NAGA PEMBUNUH
JILID 06
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"BRESS!" Dua tumpukan papan tiba-tiba dipukul orang. Dari bawah tiba-tiba muncul dua tubuh laki-laki itu, pemuda dan ayahnya. Dan ketika Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio terkejut karena itulah Beng Tan dan anaknya maka ketua Hek-yan-pang itu membentak,

"Han Han, jangan membunuh orang. Tahan keberingasan dirimu!" dan ketika pendekar itu meloncat dan berjungkir balik dari timbunan lantai panggung maka Han Han sendiri juga sudah meloncat dan berjungkir balik melepaskan diri, hinggap dan melayang turun jauh dari tempat semula.

Panggung itu beserta atapnya sudah tak dapat dipergunakan lagi. Lucu dan juga menyedihkan ketika melihat puluhan orang lain kini merangkak dan merintih-rintih dari lantai panggung yang menimpa mereka. Itulah para tamu yang tak sempat menyelamatkan diri ketika panggung runtuh. Mereka tertimbun dan terkubur hidup-hidup. Tapi ketika semua keluar dan merangkak satu per satu, hanya menderita lecet-lecet atau luka ringan maka Eng Sian Taijin yang terbelalak dan diam-diam ngeri melihat kedahsyatan Han Han sudah melihat Pek-jit Kiam-hiap atau si Pendekar Berpedang Matahari mencengkeram dan menepuk pundak puteranya, yang masih kelihatan beringas dan mata bersinar-sinar.

"Han Han, sadarlah. Atau kau akan berhadapan dengan ayahmu... plak!"

Han Han tergetar, sadar dan cepat menghilangkan semua kemarahan dan tenaganya ketika ayahnya itu mencengkeram dan menepuk pundak. Getaran tenaga sakti pemuda itu sudah dibuyarkan dan Beng Tan khawatir sekali akan anaknya ini. Han Han seperti harimau haus darah, mau menerkam dan rupanya siap menggigit siapa saja. Tapi ketika pendekar itu melihat wajah puteranya sudah biasa lagi dan mata yang mencorong bersinar-sinar itu tidak kelihatan beringas seperti tadi maka Han Han tiba-tiba berlutut dan menjatuhkan diri di depan ayahnya.

"Maaf, aku tak bermaksud membunuh siapapun, ayah. Kalau aku juga tak diancam musuh. Aku menyesal, tapi harap kau berlaku adil dengan melihat siapa yang salah dan siapa yang benar."

"Bangunlah!" sang ayah tahu. "Aku mengerti apa yang kau maksud, Han Han. Tapi tak selayaknya kita melakukan pembunuhan di tempat pesta. Cepat minta maaf kepada Tek-wangwe dan kita pulang!"

Han Han menarik napas. Sekarang dia sudah menekan semua hawa anehnya yang tadi tiba-tiba naik ke kepala. Entahlah, melihat lawan yang tak tahu diri dan sombong macam Toa-sin-kai tadi tiba-tiba ada semacam hawa membunuh yang naik ke kepalanya, setelah pengemis itu melontar tongkat. Kalau dia tak berkepandaian tinggi dan mampu menghancurkan serangan lawan tentu dia sudah roboh tinggal nama. Pengemis itu tak tahu diri dan patut dihajar. Untung ada ayahnya sehingga tendangannya tadi ditangkis dan digagalkan ayahnya pula. Dan ketika pemuda itu mengangguk dan bangun berdiri maka Tek-wangwe yang terbelalak dan merah pucat berganti-ganti cepat-cepat menyambut pemuda ini dengan ngeri.

"Wangwe, aku minta maaf. Selamat tinggal dan biar lain kali kuperbaiki tempatmu yang berantakan ini."

"Ah, tidak... eh, tak apa-apa! Aku, ah... aku tak perlu minta ganti, kongcu. Biarlah kuperbaiki sendiri dan sampai ketemu lagi!"

"Dan maafkan kalau pestamu menjadi kacau, wangwe. Biarlah lain kali puteraku diam di rumah dan aku bersama isteriku saja," Beng Tan menyusul, membungkuk dan memberi hormat di depan tuan rumah mengiring puteranya.

Sang hartawan buru-buru membalas dan gugup serta kacaulah perasaan hartawan ini. Han Han tak disangkanya begitu ganas dan mirip harimau yang tak boleh diganggu. Sekali diganggu akan mengaum dan menerkam siapa saja, tak perduli tokoh-tokoh terhormat atau orang biasa. Tapi ketika ayah dan anak meminta diri dan semua memandang dengan ngeri, gentar, tiba-tiba terdengar angin bercuit dan sebatang pisau belati menyambar Han Han dari belakang.

"Plak!" Sang ayah menangkis dan meruntuhkannya. Han Han diam saja seolah-olah tak tahu, padahal pemuda itu sudah siap bergerak dan mengebutkan lengan. Sekali hal itu terjadi tentu pisau akan membalik dan mengenai penyambitnya, tak boleh tidak. Berarti sebuah jiwa akan melayang tapi Beng Tan yang ada di samping puteranya sudah menangkis dan meruntuhkan pisau itu. Dan ketika ayah dan anak membalik dan melihat siapa pelemparnya ternyata di sana berdiri tertegun Ji-lo-kai, pengemis yang rupanya sudah sadar, sute atau adik dari Toa-sin-kai.

"Hm!" pendekar ini merah mukanya. "Beginikah sikap seorang ksatria, Ji-sin-kai? Menyerang dan pengecut melempar pisau dari belakang? Kalau puteraku yang menangkis tentu kau bakal roboh tak bernyawa. Bersikaplah jantan dan jujur kalau masih tak puas. Tempat tinggalku tentu boleh kau datangi sewaktu-waktu dan melanjutkan pertandingan dengan jujur. Maaf, aku tak menghendaki keributan di sini dan pisaumu kukembalikan lagi... crit!"

Pisau itu tiba-tiba ditendang, mencelat dan menyambar Ji-sin-kai dan orang-orang terkejut karena mengira pisau itu akan menancap di leher si pengemis. Memang dari jauh pisau itu tampaknya menyambar leher. Ji-sin-kai mengelak namun ajaib sekali pisau itu mengikutinya, seolah bernyawa. Dan ketika pengemis itu berseru kaget dan meloncat ke belakang, menumbuk dinding maka pisau menancap di samping lehernya dan memantek lebih dari separoh!

"Ahh...!" semua orang berseru tertahan. Ji-sin-kai sendiri menjadi pucat dan ngeri serta gentar. Ternyata ketua Hekyan-pang itu kalau sudah mau mengeluarkan kepandaiannya maka sungguh tak boleh dibuat main-main. Dia jelas bukan tandingan pendekar itu, harus tahu diri!

Maka ketika pengemis ini tertegun merah dan seluruh rasa malu membuat wajahnya seperti kepiting direbus maka Beng Tan sudah membalik dan berkelebat menyambar lengan puteranya. Untuk selanjutnya pendekar itu tak ada lagi yang berani coba-coba. Sekali pukul membuat Ji-sin-kai malu hebat sudah cukup membuat orang-orang lain gentar. Ketua Hek-yan-pang itu memang pantas disebut sebagai pendekar pilih tanding. Puteranya saja sudah begitu hebat! Dan ketika semua orang diam membelalakkan mata dan Eng Sian Taijin maupun Tiong Liang Hwesio hanya berulang-ulang mengeluarkan seruan perlahan maka pesta Tek-wangwe berakhir dengan segala kehebatan ayah dan anak itu. Dan begitu semua pulang dan kembali ke tempat masing-masing maka Beng Tan di sana sudah terbang membawa kembali puteranya ke markas.

* * * * * * *

"Apa kabar? Bagaimana dengan pesta Tek-wangwe?" Swi Cu menyambut suami dan anaknya itu dengan wajah berseri-seri. Dia baru saja melihat mereka datang dan memasuki halaman, disambut dan suami serta anaknya dipeluk. Tapi ketika wajah suami maupun puteranya muram, tak menunjukkan kegembiraan maka Swi Cu terkejut dan berdebar merasa ada sesuatu yang terjadi. "Kalian bertengkar?" wanita itu melanjutkan. "Ada apa dan kenapa murung?"

"Hm," Beng Tan melepaskan dirinya dari pelukan sang isteri. "Aku capai, nio-cu. Biarlah aku istirahat dulu dan Han Han rupanya juga capai," dan memandang puteranya pendekar ini berkata, "Tinggalkan kami, Han Han. Istirahatlah dan kembali ke kamarmu."

Han Han mengangguk. Sang ibu memberi ciuman dulu sebelum pemuda itu berkelebat. Han Han tergetar sejenak oleh kasih dan sikap ibunya ini. Sejak dulu ibunya selalu begitu, memberi cium sayang di pipi, meskipun dia kini sudah dewasa dan berusia dua puluhan tahun! Tapi ketika pemuda itu meninggalkan ayah ibunya dan Beng Tan mengajak isterinya ke kamar maka pendekar ini mendesah melempar tubuh dipembaringan.

"Sesuatu yang hebat terjadi. Pesta di tempat Tek-wangwe kacau!"

"Kacau?" sang isteri tertegun. "Maksudmu ada orang jahat di sana, suamiku? Dan kau bersama Beng Han menghajarnya?"

"Hm, benar. Tapi aku melihat sesuatu yang mengkhawatirkan di diri anak kita itu. Han Han hampir membunuh orang, kejam dan dingin!"

"Ceritakan padaku!" sang isteri terkejut. "Bagaimana bisa begitu, suamiku. Dan apa yang terjadi?"

"Kau kenal Huang-ho Coa-li? Kau kenal Pat-jiu Sian-ong? Kau dengar nama-nama Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai?"

"Ah, Huang-ho Coa-li wanita iblis. Sedang Pat-jiu Sian-ong maupun Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai adalah orang-orang aneh yang berkepandaian tinggi! Apakah kau bentrok dengannya?"

"Hm, Han Han telah berkenalan dengan mereka, isteriku. Dan tiga di antaranya dihajar habis-habisan. Anak kita itu telah menanam bibit permusuhan, meskipun dia tidak salah!"

Swi Cu pucat. Mendengar suaminya bercerita itu tiba-tiba dia minta diteruskan, bagaimana hal itu bisa terjadi dan siapakah tiga yang telah menjadi korban itu. Dan ketika Beng Tan mulai bercerita selengkapnya dan apa yang terjadi diceritakan kepada sang isteri maka Swi Cu tertegun dan berkali-kali mengeluarkan seruan tertahan.

"Sing Kok, murid Pat-jiu Sian-ong itu dipukul roboh. Dan Toa-sin-kai serta Ji-sin-kai pun dihajar keras oleh Han Han. Aku ngeri melihat sepak terjang anak kita itu, Cu-moi. Aku melihat betapa ganas dan kejamnya putera kita itu, kalau sudah dibuat marah!"

"Hm, persis siapa? Apakah Si Golok Maut?"

Beng Tan tertegun. Sang isteri menangis dan menahan sedu-sedan. Tiba-tiba cerita dari suaminya itu membuat wanita ini kembali membenci Han Han. Kasih dan sayangnya yang tadi ada tiba-tiba musnah kembali, terganti kemarahan dan kebencian karena semua cerita itu dibayangkannya sebagai perbuatan mendiang Si Golok Maut Sin Hauw, yang memang kejam dan tak mengenal ampun kepada musuh. Tapi ketika Beng Tan teringat dan sadar akan itu, sikap isterinya yang tidak wajar kepada Han Han maka pendekar ini batuk-batuk dan buru-buru meralat, memperbaiki.

"Maaf, kau jangan menuduhnya seperti itu, Cu-moi. Betapapun Han Han tidak salah karena musuh selalu mendahuluinya. Aku pribadi tak menyalahkan puteraku itu karena orang lainlah yang lebih dulu berbuat tidak baik!"

"Tapi kau sendiri bilang Han Han membalas tanpa ampun. Sekali tangkis membuat Huang-ho Coa-li mencelat dan Ji-sin-kai pun roboh pingsan!"

"Benar, tapi... ah, mungkin itu dikarenakan Han Han belum mampu mengukur tenaga, Cu-moi. Dia belum biasa mengendalikan sinkangnya!"

"Tapi dia sudah sering berlatih denganmu. Tentunya dia dapat mengatur sin-kangnya itu dan tidak terlalu kejam!"

"Hm, Ji-sin-kai ataupun Huang-ho Coa-li tentunya tak sekuat aku, Cu-moi. Kebiasaan Han Han menghadapi aku terbawa dalam tangkisannya ketika menghadapi kakek pengemis itu dan Huang-ho Coa-li. Dan tentu saja lain. Aku masih dapat menerima itu!"

Sang isteri tertegun. Akhirnya Swi Cu mau juga mendengar kata-kata suaminya ini, bahwa mungkin kebiasaan berlatih Han Hari dengan ayahnya terbawa ketika menghadapi Huang-ho Coa-li dan Ji-sin-kai itu, yang tentu saja memang tak sekuat suaminya. Dan ketika Beng Tan membujuk lagi bahwa semuanya itu adalah kesalahan musuh, yang bersikap sombong dan tak tahu diri maka pendekar ini menutup.

"Betapapun Han Han tak memiliki kekejaman itu, kalau musuh tak mendahului. Ingat saja dirimu atau diriku, Cu-moi Tentu juga tak akan marah-marah atau sampai bertangan kejam kalau musuh tidak kelewatan. Sudahlah, aku hanya melapor saja dan tak perlu kau marah-marah kepada Han Han!"

"Aku hanya marah kepada kekejamannya itu. Aku marah karena dia seperti Sin Hauw!"

"Hm, tak baik membawa-bawa orang yang sudah mati, Cu-moi. Sin Hauw sudah tiada dan tak perlu kita mengingat-ingatnya kembali..."

"Tapi Han Han seperti dia. Aku jadi benci dan takut!"

"Ah, semua orang yang diserang orang lain tentu marah dan dapat berbuat kejam, isteriku. Tak perlu kau membesar-besarkan. Sudahlah, dia tetap anakmu dan tak boleh kau membencinya!"

Swi Cu menangis. Akhirnya dia menubruk dan dipeluk suaminya itu. Beng Tan menghibur dan berkata bahwa besok diaakan membawa anak-anak murid Hek-yan-pang untuk memperbaiki apa yang telah rusak di tempat Tek-wangwe. Dan ketika malam itu Swi Cu mereda dan tidak membenci puteranya lagi, sang suami telah memperingatkan dia untuk membuang kenangan Si Golok Maut maka keesokannya wanita ini telah normal kembali dan tidak menaruh perasaan tidak senang kepada puteranya itu.

Betapapun Han Han adalah puteranya dan suaminya benar. Anak itu tak bersalah. Yang keterlaluan adalah Ji-sin-kai dan lain-lainnya itu. Tapi ketika perasaan Swi Cu sudah pulih dan dia dapat memandang lagi puteranya dengan senyum, ketika suami pergi ke tempat Tek-wangwe mendadak suatu yang mengejutkan kembali mengguncang wanita ini, ketika pagi itu puteranya menghadap.

"Ibu..." Han Han agak ragu. "Bolehkah aku minta sesuatu dan maaf dari ibu?"

"Hm, apa yang kau minta, Han Han? Dan kenapa maaf?"

"Mungkin ibu marah kepadaku atas sepak terjangku di tempat Tek-wangwe kemarin. Aku hanya membela diri, mereka terlalu mendesak dan sombong."

"Aku tahu," sang ibu memotong, merangkul puteranya ini. "Ji-sin-kai dan lain-lainnya itu patut dihajar, Han Han. Tapi lain kali jangan terlampau kejam. Ibu kurang suka. Kau harus lemah lembut seperti ayahmu, jangan telengas!"

Han Han merah mukanya. "Aku juga menyesal, tapi ah, mereka tak tahu diri!"

"Sudahlah, apa maksudmu datang kemari? Apa yang hendak kau minta dari ibumu?"

"Aku hendak meminta caping itu. Ibu sudah berjanji."

"Han Han!" sang ibu tiba-tiba tersentak, kaget. "Kau. kau mau apa dengari caping itu? Untuk apa kau mengingat-ingat lagi benda terkutuk itu? Itu sudah kubuang, Han Han. Ibu tak suka!"

Wajah pemuda ini tiba-tiba berubah. Han Han tampak terkesiap dan kaget mendengar kata-kata ibunya itu, bentakan yang serasa menggelegar di telinga dan tiba-tiba pemuda itu undur selangkah. Swi Cu sendiri sampai kaget ketika tiba-tiba dari sepasang mata anaknya itu menyambar sinar tajam bagai seekor naga yang sedang mencorong. Hawa berkilat dan mendirikan bulu roma mendadak membuat Swi Cu juga surut undur selangkah. Ibu itu kaget dan ngeri sekali melihat sikap puteranya. Begitu menyeramkan!

Tapi ketika Han Han sadar dan rupanya ingat bahwa yang ada di depannya itu adalah ibunya, wanita yang selama ini mengasihi dan membesarkannya tiba-tiba pemuda itu menunduk dan hilanglah semua keganasan yang muncul mendadak itu, seperti singa lapar yang siap menerkam korbannya.

