga tidak mengharap kau selalu menangkis serangan orang-orang itu untukku!"

"Hm, keras kepala," Han Han menarik napas. "Kalau begitu bagaimana jika kau lari saja dan kutahan mereka itu?"

"Apa? Kau mau menyuruhku lari sementara menahan mereka? Tidak, kalau mereka tidak curang dan mengeroyok begini tak perlu aku dibantu, Han Han. Daripada kau menghadapi mereka lebih baik aku saja!" dan si gadis yang berhenti dan membalik ke belakang tiba-tiba membentak dan menyerang Ji-mo.

Laki-laki itu berada tepat di belakangnya dan berkali-kali menyuruh dia berhenti. Paku-paku tulangnya menyambar tapi selalu disampok runtuh Han Han. Maka ketika Han Han menyuruhnya lari dan dia dianggap seolah tak kuat lagi, gadis itu marah, maka Yu Yin membalik dan meloncat menusuk Ji-mo.

"Heii!" sang ketua terkejut. Ji-mo tak menyangka tapi tentu saja girang. Gadis itu sudah kehabisan tenaga dan tinggal menunggunya roboh sendiri, kalau tak ada pemuda di sampingnya itu. Maka begitu si nona menyerang dan Ji-mo tahu kelemahan gadis ini maka laki-laki itu menggerakkan goloknya dan menangkis.

"Crang!"

Pedang si nona mencelat. Golok Ji-mo sendiri putus tapi Yu Yin terpelanting ke depan. Gadis itu terbawa oleh tenaga bacokannya dan karena golok putus dibabat maka diapun terjerumus. Ji-mo tertawa bergelak dan melompat ke kiri, mengirim tendangan dari samping. Dan ketika tendangan itu mengenai perut si nona dan Yu Yin berteriak maka gadis itu terlempar.

"Buk!"

Ji-mo menyambar bagai rajawali menerkam mangsa. Laki-laki ini kegirangan karena segera akan dapat menangkap lawannya. Pedang hitam itu tak ada lagi dan gadis ini sudah kehilangan senjatanya. Tapi ketika Ji-mo bergerak dan mau menubruk, menangkap atau menerkam lawan maka saat itu sebuah bayangan bergerak dan tahu-tahu laki-laki ini terlempar.

"Ji-mo, tikus busuk, enyahlah!"

Ketua Ang-liong-pangitu terpekik. Han Han, pemuda bercaping tiba-tiba menerkam tengkuknya. Dari samping pemuda itu bergerak amat cepat dan tahu-tahu ketua Ang-liong-pang ini diangkat naik. Dan ketika Ji-mo dilontarkan dan dilempar bagai layang-layang putus talinya maka laki-laki itu terbanting dan seketika berdebum dengan amat kerasnya.

"Brukk!"

Tokoh nomor dua dari Ang-liong-pang itu mengeluh. Laki-laki ini mendelik dan setengah pingsan. Anak buahnya berdatangan menolong dan Han Han saat itu sudah menyambar Twa-mo dan si Naga Kuning Kwan Bhe pula, menampar dan mendorong mereka hingga dua orang itu jungkir balik. Lalu ketika keduanya tunggang-langgang dan berteriak-teriak maka Han Han menyambar pedang hitam dan berkelebat membawa lari Yu Yin, yang tadi mengeluh dan mengaduh kena tendangan si ketua nomor dua.

"Yu Yin, sekarang tak perlu kau keras kepala lagi. Ayo menyingkir dan ikuti kata-kataku!"

Namun gadis itu menggigit lengan Han Han. Dalam marah dan lemahnya, Yu Yin teringat tendangan si ketua tiba-tiba gadis itu berteriak agar Han Han melepaskan dirinya. Han Han terkejut karena lengannya tiba-tiba berdarah, si gadis menggigit begitu kuat. Dan ketika pegangannya kendor dan Yu Yin meloncat turun maka sambil membentak gadis itu menyambar pedangnya lagi.

"Aku mau lari kalau sudah membalas tendangan Ji-mo tadi. Mana dia dan biar kubalas sakit hatiku dulu!" dan, tidak menghiraukan Han Han yang terkejut dan berseru keras tiba-tiba gadis itu lari ke arah Ji-mo yang ditolong pembantu-pembantunya.

Laki-laki itu masih tak dapat berdiri karena bantingan Han Han tadi amatlah kerasnya. Dan ketika Yu Yin menerjang dan membacok lawannya, yang terbaring pucat maka empat orang di situ yang melindungi si ketua dibuat menjerit terkena babatan pedangnya. Pedang di tangan si gadis memang hebat karena pedang itu adalah pedang yang ampuh. Sudah terbukti berkali-kali bahwa golok atau dayung akan terpapas kutung. Dan karena empat orang itu hanyalah anggauta-anggauta biasa dan Yu Yin tentu saja dengan mudah membabat lawannya maka pedang meluncur dan akhirnya membacok kepala Ji-mo.

"Hayaaa...!" si ketua memekik. Ji-mo terkejut melihat itu dan tiba-tiba saja timbul kenekatannya. Sebenarnya, berkali-kali ketua nomor dua dari Ang-liong-pang ini tak berani bersungguh-sungguh. Dalam serangan atau balasannya tadi selalu dia mengurangi tenaga, karena nama Coa-ongya masih terlalu disegani laki-laki ini. Tapi begitu Yu Yin membacoknya dengan pedang hitam dan gadis itu kalap tak mau sudah, padahal dia masih kesakitan oleh bantingan Han Han maka tiba-tiba laki-laki ini berteriak dan secepat kilat tujuh paku tulangnya dilepas ke depan sementara tubuh sendiri digulingkan menahan sakit.

"Crep-crep-crep!"

Yu Yin memang sudah lemah tenaganya. Gadis itu menang nekat dan menang keras kepala. Dia sebenarnya sudah lemah dan menghadapi orang seperti Ji-mo ini sebenarnya dia sudah harus istirahat. Dikeroyok dan diserang berkali-kali oleh tokoh-tokoh Ang-liong-pang sebenarnya gadis itu sudah kelelahan. Maka begitu Ji-mo melempar tubuh bergulingan sementara tujuh paku tulang dilepas dan dihamburkan ke mukanya, hal yang membuat gadis ini terkejut maka Yu Yin menangkis dan empat paku tulang terpental sementara tiga yang lain mengenai pundak dan lehernya, pedang di tangannya sendiri akhirnya membacok tanah kosong.

"Augh...!" gadis itu roboh. Yu Yin melotot tapi tiba-tiba terguling. Pundak dan lehernya kehitaman. Kiranya paku-paku tulang itu beracun! Dan ketika gadis ini pingsan sementara Ji-mo terhuyung di sana, ditolong suhengnya maka Han Han tertegun sementara yang lain-lain juga terkejut melihat ketua mereka hampir binasa.

"Tangkap gadis itu, ikat dia ke mari!"

Han Han tiba-tiba menggeram. Pemuda ini berkelebat dan sebelum orang-orang Ang-liong-pang mendekat tiba-tiba pemuda itu sudah berlutut di dekat temannya. Han Han terkejut melihat luka kehitaman itu, tahu bahwa racun yang ganas menyerang Yu Yin. Dan ketika dia melihat gerakan-gerakan di sekeliling dan tahu-tahu dirinya sudah dikepung, Twa-mo dan wakilnya ada di situ maka Han Han menyambar dan memondong gadis ini.

