NAGA PEMBUNUH
JILID 01
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
WANITA itu berjalan terhuyung-huyung. Usianya masih muda, tak lebih dari dua puluh satu tahun. Tapi wajahnya yang cantik dan beringas menunjukkan dendam setinggi langit ketika terseok dan terhuyung di bukit bebatuan itu. Tinjunya berkali-kali terkepal, mendesis dan menyebut-nyebut nama seseorang penuh benci. Dan kalau orang melihat sinar matanya maka orang akan bergidik menyaksikan sorot penuh benci di bola mata yang kadang berputar setengah liar itu.

Siapakah dia? Kita dengar saja gumam dan kutuk di bibirnya. Wanita itu mendaki bebatuan terjal ketika tiba-tiba ia mengeluh, mendekap perut dan berhenti. Dan ketika ia menyeringai dan jatuh terduduk, menahan sakit, tiba-tiba ia menangis dan mengguguk disitu.

"Hauw-ko (kanda Hauw), tolonglah aku, Jangan biarkan aku mati sebelum anak ini lahir!"

Orang akan merinding. Gadis atau wanita itu tiba-tiba tersedu-sedu, tangisnya mengguncang batin. Dan ketika dia mengguguk dan memanggil-manggil nama kekasihnya mendadak dia berteriak dan melengking tinggi, meloncat bangun.

"Kedok Hitam, aku akan membunuhmu. Biar aku mati menghadapi seribu pasukan namun aku akan merajang dan mencincang tubuhmu!" dan berteriak serta mencak-mencak disitu tiba-tiba wanita ini menjambak dan memukul-mukul tubuhnya sendiri.

Tangis dan sedu-sedan itu kini bercampur dengan pekik dan benci. Wanita itu tiba-tiba melolong dan menjerit-jerit seperti gila. Dan ketika ia bergerak terhuyung-huyung dan menyambar sebuah batu hitam, sekepalan tinjunya tiba-tiba batu itu digigit dan dikeremus.

"Kedok Hitam, aku akan menggigit dan mengunyah jantungmu. Seperti ini.... krius-kriuss!" batu itu hancur, dimamah dan lenyap memasuki tenggorokan itu dan wanita ini terkekeh-kekeh.

Sekarang dia melahap lagi sebuah batu yang lain, mengeletak dan menggigitnya putus seperti orang makan agar-agar. Dan ketika batu itu belah dan hancur dimamah mulutnya maka benda sekeras karang ini sudah menjadi seperti kerupuk dan lenyap di kerongkongan wanita itu, wanita yang cantik tapi rupanya gila!

"Hi-hik, aku akan membuatmu seperti ini, Kedok Hitam. Aku akan memamah dan mengunyah semua daging dan tulang-belulangmu. Awas kau, heh-heh.... awas suatu hari aku membalas padamu!"

Wanita itu menyambar lagi pasir dan bebatuan di pinggir jalan. Mulutnya tertawa-tawa tapi tak pernah berhenti mengunyah makanan aneh ini, pasir dan lumpur hingga mulutnya pun menjadi kehitam-hitaman. Namun ketika sesuatu berjengit di perutnya dan wanita itu berteriak tiba-tiba ia membuang semua sisa-sisa pasir dan batu di tangannya itu.

"Aduh, keparat jahanam. Jangan menyakiti ibumu, nak. Jangan meronta-ronta di perut ibumu seperti itu. Aduh, tolong, Hauw-ko. Anak kita nakal....." dan wanita ini yang mengerang dan bergulingan di tanah lalu menangis dan merintih-rintih lagi. Bukan memaki-maki si Kedok Hitam melainkan memaki-maki anak di perutnya itu. Kiranya wanita ini hamil. Dan ketika dia menangis dan meraung-raung di tanah maka wanita itu bergulingan memanggil-manggil kekasihnya lagi.

"Hauw-ko, anak kita kurang ajar. Aduh, kenapa punya anak seperti ini? Ah, sakit, Hauw-ko..... sakit...!"

Wanita itu mengguguk. Akhirnya dia terlempar dan jatuh dalam satu keadaan yang menyedihkan. Perutnya didekap-dekap tapi akhirnya dipukuli. Wanita itu membentak anaknya kenapa begitu menyakitkan. Dan ketika sang anak tak menghiraukan dan rupanya membuat satu gerakan kuat karena kaget dan marah dipukuli ibunya mendadak gadis atau wanita ini berteriak dan roboh pingsan. "Aduh, mati aku!"

Selanjutnya tak ada gerakan. Wanita itu terguling, diam tak bergerak-gerak. Tubuhnya membujur kaku dan dingin. Agaknya, dua tiga jam dalam keadaan begitu barangkali dia akan tewas. Wanita ini pingsan. Tapi tepat wanita itu terguling dan menjerit mengeluh mati mendadak muncul seorang nenek-nenek yang tertegun disitu.

"Ah, wanita hamil? Seorang ibu muda? Aduh, kasihan sekali kau, nak. Rupanya mau melahirkan dan tak ada siapapun yang menolongmu. Celaka...!" dan nenek ini yang tergesa dan bergegas melangkah tiba-tiba berlari dan pucat menuju ke tempat itu, tersandung dan jatuh tapi si nenek sudah bangun lagi.

Kayu kering di punggungnya terlempar, tak dihiraukan. Dan ketika nenek ini berjongkok dan meraba tubuh yang dingin, namun jantung masih berdenyut maka nenek itu berkomat-kamit dan mengucap puja-puji semacam mantra penolong orang sakit.

"Aduh, Thian Yang Agung. Kandungannya sudah tua...!" dan sibuk mengurut atau memijat sana-sini akhirnya nenek itu berhasil menyadarkan wanita ini, yang merintih dan mengerang.

"Cepat, tahan napas!" nenek itu berseru. "Kau akan melahirkan, hujin. Bagaimana sampai sendirian disini. Ah, mana suamimu yang kejam itu? Kenapa tidak mengantar?" tapi, melihat si cantik menangis tiba-tiba nenek ini terkejut, menghibur. "Ah, sudahlah, maafkan aku. Kau rupanya baru bertengkar dan meninggalkan suamimu. Jangan khawatir, aku akan menolongmu, anak baik. Dan sekarang tahan napas kuat-kuat untuk dua detik!"

Wanita itu mengguguk. Melihat munculnya seorang nenek tiba-tiba dia merasa mendapat teman. Memang dalam keadaan seperti itu dia butuh teman, atau dia akan mati. Maka ketika si nenek menghibur dan mengurut sana-sini maka gadis atau wanita ini tersedu. "Kau kau siapa?"

"Aku nenek Lui, anak baik. Aku sedang mencari kayu bakar ketika melihat kau disini. Sudahlah, tahan napas dan turut kata-kataku. Aku akan membantumu melahirkan!"

Wanita itu menangis. Akhirnya dia menahan napas seperti yang dikatakan nenek ini, mengerang dan merintih ketika kembali diserang rasa sakit yang hebat. Dan ketika nenek itu menyuruh ini-itu sambil meniup pusarnya maka kain panjang terpaksa dilepas dan si nenek menelentangkan calon ibu muda itu di rumput.

"Tenang.... tenang, jangan membuat aku gugup. Bayi ini akan lahir, hujin. Aku akan membantumu. Mengejan dan tahan napas kuat-kuat!"

Wanita itu bercucuran air mata. Akhirnya dia menjerit ketika gerakan di perutnya menghebat. Si nenek mengurut dan membuka pahanya. Dan ketika setengah jam kemudian nenek itu mandi keringat karena wanita ini meronta-ronta dan berteriak menahan sakit, padahal dia harus melawan gerakan-gerakan itu maka sebuah kepala bayi mulai tersembul.

"Awas, jangan meronta-ronta. Kepala bayimu mulai keluar, hujin. Mengejanlah! Yang kuat! Akan kubantu menariknya dan jangan berteriak-teriak membuat aku ketakutan!"

Ternyata si nenek ketakutan. Dia terlempar dan terpelanting ketika tadi wanita itu menamparnya. Tenaganya demikian kuat dan luar biasa, si nenek seolah dihempas angin topan! Maka ketika nenek itu terbelalak dan ngeri tapi juga kasihan, perasaan yang campur aduk maka dia harus kembali lagi untuk melakukan pertolongan itu.

Si cantik menjerit-jerit ketika bayi mulai keluar, tidak cepat tapi perlahan-lahan. Dan ketika nenek itu menarik tapi ditendang, mencelat dan terguling-guling maka nenek ini gentar melihat kedahsyatan tenaga si cantik! Selanjutnya wanita itu mengaduh dan berteriak tak keruan-keruan. Hal ini membuat si nenek memberanikan diri untuk mendekat lagi, gemetar dan berjongkok dibawah sepasang kaki itu untuk menarik si bayi yang semakin panjang, kena dua kali tendangan lagi tapi si nenek tak perduli, terlempar dan datang lagi dengan resiko kena tendang.

Jerit dan rintih yang menyayat itu jauh lebih menguasainya dari pada rasa takut. Dan ketika nenek ini berjuang susah payah sementara wanita muda itu melolong dan meraung-raung akhirnya kepala bayi ditarik semua dan tangis yang melengking memecah keheningan angkasa.

"Sruput...!" Sang ibu muda mengeluh pendek. Perjuangan panjang akhirnya ditutup kelegaan besar. Bayi itu telah keluar,lahir. Dan ketika tangis menggantikan jerit atau lolong wanita muda ini maka si nenek ganti disibukkan karena bayi itu tak mau diam!

"Celaka, cerewet melebihi ibunya. Aduh... diam, anak baik.... diam. Aku akan membersihkan tubuhmu dan lihat nenek Lui berlepotan darah!" nenek itu bingung, gugup membersihkan sana-sini dan si bayi ditepuk-tepuk perlahan, maksudnya mau mendiamkan bayi tapi si orok tak mau diam juga. Nenek itu gemetaran dan mandi keringat. Ah, diapun semakin bingung. Tapi ketika seseorang muncul disitu dan nenek ini ditegur maka kakek tua renta terkejut melihat menggeletaknya seorang ibu yang baru melahirkan.

"Ah, apa ini? Kau melakukan pertolongan darurat? Hei, serahkan saja anak itu kepadaku, Lui-ma. Biar kudiamkan dan kau tolong ibunya!"

Si nenek terkejut, tapi segera menjadi girang. "Kau, Pa-pek? Ah, kebetulan sekali. Cepat, diamkan anak ini dan kubersihkan ibunya dulu!"

Si kakek meloncat. Kiranya dia adalah suami nenek ini dan cepat menerima bayi itu. Bajunya rangkap dua cepat dilepas, dipakai sebagai selimut. Dan ketika anak itu sudah dibungkus dan merasa hangat maka si anak diam dan kakek itu menina-bobok.

"Ha-ha, kau bodoh, Lui-ma. Bocah ini kedinginan. Lihat, begitu kuselimuti dengan bajuku rangkap dua tiba-tiba dia diam. Ah, kau bodoh. Tak tahu keinginan anak kecil!"

Dan si kakek yang tertawa-tawa dan bernyanyi kecil lalu menciumi dan girang sekali mendapatkan anak itu. Tak perduli pada isterinya yang tertegun tapi segera tersenyum menghampiri ibu si bayi, membersihkan sisa-sisa darah dan akhirnya wanita muda ini mengeluh menyatakan lapar. Perutnya berkeruyuk, juga haus. Dan ketika si nenek mengangguk dan berlari menghampiri buntalannya, yang terselipdi kayu kering maka dia sudah membuka dan memberikan roti kering.

"Makanlah, aku tak punya apa-apa. Tapi ini sementara cukup untukmu."

"Dan air...?" wanita itu mengeluh, menjilat bibirnya yang pucat. "Aku haus, nek aku ingin minum!"

"Ah-ah, ada. Aku lupa!" dan si nenek yang menyambar dan membuka seguci air lalu memberikannya dan menuangkannya di mulut sang ibu.

Wanita ini menggelogok dan tampak lahap, bibirnya seketika menjadi merah dan segar. Tapi ketika terdengar lagi tangis si bayi dan wanita ini bangkit duduk maka dia minta agar anak itu diserahkan kepadanya. "Aku ingin mendekapnya. Aku ingin menyusuinya. Berikan kepadaku."

Si kakek berkerut kening. Dia ragu dan rupanya enggan memberikan. Tapi ketika pandang matanya bentrok dengan mata wanita itu dan secercah cahaya berkilat menyambar tiba-tiba kakek ini terbungkuk dan cepat-cepat memberikan, gentar! "Ini..." si kakek terbata. "Anakmu sehat dan montok, hujin (nyonya). Dan tangisnya luar biasa sekali!"

Wanita itu tersenyum. Dia menerima dan mencium bayinya, berseri-seri. Lalu ketika si bayi menangis dan dia cepat membuka bajunya, gerakan otomatis dari seorang ibu yang ingin menyusui anaknya maka kakek itu melengos karena isterinya melotot melihat dia memperhatikan segumpal buah dada segar!

"Laki-laki...!" wanita itu mendesis. "Ah, terkabul niatmu, Hauw-ko. Anak kita laki-laki, hi-hik!" wanita itu terkekeh, bangkit berdiri dan menciumi anaknya dengan gembira. Dia tadi telah membuka selimut itu dan memperhatikan jenis kelamin anaknya, ternyata laki-laki. Namun ketika si bayi tiba-tiba tersedak dan menangis, air susu ibunya belum keluar maka wanita ini tertegun dan bingung.

"Cup-cup..." katanya. "Diamlah, anakku sayang. Diamlah.... ibu rupanya masih kurang minum!" dan menyambar lagi guci air di tangan si nenek, yang digelogok dan dihabiskan isinya maka wanita itu menyesapkan kembali puting buah dadanya yang segar.

Si kakek dipaksa melengos lagi karena isterinya menyambar tajam. Nenek itu rupanya dapat cemburu, ah, lucu!

Tapi ketika air susu tak keluar juga dan si bayi menangis melengking-lengking,tangis yang amat mengejutkan maka nenek ini berkata bahwa si ibu harus dibuatkan jagung "sangan", digoreng tanpa minyak.

"Kau baru melahirkan, air susumu belum keluar. Marilah ke rumah dan kubuatkan jagung sangan."

"Benar," si kakek tiba-tiba juga berseru, menimbrung. "Kau dapat tinggal di rumah kami, hujin. Kebetulan sekali kami tak punya anak. Marilah, kita kesana dan kau istirahat disana!"

Wanita ini mengerutkan alisnya. Sebenarnya dia bingung tapi mengangguk ketika si nenek menawarkan lagi jasa baiknya. Nenek itu telah menolong persalinannya. Dia selamat karena nenek ini. Dan ketika si nenek dianggap lebih berpengalaman dan dia bingung kenapa air susunya belum keluar maka wanita muda itu menyetujui dan sudah terhuyung dipapah si nenek.

Kakek itu sendiri sudah melompat kegirangan menyambar kayu kering isterinya. Dia akan kedatangan rejeki, rumahnya akan diisi tangis bayi. Maka ketika dia berteriak kegirangan dan isterinya sudah menuntun wanita muda itu maka tak lama kemudian wanita yang baru melahirkan ini sudah berada di rumah yang sederhana di pinggir sebuah hutan kecil.

Kiranya nenek dan kakek itu tinggal di tempat yang sunyi. Mereka jauh dari tetangga dan wanita ini tampak lega. Tadi dia sudah was-was kalau si nenek mempunyai tempat tinggal di daerah yang ramai. Dia tak menghendaki itu. Maka begitu sebuah gubuk sederhana menyambutnya dan nenek itu sudah membuka pintu rumahnya maka selanjutnya nenek ini terkekeh menyiapkan balai-balai bambu untuk si ibu.

"Di tempat ini hanya ada dua tempat tidur. Biasanya kami tidur sendiri-sendiri. Heh-heh, sekarang kau datang, anak baik. Biarlah tempat tidurku kau pakai dan aku tidur bersama suamiku!"

"Terima kasih..."

"Dan, eh. siapa namamu? Bagaimana aku memanggil?"

"Aku... aku tak punya nama. Biarlah kau sebut aku dengan sebutan hujin!"

"Mmmm....!" sang nenek tertegun. "Dan anakmu ini, apakah juga tak diberi nama?"

"Dia Giam Liong, Sin Giam Liong!"

"Giam Liong? She Sin? Ah, suamimu she Sin, hujin? Jadi kau adalah Sin-hujin (nyonya Sin)? Dan anakmu bernama Giam Liong. Ih, nama itu berarti Naga Maut!" si nenek ngeri, terkejut dan tergetar tapi segera dia terkekeh-kekeh karena nama hanyalah sebutan saja. Nama bisa berarti macam-macam tapi tentu nama itu tak seganas artinya. Maka begitu dia tertawa dan mengangguk-angguk, ngeloyor kebelakang maka nenek ini sudah membuat makanan untuk si ibu agar air susunya cepat keluar. Dan benar saja, susu si nyonya tiba-tiba membanjir. Buah dada yang menggelembung penuh itu mendadak deras sekali ketika diberi jagung sangan.