"Ibu membuang caping itu? Ibu tidak bohong?" Aneh sekali, Han Han tiba-tiba menangis.

Swi Cu tertegun melihat air mata mengalir di pipi puteranya itu dan tampak betapa Han Han menahan duka atau perih yang sangat. Sang ibu menjublak tapi segera berkata bahwa caping itu memang sudah dibuang. Swi Cu tiba-tiba marah kenapa puteranya menanyakan caping itu, mengingatkannya pada Si Golok Maut. Dan ketika dia menegaskan marah bahwa Han Han tak usah memikirkan barang itu lagi maka puteranya membalik dan tersedak.

"Ibu kalau begitu tak menepati janji. Ibu merampas barang milik orang lain!"

Swi Cu tertegun. Untuk kedua kalinya dia merasa heran dan aneh melihat tingkah puteranya itu. Han Han terhuyung dan melangkah pergi, menggigit bibir. Tampak jelas betapa pemuda itu amat berduka seolah kehilangan harta karun yang besar, padahal itu adalah sebuah caping bambu yang tak berarti! Dan ketika Swi Cu mendelong dan mengawasi puteranya maka Han Han lenyap memasuki kamarnya dan sehari penuh pemuda ini tak muncul-muncul.

Swi Cu berdebar. Aneh dan luar biasa anaknya itu. Mengecamnya sebagai orang yang tak menepati janji dan dikata merampas pula. Betapa berani dan kerasnya, padahal selama ini Han Han selalu lembut dan pendiam kepadanya, patuh sebagaimana layaknya seorang anak kepada ibunya. Dan ketika Swi Cu tak nyaman dan malam itu suaminya juga belum kembali maka dia menghampiri pintu kamar anaknya dan mengetuk perlahan.

"Han Han, ibu ingin bicara!"

Tak ada jawaban. Swi Cu mengetuk lagi dan memanggil nama anaknya itu. Tak ada jawaban. Dan ketika tiga kali berturut-turut .dia memanggil namun tak ada jawaban maka wanita ini marah dan mendobrak pintu kamar, tahu bahwa anaknya itu ada di dalam, terbukti dari tarikan napas yang naik turun secara teratur. Tapi begitu wanita ini membentak dan siap memaki puteranya, yang memang ada di dalam tiba-tiba Swi Cu terbelalak dan menjerit mundur. Han Han, puteranya itu, memang ada di dalam. Tapi bukan dalam keadaan biasa melainkan justeru dalam keadaan luar biasa. Karena begitu Swi Cu membentak dan mendobrak pintu kamar maka dilihatnya puteranya itu berjungkir balik mengatur napas dalam keadaan telanjang bulat.

"Aiihhh...!" wanita ini seketika menekap mulutnya sendiri. Han Han yang siap dimaki dan disemprot tiba-tiba tak jadi di apa-apakan. Anaknya itu berjungkir balik dengan tenang dan sikapnyayang begitu bebas dan santai sungguh membuat wanita ini tertegun.

Kiranya Han Han bersamadhi sehari penuh dengan caranya yang luar biasa itu, memusatkan semua konsentrasi atau puncak perhatian pada alam samadhi yang hening. Begitu heningnya hingga tak tahu meskipun pintu kamar didobrak. Tanda betapa pemuda itu telah mencapai titik tertinggi dari alam samadhinya yang memuncak. Satu tanda bahwa Han Han telah memiliki kekuatan sinkang atau tenaga sakti yang hebat sekali. Tapi karena pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat dan Swi Cu tak tahu puteranya dalam keadaan seperti itu maka tiba-tiba saja wanita ini meloncat dan menutup pintu kamar lagi dengan bantingan keras!

"Brukk!"

Han Han tetap juga tak bergeming. Swi Cu tak mendengar gerakan apa-apa di dalam tanda bahwa puteranya benar-benar mencapai titik samadhi yang paling khusuk. Langit ambrukpun kiranya pemuda itu akan tetap dalam keadaan siulian-nya, sungguh luar biasa! Tapi teringat bahwa puteranya itu bukan seorang anak-anak lagi melainkan sudah seorang pemuda dewasa yang sempurna dan bertubuh tegap dan mengagumkan maka wanita ini semburat merah dan tersipu-sipu sendiri.

Swi Cu bukanlah wanita berbatin kotor. Wanita itu amatlah bersih hingga tak pernah dia nyeleweng. Tapi melihat bentuk tubuh puteranya dan betapa keadaan puteranya itu mengingatkan dia akan sang suami tiba-tiba Swi Cu mengeluh dan lari ke kamarnya. Nafsu yang aneh tiba-tiba bergolak. Sehari dia ditinggalkan suami dan tiba-tiba saja rasa rindu yang hebat menyerang. Swi Cu menangis dan tiba-tiba mencengkeram dan meninju-ninju guling dengan marah. Tiba-tiba saja dia ingin suaminya di situ dan ingin melampiaskan birahi. Aneh sekali. Dia terangsang oleh tubuh puteranya sendiri!

Dan ketika Swi Cu menjerit dan meloncat bangun maka wanita itu mengamuk dan menyerang apa saja. Piring dan gelas dibanting hancur. Kursi dan meja akhirnya juga pecah berantakan. Tapi ketika semuanya berhenti dan nafsu itu mengendor dengan sendirinya maka Swi Cu mengguguk dan meremas-remas rambut kepalanya sendiri.

"Terkutuk, bedebah jahanam. Masa aku harus terangsang dan mencintai puteraku sendiri? Masa aku harus tergila-gila dan mengingini tubuh anakku? Oh, siluman keparat. Pergi kau, setan terkutuk. Enyahlah kau!"

Swi Cu menangis, tergetar dan ngeri oleh perasaannya sendiri dan dipanggil-panggillah nama suaminya. Wanita ini ketakutan namun sang suami belum juga pulang. Dan ketika malam semakin larut dan Swi Cu lupa akan maksudnya semula memanggil puteranya maka wanita itu kecapaian dan tertidur dengan tubuh dan mata basah. Keringat dan air mata sama-sama bercucuran dari tubuh wanita ini. Rasa khawatir dan berahi yang sudah padam membuat Swi Cu tertekan, kelelahan. Dan ketika bulan sudah condong ke barat dan wanita itu tertidur, pucat, maka masuklah sesosok bayangan dari luar jendela.

Swi Cu tak tahu itu dan sang bayanganpun menutup daun jendela, tenang dan berindap memasuki kamar. Langkahnya bagai seekor kucing yang sama sekali takmengeluarkan suara, begitu ringan dan perlahan. Tapi ketika lampu temaram di kamar itu memperlihatkan Swi Cu yang sedang tidur dengan pakaian kusut, ditepi pembaringan maka bayangan ini menahan napas melihat sedikit paha Swi Cu tersingkap.

Namun bayangan itu tak berbuat lain. Dia menggerakkan jarinya dan angin dingin berkesiur menyambar. Swi Cu yang terlelap tiba-tiba tertotok, jatuh tak sadarkan diri. Dan ketika wanita itu mengeluh dan sekejap membuka mata, kaget, maka bayangan itu bergerak ke lemari dan mencari-cari sesuatu, Swi Cu sendiri lalu roboh lagi dan lupa-lupa ingat akan bayangan ini.

Siapa dia? Bukan lain Han Han. Apa yang dilakukan? Mencari caping! Maka begitu dia bergerak menotok ibunya, agar sang ibu tidak terbangun maka Han Han sudah membuka lemari dan mencari-cari barang yang diinginkan itu. Pemuda ini memasuki kamar setelah melihat ibunya kelelahan, akhirnya sadar dari samadhinya dan mendengar bantingan gelas atau cangkir-cangkir itu. Pemuda ini terkejut dan melompat bangun, bergegas menyambar pakaiannya dan berkelebat ke kamar ibunya itu. Mungkin ada musuh datang. Han Han sudah bersiap-siap.

Tapi ketika dilihatnya ibunya menangis dan mengamuk sendirian, Han Han tak tahu sebabnya maka pemuda itu tertegun dan mengintai di luar kamar. Han Han mendengar ibunya memanggil-manggil sang ayah, juga mendengar Swi Cu mengumpat-umpat Golok Maut. Tapi karena nama itu disebut sekali dua saja dan Han Han membelalakkan mata maka keinginan tahu pemuda ini terpendam tak terjawab dan Han Han mulai merasa aneh akan semuanya itu.

Sebenarnya, secara diam-diam, dia pernah mendengar juga ayah atau ibunya berbicara tentang Si Golok Maut. Tokoh itu sering disebut-sebut dan kalau bicara tentang ini tentu ibunya tiba-tiba juga menangis, apalagi kalau menyebut-nyebut nama Wi Hong, suci atau kakak seperguruan ibunya itu, jadi termasuk supek-bo atau uwak guru perempuan baginya. Han Han akhirnya tahu juga bahwa dia masih mempunyai seorang supek-bo, suci dari ibunya itu. Tapi karena pemuda ini pendiam dan jarang bertanya maka Han Han menyimpan saja semua keheranan dan berbagai pikiran yang mulai berkecamuk diotaknya.

Mula-mula dia merasa heran bahwa beberapa murid Hek-yan-pang yang termasuk senior tak mau bicara tentang ini. Kalau dia bertanya di mana supek-bonya itu dan kenapa tak muncul di Hek-yan-pang maka murid-murid tertua tutup mulut. Mereka hanya bilang suruh saja bertanya kepada ibunya. Tapi ketika dia bertanya dan sang ibu menjawab pendek bahwa supek-bonya itu tak ada lagi maka ditutup agar dia tidak bertanya-tanya lagi.

"Memang ibumu mempunyai seorang saudara seperguruan perempuan. Tapi sudahlah, suci ibumu itu tak diketahui di mana rimbanya, Han Han. Dia orang aneh dan agak terganggu jiwanya. Mungkin dia sudah mati karena belasan tahun tak jumpa lagi dengan ibumu."

"Tapi ibu tak berusaha mencarinya? Kenapa begitu kejam?"

"Hm, dulu dia pernah mengacau di sini, Han Han. Dan ibu hampir saja celaka Supek-bomu itu dapat berbuat aneh-aneh, tidak waras. Tapi karena ayahmu dapat mengusirnya maka dia akhirnya pergi dan sampai sekarang tidak kembali lagi. Ibu enggan mencarinya, karena tentu bakal terjadi onar!"

"Kenapa dia mengacau, ibu? Apakah benar karena ibu merampas kedudukannya sebagai ketua?"

"Han Han!" sang ibu menghardik. "Kau bicara apa ini? Ibu tidak merampas, justeru ibu menyelamatkan Hek-yan-pang karena supek-bomu itu gila!"

"Kenapa dia gila? Apa yang menjadi sebab?"

Swi Cu tertegun. "Han Han," wanita ini tergetar. "Kenapa hari ini kau banyak bicara? Bukankah selamanya kau tak pernah mengusut dan mengusik-usik masa silam? Ibumu akan berduka kalau kau bicara tentang itu. Sebaiknya tanya saja ayahmu atau kau tak usah bertanya-tanya!"

Han Han diam, tak bertanya lagi. Memang dia pendiam dan selanjutnya tak bertanya-tanya. Apa yang didengar dan diketahui sedikit itu dipendam saja sebagai sesuatu yang kian menumpuk-numpuk. Aneh, tiba-tiba dia ingin tahu di mana dan bagaimana wajah supek-bonya itu. Ingin tahu dan kasihan kepada supek-bonya yang dikata gila, tidak waras. Kenapa gila? Kenapa tidak waras? Dan ketika suatu hari dia berjalan-jalan sendiri dan menemukan caping itu, caping yang menggetarkan hatinya maka Han Han seolah kenal caping itu sudah lama, seolah merupakan bagian dari hidupnya!

Han Han tertegun. Waktu itu, merenung sendirian sambil berjalan di belakang rumah tiba-tiba dua ekor katak berlompatan berkejar-kejaran. Mereka rupanya katak-katak yang kesiangan dan dua-duanya melompat-lompat lincah. Katak yang di belakang mengeluarkan suara mengorok dan Han Han berhenti, melihat katak itu akhirnya menerkam yang di depan tapi tepat bersamaan dengan itu katak di depan meloncat tinggi. Temannya terbawa tapi celaka mereka melompati sumur dan tiba-tiba terjatuh ke bawah, tak sampai menyeberang. Dan ketika Han Han melongok dan kasihan, bermaksud mengeluarkan sepasang katak itu dari sumur yang kering dan tak berair lagi maka dia melihat caping itu di lantai dasar.

Han Han terkejut. Selamanya dia belum pernah melongok karena sumur itu benda mati yang tak menarik lagi. Anak-anak murid Hek-yan-pang juga tak pernah menengok sumur ini karena airnya sudah kering dan habis. Sumur itu adalah sumur tua dan mati. Maka ketika secara kebetulan saja dia melihat caping itu di bawah, gara-gara dua ekor katak yang tercebur maka Han Han bergerak dan sudah memasuki lubang sumur itu.

Sesuatu yang aneh menariknya begitu besar. Han Han tak tahu bahwa itulah caping yang dulu dipakai mendiang Si Golok Maut Sin Hauw, terlempar dan jatuh ketika bertanding secara hebat dengan ayahnya, Beng Tan. Pertempuran yang begitu dahsyat hingga dua hari dua malam dua orang itu tak ada yang kalah atau menang. Dan ketika caping itu terlempar dan duapuluh tahun tergeletak di dasar sumur tanpa ada yang tahu atau mengusik maka hari itu Han Han menemukannya secara kebetulan, gara-gara dua ekor katak yang terjatuh.

Han Han sudah mengambil caping ini dan melupakan dua ekor katak itu sendiri. Dia bergerak dan melayang keluar, mengenakan caping itu dan berseri-seri karena begitu pas di kepalanya. Ah, bentuk kepalanya sesuai benar dengan pemilik caping lama. Begitu enak dan nyaman dipakai! Tapi ketika ibunya marah-marah dan menyerangnya gara-gara caping itu, hal yang membuat Han Han tertegun maka perasaan tertarik dan penasarannya akan caping itu membuat Han Han malam itu bergerak memasuki kamar ibunya.

Pemuda ini tak tahu kenapa ibunya menangis dan mengamuk sendirian. Dia tak tahu bahwa ibunya terguncang melihat keadaannya tadi, samadhinya yang telanjang bulat itu, karena Beng Tan tak pernah mengajarkan ilmu samadhi seperti ini kepada puteranya. Dan ketika Han Han menunggu dan melihat ibunya tertidur, kelelahan, maka niat untuk mencari caping itu tiba-tiba bangkit dengan cepat.

Han Han tak percaya bahwa ibunya telah membuang caping itu. Tidak, ibunya tak biasa untuk membuang barang milik orang lain. Maka ketika saat yang ditunggu tiba dan Han Han memasuki kamar ibunya, menotok agar ibunya tidak bangun maka segera pemuda ini membuka lemari dan mencari-cari benda itu. Dan benar saja, caping itu ada di dalam! Han Han melihat caping ini ditempelkan ibunya di dinding lemari, ditarik dan seketika berkesiurlah angin dingin dari belakang.

Tepat Han Han mengambil caping itu maka tepat saat itu pula sesosok bayangan berkelebat membentaknya. Han Han membelakangi orang ini dan terkejut ketika sebuah serangan tiba-tiba menghantam. Dia tak mendengar gerakan orang dan orang itupun tak melihat siapa sebenarnya Han Han, karena kamar itu temaram dan Han Han hanya memberikan punggungnya. Tapi begitu Han Han membalik dan menangkis pukulan ini, bentakan yang dikenalnya sebagai suara ayahnya maka Han Han sudah mengelak sekaligus melempar tubuh bergulingan.

"Ayah... dess!"

Dua-duanya terkejut. Penyerang itu, Beng Tan, memang tak menyangka bahwa puteranyalah yang ada di dalam kamar itu. Dia tadi berkelebat dan melihat jendela kamar isterinya terbuka, terkejut dan berdebar serta curiga bahwa sesuatu telah terjadi, apalagi ketika isi kamar itu berantakan dan Beng Tan melihat sesosok bayangan membuka lemari pakaian. Beng Tan baru saja datang dari tempat Tek-wangwe dan malam itu terlambat pulang karena dia bertemu beberapa orang lainnya lagi, di mana semuanya itu menunda waktu perjalanannya tapi malam itu juga pendekar ini terus kembali, meskipun sudah lewat tengah malam.

Maka ketika dia melihat jendela isterinya terbuka sementara meja kursi jungkir balik tak keruan maka Beng Tan terkesiap dan segera menduga bahwa musuh yang berbahaya datang, mencelakai isterinya dan dilihatnya "musuh" itu mencari-cari sesuatu di dalam lemari. Beng Tan tak tahan lagi dan dibentaklah bayangan itu serta diserangnya dengan pukulan Pek-lui-ciang. Tapi ketika bayangan itu memanggil namanya dan kiranya bukan lain adalah puteranya sendiri, Han Han, maka pukulan yang sepenuh tenaga itu cepat dikurangi dan akibatnya mereka sama-sama terbanting.

"Kau..?" Beng Tan melompat bangun dengan kaget, terbelalak. "Apa yang kau lakukan di sini, Han Han? Dan... dan kenapa ibumu?"