"Ang-liong-pangcu, minggir dan menyibaklah kalian secara baik-baik. Berikan obat penawar racun atau aku akan membunuh kalian semua!"

"Hm!" Twa-mo, yang gentar tapi kembali berani karena bersama banyak orang mendelik dan balas membentak Han Han. Dia berkata bahwa pemuda itulah yang harus menyerahkan Yu Yin dan pergi baik-baik, kalau tak ingin dibunuh. Dan ketika Han Han berkilat dan Twa-mo marah, karena pemuda itu membuat saudaranya kesakitan maka ketua Ang-liong-pang ini menutup. "Aku tak menghendaki nyawa anjingmu. Kami semua tak kenal padamu. Serahkan gadis itu dan pergilah secara baik-baik, anak muda. Atau kami akan membunuhmu dan kau tak dapat pulang menemui ibumu!"

"Hm!" Han Han mendengus. "Begitukah? Baiklah, kau sendiri yang mencari penyakit, Ang-liong-pangcu. Kalau begitu aku akan membasmi kalian dan jangan salahkan aku!"

Han Han menyambar pedang hitam, mata berkilat berbahaya dan Twa-mo terkejut melihat pedang itu. Han Han masih memondong Yu Yin dan dengan tangan kiri saja pemuda itu memegang pedang hitamnya. Tapi karena pemuda ini sudah menunjukkan kelihaiannya dan pedang di tangannya itu juga bukan pedang sembarangan maka begitu Han Han mempersiapkan diri mendadak ketua ini melempar empat pelor ledak dan menubruk pemuda itu.

"Serang, bunuh pemuda ini!"

Han Han berkelebat. Melihat sang ketua menyerang tanpa memberi peringatan terlebih dahulu tiba-tiba Han Han menjadi marah. Dia sudah melihat gerakan pundak ketua itu dan cepat mengelak ketika pelor-pelor berbahaya menyambarnya. Dan karena ia tak mau menangkis karena dapat membahayakan Yu Yin yang dipondongnya, maka begitu berkelebat dan membiarkan pelor lewat maka Han Han menusuk dan menyambar ketua Ang-liong-pang itu.

"Cret!" Sang ketua terkejut. Dalam satu gebrakan itu saja tahu-tahu Han Han telah melukai pelipisnya. Pedang sebenarnya mau menukik lagi namun Kwan Bhe dan para anggauta Ang-liong-pang sudah menyerangnya. Mereka itu melindungi sang ketua dan Twa-mo sendiri memekik melempar tubuh bergulingan. Dan ketika laki-laki itu melompat bangun dan Han Han berkelebatan melayani lawan-lawannya, dengan pedang di tangan kiri maka tiga kepala tiba-tiba terpenggal dari tubuhnya, jatuh menggelinding disusul pekik kaget dan jerit yang lain.

"Aihhh. crat-crat-crat!"

Han Han tersenyum dingin. Pemuda itu berkelebatan dan pedang di tangannya sudah mencium darah segar. Pemuda ini tak mau memberi ampun dan keganasan serta kekejamannya tampak jelas. Tiga anggauta yang sudah roboh tanpa kepala disusul lagi oleh lima tubuh yang lain. Delapan anggauta, Ang-liong-pang tiba-tiba saja sudah binasa begitu cepat. Dan ketika pemuda itu terus berkelebatan semakin cepat dan Kwan Bhe menjerit karena lengannya putus, terbabat oleh pedang hitam maka selanjutnya Han Han seperti seekor naga haus darah yang membabati dan meroboh-robohkan lawannya.

"Awas, mundur. Awas, kita bertemu pemuda yang telengas!"

Han Han tertawa dingin. Belasan anak buah Ang-liong-pang tiba-tiba saja sudah berjatuhan tak diberi ampun. Han Han adalah putera seorang ahli pedang yang ternama. Ayahnya, Pek-jit Kiam-hiap Ju Beng Tan adalah seorang jago tanpa tanding. Maka begitu lawan mengeroyoknya dan Han Han mengeluarkan kepandaiannya ini, kepandaian bermain pedang maka bayangan hitam sudah bergulung-gulung naik turun bagai naga sakti menyambar mangsa. Han Han marah dan timbul kebengisannya. Yu Yin yang pingsan dan luka, oleh paku beracun membuat pemuda itu kejam. Watak dinginnya muncul dan kalau sudah begini maka Han Han bukan lagi putera Pek-jit-kiam Ju Beng Tan melainkan lebih tepat sebagai putera si Golok Maut, karena memang itulah ayah kandungnya, ayah yang mengalirkan darah dan watak yang bak pinang dibelah dua, dingin dan sama-sama ganas.

Dan ketika belasan anggauta Ang-liong-pang bergelimpangan mandi darah, rata-rata kutung kepalanya dibabat Han Han maka Twa-mo dan Ji-mo yang terbelalak di luar ngeri hatinya. Dua orang ketua Ang-liong-pang ini marah sekali. Ji-mo, yang sudah dapat berdiri dan tegak ditolong suhengnya melotot bagai ikan emas. Tokoh nomor dua dari Ang-liong- pang ini hampir tak percaya pada apa yang dilihat. Belasan orang anak buahnya, ah tidak puluhan orang anak buahnya sudah bergelimpangan dibabat Han Han. Tak kurang empat puluh lebih yang kini dibantai pedang hitam itu.

Han Han bergerak dan berkelebatan bagai rajawali menyambar-nyambar. Setiap kali pedang bergerak setiap kali itu pula darah memuncrat. Kepala yang menggelinding sungguh tak terhitung lagi karena berceceran di tanah. Bahkan, Kwan Bhe akhirnya terpenggal dan kepala si Naga Kuning itu mencelat ditendang Han Han. jatuh dan tepat berhenti di dekat dua orang ketuanya. Dan ketika Ji-mo memekik sementara enam puluhan anggautanya pucat dan berteriak-teriak, mengepung tapi menyerang dari jauh maka ketua nomor dua dari perkumpulan Naga Merah ini membentak menerjang maju.

"Jangan...!" Twa-mo berseru, kalah cepat. "Kembali, Ji-te. Jangan dekat-dekat!"

Namun sang adik sudah naik pitam. Ji-mo tak perduli lagi dan kemarahannya melihat anak buahnya dibantai membuat dia tak memperdulikan kepandaian lawan. Goloknya yang baru sudah dicabut lagi dan tangan kirinyapun bergerak melepas belasan paku-paku tulang, semuanya bercuitan tapi Han Han mendengus dan memutar pedang di depan tubuh, melindungi Yu Yin yang ada di pondongannya. Dan ketika paku tulang terpental berhamburan ke sana kemari, menyambar Ji-mo dan anak buahnya sendiri maka tiga belas orang roboh terkena paku-paku tulang itu, yang ditangkis Han Han.