Sin-hujin atau nyonya Sin itu tampak berseri-seri melihat anaknya yang menyusu demikian lahap. Air susunya disedot dan dihisap kuat-kuat. Bayi itu seolah anak kelaparan! Dan ketika beberapa hari kemudian ibu ini tinggal di tempat itu maka Lui-ma, si nenek penolong menjadi gembira karena rumahnya menjadi ramai. Tangis bayi itu meninggalkan kesan kuat yang enak didengar. Entahlah, si nenek terkekeh-kekeh kalau bayi itu menangis. Tangis itu seolah lagu gembira yang membuat si nenek berseri-seri.

Maklumlah, bertahun-tahun ini dia hidup kesepian tanpa anak. Rumah yang kosong dan hanya berdua dengan suami yang juga sudah sama-samatua membuat nenek itu rindu akan hadirnya seorang bocah. Mereka adalah suami isteri mandul yang tak memiliki harapan untuk mempunyai keturunan. Lui-ma dan suaminya memang sepasang manusia yang menderita. Maka begitu hari-hari berikut tempat tinggal mereka diisi tangis bayi dan wanita cantik yang hanya dikenal sebagai Sin-hujin itu mau tinggal bersama mereka maka seminggu kemudian ketika kesehatan ibu muda itu sudah benar-benar pulih maka nenek ini menjadi tercengang ketika tumpukan kayu keringnya di dapur tak pernah surut!

"Eh, seperti siluman saja. Kaukah yang mengisinya kemarin, pek-pek? Kau menambahi kayu bakar ini?"

"Tidak, kenapakah?"

"Persediaan kita tak pernah kurang. Kemarin sudah surut tapi sekarang tahu-tahu sudah bertambah sekian banyak lagi. Ah, siapakah yang memberi? Siluman kah?"

"Atau Sin-hujinitu?" si kakek terheran, membelalakkan matanya.

"Mana mungkin?" sang isteri menyahut. "Sin-hujin tak pernah keluar, pek-pek. Lagi pula tak biasa baginya bekerja kasar. Lihat tangan dan kakinya yang halus begitu. Wanita macam begitu adalah priyayi tulen, bangsawan atau anak orang kaya, bukan seperti kita yang miskin dan papa ini. Ah, tak mungkin!"

"Lalu siapa?"

"Entahlah, aku tak tahu. Dan anehnya pula periuk tempat berasku selalu penuh. Begitu juga persediaan ikan dan daging!! Ah, kita jadi makan enak setiap hari."

Pa-pek, kakek she Pa ini mendelong. Dia jadi mengerutkan kening berulang-ulang setelah isterinya bercerita seperti itu. Dan benar, beras dan segala kebutuhan lauk-pauk di tempatnya selalu penuh. Mereka sekarang bukan lagi makan sayuran melulu melainkan juga ikan dan daging, bahkan di tempat mereka ada anggur segala, bukan anggur sembarang anggur melainkan anggur merah yang wangi dan menyehatkan.

Minuman itu biasanya di tempat orang kaya dan bukan di gubuk seperti milik mereka itu. Aneh! Dan ketika kakek itu mengangguk-angguk dan bersinar matanya, menduga bahwa Sin-hujin itu adalah isteri seorang hartawan atau bangsawan kaya maka suatu malam kakek ini berkasak-kusuk dengan isterinya.

"Kau tahu siapakah dia? Bagaimana kira-kira?"

"Maksudmu?"

"Aku menduga Sin-hujin ini isteri seorang hartawan atau bangsawan, Lui-ma. Tapi isteri muda atau barangkali gundiknya. Kita harus berhati-hati!"

"Ah, maksudmu?"

"Aku takut kalau dia melarikan diri atau diusir. Kalau melarikan diri, hmm... berarti ada sesuatu yang tidak beres di rumah suaminya. Siapa tahu barangkali dia mencuri!"

"Pa-pek!" sang nenek terkejut. "Kau bicara apa ini? Kau mencurigai orang yang tidak-tidak?"

"Sst, jangan keras-keras. Aku sekarang jadi curiga dan mengetahui siapa yang mengisi ransum makanan kita, Lui-ma, ternyata benar Sin-hujin itu. Semalam dia lenyap, dan aku heran. Tapi ketika aku mau bangun dan melihat bayinya sendirian mendadak Sin-hujin itu muncul lagi dan di tangannya penuh bawaan seperti beras dan lain-lainnya itu. Dialah yang mengisi ransum mu, dan dia meletakkan itu di dapur!"

"Kalau begitu kita mendapat rejeki. Sin-hujin membawa keberuntungan!"

"Hush, keberuntungan bagaimana? Bagaimana kalau barang bawaannya itu hasil curian?"

"Apa?"

"Benar, aku jadi curiga pada tamu kita ini, Lui-ma. Kalau benar dia gundik seseorang dan melarikan diri karena mencuri maka jangan-jangan kebiasaan jeleknya itu dibawa-bawa dan kita bisa celaka oleh hasil perbuatannya!"

Sang nenek tertegun. "Aku tak percaya..." katanya. "Aku lihat Sin-hujin itu orang baik-baik, pek-pek. Buktinya dia tak pernah mengganggu kita dan justeru menolong kita dengan mencari makanan. Masalah mencuri, ah, kau terlalu menduga jelek. Bukankah dia juga memiliki gelang dan cincin permata? Siapa tahu barang-barangnya itu sebagian dijual dan digantikan rancum atau makanan untuk kita itu!"

"Ya, tapi siapa tahu gelang atau cincinnya itu hasil curian! Aku melihat wanita ini aneh, Lui-ma. Sikapnya pendiam dan kadang-kadang bola matanya berputar seperti gila!"

"Ah, kau..!" nenek ini marah. "Tak perduli baik atau tidak tapi dia sudah mengisi rumah kita, Pa-pek. Kita sudah mendapat teman dan anaknya yang mungil itu menjadi bagian hidupku. Aku tak mau kau membuat gara-gara kalau tak ada bukti!"

"Hm-hm...!" si kakek mengangguk-angguk. "Kalau begitu lihatlah saja, Lui-ma. Tapi kalau benar omonganku maka jangan salahkan aku!"

Dua kakek nenek itu lalu tidur. Mereka tak bicara dan kasak-kusuk lagi dan si kakek tak tahu betapa sepasang mata berkilat mengawasinya dari balik dinding. Sebuah gerakan tampak ditahan dan itulah lengan Sin-hujin. Wanita itu mendengar dan sorot matanya mengeluarkan api. Sebatang jarum siap di tangan tapi tak jadi digerakkan. Hampir saja jarum itu melayang dan menembus kepala si kakek.

Dan ketika dua suami isteri itu tak berbisik-bisik lagi dan mereka tidur di balai-balai mereka maka wanita ini mendengus dan mencengkeram hancur sebuah batu yang juga siap disambitkan, Batu itu menjadi tepung dan kalau si kakek melihat ini tentu dia ngeri, mungkin semangatnya sudah terbang mendahului keberaniannya. Dan ketika bisik-bisik itu tak terdengar dan semua sunyi maka malam itu tak terjadi apa-apa dan Sin-hujin inipun mencium pipi anaknya dan tidur.

* * * * * * *

Seminggu kemudian. Kakek she Pa itu, yang rupanya masih memiliki kecurigaan dan rasa was-was kepada wanita ini tiba-tiba suatu hari didatangi tiga lelaki berwajah seram. Saat itu Sin-hujin tak ada dan nenek Lui-pun juga sedang mencari kayu bakar. Kakek Pa menerima dan kasak-kusuk dengan tiga laki-laki ini, mereka tampak serius. Tapi ketika tak lama kemudian bayangan seseorang muncul di depan tangis bayi mengawali semuanya itu maka kakek ini terkejut dan cepat-cepat menyuruh tiga laki-laki itu bersembunyi.

"Lihat, dia datang. Kalian menyelinap di belakang dan buktikan kata-kataku!"

Tiga laki-laki itu, yang terkejut tapi tersenyum girang tiba- tiba mengangguk. Mereka berlompatan dan hilang di belakang, bersembunyi. Dan ketika kakek Pa keluar dan pura-pura menyambut maka kakek ini tertegun melihat bergemerincingnya gelang-gelang emas di tangan wanita itu, gelang yang berjumlah dua kali lipat dari dulu yang dilihat!

"Ah, kau dari mana, hujin? Dan apa yang kau bawa itu pula?" Kakek ini terbelalak. Di samping gelang-gelang emas itu, yang membuatnya heran dan kaget ternyata Sin-hujin ini menyeret pula seekor harimau besar. Binatang itu telah mati dan bangkainya diseret, tentu saja membuat kakek itu terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Tapi ketika Sin-hujin berhenti dan memandangnya tak berkedip maka wanita itu berkata singkat,

"Pa-lopek, tak usah kau tanya dari mana aku. Tapi kulitilah dan kerat daging harimau ini untuk makan siang kita. Tadi Lui-ma diserang harimau ini, kubunuh dan sekarang biar menjadi santapan kita. Kerjakan itu dan jangan menganggapku yang tidak-tidak."

Sang kakek tertegun. "Ini... ini... bagaimana tadi? Lui-ma diserang harimau? Kau tadi membunuhnya?"

Sin-hujin tak menjawab. Wanita itu terus melangkah dan barulah sang kakek tersentak ketika tiba-tiba dari luar sana terdengar jerit dan tangis Lui-ma. Nenek itu muncul dan berlari-lari mengejar Sin-hujin, berkali-kali roboh tapi bangun lagi memanggil-manggil nyonya muda itu. Tapi ketika Pa-lopek menghampiri dan menangkap lengannya cepat, maka nenek itu terguling dan kayu di belakang punggungnya juga terlepas.

"Aduh, hampir aku mati. Celaka! Aku nyaris diterkam harimau, Pa-pek. Hampir aku terbunuh! Ah, untung ada Sin-hujin itu. Dia menolongku.... dia menampar harimau itu... dan.... dan, ah.... harimau ini disini?" sang nenek tiba-tiba tertegun, seketika menghentikan teriakan-teriakannya dan matanya melotot memandang bangkai harimau itu. Tak disangkanya bahwa bangkai harimau itu tahu-tahu sudah ada di rumah. Tapi ketika dia menjerit dan mengguguk menubruk suaminya maka sang kakek gemetar mencoba menghibur, masih kebingungan.

"Apa yang terjadi? Bagaimana Sin-hujin membunuh harimau? Bukankah dia wanita lemah, Lui-ma? Masa dapat membunuh harimau?"

"Ah, siapa bilang? Sin-hujin itu ternyata memiliki gerakan cepat seperti siluman, Pa-pek. Ketika harimau itu menerkam dan mau membunuh aku tiba-tiba Sin hujin berkelebat dan menolong. Harimau itu ditampar, dan tahu-tahu roboh di depan mataku. Ah, hampir pingsan aku waktu itu! Dia... dia wanita hebat. Rupanya sakti dan dewi malaikat!"

"Hm, masa?" tapi ketika isterinya menangis dan membentaknya menyuruh percaya tiba-tiba nenek itu melepaskan diri dan memasuki rumah, mengejar Sin-hujin.

"Hujin, terima kasih. Kau telah menyelamatkan nyawaku!"

"Hm, bangunlah," wanita ini berhenti menoleh, melihat sang nenek menjatuhkan diri berlutut. "Aku menolongmu karena kaupun telah menolongku, Lui-ma. Tak ada terima kasih di antara kita. Bangunlah, dan tanya suamimu apa saja yang hari ini diperbuatnya!"

Sang nenek tertegun. "Suamiku? Dia... dia menunggu rumah!"

"Hm, aku mencium bau tikus-tikus busuk disini. Apakah dia memelihara tikus-tikus pecomberan? Atau tikus-tikus itu yang sengaja datang dan mau mencuri makanan disini?"

Dan ketika si nenek kebingungan dan tak mengerti apa yang dimaksud tiba-tiba wanita itu bergerak dan tahu-tahu telah berkelebat ke belakang rumah, persis di depan tiga laki-laki yang kaget bukan main karena persembunyian mereka diketahui!

"Hm, inikah?" Sin-hujin mendengus. "Siapa kalian, tikus-tikus busuk? Mau apa datang dan menggerayangi rumah orang?"

Tiga laki-laki itu berteriak tertahan. Tadi mereka mengintai dan bersembunyi disana, melihat dan mendengar semuanya itu dan diam-diam mereka merasa heran dan kaget juga bahwa Sin-hujin ini dikabarkan membunuh harimau, padahal binatang itu cukup besar dan tak masuk akal kiranya kalau wanita yang demikian lembut dan halus gerak-geriknya itu membunuh harimau.

Mereka dipanggil Pa-lopek yang menceritakan keganjilan itu, adanya seorang wanita muda yang cantik dan baru melahirkan tapi mempunyai perhiasan-perhiasan emas. Gelangnya ada enam buah sementara cincinnya sepasang. Pa-lopek mencurigai wanita ini karena setelah melahirkan Sin-hujin itu tak pergi mencari suaminya, jadi dugaan bahwa dia melarikan diri adalah kuat. Dan karena Pa-lopek diam-diam mengincar perhiasan-perhiasan itu sementara jakunnya sering naik turun kalau melihat Sin-hujin menyusui anaknya maka kakek ini akhirnya menemui tiga laki-laki itu dan merundingkan siasat.

"Aku terhalang isteriku. Kalian rampaslah gelang-gelang emas itu dan kita bagi bersama. Sedang dia, hmm... bawa ke hutan di depan itu dan biarkan aku membujuknya untuk menjadi isteriku!"

"Apa? Kau tua bangka mau kawin lagi? Siapa dia itu, Pa-lopek?"

"Entahlah, aku tak tahu, Hu-san. Tapi dia wanita muda yang cantik dan menggairahkan. Dan perhiasannya cukup berharga. Aku ingin memilikinya tapi kalau di rumah terhalang isteriku!"

"Hm, begitukah? Baiklah, serahkan pada kami dan sekarang juga kami dapat ke rumahmu dan merampasnya!"

"Jangan!" sang kakek terkejut. "Lakukan kalau isteriku tak ada di rumah, Hu-san. Jadi seolah peristiwa perampokan biasa. Tunggu beberapa hari lagi ketika isteriku mencari kayu bakar. Kalian dapat melakukan itu dan datang kerumah!"

"Hm, baiklah. Kami akan kesana!"

"Dan kau jangan mengganggu tubuhnya. Dia milikku!"

"Ha-ha, baik, Pa-lopek. Kalau memang kami tak tertarik tentu kami tak akan mengganggunya. Ah, kau tua bangka rupanya dapat jatuh cinta lagi!"

Begitulah,kakek ini lalu tersenyum-senyum. Dia segera pulang dan tahu bahwa dua hari lagi isterinya akan keluar, mencari kayu bakar. Tapi ketika hari itu tiga temannya datang tapi Sin-hujin ikut keluar juga maka kakek ini agak bingung tapi untung segera sang wanita datang. Teman-temannya diminta bersembunyi dan kakek ini sudah berseri-seri karena rencana akan berjalan mulus. Sudah dibayangkannya bahwa ibu muda yang cantik itu akan dibawa teman-temannya ke hutan. Disana ia akan menyusui dan coba membujuk Sin-hujin itu.

Dia melakukan semua ini karena tak kuat menahan lagi keinginan berahinya yang sering bangkit, sewaktu melihat atau mengintai wanita itu menyusui bayinya. Tapi ketika isterinya muncul dan Sin-hujin itu dikabarkan membunuh harimau, berarti bukan wanita lemah maka kakek ini jadi semakin kaget lagi ketika tahu-tahu wanita itu berkelebat dan seperti iblis cepatnya mendadak sudah menemukan persembunyian Hu-san dan dua temannya itu. Dan tiga laki- laki itu juga tampak terkejut.

Hu-san, yang berkumis dan bertampang seperti perampok sudah lebih dulu menguasai kekagetannya. Laki-laki ini terkejut tapi sudah tertawa lebar, ganda ketawa saja ketika dibentak. Dan ketika wanita itu berdiri tegak dan Hu-san kagum bahwa wanita ini memang muda dan cantik, tubuhnya menggairahkan dengan sepasang buah dada yang penuh dan montok maka laki-laki itu terbahak dan melompat bangun.

"Ha-ha, aku Hu-san, nyonya, Orang yang menguasai daerah ini sampai tapal batas gunung Yee-san!"

"Hm, kau! Apa maksudmu ke mari? Kenapa bersembunyi?"