Han Han tertegun. Dia tak segera menjawab dan sang ayah tiba-tiba menotok membebaskan isterinya itu. Swi Cu memang dalam pengaruh totokan karena diapun segera sadar begitu mendengar ribut-ribut itu. Wanita ini terkejut karena ketika dia sadar ternyata tubuhnya tak dapat digerakkan. Tapi begitu suaminya membebaskan dan Swi Cu girang memanggil perlahan maka wanita itu meloncat bangun dan tertegun melihat Han Han ada disitu.

"Kau... ada apa di sini? Kenapa kau memasuki kamar ibumu? Apa yang kau lakukan?"

"Maaf..." Han Han menunduk, tak dapat menyembunyikan diri lagi. "Aku ke mari untuk mencari ini, ibu. Aku datang untuk mengambil ini..."

"Astaga, caping itu lagi!" Swi Cu tiba-tiba membentak, berkelebat dan merampas caping itu. "Kau terlalu dan kurang ajar, Han Han. Kau tak pantas membuat ibumu malu seperti ini. Terkutuk... plak-plak!" dan Han Han yang mendapat tamparan dua kali di pipi kiri dan kanan akhirnya terhuyung dan pucat memandang ibunya itu. Swi Cu tiba-tiba marah sekali dan membanting caping itu, menginjak-injak. Tapi sebelum ibunya itu berbuat terlalu jauh tiba-tiba Han Han berkelebat dan menyambar caping itu, ibunya kalah cepat.

"Ibu, jangan kejam. Caping ini tak berdosa, dia punyaku!" dan Swi Cu yang terdorong serta terhuyung kaget tiba-tiba terbelalak merah memandang puteranya itu, beringas, mata berapi-api.

"Kau mau menghina ibumu? Kau mau melawan ibumu? Baik, lawanlah aku, Han Han. Bunuhlah ibumu dan coba kau dorong aku lagi!" dan sang ibu yang berkelebat dan menyerang puteranya lalu membentak dan memaki-maki Han Han. Kaki dan tangannya bergerak naik turun dan Han Han membiarkan ibunya menghajar dirinya kecuali caping itu.

Setiap ibunya mau merampas atau merebut kembali caping itu selalu Han Han menyelamatkannya dengan baik. Pemuda ini menggerakkan tangannya ke kiri dan kanan pula hingga caping itu luput, sang ibu tak dapat merampas! Dan ketika Han Han ditendangi dan suara bak-bik-buk pukulan dibiarkan saja mendarat di tubuhnya maka Swi Cu melengking-lengking tak dapat merebut caping di tangan puteranya itu.

"Han Han, berikan padaku, atau kau kubunuh!"

"Bunuhlah," Han Han menggigit bibir. "Kau sewenang-wenang dan kejam, ibu. Kalau kau ingin merampas benda milikku biarlah kau bunuh aku dulu dan aku tak akan melawan!"

"Ah, terkutuk. Bedebah!" dan Swi Cu yang semakin marah dan benci memandang puteranya lalu menyerang Han Han dengan dua pukulan Pek-lui-ciang.

Beng Tan sampai kaget melihatvisterinya sekalap itu, Han Han tak mengelak dan membiarkan saja pukulan ibunya mendarat, padahal Swi Cu menghantam sekuat tenaga. Dan ketika Beng Tan bergerak dan menangkis pukulan itu, membentak isterinya maka Swi Cu terpental tapi ibu yang marah itu masih melakukan tendangan dari bawah menghantam dada puteranya.

"Dess!" Han Han terbanting dan terlempar roboh. Beng Tan berteriak karena isterinya betul-betul mata gelap. Anak sendiri sampai benar-benar tega mau dibunuh. Dia sudah menangkis tapi tendangan dari bawah itu tentu saja luput dari perhatian, akibatnya Beng Tan pucat dan berteriak akan keselamatan puteranya itu. Han Han jelas tak mengerahkan sin-kang, berarti, siap menerima kematian! Tapi ketika pendekar ini berkelebat dan menolong puteranya, khawatir, ternyata Han Han dapat bangkit berdiri dan tak apa-apa.

"Bocah keparat, bocah terkutuk!" sang isteri memaki-maki geram. "Kau benar-benar membuat malu ibumu, Han Han. Kau anak tak tahu diri. Aku akan benar-benar membunuhmu!"

"Sudahlah, tahan!" Beng Tan membentak, cepat berdiri menengahi di tengah. "Kau kalap tak sewajarnya, Cu-moi. Kau membingungkan aku dengan semuanya ini. Ada apa sebenarnya dan kenapa Han Han lancang memasuki kamarmu."

"Aku hanya mau mengambil caping..."

"Aku sudah tahu," sang ayah memotong. "Tapi ganjil dan aneh sekali rasanya malam-malam begini kau ke sini, Han Han. Kau seperti pencuri!"

"Ibu tak mau memberikannya kepadaku pagi tadi," Han Han menjawab, menunduk. "Aku memang salah, ayah. Dan aku siap menerima hukuman, kematian sekalipun!"

"Hm!" sang ayah mencengkeram pundak puteranya. "Bukan begitu bicara yang baik, Han Han. Kami adalah orang tuamu, kau puteraku. Tak mungkin seorang ayah akan membunuh anaknya!"

"Tapi ibu tadi betul-betul mau membunuhku..."

"Hm, ibumu khilaf, kalap. Sudahlah, kau boleh pergi kalau betul-betul ingin mengambil barang milikmu, Han Han. Tapi besok tunggu aku dan kita bicara!"

"Tidak!" Swi Cu tiba-tiba melengking. "Benda terkutuk itu tak boleh di tangannya, suamiku. Berikan padaku dan biar kita hancurkan!"

"Hm!" Beng Tan mencengkeram pundak sang isteri, ganti menahan. "Kau juga salah, Cu-moi. Benda itu adalah milik Han Han, dan apa yang dimiliki orang lain tentunya tak berhak kita miliki. Dia anakmu, bukan musuh. Tenanglah dan biarkan dia pergi!" dan berkedip agar Han Han cepat pergi, meninggalkan ibunya yang marah bukan main maka Han Han menunduk dan pedih meninggalkan kamar itu, tak terlihat bekas-bekas pukulan tadi dan Beng Tan tiba-tiba teringat sesuatu, berkelebat dan menahan Han Han sebentar untuk kemudian dipencet punggungnya. Dan ketika pendekar ini merasakan segumpal tenaga dahsyat menolak pencetannya, tertegun, maka pendekar itu terbelalak memandang puteranya.

"Kau memiliki tenaga sakti yang bukan ajaran ayahmu! Eh, dari mana kau dapatkan ini, Han Han? Apa yang telah terjadi padamu?"

"Dia melatih sinkang dengan cara berjungkir balik!" sang ibu tiba-tiba berseru, teringat. "Anak kita itu rupanya melatih ilmu sinkang sesat, suamiku. Sungguh tak kunyana dan tak kuduga kalau diam-diam dia belajar ilmu milik orang lain!"

"Hm-hm!" Beng Tan jadi tertegun-tegun, melebarkan matanya memandang puteranya itu. "Kau melatih ilmu sesat, Han Han? Tanpa sepengetahuan ayah ibumu?"

Han Han menunduk. "Ayah tentu lebih tahu apakah sinkang yang kulatih itu ilmu sesat atau bukan. Kalau sesat barang kali ibu tak akan bangun lagi sewaktu tadi memukulku."

"Hm, luar biasa. Aneh, aku memang harus mengakui kebenaran omonganmu. Baiklah, besok kita bicara, Han Han. Dan sekarang tinggalkan kami karena aku ingin bicara dengan ibumu!"

Han Han mengangguk. Sekilas dia melirik ibunya dengan muka merah karena tadi ibunya berkata tentang cara berlatih sinkangnya itu. Berarti ibunya tahu bahwa dia telanjang bulat. Berarti, ah... ibunya telah mengintai. Atau, mungkin bahkan masuk ke kamarnya karena waktu itu ia lupa mengunci pintu kamar. Tapi ketika pemuda itu bergerak dan meninggalkan ibunya maka Beng Tan menutup pintu itu dan kini pendekar ini menghadapi isterinya, yang kelihatan "stress".

"Ceritakan padaku semua asal mula ini. Kenapa isi kamar jungkir balik dan bagaimana kau tahu Han Han bersamadhi dengan caranya jungkir balik itu!"

"Aku... aku pagi tadi menolak permintaannya. Han Han datang kepadaku dan bicara tentang caping itu. Aku marah-marah dan bilang sudah kubuang!"

"Hm, kenapa begitu? Kau berjanji untuk menyimpannya, Cu-moi, bukan untuk membuang atau menghancurkan. Dalam hal ini aku terpaksa membela Han Han."

"Ya, aku salah. Tapi... tapi aku benci caping itu, suamiku. Itu mengingatkan aku kepada Sin Hauw! Aku benci Han Han mengenakan caping!"

"Dan kau, bagaimana tahu puteramu melatih sinkang berjungkir balik? Kapan kau melihatnya?"

"Aku... aku melihatnya secara kebetulan. Sejak Han Han gagal mendapatkan caping itu maka sehari penuh dia mengurung diri di kamar, bahkan sampai malam. Aku datang untuk mengajaknya makan, membuang sepiku karena kau belum kembali. Tapi ketika aku memasuki kamar itu tiba-tiba saja.... tiba-tiba saja..."

"Tiba-tiba apa?" sang suami tertegun, melihat isterinya pucat dan menggigil. "Kau melihatnya berjungkir balik itu?"

"Ya, tapi... tapi bukan hanya itu, suamiku. Melainkan Han Han telanjang bulat dan mengatur napasnya naik turun!"

"Telanjang bulat?" Beng Tan terkejut. "Dia berlatih sinkang dengan cara demikian aneh? Dan kau masuk saja tanpa memberi tahu?"

"Tidak... tidak. Aku memanggilnya berulang-ulang tapi ketika tetap saja tak ada jawaban maka aku mendobrak pintu kamarnya itu dan siap memaki. Namun anak itu bersamadhi seperti patung, pintu dibantingpun tidak terdengar!"

"Hm, tanda betapa tinggi dan khusuknya dia berlatih..."

"Benar, dan aku terkejut, suamiku. Baru kali itu kita orang tuanya tahu!"

"Dan kau, mengapa lalu membanting-bantingi meja kursi ini? Kenapa mengamuk sendirian dikamar?"

"Aku marah kepadanya, juga kepadamu kenapa tak segera pulang. Dan... dan karena aku benci caping itu maka aku marah-marah tanpa sebab dan Han Han datang ke mari mencari barang miliknya!"

"Hm!" Beng Tan tentu saja tak tahu apa yang disembunyikan isterinya itu, tak mungkin Swi Cu harus berterus terang bahwa dia marah-marah karena terangsang melihat Han Han telanjang, hal yang tentu saja membuatnya malu dan jengah karena itu tak pantas.

Wanita ini tak tahu bahwa sesungguhnya Han Han bukanlah puteranya. Han Han adalah putera Si Golok Maut Sin Hauw yang ditukar oleh encinya Wi Hong dulu. Jadi, tak aneh kalau wanita itu tergetar dan terangsang oleh lawan jenis yang bukan darah dagingnya sendiri karena Han Han adalah tiruan Sin Hauw. Melihat Han Han sebenarnya sama dengan melihat Si Golok Maut Sin Hauw itu, waktu masih muda. Maka ketika Swi Cu tergetar oleh birahi tapi hal itu tentu saja tak dikatakannya kepada sang suami maka Beng Tan mengangguk-angguk dan diam-diam heran serta kaget bahwa puteranya itu memang memiliki sinkang yang di luar pengetahuannya.

Tadi puteranya itu sudah ditendang dan tendangan maut yang tidak ditangkis Han Han itu dapat berakibat fatal Setidak-tidaknya, Han Han bisa muntah darah dan patah sebuah atau dua tulang iganya. Tapi ketika pemuda itu tak apa-apa dan Beng Tan merasa adanya tenaga tolak yang seperti karet, yang tadi menolak dan mementalkan tendangan isterinya maka malam itu Beng Tan menghibur isterinya dan mengajak tidur. Malam itu dia bercerita bahwa beberapa orang ditemuinya di tengah jalan, bercakap-cakap dan menunda perjalanannya. Dan ketika sang isteri tenang dan dapat dibujuk, tertidur di pelukannya maka keesokannya pendekar ini memanggil puteranya di serambi depan, Swi Cu tak dibawa.

"Kau ceritakan kepadaku bagaimana kau demikian tergila-gila dengan caping bambu itu, sampai kau tak segan bertengkar dengan ibumu. Dan dari mana pula kau dapatkan cara berlatih sinkang yang aneh itu!"

Han Han menunduk. Pagi itu, dengan wajah kuyu dan sendu pemuda ini menghadap. Seperti biasanya, Han Han berbaju putih dan membiarkan saja kelebihan ujung bajunya yang menyembunyikan kesepuluh jari-jari tangannya yang kokoh itu. Pemuda ini menunduk dan tidak segera menjawab. Tapi ketika dia ditanya lagi dan memang dengan ayahnya inilah dia merasa dekat dan lebih disayang, karena Beng Tan tak pernah marah-marah kepadanya maka pemuda itu menarik napas dan menekan debaran jantungnya.

"Aku tak tahu bagaimana aku demikian senang dan suka dengan caping itu, ayah. Tapi aku merasa seakan caping itu adalah bagian dari hidupku. Caping itu bagus, demikian penglihatanku. Dan aku suka kepadanya. Aku merasa bahwa barang ini seolah milikku sendiri yang hilang."

"Hm, dan cara melatih sinkang dengan berjungkir balik itu?"

"Aku mendapatkannya dari sebuah kitab kecil..."

"Apa? Sebuah kitab?"

"Ya, sebuah kitab, ayah. Aku coba-coba melatihnya dan merasa cocok. Aku merasa aliran darahku bertambah lancar dan sehat. Aku merasa sesuatu yang enak dan nyaman."

"Hm, kitab apa itu? Dari mana?"

Han Han ragu. "Ayah akan merampasnya pula?"

Beng Tan merah. "Kalau itu kitab yang baik tentu tak perlu aku merampasnya, Han Han. Tapi kalau kitab itu berisi pelajaran-pelajaran sesat tentunya kau sendiri harus membuangnya!"

"Tidak, kitab ini hanya berisi pelajaran sinkang, ayah. Tidak ada pelajaran lain!"

"Dari mana kau dapatkan itu!"

"Dari sumur tua, di belakang rumah”

"Hm, bersama caping itu juga?"

Han Han mengangguk.

"Ke mari, berikan padaku, Han Han. Coba aku melihatnya!" dan Han Han yang mengambil sebuah kitab dari balik sakunya lalu tanpa ragu memberikannya kepada ayahnya.

Ayahnya memang lain dengan ibunya. Ayahnya ini lebih penyabar dan penuh sayang, sudah berapa kali dibuktikannya bahwa kalau ibunya marah-marah maka ayahnya inilah yang maju membela. Maka begitu sang ayah meminta dan Han Han memberikan maka kitab kecil itu sudah diterima Beng Tan. Tapi begitu Beng Tan membuka dan mempelajari isinya tiba-tiba pendekar ini mencelat dan berseru tertahan.

"Pelajaran dari Si Golok Maut!"

Han Han terkejut. Dia melihat ayahnya terguncang dan tampak betapa wajah ayahnya itu berubah-ubah. Beng Tan menggigil dan pucat serta merah berganti-ganti. Pendekar itu terkejut bukan main. Tapi ketika dia sadar dan Han Han bangkit berdiri maka kitab itu tiba-tiba dibanting.

"Han Han, ini kitab yang tak baik bagimu. Ah, dari seorang gila. Kau tak boleh mempelajarinya dan jangan berlatih lagi!" kitab tiba-tiba hancur, remuk menjadi serpihan-serpihan kecil dan Han Han kaget bukan main. Ayahnya itu tak menepati janji dan sekarang merusak barang miliknya begitu saja. Tanpa ijin! Dan ketika pemuda ini pucat dan gemetar membelalakkan mata maka Beng Tan tiba-tiba beringas dan memandang puteranya itu, sinar matanya bagaikan api!

"Apa lagi yang kau dapatkan selain ini. Apa lagi yang kau simpan!"

"Tidak ada..." Han Han menggigil dan lemah menjawab. "Aku tak menyimpan apa-apa lagi, ayah. Tapi... tapi kenapa kau menghancurkannya!"

"Itu milik Si Golok Maut. Itu milik orang gila. Kalau benar kau tak mendapat apa-apa lagi coba bawa aku ke sumur tua itu... wut!" dan Beng Tan yang menyambar serta menarik puteranya lalu berkelebat dan menuju belakang rumah. Han Han telah berkata bahwa kitab itu ditemukan di belakang rumah, di sumur tua itu.

Kini Beng Tan ingin menyelidiki dan ingin tahu lebih jauh. Dan ketika mereka tiba di sumur tua itu dan Han Han menuding maka pemuda ini berkata bahwa kitab itu didapat di bawah, di dasar sumur. Sang ayah tak bertanya lagi karena tiba-tiba bergerak dan sudah lenyap memasuki sumur tua itu. Beng Tan berkelebat dan hilang di dalam. Dan ketika Han Han menunggu dan sang ayah mencari-cari maka ketua Hek-yan-pang itu keluar lagi dengan menjepit sepasang katak jantan dan betina.