“Aduhh...!“

Ji-mo semakin mata gelap. Dia menggerakkan goloknya menangkis empat paku tulang yang membalik menyambar dirinya, meruntuhkan dan setelah itu bergerak lagi kearah Han Han. Dan karena tokoh nomor dua ini sudah mata gelap dan membacok Han Han sekuat tenaga, Han Han membalik dan menggerakkan pedang hitam maka golok di tangan laki-laki itu putus menjadi dua.

"Crangg!"

Ji-mo melempar tubuh bergulingan. Han Han membalasnya namun lawan menyelamatkan diri, anak buah Ang-liong-pang bergerak dan Twa-mo sendiri mencelat membantu adiknya. Ruyung di tangan ketua nomor satu itu menderu menghantam Han Han, dari belakang. Dan ketika Han Han memutar pedang namun ruyung ditarik cepat, tak berani diadu maka Han Han sudah dikeroyok dan menghadapi lagi dua orang ketua Ang-liong-pang ini, yang dibantu puluhan anak buahnya.

Namun Han Han terlalu hebat. Pek-jitKiam-sut (Silat Pedang Matahari) yang dimainkan begitu hebat telah membungkus pemuda ini dan temannya. Yu Yin yang berkali-kali diincar untuk dibunuh atau dimaksudkan untuk mengacau perhatian pemuda itu ternyata tak dapat disentuh. Si pemuda menggerakkan pedangnya secepat kitiran. Dan karena pedang hitam itu memang hebat dan Han Han berkelebatan bagai rajawali menerkam mangsa, tidak tinggal diam di tempatnya maka lain pemuda ini lain pula Yu Yin. Gadis itu tadi hanya memutar pedang dan menunggu serangan, jadi berhenti ditempat dan kewalahan oleh tiga tokoh Ang-liong-pang.

Tapi Han Han yang bergerak dan membalas, sering melancarkan serangan tak terduga-duga membuat lawan-lawannya kerepotan dan sering terkejut apalagi kalau pedang sudah menyambar di depan hidung! Twa-mo sendiri sampai harus melempar tubuh cepat-cepat sambil berteriak meminta tolong. Adiknya bergerak dan membokong Han Han. Tapi ketika Han Han memutar pedangnya lagi dan membabat golok di tangan Ji-mo maka laki-laki itulah yang harus menyelamatkan diri dan bergulingan seperti kakaknya.

"Keparat!" dua orang itu gemetar. "Pemuda ini hebat sekali, suheng. Agaknya, kita harus mengalah dan pergi!"

"Hm, tak mungkin pergi!" Han Han sudah marah, menjawab dan tertawa dingin mendengar omongan itu. "Kalau kalian mau pergi maka kepala kalian harus ditinggalkan di sini dulu, Ji-mo. Baru setelah itu boleh kalian pergi!"

Ji-mo dan Twa-mo gusar. Mereka membentak dan menyerang lagi namun pedang hitam menyambut. Mereka berteriak dan memaki lawan bahwa Han Han terlalu mengandalkan senjata pusaka, padahal pedang itu bukanlah miliknya. Dan ketika Han Han mendengus dingin dan menyimpan pedang, hal yang mengherankan dua orang itu maka Han Han bergerak dengan tangan kosong melayani lawan.

"Baiklah, lihat kepandaianku, Ji-mo. Tanpa pedang pun aku mampu membunuh kalian berdua!"

Dua orang itu girang. Mereka membelalakkan mata namun menerjang lagi. Sisa anak buah dikerahkan dan anggauta-anggauta Ang-liong-pang berseri. Han Han menyimpan pedang dan itu berarti si pemuda mencari mati. Tapi ketika semua berhamburan dan menyerang berteriak-teriak, bangkit semangatnya, tiba-tiba mereka memekik karena tangan pemuda itupun ternyata mampu memotong atau menerima senjata-senjata tajam mereka, tak kalah dengan pedang.

"Crak-crak-crak!"

Han Han membacok dengan sisi telapak tangannya. Pemuda ini memang telah memiliki sinkang demikian hebat hingga dengan telapak tangannyapun dia mampu beradu senjata tajam. Jari-jari atau sisi telapak tangannya itu telah berobah sekeras baja, berkat sinkang atau tenaga sakti yang dilatihnya bertahun-tahun. Dan ketika golok atau tombak patah-patah, tak kuat bertemu tangan pemuda ini maka golok di tangan Ji-mo juga meletak dan pecah tiga potong.

"Aiihhhh...!" laki-laki itu seperti bertemu setan. Tangan Han Han yang masih bergerak dan terus menyambar lehernya tak dapat ditangkis lagi, goloknya sudah terlepas. Dan ketika dia coba mengelak namun kalah cepat, sisi telapak tangan Han Han membacok bagai golok maka leher laki-laki itu terbabat dan putus.

"Crasss!"

Semua merinding berseru tertahan. Ji-mo roboh dengan tubuh tanpa kepala, ambruk dan tumbang seperti batang pisang yang baru dikelewang. Dan ketika semua mundur sementara Twa-mo mendelik tak percaya, kaget tapi juga ngeri maka Han Han berkelebat dan menyambar kearahnya.

"Sekarang giliranmu!" sinar putih keluar dari tangan pemuda ini. Han Han mengerahkan Kiam-ciang atau Tangan Pedang di mana tenaga yang dipakai adalah tenaga dari kitab kecil yang ditemukan di sumur tua. Itu adalah sinkang ajaran ayahnya sendiri, Si Golok Maut, Dan karena Han Han menggabung kepandaian dari ayah angkat dan ayah kandung, hebatnya tentu saja bukan main maka Twa-mo tak dapat mengelak dan ruyung di tangan itulah yang dipakai menangkis, berteriak, mengerahkan segenap tenaga tapi ruyung itu juga hancur berkeping-keping. Bandul besinya mencelat dan menimpa seorang anak buah Ang-liong-pang, yang menjerit dan roboh menggelepar. Dan ketika tangan Han Han masih terus bergerak dan membabat leher lawan, seperti yang sudah-sudah maka tulang laki-laki ini berkeratak dan kepala itupun terpenggal seperti dibacok senjata tajam.

"Krakk!"

Han Han tak memberi ampun. Tangan pemuda ini sudah berlepotan darah segar namun Han Han seolah orang kehausan yang mendapat minum anggur. Semakin banyak darah dicipratkan semakin bersemangat dia. Dan ketika Twa-mo roboh dan tewas tanpa kepala lagi maka Han Han berkelebatan dan dengan tangan kirinya itu dia membabat sisa-sisa anggauta Ang-liong-pang yang tiba-tiba kocar-kacir, menjerit-jerit.

"Ampun.... jangan kami dibunuh, augh!"

Han Han tak memberi kesempatan orang itu minta ampun, ditebas dan kepalanyapun mencelat menyusul sang ketua. Semua panik dan tunggang-langgang. Dan ketika hanya beberapa saja yang berhasil menyelamatkan diri dan hampir seratus orang tergelimpang, mandi darah, anak buah perkumpulan Naga Merah itu nyaris habis maka Han Han berhenti bergerak dan tegak mengusap keringat, juga darah yang membasahi tangannya.

"Aduh.... ah, Han Han di mana kau?"