"Aku, ha-ha. terus terang datang karena tertarik padamu. Aku kasihan pada bayimu itu, ingin menawarkan jasa baik dan tinggallah di rumahku yang lebih baik. Kakek she Pa itu tak pantas untukmu. Jauh lebih pantas di tempatku dan kita dapat bersenang-senang, ha-ha!"

Wanita itu berkilat. "Bersenang-senang? Apa maksudmu?"

"Wah, artinya aku ingin mengambilmu sebagai isteri, nyonya, Kau cantik tapi sendirian. Tentu kau kesepian. Biarlah tinggal bersamaku dan segala kebutuhan hidupmu kujamin!"

"Wut!" sebuah tangan tiba-tiba meluncur dengan cepat. "Kau kiranya laki-laki kasar dan tak tahu malu, orang she Hu. Terima kasih atas kebaikanmu dan inilah hadiahnya. plak!"

Hu-san terpelanting roboh menjerit dan terguling-guling dan seketika mulut laki-laki itu pecah! Pa-lopek berseru tertahan sementara dua teman Hu-san yang lain terkesiap. Mereka kaget dan pucat ketika melihat Hu-san dibuat bergulingan hanya oleh sebuah tamparan saja. Tapi ketika Hu-san meloncat bangun dan laki-laki itu marah bukan main, berteriak, maka laki-laki itu sudah mencabut goloknya yang dipakai untuk menakut-nakuti, karena dia belum berniat benar untuk membunuh, masih eman-eman.

"Heh, wanita siluman. Keparat jahanam! Berani kau memukulku dan menamparku seperti ini? Bedebah, lekas jatuhkan diri berlutut kalau tak ingin golokku menyambar, nyonya siluman. Diajak baik-baik tak mau malah menghina aku. Terkutuk, cepat minta ampun dan jangan biarkan aku marah!"

"Hm, masih kurang?" Sin-hujin malah mendengus. "Orang macam kau tak pantas kuajak bicara lagi, Hu-san. Pergilah atau kau pulang tinggal nama!"

"Weh, menantang? Keparat terkutuk. lihat ini dan kau mampus.... werr!" golok benar-benar menyambar, tak kenal ampun dan dua teman Hu-san berteriak memperingatkan. Mereka masih merasa sayang kalau wanita itu dibunuh. Hu-san mata gelap. Tapi ketika mereka berteriak dan mencegah Hu-san ternyata Sin-hujin itu berkelebat dan tahu-tahu lenyap entah ke mana.

"Crakk!" Golok Hu-san menghajar tanah. Saking kuat dan marahnya laki-laki itu mengayun golok maka senjata itu menancap ujungnya, hampir separoh. Tapi ketika Hu-san terpekik dan nenek Lui-ma serta suaminya berteriak kaget, ngeri, tahu-tahu wanita itu muncul lagi dan sebuah tendangan menghajar pantat laki-laki ini.

"Dess!" Hu-san mencelat menumbuk pohon. Laki-laki itu tak menyangka dan baru saja berkutat menarik golok, tentu saja terkejut dan menjerit dan kontan kepalanya beradu keras. Laki-laki itu mengeluh dan pingsan, seketika roboh kelengar. Dan ketika dua yang lain tertegun dan tersentak, pucat melihat ini, maka wanita itu membalik karena saat itu bayinya menangis.

"Cup-cup..." katanya tenang. "Tak ada apa-apa disini, Liong-ji (anak Liong). Ibu hanya menghajar dan membuat si kumis itu pingsan. Kau diamlah, ibu akan melindungimu," dan mengeluarkan buah dadanya menyesapi bayinya dengan puting yang penuh dan segar maka wanita itu berjalan dan memasuki rumah, tak perduli pandang mata dua teman Hu-san yang lain dan juga kakek Pa, tak perduli pada keadaan sekitar karena saat itu juga ia harus menyusui bayinya yang terbangun dan menangis oleh sedikit keributan itu.

Tapi ketika wanita ini memasuki rumah dan dua laki-laki di luar sadar, mendadak mereka membentak dan mencabut golok, hal yang membuat nenek Lui-ma menjerit.

"Heii...!" dua laki-laki itu berteriak "Tunggu dan berhenti, wanita siluman. Kau menghajar dan membuat Hu-twako pingsan. Kau jangan sombong!"

Wanita itu berkilat, sudah dikepung. "Kalian mau apa?"

Dua laki-laki itu tertegun. Mereka merasa dingin juga mendengar suara yang tidak berperasaan ini. Suara itu seperti suara mayat, kaku dan dingin. Tapi karena teman mereka dihajar dan wanita ini sudah menjual lagak maka mereka yang ingin menuntut balas tapi tertegun oleh buah dada yang segar montok itu tiba-tiba naik turun jakunnya menelan ludah. Wanita itu membiarkan saja buah dadanya terlihat laki-laki!

"Kami.... kami...." laki-laki di sebelah kiri melotot. "Kami ingin kau menyerah dan minta maaf!"

"Benar," temannya di sebelah kanan juga melotot, bahkan sebesar jengkol! "Kami tak mau kau bersikap sombong, nyonya. Kalau kau mau baik-baik minta maaf dan ikut kami maka kesalahanmu ini kami ampuni!"

"Hm!" suara itu kembali terdengar, dingin dan tak berperasaan. "Kalau begitu kalian tunggu aku diluar. Biar kususui anakku ini dan baru setelah itu kalian boleh bicara lagi..... dess!" dan dua laki-laki itu yang mencelat oleh sebuah tendangan kilat tiba-tiba menjerit dan terbanting di luar roboh terguling-guling.

Mereka tadi tak tahu kapan datangnya serangan itu, baru mau bersiap-siap tapi mendadak tendangan sudah melayang. Tentu saja mereka berdebuk! Dan ketika dua laki-laki itu merintih dan tak dapat bangun berdiri, karena sebelah kaki mereka patahmaka nenek Lui berteriak dan tiba-tiba mengambil palang pintu serta menghajar dua laki-laki itu.

"Bedebah, terkutuk jahanam. Kiranya kalian pengganggu dan pengacau liar. Hih rasakan ini, orang-orang busuk. Berani benar kalian memaksa dan berkurangajar kepada Sin-hujin....buk-buk-buk!" alu atau palang pintu itu sudah menghantam pulang balik, tujuh delapan kali menghajar dua laki-laki itu dan tentu saja dua laki-laki ini berteriak kesakitan. Mereka tak dapat menangkis atau mengelak karena kaki sedang patah. Maka begitu dihajar dan jatuh bangun meminta-minta ampun maka keduanya kontan berseru pada Pa-lopek.

"Aduh, tobat. Tolong, Pa-lopek. Suruh isterimu ini berhenti dan jangan biarkan kami dipukuli!"

Pa-lopek bergerak. melihat isterinya memukuli orang-orang itu kakek ini terkejut. Mereka menjadi korban adalah gara-garanya, jadi mau tak mau dia harus menolong dan sudah menyambar alu di tangan isterinya itu. Dan ketika sang isteri memekik dan mereka bersitegang, yang satu menarik dan yang lain menahan maka kakek itu berseru,

"Jangan.... jangan hajar lagi mereka itu, Lui-ma. Cukup! Biarkan mereka pergi dan jangan siksa lagi!”

"Apa, pergi? Keparat jahanam, mereka itu orang-orang yang menghina Sin-hujin, Pa-pek. Dan Sin-hujin adalah penyelamat jiwa isterimu ini. Mereka tak boleh pergi, Sin-hujin menyuruh tunggu!"

"Tidak, jangan...!" sang suami pucat. "Hujin sudah masuk ke dalam, Lui-ma. Hujin sudah tidak memerlukan mereka lagi. Biarlah kita ampuni dan jangan pukuli lagi!"

Dua suami isteri itu berkutat. Sejenak sang nenek tak mau mengalah dan ngotot mempertahankan senjatanya. Tapi ketika alu itu berhasil direbut dan sang kakek membuangnya maka kakek itu membujuk agar isterinya tidak marah-marah lagi.

"Yang bersangkutan sudah membiarkan orang-orang ini. Sin-hujin tak membunuhnya. Biarlah untuk sekali ini kita ampuni mereka dan biarkan mereka pergi!"

"Terkutuk!" si nenek mengepal tinju. "Sekali lagi berani datang tentu tak mau aku mengalah, Pa-pek. Baiklah, biar mereka pergi dan hitung-hitung ini sebagai hajaran buat mereka!"

Pa-lopek lega. Isterinya sudah didorong dan disuruh masuk ke dalam. Sin-hujin barangkali perlu bantuan dan kakek itu mengangkat bangun dua laki-laki itu. Di sini kakek itu berbisik agar mereka tak usah datang lagi. Korban kiranya bukan daging yang empuk melainkan batu yang atos. Seatos batu karang. Tapi ketika dua laki-laki itu mengancam bahwa mereka akan datang lagi, dengan kawan yang lebih banyak maka kakek itu pucat mendengar kata- katanya.

"Isterimu ikut campur, kami tak terima. Kami akan datang dengan jumlah yang lebih banyak, lopek. Dan kami akan membalas semua kejadian ini. Perempuan itu akan kami bunuh, dan isterimu juga!"

"Tidak!" sang kakek pucat. "Isteriku tak tahu apa-apa, Wi-yung. Jangan kau mengancamnya seperti itu. Kalau kalian penasaran kepada Sin-hujin itu boleh saja kalian membalas, tapi jangan disini. Sebaiknya kuatur waktu agar kalian dapat menemuinya dihutan!"

"Hm, ini semua gara-garamu, dan kau masih juga membela mereka. Keparat, kau harus membunuh isterimu itu, Pa-pek. Atau kami membuka rahasia ini bahwa kaulah biang keladinya!"

"Jangan.... tidak! Ah, sudahlah. Aku akan mengatur untuk kalian pembalasan ini dan sekarang baiklah pergi cepat-cepat. Bawa si Hu-san itu!"

Dua laki-laki itu mendengus. Mereka babak-belur dihajar si nenek. Kalau saja merekasebelumnya tak dihajar Sin-hujin itu tentu si nenek bukan apa-apa. Dan si nenek menjadi demikian berani karena mereka sudah dihajar wanita muda itu. Keparat! Mereka tertatih dipapah bangun, berbisik dan mengancam bahwa si kakek harus melakukan sesuatu untuk mereka, atau kakek itu akan mendapat pembalasan. Dan ketika Pa-lopek mengangguk-angguk dan gemetar kenapa dia mengundang orang-orang ini, mencari penyakit, maka dua laki-laki itu terpincang membawa pemimpinnya. Tapi bayangan Sin-hujin tiba-tiba berkelebat menghadang.

"Siapa suruh pergi?”

Dua laki-laki itu pucat, menggigil.

"Aku tak menyuruh kalian pergi, tikus-tikus busuk, melainkan menunggu. Hukuman kalian belum selesai!"

"Ampun," Pa-lopek tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. "Aku yang menyuruh mereka pergi, hujin. Aku yang mintakan ampun untuk mereka. Kau biarkanlah mereka pergi dan sudahilah kejadian ini!"

"Hm, kau mulai mencurigakan," Sin-hujin itu memandang kakek ini. "Aku tak memberikan ampun, Pa-lopek. Kau minggirlah dan jangan ikut campur!"

Pa-lopek pucat. Tiba-tiba dia melihat isterinya muncul dan menggendong Giam Liong, anak laki-laki itu. Dan merasa bahwa hanya isterinya inilah yang dapat membujuk Sin-hujin maka kakek itu berlari dan berlutut di depan isterinya.

"Lui-ma, kau tolonglah aku. Mereka akan membunuhku kalau tidak dibebaskan. Bujuklah Sin-hujin agar menyudahi masalah ini!"

Si nenek mengerutkan kening. Giam Liong tiba-tiba menangis lagi. Sang bocah terganggu oleh ribut-ribut itu. Tapi ketika nenek ini melihat suaminya menangis dan baru kali itu dilihatnya begitu ketakutan maka nenek ini menarik bangun suaminya dan tergopoh-gopoh menyerahkan anak laki-laki itu.

"Hujin, sudahlah. Aku jadi bingung kalau ada dua laki-laki menangis begini. Aku mengasihani suamiku, dan anakmu pun juga menangis lagi. Kau biarkanlah mereka pergi, hujin. Lepaskanlah mereka yang tak mungkin berani datang lagi!"

Wanita itu bersinar-sinar. Pandangan matanya yang tajam menusuk membuat kakek Pa tak berani membalas. Kakek itu ketakutan dan gemetar. Tapi ketika dia mengangguk dan menerima anaknya yang menangis maka wanita ini membalik dan berkelebat pergi. "Baiklah, kubebaskan mereka, Lui-ma. Tapi sekali lagi mereka berani menggangguku maka hukuman mati tak dapat kubatalkan!"

Kakek Pa girang. Begitu Sin-hujin lenyap dan masuk ke dalam maka kakek ini tergopoh-gopoh menghampiri dua laki- lakiitu. Wi-yung dan temannya disuruh pergi, secepatnya. Dan ketika dua laki-laki itu melotot namun jerih, di samping dendam maka Hu-san pemimpin mereka kembali dibawa dan dua laki-laki itu terpincang meninggalkan tempat celaka itu, mendesis menahan sakit.

"Pa-lopek, kau telah melakukan sesuatu untuk kami, terima kasih. Tapi beri tahu kami kapan kami dapat menemui siluman betina itu dihutan!"

"Sudahlah," kakek ini tergesa, bingung "Sasaran kita ternyata batu karang, Wi-yung, bukan barang yang empuk. Lain kali saja kuberi tahu dan pergilah cepat-cepat!"

Dua laki-laki itu pergi. Mereka mengancam dengan suara perlahan dan si kakekpun gemetar. Kejadian hari itu tak akan dilupakan dan Pa-lopek tetap dituntut untuk mempertemukan mereka dengan Sin-hujin itu, di hutan. Dan ketika mereka lenyap dan nenek Lui mengerutkan kening maka nenek itu menegur apakah suaminya mengenal orang-orang itu.

"Tidak, mereka tahu-tahu sudah ada di belakang rumah kita. Aku tak mengenal mereka kecuali Wi-yung!"

"Dan kau berbisik-bisik dengan mereka itu. Apa yang kau lakukan, Pa-pek? Kau main-main api?"

"Tidak... tidak!" sang kakek tergopoh. "Aku tak tahu apa-apa tentang semuanya ini, Lui-ma. Mungkin si Wi-yung itu kebetulan tahu Sin-hujin ada disini dan mengajak temannya untuk maksud yang tidak baik!"

"Hm, kau bicara benar?"

"Tentu saja. Aku tak pernah berbohong, Lui-ma. Kau tahu itu!"

Sang isteri lega. Memang selama ini ia tahu bahwa suaminya tak pernah berbohong. Pa-lopek biasanya jujur dan suka bicara apa adanya. Tak tahu bahwa sebuah perobahan besar sedang terjadi. Tak tahu bahwa suaminya diam-diam mengilar melihat Sin-hujin itu. Pa-lopek diam-diam tergila-gila dan terangsang nafsunya melihat Sin-hujin menyusui anaknya. Kakek itu bangkit berahinya ketika tiba-tiba saja segumpal buah dada segar terbayang di depan mata. Ah, sudah puluhan tahun ini dia "kering" dari pemandangan seperti itu. Milik isterinya kempot, milik isterinya sudah tak menggairahkan lagi dan terus terang dia terbakar melihat pemandangan itu.

Apalagi kalau berhasil diintai secara mencuri-curi. Ah, nikmatnya bukan main! Dan karena kakek itu mulai dimabok nafsu dan berahi yang kian membakar membuat kakek ini lupa diri maka dia bermaksud untuk merayu Sin-hujin itu dan membujuknya agar mau menjadi isterinya. Tapi di rumah itu ada Lui-ma. Ah, isterinya yang ini dirasa mengganggu dan dia bingung. Kalau menurutkan nafsunya, tentu ia ingin main seruduk saja dan tak perduli. Tapi kalau dia gagal dan Lui-ma juga marah tentu dia akan kehilangan kedua-duanya. Dan itu rugi besar!

Maka Pa-lopek memeras otak dan akhirnya ditemuilah jalan keluar itu. Dia meminta pertolongan Hu-san dan kawan- kawannya, menjanjikan perhiasan Sin-hujin itu sementara dia tubuhnya. Tapi ketika Sin-hujin berbalik menghajar tiga laki-laki itu dan kakek ini terkejut, tak menyangka, maka tiba-tiba kakek itu menjadi jerih dan gentar!

Tapi nafsu tetaplah nafsu. Laki-laki tua itu hanya sebentar saja dibuat kecut. Betapapun dia belum merasakan sendiri hajaran Sin-hujin. Kakek ini tak tahu siapa Sin-hujin itu, tak tahu bahwa ia adalah wanita ganas yang sedang mengalami goncangan jiwa. Sin-hujin menjadi tenang sejenak setelah nenek Lui memberinya kehangatan dan perhatian cinta kasih. Nenek itu telah menolongnya dan melepas budi kebaikan. Semuanya itu menormalkan gejolak di hati wanita muda ini, meskipun gejolak itu bisa berobah sewaktu-waktu kalau disulut sumbu peledaknya.