"Tak ada apa-apa lagi, hanya ini!"

Han Han tertegun. Teringatlah dia akan sepasang katak yang berkejar-kejaran itu, kini ayahnya membawa naik dan itulah katak yang dulu menjadi gara-gara hingga dia menemukan caping dan kitab berlatih sinkang, yang kata ayahnya adalah milik Si Golok Maut. Dan karena dia sudah mulai sering mendengar nama ini disebut-sebut sementara anak-anak murid Hek-yan-pang tak berani mempercakapkannya setiap ditanya maka begitu ayahnya keluar segera pemuda ini menghampiri, ayahnya sudah melempar sepasang katak itu namun binatang-binatang ini kembali lagi dan. lenyap ke sumur. Rupanya sudah kerasan!

"Ayah, siapa sebenarnya Si Golok Maut itu? Kenapa berkali-kali kau membicarakannya?"

"Hm, dia... dia musuh ayahmu yang paling lihai, Han Han. Seorang gagah tapi dipenuhi dendam yang membuatnya gila. Dia pernah bertanding di sini dan sekarang aku ingat apa yang terjadi. Kiranya, caping yang kau dapatkan itupun adalah miliknya!"

Han Han terkejut. "Miliknya?"

"Ya, tak salah. Benda itu asli miliknya, Han Han. Itu milik Si Golok Maut. Dan kitab itu, hmm... rupanya terjatuh setelah pertandingan kami yang dua hari dua malam!"

"Hebatkah dia? Betul-betul saktikah dia hingga ayah tak mampu merobohkannya?"

"Hm, Golok Maut tokoh yang luar biasa, Han Han. Dia memang hebat dan sakti. Tapi diapun tak mampu mengalahkan ayahmu. Kami seri!"

"Kalau begitu ceritakan padaku kenapa ayah bermusuhan dengannya. Dan bagaimana dia tewas! Benarkah dikeroyok ribuan orang pasukan kerajaan?"

"Kau sudah tahu?"

”Sebagian saja, ayah. Tapi tidak lengkap. Aku ingin tahu dan apa saja yang pernah terjadi antara ayah dengannya!"

"Hm, aku tak ingin bercerita. Kisah itu membawa kenangan yang buruk. Sudahlah, aku tak ingin kau tahu tentang tokoh ini, Han Han. Dan sekarang aku tahu pula bahwa caping yang kau dapatkan itu adalah miliknya. Buang benda itu dan jangan pelajari pula ilmu sinkangnya itu!"

"Tidak!" Han Han tiba-tiba pucat. ”Aku... aku tak merasa apa-apa dengan semuanya itu, ayah. Aku tak merasa bahwa ilmu yang kupelajari adalah sesat. Dan... dan sesungguhnya aku menaruh kagum kepada tokoh ini. Aku ingin tahu tentang dia lebih banyak!"

"Apa?" sang ayah melotot. "Kau mengagumi orang gila itu? Kau tidak mau mendengarkan kata-kata ayahmu?"

"Maaf, aku.. aku tak dapat melaksanakan kata-katamu itu, ayah. Kalaupun kau memaksa maka hati ini yang tak dapat ditundukkan. Ayah telah menghancurkan kitab yang kutemukan itu, dan sekarang ayah ingin aku membuang caping itu. Salah apakah aku hingga kau bersikap kejam, ayah? Kenapa tiba-tiba kaupun sama dengan ibu?"

"Eh, aku tak mau banyak berdebat, Han Han. Aku tak mau menjawab semuanya itu. Yang jelas, aku tak ingin kau ketularan penyakitnya. Buang caping itu dan jangan sekali-kali memakainya. Atau aku akan menghajarmu dan terpaksa memberimu adat!"

"Ayah...!"

"Tidak, juga tentang ilmu berlatih sinkang itu, Han Han. Kalau kau melatihnya maka aku tak mau menganggap kau sebagai puteraku lagi!"

Han Han pucat. Pemuda itu tiba-tiba menggigil hebat dan sang ayah tak tanggung-tanggung. Selain melarang dia menyimpan caping itu juga melarang dia melatih sinkang dari kitab yang sudah dihancurkan ayahnya tadi. Han Han tiba-tiba tak tahan dan air matapun bercucuran. Ayahnya begitu bengis dan keras sekarang, padahal belum pernah sikap itu selama ini diperlihatkan. Dan ketika Beng Tan tertegun dan tak tahan melihat puteranya menangis, hal yang luar biasa sekali maka tiba-tiba sang ayah ini berkelebat dan pergi meninggalkan puteranya itu.

Han Han telah diancam untuk membuang semua benda-benda yang pernah dimiliki Si Golok Maut. Han Han telah disuruh pula untuk tidak menyimpan caping itu. Padahal sekarang Han Han justeru semakin ingin mempertahankannya setelah tahu bahwa itulah benda milik seorang tokoh yang dikaguminya, tokoh yang menarik namun sayang selama ini tak pernah dia dengar ceritanya. Yang ada hanyalah cerita sepotong-sepotong dan itu tentu saja tak memuaskan. Dan ketika sang ayah pergi dengan marah dan baru kali itu Han Han diancam untuk tidak diakui sebagai anak, pukulan yang amat berat tiba-tiba Han Han mengeluh dan roboh terguling.

Selanjutnya pemuda ini menangis tersedu-sedu dan timbullah penasaran serta kecewanya yang amat hebat. Kenapa ayahnya sebengis itu dan kejam, tak mengenal ampun? Apa salahnya hingga kitab dan caping harus dihancurkan? Dan ketika ayahnya tadi berkata bahwa besok caping itu sudah harus dimusnahkan, di depan ayahnya, tiba-tiba pemuda ini mengguguk dan orang akan terkejut kalau melihat betapa pemuda yang biasanya pendiam dan amat tenang ini sekonyong-konyong berobah seperti anak kecil yang tidak punya pegangan.

Han Han tersedu dan menutupi mukanya dengan air mata bercucuran. Pemuda itu terpukul hebat oleh ancaman ayahnya. Namun ketika dia bangkit berdiri dan wajah yang seram tiba-tiba menggantikan kedukaannya tiba-tiba Han Han berkelebat dan pergi meninggalkan sumur tua itu. Semalam dia dibenci dan dimarahi ibunya, nyaris dibunuh. Dan ketika sekarang ayahnyapun kehilangan kasih sayang dan bersikap kejam, hal yang tak dimengerti pemuda ini tiba-tiba kekecewaan berobah menjadi rasa marah yang luar biasa.

Beng Tan tak tahu bahwa Han Han adalah keturunan Si Golok Maut. Watak dan pembawaan Si Golok Maut tentu saja menurun pada pemuda ini, karena Han Han sebenarnya adalah Giam Liong, Si Naga Maut atau Naga Pembunuh yang kelak menggegerkan dunia kang-ouw, jauh lebih menggegerkan daripada sepak terjang ayahnya dulu. Maka begitu dia diancam untuk tidak diakui anak, kalau tetap mempertahankan caping dan ilmu sinkang itu tiba-tiba "jiwa pemberontak" yang mudah berkobar di hati pemuda ini sekonyong-konyong bangkit dan menerima tantangan!

Han Han tak takut dan merasa ayahnya bersikap terlalu. Semalampun dia rela dibunuh ibunya gara-gara mempertahankan caping itu, yang sebenarnya adalah barang milik mendiang ayahnya dan tentu saja getaran gaib yang ada antara ayah dan anak bekerja. Beng Tan tak tahu semuanya itu karena memang tak menduga. Pendekar itu tak menyangka bahwa "puteranya" ini bukanlah puteranya. Anaknya sendiri, anak kandung, telah ditukar oleh Wi Hong dan dibawa lari. Semua itu tak diketahui Beng Tan dan tentu saja dia tak tahu bahwa watak pendendam dan mudah marah ada pada puteranya ini. Kalau Han Han sudah ditantang maka setan-pun akan dia lawan. Jangankan orang tua, iblispun dia tak gentar!

Maka begitu diancam dan Han Han merasa tak bersalah, ayah dan ibunya dianggap terlalu maka malam harinya, setelah sehari penuh dia menutup pintu kamar tiba-tiba pemuda ini bergerak dan meluncur membelah telaga. Siang tadi sudah dipikirnya untuk pergi namun anak-anak murid Hek-yan-pang pasti mengetahuinya. Dia ingin pergi secara diam-diam dan untuk itu ditunggunya sampai malam tiba.

Dan ketika malam datang dan dia sudah menyiapkan semua buntalannya, pakaian dan roti-roti kering maka pemuda itu berkelebat dan membuka pintu kamarnya. Han Han tak mau lewat depan karena ayah ibunya mungkin tahu. Karena itu begitu ia menutup pintu kamarnya kembali dan melesat ke kiri, ke samping rumah maka pemuda ini sudah bergerak dan menuju telaga.

Hek-yan-pang, sebagaimana diketahui, adalah markas perkumpulan yang berada di tengah sebuah telaga. Perkumpulan itu dikelilingi air telaga yang tak pernah surut dan untuk masuk keluar tentu saja harus mempergunakan perahu. Tapi ketika Han Han berada di sini dan melepas sepatunya, melempar dan mempergunakan itu sebagai perahu maka "perahu" aneh yang dipergunakan pemuda ini sudah meluncur dan bergerak tanpa suara!

Itulah demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi. Swi Cu, ibunya sendiri, masih belum berani melakukan seperti apa yang dilakukan pemuda ini. Yang dipergunakan wanita itu adalah batang pisang, karena batang pisang mampu mengapung dan tinggal dikemudikan saja, meskipun tentu saja harus memiliki ilmu meringankan tubuh karena tanpa itu tentu batang pisang tak akan meluncur dengan cepat. Perahu sendiri akan kalah cepat kalau diadu lari dengan wanita itu. Tapi Han Han yang mampu mempergunakan sepasang sepatunya untuk bergerak dan membelah telaga tentu bakal membuat bengong anak-anak murid yang melihatnya, karena hal itu hanya ketualah yang mampu mengimbangi. Dan Han Han memang sudah setingkat dengan ayahnya!

Ada dua hal mengapa pemuda itu tidak mempergunakan perahu. Pertama, kalau dia mengambil, tentu perahu yang hilang akan segera diketahui anak-anak murid yang berjaga, karena betapapun tepian telaga hampir penuh oleh anak-anak murid yang berjaga. Kedua, karena perahu tentu akan menimbulkan suara beriak, hal yang tak dikehendaki Han Han maka jadilah pemuda itu mempergunakan sepasang sepatunya sendiri untuk bergerak dan meluncur di tengah telaga. Dengan begini dia dapat meninggalkan pulau tanpa suara.

Perahu aneh yang ditungganginya itu memang nyaris tak beriak. Han Han telah mempergunakan seluruh ilmu meringankan tubuhnya agar sama sekali tak menerbitkan suara. Han Han ibarat sebuah daun kering yang menempel di atas sepatu itu, ditiup atau didorong oleh angin yang bergerak hingga mendorongnya maju. Dan ketika pemuda itu tiba di daratan seberang tapi tetap tak berani gegabah untuk mengeluarkan suara maka begitu pemuda ini menendang sepatunya ke atas maka sambil berjungkir balik mengejar sepatu itu pemuda ini sudah mengenakannya di udara.

"Cep- cep!"

Sepatu itu telah melekat di kedua kaki dengan cara luar biasa. Han Han telah melayang turun dan hinggap di tanah dengan kedua sepatu seperti semula. Kakinya terbungkus rapat, tanpa salah! Dan ketika pemuda itu bergerak dan menyelinap menerobos perumahan di luar telaga, yang rata-rata dihuni anak-anak murid lelaki maka pemuda itu sudah terbang dan meninggalkan Hek-yan-pang, seperti siluman!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan terkejutnya ayah ibunya di dalam. Beng Tan yang tak menyangka puteranya akan pergi tiba-tiba tertegun melihat sepucuk surat yang ditinggalkan. Han Han memang meninggalkan sepucuk surat untuk ayah ibunya itu. Dia berkata bahwa lebih baik dia pergi daripada ayah ibunya sudah tak memiliki kasih sayang lagi. Dia akan mempertahankan caping yang dipertengkarkan dengan taruhan nyawa. Biarlah ayahnya tak mengakuinya anak karena ayahnya itu memang sudah kehilangan kasih sayang. Han Han telah menunjukkan jiwa mudanya yang bergemuruh. Sang ayah terpaku. Han Han minggat!

Tapi ketika Swi Cu menjerit dan menyobek-nyobek surat itu, memaki-maki puteranya tiba-tiba ibu yang ikut terpukul ini mengguguk dan membanting-banting kakinya. "Han Han, kau tak pantas sebagai putera ayah ibumu. Kau lebih pantas sebagai putera Sin Hauw! Ah, jahanam terkutuk kau, anak keparat. Tak tahu diuntung dan dibaiki orang tua. Biarlah... biar kau minggat karena kasih sayang itu memang tak ada lagi dihatiku!"

"Tidak," Beng Tan tiba-tiba terkejut, sadar. "Kau... kau tak boleh bicara seperti itu, Cu-moi. Han Han adalah anak kita satu-satunya. Dia darah daging kita, anak tunggal. Aku harus menyusul dan menyuruhnya kembali!"

"Kau mau menjilat ludahmu sendiri?" sang isteri melengking, menyambar ujung baju suami. "Kau mau tak dihargai anak itu? Tidak, biarkan ia sendiri, suamiku. Dan lihat siapa yang harus tunduk. Aku jadi benci kalau anak sudah tak mau dinasihati orang tua. Biarkan dia, lepaskan saja!"

"Ah, kau tak khawatir akan sepak terjangnya di luar? Kau benar-benar tak memiliki kasih sayang seorang ibu?"

"Aku tak perlu bohong kepada diriku sendiri, suamiku. Han Han tak mirip dirimu, la mirip Sin Hauw. Aku... aku melihatnya sebagai Sin Hauw. Aku benci anakku itu!" dan Swi Cu yang menangis serta menubruk suaminya lalu tersedu-sedu menceritakan perasaan hatinya yang tak keruan. Betapa dia sudah tak memiliki kasih sayang lagi sebagaimana layaknya seorang ibu. Betapa dia membenci puteranya itu setelah Han Han menemukan caping Sin, Hauw. Mendiang Si Golok Maut itu rupanya menurunkan musibah kepada mereka. Tokoh yang amat pendendam itu rupanya masih mau mengganggu mereka lewat Han Han. Maka ketika Swi Cu menangis dan memaki-maki pula Si Golok Maut itu tiba-tiba suaminya menggigil dan mencengkeram lengannya.

"Cu-moi, orang yang sudah mati tak perlu diungkit-ungkit lagi. Kau tak perlu memaki-maki. Diamlah dan jangan membuat aku bingung!"

"Siapa yang lebih bingung? Kau atau aku? Akupun juga bingung, suamiku. Kenapa Sin Hauw masih mengejar-ngejar kita dari alam baka. Padahal kita sama sekali tak mengganggunya dan bahkan menghormatinya. Ah, kalau aku bertemu dengannya di alam baka tentu akan kulabrak dan kumaki-maki dia di sana!"

"Sudahlah, sudah... aku bingung bukan karena Sin Hauw. Aku bingung akan anak kita itu. Aku bingung akan Han Han. Aku telah bersikap terlalu keras dan kejam..."

"Siapa bilang? Kau sudah benar, suamiku. Han Han tak layak menyimpan atau memakai caping itu. Itu benda terkutuk milik Si Golok Maut. Nanti dia kena tulah dan dosa-dosanya. Kalau dia tak mau menuruti omongan orang-orang tua biarlah dia mendapat celaka disana!"

"Hush, kau mengutuk anak sendiri? Kau mendoakannya jelek diperjalanan?"

"Biar, suamiku. Biar. Aku tak perduli. Han Han tak menurut pada kita dan membuat sakit ayah ibunya!"

"Tapi dia anak tunggal, anak semata wayang..."

"Aku masih muda. Aku masih dapat memberikan keturunan lagi untukmu!" dan ketika Beng Tan tertegun dan semburat merah, kaget, maka isterinya sudah mengguguk dan lari meninggalkan kamar, itu.

Kepergian Han Han tiba-tiba saja bukannya membuat anak itu disayang tapi malah semakin dibenci oleh isterinya. Beng Tan was-was jangan-jangan isterinya itu tidak waras. Anak sendiri sampai diperlakukan sedemikian rupa. Ngeri dia! Tapi ketika dia dihadapkan pada dua kemungkinan untuk menyusul Han Han atau menghibur isterinya itu, yang terguncang, tiba-tiba pendekar ini terhuyung melangkah pergi untuk menyusul isterinya.

Beng Tan menggigit bibir karena isterinya benar. Han Han dinilai tak patuh sebagai anak yang baik. Anak itu bahkan menerima tantangannya dan pergi, hanya untuk membela sebuah caping bambu. Caping Si Golok Maut! Dan ketika pendekar itu menutup pintu kamar dan mengikuti isterinya maka Han Han bertualang dengan maut...!