Han Han terkejut sadar. Yu Yin, temannya itu, siuman dan memanggil namanya, lemah namun dapat terdengar. Dan ketika gadis itu membuka mata dan mengeluh oleh racun di tubuhnya maka Han Han menurunkan dan meletakkan gadis ini di rumput yang tebal. Dan Yu Yin tiba-tiba tersentak melihat tubuh yang bergelimpangan itu.

"Han Han, kau. kau membunuh orang orang ini?"

"Hm, betul," Han Han mengangguk, sinar matanya tidak ganas lagi, mencorong lembut. "Mereka minta mati, Yu Yin. Dan aku mengantar mereka ke neraka sesuai permintaannya."

Yu Yin meremang, mendengar kata-kata yang diucapkan dingin itu, tak, berperasaan. "Kau membunuh-bunuhi mereka? Kau tidak kenal kasihan?"

"Untuk apa kasihan?" jawaban inipun dingin, beku. "Aku menyuruh mereka minggir, Yu Yin. Tapi mereka tetap membandel dan tidak mau dengar. Dan aku tak suka dengan orang-orang semacam ini. Kau minta diobati atau tidak?"

"Ah!" gadis itu terisak, merasa ngeri tapi juga kasihan kepada anggauta-anggauta Ang-liong-pang itu. "Kau kejam, Han Han. Kau telengas. Mereka hanya anak-anak buah yang tak sepatutnya dibunuh!"

"Hm, kau mau bicara tentang mayat-mayat itu atau dirimu sendiri? Kalau kaupun tak mau kubantu aku juga tak akan di sini, Yu Yin. Terserah kau mau menganggap aku apa!"

"Plak!" Yu Yin tiba-tiba menampar. "Kau. menghina aku, Han Han. Kau merendahkan aku. Kalau kau tak mau menolong aku boleh kau pergi dan biarkan aku mampus. Aku juga tak butuh pertolonganmu... auhh!" namun si gadis yang mengeluh dan berteriak kesakitan tiba-tiba terguling dan pingsan lagi. Yu Yin marah oleh sikap dan kata-kata temannya tadi.

Han Han terlalu beku dan kejam, tak berperasaan. Pemuda itu sampai hati bicara seperti itu kepadanya. Maka ketika rasa sakit tiba-tiba menusuk dan racun di tubuh membuat gadis itu berteriak maka dia terguling pingsan dan Han Han yang tertegun di situ tiba-tiba menotok dan menolong gadis ini. Han Han bergerak ke mayat Ji-mo. Yu Yin terluka oleh paku-paku tulang laki-laki ini, paku yang mengandung racun. Dan karena Ji-mo tentu mempunyai obat penawar dan Han Han sudah menggeledah mayat laki-laki itu, menemukan sebungkus obat maka Han Han memberikan obat ini kepada temannya.

Dan benar saja, tak lama kemudian Yu Yin siuman lagi. Wajah gadis itu mulai memerah dan Han Han menunggu sejenak. Dan ketika gadis itu membuka mata dan melompat bangun, mengherankan sekali, maka Yu Yin yang sudah sembuh tanpa sadar ini membentak,

"Kau, mengapa masih ada di sini? Bukankah katamu tak akan menolongku? Nah, pergilah, Han Han. Aku tak butuh pertolonganmu!"

Han Han bersinar.Segera dia tahu bahwa gadis ini memang sudah sembuh. Gerakan Yu Yin ketika meloncat tadi merupakan bukti. Dan bangkit menarik napas dalam tiba-tiba Han Han memutar tubuh dan melangkah pergi sambil membenamkan capingnya.

"Baiklah," pemuda itu tertawa tawar. "Kalau kau menghendaki aku pergi aku juga akan pergi, Yu Yin. Selamat tinggal, dan hati-hatilah menjaga diri..."

Yu Yin tertegun. Seketika dia sadar bahwa dia sudah sembuh. Rasa sakit itu tak ada lagi dan tiga bekas luka menghitam juga lenyap. Rasa terbakar atau nyeri benar-benar hilang. Dan ketika dia melihat bungkusan obat dan sadar bahwa itu adalah pertolongan Han Han, yang dikira belum menolongnya maka gadis ini tertegun, berseru tertahan.

"Han Han!" Yu Yin berkelebat. "Kau sudah menolongku? Bungkusan obat itu kau yang memberikannya?"

"Hm," Han Han melejit dan menghindar dari hadangan gadis ini. "Tak ada yang menolongmu, Yu Yin. Yang menyelamatkanmu adalah bungkusan obat dari Ji-mo itu. Tanya saja mayatnya dan coba kau hubungi dia!"

"Han Han!" Yu Yin menjerit. "Kau menghina dan mempermainkan aku seperti ini? Kau menyuruh aku bicara dengan mayat? Ah, mentang-mentang kau berkepandaian tinggi maka kau bersikap sombong, Han Han. Kalau begitu terima ini dan jangan kau lari dulu... singg!" pedang hitam yang menggeletak di tanah disambar gadis ini, ditusukkan ke arah Han Han tapi pemuda itu tertawa dingin. Yu Y in yang marah-marah kepadanya justeru membuat perasaan Han Han tiba-tiba beku kembali, dia merasa tak senang. Maka ketika Yu Yin menjerit dan menyerangnya, mengejar sambil menusuk lagi maka Han Han menepis dan berseru,

"Kita sudah tak ada urusan lagi. Maaf kalau selama ini aku menguntitmu karena ingin menyelamatkanmu.... plak!" dan pedang yang mencelat dari tangan si gadis, jatuh berkerontang akhirnya membuat Yu Yin terkejut dan menangis, ikut terpelanting.

Gadis itu berteriak dan memaki-maki Han Han bahwa pemuda itu kejam dan sombong. Yu Yin menantang-nantang lawannya agar Han Han kembali dan bertempur seribu jurus. Tapi ketika Han Han tertawa di kejauhan dan tawa itu terdengar sumbang dan dingin maka Han Han lenyap dan tak kelihatan bentuk tubuhnya lagi. Gadis ini menangis dan entah kenapa tiba-tiba kecewa. Dia yang semula marah-marah, seolah tak mau didekati Han Han mendadak saja kini ingin didekati, bersama. Yu Yin merasa bahwa Han Han tak bermaksud buruk kepadanya, terbukti karena beberapa kali pemuda itu menolongnya, mengalah. Dan karena Han Han akhirnya benar-benar pergi dan aneh sekali gadis itu merasa kecewa, rindu, maka Yu Yin lah yang kini bergerak dan mengejar-ngejar Han Han!

Gadis ini memanggil-manggil Han Han namun Han Han lenyap entah ke mana. Dan ketika merasa bahwa dia terikat, ada sesuatu yang mengganggu dan mengguncang perasaannya akhirnya Yu Yin jatuh bangun mencari Han Han. Meninggalkan sungai dan masuk keluar hutan sambil menangis dengan air mata bercucuran. Dan begitu gadis ini memanggil-manggil dan menyusul Han Han, yang entah ke mana maka mayat tokoh-tokoh Ang-liong-pang itu menggegerkan dunia kang-ouw ketika ditemukan.

