NAGA PEMBUNUH
JILID 03
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
BENG TAN tertegun. Ki Bi, yang tadi penakut dan cengeng tiba-tiba saja beringas dan penuh kemarahan. Bukannya dia yang membentak-bentak melainkan dia yang dibentak-bentak. Beng Tan terkejut! Tapi ketika dia melepaskan cengkeramannya dan Ki Bi jatuh terduduk maka gadis itu menangis tersedu sebelum memberikan jawaban.

"Aku... aku memang salah. Memang benar bahwa aku berbohong. Tapi kaupun juga tak mengenal perasaan, pangcu. Kau membuat aku dan anak-anak murid Hek-yan-pang yang lain penasaran!"

"Hm," Beng Tan terbelalak. "Apa maksudmu ini, Ki Bi. Dan kenapa aku kau sebut tak berperasaan?"

"Tentu saja!" gadis itu melengking. "Kau bermesra-mesraan dan berbahagia dengan isterimu, pangcu. Kau bersenang-senang dan membuat para murid yang lain kepingin! Wanita mana tidak ingin bahagia dengan pasangannya? Wanita mana tak ingin didekati lelaki apalagi kalau lelaki itu gagah perkasa dan berwatak mulia? Kau membuat cemburu murid-murid Hek-yan-pang, pangcu, dan satu di antaranya adalah aku!"

"Hah?"

"Benar. Kau boleh buktikan kata-kataku, pangcu. Kau boleh selidiki gerak-gerik murid Hek-yan-pang. Mereka. mereka mendambakanmu. Mereka mencintaimu!"

"Hm, aku adalah pangcu disini, mereka adalah anggauta. Kalau aku dicintai mereka adalah wajar, Ki Bi. Aneh sekali kata-katamu ini kalau disangkut-pautkan dengan urusan kita. Aku tak jelas juntrungannya?"

"Pangcu tak melek?"

"Maksudmu?"

"Mereka mencintaimu sebagaimana layaknya wanita mencintai laki-laki, pangcu. Mereka mencintaimu dan iri kepada Hu-pangcu yang mendapatkan suami dan pria yang baik!"

Beng Tan terperanjat. Ki Bi selanjutnya menangis tersedu-sedu dan menceritakan bahwa sesungguhnya banyak sekali murid-murid Hek-yan-pang yang jatuh hati kepadanya, mencintainya secara diam-diam. Bukan cinta dari seorang murid kepada ketuanya melainkan cinta seorang wanita terhadap pria!

Beng Tan memang masih muda dan anak-anak murid Hek-yan-pang pun rata-rata juga masih muda. Beng Tan dibuka matanya bahwa sesungguhnya kalau dia bermesra-mesraan atau bercumbu dengan isterinya itu maka banyak anak murid yang cemburu. Mereka semuanya wanita, kecuali dia yang laki-laki. Dan karena perkawinan Beng Tan menggetarkan sesuatu di hati murid-murid itu dan kebahagiaan sang Hu-pangcu membuat mereka kepingin dan ingin merasakan maka Beng Tan akhirnya sadar bahwa kehadirannya disitu sebagai pria tunggal telah menimbulkan masalah!

"Hm-hm!" pemuda ini merah padam. "Kau mengejutkan aku dengan semua kata-katamu ini, Ki Bi. Tapi aku tentu saja akan menyelidikinya. Dan kau, kenapa melakukan semuanya itu? Apakah juga..."

"Benar!" Ki Bi memotong. "Aku tak tahan dan akulah orang terdekat setelah isterimu, pangcu. Aku mencintaimu seperti juga cinta anak-anak murid yang lain itu. Aku tak tahan... aku... aku lalu coba merayumu dengan segala tingkahku itu. Aku sekarang puas. Kau boleh bunuh aku karena aku juga tak ingin hidup lebih lama setelah apa yang kulakukan ini!"

"Hm!" Beng Tan tergetar, tersentuh perasaannya. "Kau jujur, Ki Bi, meskipun... meskipun tak tahu malu. Aku menghargaimu, tapi kupikir tak perlu kau kubunuh!"

"Pangcu tak membunuhku? Pangcu ingin membuat aku malu lebih hebat setelah semuanya itu?"

"Hm, jelek-jelek kau telah memberikan informasi penting, Ki Bi. Aku berterima kasih dan kini memaklumimu. Tapi kalau kau bohong, dusta, tentu saja tak ada ampun untuk kedua kali dan kau mendapat hukuman berat!"

"Jadi pangcu mengampuniku? Tidak, kalau begitu aku yang bunuh diri, pangcu. Aku malu bertemu isterimu dan siap mati plak!"

Beng Tan tiba-tiba bergerak, cepat dan luar biasa karena Ki Bi tiba-tiba menghantam kepalanya sendiri dengan pukulan sinkang. Gadis itu menjerit dan terlempar. Beng Tan seketika terbelalak karena apa yang dikatakan gadis itu benar-benar hendak dilaksanakannya. Tapi ketika Beng Tan menotok dan mengerutkan kening dengan muka berubah-ubah maka Ki Bi berteriak-teriak agar dibunuh.

"Pangcu, aku gadis tak tahu malu. Bunuhlah, jangan biarkan aku hidup!"

"Tidak, aku mulai percaya padamu, Ki Bi, dan aku menghargai kejujuranmu ini. Aku ingin meyakinkan hatiku dan membuktikan semuanya ini..." tapi ketika Beng Tan berhenti dan menoleh ke belakang, mendengar dan melihat berkelebatnya lima bayangan maka tahu-tahu disitu telah berlutut lima orang anak murid Hek-yan-pang yang lain, sumoi atau adik-adik seperguruan Ki Bi.

"Pangcu, apa yang dikatakan enci Bi adalah benar. Kami adalah bukti-bukti yang lain!"

Beng Tan terkejut. Disitu muncul Lin Siu dan empat saudaranya, semua berlutut dan menunduk penuh hormat. Muka mereka kemerah-merahan, sekilas melirik pemuda ini namun cepat menunduk lagi dengan wajah bersinar. Beng Tan tertegun melihat lima anak murid itu tahu-tahu muncul, berlutut dan membenarkan apa yang dikata Ki Bi. Dan ketika pemuda itu menjublak dan tentu saja kaget, tergetar, maka Lin Siu berkata bahwa mereka pun boleh dibunuh kalau menyatakan cinta kepada pangcu mereka itu.

"Kami semua murid Hek-yan-pang sebetulnya membutuhkan laki-laki. Kami mendambakan sekali pria atau suami seperti pangcu ini. Dan karena kami tak menemukan dan peraturan selama ini tak memperbolehkan kami berdekatan dengan lelaki maka kebahagiaan dan kemesraan pangcu bersama Hu-pangcu sungguh membuat kami iri dan cemburu. Harap pangcu memberikan jalan keluarnya!"

Beng Tan tertegun. Segera dia semburat merah karena teringat bahwa ketika bermesra-mesraan dengan isterinya kadang-kadang mereka terlihat anak-anak murid Hek-yan-pang, yakni ketika umpamanya mereka berada di taman atau kolam ikan. Swi Cu sering tak mendengarkan nasihatnya bahwa sebaiknya mereka di kamar saja, jangan di luar. Karena anak-anak murid tentu ada yang mengintai dan berbisik-bisik.

Tapi karena Swi Cu berkata bahwa itu adalah tempat tinggalnya dan anak-anak murid dapat diusir, kalau mengintai maka Beng Tan mendiamkan saja dan isterinya tak tahu bahwa di balik pohon atau semak-semak gerumbul, jauh dari situ sedang terdapat beberapa murid yang berkasak-kusuk membicarakan kemanjaan isterinya itu, karena Swi Cu sering merebahkan tubuh atau kepala di dadanya, di saat mereka berduaan di taman atau kolam umpamanya.

"Nah," Lin Siu menyambung lagi. "Sekarang kamijuga sudah berterus terang, pangcu. Dan kami siap mendapatkan hukuman bila pangcu merasa perlu. Kami memang mencintaimu,bukan sebagai ketua melainkan juga sebagai kekasih atau suami!"

"Lin Siu...?"

"Maaf, kami tak perlu menutup-nutupi lagi, pangcu. Apa yang kami katakan adalah mewakili semua anak murid Hek-yan-pang. Kami butuh lelaki, kami butuh pendamping setelah Hu-pangcu sendiri menikah denganmu!"

Beng Tan pucat. Akhirnya dia menggigil dan gemetar mendengar semua kata-kata itu. Dia tahu bahwa kalau sudah begini maka anak-anak murid Hek-yan-pang tak salah. Dulu mereka tak timbul keinginannya ketika Hek-yan-pang masih belum dihadiri lelaki, yakni ketika dia belum masuk dan menjadi suami Swi Cu. Tapi begitu dia disitu dan Swi Cu kerap berduaan dengannya, berkasih-kasihan, karena mereka pengantin baru maka tak heran kalau anak-anak murid Hek-yan-pang menjadi kepingin dan cemburu. Dan untung cemburu mereka tak buta!

Untung selama ini anak-anak murid Hek-yan-pang hanya memendamnya di hati. Mereka masih dapat menahan perasaan dan takut sebagaimana murid yang baik. Tapi karena mereka adalah manusia dan betapapun pemandangan sehari-hari tentulah berkesan dan menimbulkan keinginan yang amat hebat maka terjadilah peristiwa malam itu dengan perbuatan Ki Bi yang sampai berusaha menjebak dirinya. Dan Beng Tan ngeri. Kalau saja dia tak memiliki iman yang kuat tentu dia sudah roboh oleh perbuatan Ki Bi yang nekat itu.

Masih terbayang jelas di ingatan Beng Tan tubuh serta bagian-bagian tubuh yang menggairahkan dari murid yang satu ini. Masih tak dapat terlupakan oleh Beng Tan keindahan dan kemontokan buah dada Ki Bi. Hm, siapapun pasti ngiler! Dan ketika Beng Tan menelan ludah dan menggigil memandang lima murid yang berlutut itu akhirnya dia berkata bahwa dia akan memikirkan semuanya ini demi kebahagiaan murid-murid Hek-yan-pang.

"Aku maklum, dan kini aku mengerti. Tapi tak mungkin aku melayani kalian seperti yang kalian inginkan itu. Aku bukan kaisar, mana mungkin memperisteri kalian? Tidak, cintaku hanya untuk isteriku, Lin Siu, hanya untuk Swi Cu. Kalau kalian butuh lelaki dan ingin adanya pendamping maka akan kupikirkan untuk kalian jalan keluarnya!"

Lin Siu dan lain-lain semburat. Mereka terpukul juga oleh kata-kata Beng Tan bahwa pemuda itu hanya mencinta Swi Cu, bukan mereka dan betapa pemuda itu amat setia sekali menjaga cintanya. Ah, bahagianya kalau mendapatkan suami seperti ini! Lin Siu dan lain-lain kagum tapi sekaligus juga kecewa mendengar itu. Tapi karena Beng Tan memang benar dan tak mungkin bagi pemuda itu harus melayani sekian banyak wanita maka Lin Siu mintakan ampun untuk Ki Bi.

"Sekarang kami hanya mengharap belas kasihan pangcu kepada enci Ki Bi. Sukalah membebaskan totokannya dan peristiwa ini tak disebarkan keluar."

"Hm, aku memang tak bermaksud menyebarkan kejadian ini kepada siapapun, Lin Siu. Bahkan kepada isteriku sekali pun! Aku memang tak akan menghukum Ki Bi meskipun tak kalian minta. Hanya Ki Bi tentu saja tak boleh mengulangi lagi perbuatannya itu dan kalian pun berhenti sampai disini!"

"Terima kasih!" Lin Siu dan yang lain menjatuhkan diri berlutut. "Kau bijaksana dan arif, pangcu. Semoga kau benar-benar memperhatikan kami dan memberikan jalan keluarnya seperti kata-katamu tadi!"

"Hm, aku tentu akan mencarikan jalan keluarnya. Aku akan memikirkan pendamping untuk kalian!"

"Dan kami minta seperti yang dirimu ini, pangcu. Gagah, setia dan jujur serta bertanggung jawab!"

"Ah, itu tergantung nasib kalian. Aku tak berani menjanjikannya. Pokoknya aku akan membicarakan dengan isteriku dan kalian bawalah Ki Bi!"

Lin Siu dan lain-lain girang. Beng Tan sudah membebaskan totokan Ki Bi dan murid wanita itu mengguguk menutupi mukanya. Rasa malu yang hebat terasa menyesakkan napas tapi Beng Tan menepuk-nepuk pundaknya, menghibur dan berkata bahwa itu adalah pengaruh gejolak muda. Wajar rasanya kalau Ki Bi melakukan itu, sebagai peletupan rasa tak kuat disesakkan birahi.

Beng Tan bersungguh-sungguhdan pemuda itu sudah melupakannya. Dan ketika Ki Bi berlutut dan mengucap terima kasih, disusul adik-adiknya yang lain maka Beng Tan terharu membangunkan murid-murid wanita ini. "Sudahlah.... sudahlah, tak ada persoalan lagi. Kalian kembalilah ke tempat masing-masing dan aku juga beristirahat!"

Ki Bi mengangguk bangkit berdiri. Wanita ini sekilas melempar pandangan kagum dan kecewa, menunduk dan sudah disambar Lin Siu untuk berkelebat keluar. Dan ketika malam itu Beng Tan berkali-kali menarik napas dan semburat mukanya maka malam itu Beng Tan tak dapat tidur sampai keesokan harinya isterinya datang. Mula-mula sukar bagi Beng Tan untuk mulai dari mana. Yakni, dari mana dia mulai bicara dan memperbincangkan hal itu. Tapi ketika isterinya tampak berseri dan menunjukkan sutera-sutera mahal yang baru dibeli maka kesempatan itu ada ketika isterinya membicarakan beberapa murid yang bertemu dengan pemuda-pemuda tampan.

"Hi-hik, Lim-hwa kemarin bertabrakan dengan dua pemuda yang tergesa-gesa ke kota. Mereka sama-sama menunggang kuda, koko, dan Lim-hwa terpelanting!"

"Hm, apa yang terjadi? Kenapa begitu?"

"Entahlah, enam murid yang kubawa itu tiba-tiba saja sepanjang jalan tampak lemah dan tak bersemangat. Mereka jarang bicara, satu sama lain membisu. Tapi ketika dua orang pemuda mencongklang dari depan dan kami tepat di tikungan menajam tiba-tiba Lim-hwa bertabrakan sementara murid yang lain keburu menyingkir dan selamat."

"Dan Lim-hwa cidera?"

"Tidak, tapi justeru bengong dan duduk melotot memandang pemuda-pemuda itu. Lim-hwa tiba-tiba menjadi aneh karena tiba-tiba kelihatan gembira dan berseri-seri!"

"Kenapa bisa begitu? Ada apa?"

"Aku tak tahu, tapi lima muridku yang lain juga tiba-tiba begitu, koko. Dan ketika mereka kubentak dan kumaki tiba-tiba mereka semua turun tapi bukan menolong Lim-hwa melainkan dua pemuda itu, yang kiranya dikejar-kejar perampok!"

Beng Tan mengerutkan kening. Sang isteri akhirnya bercerita bahwa ketika dia akan marah-marah dan mendamprat dua pemuda itu tiba-tiba saja lima muridnya turun dari kuda masing-masing untuk menolong dua pemuda itu. Lim-hwa sendiri akhirnya berdiri dan menolong pemuda pertama, yang terkilir dan mengaduh-aduh karena tempurung lututnya bergeser. Dan ketika semua malah memperhatikan dua pemuda itu padahal biasanya murid-murid Hek-yan-pang "anti" lelaki maka Swi Cu terkejut dan terheran-heran.

"Bayangkan, mereka tiba-tiba bergairah dan satu sama lain mencoba bersikap manis kepada pemuda-pemuda itu. Lim-hwa sendiri bahkan minta maaf, padahal dialah yang diterjang! Dan ketika aku marah-marah dan membentak enam muridku itu ternyata mereka berlutut dan mintakan ampun untuk dua pemuda itu. Aneh, bukankah ini ganjil, koko? Tapi karena dua pemuda itu kulihat sebagai pemuda baik-baik maka barulah aku tahu bahwa dua pemuda itu dikejar-kejar perampok yang hendak merampas buntalan mereka, hingga mereka melarikan kudanya dengan kencang dan terjadilah tabrakan itu!"

"Dan kau tidak menghukum mereka?"

"Tentu saja tidak, bahkan aku menghajar tujuh perampok yang akhirnya sampai di tempat kejadian. Dan disitulah enam muridku menjalin persahabatan dengan dua pemuda itu dan mereka tampak gembira dan bersemangat sekali!"

"Hm, kalau begitu suatu perubahan sedang terjadi," Beng Tan mulai memasuki persoalan, tersenyum. "Apakah kau tidak marah kepada murid-muridmu ini, Cu-moi? Kau mendiamkan saja mereka itu dan tidak menegur?"

"Mula-mula tentu saja tak senang, kutegur. Tapi, eh... teringat kita sendiri akhirnya aku jadi tak tega menghalangi mereka, koko. Dan kini ingin kutanya bagaimana pendapatmu karena diam-diam enam muridku itu membuat perjanjian, kencan!"