Naga Pembunuh Jilid 06

NAGA PEMBUNUH
JILID 06
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
"BRESS!" Dua tumpukan papan tiba-tiba dipukul orang. Dari bawah tiba-tiba muncul dua tubuh laki-laki itu, pemuda dan ayahnya. Dan ketika Eng Sian Taijin dan Tiong Liang Hwesio terkejut karena itulah Beng Tan dan anaknya maka ketua Hek-yan-pang itu membentak,

"Han Han, jangan membunuh orang. Tahan keberingasan dirimu!" dan ketika pendekar itu meloncat dan berjungkir balik dari timbunan lantai panggung maka Han Han sendiri juga sudah meloncat dan berjungkir balik melepaskan diri, hinggap dan melayang turun jauh dari tempat semula.

Panggung itu beserta atapnya sudah tak dapat dipergunakan lagi. Lucu dan juga menyedihkan ketika melihat puluhan orang lain kini merangkak dan merintih-rintih dari lantai panggung yang menimpa mereka. Itulah para tamu yang tak sempat menyelamatkan diri ketika panggung runtuh. Mereka tertimbun dan terkubur hidup-hidup. Tapi ketika semua keluar dan merangkak satu per satu, hanya menderita lecet-lecet atau luka ringan maka Eng Sian Taijin yang terbelalak dan diam-diam ngeri melihat kedahsyatan Han Han sudah melihat Pek-jit Kiam-hiap atau si Pendekar Berpedang Matahari mencengkeram dan menepuk pundak puteranya, yang masih kelihatan beringas dan mata bersinar-sinar.

"Han Han, sadarlah. Atau kau akan berhadapan dengan ayahmu... plak!"

Han Han tergetar, sadar dan cepat menghilangkan semua kemarahan dan tenaganya ketika ayahnya itu mencengkeram dan menepuk pundak. Getaran tenaga sakti pemuda itu sudah dibuyarkan dan Beng Tan khawatir sekali akan anaknya ini. Han Han seperti harimau haus darah, mau menerkam dan rupanya siap menggigit siapa saja. Tapi ketika pendekar itu melihat wajah puteranya sudah biasa lagi dan mata yang mencorong bersinar-sinar itu tidak kelihatan beringas seperti tadi maka Han Han tiba-tiba berlutut dan menjatuhkan diri di depan ayahnya.

"Maaf, aku tak bermaksud membunuh siapapun, ayah. Kalau aku juga tak diancam musuh. Aku menyesal, tapi harap kau berlaku adil dengan melihat siapa yang salah dan siapa yang benar."

"Bangunlah!" sang ayah tahu. "Aku mengerti apa yang kau maksud, Han Han. Tapi tak selayaknya kita melakukan pembunuhan di tempat pesta. Cepat minta maaf kepada Tek-wangwe dan kita pulang!"

Han Han menarik napas. Sekarang dia sudah menekan semua hawa anehnya yang tadi tiba-tiba naik ke kepala. Entahlah, melihat lawan yang tak tahu diri dan sombong macam Toa-sin-kai tadi tiba-tiba ada semacam hawa membunuh yang naik ke kepalanya, setelah pengemis itu melontar tongkat. Kalau dia tak berkepandaian tinggi dan mampu menghancurkan serangan lawan tentu dia sudah roboh tinggal nama. Pengemis itu tak tahu diri dan patut dihajar. Untung ada ayahnya sehingga tendangannya tadi ditangkis dan digagalkan ayahnya pula. Dan ketika pemuda itu mengangguk dan bangun berdiri maka Tek-wangwe yang terbelalak dan merah pucat berganti-ganti cepat-cepat menyambut pemuda ini dengan ngeri.

"Wangwe, aku minta maaf. Selamat tinggal dan biar lain kali kuperbaiki tempatmu yang berantakan ini."

"Ah, tidak... eh, tak apa-apa! Aku, ah... aku tak perlu minta ganti, kongcu. Biarlah kuperbaiki sendiri dan sampai ketemu lagi!"

"Dan maafkan kalau pestamu menjadi kacau, wangwe. Biarlah lain kali puteraku diam di rumah dan aku bersama isteriku saja," Beng Tan menyusul, membungkuk dan memberi hormat di depan tuan rumah mengiring puteranya.

Sang hartawan buru-buru membalas dan gugup serta kacaulah perasaan hartawan ini. Han Han tak disangkanya begitu ganas dan mirip harimau yang tak boleh diganggu. Sekali diganggu akan mengaum dan menerkam siapa saja, tak perduli tokoh-tokoh terhormat atau orang biasa. Tapi ketika ayah dan anak meminta diri dan semua memandang dengan ngeri, gentar, tiba-tiba terdengar angin bercuit dan sebatang pisau belati menyambar Han Han dari belakang.

"Plak!" Sang ayah menangkis dan meruntuhkannya. Han Han diam saja seolah-olah tak tahu, padahal pemuda itu sudah siap bergerak dan mengebutkan lengan. Sekali hal itu terjadi tentu pisau akan membalik dan mengenai penyambitnya, tak boleh tidak. Berarti sebuah jiwa akan melayang tapi Beng Tan yang ada di samping puteranya sudah menangkis dan meruntuhkan pisau itu. Dan ketika ayah dan anak membalik dan melihat siapa pelemparnya ternyata di sana berdiri tertegun Ji-lo-kai, pengemis yang rupanya sudah sadar, sute atau adik dari Toa-sin-kai.

"Hm!" pendekar ini merah mukanya. "Beginikah sikap seorang ksatria, Ji-sin-kai? Menyerang dan pengecut melempar pisau dari belakang? Kalau puteraku yang menangkis tentu kau bakal roboh tak bernyawa. Bersikaplah jantan dan jujur kalau masih tak puas. Tempat tinggalku tentu boleh kau datangi sewaktu-waktu dan melanjutkan pertandingan dengan jujur. Maaf, aku tak menghendaki keributan di sini dan pisaumu kukembalikan lagi... crit!"

Pisau itu tiba-tiba ditendang, mencelat dan menyambar Ji-sin-kai dan orang-orang terkejut karena mengira pisau itu akan menancap di leher si pengemis. Memang dari jauh pisau itu tampaknya menyambar leher. Ji-sin-kai mengelak namun ajaib sekali pisau itu mengikutinya, seolah bernyawa. Dan ketika pengemis itu berseru kaget dan meloncat ke belakang, menumbuk dinding maka pisau menancap di samping lehernya dan memantek lebih dari separoh!

"Ahh...!" semua orang berseru tertahan. Ji-sin-kai sendiri menjadi pucat dan ngeri serta gentar. Ternyata ketua Hekyan-pang itu kalau sudah mau mengeluarkan kepandaiannya maka sungguh tak boleh dibuat main-main. Dia jelas bukan tandingan pendekar itu, harus tahu diri!

Maka ketika pengemis ini tertegun merah dan seluruh rasa malu membuat wajahnya seperti kepiting direbus maka Beng Tan sudah membalik dan berkelebat menyambar lengan puteranya. Untuk selanjutnya pendekar itu tak ada lagi yang berani coba-coba. Sekali pukul membuat Ji-sin-kai malu hebat sudah cukup membuat orang-orang lain gentar. Ketua Hek-yan-pang itu memang pantas disebut sebagai pendekar pilih tanding. Puteranya saja sudah begitu hebat! Dan ketika semua orang diam membelalakkan mata dan Eng Sian Taijin maupun Tiong Liang Hwesio hanya berulang-ulang mengeluarkan seruan perlahan maka pesta Tek-wangwe berakhir dengan segala kehebatan ayah dan anak itu. Dan begitu semua pulang dan kembali ke tempat masing-masing maka Beng Tan di sana sudah terbang membawa kembali puteranya ke markas.

* * * * * * *

"Apa kabar? Bagaimana dengan pesta Tek-wangwe?" Swi Cu menyambut suami dan anaknya itu dengan wajah berseri-seri. Dia baru saja melihat mereka datang dan memasuki halaman, disambut dan suami serta anaknya dipeluk. Tapi ketika wajah suami maupun puteranya muram, tak menunjukkan kegembiraan maka Swi Cu terkejut dan berdebar merasa ada sesuatu yang terjadi. "Kalian bertengkar?" wanita itu melanjutkan. "Ada apa dan kenapa murung?"

"Hm," Beng Tan melepaskan dirinya dari pelukan sang isteri. "Aku capai, nio-cu. Biarlah aku istirahat dulu dan Han Han rupanya juga capai," dan memandang puteranya pendekar ini berkata, "Tinggalkan kami, Han Han. Istirahatlah dan kembali ke kamarmu."

Han Han mengangguk. Sang ibu memberi ciuman dulu sebelum pemuda itu berkelebat. Han Han tergetar sejenak oleh kasih dan sikap ibunya ini. Sejak dulu ibunya selalu begitu, memberi cium sayang di pipi, meskipun dia kini sudah dewasa dan berusia dua puluhan tahun! Tapi ketika pemuda itu meninggalkan ayah ibunya dan Beng Tan mengajak isterinya ke kamar maka pendekar ini mendesah melempar tubuh dipembaringan.

"Sesuatu yang hebat terjadi. Pesta di tempat Tek-wangwe kacau!"

"Kacau?" sang isteri tertegun. "Maksudmu ada orang jahat di sana, suamiku? Dan kau bersama Beng Han menghajarnya?"

"Hm, benar. Tapi aku melihat sesuatu yang mengkhawatirkan di diri anak kita itu. Han Han hampir membunuh orang, kejam dan dingin!"

"Ceritakan padaku!" sang isteri terkejut. "Bagaimana bisa begitu, suamiku. Dan apa yang terjadi?"

"Kau kenal Huang-ho Coa-li? Kau kenal Pat-jiu Sian-ong? Kau dengar nama-nama Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai?"

"Ah, Huang-ho Coa-li wanita iblis. Sedang Pat-jiu Sian-ong maupun Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai adalah orang-orang aneh yang berkepandaian tinggi! Apakah kau bentrok dengannya?"

"Hm, Han Han telah berkenalan dengan mereka, isteriku. Dan tiga di antaranya dihajar habis-habisan. Anak kita itu telah menanam bibit permusuhan, meskipun dia tidak salah!"

Swi Cu pucat. Mendengar suaminya bercerita itu tiba-tiba dia minta diteruskan, bagaimana hal itu bisa terjadi dan siapakah tiga yang telah menjadi korban itu. Dan ketika Beng Tan mulai bercerita selengkapnya dan apa yang terjadi diceritakan kepada sang isteri maka Swi Cu tertegun dan berkali-kali mengeluarkan seruan tertahan.

"Sing Kok, murid Pat-jiu Sian-ong itu dipukul roboh. Dan Toa-sin-kai serta Ji-sin-kai pun dihajar keras oleh Han Han. Aku ngeri melihat sepak terjang anak kita itu, Cu-moi. Aku melihat betapa ganas dan kejamnya putera kita itu, kalau sudah dibuat marah!"

"Hm, persis siapa? Apakah Si Golok Maut?"

Beng Tan tertegun. Sang isteri menangis dan menahan sedu-sedan. Tiba-tiba cerita dari suaminya itu membuat wanita ini kembali membenci Han Han. Kasih dan sayangnya yang tadi ada tiba-tiba musnah kembali, terganti kemarahan dan kebencian karena semua cerita itu dibayangkannya sebagai perbuatan mendiang Si Golok Maut Sin Hauw, yang memang kejam dan tak mengenal ampun kepada musuh. Tapi ketika Beng Tan teringat dan sadar akan itu, sikap isterinya yang tidak wajar kepada Han Han maka pendekar ini batuk-batuk dan buru-buru meralat, memperbaiki.

"Maaf, kau jangan menuduhnya seperti itu, Cu-moi. Betapapun Han Han tidak salah karena musuh selalu mendahuluinya. Aku pribadi tak menyalahkan puteraku itu karena orang lainlah yang lebih dulu berbuat tidak baik!"

"Tapi kau sendiri bilang Han Han membalas tanpa ampun. Sekali tangkis membuat Huang-ho Coa-li mencelat dan Ji-sin-kai pun roboh pingsan!"

"Benar, tapi... ah, mungkin itu dikarenakan Han Han belum mampu mengukur tenaga, Cu-moi. Dia belum biasa mengendalikan sinkangnya!"

"Tapi dia sudah sering berlatih denganmu. Tentunya dia dapat mengatur sin-kangnya itu dan tidak terlalu kejam!"

"Hm, Ji-sin-kai ataupun Huang-ho Coa-li tentunya tak sekuat aku, Cu-moi. Kebiasaan Han Han menghadapi aku terbawa dalam tangkisannya ketika menghadapi kakek pengemis itu dan Huang-ho Coa-li. Dan tentu saja lain. Aku masih dapat menerima itu!"

Sang isteri tertegun. Akhirnya Swi Cu mau juga mendengar kata-kata suaminya ini, bahwa mungkin kebiasaan berlatih Han Hari dengan ayahnya terbawa ketika menghadapi Huang-ho Coa-li dan Ji-sin-kai itu, yang tentu saja memang tak sekuat suaminya. Dan ketika Beng Tan membujuk lagi bahwa semuanya itu adalah kesalahan musuh, yang bersikap sombong dan tak tahu diri maka pendekar ini menutup.

"Betapapun Han Han tak memiliki kekejaman itu, kalau musuh tak mendahului. Ingat saja dirimu atau diriku, Cu-moi Tentu juga tak akan marah-marah atau sampai bertangan kejam kalau musuh tidak kelewatan. Sudahlah, aku hanya melapor saja dan tak perlu kau marah-marah kepada Han Han!"

"Aku hanya marah kepada kekejamannya itu. Aku marah karena dia seperti Sin Hauw!"

"Hm, tak baik membawa-bawa orang yang sudah mati, Cu-moi. Sin Hauw sudah tiada dan tak perlu kita mengingat-ingatnya kembali..."

"Tapi Han Han seperti dia. Aku jadi benci dan takut!"

"Ah, semua orang yang diserang orang lain tentu marah dan dapat berbuat kejam, isteriku. Tak perlu kau membesar-besarkan. Sudahlah, dia tetap anakmu dan tak boleh kau membencinya!"

Swi Cu menangis. Akhirnya dia menubruk dan dipeluk suaminya itu. Beng Tan menghibur dan berkata bahwa besok diaakan membawa anak-anak murid Hek-yan-pang untuk memperbaiki apa yang telah rusak di tempat Tek-wangwe. Dan ketika malam itu Swi Cu mereda dan tidak membenci puteranya lagi, sang suami telah memperingatkan dia untuk membuang kenangan Si Golok Maut maka keesokannya wanita ini telah normal kembali dan tidak menaruh perasaan tidak senang kepada puteranya itu.

Betapapun Han Han adalah puteranya dan suaminya benar. Anak itu tak bersalah. Yang keterlaluan adalah Ji-sin-kai dan lain-lainnya itu. Tapi ketika perasaan Swi Cu sudah pulih dan dia dapat memandang lagi puteranya dengan senyum, ketika suami pergi ke tempat Tek-wangwe mendadak suatu yang mengejutkan kembali mengguncang wanita ini, ketika pagi itu puteranya menghadap.

"Ibu..." Han Han agak ragu. "Bolehkah aku minta sesuatu dan maaf dari ibu?"

"Hm, apa yang kau minta, Han Han? Dan kenapa maaf?"

"Mungkin ibu marah kepadaku atas sepak terjangku di tempat Tek-wangwe kemarin. Aku hanya membela diri, mereka terlalu mendesak dan sombong."

"Aku tahu," sang ibu memotong, merangkul puteranya ini. "Ji-sin-kai dan lain-lainnya itu patut dihajar, Han Han. Tapi lain kali jangan terlampau kejam. Ibu kurang suka. Kau harus lemah lembut seperti ayahmu, jangan telengas!"

Han Han merah mukanya. "Aku juga menyesal, tapi ah, mereka tak tahu diri!"

"Sudahlah, apa maksudmu datang kemari? Apa yang hendak kau minta dari ibumu?"

"Aku hendak meminta caping itu. Ibu sudah berjanji."

"Han Han!" sang ibu tiba-tiba tersentak, kaget. "Kau. kau mau apa dengari caping itu? Untuk apa kau mengingat-ingat lagi benda terkutuk itu? Itu sudah kubuang, Han Han. Ibu tak suka!"

Wajah pemuda ini tiba-tiba berubah. Han Han tampak terkesiap dan kaget mendengar kata-kata ibunya itu, bentakan yang serasa menggelegar di telinga dan tiba-tiba pemuda itu undur selangkah. Swi Cu sendiri sampai kaget ketika tiba-tiba dari sepasang mata anaknya itu menyambar sinar tajam bagai seekor naga yang sedang mencorong. Hawa berkilat dan mendirikan bulu roma mendadak membuat Swi Cu juga surut undur selangkah. Ibu itu kaget dan ngeri sekali melihat sikap puteranya. Begitu menyeramkan!

Tapi ketika Han Han sadar dan rupanya ingat bahwa yang ada di depannya itu adalah ibunya, wanita yang selama ini mengasihi dan membesarkannya tiba-tiba pemuda itu menunduk dan hilanglah semua keganasan yang muncul mendadak itu, seperti singa lapar yang siap menerkam korbannya.