Beberapa anak murid yang berhasil meloloskan diri segera menceritakan ini. Seorang pemuda bercaping bambu, dingin dan menyeramkan segera dikabarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Pemuda itu amat lihai dan ilmu pedangnya amat luar biasa. Dan karena cerita dari mulut ke mulut selalu dibumbui semakin sedap, Han Han dikabarkan seperti naga yang beterbangan dengan pedangnya itu maka Han Han dikenal sebagai Naga Pembunuh!

Han Han tak tahu akan itu dan julukan itu sendiri belum didengarnya. Pemuda ini memang pantas disebut sebagai pemuda berdarah dingin. Baru saja muncul di dunia kang-ouw sudah melakukan pembantaian seperti itu, puluhan anak-anak buah Ang-liong-pang yang tidak pernah bermusuhan dengannya, hanya karena ikut-ikutan atau patuh terhadap sang ketua. Dan begitu pemuda ini dikenal sebagai Naga Pembunuh, naga yang ganas dan tak kenal ampun maka dunia kang-ouw mulai guncang dan was-was. Maklumlah, siapa tahu bertemu dengan pemuda ini yang belum dikenal jelas!

* * * * * * *

Seorang wanita tertawa atau terkekeh sendirian. Rambutnya riap-riarpan, panjang sampai ke pinggul dan wajahnya yang cantik namun kusut, tak terawat, masih merupakan daya tarik yang besar. Wanita itu menendang-nendang batu di jalan sambil sesekali menyebut-nyebut nama Kedok Hitam. Melihat tingkahnya, jelas dia wanita tidak waras, gila, atau mungkin setengah gila. Tapi ketika dua orang laki-laki muncul di tikungan dan berhenti menghadangnya, duduk di atas dua ekor keledai yang selalu bemaklinting maka wanita itu tertegun dan tiba-tiba batu yang ditendangnya ditangkap dan diremas hancur oleh satu di antara dua laki-laki ini, dua laki-laki berhidung mancung.

"Hm, kau Wi Hong bekas ketua Hek-yan-pang, bukan?"

Pertanyaan itu, yang dilancarkan dengan suara sengau dan agak parau membuat si wanita terkejut. Dia tersentak dan sikap gilanya hilang. Sorot mata yang semula berputaran itu mendadak bercahaya, berkilat dan tiba-tiba kekeh tawa yang terhenti muncul lagi, terdengar dikeluarkan dengan lebih menyeramkan, mirip ringkik kuda. Dan ketika wanita itu bergerak dan tahu-tahu berdiri menghadang dengan tangan kiri bertolak pinggang, yang kanan menuding dan menunjuk laki-laki yang berkata maka dia berseru,

"Heh, kau ini adalah Mindra, bukan? Kakek tua bangka dari Thian-tok (India)?"

"Hm, benar. Itulah aku," si kakek, laki-laki di sebelah kiri tersenyum, mengangguk bersinar. "Dan kau adalah Wi Hong, bukan?"

"Keparat, aku Sin-hujin (nyonya Sin), kakek tua bangka. Hormati suamiku atau kau mampus kubunuh!"

"Ha-ha, sudah berobah, "kakek ini tertawa, berpaling kepada temannya. "Bagaimana pendapatmu, Sudra? Apakah bekas ketua Hek-yan-pang ini tidak seperti dulu lagi?"

"Ya, dia sudah berobah," kakek di sebelah kanan mengangguk, bersinar pula matanya. "Sin-hujin ini agak terganggu jiwanya, Mindra. Lihat sorot matanya yang mulai berputaran liar itu!"

Wi Hong, wanita ini, memekik. Memang bola matanya sudah berputaran lagi dan sikapnya yang waras tadi hanya sejenak saja tertampak, setelah itu dia terkekeh-kekeh dan mencungkil-cungkil tanah dengan kakinya. Tapi ketika belasan kerikil tajam mencelat dan menyambar dua kakek ini, yang duduk terkejut maka keduanya berseru mengebutkan ujung lengan baju.

"Heh, awas. Tidak waras tetapi berbahaya!" belasan kerikil disampok runtuh, hancur menjadi tepung tapi wanita itu tiba-tiba bergerak dan berkelebat kebelakang. Dan ketika dua ekor keledai berteriak karena ditarik buntutnya, sampai berodol maka dua kakek itu tersentak karena binatang tunggangan mereka mendadak lari dan kabur dengan kesakitan.

"Hi-hik, rasakan. Boleh kalian jatuh bangun disitu!"

Dua kakek ini membentak keras. Mereka marah karena keledai yang ditunggangi sekonyong-konyong liar. Mereka mencongklang dan lari ke kiri kanan, masing-masing seperti kesetanan. Tapi ketika mereka bergerak dan menepuk tunggangan mereka, keras sekali, maka dua ekor keledai itu berhenti namun tiba-tiba roboh.

”Keparat!" terpaksa dua orang ini berjungkir balik melayang turun. Mereka heran dan juga kaget kenapa keledai yang ditarik buntutnya sekonyong-konyong bisa begitu, roboh setelah dihentikan. Tapi ketika mereka memeriksa dan melihat sebatang jarum menancap dipinggul, tepat di pangkal ekor maka dua kakek itu gusar karena jarum beracun telah membinasakan dua ekor binatang ini.

"Heh, tak tahu diri!" Mindra, kakek pertama membentak geram. "Baik-baik kami menanyaimu tapi kau menyerang kami, bocah. Kalau begitu kau perlu dihajar dan harus mengganti kerugian.... wut!" kakek ini berkelebat, tangan kirinya bergerak mengeluarkan cahaya merah dan angin panaspun menyambar.

Wi Hong, wanita itu, terkekeh-kekeh dan menangkis, tidak berkelit. Tapi ketika dia terpelanting dan ujung lengan bajunya hangus, itulah Hwi-seng-ciang atau Pukulan Bintang Api maka wanita ini berteriak dan terkejut.

"Aiihhh, tua bangka yang cukup lihai!" Wi Hong bergulingan memadamkan sisa api dan meloncat bangun sambil mencabut pedang. "Heh, kau mau main-main dengan aku, Mindra? Kau berani menyerangku?"

"Hm!" Mindra si kakek gusar mendengus marah. "Kaulah yang mengganggu aku, Wi Hong. Kalau tidak tentu juga tidak. Kau sudah tidak waras, kami hanya menegurmu karena mendengar kau menyebut-nyebut si Kedok Hitam!"

"Kedok Hitam? Ah, dia memang musuhku. Dan kalianpun musuhku karena dulu kalian juga pernah galang-gulung dengannya. Haiittt!" dan pedang yang bergerak mendahului lawan tiba-tiba menusuk dan menikam dengan amat cepatnya.

Wi Hong marah karena nama itu tiba-tiba disebut lagi. Si kakek mengelak namun pedang mengikuti, bergerak merupakan bayangan. Dan ketika hampir saja tenggorokan kakek itu disambar dan cepat kakek ini menangkis, dengan Hwi-seng-ciang-nya maka wanita itu terhuyung tapi melengking dan menerjang lebih dahsyat.

"Mindra, aku akan membunuhmu!" dan pedang yang bergerak lebih cepat menusuk dan menikam akhirnya diiringi pula pukulan-pukulan tangan kiri yang mempergunakan Ang-in-kang (PukulanAwan Merah), menampar dan mendorong dan sebentar saja kakek itu mundur-mundur.