"Hm!" Beng Tan terkejut, mulai bersikap serius. "Kalau begini maka tak boleh sembunyi-sembunyi, Cu-moi. Hubungan gelap antara murid Hek-yan-pang dengan lelaki diluar bisa menimbulkan bencana. Sebaiknya dua pemuda itu dipanggil masuk dan dijadikan murid Hek-yan-pang pula!"

"Apa?"

"Tenanglah, aku hendak sedikit bercerita padamu. Di perkumpulan kita memang mulai ada perobahan," dan ketika Beng Tan memeluk dan mencium isterinya itu maka pemuda ini bertanya, sebelum melancarkan pertanyaan-pertanyaan berat. "Bagaimana pendapatmu tentang anak-anak murid kita? Salahkah jika kukatakan bahwa kita harus membahagiakan dan membuat mereka senang?"

"Hm, senang dan bahagia bagaimana, koko? Aku tak jelas arah pembicaraanmu!"

"Maksudku adalah bagaimana jika tanda-tanda yang kau lihat itu diarahkan pada tempat yang semestinya. Murid-murid Hek-yan-pang butuh lelaki. Maksudku, butuh teman lelaki sebagai sahabat atau apa yang mereka dambakan. Aku juga melihat bahwa anak-anak murid perempuan kita mulai bersikap aneh, Cu-moi. Bahwa mereka seakan iri atau cemburu kepadamu!"

"Cemburu? Kepadaku? Apa-apaan ini? Ah, kau bicara tak keruan, Koko. Aku jadi semakin tak mengerti!"

"Sst, dengarlah,duduk baik-baik," dan memeluk serta meraihlengan isterinya Beng Tan segera bertanya lembut, "Kau tentu mencintaiku, bukan? Dan kau juga mencintai murid-murid Hek-yan-pang disini?"

"Tentu saja!"

"Nah, sejak aku disini dan kita berdua bermesraan maka banyak murid-murid yang mengintai, Cu-moi. Kau tak tahu bahwa banyak pasang mata memandangmu dengan iri dan penuh rasa ingin. Mereka juga ingin sepertimu, mereka juga ingin berkasih-kasihan dan bermesraan dengan pria pujaan mereka. Maka kalau kau melihat Lim-hwa atau lain-lainnya itu seperti tak bersemangat atau lemah maka sesungguhnya mereka itu sedang mendapat tekanan atau ganjalan batin yang menyesakkan napas. Mereka cemburu kepadamu, mereka juga mendambakan nikah dan suami!"

"Maksudmu mereka ingin kawin?"

"Sst, jangan keras-keras. Sudah dikodratkan oleh Sang Pencipta bahwa wanita tak dapat sendirian tanpa pria, Cu-moi, seperti halnya pria pun tak dapat sendirian tanpa wanita. Masing-masing sudah sewajarnya isi-mengisi, karena masing masing juga sebenarnya saling membutuhkan. Bukankah tak apa-apa kalau mereka menikah dan mendapatkan suami? Bukankah tak apa-apa kalau mereka mencari teman lelaki dan hidup berumah tangga? Aku juga sudah melihat seperti apa yang kau lihat itu, Cu-moi. Hanya aku masih ragu dan baru merasa yakin setelah kau bercerita tetang Lim-hwa dan teman-temannya itu!"

Swi Cu tertegun.

"Lihat," Beng Tan meneruskan lagi. "Siapa tak ingin dan merasakan kebahagiaan seperti yang kau rasakan ini, Cu-moi? Siapa tak ingin dan mendambakan suami? Dengan pendamping mereka dapat merasakan hubungan rumah tangga. Dengan pendamping mereka dapat menikmati apa itu namanya madu cinta. Dan semua orang kukira butuh cinta, tak perduli wanita atau pria!"

"Hm, jadi maksudmu bahwa anak-anak murid kita dinikahkan saja? Dicarikan lelaki dan berumah tangga?"

"Bukan begitu. Aku tidak bermaksud menikahkan mereka..."

"Tapi kau tadi bilang begitu!" sang isteri memotong. "Kau jelas menghendaki mereka mempunyai teman laki-laki, koko. Dan kau juga menyebut-nyebut tentang nikmatnya cinta!"

"Betul, tapi aku atau kita disini hanya sebagai perantara saja, Cu-moi, bukan penentu atau pemutus nasib mereka. Mereka boleh menikah, berumah tangga. Tapi semua itu adalah atas pilihan mereka sendiri dan bukannya aku atau kau!"

"Hm, jadi bagaimana? Kau hendak memasukkan laki-laki diperkumpulan kita ini? Kau hendak membaurkannya menjadi satu dan murid kita bebas melakukan apa saja?"

"Hm, jangan bernada tinggi," Beng Tan tersenyum, tak cepat marah. "Aku tidak mengatakan begitu melainkan hendak berkata bahwa Hek-yan-pang menerima murid laki-laki. Aku dapat memilih pemuda-pemuda tampan yang cocok untuk menjadi murid. Aku tahu bahwa murid-murid disini tak boleh mendapatkan suami yang kepandaiannya di bawah isteri, apalagi kalau suaminya sama sekali tidak bisa silat! Sabar, aku tahu maksudmu, Cu-moi. Dan untuk itu tentu saja murid-murid lelaki tidak dicampur aduk dengan murid perempuan. Kita memiliki sebidang tanah kosong diluar telaga, dan kukira itu dapat kita jadikan tempat untuk menampung mereka. Bukankah murid-murid perempuan tetap sendiri dan murid-murid lelaki juga sendiri?"

Swi Cu tertegun.

"Kau tentunya tak menghendaki terjalinnya hubungan gelap antara murid-murid Hek-yan-pang dengan laki-laki diluar. Lihat kejadian-kejadian yang lalu. Lihat berapa sudah anak-anak murid Hek-yan-pang yang terpaksa menerima hukuman karena berhubungan dengan lelaki secara diam-diam, gelap. Bukankah tak baik kalau hal itu terjadi disini padahal kita dapat mencarikan jalan keluarnya? Hek-yan-pang bukan seperti dulu lagi, moi-moi. Disini telah ada lelaki dan itu adalah aku! Hek-yan-pang sudah berobah!"

Swi Cu terkejut. Akhirnya dia menjublak dan merah mukanya. Suaminya segera bercerita bahwa gejolak yang disimpan diam-diam dapat menimbulkan bahaya tak diduga. Suaminya berkata bahwa kebahagiaan mereka disitu sudah membuat semacam cemburu atau iri hati di anak-anak murid yang lain. Mereka adalah wanita biasa, manusia biasa seperti halnya Swi Cu atau wanita-wanita lain yang masih memiliki gairah dan berahi. Anak-anak murid Hek-yan-pang bukanlah patung batu. Mereka adalah mahluk hidup, yang berperasaan dan memiliki perasaan seperti yang dimiliki Swi Cu itu. Dan ketika Beng Tan menjelaskan bahwa betapa berbahayanya membiarkan keinginan yang terpendam dengan tidak memberikan apa-apa maka pemuda itu menutup dengan satu contoh.

"Gunung berapi adalah kekuatan dahsyat yang terpendam di bawah tanah. Semakin ditumpuk dan ditumpuk saja tentu suatu ketika akan meledak dan menimbulkan guncangan. Nah, sebelum semuanya itu terjadi dan murid-murid kita sudah menunjukkan gejala-gejala seperti itu maka sebaiknya diberi penyaluran, moi-moi. Kita tampung murid-murid lelaki dan kita biarkan mereka bergaul satu sama lain. Aku khawatir nafsu atau keinginan itu tak terbendung lagi. Karena sekali meledak tentu membuat kita terkejut!"

Swi Cu mengangguk-angguk. Beng Tan sendiri akhirnya membayangkan apa yang dibuat Ki Bi. Hampir saja dia tergelincir bersama wanita itu, kalau imannya tidak teguh. Dan "ngeri" bahwa Ki Bi bisa melakukan yang aneh-aneh, tak kuat menahan gejolak rasa atau berahi yang kian menyesakkan napas akhirnya Beng Tan tahu bahwa semua perasaan itu harus ditampung. Dan kini dia membicarakan itu bersama isterinya. Isterinya rupanya dapat menerima dan mengerti. Tapi tak ingin isterinya membantah atau menarik urat maka dia mendahului bahwa murid-murid perempuan itu tak usah ditanya apakah mereka ingin kawin atau tidak.

"Jangan tanya mereka apakah ingin menikah atau tidak. Mereka adalah perempuan, tentu malu dan tak mungkin menjawab benar. Kita tampung saja murid-murid lelaki dan mereka pasti akan berhubungan sendiri, tanpa disuruh."

"Baiklah, aku mengerti, koko. Dan semuanya terserah kebijaksanaanmu!"

Beng Tan tersenyum, bangkit meraih isterinya ini. Dan ketika mereka berpelukan dan Beng Tan mencium isterinya ini maka murid Hek-yan-pang diam-diam bersorak ketika diberitahukan bahwa sang ketua akan menerima murid-murid baru, kaum lelaki, pemuda-pemuda tampan yang tentu saja harus diseleksi atau diawasi Beng Tan ini.

Selanjutnya Hek-yan-pang bertambah semarak ketika satu dua murid-murid lelaki mulai berdatangan, kian hari kian bertambah banyak dan akhirnya tak kurang dari seratus murid lelaki ada disitu, tinggal di luar telaga, mengelilingi pulau dimana murid-murid perempuan tinggal disitu, sebagai penghuni lama. Dan ketika Hek-yan-pang menjadi semarak dan ramai, hubungan antara murid-murid perempuan dengan lelaki tak dapat dicegah lagi maka seratus pemuda yang menjadi murid baru sudah menjalin asmara dan siap berumah tangga!

"Nah," Beng Tan tersenyum. "Lihat hasilnya, Cu-moi. Lihat mereka itu sudah berpasang-pasangan!"

"Hm!" Swi Cu bersinar-sinar, gembira. "Betul katamu, koko. Tapi mereka harus tetap diawasi agar tidak hamil diluar nikah. Kita harus mengontrol setiap murid-murid kita sendiri!"

"Tentu, tapi aku sudah memeriksa murid laki-lakiku itu, Cu-moi. Mereka rata-rata pemuda yang baik. Dan kuancam pula agar berpacaran dulu kalau kepandaian mereka belum menyamai kekasihnya!"

"Ih, dengan begitu mereka akan bersemangat sekali. Ah, pintar kau, koko. Cerdik!"

"Ha-ha, kalau tidak cerdik mana mungkin menjadi suamimu? Sudahlah, kita sama-sama mengawasi, Cu-moi. Dan siapa melanggar harus dihukum!"

Swi Cu mengangguk. Akhirnya Beng Tan membebaskan murid-murid perempuan Hek-yan-pang itu mengenakan kedoknya. Hek-yan-pang dulu memang mengharuskan murid atau bahkan ketuanya memakai kedok, sapu tangan hitam atau merah untuk menghindari kekurang ajaran lelaki. Dan ketika Beng Tan juga membuat peraturan-peraturan baru dimana murid-mu-rid boleh keluar asal ijin maka beberapa peraturan-peraturan lama yang kaku dan keras diperlunak pemuda ini.

Semuanya tentu saja membuat murid-murid itu girang. Di bawah Beng Tan mereka mendapat keleluasaan bergerak. Dan karena pemuda itu memang dicintai dan dihormati seluruh murid maka Beng Tan dapat memimpin perkumpulan ini dengan lembut namun juga tegas. Sampai akhirnya setahun kemudian isterinya itu melahirkan anak laki-laki, kebahagiaan yang membuat Hek-yan-pang semakin berbunga. Tapi ketika semua keceriaan dan keriangan itu melanda semua murid tiba-tiba saja markas perkumpulan itu disatroni orang. Dan begitu orang ini masuk maka Hek-yan-pang pun geger!

Malam itu, tepat sebulan setelah anak laki-lakinya lahir, anak yang diberi nama Ju Han. Beng Tan dan isteri duduk di beranda rumah mereka dengan wajah berseri-seri. Beng Tan sedang melihat isterinya menyusui bayinya ini. Anak mereka itu begitu montok, tubuhnya sehat dan wajahnya kemerah-merahan. Tapi bukan kesitu perhatian Beng Tan sebenarnya. Pemuda ini sejak tadi mengagumi buah dada isterinya yang padat dan penuh air susu. Benda itu menarik perhatiannya karena dari benda itulah dia dulu hidup dan dihidupi ibunya.

Seperti anaknya inilah kira-kira dia dulu juga diberi minum susu, langsung dari buah dada ibu yang begitu penuh kasih dan sayang. Dan ketika dia bersinar-sinar memandang buah dada isterinya itu, yang lahap dikempong si bayi maka Beng Tan tiba-tiba terkejut ketika mendadak saja isterinya itu menoleh, rupanya getaran pandang matanya terasa, atau Swi Cu jengah.

"Kau..." wanita itu kemerah-merahan. "Apa yang kau pandang? Kau melihat Ju Han atau yang lain?"

"Hm!" Beng Tan bangkit berdiri, tersenyum menguasai kegugupannya. "Aku... aku memandang kedua-duanya, Cu-moi. Ya Ju Han ya ibunya. Aku kagum kepada kalian!"

"Kagum?"

"Ya, kagum karena Ju Han bertubuh sehat dan montok serta kagum karena kaupun tak kalah montok dengan anakmu. Maksudku, ha-ha.... jangan marah, Cu-moi. Aku mengagumi buah dadamu yang montok dan segar. Baru kali ini kulihat benda milikmu itu demikian padat dan penuh isi. Ah, tak heran kalau Ju Han begitu lahap. Akupun tiba-tiba merasa lapar dan ingin..."

"Hush!" sang isteri memotong, tersipu kemerah-merahan. "Jangan disini, koko. Nanti ada orang. Jangan bicara keras-keras!"

"Ha-ha, siapa keras-keras? Aku memang lapar, ingin minum...!" tapi ketika Beng Tan menunduk dan mau ikut-ikutan seperti bayinya, mencium dan mengagumi benda yang sejak tadi dipandangnya kagum itu tiba-tiba sang isteri menepis dan menahan.

"Ada orang!"

Beng Tan terkejut. Dia membalik dan tertegun melihat Ki Bi ada disitu, seketika merah mukanya karena hampir saja dia "mimik" di depan orang lain. Nyaris teledor! Tapi ketika Ki Bi sudah menjatuhkan diri berlutut dan pura-pura tak melihat perbuatan sang ketua tadi yang dirangsang gairahnya maka Ki Bi melapor bahwa diluar telaga dikatakan ada seseorang yang masuk, menyelinap dan sekarang entah dimana.

"Tujuh murid lelaki roboh malang-melintang, dan lima murid perempuan juga terkapar. Mohon pangcu memberikan perintah apa yang harus dilakukan!"

"Hm, dimana Hak Su?"

"Kami disini...!" dua bayangan berkelebat. "Kami juga hendak melapor itu, pangcu. Maaf bahwa kami terlambat!"

Beng Tan tertegun. Hak Su dan Wan To sudah berlutut di depannya dengan sikap gemetar. Mereka adalah murid-murid kepala digolongan laki-laki. Mereka itulah yang dulu ditolong isterinya dan akhirnya kencan dengan Lim Hwa. Hak Su saling cinta dengan Lim Hwa. Dan ketika dua pemuda itu berlutut dan Swi Cu bangkit berdiri maka Swi Cu bertanya siapa orang yang datang itu.

"Kami tak tahu, entah kawan atau lawan. Tapi orang itu dapat memasuki markas seperti orang yang sudah biasa keluar masuk disini, pangcu. Dan kami heran serta kaget!"

"Hm, dan kalian tak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan?"

"Tampaknya seperti perempuan, tapi bayangannya terlalu cepat dan tak ada anak murid yang melihat jelas."

"Dan kami tambahkan disini bahwa tujuh murid laki-laki akhirnya tewas," Hak Su menunduk sedih, menahan marah. "Orang itu jelas adalah musuh, pangcu. Dan kami ingin minta petunjuk apa yang harus dilakukan!"

"Hm," Beng Tan terkejut. "Tewas? Jadi orang itu sudah main bunuh?"

"Benar, pangcu. Dan menurut laporan dia amat lihai sekali. Kami mohon pangcu memberikan perintah untuk menangkapnya hidup-hidup ataukah mati!"

Beng Tan tergetar. Kalau sudah begini maka gairahnya tadi tiba-tiba lenyap. Musuh menyatroni sarang mereka dan Beng Tan menduga-duga siapa gerangan. Seingatnya, tak ada musuh yang bersifat pribadi. Kalaupun ada yang menyatroni maka itu tentulah Si Golok Maut. Tapi karena Golok Maut sudah tewas dan tak ada musuh yang dirasa berkaitan akhirnya Beng Tan menjadi curiga akan adanya seseorang, yakni, si Kedok Hitam. Tapi begitu teringat bahwa yang dilaporkan ini adalah perempuan, padahal Kedok Hitam laki-laki maka Beng Tan bingung namun pemuda ini mengepal tinjunya.

"Baiklah," Beng Tan bertindak cepat. "Kembali ke tempat masing-masing, Hak Su. Dan perintahkan semua murid untuk mencari dan menangkap orang ini. Jangan bunuh, aku akan berkeliling mencari bayangannya!"