"Ibu membuang caping itu? Ibu tidak bohong?" Aneh sekali, Han Han tiba-tiba menangis.

Swi Cu tertegun melihat air mata mengalir di pipi puteranya itu dan tampak betapa Han Han menahan duka atau perih yang sangat. Sang ibu menjublak tapi segera berkata bahwa caping itu memang sudah dibuang. Swi Cu tiba-tiba marah kenapa puteranya menanyakan caping itu, mengingatkannya pada Si Golok Maut. Dan ketika dia menegaskan marah bahwa Han Han tak usah memikirkan barang itu lagi maka puteranya membalik dan tersedak.

"Ibu kalau begitu tak menepati janji. Ibu merampas barang milik orang lain!"

Swi Cu tertegun. Untuk kedua kalinya dia merasa heran dan aneh melihat tingkah puteranya itu. Han Han terhuyung dan melangkah pergi, menggigit bibir. Tampak jelas betapa pemuda itu amat berduka seolah kehilangan harta karun yang besar, padahal itu adalah sebuah caping bambu yang tak berarti! Dan ketika Swi Cu mendelong dan mengawasi puteranya maka Han Han lenyap memasuki kamarnya dan sehari penuh pemuda ini tak muncul-muncul.

Swi Cu berdebar. Aneh dan luar biasa anaknya itu. Mengecamnya sebagai orang yang tak menepati janji dan dikata merampas pula. Betapa berani dan kerasnya, padahal selama ini Han Han selalu lembut dan pendiam kepadanya, patuh sebagaimana layaknya seorang anak kepada ibunya. Dan ketika Swi Cu tak nyaman dan malam itu suaminya juga belum kembali maka dia menghampiri pintu kamar anaknya dan mengetuk perlahan.

"Han Han, ibu ingin bicara!"

Tak ada jawaban. Swi Cu mengetuk lagi dan memanggil nama anaknya itu. Tak ada jawaban. Dan ketika tiga kali berturut-turut .dia memanggil namun tak ada jawaban maka wanita ini marah dan mendobrak pintu kamar, tahu bahwa anaknya itu ada di dalam, terbukti dari tarikan napas yang naik turun secara teratur. Tapi begitu wanita ini membentak dan siap memaki puteranya, yang memang ada di dalam tiba-tiba Swi Cu terbelalak dan menjerit mundur. Han Han, puteranya itu, memang ada di dalam. Tapi bukan dalam keadaan biasa melainkan justeru dalam keadaan luar biasa. Karena begitu Swi Cu membentak dan mendobrak pintu kamar maka dilihatnya puteranya itu berjungkir balik mengatur napas dalam keadaan telanjang bulat.

"Aiihhh...!" wanita ini seketika menekap mulutnya sendiri. Han Han yang siap dimaki dan disemprot tiba-tiba tak jadi di apa-apakan. Anaknya itu berjungkir balik dengan tenang dan sikapnyayang begitu bebas dan santai sungguh membuat wanita ini tertegun.

Kiranya Han Han bersamadhi sehari penuh dengan caranya yang luar biasa itu, memusatkan semua konsentrasi atau puncak perhatian pada alam samadhi yang hening. Begitu heningnya hingga tak tahu meskipun pintu kamar didobrak. Tanda betapa pemuda itu telah mencapai titik tertinggi dari alam samadhinya yang memuncak. Satu tanda bahwa Han Han telah memiliki kekuatan sinkang atau tenaga sakti yang hebat sekali. Tapi karena pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat dan Swi Cu tak tahu puteranya dalam keadaan seperti itu maka tiba-tiba saja wanita ini meloncat dan menutup pintu kamar lagi dengan bantingan keras!

"Brukk!"

Han Han tetap juga tak bergeming. Swi Cu tak mendengar gerakan apa-apa di dalam tanda bahwa puteranya benar-benar mencapai titik samadhi yang paling khusuk. Langit ambrukpun kiranya pemuda itu akan tetap dalam keadaan siulian-nya, sungguh luar biasa! Tapi teringat bahwa puteranya itu bukan seorang anak-anak lagi melainkan sudah seorang pemuda dewasa yang sempurna dan bertubuh tegap dan mengagumkan maka wanita ini semburat merah dan tersipu-sipu sendiri.

Swi Cu bukanlah wanita berbatin kotor. Wanita itu amatlah bersih hingga tak pernah dia nyeleweng. Tapi melihat bentuk tubuh puteranya dan betapa keadaan puteranya itu mengingatkan dia akan sang suami tiba-tiba Swi Cu mengeluh dan lari ke kamarnya. Nafsu yang aneh tiba-tiba bergolak. Sehari dia ditinggalkan suami dan tiba-tiba saja rasa rindu yang hebat menyerang. Swi Cu menangis dan tiba-tiba mencengkeram dan meninju-ninju guling dengan marah. Tiba-tiba saja dia ingin suaminya di situ dan ingin melampiaskan birahi. Aneh sekali. Dia terangsang oleh tubuh puteranya sendiri!

Dan ketika Swi Cu menjerit dan meloncat bangun maka wanita itu mengamuk dan menyerang apa saja. Piring dan gelas dibanting hancur. Kursi dan meja akhirnya juga pecah berantakan. Tapi ketika semuanya berhenti dan nafsu itu mengendor dengan sendirinya maka Swi Cu mengguguk dan meremas-remas rambut kepalanya sendiri.

"Terkutuk, bedebah jahanam. Masa aku harus terangsang dan mencintai puteraku sendiri? Masa aku harus tergila-gila dan mengingini tubuh anakku? Oh, siluman keparat. Pergi kau, setan terkutuk. Enyahlah kau!"

Swi Cu menangis, tergetar dan ngeri oleh perasaannya sendiri dan dipanggil-panggillah nama suaminya. Wanita ini ketakutan namun sang suami belum juga pulang. Dan ketika malam semakin larut dan Swi Cu lupa akan maksudnya semula memanggil puteranya maka wanita itu kecapaian dan tertidur dengan tubuh dan mata basah. Keringat dan air mata sama-sama bercucuran dari tubuh wanita ini. Rasa khawatir dan berahi yang sudah padam membuat Swi Cu tertekan, kelelahan. Dan ketika bulan sudah condong ke barat dan wanita itu tertidur, pucat, maka masuklah sesosok bayangan dari luar jendela.

Swi Cu tak tahu itu dan sang bayanganpun menutup daun jendela, tenang dan berindap memasuki kamar. Langkahnya bagai seekor kucing yang sama sekali takmengeluarkan suara, begitu ringan dan perlahan. Tapi ketika lampu temaram di kamar itu memperlihatkan Swi Cu yang sedang tidur dengan pakaian kusut, ditepi pembaringan maka bayangan ini menahan napas melihat sedikit paha Swi Cu tersingkap.

Namun bayangan itu tak berbuat lain. Dia menggerakkan jarinya dan angin dingin berkesiur menyambar. Swi Cu yang terlelap tiba-tiba tertotok, jatuh tak sadarkan diri. Dan ketika wanita itu mengeluh dan sekejap membuka mata, kaget, maka bayangan itu bergerak ke lemari dan mencari-cari sesuatu, Swi Cu sendiri lalu roboh lagi dan lupa-lupa ingat akan bayangan ini.

Siapa dia? Bukan lain Han Han. Apa yang dilakukan? Mencari caping! Maka begitu dia bergerak menotok ibunya, agar sang ibu tidak terbangun maka Han Han sudah membuka lemari dan mencari-cari barang yang diinginkan itu. Pemuda ini memasuki kamar setelah melihat ibunya kelelahan, akhirnya sadar dari samadhinya dan mendengar bantingan gelas atau cangkir-cangkir itu. Pemuda ini terkejut dan melompat bangun, bergegas menyambar pakaiannya dan berkelebat ke kamar ibunya itu. Mungkin ada musuh datang. Han Han sudah bersiap-siap.

Tapi ketika dilihatnya ibunya menangis dan mengamuk sendirian, Han Han tak tahu sebabnya maka pemuda itu tertegun dan mengintai di luar kamar. Han Han mendengar ibunya memanggil-manggil sang ayah, juga mendengar Swi Cu mengumpat-umpat Golok Maut. Tapi karena nama itu disebut sekali dua saja dan Han Han membelalakkan mata maka keinginan tahu pemuda ini terpendam tak terjawab dan Han Han mulai merasa aneh akan semuanya itu.

Sebenarnya, secara diam-diam, dia pernah mendengar juga ayah atau ibunya berbicara tentang Si Golok Maut. Tokoh itu sering disebut-sebut dan kalau bicara tentang ini tentu ibunya tiba-tiba juga menangis, apalagi kalau menyebut-nyebut nama Wi Hong, suci atau kakak seperguruan ibunya itu, jadi termasuk supek-bo atau uwak guru perempuan baginya. Han Han akhirnya tahu juga bahwa dia masih mempunyai seorang supek-bo, suci dari ibunya itu. Tapi karena pemuda ini pendiam dan jarang bertanya maka Han Han menyimpan saja semua keheranan dan berbagai pikiran yang mulai berkecamuk diotaknya.

Mula-mula dia merasa heran bahwa beberapa murid Hek-yan-pang yang termasuk senior tak mau bicara tentang ini. Kalau dia bertanya di mana supek-bonya itu dan kenapa tak muncul di Hek-yan-pang maka murid-murid tertua tutup mulut. Mereka hanya bilang suruh saja bertanya kepada ibunya. Tapi ketika dia bertanya dan sang ibu menjawab pendek bahwa supek-bonya itu tak ada lagi maka ditutup agar dia tidak bertanya-tanya lagi.

"Memang ibumu mempunyai seorang saudara seperguruan perempuan. Tapi sudahlah, suci ibumu itu tak diketahui di mana rimbanya, Han Han. Dia orang aneh dan agak terganggu jiwanya. Mungkin dia sudah mati karena belasan tahun tak jumpa lagi dengan ibumu."

"Tapi ibu tak berusaha mencarinya? Kenapa begitu kejam?"

"Hm, dulu dia pernah mengacau di sini, Han Han. Dan ibu hampir saja celaka Supek-bomu itu dapat berbuat aneh-aneh, tidak waras. Tapi karena ayahmu dapat mengusirnya maka dia akhirnya pergi dan sampai sekarang tidak kembali lagi. Ibu enggan mencarinya, karena tentu bakal terjadi onar!"

"Kenapa dia mengacau, ibu? Apakah benar karena ibu merampas kedudukannya sebagai ketua?"

"Han Han!" sang ibu menghardik. "Kau bicara apa ini? Ibu tidak merampas, justeru ibu menyelamatkan Hek-yan-pang karena supek-bomu itu gila!"

"Kenapa dia gila? Apa yang menjadi sebab?"

Swi Cu tertegun. "Han Han," wanita ini tergetar. "Kenapa hari ini kau banyak bicara? Bukankah selamanya kau tak pernah mengusut dan mengusik-usik masa silam? Ibumu akan berduka kalau kau bicara tentang itu. Sebaiknya tanya saja ayahmu atau kau tak usah bertanya-tanya!"

Han Han diam, tak bertanya lagi. Memang dia pendiam dan selanjutnya tak bertanya-tanya. Apa yang didengar dan diketahui sedikit itu dipendam saja sebagai sesuatu yang kian menumpuk-numpuk. Aneh, tiba-tiba dia ingin tahu di mana dan bagaimana wajah supek-bonya itu. Ingin tahu dan kasihan kepada supek-bonya yang dikata gila, tidak waras. Kenapa gila? Kenapa tidak waras? Dan ketika suatu hari dia berjalan-jalan sendiri dan menemukan caping itu, caping yang menggetarkan hatinya maka Han Han seolah kenal caping itu sudah lama, seolah merupakan bagian dari hidupnya!

Han Han tertegun. Waktu itu, merenung sendirian sambil berjalan di belakang rumah tiba-tiba dua ekor katak berlompatan berkejar-kejaran. Mereka rupanya katak-katak yang kesiangan dan dua-duanya melompat-lompat lincah. Katak yang di belakang mengeluarkan suara mengorok dan Han Han berhenti, melihat katak itu akhirnya menerkam yang di depan tapi tepat bersamaan dengan itu katak di depan meloncat tinggi. Temannya terbawa tapi celaka mereka melompati sumur dan tiba-tiba terjatuh ke bawah, tak sampai menyeberang. Dan ketika Han Han melongok dan kasihan, bermaksud mengeluarkan sepasang katak itu dari sumur yang kering dan tak berair lagi maka dia melihat caping itu di lantai dasar.

Han Han terkejut. Selamanya dia belum pernah melongok karena sumur itu benda mati yang tak menarik lagi. Anak-anak murid Hek-yan-pang juga tak pernah menengok sumur ini karena airnya sudah kering dan habis. Sumur itu adalah sumur tua dan mati. Maka ketika secara kebetulan saja dia melihat caping itu di bawah, gara-gara dua ekor katak yang tercebur maka Han Han bergerak dan sudah memasuki lubang sumur itu.

Sesuatu yang aneh menariknya begitu besar. Han Han tak tahu bahwa itulah caping yang dulu dipakai mendiang Si Golok Maut Sin Hauw, terlempar dan jatuh ketika bertanding secara hebat dengan ayahnya, Beng Tan. Pertempuran yang begitu dahsyat hingga dua hari dua malam dua orang itu tak ada yang kalah atau menang. Dan ketika caping itu terlempar dan duapuluh tahun tergeletak di dasar sumur tanpa ada yang tahu atau mengusik maka hari itu Han Han menemukannya secara kebetulan, gara-gara dua ekor katak yang terjatuh.

Han Han sudah mengambil caping ini dan melupakan dua ekor katak itu sendiri. Dia bergerak dan melayang keluar, mengenakan caping itu dan berseri-seri karena begitu pas di kepalanya. Ah, bentuk kepalanya sesuai benar dengan pemilik caping lama. Begitu enak dan nyaman dipakai! Tapi ketika ibunya marah-marah dan menyerangnya gara-gara caping itu, hal yang membuat Han Han tertegun maka perasaan tertarik dan penasarannya akan caping itu membuat Han Han malam itu bergerak memasuki kamar ibunya.

Pemuda ini tak tahu kenapa ibunya menangis dan mengamuk sendirian. Dia tak tahu bahwa ibunya terguncang melihat keadaannya tadi, samadhinya yang telanjang bulat itu, karena Beng Tan tak pernah mengajarkan ilmu samadhi seperti ini kepada puteranya. Dan ketika Han Han menunggu dan melihat ibunya tertidur, kelelahan, maka niat untuk mencari caping itu tiba-tiba bangkit dengan cepat.

Han Han tak percaya bahwa ibunya telah membuang caping itu. Tidak, ibunya tak biasa untuk membuang barang milik orang lain. Maka ketika saat yang ditunggu tiba dan Han Han memasuki kamar ibunya, menotok agar ibunya tidak bangun maka segera pemuda ini membuka lemari dan mencari-cari benda itu. Dan benar saja, caping itu ada di dalam! Han Han melihat caping ini ditempelkan ibunya di dinding lemari, ditarik dan seketika berkesiurlah angin dingin dari belakang.

Tepat Han Han mengambil caping itu maka tepat saat itu pula sesosok bayangan berkelebat membentaknya. Han Han membelakangi orang ini dan terkejut ketika sebuah serangan tiba-tiba menghantam. Dia tak mendengar gerakan orang dan orang itupun tak melihat siapa sebenarnya Han Han, karena kamar itu temaram dan Han Han hanya memberikan punggungnya. Tapi begitu Han Han membalik dan menangkis pukulan ini, bentakan yang dikenalnya sebagai suara ayahnya maka Han Han sudah mengelak sekaligus melempar tubuh bergulingan.

"Ayah... dess!"

Dua-duanya terkejut. Penyerang itu, Beng Tan, memang tak menyangka bahwa puteranyalah yang ada di dalam kamar itu. Dia tadi berkelebat dan melihat jendela kamar isterinya terbuka, terkejut dan berdebar serta curiga bahwa sesuatu telah terjadi, apalagi ketika isi kamar itu berantakan dan Beng Tan melihat sesosok bayangan membuka lemari pakaian. Beng Tan baru saja datang dari tempat Tek-wangwe dan malam itu terlambat pulang karena dia bertemu beberapa orang lainnya lagi, di mana semuanya itu menunda waktu perjalanannya tapi malam itu juga pendekar ini terus kembali, meskipun sudah lewat tengah malam.

Maka ketika dia melihat jendela isterinya terbuka sementara meja kursi jungkir balik tak keruan maka Beng Tan terkesiap dan segera menduga bahwa musuh yang berbahaya datang, mencelakai isterinya dan dilihatnya "musuh" itu mencari-cari sesuatu di dalam lemari. Beng Tan tak tahan lagi dan dibentaklah bayangan itu serta diserangnya dengan pukulan Pek-lui-ciang. Tapi ketika bayangan itu memanggil namanya dan kiranya bukan lain adalah puteranya sendiri, Han Han, maka pukulan yang sepenuh tenaga itu cepat dikurangi dan akibatnya mereka sama-sama terbanting.

"Kau..?" Beng Tan melompat bangun dengan kaget, terbelalak. "Apa yang kau lakukan di sini, Han Han? Dan... dan kenapa ibumu?"