Mindra kewalahan tapi kakek ini akhirnya bergerak gesit, mengelak dan menampar dan balas memukul lawannya. Dan ketika tangan kiri bertemu Hwi-seng-ciang dan meledak, kalah kuat, maka Wi Hong terhuyung jatuh namun sudah menyerang lagi. Pedang di tangannya bergerak naik turun dan lawan dipaksa tak berani mendekat. Wi Hong mainkan silat pedang yang hebat dan bersifat mengadu jiwa. Namun karena kakek ini bukanlah kakek biasa karena dia adalah jago dari Thian-tok yang dulu pernah dipakai Coa-ongya untuk menghadapi Si Golok Maut maka kakek ini dapat bertahan dan pukulan-pukulan Awan Merah dapat ditolak baik dan Wi Hong mulai sering jatuh.

"Keparat, kau boleh bunuh aku, Mindra. Tapi tak boleh menghina!"

"Hm, aku tak akan membunuhmu!" si kakek berseru, gusar tapi merasa kasihan, wanita itu tidak waras. "Kau sudah tidak sehat jiwamu Wi Hong. Kalau kau dulu menyusul Si Golok Maut tentu bagus. Sayang, kau masih hidup dan sekarang gila!"

"Gila? Hi-hik, kaulah yang gila, tua bangka. Kau yang tidak waras dan mengatakan aku gila. Aih, aku hidup karena ingin membalaskan kematian suamiku. Dan kau dulu pernah mengeroyok di Lembah Iblis. Mampuslah, pedangku masih haus darahmu.... wut!" dan pedang yang menyambar bergerak dari samping tiba-tiba membabat dan membacok pinggang si kakek. Mindra menangkis tapi pedang ditarik kembali, cepat sekali. Dan ketika si kakek tertegun dan kaget, heran, maka pedang membalik dan tahu-tahu membacok kepalanya.

"Haiihh, ganas. Tapi tak dapat membunuh aku!" dan si kakek yang mengelak dan menampar ke atas, menghalau pedang sekonyong-konyong melihat pedang ditarik lagi untuk diganti dengan serangan lain, kali ini tusukan ke ulu hati dan berturut-turut wanita itu merobah atau mengganti serangannya di tengah jalan.

Rupanya, dia memang akan mengecoh kakek ini agar tak mengetahui serangan mana yang sesungguhnya nanti dilancarkan. Si kakek berkali-kali mementalkan pedangnya dengan tangkisan Hwi-seng-ciang, sementara pukulannya Ang-in-kang selalu terpental atau tertolak balik bertemu Hwi seng-ciang. Maka ketika delapan kali berturut-turut Wi Hong merobah serangannya dan terakhir sekali pedang menusuk mata, cepat luar biasa maka pedang tiba-tiba dilepaskan dan meluncur tanpa kendali.

"Aiihhh...!" si kakek sudah terlebih dulu dibuat sulit menduga. Tujuh kali berturut-turut menangkis dan menampar cukup membuat kakek ini marah. Dia juga bingung karena tak mau menurunkan tangan keras, paling-paling dia membuat pedang terpental atau pukulan tangan kiri tertolak. Maka begitu serangan yang kedelapan dilakukan dengan melepas pedang, yang meluncur menyambar mata maka kakek yang baru saja berdiri tegak mengibaskan lengan ke kiri ini sekonyong-konyong menjadi pucat namun saat itu merupakan detik-detik paling kritis bagi si kakek lihai untuk menunjukkan kepandaiannya. Dia sudah tak sempat mengelak lagi dan satu-satunya jalan ialah meniup. Karena begitu pipi si kakek menggembung dan ditiup kuat, penuh hawa sakti maka pedang terbentur dan patah di tengah jalan.

"Pletak!"

Wi Hong mengeluh pucat. Dia tadi melakukan jurus yang disebut Menimpuk Bunga Mengetam Padi, satu jurus berbahaya dan termasuk nekat, karena dia melepas senjata dan tinggal bertangan kosong lagi. Kalau gagal tentu celaka karena lawan akan marah, padahal dia sudah tak bersenjata. Dan ketika benar saja serangannya gagal dan pedang bahkan patah di tiup si kakek, hal yang mengagumkan maka Mindra yang gusar dan berkelebat ke depan tiba-tiba menggerakkan tangan menampar kepala wanita itu.

"Tak pantas kau diberi ampun. Mampuslah!"

Wi Hong berkelit. Dia terkejut ketika hawa panas mendahului tamparan si kakek, mengelak namun kalah cepat. Tapi ketika tamparan siap mendarat di kepala wanita itu, yang berarti Wi Hong akan tewas mendadak berkelebat bayangan putih dan tamparan atau pukulan ini ditangkis seseorang.

"Kakek kejam, tak perlu membunuh wanita!" dan benturan keras yang membuat si kakek terpelanting dan berteriak kaget, terguling-guling, sudah membuat Wi Hong maupun lawan terkejut karena di situ muncul seorang pemuda gagah bercaping bambu.

"Sin Hauw!"

"Golok Maut...!"

Dua seruan itu hampir berbareng meluncur dari mulut si kakek maupun Wi Hong. Sudra, kakek yang lain juga berteriak dan kaget berseru tertahan. Itulah Han Han yang datang tepat pada waktunya, melihat pertandingan dan marahnya kakek berhidung mancung ini. Dan karena Mindra akan membunuh lawannya sementara Han Han telah melihat dan menyaksikan dari dekat, diam-diam tergetar dan kasihan kepada wanita yang rambutnya riap-riapan ini, yang agaknya setengah gila maka Han Han bergerak dan tak mau wanita yang harus dikasihani, itu dibunuh. Han Han menangkis dan langsung mengerahkan Pek-lui-kang-nya, bertemu dengan Hwi-seng-ciang dan meledaklah suara keras seperti petir itu.

Tapi ketika dua mulut berseru berlainan, satu menyebutnya sebagai Sin Hauw dan yang satu sebagai Si Golok Maut, padahal tokoh itu telah tiada maka Han Han tertegun dan tiba-tiba terkejut ketika wanita setengah gila yang rambutnya riap-riapan ini terkekeh dan menubruknya.

"Aih, kau kiranya, Hauw-ko (kanda Hauw). Kau datang tepat pada waktunya dan telah menyelamatkan aku. Ah, terima kasih. Kau ternyata masih hidup!" dan Han Han yang langsung dipeluk dan diciumi, terkejut, tiba-tiba melihat wanita itu terisak dan menangis tersedu-sedu.

Dan saat itu kakek berhidung mancung yang ditangkis pukulannya tiba-tiba mencabut nenggala dan membentak, disusul temannya yang juga mencabut cambuk baja dan meledakkannya diudara.

"Golok Maut, rohmu kiranya masih berkeliaran di bumi. Mampuslah.... dar!" dan cambuk yang menyambar serta meledak menuju lehernya, menjirat, sekonyong-konyong disusul gerakan nenggala yang menusuk lambung.