Hak Su dan temannya mengangguk. Ki Bi sendiri sudah diperintahkan untuk melakukan hal yang sama, yakni menyebar murid-murid perempuan untuk mencari dan menangkap pendatang ini, yang sudah membunuh tujuh murid laki-laki. Dan ketika Beng Tan bersiap serta menyuruh isterinya masuk tiba-tiba Swi Cu malah mengedikkan kepala dan menggeleng.

"Tidak, aku juga akan ikut mencari, koko. Akan kutangkap dan kulihat siapa pengacau itu!"

"Hm, kau bersama Ju Han, mana mungkin mencari penjahat? Tidak, kau menjaga saja anak kita itu, moi-moi. Biar aku dan murid-murid yang lain saja. Dan Ju Han menangis, lihat, kau melepas minumannya!"

Swi Cu mengerutkan kening. Anaknya tiba-tiba menangis keras karena dia melepas buah dadanya. Ju Han kiranya masih lapar dan tentu saja kecewa melihat ibunya melepaskan emik. Dan ketika isterinya itu bingung dan men-cup-cup Ju Han maka Beng Tan berkelebat mendahului mengulang isterinya itu masuk.

"Percayalah kepadaku, persoalan ini dapat kuselesaikan. Masuk dan jaga Ju Han, Cu-moi. Jangan ikut-ikut mengejar karena semua murid sudah kukerahkan!"

Swi Cu mendongkol. Apa boleh buat terpaksa dia masuk dan menahan marah. Ju Han dimimiki lagi namun perasaan sang ibu yang sudah tak keruan membuat si anak merasa, menangis dan sering menendang-nendang. Maklumlah, kegelisahan ataupun kebingungan yang dirasa si ibu akan melanda si bayi juga. Dan ketika Swi Cu menenangkan anaknya dan berkali-kali harus membujuk atau berkata-kata manis agar anaknya diam maka di saat itulah tiba-tiba terdengar panggilan lirih dan seseorang sudah ada di balik lemari, di dalam kamar sang nyonya.

"Sumoi, kau baik-baik saja?"

Swi Cu kaget bukan main. Seseorang yang muncul dan tahu-tahu sudah berada di kamarnya pribadi jelas bukanlah orang sembarangan dan tentu amat lihai. Swi Cu membentak dan seketika memutar tubuhnya dengan cepat, tangan kiri bergerak dan menghantam dengan pukulan Ang-in-kang, pukulan Awan Merah. Tapi ketika dia membalik dan melihat siapa itu tiba-tiba tangan nyonya ini lumpuh dan teriakan tertahan terdengar dari mulutnya.

"Suci...!" Swi Cu tertegun. Seorang wanita cantik muncul dari balik lemari pakaian itu, tersenyum. Langkahnya gontai dan sudah menghampiri wanita ini. Dan ketika Swi Cu menjerit dan berteriak penuh haru tiba-tiba nyonya muda itu sudah menubruk dan tersedu-sedu memeluk wanita ini, wanita cantik yang rambutnya riap-riapan, agak mengerikan karena bola matanya berputar setengah liar.

"Ah, suci, suci! Dari mana kau selama ini? Bagaimana kau datang begini tiba-tiba? Aduh, kau kurus, suci. Kau tampak pucat dan menderita. Kau tersiksa!"

Wanita itu, sang suci, mengangguk-angguk tersenyum aneh. Dia membiarkan saja sumoinya itu memeluk dan menangisi dirinya. Tapi ketika Ju Han menangis dan gelisah terhimpit ibunya maka wanita itu mundur melepaskan diri.

"Itu anakmu?"

"Benar.... ah, aku lupa!" dan Swi Cu yang mengusap air matanya menepuk si anak lalu memperkenalkan anaknya itu kepada sang suci. "Ini puteraku, suci, Han Han, atau Ju Han. Baru sebulan umurnya. Kau sendiri, eh.... bukankah dulu kau hamil?"

"Hm!" wanita itu bersinar-sinar, tidak menjawab. "Anakmu montok, sumoi, sehat dan tampan sekali. Boleh kugendong?"

"Tentu," Swi Cu memberikan. "Anakku adalah anakmu juga, suci. Tapi dimana anak yang kau kandung itu!"

"Mati," wanita ini menjawab pendek. "Kau beruntung memiliki putera demikian sehat dan tampan, sumoi. Dan bapaknya, hm.... tentu akan mewariskan kepandaiannya yang tinggi!"

Swi Cu tertegun. "Mati? Maksudmu...?"

"Ya, keguguran, sumoi. Anakku mati. Kau, hm. kau tampaknya bahagia sekali. Kau hidup senang bersama suamimu itu. Dan tampaknya demikian senang serta bahagianya hingga melupakan aku dan leluhur-leluhur Hek-yan-pang!"

"Suci!" sang sumoi terkejut. "Apa apa maksudmu?"

"Hi-hik, melupakan aku tak apa-apa, sumoi, tapi melupakan leluhur sungguh bukan perbuatan yang boleh diampuni. Kau merobah peraturan-peraturan partai, kau membiarkan murid-murid perempuan kita bergaul dengan lelaki. Hm, sedemikian bahagia dan senangnyakah dirimu ini hingga mabok bersama suami? Kau harus dihukum, sumoi. Kau melanggar perkumpulan kita... wut!" dan sang suci yang tiba-tiba berkelebat dan menyerang sang sumoi tiba-tiba sudah menampar ibu muda itu, dikelit tapi gerakan tangan yang lain menyambar dengan amat cepatnya.

Swi Cu terkejut tapi apa boleh buat menggerakkan tangannya pula, menangkis. Dan ketika dua lengan yang sama-sama memiliki sinkang itu bertemu dan beradu maka Swi Cu terpelanting sementara wanita cantik berambut riap-riapan itu terdorong mundur.

"Suci des!" Swi Cu bergulingan meloncat bangun. Anaknya tiba-tiba menangis dan wanita ini pucat karena Ju Han ada di gendongan sucinya itu. Sucinya tertawa dan Ju Han dipijit kepalanya. Dan ketika anak itu menjerit karena kesakitan, hal yang membuat Swi Cu terbelalak dan marah maka wanita ini berkelebat dan menyambar anaknya. "Suci, serahkan anakku!"

Sang suci terkekeh. Dia berkelit dan menangkis ketika sumoinya itu mengejar, berteriak dan membentak karena Ju Han tiba-tiba menjerit-jerit. Anak kecil itu rupanya ketakutan dan merasa bukan digendongan ibunya sendiri. Dan ketika dua lengan kembali beradu tapi kali ini sang suci yang terpelanting maka wanita itu terkejut karena Swi Cu mempergunakan kekuatan sinkang yang bukan milik Hek-yan-pang, selanjutnya dicecar dan bertubi-tubi menerima serangan yang jauh lebih cepat dari semula.

Swi Cu membentak agar sucinya itu mengembalikan Ju Han, berkali-kali melakukan serangan yang membuat sucinya terpelanting. Dan ketika wanita berambut riap-riapan itu terkejut karena itulah sinkang yang dimiliki Beng Tan, Pek-lui-kang atau Tenaga Petir maka dua kali lengannya gosong terkena pukulan lawan, hal yang membuat wanita itu melengking.

"Sumoi, kau tidak mempergunakan ilmu-ilmu kita. Kau semakin sesat!"

"Kaulah yang sesat!" Swi Cu menangis memaki sucinya itu. "Kau kiranya yang membunuh tujuh murid laki-laki Hek-yan-pang, suci. Dan kau merampas anakku secara tak tahu malu. Kembalikan anakku, atau aku akan mendesakmu dan merobohkanmu!"

"Hm, sudah tidak tahu hormat lagi!" wanita berambut riap-riapan itu marah. "Kau sudah tak segan dan kurang ajar kepada sucimu sendiri, sumoi. Kalau begitu kubawa anakmu ini sebagai hukuman..... dar!" dan sebuah pelor hitam yang dilempar dan meledak di ruangan itu akhirnya membuat Swi Cu memekik dan berjungkir balik menyelamatkan diri, kaget dan marah karena sucinya tiba-tiba melesat keluar jendela.

Saat itu asap hitam memenuhi kamar dan bayangan wanita berambut riap-riapan itu lenyap, Swi Cu marah dan gusar sekali. Maka ketika dia melengking dan memanggil suaminya, ribut-ribut itu sudah didengar anak-anak murid Hek-yan-pang maka bayangan Beng Tan berkelebat masuk dan langsung pemuda ini membuyarkan pengaruh asap dengan kebutan lengan bajunya.

"Apa yang terjadi. Siapa yang masuk!"

"Suci.... suci Wi Hong, koko. Dia... dia menculik anak kita!"

"Apa?"

"Benar, dia marah-marah dan datang kesini. Dan kiranya dialah yang membunuh tujuh murid laki-laki!" dan ketika Swi Cu mengguguk dan menyambar suaminya maka sambil mengejar wanita ini bercerita.

Beng Tan kaget karena tak menyangka, pantas musuh dikabarkan dapat masuk seperti memasuki rumahnya sendiri, tak tahunya adalah Wi Hong, suci atau kakak seperguruan isterinya ini dan Wi Hong adalah bekas ketua lama. Itulah wanita yang dulu menjalin cinta dengan mendiang Si Golok Maut dan pergi karena dendam.

Wi Hong membenci sekali musuh yang membunuh suami atau kekasihnya itu. Dan ketika isterinya selesai bercerita sementara anak-anak murid Hek-yan-pang geger, mendengar bahwa bekas ketua mereka yang lama muncul maka banyak yang berdiri melenggong ketika wanita berambut riap-riapan itu berkelebat ke telaga dan melarikan diri membawa Ju Han, yang menangis dan menjerit-jerit di pondongan wanita ini.

"Siapa berani menghalang dia akan kubunuh. Majulah, kalau ingin mampus!"

Murid-murid wanita terbengong-bengong. Mereka pucat ketika bekas ketua lama mereka itu berkelebat di depan mata, mengancam dan akan membunuh siapa saja yang berani menyerang. Dan karena kejadian itu berlangsung cepat dan anak-anak murid tak menduga bahwa yang datang itu adalah bekas ketua mereka sendiri, bengong membawa Ju Han yang dikira anak wanita itu, karena bekas ketua mereka juga dikabarkan hamil dan punya keturunan maka mereka baru terkejut ketika bentakan Swi Cu yang meluncur bersama suaminya memberi tahu bahwa Ju Han diculik.

"Dia anakku, Han Han. Kejar dan jangan bengong saja!"

Semua murid tersentak. Sekarang mereka baru tahu bahwa anak yang di gendongan bekas ketua lama kiranya adalah Han Han, bukan anak yang dulu dikandung wanita itu. Dan karena Swi Cu sudah mengejar bersama suaminya dan anak-anak murid mengikuti dibelakang maka Hek-yan-pang benar-benar gaduh dan ribut oleh kejadian ini. Namun kejadian itu berlangsung ketika malam hari. Swi Cu harus berlarian kesana kemari sambil menyuruh murid-murid mencegat, berteriak dan memaki-maki sucinya yang menculik Ju Han. Telaga sudah dikepung. Dan ketika sebuah perahu meluncur dan mendahului perahu-perahu lain, yang siapdan berjaga di tepi telaga maka Swi Cu menjerit menyambar sebuah perahu.

"Itu dia, kejar. Semua mengejar!"

Beng Tan terbelalak. Wi Hong, wanita itu, meluncur dan sudah hampir di seberang sana. Tinggal beberapa meter lagi wanita itu akan menepi dan meloncat kabur. Tapi ketika anak-anak murid lelaki bermunculan dan mereka itu sudah mendengar ribut-ribut ini, datangnya musuh, maka mereka itu sudah menyerang dan murid-murid lelaki ini tak tahu bahwa itulah bekas ketua lama, membentak dan menghadang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Beng Tan dan isterinya.

Tapi kalau Swi Cu berteriak dan mengejar dengan sebuah perahu, meluncur dan memaki-maki sucinya adalah Beng Tan yang kini menjadi ketua itu sudah berjungkir balik melempar dua potongan bambu dan dengan bambu inilah pemuda itu mengejar Wi Hong, bergerak dan meluncur melebihi kecepatan perahu, dengan kedua tangan atau kaki bergerak maju mundur.

"Wher-wherr...!"

Perahu Swi Cu tersalip. Beng Tan mendahului dan anak-anak murid yang ada ditepi telaga kagum, bengong tapi sudah bergerak dan berlompatan di atas perahunya sendiri untuk mengejar atau mengikuti sang ketua. Dan ketika belasan perahu meluncur seakan berlomba dan Wi Hong yang dicegat dan diserang anak-anak murid lelaki melihat itu maka wanita ini membentak dan melepas lagi tiga pelor hitamnya.

"Minggir, dan mampuslah...!"

Murid-murid lelaki itu berteriak. Mereka terlempar dan jatuh ke telaga. Ledakan granat tangan telah melukai mereka dan kesempatan ini dipergunakan Wi Hong untuk mendaratkan perahunya. Dan ketika Beng Tan membentak namun wanita itu sudah berjungkir balik di seberang maka Wi Hong terkekeh dan berkelebat menuju hutan.

"Hi-hik, boleh tangkap aku kalau bisa Beng Tan. Tunjukkan kepandaianmu dan kejarlah aku!"

Beng Tan membentak. Suara tangis anaknya menjadi pedoman tapi tiba-tiba tangis anaknya tak terdengar lagi. Wi Hong rupanya menotoknya, atau lebih ngeri lagi, wanita itu menurunkan tangan kejam, membunuh Ju Han! Dan ketika Beng Tan memekik dan berjungkir balik ke tepi telaga, menendang dua potongan bambunya itu maka dua potong bambu yang tiba-tiba dijadikan senjata dan terbang ke tempat Wi Hong tadi meluncur dan meledak ketika menghantam sasaran, pohon dibelakang Wi Hong yang tadi dipergunakan wanita ini untuk melindungi dirinya.

"Dess!" Dua potongan bambu itu melesak tembus. Orang tentu akan meleletkan lidah melihat kehebatan tenaga pemuda itu. Dalam marah dan khawatirnya Beng Tan telah mempergunakan hampir seluruh tenaganya, dua potong bambu itu menancap dan tembus mengeluarkan suara keras. Dan ketika pohon itu bergoyang-goyang dan roboh menjadi dua, tak kuat dihajar potongan bambu itu maka suaranya berdebum ketika jatuh ketanah.

"Wi Hong, serahkan Ju Han. Atau aku akan membunuhmu!" Beng Tan tak memperdulikan tumbangnya pohon di depan. Dia sudah mengerahkan ilmunya meringankan tubuh dan melihat bayangan wanita itu, membentak dan mengejar tapi Wi Hong menyelinap di pohon yang lain, muncul dan bersembunyi lagi hingga Beng Tan harus berputar-putar, memaki dan marah sekali karena kekhawatirannya akan keselamatan sang anak sudah begitu besar.

Kalau saja waktu itu bukan malam hari dan keadaan tidak gelap tentu dia sudah dapat menangkap dan mengejar lawannya itu. Hutan itu sudah dikenal dan Beng Tan hafal bagian-bagiannya. Namun karena Wi Hong juga sama-sama mengenal karena wanita itu adalah bekas penghuni Hek-yan-pang maka akhirnya melepas sebutir kerikil yang tepat mengenai pundak lawan barulah Wi Hong jatuh berteriak.

"Aduh!"

Beng Tan berkelebat menyambar anaknya. Wi Hong jatuh terduduk dan saat itulah yang terbaik untuk menyelamatkan anaknya. Tapi ketika Ju Han terampas dan Wi Hong melengking tiba-tiba wanita itu menendang sebutir kerikil hitam dan ganti menyerang pemuda ini.

"Tak!" Beng Tan tak apa-apa. Pemuda ini diserang lagi tapi sudah melindungi dirinya dengan sinkang, kebal. Dan karena ketua Hek-yan-pang itu memang lihai dan sin-kangnya jauh di atas lawan maka Wi Hong tersedu-sedu ketika gagal, meloncat bangun.

"Beng Tan, aku akan membunuhmu. Atau kau boleh membunuh aku!"

Beng Tan mengerutkan kening. Dia segera lega karena Ju Han, anaknya, tak apa-apa. Anaknya itu benar tertotok dan kini menangis setelah dia membebaskan totokan itu. Dan ketika Wi Hong menyerangnya dan dia mengelak sana-sini maka Swi Cu muncul dan wanita itu menangis kegirangan karena anaknya sudah diselamatkan sang suami.

"Berikan padaku, biar kutenangkan!"

Beng Tan melempar anaknya itu. Swi Cu menerima dan cepat ibu ini mendiamkan anaknya, membuka baju dan menyumpalkan buah dadanya ke mulut si anak. Maklum, itulah satu-satunya jalan untuk menenangkan bocah yang menangis. Dan ketika benar saja Ju Han diam dan anak itu mencecap buah dada ibunya dengan lahap dan senang maka Wi Hong disana terhuyung-huyung dikibas atau ditolak Beng Tan.

"Cukup, tak perlu menyerang lagi, Wi Hong. Berhenti, dan jangan nekat!"