Dan ketika hari-hari berikut keadaan tenang kembali sementara Lui-ma sudah melupakan kejadian itu, menghormat dan semakin dekat dengan Sin-hujin tiba-tiba saja nafsu kakek itu bangkit lagi ketika suatu hari isterinya pergi ke hutan, melihat Sin-hujin menyusui anaknya di kamar, sendirian.

"Heh-heh...!" kakek itu tak malu-malu, nyelonong begitu saja. "Anakmu semakin gemuk dan sehat, hujin. Ah, betapa lahap dan senangnya menikmati air susumu. Aduh, betapa segarnya!"

Sang nyonya terkejut. Hari itu dia menina-bobok puteranya dengan bernyanyi-nyanyi kecil. Kayu bakar sudah habis namun kemarin dia telah menyiapkan itu di mulut hutan, nenek Lui diminta mengambil karena Giam Liong sekarang suka rewel kalau ditinggal sedikit. Kakek Pa mengurus kebun dan masing-masing sudah ada bagian sendiri-sendiri, kerjaan sendiri-sendiri. Maka begitu si kakek muncul mendadak dan mengusap keringat sambil terkekeh, mengawasi anaknya yang menyusu atau mungkin buah dadanya sendiri mendadak Sin-hujin ini mengerutkan kening tapi membiarkan saja buah dadanya terbuka, tak tahu bahwa si kakek sampai mengilar, mendecak menelan liurnya sendiri!

"Eh, kau ada apa, lopek? Kenapa masuk kesini?"

"Heh-heh, aku.... hm, aku ingin melihat anakmu itu. Kemarin menangis terus, apakah sakit?Kalau sakit cepat diobati, hujin. Ada beberapa ramuan obat yang kutahu. Atau berikan padaku dan biar kulihat!" si kakek maju, menjulurkan tangan dan tiba-tiba menyambar Giam Liong. Dalam gerakan ini tentu saja dia harus menyentuh atau bersentuhan dengan buah dada si ibu, yang menyembul dan sedang menyusui anaknya, buah dada yang montok dan memang segar!

Tapi ketika si kakek bergerak dan hampir bersentuhan tiba-tiba Sin-hujin itu mengelak dan membentak, melihat sinar mata si kakek yang ganjil, "Pa-lopek, jangan lancang. Anakku tak apa-apa. Pergilah!"

Si kakek melotot lebar. Dalam mengelak dan menjauhkan diri itu tiba-tiba saja susu si ibu lepas dari mulut anaknya. Giam Liong terkejut dan menangis, susu ibunya menggantung di luar, kokoh dan padat, air susunya sampai menetes-netes! Dan ketika Pa-lopek terbelalak dan kagum oleh pemandangan ini, buah dada seorang ibu muda yang sedang penuh air susu maka kakek itu tak tahan berseru memuji, mulutnya mendecak.

"Aduh, nikmat benar. Air susumu menetes-netes, hujin. Ah, sayang dibuang. Biarkan aku menerimanya kalau anakmu tidak lapar!" dan sigap tertawa penuh nafsu mendadak si kakek yang menjadi jalang dan tak tahu malu ini tiba-tiba merunduk dan menjilat air susu yang menetes-netes itu.

Sikapnya liar dan cabul sekali, mengejutkan sang nyonya yang tak menyangka bahwa seorang kakek seperti itu ternyata masih pula memiliki berahi, kini merunduk dan bersikap seperti anjing yang siap menjilat-jilat! Sin-hujin tertegun dan tentu saja cepat menyambar bajunya, menutup bagian yang rupanya menimbulkan syahwat si tua bangka. Dan ketika si kakek terkejtut dan tampak kecewa, melotot, tiba-tiba nyonya itu mengeluarkan satu seruan pendek dan pinggang si kakek tertekuk menjadi dua ketika mendapat sebuah tendangan kuat.

"Bedebah, kiranya kau binatang jalang!"

Sang kakek menjerit. Pa-lopek berteriak karena tahu-tahu tubuhnya terlempar keluar,berdebuk dan jatuh terguling-guling di sana. Dan ketika kakek itu merintih dan mengaduh-aduh, kesakitan, maka Sin-hujin berkelebat dan melepaskan lagi tendangan beruntun.

"Keparat jahanam, kau tak tahu malu, Pa-lopek. Kurang ajar! Bedebah terkutuk, kiranya kau anjing hina-dina... des- des-dess!" si kakek menjerit-jerit, jatuh bangun dihajar sepasang kaki yang indah tapi menakutkan itu dan kakek ini terpental pulang balik.

Sin-hujin marah memaki-makinya tapi akhirnya kakek itu berteriakm inta ampun. Sadarlah si kakek bahwa nyonya muda ini bukan wanita sembarangan. Hu-san dan dua temannya telah dibuat roboh. Maka ketika dia menjadi bulan-bulanan dan berteriak mengaduh-aduh, teriakan yang tak dihiraukan mendadak dari luar muncul bayangan nenek Lui.

"Ada apa? Apa yang terjadi?"

Sang kakek dan sang nyonya sama-sama terkejut. Sin-hujin menghentikan tendangannya sementara si kakek lalu menelungkup. Pinggang kakek itu seakan patah-patah dan bingunglah dia mencari jawaban. Isterinya muncul, celaka. Tapi ketika Sin-hujin membelalakkan mata dan menahan marah, anaknya menangis tapi sudah kembali disesapi buah dadanya maka si kakek tertatih dan gemetar bicara, tak berani memandangi buah dada yang membuat dia celaka itu,

"Aku.... aku jatuh tertimpa tangga. Seekor kucing lewat dan mengejutkan aku, miring dan akhirnya jatuh. Aduh, pinggangku serasa patah-patah, Lui-ma, tolong pijitin dan gosok minyak lumur!"

Sang nenek tertegun. "Kucing? Disini ada kucing?"

"Entahlah, barangkali kucing hutan, Lui-ma, kucing liar. Tadi Sin-hujin menggebuknya tapi kena aku...!"

"Hm!" sang nenek menoleh. "Benarkah hujin?Di mana kucing itu sekarang?"

"Aku tak tahu, tapi mungkin hinggap di hidung suamimu itu!" dan Sin-hujin yang membalik dan mendengus marah akhirnya membuat si nenek menjublak dan bengong, merasa ada sesuatu yang tidak beres tapi nenek ini tak bercuriga.

Dia memang belum pernah cekcok mulut dengan suaminya itu, setidaknya dalam tujuh delapan tahun ini. Sang nenek tak tahu bahwa suaminya tiba-tiba kembali menjadi "muda", panas dan bergairah setelah sering mencuri lihat Sin-hujin menyusui anaknya. Pemandangan yang membuat kukoay. itu bangkit dan penuh semangat, tak mengukur diri sendiri dan melihat siapa dia siapa Sin-hujin. Tapi ketika si nenek mengangguk-angguk dan percaya itu, menolong suaminya maka nenek ini mengomel kenapa baru ditinggal pergi tahu-tahu ada kucing hutan menabrak tangga.

"Sialan, membuat aku terkejut dan kaget saja. Tuh, bantu aku menyeret kayu bakar itu, pek-pek. Aku tadi melemparnya ketika mendengar kau menjerit-jerit!"

"Dimana?"

"Diluar rumah!"

"Baik," dan ketika si kakek bangun berdiri dan terpincang mengikuti isterinya maka kayu bakar dibawa masuk tapi mendadak Sin-hujin keluar berpapasan dengan mereka, membawa buntalan.

"Aku ingin pergi, tak betah lagi tinggal disini. Jaga dirimu baik-baik, Lui-ma. Mudah-mudahan lain hari kita ketemu lagi dan hati-hatilah menjaga dirimu."

Sang nenek terkejut. "Kau.... ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja pergi? Ah, tidak!" sang nenek menjerit, menubruk dan melepaskan kayu bakarnya. "Aku tak mau, hujin. Kau tetaplah di sini atau aku ikut bersamamu! Aku mencintai anakmu itu, aku bahagia kau disini. Kau tetaplah bersamaku atau ajak sekalian aku pergi!"

Sang nyonya tertegun. Nenek Lui sudah menangis dan menggerung-gerung. Nenek itu terkejut dan terluka, perasaannya terguncang. Tapi ketika wanita ini mendorong dan menepuk pundak si nenek maka Sin-hujin berkata bahwa dia akan mencari suaminya.

"Aku akan pergi, mencari suamiku. Tak mungkin kau ikut karena aku akan melakukan perjalanan jauh."

"Kalau begitu berikan Giam Liong kepadaku. Aku akan memelihara dan menjaganya sampai kau kembali, hujin. Aku ingin mengikatmu agar kau tidak meninggalkan aku!"

Sang nyonya terkejut. "Tak bisa," katanya. "Aku sudah cukup lama disini, nek Aku harus pergi dan tak mau merepotkanmu. Biarlah lain kali aku datang lagi dan kita bertemu."

"Kalau begitu aku ikut!" sang nenek lari ke dalam, menyiapkan buntalannya. "Aku bosan hidup menyepi, hujin. Aku akan mengikutimu dan momong anakmu itu!"

"He!" sang kakek terkejut. "Kau gila, Lui-ma? Kau mau meninggalkan aku?"

"Kau ikutlah sekalian kalau kau suka. Aku bosan hidup disini, pa-pek. Tak ada anak atau momongan. Kita sudah tua-tua dan mau mati, lebih baik menikmati sedikit kegembiraan ini dengan menjaga Giam Liong!"

Kakek Pa membelalakkan mata. Isterinya itu sudah berlari keluar membawa buntalan. Benar saja, nenek ini mau ikut. Ia tak perduli lagi pada suaminya dan rumah itu. Nenek ini sudah mendapatkan kebahagiaannya dengan kehadiran Sin-hujin, terutama si cilik Giam Liong itu, anak laki-laki yang baru berusia sebulan. Dan ketika sang kakek membelalakkan mata sementara Sin-hujin sendiri terkejut dan tertegun maka nenek itu dengan gagah sudah berseru,

"Mari, kita pergi, hujin. Aku siap melakukan apa saja demi kau dan anakmu itu!"

Sin-hujin tiba-tiba terharu. Mendadak dia menitikkan air mata dan nenek itu dipeluknya, menangis. Baru kali ini ada seorang tua memperhatikan dirinya begitu rupa. Ah, tak dapat dia mengajak wanita ini bepergian tak tentu arahnya. Dia tadi berbohong dengan mengatakan bahwa dia akan pergi mencari suaminya, karena suaminya itu sesungguhnya sudah tewas, dibunuh seseorang. Maka ketika nenek ini mau ikut dan tentu saja kesungguhannya itu membuat dia bingung, terharu, maka Sin-hujin tak jadi pergi dan apa boleh buat melempar buntalannya, juga buntalan si nenek.

"Baiklah," wajah tua itu diciumi. "Aku tak jadi pergi, nek. Aku akan tinggal bersamamu lagi. Sekarang masuklah dan jangan buat aku diremas perasaan begini!"

"Kau tak jadi pergi? Kau masih mau bersamaku disini?"

"Hm, semuanya karena kau, nenek Lui. Meskipun ada sesuatu yang kurang menyenangkan disini. Aku pergi karena, hmm... sudahlah. Aku sudah cukup bicara!" dan mengerling atau menyambar si kakek Pa dengan pandangan marah maka wanita ini masuk ke dalam dan tak jadi berangkat. Dia diam-diam merencanakan pergi secara tak diketahui si nenek, akan menghilang seminggu dua minggu lagi kalau nenek itu sudah cukup terhibur. Dan ketika sang nenek girang sementara si kakek kecut, karena tahu apa yang sesungguhnya membuat Sin-hujin mau pergi maka hari demi hari dilewati lagi seperti biasa dan rumah itu kelihatan tenang.

Sekarang Sin-hujin kerap bepergian dengan si nenek. Wanita itu hampir tak pernah di rumah kalau nenek itu mencari kayu bakar. Hal ini dilakukan karena dia tak mau si kakek berkurang ajar lagi. Kalau tidak melihat muka nenek Lui barangkali nyonya muda ini tak sudi tinggal di situ. Maklumlah, ketidak-senangannya sudah mulai timbul sejak si kakek mau berkurang ajar. Kalau saja tidak ingin menjaga kerukunan nenek Lui dengan suaminya mungkin wanita ini sudah melapor apa yang diperbuat si kakek.

Sekarang Sin-hujin berhati-hati kalau dia menyusui anaknya. Tak pernah lagi kakek itu dapat menikmati buah dadanya kalau dia sedang menyusui Giam Liong. Semua itu demi ketenteraman dan ketenangan rumah tangga ini. Tapi ketika seminggu lewat dengan cepat dan Sin-hujin merencanakan untuk meninggalkan rumah itu keesokan harinya, melepas anting-anting dan gelangnya untuk ditinggalkan kepada si nenek mendadak saja si nenek terkapar dan merintih-rintih dengan mulut berbusa, di tengah ruangan.

"Ah!" Sin-hujin terkejut, berkelebat keluar. "Apa yang terjadi, nek? Kenapa kau seperti ini?"

"Ak... aku tak tahu..." si nenek menangis. "Aku baru makan nasi itu, hujin, ketika tiba-tiba perutku sakit dan melilit-lilit...!"

"Di mana Pa-lopek?"

"Aku tak tahu, katanya ke kebun...!"

Sin-hujin bergerak cepat. Sekali lihat dia tahu bahwa nenek ini keracunan. Ah, racun yang berbahaya sudah memasuki perut. Maka ketika dia menotok dan menjejalkan sebutir obat maka si nenek diangkat dan dibawa masuk ke ruangan dalam, di atas pembaringan. "Kau tunggu dulu disini, aku mencari air kelapa!"

Sang nenek bercucuran air mata. Dia muntah-muntah tapi Sin-hujin sudah berkelebat keluar, menggapai dan memanggil namun sayang nyonya muda itu tak mendengar. Dan ketika Sin-hujin berkelebat datang dan membawa semangkok besar air kelapa ternyata si nenek sudah menggeletak dan terkulai wajahnya, kaku, tewas!

"Lui-ma...!" Jeritan itu menggetarkan rumah. Sang nyonya berteriak dan menubruk nenek itu, mengguguk. Orang yang dikasihinya tiba-tiba meninggal, begitu cepat. Dan ketika nyonya ini menangis dan suaranya memanggil-manggil si nenek maka aneh sekali Pa-lopek yang katanya ada di kebun tak muncul-muncul juga. Kebun itu tak terlalu jauh dan seharusnya kakek itu mendengar. Hal ini menyadarkan si nyonya dan Sin-hujin itu tiba-tiba mencelat keluar, berteriak dan memanggil-manggil Pa-lopek. Namun ketika kakek itu tak muncul juga dan kebun di belakang sunyi, tak ada orangnya maka wanita ini heran karena teriakannya dan tangisnya yang mengguguk tadi tak membangunkan anaknya, yang sedang tidur.

Padahal biasanya Giam Liong akan bangun dan menangis begitu ada suara sedikit saja. Anaknya itu biasanya peka dan mudah dibangunkan oleh sedikit suara gaduh. Maka heran dan terkejut kenapa Pa-lopek tak ada sementara anaknya juga tetap diam dan tenangsaja di kamar maka wanita ini berkelebat dan memasuki kamarnya. Tapi, apa yang dilihat? Giam Liong tak ada. Anaknya itu lenyap, kamar pun kosong!

"Liong-ji!!..!" pekik atau lengking ini mirip lolong srigala. Wanita itu berteriak dan tiba-tiba berkelebat keluar. Rumah yang baru dimasuki sudah ditinggalkan lagi, berkelebat dan berputaran mencari ke sana ke mari. Kebun dan tempat-tempat kosong didatangi. Suara panggilannya bergema kemana-mana, merinding orang dibuatnya. Tapi ketika semua tak ada dan tangis bayi sekonyong-konyong terdengar di hutan, kaget dan panjang tiba-tiba nyonya ini terkesiap dan terbang ke tempat itu, tempat yang memang belum didatangi.

"Liong-ji...!" Lengking atau seruan ini terdengar menyayat. Sin-hujin meluncur dan berkelebat ke hutan itu. Gerakannya seperti siluman terbang. Nyonya ini terkejut karena mungkin anaknya diculik harimau, atau mungkin binatang buas lain sewaktu dia mencari kelapa tadi. Tapi ketika dia tiba di hutan dan tangis anaknya terdengar dekat, panjang melengking-lengking, maka nyonya ini tertegun karena bukan harimau yang dijumpai melainkan belasan orang bersenjata lengkap...!