"Minggir!" Han Han terkejut dan berseru keras. Dia masih tak mengerti omongan orang ketika tiba-tiba dua senjata itu menyerangnya begitu hebat. Nenggala mengaum dan suaranya mirip topan menderu, cambuk di atas kepala sudah meledak dan siap menyambar lehernya. Kalau dia lengah sedikit barangkali lehernya bisa terbabat putus. Dua senjata itu sama-sama berbahaya. Dan karena wanita itu memeluknya dan Han Han sejenak tertegun karena tangis dan pelukan wanita itu membuat bulu romanya berdiri, meremang, ada sesuatu yang tiba-tiba seakan menyentaknya dari alam halus maka Han Han bergerak dan cepat mendorong wanita itu serta melempar tubuh sambil melakukan tendangan dari bawah.

"Des-des-tarr!"

Bumi yang diinjak seketika hangus. Han Han meloncat bangun dan terbelalak melihat itu. Dua kakek itu tiba-tiba saja garang dan beringas. Mereka menyebutnya sebagai Si Golok Maut dan dia disangka rohnya, Han Han tertegun. Tapi ketika dua kakek itu juga terbelalak dan tertegun sejenak, kaget melihat Han Han mampu menghindar dan menendang cambuk maka dua-duanya sudah membentak dan menerjang lagi.

"Heii, kalian gila!" Han Han berteriak, melihat nenggala dan cambuk kembali menjeletar menyerang berbahaya.

Dia sebenarnya hendak melerai saja dan menyelamatkan wanita setengah gila itu. Entah kenapa Han Han iba dan kasihan terhadap wanita ini. Tak tahu bahwa itulah ibunya, ibu kandung! Maka ketika dua kakek itu menyerang ganas dan tak perduli teriakannya, Mindra dan saudaranya pucat merangsek semakin hebat maka apa boleh buat, Han Han lalu berlompatan dan mengelak ke sana-sini, didesak dan terus dicecar dan akhirnya pemuda ini menggerakkan tangan menangkis. 

Pek-lui-kang kembali menampar tapi bertemu nenggala tiba-tiba lengan Han Han tergetar. Itulah tanda bahwa lawan memiliki sinkang kuat dan dua kakek-kakek ini bukan orang sembarangan. Han Han kagum tapi juga marah. Dan ketika satu saat nenggala kembali menusuk dan cambuk menjeletar di atas kepala, bagai guruh menggelegar maka Han Han mencabut pedangnya dan secepat kilat dia bergerak miring sambil membabatkan pedangnya itu, dari kanan kekiri.

"Crat-tass!"

Nenggala dan cambuk sama-sama buntung. Dua kakek itu berteriak kaget dan melompat mundur, mereka terbelalak memandang senjata masing-masing, tapi ketika tertegun bahwa Han Han tak memegang golok, sebagai ciri-ciri Si Golok Maut maka dua kakek itu tertegun dan bertanya, suaranya jelas gentar karena gerakan pedang Han Han tadi membuktikan anak muda itu memiliki sinkang yang amat kuat, yang masih di atas mereka.

"Kau, siapa anak muda"? Dari mana dan kenapa mengganggu kami? Kau mencari permusuhan!"

"Hi-hik, tak usah dijawab!" si wanita rambut riap-riapan tiba-tiba melengking dan menusuk dua orang kakek ini, mempergunakan kukunya. "Mereka ini orang-orang yang dulu mengeroyokmu, Hauw-ko! Hayo hajar dan bunuh. Bantu aku dan jangan digubris!"

Namun dua kakek itu mengebutkan lengan. Wi Hong terpental dan jatuh terguling-guling, wanita ini berteriak dan minta agar Han Han tak berpangku tangan. Dan ketika dia meloncat bangun dan menerjang lagi! Berani karena "suaminya" ada di situ maka Mindra dan Sudra gemas menghantam wanita ini.

"Kau tak tahu diri, enyahlah... des-dess!"

Wi Hong terkena sapuan miring, terlempar dan jatuh terguling-guling dan menjerit menangis di sana. Wanita itu marah tapi juga gentar menghadapi lawannya. Han Han tak segera menolongnya. Tapi ketika Han Han bergerak dan menyambarnya, mengangkat bangun, maka Han Han disemprot dan dimaki-maki.

"Kau tak setia kepada isteri. Kau membiarkan saja aku jatuh bangun. Aih, bertahun-tahun aku menderita untukmu, Hauw-ko. Ayo balas dan sekarang bunuh mereka ini. Atau aku tak mau tidur lagi bersamamu dan biar kau mati kedinginan!"

Han Han merah padam. Wanita ini berkata soal hubungan suami isteri cepat dia menotok dan membungkam mulut wanita itu. Dan ketika wanita itu mengeluh dan roboh terguling, Han Han sudah menghadapi dua kakek India itu maka Mindra dan Sudra sadar bahwa mereka salah menyangka, meskipun mereka terkejut dan tersirap karena sikap dan gerak-gerik lawannya ini benar-benar mirip Si Golok Maut, bahkan juga wajahnya, kecuali pedang itu!

"Anak muda, kau siapa? Kenapa mengganggu dan menyerang kami? Bukankah kita tak saling bermusuhan?"

"Dan maaf kalau aku menyangkamu sebagai Si Golok Maut. Kedatanganmu yang amat tiba-tiba dan mengejutkan ini membuat kami salah faham," Sudra, kakek di sebelah juga berkata.

Sekarang mereka saling mengedip dan diam-diam mencekal erat senjata di tangan. Anak muda itu jelas lihai dan senjata mereka buntung dibabat sekali saja, padahal mereka bukanlah orang lemah! Tapi ketika Han Han menghadapi mereka dan dingin memandang, sinar matanya tajam menusuk maka dua kakek itu meremang karena sikap inipun persis Si Golok Maut!

"Aku Han Han, entah kalian siapa. Kalau aku datang kemari adalah sekedar menyelamatkan wanita ini. Kalian menghadapi orang yang tidak waras, kenapa telengas dan tidak kenal kasihan? Bukankah sebagai kakek-kakek kalian harus tahu perasaan? Hm, aku tak bermaksud mengganggu kalian, kakek-kakek kejam. Kalau kalian mau melepaskan wanita ini tentu aku juga tak akan melanjutkan urusan. Terserah kalian mau apa sekarang!"

Dua kakek itu bergidik. Mereka melihat dan mendengar kata-kata ini begitu dingin dan beku. Anak muda itu bersikap hormat tapi juga mengejek. Mereka seakan tak dipandang sebelah mata. Dan ketika Mindra maupun Sudra saling melirik pandang, masing-masing bertanya dengan bahasa isyarat maka Mindra yang penasaran dan masih tak puas akan pertandingan tadi berkata,

"Anak muda, kami adalah dua tua bangka dari Thian-tok. Aku adalah Mindra dan itu saudaraku Sudra. Barangkali kau pernah dengar nama-nama kami atau guru serta orang tuamu memberi tahu. Apakah kau tahu?"

Han Han menggeleng. "Aku tak pernah dengar," katanya, sungguh-sungguh. "Tapi biarpun dari Thian-tok atau Tee-tok aku tak pernah takut. Kalian sebaiknya pergi dan biarkan wanita ini."