"Keparat!" Wi Hong menangis. "Kau boleh bunuh aku, Beng Tan. Atau aku akan membunuhmu karena aku tak mau berhenti menyerang!"

"Hm, kau bukan lawanku. Kau bukan tandinganku. Meskipun kau menyerang tapi kau tak akan berhasil!"

"Bedebah, kau memang sombong!" dan ketika Wi Hong menyerang dan terus menyerang tapi selalu kandas dan terhuyung-huyung ditolak pemuda itu akhirnya Swi Cu tak tahan berteriak nyaring,

"Suci, sudahlah. Tahu dirilah!"

Wi Hong melotot. Dia mendelik memandang sumoinya itu namun mulut tiba-tiba menyungging senyum melihat bocah di gendongan wanita itu menyusu. Sesuatu yang aneh bersinar di matanya, terkekeh dan tiba-tiba dia terbanting ketika Beng Tan menangkis sebuah pukulannya, dengan kuat. Dan ketika wanita itu mengeluh namun bergulingan meloncat bangun, tertawa, maka tiba-tiba wanita ini berseru bahwa suatu ketika dia akan datang lagi.

"Baiklah, kau boleh menang, Beng Tan Lain kali aku akan menuntut perhitungan lagi. Selamat tinggal!"

Beng Tan terbelalak memandang. Dia sesungguhnya tak senang dengan semuanya itu, kedatangan Wi Hong yang membunuh-bunuhi murid-murid lelaki Hek-yan-pang. Tapi karena wanita itu adalah kakak seperguruan isterinya dan Wi Hong pun bekas ketua lama maka dia membiarkan saja kepergian wanita itu dan lega bahwa anaknya tak sampai celaka. Itu saja sudah cukup.

Beng Tan tak memperhatikan bahwa popok anaknya lain, bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada anaknya itu, yakni ketika bocah itu melahap dan menyusu buah dada isterinya demikian rakus. Hanya isterinya yang dapat merasakan itu tapi selanjutnya Swi Cu pun tak bercuriga. Wanita ini hanya menyangka bahwa anaknya sedang melepaskan diri dari cengkeraman ketakutan, setelah tadi dibawa dan diculik sucinya. Dan karena malam juga gelap dan Swi Cu pun tak memperhatikan popok anaknya, yang lain dan tidak serupa tadi maka wanita ini sama sekali tak menyangka bahwa anaknya telah tertukar!

Suami isteri itu tak menduga sedikit pun bahwa Wi Hong telah "mengerjai" mereka, apalagi Swi Cu mendapat keterangan bahwa sucinya itu tak jadi mempunyai anak, karena keguguran. Maka ketika mereka pulang dan anak-anak murid yang berdatangan menyusul disuruh kembali dan pulang ke tempat masing-masing maka malam itu Swi Cu menangis di dada suaminya setelah sang anak tertidur.

"Suci telah datang, dan membuat onar. Ah, apa yang harus kita lakukan, koko? Bagaimana kalau dia datang dan membuat keributan lagi?"

"Hm, tak usah cemas. Aku dapat mengatasinya, Cu-moi. Dan kaupun tentunya juga begitu. Kau harus memperdalam pukulan-pukulan Pek-in-kang atau ilmu silat Pek-jit Kiam-sut kalau tak ingin direpotkan sucimu itu. Kita dapat berjaga-jaga, tapi para murid tidak!"

"Itulah, dan aku khawatir. Bagaimana kalau murid-murid kita dibunuh lagi? Tadi suci memaki-maki aku yang dikata merobah peraturan partai, koko. Dan dia marah sekali melihat murid-murid lelaki disini. Aku khawatir akan nasib perkumpulan kita!"

"Tak perlu berlebihan. Aku tak berpikiran sejauh itu, Cu-moi. Tapi, eh... apakah dia datang sendirian?" Beng Tan tiba-tiba tampak terkejut, memandang isterinya. "Mana anak yang dulu dikandungnya itu? Bukankah dia hamil?"

"Suci keguguran...." Swi Cu masih terisak-isak. "Anak yang dulu dikandungnya itu tak ada, koko. Dia datang sendirian. Kenapakah?"

"Hm, tak apa-apa. Kalau begitu selamat!"

"Selamat apanya?"

"Eh, tidakkah kau ingat dendam sucimu itu, moi-moi? Tidakkah kau tahu bahwa sucimu akan mengajar anaknya untuk membalas dendam? Kematian Golok Maut tak mungkin dilupakannya begitu saja, dan aku ngeri kalau anak itu lahir!"

"Betul," Swi Cu terkejut, tampaknya sadar. "Suci memiliki dendam setinggi langit, koko. Dan Kedok Hitam adalah manusia yang amat dibencinya. Hm, aku ngeri, tapi untung. Dia telah keguguran dan anaknya itu tak akan mengulang sepak terjang ayahnya!"

Beng Tan mengangguk-angguk. Memang kalau Wi Hong sampai melahirkan keturunan tentulah geger dunia kang-ouw kalau anak itu melanjutkan dendam bapaknya. Dendam wanita itu tak akan puas oleh darah orang biasa saja. Yang diminta adalah darah si Kedok Hitam padahal Kedok Hitam adalah tokoh di istana, seorang laki-laki yang merupakan adik tiri kaisar. Jadi tentu hebat akibatnya kalau Wi Hong menghendaki nyawa orang itu, melalui anaknya. Dan ketika Beng Tan tepekur dan teringat peristiwa-peristiwa lama, kejadian yang membuat dia sesak dan marah ditahan maka isterinya berbisik apakah dia ingat siapa si Kedok Hitam itu.

"Tentu, mana mungkin aku lupa? Kau sudah kuberi tahu, moi-moi. Dan aku tentunya jauh lebih ingat daripada kau!"

"Hm, bukan begitu maksudku. Maksudku, bagaimana kalau suci sampai tahu, koko. Atau bagaimana kalau sampai dia bertemu dengan si Kedok Hitam ini!"

"Dia tak mungkin tahu, dan tak mungkin bertemu dengan si Kedok Hitam ini!"

"Hm, kalau umpamanya tahu?"

"Tak mungkin, Cu-moi. Aku tak akan memberitahukannya, kecuali kau!"

Sang isteri tiba-tiba mengedikkan kepala, marah. "Koko, kau tak perlu ragu akan janjiku. Aku telah bersumpah tak akan memberitahukan siapa si Kedok Hitam itu kepada suci. Kalau aku memberitahukannya biarlah kepalaku dipotong orang! Kenapa kau menyinggungku seperti ini? Aku hanya hendak minta pendapatmu bagaimana kalau seandainya secara kebetulan suci bertemu dengan si Kedok Hitam itu. Apa yang hendak kau perbuat!"

"Aku akan melindunginya," Beng Tan gugup menjawab, cepat dan meredakan kemarahan isterinya itu. "Aku juga sudah berjanji padamu, Cu-moi. Dan Kedok Hitam telah kuminta untuk tidak mengganggu sucimu itu. Kalau dia bohong, tentu aku akan menuntut pertanggung-jawabannya. Sudahlah, maaf kalau kata-kataku tadi menyakitkan hatimu!"

Swi Cu mendorong suaminya. Tak gampang dia reda kalau sudah dibuat marah begitu. Sang suami harus membujuk tak henti-henti. Dan ketika Beng Tan kelabakan dan meloncat menghadang isterinya ini maka Beng Tan memeluk dan mencium pipi isterinya. "Maaf.... maaf.... kenapa masih marah juga? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu, Cu-moi Kalau masih kurang juga biarlah aku berlutut minta maaf!" Beng Tan menjatuhkan diri berlutut, mau memeluk dan mencium kaki isterinya itu tapi Swi Cu sudah cepat menarik bangun. Akhirnya wanita ini menangis dan menyambar suaminya itu, menyusupkan dada dan balas memeluk suaminya. Dan ketika sang suami girang dan mencium isterinya itu, dibiarkan, maka Swi Cu sudah diajak masuk ke kamar.

"Hush, belum waktunya. Tak boleh! Aku masih menyusui Han-ji (anak Han), koko. Tak boleh begitu!"

"Ah, masa tidur dan memeluk isteri di ranjang saja tidak boleh? Aku tidak menginginkan yang lebih, moi-moi. Aku tahu itu. Tapi berilah sedikit penghibur dan biar aku melepas rinduku!"

"Ih, kau...!" dan sang isteri yang terpaksa menerima dan tak menolak ajakan suami lalu membiarkan saja dirinya dituntun dan masuk ke kamar, tak lama kemudian sudah berduaan dan Beng Tan lega melihat isterinya mau dibujuk.

Dia ingin menyatakan kasih dan sayangnya, meskipun sang isteri tak akan memberikan semua karena Swi Cu baru saja melahirkan bayinya sebulan lebih sedikit, hal yang mengharuskan suami "berpuasa" tapi Beng Tan dapat menerima itu. Dan ketika keduanya sudah menutup pintu kamar dan kebetulan Ju Han disana juga sudah terlelap tidur maka suami isteri ini dapat berduaan dan bermesraan kembali karena Swi Cu sudah tidak marah lagi.

* * * * * * *

"Hi-hik!" wanita berambut riap-riapan itu terkekeh. "Tahu rasa kau sekarang, Beng Tan. Tahu rasa sekarang kalian berdua. Hm, anakmu menjadi anakku, dan anakku sudah menjadi anak kalian. Giam Liong akan mewarisi kepandaian Pek-jit Kiam-sut atau Pek-lui-kang yang dahsyat. Dan anak kalian ini, hi-hik cukup kuwarisi ilmu-ilmu silat dari Hek-yan-pang!"

Orang akan bingung mendengar kata-kata ini. Wanita berambut riap-riapan itu terhuyung keluar hutan dan dia membawa seorang anak laki-laki yang menangis sepanjang jalan. Dialah Wi Hong yang semalam memasuki bekas perkumpulannya sendiri, mengacau dan membunuh tujuh murid laki-laki karena wanita ini kaget dan marah sekali bahwa Hek-yan-pang tiba-tiba sudah berobah.

Dulu murid-murid lelaki pantang disitu, bahkan Hek-yan-pang telah mengadakan peraturan bahwa perkumpulan itu hanya dihuni kaum wanita. Kaum lelaki, yang berani datang, apa-lagi berbuat macam-macam pasti akan dibunuh. Paling sial mereka diusir setelah tentu saja dilukai, dihajar atau dikutungi kakinya karena kaki mereka itulah yang dianggap bersalah, berani lancang dan nyasar ke tempat kaum perempuan.

Maka ketika malam tadi mendadak dia melihat perobahan itu dan banyak murid-murid lelaki menjaga di tepi telaga, sebagai tameng atau pelindung bagi murid-murid perempuan yang ada di tengah telaga maka Wi Hong atau bekas ketua Hek-yan-pang yang keras dan mudah sakit hati ini kontan saja membunuh murid-murid yang tak disenangi. Wi Hong, atau wanita ini, sebenarnya tentu tak asing bagi para pembaca yang sudah membaca kisah Si Golok Maut.

Inilah wanita yang menjadi pangkal kebahagiaan sekaligus juga malapetaka bagi mendiang Si Golok Maut itu. Dialah satu-satunya wanita yang amat dicintai Si Golok Maut Sin Hauw yang tewas di ujung banyak senjata. Wi Hong inilah satu-satunya wanita yang membuat Sin Hauw alias Si Golok Maut kena kutuk. Karena Golok Maut yang dipegang Sin Hauw pantang dikotori hubungan suami isteri. Dan Sin Hauw atau mendiang Si Golok Maut itu telah melakukannya.

Dalam gejolak cinta dan nafsu yang menggigit-gigit akhirnya Sin Hauw melanggar larangan senjata yang dibawa. Giam-to, atau Golok Penghisap Darah yang dibawa pemuda itu terlanjur dikotori Sin Hauw dengan perbuatannya bersama ketua Hek-yan-pang itu. Ada dua jalan bagi pemuda ini untuk "membersihkan" diri dari tuah kutukan itu. Yakni membunuh kekasihnya atau dia siap dibunuh oleh golok yang dipegangnya sendiri. Tapi ketika Wi Hong diketahui hamil dan akibat perbuatan mereka di hutan bambu itu membuahkan benih maka Sin Hauw tak jadi membunuh kekasihnya ini dan siap menerima kematian dengan mengorbankan dirinya sendiri, menerima kutuk atau pantangan besar yang dulu juga diperbuat oleh suhu dan subonya. (Baca Golok Maut)!

Wi Hong atau wanita berambut riap-riapan ini akhirnya tahu. Bekas ketua Hek-yan-pang itu memang dulu hampir saja dibunuh oleh Si Golok Maut, kekasihnya sendiri. Tapi karena ternyata waktu itu dia sudah berbadan dua dan perbuatan mereka membuahkan keturunan maka Wi Hong dibiarkan hidup sementara Si Golok Maut sendiri rela menemui ajalnya dari dendam yang sebenarnya belum tuntas.

Ada dua orang yang amat dibenci Si Golok Maut itu, dua orang yang membawa celaka keluarganya hingga dia kehilangan segala-galanya, ayah, ibu dan kakak perempuannya. Tapi karena dia akhirnya juga tewas terbunuh sementara dua orang musuhnya baru satu saja yang dibunuh oleh tangannya sendiri maka Wi Hong atau kekas ihnya inilah yang diharap meneruskan dendamnya dengan musuh yang terakhir itu. Dan musuh itu adalah si Kedok Hitam.

Wi Hong yang hamil dan membawa keturunan Si Golok Maut ini diminta untuk mencari musuh besar itu. Wanita ini juga bertekad bahwa musuh yang tinggal satu itu akan dicari dan dibunuhnya. Tapi karena musuh amatlah licik dan sekarang bertambah seorang lagi dengan yang namanya si Kedok Hitam maka Wi Hong mendapat dua tugas sekaligus yang amat berat dilakukan.

Siapakah musuh pertama yang masih hidup itu? Bukan lain adalah pangeran Coa. Pangeran ini tinggal di kota raja dan dia adalah adik tiri kaisar sekarang. Pangeran inilah yang membuat dendam Si Golok Maut setinggi gunung. Tapi karena pangeran itu selalu dilindungi orang-orang lihai dan berkali-kali Golok Maut menyerbu selalu saja gagal maka pangeran Coa selamat tapi adiknya yang bernama Ci-ongya berhasil dibunuh.

Dan sadis sekali pembalasan Si Golok Maut itu. Kepala Ci-ongya dipenggal, tubuhnya dilempar dari atap yang tinggi. Dan ketika semua geger dan Golok Maut dikeroyok ratusan orang maka disini Golok Maut mengalami luka-luka dan melarikan diri ke Lembah Iblis. Namun musuh mengejar. Dipimpin oleh seorang laki-laki yang bernama Kedok Hitam, tokoh amat lihai dan mengenakan saputangan hitam dimukanya Si Golok Maut itu diburu. Disini Golok Maut terkejut, dikepung dan akhirnya tewas. Dan ketika Golok Maut dibunuh dan ganti dicincang tubuhnya, dipotong-potong maka balas-membalas antara pihak Coa-ongya dengan pemuda itu berakhir.

Tapi benarkah demikian? Tak ada orang tahu bahwa Golok Maut telah menanamkan benihnya di tubuh bekas ketua Hek-yan-pang itu, wanita cantik alias Wi Hong, yang kini terhuyung-huyungdan terkekeh meninggalkan hutan diluar Hek-yan-pang itu. Dan karena hanya Swi Cu dan suaminya serta anak-anak murid perempuan yang tahu akan itu maka orang-orangluar tak ada yang tahu bahwa kekasih Golok Maut itu mengandung. Dan inilah wanita yang ditolong nenek Lui itu, wanita yang akhirnya membunuh Pa-lopek dan orang-orang kasar macam Hu-san dan teman-temannya itu!

Sekarang Wi Hong tak ada di tempat nenek itu lagi. Nenek Lui telah diracun suaminya sendiri, kakek Pa yang tergila-gila dan ingin mendapatkan si cantik ini, tak tahunya malah dibunuh dan menemui ajal dengan amat menyedihkan. Dan karena Wi Hong tak tinggal di tempat itu lagi dan kakinya membawanya kesana kemari maka wanita ini akhirnya ke markas Hek-yan-pang dan menukar anaknya dengan anak Swi Cu.

Sebenarnya, Wi Hong hanya ingin menengok saja, rindu pada sumoinya itu dan iseng-iseng melihat perkumpulan Walet Hitam itu sekarang. Bagaimana keadaannya dan bagaimana pula kehidupan rumah tangga sumoinya, karena dia tahu bahwa sumoinya itu menjalin cinta dengan Beng Tan, pemuda luar biasa yang setingkat dengan kekasihnya sendiri. Si Golok Maut.

Tapi begitu dia melihat perobahan disana dan betapa Hek-yan pang tiba-tiba sudah memasukkan laki-laki, hal yang membuat wanita ini marah besar maka Wi Hong membunuh dan lalu mencari sumoinya itu. Dan wanita ini tiba-tiba tertegun melihat sumoinya juga mempunyai anak laki-laki, persis dia. Dan karena anak itu sama besar dengan anaknya dan pikiran baru tiba-tiba muncul maka sebuah rencana yang semula tak direncanakan mendadak timbul...!