Han Han tertegun. Dia tak segera menjawab dan sang ayah tiba-tiba menotok membebaskan isterinya itu. Swi Cu memang dalam pengaruh totokan karena diapun segera sadar begitu mendengar ribut-ribut itu. Wanita ini terkejut karena ketika dia sadar ternyata tubuhnya tak dapat digerakkan. Tapi begitu suaminya membebaskan dan Swi Cu girang memanggil perlahan maka wanita itu meloncat bangun dan tertegun melihat Han Han ada disitu.

"Kau... ada apa di sini? Kenapa kau memasuki kamar ibumu? Apa yang kau lakukan?"

"Maaf..." Han Han menunduk, tak dapat menyembunyikan diri lagi. "Aku ke mari untuk mencari ini, ibu. Aku datang untuk mengambil ini..."

"Astaga, caping itu lagi!" Swi Cu tiba-tiba membentak, berkelebat dan merampas caping itu. "Kau terlalu dan kurang ajar, Han Han. Kau tak pantas membuat ibumu malu seperti ini. Terkutuk... plak-plak!" dan Han Han yang mendapat tamparan dua kali di pipi kiri dan kanan akhirnya terhuyung dan pucat memandang ibunya itu. Swi Cu tiba-tiba marah sekali dan membanting caping itu, menginjak-injak. Tapi sebelum ibunya itu berbuat terlalu jauh tiba-tiba Han Han berkelebat dan menyambar caping itu, ibunya kalah cepat.

"Ibu, jangan kejam. Caping ini tak berdosa, dia punyaku!" dan Swi Cu yang terdorong serta terhuyung kaget tiba-tiba terbelalak merah memandang puteranya itu, beringas, mata berapi-api.

"Kau mau menghina ibumu? Kau mau melawan ibumu? Baik, lawanlah aku, Han Han. Bunuhlah ibumu dan coba kau dorong aku lagi!" dan sang ibu yang berkelebat dan menyerang puteranya lalu membentak dan memaki-maki Han Han. Kaki dan tangannya bergerak naik turun dan Han Han membiarkan ibunya menghajar dirinya kecuali caping itu.

Setiap ibunya mau merampas atau merebut kembali caping itu selalu Han Han menyelamatkannya dengan baik. Pemuda ini menggerakkan tangannya ke kiri dan kanan pula hingga caping itu luput, sang ibu tak dapat merampas! Dan ketika Han Han ditendangi dan suara bak-bik-buk pukulan dibiarkan saja mendarat di tubuhnya maka Swi Cu melengking-lengking tak dapat merebut caping di tangan puteranya itu.

"Han Han, berikan padaku, atau kau kubunuh!"

"Bunuhlah," Han Han menggigit bibir. "Kau sewenang-wenang dan kejam, ibu. Kalau kau ingin merampas benda milikku biarlah kau bunuh aku dulu dan aku tak akan melawan!"

"Ah, terkutuk. Bedebah!" dan Swi Cu yang semakin marah dan benci memandang puteranya lalu menyerang Han Han dengan dua pukulan Pek-lui-ciang.

Beng Tan sampai kaget melihatvisterinya sekalap itu, Han Han tak mengelak dan membiarkan saja pukulan ibunya mendarat, padahal Swi Cu menghantam sekuat tenaga. Dan ketika Beng Tan bergerak dan menangkis pukulan itu, membentak isterinya maka Swi Cu terpental tapi ibu yang marah itu masih melakukan tendangan dari bawah menghantam dada puteranya.

"Dess!" Han Han terbanting dan terlempar roboh. Beng Tan berteriak karena isterinya betul-betul mata gelap. Anak sendiri sampai benar-benar tega mau dibunuh. Dia sudah menangkis tapi tendangan dari bawah itu tentu saja luput dari perhatian, akibatnya Beng Tan pucat dan berteriak akan keselamatan puteranya itu. Han Han jelas tak mengerahkan sin-kang, berarti, siap menerima kematian! Tapi ketika pendekar ini berkelebat dan menolong puteranya, khawatir, ternyata Han Han dapat bangkit berdiri dan tak apa-apa.

"Bocah keparat, bocah terkutuk!" sang isteri memaki-maki geram. "Kau benar-benar membuat malu ibumu, Han Han. Kau anak tak tahu diri. Aku akan benar-benar membunuhmu!"

"Sudahlah, tahan!" Beng Tan membentak, cepat berdiri menengahi di tengah. "Kau kalap tak sewajarnya, Cu-moi. Kau membingungkan aku dengan semuanya ini. Ada apa sebenarnya dan kenapa Han Han lancang memasuki kamarmu."

"Aku hanya mau mengambil caping..."

"Aku sudah tahu," sang ayah memotong. "Tapi ganjil dan aneh sekali rasanya malam-malam begini kau ke sini, Han Han. Kau seperti pencuri!"

"Ibu tak mau memberikannya kepadaku pagi tadi," Han Han menjawab, menunduk. "Aku memang salah, ayah. Dan aku siap menerima hukuman, kematian sekalipun!"

"Hm!" sang ayah mencengkeram pundak puteranya. "Bukan begitu bicara yang baik, Han Han. Kami adalah orang tuamu, kau puteraku. Tak mungkin seorang ayah akan membunuh anaknya!"

"Tapi ibu tadi betul-betul mau membunuhku..."

"Hm, ibumu khilaf, kalap. Sudahlah, kau boleh pergi kalau betul-betul ingin mengambil barang milikmu, Han Han. Tapi besok tunggu aku dan kita bicara!"

"Tidak!" Swi Cu tiba-tiba melengking. "Benda terkutuk itu tak boleh di tangannya, suamiku. Berikan padaku dan biar kita hancurkan!"

"Hm!" Beng Tan mencengkeram pundak sang isteri, ganti menahan. "Kau juga salah, Cu-moi. Benda itu adalah milik Han Han, dan apa yang dimiliki orang lain tentunya tak berhak kita miliki. Dia anakmu, bukan musuh. Tenanglah dan biarkan dia pergi!" dan berkedip agar Han Han cepat pergi, meninggalkan ibunya yang marah bukan main maka Han Han menunduk dan pedih meninggalkan kamar itu, tak terlihat bekas-bekas pukulan tadi dan Beng Tan tiba-tiba teringat sesuatu, berkelebat dan menahan Han Han sebentar untuk kemudian dipencet punggungnya. Dan ketika pendekar ini merasakan segumpal tenaga dahsyat menolak pencetannya, tertegun, maka pendekar itu terbelalak memandang puteranya.

"Kau memiliki tenaga sakti yang bukan ajaran ayahmu! Eh, dari mana kau dapatkan ini, Han Han? Apa yang telah terjadi padamu?"

"Dia melatih sinkang dengan cara berjungkir balik!" sang ibu tiba-tiba berseru, teringat. "Anak kita itu rupanya melatih ilmu sinkang sesat, suamiku. Sungguh tak kunyana dan tak kuduga kalau diam-diam dia belajar ilmu milik orang lain!"

"Hm-hm!" Beng Tan jadi tertegun-tegun, melebarkan matanya memandang puteranya itu. "Kau melatih ilmu sesat, Han Han? Tanpa sepengetahuan ayah ibumu?"

Han Han menunduk. "Ayah tentu lebih tahu apakah sinkang yang kulatih itu ilmu sesat atau bukan. Kalau sesat barang kali ibu tak akan bangun lagi sewaktu tadi memukulku."

"Hm, luar biasa. Aneh, aku memang harus mengakui kebenaran omonganmu. Baiklah, besok kita bicara, Han Han. Dan sekarang tinggalkan kami karena aku ingin bicara dengan ibumu!"

Han Han mengangguk. Sekilas dia melirik ibunya dengan muka merah karena tadi ibunya berkata tentang cara berlatih sinkangnya itu. Berarti ibunya tahu bahwa dia telanjang bulat. Berarti, ah... ibunya telah mengintai. Atau, mungkin bahkan masuk ke kamarnya karena waktu itu ia lupa mengunci pintu kamar. Tapi ketika pemuda itu bergerak dan meninggalkan ibunya maka Beng Tan menutup pintu itu dan kini pendekar ini menghadapi isterinya, yang kelihatan "stress".

"Ceritakan padaku semua asal mula ini. Kenapa isi kamar jungkir balik dan bagaimana kau tahu Han Han bersamadhi dengan caranya jungkir balik itu!"

"Aku... aku pagi tadi menolak permintaannya. Han Han datang kepadaku dan bicara tentang caping itu. Aku marah-marah dan bilang sudah kubuang!"

"Hm, kenapa begitu? Kau berjanji untuk menyimpannya, Cu-moi, bukan untuk membuang atau menghancurkan. Dalam hal ini aku terpaksa membela Han Han."

"Ya, aku salah. Tapi... tapi aku benci caping itu, suamiku. Itu mengingatkan aku kepada Sin Hauw! Aku benci Han Han mengenakan caping!"

"Dan kau, bagaimana tahu puteramu melatih sinkang berjungkir balik? Kapan kau melihatnya?"

"Aku... aku melihatnya secara kebetulan. Sejak Han Han gagal mendapatkan caping itu maka sehari penuh dia mengurung diri di kamar, bahkan sampai malam. Aku datang untuk mengajaknya makan, membuang sepiku karena kau belum kembali. Tapi ketika aku memasuki kamar itu tiba-tiba saja.... tiba-tiba saja..."

"Tiba-tiba apa?" sang suami tertegun, melihat isterinya pucat dan menggigil. "Kau melihatnya berjungkir balik itu?"

"Ya, tapi... tapi bukan hanya itu, suamiku. Melainkan Han Han telanjang bulat dan mengatur napasnya naik turun!"

"Telanjang bulat?" Beng Tan terkejut. "Dia berlatih sinkang dengan cara demikian aneh? Dan kau masuk saja tanpa memberi tahu?"

"Tidak... tidak. Aku memanggilnya berulang-ulang tapi ketika tetap saja tak ada jawaban maka aku mendobrak pintu kamarnya itu dan siap memaki. Namun anak itu bersamadhi seperti patung, pintu dibantingpun tidak terdengar!"

"Hm, tanda betapa tinggi dan khusuknya dia berlatih..."

"Benar, dan aku terkejut, suamiku. Baru kali itu kita orang tuanya tahu!"

"Dan kau, mengapa lalu membanting-bantingi meja kursi ini? Kenapa mengamuk sendirian dikamar?"

"Aku marah kepadanya, juga kepadamu kenapa tak segera pulang. Dan... dan karena aku benci caping itu maka aku marah-marah tanpa sebab dan Han Han datang ke mari mencari barang miliknya!"

"Hm!" Beng Tan tentu saja tak tahu apa yang disembunyikan isterinya itu, tak mungkin Swi Cu harus berterus terang bahwa dia marah-marah karena terangsang melihat Han Han telanjang, hal yang tentu saja membuatnya malu dan jengah karena itu tak pantas.

Wanita ini tak tahu bahwa sesungguhnya Han Han bukanlah puteranya. Han Han adalah putera Si Golok Maut Sin Hauw yang ditukar oleh encinya Wi Hong dulu. Jadi, tak aneh kalau wanita itu tergetar dan terangsang oleh lawan jenis yang bukan darah dagingnya sendiri karena Han Han adalah tiruan Sin Hauw. Melihat Han Han sebenarnya sama dengan melihat Si Golok Maut Sin Hauw itu, waktu masih muda. Maka ketika Swi Cu tergetar oleh birahi tapi hal itu tentu saja tak dikatakannya kepada sang suami maka Beng Tan mengangguk-angguk dan diam-diam heran serta kaget bahwa puteranya itu memang memiliki sinkang yang di luar pengetahuannya.

Tadi puteranya itu sudah ditendang dan tendangan maut yang tidak ditangkis Han Han itu dapat berakibat fatal Setidak-tidaknya, Han Han bisa muntah darah dan patah sebuah atau dua tulang iganya. Tapi ketika pemuda itu tak apa-apa dan Beng Tan merasa adanya tenaga tolak yang seperti karet, yang tadi menolak dan mementalkan tendangan isterinya maka malam itu Beng Tan menghibur isterinya dan mengajak tidur. Malam itu dia bercerita bahwa beberapa orang ditemuinya di tengah jalan, bercakap-cakap dan menunda perjalanannya. Dan ketika sang isteri tenang dan dapat dibujuk, tertidur di pelukannya maka keesokannya pendekar ini memanggil puteranya di serambi depan, Swi Cu tak dibawa.

"Kau ceritakan kepadaku bagaimana kau demikian tergila-gila dengan caping bambu itu, sampai kau tak segan bertengkar dengan ibumu. Dan dari mana pula kau dapatkan cara berlatih sinkang yang aneh itu!"

Han Han menunduk. Pagi itu, dengan wajah kuyu dan sendu pemuda ini menghadap. Seperti biasanya, Han Han berbaju putih dan membiarkan saja kelebihan ujung bajunya yang menyembunyikan kesepuluh jari-jari tangannya yang kokoh itu. Pemuda ini menunduk dan tidak segera menjawab. Tapi ketika dia ditanya lagi dan memang dengan ayahnya inilah dia merasa dekat dan lebih disayang, karena Beng Tan tak pernah marah-marah kepadanya maka pemuda itu menarik napas dan menekan debaran jantungnya.

"Aku tak tahu bagaimana aku demikian senang dan suka dengan caping itu, ayah. Tapi aku merasa seakan caping itu adalah bagian dari hidupku. Caping itu bagus, demikian penglihatanku. Dan aku suka kepadanya. Aku merasa bahwa barang ini seolah milikku sendiri yang hilang."

"Hm, dan cara melatih sinkang dengan berjungkir balik itu?"

"Aku mendapatkannya dari sebuah kitab kecil..."

"Apa? Sebuah kitab?"

"Ya, sebuah kitab, ayah. Aku coba-coba melatihnya dan merasa cocok. Aku merasa aliran darahku bertambah lancar dan sehat. Aku merasa sesuatu yang enak dan nyaman."

"Hm, kitab apa itu? Dari mana?"

Han Han ragu. "Ayah akan merampasnya pula?"

Beng Tan merah. "Kalau itu kitab yang baik tentu tak perlu aku merampasnya, Han Han. Tapi kalau kitab itu berisi pelajaran-pelajaran sesat tentunya kau sendiri harus membuangnya!"

"Tidak, kitab ini hanya berisi pelajaran sinkang, ayah. Tidak ada pelajaran lain!"

"Dari mana kau dapatkan itu!"

"Dari sumur tua, di belakang rumah”

"Hm, bersama caping itu juga?"

Han Han mengangguk.

"Ke mari, berikan padaku, Han Han. Coba aku melihatnya!" dan Han Han yang mengambil sebuah kitab dari balik sakunya lalu tanpa ragu memberikannya kepada ayahnya.

Ayahnya memang lain dengan ibunya. Ayahnya ini lebih penyabar dan penuh sayang, sudah berapa kali dibuktikannya bahwa kalau ibunya marah-marah maka ayahnya inilah yang maju membela. Maka begitu sang ayah meminta dan Han Han memberikan maka kitab kecil itu sudah diterima Beng Tan. Tapi begitu Beng Tan membuka dan mempelajari isinya tiba-tiba pendekar ini mencelat dan berseru tertahan.

"Pelajaran dari Si Golok Maut!"

Han Han terkejut. Dia melihat ayahnya terguncang dan tampak betapa wajah ayahnya itu berubah-ubah. Beng Tan menggigil dan pucat serta merah berganti-ganti. Pendekar itu terkejut bukan main. Tapi ketika dia sadar dan Han Han bangkit berdiri maka kitab itu tiba-tiba dibanting.

"Han Han, ini kitab yang tak baik bagimu. Ah, dari seorang gila. Kau tak boleh mempelajarinya dan jangan berlatih lagi!" kitab tiba-tiba hancur, remuk menjadi serpihan-serpihan kecil dan Han Han kaget bukan main. Ayahnya itu tak menepati janji dan sekarang merusak barang miliknya begitu saja. Tanpa ijin! Dan ketika pemuda ini pucat dan gemetar membelalakkan mata maka Beng Tan tiba-tiba beringas dan memandang puteranya itu, sinar matanya bagaikan api!

"Apa lagi yang kau dapatkan selain ini. Apa lagi yang kau simpan!"

"Tidak ada..." Han Han menggigil dan lemah menjawab. "Aku tak menyimpan apa-apa lagi, ayah. Tapi... tapi kenapa kau menghancurkannya!"

"Itu milik Si Golok Maut. Itu milik orang gila. Kalau benar kau tak mendapat apa-apa lagi coba bawa aku ke sumur tua itu... wut!" dan Beng Tan yang menyambar serta menarik puteranya lalu berkelebat dan menuju belakang rumah. Han Han telah berkata bahwa kitab itu ditemukan di belakang rumah, di sumur tua itu.

Kini Beng Tan ingin menyelidiki dan ingin tahu lebih jauh. Dan ketika mereka tiba di sumur tua itu dan Han Han menuding maka pemuda ini berkata bahwa kitab itu didapat di bawah, di dasar sumur. Sang ayah tak bertanya lagi karena tiba-tiba bergerak dan sudah lenyap memasuki sumur tua itu. Beng Tan berkelebat dan hilang di dalam. Dan ketika Han Han menunggu dan sang ayah mencari-cari maka ketua Hek-yan-pang itu keluar lagi dengan menjepit sepasang katak jantan dan betina.