Naga Pembunuh Jilid 01

NAGA PEMBUNUH
JILID 01
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
WANITA itu berjalan terhuyung-huyung. Usianya masih muda, tak lebih dari dua puluh satu tahun. Tapi wajahnya yang cantik dan beringas menunjukkan dendam setinggi langit ketika terseok dan terhuyung di bukit bebatuan itu. Tinjunya berkali-kali terkepal, mendesis dan menyebut-nyebut nama seseorang penuh benci. Dan kalau orang melihat sinar matanya maka orang akan bergidik menyaksikan sorot penuh benci di bola mata yang kadang berputar setengah liar itu.

Siapakah dia? Kita dengar saja gumam dan kutuk di bibirnya. Wanita itu mendaki bebatuan terjal ketika tiba-tiba ia mengeluh, mendekap perut dan berhenti. Dan ketika ia menyeringai dan jatuh terduduk, menahan sakit, tiba-tiba ia menangis dan mengguguk disitu.

"Hauw-ko (kanda Hauw), tolonglah aku, Jangan biarkan aku mati sebelum anak ini lahir!"

Orang akan merinding. Gadis atau wanita itu tiba-tiba tersedu-sedu, tangisnya mengguncang batin. Dan ketika dia mengguguk dan memanggil-manggil nama kekasihnya mendadak dia berteriak dan melengking tinggi, meloncat bangun.

"Kedok Hitam, aku akan membunuhmu. Biar aku mati menghadapi seribu pasukan namun aku akan merajang dan mencincang tubuhmu!" dan berteriak serta mencak-mencak disitu tiba-tiba wanita ini menjambak dan memukul-mukul tubuhnya sendiri.

Tangis dan sedu-sedan itu kini bercampur dengan pekik dan benci. Wanita itu tiba-tiba melolong dan menjerit-jerit seperti gila. Dan ketika ia bergerak terhuyung-huyung dan menyambar sebuah batu hitam, sekepalan tinjunya tiba-tiba batu itu digigit dan dikeremus.

"Kedok Hitam, aku akan menggigit dan mengunyah jantungmu. Seperti ini.... krius-kriuss!" batu itu hancur, dimamah dan lenyap memasuki tenggorokan itu dan wanita ini terkekeh-kekeh.

Sekarang dia melahap lagi sebuah batu yang lain, mengeletak dan menggigitnya putus seperti orang makan agar-agar. Dan ketika batu itu belah dan hancur dimamah mulutnya maka benda sekeras karang ini sudah menjadi seperti kerupuk dan lenyap di kerongkongan wanita itu, wanita yang cantik tapi rupanya gila!

"Hi-hik, aku akan membuatmu seperti ini, Kedok Hitam. Aku akan memamah dan mengunyah semua daging dan tulang-belulangmu. Awas kau, heh-heh.... awas suatu hari aku membalas padamu!"

Wanita itu menyambar lagi pasir dan bebatuan di pinggir jalan. Mulutnya tertawa-tawa tapi tak pernah berhenti mengunyah makanan aneh ini, pasir dan lumpur hingga mulutnya pun menjadi kehitam-hitaman. Namun ketika sesuatu berjengit di perutnya dan wanita itu berteriak tiba-tiba ia membuang semua sisa-sisa pasir dan batu di tangannya itu.

"Aduh, keparat jahanam. Jangan menyakiti ibumu, nak. Jangan meronta-ronta di perut ibumu seperti itu. Aduh, tolong, Hauw-ko. Anak kita nakal....." dan wanita ini yang mengerang dan bergulingan di tanah lalu menangis dan merintih-rintih lagi. Bukan memaki-maki si Kedok Hitam melainkan memaki-maki anak di perutnya itu. Kiranya wanita ini hamil. Dan ketika dia menangis dan meraung-raung di tanah maka wanita itu bergulingan memanggil-manggil kekasihnya lagi.

"Hauw-ko, anak kita kurang ajar. Aduh, kenapa punya anak seperti ini? Ah, sakit, Hauw-ko..... sakit...!"

Wanita itu mengguguk. Akhirnya dia terlempar dan jatuh dalam satu keadaan yang menyedihkan. Perutnya didekap-dekap tapi akhirnya dipukuli. Wanita itu membentak anaknya kenapa begitu menyakitkan. Dan ketika sang anak tak menghiraukan dan rupanya membuat satu gerakan kuat karena kaget dan marah dipukuli ibunya mendadak gadis atau wanita ini berteriak dan roboh pingsan. "Aduh, mati aku!"

Selanjutnya tak ada gerakan. Wanita itu terguling, diam tak bergerak-gerak. Tubuhnya membujur kaku dan dingin. Agaknya, dua tiga jam dalam keadaan begitu barangkali dia akan tewas. Wanita ini pingsan. Tapi tepat wanita itu terguling dan menjerit mengeluh mati mendadak muncul seorang nenek-nenek yang tertegun disitu.

"Ah, wanita hamil? Seorang ibu muda? Aduh, kasihan sekali kau, nak. Rupanya mau melahirkan dan tak ada siapapun yang menolongmu. Celaka...!" dan nenek ini yang tergesa dan bergegas melangkah tiba-tiba berlari dan pucat menuju ke tempat itu, tersandung dan jatuh tapi si nenek sudah bangun lagi.

Kayu kering di punggungnya terlempar, tak dihiraukan. Dan ketika nenek ini berjongkok dan meraba tubuh yang dingin, namun jantung masih berdenyut maka nenek itu berkomat-kamit dan mengucap puja-puji semacam mantra penolong orang sakit.

"Aduh, Thian Yang Agung. Kandungannya sudah tua...!" dan sibuk mengurut atau memijat sana-sini akhirnya nenek itu berhasil menyadarkan wanita ini, yang merintih dan mengerang.

"Cepat, tahan napas!" nenek itu berseru. "Kau akan melahirkan, hujin. Bagaimana sampai sendirian disini. Ah, mana suamimu yang kejam itu? Kenapa tidak mengantar?" tapi, melihat si cantik menangis tiba-tiba nenek ini terkejut, menghibur. "Ah, sudahlah, maafkan aku. Kau rupanya baru bertengkar dan meninggalkan suamimu. Jangan khawatir, aku akan menolongmu, anak baik. Dan sekarang tahan napas kuat-kuat untuk dua detik!"

Wanita itu mengguguk. Melihat munculnya seorang nenek tiba-tiba dia merasa mendapat teman. Memang dalam keadaan seperti itu dia butuh teman, atau dia akan mati. Maka ketika si nenek menghibur dan mengurut sana-sini maka gadis atau wanita ini tersedu. "Kau kau siapa?"

"Aku nenek Lui, anak baik. Aku sedang mencari kayu bakar ketika melihat kau disini. Sudahlah, tahan napas dan turut kata-kataku. Aku akan membantumu melahirkan!"

Wanita itu menangis. Akhirnya dia menahan napas seperti yang dikatakan nenek ini, mengerang dan merintih ketika kembali diserang rasa sakit yang hebat. Dan ketika nenek itu menyuruh ini-itu sambil meniup pusarnya maka kain panjang terpaksa dilepas dan si nenek menelentangkan calon ibu muda itu di rumput.

"Tenang.... tenang, jangan membuat aku gugup. Bayi ini akan lahir, hujin. Aku akan membantumu. Mengejan dan tahan napas kuat-kuat!"

Wanita itu bercucuran air mata. Akhirnya dia menjerit ketika gerakan di perutnya menghebat. Si nenek mengurut dan membuka pahanya. Dan ketika setengah jam kemudian nenek itu mandi keringat karena wanita ini meronta-ronta dan berteriak menahan sakit, padahal dia harus melawan gerakan-gerakan itu maka sebuah kepala bayi mulai tersembul.

"Awas, jangan meronta-ronta. Kepala bayimu mulai keluar, hujin. Mengejanlah! Yang kuat! Akan kubantu menariknya dan jangan berteriak-teriak membuat aku ketakutan!"

Ternyata si nenek ketakutan. Dia terlempar dan terpelanting ketika tadi wanita itu menamparnya. Tenaganya demikian kuat dan luar biasa, si nenek seolah dihempas angin topan! Maka ketika nenek itu terbelalak dan ngeri tapi juga kasihan, perasaan yang campur aduk maka dia harus kembali lagi untuk melakukan pertolongan itu.

Si cantik menjerit-jerit ketika bayi mulai keluar, tidak cepat tapi perlahan-lahan. Dan ketika nenek itu menarik tapi ditendang, mencelat dan terguling-guling maka nenek ini gentar melihat kedahsyatan tenaga si cantik! Selanjutnya wanita itu mengaduh dan berteriak tak keruan-keruan. Hal ini membuat si nenek memberanikan diri untuk mendekat lagi, gemetar dan berjongkok dibawah sepasang kaki itu untuk menarik si bayi yang semakin panjang, kena dua kali tendangan lagi tapi si nenek tak perduli, terlempar dan datang lagi dengan resiko kena tendang.

Jerit dan rintih yang menyayat itu jauh lebih menguasainya dari pada rasa takut. Dan ketika nenek ini berjuang susah payah sementara wanita muda itu melolong dan meraung-raung akhirnya kepala bayi ditarik semua dan tangis yang melengking memecah keheningan angkasa.

"Sruput...!" Sang ibu muda mengeluh pendek. Perjuangan panjang akhirnya ditutup kelegaan besar. Bayi itu telah keluar,lahir. Dan ketika tangis menggantikan jerit atau lolong wanita muda ini maka si nenek ganti disibukkan karena bayi itu tak mau diam!

"Celaka, cerewet melebihi ibunya. Aduh... diam, anak baik.... diam. Aku akan membersihkan tubuhmu dan lihat nenek Lui berlepotan darah!" nenek itu bingung, gugup membersihkan sana-sini dan si bayi ditepuk-tepuk perlahan, maksudnya mau mendiamkan bayi tapi si orok tak mau diam juga. Nenek itu gemetaran dan mandi keringat. Ah, diapun semakin bingung. Tapi ketika seseorang muncul disitu dan nenek ini ditegur maka kakek tua renta terkejut melihat menggeletaknya seorang ibu yang baru melahirkan.

"Ah, apa ini? Kau melakukan pertolongan darurat? Hei, serahkan saja anak itu kepadaku, Lui-ma. Biar kudiamkan dan kau tolong ibunya!"

Si nenek terkejut, tapi segera menjadi girang. "Kau, Pa-pek? Ah, kebetulan sekali. Cepat, diamkan anak ini dan kubersihkan ibunya dulu!"

Si kakek meloncat. Kiranya dia adalah suami nenek ini dan cepat menerima bayi itu. Bajunya rangkap dua cepat dilepas, dipakai sebagai selimut. Dan ketika anak itu sudah dibungkus dan merasa hangat maka si anak diam dan kakek itu menina-bobok.

"Ha-ha, kau bodoh, Lui-ma. Bocah ini kedinginan. Lihat, begitu kuselimuti dengan bajuku rangkap dua tiba-tiba dia diam. Ah, kau bodoh. Tak tahu keinginan anak kecil!"

Dan si kakek yang tertawa-tawa dan bernyanyi kecil lalu menciumi dan girang sekali mendapatkan anak itu. Tak perduli pada isterinya yang tertegun tapi segera tersenyum menghampiri ibu si bayi, membersihkan sisa-sisa darah dan akhirnya wanita muda ini mengeluh menyatakan lapar. Perutnya berkeruyuk, juga haus. Dan ketika si nenek mengangguk dan berlari menghampiri buntalannya, yang terselipdi kayu kering maka dia sudah membuka dan memberikan roti kering.

"Makanlah, aku tak punya apa-apa. Tapi ini sementara cukup untukmu."

"Dan air...?" wanita itu mengeluh, menjilat bibirnya yang pucat. "Aku haus, nek aku ingin minum!"

"Ah-ah, ada. Aku lupa!" dan si nenek yang menyambar dan membuka seguci air lalu memberikannya dan menuangkannya di mulut sang ibu.

Wanita ini menggelogok dan tampak lahap, bibirnya seketika menjadi merah dan segar. Tapi ketika terdengar lagi tangis si bayi dan wanita ini bangkit duduk maka dia minta agar anak itu diserahkan kepadanya. "Aku ingin mendekapnya. Aku ingin menyusuinya. Berikan kepadaku."

Si kakek berkerut kening. Dia ragu dan rupanya enggan memberikan. Tapi ketika pandang matanya bentrok dengan mata wanita itu dan secercah cahaya berkilat menyambar tiba-tiba kakek ini terbungkuk dan cepat-cepat memberikan, gentar! "Ini..." si kakek terbata. "Anakmu sehat dan montok, hujin (nyonya). Dan tangisnya luar biasa sekali!"

Wanita itu tersenyum. Dia menerima dan mencium bayinya, berseri-seri. Lalu ketika si bayi menangis dan dia cepat membuka bajunya, gerakan otomatis dari seorang ibu yang ingin menyusui anaknya maka kakek itu melengos karena isterinya melotot melihat dia memperhatikan segumpal buah dada segar!

"Laki-laki...!" wanita itu mendesis. "Ah, terkabul niatmu, Hauw-ko. Anak kita laki-laki, hi-hik!" wanita itu terkekeh, bangkit berdiri dan menciumi anaknya dengan gembira. Dia tadi telah membuka selimut itu dan memperhatikan jenis kelamin anaknya, ternyata laki-laki. Namun ketika si bayi tiba-tiba tersedak dan menangis, air susu ibunya belum keluar maka wanita ini tertegun dan bingung.

"Cup-cup..." katanya. "Diamlah, anakku sayang. Diamlah.... ibu rupanya masih kurang minum!" dan menyambar lagi guci air di tangan si nenek, yang digelogok dan dihabiskan isinya maka wanita itu menyesapkan kembali puting buah dadanya yang segar.

Si kakek dipaksa melengos lagi karena isterinya menyambar tajam. Nenek itu rupanya dapat cemburu, ah, lucu!

Tapi ketika air susu tak keluar juga dan si bayi menangis melengking-lengking,tangis yang amat mengejutkan maka nenek ini berkata bahwa si ibu harus dibuatkan jagung "sangan", digoreng tanpa minyak.

"Kau baru melahirkan, air susumu belum keluar. Marilah ke rumah dan kubuatkan jagung sangan."

"Benar," si kakek tiba-tiba juga berseru, menimbrung. "Kau dapat tinggal di rumah kami, hujin. Kebetulan sekali kami tak punya anak. Marilah, kita kesana dan kau istirahat disana!"

Wanita ini mengerutkan alisnya. Sebenarnya dia bingung tapi mengangguk ketika si nenek menawarkan lagi jasa baiknya. Nenek itu telah menolong persalinannya. Dia selamat karena nenek ini. Dan ketika si nenek dianggap lebih berpengalaman dan dia bingung kenapa air susunya belum keluar maka wanita muda itu menyetujui dan sudah terhuyung dipapah si nenek.

Kakek itu sendiri sudah melompat kegirangan menyambar kayu kering isterinya. Dia akan kedatangan rejeki, rumahnya akan diisi tangis bayi. Maka ketika dia berteriak kegirangan dan isterinya sudah menuntun wanita muda itu maka tak lama kemudian wanita yang baru melahirkan ini sudah berada di rumah yang sederhana di pinggir sebuah hutan kecil.

Kiranya nenek dan kakek itu tinggal di tempat yang sunyi. Mereka jauh dari tetangga dan wanita ini tampak lega. Tadi dia sudah was-was kalau si nenek mempunyai tempat tinggal di daerah yang ramai. Dia tak menghendaki itu. Maka begitu sebuah gubuk sederhana menyambutnya dan nenek itu sudah membuka pintu rumahnya maka selanjutnya nenek ini terkekeh menyiapkan balai-balai bambu untuk si ibu.

"Di tempat ini hanya ada dua tempat tidur. Biasanya kami tidur sendiri-sendiri. Heh-heh, sekarang kau datang, anak baik. Biarlah tempat tidurku kau pakai dan aku tidur bersama suamiku!"

"Terima kasih..."

"Dan, eh. siapa namamu? Bagaimana aku memanggil?"

"Aku... aku tak punya nama. Biarlah kau sebut aku dengan sebutan hujin!"

"Mmmm....!" sang nenek tertegun. "Dan anakmu ini, apakah juga tak diberi nama?"

"Dia Giam Liong, Sin Giam Liong!"

"Giam Liong? She Sin? Ah, suamimu she Sin, hujin? Jadi kau adalah Sin-hujin (nyonya Sin)? Dan anakmu bernama Giam Liong. Ih, nama itu berarti Naga Maut!" si nenek ngeri, terkejut dan tergetar tapi segera dia terkekeh-kekeh karena nama hanyalah sebutan saja. Nama bisa berarti macam-macam tapi tentu nama itu tak seganas artinya. Maka begitu dia tertawa dan mengangguk-angguk, ngeloyor kebelakang maka nenek ini sudah membuat makanan untuk si ibu agar air susunya cepat keluar. Dan benar saja, susu si nyonya tiba-tiba membanjir. Buah dada yang menggelembung penuh itu mendadak deras sekali ketika diberi jagung sangan.