"Keparat!" Mindra tiba-tiba mendelik, tak kuat menahan diri lagi. "Kau sombong dan pongah, anak muda. Kalau begitu coba rasakan ini dan buktikan kata-katamu!" nenggala menyambar, dahsyat men deru dan Han Han berkelit ringan.

Mindra marah sekali karena si pemuda tak memandang sebelah mata, padahal dia adalah orang yang dimalui dunia kang-ow. Istana sendiri hormat terhadap mereka tapi pemuda ini malah setengah menantang, mengejek. Maka begitu Han Han mengelak dan nenggala dahsyat menghantam tanah, yang berlubang dan berhamburan kerikilnya maka si kakek sudah berkelebatan dan menyerang lagi. Han Han mengerutkan kening tapi mulai menggerakkan tangan. Nenggala ditolak dan ditangkisnya.

Dan ketika dia tergetar namun lawan terhuyung, si kakek penasaran dan menyerang semakin hebat lagi maka Han Han menyimpan pedangnya dan dengan pukulan-pukulan perlahan dia mendorong atau mementalkan senjata lawan, menambah tenaganya. Mindra berteriak dan tangan kirinya tiba-tiba bergerak. Hwi-seng-ciang, Pukulan Bintang Api, meledak dan menyambar pemuda itu. Dan ketika hawa panas membuat Han Han terdorong dan terkejut, mengerutkan kening, maka kakek itu berteriak bahwa pemuda itu akan roboh.

"Kau sombong dan bermulut besar. Nah, coba buktikan kata-katamu dan ingin kulihat apakah kau tidak bertekuk lutut menyatakan menyerah!"

"Hm!" Han Han berkilat matanya. "Aku menyerah tunggu dulu, kakek kasar. Kalau kau mengira dapat mengalahkan aku maka kau keliru. Lihat, aku akan merobohkanmu sebelum tiga puluh jurus... slap!" dan Han Han yang lenyap mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya tiba-tiba bergerak luar biasa cepat mengelilingi kakek itu, berputaran dan membuat Mindra berseru keras karena kakek itu kehilangan lawannya.

Han Han mengeluarkan segenap kecepatannya hingga si kakek berkunang-kunang. Dan ketika Han Han melakukan tamparan-tamparan dan sinkang yang dipelajari dari sumur tua dikeluarkan di sini maka kakek itu menjerit ketika pundaknya tertampar, jatuh terpelanting dan selanjutnya kakek itu memutar nenggala dengan cepat. Dia berusaha melindungi diri namun Han Han mengeluarkan tawa mengejek. Dia sudah beterbangan mengelilingi kakek itu, nenggala diputar di bagian atas untuk melindungi pinggang dan muka. Dan ketika Han Han menggerakkan kaki untuk menendang lutut, karena bagian bawah itu tak terjaga maka kakek ini terjerembab dan roboh.

"Nah," Han Han berseru., "Dua puluh tiga jurus, kakek sombong. Siapa yang roboh dan siapa yang menyerah!"

Kakek itu kaget bukan main. Dia tak dapat mempertahankan dirinya ketika lututnya ditendang. Lawan bukan sembarang menendang melainkan menyentuh jalan darah tu-hi-hiat, persis di tempurung lututnya. Tapi ketika kakek ini terguling dan roboh mengeluh, mengusap lututnya, maka Mindra sudah meloncat bangun dan bebas dari totokan, terhuyung.

"Anak muda!" Han Han tertegun. "Aku masih belum kalah. Aku masih dapat berdiri. Nah, mari mulai lagi dan kita bertanding seribu jurus!"

Han Han kagum. Mau tak mau dia memuji juga bahwa lawannya ini hebat. Tendangan atau totokannya dengan ujung kaki tadi sebenarnya tak gampang disembuhkan. Orang-orang dengan tingkat kepandaian biasa saja pasti akan terguling dan roboh dua jam lebih. Tapi ketika kakek ini dapat mengusap lututnya dan menyembuhkan dari pengaruh totokan, tanda bahwa kakek itu bukan orang sembarangan membuat Han Han memuji namun berbareng juga merasa marah karena kakek itu tak tahu diri. Han Han berkilat dan tiba-tiba ingin bekerja cepat. Dia tak mau lagi kakek itu banyak tingkah. Maka begitu lawan menerjang dan nenggala menyambar leher, beringas, tiba-tiba Han Han mencabut pedangnya dan begitu sinar putih berkelebat tiba-tiba lawannya menjerit.

"Aduh... crang-dess?"

Mindra terlempar. Kakek itu berteriak karena nenggalanya putus terbabat. Sebagian jarinya terpapas pula dan kulitnya robek terkupas. Untung tidak putus! Dan ketika kakek itu mengaduh karena Han Han menendang lebih keras, si kakek, mencelat dan roboh maka Mindra tak dapat bangun lagi karena seluruh tubuhnya terasa nyeri.

"Ah!" Sudra, kakek yang satu tiba-tiba bergerak dan berkelebat. Cambuk menjeletar untuk mencegah Han Han maju menyerang. Kakek itu berteriak dan menolong temannya. Dan ketika Mindra dipapah bangun dan ngeri memandang ke depan, gebrakan terakhir itu menyelesaikan segalanya maka kakek itu gemetar dan menuding.

"Itu... itu tadi... bukankah itu gerakan dari jurus Bianglala Memangkas Matahari? Bukankah anak muda ini mainkan Pek-jit Kiam-sut (Silat Pedang Matahari)?"

"Benar," temannya mengangguk. "Aku juga melihatnya begitu, Mindra. Kalau begitu anak muda ini adalah murid Pek-jit-kiam Ju Beng Tan!" dan membalik serta menghadapi Han Han, yang terkejut dan mengerutkan kening maka Sudra, kakek itu, berseru sambil membelalakkan mata.

"Anak muda, kau ada hubungan apa dengan Pendekar Pedang Matahari Ju Beng Tan? Apakah muridnya?"

"Hm, benar," Han Han tak ingin memperkenalkan diri sebagai putera ayahnya. "Aku memang muridnya. Kalau kalian mengenal guruku maka itu adalah bagus. Apakah kalian pernah dihajar olehnya?"

"Ah!" dua orang itu pucat. "Kalau begitu pantas saja, kau begitu sombong! Baiklah, kami tak mau ribut dengan gurumu, anak muda. Tapi beritahukan padanya bahwa peristiwa belasan tahun yang lalu tetap tak kami lupakan. Lain hari kami akan meminta petunjuk gurumuitu dan biarlah wanita itu kami bebaskan!" dan bergerak meninggalkan Han Han, memutar tubuhnya tiba-tiba dua kakek itu berkelebat dan pergi dengan cepat.

Mindra si kakek yang terluka masih kelihatan terhuyung. Langkahnya sempoyongan. Tapi begitu temannya menarik dan menyendal maka kakek itu dapat bergerak cepat dan terbang meninggalkan tempat itu, lenyap di luar hutan. Han Han sendiri tersenyum mengejek dan sudah membalik menghadapi Wi Hong, membebaskan dan mengangkat bangun wanita berambut riap-riapan itu. Tapi begitu bergerak dan diangkat, tiba-tiba wanita ini mengguguk dan menubruknya...