"Tak ada apa-apa lagi, hanya ini!"

Han Han tertegun. Teringatlah dia akan sepasang katak yang berkejar-kejaran itu, kini ayahnya membawa naik dan itulah katak yang dulu menjadi gara-gara hingga dia menemukan caping dan kitab berlatih sinkang, yang kata ayahnya adalah milik Si Golok Maut. Dan karena dia sudah mulai sering mendengar nama ini disebut-sebut sementara anak-anak murid Hek-yan-pang tak berani mempercakapkannya setiap ditanya maka begitu ayahnya keluar segera pemuda ini menghampiri, ayahnya sudah melempar sepasang katak itu namun binatang-binatang ini kembali lagi dan. lenyap ke sumur. Rupanya sudah kerasan!

"Ayah, siapa sebenarnya Si Golok Maut itu? Kenapa berkali-kali kau membicarakannya?"

"Hm, dia... dia musuh ayahmu yang paling lihai, Han Han. Seorang gagah tapi dipenuhi dendam yang membuatnya gila. Dia pernah bertanding di sini dan sekarang aku ingat apa yang terjadi. Kiranya, caping yang kau dapatkan itupun adalah miliknya!"

Han Han terkejut. "Miliknya?"

"Ya, tak salah. Benda itu asli miliknya, Han Han. Itu milik Si Golok Maut. Dan kitab itu, hmm... rupanya terjatuh setelah pertandingan kami yang dua hari dua malam!"

"Hebatkah dia? Betul-betul saktikah dia hingga ayah tak mampu merobohkannya?"

"Hm, Golok Maut tokoh yang luar biasa, Han Han. Dia memang hebat dan sakti. Tapi diapun tak mampu mengalahkan ayahmu. Kami seri!"

"Kalau begitu ceritakan padaku kenapa ayah bermusuhan dengannya. Dan bagaimana dia tewas! Benarkah dikeroyok ribuan orang pasukan kerajaan?"

"Kau sudah tahu?"

”Sebagian saja, ayah. Tapi tidak lengkap. Aku ingin tahu dan apa saja yang pernah terjadi antara ayah dengannya!"

"Hm, aku tak ingin bercerita. Kisah itu membawa kenangan yang buruk. Sudahlah, aku tak ingin kau tahu tentang tokoh ini, Han Han. Dan sekarang aku tahu pula bahwa caping yang kau dapatkan itu adalah miliknya. Buang benda itu dan jangan pelajari pula ilmu sinkangnya itu!"

"Tidak!" Han Han tiba-tiba pucat. ”Aku... aku tak merasa apa-apa dengan semuanya itu, ayah. Aku tak merasa bahwa ilmu yang kupelajari adalah sesat. Dan... dan sesungguhnya aku menaruh kagum kepada tokoh ini. Aku ingin tahu tentang dia lebih banyak!"

"Apa?" sang ayah melotot. "Kau mengagumi orang gila itu? Kau tidak mau mendengarkan kata-kata ayahmu?"

"Maaf, aku.. aku tak dapat melaksanakan kata-katamu itu, ayah. Kalaupun kau memaksa maka hati ini yang tak dapat ditundukkan. Ayah telah menghancurkan kitab yang kutemukan itu, dan sekarang ayah ingin aku membuang caping itu. Salah apakah aku hingga kau bersikap kejam, ayah? Kenapa tiba-tiba kaupun sama dengan ibu?"

"Eh, aku tak mau banyak berdebat, Han Han. Aku tak mau menjawab semuanya itu. Yang jelas, aku tak ingin kau ketularan penyakitnya. Buang caping itu dan jangan sekali-kali memakainya. Atau aku akan menghajarmu dan terpaksa memberimu adat!"

"Ayah...!"

"Tidak, juga tentang ilmu berlatih sinkang itu, Han Han. Kalau kau melatihnya maka aku tak mau menganggap kau sebagai puteraku lagi!"

Han Han pucat. Pemuda itu tiba-tiba menggigil hebat dan sang ayah tak tanggung-tanggung. Selain melarang dia menyimpan caping itu juga melarang dia melatih sinkang dari kitab yang sudah dihancurkan ayahnya tadi. Han Han tiba-tiba tak tahan dan air matapun bercucuran. Ayahnya begitu bengis dan keras sekarang, padahal belum pernah sikap itu selama ini diperlihatkan. Dan ketika Beng Tan tertegun dan tak tahan melihat puteranya menangis, hal yang luar biasa sekali maka tiba-tiba sang ayah ini berkelebat dan pergi meninggalkan puteranya itu.

Han Han telah diancam untuk membuang semua benda-benda yang pernah dimiliki Si Golok Maut. Han Han telah disuruh pula untuk tidak menyimpan caping itu. Padahal sekarang Han Han justeru semakin ingin mempertahankannya setelah tahu bahwa itulah benda milik seorang tokoh yang dikaguminya, tokoh yang menarik namun sayang selama ini tak pernah dia dengar ceritanya. Yang ada hanyalah cerita sepotong-sepotong dan itu tentu saja tak memuaskan. Dan ketika sang ayah pergi dengan marah dan baru kali itu Han Han diancam untuk tidak diakui sebagai anak, pukulan yang amat berat tiba-tiba Han Han mengeluh dan roboh terguling.

Selanjutnya pemuda ini menangis tersedu-sedu dan timbullah penasaran serta kecewanya yang amat hebat. Kenapa ayahnya sebengis itu dan kejam, tak mengenal ampun? Apa salahnya hingga kitab dan caping harus dihancurkan? Dan ketika ayahnya tadi berkata bahwa besok caping itu sudah harus dimusnahkan, di depan ayahnya, tiba-tiba pemuda ini mengguguk dan orang akan terkejut kalau melihat betapa pemuda yang biasanya pendiam dan amat tenang ini sekonyong-konyong berobah seperti anak kecil yang tidak punya pegangan.

Han Han tersedu dan menutupi mukanya dengan air mata bercucuran. Pemuda itu terpukul hebat oleh ancaman ayahnya. Namun ketika dia bangkit berdiri dan wajah yang seram tiba-tiba menggantikan kedukaannya tiba-tiba Han Han berkelebat dan pergi meninggalkan sumur tua itu. Semalam dia dibenci dan dimarahi ibunya, nyaris dibunuh. Dan ketika sekarang ayahnyapun kehilangan kasih sayang dan bersikap kejam, hal yang tak dimengerti pemuda ini tiba-tiba kekecewaan berobah menjadi rasa marah yang luar biasa.

Beng Tan tak tahu bahwa Han Han adalah keturunan Si Golok Maut. Watak dan pembawaan Si Golok Maut tentu saja menurun pada pemuda ini, karena Han Han sebenarnya adalah Giam Liong, Si Naga Maut atau Naga Pembunuh yang kelak menggegerkan dunia kang-ouw, jauh lebih menggegerkan daripada sepak terjang ayahnya dulu. Maka begitu dia diancam untuk tidak diakui anak, kalau tetap mempertahankan caping dan ilmu sinkang itu tiba-tiba "jiwa pemberontak" yang mudah berkobar di hati pemuda ini sekonyong-konyong bangkit dan menerima tantangan!

Han Han tak takut dan merasa ayahnya bersikap terlalu. Semalampun dia rela dibunuh ibunya gara-gara mempertahankan caping itu, yang sebenarnya adalah barang milik mendiang ayahnya dan tentu saja getaran gaib yang ada antara ayah dan anak bekerja. Beng Tan tak tahu semuanya itu karena memang tak menduga. Pendekar itu tak menyangka bahwa "puteranya" ini bukanlah puteranya. Anaknya sendiri, anak kandung, telah ditukar oleh Wi Hong dan dibawa lari. Semua itu tak diketahui Beng Tan dan tentu saja dia tak tahu bahwa watak pendendam dan mudah marah ada pada puteranya ini. Kalau Han Han sudah ditantang maka setan-pun akan dia lawan. Jangankan orang tua, iblispun dia tak gentar!

Maka begitu diancam dan Han Han merasa tak bersalah, ayah dan ibunya dianggap terlalu maka malam harinya, setelah sehari penuh dia menutup pintu kamar tiba-tiba pemuda ini bergerak dan meluncur membelah telaga. Siang tadi sudah dipikirnya untuk pergi namun anak-anak murid Hek-yan-pang pasti mengetahuinya. Dia ingin pergi secara diam-diam dan untuk itu ditunggunya sampai malam tiba.

Dan ketika malam datang dan dia sudah menyiapkan semua buntalannya, pakaian dan roti-roti kering maka pemuda itu berkelebat dan membuka pintu kamarnya. Han Han tak mau lewat depan karena ayah ibunya mungkin tahu. Karena itu begitu ia menutup pintu kamarnya kembali dan melesat ke kiri, ke samping rumah maka pemuda ini sudah bergerak dan menuju telaga.

Hek-yan-pang, sebagaimana diketahui, adalah markas perkumpulan yang berada di tengah sebuah telaga. Perkumpulan itu dikelilingi air telaga yang tak pernah surut dan untuk masuk keluar tentu saja harus mempergunakan perahu. Tapi ketika Han Han berada di sini dan melepas sepatunya, melempar dan mempergunakan itu sebagai perahu maka "perahu" aneh yang dipergunakan pemuda ini sudah meluncur dan bergerak tanpa suara!

Itulah demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi. Swi Cu, ibunya sendiri, masih belum berani melakukan seperti apa yang dilakukan pemuda ini. Yang dipergunakan wanita itu adalah batang pisang, karena batang pisang mampu mengapung dan tinggal dikemudikan saja, meskipun tentu saja harus memiliki ilmu meringankan tubuh karena tanpa itu tentu batang pisang tak akan meluncur dengan cepat. Perahu sendiri akan kalah cepat kalau diadu lari dengan wanita itu. Tapi Han Han yang mampu mempergunakan sepasang sepatunya untuk bergerak dan membelah telaga tentu bakal membuat bengong anak-anak murid yang melihatnya, karena hal itu hanya ketualah yang mampu mengimbangi. Dan Han Han memang sudah setingkat dengan ayahnya!

Ada dua hal mengapa pemuda itu tidak mempergunakan perahu. Pertama, kalau dia mengambil, tentu perahu yang hilang akan segera diketahui anak-anak murid yang berjaga, karena betapapun tepian telaga hampir penuh oleh anak-anak murid yang berjaga. Kedua, karena perahu tentu akan menimbulkan suara beriak, hal yang tak dikehendaki Han Han maka jadilah pemuda itu mempergunakan sepasang sepatunya sendiri untuk bergerak dan meluncur di tengah telaga. Dengan begini dia dapat meninggalkan pulau tanpa suara.

Perahu aneh yang ditungganginya itu memang nyaris tak beriak. Han Han telah mempergunakan seluruh ilmu meringankan tubuhnya agar sama sekali tak menerbitkan suara. Han Han ibarat sebuah daun kering yang menempel di atas sepatu itu, ditiup atau didorong oleh angin yang bergerak hingga mendorongnya maju. Dan ketika pemuda itu tiba di daratan seberang tapi tetap tak berani gegabah untuk mengeluarkan suara maka begitu pemuda ini menendang sepatunya ke atas maka sambil berjungkir balik mengejar sepatu itu pemuda ini sudah mengenakannya di udara.

"Cep- cep!"

Sepatu itu telah melekat di kedua kaki dengan cara luar biasa. Han Han telah melayang turun dan hinggap di tanah dengan kedua sepatu seperti semula. Kakinya terbungkus rapat, tanpa salah! Dan ketika pemuda itu bergerak dan menyelinap menerobos perumahan di luar telaga, yang rata-rata dihuni anak-anak murid lelaki maka pemuda itu sudah terbang dan meninggalkan Hek-yan-pang, seperti siluman!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan terkejutnya ayah ibunya di dalam. Beng Tan yang tak menyangka puteranya akan pergi tiba-tiba tertegun melihat sepucuk surat yang ditinggalkan. Han Han memang meninggalkan sepucuk surat untuk ayah ibunya itu. Dia berkata bahwa lebih baik dia pergi daripada ayah ibunya sudah tak memiliki kasih sayang lagi. Dia akan mempertahankan caping yang dipertengkarkan dengan taruhan nyawa. Biarlah ayahnya tak mengakuinya anak karena ayahnya itu memang sudah kehilangan kasih sayang. Han Han telah menunjukkan jiwa mudanya yang bergemuruh. Sang ayah terpaku. Han Han minggat!

Tapi ketika Swi Cu menjerit dan menyobek-nyobek surat itu, memaki-maki puteranya tiba-tiba ibu yang ikut terpukul ini mengguguk dan membanting-banting kakinya. "Han Han, kau tak pantas sebagai putera ayah ibumu. Kau lebih pantas sebagai putera Sin Hauw! Ah, jahanam terkutuk kau, anak keparat. Tak tahu diuntung dan dibaiki orang tua. Biarlah... biar kau minggat karena kasih sayang itu memang tak ada lagi dihatiku!"

"Tidak," Beng Tan tiba-tiba terkejut, sadar. "Kau... kau tak boleh bicara seperti itu, Cu-moi. Han Han adalah anak kita satu-satunya. Dia darah daging kita, anak tunggal. Aku harus menyusul dan menyuruhnya kembali!"

"Kau mau menjilat ludahmu sendiri?" sang isteri melengking, menyambar ujung baju suami. "Kau mau tak dihargai anak itu? Tidak, biarkan ia sendiri, suamiku. Dan lihat siapa yang harus tunduk. Aku jadi benci kalau anak sudah tak mau dinasihati orang tua. Biarkan dia, lepaskan saja!"

"Ah, kau tak khawatir akan sepak terjangnya di luar? Kau benar-benar tak memiliki kasih sayang seorang ibu?"

"Aku tak perlu bohong kepada diriku sendiri, suamiku. Han Han tak mirip dirimu, la mirip Sin Hauw. Aku... aku melihatnya sebagai Sin Hauw. Aku benci anakku itu!" dan Swi Cu yang menangis serta menubruk suaminya lalu tersedu-sedu menceritakan perasaan hatinya yang tak keruan. Betapa dia sudah tak memiliki kasih sayang lagi sebagaimana layaknya seorang ibu. Betapa dia membenci puteranya itu setelah Han Han menemukan caping Sin, Hauw. Mendiang Si Golok Maut itu rupanya menurunkan musibah kepada mereka. Tokoh yang amat pendendam itu rupanya masih mau mengganggu mereka lewat Han Han. Maka ketika Swi Cu menangis dan memaki-maki pula Si Golok Maut itu tiba-tiba suaminya menggigil dan mencengkeram lengannya.

"Cu-moi, orang yang sudah mati tak perlu diungkit-ungkit lagi. Kau tak perlu memaki-maki. Diamlah dan jangan membuat aku bingung!"

"Siapa yang lebih bingung? Kau atau aku? Akupun juga bingung, suamiku. Kenapa Sin Hauw masih mengejar-ngejar kita dari alam baka. Padahal kita sama sekali tak mengganggunya dan bahkan menghormatinya. Ah, kalau aku bertemu dengannya di alam baka tentu akan kulabrak dan kumaki-maki dia di sana!"

"Sudahlah, sudah... aku bingung bukan karena Sin Hauw. Aku bingung akan anak kita itu. Aku bingung akan Han Han. Aku telah bersikap terlalu keras dan kejam..."

"Siapa bilang? Kau sudah benar, suamiku. Han Han tak layak menyimpan atau memakai caping itu. Itu benda terkutuk milik Si Golok Maut. Nanti dia kena tulah dan dosa-dosanya. Kalau dia tak mau menuruti omongan orang-orang tua biarlah dia mendapat celaka disana!"

"Hush, kau mengutuk anak sendiri? Kau mendoakannya jelek diperjalanan?"

"Biar, suamiku. Biar. Aku tak perduli. Han Han tak menurut pada kita dan membuat sakit ayah ibunya!"

"Tapi dia anak tunggal, anak semata wayang..."

"Aku masih muda. Aku masih dapat memberikan keturunan lagi untukmu!" dan ketika Beng Tan tertegun dan semburat merah, kaget, maka isterinya sudah mengguguk dan lari meninggalkan kamar, itu.

Kepergian Han Han tiba-tiba saja bukannya membuat anak itu disayang tapi malah semakin dibenci oleh isterinya. Beng Tan was-was jangan-jangan isterinya itu tidak waras. Anak sendiri sampai diperlakukan sedemikian rupa. Ngeri dia! Tapi ketika dia dihadapkan pada dua kemungkinan untuk menyusul Han Han atau menghibur isterinya itu, yang terguncang, tiba-tiba pendekar ini terhuyung melangkah pergi untuk menyusul isterinya.

Beng Tan menggigit bibir karena isterinya benar. Han Han dinilai tak patuh sebagai anak yang baik. Anak itu bahkan menerima tantangannya dan pergi, hanya untuk membela sebuah caping bambu. Caping Si Golok Maut! Dan ketika pendekar itu menutup pintu kamar dan mengikuti isterinya maka Han Han bertualang dengan maut...!