Sin-hujin atau nyonya Sin itu tampak berseri-seri melihat anaknya yang menyusu demikian lahap. Air susunya disedot dan dihisap kuat-kuat. Bayi itu seolah anak kelaparan! Dan ketika beberapa hari kemudian ibu ini tinggal di tempat itu maka Lui-ma, si nenek penolong menjadi gembira karena rumahnya menjadi ramai. Tangis bayi itu meninggalkan kesan kuat yang enak didengar. Entahlah, si nenek terkekeh-kekeh kalau bayi itu menangis. Tangis itu seolah lagu gembira yang membuat si nenek berseri-seri.

Maklumlah, bertahun-tahun ini dia hidup kesepian tanpa anak. Rumah yang kosong dan hanya berdua dengan suami yang juga sudah sama-samatua membuat nenek itu rindu akan hadirnya seorang bocah. Mereka adalah suami isteri mandul yang tak memiliki harapan untuk mempunyai keturunan. Lui-ma dan suaminya memang sepasang manusia yang menderita. Maka begitu hari-hari berikut tempat tinggal mereka diisi tangis bayi dan wanita cantik yang hanya dikenal sebagai Sin-hujin itu mau tinggal bersama mereka maka seminggu kemudian ketika kesehatan ibu muda itu sudah benar-benar pulih maka nenek ini menjadi tercengang ketika tumpukan kayu keringnya di dapur tak pernah surut!

"Eh, seperti siluman saja. Kaukah yang mengisinya kemarin, pek-pek? Kau menambahi kayu bakar ini?"

"Tidak, kenapakah?"

"Persediaan kita tak pernah kurang. Kemarin sudah surut tapi sekarang tahu-tahu sudah bertambah sekian banyak lagi. Ah, siapakah yang memberi? Siluman kah?"

"Atau Sin-hujinitu?" si kakek terheran, membelalakkan matanya.

"Mana mungkin?" sang isteri menyahut. "Sin-hujin tak pernah keluar, pek-pek. Lagi pula tak biasa baginya bekerja kasar. Lihat tangan dan kakinya yang halus begitu. Wanita macam begitu adalah priyayi tulen, bangsawan atau anak orang kaya, bukan seperti kita yang miskin dan papa ini. Ah, tak mungkin!"

"Lalu siapa?"

"Entahlah, aku tak tahu. Dan anehnya pula periuk tempat berasku selalu penuh. Begitu juga persediaan ikan dan daging!! Ah, kita jadi makan enak setiap hari."

Pa-pek, kakek she Pa ini mendelong. Dia jadi mengerutkan kening berulang-ulang setelah isterinya bercerita seperti itu. Dan benar, beras dan segala kebutuhan lauk-pauk di tempatnya selalu penuh. Mereka sekarang bukan lagi makan sayuran melulu melainkan juga ikan dan daging, bahkan di tempat mereka ada anggur segala, bukan anggur sembarang anggur melainkan anggur merah yang wangi dan menyehatkan.

Minuman itu biasanya di tempat orang kaya dan bukan di gubuk seperti milik mereka itu. Aneh! Dan ketika kakek itu mengangguk-angguk dan bersinar matanya, menduga bahwa Sin-hujin itu adalah isteri seorang hartawan atau bangsawan kaya maka suatu malam kakek ini berkasak-kusuk dengan isterinya.

"Kau tahu siapakah dia? Bagaimana kira-kira?"

"Maksudmu?"

"Aku menduga Sin-hujin ini isteri seorang hartawan atau bangsawan, Lui-ma. Tapi isteri muda atau barangkali gundiknya. Kita harus berhati-hati!"

"Ah, maksudmu?"

"Aku takut kalau dia melarikan diri atau diusir. Kalau melarikan diri, hmm... berarti ada sesuatu yang tidak beres di rumah suaminya. Siapa tahu barangkali dia mencuri!"

"Pa-pek!" sang nenek terkejut. "Kau bicara apa ini? Kau mencurigai orang yang tidak-tidak?"

"Sst, jangan keras-keras. Aku sekarang jadi curiga dan mengetahui siapa yang mengisi ransum makanan kita, Lui-ma, ternyata benar Sin-hujin itu. Semalam dia lenyap, dan aku heran. Tapi ketika aku mau bangun dan melihat bayinya sendirian mendadak Sin-hujin itu muncul lagi dan di tangannya penuh bawaan seperti beras dan lain-lainnya itu. Dialah yang mengisi ransum mu, dan dia meletakkan itu di dapur!"

"Kalau begitu kita mendapat rejeki. Sin-hujin membawa keberuntungan!"

"Hush, keberuntungan bagaimana? Bagaimana kalau barang bawaannya itu hasil curian?"

"Apa?"

"Benar, aku jadi curiga pada tamu kita ini, Lui-ma. Kalau benar dia gundik seseorang dan melarikan diri karena mencuri maka jangan-jangan kebiasaan jeleknya itu dibawa-bawa dan kita bisa celaka oleh hasil perbuatannya!"

Sang nenek tertegun. "Aku tak percaya..." katanya. "Aku lihat Sin-hujin itu orang baik-baik, pek-pek. Buktinya dia tak pernah mengganggu kita dan justeru menolong kita dengan mencari makanan. Masalah mencuri, ah, kau terlalu menduga jelek. Bukankah dia juga memiliki gelang dan cincin permata? Siapa tahu barang-barangnya itu sebagian dijual dan digantikan rancum atau makanan untuk kita itu!"

"Ya, tapi siapa tahu gelang atau cincinnya itu hasil curian! Aku melihat wanita ini aneh, Lui-ma. Sikapnya pendiam dan kadang-kadang bola matanya berputar seperti gila!"

"Ah, kau..!" nenek ini marah. "Tak perduli baik atau tidak tapi dia sudah mengisi rumah kita, Pa-pek. Kita sudah mendapat teman dan anaknya yang mungil itu menjadi bagian hidupku. Aku tak mau kau membuat gara-gara kalau tak ada bukti!"

"Hm-hm...!" si kakek mengangguk-angguk. "Kalau begitu lihatlah saja, Lui-ma. Tapi kalau benar omonganku maka jangan salahkan aku!"

Dua kakek nenek itu lalu tidur. Mereka tak bicara dan kasak-kusuk lagi dan si kakek tak tahu betapa sepasang mata berkilat mengawasinya dari balik dinding. Sebuah gerakan tampak ditahan dan itulah lengan Sin-hujin. Wanita itu mendengar dan sorot matanya mengeluarkan api. Sebatang jarum siap di tangan tapi tak jadi digerakkan. Hampir saja jarum itu melayang dan menembus kepala si kakek.

Dan ketika dua suami isteri itu tak berbisik-bisik lagi dan mereka tidur di balai-balai mereka maka wanita ini mendengus dan mencengkeram hancur sebuah batu yang juga siap disambitkan, Batu itu menjadi tepung dan kalau si kakek melihat ini tentu dia ngeri, mungkin semangatnya sudah terbang mendahului keberaniannya. Dan ketika bisik-bisik itu tak terdengar dan semua sunyi maka malam itu tak terjadi apa-apa dan Sin-hujin inipun mencium pipi anaknya dan tidur.

* * * * * * *

Seminggu kemudian. Kakek she Pa itu, yang rupanya masih memiliki kecurigaan dan rasa was-was kepada wanita ini tiba-tiba suatu hari didatangi tiga lelaki berwajah seram. Saat itu Sin-hujin tak ada dan nenek Lui-pun juga sedang mencari kayu bakar. Kakek Pa menerima dan kasak-kusuk dengan tiga laki-laki ini, mereka tampak serius. Tapi ketika tak lama kemudian bayangan seseorang muncul di depan tangis bayi mengawali semuanya itu maka kakek ini terkejut dan cepat-cepat menyuruh tiga laki-laki itu bersembunyi.

"Lihat, dia datang. Kalian menyelinap di belakang dan buktikan kata-kataku!"

Tiga laki-laki itu, yang terkejut tapi tersenyum girang tiba- tiba mengangguk. Mereka berlompatan dan hilang di belakang, bersembunyi. Dan ketika kakek Pa keluar dan pura-pura menyambut maka kakek ini tertegun melihat bergemerincingnya gelang-gelang emas di tangan wanita itu, gelang yang berjumlah dua kali lipat dari dulu yang dilihat!

"Ah, kau dari mana, hujin? Dan apa yang kau bawa itu pula?" Kakek ini terbelalak. Di samping gelang-gelang emas itu, yang membuatnya heran dan kaget ternyata Sin-hujin ini menyeret pula seekor harimau besar. Binatang itu telah mati dan bangkainya diseret, tentu saja membuat kakek itu terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Tapi ketika Sin-hujin berhenti dan memandangnya tak berkedip maka wanita itu berkata singkat,

"Pa-lopek, tak usah kau tanya dari mana aku. Tapi kulitilah dan kerat daging harimau ini untuk makan siang kita. Tadi Lui-ma diserang harimau ini, kubunuh dan sekarang biar menjadi santapan kita. Kerjakan itu dan jangan menganggapku yang tidak-tidak."

Sang kakek tertegun. "Ini... ini... bagaimana tadi? Lui-ma diserang harimau? Kau tadi membunuhnya?"

Sin-hujin tak menjawab. Wanita itu terus melangkah dan barulah sang kakek tersentak ketika tiba-tiba dari luar sana terdengar jerit dan tangis Lui-ma. Nenek itu muncul dan berlari-lari mengejar Sin-hujin, berkali-kali roboh tapi bangun lagi memanggil-manggil nyonya muda itu. Tapi ketika Pa-lopek menghampiri dan menangkap lengannya cepat, maka nenek itu terguling dan kayu di belakang punggungnya juga terlepas.

"Aduh, hampir aku mati. Celaka! Aku nyaris diterkam harimau, Pa-pek. Hampir aku terbunuh! Ah, untung ada Sin-hujin itu. Dia menolongku.... dia menampar harimau itu... dan.... dan, ah.... harimau ini disini?" sang nenek tiba-tiba tertegun, seketika menghentikan teriakan-teriakannya dan matanya melotot memandang bangkai harimau itu. Tak disangkanya bahwa bangkai harimau itu tahu-tahu sudah ada di rumah. Tapi ketika dia menjerit dan mengguguk menubruk suaminya maka sang kakek gemetar mencoba menghibur, masih kebingungan.

"Apa yang terjadi? Bagaimana Sin-hujin membunuh harimau? Bukankah dia wanita lemah, Lui-ma? Masa dapat membunuh harimau?"

"Ah, siapa bilang? Sin-hujin itu ternyata memiliki gerakan cepat seperti siluman, Pa-pek. Ketika harimau itu menerkam dan mau membunuh aku tiba-tiba Sin hujin berkelebat dan menolong. Harimau itu ditampar, dan tahu-tahu roboh di depan mataku. Ah, hampir pingsan aku waktu itu! Dia... dia wanita hebat. Rupanya sakti dan dewi malaikat!"

"Hm, masa?" tapi ketika isterinya menangis dan membentaknya menyuruh percaya tiba-tiba nenek itu melepaskan diri dan memasuki rumah, mengejar Sin-hujin.

"Hujin, terima kasih. Kau telah menyelamatkan nyawaku!"

"Hm, bangunlah," wanita ini berhenti menoleh, melihat sang nenek menjatuhkan diri berlutut. "Aku menolongmu karena kaupun telah menolongku, Lui-ma. Tak ada terima kasih di antara kita. Bangunlah, dan tanya suamimu apa saja yang hari ini diperbuatnya!"

Sang nenek tertegun. "Suamiku? Dia... dia menunggu rumah!"

"Hm, aku mencium bau tikus-tikus busuk disini. Apakah dia memelihara tikus-tikus pecomberan? Atau tikus-tikus itu yang sengaja datang dan mau mencuri makanan disini?"

Dan ketika si nenek kebingungan dan tak mengerti apa yang dimaksud tiba-tiba wanita itu bergerak dan tahu-tahu telah berkelebat ke belakang rumah, persis di depan tiga laki-laki yang kaget bukan main karena persembunyian mereka diketahui!

"Hm, inikah?" Sin-hujin mendengus. "Siapa kalian, tikus-tikus busuk? Mau apa datang dan menggerayangi rumah orang?"

Tiga laki-laki itu berteriak tertahan. Tadi mereka mengintai dan bersembunyi disana, melihat dan mendengar semuanya itu dan diam-diam mereka merasa heran dan kaget juga bahwa Sin-hujin ini dikabarkan membunuh harimau, padahal binatang itu cukup besar dan tak masuk akal kiranya kalau wanita yang demikian lembut dan halus gerak-geriknya itu membunuh harimau.

Mereka dipanggil Pa-lopek yang menceritakan keganjilan itu, adanya seorang wanita muda yang cantik dan baru melahirkan tapi mempunyai perhiasan-perhiasan emas. Gelangnya ada enam buah sementara cincinnya sepasang. Pa-lopek mencurigai wanita ini karena setelah melahirkan Sin-hujin itu tak pergi mencari suaminya, jadi dugaan bahwa dia melarikan diri adalah kuat. Dan karena Pa-lopek diam-diam mengincar perhiasan-perhiasan itu sementara jakunnya sering naik turun kalau melihat Sin-hujin menyusui anaknya maka kakek ini akhirnya menemui tiga laki-laki itu dan merundingkan siasat.

"Aku terhalang isteriku. Kalian rampaslah gelang-gelang emas itu dan kita bagi bersama. Sedang dia, hmm... bawa ke hutan di depan itu dan biarkan aku membujuknya untuk menjadi isteriku!"

"Apa? Kau tua bangka mau kawin lagi? Siapa dia itu, Pa-lopek?"

"Entahlah, aku tak tahu, Hu-san. Tapi dia wanita muda yang cantik dan menggairahkan. Dan perhiasannya cukup berharga. Aku ingin memilikinya tapi kalau di rumah terhalang isteriku!"

"Hm, begitukah? Baiklah, serahkan pada kami dan sekarang juga kami dapat ke rumahmu dan merampasnya!"

"Jangan!" sang kakek terkejut. "Lakukan kalau isteriku tak ada di rumah, Hu-san. Jadi seolah peristiwa perampokan biasa. Tunggu beberapa hari lagi ketika isteriku mencari kayu bakar. Kalian dapat melakukan itu dan datang kerumah!"

"Hm, baiklah. Kami akan kesana!"

"Dan kau jangan mengganggu tubuhnya. Dia milikku!"

"Ha-ha, baik, Pa-lopek. Kalau memang kami tak tertarik tentu kami tak akan mengganggunya. Ah, kau tua bangka rupanya dapat jatuh cinta lagi!"

Begitulah,kakek ini lalu tersenyum-senyum. Dia segera pulang dan tahu bahwa dua hari lagi isterinya akan keluar, mencari kayu bakar. Tapi ketika hari itu tiga temannya datang tapi Sin-hujin ikut keluar juga maka kakek ini agak bingung tapi untung segera sang wanita datang. Teman-temannya diminta bersembunyi dan kakek ini sudah berseri-seri karena rencana akan berjalan mulus. Sudah dibayangkannya bahwa ibu muda yang cantik itu akan dibawa teman-temannya ke hutan. Disana ia akan menyusui dan coba membujuk Sin-hujin itu.

Dia melakukan semua ini karena tak kuat menahan lagi keinginan berahinya yang sering bangkit, sewaktu melihat atau mengintai wanita itu menyusui bayinya. Tapi ketika isterinya muncul dan Sin-hujin itu dikabarkan membunuh harimau, berarti bukan wanita lemah maka kakek ini jadi semakin kaget lagi ketika tahu-tahu wanita itu berkelebat dan seperti iblis cepatnya mendadak sudah menemukan persembunyian Hu-san dan dua temannya itu. Dan tiga laki- laki itu juga tampak terkejut.

Hu-san, yang berkumis dan bertampang seperti perampok sudah lebih dulu menguasai kekagetannya. Laki-laki ini terkejut tapi sudah tertawa lebar, ganda ketawa saja ketika dibentak. Dan ketika wanita itu berdiri tegak dan Hu-san kagum bahwa wanita ini memang muda dan cantik, tubuhnya menggairahkan dengan sepasang buah dada yang penuh dan montok maka laki-laki itu terbahak dan melompat bangun.

"Ha-ha, aku Hu-san, nyonya, Orang yang menguasai daerah ini sampai tapal batas gunung Yee-san!"

"Hm, kau! Apa maksudmu ke mari? Kenapa bersembunyi?"