Naga Pembunuh Jilid 03

NAGA PEMBUNUH
JILID 03
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
BENG TAN tertegun. Ki Bi, yang tadi penakut dan cengeng tiba-tiba saja beringas dan penuh kemarahan. Bukannya dia yang membentak-bentak melainkan dia yang dibentak-bentak. Beng Tan terkejut! Tapi ketika dia melepaskan cengkeramannya dan Ki Bi jatuh terduduk maka gadis itu menangis tersedu sebelum memberikan jawaban.

"Aku... aku memang salah. Memang benar bahwa aku berbohong. Tapi kaupun juga tak mengenal perasaan, pangcu. Kau membuat aku dan anak-anak murid Hek-yan-pang yang lain penasaran!"

"Hm," Beng Tan terbelalak. "Apa maksudmu ini, Ki Bi. Dan kenapa aku kau sebut tak berperasaan?"

"Tentu saja!" gadis itu melengking. "Kau bermesra-mesraan dan berbahagia dengan isterimu, pangcu. Kau bersenang-senang dan membuat para murid yang lain kepingin! Wanita mana tidak ingin bahagia dengan pasangannya? Wanita mana tak ingin didekati lelaki apalagi kalau lelaki itu gagah perkasa dan berwatak mulia? Kau membuat cemburu murid-murid Hek-yan-pang, pangcu, dan satu di antaranya adalah aku!"

"Hah?"

"Benar. Kau boleh buktikan kata-kataku, pangcu. Kau boleh selidiki gerak-gerik murid Hek-yan-pang. Mereka. mereka mendambakanmu. Mereka mencintaimu!"

"Hm, aku adalah pangcu disini, mereka adalah anggauta. Kalau aku dicintai mereka adalah wajar, Ki Bi. Aneh sekali kata-katamu ini kalau disangkut-pautkan dengan urusan kita. Aku tak jelas juntrungannya?"

"Pangcu tak melek?"

"Maksudmu?"

"Mereka mencintaimu sebagaimana layaknya wanita mencintai laki-laki, pangcu. Mereka mencintaimu dan iri kepada Hu-pangcu yang mendapatkan suami dan pria yang baik!"

Beng Tan terperanjat. Ki Bi selanjutnya menangis tersedu-sedu dan menceritakan bahwa sesungguhnya banyak sekali murid-murid Hek-yan-pang yang jatuh hati kepadanya, mencintainya secara diam-diam. Bukan cinta dari seorang murid kepada ketuanya melainkan cinta seorang wanita terhadap pria!

Beng Tan memang masih muda dan anak-anak murid Hek-yan-pang pun rata-rata juga masih muda. Beng Tan dibuka matanya bahwa sesungguhnya kalau dia bermesra-mesraan atau bercumbu dengan isterinya itu maka banyak anak murid yang cemburu. Mereka semuanya wanita, kecuali dia yang laki-laki. Dan karena perkawinan Beng Tan menggetarkan sesuatu di hati murid-murid itu dan kebahagiaan sang Hu-pangcu membuat mereka kepingin dan ingin merasakan maka Beng Tan akhirnya sadar bahwa kehadirannya disitu sebagai pria tunggal telah menimbulkan masalah!

"Hm-hm!" pemuda ini merah padam. "Kau mengejutkan aku dengan semua kata-katamu ini, Ki Bi. Tapi aku tentu saja akan menyelidikinya. Dan kau, kenapa melakukan semuanya itu? Apakah juga..."

"Benar!" Ki Bi memotong. "Aku tak tahan dan akulah orang terdekat setelah isterimu, pangcu. Aku mencintaimu seperti juga cinta anak-anak murid yang lain itu. Aku tak tahan... aku... aku lalu coba merayumu dengan segala tingkahku itu. Aku sekarang puas. Kau boleh bunuh aku karena aku juga tak ingin hidup lebih lama setelah apa yang kulakukan ini!"

"Hm!" Beng Tan tergetar, tersentuh perasaannya. "Kau jujur, Ki Bi, meskipun... meskipun tak tahu malu. Aku menghargaimu, tapi kupikir tak perlu kau kubunuh!"

"Pangcu tak membunuhku? Pangcu ingin membuat aku malu lebih hebat setelah semuanya itu?"

"Hm, jelek-jelek kau telah memberikan informasi penting, Ki Bi. Aku berterima kasih dan kini memaklumimu. Tapi kalau kau bohong, dusta, tentu saja tak ada ampun untuk kedua kali dan kau mendapat hukuman berat!"

"Jadi pangcu mengampuniku? Tidak, kalau begitu aku yang bunuh diri, pangcu. Aku malu bertemu isterimu dan siap mati plak!"

Beng Tan tiba-tiba bergerak, cepat dan luar biasa karena Ki Bi tiba-tiba menghantam kepalanya sendiri dengan pukulan sinkang. Gadis itu menjerit dan terlempar. Beng Tan seketika terbelalak karena apa yang dikatakan gadis itu benar-benar hendak dilaksanakannya. Tapi ketika Beng Tan menotok dan mengerutkan kening dengan muka berubah-ubah maka Ki Bi berteriak-teriak agar dibunuh.

"Pangcu, aku gadis tak tahu malu. Bunuhlah, jangan biarkan aku hidup!"

"Tidak, aku mulai percaya padamu, Ki Bi, dan aku menghargai kejujuranmu ini. Aku ingin meyakinkan hatiku dan membuktikan semuanya ini..." tapi ketika Beng Tan berhenti dan menoleh ke belakang, mendengar dan melihat berkelebatnya lima bayangan maka tahu-tahu disitu telah berlutut lima orang anak murid Hek-yan-pang yang lain, sumoi atau adik-adik seperguruan Ki Bi.

"Pangcu, apa yang dikatakan enci Bi adalah benar. Kami adalah bukti-bukti yang lain!"

Beng Tan terkejut. Disitu muncul Lin Siu dan empat saudaranya, semua berlutut dan menunduk penuh hormat. Muka mereka kemerah-merahan, sekilas melirik pemuda ini namun cepat menunduk lagi dengan wajah bersinar. Beng Tan tertegun melihat lima anak murid itu tahu-tahu muncul, berlutut dan membenarkan apa yang dikata Ki Bi. Dan ketika pemuda itu menjublak dan tentu saja kaget, tergetar, maka Lin Siu berkata bahwa mereka pun boleh dibunuh kalau menyatakan cinta kepada pangcu mereka itu.

"Kami semua murid Hek-yan-pang sebetulnya membutuhkan laki-laki. Kami mendambakan sekali pria atau suami seperti pangcu ini. Dan karena kami tak menemukan dan peraturan selama ini tak memperbolehkan kami berdekatan dengan lelaki maka kebahagiaan dan kemesraan pangcu bersama Hu-pangcu sungguh membuat kami iri dan cemburu. Harap pangcu memberikan jalan keluarnya!"

Beng Tan tertegun. Segera dia semburat merah karena teringat bahwa ketika bermesra-mesraan dengan isterinya kadang-kadang mereka terlihat anak-anak murid Hek-yan-pang, yakni ketika umpamanya mereka berada di taman atau kolam ikan. Swi Cu sering tak mendengarkan nasihatnya bahwa sebaiknya mereka di kamar saja, jangan di luar. Karena anak-anak murid tentu ada yang mengintai dan berbisik-bisik.

Tapi karena Swi Cu berkata bahwa itu adalah tempat tinggalnya dan anak-anak murid dapat diusir, kalau mengintai maka Beng Tan mendiamkan saja dan isterinya tak tahu bahwa di balik pohon atau semak-semak gerumbul, jauh dari situ sedang terdapat beberapa murid yang berkasak-kusuk membicarakan kemanjaan isterinya itu, karena Swi Cu sering merebahkan tubuh atau kepala di dadanya, di saat mereka berduaan di taman atau kolam umpamanya.

"Nah," Lin Siu menyambung lagi. "Sekarang kamijuga sudah berterus terang, pangcu. Dan kami siap mendapatkan hukuman bila pangcu merasa perlu. Kami memang mencintaimu,bukan sebagai ketua melainkan juga sebagai kekasih atau suami!"

"Lin Siu...?"

"Maaf, kami tak perlu menutup-nutupi lagi, pangcu. Apa yang kami katakan adalah mewakili semua anak murid Hek-yan-pang. Kami butuh lelaki, kami butuh pendamping setelah Hu-pangcu sendiri menikah denganmu!"

Beng Tan pucat. Akhirnya dia menggigil dan gemetar mendengar semua kata-kata itu. Dia tahu bahwa kalau sudah begini maka anak-anak murid Hek-yan-pang tak salah. Dulu mereka tak timbul keinginannya ketika Hek-yan-pang masih belum dihadiri lelaki, yakni ketika dia belum masuk dan menjadi suami Swi Cu. Tapi begitu dia disitu dan Swi Cu kerap berduaan dengannya, berkasih-kasihan, karena mereka pengantin baru maka tak heran kalau anak-anak murid Hek-yan-pang menjadi kepingin dan cemburu. Dan untung cemburu mereka tak buta!

Untung selama ini anak-anak murid Hek-yan-pang hanya memendamnya di hati. Mereka masih dapat menahan perasaan dan takut sebagaimana murid yang baik. Tapi karena mereka adalah manusia dan betapapun pemandangan sehari-hari tentulah berkesan dan menimbulkan keinginan yang amat hebat maka terjadilah peristiwa malam itu dengan perbuatan Ki Bi yang sampai berusaha menjebak dirinya. Dan Beng Tan ngeri. Kalau saja dia tak memiliki iman yang kuat tentu dia sudah roboh oleh perbuatan Ki Bi yang nekat itu.

Masih terbayang jelas di ingatan Beng Tan tubuh serta bagian-bagian tubuh yang menggairahkan dari murid yang satu ini. Masih tak dapat terlupakan oleh Beng Tan keindahan dan kemontokan buah dada Ki Bi. Hm, siapapun pasti ngiler! Dan ketika Beng Tan menelan ludah dan menggigil memandang lima murid yang berlutut itu akhirnya dia berkata bahwa dia akan memikirkan semuanya ini demi kebahagiaan murid-murid Hek-yan-pang.

"Aku maklum, dan kini aku mengerti. Tapi tak mungkin aku melayani kalian seperti yang kalian inginkan itu. Aku bukan kaisar, mana mungkin memperisteri kalian? Tidak, cintaku hanya untuk isteriku, Lin Siu, hanya untuk Swi Cu. Kalau kalian butuh lelaki dan ingin adanya pendamping maka akan kupikirkan untuk kalian jalan keluarnya!"

Lin Siu dan lain-lain semburat. Mereka terpukul juga oleh kata-kata Beng Tan bahwa pemuda itu hanya mencinta Swi Cu, bukan mereka dan betapa pemuda itu amat setia sekali menjaga cintanya. Ah, bahagianya kalau mendapatkan suami seperti ini! Lin Siu dan lain-lain kagum tapi sekaligus juga kecewa mendengar itu. Tapi karena Beng Tan memang benar dan tak mungkin bagi pemuda itu harus melayani sekian banyak wanita maka Lin Siu mintakan ampun untuk Ki Bi.

"Sekarang kami hanya mengharap belas kasihan pangcu kepada enci Ki Bi. Sukalah membebaskan totokannya dan peristiwa ini tak disebarkan keluar."

"Hm, aku memang tak bermaksud menyebarkan kejadian ini kepada siapapun, Lin Siu. Bahkan kepada isteriku sekali pun! Aku memang tak akan menghukum Ki Bi meskipun tak kalian minta. Hanya Ki Bi tentu saja tak boleh mengulangi lagi perbuatannya itu dan kalian pun berhenti sampai disini!"

"Terima kasih!" Lin Siu dan yang lain menjatuhkan diri berlutut. "Kau bijaksana dan arif, pangcu. Semoga kau benar-benar memperhatikan kami dan memberikan jalan keluarnya seperti kata-katamu tadi!"

"Hm, aku tentu akan mencarikan jalan keluarnya. Aku akan memikirkan pendamping untuk kalian!"

"Dan kami minta seperti yang dirimu ini, pangcu. Gagah, setia dan jujur serta bertanggung jawab!"

"Ah, itu tergantung nasib kalian. Aku tak berani menjanjikannya. Pokoknya aku akan membicarakan dengan isteriku dan kalian bawalah Ki Bi!"

Lin Siu dan lain-lain girang. Beng Tan sudah membebaskan totokan Ki Bi dan murid wanita itu mengguguk menutupi mukanya. Rasa malu yang hebat terasa menyesakkan napas tapi Beng Tan menepuk-nepuk pundaknya, menghibur dan berkata bahwa itu adalah pengaruh gejolak muda. Wajar rasanya kalau Ki Bi melakukan itu, sebagai peletupan rasa tak kuat disesakkan birahi.

Beng Tan bersungguh-sungguhdan pemuda itu sudah melupakannya. Dan ketika Ki Bi berlutut dan mengucap terima kasih, disusul adik-adiknya yang lain maka Beng Tan terharu membangunkan murid-murid wanita ini. "Sudahlah.... sudahlah, tak ada persoalan lagi. Kalian kembalilah ke tempat masing-masing dan aku juga beristirahat!"

Ki Bi mengangguk bangkit berdiri. Wanita ini sekilas melempar pandangan kagum dan kecewa, menunduk dan sudah disambar Lin Siu untuk berkelebat keluar. Dan ketika malam itu Beng Tan berkali-kali menarik napas dan semburat mukanya maka malam itu Beng Tan tak dapat tidur sampai keesokan harinya isterinya datang. Mula-mula sukar bagi Beng Tan untuk mulai dari mana. Yakni, dari mana dia mulai bicara dan memperbincangkan hal itu. Tapi ketika isterinya tampak berseri dan menunjukkan sutera-sutera mahal yang baru dibeli maka kesempatan itu ada ketika isterinya membicarakan beberapa murid yang bertemu dengan pemuda-pemuda tampan.

"Hi-hik, Lim-hwa kemarin bertabrakan dengan dua pemuda yang tergesa-gesa ke kota. Mereka sama-sama menunggang kuda, koko, dan Lim-hwa terpelanting!"

"Hm, apa yang terjadi? Kenapa begitu?"

"Entahlah, enam murid yang kubawa itu tiba-tiba saja sepanjang jalan tampak lemah dan tak bersemangat. Mereka jarang bicara, satu sama lain membisu. Tapi ketika dua orang pemuda mencongklang dari depan dan kami tepat di tikungan menajam tiba-tiba Lim-hwa bertabrakan sementara murid yang lain keburu menyingkir dan selamat."

"Dan Lim-hwa cidera?"

"Tidak, tapi justeru bengong dan duduk melotot memandang pemuda-pemuda itu. Lim-hwa tiba-tiba menjadi aneh karena tiba-tiba kelihatan gembira dan berseri-seri!"

"Kenapa bisa begitu? Ada apa?"

"Aku tak tahu, tapi lima muridku yang lain juga tiba-tiba begitu, koko. Dan ketika mereka kubentak dan kumaki tiba-tiba mereka semua turun tapi bukan menolong Lim-hwa melainkan dua pemuda itu, yang kiranya dikejar-kejar perampok!"

Beng Tan mengerutkan kening. Sang isteri akhirnya bercerita bahwa ketika dia akan marah-marah dan mendamprat dua pemuda itu tiba-tiba saja lima muridnya turun dari kuda masing-masing untuk menolong dua pemuda itu. Lim-hwa sendiri akhirnya berdiri dan menolong pemuda pertama, yang terkilir dan mengaduh-aduh karena tempurung lututnya bergeser. Dan ketika semua malah memperhatikan dua pemuda itu padahal biasanya murid-murid Hek-yan-pang "anti" lelaki maka Swi Cu terkejut dan terheran-heran.

"Bayangkan, mereka tiba-tiba bergairah dan satu sama lain mencoba bersikap manis kepada pemuda-pemuda itu. Lim-hwa sendiri bahkan minta maaf, padahal dialah yang diterjang! Dan ketika aku marah-marah dan membentak enam muridku itu ternyata mereka berlutut dan mintakan ampun untuk dua pemuda itu. Aneh, bukankah ini ganjil, koko? Tapi karena dua pemuda itu kulihat sebagai pemuda baik-baik maka barulah aku tahu bahwa dua pemuda itu dikejar-kejar perampok yang hendak merampas buntalan mereka, hingga mereka melarikan kudanya dengan kencang dan terjadilah tabrakan itu!"

"Dan kau tidak menghukum mereka?"

"Tentu saja tidak, bahkan aku menghajar tujuh perampok yang akhirnya sampai di tempat kejadian. Dan disitulah enam muridku menjalin persahabatan dengan dua pemuda itu dan mereka tampak gembira dan bersemangat sekali!"

"Hm, kalau begitu suatu perubahan sedang terjadi," Beng Tan mulai memasuki persoalan, tersenyum. "Apakah kau tidak marah kepada murid-muridmu ini, Cu-moi? Kau mendiamkan saja mereka itu dan tidak menegur?"

"Mula-mula tentu saja tak senang, kutegur. Tapi, eh... teringat kita sendiri akhirnya aku jadi tak tega menghalangi mereka, koko. Dan kini ingin kutanya bagaimana pendapatmu karena diam-diam enam muridku itu membuat perjanjian, kencan!"