"Aku, ha-ha. terus terang datang karena tertarik padamu. Aku kasihan pada bayimu itu, ingin menawarkan jasa baik dan tinggallah di rumahku yang lebih baik. Kakek she Pa itu tak pantas untukmu. Jauh lebih pantas di tempatku dan kita dapat bersenang-senang, ha-ha!"

Wanita itu berkilat. "Bersenang-senang? Apa maksudmu?"

"Wah, artinya aku ingin mengambilmu sebagai isteri, nyonya, Kau cantik tapi sendirian. Tentu kau kesepian. Biarlah tinggal bersamaku dan segala kebutuhan hidupmu kujamin!"

"Wut!" sebuah tangan tiba-tiba meluncur dengan cepat. "Kau kiranya laki-laki kasar dan tak tahu malu, orang she Hu. Terima kasih atas kebaikanmu dan inilah hadiahnya. plak!"

Hu-san terpelanting roboh menjerit dan terguling-guling dan seketika mulut laki-laki itu pecah! Pa-lopek berseru tertahan sementara dua teman Hu-san yang lain terkesiap. Mereka kaget dan pucat ketika melihat Hu-san dibuat bergulingan hanya oleh sebuah tamparan saja. Tapi ketika Hu-san meloncat bangun dan laki-laki itu marah bukan main, berteriak, maka laki-laki itu sudah mencabut goloknya yang dipakai untuk menakut-nakuti, karena dia belum berniat benar untuk membunuh, masih eman-eman.

"Heh, wanita siluman. Keparat jahanam! Berani kau memukulku dan menamparku seperti ini? Bedebah, lekas jatuhkan diri berlutut kalau tak ingin golokku menyambar, nyonya siluman. Diajak baik-baik tak mau malah menghina aku. Terkutuk, cepat minta ampun dan jangan biarkan aku marah!"

"Hm, masih kurang?" Sin-hujin malah mendengus. "Orang macam kau tak pantas kuajak bicara lagi, Hu-san. Pergilah atau kau pulang tinggal nama!"

"Weh, menantang? Keparat terkutuk. lihat ini dan kau mampus.... werr!" golok benar-benar menyambar, tak kenal ampun dan dua teman Hu-san berteriak memperingatkan. Mereka masih merasa sayang kalau wanita itu dibunuh. Hu-san mata gelap. Tapi ketika mereka berteriak dan mencegah Hu-san ternyata Sin-hujin itu berkelebat dan tahu-tahu lenyap entah ke mana.

"Crakk!" Golok Hu-san menghajar tanah. Saking kuat dan marahnya laki-laki itu mengayun golok maka senjata itu menancap ujungnya, hampir separoh. Tapi ketika Hu-san terpekik dan nenek Lui-ma serta suaminya berteriak kaget, ngeri, tahu-tahu wanita itu muncul lagi dan sebuah tendangan menghajar pantat laki-laki ini.

"Dess!" Hu-san mencelat menumbuk pohon. Laki-laki itu tak menyangka dan baru saja berkutat menarik golok, tentu saja terkejut dan menjerit dan kontan kepalanya beradu keras. Laki-laki itu mengeluh dan pingsan, seketika roboh kelengar. Dan ketika dua yang lain tertegun dan tersentak, pucat melihat ini, maka wanita itu membalik karena saat itu bayinya menangis.

"Cup-cup..." katanya tenang. "Tak ada apa-apa disini, Liong-ji (anak Liong). Ibu hanya menghajar dan membuat si kumis itu pingsan. Kau diamlah, ibu akan melindungimu," dan mengeluarkan buah dadanya menyesapi bayinya dengan puting yang penuh dan segar maka wanita itu berjalan dan memasuki rumah, tak perduli pandang mata dua teman Hu-san yang lain dan juga kakek Pa, tak perduli pada keadaan sekitar karena saat itu juga ia harus menyusui bayinya yang terbangun dan menangis oleh sedikit keributan itu.

Tapi ketika wanita ini memasuki rumah dan dua laki-laki di luar sadar, mendadak mereka membentak dan mencabut golok, hal yang membuat nenek Lui-ma menjerit.

"Heii...!" dua laki-laki itu berteriak "Tunggu dan berhenti, wanita siluman. Kau menghajar dan membuat Hu-twako pingsan. Kau jangan sombong!"

Wanita itu berkilat, sudah dikepung. "Kalian mau apa?"

Dua laki-laki itu tertegun. Mereka merasa dingin juga mendengar suara yang tidak berperasaan ini. Suara itu seperti suara mayat, kaku dan dingin. Tapi karena teman mereka dihajar dan wanita ini sudah menjual lagak maka mereka yang ingin menuntut balas tapi tertegun oleh buah dada yang segar montok itu tiba-tiba naik turun jakunnya menelan ludah. Wanita itu membiarkan saja buah dadanya terlihat laki-laki!

"Kami.... kami...." laki-laki di sebelah kiri melotot. "Kami ingin kau menyerah dan minta maaf!"

"Benar," temannya di sebelah kanan juga melotot, bahkan sebesar jengkol! "Kami tak mau kau bersikap sombong, nyonya. Kalau kau mau baik-baik minta maaf dan ikut kami maka kesalahanmu ini kami ampuni!"

"Hm!" suara itu kembali terdengar, dingin dan tak berperasaan. "Kalau begitu kalian tunggu aku diluar. Biar kususui anakku ini dan baru setelah itu kalian boleh bicara lagi..... dess!" dan dua laki-laki itu yang mencelat oleh sebuah tendangan kilat tiba-tiba menjerit dan terbanting di luar roboh terguling-guling.

Mereka tadi tak tahu kapan datangnya serangan itu, baru mau bersiap-siap tapi mendadak tendangan sudah melayang. Tentu saja mereka berdebuk! Dan ketika dua laki-laki itu merintih dan tak dapat bangun berdiri, karena sebelah kaki mereka patahmaka nenek Lui berteriak dan tiba-tiba mengambil palang pintu serta menghajar dua laki-laki itu.

"Bedebah, terkutuk jahanam. Kiranya kalian pengganggu dan pengacau liar. Hih rasakan ini, orang-orang busuk. Berani benar kalian memaksa dan berkurangajar kepada Sin-hujin....buk-buk-buk!" alu atau palang pintu itu sudah menghantam pulang balik, tujuh delapan kali menghajar dua laki-laki itu dan tentu saja dua laki-laki ini berteriak kesakitan. Mereka tak dapat menangkis atau mengelak karena kaki sedang patah. Maka begitu dihajar dan jatuh bangun meminta-minta ampun maka keduanya kontan berseru pada Pa-lopek.

"Aduh, tobat. Tolong, Pa-lopek. Suruh isterimu ini berhenti dan jangan biarkan kami dipukuli!"

Pa-lopek bergerak. melihat isterinya memukuli orang-orang itu kakek ini terkejut. Mereka menjadi korban adalah gara-garanya, jadi mau tak mau dia harus menolong dan sudah menyambar alu di tangan isterinya itu. Dan ketika sang isteri memekik dan mereka bersitegang, yang satu menarik dan yang lain menahan maka kakek itu berseru,

"Jangan.... jangan hajar lagi mereka itu, Lui-ma. Cukup! Biarkan mereka pergi dan jangan siksa lagi!”

"Apa, pergi? Keparat jahanam, mereka itu orang-orang yang menghina Sin-hujin, Pa-pek. Dan Sin-hujin adalah penyelamat jiwa isterimu ini. Mereka tak boleh pergi, Sin-hujin menyuruh tunggu!"

"Tidak, jangan...!" sang suami pucat. "Hujin sudah masuk ke dalam, Lui-ma. Hujin sudah tidak memerlukan mereka lagi. Biarlah kita ampuni dan jangan pukuli lagi!"

Dua suami isteri itu berkutat. Sejenak sang nenek tak mau mengalah dan ngotot mempertahankan senjatanya. Tapi ketika alu itu berhasil direbut dan sang kakek membuangnya maka kakek itu membujuk agar isterinya tidak marah-marah lagi.

"Yang bersangkutan sudah membiarkan orang-orang ini. Sin-hujin tak membunuhnya. Biarlah untuk sekali ini kita ampuni mereka dan biarkan mereka pergi!"

"Terkutuk!" si nenek mengepal tinju. "Sekali lagi berani datang tentu tak mau aku mengalah, Pa-pek. Baiklah, biar mereka pergi dan hitung-hitung ini sebagai hajaran buat mereka!"

Pa-lopek lega. Isterinya sudah didorong dan disuruh masuk ke dalam. Sin-hujin barangkali perlu bantuan dan kakek itu mengangkat bangun dua laki-laki itu. Di sini kakek itu berbisik agar mereka tak usah datang lagi. Korban kiranya bukan daging yang empuk melainkan batu yang atos. Seatos batu karang. Tapi ketika dua laki-laki itu mengancam bahwa mereka akan datang lagi, dengan kawan yang lebih banyak maka kakek itu pucat mendengar kata- katanya.

"Isterimu ikut campur, kami tak terima. Kami akan datang dengan jumlah yang lebih banyak, lopek. Dan kami akan membalas semua kejadian ini. Perempuan itu akan kami bunuh, dan isterimu juga!"

"Tidak!" sang kakek pucat. "Isteriku tak tahu apa-apa, Wi-yung. Jangan kau mengancamnya seperti itu. Kalau kalian penasaran kepada Sin-hujin itu boleh saja kalian membalas, tapi jangan disini. Sebaiknya kuatur waktu agar kalian dapat menemuinya dihutan!"

"Hm, ini semua gara-garamu, dan kau masih juga membela mereka. Keparat, kau harus membunuh isterimu itu, Pa-pek. Atau kami membuka rahasia ini bahwa kaulah biang keladinya!"

"Jangan.... tidak! Ah, sudahlah. Aku akan mengatur untuk kalian pembalasan ini dan sekarang baiklah pergi cepat-cepat. Bawa si Hu-san itu!"

Dua laki-laki itu mendengus. Mereka babak-belur dihajar si nenek. Kalau saja merekasebelumnya tak dihajar Sin-hujin itu tentu si nenek bukan apa-apa. Dan si nenek menjadi demikian berani karena mereka sudah dihajar wanita muda itu. Keparat! Mereka tertatih dipapah bangun, berbisik dan mengancam bahwa si kakek harus melakukan sesuatu untuk mereka, atau kakek itu akan mendapat pembalasan. Dan ketika Pa-lopek mengangguk-angguk dan gemetar kenapa dia mengundang orang-orang ini, mencari penyakit, maka dua laki-laki itu terpincang membawa pemimpinnya. Tapi bayangan Sin-hujin tiba-tiba berkelebat menghadang.

"Siapa suruh pergi?”

Dua laki-laki itu pucat, menggigil.

"Aku tak menyuruh kalian pergi, tikus-tikus busuk, melainkan menunggu. Hukuman kalian belum selesai!"

"Ampun," Pa-lopek tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. "Aku yang menyuruh mereka pergi, hujin. Aku yang mintakan ampun untuk mereka. Kau biarkanlah mereka pergi dan sudahilah kejadian ini!"

"Hm, kau mulai mencurigakan," Sin-hujin itu memandang kakek ini. "Aku tak memberikan ampun, Pa-lopek. Kau minggirlah dan jangan ikut campur!"

Pa-lopek pucat. Tiba-tiba dia melihat isterinya muncul dan menggendong Giam Liong, anak laki-laki itu. Dan merasa bahwa hanya isterinya inilah yang dapat membujuk Sin-hujin maka kakek itu berlari dan berlutut di depan isterinya.

"Lui-ma, kau tolonglah aku. Mereka akan membunuhku kalau tidak dibebaskan. Bujuklah Sin-hujin agar menyudahi masalah ini!"

Si nenek mengerutkan kening. Giam Liong tiba-tiba menangis lagi. Sang bocah terganggu oleh ribut-ribut itu. Tapi ketika nenek ini melihat suaminya menangis dan baru kali itu dilihatnya begitu ketakutan maka nenek ini menarik bangun suaminya dan tergopoh-gopoh menyerahkan anak laki-laki itu.

"Hujin, sudahlah. Aku jadi bingung kalau ada dua laki-laki menangis begini. Aku mengasihani suamiku, dan anakmu pun juga menangis lagi. Kau biarkanlah mereka pergi, hujin. Lepaskanlah mereka yang tak mungkin berani datang lagi!"

Wanita itu bersinar-sinar. Pandangan matanya yang tajam menusuk membuat kakek Pa tak berani membalas. Kakek itu ketakutan dan gemetar. Tapi ketika dia mengangguk dan menerima anaknya yang menangis maka wanita ini membalik dan berkelebat pergi. "Baiklah, kubebaskan mereka, Lui-ma. Tapi sekali lagi mereka berani menggangguku maka hukuman mati tak dapat kubatalkan!"

Kakek Pa girang. Begitu Sin-hujin lenyap dan masuk ke dalam maka kakek ini tergopoh-gopoh menghampiri dua laki- lakiitu. Wi-yung dan temannya disuruh pergi, secepatnya. Dan ketika dua laki-laki itu melotot namun jerih, di samping dendam maka Hu-san pemimpin mereka kembali dibawa dan dua laki-laki itu terpincang meninggalkan tempat celaka itu, mendesis menahan sakit.

"Pa-lopek, kau telah melakukan sesuatu untuk kami, terima kasih. Tapi beri tahu kami kapan kami dapat menemui siluman betina itu dihutan!"

"Sudahlah," kakek ini tergesa, bingung "Sasaran kita ternyata batu karang, Wi-yung, bukan barang yang empuk. Lain kali saja kuberi tahu dan pergilah cepat-cepat!"

Dua laki-laki itu pergi. Mereka mengancam dengan suara perlahan dan si kakekpun gemetar. Kejadian hari itu tak akan dilupakan dan Pa-lopek tetap dituntut untuk mempertemukan mereka dengan Sin-hujin itu, di hutan. Dan ketika mereka lenyap dan nenek Lui mengerutkan kening maka nenek itu menegur apakah suaminya mengenal orang-orang itu.

"Tidak, mereka tahu-tahu sudah ada di belakang rumah kita. Aku tak mengenal mereka kecuali Wi-yung!"

"Dan kau berbisik-bisik dengan mereka itu. Apa yang kau lakukan, Pa-pek? Kau main-main api?"

"Tidak... tidak!" sang kakek tergopoh. "Aku tak tahu apa-apa tentang semuanya ini, Lui-ma. Mungkin si Wi-yung itu kebetulan tahu Sin-hujin ada disini dan mengajak temannya untuk maksud yang tidak baik!"

"Hm, kau bicara benar?"

"Tentu saja. Aku tak pernah berbohong, Lui-ma. Kau tahu itu!"

Sang isteri lega. Memang selama ini ia tahu bahwa suaminya tak pernah berbohong. Pa-lopek biasanya jujur dan suka bicara apa adanya. Tak tahu bahwa sebuah perobahan besar sedang terjadi. Tak tahu bahwa suaminya diam-diam mengilar melihat Sin-hujin itu. Pa-lopek diam-diam tergila-gila dan terangsang nafsunya melihat Sin-hujin menyusui anaknya. Kakek itu bangkit berahinya ketika tiba-tiba saja segumpal buah dada segar terbayang di depan mata. Ah, sudah puluhan tahun ini dia "kering" dari pemandangan seperti itu. Milik isterinya kempot, milik isterinya sudah tak menggairahkan lagi dan terus terang dia terbakar melihat pemandangan itu.

Apalagi kalau berhasil diintai secara mencuri-curi. Ah, nikmatnya bukan main! Dan karena kakek itu mulai dimabok nafsu dan berahi yang kian membakar membuat kakek ini lupa diri maka dia bermaksud untuk merayu Sin-hujin itu dan membujuknya agar mau menjadi isterinya. Tapi di rumah itu ada Lui-ma. Ah, isterinya yang ini dirasa mengganggu dan dia bingung. Kalau menurutkan nafsunya, tentu ia ingin main seruduk saja dan tak perduli. Tapi kalau dia gagal dan Lui-ma juga marah tentu dia akan kehilangan kedua-duanya. Dan itu rugi besar!

Maka Pa-lopek memeras otak dan akhirnya ditemuilah jalan keluar itu. Dia meminta pertolongan Hu-san dan kawan- kawannya, menjanjikan perhiasan Sin-hujin itu sementara dia tubuhnya. Tapi ketika Sin-hujin berbalik menghajar tiga laki-laki itu dan kakek ini terkejut, tak menyangka, maka tiba-tiba kakek itu menjadi jerih dan gentar!

Tapi nafsu tetaplah nafsu. Laki-laki tua itu hanya sebentar saja dibuat kecut. Betapapun dia belum merasakan sendiri hajaran Sin-hujin. Kakek ini tak tahu siapa Sin-hujin itu, tak tahu bahwa ia adalah wanita ganas yang sedang mengalami goncangan jiwa. Sin-hujin menjadi tenang sejenak setelah nenek Lui memberinya kehangatan dan perhatian cinta kasih. Nenek itu telah menolongnya dan melepas budi kebaikan. Semuanya itu menormalkan gejolak di hati wanita muda ini, meskipun gejolak itu bisa berobah sewaktu-waktu kalau disulut sumbu peledaknya.