"Hm!" Beng Tan terkejut, mulai bersikap serius. "Kalau begini maka tak boleh sembunyi-sembunyi, Cu-moi. Hubungan gelap antara murid Hek-yan-pang dengan lelaki diluar bisa menimbulkan bencana. Sebaiknya dua pemuda itu dipanggil masuk dan dijadikan murid Hek-yan-pang pula!"

"Apa?"

"Tenanglah, aku hendak sedikit bercerita padamu. Di perkumpulan kita memang mulai ada perobahan," dan ketika Beng Tan memeluk dan mencium isterinya itu maka pemuda ini bertanya, sebelum melancarkan pertanyaan-pertanyaan berat. "Bagaimana pendapatmu tentang anak-anak murid kita? Salahkah jika kukatakan bahwa kita harus membahagiakan dan membuat mereka senang?"

"Hm, senang dan bahagia bagaimana, koko? Aku tak jelas arah pembicaraanmu!"

"Maksudku adalah bagaimana jika tanda-tanda yang kau lihat itu diarahkan pada tempat yang semestinya. Murid-murid Hek-yan-pang butuh lelaki. Maksudku, butuh teman lelaki sebagai sahabat atau apa yang mereka dambakan. Aku juga melihat bahwa anak-anak murid perempuan kita mulai bersikap aneh, Cu-moi. Bahwa mereka seakan iri atau cemburu kepadamu!"

"Cemburu? Kepadaku? Apa-apaan ini? Ah, kau bicara tak keruan, Koko. Aku jadi semakin tak mengerti!"

"Sst, dengarlah,duduk baik-baik," dan memeluk serta meraihlengan isterinya Beng Tan segera bertanya lembut, "Kau tentu mencintaiku, bukan? Dan kau juga mencintai murid-murid Hek-yan-pang disini?"

"Tentu saja!"

"Nah, sejak aku disini dan kita berdua bermesraan maka banyak murid-murid yang mengintai, Cu-moi. Kau tak tahu bahwa banyak pasang mata memandangmu dengan iri dan penuh rasa ingin. Mereka juga ingin sepertimu, mereka juga ingin berkasih-kasihan dan bermesraan dengan pria pujaan mereka. Maka kalau kau melihat Lim-hwa atau lain-lainnya itu seperti tak bersemangat atau lemah maka sesungguhnya mereka itu sedang mendapat tekanan atau ganjalan batin yang menyesakkan napas. Mereka cemburu kepadamu, mereka juga mendambakan nikah dan suami!"

"Maksudmu mereka ingin kawin?"

"Sst, jangan keras-keras. Sudah dikodratkan oleh Sang Pencipta bahwa wanita tak dapat sendirian tanpa pria, Cu-moi, seperti halnya pria pun tak dapat sendirian tanpa wanita. Masing-masing sudah sewajarnya isi-mengisi, karena masing masing juga sebenarnya saling membutuhkan. Bukankah tak apa-apa kalau mereka menikah dan mendapatkan suami? Bukankah tak apa-apa kalau mereka mencari teman lelaki dan hidup berumah tangga? Aku juga sudah melihat seperti apa yang kau lihat itu, Cu-moi. Hanya aku masih ragu dan baru merasa yakin setelah kau bercerita tetang Lim-hwa dan teman-temannya itu!"

Swi Cu tertegun.

"Lihat," Beng Tan meneruskan lagi. "Siapa tak ingin dan merasakan kebahagiaan seperti yang kau rasakan ini, Cu-moi? Siapa tak ingin dan mendambakan suami? Dengan pendamping mereka dapat merasakan hubungan rumah tangga. Dengan pendamping mereka dapat menikmati apa itu namanya madu cinta. Dan semua orang kukira butuh cinta, tak perduli wanita atau pria!"

"Hm, jadi maksudmu bahwa anak-anak murid kita dinikahkan saja? Dicarikan lelaki dan berumah tangga?"

"Bukan begitu. Aku tidak bermaksud menikahkan mereka..."

"Tapi kau tadi bilang begitu!" sang isteri memotong. "Kau jelas menghendaki mereka mempunyai teman laki-laki, koko. Dan kau juga menyebut-nyebut tentang nikmatnya cinta!"

"Betul, tapi aku atau kita disini hanya sebagai perantara saja, Cu-moi, bukan penentu atau pemutus nasib mereka. Mereka boleh menikah, berumah tangga. Tapi semua itu adalah atas pilihan mereka sendiri dan bukannya aku atau kau!"

"Hm, jadi bagaimana? Kau hendak memasukkan laki-laki diperkumpulan kita ini? Kau hendak membaurkannya menjadi satu dan murid kita bebas melakukan apa saja?"

"Hm, jangan bernada tinggi," Beng Tan tersenyum, tak cepat marah. "Aku tidak mengatakan begitu melainkan hendak berkata bahwa Hek-yan-pang menerima murid laki-laki. Aku dapat memilih pemuda-pemuda tampan yang cocok untuk menjadi murid. Aku tahu bahwa murid-murid disini tak boleh mendapatkan suami yang kepandaiannya di bawah isteri, apalagi kalau suaminya sama sekali tidak bisa silat! Sabar, aku tahu maksudmu, Cu-moi. Dan untuk itu tentu saja murid-murid lelaki tidak dicampur aduk dengan murid perempuan. Kita memiliki sebidang tanah kosong diluar telaga, dan kukira itu dapat kita jadikan tempat untuk menampung mereka. Bukankah murid-murid perempuan tetap sendiri dan murid-murid lelaki juga sendiri?"

Swi Cu tertegun.

"Kau tentunya tak menghendaki terjalinnya hubungan gelap antara murid-murid Hek-yan-pang dengan laki-laki diluar. Lihat kejadian-kejadian yang lalu. Lihat berapa sudah anak-anak murid Hek-yan-pang yang terpaksa menerima hukuman karena berhubungan dengan lelaki secara diam-diam, gelap. Bukankah tak baik kalau hal itu terjadi disini padahal kita dapat mencarikan jalan keluarnya? Hek-yan-pang bukan seperti dulu lagi, moi-moi. Disini telah ada lelaki dan itu adalah aku! Hek-yan-pang sudah berobah!"

Swi Cu terkejut. Akhirnya dia menjublak dan merah mukanya. Suaminya segera bercerita bahwa gejolak yang disimpan diam-diam dapat menimbulkan bahaya tak diduga. Suaminya berkata bahwa kebahagiaan mereka disitu sudah membuat semacam cemburu atau iri hati di anak-anak murid yang lain. Mereka adalah wanita biasa, manusia biasa seperti halnya Swi Cu atau wanita-wanita lain yang masih memiliki gairah dan berahi. Anak-anak murid Hek-yan-pang bukanlah patung batu. Mereka adalah mahluk hidup, yang berperasaan dan memiliki perasaan seperti yang dimiliki Swi Cu itu. Dan ketika Beng Tan menjelaskan bahwa betapa berbahayanya membiarkan keinginan yang terpendam dengan tidak memberikan apa-apa maka pemuda itu menutup dengan satu contoh.

"Gunung berapi adalah kekuatan dahsyat yang terpendam di bawah tanah. Semakin ditumpuk dan ditumpuk saja tentu suatu ketika akan meledak dan menimbulkan guncangan. Nah, sebelum semuanya itu terjadi dan murid-murid kita sudah menunjukkan gejala-gejala seperti itu maka sebaiknya diberi penyaluran, moi-moi. Kita tampung murid-murid lelaki dan kita biarkan mereka bergaul satu sama lain. Aku khawatir nafsu atau keinginan itu tak terbendung lagi. Karena sekali meledak tentu membuat kita terkejut!"

Swi Cu mengangguk-angguk. Beng Tan sendiri akhirnya membayangkan apa yang dibuat Ki Bi. Hampir saja dia tergelincir bersama wanita itu, kalau imannya tidak teguh. Dan "ngeri" bahwa Ki Bi bisa melakukan yang aneh-aneh, tak kuat menahan gejolak rasa atau berahi yang kian menyesakkan napas akhirnya Beng Tan tahu bahwa semua perasaan itu harus ditampung. Dan kini dia membicarakan itu bersama isterinya. Isterinya rupanya dapat menerima dan mengerti. Tapi tak ingin isterinya membantah atau menarik urat maka dia mendahului bahwa murid-murid perempuan itu tak usah ditanya apakah mereka ingin kawin atau tidak.

"Jangan tanya mereka apakah ingin menikah atau tidak. Mereka adalah perempuan, tentu malu dan tak mungkin menjawab benar. Kita tampung saja murid-murid lelaki dan mereka pasti akan berhubungan sendiri, tanpa disuruh."

"Baiklah, aku mengerti, koko. Dan semuanya terserah kebijaksanaanmu!"

Beng Tan tersenyum, bangkit meraih isterinya ini. Dan ketika mereka berpelukan dan Beng Tan mencium isterinya ini maka murid Hek-yan-pang diam-diam bersorak ketika diberitahukan bahwa sang ketua akan menerima murid-murid baru, kaum lelaki, pemuda-pemuda tampan yang tentu saja harus diseleksi atau diawasi Beng Tan ini.

Selanjutnya Hek-yan-pang bertambah semarak ketika satu dua murid-murid lelaki mulai berdatangan, kian hari kian bertambah banyak dan akhirnya tak kurang dari seratus murid lelaki ada disitu, tinggal di luar telaga, mengelilingi pulau dimana murid-murid perempuan tinggal disitu, sebagai penghuni lama. Dan ketika Hek-yan-pang menjadi semarak dan ramai, hubungan antara murid-murid perempuan dengan lelaki tak dapat dicegah lagi maka seratus pemuda yang menjadi murid baru sudah menjalin asmara dan siap berumah tangga!

"Nah," Beng Tan tersenyum. "Lihat hasilnya, Cu-moi. Lihat mereka itu sudah berpasang-pasangan!"

"Hm!" Swi Cu bersinar-sinar, gembira. "Betul katamu, koko. Tapi mereka harus tetap diawasi agar tidak hamil diluar nikah. Kita harus mengontrol setiap murid-murid kita sendiri!"

"Tentu, tapi aku sudah memeriksa murid laki-lakiku itu, Cu-moi. Mereka rata-rata pemuda yang baik. Dan kuancam pula agar berpacaran dulu kalau kepandaian mereka belum menyamai kekasihnya!"

"Ih, dengan begitu mereka akan bersemangat sekali. Ah, pintar kau, koko. Cerdik!"

"Ha-ha, kalau tidak cerdik mana mungkin menjadi suamimu? Sudahlah, kita sama-sama mengawasi, Cu-moi. Dan siapa melanggar harus dihukum!"

Swi Cu mengangguk. Akhirnya Beng Tan membebaskan murid-murid perempuan Hek-yan-pang itu mengenakan kedoknya. Hek-yan-pang dulu memang mengharuskan murid atau bahkan ketuanya memakai kedok, sapu tangan hitam atau merah untuk menghindari kekurang ajaran lelaki. Dan ketika Beng Tan juga membuat peraturan-peraturan baru dimana murid-mu-rid boleh keluar asal ijin maka beberapa peraturan-peraturan lama yang kaku dan keras diperlunak pemuda ini.

Semuanya tentu saja membuat murid-murid itu girang. Di bawah Beng Tan mereka mendapat keleluasaan bergerak. Dan karena pemuda itu memang dicintai dan dihormati seluruh murid maka Beng Tan dapat memimpin perkumpulan ini dengan lembut namun juga tegas. Sampai akhirnya setahun kemudian isterinya itu melahirkan anak laki-laki, kebahagiaan yang membuat Hek-yan-pang semakin berbunga. Tapi ketika semua keceriaan dan keriangan itu melanda semua murid tiba-tiba saja markas perkumpulan itu disatroni orang. Dan begitu orang ini masuk maka Hek-yan-pang pun geger!

Malam itu, tepat sebulan setelah anak laki-lakinya lahir, anak yang diberi nama Ju Han. Beng Tan dan isteri duduk di beranda rumah mereka dengan wajah berseri-seri. Beng Tan sedang melihat isterinya menyusui bayinya ini. Anak mereka itu begitu montok, tubuhnya sehat dan wajahnya kemerah-merahan. Tapi bukan kesitu perhatian Beng Tan sebenarnya. Pemuda ini sejak tadi mengagumi buah dada isterinya yang padat dan penuh air susu. Benda itu menarik perhatiannya karena dari benda itulah dia dulu hidup dan dihidupi ibunya.

Seperti anaknya inilah kira-kira dia dulu juga diberi minum susu, langsung dari buah dada ibu yang begitu penuh kasih dan sayang. Dan ketika dia bersinar-sinar memandang buah dada isterinya itu, yang lahap dikempong si bayi maka Beng Tan tiba-tiba terkejut ketika mendadak saja isterinya itu menoleh, rupanya getaran pandang matanya terasa, atau Swi Cu jengah.

"Kau..." wanita itu kemerah-merahan. "Apa yang kau pandang? Kau melihat Ju Han atau yang lain?"

"Hm!" Beng Tan bangkit berdiri, tersenyum menguasai kegugupannya. "Aku... aku memandang kedua-duanya, Cu-moi. Ya Ju Han ya ibunya. Aku kagum kepada kalian!"

"Kagum?"

"Ya, kagum karena Ju Han bertubuh sehat dan montok serta kagum karena kaupun tak kalah montok dengan anakmu. Maksudku, ha-ha.... jangan marah, Cu-moi. Aku mengagumi buah dadamu yang montok dan segar. Baru kali ini kulihat benda milikmu itu demikian padat dan penuh isi. Ah, tak heran kalau Ju Han begitu lahap. Akupun tiba-tiba merasa lapar dan ingin..."

"Hush!" sang isteri memotong, tersipu kemerah-merahan. "Jangan disini, koko. Nanti ada orang. Jangan bicara keras-keras!"

"Ha-ha, siapa keras-keras? Aku memang lapar, ingin minum...!" tapi ketika Beng Tan menunduk dan mau ikut-ikutan seperti bayinya, mencium dan mengagumi benda yang sejak tadi dipandangnya kagum itu tiba-tiba sang isteri menepis dan menahan.

"Ada orang!"

Beng Tan terkejut. Dia membalik dan tertegun melihat Ki Bi ada disitu, seketika merah mukanya karena hampir saja dia "mimik" di depan orang lain. Nyaris teledor! Tapi ketika Ki Bi sudah menjatuhkan diri berlutut dan pura-pura tak melihat perbuatan sang ketua tadi yang dirangsang gairahnya maka Ki Bi melapor bahwa diluar telaga dikatakan ada seseorang yang masuk, menyelinap dan sekarang entah dimana.

"Tujuh murid lelaki roboh malang-melintang, dan lima murid perempuan juga terkapar. Mohon pangcu memberikan perintah apa yang harus dilakukan!"

"Hm, dimana Hak Su?"

"Kami disini...!" dua bayangan berkelebat. "Kami juga hendak melapor itu, pangcu. Maaf bahwa kami terlambat!"

Beng Tan tertegun. Hak Su dan Wan To sudah berlutut di depannya dengan sikap gemetar. Mereka adalah murid-murid kepala digolongan laki-laki. Mereka itulah yang dulu ditolong isterinya dan akhirnya kencan dengan Lim Hwa. Hak Su saling cinta dengan Lim Hwa. Dan ketika dua pemuda itu berlutut dan Swi Cu bangkit berdiri maka Swi Cu bertanya siapa orang yang datang itu.

"Kami tak tahu, entah kawan atau lawan. Tapi orang itu dapat memasuki markas seperti orang yang sudah biasa keluar masuk disini, pangcu. Dan kami heran serta kaget!"

"Hm, dan kalian tak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan?"

"Tampaknya seperti perempuan, tapi bayangannya terlalu cepat dan tak ada anak murid yang melihat jelas."

"Dan kami tambahkan disini bahwa tujuh murid laki-laki akhirnya tewas," Hak Su menunduk sedih, menahan marah. "Orang itu jelas adalah musuh, pangcu. Dan kami ingin minta petunjuk apa yang harus dilakukan!"

"Hm," Beng Tan terkejut. "Tewas? Jadi orang itu sudah main bunuh?"

"Benar, pangcu. Dan menurut laporan dia amat lihai sekali. Kami mohon pangcu memberikan perintah untuk menangkapnya hidup-hidup ataukah mati!"

Beng Tan tergetar. Kalau sudah begini maka gairahnya tadi tiba-tiba lenyap. Musuh menyatroni sarang mereka dan Beng Tan menduga-duga siapa gerangan. Seingatnya, tak ada musuh yang bersifat pribadi. Kalaupun ada yang menyatroni maka itu tentulah Si Golok Maut. Tapi karena Golok Maut sudah tewas dan tak ada musuh yang dirasa berkaitan akhirnya Beng Tan menjadi curiga akan adanya seseorang, yakni, si Kedok Hitam. Tapi begitu teringat bahwa yang dilaporkan ini adalah perempuan, padahal Kedok Hitam laki-laki maka Beng Tan bingung namun pemuda ini mengepal tinjunya.

"Baiklah," Beng Tan bertindak cepat. "Kembali ke tempat masing-masing, Hak Su. Dan perintahkan semua murid untuk mencari dan menangkap orang ini. Jangan bunuh, aku akan berkeliling mencari bayangannya!"

Hak Su dan temannya mengangguk. Ki Bi sendiri sudah diperintahkan untuk melakukan hal yang sama, yakni menyebar murid-murid perempuan untuk mencari dan menangkap pendatang ini, yang sudah membunuh tujuh murid laki-laki. Dan ketika Beng Tan bersiap serta menyuruh isterinya masuk tiba-tiba Swi Cu malah mengedikkan kepala dan menggeleng.

"Tidak, aku juga akan ikut mencari, koko. Akan kutangkap dan kulihat siapa pengacau itu!"

"Hm, kau bersama Ju Han, mana mungkin mencari penjahat? Tidak, kau menjaga saja anak kita itu, moi-moi. Biar aku dan murid-murid yang lain saja. Dan Ju Han menangis, lihat, kau melepas minumannya!"

Swi Cu mengerutkan kening. Anaknya tiba-tiba menangis keras karena dia melepas buah dadanya. Ju Han kiranya masih lapar dan tentu saja kecewa melihat ibunya melepaskan emik. Dan ketika isterinya itu bingung dan men-cup-cup Ju Han maka Beng Tan berkelebat mendahului mengulang isterinya itu masuk.

"Percayalah kepadaku, persoalan ini dapat kuselesaikan. Masuk dan jaga Ju Han, Cu-moi. Jangan ikut-ikut mengejar karena semua murid sudah kukerahkan!"

Swi Cu mendongkol. Apa boleh buat terpaksa dia masuk dan menahan marah. Ju Han dimimiki lagi namun perasaan sang ibu yang sudah tak keruan membuat si anak merasa, menangis dan sering menendang-nendang. Maklumlah, kegelisahan ataupun kebingungan yang dirasa si ibu akan melanda si bayi juga. Dan ketika Swi Cu menenangkan anaknya dan berkali-kali harus membujuk atau berkata-kata manis agar anaknya diam maka di saat itulah tiba-tiba terdengar panggilan lirih dan seseorang sudah ada di balik lemari, di dalam kamar sang nyonya.

"Sumoi, kau baik-baik saja?"

Swi Cu kaget bukan main. Seseorang yang muncul dan tahu-tahu sudah berada di kamarnya pribadi jelas bukanlah orang sembarangan dan tentu amat lihai. Swi Cu membentak dan seketika memutar tubuhnya dengan cepat, tangan kiri bergerak dan menghantam dengan pukulan Ang-in-kang, pukulan Awan Merah. Tapi ketika dia membalik dan melihat siapa itu tiba-tiba tangan nyonya ini lumpuh dan teriakan tertahan terdengar dari mulutnya.

"Suci...!" Swi Cu tertegun. Seorang wanita cantik muncul dari balik lemari pakaian itu, tersenyum. Langkahnya gontai dan sudah menghampiri wanita ini. Dan ketika Swi Cu menjerit dan berteriak penuh haru tiba-tiba nyonya muda itu sudah menubruk dan tersedu-sedu memeluk wanita ini, wanita cantik yang rambutnya riap-riapan, agak mengerikan karena bola matanya berputar setengah liar.

"Ah, suci, suci! Dari mana kau selama ini? Bagaimana kau datang begini tiba-tiba? Aduh, kau kurus, suci. Kau tampak pucat dan menderita. Kau tersiksa!"

Wanita itu, sang suci, mengangguk-angguk tersenyum aneh. Dia membiarkan saja sumoinya itu memeluk dan menangisi dirinya. Tapi ketika Ju Han menangis dan gelisah terhimpit ibunya maka wanita itu mundur melepaskan diri.

"Itu anakmu?"

"Benar.... ah, aku lupa!" dan Swi Cu yang mengusap air matanya menepuk si anak lalu memperkenalkan anaknya itu kepada sang suci. "Ini puteraku, suci, Han Han, atau Ju Han. Baru sebulan umurnya. Kau sendiri, eh.... bukankah dulu kau hamil?"

"Hm!" wanita itu bersinar-sinar, tidak menjawab. "Anakmu montok, sumoi, sehat dan tampan sekali. Boleh kugendong?"

"Tentu," Swi Cu memberikan. "Anakku adalah anakmu juga, suci. Tapi dimana anak yang kau kandung itu!"

"Mati," wanita ini menjawab pendek. "Kau beruntung memiliki putera demikian sehat dan tampan, sumoi. Dan bapaknya, hm.... tentu akan mewariskan kepandaiannya yang tinggi!"

Swi Cu tertegun. "Mati? Maksudmu...?"

"Ya, keguguran, sumoi. Anakku mati. Kau, hm. kau tampaknya bahagia sekali. Kau hidup senang bersama suamimu itu. Dan tampaknya demikian senang serta bahagianya hingga melupakan aku dan leluhur-leluhur Hek-yan-pang!"

"Suci!" sang sumoi terkejut. "Apa apa maksudmu?"

"Hi-hik, melupakan aku tak apa-apa, sumoi, tapi melupakan leluhur sungguh bukan perbuatan yang boleh diampuni. Kau merobah peraturan-peraturan partai, kau membiarkan murid-murid perempuan kita bergaul dengan lelaki. Hm, sedemikian bahagia dan senangnyakah dirimu ini hingga mabok bersama suami? Kau harus dihukum, sumoi. Kau melanggar perkumpulan kita... wut!" dan sang suci yang tiba-tiba berkelebat dan menyerang sang sumoi tiba-tiba sudah menampar ibu muda itu, dikelit tapi gerakan tangan yang lain menyambar dengan amat cepatnya.

Swi Cu terkejut tapi apa boleh buat menggerakkan tangannya pula, menangkis. Dan ketika dua lengan yang sama-sama memiliki sinkang itu bertemu dan beradu maka Swi Cu terpelanting sementara wanita cantik berambut riap-riapan itu terdorong mundur.

"Suci des!" Swi Cu bergulingan meloncat bangun. Anaknya tiba-tiba menangis dan wanita ini pucat karena Ju Han ada di gendongan sucinya itu. Sucinya tertawa dan Ju Han dipijit kepalanya. Dan ketika anak itu menjerit karena kesakitan, hal yang membuat Swi Cu terbelalak dan marah maka wanita ini berkelebat dan menyambar anaknya. "Suci, serahkan anakku!"

Sang suci terkekeh. Dia berkelit dan menangkis ketika sumoinya itu mengejar, berteriak dan membentak karena Ju Han tiba-tiba menjerit-jerit. Anak kecil itu rupanya ketakutan dan merasa bukan digendongan ibunya sendiri. Dan ketika dua lengan kembali beradu tapi kali ini sang suci yang terpelanting maka wanita itu terkejut karena Swi Cu mempergunakan kekuatan sinkang yang bukan milik Hek-yan-pang, selanjutnya dicecar dan bertubi-tubi menerima serangan yang jauh lebih cepat dari semula.

Swi Cu membentak agar sucinya itu mengembalikan Ju Han, berkali-kali melakukan serangan yang membuat sucinya terpelanting. Dan ketika wanita berambut riap-riapan itu terkejut karena itulah sinkang yang dimiliki Beng Tan, Pek-lui-kang atau Tenaga Petir maka dua kali lengannya gosong terkena pukulan lawan, hal yang membuat wanita itu melengking.

"Sumoi, kau tidak mempergunakan ilmu-ilmu kita. Kau semakin sesat!"

"Kaulah yang sesat!" Swi Cu menangis memaki sucinya itu. "Kau kiranya yang membunuh tujuh murid laki-laki Hek-yan-pang, suci. Dan kau merampas anakku secara tak tahu malu. Kembalikan anakku, atau aku akan mendesakmu dan merobohkanmu!"

"Hm, sudah tidak tahu hormat lagi!" wanita berambut riap-riapan itu marah. "Kau sudah tak segan dan kurang ajar kepada sucimu sendiri, sumoi. Kalau begitu kubawa anakmu ini sebagai hukuman..... dar!" dan sebuah pelor hitam yang dilempar dan meledak di ruangan itu akhirnya membuat Swi Cu memekik dan berjungkir balik menyelamatkan diri, kaget dan marah karena sucinya tiba-tiba melesat keluar jendela.

Saat itu asap hitam memenuhi kamar dan bayangan wanita berambut riap-riapan itu lenyap, Swi Cu marah dan gusar sekali. Maka ketika dia melengking dan memanggil suaminya, ribut-ribut itu sudah didengar anak-anak murid Hek-yan-pang maka bayangan Beng Tan berkelebat masuk dan langsung pemuda ini membuyarkan pengaruh asap dengan kebutan lengan bajunya.

"Apa yang terjadi. Siapa yang masuk!"

"Suci.... suci Wi Hong, koko. Dia... dia menculik anak kita!"

"Apa?"

"Benar, dia marah-marah dan datang kesini. Dan kiranya dialah yang membunuh tujuh murid laki-laki!" dan ketika Swi Cu mengguguk dan menyambar suaminya maka sambil mengejar wanita ini bercerita.

Beng Tan kaget karena tak menyangka, pantas musuh dikabarkan dapat masuk seperti memasuki rumahnya sendiri, tak tahunya adalah Wi Hong, suci atau kakak seperguruan isterinya ini dan Wi Hong adalah bekas ketua lama. Itulah wanita yang dulu menjalin cinta dengan mendiang Si Golok Maut dan pergi karena dendam.

Wi Hong membenci sekali musuh yang membunuh suami atau kekasihnya itu. Dan ketika isterinya selesai bercerita sementara anak-anak murid Hek-yan-pang geger, mendengar bahwa bekas ketua mereka yang lama muncul maka banyak yang berdiri melenggong ketika wanita berambut riap-riapan itu berkelebat ke telaga dan melarikan diri membawa Ju Han, yang menangis dan menjerit-jerit di pondongan wanita ini.

"Siapa berani menghalang dia akan kubunuh. Majulah, kalau ingin mampus!"

Murid-murid wanita terbengong-bengong. Mereka pucat ketika bekas ketua lama mereka itu berkelebat di depan mata, mengancam dan akan membunuh siapa saja yang berani menyerang. Dan karena kejadian itu berlangsung cepat dan anak-anak murid tak menduga bahwa yang datang itu adalah bekas ketua mereka sendiri, bengong membawa Ju Han yang dikira anak wanita itu, karena bekas ketua mereka juga dikabarkan hamil dan punya keturunan maka mereka baru terkejut ketika bentakan Swi Cu yang meluncur bersama suaminya memberi tahu bahwa Ju Han diculik.

"Dia anakku, Han Han. Kejar dan jangan bengong saja!"

Semua murid tersentak. Sekarang mereka baru tahu bahwa anak yang di gendongan bekas ketua lama kiranya adalah Han Han, bukan anak yang dulu dikandung wanita itu. Dan karena Swi Cu sudah mengejar bersama suaminya dan anak-anak murid mengikuti dibelakang maka Hek-yan-pang benar-benar gaduh dan ribut oleh kejadian ini. Namun kejadian itu berlangsung ketika malam hari. Swi Cu harus berlarian kesana kemari sambil menyuruh murid-murid mencegat, berteriak dan memaki-maki sucinya yang menculik Ju Han. Telaga sudah dikepung. Dan ketika sebuah perahu meluncur dan mendahului perahu-perahu lain, yang siapdan berjaga di tepi telaga maka Swi Cu menjerit menyambar sebuah perahu.

"Itu dia, kejar. Semua mengejar!"

Beng Tan terbelalak. Wi Hong, wanita itu, meluncur dan sudah hampir di seberang sana. Tinggal beberapa meter lagi wanita itu akan menepi dan meloncat kabur. Tapi ketika anak-anak murid lelaki bermunculan dan mereka itu sudah mendengar ribut-ribut ini, datangnya musuh, maka mereka itu sudah menyerang dan murid-murid lelaki ini tak tahu bahwa itulah bekas ketua lama, membentak dan menghadang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Beng Tan dan isterinya.

Tapi kalau Swi Cu berteriak dan mengejar dengan sebuah perahu, meluncur dan memaki-maki sucinya adalah Beng Tan yang kini menjadi ketua itu sudah berjungkir balik melempar dua potongan bambu dan dengan bambu inilah pemuda itu mengejar Wi Hong, bergerak dan meluncur melebihi kecepatan perahu, dengan kedua tangan atau kaki bergerak maju mundur.

"Wher-wherr...!"

Perahu Swi Cu tersalip. Beng Tan mendahului dan anak-anak murid yang ada ditepi telaga kagum, bengong tapi sudah bergerak dan berlompatan di atas perahunya sendiri untuk mengejar atau mengikuti sang ketua. Dan ketika belasan perahu meluncur seakan berlomba dan Wi Hong yang dicegat dan diserang anak-anak murid lelaki melihat itu maka wanita ini membentak dan melepas lagi tiga pelor hitamnya.

"Minggir, dan mampuslah...!"

Murid-murid lelaki itu berteriak. Mereka terlempar dan jatuh ke telaga. Ledakan granat tangan telah melukai mereka dan kesempatan ini dipergunakan Wi Hong untuk mendaratkan perahunya. Dan ketika Beng Tan membentak namun wanita itu sudah berjungkir balik di seberang maka Wi Hong terkekeh dan berkelebat menuju hutan.

"Hi-hik, boleh tangkap aku kalau bisa Beng Tan. Tunjukkan kepandaianmu dan kejarlah aku!"

Beng Tan membentak. Suara tangis anaknya menjadi pedoman tapi tiba-tiba tangis anaknya tak terdengar lagi. Wi Hong rupanya menotoknya, atau lebih ngeri lagi, wanita itu menurunkan tangan kejam, membunuh Ju Han! Dan ketika Beng Tan memekik dan berjungkir balik ke tepi telaga, menendang dua potongan bambunya itu maka dua potong bambu yang tiba-tiba dijadikan senjata dan terbang ke tempat Wi Hong tadi meluncur dan meledak ketika menghantam sasaran, pohon dibelakang Wi Hong yang tadi dipergunakan wanita ini untuk melindungi dirinya.

"Dess!" Dua potongan bambu itu melesak tembus. Orang tentu akan meleletkan lidah melihat kehebatan tenaga pemuda itu. Dalam marah dan khawatirnya Beng Tan telah mempergunakan hampir seluruh tenaganya, dua potong bambu itu menancap dan tembus mengeluarkan suara keras. Dan ketika pohon itu bergoyang-goyang dan roboh menjadi dua, tak kuat dihajar potongan bambu itu maka suaranya berdebum ketika jatuh ketanah.

"Wi Hong, serahkan Ju Han. Atau aku akan membunuhmu!" Beng Tan tak memperdulikan tumbangnya pohon di depan. Dia sudah mengerahkan ilmunya meringankan tubuh dan melihat bayangan wanita itu, membentak dan mengejar tapi Wi Hong menyelinap di pohon yang lain, muncul dan bersembunyi lagi hingga Beng Tan harus berputar-putar, memaki dan marah sekali karena kekhawatirannya akan keselamatan sang anak sudah begitu besar.

Kalau saja waktu itu bukan malam hari dan keadaan tidak gelap tentu dia sudah dapat menangkap dan mengejar lawannya itu. Hutan itu sudah dikenal dan Beng Tan hafal bagian-bagiannya. Namun karena Wi Hong juga sama-sama mengenal karena wanita itu adalah bekas penghuni Hek-yan-pang maka akhirnya melepas sebutir kerikil yang tepat mengenai pundak lawan barulah Wi Hong jatuh berteriak.

"Aduh!"

Beng Tan berkelebat menyambar anaknya. Wi Hong jatuh terduduk dan saat itulah yang terbaik untuk menyelamatkan anaknya. Tapi ketika Ju Han terampas dan Wi Hong melengking tiba-tiba wanita itu menendang sebutir kerikil hitam dan ganti menyerang pemuda ini.

"Tak!" Beng Tan tak apa-apa. Pemuda ini diserang lagi tapi sudah melindungi dirinya dengan sinkang, kebal. Dan karena ketua Hek-yan-pang itu memang lihai dan sin-kangnya jauh di atas lawan maka Wi Hong tersedu-sedu ketika gagal, meloncat bangun.

"Beng Tan, aku akan membunuhmu. Atau kau boleh membunuh aku!"

Beng Tan mengerutkan kening. Dia segera lega karena Ju Han, anaknya, tak apa-apa. Anaknya itu benar tertotok dan kini menangis setelah dia membebaskan totokan itu. Dan ketika Wi Hong menyerangnya dan dia mengelak sana-sini maka Swi Cu muncul dan wanita itu menangis kegirangan karena anaknya sudah diselamatkan sang suami.

"Berikan padaku, biar kutenangkan!"

Beng Tan melempar anaknya itu. Swi Cu menerima dan cepat ibu ini mendiamkan anaknya, membuka baju dan menyumpalkan buah dadanya ke mulut si anak. Maklum, itulah satu-satunya jalan untuk menenangkan bocah yang menangis. Dan ketika benar saja Ju Han diam dan anak itu mencecap buah dada ibunya dengan lahap dan senang maka Wi Hong disana terhuyung-huyung dikibas atau ditolak Beng Tan.

"Cukup, tak perlu menyerang lagi, Wi Hong. Berhenti, dan jangan nekat!"