Dan ketika hari-hari berikut keadaan tenang kembali sementara Lui-ma sudah melupakan kejadian itu, menghormat dan semakin dekat dengan Sin-hujin tiba-tiba saja nafsu kakek itu bangkit lagi ketika suatu hari isterinya pergi ke hutan, melihat Sin-hujin menyusui anaknya di kamar, sendirian.

"Heh-heh...!" kakek itu tak malu-malu, nyelonong begitu saja. "Anakmu semakin gemuk dan sehat, hujin. Ah, betapa lahap dan senangnya menikmati air susumu. Aduh, betapa segarnya!"

Sang nyonya terkejut. Hari itu dia menina-bobok puteranya dengan bernyanyi-nyanyi kecil. Kayu bakar sudah habis namun kemarin dia telah menyiapkan itu di mulut hutan, nenek Lui diminta mengambil karena Giam Liong sekarang suka rewel kalau ditinggal sedikit. Kakek Pa mengurus kebun dan masing-masing sudah ada bagian sendiri-sendiri, kerjaan sendiri-sendiri. Maka begitu si kakek muncul mendadak dan mengusap keringat sambil terkekeh, mengawasi anaknya yang menyusu atau mungkin buah dadanya sendiri mendadak Sin-hujin ini mengerutkan kening tapi membiarkan saja buah dadanya terbuka, tak tahu bahwa si kakek sampai mengilar, mendecak menelan liurnya sendiri!

"Eh, kau ada apa, lopek? Kenapa masuk kesini?"

"Heh-heh, aku.... hm, aku ingin melihat anakmu itu. Kemarin menangis terus, apakah sakit?Kalau sakit cepat diobati, hujin. Ada beberapa ramuan obat yang kutahu. Atau berikan padaku dan biar kulihat!" si kakek maju, menjulurkan tangan dan tiba-tiba menyambar Giam Liong. Dalam gerakan ini tentu saja dia harus menyentuh atau bersentuhan dengan buah dada si ibu, yang menyembul dan sedang menyusui anaknya, buah dada yang montok dan memang segar!

Tapi ketika si kakek bergerak dan hampir bersentuhan tiba-tiba Sin-hujin itu mengelak dan membentak, melihat sinar mata si kakek yang ganjil, "Pa-lopek, jangan lancang. Anakku tak apa-apa. Pergilah!"

Si kakek melotot lebar. Dalam mengelak dan menjauhkan diri itu tiba-tiba saja susu si ibu lepas dari mulut anaknya. Giam Liong terkejut dan menangis, susu ibunya menggantung di luar, kokoh dan padat, air susunya sampai menetes-netes! Dan ketika Pa-lopek terbelalak dan kagum oleh pemandangan ini, buah dada seorang ibu muda yang sedang penuh air susu maka kakek itu tak tahan berseru memuji, mulutnya mendecak.

"Aduh, nikmat benar. Air susumu menetes-netes, hujin. Ah, sayang dibuang. Biarkan aku menerimanya kalau anakmu tidak lapar!" dan sigap tertawa penuh nafsu mendadak si kakek yang menjadi jalang dan tak tahu malu ini tiba-tiba merunduk dan menjilat air susu yang menetes-netes itu.

Sikapnya liar dan cabul sekali, mengejutkan sang nyonya yang tak menyangka bahwa seorang kakek seperti itu ternyata masih pula memiliki berahi, kini merunduk dan bersikap seperti anjing yang siap menjilat-jilat! Sin-hujin tertegun dan tentu saja cepat menyambar bajunya, menutup bagian yang rupanya menimbulkan syahwat si tua bangka. Dan ketika si kakek terkejtut dan tampak kecewa, melotot, tiba-tiba nyonya itu mengeluarkan satu seruan pendek dan pinggang si kakek tertekuk menjadi dua ketika mendapat sebuah tendangan kuat.

"Bedebah, kiranya kau binatang jalang!"

Sang kakek menjerit. Pa-lopek berteriak karena tahu-tahu tubuhnya terlempar keluar,berdebuk dan jatuh terguling-guling di sana. Dan ketika kakek itu merintih dan mengaduh-aduh, kesakitan, maka Sin-hujin berkelebat dan melepaskan lagi tendangan beruntun.

"Keparat jahanam, kau tak tahu malu, Pa-lopek. Kurang ajar! Bedebah terkutuk, kiranya kau anjing hina-dina... des- des-dess!" si kakek menjerit-jerit, jatuh bangun dihajar sepasang kaki yang indah tapi menakutkan itu dan kakek ini terpental pulang balik.

Sin-hujin marah memaki-makinya tapi akhirnya kakek itu berteriakm inta ampun. Sadarlah si kakek bahwa nyonya muda ini bukan wanita sembarangan. Hu-san dan dua temannya telah dibuat roboh. Maka ketika dia menjadi bulan-bulanan dan berteriak mengaduh-aduh, teriakan yang tak dihiraukan mendadak dari luar muncul bayangan nenek Lui.

"Ada apa? Apa yang terjadi?"

Sang kakek dan sang nyonya sama-sama terkejut. Sin-hujin menghentikan tendangannya sementara si kakek lalu menelungkup. Pinggang kakek itu seakan patah-patah dan bingunglah dia mencari jawaban. Isterinya muncul, celaka. Tapi ketika Sin-hujin membelalakkan mata dan menahan marah, anaknya menangis tapi sudah kembali disesapi buah dadanya maka si kakek tertatih dan gemetar bicara, tak berani memandangi buah dada yang membuat dia celaka itu,

"Aku.... aku jatuh tertimpa tangga. Seekor kucing lewat dan mengejutkan aku, miring dan akhirnya jatuh. Aduh, pinggangku serasa patah-patah, Lui-ma, tolong pijitin dan gosok minyak lumur!"

Sang nenek tertegun. "Kucing? Disini ada kucing?"

"Entahlah, barangkali kucing hutan, Lui-ma, kucing liar. Tadi Sin-hujin menggebuknya tapi kena aku...!"

"Hm!" sang nenek menoleh. "Benarkah hujin?Di mana kucing itu sekarang?"

"Aku tak tahu, tapi mungkin hinggap di hidung suamimu itu!" dan Sin-hujin yang membalik dan mendengus marah akhirnya membuat si nenek menjublak dan bengong, merasa ada sesuatu yang tidak beres tapi nenek ini tak bercuriga.

Dia memang belum pernah cekcok mulut dengan suaminya itu, setidaknya dalam tujuh delapan tahun ini. Sang nenek tak tahu bahwa suaminya tiba-tiba kembali menjadi "muda", panas dan bergairah setelah sering mencuri lihat Sin-hujin menyusui anaknya. Pemandangan yang membuat kukoay. itu bangkit dan penuh semangat, tak mengukur diri sendiri dan melihat siapa dia siapa Sin-hujin. Tapi ketika si nenek mengangguk-angguk dan percaya itu, menolong suaminya maka nenek ini mengomel kenapa baru ditinggal pergi tahu-tahu ada kucing hutan menabrak tangga.

"Sialan, membuat aku terkejut dan kaget saja. Tuh, bantu aku menyeret kayu bakar itu, pek-pek. Aku tadi melemparnya ketika mendengar kau menjerit-jerit!"

"Dimana?"

"Diluar rumah!"

"Baik," dan ketika si kakek bangun berdiri dan terpincang mengikuti isterinya maka kayu bakar dibawa masuk tapi mendadak Sin-hujin keluar berpapasan dengan mereka, membawa buntalan.

"Aku ingin pergi, tak betah lagi tinggal disini. Jaga dirimu baik-baik, Lui-ma. Mudah-mudahan lain hari kita ketemu lagi dan hati-hatilah menjaga dirimu."

Sang nenek terkejut. "Kau.... ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja pergi? Ah, tidak!" sang nenek menjerit, menubruk dan melepaskan kayu bakarnya. "Aku tak mau, hujin. Kau tetaplah di sini atau aku ikut bersamamu! Aku mencintai anakmu itu, aku bahagia kau disini. Kau tetaplah bersamaku atau ajak sekalian aku pergi!"

Sang nyonya tertegun. Nenek Lui sudah menangis dan menggerung-gerung. Nenek itu terkejut dan terluka, perasaannya terguncang. Tapi ketika wanita ini mendorong dan menepuk pundak si nenek maka Sin-hujin berkata bahwa dia akan mencari suaminya.

"Aku akan pergi, mencari suamiku. Tak mungkin kau ikut karena aku akan melakukan perjalanan jauh."

"Kalau begitu berikan Giam Liong kepadaku. Aku akan memelihara dan menjaganya sampai kau kembali, hujin. Aku ingin mengikatmu agar kau tidak meninggalkan aku!"

Sang nyonya terkejut. "Tak bisa," katanya. "Aku sudah cukup lama disini, nek Aku harus pergi dan tak mau merepotkanmu. Biarlah lain kali aku datang lagi dan kita bertemu."

"Kalau begitu aku ikut!" sang nenek lari ke dalam, menyiapkan buntalannya. "Aku bosan hidup menyepi, hujin. Aku akan mengikutimu dan momong anakmu itu!"

"He!" sang kakek terkejut. "Kau gila, Lui-ma? Kau mau meninggalkan aku?"

"Kau ikutlah sekalian kalau kau suka. Aku bosan hidup disini, pa-pek. Tak ada anak atau momongan. Kita sudah tua-tua dan mau mati, lebih baik menikmati sedikit kegembiraan ini dengan menjaga Giam Liong!"

Kakek Pa membelalakkan mata. Isterinya itu sudah berlari keluar membawa buntalan. Benar saja, nenek ini mau ikut. Ia tak perduli lagi pada suaminya dan rumah itu. Nenek ini sudah mendapatkan kebahagiaannya dengan kehadiran Sin-hujin, terutama si cilik Giam Liong itu, anak laki-laki yang baru berusia sebulan. Dan ketika sang kakek membelalakkan mata sementara Sin-hujin sendiri terkejut dan tertegun maka nenek itu dengan gagah sudah berseru,

"Mari, kita pergi, hujin. Aku siap melakukan apa saja demi kau dan anakmu itu!"

Sin-hujin tiba-tiba terharu. Mendadak dia menitikkan air mata dan nenek itu dipeluknya, menangis. Baru kali ini ada seorang tua memperhatikan dirinya begitu rupa. Ah, tak dapat dia mengajak wanita ini bepergian tak tentu arahnya. Dia tadi berbohong dengan mengatakan bahwa dia akan pergi mencari suaminya, karena suaminya itu sesungguhnya sudah tewas, dibunuh seseorang. Maka ketika nenek ini mau ikut dan tentu saja kesungguhannya itu membuat dia bingung, terharu, maka Sin-hujin tak jadi pergi dan apa boleh buat melempar buntalannya, juga buntalan si nenek.

"Baiklah," wajah tua itu diciumi. "Aku tak jadi pergi, nek. Aku akan tinggal bersamamu lagi. Sekarang masuklah dan jangan buat aku diremas perasaan begini!"

"Kau tak jadi pergi? Kau masih mau bersamaku disini?"

"Hm, semuanya karena kau, nenek Lui. Meskipun ada sesuatu yang kurang menyenangkan disini. Aku pergi karena, hmm... sudahlah. Aku sudah cukup bicara!" dan mengerling atau menyambar si kakek Pa dengan pandangan marah maka wanita ini masuk ke dalam dan tak jadi berangkat. Dia diam-diam merencanakan pergi secara tak diketahui si nenek, akan menghilang seminggu dua minggu lagi kalau nenek itu sudah cukup terhibur. Dan ketika sang nenek girang sementara si kakek kecut, karena tahu apa yang sesungguhnya membuat Sin-hujin mau pergi maka hari demi hari dilewati lagi seperti biasa dan rumah itu kelihatan tenang.

Sekarang Sin-hujin kerap bepergian dengan si nenek. Wanita itu hampir tak pernah di rumah kalau nenek itu mencari kayu bakar. Hal ini dilakukan karena dia tak mau si kakek berkurang ajar lagi. Kalau tidak melihat muka nenek Lui barangkali nyonya muda ini tak sudi tinggal di situ. Maklumlah, ketidak-senangannya sudah mulai timbul sejak si kakek mau berkurang ajar. Kalau saja tidak ingin menjaga kerukunan nenek Lui dengan suaminya mungkin wanita ini sudah melapor apa yang diperbuat si kakek.

Sekarang Sin-hujin berhati-hati kalau dia menyusui anaknya. Tak pernah lagi kakek itu dapat menikmati buah dadanya kalau dia sedang menyusui Giam Liong. Semua itu demi ketenteraman dan ketenangan rumah tangga ini. Tapi ketika seminggu lewat dengan cepat dan Sin-hujin merencanakan untuk meninggalkan rumah itu keesokan harinya, melepas anting-anting dan gelangnya untuk ditinggalkan kepada si nenek mendadak saja si nenek terkapar dan merintih-rintih dengan mulut berbusa, di tengah ruangan.

"Ah!" Sin-hujin terkejut, berkelebat keluar. "Apa yang terjadi, nek? Kenapa kau seperti ini?"

"Ak... aku tak tahu..." si nenek menangis. "Aku baru makan nasi itu, hujin, ketika tiba-tiba perutku sakit dan melilit-lilit...!"

"Di mana Pa-lopek?"

"Aku tak tahu, katanya ke kebun...!"

Sin-hujin bergerak cepat. Sekali lihat dia tahu bahwa nenek ini keracunan. Ah, racun yang berbahaya sudah memasuki perut. Maka ketika dia menotok dan menjejalkan sebutir obat maka si nenek diangkat dan dibawa masuk ke ruangan dalam, di atas pembaringan. "Kau tunggu dulu disini, aku mencari air kelapa!"

Sang nenek bercucuran air mata. Dia muntah-muntah tapi Sin-hujin sudah berkelebat keluar, menggapai dan memanggil namun sayang nyonya muda itu tak mendengar. Dan ketika Sin-hujin berkelebat datang dan membawa semangkok besar air kelapa ternyata si nenek sudah menggeletak dan terkulai wajahnya, kaku, tewas!

"Lui-ma...!" Jeritan itu menggetarkan rumah. Sang nyonya berteriak dan menubruk nenek itu, mengguguk. Orang yang dikasihinya tiba-tiba meninggal, begitu cepat. Dan ketika nyonya ini menangis dan suaranya memanggil-manggil si nenek maka aneh sekali Pa-lopek yang katanya ada di kebun tak muncul-muncul juga. Kebun itu tak terlalu jauh dan seharusnya kakek itu mendengar. Hal ini menyadarkan si nyonya dan Sin-hujin itu tiba-tiba mencelat keluar, berteriak dan memanggil-manggil Pa-lopek. Namun ketika kakek itu tak muncul juga dan kebun di belakang sunyi, tak ada orangnya maka wanita ini heran karena teriakannya dan tangisnya yang mengguguk tadi tak membangunkan anaknya, yang sedang tidur.

Padahal biasanya Giam Liong akan bangun dan menangis begitu ada suara sedikit saja. Anaknya itu biasanya peka dan mudah dibangunkan oleh sedikit suara gaduh. Maka heran dan terkejut kenapa Pa-lopek tak ada sementara anaknya juga tetap diam dan tenangsaja di kamar maka wanita ini berkelebat dan memasuki kamarnya. Tapi, apa yang dilihat? Giam Liong tak ada. Anaknya itu lenyap, kamar pun kosong!

"Liong-ji!!..!" pekik atau lengking ini mirip lolong srigala. Wanita itu berteriak dan tiba-tiba berkelebat keluar. Rumah yang baru dimasuki sudah ditinggalkan lagi, berkelebat dan berputaran mencari ke sana ke mari. Kebun dan tempat-tempat kosong didatangi. Suara panggilannya bergema kemana-mana, merinding orang dibuatnya. Tapi ketika semua tak ada dan tangis bayi sekonyong-konyong terdengar di hutan, kaget dan panjang tiba-tiba nyonya ini terkesiap dan terbang ke tempat itu, tempat yang memang belum didatangi.

"Liong-ji...!" Lengking atau seruan ini terdengar menyayat. Sin-hujin meluncur dan berkelebat ke hutan itu. Gerakannya seperti siluman terbang. Nyonya ini terkejut karena mungkin anaknya diculik harimau, atau mungkin binatang buas lain sewaktu dia mencari kelapa tadi. Tapi ketika dia tiba di hutan dan tangis anaknya terdengar dekat, panjang melengking-lengking, maka nyonya ini tertegun karena bukan harimau yang dijumpai melainkan belasan orang bersenjata lengkap...!