"Keparat!" Wi Hong menangis. "Kau boleh bunuh aku, Beng Tan. Atau aku akan membunuhmu karena aku tak mau berhenti menyerang!"

"Hm, kau bukan lawanku. Kau bukan tandinganku. Meskipun kau menyerang tapi kau tak akan berhasil!"

"Bedebah, kau memang sombong!" dan ketika Wi Hong menyerang dan terus menyerang tapi selalu kandas dan terhuyung-huyung ditolak pemuda itu akhirnya Swi Cu tak tahan berteriak nyaring,

"Suci, sudahlah. Tahu dirilah!"

Wi Hong melotot. Dia mendelik memandang sumoinya itu namun mulut tiba-tiba menyungging senyum melihat bocah di gendongan wanita itu menyusu. Sesuatu yang aneh bersinar di matanya, terkekeh dan tiba-tiba dia terbanting ketika Beng Tan menangkis sebuah pukulannya, dengan kuat. Dan ketika wanita itu mengeluh namun bergulingan meloncat bangun, tertawa, maka tiba-tiba wanita ini berseru bahwa suatu ketika dia akan datang lagi.

"Baiklah, kau boleh menang, Beng Tan Lain kali aku akan menuntut perhitungan lagi. Selamat tinggal!"

Beng Tan terbelalak memandang. Dia sesungguhnya tak senang dengan semuanya itu, kedatangan Wi Hong yang membunuh-bunuhi murid-murid lelaki Hek-yan-pang. Tapi karena wanita itu adalah kakak seperguruan isterinya dan Wi Hong pun bekas ketua lama maka dia membiarkan saja kepergian wanita itu dan lega bahwa anaknya tak sampai celaka. Itu saja sudah cukup.

Beng Tan tak memperhatikan bahwa popok anaknya lain, bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada anaknya itu, yakni ketika bocah itu melahap dan menyusu buah dada isterinya demikian rakus. Hanya isterinya yang dapat merasakan itu tapi selanjutnya Swi Cu pun tak bercuriga. Wanita ini hanya menyangka bahwa anaknya sedang melepaskan diri dari cengkeraman ketakutan, setelah tadi dibawa dan diculik sucinya. Dan karena malam juga gelap dan Swi Cu pun tak memperhatikan popok anaknya, yang lain dan tidak serupa tadi maka wanita ini sama sekali tak menyangka bahwa anaknya telah tertukar!

Suami isteri itu tak menduga sedikit pun bahwa Wi Hong telah "mengerjai" mereka, apalagi Swi Cu mendapat keterangan bahwa sucinya itu tak jadi mempunyai anak, karena keguguran. Maka ketika mereka pulang dan anak-anak murid yang berdatangan menyusul disuruh kembali dan pulang ke tempat masing-masing maka malam itu Swi Cu menangis di dada suaminya setelah sang anak tertidur.

"Suci telah datang, dan membuat onar. Ah, apa yang harus kita lakukan, koko? Bagaimana kalau dia datang dan membuat keributan lagi?"

"Hm, tak usah cemas. Aku dapat mengatasinya, Cu-moi. Dan kaupun tentunya juga begitu. Kau harus memperdalam pukulan-pukulan Pek-in-kang atau ilmu silat Pek-jit Kiam-sut kalau tak ingin direpotkan sucimu itu. Kita dapat berjaga-jaga, tapi para murid tidak!"

"Itulah, dan aku khawatir. Bagaimana kalau murid-murid kita dibunuh lagi? Tadi suci memaki-maki aku yang dikata merobah peraturan partai, koko. Dan dia marah sekali melihat murid-murid lelaki disini. Aku khawatir akan nasib perkumpulan kita!"

"Tak perlu berlebihan. Aku tak berpikiran sejauh itu, Cu-moi. Tapi, eh... apakah dia datang sendirian?" Beng Tan tiba-tiba tampak terkejut, memandang isterinya. "Mana anak yang dulu dikandungnya itu? Bukankah dia hamil?"

"Suci keguguran...." Swi Cu masih terisak-isak. "Anak yang dulu dikandungnya itu tak ada, koko. Dia datang sendirian. Kenapakah?"

"Hm, tak apa-apa. Kalau begitu selamat!"

"Selamat apanya?"

"Eh, tidakkah kau ingat dendam sucimu itu, moi-moi? Tidakkah kau tahu bahwa sucimu akan mengajar anaknya untuk membalas dendam? Kematian Golok Maut tak mungkin dilupakannya begitu saja, dan aku ngeri kalau anak itu lahir!"

"Betul," Swi Cu terkejut, tampaknya sadar. "Suci memiliki dendam setinggi langit, koko. Dan Kedok Hitam adalah manusia yang amat dibencinya. Hm, aku ngeri, tapi untung. Dia telah keguguran dan anaknya itu tak akan mengulang sepak terjang ayahnya!"

Beng Tan mengangguk-angguk. Memang kalau Wi Hong sampai melahirkan keturunan tentulah geger dunia kang-ouw kalau anak itu melanjutkan dendam bapaknya. Dendam wanita itu tak akan puas oleh darah orang biasa saja. Yang diminta adalah darah si Kedok Hitam padahal Kedok Hitam adalah tokoh di istana, seorang laki-laki yang merupakan adik tiri kaisar. Jadi tentu hebat akibatnya kalau Wi Hong menghendaki nyawa orang itu, melalui anaknya. Dan ketika Beng Tan tepekur dan teringat peristiwa-peristiwa lama, kejadian yang membuat dia sesak dan marah ditahan maka isterinya berbisik apakah dia ingat siapa si Kedok Hitam itu.

"Tentu, mana mungkin aku lupa? Kau sudah kuberi tahu, moi-moi. Dan aku tentunya jauh lebih ingat daripada kau!"

"Hm, bukan begitu maksudku. Maksudku, bagaimana kalau suci sampai tahu, koko. Atau bagaimana kalau sampai dia bertemu dengan si Kedok Hitam ini!"

"Dia tak mungkin tahu, dan tak mungkin bertemu dengan si Kedok Hitam ini!"

"Hm, kalau umpamanya tahu?"

"Tak mungkin, Cu-moi. Aku tak akan memberitahukannya, kecuali kau!"

Sang isteri tiba-tiba mengedikkan kepala, marah. "Koko, kau tak perlu ragu akan janjiku. Aku telah bersumpah tak akan memberitahukan siapa si Kedok Hitam itu kepada suci. Kalau aku memberitahukannya biarlah kepalaku dipotong orang! Kenapa kau menyinggungku seperti ini? Aku hanya hendak minta pendapatmu bagaimana kalau seandainya secara kebetulan suci bertemu dengan si Kedok Hitam itu. Apa yang hendak kau perbuat!"

"Aku akan melindunginya," Beng Tan gugup menjawab, cepat dan meredakan kemarahan isterinya itu. "Aku juga sudah berjanji padamu, Cu-moi. Dan Kedok Hitam telah kuminta untuk tidak mengganggu sucimu itu. Kalau dia bohong, tentu aku akan menuntut pertanggung-jawabannya. Sudahlah, maaf kalau kata-kataku tadi menyakitkan hatimu!"

Swi Cu mendorong suaminya. Tak gampang dia reda kalau sudah dibuat marah begitu. Sang suami harus membujuk tak henti-henti. Dan ketika Beng Tan kelabakan dan meloncat menghadang isterinya ini maka Beng Tan memeluk dan mencium pipi isterinya. "Maaf.... maaf.... kenapa masih marah juga? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu, Cu-moi Kalau masih kurang juga biarlah aku berlutut minta maaf!" Beng Tan menjatuhkan diri berlutut, mau memeluk dan mencium kaki isterinya itu tapi Swi Cu sudah cepat menarik bangun. Akhirnya wanita ini menangis dan menyambar suaminya itu, menyusupkan dada dan balas memeluk suaminya. Dan ketika sang suami girang dan mencium isterinya itu, dibiarkan, maka Swi Cu sudah diajak masuk ke kamar.

"Hush, belum waktunya. Tak boleh! Aku masih menyusui Han-ji (anak Han), koko. Tak boleh begitu!"

"Ah, masa tidur dan memeluk isteri di ranjang saja tidak boleh? Aku tidak menginginkan yang lebih, moi-moi. Aku tahu itu. Tapi berilah sedikit penghibur dan biar aku melepas rinduku!"

"Ih, kau...!" dan sang isteri yang terpaksa menerima dan tak menolak ajakan suami lalu membiarkan saja dirinya dituntun dan masuk ke kamar, tak lama kemudian sudah berduaan dan Beng Tan lega melihat isterinya mau dibujuk.

Dia ingin menyatakan kasih dan sayangnya, meskipun sang isteri tak akan memberikan semua karena Swi Cu baru saja melahirkan bayinya sebulan lebih sedikit, hal yang mengharuskan suami "berpuasa" tapi Beng Tan dapat menerima itu. Dan ketika keduanya sudah menutup pintu kamar dan kebetulan Ju Han disana juga sudah terlelap tidur maka suami isteri ini dapat berduaan dan bermesraan kembali karena Swi Cu sudah tidak marah lagi.

* * * * * * *

"Hi-hik!" wanita berambut riap-riapan itu terkekeh. "Tahu rasa kau sekarang, Beng Tan. Tahu rasa sekarang kalian berdua. Hm, anakmu menjadi anakku, dan anakku sudah menjadi anak kalian. Giam Liong akan mewarisi kepandaian Pek-jit Kiam-sut atau Pek-lui-kang yang dahsyat. Dan anak kalian ini, hi-hik cukup kuwarisi ilmu-ilmu silat dari Hek-yan-pang!"

Orang akan bingung mendengar kata-kata ini. Wanita berambut riap-riapan itu terhuyung keluar hutan dan dia membawa seorang anak laki-laki yang menangis sepanjang jalan. Dialah Wi Hong yang semalam memasuki bekas perkumpulannya sendiri, mengacau dan membunuh tujuh murid laki-laki karena wanita ini kaget dan marah sekali bahwa Hek-yan-pang tiba-tiba sudah berobah.

Dulu murid-murid lelaki pantang disitu, bahkan Hek-yan-pang telah mengadakan peraturan bahwa perkumpulan itu hanya dihuni kaum wanita. Kaum lelaki, yang berani datang, apa-lagi berbuat macam-macam pasti akan dibunuh. Paling sial mereka diusir setelah tentu saja dilukai, dihajar atau dikutungi kakinya karena kaki mereka itulah yang dianggap bersalah, berani lancang dan nyasar ke tempat kaum perempuan.

Maka ketika malam tadi mendadak dia melihat perobahan itu dan banyak murid-murid lelaki menjaga di tepi telaga, sebagai tameng atau pelindung bagi murid-murid perempuan yang ada di tengah telaga maka Wi Hong atau bekas ketua Hek-yan-pang yang keras dan mudah sakit hati ini kontan saja membunuh murid-murid yang tak disenangi. Wi Hong, atau wanita ini, sebenarnya tentu tak asing bagi para pembaca yang sudah membaca kisah Si Golok Maut.

Inilah wanita yang menjadi pangkal kebahagiaan sekaligus juga malapetaka bagi mendiang Si Golok Maut itu. Dialah satu-satunya wanita yang amat dicintai Si Golok Maut Sin Hauw yang tewas di ujung banyak senjata. Wi Hong inilah satu-satunya wanita yang membuat Sin Hauw alias Si Golok Maut kena kutuk. Karena Golok Maut yang dipegang Sin Hauw pantang dikotori hubungan suami isteri. Dan Sin Hauw atau mendiang Si Golok Maut itu telah melakukannya.

Dalam gejolak cinta dan nafsu yang menggigit-gigit akhirnya Sin Hauw melanggar larangan senjata yang dibawa. Giam-to, atau Golok Penghisap Darah yang dibawa pemuda itu terlanjur dikotori Sin Hauw dengan perbuatannya bersama ketua Hek-yan-pang itu. Ada dua jalan bagi pemuda ini untuk "membersihkan" diri dari tuah kutukan itu. Yakni membunuh kekasihnya atau dia siap dibunuh oleh golok yang dipegangnya sendiri. Tapi ketika Wi Hong diketahui hamil dan akibat perbuatan mereka di hutan bambu itu membuahkan benih maka Sin Hauw tak jadi membunuh kekasihnya ini dan siap menerima kematian dengan mengorbankan dirinya sendiri, menerima kutuk atau pantangan besar yang dulu juga diperbuat oleh suhu dan subonya. (Baca Golok Maut)!

Wi Hong atau wanita berambut riap-riapan ini akhirnya tahu. Bekas ketua Hek-yan-pang itu memang dulu hampir saja dibunuh oleh Si Golok Maut, kekasihnya sendiri. Tapi karena ternyata waktu itu dia sudah berbadan dua dan perbuatan mereka membuahkan keturunan maka Wi Hong dibiarkan hidup sementara Si Golok Maut sendiri rela menemui ajalnya dari dendam yang sebenarnya belum tuntas.

Ada dua orang yang amat dibenci Si Golok Maut itu, dua orang yang membawa celaka keluarganya hingga dia kehilangan segala-galanya, ayah, ibu dan kakak perempuannya. Tapi karena dia akhirnya juga tewas terbunuh sementara dua orang musuhnya baru satu saja yang dibunuh oleh tangannya sendiri maka Wi Hong atau kekas ihnya inilah yang diharap meneruskan dendamnya dengan musuh yang terakhir itu. Dan musuh itu adalah si Kedok Hitam.

Wi Hong yang hamil dan membawa keturunan Si Golok Maut ini diminta untuk mencari musuh besar itu. Wanita ini juga bertekad bahwa musuh yang tinggal satu itu akan dicari dan dibunuhnya. Tapi karena musuh amatlah licik dan sekarang bertambah seorang lagi dengan yang namanya si Kedok Hitam maka Wi Hong mendapat dua tugas sekaligus yang amat berat dilakukan.

Siapakah musuh pertama yang masih hidup itu? Bukan lain adalah pangeran Coa. Pangeran ini tinggal di kota raja dan dia adalah adik tiri kaisar sekarang. Pangeran inilah yang membuat dendam Si Golok Maut setinggi gunung. Tapi karena pangeran itu selalu dilindungi orang-orang lihai dan berkali-kali Golok Maut menyerbu selalu saja gagal maka pangeran Coa selamat tapi adiknya yang bernama Ci-ongya berhasil dibunuh.

Dan sadis sekali pembalasan Si Golok Maut itu. Kepala Ci-ongya dipenggal, tubuhnya dilempar dari atap yang tinggi. Dan ketika semua geger dan Golok Maut dikeroyok ratusan orang maka disini Golok Maut mengalami luka-luka dan melarikan diri ke Lembah Iblis. Namun musuh mengejar. Dipimpin oleh seorang laki-laki yang bernama Kedok Hitam, tokoh amat lihai dan mengenakan saputangan hitam dimukanya Si Golok Maut itu diburu. Disini Golok Maut terkejut, dikepung dan akhirnya tewas. Dan ketika Golok Maut dibunuh dan ganti dicincang tubuhnya, dipotong-potong maka balas-membalas antara pihak Coa-ongya dengan pemuda itu berakhir.

Tapi benarkah demikian? Tak ada orang tahu bahwa Golok Maut telah menanamkan benihnya di tubuh bekas ketua Hek-yan-pang itu, wanita cantik alias Wi Hong, yang kini terhuyung-huyungdan terkekeh meninggalkan hutan diluar Hek-yan-pang itu. Dan karena hanya Swi Cu dan suaminya serta anak-anak murid perempuan yang tahu akan itu maka orang-orangluar tak ada yang tahu bahwa kekasih Golok Maut itu mengandung. Dan inilah wanita yang ditolong nenek Lui itu, wanita yang akhirnya membunuh Pa-lopek dan orang-orang kasar macam Hu-san dan teman-temannya itu!

Sekarang Wi Hong tak ada di tempat nenek itu lagi. Nenek Lui telah diracun suaminya sendiri, kakek Pa yang tergila-gila dan ingin mendapatkan si cantik ini, tak tahunya malah dibunuh dan menemui ajal dengan amat menyedihkan. Dan karena Wi Hong tak tinggal di tempat itu lagi dan kakinya membawanya kesana kemari maka wanita ini akhirnya ke markas Hek-yan-pang dan menukar anaknya dengan anak Swi Cu.

Sebenarnya, Wi Hong hanya ingin menengok saja, rindu pada sumoinya itu dan iseng-iseng melihat perkumpulan Walet Hitam itu sekarang. Bagaimana keadaannya dan bagaimana pula kehidupan rumah tangga sumoinya, karena dia tahu bahwa sumoinya itu menjalin cinta dengan Beng Tan, pemuda luar biasa yang setingkat dengan kekasihnya sendiri. Si Golok Maut.

Tapi begitu dia melihat perobahan disana dan betapa Hek-yan pang tiba-tiba sudah memasukkan laki-laki, hal yang membuat wanita ini marah besar maka Wi Hong membunuh dan lalu mencari sumoinya itu. Dan wanita ini tiba-tiba tertegun melihat sumoinya juga mempunyai anak laki-laki, persis dia. Dan karena anak itu sama besar dengan anaknya dan pikiran baru tiba-tiba muncul maka sebuah rencana yang semula tak direncanakan mendadak timbul...!